DEPARTEMEN KESEHATAN RI JAKARTA, 2009

BENTUK DAN CARA PENYELENGGARAAN PEMBANGUNAN KESEHATAN

DEPARTEMEN KESEHATAN RI JAKARTA, 2009

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ....................................................... DAFTAR ISI ..................................................................... I. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG .......................................... B. PENGERTIAN SKN .......................................... C. MAKSUD DAN KEGUNAAN SKN .................... D. LANDASAN SKN .............................................. PERKEMBANGAN DAN TANTANGAN SISTEM KESEHATAN NASIONAL A. PERKEMBANGAN DAN MASALAH SISTEM KESEHATAN NASIONAL …………………….... B. PERUBAHAN LINGKUNGAN STRATEGIS ..... ASAS SISTEM KESEHATAN NASIONAL A. DASAR PEMBANGUNAN KESEHATAN ......... B. DASAR SKN ..................................................... BENTUK POKOK SISTEM KESEHATAN NASIONAL A. TUJUAN SKN ................................................ B. KEDUDUKAN SKN ....................................... C. SUBSISTEM SKN ......................................... D. TATA HUBUNGAN ANTAR SUBSISTEM DAN LINGKUNGANNYA .......................................... CARA PENYELENGGARAAN SISTEM KESEHATAN NASIONAL A. SUBSISTEM UPAYA KESEHATAN ................. B. SUBSISTEM PEMBIAYAAN KESEHATAN ...... C. SUBSISTEM SUMBERDAYA MANUSIA KESEHATAN .................................................... D. SEDIAAN FARMASI, ALAT KESEHATAN, DAN MAKANAN ............................................... ii i ii 1 1 2 3 4

II.

6 6 12 15 15 17

III.

IV.

21 21 21 23 26

V.

30 30 45 50 59

.. SUMBER DAYA PENYELENGGARAAN SKN E... SUBSISTEM MANAJEMEN DAN INFORMASI KESEHATAN …………………………………… F.. PROSES PENYELENGGARAAN SKN …….... B. TATA PENYELENGGARAAN SKN ………… C............. SUBSISTEM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT ... DUKUNGAN PENYELENGGARAAN SISTEM KESEHATAN NASIONAL A........... D....... KONTRIBUTOR 96 iii .........E. PENYELENGGARA SKN ……………………..... KERJA SAMA INTERNASIONAL …………… 68 73 81 81 85 86 87 90 92 VII....... PENUTUP LAMPIRAN Gambar-1: Alur Pikir Rencana Pembangunan Kesehatan dan Sistem Kesehatan Nasional Gambar-2: Gambaran Unsur-unsur Pembangunan Kesehatan dan Subsistem SKN serta Tata Hubungannya dan Lingkungan Strategis yang Mempengaruhi SKN 94 95 DAFTAR SINGKATAN ……………………………………..... VI...

Di dalamnya juga telah tercantum arah pembangunan kesehatan dalam 20 tahun ke depan sampai dengan tahun 2025. kemauan. Dalam Undang-Undang tersebut antara lain ditetapkan bahwa pembangunan berdasarkan kesehatan diselenggarakan pemberdayaan dengan dan perikemanusiaan. . dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat mencapai yang tujuan setinggi-tingginya.KATA PENGANTAR Pembangunan kesehatan adalah upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen bangsa yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran. Kesinambungan dan keberhasilan pembangunan kesehatan ditentukan oleh tersedianya pedoman penyelenggaraan pembangunan kesehatan baik berupa dokumen perencanaan maupun metode dan cara penyelenggaraannya. tersebut. berkesinambungan dan realistis sesuai pentahapannya. UndangUndang Nomor 17 Jangka tahun 2007. tentang Nasional Rencana (RPJPN) Pembangunan Panjang memberikan arah pembangunan ke depan bagi bangsa Indonesia. Dalam kerangka kesehatan pembangunan dilaksanakan secara terarah.

cepat berubah dan. Adanya SKN yang disempurnakan tersebut menjadi sangat penting kedudukannya mengingat penyelenggaraan pembangunan kesehatan pada saat ini semakin kompleks sejalan dengan kompleksitas perkembangan demokrasi.kemandirian. desentralisasi. manusia usia lanjut (manula). adil dan merata. Sistim Kesehatan Nasional (SKN) 2009 yang disempurnakan ini diharapkan mampu menjawab dan merespon berbagai tantangan pembangunan kesehatan di masa kini maupun di masa yang akan datang. serta pengutamaan dan manfaat dengan perhatian khusus pada penduduk rentan. Sistim Kesehatan Nasional (SKN) 2009 sebagai penyempurnaan dari SKN sebelumnya merupakan bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah bersama seluruh elemen bangsa dalam rangka untuk meningkatkan tercapainya pembangunan kesehatan dalam mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. anak. dan keluarga miskin. sering tidak menentu. . antara lain ibu. dan globalisasi serta tantangan lainnya yang juga semakin berat.

April 2009 MENTERI KESEHATAN RI. Siti Fadilah Supari.dr. pelaksanaan pembangunan kesehatan di Pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya dan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak atas perhatian. Semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu melimpahkan Rachmat dan Hidayah serta memberikan petunjuk dan kekuatan bagi kita sekalian dalam melaksanakan pembangunan kesehatan di Indonesia dengan berpedoman pada Sistem Kesehatan Nasional yang baru ini. bantuan dan masukan serta kontribusinya dalam penyusunan dan perumusan SKN tersebut. Dr. Sp. Dalam kaitan ini penyelenggaraan SKN 2009 tersebut perlu sesuai dengan tahap-tahap lapangan.Diharapkan SKN 2009 ini terkait dan mengacu pada arah dan tahapan pembangunan kesehatan yang ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan (RPJPK) Tahun 2005-2025. Jakarta.JP(K) .

dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum. mencerdaskan kehidupan bangsa. maka pembangunan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan kesadaran.BAB I PENDAHULUAN A. dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya dapat terwujud. Untuk itu diperlukan pemantapan dan percepatan melalui Sistem Kesehatan Nasional sebagai bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang disertai berbagai terobosan penting. LATAR BELAKANG Dalam mencapai tujuan nasional bangsa Indonesia sesuai Pembukaan UUD 1945. Perubahan lingkungan strategis ditandai dengan berlakunya berbagai regulasi penyelenggaraan kepemerintahan. seperti: Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. perdamaian abadi dan keadilan sosial. Undangundang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Jaminan Kesehatan Masyarakat. Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang 1 . Pembangunan kesehatan yang dilaksanakan dalam dasawarsa terakhir masih menghadapi berbagai masalah yang belum sepenuhnya dapat diatasi. seperti: pengembangan Desa Siaga. kemauan. serta Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K).

penting untuk dimutakhirkan menjadi SKN 2009 agar dapat mengantisipasi berbagai tantangan perubahan pembangunan kesehatan dewasa ini dan di masa depan. pada hakekatnya merupakan bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan. kemauan. B. perlu mengacu terutama pada arah. dasar. Dalam mengantisipasi ini. dan strategi pembangunan kesehatan yang ditetapkan dalam Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJP-N) Tahun 2005-2025 dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan (RPJP-K) Tahun 2005-2025. dan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJP-N) Tahun 2005-2025. PENGERTIAN SKN Sistem Kesehatan Nasional (SKN) adalah bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang memadukan berbagai upaya bangsa Indonesia dalam satu derap langkah guna menjamin tercapainya tujuan pembangunan kesehatan dalam kerangka mewujudkan kesejahteraan rakyat sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Dasar 1945. dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang 2 . Pembangunan kesehatan adalah upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen bangsa yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran.Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. sehingga diperlukan penyempurnaan dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan. SKN 2004 sebagai pengganti SKN 1982. Disamping itu secara global terjadi perubahan iklim dan upaya percepatan pencapaian MDGs.

setinggi-tingginya dapat terwujud. serta meningkatkan investasi kesehatan untuk keberhasilan pembangunan nasional. pendapatan keluarga. keamanan. melaksanakan pemerataan upaya kesehatan yang terjangkau dan bermutu. Pembangunan kesehatan diselenggarakan berdasarkan pada: 1) Perikemanusiaan. agar dapat dipergunakan sebagai pedoman tentang bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan. baik oleh masyarakat. memperjelas penyelenggaraan pembangunan kesehatan sesuai dengan visi dan misi Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan (RPJP-K) Tahun 2005-2025. kesadaran masyarakat. seperti: kondisi kehidupan sehari-hari. MAKSUD DAN KEGUNAAN SKN Penyusunan SKN 2009 ini dimaksudkan untuk menyesuaikan SKN 2004 dengan berbagai perubahan dan tantangan eksternal dan internal. serta 4) Pengutamaan dan manfaat. 3) Adil dan merata. distribusi kewenangan. swasta. serta kemampuan tenaga kesehatan dalam mengatasi masalah-masalah tersebut. sumber daya. maupun oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah serta pihak terkait lainnya. tingkat pendidikan. 2) Pemberdayaan dan kemandirian. 3 . C. Tersusunnya SKN 2009 mempertegas makna pembangunan kesehatan dalam rangka pemenuhan hak asasi manusia. Sistem Kesehatan Nasional perlu dilaksanakan dalam konteks Pembangunan Kesehatan secara keseluruhan dengan mempertimbangkan determinan sosial. memantapkan kemitraan dan kepemimpinan yang transformatif.

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan Tahun 2005-2025 merupakan arah pembangunan kesehatan yang berkesinambungan. dan 4) Kepemimpinan. termasuk penguatan sistem rujukan. yaitu Pancasila. yaitu UUD 1945. khususnya: Pasal 28 A. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan Tahun 2005-2025 dan SKN merupakan dokumen kebijakan pembangunan kesehatan sebagai acuan dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan. D. Pasal 28 H ayat (1). 3) Kebijakan pembangunan kesehatan. Sistem Kesehatan Nasional disusun dengan memperhatikan pendekatan revitalisasi pelayanan kesehatan dasar (primary health care) yang meliputi: 1) Cakupan pelayanan kesehatan yang adil dan merata. setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin. dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan 4 . 2. Landasan Idiil. LANDASAN SKN Landasan SKN meliputi: 1. Landasan Konstitusional. Sistem Kesehatan Nasional juga disusun dengan memperhatikan inovasi/terobosan dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan secara luas. bertempat tinggal. setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya. 2) Pemberian pelayanan kesehatan yang berpihak kepada rakyat. Pendekatan pelayanan kesehatan dasar secara global telah diakui sebagai pendekatan yang tepat dalam mencapai kesehatan bagi semua dengan mempertimbangkan kebijakan kesehatan yang responsif gender.

setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya. dan berkembang. berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi. 3. Pasal 28 C ayat (1). Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan dan ayat (3). Pasal 28 B ayat (2). setiap anak berhak atas kelangsungan hidup.kesehatan dan ayat (3). 5 . demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia. Beberapa peraturan perundangan tersebut terdapat dalam Lampiran-1 dari RPJP-K Tahun 2005-2025. Landasan Operasional meliputi seluruh ketentuan peraturan perundangan yang berkaitan dengan penyelenggaraan SKN dan pembangunan kesehatan. serta Pasal 34 ayat (2). Negara bertanggungjawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak. tumbuh. seni dan budaya. setiap orang berhak atas jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia yang bermartabat.

dalam kaitan ini akses rumah tangga yang dapat menjangkau sarana kesehatan ≤ 30 menit sebesar 90. Upaya Kesehatan Akses pada pelayanan kesehatan secara nasional mengalami peningkatan. Demikian pula telah terjadi penurunan prevalensi kekurangan gizi pada balita dari 29. Angka Kematian Ibu (AKI) juga mengalami penurunan dari 318 per 100.6 tahun pada tahun 2004 menjadi 70. 2007).5 tahun pada tahun 2007. PERKEMBANGAN DAN KESEHATAN NASIONAL MASALAH SISTEM Pembangunan kesehatan yang dilaksanakan secara berkesinambungan telah berhasil meningkatkan status kesehatan masyarakat. Kinerja sistem kesehatan telah menunjukkan peningkatan. 2007). Upaya percepatan pencapaian indikator kesehatan dalam lingkungan strategis baru.000 kelahiran hidup pada tahun 1997 menjadi 34 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2007 (SDKI 2007).BAB II PERKEMBANGAN DAN TANTANGAN SISTEM KESEHATAN NASIONAL A. antara lain ditunjukkan dengan peningkatan status kesehatan. Sejalan dengan penurunan angka kematian bayi.000 kelahiran hidup pada tahun 2007 (SDKI. 1.000 kelahiran hidup pada tahun 1997 menjadi 228 per 100.7% dan akses rumah tangga 6 .5% pada akhir tahun 1997 menjadi sebesar 18.4% pada tahun 2007 (Riskesdas. Namun penurunan indikator kesehatan masyarakat tersebut masih belum seperti yang diharapkan. yaitu: penurunan Angka Kematian Bayi (AKB) dari 46 per 1. harus terus diupayakan dengan perbaikan Sistem Kesehatan Nasional. Umur Harapan Hidup (UHH) meningkat dari 68.

Secara keseluruhan.7% pada tahun 2006.4% pada tahun 2005 menjadi 41. 2007).9% dan cakupan terendah 17.000 pada tahun 2007 (Profil Kesehatan.65 per 100. Begitupula kunjungan baru (contact rate) ke fasilitas pelayanan kesehatan meningkat dari 34.1% dan terendah 67%. jumlah masyarakat yang mencari pengobatan sendiri sebesar 45% dan yang tidak berobat sama sekali sebesar 13. Peningkatan jumlah Puskesmas ditandai dengan peningkatan rasio Puskesmas dari 3. Jarak fasilitas pelayanan yang jauh disertai distribusi tenaga kesehatan yang tidak merata dan pelayanan kesehatan yang mahal menyebabkan rendahnya aksesibilitas masyarakat terhadap pelayanan kesehatan. 2007). kesehatan ibu membaik dengan turunnya AKI. Disamping itu.1% pada tahun 1996 menjadi 33. Namun pada daerah terpencil. tertinggal.000 penduduk pada tahun 2003 menjadi 3.46 per 100. Cakupan pemeriksaan kehamilan tertinggi 97. pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan meningkat 20% dalam kurun 10 tahun. Namun masih ditemui disparitas Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dan cakupan imunisasi antar wilayah masih tinggi. serta pulau-pulau kecil terdepan dan terluar masih rendah. 7 .3% (2007). Pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan oleh penduduk meningkat dari 15.yang berada ≤ 5 km dari sarana kesehatan sebesar 94.3% (Riskesdas. sementara persalinan di fasilitas kesehatan meningkat dari 24. sementara itu cakupan imunisasi lengkap tertinggi sebesar 73. perbatasan. peningkatan yang besar terutama di daerah perdesaan.8% pada tahun 2007.3% pada tahun 1997 menjadi 46% pada tahun 2007.1% (Riskesdas. 2007).

Framboesia cenderung meningkat kembali.5%. Namun demikian kontribusi penyakit menular terhadap kesakitan dan kematian semakin menurun. menjadikan Indonesia mempunyai beban ganda (double burden).Akses terhadap air bersih sebesar 57. meskipun belum mencapai 5% dari PDB seperti dianjurkan WHO. DBD dan Diare.6–2. Persentase pengeluaran nasional sektor kesehatan pada tahun 2005 adalah sebesar 0. terutama: TB Paru.81% dari Produk Domestik Bruto (PDB) meningkat pada tahun 2007 menjadi 1.09 % dari PDB. Pengeluaran pemerintah untuk 8 .8%. Penyakit infeksi menular masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang menonjol. rumah tangga yang tidak menggunakan fasilitas buang air besar sebesar 24. Pembiayaan Kesehatan Pembiayaan kesehatan sudah semakin meningkat dari tahun ke tahun. seperti Filariasis.5% rumah tangga mempunyai akses pada sanitasi yang baik (Riskesdas. Pada tahun 2007. Kusta.7% rumah tangga dan sebesar 63. 2. pada tahun 2004 jumlah APBN kesehatan adalah sebesar Rp 5.54 Triliun meningkat menjadi sebesar 18. 2007). Demikian pula dengan anggaran kesehatan. Malaria. HIV/AIDS. namun persentase terhadap seluruh APBN belum meningkat dan masih berkisar 2. Selain itu penyakit yang kurang mendapat perhatian (neglected diseases).8% dan yang tidak memiliki saluran pembuangan air limbah sebesar 32.75 Triliun pada tahun 2007. Hasil Riskesdas Tahun 2007 menunjukkan adanya peningkatan kasus penyakit tidak menular (seperti penyakit kardiovaskuler dan kanker) secara cukup bermakna. Demikian pula penyakit Pes masih terdapat di berbagai daerah.

maupun kualitas tenaga kesehatan yang dibutuhkan. Namun kontribusi pengeluaran pemerintah untuk kesehatan masih kecil. Masalah strategis SDM Kesehatan yang dihadapi dewasa ini dan di masa depan adalah: a) Pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan belum dapat memenuhi kebutuhan SDM untuk pembangunan kesehatan. baik jumlah. Sumber Daya Manusia Kesehatan Upaya pemenuhan kebutuhan Sumber Daya Manusia (SDM) Kesehatan belum memadai. Proporsi pembiayaan kesehatan yang bersumber dari pemerintah belum mengutamakan upaya pencegahan dan promosi kesehatan. seperti Filipina 58 per 100. distribusi tenaga kesehatan masih belum merata. yaitu 38% dari total pembiayaan kesehatan. b) Perencanaan kebijakan dan program SDM Kesehatan masih lemah dan belum didukung sistem informasi SDM Kesehatan yang memadai.2%.000 penduduk bila dibandingkan dengan negara lain di ASEAN. Jumlah dokter Indonesia masih termasuk rendah. Cakupan jaminan pemeliharaan kesehatan sekitar 46.000 pada tahun 2007. c) Masih kurang serasinya antara kebutuhan dan pengadaan berbagai jenis SDM Kesehatan.4 juta jiwa atau 34.000 penduduk dan Malaysia 70 per 100. 9 . 3. jenis. Selain itu. yaitu 19 per 100. d) Dalam pendayagunaan SDM Kesehatan.5% dari keseluruhan penduduk pada tahun 2008 yang sebagian besar berasal dari bantuan sosial untuk program jaminan kesehatan masyarakat miskin sebesar 76.kesehatan terus meningkat. Kualitas hasil pendidikan SDM Kesehatan dan pelatihan kesehatan pada umumnya masih belum memadai.

Alat Kesehatan. Namun tidak diikuti 10 . Sediaan Farmasi. masih banyak pengobatan yang dilakukan tidak sesuai dengan formularium. alat kesehatan. namun masih banyak kendala yang dihadapi. Regulasi untuk mendukung SDM Kesehatan masih terbatas. sistem penghargaan. Penggunaan obat rasional belum dilaksanakan di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan. 4. Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) digunakan sebagai dasar penyediaan obat di pelayanan kesehatan publik. serta e) Pembinaan dan pengawasan SDM Kesehatan serta dukungan sumber daya SDM Kesehatan masih kurang. Daftar Obat Esensial Nasional tersebut telah disusun sejak tahun 1980 dan direvisi secara berkala sampai tahun 2008. dan Makanan Pasar sediaan farmasi masih didominasi oleh produksi domestik. Upaya perlindungan masyarakat terhadap penggunaan sediaan farmasi. dan baru 300 jenis tanaman yang telah digunakan sebagai bahan baku. Di Indonesia terdapat 9.pemerataan SDM Kesehatan berkualitas masih kurang. dan sanksi belum sebagaimana mestinya. dan makanan telah dilakukan secara komprehensif. Pengembangan karier. sementara itu bahan baku impor mencapai 85% dari kebutuhan. Sementara itu pemerintah telah berusaha untuk menurunkan harga obat. Lebih dari 90% obat yang diresepkan di Puskesmas merupakan obat esensial generik.600 jenis tanaman berpotensi mempunyai efek pengobatan.

Demikian juga dengan banyak kebijakan yang belum disusun berbasis bukti dan belum bersinergi baik perencanaan di tingkat Pusat dan atau di tingkat Daerah. Sistem informasi kesehatan menjadi lemah setelah menerapkan kebijakan desentralisasi. Data dan informasi kesehatan untuk perencanaan tidak tersedia tepat waktu. jenis. Hukum kesehatan belum tertata secara sistematis dan belum mendukung pembangunan kesehatan secara utuh. Hal ini menunjukkan bahwa konsep obat esensial generik belum sepenuhnya diterapkan. maupun efektifitasnya. rumah sakit swasta 49%. baik jumlah. dan bermutu sesuai dengan prinsip-prinsip tata pemerintahan yang baik (good governance). Manajemen dan Informasi Kesehatan Perencanaan pembangunan kesehatan antara Pusat dan Daerah belum sinkron. seperti: di rumah sakit pemerintah kurang dari 76%. Surveilans belum dilaksanakan secara menyeluruh.oleh sarana pelayanan kesehatan lainnya. 5. 11 . Regulasi bidang kesehatan pada saat ini belum cukup. Hasil penelitian kesehatan belum banyak dimanfaatkan sebagai dasar perumusan kebijakan dan perencanaan program. dan apotek kurang dari 47%. efisien. Begitu pula dengan perencanaan jangka panjang/menengah masih belum menjadi acuan dalam menyusun perencanaan jangka pendek. Sistem Informasi Kesehatan Nasional (Siknas) yang berbasis fasilitas sudah mencapai tingkat kabupaten/kota namun belum dimanfaatkan. Pemerintah belum sepenuhnya dapat menyelenggarakan pembangunan kesehatan yang efektif.

Hal ini merupakan faktor eksternal utama yang mempengaruhi proses pembangunan kesehatan. Hingga tahun 2008 sudah terbentuk 47. seperti Posyandu dan Poskesdes semakin meningkat. yakni dengan target 60%. dan nasional yang dinamis akan mempengaruhi pembangunan suatu negara.111 buah Pos Kesehatan Desa (Poskesdes). regional. Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat lainnya yang terus berkembang pada tahun 2008 adalah Posyandu yang telah berjumlah 269.111 Desa Siaga dimana terdapat 47.202 buah dan 967 Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren). Hasil Riskesdas tahun 2007 menunjukkan bahwa alasan utama rumah tangga tidak memanfaatkan Posyandu/Poskesdes walaupun sebenarnya memerlukan adalah karena: pelayanannya tidak lengkap (49.6.3% pada tahun 2007. termasuk pembangunan kesehatannya. dan tidak ada Posyandu/Poskesdes (24%). lokasinya jauh (26%). PERUBAHAN LINGKUNGAN STRATEGIS Perkembangan global. Jumlah UKBM.6%). 12 . Pemerintah telah memberikan pula bantuan stimulan untuk pengembangan 229 Musholla Sehat. Sampai dewasa ini dirasakan bahwa masyarakat masih lebih banyak sebagai objek dari pada sebagai subjek pembangunan kesehatan. namun masih jauh dari sasaran yang harus dicapai pada tahun 2009. B. Pemberdayaan Masyarakat Rumah tangga yang telah melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat meningkat dari 27% pada tahun 2005 menjadi 36. tetapi pemanfaatan dan kualitasnya masih rendah. Di samping itu.

demokratisasi. Komitmen Internasional. budaya. seperti revitalisasi pelayanan kesehatan dasar dan pengarus-utamaan gender. perlu menjadi perhatian dalam pembangunan kesehatan. adaptasi perubahan iklim (climate change). 2. nasional. seperti desentralisasi. serta komitmen Nasional. Era globalisasi dapat menjadi peluang sekaligus tantangan pembangunan kesehatan. politik. dan politik kesehatan yang berdampak pada pembangunan kesehatan. Tingkat Nasional dan Lokal Pada tingkat nasional terjadi proses politik. sosial. dan lingkungan. sebagai contoh: banyaknya peserta Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang menggunakan isu kesehatan sebagai janji politik. 13 . dan lokal. serta dapat dijadikan peluang atau kendala bagi sistem kesehatan di Indonesia.Faktor lingkungan strategis dapat dibedakan atas tatanan global. ASEAN Charter. Tingkat Global dan Regional Globalisasi merupakan suatu perubahan interaksi manusia secara luas. yang mencakup ekonomi. Proses ini dipicu dan dipercepat dengan berkembangnya teknologi. seperti: MDGs. informasi. regional. teknologi. yang sampai saat ini belum sepenuhnya dilakukan persiapan dan langkah-langkah yang menjadikan peluang dan mengurangi dampak yang merugikan. 1. sehingga mengharuskan adanya suatu sistem kesehatan yang responsif. jejaring riset Asia Pasifik. dan transportasi yang mempunyai konsekuensi pada fungsi suatu negara dalam sistem pengelolaannya.

Secara geografis. Oleh karena itu perlu dilakukan berbagai terobosan/ pendekatan terutama pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan kesehatan yang memberikan penguatan kapasitas dan surveilans berbasis masyarakat. 14 . sebagian besar wilayah Indonesia rawan bencana. di sisi lain situasi sosial politik yang berkembang sering menimbulkan konflik sosial yang pada akhirnya memunculkan berbagai masalah kesehatan. Perangkat regulasi dan hukum yang terkait dengan kesehatan masih belum memadai. termasuk akibat pembangunan yang tidak berwawasan kesehatan yang memerlukan upaya pemecahan melalui berbagai terobosan dan pendekatan.Proses desentralisasi yang semula diharapkan mampu memberdayakan daerah dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan. mekanisme mitigasi serta adaptasi dan pengenalan resiko akan perubahan iklim menuntut kegiatan kerjasama antara pihak lingkungan dengan pihak kesehatan dan seluruh sektor terkait. sementara itu kesadaran hukum masyarakat masih rendah. namun dalam kenyataannya belum sepenuhnya berjalan dan bahkan memunculkan euforia di daerah yang mengakibatkan pembangunan kesehatan terkendala. diantaranya melalui pengembangan Desa Siaga. dan masih lemahnya penegakan hukum menyebabkan berbagai hambatan dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan. Di bidang lingkungan.

15 . A. digerakan dan dikendalikan oleh keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. kemauan. pembangunan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan kesadaran. dan selalu menerapkan prinsip perikemanusiaan dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan. dinyatakan bahwa pembangunan kesehatan diselenggarakan dengan mendasarkan pada: 1. Tenaga kesehatan perlu berbudi luhur. Perikemanusian Pembangunan kesehatan harus berlandaskan pada prinsip perikemanusiaan yang dijiwai. maka setiap pelaku pembangunan kesehatan harus taat pada asas yang menjadi landasan bagi setiap program dan kegiatan pembangunan kesehatan. DASAR PEMBANGUNAN KESEHATAN Sesuai dengan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Jangka Panjang Pembangunan Nasional (RPJP-N) Tahun 2005-2025. Dengan demikian untuk menjamin efektifitas SKN. memegang teguh etika profesi. dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar peningkatan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya dapat terwujud.BAB III ASAS SISTEM KESEHATAN NASIONAL Sebagaimana dinyatakan dalam Bab I bahwa Sistem Kesehatan Nasional (SKN) adalah bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan. Dalam Undang-undang tersebut.

Upaya kesehatan yang bermutu diselenggarakan dengan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta harus lebih mengutamakan pendekatan peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit. 3. Pembangunan kesehatan harus mampu membangkitkan dan mendorong peran aktif masyarakat. keluarga. dan bertanggungjawab untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan perorangan. Pemberdayaan dan Kemandirian Setiap orang dan masyarakat bersama dengan pemerintah berperan. 4. tumbuh dan kembang.2. Adil dan Merata Dalam pembangunan kesehatan setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. agama. golongan. dan lingkungannya. Setiap orang berhak memperoleh pelayanan kesehatan. tanpa memandang suku. berkewajiban. sehingga secara berhasil guna dan bertahap dapat 16 . dan status sosial ekonominya. Pembangunan kesehatan diselenggarakan berlandaskan pada dasar kemitraan atau sinergisme yang dinamis dan tata penyelenggaraan yang baik. Pembangunan kesehatan dilaksanakan dengan berlandaskan pada kepercayaan atas kemampuan dan kekuatan sendiri serta kepribadian bangsa dan semangat solidaritas sosial serta gotongroyong. masyarakat. serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup. Pengutamaan dan Manfaat Pembangunan kesehatan diselenggarakan dengan mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan perorangan atau golongan.

golongan.memberi manfaat yang sebesar-besarnya bagi peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Setiap anak dan perempuan berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. anak. B. antara lain: ibu. Hak Asasi Manusia (HAM) Sesuai dengan tujuan pembangunan nasional dalam Pembukaan Undang-undang Dasar 1945. 17 . bayi. dan e) Transparansi serta Akuntabilitas. yaitu: a) Berpihak pada Rakyat. b) Bertindak Cepat dan Tepat. Pembangunan kesehatan diarahkan agar memberikan perhatian khusus pada penduduk rentan. SKN perlu mengacu pada dasardasar sebagai berikut: 1. maka setiap penyelenggaraan SKN berdasarkan pada prinsip hak asasi manusia. dan masyarakat miskin. manusia usia lanjut. d) Integritas yang Tinggi. yaitu untuk meningkatkan kecerdasan bangsa dan kesejahteraan rakyat. agama. beserta lingkungannya. dan status sosial ekonomi. jenis kelamin. DASAR SKN Dalam penyelenggaraan. c) Kerjasama Tim. Undangundang Dasar 1945 pasal 28 H ayat 1 antara lain menggariskan bahwa setiap rakyat berhak atas pelayanan kesehatan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya tanpa membedakan suku. Perlu diupayakan pembangunan kesehatan secara terintegrasi antara Pusat dan Daerah dengan mengedepankan nilai-nilai pembangunan kesehatan.

baik antar pelaku. diperlukan komitmen yang tinggi. Sinkronisasi. dukungan. Pembangunan kesehatan harus diselenggarakan dengan menggalang kemitraan yang dinamis dan harmonis antara pemerintah dan masyarakat. maupun dengan sistem serta subsistem lain di luar SKN. Kemitraan tersebut diwujudkan dengan mengembangkan jejaring yang berhasil guna dan berdaya guna. Sinergisme dan Kemitraan yang Dinamis Sistem Kesehatan Nasional akan berfungsi baik untuk mencapai tujuannya apabila terjadi Koordinasi. profesional. 18 . serta bertanggung-jawab dan bertanggung-gugat (akuntabel). antar subsistem SKN. keuangan dan pendidikan perlu berperan bersama dengan sektor kesehatan untuk mencapai tujuan nasional. rasional. Pembangunan kesehatan diselenggarakan secara demokratis. seperti pembangunan prasarana. berkepastian hukum. Integrasi. Komitmen dan Tata Pemerintahan yang Baik (Good Governance) Agar SKN berfungsi baik. terbuka (transparan). maka sistem atau seluruh sektor terkait. dan kerjasama yang baik dari para pelaku untuk menghasilkan tata penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang baik (good governance). termasuk swasta dengan mendayagunakan potensi yang dimiliki masing-masing. agar diperoleh sinergisme yang lebih mantap dalam rangka mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. dan Sinergisme (KISS). Dengan tatanan ini.2. 3.

5. 6. 19 . Antisipatif dan Pro Aktif Setiap pelaku pembangunan kesehatan harus mampu melakukan antisipasi atas perubahan yang akan terjadi. Kesetaraan gender dalam pembangunan kesehatan adalah kesamaan kondisi bagi laki-laki dan perempuan untuk memperoleh kesempatan dan hak-haknya sebagai manusia. setiap penyusunan rencana kebijakan dan program serta dalam pelaksanaan program kesehatan harus menerapkan kesetaraan dan keadilan gender. Dukungan Regulasi Dalam menyelenggarakan SKN. Keadilan gender adalah suatu proses untuk menjadi adil terhadap laki-laki dan perempuan dalam pembangunan kesehatan.4. yang di dasarkan pada pengalaman masa lalu atau pengalaman yang terjadi di negara lain. diperlukan dukungan regulasi berupa adanya berbagai peraturan perundangan yang mendukung penyelenggaraan SKN dan penerapannya (law enforcement). pelaku pembangunan kesehatan perlu lebih proaktif terhadap perubahan lingkungan strategis baik yang bersifat internal maupun eksternal. Responsif Gender Dalam penyelenggaraan SKN. Dengan mengacu pada antisipasi tersebut. agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan pembangunan kesehatan serta kesamaan dalam memperoleh manfaat pembangunan kesehatan.

20 . walaupun dalam prakteknya. dapat disesuaikan dengan potensi dan kondisi serta kebutuhan masyarakat di daerah terutama dalam penyediaan pelayanan kesehatan dasar bagi rakyat. Dengan demikian kebijakan pembangunan daerah di bidang kesehatan harus sejalan dengan SKN. Kearifan Lokal Penyelenggaraan SKN di daerah harus memperhatikan dan menggunakan potensi daerah yang secara positif dapat meningkatkan hasil guna dan daya guna pembangunan kesehatan.7. yang dapat diukur secara kuantitatif dari meningkatnya peran serta masyarakat dan secara kualitatif dari meningkatnya kualitas hidup jasmani dan rohani.

TUJUAN SKN Tujuan SKN adalah terselenggaranya pembangunan kesehatan oleh semua potensi bangsa. undangundang yang berkaitan dengan kesehatan merupakan kebijakan strategis dalam pembangunan kesehatan. Dalam penyelenggaraan pembangunan 21 . Suprasistem SKN Suprasistem SKN adalah Ketahanan Nasional. abadi dan keadilan sosial. berhasil guna dan berdaya guna. KEDUDUKAN SKN 1. 2. SKN bersama dengan berbagai sistem nasional lainnya diarahkan untuk mencapai Tujuan Bangsa Indonesia seperti yang tercantum dalam Pembukaan Undangundang Dasar 1945. perdamaian. melainkan juga tanggung-jawab berbagai sektor terkait. yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum. Kedudukan SKN dalam Sistem Nasional Lainnya Terwujudnya keadaan sehat dipengaruhi oleh berbagai faktor yang tidak hanya menjadi tanggung-jawab sektor kesehatan. mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. Dalam kaitan ini. maupun pemerintah secara sinergis. B. baik masyarakat. swasta. sehingga terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.BAB IV BENTUK POKOK SISTEM KESEHATAN NASIONAL A.

Dalam penyelenggaraan pembangunan nasional. Di lain pihak. Sistem Perekonomian Nasional. sebagai sistem kemasyarakatan yang ada. 22 . 4. Dalam kaitan ini SKN dipergunakan sebagai acuan bagi masyarakat dalam berbagai upaya kesehatan. Dengan demikian pelaksanaan pembangunan nasional harus berwawasan kesehatan dengan mengikutsertakan seluruh sektor terkait kesehatan sejak awal perencanaan agar dampak pembangunan yang dilakukan tidak merugikan derajat kesehatan masyarakat secara langsung maupun tidak langsung dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Kedudukan SKN terhadap berbagai Kemasyarakatan.kesehatan. SKN perlu menjadi acuan bagi sektor lain. Sistem Hankamnas. 3. termasuk Swasta Sistem Keberhasilan pembangunan kesehatan sangat ditentukan oleh dukungan sistem nilai dan budaya masyarakat yang secara bersama terhimpun dalam berbagai sistem kemasyarakatan. Kedudukan SKN terhadap Penyelenggaraan Pembangunan Kesehatan di Daerah Dalam pembangunan kesehatan. dan Sistem nasional lainnya. SKN merupakan acuan bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan di daerah. seperti: Sistem Pendidikan Nasional. Sistem Ketahanan Pangan Nasional. SKN dapat bersinergis secara dinamis dengan berbagai sistem nasional lainnya. termasuk potensi swasta berperan aktif sebagai mitra dalam pembangunan kesehatan yang dilaksanakan sesuai SKN.

dan 3) Sinergi yang dinamis. 2) Kontingensi. Sistem Kesehatan Nasional dapat mewarnai potensi swasta. Untuk keberhasilan pembangunan kesehatan perlu digalang kemitraan yang setara. terbuka. pengobatan. dan saling menguntungkan dengan berbagai potensi swasta. Mengacu pada substansi perkembangan penyelenggaraan pembangunan kesehatan dewasa ini serta pendekatan manajemen kesehatan tersebut diatas. pencegahan. sehingga sejalan dengan tujuan pembangunan nasional yang berwawasan kesehatan. Dalam kaitan ini potensi swasta merupakan bagian integral dari SKN. dalam Gambar-1 dikemukakan alur pikir dari Rencana Pembangunan Kesehatan dan SKN termaksud. 23 . Dengan mengacu terutama pada kedudukan SKN diatas dan pencapaian tujuan nasional. SUBSISTEM SKN Pendekatan manajemen kesehatan dewasa ini dan kecenderungannya di masa depan adalah kombinasi dari pendekatan: 1) Sistem. C. maka subsistem SKN meliputi: 1. dan pemulihan. Subsistem Upaya Kesehatan Untuk dapat mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya perlu diselenggarakan berbagai upaya kesehatan dengan menghimpun seluruh potensi bangsa Indonesia. Upaya kesehatan diselenggarakan dengan upaya peningkatan.Keberhasilan pembangunan kesehatan juga ditentukan oleh peran aktif swasta.

Subsistem Sumber Daya Manusia Kesehatan Sebagai pelaksana upaya kesehatan. 3. kecuali pembiayaan untuk masyarakat miskin dan tidak mampu menjadi tanggung-jawab pemerintah. Pembiayaan pelayanan kesehatan perorangan diselenggarakan melalui jaminan pemeliharaan kesehatan dengan mekanisme asuransi sosial yang pada waktunya diharapkan akan mencapai universal coverage sesuai dengan Undang-undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). yakni: Pemerintah. Oleh karena itu. terintegrasi. stabil. Oleh karena itu. dan masyarakat itu sendiri. sesuai tututan kebutuhan pembangunan kesehatan. jenis dan kualitasnya. serta terdistribusi secara adil dan merata. Pembiayaan pelayanan kesehatan masyarakat merupakan public good yang menjadi tanggung-jawab pemerintah. diperlukan sumber daya manusia kesehatan yang mencukupi dalam jumlah. Pemerintah Daerah. swasta. pembiayaan kesehatan yang adekuat. dan berkesinambungan memegang peran yang amat vital untuk penyelenggaraan pelayanan kesehatan dalam rangka mencapai berbagai tujuan pembangunan kesehatan. Subsistem Pembiayaan Kesehatan Pembiayaan kesehatan bersumber dari berbagai sumber. Pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan meliputi: 1) 24 . sedangkan untuk pelayanan kesehatan perorangan pembiayaannya bersifat private. SKN juga memberikan fokus penting pada pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan guna menjamin ketersediaan dan pendistribusian sumber daya manusia kesehatan. organisasi masyarakat.2.

pemerataan. dan Makanan Subsistem kesehatan ini meliputi berbagai kegiatan untuk menjamin: aspek keamanan. penggunaan obat yang rasional. dan informasi kesehatan. ketersediaan. serta penyerasian berbagai subsistem SKN dan efektif. Subsistem Sediaan Farmasi. serta transparansi dari penyelenggaraan SKN tersebut. 4. dan diseminasi data dan informasi. validasi. integrasi. alat kesehatan. terutama obat esensial. termasuk peningkatan kesejahteraannya. serta upaya kemandirian di bidang kefarmasian melalui pemanfaatan sumber daya dalam negeri. Subsistem Manajemen dan Informasi Kesehatan Subsistem ini meliputi: kebijakan kesehatan. Untuk menggerakkan pembangunan kesehatan secara berhasil guna dan berdaya guna. dan makanan yang beredar. administrasi kesehatan. Dalam kaitan ini peranan informasi kesehatan sangat penting. Peranan manajemen kesehatan adalah koordinasi. 3) pendayagunaan SDM Kesehatan. dan keterjangkauan obat. perlindungan masyarakat dari penggunaan yang salah dan penyalahgunaan obat. dan 4) pembinaan serta pengawasan SDM Kesehatan. 2) pengadaan yang meliputi pendidikan tenaga kesehatan dan pelatihan SDM Kesehatan. 3) 25 . 2) Manajemen sistem informasi. sinkronisasi. 5. Alat Kesehatan. khasiat/ kemanfaatan dan mutu sediaan farmasi. efisien. Dari segi pengadaan data dan informasi dapat dikelompokkan kegiatannya sebagai berikut: 1) Pengumpulan. hukum kesehatan. diperlukan manajemen kesehatan. analisa.perencanaan kebutuhan sumber daya manusia yang diperlukan.

Masyarakat termasuk swasta bukan semata-mata sebagai sasaran pembangunan kesehatan. ketersediaan sediaan 26 . Dalam pemberdayaan masyarakat meliputi pula upaya peningkatan lingkungan sehat oleh masyarakat sendiri. SDM Kesehatan. dan 4) Pengembangan untuk peningkatan mutu sistem informasi kesehatan. TATA HUBUNGAN LINGKUNGANNYA ANTAR SUBSISTEM DAN Penyelenggaraan SKN memerlukan keterkaitan antar unsur-unsur SKN sebagai suatu tata hubungan yang efektif. Subsistem Upaya Kesehatan diselenggarakan untuk mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. 6.Dukungan kegiatan dan sumber daya untuk unit-unit yang memerlukan. agar masyarakat termasuk swasta dapat mampu dan mau berperan sebagai pelaku pembangunan kesehatan. Keterkaitan tersebut adalah sebagai berikut: 1. Upaya pemberdayaan masyarakat akan berhasil pada hakekatnya bila kebutuhan dasar masyarakat sudah terpenuhi. Subsistem Pemberdayaan Masyarakat Sistem Kesehatan Nasional akan berfungsi optimal apabila ditunjang oleh pemberdayaan masyarakat. melainkan juga sebagai subjek atau penyelenggara dan pelaku pembangunan kesehatan. Oleh karenanya pemberdayaan masyarakat menjadi sangat penting. D. Berbagai upaya tersebut memerlukan dukungan pembiayaan. Pemberdayaan masyarakat dan upaya kesehatan pada hakekatnya merupakan fokus dari pembangunan kesehatan. Untuk penyelenggaraan subsistem tersebut diperlukan berbagai upaya dengan menghimpun seluruh potensi bangsa Indonesia.

Subsistem sediaan farmasi. Subsistem sumber daya manusia kesehatan diselenggarakan guna menghasilkan tenaga kesehatan yang bermutu dalam jumlah yang mencukupi. menjamin ketersediaan. dan termanfaatkan secara berhasil guna dan berdaya guna untuk terselenggaranya upaya kesehatan secara merata. alat kesehatan dan makanan. dan mutu semua produk sediaan farmasi. pemerataan. Tersedianya pembiayaan yang memadai juga akan menunjang terselenggaranya subsistem sumber daya manusia kesehatan. subsistem manajemen dan informasi kesehatan. terjangkau. dan keterjangkauan obat.farmasi. dan bermutu bagi seluruh masyarakat. subsistem manajemen dan informasi kesehatan. subsistem sediaan farmasi. Subsistem pembiayaan kesehatan diselenggarakan guna menghasilkan ketersediaan pembiayaan kesehatan dengan jumlah yang mencukupi. 27 . Tersedianya tenaga kesehatan yang mencukupi dan berkualitas juga akan menunjang terselenggaranya subsistem pembiayaan kesehatan. manfaat. alat kesehatan. dan makanan. serta termanfaatkan secara berhasil guna dan berdaya guna. 3. terdistribusi secara adil. dan makanan yang beredar. alat kesehatan. teralokasi secara adil. serta subsistem pemberdayaan masyarakat. dan makanan. alat kesehatan. serta pemberdayaan masyarakat. serta subsistem pemberdayaan masyarakat. 2. khasiat. alat kesehatan. dan makanan diselenggarakan guna menjamin keamanan. sehingga upaya kesehatan dapat diselenggarakan sesuai dengan kebutuhan seluruh lapisan masyarakat. subsistem sediaan farmasi. terutama obat esensial. 4. manajemen dan informasi kesehatan.

serta penggunaan obat yang rasional. sebagai suatu kesatuan yang terpadu dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. serta subsistem pemberdayaan masyarakat. subsistem pembiayaan kesehatan. dan hukum kesehatan yang memadai dan mampu menunjang penyelenggaraan upaya kesehatan secara berhasil guna dan berdaya guna. dan masyarakat umum yang mampu berperan aktif dalam penyelenggaraan upaya kesehatan. 28 . administrasi kesehatan. Dengan manajemen kesehatan yang berhasil guna dan berdaya guna dapat diselenggarakan subsistem upaya kesehatan. alat kesehatan. Masyarakat yang berdaya akan berperan aktif dalam penyelenggaraan subsistem pembiayaan kesehatan.perlindungan masyarakat dari penggunaan yang salah dan penyalahgunaan obat. Subsistem manajemen dan informasi kesehatan diselenggarakan guna menghasilkan fungsi-fungsi kebijakan kesehatan. pembiayaan kesehatan. dan makanan saling terkait dengan subsistem upaya kesehatan. Subsistem pemberdayaan masyarakat diselenggarakan guna menghasilkan individu. subsistem sumber daya manusia kesehatan. subsistem sediaan farmasi. sehingga upaya kesehatan dapat diselenggarakan dengan berhasil guna dan berdaya guna. 6. 5. sumber daya kesehatan. dan makanan. serta pemberdayaan masyarakat. subsistem sediaan farmasi. manajemen dan informasi kesehatan. dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. informasi kesehatan. Subsistem sediaan farmasi. alat kesehatan. kelompok. subsistem sumber daya manusia kesehatan. alat kesehatan.

dan pertahanan keamanan. hubungan SKN dengan lingkungan strategisnya sangat penting artinya. yang meliputi: ideologi. politik. 29 . ekonomi.dan makanan. Untuk memperoleh kejelasan secara umum substansi berbagai unsur-unsur pembangunan kesehatan dan subsistem SKN serta tata hubungannya dengan lingkungan strategis yang lebih spesifik dan penting yang mempengaruhi SKN dapat dilihat pada skema di Gambar-2. nasional. sosial budaya. Dalam kaitan ini. serta subsistem manajemen dan informasi kesehatan. regional. maupun global. Lingkungan tersebut terdapat di tingkat lokal. lingkungan termaksud dapat sebagai peluang maupun kendala. mengingat pembangunan kesehatan tidak dapat mencapai tujuannya tanpa memperhatikan dengan seksama interaksi dengan lingkungan strategis tersebut. Selain itu.

yang diselenggarakan guna menjamin tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. dan berkualitas.BAB V CARA PENYELENGGARAAN SISTEM KESEHATAN NASIONAL A. Tujuan Tujuan dari penyelenggaraan subsistem upaya kesehatan adalah terselenggaranya upaya kesehatan yang adil. pencegahan. dan pemulihan. terpadu. pencegahan. baik pelayanan kesehatan konvensional maupun pelayanan kesehatan yang terdiri dari pengobatan tradisional dan komplementer melalui pendidikan dan pelatihan dengan selalu mengutamakan keamanan dan efektifitas yang tinggi. terjangkau. pengobatan. Pengertian Subsistem Upaya Kesehatan adalah bentuk dan cara penyelenggaraan upaya kesehatan yang paripurna. 30 . Unsur-unsur a. Upaya Kesehatan Pelayanan kesehatan meliputi peningkatan. 2. pengobatan. 3. dan bermutu untuk menjamin terselenggaranya pembangunan kesehatan guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. merata. SUBSISTEM UPAYA KESEHATAN 1. dan pemulihan. meliputi upaya peningkatan.

pencegahan. sertifikasi. baik peningkatan. 31 . Pembinaan dan pengawasan upaya kesehatan dilakukan secara berjenjang melalui standarisasi. Fasilitas pelayanan kesehatan merupakan alat dan atau tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan. anak. dan masyarakat miskin. manusia usia lanjut. Pembinaan dan Pengawasan Upaya Kesehatan Pelayanan kesehatan harus diberikan berdasarkan standar pelayanan yang telah ditetapkan oleh pemerintah dengan mempertimbangkan masukan dari organisasi profesi. sarana dan prasarana. termasuk swasta. akreditasi. termasuk fasilitas pelayanan kesehatan. biaya. c. maupun pemulihan yang dilakukan oleh pemerintah dan atau masyarakat. Sumber Daya Upaya Kesehatan Sumber daya upaya kesehatan terdiri dari SDM kesehatan. lisensi. bayi. serta manajemen dan sistem informasi kesehatan yang memadai guna terselenggaranya upaya kesehatan. dan penegakan hukum yang dilakukan oleh pemerintah bersama dengan organisasi profesi dan masyarakat.Upaya kesehatan diutamakan pada berbagai upaya yang mempunyai daya ungkit tinggi dalam pencapaian sasaran pembangunan kesehatan utamanya penduduk rentan. b. sediaan farmasi dan alat kesehatan. antara lain: ibu. pengobatan.

terjamin keamanannya bagi penerima dan pemberi upaya. serta rujukan antar tingkatan upaya. Prinsip a. b. dan Sesuai Kebutuhan Pelayanan kesehatan bagi masyarakat harus berkualitas. Aman. 32 . pencegahan. Adil dan Merata Pemerintah wajib menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan yang berkeadilan dan merata untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di bidang kesehatan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan di luar negeri dalam kondisi tertentu. dapat diterima masyarakat. serta mampu menghadapi tantangan global dan regional. pengobatan hingga pemulihan. sumber daya kesehatan. efektif dan sesuai.d. c. Bermutu. Berkesinambungan dan Paripurna Upaya kesehatan bagi masyarakat diselenggarakan secara berkesinambungan dan paripurna meliputi upaya peningkatan. Pelaksanaan penelitian dan pengembangan didasarkan pada masalah kesehatan prioritas. serta aspek terkait lainnya dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sesuai. 4. Penelitian dan Pengembangan Upaya Kesehatan Penelitian dan pengembangan dilakukan utamanya untuk mendukung peningkatan mutu upaya kesehatan yang berhasil guna dan berdaya guna.

e. yaitu upaya kesehatan primer.d. dan nilai agama. dan 33 . upaya kesehatan sekunder. moral. Terdapat tiga tingkatan upaya. Teknologi tepat guna berasas pada kesesuaian kebutuhan dan tidak bertentangan dengan etika. dilakukan secara cepat dengan ketepatan/presisi yang tinggi. mental. Non diskriminatif Setiap penduduk harus mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai kebutuhan medis. budaya dan agama. Upaya kesehatan dilaksanakan dalam tingkatan upaya sesuai dengan kebutuhan medik dan kesehatan. g. bukan status sosial ekonomi dan tidak membeda-bedakan suku/ras. f. Terjangkau Ketersediaan dan pembiayaan pelayanan kesehatan yang bermutu harus terjangkau oleh seluruh masyarakat. Bekerja dalam Tim secara Cepat dan Tepat Upaya kesehatan dilakukan secara kerjasama tim. Penyelenggaraan a. termasuk intelegensia dan sosial. Teknologi Tepat Guna Upaya kesehatan menggunakan teknologi tepat guna yang berbasis bukti. melibatkan semua pihak yang kompeten. dengan tetap memperhatikan pengarus-utamaan gender. 5. Upaya Kesehatan Upaya kesehatan mencakup kesehatan fisik.

dan paripurna melalui sistem rujukan. Rujukan dibagi dalam rujukan medik yang berkaitan dengan pengobatan dan pemulihan berupa pengiriman pasien (kasus). dan pengetahuan tentang penyakit. 34 . terpadu. Upaya kesehatan primer adalah upaya kesehatan dimana terjadi kontak pertama secara perorangan atau masyarakat dengan pelayanan kesehatan melalui mekanisme rujukan timbal-balik. Upaya kesehatan sekunder dan tersier adalah upaya kesehatan tingkat rujukan maupun rujukan tingkat lanjut. Upaya kesehatan diselenggarakan secara berkesinambungan. teknologi.upaya kesehatan tersier. Rujukan upaya kesehatan adalah pelimpahan wewenang dan tanggung-jawab secara timbal balik. sedang rujukan kesehatan dikaitkan dengan upaya pencegahan dan peningkatan kesehatan berupa sarana. baik horisontal dan vertikal maupun struktural dan fungsional terhadap kasus penyakit atau masalah penyakit atau permasalahan kesehatan. 1) Upaya Kesehatan Primer Upaya Kesehatan Primer terdiri dari pelayanan kesehatan perorangan primer dan pelayanan kesehatan masyarakat primer. spesimen. termasuk penanggulangan bencana dan pelayanan gawat darurat. dan operasional.

maupun swasta. masyarakat. Pelayanan kesehatan perorangan primer diselenggarakan oleh tenaga kesehatan yang dibutuhkan dan mempunyai kompetensi seperti yang ditetapkan sesuai ketentuan berlaku serta dapat dilaksanakan di rumah. Prosedur dan Kriteria (NSPK) pelayanan yang ditetapkan oleh Pemerintah dengan memperhatikan masukan dari organisasi profesi dan masyarakat. Sstandar. Pelayanan kesehatan perorangan primer diselenggarakan berdasarkan Norma. tempat kerja. termasuk di dalamnya pelayanan kebugaran dan gaya hidup sehat (healthy life style). serta fasilitas kesehatan lainnya milik pemerintah.a) Pelayanan Kesehatan Perorangan Primer (PKPP) Pelayanan kesehatan perorangan primer adalah pelayanan kesehatan dimana terjadi kontak pertama secara perorangan sebagai proses awal pelayanan kesehatan. Pelayanan kesehatan perorangan primer memberikan penekanan pada pelayanan pengobatan. Pelayanan kesehatan perorangan primer dapat diselenggarakan sebagai pelayanan 35 . maupun fasilitas kesehatan perorangan primer baik Puskesmas dan jaringannya. pemulihan tanpa mengabaikan upaya peningkatan dan pencegahan. Dilaksanakan dengan dukungan pelayanan kesehatan perorangan sekunder dalam sistem rujukan yang timbal balik.

yang bergerak (ambulatory) atau menetap; dapat dikaitkan dengan tempat kerja, seperti klinik perusahaan; dan dapat disesuaikan dengan lingkungan atau kondisi tertentu (kesehatan matra, seperti: kesehatan haji, kesehatan kelautan, kesehatan penerbangan, kesehatan wisata). Pemerintah wajib menyediakan pelayanan kesehatan perorangan primer di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia sesuai kebutuhan, terutama bagi masyarakat miskin, daerah terpencil, perbatasan, pulau-pulau terluar dan terdepan, serta yang tidak diminati swasta. Pembiayaan pelayanan kesehatan perorangan primer untuk penduduk miskin dibiayai oleh pemerintah, sedangkan golongan ekonomi lainnya dibiayai dalam sistem pembiayaan yang diatur oleh pemerintah. Dalam pelayanan kesehatan perorangan termasuk pula pelayanan kesehatan berbasis masyarakat dalam bentuk seperti Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) dan pengobatan tradisional serta pengobatan alternatif yang secara ilmiah telah terbukti terjamin keamanan dan khasiatnya. b) Pelayanan Kesehatan Masyarakat Primer (PKMP) Pelayanan kesehatan masyarakat primer adalah pelayanan peningkatan dan pencegahan tanpa mengabaikan 36

pengobatan dan pemulihan dengan sasaran keluarga, kelompok, dan masyarakat. Penyelenggaraan pelayanan kesehatan masyarakat primer menjadi tanggung-jawab Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang pelaksanaan operasionalnya dapat didelegasikan kepada Puskesmas. Masyarakat termasuk swasta dapat menyelenggarakan pelayanan kesehatan masyarakat primer sesuai peraturan yang berlaku dan berkerjasama dengan pemerintah. Pembiayaan pelayanan kesehatan masyarakat primer ditanggung oleh pemerintah bersama masyarakat, termasuk swasta. Pemerintah wajib melaksanakan dan membiayai pelayanan kesehatan masyarakat primer yang berhubungan dengan prioritas pembangunan kesehatan melalui kegiatan perbaikan lingkungan, peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit dan kematian serta paliatif. Pelaksanaan pelayanan kesehatan masyarakat primer didukung kegiatan lainnya, seperti surveilans, pencatatan, dan pelaporan. Pemerintah dapat membentuk fasilitas kesehatan yang secara khusus ditugaskan untuk melaksanakan upaya kesehatan masyarakat sesuai keperluan. Penyelenggaraan pelayanan kesehatan masyarakat primer mendukung upaya 37

kesehatan berbasis masyarakat dan didukung oleh pelayanan kesehatan masyarakat sekunder. 2) Upaya Kesehatan Sekunder Upaya kesehatan sekunder adalah upaya kesehatan rujukan lanjutan, yang terdiri dari pelayanan kesehatan perorangan sekunder dan pelayanan kesehatan masyarakat sekunder. a) Pelayanan Kesehatan Sekunder (PKPS) Perorangan

Pelayanan kesehatan perorangan sekunder adalah pelayanan kesehatan spesialistik yang menerima rujukan dari pelayanan kesehatan perorangan primer, yang meliputi rujukan kasus, spesimen, dan ilmu pengetahuan serta wajib merujuk kembali ke fasilitas kesehatan yang merujuk. Pelayanan kesehatan perorangan sekunder dilaksanakan oleh dokter spesialis atau dokter yang sudah mendapatkan pendidikan khusus dan mempunyai ijin praktik serta didukung tenaga kesehatan lainnya yang diperlukan. Pelayanan kesehatan perorangan sekunder dilaksanakan di tempat kerja maupun fasilitas kesehatan perorangan sekunder baik Rumah Sakit setara kelas C serta fasilitas kesehatan lainnya milik pemerintah, masyarakat, maupun swasta. Pelayanan kesehatan perorangan sekunder harus memberikan pelayanan kesehatan 38

Pelayanan kesehatan perorangan sekunder yang bersifat tradisional dan komplementer dilaksanakan dengan berafiliasi dengan atau di rumah sakit pendidikan. Dalam penanggulangan penyakit menular yang tidak terbatas pada suatu batas 39 . efisien dan berbasis bukti (evidence based medicine) serta didukung pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan. Pelayanan kesehatan perorangan sekunder dapat dijadikan sebagai wahana pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan sesuai dengan kebutuhan pendidikan dan pelatihan. Penyelenggaraan pelayanan kesehatan masyarakat sekunder menjadi tanggungjawab Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan atau Provinsi sebagai fungsi teknisnya. dan sumber daya manusia kesehatan serta didukung oleh pelayanan kesehatan masyarakat tersier. teknologi. yakni melaksanakan pelayanan kesehatan masyarakat yang tidak sanggup atau tidak memadai dilakukan pada pelayanan kesehatan masyarakat primer.yang aman. efektif. sesuai. b) Pelayanan Kesehatan Sekunder (PKMS) Masyarakat Pelayanan kesehatan masyarakat sekunder menerima rujukan kesehatan dari pelayanan kesehatan masyarakat primer dan memberikan fasilitasi dalam bentuk sarana.

Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan (BPFK). Fasilitas kesehatan penyelenggara pelayanan kesehatan masyarakat sekunder dibangun sesuai dengan standar. dan lain-lain. 40 . maka tingkat yang lebih tinggi (provinsi) yang harus menanganinya. Pelaksana pelayanan kesehatan perorangan tersier adalah dokter sub-spesialis atau dokter spesialis yang telah mendapatkan pendidikan khusus atau pelatihan dan mempunyai izin praktik dan didukung oleh tenaga kesehatan lainnya yang diperlukan.administrasi pemerintahan (lintas kabupaten/ kota). a) Pelayanan Kesehatan Perorangan Tersier (PKPT) Pelayanan kesehatan perorangan tersier menerima rujukan sub-spesialistik dari pelayanan kesehatan di bawahnya. seperti laboratorium kesehatan. Bagi fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat milik swasta harus mempunyai izin sesuai peraturan yang berlaku serta dapat bekerjasama dengan unit kerja Pemerintah Daerah. Balai Teknik Kesehatan Lingkungan (BTKL). 3) Upaya Kesehatan Tersier Upaya kesehatan tersier adalah upaya kesehatan rujukan unggulan yang terdiri dari pelayanan kesehatan perorangan tersier dan pelayanan kesehatan masyarakat tersier. dan wajib merujuk kembali ke fasilitas kesehatan yang merujuk.

Rumah Sakit Khusus setara kelas A dan B. Pemerintah mengembangkan berbagai pusat pelayanan unggulan nasional yang berstandar internasional untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan dan menghadapi persaingan global dan regional. dan rujukan operasional. teknologi. seperti pusat radioterapi. Fasilitas pelayanan kesehatan perorangan tersier dapat didirikan melalui modal patungan dengan pihak asing sesuai dengan peraturan dan kebijakan yang berlaku. b) Pelayanan Kesehatan Masyarakat Tersier (PKMT) Pelayanan kesehatan masyarakat tersier menerima rujukan kesehatan dari pelayanan kesehatan masyarakat sekunder dan memberikan fasilitasi dalam bentuk sarana.Pelayanan kesehatan perorangan tersier dilaksanakan di Rumah Sakit Umum. Pelayanan kesehatan perorangan tersier wajib melaksanakan penelitian dan pengembangan dasar maupun terapan dan dapat dijadikan sebagai pusat pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan sesuai dengan kebutuhan. sumber daya manusia kesehatan. baik milik pemerintah maupun swasta yang mampu memberikan pelayanan kesehatan subspesialistik dan juga termasuk klinik khusus. Unit 41 . Pelaksana pelayanan kesehatan masyarakat tersier adalah Dinas Kesehatan Provinsi.

dan masyarakat. Institut pelayanan kesehatan masyarakat tertentu secara nasional dapat dikembangkan untuk menampung kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat. Pemerintah menetapkan kebijakan dan NSPK upaya kesehatan dengan memperhatikan masukan dari Pemerintah Daerah. dan Unit kerja terkait di tingkat nasional. 42 . Pelaksanaan pelayanan kesehatan masyarakat tersier menjadi tanggung-jawab Dinas Kesehatan Provinsi dan Departemen Kesehatan yang didukung dengan kerja sama lintas sektor. harus didukung dengan standar pelayanan yang selalu dikaji dalam periode tertentu sesuai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kebutuhan. Pemerintah Provinsi melakukan bimbingan dan pengendalian terhadap pelaksanaan kebijakan dan NSPK upaya kesehatan. b. Organisasi Profesi.kerja terkait di tingkat Provinsi. Pembinaan dan Pengawasan 1) Pembinaan Upaya Kesehatan Pembinaan upaya kesehatan ditujukan untuk menjamin mutu pelayanan kesehatan. Departemen Kesehatan.

Pemerintah Provinsi. baik internal maupun eksternal dan juga dapat melibatkan masyarakat dan swasta. dan Pemerintah Kabupaten/Kota sesuai dengan kewenangannya yang diatur dalam peraturan perundangan. 2) Pengawasan Upaya Kesehatan Pengawasan ditujukan untuk menjamin konsistensi penyelenggaraan upaya kesehatan dan dilakukan secara intensif. Pembinaan upaya kesehatan dilakukan oleh pemerintah bersama dengan organisasi profesi dan masyarakat termasuk swasta. berkewajiban melakukan pembinaan terhadap semua fasilitas pelayanan kesehatan termasuk swasta. Pemerintah Provinsi. sehingga semua fasilitas pelayanan kesehatan wajib memberikan laporan kegiatannya. dan Pemerintah Kabupaten/Kota sebagai penanggung-jawab pelaksanaan pembangunan kesehatan di wilayahnya.Pemerintah Kabupaten/Kota melaksanakan kebijakan dan NSPK upaya kesehatan. Pemerintah. Perizinan fasilitas upaya kesehatan menurut tingkatannya ditetapkan oleh Pemerintah. 43 . Hasil pengawasan digunakan untuk perlindungan terhadap masyarakat dan tenaga kesehatan selaku penyelenggara upaya kesehatan.

meliputi: 1) Ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan dihasilkan dari penelitian dan pengembangan kesehatan yang diselenggarakan oleh pusatpusat penelitian dan pengembangan milik masyarakat. 44 . Sesuai dengan perkembangan dan keperluannya. dan dokumentasi Iptek kesehatan. Pemerintah melaksanakan penelitian data dasar kesehatan. Penelitian yang dilaksanakan oleh badan asing dan atau individu Warga Negara Asing (WNA) harus atas izin dan diawasi Pemerintah. pengembangan dan pemanfaatan Iptek perlu diperluas untuk mendukung pembangunan kesehatan secara keseluruhan.c. dan pemerintah. seperti Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) secara berkala dan penelitian pengembangan upaya kesehatan. Pengembangan dan pemanfaatan Iptek. jaringan informasi. Penelitian dan Pengembangan Pengembangan dan pemanfaatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) yang memadai ditujukan untuk meningkatkan mutu upaya kesehatan. 2) Pemanfaatan dan penyebarluasan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan diatur oleh Pemerintah dengan dukungan organisasi profesi. dilakukan dengan membentuk pusatpusat penelitian dan pengembangan unggulan. swasta.

dari masyarakat. Unsur-unsur a. Dana Dana digali dari sumber pemerintah baik dari sektor kesehatan dan sektor lain terkait. 2. Pengertian Subsistem pembiayaan kesehatan adalah bentuk dan cara penyelenggaraan berbagai upaya penggalian. pengalokasian. Dana yang tersedia harus mencukupi dan dapat dipertanggungjawabkan serta dipertanggung-gugatkan. teralokasi secara adil. tersalurkan sesuai peruntukannya untuk menjamin terselenggaranya pembangunan kesehatan guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.B. merata dan termanfaatkan secara berhasil guna dan berdaya guna. maupun swasta serta sumber lainnya yang digunakan untuk mendukung pelaksanaan pembangunan kesehatan. 45 . Tujuan Tujuan dari penyelenggaraan subsistem pembiayaan kesehatan adalah tersedianya dana kesehatan dalam jumlah yang mencukupi. dan pembelanjaan dana kesehatan untuk mendukung penyelenggaraan pembangunan kesehatan guna mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. SUBSISTEM PEMBIAYAAN KESEHATAN 1. 3.

sarana. dan pembelanjaan dana kesehatan. dan pembelanjaan dana kesehatan untuk mendukung terselenggaranya pembangunan kesehatan. standar. Kecukupan Pembiayaan kesehatan pada dasarnya merupakan tanggung-jawab bersama pemerintah. swasta. meliputi: SDM pengelola. maupun masyarakat yang mencakup mekanisme penggalian. Alokasi dana yang berasal dari pemerintah untuk upaya kesehatan dilakukan melalui penyusunan anggaran pendapatan dan belanja. Prinsip a. pengalokasian. Sumber Daya Sumber daya dari subsistem pembiayaan kesehatan. baik pusat maupun daerah. terus diupayakan peningkatan dan kecukupannya sesuai kebutuhan menuju sekurang-kurangnya 5% dari PDB atau 15% dari total anggaran pendapatan dan belanja setiap tahunnya. masyarakat. Pengelolaan Dana Kesehatan Prosedur/mekanisme pengelolaan dana kesehatan adalah seperangkat aturan yang disepakati dan secara konsisten dijalankan oleh para pelaku subsistem pembiayaan kesehatan. dan swasta. baik oleh pemerintah secara lintas sektor. 4. pengalokasian. regulasi.b. 46 . dan kelembagaan yang digunakan secara berhasil guna dan berdaya guna dalam upaya penggalian. c.

Pembiayaan kesehatan untuk masyarakat miskin dan tidak mampu merupakan tanggung-jawab pemerintah. sistem pembayaran pada fasilitas kesehatan perlu dikembangkan menuju bentuk pembayaran prospektif. Dana kesehatan digunakan secara bertanggungjawab dan bertanggung-gugat berdasarkan prinsip tata pemerintahan yang baik (good governance). maka pembelanjaannya dilakukan melalui kesesuaian antara perencanaan pembiayaan kesehatan. maupun swasta yang harus digali dan dikumpulkan serta terus ditingkatkan untuk menjamin kecukupan agar jumlahnya dapat sesuai dengan kebutuhan. berkelanjutan. Dana kesehatan diperoleh dari berbagai sumber. Adil dan Transparan Dana kesehatan yang terhimpun baik dari pemerintah maupun masyarakat dimanfaatkan secara adil dalam rangka menjamin terpeliharanya dan terlindunginya masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan. transparan. b. akuntabel. c. penguatan kapasitas manajemen perencanaan anggaran dan kompetensi pemberi pelayanan kesehatan. Efektif dan Efisien Dalam menjamin efektifitas dan efisiensi penggunaan dana kesehatan. tersalurkan secara tepat memperhatikan subsidiaritas dan fleksibilitas. masyarakat. 47 . dikelola secara adil. serta menjamin terpenuhinya ekuitas. baik dari pemerintah. berhasil guna dan berdaya guna.

Dalam hal pengaturan penggalian dan pengumpulan serta pemanfaatan dana yang bersumber dari iuran wajib. mengalokasikannya secara rasional. bersumber dari pemerintah. serta berbagai sumber lainnya. agar tersedia dana kesehatan yang mencukupi dan berkesinambungan. dana dari masyarakat. Penggalian Dana Penggalian dana untuk pembangunan kesehatan yang bersumber dari pemerintah dilakukan melalui pajak umum. Dana yang bersumber dari swasta dihimpun dengan menerapkan prinsip kemitraan antara pemerintah dan masyarakat yang didukung dengan pemberian insentif. pajak khusus. Penggalian dana yang bersumber dari masyarakat dihimpun secara aktif oleh masyarakat sendiri atau dilakukan secara pasif 48 . 5. Perencanaan dan pengaturan pembiayaan kesehatan dilakukan melalui penggalian dan pengumpulan berbagai sumber dana yang dapat menjamin kesinambungan pembiayaan pembangunan kesehatan. masyarakat. dan sumber lainnya. dan sumber lainnya. bantuan atau pinjaman yang tidak mengikat. pemerintah harus melakukan sinkronisasi dan sinergisme antara sumber dana dari iuran wajib. dana APBN/APBD. dan mengacu perundangan yang berlaku. swasta.transparan. Penyelenggaraan pada peraturan Subsistem pembiayaan kesehatan merupakan suatu proses yang terus-menerus dan terkendali. a. serta menggunakannya secara efisien dan efektif.

Penggalian dana untuk pelayanan kesehatan perorangan dilakukan dengan cara penggalian dan pengumpulan dana masyarakat dan didorong pada bentuk jaminan pemeliharaan kesehatan. Pengalokasian dana yang dihimpun dari masyarakat dilaksanakan berdasarkan asas gotong-royong sesuai dengan potensi dan kebutuhannya. dan tersier dengan mengutamakan masyarakat rentan dan miskin. serta yang tidak diminati swasta. Dana pemerintah untuk pembangunan kesehatan diarahkan untuk membiayai upaya kesehatan primer. Hal ini termasuk program bantuan sosial dari pemerintah untuk pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin dan tidak mampu (Jamkesmas). Pengalokasian dana untuk pelayanan kesehatan perorangan dilakukan melalui kepesertaan dalam jaminan pemeliharaan kesehatan yang diatur oleh pemerintah. daerah terpencil. pulau-pulau terluar dan terdepan. b.dengan memanfaatkan berbagai dana yang sudah terkumpul di masyarakat. Pengalokasian Dana Pengalokasian dana pemerintah dilakukan melalui perencanaan anggaran dengan mengutamakan upaya kesehatan prioritas secara bertahap dan terus ditingkatkan jumlah pengalokasiannya sehingga sesuai dengan kebutuhan. 49 . sekunder. termasuk program-program kesehatan yang mempunyai daya ungkit tinggi terhadap peningkatan derajat kesehatan masyarakat. perbatasan.

Pengertian Subsistem SDM Kesehatan adalah bentuk dan cara penyelenggaraan upaya pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan. baik yang bersifat wajib maupun sukarela serta dalam upaya peningkatan akses dan mutu pelayanan kesehatan. SUBSISTEM SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN 1. Sumber Daya Manusia Kesehatan adalah tenaga kesehatan profesi termasuk tenaga kesehatan strategis dan tenaga kesehatan non profesi serta tenaga pendukung/penunjang kesehatan yang terlibat dan bekerja serta mengabdikan dirinya seperti dalam upaya dan manajemen kesehatan. serta menerapkan prinsip penyelenggaraan tata pemerintahan yang baik (good governance).c. yang meliputi: upaya perencanaan. serta pembinaan dan pengawasan SDM Kesehatan untuk mendukung penyelenggaraan pembangunan kesehatan guna mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. 50 . akuntabel. C. Pembelanjaan Pemanfaatan dana kesehatan dilakukan dengan memperhatikan aspek teknis maupun alokatif sesuai peruntukannya secara efisien dan efektif untuk terwujudnya pengelolaan pembiayaan kesehatan yang transparan. Pembelanjaan dana kesehatan diarahkan terutama melalui jaminan pemeliharaan kesehatan. pendayagunaan. pengadaan.

Sumber Daya Kesehatan) Manusia Kesehatan (SDM Sumber daya manusia Kesehatan. serta mempunyai etika. dan wajib memiliki kompetensi untuk mengabdikan dirinya di bidang kesehatan. baik tenaga kesehatan maupun tenaga pendukung/penunjang kesehatan. b. 3. cara 51 . modul dan kurikulum serta metode pendidikan dan latihan. serta institusi/fasilitas pendidikan dan pelatihan yang menyediakan sarana dan prasarana pendidikan dan pelatihan. Tujuan Tujuan dari penyelenggaraan subsistem SDM Kesehatan adalah tersedianya SDM Kesehatan yang kompeten sesuai kebutuhan yang terdistribusi secara adil dan merata serta didayagunakan secara optimal dalam mendukung penyelenggaraan pembangunan kesehatan guna mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. sumber daya manusia pendidikan dan pelatihan. Unsur-unsur a. berakhlak luhur. mempunyai hak untuk memenuhi kebutuhan dasarnya (hak asasi) dan sebagai makhluk sosial. Sumber Daya Pengembangan Pemberdayaan SDM Kesehatan dan Sumber daya pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan adalah sumber daya pendidikan tenaga kesehatan dan pelatihan SDM Kesehatan.2. yang meliputi: berbagai standar kompetensi. Dalam sumber daya ini juga termasuk sumber daya manusia. dan berdedikasi tinggi dalam melakukan tugasnya. dana.

serta pembinaan dan pengawasan SDM Kesehatan. pendayagunaan. Pengadaan SDM Kesehatan adalah upaya yang meliputi pendidikan tenaga kesehatan dan pelatihan SDM Kesehatan untuk memenuhi kebutuhan pembangunan kesehatan. pendayagunaan. Penyelenggaraan Pengembangan Pemberdayaan SDM Kesehatan dan Penyelenggaraan pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan meliputi upaya perencanaan. Prinsip a. memberikan dukungan. kualifikasi. jumlah. serta mengawasi pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan. 4. pengadaan. dan distribusi tenaga kesehatan sesuai dengan kebutuhan pembangunan kesehatan. Pembinaan dan pengawasan SDM Kesehatan adalah upaya untuk mengarahkan. Pendayagunaan SDM Kesehatan adalah upaya pemerataan dan pemanfaatan serta pengembangan SDM Kesehatan.atau metode. serta peralatan dan perlengkapan untuk melakukan perencanaan. Adil dan Merata serta Demokratis Pemenuhan ketersediaan SDM Kesehatan ke seluruh wilayah Indonesia harus berdasarkan 52 . serta pembinaan dan pengawasan SDM Kesehatan. Perencanaan SDM Kesehatan adalah upaya penetapan jenis. c.

nilai budaya. 53 . kompetensi.pemerataan dan keadilan sesuai dengan potensi dan kebutuhan pembangunan kesehatan serta dilaksanakan secara demokratis. profesional. Hierarki dalam SDM Kesehatan Pengembangan dan pemberdayan SDM Kesehatan dalam mendukung pembangunan kesehatan perlu memperhatikan adanya susunan hierarki SDM Kesehatan yang ditetapkan berdasarkan jenis dan tingkat tanggung-jawab. Objektif dan Transparan Pembinaan dan pengawasan serta pendayagunaan (termasuk pengembangan karir) SDM Kesehatan dilakukan secara objektif dan transparan berdasarkan prestasi kerja dan disesuaikan dengan kebutuhan pembangunan kesehatan. dan berdaya saing tinggi. b. bertanggung-jawab. Kompeten dan Berintegritas Pengadaan SDM Kesehatan melalui pendidikan dan pelatihan yang sesuai standar pelayanan dan standar kompetensi serta menghasilkan SDM yang menguasai Iptek. mandiri. beriman. serta keterampilan masing-masing SDM Kesehatan. dan kemajemukan bangsa. c. bertaqwa. tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia. d. nilai keagamaan.

Penyelenggaraan a. b. dan kualifikasinya dilakukan dengan meningkatkan dan memantapkan keterkaitannya dengan unsur lainnya dalam manajemen pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan dengan memperhatikan tujuan pembangunan kesehatan dan kecenderungan permasalahan kesehatan di masa depan. Perencanaan SDM Kesehatan dilakukan dengan mendasarkan pada fakta (berbasis bukti) melalui peningkatan sistem informasi SDM Kesehatan. Perencanaan SDM Kesehatan Penyusunan rencana kebutuhan SDM Kesehatan dilakukan dengan memperhatikan kebutuhan SDM Kesehatan yang diutamakan. Pemerintah bertanggung-jawab mengatur pendirian institusi pendidikan dan pembukaan program 54 .5. jumlah. Pengadaan SDM Kesehatan Standar pendidikan tenaga kesehatan dan pelatihan SDM Kesehatan mengacu kepada standar pelayanan dan standar kompetensi SDM Kesehatan dan perlu didukung oleh etika profesi SDM Kesehatan tersebut. Pemerintah dengan melibatkan organisasi profesi dan masyarakat menetapkan standar kompetensi dan standar pendidikan yang berlaku secara nasional. Perencanaan SDM Kesehatan yang meliputi jenis. baik dalam upaya kesehatan primer maupun upaya kesehatan sekunder serta tersier.

serta menentukan sertifikasi institusi pendidikan dan pelatihan profesi. Kompetensi tenaga kesehatan harus setara dengan kompetensi tenaga kesehatan di dunia internasional. dan kemampuan produksi tenaga kesehatan dengan yang sudah ada. Institusi/fasilitas pelayanan kesehatan yang terakreditasi wajib mendukung penyelenggaraan pendidikan tenaga kesehatan. sehingga registrasi tenaga kesehatan lulusan dalam negeri dapat diakui di dunia internasional. menentukan kompetensi umum. 55 . dinamika pasar baik di dalam maupun di luar negeri. Pendirian institusi pendidikan dan pembukaan program pendidikan ditekankan untuk menghasilkan lulusan tenaga kesehatan yang bermutu dan dapat bersaing secara global dengan memperhatikan keseimbangan antara kebutuhan. prosedur penetapan kompetensi khusus tenaga kesehatan.pendidikan tenaga kesehatan yang dibutuhkan dalam pembangunan kesehatan. Penyelenggaraan pendidikan tenaga kesehatan harus responsif gender yang berorientasi kepada kepentingan peserta didik (“student centered”). Pemerintah dengan melibatkan organisasi profesi membentuk badan regulator profesi yang bertugas menyusun berbagai peraturan persyaratan. Penyelenggaraan pendidikan tenaga kesehatan harus memenuhi akreditasi sesuai dengan peraturan perundangan.

seperti: daerah terpencil. pemerintah melakukan berbagai pengaturan untuk memberikan imbalan material atau non material kepada tenaga kesehatan untuk bekerja di bidang tugas atau daerah yang tidak diminati. Pendayagunaan SDM Kesehatan Pemerintah Pusat bekerjasama dengan Pemerintah Daerah melakukan upaya penempatan tenaga kesehatan yang ditujukan untuk mencapai pemerataan yang berkeadilan dalam pembangunan kesehatan. serta daerah bencana dan rawan konflik. Pemerintah. Dalam rangka penempatan tenaga kesehatan untuk kepentingan pelayanan publik dan pemerataan. daerah tertinggal. Pemerintah dan swasta mengembangkan dan menerapkan pola karir tenaga kesehatan yang dilakukan secara transparan. daerah perbatasan. pulau-pulau terluar dan terdepan. dan lintas institusi melalui jenjang jabatan struktural dan jabatan fungsional. Pemerintah Daerah bersama UPT-nya dan masyarakat melakukan rekrutmen dan penempatan tenaga penunjang (tenaga masyarakat) yang diperlukan untuk mendukung UKBM sesuai dengan kebutuhan pembangunan kesehatan. Pemerintah bersama organisasi profesi dan swasta mengupayakan penyelenggaraan pendidikan 56 .c. terbuka. baik Pusat maupun Daerah dan Swasta melakukan rekrutmen dan penempatan tenaga kesehatan dan tenaga pendukung kesehatan yang diperlukan sesuai dengan kebutuhan pembangunan kesehatan dan atau menjalankan tugas dan fungsi institusinya.

Tenaga kesehatan Warga Negara Indonesia lulusan institusi luar negeri yang telah memperoleh pengakuan dari Departemen yang bertanggungjawab atas pendidikan nasional. modal. Pendayagunaan tenaga kesehatan untuk keperluan luar negeri diatur oleh lembaga pemerintah dalam rangka menjamin keseimbangan antara kemampuan pengadaan tenaga kesehatan di Indonesia dan kebutuhan tenaga kesehatan Indonesia di luar negeri serta melindungi hak-hak dan hak asasi manusia tenaga kesehatan Indonesia di luar negeri. Dalam rangka mengantisipasi globalisasi perlu dilakukan pengaturan agar masuknya SDM Kesehatan warga negara asing dengan teknologi. Dalam rangka pendayagunaan SDM Kesehatan yang sesuai kebutuhan pembangunan kesehatan. diantaranya melalui pelatihan yang terakreditasi yang dilaksanakan oleh institusi penyelenggara pelatihan yang terakreditasi. 57 . dan pengalaman yang mereka punyai tidak merugikan SDM Kesehatan Indonesia. mempunyai hak dan kewajiban yang sama dengan tenaga kesehatan lulusan dalam negeri. dalam rangka alih teknologi dan ditetapkan melalui persyaratan sesuai peraturan perundangan yang berlaku. Pendayagunaan tenaga kesehatan warga negara asing hanya dilakukan pada tingkat konsultan pada bidang tertentu. perlu dilakukan peningkatan kualitas SDM Kesehatan secara terus menerus (pra-jabatan/”preservice” dan “in-service”).berkelanjutan dalam rangka peningkatan karir dan profesionalisme tenaga kesehatan.

Sertifikasi tenaga kesehatan dalam bentuk ijazah dan sertifikat kompetensi diberikan Departemen Kesehatan setelah melalui uji kompetensi yang dilaksanakan organisasi profesi terkait. registrasi. Pembinaan dan Pengawasan SDM Kesehatan Pembinaan penyelenggaraan pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan di berbagai tingkatan dan atau organisasi memerlukan komitmen yang kuat dari pemerintah dan dukungan peraturan perundang-undangan mengenai pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan tersebut. Perizinan/lisensi tenaga kesehatan profesi untuk melakukan praktik dalam rangka memperoleh penghasilan secara mandiri dari profesinya diberikan oleh instansi kesehatan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota setelah mendapatkan rekomendasi dari organisasi profesi terkait. Pembinaan dan pengawasan SDM Kesehatan dilakukan melalui sistem karier. Registrasi tenaga kesehatan untuk dapat melakukan praktik profesi di seluruh wilayah Indonesia diberikan oleh Departemen Kesehatan. yang dalam pelaksanaannya dapat dilimpahkan kepada Pemerintah Daerah Provinsi. uji kompetensi. Pembinaan dan pengawasan praktik profesi bagi tenaga kesehatan profesi dilakukan melalui sertifikasi.d. dan insentif untuk hidup layak sesuai dengan tata nilai di 58 . penggajian. dan pemberian lisensi bagi tenaga kesehatan yang memenuhi syarat.

masyarakat dan beban tugasnya agar dapat bekerja secara profesional. alat kesehatan. dan kosmetika. khasiat/manfaat. Pengertian Subsistem sediaan farmasi. dan khusus untuk obat dijamin ketersediaan dan 59 . Dalam hal terjadi pelanggaran disiplin oleh tenaga kesehatan maupun tenaga pendukung/penunjang kesehatan yang bekerja dalam bidang kesehatan dan menyebabkan kerugian pada pihak lain. DAN MAKANAN 1. mutu sediaan farmasi. maka sanksi administrasi maupun pidana harus dilakukan dalam rangka melindungi masyarakat maupun tenaga yang bersangkutan sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. bahan obat. ALAT KESEHATAN. 2. dan makanan adalah tersedianya sediaan farmasi. obat tradisional. D. Sediaan farmasi adalah obat. berkhasiat/bermanfaat dan bermutu. SUBSISTEM SEDIAAN FARMASI. Tujuan Tujuan penyelenggaraan subsistem sediaan farmasi. alat kesehatan. dan makanan. Pengawasan SDM Kesehatan dilakukan untuk mencegah terjadinya pelanggaran disiplin melalui pengawasan melekat dan pengawasan profesi. alat kesehatan. dan makanan adalah bentuk dan cara penyelenggaraan berbagai upaya yang menjamin keamanan. alat kesehatan. dan makanan yang terjamin aman.

keterjangkauannya guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Prosedur. alat kesehatan. jumlah. dan fungsinya. dosis. dan khasiat yang tepat. dan Kriteria yang telah ditetapkan. dan makanan harus dengan jumlah yang cukup serta mempunyai standar kompetensi yang sesuai dengan etika profesi. terutama obat dan alat kesehatan esensial bagi masyarakat miskin. alat kesehatan. distribusi maupun fasilitas pelayanan kesehatan primer. b. bentuk. Komoditi Sediaan farmasi dan alat kesehatan adalah komoditi untuk penyelenggaraan upaya kesehatan. 60 . Pembiayaan yang cukup dari pemerintah diperlukan untuk menjamin ketersediaan dan keterjangkauan obat. makanan adalah komoditi yang mempengaruhi kesehatan masyarakat. Sumber Daya Sumber Daya Manusia sediaan farmasi. Unsur-unsur a. bentuk. sekunder. baik di fasilitas produksi. 3. serta makanan meliputi jenis dan manfaat. Sediaan farmasi harus tersedia dalam jenis. jumlah. Fasilitas sediaan farmasi. alat kesehatan tersedia dalam jenis. Standar. dan makanan adalah peralatan atau tempat yang harus memenuhi Norma. dan tersier.

dan makanan yang beredar memenuhi standar dan persyaratan keamanan. dan bermutu di semua sarana pelayanan kesehatan dengan mengikuti norma. secara rasional. Pengawasan Pengawasan yang komprehensif dengan melaksanakan regulasi yang baik (Good Regulatory Practices). Pemberdayaan Masyarakat Masyarakat senantiasa dilibatkan secara aktif agar sadar dan dapat lebih berperan dalam penyediaan dan penggunaan sediaan farmasi. dan kriteria yang ditetapkan. d.c. khasiat/manfaat. Penyediaan unit pelayanan publik bidang kesehatan untuk menangani berbagai masalah yang mudah diakses oleh masyarakat dan menerima keluhan atau pertanyaan terkait dengan sediaan farmasi. ditujukan untuk menjamin setiap sediaan farmasi. alat kesehatan. Pelayanan Kefarmasian Pelayanan kefarmasian ditujukan untuk dapat menjamin penggunaan sediaan farmasi dan alat kesehatan. e. prosedur. alat kesehatan dan makanan. alat kesehatan. dan makanan serta terhindar dari penggunaan yang salah dan penyalahgunaan. dan mutu yang ditetapkan yang didukung oleh Laboratorium Pengujian yang handal. 61 . aman. standar.

bertanggungjawab. dan pengendalian secara profesional. dan mutu produk sesuai dengan fungsi usahanya dan peraturan yang berlaku. dan tidak menyesatkan tentang sediaan farmasi. khasiat. d. manfaat. Tersedia. khasiat/manfaat. Sedangkan pelaku usaha bertanggungjawab atas keamanan. Bermanfaat. dan mutu sediaan farmasi. dan pelaku pelayanan kesehatan. transparan. dan Bermutu Pemerintah menjamin keamanan. Merata. alat kesehatan. Prinsip a.4. dan makanan dari produsen. Transparan dan Bertanggung-jawab Masyarakat berhak untuk mendapatkan informasi yang benar. Aman. pengawasan. c. dan makanan melalui pembinaan. independen. dan Terjangkau Obat merupakan kebutuhan dasar manusia yang tidak tergantikan dalam pelayanan kesehatan. dan berbasis bukti ilmiah. distributor. alat kesehatan. lengkap. Berkhasiat. sehingga obat tidak boleh diperlakukan sebagai komoditas ekonomi semata. 62 . b. Rasional Setiap pelaku pelayanan kesehatan harus selalu bertindak berdasarkan bukti ilmiah terbaik dan prinsip tepat biaya (cost-effective) serta tepat manfaat (cost-benefit) dalam pemanfaatan obat agar memberikan hasil yang optimal.

e. Kemandirian Potensi sumber daya dalam negeri. serta daerah bencana. 63 . Keterjangkauan Obat dan Alat Kesehatan dan Penyediaan dan pelayanan obat berpedoman pada DOEN untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan. daerah rawan konflik dan obat yang tidak mempunyai nilai ekonomis (orphan drug). dan berkesinambungan sehingga memiliki daya saing tinggi dan mengurangi ketergantungan dari sumber daya luar negeri serta menjadi sumber ekonomi masyarakat dan devisa negara. Pemerintah mengatur harga obat dan alat kesehatan. sistematis. utamanya bahan baku obat dan obat tradisional harus dikelola secara profesional. Upaya Ketersediaan. Penyelenggaraan a. 5. daerah tertinggal dan perbatasan. Pemerintah melakukan pengendalian dan pengawasan terhadap pengadaan serta penyaluran untuk menjamin ketersediaan dan pemerataan obat serta alat kesehatan. Pemerintah dengan pengaturan khusus menjamin tersedianya obat bagi masyarakat di daerah terpencil. Pemerataan.

alat kesehatan. laboratorium pengujian mutu yang kompeten. Pembinaan. Khasiat/manfaat. akses terhadap ahli dan referensi ilmiah. pengambilan dan pengujian sampel. dan pengendalian impor. 64 . produksi dan distribusi sediaan farmasi. dan kriteria mengenai produk dan fasilitas produksi dan distribusi sediaan farmasi. Alat Kesehatan. survailan dan vijilan setelah pemasaran. dan makanan merupakan tugas bersama yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan. standar. dan Mutu Sediaan Farmasi. ekspor. pelaku usaha. kerjasama internasional. serta pemantauan label atau penandaan. Upaya Jaminan Keamanan. dan mutu produk melalui proses pendaftaran dan evaluasi. dan masyarakat secara terpadu dan bertanggung-jawab. dan Makanan serta Perlindungan Masyarakat dari Penggunaan yang Salah dan Penyalahgunaan Obat dan Alat Kesehatan Upaya jaminan keamanan. Pengembangan dan penyempurnaan norma. iklan dan promosi. dan makanan sesuai dengan perkembangan Iptek dan standar internasional. independen. khasiat/manfaat. prosedur. sistem manajemen mutu. dan transparan.b. inspeksi fasilitas produksi dan distribusi. alat kesehatan. yaitu pemerintah. alat kesehatan. dan makanan merupakan suatu kesatuan yang utuh. Pelaksanaan regulasi yang baik (Good Regulatory Practices) didukung oleh sumber daya yang memadai secara kuantitas maupun kualitas. khasiat/manfaat. dan mutu sediaan farmasi. dilakukan melalui penilaian keamanan. pengawasan.

kuratif. dan tidak menyesatkan mengenai penggunaan sediaan farmasi. termasuk pemberantasan produk palsu dan ilegal. sehingga masyarakat memperoleh informasi yang benar. Penegakan hukum yang konsisten dengan efek jera yang tinggi untuk setiap pelanggaran. serta manusia usia lanjut untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi tinggi dan memenuhi persyaratan keamanan. preventif. Perlindungan masyarakat terhadap pencemaran sediaan farmasi dari bahan-bahan yang dilarang. Psikotropika. dan Zat Adiktif (Napza) harus merupakan upaya yang terpadu antara upaya represif. dan makanan. dan rehabilitatif. Perlindungan masyarakat dari penyalahgunaan Narkotika. mutu dan gizi. masyarakat. Peningkatan kesadaran/kemandirian masyarakat melalui penyediaan dan penyebaran informasi terpercaya termasuk informasi harga obat. menyeluruh. Upaya Penyelenggaraan Pelayanan Kefarmasian Penyelengaraan pelayanan kefarmasian di semua sarana pelayanan kesehatan dilakukan dengan: 65 . maka upaya jaminan perlindungan keamanan diberikan kepada pengguna dan operator alat kesehatan. transparan. atau penggunaan bahan tambahan makanan yang tidak sesuai persyaratan. alat kesehatan. serta lingkungannya.Dalam rangka menghindarkan dampak buruk dari penggunaan alat kesehatan. c. Mendorong masyarakat rentan terutama anak dan ibu hamil.

6) Penyediaan informasi obat yang benar.1) Mengutamakan kesejahteraan pasien dalam segala situasi dan kondisi. d. 5) Penerapan pendekatan farmako ekonomi melalui analisis biaya efektif dan biaya manfaat pada seleksi obat yang digunakan di semua tingkat pelayanan kesehatan. Upaya Penggunaan Obat yang Rasional Penggunaan obat yang rasional merupakan salah satu langkah untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik dan mengefisienkan biaya pengobatan. 4) Pemberdayaan Komite Farmasi dan Terapi (KFT) untuk meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian melalui penggunaan obat secara rasional. menjamin mutu. Penyelenggaraan upaya penggunaan obat yang rasional dilakukan antara lain melalui kegiatan berikut: 1) Penerapan DOEN dalam upaya pelayanan kesehatan tingkat primer. memberikan informasi dan saran serta memonitor penggunaan obat oleh pasien. objektif dan lengkap melalui penyusunan Informasi Obat Nasional Indonesia 66 . 3) Pengembangan mekanisme pemantauan ketersediaan obat esensial dan langkah-langkah perbaikan di setiap fasilitas pelayanan kesehatan. dan tersier. sekunder. melalui pemanfaatan pedoman terapi dan formularium berbasis bukti ilmiah terbaik. 3) Memberikan kontribusi dalam peningkatan peresepan yang rasional dan ekonomis serta penggunaan yang tepat. 2) Audit dan umpan balik dalam penggunaan obat rasional. 2) Melaksanakan kegiatan inti farmasi yang meliputi pengelolaan obat dan produk kesehatan lainnya. dan 4) Memberikan pelayanan kefarmasian yang sesuai untuk setiap individu.

pemberian insentif kebijakan perpajakan dan perbankan. perawat dan tenaga kesehatan lainnya dalam memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat sehingga dapat meningkatkan kemanfaatan dan keamanan penggunaan obat termasuk penggunaan obat yang rasional. 7) Pemberdayaan masyarakat melalui Komunikasi. Langkah-langkah yang perlu diselenggarakan meliputi: 1) Pemilihan produk yang tepat untuk pengembangan produksi dalam negeri dengan mempertimbangkan potensi sumber daya dalam negeri. dan lain-lain. 3) Pembinaan industri farmasi dalam negeri agar mampu melakukan produksi sesuai dengan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dan dapat melakukan usahanya dengan efektif dan efisien sehingga mempunyai daya saing yang tinggi. e. apoteker. Informasi dan Edukasi (KIE). seperti penyakit diare.(IONI) akan sangat mendukung para profesi kesehatan seperti: dokter. 4) Komitmen semua 67 . antara lain promosi penggunaan obat generik dan pengelolaan berbagai penyakit secara tepat. Upaya Kemandirian Sediaan Farmasi melalui Pemanfaatan Sumber Daya Dalam Negeri Pengembangan dan pemanfaatan sumber daya alam Indonesia perlu didorong secara berkelanjutan untuk digunakan sebagai obat tradisional demi peningkatan pelayanan kesehatan dan ekonomi. Informasi kepada masyarakat. 2) Pemerintah menciptakan iklim yang kondusif bagi investasi di bidang farmasi melalui persaingan usaha yang adil. serta 8) Pemberdayaan SDM Kesehatan dalam melaksanakan penggunaan obat rasional di semua fasilitas pelayanan kesehatan. serta kepastian proses perijinan.

alat kesehatan. administrasi kesehatan. E. pengelolaan data dan informasi kesehatan yang mendukung subsistem lainnya dari SKN guna menjamin tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. memiliki khasiat nyata yang teruji secara ilmiah. dan obat tradisional untuk menunjang pembangunan kesehatan. seperti kemauan industri farmasi domestik untuk memprioritaskan penggunaan bahan baku produksi dalam negeri. pengaturan hukum kesehatan.pemangku kepentingan. dan masyarakat. penerimaan fasilitas pelayanan kesehatan. 6) Pengembangan pemanfaatan obat tradisional yang aman. obat. SUBSISTEM KESEHATAN 1. dan makanan harus melibatkan seluruh pelaku baik secara perorangan maupun bersama dan terpadu antara pemerintah. swasta/dunia usaha. 5) Peningkatan penelitian dan pengembangan bahan baku obat. Pengertian MANAJEMEN DAN INFORMASI Subsistem manajemen dan informasi kesehatan adalah bentuk dan cara penyelenggaraan yang menghimpun berbagai upaya kebijakan kesehatan. 68 . bermutu tinggi. Penyelenggaraan subsistem sediaan farmasi. para pelayan kesehatan dan konsumen. dan dimanfaatkan secara luas baik untuk pengobatan sendiri oleh masyarakat maupun digunakan dalam pelayanan kesehatan formal.

terutama kepada individu dan masyarakat dan sebagai sarana untuk 69 . Kebijakan Kesehatan Kebijakan kesehatan merupakan pedoman yang menjadi acuan bagi semua pelaku pembangunan kesehatan. swasta. berdaya guna. pelaksanaan. berbasis bukti dan operasional. serta didukung oleh hukum kesehatan dan sistem informasi kesehatan untuk menjamin terselenggaranya pembangunan kesehatan guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. c. baik pemerintah. penerapan. Tujuan Tujuan subsistem manajemen dan informasi kesehatan adalah terwujudnya kebijakan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan. Hukum Kesehatan Hukum kesehatan merupakan keseluruhan peraturan perundangan di bidang kesehatan dan segala tindakan penyebarluasan. dan akuntabel. Unsur-unsur a. dan penegakan aturan tersebut dalam rangka memberikan perlindungan. dan masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan dengan memperhatikan kerangka desentralisasi dan otonomi daerah. 3. terselenggaranya fungsi-fungsi administrasi kesehatan yang berhasil guna. Administrasi Kesehatan Administrasi kesehatan merupakan kegiatan perencanaan.2. b. dan pengendalian serta pengawasan dan pertanggung-jawaban penyelenggaraan pembangunan kesehatan.

penyelenggaraan pembangunan d.memfasilitasi kesehatan. meliputi: SDM. Informasi Kesehatan Informasi kesehatan merupakan hasil pengumpulan dan pengolahan data sebagai masukan bagi pengambilan keputusan di bidang kesehatan. dan bertekad dalam pembangunan kesehatan. standar. Prinsip a. Inovasi atau Kreativitas Penyelenggaraan manajemen dan informasi kesehatan harus mampu menciptakan daya tahan dan kesinambungan kinerja sistem melalui inovasi/kreatifitas dalam menghadapi perubahan dan tantangan pembangunan kesehatan dengan lebih baik. 4. dana. dan kelembagaan yang digunakan secara berhasil guna dan berdaya guna dalam upaya mendukung terselenggaranya pembangunan kesehatan. Kepemimpinan yang Visioner Bidang Kesehatan Kepemimpinan yang visioner bidang kesehatan adalah kepemimpinan yang mempunyai visi. keteladanan. e. b. 70 . Sumber daya Manajemen Informasi Kesehatan Kesehatan dan Sumber daya manajemen kesehatan dan informasi kesehatan. sarana prasarana.

dan sinergi yang dinamis. hukum.c. a. pembangunan kesehatan menjadi salah satu dari arus utama pembangunan nasional. transparansi. interelasi dan interdependensi yang dinamis di antara para pelaku pembangunan kesehatan. dan anggaran perlu disusun secara terpadu. kontingensi. efektifitas. Perencanaan kebijakan. 5. Kebijakan Kesehatan Penyelenggaraan proses kebijakan kesehatan dilakukan secara optimal dengan mengacu kepada Norma. dan transparansi sangat penting. d. Sinergisme yang Dinamis Pendekatan manajemen kesehatan merupakan kombinasi dari pendekatan sistem. dan Kriteria (NSPK) kebijakan pembangunan kesehatan nasional. administrasi. subsistem manajemen dan informasi kesehatan diselenggarakan dengan mensinergikan unsur kebijakan. Standar. Penyelenggaraan Dalam rangka mencapai Tujuan Nasional. program. dan informasi kesehatan. Prosedur. Dalam manajemen ini penting adanya interaksi. penetapan skala prioritas berbasis bukti dari 71 . Untuk itu. Dalam manajemen kesehatan ini prinsip efisiensi. Kesesuaian dengan Sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia Manajemen dan informasi kesehatan menjadi pendukung utama dalam pelaksanaan desentralisasi dengan mempertimbangkan komitmen global dalam pembangunan kesehatan.

responsif gender. untuk dilaksanakan secara bersama oleh seluruh pelaku pembangunan kesehatan secara sinergi dan dinamis. c.berbagai sumber yang tersedia. serta pengawasan dan pertanggung-jawaban didasarkan atas urusan wajib bidang kesehatan yang dilaksanakan secara berdaya guna dan berhasil guna. dilaksanakan dengan menjunjung tinggi penyelenggaraan tata pemerintahan yang baik (good governance). Hukum Kesehatan Penyelenggaraan hukum kesehatan meliputi penyusunan peraturan/regulasi dan harmonisasi di tingkat pusat dan daerah. peningkatan kesadaran hukum bagi aparatur kesehatan dan masyarakat. dan pembiayaan yang mencukupi. Administrasi Kesehatan Penyelenggaraan administrasi kesehatan meliputi perencanaan. dilaksanakan secara sinergi yang dinamis antara sektor kesehatan dengan sektor lain. Pusat dan Daerah dengan mempertimbangkan desentralisasi dan memperhatikan peraturan perundangan yang berlaku. berorientasi pada kepentingan masyarakat. memanfaatkan teknologi informasi. pelayanan advokasi hukum. melalui proses pengkajian dan perumusan kebijakan yang melibatkan masyarakat dan berbagai stakeholder terkait. b. didukung dengan SDM yang kompeten. berorientasi pada kepentingan masyarakat. terpadu berlandaskan pada arah kebijakan pembangunan nasional dengan memperhatikan NSPK dan prioritas pembangunan kesehatan. pelaksanaan dan pengendalian. didukung SDM yang kompeten. serta 72 .

SUBSISTEM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT 1. serta pengembangan sistem informasi kesehatan terpadu. dilaksanakan dengan mempertimbangkan perlindungan bagi masyarakat dan pemberi pelayanan. serta sesuai dengan kebutuhan. cepat. integrasi.pembinaan dan pengawasan. dan penegakan hukum perlu dilengkapi dan ditata dengan memperhatikan perkembangan dan perubahan lingkungan internal dan eksternal. Informasi Kesehatan Penyelenggaraan informasi kesehatan meliputi pengumpulan. dengan memperhatikan kecukupan data termasuk data terpilah yang responsif gender. akurat. pengembangan dan penelitian kesehatan. Pengertian Subsistem pemberdayaan masyarakat adalah bentuk dan cara penyelenggaraan berbagai upaya kesehatan. F. manajemen informasi kesehatan. peraturan. penerapan. valid. keadilan. serta berhasil guna dan berdaya guna sebagai bahan pengambilan keputusan dengan mempertimbangkan desentralisasi. termasuk regulasi kesehatan internasional. transparan. 73 . serta aspek kerahasiaan yang berlaku di bidang kesehatan. dilakukan melalui koordinasi. kesetaraan. d. data dari fasilitas kesehatan dan masyarakat (seperti Riset Kesehatan Dasar dan surveilans). dan sinkronisasi informasi kesehatan secara sinergi yang dinamis dalam rangka penyediaan data dan informasi terkini. dengan dukungan pendayagunaan teknologi. pengolahan dan analisis data. serta penerapan pengetahuan dan teknologi kesehatan. sosialisasi.

motivator. 3. Unsur-unsur a. kelompok (organisasi kemasyarakatan. kelompok.baik perorangan. dan berkesinambungan guna tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Sasaran Pemberdayaan Perorangan (tokoh masyarakat. dan swasta menjadi inisiator. dan fasilitator yang mempunyai kompetensi memadai dan dapat membangun komitmen dengan dukungan para pemimpin. berperan aktif dalam setiap pembangunan kesehatan. kelompok masyarakat). politisi. figur masyarakat. tokoh agama. serta dapat menjadi penggerak dalam mewujudkan pembangunan berwawasan kesehatan. baik formal maupun non formal. 2. maupun masyarakat secara terencana. mampu mengatasi masalah kesehatan secara mandiri. masyarakat. dan masyarakat luas serta pemerintah yang berperan sebagai agen perubahan untuk penerapan perilaku hidup sehat (subjek pembangunan kesehatan). b. Penggerak Pemberdayaan Pemerintah. terpadu. Tujuan Tujuan subsistem pemberdayaan masyarakat adalah meningkatnya kemampuan masyarakat untuk berperilaku hidup sehat. organisasi profesi. 74 . dan sebagainya).

kemauan. dan pemerintah yang meliputi: dana. Edukatif dan Kemandirian Pemberdayaan masyarakat dilakukan atas dasar untuk menumbuhkan kesadaran. permasalahan. sarana dan prasarana. dan masyarakat sesuai dengan keragaman sosial budaya. 4. oleh. serta potensi masyarakat (modal sosial). dan untuk masyarakat sehingga mampu untuk mengoptimalkan dan menggerakkan segala 75 . sehingga membentuk kebiasaan dan pola hidup. serta melembaga dan membudaya dalam kehidupan bermasyarakat. Kemandirian bermakna sebagai upaya kesehatan dari.c. Sumber Daya Potensi yang dimiliki oleh masyarakat. dan media untuk terselenggaranya proses pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan. d. serta menjadi penggerak dalam pembangunan kesehatan. keluarga. Kegiatan Hidup Sehat Kegiatan hidup sehat yang dilakukan sehari-hari oleh masyarakat. Berbasis Masyarakat Pembangunan kesehatan berbasis pada tata nilai perorangan. budaya. dan kemampuan. kebutuhan. metode. tumbuh dan berkembang. b. Prinsip a. pedoman. swasta.

masyarakat. kesetaraan.sumber daya setempat serta tidak bergantung kepada pihak lain. c. Kesemuanya itu dapat dilaksanakan bila kebutuhan masyarakat telah dipenuhi secara wajar. serta kemudahan akses informasi. dan saling memperoleh manfaat. Tumbuhnya rasa kepedulian. solidaritas. dan kepekaan masyarakat dalam menghadapi potensi dan masalah kesehatan yang akhirnya bermuara dalam semangat gotongroyong sesuai dengan nilai luhur bangsa. 5. Penggerakan Masyarakat Pembangunan kesehatan perlu digerakkan oleh masyarakat dan masyarakat mempunyai peluang yang penting dan luas dalam pembangunan 76 . keluarga. dan lingkungannya. Penyelenggaraan a. Kemitraan dan Gotong-royong Semua pelaku pembangunan kesehatan baik sebagai penyelenggara maupun sebagai pengguna jasa kesehatan dengan masyarakat yang dilayani berinteraksi dalam semangat kebersamaan. empati. tanggap terhadap aspirasi masyarakat dan bertanggung-jawab. Kesempatan Mengemukakan Memilih Pelayanan Kesehatan Pendapat dan Masyarakat mempunyai kesempatan untuk menerima pembaharuan. d. tenggang rasa. mengemukakan pendapat dan terlibat dalam proses pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kesehatan diri.

dari.kesehatan. b. penyusunan rencana termasuk dalam penentuan prioritas kesehatan. Pengorganisasian dalam Pemberdayaan Pelaksanaan pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan melalui perorangan. Perencanaan pemberdayaan masyarakat didasarkan pada fakta dan masalah kesehatan yang menjadi perhatian masyarakat setempat maupun masyarakat luas serta dengan mempertimbangkan potensi sumber daya dan nilainilai sosial budaya masyarakat. dan untuk masyarakat. kelompok. dan evaluasi upaya kesehatan sehingga dapat terwujud kemandirian dan kesinambungan pembangunan kesehatan. Pada hakekatnya pembangunan kesehatan diselenggarakan oleh. Pemberdayaan masyarakat ditujukan guna terwujudnya penguatan upaya peningkatan. termasuk penggerakan masyarakat. maupun pemulihan secara tersendiri atau terpadu. Dalam kaitan ini pelibatan aktif masyarakat dalam proses pembangunan kesehatan dilakukan mulai dari penelaahan situasi masalah kesehatan. merupakan hal yang penting dalam pembangunan kesehatan. dan masyarakat luas sesuai dengan kepentingannya dan yang berhasil guna dan berdaya guna. penyembuhan. pemantauan. hal ini mengingat penekanan atau fokus pembangunan kesehatan diberikan pada peningkatan perilaku dan kemandirian masyarakat serta upaya promotif dan preventif. Pemberdayaan masyarakat. pelaksanaan. 77 . pencegahan.

institusi pendidikan. kemauan. daerah pesisir. dukungan sumber daya untuk membangun kemandirian dalam upaya kesehatan dan mendorong terbentuknya Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM). dan kemandirian dalam upaya kesehatan. 78 . dan fasilitas kesehatan agar terwujud pemberdayaan masyarakat yang berhasil guna dan berdaya guna serta terjamin kesinambungannya. memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang. seperti masyarakat di desa.Pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan pula melalui pendekatan ketatanan. seperti: Poskestren. Pemuda Siaga Peduli Bencana (Dasipena). Pemberdayaan masyarakat dilakukan dengan metoda yang tepat. Musholla Sehat. tempat umum. dan aliran sungai. menyiapkan masyarakat dengan membekali pengetahuan dan keterampilan bagi masyarakat. tempat kerja. Desa Siaga. daerah pegunungan. kesadaran. serta dengan memperhatikan nilai-nilai agama dan sosial budaya yang ada. Peranan Pemerintah membuka akses informasi dan dialog. dan kemampuan masyarakat dalam berperilaku sehat dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung melalui berbagai saluran media dan teknik promosi kesehatan. menyiapkan regulasi. Upaya untuk meningkatkan pengetahuan. kota. Pemberdayaan masyarakat dilakukan dengan memperhatikan karakteristik dan kekhususan masyarakat. seperti: rumah tangga.

Kemitraan Pemberdayaan masyarakat dilakukan dengan kemitraan berbagai pihak. dan masyarakat agar terwujud dukungan sumber daya dan kebijakan dalam pembangunan kesehatan. d. seperti seluruh sektor terkait. Dalam kaitan ini termasuk pengembangan Desa Siaga atau bentuk-bentuk lain pada masyarakat desa/kelurahan. Pelaksanaan advokasi dilakukan dengan dukungan informasi yang memadai serta metode yang berhasil guna dan berdaya guna. organisasi kemasyarakatan. Masyarakat juga dapat berpartisipasi dengan memberikan kritik yang membangun bagi kepentingan seluruh masyarakat. dunia usaha. Pembinaan dilakukan untuk kesinambungan pemberdayaan masyarakat yang telah dilakukan 79 . perguruan tinggi. Advokasi Masyarakat dapat berperan dalam melakukan advokasi kepada pemerintah dan lembaga pemerintahan lainnya. seperti legislatif untuk memperoleh dukungan kebijakan dan sumber daya bagi terwujudnya pembangunan berwawasan kesehatan. c. lembaga legislatif.Peran masyarakat dalam pembangunan kesehatan dapat dengan cara mendirikan sarana pelayanan kesehatan maupun memberikan informasi kesehatan (promosi kesehatan) kepada masyarakat.

Dalam pemberdayaan masyarakat secara lebih spesifik dapat didampingi penggerak yang berperan sebagai fasilitator. pembiayaan yang memadai. termasuk pentingnya ketersediaan tenaga penggerak/promosi kesehatan. 80 . e. lomba. Ketersediaan sumber daya tersebut sangat penting agar dapat tercapai masyarakat berperilaku hidup sehat dan mandiri. dan kompetisi. Peningkatan Sumber Daya Dalam pemberdayaan masyarakat perlu didukung oleh pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan yang kuat.melalui berbagai cara. dan dukungan berbagai sarana lain yang berkaitan. antara lain pemberian insentif. pendampingan. dan dinamisator dalam proses pemberdayaan masyarakat. seperti di Puskesmas dan Rumah Sakit yang mempunyai kompetensi dan integritas tinggi. komunikator.

PROSES PENYELENGGARAAN SKN Penyelenggaraan SKN menerapkan pendekatan kesisteman yang meliputi masukan. subsistem pembiayaan kesehatan. bermutu. Luaran dari SKN adalah terselenggaranya pembangunan kesehatan yang berhasil guna dan berdaya guna. 3. dan subsistem sediaan farmasi. dan makanan. dan tingkat fisik/alam yang berdampak terhadap 81 . Masukan dalam SKN meliputi subsistem sumber daya manusia. regional maupun global.BAB VI DUKUNGAN PENYELENGGARAAN SISTEM KESEHATAN NASIONAL Sistem Kesehatan Nasional diupayakan agar mampu menyesuaikan dengan perkembangan dan dinamika pembangunan kesehatan yang dihadapi dalam penyelenggaraannya yang dilaksanakan secara berkesinambungan. Sistem Kesehatan Nasional dapat disesuaikan dan disempurnakan dengan kondisi dan situasi yang berkembang. ilmu pengetahuan dan teknologi. ekonomi. dan lingkungan serta keterkaitannya satu sama lain. sosial. budaya. A. merata. dan berkeadilan. politik. 4. Bila terjadi perubahan paradigma dan lingkungan strategis. Proses dalam SKN meliputi subsistem upaya kesehatan. pertahanan dan keamanan baik nasional. subsistem pemberdayaan masyarakat. 2. proses. alat kesehatan. Lingkungan SKN meliputi berbagai keadaan yang menyangkut ideologi. dan subsistem manajemen dan informasi kesehatan. luaran. sebagai berikut: 1.

pembangunan kesehatan. Sosialisasi dan Advokasi SKN Sistem Kesehatan Nasional perlu disosialisasikan dan diadvokasikan ke seluruh pelaku pembangunan kesehatan dan seluruh pemangku kepentingan kesehatan untuk memperoleh komitmen dan dukungan dari semua pihak. Undang-undang Dasar 1945. Berbagai materi SKN yang terpilih dapat digunakan untuk penyusunan dan penetapan peraturan perundangan pada tingkat kebijakan strategis. antar subsistem SKN. maupun dengan sistem serta subsistem lain diluar SKN. berjenjang. dan Ketahanan Nasional merupakan landasan bagi penyelenggaraan SKN. Penyelenggaraan SKN memerlukan penerapan prinsip koordinasi. Pancasila. integrasi. 2. Penetapan SKN Untuk memperoleh kepastian hukum yang mengikat semua pihak. SKN perlu ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Penyelenggaraan SKN dilaksanakan secara bertahap. serta pengawasan dan pertanggung-jawaban secara sistematis. Wawasan Nusantara. 82 . Penyelenggaraan SKN dilakukan melalui siklus perencanaan. dan sinergisme yang dinamis. kebijakan manajerial. sinkronisasi. akuntabel. sebagai berikut: 1. dan berkelanjutan dengan memperhatikan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan (RPJP-K) Tahun 2005-2025. dan kebijakan teknis operasional. transparan. baik antar pelaku. pelaksanaan dan pengendalian.

Penyelenggaraan SKN.Sasaran sosialisasi dan advokasi SKN adalah semua penentu kebijakan. baik di sektor publik maupun di sektor swasta. Penyelenggaraan SKN. yaitu: 1. termasuk pengembangan kebijakan di daerah diselenggarakan melalui penataan ulang keenam subsistemnya secara bertahap. 3. termasuk pengembangan kebijakan di daerah diwujudkan dalam kerangka penyelenggaraan pembangunan kesehatan. termasuk pengembangan kebijakan di daerah didukung dengan penyusunan 83 . 3. dinamika. terpadu. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJM-D). memfasilitasi pengukuhannya dalam bentuk peraturan perundangundangan daerah. dan berkelanjutan. sistematis. Pemerintah Pusat memfasilitasi pengembangan kebijakan kesehatan di daerah. baik secara nasional maupun dalam lingkup daerah. Penyelenggaraan SKN dalam kaitannya dengan pengembangan kebijakan kesehatan di daerah dilakukan dengan berbagai kegiatan. dan masalah spesifik daerah dalam kerangka SKN. Fasilitasi Pengembangan Kebijakan Kesehatan di Daerah Dalam pembangunan kesehatan di daerah perlu dikembangkan kebijakan kesehatan. Penyelenggaraan SKN. Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renstra SKPD) yang penyelenggaraannya disesuaikan dengan kondisi. seperti: Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJP-D). baik di pusat maupun daerah. 2. serta memfasilitasi sosialisasi dan advokasi penyelenggaraan pembangunan kesehatan di daerah sesuai kebutuhan.

termasuk pengembangan kebijakan kesehatan di daerah diselenggarakan sesuai dengan asas desentralisasi yang bertanggung-jawab. 4. Pengendalian dan penilaian SKN termasuk kebijakan kesehatan di daerah perlu didukung dengan pengembangan sistem monitoring dan evaluasi di tingkat nasional dan daerah secara terpadu. Pengendalian dan penilaian SKN termasuk kebijakan kesehatan di daerah diselenggarakan secara berjenjang dan berkelanjutan dengan menggunakan tolok ukur keberhasilan pembangunan kesehatan. maka dilakukan pengendalian dan penilaian SKN sebagai berikut: 1. provinsi. Pengendalian dan penilaian SKN termasuk kebijakan kesehatan di daerah bertujuan untuk memantau dan menilai keberhasilan penyelenggaraan pembangunan kesehatan berdasarkan sistem kesehatan yang ada. Indikator kinerja SKN menjadi rekomendasi untuk upaya perbaikan yang harus didokumentasikan dan disebarluaskan. dan pedoman dalam bentuk berbagai peraturan perundang-undangan. demokratisasi. dan lokal yang dinamis dan cepat berubah. regional.kebijakan. Setiap tahun seluruh pelaku pembangunan kesehatan dengan koordinasi pemerintah melakukan pengukuran pencapaian/kinerja SKN dengan beberapa indikator yang akurat dan terpercaya. Penyelenggaraan SKN. nasional. standar. 3. baik tingkat nasional maupun tingkat daerah. dan kabupaten/kota sampai 84 . Dalam rangka menyesuaikan dengan perkembangan global. dan good governance dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Indikator tersebut menjadi acuan segenap pelaku pembangunan kesehatan di tingkat nasional. 2.

efektif. Pelaku pelanggaran peraturan harus ditindak secara tegas. Tata pemerintahan yang baik disertai regulasi pada keenam subsistem SKN merupakan langkah menuju kesinambungan pelaksanaan sistem kesehatan. Kabupaten/Kota). semua Dalam daerah daerah Secara operasional. dan mengikuti kaidah hukum yang berlaku. swasta. B. guna penyesuaian penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang berbasis fakta. Untuk menjaga kepentingan rakyat. Dalam penyelenggaraan SKN perlu kejelasan dan ketegasan tentang pelimpahan urusan pemerintahan di bidang kesehatan yang luas sampai kabupaten/kota. berorientasi pada konsensus. penyelenggaraan pembangunan kesehatan di perlu memperhatikan SKN dan peraturan setempat. Prosedur. Provinsi. dan organisasi bukan pemerintah lainnya. TATA PENYELENGGARAAN SKN Penyelenggaraan SKN harus memperhatikan peraturan perundang-undangan yang berlaku. termasuk SDM nasional yang melaksanakannya. semua peraturan perundangan yang berkaitan harus dilaksanakan secara konsisten dengan tata pemerintahan yang baik (good governance). penyelenggaraan SKN memerlukan peran regulasi dari pemerintah sesuai dengan tingkatannya (Pusat. Pedoman tentang Norma. Adapun unsur dari tata pemerintahan yang baik. pemerintah juga harus secara konsisten dan konsekuen mengawasi kepatuhan hukum masyarakat. dan Kriteria dari Departemen Kesehatan perlu dikoordinasikan dengan Departemen Dalam Negeri. Standar. Selain tata pemerintahan yang baik. meliputi: partisipatif. Masyarakat madani dan seluruh sektor terkait perlu secara jelas dan tegas diberi 85 .ke tingkat desa. transparan. efisien. inklusif.

C. penggerak. dan masyarakat yang meliputi tokoh masyarakat. Pelaku adalah: penyelenggaraan pembangunan kesehatan 1. keluarga. peranan tersebut ditambah dengan menetapkan 86 .peran dalam pelaksanaan berbagai subsistem SKN. pengawasan sosial. PENYELENGGARA SKN Pemerintah dan masyarakat termasuk swasta bertanggung-jawab atas penyelenggaraan pembangunan kesehatan sesuai peran dan fungsinya masing-masing. organisasi profesi. Pemerintah. serta masyarakat luas. termasuk swasta yang berperan dalam advokasi. sektor pertanian. lembaga swadaya masyarakat. dalam konteks desentralisasi perlu jelas dan tegas dalam memberikan arahan untuk pembangunan kesehatan di daerahnya. sektor perikanan dan kelautan. SKN tidak bisa dijalankan hanya oleh Departemen Kesehatan atau Dinas yang mengurus kesehatan di daerah. sektor perdagangan. antara lain: sektor pendidikan. baik Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah berperan sebagai penanggungjawab. akademisi. dan pembina pembangunan kesehatan dalam lingkup wilayah kerja dan kewenangan masing-masing. sektor keamanan. Di sektor publik. Untuk Pemerintah. dan sektor terkait lainnya. praktisi. pelaksana. dan penyelenggaraan berbagai pelayanan kesehatan sesuai dengan bidang keahlian dan kemampuan masing-masing. Individu. Pemerintah daerah. pembangunan fasilitas umum. Penyelenggaraan SKN dapat berjalan dengan baik apabila melibatkan. sektor keuangan. media massa. 2.

Kebijakan, Standar, Prosedur, dan Kriteria yang digunakan sebagai acuan dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan di daerah. 3. Badan Legislatif, baik di pusat maupun di daerah, yang berperan melakukan persetujuan anggaran dan pengawasan terhadap penyelenggaraan pembangunan kesehatan, melalui penyusunan produk-produk hukum dan mekanisme kemitraan antara eksekutif dan legislatif. 4. Badan Yudikatif, termasuk kepolisian, kejaksaan dan kehakiman berperan menegakan pelaksanaan hukum dan peraturan perundangan yang berlaku di bidang kesehatan. 5. Sektor swasta yang memiliki atau mengembangkan industri kesehatan, seperti: industri farmasi, alat-alat kesehatan, jamu, makanan sehat, asuransi kesehatan, dan industri pada umumnya. Industri pada umumnya berperan besar dalam memungut iuran dari para pekerja dan menambah iuran yang menjadi kewajibannya. 6. Lembaga pendidikan, baik pada tingkat sekolah dasar sampai tingkat perguruan tinggi, baik milik publik maupun swasta. Sebagian besar masalah kesehatan berhubungan dengan perilaku dan pemahaman. Pendidikan memegang kunci untuk menyadarkan masyarakat akan berbagai risiko kesehatan dan peran masyarakat dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

D. SUMBER DAYA PENYELENGGARAAN SKN Sistem Kesehatan Nasional merupakan bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang bekerja secara sinergis, harmonis, dan menuju satu tujuan. 87

Pemerintah wajib melakukan koordinasi agar semua subsistem dan semua pelaku berfungsi dan bekerja secara sinergis. Kepincangan pada salah satu subsistem atau pelaku akan mengganggu kerja SKN. Pemerintah harus menjamin tersedianya dana, sumber daya manusia yang memadai dan profesional, sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan yang dikelola dengan manajemen kesehatan yang baik, terutama yang berkaitan dengan administrasi kesehatan dan pengaturan hukum kesehatan serta didukung dengan informasi yang akurat, valid, tepat waktu, dan tepat kebutuhan. Pelaku sistem informasi kesehatan sesuai perannya harus mampu secara cepat merespon dan menggunakan perkembangan teknologi informasi, baik untuk mengolah, menyampaikan ke pelaku lain, maupun kepada masyarakat nasional dan internasional. Pemerintah juga mengembangkan sistem insentif/reward dan sistem sanksi bagi setiap pelaku yang tidak menggunakan informasi yang akurat, tepat waktu, dan tepat kebutuhan (relevan). Selain itu, Pemerintah juga mengharuskan fasilitas kesehatan publik maupun swasta untuk menyediakan informasi melalui situs yang mudah diakses dan terbuka, sebagai cara untuk mendidik masyarakat. Tersedianya pembiayaan kesehatan dalam jumlah yang memadai teralokasi secara adil, merata, dan termanfaatkan secara berhasil guna dan berdaya guna, sangat penting dalam pembangunan kesehatan. Pemerintah juga menjamin tersedianya dana untuk penelitian dan pengembangan bidang kesehatan. Sumber daya manusia merupakan komponen kunci keberhasilan SKN. Pemerintah harus melakukan upaya agar semua SDM Kesehatan memenuhi standar kompetensi tertentu sesuai bidangnya sebagai prasyarat bagi penyediaan pelayanan kesehatan yang bermutu dan 88

diterima oleh masyarakat. Namun, Pemerintah juga menjamin agar setiap SDM di bidang kesehatan mendapat remunerasi yang wajar, layak, dan sesuai dengan tanggung-jawab, pengalaman, dan kompetensinya. Keseimbangan profesionalitas, tanggung-jawab, pengalaman, dan besaran renumerasi merupakan kunci kesinambungan pelayanan kesehatan yang berkualitas. Penyelenggaraan subsistem sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan harus dilakukan secara terbuka dengan keseimbangan antara produksi dan pemanfaatan dengan dukungan dana yang memadai. Keterbukaan ini adalah kemampuan mengakomodasikan perkembangan teknologi dan produk teknologi kefarmasian dan teknologi peralatan kedokteran dan kesehatan serta memperhatikan keterjangkauan harga bagi masyarakat. Indonesia harus mampu menjadi pengekspor berbagai sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan. Keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif dalam bidang ini harus terus dikembangkan. Untuk menjamin kesinambungan subsistem upaya kesehatan, maka dukungan masukan informasi kesehatan, sumber daya manusia kesehatan, sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan, serta pendanaan harus selalu tersedia dalam jumlah yang memadai. Kualitas pelayanan harus selalu memenuhi standar yang ditetapkan agar setiap pengguna pelayanan kesehatan merasa puas dan memperoleh manfaat pelayanan kesehatan. Dengan kualitas dan kepuasan pengguna yang tinggi, maka akan timbul kemauan masyarakat sebagai pengguna untuk berkontribusi dalam bentuk dana, pemikiran, maupun tenaga. Pemerintah perlu menjamin adanya kepastian hukum dalam setiap penyelenggaraan subsistem SKN. Peraturan perundangan yang dalam pelaksanaannya mengalami 89

Departemen Kesehatan melakukan koordinasi dengan lintas sektor. perguruan tinggi. memberikan insentif. pemenuhan 90 . Pemerintah mengatur dan memberdayakan masyarakat agar mampu melakukan kontrol sosial yang memadai guna menjamin kesinambungan dan akuntabilitas SKN. maka wajib berperan aktif sesuai dengan bidangnya guna mewujudkan tujuan SKN. Peraturan yang dibuat harus melalui sinkronisasi dengan berbagai peraturan di bidang kesehatan dan di luar bidang kesehatan serta membuka kesempatan luas kepada pemangku kepentingan dalam perumusan peraturan. maupun instansi kesehatan di daerah untuk mendukung. lembaga penelitian dan pengembangan lainnya. atau industri dalam melakukan penelitian dan pengembangan pelayanan kesehatan guna memacu perkembangan SKN. Pemerintah daerah perlu diberikan kewenangan untuk penegakan hukum terhadap berbagai aspek yang memungkinkan terselenggaranya SKN dengan baik. serta sistem pengelolaan yang lebih baik dan bermutu. dan memfasilitasi berbagai penelitian di dalam negeri guna tersedianya sediaan farmasi dan alat kesehatan. Pemerintah memfasilitasi dan memberikan insentif (baik berupa pembebasan pajak. KERJASAMA INTERNASIONAL Sistem Kesehatan Nasional merupakan bagian dari sistem nasional. E. Pemerintah mendorong terwujudnya kontrol sosial yang kuat dari masyarakat terhadap kualitas pelayanan kesehatan. maupun bantuan teknis lainnya) bagi fasilitas kesehatan. Kewajiban berbagai sektor mencakup pemenuhan logistik yang diperlukan sebagai masukan dalam SKN. pembelian hasil produksi.hambatan besar di daerah harus diatur lebih lanjut dengan Peraturan Daerah.

Sebaliknya. UNICEF. Para pelaku SKN wajib berperan aktif di lingkungan internasional untuk mewujudkan kepemimpinan Indonesia di dunia internasional guna menghasilkan kebijakan yang kondusif bagi pengembangan SKN. UNFPA. Para pelaku SKN juga wajib mencermati dan memanfaatkan setiap kesempatan yang ada di dunia internasional guna memperkuat SKN. peniadaan atau pengurangan bahan-bahan ataupun kondisi yang dapat menimbulkan risiko kesehatan. Peran Indonesia dalam upaya mereformasi WHO perlu terus dilakukan agar transparansi dan keadilan dari organisasi internasional tersebut dapat tercapai. Para pelaku SKN berkewajiban mengembangkan diri agar mampu berperan di tingkat internasional dalam rangka menjaga agar SKN dapat berjalan dengan baik. Perubahan lingkungan strategis regional maupun global dapat mengancam keberhasilan SKN. Dana internasional yang tersedia yang tidak mengikat dan dapat secara sinergis meningkatkan kinerja SKN perlu dimanfaatkan dengan baik. seperti UNDP. setiap intervensi internasional yang dalam jangka pendek atau jangka panjang yang dapat merugikan SKN wajib dicegah oleh setiap pemangku kepentingan. penyediaan insentif finansial dan non finansial.SDM dengan kompetensi yang sesuai. dan peran lainnya yang berkembang sesuai perubahan lingkungan strategis. koordinasi penyelenggaraan. 91 . Kerja sama dalam bidang kesehatan dengan berbagai lembaga internasional dan regional lain yang terkait perlu ditingkatkan. dan ASEAN.

dibutuhkan manajer-manajer di sektor publik maupun di masyarakat. Untuk dapat melaksanakan SKN yang memenuhi prinsip umum dan prinsip dasar dari masing-masing subsistemnya yang disesuaikan dengan kemampuan diri dan lingkungan. serta masyarakat. tidak berarti seluruh pelayanan kesehatan harus menyediakan pelayanan non diskriminatif bagi seluruh rakyat untuk seluruh jenis pelayanan. termasuk swasta. seluruh pelaku harus memegang teguh prinsip-prinsip umum SKN dan prinsip dasar masing-masing subsistemnya. Dengan demikian. tetapi juga harus realistis dengan kemampuan sumber daya manusia dan ketersediaan dana dan sumber daya lainnya. meskipun nantinya diharapkan terwujud pelayanan kesehatan yang adil dan merata. 92 . serta keterpaduan berbagai upaya yang dilakukan oleh semua pelaku SKN. Prinsip adil dan merata secara bertahap diupayakan sesuai kemampuan yang dimiliki.BAB VII PENUTUP Tujuan pembangunan kesehatan hanya dapat dicapai bila didukung oleh kerjasama dengan semangat kemitraan antar semua pelaku pembangunan. Dalam pelaksanaannya. penyelenggaraan pembangunan kesehatan dengan dukungan SKN dapat dilaksanakan dengan berhasil guna dan berdaya guna dengan interaksi. serta kondisi lingkungannya. badan legislatif dan yudikatif. pemerintah pusat dan daerah. Manajer tersebut harus mempunyai kompetensi khusus dan mempunyai komitmen kuat dalam upaya mencapai tujuan pembangunan kesehatan. interelasi. Penetapan SKN dimaksudkan untuk memberikan arah bagi setiap pelaku upaya atau pelayanan kesehatan sesuai dengan kondisi lingkungan masing-masing instansi dan institusi. termasuk swasta. baik pemerintah secara lintas sektor. Dengan demikian.

SKN perlu disesuaikan atau diubah secara berkala sesuai dengan perubahan lingkungan strategis. Sistem Kesehatan Nasional harus selalu mampu menjawab peluang. baik nasional. regional. tantangan.Sistem Kesehatan Nasional merupakan sistem terbuka yang berinteraksi dengan berbagai sistem nasionalnya sebagai subsistem dari Ketahanan Nasional. maupun internasional. bersifat dinamis. dan perubahan lingkungan strategis nasional. semua pemangku kepentingan wajib memantau kinerja dan kendala yang dihadapi SKN. Oleh karenanya. dan dalam pelaksanaannya selalu mengikuti perkembangan. regional. 93 . Oleh karenanya. maupun global.

dasar.PERILAKU MASYARAKAT BURUK .WASANTARA. Ekonomi Sosial Budaya dan Pertahanan Keamanan) GLOBAL.SUMBER DAYA KESEHATAN TERBATAS DERAJAT KESMAS YG SETINGGITINGGINYA RAKYAT SEHAT PRODUKTIF TUJUAN NASIONAL LINGKUNGAN STRATEGIS: (Ideologi. LOKAL PELUANG/KENDALA 94 . UUD 1945.KETIDAKPASTIAN HUKUM .AKSES PELAYANAN PUBLIK BURUK .LINGKUNGAN BURUK . Politik.ALUR PIKIR RENCANA PEMBANGUNAN KESEHATAN DAN SISTEM KESEHATAN NASIONAL PARADIGMA NASIONAL (PANCASILA.) (UU 23/1992 Kesehatan. bentuk dan cara penyelenggaraan Bangkes) MASALAH MENDASAR BANGKES: . UU 17/2007 RPJPN) KONDISI SAAT INI Derajat Kesehatan Masyarakat Rendah Gambar-1 RPJP-K DAN SKN (Arah.RAWAN PANGAN DAN RAWAN GIZI . NASIONAL. REGIONAL. TANNAS.

SDM Kesehatan. dan Makanan 3) Meliputi : Manajemen dan Informasi Kesehatan 95 . Alat Kesehatan. AGAMA DAN BUDAYA PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN FUNDAMEN MORAL: KEMANUSIAAN LINGKUNGAN EKONOMI 2) SUMBER DAYA KESEHATAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT UPAYA KESEHATAN 1) DERAJAT KESEHATAN MASYARAKAT LINGKUNGAN SEHAT 3) MANAJEMEN KESEHATAN PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA LINGKUNGAN POLITIK DAN HUKUM LINGKUNGAN FISIK DAN BIOLOGI Catatan: 1) Meliputi pula: Penelitian dan Pengembangan Kesehatan 2) Meliputi: Pembiayaan Kesehatan. serta Sediaan Farmasi.GAMBARAN UNSUR-UNSUR PEMBANGUNAN KESEHATAN DAN SUBSISTEM SKN SERTA TATA HUBUNGANNYA Gambar-2 DAN LINGKUNGAN STRATEGIS YANG MEMPENGARUHI SKN LINGKUNGAN ILMU DAN TEKNOLOGI LINGKUNGAN SOSIAL.

dan Sinergisme Millenium Development Goals Negara Kesatuan Republik Indonesia Norma. Integrasi. Informasi dan Edukasi Koordinasi. dan Kriteria Produk Domestik Bruto Pelayanan Kesehatan Masyarakat Primer Pelayanan Kesehatan Masyarakat Sekunder Pelayanan Kesehatan Masyarakat Tersier Pelayanan Kesehatan Perorangan Primer Pelayanan Kesehatan Perorangan Sekunder Pelayanan Kesehatan Perorangan Tersier Pemilihan Kepala Daerah 96 .DAFTAR SINGKATAN AKB AKI APBD APBN ASEAN BPFK BTKL CPOB DBD DOEN Dasipena HAM HIV/AIDS Iptek Jamkesmas KFT KIA KIE KISS MDGs NKRI NSPK PDB PKMP PKMS PKMT PKPP PKPS PKPT Pilkada : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : Angka Kematian Bayi Angka Kematian Ibu Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Association South East Asian Nation Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan Balai Tehnik Kesehatan Lingkungan Cara Pembuatan Obat yang Baik Demam Berdarah Dengue Daftar Obat Esensial Nasional Pemuda Siaga Peduli Bencana Hak Asasi Manusia Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Jaminan Kesehatan Masyarakat Komite Farmasi dan Terapi Kesehatan Ibu dan Anak Komunikasi. Sinkronisasi. Prosedur. Standar.

Poskesdes Poskestren Posyandu Puskesmas P4K RPJM-D RPJP-K RPJP-D RPJP-N Renstra SKPD Riskesdas SDKI SDM SJSN SKN Siknas TB Paru UHH UKBM UNDP UNFPA UNICEF UPT UUD WHO WNA WNI : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : Pos Kesehatan Desa Pos Kesehatan Pesantren Pos Kesehatan Terpadu Pusat Kesehatan Masyarakat Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah Riset Kesehatan Dasar Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia Sumber Daya Manusia Sistem Jaminan Sosial Nasional Sistem Kesehatan Nasional Sistem Informasi Kesehatan Nasional Tuberculosis Paru Umur Harapan Hidup Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat United Nations Development Programme United Nations Population Fund United Nations Emergency Children’s Fund Unit Pelaksana Teknis Undang-undang Dasar World Health Organization Warga Negara Asing Warga Negara Indonesia 97 .

Hapsara Habib Rahmat. DR. DR. MM. MBA. Yuniar S. MPH). MSi. Apt. Slamet Sudi Santoso. Bambang W.D. Lily S. MBA. M. Apt. T. dr.JP. Dr. . Untung Suseno Sutarjo. Ph.Kes. Mulyadi. Sp. Dr. MPH. Dr. Zulkarnain. Titte Kabul Adimidjaja. Nagiot CT.J. Dr. Agus Sunario. MPH. Dr. Wandaningsih. MM.Kom. SKM.Epid . Harmein Harun. SpF(K). Suamsul Bahri. Sp. DR. R.KO. Pakkaya. Mulya A Hasjmy. Dr. MPH. Firman Lubis.Sos. dr. M.Tugijono. Louventus P . Syamsul Bahri. SS . antara lain: Tingkat Pusat: Dr. Ruhayati . Ina Hernawati. SKM . M.Kes. Sontang Tambunan. Rustam S. Charles Suryadi. DHSM. Dr. Arum Atmawikarta. Krishnajaya. Dra. Sp.A. MSi. MSc. Emiliya Roza. Agus Iriawan.Appt. Dr. Dr. Ahmad Nizar S. Indariwati. Imran Agus Nurali. M. Bambang Sardjono. Rita Djupuri. Bambang Hartono. MPH.Kes. Marius W. Dr. Indah Yuningprapti. Bambang Hartono. Sp. Yaslis Ilyas. SKM. MPH. MKKK . M. MPH. Royan. Taufik Izwan. DR.D. M. S. Drs. MPH.B. MM. Drs. Drg. Ratna Rosita Hendardji. Peter Andreas. Dra. Dr. MSc. Drs. Dra.KONTRIBUTOR Sistem Kesehatan Nasional ini berhasil disusun atas partisipasi aktif dan kontribusi positif dari berbagai pihak. Agus Purwadianto. Madiono. Dr. Sri Suhariningsih. Nasirah Bahaudin. Sri Hermiyanti. H. Hary Purwanto. Dr. Krissna Tirtawidjaja. Dra.SKM. Adang Bachtiar. Dr. Hardini Kusumadewi. Dr. Lovita T. M. Drg. Dr. Yusharmen D Comm. MKM. MPH. MSc. Dr. MSc. Donald Pardede. Gemala Hatta. SKM. Dr. SKM. Dr. MPH. Apt. Drg. Toto Heryanto . DR. M.B. Jajang Subagya. MPH . DR. Dr. Rahmat Kurniadi. Dr. Msi. Dr. Ida Bagus Indra Gotama. dr. MS. SKM. Ph. Lenny Evanita. Sardikin Giriputro. Trisa Wahjuni Putri. S. Dr. Msi.M. Abidinsyah Siregar. M.Kes. Riza Sultoni. Faisal Barabas. Abdurachman. DR. Dr. Dr. SH.Kes. Andi Saguni. MPPM. DPH. DR. MM. Dr. Apt. Dr. DR. SKM. Drs. Sutoto. M. Dr. Chirul R Nasution. I Nyoman Kandun.Kes . Yoserizal. dr. Dr. Suginarti . M. Sjafii Achmad. Rahbudi Helmi. Dr. SKM. MPH. Dr. SH. H.Kes. MSc. Achmad Soebagio T. MPH. Drs. Sp. Bambang Sardjono. Triono Soendoro. Drs. MS. SKM.Meinarwati.Kes. Bambang Giatno Rahardjo.B(K).Sukowidodo. Bambang Widodo. Mary S Maryam.Kes. Suhardjono. SKM. SKM . SE. M. Dr. SKM.Kes. Iswandi Mourbas.Epid. MPH. M. Dr. SKM. dr. SKM . Herma Trillas Purba. M. Drs. dr. dr. Edi Suranto. drg. Kustantinah. Dr. Fresly. Ruslidjah. M.Syihab. Drs. M. Budhihardja. Dr. MSc. Prof. Dr. Abidinsyah Siregar. DR.MSc(PH). Mustikowati. Dr. DR. MPH. Dr. SE. Ruhayati . . MPH. Soenarjo Soejoso. Widjaja Lukito. MPH. R. Geral Mario S. SKM. S. SKM. MPH. dr. MPH. Faiq Bahfen. SKM. Dr. Naydial Roesdal. Dr. Mulya A Hasymi. Prof. Kodrat Pramudho. Richard Panjaitan. Hasbullah Thabrani. Dr.Kes. Zulkarnain Kasim. Rachmi Untoro. MSc. Dr. Apt. MKM.W. DM Wismarini. M. MPP. Liliana.Sc. MA. Rusmiati. Ir. Drg.Kes. Prof. MSc. MPH. Drg.Rita Ratna Puri. dr. SKM. Gatot Soetomo. Purwadi. MPH. M. Sp. M. Sri Muljati. M. MSc. Dr. H. Ida Bagus Indra Gotama. Dr. MPH. SK Amdani. Prof. Farid Wadjdi Husain.H. Apt.Kes.Sos. Dr. Drg. Tjipto Rahardjo. Dr. Delnalis.PH. Jemfy Naswil. Taufik.Kes. Dr.DTM&H.JP(K). . dr. Bambang Widodo.Kes. Widyawati. M. Sonny P.Chalik Masulili. Indriyono Tantoro. Dr. M. Setiawan Soeparan. Diah Puspitasari. MPH.DR. SKM. SKM. PhD. Bambang Hartono. SH.Kes. DCN. . Sulistyowati. Siti Fadilah Supari. Rustam S Pakkaya. MPH. MSc. DHSM.Kes. SE. dr. Iis Sin Sin. Marwan Nusri.

Dr. T. Bairizal.Kes. Oslinda Martony. SKM. SKM. MPH. SpA (K). Indro Darmadji. DR. Dyah RB. Choirul Anwar. Kartini Rustandi.Kes. MPH. Sugeng LA. Syafrudin Rasyid. Drs.Kes. Jimmy Lee. Herry Tjahjono. SKM. Dr. Agussalim Mooduto. SE. Jorizal Jannis. Ockti Palupi. Risma Julius. RE. Dr. Dien Emawati. MKes. MKes. S. Ratna Dewi Umar. Dr. Dr. Drs.P. Noto Basuki. Hanni Rono S.Kes. Razak Thaha. Eryta W. Drg. Jeane Pangemanan. Bondan Agus Susyanto. Okti Palupi . Prof.Kes.Kes. Syahrani Djedi. Mahmud Fauzi. Dr. Shermina Oruh. Bambang Agus Legowo. Dr. Wirabrata. Ridarson. Isti Ratnaningsih. Dr. MKes. Tri Martiana. Suharto. Zaura Rini Anggraini.Kes. Drg. Dr. MPH. Andreas Meliala. SKM. Lily Mulyasari. Kodrat Pramudho. Tjipto Rahardjo. DESS.Kes. rapat. Drs. Broto Wasisto. Adnan Mahmud. Drg. Dr. Abdul Gani Sitepu. Sutrisno. Syahrul A. Eny Susilowati. Nizwardi Azkha. Apt. Peter Andreas). MM. Lita R Siampar. Melzan Dharmayuli. Dr. Bachtiar Oesman. Munzelly Husivevi. MKes. Dr. M. MKes. M. Widyawati. Dr. SKM. Dr. Rosihan Adhani.Kes. Dr. atau pertemuan lainnya . E. M.SKM. MSCPH.Sos . Guntur DW. Kuwat S Hudoyo. Dr. Sudono.Kes. Yanti. MKes. Durachman. Tingkat Daerah: Drg. Sri Rachmani. M. Entos Rusna. Ishak. SE. dr. A. Kamaruzaman. Dr. M.S. S. Apt. SH. Poedjo Prasetyo. MSc. I Wayan A. Kiswanto. Suteja. Sultan Akbar Torutju . Sugito. Dan semua individu/pihak yang telah membantu penyusunan SKN yang tidak bisa disebutkan satu per-satu Mohon maaf bila ada kesalahan dalam penulisan nama dan gelar Daftar nama dan gelar disusun berdasarkan absensi lokakarya.SKM. Sofia Wirda. Benny Patiasina. MPH.GDE Agung Wiadnya P. Entos Z. Dr. SKM. Muninjaya. Yanti Nurbayanti. MARS. Ninin S . Prof. HJ. Dr. MPAM. Ibnu Alferbaly. SpOG.Kes . Drs. Sardikin Giriputro. Endro Buono. Vita. Ni Wayan Mariani. Drs. Didi Suswanto.M. SKM. Dr. Lovita T . Nurbaiti. Dr. SKM. Pius Weraman. Adi Wirachjanto. H. Dedi Supratman. Dr. Andi M. SKM. Dr.A. Ridwan Thaha. MPH. SpACKI. Bambang Sugeng W. Dr.Kes . Agung Indarto. Syafri. M. Drs. M. Harif Fadhillah. Dr. Dr. Drg.Sos. Irwan. Drg. SKM. Dr. Lukman HL. Ade Erma. Jauhari. M. Dr. Poedjo Praseptio. Nina Kurnia. Kuswati Ningsih. Rudi Arif. Tin tin F. Hasnawati. MPH. Abd. Jeni Haju. Dian Damairini. MPPM. Sasli Adis. M. H. Pande Putujaraga. SKM. SKM. M. Slamet Soesilo.Kes. Julistio Djais. Siti Aisyah. Drg. Munzir Purba. Amin Yohannis. M. M. Rais Lamangkona. Tri Martiana. Drs.Kes. M. Fauzi Ali Amin. Julistio TB Djais. Emmilya Rosa. Rita Kusriastuti.Sp.Ahmad Said. Eny Setiowati. Drg. Drg. One Widyawati. Mkes. Drg. DESS. Djayusmantoko. Arbiansyah Alam. Emi Nurjasmi. Dr. Tukijan. Drg. Prijono.