P. 1
free trade

free trade

|Views: 133|Likes:
Published by zeestudio

More info:

Published by: zeestudio on Mar 15, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/15/2011

pdf

text

original

p

' --

BABV TEORI~TEORI PERDAGANGAN KONVENSIONAL DAN

RELEVANSINYA DENGAN ISLAM

Oleh : Said £rfanie

5.1 Pendahuluan

Dapat dikatakan bahwa teori perdagangan dapat digolongkan setidak-tidaknya ke dalam dua kelompok, yakni teori klasik dan teori moderen. Teori klasik yang umum dikenal adalah teori merkantilis dan kaum merkantilis. teori keunggulan absolut dari Adam Smith, teori keunggulan relatif atau keunggulan komparatif dari J.S.Mill, dan teori biaya relatif dari David Ricardo. Sedangkan Teori Faktor Proporsi dan Hecksher-Ohlin disebut sebagai Teori Moderen.

Teori rnerkantills merupakan teori perdagangan pendahulu dari teori-teori perdagangan yang disebutkan belakangan. Apabila teori perdagangan merkantilis muncul sebelum Adam Smith mempopulerkan pemikiran ekonominya yang kemudian terkenal dengan ekonomi klasik, maka teori-teori perdagangan Jainnya muncul pada masa-masa sesudahnya, yang dalam beberapa hal teori-teori tersebut sering difahaminya sebagai teori perdagangan konvensional.

Ditinggalkannya teori perdagangan merkantills dan kemudian diterirnanya teoriteori perdagangan konvensional merupakan perubahan yang revolusioner, sejalan dengan tenggelamnya faham ekonomi merkantilisme dan munculnya faham liberalisme dalam ekonomi. Apabila pada masa merkantilisme, pemerintah menyibukkan diri dalam kegiatan usaha-usaha ekonomi, khususnya di sektor industri dan perdagangan, pada masa-masa sesudahnya pemerintah sejauh mungkin hendaknya tidak terlibat dalam kegiatan ekonomi.

Bab ini akan membahas teori-teori -perdagangaan konvensional tersebut satu persatu, dengan harapan akan terbangun suatu pemahaman tentang berbagai pola atau model-model perdagangan yang berkembang-. Lebih lanjut, model-model perdagangan tersebut ditelaah dari perspektif Islam, sehingga dengan demikian akan diketahui karakteristiknya masing-masing. Apakah model-model perdagangan tersebut Islami, dalam arf nilai-nilai keislaman tercermin dalam model-model perdagangan tersebut? Atau sebaliknya, nilai-nilal apa saja dari teori-teori perdagangan tersebut yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

74

5.2 Teori Klasik Tentang Perdagangan

5.2.1 Teori Perdagangan dari Kaum Merkantilis

Teori perdaqanqan internasional pertama kali dikemukakan oleh kaum merkantilis. Pada masa itu kaum pedagang, bankir, politisi dan filsuf yang kemudian sebagai kaum me rkantilis , menu lis sebuah essai dan famlet mengenai perdagangan internasional yang lebih mengacu pad a kepentingan politis para pedagang dan bangsawan .pada waktu itu.

Teori ini dominan dan dipraktekkan dalam abad ke 16 sampai akhir abad ke 18.

Paham ini berlawanan dengan paham perdagangan bebas (liberalisme). Salah satu pakar, penulis pandangan merkantilis atas perdagangan internasional adalah Thomas Munn (1571 - 1641) dalam bukunya berjudul "England's Treasure by Foreign Trade" (Charlies W.L.HiII, 2005).

Menurut pandangan teori merkantilis, perdagangan internasional harus mendatangkan emas (atau logam mulia lainnya) sebanyak-banyaknya ke dalam negeri. Emas adalah lambang kemakmuran sutu bangsa. Dengan demikian, dalam melakukan perdagangan internasional suatu negara harus lebih banyak melakukan ekspor daripada mengimpor barang. Surplus perdagangan yang dialami suatu negara akan rneninqkatkan cadangan emas yang dimiliki negara tersebut. Pada masa itu alat tukar yang digunakan adalah logam mulia, berupa emas dan perak (Donald A. Ball, dan Wendell H. McCulloch, 2000).

Supaya surplus perdagangan bisa diwujudkan, ekspor harus dido rang dan impor harus dibatasi melalui kebijakan moneter, fiskal dan kurs mata uang. Da!am hal ini, peranan pemerintah adalah pemegang monapoli dalam perdagangan internasional, sedangkan perusahaan-perusahaan dagang swasta yang besar-besar melakukan perdagangan internasional dengan mernperoleh hak (right) dari pemerintah.

Untuk menekan impor, negara memberlakukan berbagai hambatan perdagangan yang dikenakan pada baranq-baranq dari luar negerl. Menurut teori ini, negara menyerupai seseorang yang kesejahteraannya dan kekuasaannya meningkat sesuai dengan hartanya, yang berkurang akibat pengeluaran (impor) dan bertambah karena pendapatan (ekspor).

Emas adalah mekaninsme yang digunakan untuk memobilisasi sumber daya riel guna melindungi dan rnernperluas kepentingan bangsa. Surplus perdagangan akan menciptakan cadangan emas. Peningkatan cadangan em as akan memungkinkan suatu negara untuk membangun angkatan bersenjata yang tangguh. Dengan berbekal angkatan bersenjata yang tangguh banyak negara Eropa pada waktu itu mampu

t

75

;'

,,\ memperluas daerah koloni, terutama di Asia dan Afrika. Semakin banyak daerah koloni 'yang dimiliki suatu negara, maka semakin kuat perekonomian negara tersebut. Negara 'penjajah mampu menjual hasil bumi dari daerah koloni ke pasaran dunia, sehingga penerimaan negaraakan meningkat (Hadi Prayitno, 1996).

Dukungan tambahan terhadap sistem merkantilisme, dan kebijakan berdasarkan teori ini, telah ditemukan pada pengaruh perdagangan terhadap produksi dalam negeri dan lapanqan kerja. Ekspor telah menunjukkan peningkatan produksi dan telah memberikan pekerjaan bagi tenaga kerja dalam negeri, sedangkan impor dipandang menggantikan produksi dalam negeri dan mengakibatkan pengangguran. 'Kebijakan perdagangan telah dirancang untuk memaksimalkan kepentingan negara ketimbang kepentingan kelompok khusus dalam masyarakat.

Ajaran merkantilisme mengharuskan suatu negara secara konstan menghasilkan surplus dalam perdagangan. Ini berarti, negara mitra dagang mengalami defisit, inilahyang diartikan bahwa game dalam perdagangan internasional melahirkan keuntungan (win) bagisatu pihak, tetapi kerugian (/oss) bagi pihak lain yang berdagang (zero sum game). Perdagangan seharusnya memberi manfaat (gain) kepada semua pihak yang berdagang (win-win), bukan menciptakan zero sum game (losses equal winnings) (Donald A. Ball, dan Wendell H McCulloch, 2000).

Negara-negara kerajaan pada waktu itu, umumnya berdagang dengan daerahdaeah koloni. Daerah-daerah koloni menjual bahan mentah ke negara-negara yang menjajah (kerajaan). Pada gilirannya penjajah mengirim barang-barang jadi (umumnya barang-barang yang sudah diproses - industrial ,goods) ke negara-negara jajahan. Negara-negara jajahan ditekan oleh penjajah untuk tetap menjadi negara penghasil nahan rnontah dan dilarang mendir!kan pabrik yang rnenqhasilkan barang-barang

konsumsi dan barang-barang industri.

Paham merkantilisme didasarkan atas suatu pemikiran bahwa peningkatan kesejahteraan negara tidak akan pernah dapat dipisahkan dad konflik kepentingan antar negara yang bersangkutan. Jadi analisis tentang perdagangan internasional lebih diwarnai kepentingan politis daripada kepentingan ekonomis. Kaum merkantilis menyarankan agar pemerintah campur tangan dalam setiap kegiatan ekonomi. Negara akan mendapatkan keuntungan dari perctagangan internasional yang dilakukan, jika terjadi surplus perdagangan terhadap negara lain.

Dengan demikian teori merkantilis melahirkan pola perdagangan internasional yang tidak adil, bahkan negara-negara penjajah memeras (mengeksploitasi) negaranegara yang dijajah sehingga menimbulkan penderitaan,

76

77

Paham ekonomi berdikari (economic self sufficienCy) dan paham proteksionisme mungkin bisa diartikan atau muncutnya the new mercantilism yang mengakibatkan diperkenalkannya kembali "zero sum game" dalam perdagangan internasional misalnya, praktek-praktek perdagangan tidak jujur yang dilakukan sementara negara-negara seperti konsesi tarif, pembatasan impor yang non tarif, subsidi ekspor dan dumping bisa dipandang sebagai lahirnya kembali merkantilisme (the new mercantilism).

Praktik-praktik dagang yang melakukan "zero sum game" tidak sesuai dengan pola perdagangan yang diajarkan oleh [slam. Etika dagang yang sesuai nilai-nilai Islam seperti yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. banyak dikaji dan dipelajari, baik oleh kalangan rnuslirnin maupun non-muslimin. Rasul SAW. selalu berpegang pada empat prinsip dalam bidang perniagaan. Siddiq (dapat dipercaya), amanah (menepati janji), fathanah (punya wawasan luas), dan tabliqh (berkomunikasi). Keempat prinsip itu sebenarnya mencerminkan pasar yang sempurna dan terbukti telah dilakukan dengan sebaik-baiknya oleh Rasul SAW. yang kemudian membuat beliau sukses dalam bidang tersebut.

Rasullulah SAW. pada zamannya, ia menjadi pelopor perdagangan berdasarkan prinsip kejujuran, transaksi bisnis yang fair, dan sehat. Beliau tidak segansegan mensosilisasikannya dalam bentuk edukasi langsung dan statemen yang tegas kepada para pedagang (Prof.K.H.AIi Yafie dkk, 2003). Riwayat mencatat bahwa bagaimana komitmen dan loyalitas Nabi Muhammad SAW. kepada 'pelanggannya', diantaranya terhadap Abdullah ibn Abdul Hamzah. Abdullah berkata "sku teJah membe/i sesuatu dari Nabi Muhammad SAW. Sebe/um ia mener/ma tugas kenabian, dan karena masih ada suatu urusan dengannya, maka eku menja'1jikan untuk mengantarkan padanya, tetapi aku Jupa. Ketika teringat tiga her! kemudian, aku pun pergi ke tempat tersebut dan menemukan Nabi Muhammad SAW. masih berada di sana" Nabi Muhammad SAW. berkata: "engkau telah membuatku resah, aku berada di sini selama figa hari menunggumu" (HR. Abu Oaud).

Demikian juga posisinya sebagai 'pernbeli', loyalitas, dan kesungguhan itu pun ditunjukkan dengan sangat simpatik. Jabir berkata: "Saya sedang melakukan perja/anan dengan menunggang seekor unta yang sudah kelelahan, tetapi keUka Nabi Muhammad SAW, lewat dan memukulnya, unta tadi berja/an lagi. Ini be/um pemah ia lakukan sebeJumnya. Nabi Muhammad SAW. lalu berkata, Juallah unta flu padaku seharga setu uqiyah (40 dirham)'. Saya setuju, tetapi dengan syarat saya boleh mengendarainya sampai ke rumah. Ketika sampai di Madinah, saya seahkan unta tetsebut, dan ia membayar kontan (HR. Abu Oaud).

Sisi yang cukup menonjoJ daJam meletakkan etika bisnis Nabi Muhammad SAW. adalah nilai spiritual, humanisme, kejujuran, keseimbangan, dan semangatnya untuk memuaskan mitra bisnisnya. Nilai-nilai terse but telah melandasi tingkah laku dan sangat melekat· serta menjadi ciri kepribadian sebagai manajer profesional. Implementasi bisnis yang ia lakukan berporos pada nilai-nilai tauhid yang diyakininya.

5.2.2 Teori Keunggulan Absolut

Teori perdagangan internasional Adam Smith disebut teori keunggulan absolut.

Teori ini sering disebut sebagai teori murni perdagangan internasional. la membantah pendapat kaum merkantilis yang mengatakan bahwa melakukan hambatan perdagangan adalah jaJan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat suatu negara. Menurut Adam Smith, kesejahteraaan masyarakat suatu negara justru akan sernakin meningkat jika perdagangan internasional difakukan dalam pasar bebas dan intervensi pemerintah dilakukan seminimal mungkin. Dengan perdagangan bebas, sumber daya yang ada akan digunakan secara Jebih efisien, sehingga kesejahteraan yang dicapai akan lebih optimal.

Suatu negara akan mengekspor barang yang mempunyai keunggulan absoJut (paling efisien) bila diproduksi di daJam negeri dan mengimpor barang yang tidak mempunyai keunggulan absoJut (tidak efisien) bila diproduksi di dalam negerL Secara naluri konsep keunggulan absolut adaJah menarik. Konsep ini menyatakan bahwa dengan spesialisasi dalam produksi barang yang paling efisien bagi suatu negara, negara tersebut dapat meningkatkan kemakmurannya melalui perdagangan internasional.

Menurut Hukum Say (Chapra, 2001) sebagai sebuah hasil penting dari proses aplikasi penerapan hukum fisika Newtonian kedalam ilmu ekonomi, dan juga meletakkan batu pertama landasan ekonomi klasik, tidak membiarkan hal ini terjadi. Hukum tersebut menyebutkan bahwa sebagaimana alarn semesta, ilmu ekonomi akan berjalan secara baik apabila dibiarkan lepas sekehendaknya. Proses produksi akan menciptakan kekuatan permintaannya sendiri, dan tidak akan terjadi keJebihan produksi maupun pengangguran. Setiap kecenderungan yang akan menciptakan kelebihan produksi atau pengangguran daJam sebuah perekonomian akan terkoreksi secara otornatis, Karenanya, "hukum ekonomi" sangatlah kuat dan tidak menerima campur tangan.

78

Tabel 5.1

Biaya TenagaKerja Gam} Produksl Untuk Satu Unit

Benih Hukum Say sebenarnya telah lebih dulu disemai oleh Adam Smith yang menyatakan bahwa terdapat hubungan yang simetris antara kepentingan pribadi dan publik. Apabila setiap orang berusaha untuk memenuhi kebutuhan pribadinya, maka invisible hand dari kekuatan pasar akan rnemperjuangkan semua kepentingan masyarakat melalui pengendalian yang bernama kompetisi, selanjutnya menghasilkan hubungan yang harmonis antara kepentingan pribadi dan sosial. Jadi tidak ada kepentingan pemerintah atau siapapun untuk mengintervensi mekanisme pasar (Chapra, 2001).

Kansep tersebut akan membawa pada konsep laissez-faire, sebuah konsep yang menolak intervensi pemerintah. Dalam hal ini pemerintah tidak dapat berbuat dan tidak memiliki pilihan apapun, hanya berdiam diri untuk tidak melakukan cam pur tangan apapun. Kekuatan pasarlah yang menciptakan sebuah "penataan" dan "keharmonisan" dalam pasar, sedangkan setiap usaha pernerlntah untuk mengintervensi pasar yang dapat mengatur dirinya sendiri adalah sebuah usaha yang hanya menghasilkan distorsi dan inefisiensi.

Contoh sederhana menggambarkan hal ini. Anggaplah ada dua negara, Utara dan Selatan, yang keduanya dapat memproduksi dua barang, pakaian dan beras. Asumsikan lagi bahwa tenaga kerja adalah satu-satunya faktor produksi yang langka dan karena itu merupakan satu-satunya biaya produksi.

Negara Pakaian Beras
Utara 10 20
Selatan 20 10 Suatu bangsa berprestasi dengan baik bila bangsa tersebut memiliki sejumlah jam kerja per unit produksi yang rendah, karena ini mencerminkan biaya produksi. Dalam hal ini negara Utara memiliki keunggulan absolut dalam produksi pakaian, sebab biayanya hanya 10 jam kerja, dibandingkan 20 jam kerja di Selatan. Demikian juga Selatan memiliki keunggulan absolut dalam produksi beras yang biaya produksinya 10 jam kerja dibandingkan dengan 20 jam kerja di Utara.

Kedua negara mendapatkan manfaat melalui perdagangan. Bila rnereka berspesialisasi dan menukar pakaian dengan beras pada ratio harga relatif 1: 1, Utara dapat menggunakan lebih banyak sumber dayanya untuk memproduksi beras. Utara

79

dapat mengimpor satu unit beras untuk ditukar dengan satu unit pakaian, dengan hanya membayar 10 jam kerja untuk satu unit beras. Seandainya ia memproduksi beras sendiri Utara akan menggunakan 20 jam kerja, dengan demikian ia akan mendapatkan keuntungan 10 jam kerja dari perdagangan tersebut. Dengan cara yang sama, Selatan akan memperoleh keuntungan dari perdagangan bila ia mengimpor satu unit pakaian untuk ditukar dengan ekspor satu unit beras. Biaya efektif bagi Selatan untuk satu unit pakaian hanya 10 jam kerja yang diperlukan untuk membuat satu unit beras di negara itu.

Teori keunggulan absolut yang dirumuskan sebagaimana aslinya tidak meramalkan ratio pertukaran antara pakaian dan beras sa at dimulainya perdagangan, juga tidak menentukan pembagian keuntungan yang diperoleh dari perdagangan antara dua negara. Bahkan dalam model keunggulan absolut yang sederhana ini tersirat beberapa hal yang drarnatis, Pertama, tidak diragukan lagi adanya keuntungan perdagangan dengan syarat adanya biaya produksi yang berbeda bagi pakaian dan beras di dua negara sebelum perniagaan. Kedua, makin banyak suatu negara dapat berspesialisasi dalam produksi barang yang dibuatnya secara relatif efisien, semakin besar keuntungan potensialnya dalam kesejahteraan nasional. Kesimpulan inilah yang membantah teori merkantilistik. Ketiga, seandainya sasaran suatu negara adalah menimbun emas, berdagang secara bebas masih tetap merupakan sterategi terbaik, tapi pemerintah harus mengenakan pajak terhadap laba perdagangan (dalam bentuk pakaian dan beras) dan menukarnya dengan emas.

Menurut Adam Smith perdagangan internasional dapat memacu pertumbuhan ekonomi melalui terciptanya kesejahteraan masyarakat sebapal akihat spesialisasi dalarn perdagangan. Spesialisasi itu sendiri terjadi karena tiap-tiap pedagang melakukan pengkhususan pada sektor-sektor yang berbeda dengan memperhitungkan keuntungan absolut yang dimiliki. Pengkhususan itu membawa konsekuensi suatu negara harus berdagang dengan negara lain. Jika permintaan dalam negeri oleh pembeli luar negeri meningkat, maka industri dalam negeri akan dipacu untuk tumbuh. Pertumbuhan itu pad a gilirannya akan mengakibatkan tumbuhnya pula sektor-sektor lain yang terkait. Dengan demikian kesejahteraan masyarakat akan tercipta dengan sendirinya melalui mekanisme perdagangan.

Salah satu asas pokok dalam filsafat ekonomi Islam yang merupakan orientasi dasar ilmu ekonomi adalah tentang hak pemilikan kekayaan. Dalam Islam seperti yang dijelaskan dalam AI-Qur'an, bahwa pemilikan mutlak hanya layak bagi Tuhan sendiri, karena semua yang di langit dan di bumi adalah ciptaan-Nya dan milik-Nya (Q.S.5: 120).

80

- ... ~'-

81

Manusia hanya menjadi khalifah di muka burni ini, sebagai pengemban amanah dari Allah SWT. untuk mengelola alam semesta (O.S. 35:39).

Status khalifah atau pengemban amanat Allah itu berlaku umum bagi semua manusia; tidak ada hak istimewa bagi individu atau bangsa tertentu sejauh berkaitan dengan tugas kekhalifahan itu. Namun ini tidak berarti bahwa umat manusia selalu atau harus memiliki hak yang sarna untuk mendapatkan keuntungan dari alam semesta itu. Mereka memiliki kesamaan hanya dalam kesempatannya, dan setiap individu bisa mendapatkan keuntungan itu sesuai dengan kemampuannya. Individu-individu dicipta (oleh Allah) dengan kemampuan yang berbeda-beda sehingga mereka secara instinktif diperintah untuk hidup bersama, bekerja bersama, dan saling memanfaatkan keterampilan mereka masing-masing.

Adapun mengenai mekanisme pasar, terdapat beberapa prinsip yang melandasi fungsi-fungsi pasar dalam masyarakat muslim. Periama, semua harga, baik yang terkait dengan faktor-faktor produksi maupun produknya sendiri bersumber pada mekanisme ini, dan karena itu diakui sebagai harga-harga yang adil atau wajar (harga yang sesuai). Dengan demikian dalam konsep ekonomi Islam, penentuan harga dilakukan oleh kekuatan-kekuatan pasar yaitu kekuatan permintaan dan penawaran. Pertemuan permintaan dan penawaran tersebut, haruslah terjadi secara rela sarna rela, tidak ada pihak yang merasa terpaksa dalam melakukan transaksi pacta tingkat harga tersebut (Q.S.4:29)7.

Keadaan rela sarna rela merupakan kebalikan dari keadaan aniaya atau ekspfoitatif, yaitu keadaan dimana salah satu pihak senang di atas kepedihan orang lain. Dafam hal harga, para ahli fiqih merumuskannya sebagai the price of the equivalent atau harga yang sesuai. Konsep the price of the equivalent ini mempunyai implikasi yang penting dalam ilmu ekonomi, yaitu keadaan pasar yang kompetitif (Adiwarman A.Karim, 2001, hal. 114).

Kedua, mekanisme pasar dalam masyarakat muslim tidak boleh. dianggap sebagai struktur atomistik. Memang Islam tidak menghendaki adanya koalisi antara penawar dan peminta, tetapi ia tidak mengesampingkan kemungkinan adanya akurnutast atau konsentrasi produksi selama tidak ada cara-cara yang tidak jujur digunakan dalam proses tersebut, dan kedua hal tersebut tidak melanggar prinsipprinsip kebebasan dan kerjasama.

7 Wahai orang-orang yang beriman janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan bathil (tidak benar), kecua/i da/am perdagangan yang berlaku alas dasar suka sarna suka di antara kamu. Dan jangan/ah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah maha penyayang kepadamu.

2.3 Teori Keunggufan Komparatif

David Ricardo dan J.S.MiII dapat dipandang sebagai penerus Adam Smith

didalam mempromosikan paham liberalisme di bidang ekonomi dan perdagangan bebas: Wa[aupun demikian, teori perdagangan internasional yang dikembangkan David Ricardo (teori keunggulan komparatif) dan J.S.Mill berbeda dengan yang dikembangkan Adam Smith (teori keunggulan absolut).

J.S.MiII beranggapan bahwa suatu negara akan mengkhususkan diri pada ekspor barang tertentu bila negara tersebut memiliki keunggulan komparatif (comparative advantage) terbesar, dan akan mengkhususkan diri pada impor barang bila negara tersebut memiliki kerugian komparatif (comparative disadvantage). Atau, suatu negara akan melakukan ekspor baranq, bila barang itu dapat diproduksi dengan biayalebih rendah, dan akan melakukan impor barang, bila barang itu diproduksi sendiri akan memerlukan biaya produksi lebih besar.

Teori David Ricardo lahir 40 tahun kemudian setelah teari Adam Smith yang dikenalluas dalam abad ke 18. Menurut Ricardo bisa saja suatu negara tidak memiliki keunggulan absolut pad a semua barang yang diproduksinya akan tetapi negara bersarigkutan dapat mengekspor komoditi yang memiliki ketidakunggulan absolut terkecil (comparative advantage) dan mengimpor komoditi yang memiliki ketidakunggulan absolut terbesar (comparative advantage).

Pemikiran David Ricardo adalah perdagangan antara dua negara akan terjadi blla masing-masing negara memiliki biaya relatif yang terkecil untuk jenis barang yang berbeda. Jadi, penekanan Ricardo pada perbedaan efisiensi relatif antar negara dalam memproduksi dua (atau lebih) jenis barang yang menjadi dasar terjadinya perdagangan internasiona1.

Model Ricardo berguna dalam menggambarkan keuntungan perdagangan dari keunggulan komparatif. Dalam pengertian contoh dua negara sebelum ini, Utara dan Selatan, dan dua komoditi, pakaian dan beras.

Tabel: 5.2

Biaya Tenaga Kerja (jam) Produksi Untuk Satu Unit

Negara Pakaian Beras
Utara 50 100
Selatan 200 200 82

ii:

83

Dalam contoh ini Utara memiliki keunggulan absolut dalarn produksi pakaian maupun beras sehingga sekilas nampak bahwa perdagangan bebas tidak menguntungkan, atau tidak lagi merangsang untuk suatu pertukaran. Namun demikian perdagangan masih menguntungkan bagi kedua negara, dengan biaya relatif berbeda dalam kedua negara.

Sebelum terjadi perdagangan satu unit pakaian di Utara biayanya (50/100) jam beras, sehingga satu unit pakaian dapat ditukar denqan setengah unit beras. Oi Utara harga pakaian berjurnlah setengah harga beras. Oi Selatan satu unit pakaian harganya

. (200/200) jam beras atau satu unit beras. Bila Utara dapat mengimpor lebih dari setengah unit beras untuk satu unit pakaian, Utara akan memperoleh keuntungan dan perdagangan. Serupa, bila Selatan dapat mengimpor satu unit pakaian untuk kurang dari satu unit beras, Selatan akan rnernperoleh keuntungan dari perdagangan. Rasio harga reietit ini menentukan batas untuk perdagangan. Perdagangan dapat memberikan laba antara rasio harga {pakaian terhadap beras) 0,5 dan 1.

Contohnya, pada rasio syarat perdagangan dua banding tiga, Utara memperoleh keuntungan dari perdagangan sebab dapat mengimpor satu unit beras untuk ditukar dengan ekspor satu setengah unit pakaian. Karena biayanya bagi Utara hanya 50 jam kerja untuk memproduksi satu unit pakaian, biaya efektifnya dalam perdagangan untuk satu unit beras yang diimpor adalah 75 jam kerja. Dalam kondisi praniaga Utara mengeluarkan biaya sebesar 100 jam kerja untuk memproduksi satu unit beras. Demikian juga, Selatan mendapatkan keuntungan dari perdagangan. Selatan mengimpor satu unit pakaian untuk ditukar dengan dua pertiga beras. Sebelum perdagangan, Selatan memakai 200 jam kerja untuk memproduksi satu unit pakaian. Melalui perdagangan maka biaya efektifnya bagi satu unit pakaian (213 x 200) = 133 jam kerja - lebih murah daripada biaya produksi dalam negeri sebesar 200 jam kerja. Dalam kondisi seperti ini Utara akan cenderung untuk mengkhususkan diri memproduksi pakaian dan Selatan akan condong untuk berspesialisasi memproduksi beras.

Contoh tersebut menuju suatu azas yang umum. Perdagangan memberikan keuntungan bila raslo harga relatif dari dua barang berlainan pada pertukaran internasional dibanding pad a harga yang seharusnya bila tanpa perdagangan. Keadaan dalam negeri seperti itu disebut autarki, Perdagangan bebas lebih unggul daripada autarki. Perdagangan memberikan output ekonomi dan konsumsi yang lebih besar kepada mitra dagang secara bersama sebab mereka berspesialisasi dalam produksi, mengekspor barang dengan keunggulan komparatif dan mengimpor barang dengan kelemahan komparatif.

Baik keunggulan absolut dari Adam Smith maupun keunggulan komparatif dari David Ricardo bertumpu pada asumsi klasik, oleh karenanya disebut dengan teori perdagangan klasik. Teori ini melihat bahwa mekanisme perdagangan terjadi pad a situasi pasar persaingan sempurna. Secara lebih lengkap terdapat enam asumsi dasar dari teori perdagangan klasik, yaitu (Hadi Prayitno, 1996):

1. Semua sumber daya produktif di antara negara-negara pasti tersedia secara tetap baik dalam jumlah maupun kualitasnya. Semua digunakan sepenuhnya dan tidak ada mobilftas faktor produksi secara internasional.

2 .. Tehnik produksi tersedia secara pasti, tetap, mirip dan tersedia secara bebas bagi semua bangsa (model persediaan faktorj.. Penyebarannya dilakukan untuk keuntungan semua pihak. Selera konsumen juga pasti dan tetap serta bebas dari pengaruh-pengaruh produsen yaitu, ada kedaulatan konsumen (consumer sovereignty) secara internasional.

3. Oi dalam negara-negara, mobilitas faktor-faktor produksi terjadi secara sempurna antara kegiatan-kegiatan produksi dan kesatuan-kesatuan ekonomi yang berbeda yang secara keseluruhan ditandai dengan eksistensi persaingan sempurna. Tidak ada resiko dan ketidakpastian.

4. Pemerintah suatu negara tidak memainkan peranan dalam hubungan ekonomi internasional, sehingga perdagangan dilaksanakan di antara produsen yang banyak jumlahnya dan semuanya mencari berbagai cara untuk meminimumkan biaya dan memaksimumkan keuntungan. Jadi, harga-harga internasional ditentukan oleh kekuatan penawaran dan permlntaan,

5. Perdagangan dapat seimbang bagi masing-masing negara pada setiep saat dan semua kegiatan ekonomi siap menyesuaikan diri pada perubahan-perubahan harga internasional dengan perubahan yang minimal.

6. Hasil-hasil perdagangan yang mengalir ke suatu negara tertentu akan memberikan manfaat bagi penduduk negara tersebut.

84

Mainstream pemikiran Islam sangat jelas dalam mencirikan tingkah laku rasional yang bertujuan agar mampu mempergunakan sumberdaya karunia Tuhan dengan cara yang dapat menjamin kesejahteraan duniawi individu sebagaimana kesejahteraan duniawi orang lain, sampai akhirnya menghasilkan keseimbangan antara tujuan material dan spiritual dan antara.kepentingan pribadi dan sosial.

Untuk memotivasi individu agar melakukan hal yang terbaik bagi diri mereka sendiri dan orang lain, diperlukan insentif dan pencegahan balk material maupun spiritual. Memfungsikan persaingan pasar dengan baik, dimana masyarakat saling

85

berinteraksi atas kepentingan pribadi adalah penting untuk menjamin efesiensi maksimum. Akan tetapi, walau kompetisi benar-benar telah membantu dalam menjaga kepentingan sosial, kepercayaan penuh tidak dapat diberikan kepadanya, karena beberapa gelintir orang masih mungkin menggunakan cara-cara tidak adil (fair) untuk memperkaya diri.

5.3 Teari Maderen: Teori Proporsi Faktar

Teori Hecksher dan Ohlin (H-O) disebut juga teori proporsi faktor (factor proportion) atau teori ketersediaan faktor (factor endowment) (Tulus Tambunan,2000). Teort ini mulai dikenal pada tahun 1933 yang jauh sebelumnya dipelopori dan dlrintis oleh Eli Hecksher seorang ekonom Swedia. Teori ini dikembangkan dan dipublikasikan oleh Bertil Ohlin (pemenang hadiah Nobel pada tahun 1977) murid Eli Hecksher yang kemudian lahirlah teori perdagangan internasionaJ dikenaJ dengan nama H-O theory.

Pada hakekatnya teori H-O merupakan kelanjutan dan penyempurnaan teoriteori klaslk yang terdahuJu. Teori ini didasarkan pada dalil atau pandangan bahwa suatu negara akan mengekspor komoditinya yang didukung dengan adanya faktorfaktor produksl yang berIimpah (abundant) dan murah (cheap): dan akan mengimpor komoditi yang langka jumlahnya dan dilatarbelakangi dengan mahalnya faktor-faktor produksi di negara tersebut.

Namun demikian tidak seperti modal biaya tenaga kerja neo-klasik, yang menyatakan bahwa perdagangan timbul karena produktlvltas tenaga kerja pada satu jenis komoditi tetap, tetapi berbeda dengan produktivitas pada komoditi lainnya di maslnq-masinq negara. Teori persediaan faktor (endowment factor) menghilangkan. anggapan mengenai perbedaan produktivitas tenaga kerja relatif, dengan menyatakan bahwa semua negara dapat memiliki kemungkinan teknologi yang sarna untuk semua jenis komoditi.

Apabila harga faktor produksi di berbagai negara sarna, rnaka semua necara] akan menggunakan metode produksi yang identik, sehingga mereka mendapat nisbah (ratio) harga produk komestik relatif dan faktor-faktor produksi sama. Dengan demiklan: timbulnya perdaqanqan bukan karena adanya perbedaan teknologi yang dinyatakan dalam produktivitas tenaga kerja dalam menghasilkan komoditi yang berlainan di berbagal negara, tetapi karena negara-negara itu mempunyai persediaan faktor yang berbeda-beda.

Demikian juga apabila penawarannya berbeda maka harga relatif akan berbeda ,. pula, misalnya tenaga kerja akan relatif murah harganya di negara yang berlimpah

·····:.:i~naga kerja, dan kemudian juga dengan nisbah harga komoditi di dalam negri serta "k()mbinasi berbagai faktor. Negara-negara yang memiliki tenaga kerja murah akan .!jrnEmdapatkan keuntungan biaya dan harga relatif dalam pengusahaan komoditi yang '}llenggunakan banyak tenaga kerja, seperti produk primer dibandingkan dengan ····· .. ·:;il1egara-negara yang tenaga kerjanya mahal. Oleh karena itu, mereka memfokuskan diri pad a produksi komoditi padat karya dan mengekspor kelebihannya sebagai penukar " barang-barang yang padat modal.

Jadi, karena faktor endowment-nya berbeda, maka sesuai dengan hukum pasar, harga dari faktor-faktor produksi tersebut juga berbeda antara dua negara.

Misalnya dua negara Utara dan Selatan, yang memproduksi produk X dan Y, yang '·menggunakan dua faktor produksi, modal dan tenaga kerja. Kita mengasumsikan nahwa produk Y secara relatif lebih pad at modal dibandingkan dengan produk X, dan Utara memiliki sumber daya modal berlimpah dibanding dengan Selatan yang relatif berlimpah tenaga kerja. Untuk mempermudah anggaplah rakyat di Utara dan Selatan merriiliki selera yang sama. Suatu "ekonomi dunia" seperti ini digambarkan sebagai berikut:

y

PW

Utara

P'W

T's Selatan

x

Bila suatu negara membuka diri terhadap perdagangan internasional, maka ia akan menghadapi syarat perdagangan PwP'w (harga dunia). Bentuk dari batas kemungkinan produksi dari Utara dan Selatan menggambarkan faktor sumbangan dari negara tersebut. Utara secara potensial dapat memproduksi lebih banyak Y daripada

86

Selatan (sebab produksi Y padat modal, dan Utara berlimpah modal) dan Selatan sebenarnya dapat memproduksi lebih banyak X daripada Utara.

Sebelum perdagangan, Utara memproduksi dan mengkonsumsi pada titik C dan Selatan pada titik D. Pada keadaan praniaga, harga X relatif terhadap Y lebih tinggi di Utara daripada di Selatan. Hal ini terjadi karena dengan perdagangan bebas garis syarat perdagangan yaitu PwP'w, dan kedua negara telah bergerak ke kurva indifference yang sama dan lebih tinggi pada titik E. Utara telah meluaskan produksi Y dengan berproduksi pada titik F, dan Selatan telah memproduksi X dengan berproduks]

. pada titik G. Utara mengekspor Y sebagai tukaran impor X dari Selatan.

Dari grafik yang sederhana tersebut memberikan suatu kesimpulan penting dalam perdagangan bebas, setiap negara mengekspor produk yang secara intensif menggunakan faktor produksinya yang relatif berlimpah dan mengimpor produk yang secara intensif menggunakan faktor yang relatif langka. Inilah yang rnerupakan daHl Hechscher - Ohlin. Oi Utara, produsen dan pekerja dalam industri Y yang padat modal akan memperoleh keuntungan secara relatif dan absolut dibandingkan dengan produsen dan pekerja dalam sektor X.

Pada akhir tahun 1940"an Samuelson mengembangkan hasil Jnl (dengan tambahan asumsi yang menyederhanakan) dan menemukan bahwa: perdagangan bebas akan menyamakan tidak hanya harga barang yang diperdagangkan, tapi juga semua harga faktor, yakni dalam perdagangan bebas laba modal, tanah, dan semua tarif upah akan sama di semua negara (Alan M.Rugman dkk, 1993).

Dari analisls tentang yang untung dan yang rugi dalam perdagangan bebas ini (dalam model yag disederhanakan lni), keslmpulan pokok dan analisis mengandung ulangan: perdagangan meningkatkan keseluruhan kesejahteraan nasion ai, namun manfaatnya tidak terbagi rata di antara pemilik faktor produksi, berbagai produsen yang berlainan, atau para konsumen yang berlainan.

Model perdagangan dasar dari Heckscher-Ohlln dan Samuelson rnenpalarni., kemunduran akibat munculnya karya empiris dari Leontief pada pertengahan tahun 50-.· an. Berdasarkan suatu analisis input-output dari perekonomian Amerika Serikal, Leontief pada waktu itu menyimpulkan bahwa industri ekspor Amerika Serikat lebih .. padat karya daripada industri impor yang menyalnqlnya", Hal ini merupakan suatu keanehan mengingat Amerika Serikat banyak memiliki modal dan teknologi. Keanehan

87

• Menurut penelitian Leontief bahwa di tahun 1947, Amerika Serikat mengimpor komoditi yang sifatnya padat modal (kurang lebih 30% lebih besar dan ekspornya).

yang ditemukan dalam penelitiannya disebut Leontief paradox yang tidak bisa djjelaskan teori H-O (sampal sekarang pun Amerika Serikat masih impor mobil).

Islam menawarkan konsep ekonomi dan perdagangan yang dilandasi nilai-nilai dan etika yang bersumber dari nilai-nilai dasar agama (religion value based) yang menjunjung tinggi kejujuran dan keadilan. Seorang oriental is berkebangsaan Perancis, Raymond Charles, mengatakan bahwa ekonomi Islam telah menggariskan jalan kemajuan tersendiri. Oi bidang produksi ia sangat memuliakan kerja dan mengharamkan segala bentuk eksploitasi. Oi bidang distribusi ia menetapkan dua kaldah "bagi masing-masing menurut kebutuhannya", dan "bagi masing-masing menurut hasil kerjanya" (Iskandar Mirza, 2002).

Oengan adanya penghargaan terhadap prestasi kerja seseorang, secara lang sung . ataupun tidak, dapat meningkatkan produktivitas, sehingga nieningkatkan penghasilan dan daya beli masyarakat, sehingga kesenjangan ekonomi yang sangat tampak akibat praktek-praktek ekonomi kapitalis, dapat diperkecil atau jika mungkin dihilangkan.

Oalam hal pengembangan daya guna, ketika misalnya seseorang kekurangan modal, solusi yang ditawarkan dalam konsep Islam adalah kerjasama (mudarabah, musyarakah ataupun murabahah), yang pembagian keuntungannya didasarkan kerjakerja nyata, bukan prediksi berupa dipastikannya keuntungan sesuai dengan berjarannya waktu dengan presentase tertentu, seperti instrumen interest (bung a) dalam ekonomi konvensional.

5.4 Kesimpulan

Ajaran merkantilisme mengharuskan suatu negara secara konstan

menghasilkan surplus dalam perdagangan. Ini berarti, negara rnitra dagang mengalami defisit, inilah yang diartikan bahwa game dalarn perdagangan internasional melahirkan keuntungan (win) bag] satu pihak, tetapi kerugian (loss) bagi pihak lain yang berdagang (zero sum game). Perc!agangan seharusnya memberi manfaat (gain) kepada semua pihak yang berdagang (win-win), bukan menciptakan zero sum game (Josses equal winnings). Oengan demikian teori merkantilis melahirkan pola perdagangan internasional yang tidak adil, bahkan negara-negara penjajah memeras (mengeksploitasi) negara-negara yang dijajah sehingga menimbulkan penderitaan.

Slstirn ekonomi Islam, yang didasarkan pada nilai-nilai dan pandangan dunia islami adalah salah satu entitas dari keseluruhan sistem ekonomi yang ada. Sistem ekonomi Islam lebih berdrikan ethics, di mana dalam sistem ekonomi seperti ini, seturuh

88

.; i-. ~ ..

89

aktivitas ekonomi berkait dengan perwuiudan aspek-aspek nilai etis tersebut, juga ketika dihadapkan dengan tantangan-tantangan ekonomi.

Islam memandang persoalan ekonomi tidak dari perspektif kapitalis, yang memberikan kebebasan dan hak kepemilikan tak terbatas pada setiap individu serta mendukung eksploitasi seseoranq." Esensi dari prinsip-prinsip yang diperlukan dalam mengatur ekonomi masyarakat, dimana hak bagi kepemilikan pribadi dan kebebasan perusahaan di bawah kapitalisme yang terbatas dan adil, yang sangat diperlukan bagi kemajuan manusia, tidak hanya harus dipelihara, tetapi harus didukung dan diperkuat.

Keberhasilan ekonomi Islam (perdagangan dalam Islam) bergantung pada kesesuaian antara kebutuhan-kebutuhan etik dan material umat manusia. Sistem ini tidak mengabaikan kenyataan yang mendasar bahwa kemajuan manusia bergantung pada penclptaan keharmonisan antara aspek kehidupan moral dan material (Os.5:87)10 Jika moralitas diplsahkan dari perjuangan ekonomi, maka ia akan kehilangan kekuatan yan9. dapat mempertahankan stabilitas dan keseimbangan sistem sosial. Dan apabila perjuangan ekonomi dibebaskan dari ajaran-ajaran moral, rnaka ia akan mengarah pada materlalisme, imoralitas, dan korupsi yang akhirnya menghancurkan stabilitas ekonomi masyarakat.

Tugas manusia dalam kehidupan ini bukanlah sekedar membuat diri mereka patuh dengan nilai-nilai Islam, tetapi juga berjuang untuk memperbaiki masyarakat mereka agar sesuai dengan nilai-nilai tersebut. Hal inilah yang dimaksud dengan kehidupan yang shalih. Chapra telah menyebutkan dengan tepat bahwa "esensi dari wahyu Al-Our'an kepada manusia adalah anjuran untuk hidup penuh keshalihan .

. Para ularna Islam telah menyepakati bahwa salah satu tujuan terpentinq syari'ah adalah mengurangi kesulitan dan berusaha untuk menjadikan hidup manusia lebih nyaman. Namun demikian, ukuran kuantitas (jumlah) yang banyak tidak selalu berarti lebih baik daripada jumlah yang sedikit dalam segala keadaan, meski ilmu ekonomi konvensional memlliki keyakinan yang bertolak belakang dalam hal ini. Jurnlah yang banyak tergantung kepada bagaimana tambahan kekayaan diperoleh, siapa yang menggunakan dan bagaimana pengaruhnya kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.

• Muhammad sebagai Seorang Pedagang. terjemahan oleh: Dewi Nurjulianti. dkk, Yayasan Swarna Bhumy, Jakarta, 2000.

10 "Hai orang-orang yang beriman! JanganJah kamu haramkan apa-apa yang baik yang teJah Allah ha/alkan bagimu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas"

p: ....

DAFTAR PUSTAKA

Ai-Qur'an dan Hadist Rasuiullah SAW

Alan M. Rugman, Donald J.Lecraw dan Laurence D.Booth, 1993: International Business, McGraw-Hili Book Company

Ali Yafie dkk, 2003: Fiqih Perdagangan Bebas, penerbit Teraju

90

Charlies W.L.HiII, 2005: International Business 5rd McGraw-Hill Irwin

Chapra, The Future of Economics, 2001: An Islamic Perspective, SEBI

Dewi Nurjulianti, dkk, 2000, Muhammad sebagai Seorang Pedagang, terjemahan, Yayasan Swarna Bhumy, Jakarta

Donald A. Ball, dan Wendell H. McCulloch, 2000: International Business, ih ed.

McGraw-Hili

Hadi Prayitno, Budi Santosa, 1996: Ekonomi Pembangunan, Ghalia Indonesia

Mirza, Iskandar, 2002, Sejarah dan Aktualisasi Ekonomi Syariah @ eramuslim.com

Tulus Tambunan, 2000: Perdagangan Internasional dan Neraca Pembayaran, Pustaka LP3ES, Jakarta

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->