DEPARTEMEN KESEHATAN RI JAKARTA, 2009

BENTUK DAN CARA PENYELENGGARAAN PEMBANGUNAN KESEHATAN

DEPARTEMEN KESEHATAN RI JAKARTA, 2009

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ....................................................... DAFTAR ISI ..................................................................... I. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG .......................................... B. PENGERTIAN SKN .......................................... C. MAKSUD DAN KEGUNAAN SKN .................... D. LANDASAN SKN .............................................. PERKEMBANGAN DAN TANTANGAN SISTEM KESEHATAN NASIONAL A. PERKEMBANGAN DAN MASALAH SISTEM KESEHATAN NASIONAL …………………….... B. PERUBAHAN LINGKUNGAN STRATEGIS ..... ASAS SISTEM KESEHATAN NASIONAL A. DASAR PEMBANGUNAN KESEHATAN ......... B. DASAR SKN ..................................................... BENTUK POKOK SISTEM KESEHATAN NASIONAL A. TUJUAN SKN ................................................ B. KEDUDUKAN SKN ....................................... C. SUBSISTEM SKN ......................................... D. TATA HUBUNGAN ANTAR SUBSISTEM DAN LINGKUNGANNYA .......................................... CARA PENYELENGGARAAN SISTEM KESEHATAN NASIONAL A. SUBSISTEM UPAYA KESEHATAN ................. B. SUBSISTEM PEMBIAYAAN KESEHATAN ...... C. SUBSISTEM SUMBERDAYA MANUSIA KESEHATAN .................................................... D. SEDIAAN FARMASI, ALAT KESEHATAN, DAN MAKANAN ............................................... ii i ii 1 1 2 3 4

II.

6 6 12 15 15 17

III.

IV.

21 21 21 23 26

V.

30 30 45 50 59

SUBSISTEM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT .... B. KONTRIBUTOR 96 iii ... PROSES PENYELENGGARAAN SKN ……............. DUKUNGAN PENYELENGGARAAN SISTEM KESEHATAN NASIONAL A............... VI........ PENYELENGGARA SKN ……………………... PENUTUP LAMPIRAN Gambar-1: Alur Pikir Rencana Pembangunan Kesehatan dan Sistem Kesehatan Nasional Gambar-2: Gambaran Unsur-unsur Pembangunan Kesehatan dan Subsistem SKN serta Tata Hubungannya dan Lingkungan Strategis yang Mempengaruhi SKN 94 95 DAFTAR SINGKATAN ……………………………………......... KERJA SAMA INTERNASIONAL …………… 68 73 81 81 85 86 87 90 92 VII.E........ D. SUBSISTEM MANAJEMEN DAN INFORMASI KESEHATAN …………………………………… F.. SUMBER DAYA PENYELENGGARAAN SKN E..... TATA PENYELENGGARAAN SKN ………… C...

berkesinambungan dan realistis sesuai pentahapannya. kemauan. .KATA PENGANTAR Pembangunan kesehatan adalah upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen bangsa yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran. Di dalamnya juga telah tercantum arah pembangunan kesehatan dalam 20 tahun ke depan sampai dengan tahun 2025. Kesinambungan dan keberhasilan pembangunan kesehatan ditentukan oleh tersedianya pedoman penyelenggaraan pembangunan kesehatan baik berupa dokumen perencanaan maupun metode dan cara penyelenggaraannya. Dalam Undang-Undang tersebut antara lain ditetapkan bahwa pembangunan berdasarkan kesehatan diselenggarakan pemberdayaan dengan dan perikemanusiaan. Dalam kerangka kesehatan pembangunan dilaksanakan secara terarah. tentang Nasional Rencana (RPJPN) Pembangunan Panjang memberikan arah pembangunan ke depan bagi bangsa Indonesia. tersebut. UndangUndang Nomor 17 Jangka tahun 2007. dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat mencapai yang tujuan setinggi-tingginya.

anak. antara lain ibu. manusia usia lanjut (manula). cepat berubah dan. Sistim Kesehatan Nasional (SKN) 2009 sebagai penyempurnaan dari SKN sebelumnya merupakan bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah bersama seluruh elemen bangsa dalam rangka untuk meningkatkan tercapainya pembangunan kesehatan dalam mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.kemandirian. serta pengutamaan dan manfaat dengan perhatian khusus pada penduduk rentan. Sistim Kesehatan Nasional (SKN) 2009 yang disempurnakan ini diharapkan mampu menjawab dan merespon berbagai tantangan pembangunan kesehatan di masa kini maupun di masa yang akan datang. desentralisasi. dan keluarga miskin. Adanya SKN yang disempurnakan tersebut menjadi sangat penting kedudukannya mengingat penyelenggaraan pembangunan kesehatan pada saat ini semakin kompleks sejalan dengan kompleksitas perkembangan demokrasi. sering tidak menentu. dan globalisasi serta tantangan lainnya yang juga semakin berat. . adil dan merata.

Diharapkan SKN 2009 ini terkait dan mengacu pada arah dan tahapan pembangunan kesehatan yang ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan (RPJPK) Tahun 2005-2025. Dalam kaitan ini penyelenggaraan SKN 2009 tersebut perlu sesuai dengan tahap-tahap lapangan.dr. Jakarta. pelaksanaan pembangunan kesehatan di Pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya dan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak atas perhatian. Dr. April 2009 MENTERI KESEHATAN RI. Siti Fadilah Supari. Semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu melimpahkan Rachmat dan Hidayah serta memberikan petunjuk dan kekuatan bagi kita sekalian dalam melaksanakan pembangunan kesehatan di Indonesia dengan berpedoman pada Sistem Kesehatan Nasional yang baru ini. Sp.JP(K) . bantuan dan masukan serta kontribusinya dalam penyusunan dan perumusan SKN tersebut.

seperti: pengembangan Desa Siaga. Undangundang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. serta Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K). kemauan. Pembangunan kesehatan yang dilaksanakan dalam dasawarsa terakhir masih menghadapi berbagai masalah yang belum sepenuhnya dapat diatasi. mencerdaskan kehidupan bangsa. yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum. LATAR BELAKANG Dalam mencapai tujuan nasional bangsa Indonesia sesuai Pembukaan UUD 1945. dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya dapat terwujud. seperti: Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang 1 . Untuk itu diperlukan pemantapan dan percepatan melalui Sistem Kesehatan Nasional sebagai bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang disertai berbagai terobosan penting. Jaminan Kesehatan Masyarakat. perdamaian abadi dan keadilan sosial. Perubahan lingkungan strategis ditandai dengan berlakunya berbagai regulasi penyelenggaraan kepemerintahan. dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan.BAB I PENDAHULUAN A. maka pembangunan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan kesadaran.

perlu mengacu terutama pada arah. dasar. Pembangunan kesehatan adalah upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen bangsa yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran. Disamping itu secara global terjadi perubahan iklim dan upaya percepatan pencapaian MDGs. dan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJP-N) Tahun 2005-2025. PENGERTIAN SKN Sistem Kesehatan Nasional (SKN) adalah bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang memadukan berbagai upaya bangsa Indonesia dalam satu derap langkah guna menjamin tercapainya tujuan pembangunan kesehatan dalam kerangka mewujudkan kesejahteraan rakyat sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Dasar 1945. sehingga diperlukan penyempurnaan dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan. kemauan. dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang 2 . SKN 2004 sebagai pengganti SKN 1982. dan strategi pembangunan kesehatan yang ditetapkan dalam Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJP-N) Tahun 2005-2025 dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan (RPJP-K) Tahun 2005-2025. B. pada hakekatnya merupakan bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan.Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Dalam mengantisipasi ini. penting untuk dimutakhirkan menjadi SKN 2009 agar dapat mengantisipasi berbagai tantangan perubahan pembangunan kesehatan dewasa ini dan di masa depan.

memantapkan kemitraan dan kepemimpinan yang transformatif. melaksanakan pemerataan upaya kesehatan yang terjangkau dan bermutu. maupun oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah serta pihak terkait lainnya. 3 . tingkat pendidikan. 3) Adil dan merata. serta kemampuan tenaga kesehatan dalam mengatasi masalah-masalah tersebut. swasta. Sistem Kesehatan Nasional perlu dilaksanakan dalam konteks Pembangunan Kesehatan secara keseluruhan dengan mempertimbangkan determinan sosial. C. serta 4) Pengutamaan dan manfaat. distribusi kewenangan. pendapatan keluarga. 2) Pemberdayaan dan kemandirian. baik oleh masyarakat. agar dapat dipergunakan sebagai pedoman tentang bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan. Tersusunnya SKN 2009 mempertegas makna pembangunan kesehatan dalam rangka pemenuhan hak asasi manusia.setinggi-tingginya dapat terwujud. Pembangunan kesehatan diselenggarakan berdasarkan pada: 1) Perikemanusiaan. serta meningkatkan investasi kesehatan untuk keberhasilan pembangunan nasional. seperti: kondisi kehidupan sehari-hari. sumber daya. kesadaran masyarakat. keamanan. MAKSUD DAN KEGUNAAN SKN Penyusunan SKN 2009 ini dimaksudkan untuk menyesuaikan SKN 2004 dengan berbagai perubahan dan tantangan eksternal dan internal. memperjelas penyelenggaraan pembangunan kesehatan sesuai dengan visi dan misi Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan (RPJP-K) Tahun 2005-2025.

dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan 4 . setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin. Pendekatan pelayanan kesehatan dasar secara global telah diakui sebagai pendekatan yang tepat dalam mencapai kesehatan bagi semua dengan mempertimbangkan kebijakan kesehatan yang responsif gender. termasuk penguatan sistem rujukan. 3) Kebijakan pembangunan kesehatan. Landasan Konstitusional. Landasan Idiil. yaitu Pancasila. khususnya: Pasal 28 A. Sistem Kesehatan Nasional juga disusun dengan memperhatikan inovasi/terobosan dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan secara luas. setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya. Pasal 28 H ayat (1).Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan Tahun 2005-2025 merupakan arah pembangunan kesehatan yang berkesinambungan. yaitu UUD 1945. bertempat tinggal. Sistem Kesehatan Nasional disusun dengan memperhatikan pendekatan revitalisasi pelayanan kesehatan dasar (primary health care) yang meliputi: 1) Cakupan pelayanan kesehatan yang adil dan merata. 2) Pemberian pelayanan kesehatan yang berpihak kepada rakyat. D. 2. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan Tahun 2005-2025 dan SKN merupakan dokumen kebijakan pembangunan kesehatan sebagai acuan dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan. dan 4) Kepemimpinan. LANDASAN SKN Landasan SKN meliputi: 1.

tumbuh. Landasan Operasional meliputi seluruh ketentuan peraturan perundangan yang berkaitan dengan penyelenggaraan SKN dan pembangunan kesehatan. serta Pasal 34 ayat (2). setiap orang berhak atas jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia yang bermartabat. demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia. setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya.kesehatan dan ayat (3). dan berkembang. Negara bertanggungjawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak. setiap anak berhak atas kelangsungan hidup. Beberapa peraturan perundangan tersebut terdapat dalam Lampiran-1 dari RPJP-K Tahun 2005-2025. Pasal 28 B ayat (2). seni dan budaya. Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan dan ayat (3). 5 . 3. berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi. Pasal 28 C ayat (1).

5% pada akhir tahun 1997 menjadi sebesar 18. Upaya percepatan pencapaian indikator kesehatan dalam lingkungan strategis baru. PERKEMBANGAN DAN KESEHATAN NASIONAL MASALAH SISTEM Pembangunan kesehatan yang dilaksanakan secara berkesinambungan telah berhasil meningkatkan status kesehatan masyarakat. harus terus diupayakan dengan perbaikan Sistem Kesehatan Nasional. Kinerja sistem kesehatan telah menunjukkan peningkatan. 1.5 tahun pada tahun 2007.000 kelahiran hidup pada tahun 2007 (SDKI. dalam kaitan ini akses rumah tangga yang dapat menjangkau sarana kesehatan ≤ 30 menit sebesar 90. antara lain ditunjukkan dengan peningkatan status kesehatan.BAB II PERKEMBANGAN DAN TANTANGAN SISTEM KESEHATAN NASIONAL A.7% dan akses rumah tangga 6 . Umur Harapan Hidup (UHH) meningkat dari 68. yaitu: penurunan Angka Kematian Bayi (AKB) dari 46 per 1. 2007).4% pada tahun 2007 (Riskesdas.6 tahun pada tahun 2004 menjadi 70.000 kelahiran hidup pada tahun 1997 menjadi 34 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2007 (SDKI 2007). Upaya Kesehatan Akses pada pelayanan kesehatan secara nasional mengalami peningkatan.000 kelahiran hidup pada tahun 1997 menjadi 228 per 100. 2007). Sejalan dengan penurunan angka kematian bayi. Angka Kematian Ibu (AKI) juga mengalami penurunan dari 318 per 100. Demikian pula telah terjadi penurunan prevalensi kekurangan gizi pada balita dari 29. Namun penurunan indikator kesehatan masyarakat tersebut masih belum seperti yang diharapkan.

7 .1% pada tahun 1996 menjadi 33.1% (Riskesdas.46 per 100. Peningkatan jumlah Puskesmas ditandai dengan peningkatan rasio Puskesmas dari 3. perbatasan.4% pada tahun 2005 menjadi 41. sementara itu cakupan imunisasi lengkap tertinggi sebesar 73. peningkatan yang besar terutama di daerah perdesaan.000 pada tahun 2007 (Profil Kesehatan. Cakupan pemeriksaan kehamilan tertinggi 97.000 penduduk pada tahun 2003 menjadi 3.7% pada tahun 2006.3% (Riskesdas. 2007). Secara keseluruhan.1% dan terendah 67%. 2007). Jarak fasilitas pelayanan yang jauh disertai distribusi tenaga kesehatan yang tidak merata dan pelayanan kesehatan yang mahal menyebabkan rendahnya aksesibilitas masyarakat terhadap pelayanan kesehatan. sementara persalinan di fasilitas kesehatan meningkat dari 24.8% pada tahun 2007. tertinggal. Begitupula kunjungan baru (contact rate) ke fasilitas pelayanan kesehatan meningkat dari 34. jumlah masyarakat yang mencari pengobatan sendiri sebesar 45% dan yang tidak berobat sama sekali sebesar 13.3% pada tahun 1997 menjadi 46% pada tahun 2007.3% (2007). serta pulau-pulau kecil terdepan dan terluar masih rendah.yang berada ≤ 5 km dari sarana kesehatan sebesar 94. Pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan oleh penduduk meningkat dari 15. kesehatan ibu membaik dengan turunnya AKI. Namun pada daerah terpencil. Namun masih ditemui disparitas Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dan cakupan imunisasi antar wilayah masih tinggi.9% dan cakupan terendah 17.65 per 100. pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan meningkat 20% dalam kurun 10 tahun. Disamping itu. 2007).

namun persentase terhadap seluruh APBN belum meningkat dan masih berkisar 2. Kusta. Framboesia cenderung meningkat kembali. Hasil Riskesdas Tahun 2007 menunjukkan adanya peningkatan kasus penyakit tidak menular (seperti penyakit kardiovaskuler dan kanker) secara cukup bermakna.75 Triliun pada tahun 2007. HIV/AIDS. menjadikan Indonesia mempunyai beban ganda (double burden).7% rumah tangga dan sebesar 63.8% dan yang tidak memiliki saluran pembuangan air limbah sebesar 32. Persentase pengeluaran nasional sektor kesehatan pada tahun 2005 adalah sebesar 0. Demikian pula penyakit Pes masih terdapat di berbagai daerah.Akses terhadap air bersih sebesar 57. DBD dan Diare. seperti Filariasis. Namun demikian kontribusi penyakit menular terhadap kesakitan dan kematian semakin menurun. Selain itu penyakit yang kurang mendapat perhatian (neglected diseases).09 % dari PDB. Malaria. Demikian pula dengan anggaran kesehatan. Pada tahun 2007. Pembiayaan Kesehatan Pembiayaan kesehatan sudah semakin meningkat dari tahun ke tahun.81% dari Produk Domestik Bruto (PDB) meningkat pada tahun 2007 menjadi 1. rumah tangga yang tidak menggunakan fasilitas buang air besar sebesar 24.5%. meskipun belum mencapai 5% dari PDB seperti dianjurkan WHO. terutama: TB Paru. Penyakit infeksi menular masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang menonjol.54 Triliun meningkat menjadi sebesar 18.5% rumah tangga mempunyai akses pada sanitasi yang baik (Riskesdas. Pengeluaran pemerintah untuk 8 . 2007).8%. 2. pada tahun 2004 jumlah APBN kesehatan adalah sebesar Rp 5.6–2.

Jumlah dokter Indonesia masih termasuk rendah.5% dari keseluruhan penduduk pada tahun 2008 yang sebagian besar berasal dari bantuan sosial untuk program jaminan kesehatan masyarakat miskin sebesar 76.000 penduduk bila dibandingkan dengan negara lain di ASEAN. seperti Filipina 58 per 100.kesehatan terus meningkat. c) Masih kurang serasinya antara kebutuhan dan pengadaan berbagai jenis SDM Kesehatan. Proporsi pembiayaan kesehatan yang bersumber dari pemerintah belum mengutamakan upaya pencegahan dan promosi kesehatan.4 juta jiwa atau 34. Cakupan jaminan pemeliharaan kesehatan sekitar 46. baik jumlah. yaitu 38% dari total pembiayaan kesehatan. d) Dalam pendayagunaan SDM Kesehatan.000 penduduk dan Malaysia 70 per 100. jenis. Kualitas hasil pendidikan SDM Kesehatan dan pelatihan kesehatan pada umumnya masih belum memadai. yaitu 19 per 100. distribusi tenaga kesehatan masih belum merata.000 pada tahun 2007. Masalah strategis SDM Kesehatan yang dihadapi dewasa ini dan di masa depan adalah: a) Pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan belum dapat memenuhi kebutuhan SDM untuk pembangunan kesehatan.2%. Selain itu. Sumber Daya Manusia Kesehatan Upaya pemenuhan kebutuhan Sumber Daya Manusia (SDM) Kesehatan belum memadai. 3. b) Perencanaan kebijakan dan program SDM Kesehatan masih lemah dan belum didukung sistem informasi SDM Kesehatan yang memadai. Namun kontribusi pengeluaran pemerintah untuk kesehatan masih kecil. 9 . maupun kualitas tenaga kesehatan yang dibutuhkan.

sistem penghargaan. dan baru 300 jenis tanaman yang telah digunakan sebagai bahan baku. dan makanan telah dilakukan secara komprehensif. sementara itu bahan baku impor mencapai 85% dari kebutuhan. 4. Upaya perlindungan masyarakat terhadap penggunaan sediaan farmasi.600 jenis tanaman berpotensi mempunyai efek pengobatan. Pengembangan karier. Regulasi untuk mendukung SDM Kesehatan masih terbatas. Lebih dari 90% obat yang diresepkan di Puskesmas merupakan obat esensial generik. Di Indonesia terdapat 9. Namun tidak diikuti 10 . alat kesehatan. namun masih banyak kendala yang dihadapi. dan Makanan Pasar sediaan farmasi masih didominasi oleh produksi domestik. Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) digunakan sebagai dasar penyediaan obat di pelayanan kesehatan publik. masih banyak pengobatan yang dilakukan tidak sesuai dengan formularium.pemerataan SDM Kesehatan berkualitas masih kurang. serta e) Pembinaan dan pengawasan SDM Kesehatan serta dukungan sumber daya SDM Kesehatan masih kurang. Daftar Obat Esensial Nasional tersebut telah disusun sejak tahun 1980 dan direvisi secara berkala sampai tahun 2008. Sementara itu pemerintah telah berusaha untuk menurunkan harga obat. Alat Kesehatan. dan sanksi belum sebagaimana mestinya. Penggunaan obat rasional belum dilaksanakan di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan. Sediaan Farmasi.

5. baik jumlah. Hukum kesehatan belum tertata secara sistematis dan belum mendukung pembangunan kesehatan secara utuh. efisien. jenis. dan bermutu sesuai dengan prinsip-prinsip tata pemerintahan yang baik (good governance). rumah sakit swasta 49%. Hasil penelitian kesehatan belum banyak dimanfaatkan sebagai dasar perumusan kebijakan dan perencanaan program. Surveilans belum dilaksanakan secara menyeluruh. Sistem Informasi Kesehatan Nasional (Siknas) yang berbasis fasilitas sudah mencapai tingkat kabupaten/kota namun belum dimanfaatkan. Hal ini menunjukkan bahwa konsep obat esensial generik belum sepenuhnya diterapkan. Manajemen dan Informasi Kesehatan Perencanaan pembangunan kesehatan antara Pusat dan Daerah belum sinkron. Regulasi bidang kesehatan pada saat ini belum cukup. Begitu pula dengan perencanaan jangka panjang/menengah masih belum menjadi acuan dalam menyusun perencanaan jangka pendek. Pemerintah belum sepenuhnya dapat menyelenggarakan pembangunan kesehatan yang efektif. Data dan informasi kesehatan untuk perencanaan tidak tersedia tepat waktu. maupun efektifitasnya. Demikian juga dengan banyak kebijakan yang belum disusun berbasis bukti dan belum bersinergi baik perencanaan di tingkat Pusat dan atau di tingkat Daerah.oleh sarana pelayanan kesehatan lainnya. seperti: di rumah sakit pemerintah kurang dari 76%. 11 . Sistem informasi kesehatan menjadi lemah setelah menerapkan kebijakan desentralisasi. dan apotek kurang dari 47%.

3% pada tahun 2007. PERUBAHAN LINGKUNGAN STRATEGIS Perkembangan global. Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat lainnya yang terus berkembang pada tahun 2008 adalah Posyandu yang telah berjumlah 269. 12 . Hingga tahun 2008 sudah terbentuk 47. Jumlah UKBM. Hasil Riskesdas tahun 2007 menunjukkan bahwa alasan utama rumah tangga tidak memanfaatkan Posyandu/Poskesdes walaupun sebenarnya memerlukan adalah karena: pelayanannya tidak lengkap (49. termasuk pembangunan kesehatannya. Hal ini merupakan faktor eksternal utama yang mempengaruhi proses pembangunan kesehatan. Di samping itu. tetapi pemanfaatan dan kualitasnya masih rendah. yakni dengan target 60%. seperti Posyandu dan Poskesdes semakin meningkat. regional. dan nasional yang dinamis akan mempengaruhi pembangunan suatu negara. Pemberdayaan Masyarakat Rumah tangga yang telah melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat meningkat dari 27% pada tahun 2005 menjadi 36.111 buah Pos Kesehatan Desa (Poskesdes). B.202 buah dan 967 Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren).6%). dan tidak ada Posyandu/Poskesdes (24%). Pemerintah telah memberikan pula bantuan stimulan untuk pengembangan 229 Musholla Sehat. Sampai dewasa ini dirasakan bahwa masyarakat masih lebih banyak sebagai objek dari pada sebagai subjek pembangunan kesehatan. lokasinya jauh (26%).111 Desa Siaga dimana terdapat 47. namun masih jauh dari sasaran yang harus dicapai pada tahun 2009.6.

Faktor lingkungan strategis dapat dibedakan atas tatanan global. ASEAN Charter. dan politik kesehatan yang berdampak pada pembangunan kesehatan. dan transportasi yang mempunyai konsekuensi pada fungsi suatu negara dalam sistem pengelolaannya. Proses ini dipicu dan dipercepat dengan berkembangnya teknologi. Komitmen Internasional. seperti revitalisasi pelayanan kesehatan dasar dan pengarus-utamaan gender. Era globalisasi dapat menjadi peluang sekaligus tantangan pembangunan kesehatan. nasional. yang sampai saat ini belum sepenuhnya dilakukan persiapan dan langkah-langkah yang menjadikan peluang dan mengurangi dampak yang merugikan. regional. yang mencakup ekonomi. perlu menjadi perhatian dalam pembangunan kesehatan. seperti: MDGs. adaptasi perubahan iklim (climate change). budaya. serta komitmen Nasional. 13 . serta dapat dijadikan peluang atau kendala bagi sistem kesehatan di Indonesia. Tingkat Nasional dan Lokal Pada tingkat nasional terjadi proses politik. seperti desentralisasi. dan lokal. 2. sehingga mengharuskan adanya suatu sistem kesehatan yang responsif. informasi. sebagai contoh: banyaknya peserta Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang menggunakan isu kesehatan sebagai janji politik. sosial. Tingkat Global dan Regional Globalisasi merupakan suatu perubahan interaksi manusia secara luas. jejaring riset Asia Pasifik. politik. 1. dan lingkungan. demokratisasi. teknologi.

mekanisme mitigasi serta adaptasi dan pengenalan resiko akan perubahan iklim menuntut kegiatan kerjasama antara pihak lingkungan dengan pihak kesehatan dan seluruh sektor terkait. 14 . sementara itu kesadaran hukum masyarakat masih rendah. Di bidang lingkungan. Perangkat regulasi dan hukum yang terkait dengan kesehatan masih belum memadai. termasuk akibat pembangunan yang tidak berwawasan kesehatan yang memerlukan upaya pemecahan melalui berbagai terobosan dan pendekatan. di sisi lain situasi sosial politik yang berkembang sering menimbulkan konflik sosial yang pada akhirnya memunculkan berbagai masalah kesehatan. sebagian besar wilayah Indonesia rawan bencana. diantaranya melalui pengembangan Desa Siaga.Proses desentralisasi yang semula diharapkan mampu memberdayakan daerah dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan. Secara geografis. dan masih lemahnya penegakan hukum menyebabkan berbagai hambatan dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan. namun dalam kenyataannya belum sepenuhnya berjalan dan bahkan memunculkan euforia di daerah yang mengakibatkan pembangunan kesehatan terkendala. Oleh karena itu perlu dilakukan berbagai terobosan/ pendekatan terutama pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan kesehatan yang memberikan penguatan kapasitas dan surveilans berbasis masyarakat.

Dalam Undang-undang tersebut. maka setiap pelaku pembangunan kesehatan harus taat pada asas yang menjadi landasan bagi setiap program dan kegiatan pembangunan kesehatan. Perikemanusian Pembangunan kesehatan harus berlandaskan pada prinsip perikemanusiaan yang dijiwai. kemauan. pembangunan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan kesadaran. memegang teguh etika profesi. Dengan demikian untuk menjamin efektifitas SKN. dinyatakan bahwa pembangunan kesehatan diselenggarakan dengan mendasarkan pada: 1.BAB III ASAS SISTEM KESEHATAN NASIONAL Sebagaimana dinyatakan dalam Bab I bahwa Sistem Kesehatan Nasional (SKN) adalah bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan. DASAR PEMBANGUNAN KESEHATAN Sesuai dengan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Jangka Panjang Pembangunan Nasional (RPJP-N) Tahun 2005-2025. dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar peningkatan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya dapat terwujud. digerakan dan dikendalikan oleh keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Tenaga kesehatan perlu berbudi luhur. A. dan selalu menerapkan prinsip perikemanusiaan dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan. 15 .

4. Pemberdayaan dan Kemandirian Setiap orang dan masyarakat bersama dengan pemerintah berperan. keluarga.2. masyarakat. golongan. Pembangunan kesehatan dilaksanakan dengan berlandaskan pada kepercayaan atas kemampuan dan kekuatan sendiri serta kepribadian bangsa dan semangat solidaritas sosial serta gotongroyong. berkewajiban. dan lingkungannya. tumbuh dan kembang. dan status sosial ekonominya. Setiap orang berhak memperoleh pelayanan kesehatan. Upaya kesehatan yang bermutu diselenggarakan dengan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta harus lebih mengutamakan pendekatan peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit. serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup. sehingga secara berhasil guna dan bertahap dapat 16 . 3. tanpa memandang suku. agama. Pembangunan kesehatan harus mampu membangkitkan dan mendorong peran aktif masyarakat. Pengutamaan dan Manfaat Pembangunan kesehatan diselenggarakan dengan mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan perorangan atau golongan. Pembangunan kesehatan diselenggarakan berlandaskan pada dasar kemitraan atau sinergisme yang dinamis dan tata penyelenggaraan yang baik. dan bertanggungjawab untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan perorangan. Adil dan Merata Dalam pembangunan kesehatan setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.

agama. manusia usia lanjut. Hak Asasi Manusia (HAM) Sesuai dengan tujuan pembangunan nasional dalam Pembukaan Undang-undang Dasar 1945. maka setiap penyelenggaraan SKN berdasarkan pada prinsip hak asasi manusia. dan masyarakat miskin. B. SKN perlu mengacu pada dasardasar sebagai berikut: 1. dan e) Transparansi serta Akuntabilitas. anak. dan status sosial ekonomi. antara lain: ibu. bayi. c) Kerjasama Tim. DASAR SKN Dalam penyelenggaraan. golongan. jenis kelamin. yaitu untuk meningkatkan kecerdasan bangsa dan kesejahteraan rakyat. b) Bertindak Cepat dan Tepat. d) Integritas yang Tinggi.memberi manfaat yang sebesar-besarnya bagi peningkatan derajat kesehatan masyarakat. 17 . Setiap anak dan perempuan berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Undangundang Dasar 1945 pasal 28 H ayat 1 antara lain menggariskan bahwa setiap rakyat berhak atas pelayanan kesehatan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya tanpa membedakan suku. Perlu diupayakan pembangunan kesehatan secara terintegrasi antara Pusat dan Daerah dengan mengedepankan nilai-nilai pembangunan kesehatan. beserta lingkungannya. yaitu: a) Berpihak pada Rakyat. Pembangunan kesehatan diarahkan agar memberikan perhatian khusus pada penduduk rentan.

Dengan tatanan ini. Integrasi. diperlukan komitmen yang tinggi. Sinkronisasi. dan Sinergisme (KISS). seperti pembangunan prasarana. antar subsistem SKN. baik antar pelaku. Kemitraan tersebut diwujudkan dengan mengembangkan jejaring yang berhasil guna dan berdaya guna. dukungan. Sinergisme dan Kemitraan yang Dinamis Sistem Kesehatan Nasional akan berfungsi baik untuk mencapai tujuannya apabila terjadi Koordinasi. 3. profesional. serta bertanggung-jawab dan bertanggung-gugat (akuntabel). Pembangunan kesehatan diselenggarakan secara demokratis. maupun dengan sistem serta subsistem lain di luar SKN. agar diperoleh sinergisme yang lebih mantap dalam rangka mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. maka sistem atau seluruh sektor terkait. Pembangunan kesehatan harus diselenggarakan dengan menggalang kemitraan yang dinamis dan harmonis antara pemerintah dan masyarakat. Komitmen dan Tata Pemerintahan yang Baik (Good Governance) Agar SKN berfungsi baik. dan kerjasama yang baik dari para pelaku untuk menghasilkan tata penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang baik (good governance).2. rasional. termasuk swasta dengan mendayagunakan potensi yang dimiliki masing-masing. keuangan dan pendidikan perlu berperan bersama dengan sektor kesehatan untuk mencapai tujuan nasional. berkepastian hukum. terbuka (transparan). 18 .

Antisipatif dan Pro Aktif Setiap pelaku pembangunan kesehatan harus mampu melakukan antisipasi atas perubahan yang akan terjadi. 6. 19 . Responsif Gender Dalam penyelenggaraan SKN. Dengan mengacu pada antisipasi tersebut. diperlukan dukungan regulasi berupa adanya berbagai peraturan perundangan yang mendukung penyelenggaraan SKN dan penerapannya (law enforcement). Dukungan Regulasi Dalam menyelenggarakan SKN. Kesetaraan gender dalam pembangunan kesehatan adalah kesamaan kondisi bagi laki-laki dan perempuan untuk memperoleh kesempatan dan hak-haknya sebagai manusia. agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan pembangunan kesehatan serta kesamaan dalam memperoleh manfaat pembangunan kesehatan. setiap penyusunan rencana kebijakan dan program serta dalam pelaksanaan program kesehatan harus menerapkan kesetaraan dan keadilan gender. Keadilan gender adalah suatu proses untuk menjadi adil terhadap laki-laki dan perempuan dalam pembangunan kesehatan. pelaku pembangunan kesehatan perlu lebih proaktif terhadap perubahan lingkungan strategis baik yang bersifat internal maupun eksternal. 5.4. yang di dasarkan pada pengalaman masa lalu atau pengalaman yang terjadi di negara lain.

walaupun dalam prakteknya.7. 20 . Dengan demikian kebijakan pembangunan daerah di bidang kesehatan harus sejalan dengan SKN. Kearifan Lokal Penyelenggaraan SKN di daerah harus memperhatikan dan menggunakan potensi daerah yang secara positif dapat meningkatkan hasil guna dan daya guna pembangunan kesehatan. dapat disesuaikan dengan potensi dan kondisi serta kebutuhan masyarakat di daerah terutama dalam penyediaan pelayanan kesehatan dasar bagi rakyat. yang dapat diukur secara kuantitatif dari meningkatnya peran serta masyarakat dan secara kualitatif dari meningkatnya kualitas hidup jasmani dan rohani.

SKN bersama dengan berbagai sistem nasional lainnya diarahkan untuk mencapai Tujuan Bangsa Indonesia seperti yang tercantum dalam Pembukaan Undangundang Dasar 1945. berhasil guna dan berdaya guna. melainkan juga tanggung-jawab berbagai sektor terkait. 2. undangundang yang berkaitan dengan kesehatan merupakan kebijakan strategis dalam pembangunan kesehatan. yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum. maupun pemerintah secara sinergis. Dalam kaitan ini. baik masyarakat. perdamaian. Kedudukan SKN dalam Sistem Nasional Lainnya Terwujudnya keadaan sehat dipengaruhi oleh berbagai faktor yang tidak hanya menjadi tanggung-jawab sektor kesehatan. mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. sehingga terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. TUJUAN SKN Tujuan SKN adalah terselenggaranya pembangunan kesehatan oleh semua potensi bangsa. KEDUDUKAN SKN 1. Suprasistem SKN Suprasistem SKN adalah Ketahanan Nasional. B. swasta.BAB IV BENTUK POKOK SISTEM KESEHATAN NASIONAL A. Dalam penyelenggaraan pembangunan 21 . abadi dan keadilan sosial.

Dalam kaitan ini SKN dipergunakan sebagai acuan bagi masyarakat dalam berbagai upaya kesehatan. sebagai sistem kemasyarakatan yang ada.kesehatan. Kedudukan SKN terhadap berbagai Kemasyarakatan. termasuk potensi swasta berperan aktif sebagai mitra dalam pembangunan kesehatan yang dilaksanakan sesuai SKN. dan Sistem nasional lainnya. Sistem Hankamnas. termasuk Swasta Sistem Keberhasilan pembangunan kesehatan sangat ditentukan oleh dukungan sistem nilai dan budaya masyarakat yang secara bersama terhimpun dalam berbagai sistem kemasyarakatan. 4. Dengan demikian pelaksanaan pembangunan nasional harus berwawasan kesehatan dengan mengikutsertakan seluruh sektor terkait kesehatan sejak awal perencanaan agar dampak pembangunan yang dilakukan tidak merugikan derajat kesehatan masyarakat secara langsung maupun tidak langsung dalam jangka pendek maupun jangka panjang. SKN perlu menjadi acuan bagi sektor lain. SKN merupakan acuan bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan di daerah. seperti: Sistem Pendidikan Nasional. 22 . Sistem Perekonomian Nasional. Kedudukan SKN terhadap Penyelenggaraan Pembangunan Kesehatan di Daerah Dalam pembangunan kesehatan. 3. SKN dapat bersinergis secara dinamis dengan berbagai sistem nasional lainnya. Di lain pihak. Dalam penyelenggaraan pembangunan nasional. Sistem Ketahanan Pangan Nasional.

Untuk keberhasilan pembangunan kesehatan perlu digalang kemitraan yang setara. pencegahan.Keberhasilan pembangunan kesehatan juga ditentukan oleh peran aktif swasta. 2) Kontingensi. dan 3) Sinergi yang dinamis. pengobatan. sehingga sejalan dengan tujuan pembangunan nasional yang berwawasan kesehatan. Subsistem Upaya Kesehatan Untuk dapat mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya perlu diselenggarakan berbagai upaya kesehatan dengan menghimpun seluruh potensi bangsa Indonesia. SUBSISTEM SKN Pendekatan manajemen kesehatan dewasa ini dan kecenderungannya di masa depan adalah kombinasi dari pendekatan: 1) Sistem. C. dan pemulihan. Dengan mengacu terutama pada kedudukan SKN diatas dan pencapaian tujuan nasional. Upaya kesehatan diselenggarakan dengan upaya peningkatan. Dalam kaitan ini potensi swasta merupakan bagian integral dari SKN. maka subsistem SKN meliputi: 1. Sistem Kesehatan Nasional dapat mewarnai potensi swasta. dan saling menguntungkan dengan berbagai potensi swasta. dalam Gambar-1 dikemukakan alur pikir dari Rencana Pembangunan Kesehatan dan SKN termaksud. terbuka. 23 . Mengacu pada substansi perkembangan penyelenggaraan pembangunan kesehatan dewasa ini serta pendekatan manajemen kesehatan tersebut diatas.

terintegrasi. sedangkan untuk pelayanan kesehatan perorangan pembiayaannya bersifat private. yakni: Pemerintah. Subsistem Pembiayaan Kesehatan Pembiayaan kesehatan bersumber dari berbagai sumber. Oleh karena itu. Pembiayaan pelayanan kesehatan perorangan diselenggarakan melalui jaminan pemeliharaan kesehatan dengan mekanisme asuransi sosial yang pada waktunya diharapkan akan mencapai universal coverage sesuai dengan Undang-undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). stabil. swasta. organisasi masyarakat. diperlukan sumber daya manusia kesehatan yang mencukupi dalam jumlah. kecuali pembiayaan untuk masyarakat miskin dan tidak mampu menjadi tanggung-jawab pemerintah. dan berkesinambungan memegang peran yang amat vital untuk penyelenggaraan pelayanan kesehatan dalam rangka mencapai berbagai tujuan pembangunan kesehatan. Subsistem Sumber Daya Manusia Kesehatan Sebagai pelaksana upaya kesehatan. Pembiayaan pelayanan kesehatan masyarakat merupakan public good yang menjadi tanggung-jawab pemerintah. serta terdistribusi secara adil dan merata. Pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan meliputi: 1) 24 . dan masyarakat itu sendiri. Oleh karena itu. pembiayaan kesehatan yang adekuat. Pemerintah Daerah. sesuai tututan kebutuhan pembangunan kesehatan. 3.2. SKN juga memberikan fokus penting pada pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan guna menjamin ketersediaan dan pendistribusian sumber daya manusia kesehatan. jenis dan kualitasnya.

administrasi kesehatan. validasi. dan keterjangkauan obat. alat kesehatan. Subsistem Manajemen dan Informasi Kesehatan Subsistem ini meliputi: kebijakan kesehatan. Untuk menggerakkan pembangunan kesehatan secara berhasil guna dan berdaya guna. 2) pengadaan yang meliputi pendidikan tenaga kesehatan dan pelatihan SDM Kesehatan.perencanaan kebutuhan sumber daya manusia yang diperlukan. efisien. dan makanan yang beredar. serta penyerasian berbagai subsistem SKN dan efektif. termasuk peningkatan kesejahteraannya. pemerataan. serta upaya kemandirian di bidang kefarmasian melalui pemanfaatan sumber daya dalam negeri. dan informasi kesehatan. terutama obat esensial. 3) 25 . penggunaan obat yang rasional. dan Makanan Subsistem kesehatan ini meliputi berbagai kegiatan untuk menjamin: aspek keamanan. integrasi. hukum kesehatan. Dari segi pengadaan data dan informasi dapat dikelompokkan kegiatannya sebagai berikut: 1) Pengumpulan. perlindungan masyarakat dari penggunaan yang salah dan penyalahgunaan obat. 2) Manajemen sistem informasi. Subsistem Sediaan Farmasi. 3) pendayagunaan SDM Kesehatan. dan 4) pembinaan serta pengawasan SDM Kesehatan. khasiat/ kemanfaatan dan mutu sediaan farmasi. 4. Alat Kesehatan. diperlukan manajemen kesehatan. analisa. Dalam kaitan ini peranan informasi kesehatan sangat penting. serta transparansi dari penyelenggaraan SKN tersebut. ketersediaan. 5. dan diseminasi data dan informasi. sinkronisasi. Peranan manajemen kesehatan adalah koordinasi.

D. Pemberdayaan masyarakat dan upaya kesehatan pada hakekatnya merupakan fokus dari pembangunan kesehatan. Keterkaitan tersebut adalah sebagai berikut: 1. Berbagai upaya tersebut memerlukan dukungan pembiayaan. Subsistem Pemberdayaan Masyarakat Sistem Kesehatan Nasional akan berfungsi optimal apabila ditunjang oleh pemberdayaan masyarakat. ketersediaan sediaan 26 . TATA HUBUNGAN LINGKUNGANNYA ANTAR SUBSISTEM DAN Penyelenggaraan SKN memerlukan keterkaitan antar unsur-unsur SKN sebagai suatu tata hubungan yang efektif. Untuk penyelenggaraan subsistem tersebut diperlukan berbagai upaya dengan menghimpun seluruh potensi bangsa Indonesia. 6. Masyarakat termasuk swasta bukan semata-mata sebagai sasaran pembangunan kesehatan. Subsistem Upaya Kesehatan diselenggarakan untuk mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Dalam pemberdayaan masyarakat meliputi pula upaya peningkatan lingkungan sehat oleh masyarakat sendiri. melainkan juga sebagai subjek atau penyelenggara dan pelaku pembangunan kesehatan. agar masyarakat termasuk swasta dapat mampu dan mau berperan sebagai pelaku pembangunan kesehatan. Oleh karenanya pemberdayaan masyarakat menjadi sangat penting.Dukungan kegiatan dan sumber daya untuk unit-unit yang memerlukan. SDM Kesehatan. Upaya pemberdayaan masyarakat akan berhasil pada hakekatnya bila kebutuhan dasar masyarakat sudah terpenuhi. dan 4) Pengembangan untuk peningkatan mutu sistem informasi kesehatan.

serta termanfaatkan secara berhasil guna dan berdaya guna. dan bermutu bagi seluruh masyarakat. khasiat.farmasi. alat kesehatan. serta subsistem pemberdayaan masyarakat. subsistem manajemen dan informasi kesehatan. terutama obat esensial. Subsistem sumber daya manusia kesehatan diselenggarakan guna menghasilkan tenaga kesehatan yang bermutu dalam jumlah yang mencukupi. alat kesehatan dan makanan. dan makanan. dan makanan diselenggarakan guna menjamin keamanan. manfaat. 27 . subsistem sediaan farmasi. pemerataan. alat kesehatan. dan keterjangkauan obat. serta pemberdayaan masyarakat. terdistribusi secara adil. subsistem sediaan farmasi. Subsistem sediaan farmasi. Tersedianya tenaga kesehatan yang mencukupi dan berkualitas juga akan menunjang terselenggaranya subsistem pembiayaan kesehatan. manajemen dan informasi kesehatan. teralokasi secara adil. dan termanfaatkan secara berhasil guna dan berdaya guna untuk terselenggaranya upaya kesehatan secara merata. alat kesehatan. Tersedianya pembiayaan yang memadai juga akan menunjang terselenggaranya subsistem sumber daya manusia kesehatan. terjangkau. Subsistem pembiayaan kesehatan diselenggarakan guna menghasilkan ketersediaan pembiayaan kesehatan dengan jumlah yang mencukupi. alat kesehatan. dan makanan. dan mutu semua produk sediaan farmasi. sehingga upaya kesehatan dapat diselenggarakan sesuai dengan kebutuhan seluruh lapisan masyarakat. 3. 2. serta subsistem pemberdayaan masyarakat. subsistem manajemen dan informasi kesehatan. dan makanan yang beredar. menjamin ketersediaan. 4.

5. pembiayaan kesehatan. sehingga upaya kesehatan dapat diselenggarakan dengan berhasil guna dan berdaya guna. administrasi kesehatan. alat kesehatan. alat kesehatan. dan hukum kesehatan yang memadai dan mampu menunjang penyelenggaraan upaya kesehatan secara berhasil guna dan berdaya guna. Subsistem sediaan farmasi. serta subsistem pemberdayaan masyarakat. Subsistem manajemen dan informasi kesehatan diselenggarakan guna menghasilkan fungsi-fungsi kebijakan kesehatan. Dengan manajemen kesehatan yang berhasil guna dan berdaya guna dapat diselenggarakan subsistem upaya kesehatan. dan makanan. Masyarakat yang berdaya akan berperan aktif dalam penyelenggaraan subsistem pembiayaan kesehatan. dan makanan saling terkait dengan subsistem upaya kesehatan. Subsistem pemberdayaan masyarakat diselenggarakan guna menghasilkan individu. subsistem sumber daya manusia kesehatan. manajemen dan informasi kesehatan.perlindungan masyarakat dari penggunaan yang salah dan penyalahgunaan obat. serta penggunaan obat yang rasional. sebagai suatu kesatuan yang terpadu dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. dan masyarakat umum yang mampu berperan aktif dalam penyelenggaraan upaya kesehatan. informasi kesehatan. subsistem sumber daya manusia kesehatan. 28 . subsistem pembiayaan kesehatan. serta pemberdayaan masyarakat. dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. sumber daya kesehatan. subsistem sediaan farmasi. 6. subsistem sediaan farmasi. kelompok. alat kesehatan.

Lingkungan tersebut terdapat di tingkat lokal. lingkungan termaksud dapat sebagai peluang maupun kendala. maupun global. mengingat pembangunan kesehatan tidak dapat mencapai tujuannya tanpa memperhatikan dengan seksama interaksi dengan lingkungan strategis tersebut. regional. politik. Dalam kaitan ini. Selain itu. yang meliputi: ideologi.dan makanan. sosial budaya. dan pertahanan keamanan. Untuk memperoleh kejelasan secara umum substansi berbagai unsur-unsur pembangunan kesehatan dan subsistem SKN serta tata hubungannya dengan lingkungan strategis yang lebih spesifik dan penting yang mempengaruhi SKN dapat dilihat pada skema di Gambar-2. serta subsistem manajemen dan informasi kesehatan. hubungan SKN dengan lingkungan strategisnya sangat penting artinya. ekonomi. nasional. 29 .

pencegahan. 2.BAB V CARA PENYELENGGARAAN SISTEM KESEHATAN NASIONAL A. SUBSISTEM UPAYA KESEHATAN 1. Pengertian Subsistem Upaya Kesehatan adalah bentuk dan cara penyelenggaraan upaya kesehatan yang paripurna. dan berkualitas. baik pelayanan kesehatan konvensional maupun pelayanan kesehatan yang terdiri dari pengobatan tradisional dan komplementer melalui pendidikan dan pelatihan dengan selalu mengutamakan keamanan dan efektifitas yang tinggi. terpadu. dan pemulihan. pengobatan. 30 . Tujuan Tujuan dari penyelenggaraan subsistem upaya kesehatan adalah terselenggaranya upaya kesehatan yang adil. 3. yang diselenggarakan guna menjamin tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Upaya Kesehatan Pelayanan kesehatan meliputi peningkatan. dan pemulihan. dan bermutu untuk menjamin terselenggaranya pembangunan kesehatan guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Unsur-unsur a. pencegahan. meliputi upaya peningkatan. pengobatan. terjangkau. merata.

baik peningkatan. Pembinaan dan pengawasan upaya kesehatan dilakukan secara berjenjang melalui standarisasi. biaya. dan masyarakat miskin. bayi. dan penegakan hukum yang dilakukan oleh pemerintah bersama dengan organisasi profesi dan masyarakat. maupun pemulihan yang dilakukan oleh pemerintah dan atau masyarakat. anak. sediaan farmasi dan alat kesehatan. lisensi. sarana dan prasarana. Pembinaan dan Pengawasan Upaya Kesehatan Pelayanan kesehatan harus diberikan berdasarkan standar pelayanan yang telah ditetapkan oleh pemerintah dengan mempertimbangkan masukan dari organisasi profesi. Sumber Daya Upaya Kesehatan Sumber daya upaya kesehatan terdiri dari SDM kesehatan. serta manajemen dan sistem informasi kesehatan yang memadai guna terselenggaranya upaya kesehatan. termasuk swasta. antara lain: ibu. sertifikasi. b. manusia usia lanjut. akreditasi. 31 . Fasilitas pelayanan kesehatan merupakan alat dan atau tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan. termasuk fasilitas pelayanan kesehatan.Upaya kesehatan diutamakan pada berbagai upaya yang mempunyai daya ungkit tinggi dalam pencapaian sasaran pembangunan kesehatan utamanya penduduk rentan. c. pencegahan. pengobatan.

d. c. Bermutu. efektif dan sesuai. Berkesinambungan dan Paripurna Upaya kesehatan bagi masyarakat diselenggarakan secara berkesinambungan dan paripurna meliputi upaya peningkatan. dapat diterima masyarakat. dan Sesuai Kebutuhan Pelayanan kesehatan bagi masyarakat harus berkualitas. pencegahan. sumber daya kesehatan. Aman. Adil dan Merata Pemerintah wajib menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan yang berkeadilan dan merata untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di bidang kesehatan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan di luar negeri dalam kondisi tertentu. serta mampu menghadapi tantangan global dan regional. Pelaksanaan penelitian dan pengembangan didasarkan pada masalah kesehatan prioritas. Prinsip a. 4. serta rujukan antar tingkatan upaya. b. 32 . Penelitian dan Pengembangan Upaya Kesehatan Penelitian dan pengembangan dilakukan utamanya untuk mendukung peningkatan mutu upaya kesehatan yang berhasil guna dan berdaya guna. terjamin keamanannya bagi penerima dan pemberi upaya. serta aspek terkait lainnya dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sesuai. pengobatan hingga pemulihan.

g. Non diskriminatif Setiap penduduk harus mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai kebutuhan medis. dan nilai agama. e. 5. Bekerja dalam Tim secara Cepat dan Tepat Upaya kesehatan dilakukan secara kerjasama tim. mental. Penyelenggaraan a. Terjangkau Ketersediaan dan pembiayaan pelayanan kesehatan yang bermutu harus terjangkau oleh seluruh masyarakat. termasuk intelegensia dan sosial. dilakukan secara cepat dengan ketepatan/presisi yang tinggi. melibatkan semua pihak yang kompeten. Terdapat tiga tingkatan upaya. Teknologi Tepat Guna Upaya kesehatan menggunakan teknologi tepat guna yang berbasis bukti. moral. yaitu upaya kesehatan primer. Upaya Kesehatan Upaya kesehatan mencakup kesehatan fisik. Teknologi tepat guna berasas pada kesesuaian kebutuhan dan tidak bertentangan dengan etika. f. Upaya kesehatan dilaksanakan dalam tingkatan upaya sesuai dengan kebutuhan medik dan kesehatan. budaya dan agama.d. upaya kesehatan sekunder. bukan status sosial ekonomi dan tidak membeda-bedakan suku/ras. dengan tetap memperhatikan pengarus-utamaan gender. dan 33 .

1) Upaya Kesehatan Primer Upaya Kesehatan Primer terdiri dari pelayanan kesehatan perorangan primer dan pelayanan kesehatan masyarakat primer. baik horisontal dan vertikal maupun struktural dan fungsional terhadap kasus penyakit atau masalah penyakit atau permasalahan kesehatan. 34 . spesimen.upaya kesehatan tersier. dan pengetahuan tentang penyakit. Upaya kesehatan sekunder dan tersier adalah upaya kesehatan tingkat rujukan maupun rujukan tingkat lanjut. Rujukan upaya kesehatan adalah pelimpahan wewenang dan tanggung-jawab secara timbal balik. Rujukan dibagi dalam rujukan medik yang berkaitan dengan pengobatan dan pemulihan berupa pengiriman pasien (kasus). teknologi. terpadu. sedang rujukan kesehatan dikaitkan dengan upaya pencegahan dan peningkatan kesehatan berupa sarana. Upaya kesehatan diselenggarakan secara berkesinambungan. Upaya kesehatan primer adalah upaya kesehatan dimana terjadi kontak pertama secara perorangan atau masyarakat dengan pelayanan kesehatan melalui mekanisme rujukan timbal-balik. termasuk penanggulangan bencana dan pelayanan gawat darurat. dan paripurna melalui sistem rujukan. dan operasional.

a) Pelayanan Kesehatan Perorangan Primer (PKPP) Pelayanan kesehatan perorangan primer adalah pelayanan kesehatan dimana terjadi kontak pertama secara perorangan sebagai proses awal pelayanan kesehatan. tempat kerja. masyarakat. Sstandar. Dilaksanakan dengan dukungan pelayanan kesehatan perorangan sekunder dalam sistem rujukan yang timbal balik. Pelayanan kesehatan perorangan primer diselenggarakan berdasarkan Norma. Pelayanan kesehatan perorangan primer diselenggarakan oleh tenaga kesehatan yang dibutuhkan dan mempunyai kompetensi seperti yang ditetapkan sesuai ketentuan berlaku serta dapat dilaksanakan di rumah. termasuk di dalamnya pelayanan kebugaran dan gaya hidup sehat (healthy life style). Pelayanan kesehatan perorangan primer memberikan penekanan pada pelayanan pengobatan. Prosedur dan Kriteria (NSPK) pelayanan yang ditetapkan oleh Pemerintah dengan memperhatikan masukan dari organisasi profesi dan masyarakat. pemulihan tanpa mengabaikan upaya peningkatan dan pencegahan. maupun fasilitas kesehatan perorangan primer baik Puskesmas dan jaringannya. maupun swasta. serta fasilitas kesehatan lainnya milik pemerintah. Pelayanan kesehatan perorangan primer dapat diselenggarakan sebagai pelayanan 35 .

yang bergerak (ambulatory) atau menetap; dapat dikaitkan dengan tempat kerja, seperti klinik perusahaan; dan dapat disesuaikan dengan lingkungan atau kondisi tertentu (kesehatan matra, seperti: kesehatan haji, kesehatan kelautan, kesehatan penerbangan, kesehatan wisata). Pemerintah wajib menyediakan pelayanan kesehatan perorangan primer di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia sesuai kebutuhan, terutama bagi masyarakat miskin, daerah terpencil, perbatasan, pulau-pulau terluar dan terdepan, serta yang tidak diminati swasta. Pembiayaan pelayanan kesehatan perorangan primer untuk penduduk miskin dibiayai oleh pemerintah, sedangkan golongan ekonomi lainnya dibiayai dalam sistem pembiayaan yang diatur oleh pemerintah. Dalam pelayanan kesehatan perorangan termasuk pula pelayanan kesehatan berbasis masyarakat dalam bentuk seperti Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) dan pengobatan tradisional serta pengobatan alternatif yang secara ilmiah telah terbukti terjamin keamanan dan khasiatnya. b) Pelayanan Kesehatan Masyarakat Primer (PKMP) Pelayanan kesehatan masyarakat primer adalah pelayanan peningkatan dan pencegahan tanpa mengabaikan 36

pengobatan dan pemulihan dengan sasaran keluarga, kelompok, dan masyarakat. Penyelenggaraan pelayanan kesehatan masyarakat primer menjadi tanggung-jawab Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang pelaksanaan operasionalnya dapat didelegasikan kepada Puskesmas. Masyarakat termasuk swasta dapat menyelenggarakan pelayanan kesehatan masyarakat primer sesuai peraturan yang berlaku dan berkerjasama dengan pemerintah. Pembiayaan pelayanan kesehatan masyarakat primer ditanggung oleh pemerintah bersama masyarakat, termasuk swasta. Pemerintah wajib melaksanakan dan membiayai pelayanan kesehatan masyarakat primer yang berhubungan dengan prioritas pembangunan kesehatan melalui kegiatan perbaikan lingkungan, peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit dan kematian serta paliatif. Pelaksanaan pelayanan kesehatan masyarakat primer didukung kegiatan lainnya, seperti surveilans, pencatatan, dan pelaporan. Pemerintah dapat membentuk fasilitas kesehatan yang secara khusus ditugaskan untuk melaksanakan upaya kesehatan masyarakat sesuai keperluan. Penyelenggaraan pelayanan kesehatan masyarakat primer mendukung upaya 37

kesehatan berbasis masyarakat dan didukung oleh pelayanan kesehatan masyarakat sekunder. 2) Upaya Kesehatan Sekunder Upaya kesehatan sekunder adalah upaya kesehatan rujukan lanjutan, yang terdiri dari pelayanan kesehatan perorangan sekunder dan pelayanan kesehatan masyarakat sekunder. a) Pelayanan Kesehatan Sekunder (PKPS) Perorangan

Pelayanan kesehatan perorangan sekunder adalah pelayanan kesehatan spesialistik yang menerima rujukan dari pelayanan kesehatan perorangan primer, yang meliputi rujukan kasus, spesimen, dan ilmu pengetahuan serta wajib merujuk kembali ke fasilitas kesehatan yang merujuk. Pelayanan kesehatan perorangan sekunder dilaksanakan oleh dokter spesialis atau dokter yang sudah mendapatkan pendidikan khusus dan mempunyai ijin praktik serta didukung tenaga kesehatan lainnya yang diperlukan. Pelayanan kesehatan perorangan sekunder dilaksanakan di tempat kerja maupun fasilitas kesehatan perorangan sekunder baik Rumah Sakit setara kelas C serta fasilitas kesehatan lainnya milik pemerintah, masyarakat, maupun swasta. Pelayanan kesehatan perorangan sekunder harus memberikan pelayanan kesehatan 38

efektif. Pelayanan kesehatan perorangan sekunder dapat dijadikan sebagai wahana pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan sesuai dengan kebutuhan pendidikan dan pelatihan.yang aman. Dalam penanggulangan penyakit menular yang tidak terbatas pada suatu batas 39 . Penyelenggaraan pelayanan kesehatan masyarakat sekunder menjadi tanggungjawab Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan atau Provinsi sebagai fungsi teknisnya. teknologi. efisien dan berbasis bukti (evidence based medicine) serta didukung pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan. sesuai. b) Pelayanan Kesehatan Sekunder (PKMS) Masyarakat Pelayanan kesehatan masyarakat sekunder menerima rujukan kesehatan dari pelayanan kesehatan masyarakat primer dan memberikan fasilitasi dalam bentuk sarana. Pelayanan kesehatan perorangan sekunder yang bersifat tradisional dan komplementer dilaksanakan dengan berafiliasi dengan atau di rumah sakit pendidikan. dan sumber daya manusia kesehatan serta didukung oleh pelayanan kesehatan masyarakat tersier. yakni melaksanakan pelayanan kesehatan masyarakat yang tidak sanggup atau tidak memadai dilakukan pada pelayanan kesehatan masyarakat primer.

3) Upaya Kesehatan Tersier Upaya kesehatan tersier adalah upaya kesehatan rujukan unggulan yang terdiri dari pelayanan kesehatan perorangan tersier dan pelayanan kesehatan masyarakat tersier. maka tingkat yang lebih tinggi (provinsi) yang harus menanganinya. dan lain-lain. Fasilitas kesehatan penyelenggara pelayanan kesehatan masyarakat sekunder dibangun sesuai dengan standar. Balai Teknik Kesehatan Lingkungan (BTKL). a) Pelayanan Kesehatan Perorangan Tersier (PKPT) Pelayanan kesehatan perorangan tersier menerima rujukan sub-spesialistik dari pelayanan kesehatan di bawahnya. 40 .administrasi pemerintahan (lintas kabupaten/ kota). dan wajib merujuk kembali ke fasilitas kesehatan yang merujuk. Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan (BPFK). Pelaksana pelayanan kesehatan perorangan tersier adalah dokter sub-spesialis atau dokter spesialis yang telah mendapatkan pendidikan khusus atau pelatihan dan mempunyai izin praktik dan didukung oleh tenaga kesehatan lainnya yang diperlukan. seperti laboratorium kesehatan. Bagi fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat milik swasta harus mempunyai izin sesuai peraturan yang berlaku serta dapat bekerjasama dengan unit kerja Pemerintah Daerah.

Pelayanan kesehatan perorangan tersier dilaksanakan di Rumah Sakit Umum. Pelaksana pelayanan kesehatan masyarakat tersier adalah Dinas Kesehatan Provinsi. baik milik pemerintah maupun swasta yang mampu memberikan pelayanan kesehatan subspesialistik dan juga termasuk klinik khusus. Unit 41 . sumber daya manusia kesehatan. seperti pusat radioterapi. Pelayanan kesehatan perorangan tersier wajib melaksanakan penelitian dan pengembangan dasar maupun terapan dan dapat dijadikan sebagai pusat pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan sesuai dengan kebutuhan. Pemerintah mengembangkan berbagai pusat pelayanan unggulan nasional yang berstandar internasional untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan dan menghadapi persaingan global dan regional. b) Pelayanan Kesehatan Masyarakat Tersier (PKMT) Pelayanan kesehatan masyarakat tersier menerima rujukan kesehatan dari pelayanan kesehatan masyarakat sekunder dan memberikan fasilitasi dalam bentuk sarana. teknologi. Fasilitas pelayanan kesehatan perorangan tersier dapat didirikan melalui modal patungan dengan pihak asing sesuai dengan peraturan dan kebijakan yang berlaku. Rumah Sakit Khusus setara kelas A dan B. dan rujukan operasional.

dan masyarakat. Institut pelayanan kesehatan masyarakat tertentu secara nasional dapat dikembangkan untuk menampung kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat. Pemerintah Provinsi melakukan bimbingan dan pengendalian terhadap pelaksanaan kebijakan dan NSPK upaya kesehatan. Departemen Kesehatan. b. dan Unit kerja terkait di tingkat nasional.kerja terkait di tingkat Provinsi. Pembinaan dan Pengawasan 1) Pembinaan Upaya Kesehatan Pembinaan upaya kesehatan ditujukan untuk menjamin mutu pelayanan kesehatan. Organisasi Profesi. Pemerintah menetapkan kebijakan dan NSPK upaya kesehatan dengan memperhatikan masukan dari Pemerintah Daerah. harus didukung dengan standar pelayanan yang selalu dikaji dalam periode tertentu sesuai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kebutuhan. 42 . Pelaksanaan pelayanan kesehatan masyarakat tersier menjadi tanggung-jawab Dinas Kesehatan Provinsi dan Departemen Kesehatan yang didukung dengan kerja sama lintas sektor.

berkewajiban melakukan pembinaan terhadap semua fasilitas pelayanan kesehatan termasuk swasta. Pemerintah Provinsi. baik internal maupun eksternal dan juga dapat melibatkan masyarakat dan swasta. dan Pemerintah Kabupaten/Kota sebagai penanggung-jawab pelaksanaan pembangunan kesehatan di wilayahnya. dan Pemerintah Kabupaten/Kota sesuai dengan kewenangannya yang diatur dalam peraturan perundangan. sehingga semua fasilitas pelayanan kesehatan wajib memberikan laporan kegiatannya. Pembinaan upaya kesehatan dilakukan oleh pemerintah bersama dengan organisasi profesi dan masyarakat termasuk swasta. Perizinan fasilitas upaya kesehatan menurut tingkatannya ditetapkan oleh Pemerintah. 43 .Pemerintah Kabupaten/Kota melaksanakan kebijakan dan NSPK upaya kesehatan. Pemerintah Provinsi. Pemerintah. 2) Pengawasan Upaya Kesehatan Pengawasan ditujukan untuk menjamin konsistensi penyelenggaraan upaya kesehatan dan dilakukan secara intensif. Hasil pengawasan digunakan untuk perlindungan terhadap masyarakat dan tenaga kesehatan selaku penyelenggara upaya kesehatan.

Pengembangan dan pemanfaatan Iptek. Pemerintah melaksanakan penelitian data dasar kesehatan. Penelitian dan Pengembangan Pengembangan dan pemanfaatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) yang memadai ditujukan untuk meningkatkan mutu upaya kesehatan. 2) Pemanfaatan dan penyebarluasan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan diatur oleh Pemerintah dengan dukungan organisasi profesi. meliputi: 1) Ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan dihasilkan dari penelitian dan pengembangan kesehatan yang diselenggarakan oleh pusatpusat penelitian dan pengembangan milik masyarakat. Sesuai dengan perkembangan dan keperluannya. jaringan informasi.c. pengembangan dan pemanfaatan Iptek perlu diperluas untuk mendukung pembangunan kesehatan secara keseluruhan. swasta. 44 . dan dokumentasi Iptek kesehatan. seperti Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) secara berkala dan penelitian pengembangan upaya kesehatan. Penelitian yang dilaksanakan oleh badan asing dan atau individu Warga Negara Asing (WNA) harus atas izin dan diawasi Pemerintah. dilakukan dengan membentuk pusatpusat penelitian dan pengembangan unggulan. dan pemerintah.

SUBSISTEM PEMBIAYAAN KESEHATAN 1. Tujuan Tujuan dari penyelenggaraan subsistem pembiayaan kesehatan adalah tersedianya dana kesehatan dalam jumlah yang mencukupi. teralokasi secara adil. merata dan termanfaatkan secara berhasil guna dan berdaya guna. maupun swasta serta sumber lainnya yang digunakan untuk mendukung pelaksanaan pembangunan kesehatan. pengalokasian. Pengertian Subsistem pembiayaan kesehatan adalah bentuk dan cara penyelenggaraan berbagai upaya penggalian. Dana yang tersedia harus mencukupi dan dapat dipertanggungjawabkan serta dipertanggung-gugatkan. Dana Dana digali dari sumber pemerintah baik dari sektor kesehatan dan sektor lain terkait. 2. 45 . tersalurkan sesuai peruntukannya untuk menjamin terselenggaranya pembangunan kesehatan guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. 3. dan pembelanjaan dana kesehatan untuk mendukung penyelenggaraan pembangunan kesehatan guna mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Unsur-unsur a. dari masyarakat.B.

swasta. Kecukupan Pembiayaan kesehatan pada dasarnya merupakan tanggung-jawab bersama pemerintah.b. c. 46 . masyarakat. dan swasta. baik oleh pemerintah secara lintas sektor. baik pusat maupun daerah. maupun masyarakat yang mencakup mekanisme penggalian. terus diupayakan peningkatan dan kecukupannya sesuai kebutuhan menuju sekurang-kurangnya 5% dari PDB atau 15% dari total anggaran pendapatan dan belanja setiap tahunnya. Prinsip a. dan pembelanjaan dana kesehatan untuk mendukung terselenggaranya pembangunan kesehatan. pengalokasian. standar. regulasi. Alokasi dana yang berasal dari pemerintah untuk upaya kesehatan dilakukan melalui penyusunan anggaran pendapatan dan belanja. Pengelolaan Dana Kesehatan Prosedur/mekanisme pengelolaan dana kesehatan adalah seperangkat aturan yang disepakati dan secara konsisten dijalankan oleh para pelaku subsistem pembiayaan kesehatan. sarana. dan pembelanjaan dana kesehatan. dan kelembagaan yang digunakan secara berhasil guna dan berdaya guna dalam upaya penggalian. pengalokasian. meliputi: SDM pengelola. Sumber Daya Sumber daya dari subsistem pembiayaan kesehatan. 4.

tersalurkan secara tepat memperhatikan subsidiaritas dan fleksibilitas. berhasil guna dan berdaya guna. b. maka pembelanjaannya dilakukan melalui kesesuaian antara perencanaan pembiayaan kesehatan. berkelanjutan. dikelola secara adil. maupun swasta yang harus digali dan dikumpulkan serta terus ditingkatkan untuk menjamin kecukupan agar jumlahnya dapat sesuai dengan kebutuhan. akuntabel. 47 . transparan. Dana kesehatan diperoleh dari berbagai sumber. Dana kesehatan digunakan secara bertanggungjawab dan bertanggung-gugat berdasarkan prinsip tata pemerintahan yang baik (good governance). c. serta menjamin terpenuhinya ekuitas. masyarakat. penguatan kapasitas manajemen perencanaan anggaran dan kompetensi pemberi pelayanan kesehatan. sistem pembayaran pada fasilitas kesehatan perlu dikembangkan menuju bentuk pembayaran prospektif. Efektif dan Efisien Dalam menjamin efektifitas dan efisiensi penggunaan dana kesehatan.Pembiayaan kesehatan untuk masyarakat miskin dan tidak mampu merupakan tanggung-jawab pemerintah. baik dari pemerintah. Adil dan Transparan Dana kesehatan yang terhimpun baik dari pemerintah maupun masyarakat dimanfaatkan secara adil dalam rangka menjamin terpeliharanya dan terlindunginya masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan.

Dana yang bersumber dari swasta dihimpun dengan menerapkan prinsip kemitraan antara pemerintah dan masyarakat yang didukung dengan pemberian insentif. Penyelenggaraan pada peraturan Subsistem pembiayaan kesehatan merupakan suatu proses yang terus-menerus dan terkendali.transparan. bantuan atau pinjaman yang tidak mengikat. bersumber dari pemerintah. dana dari masyarakat. masyarakat. pemerintah harus melakukan sinkronisasi dan sinergisme antara sumber dana dari iuran wajib. dan sumber lainnya. Perencanaan dan pengaturan pembiayaan kesehatan dilakukan melalui penggalian dan pengumpulan berbagai sumber dana yang dapat menjamin kesinambungan pembiayaan pembangunan kesehatan. dan sumber lainnya. mengalokasikannya secara rasional. Penggalian Dana Penggalian dana untuk pembangunan kesehatan yang bersumber dari pemerintah dilakukan melalui pajak umum. serta menggunakannya secara efisien dan efektif. swasta. Penggalian dana yang bersumber dari masyarakat dihimpun secara aktif oleh masyarakat sendiri atau dilakukan secara pasif 48 . dana APBN/APBD. agar tersedia dana kesehatan yang mencukupi dan berkesinambungan. a. pajak khusus. serta berbagai sumber lainnya. Dalam hal pengaturan penggalian dan pengumpulan serta pemanfaatan dana yang bersumber dari iuran wajib. 5. dan mengacu perundangan yang berlaku.

Dana pemerintah untuk pembangunan kesehatan diarahkan untuk membiayai upaya kesehatan primer. termasuk program-program kesehatan yang mempunyai daya ungkit tinggi terhadap peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Hal ini termasuk program bantuan sosial dari pemerintah untuk pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin dan tidak mampu (Jamkesmas). daerah terpencil. pulau-pulau terluar dan terdepan. sekunder. Pengalokasian dana untuk pelayanan kesehatan perorangan dilakukan melalui kepesertaan dalam jaminan pemeliharaan kesehatan yang diatur oleh pemerintah. perbatasan. Pengalokasian Dana Pengalokasian dana pemerintah dilakukan melalui perencanaan anggaran dengan mengutamakan upaya kesehatan prioritas secara bertahap dan terus ditingkatkan jumlah pengalokasiannya sehingga sesuai dengan kebutuhan. Pengalokasian dana yang dihimpun dari masyarakat dilaksanakan berdasarkan asas gotong-royong sesuai dengan potensi dan kebutuhannya.dengan memanfaatkan berbagai dana yang sudah terkumpul di masyarakat. serta yang tidak diminati swasta. b. 49 . dan tersier dengan mengutamakan masyarakat rentan dan miskin. Penggalian dana untuk pelayanan kesehatan perorangan dilakukan dengan cara penggalian dan pengumpulan dana masyarakat dan didorong pada bentuk jaminan pemeliharaan kesehatan.

yang meliputi: upaya perencanaan. serta pembinaan dan pengawasan SDM Kesehatan untuk mendukung penyelenggaraan pembangunan kesehatan guna mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.c. baik yang bersifat wajib maupun sukarela serta dalam upaya peningkatan akses dan mutu pelayanan kesehatan. Pembelanjaan Pemanfaatan dana kesehatan dilakukan dengan memperhatikan aspek teknis maupun alokatif sesuai peruntukannya secara efisien dan efektif untuk terwujudnya pengelolaan pembiayaan kesehatan yang transparan. Pembelanjaan dana kesehatan diarahkan terutama melalui jaminan pemeliharaan kesehatan. Pengertian Subsistem SDM Kesehatan adalah bentuk dan cara penyelenggaraan upaya pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan. C. 50 . pendayagunaan. akuntabel. SUBSISTEM SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN 1. serta menerapkan prinsip penyelenggaraan tata pemerintahan yang baik (good governance). pengadaan. Sumber Daya Manusia Kesehatan adalah tenaga kesehatan profesi termasuk tenaga kesehatan strategis dan tenaga kesehatan non profesi serta tenaga pendukung/penunjang kesehatan yang terlibat dan bekerja serta mengabdikan dirinya seperti dalam upaya dan manajemen kesehatan.

sumber daya manusia pendidikan dan pelatihan. Sumber Daya Pengembangan Pemberdayaan SDM Kesehatan dan Sumber daya pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan adalah sumber daya pendidikan tenaga kesehatan dan pelatihan SDM Kesehatan. baik tenaga kesehatan maupun tenaga pendukung/penunjang kesehatan. mempunyai hak untuk memenuhi kebutuhan dasarnya (hak asasi) dan sebagai makhluk sosial. Tujuan Tujuan dari penyelenggaraan subsistem SDM Kesehatan adalah tersedianya SDM Kesehatan yang kompeten sesuai kebutuhan yang terdistribusi secara adil dan merata serta didayagunakan secara optimal dalam mendukung penyelenggaraan pembangunan kesehatan guna mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Unsur-unsur a. serta mempunyai etika. berakhlak luhur. serta institusi/fasilitas pendidikan dan pelatihan yang menyediakan sarana dan prasarana pendidikan dan pelatihan. dana. modul dan kurikulum serta metode pendidikan dan latihan. b. dan berdedikasi tinggi dalam melakukan tugasnya. yang meliputi: berbagai standar kompetensi. dan wajib memiliki kompetensi untuk mengabdikan dirinya di bidang kesehatan. Sumber Daya Kesehatan) Manusia Kesehatan (SDM Sumber daya manusia Kesehatan. 3. Dalam sumber daya ini juga termasuk sumber daya manusia. cara 51 .2.

pendayagunaan. Pendayagunaan SDM Kesehatan adalah upaya pemerataan dan pemanfaatan serta pengembangan SDM Kesehatan. pengadaan. c. jumlah. serta pembinaan dan pengawasan SDM Kesehatan. serta peralatan dan perlengkapan untuk melakukan perencanaan. kualifikasi. serta mengawasi pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan. Penyelenggaraan Pengembangan Pemberdayaan SDM Kesehatan dan Penyelenggaraan pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan meliputi upaya perencanaan. Pengadaan SDM Kesehatan adalah upaya yang meliputi pendidikan tenaga kesehatan dan pelatihan SDM Kesehatan untuk memenuhi kebutuhan pembangunan kesehatan. memberikan dukungan. Perencanaan SDM Kesehatan adalah upaya penetapan jenis. dan distribusi tenaga kesehatan sesuai dengan kebutuhan pembangunan kesehatan. Prinsip a. serta pembinaan dan pengawasan SDM Kesehatan.atau metode. Pembinaan dan pengawasan SDM Kesehatan adalah upaya untuk mengarahkan. 4. Adil dan Merata serta Demokratis Pemenuhan ketersediaan SDM Kesehatan ke seluruh wilayah Indonesia harus berdasarkan 52 . pendayagunaan.

Hierarki dalam SDM Kesehatan Pengembangan dan pemberdayan SDM Kesehatan dalam mendukung pembangunan kesehatan perlu memperhatikan adanya susunan hierarki SDM Kesehatan yang ditetapkan berdasarkan jenis dan tingkat tanggung-jawab. Objektif dan Transparan Pembinaan dan pengawasan serta pendayagunaan (termasuk pengembangan karir) SDM Kesehatan dilakukan secara objektif dan transparan berdasarkan prestasi kerja dan disesuaikan dengan kebutuhan pembangunan kesehatan. bertaqwa. serta keterampilan masing-masing SDM Kesehatan. tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia. d. dan kemajemukan bangsa. dan berdaya saing tinggi. nilai budaya. 53 . mandiri. bertanggung-jawab.pemerataan dan keadilan sesuai dengan potensi dan kebutuhan pembangunan kesehatan serta dilaksanakan secara demokratis. kompetensi. b. profesional. c. Kompeten dan Berintegritas Pengadaan SDM Kesehatan melalui pendidikan dan pelatihan yang sesuai standar pelayanan dan standar kompetensi serta menghasilkan SDM yang menguasai Iptek. nilai keagamaan. beriman.

Penyelenggaraan a. jumlah.5. Pengadaan SDM Kesehatan Standar pendidikan tenaga kesehatan dan pelatihan SDM Kesehatan mengacu kepada standar pelayanan dan standar kompetensi SDM Kesehatan dan perlu didukung oleh etika profesi SDM Kesehatan tersebut. b. Perencanaan SDM Kesehatan yang meliputi jenis. Pemerintah bertanggung-jawab mengatur pendirian institusi pendidikan dan pembukaan program 54 . Perencanaan SDM Kesehatan Penyusunan rencana kebutuhan SDM Kesehatan dilakukan dengan memperhatikan kebutuhan SDM Kesehatan yang diutamakan. Perencanaan SDM Kesehatan dilakukan dengan mendasarkan pada fakta (berbasis bukti) melalui peningkatan sistem informasi SDM Kesehatan. dan kualifikasinya dilakukan dengan meningkatkan dan memantapkan keterkaitannya dengan unsur lainnya dalam manajemen pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan dengan memperhatikan tujuan pembangunan kesehatan dan kecenderungan permasalahan kesehatan di masa depan. baik dalam upaya kesehatan primer maupun upaya kesehatan sekunder serta tersier. Pemerintah dengan melibatkan organisasi profesi dan masyarakat menetapkan standar kompetensi dan standar pendidikan yang berlaku secara nasional.

pendidikan tenaga kesehatan yang dibutuhkan dalam pembangunan kesehatan. 55 . Penyelenggaraan pendidikan tenaga kesehatan harus memenuhi akreditasi sesuai dengan peraturan perundangan. Pendirian institusi pendidikan dan pembukaan program pendidikan ditekankan untuk menghasilkan lulusan tenaga kesehatan yang bermutu dan dapat bersaing secara global dengan memperhatikan keseimbangan antara kebutuhan. Kompetensi tenaga kesehatan harus setara dengan kompetensi tenaga kesehatan di dunia internasional. Penyelenggaraan pendidikan tenaga kesehatan harus responsif gender yang berorientasi kepada kepentingan peserta didik (“student centered”). dinamika pasar baik di dalam maupun di luar negeri. serta menentukan sertifikasi institusi pendidikan dan pelatihan profesi. dan kemampuan produksi tenaga kesehatan dengan yang sudah ada. Institusi/fasilitas pelayanan kesehatan yang terakreditasi wajib mendukung penyelenggaraan pendidikan tenaga kesehatan. sehingga registrasi tenaga kesehatan lulusan dalam negeri dapat diakui di dunia internasional. menentukan kompetensi umum. prosedur penetapan kompetensi khusus tenaga kesehatan. Pemerintah dengan melibatkan organisasi profesi membentuk badan regulator profesi yang bertugas menyusun berbagai peraturan persyaratan.

Pemerintah. dan lintas institusi melalui jenjang jabatan struktural dan jabatan fungsional. daerah perbatasan. Pemerintah dan swasta mengembangkan dan menerapkan pola karir tenaga kesehatan yang dilakukan secara transparan. baik Pusat maupun Daerah dan Swasta melakukan rekrutmen dan penempatan tenaga kesehatan dan tenaga pendukung kesehatan yang diperlukan sesuai dengan kebutuhan pembangunan kesehatan dan atau menjalankan tugas dan fungsi institusinya. Dalam rangka penempatan tenaga kesehatan untuk kepentingan pelayanan publik dan pemerataan. Pemerintah bersama organisasi profesi dan swasta mengupayakan penyelenggaraan pendidikan 56 .c. pulau-pulau terluar dan terdepan. pemerintah melakukan berbagai pengaturan untuk memberikan imbalan material atau non material kepada tenaga kesehatan untuk bekerja di bidang tugas atau daerah yang tidak diminati. daerah tertinggal. Pendayagunaan SDM Kesehatan Pemerintah Pusat bekerjasama dengan Pemerintah Daerah melakukan upaya penempatan tenaga kesehatan yang ditujukan untuk mencapai pemerataan yang berkeadilan dalam pembangunan kesehatan. terbuka. Pemerintah Daerah bersama UPT-nya dan masyarakat melakukan rekrutmen dan penempatan tenaga penunjang (tenaga masyarakat) yang diperlukan untuk mendukung UKBM sesuai dengan kebutuhan pembangunan kesehatan. serta daerah bencana dan rawan konflik. seperti: daerah terpencil.

Pendayagunaan tenaga kesehatan warga negara asing hanya dilakukan pada tingkat konsultan pada bidang tertentu. mempunyai hak dan kewajiban yang sama dengan tenaga kesehatan lulusan dalam negeri. 57 . Tenaga kesehatan Warga Negara Indonesia lulusan institusi luar negeri yang telah memperoleh pengakuan dari Departemen yang bertanggungjawab atas pendidikan nasional.berkelanjutan dalam rangka peningkatan karir dan profesionalisme tenaga kesehatan. perlu dilakukan peningkatan kualitas SDM Kesehatan secara terus menerus (pra-jabatan/”preservice” dan “in-service”). Dalam rangka pendayagunaan SDM Kesehatan yang sesuai kebutuhan pembangunan kesehatan. Pendayagunaan tenaga kesehatan untuk keperluan luar negeri diatur oleh lembaga pemerintah dalam rangka menjamin keseimbangan antara kemampuan pengadaan tenaga kesehatan di Indonesia dan kebutuhan tenaga kesehatan Indonesia di luar negeri serta melindungi hak-hak dan hak asasi manusia tenaga kesehatan Indonesia di luar negeri. dalam rangka alih teknologi dan ditetapkan melalui persyaratan sesuai peraturan perundangan yang berlaku. dan pengalaman yang mereka punyai tidak merugikan SDM Kesehatan Indonesia. diantaranya melalui pelatihan yang terakreditasi yang dilaksanakan oleh institusi penyelenggara pelatihan yang terakreditasi. modal. Dalam rangka mengantisipasi globalisasi perlu dilakukan pengaturan agar masuknya SDM Kesehatan warga negara asing dengan teknologi.

uji kompetensi. dan insentif untuk hidup layak sesuai dengan tata nilai di 58 . registrasi. Pembinaan dan Pengawasan SDM Kesehatan Pembinaan penyelenggaraan pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan di berbagai tingkatan dan atau organisasi memerlukan komitmen yang kuat dari pemerintah dan dukungan peraturan perundang-undangan mengenai pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan tersebut. Perizinan/lisensi tenaga kesehatan profesi untuk melakukan praktik dalam rangka memperoleh penghasilan secara mandiri dari profesinya diberikan oleh instansi kesehatan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota setelah mendapatkan rekomendasi dari organisasi profesi terkait.d. Pembinaan dan pengawasan praktik profesi bagi tenaga kesehatan profesi dilakukan melalui sertifikasi. dan pemberian lisensi bagi tenaga kesehatan yang memenuhi syarat. Sertifikasi tenaga kesehatan dalam bentuk ijazah dan sertifikat kompetensi diberikan Departemen Kesehatan setelah melalui uji kompetensi yang dilaksanakan organisasi profesi terkait. yang dalam pelaksanaannya dapat dilimpahkan kepada Pemerintah Daerah Provinsi. Pembinaan dan pengawasan SDM Kesehatan dilakukan melalui sistem karier. penggajian. Registrasi tenaga kesehatan untuk dapat melakukan praktik profesi di seluruh wilayah Indonesia diberikan oleh Departemen Kesehatan.

dan makanan yang terjamin aman. ALAT KESEHATAN. alat kesehatan. obat tradisional. Tujuan Tujuan penyelenggaraan subsistem sediaan farmasi. 2. khasiat/manfaat. Pengertian Subsistem sediaan farmasi. DAN MAKANAN 1. D. alat kesehatan. mutu sediaan farmasi. dan kosmetika. dan makanan. Pengawasan SDM Kesehatan dilakukan untuk mencegah terjadinya pelanggaran disiplin melalui pengawasan melekat dan pengawasan profesi. SUBSISTEM SEDIAAN FARMASI. Sediaan farmasi adalah obat. berkhasiat/bermanfaat dan bermutu. alat kesehatan.masyarakat dan beban tugasnya agar dapat bekerja secara profesional. bahan obat. Dalam hal terjadi pelanggaran disiplin oleh tenaga kesehatan maupun tenaga pendukung/penunjang kesehatan yang bekerja dalam bidang kesehatan dan menyebabkan kerugian pada pihak lain. dan makanan adalah tersedianya sediaan farmasi. maka sanksi administrasi maupun pidana harus dilakukan dalam rangka melindungi masyarakat maupun tenaga yang bersangkutan sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. dan khusus untuk obat dijamin ketersediaan dan 59 . dan makanan adalah bentuk dan cara penyelenggaraan berbagai upaya yang menjamin keamanan. alat kesehatan.

Prosedur. dan makanan harus dengan jumlah yang cukup serta mempunyai standar kompetensi yang sesuai dengan etika profesi.keterjangkauannya guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. b. alat kesehatan. jumlah. sekunder. dosis. alat kesehatan. Standar. Pembiayaan yang cukup dari pemerintah diperlukan untuk menjamin ketersediaan dan keterjangkauan obat. Sumber Daya Sumber Daya Manusia sediaan farmasi. dan tersier. dan makanan adalah peralatan atau tempat yang harus memenuhi Norma. 3. dan Kriteria yang telah ditetapkan. Komoditi Sediaan farmasi dan alat kesehatan adalah komoditi untuk penyelenggaraan upaya kesehatan. Unsur-unsur a. distribusi maupun fasilitas pelayanan kesehatan primer. serta makanan meliputi jenis dan manfaat. jumlah. Sediaan farmasi harus tersedia dalam jenis. dan fungsinya. makanan adalah komoditi yang mempengaruhi kesehatan masyarakat. baik di fasilitas produksi. terutama obat dan alat kesehatan esensial bagi masyarakat miskin. bentuk. Fasilitas sediaan farmasi. bentuk. dan khasiat yang tepat. alat kesehatan tersedia dalam jenis. 60 .

Pelayanan Kefarmasian Pelayanan kefarmasian ditujukan untuk dapat menjamin penggunaan sediaan farmasi dan alat kesehatan. secara rasional. dan makanan yang beredar memenuhi standar dan persyaratan keamanan. alat kesehatan.c. e. prosedur. Pengawasan Pengawasan yang komprehensif dengan melaksanakan regulasi yang baik (Good Regulatory Practices). d. dan bermutu di semua sarana pelayanan kesehatan dengan mengikuti norma. 61 . standar. dan makanan serta terhindar dari penggunaan yang salah dan penyalahgunaan. Pemberdayaan Masyarakat Masyarakat senantiasa dilibatkan secara aktif agar sadar dan dapat lebih berperan dalam penyediaan dan penggunaan sediaan farmasi. alat kesehatan. dan kriteria yang ditetapkan. khasiat/manfaat. alat kesehatan dan makanan. aman. dan mutu yang ditetapkan yang didukung oleh Laboratorium Pengujian yang handal. ditujukan untuk menjamin setiap sediaan farmasi. Penyediaan unit pelayanan publik bidang kesehatan untuk menangani berbagai masalah yang mudah diakses oleh masyarakat dan menerima keluhan atau pertanyaan terkait dengan sediaan farmasi.

dan tidak menyesatkan tentang sediaan farmasi. dan mutu sediaan farmasi. dan pengendalian secara profesional. sehingga obat tidak boleh diperlakukan sebagai komoditas ekonomi semata. 62 . pengawasan. dan mutu produk sesuai dengan fungsi usahanya dan peraturan yang berlaku. c. dan makanan dari produsen. Transparan dan Bertanggung-jawab Masyarakat berhak untuk mendapatkan informasi yang benar. independen.4. dan makanan melalui pembinaan. dan Terjangkau Obat merupakan kebutuhan dasar manusia yang tidak tergantikan dalam pelayanan kesehatan. khasiat. transparan. dan Bermutu Pemerintah menjamin keamanan. khasiat/manfaat. distributor. Aman. Berkhasiat. lengkap. Tersedia. Rasional Setiap pelaku pelayanan kesehatan harus selalu bertindak berdasarkan bukti ilmiah terbaik dan prinsip tepat biaya (cost-effective) serta tepat manfaat (cost-benefit) dalam pemanfaatan obat agar memberikan hasil yang optimal. manfaat. alat kesehatan. Prinsip a. bertanggungjawab. b. dan pelaku pelayanan kesehatan. Bermanfaat. d. Sedangkan pelaku usaha bertanggungjawab atas keamanan. dan berbasis bukti ilmiah. alat kesehatan. Merata.

Penyelenggaraan a. daerah tertinggal dan perbatasan. daerah rawan konflik dan obat yang tidak mempunyai nilai ekonomis (orphan drug). Pemerintah mengatur harga obat dan alat kesehatan. 63 .e. Pemerintah melakukan pengendalian dan pengawasan terhadap pengadaan serta penyaluran untuk menjamin ketersediaan dan pemerataan obat serta alat kesehatan. sistematis. Keterjangkauan Obat dan Alat Kesehatan dan Penyediaan dan pelayanan obat berpedoman pada DOEN untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan. Kemandirian Potensi sumber daya dalam negeri. dan berkesinambungan sehingga memiliki daya saing tinggi dan mengurangi ketergantungan dari sumber daya luar negeri serta menjadi sumber ekonomi masyarakat dan devisa negara. utamanya bahan baku obat dan obat tradisional harus dikelola secara profesional. Pemerataan. Pemerintah dengan pengaturan khusus menjamin tersedianya obat bagi masyarakat di daerah terpencil. 5. Upaya Ketersediaan. serta daerah bencana.

alat kesehatan. ekspor. Upaya Jaminan Keamanan. pengawasan. Alat Kesehatan. iklan dan promosi. pelaku usaha. Pelaksanaan regulasi yang baik (Good Regulatory Practices) didukung oleh sumber daya yang memadai secara kuantitas maupun kualitas. alat kesehatan. dan Makanan serta Perlindungan Masyarakat dari Penggunaan yang Salah dan Penyalahgunaan Obat dan Alat Kesehatan Upaya jaminan keamanan. Pembinaan. sistem manajemen mutu. dan pengendalian impor. dan makanan sesuai dengan perkembangan Iptek dan standar internasional. survailan dan vijilan setelah pemasaran. standar. dan makanan merupakan suatu kesatuan yang utuh. dilakukan melalui penilaian keamanan. inspeksi fasilitas produksi dan distribusi. kerjasama internasional. dan Mutu Sediaan Farmasi. produksi dan distribusi sediaan farmasi. pengambilan dan pengujian sampel. 64 .b. prosedur. independen. dan kriteria mengenai produk dan fasilitas produksi dan distribusi sediaan farmasi. khasiat/manfaat. yaitu pemerintah. dan mutu sediaan farmasi. Khasiat/manfaat. serta pemantauan label atau penandaan. dan masyarakat secara terpadu dan bertanggung-jawab. dan makanan merupakan tugas bersama yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan. dan transparan. akses terhadap ahli dan referensi ilmiah. Pengembangan dan penyempurnaan norma. khasiat/manfaat. laboratorium pengujian mutu yang kompeten. dan mutu produk melalui proses pendaftaran dan evaluasi. alat kesehatan.

dan Zat Adiktif (Napza) harus merupakan upaya yang terpadu antara upaya represif. c. atau penggunaan bahan tambahan makanan yang tidak sesuai persyaratan. kuratif. dan tidak menyesatkan mengenai penggunaan sediaan farmasi. serta manusia usia lanjut untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi tinggi dan memenuhi persyaratan keamanan. dan makanan. sehingga masyarakat memperoleh informasi yang benar. masyarakat. mutu dan gizi. maka upaya jaminan perlindungan keamanan diberikan kepada pengguna dan operator alat kesehatan. Peningkatan kesadaran/kemandirian masyarakat melalui penyediaan dan penyebaran informasi terpercaya termasuk informasi harga obat. Mendorong masyarakat rentan terutama anak dan ibu hamil. Penegakan hukum yang konsisten dengan efek jera yang tinggi untuk setiap pelanggaran. Perlindungan masyarakat terhadap pencemaran sediaan farmasi dari bahan-bahan yang dilarang. serta lingkungannya.Dalam rangka menghindarkan dampak buruk dari penggunaan alat kesehatan. termasuk pemberantasan produk palsu dan ilegal. menyeluruh. Upaya Penyelenggaraan Pelayanan Kefarmasian Penyelengaraan pelayanan kefarmasian di semua sarana pelayanan kesehatan dilakukan dengan: 65 . alat kesehatan. transparan. preventif. Psikotropika. dan rehabilitatif. Perlindungan masyarakat dari penyalahgunaan Narkotika.

d. 2) Melaksanakan kegiatan inti farmasi yang meliputi pengelolaan obat dan produk kesehatan lainnya. dan tersier. 4) Pemberdayaan Komite Farmasi dan Terapi (KFT) untuk meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian melalui penggunaan obat secara rasional. 6) Penyediaan informasi obat yang benar. 3) Pengembangan mekanisme pemantauan ketersediaan obat esensial dan langkah-langkah perbaikan di setiap fasilitas pelayanan kesehatan. sekunder. 2) Audit dan umpan balik dalam penggunaan obat rasional. memberikan informasi dan saran serta memonitor penggunaan obat oleh pasien. Upaya Penggunaan Obat yang Rasional Penggunaan obat yang rasional merupakan salah satu langkah untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik dan mengefisienkan biaya pengobatan.1) Mengutamakan kesejahteraan pasien dalam segala situasi dan kondisi. 5) Penerapan pendekatan farmako ekonomi melalui analisis biaya efektif dan biaya manfaat pada seleksi obat yang digunakan di semua tingkat pelayanan kesehatan. 3) Memberikan kontribusi dalam peningkatan peresepan yang rasional dan ekonomis serta penggunaan yang tepat. menjamin mutu. objektif dan lengkap melalui penyusunan Informasi Obat Nasional Indonesia 66 . Penyelenggaraan upaya penggunaan obat yang rasional dilakukan antara lain melalui kegiatan berikut: 1) Penerapan DOEN dalam upaya pelayanan kesehatan tingkat primer. melalui pemanfaatan pedoman terapi dan formularium berbasis bukti ilmiah terbaik. dan 4) Memberikan pelayanan kefarmasian yang sesuai untuk setiap individu.

serta kepastian proses perijinan. e. 7) Pemberdayaan masyarakat melalui Komunikasi. 2) Pemerintah menciptakan iklim yang kondusif bagi investasi di bidang farmasi melalui persaingan usaha yang adil. Informasi dan Edukasi (KIE). perawat dan tenaga kesehatan lainnya dalam memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat sehingga dapat meningkatkan kemanfaatan dan keamanan penggunaan obat termasuk penggunaan obat yang rasional. pemberian insentif kebijakan perpajakan dan perbankan. seperti penyakit diare. serta 8) Pemberdayaan SDM Kesehatan dalam melaksanakan penggunaan obat rasional di semua fasilitas pelayanan kesehatan. dan lain-lain. 4) Komitmen semua 67 .(IONI) akan sangat mendukung para profesi kesehatan seperti: dokter. 3) Pembinaan industri farmasi dalam negeri agar mampu melakukan produksi sesuai dengan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dan dapat melakukan usahanya dengan efektif dan efisien sehingga mempunyai daya saing yang tinggi. apoteker. antara lain promosi penggunaan obat generik dan pengelolaan berbagai penyakit secara tepat. Langkah-langkah yang perlu diselenggarakan meliputi: 1) Pemilihan produk yang tepat untuk pengembangan produksi dalam negeri dengan mempertimbangkan potensi sumber daya dalam negeri. Upaya Kemandirian Sediaan Farmasi melalui Pemanfaatan Sumber Daya Dalam Negeri Pengembangan dan pemanfaatan sumber daya alam Indonesia perlu didorong secara berkelanjutan untuk digunakan sebagai obat tradisional demi peningkatan pelayanan kesehatan dan ekonomi. Informasi kepada masyarakat.

memiliki khasiat nyata yang teruji secara ilmiah. swasta/dunia usaha. para pelayan kesehatan dan konsumen. bermutu tinggi. E. 6) Pengembangan pemanfaatan obat tradisional yang aman. 68 . penerimaan fasilitas pelayanan kesehatan. 5) Peningkatan penelitian dan pengembangan bahan baku obat. pengelolaan data dan informasi kesehatan yang mendukung subsistem lainnya dari SKN guna menjamin tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. dan makanan harus melibatkan seluruh pelaku baik secara perorangan maupun bersama dan terpadu antara pemerintah. Pengertian MANAJEMEN DAN INFORMASI Subsistem manajemen dan informasi kesehatan adalah bentuk dan cara penyelenggaraan yang menghimpun berbagai upaya kebijakan kesehatan.pemangku kepentingan. pengaturan hukum kesehatan. obat. dan dimanfaatkan secara luas baik untuk pengobatan sendiri oleh masyarakat maupun digunakan dalam pelayanan kesehatan formal. dan masyarakat. seperti kemauan industri farmasi domestik untuk memprioritaskan penggunaan bahan baku produksi dalam negeri. alat kesehatan. dan obat tradisional untuk menunjang pembangunan kesehatan. administrasi kesehatan. SUBSISTEM KESEHATAN 1. Penyelenggaraan subsistem sediaan farmasi.

dan masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan dengan memperhatikan kerangka desentralisasi dan otonomi daerah. b. Tujuan Tujuan subsistem manajemen dan informasi kesehatan adalah terwujudnya kebijakan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan. Administrasi Kesehatan Administrasi kesehatan merupakan kegiatan perencanaan. swasta. Kebijakan Kesehatan Kebijakan kesehatan merupakan pedoman yang menjadi acuan bagi semua pelaku pembangunan kesehatan. dan akuntabel. berdaya guna. penerapan. terselenggaranya fungsi-fungsi administrasi kesehatan yang berhasil guna. pelaksanaan.2. c. Hukum Kesehatan Hukum kesehatan merupakan keseluruhan peraturan perundangan di bidang kesehatan dan segala tindakan penyebarluasan. dan penegakan aturan tersebut dalam rangka memberikan perlindungan. serta didukung oleh hukum kesehatan dan sistem informasi kesehatan untuk menjamin terselenggaranya pembangunan kesehatan guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. dan pengendalian serta pengawasan dan pertanggung-jawaban penyelenggaraan pembangunan kesehatan. berbasis bukti dan operasional. Unsur-unsur a. terutama kepada individu dan masyarakat dan sebagai sarana untuk 69 . 3. baik pemerintah.

Inovasi atau Kreativitas Penyelenggaraan manajemen dan informasi kesehatan harus mampu menciptakan daya tahan dan kesinambungan kinerja sistem melalui inovasi/kreatifitas dalam menghadapi perubahan dan tantangan pembangunan kesehatan dengan lebih baik. sarana prasarana. dan bertekad dalam pembangunan kesehatan. penyelenggaraan pembangunan d. keteladanan. e. dan kelembagaan yang digunakan secara berhasil guna dan berdaya guna dalam upaya mendukung terselenggaranya pembangunan kesehatan. meliputi: SDM. Prinsip a. b.memfasilitasi kesehatan. Sumber daya Manajemen Informasi Kesehatan Kesehatan dan Sumber daya manajemen kesehatan dan informasi kesehatan. Kepemimpinan yang Visioner Bidang Kesehatan Kepemimpinan yang visioner bidang kesehatan adalah kepemimpinan yang mempunyai visi. dana. standar. Informasi Kesehatan Informasi kesehatan merupakan hasil pengumpulan dan pengolahan data sebagai masukan bagi pengambilan keputusan di bidang kesehatan. 70 . 4.

Dalam manajemen kesehatan ini prinsip efisiensi. dan Kriteria (NSPK) kebijakan pembangunan kesehatan nasional. administrasi. efektifitas. Perencanaan kebijakan.c. transparansi. interelasi dan interdependensi yang dinamis di antara para pelaku pembangunan kesehatan. Penyelenggaraan Dalam rangka mencapai Tujuan Nasional. Sinergisme yang Dinamis Pendekatan manajemen kesehatan merupakan kombinasi dari pendekatan sistem. Kesesuaian dengan Sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia Manajemen dan informasi kesehatan menjadi pendukung utama dalam pelaksanaan desentralisasi dengan mempertimbangkan komitmen global dalam pembangunan kesehatan. Kebijakan Kesehatan Penyelenggaraan proses kebijakan kesehatan dilakukan secara optimal dengan mengacu kepada Norma. a. dan informasi kesehatan. dan transparansi sangat penting. pembangunan kesehatan menjadi salah satu dari arus utama pembangunan nasional. 5. Dalam manajemen ini penting adanya interaksi. kontingensi. dan anggaran perlu disusun secara terpadu. penetapan skala prioritas berbasis bukti dari 71 . hukum. Standar. d. dan sinergi yang dinamis. program. Untuk itu. Prosedur. subsistem manajemen dan informasi kesehatan diselenggarakan dengan mensinergikan unsur kebijakan.

Pusat dan Daerah dengan mempertimbangkan desentralisasi dan memperhatikan peraturan perundangan yang berlaku. peningkatan kesadaran hukum bagi aparatur kesehatan dan masyarakat. serta pengawasan dan pertanggung-jawaban didasarkan atas urusan wajib bidang kesehatan yang dilaksanakan secara berdaya guna dan berhasil guna. Hukum Kesehatan Penyelenggaraan hukum kesehatan meliputi penyusunan peraturan/regulasi dan harmonisasi di tingkat pusat dan daerah. dilaksanakan dengan menjunjung tinggi penyelenggaraan tata pemerintahan yang baik (good governance). dilaksanakan secara sinergi yang dinamis antara sektor kesehatan dengan sektor lain. c. didukung dengan SDM yang kompeten. untuk dilaksanakan secara bersama oleh seluruh pelaku pembangunan kesehatan secara sinergi dan dinamis.berbagai sumber yang tersedia. pelayanan advokasi hukum. dan pembiayaan yang mencukupi. responsif gender. berorientasi pada kepentingan masyarakat. memanfaatkan teknologi informasi. berorientasi pada kepentingan masyarakat. melalui proses pengkajian dan perumusan kebijakan yang melibatkan masyarakat dan berbagai stakeholder terkait. b. Administrasi Kesehatan Penyelenggaraan administrasi kesehatan meliputi perencanaan. terpadu berlandaskan pada arah kebijakan pembangunan nasional dengan memperhatikan NSPK dan prioritas pembangunan kesehatan. serta 72 . pelaksanaan dan pengendalian. didukung SDM yang kompeten.

dengan dukungan pendayagunaan teknologi. serta aspek kerahasiaan yang berlaku di bidang kesehatan. valid. transparan. kesetaraan. Informasi Kesehatan Penyelenggaraan informasi kesehatan meliputi pengumpulan. penerapan. peraturan. d. pengolahan dan analisis data. integrasi. serta pengembangan sistem informasi kesehatan terpadu. cepat. F. keadilan. manajemen informasi kesehatan. data dari fasilitas kesehatan dan masyarakat (seperti Riset Kesehatan Dasar dan surveilans). serta sesuai dengan kebutuhan. dilakukan melalui koordinasi. sosialisasi. 73 . SUBSISTEM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT 1.pembinaan dan pengawasan. termasuk regulasi kesehatan internasional. serta penerapan pengetahuan dan teknologi kesehatan. dengan memperhatikan kecukupan data termasuk data terpilah yang responsif gender. pengembangan dan penelitian kesehatan. serta berhasil guna dan berdaya guna sebagai bahan pengambilan keputusan dengan mempertimbangkan desentralisasi. akurat. Pengertian Subsistem pemberdayaan masyarakat adalah bentuk dan cara penyelenggaraan berbagai upaya kesehatan. dilaksanakan dengan mempertimbangkan perlindungan bagi masyarakat dan pemberi pelayanan. dan sinkronisasi informasi kesehatan secara sinergi yang dinamis dalam rangka penyediaan data dan informasi terkini. dan penegakan hukum perlu dilengkapi dan ditata dengan memperhatikan perkembangan dan perubahan lingkungan internal dan eksternal.

tokoh agama. kelompok (organisasi kemasyarakatan. b. figur masyarakat. 3. Sasaran Pemberdayaan Perorangan (tokoh masyarakat. Penggerak Pemberdayaan Pemerintah. baik formal maupun non formal. dan masyarakat luas serta pemerintah yang berperan sebagai agen perubahan untuk penerapan perilaku hidup sehat (subjek pembangunan kesehatan). dan fasilitator yang mempunyai kompetensi memadai dan dapat membangun komitmen dengan dukungan para pemimpin. serta dapat menjadi penggerak dalam mewujudkan pembangunan berwawasan kesehatan. dan swasta menjadi inisiator. politisi. motivator. dan sebagainya). 2. masyarakat. Tujuan Tujuan subsistem pemberdayaan masyarakat adalah meningkatnya kemampuan masyarakat untuk berperilaku hidup sehat. berperan aktif dalam setiap pembangunan kesehatan. terpadu. kelompok masyarakat). mampu mengatasi masalah kesehatan secara mandiri. Unsur-unsur a. organisasi profesi. kelompok. 74 .baik perorangan. maupun masyarakat secara terencana. dan berkesinambungan guna tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.

dan media untuk terselenggaranya proses pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan. swasta. dan masyarakat sesuai dengan keragaman sosial budaya. permasalahan. b. oleh. metode. dan kemampuan.c. serta melembaga dan membudaya dalam kehidupan bermasyarakat. dan untuk masyarakat sehingga mampu untuk mengoptimalkan dan menggerakkan segala 75 . Berbasis Masyarakat Pembangunan kesehatan berbasis pada tata nilai perorangan. kebutuhan. pedoman. Prinsip a. kemauan. d. tumbuh dan berkembang. serta potensi masyarakat (modal sosial). budaya. Kegiatan Hidup Sehat Kegiatan hidup sehat yang dilakukan sehari-hari oleh masyarakat. serta menjadi penggerak dalam pembangunan kesehatan. Edukatif dan Kemandirian Pemberdayaan masyarakat dilakukan atas dasar untuk menumbuhkan kesadaran. sarana dan prasarana. Sumber Daya Potensi yang dimiliki oleh masyarakat. sehingga membentuk kebiasaan dan pola hidup. Kemandirian bermakna sebagai upaya kesehatan dari. dan pemerintah yang meliputi: dana. keluarga. 4.

dan kepekaan masyarakat dalam menghadapi potensi dan masalah kesehatan yang akhirnya bermuara dalam semangat gotongroyong sesuai dengan nilai luhur bangsa. Kesemuanya itu dapat dilaksanakan bila kebutuhan masyarakat telah dipenuhi secara wajar.sumber daya setempat serta tidak bergantung kepada pihak lain. dan lingkungannya. 5. serta kemudahan akses informasi. tenggang rasa. keluarga. Penyelenggaraan a. Penggerakan Masyarakat Pembangunan kesehatan perlu digerakkan oleh masyarakat dan masyarakat mempunyai peluang yang penting dan luas dalam pembangunan 76 . kesetaraan. d. dan saling memperoleh manfaat. c. masyarakat. tanggap terhadap aspirasi masyarakat dan bertanggung-jawab. mengemukakan pendapat dan terlibat dalam proses pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kesehatan diri. Tumbuhnya rasa kepedulian. solidaritas. Kesempatan Mengemukakan Memilih Pelayanan Kesehatan Pendapat dan Masyarakat mempunyai kesempatan untuk menerima pembaharuan. Kemitraan dan Gotong-royong Semua pelaku pembangunan kesehatan baik sebagai penyelenggara maupun sebagai pengguna jasa kesehatan dengan masyarakat yang dilayani berinteraksi dalam semangat kebersamaan. empati.

pemantauan. maupun pemulihan secara tersendiri atau terpadu. dan masyarakat luas sesuai dengan kepentingannya dan yang berhasil guna dan berdaya guna. merupakan hal yang penting dalam pembangunan kesehatan. Pemberdayaan masyarakat ditujukan guna terwujudnya penguatan upaya peningkatan. dan evaluasi upaya kesehatan sehingga dapat terwujud kemandirian dan kesinambungan pembangunan kesehatan. 77 . Pengorganisasian dalam Pemberdayaan Pelaksanaan pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan melalui perorangan. Perencanaan pemberdayaan masyarakat didasarkan pada fakta dan masalah kesehatan yang menjadi perhatian masyarakat setempat maupun masyarakat luas serta dengan mempertimbangkan potensi sumber daya dan nilainilai sosial budaya masyarakat. dari. kelompok. Dalam kaitan ini pelibatan aktif masyarakat dalam proses pembangunan kesehatan dilakukan mulai dari penelaahan situasi masalah kesehatan. hal ini mengingat penekanan atau fokus pembangunan kesehatan diberikan pada peningkatan perilaku dan kemandirian masyarakat serta upaya promotif dan preventif. b. Pada hakekatnya pembangunan kesehatan diselenggarakan oleh.kesehatan. dan untuk masyarakat. Pemberdayaan masyarakat. pelaksanaan. penyusunan rencana termasuk dalam penentuan prioritas kesehatan. termasuk penggerakan masyarakat. pencegahan. penyembuhan.

Peranan Pemerintah membuka akses informasi dan dialog. kemauan. Desa Siaga. kota. kesadaran. seperti: rumah tangga. menyiapkan regulasi. Musholla Sehat. Pemberdayaan masyarakat dilakukan dengan memperhatikan karakteristik dan kekhususan masyarakat. daerah pesisir. memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang. 78 . dan kemandirian dalam upaya kesehatan. daerah pegunungan. seperti masyarakat di desa. menyiapkan masyarakat dengan membekali pengetahuan dan keterampilan bagi masyarakat. Pemberdayaan masyarakat dilakukan dengan metoda yang tepat. institusi pendidikan. dukungan sumber daya untuk membangun kemandirian dalam upaya kesehatan dan mendorong terbentuknya Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM). seperti: Poskestren.Pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan pula melalui pendekatan ketatanan. dan aliran sungai. Upaya untuk meningkatkan pengetahuan. dan kemampuan masyarakat dalam berperilaku sehat dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung melalui berbagai saluran media dan teknik promosi kesehatan. Pemuda Siaga Peduli Bencana (Dasipena). serta dengan memperhatikan nilai-nilai agama dan sosial budaya yang ada. dan fasilitas kesehatan agar terwujud pemberdayaan masyarakat yang berhasil guna dan berdaya guna serta terjamin kesinambungannya. tempat umum. tempat kerja.

Pelaksanaan advokasi dilakukan dengan dukungan informasi yang memadai serta metode yang berhasil guna dan berdaya guna. perguruan tinggi. Kemitraan Pemberdayaan masyarakat dilakukan dengan kemitraan berbagai pihak. Pembinaan dilakukan untuk kesinambungan pemberdayaan masyarakat yang telah dilakukan 79 . Masyarakat juga dapat berpartisipasi dengan memberikan kritik yang membangun bagi kepentingan seluruh masyarakat. d. dan masyarakat agar terwujud dukungan sumber daya dan kebijakan dalam pembangunan kesehatan. Advokasi Masyarakat dapat berperan dalam melakukan advokasi kepada pemerintah dan lembaga pemerintahan lainnya. seperti legislatif untuk memperoleh dukungan kebijakan dan sumber daya bagi terwujudnya pembangunan berwawasan kesehatan. organisasi kemasyarakatan. c. seperti seluruh sektor terkait. lembaga legislatif.Peran masyarakat dalam pembangunan kesehatan dapat dengan cara mendirikan sarana pelayanan kesehatan maupun memberikan informasi kesehatan (promosi kesehatan) kepada masyarakat. Dalam kaitan ini termasuk pengembangan Desa Siaga atau bentuk-bentuk lain pada masyarakat desa/kelurahan. dunia usaha.

seperti di Puskesmas dan Rumah Sakit yang mempunyai kompetensi dan integritas tinggi. komunikator. Dalam pemberdayaan masyarakat secara lebih spesifik dapat didampingi penggerak yang berperan sebagai fasilitator.melalui berbagai cara. termasuk pentingnya ketersediaan tenaga penggerak/promosi kesehatan. pembiayaan yang memadai. Peningkatan Sumber Daya Dalam pemberdayaan masyarakat perlu didukung oleh pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan yang kuat. Ketersediaan sumber daya tersebut sangat penting agar dapat tercapai masyarakat berperilaku hidup sehat dan mandiri. e. 80 . dan kompetisi. lomba. antara lain pemberian insentif. pendampingan. dan dinamisator dalam proses pemberdayaan masyarakat. dan dukungan berbagai sarana lain yang berkaitan.

bermutu. alat kesehatan. luaran.BAB VI DUKUNGAN PENYELENGGARAAN SISTEM KESEHATAN NASIONAL Sistem Kesehatan Nasional diupayakan agar mampu menyesuaikan dengan perkembangan dan dinamika pembangunan kesehatan yang dihadapi dalam penyelenggaraannya yang dilaksanakan secara berkesinambungan. dan lingkungan serta keterkaitannya satu sama lain. subsistem pembiayaan kesehatan. dan subsistem sediaan farmasi. budaya. merata. ekonomi. subsistem pemberdayaan masyarakat. dan subsistem manajemen dan informasi kesehatan. dan berkeadilan. Masukan dalam SKN meliputi subsistem sumber daya manusia. PROSES PENYELENGGARAAN SKN Penyelenggaraan SKN menerapkan pendekatan kesisteman yang meliputi masukan. Sistem Kesehatan Nasional dapat disesuaikan dan disempurnakan dengan kondisi dan situasi yang berkembang. pertahanan dan keamanan baik nasional. Lingkungan SKN meliputi berbagai keadaan yang menyangkut ideologi. dan tingkat fisik/alam yang berdampak terhadap 81 . politik. Bila terjadi perubahan paradigma dan lingkungan strategis. sosial. 2. A. Proses dalam SKN meliputi subsistem upaya kesehatan. proses. ilmu pengetahuan dan teknologi. regional maupun global. sebagai berikut: 1. 4. Luaran dari SKN adalah terselenggaranya pembangunan kesehatan yang berhasil guna dan berdaya guna. dan makanan. 3.

Sosialisasi dan Advokasi SKN Sistem Kesehatan Nasional perlu disosialisasikan dan diadvokasikan ke seluruh pelaku pembangunan kesehatan dan seluruh pemangku kepentingan kesehatan untuk memperoleh komitmen dan dukungan dari semua pihak. baik antar pelaku. dan Ketahanan Nasional merupakan landasan bagi penyelenggaraan SKN. kebijakan manajerial. antar subsistem SKN. Penyelenggaraan SKN dilakukan melalui siklus perencanaan. Pancasila. berjenjang. dan kebijakan teknis operasional. SKN perlu ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. serta pengawasan dan pertanggung-jawaban secara sistematis. sinkronisasi. pelaksanaan dan pengendalian. 82 . 2.pembangunan kesehatan. Penyelenggaraan SKN dilaksanakan secara bertahap. Penyelenggaraan SKN memerlukan penerapan prinsip koordinasi. dan berkelanjutan dengan memperhatikan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan (RPJP-K) Tahun 2005-2025. Undang-undang Dasar 1945. Wawasan Nusantara. Penetapan SKN Untuk memperoleh kepastian hukum yang mengikat semua pihak. integrasi. akuntabel. maupun dengan sistem serta subsistem lain diluar SKN. Berbagai materi SKN yang terpilih dapat digunakan untuk penyusunan dan penetapan peraturan perundangan pada tingkat kebijakan strategis. sebagai berikut: 1. transparan. dan sinergisme yang dinamis.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJM-D). sistematis. dinamika. Fasilitasi Pengembangan Kebijakan Kesehatan di Daerah Dalam pembangunan kesehatan di daerah perlu dikembangkan kebijakan kesehatan. Penyelenggaraan SKN. Penyelenggaraan SKN. Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renstra SKPD) yang penyelenggaraannya disesuaikan dengan kondisi. baik di sektor publik maupun di sektor swasta. termasuk pengembangan kebijakan di daerah diwujudkan dalam kerangka penyelenggaraan pembangunan kesehatan. termasuk pengembangan kebijakan di daerah didukung dengan penyusunan 83 . dan masalah spesifik daerah dalam kerangka SKN. seperti: Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJP-D). 3. baik di pusat maupun daerah. terpadu. memfasilitasi pengukuhannya dalam bentuk peraturan perundangundangan daerah. Penyelenggaraan SKN dalam kaitannya dengan pengembangan kebijakan kesehatan di daerah dilakukan dengan berbagai kegiatan. 2. 3. dan berkelanjutan. yaitu: 1. Penyelenggaraan SKN. termasuk pengembangan kebijakan di daerah diselenggarakan melalui penataan ulang keenam subsistemnya secara bertahap. serta memfasilitasi sosialisasi dan advokasi penyelenggaraan pembangunan kesehatan di daerah sesuai kebutuhan. Pemerintah Pusat memfasilitasi pengembangan kebijakan kesehatan di daerah. baik secara nasional maupun dalam lingkup daerah.Sasaran sosialisasi dan advokasi SKN adalah semua penentu kebijakan.

Pengendalian dan penilaian SKN termasuk kebijakan kesehatan di daerah perlu didukung dengan pengembangan sistem monitoring dan evaluasi di tingkat nasional dan daerah secara terpadu. maka dilakukan pengendalian dan penilaian SKN sebagai berikut: 1. demokratisasi. 3. Penyelenggaraan SKN. Pengendalian dan penilaian SKN termasuk kebijakan kesehatan di daerah diselenggarakan secara berjenjang dan berkelanjutan dengan menggunakan tolok ukur keberhasilan pembangunan kesehatan. Indikator kinerja SKN menjadi rekomendasi untuk upaya perbaikan yang harus didokumentasikan dan disebarluaskan. baik tingkat nasional maupun tingkat daerah. nasional. termasuk pengembangan kebijakan kesehatan di daerah diselenggarakan sesuai dengan asas desentralisasi yang bertanggung-jawab. 4. Dalam rangka menyesuaikan dengan perkembangan global. provinsi. Indikator tersebut menjadi acuan segenap pelaku pembangunan kesehatan di tingkat nasional.kebijakan. dan good governance dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). dan pedoman dalam bentuk berbagai peraturan perundang-undangan. regional. dan lokal yang dinamis dan cepat berubah. Setiap tahun seluruh pelaku pembangunan kesehatan dengan koordinasi pemerintah melakukan pengukuran pencapaian/kinerja SKN dengan beberapa indikator yang akurat dan terpercaya. standar. 2. dan kabupaten/kota sampai 84 . Pengendalian dan penilaian SKN termasuk kebijakan kesehatan di daerah bertujuan untuk memantau dan menilai keberhasilan penyelenggaraan pembangunan kesehatan berdasarkan sistem kesehatan yang ada.

efektif. Tata pemerintahan yang baik disertai regulasi pada keenam subsistem SKN merupakan langkah menuju kesinambungan pelaksanaan sistem kesehatan. Untuk menjaga kepentingan rakyat. transparan. meliputi: partisipatif. Pelaku pelanggaran peraturan harus ditindak secara tegas. Masyarakat madani dan seluruh sektor terkait perlu secara jelas dan tegas diberi 85 . Kabupaten/Kota). semua Dalam daerah daerah Secara operasional. berorientasi pada konsensus. swasta. Provinsi. semua peraturan perundangan yang berkaitan harus dilaksanakan secara konsisten dengan tata pemerintahan yang baik (good governance). B. Prosedur. penyelenggaraan SKN memerlukan peran regulasi dari pemerintah sesuai dengan tingkatannya (Pusat. efisien. Pedoman tentang Norma. Dalam penyelenggaraan SKN perlu kejelasan dan ketegasan tentang pelimpahan urusan pemerintahan di bidang kesehatan yang luas sampai kabupaten/kota. pemerintah juga harus secara konsisten dan konsekuen mengawasi kepatuhan hukum masyarakat. Adapun unsur dari tata pemerintahan yang baik. Standar. inklusif. Selain tata pemerintahan yang baik. dan organisasi bukan pemerintah lainnya. dan mengikuti kaidah hukum yang berlaku. TATA PENYELENGGARAAN SKN Penyelenggaraan SKN harus memperhatikan peraturan perundang-undangan yang berlaku. termasuk SDM nasional yang melaksanakannya. penyelenggaraan pembangunan kesehatan di perlu memperhatikan SKN dan peraturan setempat. guna penyesuaian penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang berbasis fakta. dan Kriteria dari Departemen Kesehatan perlu dikoordinasikan dengan Departemen Dalam Negeri.ke tingkat desa.

Individu. lembaga swadaya masyarakat. serta masyarakat luas. dalam konteks desentralisasi perlu jelas dan tegas dalam memberikan arahan untuk pembangunan kesehatan di daerahnya. dan masyarakat yang meliputi tokoh masyarakat. PENYELENGGARA SKN Pemerintah dan masyarakat termasuk swasta bertanggung-jawab atas penyelenggaraan pembangunan kesehatan sesuai peran dan fungsinya masing-masing. pelaksana. Pelaku adalah: penyelenggaraan pembangunan kesehatan 1. sektor keuangan. organisasi profesi. dan sektor terkait lainnya. media massa. baik Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah berperan sebagai penanggungjawab. SKN tidak bisa dijalankan hanya oleh Departemen Kesehatan atau Dinas yang mengurus kesehatan di daerah. Pemerintah daerah. Penyelenggaraan SKN dapat berjalan dengan baik apabila melibatkan. dan penyelenggaraan berbagai pelayanan kesehatan sesuai dengan bidang keahlian dan kemampuan masing-masing. penggerak. keluarga. C. pembangunan fasilitas umum. dan pembina pembangunan kesehatan dalam lingkup wilayah kerja dan kewenangan masing-masing. sektor perdagangan. 2. praktisi. Untuk Pemerintah. Di sektor publik. termasuk swasta yang berperan dalam advokasi. peranan tersebut ditambah dengan menetapkan 86 . akademisi. Pemerintah. sektor keamanan. sektor perikanan dan kelautan. sektor pertanian. antara lain: sektor pendidikan.peran dalam pelaksanaan berbagai subsistem SKN. pengawasan sosial.

Kebijakan, Standar, Prosedur, dan Kriteria yang digunakan sebagai acuan dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan di daerah. 3. Badan Legislatif, baik di pusat maupun di daerah, yang berperan melakukan persetujuan anggaran dan pengawasan terhadap penyelenggaraan pembangunan kesehatan, melalui penyusunan produk-produk hukum dan mekanisme kemitraan antara eksekutif dan legislatif. 4. Badan Yudikatif, termasuk kepolisian, kejaksaan dan kehakiman berperan menegakan pelaksanaan hukum dan peraturan perundangan yang berlaku di bidang kesehatan. 5. Sektor swasta yang memiliki atau mengembangkan industri kesehatan, seperti: industri farmasi, alat-alat kesehatan, jamu, makanan sehat, asuransi kesehatan, dan industri pada umumnya. Industri pada umumnya berperan besar dalam memungut iuran dari para pekerja dan menambah iuran yang menjadi kewajibannya. 6. Lembaga pendidikan, baik pada tingkat sekolah dasar sampai tingkat perguruan tinggi, baik milik publik maupun swasta. Sebagian besar masalah kesehatan berhubungan dengan perilaku dan pemahaman. Pendidikan memegang kunci untuk menyadarkan masyarakat akan berbagai risiko kesehatan dan peran masyarakat dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

D. SUMBER DAYA PENYELENGGARAAN SKN Sistem Kesehatan Nasional merupakan bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang bekerja secara sinergis, harmonis, dan menuju satu tujuan. 87

Pemerintah wajib melakukan koordinasi agar semua subsistem dan semua pelaku berfungsi dan bekerja secara sinergis. Kepincangan pada salah satu subsistem atau pelaku akan mengganggu kerja SKN. Pemerintah harus menjamin tersedianya dana, sumber daya manusia yang memadai dan profesional, sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan yang dikelola dengan manajemen kesehatan yang baik, terutama yang berkaitan dengan administrasi kesehatan dan pengaturan hukum kesehatan serta didukung dengan informasi yang akurat, valid, tepat waktu, dan tepat kebutuhan. Pelaku sistem informasi kesehatan sesuai perannya harus mampu secara cepat merespon dan menggunakan perkembangan teknologi informasi, baik untuk mengolah, menyampaikan ke pelaku lain, maupun kepada masyarakat nasional dan internasional. Pemerintah juga mengembangkan sistem insentif/reward dan sistem sanksi bagi setiap pelaku yang tidak menggunakan informasi yang akurat, tepat waktu, dan tepat kebutuhan (relevan). Selain itu, Pemerintah juga mengharuskan fasilitas kesehatan publik maupun swasta untuk menyediakan informasi melalui situs yang mudah diakses dan terbuka, sebagai cara untuk mendidik masyarakat. Tersedianya pembiayaan kesehatan dalam jumlah yang memadai teralokasi secara adil, merata, dan termanfaatkan secara berhasil guna dan berdaya guna, sangat penting dalam pembangunan kesehatan. Pemerintah juga menjamin tersedianya dana untuk penelitian dan pengembangan bidang kesehatan. Sumber daya manusia merupakan komponen kunci keberhasilan SKN. Pemerintah harus melakukan upaya agar semua SDM Kesehatan memenuhi standar kompetensi tertentu sesuai bidangnya sebagai prasyarat bagi penyediaan pelayanan kesehatan yang bermutu dan 88

diterima oleh masyarakat. Namun, Pemerintah juga menjamin agar setiap SDM di bidang kesehatan mendapat remunerasi yang wajar, layak, dan sesuai dengan tanggung-jawab, pengalaman, dan kompetensinya. Keseimbangan profesionalitas, tanggung-jawab, pengalaman, dan besaran renumerasi merupakan kunci kesinambungan pelayanan kesehatan yang berkualitas. Penyelenggaraan subsistem sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan harus dilakukan secara terbuka dengan keseimbangan antara produksi dan pemanfaatan dengan dukungan dana yang memadai. Keterbukaan ini adalah kemampuan mengakomodasikan perkembangan teknologi dan produk teknologi kefarmasian dan teknologi peralatan kedokteran dan kesehatan serta memperhatikan keterjangkauan harga bagi masyarakat. Indonesia harus mampu menjadi pengekspor berbagai sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan. Keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif dalam bidang ini harus terus dikembangkan. Untuk menjamin kesinambungan subsistem upaya kesehatan, maka dukungan masukan informasi kesehatan, sumber daya manusia kesehatan, sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan, serta pendanaan harus selalu tersedia dalam jumlah yang memadai. Kualitas pelayanan harus selalu memenuhi standar yang ditetapkan agar setiap pengguna pelayanan kesehatan merasa puas dan memperoleh manfaat pelayanan kesehatan. Dengan kualitas dan kepuasan pengguna yang tinggi, maka akan timbul kemauan masyarakat sebagai pengguna untuk berkontribusi dalam bentuk dana, pemikiran, maupun tenaga. Pemerintah perlu menjamin adanya kepastian hukum dalam setiap penyelenggaraan subsistem SKN. Peraturan perundangan yang dalam pelaksanaannya mengalami 89

hambatan besar di daerah harus diatur lebih lanjut dengan Peraturan Daerah. Pemerintah mengatur dan memberdayakan masyarakat agar mampu melakukan kontrol sosial yang memadai guna menjamin kesinambungan dan akuntabilitas SKN. Pemerintah daerah perlu diberikan kewenangan untuk penegakan hukum terhadap berbagai aspek yang memungkinkan terselenggaranya SKN dengan baik. pemenuhan 90 . maupun bantuan teknis lainnya) bagi fasilitas kesehatan. maka wajib berperan aktif sesuai dengan bidangnya guna mewujudkan tujuan SKN. Pemerintah memfasilitasi dan memberikan insentif (baik berupa pembebasan pajak. pembelian hasil produksi. Pemerintah mendorong terwujudnya kontrol sosial yang kuat dari masyarakat terhadap kualitas pelayanan kesehatan. memberikan insentif. lembaga penelitian dan pengembangan lainnya. Kewajiban berbagai sektor mencakup pemenuhan logistik yang diperlukan sebagai masukan dalam SKN. Peraturan yang dibuat harus melalui sinkronisasi dengan berbagai peraturan di bidang kesehatan dan di luar bidang kesehatan serta membuka kesempatan luas kepada pemangku kepentingan dalam perumusan peraturan. dan memfasilitasi berbagai penelitian di dalam negeri guna tersedianya sediaan farmasi dan alat kesehatan. perguruan tinggi. KERJASAMA INTERNASIONAL Sistem Kesehatan Nasional merupakan bagian dari sistem nasional. serta sistem pengelolaan yang lebih baik dan bermutu. Departemen Kesehatan melakukan koordinasi dengan lintas sektor. E. atau industri dalam melakukan penelitian dan pengembangan pelayanan kesehatan guna memacu perkembangan SKN. maupun instansi kesehatan di daerah untuk mendukung.

setiap intervensi internasional yang dalam jangka pendek atau jangka panjang yang dapat merugikan SKN wajib dicegah oleh setiap pemangku kepentingan. seperti UNDP. peniadaan atau pengurangan bahan-bahan ataupun kondisi yang dapat menimbulkan risiko kesehatan. dan ASEAN. Perubahan lingkungan strategis regional maupun global dapat mengancam keberhasilan SKN. Kerja sama dalam bidang kesehatan dengan berbagai lembaga internasional dan regional lain yang terkait perlu ditingkatkan.SDM dengan kompetensi yang sesuai. penyediaan insentif finansial dan non finansial. dan peran lainnya yang berkembang sesuai perubahan lingkungan strategis. Para pelaku SKN berkewajiban mengembangkan diri agar mampu berperan di tingkat internasional dalam rangka menjaga agar SKN dapat berjalan dengan baik. 91 . UNICEF. Para pelaku SKN wajib berperan aktif di lingkungan internasional untuk mewujudkan kepemimpinan Indonesia di dunia internasional guna menghasilkan kebijakan yang kondusif bagi pengembangan SKN. Sebaliknya. Para pelaku SKN juga wajib mencermati dan memanfaatkan setiap kesempatan yang ada di dunia internasional guna memperkuat SKN. Peran Indonesia dalam upaya mereformasi WHO perlu terus dilakukan agar transparansi dan keadilan dari organisasi internasional tersebut dapat tercapai. Dana internasional yang tersedia yang tidak mengikat dan dapat secara sinergis meningkatkan kinerja SKN perlu dimanfaatkan dengan baik. koordinasi penyelenggaraan. UNFPA.

tidak berarti seluruh pelayanan kesehatan harus menyediakan pelayanan non diskriminatif bagi seluruh rakyat untuk seluruh jenis pelayanan. interelasi. badan legislatif dan yudikatif.BAB VII PENUTUP Tujuan pembangunan kesehatan hanya dapat dicapai bila didukung oleh kerjasama dengan semangat kemitraan antar semua pelaku pembangunan. serta kondisi lingkungannya. serta masyarakat. tetapi juga harus realistis dengan kemampuan sumber daya manusia dan ketersediaan dana dan sumber daya lainnya. termasuk swasta. Dalam pelaksanaannya. 92 . dibutuhkan manajer-manajer di sektor publik maupun di masyarakat. Dengan demikian. termasuk swasta. Dengan demikian. Prinsip adil dan merata secara bertahap diupayakan sesuai kemampuan yang dimiliki. Penetapan SKN dimaksudkan untuk memberikan arah bagi setiap pelaku upaya atau pelayanan kesehatan sesuai dengan kondisi lingkungan masing-masing instansi dan institusi. penyelenggaraan pembangunan kesehatan dengan dukungan SKN dapat dilaksanakan dengan berhasil guna dan berdaya guna dengan interaksi. meskipun nantinya diharapkan terwujud pelayanan kesehatan yang adil dan merata. baik pemerintah secara lintas sektor. Manajer tersebut harus mempunyai kompetensi khusus dan mempunyai komitmen kuat dalam upaya mencapai tujuan pembangunan kesehatan. Untuk dapat melaksanakan SKN yang memenuhi prinsip umum dan prinsip dasar dari masing-masing subsistemnya yang disesuaikan dengan kemampuan diri dan lingkungan. serta keterpaduan berbagai upaya yang dilakukan oleh semua pelaku SKN. pemerintah pusat dan daerah. seluruh pelaku harus memegang teguh prinsip-prinsip umum SKN dan prinsip dasar masing-masing subsistemnya.

dan dalam pelaksanaannya selalu mengikuti perkembangan. regional. semua pemangku kepentingan wajib memantau kinerja dan kendala yang dihadapi SKN. maupun global. tantangan. regional. maupun internasional. Sistem Kesehatan Nasional harus selalu mampu menjawab peluang. SKN perlu disesuaikan atau diubah secara berkala sesuai dengan perubahan lingkungan strategis. Oleh karenanya. bersifat dinamis.Sistem Kesehatan Nasional merupakan sistem terbuka yang berinteraksi dengan berbagai sistem nasionalnya sebagai subsistem dari Ketahanan Nasional. baik nasional. dan perubahan lingkungan strategis nasional. Oleh karenanya. 93 .

AKSES PELAYANAN PUBLIK BURUK . Ekonomi Sosial Budaya dan Pertahanan Keamanan) GLOBAL.WASANTARA.ALUR PIKIR RENCANA PEMBANGUNAN KESEHATAN DAN SISTEM KESEHATAN NASIONAL PARADIGMA NASIONAL (PANCASILA.SUMBER DAYA KESEHATAN TERBATAS DERAJAT KESMAS YG SETINGGITINGGINYA RAKYAT SEHAT PRODUKTIF TUJUAN NASIONAL LINGKUNGAN STRATEGIS: (Ideologi.RAWAN PANGAN DAN RAWAN GIZI .) (UU 23/1992 Kesehatan. UUD 1945. TANNAS. Politik. dasar. NASIONAL.KETIDAKPASTIAN HUKUM . bentuk dan cara penyelenggaraan Bangkes) MASALAH MENDASAR BANGKES: . LOKAL PELUANG/KENDALA 94 . REGIONAL.PERILAKU MASYARAKAT BURUK . UU 17/2007 RPJPN) KONDISI SAAT INI Derajat Kesehatan Masyarakat Rendah Gambar-1 RPJP-K DAN SKN (Arah.LINGKUNGAN BURUK .

Alat Kesehatan. serta Sediaan Farmasi. SDM Kesehatan. AGAMA DAN BUDAYA PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN FUNDAMEN MORAL: KEMANUSIAAN LINGKUNGAN EKONOMI 2) SUMBER DAYA KESEHATAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT UPAYA KESEHATAN 1) DERAJAT KESEHATAN MASYARAKAT LINGKUNGAN SEHAT 3) MANAJEMEN KESEHATAN PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA LINGKUNGAN POLITIK DAN HUKUM LINGKUNGAN FISIK DAN BIOLOGI Catatan: 1) Meliputi pula: Penelitian dan Pengembangan Kesehatan 2) Meliputi: Pembiayaan Kesehatan.GAMBARAN UNSUR-UNSUR PEMBANGUNAN KESEHATAN DAN SUBSISTEM SKN SERTA TATA HUBUNGANNYA Gambar-2 DAN LINGKUNGAN STRATEGIS YANG MEMPENGARUHI SKN LINGKUNGAN ILMU DAN TEKNOLOGI LINGKUNGAN SOSIAL. dan Makanan 3) Meliputi : Manajemen dan Informasi Kesehatan 95 .

Integrasi. Informasi dan Edukasi Koordinasi. dan Sinergisme Millenium Development Goals Negara Kesatuan Republik Indonesia Norma. Sinkronisasi.DAFTAR SINGKATAN AKB AKI APBD APBN ASEAN BPFK BTKL CPOB DBD DOEN Dasipena HAM HIV/AIDS Iptek Jamkesmas KFT KIA KIE KISS MDGs NKRI NSPK PDB PKMP PKMS PKMT PKPP PKPS PKPT Pilkada : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : Angka Kematian Bayi Angka Kematian Ibu Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Association South East Asian Nation Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan Balai Tehnik Kesehatan Lingkungan Cara Pembuatan Obat yang Baik Demam Berdarah Dengue Daftar Obat Esensial Nasional Pemuda Siaga Peduli Bencana Hak Asasi Manusia Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Jaminan Kesehatan Masyarakat Komite Farmasi dan Terapi Kesehatan Ibu dan Anak Komunikasi. Standar. Prosedur. dan Kriteria Produk Domestik Bruto Pelayanan Kesehatan Masyarakat Primer Pelayanan Kesehatan Masyarakat Sekunder Pelayanan Kesehatan Masyarakat Tersier Pelayanan Kesehatan Perorangan Primer Pelayanan Kesehatan Perorangan Sekunder Pelayanan Kesehatan Perorangan Tersier Pemilihan Kepala Daerah 96 .

Poskesdes Poskestren Posyandu Puskesmas P4K RPJM-D RPJP-K RPJP-D RPJP-N Renstra SKPD Riskesdas SDKI SDM SJSN SKN Siknas TB Paru UHH UKBM UNDP UNFPA UNICEF UPT UUD WHO WNA WNI : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : Pos Kesehatan Desa Pos Kesehatan Pesantren Pos Kesehatan Terpadu Pusat Kesehatan Masyarakat Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah Riset Kesehatan Dasar Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia Sumber Daya Manusia Sistem Jaminan Sosial Nasional Sistem Kesehatan Nasional Sistem Informasi Kesehatan Nasional Tuberculosis Paru Umur Harapan Hidup Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat United Nations Development Programme United Nations Population Fund United Nations Emergency Children’s Fund Unit Pelaksana Teknis Undang-undang Dasar World Health Organization Warga Negara Asing Warga Negara Indonesia 97 .

Dr. Dr. M. M. Charles Suryadi. M. MSc. MPH.Kes. Ida Bagus Indra Gotama. Yuniar S. SKM. SKM. MPH. Madiono. Jemfy Naswil. SKM . Rahmat Kurniadi. Dr. Riza Sultoni. MPH. Dr. Gemala Hatta. Hardini Kusumadewi. Dr. drg. M. Dr. DM Wismarini. Hasbullah Thabrani. MPPM. Faisal Barabas. Firman Lubis.Kes. Indariwati. H. Untung Suseno Sutarjo. DR. Dr. MPH. Dr.Kes. Sp.Meinarwati. MSc.Sc. dr. Prof. MS. Ph.PH. Jajang Subagya. MPH. Iswandi Mourbas. . SKM . Agus Purwadianto. MPH. Dr. Apt. Dr.Kes . R. M. Dr.Kes. Triono Soendoro. Abidinsyah Siregar. dr. Dr. MPH. MSc. Dr. Arum Atmawikarta. Geral Mario S. Trisa Wahjuni Putri. Dr. SKM . Lovita T. Naydial Roesdal. R. Krishnajaya. Farid Wadjdi Husain. MPH.JP. S. Titte Kabul Adimidjaja. Drs.KO. Ruhayati . MPH. MSc. SE. dr. Siti Fadilah Supari.W. H. MPH). MPH . MKM. Sardikin Giriputro. MPH. Msi. Soenarjo Soejoso.Kom. Andi Saguni. Richard Panjaitan. Dra. Kustantinah. MPH.Kes.Epid . PhD. MPH. SS . dr. MM.B(K). SKM. Rusmiati. Dr. M. Mary S Maryam. Bambang Giatno Rahardjo. Rustam S. SKM. MKKK . dr. Drg. M. Setiawan Soeparan. Tjipto Rahardjo. Royan. Dr.J. Dra. MPH. MM. SE. Sutoto. MSc. Bambang Sardjono. Dr. Delnalis. Dr. Mulya A Hasymi. Ida Bagus Indra Gotama. Sp. H. MPH. M. . Marwan Nusri.KONTRIBUTOR Sistem Kesehatan Nasional ini berhasil disusun atas partisipasi aktif dan kontribusi positif dari berbagai pihak. Dr. Rita Djupuri. Sp. dr. Drs.M. Sontang Tambunan. Nagiot CT. Ahmad Nizar S. Sri Muljati. M. Dr. Krissna Tirtawidjaja.H. Peter Andreas.Sukowidodo. MM. T. MPH. I Nyoman Kandun. Dr. Dr. Ruslidjah. MS.Kes. Apt. Widyawati. Apt. Dr. Achmad Soebagio T. Apt. Dr. Dr.Kes. Dr. SKM. Budhihardja. Dr. SKM. DPH. Rachmi Untoro. Purwadi.Kes. SKM. M.JP(K). DR. Dr. SK Amdani. MSi. MSc. Drs. Chirul R Nasution. SH. Drg. Dr. Dr. SKM. Sulistyowati. SKM. Msi.Appt. Herma Trillas Purba. Drs. Bambang W. DR. Rahbudi Helmi. SKM. Drs. dr. Bambang Hartono. DHSM. DR. Fresly. Louventus P . S. Dr. M. Dr. Sri Hermiyanti. dr. Dr. Bambang Widodo.Kes. Prof. Diah Puspitasari. Toto Heryanto .B. Ruhayati .B. Rustam S Pakkaya. Dra.DTM&H. M. M. SKM. MSc. Dr. Prof. Suginarti . M. dr.D. M. Dr.Rita Ratna Puri. SKM. Zulkarnain Kasim. Dra.Kes.A. M. Bambang Hartono. Abdurachman. Abidinsyah Siregar. MA. SKM. S.MSc(PH). Agus Iriawan. Drs. Pakkaya. Sjafii Achmad. Suamsul Bahri.Epid. Hapsara Habib Rahmat. Wandaningsih.Chalik Masulili. Kodrat Pramudho. Bambang Sardjono. Sri Suhariningsih.Kes. Drs. Faiq Bahfen. Dr. MSi. Bambang Hartono. SKM. MPH. Dr. Suhardjono. M. Dr. Widjaja Lukito. dr. SKM. Drg. DR. Sp. Nasirah Bahaudin. Taufik. MSc. Dr. Ratna Rosita Hendardji. Zulkarnain. Liliana. Dr. DCN. MBA. M. Sonny P. Drg. Mulya A Hasjmy. . Donald Pardede. Marius W. Dr. MPH. Drg. MPH. MKM. Yusharmen D Comm. Yaslis Ilyas. SKM. Dr.Syihab. Harmein Harun. M. Indriyono Tantoro. DR. Indah Yuningprapti.Sos. MPP. Apt. MPH. SE. Bambang Widodo. Edi Suranto. Dr. SpF(K).Kes. Adang Bachtiar. SH.Kes. Mulyadi. Drg. Yoserizal. MSc. Hary Purwanto. MM. Gatot Soetomo. DR. . antara lain: Tingkat Pusat: Dr.Kes. DR. Taufik Izwan. Apt. Sp. Lenny Evanita. Drs. M. DHSM. Agus Sunario. SH. Mustikowati. MSc. M. MPH. Slamet Sudi Santoso.SKM. dr. Dr. MPH. DR.Kes. Imran Agus Nurali. SKM. Prof.Sos.DR. Ph. DR. MPH. Lily S. Dr. Dr.D. Dr. Ina Hernawati. Iis Sin Sin. MBA. Dr.Kes. DR. Emiliya Roza. M. Syamsul Bahri. Sp.Tugijono. Ir.

Isti Ratnaningsih.Kes.Kes. Dr. Bachtiar Oesman. RE.Kes . Eny Susilowati. Rita Kusriastuti. Agung Indarto. Kodrat Pramudho. Adnan Mahmud. Yanti Nurbayanti. Hasnawati. Nina Kurnia. SKM. Dr. E.P. Drs. Bairizal. SKM. MPH. Munzir Purba. Suharto. Apt. M. MM. Djayusmantoko. MPH. Suteja.Kes. Wirabrata. H. SKM. Dr. SKM. Drg. Ade Erma. Prof. Dr. Sasli Adis. SE. Dian Damairini.Sp. SpACKI. Drg. Nizwardi Azkha. MPPM. Adi Wirachjanto. Dr. Dr. I Wayan A. One Widyawati. MPH. S.Sos. MSCPH. M. Entos Z. Rosihan Adhani. Dr. Vita.Ahmad Said.GDE Agung Wiadnya P. Lukman HL. Shermina Oruh. DESS.M. Drg. Dr. Entos Rusna. Jorizal Jannis. Kuswati Ningsih.Kes. M. H. MKes. Abd.Kes. Dr.S. Drs. Tukijan. Rais Lamangkona. SKM. Drs. Drg.A. Dyah RB. Prijono. Drg. Dr. Dr. Dr. dr. Herry Tjahjono. Ninin S . Abdul Gani Sitepu. Dr. MPH. Dr. DR. Harif Fadhillah. Munzelly Husivevi. M.SKM. Lovita T . Risma Julius. Drs. Zaura Rini Anggraini. Andi M. Eryta W. SKM. Tri Martiana. Lily Mulyasari. Siti Aisyah. Ishak. Guntur DW. Drs. A. Tingkat Daerah: Drg. Melzan Dharmayuli. Drs. Sugeng LA. rapat. Dr. Pande Putujaraga. Oslinda Martony. Dr. Rudi Arif. Pius Weraman. Lita R Siampar. M. Mahmud Fauzi. Mkes. Jimmy Lee. MKes. Bambang Sugeng W. Tjipto Rahardjo. Julistio Djais. Tri Martiana. Kartini Rustandi. Andreas Meliala. Dr.Kes . Eny Setiowati. Drg. Sofia Wirda.Kes. Dr. Ridarson. Dr. Durachman. Ibnu Alferbaly. Bondan Agus Susyanto. Drs. Muninjaya. Drg. SKM. Ridwan Thaha. SH. MARS. MPH.Kes. Hanni Rono S. Dr. atau pertemuan lainnya .SKM. Sardikin Giriputro. Choirul Anwar. MKes. Peter Andreas). Poedjo Praseptio. Syahrani Djedi. Dr. MKes. Emmilya Rosa. HJ. Bambang Agus Legowo. Jauhari. SKM. Yanti. Apt. Arbiansyah Alam. Endro Buono. Slamet Soesilo. Poedjo Prasetyo. MKes. MPAM. SpA (K). Jeane Pangemanan. Okti Palupi . SKM. Dr. Drg. Julistio TB Djais. Kiswanto. MSc. Dr. Kamaruzaman. Sudono. Ratna Dewi Umar. SKM. Dr.Kes. Dr. Syafrudin Rasyid. Syahrul A. M. Dr.Kes. Syafri. S. Ockti Palupi. Drg. Agussalim Mooduto. Dr. SKM. Emi Nurjasmi. Razak Thaha. MKes. SE. DESS. Dr.Sos . Jeni Haju.Kes. Irwan. Dan semua individu/pihak yang telah membantu penyusunan SKN yang tidak bisa disebutkan satu per-satu Mohon maaf bila ada kesalahan dalam penulisan nama dan gelar Daftar nama dan gelar disusun berdasarkan absensi lokakarya. SKM. M. T. Amin Yohannis. Nurbaiti. Benny Patiasina. Drg. Broto Wasisto. Tin tin F. Indro Darmadji. Prof. Dr. Didi Suswanto. Kuwat S Hudoyo. M. Dien Emawati. M.Kes. Dedi Supratman. Noto Basuki. MPH. Widyawati. Sultan Akbar Torutju . M. M. Sugito.Kes. Sri Rachmani. Fauzi Ali Amin. M. Ni Wayan Mariani. Sutrisno. M. SpOG.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful