PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENELITIAN

PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENELITIAN

Oleh : Rika Sa¶diyah

A. PENDAHULUAN Instrumen memegang peranan yang sangat penting dalam menentukan mutu suatu penelitian, karena validitas atau kesahihan data yang diperoleh akan sangat ditentukan oleh kualitas atau validitas instrumen yang digunakan, di samping prosedur pengumpulan data yang ditempuh. Hal ini mudah dipahami karena instrumen berfungsi mengungkapkan fakta menjadi data, sehingga jika instrumen yang digunakan mempunyai kualitas yang memadai dalam arti valid dan reliabel maka data yang diperoleh akan sesuai dengan fakta atau keadaan sesungguhnya di lapangan. Sedangkan jika kualitas instrumen yang digunakan tidak baik dalam arti mempunyai validitas dan reliabilitas yang rendah, maka data yang diperoleh juga tidak valid atau tidak sesuai dengan fakta di lapangan, sehingga dapat menghasilkan kesimpulan yang keliru. Untuk mengumpulkan data dalam suatu penelitian, kita dapat menggunakan instrumen yang telah tersedia dan dapat pula menggunakan instrumen yang dibuat sendiri. Instrumen yang telah tersedia pada umumnya adalah instrumen yang sudah dianggap baku untuk mengumpulkan data variabel-variabel tertentu. Dengan demikian, jika instrumen baku telah tersedia untuk mengumpulkan data variabel penelitian maka kita dapat langsung menggunakan instrumen tersebut, dengan catatan bahwa teori yang dijadikan landasan penyusunan instrumen tersebut sesuai dengan teori yang diacu dalam penelitian kita. Selain itu konstruk variabel yang diukur oleh instrumen tersebut juga sama dengan konstruk variabel yang hendak kita ukur dalam penelitian. Akan tetapi, jika instrumen yang baku belum tersedia untuk mengumpulkan data variabel penelitian, maka instrumen untuk mengumpulkan data variabel tersebut harus dibuat sendiri oleh peneliti. Dalam rangka memahami pengembangan instrumen penelitian, maka berikut ini akan dibahas mengenai beberapa hal yang terkait, diantaranya pengertian instrumen, langkah-langkah pengembangan instrumen, validitas dan reliabilitas.

B. PENGERTIAN INSTRUMEN Instrumen adalah alat yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam suatu penelitian dan penilaian. Instrumen merupakan alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan informasi kuantitatif dan kualitatif tentang variasi karakteristik variabel penelitian secara objektif. Sedangkan menurut Djaali dan Muljono, instrumen adalah suatu alat yang memenuhi persyaratan akademis, yang dapat dipergunakan sebagai alat untuk mengukur suatu objek ukur atau mengumpulkan data mengenai suatu variabel. Instrumen memegang peranan penting dalam menentukan mutu suatu penelitian dan penilaian.

Secara lebih rinci. Djaali dan Muljono menjelaskan langkah-langkah penyusunan dan pengembangan instrumen yaitu: 1) Sintesa teori-teori yang sesuai dengan konsep variabel yang akan diukur dan buat konstruk variabel 2) Kembangkan dimensi dan indikator variabel sesuai dengan rumusan konstruk variabel 3) Buat kisi-kisi instrumen dalam bentuk tabel spesifikasi yang memuat dimensi. indikator. Suryabrata berpendapat bahwa langkah-langkah pengembangan alat ukur khususnya atribut non-kognitif adalah: 1). Administrasi instrumen. LANGKAH-LANGKAH PENYUSUNAN DAN PENGEMBANGAN INSTRUMEN Menurut Hadjar. Uji-coba. 5). 2). indikator sebagai jabaran dimensi dan butir sebagai jabaran indikator 8) Revisi instrumen berdasarkan saran pakar atau penilaian panelis . 9). Penulisan pernyataan atau pertanyaan. 6). dalam suatu penelitian tertentu. Pengembangan spesifikasi alat ukur. Menganalisis kesahihan (validity) dan keterandalan (reliability).Fungsi instrumen adalah mengungkapkan fakta menjadi data. seseorang dapat menggunakan instrumen yang telah tersedia atau biasa disebut instrumen baku (standardized) dan dapat pula dengan instrumen yang dibuat sendiri. 7). 4). 3). Untuk mengumpulkan data penelitian dan penilaian. 8). Menurut Arikunto. Mendefinisikan variabel. Menyusun butir-butir. C. Penyusunan skala dan norma. Perakitan instrumen (untuk keperluan uji-coba). 4). peneliti harus mengikuti langkah-langkah pengembangan instrumen. Melakukan uji coba. nomor butir dan jumlah butir untuk setiap dimensi dan indikator 4) Tetapkan besaran atau parameter yang bergerak dalam suatu rentangan kontinum dari suatu kutub ke kutub lain yang berlawanan 5) Tulis butir-butir instrumen baik dalam bentuk pertanyaan maupun pernyataan. Seleksi dan perakitan instrumen. Biasanya butir instrumen digolongkan menjadi dua kelompok yaitu kelompok pernyataan atau pertanyaan positif dan kelompok pernyataan atau pertanyaan negatif 6) Butir yang ditulis divalidasi secara teoritik dan empirik 7) Validasi pertama yaitu validasi teoritik ditempuh melalui pemeriksaan pakar atau panelis yang menilai seberapa jauh ketepatan dimensi sebagai jabaran dari konstruk. 5). Analisis hasil uji-coba. Jika instrumen baku tersedia maka seseorang dapat langsung menggunakan instrumen tersebut namun jika instrumen tersebut belum tersedia atau belum baku maka seseorang harus dapat mengembangkan instrumen buatan sendiri untuk dibakukan sehingga menjadi instrumen yang layak sesuai fungsinya. Menjabarkan variabel ke dalam indikator yang lebih rinci. data merupakan penggambaran variabel yang diteliti dan berfungsi sebagai alat pembuktian hipotesis. benar tidaknya data tergantung dari baik tidaknya instrumen pengumpulan data. 2). yaitu: 1). 3). Penelaahan pernyataan atau pertanyaan.

menyimpan dan menskor Dari beberapa teori langkah-langkah pengembangan instrumen di atas. 14) Dihitung koefisien reliabilitas yang memiliki rentangan 0-1. berdasarkan hasil analisis butir yang tidak valid dikeluarkan atau direvisi untuk diujicobakan kembali sehingga menghasilkan semua butir valid. Instrumen diberikan kepada sejumlah responden sebagai sampel yang mempunyai karakteritik sama dengan populasi yang ingin diukur.9) Setelah konsep instrumen dianggap valid secara teoritik dilanjutkan penggandaan instrumen secara terbatas untuk keperluan uji coba 10) Validasi kedua adalah uji coba instrumen di lapangan yang merupakan bagian dari proses validasi empirik. Gronlund menjelaskan langkah-langkah penyusunan performance assessment yaitu : 1) Spesifikasi kinerja yang ingin dicapai 2) Tentukan fokus penilaian (proses atau hasil) 3) Tentukan derajat (tingkat) kesesuaian dengan kenyataan 4) Tentukan situasi performance 5) Tentukan metode observasi. dapat disimpulkan bahwa secara garis besar langkah-langkah pengembangan instrumen penilaian kinerja adalah sebagai berikut: 1) Merumuskan definisi konseptual dan operasional Langkah yang pertama kali harus dilakukan dalam pengembangan instrumen adalah merumuskan konstruk variabel yang akan diukur sesuai dengan landasan teoritik yang dikembangkan secara menyeluruh dan operasionalkan definisi konseptual tersebut sesuai dengan sifat instrumen yang akan dikembangkan kemudian rumuskan dan jabarkan indikator dari variabel yang akan diukur. makin tinggi koefisien reliabilitas instrumen berarti semakin baik kualitas instrumen 15) Rakit semua butir yang telah dibuat menjadi instrumen yang final Terkait dengan penilaian kinerja. Jawaban responden adalah data empiris yang kemudian dianalisis untuk menguji validitas empiris atau validitas kriteria dari instrumen yang dikembangkan 11) Pengujian validitas krtieria atau validitas empiris dapat dilakukan dengan menggunakan kriteria internal maupun kriteria eksternal 12) Berdasarakn kriteria tersebut dapat diperoleh butir mana yang valid dan butir yang tidak valid 13) Untuk validitas kriteria internal. 2) Pengembangan spesifikasi dan penulisan pernyataan Pengembangan spesifikasi yaitu menempatkan dimensi dan indikator dalam bentuk tabel .

baik validasi teoritik maupun validasi empirik. perlu pemahaman yang mendalam tentang validitas dan reliabilitas instrumen. 6) Revisi Instrumen Revisi instrumen dilakukan jika setelah melalui analisis terdapat butir-butir yang tidak valid atau memiliki reliabilitas yang rendah. terdapat dua hal yang harus diperhatikan dan dipenuhi untuk memperoleh instrumen yang berkualitas yaitu instrumen tersebut harus valid dan reliabel. Jawaban atau respon dari sampel uji coba merupakan data empiris yang akan dianalisis untuk menguji validitas empiris atau validitas kriteria yang dikembangkan. yaitu melalui pemeriksaan pakar atau melalui panel yang pada dasarnya menelaah seberapa jauh dimensi merupakan jabaran yang tepat untuk konstruk.spesifikasi pada kisi-kisi instrumen yang kemudian dilanjutkan dengan penulisan pernyataan. instrumen diberikan kepada sejumlah responden sebagai sampel uji coba yang mempunyai karakteristik sama atau ekivalen dengan karakteristik populasi penelitian. 3) Penelaahan pernyataan Butir-butir pernyataan yang telah ditulis merupakan konsep instrumen yang harus melalui proses validasi. Rumusan pernyataan sangat tergantung kepada model skala yang digunakan. 4) Uji coba Uji coba di lapangan merupakan bagian dari proses validasi empirik. seberapa jauh indikator merupakan jabaran yang tepat dari dimensi. dan seberapa jauh butir-butir instrumen yang dibuat secara tepat dapat mengukur indikator. Validitas adalah sejauh mana suatu alat ukur atau tes melakukan fungsinya atau mengukur apa yang seharusnya diukur. VALIDITAS Validitas berasal dari kata validity yang berarti ³keshahihan´. Melalui uji coba tersebut. Tahap validasi pertama yang ditempuh adalah validasi teoritik. Selanjutnya jika semua butir pernyataan sudah valid secara teoritk atau konseptual maka dilakukan validasi empirik melaui uji coba. Dari setiap pernyataan dicantumkan nomor butir dan jumlah butir sesuai dengan dimensi dan indikator yang akan diukur. 7) Perakitan instrumen menjadi Instrumen final Terkait langkah-langkah pengembangan instrumen di atas. D. Format yang telah dirumuskan dalam spesifikasi perlu diikuti secara tertib. Artinya sejauh . Untuk itu. Butir-butir yang sudah direvisi dirakit kembali dan dihitung kembali validitas dan reliabilitasnya. 5) Analisis Berdasarkan data hasil uji coba selanjutnya dilakukan analisis untuk mengetahui koefisien validitas butir dan reliabilitas instrumen.

Jika validitas kriteria baik. Oleh karena itu validitas selalu dikaitkan dengan tujuan tertentu. maka alat ukur dapat diperbaiki. Pemeriksaan validitas pengukuran dilakukan sebelum alat ukur/tes digunakan sesungguhnya. maka alat ukur prediktor (skor prediktor) dapat digunakan untuk berbagai keperluan sejenis. Ada 3 jenis validitas pengukuran yaitu: validitas isi. Tes yang valid adalah tes yang mampu mengukur apa yang hendak diukur. Validitas pengukuran memiliki nilai dari rendah ke tinggi. Pemeriksaan validitas pengukuran dapat dilakukan pada saat tes baru dibuat atau disusun dan dapat juga dilakukan pada saat uji coba alat ukur. Validitas isi adalah kecocokan di antara isi alat ukur (tes) dengan isi sasaran ukur. tes yang valid untuk tujuan tertentu mungkin tidak valid untuk tujuan lain. Pemeriksaan validitas dan perbaikan alat ukur dilakukan berulang-ulang sampai alat ukur mencapai validitas pengukuran yang cukup tinggi. Ada dua j enis validitas kriteria yaitu validitas konkuren (serentak) yakni kriteria terdapat pada saat yang sama dengan prediktor dan validitas prediktif yakni kriteria terdapat kemudian setelah prediktor. Atau dengan kata lain validitas adalah kecocokan antara alat ukur (tes) dengan sasaran ukur. makin tinggi tingkat validitas makin baik pengukuran itu. Artinya alat ukur yang mempunyai validitas isi yang baik adalah tes yang benar-benar mengukur penguasaan materi yang seharusnya dikuasai sesuai dengan konten pengajaran yang tercantum dalam kurikulum. Validitas kriteria adalah validitas yang berdasarkan kriteria yaitu kecocokan diantara prediktor (skor prediktor) dengan kriteria (skor kriteria). Validitas kriteria ditujukan kepada baik atau tidak baiknya prediktor (skor prediktor).mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsinya. Apabila hasil pemeriksaan menunjukkan tingkat validitas rendah. . Termasuk dalam validitas isi adalah validitas wajah (face validity) yakni kecocokan di antara tampilan tes dengan responden yang akan menanggapinya. validitas kriteria dan validitas konstruk.

Masing-masing metode dikembangkan . Makin cocok dengan sekor sesungguhnya makin tinggi reliabilitasnya. Reliabilitas tes yang menunjukkan derajat kekeliruan pengukuran tidak dapat ditentukan dengan pasti melainkan hanya dapat diestimasi. Fungsi reliabilitas pada konstruksi alat ukur/ tes adalah untuk melakukan perbaikan pada alat ukur yang dikonstruksi. Reliabilitas adalah tingkat kepercayaan terhadap sekor atau tingkat kecocokan sekor dengan sekor sesungguhnya . inteligensi. Perbaikan alat ukur dilakukan melalui analisis butir untuk mengetahui butir mana yang perlu diperbaiki. Variabel konstruk adalah variabel yang abstrak hasil konstruksi para pakar. Menurut Crocker dan Algina reliabilitas adalah derajat kepercayaan dimana skor penyimpangan individu relatif konsisten terhadap tes sama yang diulangi. misalnya sikap. Sedangkan fungsi reliabilitas pada pengukuran/tes sesungguhnya adalah untuk memberi informasi tentang kualitas sekor hasil ukur kepada mereka yang memerlukannya. motivasi. Validitas ini digunakan untuk menunjukkan seberapa tepat pengukuran variabel itu terhadap maksud sesungguhnya dari variabel itu. pendekatan paralel (parallel-forms). RELIABILITAS Reliabilitas adalah terjemahan dari kata reliability yang berasal dari kata rely dan ability. pendekatan satu kali pengukuran dan reliabilitas antar penilai. Reliabiltas tes menunjukkan sejauh mana hasil pengukuran dengan tes tersebut dapat dipercaya.Validitas konstruk hakekatnya adalah sama dengan validitas isi namun digunakan untuk instrumen yang dimaksudkan mengukur variabel-variabel konstruk. minat dan lain-lain. Koefesien reliabilitas dapat dilakukan melalui berbagai metode pendekatan yaitu pendekatan tes-ulang (tes-retest). Reliabilitas dapat dihitung pada hasil uji coba dan pada hasil uji sesungguhnya. Hal ini ditunjukkan oleh taraf keajegan (konsistensi) skor yang diperoleh oleh para subjek yang diukur dengan alat yang sama atau dengan tes yang setara pada kondisi berbeda. E.

koefisien pilah paruh Rulon. . Artinya sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu instrumen dalam melakukan fungsinya. Instrumen yang telah tersedia pada umumnya adalah instrumen yang sudah dianggap baku untuk mengumpulkan data variabelvariabel tertentu. artinya harus ada dua tes yang kembar (paralel). Pendekatan satu kali pengukuran yaitu seperangkat tes diberikan kepada sekelompok responden yang dilakukan hanya satu kali. Ada beberapa teknik koefisien yang dilakukan dalam mengestimasi reliabilitas melalui pendekatan ini antara lain koefisien pilah paruh (belah dua) Spearman-Brown. Suharsimi. DAFTAR RUJUKAN Arikunto. Pendekatan tes ulang dilakukan dengan menyajikan tes yang sama sebanyak dua kali pada sekelompok responden (siswa) pada waktu yang berbeda untuk melihat kestabilan jawaban responden . kita dapat menggunakan instrumen yang telah tersedia dan dapat pula menggunakan instrumen yang dibuat sendiri. Pendekatan tes paralel dilakukan apabila tes yang diestimasi reliabilitasnya memiliki tes paralel yaitu tes yang sama tujuan ukurnya dan setara isinya baik kuantitas maupun kualitasnya. Validitas adalah sejauh mana suatu instrumen melakukan fungsinya atau mengukur apa yang seharusnya diukur. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan.sesuai dengan sifat dan fungsi tes dengan mempertimbangkan segi kepraktisan. Pendekatan ini banyak digunakan. Reliabilitas menunjukkan sejauh mana instrumen dapat dipercaya. Reliabilitas juga merupakan derajat kepercayaan dimana skor penyimpangan individu relatif konsisten terhadap tes sama yang diulangi. Untuk mengumpulkan data dalam suatu penelitian. SIMPULAN Instrumen adalah alat yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam suatu penelitian. Data yang terkumpul dengan menggunakan instrumen tertentu akan dideskripsikan dan dilampirkan atau digunakan untuk menguji hipotesis yang diajukan dalam suatu penelitian. Jakarta: Bumi Aksara. Makin cocok dengan sekor sesungguhnya makin tinggi reliabilitasnya. Termasuk di dalam pendekatan tes ulang adalah reliabilitas antar penilai. F. Alpha Cronbach dan KuderRichardson 20. 2007. G. Koefisien reliabilitas pendekatan ini adalah koefisien korelasi linier di antara sekor ukur dengan sekor ukur ulang.

Jakarta: PT. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kuantitatif dalam Pendidikan. .----------. Boston: Allyn and Bacon. 1986. 1986. New Jersey: Merill Prentice Hall. Introduction to Classical and Modern Test Theory. New York: Appleton Century Crofts Inc. Penilaian Kinerja. New York: Macmillan Publishing Company. Techniques of Attitude Scale Construction. Gable. Florida: Harcourt Brace Jovanovich College Publisher. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Robert K. Saifuddin Azwar. Linda dan James Algina. W. Ibnu Hadjar. Psychological Testing and Assessment. Modern Educational Measurement. James. Instrument Development in the Affective Domain. 1999. New York: Harper and Row Publisher. 1970. Ronald Jay dan Mark E. Boston: Kluwer-Nighoff Publishing. What Teacher Need to Know. Dali S..J. Gronlund. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. New York: Prentice-Hall Inc. 1995. 2007. Reliabilitas dan Validitas. Hari Setiadi. 1981. Nitko. Cohen. Swerdlik. James. Crocker. 2003. Naga. 1993. Boston: Allyn and Bacon. Edward. How to Make Achievement Tests dan Assessments. Popham. 2004. California: Mayfield Publishing Company. Measurement and Evaluation in Teaching. Essentials of Psychological Testing. Lee J. 1981. Cronbach. Allen J. Pengukuran dalam Bidang Pendidikan. Classroom Assessment. Jakarta: PPS UNJ. ----------. Norman E. 1957. W.. Popham. Djaali dan Pudji Muljono. 1986. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Jakarta: Pusat Penilaian Pendidikan Puslitbang Depdiknas. 2001. 1996. Educational Assessment of Student. Jakarta: PPS UNJ. Teori Tes. A. 2006. An Introduction to Test and Measurement. Bumi Aksara.

Djaali dan Pudji Muljono. 2007. Essentials of Psychological Testing (New York: Harper and Row Publisher. Ibid. Djaali dan Pudji Muljono. Cit. Op. Norman E. Pengembangan Alat Ukur Psikologis (Yogyakarta: Penerbit Andi. 6.. Djaali dan Pudji Muljono Op. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kuantitatif dalam Pendidikan (Jakarta: Raja Grafindo Persada. Cronbach.. Op. Pengukuran dalam Bidang Pendidikan (Jakarta: PPS UNJ. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik (Jakarta: PT. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. . Gronlund. Yogyakarta: Penerbit Andi. Cit. hh. Modern Educational Measurement (New York: Prentice-Hall Inc. 1986). 1981). h. h. 80.Cit. 1996). Bumi Aksara. 115. 2008) Lee J. 65.. Naga. Djaali dan Pudji Muljono. Sumadi Suryabrata. Sikap Manusia.Saifuddin Azwar. 121-122. James Popham. 2005. How to Make Achievement Tests dan Assessments (Boston: Allyn and Bacon. h. Teori dan Pengukurannya. 35. 1993). W. 160.. * Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Jakarta Ibnu Hadjar. 1970). Ibnu Hadjar. 2004). Sumadi. 178. hh.. h. h. Suharsimi Arikunto. Suryabrata. 81-85. Teori Tes Bab XIV (Jakarta: PPS-UNJ. Dali S. 83. Op. h. h. 171. h. 98. 2005). Pengembangan Alat Ukur Psikologis. h. h.Cit.

. Bab.34. Naga. Cit. h. 2008) Ibid. h.Djaali dan Pudji Muljono. 105. Introduction to Classical and Modern Test Theory (Florida: Harcourt Brace Jovanovich College Publisher. Op. Saifuddin Azwar. XI . Reliabiltas dan Validitas (Yogyakarta: Pustaka Pelajar.. Cit. Dali S. h. Ibid. 1986).. Dali S. Teori Tes Bab. Loc.Cit. Dali S. 2007). Op. XIV (Jakarta: PPS-UNJ. 66. Naga.Bab. Naga. XI Linda Crocker dan James Algina.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful