KONTRIBUSI PEMAKAIAN ALAT KONTRASEPSI TERHADAP FERTILITAS (ANALISIS LANJUT SDKI 2007) Tanggal : Jumat, 12 Maret 2010 @ 14:47:31 Peneliti

: Sumini, Yam'ah Tsalatsa, Wahyono Kuntohadi Department : PUSNA Kontribusi pemakaian Alat kontrasepsi terhadap fertilitas Penulis Sumini, Yam’ahTsalatsa, Wahyono Kuntohadi RINGKASAN Akhir-akhir ini banyak ahli dan pengamat kependudukan memberikan perhatian pada studi keluarga berencana (Wiyono, 2008). Setidaknya terdapat tiga alasan utama mengapa titik perhatian tertuju pada program keluarga berencana. Pertama, keberhasilan program keluarga (KB) di masa orde baru dalam menekan laju pertumbuhan penduduk sarat dengan sentralisme. Kedua, KB tidak lagi menjadi prioritas pembangunan di era otonomi daerah. Ketiga, kekhawatiran terjadinya ledakan penduduk (baby boom) di tahun 2015 yang diperkirakan mencapai 300 juta jiwa apabila program KB tidak berjalan dengan baik. Oleh karena itu, program keluarga berencana perlu kembali digalakkan sebagai bagian penting untuk mengendalikan angka kelahiran. Berbagai tulisan menunjukkan keberhasilan program KB dalam mengendalikan angka kelahiran yang ditandai dengan penurunan Total Fertility Rate (TFR). Sejak tahun 1970 hingga tahun 1991 TFR menurun hingga mencapai 3,0. Tahun 1995 TFR mengalami penurunan menjadi 2,8, dan mencapai 2,6 di tahun 2007. Penurunan angka kelahiran tersebut berkaitan dengan pemakaian alat kontrasepsi. Data menunjukkan adanya pola hubungan antara pemakaian alat kontrasepsi dengan rendahnya fertilitas. Beberapa provinsi di Indonesia yang angka fertilitasnya rendah seperti di Provinsi DIY (1,8) memiliki angka prevalensi kontrasepsi yang tinggi (66 persen), sedangkan di Provinsi NTT fertilitasnya cukup tinggi (4,1) ternyata angka prevalensi kontrasepsinya hanya 42 persen. Namun demikian ditemukan pula provinsi dengan tingkat fertilitas rendah dan angka prevalensi kontrasepsi yang juga rendah. Sebagai contoh di Provinsi

Jayaraman dan Arnold. Pemakaian kontrasepsi merupakan salah satu dari sekian banyak variabel yang secara langsung berpengaruh terhadap angka kelahiran (lihat Freedman. Penelitian ini bertujuan untuk : 1.USAID. 1958). penggunaan alat kontrasepsi berhasil menurunkan angka kelahiran menjadi 4. 1960. Mengidentifikasi metode kontrasepsi yang efektif dalam menekan fertilitas 3. 1978. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengendalikan angka kelahiran adalah melalui Program Keluarga Berencana (KB). 2007) Pemakaian alat kontrasepsi tidak terlepas dari peran serta penggunanya. Sementara itu penelitian Boongaarts. Hull. Davis and Blake 1956). sementara di India angka ini mencapai 3. Mengetahui kontribusi pemakaian alat kontrasepsi terhadap fertillitas 2. Becker. 1994). Easterlin. sedangkan angka prevalensi kontrasepsi hanya 60 persen (dibawah angka nasional 61 persen). Adapun cara kontrasepsi yang termasuk di dalamnya adalah IUD. 2003. terkait dengan upaya penundaan kehamilan atau kelahiran anak berikutnya setelah anak pertama lahir. Hatcher. (Bongaarts. 1987.DKI Jakarta angka kelahirannya 2. Idealnya. dan akan meningkatkan pendapatan yang memudahkan pasangan untuk menjangkau alat kontrasepsi. et. sterilisasi. Dari berbagai studi yang pernah dilakukan menunjukkan bahwa pemakaian alat kontrasepsi terbukti mampu menurunkan angka kelahiran (Ananta. 2001. Blacher.al. Faktor lain yang berasosiasi dengan pemakaian alat kontrasepsi adalah kondisi sosial ekonomi. 1993. 1976. Fertilitas ini merupakan salah satu penyumbang tingginya angka kelahiran selain mortalitas dan migrasi. meningkatkan komunikasi suami-istri. Peran serta suami dalam proses pengambilan keputusan pemakaian alat kontrasepsi lebih dipengaruhi oleh pengalaman hidup yang dijalani semenjak masih kanak-kanak (Miller.2. Studi yang lain menemukan tingkat pendidikan akan meningkatkan kontrol terhadap alat kontrasepsi dan pengendalian fertilitas (UN.5 dan Bangladesh sebesar 2 (Mishra. 1993). 1992). Pendidikan memfasilitasi perolehan informasi tentang keluarga berencana.al. Kondisi perekonomian rumah tangga yang kurang baik ditandai oleh rendahnya daya beli masyarakat termasuk kemampuan mereka untuk membeli alat kontrasepsi.1. pil hormon. et al. Sebagai contoh di Nepal. dan norplant (Singarimbun. 1997). Untuk itu perlu dilakukan studi lanjut mengenai kontribusi pemakaian alat kontrasepsi terhadap fertilitas. salah satunya melalui pemakaian alat kontrasepsi oleh pasangan usia subur. Upaya untuk mengatur jarak kehamilan atau kelahiran ini dapat dilakukan dengan menggunakan . Kajian Oppong (1984) di Ghana dan Nigeria menunjukkan rendahnya peran serta suami dalam penggunaan alat kontrasepsi. kondom. et. fertilitas diartikan sebagai hasil reproduksi yang ditunjukkan dengan banyaknya bayi lahir hidup (Hartanto. hal yang penting dilakukan adalah mengatur jarak kehamilan. Menganalisis faktor-faktor yang bersosiasi dengan pemakaian alat kontrasepsi Secara demografis. suntikan hormon. 1975 . Bongaarts. 2005 menyebutkan pemakaian alat kontrasepsi pada perempuan berpendidikan lebih tinggi dibandingkan yang tidak berpendidikan. 2009). Kondisi ini mengindikasikan pemakaian alat kontrasepsi sebagai salah satu variabel yang secara langsung berpengaruh terhadap fertilitas kontribusinya tidak sama di tiap daerah.

sebagian besar responden menggunakan suntik tiga bulanan dan pil. serta regresi logistic binary. sedangkan ibu muda (umur 15-9 tahun) jumlahnya kurang dari tiga persen. Teknik analisis yang digunakan adalah tabulasi silang dengan uji asosiasi dan tingkat korelasi ordinal. Perbandingannya adalah 87 persen dan 86 persen. Hal ini tidak terlepas dari kampanye Program Keluarga Berencana yang menginformasikan arti keluarga kecil bahagia. Berdasarkan tingkat pendidikannya. dan 17 persen berumur antara 25-29 tahun. Pemakaian dan masalah kesehatan selama pemakaian alat kontrasepsi Keberhasilan Program Keluarga Berencana (KB) dapat dilihat dari tingkat pemakaian alat kontrasepsi. Berdasarkan jenis alat kontrasepsi yang digunakan. Rincian Variabel Penelitian Hasil analisis dan pembahasan : Karakteristik Responden Rata-rata umur responden adalah 33 tahun. dan sebagian kecil tamat akademik atau perguruan tinggi (masing-masing tiga persen). dan beragama Islam (89 persen). Delapan puluh tujuh persen responden yang diteliti menggunakan alat kontrasepsi. Penelitian ini merupakan analisis data sekunder Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007 dengan responden wanita pernah kawin usia 15-49 tahun dan tidak sedang hamil. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. Data menunjukkan tidak ada perbedaan yang nyata rata-rata jumlah anak yang diinginkan menurut tingkat pendidikan. regresi linier berganda untuk melihat apakah layanan KB dan penggunaan alat kontrasepsi memiliki kontribusi pada perubahan tingkat fertilitas. Tabel 1. Perbedaan yang tidak terlalu besar ini mengindikasikan pelayanan KB telah tersebar merata baik di daerah perkotaan maupun perdesaan. daerah tempat tinggal. Responden yang diteliti sebagian (61 persen) mempunyai anak 1-2 orang dan sebagian kecil (sembilan persen) mempunyai anak lebih dari 5 orang. sekitar 19 persen responden berumur antara 3034 tahun. Pemakaian alat kontrasepsi ini meningkat seiring dengan semakin baiknya tingkat pendidikan dan juga status ekonomi. dan indeks kesejahteraan kuintil. Sementara itu wanita menikah umur 15-49 tahun rata-rata menginginkan anak tidak lebih dari dua. 2009). 33 persen responden tamat pendidikan dasar. cara tradisional lebih . Lebih dari separoh responden yang diteliti bertempat tinggal di desa (59 persen). Rata-rata 15 persen responden memutuskan untuk menggunakan alat kontrasepsi ketika sudah memiliki 1-2 orang anak dan hanya tiga persen yang memutuskan menggunakan alat kontrasepsi setelah memiliki anak lebih dari lima.kontrasepsi (Sunarto. Sementara itu wanita yang tinggal di kota cenderung menggunakan alat kontrasepsi dibandingkan yang tinggal di desa. Ibu-ibu dewasa yang berumur antara 40-44 tahun dan 45-49 tahun masing-masing 17 persen dan 14 persen. 19 persen tamat SMU. Dibandingkan dengan alat/cara KB modern.

Tujuh puluh delapan persen responden didukung oleh suaminya untuk memakai alat kontrasepsi jenis tertentu. Alat/cara KB modern populer di antara wanita di semua kelompok umur.5 8. dua persen dan kurang dari satu persen. kemudian kalender dan kondom yaitu masing-masing tiga persen.6 Total 4714 4746 364 9842 Sumber: SDKI 2007. Tabel 3. Hal ini menunjukkan kurangnya perencanaan bagi mereka yang justru tidak menginginkan anak lagi.5 6. Data SDKI 2007 memperlihatkan 25 persen responden mengalami masalah kesehatan selama menggunakan alat kontrasepsi. Persentase terbesar yang mengalami gangguan kesehatan selama menggunakan alat kontrasepsi adalah mereka yang menggunakan suntik 3 bulan (30 persen) dibandingkan dengan metode yang lain. Wanita muda cenderung menggunakan cara KB suntikan dan pil KB.3 50. Keluhan sakit kepala dan mual banyak dialami oleh mereka yang menggunakan metode pil (42 persen). Angka ini merupakan temuan yang menggembirakan karena mengindikasikan adanya partisipasi dan dukungan suami terhadap program KB. Namun pemakaian kontrasepsi pada wanita yang berumur lebih muda (15-19 tahun) dan yang berumur tua (45-49 tahun) lebih rendah dibandingkan mereka yang berumur 20-39 tahun.1 Ya 59.banyak tidak digunakan oleh responden. tidak mengalami menstruasi. sementara mereka yang lebih tua cenderung memilih kontrasepsi IUD.1 menggambarkan distribusi persentase pemakaian alat kontrasepsi di masa mendatang menurut keinginan punya anak lagi. Ini merupakan tantangan kedepan bagi pemerintah untuk menyediakan layanan keluarga . Sebagai contoh penggunaan alat kontrasepsi tradisional berupa pantang berkala. Sementara. Masalah kesehatan tersebut di antaranya sakit kepala. Pemakaian alat kontrasepsi pada responden yang diteliti sebagian besar didasarkan persetujuan pasangan atau suami.3 Tidak tahu 9.8 24. diolah Rencana pemakaian jenis alat kontrasepsi tertentu di masa mendatang berkaitan dengan efek samping yang dirasakan responden di masa lalu. Sedangkan responden yang tidak mendapat dukungan suami karena tidak memakai alat kontrasepsi jenis tertentu sebanyak 49 persen. masalah kesehatan lainnya.3 41. Tabel 3. Responden yang paling banyak mengalami gangguan tidak haid adalah mereka yang menggunakan suntik 3 bulan (30 persen). dan mengalami kenaikan berat badan. tingginya persentase rencana pemakaian alat kontrasepsi diantara responden yang menginginkan anak lagi (60 persen) menunjukkan bahwa telah terjadi perencanaan waktu yang baik untuk memiliki anak tersebut.4 24.1 28.5 47.1 Pemakaian alat kontrasepsi menurut keinginan punya anak lagi (%) Akan pakai alat Menginginkan anak lagi Total kontrasepsi dimasa Ya Tidak lagi Tidak pasti mendatang Tidak 30.7 69. Data menunjukkan rencana pemakaian alat kontrasepsi di masa depan cenderung rendah pada responden yang saat ini tidak lagi menginginkan anak (24 persen) atau masih belum mengambil keputusan (28 persen).

Data menunjukkan hanya lima persen responden yang mengaku dikunjungi petugas KB dalam enam bulan terakhir. bidan atau perawat (15 persen). petugas KN (sembilan persen). televisi merupakan media dengan tingkat korelasi terkuat terhadap pemakaian alat kontrasepsi. meningkatnya level pendidikan akan meningkatkan pula penggunaan alat kontrasepsi. Semakin tinggi frekuensi penyerapan informasi akan semakin meningkatkan kemungkinan pemakaian alat kontrasepsi. . tampak adanya korelasi positif. Analisis variabel-variabel yang berasosiasi dengan pemakaian alat kontrasepsi Hasil analisis tabulasi silang dengan uji asosiasi dan tingkat korelasi ordinal menunjukkan pemakaian alat kontrasepsi berkaitan dengan umur responden dan tingkat pendidikan. Berdasarkan tingkat korelasinya. yaitu tersedianya alat kontrasepsi yang betul-betul aman. Faktor melek informasi memiliki asosiasi positif dengan pemakaian alat kontrasepsi. tapi tidak berkaitan dengan agama dan wilayah tempat tinggal.berencana yang lebih baik. Informasi yang memadai mengenai berbagai metode KB akan membantu klien untuk menentukan pilihan alat kontrasepsi. Studi ini menemukan 63 persen responden mengaku tidak mendapatkan informasi mengenai efek samping saat pemakaian alat kontrasepsi. Pada aspek perencanaan keluarga. mengaku mendapatkan informasi tersebut dari televisi (26 persen). Dari 29. Upaya tindak lanjut yang rutin dan memadai merupakan hal yang penting dalam rangka mendorong keberlangsungan pemakaian kontrasepsi.258 responden yang diteliti. responden yang memiliki jarak lahir singkat antara anak ke-1 dan ke-2. Berdasarkan tingkat korelasinya. Meningkatnya umur cenderung menurunkan pemakaian alat kontrasepsi. Berdasarkan tingkat ekonomi rumah tangga. yaitu pemakaian alat kontrasepsi semakin meningkat sejalan dengan meningkatnya kondisi ekonomi rumah tangga. responden dengan durasi breastfeeding yang singkat. Kemungkinan responden merasa cukup aman dan terlindungi dari risiko kehamilan setelah memakai jenis alat kontrasepsi tertentu dan tidak perlu melakukan pemeriksaan kesehatan. Layanan KB Salah satu faktor yang penting diperhatikan dalam layanan KB adalah faktor informasi. Sementara itu. dan sumber lainnya seperti PKK dan tokoh agama. memiliki daya lindung tinggi terhadap kemungkinan terjadinya kehamilan. 61 persen diantaranya tidak melakukan tindak lanjut rutin mengunjungi fasilitas kesehatan untuk memperoleh informasi mengenai alat kontrasepsi yang sedang dipakainya. responden dengan umur anak terakhir yang tidak lagi muda. Hal ini penting karena aspek tersebut seringkali menjadi tolak ukur bagi responden untuk terus memakai atau tidak memakai alat kontrasepsi. diikuti dengan koran dan radio. pemakaian alat kontrasepsi cenderung rendah pada responden dengan intercoursepertama pada usia muda. dan responden yang tidak mendapat persetujuan dari suaminya untuk menggunakan alat kontrasepsi. Namun sebaliknya. Sementara itu responden yang mengetahui efek samping pemakaian alat kontrasepsi. serta tidak menimbulkan gangguan kesehatan bagi penggunanya. baik informasi mengenai efek samping maupun alternatif metode KB. seluruh variabel berasosiasi dengan pemakaian alat kontrasepsi. petugas KB cenderung bersifat pasif tidak mengunjungi klien untuk memberikan penjelasan ataupun pemeriksaan kesehatan klien.

yang juga bermakna menurunnya tingkat fertilitas akibat pemakaian alat kontrasepsi. informasi KB dari media massa berasosiasi positif dengan penggunaan alat kontrasepsi. dan petugas PKK yang memiliki asosiasi dengan penggunaan alat kontrasepsi. Sebaliknya. dan petugas PKK. secara berturut-turut adalah koran/majalah. kecuali informasi yang berasal dari radio yang tidak memiliki tingkat asosiasi yang signifikan. Hal ini bisa dipahami dalam konteks otonomi daerah. Dari sini dapat disimpulkan bahwa alat kontrasepsi lebih efektif untuk menurunkan tingkat fertilitas pada mereka yang tinggal di wilayah rural. Di sisi lain. Umur responden memiliki parameter positif. pamflet. Analisis Persamaan Regresi Linier Berganda Pemakaian Alat Kontrasepsi terhadap Fertilitas Pada dua model persamaan regresi linier yang dihasilkan. menunjukkan bahwa tingkat residual atau kesalahan taksir dari model regresi telah menurun. tingkat fertilitas responden dari wilayah rural adalah lebih tinggi. poster. jika seluruh variabel independent dianggap bernilai sama pada kedua persamaan regresi.191 menjadi 0.4 persen dan adjusted R-square dari 65. Peningkatan R-square dari 67.8 persen menjadi 70. Akan tetapi.935 dengan signifikansi uji yang tetap sempurna sebesar 0.579 pada persamaan kedua (menggunakan alat kontrasepsi). tampak kunjungan responden ke fasilitas kesehatan dalam enam bulan terakhir berkorelasi positif dengan pemakaian alat kontrasepsi.436 pada persamaan pertama (tidak menggunakan alat kontrasepsi) menuju 1. dan televisi. Perbedaan tempat tinggal memberikan fakta yang menarik. petugas KB. nilai Ftest yang meningkat dari 27. Pada mereka yang tidak menggunakan alat kontrasepsi. penggunaan alat kontrasepsi tidak berasosiasi dengan kunjungan petugas dalam enam bulan terakhir. didapatkan bukti bahwa persamaan kedua ternyata memiliki kekuatan model yang lebih baik. responden dari wilayah rural secara signifikan memiliki tingkat fertilitas yang lebih rendah. Sedangkan pada faktor petugas pemberi informasi KB. nilai parameter tersebut lebih rendah pada mereka yang menggunakan alat kontrasepsi. semakin tua umur responden akan semakin tinggi pula angka kelahiran hidup darinya. Secara umum.358 menjadi 52. Sementara itu faktor agama tidak memiliki pengaruh terhadap fertilitas pada responden tanpa alat kontrasepsi. petugas KB. dan petugas PKK cukup besar dalam pelaksanaan program KB. Ketiganya memiliki korelasi positif. maka nilai konstanta β0 akan menurun dari 2. Jika dilihat berdasarkan tingkat korelasinya.163.1 persen menunjukkan membaiknya tingkat determinasi model terhadap variasi data. Hal ini mengindikasikan peran bidan/perawat. pada mereka yang menggunakan alat kontrasepsi. Selain itu. dan berturut-turut yang terkuat adalah bidan/perawat. hampir tidak ada PLKB di lapangan. Hal ini terlihat dari penurunan parameter dari 0. informasi KB yang memiliki korelasi kuat dengan penggunaan alat kontrasepsi.000.Berdasarkan aspek layanan dan informasi KB. penggunaan alat kontrasepsi memiliki pengaruh sistematis terhadap penurunan fertilitas. ternyata hanya petugas KB. Berdasarkan tingkat ekonomi rumah tangga.3 persen menjadi 69. Di antara mereka yang menggunakan alat . Artinya. bidan/perawat. Sementara itu.

pada responden yang menggunakan alat kontrasepsi. Identik dengan umur anak terakhir. Sebaliknya. responden yang tidak menginginkan anak lagi memiliki parameter positif yang signifikan pada kedua persamaan regresi dibandingkan dengan mereka yang masih ingin memiliki anak. ternyata selisihnya lebih kecil pada responden yang menggunakan alat kontrasepsi.169 menjadi -0. artinya semakin muda usia intercourse. dan tidak terfokus pada masalah KB atau alat kontrasepsi. pada variabel jarak lahir antara anak ke-1 dan ke-2 terlihat bahwa rentang yang semakin lebar identik dengan fertilitas yang semakin rendah.149. Berdasarkan nilainya. hanya media televisi yang memiliki peran berarti dalam penurunan tingkat fertilitas. tampak nilai parameter yang negatif. Pada variabel-variabel ‘perencanaan keluarga’. maka semakin menurun nilai parameter β-nya. maka penurunannya adalah signifikan secara statistik. maka semakin tinggi fertilitasnya. tingkat fertilitasnya adalah yang tertinggi. Jika dilihat berdasarkan usia saat intercourse pertama kali. yang dapat diartikan bahwa tingkat fertilitasnya relatif menjadi lebih homogen jika menggunakan alat kontrasepsi. Jika dilihat pada rentang yang sama.223 turun ke nol ‘0’ dan 0. Peningkatannya lebih kecil pada responden yang menggunakan alat kontrasepsi dibandingkan dengan yang tidak menggunakan alat kontrasepsi (0. Berdasarkan umur anak terakhir. beberapa nilai parameter persamaan regresi lebih mewakili hubungan linier daripada hubungan sebab akibat.15 dibandingkan 0. mereka yang menginginkan anak lagi adalah mereka yang memiliki fertilitas lebih rendah dibandingkan dengan yang tidak menginginkan anak lagi (dari 0.261.183 turun ke nol ‘0’). Berdasarkan akses terhadap informasi media. Hal ini disebabkan pemilihan variabel dependen fertilitas “jumlah anak masih hidup” yang tidak selalu merupakan ‘akibat langsung’ dari beberapa variabel independent yang juga merupakan ukuran “saat ini”.kontrasepsi dapat dilihat bahwa semakin tinggi tingkat ekonomi responden.182). Lebih jauh lagi. Pada aspek pengambil keputusan penggunaan alat kontrasepsi. Pada aspek persetujuan suami atas pemakaian alat kontrasepsi pada istrinya.016). Apabila dikaitkan dengan keinginan memiliki anak. data menunjukkan bahwa ketidak-setujuan suami pada responden yang menggunakan alat kontrasepsi ada kaitannya dengan tingkat fertilitas yang rendah. ditandai dengan parameter yang berubah dari -0. jika dibandingkan penurunan nilainya. baik pada responden yang menggunakan alat kontrasepsi maupun bagi mereka yang tidak menggunakan. artinya semakin rendah pula tingkat fertilitasnya. pengaruh tersebut semakin mengecil. Sedangkan media koran/majalah memiliki pengaruh meningkatkan fertilitas hanya pada mereka yang menggunakan alat kontrasepsi. terlihat bahwa semakin muda anak terakhir dari responden. mengingat bahwa variabel informasi yang dianalisis di sini adalah ‘informasi umum’. maka semakin tinggi fertilitasnya. Akan tetapi. Hal ini mengindikasikan semakin homogennya tingkat fertilitas jika menggunakan alat kontrasepsi. Secara umum hal tersebut mungkin saja terjadi. Jika dibandingkan secara ekstrim antara mereka yang tidak pernah melihat televisi dengan yang hampir tiap hari melihatnya. didukung oleh β sebesar -0.013 dibandingkan dengan 0. maka menurunnya fertilitas pada responden yang memakai alat kontrasepsi akan lebih rendah (0. pada pasangan yang belum jelas persetujuan sang suami. keputusan yang .

116). Akan tetapi.251). analisis hanya dilakukan pada responden yang menggunakan alat kontrasepsi.341).699).474 dibanding 0). Penggunaan metode injeksi 1-bulan dan injeksi 3-bulan memiliki odds-ratio<1. keduanya memiliki hubungan dengan tingkat fertilitas yang menurun. berturut-turut penggunaan alat kontrasepsi yang tingkat kecenderungannya meningkat adalah sterilisasi perempuan (oddsratio=1. Baik faktor kunjungan petugas KB dalam enam bulan terakhir maupun aktifitas responden mengunjungi fasilitas kesehatan.086). dan implant 5 tahun (odds-ratio=1. implant 3 tahun (odds-ratio=1. diikuti oleh informasi dari bidan/perawat (β= -0. metode kalendar (odds-ratio=1.110). 1994). Sumber-sumber informasi KB dari berbagai media ternyata tak ada satu pun yang secara signifikan memiliki hubungan linier dengan perubahan tingkat fertilitas.078). ternyata efek linier hanya signifikan pada aspek yang pertama. Pemodelan yang digunakan adalah analisis regresibinary logistic. besarnya sampel turut pula dipertimbangkan dalam analisis. Ini berarti memberi makna kecenderungan penggunaan yang lebih tinggi pada responden dengan AMH .didominasi oleh suami berkaitan dengan tingkat fertilitas yang tinggi dibandingkan dengan jika keputusannya diambil oleh istri saja (0. sanggama terputus (odds-ratio=1. Positifnya nilai β (0. Terkait dengan pemberian informasi tentang masalah yang mungkin timbul dengan pemakaian alat kontrasepsi. Analisis Hubungan antara Jenis Pemakaian Alat Kontrasepsi dengan Tingkat Fertilitas Analisis ini bertujuan untuk mengeksplorasi perilaku wanita pernah kawin usia 15-49 tahun dalam memilih kategori alat kontrasepsi berdasarkan tingkat fertilitasnya. sedangkan jumlah Anak Masih Hidup (AMH) sebagai indikator fertilitas merupakan variabel independen. yaitu jenis alat kontrasepsi merupakan variabel dependen. dan informasi dari pemimpin desa (β=0. Berdasarkan nilai parameter tersebut dan mempertimbangkan ukuran sampel. Selain itu. tindakan yang harus diambil jika masalah tersebut muncul. Analisis dipusatkan pada signifikansi parameter regresi dan nilai odds-ratio. ada empat pihak yang memiliki parameter hubungan linier signifikan. Untuk faktor-faktor yang terkait dengan layanan dan informasi KB. Pemodelan dilakukan terpisah untuk setiap alat kontrasepsi.507).212) menunjukkan bahwa responden yang pernah diberitahu kemungkinan adanya masalah dengan penggunaan kontrasepsi adalah mereka yang memiliki fertilitas lebih tinggi. Keberadaan informasi dari tokoh agama memiliki hubungan linier terkuat dengan tingkat fertilitas pengguna alat kontrasepsi (β= -0. yaitu informasi tentang permasalahan yang mungkin timbul. Beberapa alat kontrasepsi memiliki parameter positif yang signifikan. informasi dari PKK (β=0. secara statistik penurunan tersebut belum signifikan. yaitu semakin tinggi nilai AMH akan meningkatkan kecenderungan penggunaan alat kontrasepsi.794). Hal ini bisa jadi karena klien merasa takut atau khawatir untuk menggunakan alat kontrasepsi yang mendorong mereka untuk tidak memakai alat kontrasepsi sehingga cenderung anaknya lebih banyak (bandingkan hasil penelitian Singarimbun. Berdasarkan informasi KB dari beberapa pihak. serta alternatif pilihan metode KB yang lain.

implant 3 tahun. Pemakaian alat kontrasepsi terbukti memiliki kontribusi terhadap fertilitas (Ananta.rendah. 1958) 2. Sedangkan nilai parameter yang tidak signifikan pada alat kontrasepsi yang memiliki sampel yang besar – yaitu pil dan kondom – memberikan kemungkinan penggunaannya tidak memiliki pola kecenderungan peningkatan atau penurunan seiring dengan meningkatnya AMH. sehingga kedepan diharapkan penelitian mengenai tema serupa dapat dilakukan dengan mengkombinasikan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Berdasarkan hasil analisis pada bagian sebelumnya. metode kalendar. maka beberapa hal yang dapat direkomendasikan adalah sebagai berikut. status ekonominya rendah. 1978: Hull. Dengan mendasarkan pada temuan-temuan tersebut. 3. Perlunya peningkatan layanan KB. jarak kelahiran.1 Kesimpulan dan Rekomendasi Secara keseluruhan penelitian ini didasarkan pada analisis kuantitatif.1960: Easterlin. et. memiliki jarak lahir dan durasi breastfeeding yang singkat. serta tidak mendapat p . Uji statistik sederhana dan lanjut digunakan untuk menguji hubungan antar variabel sesuai kajian teoritis. penyerapan informasi KB.al. 1976 : Becker. Bongaarts. Goni. 2001). serta pelayanan yang adil kepada semua klien. Namun informasi mendetail mengenai pola hubungan antar variabel tidak dapat dijelaskan hanya dari analisis kuantitatif.1993: Bongaarts. Pemakaian alat kontrasepsi pada responden yang tinggal di desa lebih mampu menekan angka kelahiran secara signifikan dibanding yang tinggal di kota 4. yaitu. Mhloyi. usia pertama kali intercourse. 1986. Metode ini juga tidak banyak memberi dampak kesehatan bagi pemakainya. 2008. 1. 1978. 1. Alat kontrasepsi yang memiliki daya tahan terhadap kemungkinan kehamilan adalah sterilisasi perempuan. 5. Perlunya pemantapan dan insentif pemakaian alat kontrasepsi terutama pada mereka yang tinggal di desa.1 Gambar Pola Pemakaian Alat Kontrasepsi terhadap Jumlah Anak Masih Hidup Sumber: SDKI 2007. sanggama terputus. layanan KB. pasangan muda. Secara grafis. status ekonomi. upaya tindak lanjut rutin baik secara aktif maupun pasif agar kondisi fisik dan kesehatan klien dapat terus terpantau. tidak mengunjungi atau dikunjungi petugas KB dalam enam bulan terakhir. dan tepat sasaran 2. Latar belakang karakeristik sosio demografi seperti umur. terbukti berasosiasi dengan pemakaian alat kontrasepsi dalam menurunkan angka kelahiran (Davis dan Blake. pendidikan. diolah 3. sehingga akurasi hasil dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. hal tersebut tersaji pada Gambar 3. Peran serta suami terutama berkaitan dengan persetujuan suami dalam pemakaian alat kontrasepsi istri terbukti berasosiasi terhadap pemakaian alat kontrasepsi. dan implant 5 tahun. Bongaarts. temuan penelitian ini mendukung teori pada studi literatur. yaitu pemberian informasi yang benar dan lengkap tentang KB dan informasi kesehatan reproduksi secara menyeluruh.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful