DEPARTEMEN KESEHATAN RI JAKARTA, 2009

BENTUK DAN CARA PENYELENGGARAAN PEMBANGUNAN KESEHATAN

DEPARTEMEN KESEHATAN RI JAKARTA, 2009

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ....................................................... DAFTAR ISI ..................................................................... I. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG .......................................... B. PENGERTIAN SKN .......................................... C. MAKSUD DAN KEGUNAAN SKN .................... D. LANDASAN SKN .............................................. PERKEMBANGAN DAN TANTANGAN SISTEM KESEHATAN NASIONAL A. PERKEMBANGAN DAN MASALAH SISTEM KESEHATAN NASIONAL …………………….... B. PERUBAHAN LINGKUNGAN STRATEGIS ..... ASAS SISTEM KESEHATAN NASIONAL A. DASAR PEMBANGUNAN KESEHATAN ......... B. DASAR SKN ..................................................... BENTUK POKOK SISTEM KESEHATAN NASIONAL A. TUJUAN SKN ................................................ B. KEDUDUKAN SKN ....................................... C. SUBSISTEM SKN ......................................... D. TATA HUBUNGAN ANTAR SUBSISTEM DAN LINGKUNGANNYA .......................................... CARA PENYELENGGARAAN SISTEM KESEHATAN NASIONAL A. SUBSISTEM UPAYA KESEHATAN ................. B. SUBSISTEM PEMBIAYAAN KESEHATAN ...... C. SUBSISTEM SUMBERDAYA MANUSIA KESEHATAN .................................................... D. SEDIAAN FARMASI, ALAT KESEHATAN, DAN MAKANAN ............................................... ii i ii 1 1 2 3 4

II.

6 6 12 15 15 17

III.

IV.

21 21 21 23 26

V.

30 30 45 50 59

TATA PENYELENGGARAAN SKN ………… C.......... SUBSISTEM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT .... PENUTUP LAMPIRAN Gambar-1: Alur Pikir Rencana Pembangunan Kesehatan dan Sistem Kesehatan Nasional Gambar-2: Gambaran Unsur-unsur Pembangunan Kesehatan dan Subsistem SKN serta Tata Hubungannya dan Lingkungan Strategis yang Mempengaruhi SKN 94 95 DAFTAR SINGKATAN ……………………………………... KERJA SAMA INTERNASIONAL …………… 68 73 81 81 85 86 87 90 92 VII.......E.... DUKUNGAN PENYELENGGARAAN SISTEM KESEHATAN NASIONAL A...... VI.... KONTRIBUTOR 96 iii ..... SUBSISTEM MANAJEMEN DAN INFORMASI KESEHATAN …………………………………… F. PENYELENGGARA SKN ……………………........ SUMBER DAYA PENYELENGGARAAN SKN E....... PROSES PENYELENGGARAAN SKN ……...... D..... B......

tersebut. Dalam kerangka kesehatan pembangunan dilaksanakan secara terarah. tentang Nasional Rencana (RPJPN) Pembangunan Panjang memberikan arah pembangunan ke depan bagi bangsa Indonesia. UndangUndang Nomor 17 Jangka tahun 2007. dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat mencapai yang tujuan setinggi-tingginya. kemauan. . Kesinambungan dan keberhasilan pembangunan kesehatan ditentukan oleh tersedianya pedoman penyelenggaraan pembangunan kesehatan baik berupa dokumen perencanaan maupun metode dan cara penyelenggaraannya.KATA PENGANTAR Pembangunan kesehatan adalah upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen bangsa yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran. berkesinambungan dan realistis sesuai pentahapannya. Dalam Undang-Undang tersebut antara lain ditetapkan bahwa pembangunan berdasarkan kesehatan diselenggarakan pemberdayaan dengan dan perikemanusiaan. Di dalamnya juga telah tercantum arah pembangunan kesehatan dalam 20 tahun ke depan sampai dengan tahun 2025.

dan keluarga miskin. cepat berubah dan.kemandirian. dan globalisasi serta tantangan lainnya yang juga semakin berat. anak. . Sistim Kesehatan Nasional (SKN) 2009 sebagai penyempurnaan dari SKN sebelumnya merupakan bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah bersama seluruh elemen bangsa dalam rangka untuk meningkatkan tercapainya pembangunan kesehatan dalam mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. desentralisasi. Adanya SKN yang disempurnakan tersebut menjadi sangat penting kedudukannya mengingat penyelenggaraan pembangunan kesehatan pada saat ini semakin kompleks sejalan dengan kompleksitas perkembangan demokrasi. serta pengutamaan dan manfaat dengan perhatian khusus pada penduduk rentan. manusia usia lanjut (manula). antara lain ibu. adil dan merata. Sistim Kesehatan Nasional (SKN) 2009 yang disempurnakan ini diharapkan mampu menjawab dan merespon berbagai tantangan pembangunan kesehatan di masa kini maupun di masa yang akan datang. sering tidak menentu.

JP(K) . bantuan dan masukan serta kontribusinya dalam penyusunan dan perumusan SKN tersebut. Semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu melimpahkan Rachmat dan Hidayah serta memberikan petunjuk dan kekuatan bagi kita sekalian dalam melaksanakan pembangunan kesehatan di Indonesia dengan berpedoman pada Sistem Kesehatan Nasional yang baru ini. Siti Fadilah Supari.Diharapkan SKN 2009 ini terkait dan mengacu pada arah dan tahapan pembangunan kesehatan yang ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan (RPJPK) Tahun 2005-2025. April 2009 MENTERI KESEHATAN RI. Dalam kaitan ini penyelenggaraan SKN 2009 tersebut perlu sesuai dengan tahap-tahap lapangan. pelaksanaan pembangunan kesehatan di Pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya dan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak atas perhatian. Dr.dr. Sp. Jakarta.

seperti: Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang 1 . perdamaian abadi dan keadilan sosial. Jaminan Kesehatan Masyarakat. Perubahan lingkungan strategis ditandai dengan berlakunya berbagai regulasi penyelenggaraan kepemerintahan. Untuk itu diperlukan pemantapan dan percepatan melalui Sistem Kesehatan Nasional sebagai bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang disertai berbagai terobosan penting. serta Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K). dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya dapat terwujud. kemauan. mencerdaskan kehidupan bangsa. dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. seperti: pengembangan Desa Siaga. LATAR BELAKANG Dalam mencapai tujuan nasional bangsa Indonesia sesuai Pembukaan UUD 1945. Undangundang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. maka pembangunan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan kesadaran. Pembangunan kesehatan yang dilaksanakan dalam dasawarsa terakhir masih menghadapi berbagai masalah yang belum sepenuhnya dapat diatasi. yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum.BAB I PENDAHULUAN A.

Dalam mengantisipasi ini. pada hakekatnya merupakan bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan. SKN 2004 sebagai pengganti SKN 1982. Pembangunan kesehatan adalah upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen bangsa yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran. penting untuk dimutakhirkan menjadi SKN 2009 agar dapat mengantisipasi berbagai tantangan perubahan pembangunan kesehatan dewasa ini dan di masa depan. B. sehingga diperlukan penyempurnaan dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan. dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang 2 . kemauan. perlu mengacu terutama pada arah. Disamping itu secara global terjadi perubahan iklim dan upaya percepatan pencapaian MDGs. PENGERTIAN SKN Sistem Kesehatan Nasional (SKN) adalah bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang memadukan berbagai upaya bangsa Indonesia dalam satu derap langkah guna menjamin tercapainya tujuan pembangunan kesehatan dalam kerangka mewujudkan kesejahteraan rakyat sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Dasar 1945. dan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJP-N) Tahun 2005-2025. dasar.Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. dan strategi pembangunan kesehatan yang ditetapkan dalam Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJP-N) Tahun 2005-2025 dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan (RPJP-K) Tahun 2005-2025.

keamanan. kesadaran masyarakat. Pembangunan kesehatan diselenggarakan berdasarkan pada: 1) Perikemanusiaan. Tersusunnya SKN 2009 mempertegas makna pembangunan kesehatan dalam rangka pemenuhan hak asasi manusia. serta meningkatkan investasi kesehatan untuk keberhasilan pembangunan nasional. sumber daya. agar dapat dipergunakan sebagai pedoman tentang bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan. memantapkan kemitraan dan kepemimpinan yang transformatif. 3) Adil dan merata. swasta. 2) Pemberdayaan dan kemandirian. serta kemampuan tenaga kesehatan dalam mengatasi masalah-masalah tersebut. serta 4) Pengutamaan dan manfaat.setinggi-tingginya dapat terwujud. 3 . Sistem Kesehatan Nasional perlu dilaksanakan dalam konteks Pembangunan Kesehatan secara keseluruhan dengan mempertimbangkan determinan sosial. MAKSUD DAN KEGUNAAN SKN Penyusunan SKN 2009 ini dimaksudkan untuk menyesuaikan SKN 2004 dengan berbagai perubahan dan tantangan eksternal dan internal. tingkat pendidikan. seperti: kondisi kehidupan sehari-hari. maupun oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah serta pihak terkait lainnya. distribusi kewenangan. baik oleh masyarakat. melaksanakan pemerataan upaya kesehatan yang terjangkau dan bermutu. memperjelas penyelenggaraan pembangunan kesehatan sesuai dengan visi dan misi Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan (RPJP-K) Tahun 2005-2025. C. pendapatan keluarga.

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan Tahun 2005-2025 dan SKN merupakan dokumen kebijakan pembangunan kesehatan sebagai acuan dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan. termasuk penguatan sistem rujukan. Sistem Kesehatan Nasional disusun dengan memperhatikan pendekatan revitalisasi pelayanan kesehatan dasar (primary health care) yang meliputi: 1) Cakupan pelayanan kesehatan yang adil dan merata. Landasan Idiil. yaitu UUD 1945. 3) Kebijakan pembangunan kesehatan. khususnya: Pasal 28 A. Pasal 28 H ayat (1). D. setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin. Pendekatan pelayanan kesehatan dasar secara global telah diakui sebagai pendekatan yang tepat dalam mencapai kesehatan bagi semua dengan mempertimbangkan kebijakan kesehatan yang responsif gender. Sistem Kesehatan Nasional juga disusun dengan memperhatikan inovasi/terobosan dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan secara luas. setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya. bertempat tinggal. 2. dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan 4 . 2) Pemberian pelayanan kesehatan yang berpihak kepada rakyat. Landasan Konstitusional. LANDASAN SKN Landasan SKN meliputi: 1. yaitu Pancasila.Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan Tahun 2005-2025 merupakan arah pembangunan kesehatan yang berkesinambungan. dan 4) Kepemimpinan.

berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi. Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan dan ayat (3). demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia. setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya. 5 . setiap anak berhak atas kelangsungan hidup. Pasal 28 B ayat (2). setiap orang berhak atas jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia yang bermartabat. Landasan Operasional meliputi seluruh ketentuan peraturan perundangan yang berkaitan dengan penyelenggaraan SKN dan pembangunan kesehatan. serta Pasal 34 ayat (2).kesehatan dan ayat (3). dan berkembang. Beberapa peraturan perundangan tersebut terdapat dalam Lampiran-1 dari RPJP-K Tahun 2005-2025. Pasal 28 C ayat (1). 3. seni dan budaya. tumbuh. Negara bertanggungjawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak.

1. 2007).7% dan akses rumah tangga 6 . antara lain ditunjukkan dengan peningkatan status kesehatan. 2007). Umur Harapan Hidup (UHH) meningkat dari 68. PERKEMBANGAN DAN KESEHATAN NASIONAL MASALAH SISTEM Pembangunan kesehatan yang dilaksanakan secara berkesinambungan telah berhasil meningkatkan status kesehatan masyarakat.000 kelahiran hidup pada tahun 1997 menjadi 228 per 100. Upaya percepatan pencapaian indikator kesehatan dalam lingkungan strategis baru. yaitu: penurunan Angka Kematian Bayi (AKB) dari 46 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2007 (SDKI. Kinerja sistem kesehatan telah menunjukkan peningkatan. harus terus diupayakan dengan perbaikan Sistem Kesehatan Nasional. dalam kaitan ini akses rumah tangga yang dapat menjangkau sarana kesehatan ≤ 30 menit sebesar 90.6 tahun pada tahun 2004 menjadi 70.000 kelahiran hidup pada tahun 1997 menjadi 34 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2007 (SDKI 2007).BAB II PERKEMBANGAN DAN TANTANGAN SISTEM KESEHATAN NASIONAL A.4% pada tahun 2007 (Riskesdas.5 tahun pada tahun 2007.5% pada akhir tahun 1997 menjadi sebesar 18. Sejalan dengan penurunan angka kematian bayi. Demikian pula telah terjadi penurunan prevalensi kekurangan gizi pada balita dari 29. Namun penurunan indikator kesehatan masyarakat tersebut masih belum seperti yang diharapkan. Upaya Kesehatan Akses pada pelayanan kesehatan secara nasional mengalami peningkatan. Angka Kematian Ibu (AKI) juga mengalami penurunan dari 318 per 100.

2007). kesehatan ibu membaik dengan turunnya AKI.9% dan cakupan terendah 17. Cakupan pemeriksaan kehamilan tertinggi 97. Namun masih ditemui disparitas Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dan cakupan imunisasi antar wilayah masih tinggi. serta pulau-pulau kecil terdepan dan terluar masih rendah. pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan meningkat 20% dalam kurun 10 tahun. Namun pada daerah terpencil.46 per 100.000 penduduk pada tahun 2003 menjadi 3. Secara keseluruhan.4% pada tahun 2005 menjadi 41.1% (Riskesdas.65 per 100.3% pada tahun 1997 menjadi 46% pada tahun 2007.3% (Riskesdas. jumlah masyarakat yang mencari pengobatan sendiri sebesar 45% dan yang tidak berobat sama sekali sebesar 13. perbatasan.8% pada tahun 2007. sementara itu cakupan imunisasi lengkap tertinggi sebesar 73.7% pada tahun 2006.yang berada ≤ 5 km dari sarana kesehatan sebesar 94.3% (2007). Pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan oleh penduduk meningkat dari 15.000 pada tahun 2007 (Profil Kesehatan.1% dan terendah 67%. sementara persalinan di fasilitas kesehatan meningkat dari 24. Begitupula kunjungan baru (contact rate) ke fasilitas pelayanan kesehatan meningkat dari 34. 2007). peningkatan yang besar terutama di daerah perdesaan. Jarak fasilitas pelayanan yang jauh disertai distribusi tenaga kesehatan yang tidak merata dan pelayanan kesehatan yang mahal menyebabkan rendahnya aksesibilitas masyarakat terhadap pelayanan kesehatan. tertinggal. Peningkatan jumlah Puskesmas ditandai dengan peningkatan rasio Puskesmas dari 3. 7 . Disamping itu.1% pada tahun 1996 menjadi 33. 2007).

terutama: TB Paru. menjadikan Indonesia mempunyai beban ganda (double burden). Hasil Riskesdas Tahun 2007 menunjukkan adanya peningkatan kasus penyakit tidak menular (seperti penyakit kardiovaskuler dan kanker) secara cukup bermakna. Namun demikian kontribusi penyakit menular terhadap kesakitan dan kematian semakin menurun. Demikian pula penyakit Pes masih terdapat di berbagai daerah. seperti Filariasis. namun persentase terhadap seluruh APBN belum meningkat dan masih berkisar 2.09 % dari PDB. Pada tahun 2007.Akses terhadap air bersih sebesar 57. Penyakit infeksi menular masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang menonjol. Persentase pengeluaran nasional sektor kesehatan pada tahun 2005 adalah sebesar 0. 2007). Selain itu penyakit yang kurang mendapat perhatian (neglected diseases).5% rumah tangga mempunyai akses pada sanitasi yang baik (Riskesdas. Malaria. DBD dan Diare.81% dari Produk Domestik Bruto (PDB) meningkat pada tahun 2007 menjadi 1. pada tahun 2004 jumlah APBN kesehatan adalah sebesar Rp 5. HIV/AIDS. Kusta. rumah tangga yang tidak menggunakan fasilitas buang air besar sebesar 24. Framboesia cenderung meningkat kembali.8% dan yang tidak memiliki saluran pembuangan air limbah sebesar 32.7% rumah tangga dan sebesar 63.8%.75 Triliun pada tahun 2007.6–2. Pembiayaan Kesehatan Pembiayaan kesehatan sudah semakin meningkat dari tahun ke tahun.5%. Pengeluaran pemerintah untuk 8 . 2. meskipun belum mencapai 5% dari PDB seperti dianjurkan WHO.54 Triliun meningkat menjadi sebesar 18. Demikian pula dengan anggaran kesehatan.

Namun kontribusi pengeluaran pemerintah untuk kesehatan masih kecil. yaitu 38% dari total pembiayaan kesehatan.000 penduduk dan Malaysia 70 per 100. maupun kualitas tenaga kesehatan yang dibutuhkan. Proporsi pembiayaan kesehatan yang bersumber dari pemerintah belum mengutamakan upaya pencegahan dan promosi kesehatan. baik jumlah. distribusi tenaga kesehatan masih belum merata. Selain itu.000 pada tahun 2007. b) Perencanaan kebijakan dan program SDM Kesehatan masih lemah dan belum didukung sistem informasi SDM Kesehatan yang memadai.4 juta jiwa atau 34. yaitu 19 per 100. Cakupan jaminan pemeliharaan kesehatan sekitar 46. Jumlah dokter Indonesia masih termasuk rendah. jenis. Sumber Daya Manusia Kesehatan Upaya pemenuhan kebutuhan Sumber Daya Manusia (SDM) Kesehatan belum memadai. d) Dalam pendayagunaan SDM Kesehatan.000 penduduk bila dibandingkan dengan negara lain di ASEAN. 3. Masalah strategis SDM Kesehatan yang dihadapi dewasa ini dan di masa depan adalah: a) Pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan belum dapat memenuhi kebutuhan SDM untuk pembangunan kesehatan.2%.5% dari keseluruhan penduduk pada tahun 2008 yang sebagian besar berasal dari bantuan sosial untuk program jaminan kesehatan masyarakat miskin sebesar 76. c) Masih kurang serasinya antara kebutuhan dan pengadaan berbagai jenis SDM Kesehatan. seperti Filipina 58 per 100.kesehatan terus meningkat. 9 . Kualitas hasil pendidikan SDM Kesehatan dan pelatihan kesehatan pada umumnya masih belum memadai.

serta e) Pembinaan dan pengawasan SDM Kesehatan serta dukungan sumber daya SDM Kesehatan masih kurang. Upaya perlindungan masyarakat terhadap penggunaan sediaan farmasi. Sediaan Farmasi. Penggunaan obat rasional belum dilaksanakan di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan. sistem penghargaan. Daftar Obat Esensial Nasional tersebut telah disusun sejak tahun 1980 dan direvisi secara berkala sampai tahun 2008.600 jenis tanaman berpotensi mempunyai efek pengobatan. dan makanan telah dilakukan secara komprehensif.pemerataan SDM Kesehatan berkualitas masih kurang. Lebih dari 90% obat yang diresepkan di Puskesmas merupakan obat esensial generik. Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) digunakan sebagai dasar penyediaan obat di pelayanan kesehatan publik. namun masih banyak kendala yang dihadapi. Di Indonesia terdapat 9. Namun tidak diikuti 10 . alat kesehatan. Alat Kesehatan. masih banyak pengobatan yang dilakukan tidak sesuai dengan formularium. Sementara itu pemerintah telah berusaha untuk menurunkan harga obat. 4. dan Makanan Pasar sediaan farmasi masih didominasi oleh produksi domestik. Pengembangan karier. dan baru 300 jenis tanaman yang telah digunakan sebagai bahan baku. Regulasi untuk mendukung SDM Kesehatan masih terbatas. sementara itu bahan baku impor mencapai 85% dari kebutuhan. dan sanksi belum sebagaimana mestinya.

efisien. rumah sakit swasta 49%. Sistem Informasi Kesehatan Nasional (Siknas) yang berbasis fasilitas sudah mencapai tingkat kabupaten/kota namun belum dimanfaatkan. Manajemen dan Informasi Kesehatan Perencanaan pembangunan kesehatan antara Pusat dan Daerah belum sinkron.oleh sarana pelayanan kesehatan lainnya. baik jumlah. 5. Regulasi bidang kesehatan pada saat ini belum cukup. maupun efektifitasnya. Pemerintah belum sepenuhnya dapat menyelenggarakan pembangunan kesehatan yang efektif. Hukum kesehatan belum tertata secara sistematis dan belum mendukung pembangunan kesehatan secara utuh. Hal ini menunjukkan bahwa konsep obat esensial generik belum sepenuhnya diterapkan. seperti: di rumah sakit pemerintah kurang dari 76%. Sistem informasi kesehatan menjadi lemah setelah menerapkan kebijakan desentralisasi. Begitu pula dengan perencanaan jangka panjang/menengah masih belum menjadi acuan dalam menyusun perencanaan jangka pendek. jenis. dan apotek kurang dari 47%. Surveilans belum dilaksanakan secara menyeluruh. Data dan informasi kesehatan untuk perencanaan tidak tersedia tepat waktu. Demikian juga dengan banyak kebijakan yang belum disusun berbasis bukti dan belum bersinergi baik perencanaan di tingkat Pusat dan atau di tingkat Daerah. 11 . Hasil penelitian kesehatan belum banyak dimanfaatkan sebagai dasar perumusan kebijakan dan perencanaan program. dan bermutu sesuai dengan prinsip-prinsip tata pemerintahan yang baik (good governance).

regional. termasuk pembangunan kesehatannya. 12 . Hingga tahun 2008 sudah terbentuk 47.111 Desa Siaga dimana terdapat 47. dan tidak ada Posyandu/Poskesdes (24%). namun masih jauh dari sasaran yang harus dicapai pada tahun 2009.111 buah Pos Kesehatan Desa (Poskesdes). Di samping itu. Hasil Riskesdas tahun 2007 menunjukkan bahwa alasan utama rumah tangga tidak memanfaatkan Posyandu/Poskesdes walaupun sebenarnya memerlukan adalah karena: pelayanannya tidak lengkap (49. Pemerintah telah memberikan pula bantuan stimulan untuk pengembangan 229 Musholla Sehat. B. seperti Posyandu dan Poskesdes semakin meningkat. tetapi pemanfaatan dan kualitasnya masih rendah. Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat lainnya yang terus berkembang pada tahun 2008 adalah Posyandu yang telah berjumlah 269. Pemberdayaan Masyarakat Rumah tangga yang telah melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat meningkat dari 27% pada tahun 2005 menjadi 36.6%). PERUBAHAN LINGKUNGAN STRATEGIS Perkembangan global. Hal ini merupakan faktor eksternal utama yang mempengaruhi proses pembangunan kesehatan.6.202 buah dan 967 Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren). Jumlah UKBM. yakni dengan target 60%. lokasinya jauh (26%).3% pada tahun 2007. dan nasional yang dinamis akan mempengaruhi pembangunan suatu negara. Sampai dewasa ini dirasakan bahwa masyarakat masih lebih banyak sebagai objek dari pada sebagai subjek pembangunan kesehatan.

demokratisasi. politik. dan transportasi yang mempunyai konsekuensi pada fungsi suatu negara dalam sistem pengelolaannya. Era globalisasi dapat menjadi peluang sekaligus tantangan pembangunan kesehatan. sosial. budaya. ASEAN Charter. regional. sebagai contoh: banyaknya peserta Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang menggunakan isu kesehatan sebagai janji politik. 2. serta komitmen Nasional. dan lingkungan. yang sampai saat ini belum sepenuhnya dilakukan persiapan dan langkah-langkah yang menjadikan peluang dan mengurangi dampak yang merugikan. yang mencakup ekonomi. dan politik kesehatan yang berdampak pada pembangunan kesehatan. informasi. dan lokal. perlu menjadi perhatian dalam pembangunan kesehatan. 1. serta dapat dijadikan peluang atau kendala bagi sistem kesehatan di Indonesia.Faktor lingkungan strategis dapat dibedakan atas tatanan global. 13 . Komitmen Internasional. adaptasi perubahan iklim (climate change). seperti desentralisasi. jejaring riset Asia Pasifik. Proses ini dipicu dan dipercepat dengan berkembangnya teknologi. Tingkat Nasional dan Lokal Pada tingkat nasional terjadi proses politik. seperti revitalisasi pelayanan kesehatan dasar dan pengarus-utamaan gender. teknologi. seperti: MDGs. sehingga mengharuskan adanya suatu sistem kesehatan yang responsif. nasional. Tingkat Global dan Regional Globalisasi merupakan suatu perubahan interaksi manusia secara luas.

diantaranya melalui pengembangan Desa Siaga. sementara itu kesadaran hukum masyarakat masih rendah. sebagian besar wilayah Indonesia rawan bencana. Perangkat regulasi dan hukum yang terkait dengan kesehatan masih belum memadai. dan masih lemahnya penegakan hukum menyebabkan berbagai hambatan dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan.Proses desentralisasi yang semula diharapkan mampu memberdayakan daerah dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan. 14 . Oleh karena itu perlu dilakukan berbagai terobosan/ pendekatan terutama pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan kesehatan yang memberikan penguatan kapasitas dan surveilans berbasis masyarakat. Secara geografis. Di bidang lingkungan. di sisi lain situasi sosial politik yang berkembang sering menimbulkan konflik sosial yang pada akhirnya memunculkan berbagai masalah kesehatan. namun dalam kenyataannya belum sepenuhnya berjalan dan bahkan memunculkan euforia di daerah yang mengakibatkan pembangunan kesehatan terkendala. mekanisme mitigasi serta adaptasi dan pengenalan resiko akan perubahan iklim menuntut kegiatan kerjasama antara pihak lingkungan dengan pihak kesehatan dan seluruh sektor terkait. termasuk akibat pembangunan yang tidak berwawasan kesehatan yang memerlukan upaya pemecahan melalui berbagai terobosan dan pendekatan.

15 . maka setiap pelaku pembangunan kesehatan harus taat pada asas yang menjadi landasan bagi setiap program dan kegiatan pembangunan kesehatan. Dalam Undang-undang tersebut. dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar peningkatan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya dapat terwujud. Perikemanusian Pembangunan kesehatan harus berlandaskan pada prinsip perikemanusiaan yang dijiwai.BAB III ASAS SISTEM KESEHATAN NASIONAL Sebagaimana dinyatakan dalam Bab I bahwa Sistem Kesehatan Nasional (SKN) adalah bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan. A. dan selalu menerapkan prinsip perikemanusiaan dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan. DASAR PEMBANGUNAN KESEHATAN Sesuai dengan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Jangka Panjang Pembangunan Nasional (RPJP-N) Tahun 2005-2025. Tenaga kesehatan perlu berbudi luhur. dinyatakan bahwa pembangunan kesehatan diselenggarakan dengan mendasarkan pada: 1. memegang teguh etika profesi. kemauan. digerakan dan dikendalikan oleh keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. pembangunan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan kesadaran. Dengan demikian untuk menjamin efektifitas SKN.

Pembangunan kesehatan dilaksanakan dengan berlandaskan pada kepercayaan atas kemampuan dan kekuatan sendiri serta kepribadian bangsa dan semangat solidaritas sosial serta gotongroyong. golongan. Pembangunan kesehatan harus mampu membangkitkan dan mendorong peran aktif masyarakat. Pembangunan kesehatan diselenggarakan berlandaskan pada dasar kemitraan atau sinergisme yang dinamis dan tata penyelenggaraan yang baik. Upaya kesehatan yang bermutu diselenggarakan dengan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta harus lebih mengutamakan pendekatan peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit. agama. dan status sosial ekonominya. 3. Setiap orang berhak memperoleh pelayanan kesehatan. masyarakat. serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup. dan bertanggungjawab untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan perorangan. keluarga.2. 4. Pemberdayaan dan Kemandirian Setiap orang dan masyarakat bersama dengan pemerintah berperan. tumbuh dan kembang. sehingga secara berhasil guna dan bertahap dapat 16 . Adil dan Merata Dalam pembangunan kesehatan setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. tanpa memandang suku. Pengutamaan dan Manfaat Pembangunan kesehatan diselenggarakan dengan mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan perorangan atau golongan. berkewajiban. dan lingkungannya.

SKN perlu mengacu pada dasardasar sebagai berikut: 1. dan masyarakat miskin. dan status sosial ekonomi. c) Kerjasama Tim. Hak Asasi Manusia (HAM) Sesuai dengan tujuan pembangunan nasional dalam Pembukaan Undang-undang Dasar 1945. Undangundang Dasar 1945 pasal 28 H ayat 1 antara lain menggariskan bahwa setiap rakyat berhak atas pelayanan kesehatan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya tanpa membedakan suku. DASAR SKN Dalam penyelenggaraan. B. 17 . Perlu diupayakan pembangunan kesehatan secara terintegrasi antara Pusat dan Daerah dengan mengedepankan nilai-nilai pembangunan kesehatan. manusia usia lanjut. jenis kelamin. bayi. agama. dan e) Transparansi serta Akuntabilitas. antara lain: ibu. Pembangunan kesehatan diarahkan agar memberikan perhatian khusus pada penduduk rentan. golongan. b) Bertindak Cepat dan Tepat. beserta lingkungannya. maka setiap penyelenggaraan SKN berdasarkan pada prinsip hak asasi manusia. yaitu: a) Berpihak pada Rakyat. Setiap anak dan perempuan berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.memberi manfaat yang sebesar-besarnya bagi peningkatan derajat kesehatan masyarakat. anak. d) Integritas yang Tinggi. yaitu untuk meningkatkan kecerdasan bangsa dan kesejahteraan rakyat.

antar subsistem SKN. 18 . maupun dengan sistem serta subsistem lain di luar SKN. profesional. Kemitraan tersebut diwujudkan dengan mengembangkan jejaring yang berhasil guna dan berdaya guna. dan kerjasama yang baik dari para pelaku untuk menghasilkan tata penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang baik (good governance). terbuka (transparan). Dengan tatanan ini. dukungan.2. agar diperoleh sinergisme yang lebih mantap dalam rangka mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. dan Sinergisme (KISS). Komitmen dan Tata Pemerintahan yang Baik (Good Governance) Agar SKN berfungsi baik. serta bertanggung-jawab dan bertanggung-gugat (akuntabel). berkepastian hukum. Sinkronisasi. Pembangunan kesehatan harus diselenggarakan dengan menggalang kemitraan yang dinamis dan harmonis antara pemerintah dan masyarakat. Sinergisme dan Kemitraan yang Dinamis Sistem Kesehatan Nasional akan berfungsi baik untuk mencapai tujuannya apabila terjadi Koordinasi. Pembangunan kesehatan diselenggarakan secara demokratis. baik antar pelaku. Integrasi. termasuk swasta dengan mendayagunakan potensi yang dimiliki masing-masing. seperti pembangunan prasarana. 3. diperlukan komitmen yang tinggi. rasional. maka sistem atau seluruh sektor terkait. keuangan dan pendidikan perlu berperan bersama dengan sektor kesehatan untuk mencapai tujuan nasional.

Dengan mengacu pada antisipasi tersebut. agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan pembangunan kesehatan serta kesamaan dalam memperoleh manfaat pembangunan kesehatan. Antisipatif dan Pro Aktif Setiap pelaku pembangunan kesehatan harus mampu melakukan antisipasi atas perubahan yang akan terjadi. pelaku pembangunan kesehatan perlu lebih proaktif terhadap perubahan lingkungan strategis baik yang bersifat internal maupun eksternal. Dukungan Regulasi Dalam menyelenggarakan SKN. Kesetaraan gender dalam pembangunan kesehatan adalah kesamaan kondisi bagi laki-laki dan perempuan untuk memperoleh kesempatan dan hak-haknya sebagai manusia. diperlukan dukungan regulasi berupa adanya berbagai peraturan perundangan yang mendukung penyelenggaraan SKN dan penerapannya (law enforcement).4. 6. yang di dasarkan pada pengalaman masa lalu atau pengalaman yang terjadi di negara lain. setiap penyusunan rencana kebijakan dan program serta dalam pelaksanaan program kesehatan harus menerapkan kesetaraan dan keadilan gender. 19 . Responsif Gender Dalam penyelenggaraan SKN. 5. Keadilan gender adalah suatu proses untuk menjadi adil terhadap laki-laki dan perempuan dalam pembangunan kesehatan.

dapat disesuaikan dengan potensi dan kondisi serta kebutuhan masyarakat di daerah terutama dalam penyediaan pelayanan kesehatan dasar bagi rakyat. Dengan demikian kebijakan pembangunan daerah di bidang kesehatan harus sejalan dengan SKN. yang dapat diukur secara kuantitatif dari meningkatnya peran serta masyarakat dan secara kualitatif dari meningkatnya kualitas hidup jasmani dan rohani. 20 .7. walaupun dalam prakteknya. Kearifan Lokal Penyelenggaraan SKN di daerah harus memperhatikan dan menggunakan potensi daerah yang secara positif dapat meningkatkan hasil guna dan daya guna pembangunan kesehatan.

abadi dan keadilan sosial. perdamaian. SKN bersama dengan berbagai sistem nasional lainnya diarahkan untuk mencapai Tujuan Bangsa Indonesia seperti yang tercantum dalam Pembukaan Undangundang Dasar 1945. swasta. Kedudukan SKN dalam Sistem Nasional Lainnya Terwujudnya keadaan sehat dipengaruhi oleh berbagai faktor yang tidak hanya menjadi tanggung-jawab sektor kesehatan. melainkan juga tanggung-jawab berbagai sektor terkait. sehingga terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Dalam penyelenggaraan pembangunan 21 . undangundang yang berkaitan dengan kesehatan merupakan kebijakan strategis dalam pembangunan kesehatan. Dalam kaitan ini. B. mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. 2. yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum. berhasil guna dan berdaya guna. TUJUAN SKN Tujuan SKN adalah terselenggaranya pembangunan kesehatan oleh semua potensi bangsa. baik masyarakat.BAB IV BENTUK POKOK SISTEM KESEHATAN NASIONAL A. KEDUDUKAN SKN 1. maupun pemerintah secara sinergis. Suprasistem SKN Suprasistem SKN adalah Ketahanan Nasional.

3. seperti: Sistem Pendidikan Nasional. Sistem Hankamnas. Di lain pihak. Dalam penyelenggaraan pembangunan nasional. Sistem Perekonomian Nasional. Kedudukan SKN terhadap berbagai Kemasyarakatan. termasuk Swasta Sistem Keberhasilan pembangunan kesehatan sangat ditentukan oleh dukungan sistem nilai dan budaya masyarakat yang secara bersama terhimpun dalam berbagai sistem kemasyarakatan. sebagai sistem kemasyarakatan yang ada. termasuk potensi swasta berperan aktif sebagai mitra dalam pembangunan kesehatan yang dilaksanakan sesuai SKN. Kedudukan SKN terhadap Penyelenggaraan Pembangunan Kesehatan di Daerah Dalam pembangunan kesehatan. SKN merupakan acuan bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan di daerah. SKN perlu menjadi acuan bagi sektor lain. SKN dapat bersinergis secara dinamis dengan berbagai sistem nasional lainnya. 4.kesehatan. dan Sistem nasional lainnya. Sistem Ketahanan Pangan Nasional. 22 . Dengan demikian pelaksanaan pembangunan nasional harus berwawasan kesehatan dengan mengikutsertakan seluruh sektor terkait kesehatan sejak awal perencanaan agar dampak pembangunan yang dilakukan tidak merugikan derajat kesehatan masyarakat secara langsung maupun tidak langsung dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Dalam kaitan ini SKN dipergunakan sebagai acuan bagi masyarakat dalam berbagai upaya kesehatan.

Untuk keberhasilan pembangunan kesehatan perlu digalang kemitraan yang setara. Subsistem Upaya Kesehatan Untuk dapat mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya perlu diselenggarakan berbagai upaya kesehatan dengan menghimpun seluruh potensi bangsa Indonesia. dalam Gambar-1 dikemukakan alur pikir dari Rencana Pembangunan Kesehatan dan SKN termaksud. dan saling menguntungkan dengan berbagai potensi swasta. Dengan mengacu terutama pada kedudukan SKN diatas dan pencapaian tujuan nasional. maka subsistem SKN meliputi: 1. 2) Kontingensi. dan pemulihan. pengobatan. Upaya kesehatan diselenggarakan dengan upaya peningkatan. C. Mengacu pada substansi perkembangan penyelenggaraan pembangunan kesehatan dewasa ini serta pendekatan manajemen kesehatan tersebut diatas. SUBSISTEM SKN Pendekatan manajemen kesehatan dewasa ini dan kecenderungannya di masa depan adalah kombinasi dari pendekatan: 1) Sistem. terbuka. 23 .Keberhasilan pembangunan kesehatan juga ditentukan oleh peran aktif swasta. sehingga sejalan dengan tujuan pembangunan nasional yang berwawasan kesehatan. Dalam kaitan ini potensi swasta merupakan bagian integral dari SKN. Sistem Kesehatan Nasional dapat mewarnai potensi swasta. dan 3) Sinergi yang dinamis. pencegahan.

Pembiayaan pelayanan kesehatan masyarakat merupakan public good yang menjadi tanggung-jawab pemerintah. serta terdistribusi secara adil dan merata. Pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan meliputi: 1) 24 . pembiayaan kesehatan yang adekuat. Pembiayaan pelayanan kesehatan perorangan diselenggarakan melalui jaminan pemeliharaan kesehatan dengan mekanisme asuransi sosial yang pada waktunya diharapkan akan mencapai universal coverage sesuai dengan Undang-undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). yakni: Pemerintah. sesuai tututan kebutuhan pembangunan kesehatan. Subsistem Sumber Daya Manusia Kesehatan Sebagai pelaksana upaya kesehatan. terintegrasi. Oleh karena itu.2. diperlukan sumber daya manusia kesehatan yang mencukupi dalam jumlah. Subsistem Pembiayaan Kesehatan Pembiayaan kesehatan bersumber dari berbagai sumber. sedangkan untuk pelayanan kesehatan perorangan pembiayaannya bersifat private. stabil. swasta. Pemerintah Daerah. dan masyarakat itu sendiri. jenis dan kualitasnya. 3. kecuali pembiayaan untuk masyarakat miskin dan tidak mampu menjadi tanggung-jawab pemerintah. dan berkesinambungan memegang peran yang amat vital untuk penyelenggaraan pelayanan kesehatan dalam rangka mencapai berbagai tujuan pembangunan kesehatan. SKN juga memberikan fokus penting pada pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan guna menjamin ketersediaan dan pendistribusian sumber daya manusia kesehatan. organisasi masyarakat. Oleh karena itu.

perencanaan kebutuhan sumber daya manusia yang diperlukan. ketersediaan. alat kesehatan. Untuk menggerakkan pembangunan kesehatan secara berhasil guna dan berdaya guna. Dalam kaitan ini peranan informasi kesehatan sangat penting. integrasi. terutama obat esensial. pemerataan. Dari segi pengadaan data dan informasi dapat dikelompokkan kegiatannya sebagai berikut: 1) Pengumpulan. dan 4) pembinaan serta pengawasan SDM Kesehatan. analisa. sinkronisasi. 3) pendayagunaan SDM Kesehatan. dan informasi kesehatan. hukum kesehatan. khasiat/ kemanfaatan dan mutu sediaan farmasi. perlindungan masyarakat dari penggunaan yang salah dan penyalahgunaan obat. 5. diperlukan manajemen kesehatan. dan keterjangkauan obat. dan Makanan Subsistem kesehatan ini meliputi berbagai kegiatan untuk menjamin: aspek keamanan. serta upaya kemandirian di bidang kefarmasian melalui pemanfaatan sumber daya dalam negeri. dan makanan yang beredar. efisien. serta transparansi dari penyelenggaraan SKN tersebut. Alat Kesehatan. Peranan manajemen kesehatan adalah koordinasi. administrasi kesehatan. serta penyerasian berbagai subsistem SKN dan efektif. 2) pengadaan yang meliputi pendidikan tenaga kesehatan dan pelatihan SDM Kesehatan. 4. dan diseminasi data dan informasi. penggunaan obat yang rasional. 2) Manajemen sistem informasi. 3) 25 . validasi. termasuk peningkatan kesejahteraannya. Subsistem Sediaan Farmasi. Subsistem Manajemen dan Informasi Kesehatan Subsistem ini meliputi: kebijakan kesehatan.

Dalam pemberdayaan masyarakat meliputi pula upaya peningkatan lingkungan sehat oleh masyarakat sendiri. melainkan juga sebagai subjek atau penyelenggara dan pelaku pembangunan kesehatan. D. SDM Kesehatan. 6. Masyarakat termasuk swasta bukan semata-mata sebagai sasaran pembangunan kesehatan. Untuk penyelenggaraan subsistem tersebut diperlukan berbagai upaya dengan menghimpun seluruh potensi bangsa Indonesia. Pemberdayaan masyarakat dan upaya kesehatan pada hakekatnya merupakan fokus dari pembangunan kesehatan. dan 4) Pengembangan untuk peningkatan mutu sistem informasi kesehatan. agar masyarakat termasuk swasta dapat mampu dan mau berperan sebagai pelaku pembangunan kesehatan.Dukungan kegiatan dan sumber daya untuk unit-unit yang memerlukan. Keterkaitan tersebut adalah sebagai berikut: 1. TATA HUBUNGAN LINGKUNGANNYA ANTAR SUBSISTEM DAN Penyelenggaraan SKN memerlukan keterkaitan antar unsur-unsur SKN sebagai suatu tata hubungan yang efektif. ketersediaan sediaan 26 . Subsistem Pemberdayaan Masyarakat Sistem Kesehatan Nasional akan berfungsi optimal apabila ditunjang oleh pemberdayaan masyarakat. Berbagai upaya tersebut memerlukan dukungan pembiayaan. Oleh karenanya pemberdayaan masyarakat menjadi sangat penting. Upaya pemberdayaan masyarakat akan berhasil pada hakekatnya bila kebutuhan dasar masyarakat sudah terpenuhi. Subsistem Upaya Kesehatan diselenggarakan untuk mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.

serta subsistem pemberdayaan masyarakat. Tersedianya tenaga kesehatan yang mencukupi dan berkualitas juga akan menunjang terselenggaranya subsistem pembiayaan kesehatan. sehingga upaya kesehatan dapat diselenggarakan sesuai dengan kebutuhan seluruh lapisan masyarakat. alat kesehatan. subsistem manajemen dan informasi kesehatan. alat kesehatan. Tersedianya pembiayaan yang memadai juga akan menunjang terselenggaranya subsistem sumber daya manusia kesehatan. alat kesehatan dan makanan. manajemen dan informasi kesehatan. serta pemberdayaan masyarakat. 27 . subsistem manajemen dan informasi kesehatan. dan bermutu bagi seluruh masyarakat. subsistem sediaan farmasi. serta subsistem pemberdayaan masyarakat. 2. dan makanan. serta termanfaatkan secara berhasil guna dan berdaya guna. dan keterjangkauan obat. terutama obat esensial. Subsistem sumber daya manusia kesehatan diselenggarakan guna menghasilkan tenaga kesehatan yang bermutu dalam jumlah yang mencukupi. Subsistem sediaan farmasi.farmasi. menjamin ketersediaan. dan makanan. alat kesehatan. terjangkau. teralokasi secara adil. 3. khasiat. Subsistem pembiayaan kesehatan diselenggarakan guna menghasilkan ketersediaan pembiayaan kesehatan dengan jumlah yang mencukupi. dan termanfaatkan secara berhasil guna dan berdaya guna untuk terselenggaranya upaya kesehatan secara merata. dan makanan diselenggarakan guna menjamin keamanan. 4. dan mutu semua produk sediaan farmasi. pemerataan. dan makanan yang beredar. subsistem sediaan farmasi. alat kesehatan. terdistribusi secara adil. manfaat.

kelompok. Dengan manajemen kesehatan yang berhasil guna dan berdaya guna dapat diselenggarakan subsistem upaya kesehatan. dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. dan hukum kesehatan yang memadai dan mampu menunjang penyelenggaraan upaya kesehatan secara berhasil guna dan berdaya guna. subsistem pembiayaan kesehatan. Subsistem sediaan farmasi. 5. sehingga upaya kesehatan dapat diselenggarakan dengan berhasil guna dan berdaya guna. pembiayaan kesehatan. serta penggunaan obat yang rasional. alat kesehatan. informasi kesehatan. serta pemberdayaan masyarakat. 6. Subsistem pemberdayaan masyarakat diselenggarakan guna menghasilkan individu. subsistem sediaan farmasi. subsistem sumber daya manusia kesehatan. alat kesehatan. subsistem sumber daya manusia kesehatan. administrasi kesehatan. alat kesehatan. Subsistem manajemen dan informasi kesehatan diselenggarakan guna menghasilkan fungsi-fungsi kebijakan kesehatan.perlindungan masyarakat dari penggunaan yang salah dan penyalahgunaan obat. 28 . serta subsistem pemberdayaan masyarakat. sebagai suatu kesatuan yang terpadu dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. dan makanan saling terkait dengan subsistem upaya kesehatan. dan masyarakat umum yang mampu berperan aktif dalam penyelenggaraan upaya kesehatan. subsistem sediaan farmasi. manajemen dan informasi kesehatan. Masyarakat yang berdaya akan berperan aktif dalam penyelenggaraan subsistem pembiayaan kesehatan. sumber daya kesehatan. dan makanan.

dan makanan. serta subsistem manajemen dan informasi kesehatan. Untuk memperoleh kejelasan secara umum substansi berbagai unsur-unsur pembangunan kesehatan dan subsistem SKN serta tata hubungannya dengan lingkungan strategis yang lebih spesifik dan penting yang mempengaruhi SKN dapat dilihat pada skema di Gambar-2. Lingkungan tersebut terdapat di tingkat lokal. regional. lingkungan termaksud dapat sebagai peluang maupun kendala. Dalam kaitan ini. mengingat pembangunan kesehatan tidak dapat mencapai tujuannya tanpa memperhatikan dengan seksama interaksi dengan lingkungan strategis tersebut. hubungan SKN dengan lingkungan strategisnya sangat penting artinya. yang meliputi: ideologi. politik. Selain itu. maupun global. sosial budaya. ekonomi. nasional. 29 . dan pertahanan keamanan.

SUBSISTEM UPAYA KESEHATAN 1. pencegahan. terpadu. 2. terjangkau. meliputi upaya peningkatan. pengobatan. 30 . pencegahan. baik pelayanan kesehatan konvensional maupun pelayanan kesehatan yang terdiri dari pengobatan tradisional dan komplementer melalui pendidikan dan pelatihan dengan selalu mengutamakan keamanan dan efektifitas yang tinggi. Pengertian Subsistem Upaya Kesehatan adalah bentuk dan cara penyelenggaraan upaya kesehatan yang paripurna. merata. Unsur-unsur a. Tujuan Tujuan dari penyelenggaraan subsistem upaya kesehatan adalah terselenggaranya upaya kesehatan yang adil. pengobatan. dan pemulihan. yang diselenggarakan guna menjamin tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. dan bermutu untuk menjamin terselenggaranya pembangunan kesehatan guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. 3. dan pemulihan. Upaya Kesehatan Pelayanan kesehatan meliputi peningkatan.BAB V CARA PENYELENGGARAAN SISTEM KESEHATAN NASIONAL A. dan berkualitas.

lisensi. dan masyarakat miskin. baik peningkatan. termasuk fasilitas pelayanan kesehatan. akreditasi. sarana dan prasarana. c.Upaya kesehatan diutamakan pada berbagai upaya yang mempunyai daya ungkit tinggi dalam pencapaian sasaran pembangunan kesehatan utamanya penduduk rentan. dan penegakan hukum yang dilakukan oleh pemerintah bersama dengan organisasi profesi dan masyarakat. sertifikasi. maupun pemulihan yang dilakukan oleh pemerintah dan atau masyarakat. b. Pembinaan dan Pengawasan Upaya Kesehatan Pelayanan kesehatan harus diberikan berdasarkan standar pelayanan yang telah ditetapkan oleh pemerintah dengan mempertimbangkan masukan dari organisasi profesi. 31 . termasuk swasta. antara lain: ibu. manusia usia lanjut. biaya. pengobatan. Pembinaan dan pengawasan upaya kesehatan dilakukan secara berjenjang melalui standarisasi. sediaan farmasi dan alat kesehatan. anak. Fasilitas pelayanan kesehatan merupakan alat dan atau tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan. Sumber Daya Upaya Kesehatan Sumber daya upaya kesehatan terdiri dari SDM kesehatan. bayi. pencegahan. serta manajemen dan sistem informasi kesehatan yang memadai guna terselenggaranya upaya kesehatan.

terjamin keamanannya bagi penerima dan pemberi upaya. pencegahan. b. 4. c. Prinsip a. Berkesinambungan dan Paripurna Upaya kesehatan bagi masyarakat diselenggarakan secara berkesinambungan dan paripurna meliputi upaya peningkatan. sumber daya kesehatan. dapat diterima masyarakat. Aman. Adil dan Merata Pemerintah wajib menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan yang berkeadilan dan merata untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di bidang kesehatan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan di luar negeri dalam kondisi tertentu. serta rujukan antar tingkatan upaya. Pelaksanaan penelitian dan pengembangan didasarkan pada masalah kesehatan prioritas. pengobatan hingga pemulihan. 32 . Penelitian dan Pengembangan Upaya Kesehatan Penelitian dan pengembangan dilakukan utamanya untuk mendukung peningkatan mutu upaya kesehatan yang berhasil guna dan berdaya guna. efektif dan sesuai. dan Sesuai Kebutuhan Pelayanan kesehatan bagi masyarakat harus berkualitas.d. Bermutu. serta aspek terkait lainnya dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sesuai. serta mampu menghadapi tantangan global dan regional.

Teknologi Tepat Guna Upaya kesehatan menggunakan teknologi tepat guna yang berbasis bukti. Terdapat tiga tingkatan upaya. e. dan nilai agama. bukan status sosial ekonomi dan tidak membeda-bedakan suku/ras. upaya kesehatan sekunder. g. melibatkan semua pihak yang kompeten. 5. yaitu upaya kesehatan primer. Non diskriminatif Setiap penduduk harus mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai kebutuhan medis. Teknologi tepat guna berasas pada kesesuaian kebutuhan dan tidak bertentangan dengan etika. Bekerja dalam Tim secara Cepat dan Tepat Upaya kesehatan dilakukan secara kerjasama tim. f. Terjangkau Ketersediaan dan pembiayaan pelayanan kesehatan yang bermutu harus terjangkau oleh seluruh masyarakat. Penyelenggaraan a. moral. mental. dengan tetap memperhatikan pengarus-utamaan gender. termasuk intelegensia dan sosial. budaya dan agama.d. Upaya Kesehatan Upaya kesehatan mencakup kesehatan fisik. dilakukan secara cepat dengan ketepatan/presisi yang tinggi. Upaya kesehatan dilaksanakan dalam tingkatan upaya sesuai dengan kebutuhan medik dan kesehatan. dan 33 .

34 . Rujukan dibagi dalam rujukan medik yang berkaitan dengan pengobatan dan pemulihan berupa pengiriman pasien (kasus). dan paripurna melalui sistem rujukan. spesimen. teknologi. Upaya kesehatan sekunder dan tersier adalah upaya kesehatan tingkat rujukan maupun rujukan tingkat lanjut. baik horisontal dan vertikal maupun struktural dan fungsional terhadap kasus penyakit atau masalah penyakit atau permasalahan kesehatan. Upaya kesehatan primer adalah upaya kesehatan dimana terjadi kontak pertama secara perorangan atau masyarakat dengan pelayanan kesehatan melalui mekanisme rujukan timbal-balik. dan pengetahuan tentang penyakit.upaya kesehatan tersier. sedang rujukan kesehatan dikaitkan dengan upaya pencegahan dan peningkatan kesehatan berupa sarana. termasuk penanggulangan bencana dan pelayanan gawat darurat. dan operasional. Rujukan upaya kesehatan adalah pelimpahan wewenang dan tanggung-jawab secara timbal balik. Upaya kesehatan diselenggarakan secara berkesinambungan. terpadu. 1) Upaya Kesehatan Primer Upaya Kesehatan Primer terdiri dari pelayanan kesehatan perorangan primer dan pelayanan kesehatan masyarakat primer.

masyarakat. Prosedur dan Kriteria (NSPK) pelayanan yang ditetapkan oleh Pemerintah dengan memperhatikan masukan dari organisasi profesi dan masyarakat.a) Pelayanan Kesehatan Perorangan Primer (PKPP) Pelayanan kesehatan perorangan primer adalah pelayanan kesehatan dimana terjadi kontak pertama secara perorangan sebagai proses awal pelayanan kesehatan. Pelayanan kesehatan perorangan primer diselenggarakan berdasarkan Norma. Sstandar. serta fasilitas kesehatan lainnya milik pemerintah. pemulihan tanpa mengabaikan upaya peningkatan dan pencegahan. Pelayanan kesehatan perorangan primer dapat diselenggarakan sebagai pelayanan 35 . maupun fasilitas kesehatan perorangan primer baik Puskesmas dan jaringannya. Dilaksanakan dengan dukungan pelayanan kesehatan perorangan sekunder dalam sistem rujukan yang timbal balik. Pelayanan kesehatan perorangan primer diselenggarakan oleh tenaga kesehatan yang dibutuhkan dan mempunyai kompetensi seperti yang ditetapkan sesuai ketentuan berlaku serta dapat dilaksanakan di rumah. Pelayanan kesehatan perorangan primer memberikan penekanan pada pelayanan pengobatan. maupun swasta. termasuk di dalamnya pelayanan kebugaran dan gaya hidup sehat (healthy life style). tempat kerja.

yang bergerak (ambulatory) atau menetap; dapat dikaitkan dengan tempat kerja, seperti klinik perusahaan; dan dapat disesuaikan dengan lingkungan atau kondisi tertentu (kesehatan matra, seperti: kesehatan haji, kesehatan kelautan, kesehatan penerbangan, kesehatan wisata). Pemerintah wajib menyediakan pelayanan kesehatan perorangan primer di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia sesuai kebutuhan, terutama bagi masyarakat miskin, daerah terpencil, perbatasan, pulau-pulau terluar dan terdepan, serta yang tidak diminati swasta. Pembiayaan pelayanan kesehatan perorangan primer untuk penduduk miskin dibiayai oleh pemerintah, sedangkan golongan ekonomi lainnya dibiayai dalam sistem pembiayaan yang diatur oleh pemerintah. Dalam pelayanan kesehatan perorangan termasuk pula pelayanan kesehatan berbasis masyarakat dalam bentuk seperti Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) dan pengobatan tradisional serta pengobatan alternatif yang secara ilmiah telah terbukti terjamin keamanan dan khasiatnya. b) Pelayanan Kesehatan Masyarakat Primer (PKMP) Pelayanan kesehatan masyarakat primer adalah pelayanan peningkatan dan pencegahan tanpa mengabaikan 36

pengobatan dan pemulihan dengan sasaran keluarga, kelompok, dan masyarakat. Penyelenggaraan pelayanan kesehatan masyarakat primer menjadi tanggung-jawab Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang pelaksanaan operasionalnya dapat didelegasikan kepada Puskesmas. Masyarakat termasuk swasta dapat menyelenggarakan pelayanan kesehatan masyarakat primer sesuai peraturan yang berlaku dan berkerjasama dengan pemerintah. Pembiayaan pelayanan kesehatan masyarakat primer ditanggung oleh pemerintah bersama masyarakat, termasuk swasta. Pemerintah wajib melaksanakan dan membiayai pelayanan kesehatan masyarakat primer yang berhubungan dengan prioritas pembangunan kesehatan melalui kegiatan perbaikan lingkungan, peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit dan kematian serta paliatif. Pelaksanaan pelayanan kesehatan masyarakat primer didukung kegiatan lainnya, seperti surveilans, pencatatan, dan pelaporan. Pemerintah dapat membentuk fasilitas kesehatan yang secara khusus ditugaskan untuk melaksanakan upaya kesehatan masyarakat sesuai keperluan. Penyelenggaraan pelayanan kesehatan masyarakat primer mendukung upaya 37

kesehatan berbasis masyarakat dan didukung oleh pelayanan kesehatan masyarakat sekunder. 2) Upaya Kesehatan Sekunder Upaya kesehatan sekunder adalah upaya kesehatan rujukan lanjutan, yang terdiri dari pelayanan kesehatan perorangan sekunder dan pelayanan kesehatan masyarakat sekunder. a) Pelayanan Kesehatan Sekunder (PKPS) Perorangan

Pelayanan kesehatan perorangan sekunder adalah pelayanan kesehatan spesialistik yang menerima rujukan dari pelayanan kesehatan perorangan primer, yang meliputi rujukan kasus, spesimen, dan ilmu pengetahuan serta wajib merujuk kembali ke fasilitas kesehatan yang merujuk. Pelayanan kesehatan perorangan sekunder dilaksanakan oleh dokter spesialis atau dokter yang sudah mendapatkan pendidikan khusus dan mempunyai ijin praktik serta didukung tenaga kesehatan lainnya yang diperlukan. Pelayanan kesehatan perorangan sekunder dilaksanakan di tempat kerja maupun fasilitas kesehatan perorangan sekunder baik Rumah Sakit setara kelas C serta fasilitas kesehatan lainnya milik pemerintah, masyarakat, maupun swasta. Pelayanan kesehatan perorangan sekunder harus memberikan pelayanan kesehatan 38

Pelayanan kesehatan perorangan sekunder yang bersifat tradisional dan komplementer dilaksanakan dengan berafiliasi dengan atau di rumah sakit pendidikan. sesuai. Penyelenggaraan pelayanan kesehatan masyarakat sekunder menjadi tanggungjawab Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan atau Provinsi sebagai fungsi teknisnya. Pelayanan kesehatan perorangan sekunder dapat dijadikan sebagai wahana pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan sesuai dengan kebutuhan pendidikan dan pelatihan. dan sumber daya manusia kesehatan serta didukung oleh pelayanan kesehatan masyarakat tersier. teknologi. Dalam penanggulangan penyakit menular yang tidak terbatas pada suatu batas 39 .yang aman. efektif. yakni melaksanakan pelayanan kesehatan masyarakat yang tidak sanggup atau tidak memadai dilakukan pada pelayanan kesehatan masyarakat primer. efisien dan berbasis bukti (evidence based medicine) serta didukung pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan. b) Pelayanan Kesehatan Sekunder (PKMS) Masyarakat Pelayanan kesehatan masyarakat sekunder menerima rujukan kesehatan dari pelayanan kesehatan masyarakat primer dan memberikan fasilitasi dalam bentuk sarana.

Fasilitas kesehatan penyelenggara pelayanan kesehatan masyarakat sekunder dibangun sesuai dengan standar. 3) Upaya Kesehatan Tersier Upaya kesehatan tersier adalah upaya kesehatan rujukan unggulan yang terdiri dari pelayanan kesehatan perorangan tersier dan pelayanan kesehatan masyarakat tersier. Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan (BPFK). a) Pelayanan Kesehatan Perorangan Tersier (PKPT) Pelayanan kesehatan perorangan tersier menerima rujukan sub-spesialistik dari pelayanan kesehatan di bawahnya. seperti laboratorium kesehatan. Balai Teknik Kesehatan Lingkungan (BTKL). maka tingkat yang lebih tinggi (provinsi) yang harus menanganinya.administrasi pemerintahan (lintas kabupaten/ kota). Pelaksana pelayanan kesehatan perorangan tersier adalah dokter sub-spesialis atau dokter spesialis yang telah mendapatkan pendidikan khusus atau pelatihan dan mempunyai izin praktik dan didukung oleh tenaga kesehatan lainnya yang diperlukan. dan wajib merujuk kembali ke fasilitas kesehatan yang merujuk. 40 . dan lain-lain. Bagi fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat milik swasta harus mempunyai izin sesuai peraturan yang berlaku serta dapat bekerjasama dengan unit kerja Pemerintah Daerah.

dan rujukan operasional. sumber daya manusia kesehatan. Rumah Sakit Khusus setara kelas A dan B. Pelaksana pelayanan kesehatan masyarakat tersier adalah Dinas Kesehatan Provinsi. Fasilitas pelayanan kesehatan perorangan tersier dapat didirikan melalui modal patungan dengan pihak asing sesuai dengan peraturan dan kebijakan yang berlaku. b) Pelayanan Kesehatan Masyarakat Tersier (PKMT) Pelayanan kesehatan masyarakat tersier menerima rujukan kesehatan dari pelayanan kesehatan masyarakat sekunder dan memberikan fasilitasi dalam bentuk sarana. teknologi. Pelayanan kesehatan perorangan tersier wajib melaksanakan penelitian dan pengembangan dasar maupun terapan dan dapat dijadikan sebagai pusat pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan sesuai dengan kebutuhan. Pemerintah mengembangkan berbagai pusat pelayanan unggulan nasional yang berstandar internasional untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan dan menghadapi persaingan global dan regional. seperti pusat radioterapi. Unit 41 .Pelayanan kesehatan perorangan tersier dilaksanakan di Rumah Sakit Umum. baik milik pemerintah maupun swasta yang mampu memberikan pelayanan kesehatan subspesialistik dan juga termasuk klinik khusus.

Pemerintah Provinsi melakukan bimbingan dan pengendalian terhadap pelaksanaan kebijakan dan NSPK upaya kesehatan. harus didukung dengan standar pelayanan yang selalu dikaji dalam periode tertentu sesuai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kebutuhan. Organisasi Profesi. b.kerja terkait di tingkat Provinsi. dan masyarakat. Pelaksanaan pelayanan kesehatan masyarakat tersier menjadi tanggung-jawab Dinas Kesehatan Provinsi dan Departemen Kesehatan yang didukung dengan kerja sama lintas sektor. dan Unit kerja terkait di tingkat nasional. Pemerintah menetapkan kebijakan dan NSPK upaya kesehatan dengan memperhatikan masukan dari Pemerintah Daerah. Pembinaan dan Pengawasan 1) Pembinaan Upaya Kesehatan Pembinaan upaya kesehatan ditujukan untuk menjamin mutu pelayanan kesehatan. Departemen Kesehatan. 42 . Institut pelayanan kesehatan masyarakat tertentu secara nasional dapat dikembangkan untuk menampung kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat.

Pemerintah. Pemerintah Provinsi. Perizinan fasilitas upaya kesehatan menurut tingkatannya ditetapkan oleh Pemerintah. berkewajiban melakukan pembinaan terhadap semua fasilitas pelayanan kesehatan termasuk swasta.Pemerintah Kabupaten/Kota melaksanakan kebijakan dan NSPK upaya kesehatan. 2) Pengawasan Upaya Kesehatan Pengawasan ditujukan untuk menjamin konsistensi penyelenggaraan upaya kesehatan dan dilakukan secara intensif. Pemerintah Provinsi. Hasil pengawasan digunakan untuk perlindungan terhadap masyarakat dan tenaga kesehatan selaku penyelenggara upaya kesehatan. sehingga semua fasilitas pelayanan kesehatan wajib memberikan laporan kegiatannya. baik internal maupun eksternal dan juga dapat melibatkan masyarakat dan swasta. Pembinaan upaya kesehatan dilakukan oleh pemerintah bersama dengan organisasi profesi dan masyarakat termasuk swasta. dan Pemerintah Kabupaten/Kota sebagai penanggung-jawab pelaksanaan pembangunan kesehatan di wilayahnya. 43 . dan Pemerintah Kabupaten/Kota sesuai dengan kewenangannya yang diatur dalam peraturan perundangan.

pengembangan dan pemanfaatan Iptek perlu diperluas untuk mendukung pembangunan kesehatan secara keseluruhan. meliputi: 1) Ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan dihasilkan dari penelitian dan pengembangan kesehatan yang diselenggarakan oleh pusatpusat penelitian dan pengembangan milik masyarakat. swasta. Penelitian dan Pengembangan Pengembangan dan pemanfaatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) yang memadai ditujukan untuk meningkatkan mutu upaya kesehatan. Sesuai dengan perkembangan dan keperluannya. dan dokumentasi Iptek kesehatan. jaringan informasi.c. Pemerintah melaksanakan penelitian data dasar kesehatan. Penelitian yang dilaksanakan oleh badan asing dan atau individu Warga Negara Asing (WNA) harus atas izin dan diawasi Pemerintah. 2) Pemanfaatan dan penyebarluasan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan diatur oleh Pemerintah dengan dukungan organisasi profesi. 44 . seperti Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) secara berkala dan penelitian pengembangan upaya kesehatan. dilakukan dengan membentuk pusatpusat penelitian dan pengembangan unggulan. Pengembangan dan pemanfaatan Iptek. dan pemerintah.

pengalokasian. dan pembelanjaan dana kesehatan untuk mendukung penyelenggaraan pembangunan kesehatan guna mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. 45 . teralokasi secara adil. maupun swasta serta sumber lainnya yang digunakan untuk mendukung pelaksanaan pembangunan kesehatan.B. 2. merata dan termanfaatkan secara berhasil guna dan berdaya guna. dari masyarakat. tersalurkan sesuai peruntukannya untuk menjamin terselenggaranya pembangunan kesehatan guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Dana Dana digali dari sumber pemerintah baik dari sektor kesehatan dan sektor lain terkait. 3. Dana yang tersedia harus mencukupi dan dapat dipertanggungjawabkan serta dipertanggung-gugatkan. Pengertian Subsistem pembiayaan kesehatan adalah bentuk dan cara penyelenggaraan berbagai upaya penggalian. Unsur-unsur a. Tujuan Tujuan dari penyelenggaraan subsistem pembiayaan kesehatan adalah tersedianya dana kesehatan dalam jumlah yang mencukupi. SUBSISTEM PEMBIAYAAN KESEHATAN 1.

baik pusat maupun daerah. Prinsip a. baik oleh pemerintah secara lintas sektor. pengalokasian. dan pembelanjaan dana kesehatan untuk mendukung terselenggaranya pembangunan kesehatan. 4. Pengelolaan Dana Kesehatan Prosedur/mekanisme pengelolaan dana kesehatan adalah seperangkat aturan yang disepakati dan secara konsisten dijalankan oleh para pelaku subsistem pembiayaan kesehatan. dan kelembagaan yang digunakan secara berhasil guna dan berdaya guna dalam upaya penggalian. regulasi. 46 . sarana. Sumber Daya Sumber daya dari subsistem pembiayaan kesehatan. pengalokasian.b. masyarakat. maupun masyarakat yang mencakup mekanisme penggalian. Kecukupan Pembiayaan kesehatan pada dasarnya merupakan tanggung-jawab bersama pemerintah. dan pembelanjaan dana kesehatan. standar. c. dan swasta. Alokasi dana yang berasal dari pemerintah untuk upaya kesehatan dilakukan melalui penyusunan anggaran pendapatan dan belanja. swasta. meliputi: SDM pengelola. terus diupayakan peningkatan dan kecukupannya sesuai kebutuhan menuju sekurang-kurangnya 5% dari PDB atau 15% dari total anggaran pendapatan dan belanja setiap tahunnya.

berhasil guna dan berdaya guna. maka pembelanjaannya dilakukan melalui kesesuaian antara perencanaan pembiayaan kesehatan. baik dari pemerintah. b.Pembiayaan kesehatan untuk masyarakat miskin dan tidak mampu merupakan tanggung-jawab pemerintah. sistem pembayaran pada fasilitas kesehatan perlu dikembangkan menuju bentuk pembayaran prospektif. Dana kesehatan diperoleh dari berbagai sumber. Dana kesehatan digunakan secara bertanggungjawab dan bertanggung-gugat berdasarkan prinsip tata pemerintahan yang baik (good governance). dikelola secara adil. tersalurkan secara tepat memperhatikan subsidiaritas dan fleksibilitas. Efektif dan Efisien Dalam menjamin efektifitas dan efisiensi penggunaan dana kesehatan. c. serta menjamin terpenuhinya ekuitas. akuntabel. maupun swasta yang harus digali dan dikumpulkan serta terus ditingkatkan untuk menjamin kecukupan agar jumlahnya dapat sesuai dengan kebutuhan. penguatan kapasitas manajemen perencanaan anggaran dan kompetensi pemberi pelayanan kesehatan. masyarakat. 47 . Adil dan Transparan Dana kesehatan yang terhimpun baik dari pemerintah maupun masyarakat dimanfaatkan secara adil dalam rangka menjamin terpeliharanya dan terlindunginya masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan. transparan. berkelanjutan.

pemerintah harus melakukan sinkronisasi dan sinergisme antara sumber dana dari iuran wajib. dan sumber lainnya. pajak khusus. a. serta berbagai sumber lainnya. bantuan atau pinjaman yang tidak mengikat. Penyelenggaraan pada peraturan Subsistem pembiayaan kesehatan merupakan suatu proses yang terus-menerus dan terkendali. Penggalian Dana Penggalian dana untuk pembangunan kesehatan yang bersumber dari pemerintah dilakukan melalui pajak umum. agar tersedia dana kesehatan yang mencukupi dan berkesinambungan. Dana yang bersumber dari swasta dihimpun dengan menerapkan prinsip kemitraan antara pemerintah dan masyarakat yang didukung dengan pemberian insentif. masyarakat. 5. Dalam hal pengaturan penggalian dan pengumpulan serta pemanfaatan dana yang bersumber dari iuran wajib. serta menggunakannya secara efisien dan efektif. dan sumber lainnya. swasta. dana APBN/APBD. Penggalian dana yang bersumber dari masyarakat dihimpun secara aktif oleh masyarakat sendiri atau dilakukan secara pasif 48 .transparan. Perencanaan dan pengaturan pembiayaan kesehatan dilakukan melalui penggalian dan pengumpulan berbagai sumber dana yang dapat menjamin kesinambungan pembiayaan pembangunan kesehatan. mengalokasikannya secara rasional. bersumber dari pemerintah. dan mengacu perundangan yang berlaku. dana dari masyarakat.

termasuk program-program kesehatan yang mempunyai daya ungkit tinggi terhadap peningkatan derajat kesehatan masyarakat. perbatasan. Hal ini termasuk program bantuan sosial dari pemerintah untuk pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin dan tidak mampu (Jamkesmas). sekunder. Pengalokasian dana untuk pelayanan kesehatan perorangan dilakukan melalui kepesertaan dalam jaminan pemeliharaan kesehatan yang diatur oleh pemerintah.dengan memanfaatkan berbagai dana yang sudah terkumpul di masyarakat. Dana pemerintah untuk pembangunan kesehatan diarahkan untuk membiayai upaya kesehatan primer. 49 . pulau-pulau terluar dan terdepan. b. dan tersier dengan mengutamakan masyarakat rentan dan miskin. Penggalian dana untuk pelayanan kesehatan perorangan dilakukan dengan cara penggalian dan pengumpulan dana masyarakat dan didorong pada bentuk jaminan pemeliharaan kesehatan. Pengalokasian dana yang dihimpun dari masyarakat dilaksanakan berdasarkan asas gotong-royong sesuai dengan potensi dan kebutuhannya. daerah terpencil. Pengalokasian Dana Pengalokasian dana pemerintah dilakukan melalui perencanaan anggaran dengan mengutamakan upaya kesehatan prioritas secara bertahap dan terus ditingkatkan jumlah pengalokasiannya sehingga sesuai dengan kebutuhan. serta yang tidak diminati swasta.

serta pembinaan dan pengawasan SDM Kesehatan untuk mendukung penyelenggaraan pembangunan kesehatan guna mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Pembelanjaan dana kesehatan diarahkan terutama melalui jaminan pemeliharaan kesehatan. yang meliputi: upaya perencanaan. SUBSISTEM SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN 1.c. C. Pengertian Subsistem SDM Kesehatan adalah bentuk dan cara penyelenggaraan upaya pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan. Sumber Daya Manusia Kesehatan adalah tenaga kesehatan profesi termasuk tenaga kesehatan strategis dan tenaga kesehatan non profesi serta tenaga pendukung/penunjang kesehatan yang terlibat dan bekerja serta mengabdikan dirinya seperti dalam upaya dan manajemen kesehatan. akuntabel. baik yang bersifat wajib maupun sukarela serta dalam upaya peningkatan akses dan mutu pelayanan kesehatan. serta menerapkan prinsip penyelenggaraan tata pemerintahan yang baik (good governance). pendayagunaan. Pembelanjaan Pemanfaatan dana kesehatan dilakukan dengan memperhatikan aspek teknis maupun alokatif sesuai peruntukannya secara efisien dan efektif untuk terwujudnya pengelolaan pembiayaan kesehatan yang transparan. pengadaan. 50 .

dana.2. sumber daya manusia pendidikan dan pelatihan. berakhlak luhur. 3. Tujuan Tujuan dari penyelenggaraan subsistem SDM Kesehatan adalah tersedianya SDM Kesehatan yang kompeten sesuai kebutuhan yang terdistribusi secara adil dan merata serta didayagunakan secara optimal dalam mendukung penyelenggaraan pembangunan kesehatan guna mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Unsur-unsur a. modul dan kurikulum serta metode pendidikan dan latihan. baik tenaga kesehatan maupun tenaga pendukung/penunjang kesehatan. yang meliputi: berbagai standar kompetensi. serta institusi/fasilitas pendidikan dan pelatihan yang menyediakan sarana dan prasarana pendidikan dan pelatihan. Dalam sumber daya ini juga termasuk sumber daya manusia. Sumber Daya Pengembangan Pemberdayaan SDM Kesehatan dan Sumber daya pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan adalah sumber daya pendidikan tenaga kesehatan dan pelatihan SDM Kesehatan. dan berdedikasi tinggi dalam melakukan tugasnya. mempunyai hak untuk memenuhi kebutuhan dasarnya (hak asasi) dan sebagai makhluk sosial. b. serta mempunyai etika. cara 51 . dan wajib memiliki kompetensi untuk mengabdikan dirinya di bidang kesehatan. Sumber Daya Kesehatan) Manusia Kesehatan (SDM Sumber daya manusia Kesehatan.

serta peralatan dan perlengkapan untuk melakukan perencanaan. Penyelenggaraan Pengembangan Pemberdayaan SDM Kesehatan dan Penyelenggaraan pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan meliputi upaya perencanaan. kualifikasi. c. Adil dan Merata serta Demokratis Pemenuhan ketersediaan SDM Kesehatan ke seluruh wilayah Indonesia harus berdasarkan 52 . pengadaan. Pengadaan SDM Kesehatan adalah upaya yang meliputi pendidikan tenaga kesehatan dan pelatihan SDM Kesehatan untuk memenuhi kebutuhan pembangunan kesehatan. Perencanaan SDM Kesehatan adalah upaya penetapan jenis. Pendayagunaan SDM Kesehatan adalah upaya pemerataan dan pemanfaatan serta pengembangan SDM Kesehatan. pendayagunaan. serta pembinaan dan pengawasan SDM Kesehatan. Pembinaan dan pengawasan SDM Kesehatan adalah upaya untuk mengarahkan. 4. pendayagunaan. serta pembinaan dan pengawasan SDM Kesehatan. jumlah. Prinsip a. memberikan dukungan.atau metode. serta mengawasi pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan. dan distribusi tenaga kesehatan sesuai dengan kebutuhan pembangunan kesehatan.

d. Kompeten dan Berintegritas Pengadaan SDM Kesehatan melalui pendidikan dan pelatihan yang sesuai standar pelayanan dan standar kompetensi serta menghasilkan SDM yang menguasai Iptek. nilai budaya.pemerataan dan keadilan sesuai dengan potensi dan kebutuhan pembangunan kesehatan serta dilaksanakan secara demokratis. mandiri. Hierarki dalam SDM Kesehatan Pengembangan dan pemberdayan SDM Kesehatan dalam mendukung pembangunan kesehatan perlu memperhatikan adanya susunan hierarki SDM Kesehatan yang ditetapkan berdasarkan jenis dan tingkat tanggung-jawab. dan berdaya saing tinggi. profesional. 53 . beriman. c. bertanggung-jawab. bertaqwa. nilai keagamaan. dan kemajemukan bangsa. kompetensi. serta keterampilan masing-masing SDM Kesehatan. Objektif dan Transparan Pembinaan dan pengawasan serta pendayagunaan (termasuk pengembangan karir) SDM Kesehatan dilakukan secara objektif dan transparan berdasarkan prestasi kerja dan disesuaikan dengan kebutuhan pembangunan kesehatan. b. tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia.

Pemerintah bertanggung-jawab mengatur pendirian institusi pendidikan dan pembukaan program 54 . dan kualifikasinya dilakukan dengan meningkatkan dan memantapkan keterkaitannya dengan unsur lainnya dalam manajemen pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan dengan memperhatikan tujuan pembangunan kesehatan dan kecenderungan permasalahan kesehatan di masa depan. baik dalam upaya kesehatan primer maupun upaya kesehatan sekunder serta tersier. Penyelenggaraan a. Pemerintah dengan melibatkan organisasi profesi dan masyarakat menetapkan standar kompetensi dan standar pendidikan yang berlaku secara nasional. b. jumlah. Perencanaan SDM Kesehatan dilakukan dengan mendasarkan pada fakta (berbasis bukti) melalui peningkatan sistem informasi SDM Kesehatan. Perencanaan SDM Kesehatan Penyusunan rencana kebutuhan SDM Kesehatan dilakukan dengan memperhatikan kebutuhan SDM Kesehatan yang diutamakan. Pengadaan SDM Kesehatan Standar pendidikan tenaga kesehatan dan pelatihan SDM Kesehatan mengacu kepada standar pelayanan dan standar kompetensi SDM Kesehatan dan perlu didukung oleh etika profesi SDM Kesehatan tersebut. Perencanaan SDM Kesehatan yang meliputi jenis.5.

Pemerintah dengan melibatkan organisasi profesi membentuk badan regulator profesi yang bertugas menyusun berbagai peraturan persyaratan. 55 . prosedur penetapan kompetensi khusus tenaga kesehatan. Pendirian institusi pendidikan dan pembukaan program pendidikan ditekankan untuk menghasilkan lulusan tenaga kesehatan yang bermutu dan dapat bersaing secara global dengan memperhatikan keseimbangan antara kebutuhan. dan kemampuan produksi tenaga kesehatan dengan yang sudah ada. Penyelenggaraan pendidikan tenaga kesehatan harus memenuhi akreditasi sesuai dengan peraturan perundangan.pendidikan tenaga kesehatan yang dibutuhkan dalam pembangunan kesehatan. serta menentukan sertifikasi institusi pendidikan dan pelatihan profesi. dinamika pasar baik di dalam maupun di luar negeri. Penyelenggaraan pendidikan tenaga kesehatan harus responsif gender yang berorientasi kepada kepentingan peserta didik (“student centered”). menentukan kompetensi umum. sehingga registrasi tenaga kesehatan lulusan dalam negeri dapat diakui di dunia internasional. Institusi/fasilitas pelayanan kesehatan yang terakreditasi wajib mendukung penyelenggaraan pendidikan tenaga kesehatan. Kompetensi tenaga kesehatan harus setara dengan kompetensi tenaga kesehatan di dunia internasional.

daerah perbatasan. seperti: daerah terpencil. Pendayagunaan SDM Kesehatan Pemerintah Pusat bekerjasama dengan Pemerintah Daerah melakukan upaya penempatan tenaga kesehatan yang ditujukan untuk mencapai pemerataan yang berkeadilan dalam pembangunan kesehatan. baik Pusat maupun Daerah dan Swasta melakukan rekrutmen dan penempatan tenaga kesehatan dan tenaga pendukung kesehatan yang diperlukan sesuai dengan kebutuhan pembangunan kesehatan dan atau menjalankan tugas dan fungsi institusinya. Dalam rangka penempatan tenaga kesehatan untuk kepentingan pelayanan publik dan pemerataan. terbuka. dan lintas institusi melalui jenjang jabatan struktural dan jabatan fungsional. Pemerintah Daerah bersama UPT-nya dan masyarakat melakukan rekrutmen dan penempatan tenaga penunjang (tenaga masyarakat) yang diperlukan untuk mendukung UKBM sesuai dengan kebutuhan pembangunan kesehatan. serta daerah bencana dan rawan konflik. Pemerintah.c. pemerintah melakukan berbagai pengaturan untuk memberikan imbalan material atau non material kepada tenaga kesehatan untuk bekerja di bidang tugas atau daerah yang tidak diminati. Pemerintah dan swasta mengembangkan dan menerapkan pola karir tenaga kesehatan yang dilakukan secara transparan. pulau-pulau terluar dan terdepan. Pemerintah bersama organisasi profesi dan swasta mengupayakan penyelenggaraan pendidikan 56 . daerah tertinggal.

berkelanjutan dalam rangka peningkatan karir dan profesionalisme tenaga kesehatan. perlu dilakukan peningkatan kualitas SDM Kesehatan secara terus menerus (pra-jabatan/”preservice” dan “in-service”). Pendayagunaan tenaga kesehatan warga negara asing hanya dilakukan pada tingkat konsultan pada bidang tertentu. modal. dan pengalaman yang mereka punyai tidak merugikan SDM Kesehatan Indonesia. diantaranya melalui pelatihan yang terakreditasi yang dilaksanakan oleh institusi penyelenggara pelatihan yang terakreditasi. Dalam rangka mengantisipasi globalisasi perlu dilakukan pengaturan agar masuknya SDM Kesehatan warga negara asing dengan teknologi. mempunyai hak dan kewajiban yang sama dengan tenaga kesehatan lulusan dalam negeri. Pendayagunaan tenaga kesehatan untuk keperluan luar negeri diatur oleh lembaga pemerintah dalam rangka menjamin keseimbangan antara kemampuan pengadaan tenaga kesehatan di Indonesia dan kebutuhan tenaga kesehatan Indonesia di luar negeri serta melindungi hak-hak dan hak asasi manusia tenaga kesehatan Indonesia di luar negeri. Tenaga kesehatan Warga Negara Indonesia lulusan institusi luar negeri yang telah memperoleh pengakuan dari Departemen yang bertanggungjawab atas pendidikan nasional. Dalam rangka pendayagunaan SDM Kesehatan yang sesuai kebutuhan pembangunan kesehatan. 57 . dalam rangka alih teknologi dan ditetapkan melalui persyaratan sesuai peraturan perundangan yang berlaku.

penggajian.d. dan pemberian lisensi bagi tenaga kesehatan yang memenuhi syarat. Sertifikasi tenaga kesehatan dalam bentuk ijazah dan sertifikat kompetensi diberikan Departemen Kesehatan setelah melalui uji kompetensi yang dilaksanakan organisasi profesi terkait. Pembinaan dan pengawasan SDM Kesehatan dilakukan melalui sistem karier. Pembinaan dan Pengawasan SDM Kesehatan Pembinaan penyelenggaraan pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan di berbagai tingkatan dan atau organisasi memerlukan komitmen yang kuat dari pemerintah dan dukungan peraturan perundang-undangan mengenai pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan tersebut. dan insentif untuk hidup layak sesuai dengan tata nilai di 58 . Pembinaan dan pengawasan praktik profesi bagi tenaga kesehatan profesi dilakukan melalui sertifikasi. Perizinan/lisensi tenaga kesehatan profesi untuk melakukan praktik dalam rangka memperoleh penghasilan secara mandiri dari profesinya diberikan oleh instansi kesehatan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota setelah mendapatkan rekomendasi dari organisasi profesi terkait. uji kompetensi. registrasi. Registrasi tenaga kesehatan untuk dapat melakukan praktik profesi di seluruh wilayah Indonesia diberikan oleh Departemen Kesehatan. yang dalam pelaksanaannya dapat dilimpahkan kepada Pemerintah Daerah Provinsi.

alat kesehatan. dan kosmetika. Pengertian Subsistem sediaan farmasi. alat kesehatan. dan khusus untuk obat dijamin ketersediaan dan 59 . dan makanan adalah tersedianya sediaan farmasi. dan makanan adalah bentuk dan cara penyelenggaraan berbagai upaya yang menjamin keamanan. D.masyarakat dan beban tugasnya agar dapat bekerja secara profesional. obat tradisional. dan makanan. SUBSISTEM SEDIAAN FARMASI. 2. Dalam hal terjadi pelanggaran disiplin oleh tenaga kesehatan maupun tenaga pendukung/penunjang kesehatan yang bekerja dalam bidang kesehatan dan menyebabkan kerugian pada pihak lain. berkhasiat/bermanfaat dan bermutu. maka sanksi administrasi maupun pidana harus dilakukan dalam rangka melindungi masyarakat maupun tenaga yang bersangkutan sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pengawasan SDM Kesehatan dilakukan untuk mencegah terjadinya pelanggaran disiplin melalui pengawasan melekat dan pengawasan profesi. bahan obat. khasiat/manfaat. alat kesehatan. ALAT KESEHATAN. dan makanan yang terjamin aman. alat kesehatan. Tujuan Tujuan penyelenggaraan subsistem sediaan farmasi. mutu sediaan farmasi. Sediaan farmasi adalah obat. DAN MAKANAN 1.

jumlah. dan fungsinya. b. Standar. dan makanan harus dengan jumlah yang cukup serta mempunyai standar kompetensi yang sesuai dengan etika profesi. terutama obat dan alat kesehatan esensial bagi masyarakat miskin. baik di fasilitas produksi. Sediaan farmasi harus tersedia dalam jenis. dan Kriteria yang telah ditetapkan. Prosedur. serta makanan meliputi jenis dan manfaat. dan makanan adalah peralatan atau tempat yang harus memenuhi Norma. sekunder. alat kesehatan tersedia dalam jenis. 3. jumlah. 60 . dan tersier. dan khasiat yang tepat. bentuk. dosis. Sumber Daya Sumber Daya Manusia sediaan farmasi. Komoditi Sediaan farmasi dan alat kesehatan adalah komoditi untuk penyelenggaraan upaya kesehatan. bentuk. alat kesehatan. Pembiayaan yang cukup dari pemerintah diperlukan untuk menjamin ketersediaan dan keterjangkauan obat.keterjangkauannya guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Fasilitas sediaan farmasi. Unsur-unsur a. alat kesehatan. makanan adalah komoditi yang mempengaruhi kesehatan masyarakat. distribusi maupun fasilitas pelayanan kesehatan primer.

prosedur.c. alat kesehatan. secara rasional. alat kesehatan dan makanan. Pengawasan Pengawasan yang komprehensif dengan melaksanakan regulasi yang baik (Good Regulatory Practices). khasiat/manfaat. ditujukan untuk menjamin setiap sediaan farmasi. dan kriteria yang ditetapkan. d. standar. Pemberdayaan Masyarakat Masyarakat senantiasa dilibatkan secara aktif agar sadar dan dapat lebih berperan dalam penyediaan dan penggunaan sediaan farmasi. alat kesehatan. dan bermutu di semua sarana pelayanan kesehatan dengan mengikuti norma. 61 . dan makanan yang beredar memenuhi standar dan persyaratan keamanan. e. Pelayanan Kefarmasian Pelayanan kefarmasian ditujukan untuk dapat menjamin penggunaan sediaan farmasi dan alat kesehatan. aman. dan makanan serta terhindar dari penggunaan yang salah dan penyalahgunaan. Penyediaan unit pelayanan publik bidang kesehatan untuk menangani berbagai masalah yang mudah diakses oleh masyarakat dan menerima keluhan atau pertanyaan terkait dengan sediaan farmasi. dan mutu yang ditetapkan yang didukung oleh Laboratorium Pengujian yang handal.

Prinsip a. transparan. b. bertanggungjawab. sehingga obat tidak boleh diperlakukan sebagai komoditas ekonomi semata. alat kesehatan. dan berbasis bukti ilmiah. dan makanan dari produsen. d. dan Bermutu Pemerintah menjamin keamanan. dan tidak menyesatkan tentang sediaan farmasi. Tersedia. 62 . Sedangkan pelaku usaha bertanggungjawab atas keamanan. Berkhasiat. khasiat/manfaat. dan makanan melalui pembinaan. independen. Aman. Merata. khasiat. distributor. dan mutu sediaan farmasi. Bermanfaat. dan pengendalian secara profesional. dan pelaku pelayanan kesehatan.4. alat kesehatan. lengkap. pengawasan. manfaat. dan mutu produk sesuai dengan fungsi usahanya dan peraturan yang berlaku. Transparan dan Bertanggung-jawab Masyarakat berhak untuk mendapatkan informasi yang benar. dan Terjangkau Obat merupakan kebutuhan dasar manusia yang tidak tergantikan dalam pelayanan kesehatan. c. Rasional Setiap pelaku pelayanan kesehatan harus selalu bertindak berdasarkan bukti ilmiah terbaik dan prinsip tepat biaya (cost-effective) serta tepat manfaat (cost-benefit) dalam pemanfaatan obat agar memberikan hasil yang optimal.

Keterjangkauan Obat dan Alat Kesehatan dan Penyediaan dan pelayanan obat berpedoman pada DOEN untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan. daerah tertinggal dan perbatasan. Pemerintah dengan pengaturan khusus menjamin tersedianya obat bagi masyarakat di daerah terpencil. 5.e. Penyelenggaraan a. 63 . Kemandirian Potensi sumber daya dalam negeri. sistematis. daerah rawan konflik dan obat yang tidak mempunyai nilai ekonomis (orphan drug). Pemerintah melakukan pengendalian dan pengawasan terhadap pengadaan serta penyaluran untuk menjamin ketersediaan dan pemerataan obat serta alat kesehatan. utamanya bahan baku obat dan obat tradisional harus dikelola secara profesional. Upaya Ketersediaan. dan berkesinambungan sehingga memiliki daya saing tinggi dan mengurangi ketergantungan dari sumber daya luar negeri serta menjadi sumber ekonomi masyarakat dan devisa negara. Pemerataan. serta daerah bencana. Pemerintah mengatur harga obat dan alat kesehatan.

dan makanan merupakan suatu kesatuan yang utuh. ekspor. pelaku usaha. khasiat/manfaat. dan pengendalian impor. dan mutu sediaan farmasi. Pelaksanaan regulasi yang baik (Good Regulatory Practices) didukung oleh sumber daya yang memadai secara kuantitas maupun kualitas. dan mutu produk melalui proses pendaftaran dan evaluasi. Alat Kesehatan. Khasiat/manfaat. khasiat/manfaat.b. produksi dan distribusi sediaan farmasi. dan makanan sesuai dengan perkembangan Iptek dan standar internasional. laboratorium pengujian mutu yang kompeten. alat kesehatan. iklan dan promosi. 64 . independen. dan kriteria mengenai produk dan fasilitas produksi dan distribusi sediaan farmasi. prosedur. dan makanan merupakan tugas bersama yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Upaya Jaminan Keamanan. kerjasama internasional. dan Makanan serta Perlindungan Masyarakat dari Penggunaan yang Salah dan Penyalahgunaan Obat dan Alat Kesehatan Upaya jaminan keamanan. dilakukan melalui penilaian keamanan. inspeksi fasilitas produksi dan distribusi. alat kesehatan. serta pemantauan label atau penandaan. standar. alat kesehatan. dan transparan. akses terhadap ahli dan referensi ilmiah. dan masyarakat secara terpadu dan bertanggung-jawab. Pengembangan dan penyempurnaan norma. pengambilan dan pengujian sampel. dan Mutu Sediaan Farmasi. yaitu pemerintah. Pembinaan. pengawasan. survailan dan vijilan setelah pemasaran. sistem manajemen mutu.

alat kesehatan. Penegakan hukum yang konsisten dengan efek jera yang tinggi untuk setiap pelanggaran. dan Zat Adiktif (Napza) harus merupakan upaya yang terpadu antara upaya represif. Peningkatan kesadaran/kemandirian masyarakat melalui penyediaan dan penyebaran informasi terpercaya termasuk informasi harga obat. dan rehabilitatif. dan makanan. c. Perlindungan masyarakat dari penyalahgunaan Narkotika. transparan. atau penggunaan bahan tambahan makanan yang tidak sesuai persyaratan. serta manusia usia lanjut untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi tinggi dan memenuhi persyaratan keamanan. kuratif. masyarakat. Mendorong masyarakat rentan terutama anak dan ibu hamil. serta lingkungannya. termasuk pemberantasan produk palsu dan ilegal. mutu dan gizi. preventif. Perlindungan masyarakat terhadap pencemaran sediaan farmasi dari bahan-bahan yang dilarang.Dalam rangka menghindarkan dampak buruk dari penggunaan alat kesehatan. Psikotropika. dan tidak menyesatkan mengenai penggunaan sediaan farmasi. sehingga masyarakat memperoleh informasi yang benar. menyeluruh. maka upaya jaminan perlindungan keamanan diberikan kepada pengguna dan operator alat kesehatan. Upaya Penyelenggaraan Pelayanan Kefarmasian Penyelengaraan pelayanan kefarmasian di semua sarana pelayanan kesehatan dilakukan dengan: 65 .

Penyelenggaraan upaya penggunaan obat yang rasional dilakukan antara lain melalui kegiatan berikut: 1) Penerapan DOEN dalam upaya pelayanan kesehatan tingkat primer. 5) Penerapan pendekatan farmako ekonomi melalui analisis biaya efektif dan biaya manfaat pada seleksi obat yang digunakan di semua tingkat pelayanan kesehatan. memberikan informasi dan saran serta memonitor penggunaan obat oleh pasien. sekunder. Upaya Penggunaan Obat yang Rasional Penggunaan obat yang rasional merupakan salah satu langkah untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik dan mengefisienkan biaya pengobatan. 3) Pengembangan mekanisme pemantauan ketersediaan obat esensial dan langkah-langkah perbaikan di setiap fasilitas pelayanan kesehatan. objektif dan lengkap melalui penyusunan Informasi Obat Nasional Indonesia 66 . 6) Penyediaan informasi obat yang benar. 4) Pemberdayaan Komite Farmasi dan Terapi (KFT) untuk meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian melalui penggunaan obat secara rasional. d. menjamin mutu. 2) Melaksanakan kegiatan inti farmasi yang meliputi pengelolaan obat dan produk kesehatan lainnya. melalui pemanfaatan pedoman terapi dan formularium berbasis bukti ilmiah terbaik.1) Mengutamakan kesejahteraan pasien dalam segala situasi dan kondisi. 2) Audit dan umpan balik dalam penggunaan obat rasional. dan 4) Memberikan pelayanan kefarmasian yang sesuai untuk setiap individu. 3) Memberikan kontribusi dalam peningkatan peresepan yang rasional dan ekonomis serta penggunaan yang tepat. dan tersier.

perawat dan tenaga kesehatan lainnya dalam memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat sehingga dapat meningkatkan kemanfaatan dan keamanan penggunaan obat termasuk penggunaan obat yang rasional. seperti penyakit diare. serta kepastian proses perijinan. antara lain promosi penggunaan obat generik dan pengelolaan berbagai penyakit secara tepat. pemberian insentif kebijakan perpajakan dan perbankan.(IONI) akan sangat mendukung para profesi kesehatan seperti: dokter. 2) Pemerintah menciptakan iklim yang kondusif bagi investasi di bidang farmasi melalui persaingan usaha yang adil. 3) Pembinaan industri farmasi dalam negeri agar mampu melakukan produksi sesuai dengan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dan dapat melakukan usahanya dengan efektif dan efisien sehingga mempunyai daya saing yang tinggi. 4) Komitmen semua 67 . e. dan lain-lain. 7) Pemberdayaan masyarakat melalui Komunikasi. apoteker. serta 8) Pemberdayaan SDM Kesehatan dalam melaksanakan penggunaan obat rasional di semua fasilitas pelayanan kesehatan. Informasi kepada masyarakat. Informasi dan Edukasi (KIE). Langkah-langkah yang perlu diselenggarakan meliputi: 1) Pemilihan produk yang tepat untuk pengembangan produksi dalam negeri dengan mempertimbangkan potensi sumber daya dalam negeri. Upaya Kemandirian Sediaan Farmasi melalui Pemanfaatan Sumber Daya Dalam Negeri Pengembangan dan pemanfaatan sumber daya alam Indonesia perlu didorong secara berkelanjutan untuk digunakan sebagai obat tradisional demi peningkatan pelayanan kesehatan dan ekonomi.

penerimaan fasilitas pelayanan kesehatan. SUBSISTEM KESEHATAN 1. dan obat tradisional untuk menunjang pembangunan kesehatan. 6) Pengembangan pemanfaatan obat tradisional yang aman. 68 . dan masyarakat. administrasi kesehatan. Pengertian MANAJEMEN DAN INFORMASI Subsistem manajemen dan informasi kesehatan adalah bentuk dan cara penyelenggaraan yang menghimpun berbagai upaya kebijakan kesehatan. para pelayan kesehatan dan konsumen. Penyelenggaraan subsistem sediaan farmasi. alat kesehatan. seperti kemauan industri farmasi domestik untuk memprioritaskan penggunaan bahan baku produksi dalam negeri. pengelolaan data dan informasi kesehatan yang mendukung subsistem lainnya dari SKN guna menjamin tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. 5) Peningkatan penelitian dan pengembangan bahan baku obat. dan dimanfaatkan secara luas baik untuk pengobatan sendiri oleh masyarakat maupun digunakan dalam pelayanan kesehatan formal. dan makanan harus melibatkan seluruh pelaku baik secara perorangan maupun bersama dan terpadu antara pemerintah. memiliki khasiat nyata yang teruji secara ilmiah. obat. bermutu tinggi. E. swasta/dunia usaha.pemangku kepentingan. pengaturan hukum kesehatan.

2. berdaya guna. penerapan. pelaksanaan. berbasis bukti dan operasional. terutama kepada individu dan masyarakat dan sebagai sarana untuk 69 . Kebijakan Kesehatan Kebijakan kesehatan merupakan pedoman yang menjadi acuan bagi semua pelaku pembangunan kesehatan. baik pemerintah. Hukum Kesehatan Hukum kesehatan merupakan keseluruhan peraturan perundangan di bidang kesehatan dan segala tindakan penyebarluasan. Administrasi Kesehatan Administrasi kesehatan merupakan kegiatan perencanaan. swasta. terselenggaranya fungsi-fungsi administrasi kesehatan yang berhasil guna. serta didukung oleh hukum kesehatan dan sistem informasi kesehatan untuk menjamin terselenggaranya pembangunan kesehatan guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. dan penegakan aturan tersebut dalam rangka memberikan perlindungan. c. Tujuan Tujuan subsistem manajemen dan informasi kesehatan adalah terwujudnya kebijakan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan. 3. b. dan akuntabel. dan pengendalian serta pengawasan dan pertanggung-jawaban penyelenggaraan pembangunan kesehatan. Unsur-unsur a. dan masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan dengan memperhatikan kerangka desentralisasi dan otonomi daerah.

4.memfasilitasi kesehatan. dana. Informasi Kesehatan Informasi kesehatan merupakan hasil pengumpulan dan pengolahan data sebagai masukan bagi pengambilan keputusan di bidang kesehatan. Prinsip a. Kepemimpinan yang Visioner Bidang Kesehatan Kepemimpinan yang visioner bidang kesehatan adalah kepemimpinan yang mempunyai visi. 70 . meliputi: SDM. e. standar. penyelenggaraan pembangunan d. Inovasi atau Kreativitas Penyelenggaraan manajemen dan informasi kesehatan harus mampu menciptakan daya tahan dan kesinambungan kinerja sistem melalui inovasi/kreatifitas dalam menghadapi perubahan dan tantangan pembangunan kesehatan dengan lebih baik. sarana prasarana. dan kelembagaan yang digunakan secara berhasil guna dan berdaya guna dalam upaya mendukung terselenggaranya pembangunan kesehatan. dan bertekad dalam pembangunan kesehatan. keteladanan. Sumber daya Manajemen Informasi Kesehatan Kesehatan dan Sumber daya manajemen kesehatan dan informasi kesehatan. b.

administrasi. dan informasi kesehatan. a. Untuk itu. Prosedur. program. dan anggaran perlu disusun secara terpadu. Perencanaan kebijakan. interelasi dan interdependensi yang dinamis di antara para pelaku pembangunan kesehatan. Penyelenggaraan Dalam rangka mencapai Tujuan Nasional. kontingensi. Kesesuaian dengan Sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia Manajemen dan informasi kesehatan menjadi pendukung utama dalam pelaksanaan desentralisasi dengan mempertimbangkan komitmen global dalam pembangunan kesehatan. penetapan skala prioritas berbasis bukti dari 71 . d. subsistem manajemen dan informasi kesehatan diselenggarakan dengan mensinergikan unsur kebijakan. dan sinergi yang dinamis. Kebijakan Kesehatan Penyelenggaraan proses kebijakan kesehatan dilakukan secara optimal dengan mengacu kepada Norma. Dalam manajemen kesehatan ini prinsip efisiensi. Dalam manajemen ini penting adanya interaksi. Sinergisme yang Dinamis Pendekatan manajemen kesehatan merupakan kombinasi dari pendekatan sistem. efektifitas. dan transparansi sangat penting. transparansi. pembangunan kesehatan menjadi salah satu dari arus utama pembangunan nasional. dan Kriteria (NSPK) kebijakan pembangunan kesehatan nasional. 5. Standar. hukum.c.

serta pengawasan dan pertanggung-jawaban didasarkan atas urusan wajib bidang kesehatan yang dilaksanakan secara berdaya guna dan berhasil guna. serta 72 . terpadu berlandaskan pada arah kebijakan pembangunan nasional dengan memperhatikan NSPK dan prioritas pembangunan kesehatan. melalui proses pengkajian dan perumusan kebijakan yang melibatkan masyarakat dan berbagai stakeholder terkait. peningkatan kesadaran hukum bagi aparatur kesehatan dan masyarakat. dan pembiayaan yang mencukupi. pelaksanaan dan pengendalian. berorientasi pada kepentingan masyarakat. Administrasi Kesehatan Penyelenggaraan administrasi kesehatan meliputi perencanaan.berbagai sumber yang tersedia. responsif gender. Hukum Kesehatan Penyelenggaraan hukum kesehatan meliputi penyusunan peraturan/regulasi dan harmonisasi di tingkat pusat dan daerah. didukung SDM yang kompeten. pelayanan advokasi hukum. b. berorientasi pada kepentingan masyarakat. untuk dilaksanakan secara bersama oleh seluruh pelaku pembangunan kesehatan secara sinergi dan dinamis. memanfaatkan teknologi informasi. dilaksanakan dengan menjunjung tinggi penyelenggaraan tata pemerintahan yang baik (good governance). dilaksanakan secara sinergi yang dinamis antara sektor kesehatan dengan sektor lain. didukung dengan SDM yang kompeten. Pusat dan Daerah dengan mempertimbangkan desentralisasi dan memperhatikan peraturan perundangan yang berlaku. c.

cepat. d. dilaksanakan dengan mempertimbangkan perlindungan bagi masyarakat dan pemberi pelayanan. termasuk regulasi kesehatan internasional. serta sesuai dengan kebutuhan. sosialisasi. serta penerapan pengetahuan dan teknologi kesehatan. kesetaraan. keadilan. penerapan. serta pengembangan sistem informasi kesehatan terpadu. akurat. F. serta berhasil guna dan berdaya guna sebagai bahan pengambilan keputusan dengan mempertimbangkan desentralisasi. SUBSISTEM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT 1. manajemen informasi kesehatan. valid. Pengertian Subsistem pemberdayaan masyarakat adalah bentuk dan cara penyelenggaraan berbagai upaya kesehatan.pembinaan dan pengawasan. dan sinkronisasi informasi kesehatan secara sinergi yang dinamis dalam rangka penyediaan data dan informasi terkini. integrasi. peraturan. pengembangan dan penelitian kesehatan. data dari fasilitas kesehatan dan masyarakat (seperti Riset Kesehatan Dasar dan surveilans). pengolahan dan analisis data. transparan. dilakukan melalui koordinasi. dan penegakan hukum perlu dilengkapi dan ditata dengan memperhatikan perkembangan dan perubahan lingkungan internal dan eksternal. serta aspek kerahasiaan yang berlaku di bidang kesehatan. dengan dukungan pendayagunaan teknologi. 73 . dengan memperhatikan kecukupan data termasuk data terpilah yang responsif gender. Informasi Kesehatan Penyelenggaraan informasi kesehatan meliputi pengumpulan.

Sasaran Pemberdayaan Perorangan (tokoh masyarakat. Unsur-unsur a. Penggerak Pemberdayaan Pemerintah.baik perorangan. kelompok. terpadu. serta dapat menjadi penggerak dalam mewujudkan pembangunan berwawasan kesehatan. kelompok (organisasi kemasyarakatan. tokoh agama. masyarakat. baik formal maupun non formal. motivator. kelompok masyarakat). politisi. 2. figur masyarakat. 74 . dan masyarakat luas serta pemerintah yang berperan sebagai agen perubahan untuk penerapan perilaku hidup sehat (subjek pembangunan kesehatan). organisasi profesi. maupun masyarakat secara terencana. b. dan sebagainya). dan swasta menjadi inisiator. mampu mengatasi masalah kesehatan secara mandiri. dan fasilitator yang mempunyai kompetensi memadai dan dapat membangun komitmen dengan dukungan para pemimpin. Tujuan Tujuan subsistem pemberdayaan masyarakat adalah meningkatnya kemampuan masyarakat untuk berperilaku hidup sehat. dan berkesinambungan guna tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. 3. berperan aktif dalam setiap pembangunan kesehatan.

Prinsip a. permasalahan. dan pemerintah yang meliputi: dana. pedoman. d. Kemandirian bermakna sebagai upaya kesehatan dari. sehingga membentuk kebiasaan dan pola hidup.c. serta melembaga dan membudaya dalam kehidupan bermasyarakat. dan media untuk terselenggaranya proses pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan. kebutuhan. Kegiatan Hidup Sehat Kegiatan hidup sehat yang dilakukan sehari-hari oleh masyarakat. serta menjadi penggerak dalam pembangunan kesehatan. b. dan masyarakat sesuai dengan keragaman sosial budaya. dan untuk masyarakat sehingga mampu untuk mengoptimalkan dan menggerakkan segala 75 . sarana dan prasarana. oleh. Berbasis Masyarakat Pembangunan kesehatan berbasis pada tata nilai perorangan. 4. keluarga. Sumber Daya Potensi yang dimiliki oleh masyarakat. metode. tumbuh dan berkembang. budaya. kemauan. swasta. dan kemampuan. serta potensi masyarakat (modal sosial). Edukatif dan Kemandirian Pemberdayaan masyarakat dilakukan atas dasar untuk menumbuhkan kesadaran.

Penyelenggaraan a. c. empati. 5.sumber daya setempat serta tidak bergantung kepada pihak lain. dan lingkungannya. keluarga. tenggang rasa. solidaritas. d. mengemukakan pendapat dan terlibat dalam proses pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kesehatan diri. tanggap terhadap aspirasi masyarakat dan bertanggung-jawab. Kesemuanya itu dapat dilaksanakan bila kebutuhan masyarakat telah dipenuhi secara wajar. dan kepekaan masyarakat dalam menghadapi potensi dan masalah kesehatan yang akhirnya bermuara dalam semangat gotongroyong sesuai dengan nilai luhur bangsa. serta kemudahan akses informasi. Penggerakan Masyarakat Pembangunan kesehatan perlu digerakkan oleh masyarakat dan masyarakat mempunyai peluang yang penting dan luas dalam pembangunan 76 . Kesempatan Mengemukakan Memilih Pelayanan Kesehatan Pendapat dan Masyarakat mempunyai kesempatan untuk menerima pembaharuan. Kemitraan dan Gotong-royong Semua pelaku pembangunan kesehatan baik sebagai penyelenggara maupun sebagai pengguna jasa kesehatan dengan masyarakat yang dilayani berinteraksi dalam semangat kebersamaan. Tumbuhnya rasa kepedulian. dan saling memperoleh manfaat. kesetaraan. masyarakat.

kesehatan. dan untuk masyarakat. dan masyarakat luas sesuai dengan kepentingannya dan yang berhasil guna dan berdaya guna. kelompok. penyembuhan. maupun pemulihan secara tersendiri atau terpadu. penyusunan rencana termasuk dalam penentuan prioritas kesehatan. pemantauan. Pemberdayaan masyarakat ditujukan guna terwujudnya penguatan upaya peningkatan. Pada hakekatnya pembangunan kesehatan diselenggarakan oleh. Pemberdayaan masyarakat. pencegahan. dari. 77 . hal ini mengingat penekanan atau fokus pembangunan kesehatan diberikan pada peningkatan perilaku dan kemandirian masyarakat serta upaya promotif dan preventif. Pengorganisasian dalam Pemberdayaan Pelaksanaan pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan melalui perorangan. termasuk penggerakan masyarakat. merupakan hal yang penting dalam pembangunan kesehatan. pelaksanaan. b. Perencanaan pemberdayaan masyarakat didasarkan pada fakta dan masalah kesehatan yang menjadi perhatian masyarakat setempat maupun masyarakat luas serta dengan mempertimbangkan potensi sumber daya dan nilainilai sosial budaya masyarakat. dan evaluasi upaya kesehatan sehingga dapat terwujud kemandirian dan kesinambungan pembangunan kesehatan. Dalam kaitan ini pelibatan aktif masyarakat dalam proses pembangunan kesehatan dilakukan mulai dari penelaahan situasi masalah kesehatan.

seperti: Poskestren. menyiapkan regulasi. kemauan. dan kemandirian dalam upaya kesehatan. kota. Musholla Sehat. Upaya untuk meningkatkan pengetahuan. Pemberdayaan masyarakat dilakukan dengan metoda yang tepat. dukungan sumber daya untuk membangun kemandirian dalam upaya kesehatan dan mendorong terbentuknya Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM). daerah pegunungan.Pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan pula melalui pendekatan ketatanan. Peranan Pemerintah membuka akses informasi dan dialog. kesadaran. dan aliran sungai. memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang. serta dengan memperhatikan nilai-nilai agama dan sosial budaya yang ada. institusi pendidikan. 78 . daerah pesisir. menyiapkan masyarakat dengan membekali pengetahuan dan keterampilan bagi masyarakat. tempat kerja. seperti: rumah tangga. dan fasilitas kesehatan agar terwujud pemberdayaan masyarakat yang berhasil guna dan berdaya guna serta terjamin kesinambungannya. Pemuda Siaga Peduli Bencana (Dasipena). Desa Siaga. tempat umum. Pemberdayaan masyarakat dilakukan dengan memperhatikan karakteristik dan kekhususan masyarakat. dan kemampuan masyarakat dalam berperilaku sehat dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung melalui berbagai saluran media dan teknik promosi kesehatan. seperti masyarakat di desa.

seperti legislatif untuk memperoleh dukungan kebijakan dan sumber daya bagi terwujudnya pembangunan berwawasan kesehatan.Peran masyarakat dalam pembangunan kesehatan dapat dengan cara mendirikan sarana pelayanan kesehatan maupun memberikan informasi kesehatan (promosi kesehatan) kepada masyarakat. lembaga legislatif. Masyarakat juga dapat berpartisipasi dengan memberikan kritik yang membangun bagi kepentingan seluruh masyarakat. Pembinaan dilakukan untuk kesinambungan pemberdayaan masyarakat yang telah dilakukan 79 . perguruan tinggi. d. Dalam kaitan ini termasuk pengembangan Desa Siaga atau bentuk-bentuk lain pada masyarakat desa/kelurahan. Pelaksanaan advokasi dilakukan dengan dukungan informasi yang memadai serta metode yang berhasil guna dan berdaya guna. dunia usaha. Kemitraan Pemberdayaan masyarakat dilakukan dengan kemitraan berbagai pihak. dan masyarakat agar terwujud dukungan sumber daya dan kebijakan dalam pembangunan kesehatan. seperti seluruh sektor terkait. c. organisasi kemasyarakatan. Advokasi Masyarakat dapat berperan dalam melakukan advokasi kepada pemerintah dan lembaga pemerintahan lainnya.

Peningkatan Sumber Daya Dalam pemberdayaan masyarakat perlu didukung oleh pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan yang kuat.melalui berbagai cara. dan kompetisi. pendampingan. termasuk pentingnya ketersediaan tenaga penggerak/promosi kesehatan. e. Dalam pemberdayaan masyarakat secara lebih spesifik dapat didampingi penggerak yang berperan sebagai fasilitator. komunikator. lomba. Ketersediaan sumber daya tersebut sangat penting agar dapat tercapai masyarakat berperilaku hidup sehat dan mandiri. antara lain pemberian insentif. pembiayaan yang memadai. seperti di Puskesmas dan Rumah Sakit yang mempunyai kompetensi dan integritas tinggi. 80 . dan dinamisator dalam proses pemberdayaan masyarakat. dan dukungan berbagai sarana lain yang berkaitan.

alat kesehatan. Masukan dalam SKN meliputi subsistem sumber daya manusia. ilmu pengetahuan dan teknologi. Luaran dari SKN adalah terselenggaranya pembangunan kesehatan yang berhasil guna dan berdaya guna. dan subsistem manajemen dan informasi kesehatan. merata. dan subsistem sediaan farmasi. 4. A. sebagai berikut: 1.BAB VI DUKUNGAN PENYELENGGARAAN SISTEM KESEHATAN NASIONAL Sistem Kesehatan Nasional diupayakan agar mampu menyesuaikan dengan perkembangan dan dinamika pembangunan kesehatan yang dihadapi dalam penyelenggaraannya yang dilaksanakan secara berkesinambungan. PROSES PENYELENGGARAAN SKN Penyelenggaraan SKN menerapkan pendekatan kesisteman yang meliputi masukan. budaya. Bila terjadi perubahan paradigma dan lingkungan strategis. subsistem pembiayaan kesehatan. Proses dalam SKN meliputi subsistem upaya kesehatan. Lingkungan SKN meliputi berbagai keadaan yang menyangkut ideologi. pertahanan dan keamanan baik nasional. sosial. Sistem Kesehatan Nasional dapat disesuaikan dan disempurnakan dengan kondisi dan situasi yang berkembang. 2. dan makanan. dan tingkat fisik/alam yang berdampak terhadap 81 . ekonomi. dan berkeadilan. luaran. 3. subsistem pemberdayaan masyarakat. dan lingkungan serta keterkaitannya satu sama lain. bermutu. proses. regional maupun global. politik.

82 . 2. Pancasila.pembangunan kesehatan. Penyelenggaraan SKN memerlukan penerapan prinsip koordinasi. Wawasan Nusantara. berjenjang. transparan. maupun dengan sistem serta subsistem lain diluar SKN. sinkronisasi. kebijakan manajerial. Penyelenggaraan SKN dilaksanakan secara bertahap. Berbagai materi SKN yang terpilih dapat digunakan untuk penyusunan dan penetapan peraturan perundangan pada tingkat kebijakan strategis. baik antar pelaku. dan berkelanjutan dengan memperhatikan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan (RPJP-K) Tahun 2005-2025. dan kebijakan teknis operasional. dan Ketahanan Nasional merupakan landasan bagi penyelenggaraan SKN. dan sinergisme yang dinamis. serta pengawasan dan pertanggung-jawaban secara sistematis. Sosialisasi dan Advokasi SKN Sistem Kesehatan Nasional perlu disosialisasikan dan diadvokasikan ke seluruh pelaku pembangunan kesehatan dan seluruh pemangku kepentingan kesehatan untuk memperoleh komitmen dan dukungan dari semua pihak. akuntabel. integrasi. Penetapan SKN Untuk memperoleh kepastian hukum yang mengikat semua pihak. sebagai berikut: 1. antar subsistem SKN. Undang-undang Dasar 1945. SKN perlu ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. pelaksanaan dan pengendalian. Penyelenggaraan SKN dilakukan melalui siklus perencanaan.

dan masalah spesifik daerah dalam kerangka SKN. sistematis. baik di pusat maupun daerah. yaitu: 1. Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renstra SKPD) yang penyelenggaraannya disesuaikan dengan kondisi.Sasaran sosialisasi dan advokasi SKN adalah semua penentu kebijakan. Penyelenggaraan SKN dalam kaitannya dengan pengembangan kebijakan kesehatan di daerah dilakukan dengan berbagai kegiatan. dan berkelanjutan. Penyelenggaraan SKN. 3. termasuk pengembangan kebijakan di daerah didukung dengan penyusunan 83 . Fasilitasi Pengembangan Kebijakan Kesehatan di Daerah Dalam pembangunan kesehatan di daerah perlu dikembangkan kebijakan kesehatan. seperti: Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJP-D). Pemerintah Pusat memfasilitasi pengembangan kebijakan kesehatan di daerah. Penyelenggaraan SKN. baik di sektor publik maupun di sektor swasta. serta memfasilitasi sosialisasi dan advokasi penyelenggaraan pembangunan kesehatan di daerah sesuai kebutuhan. baik secara nasional maupun dalam lingkup daerah. memfasilitasi pengukuhannya dalam bentuk peraturan perundangundangan daerah. termasuk pengembangan kebijakan di daerah diselenggarakan melalui penataan ulang keenam subsistemnya secara bertahap. 3. Penyelenggaraan SKN. termasuk pengembangan kebijakan di daerah diwujudkan dalam kerangka penyelenggaraan pembangunan kesehatan. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJM-D). 2. dinamika. terpadu.

dan pedoman dalam bentuk berbagai peraturan perundang-undangan.kebijakan. demokratisasi. Dalam rangka menyesuaikan dengan perkembangan global. Pengendalian dan penilaian SKN termasuk kebijakan kesehatan di daerah diselenggarakan secara berjenjang dan berkelanjutan dengan menggunakan tolok ukur keberhasilan pembangunan kesehatan. Pengendalian dan penilaian SKN termasuk kebijakan kesehatan di daerah bertujuan untuk memantau dan menilai keberhasilan penyelenggaraan pembangunan kesehatan berdasarkan sistem kesehatan yang ada. nasional. baik tingkat nasional maupun tingkat daerah. dan kabupaten/kota sampai 84 . 2. Indikator tersebut menjadi acuan segenap pelaku pembangunan kesehatan di tingkat nasional. maka dilakukan pengendalian dan penilaian SKN sebagai berikut: 1. provinsi. Pengendalian dan penilaian SKN termasuk kebijakan kesehatan di daerah perlu didukung dengan pengembangan sistem monitoring dan evaluasi di tingkat nasional dan daerah secara terpadu. Indikator kinerja SKN menjadi rekomendasi untuk upaya perbaikan yang harus didokumentasikan dan disebarluaskan. standar. termasuk pengembangan kebijakan kesehatan di daerah diselenggarakan sesuai dengan asas desentralisasi yang bertanggung-jawab. dan lokal yang dinamis dan cepat berubah. Setiap tahun seluruh pelaku pembangunan kesehatan dengan koordinasi pemerintah melakukan pengukuran pencapaian/kinerja SKN dengan beberapa indikator yang akurat dan terpercaya. Penyelenggaraan SKN. 3. 4. dan good governance dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). regional.

Adapun unsur dari tata pemerintahan yang baik. Selain tata pemerintahan yang baik. termasuk SDM nasional yang melaksanakannya. dan Kriteria dari Departemen Kesehatan perlu dikoordinasikan dengan Departemen Dalam Negeri. meliputi: partisipatif. transparan. semua Dalam daerah daerah Secara operasional. Tata pemerintahan yang baik disertai regulasi pada keenam subsistem SKN merupakan langkah menuju kesinambungan pelaksanaan sistem kesehatan. dan mengikuti kaidah hukum yang berlaku. penyelenggaraan pembangunan kesehatan di perlu memperhatikan SKN dan peraturan setempat. Dalam penyelenggaraan SKN perlu kejelasan dan ketegasan tentang pelimpahan urusan pemerintahan di bidang kesehatan yang luas sampai kabupaten/kota. Standar. Pedoman tentang Norma. Kabupaten/Kota). Provinsi. Prosedur. semua peraturan perundangan yang berkaitan harus dilaksanakan secara konsisten dengan tata pemerintahan yang baik (good governance). B. pemerintah juga harus secara konsisten dan konsekuen mengawasi kepatuhan hukum masyarakat. dan organisasi bukan pemerintah lainnya. guna penyesuaian penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang berbasis fakta. efektif. inklusif. efisien. TATA PENYELENGGARAAN SKN Penyelenggaraan SKN harus memperhatikan peraturan perundang-undangan yang berlaku. swasta. penyelenggaraan SKN memerlukan peran regulasi dari pemerintah sesuai dengan tingkatannya (Pusat. Masyarakat madani dan seluruh sektor terkait perlu secara jelas dan tegas diberi 85 . Untuk menjaga kepentingan rakyat. berorientasi pada konsensus. Pelaku pelanggaran peraturan harus ditindak secara tegas.ke tingkat desa.

Di sektor publik. sektor keuangan. sektor perdagangan. sektor pertanian. 2. pembangunan fasilitas umum. Individu. Pemerintah. antara lain: sektor pendidikan. praktisi. lembaga swadaya masyarakat. penggerak. dan masyarakat yang meliputi tokoh masyarakat. baik Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah berperan sebagai penanggungjawab. Pemerintah daerah. Untuk Pemerintah. keluarga. organisasi profesi. Penyelenggaraan SKN dapat berjalan dengan baik apabila melibatkan. sektor perikanan dan kelautan. dalam konteks desentralisasi perlu jelas dan tegas dalam memberikan arahan untuk pembangunan kesehatan di daerahnya. sektor keamanan. akademisi. Pelaku adalah: penyelenggaraan pembangunan kesehatan 1. dan sektor terkait lainnya. serta masyarakat luas. peranan tersebut ditambah dengan menetapkan 86 .peran dalam pelaksanaan berbagai subsistem SKN. termasuk swasta yang berperan dalam advokasi. C. dan penyelenggaraan berbagai pelayanan kesehatan sesuai dengan bidang keahlian dan kemampuan masing-masing. SKN tidak bisa dijalankan hanya oleh Departemen Kesehatan atau Dinas yang mengurus kesehatan di daerah. dan pembina pembangunan kesehatan dalam lingkup wilayah kerja dan kewenangan masing-masing. PENYELENGGARA SKN Pemerintah dan masyarakat termasuk swasta bertanggung-jawab atas penyelenggaraan pembangunan kesehatan sesuai peran dan fungsinya masing-masing. pelaksana. media massa. pengawasan sosial.

Kebijakan, Standar, Prosedur, dan Kriteria yang digunakan sebagai acuan dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan di daerah. 3. Badan Legislatif, baik di pusat maupun di daerah, yang berperan melakukan persetujuan anggaran dan pengawasan terhadap penyelenggaraan pembangunan kesehatan, melalui penyusunan produk-produk hukum dan mekanisme kemitraan antara eksekutif dan legislatif. 4. Badan Yudikatif, termasuk kepolisian, kejaksaan dan kehakiman berperan menegakan pelaksanaan hukum dan peraturan perundangan yang berlaku di bidang kesehatan. 5. Sektor swasta yang memiliki atau mengembangkan industri kesehatan, seperti: industri farmasi, alat-alat kesehatan, jamu, makanan sehat, asuransi kesehatan, dan industri pada umumnya. Industri pada umumnya berperan besar dalam memungut iuran dari para pekerja dan menambah iuran yang menjadi kewajibannya. 6. Lembaga pendidikan, baik pada tingkat sekolah dasar sampai tingkat perguruan tinggi, baik milik publik maupun swasta. Sebagian besar masalah kesehatan berhubungan dengan perilaku dan pemahaman. Pendidikan memegang kunci untuk menyadarkan masyarakat akan berbagai risiko kesehatan dan peran masyarakat dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

D. SUMBER DAYA PENYELENGGARAAN SKN Sistem Kesehatan Nasional merupakan bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang bekerja secara sinergis, harmonis, dan menuju satu tujuan. 87

Pemerintah wajib melakukan koordinasi agar semua subsistem dan semua pelaku berfungsi dan bekerja secara sinergis. Kepincangan pada salah satu subsistem atau pelaku akan mengganggu kerja SKN. Pemerintah harus menjamin tersedianya dana, sumber daya manusia yang memadai dan profesional, sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan yang dikelola dengan manajemen kesehatan yang baik, terutama yang berkaitan dengan administrasi kesehatan dan pengaturan hukum kesehatan serta didukung dengan informasi yang akurat, valid, tepat waktu, dan tepat kebutuhan. Pelaku sistem informasi kesehatan sesuai perannya harus mampu secara cepat merespon dan menggunakan perkembangan teknologi informasi, baik untuk mengolah, menyampaikan ke pelaku lain, maupun kepada masyarakat nasional dan internasional. Pemerintah juga mengembangkan sistem insentif/reward dan sistem sanksi bagi setiap pelaku yang tidak menggunakan informasi yang akurat, tepat waktu, dan tepat kebutuhan (relevan). Selain itu, Pemerintah juga mengharuskan fasilitas kesehatan publik maupun swasta untuk menyediakan informasi melalui situs yang mudah diakses dan terbuka, sebagai cara untuk mendidik masyarakat. Tersedianya pembiayaan kesehatan dalam jumlah yang memadai teralokasi secara adil, merata, dan termanfaatkan secara berhasil guna dan berdaya guna, sangat penting dalam pembangunan kesehatan. Pemerintah juga menjamin tersedianya dana untuk penelitian dan pengembangan bidang kesehatan. Sumber daya manusia merupakan komponen kunci keberhasilan SKN. Pemerintah harus melakukan upaya agar semua SDM Kesehatan memenuhi standar kompetensi tertentu sesuai bidangnya sebagai prasyarat bagi penyediaan pelayanan kesehatan yang bermutu dan 88

diterima oleh masyarakat. Namun, Pemerintah juga menjamin agar setiap SDM di bidang kesehatan mendapat remunerasi yang wajar, layak, dan sesuai dengan tanggung-jawab, pengalaman, dan kompetensinya. Keseimbangan profesionalitas, tanggung-jawab, pengalaman, dan besaran renumerasi merupakan kunci kesinambungan pelayanan kesehatan yang berkualitas. Penyelenggaraan subsistem sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan harus dilakukan secara terbuka dengan keseimbangan antara produksi dan pemanfaatan dengan dukungan dana yang memadai. Keterbukaan ini adalah kemampuan mengakomodasikan perkembangan teknologi dan produk teknologi kefarmasian dan teknologi peralatan kedokteran dan kesehatan serta memperhatikan keterjangkauan harga bagi masyarakat. Indonesia harus mampu menjadi pengekspor berbagai sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan. Keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif dalam bidang ini harus terus dikembangkan. Untuk menjamin kesinambungan subsistem upaya kesehatan, maka dukungan masukan informasi kesehatan, sumber daya manusia kesehatan, sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan, serta pendanaan harus selalu tersedia dalam jumlah yang memadai. Kualitas pelayanan harus selalu memenuhi standar yang ditetapkan agar setiap pengguna pelayanan kesehatan merasa puas dan memperoleh manfaat pelayanan kesehatan. Dengan kualitas dan kepuasan pengguna yang tinggi, maka akan timbul kemauan masyarakat sebagai pengguna untuk berkontribusi dalam bentuk dana, pemikiran, maupun tenaga. Pemerintah perlu menjamin adanya kepastian hukum dalam setiap penyelenggaraan subsistem SKN. Peraturan perundangan yang dalam pelaksanaannya mengalami 89

maupun bantuan teknis lainnya) bagi fasilitas kesehatan. serta sistem pengelolaan yang lebih baik dan bermutu. memberikan insentif. maupun instansi kesehatan di daerah untuk mendukung. Peraturan yang dibuat harus melalui sinkronisasi dengan berbagai peraturan di bidang kesehatan dan di luar bidang kesehatan serta membuka kesempatan luas kepada pemangku kepentingan dalam perumusan peraturan. perguruan tinggi. lembaga penelitian dan pengembangan lainnya. pembelian hasil produksi. Kewajiban berbagai sektor mencakup pemenuhan logistik yang diperlukan sebagai masukan dalam SKN. maka wajib berperan aktif sesuai dengan bidangnya guna mewujudkan tujuan SKN. dan memfasilitasi berbagai penelitian di dalam negeri guna tersedianya sediaan farmasi dan alat kesehatan.hambatan besar di daerah harus diatur lebih lanjut dengan Peraturan Daerah. Pemerintah mengatur dan memberdayakan masyarakat agar mampu melakukan kontrol sosial yang memadai guna menjamin kesinambungan dan akuntabilitas SKN. pemenuhan 90 . Departemen Kesehatan melakukan koordinasi dengan lintas sektor. Pemerintah mendorong terwujudnya kontrol sosial yang kuat dari masyarakat terhadap kualitas pelayanan kesehatan. KERJASAMA INTERNASIONAL Sistem Kesehatan Nasional merupakan bagian dari sistem nasional. Pemerintah memfasilitasi dan memberikan insentif (baik berupa pembebasan pajak. Pemerintah daerah perlu diberikan kewenangan untuk penegakan hukum terhadap berbagai aspek yang memungkinkan terselenggaranya SKN dengan baik. E. atau industri dalam melakukan penelitian dan pengembangan pelayanan kesehatan guna memacu perkembangan SKN.

koordinasi penyelenggaraan. peniadaan atau pengurangan bahan-bahan ataupun kondisi yang dapat menimbulkan risiko kesehatan. UNFPA. seperti UNDP. dan peran lainnya yang berkembang sesuai perubahan lingkungan strategis.SDM dengan kompetensi yang sesuai. 91 . Kerja sama dalam bidang kesehatan dengan berbagai lembaga internasional dan regional lain yang terkait perlu ditingkatkan. Para pelaku SKN berkewajiban mengembangkan diri agar mampu berperan di tingkat internasional dalam rangka menjaga agar SKN dapat berjalan dengan baik. Para pelaku SKN juga wajib mencermati dan memanfaatkan setiap kesempatan yang ada di dunia internasional guna memperkuat SKN. Peran Indonesia dalam upaya mereformasi WHO perlu terus dilakukan agar transparansi dan keadilan dari organisasi internasional tersebut dapat tercapai. Dana internasional yang tersedia yang tidak mengikat dan dapat secara sinergis meningkatkan kinerja SKN perlu dimanfaatkan dengan baik. Perubahan lingkungan strategis regional maupun global dapat mengancam keberhasilan SKN. penyediaan insentif finansial dan non finansial. setiap intervensi internasional yang dalam jangka pendek atau jangka panjang yang dapat merugikan SKN wajib dicegah oleh setiap pemangku kepentingan. UNICEF. Sebaliknya. Para pelaku SKN wajib berperan aktif di lingkungan internasional untuk mewujudkan kepemimpinan Indonesia di dunia internasional guna menghasilkan kebijakan yang kondusif bagi pengembangan SKN. dan ASEAN.

penyelenggaraan pembangunan kesehatan dengan dukungan SKN dapat dilaksanakan dengan berhasil guna dan berdaya guna dengan interaksi. baik pemerintah secara lintas sektor. Penetapan SKN dimaksudkan untuk memberikan arah bagi setiap pelaku upaya atau pelayanan kesehatan sesuai dengan kondisi lingkungan masing-masing instansi dan institusi. Untuk dapat melaksanakan SKN yang memenuhi prinsip umum dan prinsip dasar dari masing-masing subsistemnya yang disesuaikan dengan kemampuan diri dan lingkungan. serta masyarakat. serta kondisi lingkungannya. meskipun nantinya diharapkan terwujud pelayanan kesehatan yang adil dan merata. Prinsip adil dan merata secara bertahap diupayakan sesuai kemampuan yang dimiliki. termasuk swasta. tetapi juga harus realistis dengan kemampuan sumber daya manusia dan ketersediaan dana dan sumber daya lainnya. 92 . seluruh pelaku harus memegang teguh prinsip-prinsip umum SKN dan prinsip dasar masing-masing subsistemnya.BAB VII PENUTUP Tujuan pembangunan kesehatan hanya dapat dicapai bila didukung oleh kerjasama dengan semangat kemitraan antar semua pelaku pembangunan. interelasi. Manajer tersebut harus mempunyai kompetensi khusus dan mempunyai komitmen kuat dalam upaya mencapai tujuan pembangunan kesehatan. Dengan demikian. serta keterpaduan berbagai upaya yang dilakukan oleh semua pelaku SKN. dibutuhkan manajer-manajer di sektor publik maupun di masyarakat. Dalam pelaksanaannya. tidak berarti seluruh pelayanan kesehatan harus menyediakan pelayanan non diskriminatif bagi seluruh rakyat untuk seluruh jenis pelayanan. Dengan demikian. termasuk swasta. badan legislatif dan yudikatif. pemerintah pusat dan daerah.

regional. dan perubahan lingkungan strategis nasional. tantangan. 93 . baik nasional. maupun internasional. bersifat dinamis. regional. maupun global. dan dalam pelaksanaannya selalu mengikuti perkembangan. SKN perlu disesuaikan atau diubah secara berkala sesuai dengan perubahan lingkungan strategis. Sistem Kesehatan Nasional harus selalu mampu menjawab peluang. semua pemangku kepentingan wajib memantau kinerja dan kendala yang dihadapi SKN. Oleh karenanya.Sistem Kesehatan Nasional merupakan sistem terbuka yang berinteraksi dengan berbagai sistem nasionalnya sebagai subsistem dari Ketahanan Nasional. Oleh karenanya.

NASIONAL.LINGKUNGAN BURUK .RAWAN PANGAN DAN RAWAN GIZI .) (UU 23/1992 Kesehatan.SUMBER DAYA KESEHATAN TERBATAS DERAJAT KESMAS YG SETINGGITINGGINYA RAKYAT SEHAT PRODUKTIF TUJUAN NASIONAL LINGKUNGAN STRATEGIS: (Ideologi.KETIDAKPASTIAN HUKUM . dasar. Ekonomi Sosial Budaya dan Pertahanan Keamanan) GLOBAL. Politik. TANNAS. bentuk dan cara penyelenggaraan Bangkes) MASALAH MENDASAR BANGKES: . UU 17/2007 RPJPN) KONDISI SAAT INI Derajat Kesehatan Masyarakat Rendah Gambar-1 RPJP-K DAN SKN (Arah. REGIONAL.PERILAKU MASYARAKAT BURUK .ALUR PIKIR RENCANA PEMBANGUNAN KESEHATAN DAN SISTEM KESEHATAN NASIONAL PARADIGMA NASIONAL (PANCASILA. UUD 1945. LOKAL PELUANG/KENDALA 94 .WASANTARA.AKSES PELAYANAN PUBLIK BURUK .

AGAMA DAN BUDAYA PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN FUNDAMEN MORAL: KEMANUSIAAN LINGKUNGAN EKONOMI 2) SUMBER DAYA KESEHATAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT UPAYA KESEHATAN 1) DERAJAT KESEHATAN MASYARAKAT LINGKUNGAN SEHAT 3) MANAJEMEN KESEHATAN PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA LINGKUNGAN POLITIK DAN HUKUM LINGKUNGAN FISIK DAN BIOLOGI Catatan: 1) Meliputi pula: Penelitian dan Pengembangan Kesehatan 2) Meliputi: Pembiayaan Kesehatan. serta Sediaan Farmasi. SDM Kesehatan.GAMBARAN UNSUR-UNSUR PEMBANGUNAN KESEHATAN DAN SUBSISTEM SKN SERTA TATA HUBUNGANNYA Gambar-2 DAN LINGKUNGAN STRATEGIS YANG MEMPENGARUHI SKN LINGKUNGAN ILMU DAN TEKNOLOGI LINGKUNGAN SOSIAL. Alat Kesehatan. dan Makanan 3) Meliputi : Manajemen dan Informasi Kesehatan 95 .

DAFTAR SINGKATAN AKB AKI APBD APBN ASEAN BPFK BTKL CPOB DBD DOEN Dasipena HAM HIV/AIDS Iptek Jamkesmas KFT KIA KIE KISS MDGs NKRI NSPK PDB PKMP PKMS PKMT PKPP PKPS PKPT Pilkada : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : Angka Kematian Bayi Angka Kematian Ibu Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Association South East Asian Nation Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan Balai Tehnik Kesehatan Lingkungan Cara Pembuatan Obat yang Baik Demam Berdarah Dengue Daftar Obat Esensial Nasional Pemuda Siaga Peduli Bencana Hak Asasi Manusia Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Jaminan Kesehatan Masyarakat Komite Farmasi dan Terapi Kesehatan Ibu dan Anak Komunikasi. Informasi dan Edukasi Koordinasi. Integrasi. Prosedur. Standar. Sinkronisasi. dan Kriteria Produk Domestik Bruto Pelayanan Kesehatan Masyarakat Primer Pelayanan Kesehatan Masyarakat Sekunder Pelayanan Kesehatan Masyarakat Tersier Pelayanan Kesehatan Perorangan Primer Pelayanan Kesehatan Perorangan Sekunder Pelayanan Kesehatan Perorangan Tersier Pemilihan Kepala Daerah 96 . dan Sinergisme Millenium Development Goals Negara Kesatuan Republik Indonesia Norma.

Poskesdes Poskestren Posyandu Puskesmas P4K RPJM-D RPJP-K RPJP-D RPJP-N Renstra SKPD Riskesdas SDKI SDM SJSN SKN Siknas TB Paru UHH UKBM UNDP UNFPA UNICEF UPT UUD WHO WNA WNI : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : Pos Kesehatan Desa Pos Kesehatan Pesantren Pos Kesehatan Terpadu Pusat Kesehatan Masyarakat Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah Riset Kesehatan Dasar Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia Sumber Daya Manusia Sistem Jaminan Sosial Nasional Sistem Kesehatan Nasional Sistem Informasi Kesehatan Nasional Tuberculosis Paru Umur Harapan Hidup Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat United Nations Development Programme United Nations Population Fund United Nations Emergency Children’s Fund Unit Pelaksana Teknis Undang-undang Dasar World Health Organization Warga Negara Asing Warga Negara Indonesia 97 .

Rustam S Pakkaya.Sc.KO. DCN. R. M. MM. dr. Siti Fadilah Supari. Lovita T. M.Kes. SKM. R. S. Dr. Bambang Hartono. Dr. Sp. MSc. Yusharmen D Comm. Zulkarnain Kasim. Sjafii Achmad. Dr. S. M. Emiliya Roza. Drs. MM. Dr. Dr. DR. Drs. Bambang W. SKM. MPH . Adang Bachtiar. DR.J.JP. Sp. Bambang Sardjono. MPH. SKM. Arum Atmawikarta. Tjipto Rahardjo. SS . dr. Rahbudi Helmi. Soenarjo Soejoso.DTM&H.Syihab. Dr. Prof. MPP. MSc. Rustam S. Kustantinah. SE. M.B. Edi Suranto. DM Wismarini. Ir. Harmein Harun. Toto Heryanto . Sutoto. antara lain: Tingkat Pusat: Dr. Geral Mario S. SKM. . Ruhayati . Triono Soendoro. MKM. MPH. Dra. Bambang Widodo. M. . Fresly. dr. Louventus P . Faisal Barabas. Faiq Bahfen. Ph.Kes. Drs. M. Gemala Hatta. SKM. Setiawan Soeparan. Rita Djupuri. Dr. MA. Diah Puspitasari. Mustikowati. Ratna Rosita Hendardji. . Naydial Roesdal. DR.Chalik Masulili. Donald Pardede. M. Lily S. Pakkaya.Sos. Hary Purwanto. SKM. Agus Sunario. SKM. Mulya A Hasymi. Dr.Epid. Farid Wadjdi Husain. Apt.Kom. DR. Mulyadi. Dr. MSc. MPH. SKM.KONTRIBUTOR Sistem Kesehatan Nasional ini berhasil disusun atas partisipasi aktif dan kontribusi positif dari berbagai pihak. Rusmiati.Meinarwati. Charles Suryadi. Dr. Dr. Royan. MPH. Indariwati.Rita Ratna Puri. . Drg. MPH. MPH. DPH.MSc(PH). Bambang Hartono. MSc. MSc. Drg. Ph. SKM. Liliana. M. Budhihardja. M. Dr.Tugijono.Kes. S. MM. Yaslis Ilyas. MPH. Drs. MKKK . Dr. MS. Jajang Subagya. Bambang Hartono. Bambang Widodo. MSc. Dr. Msi. SKM.Kes. Zulkarnain. MPH. MS. Krissna Tirtawidjaja.M.Kes.Kes . Dr. SH. Abidinsyah Siregar. DHSM. Rachmi Untoro.JP(K). DR. Drg. Msi. SKM.Kes. Agus Iriawan. Dr. Marius W.Kes. Dr. M. Madiono. Lenny Evanita. MPH. Drg.Kes. Dr. Dr. M. SE. Sonny P. MPH. Dr. MPH. MSi. Ida Bagus Indra Gotama. T. Mary S Maryam. drg. Jemfy Naswil. DHSM. MPH). MSc. Dra. Suginarti . dr. Riza Sultoni. Dr. Sontang Tambunan. Firman Lubis. Wandaningsih. Ina Hernawati. Andi Saguni. MPH. Dr. Dr. DR. MBA. Dr. Sri Suhariningsih. SKM. Taufik. dr. H. Purwadi.Sos. Dr. SKM. Hasbullah Thabrani. SKM. MPPM. Suhardjono. MSc. dr. Imran Agus Nurali. MSc.Kes. Dr.H. SKM. Sp. SKM. Yuniar S. SKM . Agus Purwadianto. Dr. Sri Muljati. Richard Panjaitan. Sp. Dr. Yoserizal. Prof. Rahmat Kurniadi. Dr. Dr.PH. Dr. MPH. Trisa Wahjuni Putri.Kes. M. SKM . SH. SK Amdani. M. SKM .D. Drs. Dr. Apt.D. Dr. Delnalis. PhD. MPH. MSc. MPH. MPH. MPH. Nasirah Bahaudin.Kes. Apt. MBA. Widjaja Lukito.Kes. Indriyono Tantoro. Dr. MPH. M.SKM. I Nyoman Kandun. Dr. Dr. MSi.Sukowidodo. M. Untung Suseno Sutarjo. DR. M. Widyawati. dr.DR. Hapsara Habib Rahmat. Dr. Sri Hermiyanti. DR. Krishnajaya. dr. M. Indah Yuningprapti.B. MM.Kes. dr. Herma Trillas Purba. dr. Marwan Nusri. Iswandi Mourbas. Dr. Chirul R Nasution. Prof. Dra. Apt. Dr. Mulya A Hasjmy. M. Dr. SKM. Dr. Abdurachman. Syamsul Bahri. H.A.Kes. Dr. Ruhayati . Peter Andreas. DR.B(K). Drs. Drs. Apt. Titte Kabul Adimidjaja. Dra. Drg. Bambang Sardjono. Gatot Soetomo.Epid . Dr. Sp. Sp. MPH. Ruslidjah. DR. Ahmad Nizar S. MPH. Abidinsyah Siregar.Kes. Dr. MPH. Bambang Giatno Rahardjo. Dr. Sulistyowati. H. Kodrat Pramudho. SE. Dr. SH. Suamsul Bahri. Iis Sin Sin. Achmad Soebagio T. Drs. Dr. Drg. DR.W. Sardikin Giriputro. MKM. Taufik Izwan. Slamet Sudi Santoso. Hardini Kusumadewi. M. MPH. dr. M. Dr. M. Apt. Prof.Appt. Nagiot CT. M.Kes. Ida Bagus Indra Gotama. SpF(K).

MPH. Abd. M. HJ. SKM. MPH. Dian Damairini. Drg. Dan semua individu/pihak yang telah membantu penyusunan SKN yang tidak bisa disebutkan satu per-satu Mohon maaf bila ada kesalahan dalam penulisan nama dan gelar Daftar nama dan gelar disusun berdasarkan absensi lokakarya. Broto Wasisto. SpA (K). Irwan. Tingkat Daerah: Drg. Sardikin Giriputro. MSCPH.SKM. Dr. Sri Rachmani. Sudono. SKM. MKes. Dr. Kuwat S Hudoyo. Dr. Dr. Dr. Entos Rusna. dr. Apt. Emi Nurjasmi. SKM. M. Kuswati Ningsih. Drg. Andi M. M. Rudi Arif. MPH.A. Wirabrata. Razak Thaha. Dr. MPH. MKes. MSc. M. M. Drg. Drs. Eny Susilowati.Kes. Isti Ratnaningsih. Syahrul A. Hasnawati. Dr. Eryta W. Choirul Anwar. Drg. SE. Siti Aisyah. Dr. DESS. M. Kiswanto. Bambang Agus Legowo. Andreas Meliala. Ratna Dewi Umar. Tin tin F. Drg. Suharto. Dr. Julistio TB Djais. T. Poedjo Praseptio. Dr. Dr. Dien Emawati. SKM. Emmilya Rosa. Zaura Rini Anggraini. Rita Kusriastuti. Muninjaya. Drs. Poedjo Prasetyo. Dr. Dr. MPH. DR.Kes. Tjipto Rahardjo. Rais Lamangkona. Drs. Dr. SKM. Okti Palupi . Munzir Purba. M. Nurbaiti. Melzan Dharmayuli. Fauzi Ali Amin. Lily Mulyasari. Sugito.Kes. Jimmy Lee. SKM. Kodrat Pramudho. Adi Wirachjanto. Dr. Yanti. Dyah RB. SKM. MPAM. Syahrani Djedi. M. Drs. Lovita T . SH.M. Bairizal. SKM. Bambang Sugeng W. SKM. Kartini Rustandi.Kes .Kes.Kes. Vita. M. Drg. Ishak. Munzelly Husivevi. MPH. MM. Endro Buono. Djayusmantoko. E. Entos Z.Sp. Sultan Akbar Torutju .Kes. Indro Darmadji. Syafrudin Rasyid.Ahmad Said. Peter Andreas). Slamet Soesilo. Prof.Kes. Dr. Drg. Drs. Hanni Rono S. Jeni Haju. Ridwan Thaha. Sutrisno. Bachtiar Oesman. Julistio Djais. Ade Erma. Pius Weraman. Lita R Siampar. Adnan Mahmud. Dr. Noto Basuki. MKes. Ninin S . SKM. Durachman. Apt. Jauhari.GDE Agung Wiadnya P.Kes . Ibnu Alferbaly. Herry Tjahjono. Suteja. MKes. Jorizal Jannis. H. Tukijan. MKes. M. Kamaruzaman. Drg.Kes. Rosihan Adhani. Dr. M. Dr. Ni Wayan Mariani.Kes. Arbiansyah Alam. Dr.P. MKes. Eny Setiowati. Dr. Benny Patiasina. S. Nizwardi Azkha. Dr. Drg. M. Didi Suswanto.Sos. Amin Yohannis. Drs. atau pertemuan lainnya . SKM. MPPM. Mkes. Oslinda Martony.SKM.S. Agung Indarto. DESS. Prof. Tri Martiana. Dr. Sofia Wirda. Dr. Dr. Shermina Oruh. Pande Putujaraga. Sasli Adis. SpACKI. Drg. Dr. Jeane Pangemanan. Prijono. One Widyawati.Kes. RE. Bondan Agus Susyanto. Lukman HL. Syafri. MARS. M. Dedi Supratman. Dr.Sos . Agussalim Mooduto. Drs. SKM. Yanti Nurbayanti. Risma Julius. S. A. Ridarson. Nina Kurnia. Abdul Gani Sitepu. SpOG. Mahmud Fauzi. Tri Martiana. Dr. Guntur DW. H. I Wayan A. rapat. Ockti Palupi.Kes. Sugeng LA. Harif Fadhillah.Kes. Dr. SE. Widyawati.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful