P. 1
Politik Hukum --> Pengadilan HAM di Indonesia. Nin Yasmine Lisasih

Politik Hukum --> Pengadilan HAM di Indonesia. Nin Yasmine Lisasih

|Views: 896|Likes:
Published by Nin Yasmine Lisasih
TINJAUAN YURIDIS PEMBENTUKAN PENGADILAN HAK ASASI MANUSIA (HAM) DI INDONESIA SEBAGAI SUATU PROSES POLITIK HUKUM

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Politik Hukum

Dosen Pembina: Prof. Dr. I. Gede Pantja Astawa, S.H, M.H

Disusun oleh : Nin Yasmine Lisasih 110120100040

PROGAM MAGISTER ILMU HUKUM - HUKUM BISNIS FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS PADJADJARAN BANDUNG 2010

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL............................................................................................... i DAFTA
TINJAUAN YURIDIS PEMBENTUKAN PENGADILAN HAK ASASI MANUSIA (HAM) DI INDONESIA SEBAGAI SUATU PROSES POLITIK HUKUM

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Politik Hukum

Dosen Pembina: Prof. Dr. I. Gede Pantja Astawa, S.H, M.H

Disusun oleh : Nin Yasmine Lisasih 110120100040

PROGAM MAGISTER ILMU HUKUM - HUKUM BISNIS FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS PADJADJARAN BANDUNG 2010

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL............................................................................................... i DAFTA

More info:

Published by: Nin Yasmine Lisasih on Mar 15, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/10/2012

pdf

text

original

TINJAUAN YURIDIS PEMBENTUKAN PENGADILAN HAK ASASI MANUSIA (HAM) DI INDONESIA SEBAGAI SUATU PROSES POLITIK HUKUM

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Politik Hukum

Dosen Pembina: Prof. Dr. I. Gede Pantja Astawa, S.H, M.H

Disusun oleh : Nin Yasmine Lisasih 110120100040

PROGAM MAGISTER ILMU HUKUM - HUKUM BISNIS FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS PADJADJARAN BANDUNG 2010

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL............................................................................................... i DAFTAR ISI............................................................................................................ ii BAB I PENDAHULUAN....................................................................................... 1 A. Latar Belakang Masalah............................................................................... 4 B. Perumusan Masalah...................................................................................... 8 BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................. 9 1. Tinjauan Umum Tentang Hak Asasi Manusia (HAM).......................... b) Hak-hak yang diproklamasikan dalam Deklarasi Universal Hak-hak Asasi Manusia................................................................... 9 c) Hak-hak yang bersifat Derogable Rights dan Non derogable rights…………………………………………………………………… 10 2. Tinjauan Umum Tentang Pelanggaran HAM berat.............................. a) Pengertian pelanggaran HAM berat................................................ 12 b) Macam-macam pelanggaran HAM berat........................................ 13 3. Tinjauan Umum Tentang Pengadilan HAM ad hoc............................. a) Pengertian Pengadilan HAM.......................................................... 14 b) Pengertian Pengadilan HAM ad hoc.............................................. 15 19 c) Lingkup Kewenangan Pengadilan HAM ad hoc............................ 16 BAB III PEMBAHASAN...................................................................................... A. Latar belakang Pembentukan Pengadilan HAM dalam Penyelesaian Kasus Pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) Berat Timor Timur................................................................................ 20 1. Latar Belakang Pembentukan Pengadilan HAM............................. 2. Landasan Yuridis Terbentuknya Undang-Undang Pengadilan HAM........................................................................... 23 20 14 12 9 a) Pengertian Hak Asasi Manusia........................................................ 9

3

3. Legitimasi Berdirinya Pengadilan HAM Ad Hoc............................ 25 B. Tinjauan Yuridis Pembentukan Pengadilan HAM sebagai Suatu Proses Politik Hukum................................................................ 30 BAB IV PENUTUP................................................................................................. 35 A. Simpulan...................................................................................................... 35 B. Saran............................................................................................................ 36 DAFTAR PUSTAKA............................................................................................ 37

3

Dalam konsep demokrasi. Sejak hukum membuat tradisi untuk dituliskan (written law). Namun. Ronald Dworkin dan . John Austin. Saat ini tengah berkembang bahwa hukum harus dilihat sebagai bangunan rasional. dengan memperhatikan dinamika masyarakat yang berkembang sejauh ini. PENDAHULUAN A. hukum yang seharusnya berlaku. Beberapa tokoh positivisme hukum seperti Hans Kelsen. Lon Fuller. karena disanalah menjadi nilai penting sebagai salah satu penghargaan atas entitas manusia secara individual. HAM menjadi masalah yang cukup krusial dengan mempertimbangkan kecenderungan ancaman konflik dan kekerasan.BAB I. tapi bisa pula bertubrukan. Politik hukum merupakan salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya dinamika masyarakat karena politik hukum diarahkan kepada ius constituendum. bergerak secara dinamis. melainkan terus berubah. politik hukum adalah aktivitas untuk menentukan suatu pilihan mengenai tujuan hukum dalam masyarakat. yang memiliki metode rasional pula bagi upaya untuk mengembangkannya. sedang alam dan kehidupan sosial itu bukan suatu “scheme” yang “finite closed”. Latar Belakang Menurut Satjipto Raharjo. Teks-teks itu ditafsirkan oleh karena ia merupakan “a finitive-closed scheme of permessible justification”. yang didalam demokrasi selalu mengedepankan aspek itu. Permasalahan HAM ini menjadi permasalahan penting dalam politik hukum suatu negara. Hampir tidak mungkin hukum bisa dijalankan tanpa ruang bagi penafsiran. Hart. beberapa hal mengharuskan penegakan HAM sebagai akibat dari perkembangan politik hukum yang terjadi. Bisa seiring. masalah HAM barangkali. maka penafsiran terhadap teks hukum tidak dapat dihindarkan. kendatipun ada elemen muncul dari nilai yang diyakini sejauh ini relatif beririsan.

Fenomena tersebut diatas ternyata juga terjadi di Indonesia. Berdasarkan hal-hal tersebut diduga telah terjadi pelanggaran berat HAM dan pelanggaran hukum humaniter. Menyikapi kekerasan yang terjadi di Timor Timur. terjadi sejumlah tindak kekerasan yang menimbulkan korban jiwa maupun terjadinya kerusakan dalam skala besar terhadap rumah-rumah penduduk serta harta benda lainnya. yaitu menerima atau menolak otonomi khusus melalui jajak pendapat. mencoba membuat kerangka bangunan hukum yang serba tertib. dan struktur ilmu pun menjadi kaku dan bersifat positiflegalistik. pada tanggal 15 September 1999 Dewan Keamanan PBB (DK PBB) 5 . Kasus Timor Timur bermula ketika Pemerintah Republik Indonesia (RI) mengeluarkan dua opsi pada tanggal 27 Januari 1999. menghegemoni banyak pemikir hukum dan berakhir pada klaim absoluditas penjelasan yang dapat diterima.5 banyak lagi lainnya. Hasil jajak pendapat menunjukkan sebagian besar rakyat Timor Timur memilih berpisah dari Indonesia. Realitas hukum termarjinalisasi dan pencarian kebenaran alternatif menjadi terhambat. kekerasan dan campur tangan dari pihak manapun”. Setelah pengumuman hasil jajak pendapat. tentang penyelenggaraan jajak pendapat di Timor Timur termasuk pengaturan pemeliharaan perdamaian dan keamanan di Timor Timur. salah satunya adalah dalam penyelesaian kasus pelanggaran HAM berat di Timor Timur pasca jajak pendapat tanggal 30 Agustus 1999. Dalam Pasal 3 Perjanjian New York dinyatakan bahwa: “Pemerintah Indonesia akan bertanggung jawab untuk menjaga perdamaian dan keamanan di Timor Timur agar penentuan pendapat dapat dilaksanakan secara adil dan damai dalam suasana yang bebas dari intimidasi. Pada tanggal 5 Mei 1999 Pemerintah RI melakukan perjanjian dengan Portugal di New York di bawah payung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). teratur dan formal. Pandangan ini telah berkembang luar biasa masif. bahkan terjadi pemindahan penduduk secara meluas.

ini adalah pelanggaran berat atas hak hidup. penghilangan paksa. KPP-HAM menyatakan telah berhasil mengumpulkan fakta dan bukti yang menunjukkan indikasi kuat telah terjadi pelanggaran berat HAM yang dilakukan secara terencana. pemusnahan. sistematis. Dalam laporan yang disusun di Jakarta pada tanggal 31 Januari 2000. perbudakan. pembumihangusan dan perusakan harta benda yang kesemuanya merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan. yaitu mencakup pembunuhan. penyiksaan dan penganiayaan. pengusiran. yang kemudian diperpanjang hingga 31 Januari 2000.mengeluarkan Resolusi Nomor 1264 yang mengutuk tindak kekerasan yang terjadi di Timor Timur dan mendesak Pemerintah Indonesia mengadili pihakpihak yang bertanggung jawab atas terjadinya kekerasan. Pada bagian kesimpulan. hak akan kebebasan bergerak dan bermukim serta hak milik. hak atas integritas fisik. hak atas kebebasan. KPPHAM menyatakan telah menemukan adanya pelanggaran berat HAM. antara lain dalam kerja sama dengan Komnas HAM menjamin orang-orang yang bertanggung jawab atas tindak kekerasan dan pelanggaran sistematis terhadap HAM akan diadili. Special session tersebut menghasilkan Resolusi Nomor 1999/S-4/1 yang menuntut kepada pemerintah Indonesia. kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak. Pemerintah Indonesia pun diminta untuk membentuk Pengadilan HAM yang berwenang mengadili perkara-perkara pelanggaran HAM dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang mengacu pada . Tak hanya itu. Komisi Hak Asasi Manusia PBB di Jenewa pada tanggal 23-27 September 1999 menyelenggarakan special session mengenai situasi di Timor Timur. serta dalam skala besar dan luas berupa pembunuhan massal. Kemudian Pemerintah Indonesia melalui Komnas HAM membentuk Komisi Penyelidik Pelanggaran HAM di Timor Timur (KPP-HAM) pada tanggal 22 September 1999 dengan masa kerja terhitung sejak 23 September 1999 hingga akhir Desember 1999. dan pemindahan paksa serta lain-lain tindakan tidak manusiawi terhadap penduduk sipil. pengungsian paksa.

Berdasarkan Pasal 43 ayat (1) UndangUndang pengadilan HAM mengatur bahwa pelanggaran HAM berat yang terjadi sebelum diundangkannya Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 diperiksa dan diputus oleh Pengadilan Ham ad hoc. Adanya kemauan pemerintah bersama warga negaranya untuk mengadopsi nilai-nilai yang menjunjung tinggi HAM dalam setiap produk hukum yang dibuatnya. yang berwenang mengadili kasus pelanggaran HAM berat adalah Pengadilan HAM dan berada di lingkungan Peradilan Umum. Bahwa kemudian Pemerintah Indonesia menyusun dan mengundangkan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (HAM) pada tanggal 23 September 1999 dan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia (HAM) pada tanggal 23 November 2000.7 hukum nasional dan internasional.. Pembentukan pengadilan HAM di Indonesia merupakan suatu proses politik hukum dalam pendiriannya. dengan kata lain baik Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 maupun Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 diberlakukan secara ex post facto. Menurut Pasal 104 ayat (1) Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999. Pembentukan Pengadilan HAM tersebut pada awalnya didasarkan pada Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) Nomor 1 Tahun 1999 yang mengatur tentang Pengadilan HAM. Berangkat dari terpenuhinya sistem hukum yang mengakomodir seperangkat peraturan perundang-undangan di bidang HAM tersebut (law making policy) maka terbentuk pula politik hukum pemerintah terhadap hal-hal yang berkaitan 7 . namun Perpu tersebut kemudian dicabut dan digantikan oleh Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM. padahal pada saat itu Indonesia belum memiliki peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai hak asasi manusia maupun pengadilan hak asasi manusia. dalam arti politik determinan atas hukum karena hukum merupakan hasil atau kristalisasi dari kehendak-kehendak politik yang saling berinteraksi dan bersaingan. Oleh karena itu hukum sebagai produk politik.

B. Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan tersebut. Rumusan Masalah Perumusan masalah digunakan untuk mengetahui dan menegaskan masalahmasalah apa yang hendak diteliti. Bagaimanakah mekanisme proses pembentukan pengadilan HAM di Indonesia terkait kasus pelanggaran HAM berat di Timor-Timur? 2. Untuk berikut: 1. dalam kerangka membangun hukum Indonesia yang progresif dari rule of law menuju rule of social justice. penulis tertarik untuk meneliti dan menuangkan dalam paper dengan judul “TINJAUAN YURIDIS PEMBENTUKAN PENGADILAN HAK ASASI MANUSIA (HAM) DI INDONESIA SEBAGAI SUATU PROSES POLITIK HUKUM“. salah satunya adalah Peradilan HAM. Bagaimanakah tinjauan yuridis pembentukan pengadilan HAM di Indonesia sebagai suatu proses politik hukum? mempermudah dalam pembahasan permasalahan yang akan diteliti maka penulis merumuskan masalah sebagai BAB II TINJAUAN PUSTAKA .mengenai HAM..

dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara. Pemerintah. yaitu persetujuan dari para warga yang tunduk kepada hak-hak itu dan tidak hanya tata tertib alamiah yang merupakan dasar dari arti yang pertama. hak-hak menurut hukum yang dibuat sesuai dengan proses pembentukan hukum dari masyarakat itu sendiri. partisipasi politik. Pengertian Hak Asasi Manusia Menurut Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia pada Pasal 1 angka 1 BAB I tentang Ketentuan Umum. yaitu: 1) Hak-hak yang berhubungan dengan hak-hak sipil dan politik termasuk hak untuk hidup. bahwa hak-hak yang tidak dapat dipisahkan dan dicabut adalah hak manusia karena ia seorang manusia. Dasar dari hak-hak ini adalah persetujuan dari yang diperintah. dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia. baik secara nasional maupun internasional. yang dimaksud dengan Hak Asasi Manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati. Hak-hak yang diproklamasikan dalam Deklarasi Universal Hak-Hak Asasi Manusia Hak-hak dalam Deklarasi Universal Hak-Hak Asasi Manusia dapat dibagi dalam dua macam hak. Hak-hak ini adalah hak-hak moral yang berasal dari kemanusiaan setiap insan dan hak-hak itu bertujuan untuk menjamin martabat setiap manusia. keamanan pribadi kebebasan dari penganiayaan dan perbudakan. Tinjauan Umum Tentang Hak Asasi manusia a. Kedua. Pertama. hak-hak atas harta 9 . Konsep hak-hak asasi manusia mempunyai dua pengertian dasar. hukum. b. kebebasan.9 1.

b) hak bebas dari perbudakan dan penghambaan. Hak-hak yang bersifat Derogable Rights dan Non Derogable Rights Istilah derogable rights diartikan sebagai hak-hak yang masih dapat ditangguhkan atau dibatasi (dikurangi) pemenuhannya oleh negara dalam kondisi tertentu. kebebasan sosial untuk dan berkumpul kebudayaan dan yang bersidang. dimulai dengan pengakuan martabat dan hak yang sama dan yang tidak dapat dicabut dari semua anggota umat manusia. tingkat kehidupan yang pantas. c. Selain itu. berhubungan dengan pekerjaan. ungkapan. pendidikan. Pasal 2 menyatakan hak semua orang atas hak yang telah ditetapkan tanpa diskriminasi apapun.benda. Sosial dan Budaya (EKOSOSBUD) sesungguhnya memuat jenis-jenis hak yang memiliki sifat berbeda dalam pelaksanaannya. ekonomi. . Dua kovenan penting tentang Hak Asasi Manusia (HAM) Internasional yaitu Kovenan tentang Hak Sipil dan Politik (SIPOL) dan Kovenan Hak Ekonomi. pikiran. kebebasan hidup berbudaya. perkawinan dan kebebasan dasar untuk menyatakan pendapat. pasal pertama dari Deklarasi menyatakan kemutlakan hak-hak itu dipandang dari sudut persamaan martabat manusia. Prioritas yang mendasari hak-hak yang diumumkan dalam deklarasi itu dimuat dalam Mukadimah Deklarasi. suara hati dan 2) Hak agama. Sementara itu istilah non derogable rights maksudnya adalah ada hak-hak yang tidak dapat ditangguhkan atau dibatasi (dikurangi) pemenuhannya oleh negara. meskipun dalam kondisi darurat sekalipun. Kovenan Hak SIPOL yang tergolong dalam non derogable rights diantaranya memuat hak-hak seperti: a) hak hidup.

warna kulit. Jika pembatasan terpaksa harus dilakukan. g) hak untuk bebas dari penerapan hukum pidana yang berlaku surut. 2) penangguhan atau pembatasan tersebut tidak boleh didasarkan pada diskriminasi ras. kebebasan berpikir dan berkeyakinan agama. Sementara itu yang dimaksudkan sebagai hak yang bersifat dapat ditangguhkan atau dibatasi oleh negara pemenuhannya adalah yang dimuat 11 . membatasi atau bahkan mengesampaikan pemenuhan dari hak-hak di atas. Dengan demikian. d) hak untuk diperlakukan secara manusiawi dan tidak direndahkan martabatnya sebagai manusia. hanya dan bila hanya syarat-syarat komulatif yang ditentukan oleh Kovenan tersebut dipenuhi oleh negara yang bersangkutan. agama atau asal-usul sosial. Syarat komulatif yang dimaksud adalah sebagai berikut: 1) sepanjang ada situasi mendesak yang secara resmi dinyatakan sebagai situasi darurat yang mengancam kehidupan bernegara. bahasa. f) hak untuk dilindungi dari penerapan hukum pidana karena hutang. jenis kelamin. dan h) hak diakui sebagai pribadi didepan hukum. dan 3) pembatasan dan penangguhan yang dimaksud harus dilaporkan kepada Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). tidak dibernarkan suatu negara manapun mengurangi. e) hak untuk mendapatkan pemulihan menurut hukum.11 c) hak untuk tidak dijadikan obyek dari perlakuan penyiksaan-perlakuan atau penghukuman keji.

2. (e) hak berpartisipasi dan berbudaya. Diantaranya yang dimaksud sebagai derobagle rights adalah: (a) hak untuk bekerja. menghalangi. yaitu Kovenan Hak EKOSOSBUD. (b) hak untuk menikmati kondisi kerja yang adil dan baik. dimana jika salah satu atau dua syarat saja yang dijelaskan di atas terpenuhi. masih belum cukup kuat untuk dijadikan dasar bagi negara melakukan pembatasan dan penangguhan. (c) hak untuk membentuk dan ikut dalam organisasi. Tinjauan Umum tentang Pelanggaran HAM (Hak Asasi Manusia) Berat a. dan atau mencabut hak asasi manusia . maka suatu negara tidak bisa mengabaikan hak-hak warga negaranya hanya dengan dalih demi melindungi kepentingan umum. tanpa adanya aturan yang sudah dinyatakan sebelumnya dalam suatu UndangUndang yang berlaku efektif di negara tersebut. Namun sama halnya seperti hak SIPOL. Pengertian Pelanggaran HAM Berat Menurut Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia pada Pasal 1 angka 6. dinyatakan bahwa Pelanggaran hak asasi manusia adalah setiap perbuatan seseorang atau kelompok orang termasuk aparat negara baik disengaja atau kelalaian yang secara melawan hukum mengurangi. Oleh karena dua Kovenan di atas merupakan bagian dari The Internasional Bill of Rights yang bersifat universal dan berlaku sebagai hukum yang mengikat semua negara.dalam Kovenan kedua. Terlebih lagi pemenuhan hakhak SIPOL. (d) hak mendapatkan pendidikan. membatasi. penangguhan atau pembatasan juga diperketat yaitu dalam hal pembatasan tersebut harus diatur oleh hukum dan dengan maksud semata-mata untuk memajukan kesejahteraan umum dalam suatu masyarakat yang demokratis (Pasal 4 Kovenan Hak Ekososbud).

1) Jenis-jenis pelanggaran Hak Asasi Manusia menurut Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 Tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia. atau dikhawatirkan tidak akan memperoleh penyelesaian hukum yang adil dan benar.13 seseorang atau kelompok orang yang dijamin oleh undang-undang ini. yang termasuk kejahatan Hak Asasi Manusia (HAM) berat (the most serious crimes) ada 4 macam. Jenis-jenis pelanggaran Hak Asasi Manusia berdasarkan Pasal 5 Statuta Roma 1998 (Rome Statute of the International Criminal Court). Sedangkan menurut Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 Tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia pada Pasal 1 angka 2. b. Pasal 8 dan Pasal 9. dan tidak mendapatkan. Macam-Macam Pelanggaran HAM (Hak Asasi Manusia) Berat. Macam-macam pelanggaran HAM berat dalam hukum positif nasional dan yang diatur dalam Statuta Roma 1998 terdapat perbedaaan. yaitu: 13 . 2) Perbuatan tersebut adalah merupakan bagian dari serangan yang dilakukan secara meluas atau sistematik. berdasarkan mekanisme hukum yang berlaku. serta mengenai kejahatan perang dan kejahatan agresi masih terdapat perbedaan pendapat diantara negara-negara anggota mengenai pengaturannnya. hal ini terjadi karena Indonesia belum meratifikasi Statuta Roma 1998. kemudian dalam pasal 7 dinyatakan bahwa pelanggaran hak asasi manusia yang berat meliputi kejahatan genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan. 3) Serangan tersebut diketahui ditujukan secara langsung terhadap penduduk sipil. yang dimaksud Pelangggaran Hak Asasi Manusia yang Berat adalah pelanggaran hak asasi mnusia sebagimana dimaksud dalam undang-undang ini. dapat diketahui dalam Pasal 7.

2006:9). Pengertian Pengadilan Hak Asasi Manusia atau Pengadilan HAM dalam Pasal 1 angka 3 adalah pengadilan khusus terhadap pelanggaran HAM yang berat. c.a. maka menjadi jelas bahwa yang dimaksud dengan Pengadilan HAM adalah pengadilan yang berada dilingkungan Peradilan umum yang hanya bertugas dan berwenang untuk memeriksa dan memutus perkara pelanggaran HAM yang berat saja. kejahatan perang. b. d. kejahatan genosida. kejahatan terhadap kemanusiaan. kejahatan agresi. Jika pengertian Pengadilan HAM pada Pasal 1 angka 3 dikaitkan dengan Pasal 2 yang menentukan bahwa Pengadilan HAM merupakan pengadilan khusus yang berada di lingkungan peradilan umum. Tinjauan Umum Tentang Pengadilan HAM AD HOC a. karena Indonesia hanya mengadopsi ketentuan tersebut dari Statuta Roma 1998. dan Pasal 4 yang menentukan bahwa Pengadilan HAM bertugas dan berwenang memeriksa dan memutus perkara pelanggaran HAM yang berat. 3. Pelanggaran HAM yang berat merupakan extra . Dalam Penjelasan Umum Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 disebutkan bahwa dibentuknya Pengadilan HAM dilaksanakan atas pertimbangan sebagai berikut: 1. Wiyono. Pengertian Pengadilan HAM. Mengenai “Elements of Crime” dalam kejahatan genosida dan kejahatan kemanusian dalam Statuta Roma adalah sama dengan dengan “elements of crime” yang telah dijelaskan sebelumnya. (R.

2. e. penuntutan dan pemeriksaan di pengadilan. ketentraman. Terhadap perkara pelanggaran HAM yang berat diperlukan langkah-langkah penyelidikan. sehingga perlu segera dipulihkan dalam mewujudkan supremasi hukum untuk mencapai kedamaian. penyidikan. baik terhadap perseorangan maupun masyarakat.15 ordinary crimes dan berdampak secara luas. Pengertian Pengadilan HAM Ad hoc 15 . baik materiil maupun immateriil yang mengakibatkan perasan tidak aman. diperlukan penegasan bahwa penyelidikan hanya dilakukan oleh Komnas HAM. penuntutan dan pemeriksaan yang bersifat khusus. ketertiban. baik pada tingkat nasional maupun internasional dan bukan merupakan tindak pidana yang diatur dalam KUHP serta menimbulkan kerugian. diperlukan ketentuan mengenai tenggang waktu tertentu untuk melakukan penyidikan. penyidikan ad hoc. yaitu: a. diperlukan penyelidikan dengan membentuk tim ad hoc. b. penuntut umum ad hoc dan hakim ad hoc. diperlukan ketentuan mengenai perlindungan korban dan saksi. diperlukan ketentuan yang menegaskan tidak ada kadaluarsa bagim pelanggaran HAM yang berat. keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat Indonesia. c. d. sedangkan penyidik tidak berwenangmenerima laporan atau pengaduan sebagaimana diatur dalam KUHAP. b.

dua jenis pelanggaran HAM lainnya ( kejahatan perang dan agresi) sampai saat ini masih dalam perdebatan . Memeriksa dan memutus perkara pelanggaran HAM berat sesuai Pasal 7 Undang-Undang Pengadilan HAM yaitu kejahatan genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Undang-undang Pengadilan HAM tidak memuat seluruh jenis pelanggaran HAM yang terdapat dalam Statuta Roma 1998. c. tetapi jika ketentuan dalam Pasal 1 angka 3 dikaitakan dengan Pasal 43 ayat (1) yang menentukan bahwa pelanggaran HAM yang berat yang terjadi sebelum diundangkannya Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 diperiksa dan diputus oleh Pengadilan HAM Ad hoc. Prof. DR. yang terjadi sebelum diundangkannya Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 pada tanggal 23 November 2000. Kewenangan Absolut a. Lingkup Kewenangan Pengadilan HAM Ad hoc 1. Yusril Ihza Mahendra (yang pada tahun 2001 masih menjabat sebagai Menteri Kehakiman RI) memberikan penjelasan mengenai beberapa pertimbangan yang ditempuh Pemerintah Indonesia: 1. Pertama. b. Memeriksa dan memutus pelanggaran HAM yang berat yang terjadi sebelum berlakukanya Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 pada tanggal 23 November 2000.Dalam Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 tidak ada ketentuan yang menyebutkan pengertian dari Pengadilan HAM Ad hoc. Dengan demikian dapat diketahui bahwa yang dimaksud Pengadilan HAM Ad hoc adalah pengadilan khusus yang memeriksa dan memutus perkara pelanggaran HAM yang berat.

4. 2. Kewenangan relatif 17 . Kedua. Statuta Roma 1998 sudah diadopsi dalam Konferensi Diplomatik di Roma namun Indonesia belum meratifikasi Statuta Roma 1998 sehingga tidak ada kewajiban pemerintah Indonesia untuk memenuhi seluruh ketentuan dalam Statuta Roma tersebut. Untuk kepentingan Indonesia kebijakan pemerintah yang telah mengadopsi beberapa prinsip dan ketentuan dalam Statuta Roma tersebut merupakan kebijakan yang dianggap tepat untuk saat ini dan tidak akan membahayakan kedaulatan negara RI. Keempat. 3. Ketiga. 2.17 negara anggota PBB dan Indonesia belum menentukan sikapnya secara tegas terhadap keduanya. Jika Undang-undang Nomor 26 tahun 2000 mengadopsi sebagian ketentuan dalam Statuta Roma tersebut adalah dilatarbelakangi kepentingan Indonesia sebagai negara yang berdaulat. karena Statuta Roma 1998 tersebut merupakan perjanjian internasional yang tidak boleh direservasi sama sekal maka ratifikasi terhadap Statuta Roma tersebut berdampak mengikat secara penuh negara peratifikasi sehingga pemerintah Indonesia masih harus berhati-hati untuk meratifikasinya. kepentingan pemerintah untuk mengundangkan UU nomor 26 tahun2000 didorong oleh kehendak untuk memenuhi prinsip Komplementaritas (complementarity principles) yang dianut oleh Statuta Roma 1998 tersebut sehingga dengan cara demikian Undang-undang nasional Indonesia (UU Nomor 26 tahun 2000) mengenai peradilan atas perkara Pelanggaran HAM Berat sudah memenuhi standar minimum hukum internasional tersebut.

Jawa Tengah. Pengadilan HAM pada Pengadilan Negeri Jakarta pusat dengan daerah hukum meliputi: DKI Jakarta. Nusa Tenggara Timur dan Daerah Istimewa Yogyakarta. b. Sulawesi . Nusa Tenggara Barat. Pengadilan HAM pada Pengadilan Negeri Makasar dengan daerah hukum meliputi: Sulawesi Selatan. Sumatra Selatan. Jawa Barat. yaitu: a. Bali. Bengkulu. Lampung. Banten. misalnya Keputusan Presiden Nomor 53 Tahun 2000 yang diubah dengan Keputusan Presiden Nomor 96 Tahun 2001 telah dibentuk Pengadilan HAM ad hoc pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Dalam Keppres tersebut ditentukan bahwa Pengadilan HAM ad hoc pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat mempunyai wewenang untuk memeriksa dan memutus perkara pelanggaran HAM yang berat yang terjadi di Timor Timur dalam wilayah hukum Liquica. menjawab pertanyaan Pengadilan Negeri mana yang berwenang untuk mengadili perkara. Kalimantan Selatan. c. Secara terinci berikut adalah pengadilan negeri yang memiliki kewenangan relatif mengadili pelanggaran HAM. Kewenangan Relatif atau kompetensi relatif dari Pengadilan HAM ad hoc adalah seperti yang ditentukan dalam Keputusan Presiden tentang Pembentukan Pengadilan HAM ad hoc. Kalimantan Timur. Pengadilan HAM pada Pengadilan Negeri Surabaya dengan daerah hukum meliputi: Jawa Timur. Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Dilli dan Soae pada bulan April 1999 dan bulan September 1999 dan yang terjadi di Tanjung Priok pada bulan September 1984.Kompetensi relatif atau wewenang relatif.

Maluku. Maluku Utara dan Irian Jaya.19 Tenggara. Sulawesi Tengah. Latar Belakang Mekanisne Proses Pembentukan Pengadilan HAM di 19 . BAB III PEMBAHASAN A.

Latar Belakang Pembentukan Pengadilan HAM. Berbagai pelanggaran HAM yang terjadi belum pernah terselesaikan secara tuntas sedangkan gejala pelanggaran kian bertambah. pemusnahan. Orde baru yang memerintah secara otoriter selama lebih dari 30 tahun telah melakukan berbagai tindakan pelanggaran HAM karena perilaku Negara dan aparatnya. Papua dan kasus Pelanggaran HAM berat di Timor Timur selama pra dan pasca jajak pendapat belum ada yang terselesaikan. Orde Baru yang berkuasa selama 33 tahun (1965-1998) telah banyak dicatat melakukan pelanggaran-pelanggaran HAM. Selanjutnya. telah ditemukan fakta. pemindahan paksa dan lain-lain tindakan tidak manusiawi terhadap penduduk sipil. keterangan dan kesaksian dari berbagai pihak yang mengarah pada tindakan yang dapat digolongkan sebagai pelanggaran berat HAM yang menjadi tanggung jawab negara (state responsibilities). Berikut adalah fakta pelanggaran yang diperoleh KPP-HAM: . DOM Aceh. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas-HAM) dalam laporan tahunnya menyatakan bahwa pemerintah perlu menuntaskan segala bentuk pelanggaran HAM yang pernah terjadi di Indonesia sebagai akibat dari struktur kekuasaan yang otoriter. perbudakan. 1. pasca Orde Baru pelanggaran HAM yang berbentuk aksi kekerasan massa. dokumen.Indonesia Terkait Kasus Pelanggaran HAM Berat di Timor-Timur. konflik antar etnis yang banyak menelan korban jiwa dan pembumihangusan di Timor Timur pasca jajak pendapat menambah panjang sejarah pelanggaran HAM. Penyelesaian kasus Tanjung Priok. Berdasarkan laporan hasil penyelidikan oleh Komisi Penyelidik Pelanggaran HAM (KPP-HAM). pengusiran. Pelanggaran tersebut mencakup pembunuhan. Atas kondisi ini sorotan dunia internasional terhadap Indonesia semakin menguat.

Penghilangan paksa ini dilakukan oleh kelompokkelompok milisi yang diduga memperoleh bantuan dari aparat keamanan dengan cara menculik atau menangkap untuk kemudian beberapa diantaranya dieksekusi seketika. penyerbuan dan pemusnahan prasarana fisik termasuk berbagai kasus penyergapan terhadap iring-iringan pengungsi.21 Tabel 1: Pelanggaran yang ditemukan oleh KPP-HAM Pelanggaran Pembunuhan massal sistematis Keterangan Terdapat cukup banyak keterangan dan bukti-bukti. Sesudah pengumuman jajak pendapat. Kasus pembunuhan terjadi di pemukiman penduduk sipil. di gereja. penganiayaan dilakukanoleh milisi tehadap warga sipil yang menolak untuk bergabung atau menjadi anggota milisi. sebelum jajak pendapat. termasuk di penampungan pengungsi di markas militer dan polisi. Warga penduduk sipil yang berseberangan keyakinan politiknya telah diintimidasi. 21 . dan Hampir dalam setiap kasus tindak kekerasan yang dilakukan anggota TNI. penganiayaan merupakan bagian dari tindakan teror dan ancaman pembunuhan yang terjadi dalam setiap penyerangan. dan telah terjadi berbagai tindak kekerasan dan upaya pembunuhan terhadap sejumlah orang atas dasar alasan-alasan politik maupun bentuk diskriminasi lainnya. diancam dan dihilangkan. Polri dan milisi terdapat bukti tentang penyiksaan dan penganiayaan terhadap penduduk sipil yang memiliki keyakinan politik berbeda. Penyiksaan penganiayan Penghilangan Paksa Penghilangan paksa terjadi sejak diumumkannya dua opsi. berlangsung kejam dan brutal serta extra judicial.

warung. Liquisa dan lainnya. perbudakan seks dan perkosaan. sarana pendidikan. Desakan untuk adanya peradilan internasional khususnya bagi pelanggaran HAM yang berat yang terjadi di Timor Timur semakin menguat bahkan Komisi Tinggi HAM untuk hak-hak asasi manusia telah mengeluarkan resolusi untuk mengungkapkan kemungkinan terjadinya pelanggaran HAM berat di Timor Timur. toko.Kekerasasn Berbasis Gender Kasus kekerasan terhadap perempuan yang dihimpun KPP-HAM menyangkut penyiksaan. Pembumihangusan Sumber: Seri Bahan Bacaan Kursus HAM untuk Pengacara X tahun 2005 tentang KOMNAS HAM yang diterbitkan oleh ELSAM Kasus pembumihangusan di Timor Timur telah mendorong dunia internasional agar dibentuk peradilan internasional (international tribunal) bagi para pelakunya. terencana dan sistematis di berbagai kota seperti Dili. kebun dan ternak. (b) lebih dari satu pelaku terhadap satu perempuan. Atas resolusi tersebut Indonesia secara tegas menolak dan akan menyelesaikan kasus pelanggaran HAM . Diperkirakan tingkat kehancuran mencapai 7080%. Suai. dan (d) penggunaan satu lokasi tertentu dimana tindak perkosaan dilakukan secara berulang kali. penghancuran dan pembakaran secara massal. dan gedung-gedung perkantoran. penginapan. rumah ibadah. Perkosaan tersebut memiliki bentuk:(a) seorang pelaku terhadap satu perempuan. Pembumihangusan ini dilakukan terhadap rumah-rumah penduduk. (c) lebih dari satu pelaku terhadap sejumlah perempuan secara bersamaan di satu lokasi. rumah sakit dan prasarana umum lainnya serta instalasi militer maupun polisi. pemaksaan perempuan dibawah umur melayani kebutuhan seks para milisi. KPP-HAM di Timor Timur telah menemukan bukti bahwa telah terjadi suatu pengrusakan.

2. Meskipun secara umum dapat dikatakan bahwa sistem pengadilan nasional tidak mungkin dapat menerapkan jurisdiksi atas semua kejahatan tanpa mempedulikan di mana kejahatan tersebut terjadi. tetapi melalui hybrid tribunal yang merupakan internasionalisasi pengadilan nasional. Istilah yang digunakan dalam Preamble ICC lebih jelas yakni ‘complementary’. Tribunal ad hoc internasional sekalipun menggunakan istilah ‘primacy’ terhadap pengadilan nasional. fakor-faktor ketidakmauan dan ketidakmampuan dari Negara pelaku pelanggaran HAM berat dapat menyebabkan mekanisme internasional mengambil alih fungsi pengadilan nasional. Jurisdiksi nasional tersebut harus mentaati ketentuan-ketentuan baik yang diatur oleh hukum nasional maupun asas-asas hukum internasional. suasana dan iklim pada saat kejahatan terjadi. faktor inability pada kenyataannya tidak secara otomatis menyebabkan penyelesaian dilakukan melalui mekanisme internasional. Mekanisme penyelesaian secara hukum atas pelanggaran berat HAM pada dasarnya mengacu kepada prinsip exhaustion of local remedies yang mengutamakan penyelesaian secara hukum di forum pengadilan nasional. Hal ini sesuai dengan kewajiban negara untuk menegakkan prinsip supremasi hukum. Namun. Landasan Yuridis Terbentuknya Undang-Undang Pengadilan HAM Berdasarkan kondisi tentang perlunya instrumen hukum untuk berdirinya 23 . Akan tetapi. pada dasarnya tetap memberikan kesempatan mengadili terlebih dahulu kepada sistem pengadilan nasional. Dengan demikian sistem hukum nasional tetap merupakan pilihan utama (primary fora) untuk menegakkan pertanggungjawaban tersebut.23 dengan menggunakan ketentuan nasional karena konstitusi Indonesia memungkinkan untuk menyelenggarakan peradilan hak asasi manusia. Pertimbangan lain adalah kedekatannya dengan tempat. dan kedekatannya dengan pelaku serta korban.

Perpu ini telah menjadi landasan yuridis untuk adanya penyelidikan kasus pelanggaran HAM berat Timor Timur oleh Komnas HAM. Karena berbagai alasan Perpu Nomor 1 Tahun 1999 kemudian ditolak oleh DPR untuk menjadi Undang-Undang. XVII/MPR/1998 tentang HAM dan sebagai tindak lanjut dari Pasal 104 ayat (1) Undang-Undang No. Untuk mengatasi keadaan yang tidak menentu di bidang keamanan dan . Dalam rangka melaksanakan Tap MPR No. b. serta yang terdapat dalam berbagai instrument hukum lainnya yang mengatur mengenai HAM yang telah ada atau diterima oleh Negara Indonesia. Merupakan perwujudan tanggung jawab bangsa Indonesia sebagai salah satu anggota PBB.sebuah pengadilan HAM secara cepat maka pemerintah menerbitkan Perpu Nomor 1 Tahun 1999 tentang Pengadilan HAM. Alasan mengenai ditolaknya Perpu tersebut adalah sebagai berikut: 1. 39 Tahun 1999. 2. Dengan demikian merupakan salah satu misi yang mengembangkan tanggung jawab moral dan hukum dalam menjunjung tinggi dan melaksanakan deklarasi HAM yang ditetapkan oleh PBB. c. Setelah adanya penolakan Perpu tersebut oleh DPR maka pemerintah kemudian mengajukan rancangan Undang-Undang tentang Pengadilan HAM. Secara konstitusional pembentukan Perpu tentang Pengadilan HAM dengan mendasarkan pada Pasal 22 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 yang berbunyi “dalam hal ihwal kegentingan yang memaksa” yang dijadikan dasar untuk mengkualifikasikan adanya kegentingan yang memaksa dianggap tidak tepat. Substansi yang diatur dalam Perpu tersebut masih terdapat kekurangan atau kelemahan. Dalam Penjelasan pengajuan RUU tentang pengadilan HAM tersebut disebutkan sebagai berikut: a.

Legitimasi atas adanya pengadilan HAM ad hoc didasarkan pada Pasal 43 Undang-Undang No. Dalam Pasal 104 ayat (1) Undang-Undang No. Undang-Undang yang khusus mengatur tentang Pengadilan HAM terbentuk yaitu Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000. Legitimasi Berdirinya Pengadilan HAM Ad Hoc Pengadilan HAM ad hoc adalah pengadilan yang dibentuk khusus untuk memeriksa dan memutus perkara pelanggaran HAM yang berat yang dilakukan sebelum adanya Undang-Undang No. 39 Tahun 1999. ayat (2) menyatakan “pengadilan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dibentuk dengan Undang-Undang dalam jangka waktu paling lama 4 (empat) tahun”. (2) Pengadilan HAM ad hoc sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dibentuk 25 . 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia dan Komnas HAM menyatakan bahwa untuk mengadili pelanggaran HAM berat dibentuk pengadilan HAM di lingkungan peradilan umum. 26 tahun 2000 yang berbunyi sebagai berikut: Pasal 43 (1) Pelanggaran hak asasi manusia yang berat yang terjadi sebelum diundangkannya Undang-undang ini. Tidak sampai empat tahun. diperiksa dan diputus oleh Pengadilan HAM ad hoc. Keberadaan pengadilan HAM ini sekaligus diharapkan dapat mengembalikan kepercayaan masyarakat dan dunia internasional terhadap penegakan hukum dan jaminan kepastian hukum mengenai penegakan HAM di Indonesia. Dari ketiga alasan di atas. landasan hukum bahwa perlu adanya pengadilan HAM untuk mengadili pelanggaran HAM berat adalah alasan yang kedua dimana terbentuknya pengadilan HAM ini adalah pelaksanaan dari Tap MPR No.25 ketertiban umum. 3. 26 tahun 2000. termasuk perekonomian nasional. XVII/MPR/1998 tentang HAM dan sebagai tindak lanjut dari Pasal 104 ayat (1) Undang-Undang No.

DPR yang juga sebagai pihak yang mengusulkan dibentuknya pengadilan HAM ad hoc mendasarkan usulannya pada dugaan terjadinya pelanggaran HAM berat yang dibatasi pada locus delicti dan tempos delicti tertentu yang terjadi sebelum diundangkannya Undang-Undang ini.atas usul Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia berdasarkan peristiwa tertentu dengan Keputusan Presiden. . Ketiga. Kedua. untuk memberdayakan institusi-institusi hak asasi manusia dalam menjawab sejumlah persoalan HAM di masa kini dan masa mendatang. Pertimbangan hukum pembentukan pengadilan HAM yang tertuang dalam Undang-Undang Pengadilan HAM oleh Mahkamah konstitusi dalam Putusan Perkara Nomor 065/PUU-II/2004 Tentang Penerapan Asas Berlaku Surut Dalam Kasus Pelanggaran HAM Berat yang dimohonkan oleh Abilio Jose Osorio Soares. Dalam penjelasannya. (3) Pengadilan HAM ad hoc sebagaimana di maksud dalam ayat (1) berada di lingkunganPeradilan Umum. untuk menjawab sejumlah persoalan HAM yang selalu berulang (recurrent) yang telah dihadapi bangsa Indonesia dari masa ke masa dalam rentang waktu yang relatif lama sehingga pengadilan HAM ini diharapkan dapat menyelesaikan sejumlah persoalan HAM masa lalu agar tidak selalu menjadi ganjalan yang tidak terselesaikan. untuk menjawab sejumlah persoalan yang bersifat kontemporer atau muncul sebagai ”burning issues” yang berdimensi luas mengingat Indonesia tidak dapat mengisolasi dirinya dari sejumlah persoalan hak asasi manusia yang dihadapi oleh bangsa-bangsa didunia sebagai persoalan kolektif hak asasi manusia kontemporer. didasarkan atas pertimbangan sebagai berikut: Pertama.

massacre. 26 Tahun 2000. Komnas HAM lalu membentuk KPP-HAM yang memiliki ruang lingkup tugas yaitu mengumpulkan fakta dan mencari berbagai data. c. maka atas dasar ketentuan Pasal 21 ayat (1). Penyelidikan yang dilakukan oleh Komnas HAM juga sesuai dengan Perpu No. crime against woman and children. Hasil penyidikan menunjukkan adanya cukup alat bukti bahwa telah terjadi pelanggaran HAM berat. Dengan memberikan perhatian khusus pada pelanggaran berat HAM antara lain genocide. maka DPR mengajukan usul 27 . Atas dasar ketentuan dalam Pasal 18 ayat (1). e. DPR sependapat dengan Jaksa Agung. dalam Perpu tersebut dinyatakan pihak yang berwenang melakukan penyelidikan adalah Komnas HAM. Hasil penyelidikan tersebut diserahkan kepada Kejaksaan Agung dan jika sudah lengkap. enforced displacement. d. torture. Menyelidiki tingkat keterlibatan aparatur Negara dan atau badan nasional dan internasional lain dalam pelanggaran HAM di Timor Timur. b. Presiden mengirimkan surat kepada DPR lalu DPR mengeluarkan rekomendasi agar pemerintah membentuk pengadilan ham ad hoc.27 Ketentuan Pasal 43 Undang-Undang pengadilan HAM tidak mengatur secara jelas mengenai alur atau mekanisme bagaimana proses perjalanan pembentukan pengadilan HAM ad hoc setelah adanya penyelidikan dari Komnas HAM tentang adanya pelanggaran HAM berat. informasi tentang pelanggaran HAM di Timor Timur. Dalam penyelesaian kasus pelanggaran HAM berat Timor Timur pengadiln HAM ad hoc yang terbentuk melalui mekanisme sebagai berikut: a. maka diserahkan kepada Presiden. Jaksa Agung selaku penyidik menindaklanjuti hasil penyelidikan dengan melakukan penyidikan. 1 Tahun 1999. Komnas HAM melakukan penyelidikan terhadap pelanggaran HAM berat yang terjadi sebelum berlakunya Undang-Undang No.

Dili. Presiden mengeluarkan dua buah Keppres yaitu Keppres No.96 Tahun 2001 dan yurisdiksi menjadi tiga wilayah yaitu wilayah Liquica. 53 Tahun 2001 oleh Pemerintah dianggap mempunyai wilayah yurisdiksi yang terlalu luas (tidak membatasi secara spesifik baik wilayah maupun waktunya). Kemudian wilayah dan waktu ini dipersempit dengan Keppres No. Setelah melalui proses persetujuan DPR dari hasil usulan sidang Pleno DPR melalui Keputusan DPR-RI No. Keluarnya dua buah Keppres ini karena Keppres No. termasuk para pelakunya sehingga kesempatan untuk membuktikan adanya unsur sistematik dan meluas sedikit banyak terhalang).Komnas Ham penyelidikan Jaksa Agung penyidikan Presiden DPR kepada presiden untuk dikeluarkan Keputusan Presiden tentang pembentukan Pengadilan HAM ad hoc.96 Tahun 2001. Presiden mengeluarkan Keppres yang melandasi dibentuknya pengadilan HAM ad hoc. f. 44/DPR-RI/III/2001 tanggal 21 Maret 2001. dan Suai dengan batasan waktu antara bulan April sampai dengan September 1999 (penyempitan yurisdiksi ini menimbulkan konsekuensi yaitu kasus pelanggaran HAM dalam rentang pasca jajak pendapat tidak semuanya dapat diungkap. Surat ke DPR 1 2 3 Penuntutan 6 5 Rekomendasi 4 . 53 Tahun 2001 dan Keppres No.

hukum. dimana pengadilan ini tidak dapat terbentuk bila tanpa adanya rekomendasi atau usulan dari DPR secara implisit sama halnya dengan memberikan kewenangan kepada DPR memandang pelanggaran HAM berat dalam konteks politik. DPR sebagai lembaga politik dianggap sebagai pihak yang dapat menentukan untuk mengusulkan adanya pengadilan HAM ad hoc untuk pelanggaran HAM yang berat di masa lalu karena pelanggaran HAM yang berat tersebut lebih banyak bernuansa politik. HAM yang melekat pada manusia secara kodrati merupakan seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yamng Maha Esa dan merupakan anugeah-Nya yang wajib dihormati. Pemerintah dan setiap orang.Pengadilan HAM ad hoc 29 Keppres Pengadilan HAM ad hoc Gambar. sorotan yang paling tajam adalah adanya kewenangan DPR untuk dapat mengusulkan adanya pengadilan HAM ad hoc. Adanya ketentuan ini dianggap sebagai kontrol atas adanya pengadilan HAM ad hoc. dijujung tinggi dan dilindungi oleh negara. Tinjauan Yuridis Pembentukan Pengadilan HAM sebagai Suatu Proses Politik Hukum.2 Skema alur pengadilan HAM ad Hoc Dari proses menuju pengadilan HAM ad hoc ini. II. Hak-hak 29 .

Penegasan mengenai HAM dalam setiap bentuk peraturan perundangundangan Indonesia seperti disebut di atas. Tidak Manusiawi atau Merendahkan Martabat Manusia. Politik Hukum di Indonesia. Pengingkaran terhadap hak prinsipil tersebut berarti mengingkari martabat manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Produk hukum yang responsif ialah produk hukum yang mencerminkan rasa keadilan dan memenuhi harapan masyarakat. merupakan terdapatnya politik hukum pemerintah dalam melaksanakan nilai-nilai esensial yang terkandung di dalam HAM. Oleh karena itulah baik negara. 2001) hal 15 . Mahfud MD. II (Jakarta : LP3ES Inonesia.ini tidak dapat diingkari oleh siapapun juga. Ketetapan MPR RI Nomor. sebagai salah satu contohnya. Hal ini mengandung maksud bahwa HAM harus selalu menjadi titik tolak dan tujuan dalam penyelenggaraan kehidupan bemasyarakat. Dalam proses pembuatannya 1 Moh. berbangsa dan bernegara. Hal ini dapat dijelaskan dalam konfigurasi politik dan produk hukum bahwa dalam sistem yang demokratis maka menghasilkan produk hukum yang berkarakter responsif1.XVII/MPR/1998 tentang Hak Asasi manusia dan UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM serta UU Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM yang kemudian diikuti oleh asas-asas hukum internasional seperti Deklarasi Universal tentang Hak Asasi Manusia (DUHAM) dan Konvensi-konvensi Internasional yang telah diratifikasi dalam bentuk UU seperti UU Nomor 5 Tahun 1998 tentang Pengesahan Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Penghukuman Lain yang Kejam. cet. Di Indonesia pembahasan mengenai HAM terdapat dalam UUD 1945 Pasal 28 A – 28 J (Bab X A). Pergeseran paradigma dari sistem pemerintahan yang otoriter kepada sistem pemerintahan yang cenderung demokratis saat ini dapat telihat dengan jelas dari karakteristik produk hukum yang dihasilkannya. pemerintah maupun organisasi apapun harus mengemban kewajiban untuk mengakui dan melindungi hak asasi manusia pada tiap manusia tanpa terkecuali.

yakni kehidupan Negara yang bersih dari pelanggaran-pelanggaran HAM terutama yang dilakukan oleh 2 Ibid. Politik hukum HAM merupakan kebijakan hukum (legal policy) tentang HAM yang mencakup kebijakan Negara tentang bagaimana hukum tentang HAM itu telah dibuat dan abagiamana pula seharusnya hukum tentang HAM itu dibuat untuk membangun masa depan yang lebih baik. Demikian pula halnya yang terjadi pada salah satu bidang peegakan hukum. formalisasi atau legalisasi dari kehendak-kehendak politik yang saling bersaingan baik melalui kompromi politik maupun melalui dominasi oleh kekuatan politik yang terbesar. 25 3 Dikemukakan oleh Prof. Hal tersebut menegaskan bahwa hukum dapat berubah-ubah sesuai dengan apa yang berkembang di tengah-tengah masyarakat. Dalam konsep dan konteks inilah terletak kebenaran pernyataan bahwa ”hukum merupakan produk politik”3 Roscoe Pound dan Von Savigny masing-masing mengatakan bahwa “law is a tool of social engineering” (hukum determinan atas masyarakat) dan “society changes. 5 Juni 1981 (tanpa menyebut sumber) 31 . Yigyakarta. Dalam faktanya jika hukum dikonsepkan sebagai undang-undang yang dibuat oleh lembaga legislatif maka tak seorang pun dapat membantah bahwa hukum adalah produk politik sebab ia merupakan kristalisasi. hal. Hasilnya bersifat responsif terhadap tuntutantuntutan kelompok sosial atau individu dalam masyarakat2.so does law as well” (masyarakat determinana atas hukum).31 memberikan peranan besar dan partisipasi penuh kelompok-kelompok sosial atau individu di dalam masyarakat. dimana adanya keinginan masyarakat baik nasional atau internasional untuk segera memiliki atau membentuk institusi peradilan yang khusus mengenai masalah HAM di wilayah Indonesia. Koesnoe dalam ceramah Ilmiah di Fakultas Hukum UII. Pernyataan bahwa “hukum adalah produk politik” adalah benar jika didasarkan pada Das Sein dengan mengonsepkan hukum sebagai undang-undang.

UU Nomor 26 Tahun 2000 merupakan pengganti dari Perpu Nomor 1 Tahun 1999 tentang hal yang sama. Politik Hukum Hak Asasi Manusia. Hal ini mengingat kebutuhan yang sangat mendesak. maka ada beberapa hal pertimbangan Pemerintah dalam penyusunan tentang RUU Pengadilan HAM. baik ditinjau dari sisi kepentingan nasional maupun dari sisi kepentingan Internasional. Mewujudkan Supremasi Hukum di Indonesia. Dengan demikian merupakan tanggung jawab moral dan hukum dalam menjujung tinggi dan melaksanakan Delarasi Universal HAM yang ditetapkan PBB. 2002) Hal. Yusril Ihza Mahendra. merupakan perwujudan tanggung jawab bangsa Indonesia sebagai salah satu anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). antara lain adalah sebagai berikut : Pertama. (Tim Pakar Hukum Departeman Kehakiman dan HAM. Pidato Pengukuhan dalam Jabatan Guru Besar Madya dalam Ilmu Politik Hukum yang disampaikan dalam Sidang Terbuka Senat Universitas Islam Indonesia (UII) (Yogyakarta 23 Sepember 2000). Mahfud. Catatan dan Gagasan :Prof. Ketiga untuk mengatasi keadaan yang tidak menentu di bidang keamanan dan ketertiban. maka segera dibentuk Pengadilan HAM sebagai Pengadilan khusus untuk menyelesaikan masalah pelanggaran HAM yang berat. termasuk perkonomian nasional. Dr. Bila diamati lebih lanjut maka berdasarkan segala pertimbangan tersebut. dalam rangka melaksanakan TAP MPR Nomor XVII/MPR/1998 tentang HAM dan sebagai tindak lanjut dari UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM. pada prinsipnya dapat disimpulkan perlu membentuk suatu pertauran perundang4 Moh. Keberadaan Pengadilan HAM ini sekaligus diharapkan dapat mengembalikan kepecayaaan masyarakat dan duinia Internasional terhadap penegakana hukum dan jaminana kepastian hukum mengenai penegakan HAM di Indonesia5.. MD. hal.penguasa4. 75-77 . Dengan demikian. 4 5 Yusril Ihza Mahendra. Kedua. serta yang terdapat dalam berbagai instrument hukum lainnya yang mengatur mengenai HAMyang telah dan atau diterima oleh Negara Republik Indonesia.

hal ini dikarenakan politik hukum lahir dari suatu tatanan Negara yang ingin lebih demokratis maka menghasilkan produk hukum yang lebih responsive salah satunya dibentuk UU mengenai HAM. Oleh sebab itu jika dikaitkan dengan politik hukum. diakses tanggal 10 Sepember 2005 33 .33 undangan yang mengakomodir mengenai institusi peradilan khusus yang bersifat permanen dalam mengangani masalah pelanggaran HAM (Pengadilan HAM). http://hukumonline. ”Pemerintahan Soeharto secara Konstitusional hanya berlangsung 1966-1998 . Pengadilan HAM dan KKR. Ha ini sangat penting untuk menjaga reformasi dalam langkah demokrasi politik ke depan yang dapat diwujudkan dari politik hukum pemerintah. dimana salah satunya merevisi perundnag-undnagan di bidang kehakiman dan pemberlakuan UU HAM dan Pengadilan HAM6. 6 Ramli Hutabarat.com/detailasp?id=9553&d=Berita. maka dalam sistem yang demokratis akan menghasilkan produk yang responsif.

Simpulan 1. Pembentukan hukum mengenai Pengadilan HAM merupakan upaya membangun hukum yang responsif dimana didahului dengan demokratisasi dalam kehidupan politik sebab setiap karakter produk hukum sangat dipengaruhi oleh konfigurasi politik yang menghasilkannya.BAB IV. Indonesia menunjukkan memiliki kemauan dan kemampuan untuk menyelesaikan kasus tersebut melalui mekanisme pengadilan nasional dengan membentuk Pengadilan HAM ad hoc berdasarkan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia dan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia (HAM) yang diberlakukan surut. 2. fakor-faktor ketidakmauan dan ketidakmampuan dari Negara pelaku pelanggaran HAM berat dapat menyebabkan mekanisme internasional mengambil alih fungsi pengadilan nasional. Prinsip tanggung jawab Negara merupakan prinsip dalam hukum internasional yang menyatakan bahwa suatu Negara memiliki tanggung jawab apabila melanggar kewajiban internasional baik untuk berbuat sesuatu maupun tidak berbuat sesuatu. Dalam penyelesaian kasus pelanggaran berat HAM Timor Timur. Bentuk penerapan tanggung jawab Negara atas pelanggaran berat HAM dapat dilakukan melalui forum pengadilan di tingkat nasional maupun internasional. Namun. PENUTUP A. Pembentukan Peradilan HAM secara menyeluruh dipertimbangkan berdasarkan adanya . Mekanisme penyelesaian secara hukum atas pelanggaran berat HAM pada dasarnya mengacu kepada prinsip exhaustion of local remedies yang mengutamakan penyelesaian secara hukum di forum pengadilan nasional.

Pemerintah segera menyidangkan perkara-perkara pelanggaran HAM berat yang terjadi di masa lalu. melakukan rekonsiliasi nasional mengenai pemberian pengampunan atas segala pelanggaran yang terjadi di masa lalu serta menghindari terulangnya/terjadinya pelanggaran HAM berat. baik nasional maupun internasional dalam memahami suatu keberadaan institusi yang menangani masalah HAM. Pelanggaran HAM merupakan bentuk kejahatan luar biasa. 2. Hukum Acaranya memerlukan penanganan khusus. Oleh karena itu. ancaman hukuman seberat-beratnya dapat diberikan tanpa pandang bulu (equality before the law). agar penerapan prinsip tanggung jawab Negara dapat mengikat secara hukum diperlukan instrument hukum yang lebih mengikat dalam bentuk perjanjian internasional atau treaty.35 desakan perubahan masyarakat . pelaksanaannya sangat bergantung dari kemauan Negara yang menjadi pelanggarnya. B. Pelaksanaan dari tindak lanjut UU Nomor 39 tahun 1999 dan mengembalikan kepercayaan masyarakat dan internasional terhadap penegakan hukum dan jaminan kepastian HAM di Indonesia. Apabila terjadi kembali. 35 . Saran 1. Penerapan prinsip tanggung jawab Negara atas pelanggaran HAM berat sebagaimana diatur dalam hukum internasional.

Andrey Sujatmoko. 2003. RajaGrafindo Persada.Bandung. Semarang: Pustaka Pelajar. Miriam Budiardjo. 2000. Yusril Ihza Mahendra. Mahfud. Reformasi dalam Penegakan Hukum. 2002. Bandung. Politik Hukum Hak Asasi Manusia. Yusril Ihza Mahendra. Semiotika Hukum (Dari Dekonstruksi Teks Menuju Progresivitas Makna). Pidato Pengukuhan dalam Jabatan Guru Besar Madya dalam Ilmu Politik Hukum yang disampaikan dalam Sidang Terbuka Senat Universitas Islam Indonesia (UII) (Yogyakarta 23 Sepember 2000). Mewujudkan Supremasi Hukum di Indonesia. Dr. Menggagas Hukum Progresif Indonesia. Gramedia Pustaka Utama. 2009 Prof. 2002) Adami Chazawi. Dasar-Dasar Ilmu Politik.. PT. MD. Citra Aditya Bakti. Tindak Pidana. Timor Leste. Gramedia. 2000. (Tim Pakar Hukum Departeman Kehakiman dan HAM. Politik Hukum di Indonesia. IAIN Walisongo Semarang dan Program Doktor Ilmu Hukum Universitas Diponegoro. Pelajaran Hukum Pidana Bagian I (Stelsel pidana.DAFTAR PUSTAKA Buku Moh Mahfud MD. Jakarta. . Djambatan. Jakarta. 2006. Jakarta. Kapita Selekta Hukum Pidana. To serve & To Protect Acuan Universal Penegakan HAM. Dan Lainnya. Tanggung Jawab Negara Atas Pelanggaran Berat HAM Indonesia. Anthon Freddy Susanto. Jakarta. Catatan dan Gagasan :Prof. 2005. Barda Nawawi Arief. Antonius Sujata. PT Refika Aditama. 2008 Moh. 2005. Ahmad Gunawan dan Mu’ammar Ramadhan. Teori-Teori Pemidanaan dan Batas Berlakunya Hukum Pidana). Jakarta. RajaGrafindo Persada. Raja Grafindo Persada. C. De Rover. Jakarta.

Moleong. Bandung. Bandung. Jacqueline M. Bandung. 2008. USA. Jakarta. Metodologi Penelitian Kualitatif. Otje Salman dan Anton F. Wiyono. Nolan. 2004. 1997 Peter Mahmud Marzuki. Bandung. Yrama Widya. Hukum Pidana Internasional Dan Ekstradisi. Jakarta. ST Paul. Nyoman Serikat Putra Jaya.A. Kencana Prenada Media Group. Bandung. “Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi Sebagai Alternatif lain dalam 37 . Citra Aditya Bakti. Refika Aditama. Mengumpulkan dan Membuka kembali). Bogor.F. 2006. Teori Hukum (Mengingat. 1990. Citra Aditya Bakti. Jakarta. Genosida Kejahatan Perang dan Kejahatan Terhadap Kemanusiaan (Saripati kasus-kasus Pelanggaran HAM Berat dalam Pengadilan Pidana Internasional untuk Rwanda) Jilid I. 2005 P. Masyhur Effendi. 2006 Lexy J. Elsam. . Susanto. Johnny Ibrahim. Dasar-Dasar hukum Pidana Indonesia. Beberapa Pemikiran Ke Arah Pengembangan Hukum Pidana. 2006 R.37 Henry Campbell Black. Refika Aditama. Hak Asasi Manusia (Hakekat. Joseph R. Nolan. Teori Dan Metodologi Penelitian Hukum Normatif. Human Rights Watch. Black’s Law Dictionary With Pronounciations. Bandung. Bayumedia Publishing. Perkembangan Dimensi Hak Asasi Manusia (HAM) & Proses Dinamika Penyusunan Hukum Hak Asasi Manusia (HAKHAM). CV. Pengadilan Hak Asasi Manusia di Indonesia. Konsep dan Implikasinya dalam Perspektif Hukum dan Masyarakat). Penelitian Hukum. 2005. 2005. Majalah. Malang. I Wayan Parthiana. 2007. Remaja Rosdakarya. Minn West Publishing.. Ghalia Indonesia. 2009 Muladi. Lamintang. Kencana Prenada Media Group. Makalah dan Jurnal Edy Herdyanto.

indoskripsi.00] Budi Santoso.pdf.com/Tuntutan_Penyelesaian_Kasus. Syahartian. “Pengadilan Hak Asasi Manusia di Indonesia”. Majalah Hukum Yustisia. 2004. http://gagasanhukum.com/judul-skripsi-tugasmakalah/pengantar-ilmu-hukum/makalah-pengantar-ilmu-hukum. UNISIA: Sriyana. [3 Februari 2010 pukul 11. diakses tanggal 10 Sepember 2005 Backil. Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta. Internet Ramli Hutabarat. http://pusham.id/upl/article/id_budi%20santoso. Muladi. Makalah Seri Bahan Bacaan Kursus HAM untuk Pengacara X Tahun 2005. 53/XXVII/III/2004.wordpress. 26 Tahun 2000”. http://hukumonline. Makalah Seri Bahan Bacaan Kursus HAM untuk Pengacara X Tahun 2005. http://one.15 WIB] Isharyanto. Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (Elsam). Tuntutan Dan Kebijakan Penyelesaian Kasus-Kasus Pelanggaran Hak Asasi Manusia Dalam Kerangka Transisi Ke Demokrasi Di Indonesia. ”Pemerintahan Soeharto secara Konstitusional hanya berlangsung 1966-1998 . Zainal Abidin.uii. [3 Februari 2010 pukul 11. Evaluasi Kritis Atas Kelemahan UU Peradilan HAM. 2005. 2005. Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (Elsam).30 WIB].com/2008/04/12/mengkritisi-uu-pengadilanham-pasca-bebasnya-eurico-gueteres/. “Komisi Nasional Hak Asasi Manusia”. [18 Januari 2010 pukul 14.ac. Edisi No. Reformasi Menuju Hukum Progresif.Penyelesaian Pelanggaran HAM Berat Masa Lalu”. Mengkritisi Undang-Undang Pengadilan HAM Pasca Bebasnya Eurico Gueteres. Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (Elsam). Laode Muh. “Mekanisme Domestik Untuk Mengadili Pelanggaran HAM Berat Melalui Sistem Pengadilan Atas Dasar Undang-Undang No. 2005. Satjipto Rahardjo.00 WIB] . 2005. Makalah Seri Bahan Bacaan Kursus HAM untuk Pengacara X Tahun 2005. Jurnal Rekonstruksi Indonesia. Pengantar Ilmu Hukum.http://isharyanto-hukum.com/detailasp?id=9553&d=Berita. [7 November 2009 pukul 20.

39 Yuzril Ihza Mahendra. Pelanggaran HAM Berat dan Pengadilan HAM Ad hoc.org.45 WIB] Peraturan Perundang-undangan dan Instrumen Hukum Internasional Undang-Undang Dasar RI Tahun 1945 Batang Tubuh Undang-Undang Dasar RI Tahun 1945 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia Undang-Undang Nomor 26 Tahun 200 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia Deklarasi Universal Hak-hak Asasi Manusia (Universal Declaration of Human Rights) Kovenan Internasional tentang hak-hak sipil dan politik (Iinternational Covenan on Civil and Political Rights) Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi. Konvensi Wina 1969 dan Konvensi Wina 1986 39 . [7 November 2009 pukul 20.http://legalitas. Sosial dan Budaya Konvensi Amerika tentang Hak-hak Asasi Manusia Konvensi tentang Tidak Dapat Ditetapkannya Pembatasan Statuta pada Kejahatan Perang dan Kejahatan kemanusiaan Statuta Roma 1998 tentang Mahkamah Pidana Internasional Piagam PBB (UN Charter).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->