DEPARTEMEN KESEHATAN RI JAKARTA, 2009

BENTUK DAN CARA PENYELENGGARAAN PEMBANGUNAN KESEHATAN

DEPARTEMEN KESEHATAN RI JAKARTA, 2009

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ....................................................... DAFTAR ISI ..................................................................... I. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG .......................................... B. PENGERTIAN SKN .......................................... C. MAKSUD DAN KEGUNAAN SKN .................... D. LANDASAN SKN .............................................. PERKEMBANGAN DAN TANTANGAN SISTEM KESEHATAN NASIONAL A. PERKEMBANGAN DAN MASALAH SISTEM KESEHATAN NASIONAL …………………….... B. PERUBAHAN LINGKUNGAN STRATEGIS ..... ASAS SISTEM KESEHATAN NASIONAL A. DASAR PEMBANGUNAN KESEHATAN ......... B. DASAR SKN ..................................................... BENTUK POKOK SISTEM KESEHATAN NASIONAL A. TUJUAN SKN ................................................ B. KEDUDUKAN SKN ....................................... C. SUBSISTEM SKN ......................................... D. TATA HUBUNGAN ANTAR SUBSISTEM DAN LINGKUNGANNYA .......................................... CARA PENYELENGGARAAN SISTEM KESEHATAN NASIONAL A. SUBSISTEM UPAYA KESEHATAN ................. B. SUBSISTEM PEMBIAYAAN KESEHATAN ...... C. SUBSISTEM SUMBERDAYA MANUSIA KESEHATAN .................................................... D. SEDIAAN FARMASI, ALAT KESEHATAN, DAN MAKANAN ............................................... ii i ii 1 1 2 3 4

II.

6 6 12 15 15 17

III.

IV.

21 21 21 23 26

V.

30 30 45 50 59

B. SUBSISTEM MANAJEMEN DAN INFORMASI KESEHATAN …………………………………… F............ SUMBER DAYA PENYELENGGARAAN SKN E.. PENUTUP LAMPIRAN Gambar-1: Alur Pikir Rencana Pembangunan Kesehatan dan Sistem Kesehatan Nasional Gambar-2: Gambaran Unsur-unsur Pembangunan Kesehatan dan Subsistem SKN serta Tata Hubungannya dan Lingkungan Strategis yang Mempengaruhi SKN 94 95 DAFTAR SINGKATAN ……………………………………. DUKUNGAN PENYELENGGARAAN SISTEM KESEHATAN NASIONAL A. TATA PENYELENGGARAAN SKN ………… C......... SUBSISTEM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT ........... KERJA SAMA INTERNASIONAL …………… 68 73 81 81 85 86 87 90 92 VII... PENYELENGGARA SKN ……………………............. KONTRIBUTOR 96 iii ........E... D..... VI.... PROSES PENYELENGGARAAN SKN ……...

Dalam kerangka kesehatan pembangunan dilaksanakan secara terarah. tentang Nasional Rencana (RPJPN) Pembangunan Panjang memberikan arah pembangunan ke depan bagi bangsa Indonesia. Dalam Undang-Undang tersebut antara lain ditetapkan bahwa pembangunan berdasarkan kesehatan diselenggarakan pemberdayaan dengan dan perikemanusiaan. tersebut. berkesinambungan dan realistis sesuai pentahapannya. dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat mencapai yang tujuan setinggi-tingginya.KATA PENGANTAR Pembangunan kesehatan adalah upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen bangsa yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran. . UndangUndang Nomor 17 Jangka tahun 2007. Di dalamnya juga telah tercantum arah pembangunan kesehatan dalam 20 tahun ke depan sampai dengan tahun 2025. kemauan. Kesinambungan dan keberhasilan pembangunan kesehatan ditentukan oleh tersedianya pedoman penyelenggaraan pembangunan kesehatan baik berupa dokumen perencanaan maupun metode dan cara penyelenggaraannya.

sering tidak menentu. Sistim Kesehatan Nasional (SKN) 2009 sebagai penyempurnaan dari SKN sebelumnya merupakan bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah bersama seluruh elemen bangsa dalam rangka untuk meningkatkan tercapainya pembangunan kesehatan dalam mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. dan globalisasi serta tantangan lainnya yang juga semakin berat. cepat berubah dan. Sistim Kesehatan Nasional (SKN) 2009 yang disempurnakan ini diharapkan mampu menjawab dan merespon berbagai tantangan pembangunan kesehatan di masa kini maupun di masa yang akan datang. anak. . adil dan merata.kemandirian. desentralisasi. serta pengutamaan dan manfaat dengan perhatian khusus pada penduduk rentan. Adanya SKN yang disempurnakan tersebut menjadi sangat penting kedudukannya mengingat penyelenggaraan pembangunan kesehatan pada saat ini semakin kompleks sejalan dengan kompleksitas perkembangan demokrasi. manusia usia lanjut (manula). dan keluarga miskin. antara lain ibu.

Dr. Sp.Diharapkan SKN 2009 ini terkait dan mengacu pada arah dan tahapan pembangunan kesehatan yang ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan (RPJPK) Tahun 2005-2025.JP(K) . April 2009 MENTERI KESEHATAN RI. Dalam kaitan ini penyelenggaraan SKN 2009 tersebut perlu sesuai dengan tahap-tahap lapangan. Semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu melimpahkan Rachmat dan Hidayah serta memberikan petunjuk dan kekuatan bagi kita sekalian dalam melaksanakan pembangunan kesehatan di Indonesia dengan berpedoman pada Sistem Kesehatan Nasional yang baru ini. Jakarta. Siti Fadilah Supari. pelaksanaan pembangunan kesehatan di Pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya dan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak atas perhatian. bantuan dan masukan serta kontribusinya dalam penyusunan dan perumusan SKN tersebut.dr.

seperti: Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.BAB I PENDAHULUAN A. perdamaian abadi dan keadilan sosial. Perubahan lingkungan strategis ditandai dengan berlakunya berbagai regulasi penyelenggaraan kepemerintahan. yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum. dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya dapat terwujud. Untuk itu diperlukan pemantapan dan percepatan melalui Sistem Kesehatan Nasional sebagai bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang disertai berbagai terobosan penting. serta Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K). Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang 1 . Pembangunan kesehatan yang dilaksanakan dalam dasawarsa terakhir masih menghadapi berbagai masalah yang belum sepenuhnya dapat diatasi. seperti: pengembangan Desa Siaga. Undangundang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. maka pembangunan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan kesadaran. LATAR BELAKANG Dalam mencapai tujuan nasional bangsa Indonesia sesuai Pembukaan UUD 1945. mencerdaskan kehidupan bangsa. kemauan. Jaminan Kesehatan Masyarakat.

dan strategi pembangunan kesehatan yang ditetapkan dalam Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJP-N) Tahun 2005-2025 dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan (RPJP-K) Tahun 2005-2025. SKN 2004 sebagai pengganti SKN 1982. dan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJP-N) Tahun 2005-2025. pada hakekatnya merupakan bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan. penting untuk dimutakhirkan menjadi SKN 2009 agar dapat mengantisipasi berbagai tantangan perubahan pembangunan kesehatan dewasa ini dan di masa depan. PENGERTIAN SKN Sistem Kesehatan Nasional (SKN) adalah bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang memadukan berbagai upaya bangsa Indonesia dalam satu derap langkah guna menjamin tercapainya tujuan pembangunan kesehatan dalam kerangka mewujudkan kesejahteraan rakyat sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Dasar 1945. B. kemauan. sehingga diperlukan penyempurnaan dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan. Dalam mengantisipasi ini. Pembangunan kesehatan adalah upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen bangsa yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran. dasar. dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang 2 . Disamping itu secara global terjadi perubahan iklim dan upaya percepatan pencapaian MDGs. perlu mengacu terutama pada arah.Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional.

serta meningkatkan investasi kesehatan untuk keberhasilan pembangunan nasional. serta 4) Pengutamaan dan manfaat.setinggi-tingginya dapat terwujud. memperjelas penyelenggaraan pembangunan kesehatan sesuai dengan visi dan misi Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan (RPJP-K) Tahun 2005-2025. kesadaran masyarakat. swasta. serta kemampuan tenaga kesehatan dalam mengatasi masalah-masalah tersebut. keamanan. Sistem Kesehatan Nasional perlu dilaksanakan dalam konteks Pembangunan Kesehatan secara keseluruhan dengan mempertimbangkan determinan sosial. sumber daya. melaksanakan pemerataan upaya kesehatan yang terjangkau dan bermutu. 3 . baik oleh masyarakat. seperti: kondisi kehidupan sehari-hari. 2) Pemberdayaan dan kemandirian. maupun oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah serta pihak terkait lainnya. pendapatan keluarga. Pembangunan kesehatan diselenggarakan berdasarkan pada: 1) Perikemanusiaan. memantapkan kemitraan dan kepemimpinan yang transformatif. MAKSUD DAN KEGUNAAN SKN Penyusunan SKN 2009 ini dimaksudkan untuk menyesuaikan SKN 2004 dengan berbagai perubahan dan tantangan eksternal dan internal. 3) Adil dan merata. tingkat pendidikan. C. agar dapat dipergunakan sebagai pedoman tentang bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan. Tersusunnya SKN 2009 mempertegas makna pembangunan kesehatan dalam rangka pemenuhan hak asasi manusia. distribusi kewenangan.

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan Tahun 2005-2025 dan SKN merupakan dokumen kebijakan pembangunan kesehatan sebagai acuan dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan. LANDASAN SKN Landasan SKN meliputi: 1. bertempat tinggal. Pendekatan pelayanan kesehatan dasar secara global telah diakui sebagai pendekatan yang tepat dalam mencapai kesehatan bagi semua dengan mempertimbangkan kebijakan kesehatan yang responsif gender. Pasal 28 H ayat (1). termasuk penguatan sistem rujukan. 3) Kebijakan pembangunan kesehatan. 2) Pemberian pelayanan kesehatan yang berpihak kepada rakyat. yaitu UUD 1945. yaitu Pancasila. dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan 4 . 2. Sistem Kesehatan Nasional disusun dengan memperhatikan pendekatan revitalisasi pelayanan kesehatan dasar (primary health care) yang meliputi: 1) Cakupan pelayanan kesehatan yang adil dan merata. Landasan Konstitusional. setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin. setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya. Sistem Kesehatan Nasional juga disusun dengan memperhatikan inovasi/terobosan dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan secara luas. D.Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan Tahun 2005-2025 merupakan arah pembangunan kesehatan yang berkesinambungan. dan 4) Kepemimpinan. khususnya: Pasal 28 A. Landasan Idiil.

Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan dan ayat (3). serta Pasal 34 ayat (2). 3. berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi. Pasal 28 B ayat (2). setiap orang berhak atas jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia yang bermartabat. seni dan budaya. 5 . Landasan Operasional meliputi seluruh ketentuan peraturan perundangan yang berkaitan dengan penyelenggaraan SKN dan pembangunan kesehatan. Pasal 28 C ayat (1). setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya.kesehatan dan ayat (3). dan berkembang. demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia. tumbuh. setiap anak berhak atas kelangsungan hidup. Negara bertanggungjawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak. Beberapa peraturan perundangan tersebut terdapat dalam Lampiran-1 dari RPJP-K Tahun 2005-2025.

yaitu: penurunan Angka Kematian Bayi (AKB) dari 46 per 1. harus terus diupayakan dengan perbaikan Sistem Kesehatan Nasional. Umur Harapan Hidup (UHH) meningkat dari 68. PERKEMBANGAN DAN KESEHATAN NASIONAL MASALAH SISTEM Pembangunan kesehatan yang dilaksanakan secara berkesinambungan telah berhasil meningkatkan status kesehatan masyarakat. Angka Kematian Ibu (AKI) juga mengalami penurunan dari 318 per 100.5% pada akhir tahun 1997 menjadi sebesar 18. Upaya percepatan pencapaian indikator kesehatan dalam lingkungan strategis baru.6 tahun pada tahun 2004 menjadi 70. Kinerja sistem kesehatan telah menunjukkan peningkatan. 2007).4% pada tahun 2007 (Riskesdas. 2007). Upaya Kesehatan Akses pada pelayanan kesehatan secara nasional mengalami peningkatan.BAB II PERKEMBANGAN DAN TANTANGAN SISTEM KESEHATAN NASIONAL A. 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2007 (SDKI.7% dan akses rumah tangga 6 . Namun penurunan indikator kesehatan masyarakat tersebut masih belum seperti yang diharapkan. dalam kaitan ini akses rumah tangga yang dapat menjangkau sarana kesehatan ≤ 30 menit sebesar 90. antara lain ditunjukkan dengan peningkatan status kesehatan.000 kelahiran hidup pada tahun 1997 menjadi 228 per 100. Demikian pula telah terjadi penurunan prevalensi kekurangan gizi pada balita dari 29. Sejalan dengan penurunan angka kematian bayi.000 kelahiran hidup pada tahun 1997 menjadi 34 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2007 (SDKI 2007).5 tahun pada tahun 2007.

46 per 100. peningkatan yang besar terutama di daerah perdesaan. 2007). 7 .4% pada tahun 2005 menjadi 41.000 pada tahun 2007 (Profil Kesehatan.yang berada ≤ 5 km dari sarana kesehatan sebesar 94. 2007). sementara itu cakupan imunisasi lengkap tertinggi sebesar 73. 2007).65 per 100. Peningkatan jumlah Puskesmas ditandai dengan peningkatan rasio Puskesmas dari 3.1% pada tahun 1996 menjadi 33. Namun masih ditemui disparitas Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dan cakupan imunisasi antar wilayah masih tinggi.1% dan terendah 67%. jumlah masyarakat yang mencari pengobatan sendiri sebesar 45% dan yang tidak berobat sama sekali sebesar 13. serta pulau-pulau kecil terdepan dan terluar masih rendah. Disamping itu. sementara persalinan di fasilitas kesehatan meningkat dari 24. Cakupan pemeriksaan kehamilan tertinggi 97.3% pada tahun 1997 menjadi 46% pada tahun 2007. Begitupula kunjungan baru (contact rate) ke fasilitas pelayanan kesehatan meningkat dari 34. perbatasan.000 penduduk pada tahun 2003 menjadi 3.7% pada tahun 2006. Namun pada daerah terpencil.3% (2007).9% dan cakupan terendah 17.3% (Riskesdas. Secara keseluruhan. Pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan oleh penduduk meningkat dari 15.8% pada tahun 2007. kesehatan ibu membaik dengan turunnya AKI. tertinggal. pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan meningkat 20% dalam kurun 10 tahun. Jarak fasilitas pelayanan yang jauh disertai distribusi tenaga kesehatan yang tidak merata dan pelayanan kesehatan yang mahal menyebabkan rendahnya aksesibilitas masyarakat terhadap pelayanan kesehatan.1% (Riskesdas.

menjadikan Indonesia mempunyai beban ganda (double burden).8% dan yang tidak memiliki saluran pembuangan air limbah sebesar 32. Penyakit infeksi menular masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang menonjol. Demikian pula dengan anggaran kesehatan.5%.8%.7% rumah tangga dan sebesar 63.54 Triliun meningkat menjadi sebesar 18. Persentase pengeluaran nasional sektor kesehatan pada tahun 2005 adalah sebesar 0. Demikian pula penyakit Pes masih terdapat di berbagai daerah. Namun demikian kontribusi penyakit menular terhadap kesakitan dan kematian semakin menurun. terutama: TB Paru. Pembiayaan Kesehatan Pembiayaan kesehatan sudah semakin meningkat dari tahun ke tahun. rumah tangga yang tidak menggunakan fasilitas buang air besar sebesar 24. HIV/AIDS.6–2. Selain itu penyakit yang kurang mendapat perhatian (neglected diseases). Hasil Riskesdas Tahun 2007 menunjukkan adanya peningkatan kasus penyakit tidak menular (seperti penyakit kardiovaskuler dan kanker) secara cukup bermakna.Akses terhadap air bersih sebesar 57. seperti Filariasis.75 Triliun pada tahun 2007. Framboesia cenderung meningkat kembali.09 % dari PDB. namun persentase terhadap seluruh APBN belum meningkat dan masih berkisar 2. Pengeluaran pemerintah untuk 8 .5% rumah tangga mempunyai akses pada sanitasi yang baik (Riskesdas. Malaria. 2007). DBD dan Diare. Kusta. 2. Pada tahun 2007. meskipun belum mencapai 5% dari PDB seperti dianjurkan WHO.81% dari Produk Domestik Bruto (PDB) meningkat pada tahun 2007 menjadi 1. pada tahun 2004 jumlah APBN kesehatan adalah sebesar Rp 5.

Kualitas hasil pendidikan SDM Kesehatan dan pelatihan kesehatan pada umumnya masih belum memadai. Namun kontribusi pengeluaran pemerintah untuk kesehatan masih kecil. Masalah strategis SDM Kesehatan yang dihadapi dewasa ini dan di masa depan adalah: a) Pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan belum dapat memenuhi kebutuhan SDM untuk pembangunan kesehatan.2%. yaitu 38% dari total pembiayaan kesehatan. Selain itu.000 penduduk bila dibandingkan dengan negara lain di ASEAN. seperti Filipina 58 per 100.000 pada tahun 2007.kesehatan terus meningkat. c) Masih kurang serasinya antara kebutuhan dan pengadaan berbagai jenis SDM Kesehatan. 9 . Jumlah dokter Indonesia masih termasuk rendah.000 penduduk dan Malaysia 70 per 100. distribusi tenaga kesehatan masih belum merata.4 juta jiwa atau 34. d) Dalam pendayagunaan SDM Kesehatan. Cakupan jaminan pemeliharaan kesehatan sekitar 46. baik jumlah. maupun kualitas tenaga kesehatan yang dibutuhkan.5% dari keseluruhan penduduk pada tahun 2008 yang sebagian besar berasal dari bantuan sosial untuk program jaminan kesehatan masyarakat miskin sebesar 76. yaitu 19 per 100. jenis. 3. Sumber Daya Manusia Kesehatan Upaya pemenuhan kebutuhan Sumber Daya Manusia (SDM) Kesehatan belum memadai. b) Perencanaan kebijakan dan program SDM Kesehatan masih lemah dan belum didukung sistem informasi SDM Kesehatan yang memadai. Proporsi pembiayaan kesehatan yang bersumber dari pemerintah belum mengutamakan upaya pencegahan dan promosi kesehatan.

Daftar Obat Esensial Nasional tersebut telah disusun sejak tahun 1980 dan direvisi secara berkala sampai tahun 2008. masih banyak pengobatan yang dilakukan tidak sesuai dengan formularium. Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) digunakan sebagai dasar penyediaan obat di pelayanan kesehatan publik. Lebih dari 90% obat yang diresepkan di Puskesmas merupakan obat esensial generik. sistem penghargaan. 4. alat kesehatan. dan sanksi belum sebagaimana mestinya. sementara itu bahan baku impor mencapai 85% dari kebutuhan. Di Indonesia terdapat 9. dan baru 300 jenis tanaman yang telah digunakan sebagai bahan baku.600 jenis tanaman berpotensi mempunyai efek pengobatan. Sediaan Farmasi. dan makanan telah dilakukan secara komprehensif. dan Makanan Pasar sediaan farmasi masih didominasi oleh produksi domestik.pemerataan SDM Kesehatan berkualitas masih kurang. namun masih banyak kendala yang dihadapi. Sementara itu pemerintah telah berusaha untuk menurunkan harga obat. Alat Kesehatan. serta e) Pembinaan dan pengawasan SDM Kesehatan serta dukungan sumber daya SDM Kesehatan masih kurang. Upaya perlindungan masyarakat terhadap penggunaan sediaan farmasi. Namun tidak diikuti 10 . Pengembangan karier. Penggunaan obat rasional belum dilaksanakan di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan. Regulasi untuk mendukung SDM Kesehatan masih terbatas.

Sistem Informasi Kesehatan Nasional (Siknas) yang berbasis fasilitas sudah mencapai tingkat kabupaten/kota namun belum dimanfaatkan. Demikian juga dengan banyak kebijakan yang belum disusun berbasis bukti dan belum bersinergi baik perencanaan di tingkat Pusat dan atau di tingkat Daerah. dan apotek kurang dari 47%. Data dan informasi kesehatan untuk perencanaan tidak tersedia tepat waktu. dan bermutu sesuai dengan prinsip-prinsip tata pemerintahan yang baik (good governance). Hal ini menunjukkan bahwa konsep obat esensial generik belum sepenuhnya diterapkan. jenis. 11 . Regulasi bidang kesehatan pada saat ini belum cukup. 5. Hasil penelitian kesehatan belum banyak dimanfaatkan sebagai dasar perumusan kebijakan dan perencanaan program. efisien. Hukum kesehatan belum tertata secara sistematis dan belum mendukung pembangunan kesehatan secara utuh.oleh sarana pelayanan kesehatan lainnya. Surveilans belum dilaksanakan secara menyeluruh. Manajemen dan Informasi Kesehatan Perencanaan pembangunan kesehatan antara Pusat dan Daerah belum sinkron. Begitu pula dengan perencanaan jangka panjang/menengah masih belum menjadi acuan dalam menyusun perencanaan jangka pendek. rumah sakit swasta 49%. seperti: di rumah sakit pemerintah kurang dari 76%. baik jumlah. Pemerintah belum sepenuhnya dapat menyelenggarakan pembangunan kesehatan yang efektif. maupun efektifitasnya. Sistem informasi kesehatan menjadi lemah setelah menerapkan kebijakan desentralisasi.

Hingga tahun 2008 sudah terbentuk 47.3% pada tahun 2007. Pemerintah telah memberikan pula bantuan stimulan untuk pengembangan 229 Musholla Sehat. Sampai dewasa ini dirasakan bahwa masyarakat masih lebih banyak sebagai objek dari pada sebagai subjek pembangunan kesehatan. Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat lainnya yang terus berkembang pada tahun 2008 adalah Posyandu yang telah berjumlah 269. PERUBAHAN LINGKUNGAN STRATEGIS Perkembangan global.111 Desa Siaga dimana terdapat 47.6%). tetapi pemanfaatan dan kualitasnya masih rendah. dan tidak ada Posyandu/Poskesdes (24%). regional. seperti Posyandu dan Poskesdes semakin meningkat. 12 . Jumlah UKBM.6. termasuk pembangunan kesehatannya. B. Hasil Riskesdas tahun 2007 menunjukkan bahwa alasan utama rumah tangga tidak memanfaatkan Posyandu/Poskesdes walaupun sebenarnya memerlukan adalah karena: pelayanannya tidak lengkap (49.111 buah Pos Kesehatan Desa (Poskesdes). lokasinya jauh (26%). Di samping itu. namun masih jauh dari sasaran yang harus dicapai pada tahun 2009. yakni dengan target 60%. Hal ini merupakan faktor eksternal utama yang mempengaruhi proses pembangunan kesehatan. dan nasional yang dinamis akan mempengaruhi pembangunan suatu negara. Pemberdayaan Masyarakat Rumah tangga yang telah melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat meningkat dari 27% pada tahun 2005 menjadi 36.202 buah dan 967 Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren).

demokratisasi. dan lingkungan. perlu menjadi perhatian dalam pembangunan kesehatan. dan lokal. sehingga mengharuskan adanya suatu sistem kesehatan yang responsif. sebagai contoh: banyaknya peserta Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang menggunakan isu kesehatan sebagai janji politik. 1. seperti desentralisasi. nasional. regional. dan transportasi yang mempunyai konsekuensi pada fungsi suatu negara dalam sistem pengelolaannya. Tingkat Nasional dan Lokal Pada tingkat nasional terjadi proses politik. yang mencakup ekonomi. serta komitmen Nasional. sosial. dan politik kesehatan yang berdampak pada pembangunan kesehatan. 2.Faktor lingkungan strategis dapat dibedakan atas tatanan global. Proses ini dipicu dan dipercepat dengan berkembangnya teknologi. politik. jejaring riset Asia Pasifik. teknologi. budaya. informasi. serta dapat dijadikan peluang atau kendala bagi sistem kesehatan di Indonesia. adaptasi perubahan iklim (climate change). ASEAN Charter. Tingkat Global dan Regional Globalisasi merupakan suatu perubahan interaksi manusia secara luas. Era globalisasi dapat menjadi peluang sekaligus tantangan pembangunan kesehatan. seperti revitalisasi pelayanan kesehatan dasar dan pengarus-utamaan gender. Komitmen Internasional. yang sampai saat ini belum sepenuhnya dilakukan persiapan dan langkah-langkah yang menjadikan peluang dan mengurangi dampak yang merugikan. seperti: MDGs. 13 .

sebagian besar wilayah Indonesia rawan bencana. namun dalam kenyataannya belum sepenuhnya berjalan dan bahkan memunculkan euforia di daerah yang mengakibatkan pembangunan kesehatan terkendala. Secara geografis. Oleh karena itu perlu dilakukan berbagai terobosan/ pendekatan terutama pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan kesehatan yang memberikan penguatan kapasitas dan surveilans berbasis masyarakat. termasuk akibat pembangunan yang tidak berwawasan kesehatan yang memerlukan upaya pemecahan melalui berbagai terobosan dan pendekatan. dan masih lemahnya penegakan hukum menyebabkan berbagai hambatan dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan. Di bidang lingkungan. di sisi lain situasi sosial politik yang berkembang sering menimbulkan konflik sosial yang pada akhirnya memunculkan berbagai masalah kesehatan.Proses desentralisasi yang semula diharapkan mampu memberdayakan daerah dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan. diantaranya melalui pengembangan Desa Siaga. sementara itu kesadaran hukum masyarakat masih rendah. 14 . Perangkat regulasi dan hukum yang terkait dengan kesehatan masih belum memadai. mekanisme mitigasi serta adaptasi dan pengenalan resiko akan perubahan iklim menuntut kegiatan kerjasama antara pihak lingkungan dengan pihak kesehatan dan seluruh sektor terkait.

dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar peningkatan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya dapat terwujud. 15 . DASAR PEMBANGUNAN KESEHATAN Sesuai dengan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Jangka Panjang Pembangunan Nasional (RPJP-N) Tahun 2005-2025. maka setiap pelaku pembangunan kesehatan harus taat pada asas yang menjadi landasan bagi setiap program dan kegiatan pembangunan kesehatan. kemauan. Dalam Undang-undang tersebut. A. Tenaga kesehatan perlu berbudi luhur. Perikemanusian Pembangunan kesehatan harus berlandaskan pada prinsip perikemanusiaan yang dijiwai. pembangunan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan kesadaran. digerakan dan dikendalikan oleh keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. dan selalu menerapkan prinsip perikemanusiaan dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan. memegang teguh etika profesi.BAB III ASAS SISTEM KESEHATAN NASIONAL Sebagaimana dinyatakan dalam Bab I bahwa Sistem Kesehatan Nasional (SKN) adalah bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan. Dengan demikian untuk menjamin efektifitas SKN. dinyatakan bahwa pembangunan kesehatan diselenggarakan dengan mendasarkan pada: 1.

masyarakat. agama. dan bertanggungjawab untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan perorangan. 4. tanpa memandang suku. Adil dan Merata Dalam pembangunan kesehatan setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Upaya kesehatan yang bermutu diselenggarakan dengan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta harus lebih mengutamakan pendekatan peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit. Pembangunan kesehatan dilaksanakan dengan berlandaskan pada kepercayaan atas kemampuan dan kekuatan sendiri serta kepribadian bangsa dan semangat solidaritas sosial serta gotongroyong. Pengutamaan dan Manfaat Pembangunan kesehatan diselenggarakan dengan mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan perorangan atau golongan. Pemberdayaan dan Kemandirian Setiap orang dan masyarakat bersama dengan pemerintah berperan. sehingga secara berhasil guna dan bertahap dapat 16 . tumbuh dan kembang. dan status sosial ekonominya. keluarga. golongan. Setiap orang berhak memperoleh pelayanan kesehatan.2. serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup. 3. berkewajiban. Pembangunan kesehatan harus mampu membangkitkan dan mendorong peran aktif masyarakat. dan lingkungannya. Pembangunan kesehatan diselenggarakan berlandaskan pada dasar kemitraan atau sinergisme yang dinamis dan tata penyelenggaraan yang baik.

dan status sosial ekonomi. Hak Asasi Manusia (HAM) Sesuai dengan tujuan pembangunan nasional dalam Pembukaan Undang-undang Dasar 1945. yaitu: a) Berpihak pada Rakyat. dan e) Transparansi serta Akuntabilitas. dan masyarakat miskin. jenis kelamin. d) Integritas yang Tinggi. yaitu untuk meningkatkan kecerdasan bangsa dan kesejahteraan rakyat. Undangundang Dasar 1945 pasal 28 H ayat 1 antara lain menggariskan bahwa setiap rakyat berhak atas pelayanan kesehatan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya tanpa membedakan suku. manusia usia lanjut. golongan. anak. Pembangunan kesehatan diarahkan agar memberikan perhatian khusus pada penduduk rentan.memberi manfaat yang sebesar-besarnya bagi peningkatan derajat kesehatan masyarakat. bayi. maka setiap penyelenggaraan SKN berdasarkan pada prinsip hak asasi manusia. beserta lingkungannya. b) Bertindak Cepat dan Tepat. B. Setiap anak dan perempuan berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. SKN perlu mengacu pada dasardasar sebagai berikut: 1. c) Kerjasama Tim. 17 . agama. DASAR SKN Dalam penyelenggaraan. antara lain: ibu. Perlu diupayakan pembangunan kesehatan secara terintegrasi antara Pusat dan Daerah dengan mengedepankan nilai-nilai pembangunan kesehatan.

diperlukan komitmen yang tinggi. Sinergisme dan Kemitraan yang Dinamis Sistem Kesehatan Nasional akan berfungsi baik untuk mencapai tujuannya apabila terjadi Koordinasi. Kemitraan tersebut diwujudkan dengan mengembangkan jejaring yang berhasil guna dan berdaya guna. dan kerjasama yang baik dari para pelaku untuk menghasilkan tata penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang baik (good governance). Dengan tatanan ini. maupun dengan sistem serta subsistem lain di luar SKN. berkepastian hukum. 18 . dukungan. Komitmen dan Tata Pemerintahan yang Baik (Good Governance) Agar SKN berfungsi baik.2. termasuk swasta dengan mendayagunakan potensi yang dimiliki masing-masing. Sinkronisasi. Pembangunan kesehatan harus diselenggarakan dengan menggalang kemitraan yang dinamis dan harmonis antara pemerintah dan masyarakat. seperti pembangunan prasarana. Integrasi. 3. terbuka (transparan). serta bertanggung-jawab dan bertanggung-gugat (akuntabel). agar diperoleh sinergisme yang lebih mantap dalam rangka mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. antar subsistem SKN. dan Sinergisme (KISS). baik antar pelaku. keuangan dan pendidikan perlu berperan bersama dengan sektor kesehatan untuk mencapai tujuan nasional. maka sistem atau seluruh sektor terkait. rasional. Pembangunan kesehatan diselenggarakan secara demokratis. profesional.

agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan pembangunan kesehatan serta kesamaan dalam memperoleh manfaat pembangunan kesehatan. Antisipatif dan Pro Aktif Setiap pelaku pembangunan kesehatan harus mampu melakukan antisipasi atas perubahan yang akan terjadi. Dukungan Regulasi Dalam menyelenggarakan SKN. Dengan mengacu pada antisipasi tersebut. pelaku pembangunan kesehatan perlu lebih proaktif terhadap perubahan lingkungan strategis baik yang bersifat internal maupun eksternal. yang di dasarkan pada pengalaman masa lalu atau pengalaman yang terjadi di negara lain. 5. setiap penyusunan rencana kebijakan dan program serta dalam pelaksanaan program kesehatan harus menerapkan kesetaraan dan keadilan gender. Kesetaraan gender dalam pembangunan kesehatan adalah kesamaan kondisi bagi laki-laki dan perempuan untuk memperoleh kesempatan dan hak-haknya sebagai manusia. 19 .4. 6. diperlukan dukungan regulasi berupa adanya berbagai peraturan perundangan yang mendukung penyelenggaraan SKN dan penerapannya (law enforcement). Responsif Gender Dalam penyelenggaraan SKN. Keadilan gender adalah suatu proses untuk menjadi adil terhadap laki-laki dan perempuan dalam pembangunan kesehatan.

20 . walaupun dalam prakteknya. yang dapat diukur secara kuantitatif dari meningkatnya peran serta masyarakat dan secara kualitatif dari meningkatnya kualitas hidup jasmani dan rohani. Kearifan Lokal Penyelenggaraan SKN di daerah harus memperhatikan dan menggunakan potensi daerah yang secara positif dapat meningkatkan hasil guna dan daya guna pembangunan kesehatan.7. dapat disesuaikan dengan potensi dan kondisi serta kebutuhan masyarakat di daerah terutama dalam penyediaan pelayanan kesehatan dasar bagi rakyat. Dengan demikian kebijakan pembangunan daerah di bidang kesehatan harus sejalan dengan SKN.

sehingga terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Kedudukan SKN dalam Sistem Nasional Lainnya Terwujudnya keadaan sehat dipengaruhi oleh berbagai faktor yang tidak hanya menjadi tanggung-jawab sektor kesehatan. baik masyarakat. KEDUDUKAN SKN 1. maupun pemerintah secara sinergis. swasta. yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum. Dalam penyelenggaraan pembangunan 21 . Dalam kaitan ini. melainkan juga tanggung-jawab berbagai sektor terkait. perdamaian. Suprasistem SKN Suprasistem SKN adalah Ketahanan Nasional. B. TUJUAN SKN Tujuan SKN adalah terselenggaranya pembangunan kesehatan oleh semua potensi bangsa. mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. berhasil guna dan berdaya guna. SKN bersama dengan berbagai sistem nasional lainnya diarahkan untuk mencapai Tujuan Bangsa Indonesia seperti yang tercantum dalam Pembukaan Undangundang Dasar 1945. undangundang yang berkaitan dengan kesehatan merupakan kebijakan strategis dalam pembangunan kesehatan. 2.BAB IV BENTUK POKOK SISTEM KESEHATAN NASIONAL A. abadi dan keadilan sosial.

3. termasuk Swasta Sistem Keberhasilan pembangunan kesehatan sangat ditentukan oleh dukungan sistem nilai dan budaya masyarakat yang secara bersama terhimpun dalam berbagai sistem kemasyarakatan. Dengan demikian pelaksanaan pembangunan nasional harus berwawasan kesehatan dengan mengikutsertakan seluruh sektor terkait kesehatan sejak awal perencanaan agar dampak pembangunan yang dilakukan tidak merugikan derajat kesehatan masyarakat secara langsung maupun tidak langsung dalam jangka pendek maupun jangka panjang. termasuk potensi swasta berperan aktif sebagai mitra dalam pembangunan kesehatan yang dilaksanakan sesuai SKN. Kedudukan SKN terhadap Penyelenggaraan Pembangunan Kesehatan di Daerah Dalam pembangunan kesehatan. sebagai sistem kemasyarakatan yang ada. SKN dapat bersinergis secara dinamis dengan berbagai sistem nasional lainnya. SKN merupakan acuan bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan di daerah. 22 . Dalam kaitan ini SKN dipergunakan sebagai acuan bagi masyarakat dalam berbagai upaya kesehatan. Sistem Perekonomian Nasional. seperti: Sistem Pendidikan Nasional. Di lain pihak. SKN perlu menjadi acuan bagi sektor lain. Sistem Ketahanan Pangan Nasional. Sistem Hankamnas. Kedudukan SKN terhadap berbagai Kemasyarakatan. dan Sistem nasional lainnya. 4.kesehatan. Dalam penyelenggaraan pembangunan nasional.

SUBSISTEM SKN Pendekatan manajemen kesehatan dewasa ini dan kecenderungannya di masa depan adalah kombinasi dari pendekatan: 1) Sistem. Subsistem Upaya Kesehatan Untuk dapat mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya perlu diselenggarakan berbagai upaya kesehatan dengan menghimpun seluruh potensi bangsa Indonesia.Keberhasilan pembangunan kesehatan juga ditentukan oleh peran aktif swasta. pengobatan. Untuk keberhasilan pembangunan kesehatan perlu digalang kemitraan yang setara. Upaya kesehatan diselenggarakan dengan upaya peningkatan. dan pemulihan. maka subsistem SKN meliputi: 1. terbuka. dan 3) Sinergi yang dinamis. sehingga sejalan dengan tujuan pembangunan nasional yang berwawasan kesehatan. 23 . pencegahan. C. Sistem Kesehatan Nasional dapat mewarnai potensi swasta. Dengan mengacu terutama pada kedudukan SKN diatas dan pencapaian tujuan nasional. Dalam kaitan ini potensi swasta merupakan bagian integral dari SKN. dan saling menguntungkan dengan berbagai potensi swasta. 2) Kontingensi. Mengacu pada substansi perkembangan penyelenggaraan pembangunan kesehatan dewasa ini serta pendekatan manajemen kesehatan tersebut diatas. dalam Gambar-1 dikemukakan alur pikir dari Rencana Pembangunan Kesehatan dan SKN termaksud.

jenis dan kualitasnya. Pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan meliputi: 1) 24 . sedangkan untuk pelayanan kesehatan perorangan pembiayaannya bersifat private. kecuali pembiayaan untuk masyarakat miskin dan tidak mampu menjadi tanggung-jawab pemerintah. SKN juga memberikan fokus penting pada pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan guna menjamin ketersediaan dan pendistribusian sumber daya manusia kesehatan. Oleh karena itu. organisasi masyarakat. serta terdistribusi secara adil dan merata. pembiayaan kesehatan yang adekuat. Pemerintah Daerah. yakni: Pemerintah. Subsistem Sumber Daya Manusia Kesehatan Sebagai pelaksana upaya kesehatan. dan masyarakat itu sendiri. dan berkesinambungan memegang peran yang amat vital untuk penyelenggaraan pelayanan kesehatan dalam rangka mencapai berbagai tujuan pembangunan kesehatan. Oleh karena itu. sesuai tututan kebutuhan pembangunan kesehatan. terintegrasi. diperlukan sumber daya manusia kesehatan yang mencukupi dalam jumlah. stabil. Pembiayaan pelayanan kesehatan perorangan diselenggarakan melalui jaminan pemeliharaan kesehatan dengan mekanisme asuransi sosial yang pada waktunya diharapkan akan mencapai universal coverage sesuai dengan Undang-undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). Pembiayaan pelayanan kesehatan masyarakat merupakan public good yang menjadi tanggung-jawab pemerintah. Subsistem Pembiayaan Kesehatan Pembiayaan kesehatan bersumber dari berbagai sumber. 3. swasta.2.

pemerataan. 4. serta transparansi dari penyelenggaraan SKN tersebut. dan informasi kesehatan. Dalam kaitan ini peranan informasi kesehatan sangat penting. Untuk menggerakkan pembangunan kesehatan secara berhasil guna dan berdaya guna. terutama obat esensial. 5. Subsistem Manajemen dan Informasi Kesehatan Subsistem ini meliputi: kebijakan kesehatan. penggunaan obat yang rasional. serta penyerasian berbagai subsistem SKN dan efektif. integrasi. 3) pendayagunaan SDM Kesehatan. hukum kesehatan. efisien. serta upaya kemandirian di bidang kefarmasian melalui pemanfaatan sumber daya dalam negeri. 2) pengadaan yang meliputi pendidikan tenaga kesehatan dan pelatihan SDM Kesehatan. administrasi kesehatan. dan makanan yang beredar. perlindungan masyarakat dari penggunaan yang salah dan penyalahgunaan obat. dan 4) pembinaan serta pengawasan SDM Kesehatan. dan diseminasi data dan informasi. dan keterjangkauan obat. validasi. 3) 25 . analisa. sinkronisasi. Alat Kesehatan. dan Makanan Subsistem kesehatan ini meliputi berbagai kegiatan untuk menjamin: aspek keamanan. 2) Manajemen sistem informasi. termasuk peningkatan kesejahteraannya. ketersediaan.perencanaan kebutuhan sumber daya manusia yang diperlukan. Subsistem Sediaan Farmasi. alat kesehatan. diperlukan manajemen kesehatan. Dari segi pengadaan data dan informasi dapat dikelompokkan kegiatannya sebagai berikut: 1) Pengumpulan. Peranan manajemen kesehatan adalah koordinasi. khasiat/ kemanfaatan dan mutu sediaan farmasi.

6. Masyarakat termasuk swasta bukan semata-mata sebagai sasaran pembangunan kesehatan. Oleh karenanya pemberdayaan masyarakat menjadi sangat penting. Dalam pemberdayaan masyarakat meliputi pula upaya peningkatan lingkungan sehat oleh masyarakat sendiri. Upaya pemberdayaan masyarakat akan berhasil pada hakekatnya bila kebutuhan dasar masyarakat sudah terpenuhi. Keterkaitan tersebut adalah sebagai berikut: 1. Subsistem Pemberdayaan Masyarakat Sistem Kesehatan Nasional akan berfungsi optimal apabila ditunjang oleh pemberdayaan masyarakat. Berbagai upaya tersebut memerlukan dukungan pembiayaan. TATA HUBUNGAN LINGKUNGANNYA ANTAR SUBSISTEM DAN Penyelenggaraan SKN memerlukan keterkaitan antar unsur-unsur SKN sebagai suatu tata hubungan yang efektif. SDM Kesehatan. Subsistem Upaya Kesehatan diselenggarakan untuk mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.Dukungan kegiatan dan sumber daya untuk unit-unit yang memerlukan. dan 4) Pengembangan untuk peningkatan mutu sistem informasi kesehatan. melainkan juga sebagai subjek atau penyelenggara dan pelaku pembangunan kesehatan. D. Pemberdayaan masyarakat dan upaya kesehatan pada hakekatnya merupakan fokus dari pembangunan kesehatan. agar masyarakat termasuk swasta dapat mampu dan mau berperan sebagai pelaku pembangunan kesehatan. ketersediaan sediaan 26 . Untuk penyelenggaraan subsistem tersebut diperlukan berbagai upaya dengan menghimpun seluruh potensi bangsa Indonesia.

3. terjangkau. serta termanfaatkan secara berhasil guna dan berdaya guna. dan makanan. alat kesehatan dan makanan. dan termanfaatkan secara berhasil guna dan berdaya guna untuk terselenggaranya upaya kesehatan secara merata. Subsistem pembiayaan kesehatan diselenggarakan guna menghasilkan ketersediaan pembiayaan kesehatan dengan jumlah yang mencukupi. alat kesehatan. 4. teralokasi secara adil. alat kesehatan. dan makanan diselenggarakan guna menjamin keamanan. Tersedianya tenaga kesehatan yang mencukupi dan berkualitas juga akan menunjang terselenggaranya subsistem pembiayaan kesehatan. subsistem sediaan farmasi. dan mutu semua produk sediaan farmasi. subsistem sediaan farmasi. serta subsistem pemberdayaan masyarakat. manajemen dan informasi kesehatan. khasiat. subsistem manajemen dan informasi kesehatan. dan makanan. alat kesehatan. Subsistem sediaan farmasi.farmasi. alat kesehatan. terdistribusi secara adil. serta subsistem pemberdayaan masyarakat. terutama obat esensial. menjamin ketersediaan. 2. subsistem manajemen dan informasi kesehatan. manfaat. dan makanan yang beredar. pemerataan. serta pemberdayaan masyarakat. 27 . dan keterjangkauan obat. dan bermutu bagi seluruh masyarakat. Tersedianya pembiayaan yang memadai juga akan menunjang terselenggaranya subsistem sumber daya manusia kesehatan. Subsistem sumber daya manusia kesehatan diselenggarakan guna menghasilkan tenaga kesehatan yang bermutu dalam jumlah yang mencukupi. sehingga upaya kesehatan dapat diselenggarakan sesuai dengan kebutuhan seluruh lapisan masyarakat.

subsistem sumber daya manusia kesehatan. Subsistem pemberdayaan masyarakat diselenggarakan guna menghasilkan individu. informasi kesehatan. Dengan manajemen kesehatan yang berhasil guna dan berdaya guna dapat diselenggarakan subsistem upaya kesehatan. alat kesehatan. dan masyarakat umum yang mampu berperan aktif dalam penyelenggaraan upaya kesehatan. alat kesehatan. 5. subsistem sediaan farmasi. dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. dan hukum kesehatan yang memadai dan mampu menunjang penyelenggaraan upaya kesehatan secara berhasil guna dan berdaya guna. manajemen dan informasi kesehatan. administrasi kesehatan. sebagai suatu kesatuan yang terpadu dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. alat kesehatan. pembiayaan kesehatan. serta penggunaan obat yang rasional. Masyarakat yang berdaya akan berperan aktif dalam penyelenggaraan subsistem pembiayaan kesehatan. sehingga upaya kesehatan dapat diselenggarakan dengan berhasil guna dan berdaya guna. 28 . serta subsistem pemberdayaan masyarakat. subsistem pembiayaan kesehatan. Subsistem sediaan farmasi. 6. subsistem sumber daya manusia kesehatan.perlindungan masyarakat dari penggunaan yang salah dan penyalahgunaan obat. Subsistem manajemen dan informasi kesehatan diselenggarakan guna menghasilkan fungsi-fungsi kebijakan kesehatan. subsistem sediaan farmasi. dan makanan saling terkait dengan subsistem upaya kesehatan. dan makanan. serta pemberdayaan masyarakat. kelompok. sumber daya kesehatan.

dan makanan. maupun global. ekonomi. yang meliputi: ideologi. dan pertahanan keamanan. nasional. mengingat pembangunan kesehatan tidak dapat mencapai tujuannya tanpa memperhatikan dengan seksama interaksi dengan lingkungan strategis tersebut. politik. hubungan SKN dengan lingkungan strategisnya sangat penting artinya. Untuk memperoleh kejelasan secara umum substansi berbagai unsur-unsur pembangunan kesehatan dan subsistem SKN serta tata hubungannya dengan lingkungan strategis yang lebih spesifik dan penting yang mempengaruhi SKN dapat dilihat pada skema di Gambar-2. serta subsistem manajemen dan informasi kesehatan. Dalam kaitan ini. Lingkungan tersebut terdapat di tingkat lokal. Selain itu. regional. sosial budaya. 29 . lingkungan termaksud dapat sebagai peluang maupun kendala.

yang diselenggarakan guna menjamin tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. baik pelayanan kesehatan konvensional maupun pelayanan kesehatan yang terdiri dari pengobatan tradisional dan komplementer melalui pendidikan dan pelatihan dengan selalu mengutamakan keamanan dan efektifitas yang tinggi. Tujuan Tujuan dari penyelenggaraan subsistem upaya kesehatan adalah terselenggaranya upaya kesehatan yang adil.BAB V CARA PENYELENGGARAAN SISTEM KESEHATAN NASIONAL A. pencegahan. Upaya Kesehatan Pelayanan kesehatan meliputi peningkatan. terpadu. terjangkau. SUBSISTEM UPAYA KESEHATAN 1. dan bermutu untuk menjamin terselenggaranya pembangunan kesehatan guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. pengobatan. dan berkualitas. pengobatan. dan pemulihan. Pengertian Subsistem Upaya Kesehatan adalah bentuk dan cara penyelenggaraan upaya kesehatan yang paripurna. 2. 30 . meliputi upaya peningkatan. merata. Unsur-unsur a. 3. pencegahan. dan pemulihan.

termasuk swasta. dan masyarakat miskin. bayi. manusia usia lanjut. Pembinaan dan pengawasan upaya kesehatan dilakukan secara berjenjang melalui standarisasi. akreditasi. 31 . lisensi. termasuk fasilitas pelayanan kesehatan. b. antara lain: ibu. biaya. c. sediaan farmasi dan alat kesehatan. dan penegakan hukum yang dilakukan oleh pemerintah bersama dengan organisasi profesi dan masyarakat. anak. sertifikasi. pencegahan. Fasilitas pelayanan kesehatan merupakan alat dan atau tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan.Upaya kesehatan diutamakan pada berbagai upaya yang mempunyai daya ungkit tinggi dalam pencapaian sasaran pembangunan kesehatan utamanya penduduk rentan. Sumber Daya Upaya Kesehatan Sumber daya upaya kesehatan terdiri dari SDM kesehatan. sarana dan prasarana. maupun pemulihan yang dilakukan oleh pemerintah dan atau masyarakat. serta manajemen dan sistem informasi kesehatan yang memadai guna terselenggaranya upaya kesehatan. baik peningkatan. pengobatan. Pembinaan dan Pengawasan Upaya Kesehatan Pelayanan kesehatan harus diberikan berdasarkan standar pelayanan yang telah ditetapkan oleh pemerintah dengan mempertimbangkan masukan dari organisasi profesi.

terjamin keamanannya bagi penerima dan pemberi upaya. Bermutu. 4. Pelaksanaan penelitian dan pengembangan didasarkan pada masalah kesehatan prioritas. c. dan Sesuai Kebutuhan Pelayanan kesehatan bagi masyarakat harus berkualitas. serta mampu menghadapi tantangan global dan regional. 32 . serta aspek terkait lainnya dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sesuai. Prinsip a. pengobatan hingga pemulihan. Penelitian dan Pengembangan Upaya Kesehatan Penelitian dan pengembangan dilakukan utamanya untuk mendukung peningkatan mutu upaya kesehatan yang berhasil guna dan berdaya guna. b. dapat diterima masyarakat. pencegahan. efektif dan sesuai. serta rujukan antar tingkatan upaya. sumber daya kesehatan. Aman. Berkesinambungan dan Paripurna Upaya kesehatan bagi masyarakat diselenggarakan secara berkesinambungan dan paripurna meliputi upaya peningkatan. Adil dan Merata Pemerintah wajib menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan yang berkeadilan dan merata untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di bidang kesehatan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan di luar negeri dalam kondisi tertentu.d.

Upaya kesehatan dilaksanakan dalam tingkatan upaya sesuai dengan kebutuhan medik dan kesehatan. Teknologi tepat guna berasas pada kesesuaian kebutuhan dan tidak bertentangan dengan etika. termasuk intelegensia dan sosial. dan nilai agama. mental. e. g. dilakukan secara cepat dengan ketepatan/presisi yang tinggi. Terdapat tiga tingkatan upaya. Teknologi Tepat Guna Upaya kesehatan menggunakan teknologi tepat guna yang berbasis bukti. bukan status sosial ekonomi dan tidak membeda-bedakan suku/ras. dengan tetap memperhatikan pengarus-utamaan gender. f. budaya dan agama. Upaya Kesehatan Upaya kesehatan mencakup kesehatan fisik. upaya kesehatan sekunder. Penyelenggaraan a. moral. Terjangkau Ketersediaan dan pembiayaan pelayanan kesehatan yang bermutu harus terjangkau oleh seluruh masyarakat. Bekerja dalam Tim secara Cepat dan Tepat Upaya kesehatan dilakukan secara kerjasama tim. melibatkan semua pihak yang kompeten.d. yaitu upaya kesehatan primer. 5. Non diskriminatif Setiap penduduk harus mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai kebutuhan medis. dan 33 .

teknologi. terpadu. dan paripurna melalui sistem rujukan. Rujukan dibagi dalam rujukan medik yang berkaitan dengan pengobatan dan pemulihan berupa pengiriman pasien (kasus). Rujukan upaya kesehatan adalah pelimpahan wewenang dan tanggung-jawab secara timbal balik.upaya kesehatan tersier. 34 . Upaya kesehatan sekunder dan tersier adalah upaya kesehatan tingkat rujukan maupun rujukan tingkat lanjut. spesimen. sedang rujukan kesehatan dikaitkan dengan upaya pencegahan dan peningkatan kesehatan berupa sarana. 1) Upaya Kesehatan Primer Upaya Kesehatan Primer terdiri dari pelayanan kesehatan perorangan primer dan pelayanan kesehatan masyarakat primer. Upaya kesehatan diselenggarakan secara berkesinambungan. Upaya kesehatan primer adalah upaya kesehatan dimana terjadi kontak pertama secara perorangan atau masyarakat dengan pelayanan kesehatan melalui mekanisme rujukan timbal-balik. dan operasional. dan pengetahuan tentang penyakit. termasuk penanggulangan bencana dan pelayanan gawat darurat. baik horisontal dan vertikal maupun struktural dan fungsional terhadap kasus penyakit atau masalah penyakit atau permasalahan kesehatan.

Pelayanan kesehatan perorangan primer diselenggarakan oleh tenaga kesehatan yang dibutuhkan dan mempunyai kompetensi seperti yang ditetapkan sesuai ketentuan berlaku serta dapat dilaksanakan di rumah. serta fasilitas kesehatan lainnya milik pemerintah. Prosedur dan Kriteria (NSPK) pelayanan yang ditetapkan oleh Pemerintah dengan memperhatikan masukan dari organisasi profesi dan masyarakat. Pelayanan kesehatan perorangan primer diselenggarakan berdasarkan Norma. tempat kerja. Dilaksanakan dengan dukungan pelayanan kesehatan perorangan sekunder dalam sistem rujukan yang timbal balik. Pelayanan kesehatan perorangan primer dapat diselenggarakan sebagai pelayanan 35 . pemulihan tanpa mengabaikan upaya peningkatan dan pencegahan. Sstandar. Pelayanan kesehatan perorangan primer memberikan penekanan pada pelayanan pengobatan. maupun swasta. maupun fasilitas kesehatan perorangan primer baik Puskesmas dan jaringannya. termasuk di dalamnya pelayanan kebugaran dan gaya hidup sehat (healthy life style).a) Pelayanan Kesehatan Perorangan Primer (PKPP) Pelayanan kesehatan perorangan primer adalah pelayanan kesehatan dimana terjadi kontak pertama secara perorangan sebagai proses awal pelayanan kesehatan. masyarakat.

yang bergerak (ambulatory) atau menetap; dapat dikaitkan dengan tempat kerja, seperti klinik perusahaan; dan dapat disesuaikan dengan lingkungan atau kondisi tertentu (kesehatan matra, seperti: kesehatan haji, kesehatan kelautan, kesehatan penerbangan, kesehatan wisata). Pemerintah wajib menyediakan pelayanan kesehatan perorangan primer di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia sesuai kebutuhan, terutama bagi masyarakat miskin, daerah terpencil, perbatasan, pulau-pulau terluar dan terdepan, serta yang tidak diminati swasta. Pembiayaan pelayanan kesehatan perorangan primer untuk penduduk miskin dibiayai oleh pemerintah, sedangkan golongan ekonomi lainnya dibiayai dalam sistem pembiayaan yang diatur oleh pemerintah. Dalam pelayanan kesehatan perorangan termasuk pula pelayanan kesehatan berbasis masyarakat dalam bentuk seperti Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) dan pengobatan tradisional serta pengobatan alternatif yang secara ilmiah telah terbukti terjamin keamanan dan khasiatnya. b) Pelayanan Kesehatan Masyarakat Primer (PKMP) Pelayanan kesehatan masyarakat primer adalah pelayanan peningkatan dan pencegahan tanpa mengabaikan 36

pengobatan dan pemulihan dengan sasaran keluarga, kelompok, dan masyarakat. Penyelenggaraan pelayanan kesehatan masyarakat primer menjadi tanggung-jawab Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang pelaksanaan operasionalnya dapat didelegasikan kepada Puskesmas. Masyarakat termasuk swasta dapat menyelenggarakan pelayanan kesehatan masyarakat primer sesuai peraturan yang berlaku dan berkerjasama dengan pemerintah. Pembiayaan pelayanan kesehatan masyarakat primer ditanggung oleh pemerintah bersama masyarakat, termasuk swasta. Pemerintah wajib melaksanakan dan membiayai pelayanan kesehatan masyarakat primer yang berhubungan dengan prioritas pembangunan kesehatan melalui kegiatan perbaikan lingkungan, peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit dan kematian serta paliatif. Pelaksanaan pelayanan kesehatan masyarakat primer didukung kegiatan lainnya, seperti surveilans, pencatatan, dan pelaporan. Pemerintah dapat membentuk fasilitas kesehatan yang secara khusus ditugaskan untuk melaksanakan upaya kesehatan masyarakat sesuai keperluan. Penyelenggaraan pelayanan kesehatan masyarakat primer mendukung upaya 37

kesehatan berbasis masyarakat dan didukung oleh pelayanan kesehatan masyarakat sekunder. 2) Upaya Kesehatan Sekunder Upaya kesehatan sekunder adalah upaya kesehatan rujukan lanjutan, yang terdiri dari pelayanan kesehatan perorangan sekunder dan pelayanan kesehatan masyarakat sekunder. a) Pelayanan Kesehatan Sekunder (PKPS) Perorangan

Pelayanan kesehatan perorangan sekunder adalah pelayanan kesehatan spesialistik yang menerima rujukan dari pelayanan kesehatan perorangan primer, yang meliputi rujukan kasus, spesimen, dan ilmu pengetahuan serta wajib merujuk kembali ke fasilitas kesehatan yang merujuk. Pelayanan kesehatan perorangan sekunder dilaksanakan oleh dokter spesialis atau dokter yang sudah mendapatkan pendidikan khusus dan mempunyai ijin praktik serta didukung tenaga kesehatan lainnya yang diperlukan. Pelayanan kesehatan perorangan sekunder dilaksanakan di tempat kerja maupun fasilitas kesehatan perorangan sekunder baik Rumah Sakit setara kelas C serta fasilitas kesehatan lainnya milik pemerintah, masyarakat, maupun swasta. Pelayanan kesehatan perorangan sekunder harus memberikan pelayanan kesehatan 38

efisien dan berbasis bukti (evidence based medicine) serta didukung pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan. sesuai. yakni melaksanakan pelayanan kesehatan masyarakat yang tidak sanggup atau tidak memadai dilakukan pada pelayanan kesehatan masyarakat primer. teknologi. efektif. Dalam penanggulangan penyakit menular yang tidak terbatas pada suatu batas 39 . b) Pelayanan Kesehatan Sekunder (PKMS) Masyarakat Pelayanan kesehatan masyarakat sekunder menerima rujukan kesehatan dari pelayanan kesehatan masyarakat primer dan memberikan fasilitasi dalam bentuk sarana. Penyelenggaraan pelayanan kesehatan masyarakat sekunder menjadi tanggungjawab Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan atau Provinsi sebagai fungsi teknisnya. dan sumber daya manusia kesehatan serta didukung oleh pelayanan kesehatan masyarakat tersier. Pelayanan kesehatan perorangan sekunder dapat dijadikan sebagai wahana pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan sesuai dengan kebutuhan pendidikan dan pelatihan.yang aman. Pelayanan kesehatan perorangan sekunder yang bersifat tradisional dan komplementer dilaksanakan dengan berafiliasi dengan atau di rumah sakit pendidikan.

Pelaksana pelayanan kesehatan perorangan tersier adalah dokter sub-spesialis atau dokter spesialis yang telah mendapatkan pendidikan khusus atau pelatihan dan mempunyai izin praktik dan didukung oleh tenaga kesehatan lainnya yang diperlukan. maka tingkat yang lebih tinggi (provinsi) yang harus menanganinya. 3) Upaya Kesehatan Tersier Upaya kesehatan tersier adalah upaya kesehatan rujukan unggulan yang terdiri dari pelayanan kesehatan perorangan tersier dan pelayanan kesehatan masyarakat tersier. dan lain-lain. a) Pelayanan Kesehatan Perorangan Tersier (PKPT) Pelayanan kesehatan perorangan tersier menerima rujukan sub-spesialistik dari pelayanan kesehatan di bawahnya. 40 . Fasilitas kesehatan penyelenggara pelayanan kesehatan masyarakat sekunder dibangun sesuai dengan standar. dan wajib merujuk kembali ke fasilitas kesehatan yang merujuk. Bagi fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat milik swasta harus mempunyai izin sesuai peraturan yang berlaku serta dapat bekerjasama dengan unit kerja Pemerintah Daerah. seperti laboratorium kesehatan. Balai Teknik Kesehatan Lingkungan (BTKL).administrasi pemerintahan (lintas kabupaten/ kota). Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan (BPFK).

Rumah Sakit Khusus setara kelas A dan B. Pemerintah mengembangkan berbagai pusat pelayanan unggulan nasional yang berstandar internasional untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan dan menghadapi persaingan global dan regional. baik milik pemerintah maupun swasta yang mampu memberikan pelayanan kesehatan subspesialistik dan juga termasuk klinik khusus. b) Pelayanan Kesehatan Masyarakat Tersier (PKMT) Pelayanan kesehatan masyarakat tersier menerima rujukan kesehatan dari pelayanan kesehatan masyarakat sekunder dan memberikan fasilitasi dalam bentuk sarana. dan rujukan operasional. sumber daya manusia kesehatan. Unit 41 . seperti pusat radioterapi. teknologi. Pelaksana pelayanan kesehatan masyarakat tersier adalah Dinas Kesehatan Provinsi. Fasilitas pelayanan kesehatan perorangan tersier dapat didirikan melalui modal patungan dengan pihak asing sesuai dengan peraturan dan kebijakan yang berlaku.Pelayanan kesehatan perorangan tersier dilaksanakan di Rumah Sakit Umum. Pelayanan kesehatan perorangan tersier wajib melaksanakan penelitian dan pengembangan dasar maupun terapan dan dapat dijadikan sebagai pusat pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan sesuai dengan kebutuhan.

Pemerintah menetapkan kebijakan dan NSPK upaya kesehatan dengan memperhatikan masukan dari Pemerintah Daerah. Pembinaan dan Pengawasan 1) Pembinaan Upaya Kesehatan Pembinaan upaya kesehatan ditujukan untuk menjamin mutu pelayanan kesehatan. dan Unit kerja terkait di tingkat nasional. Pemerintah Provinsi melakukan bimbingan dan pengendalian terhadap pelaksanaan kebijakan dan NSPK upaya kesehatan. Organisasi Profesi. dan masyarakat. 42 . harus didukung dengan standar pelayanan yang selalu dikaji dalam periode tertentu sesuai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kebutuhan.kerja terkait di tingkat Provinsi. Pelaksanaan pelayanan kesehatan masyarakat tersier menjadi tanggung-jawab Dinas Kesehatan Provinsi dan Departemen Kesehatan yang didukung dengan kerja sama lintas sektor. b. Institut pelayanan kesehatan masyarakat tertentu secara nasional dapat dikembangkan untuk menampung kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat. Departemen Kesehatan.

Hasil pengawasan digunakan untuk perlindungan terhadap masyarakat dan tenaga kesehatan selaku penyelenggara upaya kesehatan. Pemerintah. dan Pemerintah Kabupaten/Kota sesuai dengan kewenangannya yang diatur dalam peraturan perundangan. Perizinan fasilitas upaya kesehatan menurut tingkatannya ditetapkan oleh Pemerintah. sehingga semua fasilitas pelayanan kesehatan wajib memberikan laporan kegiatannya. 2) Pengawasan Upaya Kesehatan Pengawasan ditujukan untuk menjamin konsistensi penyelenggaraan upaya kesehatan dan dilakukan secara intensif. Pembinaan upaya kesehatan dilakukan oleh pemerintah bersama dengan organisasi profesi dan masyarakat termasuk swasta. berkewajiban melakukan pembinaan terhadap semua fasilitas pelayanan kesehatan termasuk swasta. 43 .Pemerintah Kabupaten/Kota melaksanakan kebijakan dan NSPK upaya kesehatan. Pemerintah Provinsi. Pemerintah Provinsi. baik internal maupun eksternal dan juga dapat melibatkan masyarakat dan swasta. dan Pemerintah Kabupaten/Kota sebagai penanggung-jawab pelaksanaan pembangunan kesehatan di wilayahnya.

Sesuai dengan perkembangan dan keperluannya.c. Pemerintah melaksanakan penelitian data dasar kesehatan. meliputi: 1) Ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan dihasilkan dari penelitian dan pengembangan kesehatan yang diselenggarakan oleh pusatpusat penelitian dan pengembangan milik masyarakat. dan pemerintah. pengembangan dan pemanfaatan Iptek perlu diperluas untuk mendukung pembangunan kesehatan secara keseluruhan. dan dokumentasi Iptek kesehatan. Penelitian yang dilaksanakan oleh badan asing dan atau individu Warga Negara Asing (WNA) harus atas izin dan diawasi Pemerintah. jaringan informasi. dilakukan dengan membentuk pusatpusat penelitian dan pengembangan unggulan. 44 . Penelitian dan Pengembangan Pengembangan dan pemanfaatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) yang memadai ditujukan untuk meningkatkan mutu upaya kesehatan. 2) Pemanfaatan dan penyebarluasan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan diatur oleh Pemerintah dengan dukungan organisasi profesi. seperti Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) secara berkala dan penelitian pengembangan upaya kesehatan. Pengembangan dan pemanfaatan Iptek. swasta.

teralokasi secara adil. SUBSISTEM PEMBIAYAAN KESEHATAN 1. Dana yang tersedia harus mencukupi dan dapat dipertanggungjawabkan serta dipertanggung-gugatkan.B. 2. Unsur-unsur a. maupun swasta serta sumber lainnya yang digunakan untuk mendukung pelaksanaan pembangunan kesehatan. dari masyarakat. tersalurkan sesuai peruntukannya untuk menjamin terselenggaranya pembangunan kesehatan guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. 3. Dana Dana digali dari sumber pemerintah baik dari sektor kesehatan dan sektor lain terkait. merata dan termanfaatkan secara berhasil guna dan berdaya guna. 45 . pengalokasian. dan pembelanjaan dana kesehatan untuk mendukung penyelenggaraan pembangunan kesehatan guna mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Pengertian Subsistem pembiayaan kesehatan adalah bentuk dan cara penyelenggaraan berbagai upaya penggalian. Tujuan Tujuan dari penyelenggaraan subsistem pembiayaan kesehatan adalah tersedianya dana kesehatan dalam jumlah yang mencukupi.

46 . dan pembelanjaan dana kesehatan untuk mendukung terselenggaranya pembangunan kesehatan.b. pengalokasian. Sumber Daya Sumber daya dari subsistem pembiayaan kesehatan. sarana. terus diupayakan peningkatan dan kecukupannya sesuai kebutuhan menuju sekurang-kurangnya 5% dari PDB atau 15% dari total anggaran pendapatan dan belanja setiap tahunnya. maupun masyarakat yang mencakup mekanisme penggalian. dan swasta. pengalokasian. Alokasi dana yang berasal dari pemerintah untuk upaya kesehatan dilakukan melalui penyusunan anggaran pendapatan dan belanja. dan kelembagaan yang digunakan secara berhasil guna dan berdaya guna dalam upaya penggalian. dan pembelanjaan dana kesehatan. standar. swasta. masyarakat. 4. baik pusat maupun daerah. regulasi. baik oleh pemerintah secara lintas sektor. c. Kecukupan Pembiayaan kesehatan pada dasarnya merupakan tanggung-jawab bersama pemerintah. meliputi: SDM pengelola. Prinsip a. Pengelolaan Dana Kesehatan Prosedur/mekanisme pengelolaan dana kesehatan adalah seperangkat aturan yang disepakati dan secara konsisten dijalankan oleh para pelaku subsistem pembiayaan kesehatan.

akuntabel. b.Pembiayaan kesehatan untuk masyarakat miskin dan tidak mampu merupakan tanggung-jawab pemerintah. serta menjamin terpenuhinya ekuitas. Dana kesehatan digunakan secara bertanggungjawab dan bertanggung-gugat berdasarkan prinsip tata pemerintahan yang baik (good governance). Dana kesehatan diperoleh dari berbagai sumber. Efektif dan Efisien Dalam menjamin efektifitas dan efisiensi penggunaan dana kesehatan. Adil dan Transparan Dana kesehatan yang terhimpun baik dari pemerintah maupun masyarakat dimanfaatkan secara adil dalam rangka menjamin terpeliharanya dan terlindunginya masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan. penguatan kapasitas manajemen perencanaan anggaran dan kompetensi pemberi pelayanan kesehatan. maupun swasta yang harus digali dan dikumpulkan serta terus ditingkatkan untuk menjamin kecukupan agar jumlahnya dapat sesuai dengan kebutuhan. c. masyarakat. sistem pembayaran pada fasilitas kesehatan perlu dikembangkan menuju bentuk pembayaran prospektif. maka pembelanjaannya dilakukan melalui kesesuaian antara perencanaan pembiayaan kesehatan. baik dari pemerintah. berkelanjutan. berhasil guna dan berdaya guna. tersalurkan secara tepat memperhatikan subsidiaritas dan fleksibilitas. transparan. dikelola secara adil. 47 .

Penyelenggaraan pada peraturan Subsistem pembiayaan kesehatan merupakan suatu proses yang terus-menerus dan terkendali. dana APBN/APBD.transparan. Perencanaan dan pengaturan pembiayaan kesehatan dilakukan melalui penggalian dan pengumpulan berbagai sumber dana yang dapat menjamin kesinambungan pembiayaan pembangunan kesehatan. Dalam hal pengaturan penggalian dan pengumpulan serta pemanfaatan dana yang bersumber dari iuran wajib. swasta. pemerintah harus melakukan sinkronisasi dan sinergisme antara sumber dana dari iuran wajib. bersumber dari pemerintah. serta berbagai sumber lainnya. Dana yang bersumber dari swasta dihimpun dengan menerapkan prinsip kemitraan antara pemerintah dan masyarakat yang didukung dengan pemberian insentif. masyarakat. Penggalian dana yang bersumber dari masyarakat dihimpun secara aktif oleh masyarakat sendiri atau dilakukan secara pasif 48 . dan sumber lainnya. 5. dan mengacu perundangan yang berlaku. mengalokasikannya secara rasional. dan sumber lainnya. agar tersedia dana kesehatan yang mencukupi dan berkesinambungan. bantuan atau pinjaman yang tidak mengikat. serta menggunakannya secara efisien dan efektif. dana dari masyarakat. a. Penggalian Dana Penggalian dana untuk pembangunan kesehatan yang bersumber dari pemerintah dilakukan melalui pajak umum. pajak khusus.

49 . dan tersier dengan mengutamakan masyarakat rentan dan miskin. sekunder. b. Penggalian dana untuk pelayanan kesehatan perorangan dilakukan dengan cara penggalian dan pengumpulan dana masyarakat dan didorong pada bentuk jaminan pemeliharaan kesehatan. serta yang tidak diminati swasta. Pengalokasian Dana Pengalokasian dana pemerintah dilakukan melalui perencanaan anggaran dengan mengutamakan upaya kesehatan prioritas secara bertahap dan terus ditingkatkan jumlah pengalokasiannya sehingga sesuai dengan kebutuhan. perbatasan.dengan memanfaatkan berbagai dana yang sudah terkumpul di masyarakat. Hal ini termasuk program bantuan sosial dari pemerintah untuk pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin dan tidak mampu (Jamkesmas). pulau-pulau terluar dan terdepan. daerah terpencil. Dana pemerintah untuk pembangunan kesehatan diarahkan untuk membiayai upaya kesehatan primer. Pengalokasian dana yang dihimpun dari masyarakat dilaksanakan berdasarkan asas gotong-royong sesuai dengan potensi dan kebutuhannya. Pengalokasian dana untuk pelayanan kesehatan perorangan dilakukan melalui kepesertaan dalam jaminan pemeliharaan kesehatan yang diatur oleh pemerintah. termasuk program-program kesehatan yang mempunyai daya ungkit tinggi terhadap peningkatan derajat kesehatan masyarakat.

50 . baik yang bersifat wajib maupun sukarela serta dalam upaya peningkatan akses dan mutu pelayanan kesehatan.c. SUBSISTEM SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN 1. Pengertian Subsistem SDM Kesehatan adalah bentuk dan cara penyelenggaraan upaya pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan. Pembelanjaan dana kesehatan diarahkan terutama melalui jaminan pemeliharaan kesehatan. Sumber Daya Manusia Kesehatan adalah tenaga kesehatan profesi termasuk tenaga kesehatan strategis dan tenaga kesehatan non profesi serta tenaga pendukung/penunjang kesehatan yang terlibat dan bekerja serta mengabdikan dirinya seperti dalam upaya dan manajemen kesehatan. akuntabel. serta pembinaan dan pengawasan SDM Kesehatan untuk mendukung penyelenggaraan pembangunan kesehatan guna mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. C. pengadaan. Pembelanjaan Pemanfaatan dana kesehatan dilakukan dengan memperhatikan aspek teknis maupun alokatif sesuai peruntukannya secara efisien dan efektif untuk terwujudnya pengelolaan pembiayaan kesehatan yang transparan. serta menerapkan prinsip penyelenggaraan tata pemerintahan yang baik (good governance). pendayagunaan. yang meliputi: upaya perencanaan.

modul dan kurikulum serta metode pendidikan dan latihan. Tujuan Tujuan dari penyelenggaraan subsistem SDM Kesehatan adalah tersedianya SDM Kesehatan yang kompeten sesuai kebutuhan yang terdistribusi secara adil dan merata serta didayagunakan secara optimal dalam mendukung penyelenggaraan pembangunan kesehatan guna mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. berakhlak luhur. Unsur-unsur a. sumber daya manusia pendidikan dan pelatihan. serta institusi/fasilitas pendidikan dan pelatihan yang menyediakan sarana dan prasarana pendidikan dan pelatihan. Dalam sumber daya ini juga termasuk sumber daya manusia. serta mempunyai etika. cara 51 . b. dan berdedikasi tinggi dalam melakukan tugasnya. dan wajib memiliki kompetensi untuk mengabdikan dirinya di bidang kesehatan. dana. yang meliputi: berbagai standar kompetensi.2. Sumber Daya Kesehatan) Manusia Kesehatan (SDM Sumber daya manusia Kesehatan. 3. mempunyai hak untuk memenuhi kebutuhan dasarnya (hak asasi) dan sebagai makhluk sosial. baik tenaga kesehatan maupun tenaga pendukung/penunjang kesehatan. Sumber Daya Pengembangan Pemberdayaan SDM Kesehatan dan Sumber daya pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan adalah sumber daya pendidikan tenaga kesehatan dan pelatihan SDM Kesehatan.

Prinsip a. 4. pengadaan. serta peralatan dan perlengkapan untuk melakukan perencanaan. Pembinaan dan pengawasan SDM Kesehatan adalah upaya untuk mengarahkan. Perencanaan SDM Kesehatan adalah upaya penetapan jenis. pendayagunaan.atau metode. kualifikasi. Pengadaan SDM Kesehatan adalah upaya yang meliputi pendidikan tenaga kesehatan dan pelatihan SDM Kesehatan untuk memenuhi kebutuhan pembangunan kesehatan. jumlah. dan distribusi tenaga kesehatan sesuai dengan kebutuhan pembangunan kesehatan. pendayagunaan. memberikan dukungan. serta pembinaan dan pengawasan SDM Kesehatan. serta mengawasi pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan. serta pembinaan dan pengawasan SDM Kesehatan. c. Pendayagunaan SDM Kesehatan adalah upaya pemerataan dan pemanfaatan serta pengembangan SDM Kesehatan. Adil dan Merata serta Demokratis Pemenuhan ketersediaan SDM Kesehatan ke seluruh wilayah Indonesia harus berdasarkan 52 . Penyelenggaraan Pengembangan Pemberdayaan SDM Kesehatan dan Penyelenggaraan pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan meliputi upaya perencanaan.

Kompeten dan Berintegritas Pengadaan SDM Kesehatan melalui pendidikan dan pelatihan yang sesuai standar pelayanan dan standar kompetensi serta menghasilkan SDM yang menguasai Iptek.pemerataan dan keadilan sesuai dengan potensi dan kebutuhan pembangunan kesehatan serta dilaksanakan secara demokratis. c. bertanggung-jawab. tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia. Hierarki dalam SDM Kesehatan Pengembangan dan pemberdayan SDM Kesehatan dalam mendukung pembangunan kesehatan perlu memperhatikan adanya susunan hierarki SDM Kesehatan yang ditetapkan berdasarkan jenis dan tingkat tanggung-jawab. dan berdaya saing tinggi. nilai budaya. d. serta keterampilan masing-masing SDM Kesehatan. 53 . dan kemajemukan bangsa. bertaqwa. b. profesional. mandiri. nilai keagamaan. beriman. Objektif dan Transparan Pembinaan dan pengawasan serta pendayagunaan (termasuk pengembangan karir) SDM Kesehatan dilakukan secara objektif dan transparan berdasarkan prestasi kerja dan disesuaikan dengan kebutuhan pembangunan kesehatan. kompetensi.

Pengadaan SDM Kesehatan Standar pendidikan tenaga kesehatan dan pelatihan SDM Kesehatan mengacu kepada standar pelayanan dan standar kompetensi SDM Kesehatan dan perlu didukung oleh etika profesi SDM Kesehatan tersebut. jumlah.5. Perencanaan SDM Kesehatan Penyusunan rencana kebutuhan SDM Kesehatan dilakukan dengan memperhatikan kebutuhan SDM Kesehatan yang diutamakan. b. Perencanaan SDM Kesehatan yang meliputi jenis. Pemerintah bertanggung-jawab mengatur pendirian institusi pendidikan dan pembukaan program 54 . Pemerintah dengan melibatkan organisasi profesi dan masyarakat menetapkan standar kompetensi dan standar pendidikan yang berlaku secara nasional. Penyelenggaraan a. Perencanaan SDM Kesehatan dilakukan dengan mendasarkan pada fakta (berbasis bukti) melalui peningkatan sistem informasi SDM Kesehatan. baik dalam upaya kesehatan primer maupun upaya kesehatan sekunder serta tersier. dan kualifikasinya dilakukan dengan meningkatkan dan memantapkan keterkaitannya dengan unsur lainnya dalam manajemen pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan dengan memperhatikan tujuan pembangunan kesehatan dan kecenderungan permasalahan kesehatan di masa depan.

sehingga registrasi tenaga kesehatan lulusan dalam negeri dapat diakui di dunia internasional. dinamika pasar baik di dalam maupun di luar negeri. Pemerintah dengan melibatkan organisasi profesi membentuk badan regulator profesi yang bertugas menyusun berbagai peraturan persyaratan. Kompetensi tenaga kesehatan harus setara dengan kompetensi tenaga kesehatan di dunia internasional. Institusi/fasilitas pelayanan kesehatan yang terakreditasi wajib mendukung penyelenggaraan pendidikan tenaga kesehatan. menentukan kompetensi umum. prosedur penetapan kompetensi khusus tenaga kesehatan. 55 .pendidikan tenaga kesehatan yang dibutuhkan dalam pembangunan kesehatan. Penyelenggaraan pendidikan tenaga kesehatan harus memenuhi akreditasi sesuai dengan peraturan perundangan. Penyelenggaraan pendidikan tenaga kesehatan harus responsif gender yang berorientasi kepada kepentingan peserta didik (“student centered”). dan kemampuan produksi tenaga kesehatan dengan yang sudah ada. Pendirian institusi pendidikan dan pembukaan program pendidikan ditekankan untuk menghasilkan lulusan tenaga kesehatan yang bermutu dan dapat bersaing secara global dengan memperhatikan keseimbangan antara kebutuhan. serta menentukan sertifikasi institusi pendidikan dan pelatihan profesi.

serta daerah bencana dan rawan konflik. dan lintas institusi melalui jenjang jabatan struktural dan jabatan fungsional. terbuka. baik Pusat maupun Daerah dan Swasta melakukan rekrutmen dan penempatan tenaga kesehatan dan tenaga pendukung kesehatan yang diperlukan sesuai dengan kebutuhan pembangunan kesehatan dan atau menjalankan tugas dan fungsi institusinya. Pemerintah bersama organisasi profesi dan swasta mengupayakan penyelenggaraan pendidikan 56 . daerah tertinggal. pemerintah melakukan berbagai pengaturan untuk memberikan imbalan material atau non material kepada tenaga kesehatan untuk bekerja di bidang tugas atau daerah yang tidak diminati.c. Pemerintah Daerah bersama UPT-nya dan masyarakat melakukan rekrutmen dan penempatan tenaga penunjang (tenaga masyarakat) yang diperlukan untuk mendukung UKBM sesuai dengan kebutuhan pembangunan kesehatan. daerah perbatasan. Pemerintah. seperti: daerah terpencil. Dalam rangka penempatan tenaga kesehatan untuk kepentingan pelayanan publik dan pemerataan. pulau-pulau terluar dan terdepan. Pendayagunaan SDM Kesehatan Pemerintah Pusat bekerjasama dengan Pemerintah Daerah melakukan upaya penempatan tenaga kesehatan yang ditujukan untuk mencapai pemerataan yang berkeadilan dalam pembangunan kesehatan. Pemerintah dan swasta mengembangkan dan menerapkan pola karir tenaga kesehatan yang dilakukan secara transparan.

Pendayagunaan tenaga kesehatan untuk keperluan luar negeri diatur oleh lembaga pemerintah dalam rangka menjamin keseimbangan antara kemampuan pengadaan tenaga kesehatan di Indonesia dan kebutuhan tenaga kesehatan Indonesia di luar negeri serta melindungi hak-hak dan hak asasi manusia tenaga kesehatan Indonesia di luar negeri. perlu dilakukan peningkatan kualitas SDM Kesehatan secara terus menerus (pra-jabatan/”preservice” dan “in-service”). diantaranya melalui pelatihan yang terakreditasi yang dilaksanakan oleh institusi penyelenggara pelatihan yang terakreditasi. dan pengalaman yang mereka punyai tidak merugikan SDM Kesehatan Indonesia. mempunyai hak dan kewajiban yang sama dengan tenaga kesehatan lulusan dalam negeri. Pendayagunaan tenaga kesehatan warga negara asing hanya dilakukan pada tingkat konsultan pada bidang tertentu. Tenaga kesehatan Warga Negara Indonesia lulusan institusi luar negeri yang telah memperoleh pengakuan dari Departemen yang bertanggungjawab atas pendidikan nasional. 57 . modal. Dalam rangka mengantisipasi globalisasi perlu dilakukan pengaturan agar masuknya SDM Kesehatan warga negara asing dengan teknologi. dalam rangka alih teknologi dan ditetapkan melalui persyaratan sesuai peraturan perundangan yang berlaku. Dalam rangka pendayagunaan SDM Kesehatan yang sesuai kebutuhan pembangunan kesehatan.berkelanjutan dalam rangka peningkatan karir dan profesionalisme tenaga kesehatan.

Pembinaan dan pengawasan SDM Kesehatan dilakukan melalui sistem karier. dan insentif untuk hidup layak sesuai dengan tata nilai di 58 . Sertifikasi tenaga kesehatan dalam bentuk ijazah dan sertifikat kompetensi diberikan Departemen Kesehatan setelah melalui uji kompetensi yang dilaksanakan organisasi profesi terkait. penggajian. Registrasi tenaga kesehatan untuk dapat melakukan praktik profesi di seluruh wilayah Indonesia diberikan oleh Departemen Kesehatan. Pembinaan dan Pengawasan SDM Kesehatan Pembinaan penyelenggaraan pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan di berbagai tingkatan dan atau organisasi memerlukan komitmen yang kuat dari pemerintah dan dukungan peraturan perundang-undangan mengenai pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan tersebut.d. Perizinan/lisensi tenaga kesehatan profesi untuk melakukan praktik dalam rangka memperoleh penghasilan secara mandiri dari profesinya diberikan oleh instansi kesehatan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota setelah mendapatkan rekomendasi dari organisasi profesi terkait. registrasi. yang dalam pelaksanaannya dapat dilimpahkan kepada Pemerintah Daerah Provinsi. uji kompetensi. Pembinaan dan pengawasan praktik profesi bagi tenaga kesehatan profesi dilakukan melalui sertifikasi. dan pemberian lisensi bagi tenaga kesehatan yang memenuhi syarat.

masyarakat dan beban tugasnya agar dapat bekerja secara profesional. Pengawasan SDM Kesehatan dilakukan untuk mencegah terjadinya pelanggaran disiplin melalui pengawasan melekat dan pengawasan profesi. ALAT KESEHATAN. Pengertian Subsistem sediaan farmasi. maka sanksi administrasi maupun pidana harus dilakukan dalam rangka melindungi masyarakat maupun tenaga yang bersangkutan sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. alat kesehatan. bahan obat. alat kesehatan. Dalam hal terjadi pelanggaran disiplin oleh tenaga kesehatan maupun tenaga pendukung/penunjang kesehatan yang bekerja dalam bidang kesehatan dan menyebabkan kerugian pada pihak lain. dan makanan. khasiat/manfaat. Sediaan farmasi adalah obat. dan kosmetika. dan makanan yang terjamin aman. dan makanan adalah bentuk dan cara penyelenggaraan berbagai upaya yang menjamin keamanan. dan khusus untuk obat dijamin ketersediaan dan 59 . obat tradisional. DAN MAKANAN 1. berkhasiat/bermanfaat dan bermutu. 2. alat kesehatan. SUBSISTEM SEDIAAN FARMASI. alat kesehatan. dan makanan adalah tersedianya sediaan farmasi. Tujuan Tujuan penyelenggaraan subsistem sediaan farmasi. D. mutu sediaan farmasi.

alat kesehatan. sekunder. Sediaan farmasi harus tersedia dalam jenis. Sumber Daya Sumber Daya Manusia sediaan farmasi. dan Kriteria yang telah ditetapkan. distribusi maupun fasilitas pelayanan kesehatan primer. 60 . terutama obat dan alat kesehatan esensial bagi masyarakat miskin. jumlah. serta makanan meliputi jenis dan manfaat. Komoditi Sediaan farmasi dan alat kesehatan adalah komoditi untuk penyelenggaraan upaya kesehatan. Fasilitas sediaan farmasi. alat kesehatan tersedia dalam jenis. dan tersier. dan makanan harus dengan jumlah yang cukup serta mempunyai standar kompetensi yang sesuai dengan etika profesi. dosis. Standar. 3. dan khasiat yang tepat. dan fungsinya. Prosedur. jumlah. Pembiayaan yang cukup dari pemerintah diperlukan untuk menjamin ketersediaan dan keterjangkauan obat.keterjangkauannya guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. makanan adalah komoditi yang mempengaruhi kesehatan masyarakat. bentuk. bentuk. baik di fasilitas produksi. b. Unsur-unsur a. dan makanan adalah peralatan atau tempat yang harus memenuhi Norma. alat kesehatan.

standar. dan bermutu di semua sarana pelayanan kesehatan dengan mengikuti norma. alat kesehatan. d. Penyediaan unit pelayanan publik bidang kesehatan untuk menangani berbagai masalah yang mudah diakses oleh masyarakat dan menerima keluhan atau pertanyaan terkait dengan sediaan farmasi. dan makanan yang beredar memenuhi standar dan persyaratan keamanan. dan mutu yang ditetapkan yang didukung oleh Laboratorium Pengujian yang handal. dan kriteria yang ditetapkan. Pelayanan Kefarmasian Pelayanan kefarmasian ditujukan untuk dapat menjamin penggunaan sediaan farmasi dan alat kesehatan. alat kesehatan. aman. ditujukan untuk menjamin setiap sediaan farmasi. Pemberdayaan Masyarakat Masyarakat senantiasa dilibatkan secara aktif agar sadar dan dapat lebih berperan dalam penyediaan dan penggunaan sediaan farmasi. alat kesehatan dan makanan. dan makanan serta terhindar dari penggunaan yang salah dan penyalahgunaan. Pengawasan Pengawasan yang komprehensif dengan melaksanakan regulasi yang baik (Good Regulatory Practices). 61 . prosedur. secara rasional. khasiat/manfaat.c. e.

dan tidak menyesatkan tentang sediaan farmasi. 62 . dan makanan dari produsen. independen. b. Berkhasiat. dan mutu produk sesuai dengan fungsi usahanya dan peraturan yang berlaku. Aman.4. sehingga obat tidak boleh diperlakukan sebagai komoditas ekonomi semata. Prinsip a. dan mutu sediaan farmasi. khasiat. pengawasan. dan makanan melalui pembinaan. dan pengendalian secara profesional. dan pelaku pelayanan kesehatan. Bermanfaat. dan Bermutu Pemerintah menjamin keamanan. alat kesehatan. distributor. Tersedia. bertanggungjawab. lengkap. alat kesehatan. d. c. Sedangkan pelaku usaha bertanggungjawab atas keamanan. dan berbasis bukti ilmiah. Merata. dan Terjangkau Obat merupakan kebutuhan dasar manusia yang tidak tergantikan dalam pelayanan kesehatan. Transparan dan Bertanggung-jawab Masyarakat berhak untuk mendapatkan informasi yang benar. transparan. khasiat/manfaat. Rasional Setiap pelaku pelayanan kesehatan harus selalu bertindak berdasarkan bukti ilmiah terbaik dan prinsip tepat biaya (cost-effective) serta tepat manfaat (cost-benefit) dalam pemanfaatan obat agar memberikan hasil yang optimal. manfaat.

Upaya Ketersediaan. Pemerataan. Penyelenggaraan a. 5. Keterjangkauan Obat dan Alat Kesehatan dan Penyediaan dan pelayanan obat berpedoman pada DOEN untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan. Pemerintah dengan pengaturan khusus menjamin tersedianya obat bagi masyarakat di daerah terpencil.e. utamanya bahan baku obat dan obat tradisional harus dikelola secara profesional. daerah tertinggal dan perbatasan. serta daerah bencana. sistematis. Pemerintah melakukan pengendalian dan pengawasan terhadap pengadaan serta penyaluran untuk menjamin ketersediaan dan pemerataan obat serta alat kesehatan. 63 . Pemerintah mengatur harga obat dan alat kesehatan. daerah rawan konflik dan obat yang tidak mempunyai nilai ekonomis (orphan drug). dan berkesinambungan sehingga memiliki daya saing tinggi dan mengurangi ketergantungan dari sumber daya luar negeri serta menjadi sumber ekonomi masyarakat dan devisa negara. Kemandirian Potensi sumber daya dalam negeri.

produksi dan distribusi sediaan farmasi. Pelaksanaan regulasi yang baik (Good Regulatory Practices) didukung oleh sumber daya yang memadai secara kuantitas maupun kualitas. dan masyarakat secara terpadu dan bertanggung-jawab. laboratorium pengujian mutu yang kompeten. Upaya Jaminan Keamanan.b. dan makanan merupakan suatu kesatuan yang utuh. pengambilan dan pengujian sampel. dan mutu sediaan farmasi. dan transparan. inspeksi fasilitas produksi dan distribusi. Pengembangan dan penyempurnaan norma. dan mutu produk melalui proses pendaftaran dan evaluasi. prosedur. yaitu pemerintah. serta pemantauan label atau penandaan. dan makanan merupakan tugas bersama yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan. dan kriteria mengenai produk dan fasilitas produksi dan distribusi sediaan farmasi. dilakukan melalui penilaian keamanan. 64 . dan makanan sesuai dengan perkembangan Iptek dan standar internasional. dan Makanan serta Perlindungan Masyarakat dari Penggunaan yang Salah dan Penyalahgunaan Obat dan Alat Kesehatan Upaya jaminan keamanan. standar. pelaku usaha. alat kesehatan. iklan dan promosi. independen. Khasiat/manfaat. khasiat/manfaat. dan pengendalian impor. dan Mutu Sediaan Farmasi. sistem manajemen mutu. alat kesehatan. alat kesehatan. khasiat/manfaat. pengawasan. Pembinaan. Alat Kesehatan. survailan dan vijilan setelah pemasaran. kerjasama internasional. ekspor. akses terhadap ahli dan referensi ilmiah.

c. mutu dan gizi. dan tidak menyesatkan mengenai penggunaan sediaan farmasi. alat kesehatan. Penegakan hukum yang konsisten dengan efek jera yang tinggi untuk setiap pelanggaran. Peningkatan kesadaran/kemandirian masyarakat melalui penyediaan dan penyebaran informasi terpercaya termasuk informasi harga obat. dan makanan. serta manusia usia lanjut untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi tinggi dan memenuhi persyaratan keamanan. atau penggunaan bahan tambahan makanan yang tidak sesuai persyaratan. menyeluruh. Perlindungan masyarakat terhadap pencemaran sediaan farmasi dari bahan-bahan yang dilarang. dan rehabilitatif. masyarakat. transparan. Upaya Penyelenggaraan Pelayanan Kefarmasian Penyelengaraan pelayanan kefarmasian di semua sarana pelayanan kesehatan dilakukan dengan: 65 . preventif. kuratif. Psikotropika.Dalam rangka menghindarkan dampak buruk dari penggunaan alat kesehatan. serta lingkungannya. termasuk pemberantasan produk palsu dan ilegal. Mendorong masyarakat rentan terutama anak dan ibu hamil. dan Zat Adiktif (Napza) harus merupakan upaya yang terpadu antara upaya represif. sehingga masyarakat memperoleh informasi yang benar. maka upaya jaminan perlindungan keamanan diberikan kepada pengguna dan operator alat kesehatan. Perlindungan masyarakat dari penyalahgunaan Narkotika.

1) Mengutamakan kesejahteraan pasien dalam segala situasi dan kondisi. 4) Pemberdayaan Komite Farmasi dan Terapi (KFT) untuk meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian melalui penggunaan obat secara rasional. dan 4) Memberikan pelayanan kefarmasian yang sesuai untuk setiap individu. memberikan informasi dan saran serta memonitor penggunaan obat oleh pasien. 3) Memberikan kontribusi dalam peningkatan peresepan yang rasional dan ekonomis serta penggunaan yang tepat. melalui pemanfaatan pedoman terapi dan formularium berbasis bukti ilmiah terbaik. objektif dan lengkap melalui penyusunan Informasi Obat Nasional Indonesia 66 . 5) Penerapan pendekatan farmako ekonomi melalui analisis biaya efektif dan biaya manfaat pada seleksi obat yang digunakan di semua tingkat pelayanan kesehatan. d. dan tersier. 2) Melaksanakan kegiatan inti farmasi yang meliputi pengelolaan obat dan produk kesehatan lainnya. 3) Pengembangan mekanisme pemantauan ketersediaan obat esensial dan langkah-langkah perbaikan di setiap fasilitas pelayanan kesehatan. sekunder. 6) Penyediaan informasi obat yang benar. Upaya Penggunaan Obat yang Rasional Penggunaan obat yang rasional merupakan salah satu langkah untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik dan mengefisienkan biaya pengobatan. Penyelenggaraan upaya penggunaan obat yang rasional dilakukan antara lain melalui kegiatan berikut: 1) Penerapan DOEN dalam upaya pelayanan kesehatan tingkat primer. menjamin mutu. 2) Audit dan umpan balik dalam penggunaan obat rasional.

Informasi kepada masyarakat. Langkah-langkah yang perlu diselenggarakan meliputi: 1) Pemilihan produk yang tepat untuk pengembangan produksi dalam negeri dengan mempertimbangkan potensi sumber daya dalam negeri. 3) Pembinaan industri farmasi dalam negeri agar mampu melakukan produksi sesuai dengan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dan dapat melakukan usahanya dengan efektif dan efisien sehingga mempunyai daya saing yang tinggi. Informasi dan Edukasi (KIE). 4) Komitmen semua 67 . perawat dan tenaga kesehatan lainnya dalam memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat sehingga dapat meningkatkan kemanfaatan dan keamanan penggunaan obat termasuk penggunaan obat yang rasional.(IONI) akan sangat mendukung para profesi kesehatan seperti: dokter. antara lain promosi penggunaan obat generik dan pengelolaan berbagai penyakit secara tepat. seperti penyakit diare. dan lain-lain. apoteker. 7) Pemberdayaan masyarakat melalui Komunikasi. serta 8) Pemberdayaan SDM Kesehatan dalam melaksanakan penggunaan obat rasional di semua fasilitas pelayanan kesehatan. pemberian insentif kebijakan perpajakan dan perbankan. e. Upaya Kemandirian Sediaan Farmasi melalui Pemanfaatan Sumber Daya Dalam Negeri Pengembangan dan pemanfaatan sumber daya alam Indonesia perlu didorong secara berkelanjutan untuk digunakan sebagai obat tradisional demi peningkatan pelayanan kesehatan dan ekonomi. 2) Pemerintah menciptakan iklim yang kondusif bagi investasi di bidang farmasi melalui persaingan usaha yang adil. serta kepastian proses perijinan.

dan makanan harus melibatkan seluruh pelaku baik secara perorangan maupun bersama dan terpadu antara pemerintah. 68 . dan obat tradisional untuk menunjang pembangunan kesehatan. alat kesehatan. SUBSISTEM KESEHATAN 1. obat. bermutu tinggi. swasta/dunia usaha. seperti kemauan industri farmasi domestik untuk memprioritaskan penggunaan bahan baku produksi dalam negeri. pengaturan hukum kesehatan. 6) Pengembangan pemanfaatan obat tradisional yang aman. pengelolaan data dan informasi kesehatan yang mendukung subsistem lainnya dari SKN guna menjamin tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.pemangku kepentingan. 5) Peningkatan penelitian dan pengembangan bahan baku obat. penerimaan fasilitas pelayanan kesehatan. Pengertian MANAJEMEN DAN INFORMASI Subsistem manajemen dan informasi kesehatan adalah bentuk dan cara penyelenggaraan yang menghimpun berbagai upaya kebijakan kesehatan. administrasi kesehatan. memiliki khasiat nyata yang teruji secara ilmiah. dan dimanfaatkan secara luas baik untuk pengobatan sendiri oleh masyarakat maupun digunakan dalam pelayanan kesehatan formal. E. dan masyarakat. Penyelenggaraan subsistem sediaan farmasi. para pelayan kesehatan dan konsumen.

berbasis bukti dan operasional. dan penegakan aturan tersebut dalam rangka memberikan perlindungan. Unsur-unsur a. terutama kepada individu dan masyarakat dan sebagai sarana untuk 69 . terselenggaranya fungsi-fungsi administrasi kesehatan yang berhasil guna. c. b. Administrasi Kesehatan Administrasi kesehatan merupakan kegiatan perencanaan.2. dan akuntabel. Tujuan Tujuan subsistem manajemen dan informasi kesehatan adalah terwujudnya kebijakan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan. baik pemerintah. pelaksanaan. dan pengendalian serta pengawasan dan pertanggung-jawaban penyelenggaraan pembangunan kesehatan. serta didukung oleh hukum kesehatan dan sistem informasi kesehatan untuk menjamin terselenggaranya pembangunan kesehatan guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. berdaya guna. dan masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan dengan memperhatikan kerangka desentralisasi dan otonomi daerah. swasta. penerapan. Kebijakan Kesehatan Kebijakan kesehatan merupakan pedoman yang menjadi acuan bagi semua pelaku pembangunan kesehatan. 3. Hukum Kesehatan Hukum kesehatan merupakan keseluruhan peraturan perundangan di bidang kesehatan dan segala tindakan penyebarluasan.

dan kelembagaan yang digunakan secara berhasil guna dan berdaya guna dalam upaya mendukung terselenggaranya pembangunan kesehatan. Informasi Kesehatan Informasi kesehatan merupakan hasil pengumpulan dan pengolahan data sebagai masukan bagi pengambilan keputusan di bidang kesehatan. dana. Prinsip a. e. sarana prasarana. penyelenggaraan pembangunan d. 70 . keteladanan. b. Inovasi atau Kreativitas Penyelenggaraan manajemen dan informasi kesehatan harus mampu menciptakan daya tahan dan kesinambungan kinerja sistem melalui inovasi/kreatifitas dalam menghadapi perubahan dan tantangan pembangunan kesehatan dengan lebih baik. dan bertekad dalam pembangunan kesehatan. meliputi: SDM. standar.memfasilitasi kesehatan. Kepemimpinan yang Visioner Bidang Kesehatan Kepemimpinan yang visioner bidang kesehatan adalah kepemimpinan yang mempunyai visi. 4. Sumber daya Manajemen Informasi Kesehatan Kesehatan dan Sumber daya manajemen kesehatan dan informasi kesehatan.

Kesesuaian dengan Sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia Manajemen dan informasi kesehatan menjadi pendukung utama dalam pelaksanaan desentralisasi dengan mempertimbangkan komitmen global dalam pembangunan kesehatan. dan sinergi yang dinamis. Standar. Sinergisme yang Dinamis Pendekatan manajemen kesehatan merupakan kombinasi dari pendekatan sistem. program. Prosedur. dan transparansi sangat penting.c. Dalam manajemen kesehatan ini prinsip efisiensi. Penyelenggaraan Dalam rangka mencapai Tujuan Nasional. Dalam manajemen ini penting adanya interaksi. 5. dan informasi kesehatan. kontingensi. a. administrasi. dan anggaran perlu disusun secara terpadu. d. Kebijakan Kesehatan Penyelenggaraan proses kebijakan kesehatan dilakukan secara optimal dengan mengacu kepada Norma. subsistem manajemen dan informasi kesehatan diselenggarakan dengan mensinergikan unsur kebijakan. interelasi dan interdependensi yang dinamis di antara para pelaku pembangunan kesehatan. efektifitas. pembangunan kesehatan menjadi salah satu dari arus utama pembangunan nasional. Perencanaan kebijakan. dan Kriteria (NSPK) kebijakan pembangunan kesehatan nasional. hukum. transparansi. penetapan skala prioritas berbasis bukti dari 71 . Untuk itu.

peningkatan kesadaran hukum bagi aparatur kesehatan dan masyarakat. serta 72 . didukung SDM yang kompeten. Hukum Kesehatan Penyelenggaraan hukum kesehatan meliputi penyusunan peraturan/regulasi dan harmonisasi di tingkat pusat dan daerah. memanfaatkan teknologi informasi. pelaksanaan dan pengendalian. berorientasi pada kepentingan masyarakat. Administrasi Kesehatan Penyelenggaraan administrasi kesehatan meliputi perencanaan. dilaksanakan secara sinergi yang dinamis antara sektor kesehatan dengan sektor lain. b. berorientasi pada kepentingan masyarakat. terpadu berlandaskan pada arah kebijakan pembangunan nasional dengan memperhatikan NSPK dan prioritas pembangunan kesehatan. didukung dengan SDM yang kompeten. serta pengawasan dan pertanggung-jawaban didasarkan atas urusan wajib bidang kesehatan yang dilaksanakan secara berdaya guna dan berhasil guna.berbagai sumber yang tersedia. dilaksanakan dengan menjunjung tinggi penyelenggaraan tata pemerintahan yang baik (good governance). c. melalui proses pengkajian dan perumusan kebijakan yang melibatkan masyarakat dan berbagai stakeholder terkait. responsif gender. Pusat dan Daerah dengan mempertimbangkan desentralisasi dan memperhatikan peraturan perundangan yang berlaku. untuk dilaksanakan secara bersama oleh seluruh pelaku pembangunan kesehatan secara sinergi dan dinamis. pelayanan advokasi hukum. dan pembiayaan yang mencukupi.

Pengertian Subsistem pemberdayaan masyarakat adalah bentuk dan cara penyelenggaraan berbagai upaya kesehatan. keadilan. akurat. cepat. 73 . serta sesuai dengan kebutuhan. dan sinkronisasi informasi kesehatan secara sinergi yang dinamis dalam rangka penyediaan data dan informasi terkini. valid. pengolahan dan analisis data. dan penegakan hukum perlu dilengkapi dan ditata dengan memperhatikan perkembangan dan perubahan lingkungan internal dan eksternal. dilaksanakan dengan mempertimbangkan perlindungan bagi masyarakat dan pemberi pelayanan. SUBSISTEM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT 1. integrasi. dengan dukungan pendayagunaan teknologi. kesetaraan. Informasi Kesehatan Penyelenggaraan informasi kesehatan meliputi pengumpulan. penerapan. termasuk regulasi kesehatan internasional. serta penerapan pengetahuan dan teknologi kesehatan. data dari fasilitas kesehatan dan masyarakat (seperti Riset Kesehatan Dasar dan surveilans). d. F. serta aspek kerahasiaan yang berlaku di bidang kesehatan. dengan memperhatikan kecukupan data termasuk data terpilah yang responsif gender. transparan. sosialisasi.pembinaan dan pengawasan. dilakukan melalui koordinasi. serta berhasil guna dan berdaya guna sebagai bahan pengambilan keputusan dengan mempertimbangkan desentralisasi. pengembangan dan penelitian kesehatan. peraturan. serta pengembangan sistem informasi kesehatan terpadu. manajemen informasi kesehatan.

organisasi profesi. dan swasta menjadi inisiator. kelompok. Tujuan Tujuan subsistem pemberdayaan masyarakat adalah meningkatnya kemampuan masyarakat untuk berperilaku hidup sehat. terpadu. 3. serta dapat menjadi penggerak dalam mewujudkan pembangunan berwawasan kesehatan. figur masyarakat. maupun masyarakat secara terencana. tokoh agama. berperan aktif dalam setiap pembangunan kesehatan. baik formal maupun non formal. b.baik perorangan. dan masyarakat luas serta pemerintah yang berperan sebagai agen perubahan untuk penerapan perilaku hidup sehat (subjek pembangunan kesehatan). Penggerak Pemberdayaan Pemerintah. mampu mengatasi masalah kesehatan secara mandiri. motivator. politisi. Unsur-unsur a. dan sebagainya). kelompok masyarakat). 74 . kelompok (organisasi kemasyarakatan. masyarakat. 2. dan berkesinambungan guna tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Sasaran Pemberdayaan Perorangan (tokoh masyarakat. dan fasilitator yang mempunyai kompetensi memadai dan dapat membangun komitmen dengan dukungan para pemimpin.

keluarga. pedoman. sehingga membentuk kebiasaan dan pola hidup. kemauan. Edukatif dan Kemandirian Pemberdayaan masyarakat dilakukan atas dasar untuk menumbuhkan kesadaran. 4. permasalahan. Kegiatan Hidup Sehat Kegiatan hidup sehat yang dilakukan sehari-hari oleh masyarakat. Kemandirian bermakna sebagai upaya kesehatan dari.c. serta menjadi penggerak dalam pembangunan kesehatan. dan pemerintah yang meliputi: dana. serta potensi masyarakat (modal sosial). kebutuhan. dan masyarakat sesuai dengan keragaman sosial budaya. d. Prinsip a. serta melembaga dan membudaya dalam kehidupan bermasyarakat. b. oleh. Sumber Daya Potensi yang dimiliki oleh masyarakat. budaya. Berbasis Masyarakat Pembangunan kesehatan berbasis pada tata nilai perorangan. swasta. sarana dan prasarana. tumbuh dan berkembang. metode. dan media untuk terselenggaranya proses pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan. dan untuk masyarakat sehingga mampu untuk mengoptimalkan dan menggerakkan segala 75 . dan kemampuan.

mengemukakan pendapat dan terlibat dalam proses pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kesehatan diri. dan saling memperoleh manfaat. Kesempatan Mengemukakan Memilih Pelayanan Kesehatan Pendapat dan Masyarakat mempunyai kesempatan untuk menerima pembaharuan. Penyelenggaraan a.sumber daya setempat serta tidak bergantung kepada pihak lain. tanggap terhadap aspirasi masyarakat dan bertanggung-jawab. dan lingkungannya. serta kemudahan akses informasi. tenggang rasa. c. solidaritas. Kemitraan dan Gotong-royong Semua pelaku pembangunan kesehatan baik sebagai penyelenggara maupun sebagai pengguna jasa kesehatan dengan masyarakat yang dilayani berinteraksi dalam semangat kebersamaan. Kesemuanya itu dapat dilaksanakan bila kebutuhan masyarakat telah dipenuhi secara wajar. kesetaraan. Penggerakan Masyarakat Pembangunan kesehatan perlu digerakkan oleh masyarakat dan masyarakat mempunyai peluang yang penting dan luas dalam pembangunan 76 . masyarakat. Tumbuhnya rasa kepedulian. empati. dan kepekaan masyarakat dalam menghadapi potensi dan masalah kesehatan yang akhirnya bermuara dalam semangat gotongroyong sesuai dengan nilai luhur bangsa. 5. d. keluarga.

Pengorganisasian dalam Pemberdayaan Pelaksanaan pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan melalui perorangan. kelompok. dari. Dalam kaitan ini pelibatan aktif masyarakat dalam proses pembangunan kesehatan dilakukan mulai dari penelaahan situasi masalah kesehatan. dan masyarakat luas sesuai dengan kepentingannya dan yang berhasil guna dan berdaya guna. hal ini mengingat penekanan atau fokus pembangunan kesehatan diberikan pada peningkatan perilaku dan kemandirian masyarakat serta upaya promotif dan preventif. penyusunan rencana termasuk dalam penentuan prioritas kesehatan. merupakan hal yang penting dalam pembangunan kesehatan. Pada hakekatnya pembangunan kesehatan diselenggarakan oleh. termasuk penggerakan masyarakat. 77 . dan evaluasi upaya kesehatan sehingga dapat terwujud kemandirian dan kesinambungan pembangunan kesehatan. pencegahan. Perencanaan pemberdayaan masyarakat didasarkan pada fakta dan masalah kesehatan yang menjadi perhatian masyarakat setempat maupun masyarakat luas serta dengan mempertimbangkan potensi sumber daya dan nilainilai sosial budaya masyarakat.kesehatan. Pemberdayaan masyarakat. Pemberdayaan masyarakat ditujukan guna terwujudnya penguatan upaya peningkatan. penyembuhan. b. dan untuk masyarakat. maupun pemulihan secara tersendiri atau terpadu. pemantauan. pelaksanaan.

menyiapkan masyarakat dengan membekali pengetahuan dan keterampilan bagi masyarakat. seperti masyarakat di desa. daerah pegunungan. Pemberdayaan masyarakat dilakukan dengan memperhatikan karakteristik dan kekhususan masyarakat. Pemuda Siaga Peduli Bencana (Dasipena). institusi pendidikan. tempat kerja. kesadaran. Pemberdayaan masyarakat dilakukan dengan metoda yang tepat. dan kemandirian dalam upaya kesehatan. Upaya untuk meningkatkan pengetahuan. serta dengan memperhatikan nilai-nilai agama dan sosial budaya yang ada. dan aliran sungai. Musholla Sehat. seperti: Poskestren. dan fasilitas kesehatan agar terwujud pemberdayaan masyarakat yang berhasil guna dan berdaya guna serta terjamin kesinambungannya. seperti: rumah tangga. 78 . kemauan. kota. daerah pesisir. menyiapkan regulasi. Desa Siaga. tempat umum. dukungan sumber daya untuk membangun kemandirian dalam upaya kesehatan dan mendorong terbentuknya Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM).Pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan pula melalui pendekatan ketatanan. Peranan Pemerintah membuka akses informasi dan dialog. dan kemampuan masyarakat dalam berperilaku sehat dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung melalui berbagai saluran media dan teknik promosi kesehatan. memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang.

lembaga legislatif. Advokasi Masyarakat dapat berperan dalam melakukan advokasi kepada pemerintah dan lembaga pemerintahan lainnya. dan masyarakat agar terwujud dukungan sumber daya dan kebijakan dalam pembangunan kesehatan. d. perguruan tinggi. Kemitraan Pemberdayaan masyarakat dilakukan dengan kemitraan berbagai pihak. Masyarakat juga dapat berpartisipasi dengan memberikan kritik yang membangun bagi kepentingan seluruh masyarakat. organisasi kemasyarakatan. Pembinaan dilakukan untuk kesinambungan pemberdayaan masyarakat yang telah dilakukan 79 . c. seperti seluruh sektor terkait. seperti legislatif untuk memperoleh dukungan kebijakan dan sumber daya bagi terwujudnya pembangunan berwawasan kesehatan. Dalam kaitan ini termasuk pengembangan Desa Siaga atau bentuk-bentuk lain pada masyarakat desa/kelurahan.Peran masyarakat dalam pembangunan kesehatan dapat dengan cara mendirikan sarana pelayanan kesehatan maupun memberikan informasi kesehatan (promosi kesehatan) kepada masyarakat. dunia usaha. Pelaksanaan advokasi dilakukan dengan dukungan informasi yang memadai serta metode yang berhasil guna dan berdaya guna.

antara lain pemberian insentif. pembiayaan yang memadai. komunikator. dan kompetisi. 80 . Peningkatan Sumber Daya Dalam pemberdayaan masyarakat perlu didukung oleh pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan yang kuat. seperti di Puskesmas dan Rumah Sakit yang mempunyai kompetensi dan integritas tinggi. pendampingan. lomba. e. Dalam pemberdayaan masyarakat secara lebih spesifik dapat didampingi penggerak yang berperan sebagai fasilitator. dan dukungan berbagai sarana lain yang berkaitan. termasuk pentingnya ketersediaan tenaga penggerak/promosi kesehatan. dan dinamisator dalam proses pemberdayaan masyarakat.melalui berbagai cara. Ketersediaan sumber daya tersebut sangat penting agar dapat tercapai masyarakat berperilaku hidup sehat dan mandiri.

Sistem Kesehatan Nasional dapat disesuaikan dan disempurnakan dengan kondisi dan situasi yang berkembang. regional maupun global. Luaran dari SKN adalah terselenggaranya pembangunan kesehatan yang berhasil guna dan berdaya guna. politik. alat kesehatan. proses. Proses dalam SKN meliputi subsistem upaya kesehatan. ilmu pengetahuan dan teknologi. luaran. subsistem pembiayaan kesehatan. bermutu. sosial.BAB VI DUKUNGAN PENYELENGGARAAN SISTEM KESEHATAN NASIONAL Sistem Kesehatan Nasional diupayakan agar mampu menyesuaikan dengan perkembangan dan dinamika pembangunan kesehatan yang dihadapi dalam penyelenggaraannya yang dilaksanakan secara berkesinambungan. dan subsistem sediaan farmasi. 4. dan lingkungan serta keterkaitannya satu sama lain. PROSES PENYELENGGARAAN SKN Penyelenggaraan SKN menerapkan pendekatan kesisteman yang meliputi masukan. Lingkungan SKN meliputi berbagai keadaan yang menyangkut ideologi. pertahanan dan keamanan baik nasional. dan berkeadilan. 2. A. subsistem pemberdayaan masyarakat. sebagai berikut: 1. Bila terjadi perubahan paradigma dan lingkungan strategis. dan makanan. dan tingkat fisik/alam yang berdampak terhadap 81 . merata. ekonomi. 3. dan subsistem manajemen dan informasi kesehatan. Masukan dalam SKN meliputi subsistem sumber daya manusia. budaya.

Penyelenggaraan SKN memerlukan penerapan prinsip koordinasi. Pancasila. Berbagai materi SKN yang terpilih dapat digunakan untuk penyusunan dan penetapan peraturan perundangan pada tingkat kebijakan strategis. Sosialisasi dan Advokasi SKN Sistem Kesehatan Nasional perlu disosialisasikan dan diadvokasikan ke seluruh pelaku pembangunan kesehatan dan seluruh pemangku kepentingan kesehatan untuk memperoleh komitmen dan dukungan dari semua pihak. akuntabel. 82 . transparan. baik antar pelaku. kebijakan manajerial. dan sinergisme yang dinamis. 2. serta pengawasan dan pertanggung-jawaban secara sistematis. Penetapan SKN Untuk memperoleh kepastian hukum yang mengikat semua pihak. antar subsistem SKN. sinkronisasi. integrasi.pembangunan kesehatan. dan kebijakan teknis operasional. dan Ketahanan Nasional merupakan landasan bagi penyelenggaraan SKN. maupun dengan sistem serta subsistem lain diluar SKN. pelaksanaan dan pengendalian. berjenjang. sebagai berikut: 1. Undang-undang Dasar 1945. SKN perlu ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Penyelenggaraan SKN dilakukan melalui siklus perencanaan. Wawasan Nusantara. dan berkelanjutan dengan memperhatikan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan (RPJP-K) Tahun 2005-2025. Penyelenggaraan SKN dilaksanakan secara bertahap.

memfasilitasi pengukuhannya dalam bentuk peraturan perundangundangan daerah. termasuk pengembangan kebijakan di daerah diselenggarakan melalui penataan ulang keenam subsistemnya secara bertahap. yaitu: 1. seperti: Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJP-D). Penyelenggaraan SKN. dinamika. serta memfasilitasi sosialisasi dan advokasi penyelenggaraan pembangunan kesehatan di daerah sesuai kebutuhan.Sasaran sosialisasi dan advokasi SKN adalah semua penentu kebijakan. 3. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJM-D). dan masalah spesifik daerah dalam kerangka SKN. baik secara nasional maupun dalam lingkup daerah. terpadu. baik di pusat maupun daerah. dan berkelanjutan. sistematis. Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renstra SKPD) yang penyelenggaraannya disesuaikan dengan kondisi. baik di sektor publik maupun di sektor swasta. Penyelenggaraan SKN dalam kaitannya dengan pengembangan kebijakan kesehatan di daerah dilakukan dengan berbagai kegiatan. Pemerintah Pusat memfasilitasi pengembangan kebijakan kesehatan di daerah. Penyelenggaraan SKN. termasuk pengembangan kebijakan di daerah didukung dengan penyusunan 83 . Fasilitasi Pengembangan Kebijakan Kesehatan di Daerah Dalam pembangunan kesehatan di daerah perlu dikembangkan kebijakan kesehatan. Penyelenggaraan SKN. 3. 2. termasuk pengembangan kebijakan di daerah diwujudkan dalam kerangka penyelenggaraan pembangunan kesehatan.

nasional. dan good governance dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pengendalian dan penilaian SKN termasuk kebijakan kesehatan di daerah diselenggarakan secara berjenjang dan berkelanjutan dengan menggunakan tolok ukur keberhasilan pembangunan kesehatan. provinsi. regional. Pengendalian dan penilaian SKN termasuk kebijakan kesehatan di daerah bertujuan untuk memantau dan menilai keberhasilan penyelenggaraan pembangunan kesehatan berdasarkan sistem kesehatan yang ada.kebijakan. baik tingkat nasional maupun tingkat daerah. Penyelenggaraan SKN. termasuk pengembangan kebijakan kesehatan di daerah diselenggarakan sesuai dengan asas desentralisasi yang bertanggung-jawab. maka dilakukan pengendalian dan penilaian SKN sebagai berikut: 1. standar. dan pedoman dalam bentuk berbagai peraturan perundang-undangan. dan kabupaten/kota sampai 84 . Indikator tersebut menjadi acuan segenap pelaku pembangunan kesehatan di tingkat nasional. Pengendalian dan penilaian SKN termasuk kebijakan kesehatan di daerah perlu didukung dengan pengembangan sistem monitoring dan evaluasi di tingkat nasional dan daerah secara terpadu. demokratisasi. 3. Setiap tahun seluruh pelaku pembangunan kesehatan dengan koordinasi pemerintah melakukan pengukuran pencapaian/kinerja SKN dengan beberapa indikator yang akurat dan terpercaya. Dalam rangka menyesuaikan dengan perkembangan global. 2. 4. dan lokal yang dinamis dan cepat berubah. Indikator kinerja SKN menjadi rekomendasi untuk upaya perbaikan yang harus didokumentasikan dan disebarluaskan.

Tata pemerintahan yang baik disertai regulasi pada keenam subsistem SKN merupakan langkah menuju kesinambungan pelaksanaan sistem kesehatan. Standar. penyelenggaraan pembangunan kesehatan di perlu memperhatikan SKN dan peraturan setempat. Pedoman tentang Norma. termasuk SDM nasional yang melaksanakannya. Untuk menjaga kepentingan rakyat. pemerintah juga harus secara konsisten dan konsekuen mengawasi kepatuhan hukum masyarakat. penyelenggaraan SKN memerlukan peran regulasi dari pemerintah sesuai dengan tingkatannya (Pusat.ke tingkat desa. Pelaku pelanggaran peraturan harus ditindak secara tegas. inklusif. dan Kriteria dari Departemen Kesehatan perlu dikoordinasikan dengan Departemen Dalam Negeri. Dalam penyelenggaraan SKN perlu kejelasan dan ketegasan tentang pelimpahan urusan pemerintahan di bidang kesehatan yang luas sampai kabupaten/kota. Provinsi. efektif. swasta. meliputi: partisipatif. dan organisasi bukan pemerintah lainnya. Prosedur. efisien. TATA PENYELENGGARAAN SKN Penyelenggaraan SKN harus memperhatikan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Selain tata pemerintahan yang baik. Adapun unsur dari tata pemerintahan yang baik. semua Dalam daerah daerah Secara operasional. guna penyesuaian penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang berbasis fakta. B. dan mengikuti kaidah hukum yang berlaku. Masyarakat madani dan seluruh sektor terkait perlu secara jelas dan tegas diberi 85 . Kabupaten/Kota). semua peraturan perundangan yang berkaitan harus dilaksanakan secara konsisten dengan tata pemerintahan yang baik (good governance). berorientasi pada konsensus. transparan.

peran dalam pelaksanaan berbagai subsistem SKN. organisasi profesi. penggerak. praktisi. dan masyarakat yang meliputi tokoh masyarakat. dan pembina pembangunan kesehatan dalam lingkup wilayah kerja dan kewenangan masing-masing. lembaga swadaya masyarakat. dalam konteks desentralisasi perlu jelas dan tegas dalam memberikan arahan untuk pembangunan kesehatan di daerahnya. dan sektor terkait lainnya. sektor perikanan dan kelautan. sektor keuangan. SKN tidak bisa dijalankan hanya oleh Departemen Kesehatan atau Dinas yang mengurus kesehatan di daerah. sektor keamanan. C. antara lain: sektor pendidikan. pelaksana. Individu. sektor perdagangan. termasuk swasta yang berperan dalam advokasi. Pelaku adalah: penyelenggaraan pembangunan kesehatan 1. PENYELENGGARA SKN Pemerintah dan masyarakat termasuk swasta bertanggung-jawab atas penyelenggaraan pembangunan kesehatan sesuai peran dan fungsinya masing-masing. Pemerintah. baik Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah berperan sebagai penanggungjawab. Pemerintah daerah. akademisi. keluarga. media massa. Penyelenggaraan SKN dapat berjalan dengan baik apabila melibatkan. sektor pertanian. 2. serta masyarakat luas. Untuk Pemerintah. pembangunan fasilitas umum. Di sektor publik. pengawasan sosial. dan penyelenggaraan berbagai pelayanan kesehatan sesuai dengan bidang keahlian dan kemampuan masing-masing. peranan tersebut ditambah dengan menetapkan 86 .

Kebijakan, Standar, Prosedur, dan Kriteria yang digunakan sebagai acuan dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan di daerah. 3. Badan Legislatif, baik di pusat maupun di daerah, yang berperan melakukan persetujuan anggaran dan pengawasan terhadap penyelenggaraan pembangunan kesehatan, melalui penyusunan produk-produk hukum dan mekanisme kemitraan antara eksekutif dan legislatif. 4. Badan Yudikatif, termasuk kepolisian, kejaksaan dan kehakiman berperan menegakan pelaksanaan hukum dan peraturan perundangan yang berlaku di bidang kesehatan. 5. Sektor swasta yang memiliki atau mengembangkan industri kesehatan, seperti: industri farmasi, alat-alat kesehatan, jamu, makanan sehat, asuransi kesehatan, dan industri pada umumnya. Industri pada umumnya berperan besar dalam memungut iuran dari para pekerja dan menambah iuran yang menjadi kewajibannya. 6. Lembaga pendidikan, baik pada tingkat sekolah dasar sampai tingkat perguruan tinggi, baik milik publik maupun swasta. Sebagian besar masalah kesehatan berhubungan dengan perilaku dan pemahaman. Pendidikan memegang kunci untuk menyadarkan masyarakat akan berbagai risiko kesehatan dan peran masyarakat dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

D. SUMBER DAYA PENYELENGGARAAN SKN Sistem Kesehatan Nasional merupakan bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang bekerja secara sinergis, harmonis, dan menuju satu tujuan. 87

Pemerintah wajib melakukan koordinasi agar semua subsistem dan semua pelaku berfungsi dan bekerja secara sinergis. Kepincangan pada salah satu subsistem atau pelaku akan mengganggu kerja SKN. Pemerintah harus menjamin tersedianya dana, sumber daya manusia yang memadai dan profesional, sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan yang dikelola dengan manajemen kesehatan yang baik, terutama yang berkaitan dengan administrasi kesehatan dan pengaturan hukum kesehatan serta didukung dengan informasi yang akurat, valid, tepat waktu, dan tepat kebutuhan. Pelaku sistem informasi kesehatan sesuai perannya harus mampu secara cepat merespon dan menggunakan perkembangan teknologi informasi, baik untuk mengolah, menyampaikan ke pelaku lain, maupun kepada masyarakat nasional dan internasional. Pemerintah juga mengembangkan sistem insentif/reward dan sistem sanksi bagi setiap pelaku yang tidak menggunakan informasi yang akurat, tepat waktu, dan tepat kebutuhan (relevan). Selain itu, Pemerintah juga mengharuskan fasilitas kesehatan publik maupun swasta untuk menyediakan informasi melalui situs yang mudah diakses dan terbuka, sebagai cara untuk mendidik masyarakat. Tersedianya pembiayaan kesehatan dalam jumlah yang memadai teralokasi secara adil, merata, dan termanfaatkan secara berhasil guna dan berdaya guna, sangat penting dalam pembangunan kesehatan. Pemerintah juga menjamin tersedianya dana untuk penelitian dan pengembangan bidang kesehatan. Sumber daya manusia merupakan komponen kunci keberhasilan SKN. Pemerintah harus melakukan upaya agar semua SDM Kesehatan memenuhi standar kompetensi tertentu sesuai bidangnya sebagai prasyarat bagi penyediaan pelayanan kesehatan yang bermutu dan 88

diterima oleh masyarakat. Namun, Pemerintah juga menjamin agar setiap SDM di bidang kesehatan mendapat remunerasi yang wajar, layak, dan sesuai dengan tanggung-jawab, pengalaman, dan kompetensinya. Keseimbangan profesionalitas, tanggung-jawab, pengalaman, dan besaran renumerasi merupakan kunci kesinambungan pelayanan kesehatan yang berkualitas. Penyelenggaraan subsistem sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan harus dilakukan secara terbuka dengan keseimbangan antara produksi dan pemanfaatan dengan dukungan dana yang memadai. Keterbukaan ini adalah kemampuan mengakomodasikan perkembangan teknologi dan produk teknologi kefarmasian dan teknologi peralatan kedokteran dan kesehatan serta memperhatikan keterjangkauan harga bagi masyarakat. Indonesia harus mampu menjadi pengekspor berbagai sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan. Keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif dalam bidang ini harus terus dikembangkan. Untuk menjamin kesinambungan subsistem upaya kesehatan, maka dukungan masukan informasi kesehatan, sumber daya manusia kesehatan, sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan, serta pendanaan harus selalu tersedia dalam jumlah yang memadai. Kualitas pelayanan harus selalu memenuhi standar yang ditetapkan agar setiap pengguna pelayanan kesehatan merasa puas dan memperoleh manfaat pelayanan kesehatan. Dengan kualitas dan kepuasan pengguna yang tinggi, maka akan timbul kemauan masyarakat sebagai pengguna untuk berkontribusi dalam bentuk dana, pemikiran, maupun tenaga. Pemerintah perlu menjamin adanya kepastian hukum dalam setiap penyelenggaraan subsistem SKN. Peraturan perundangan yang dalam pelaksanaannya mengalami 89

Kewajiban berbagai sektor mencakup pemenuhan logistik yang diperlukan sebagai masukan dalam SKN. Pemerintah daerah perlu diberikan kewenangan untuk penegakan hukum terhadap berbagai aspek yang memungkinkan terselenggaranya SKN dengan baik. pembelian hasil produksi.hambatan besar di daerah harus diatur lebih lanjut dengan Peraturan Daerah. Pemerintah mengatur dan memberdayakan masyarakat agar mampu melakukan kontrol sosial yang memadai guna menjamin kesinambungan dan akuntabilitas SKN. atau industri dalam melakukan penelitian dan pengembangan pelayanan kesehatan guna memacu perkembangan SKN. perguruan tinggi. lembaga penelitian dan pengembangan lainnya. serta sistem pengelolaan yang lebih baik dan bermutu. dan memfasilitasi berbagai penelitian di dalam negeri guna tersedianya sediaan farmasi dan alat kesehatan. E. pemenuhan 90 . memberikan insentif. maupun bantuan teknis lainnya) bagi fasilitas kesehatan. maupun instansi kesehatan di daerah untuk mendukung. Departemen Kesehatan melakukan koordinasi dengan lintas sektor. Pemerintah memfasilitasi dan memberikan insentif (baik berupa pembebasan pajak. Pemerintah mendorong terwujudnya kontrol sosial yang kuat dari masyarakat terhadap kualitas pelayanan kesehatan. maka wajib berperan aktif sesuai dengan bidangnya guna mewujudkan tujuan SKN. KERJASAMA INTERNASIONAL Sistem Kesehatan Nasional merupakan bagian dari sistem nasional. Peraturan yang dibuat harus melalui sinkronisasi dengan berbagai peraturan di bidang kesehatan dan di luar bidang kesehatan serta membuka kesempatan luas kepada pemangku kepentingan dalam perumusan peraturan.

Sebaliknya. UNICEF. Perubahan lingkungan strategis regional maupun global dapat mengancam keberhasilan SKN. Para pelaku SKN juga wajib mencermati dan memanfaatkan setiap kesempatan yang ada di dunia internasional guna memperkuat SKN. Para pelaku SKN berkewajiban mengembangkan diri agar mampu berperan di tingkat internasional dalam rangka menjaga agar SKN dapat berjalan dengan baik. Peran Indonesia dalam upaya mereformasi WHO perlu terus dilakukan agar transparansi dan keadilan dari organisasi internasional tersebut dapat tercapai. peniadaan atau pengurangan bahan-bahan ataupun kondisi yang dapat menimbulkan risiko kesehatan. UNFPA. setiap intervensi internasional yang dalam jangka pendek atau jangka panjang yang dapat merugikan SKN wajib dicegah oleh setiap pemangku kepentingan. dan ASEAN. 91 .SDM dengan kompetensi yang sesuai. dan peran lainnya yang berkembang sesuai perubahan lingkungan strategis. koordinasi penyelenggaraan. Para pelaku SKN wajib berperan aktif di lingkungan internasional untuk mewujudkan kepemimpinan Indonesia di dunia internasional guna menghasilkan kebijakan yang kondusif bagi pengembangan SKN. Kerja sama dalam bidang kesehatan dengan berbagai lembaga internasional dan regional lain yang terkait perlu ditingkatkan. Dana internasional yang tersedia yang tidak mengikat dan dapat secara sinergis meningkatkan kinerja SKN perlu dimanfaatkan dengan baik. penyediaan insentif finansial dan non finansial. seperti UNDP.

penyelenggaraan pembangunan kesehatan dengan dukungan SKN dapat dilaksanakan dengan berhasil guna dan berdaya guna dengan interaksi. meskipun nantinya diharapkan terwujud pelayanan kesehatan yang adil dan merata. baik pemerintah secara lintas sektor. termasuk swasta. 92 . interelasi. Dalam pelaksanaannya.BAB VII PENUTUP Tujuan pembangunan kesehatan hanya dapat dicapai bila didukung oleh kerjasama dengan semangat kemitraan antar semua pelaku pembangunan. tidak berarti seluruh pelayanan kesehatan harus menyediakan pelayanan non diskriminatif bagi seluruh rakyat untuk seluruh jenis pelayanan. serta masyarakat. serta kondisi lingkungannya. pemerintah pusat dan daerah. Prinsip adil dan merata secara bertahap diupayakan sesuai kemampuan yang dimiliki. badan legislatif dan yudikatif. dibutuhkan manajer-manajer di sektor publik maupun di masyarakat. Penetapan SKN dimaksudkan untuk memberikan arah bagi setiap pelaku upaya atau pelayanan kesehatan sesuai dengan kondisi lingkungan masing-masing instansi dan institusi. seluruh pelaku harus memegang teguh prinsip-prinsip umum SKN dan prinsip dasar masing-masing subsistemnya. Untuk dapat melaksanakan SKN yang memenuhi prinsip umum dan prinsip dasar dari masing-masing subsistemnya yang disesuaikan dengan kemampuan diri dan lingkungan. tetapi juga harus realistis dengan kemampuan sumber daya manusia dan ketersediaan dana dan sumber daya lainnya. Dengan demikian. termasuk swasta. serta keterpaduan berbagai upaya yang dilakukan oleh semua pelaku SKN. Manajer tersebut harus mempunyai kompetensi khusus dan mempunyai komitmen kuat dalam upaya mencapai tujuan pembangunan kesehatan. Dengan demikian.

SKN perlu disesuaikan atau diubah secara berkala sesuai dengan perubahan lingkungan strategis. dan perubahan lingkungan strategis nasional. dan dalam pelaksanaannya selalu mengikuti perkembangan. Oleh karenanya. regional. tantangan. semua pemangku kepentingan wajib memantau kinerja dan kendala yang dihadapi SKN. bersifat dinamis. regional. 93 . maupun internasional.Sistem Kesehatan Nasional merupakan sistem terbuka yang berinteraksi dengan berbagai sistem nasionalnya sebagai subsistem dari Ketahanan Nasional. baik nasional. Sistem Kesehatan Nasional harus selalu mampu menjawab peluang. Oleh karenanya. maupun global.

bentuk dan cara penyelenggaraan Bangkes) MASALAH MENDASAR BANGKES: . Politik. UU 17/2007 RPJPN) KONDISI SAAT INI Derajat Kesehatan Masyarakat Rendah Gambar-1 RPJP-K DAN SKN (Arah.LINGKUNGAN BURUK .AKSES PELAYANAN PUBLIK BURUK .SUMBER DAYA KESEHATAN TERBATAS DERAJAT KESMAS YG SETINGGITINGGINYA RAKYAT SEHAT PRODUKTIF TUJUAN NASIONAL LINGKUNGAN STRATEGIS: (Ideologi. REGIONAL. LOKAL PELUANG/KENDALA 94 . dasar. TANNAS.PERILAKU MASYARAKAT BURUK . Ekonomi Sosial Budaya dan Pertahanan Keamanan) GLOBAL.) (UU 23/1992 Kesehatan. NASIONAL.RAWAN PANGAN DAN RAWAN GIZI .KETIDAKPASTIAN HUKUM .WASANTARA.ALUR PIKIR RENCANA PEMBANGUNAN KESEHATAN DAN SISTEM KESEHATAN NASIONAL PARADIGMA NASIONAL (PANCASILA. UUD 1945.

dan Makanan 3) Meliputi : Manajemen dan Informasi Kesehatan 95 . AGAMA DAN BUDAYA PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN FUNDAMEN MORAL: KEMANUSIAAN LINGKUNGAN EKONOMI 2) SUMBER DAYA KESEHATAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT UPAYA KESEHATAN 1) DERAJAT KESEHATAN MASYARAKAT LINGKUNGAN SEHAT 3) MANAJEMEN KESEHATAN PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA LINGKUNGAN POLITIK DAN HUKUM LINGKUNGAN FISIK DAN BIOLOGI Catatan: 1) Meliputi pula: Penelitian dan Pengembangan Kesehatan 2) Meliputi: Pembiayaan Kesehatan.GAMBARAN UNSUR-UNSUR PEMBANGUNAN KESEHATAN DAN SUBSISTEM SKN SERTA TATA HUBUNGANNYA Gambar-2 DAN LINGKUNGAN STRATEGIS YANG MEMPENGARUHI SKN LINGKUNGAN ILMU DAN TEKNOLOGI LINGKUNGAN SOSIAL. serta Sediaan Farmasi. SDM Kesehatan. Alat Kesehatan.

Informasi dan Edukasi Koordinasi. Standar. Prosedur. Integrasi.DAFTAR SINGKATAN AKB AKI APBD APBN ASEAN BPFK BTKL CPOB DBD DOEN Dasipena HAM HIV/AIDS Iptek Jamkesmas KFT KIA KIE KISS MDGs NKRI NSPK PDB PKMP PKMS PKMT PKPP PKPS PKPT Pilkada : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : Angka Kematian Bayi Angka Kematian Ibu Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Association South East Asian Nation Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan Balai Tehnik Kesehatan Lingkungan Cara Pembuatan Obat yang Baik Demam Berdarah Dengue Daftar Obat Esensial Nasional Pemuda Siaga Peduli Bencana Hak Asasi Manusia Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Jaminan Kesehatan Masyarakat Komite Farmasi dan Terapi Kesehatan Ibu dan Anak Komunikasi. Sinkronisasi. dan Sinergisme Millenium Development Goals Negara Kesatuan Republik Indonesia Norma. dan Kriteria Produk Domestik Bruto Pelayanan Kesehatan Masyarakat Primer Pelayanan Kesehatan Masyarakat Sekunder Pelayanan Kesehatan Masyarakat Tersier Pelayanan Kesehatan Perorangan Primer Pelayanan Kesehatan Perorangan Sekunder Pelayanan Kesehatan Perorangan Tersier Pemilihan Kepala Daerah 96 .

Poskesdes Poskestren Posyandu Puskesmas P4K RPJM-D RPJP-K RPJP-D RPJP-N Renstra SKPD Riskesdas SDKI SDM SJSN SKN Siknas TB Paru UHH UKBM UNDP UNFPA UNICEF UPT UUD WHO WNA WNI : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : Pos Kesehatan Desa Pos Kesehatan Pesantren Pos Kesehatan Terpadu Pusat Kesehatan Masyarakat Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah Riset Kesehatan Dasar Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia Sumber Daya Manusia Sistem Jaminan Sosial Nasional Sistem Kesehatan Nasional Sistem Informasi Kesehatan Nasional Tuberculosis Paru Umur Harapan Hidup Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat United Nations Development Programme United Nations Population Fund United Nations Emergency Children’s Fund Unit Pelaksana Teknis Undang-undang Dasar World Health Organization Warga Negara Asing Warga Negara Indonesia 97 .

Sp. M. Arum Atmawikarta. Drg. dr. SE. MPH. SKM. Tjipto Rahardjo.M. Achmad Soebagio T. Richard Panjaitan. M. M. Dr. MPH. Dr. Dr.Appt. Jajang Subagya. MKKK .JP. SKM. S.Kes. Sjafii Achmad. Bambang Hartono. Dr. Apt. Rustam S Pakkaya. . Sri Hermiyanti. SK Amdani. Sutoto. Dr. DR. Lenny Evanita. Prof. . MPH). Dra. Indah Yuningprapti. MPH. Drg.H. Suamsul Bahri. Agus Iriawan. Zulkarnain Kasim. . Purwadi.Epid. Liliana. Widjaja Lukito. Msi. Drg. SKM. M. MPH. dr. DR. Drs. DR.Kes. DR. Dr. R. MPH. MPP. SKM.Kes .Sc.Rita Ratna Puri. MPPM. MS. Dr. Dr. DR. Dr. Dr. DR. M. MBA. Dr. Sp. Apt. Indriyono Tantoro. dr. DHSM. dr. MPH. M. Sri Suhariningsih. MPH. SKM. Yusharmen D Comm. MSc.Kes. Ratna Rosita Hendardji. Dr. Diah Puspitasari. Agus Purwadianto. Nagiot CT.A. SH. Rahmat Kurniadi. Ruhayati . MSi.Kes.Kes. Emiliya Roza. Dr. Drs. Bambang Hartono. MM. Bambang Sardjono.KONTRIBUTOR Sistem Kesehatan Nasional ini berhasil disusun atas partisipasi aktif dan kontribusi positif dari berbagai pihak. Sulistyowati. dr. Hary Purwanto. Chirul R Nasution.B. Kustantinah. Jemfy Naswil. Ida Bagus Indra Gotama. Prof.B. Setiawan Soeparan. Rusmiati. M. M. Dr. Syamsul Bahri. Peter Andreas. SE. Mulya A Hasjmy.PH. Dr. Dr. Faiq Bahfen. Ruhayati . Dr. Dr. Mustikowati. Adang Bachtiar. Dr. MSi. MSc. Drs. SKM.Epid . Agus Sunario. Soenarjo Soejoso. Dr. SKM. MM. SKM . Donald Pardede. Imran Agus Nurali.Kes. SKM . Royan. Dr. M. MPH. Lovita T. Drs. M. Krishnajaya. Wandaningsih. MSc. Drs.B(K).Meinarwati. S. SKM. Farid Wadjdi Husain. MPH. MPH. MSc. DR. MKM. Delnalis. Dr. Dr. SKM. Budhihardja. M. Yoserizal. Dr. dr. Rustam S. SKM. M. MA. Lily S. Indariwati. Dr. Ida Bagus Indra Gotama. Sardikin Giriputro. Apt. Taufik. Hardini Kusumadewi. Dr. Dra. Dr. Apt. Prof. Mary S Maryam. MSc.Chalik Masulili. Iis Sin Sin. SKM. MPH .KO. Dr. Ina Hernawati. Sontang Tambunan.Kes. dr. Dr. SH. Untung Suseno Sutarjo. T. H.MSc(PH).Sos. Sp. MPH. Drs. Dr. Dr. MM. Zulkarnain. Drg. Abidinsyah Siregar.Sos. Herma Trillas Purba. M. Drs. Pakkaya. MPH. MM. M. Siti Fadilah Supari. R. Hapsara Habib Rahmat.Kes. Krissna Tirtawidjaja.DTM&H. DPH. Sp. Geral Mario S. antara lain: Tingkat Pusat: Dr. SS . Msi. I Nyoman Kandun. Bambang W. H. Marius W. Rahbudi Helmi. M. MSc. Taufik Izwan. Abidinsyah Siregar.Tugijono. SE. Harmein Harun. dr.Kom. S. Suginarti . Dr. DR. H. Sp. Sri Muljati. DHSM. SKM. Bambang Widodo. Apt. Yuniar S. Sp. Drg. Gemala Hatta. Dr.Kes. Ph. SpF(K). Andi Saguni. MSc. Firman Lubis. M. dr. MPH. M. Ir. Naydial Roesdal. M. Faisal Barabas. MPH. MPH. Slamet Sudi Santoso. Dr. Sonny P. drg. Dr. M. Prof. SKM. Louventus P .Kes. MPH. Dra. SKM. MPH. dr. Edi Suranto. PhD. SKM . MBA. Hasbullah Thabrani. .Kes. Gatot Soetomo. DR. Ruslidjah. Madiono. Suhardjono. DM Wismarini. MPH. Dra. Dr. Dr. Dr. Toto Heryanto .Sukowidodo. SH. Fresly.SKM. Dr. M. Triono Soendoro. Kodrat Pramudho. Charles Suryadi. Titte Kabul Adimidjaja. Dr. Trisa Wahjuni Putri. MSc. Bambang Hartono. Bambang Giatno Rahardjo. Apt. Widyawati. DCN.Kes. Dr. MPH.J. DR. MPH. Dr. Dr. Ph. M. Rachmi Untoro.JP(K).D. Iswandi Mourbas. MKM. Abdurachman. Dr. SKM. Mulyadi. Rita Djupuri. Mulya A Hasymi. Drs. dr.Kes. Dr. M. Dr.DR. Bambang Sardjono. MS.D.Kes.Kes. MSc. MPH. Bambang Widodo. SKM.W. Dr. Riza Sultoni. MSc. Yaslis Ilyas. Nasirah Bahaudin. Ahmad Nizar S. Marwan Nusri.Kes. Dr. MPH. Drg. SKM.Syihab. DR.

Julistio TB Djais. Kuswati Ningsih. Amin Yohannis. Arbiansyah Alam. Drs. Ni Wayan Mariani.Kes. Apt. Eny Susilowati. Vita.Kes.Kes. Dr. SKM. Munzir Purba. Razak Thaha. Emmilya Rosa.M.Kes.Kes . MPH. SKM. Dan semua individu/pihak yang telah membantu penyusunan SKN yang tidak bisa disebutkan satu per-satu Mohon maaf bila ada kesalahan dalam penulisan nama dan gelar Daftar nama dan gelar disusun berdasarkan absensi lokakarya. Ockti Palupi. Syafri. Sultan Akbar Torutju . Rais Lamangkona. M. Jimmy Lee. Dr. Dr. Tin tin F. Dr.Sp. Drg. Dr. Entos Z. Drg. Abdul Gani Sitepu. Dr. Sugito. SE. HJ. Dedi Supratman. Herry Tjahjono. Syafrudin Rasyid. MPPM. Indro Darmadji. Sugeng LA. Dyah RB. Dien Emawati. Nurbaiti. Dr.SKM. MSc. M. M. Dr. atau pertemuan lainnya . Hasnawati.Kes. MSCPH.Kes. Kiswanto. Tingkat Daerah: Drg. Mkes. Slamet Soesilo. Isti Ratnaningsih. MKes. Nizwardi Azkha. SKM. Drs. Rita Kusriastuti. SpOG. Harif Fadhillah. Benny Patiasina. Prof. Lovita T . Dr. M. Pande Putujaraga. SE. DESS. MPH. Dr. I Wayan A. Dr. Dr. H. Djayusmantoko. rapat. Fauzi Ali Amin. MKes. Siti Aisyah. Eryta W. MARS. Rudi Arif. Pius Weraman. Hanni Rono S. Lita R Siampar. Muninjaya.GDE Agung Wiadnya P.Ahmad Said. Bambang Agus Legowo.A. Jauhari. Julistio Djais. MPH. Bambang Sugeng W. Ibnu Alferbaly. Sardikin Giriputro. Drg. Kamaruzaman.Kes. Dian Damairini. Bairizal. MPAM. Okti Palupi . SKM. M. M. M. Drs. Ninin S . Drs. Syahrul A. Drg.Kes. Kuwat S Hudoyo. Lily Mulyasari.Kes. RE.Kes.S. Kodrat Pramudho. MKes. Ade Erma. Choirul Anwar. Dr. Dr. Ridarson. Suteja. Agussalim Mooduto. Drg. Yanti Nurbayanti. Dr. MPH. DESS. Ratna Dewi Umar. SKM. Dr. A. SpACKI. Yanti. M. Dr. Drg. Drg. Jeane Pangemanan. SKM. SpA (K). Bachtiar Oesman. Adi Wirachjanto. M. Dr. SKM. Endro Buono. Sutrisno. Tri Martiana.Sos . Sudono. M. Prijono. Sofia Wirda. Rosihan Adhani. Nina Kurnia. Drs. SH. Syahrani Djedi. Mahmud Fauzi. Dr. Didi Suswanto. Dr. Noto Basuki. Munzelly Husivevi. Dr. Drg. Durachman. Widyawati. MPH. Lukman HL. S. Tri Martiana. SKM. Ridwan Thaha. Drg. Andi M.Kes. Jeni Haju. Risma Julius. Irwan. Dr. Oslinda Martony. Prof. MKes. Andreas Meliala. Dr. Sasli Adis. Ishak. Zaura Rini Anggraini. Poedjo Praseptio. Abd. Adnan Mahmud. Jorizal Jannis. MKes. E. SKM. Peter Andreas). Emi Nurjasmi. Guntur DW. DR.Kes. Drg. Dr.P.SKM. Drs. H. Tukijan. Wirabrata. Dr. Suharto. S. Dr. Entos Rusna. Sri Rachmani. Eny Setiowati. SKM. MM. Broto Wasisto. SKM. M. Bondan Agus Susyanto. Melzan Dharmayuli. MPH. Apt. M. Tjipto Rahardjo. SKM.Sos. dr. Agung Indarto. T. Drs.Kes . M. Shermina Oruh. Dr. One Widyawati. Dr. Kartini Rustandi. Dr. MKes. Poedjo Prasetyo.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful