SEJARAH : . Berbagai bukti dan catatan sejarah membuktikan keberadaan komunitas warga Tionghoa pada masa prakolonial.

Kedatangan orang Tionghoa ke Asia Tenggara disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain karena bencana kelaparan, situasi politik, dan karena adanya peluang untuk membuka usaha. Faktor-faktor tersebut saling memperkuat satu sama lain yang kemudian mendorong sebagian orang Tionghoa untuk meninggalkan negara asalnya. Makin dikenalnya nama Indonesia dengan kondisi alamnya yang subur, kaya akan rempah-rempah, ditunjang dengan letaknya yang strategis dalam dunia pelayaran, membuat pedagang Cina berkeinginan untuk menetap di Indonesia. Tujuan bangsa Cina datang ke Indonesia, sebelum Belanda datang adalah untuk berdagang, mereka mencari rempah-rempah dari penduduk pribumi untuk dibeli atau ditukar dengan barang-barang yang mereka bawa (terutama kain sutera) dan kemudian dikirim ke Kanton, Hongkong dan Malaka (Lilananda 1993:25). Melalui ekspedisi yang dilakukan, mereka kemudian mengenal kepulauan Indonesia. Pada awalnya bangsa Cina banyak menetap di Pulau Sumatera, Pulau Kalimantan dan akhirnya sampai di Pulau Jawa. lima abad setelah kedatangan Kubilai Khan di Pulau Jawa, orang-orang Tionghoa pernah didatangkan oleh pemerintah kolonial Belanda ketika menjajah Indonesia untuk mengisi sebuah kota yang baru didirikan Belanda, yaitu Batavia. Mereka tidak datang secara sukarela tapi dengan berbagai cara dipaksa oleh Belanda atau atas dasar jual beli, karena kondisi sosial ekonomi yang sulit di negeri asal mereka, orang Tionghoa seringkali menjual dirinya untuk mendapat kehidupan yang lebih baik di negeri rantau. Jumlah mereka terus bertambah, sehingga pemerintah Belanda tidak lagi mampu mengatur mereka. Pada tahun 1740 terjadi suatu insiden pembunuhan terhadap orangorang Tionghoa secara besar-besaran di Batavia, apalagi ditambah dengan adanya tuduhan bahwa mereka ikut dalam gerakan tentara di Jawa Tengah melawan Belanda. Sejak terjadinya peristiwa berdarah tersebut, banyak orang Tionghoa meninggalkan Batavia untuk mendapatkan kehidupan yang lebih bebas. Peristiwa tersebut juga mendorong pemerintah Belanda mengeluarkan bermacam-macam peraturan yang membatasi aktivitas orang-orang Tionghoa di Batavia, terkonsentrasinya pemerintah kolonial Belanda di Batavia memberikan dampak luputnya pengawasan pemerintah kolonial Belanda kepada daerah-daerah di luar Batavia. Sampai saat ini di Kawasan Pecinan masih berdiri bangunan-bangunan dengan aplikasi budaya Cina, yaitu dengan bentuk atap lengkung yang dalam arsitektur Cina disebut atap pelana sejajar gavel. Bentuk atap yang ditemui di Kawasan Pecinan hampir sama dengan bentuk atap yang ditemukan di daerah Cina selatan. Kebanyakan imigran-imigran Cina yang datang ke Indonesia merupakan imigran yang berasal dari propinsi-propinsi di Cina bagian selatan seperti Fukien, Chekian, Kiang Si, dan Kwang Tung, karena propinsipropinsi tersebut mempunyai tingkat kemakmuran yang rendah dan panen hasil pertanian mereka sering gagal karena sering terkena bencana alam (Lilananda 1998:9). Selain itu, tembok yang tebal, plafon yang tinggi, lantai marmer, dan beranda depan dan belakang

Kuil-kuil yang dijelaskan di atas bukan merupakan tempat untuk beribadah. Prinsip-prinip struktur dari arsitektur cina telah membekas dan sulit untuk dihapuskan. Kampung dan Rumah Tionghoa di Indonesia Bentuk awal perumahan masyarakat Cina memang tidak banyak diketahui. Selain itu. dan apabila ada yang berubah. meminta anak. yang berarti bahwa bangunan dengan Arsitektur Cina tidak dapat dikembangkan di perkotaan besar. Umumnya bangunan hunian mereka akan mengadopsi dengan bentuk umum bangunan hunian masyarakat asli di sekitar mereka. Vietnam. biasanya ada bagian tanpa atap untuk menanam tanam-tanaman. untuk tempat mencuci piring dan menjemur pakaian. merupakan rumah-rumah petak di bawah satu atap. Sejak jaman Dinasti Tang. Ciri khas dari rumah masyarakat Tionghoa dengan tipe yang kuno adalah bentuk atapnya yang selalu melancip pada ujung-ujungnya (Chih-Wei). bahkan mereka mendidik orang-orang Cina untuk belajar tentang Arsitektur Barat. sehingga meja abu harus ditempatkan di ruang belakangnya. Orang-orang Cina yang mempelajari Arsitektur Barat ini kemudian mengkombinasikan Arsitektur Tradisinal Cina dengan Arsitektur Barat. tekanan dan paksaan untuk pengembangan permukiman melalui Arsitektur Kontemporer Cina membutuhkan kecepatan konstruksi yang sangat tinggi dan lahan yang cukup luas. di tengah rumah. dan tempat orang mengucapkan syukur. Dinyatakan pula bahwa di tiap-tiap Kampung Tionghoa selalu terdapat satu atau dua kelenteng. akan tetapi hasilnya tidak terlalu maksimal. Di bagian belakang terdapat dapur dan kamar mandi. dan . Arsitektur Cina telah memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap gaya arsitektur di Korea. dengan ukir-ukiran pada tiangtiang dari balok.yang luas juga menandakan adanya gaya Eropa dalam bangunan yang terdapat di Kawasan Pecinan. Untuk itu ia membakar dupa kepada dewa yang melindunginya. Pada awal abad ke-2. Bangsa Barat sudah mulai mengenalkan Arsitektur Barat ke Cina. yang umumnya tidak mempunyai pekarangan. Sebagai ganti pekarangan. tetapi hanya merupakan tempat orang-orang meminta berkah. Bangunan klenteng biasanya masih memiliki bentuk yang khas dan kaya akan ukir-ukiran Tionghoa. mungkin hanya pada unsure dekoratifnya saja. (Vasanty dalam Koentjaraningrat 1999) Ciri Bangunan Cina Kuno Arsitektur Cina mengacu kepada sebuah gaya asitektur yang sangat berpengaruh di kawasan Asia selama berabad-abad lamanya. dan Jepang. Ruangan paling depan dari rumah selalu merupakan ruang tamu dan tempat meja abu. Biasanya ruang ini dipakai sebagai toko. Sesudah itu terdapat lorong dengan di sebelah kanan-kirinya terdapat kamar tidur. Deretan rumah-rumah itu. dengan dominasi Arsitektur Barat.

Atap perisai (membuat sudut) atau hip roof. hiburan. yaitu bergaya arsitektur Cina. Kebanyakan imigran-imigran Cina yang datang ke Indonesia merupakan imigran yang berasal dari propinsi-propinsi di Cina bagian selatan. seperti Fukien. Bentuk atap yang ditemui di Kawasan Pecinan hampir sama dengan bentuk atap yang ditemukan di daerah Cina Selatan. Meskipun demikian. Hal ini dikarenakan imigran-imigran Cina yang datang ke Indonesia kebanyakan berasal dari propinsi-propinsi bagian selatan. Selain bentuk atapnya juga ada unsur tambahan dekorasi dengan ukiran atau lukisan binatang atau bunga pada bumbungannya sebagai komponen bangunan yang memberikan ciri khas menjadi suatu gaya atau langgam tersendiri. yaitu (Lilananda:1993): a. Gabungan atap pelana dan perisai atau gable and hip roofs. Atap pelana dengan struktur penopang atap gantung (pelana di luar gavel) atau overhanging gable roof. Chekian. dan 4. hunian. rumah perkumpulan).digantikan dengan bangunan modern. yang dapat dijumpai pada bagian atap bangunan yang umumnya dilengkungkan dengan cara ditonjolkan agak besar pada bagian ujung atapnya yang disebabkan oleh struktur kayu dan juga pada pembentukan atap. yaitu (Widayati 2003:48): 1. Kiang Si dan Kuang Tung. Chekiang. Atap piramid atau pyramidal roof. Atap pelana dengan dinding sopi-sopi (pelana sejajar gavel) atau flush gable roof. karena propinsi-propinsi tersebut mempunyai tingkat kemakmuran yang rendah dan panen hasil pertanian mereka sering gagal karena terkena bencana alam (Lilananda 1998:9). dan olah raga). Tempat melaksanakan penghormatan pada . jenis bangunannya (Rumah ibadah= klenteng dan vihara. dan Kwang Tung. (Lilananda 1998: 36) Hunian biasanya digambarkan memiliki ciri khas. rumah abu. 3. 2. Secara garis besar bangunan Cina dapat dibedakan fungsi dan jenis bangunannya: Fungsi umum dan pribadi. ruko/hunian campuran. Bangunan ibadah Klenteng Fungsi klenteng dapat dibedakan dari beberapa segi. Segi keagamaan. lain-lain [gudang dan gerbang]. jenis bangunannya (perdagangan dan jasa. Terdapat lima macam bentuk atap bangunan bergaya Cina. seperti Fukien. yang dalam arsitektur Cina disebut atap pelana sejajar gavel. Tempat melaksanakan pemujaan kepada dewa-dewi. segala macam ketrampilan seni konstruksi Cina masih digunakan pada arsitektur vernakular di daerah yang cukup luas di Cina. tempat suci untuk menjalankan ibadah kepada Tuhan. Kiang Si. Salah satu bentuk aplikasi budaya Cina yang masih dapat ditemui di Kawasan Pecinan adalah pada gaya bangunannya yang menonjolkan budaya Cina yakni dalam bentuk atap lengkung. Knapp dalam Lilananda (1998:9) menyatakan bahwa struktur bangunan Cina yang terdapat di Indonesia banyak dipengaruhi oleh bentukan yang ada di Cina Selatan. Bangunan hunian dan usaha.

pembagian zoning yang cukup jelas. Ciri yang kuat dari rumah keluaraga ini. yang paling tidak penting tingkatannya. Segi sosial. Empat paviliun ini sendiri juga menjadi sebuah dinding pada sebelah luarnya. c. Pintu ini menuntun kita pada courtyard yang pertama. privat. vihara adalah tempat/bangunan atau suatu kompleks bangunan tempat umat Buddha beribadah dan pada bangunan tersebut harus ada tempat yang khusus dimana patung sang Buddha diletakkan. dan Tempat menampung segala aktivitas (konsultasi. simetri dan struktur hirarkinya. yaitu publik. dan menjadi tempat tujuan wisata/rekreasi. Pemujaan terhadap leluhur masih merupakan tradisi kuat dalam keluarga Cina (Lilananda 1995:25). Courtyard terbentuk oleh empat paviliun yang mengitari suatu pekarangan dalam. b. juga terdapat tempat untuk umat berkhotbah yang dinamakan Dharmasala dan tempat tinggal untuk para biksu menginap yang disebut kuil (Lilananda:1993). yaitu sebagai hunian di lantai atas dan di lantai bawah digunakan untuk berdagang.orang-orang suci. Rumah besar/rumah keluarga Pada bangunan ini tinggal satu keluarga dengan tiga generasi. menampung segala aktivitas untuk mempelajari kebudayaan (kesusastraan. adanya courtyard sebagai penghubung antara rumah depan dan belakang. dan komunikasi) tentang hal-hal keagamaan. d. Vihara. dan 3. sampai pula beranak cucu yang juga sudah berkeluarga dan tinggal bersama dalam satu rumah. Tempat kontak sosial antar umat. adanya dark alley (lorong) sebagai sirkulasi. pendalaman. Widodo dalam Lilananda (1990:51-52) menyatakan bahwa ciri-ciri rumah Cina adalah sebagai berikut: 1. meneruskan generasi orang tuanya. Bentuk rumah courtyard khususnya di Cina memiliki tiga karakteristik yang terlihat sangat penting. misalnya untuk pembantu laki- . barongsai) terutama di kalangan generasi muda. Bangunan Hunian dan Usaha Rumah toko Bangunan ini mempunyai dua fungsi. Inilah cikal bakal konsep ruko yang terlihat sekarang menjamur di kota-kota besar (Lilananda 1995:25). Gerbang yang merupakan akses menuju courtyard hampir selalu diletakkan pada sudut tenggara dengan pertimbangan Hong-Sui. Umumnya anak lelaki tertua yang tinggal di dalam rumah ini. dan Menyediakan tempat bermalam bagi umat yang membutuhkan ketika berkunjung kesana. semi publik. yaitu bentuknya yang tertutup yakni biasanya bangunan dikelilingi oleh tembok-tembok yang memisahkan bangunan dengan lingkungan sekitarnya. Tempat melaksanakan upacara keagamaan. tarian. ada meja sembahyang atau meja abu leluhur setelah masuk dari pintu utama rumah keluarga ini. Segi kebudayaan. tempat penyaluran dan pemberian bantuan/amal bagi umat yang kurang mampu serta pada fakir miskin. dan servis. 2.

Pada sisi timur dan sisi barat court utama terdapat tempat tinggal keluarga generasi kedua. Ajaran Konghucu dimanifestasikan dalam bentuk keseimbangan dan harmonisasi terhadap adanya konsep ganda. Keduanya membentuk satu kesatuan yang seimbang dan harmonis. Non-formalitas dicapai dalam bentuk penataan taman yang khas dinamis dan tidak simetris. dan 3. atau keluarga yang paling miskin. Court yang pertama. Arsitektur kolonial milik etnis Tionghoa di Indonesia Skala arsitektur bangunan Cina. Keseimbangan antara formal dan non-formal. Gambaran dari bentuk sebuah bangunan courtyard di Cina (Gambar 2). harmonisasi dengan alam. Bahkan bangunan dua lantai yang tingginya lima sampai enam kali tinggi manusia. Umumnya. Beberapa karakter arsitektur Cina Pada buku tulisan Gin Djin Su (1964) dijelaskan bahwa karakter arsitektur Cina dapat dilihat pada: 1. Formalitas dicapai dengan bentuk denah rumah atau peletakan bangunan yang simetris. struktur bangunan merupakan rangka kayu di mana rangka tersebut menerima beban atap yang diteruskan ke bawah melalui kolom-kolom. 2. dengan pengaturan teritisan yang rendah tetap memberikan kesan kehangatan yang sangat manusiawi. Rangkaian sistem kolom dan balok merupakan suatu hal yang spesifik. melewati pintu kedua menuju courtyard kedua yang merupakan court utama. Pola tata letaknya. tamu atau keluarga yang tidak dekat hubungannya. panggung dan teras depan/balkon digunakan sebagai ruang transisi. lebih menunjukkan skala manusia daripada Tuhan. dapur dan lain sebagainya. pola tata letak bangunan dan lingkungan merupakan pencerminan keselarasan. kadang-kadang dapur juga ditemukan di sini (Lilananda 1998:16-18). Emperan yang rendah digaris beranda depan dan ketinggian wuwungan yang masih empat kali tinggi manusia memberikan inpreresi masih bisa dicapai oleh manusia yang hidup di halaman sekitarnya. Berseberangan dengan bangunan ini dibangun ruang service. di belakang bangunan utama terdapat court ketiga yang merupakan tempat tinggal selir dan pembantu tinggal. . dan terdapat dua buah bangunan yang berseberangan dan menghadap selatan. Sistem struktur bangunan. berbeda dengan bangunan di Eropa. Pada banyak kasus ditemukan.laki. sistem struktur merupakan sistem rangka yang khas dan merupakan struktur utama yang mendukung bobot mati atap. Bangunan ini merupakan tempat berkumpul keluarga inti dan bangunan di seberangnya merupakan tempat istirahat dan tidur. Keberadaan panggung dan teras depan/balkon. Beban yang disangga struktur utama disalurkan melalui kolom.

Tou-Kung. Skala arsitektur bangunan Cina. biru. Ujung balok dihiasi dengan kepala singa yang berfungsi menangkal pengaruh roh jahat. 4. logam dan tanah. berbeda dengan bangunan di Eropa. merah dan hitam yang selalu dikaitkan dengan unsur-unsur alam seperti air. warna biru dan hijau berada di posisi timur dan memberikan arti kedamaian dan keabadian. ada beberapa tipe atap yaitu. terdapat dua macam struktur kayu yang memberikan perbedaan besar pada perletakan kolom dan perbedaan sistem penyangga atap. Penggunaan warna. Warnawarna tersebut di antaranya: a.Pintu dan jendela merupakan pengisi saja. dan atap. merah untuk kolom dan bangunan. Prinsip dasar komposisi warna adalah harmonisasi yang mendukung keindahan arsitekturnya. Warna . Semua evolusi yang terjadi adalah pada proporsinya. kekayaan. kuil atau tempat ibadah dan rumah tinggal keluarga kaya. dan kekuasaan. wu tien. Di dapat satu kenyataan bahwa arsitektur Cina berkembang sesuai dengan jamannya. dan 5. penggunaan warna pada arsitektur Cina juga sangat penting karena jenis warna tertentu melambangkan hal tertentu pula. kayu. siku penyangga bagian atap yang di depan (teras) merupakan bentuk yang khas dari arsitektur Cina dan karena keunikannya. Sistem struktur Tai Liang adalah sistem tiang dan balok yang mana balok terendah diletakkan di atas kolom ke arah lebar bangunan. Umumnya warna yang dipakai adalah warna primer seperti kuning. Warna merah yang melambangkan kebahagiaan. Plat beton ini juga dipakai untuk lisplank serta atap. 3. Studi arkeologis menerangkan bahwa. warna merah berada di selatan dan memberikan arti kebahagiaan dan nasib baik. biru dan hijau untuk balok. Keseluruhan bangunan Cina dirancang dalam modul-modul standard dan modulor dari variabel ukuran yang absolut proporsi yang benar melindungi dan mempertahankan hubungan harmoni bagaimanapun besarnya struktur. Dua sistem struktur ini. Lantai atas umumnya merupakan lantai-lantai papan yang disangga oleh balok. 1986: 6-7). Beban bergerak dan beban mati yang diterima lantai diteruskan ke dinding untuk diteruskan ke pondasi. b. Sistem kuda-kuda yang digunakan merupakan khas arsitektur Cina. menurut arkeolog berasal dari dua cara membangun rumah tinggal. Dua sistem konstruksi tadi adalah Tai Liang dan Chuan Dou. putih. yaitu kuda-kuda segi empat. hsuah han dan ngang shan ti. Putih berada di barat dengan arti penderitaan (duka cita) dan kedamaian. hsieh han. Hal ini berkaitan dengan kepercayaan-kepercayaan yang berkaitan dengan orientasi baik dan buruk. Terasan yang rendah digaris beranda depan dan ketinggian wuwungan yang masih empat kali tinggi manusia memberikan inpreresi masih bisa dicapai oleh manusia yang hidup di halaman sekitarnya. siku penyangga. Merupakan sistem konsol penyangga kantilever bagian teras sehingga keberadaannya dapat dilihat dari arah luar. disebut toukung. api. sedangkan pintu dan jendela pada bagian teras menggunakan sistem bongkar-pasang (knock down). Ornamen tou-Kung ini akan terlihat jelas pada bangunan-bangunan istana. Sistem ini memiliki Kolom-kolom yang didirikan kearah tranvesal dan saling di ikat. lebih menunjukkan skala manusia daripada Tuhan. sedangkan warna kuning melambangkan kekuatan. oleh karena itu bisa bersifat fleksibel. Warna putih dan biru dipakai untuk teras. Tailiang berasal dari gua primitif yang berkembang di Cina Utara dan Chuan Dou berasal dari rumah di atas pohon (Knapp. Hitam berada di utara yang melambangkan kerusakan. Semua proporsi dan aturan tergantung pada sistem standart dimensi kayu dan standard pembagiannya. Bentuk atap. Bahkan bangunan dua lantai yang tingginya lima sampai enam kali tinggi manusia. Warna-warna di sini memberikan arti tersendiri. dengan pengaturan teritisan yang rendah tetap memberikan kesan kehangatan yang sangat manusiawi. Sistem struktur kedua dinamakan Chuan Dou.

Di daerah Tiongkok Selatan tempat banyak orang Tionghoa Indonesia berasal. dengan suasana yang romantis. baik dalam wujud inskripsi yang menunjukkan tingkat intelektualitas maupun dalam wujud simbol kosmologis yang menunjukkan status si pemilik di dalam masyarakat. Pintu gerbang biasanya berhadapan langsung dengan jalan menghadap ke selatan (orientasi baik). lebih menunjukkan skala manusia daripada Tuhan. Warna biru gelap juga merupakan warna berduka cita. Ruang terbuka ini sifatnya lebih privat. Ciri-ciri tersebut adalah sebagai berikut: 1. 2. d. Semua orang tahu bahwa bentuk atap Arsitektur Tionghoa . khususnya bangunan rumah tinggal. Emperan yang rendah digaris beranda depan dan ketinggian wuwungan yang masih empat kali tinggi manusia memberikan inpreresi masih bisa dicapai oleh manusia yang hidup di halaman sekitarnya. Arsitektur kolonial milik etnis Tionghoa di Indonesia Skala arsitektur bangunan Cina. courtyard nya lebih sempit karena lebar kapling rumahnya tidak terlalu besar (Khol 1984:21). Warna hitam merupakan warna netral dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari. dan keharmonisan. Rumah-rumah orang-orang Tionghoa Indonesia yang ada di daerah Pecinan jarang mempunyai courtyard. Gerbang. Warna putih melambangkan kematian dan berduka cita. 6. dan 7. Gih Djin Su memasukkan pintu gerbang sebagai Ciri Arsitektur Cina. detail balkon atau angin-angin biasanya menggunakan bentuk-bentuk tiruan bunga krisan atau bentuk kura-kura darat. kesehatan. . Detail balkon. Beberapa ciri dari arsitektur Tionghoa di daerah Pecinan sampai sebelum tahun 1900. Courtyard menjadi ukuran status penghuni ditambah ornamen-ornamen aristektur lain. c. Courtyard merupakan ruang terbuka pada rumah Tionghoa.kuning juge melambangkan kebahagiaan dan warna kemuliaan. Kalaupun ada ini lebih berfungsi untuk memasukkan cahaya alami siang hari atau untuk ventilasi saja. Biasanya digabung dengan kebun/taman. Penekanan pada bentuk atap yang khas. dengan pengaturan teritisan yang rendah tetap memberikan kesan kehangatan yang sangat manusiawi. Pada pintu gerbang biasanya dipasang tanda pengenal penghuni dan juga gambar-gambar dewa atau tokoh dalam Mitos Cina atau tulisan-tulisan yang berfungsi sebagai penolak bala. Rumah-rumah gaya Tiongkok Utara sering terdapat courtyard yang luas dan kadang-kadang lebih dari satu. yang memiiki makna panjang umur. Warna hijau melambangkan kesejahteraan. Pintu gerbang ini berfungsi sebagai ruang transisi antar luar bangunan dan di dalam bangunan. Courtyard pada Arsitektur Tionghoa di Indonesia biasanya diganti dengan teras-teras yang cukup lebar. e. Bahkan bangunan dua lantai yang tingginya lima sampai enam kali tinggi manusia. dan f. berbeda dengan bangunan di Eropa. Courtyard.

yang dihubungkan dengan kemakmuran dan keberuntungan. . atau pertemuan antara kolom dan balok. yaitu arah Selatan. Ukir-ukiran serta konstruksi kayu sebagai bagian dari struktur bangunan pada arsitektur Tionghoa. Meskipun banyak warna-warna yang digunakan pada bangunan. dapat dilihat sebagai ciri khas pada bangunan Tionghoa. Semua proporsi dan aturan tergantung pada sistem standart dimensi kayu dan standard pembagiannya. Budaya Cina dalam Arsitektur Secara kosmologis. Arah utara-selatan menjadi acuan utama. ritual-ritual. Arsitektur Cina dibangun tidak dengan bahan-bahan permanen. hanya ada beberapa yang paling banyak di pakai di Indonesia. Warna pada arsitektur Tionghoa mempunyai makna simbolik. tidak dapat diragukan lagi. Diantara semua bentuk atap. Merah menyimbolkan warna api dan darah. angin udara yang dingin menjadi kontras terhadap angin selatan. tapi warna merah dan kuning keemasan paling banyak dipakai dalam arsitektur Tionghoa di Indonesia. Di antaranya jenis atap pelana dengan ujung yang melengkung keatas yang disebut sebagai model Ngang Shan. Bahkan diekspose tanpa ada finishing tertentu. bahkan rangka atapnya dibuat sedemikian indah. Warna merah banyak dipakai di dekorasi interior. Keahlian orang Tionghoa terhadap kerajinan ragam hias dan konstruksi kayu. Penggunaan warna yang khas. Dengan demikian keseluruhan bangunan Cina dirancang dalam modulmodul standard dan moduler dari variabel ukuran yang absolut proporsi yang benar melindungi dan mempertahankan hubungan harmoni bagaimanapun besarnya struktur. maupun bujur sangkar. Warna tertentu pada umumnya diberikan pada elemen yang spesifik pada bangunan. Susunan aristektur berbatas dinding di Bumi biasanya ditemui dalam penataan geometris yang ketat. tradisi arsitektur Cina melambangkan semesta-langit dalam bentuk-bentuk bulat dan dunia-Bumi dalam bentuk kubus. Warna merah juga dihubungkan dengan arah. Merah juga simbol kebajikan. sehingga tidak perlu ditutupi. 3. ditata berdasarkan arah mata angin. Ruang ditata berlapis-lapis dalam suatu seri pola grid yang tegas baik bentukan ruang-ruang luar (coutryards) maupun dalam susunan ruangruang dalam. persegi panjang.yang paling mudah ditengarai. mungkin karena secara klimatologis. Susunan geometris. sebagai bagian dari keahlian pertukangan kayu yang piawai. Itulah sebabnya warna merah sering dipakai dalam arsitektur Tionghoa. Elemen-elemen struktural yang terbuka (yang kadang-kadang disertai dengan ornamen ragam hias). mungkin ada hubungannya dengan negasi terhadap segala bentuk yang bersifat fana. dan umumnya dipakai untuk warna pilar. dan nilai hadir lebih utama dari bangunan yang dianggap fana. Detail-detail konstruktif seperti penyangga atap (tou kung). kebenaran dan ketulusan. dan 4. serta sesuatu yang positif.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful