P. 1
BAB I-V

BAB I-V

|Views: 1,481|Likes:
Published by Lathif Barcelonista

More info:

Published by: Lathif Barcelonista on Mar 16, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/18/2013

pdf

text

original

Sections

  • BAB I
  • PENDAHULUAN
  • A.Latar Belakang
  • B.Rumusan Masalah
  • C.Tujuan Penelitian
  • D.Manfaat Penelitian
  • E.Ruang Lingkup
  • BAB II
  • TINJAUAN PUSTAKA
  • A.Konsep Dasar Kader Kesehatan
  • B.Diare
  • 1.Diare Akut
  • 2.Diare Bermasalah
  • C.Pengetahuan
  • D.Sikap
  • E.Motivasi
  • F.Kerangka Konsep
  • G.Hipotesis
  • BAB III
  • METODE PENELITIAN
  • A.Desain Penelitian
  • B.Variabel Penelitian
  • C.Definisi Operasional
  • D.Instrumen Penelitian
  • E.Teknik Pengumpulan Data
  • G.Pengolahan Data dan Analisis Data
  • HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
  • A.Hasil Penelitian
  • B.Pembahasan
  • BAB V
  • KESIMPULAN DAN SARAN
  • A.Kesimpulan
  • B.Saran
  • DAFTAR PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Menyadari akan arti pentingnya peran serta masyarakat dalam pembangunan kesehatan, maka Departemen Kesehatan menetapkan visi : “Masyarakat yang Mandiri untuk Hidup Sehat”. Yaitu suatu kondisi di mana masyarakat Indonesia menyadari, mau, dan mampu mengenali, mencegah, dan mengatasi permasalahan kesehatan yang dihadapi, sehingga dapat bebas dari gangguan kesehatan akibat bencana, maupun lingkungan yang tidak mendukung untuk hidup sehat. Dalam mewujudkan visi tersebut, maka misi Departemen Kesehatan adalah : “Membuat Rakyat Sehat”. Dalam hal ini, Departemen Kesehatan harus mampu sebagai penggerak dan fasilitator pembangunan kesehatan yang dilaksanakan oleh pemerintah bersama masyarakat termasuk swasta, untuk membuat rakyat sehat, baik fisik, sosial, maupun mental/ jiwanya (Depkes, 2006). Menurut Mustari Gani (2007), berbagai masalah kesehatan yang timbul dewasa ini, sebenarnya tidak perlu terjadi apabila masyarakat berperan secara aktif sesuai dengan perannya masing-masing, mulai dari kesadaran memelihara kesehatan pribadi, keluarga, lingkungan, perencanaan program kesehatan hingga

pengawasan atas kebijakan atau pelaksanaan program-program kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah ataupun pihak lain yang ditunjuk oleh pemerintah. Tak dapat disangkal, bahwa pemerintah telah berupaya maksimal untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat Indonesia sebagai asset dalam pembangunan nasional, mulai dari penyusunan program sampai pada penyediaan anggaran. Namun, lagi-lagi sebaik apapun program dan sebesar apapun anggaran bila tidak diikuti dengan sikap proaktif dan kesadaran masyarakat maka program tersebut hanya akan menjadi sebuah fatamorgana. Secara bertahap para anggota WHO menyadari bahwa pengadaan rumah sakit mewah dan peralatannya yang serba canggih serta penyelenggaraan pendidikan kedokteran dan kesehatan yang mahal bukanlah cara yang paling baik untuk mempertinggi derajat kesehatan masyarakat. Kini telah banyak negara yang melakukan upaya secara besar-besaran guna mencapai pembangunan kesehatan yang rasional dan seimbang. Akibatnya negara-negara tersebut memberikan perhatian kepada bidang kesehatan masyarakat sama seperti perhatian yang diberikannya kepada individu. Tahun 1960 gagasan tentang pemberian pelayanan kesehatan dasar ini muncul. Dan pada mulanya hal itu cukup menjanjikan keberhasilan, namun karena beberapa proyek percontohan itu tidak disesuaikan dengan kondisi setempat, juga tidak mengikutkan peran serta masyarakat, tidak melibatkan

dukungan masyarakat dan sumber daya lokal, akhirnya proyek-proyek yang terdahulu itu berakhir dengan kegagalan dan kekecewaan. Dunia Internasional mengetahui bahwa kesehatan masyarakat China telah meningkat pesat sebagai akibat dari pendekatan yang kini disebut sebagai “Pelayanan Kesehatan Utama”. Salah satu unsur dari pendekatan tersebut adalah pemakaian kader kesehatan masyarakat guna memberikan pelayanan kesehatan di tempat-tempat dimana penduduk bertempat tinggal dan bekerja, membantu masyarakat dalam mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhannya di bidang

kesehatan, membantu masyarakat dalam memecahkan permasalahan mereka sendiri di bidang kesehatan (WHO, 1995). Perilaku kesehatan tidak terlepas dari pada kebudayaan masyarakat. Dalam upaya untuk menumbuhkan partisipasi masyarakat harus pula diperhatikan keadaan sosial budaya masyarakat. Sehingga untuk mengikut sertakan masyarakat dalam upaya pembangunan, khususnya dalam bidang kesehatan, tidak akan membawa hasil yang baik bila prosesnya melalui pendekatan yang edukatif yaitu, berusaha menimbulkan kesadaran untuk dapat memecahkan permasalahan dengan memperhitungkan sosial budaya setempat. Dengan terbentuknya kader kesehatan, pelayanan kesehatan yang selama ini dikerjakan oleh petugas kesehatan saja dapat dibantu oleh masyarakat. Dengan demikian masyarakat bukan hanya merupakan objek pembangunan, tetapi juga

Kasubdit Diare dan Kecacingan Depkes.idindex. jelaslah bahwa pembangunan kader adalah perwujudan pembangunan dalam bidang kesehatan (httplibrary. maka pesan-pesan yang disampaikan dapat diterima dengan sempurna berkat adanya kader.phpoption =news&task=viewarticle&sid=2475&Itimed=2). Penyakit diare di Kalimantan Selatan masuk dalam golongan penyakit terbesar yang angka kejadiannya relative cukup tinggi.go.ac.00 persen dan persentase keluarga yang menggunakan jamban yang memenuhi syarat kesehatan 67. sarana kesehatan dan KLB diare (httpwww.iddownloadfkmfkmzulkifli 1. Selanjutnya dengan adanya kader.pdf).980 dan 277 diantaranya menyebabkan kematian. utamanya disebabkan rendahnya ketersediaan air bersih. sanitasi buruk dan perilaku hidup tidak sehat. Selama tahun 2006 sebanyak 41 kabupaten di 16 provinsi melaporkan KLB diare di wilayahnya. Jumlah kasus diare yang dilaporkan sebanyak 10. Keadaan ini didukung oleh .12 persen.depkes. Angka kejadian diare disebagian besar wilayah Indonesia hingga saat ini masih tinggi. pihaknya memfokuskan strategi penanganan penatalaksanaan diare pada tingkat runah tangga.merupakan mitra pembangunan itu sendiri. Hal tersebut.usu. Menurut Wayan. Laporan 119 Dinkes Kab/ Kota tahun 2004 air bersih yang memenuhi syarat kesehatan 57. I Wayan Widaya mengatakan hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2004 angka kematian akibat diare 23 per 100 ribu penduduk dan pada balita 75 per 100 ribu balita.

Penyakit diare juga merupakan salah satu penyebab utama kematian pada anak balita. meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas. Angka kejadian penyakit diare sejak tahun 1997 cenderung mengalami penurunan. dari 17 per 1.000 penduduk tahun 2005 pada tahun 2006 meningkat menjadi 19. meningkatkan sistem surveilans. Untuk mendukung ke empat upaya atau strategi utama Depkes yaitu : Menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat. 2006). Penyakit diare merupakan penyakit terbanyak di Kabupaten Banjar jumlah kasus 9089. sarana jamban keluarga yang kurang memenuhi syarat. yaitu penggunaan air untuk keperluan sehari-hari yang tidak memenuhi syarat.faktor lingkungan.9 per 1.4% dan kasus diare tertinggi ditemukan di Desa Benua Hanyar sebanyak 16 kasus diare berdasarkan laporan tahunan Puskesmas Kertak Hanyar tahun 2007.000 penduduk (Profil Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan. Angka kejadian diare selama tahun 2007 di wilayah kerja Puskesmas Kertak Hanyar sebanyak 90 kasus dengan incidence rate 16. monitoring dan informasi kesehatan.5 per 1. meningkatkan pembiayaan kesehatan. Kecamatan Kertak Hanyar di Puskesmas Kertak Hanyar merupakan kecamatan dan Puskesmas tertinggi jumlah kasus diare mencapai 1036 kasus.000 penduduk menurun menjadi 6. Tidaklah cukup dengan hanya bergantung pada tenaga . serta kondisi sanitasi perumahan yang tidak higienis.

5%).5%). Purnama 10 (55. Memahami pentingnya kesehatan. Usaha peningkatan kesehatan masyarakat juga memerlukan bantuan kader kesehatan yang kompeten yang ada di masyarakat. Melihat . Jumlah kader sebanyak 78 orang dan keseluruhannya berjenis kelamin wanita. Posyandu Madya 4 buah (22.4% pada tahun 2007.2%). Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan kader dalam melaksanakan kegiatan Posyandu masih sangat rendah karena kemandirian kader kesehatan dalam program penanggulangan diare masih kurang. Frekuensi penyuluhan masih kurang bahkan hingga saat ini di wilayah kerja Puskesmas Kertak Hanyar belum optimal kerja kader yang mampu memberikan penyuluhan dalam penanggulangan diare.7%).kesehatan. yaitu Posyandu Pratama sebanyak 3 buah (16. dibutuhkan kerjasama lintas sektor agar bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar. dan Mandiri sebanyak 1 buah (5. dan siap bersaing dengan bangsa-bangsa lain yang sudah lebih maju (Depkes. B. Rumusan Masalah Rendahnya peranan kader kesehatan dalam penanggulangan diare dapat dilihat dari masih tingginya angka incidence rate kasus diare di wilayah kerja Puskesmas Kertak Hanyar yaitu sebesar 16. Berdasarkan laporan tahunan Puskesmas Kertak Hanyar tahun 2007 terdapat 18 Posyandu dengan tingkat perkembangan Posyandu. 2006). berkualitas tinggi.

maka peneliti membuat rumusan sebagai berikut : a. b. Tujuan Penelitian a. Untuk mendiskripsikan tingkat pengetahuan kader dalam penanggulangan diare di wilayah kerja Puskesmas Kertak Hanyar tahun 2008. Untuk mendiskripsikan sikap kader dalam penanggulangan diare di wilayah kerja Puskesmas Kertak Hanyar tahun 2008. Tujuan Umum Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kader Posyandu dalam perannya untuk menanggulangi penyakit diare di wilayah kerja Puskesmas Kertak Hanyar Kabupaten banjar tahun 2008.pentingnya peran kader kesehatan dalam menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat. . Bagaimanakah peran kader kesehatan dalam penanggulangan diare di wilayah kerja Puskesmas Kertak Hanyar tahun 2008 ? C. 2. Tujuan Khusus 1. Faktor-faktor apa yang mempengaruhi peran kader kesehatan dalam penanggulangan diare di wilayah kerja Puskesmas Kertak Hanyar Kabupaten Banjar tahun 2008 ? b.

8. Bagi Peneliti . D. 7. 4. Untuk mendiskripsikan tingkat motivasi kader dalam penanggulangan diare di wilayah kerja Puskesmas Kertak Hanyar tahun 2008. Untuk mengetahui hubungan motivasi dengan peran kader dalam penanggulangan diare di wilayah kerja Puskesmas Kertak Hanyar tahun 2008. Untuk mengetahui hubungan pengetahuan dengan peran kader dalam penanggulangan diare di wilayah kerja Puskesmas Kertak Hanyar tahun 2008. 5. Manfaat Penelitian 1. 6. Untuk mendiskripsikan tingkat motivasi kader dalam penanggulangan diare di wilayah kerja Puskesmas Kertak Hanyar tahun 2008.3. Untuk mengetahui hubungan sikap dengan peran kader dalam penanggulangan diare di wilayah kerja Puskesmas Kertak Hanyar tahun 2008. Untuk mendiskripsikan peran kader dalam penanggulangan diare di wilayah kerja Puskesmas Kertak Hanyar tahun 2008.

3.Meningkatkan wawasan keilmuan dan menerapkan teori-teori yang diperoleh waktu kuliah terhadap masalah-masalah kesehatan masyarakat 2. Ruang Lingkup 1. Bagi Instansi Terkait Sebagai bahan pertimbangan bagi para pengambil keputusan dalam merencanakan dan melaksanakan program kesehatan. 2. E. Ruang Lingkup Tempat . Ruang Lingkup Keilmuan Penelitian ini termasuk dalam ruang lingkup ilmu kesehatan masyarakat dan merupakan bagian dari ilmu Pendidikan dan Perilaku Kesehatan/ Pemberdayaan Kesehatan. Bagi Masyarakat Sebagai informasi tentang faktor-faktor yang mempengaruhi peran kader kesehatan dalam menanggulangi penyakit diare.

dan motivasi dengan peran kader kesehatan dalam menanggulangi penyakit diare di wilayah kerja Puskesmas Kertak Hanyar tahun 2008. 4. Ruang Lingkup Masalah Permasalahan dalam penelitian ini dibatasi pada tingkat pengetahuan. 3. Ruang Lingkup Waktu Penelitian Waktu penelitian dilaksanakan dalam waktu 4 bulan dimulai pada minggu kedua bulan Juni sampai dengan minggu kedua bulan Oktober tahun 2008.Penelitian dilakukan di Puskesmas Kertak Hanyar Kecamatan Kertak Hanyar Kabupaten Banjar. . sikap.

Konsep Dasar Kader Kesehatan 1. (httplibrary. L. Gunawan memberikan batasan tentang kader kesehatan :”kader kesehatan dinamakan juga promoter kesehatan desa (prokes) adalah tenaga sukarela yang dipilih oleh dari masyarakat dan bertugas mengembangkan masyarakat’. Pengertian Kader Kesehatan Direktorat Bina Peran serta Masyarakat Depkes RI memberikan batasan. kader kesehatan adalah warga masyarakat setempat yang dipilih dan ditinjau oleh masyarakat dan dapat bekerja secara sukarela.usu.iddownloadfkmfkm-zulkifli1.ac. .pdf).BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. A.

pelaporan vaksinasi.iddownloadfkmfkmzulkifli1.Para kader kesehatan itu seyogyanya memiliki latar belakang pendidikan yang cukup sehingga memungkinkan mereka untuk membaca.usu. Penyediaan dan distribusi obat/ alat kontrasepsi KB penyuluhan dalam upaya menanamkan NKKBS. Penyelenggaraan dana sehat dan pos kesehatan desa dan lain-lain. obat-obatan sederhana dan lain-lain. d. kader yang dinamis dengan pendidikan rata-rata tingkat desa ternyata mampu melaksanakan beberapa hal sederhana. pengobatan terhadap diare dan pemberian larutan gula garam. Penyuluhan kesehatan dan bimbingan upaya keberhasilan lingkungan jamban keluarga dan sarana air bersih sederhana. Pemberantasan penyakit menular. b. e. f. c.pdf). . pemberian obat cacing. Menurut Santoso Karo-Karo (httplibrary. Pengobatan ringan/ sederhana. pencarian kasus. menulis dan menghitung secara sederhana. pemberian distribusi obat/ alat kontrasepsi KB penyuluhan dalam upaya menanamkan NKKBS.ac. akan tetapi berguna bagi masyarakat sekelompoknya meliputi : a. Penimbangan dan penyuluhan gizi.

2. Memberikan penyuluhan. mengingat bahwa pada umumnya kader bukanlah tenaga profesional melainkan hanya membantu dalam pelayanan kesehatan. Merujuk. Dalam hal ini perlu adanya pembatasan tugas yang diemban. Kegiatan yang dapat dilakukan kader di Posyandu adalah : Melaksanakan pendaftaran. b. Kegiatan pokok yang perlu diketahui oleh dokter. Melaksanakan pencatatan hasil penimbangan. baik menyangkut jumlah maupun jenis pelayanan. kader dan semua pihak dalam rangka melaksanakan kegiatan-kegiatan baik yang menyangkut di dalam maupun di luar Posyandu antara lain : a. Memberi dan membantu pelayanan. Tugas Kegiatan Kader Tugas kegiatan kader akan ditentukan. Kegiatan yang dapat dilakukan kader di luar Posyandu KB-kesehatan adalah : . Melaksanakan penimbangan bayi dan balita.

Menyediakan sarana jamban keluarga. P3K. Imunisasi. Pemberian pertolongan pertama pada penyakit. Mengajak ibu-ibu untuk datang pada hari kegiatan Posyandu. 3. Kegiatan yang menunjang upaya kesehatan lainnya yang sesuai dengan permasalahan yang ada : Pemberantasan penyakit menular. Penyediaan sarana air bersih. Pembersihan sarang nyamuk. Pembuatan sarana pembuangan air limbah. KIA.1. Pembuangan sampah. Penyehatan rumah. 2. . Dana sehat. Kegiatan pengembangan lainnya yang berkaitan dengan kesehatan. Gizi dan penanggulangan diare. Bersifat yang menunjang pelayanan KB.

Membagi obat. informasi dan motivasi wawancara muka (kunjungan). memberikan informasi dan mengadakan kesepakatan kegiatan apa yang akan dilaksanakan dan lain-lain. Peranan kader di luar Posyandu KB-kesehatan Merencanakan kegiatan. alat peraga dan percontohan. Menggerakkan masyarakat : mendorong masyarakat untuk gotong royong. membahas hasil survei. Melakukan komunikasi. menentukan kegiatan penanggulangan masalah kesehatan bersama masyarakat. . c. menyajikan dalam MMD. Mengawasi pendatang di desanya dan melapor. b. d. Memberikan pertolongan pemantauan penyakit. menentukan masalah dna kebutuhan kesehatan masyarakat desa.c. Memberikan pelayanan yaitu : a. Membantu mengumpulkan bahan pemeriksaan. antara lain : menyiapkan dan melaksanakan survei mawas diri. membahas pembagian tugas menurut jadwal kerja.

balita yang ditimbang dan yang naik timbangan. penderita yang ditemukan dan dirujuk. e. KIA : jumlah ibu hamil. Melakukan kunjungan rumah kepada masyarakat terutama keluarga binaan. d. Diare : jumlah oralit yang dibagikan.e. b. Melakukan pencatatan yaitu : a. Imunisasi : jumlah imunisasi TT bagi ibu hamil dan jumlah bayi atau balita yang diimunisasikan. Memberikan pertolongan pada kecelakaan dan lainnya. Keluarga pembinaan untuk masing-masing untuk berjumlah 10-20 KK atau diserahkan dengan kader setempat hal ini dilakukan dengan memberikan informasi tentang upaya kesehatan dilaksanakan. vitamin A yang dibagikan dan sebagainya. . Gizi : jumlah bayi yang ada. Melakukan pertemuan kelompok. KB atau jumlah Pus. Melakukan pembinaan mengenai lama program keterpaduan KBkesehatan dan upayanya kesehatan lainnya. jumlah peserta aktif. c. mempunyai KMS.

Aktif salam kegiatan-kegiatan sosial maupun pembangunan desanya.3. . Persyaratan Menjadi Kader Bahwa pembangunan dibidang kesehatan dapat dipengaruhi dari keaktifan masyarakat dan pemuka-pemukanya termasuk kader. Mempunyai penghasilan sendiri dan tinggal tetap di desa yang bersangkutan. Sanggup membina paling sedikit 10 KK untuk meningkatkan keadaan kesehatan lingkungan. Secara fisik dapat melaksanakan tugas-tugas sebagai kader. sudah barang tentu para pamong desa harus juga mendukung. Dikenal masyarakat dan dapat bekerjasama dengan masyarakat calon kader lainnya dan berwibawa. Secara disadari bahwa memilih kader yang merupakan pilihan masyarakat dan mendapat dukungan dari kepala desa setempat kadang-kadang tidak gampang. maka pemilihan calon kader yang akan dilatih perlu mendapat perhatian. tulis dengan bahasa Indonesia. Dapat baca. Namun bagaimanapun proses pemilihan kader ini hendaknya melalui musyawarah dengan masyarakat. Di bawah ini salah satu persyaratan umum yang dapat dipertimbangkan untuk pemilihan calon kader.

Tidak sering meninggalkan tempat untuk waktu yang lama. Dari persyaratan-persyaratan yang diutamakan oleh beberapa ahli di atas dapatlah disimpulkan bahwa kriteria pemilihan kader kesehatan antara lain. mendapat kepercayaan dari masyarakat serta mempunyai kredibilitas yang baik dimana perilakunya menjadi panutan masyarakat. Ida Bagus. mempunyai pendapat lain mengenai persyaratan bagi seorang kader antara lain : Berasal dari masyarakat setempat.- Diutamakan telah mengikuti KPD atau mempunyai keterampilan. sanggup membina masyarakat sekitarnya. Tinggal di desa tersebut. sanggup bekerja secara sukarela. Kader kesehatan mempunyai peran yang besar dalam upayanya meningkatkan kemampuan masyarakat menolong dirinya untuk mencapai . Dr. pandai baca tulis. Masih cukup waktu bekerja untuk masyarakat disamping mencari nafkah lain. mempunyai penghasilan tetap. memiliki jiwa pengabdian yang tinggi. Sebaiknya yang bisa baca tulis. Diterima oleh masyarakat setempat.

Umumnya masyarakat setempat menyediakan sebuah rumah atau sebuah kamar serta beberapa peralatan secukupnya yang dirasa sudah memenuhi persyaratan untuk dilakukannya sebuah pelayanan kesehatan (WHO.usu. Para kader kesehatan itu mungkin saja bekerja secara full-time atau parttime (bekerja penuh atau hanya memberikan sebagian dari waktunya) dibidang pelayanan kesehatan. 1995).pdf). 4. Kondisi Kerjanya Kader kesehatan bertanggung jawab terhadap masyarakat setempat serta pimpinan-pimpinan yang ditunjuk oleh pusat-pusat pelayanan kesehatan. 5. mereka itu tidak dibayar dengan uang atau bentuk lainnya oleh masyarakat setempat atau oleh Pusat Kesehatan Masyarakat.derajat kesehatan yang optimal. Diharapkan mereka dapat melaksanakan petunjuk yang diberikan oleh pembimbing dalam jalinan kerja dari sebuah tim kesehatan.iddownloadfkmfkm-zulkifli1. Selain itu peran kader ikut membina masyarakat dalam bidang kesehatan dengan melalui kegiatan yang dilakukan maupun di Posyandu (httplibrary. Peranan Kader Desa .

Pembinaan kader desa harus dilakukan secara positif dan berkesinambungan. Kader desa merupakan perwujudan dari usaha-usaha secara sadar dan terencana untuk menumbuhkan prakarsa dan partisipasi masyarakat kepada kader diberikan keterampilan-keterampilan tertentu. yang tumbuh ditengah-tengah masyarakat dan merasa berkewajiban untuk melaksanakan. c. Seberapa jauh yang dapat kita sumbangkan untuk mengoptimalkan potensi kader desa? a. meningkatkan dan membina kesejahteraan masyarakat dengan rasa ikhlas tanpa pamrih dan didasari panggilan untuk melaksanakan tugas-tugas kemanusiaan.Kader desa adalah tenaga sukarela yang terdidik dan terlatih dalam bidang tertentu. Menumbuhkan dan mengembangkan sistem yang dapat menunjang peran kader desa. agar tujuan-tujuan pembentukan kader untuk menumbuhkan prakarsa dan partisipasi dapat tercapai. b. Jangan terlalu dekat membuat pembatasan-pembatasan. Keuntungan yang diperoleh masyarakat dengan adanya kader adalah : .

Diare Akut a. Diare 1. Masyarakat dapat memanfaatkan kegiatan atau fasilitas yang disediakan oleh program dengan optimal. Cara pelaksanaan kegiatan dapat disesuaikan dengan kondisi setempat. Dapat dikerjakan oleh kader dan karena sifatnya sukarela dapat menekan biaya. Batasan . c. B. Daya jangkau program menjadi lebih luas karena keterbatasan personil sudah diatasi dengan adanya kader. Keuntungan yang diperoleh lembaga yang mensponsori program dengan adanya kader adalah : a. b. dkk. (Istiarti Tinuk. c.a. Meningkatkan kualitas kemampuan hingga menumbuhkan pemimpin dan kepemimpinan baru dalam masyarakat. b. Keterlibatan masyarakat dalam program menjadi lebih besar sehingga ikut berperan aktif dalam menyusun tujuan-tujuan yang ingin dicapai. 2003 : 40).

• Virus : Rotavirus. Adenovirus. tetapi yang sering ditemukan dilapangan ataupun klinis adalah diare yang disebabkan infeksi dan keracunan. Etiologi dan Epidempologi 1) Etio. Golongan Vebrio. dibagi 3 penyebab yaitu : • Bakteri : Shigella. Ada beberapa hal yang menyebabkan diare adalah : a. Coli. Clostridium Perfricens. Norwalk + Like Agent. Barcilus Cereus.ogi Secara klinis penyebab diare dapat dikelompokkan dalam 16 golongan besar. Salmonelia. Aeromonas. b. Staphilococ Usaurfus.Departemen Kesehatan RI (2005) mendefinisikan Diare Akut adalah buang air besar lembek/ cair bahkan berupa air saja yang frekuensinya lebih sering dari biasanya (biasanya 3 kali atau lebih dalam sehari) dan berlangsung kurang dari 14 hari. Infeksi. Parasit : • . Camfylo Bacter. E.

Alergi. Trichuris. Keracunan oleh racun yang dikandung dan diproduksi - Jasad renik (Algae) Ikan. Sebab-sebab lain. Bacilus Cereus.- Cacing perut : Ascaris. buah-buahan. c. - Protozoa : Entamuba. Giarda Lamblia. d. sayur-sayuran. Balantidium Coli. Imunisasi Defisiensi f. Strongy Loides. Blastissiyis Huminis. - e. Crpto Sparidium. Clostridium Perfricens. 2) Epidempologi . b. Histollytica. Keracunan : • • Keracunan bahan kimia. Malabsorpsi.

Kuman penyebab diare biasanya menyebar melalui fecal oral antara lain melalui makanan/ minuman tercemar tinja dan atau kontak langsung dengan tinja penderita. Menurut Departemen Kesehatan RI (2005) perilaku tersebut antara lain : a. Bila makanan disimpan dalam beberapa jam pada suhu kamar. Makanan akan tercemar dan kuman akan berkembang biak. Beberapa perilaku dapat menyebabkan penyebaran kuman enteric dan meningkatkan resiko terjadinya diare. Menggunakan botol susu. Tidak memberikan ASI (Air Susu Ibu) secara penuh 4-6 bulan pada pertama kehidupan. Menyimpan makanan masak pada suhu kamar. b. d. Pada bayi yang tidak diberi ASI resiko untuk menderita diare lebih besar dari pada bayi yang diberi ASI penuh dan kemungkinan menderita dehidrasi berat juga lebih besar. c. karena botol sudah dibersihkan. Air mungkin sudah tercemar dari sumbernya atau pada saat disimpan di rumah. Pencemaran di rumah dapat terjadi kalau tempat penyimpanan . penggunaan botol ini memudahkan pencemaran oleh kuman. Menggunakan air minum yang tercemar.

tidak tertutup atau apabila tangan tercemar menyentuh air pada saat mengambil air dari tempat penyimpanan. . Tidak membuang tinja (termasuk tinja bayi) dengan benar. Tidak mencuci tangan sesudah membuang air besar dan sesudah membuang tinja anak atau sebelum makan dan menyuapi anak. Faktor-faktor tersebut adalah : a. Cholera. beberapa faktor pada pejamu dapat meningkatkan insiden. Sering beranggapan bahwa tinja bayi tidaklah berbahaya. Sementara itu tinja binatang dapat menyebabkan infeksi pada manusia. padahal sesungguhnya mengandung virus atau bakteri dalam jumlah besar. f. Tidak memberikan ASI sampai 2 tahun. 3) Faktor Pejamu yang Meningkatkan Kerentanan Terhadap Diare Menurut Departemen Kesehatan RI (2005). e. beberapa penyakit dari lamanya diare. ASI mengandung antibody yang dapat melindungi kita terhadap berbagai kuman penyebab diare seperti : Shigelle dan V.

Hal ini sebagai akibat dari penurunan kekebalan tubuh penderita. 4) Faktor Lingkungan dan Perilaku Penyakit diare merupakan salah satu penyakit yang berbasis lingkungan. d. Kedua faktor ini akan berinteraksi bersama dengan perilaku manusia. Keadaan ini mungkin hanya berlangsung sementara. Secara proporsional. Pada anak imunosupresi berat. Beratnya penyakit. Terutama pada penderita gizi buruk. misalnya sesudah infeksi virus (seperti campak) atau mungkin yang berlangsung lama seperti pada penderita AIDS (Autoimune Deficiensy Syndrome). Kurang gizi. diare lebih banyak terjadi pada golongan balita (55%). Diare dan disentri sering terjadi dan berakibat berat pada anak-anak yang sedang menderita campak dalam 4 minggu terakhir. yaitu sarana air bersih dan pembuangan tinja. c. lama dan resiko kematian karena diare meningkat pada anak-anak yang menderita gangguan gizi. Dua faktor yang dominan.b. Imunodefisiensi/ Imunosupresi. e. Campak. diare dapat terjadi karena kuman yang tidak pathogen dan mungkin juga berlangsung lama. Apabila faktor lingkungan tidak sehat karena .

seperti infeksi virus. alergi protein susu sapi. 2) Etiologi dan Epidemologi Diare berdarah dapat disebabkan oleh kelompok penyebab diare.tercemar kuman diare serta berakumulasi dengan manusia yang tidak sehat pula. intoleransi laktosa. parasit. kontak dari orang ke orang atau kontak orang dengan alat rumah tangga. yaitu melalui makanan dan minuman. Infeksi ini menyebar melalui makanan dan air yang terkontaminasi dan biasanya terjadi pada daerah dengan sanitasi dan hygiene perorangan yang buruk. Diare Bermasalah a. bakteri. maka dapat menimbulkan kejadian penyakit diare. diare dengan darah dan lender dalam feses dan adanya tenesmus. Penularannya secara fecal-oral. 3) Gambaran Klinis . 2. Disentri berat menurut Departemen Kesehatan RI (2005) 1) Batasan Sindrom disentri terdiri dari kumpulan gejala. tetapi sebagian besar disentri disebabkan oleh infeksi.

Pada saat tenesmus terjadi. walaupun kejadiannya lebih jarang jika dibandingkan dengan diare cair akut. komplikasi disentri dapat terjadi local disaluran cerna. pada kebanyakan penderita akan mengalami penurunan volume diarenya dan mungkin feses hanya berupa darah dan lender. Diare persisten menurut Departemen Kesehatan RI (2005) 1) Batasan Diare persisten adalah diare akut yang berlanjut sampai 14 hari atau lebih. kemudian pada hari kedua atau ketiga muncul darah. Gejala infeksi saluran nafas akut dapat menyertai disentri dapat menimbulkan dehidrasi. hilangnya nafsu makan dan badan terasa lamah. 2) Etiologi dan Epidemologi Sesuai dengan batasan bahwa diare persisten adalah diare akut yang menetap. sakit perut yang diikuti munculnya tenesmus panas.Diare pada disentri umumnya diawali diare cair. dari yang ringan sampai dengan dehidrasi berat. dengan maupun tanpa lender. maupun sistemik. . b. dengan sendirinya etiologi diare sama dengan diare akut.

. Tatalaksana diare akut yang tidak tepat : Pemakaian antibiotik yang tidak rasional. Pemuasan penderita. Diare akut dengan etiologi bakteri invasive. yang secara nyata mempengaruhi perjalanan penyakit dan tatalaksana diare yang muncul.3) Faktor resiko berkelanjutannya diare akut menjadi diare persisten adalah : • • • • • Usia bayi kurang dari 4 bulan. Tidak mendapat ASI. c. Kurang Energi Protein (KEP) yang dimaksud adalah KEP berat (marasmus atau kwashiorkor). Kurang Energi Protein (KEP) berat menurut Departemen Kesehatan RI (2005) 1) Batasan Diare yang terjadi dapat berupa diare akut maupun diare persisten. yang dapat muncul sebagai disentri. Kurang Energi Protein (KEP).

Demikian pula peranan penyebab “bukan infeksi” menjadi lebih besar. Tetapi sehubungan dengan berkurangnya imunitas pada KEP berat. Walaupun pada dasarnya tatalaksana diare pada KEP sama dengan pada anak dengan status gizi baik. Tata laksana penderita . tetapi ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Perlu dipahami perubahan morfologis dan fisiologis pada KEP pengaruhnya terhadap perjalanan klinik diare penyesuaian yang perlu dilakukan pada tata laksananya. d. Diare dengan penyakit penyerta menurut Departemen Kesehatan RI (2005) 1) Pendahuluan Anak yang menderita diare (diare akut atau diare persisten) mungkin juga disertai dengan penyakit lain. 2) Etiologi Pada dasarnya spektrum etiologi diare pada KEP sama dengan yang ditemukan pada diare yang terjadi pada anak dengan gizi baik. memungkinkan munculnya diare akibat kuman yang fakultatif pathogen menjadi lebih besar.Diare yang terjadi pada KEP cenderung lebih berat lebih lama dan dengan angka kematian yang lebih tinggi dibandingkan dengan diare pada anak dengan gizi baik.

3. Saluran susunan saraf (meningitis. Penyakit yang sering terjadi bersama dengan diare : • Infeksi saluran nafas (bronchopneumonia. kurang vit. Penyakit ginjal/ gagal ginjal. dll). bronkhilittis. Infeksi saluran kemih. dll). dll). Penyekit yang dapat disertai dengan diare tetapi lebih jarang • • • • terjadi Penyakit jantung yang berat. A. Pencegahan Diare .tersebut selain berdasarkan acuan buku tata laksana diare juga tergantung dari penyakit yang menyertai. Kurang gizi (KEP berat. ensefalitis.

Memperbaiki makanan pendamping ASI. hasil penelitian terakhir menunjukkan. Pengetahuan seseorang terhadap objek mempunyai intensitas atau tingkat yang berbeda-beda. telinga dan lain sebagainya) (Notoatmodjo S.Upaya Kegiatan Pencegahan Diare. 2005). Secara garis besarnya dibagi dalam 6 tingkat pengetahuan. atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indera yang dimilikinya (mata. 2005). (Notoatmodjo S. Membuang tinja bayi dan anak kecil di jamban. bahwa cara pencegahan yang benar dan efektif yang dapat dilakukan menurut Departemen Kesehatan RI (2005) adalah : • • • • • • • Memberikan ASI. yaitu : . C. Pengetahuan Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia. Menggunakan jamban. Mencuci tangan dengan menggunakan sabun. Memberikan imunisasi campak. hidung. Menggunakan air bersih yang cukup.

a. Tahu (Know)

Tahu diartikan hanya sebagai recall (memanggil) memori yang telah ada sebelumnya setelah mengamati sesuatu.
b. Memahami (Comprehension)

\memahami suatu objek bukan sekedar tahu terhadap objek tersebut, tidak sekedar dapat menyebutkan, tetapi orang tersebut harus dapat

menginterpretasikan secara benar tentang objek yang diketahui tersebut.
c. Aplikasi (Application)

Aplikasi diartikan apabila orang telah memahami objek yang dimaksud dapat menggunakan atau dapat mengaplikasikan prinsip yang diketahui tersebut pada situasi yang lain.
d. Analisis (Analysis)

Analisis adalah kemampuan seseorang untuk menjabarkan dan/ atau memisahkan, kemudian mencari hubungan antara komponen-komponen yang terdapat dalam suatu masalah atau objek yang diketahui. Indikasi bahwa pengetahuan seseorang itu sudah sampai pada tingkat analisis adalah apabila orang tersebut telah dapat membedakan, memisahkan, mengelompokkan, membuat diagram (bagan) terhadap pengetahuan atas objek tersebut.
e. Sintesis (Synthesis)

Sintesis menunjukkan suatu kemampuan seseorang untuk merangkum atau meletakkan dalam suatu hubungan yang logis dari komponen-komponen pengetahuan yang dimiliki.
f. Evaluasi (Evaluation)

Evaluasi berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu objek tertentu. D. Sikap Sikap adalah juga respon tertutup seseorang terhadap stimulus atau objek tertentu, yang sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi yang bersangkutan (senang-tidak senang, setuju-tidak setuju, baik-tidak baik, dan sebagainya) (Notoatmodjo S, 2005). Campbell (1950) mendefinisikan sikap adalah : “An individual’s attitude is syndrome of response consistency with regard to object.” Dikatakan bahwa sikap itu suatu sindroma atau kumpulan gejala dalam merespon stimulus atau objek, sehingga sikap itu melibatkan pikiran, perasaan, perhatian, dan gejala kejiwaan yang lain. Newcomb, salah seorang ahli psikologi sosial menyatakan, bahwa sikap merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak, dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu. Dalam kata lain, fungsi sikap bukan merupakan

tindakan (reaksi terbuka) atau aktifitas, akan tetapi merupakan predisposisi perilaku (tindakan) atau reaksi tertutup). Seperti halnya pengetahuan, sikap juga mempunyai tingkat-tingkat berdasarkan intensitasnya, sebagai berikut :
a. Menerima (Receiving)

Menerima diartikan bahwa seseorang atau objek mau menerima stimulus yang diberikan (objek).

b. Menanggapi (Responding)

Menanggapi disini diartikan memberikan jawaban atau tanggapan terhadap pertanyaan atau objek yang dihadapi.
c. Menghargai (Valuing)

Menghargai diartikan sebagai objek, atau seseorang memberikan nilai yang positif terhadap objek atau stimulus, dalam arti, membahasnya dengan orang lain dan bahkan mengajak atau mempengaruhi atau menganjurkan oranglain merespon.
d. Bertanggung jawab (Responsible)

Sikap yang paling tinggi tingkatannya adalah bertanggung jawab terhadap apa yang telah diyakininya.

E. Motivasi Secara umum mengacu pada adanya kekuatan dorongan yang menggerakkan kita untuk berperilaku tertentu. Oleh karena itu, dalam mempelajari motivasi kita akan berhubungan dengan hasrat, keinginan, dorongan dan tujuan. Di dalam konsep motivasi kita juga akan mempelajari sekelompok fenomena yang mempengaruhi sifat, kekuatan dan ketepatan dari tingkah laku manusia (Quinn, 1995). Stooner (1992) mendefinisikan bahwa motivasi adalah suatu hal yang menyebabkan dan yang mendukung tindakan atau perilaku seseorang.

a. Model-model motivasi kerja Dilihat dari orientasi cara peningkatan motivasi kerja dalam organisasi kerja, para ahli mengelompokkannya kedalam suatu model-model motivasi kerja, yakni : 1) Model tradisional

Model ini menekankan bahwa untuk memotivasi bawahan agar mereka mengingat kinerjanya, perlu pemberian insentif berupa materi pada karyawan yang mempunyai prestasi tinggi atau kinerja baik. 2) Model hubungan manusia Model ini menekankan bahwa untuk meningkatkan motivasi kerja karyawan, perlu dilakukan perlakuan atau memperhatikan kebutuhan sosial mereka, meyakinkan kepada setiap karyawan bahwa setiap karyawan adalah penting dan berguna bagi organisasi. 3) Model sumber daya manusia Model ini mengatakan bahwa banyak hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan motivasi kerja karyawan. Disamping uang, barang, atau kepuasan kerja, tetapi juga kebutuhan atau keberhasilan kerja (kesuksesan kerja). Menurut model ini setiap manusia cenderung untuk mencapai kepuasan prestasi yang dicapai, dan prestasi yang baik tersebut merupakan tanggung jawabnya sebagai karyawan. Memberikan reward atau penghargaan, dan punishment atau hukuman oleh atasan kepada bawahan juga dapat dipandang sebagai upaya peningkatan motivasi kerja. Dipandang dari segi ini, maka motivasi dapat dibedakan menjadi dua, yakni : (Notoatmodjo, Soekidjo 2005)

akan mempunyai efek “takut” pada karyawan akan pemecatan. Motivasi Variabel Terikat (Dependent) b.1) Motivasi positif (Insentif positif) Adalah pimpinan memberikan hadiah atau reward kepada bawahannya yang berprestasi atau kinerjanya baik. Sikap . F. atau penurunan pangkat. 2) Motivasi negatif (Insentif negatif) Adalah pemimpin memberikan hukuman (punishment) kepada bawahan yang kurang berprestasi atau kinerjanya rendah. Kerangka Konsep Variabel Bebas (Independent) a. Pengetahuan Peran Kader Kesehatan dalam Penanggulangan Diare c. Dengan teguran-teguran atau kalau perlu hukuman. dan sebagainya.

. Hipotesis 1. Tidak ada hubungan motivasi dengan peranan kader dalam penanggulangan diare di wilayah kerja Puskesmas Kertak Hanyar Kecamatan Kertak Hanyar Kabupaten Banjar tahun 2008. c. Hipotesis nol (Ho) atau hipotesis statistik adalah : a. Ada hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan dengan peran kader dalam penanggulangan diare di wilayah kerja Puskesmas Kertak Hanyar Kecamatan Kertak Hanyar Kabupaten Banjar tahun 2008. b. Ada hubungan yang bermakna antara sikap dengan peran kader dalam penanggulangan diare di wilayah kerja Puskesmas Kertak Hanyar Kecamatan Kertak Hanyar Kabupaten Banjar tahun 2008. 2. Ada hubungan yang bermakna antara motivasi dengan peran kader dalam penanggulangan diare di wilayah kerja Puskesmas Kertak Hanyar Kecamatan Kertak Hanyar Kabupaten Banjar tahun 2008.G. Hipotesis alternative (Ha/Hl) atau hipotesis penelitian ini adalah : a.

c. . dengan cara pendekatan. Tidak ada hubungan tingkat pengetahuan dengan peranan kader dalam penanggulangan diare di wilayah kerja Puskesmas Kertak Hanyar Kecamatan Kertak Hanyar Kabupaten Banjar tahun 2008. Dengan menggunakan pendekatan Cross Sectional yaitu suatu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor-faktor resiko dengan efek. dengan jenis penelitian Deskriptif Observasi yaitu suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau deskripsi tentang suatu keadaan secara objektif dan dengan suatu hasil perbuatan jiwa secara aktif dan penuh perhatian untuk menyadari adanya rangsangan. observasi atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat.b. Tidak ada hubungan sikap dengan peranan kader dalam penanggulangan diare di wilayah kerja Puskesmas Kertak Hanyar Kecamatan Kertak Hanyar Kabupaten Banjar tahun 2008. BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian survey.

Populasi dan Sampel a. Populasi Populasi adalah wilayah generelasi yang terdiri atas : objek/ subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiono. b. Waktu dan Lokasi Penelitian a.1. 2006). . Lokasi Penelitian Lokasi penelitian dilaksanakan di Puskesmas Kertak Hanyar Kecamatan Kertak Hanyar Kabupaten Banjar. Waktu Penelitian Waktu pelaksanaan penelitian ini dilaksanakan dalam waktu 4 bulan yaitu pada tanggal 10 Juni – 10 Oktober 2008. 2.

2006). α = Ketepatan yang diinginkan. 1977 sebagai berikut : Z21-α/2P(1-P) N n= d2 (N-1) + Z2 1. ditetapkan pada 1.96 sesuai dengan derajat kepercayaan 95%.Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kader kesehatan yang bertugas di wilayah kerja Puskesmas Kertak Hanyar Kabupaten Banjar.α/2P (1-P) ααα/2P(1-P) N (Pramono Dibyo. Untuk menentukan besar sampel minimal dalam penelitian ini mengacu kepada teori dari Stanlei Lameshow. . b. Z = Standar deviasi normal. Sampel Penelitian Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiono. 1997) Keterangan : n = Jumlah sampel yang diperlukan dalam penelitian. yaitu sebanyak 78 kader.

052 x (65-1)+ 1.16 + 0.25 62. d = Penyimpangan terhadap populasi atau derajat ketepatan yang diinginkan sebesar 0.5 (1-0. Dengan demikian dapat dihitung jumlah sampel minimal yaitu : 1. (Iwan Ariyawan.5) ααα/2P(1-P) N 3.25 x 65 = 0. N = Jumlah Populasi.84 x 0.4 = 0.0025 x 64+ 3.4 .5) 65 n= 0.5.84 x 0.962 x 0.05.P = Asumsi Proporsi 0.96 62. 1998 : 63).962 x 0.5 (1-0.

maka diperoleh jumlah sampel untuk di wilayah kerja Puskesmas Kertak Hanyar sebanyak 56 kader.12 = 56 Dari rumus tersebut. Dengan kriteria inklusi : 1) Usia > 20 tahun. 2001 : 41). 2) Pendidikan lulus SMP. Variabel Bebas Variabel bebas adalah faktor yang diduga sebagai faktor yang mempengaruhi variabel terikat (Nursalam dan Pariani S. Variabel Penelitian Dalam penelitian ini ada 2 variabel yaitu : 1. Dalam penelitian ini .= 1. B.

motivasi kader terhadap penanggulangan diare.1 Definisi Operasional Penelitian No 1 Variabel Pengetahuan Definisi Operasional Kemampuan responden untuk mengetahui dan memahami tentang hal-hal yang berkaitan dengan diare. C. 2001 : 42). Definisi Operasional Tabel 3.variabel bebasnya adalah : Tingkat Pengetahuan. pencegahan. Instrumen Penelitian Kuesioner Kategori Baik = Nilai 8 -14 Kurang = Nilai 0 . Variabel Terikat Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel bebas atau independent variable (Nursalam dan Pariani S. penyebab.7 Skala Ordinal . meliputi pengertian. 2. sikap. Dalam penelitian ini variabel terikatnya adalah : Peran kader kesehatan dalam penanggulangan diare.

Kuesioner Mendukung = Nilai 11 – 20 Tidak mendukung = Nilai 5 – 10 Ordinal Kuesioner Tinggi = Nilai 9 – 16 Rendah = Nilai 4 . Ordinal (Machfoedz Irham. Meliputi : memberikan penyuluhan. Dorongan atau keinginan responden bertindak atau berperilaku dalam menanggulangi penyakit diare meliputi : pengertian kader. Kurang = Nilai 14 – 28. bagian B memuat pertanyaan mengenai tingkat pengetahuan peran kader dalam menanggulangi penyakit diare berisi 14 pertanyaan. teguran. 2008).8 Ordinal Observasi Baik = Nilai 29 – 56. Bagian C memuat pertanyaan .2 Sikap 3 Motivasi 4 Peran Kader Respon atau kesiapan intik bertindak yang biasa dilakukan berhubungan dalam penanggulangan diare. Pertanyaan terdiri dari A memuat karakteristik responden. pemberian insentif. Kegiatan kader baik di dalam. maupun di luar Posyandu dalam menanggulangi diare. anjuran. Instrumen Penelitian Alat pengumpulan data yang dipergunakan dalam penelitian ini berupa kuesioner yang memuat beberapa pertanyaan yang mengacu pada kerangka konsep. D.

Uji realibilitas yakni menggunakan cara teknik test retest yaitu instrumen diujikan pada responden yang sama. Bagian D memuat pertanyaan mengenai motivasi peran kader dalam menanggulangi penyakit diare berisi 6 pertanyaan. maksudnya berkali-kali untuk mengukur hasilnya ajeg atau paling sedikit berbeda amat sedikit (Machfoedz Ircham. Kuesioner yang memuat pertanyaan mengenai tingkat pengetahuan. bila tidak signifikan tidak reliable (Machfoedz Ircham. Bila signifikan berarti reliable. 2008 : 25). 2008 : 32). Bila korelasinya rendah berarti pertanyaan itu tidak bergayut dan harus didrop. dengan pengertian bahwa data di atas 30. Hasil uji coba dilakukan uji korelasi antar skor item dengan skor total. . Uji validitas dilakukan pada 30 responden karena merupakan batas jumlah antara sedikit dan banyak. sikap.mengenai tingkat sikap peran kader dalam menanggulangi penyakit diare berisi 8 pertanyaan. dan motivasi terhadap peran kader dalam menanggulangi diare sebagai persyaratan suatu alat ukur penelitian. Bagian E memuat daftar pengamatan dengan jenis pengamatan skala penilaian (rating scale). kurvanya akan mendekati kurva normal adalah merupakan suatu fenomena universal mengenai fenomena ciri atau sifat alami yang normal. Hasil pengukuran pertama dikorelasikan dengan hasil pengukuran yang kedua menggunakan rumus product moment. Dan uji realibilitas artinya keajegan. maka akan diuji validitas yang memiliki arti ketepatan dan kecermatan. dalam selang waktu antara kira-kira 15-30 hari.

mengenai peran tentang kader tingkat motivasi. 2. observasi dan dokumentasi.E. Data Primer Data primer diperoleh dari wawancara yang menggunakan kuesioner yaitu dengan mengajukan dan pertanyaan-pertanyaan sikap. Cara pengumpulan data tersebut penggunaannya disesuaikan dengan sumber data yaitu : 1. Data tersebut diperoleh dari Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan. Teknik Pengumpulan Data Secara umum pengumpulan data dilakukan dengan cara kuesioner. Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar dan Puskesmas Kertak Hanyar. kesehatan menanggulangi diare. F. Data Sekunder Data sekunder meliputi data mengenai gambaran umum daerah penelitian. dalam pengetahuan. Jalannya Penelitian .

666. 6. Sebelumnya peneliti melakukan uji coba kuesioner yaitu uji validitas dan dilanjutkan uji realibilitas. 7. c. 12. 9. dengan karakteristik yang hampir sama dengan subjek penelitian.1. . Dengan membawa surat pengantar untuk melakukan penelitian dari institusi pendidikan yang ditujukan pada Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar untuk meminta izin melakukan penelitian pada Puskesmas Kertak Hanyar. 1) Pengetahuan kader kesehatan dalam penanggulangan diare berjumlah 14 item pertanyaan. Hasil uji coba diperoleh 7 pertanyaan yang gugur (tidak valid) yaitu pertanyaan no 2.onden pada tingkat kemaknaan 5% didapat angka r table = 0. b. penulis meminta surat pengantar pada Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar yang kemudian dibawa dan ditunjukkan kepada Kepala Puskesmas dan juga sebagai bahan untuk memperkuat legalitas peneliti untuk meminta persetujuan responden agar bersedia diminta data tanpa mengabaikan kerahasiaan dan martabat responden. Prosedur Penelitian a. Masing-masing pertanyaan diuji dengan bantuan program SPSS (Statistical Program For Social Science). 11. Melakukan analisis uji validitas dan realibilitas pada kuesioner yang telah diuji cobakan. Jumlah responden uji sebanyak 9 resp. 4.

e. d. Hasil uji coba diperoleh 3 pertanyaan yang gugur (tidak valid) yaitu pertanyaan no 3. 6. Waktu Pelaksanaan Pelaksanaan penelitian ini dilakukan selama 3 bulan.2) Sikap kader kesehatan dalam penanggulangan diare berjumlah 8 item pertanyaan. Pengolahan Data . Melakukan wawancara dan observasi terhadap kader sesuai dengan instrumen penelitian. 3. 5. Pelaksanaan Penelitian Pelaksanaan penelitian ini dilakukan peneliti dibantu tenaga kesehatan di Puskesmas Kertak Hanyar Kecamatan Kertak Hanyar Kabupaten Banjar. G. Hasil uji coba diperoleh 2 pertanyaan yang gugur (tidak valid) yaitu pertanyaan no 3. 2. Pengolahan Data dan Analisis Data 1. 4. 3) Motivasi kader kesehatan dalam penanggulangan diare berjumlah 6 item pertanyaan. Survey dilakukan di Puskesmas Kertak Hanyar setiap hari kerja selama penelitian terhadap peran kader dalam menanggulangi penyakit diare.

Diperoleh dengan mengajukan 7 item pertanyaan dengan meminta responden memilih salah satu dari pilihan jawaban seperti : jawaban benar diberi score 2 dan jawaban salah diberi score 0.7 c. Dari nilai jawaban responden diklasifikasikan dengan kriteria : Nilai maksimal 7 x 2 = 14 Nilai minimal 7 x 0 = 0 Range = Nilai maksimal – Nilai minimal = 14 – 0 = 14 Panjang interval = 14 / 2 = 7 (Range/ ∑katagore). b. Untuk memperoleh data pengetahuan kader dalam menanggulangi penyakit diare dilakukan dengan menggunakan kuesioner. Kategori : Baik = Nilai 8 – 14 Kurang = Nilai 0 . Diperoleh dengan mengajukan 5 item pertanyaan dengan meminta responden memilih salah satu dari . Untuk memperoleh data sikap kader dalam menanggulangi penyakit diare dilakukan dengan menggunakan kuesioner.a. Data tentang gambaran umum Puskesmas Kertak Hanyar diolah secara deskriptif.

STS=1. Sangat tidak setuju. B. adalah SS=4. STS=1. .pilihan jawaban seperti : A. Dengan skor untuk pertanyaan no. TS=3. D. Sebaliknya jawaban atas pertanyaan no. Tidak mendukung = Nilai 5 – 10. 5. Sebaliknya jawaban atas pertanyaan no. D. 1. TS=2. B. TS=2. Diperoleh dengan mengajukan 4 item pertanyaan dengan meminta responden memilih salah satu dari pilihan jawaban seperti : A. S=2. Untuk memperoleh data motivasi kader dalam menanggulangi penyakit diare dilakukan dengan menggunakan kuesioner. Dengan skor untuk pertanyaan no. 2. Nilai maksimal 5 x 4 = 20. C. 7. Kategori : Mendukung = Nilai 11 – 20. TS=3. 1. C. Tidak setuju. Setuju. 8. S=3. S=3. Sangat setuju. 2. Tidak setuju. STS=4. S=2. Nilai minimal 20 : 2 = 10. STS=4. Sangat tidak setuju. d. Setuju. Sangat setuju. 3 dan 4. adalah SS=4. nilai skornya diubah menjadi : SS=1. nilai skoranya diubah menjadi : SS=1.

Nilai minimal 16 : 2 = 8 Kategori : Tinggi = Nilai 9 – 16. Nilai maksimal 14 x 4 = 56. 2=cukup. Untuk memperoleh data peran kader dalam menanggulangi penyakit diare dilakukan dengan pengamatan (observasi). Analisis Data a.Nilai maksimal 4 x 4 = 16. 3=baik. 2. 4=baik sekali. Rendah = Nilai 4 – 8. Dengan jenis pengamatan skala penilaian (rating scale) skala ini berupa daftar yang berisikan kegiatan kader baik di luar maupun di dalam Posyandu diberikan nilai skornya : 1=kurang. Nilai minimal 56 : 2 = 28 Kategori : Baik = Nilai 29-56. e. Analisa Univariat . Kurang = Nilai 14-28.

BAB IV . Pengolahan data dengan menggunakan komputer software SPSS (Statistical Program For Social Science) versi 15.05 maka hasil statistik bermakna. sikap. presentase dan lain-lain. Untuk melihat hasil kemaknaan perhitungan statistik digunakan batas kemaknaan 0.05 maka hasil hitungan statistik tidak bermakna. sehingga jika nilai p value < 0. Analisa Bivariat Analisa data untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan antar variabel bebas (variabel X) dan variabel terikat (variabel Y) digunakan uji statistik regresi linier. yaitu digunakan untuk menganalisa data dari dua variabel kategori (skala data ordinal-ordinal).05. jika p > 0. dan peran kader kesehatan dalam menanggulangi diare dengan melihat jumlah. b. motivasi.Analisa satu variabel digunakan untuk memperoleh gambaran pada masing-masing variabel tentang pengetahuan.

. Hasil Penelitian 1. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Gambut. Keadaan Geografis Kecamatan Kertak Hanyar dengan wilayah kerja yang ketinggiannya 0-7 meter dari permukaan air laut. merupakan daerah persawahan yang berbatasan dengan : • • • • b. Gambaran Umum Puskesmas Kertak Hanyar a.712 jiwa (BPS Kecamatan Kertak Hanyar tahun 2008) yang Sebelah Utara berbatasan dengan Kota Banjarmasin. kecamatan Kertak Hanyar memiliki 11 desa dan 1 kelurahan.HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Geografis 1) Keadaan Demografi Jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas Kertak Hanyar adalah 31. Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Aluh-Aluh. Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Sungai Tabuk.

2) Distribusi Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin Tabel 4. Kepadatan penduduk tertinggi di Desa manarap Lama 47 jiwa/ km2 dan wilayah yang paling jarang di Desa Benua Hanyar 1 jiwa/km 2. Luas wilayah terbesar Desa Manarap Baru 800 km2 dan luas wilayah terkecil Desa Manarap Lama 100 km2. Jumlah penduduk yang terbanyak adalah Kertak Hanyar 1 yaitu 7661 penduduk dan paling sedikit di Desa Benua Hanyar 436 penduduk.085 penduduk laki-laki dan 16.1 Distribusi Penduduk Menurut Jenis Kelamin Kecamatan Kertak Hanyar Tahun 2008 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Nama Kelurahan/ Desa Kertak Hanyar I Kertak Hanyar II Manarap Lama Manarap Tengah Manarap Baru Mandar Sari Sungai Lakum Mekar Raya Benua Hanyar Pasar Kemis Simpang Empat Jumlah Jumlah Penduduk 7661 4624 4740 2316 1863 2075 1891 769 436 1046 4291 31712 Jumlah Lk Pr 3822 3839 2252 2372 2364 2376 1148 1168 957 906 1090 985 970 921 371 398 204 232 508 538 1399 2892 1508 16627 5 Sumber : Tabulasi Profil Desa Kecamatan Kertak Hanyar Tahun 2008 . Jumlah rumah tangga paling banyak Kertak Hanyar 1 dan paling sedikit Benua Hanyar. 7003 jumlah rumah tangga. Kepadatan penduduk 9 jiwa/km2.terdiri dari 15.627 penduduk perempuan.

D-II. D-III. selebihnya SLTP.Distribusi penduduk berdasarkan jenis kelamin lebih banyak perempuan 16627 dan laki-laki 15085 jiwa. SLTA. dan S-1. D-1.7%).2 Distribusi Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan di wilayah Puskesmas Kertak Hanyar Pendidikan SD SLTP SLTA D1/2 DIII 1 Kertak Hanyar I 213 181 224 6 12 2 Kertak Hanyar II 152 100 43 3 5 3 Manarap Lama 163 203 102 6 2 4 Manarap Tengah 141 93 38 3 4 5 Manarap Baru 88 40 14 0 0 6 Mandar Sari 198 63 112 0 0 7 Sungai Lakun 113 82 28 2 0 8 Mekar Raya 102 40 28 0 1 9 Benua Hanyar 43 21 8 0 0 10 Pasar Kemis 60 42 26 0 0 11 Simpang Empat 131 146 121 0 6 Jumlah 1404 1011 744 20 30 Sumber : Tabulasi Profil Desa Kecamatan Kertak Hanyar Tahun 2008 No Desa DIV 39 21 18 7 7 9 12 8 3 2 22 148 Berdasarkan tingkat pendidikan Kertak Hanyar sebagian besar tamat SD (40. 4) Distribusi Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian . 3) Distribusi Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan Tabel 4.

4 Distribusi Penduduk Menurut Agama di wilayah kerja Puskesmas Kertak Hanyar No 1 2 3 4 5 6 Desa Kertak Hanyar I Kertak Hanyar II Manarap Lama Manarap Tengah Manarap Baru Mandar Sari Islam 7534 3592 5065 2376 1802 2016 Pemeluk Agama Kristen Hindu P K 0 7 0 0 0 0 12 40 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Budha 0 0 3 0 0 0 . selebihnya bekerja pada sektor industri.3%. dan pegawai negeri sipil (PNS). 5) Distribusi Penduduk Berdasarkan Agama Tabel 4. perdagangan.3 Distribusi Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian di wilayah kerja Puskesmas Kertak Hanyar No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Desa Kertak Hanyar I Kertak Hanyar II Manarap Lama Manarap Tengah Manarap Baru Mandar Sari Sungai Lakun Mekar Raya Benua Hanyar Pasar Kemis Simpang Empat Jumlah Pertanian 427 301 844 613 523 396 389 339 218 673 829 5938 Mata Pencaharian Industri Perdaganga Jasa n 4 98 105 2 23 84 1 23 23 18 13 1 16 12 18 13 14 12 32 24 9 6 15 15 4 20 21 12 286 328 Angkutan 26 16 15 12 6 12 8 9 4 5 21 134 Mata pencaharian penduduk sebagian besar pada sektor pertanian 19% dan sektor jasa 1. angkutan.Tabel 4.

03 0.009 Distribusi penduduk menurut agama di wilayah Kertak Hanyar yang beragama selain Islam hanya 3% dengan proporsi Kristen Protestan 0. Kristen Katholik 0. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat tofografi dan iklim di bawah ini : • Jumlah curah hujan dalam setahun (2006) : 1761 mm. Dengan curah hujan yang cukup tinggi banyak kasus-kasus diare pada musim tersebut.Sungai Lakun 2109 0 0 0 Mekar Raya 786 0 0 0 Benua Hanyar 544 0 0 0 Pasar Kemis 961 0 0 0 Simpang Empat 2756 0 0 0 Jumlah 29539 12 47 3 % 97 0.009% dan Budha 0.14%.14 0. .03%. Hindu 0.009 Sumber : Tabulasi Profil Desa Kecamatan Kertak Hanyar Tahun 2008 7 8 9 10 11 0 0 0 0 0 3 0. 6) Distribusi Penduduk Berdasarkan Rukun Tetangga Distribusi penduduk berdasarkan rukun tetangga di wilayah kerja Puskesmas Kertak Hanyar yang terbanyak di Desa Simpang 4 RT dan paling sedikit di Desa Benua Hanyar 3 RT Mekar Raya 3 RT. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran.009%. 7) Tofografi dan iklim Wilayah kerja Puskesmas Kertak Hanyar mempunyai tofografi dan iklim panas dan hujan yang cukup tinggi.

Temperatur terendah : 20. : Ada. tapi tidak tiap desa.• • • Jumlah hari hujan selama setahun (2006) : 104 hari.50 C. : Ada. : Ada. • • • • • Sungai Sumur Listrik PLN Telepon Jembatan : Ada. : Aspal dengan sebagian masih tanah dan batu. : Ada. Temperatur tertinggi : 38.20 C. 8) Sarana dan Prasarana Desa • • Ukuran jalan Jenis jalan : 4m. 9) Sarana Pendidikan .

Tabel 4. 2 SMAN. 2 Madrasah Aliyah Swasta.5 Distribusi Penduduk Menurut Sarana Pendidikan di wilayah kerja Puskesmas Kertak Hanyar No 1 2 3 4 5 6 7 8 Jenis Sarana Pendidikan TK SD/MI SMTPN SMAN MIN MTsN MAN AKADEMIK/ PT Jumlah 3 28 3 0 3 1 0 0 Sumber : Tabulasi Profil Desa Kecamatan Kertak Hanyar Tahun 2008 Wilayah kerja Puskesmas Kertak Hanyar memiliki 24 sarana pendidikan yaitu 8 SD Negeri. Sarana pendidikan terbanyak di Desa Kertak Hanyar I. dan yang tidak ada sarana pendidikannya di Desa Benua Hanyar. 4 MIS. 2 Madrasah Ibtidaiyah Negeri.6 Sarana Ibadah Wilayah kerja Puskesmas Kertak Hanyar No 1 2 3 4 5 6 7 8 Desa Kertak Hanyar I Kertak Hanyar II Manarap Lama Manarap Tengah Manarap Baru Mandar Sari Sungai Lakun Mekar Raya Masjid 1 2 1 1 1 0 1 1 Langgar 9 6 5 4 5 3 5 1 Ibadah Gereja 0 0 0 0 0 0 0 0 Vihara 0 0 0 0 0 0 0 0 Pura 0 0 0 0 0 0 0 0 . 6 SD Inpres. 10) Sarana Ibadah Tabel 4.

Gambaran Khusus Puskesmas Kertak Hanyar a. Sarana Pelayanan Kesehatan Dalam melaksanakan kegiatannya Puskesmas Kertak Hanyar memiliki prasarana/ sarana meliputi : 1) 2) Satu buah Puskesmas Induk. yaitu Pustu Sungai lakun. 3) Sarana transportasi yang digunakan dalam menunjang pelayanan di Puskesmas Kertak Hanyar : a) Kendaraan roda dua 3 buah rusak. Pustu Manarap Tengah. b) Kendaraan roda empat 1 buah rusak. Pustu sebanyak 3 buah. pada umumnya masyarakat menggunakan sarana ibadah ini dikarenakan mayoritas penduduknya beragama Islam. . 2. dan Pustu Simpang Empat. Desa yang terbanyak memiliki tempat sarana ibadah dianatara 11 desa adalah Desa Kertak hanyar I dengan jumlah masjidnya satu buah dan langgar 9 buah.9 10 11 Benua Hanyar Pasar Kemis Simpang Empat Jumlah 0 2 2 12 2 1 5 46 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Tempat ibadah yangterdapat di Kecamatan Kertak Hanyar adalah masjid dan langgar.

Pembantu yang berwawasan sehat.b. Kondisi Puskesmas Kertak Hanyar Puskesmas Kertak Hanyar yang berada di Kecamatan Kertak Hanyar dalam menjalankan tugas dan fungsinya mempunyai ketenagaan sebagai berikut : Tabel 4. Untuk mencapai visi tersebut.7 Distribusi Jumlah Tenaga di Puskesmas Sei Rangas No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Jenis Tenaga Dokter Umum Dokter Gigi SKM Tenaga Keperawatan Bidang Puskesmas Tenaga Sanitarian/ SPPH Asisten Apoteker Tenaga Perawat Gigi Tenaga Gizi Tenaga Laboratorium Pekarya Kesehatan Bidan Desa Cleaning Service Loket Jumlah 2 orang 3 orang 2 orang 2 orang 6 orang 3 orang 3 orang 2 orang 1 orang 1 orang 4 orang 12 orang 1 orang 1 orang Adapun Puskesmas Kertak Hanyar mempunyai visi yaitu Kecamatan Kertak Hanyar sehat 2010. . ada beberapa misi yang diemban oleh Puskesmas yaitu : 1.

. Pelayanan kesehatan tingkat pertama yang bermutu dan mandiri. c. Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat. dam memuaskan. 3. Upaya Kesehatan Ibu dan Anak serta Keluarga Berencana (KIA-KB). Upaya Kesehatan Wajib Upaya kesehatan wajib yang terdiri dari 6 (enam) program kesehatan dasar (Basic Six) telah dilaksanakan Puskesmas Kertak Hanyar yaitu : 1. Hal ini dijalankan dengan baik oleh Puskesmas Kertak Hanyar dan dibuktikan dengan pernghargaan bagi pelayanan prima Puskesmas tahun 2006 oleh Menteri kesehatan Pendayagunaan Aparatur Negara. Pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan. Selain misi tersebut. Puskesmas juga mempunyai motto “TTM” yaitu terpercaya. teruji. Upaya Promosi Kesehatan (Promkes/PKM-PSN). 3.2. 4. 2. Upaya Kesehatan Lingkungan (Kesling).

d. Upaya Perawatan Kesehatan Masyarakat (Perkesmas). 3. Upaya Kesehatan Pengembangan Upaya kesehatan pengembangan yang dilaksanakan di Puskesmas Kertak Hanyar pada tahun 2006 terdiri dari beberapa kegiatan yaitu : 1. 2. Upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menuular (P3M) dan 6. Karakteristik Responden . 3. Upaya Kesehatan Sekolah (UKS) dan Upaya Kesehatan Gigi Sekolah Dasar (UKGSD). serta Upaya Kesehatan Usia Lanjut (Usila). 5. Upaya Pengobatan yang juga meliputi upaya laboratorium medis sederhana. Upaya Kesehatan Gigi dan Mulut. Upaya Kesehatan Mata dan Jiwa.5. 4.

4 100 Sumber : Data primer hasil penelitian tahun 2008 Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semua kader kesehatan yang ada di wilayah kerja Puskesmas Kertak Hanyar memiliki latar belakang pendidikan yang berbeda-beda yaitu yang belum lulus SMP sebanyak 11 responden (19. Tabel 4.4%).6%) dan yang sudah lulus SMP sebanyak 45 responden (80.6 80.9 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin di Wilayah Kerja Puskesmas Kertak Hanyar Kecamatan Kertak Hanyar Tahun 2008 No 1 2 Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Total Jumlah 0 56 56 Prosentasi (%) 0 100 100 Sumber : Data primer hasil penelitian tahun 2008 . Tabel 4. responden dalam penelitian ini adalah kader kesehatan yang berada di wilayah kerja Puskesmas Kertak Hanyar sebanyak 56 responden.Dari keseluruhan tenaga kesehatan yang ada di wilayah kerja Puskesmas Kertak Hanyar.8 Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan di Wilayah Kerja Puseksmas Kertak Hanyar Kecamatan Kertak Hanyar Tahun 2008 No 1 2 Pendidikan Belum lulus SMP Lulus SMP Total Jumlah 11 45 56 Prosentasi (%) 19.

Tabel 4.10 Karakteristik Responden Berdasarkan Jarak Rumah di Wilayah Kerja Puskesmas Kertak Hanyar Kecamatan Kertak Hanyar Tahun 2008 No 1 2 Jarak Rumah < 100 meter > 100 meter Total Jumlah 35 21 56 Prosentasi (%) 62.- Jumlah 40 Prosentasi (%) 71.4 .5%) responden dan lebih dari 100 meter sebanyak 21 responden (37.11 Karakteristik Responden Berdasarkan Penghasilan di Wilayah Kerja Puskesmas Kertak Hanyar Kecamatan Kertak Hanyar Tahun 2008 No 1 Penghasilan < Rp.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kader kesehatan di wilayah Puskesmas Kertak Hanyar adalah seluruhnya berjenis kelamin perempuan sebanyak 56 (100%). Tabel 4. 100.5 37.5%).5 100 Sumber : Data primer hasil penelitian tahun 2008 Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kader kesehatan yang berada pada jarak rumah dengan Posyandu kurang dari 100 meter sebanyak 35 (62.000.

12 Karakteristik Responden Berdasarkan Insentif di Wilayah Kerja Puskesmas Kertak Hanyar Kecamatan Kertak Hanyar Tahun 2008 No 1 2 Penghasilan < Rp.000.> Rp.000. 100.6 100 Sumber : Data primer hasil penelitian tahun 2008 Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kader kesehatan yang berpenghasilan kurang dari Rp. Tabel 4.000.13 Karakteristik Responden Berdasarkan Lama Kerja di Wilayah Kerja Puskesmas Kertak Hanyar Kecamatan Kertak Hanyar Tahun 2008 No Lama Kerja Jumlah Prosentasi (%) .4%) responden dan lebih dari Rp.2 > Rp. 100. 100.6%).Total Jumlah 56 0 56 Prosentasi (%) 100 0 100 Sumber : Data primer hasil penelitian tahun 2008 Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kader kesehatan yang berpenghasilan kurang dari Rp. 100.000..sebanyak 56 (100%) responden..sebanyak 40 (71.000.sebanyak 16 responden (28. 100.Total 16 56 28.000.. Tabel 4. 100.

1 8.8 48. Tabel 4.8%) responden dan berumur > 20 tahun sebanyak 55 responden (98.8 98.2 100 Sumber : Data primer hasil penelitian tahun 2008 Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kader kesehatan yang bekerja < 5 tahun sebanyak 29 (51.8%) responden dan bekerja > 5 tahun sebanyak 27 responden (48.1 2 < 5 tahun > 5 tahun Total 29 27 56 51. Tabel 4.2%).9 100 Sumber : Data primer hasil penelitian tahun 2008 .2 100 Sumber : Data primer hasil penelitian tahun 2008 Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kader kesehatan yang berumur < 20 tahun sebanyak 1 (1.14 Karakteristik Responden Berdasarkan Umur di Wilayah Kerja Puskesmas Kertak Hanyar Kecamatan Kertak Hanyar Tahun 2008 No 1 2 Umur < 20 tahun > 20 tahun Total Jumlah 1 55 56 Prosentasi (%) 1.15 Karakteristik Responden Berdasarkan Status Perkawinan di Wilayah Kerja Puskesmas Kertak Hanyar Kecamatan Kertak Hanyar Tahun 2008 No 1 2 Status Perkawinan Kawin Belum kawin Total Jumlah 51 5 56 Prosentasi (%) 91.2%).

6%) sedangkan yang memiliki pengetahuan kurang hanya 12 responden (21.16 Distribusi Frekuensi Kategori Pengetahuan Responden di Wilayah Kerja Puskesmas Kertak Hanyar Kecamatan Kertak Hanyar Tahun 2008 No 1 2 Pengetahuan Baik Kurang Total Jumlah 44 12 56 Prosentasi (%) 78. Tabel 4.1%) responden dan belum kawin sebanyak 5 responden (8.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kader kesehatan yang kawin sebanyak 51 (91.11 menunjukkan bahwa sebagian besar pengetahuan kader kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Kertak Hanyar berada pada tingkat kategori baik sebanyak 44 responden (78. Analisis Univariat a. Pengetahuan Dari rekapitulasi jawaban pengetahuan responden tentang pengetahuan peran kader kesehatan dengan mengajukan kuesioner berisi 7 pertanyaan didapatkan hasil tabulasi data dengan kategori seperti tertera pada tabel 4.6 21. Sikap .4%).9%).4 100 Sumber : Data primer hasil penelitian tahun 2008 b. 4.

Motivasi Dari rekapitulasi jawaban sikap responden tentang motivasi kader kesehatan dengan mengajukan kuesioner berisi 4 pertanyaan didapatkan hasil tabulasi data dengan kategori seperti tertera pada tabel 4.17 Distribusi Frekuensi Kategori Sikap Responden di Wilayah Kerja Puskesmas Kertak Hanyar Kecamatan Kertak Hanyar Tahun 2008 No 1 2 Sikap Baik Kurang Total Jumlah 56 0 56 Prosentasi (%) 100 0 100 Sumber : Data primer hasil penelitian tahun 2008 c.17 menunjukkan bahwa seluruh sikap kader kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Kertak Hanyar berada pada tingkat kategori baik sebanyak 56 responden (100%).Dari rekapitulasi jawaban sikap responden tentang sikap kader kesehatan dengan mengajukan kuesioner berisi 5 pertanyaan didapatkan hasil tabulasi data dengan kategori seperti tertera pada tabel 4. . Tabel 4.18 menunjukkan bahwa seluruh motivasi kader kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Kertak Hanyar berada pada tingkat kategori baik sebanyak 56 responden (100%).

Tabel 4.18 Distribusi Frekuensi Kategori Sikap Motivasi di Wilayah Kerja Puskesmas Kertak Hanyar Kecamatan Kertak Hanyar Tahun 2008 No 1 2 Motivasi Baik Kurang Total Jumlah 56 0 56 Prosentasi (%) 100 0 100 Sumber : Data primer hasil penelitian tahun 2008 d.19 menunjukkan bahwa seluruh peran kader kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Kertak Hanyar berada pada tingkat kategori kurang sebanyak 56 responden (100%). Peran Kader Dari rekapitulasi jawaban peran kader responden tentang peran kader kesehatan dengan mengajukan kuesioner berisi 14 pertanyaan didapatkan hasil tabulasi data dengan kategori seperti tertera pada tabel 4.19 Distribusi Frekuensi Kategori Peran Responden di Wilayah Kerja Puskesmas Kertak Hanyar Kecamatan Kertak Hanyar Tahun 2008 No 1 2 Peran Baik Kurang Total Jumlah 0 56 56 Prosentasi (%) 0 100 100 .Tabel 4.

05.438 > 0. .044 + 0. b.016 R2 0. Nilai koefisien determinan 0.016 dan berpola positif artinya semakin baik pengetahuan maka semakin baik peran kader.438 Hubungan pengetahuan dengan peran kader menunjukkan hubungan yang lemah artinya tidak ada hubungan dengan nilai r = 0. Hasil uji statistik didapat tidak ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan peran kader dengan p = 0.20 Tabulasi Silang Distribusi Frekuensi Hubungan Pengetahuan Dengan Peran Kader Kesehatan Dalam Menanggulangi Penyakit Diare Variabel Pengetahuan r 0.011 Persamaan Garis Peran Kader = 21. persamaan garis regresi yang diperoleh dapat menerangkan 1 % variasi pengetahuannya.078* pgth P Value 0. Analisis Bivariat a.01 artinya.Sumber : Data primer hasil penelitian tahun 2008 5. Tabel 4. Hubungan sikap dengan peran kader kesehatan dalam menanggulangi penyakit diare. Hubungan pengetahuan dengan peran kader kesehatan dalam menanggulangi penyakit diare.

Hubungan motivasi dengan peran kader kesehatan dalam menanggulangi penyakit diare.183* pgth P Value 0.183* pgth P Value 0.144 R2 0.012 Persamaan Garis Peran Kader = 19. c.Tabel 4.291 Hubungan sikap dengan peran kader menunjukkan hubungan yang lemah artinya tidak ada hubungan dengan nilai r = 0. Hasil uji statistik didapat tidak ada hubungan yang signifikan antara sikap dengan peran kader dengan p = 0.111 R2 0.21 Tabulasi Silang Distribusi Frekuensi Hubungan Sikap Dengan Peran Kader Kesehatan Dalam Menanggulangi Penyakit Diare Variabel Sikap r 0. Tabel 4. persamaan garis regresi yang diperoleh dapat menerangkan 2 % variasi pengetahuannya.291 .291 > 0.116 + 0. Nilai koefisien determinan 0.021 artinya.166 + 0.021 Persamaan Garis Peran Kader = 19.144 dan berpola positif artinya semakin mendukung sikap kader maka semakin baik peran kader.05.22 Tabulasi Silang Distribusi Frekuensi Hubungan Motivasi Dengan Peran Kader Kesehatan Dalam Menanggulangi Penyakit Diare Variabel Motivasi r 0.

111 dan berpola positif artinya semakin motivasi kader maka semakin baik peran kader. . Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmdjo.012 artinya persamaan garis regresi yang diperoleh dapat menerangkan 2 % variasi motivasinya. B.05. penciuman dan rasa.291 > 0.Hubungan motivasi dengan peran kader menunjukkan hubungan yang lemah artinya tidak ada hubungan dengan nilai r = 0. Pembahasan 1. 1993). pendengaran. Pengetahuan Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan dapat terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Nilai koefisien determinan 0. Penginderaan terjadi melalui indera yaitu : indera penglihatan. Hasil uji statistik didapat tidak ada hubungan yang signifikan antara motivasi dengan peran kader dengan p = 0.

Dari hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian besar responden. tetapi tidak berarti peran kader kesehatannya baik pula. Dari data tersebut dapat dikatakan bahwa secara umum tingkat pengetahuan kader kesehatan dapat dikatakan baik terbukti dari prosentasi responden yang berpengetahuan baik lebih besar dari responden yang berpengetahuan rendah. Sebelum seseorang mengadopsi perilaku (berperilaku baru). yaitu sebanyak 44 responden (78. Sikap . Pengetahuan dalam penelitian ini meliputi pengetahuan tentang penyakit diare. program dari Puskesmas.4%) memiliki tingkat pengetahuan kurang. Walaupun pengetahuan kader kesehatan baik. tugas dan peran kader. fasilitas dan lain sebagainya (Notoatmodjo. ia harus tahu terlebih dahulu apa arti atau manfaat perilaku tersebut bagi dirinya atau keluarganya orang akan melakukan perannya sebagai kader apabila ia tahu apa tujuan dan manfaatnya bagi dirinya atau masyarakat. 2. 2005). Pengetahuan yang baik tersebut berarti secara umum kader kesehatan sudah memiliki materi yang dapat mendukung suatu perilaku dalam pelaksanaan penanggulangan diare.6%) memiliki tingkat pengetahuan baik dan sebanyak 12 responden (21. Karena peran dari kader dipengaruhi pula oleh niat dari pelakunya. pencegahan diare.

Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu yang dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial (Azwar S. dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu.Newcomb. akan tetapi merupakan predisposisi perilaku (tindakan) atau reaksi tertutup. Dari data tersebut dapat dikatakan bahwa secara umum sikap kader kesehatan dapat dikatakan mendukung terbukti dari prosentasi responden yang bersikap mendukung . Dalam kata lain. Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap stimulus atau objek. yaitu sebanyak 56 responden (100%) memiliki sikap yang mendukung dan tidak ada responden yang memiliki sikap yang tidak mendukung. 2000). Manifestasi sikap itu tidak dapat langsung dilihat. memberikan memberikan teguran yang benar. diare yang meliputi pemberian penyuluhan kepada anjuran dan rujukan kepada masyarakat. tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perlikau yang tertutup. Hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian besar responden. fungsi sikap bukan merupakan tindakan (reaksi terbuka) atau aktivitas. Sikap yang dimaksud adalah respon kader kesehatan terhadap penanggulangan masyarakat. bahwa sikap merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak. salah seorang ahli psikologi sosial menyatakan.

orang lain yang dianggap penting. Kader kesehatan tahu bahwa pemberian penyuluhan kepada masyarakat. yaitu sebanyak 56 responden (100%) memiliki motivasi yang tinggi dan tidak ada responden yang memiliki motivasi yang rendah. termasuk sikap terhadap peran kader kesehatan. Motivasi yang dimaksud adalah dorongan kader kesehatan terhadap penanggulangan diare meliputi kader dapat bekerja secara sukarela dan motivasi kerja jika ada pemeriksaan hasil kerja. Motivasi Stooner (1992) mendefinisikan bahwa motivasi adalah suatu hal yang menyebabkan dan mendukung tindakan atau perilaku seseorang. Karena pada hakekatnya semua orang itu mempunyai kecenderungan untuk bersikap positif atau baik.lebih besar dari responden yang memiliki sikap yang tidak mendukung. interaksi pada institusi kesehatan dan faktor emosi dalam diri individu. memberikan teguran yang benar merupakan hal-hal positif yang sudah mereka tahu berdasarkan pengalaman kerjanya. Sikap kader yang mendukung sejalan sebagai indikator terbentuknya sikap. Sikap kader kesehatan tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah pengalaman. 3. Dari data tersebut dapat . kebudayaan. Tetapi sikap yang mendukung belum tentu diikuti dengan peran yang baik. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian besar responden. media massa.

Tetapi motivasi yang baik belum tentu diikuti dengan peran yang baik. Hal ini dikarenakan karena tidak adanya tugas/ program dari pemerintah dengan program pemberdayaan masyarakat melalui kader untuk melaksanakan tugas kader dalam menanggulangi . 2007). Pada kenyataannya para kader kesehatan dalam melaksanakan perannya hanya terpusat di dalam ruangan saja sehingga banyak peran mereka yang tidak dilaksanakan diluar Posyandu. Padahal peran kader kesehatan bukan hanya terpusat di dalam ruangan saja. 4. Peran Kader Dari hasil penelitian didapatkan bahwa peran kader kesehatan dalam menanggulangi penyakit diare dengan hasil kurang di wilayah kerja Puskesmas Kertak Hanyar sebanyak 56 responden (100%) dan tidak ada memiliki peran kader kesehatan yang baik dalam menanggulangi penyakit diare. dorongan untuk mendapatkan agar diri pribadi disenangi masyarakat. dan faktor kebutuhan dalam diri individu.dikatakan bahwa secara umum motivasi kader kesehatan dapat dikatakan tinggi terbukti dari prosentasi responden yang memiliki motivasi tinggi lebih besar dari responden yang memiliki motivasi yang rendah. dorongan dari Puskesmas. Karena peran dari kader dipengaruhi pula oleh keinginan dari pelakunya (Notoatmodjo. Motivasi kader kesehatan tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah dukungan dari masyarakat.

karena itulah mereka harus dibina. dalam hal preventif dan promotif. pilihan termurah yang mampu mendongkrak kesehatan yang lebih baik. dituntun serta didukung oleh para pembimbing yang lebih terampil dan berpengalaman (World Health Organization (WHO). seperti diare masih ada. Kegiatan luar ruangan. Sayangnya. penyakit berbasis perilaku.penyakit diare. namun mereka itu bekerja dan berperan sebagai seorang pelaku dari sebuah sistem kesehatan. sehingga menyebabkan peran kader kesehatan kurang dalam melaksanakan perannya dalam menanggulangi penyakit diare. Tidak maksimalnya pelaksanaan tugas preventif dan promotif ini. 1987). Para kader tidak menyadari bahwa peran yang dilaksanakan didalam ruangan tersebut bukan jaminan untuk berhasilnya penanggulangan diare walaupun itu juga diperlukan. sangat penting dalam menekan dan memberantas penyakit yang sering muncul di masyarakat. . diantaranya kader yang mengerti akan perannya sebagai penunjang terlaksananya primary health care. Hal ini sesuai dengan tulisan yang dikemukakan World Health Organization (WHO) bahwa kiranya perlu ditekankan bahwa para kader kesehatan itu tidaklah bekerja dalam suatu ruangan yang tertutup. karena kurangnya sumber daya manusia. kegiatan luar ruangan kurang berjalan maksimal karena mereka sebenarnya tidak ada komando atau perintah dari Puskesmas atau instansi terkait sehingga mereka melaksanakan tugas dengan apa adanya. Akibatnya.

Hasil penelitian ini berbeda dengan teori yaitu Bloom yang dikutip oleh Notoatmodjo 2003. Oleh karena itu diperlukan penyadaran kader kesehatan terhadap perannya secara keseluruhan. Hal ini berarti bahwa tingkat pengetahuan responden tidak berpengaruh terhadap peran kader dalam penanggulangan diare di wilayah kerja Puskesmas Kertak Hanyar Kabupaten Banjar tahun 2008.Untuk dapat merubah peran tersebut kearah yang lebih baik diperlukan faktor pendukung. fasilitas. Dari hasil uji statistik regresi linier didapatkan Ha ditolak dan Ho diterima. pengawasan dari pihak Puskesmas. yaitu sebanyak 44 responden (78. waktu. Hubungan pengetahuan dengan peran kader kesehatan dalam menanggulangi penyakit diare Dari hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian besar responden. dan dukungan dari pihak lain. maka p > 0. nilai p = 0. sebaliknya semakin rendah tingkat pengetahuan . Faktor pendukung tersebut adalah kepedulian dari instansi pemerintah terkait. biaya. 5.05 yang berarti tidak ada hubungan tingkat pengetahuan dengan peran kader kesehatan.4%).6%) memiliki tingkat pengetahuan baik dan sebanyak 12 responden (21.438. menyebutkan bahwa pengetahuan seseorang mempunyai tingkatan-tingkatan sehingga semakin tinggi tingkat pengetahuan seseorang maka semakin baik pula dalam melaksanakan suatu prosedur yang dikerjakannya.

05 yang berarti tidak ada hubungan sikap dengan peran kader kesehatan. Hubungan sikap dengan peran kader kesehatan dalam menanggulangi penyakit diare. dan tidak ada responden sikap tidak mendukung. Tidak adanya hubungan antara tingkat pengetahuan dengan peran kader kesehatan kemungkinan disebabkan tingkat pendidikannya yang sudah baik yaitu banyak yang sudah tamat sembilan tahun sehingga mendukung pada pengetahuan yang baik. Hasil penelitian ini berbeda dengan teori yaitu sebagaimana menurut Newcomb yang dikutip oleh Notoatmodjo 2003. Jadi disini dapat dikatakan bahwa peran . maka p > 0. dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu. Dari hasil uji statistik linier didapatkan Ha ditolak dan Ho diterima. Hal ini berarti bahwa sikap responden tidak berpengaruh terhadap peran kader dalam penanggulangan diare di wilayah kerja Puskesmas Kertak Hanyar Kabupaten Banjar tahun 2008.144. menyatakan bahwa sikap itu merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak.seseorang maka akan menyebabkan ketidakmampuan dalam melaksanakan prosedur. 6. nilai p = 0. sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa sebanyak 56 responden (100%) memiliki sikap yang mendukung. akan tetapi merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku.

111. maka p > 0. nilai p = 0. Hasil penelitian ini berbeda dengan teori yaitu sebagaimana menurut Stooner (1981) yang dikutip oleh Notoatmodjo 2003. termasuk sikap terhadap peran kader kesehatan. Hal ini berarti bahwa motivasi responden tidak berpengaruh terhadap peran kader dalam penanggulangan diare di wilayah kerja Puskesmas Kertak Hanyar Kabupaten Banjar tahun 2008. Akan tetapi dalam penelitian ini sikap tidak berpengaruh terhadap peran kader. Dari hasil uji statistik regresi linier didapatkan Ha ditolak dan Ho diterima. Hubungan motivasi dengan peran kader kesehatan dalam menanggulangi penyakit diare Dari hasil penelitian didapatkan bahwa sebanyak 56 responden (100%) memiliki motivasi yang tinggi. 7. menyebutkan bahwa kinerja seorang karyawan atau tenaga kerja dipengaruhi diantaranya oleh motivasi.seorang kader akan baik jika sikapnya mendukung karena sikap merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku. dan tidak ada responden memiliki motivasi yang rendah.05 yang berarti tidak ada hubungan motivasi dengan peran kader kesehatan. kemungkinan hal ini disebabkan karena pada hakekatnya semua orang itu mempunyai kecenderungan untuk bersikap positif atau baik. Menurut Hasibuan 2003 yang dikutip oleh Notoatmodjo 2003 motivasi mempunyai maksud : .

Meningkatkan kedisiplinan karyawan. Mendorong gairah dan semangat kerja pegawai atau karyawan. e. yang selalu ingin berkelompok atau bersosialisasi dengan orang lain. Meningkatnya produktivitas karyawan. Tingginya motivasi kader tersebut dimungkinkan karena kader banyak yang berada di pedesaan rasa kekerabatannya dan solidaritasnya masih tinggi dimana menurut teori kebutuhan menurut Maslow ada diantaranya yaitu kebutuhan sosialisasi atau afiliasi dengan orang lain yang dapat diwujudkan melalui keikutsertaan seseorang dalam suatu organisasi atau perkumpulan-perkumpulan tertentu. b. Meningkatkan absensi (kehadiran kerja) karyawan.a. yang akhirnya akan meningkatkan kinerjanya. c. d. Keikutsertaan tersebut disebabkan karena manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial. Kebutuhan tersebut didasari karena pada prinsipnya agar dirinya itu dapat . f. Berdasarkan maksud dari motivasi tersebut dan motivasi yang tinggi pada kader seharusnya peran dari kader dapat berperan baik tapi pada kenyataannya peran kader tersebut masih kurang. Disini berarti masyarakat yang ikut sebagai kader kesehatan. Meningkatkan kepuasan kerja karyawan. Meningkatkan loyalitas dan integritas karyawan.

Kurangnya peran kader tersebut kemungkinan juga bisa disebabkan insentif yang diberikan kepada kader masih kurang dari data yang ada semua kader mendapat insentif kurang dari Rp. pangan. insentif merupakan stimulus yang menarik seseorang untuk melakukan sesuatu karena dengan melakukan perilaku tersebut maka kader akan mendapat imbalan.diterima dan disayangi oleh orang lain. Imbalan yang menarik bagi kader tentu saja adalah imbalan yang mendatangkan sesuatu yang menyenangkan. Karena pada kenyataan dilapangan bahwa yang menjadi kader kebanyakan pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga sehingga dari pada tidak ada pekerjaan maka mereka merealisasikannya ikut menjadi kader agar mereka dimasyarakat lebih dikenal dan dihargai masyarakat.000. Dengan demikian. Dalam hal ini insentif merupakan tujuan yang dicapai. Maka dengan demikian kemungkinan kurangnya insentif yang diberikan kepada kader berakibat dorongan untuk melakukan perannya menjadi kurang sehingga peran kader dalam menanggulangi penyakit diare juga kurang. oleh sebab itu sangat pokok.-. Menurut teori kebutuhan fisiolofi Maslow kebutuhan fisiologis adalah kebutuhan untuk mempertahankan hidup. Apabila . oleh karena itu manusia harus dirangsang dari luar. Kaum behavioristik melihat bahwa manusia adalah makhluk yang pasif. dan papan. 100. Kaum behavioristik sangat menekankan pentingnya insentif atau faktor inforcement/ penguat yang akan mendorong perilaku seseorang. Yakni sandang. motivasi seseorang dapat dibentuk dengan memberikan insentif dari luar (Notoatmodjo Soekidjo).

6%) dapat dilihat tingkat penghasilan kader masih rendah sehingga disini wajar peran kader masih kurang sesuai dengan teori kebutuhan fisiologi Maslow bahwa kader masih memenuhi kebutuhan untuk mempertahankan hidup sehingga kebutuhan untuk berperan sebagai kader belum menuntut untuk terpenuhi.sebanyak 40 responden (71.4%) memiliki tingkat pengetahuan rendah dan sebanyak 44 responden (78. dari 56 responden yang diteliti sebanyak 56 responden (100%) memiliki sikap yang mendukung dan tidak ada sikap kader yang tidak mendukung.000.kebutuhan ini secara relatif terpenuhi maka kebutuhan yang lain akan menyusul untuk dipenuhi. Sikap kader kesehatan di Puskesmas Kertak Hanyar mendukung semua. Tingkat pengetahuan kader kesehatan di Puskesmas Kertak Hanyar baik. Kesimpulan 1.sebanyak 16 responden (28.6%) memiliki tingkat pengetahuan baik. . Tingkat pendapatan kader kesehatan masih rendah yaitu kurang dari Rp. 100. dari 56 responden yang diteliti sebanyak 12 responden (21. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A.000. 100..4%) dan lebih dari Rp.. 2.

111. Peran kader kesehatan di Puskesmas Kertak Hanyar kurang semua. 6. 4. . maka p > 0.144. dengan p = 0. 5. Hasil uji statistik regresi linier didapatkan Ha ditolah dan Ho diterima. Hasil uji statistik regresi linier didapatkan Ha ditolah dan Ho diterima.05 yang berarti tidak ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan peran kader kesehatan dalam menanggulangi penyakit diare di Puskesmas Kertak Hanyar. dengan p = 0. Motivasi kader kesehatan di Puskesmas Kertak Hanyar tinggi semua.05 yang berarti tidak ada hubungan yang signifikan antara motivasi dengan peran kader kesehatan dalam menanggulangi penyakit diare di Puskesmas Kertak Hanyar. Hasil uji statistik regresi linier didapatkan Ha ditolah dan Ho diterima.3.438. maka p > 0. maka p > 0. dari 56 responden yang diteliti sebanyak 56 responden (100%) memiliki peran yang kurang dan tidak ada peran kader yang baik.05 yang berarti tidak ada hubungan yang signifikan antara sikap dengan peran kader kesehatan dalam menanggulangi penyakit diare di Puskesmas Kertak Hanyar. dari 56 responden yang diteliti sebanyak 56 responden (100%) memiliki motivasi yang tinggi dan tidak ada motivasi kader yang tidak tinggi. 7. dengan p = 0.

ri. Saran 1. mengikuti seminar dan pelatihan yang berkaitan dengan peran kader kesehatan.phpoption=com_content& task=iew=798&I temid=698& limit=1&limitstar t=1.go. 2. . Hari Kesehatan Dunia : Menyoroti Kondisi SDM Kesehatan http istana. Bagi kader kesehatan yang memiliki peran kader masih kurang agar meningkatkan perannya dengan aktif memberdayakan media informasi.idindex. DAFTAR PUSTAKA Departemen Kesehatan RI. sikap dan motivasi kader kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Kertak Hanyar mendukung terhadap suatu perilaku untuk dapat menanggulangi penyakit diare.B. Bagi instansi terkait/ Dinas Kesehatan agar dapat memberdayakan peran kader kesehatan dalam upaya preventif dan promotif dalam penanggulangan penyakit diare karena dilihat dari hasil penelitian pengetahuan.

Jakarta. Kedokteran.iddownloadfkmfkmzulkifli1. Buku Kedokteran EGC. Posyandu dan Kader Kesehatan. Bagian Pendidikan Kesehatan Dan Ilmu Perilaku Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro. Pemberdayaan Masyarakat Dalam Meningkatkan Derajat Kesehatan Di Era Otonomi Daerah untuk Mencapai Millenium Development Goals Indonesia. Semarang. Pramono. Machfoedz. Mustari. WHO (1995). Besar Sampel Dalam Penelitian Kesehatan. Universitas Gajah Mada. PT. Kader Kesehatan Masyarakat. Tinuk Istiarti.usu. httplibrary. Keperawatan. (2007). Rineka Cipta. Yogyakarta. Penerbit Fitramaya. Jurnal Pemberdayaan Masyarakat. Dibyo (1997). Statistika Untuk Penelitian. Zulkifli.pdf. Sugiono (2006). Metodologi Penelitian Kesehatan. Pemberdayaan Masyarakat. Ircham (2008). . Teknik Membuat Alat Ukur Penelitian Bidang Kesehatan.Gani. dan Kebidanan.ac. Soekidjo (2005). Notoatmodjo. Cetakan II. dkk (2003).

. Rineka Cipta. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. (2006). Jakarta. Rineka Cipta. Tata Laksana Penderita Diare httpwww. (2007). (2005).depkes. . .pdf. . PT.. PT.iddownloadsDiare. Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasi. (2005) Tentang Pedoman Pemberantasan Penyakit Diare. . Jakarta. Profil Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan.go.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->