P. 1
psikologi-abnormal

psikologi-abnormal

|Views: 1,378|Likes:
Published by reezqee

More info:

Published by: reezqee on Mar 16, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/29/2013

pdf

text

original

Sections

  • Kata Pengantar
  • A. PENGERTIAN PSIKOLOGI ABNORMAL
  • B. MANFAAT MEMPELAJARI PSIKOLOGI ABNORMAL
  • C. ILMU-ILMU YANG BERHUBUNGAN DENGAN PSIKOLOGI ABNORMAL
  • A. TINJAUAN BERDASARKAN SUDUT PANDANG TERTENTU
  • Gambar 2.1: KURVA NORMAL
  • B. TINJAUAN SECARA EKLEKTIS
  • A. KLASIFIKASI KELAINAN JIWA
  • B. GEJALA-GEJALA KELAINAN JIWA
  • A. PENGERTIAN NEUROSIS
  • A. PENGERTIAN PSIKOSIS
  • B. PERBEDAAN PSIKOSIS DENGAN NEUROSIS
  • A. PENGERTIAN PSIKOPAT
  • A. PENGERTIAN RETARDASI MENTAL
  • B. FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB RETARDASI MENTAL
  • C. TINGKATAN RETARDASI MENTAL
  • D. PENCEGAHAN RETARDASI MENTAL
  • E. PENANGANAN RETARDASI MENTAL
  • A. KONSEPSI-KONSEPSI MENGENAI STRES
  • Bagan 8.1: STRES SEBAGAI STIMULUS
  • B. STRES DAPAT TERJADI PADA SETIAP FASE PERKEMBANGAN
  • C. USAHA-USAHA MENGATASI STRES
  • Referensi

PSIKOLOGI ABNORMAL

Drs. Kuntjojo, M.Pd

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING UNIVERSITAS NUSANTARA PGRI KEDIRI 2009

2

Kata Pengantar
Where there is a will, there is a way. Di mana ada kemauan di situ ada jalan. Hambatan untuk membuat diktat baik hal itu menyangkut waktu, tenaga, dan juga referensi penulis hadapi. Namun dengan kemauan yang tinggi dan atas bimbingan Yang Maha Kuasa, akhirnya diktat Psikologi Abnormal ini selesai juga. Apa yang disajikan dalam diktat ini hanya berupa garis besar materi kuliah. Penulis berharap agar mahasiswa membaca referensi yang relevan terutama referensi yang penulis pakai dalam menyusun diktat ini. Disadari oleh penulis bahwa terdapat kekurangan dalam penulisan diktat ini, baik itu menyangkut isi maupun penyajian materi. Untuk itu penulis berharap adanya saran serta kritik yang konstruktif.

Kediri, November 2009 Penulis

Psikologi Abnormal/Drs. Kuntjojo, M.Pd.

3

Daftar Isi
Halaman Judul ................................................................................................... Kata Pengantar .................................................................................................. Daftar Isi ............................................................................................................ Daftar Tabel, Bagan, dan Gambar .................................................................... BAB 1 PENDAHULUAN .................................................................................. A. Pengertian Psikologi Abnormal ..................................................... B. Manfaat Mempelajari Psikologi Abnormal ..................................... C. Ilmu-ilmu yang Berhubungan dengan Psikologi Abnormal ........... 1 2 3 5 6 6 7 7

BAB 2 KONSEPSI-KONSEPSI TENTANG ABNORMALITAS ........................ 9 A. Tinjauan Berdasarkan Sudut Pandang Tertentu ........................... 9 B. Tinjauan Secara Eklektis .............................................................. 11 BAB 3 KLASIFIKASI DAN GEJALA-GEJALA KELAINAN JIWA .................... 13 A. Klasifikasi Kelainan Jiwa ............................................................... 13 B. Gejala-gejala Kelainan Jiwa ......................................................... 14 NEUROSIS.......................................................................................... 16 A. Pengertian Neurosis ..................................................................... 16 B. Jenis-jenis Neurosis ...................................................................... 17

BAB 4

BAB 5 PSIKOSIS ............................................................................................ 25 A. Pengertian Psikosis ...................................................................... 25 B. Perbedaan Psikosis dengan Neurosis .......................................... 26 C. Jenis-jenis Psikosis ....................................................................... 2 BAB 6 PSIKOPAT ......................................................................................... 32 A. Pengertian Psikopat....................................................................... 32 B. Faktor-faktor Penyebab Psikopat .................................................. 33

BAB 7

RETARDASI MENTAL ........................................................................ 34 A. Pengertian Retardasi Mental ........................................................ 34 B. Faktor Penyebab Retardasi Mental ............................................... 34
Psikologi Abnormal/Drs. Kuntjojo, M.Pd.

4

C. Tingkatan Retardasi Mental .......................................................... 36 D. Pencegahan Retardasi Mental....................................................... 38 E. Penanganan Retardasi Mental ..................................................... 39

BAB 8

STRES ................................................................................................ 41 A. Konsepsi-konsepsi Mengenai Stres .............................................. 41 B. Stres Dapat Terjadi Pada Setiap Fase Perkembvangan .............. 47 C. Usaha-usaha Mengatasi Stres ...................................................... 47

Referensi ........................................................................................................... 50

Psikologi Abnormal/Drs. Kuntjojo, M.Pd.

5

Daftar Tabel, Gambar dan Bagan
TABEL Tabel 5.1 Perbedaan antara Psikosis dengan Neurosis .................................... 27

GAMBAR Gambar 2.1. Kurva Normal ................................................................................ 9

BAGAN Bagan 8.1 Stres sebagai Stimulus .................................................................. 41 Bagan 8.2 Stres sebagai Respon ..................................................................... 42 Bagan 8.3 Reaksi Individu terhadap Stresor yang Sama, Waktu Berbeda ...... 45 Bagan 8.4 Reaksi Beberapa Individu terhadap Stresor yang sama pada waktu Yang Sama ..................................................................................... 45 Bagan 8.5 Stres sebagai Hubungan antara Individu dengan Stresor .............. 47

Psikologi Abnormal/Drs. Kuntjojo, M.Pd.

Apa yang dimaksud dengan psikologi abnormal? Berikut dikemukakan beberapa definisi. and mental retardation) and with certain incompletely understood normal phenomena (as dreams and hypnosis)” Dari empat definisi yang dinyatakan dengan kalimat yang berbeda tersebut dapat diidentifikasi pokok-pokok pengertian psikologi abnormal sebagai berikut. Kuntjojo. PENGERTIAN PSIKOLOGI ABNORMAL Psikologi abnormal kadang-kadang disebut juga psikopatologi. psychoses and mental retardation) or with certain incompletely understood states (as dreams and hypnosis) in order to understand and change abnormal patterns of functioning”. dinyatakan “Abnormal psychology is an academic and applied subfield of psychology involving the scientific study of abnormal experience and behavior (as in neuroses.Pd. Singgih Dirgagunarsa (1999: 140) mendefinisikan psikologi abnormal atau psikopatologi sebagai lapangan psikologi yang berhubungan dengan kelainan atau hambatan kepribadian. Pada kamus online tersebut dinyatakan : “Abnornal psychology : : a branch of psychology concerned with mental and emotional disorders (as neuroses. yang menyangkut proses dan isi kejiwaan.6 Bab 1 PENDAHULUAN A. Menurut Kartini Kartono (2000: 25). psychoses. Dalam bahasa Inggris dinyatakan dengan istilah Abnormal Psychology. . psikologi abnormal adalah salah satu cabang psikologi yang menyelidiki segala bentuk gangguan mental dan abnormalitas jiwa. pada Ensiklopedia Bebas Wikipedia (2009). M. Berkenaan dengan definisi psikologi abnormal. Definisi psikologi abnormal juga dapat dijumpai di Merriem-Webster OnLine (2009). Psikologi Abnormal/Drs.

yaitu dalam hal pengenalan. Kuntjojo. dengan memiliki pengetahuan dan pemahaman mengenai seluk beluk kelainan jiwa diharapkan dapat bermanfaat bagi upaya pencegahan dan penanganan gangguan jiwa yang mungkin terjadi pada peserta didik. cara mencegah dan menanganinya. dan akibat dari gangguan tersebut). Psikologi abnormal merupakan salah satu cabang dari psikologi atau psikologi khusus. manifestasi. penyebab. dan pencegahan serta juga dalam hal pembinaan dan peningkatan kesehatan jiwa (Maramis. 1. 2005: 22). M.7 1. Khusus untuk konselor. Pengetahuan dan pemahaman mengenai hal tersebut diperlukan bimbingan dan konseling. B. . dst.Pd. pengobatan. dalam bidang psikiatri dan C. Keterkaitan tersebut menyangkut bidang keilmuan dan juga bidang profesi. Psikiatri Psikiatri atau ilmu kedokteran jiwa adalah cabang dari ilmu kedokteran. Beberapa ilmu yang berhubungan dengan psikologi abnormal adalah antara lain sebagai berikut. gejala. yang mempelajari segala hal yang berhubungan dengan gangguan jiwa. ILMU-ILMU YANG BERHUBUNGAN DENGAN PSIKOLOGI ABNORMAL Usaha untuk mendapatkan pengertian yang luas dan mendalam tentang kelainan jiwa antara lain dilakukan dengan mengkaitkan psikologi abnormal dengan ilmu-ilmu lainnya.). 2. rehabilitasi. Psikologi Abnormal/Drs. Yang dibahas dalam psikologi abnormal adalah segala bentuk gangguan atau kelainan jiwa baik yang menyangkut isi (mengenai apa saja yang mengalami kelainan) maupun proses (mengenai faKtor penyebab. MANFAAT MEMPELAJARI PSIKOLOGI ABNORMAL Psikologi abnormal dipelajari dengan harapan dapat diperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang seluk beluk kelainan jiwa (jenis.

2. psikoanalisis bertolak dari anggapan bahwa gangguan jiwa dapat terjadi karena faktor organis dan terutama faktor psikologis oleh karena itu untuk menyembuhkan gangguan jiwa maka harus diawali dengan mengungkap akar permasalahannya. Dan sebagai teknik terapi. serta diagnosis dan Neurologi diperlukan psikologi abnormal karena terjadinya kelainan jiwa dapat disebabkan oleh kelainan pada system syaraf. psikoanalisis banyak membahas kepribadian manusia beserta dinamikanya. syaraf. 3. Psikologi Abnormal/Drs. Namun pada psikologi abnormal usaha tersebut tidak sampai pada penyembuhan dan rehabilitasi. M. Psikoanalisis Psikoanalisis memiliki dua dimensi. Sebagai aliran psikologi.Pd. . yaitu yang bersumber dari faktor-faktor psikologis penderita. terlebih lagi bagi penderita psikosis. Kuntjojo. yaitu sebagai aliran psikologi dan teknik terapi.8 Psikologi abnormal berhubungan dengan psikiatri karena keduanya mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan gangguan dan juga penyakit jiwa. Neurologi Neurologi adalah cabang dari ilmu kedokteran yang khusus mempelajari penyembuhan struktur dan gangguan fungsi system syaraf.

KONSEPSI TENTANG ABNORMALITAS A.9 Bab 2 KONSEPSI . seorang yang jujur menjadi abnormal diantara komunitas orang yang tidak jujur. 2005 : 94-100.Pd. Abnormalitas menurut Konsepsi Statistik Secara statistik suatu gejala dinyatakan sebagai abnormal bila menyimpang dari mayoritas. Dengan demikian seorang yang jenius samasama abnormalnya dengan seorang idiot.1: KURVA NORMAL Psikologi Abnormal/Drs. 1999 : 1-10). sehingga perilaku manusia dapat dijelaskan dari dimensi-dimensi tersebut. Kuntjojo. Yang normal itu yang bagaimana? Bilamana gejala jiwa atau perilaku dinyatakan normal ? Pertanyaan tersebut tidak mudah untuk dijawab sebab manusia merupakan makhluk multi dimensional. TINJAUAN BERDASARKAN SUDUT PANDANG TERTENTU Abnormal artinya menyimpang dari yang normal. makhluk individu. Kartini Kartono. dst. Berikut ini dikemukakan beberapa konsepsi mengenai abnormalitas menurut tinjauan tertentu (Maramis. begitu juga bila berbicara mengenai abnormalitas jiwa.. makhluk etis. 1. . Manusia merupakan makhluk biologis. M. Gambar 2. makhluk sosial.

yang pada akhirnya masalah tidak terpecahkan. Sebaliknya individu yang tingkah lakunya tidak menunjukkan adanya simptom-simptom tersebut adalah individu yang normal. Dan hal itu menunjukkan bahwa dirinya memiliki jiwa yang normal. maka dirinya dinyatakan sebagai individu yang tidak normal. kesedihan. Abnormal menurut Konsepsi Penyesuaian Pribadi Menurut konsepsi ini seseorang dinyatakan penyesuaiannya baik bila yang bersangkutan mampu menangani setiap masalah yang dihadapinya dengan berhasil. seseorang dinyatakan normal jiwanya bila dirinya telah menunjukkan kematangan pribadinya. ketakutan. dst. M. Abnormalitas menurut Konsepsi Sosio-kultural Setiap masyarakat pasti memiliki seperangkat norma yang berfungsi sebagai pengatur tingkah laku para anggotanya. Tetapi bila dalam menghadapi maslah dirinya menunjukkan kecemasan.dst. 4. sehingga dinyatakan jiwanya tidak normal. yaitu bila dirinya mampu berperilaku sesuai dengan tingkat perkembangannya. Psikologi Abnormal/Drs.Pd. . maka dikatakan bahwa penyesuaian pribadinya tidak baik. Individu sebagai anggota masyarakat dituntut untuk menyesuaikan diri dengan norma-norma sosial dan susila di mana dia berada. halusinasi. 5. Kuntjojo. Abnormal menurut Konsepsi Patologis Berdasarkan konsepsi ini tingkah laku individu dinyatakan tidak normal bila terdapat simptom-simptom klinis tertentu. 3. misalnya ilusi. Abnormalitas menurut Konsepsi Kematangan Pribadi Menurut konsepsi kematangan pribadi.10 2. fobia. Bila individu tingkah lakunya menyimpang dari norma-norma tersebut. obsesi.

Memiliki pengetahuan mengenai dirinya secara objektif. tujuan hidup yang realistis. Mampu belajar dari pengalaman hidupnya.11 B. Menurut Maslow dan Mittelmann Maslow dan Mittelmann (kartini Kartono. Keenam sifat dimaksud adalah sebagai berikut. 1989 : 6-9). Kepribadiannya terintegrasi. M. Ada sikap emansipasi yang sehat pada kelompoknya. a. TINJAUAN SECARA EKLEKTIS Tinjauan eklektis adalah tinjauan yang tidak hanya berpegang pada satu sudut pandang saja. Memiliki kontak dengan realitas secara efisien. Psikologi Abnormal/Drs. Memiliki spontanitas dan emosional yang tepat. Dan berikut ini dikemukakan dua pandangan mengenai abnormalitas secara eklektis. Memiliki penilaian diri (self evaluation) dan wawasan (insight) yang rasional. c. Kriteria Pribadi yang normal menurut W. Menurut Maramis (1980 : 97). Memiliki dorongan-dorongan dan nafsu-nafsu yang sehat. terdapat enam kelompok sifat yang dapat dipakai untuk menentukan abnormalitas. j.F. Kuntjojo. h. i. d. . 1. 2. Sanggup untuk memenuhi tuntutan-tuntutan kelompoknya. Oleh karena itu dengan menggunakan berbagai sudut pandang diharapkan dapat diidentifikasi dengan tepat apakah perilaku itu normal atau tidak. k. g.Pd. Memiliki tujuan hidup yang adekuat. yang didukung oleh potensi. f. Pembahasan mengenai abnormalitas dari satu sudut pandang atau konsepsi tertentu ternyata memiliki kelemahan. Memiliki rasa aman yang tepat (sense of security) b. e. menyatakan bahwa pribadi yang normal dengan jiwa yang sehat ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut. Maramis.

bebas dari konflik pribadi yang melumpuhkan dan memiliki daya tahan yang baik terhadap stres. Psikologi Abnormal/Drs. intelektual. f. M. Kuntjojo. serta penilaian yang realistis terhadap kemampuannya. dan sosial sehingga mampu mengatasi berbagai masalah. Kemampuan : memiliki kemampuan dasar secara fisik. Integrasi: kesatuan kepribadian. identitas diri yang memadai. c.12 a. mampu mengarahkan dirinya pada tujuan hidup. bertanggung jawab. e. emosional. Cerapan (persepsi) terhadap kenyataan : mempunyai pandangan yang realistis tentang diri sendiri dan lingkungannya. Sikap terhadap diri sendiri : menerima dirinya sendiri.Pd. Perkembangan dan perwujudan dirinya : kecenderungan pada kematangan yang makin tinggi. . d. Otonomi : memiliki kepercayaan pada diri sendiri yang memadai. b.

M. 2005: 150-155) adalah sebagai berikut: I. Gangguan Kepribadian dan Gangguan Non Psikosis Lainnya. Neurosis Histerik C. dan berat-ringannya gangguan tersebut. dan membuka jalan untuk penelitian lebih lanjut maka para ahli kemudian membuat klasifikasi gangguan jiwa. Secara garis besar gangguan jiwa menurut Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) (Maramis. Neurosis Cemas B. baik itu menyangkut faktor penyebab. Psikosis Berhubungan denan Sindroma Otak Organik 1. Psikosis tak tergolongkan II. Psikosis Fungsional 1. Psikosis berhubungan dengan kondisi serebral lain 5. Psikosis lain 5. Psikosis paranoid 4. Psikosis A. Psikosis afektif 3. Psikosis alkoholik 3. Psikosis berhubungan dengan infeksi intracranial 4. Untuk keperluan kemudahan dalam komunikasi. KLASIFIKASI KELAINAN JIWA Kelainan atau gangguan jiwa beraneka ragam.13 Bab 3 KLASIFIKASI DAN GEJALA-GEJALA KELAINAN JIWA A. Psikosis berhubungan dengan kondisi fisik lain B. . Neurosis Fobik Psikologi Abnormal/Drs. Neurosis. gejala-gejala yang paling menonjol.Pd. Kuntjojo. Dementia senilis dan presenilis 2. Skizofrenia 2. kemudahan pendidikan. A.

yaitu: 1. dan social-budaya. missal: gejala apa yang muncul kapan terjadinya. Penurunan kesadaran b. Kuntjojo. Dimensi deskripstif. tidak hanya menerangkan tentang bagaimana gejala itu terjadi tetapi juga dinamikanya. Sindroma Depersonalisasi H. V. reaksi yang terjadi kemudian. Neurosis Depresif F. Neurosis Tak Tergolongkan III. Istilah Bukan-diagnosis untuk Penggunaan Administrasi. Gejala gangguan atau kelainan jiwa pada umumnya dapat dipahami dari dua dimensi (Baihaqi dkk. Misal: terjadi halusinasi pada pagi hari tanpa dijelaskan halusinasi tentang apa. hanya melukiskan bagaimana gejala itu terjadi tanpa menerangkan makna dan dinamikanya. dst. B.Pd. Retardasi Mental IV.. psikologis. Dimensi psikodinamik. Keadaan Tanpa Gangguan Psikiatrik yang Nyata dan Kondisi (Keadaan) Non-spesifik. dst. bagaimana prosesnya. GEJALA-GEJALA KELAINAN JIWA Gejala kelainan jiwa pada umumnya bersifat kompleks dan merupakan hasil interkasi antara faktor somatik (jasmani). 2005: 57). . Neurosis Hipokondrik I. 2. Kesadaran yang meninggi Psikologi Abnormal/Drs. Neurosis Obsesif-kompulsif E. Neurosis Lain J. 1. Gangguan Kesadaran a.14 D. bagaimana hal itu terjadi. M. Neurasthenia G. reaksi yang timbul kemudian apa. Adapun jenis-jenis gejala kelainan jiwa menurut Maramis (2005: 122-128) adalah sebagai berikut.

Disasosiasi f. Gangguan Pola Hidup Psikologi Abnormal/Drs. Gangguan Ingatan 3. Hipnosis e. .Pd. Kesadaran yang berubah g. Gangguan Pikiran a. Gangguan Kepribadian 11.15 c. Gangguan tidur d. Gangguan Kepribadian 10. Gangguan Persepsi 8. Gangguan isi pikiran 7. Gangguan Orientasi 4. Gangguan perhatian 2. M. Gangguan Afek dan Emosi 5. Gangguan Inteligensi 9. Gangguan arus pikiran c. Gangguan bentuk pikiran b. Gangguan Psikomotor 6. Kuntjojo.

sehingga orang yang mengalaminya masih bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan biasa sehari-hari atau masih bisa belajar. Kuntjojo. lebih ringan dari psikosis.Pd. neurosis adalah gangguan yang terjadi hanya pada sebagian dari kepribadian. sebutan atau nama Psikologi Abnormal/Drs. Penderita neurosis masih mampu menyesuaikan diri dan melakukan aktivitas sehari-hari. 3. hanya memberi pengaruh pada sebagaian kepribadian. . hambatan emosi. kurang perhatian terhadap lingkungan. dan seringkali ditandai dengan : keadaan cemas yang kronis. adalah suatu kesalahan penyesuaian diri secara emosional karena tidak diselesaikan suatu konflik tidak sadar. 2. dan kurang memiliki energi fisik. Neurosis dapat dikenali gejala-gejala yang menyertainya dengan ciri khas kecemasan.F. M. Berdasarkan pendapat mengenai neurosis dari para ahli tersebut dapat diidentifikasi pokok-pokok pengertian mengenai neurosis sebagai berikut. Dali Gulo (1982 : 179). gangguan-gangguan pada indera dan motorik. B. dan jarang memerlukan perawatan khusus di rumah sakit. 4. menurut W. JENIS-JENIS NEUROSIS Kelainan jiwa yang disebut neurosis ditandai dengan bermacam-macam gejala. Menurut Singgih Dirgagunarsa (1978 : 143). 1. PENGERTIAN NEUROSIS NEUROSIS Neurosis kadang-kadang disebut psikoneurosis dan gangguan jiwa (untuk membedakannya dengan psikosis atau penyakit jiwa. Nurosis. Maramis (1980 : 97). berpendapat bahwa neurosis adalah suatu kelainan mental. Neurosis terjadi pada sebagian aspek kepribadian.16 Bab 4 A. Dan berdasarkan gejala yang paling menonjol. dst. Neurosis merupakan gangguan jiwa pada taraf ringan.

Bahwa nama atau sebutan untuk neurosis diberikan berdasarkan gejala yang paling menjonjol atau paling kuat. perasaan tidak mampu. M. Faktor penyeban neurosis cemas Menurut Maramis (1980 : 261). Kuntjojo. dst. Terapi untuk penderita neurosis cemas Terapi untuk penederita neurosis cemas dilakukan dengan menemukan sumber ketakutan atau kekuatiran dan mencari penyesuaian yang lebih baik terhadap permasalahan.Pd. . dada tertekan. Maramis.F. tetapi bersifat mengambang bebas.F. b. Atas dasar kriteria ini para ahli mengemukakan jenis-jenis neurosis sebagai berikut (W. Bila kecamasan yang dialami sangat hebat maka terjadi kepanikan. 1980 : 258).17 untuk jenis neurosis diberikan. keringat dingan. Adapun gejala-gejala neurosis cemas adalah Gejala-gejala neurosis cemas : 1) Gejala somatis dapat berupa sesak nafas. Neurosis cemas (anxiety neurosis atau anxiety state) a. ketegangan. depresi. kepala ringan seperti mengambang. panik. 1980 : 257-258). Maramis. dst. Dengan demikian pada setiap jenis neurosis terdapat ciri-ciri dari jenis neurosis yang lain. Mudah tidaknya upaya ini pada umumnya dipengaruhi oleh kepribadian Psikologi Abnormal/Drs. apa saja dapat menyebabkan gejala tersebut. Gejala-gejala neurosis cemas Tidak ada rangsang yang spesifik yang menyebabkan kecemasan. c. 2) Gejala psikologis berupa kecemasan. bahkan kadang-kadang ada pasien yang menunjukkan begitu banyak gejala sehingga gangguan jiwa yang dideritanya sukar untuk dimasukkan pada jenis neurosis tertentu (W. 1. lekas lelah. faktor pencetus neurosis cemas sering jelas dan secara psikodinamik berhubungan dengan faktorfaktor yang menahun seperti kemarahan yang dipendam.

18 penderita. M. Gejala-gejala histeria Histeria merupakan neurosis yang ditandai dengan reaksi-reaksi emosional yang tidak terkendali sebagai cara untuk mempertahankan diri dari kepekaannya terhadap rangsangrangsang emosional. b. Gejalagejala sering timbul dan hilang secara tiba-tiba. Kuntjojo. yaitu reaksi konversi atau histeria minor dan reaksi disosiasi atau histeria mayor. Pada neurosis jenis ini fungsi mental dan jasmaniah dapat hilang tanpa dikehendaki oleh penderita. 1) Histeria minor atau reaksi konversi Pada histeria minor kecemasan diubah atau dikonversikan (sehingga disebut reaksi konversi) menjadi gangguan fungsional susunan saraf somatomotorik atau somatosensorik. Histeria a. teruma bila penderita menghadapi situasi yang menimbulkan reaksi emosional yang hebat. . Psikologi Abnormal/Drs. yaitu : psikoterapi individual psikoterapi kelompok psikoterapi analitik sosioterapi terapi seni kreatif terapi kerja terapi perilaku farmakoterapi 2.Pd. Jenis-jenis histeria Histeria digolongkan menjadi 2. Ada beberapa jenis terapi yang dapat dipilih untuk menyembuhkan neurosis cemas.

tuli. Farmakoterapi. Faktor penyebab histeria Menurut Sigmund Freud. sehingga timbul gejala-gejala : amnesia. 2) Histeria mayor atau reaksi disosiasi Histeria jenis ini dapat terjadi bila kecemasan yang yang alami penderita demikian hebat. Joseph Breuer). mati raba.Pd. fugue. d. somnabulisme. . c. Teknik asosiasi bebas (dikembangkan oleh Sigmund Freud). Maksudnya adalah untuk melupakan atau menghilangkan pengalaman tersebut. dan kepribadian ganda. histeria terjadi karena pengalaman traumatis (pengalaman menyakitkan) yang kemudian direpresi atau ditekan ke dalam alam tidak sadar. M. Terapi terhadap penderita histeria Ada beberapa teknik terapi yang dapat dilakukan untuk menyembuhkan hysteria yaitu : Teknik hipnosis (pernah diterapkan oleh dr. sehingga dapat memisahkan beberapa fungsi kepribadian satu dengan lainnya sehingga bagian yang terpisah tersebut berfungsi secara otonom.19 dengan gejala : lumpuh. dst. kejang-kejang. melainkan ada dalam alam tidak sadar (uncociousness) dan suatu saat muncul kedalam sadar tetapi dalam bentuk gannguan jiwa. Psikoterapi suportif. Kuntjojo. buta. Namun pengalaman traumatis tersebut tidak dapat dihilangkan begitu saja. Psikologi Abnormal/Drs.

yang disertai perasaan malu dan bersalah. Namun pengalaman tersebut tidak bisa hilang dan akan muncul bila ada rangsangan serupa. berkeringat. panik. c. M. dst. Teknik terapi yang dapat dilakukan untuk penderita neurosis fobik adalah: Psikologi Abnormal/Drs. Pengalaman traumastis ini kemudian direpresi (ditekan ke dalam ketidak sadarannya). neurosa fobik sulit untuk dihilangkan sama sekali bila gangguan tersebut telah lama diderita atau berdasarkan fobi pada masa kanak-kanak. Faktor penyebab neurosis fobik Neurosis fobik terjadi karena penderita pernah mengalami ketakutan dan shock hebat berkenaan dengan situasi atau benda tertentu. Terapi untuk penderita neurosis fobik Menurut Maramis. . Fobia dapat menyebabkan timbulnya perasaan seperti akan pingsan. yaitu rasa takut yang hebat yang bersifat irasional. Neurosis fobik a. rasa lelah. Gejala-gejala neurosis fobik Neurosis fobik merupakan gangguang jiwa dengan gejala utamanya fobia.20 3. terhadap suatu benda atau keadaan. mual.Pd. Ada bermacam-macam fobia yang nama atau sebutannya menurut faktor yang menyebabkan ketakutan tersebut. misalnya : Hematophobia : takut melihat darah Hydrophobia Pyrophibia Acrophobia : takut pada air : takut pada api : takut berada di tempat yang tinggi b. Kuntjojo. Namun bila gangguan tersebut relatif baru dialami proses penyembuhannya lebih mudah.

Kuntjojo. 4. . yaitu setiap kali penderita merasa takut dia diberi rangsang yang tidak menyenagkan. Mania cuci tangan : keinginan untuk mencuci tangan secara terus menerus. Terapi kelompok. Gejala-gejala neurosis obsesif-kompulsif Istilah obsesi menunjuk pada suatu ide yang mendesak ke dalam pikiran atau menguasai kesadaran dan istilah kompulsi menunjuk pada dorongan atau impuls yang tidak dapat ditahan untuk tidak dilakukan. Manipulasi lingkungan. Wanderlust : keinginan yang tidak bisa ditahan untuk bepergian. Neurosis obsesif-kompulsif a. Terapi perilaku dengan deconditioning. Psikologi Abnormal/Drs. Pyromania : keinginan yang tidak bisa ditekan untuk membakar sesuatu. Faktor penyebab neurosis obsesif-kompulsif Neurosis jenis ini dapat terjadi karena faktor-faktor sebagai berikut (Yulia D. meskipun sebenarnya perbuatan tersebut tidak perlu dilakukan. Kleptomania : keinginan yang kuat untuk mencuri meskipun dia tidak membutuhkan barang yang ia curi. M.21 Psikoterapi memahami suportif.. Konflik antara keinginan-keinginan yang ditekan atau dialihkan. 2000 : 116-117). Contoh obsesif-kompulsif antara lain . apa upaya untuk mengajar dia alami penderita beserta yang sebenarnya psikodinamikanya.Pd. b.

bahwa depresi tidak didasarkan pada persepsi akurat tentang kenyataan. tetapi merupakan produk “keterpelesetan’ mental. Terapi untuk penderita neurosis obsesif-kompulsif psikoterapi suportif. 5. Burns berpendapat bahwa persepsi individu terhadap realitas tidak selalu bersifat objektif. gejala psikologis : sedih. b.22 Trauma mental emosional. penjelasan dan pendidikan. yaitu represi pengalaman masa lalu (masa kecil). Gejala-gejala utama gangguan jiwa ini adalah : gejala jasmaniah : senantiasa lelah. ingin mengakhiri hidupnya. Kuntjojo.Pd. melainkan akibat dari adanya distorsi kognitif atau pemikiran yang negatif. putus asa. insomnia. dst. Individu memahami realitas bukan bagaimana sebenarnya realitas tersebut. Burns (1988 : 6). rasa harga diri rendah. bahwa depresi bukanlah suatu gangguan emosional sama sekali. Neurosis depresif a. yang kemudian menciptakan suasana jiwa. M. d. anoreksia. melainkan bagaimana realitas tersebut ditafsirkan. terapi perilaku. Gejala-gejala neurosis depresif Neurosis depresif merupakan neurosis dengan gangguang utama pada perasaan dengan ciri-ciri : kurang atau tidak bersemangat. terutama perasaan yang negatif pula. dan cenderung menyalahkan diri sendiri.Faktor penyebab neurosis depresif Menurut hasil riset mutakhir sebagaimana dilakukan oleh David D. cepat lupa. . Dan penafsiran ini bisa keliru bahkan Psikologi Abnormal/Drs.

yang dilakukan dengan prinsip sebagai berikut. Terapi kognitif dilakukan dengan cara membetulkan pikiran yang salah.Pd. REALITAS Sederetan peristiwa yang : • Positif • Netral • negatif MOOD • Perasaan diciptakan oleh pikiran. INDIVIDU Bagan 4.23 bertentangan dengan realitas sebenarnya. Psikologi Abnormal/Drs. Bahwa pemikiran negative menyebabkan kekacauan emosional. Terapi untuk penderita neurosis depresif Untukmenyembukan depresi.1: PROSES TERJADINYA DEPRESI c. yang telah menyebabkan terjadinya kekacauan emosional. Burns (1988 : 5) telah mengembang-kan teknik terapi dengan prinsip yang disebut terapi kognitif. Kuntjojo. Konsepsi tersebut kemudian oleh Burns dijelaskan dengan visualisasi sebagai berikut (1988 : 21). Jika depresi sedang terjadi maka berarti pemikiran telah dikuasai oleh kekeliruan yang mendalam. Bahwa semua rasa murung disebabkan oleh kesadaran atau pemikiran ang bersangkutan. M. . DIALOG INTERNAL Realitas yang dihadapi ditafsirkan dengan pikiran-pikiran yang mengalir terus. • Semua pengalaman diproses melalui otak dan diberi makna secara sadar sebelum terjadi respon emosional.

1983 : 34). emosi labil. kecemasan. bisa pula pendrita depresi mendapatkan farmakoterapi. sering merasa dihinggapi bermacam-macam penyakit. M. Psikologi Abnormal/Drs. Sering gagal dalam menghadapi persaingan-persaingan c. Psikoterapi supportif.24 Selain terapi kognitif. Farmakoterapi. Terhalanginya keinginan-keinginan. kepala pusing. Gejala utama gangguan ini adalah tidak bersemangat. Kuntjojo. dan kemampuan berpikir menurun. Terlalu lama menekan perasaan. Terapi olah raga. Gejala-gejala neurasthenia Neurasthenia disebutjuga penyakit payah. pertentangan batin. 6.Pd. Neurasthenia a. Di samping gejala-gejala utama tersebut juga terdapat gejalagejala tambahan. cepat lelah meskipun hanya mengeluarkan tenaga yang sedikit. dst. Terapi untuk penderita neurasthenia Upaya membantu penyembuahn penderita neurasthenia dapat dilakukan dengan teknik terapi sebagai berikut. yaitu insomnia. b. Faktor penyebab neurasthenia Neurasthenia dapat terjadi karena beberapa faktor (Zakiah Daradjat. . yaitu sebagai berikut.

motorik. dan lebih penting dari orang lain. biasanya mencakup ide-ide yang salah tentang apa yang Psikologi Abnormal/Drs. menyatakan bahwa psikosis adalah suatu gangguan jiwa dengan kehilangan rasa kenyataan (sense of reality). Perilaku penderita psikosis tidak dapat dimengerti oleh orang normal. dst. sebaliknya ia menganggap dirinya normal saja. Gunarsa (1998 : 140). dan tidak sanggup memahami problemnya.Pd. sedemikian berat sehingga perilaku penderita tidak sesuai lagi dengan kenyataan. usually including false ideas about what is taking place or who one is (delusions) and seeing or hearing things that aren't there (hallucinations)”. M. Definisi berikutnya tentang psikosis (Medline Plus. pikiran. Berbicara mengenai psikosis. Seorang yang diserang penyakit jiwa (psychosis). sehingga penderita tidak bisa menyesuaikan diri dalam norma-norma hidup yang wajar dan berlaku umum. Seringkali orang sakit jiwa tidak merasa bahwa dirinya sakit. lebih unggul. Psikosis. menurut Medline Plus adalah kelainan jiwa yang ditandai dengan hilangnya kontak dengan realitas. kemauan. bahkan lebih baik. Kuntjojo.F. psikosis ialah gangguan jiwa yang meliputi keseluruhan kepribadian. dan selanjutnya menyebabkan kurang mampu menyesuaikan diri dengan wajar. Kelainan seperti ini dapat diketahui berdasarkan gangguan-gangguan pada perasaan. . W.25 Bab 5 A. Maramis (2005 : 180). kepribadiannya terganggu. 200) rumusannya sebagai berikut: “Psychosis is a loss of contact with reality. Zakiah Daradjat (1993 : 56). menyatakan sebagai berikut. sehingga orang awam menyebut penderita sebagai orang gila. PENGERTIAN PSIKOSIS PSIKOSIS Menurut Singgih D.

1.26 sebenarnya terjadi. penderita hidup dalam dunianya sendiri. 4.F. orientasi. Penderita B.C. 5. delusi. gejala-gejala. Coleman (W. 2005 : 251) telah menemukan 6 perbedaan antara psikosis dengan neurosis atas dasar : 1. Psikologi Abnormal/Drs. Penyembuhan. 4. atau melihat atau mendengar sesuatu yang sebenarnya tidak ada (halusinasi). yang terjadi pada semua aspek kepribadian. Kuntjojo.Pd. 2. M. 3. . atau tepatnya penyakit jiwa. Psikosis tidak dirasakan keberadaannya oleh penderita. Maramis. PERBEDAAN PSIKOSIS DENGAN NEUROSIS Untuk memperjelas pemahaman mengenai psikosis ada baiknya membandingkan kelainan jiwa ini dengan neurosis sebagaimana telah diidentifikasi oleh J.resiko social. Psikosis merupakan gangguan jiwa yang berat. tidak menyadari bahwa dirinya sakit. Dari empat pendapat tersebut dapat diperoleh gambaran tentang psikosis yang intinya sebagai berikut. Dalam bahasa sehari-hari.perilaku umum. Perbedaan psikosis dengan neurosis menurut Coleman adalah sebagaimana disajikan dalam table berikut. psikosis disebut dengan istilah gila. Pemahaman (insight). dan 6. 5. Usaha menyembuhkan psikosis tak bias dilakukan sendiri oleh penderita tetapi hanya bisa dilakukan oleh pihak lain. 2. 3. Bahwa penderita psikosis tidak dapat lagi berhubungan dengan realitas.

psikosis dibedakan menjadi dua jenis berdasarkan faktor penyebabnya. tempat. FAKTOR perilaku umum PSIKOSIS Gangguan terjadi pada seluruh aspek kepribadian. . 6. kedangkalan emosi. kontak dengan realitas masih ada. pemahaman (insight) Penderita memahami bahwa dirinya mengalami gangguan jiwa Perilaku penderita jarang atau tidak membahayakan orang lain dan diri sendiri Tidak begitu memerlukan perawatan di rumah sakit. dan orang-orang). gejala-gejala Gejala psikologis dan somatik bisa bervariasi. resiko sosial Perilaku penderita dpt. 4. Kuntjojo. Penderita tidak emahami bahwa dirinya sakit. halusinasi. Kesembuhan seperti semula dan permanen sangat mungkin untuk dicapai. yang terjadi secara terus-menerus.. orientasi Penderita tidak atau jarang mengalami disorientasi . Kesembuhan seperti keadaan semula dan permanen sulit dicapai. Penderita sering mengalami disorientasi (waktu. dst. NEUROSIS Gangguan terjadi pada sebagian kepribadian. M.1 PERBEDAAN ANTARA PSIKOSIS DENGAN NEUROSIS NO. 2. membahayakan orang lain dan diri sendiri. yaitu psikosis organik. yang disebabkan oleh faktor Psikologi Abnormal/Drs. penyembuhan C. Penderita memerlukan perawatan di rumah sakit.Pd. tetapi bersifat temporer dan ringan 3. tidak ada kontak dengan realitas. 5.27 TABEL 5. JENIS-JENIS PSIKOSIS Secara umum. Gejalan bervariasi luas dengan waham. 1.

sabu-sabu. yaitu psikosis yang terjadi akibat luka atau trauma pada kepala karena kena pukul. b. Psikosis fungsional Psikosis fungsional merupakan penyakit jiwa secara fungsional yang bersifat nonorganik. Kedua jenis psikosis dan yang termasuk di dalamnya diuraikan berikut ini. yang terjadi karena faktor kejiwaan. 1993 : 106). dst. . Dementia paralytica.).. d. M. yaitu : schizophrenia. Kuntjojo. a. Psikosis organik Psikosis organik adalah penyakit jiwa yang disebabkan oleh faktorfaktor fisik atau organik. terjadi karena fungsi jaringan otak terganggu atau rusak akibat terlalu banyak minum minuman keras. sehingga penderita mengalamai inkompeten secara sosial. tertembak. Sebutan ini diberikan berdasarkan gejala yang paling menonjol dari penyakit ini. yaitu adanya jiwa Psikologi Abnormal/Drs. 2. Alcoholic psychosis. yaitu pada fungsi jaringan otak.28 oganik dan psikosis fungsional. Drug psychose atau psikosis akibat obat-obat terlarang (mariyuana. dan psiukosis paranoid (Kartini Kartono. Schizophrenia Arti sebenarnya dari Schizophrenia adalah kepribadian yang terbelah (split of personality). c. dan gagal dalam menyesuaikan diri terhadap realitas. yaitu psikosis yang terjadi akibat infeksi syphilis yang kemudian menyebabkan kerusakan sel-sel otak. Traumatic psychosis. tidak mampu bertanggung jawab.Pd. yang ditandai dengan disintegrasi kepribadian dan ketidak mampuan dalam melakukan penyesuaian sosial. Psikosis jenis inidibedakan menjadi beberapa . kecelakaan. LSD. Psikosis organis dibedakan menjadi beberapa jenis dengan sebutan atau nama mengacu pada faktor penyabab terjadinya. dst. 1. Jenis psikosis yang tergolong psikosis organik adalah sebagai berikut. kokain. psikosis maniadepresif. a.

antara lain keturunan. 2) Faktor penyebab terjadinya schizophrenia Pendapat para ahlimengenai factor penyebab schizophrenia ada bermacam-macam. maka logikanya tidak berfungsi sehingga isi pembeicaraan penderita sukar untuk diikuti karena meloncat-loncat aneh (inkoheren) dan dapat seringkali muncul kata-kata yang hanya dimengerti oleh penderita sendiri. penderita lebih banyak hidup dalam dunia khayal sendiri. perasaan. dan perbuatannya tidak sejalan. ketiga aspek kejiwaan ini pada penderita schizophrenia dapat berjalan sendiri-sendiri. Ada pula yang menyatakan bahwa schizophrenia terjadi gangguan endokrin dan metabolisme. Antara pikiran.Pd. 1998 : 141142) Kontak dengan realitas tidak ada lagi. Psikologi Abnormal/Drs. tekanan jiwa. Karena tidak ada kontak dengan realitas. pola asuh yang salah. Halusinasi sering dialami pula oleh penderita schizophrenia. Sehubungan dengan pikiran yang sangat berorientasi pada khayalannya sendiri. Ada yang menyatakan bahwa penyakit ini merupakan keturunan. Kuntjojo. Sedangkan pendapat yang berkembang dewasa ini adalah bahwa penyakit jiwa ini disebabkan oleh beberapa factor.29 yang terpecah belah. ucapan. timbul delusi ata waham pada penderita schizophrenia (bisa waham kejaran dan kebesaran). sehingga ia dapat menceritakan kejadian yang menyedihkan sambil tertawa. 1) Gejala-gejala schizophrenia (Singgih Dirgagunarsa. . M. dan berbicara serta bertingkah laku sesuai dengan khayalannya. sehingga tidak sesuai dengan kenyataan. dan perbuatan terjadi disharmoni. maladaptasi. Pikiran.

anorexia. insomnia. .F. 1) Gejala-gejala psikosis mania-depresif a) Gejala-gejala mania antara lain: euphoria (kegembiraan secara berlebihan0. 2005 : 216-217). hiperaktivitas. waham kebesaran. b) Gejala-gejala depresif antara lain : kecemasan. yaitu mania dan depresi.30 dan penyakit lain yang belum diketahui (W.Pd. yaitu berubah-ubahnya kegembiraan yang berlebihan (mania) menjadi kesedihan yang sangat mendalam (depresi) dan sebaliknya dan seterusnya. 2) Faktor penyebab psikosis mania-depresif Psikosis mania-depresif disebabkan oleh faktor yang berhubungan dengandua gejala utama penyakit ini. Sedangkan aspek depresinya terjadi karena adanya penyesalan yang berlebihan. hipoaktivitas. Psikosis mania-depresif Psikosis mania-depresif merupakan kekalutan mental yang berat. pikiran melayang. Kuntjojo. pesimis. M. b. yang berbentuk gangguan emosi yang ekstrim. Maramis. Psikologi Abnormal/Drs. Aspek mania terjadi akibat dari usaha untuk melupakan kesedihan dan kekecewaan hidup dalam bentuk aktivitas-aktivitas yang sangat berlebihan.

Psikosis paranoid Psikosis paranoid merupakan penyakit jiwa yang serius yang ditandai dengan banyak delusi atau waham yang disistematisasikan dan ide-ide yang salah yang bersifat menetap. dan (Kartini Kartono.F. Adanya rasa percaya diri yang berlebihan (over confidence). Psikologi Abnormal/Drs. Kuntjojo. Mudah timbul rasa curiga . untuk menunjukkan suatu kecurigaan dan kebesaran yang berlebihan (W.31 c. 1999 : 176). . Terlalu sensitif dan seringkali dihinggapi rasa curiga.. antara lain : Kebiasaan berpikir yang salah. Maramis. Adanya kompensasi terhadap kegagalan dan kompleks inferioritas. 2) Faktor penyebab psikosis paranoid Faktor-faktor yangdapat menyebabkan psikosis paranoid kaku. M.Pd. 2005 : 241). terutama waham kejaran dan kebesaran baik sendiri-sendiri maupun bercampur aduk Pikirannya dikuasai ole hide-ide yang salah.. 1) Gejala-gejala psikosis paranoid Sistem waham yang kaku. paksaan. kukuh dan sistematis. Istilah paranoid dipergunakan pertama kali oleh Kahlbaum pada tahun 1863.

Bahwa psikopat merupakan kelainan atau gangguan jiwa dengan 2. 4. Sikap penderita psikopat selalu tidak menyenangkan orang lain. 1. Bersadarkan pendapat yang dikemukakan oleh Singgih Dirgagunarsa dan Kartini Kartono tersebut dapat disimpulkan pengertian mengenai psikopat sebagai berikut.32 Bab 6 A. Selanjutnya Kartini Kartono menyebutkan gejala-gejala psikopat antara lain sebagai berikut. . M. Kuntjojo. 1. eksentrik dan kronis patologis. sering berbuat kasar bahkan ganas terhadap siapapun. psikopat adalah bentul kekalutan mental (mental disorder) yang ditandai dengan tidak adanya pengorganisasian dan pengintegrasian pribadi sehingga penderita tidak pernah bisa bertanggung jawab secara moral dan selalu konflik dengan norma-norma sosial dan hukum. tidak memiliki kesadaran social dan inteligensi sosial. 2.Pd. seolah-olah patokan untuk semua perbuatan dirinya sendiri saja. 3. penderita psikopat memiliki kepribadian yang labil dan emosi yang tidak matang. Tingkah laku dan realasi social penederita selalu asosial. PENGERTIAN PSIKOPAT PSIKOPAT Singgih Dirgagunarsa (1998 : 145) menyatakan bahwa psikopat merupakan hambatan kejiwaan yang menyebabkan penderita mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri terhadap norma-norma sosial yang ada di lingkungannya. Penderita psikopat memperlihatkan sikap egosentris yang besar. Penderita psikopat cenderung bersikap aneh. ciri utamanya ketidak mampuan penderita dalam menyesuaikan Psikologi Abnormal/Drs. Menurut Kartini Kartono (1999 : 95).

Selama lima tahun pertama dalam hidupnya dia tidak pernah merasakan kelebutan. Egonya. Bila dia hidup dalam kebijaksanaan. dia belajar mengutuk. Dalam Hal ini Elizabeth Hurlock (1997 : 257) mengutip pendapat penulis yang tidak bernama antara lain sebagai berikut. Kuntjojo. kemesraan. dia belajarberkelahi. Bahwa perbuatan penderita psikopat dilakukan dengan acuan 7. dia belajar bersabar. Bila dia hidup akan suasana aman. diri dengan norma yang berlaku di lingkungan sosialnya. dia belajar percaya akan dirinya dan orang lain. sehingga individu yang bersangkutan gagal dalam mengembangkan kemampuan untuk menerima dan memberikan perhatian dan kasih saying pada orang lain (Kartini Kartono. 1990 : 75). dia belajar mengharga keadilan. B. Bila seorang anak hidup dalam kecaman. Bahwa terjadinya psikopat tidak terlepas bahkan ditentukan oleh lingkungan keluarga tidak dapat dipungkiri. M.33 3.Pd. 4. Bila dia hidup dalam toleransi. 6. Bahwa penderita psikopat memiliki kepribadian yang labil dan 9. . dan kasih sayang. Psikologi Abnormal/Drs. Bahwa penderita psikopat tidak memiliki tanggung jawab moral 5. 8. Bila dia hidup dalam permusuhan. FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA PSIKOPAT Seseorang dapat menderita psikopat karena kurang atau tidak adanya kasih sayang yang diterima dari lingkungannya. terutama keluarga. emosi yang tidak matang. dan sosial.

Pd. 2005: 386).F. jaringan otak juga dapat rusak yang pada akhirnya menimbulkan retardasi mental. FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB RETARDASI MENTAL Menurut Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa Ke-1 (W. Kuntjojo. a. yaitu rusaknya jaringan otak. B. Infeksi dapat terjadi karena masuknya rubella. 2005: 386-388) factor-faktor penyebab retardasi mental adalah sebagai berikut. tetapi gejala yang utama ialah inteligensi yang terbelakang. ke dalam tubuah ibu yang sedang mengandung. perasaan. sehingga yang bersangkutan mengalami hambatan dalam penyesuaian diri. Mental. Maramis. PENGERTIAN RETARDASI MENTAL Retardasi mental adalah kelainan ataua kelemahan jiwa dengan inteligensi yang kurang (subnormal) sejak masa perkembangan (sejak lahir atau sejak masa anak). dan kemauannya berada pada tingkat rendah.F. toksoplasma. dll. Infeksi dan atau intoksinasi Infeksi yang terjadi pada masa prenatal dapat berakibat buruk pada perkembangan janin. Maramis. Biasanya terdapat perkembangan mental yang kurang secara keseluruhan. Begitu juga dengan terjadinya intoksinasi. Psikologi Abnormal/Drs. . karena masuknya “racun” atau obat yang semestinya dibutuhkan. M. inteligensi.34 Bab 7 RETARDASI MENTAL A. sifilis. Retardasi mental merupakan kelemahan yang terjadi pada fungsi intelek. Kemampuan jiwa retardasi mental gagal berkembang secara wajar. Retardasi mental disebut juga oligofrenia (oligo: kurang atau sedikit dan fren: jiwa) atau tuna mental (W. Begitu pula halnya dengan intoksinasi.

Kuntjojo. . Gangguan metabolisme. dan usaha melakukan abortus dapat mengakibatkan kelainan berupa retardasi mental.35 b. sesudah itu biarpun anak tersebut dibanjiri dengan makanan yang bergizi. Penyakit otak yang terjadi sejak lahir atau bayi dapat menyebabkan penderita mengalamai keterbelakangan mental.Pd. dst. radang. Penyakit otak yang nyata Dalam kelompok ini termasuk retardasi mental akibat beberapa reaksi sel-sel otak yang nyata. Terjadinya rudapaksa dan / atau sebab fisik lain Rudapaksa sebelum lahir serta trauma lainnya. Mungkin juga karena terjadi kekurangan oksigen yang kemudian menyebabkan terjadinya degenerasi sel-sel korteks otak yang kelak mengakibatkan retardasi mental. M. inteligensi yang rendah tersebut sangat sukar untuk ditingkatkan. yang dapat bersifat degeneratif. d. c. Pada waktu proses kelahiran (perinatal) kepala bayi dapat mengalami tekanan sehingga timbul pendarahan di dalam otak. Gangguan gizi yang berat dan berlangsung lama sebelum anak berusia 4 tahun sangat mempengaruhi perkembangan otak dan dapat mengakibatkan retardasi mental. pertumbuhan atau gizi Semua retardasi mental yang langsung disebabkan oleh gangguan metabolisme (misalnya gangguan metabolism karbohidrat dan protein). seperti hiper radiasi. Psikologi Abnormal/Drs. Keadaan seperti itu dapat diperbaiki dengan memberikan gizi yang mencukupi sebelum anak berusia 6 tahun. dan gizi buruk termasuk dalam kelompok ini. gangguan pertumbuhan. alat kontrasepsi.

Prematuritas Retardasi mental yang termasuk ini termasuk retrdasi mental yang berhubungan dengan keadaan bayi yang pada waktu lahir berat badannya kurang dari 2500 gram dan/atau dengan masa kehamilan kurang dari 38 minggu. Berdasarkan kriteria Psikologi Abnormal/Drs. Kemampuan sosial dan bekerja (vokasional). g. dan 3. Deprivasi psikososial Devripasi artinya tidak terpenuhinya kebutuhan. f.Pd. TINGKATAN RETARDASI MENTAL Untuk menentukan berat-ringannya retardasi mental. tetapi tidak diketahui etiologinya. Tidak terpenuhinya kebutuhan psikososial awal-awal perkembangan ternyata juga dapat menyebabkan terjadinya retardasi mental pada anak. termasuk anomaly cranial primer dan defek congenital yang tak diketahui sebabnya. . Kemampuan anak untuk dididik dan dilatih. . Penyakit atau pengaruh prenatal Keadaan ini dapat diketahui sudah ada sejak dalam kandungan. Intelligence Quotient (IQ). kriteria yang dipakai adalah: 1. h.36 e. i. Kelainan pada jumlah kromosom menyebabkan sindroma down yang dulu sering disebut mongoloid. 2. Kelainan kromosom Kelainan kromosom mungkin terjadi pada aspek jumlah maupun bentuknya. Kuntjojo. C. M. Akibat gangguan jiwa yang berat Retardasi mental juga dapat terjadi karena adanya gangguan jiwa yang berat pada masa kanak-kanak.

Dapat melakukan perbuatan untuk keperluan dirinya (mandi. c. c.85 (keadaan bodoh/bebal) b.1 (W. . hanya dapat dilatih. Intelligence Quotient : 20 – 35 Psikologi Abnormal/Drs. Kuntjojo. M. Intelligence Quotient : 68 .F. 4. Retardasi Mental Sedang Karakteristik retardasi mental sedang adalah: a. Patokan pendidikan : Tidak dapat bersaing dalam mencari nafkah : Beberapa kali tak naik kelas di SD 2. dst. 1. Retardasi Mental Berat Karakteristik retardasi mental berat adalah: a. Retardasi Mental Taraf Perbatasan Karakteristik retardasi mental taraf perbatasan adalah : a. Patokan sosial : Dapat mencari nafnah sendiri dengan mengerjakan sesuatu yang sederhana dan mekanistis. Maramis. Patokan pendidikan : Tidak dapat dididih.Pd. 2005: 390-392) adalah sebagai berikut. Patokan sosial : Tidak dapat mencari nafkah sendiri. Patokan social c.).37 tersebut kemudian dapat diklasifikasikan berat-ringannya retardasi mental yang menurut GPPDGJ . makan. Intelligence Quotient : 52 – 67 (debil/moron/keadaan tolol) b. Intelligence Quotient : 36 – 51 (taraf embisil/keadaan dungu) b. Retardasi Mental Ringan Karakteristik retardasi mental ringan adalah: a. berpakaian. Patokan pendidikan : Dapat dididik dan dilatih tetapi pada sekolah khusus (SLB) 3.

c. 1. Pencegahan Primer Usaha pencegahan primer terhadap terjadinya retardasi mental dapat dilakukan dengan: a. 3) Pencegahan kehamilan usia sangat muda (usia ibu kurang dari 20 tahun) dan terlalu tua (usia ibu lebih dari 46 tahun). Konseling genetik. Patokan social : Tidak dapat mengurus diri sendiri dan tidak dapat mengenal bahaya. Perbaikan keadaan social-ekonomi. . Dapat mengenal bahaya. Kuntjojo. Psikologi Abnormal/Drs. Kurang mampu melakukan perbuatan untuk keperluan dirinya. Patokan pendidikan : Tidak dapat dididik. 5. Selama hidup tergantung dari pihak lain. c. Pendidikan kesehatan pada masyarakat. c. d. b. 2) Pertolongan persalinan yang baik. dapat dilatih untuk hal-hal yang sangat sederhana. Patokan sosial : Tidak dapat mencari nafkah sendiri.38 b. Retardasi Mental Sangat Berat Karakteristik retardasi mental sangat berat adalah: a. D. Intelligence Quotient : Kurang dari 20 (idiot/keadaan pander) b. Tindakan kedokteran. Pencegahan retardasi mental dapat dibedakan menjadi dua: pencegahan primer dan pencegahan sekunder. Patokan pendidikan : Tidak dapat dididik dan dilatih. antara lain: 1) Perawatan prenatal dengan baik. PENCEGAHAN RETARDASI MENTAL Terjadinya retardasi mental dapat dicegah. M.Pd.

Oleh karena itu agar orang tua dapat berperan secara baik dan benar maka mereka perlu memiliki kesiapan psikologis dan teknis. Dengan latihan maka diharapkan dapat membuat keterampilan berkembang. Dan bila perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium. Konseling dilakukan secara fleksibel dan pragmatis dengan tujuan agar orang tua penderita mampu mengatasi bebab psiko-sosial pada dirinya terlebih dahulu. 1. Untuk itulah maka mereka perlu mendapatkan layanan konseling. melainkan juga pada orang tuanya. c. b. Mengapa demikian? Siapapun orangnya pasti memiliki beban psiko-sosial yang tidak ringan jika anaknya menderita retardasi mental. Melatih penderita retardasi mental pasti lebih sulit dari pada melatih anak normal antara lain karena perhatian penderita retardasi mental Psikologi Abnormal/Drs. E. Pencegahan Sekunder Pencegahan sekunder terhadap terjadinya retardasi mental dapat dilakukan dengan diagnosis dan pengobatan dini peradangan otak dan gangguan lainnya. sehingga ketergantungan pada pihak lain menjadi berkurang atau bahkan hilang. Kuntjojo. PENANGANAN RETARDASI MENTAL Penanganan terhadap penderita retardasi mental bukan hanya tertuju pada penderita saja. perlu diambil anamnesis dari orang tua dengan teliti mengenai: kehamilan. M. dan pertumbuhan serta perkembangan anak. Pentingnya Pendidikan dan Latihan untuk Penderita Retardasi Mental a. persalinan.Pd. Untuk mendiagnosis retardasi mental dengan tepat. apalagi jika masuk kategori yang berat dan sangat berat. Pendidikan dan latihan diperlukan untuk memperbaiki sifat-sifat yang salah. Latihan untuk mempergunakan dan mengembangkan kapasitas yang dimiliki dengan sebaik-baiknya. .39 2.

yaitu: a. d. . b. Latihan di rumah: belajar makan sendiri. dst. Latihan moral: latihan berupa pengenalan dan tindakan mengenai hal-hal yang baik dan buruk secara moral. membersihkan badan dan berpakaian sendiri. Jenis-jenis Latihan untuk Penderita Retardasi Mental Ada beberapa jenis latihan yang dapat diberikan kepada penderita retardasi mental. Kuntjojo. Psikologi Abnormal/Drs. 2. c. M.Pd. Untuk mengikat perhatian mereka tindakan yang dapat dilakukan adalah dengan merangsang indera. Latihan di sekolah: belajar keterampilan untuk sikap social.40 mudah terinterupsi. Latihan teknis: latihan diberikan sesuai dengan minat dan jenis kelamin penderita.

41 Bab 8 A. Tetapi mereka yang mengucapkan kata tersebut belum tentu mengerti apa sebenarnya stres itu. Secara visual konsepsi ini dapat digambarkan sebagai berikut. stress ENVIRONMENT INDIVIDU ENVIRONMENT stress stress Bagan 8. dan stres merupakan interaksi antara individu dengan lingkungan (Bart Smet. KONSEPSI-KONSEPSI MENGENAI STRES STRES Dewasa ini istilah stress merupakan istilah sehari-hari. yaitu stress sebagai hubungan antara individu dengan stressor. 1994 : 108-111). Bagi kebanyakan orang. Secara garis besar ada tiga pandangan mengenai stres. ataupun kalangan akademisi.1: STRES SEBAGAI STIMULUS Psikologi Abnormal/Drs. Individu mengalami stres bila dirinya menjadi bagian dari lingkungan tersebut. Kuntjojo. Apakah sebenarnya stres itu ? Samakah stres dengan psikosis ? Faktorfaktor apakah yang dapat menyebabkan stres ? Untuk menjawab pertanyaan tersebut. M. psikiater. Stres Sebagai Stimulus Menurut konsepsi ini stres merupakan stimulus yang ada dalam lingkungan (environment). yang bukan saja diucapkan oleh para psikolog. 1. berikut dikemukakan konsep-konsep mengenai stress. Dalam konsep ini stres merupakan variable bebas sedangkan individu merupakan variabel terikat. . Dan penulis menambahkan satu pandangan lagi. stres dianggap sama dengan psikosis. yaitu : stres merupakan stimulus.Pd. tetapi juga diucapkan oleh anak-anak maupun orang dewasa dengan berbagai latar belakang tingkat pendidikan. stres merupakan respon.

dst. dst. Kuntjojo. M. Mereka yang ada di lingkungan tersebut.2 : STRES SEBAGAI RESPONSE Psikologi Abnormal/Drs. LINGKUNGAN PSYCHOLOGICAL STRESSOR AGENT INDIVIDU STRESS RESPONSE PHYSIOLOGICAL BEHAVIORAL LINGKUNGAN Bagan 11 : STRES SEBAGAI RESPON Bagan 8. Stres Sebagai Respon Konsepsi kedua mengenai stres menyatakan bahwa stress merupakan respon atau reaksi individu terhadap stressor.. Bart Smet (1994 : 110) menyajikan konsepsi stres sebagai respon sebagai berikut. Dalam konteks ini stress merupakan variable tergantung (dependen variable) sedangkan stressor merupakan variable bebas atau independent variable. Hal serupa juga dapat diamati pada lingkungan di mana terjadi bencana alam atau musibah lainnya. 2. misalnya banjir.Pd.42 Stress sebagai stimulus dapat dicontohkan : lingkungan sekitar yang penuh persaingan. gunung meletus. Berdasarkan pandangan dari Sutherland dan Cooper. awak bus atau kereta api. sulit untuk menghindar dari situasi yang menegangkan (stressor) tersebut. misalnya di terminal dan stasiun kereta api menjelang lebaran. . ledakan bom di tengah keramaian. baik itu calon penumpang. para petugas.

Respon individu terhadap stressor memiliki dua konponen. perut mual. Mobilisasi pembelaan tubuh yang memungkinkan adaptasi terhadap peristiwa kekerasan atau ancaman. panik. mental. misalnya denyut nadi menjadi lebih cepat. 3. Di dalam proses hubungan ini termasuk juga proses penyesuaian. M.P. stress sebagai suatu proses yang meliputi stressor dan strain dengan menambahkan dimensi hubungan antara individu dengan lingkungan. yaitu : komponen psikologis. malu. dst. beban berat. 1994 : 111).Pd. (Bart Smet. stres ialah reaksi tubuh manusia kepada setiap tuntutan yang dialami oleh seseorang dalam hal sebagai berikut. Gintings. cemas. Tergangguangan mekanisme keseimbangan dalam diri seseorang yaitu keseimbangan dalam dan keseimbangan luar yang bersifat fisik. Keletihan dan kelelahan akibat kehidupan. banyak keluar keringat dst. . Interaksi antara manusia dan lingkungan yang saling mempengaruhi disebut sebagai hubungan transaksional. dan kebutuhan-kebutuhan yang tidak terpenuhi dalam diri seseorang. dan komponen fisiologis. Menurut Gintings (1999 : 5-6). Kuntjojo. Psikologi Abnormal/Drs. dan spiritual oleh karena perubahan mendadak yang sifatnya tidak menyenangkan maupun menyenangkan. sosial. mulut kering. Stres Sebagai Interaksi antara Individu dengan Lingkungan Menurut pandangan ketiga. Suatu keadaan yang dinyatakan oleh suatu sindroma khusus dari peristiwa biologis.43 Pengertian stres yang mengacu pada konsepsi stres merupakan respon diantaranya dikemukakan oleh E. nerveus. respon-repons psikologis dan fisiologis terhadap stressor disebut strain atau ketegangan. misalnya terkejut. Mengecilnya potensi seseorang karena adanya luka-luka perasaan.

tingkat pendidikan. Variabel sosial-kognitif. seperti : umur. yang lainnya mengalami stres ringan. d. dst. Psikologi Abnormal/Drs. Misalnya saja stressor yang sama ditanggapi berbeda-beda oleh beberapa individu. jenis kelamin. dst. kondisi fisik. Konsep stres sebagai interaksi antara individu dengan lingkungan dapat digambarkan sebagai berikut. seperti : introvert atau ekstrovert. jaringan sosial. yang dapat mempengaruhi stressor melalui strategi perilaku kognitif dan emosional. tahap perkembangan. M. ternyata juga bisa berbeda-beda.Pd. integrasi dalam jaringan sosial. dan yang lain lagi mungkin tidak mengalami stres. Kondisi individu. dukungan sosial yang dirasakan.44 Dalam konteks stres sebagai interaksi antara individu dengan lingkungan. Konsepsi di atas dapat diperjelas berdasarkan kenyataan yang ada. ketabahan. dukungan sosial yang diterima. e. Bisa juga terjadi individu memberikan reaksi yang berbeda pada stressor yang sama. c. reaksi terhadap stres bervariasi antara orang satudengan yang lain dan dari waktu ke waktu pada orang yang sama. Kuntjojo. Karakteristik kepribadian. stabilitas emosi secara umum. temperamen. menggambarkan reaksi individu 14 ternyata bisa berbeda. karena pengaruh variabel-varibel sebagai berikut. dst. tetapi juga suatu proses di mana individu juga merupakan pengantara (agent) yang aktif. Faktor apa saja yang menyebabkan gejala demikian ? Menurut Bart Smet (1994 : 130-131). inteligensi. Strategi coping. stres tidak dipandang sebagai stimulus maupun sebagai respon saja. b. dan bagan menggambarkan reaksi beberapa individu terhadap stressor yang sama . locus of control. Individu yang satu mungkin mengalami stres berat. Hubungan dengan lingkungan sosial. seperti . dst. a. . Bagan 13 terhadap stressor yang sama.

3: REAKSI INDIVIDU TERHADAP STRESOR YANG SAMA PADA WAKTU YANG BERBEDA LINGKUNGAN INDIVIDU 1 TIDAK STRES STRESOR INDIVIDU 2 STRES LINGKUNGAN INDIVIDU 3 TIDAK STRES Bagan 8.4: REAKSI BEBERAPA INDIVIDU TERHADAP STRESOR YANG SAMA PADA WAKTU YANG SAMA 4. .Pd. M. Stres Sebagai Hubungan antara Individu dengan Stressor Stres bukan hanya dapat terjadi karena faktor-faktor yang ada di lingkungan.45 LINGKUNGAN STRES SOMATO PSIKO SOSIAL SPIRITUAL STRESSOR INDIVIDU TIDAK TRES Bagan 8. Bahwa stressor juga bisa berupa faktor-faktor yang ada dalam diri Psikologi Abnormal/Drs. Kuntjojo.

tekanan. Maramis (1980 : 65-69). konflik adalah terganggunya keseimbangan karena individu bingung menghadapi beberapa kebutuhan atau tujuan yang harus dipilih salah satu. misalnya keinginan yang sangat kuat untuk meraih sesuatu. konflik. b. baik stressor internal maupun eksternal. Tekanan juga bisa datang dari lingkungan.5: STRES SBG HUBUNGAN ANTARA INDIVIDU DGN STRESOR Psikologi Abnormal/Drs. stress dapat terjadi karena frustrasi. a. Frustrasi merupakan terganngunya keseimbangan psikis karena tujuan gagal dicapai. Menurut Maramis.Pd. dan krisis.46 individu. M. Tekanan bisa datang dari diri sendiri. d. Tekanan merupakan sesuatu yang mendesak untuk dilakukan oleh individu. Konsep yang menyatakan bahwa stress merupakan hubungan antara individu dengan stressor dapat diperjelas dengan visualisasi dengan bagan berikut ini. Oleh sebab itu lebih tepat bila stres dipandang sebagai hubungan antara individu dengan stressor. Kuntjojo. LINGKUNGAN stresor LINGKUNGAN stresor stresor INDIVIDU stresor stresor LINGKUNGAN stresor LINGKUNGAN Bagan 8. dst. konflik internal. . Konsep tersebut sesuai dengan apa yang dikatakan oleh W.F. c. Krisis merupakan situasi yang terjadi secara tiba-tiba dan yang dapat menyebabkan terganggunya keseimbangan. misalnya penyakit jasmani yang dideritanya. mengenai sumber stress.

Prinsip Homeostatis Stres merupakan pengalaman yang tidak menyenangkan dan cnderung bersifat merugikan. Keadaan ini kemudian menyebabkan timbulnya dorongan untuk mendapatkan makanan. minuman. merupakan contoh keadaan tidak seimbang. (2000 : 142) menyatakan bahwa stress dapat terjadi pada semua umur. 1994 : 143). khususnya manusia. M. lelah. Selama individu masih hidup. kecemasan. Prinsip homeostatis berlaku selama individu hidup. tuntutan. Oleh karena itu setiapindividu yang mengalaminya pasti berusaha mengatsi masalah ini. Lazarus dan Folkman (Bart Smet. Sebab keberaan prinsip pada dasarnya untuk mempertahankan hidup organisme.Pd. dirinya akan senantiasa berhadapan masalah. Hal demikian sesuai dengan prinsipyang berlaku pada organisme. rasa sakit. dst. dst. Sehingga bila suatu saat terjadi keadaan tidak seimbang maka akan ada usaha mengembalikannya pada keadaan seimbang. menggambarkan coping sebagai : Psikologi Abnormal/Drs. dts.. Menurut prinsip ini organisme selalu berusaha mempertahankan keadaan seimbang pada dirinya. C. lingkungan.47 B. yaitu prinsip homeostatis. yang pada saat tertentu hal-hal tersebut dapat menjadi stressor. haus. dan untuk beristirahat. STRES DAPAT TERJADI PADA SETIAP FASE PERKEMBANGAN Stres dapat dialami oleh siapa saja dan kapan saja. Begitu juga halnya dengan terjadinya ketegangan. mdondorong individu yang bersangkutan untuk berusaha mengatasi ketidak seimbangan ini. Kuntjojo. USAHA-USAHA MENGATASI STRES 1. 2. Lapar. Berkenaan dengan pembahasan ini. Yulia Singgih D. Proses Coping terhadap Stres Upaya mengatasi atau mengelola stress dewasa ini dikenal dengan proses coping terhadap stress. .

Mengatasi stres dengan cara berorientasi pada tugas berarti upaya mengatasi masalah tersebut secara sadar. M. tidak realistis. bagaimana meniadakan fakta-fakta yang tidak menyenangkan. represi. Gunarsa. Emotionalfocused coping dipergunakan untuk mengatur respon emosional terhadap stress. yaitu : (1) Emotional-focused coping dan (2) Problem-focused coping. rasionalisasi.. dan freeze response (Yulia D. Cara kedua ini dapat dilakukan dengan : fantasi. Pengaturan ini dilakukan melalui perilaku individu seperti penggunaan minuman keras. Ada deksripsi lainnya tentang coping thd stress. individu akan cenderung menggunakan cara ini bila dirinya yakin dapat merubah situasi.48 “ …. identifikasi. Maramis (2005 : 71-72) berpendapat bahwa ada bermacam-macam tindakan yangdapat dilakukan untuk itu. sublimasi. Berbicara mengenai uapaya mengatasi Stres. Menurut Maramis cara ini dapat dilakukan dengan “serangan”. Menurut Bart Smet.Suatu proses di mana individu mencoba untuk mengelola jarak yang ada antara tuntutan-tuntutan (baik itu tuntutan yang berasal dari individu maupun tuntutan asng berasal dari lingkungan) dengan sumber-sumber daya yang mereka gunakan dalam menghadapi situasi stressful…” Menurut Bart Smet. proyeksi. Sedangkan problem-focused coping dilakukan dengan mepelajari keterampilan-keterampilan atau cara-cara baru mengatsi stress. realistis. Sedangkan cara yang berorientasi pada pembelaan ego dilakuakn secara tidak sadar (bahwa itu keliru). dan kompromi. kompensasi.Pd. penarikan diri. yang secara garis besar dibedakan menjadi dua. fight response. dan rasional. 2000: 140141). coping mempunyai dua macam fungsi. dan tidak rasional. . salah pindah (displacement). Kuntjojo. dst. dan metoda ini sering dipergunakan oleh orang dewasa. penyusunan reaksi (reaction formation). yaitu (1) cara yang berorientasi pada tugas atau task oriented dan (2) cara yang berorientasi pada pembelaan ego atau ego defence mechanism. regresi. yaitu dengan flight response. Psikologi Abnormal/Drs.

Aktivitas-aktivitas menghilangkan yang dapat dilakukan lain: untuk meredakan atau stress antara menarik nafas dalam-dalam. Freeze response: tindakan menghadapi stress dengan berdiam diri.Pd. Fight response: usaha menghadapi stress dengan cara menghadapi dan menyelesaikan masalah atau stressor. melakukan kegiatan-kegitan yang positif dan kreatif. . Kuntjojo. membicarakan hal itu dengan orang yang tepat.49 Flight response: upaya menghadapi stress dengan tindakan menghindar dari masalah atau situasi penyebab stress. tertawa. Psikologi Abnormal/Drs. M. santai. pasrah dan menyerah terhadap apa yang terjadi pada dirinya.

org/wiki/Psychosis. dan Kring. (2000) Azas-azas Psikologi Keluarga Idaman. Wikipedia.50 Referensi Baihaqi MIF (et al) (2005) Psikiatri: Konsep Dasar dan Gangguan-gangguan.aol. Diakses pada 10 November 2009. Surabaya : Airlangga University. M. Yogyakarta: Andi. Terdapat pada: http://www. Davison. Sutardjo A. Bandung: PT Refika Aditama. (1999) Mengantisipasi Stres dan Penaggulangannya. En. Jakarta: Mutiara. (2005) Pengantar Psikologi Abnormal. Gintings. Smet. Jakarta : BPK Gunung Mulia. Kuntjojo. Psikologi Abnormal/Drs. Merriem-Webster OnLine. Ann M. (2009) “Abnormal Psychology”.Pd. (1999) Pengantar Psikologi. Jakarta : PT Gramedia Widiasarana Indonesia. Bandung: Mandar Maju. E. (2008) Ilmu Kedokteran Jiwa. Dirgagunarsa. Singgih.. Terdapat pada: http://www. Yulia Singgih D. Bart. (1994) Psikologi Kesehatan. (2006) Psikologi Abnormal (Penterjemah: Noermalasari Fajar).aolsvc. Diakses pada 10 November 2009. (2009) “Psychosis”.. the Free Encyclopedia. Wiramihardja. . (2000) Psikologi Abnormal. W. Bandung: PT Refika Aditama.com/. Neale John M.wikipedia.P.F. Jakarta: Rajawali Pers. Maramis. Kartini Kartono. Gerald C.merriem-webster.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->