Bab I Komponen Pasif

I.1 Resistor Resistor adalah komponen dasar elektronika yang digunakan untuk membatasi jumlah arus yang mengalir dalam satu rangkaian. Sesuai dengan namanya resistor bersifat resistif dan umumnya terbuat dari bahan karbon . Dari hukum Ohms diketahui, resistansi berbanding terbalik dengan jumlah arus yang mengalir melaluinya. Satuan resistansi dari suatu resistor disebut Ohm atau dilambangkan dengan simbol W (Omega). Tipe resistor yang umum adalah berbentuk tabung dengan dua kaki tembaga di kiri dan kanan. Pada badannya terdapat lingkaran membentuk gelang kode warna untuk memudahkan pemakai mengenali besar resistansi tanpa mengukur besarnya dengan Ohmmeter. Kode warna tersebut adalah standar manufaktur yang dikeluarkan oleh EIA (Electronic Industries Association) seperti yang ditunjukkan pada tabel berikut. Waktu penulis masuk pendaftaran kuliah elektro, ada satu test yang harus dipenuhi yaitu diharuskan tidak buta warna. Belakangan baru diketahui bahwa mahasiswa elektro wajib untuk bisa membaca warna gelang resistor (barangkali).

Gambar I.1 Kode Warna 1

Gambar 1.2 Contoh Resistor Resistansi dibaca dari warna gelang yang paling depan ke arah gelang toleransi berwarna coklat, merah, emas atau perak. Biasanya warna gelang toleransi ini berada pada badan resistor yang paling pojok atau juga dengan lebar yang lebih menonjol, sedangkan warna gelang yang pertama agak sedikit ke dalam. Dengan demikian pemakai sudah langsung mengetahui berapa toleransi dari resistor tersebut. Kalau anda telah bisa menentukan resistansinya. Jumlah gelang yang melingkar pada resistor umumnya sesuai dengan besar toleransinya. Biasanya resistor dengan toleransi 5%, 10% atau 20% memiliki 3 gelang (tidak termasuk gelang toleransi). Tetapi resistor dengan toleransi 1% atau 2% (toleransi kecil) memiliki 4 gelang (tidak termasuk gelang toleransi). Gelang pertama dan seterusnya berturut-turut menunjukkan besar nilai satuan, dan gelang terakhir adalah faktor pengalinya. Misalnya resistor dengan gelang kuning, violet, merah dan emas. Gelang berwarna emas adalah gelang toleransi. Dengan demikian urutan warna gelang resitor ini adalah, gelang pertama berwarna kuning, gelang kedua berwana violet dan gelang ke tiga berwarna merah. Gelang ke empat tentu saja yang berwarna emas dan ini adalah gelang toleransi. Dari tabel-1 diketahui jika gelang toleransi berwarna emas, berarti resitor ini memiliki toleransi 5%. Nilai resistansisnya dihitung sesuai dengan urutan warnanya. Pertama yang dilakukan adalah menentukan nilai satuan dari resistor ini. Karena resitor ini resistor 5% (yang biasanya memiliki tiga gelang selain gelang toleransi), maka nilai satuannya ditentukan oleh gelang pertama dan gelang kedua. Masih dari tabel-1 diketahui gelang kuning nilainya = 4 dan gelang violet nilainya = 7. Jadi gelang pertama dan kedua atau kuning dan violet berurutan, nilai satuannya adalah 47. Gelang ketiga adalah faktor pengali, dan jika warna gelangnya merah berarti faktor pengalinya adalah 100. Sehingga 2 mana gelang yang pertama selanjutnya adalah membaca nilai

dengan ini diketahui nilai resistansi resistor tersebut adalah nilai satuan x faktor pengali atau 47 x 100 = 4.7K Ohm dan toleransinya adalah 5%. Spesifikasi lain yang perlu diperhatikan dalam memilih resitor pada suatu rancangan selain besar resistansi adalah besar watt-nya. Karena resistor bekerja dengan dialiri arus listrik, maka akan terjadi disipasi daya berupa panas sebesar W=I2R watt. Semakin besar ukuran fisik suatu resistor bisa menunjukkan semakin besar kemampuan disipasi daya resistor tersebut. Umumnya di pasar tersedia ukuran 1/8, 1/4, 1, 2, 5, 10 dan 20 watt. Resistor yang memiliki disipasi daya 5, 10 dan 20 watt umumnya berbentuk kubik memanjang persegi empat berwarna putih, namun ada juga yang berbentuk silinder. Tetapi biasanya untuk resistor ukuran jumbo ini nilai resistansi dicetak langsung dibadannya, misalnya 100W5W. I.2 Kapasitor I.2.1 Prinsip dasar dan spesifikasi elektriknya Kapasitor adalah komponen elektronika yang dapat menyimpan muatan listrik. Struktur sebuah kapasitor terbuat dari 2 buah plat metal yang dipisahkan oleh suatu bahan dielektrik. Bahan-bahan dielektrik yang umum dikenal misalnya udara vakum, keramik, gelas dan lain-lain. Jika kedua ujung plat metal diberi tegangan listrik, maka muatanmuatan positif akan mengumpul pada salah satu kaki (elektroda) metalnya dan pada saat yang sama muatan-muatan negatif terkumpul pada ujung metal yang satu lagi. Muatan positif tidak dapat mengalir menuju ujung kutup negatif dan sebaliknya muatan negatif tidak bisa menuju ke ujung kutup positif, karena terpisah oleh bahan dielektrik yang nonkonduktif. Muatan elektrik ini "tersimpan" selama tidak ada konduksi pada ujung-ujung kakinya. Di alam bebas, phenomena kapasitor ini terjadi pada saat terkumpulnya muatanmuatan positif dan negatif di awan.

3

Coulombs pada abad 18 menghitung bahwa 1 coulomb = 6..85 x 10-12) (k A/t) .(1) Q = muatan elektron dalam C (coulombs) C = nilai kapasitansi dalam F (farads) V = besar tegangan dalam V (volt) Dalam praktek pembuatan kapasitor..2. kapasitansi dihitung dengan mengetahui luas area plat metal (A). Dengan rumusan dapat ditulis sebagai berikut : C = (8. Kemudian Michael Faraday membuat postulat bahwa sebuah kapasitor akan memiliki kapasitansi sebesar 1 farad jika dengan tegangan 1 volt dapat memuat muatan elektron sebanyak 1 coulombs.(2) Berikut adalah tabel contoh konstanta (k) dari beberapa bahan dielektrik yang disederhanakan. Dengan rumus dapat ditulis : Q = CV …………….25 x 1018 elektron. 4 .3 prinsip dasar kapasitor 1.Gambar I. jarak (t) antara kedua plat metal (tebal dielektrik) dan konstanta (k) bahan dielektrik.2 Kapasitansi Kapasitansi didefenisikan sebagai kemampuan dari suatu kapasitor untuk dapat menampung muatan elektron.

2.047uF dapat juga dibaca sebagai 47nF. Keramik dan mika adalah bahan yang popular serta murah untuk membuat kapasitor yang kapasitansinya kecil. polycarbonate. yang biasanya untuk aplikasi rangkaian yang berkenaan dengan frekuensi tinggi. yaitu kapasitor electrostatic. Untuk lebih sederhana dapat dibagi menjadi 3 bagian. film dan mika. Umumnya kapasitor kelompok ini adalah non-polar. satuan farads adalah sangat besar sekali. I. atau contoh lain 0. electrolytic dan electrochemical. polystyrene.3 Tipe Kapasitor Kapasitor terdiri dari beberapa tipe. MKM. Umumnya kapasitor yang ada di pasar memiliki satuan uF (10-6 F). MKT adalah beberapa contoh sebutan merek dagang untuk kapasitor dengan bahan-bahan dielektrik film.Udara vakum Aluminium oksida Keramik Gelas Polyethylene k=1 k=8 k = 100 . Misalnya 0. polyprophylene.1 Kapasitor Electrostatic Kapasitor electrostatic adalah kelompok kapasitor yang dibuat dengan bahan dielektrik dari keramik. Mylar.2. Konversi satuan penting diketahui untuk memudahkan membaca besaran sebuah kapasitor.3.1 Tabel Konstanta Bahan Dielektrik Untuk rangkain elektronik praktis. metalized paper dan lainnya. tergantung dari bahan dielektriknya.1nF sama dengan 100pF. I. Termasuk kelompok bahan dielektrik film adalah bahan-bahan material seperti polyester (polyethylene terephthalate atau dikenal dengan sebutan mylar). 5 . nF (10-9 F) dan pF (10-12 F).1000 k=8 k=3 Tabel I. Tersedia dari besaran pF sampai beberapa uF.

aluminium.3. maka akan terbentuk lapisan Aluminium-oksida (Al2O3) pada permukaannya. Gambar I. Dari rumus (2) diketahui besar kapasitansi berbanding terbalik dengan tebal 6 . niobium.2. lapisan-metal-oksida dan electrolyte(katoda) membentuk kapasitor. Elektroda metal yang dicelup kedalam larutan electrolit (sodium borate) lalu diberi tegangan positif (anoda) dan larutan electrolit diberi tegangan negatif (katoda).2 Kapasitor Electrolytic Kelompok kapasitor electrolytic terdiri dari kapasitor-kapasitor yang bahan dielektriknya adalah lapisan metal-oksida. magnesium. jika digunakan Aluminium.I. Telah lama diketahui beberapa metal seperti tantalum.4 Kapasitor Elco Dengan demikian berturut-turut plat metal (anoda). adalah karena proses pembuatannya menggunakan elektrolisa sehingga terbentuk kutup positif anoda dan kutup negatif katoda. Oksigen pada larutan electrolyte terlepas dan mengoksidai permukaan plat metal. Contohnya. Mengapa kapasitor ini dapat memiliki polaritas. Umumnya kapasitor yang termasuk kelompok ini adalah kapasitor polar dengan tanda + dan . seperti pada proses penyepuhan emas.di badannya. zirconium dan seng (zinc) permukaannya dapat dioksidasi sehingga membentuk lapisan metal-oksida (oxide film). Dalam hal ini lapisan-metal-oksida sebagai dielektrik. titanium. Lapisan oksidasi ini terbentuk melalui proses elektrolisa.

Pada kenyataanya batere dan accu adalah kapasitor yang sangat baik.3 Kapasitor Electrochemical Satu jenis kapasitor lain adalah kapasitor electrochemical. 1. Untuk mendapatkan permukaan yang luas. Lapisan metal-oksida ini sangat tipis. Termasuk kapasitor jenis ini adalah batere dan accu. melainkan bahan lain yaitu manganese-dioksida. Disebut electrolyte padat. tetapi sebenarnya bukan larutan electrolit yang menjadi elektroda negatif-nya. maka waktu kerjanya (lifetime) menjadi lebih tahan lama. bahan plat Aluminium ini biasanya digulung radial.3. Sebagai contoh 100uF. Bahan yang paling banyak dan murah adalah Aluminium. umumnya bahan metal yang banyak digunakan adalah aluminium dan tantalum. Bahan electrolyte pada kapasitor Tantalum ada yang cair tetapi ada juga yang padat.dielektrik. Dengan demikian kapasitor jenis ini bisa memiliki kapasitansi yang besar namun menjadi lebih ramping dan mungil. yang sering juga disebut kapasitor elco. I. Karena alasan ekonomis dan praktis. karena memiliki kapasitansi yang besar dan arus bocor (leakage current) yang sangat kecil. 470uF. sehingga dengan demikian dapat dibuat kapasitor yang kapasitansinya cukup besar. Sehingga dengan cara itu dapat diperoleh kapasitor yang kapasitansinya besar.2. Kapasitor tipe ini juga memiliki arus bocor yang sangat kecil Jadi dapat dipahami mengapa kapasitor Tantalum menjadi relatif mahal.4 Membaca Kapasitansi 7 . Selain itu karena seluruhnya padat.2. misalnya untuk applikasi mobil elektrik dan telepon selular. 4700uF dan lain-lain. Tipe kapasitor jenis ini juga masih dalam pengembangan untuk mendapatkan kapasitansi yang besar namun kecil dan ringan.

artinya kapasitansi kapasitor tersebut adalah 22 x 100 = 2200 pF = 2. 1. nilai kapasitansi umumnya ditulis dengan angka yang jelas.2 nF. Umumnya kapasitorkapasitor polar bekerja pada tegangan DC dan kapasitor non-polar bekerja pada tegangan AC. maka kapasitansinya adalah 10 x 10. Sebagai contoh. sedangkan angka ke-3 adalah faktor pengali. Selain dari kapasitansi ada beberapa karakteristik penting lainnya yang perlu diperhatikan.000 dan seterusnya. 1. kapasitor yang bertuliskan dua angka 47. Berikut ini adalah beberapa spesifikasi penting tersebut. Biasanya spesifikasi karakteristik ini disajikan oleh pabrik pembuat didalam datasheet.Pada kapasitor yang berukuran besar. Contoh lain misalnya tertulis 222.000. berturut-turut 1 = 10. Para elektro. Misalnya pada kapasitor keramik tertulis 104.6 Temperatur Kerja 8 . Jika hanya ada dua angka satuannya adalah pF (pico farads). Misalnya pada kapasitor elco dengan jelas tertulis kapasitansinya sebesar 22uF/25v.2. Kapasitor yang ukuran fisiknya mungil dan kecil biasanya hanya bertuliskan 2 (dua) atau 3 (tiga) angka saja. Lengkap dengan nilai tegangan maksimum dan polaritasnya. 4 = 10.5 Tegangan Kerja (working voltage) Tegangan kerja adalah tegangan maksimum yang diijinkan sehingga kapasitor masih dapat bekerja dengan baik.000 = 100. Faktor pengali sesuai dengan angka nominalnya.2. angka pertama dan kedua menunjukkan nilai nominal. Jika ada 3 digit. maka tegangan yang bisa diberikan tidak boleh melebihi 25 volt dc.mania barangkali pernah mengalami kapasitor yang meledak karena kelebihan tegangan. 2 = 100. Misalnya kapasitor 10uF 25V. maka kapasitansi kapasitor tersebut adalah 47 pF.000pF atau = 100nF. 3 = 1.

Tabel I.0 1.2 Kode karakteristik kapasitor kelas I Toleransi Koefisien Suhu PPM per Co +/-30 +/-60 +/-120 +/-250 +/-500 Koefisien Suhu Simbol C B A M P ppm = part per million PPM per Co 0. Secara lengkap kodekode tersebut disajikan pada table berikut.3 0.3 Kode karakteristik kapasitor kelas II dan III suhu kerja suhu minimum Simbol C Z Y X o kerja Toleransi Kapasitansi Simbol Persen A B C +/1.0 0. Ada 4 standar popular yang biasanya tertera di badan kapasitor seperti C0G (ultra stable). X7R (stable) serta Z5U dan Y5V (general purpose).Kapasitor masih memenuhi spesifikasinya jika bekerja pada suhu yang sesuai.2% +/3.7% 9 o maksimum Simbol C +10 2 -30 4 -55 5 6 7 +45 +65 +85 +105 D +125 E .5% +/2.0% +/1.3% +/4.5 Faktor Pengali Koefisien Suhu Simbol Pengali Simbol 0 1 2 3 4 -1 -10 -100 -1000 -10000 G H J K L Tabel I. Pabrikan pembuat kapasitor umumnya membuat kapasitor yang mengacu pada standar popular.9 1.

7 Toleransi Seperti komponen lainnya.0% +/22. walaupun nilainya sangat besar sekali.0% +22% / -33% +22% / -56% +22% / -82% I2. maka kapasitasinya adalah 100nF dengan toleransi +/-15%. besar kapasitansi nominal ada toleransinya. Sekaligus dikethaui juga bahwa suhu kerja yang direkomendasikan adalah antara -55Co sampai +125Co (lihat tabel kode karakteristik) I.8 9 +150 F +200 P R S T U V +/7.2. bahan dielektrik juga memiliki resistansi. Dengan table di atas pemakai dapat dengan mudah mengetahui toleransi kapasitor yang biasanya tertera menyertai nilai nominal kapasitor. Tabel diatas menyajikan nilai toleransi dengan kode-kode angka atau huruf tertentu.8 Insulation Resistance (IR) Walaupun bahan dielektrik merupakan bahan yang non-konduktor. berikut adalah model rangkaian kapasitor. 10 .0% +/15. Phenomena ini dinamakan arus bocor DCL (DC Leakage Current) dan resistansi dielektrik ini dinamakan Insulation Resistance (IR). Artinya.5% +/10. Misalnya jika tertulis 104 X7R. namun tetap saja ada arus yang dapat melewatinya. Untuk menjelaskan ini.

Besaran ini menjadi faktor yang diperhitungkan misalnya pada aplikasi motor phasa. Rugi-rugi (losses) itu didefenisikan sebagai ESR yang besarnya adalah persentasi dari impedansi kapasitor Xc. tuner dan lain-lain. tetapi ini akan menyebabkan resistansi dielektrik makin kecil. Secara matematis di tulis sebagai berikut : 11 . Dari model rangkaian kapasitor digambarkan adanya resistansi seri (ESR) dan induktansi (L). Namun dari model di atas. rangkaian ballast. Karena besar IR selalu berbanding terbalik dengan kapasitansi (C).9 Dissipation Factor (DF) dan Impedansi (Z) Dissipation Factor adalah besar persentasi rugi-rugi (losses) kapasitansi jika kapasitor bekerja pada aplikasi frekuensi.2. Pabrik pembuat biasanya meyertakan data DF dalam persen. Konsekuensinya tentu saja arus bocor (DCL) sangat kecil (uA). semestinya kapasitor dapat menyimpan muatan selamalamanya. Untuk mendapatkan kapasitansi yang besar diperlukan permukaan elektroda yang luas. karakteristik resistansi dielektrik ini biasa juga disajikan dengan besaran RC (IR x C) yang satuannya ohm-farads atau megaohm-micro farads. I. diketahui ada resitansi dielektrik IR(Insulation Resistance) yang paralel terhadap kapasitor. Insulation resistance (IR) ini sangat besar (MOhm).model kapasitor : C = Capacitance ESR = Equivalent Series Resistance L = Inductance IR = Insulation Resistance Jika tidak diberi beban.

Dari penjelasan di atas dapat dihitung besar total impedansi (Z total) kapasitor adalah : 12 .

3 Induktor Masih ingat aturan tangan kanan pada pelajaran fisika ? Ini cara yang efektif untuk mengetahui arah medan listrik terhadap arus listrik. 13 . Arah jempol adalah arah arus dan arah ke empat jari lain adalah arah medan listrik yang mengitarinya. Untuk perhitungan. I. Dengan aturan tangan kanan dapat diketahui arah medan listrik terhadap arah arus listrik.perhitungan respons frekuensi dikenal juga satuan faktor qualitas Q (quality factor) yang tak lain sama dengan 1/DF.Karakteristik respons frekuensi sangat perlu diperhitungkan terutama jika kapasitor bekerja pada frekuensi tinggi. Jika seutas kawat tembaga diberi aliran listrik. maka di sekeliling kawat tembaga akan terbentuk medan listrik. Caranya sederhana yaitu dengan mengacungkan jari jempol tangan kanan sedangkan keempat jari lain menggenggam.

(2) Jika dibandingkan dengan rumus hukum Ohm V=RI. Simbol yang biasa digunakan untuk menunjukkan besar magnetic flux ini adalah F dan satuannya Weber (Wb = T. Tegangan emf di sini adalah respon 14 .. Jika R disebut resistansi dari resistor dan V adalah besar tegangan jepit jika resistor dialiri listrik sebesar I. Komponen yang seperti inilah yang dikenal dengan induktor selenoid.Tentu masih ingat juga percobaan dua utas kawat tembaga paralel yang keduanya diberi arus listrik. Hal ini terjadi karena adanya induksi medan listrik. Jika arah arusnya berlawanan.m2). Energi ini direpresentasikan dengan adanya tegangan emf (electromotive force) jika induktor dialiri listrik.(1) Lalu bagaimana jika kawat tembaga itu dililitkan membentuk koil atau kumparan. Dikenal medan listrik dengan simbol B dan satuannya Tesla (T). Medan listrik yang terbentuk akan segaris dan saling menguatkan. dibuktikan bahwa induktor adalah komponen yang dapat menyimpan energi magnetik. Dari buku fisika dan teori medan yang menjelimet. Secara matematis tegangan emf ditulis : tegangan emf .. maka kelihatan ada kesamaan rumus. Besar akumulasi medan listrik B pada suatu luas area A tertentu difenisikan sebagai besar magnetic flux. Secara matematis besarnya adalah : medan flux. Maka L adalah induktansi dari induktor dan E adalah tegangan yang timbul jika induktor dilairi listrik. Jika kumparan tersebut dialiri listrik maka tiap lilitan akan saling menginduksi satu dengan yang lainnya. kedua kawat tembaga tersebut saling menjauh.. Tetapi jika arah arusnya sama ternyata keduanya berdekatan saling tarikmenarik...

tuner dan sebagainya. Ini yang sering menjadi pertimbangan dalam mendesain pcb supaya bebas dari efek induktansi terutama jika multilayer.. 15 . Sedangkan bilangan negatif sesuai dengan hukum Lenz yang mengatakan efek induksi cenderung melawan perubahan yang menyebabkannya.1 Induktor disebut self-induced Arus listrik yang melewati kabel. (3) Gambar I.. Aplikasinya pada rangkaian dc salah satunya adalah untuk menghasilkan tegangan dc yang konstan terhadap fluktuasi beban arus.. jalur-jalur pcb dalam suatu rangkain berpotensi untuk menghasilkan medan induksi. karena perubahan arus yang melewati tiap lilitan akan saling menginduksi. Tegangan emf akan menjadi penting saat perubahan arusnya fluktuatif. Hubungan antara emf dan arus inilah yang disebut dengan induktansi. Pada aplikasi rangkaian ac. dan satuan yang digunakan adalah (H) Henry.terhadap perubahan arus fungsi dari waktu terlihat dari rumus di/dt. I.. Efek emf menjadi signifikan pada sebuah induktor. Secara matematis induktansi pada suatu induktor dengan jumlah lilitan sebanyak N adalah akumulasi flux magnet untuk tiap arus yang melewatinya : induktansi .8 Induktor selenoida Fungsi utama dari induktor di dalam suatu rangkaian adalah untuk melawan fluktuasi arus yang melewatinya.3. salah satu gunanya adalah bisa untuk meredam perubahan fluktuasi arus yang tidak dinginkan. Ini yang dimaksud dengan self-induced. Akan lebih banyak lagi fungsi dari induktor yang bisa diaplikasikan pada rangkaian filter..

Penampang induktor biasanya berbentuk lingkaran. Jika rumus-rumus di atas di subsitusikan maka rumus induktansi (rumus 3) dapat ditulis menjadi : Induktansi Induktor ..(5) Lalu i adalah besar arus melewati induktor tersebut.. (6) 16 .. n adalah jumlah lilitan N relatif terhadap panjang induktor l. persegi empat.. Ada simbol m yang dinamakan permeability dan mo yang disebut permeability udara vakum. Secara matematis ditulis : Lilitan per-meter………. (4) Jika dikembangkan. Untuk induktor tanpa inti (air winding) m = 1. sehingga diketahui besar medan listrik di titik tengah lingkaran adalah : Medan listrik .Dari pemahaman fisika.. Besar permeability m tergantung dari bahan inti (core) dari induktor. setegah lingkaran ataupun lingkaran penuh. jika dialiri listrik akan menghasilkan medan listrik yang berbeda.. elektron yang bergerak akan menimbulkan medan elektrik di sekitarnya..... Berbagai bentuk kumparan..

Tentu saja rumus ini bisa dibolak-balik untuk menghitung jumlah lilitan induktor jika nilai induktansinya sudah ditentukan.10 Toroida 17 . Biasanya selalu menggunakan inti besi (core) yang juga berbentuk lingkaran seperti kue donat.Induktor selenoida dengan inti (core) : L : induktansi dalam H (Henry) m : permeability inti (core) mo : permeability udara vakum mo = 4p x 10-7 N : jumlah lilitan induktor A : luas penampang induktor (m2) l : panjang induktor (m) Inilah rumus untuk menghitung nilai induktansi dari sebuah induktor. Jika biasanya induktor berbentuk silinder memanjang. Gambar I. 1.2 Toroid Ada satu jenis induktor yang kenal dengan nama toroid.3. maka toroid berbentuk lingkaran.

Ferit yang sering dijumpai ada yang memiliki m = 1 sampai m = 15. Maka panjang induktor efektif adalah kira-kira : Keliling lingkaran toroida …. Proses pembuatannya sama seperti membuat keramik. 1. maka medan induksinya tertutup dan relatif tidak menginduksi komponen lain yang berdekatan di dalam satu pcb.3.. bubuk campuran tersebut dibuat menjadi komposisi yang padat. Ada juga ferit yang dicampur dengan bahan bubuk lain seperti nickle. Dapat dipahami penggunaan ferit dimaksudkan untuk mendapatkan nilai induktansi yang lebih 18 . (7) Dengan demikian untuk toroida besar induktansi L adalah : Induktansi Toroida ………(8) Salah satu keuntungan induktor berbentuk toroid. Juga karena toroid umumnya menggunakan inti (core) yang melingkar. zinc (seng) dan mangnesium. Melalui proses yang dinamakan kalsinasi yaitu dengan pemanasan tinggi dan tekanan tinggi. Bahan dasarnya adalah bubuk besi oksida yang disebut juga iron powder.Jika jari-jari toroid adalah r.3 Ferit dan Permeability Besi lunak banyak digunakan sebagai inti (core) dari induktor yang disebut ferit. manganase. Oleh sebab itu ferit ini sebenarnya adalah keramik.000. yaitu jari-jari lingkar luar dikurang jari-jari lingkar dalam.. dapat induktor dengan induktansi yang lebih besar dan dimensi yang relatif lebih kecil dibandingkan dengan induktor berbentuk silinder. Ada bermacam-macam bahan ferit yang disebut ferromagnetik.

Misalnya induktor dengan jumlah lilitan 20. Pabrik pembuat biasanya dapat memberikan data kode material.besar relatif terhadap jumlah lilitan yang lebih sedikit serta dimensi induktor yang lebih kecil. Berikut ini adalah beberapa contoh bahan ferit yang dipasar dikenal dengan kode nomer materialnya. data material ferit Sampai di sini kita sudah dapat menghitung nilai induktansi suatu induktor. Tabel I. berdiameter 1 cm dengan panjang 2 cm serta mengunakan inti ferit dengan m = 3000. dimensi dan permeability yang lebih detail. Karena beberapa ferit akan optimum jika bekerja pada selang frekuensi tertentu.9 mH 19 . Dapat diketahui nilai induktansinya adalah : L » 5. Penggunaan ferit juga disesuaikan dengan frekeunsi kerjanya.

Jika datanya lengkap. Tetapi biasanya pabrikan hanya membuat daftar indeks induktansi (inductance index) AL.Selain ferit yang berbentuk silinder ada juga ferit yang berbentuk toroida. diameter lingkar dalam serta luas penampang toroida. Indeks ini dihitung berdasarkan dimensi dan permeability ferit. Umumnya dipasar tersedia berbagai macam jenis dan ukuran toroida. maka kita dapat menghitung nilai induktansi dengan menggunakan rumusrumus yang ada. Karena perlu diketahui nilai permeability bahan ferit. Dengan data ini dapat dihitung jumlah lilitan yang diperlukan untuk mendapatkan nilai induktansi tertentu. Tabel AL Rumus untuk menghitung jumlah lilitan yang diperlukan untuk mendapatkan nilai induktansi yang diinginkan adalah : 20 . diameter lingkar luar. Seperti contoh tabel AL berikut ini yang satuannya mH/100 lilitan.

Bahan ferit tipe ini terbuat dari campuran bubuk besi dengan bubuk logam lain. hitam. Ada banyak kawat tembaga yang bisa digunakan. Permeability bahan bisa juga diketahui dengan kode warna tertentu. Misalnya kawat tembaga AWG32 berdiameter kira-kira 0. Sebenarnya lapisan ini bukan hanya sekedar warna yang membedakan permeability.3mm. tetapi berfungsi juga sebagai pelapis atau isolator.7mm ataupun AWG20 yang berdiameter kira-kira 0. merah.8mm. Paling yang diperlukan hanya puluhan sentimeter saja. Maka untuk mendapatkan induktor sebesar 4mH diperlukan lilitan sebanyak : N » 20 lilitan Rumus ini sebenarnya diperoleh dari rumus dasar perhitungan induktansi dimana induktansi L berbanding lurus dengan kuadrat jumlah lilitan N2. Biasanya yang digunakan adalah kawat tembaga tunggal dan memiliki isolasi.3. Untuk pemakaian yang profesional di pasar dapat dijumpai kawat tembaga dengan standar AWG (American Wire Gauge). Indeks AL umumnya sudah baku dibuat oleh pabrikan sesuai dengan dimensi dan permeability bahan feritnya. Misalnya abu-abu. Contoh bahan ferit toroida di atas umumnya memiliki premeability yang kecil.4 Kawat tembaga Untuk membuat induktor biasanya tidak diperlukan kawat tembaga yang sangat panjang. 21 . Standar ini tergantung dari diameter kawat.Indeks AL ………. (9) Misalnya digunakan ferit toroida T50-1. biru atau kuning. AWG22 berdiameter 0. sehingga efek resistansi bahan kawat tembaga dapat diabaikan. resistansi dan sebagainya. maka dari table diketahui nilai AL = 100. Karena bahan ferit yang demikian terbuat hanya dari bubuk besi (iron power). Misalnya ferit toroida FT5077 memiliki indeks AL = 1100. Biasanya pabrikan menjelaskan berapa nilai tegangan kerja untuk toroida tersebut. Banyak juga ferit toroid dibuat dengan nilai permeability m yang besar. 1.

II. Gambar II.1 Rangkaian penyearah sederhana Pada rangkaian ini.Bab II Catu Daya II. Baterai atau accu adalah sumber catu daya DC yang paling baik. Namun untuk aplikasi yang membutuhkan catu daya lebih besar.1 berikut ini. Sumber catu daya yang besar adalah sumber bolak-balik AC (alternating current) dari pembangkit tenaga listrik. Pada tulisan kali ini disajikan prinsip rangkaian catu daya (power supply) linier mulai dari rangkaian penyearah yang paling sederhana sampai pada catu daya yang ter-regulasi.1 Prinsip kerja catu daya linear Perangkat elektronika mestinya dicatu oleh suplai arus searah DC (direct current) yang stabil agar dapat dengan baik. Untuk itu diperlukan suatu perangkat catu daya yang dapat mengubah arus AC menjadi DC. dioda berperan untuk hanya meneruskan tegangan positif ke beban RL.2 Penyearah RECTIFIER) Prinsip penyearah (rectifier) yang paling sederhana ditunjukkan pada gambar II. sumber dari baterai tidak cukup. Untuk 22 . Transformator diperlukan untuk menurunkan tegangan AC dari jala-jala listrik pada kumparan primernya menjadi tegangan AC yang lebih kecil pada kumparan sekundernya. Ini yang disebut dengan penyearah setengah gelombang (half wave).

Gambar II. bentuk tegangan seperti ini sudah cukup memadai. dimana pada keadaan ini 23 .3 Rangkaian penyearah setengah gelombang dengah filter C Gambar II.4 menunjukkan bentuk keluaran tegangan DC dari rangkaian penyearah setengah gelombang dengan filter kapasitor. Gambar II. Walaupun terlihat di sini tegangan ripple dari kedua rangkaian di atas masih sangat besar.2. Dengan demikian beban R1 mendapat suplai tegangan gelombang penuh seperti gambar di atas. Untuk beberapa aplikasi seperti misalnya untuk men-catu motor dc yang kecil atau lampu pijar dc.3 adalah rangkaian penyearah setengah gelombang dengan filter kapasitor C yang paralel terhadap beban R. Ternyata dengan filter ini bentuk gelombang tegangan keluarnya bisa menjadi rata. Gambar II.mendapatkan penyearah gelombang penuh (full wave) diperlukan transformator dengan center tap (CT) seperti pada gambar II.2 Rangkaian penyearah gelombang penuh Tegangan positif phasa yang pertama diteruskan oleh D1 sedangkan phasa yang berikutnya dilewatkan melalui D2 ke beban R1 dengan CT transformator sebagai common ground. Garis b-c kira-kira adalah garis lurus dengan kemiringan tertentu..

VL adalah tegangan discharge atau pengosongan kapasitor C... Namun jika beban arus semakin besar... Jika arus I = 0 (tidak ada beban) maka kurva b-c akan membentuk garis horizontal. Gambar II. Tegangan yang keluar akan berbentuk gigi gergaji dengan tegangan ripple yang besarnya adalah : Vr = VM -VL ….......T/RC . maka diperoleh : Vr = VM (1 ..... (1) dan tegangan dc ke beban adalah Vdc = VM + Vr/2 . (4) Jika T << RC.e -T/RC) . kemiringan kurva b-c akan semakin tajam...... dapat ditulis : e -T/RC » 1 ... (3) Jika persamaan (3) disubsitusi ke rumus (1). (5) 24 . sehingga dapat ditulis : VL = VM e -T/RC .arus untuk beban R1 dicatu oleh tegangan kapasitor.... Sebenarnya garis b-c bukanlah garis lurus tetapi eksponensial sesuai dengan sifat pengosongan kapasitor. (2) Rangkaian penyearah yang baik adalah rangkaian yang memiliki tegangan ripple paling kecil...4 Bentuk gelombang dengan filter kapasitor Kemiringan kurva b-c tergantung dari besar arus I yang mengalir ke beban R...

tetapi dengan merangkai 4 dioda seperti pada gambar II. yaitu periode satu gelombang sinus dari jala-jala listrik yang frekuensinya 50Hz atau 60Hz.5 Rangkaian penyearah gelombang penuh dengan filter C Sebagai contoh. maka tegangan ripple akan semakin besar. Ini berlaku untuk penyearah setengah gelombang.02 det.. (6) VM/R tidak lain adalah beban I.5 berikut ini.sehingga jika ini disubsitusi ke rumus (4) dapat diperoleh persamaan yang lebih sederhana : Vr = VM(T/RC) . Jika frekuensi jala-jala listrik 50Hz.01 det. Gambar II. tentu saja fekuensi gelombangnya dua kali lipat. maka T = Tp = 1/f = 1/50 = 0.. Untuk penyearah gelombang penuh. Perhitungan ini efektif untuk mendapatkan nilai tengangan ripple yang diinginkan.. tegangan ripple akan semakin kecil. Penyearah gelombang penuh dengan filter C dapat dibuat dengan menambahkan kapasitor pada rangkaian gambar 2. sehingga T = 1/2 Tp = 0. (7) Rumus ini mengatakan. anda mendisain rangkaian penyearah gelombang penuh dari catu jalajala listrik 220V/50Hz untuk mensuplai beban sebesar 0. Bisa juga dengan menggunakan transformator yang tanpa CT. Vr = I T/C . Untuk penyederhanaan biasanya dianggap T=Tp. Berapa nilai kapasitor yang 25 .5 A. Sebaliknya jika kapasitansi C semakin besar.. sehingga dengan ini terlihat hubungan antara beban arus I dan nilai kapasitor C terhadap tegangan ripple Vr.. jika arus beban I semakin besar.

Untuk kapasitor yang sebesar ini banyak tersedia tipe elco yang memiliki polaritas dan tegangan kerja maksimum tertentu. Rangkaian regulator yang paling sederhana ditunjukkan pada gambar II. maka tegangan outputnya juga akan naik/turun.T/Vr = (0.3 REGULATOR Rangkaian penyearah sudah cukup bagus jika tegangan ripple-nya kecil. Tegangan kerja kapasitor yang digunakan harus lebih besar dari tegangan keluaran catu daya. tentu bisa dengan memparalel dua atau tiga buah kapasitor. Jika tegangan PLN naik/turun. namun ada masalah stabilitas. Jika rumus (7) dibolak-balik maka diperoleh. zener bekerja pada daerah breakdown.6 Pada rangkaian ini.75 = 6600 uF.diperlukan sehingga rangkaian ini memiliki tegangan ripple yang tidak lebih dari 0. 26 . coba periksa kembali rangkaian penyearah catu daya yang anda buat. Seperti rangkaian penyearah di atas.75 Vpp. Untuk beberapa aplikasi perubahan tegangan ini cukup mengganggu. Anda barangkalai sekarang paham mengapa rangkaian audio yang anda buat mendengung. jika arus semakin besar ternyata tegangan dc keluarnya juga ikut turun. sehingga menghasilkan tegangan output yang sama dengan tegangan zener atau Vout = Vz.01)/0. II. sehingga diperlukan komponen aktif yang dapat meregulasi tegangan keluaran ini menjadi stabil. apakah tegangan ripple ini cukup mengganggu. Jika dipasaran tidak tersedia kapasitor yang demikian besar. C = I. Namun rangkaian ini hanya bermanfaat jika arus beban tidak lebih dari 50mA.5) (0.

. Perhatikan jika Vout terhubung singkat (short-circuit) maka arusnya tetap I = Vin/R1.7 volt tergantung dari jenis transistor yang digunakan. ada juga yang disebut dengan regulator seri..2 .. (8) VBE adalah tegangan base-emitor dari transistor Q1 yang besarnya antara 0...Gambar II.. dapat dihitung besar tahanan R2 yang diperlukan adalah : R2 = (Vin ..(9) Iz adalah arus minimum yang diperlukan oleh dioda zener untuk mencapai tegangan breakdown zener tersebut. Prinsip utama regulator seri seperti rangkaian pada gambar 7 berikut ini... Pada rangkaian ini tegangan keluarannya adalah : Vout = VZ + VBE . Dengan mengabaikan arus IB yang mengalir pada base transistor. Ciri lain dari shunt regulator adalah.0. Disamping regulator shunt.. salah satu ciri khasnya adalah komponen regulator yang paralel dengan beban. rentan terhadap short-circuit....Vz)/Iz .. 27 .6 Regulator zener Prinsip rangkaian catu daya yang seperti ini disebut shunt regulator... Besar arus ini dapat diketahui dari datasheet yang besarnya lebih kurang 20 mA...

. seperti pada rangkaian gambar II. (10) Jika tegangan keluar Vout menaik.. maka tegangan Vin(-) juga akan menaik sampai tegangan ini sama dengan tegangan referensi Vz. Sehingga pada setiap saat Op-amp menjaga kestabilan : 28 . Umpan balik pada pin negatif Op-amp adalah cuplikan dari tegangan keluar regulator. Teknik regulasi yang lebih baik lagi adalah dengan menggunakan Op-Amp untuk men-drive transistor Q. yaitu : Vin(-) = (R2/(R1+R2)) Vout .8. misalnya karena suplai arus ke beban meningkat. Dioda zener disini tidak langsung memberi umpan ke transistor Q. Dengan transistor darlington.. Untuk keperluan itu. besar arus IC akan berbanding lurus terhadap arus IB atau dirumskan dengan IC = bIB. Demikian sebaliknya jika tegangan keluar Vout menurun..7 Regulator zener follower Jika diperlukan catu arus yang lebih besar. transistor Q1 yang dipakai bisa diganti dengan tansistor darlington yang biasanya memiliki nilai b yang cukup besar. melainkan sebagai tegangan referensi bagi OpAmp IC1..Gambar II. Op-amp akan menjaga kestabilan di titik referensi Vz dengan memberi arus IB ke transistor Q1.. arus base yang kecil bisa menghasilkan arus IC yang lebih besar. Dimana seperti yang diketahui. tentu perhitungan arus base IB pada rangkaian di atas tidak bisa diabaikan lagi.

.. Komponen ini hanya tiga pin dan dengan menambah beberapa komponen saja sudah dapat menjadi rangkaian catu daya yang ter-regulasi dengan baik.... (11) Gambar II. Sekarang mestinya tidak perlu susah payah lagi mencari op-amp.. 29 .. (12) Pada rangkaian ini tegangan output dapat diatur dengan mengatur besar R1 dan R2.. Saat ini sudah banyak dikenal komponen seri 78XX sebagai regulator tegangan tetap positif dan seri 79XX yang merupakan regulator untuk tegangan tetap negatif... transistor dan komponen lainnya untuk merealisasikan rangkaian regulator seperti di atas.. Bahkan komponen ini biasanya sudah dilengkapi dengan pembatas arus (current limiter) dan juga pembatas suhu (thermal shutdown).8 regulator dengan Op-amp Dengan mengabaikan tegangan VBE transistor Q1 dan mensubsitusi rumus (11) ke dalam rumus (10) maka diperoleh hubungan matematis : Vout = ( (R1+R2)/R2) Vz....Vin(-) = Vz ..... Karena rangkaian semacam ini sudah dikemas menjadi satu IC regulator tegangan tetap.

9 regulator dengan IC 78XX / 79XX Misalnya 7805 adalah regulator untuk mendapat tegangan 5 volt. Hanya saja perlu diketahui supaya rangkaian regulator dengan IC tersebut bisa bekerja. Bedanya resistor R1 dan R2 ada di luar IC. Prinsipnya sama dengan regulator OP-amp yang dikemas dalam satu IC misalnya LM317 untuk regulator variable positif dan LM337 untuk regulator variable negatif. komponen seperti ini maksimum bisa dilewati arus mencapai 1 A. 7812 regulator tegangan 12 volt dan seterusnya. Selain dari regulator tegangan tetap ada juga IC regulator yang tegangannya dapat diatur.Gambar II. Di dalam datasheet. Sedangkan seri 79XX misalnya adalah 7905 dan 7912 yang berturut-turut adalah regulator tegangan negatif 5 dan 12 volt. Pemakaian heatshink (aluminium pendingin) dianjurkan jika komponen ini dipakai untuk men-catu arus yang besar. Biasanya perbedaan tegangan Vin terhadap Vout yang direkomendasikan ada di dalam datasheet komponen tersebut. 30 . sehingga tegangan keluaran dapat diatur melalui resistor eksternal tersebut. tengangan input harus lebih besar dari tegangan output regulatornya.

. prinsip kerja transistor adalah arus bias base-emiter yang kecil mengatur besar arus kolektor-emiter. Dengan menganalisa rangkaian CE akan dapat diketahui beberapa parameter penting dan berguna terutama untuk memilih transistor yang tepat untuk aplikasi tertentu.1 Arus bias Ada tiga cara yang umum untuk memberi arus bias pada transistor.BAB III Transistor Bipolar Pada tulisan tentang semikonduktor telah dijelaskan bagaimana sambungan NPN maupun PNP menjadi sebuah transistor. Bagian penting berikutnya adalah bagaimana caranya memberi arus bias yang tepat sehingga transistor dapat bekerja optimal. III.. III.(1) 31 . misalnya.. maka hukum itu menjelaskan hubungan : IE = IC + IB . Jika teorema tersebut diaplikasikan pada transistor. Namun saat ini akan lebih detail dijelaskan bias transistor rangkaian CE. Sebagai rangkuman.. Tentu untuk aplikasi pengolahan sinyal frekuensi audio semestinya tidak menggunakan transistor power.... Telah disinggung juga sedikit tentang arus bias yang memungkinkan elektron dan hole berdifusi antara kolektor dan emitor menerjang lapisan base yang tipis itu. yaitu rangkaian CE (Common Emitter). CC (Common Collector) dan CB (Common Base).2 Arus Emiter Dari hukum Kirchhoff diketahui bahwa jumlah arus yang masuk kesatu titik akan sama jumlahnya dengan arus yang keluar.

95 sampai 0. Karena arus IB sangat kecil sekali atau disebutkan IB << IC......99........(3) Defenisinya adalah perbandingan arus kolektor terhadap arus emitor... Namun umumnya transistor yang ada memilikiadc kurang lebih antara 0... Karena besar arus kolektor umumnya hampir sama dengan besar arus emiter maka idealnya besaradc adalah = 1 (satu)...1 arus emitor Persamanaan (1) tersebut mengatakan arus emiter IE adalah jumlah dari arus kolektor IC dengan arus base IB.. maka dapat di nyatakan : IE = IC .....Gambar III.... Beta (b) Beta didefenisikan sebagai besar perbandingan antara arus kolektor dengan arus base.(2) Alpha (a) Pada tabel data transistor (databook) sering dijumpai spesikikasiadc (alpha dc) yang tidak lain adalah : adc = IC/IE ... (4) 32 ..... b = IC/IB ...

Tentu jawabannya sangat mudah yaitu : IB = IC/b = 10mA/250 = 40 uA Arus yang terjadi pada kolektor transistor yang memiliki b = 200 jika diberi arus bias base sebesar 0.1mA adalah : IC = b IB = 200 x 0. Parameter ini ada tertera di databook transistor dan sangat membantu para perancang rangkaian elektronika dalam merencanakan rangkaiannya.1mA = 20 mA Dari rumusan ini lebih terlihat defenisi penguatan arus transistor. sebab titik ground atau titik tegangan 0 volt dihubungkan pada titik emiter. arus base yang kecil menjadi arus kolektor yang lebih besar.3 Common Emitter (CE) Rangkaian CE adalah rangkain yang paling sering digunakan untuk berbagai aplikasi yang mengunakan transistor. III.b adalah parameter yang menunjukkan kemampuan penguatan arus (current gain) dari suatu transistor. Misalnya jika suatu transistor diketahui besarb=250 dan diinginkan arus kolektor sebesar 10 mA. maka berapakah arus bias base yang diperlukan.2 rangkaian CE Sekilas Tentang Notasi 33 . Gambar III. Dinamakan rangkaian CE. yaitu sekali lagi.Dengan kata lain.

.. Arus hanya akan mengalir jika tegangan antara base-emitor lebih besar dari VBE. yang disebut juga dengan tegangan jepit. Notasi dengan 1 subscript adalah untuk menunjukkan besar tegangan pada satu titik.emitor VCB = tegangan jepit kolektor . Diantaranya adalah : VCE = tegangan jepit kolektor.. III.Ada beberapa notasi yang sering digunakan untuk mununjukkan besar tegangan pada suatu titik maupun antar titik.. kolektor dan emitor. VB = tegangan base dan VE = tegangan emiter.. 34 ..emitor VBE = tegangan jepit base .VBE) / RB . Karena memang telah diketahui bahwa junction base-emitor tidak lain adalah sebuah dioda. Sehingga arus IB mulai aktif mengalir pada saat nilai VBE tertentu.base Notasi seperti VBB. misalnya VC = tegangan kolektor. Jika hukum Ohm diterapkan pada loop base diketahui adalah : IB = (VBB .4 Kurva Base Hubungan antara IB dan VBE tentu saja akan berupa kurva dioda. VEE berturut-turut adalah besar sumber tegangan yang masuk ke titik base.. VCC. Ada juga notasi dengan 2 subscript yang dipakai untuk menunjukkan besar tegangan antar 2 titik.. (5) VBE adalah tegangan jepit dioda junction base-emitor.

Gambar III. Gambar III.VBE) / RB = (2V .3 volt untuk transistor germanium.4 rangkaian-01 &mnbsp. IB = (VBB . Katakanlah yang digunakan adalah transistor yang dibuat dari bahan silikon. maka arus kolektor adalah : 35 .0. jika diketahui besar b = 200.7 volt untuk transistor silikon dan VBE = 0.3 Kurva IB -VBE Besar VBE umumnya tercantum di dalam databook. Nilai ideal VBE = 0 volt. Sampai disini akan sangat mudah mengetahui arus IB dan arus IC dari rangkaian berikut ini.7V) / 100 K = 13 uA Dengan b = 200. Tetapi untuk penyerdehanaan umumnya diketahui VBE = 0.

IC = bIB = 200 x 13uA = 2. dimana arus IC konstans terhadap berapapun nilai VCE.6 mA III. lalu daerah cut-off.6 Daerah Aktif Daerah kerja transistor yang normal adalah pada daerah aktif. Pada gambar berikut telah diplot beberapa kurva kolektor arus IC terhadap VCE dimana arus IB dibuat konstan. 36 .5 Kurva kolektor Dari kurva ini terlihat ada beberapa region yang menunjukkan daerah kerja transistor. kemudian daerah aktif dan seterusnya daerah breakdown. tegangan VBB dan VCC dapat diatur untuk memperoleh plot garis-garis kurva kolektor. Daerah kerja ini biasa juga disebut daerah linear (linear region). Satu hal lain yang menarik adalah bagaimana hubungan antara arus base IB. Gambar III. arus kolektor IC dan tegangan kolektor-emiter VCE.5 Kurva Kolektor Sekarang sudah diketahui konsep arus base dan arus kolektor. Pertama adalah daerah saturasi. III. Dari kurva ini diperlihatkan bahwa arus IC hanya tergantung dari besar arus IB. Dengan mengunakan rangkaian-01.

(6) Dapat dihitung dissipasi daya transistor adalah : PD = VCE.IC . Dissipasi daya ini berupa panas yang menyebabkan naiknya temperatur transistor.. III.. maka dapat diperoleh hubungan : VCE = VCC .... daerah kerja transistor berada pada daerah cut-off yaitu dari keadaan saturasi (OFF) lalu menjadi aktif (ON).. Sebab jika transistor bekerja melebihi kapasitas daya PDmax..7 volt (transistor silikon).. Spesifikasi ini menunjukkan temperatur kerja maksimum yang diperbolehkan agar transistor masih bekerja normal........ Umumnya untuk transistor power sangat perlu untuk mengetahui spesifikasi PDmax... maka transistor dapat rusak atau terbakar. Perubahan ini dipakai pada system digital yang hanya mengenal angka biner 1 dan 0 yang tidak lain dapat direpresentasikan oleh status transistor OFF dan ON. III..8 Daerah Cut-Off Jika kemudian tegangan VCC dinaikkan perlahan-lahan..... (7) Rumus ini mengatakan jumlah dissipasi daya transistor adalah tegangan kolektoremitor dikali jumlah arus yang melewatinya..Jika hukum Kirchhoff mengenai tegangan dan arus diterapkan pada loop kolektor (rangkaian CE). Pada saat perubahan ini.. sampai tegangan VCE tertentu tiba-tiba arus IC mulai konstan...ICRC .. 37 .7 Daerah Saturasi Daerah saturasi adalah mulai dari VCE = 0 volt sampai kira-kira 0. yaitu akibat dari efek dioda kolektor-base yang mana tegangan VCE belum mencukupi untuk dapat menyebabkan aliran elektron.

Tegangan VCE pada saat cut-off idealnya = 0.VLED . Lalu pertanyaannya adalah. Penyalaan LED diatur oleh sebuah gerbang logika (logic gate) dengan arus output high = 400 uA dan diketahui tegangan forward LED. terlihat jika tegangan VCE lebih dari 40V. IC = bIB = 50 x 400 uA = 20 mA Arus sebesar ini cukup untuk menyalakan LED pada saat transistor cut-off.6V / 20 mA = 130 Ohm III. Transistor pada daerah ini disebut berada pada daerah breakdown. Seharusnya transistor tidak boleh bekerja pada daerah ini. VLED = 2.9 Daerah Breakdown Dari kurva kolektor. dan aproksimasi ini sudah cukup untuk rangkaian ini.4 . Untuk berbagai jenis transistor nilai tegangan VCEmax yang 38 . arus IC menanjak naik dengan cepat.VCE) / IC = (5 . berapakah seharusnya resistansi RL yang dipakai. karena akan dapat merusak transistor tersebut.Gambar III. RL = (VCC .0)V / 20 mA = 2.2.4 volt.6 Rangkaian driver LED Misalkan pada rangkaian driver LED di atas. transistor yang digunakan adalah transistor dengan b = 50.

Dengan demikian jika transistor dilengkapi dengan heatshink.. III. Sering juga dicantumkan di datasheet keterangan lain tentang arus ICmax VCBmax dan VEBmax..10 Datasheet transistor Sebelumnya telah disinggung beberapa spesifikasi transistor... maka transistor tersebut dapat bekerja dengan kemampuan dissipasi daya yang lebih besar. (8) 39 .. bdc = hFE ...... dengan meyebutkan h FE sebagai bdc untuk mengatakan penguatan arus.. VCEmax pada databook transistor selalu dicantumkan juga.5W TC = 25o TA adalah temperature ambient yaitu suhu kamar. seperti tegangan VCEmax dan PD max. Ada juga PDmax pada TA = 25o dan PDmax pada TC = 25o... b atau hFE Pada system analisa rangkaian dikenal juga parameter h.diperbolehkan sebelum breakdown bervariasi.. Sedangkan TC adalah temperature cashing transistor..... Misalnya pada transistor 2N3904 dicantumkan data-data seperti : VCBmax = 60V VCEOmax = 40V VEBmax = 6 V ICmax = 200 mAdc PDmax = 625 mW TA = 25o PDmax = 1.

di datasheet umumnya dicantumkan nilai hFE minimum (hFE min ) dan nilai maksimunya (hFE max).Sama seperti pencantuman nilai bdc. 40 .

AB. jika sistem tersebut mampu menghasilkan sinyal keluaran yang bentuknya persis sama dengan sinyal input. sinyal input di-replika (copied) dan kemudian di reka kembali (re-produced) menjadi sinyal yang lebih besar dan lebih kuat. Dari sinilah muncul istilah fidelitas (fidelity) yang berarti seberapa mirip bentuk sinyal keluaran hasil replika terhadap sinyal masukan. Hanya level tegangan atau amplituda saja yang telah diperbesar dan dikuatkan. Ada beberapa jenis penguat audio yang dikategorikan antara lain sebagai penguat class A. Sistem penguat dikatakan memiliki fidelitas yang tinggi (high fidelity).2 PA kelas A Contoh dari penguat class A adalah adalah rangkaian dasar common emiter (CE) transistor. Efisiensi yang dimaksud adalah efisiensi dari penguat itu yang dinyatakan dengan besaran persentasi dari power output dibandingkan dengan power input.BAB IV Klasifikasi Penguat Audio Sudah menjadi suatu hal yang lumrah jika seseorang selalu mencari sesuatu yang lebih baik. D. Ada kalanya sinyal input dalam prosesnya kemudian terdistorsi karena berbagai sebab. Tulisan berikut membahas secara singkat apa yang menjadi ciri dan konsep dari sistem power amplifier (PA) tersebut. IV. perancang. B. IV. efisiensi juga mesti diperhatikan. Sistem penguat dikatakan memiliki tingkat efisiensi tinggi (100 %) jika tidak ada rugi-rugi pada proses penguatannya yang terbuang menjadi panas. sehingga bentuk sinyal keluarannya menjadi cacat. T. Tetapi yang sebenarnya terjadi adalah. C.1 Fidelitas dan Efisiensi Penguat audio (amplifier) secara harfiah diartikan dengan memperbesar dan menguatkan sinyal input. Tak terkecuali di bidang rancang bangun penguat amplifier. peminat atau insinyur elektronika tak pernah berhenti mencari berbagai macam konsep yang lebih baik. H dan beberapa tipe lainnya yang belum disebut di sini. Penguat tipe kelas A dibuat dengan mengatur arus bias yang sesuai di titik 41 . G. Di sisi lain.

42 . Pembaca dapat menentukan sendiri besar resistor-resistor pada rangkaian tersebut dengan pertama menetapkan berapa besar arus Ib yang memotong titik Q. Jika Ie = Ic maka dapat disederhanakan menjadi VCC = VCE + Ic (Rc+Re). Selanjutnya pembaca dapat menggambar garis beban rangkaian ini dari rumus tersebut.tertentu yang ada pada garis bebannya.1 Rangkaian dasar kelas A Garis beban pada penguat ini ditentukan oleh resistor Rc dan Re dari rumus VCC = VCE + IcRc + IeRe. Gambar IV. Sedemikian rupa sehingga titik Q ini berada tepat di tengah garis beban kurva VCE-IC dari rangkaian penguat tersebut dan sebut saja titik ini titik A. Sedangkan resistor Ra dan Rb dipasang untuk menentukan arus bias. Gambar berikut adalah contoh rangkaian common emitor dengan transistor NPN Q1.

Besar penguatan sinyal AC dapat dihitung dengan teori analisa rangkaian sinyal AC. Resistor Ra dan Rc dihubungkan ke ground dan semua kapasitor dihubung singkat. Analisa rangkaian AC adalah dengan menghubung singkat setiap komponen kapasitor C dan secara imajiner menyambungkan VCC ke ground.Gambar IV. 43 . RL adalah speaker 8 Ohm) dan re` adalah resistansi penguatan transitor.3 Rangkaian imajimer analisa ac kelas A Dengan adanya kapasitor Ce. nilai Re pada analisa sinyal AC menjadi tidak berarti.2 Garis beban dan titik Q kelas A Besar arus Ib biasanya tercantum pada datasheet transistor yang digunakan. Gambar IV. Pembaca dapat mencari lebih lanjut literatur yang membahas penguatan transistor untuk mengetahui bagaimana perhitungan nilai penguatan transistor secara detail. Nilai re` dapat dihitung dari rumus re` = hfe/hie yang datanya juga ada di datasheet transistor. Penguatan didefenisikan dengan Vout/Vin = rc / re`. Dengan cara ini rangkaian gambar1dapat dirangkai menjadi seperti gambar-3. dimana rc adalah resistansi Rc paralel dengan beban RL (pada penguat akhir. Gambar-4 menunjukkan ilustrasi penguatan sinyal input serta proyeksinya menjadi sinyal output terhadap garis kurva x-y rumus penguatan vout = (rc/re) Vin.

Transistor selalu aktif (ON) sehingga sebagian besar dari sumber catu daya terbuang menjadi panas. Maka dibuatlah penguat kelas B dengan titik Q yang digeser ke titik B (pada gambar-5). seluruh sinyal keluarannya bekerja pada daerah aktif. Asalkan sinyal masih bekerja di daerah aktif. Penguat tipe class A disebut sebagai penguat yang memiliki tingkat fidelitas yang tinggi. Namun penguat kelas A ini memiliki efisiensi yang rendah kira-kira hanya 25% . Karena ini juga transistor penguat kelas A perlu ditambah dengan pendingin ekstra seperti heatsink yang lebih besar.3 PA kelas B Panas yang berlebih menjadi masalah tersendiri pada penguat kelas A.50%. Karena letak titik yang demikian. maka transistor hanya bekerja aktif pada satu bagian 44 .4 Kurva penguatan kelas A Ciri khas dari penguat kelas A.Gambar IV. Titik B adalah satu titik pada garis beban dimana titik ini berpotongan dengan garis arus Ib = 0. Ini tidak lain karena titik Q yang ada pada titik A. bentuk sinyal keluarannya akan sama persis dengan sinyal input. IV. sehingga walaupun tidak ada sinyal input (atau ketika sinyal input = 0 Vac) transistor tetap bekerja pada daerah aktif dengan arus bias konstan.

Rangkaian dasar PA kelas B adalah seperti pada gambar-6. Jika sinyalnya berupa gelombang sinus.5 Titik Q penguat A. maka transistor Q1 aktif pada 50 % siklus pertama (phase positif 0o-180o) dan selanjutnya giliran transistor Q2 aktif pada siklus 50 % berikutnya (phase negatif 180o – 360o).phase gelombang saja. Gambar IV. Oleh sebab itu penguat kelas B selalu dibuat dengan 2 buah transistor Q1 (NPN) dan Q2 (PNP). Penguat kelas B lebih efisien dibanding dengan kelas A. AB dan B Karena kedua transistor ini bekerja bergantian. 45 . maka penguat kelas B sering dinamakan sebagai penguat Push-Pull. sebab jika tidak ada sinyal input ( v in = 0 volt) maka arus bias Ib juga = 0 dan praktis membuat kedua trasistor dalam keadaan OFF.

Gambar-7 menunjukkan masalah cross-over ini yang penyebabnya adalah adanya dead zone transistor Q1 dan Q2 pada saat transisi.6 Rangkaian dasar penguat kelas B Efisiensi penguat kelas B kira-kira sebesar 75%. Pada kenyataanya ada tegangan jepit Vbe kira-kira sebesar 0. 46 . Ini yang menyebabkan masalah cross-over pada saat transisi dari transistor Q1 menjadi transistor Q2 yang bergantian menjadi aktif. salah satu cara mengatasi masalah cross-over adalah dengan menambah filter cross-over (filter pasif L dan C) pada masukan speaker.Gambar IV.7 volt yang menyebabkan transistor masih dalam keadaan OFF walaupun arus Ib telah lebih besar beberapa mA dari 0. Pada penguat akhir. sebab transistor memiliki ke-tidak ideal-an. Namun bukan berarti masalah sudah selesai.

7 Kurva penguatan kelas B IV.75%) dengan mempertahankan fidelitas sinyal keluaran.8 Overlaping sinyal keluaran penguat kelas AB 47 . Pada saat itu. transistor Q1 masih aktif sementara transistor Q2 mulai aktif dan demikian juga pada phase sebaliknya.4 PA Kelas AB Cara lain untuk mengatasi cross-over adalah dengan menggeser sedikit titik Q pada garis beban dari titik B ke titik AB (gambar-5). Gambar IV. terjadi overlap diantara transistor Q1 dan Q2. Penguat kelas AB merupakan kompromi antara efesiensi (sekitar 50% . Ini tujuannya tidak lain adalah agar pada saat transisi sinyal dari phase positif ke phase negatif dan sebaliknya.Gambar IV.

Caranya dengan menganjal base transistor tersebut menggunakan deretan dioda atau susunan satu transistor aktif. Gambar IV. Salah satu contohnya adalah seperti gambar-9 berikut ini. Resistor R 2 di sini berfungsi untuk memberi tegangan jepit antara base transistor Q1 dan Q2. ternyata sang insinyur (yang mungkin saja bukan seorang insinyur) tidak kehilangan akal. Maka 48 . Lalu tentukan arus base dan lihat relasinya dengan arus Ic dan Ie sehingga dapat dihitung relasiny dengan tegangan jepit R2 dari rumus VR2 = 2x0. Masalah ini disebut dengan gumming. R2 dan R3 dengan rumus VR2 = (2VCC) R2/(R1+R2+R3). Caranya adalah dengan membuat salah satu transistornya bekerja pada kelas AB dan satu lainnya bekerja pada kelas B. Penguat kelas AB ternyata punya masalah dengan teknik ini.Ada beberapa teknik yang sering dipakai untuk menggeser titik Q sedikit di atas daerah cut-off. Teknik ini bisa dengan memberi bias konstan pada salah satu transistornya yang bekerja pada kelas AB (biasanya selalu yang PNP).9 Rangkaian dasar penguat kelas AB Untuk menghindari masalah gumming ini. Tegangan jepit pada R2 dihitung dari pembagi tegangan R1. Maka dibuatlah teknik yang hanya mengaktifkan salah satu transistor saja pada saat transisi.7 + Ie(Re1 + Re2). sebab akan terjadi peng-gemukan sinyal pada kedua transistornya aktif ketika saat transisi. Pembaca dapat menentukan berapa nilai R2 ini untuk memberikan arus bias tertentu bagi kedua transistor.

bahkan jika perlu cukup sempit hanya pada puncak-puncaknya saja dikuatkan. Transistor penguat kelas C bekerja aktif hanya pada phase positif saja. Tipikal dari rangkaian penguat kelas C adalah seperti pada rangkaian berikut ini.kadang penguat seperti ini disebut juga dengan penguat kelas AB plus B atau bisa saja diklaim sebagai kelas AB saja atau kelas B karena dasarnya adalah PA kelas B. rangkaian penguat tuner RF dan sebagainya. Namun yang penting adalah dengan teknik-teknik ini tujuan untuk mendapatkan efisiensi dan fidelitas yang lebih baik dapat terpenuhi IV. maka ada penguat yang disebut kelas C yang hanya perlu 1 transistor. Rangkaian L C pada rangkaian tersebut akan berresonansi dan ikut berperan penting dalam me-replika kembali sinyal input menjadi 49 . karena transistor memang sengaja dibuat bekerja pada daerah saturasi. Gambar IV. Ada beberapa aplikasi yang memang hanya memerlukan 1 phase positif saja.10 Rangkaian dasar penguat kelas C Rangkaian ini juga tidak perlu dibuatkan bias.5 PA kelas C Kalau penguat kelas B perlu 2 transistor untuk bekerja dengan baik. Penyebutan ini tergantung dari bagaimana produk amplifier anda mau diiklankan. Karena penguat kelas AB terlanjur memiliki konotasi lebih baik dari kelas A dan B. Sisa sinyalnya bisa direplika oleh rangkaian resonansi L dan C. Contohnya adalah pendeteksi dan penguat frekuensi pilot.

Teknik sampling pada sistem penguat kelas D memerlukan sebuah generator gelombang segitiga dan komparator untuk menghasilkan sinyal PWM yang proporsional terhadap amplituda sinyal input. IV.11 Konsep penguat kelas D 50 . sinyal PWM men-drive transistor switching ON dan OFF sesuai dengan lebar pulsanya. Penguat kelas C memiliki efisiensi yang tinggi bahkan sampai 100%. Rangkaian ini jika diberi umpanbalik dapat menjadi rangkaian osilator RF yang sering digunakan pada pemancar. Gambar IV. dimana lebar dari pulsa ini proporsioal terhadap amplituda sinyal input. Transistor switching yang digunakan biasanya adalah transistor jenis FET.sinyal output dengan frekuensi yang sama. Pola sinyal PWM hasil dari teknik sampling ini seperti digambarkan pada gambar-12. namun tingkat fidelitasnya memang lebih rendah.6 PA kelas D Penguat kelas D menggunakan teknik PWM (pulse width modulation). Tetapi sebenarnya fidelitas yang tinggi bukan menjadi tujuan dari penguat jenis ini. Paling akhir diperlukan filter untuk meningkatkan fidelitas. Konsep penguat kelas D ditunjukkan pada gambar-11. Pada tingkat akhir.

Secara kebetulan notasi D dapat diartikan menjadi Digital.Gambar IV. Kalaupun mau disebut digital. IV. penguat kelas D adalah penguat digital 1 bit (on atau off saja). Karena menggunakan transistor jenis FET (MOSFET/CMOS). Biasanya transistor yang digunakan adalah transistor jenis FET.7 PA kelas E Penguat kelas E pertama kali dipublikasikan oleh pasangan ayah dan anak Nathan D dan Alan D Sokal tahun 1972. Sebenarnya bukanlah persis demikian. sebab proses digital mestinya mengandung proses manipulasi sederetan bit-bit yang pada akhirnya ada proses konversi digital ke analog (DAC) atau ke PWM. 51 .12 Ilustrasi modulasi PWM penguat kelas D Beberapa produsen pembuat PA meng-klaim penguat kelas D produksinya sebagai penguat digital. Dengan struktur yang mirip seperti penguat kelas C. transistor bekerja sebagai switching transistor seperti pada penguat kelas D. Di sini antena adalah bagian dari rangkaian resonansinya. Bedanya. Karena dikenal efisien dan dapat dibuat dalam satu chip IC serta dengan disipasi panas yang relatif kecil. Bahkan dengan level arus dan tegangan logik pun sudah bisa membuat transitor switching tersebut bekerja. penguat ini menjadi efisien dan cocok untuk aplikasi yang memerlukan drive arus yang besar namun dengan arus input yang sangat kecil. transistor kelas C bekerja di daerah aktif (linier). penguat kelas E memerlukan rangkaian resonansi L/C dengan transistor yang hanya bekerja kurang dari setengah duty cycle. penguat kelas E banyak diaplikasikan pada peralatan transmisi mobile semisal telepon genggam. Sedangkan pada penguat kelas E.

proses sebelumnya adalah manipulasi bit-bit digital. IV. tegangan supply hanya ada satu pasang yang sering dinotasikan sebagai +VCC dan –VEE misalnya +12V dan –12V (atau ditulis dengan +/-12volt). Sedangkan pada penguat kelas T. Mungkin terinspirasi dari PA kelas D. Kemudian jika diperlukan untuk men-drive suara yang keras. Di dalamnya ada audio prosesor dengan proses umpanbalik yang juga digital untuk koreksi timing delay dan phase.9 PA kelas G Kelas G tergolong penguat analog yang tujuannya untuk memperbaiki efesiensi dari penguat kelas B/AB. Pada penguat kelas G. Pada penguat kelas D. +/-50 volt dan +/-20 volt. Tripath Technology membuat desain digital amplifier dengan metode yang mereka namakan Digital Power Processing (DPP). proses dibelakangnnya adalah proses analog.IV. untuk alunan suara yang lembut dan rendah. Misalnya ada tegangan supply +/-70 volt. 52 . rangkaian akhirnya menggunakan konsep modulasi PWM dengan switching transistor serta filter. Pada kelas B/AB. tegangan supply-nya dibuat bertingkat.8 PA kelas T Penguat kelas T bisa jadi disebut sebagai penguat digital. agar efisien tegangan supplynya ada 2 atau 3 pasang yang berbeda. Sebagai contoh. tegangan supply dapat di-switch ke pasangan tegangan supply maksimum +/-70 volt. Konsep ranagkaian PA kelas G seperti pada gambar-13. Terutama untuk aplikasi yang membutuhkan power dengan tegangan yang tinggi. yang aktif adalah pasangan tegangan supply +/-20 volt.

Penguat kelas H ini cukup kompleks. tinggi rendahnya tegangan supply di-desain agar lebih linier tidak terbatas hanya ada 2 atau 3 tahap saja. namun akan menjadi sangat efisien. 53 . Hanya saja pada penguat kelas H.Gambar IV. Tegangan supply mengikuti tegangan output dan lebih tinggi hanya beberapa volt.13 Konsep penguat kelas G dengan tegangan supply yang bertingkat IV.10 PA kelas H Konsep penguat kelas H sama dengan penguat kelas G dengan tegangan supply yang dapat berubah sesuai kebutuhan.

Bab V Operational Amplifier
Karakteristik Op-Amp Kalau perlu mendesain sinyal level meter, histeresis pengatur suhu, osilator, pembangkit sinyal, penguat audio, penguat mic, filter aktif semisal tapis nada bass, mixer, konverter sinyal, integrator, differensiator, komparator dan sederet aplikasi lainnya, selalu pilihan yang mudah adalah dengan membolak-balik data komponen yang bernama op-amp. Komponen elektronika analog dalam kemasan IC (integrated circuits) ini memang adalah komponen serbaguna dan dipakai pada banyak aplikasi hingga sekarang. Hanya dengan menambah beberapa resitor dan potensiometer, dalam sekejap (atau dua kejap) sebuah pre-amp audio kelas B sudah dapat jadi dirangkai di atas sebuah proto-board. V.1 Penguat diferensial Op-amp dinamakan juga dengan penguat diferensial (differential amplifier). Sesuai dengan istilah ini, op-amp adalah komponen IC yang memiliki 2 input tegangan dan 1 output tegangan, dimana tegangan output-nya adalah proporsional terhadap perbedaan tegangan antara kedua inputnya itu. Penguat diferensial seperti yang ditunjukkan pada gambar-1 merupakan rangkaian dasar dari sebuah op-amp.

Gambar V.1 Penguat diferensial

54

Pada rangkaian yang demikian, persamaan pada titik Vout adalah Vout = A(v1-v2) dengan A adalah nilai penguatan dari penguat diferensial ini. Titik input v1 dikatakan sebagai input non-iverting, sebab tegangan vout satu phase dengan v1. Sedangkan sebaliknya titik v2 dikatakan input inverting sebab berlawanan phasa dengan tengangan vout. V.2 Diagram Op-amp Op-amp di dalamnya terdiri dari beberapa bagian, yang pertama adalah penguat diferensial, lalu ada tahap penguatan (gain), selanjutnya ada rangkaian penggeser level (level shifter) dan kemudian penguat akhir yang biasanya dibuat dengan penguat pushpull kelas B. Gambar-2(a) berikut menunjukkan diagram dari op-amp yang terdiri dari beberapa bagian tersebut.

Gambar V.2 (a) : Diagram blok Op-Amp

Gambar V.2 (b) : Diagram schematic simbol Op-Amp

55

Simbol op-amp adalah seperti pada gambar-2(b) dengan 2 input, non-inverting (+) dan input inverting (-). Umumnya op-amp bekerja dengan dual supply (+Vcc dan –Vee) namun banyak juga op-amp dibuat dengan single supply (Vcc – ground). Simbol rangkaian di dalam op-amp pada gambar-2(b) adalah parameter umum dari sebuah opamp. Rin adalah resitansi input yang nilai idealnya infinit (tak terhingga). R out adalah resistansi output dan besar resistansi idealnya 0 (nol). Sedangkan AOL adalah nilai penguatan open loop dan nilai idealnya tak terhingga. Saat ini banyak terdapat tipe-tipe op-amp dengan karakterisktik yang spesifik. Op-amp standard type 741 dalam kemasan IC DIP 8 pin sudah dibuat sejak tahun 1960an. Untuk tipe yang sama, tiap pabrikan mengeluarkan seri IC dengan insial atau nama yang berbeda. Misalnya dikenal MC1741 dari motorola, LM741 buatan National Semiconductor, SN741 dari Texas Instrument dan lain sebagainya. Tergantung dari teknologi pembuatan dan desain IC-nya, karakteristik satu op-amp dapat berbeda dengan op-amp lain. Tabel-1 menunjukkan beberapa parameter op-amp yang penting beserta nilai idealnya dan juga contoh real dari parameter LM714. Table V.1 Parameter op-amp yang penting

V.3 Penguatan Open-loop Op-amp idealnya memiliki penguatan open-loop (AOL) yang tak terhingga. Namun pada prakteknya op-amp semisal LM741 memiliki penguatan yang terhingga kira-kira 100.000 kali. Sebenarnya dengan penguatan yang sebesar ini, sistem penguatan op-amp

56

V. Op-amp LM741 misalnya memiliki unity-gain frequency sebesar 1 MHz. maka tegangan persamaan dari kedua input ini ikut juga dikuatkan. Op-amp dasarnya adalah penguat diferensial dan mestinya tegangan input yang dikuatkan hanyalah selisih tegangan antara input v1 (non-inverting) dengan input v2 (inverting). V. Parameter AOL biasanya adalah penguatan op-amp pada sinyal DC. Ini berarti perubahan output op-amp LM741 tidak bisa lebih cepat dari 0.4 Unity-gain frequency Op-amp ideal mestinya bisa bekerja pada frekuensi berapa saja mulai dari sinyal dc sampai frekuensi giga Herzt. Parameter ini cukup penting untuk menunjukkan kinerja op-amp tersebut. op-amp LM741 memiliki slew-rate sebesar 0. maka sinyal output dapat berbentuk ekponensial. Parameter CMRR diartikan sebagai kemampuan op-amp untuk menekan 57 .5V/us. Karena ketidak-idealan op-amp. Parameter unity-gain frequency menjadi penting jika opamp digunakan untuk aplikasi dengan frekuensi tertentu. Namun kapasitor ini menimbulkan kerugian yang menyebabkan response op-amp terhadap sinyal input menjadi lambat.5 Slew rate Di dalam op-amp kadang ditambahkan beberapa kapasitor untuk kompensasi dan mereduksi noise. Jika perlu merancang aplikasi pada frekeunsi tinggi. maka outputnya juga kotak. Pada bab berikutnya akan dibahas bagaimana umpan balik bisa membuat sistem penguatan op-amp menjadi stabil.menjadi tidak stabil. Sehingga jika input berupa sinyal kotak. Tetapi karena ketidak idealan op-amp. Input diferensial yang amat kecil saja sudah dapat membuat outputnya menjadi saturasi.6 Parameter CMRR Ada satu parameter yang dinamakan CMRR (Commom Mode Rejection Ratio). Sebagai contoh praktis. maka pilihlah opamp yang memiliki unity-gain frequency lebih tinggi. Op-amp ideal memiliki parameter slew-rate yang tak terhingga.5 volt dalam waktu 1 us. Ini berarti penguatan op-amp akan menjadi 1 kali pada frekuensi 1 MHz. V. Response penguatan op-amp menurun seiring dengan menaiknya frekuenci sinyal input.

maka artinya perbandingannya kira-kira hanya 30 kali. Saat ini banyak op-amp yang dilengkapi dengan kemampuan seperti current sensing. Contoh lain misalnya TL072 dan keluarganya sering digunakan untuk penguat audio. Kalau diaplikasikan secara real. ya ada di datasheet 58 . maka output op-amp mestinya nol. high power output dan lain sebagainya. Cara yang paling baik pada saat mendesain aplikasi dengan op-amp adalah dengan melihat dulu karakteristik op-amp tersebut. Ada juga opamp untuk aplikasi khusus seperti aplikasi frekuesi tinggi. current limmiter. V.7 Penutup bagian ke-satu LM714 termasuk jenis op-amp yang sering digunakan dan banyak dijumpai dipasaran. rangkaian kompensasi temperatur dan lainnya.penguatan tegangan ini (common mode) sekecil-kecilnya. op-amp dengan CMRR yang semakin besar akan semakin baik. Di pasaran ada banyak tipe op-amp. Kalau CMRR-nya 30 dB. Pembaca dapat mengerti dengan CMRR yang makin besar maka op-amp diharapkan akan dapat menekan penguatan sinyal yang tidak diinginkan (common mode) sekecil-kecilnya.05 volt dan tegangan v2 = 5 volt. Jika kedua pin input dihubung singkat dan diberi tegangan. misalkan tegangan input v1 = 5. Tipe lain seperti LM139/239/339 adalah opamp yang sering dipakai sebagai komparator. CMRR didefenisikan dengan rumus CMRR = ADM/ACM yang dinyatakan dengan satuan dB.000 kali dibandingkan penguatan ACM (commom mode). Dengan kata lain. Data karakteristik op-amp yang lengkap. ini artinya penguatan ADM (differential mode) adalah kira-kira 30. Contohnya op-amp dengan CMRR = 90 dB.05 volt dan tegangan persamaan-nya (common mode) adalah 5 volt. maka dalam hal ini tegangan diferensialnya (differential mode) = 0. open colector output.

Bagian pertama adalah rangkaian umpanbalik (feedback) positif yang terdiri dari resistor R1 dan R2. maka tegangan titik referensi ini juga akan berubah-ubah. Karena tegangan output komparator op-amp bisa mecapai titik tertinggi (+Vsat) dan bisa juga ada pada titik terendah (-Vsat). Kita sebut saja titik masukan ini titik referensi positif atau dengan notasi +vref. B diketahui adalah porsi tegangan umpanbalik yaitu B = (R1/R2+R1). Mari kita analisa rangkaian ini bagian perbagian. Kita sebut tegangan ini titik UTP (upper trip point). Pada tulisan berikut dipaparkan tipe osilator yang paling sederhana yang dinamakan osilator relaksasi (relaxation oscillator). Sebaliknya jika tegangan keluaran komparator ada pada titik terendah (-Vsat). Jika tegangan keluaran op-amp ada pada titik tertinggi (+Vsat) maka tengangan referensi op-amp pada saat ini adalah +vref = +BVsat. umpanbalik positif dapat menimbulkan osilasi pada keluaran sistem loop tertutup. Osilator pembangkit gelombang ini dibuat dengan op-amp komparator misalnya LM393. VI.Bab VI Osilator Relaksasi Telah dimaklumi. Ini dikenal dengan histeresis.1 Histeresis umpanbalik positif Rangkaian VI. Kedua resistor ini tidak lain merupakan pembagi tegangan yang meng-umpanbalik-kan sebagian porsi dari tegangan output komparator.1 berikut adalah rangkaian osilator dengan satu komparator. maka tegangan referensi positif pada saat ini adalah +vref = -BVsat dan kita namakan tegangan tersebut titik LTP (lower trip point). 59 . Tengangan umpanbalik ini diumpankan kembali pada masukan referensi positif komparator LM393.

Dari keadaan kapasitor C yang kosong. pada rangkaian umpanbalik negatif ada komponen C yang sangat berperan dalam pembentukan osilasi. Ingat jika tegangan keluaran op-amp pada titik saturasi terendah (-Vsat).Gambar VI. Kita sebut saja titik referensi komparator ini -vref. Tegangan -vref akan berbentuk eksponensial sesuai dengan sifat pengisian kapasitor. Demikian juga sebaliknya ketika tegangan keluaran op-amp relaks pada titik saturasi terendah -Vsat. Namun pada rangkaian ini tegangan -vref tidak akan dapat mencapai tegangan tertinggi +Vsat. Sama halnya seperti rangkain umpanbalik positif. Karena ketika tegangan -vref sudah mencapai titik UTP maka keluaran komparator op-amp akan relaks menjadi -Vsat.1 rangkaian osilator relaksasi dengan op-amp VI. Bedanya. kapasitor C kembali kosong secara eksponensial. Tentu saja pengosongan kapasitor C tidak akan sampai menyebabkan tegangan -vref mencapai -Vsat. tegangan referensi negatif pada bagian ini juga akan berubah-ubah tergantung dari tegangan keluaran pada saat itu. tegangan referensi positif berubah menjadi titik LTP. sehingga ketika -vref < LTP tegangan 60 .2 Osilasi relaksasi Bagian lain dari rangkaian gambar-1 adalah rangkaian umpanbalik negatif yang terdiri dari resistor R dan kapasitor C. tegangan akan menaik secara ekponensial.

bisa dihitung dari kecepatan pengisian dan pengosongan kapasitor C melalui resistasi R.keluaran op-amp kembali relaks ke titik saturasi tertinggi (+Vsat). Karena T = 2t maka dihitung saja berapa nilai t. Gambar VI. Pada gambar diagram waktu gambar-2. Pada contoh ini t = t2-t1.2 diagram waktu frekuensi osilator Masing-masing pada saat t2 dan t1 tengangan kapasitor adalah Vt2 = Vsat (1-e-t2/RC) dan Vt1 = Vsat (1 . Berapa frekuensi osilator yang dapat dibuat. VI. hendak ditentukan berapa perioda T dari osilator. Demikian seterusnya sehingga terbentuk osilasi pada keluaran komparator.e-t1/RC) Perhatikan bahwa Vt2 = +BVsat dan Vt1 = -BVsat.3 Frekuensi osilator Demikian prinsip kerja osilator ini dan dinamakan osilator relaksasi sebab tegangan keluarannya relaks pada titik saturasi tertinggi dan terendah. 61 .

Dengan mengaplikasikan persamaan matematika eksponensial dari persamaan di atas akan diperoleh : t = t2-t1 = RC ln [( 1+B)/(1-B)] dan T = 2t = 2RC ln [( 1+B)/(1-B)] Tentu frekuensi osilator dapat dihitung dengan f = 1/T. 62 . jika dihitung maka akan didapat T = 589 us atau f = 1.7 kHz. Sebagai contoh pada rangkaian gambar 1.

1 : sistem penguat dengan umpanbalik 63 . bagaimana cara sinyal ini dibangkitkan dan realisasi rangkaiannya. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada gambar berikut. Namun ada suatu keadaan dimana sistem menjadi tidak stabil.1 Bagaimana terjadi osilasi Fenomena osilasi tercipta karena ada ketidak-stabilan pada sistem penguat dengan umpanbalik. yaitu sistem penguat A dengan umpan balik B. Colpitts. Pada tulisan ini akan dibahas fenomena osilator. Gambar VII. Misalnya diperlukan untuk pengujian rangkaian audio HiFi yang memerlukan sinyal sinusoidal sebagai input. VII. Ada banyak tipe-tipe osilator yang dikenal sesuai dengan nama penemunya antara lain Amstrong.Bab VII Osilator satu op-amp pembangkit gelombang sinus Wien-bridge oscillator Pembangkit gelombang sinus merupakan instrumen utama yang perlu ada dalam tiap bengkel disain elektronika. Namun pada tulisan kali ini akan di kemukan osilator Wien-bridge yang dapat direalisasikan dengan satu op-amp dan beberapa komponen pasif. Hartley dan lain sebagainya. Biasanya sistem umpanbalik dibuat untuk mencapai suatu keadaan stabil pada keluarannya dengan mengatur porsi penguatan umpanbalik dengan nilai tertentu. Secara matematis sistem ini dimodelkan dengan rumus 1.

satu tingkat (single pole) rangkaian RL atau RC dapat menggeser phasa sinyal sebesar 90o. Sehingga pada kali dihindari pemakaian induktor L tetapi menggunakan rangkaian penggeser phasa RC 2 tingkat. Sebenarnya rangkaian LC adalah pengeser phase 2 tingkat. jika dan hanya jika penguatan sistem keseluruhan = 1 dan phasa sinyal tergeser (phase shift) sebesar 180o. sistem menjadi tidak stabil jika 1+AB = 0 atau AB= -1. Sehingga Vout/Vin pada rumus tersebut nilainya menjadi infinite. 64 . Keadaan ini dikenal dengan sebutan kriteria Barkhausen.Rumus 1 model sistem penguat Pada rumus 1.180o) Inilah syarat terjadinya osilasi. Seperti yang sudah diketahui pada rangkain filter pasif. namun untuk aplikasi frekuensi rendah (< 1 MHz) akan diperlukan nilai induktansi L yang relatif besar dengan ukuran fisik yang besar juga. AB = -1 dapat juga ditulis dengan : AB = 1 (F .2 rangkaian penggeser phasa RC 2 tingkat Inilah rangkaian RC yang akan digunakan sebagai rangkaian umpanbalik pada sistem pembangkit gelombang sinus yang hendak dibuat. Setidak-tidaknya diperlukan rangkaian penggeser phase 2 tingkat agar phasa sinyal tergeser 180o. Gambar VII.

3 rangkaian wien-bridge oscillator Dari teori diketahui penguatan A adalah penguatan op-amp yang dibentuk oleh rangkaian resistor Rf dan Rg yang dirangkai ke input negatif op-amp.3 berikut.VII.2 Rangkaian osilator Wien-bridge dengan satu op-amp Osilator dinamakan demikian karena penemunya Max Wien lahir tahun 1866 di Kaliningrad Rusia dan tinggal di Jerman adalah orang pertama yang mencetuskan ide penggeser phasa 2 tingkat. Tentu anda sekarang dapat menunjukkan dimana penguat A dan yang mana umpanbalik dengan penguatan B. Secara utuh bentuk rangkaian tersebut ada pada gambar VI. Rumus penguatannya adalah : Rumus 2 penguatan op-amp 65 . Gambar VII. Rangkain ini merupakan analogi dari sistem umpanbalik seperti model gambar-1.

3 Dimana Jembatannya Mengapa rangkaian ini diberi embel-embel jembatan (bridge) ? Dimana jembatannya ? Pertanyaan ini mungkin sedikit mengganggu pikiran anda yang tidak melihat ada jembatan pada rangkaian gambar VI. 66 . Bagaimana kalau gambar VI. sehingga dengan demikian besar pengguat A = 3.3 di buat kembali menjadi gambar VI.Pada rangkain gambar VII. VII. pembaca dapat menganalisa sendiri rangkaian penggeser phasa pada gambar-2 dengan pesyaratan osilasi yaitu Vout/Vin = 1/3.3 diketahui Rf = 2Rg. Nilai maksimun ini akan tercapai jika wC = R dan diketahui w = 2pf. Selanjutnya jika diuraikan dapat diketahui besar frekuensi ini adalah : Rumus 3 frekuensi resonansi Ini yang dikenal dengan sebutab frekuensi resonansi (resonant frequency). Karena keterbatasan ruang. Dengan demikian osilator wien yang dibuat akan menghasilkan gelombang sinus dengan frekuensi resonansi tersebut.3. untuk memenuhi syarat terjadinya osilasi dimana AB = 1 maka B penguatannya harus 1/3.4 berikut ini. Dengan hasil ini. Pembaca akan menemukan bahwa rangkaian penggeser phasa tersebut akan mencapai nilai maksimum pada satu frekuensi tertentu.

Ini yang membuat penguatan op-amp mejadi tidak liner. rangkaian yang berbentuk seperti dioda bridge itulah jembatannya. Pada rangkaian pembangkit sinyal sinus jembatan Wien yang lebih profesional biasanya kompensasi ini dibuat dengan menambahkan rangkaian AGC (automatic gain controller).4 Distorsi frekuensi resonansi Dengan menggunakan rumus 3.59 kHz. VII. Ya. tentu besar resistor Rf juga harus disesuaikan agar tetap nilainya lebih kurang 2Rg. rangkaian gambar VII. Besar resistansi lampu akan berubah-ubah karena pasan sesuai dengan besar arus yang melewatinya.Gambar VII. Misalnya dengan mengganti resistor Rg dengan lampu dc 6volt 1 watt. ternyata frekuensi resonansinya adalah 1. Besar arus yang melewati lampu tidak akan menyalakannya. jembatan Wien.65 kHz. dapat digunakan rangkaian umpanbalik nonlinear. tetapi cukup untuk memanaskan filamennya. Tetapi kalau anda berkesempatan mencoba rangkaian ini dan mengukur hasilnya dengan osiloskop atau frekuesi counter.4) akan menghasilkan gelombang sinusoidal dengan frekuensi 1. Untuk mengkompensasi distorsi tersebut.4 jembatan Wien Tentu sekarang anda sudah dapat melihat ada jembatannya bukan. 67 .3 (atau gambar VII. Hal ini memang diketahui karena adanya distorsi pada rangkaian penggeser phasa yang non-linier.

68 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful