P. 1
praktikum kelarutan

praktikum kelarutan

|Views: 1,980|Likes:
Published by Kumala Thewee

More info:

Published by: Kumala Thewee on Mar 14, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/10/2013

pdf

text

original

PERCOBAAN I KELARUTAN

I. TUJUAN PRAKTIKUM Setelah melakukan percobaan ini mahasiswa diharapkan mampu untuk : 1. Menerapkan faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan suatu zat. 2. Menjelaskan pengaruh pelarut campur terhadap kelarutan zat.

II. DASAR TEORI

Melarut tidaknya suatu zat dalam suatu sistem tertentu dan besarnya kelarutan, sebagian besar tergantung pada sifat serta intensitas kekuatan yang ada pada zat terlarutpelarut dan resultan interaksi zat terlarut-pelarut. Larutan jenuh adalah suatu larutan di mana zat terlarut berada dalam kesetimbangan dengan fase padat (zat terlarut). Kelarutan adalah konsentrasi zat terlarut dalam larutan jenuh pada temperatur tertentu, dan secara kualitatif didefinisikan sebagai iutnteraksi spontan dari dua atau lebih zat untuk membentuk dispersi molekuler homogen. Larutan tidak jenuh atau hampir jenuh adalah suatu larutan yang mengandung zat terlarut dalam konsentrasi di bawah konsentrasi yang dibutuhkan untuk penjenuhan sempurna pada temperatur tertentu. Larutan lewat jenuh adalah suatu larutan yang mengandung zat terlarut dalam konsentrasi lebih banyak daripada yang seharusnya ada pada temperatur tertentu, terdapat juga zat terlarut yang tidak larut, keadaan lewat jenuh mungkin terjadi apabila inti kecil zat terlarut yang dibutuhkan untuk pembentukan kristal permulaan lebih mudah larut daripada kristal besar, sehingga menyebabkan sulitnya ini terbentuk dan tumbuh dengan akibat kegagalan kristalisasi. Kelarutan dapat digambarkan secara benar dengan menggunakan aturan fase Gibbs yaitu : F=C–P+2 Dimana F adalah jumlah derajat kebebasan, yaitu jumlah variabel bebas (biasanya temperatur, tekanan, dan konsentrasi) yang harus ditetapkan untuk menentukan sistem secara

tekanan.000 bagian 1. maka total energi dari proses pertama adalah W22.000 bagian Istilah kelarutan Sangat mudah larut Mudah larut Larut Agak sukar larut Sukar larut Sangat sukar larut Praktis tidak larut Kelarutan suatu senyawa bergantung pada sifat fisika dan kimia zat terlarut dan pelarut. solven dengan solven. dan solut dengan solven terdiri dari tiga tahap (Martin dkk. dan P adalah jumlah fase. 1993). C adalah jumlah komponen terkecil yang cukup untuk menggambarkan komposisi kimia dari setiap fase.000 sampai 10. lubang yang ditinggalkan tertutup. dan untuk jumlah yang lebih kecil bergantung pada terbaginya zat terlarut (Martin dkk. . Tabel 1. Istilah kelarutan zat dalam suatu pelarut (Depkes RI. 2) Tahap kedua menyangkut pembentukan lubang dalam pelarut yang cukup besar untuk menerima molekul zat terlarut. Proses pelepasan ini melibatkan energi sebesar 2W22 untuk memecah ikatan antar molekul yang berdekatan dalam kristal. Proses pelarutan yang melibatkan interaksi solut dengan solut.000 bagian Lebih dari 10. Energi yang dibutuhkan pada tahap ini adalah W11. 1993) yaitu : 1) Tahap pertama menyangkut pemindahan suatu molekul zat dari zat terlarut pada temperatur tertentu. dan setengah dari energi diterima kembali.sempurna. 1995) Bagian pelarut yang diperlukan untuk melarutkan 1 bagian zat Kurang dari 1 bagian 1 sampai 10 bagian 10 sampai 30 bagian 30 sampai 100 bagian 100 sampai 1. pH larutan. Tetapi apabila molekul melepaskan diri dari fase zat terlarut. Kerja yang dilakukan dalam memindahkan satu molekul dari zat terlarut sehingga dapat lewat ke wujud uap membutuhkan pemecahan ikatan antar molekul-molekul berdekatan. selain itu dipengaruhi pula oleh faktor temperatur. Bilangan 11 menunjukkan bahwa interaksi terjadi antar molekul solven.

....... Lubang dalam pelarut yang terbentuk pada gambar 2.S... Kemampuan zat terlarut membentuk ikatan hidrogen merupakan faktor yang lebih berpengaruh dibandingkan polaritas dipol yang tinggi...... Disebabkan karena tingginya tetapan dielektrik yaitu sekitar 80 untuk air. Pelarut polar memecahkan ikatan kovalen dari elektrolit kuat dengan reaksi asam basa karena pelarut ini amfiprotik.......... 2......... ( 1 ) Semakin besar W atau selisih energi yang dibutuhkan pada tahap 1 dan 2 dengan energi yang dilepaskan pada tahap 3..... Kelarutan obat sebagian besar disebabkan oleh polaritas dari pelarut ... terjadi penurunan energi sebesar – W12.. pelarut polar mengurangi gaya tarik menarik antara ion dalam kristal yang bermuatan berlawanan... maka semakin kecil kelarutan zat........ sekarang tertutup. kelarutan obat adalah jumlah mL pelarut dimana akan larut 1 gram zat terlarut..3) Tahap ketiga penempatan molekul zat terlarut dalam lubang pelarut....... Pada keadaan ini. Selain kepolaran dan ikatan hidrogen. kelarutan zat juga bergantung pada perbandingan gugus polar terhadap gugus nonpolar dari molekul.......... Pelarut polar melarutkan zat terlarut ionik dan zat polar lainnya.. energi (W) yang dibutuhkan untuk semua tahap proses tersebut adalah : W = W22 + W11 – 2W12 ........ Secara keseluruhan. Pada pelarut nonpolar tidak dapat mengurangi gaya tarik menarik antara ion –ion elektrolit kuat dan lemah.... yaitu dipol momennya.. Pelarut polar bertindak sebagai pelarut menurut mekanisme berikut : 1.Pharmacopia dan National Formulary.. karena tetapan dielektrik pelarut yang rendah. Menurut U.. pelarut juga tidak ... sehingga tahap ketiga ini melibatkan energi sebesar –W12. selanjutnya akan terjadi penutupan rongga kembali dan kembali terjadi penurunan energi potensial sebesar –W12. Interaksi solutsolven ditandai dengan 12...............

Pengusiran garam (salting out) Dapat diperlihatkan dengan menambahkan sejumlah kecil garam ke dalam larutan berkarbon. Tekanan Tekanan gas di atas larutan adalah pertimbangan penting dalam larutan gas karena tekanan mengubah kelarutan gas terlarut dalam kesetimbangan. σ adalah tetapan perbandingan larutan yang diselidiki. Kelarutan terutama bergantung pada : 1. yang mengurangi kerapatan lingkungan air yang berdekatan dengan molekul gas. . Pada pelarut semipolar seperti keton dapat menginduksi suatu derajat polaritas tertentu dalam molekul pelarut nonpolar sehingga menjadi dapat larut dalam alkohol. disebabkan karena kecendrungan gas yang besar untuk berekspansi. Kelarutan gas dalam cairan Kelarutan gas dalam cairan adalah konsentrasi gas terlarut apabila berada dalam kesetimbangan dengan gas murni di atas larutan. kelarutan gas umumnya turun. Pengaruh tekanan pada kelarutan dinyatakan oleh Hukum Henry yang menyatakan bahwa dalam larutan yang sangat encer. Tekanan parsial diperoleh dengan mengurangi tekanan uap pelarut dari tekanan uap total. konsntrasi gas terlarut sebanding dengan tekanan parsial gas diatas larutan pada kesetimbangan. Hukum Henry dapat ditulis : C2 = σp Dimana C2 adalah konsentrasi gas terlarut dalam gram/liter pelarut. p adalah tekanan parsial gas yang tidak terlarut di atas larutan dalam mmHg.dapat memecahkan ikatan kovalen dan elektrolit yang berionisasi lemah karena pelarut nonpolar termasuk dalam pelarut aprotik dan tidak membentuk jembatan hidrogen dengan nonelektrolit. Hasil penglepasan gas disebabkan karena gaya tarik-menarik ion garam atau zat nonelektrolit yang sangat polar dengan molekul air. 3. 2. Pelarut semipolar dapat bertindak sebagai pelarut perantara yang dapat menyebabkan bercampurnya cairan polar dan nonpolar. pada temperatur konstan. Temperatur Apabila temperatur naik.

adalah pencampuran pada segala perbandingan. menyebabkan penurunan kelarutan. Tercampur sebagian. Penyimpangan negatif mengakibatkan kenaikan kelarutan dan sering dihubungkan dengan ikatan hidrogen antara senyawa polar. Campuran dikatakan ideal apabila kedua komponen larutan biner mengikuti hukum Raoult untuk semua komposisi. pi = pt°. yang terlarut dalam suatu volume larutan Vlarutan pada tekanan gas parsial p. Gaya tarik menarik ini yang dapat terjadi dalam gas. .Xi.atau padatan disebut tekanan dalam. 2.4. didefinisikan sebagai volume gas dalam liter (reduksi pada keadaan standar 0°C dan tekanan 760 mmHg) yang larut dalam 1 liter pelarut pada tekanan parsial gas 1 atmosfer pada temperatur tertentu. Tercampur sempurna. Apabila uap dianggap mendekati ideal. adalah pencampuran yang akan membentuk dua lapisan cairan. tekanan parsial komponen dalam campuran cair pada temperatur tertentu pi. Penyimpangan positif. Kelarutan cairan dalam cairan Menurut hukum Raoult. setara dengan tekanan uap dalam keadaan murni dikalikan fraksi mol komponen dalam larutan. Pengaruh reaksi kimia Perhitungan kelarutan dapat dinyatakan dengan hukum henry maupun dengan koef. Sistem cairan dapat dibagi menjadi 2 sesuai dengan kelarutan zat satu dengan yang lain : 1. Interaksi pelarut dalam zat terlarut dikenal sebagai solvasi. maka komponen lain harus juga menunjukan penyimpangan negatif. Jika salah satu komponen menunjukan penyimpangan negatif. diartikan sebagai akibat asosiasi molekul salah satu kontituen untuk membentuk molekul ganda(dimers) atau polimer dengan order yang lebih tinggi. dimana Vgas adalah volume gas pada STP.absorpsi Bunssen α. masing-masing cairan mengandung cairan lain dalam keadaan terlarut.cairan. tekanan dalam dengan satuan kal/cm3 diperoleh dengan persamaan : Pi = dimana ∆ Hv adalah panas penguapan dan V adalah volume molar cairan pada temperatur T.

Kelarutan ideal tidak dipengaruhi oleh sifat pelarut. gejala ini disebut kelarutan misel. . Kenaikan dalam kelarutan timbal-balik dari dua pelarut yang tercampur sebagian oleh zat lain biasanya disebut blending . Apabila zat ketiga larut dalam kedua cairan dalam jumlah yang sama banyak. Jika zat yang ditambahkan hanya larut dalam salah satu komponen . Larutan Nonideal Larutan nonideal.( ) Dimana X2i adalah kelarutan ideal zat terlarut yang dinyatakan dalam fraksi mol. To adalah titik leleh zat terlarut padat dalam derajat mutlak. titik leleh zat padat. panas peleburan molar ∆ Hf . Persamaan termodinamik untuk larutan ideal zat padat dalam cairan adalah : -log X2i = . kelarutan timbal-balik pasangan cairan akan naik. yaitu panas yang diabsorpsi apabila zat padat meleleh. Tahap pertama menyangkut pemindahan satu molekul dari fase terlarut pada temperatur tertentu. apabila kelarutan cairan nonpolar dalam air naik dengan adanya zat aktif permukaan pembentuk misel. kelarutan timbal-balik pasangan cairan akan turun. dimana kerja yang harus dilakukan dalam memindahkan suatu molekul dari fase terlarut dilakukan beberapa proses yang dapat dipertimbangkan terjadi dalam 3 tahap yaitu : 1. yang dianggap konstan tidak bergantung pada temperatur. panas pelarutan sama dengan panas peleburan. Dalam larutan ideal. dan T adalah temperatur mutlak larutan.Pengaruh zat asing Penambahan suatu zat ke dalam sistem cairan biner menghasilkan sistem terner yaitu suatu sistem yang mempunyai 3 komponen. Kelarutan zat padat dalam cairan Larutan ideal Kelarutan zat padat dalam larutan ideal bergantung pada temperatur.

Solvasi dan Asosiasi dalam Larutan Senyawa Polar Penyimpangan negatif dari Hukum Raoult yang digunakan apabila interaksi spesifik seperti ikatan hidrogen terjadi antara zat terlarut dan pelarut. yang menyatakan bahwa sistem cenderung menyesesuaikan diri sendiri dengan cara sedemikian rupa sehingga akan melawan suatu tantangan misalnya kenaikkan temperatur. Panas hidrasi adalah . akseptor atau keduanya. Apabila terjadi interaksi antara molekul sejenis dari salah satu komponen dalam larutan. ikatan hidrogen. gejala ini disebut sebagai asosiasi. 3. zat yang bertindak sebagai hidrogen (proton) donor umumnya tidak mempunyai sifat akseptor yang sama. Parameter Kelarutan (Parsial) Berganda Dengan menggunakan parameter kelarutan parsial.2. Pengaruh ini sesuai dengan asas Le Chatelier. Panas pelarutaan parsial atau panas pelarutan diferensial adalah panas yang diabsorpsi per mol bila sejumlah kecil terlarut ditambahkan ke dalam sejumlah besar larutan atau laju perubahan panas pelarutan per mol zat terlarut dalam larutan pada setiap konsentrasi. Tahap kedua menyangkut pembentukan lubang dalam pelarut yang cukup besar untuk menerima molekul zat terlarut. Panas pelarutan total atau panas pelarutan integral adalah panas yang diabsorpsi jka 1 mol zat terlarut dilarutkan dalam pelarut yang cukup untuk menghasilkan larutan dengan konsentrasi tertentu. kombinasi khusus pelarut dan zat terlarut ini dikenal sebagai solvasi. Panas pelarutan zat yang berbentuk kristal adalah perbedaan antara panas sublimasi zat padat seperti yang diberikan oleh energi kisi kristal dan panas hidrasi ion dalam larutan. Kelarutan Garam dalam Air Kenaikan temperatur menaikkan kelarutan zat padat yang mengabsorpsi panas (endotermik) apabila dilarutkan. Molekul zat terlarut akhirnya ditempatkan dalam lubang dalam pelarut. Tidak benar bila parameter ikatan hidrogen diartikan untuk diterapkan pada donor. para pengamat dapat memperkirakan kelarutan naftalen dalam sejumlah pelarut polar dan nonpolar. energi kisi adalah energi yang dibutuhkan untuk memisahkan 1 mol kristal ke dalam ionionnya dalam wujud gas atau energi untuk menguapkan zat padat. Tentunya.

Pada beberapa kasus. yang dapat ditunjukkan dengan pengubahan tetapan dielektrikanya (Swarbrick and Boylan. Efek peningkatan kelarutan terutama disebabkan oleh polaritas obat terhadap solven (air) dan kosolven. pada konsentrasi sedang . Kelarutan Elektrolit yang Sukar Larut Apabila elektrolit yang sukar larut dilarutkan untuk membentuk larutan jenuh. tentunnya jika ion sejenis itu tidak membentuk kompleks dengan garam dimana jika terbentuk kompleks maka kelarutan netto dapat naik. Dalam larutan ideal tidak akan terjadi hidrasi (solvasi). garam ini akan menaikan dan bukan menurunkan kelarutan karena adanya penurunan koefisien keaktifan. Ksp dari senyawa. Pemilihan sistem kosolven yang tepat dapat menjamin kelarutan semua . dan pelarut yang dalam kombinasi menaikkan kelarutan zat terlarut disebut cosolvent. Penggunaan kosolven dapat mempengaruhi polaritas sistem. polietilen glikol dan glikofural telah rutin digunakan sebagai zat untuk meningkatkan kelarutan obat dalam larutan pembawa berair. penggunaan kosolven yang tepat dapat meningkatkan kelarutan obat hingga beberapa kali lipat. dan panas yang diabsorpsi hanyalah panas yang dibutuhkan untuk mengubah kristal menjadi wujud cair. AgCl (s) ↔ Ag+ + CL-.panas yang dilepaskan ketika ion-ion gas terhidrasi. kelarutan digambarkan oleh tetapan khusus yang dikenal dengan hasil kali kelarutan. dimana K dapat dicari dengan : K = dan hasil kali kelarutannya adalah Ksp =[Ag+] [Cl-]. Penambahan ion sejenis akan mengurangi kelarutan elektrolit yang sukar larut. 1990). Pengaruh Pelarut pada Kelarutan Obat Zat terlarut lebih larut dalam campuran pelarut daripada dalam satu pelarut saja dimana gejala ini dikenal dengan melarut bersama (cosolvency). Garam-garam yang tidak mempunyai ion sejenis dengan elektrolit yang sukar larut. namun bisa juga peningkatan kelarutannya sangat kecil. Kosolven seperti etanol. propilen glikol. bahkan dalam beberapa kasus penggunaan kosolven dapat menurunkan kelarutan solut dalam larutan berair. Cara ini cukup potensial dan sederhana dibanding beberapa cara lain yang digunakan untuk meningkatkan kelarutan dan stabilitas suatu bahan.

Penambahan alkohol ke dalam larutan yang didapar dari elektrolit lemah dalam airmenaikkan kelarutan zat yang tidak terionisasi dengan mengatur polaritas pelarut pada harga yang lebih yang diinginkan. Menurut FDA (Food and Drugs Administration) beberapa obat dapat dimasukkan dalam BCS (Biopharmaceutical Classification System). Karena kurang polar dibandingkan air. yaitu: 1. 2.komponen dalam formulasi dan meminimalkan resiko pengendapan karena pendinginan atau pengenceran oleh cairan darah. 1989). Ini menunjukkan bahwa misel adalah bersangkutan dengan fenomena ini. Pengaruh Surfaktan Obat yang bersifat asam lemah dan basa lemah dapat dilarutkan dengan bantuan kerja penglarutan dari zat aktif permukaan. Sifat dari surfaktan adalah menambah kelarutan senyawa organik dalam sistem berair. 1981). Pengaruh Gabungan pH dan Pelarut Pelarut mempengaruhi kelarutan elektrolit lemah dalam larutan yang didapar dengan 2 cara. . dan kelarutan obat turun apabila tetapan disosiasi turun (pKa naik). Sifat ini tampak hanya pada cairan dan diatas konsentrasi misel kritis. alkohol menurunkan disosiasi elektrolit lemah. Berbagai bahan tambahan dalam produk obat juga dapat mempengaruhi kinetika kelarutan obat itu sendiri (Lachman dkk. Akibatnya. hal ini akan mengurangi iritasi jaringan pada tempat administrasi obat (Yalkowsky.

Metformin hidrokloride KELAS III Contoh : RENDAH Aciklovir. Glibenclamide. Carbamazepine. Simetidin. Asam mefenamat. Pseudoefedrin sulfat. Nifedipin.Tabel 2. Ketokonazole. Nisoldipin. Cefuroxime. Furosemide. Sistem Klasifikasi Biofarmasetikal (FDA. Parasetamol. Ranitidin. Siklosforin. Kaptopril. Griseofulvin KELAS IV Contoh : Clorothiazide. 2008) KELARUTAN PERMEABILITAS TINGGI KELAS I Contoh : Propanolol. TINGGI Diltiazem. Metoprolol. Itrakonazole KETERANGAN : KELAS I : Kelarutan tinggi – Permeabilitas tinggi . Teofilin. Enalaprilate. Verapamil. Atenolol. Alendronate RENDAH KELAS II Contoh : Danazole. Tobramycin.

. Jika disolusi obat cepat. Etanol. KELAS III : Kelarutan tinggi – Permeabilitas rendah Obat-obat untuk kategori kelas III menunjukkan variasi kecepatan dan besarnya absorbsi obat yang tinggi terhadap permeabilitas. Telah diketahui bahwa kelarutan suatu zat sangat dipengaruhi polaritas bahan pelarut. Adakalanya suatu zat lebih mudah larut dalam pelarut campuran dibandingkan dengan pelarut tunggalnya. gliserin dan propilen glikol adalah contoh co-solvent yang umum digunakan dalam bidang farmasi. Kecepatan disolusi obat secara in-vivo besar jika dosis obat ditingkatkan. maka variasi tersebut dapat disebabkan oleh perubahan fisiologi atau permeabilitas membran yang lebih baik daripada faktor bentuk dosis. KELAS IV : Kelarutan rendah – Permeabilitas rendah Obat-obat untuk kategori kelas IV menunjukkan banyak masalah untuk metabolisme oral yang efektif. Pelarut polar mempunyai konstanta dielektrik yang tinggi sehingga dapat melarutkan zat-zat yang bersifat polar. Konstanta dielektrik adalah suatu besaran tanpa dimensi dan merupakan rasio antara kapasitas elektrik medium (Cx) terhadap vakum (Cv) atau ε = Cx.Cv-1 Besarnya konstanta dielektrik menurut Moore dapat diatur dengan menambahkan bahan pelarut lain. Sedangkan zat-zat non polar sukar larut di dalamnya. Demikian pula sebaliknya zat-zat yang polar sukar larut didalam bahan pelarut non polar. Fenomena ini dikenal dengan istilah co-solvency sedangkan bahan pelarut di dalam pelarut campur yang mampu meningkatkan kelarutan zat disebut cosolvent. khususnya dalam pembuatan sediaan eliksir. Tetapan dielektrik suatu campuran bahan pelarut merupakan hasil penjumlahan tetapan dielektrik masing-masing sesudah dikalikan dengan % volume setiap komponen pelarut. Kecepatan disolusi obat-obat ini tergantung dari kecepatan pengosongan lambung. KELAS II : Kelarutan rendah – Permeabilitas tinggi Obat-obat untuk kategori kelas II mempunyai jumlah absorbsi yang tinggi tetapi dengan jumlah disolusi yang rendah.Obat-obat untuk kategori kelas I menunjukkan jumlah absorbsinya tinggi serta jumlah disolusi yang tinggi pula.

0 6.45 2.4 43.8 21.26 2.8 4.7 25.1 9.39 2.0 2.25 2.8 15.28 2.7 21.7 9.1 3.34 3. propil kelarutan sederhana dari masingmasing obat tidak dapat digunakan untuk memperkirakan kelarutan dalam campuran dari masing-masing isi.24 2-5 Pengaruh Kompleksasi dalam Sistem Multikomponen Apabila bebarapa obat bersama-sama dengan zat tambahan farmasetik berinteraksi dalam larutan membentuk kompleks yang tidak larut.4 Nama Bahan Kloroform Asam hidroklorida Etil eter Minyak zaitun Minyak biji kapas Asam oleat Toluen Benzen Dioksan Minyak lemon Karbon tetraklorida Petrolatum cair ε 4.Data Konstanta Dielektrik Beberapa Bahan Pelarut Nama Bahan N-metilformamid Air Gleserin Metil Alkohol n-propil alkohol Aceton Benzaldehid Amil alkohol Benzil alkohol Fenol Metil Salisilat Etil Asetat ε 190 80.0 33.8 13.6 4. .4 17.

Kelarutan naik dengan turunnya ukuran partikel menurut persamaan : log = Dimana s adalah kelarutan partikel hlus dan so adalah kelarutan zat padat yang terdiri dari partikel-partikel besar. γ adalah tegangan permukaan partikel. R adalah tetapan gas (8. r adalah jari-jari akhir partikel dalam cm. V adalah volume molar.314 x 107erg/der mol) dan T adalah temperatur mutlak.Pengaruh Faktor Lain pada Kelarutan Zat Padat Ukuran dan bentuk partikel kecil juga mempengaruhi kelarutan. sesuai dengan tabel : Air (% v/v) 60 60 60 60 60 60 60 60 Alkohol (% v/v) 0 5 10 15 20 30 35 40 Propilen glikol (% v/v) 40 35 30 25 20 10 5 0 Dilarutkan asam salisilat sebanyak 1 gram ke dalam masing-masing campuran pelarut.CARA KERJA Dibuat 10 ml campuran bahan pelarut. III. yang untuk zat padat sangat sulit diperoleh. .

kemudian dititrasi dengan pentiter NaOH 0. ditentukan kadar asam salisilat. Ditambahkan indikator fenolftalin ke dalam larutan. Jika selama pengocokan terdapat endapan yang larut. . larutan ditambahkan asam salisilat sampai diperoleh larutan yang jenuh kembali. Dibuat kurva antara kelarutan asam salisilat dengan harga konstanta dielektrik bahan pelarut campur yang ditambahkan.1 N.Dikocok larutan dengan alat pengocok orbital selama 2 jam. Larutan disaring.

Kertas saring 6. Gelas erlemeyer 7. Gelas ukur 10 mL 2. Alkohol . ALAT DAN BAHAN Alat 1. Batang pengaduk 4. Pengocok orbital 5. Beaker glass 8. Kertas perkamen 3. Air 2. Buret 9.IV. Standar buret Bahan 1.

NaOH 6. Indikator PP . Propilen glikol 4. Asam salisilat 5.3.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->