P. 1
Asuhan Keperawatan Bermutu di Rumah Sakit

Asuhan Keperawatan Bermutu di Rumah Sakit

|Views: 130|Likes:
Published by Pasuria Yoan

More info:

Published by: Pasuria Yoan on Mar 17, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/20/2012

pdf

text

original

Asuhan Keperawatan Bermutu di Rumah Sakit

Pelayanan kesehatan di rumah sakit merupakan bentuk pelayanan yang diberikan kepada klien oleh suatu tim multi disiplin termasuk tim keperawatan. Tim keperawatan merupakan anggota tim kesehatan garda depan yang menghadapi masalah kesehatan klien selama 24 jam secara terus menerus. Tim pelayanan keperawatan memberikan pelayanan kepada klien sesuai dengan keyakinan profesi dan standar yang ditetapkan. Hal ini ditujukan agar pelayanan keperawatan yang diberikan senantiasa merupakan pelayanan yang aman serta dapat memenuhi kebutuhan dan harapan klien. Pelayanan kesehatan pada masa kini sudah merupakan industri jasa kesehatan utama dimana setiap rumah sakit bertanggung gugat terhadap penerima jasa pelayanan kesehatan. Keberadaan dan kualitas pelayanan kesehatan yang diberikan ditentukan oleh nilai-nilai dan harapan dari penerima jasa pelayanan tersebut. Disamping itu, penekanan pelayanan kepada kualitas yang tinggi tersebut harus dapat dicapai dengan biaya yang dapat dipertanggung-jawabkan. Dengan demikian, semua pemberi pelayanan ditekan untuk menurunkan biaya pelayanan namun kualitas pelayanan dan kepuasan klien sebagai konsumen masih tetap menjadi tolak ukur (“benchmark”) utama keberhasilan pelayanan kesehatn yang diberikan (Miloney, 2001). Para penerima jasa pelayanan kesehatan saat ini telah menyadari hak-haknya sehingga keluhan, harapan, laporan, dan tuntutan ke pengadilan sudah menjadi suatu bagian dari upaya mempertahankan hak mereka sebagai penerima jasa tersebut. Oleh karena itu industri jasa kesehatan menjadi semakin merasakan bahwa kualitas pelayanan merupakan upaya kompetentif dalam rangka mempertahankan eksistensi pelayanan tersebut. Selayaknaya industri jasa pelayanan menaruh perhatian besar dan menyadari bahwa kualitas pelayanan kesehatan yang diberikan ditentukan pula oleh kualitas berbagai komponen pelayanan termasuk keperawatan dan sumber daya manusianya. Kegiatan pelayanan keperawatan berkualiatas telah dimulai sejak seorang perawat Muslim pertama yaitu Siti Rufaida pada jaman Nabi Muhammad S.A.W selalu berusahan memberikan pelayanan terbaiknya bagi yang membutuhkan tanpa membedakan apakah kliennya kaya atau miskin. Demikian pula Florence Nightingale pada tahun 1858, telah berupaya memperbaiki kondisi pelayayanan keperawatan yang diberikan kepada serdadu pada perang Krimen. Dengan terjadinya perubahan diberbagai aspek kehidupan keperawatan pada saat ini telah berkembang menjadi suatu profesi yang memiliki keilmuan unik yang menghasilkan peningkatan minat dan perhatian diantara anggotanya dalam meningkatkan pelayanannya.

keberhasilan kerja para perawat pelakasana akan sangat tergantung dari upaya menejerial keperawatan. melalui tulisan yang sangat terbatas ini dapat diambil inti dan manfaatnya sehingga dapat membantu meningkatkan asuhan keperawatan yang ada dan kemudian akan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di rumah sakit seperti yang diharapkan. kendala serta upaya yang perlu dilakukan agar asuhan keperawatan bermutu ini dapat dicapai dan dipertahankan. para manajer perawat seyogyanya menggunakan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan/keperawatan sebagai upaya untuk mewujudkan praktik keperawatan yang berdasarkan pengetahuan dan fakta (knowledge/evidence based nursing practice) (Nurchmah. Pelayanan keperawatan profesional berfokus pada berbagai kegiatan pemenuhan kebutuhan klien melalui intervensi keperawatan yang berlandaskan kiat dan ilmu keperawatan. Keberhasilan pengelola pelayanan keperawatan akan menimbulkan keberhasilan asuhan keperawatan yang diberikan oleh para perawat pelaksananya. 2000). Diharapkan. . terrencana.Tujuan penulisan ini adalah menjelaskan tentang asuhan keperawatan bermutu di rumah sakit. Selain itu. Pelayan dan Asuhan Keperawatan Pelayanan dan asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien merupakan bentuk pelayanan profesional yang bertujuan untuk membantu klien dalam pemulihan dan peningkatan kemampuan dirinya memalui tindakan pemenuhan kebutuhan klien secara komprehensif dan berkesinambungan sampai klien mampu untuk melakukan kegiatan rutinitasnya tanpa bantuan. Pelayanan keperawatan yang dilakukan di rumah sakit merupakan sistem pengelolaan asuahan keperawatan yang diberikan kepada klien agar menjadi berdaya guna dan berhasil guna. Bentuik pelayanan ini seyogyanya diberikan oleh perawat yang memiliki kemampuan serta sikap dan kepribadian yang sesuai dengan tuntutan profesi keperawatan. Demikian pula sebaliknya. dan kontinyu. Pelayanan keperawatan di ruang rawat terdiri dari serangkaian kegiatan yang dikoordinatori dan menjadi tanggung jawab kepala ruang rawat yang berperan sebagai manajer. dan untuk itu tenaga keperawatan ini harus dipersiapkan dan ditingkatkan secara teratur. Para manajer keperawatan senantiasa harus menjamin bahwa pelayanan yang diberikan oleh para pelaksana keperawatan adalah pelayanan yang aman dan mementingkan kenyamanan klien. faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan. Sistem pengelolaan ini akan berhasil apabila seseorang perawat yang memiliki tanggung jawab mengelola tersebut mempunyai pengatahuan tentang manajemen keperawatan dan kemampuan meminpin orang lain di samping pengetahuan dan keterampilan klinis yang harus dikuasainya pula.

• • • • • • • Visi. Asuhan Keperawatan Bermutu Asuhan keperawatan profesional diberikan kepada klien oleh tenaga keperawatan yang memiliki kewenangan dan kompetensi yang telah ditetapkan oleh profesi. memenuhi standar dan kriteria profesi keperawatan. Asuhan keperawatan ini seyogyanya berlandskan ilmu pengetahuan. 2000). • • • • Keadaan ekonomi negara telah mempengaruhi aspek ekonomi sistem pelayanan kesehatan termasuk sistem pembayaran pelayanan kesehatan dan asuransi kesehatan. Struktur organisasi local. Seluruh aspek pelayanan keperawatan di atas sudah lama menjadi tuntutan suatu sistem pelayanan kesehatan di rumah sakit agar pelayanan yang diberikan dapat memuaskan klien dan keluarga pengguna jasa pelayanan kesehatan. misi dan tujuan rumah sakit yang dijabarkan secara lokal ruang rawat. Metoda penugasan/pemberi asuhan dan landasan model pendekatan kepada klien yang ditetapkan. Sumber daya manusia keperawatan yang memadai baik kuantitas mapun kualitas. Ketatnya tuntutan dari profesi keperawatan yang sesuai standar dan pemberdayaan tenaga keperawatan. terwujudnya suatu bentuk pelayanan yang profesional ditentukan oleh berbagai aspek yang perlu diperhatikan oleh setiap pimpinan dan penanggung jawab pelayanan kesehatan demi untuk memnuhi kepentingan masyarakat yang dilayaninya. Dengan demikian. Komitmen dari pimpinan rumah sakit ( Nurachmah. mekanisme kerja (standar-standar) yang diberlakukan di ruang rawat. 1999). Tuntutan ini terjadi karena beberapa situasi yang telah terjadi pada dekade terakhir ini menunjukkan bahwa. Makin meningkatnya tuntutan terhadap hasil pelayanan kesehatan yang berkualitas. Dampak perkembangan IPTEK kesehatan telah meningkatkan tekanan terhadap pelayanan kesehatan yang efektif dan efisien namun aman bagi konsumen (Swansburg & Swansburg. Tersedianya berbagai sumber/fasilitas yang mendukung pencapaian kualitas pelayanan yang diberikan. prinsip dan teori keperawatan serta keterampilan dan sikap sesuai dengan kompetensi dan kewenangan yang diemban kepada perawat tersebut. Asuhan keperawatan yang bermutu merupakan asuhan manusiawi yang diberikan kepada klien. Kesadaran dan motivasi dari seluruh tanaga keperawatan yang ada.Kelancaran pelayanan keperawatan di suatu ruang rawat baik rawat inap maupun rawat jalan dipengaruhi oleh beberapa aspek anatara lain adanya. sesuai dengan standar biaya .

Penetapan pendekatan ini sangat dipengaruhi oleh visi. modular. Untuk dapat melaksanakan asuhan keperawatan dengan baik seorang perawat perlu memiliki kemampuan untuk (1) berhubungan dengan klien dan keluarga. Dalam memberikan asuhan. implementasi rencana. Kualitas asuhan keperawatan sangat ditentukan oleh berbagai faktor antara lain: kondisi klien. Pendekatan ini dapat berupa pendekatan keperawatan tim. kasus. serta (5) kegiatan jaminan mutu (quality assurance). Asuhan keperawatan yang bermutu dan dapat dicapai jika pelaksanaan asuhan keperawatan dipersepsikan sebagai suatu kehormatan yang dimiliki oleh para perawat dalam memperlihatkan sebagai suatu kehormatan yang dimiliki oleh perawat dalam memperlihatkan haknya untuk memberikan asuhan yang manusiawi. pelayanan keperawatan termasuk tenaga keperawatan di dalamnya. atau keperawatan primer (Grohar-Murray & DiCroce. (2) adanya hubungan perawat . serta berkomunikasi dengan anggota tim kesehatan lain. dan evaluasi tindakan keperawatan yang telah diberikan. Para perawat dapat . serta sesuai dengan standar dan etika profesi keperawatan yang berkesinambungan dan terdiri dari kegiatan pengkajian. 1999). (4) mengevaluasi tindakan keperawatan yang telah diberikan serta menyesuaikan kembali perencanaan yang telah dibuat. misi. memberikan harapan. Moffet. sentuhan. upaya pimpinan rumah sakit dan manajerial keperawatan seyogyanya difokuskan pada kelima komponen kegiatan tersebut yang akan diuraikan berikut ini. aman. dan (4) kemampun dalam memenuhi kebutuhan klien. tersedianya prosedur dan standar keperawatan. Sikap “caring” perawat Asuhan keperawatan bermutu yang diberikan oleh perawat dapat dicapai apabila perawat dapat memperlihatkan sikap “caring” kepada klien. Dengan demikian. sifat ruangan dan jenis pelayanan keperawatan yang diberikan. serta harapan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan/keperawatan yang diberikan di rumah sakit tersebut. 1997). Disamping itu. Cooper. selalu berada disamping klien. perencanaan. ketersediaan tenaga keperawatan baik jumlah mapun kualifikasi. kata-kata yang lemah lembut. (3) menetapkan diagnosis keperawatan dan memberikan tindakan yang dibutuhkan klien. pemeriksaan fisik maupun menginterpretasikan hasil pemeriksaan penunjang. Rehmeyer. dan bersikap “caring” sebagai media pemberi asuhan (Curruth. sistem manajerial dan kemampuan rumah sakit dalam melengkapi sarana prasarana. & Burroughs. (2) mengkaji kondisi kesehatan klien baik melalui wawancara. dan tujuan rumah sakit dan ruang rawat. Steele.klien yang terapeutik. (3) kolaborasi dengan anggota tim kesehatan lain. asuhan keperawatan bermutu dapat dilaksanakan melalui pendekatan metodologis keperawatan. tingkat ketergantungan dan mobilitas klien. a. fasilitas fisik ruangan.dan kualitas yang diharapkan rumah sakit serta mampu mencapai tingkat kepuasan dan memenuhi harapan klien. Dalam mewujudkan asuhan keperawatan bermutu diperlukan beberapa komponen yang harus dilaksanakan oleh tim keperwatan yaitu (1) terlihat sikap caring ketika harus memberikan asuhan keperawatan kepada klien. perawat menggunakan keahlian.

inti dari praktik keperawatan yang bersifat etik dan filosofikal. Prilaku “caring” menolong klien meningkatkan perubahan positif dalam aspek fisik. murni. Di samping itu. perawat juga memperlihatkan kemapuan diri dengan memberikan pendidikan kesehatan pada klien. Selain itu.diminta untuk merawat. Sikap ini diberikan memalui kejujuran. Perawat belajar menghargai kesensitifan dan perasaan kepada klien. Penggunaan sistematis metoda penyalesaian masalah untuk pengambilan keputusan. . bersikap “caring” untuk klien dan bekerja bersama dengan klien dari berbagai lingkungan merupakan esensi keperawatan. Oleh karenanya. Watson menekankan dalam sikap”caring” ini harus tercermin sepuluh faktor kuratif yaitu: • • • • • • • Pembentukan sistem nilai humanistic dan altruistik. dan memberikan kesempatan untuk pertumbuhan personal klien. sehingga ia sendiri dapat menjadi lebih sensitif. 1999). Memberikan kepercayaan . Spritit “caring” bukan hanya memperlihatkan apa yang dikerjakan perawata yang bersifat tindakan fisik. dan sosial. Perawat menggunakan metoda proses keperawatan sebagai pola pikir dan pendekatan asuhan kepada klien. Perawat memberikan informasi dengan jujur. Meningkatkan dan menerima ekspresi perasaan positif dan negatif klien. Diyakini. memberikan asuhan mandiri. dan niat baik. Menumbuhkan sensitifan terhadap diri dan orang lain. 1994). Perawat menumbuhkan rasa puas karena mampu memberikan sesuatu kepada klien. “Caring” merupakan pengetahuan kemanusiaan. Peningkatan pembelajaran dan pengajaran interpersonal. Mengembangan hubungan saling percaya. “Caring” bukan semata-mata perilaku. Perawat memberikan waktunya dengan mendengarkan semua keluhan dan perasaan klien. perawat meningkatkan prilaku klien dalam mencari pertolngan kesehatan. “Caring” adalah cara yang memiliki makna dan memotivasi tindakan (Marriner-Tomey. dan memperlihatkan sikap empati yaitu turut merasakan apa yang dialami klien. tetapi juga mencerminkan siapa dia. Spirit “caring” seyogyanya harus tumbuh dari dalam diri perawat dan berasal dari hati perawat yang terdalam. setiap perawat dapat memperlihatkan cara yang berada ketika memberikan asuhan kepada klien. dan bersikap wajar pada orang lain. “Caring”juga didefinisikan sebagai tindakan yang bertujuan memberikan asuhan fisik dan perhatikan emosi sambil meningkatkan rasa aman dan keselamatan klien (Carruth et all. spiritual. namun meraka tidak dapat diperintah untuk memberikan asuhan dengan menggunakan spirit “caring”.harapan dengan cara memfasilitasi dan meningkatkan asuhan keperawatan yang holistik. menetapkan kebutuhan personal. kepercayaan. psikologis.

mental. Selain itu. Perawat perlu mengenali pengaruhi lingkungan internal dan eksternal klien terhadap kesehatan kondisi penyakit klien. melalui penerapan faktor karatif ini perawat juga dapat belajar untuk lebih memahami diri sebelum mamahami orang lain. Kadang-kadang seseorang klien perlu dihadapkan pada pengalaman/pemikiran yang bersifat profokatif. dan kemampuan yang dimilikinya. Tahap identifikasi terjadi ketika klien mampu mampu mengidentifikasi sesorang atau beberapa orang yang dapat menolongnya. (3) tahap eksploitasi . perawat berupaya menolong klien mengidentifikasi maslah yang sedang dihadapi klien. dalam membina hubungan profesional ini. b. 1994) yaitu : (1) tahap orientasi . Keperawatan merupakan suatu proses interpersonal yang terapeutik dan signifikan. Hubungan ini diharapkan dapat memfasilitasi partisipasi klien dengan memotivasi keinginan klien untuk bertanggung jawab terhadap kondisi kesehatannya. Penjelasan. dan tahap resolusi. penekanan perlu dikemukakan oleh perawat agar klien menyakini masalah atau beberapa masalah yang perlu diatasi. Pada tahap ini perawat memberi kesempatan klien untuk mengkaji lebih jauh perasaan tentang diri. Pemenuhan kebutuhan paling dasar perlu dicapai sebelum beralih ke tingkat selanjutnya. penyakit. Memberi bimbingan dalam memuaskan kebutuhan manisiawi. Kesepuluh faktor karatif ini perlu selalui dilakukan oleh perawat agar semua aspek dalam diri klien dapat tertangani sehingga asuhan keperawatan profesional dan bermutu dapat diwujudkan. Pada tahap orientasi. Menurut Peplau. Tujuannnya adalah agara perawat dapat membimbing klien periode penyakitnya sebagai pengalaman yang memungkinkan klien mengenali kembali perasaan dan kekuatan internal yang pernah dimiliki sehingga dapat memberikan kepuasan yang diperlukan klien. Mengijinkan terjadinya tekanan yang bersifat fenomologis agar pertumbuhan diri dan kematangan jiwa klien dapat dicapai. Inti dari asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien adlah hubungan perawat-klien yang bersifat profesional dengan penekanan pada bentuknya tinteraksi aktif antara perawat dan klien. setelah saling memperkenalkan diri. (2) tahap identifikasi . Perawat perlu mengenali kebutuhan komperhensif diri dan klien. Tujuannya adalah agar dapat meningkatkan pemahaman lebih mendalam tentang diri sendiri. Hubungan perawat-klien Hubungan perawat dan klien adalah suatu bentuk hubungan terapeutik/profesional dan timbal balik yang bertujuan untuk meningkatkan efektifitas hasil intervensi keperawatan melalui suatu proses pembinaan pemahaman tentang dua pihak yang sedang berhubungan. .• • • Menciptakan lingkungan fisik. dan spritual yang mendukung. kedua pihak seyogyanya harus melewati beberapa tahapan (Marriner-Tomey. sosiokultural. Hubungan profesional ini diprakasai oleh perawat melaui sikap empati dan keinginan berrespon (“sense of responsiveness”) serta keinginan menolong klien (“sense of caring”).

Oleh karena itu. dan kekuatan akan dialihkan oleh perawata kepada klien apabila klien mengalami hambatan akibat ia tidak mampu mencapai tujuan baru tersebut. Dalam membina hubungan profesional. 1994). kelengkapan fasilitas. . Hendreson menetapkan 14 kebutuhan klien yang seyogyanya dapat dipenihi oleh perawat (Marriner-Tomey. Disamping itu.Tahap eksploitasi terjadi ketika klien mampu menguraikan nilai dan penghargaan yang dia peroleh dari hubungan profesional dari hubungan profesional antara perawat dan dirinya. dan mengantisipasi berbagai penyulit yang mungkin terjadi. Kemampuan perawat memenuhi kebutuhan klien dapat dipengaruhi beberapa oleh faktor antara lain: tingkat ketergantungan klien. Namun. (2) narasumber (“resource person”). hubungan profesional yang baik anatara perawat-klien dapat menghindari. asuhan keperawatan juga merupakan media edukatif dimana suatu kekuatan internal yang kokoh dari seseorang perawat dapat mempengaruhi klein untuk meningkatkan perilaku dan kepribadian klein selama sakit ke arah kehidupan yang kreatif. Asuhan keperawatan bermutu yang diberikan kepada klien dipengaruhi oleh kemampuan perawat dalam berrespon terhadap keluhan dan masalah klien serta upaya memenuhi kebuutuhan klien. Keempat tahapan dalam hubungaan profesional ini dapat terjadi tumpang tindih antara satu tahapan dengan tahapan berikutnya. Pada tahap ini klien membebaskan diri dari keterkaitannya dengan perawat dan menunjukkan kemampuannya untuk bertanggung jawab terhadap kesehatan dirinya. dan produktif. konstruktif. (4) pemimpin (“leadersip role”). Kemampuan perawat dalam memenuhi kebutuhan klien Asuhan keperawatan bermutu marupakan rangkaian kegiatan keperawatan yang diorientasi pada klein. dan (5) peran pengganti (“surrogate role”) (Marriner-Tomey. Bberapa peran perlu diemban opelh perawat ketika menjalankan dan membina hubungan profesional yaitu : (1) peran sebagai orang asing (“starnger”). karena masalah klien sangat unik dan kebutuhannya sangat individual maka perawat senatiasa harus meningkatkan diri agar selalu memiliki kemapuan dan pengetahuan yang diperlukan dalam membantu klien menyelesaikan masalahnya. c. memprediksi. 1994). Beberapa tujuan baru yang perlu dicapai melalui upaya diri klien dapat dikemukakan oleh perawat. sistem penugasan. kewenangan dan kompetensi yang dimiliki oleh tanaga keperawatan sebagai pelaksana dan kemampuan manajer keperawatan adalam mengorganisasikan pekerjaan kepada bawahan. berbagai peran diatas seyogyanya menjadi fokus perhatian perawat ketika menolong klien melewati tahapan dlam hubungan profesionalnya dengan perawat (Nurachah. Tahap akhir dari hubungan profesional perawat .klien adalah tahap resolusi ditandai dengan tercapainya tujuan yang telah ditetapkan dan tidak lagi menjadi prioritas kegiatan klien. 2000). (3) pendidik (‘teacingrole”). Keberhasilahn hubungan profesional/terapeutik anatara perawat dan klien sangat menentukan keberhasilan hasil tindakan yang diharapkan.

mapun ners konsultan. 12). target atau hasil yang ditetapkan. Selain itu. 1996). keprcayaan. d. maka perawat manajer juga harus mampu menjamin bahwa para perawat pelaksana memiliki kemampuan untuk meberikan asuhan keperawatan bermutu. berfungsi parallel. Peningkatan kemampuan perawat melalui jalur formal dapat ditempuh melalui berbagai tingkatan yaitu pendidikan ners generalis. bertukar informasi. Komunitas profesi ini memfasilitasi dan menyelenggaarakan berbagai kegiatan ilmiah antara lain diskusi kasus. pembahasan jurnal keperawatan. Kolaborasi/kemitraan Kaloborasi merupakan salah satu model interaksi yang terjadi diantara dan antar praktisi klinik selama pemberian pelayanan kesehatan/keperawatan. Program ini dapat diselenggarakan oleh rumah sakit bekerja sama dengan institusi pendidikan tinggi keperawatan dan dengan organisasi profesi. Kemampuan mewujudkan komitmen untuk berinteraksi secara kontruktif tergantung dari persamaan persepsi. sarana yang tersedia. berkoordinasi. artikel/riset keperawatan. Disamping kedua jalur pendidikan tersebut di atas. dapat ditempuh melalui jalur informal yaitu program pendidikan perawat berlanjut (“continuing nurse education”). humor. Para individu ini mengenali dan mengartikulasikan nilai-nilai yang membuat komitmen ini menjadi terwujud. Kedua program peningkatan kemampuan perawat ini memerlukan suatu rancangan ketenagaan yang matang dan sesuai dengan visi dan misi serta tujuan rumah sakit. mengelola kasus bersama (ko-manajemen). Untuk itu ia harus merancang program peningkatan kemapuan perawata baik melalui jalur pendidikan formal maupun informal. tentang tujuan bersama. sistem menorship atau perceptorship akan dapat membantu mewujudkan situasi kerja yang kondusif untuk belajar bagi semua pearawat. Kolaborasi meliputi kegiatan berkomunikasi parallel. menghargai dan menghormati pengetahuan dan praktik keilmuan yang berbeda (Hanson & Spross. Kolaborasi merupakan suatu pengakuan keahlian seseorang oleh orang lain di dalam maupun di luar profesi orang tersebut (ANA. Kaloborasi ini juga merupakan proses interpersonal dimana dua orang atau lebih membuat suatu komitmen untuk berinteraksi secara kontruktif untuk menyelesaikan masalah klien dan mencapai tujuan. Selain itu dalam mengelola ruangan khususnya tenaga keperawatan. dan kemampuan tenaga perawatnya.Seorang perawat profesional yang telah dibekali dengan pengetahuan mengelola pelayanan keperawatan dan keterampilan klinis yang mamadai akan mampu mengorganisir dan menyesuaikan antara pekerjaan yang akan dilaksanakan. 1995. . ners spesialis. Selain itu. serta merujuk. berkonsultasi. dan melakukan riset keperawatan klinik bersama atau individual. kompetensi klinik. dan kemapuan interpersonal. kemapuan dan pengetahuan perawat dapat juga dicapai melalui kegiatan komunitas profesi di rumah sakit.

Kegaiatan dilanjutkan dengan berkomunikasi. atau mengatur pelayanan yang berorientasi pada konsumen (klien). Selain itu. Dalam keperawatan. Kegiatan jaminan mutu (“quality assurance”) adalah membandingkan antara standar yang telah ditetapkan dengan tingkat pencapaian hasil. standar pelayanan. Inti dari suatu hubungan kolaborasi adalah adanya perasaan saling tergantung (interdependensi) untuk kerja sama dan bekerja sama. (2) saling memahami dan menerima keilmuan masingmasing. 1996). . 1998). tujuan asuhan bermutu adalah untuk menjamin mutu sambil pada saat yang sama mencapai tujuan institusi yang telah ditetapkan sebelumnya. memantau. (3) memiliki citra diri positif. (5) mengakui sebagai mitra kerja bukan bawahan. proses. Kegiatan jaminan kualitas pelayanan/asuhan keperawatan merupakan kegiatan menilai. Selain itu. Kerjasama mencerminkan proses koordinasi pekerjaan agar tujuan auat target yang telah ditentukan dapat dicapai. e. Kegiatan jaminan mutu dapat meliputi aspek struktur. Seandainya instuisi menginginkan pelayanan keperawatan adalah pelayanan terbaik di suatu wilayah. Bekerja bersama dalam suatu kegiatan dapat memfasilitasi kolaborasi yang baik. maka standar dan kriteria keberhasilannya perlu ditetapkan optimal dan bukan minimal. Benchmarking atau meneliti praktik terbaik (“best practice research”) adalah kegaiatan mengkaji kelemahan tertentu instiusi dan kemudian mengidentifikasi instuisi lain yang memiliki keunggulan dalam aspek yang sama. (4) memiliki kematangan profesional yang setara (yang timbul dari pendidikan dan pengalaman). Oleh karena itu. Keberhasilan pelaksanaan kegiatan menjamin mutu dipengaruhi oleh beberapa faktor anatara lain dukungan dari manager puncak (pimpinan rumah sakit). dan (6) keinginan untuk bernegosiasi (Hanson & Spross.Terwujudnya suatu kolaborasi tergantung pada beberapa kreiteria yaitu (1) adanya rasa saling percaya dan menghormati. dan outcome. pencapaian kriteria keberhasilan perlu disepakati. 1998). kriteria keberhasilan. menggunakan catatan klien terintegrasi dapat merupakan suatu alat untuk berkomunikasi anatar profesi secara formal tentang asuhan klien. Kegiatan penilaian dan pemantauan dalam pelayanan keperawatan juga selayaknya diarahkan pada ketiga aspek tersebut. Strategi untuk kegiatan jaminan mutu antara lain dengan benchmarking dan manajemen kualitas total (total quality management) (Marquis & Huston. dan tahapan dlam pelaksanaan kegiatan menjamin mutu perlu ditetapkan. Kegiatan menjamin mutu Asuhan keperawatan bermutu hanya dapat dicapai dan dipertahankan apabila disertai dengan kegiatan dan rencana untuk mempertahankan mutu asuhan tersebut. alat pengukur perlu dikembangkan. terutama terkait dengan dukungan biaya dan sumebr daya manusia. menetapkan kesepakatan kerjasama untuk mendukung dan meningkatkan kelemahan tersebut (Marquis & Huston.

memperbaiki situasi sesuai hasil yang diperoleh. 2000). cara yang benar. dan menetapkan kembali cara mengumpulkan informasi (Marquis & Huston. waktu yang sesuai dan mencegah masalah. membandingkan informasi dengan kriteria yang telah ditetapkan. dan setiap subyek maupun kegiatan diarahkan pada peningkatan secara berkesinambungan. Critical pathways adalah menetapkan kemajuanj yang harus dicapai klien sejak saat klien diterima di rumah sakit. Tingkat rumah sakit dapat dilaksanakan dengan cara mengembangkan tim gugus kendali mutu yang memiliki program baik jangka pendek maupun jangka panjang. (6) tingkat kepuasan klien terhadap asuhan keprawtan. selain ada individu ruangan yang duduk sebagai wakil pada tim gugus kendali mutu rumah sakit. Namun. akan diawali dengan penetapan kriteria pengendalian. Pelaksanaan kegiatan jaminan mutu pelayanan keperawatan di rumah sakit dapat pula dilakukan dalam bentuk kegiatan pengendalian mutu (“quality control”). (8) tingkat kepasan perawat. Selain itu. mengidentifikasi informasi yang relevan dengan kriteria. (5) tingkat kepuasan klien terhadap informasi/pendidikan kesehatan. Manajemen kualitas total dilakukan berdasarkan harapan bahwa individu merupakan fokus produksi dan pelayanan. Strategi menjamin kualitas ini sangat menyerap biaya karena proses ini terus menerus. menetapkan cara mengumpulakan informasi/data. Penakanan manajeman kualitas total adalah mengidentifikasi dan melakukan kegiatan dengan benar. kelemahannya adalah tidak dapat mengakomodasi keunikan individual klien. (7) upaya mempertahankan integritas kulit. (2) angka kejadian klien jatuh/kecelakaan. pendokumentasian critical pathways memerlukan banyak catatan dan pengkajian ulang (Marquis & Huston). (3) tingkat kepuasan klien terhadap pelayanan kesehatan. maka seyogyanya dibentuk pula tim ruangan yang disebut tim sirkulasi kualitas. Kerjasama ini bersifat konfidensial dan hanya meningkatkan aspek yang dianggap masih lemah. 1998). mengumpulkan dan menganailisis informasi/data.Manajer pelayanan keperawatan di rumah sakit dapat pula bekerjasama dengan rumah sakit lain yang tidak saling berkompetensi untuk meningkatkan satu atau beberapa aspek yang dianggap lemah. (9) kombinasi kerja anatara perawat profesional dan non profesional. Pada tingkat ruangan. Ada 10 indikator kualitas pelayanan kesehatan di rumah sakit yaitu : (1) angka infeksi nosokomial. Strategi lain dari kegiatan jaminan mutu ynag bersifat kontemporer adalah penggunaan “critical patways”. (4) tingkat kepusan klien terhadap pengelolaan nyeri dan kenyamanan. menetapkan keputusan tentang kualitas. Tim sirkulus kualitas yang terdiri dari tiga sampai empat orang perawat ruangan ini berfungsi untuk mengidentifikasi masalah-masalah pelayanan . Keuntungan cara ini adalah standar pencapaian yang ditetapkan untuk seorang klien dapat diterapkan untuk klien lain yang berdiagnosis sama. Kegiatan menilai mutu pada tingkat rumah sakit. (10) total jam asuhan keperawatan per klien per hari (Marquis & Huston. Kegaiatannya dapat dilaksanakan dalam dua tingkat yaitu tingkat rumah sakit dan tingkat ruang rawat.

& Hutchinson. Berbagai persepsi ini perlu untuk dijadikan asupan dan dikaji lebih lanjut untuk menetapkan kegiatan peningkatan kualitas asuhan keperawatan. 1992). cepat tanggap terhadap berbagai keluhan. serta berkeinginan menolong yang tulus dan mampu menghargai klien dan pendapatnya. tim ini akan bekerjasama kembali mengidentifikasikan masalah-masalah lain yang terjadi. Perawat diharapkan perannya untuk selalu berada di saping tempat tidur klien. Kepuasan klien merupakan suatu situasi dimana klien dan keluarga mengganggap bahwa . 1995). siap setiap saat ketika diperlukan. mampu berbahasa yang mudah difahami. Bottorff. Klein menghargai perawat sebagai seseorang yang memiliki kualitas diri. dan menyampaikan kepada kepala ruangan untuk ditetapkan solusi yang akan diambil dan dilaksanakan oleh ruangan. Bagi klien dalam kondisi seperti apapun perawat tidak memiliki hak untuk menolak keinginan dan harapan klien (Kitson. Mereka mengharapkan perawat memiliki pengetahuan yang memadai tantang kondisi penyakitnya sehingga perawat mampu mengatasi setiap keluhan yang dialami oleh individual klien (Meyers & Gray. Klien menginginkan perawat yang melayaninya memiliki sikap baik. Perhatian mereka diarahkan seluruhnya pada spektrum pelayanan kesehatan yang merka terima selama berada di rumah sakit (Wesley.1998). klein yang sedang mengalami kondisi kritis kadangkadang menganggap dirinya berada di luar tubunh dan lingkungannya. Ia mengganggap tubuhnya merupakan benda asing yang sering tidak bisa bekerjasama lagi selama sakitnya (Morse. dan dari pimpinan rumah sakit.keperawatan tingkat ruangan. Hal ini menyebabkan ia merasa sangat tergantung pada perawat. sikap. Selama perawatan di rumah sakit. Kesatua erat antara diri dan tubuhnya menjadi terganggu. Berikut ini dijelaskan tentang persepsi dari ketiga pihak tersebut. cara dan kepribadian yang spesifik. Persepsi klien tentang asuhan keperawatan bermutu dan tingkat kepuasan Asuhan keperawatan bermutu dipersepsikan klien dan keluarga sebagai pelayanan yang dapat memenuhi harapan klien. 1998). 2001). membahas masalah di dalam tim. serta selalu berada dengan klien dan bersedia setiap saat menolong klien (Kitson. dan turut melaksanakan apa yang klien sedang alami. menyusun beberapa alternatif solusi. sabar. murah senyum. Sementara itu. Faktor yang perlu dipertimbangkan Ada beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan oleh para manajer keperawatan di rumah sakit dalam meningkatkan dan mempertahankan asuhan keperawatan yang bermutu yaitu persepsi dari klien. Klien mengharapkan penghargaan atas uang yang telah mereka berikan dan mengharapkan kualitas pelayanan sesuai dengan yang dibutuhkan. profesi keperawatan. Pada saat ini makin banyak klien yang menuntut untuk diberikan informasi tentang kondisi kesehatannya dan keputusan yang terkait dengan tindakan medik/keperawatan yang akan diterimanya. Siklus kegiatan akan berjalan seperti sebelumnya.

(2) pelayanan keperawatan diberikan dalam lingkungan kerja praktik keperawatan profesional . dan mengevaluasikan pelayanan keperawatan yang diberikan . dan masa depan karirinya. Selain itu mereka merasakan manfaat lain setelah dirawat yaitu pengetahuan tentang penyakit dan dirinya menjadi bertambah. Asuhan keperawatan yang bermutu sering dipersepsikan memiliki indikator tunggal yaitu tingkat kemampuan tenaga keperawatan dalam memberikan pelayanan kepada klien. dll). Disamping itu. set infus. tenaga. menurut manajer rumah sakit. asuhan keperawatan bermutu dapat dicapai apabila perawat memperlihatkan kinerjanya dengan baik. katater. Mereka merasa pelayanan yang diberikan merupakan penghargaan terhadap diri dan kehormatan yang dimilikinya. nosokomial. pendidikan. materi pencegahan infeksi.1994). Bagi manajer rumah sakit. dan sumber daya yang digunakan (Wensley. kualitas dinilai dari besaran biaya yang terkendali. patuh pada pimpinan. dll). Keperawatan menjadi . (4) tersedianya sarana dan prasarana yang dapat memperlancar kegiatan keperawatan seperti peralatan medik (obat-obatan. peralatan keperawatan (alat tenun cukup. Selain itu. mengatur. core dan cure serta Henderson yang mengembangkan model pemenuhan 14 kebutuhan klien bahwa hanya perawat yang memiliki latar belakang pendidikan tinggi keperawatan yang mampu memberikan asuhan keperawatan profesional. yang mengembangkan teori care. dll). peralatan pendukung keperawatan (formulir rencana keperawatan. perawat juga ditekankan untuk menggunakan sumber-sumber secara efisien. Menurut Lydia Hall. (3) kualifikasi dan jumlah tenaga keperawatan memadai . Persepsi profesi keperawatan tentang asuhan keperawatan bermutu Asuhan keperawatan bermutu menurut persepsi para pelaksanan keperawatan akan dapat dipenuhi tergantung dari beberapa faktor yaitu : (1) apabila perawat diberikan kewenangan utuh untuk mendesain. Persepsi manajer RS terhadap asuhan keperawatan bermutu Palayanan kesehatan yang bermutu termasuk pelayanan keperawatan adlah pelayanan yang diberikan oleh tim kesehatan dimana pelayanan tersebut diberikan secara efektif dan efisien. melaksanakan. karena mereka telah dibekali dengan pengetahuan dan kemampuan menyelesaikan masalah klien secara memadai (MarrinerTomey. klien jarang untuk mencoba mempertimbangkan apakah pelayanan keperawatan yang diberikan itu merupakan upaya yang efektif dan efisien dilihat dari segi waktu. dan ramah terhadap klien serta keluarganya. (5) diberlakukannya sistem penghargaan (promosi dan kompensasi) memadai yang memungkinkan perawat tidak harus berpikir tentang kepentingan diri.biaya yang dikeluarkan sesuai dengan kualitas pelayanan yang diterima dan tingkat kemajuan kondisi kesehatan yang dialaminya. melaksanakan keinginan klien. Asuhan keperawatan yang bermutu dapat dicapai apabila perawat yang memberikan asuhan tersebut memiliki kompetensi dan kewenangan melalui pendidikan keperawtan yang sesuai. Asuhan keperawawatan yang tidak sesuai dengan harapan klien. Namun sebaliknya. 1992).

Banyak pimpinan rumah sakit yang tidak memahami praktik keperawtan profesional dimana bentuk praktik ini memungkinkan perawat memiliki otonomi penuh terhadap pelayanan yang diberikan. misi. dan menilai sistem pelayanan keperawatan di rumah sakit. mengatur. Pemahaman pimpinan rumah sakit tentang pelayanan keperawatan profesional dimana bentuk praktik keperawatan profesional. Hal ini karena tenaga keperawatan merupakan tenaga kesehatan yang berada paling lama bersama klien. Upaya untuk mewujudkan asuhan keperawatan bermutu tidak selalu dapat berjalan lancar. Perawat non profesional dibandingkan yang dapat dipertanggung jawabkan dan hanya menjalankan instruksi tim medik sehingga asuhan keparawatan menjadi terfragmentasi dan tidak manusiawi. dan tujuan rumah sakit. dan tujuan rumah sakit menyebabkan perawat pelaksana tidak memahami arah dan tujuan yang akan dicapai. yaitu. • • • • • • Perubahan status rumah sakit menjadi perusahaan jawatan swadana. . Dengan adanya anggaran biaya yang terkendali pimpinan rumah sakit akan lebih berfokus pada penyediaan pelayanan dan peralatan yang bernilai jual tinggi. Perubahan ini menjadi rumah sakit memiliki nilai sosial yang minimal dan mulai berorientasi pada profit. sudah selayaknya pimpinan rumah sakit memberikan cukup perhatian pada kondisi kerja yang dapat memprihatinkan yang berpotensi menimbulkan ketidak-puasan kerja sehingga dapat menurunkan kualitas pelayanan (Reuters Health.kambing hitam yang tidak berdaya. melaksanakan. Kewenangan yang dimiliki oleh bidang keperawatan dalam mendesain. Banyak rumah sakit yang lebih tenaga keperawatan profesional dibandingkan dengan profesional. Kendala dalam mewujudkan asuhan keperawatan bermutu Asuhan kesehatan bermutu dapat diwujudkan apabila terdapat di rumah sakit khususnya keperawatan. Kurangnya sosialisasi tentang visi. misi. Pemahaman para perawat pelaksana tentang visi. 2001). Bidang keperawatan tidak memiliki kewenangan penuh terhadap bidang tanggung jawabnya menyebabkan pengambilan keputusan menjadi terhambat dan pelaksanaan tindakan menjadi tidak lancar. Kemampuan rumah sakit dalam memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan khususnya keperawatan. Oleh karena itu. Ketersediaan tenaga perawat profesional yang mampu melaksanakan asuhan keperawtan profesional. Ada beberapa kendala yang perlu diperhatikan oleh setiap pimpinan rumah sakit dan para manajer keperawatan di rumah sakit. Pada situasi seperti ini rumah sakit akan menakankan efisiensi dan efektifitas. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa asuhan keperawatan tidak dapat dilaksanakan dengan baik apabila situasi dan proses kegiatan pelaksanaan pekerjaan tidak memadai. Kualitas pelayanan yang sifatnya kompetitif harus dapat dicapai dalam rentang biaya yang terkendali (“cost containtment”).

Asuhan keperawatan bermutu dapat diberikan oleh tenaga keperawatan yang telah dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan klinik yang memadai serta memiliki kemapuan : mebina hubungan profesional dengan klien. Asuhan keperawatan bermutu seyogyanya berorientasi pada klien sehingga klien dapat mencapai tingkat kepuasan terhadap pelayanan yang diterima. Sistem penghargaan bagi tenaga keperawatan. Perawat dihargai secara tinggi karena perawatan dan dukungan psikososial yang telah diterima masyarakat. Metoda kombinasi tenaga profesional dan non profesional keperawatan. inisiator perubahan. kemampuan memenuhi kebutuhan klien. fasilitator pendidikan keperawatan berlanjut. kualitas pelayanan kesehatan sangat ditentukan oleh kualitas pelayanan keperawatan. dan memperlihatkan sikap”caring”. Namun masyarakat masih belum menghargai perawat seperti mereka menghargai dokter. Oleh karena itu.• • • • • Pemahaman manajer keperawatan tentang peran yang diemban. Penghargaan masyarakat. koordinator pelaksana berbagai kebijakan rumah sakit. collective bargainer dan problem solver. Selain itu. Berbagai persepsi tentang kualitas asuhan perlu menjadi asupan positif bagi para manajer keperawatan. komitmen dan keterbukaan diantara pimpinan rumah sakit dan bidang keperawatan perlu ditingkatkan untuk mempermudaah upaya pencapaian tujuan. Masih banyak kepala bidang keperawatan yang tidak menyadari perannya sebagai pemantau kualitas kinerja dan pelayanan keperawatan . Banyak rumah sakit yang belum membakukan sistem penghargaan yang dapat memotivasi kinerja keperawatan. diperlukan terobosan dan partisipasi aktif dari seluruh komponen rumah sakit. Kualitas pelayanan keperawatan dipengaruhi oleh keefektifan perawat dalam memberikan asuhan kepada klien. Beberapa kendala dapat terjadi dan menghambat terwujudnya asuhan keperawatan . Hal ini agar tujuan rumah sakit untuk memberikan pelayanan kesehatan berkualitas dapat dipenuhi. negosietor. Pengakuan keprofesian keperawatan. Untuk itu. Keperawatan masih belum diakui secara penuh sebagai profesi kesehtan sehingga menimbulkan keragu-raguan dikalangan keprawatan untuk dapat berkontribusi seperti anggota profesi kesehatan lain. Semua kendala di atas memerlukan pemikiran dan tindak lanjut yang tegas dan jelas agar tujuan rumah sakit untuk mewujudkan pelayanan keperawatan yang bermutu dapat dicapai. Banyak rumah sakit yang mengkombinasikan tenaga keperawatan profesional dan non profesional dalam proporsi yang memprihatinkan sehingga menyulitkan terwujudnya asuhan keperawatan bermutu. sebagai supervisor ruangan yang aktif. Penutup Pelayanan keperawatan di rumah sakit merupakan bagian utama dari pelayanan kesehatan yang diberikan kepada klien. berkolaborasi dengan anggota tim kesehatan lain. melaksanakan kegiatan menjamin mutu. fasilitator dan motivasor kinerja serta iklim kerja yang kondusif.

Angka Kematian Kasar/CDR (%) = <45% 2.Hospitalization rate Mutu pelayananditinjaudari GDR & NDR 1. Dalam usaha memperkecil pengaruh case mix untuk menilai tingkat efisiensi digunakan indikator yang lebih tajam. y -Rasio persalinan dengan tenagabidan yangm elayani. Indikator untuk penilaian cakupan pelayanan adalah: y -Rata-rata kunjunganper hari y -Rata-rata kunjunganbaru per hari y -Rasio kunjunganbaru dengan total kunjungan y -J um lah rata-ratapasienugdper hari y -Rata-ratapasien intensif per hari y -Rata-ratapasien intensif perhari y -Rata-ratape m eriksaan radiologiper hari y -Prosentase r/ yang dilayani terhadap r/ rumahsakit y -Prosentase item obat dalam formularium y -J um lahpe layanan ambulans y -Rasio b anyaknyacucian denganpasien rawat inap y -Prosentase penyediaanmakanan khusus y -Rasio p asien rawat jalan terhadap jumlahpenduduk dalam. INDIKATOR PENILAIAN Untuk menilai pemanfaatan tenaga dipergunakan indikator: y -Rasio kunjungan dengan jumlah tenagaperawat jalan. indikator yang dimaksud adalah: y Av LOS pasien prabedah Pasien yang akan dioperasi biasanya harus menjalani pemeriksaan radiologi dan laboratorium serta perlu observasi t erhadapkeadaan tertentu. dan hampirsamamenyerap sumber dayanya. catchment area y . Dalam DRG ini ada 83kelompok diagnesisy ang masih terbagi lagi menjadi 383 subkelompok. Jadi sebelum operasi pasien t elah menggunakan jasa r umah sakit yang tidaksedikit. Angka Kematian Netto/NDR (%) = <25% STANDAR PELAYANAN MINIMAL RUMAH SAKIT . upaya yang bersifat manajerial dan non manajerial dapat dilakukan untuk meminimalisasi kendala tersebut. Telah disusun k elompok-kelompok diagnosis penyakit yang tidak berbeda banyak cara penganannya mediknya. Kelompokpenyakit ini disebut Diagnosis Related Group (DRG).Admission use rate y . Namun demikian.bermutu. Lebihbanyakpe m eriksaan atau lebihlamaobs ervasi tentunyal ebihbanyakm enggunakans um ber daya rumahsakit. A garefisiensimakapem borosan harus ditekan. tidakberbedabanyak Av LOS-nya. y -Rasio jumlahpaisien intensif dengan jumlah tenagaperawat yangm elayani. bertambah hemat atau bertambah efisien pelayanan yang diberikan. y -Rasio jumlah hariperawatan dengan jumlah tenagaperawat inap. Bertambahsingkat Av LOSprabedah. y Av LOS penyakit tertentua tautr acer conditions.

1999 Petunjuk Pelaksanaan Indikator Mutu Pelayanan Rumah Sakit. 2. Benefit. b. 5. Depkes. Untukm engukur kinerja rumahsakit adabe berapa indikator.Standard Pelayanan Rumah Sakit Adalah penyelenggaraan pelayanan manajemen r umah sakit. adalah tolok ukur dampak pada lingkungan atau masyarakat luas misalnya angka kematian ibu yangm enurun. pelayanan dengan ramah dan lain-. Manajemen Keuangan. M anajemen SumberdayaManusia. Output. pelayanan medik. KKP-RS. kabupaten/kotas es uai dengan evidence base. Indikator Merupakan variabel ukuran atautolok ukur yang dapat menunjukkan indikasi-indikasi t erjadinya perubahan tertentu. Mutu Pelayanan. f.m eningkatnya kesejahteraan karyawan.maka harus memberikanpe layananuntuk keluargamiskin dengan biaya ditanggung oleh Pemerintah Kabupaten/Kota. Saranaprasarana. misalnya jumlah yang dilayani. kelengkapan alat. 2007 Standar Pelayanan Rumah Sakit. Depkes. Pelayanan Medik Kode Etik Kedokteran Indonesia Panduan Nasional Keselamatan Pasien Rumah Sakit (Patient Safety). 2001 Indikator Kinerja Rumah Sakit. Proses. c. yang dapat mengukur perubahan pada saat pelayanan yang misalnya kecepatan pelayanan. Standar adalah spesifikasi t eknisatau sesuatu yang dibakukan sebagai patokan dalam melakukan kegiatan. yangmenjadi tolokukur danmerupakan dampak dari hasil pelayanansebagaimisalnya keluhanpasien yangm erasa tidakpuas terhadap pelayanan danlain-lain.m eningkatnya derajat kesehatanmasyarakat. e.1. prosedur t etapdan lain-lain. 4. e. Standar ini dapat ditentukanberdasarkan kesepakatanpropinsi. Manajemen Sistem Informasi Rumah Sakit. I nput. Depkes 2006 Pedoman Pelaporan Insiden Keselamatan Pasien (IKP). Bahwa rumah Sakit sesuai dengan tuntutan daripada kewenangan wajib yang harusdilaksanakan oleh rumahsakitpropinsi/kabupaten/kota. Impact. yang dapatm engukurpadabahan alatsistem prosedur atau o rang yangm em berikanpe layanan misalnya jumlah dokter. 2005 . kebersihan ruangan. d.ain. pelayanan penunjang dan pelayanan keperawatan baik rawat inap maupun rawat jalan yang minimalharusdiselenggarakan oleh rumahsakit. jumlah pasien yang dioperasi. adalah tolok ukur dari keuntungan yang diperoleh pihak rumah sakit maupun penerima pelayanan atau pasien yang misal biaya pelayanan yang lebih murah. c. d. Outcome. yang dapat menjadi tolok ukur pada hasil yang dicapai.Secara khusus selain pelayanan yang harusdiberikan kepada masyarakat wilayah setempat maka rumah sakit juga harus meningkatkan manajemen di dalamrumah sakit yaitu meliputi: a. yaitu: a. WHO-Depkes. kedalam dan keluar rumah sakit. 3. b. peningkatan pendapatan rumah sakit.

KKI. 2006 Manual Komunikasi Efektif Dokter-Pasien.Penyelenggaraan Praktik Kedokteran Yang Baik Di Indonesia. KKI. 2006 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->