P. 1
REPRODUKSI AYAM

REPRODUKSI AYAM

|Views: 3,435|Likes:
Published by metrizal_poenya
Upload by metrizal_poenya
Upload by metrizal_poenya

More info:

Published by: metrizal_poenya on Mar 15, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/24/2013

pdf

text

original

PROSES PEMBENTUKAN TELUR DAN TEKHNIK INSEMINASI BUATAN PADA TERNAK AYAM

Oleh METRIZAL A.0910200

PROGRAM STUDI PETERNAKAN FAKULTAS AGRIBISNIS DAN TEKNOLOGI PANGAN UNIVERSITAS DJUANDA 2011

I.

SEJARAH AYAM PETELUR Ayam petelur adalah ayam-ayam betina dewasa yang dipelihara khusus untuk diambil telurnya.Asal mula ayam unggas adalah berasal dari ayam hutan dan itik liar yang ditangkap dan dipelihara serta dapat bertelur cukup banyak.Tahun demi tahun ayam hutan dari wilayah dunia diseleksi secara ketat oleh para pakar.Arah seleksi ditujukan pada produksi yang banyak, karena ayam hutan tadi dapat diambil telur dan dagingnya maka arah dari produksi yang banyak dalam seleksi tadi mulai spesifik.Ayam yang terseleksi untuk tujuan produksi daging dikenal dengan ayam broiler, sedangkan untuk produksi telur dikenal dengan ayam petelur.Selain itu, seleksi juga diarahkan pada warna kulit telur hingga kemudian dikenal ayam petelur putih dan ayam petelur cokelat.Persilangan dan seleksi itu dilakukan cukup lama hingga menghasilkan ayam petelur seperti yang ada sekarang ini.Dalam setiap kali persilangan, sifat jelek dibuang dan sifat baik dipertahankan ( terus dimurnikan ).Inilah yang kemudian dikenal dengan ayam petelur unggul.

Menginjak awal tahun 1900-an, ayam liar itu tetap pada tempatnya akrab dengan pola kehidupan masyarakat dipedesaan. Memasuki periode 1940-an, orang mulai mengenal ayam lain selain ayam liar itu. Dari sini, orang mulai membedakan antara ayam orang Belanda (Bangsa Belanda saat itu menjajah Indonesia) dengan ayam liar di Indonesia.Ayam liar ini kemudian dinamakan ayam lokal yang kemudian disebut ayam kampung karena keberadaan ayam itu memang di pedesaan.Sementara ayam orang Belanda disebut dengan ayam luar negeri yang kemudian lebih akrab dengan sebutan ayam negeri (kala itu masih merupakan ayam negeri galur murni). Ayam semacam ini masih bisa dijumpai di tahun 1950-an yang dipelihara oleh beberapa orang penggemar ayam. Hingga akhir periode 1980-an, orang Indonesia tidak banyak mengenal klasifikasi ayam.Ketika itu, sifat ayam dianggap seperti ayam kampung saja, bila telurnya enak dimakan maka dagingnya juga enak dimakan.Namun, pendapat itu ternyata tidak benar, ayam negeri/ayam ras ini ternyata bertelur banyak tetapi tidak enak dagingnya.

Ayam yang pertama masuk dan mulai diternakkan pada periode ini adalah ayam ras petelur white leghorn yang kurus dan umumnya setelah habis masa produktifnya.Antipati orang terhadap daging ayam ras cukup lama hinggamenjelang akhir periode 1990-an. Ketika itu mulai merebak peternakan ayam broiler yang memang khusus untuk daging, sementara ayam petelur dwiguna/ayam petelur cokelat mulai menjamur pula.Disinilah masyarakat mulai sadar bahwa

ayam ras mempunyai klasifikasi sebagai petelur handal dan pedaging yang enak.Mulai terjadi pula persaingan tajam antara telur dan daging ayam ras dengan telur dan daging ayam kampung.Sementara itu telur ayam ras cokelat mulai diatas angin, sedangkan telur ayam kampung mulai terpuruk pada penggunaan resep makanan tradisional saja. Ayam kampung memang bertelur dan dagingnya memang bertelur dan dagingnya dapat dimakan, tetapi tidak dapat diklasifikasikan sebagai ayam dwiguna secara komersialunggul.Penyebabnya, dasar genetis antara ayam kampung dan ayam ras petelur dwiguna ini memang berbeda jauh.Ayam kampung dengan kemampuan adaptasi yang luar biasa baiknya.Sehingga ayam kampung dapat mengantisipasi perubahan iklim dengan baik dibandingkan ayam ras.Hanya kemampuan genetisnya yang membedakan produksi kedua ayam ini.Walaupun ayam ras itu juga berasal dari ayam liar di Asia dan Afrika. II. REPRODUKSI PADA AYAM II.1 PROSES PEMBENTUKAN TELUR Proses pembentukan telur ayam terjadi di sepanjang alat reproduksi ayam betina yang terdiri dari ovarium dan oviduct. Waktu menetas, ayam betina mempunyaidua ovarium dan dua oviduct.Tetapi dalam perkembangannya ovarium dan oviduct sebelah kanan mengalami kemunduran dalam pertumbuhannya.Dengan demikian alatreproduksi sebelah kiri yang berkembang dengan baik untuk menghasilkan telur sedangkan sebelah kanan tidak berfungsi, dan mengecil. Proses pembentukan telur ayam dan tempat berlangsungnya antara lain: a. Ovarium menghasilkan sel telu. Dalam perkembangan selanjutnya sel telur ini akan menjadi kunng telur. Apabila kuning telur masak, maka akan lepas dari overium kemudian akan jatuh dan masuk kedalam funnel. b. Oviduct adalah saluranreproduksi yang memanjang dari funnel sampai kloaka. Perjalanan kuning telur di dalam oviduct merupakan proses pembentukan telur yang sesunguhnya, karena dalam saluran ini terjadi pengisian material telur. Panjang saluran ini sekitar 66 cm dan terdiridari beberapa bagian yaitu: 1. Funnel Funnel adalah bagian terdepan dari oviduct yang berbentuk seperti corong dan merupakan saluaran sepanjang 6 cm. kuning telur berada dalam funnel selama 15 menit dan oleh gerakan otot oviduct didorong ke dalam magnum.

2.

Magnum Magnum adalah bagian oviduct yang terpanjang yaitu 33 cm. Pada magnum telur akan dilapisi dengan zat putih telur. Zat putih telur yang dihasilkan oleh dihasilkan oleh sel-sel piala yang terdapat pada permukaan dinding sebelah dalam magnum. Proses yang terjadi di dalam magnum berlangsung selama 2-15 menit.

3.

Isthmus Di dalam saluran sepanjang 10 cm ini penambahan zat putih telur masih terus berlanjut.Selain itu di dalam isthmus juga terjadi pembentukan dua lapisan kulit telur yaitu bagian luar dan dalam. Lapisan luar akan menjadi kulit telur yang keras, sedangkan lapisan dalam berkembang menjadi selaput seperti kulit. Kedua lapisan ini saling melekat satu sama lain, kecuali pada bagian yang tumpuldi mana nantinya akan terdapat rongga udara. Proses pembentukan telur disini berlangsung sekitar 1 jam 15menit.

4.

Uterus Di dalam uterus (12 cm) terjadi penyempurnaan bentuk telur selama sekitar 20 jam 45 menit, disini terjadi penambahan putih telur, air, mineral dan vitamin. Penyempurnaan kulit telur dan pewarnaan kulit telur juga terjadi di dalam uterus.

5.

Vagina Sesudah terbentuk sempurna, telur kemudian didorong ke dalam vagina yang panjangnya sekitar 5 cm dan berhenti beberapa saat sebelum masuk ke dalam kloaka untuk kemudian dikeluarkan dari tubuh ayam. Dengan demikian dalam proses pembentukantelur aym disepanjang saluran reproduksi diperlukan waktu yang lama. Total dibutuhkan antara 24-25 jam untuk menghasilkan setiap butir telur ayam.

6.

Kloaka Kloaka merupakan merupakan bagian paling ujung luar dari induk tempat dikeluarkannya telur. Total waktu untuk pembentukan sebutir telur adalah 25-26 jam. Ini salah satu penyebab mengapa ayam tidak mampu bertelur lebih dari satu butir/hari.Di samping itu, saluran reproduksi ayam betina bersifat tunggal.Artinya, hanya oviduk bagian kiri yang mampu berkembang.Padahal, ketika ada benda asing seperti /yolk/ (kuning telur) dan segumpal darah, ovulasi tidak dapat terjadi. Proses pengeluaran telur diatur oleh hormon.

Masalah-masalah yang berkaitan dengan system pemeliharaan dan penyakit sebagai pengaruh terhadap kualitas telur antara lain: 1. Telur dengan kerabang keriput. Ini terjadi karena kerabang kehilangan bentuknya sewaktu penambahan zat penyusunannya sehingga lapisannya tidak rata.Penyebab utama hal ini adalah karena ayam terserang Infectious Bronchitis (IB). Penyebab lain yang memungkinkan adalah karena terjadi tekanan pada telur di dalam uterus ketika awal penambahan kalsium. Penanggulangan yang dapat dilakukan adalah dengan mengontrol kembali program vaksinasi IB, disamping menghindarkan hal-hal di dalam kandang yang dapat menyebabkan terjadinya stres pada ayam. 2. Telur dengan kerabang tebal di bagian tengah. Bentuk telur menjadi tidak oval karena terjadi penebalan pada bagian tengah yang melingkari telur.Ini disebabkan oleh rusaknya kerabang (di dalam uterus) sesaat menjelang pengerasan. Selanjutnya secara kompensatif, ayam berusaha

memperbaikinya dengan cara penambahan ulang, maka terjadilah penebalan di

bagian tengah. Masalah ini dapat ditanggulangi dengan menambah sarang bertelur di dalam kandang apabila menggunakan kandang sistem litter. Untuk kandang battery, mengurangi jumlah ayam di dalam sangkar merupakan cara

penanggulangan yang baik. 3. Telur terkontaminasi darah dan kotoran. Telur kehilangan warna aslinya karena terkontaminasi darah dan kotoran.Hal ini disebabkan ayam mengalami pendarahan di bagian cloaca, akibat terlalu gemuk pada saat mulai bertelur atau terjadi kanibalisme diantara kelompok

ayam.Pendarahan dapat dicegah dengan salalu mengontrol berat badan ayam dara, melakukan potong paruh serta memberikan hijauan utuh, misalnya daun pepaya.Sedangkan untuk menghindari kontaminasi oleh kotoran, usahakan lantai dan tempat bertelur agar selalu bersih. 4. Telur dengan kerabang lunak. Kerabang telur sangat tipis sehingga telur mengalami perubahan bentuk. Keadaan ini disebabkan oleh belum sipanya ayam untuk bertelur (terlalu dini). Penyebab lainnya mungkin karena ayam terserang IB, dan kekurangan unsur kalsium di dalam pakannya Pengontrolan dan perbaikan terhadap program vaksinasi IB merupakan tindakan pencegahan yang efektif, disamping menyediakan pecahan kulit kerang sebagai sumber tambahan kalsium. 5. Telur tanpa kerabang. Seperti halnya telur dengan kerabang lunak, penyebabnya adalah IB. Disamping itu ayam terganggu sewaktu proses pembentukan telur sedang berlangsung. Selain memperbaiki program vaksinasi IB, hal lain yang dapat membantu memecahkan masalah ini adalah mengurangi jumlah ayam di dalam kandang atau mengurangi kepadatan. 6. Telur dengan darah atau daging di dalamnya. Ini hanya dapat dilihat apabila telur dipecahkan, ternyata ditemukan darah atau daging. Penyebabnya adalah luka pada saluran darah di dalam ovarium sehingga sewaktu kuning telur dilepaskan, darah atau daging turut bersama-sama dalam proses embentukan telur. Mengusahakan situasi yang tenang di dalam kandang dan mengontrol pakan dari masa kadaluarsa serta tercemarnya oleh air dan jamur, merupakan tindakan pencegahan dini.

7. Telur dengan butir-butir kalsium. Pada permukaan kerabang terdapat bintik/butir yang menempel.Apabila kita lepas, maka telur menjadi berlubang.Penyebab yang nyata dari kasus ini tidak jelas, tetapi besar kemungkinan disebabkan oleh adanya bahan atau benda yang asing di dalam oviduct. 8. Telur dengan dua atau lebih kuning telur. Hal ini terjadi karena pada waktu pelepasan oleh ovarium, secara bersama-sama jatuh dua atau lebih kuning telur ke dalam infundibulum. Kemudian proses pembentukan telur berjalan sebagaimana mestinya. 9. Telur di dalam telur. Terjadi karena oviduct terganggu sehingga telur yang sudah lengkap yang semestinya keluar akan terdorong kembali ke dalam uterus, bersamaan dengan datangnya telur dari istmus yang kemudian mengalami proses penambahan kerabang bersama-sama. Walaupun ini jarang terjadi, menjaga ketenangan ayam merupakan tindakan pencegahan dini yang efektif. 10. Cacing di dalam telur. Terjadi akibat masuknya cacing ke dalam saluran telur melalui cloaca dan akhirnya ikut terproses pada pembentukan telur.Pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan selalu mengontrol program pemberian obat cacing secara reguler serta menjaga kebersihan kandang dan sarang bertelur.

II.2 INSEMINASI BUATAN PADA AYAM Dalam tatalaksana pemeliharaan ayam lokal yang intensif, terkadang untuk memelihara sejumlah ayam jago, dapat menambah input pakan dan ruang kandang. Oleh karena itu dalam beberapa hat yang dianggap cukup praktis, inseminasi buatan juga dapat diaplikasikan untuk ayam lokal. Teknik IB didefinisikan sebagai salah satu cara pembuahan atau fertilisasi ayam yang dilakukan dengan bantuan tangan manusia. Semen atau mani yang ditampung dari ayam jago kemudian dimasukan ke dalam saluran reproduksi (vagina) ayam betina produktif. Sebelum semen disemprotkan ke dalam vagina betina, semen dapat diencerkan sampai beberapa kali, sehingga jumlah betina yang bisa dibuahi bisa lebih banyak dibandingkan apabila ditakukan perkawinan alam. Beberapa keuntungan dalam aplikasi IB diantaranya adalah: 1) Peningkatan rasio perkawinan: Dalam suatu kelompok ayam dewasa biasanya terdapat satu jantan untuk 10 betina, dengan IB rasio di atas dapat ditingkatkan hingga empat kali, 2) Pemanfaatan ayam jago tua unggul. Biasanya ayam jago tua sudah lemah dalam bergerak, namun kualitas semen masih baik, sehingga dengan IB ayam jago tua unggul ini masih bisa dipakai untuk membuahi betina, 3) Pemanfaatan jago unggul yang cedera.Sama halnya dengan jago tua yang sudah lemah, ayam jago cederapun dapat dimanfaatkan sebagai pemacak metalui IB, 4) Pemanfaatan ayam betina yang ditempatkan dalam kandang batere. Ayam betina dalam kandang batere dapat di IB, sehingga menghasilkan telur fertil, bahkan dengan mudah dapat diidentifikasi asat induk dan jago yang membuahi apabila ditakukan suatu program pemutiabiakan, 5) Pemanfaatan dalam perkawinan silang Dalam satu ketompok, ayam betina hanya memilih ayam jago, untuk mengawininya yang memperlihatkan karakter kebugaran yang tinggi, seperti tampilan jago dengan frekuensi kepakan sayap yang tinggi, sehingga apabila kita tidak dapat menyediakan ayam jago yang mempunyai karakter seperti di atas, padahat ayam jago tersebut memitiki potensi genetic untuk suatu sifat produksi yang tinggi, maka teknik IB dapat mengatasi persoatan ini, terutama apabila program pemutiabiakan dilakukan untuk membentuk hibrida,yang ada kemungkinan ayam betina dari satu jenis betum tentu menyukai ayam jago jenis lain yang kurang gagah, ukuran tubuhnya terlalu kecil atau terlalu besar dari ayam betinanya. Faktor yang menyebabkan teknik IB tidak memberikan hasil fertilitas tinggi, yaitu pelaksanaan oleh operator yang kurang higienis, sehingga terjadi kontaminasi semen oleh kotoran pada saat koleksi dari ayam jago.Sebelum metaksanakan teknik IB seorang operator tertebih dahutu harus mengetahui kualitas semen ayam jago dan keturunan yang baik.disajikan kualitas semen beberapa kelompok ayam lokal, yang bisa dijadikan pedoman datam melaksanakan teknik IB terutama dalam menghitung berapa

banyak semen akan diencerkan untuk menghasilkan sejumlah spermatozoa yang akan dipakai. Rataan konsentrasi sperma ketiga jenis ayam lokat relatif sama (sekitar 2,26 milyar sperma/ml). Gerakan massa sperma merupakan cerminan dari gerakan individu sperma. Semakin aktif dan banyak sperma yang bergerak ke depan, maka gerakan massa pun semakin bagus (semakin tebal dan pergerakannya semakin cepat). Gerakan massa yang diperoleh dari penelitian ini berkisar antara 3+) sampai (4+) dan persentase sperma hidup rata-rata 88%. Berbeda dengan ternak sapi, IB hanya dapat dilakukan 1 - 3 kali sampai terjadi fertilisasi, kemudian IB tidak dilakukan lagi sampai anak sapi lahir.Teknik I B pada ayam dapat dilakukan berkali-kali untuk menghasitkan sebanyak- banyaknya telur fertil untuk ditetaskan. Lake dan Stewart (1978) metaporkan bahwa untuk satu kali IB (dengan kualitas semen yang baik dan berisi 100 juta spermatozoa), induk ayam akan terus menerus menghasilkan telur fertil selama rata-rata 12 hari periode fertil. Keadaan seperti ini terjadi karena dalam organ reproduksi ayam betina yang terdiri dari sebelah luar mulai dari kloaka, vagina, uterus, magnum, infundibulum dan ovarium, terdapat lipatanlipatan tabung (tubule) tempat tertahannya 1-2 juta spermatozoa. Begitu keluar dari tubule, spermatozoa secara pasif terdorong naik ke saturan infundibutum, di tempat set telur dibuahi. Faktor keberhasilan fertilisasi adalah jumlah spermatozoa yang terkumpul disekeliling set telur selama 15 - 20 menit setelah ovulasi. Setiap telur untuk fertilisasi yang baik membutuhkan sekitar 500 spermatozoa. Frekuensi terbaik dalam melaksanakan IB adalah interval 5 hari dengan menghasilkan fertilitas 73,4% dibandingkan apabila dilakukan dengan interval 10 hari yang hanya menghasilkan fertilitas 71,83% dan interval 15 hari menghasilkan 57,43%. Untuk memudahkan, pelaksanaan 1B dilakukan dua kali dalam satu minggu. Spermatozoa yang setiap kali digunakan berjumlah sekitar 100 juta dengan volume semen 0,1 - 0,2 ml setiap kali IB. Oleh karena itu semen segar dapat diencerkan maksimum 10 kali dengan larutan NaCI fisiologis atau larutan Ringer's. Adapun alat untuk IB berupa syringe 1 ml dengan tabung reaksi dan tabung gelas kecil, Beberapa tahap yang harus dilakukan dalam rangka melaksanakan IB adalah pengandangan ayam jago, koleksi semen dan petaksanaan IB pada ayam betina. Ayam jago sumber semen, sebaiknya dikurung datam kandang berukuran cukup besar untuk dapat mengepakan sayap dan berkokok. Ukuran kandang dengan lebar 40 cm, tinggi 50 cm dan panjang 60 cm untuk ayam jago ukuran ayam lokal, sementara untuk ayam Pelung ukuran harus lebih besar (agi. Kandang biasanya ditempatkan disekitar kandang betina, agar ayam jago tetap terangsang.

Pengambilan Sperma (Semen) Pengambilan sperma dilakukan oleh 2 orang (satu orang memegang dan mengurut ayam sementara yang lain menampung sperma dengan tabung penampung sperma). Pengambilan sperma dapat dilakukan 3-5 kali seminggu pada sore hari diatas pukul 15.00. Sperma yang sudah diperoleh diencerkan dengan menggunakan NaCl Fisiologis sehingga dapat membuahi banyak betina. Sperma yang sudah diencerkan jangan disimpan terlalu lama dan harus dihindarkan dari sinar matahari secara langsung. Pengambilan sperma dilaksanakan dalam berbagai tahapan sebagai berikut: 1. Bersihkan kotoran yang menempel pada anus dan sekitarnya. 2. Ayam jantan diapit diantara lengan dan badan, kemudian dilakukan rangsangan dengan cara mengurut berulangkali pada bagian punggung yaitu dari bagian pangkal leher sampai pangkal ekor. 3. Dengan rangsangan tersebut ayam akan reaksi, ditandai dengan meregangnya bulu ekor ke atas dan pada saat yang bersamaan tekan bagian bawah ekor maka alat kelamin akan mengeluarkan sperma berwarna putih agak kental, selanjutnya ditampung dengan tabung penampung. 4. Encerkan sperma dengan larutan infuse atau NaCl Fisiologis 0,9% dengan perbandingan 1 : 6-10. Caranya sedot NaCl Fisiologis dengan spuit sesuai derajat pengencerannya, masukkan kedalam tabung yang sudah berisi sperma, goyangkan secara perlahan hingga bercampur dan siap untuk dimasukkan kedalam saluran reproduksi betina. Umur sperma yang telah diencerkan kurang lebih 30 menit. Koleksi semen dapat dilakukan dengan melalui tahapan latihan dua sampai tiga kali pemerahan sebelum dilakukan penampungan semen.Dua orang operator diperlukan untuk menampung semen.Satu orang memegang ayam pada kedua kakinya secara hati-hati dengan dada ayam disimpan di atas kandang atau meja.Sementara satu orang tagi dengan tabung reaksi siap di tangan kanan (bagi non kidal) dan tangan kid mengetus punggung ayam perlahan agak sedikit ditekan halus menelusur ekor dan berakhir dengan ibu jari dan jari tengah siap memijit kloaka. Kemudian berbarengan dengan itu tangan kanan diurutkan halus ke atas ke arah kloaka dan langsung menampung cairan semen yang ketuar pada ujung k(oaka yang terpijit oleh ibu jari dan jari tengah. Semen yang terkumpul dalam tabung reaksi,

kemudian dibubuhkan larutan pengencer secukupnya.Tabung ditutup dengan karet kemudian diguncang pelahan agar terjadi pelarutan semen. Sebelum melakukan inseminasi pada ayam betina, syringe dan tabung gelas inseminasi yang berisi kurang lebih 0,1 - 0,2 ml semen encer dipegang dengan tangan kanan satah seorang operator Ayam betina oleh operator yang lain sudah disiapkan dengan menyimpan dada ayam pada sisi kandang, tangan kanan memegang kedua kaki dan ibu jari tangan kiri siap menekan kloaka sebelah kiri, sehingga terlihat lubang vagina yang letaknya kurang lebih pada posisi jam 11 pada penampang lingkaran kloaka. Operator yang memegang syringe segera memasukan tabung semen ke datam vagina sambil menyemprotkan semen. Segera syringe dicabut dari vagina dan segera ayam betina dimasukan kembali ke dalam kandang. Pelaksanaan IB sebaiknya antara jam 14 -16, karena pada saat itu telur hari sebelumnya sudah dikeluarkan oleh sebagian besar ayam, disamping itu cahaya ultra violet yang dapat membunuh spermatozoa sudah berkurang.

III.

DAFTAR PUSTAKA

Kartasudjana, R. 2001. Teknik Inseminasi Buatan pada Ternak, Departemen Pendidikan Nasional Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan BAPPENAS. Jakarta Toelihere, M.R. 1993. Inseminasi Buatan pada Ternak.Angksa. Bandung.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->