SISTEM HUKUM DAN PERADILAN INTERNASIONAL

SISTEM HUKUM DAN PERADILAN INTERNASIONAL A. Pengertian Hukum Internasional Pada dasarnya yang dimaksud hukum internasional dalam pembahasan ini adalah hukum internasional publik, karena dalam penerapannya, hukum internasional terbagi menjadi dua, yaitu: hukum internasional publik dan hukum perdata internasional. Hukum internasional publik adalah keseluruhan kaidah dan asas hukum yang mengatur hubungan atau persoalan yang melintasi batas negara, yang bukan bersifat perdata. Sedangkan hukum perdata internasional adalah keseluruhan kaidah dan asas hukum yang mengatur hubungan perdata yang melintasi batas negara, dengan perkataan lain, hukum yang mengatur hubungan hukum perdata antara para pelaku hukum yang masing-masing tunduk pada hukum perdata yang berbeda. (Kusumaatmadja, 1999; 1) Awalnya, beberapa sarjana mengemukakan pendapatnya mengenai definisi dari hukum internasional, antara lain yang dikemukakan oleh Grotius dalam bukunya De Jure Belli ac Pacis (Perihal Perang dan Damai). Menurutnya “hukum dan hubungan internasional didasarkan pada kemauan bebas dan persetujuan beberapa atau semua negara. Ini ditujukan demi kepentingan bersama dari mereka yang menyatakan diri di dalamnya ”. Sedang menurut Akehurst : “hukum internasional adalah sistem hukum yang di bentuk dari hubungan antara negara-negara” Definisi hukum internasional yang diberikan oleh pakar-pakar hukum terkenal di masa lalu, termasuk Grotius atau Akehurst, terbatas pada negara sebagai satu-satunya pelaku hukum dan tidak memasukkan subjek-subjek hukum lainnya. Salah satu definisi yang lebih lengkap yang dikemukakan oleh para sarjana mengenai hukum internasional adalah definisi yang dibuat oleh Charles Cheny Hyde : “ hukum internasional dapat didefinisikan sebagai sekumpulan hukum yang sebagian besar terdiri atas prinsip-prinsip dan peraturan-peraturan yang harus ditaati oleh negaranegara, dan oleh karena itu juga harus ditaati dalam hubungan-hubungan antara mereka satu dengan lainnya, serta yang juga mencakup : a. organisasi internasional, hubungan antara organisasi internasional satu dengan lainnya, hubungan peraturan-peraturan hukum yang berkenaan dengan fungsi-fungsi lembaga atau antara organisasi internasional dengan negara atau negara-negara ; dan hubungan antara organisasi internasional dengan individu atau individu-individu ; b. peraturan-peraturan hukum tertentu yang berkenaan dengan individu-individu dan subyek-subyek hukum bukan negara (non-state entities) sepanjang hak-hak dan kewajiban-kewajiban individu dan subyek hukum bukan negara tersebut bersangkut paut dengan masalah masyarakat internasional” (Phartiana, 2003; 4) Sejalan dengan definisi yang dikeluarkan Hyde, Mochtar Kusumaatmadja mengartikan ’’hukum internasional sebagai keseluruhan kaidah-kaidah dan asas-asas hukum yang mengatur hubungan atau persoalan yang melintasi batas-batas negara, antara negara dengan negara dan negara dengan subjek hukum lain bukan negara atau subyek hukum bukan negara satu sama lain’’. (Kusumaatmadja, 1999; 2) Berdasarkan pada definisi-definisi di atas, secara sepintas sudah diperoleh gambaran umum tentang ruang lingkup dan substansi dari hukum internasional, yang di dalamnya terkandung unsur subyek atau pelaku, hubungan-hubungan hukum antar subyek atau

pelaku, serta hal-hal atau obyek yang tercakup dalam pengaturannya, serta prinsip-prinsip dan kaidah atau peraturan-peraturan hukumnya. Sedangkan mengenai subyek hukumnya, tampak bahwa negara tidak lagi menjadi satusatunya subyek hukum internasional, sebagaimana pernah jadi pandangan yang berlaku umum di kalangan para sarjana sebelumnya. B. Sejarah dan Perkembangan Hukum Internasional Hukum internasional sebenarnya sudah sejak lama dikenal eksisitensinya, yaitu pada zaman Romawi Kuno. Orang-orang Romawi Kuno mengenal dua jenis hukum, yaitu Ius Ceville dan Ius Gentium, Ius Ceville adalah hukum nasional yang berlaku bagi masyarakat Romawi, dimanapun mereka berada, sedangkan Ius Gentium adalah hukum yang diterapkan bagi orang asing, yang bukan berkebangsaan Romawi. Dalam perkembangannya, Ius Gentium berubah menjadi Ius Inter Gentium yang lebih dikenal juga dengan Volkenrecth (Jerman), Droit de Gens (Perancis) dan kemudian juga dikenal sebagai Law of Nations (Inggris). (Kusumaatmadja, 1999 ; 4) Sesungguhnya, hukum internasional modern mulai berkembang pesat pada abad XVI, yaitu sejak ditandatanganinya Perjanjian Westphalia 1648, yang mengakhiri perang 30 tahun (thirty years war) di Eropa. Sejak saat itulah, mulai muncul negara-negara yang bercirikan kebangsaan, kewilayahan atau territorial, kedaulatan, kemerdekaan dan persamaan derajat. Dalam kondisi semacam inilah sangat dimungkinkan tumbuh dan berkembangnya prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah hukum internasional. (Phartiana, 2003 ; 41) Perkembangan hukum internasional modern ini, juga dipengaruhi oleh karya-karya tokoh kenamaan Eropa, yang terbagi menjadi dua aliran utama, yaitu golongan Naturalis dan golongan Positivis. Menurut golongan Naturalis, prinsip-prinsip hukum dalam semua sistem hukum bukan berasal dari buatan manusia, tetapi berasal dari prinsip-prinsip yang berlaku secara universal, sepanjang masa dan yang dapat ditemui oleh akal sehat. Hukum harus dicari, dan bukan dibuat. Golongan Naturalis mendasarkan prinsip-prinsip atas dasar hukum alam yang bersumber dari ajaran Tuhan. Tokoh terkemuka dari golongan ini adalah Hugo de Groot atau Grotius, Fransisco de Vittoria, Fransisco Suarez dan Alberico Gentillis. (Mauna, 2003 ; 6) Sementara itu, menurut golongan Positivis, hukum yang mengatur hubungan antar negara adalah prinsip-prinsip yang dibuat oleh negara-negara dan atas kemauan mereka sendiri. Dasar hukum internasional adalah kesepakatan bersama antara negara-negara yang diwujudkan dalam perjanjian-perjanjian dan kebiasaan-kebiasaan internasional. Seperti yang dinyatakan oleh Jean-Jacques Rousseau dalam bukunya Du Contract Social, La loi c’est l’expression de la Volonte Generale, bahwa hukum adalah pernyataan kehendak bersama. Tokoh lain yang menganut aliran Positivis ini, antara lain Cornelius van Bynkershoek, Prof. Ricard Zouche dan Emerich de Vattel Pada abad XIX, hukum internasional berkembang dengan cepat, karena adanya faktorfaktor penunjang, antara lain : (1) Setelah Kongres Wina 1815, negara-negara Eropa berjanji untuk selalu menggunakan prinsip-prinsip hukum internasional dalam hubungannya satu sama lain, (2). Banyak dibuatnya perjanjian-perjanjian (law-making treaties) di bidang perang, netralitas, peradilan dan arbitrase, (3). Berkembangnya

2. Negara . Kebiasaan internasional (international custom). Dalam bentuk atau wujud apa sajakah hukum itu tampak dan berlaku. dari kelahiran dan pertumbuhan hukum internasional. 4. adalah: 1. karena dipengaruhi faktor-faktor sebagai berikut: (1). 1990. 7) C. serta Badan-badan Khusus dalam kerangka Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menyiapkan ketentuan-ketentuan baru dalam berbagai bidang. yaitu: sumber hukum dalam arti materiil dan sumber hukum dalam arti formal. Sumber hukum dalam arti materiil adalah sumber hukum yang membahas materi dasar yang menjadi substansi dari pembuatan hukum itu sendiri. baik yang bersifat umum.perundingan-perundingan multilateral yang juga melahirkan ketentuan-ketentuan hukum baru. (Burhan Tsani. adalah: 1. Kemajuan pesat teknologi dan ilmu pengetahuan yang mengharuskan dibuatnya ketentuan-ketentuan baru yang mengatur kerjasama antar negara di berbagai bidang. regional maupun bersifat global. Sumber-sumber Hukum Internasional Pada azasnya. Sumber hukum internasional dapat diartikan sebagai: 1. Di abad XX. 2. Pada awal mula. Dalam bentuk atau wujud inilah dapat ditemukan hukum yang mengatur suatu masalah tertentu. metode penciptaan hukum internasional. Subyek Hukum Internasional Subyek hukum internasional diartikan sebagai pemilik. sumber hukum terbagi menjadi dua. Prinsip-prinsip hukum umum (general principles of law) yang diakui oleh negaranegara beradab. 3. baik bersifat bilateral. hanya negaralah yang dipandang sebagai subjek hukum internasional Dewasa ini subjek-subjek hukum internasional yang diakui oleh masyarakat internasional. Perjanjian internasional (international conventions). (Mauna. Keputusan pengadilan (judicial decision) dan pendapat para ahli yang telah diakui kepakarannya. pemegang atau pendukung hak dan pemikul kewajiban berdasarkan hukum internasional. yang merupakan sumber hukum internasional tambahan. (Phartiana. 197) D. Bermunculannya organisasi-organisasi internasional. (3). dasar kekuatan mengikatnya hukum internasional. maupun khusus. sumber-sumber hukum internasional yang dipakai oleh Mahkamah dalam mengadili perkara. Banyaknya negara-negara baru yang lahir sebagai akibat dekolonisasi dan meningkatnya hubungan antar negara. (2). (4). seperti Perserikatan Bangsa Bangsa dan berbagai organ subsidernya. tempat diketemukannya ketentuan-ketentuan hukum internasional yang dapat diterapkan pada suatu persoalan konkrit. 3. 2003. hukum internasional mengalami perkembangan yang sangat pesat. Sumber hukum dalam arti formal adalah sumber hukum yang membahas bentuk atau wujud nyata dari hukum itu sendiri. Banyaknya perjanjian-perjanjian internasional yang dibuat. 2003. 14) Menurut Pasal 38 ayat (1) Statuta Mahkamah Internasional.

d. walaupun tugas dan kewenangannya. penduduk yang tetap. 125) 1. 123) 1. contohnya adalah Perserikatan Bangsa Bangsa . antara lain: Association of South East Asian Nation (ASEAN). Palang Merah Nasional dari negar-negara itu kemudian dihimpun menjadi Palang Merah Internasional (International Committee of the Red Cross/ICRC) dan berkedudukan di Jenewa. UNESCO. Kaum Pemberontak / Beligerensi (belligerent) . sehingga hanya memiliki kekuatan moral saja. (Phartiana. International Labor Organization. b. tidak seluas tugas dan kewenangan negara. dan lain-lain. Namun karena faktor sejarah. Oleh karena itu. Pada awal mulanya. Palang Merah Internasional merupakan organisasi dalam ruang lingkup nasional. 2003. hanyalah merupakan salah satu jenis organisasi internasional. didirikan oleh lima orang berkewarganegaraan Swiss. kualifikasi suatu negara untuk disebut sebagai pribadi dalam hukum internasional adalah: a. Swiss. International Monetary Fund. c. mengenai Hak dan Kewajiban Negara. banyak negara membuka hubungan diplomatik dengan Tahta Suci. Organisasi internasional yang memiliki keanggotaan secara global dengan maksud dan tujuan yang bersifat umum. namun wibawa Paus sebagai pemimpin tertinggi Tahta Suci dan umat Katholik sedunia. Organisasi internasional dengan keanggotaan regional dengan maksud dan tujuan global. Palang Merah Internasional Sebenarnya Palang Merah Internasional. Europe Union. wilayah tertentu.Menurut Konvensi Montevideo 1949. antara pemerintah Italia dan Tahta Suci Vatikan mengenai penyerahan sebidang tanah di Roma. pemerintahan. dengan cara menempatkan kedutaan besarnya di Vatikan dan demikian juga sebaliknya Tahta Suci juga menempatkan kedutaan besarnya di berbagai negara. Tahta Suci Vatikan Tahta Suci Vatikan di akui sebagai subyek hukum internasional berdasarkan Traktat Lateran tanggal 11 Februari 1929. 2003. c. Organisasi Internasional Klasifikasi organisasi internasional menurut Theodore A Couloumbis dan James H. sebab hanya terbatas pada bidang kerohanian dan kemanusiaan. sudah diakui secara luas di seluruh dunia. kemampuan untuk mengadakan hubungan dengan negara lain 1. yaitu Swiss. 1. (Phartiana. contohnya adalah World Bank. b. yang kemudian membentuk Palang Merah Nasional di masing-masing wilayahnya. yang dipimpin oleh Henry Dunant dan bergerak di bidang kemanusiaan. keberadaan Palang Merah Internasional di dalam hubungan dan hukum internasional menjadi sangat unik dan di samping itu juga menjadi sangat strategis. Organisasi internasional yang memiliki keanggotaan global dengan maksud dan tujuan yang bersifat spesifik. Wolfe : a. Kegiatan kemanusiaan yang dilakukan oleh Palang Merah Internasional mendapatkan simpati dan meluas di banyak negara. Perjanjian Lateran tersebut pada sisi lain dapat dipandang sebagai pengakuan Italia atas eksistensi Tahta Suci sebagai pribadi hukum internasional yang berdiri sendiri.

Kalau ada pertentangan antar keduanya. hukum internasional itu adalah lanjutan dari hukum nasional. yaitu: teori Dualisme dan teori Monisme. maka yang diutamakan adalah hukum nasional suatu negara. Di beberapa tempat. Keharusan ini seperti tercantum pada Pasal 1 Konvensi mengenai Penyelesaian Sengketa-Sengketa Secara Damai yang ditandatangani di Den Haag pada . seperti perang saudara dengan akibat-akibat di luar kemanusiaan. Hukum nasional tunduk dan harus sesuai dengan hukum internasional. Namun apabila pemberontakan tersebut bersenjata dan terus berkembang. berarti bahwa dari sudut pandang negara yang mengakuinya. tidak saling mempunyai hubungan superioritas atau subordinasi. hukum internasional dan hukum nasional saling berkaitan satu sama lainnya. walaupun sikap ini akan dipandang sebagai tindakan tidak bersahabat oleh pemerintah negara tempat pemberontakan terjadi. penyelesaian sepenuhnya merupakan urusan negara yang bersangkutan. memang merupakan suatu fakta yang tidak bisa disangkal lagi.Kaum belligerensi pada awalnya muncul sebagai akibat dari masalah dalam negeri suatu negara berdaulat. 7. merupakan dua sistem hukum yang secara keseluruhan berbeda. Oleh karena itu. Dengan pengakuan tersebut. Sedangkan menurut teori Monisme. Menurut teori Dualisme. Lahirnya Deklarasi Universal tentang Hak Asasi Manusia (Universal Declaration of Human Rights) pada tanggal 10 Desember 1948 diikuti dengan lahirnya beberapa konvensi-konvensi hak asasi manusia di berbagai kawasan. Menurut teori ini. Hubungan Hukum Internasional dengan Hukum Nasional Ada dua teori yang dapat menjelaskan bagaimana hubungan antara hukum internasional dan hukum nasional. dan hal ini semakin mengukuhkan eksistensi individu sebagai subyek hukum internasional yang mandiri. Perusahaan Multinasional Perusahaan multinasional memang merupakan fenomena baru dalam hukum dan hubungan internasional. Penyelesaian Sengketa Internasional Secara Damai. hukum internasional dan hukum nasional. Ketentuan hukum internasional telah melarang penggunaan kekerasan dalam hubungan antar negara. yaitu hukum nasional untuk urusan luar negeri. hukum nasional kedudukannya lebih rendah dibanding dengan hukum internasional. bahkan meluas ke negara-negara lain. Berlakunya hukum internasional dalam lingkungan hukum nasional memerlukan ratifikasi menjadi hukum nasional. maka salah satu sikap yang dapat diambil oleh adalah mengakui eksistensi atau menerima kaum pemberontak sebagai pribadi yang berdiri sendiri. terutama setelah Perang Dunia II. Individu Pertumbuhan dan perkembangan kaidah-kaidah hukum internasional yang memberikan hak dan membebani kewajiban serta tanggungjawab secara langsung kepada individu semakin bertambah pesat. Eksistensinya dewasa ini. struktur substansi dan ruang lingkup hukum internasional itu sendiri. 1990. Menurut teori Monisme. negara-negara dan organisasi internasional mengadakan hubungan dengan perusahaan-perusahaan multinasional yang kemudian melahirkan hak-hak dan kewajiban internasional. Hukum internasional dan hukum nasional merupakan dua sistem hukum yang terpisah. yang tentu saja berpengaruh terhadap eksistensi. kaum pemberontak menempati status sebagai pribadi atau subyek hukum internasional 1. E. (Burhan Tsani. 26) F.

tahun 1919. 216) 1. Pusat Penyelesaian Sengketa Penanaman Modal Internasional (International Centre for Settlement of Investment Disputes) yang berkedudukan di Washington DC. Malaysia. yang terdiri dari orang-orang yang diajukan oleh para pihak dan anggota tambahan yang dipilih dengan cara lain. berkedudukan di Kuala Lumpur. waktu dan tempat hearing (dengar pendapat). 4. Penyelesaian melalui pengadilan dapat ditempuh melalui: 1. persetujuan para pihak untuk terikat pada keputusan arbitrase. (Burhan Tsani. 2. 1990. Pengadilan arbitrase dilaksanakan oleh suatu “panel hakim” atau arbitrator yang dibentuk atas dasar persetujuan khusus para pihak. keamanan internasional dan keadilan tidak sampai terganggu”. arbitrase merupakan prosedur konsensus. Yang akan dibahas pada kesemapatan kali ini hanyalah penyelesaian perkara melalui pengadilan. Pusat Arbitrase Dagang Regional untuk Afrika (Regional Centre for Commercial Arbitration). 214) Masyarakat internasional sudah menyediakan beberapa institusi arbitrase internasional. Pengadilan Internasional Pada permulaan abad XX. Penyelesaian sengketa secara damai dibedakan menjadi: penyelesaian melalui pengadilan dan di luar pengadilan. Liga Bangsa-Bangsa mendorong masyarakat internasional untuk membentuk suatu badan peradilan yang bersifat permanent. atau dengan perjanjian arbitrase yang telah ada. (Burhan Tsani. Mesir. Arbitrase adalah merupakan suatu cara penerapan prinsip hukum terhadap suatu sengketa dalam batas-batas yang telah disetujui sebelumnya oleh para pihak yang bersengketa. 211) Secara esensial. Arbitrase Internasional Penyelesaian sengketa internasional melalui arbitrase internasional adalah pengajuan sengketa internasional kepada arbitrator yang dipilih secara bebas oleh para pihak. 5. Arbitrase terdiri dari seorang arbitrator atau komisi bersama antar anggota-anggota yang ditunjuk oleh para pihak atau dan komisi campuran. antara lain: 1. Pusat Arbitrase Dagang Regional untuk Asia (Regional Centre for Commercial Arbitration). 1990. Perlunya persetujuan para pihak dalam setiap tahap proses arbitrase. yang memberi keputusan dengan tidak harus terlalu terpaku pada pertimbangan-pertimbangan hukum. 2. yang kemudian dikukuhkan oleh pasal 2 ayat (3) Piagan Perserikatan bangsa-Bangsa dan selanjutnya oleh Deklarasi Prinsip-Prinsip Hukum Internasional mengenai Hubungan Bersahabat dan Kerjasama antar Negara. berkedudukan di Kairo.tanggal 18 Oktober 1907. dan. 4. Persetujuan arbitrase tersebut dikenal dengan compromis (kompromi) yang memuat: 1. metode pemilihan panel arbitrase. Pengadilan Arbitrase Kamar Dagang Internasional (Court of Arbitration of the International Chamber of Commerce) yang didirikan di Paris. karenanya persetujuan para pihaklah yang mengatur pengadilan arbitrase. 3. 3. prinsip-prinsip hukum atau keadilan yang harus diterapkan untuk mencapai suatu kesepakatan. Sengketa diselesaikan atas dasar menghormati hukum. Hal-hal yang penting dalam arbitrase adalah : (1). (Burhan Tsani. yaitu mulai dari . Deklarasi tersebut meminta agar “semua negara menyelesaikan sengketa mereka dengan cara damai sedemikian rupa agar perdamaian. dan (2). batas-batas fakta yang harus dipertimbangkan.

Keputusan pengadilan (judicial decision) dan pendapat para ahli yang telah diakui kepakarannya. Keputusan Mahkamah Internasional sifatnya final. Mahkamah Pidana Internasional (International Court of Justice/ICJ) Perserikatan Bangsa-Bangsa sejak pembentukannya telah memainkan peranan penting dalam bidang hukum inetrnasional sebagai upaya untuk menciptakan perdamaian dunia. organisasi. maupun khusus. dan bukan berdasarkan hukum. Peradilan-Peradilan Lainnya di Bawah Kerangka Perserikatan Bangsa-bangsa 1. tidak dapat banding dan hanya mengikat para pihak. yang didasarkan pada persetujuan para pihak yang bersengketa. yaitu pendapat mahkamah yang bersifat nasehat. G. yaitu yurisdiksi atas perkara biasa. Prinsip-prinsip hukum umum (general principles of law) yang diakui oleh negaranegara beradab. bukanlah organ dari Organisasi Internasional tersebut. Masalah pengajuan sengketa bisa dilakukan oleh salah satu pihak secara unilateral. Mahkamah Internasional juga sebenarnya bisa mengajukan keputusan ex aequo et bono. namun hal ini bisa dilakukan jika ada kesepakatan antar negara-negara yang bersengketa. pada dasarnya hanyalah merupakan kelanjutan dari Mahkamah Internasional yang lama. 2. Advisory Opinion tidaklah memiliki sifat mengikat bagi yang meminta. namun kemudian harus ada persetujuan dari pihak yang lain. wewenang dan tata kerjanya sudah dibuat sebelumnya dan bebas dari kehendak negara-negara yang bersengketa. 217) Sedangkan. 4. maka perkara akan di hapus dari daftar Mahkamah Internasional. Namun. sumber-sumber hukum internasional yang dipakai oleh Mahkamah dalam mengadili perkara. yaitu keputusan wajib yang mempunyai kuasa persuasive kuat (Burhan Tsani.komposisi. namun semua jenis sengketa dapat diajukan ke Mahkamah Internasional. setelah berakhirnya Perang Dunia II. Yang dapat menjadi pihak hanyalah negara. 2. memberikan “Advisory Opinion”. 1990. adalah: 1. Menurut Pasal 92 Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa disebutkan bahwa Mahkamah Internasional merupakan organ hukum utama dari Perserikatan Bangsa-Bangsa. yang merupakan sumber hukum internasional tambahan. Mahkamah Internasional mempunyai kewenangan untuk: 1. menurut Pasal 38 ayat (1) Statuta Mahkamah Internasional. Namun sesungguhnya. Perjanjian internasional (international conventions). karena Mahkamah Internasional tidak akan memutus perkara secara in-absensia (tidak hadirnya para pihak). Jika tidak ada persetujuan. Hingga pada tahun 1945. namun biasanya diberlakukan sebagai “Compulsory Ruling”. karena banyak nomor-nomor dan pasal-pasal yang tidak mengalami perubahan secara signifikan Secara umum. Di San Fransisco inilah. pendirian Mahkamah Internasional yang baru ini. maka negara-negara di dunia mengadakan konferensi di San Fransisco untuk membentuk Mahkamah Internasional yang baru. Kebiasaan internasional (international custom). yaitu didasarkan pada keadilan dan kebaikan. . baik yang bersifat umum. 3. Pasal 14 Liga Bangsa-Bangsa menugaskan Dewan untuk menyiapkan sebuah institusi Mahkamah Permanen Internasional. walaupun didirikan oleh Liga BangsaBangsa. Keputusan juga diambil atas dasar suara mayoritas. kemudian dirumuskan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Statuta Mahkamah Internasional. Mahkamah Permanen Internasional. melaksanakan “Contentious Jurisdiction”.

Jika diperkirakan bahwa tugas Mahkamah Peradilan Yugoslavia dan Rwanda telah . yurisdiksi (kewenangan hukum) Mahkamah Pidana Internasional ini. yaitu pemusnahan orang-orang Tutsi. Statuta tersebut akan berlaku. yang statuta pembentukannya telah disahkan melalui Konferensi Internasional di Roma. namun Perserikatan Bangsa-Bangsa juga telah menyiapkan pembentukan mahkamah. Italia. Tanzania dan didirikan berdasarkan Resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa Nomor 955. 264) 3. Tugas Mahkamah ini adalah untuk mengadili orang-orang yang bertanggungjawab atas pelanggaran-pelanggaran berat terhadap hukum humaniter internasional yang terjadi di negara bekas Yugoslavia. dan juga Clement Kayishema dan Obed Ruzindana yang telah dituduh melakukan pemusnahan ras (genosida) . Perserikatan Bangsa-Bangsa membentuk The International Criminal Tribunal for the Former Yugoslavia.000 orang Rwanda. Mahkamah Kriminal untuk Rwanda (International Criminal Tribunal for Rwanda) Mahkamah ini bertempat di Arusha. yang dituduh telah melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan dan melanggar hukum perang. antara tahun 1975 sampai dengan 1979 yang telah membunuh sekitar 1. tanggal 8 November 1994. pada tahun 1994. Belanda. mantan Walikota Taba. Mahkamah mulai menjatuhkan hukuman pada tahun 1998 terhadap Jean-Paul Akayesu. (Mauna. sudah 84 orang yang dituduh melakukan pelanggaran berat dan 20 diantaranya telah ditahan. tugas Mahkamah ini adalah untuk meminta pertanggungjawaban para pelaku kejahatan pembunuhan missal sekitar 800. Mahkamah Kriminal Internasional untuk Bekas Yugoslavia (The International Criminal Tribunal for the Former Yugoslavia/ICTY) Melalui Resolusi Dewan Keamanan Nomor 827. genosida (pemusnahan ras). saat ini Perserikatan Bangsa-bangsa juga sedang berupaya untuk menyelesaikan “hukum acara” bagi berfungsinya Mahkamah Pidana Internasional (International Criminal Court/ICC). Berbeda dengan Mahkamah Internasional.untuk Kamboja untuk mengadili para penjahat perang di zaman pemerintahan Pol Pot dan Khmer Merah. tetapi harus melalui pernyataan mengikatkan diri dan menjadi pihak pada Statuta Mahkamah Pidana Internasional. pada bulan Juni 1998. Mahkamah mengungkap bahwa bahwa pembunuhan massal tersebut mempunyai tujuan khusus. kejahatan humaniter (kemanusiaan) serta agresi. tuduhan juga dikeluarkan terhadap pemimpin-pemimpin terkenal. Milan Milutinovic (Presiden Serbia). Semenjak Mahkamah ini dibentuk. yang bertempat di Den Haag. Negara-negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa tidak secara otomatis terikat dengan yurisdiksi Mahkamah ini. sebagai sebuah kelompok suku. 2003. seperti Slobodan Milosevic (Presiden Republik Federal Yugoslavia). terutama dari suku Tutsi. tanggal 25 Mei 1993. Pada tanggal 27 Mei 1999. adalah di bidang hukum pidana internasional yang akan mengadili individu yang melanggar Hak Asasi Manusia dan kejahatan perang. Belanda.Selain Mahkamah Internasional (International Court of Justice/ICJ) yang berkedudukan di Den Haag. jika telah disahkan oleh 60 negara. Walaupun tugas dari Mahkamah Kriminal Internasional untuk Bekas Yugoslavia dan Mahkamah Kriminal untuk Rwanda belum selesai.700. (Mauna. 2003. 263) 2.000 orang.

Hukum Internasional adalah sekumpulan hukum (body of low) yang sebagian besar terdiri dari asas-asas dank arena itu biasanya ditaati dalam hubungan antar Negara. Kusamaatmadja Mochtar. (Mauna. 2003. A. Pengantar Hukum Internasional. maka Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa akan mengeluarkan resolusi untuk membubarkan kedua Mahkamah tersebut. Penerbit Mandar Maju. adalah asas dan kaidah hukum yang mengatur hubungan atau persoalan yang bersifat pidana. Menjelaskan penyebab timbulnya sengketa internasional dan cara penyelesaian oleh mahkamah internasional. Cetakan ke-4. 1999. Fourth Edition. Hukum Internasional digolongkan menjadi hukum Internasional Publik dengan hukum perdata internasional. Pengantar Hukum Internasional. Yogyakarta : Penerbit Liberty. 2003. Whisnu. Principles of Public International Law. 2003.G. J. atau antar subyek hukum internasional bukan Negara satu sama lain. Hukum Internasional Publik atau hukum antar negara. antara Negara dengan Negara. Bunga Rampai. Alumni. Menghargai putusan Mahkamah Internasional A. Putra Abardin Mauna Boer. 1990. 1999. yang mengatur masalah perdata lintas Negara (perkawinan antar warga Negara suatu Negara dengan warga Negara lain). Oxford Burhantsani. Hukum Internasional. 1989. Cetakan ke-9. 2003. Hukum Internasional adalah hukum yang mengatur perhubungan hukum antara berbagai bangsa di berbagai Negara.Starke menyatakan. Bandung Situni F. . Penerbit Mandar maju. dan Negara dengan subyek hukum internasional bukan Negara. Clarendon Press. Bandung Brownlie Ian. 265) REFERENSI Ardiwisastra Yudha Bhakti.menyelesaikan tugas mereka. Alumni. Hukum Internasional adalah keseluruhan kaidah dan asas yang mengatur hubungan atau persoalan yang melintasi batas Negara. PT. yang sebagaimana diketahui memiliki sifat ad hoc (sementara). 3. Identifikasi dan Reformulasi Sumber-Sumber Hukum Internasional. Peran dan Fungsi dalam Era Dinamika Global. Wiryono Prodjodikoro. Bandung Sistem Hukum dan Perdilan Internasional Standar Kompetensi : Menganalisis Sistem Hukum dan peradilan Internasional Kompetensi Dasar : 1. Hukum Internasional. Muhammad. Bandung Phartiana I Wayan. Makna Hukum Internasional Menurut Mochtar Kusumaatmaja. Pengertian. Mendeskripsikan system hukum dan peradilan Internasional 2. Hukum dan Hubungan Internasional. sedangkan hukuk perdata internasional atau hukum antar bangsa.

3. setiap Negara harus menyelesaikan masalah internasional dengan cara damai. Palang merah Internasional. 2625 tahun 1970. Teritorial dan kemerdekanan politi suatu Negara adalah tidak dapat diganggu gugat. 6. Memilki persamaan Yudisial (perlakuan Hukum). politik. Asas – asas hukum Internasional Menurut Resolusi majelis Umum PBB No. Seiap Negara wajib untuk hidup damai dengan Negara lain. d. Asas persamaan kedaulatan dari Negara. Memilikimhak penuh terhadap kedaulatan c. Subyek Hukum Internasional Adalah pihak-pihak yang membawa hak dan kewajiban hukum dalam pergaulan internasional. karena misi kemanusiaan yang diembannya. Paus bukan saja kepoala gereja tetapi memiliki kekuasaan duniawi. perdagangan. sehingga menjadi subyek hukum internasional. bahkan hukum international itu disebut sebagai hukum antarnegara. tekhnik. Dalam asas ini ditekankan bahwa setiap Negara tidak memberikan ancaman dengan kekuatan militer dan tidak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan piagam PBB. 7. Negara wajib menjalin kerjasama dengan Negara lain berdasar pada piagam PBB. kerjasama itu dimaksudkan untuk menciptakan perdamaian dan keamanan internasional di bidang Hak asasi manusia. yaitu : 1. berkedudukan di jenewa dan menjadi subyek hukum internasional dalam arti terbatas.B. menghendalikan diri dari tindakan yang dapat membahayakan perdamaian internasional. Dalam asas ini setiap Negara harus mencari solusi damai. Orang perseorangan (individu). ekonomi dan sejarah bansanya. Pemberontak dan pihak-pihak yang bersengketa. Menurut Starke. ILO memiliki hak dan kewajiban yang ditetapkan dalam konvensi-konvensi internasional. b. • Palang Merah Internasional. Setiap Negara tidak melakukan ancaman agresi terhadap keutuhan wilayah dan kemerdekaan Negara lain. social budaya. . Asas persaman hak dan penentuan nasib sendiri. soaial. Setiap Negara menghormati kepribadian Negara lain. Organisasi internasional. • Tahta Suci (Vatikan) Roma Italia. Dalam asas ini menekankan setip Negara memiliki hak untuk memilih sendiri keputusan politiknya. • Organisasi Internasional. pemenuhan kewajiban itu harus sesuai dengan ketentuan hukum internasional. tahta suci. e. subyek internasional termasuk Negara. kemerdekaan dan perwujudan kedaulatan suatu Negara ditentukan oleh rakyat. B. Tidak melakukan intervensi terhadap urusan dalam negeri Negara lain. Setiap Negara harus dapat dipercaya dalam memenuhi kewajibannya. Setiap Negara memiliki persamaan kedaulatan secara umum sebagai berikut : a. negara sudah diakui sebagi subyek hukum internasional sejak adanya hukum international. 5. 2. ada tujuh asas. Setap Negara bebas untuk membangun system politik. PBB. • Negara. ekonomi. 4. ekonomi. Tahta Suci menjadi subyek hukum Internasional dalam arti penuh karena itu satusnya setara dengan Negara dan memiliki perwakilan diplomatic diberbagai Negara termasuk di Indonesia. f. social dan system budaya tanpa intervensi pihak lain.

Lembaga Peradilan Internasional 1. Dalam arti materil. 3. Didirikan pada tahun 1945 berdasarkan piagam PBB. Sumber-Sumber Internasional Adalah sumber-sumber yang digunakan oleh Mahkamah Internasional dalam memutuskan masalah-masalah hubungan internasional. D. adalah system hukum positif yang didasarkan pada lembagaa hukum barat yang berdasarkan sebagaian besar pada asas hukum Romawi. artinya tidak dapat menimbulkan suatu kaidah hukum. • Pemberontak dan pihak yang bersengketa. dapat menjadi subyek internasional dalam arti terbatas. Menurut Brierly. Contoh PLO (Palestine Liberalism Organization) atau Gerakan Pembebasan Palestina. Mahkamah Internasional : Mahkamah internasional adalah lembaga kehakiman PBB berkedudukan di Den Haag. Belanda. sumber hukum internasional dalam arti formal merupakan sumber yang paling utama dan memiliki otoritas tertinggi dan otentik yang dipakai Mahkamah internasional dalam memutuskan suatu sengketa internasional. sebagai berikut : 1. termasuk mahkamah arbitrase. Yang disebut denga keputusan hakim. adalah asas hukum yang mendasari system hukum modern. Kebiasaan Internasional yang diterima sebagai hukum. adalah keputusan pengadilan dalam arti luas yang meliputi segala macam peradilan internasional dan nasional.adalah sumber hukum tambahan (subsider). berfungsi sejak tahun 1946 sebagai pengganti dari Mahkamah Internasional Permanen. C. Sumber hukum internasional dibedakan menjadi sumber hukumdalam arti materil dan formal. dalam keadaan tertentu pemberontak dapat memperoleh kedudukan dan hak sebagai pihak yang bersengketa dan mendapat pengakuan sedbagai gerakan pembebasan dalam memuntut hak kemerdekaannya. sebab telah diatur dalam perdamaian Persailes 1919 yang memungkinkan orang perseorangan dapat mengajukan perkara ke hadapat Mahkamah Arbitrase Internasional. Syaratnya adalah kebiasann itu harus bersifat umum dan diterima sebagi hukum. Sedangkan sumber hukum formal. Keputusan-keputusan hakim dan ajaran para ahli hukum Internasional. adalah sumber hukum internasional yang membahas dasar berlakunya hukum suatu Negara. adalah perjanjian yang diadakan antaranggota masyarakat bangsa-bangsa dan mengakibatkan hukum baru. jadi tidak semua kebiasaan internasional menjadi sumber hukum. 2. kebiasaan internasional. Sumber hukum internasional formal terdapat dalam pasal 38 Piagam Mahkamah Internasional Permanen 1920. Ajaran para ahli hukum internasional itu tidak bersifat mengikat. Sistem hukum modern. Perjanjian Internasional (traktat). adalah sumber dari mana untuk mendapatkan atau menemukan ketentuan-ketentuan hukum internasional. Asas-asas hukum umum yang diakui oleh bangsa beradab. dan asas hukum umum. . artinya dapat dipakai untuk membuktikan adanya kaidah hukum internasional mengenai suatu persoalan yang didasarkan pada sumber hukum primer atau utama yaitu Perjanjian internasional. 4.• Orang persorangan (Individu).

Contoh kasus Indonesia degan Malaysia mengenai Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan. • Negara bukan anggota PBB yang menjadi wilayah kerja Mahkamah intyernasional. • Memberikan opini-opini yang bersifat nasehat (Advisory Opinion). 2. Para pihak yang sengketa menundukkan diri pada perjanjian internasional diantara mereka. Ada 3 kategori Negara. Dan yang bukan wilayah kerja Mahkamah Internasional boleh mengajukan kasusnya ke Mahkamah internasional dengan syarat yang ditentukan dewan keamanan PBB. otomatis dapat mengajukan kasusnya ke Mahkamah Internasional.Mahkamah Internasional terdiri dari 15 hakim. Yuridiksi atau kewenangan yang dimiliki oleh . tanpa perlu membuat perjanjiankhusus. Beberapa kemungkinan Cara penerimaan Yuridikasi sbb : • Perjanjian khusus. • Keputusan Mahkamah internasional Mengenai yuriduksinya. Yuridikasi menjadi dasar Mahkamah internasional dalam menyelesaikan sengketa Internasional. Kewenangan atau Yuridiksi ini meliputi: • Memutuskan perkara-perkara pertikaian (Contentious Case). • Penundukan diri dalam perjanjian internasional. yaitu : • Negara anggota PBB. bila terjadi sengketa mengenai yuridikasi Mahkamah Internasional maka sengketa tersebut diselesaikan dengan keputusan Mahkamah Internasional sendiri. Rusia. dilakukan jika dimainta oleh salah satu atau pihak yang bersengketa. • Pernyataan penundukan diri Negara peserta statute Mahkamah internasional. • Penafsiran Putusan. Lima berasal dari Negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB seperti Cina. • Perbaikan putusan. • Negara bukan wilayah kerja (statute) Mahkamah internasional. masa jabatan 9 tahun. harus membuat deklarasi untuk tunduk pada ketentuan Mahjkamah internasional dan Piagam PBB. Inggris dan Prancis. mereka tunduk pada Mahkamah internasional. Mahkamah Pidana Internasional : Bertujuan untuk mewujudkan supremasi hukum internasional dan memastikan pelaku kejahatan internasional. adanya permintaan dari pihak yang bersengketa karena adanya fakta baru (novum) yang belum duiketahui oleh Mahkamah Internasional. dalam mhal ini para pihak yang bersengketa perjanjian khusus yang berisi subyek sengketa dan pihak yang bersengketa. Terdiri dari 18 hakim dengan masa jabatan 9 tahun dan ahli dibidang hukum pidana internasional. bila terjadi sengketa diantara para peserta perjanjian. Anggotanya direkrut dari warga Negara anggota yang dinilai cakap di bidang hukum internasional. Fungsi Mahkamah Internasional: Adalah menyelesaikan kasus-kasus persengketaan internasional yang subyeknya adalah Negara. Amerika serikat. Penapsiran dilakukan dalambentuk perjanjian pihak bersengketa. Yuridikasi Mahkamah Internasional : Adalah kewenangan yang dimilki oleh Mahkamah Internasional yang bersumber pada hukum internasional untuk meentukan dan menegakkan sebuah aturan hukum. dua merangkap ketua dan wakil ketua.

tidak seformal arbitrase dan Yudisial. Masing-masing Negara yang bersengketa menunjuk dua arbitrator. yaitu cara penyelesaian sengketa internasional dimana Negara mediator bersahabat dengan para pihak yang bersengketa. D. Yuridiksi atau kewenangan darai Panel khusus dan special pidana internasional ini. Salah satu pihak tidak memenuhi kewajibannya dalam mperjanjiann internasional. atau Negara dengan lembaga internasional yang menjadi subyek hukum internasional. Sebab-sebab sengketa internasional : 1. Perbedaan penafsiran mengenai isi perjanjian internasional 3. Penghinaan terhadap harga diri bangsa. Negosiasi. Jasa-jasa baik atau mediasi. meliputi : Arbitrase. Para arbitrator tersebut memilih seorang wasit sebagai ketua dari pengadilan Arbitrase tersebut. Adanya intervensi terhadap kedayulatan Negara lain. 5. 3. yaitu penyelesaian sengketa internasional dengan cara menyerahkannya kepada orang tertentu atau Arbitrator. E. atau keamanan regional dan internasional. Cara penyelesaian Sengketa internasional Ada dua cara penyelesaian segketa internasional. Negara dengan individu-individu. politik.Mahkamah Pidana Internasional adalah memutus perkara terhadap pelaku kejahatan berat oleh warga Negara dari Negara yang telah meratifikasi Statuta Mahkamah. 26 tahun 2000. 6. adalah penyelesaian sengketa internasional melalui suatu pengadilan internasional dengan memberlakukan kaidah-kaidah hukum. Sebab-sebab terjadinya Sengketa Internasional Sengketa internasional (International despute). 2. Terlebih dahulu dilakukan konsultasi dan komunikasi agar negosiasi dapat berjalan semestinya. yang dipilih secara bebas oleh mereka yang bersengketa. Putusan melalui suara terbanyak. 2. adalah : 1. kekerasan atau perang. • Penyelesaian secara damai. satu boleh berasal dari warga negaranya sendiri. namun keputusannya harus sesuai dengan kepatutan dan keadilan ( ex aequo et bono). Contoh Special Court for East Timor dan Indonesia membentuk Peradilan HAM dengan UU No. adalah menyangkut tindak kejahatan perang dan genosida (pembersihan etnis) tanpa melihat apakah Negara dari si pelaku itu telah meratifikasi atau belum terhadap statute panel khusus dan special pidana internasional ini. dan membantu . adalah perselisihan yang terjadi antara Negara dengan Negara. yaitu secara damai dan paksa. Panel Khusus dan Spesial Pidana internasional : Adalah lembaga peradilan internasional yang berwenang mengadili para tersangka kejahatan berat internasional yang bersifat tidak permanen atau sementara (ad hoc) dalam arti setelah selesai mengadili maka peradilan ini dibubarkan. Penyelesaian Yudisial. Perebutan sumber-sumber ekonomi 4. Perebutan pengaruh ekonomi. Prosedur penyelesaiannya. 3.

penilakan atas fakta yang disebutkan dan berisi dokumen pendukung. tapi dalam Penyelesaian secara Mediasi. Dididrikan pada tanggal 24 Oktober 1945 sebagai pengganti dari LBB (liga Bangsa-Bangsa). Contoh Dewan Keamanan PBB dalam penyelesaian konplik Indonesia Belanda tahu 1947. Contohnya : 1. Intervensi kolektif sesuai dengan piagam PBB. berisi fakta.penyelesaian sengketanya secara damai. Adalah tindakan yang dilakukan pada waktu damai. 2. Pertahanan diri. Intervensi (campur tangan). 3. Misalnya permintaan ganti rugi atas pelabuhan yang di blockade oleh Negara lain. Retorsi. • Penyelesaian secara pakasa. • Mekanisme Normal : 1. yaitu mekanisme normal dan khusus. Negara yang menjadi obyek intervensi dipersalahkan melakukan pelanggaran berat terhadap hukum internasional. atau penarika diri dari kesepakatan-kresepakatan fiscal dan bea masuk. 4. dalam arti luas adalah penyelesaian sengketa denga bantuan Negara-negara lain atau badan-badan penyelidik dan komite-komite penasehat yang tidak berpihak. tujuan PBB adalah menyelesaikan sengketa internasional secara damai dan menghindari ancaman perang. adalah pembalasan dendam oleh suatu Negara terhadap tindakan – tindakan tidak pantas yang dilakukan Negara lain. tapi merupakan suartu pembalasan. 2. Tindakan-tindakan pembalasan. Blokade secara damai. adalah cara penyelesaian sengketa internasional yang digunakan suatu Negara untuk mengupayakan memperoleh ganti rugi dari Negara lain. hukum yang relevan. Penyelidikan. F. Intervesi untuk melindungi hak-hak dan kepentingan warga negaranya. Penyelesian PBB. Konsiliasi. Adanya pemaksaan terhadap suatu Negara. 3. kekerasan atau perang : Perang dan tindakan bersenjata non perang. adalah suatu penyelesaian sengketa internasional melalui komisi atau komite dengan membuat laporan atau ussul penyelesaian kepada pihak sengketa dan tidak mengikat.adalah campur tanagn terhadap kemerdekaan politik tertentu secara sah dan tidak melanggar hukum internasional. Contoh menurunkan status hubungan diplomatic. Penyerahan perjanjian khusus yng berisi tdentitas para pihak dan pokok persoalan sengketa. tambahan fakta baru. Pembelaan tertulis. . Konsiliasi dalam arti sempit. pihak mediator berperan lebih aktif dan mengarahkan pihak yang bersengketa agar penyelesaian dapat tercapai. bertujuan untuk menaklukkan Negara lawan dan membebankan syarat penyelesaian kepada Negara lawan. Dalam penyelesaina dengan Jasa baik pihak ketiga menawarkan penyelesaian. Penyelesaian melalui Mahkamah internasional Ada dua mekanisme penyelesaian sengketa internasional melalui Mahkamah internasional. Presentasi pembelaan bersifat terbuka dan umum atautertutup tergantung pihak sengketa. adalah biasanya dipakai dalam perselisioshan batas wilayah suatu Negara dengan menggunakan fakta-fakta untuk memperlancar perundingan.

• Mekanisme Khusus : 1. • Indonesia dengan Malaysia terhadap kasus Pulau sipadan dan Ligitan. Pra pelakunya telah disidang dan dihukum. Pengadilan internasional telah dijalankan dan menghukum para penjahatnya.4.lakkan intervensi atas sengketa yangsedang disidangkan bahwa dengan keputusan Mahkamah internasional ada kemungkinan Negara tersebut dirugikan.Belanda. Intervensi. mahkamah internasional memberikan hak kepada Negara lain yang tidak terlibat dalam sengketa untuk me. Kasus internasional dianggap selesai apa bila : Para pihak mencapai kesepakatan Para pihak menarik diri dari prose persidangan Mahkamah internasional. 5. Mahkamah Internasional telah mengadili dan menhukum pelaku. • Jepang banyak membunuh rakyat Indonesia dengan Kerja paksa dan 10. Contoh Keputusan/kasus Mahkamah Internasioanal • Amerika serikat di Filipina : tahun 1906 tentara AS melakukan pembunuhan warga Filipina. dan Mahkamah internasional memenangkan pihak Malaysia pada ahun 2003. beberapa pihak disatukan untuk mengadakan sidang bersama karena materi sama terhadap lawan yang sama. 4. membunuh dan membakar 600 rakyat desa itu. supaya pihak sengketa tidak melakukan hal-hal yang mengancah efektivitas persidangan Mahkamah internasional. Kompi Amerika menyapu warga desa denga senjata otomatis dan menewaskan 500 orang. • Serbia di Bosnia dan Kroasia: anatar 1992-1995 pembersihan etnis kroasia dan Bosnia oleh Kroasia danmembunuh sekitar 700. Keputusan sela.000 rakyat Indonesia hilang. 2. Indonesia menghormatikeputusan tersebut. Ketidak hadiran salah satu pihak yang bersengketa. • Amerika serikat di Cina : pada tahun 1968 terjadi pristiwa My lai Massacre. biasanya dilakukan oleh Negara tergugat atau respondent karena menolak yuridiksi Mahkamah Internasional. Mahkamah internasional telah memutus kasus tersebut berdasarkan pertimbangan dan telah dilakukan ssuai proses hukum internasional yang berlaku. • Pembersihan etnis yahudi oleh Nazi Di jerman atas pimpinan Adolf Hitler. Beracara bersama. untuk memberikan perlindungan terhadap subyek persidangan. Malaysia adalah pemilik ke dua pulau tersebut.000 warga Bosnia dan Kroasia. • Pemerintah Rwanda terhadap etniks Hutu : Selama tiga bulan di tahu 1994 antara 500 samapai 1 juta orang etnis Hutu dan Tutsi telah dibunuh ioleh pemerintah Rwanda. Keputusan bersifat menyetujui dan penolakan. Para penjahat perangnya sampai sekarang masih menjalani proses persidangan di Den Haag. • Amerika serikat di Jepang : pada tahun 1945 lebih dari 40.000 rakyat Jepang meninggal akibat Bom Atom. G. 3. PBB menggelar pengadilan kejahatan perang di Arusha Tanzania dan hanya menyeret 29 penjahat perangnya. Para pelakunya telah di sidang di pengadilan militer amun banyak yang dibebaskan. Keberatan awal karena ada keberatan dari pihak sengketa Karen mahkamah intrnasional dianggap tidak memiliki yusidiksi atau kewenangan atas kasus tersebut. .

international criminal law and the international humanitarian law. Supranational law or the law of supranational organizations. International law is classified into two international civil law and public international law: 1. which addresses the questions of (1) in which legal jurisdiction may a case be heard. or in any other manner inconsistent with the purposes of the United Nations. Kompetensi Dasar: 1.law of sea. 2. Menjelaskan penyebab timbulnya sengketa internasional dan cara penyelesaian oleh Mahkamah Internasional 3. Considering that the progressive development and codification of the following principles: o (a) The principle that States shall refrain in their international relations from the threat or use of force against the territorial integrity or political independence of any State. Mendeskripsikan sistem hukum dan peradilan internasional 2. which concerns at present regional agreements where the special distinguishing quality is that laws of nation states are held inapplicable when conflicting with a supranational legal system. 3. Appreciating the decision of the International Court Handout 1. Private international law is the overall rules and principles of law governing civil relationships that cross state boundaries. (wikipedia) 3.• Kasaus Timor TImur diselesaikan secara Intrnasional dengan referendum. Explaining the cause of international disputes and the solution by the International Court 3. Public international law is the overall rules and legal principles that govern relationships or issues that cross state boundaries are not of civil 2. The term “international law” can refer to three distinct legal disciplines: 1. Menghargai putusan Mahkamah Internasional Basic Competency: 1. either as an individual or as a group. Describe the legal and International judicial system 2. . It includes the following specific legal field such as the treaty law. Dan sejak tahun 1999 Timor-Timur berdiri sebagai sebuah Negara bernama Republik Tomor Lorosae /Timor Leste. or conflict of laws. which governs the relationship between provinces and international entities. Private international law. Public international law. and (2) the law concerning which jurisdiction(s) apply to the issues in the case. 2.

Negara Vatikan PMI Organisasi Internasional Perseorangan Pemberontak SUMBER HUKUM DAN PERADILAN INTERNASIONAL Landasan hukum yang menjadi sumber hukum internasional adalah: 1. (g) The principle that States shall fulfil in good faith the obligations assumed by them in accordance with the Charter.o o o o o o (b) The principle that States shall settle their international disputes by peaceful means in such a manner that international peace and security and justice are not endangered. (c) The duty not to intervene in matters within the domestic jurisdiction of any State. Pasal 7 Konvensi ke-12 di Den Haag tanggal 18 oktober 1907 2. Prof. 4. Pandangan klasik/tradisional mengartikan bahwa hukum internasional adalah sistem hukum yang mengatur hubungan negara-negara (antar negara). SUBJEK HUKUM INTERNASIONAL Subjek hukum internasional adalah sebagai berikut 1. Masalah HAM . Masalah Ekonomi 4. in accordance with the Charter. (d) The duty of States to co-operate with one another in accordance with the Charter. Pasal 38 Statuta Mahkamam Internasional tanggal 16 desember 1920 PENYEBAB SENGKETA INTERNASIONAL Beberapa hal yang menyebabkan sengketa internasional adalah sebagai berikut: 1. 2. PENGERTIAN HUKUM INTERNASIONAL Hugo de Groot (Grotius) dalam bukunya De Jure belli ac pacis (perihal perang dan damai). Masalah Politik 3. 5. 3. (e) The principle of equal rights and self-determination of peoples. mengemukakan bahwa hukum dan hubungan internasional didasarkan pada kemauan bebas dan persetujuan beberapa atau semua negara. (f) The principle of sovereign equality of States. Hyde mengemukakan bahwa hukum internasional adalah sekumpulan hukum yang sebagian besar terdiri atas asas-asas dan peraturan -peraturan tingkah laku yang mengikat negara-negara dan ditaati dalam hubungan negara-negara satu sama lain. Masalah Wilayah 2. 6.

.. Menteri luar negeri Indonesia). Pernyataan pers dari DR.45 (WIB) telah mengeluarkan keputusannya tentang kedaulatan atas pulau Sipadan dan pulau Ligitan antara Indonesia dan Malaysia.1 Latar Belakang Sistem peradilan internasional adalah salah satu proses yang menjelaskan tentang hubungan peradilan yang bekerja sama secara luas dengan bangsa lain.. Namun.. (Jakarta.Hassan Wirajuda. ARBITRASE (ARBITRATION) BUAT BANGSA INDONESIA. AJUDIKASI (ADJUDICATION) b. yakni mengetahui peradilan internasional secara luas..atau pukul 4 sore waktu Jakarta..... pada sidang yang dimulai pada pukul 10 pagi waktu Deen Haag. 17 Desember 2002.. Generasi muda coba deh tunjukkan cintamu untuk Indonesia !. Selain itu Negara Indonesia juga bisa mengambil contoh peradilan di Negara-negara lain.CARA PENYELESAIAN SENGKETA INTERNASIONAL OLEH MAHKAMAH INTERNASIONAL a..betul ga'? BUKTIKAN!!! BAB I PENDAHULUAN 1.. hukum di . "Hari ini. Karena sisrtem peradilan internasional bersikap luas.RENUNGKANLAH.N. seiring dengan berjalannya waktu dan perkembangan zaman. Mahkamah Internasional pada pukul 17..... Tujuan utama.. maka masyarakat pun juga mengambil andil di dalam pelaksanaannya. dan kita harus bangga menjadi orang Indonesia..Dan akhirnya sesuai keputusan Mahkamah Internasional pulau tersebut mennjadi milik MALAYSIA.

1. 1. Bagaimana hukum pidana secara layak dan adil itu terlaksana? . Terdiri dari apa saja komponen-komponen lembaga Peradilan Internasional? 3.negara Indonesia menjadi lemah atau tidak menjunjung tinggi keadilan di dalam hukum.3 Rumusan Masalah 1.2 Tujuan Penulisan Tujuan yang ingin dicapai dalam makalah ini adalah memperoleh gambaran tentang sistem peradilan internasional dan menjelaskan tentang proses hukum yang adil (layak). Apa yang dimaksud Sistem Peradilan Internasional? 2.

Dengan diferensiasi dimungkinkan untuk menimbulkan daya adaptasi masyarakat yang lebih besar terhadap lingkungannya. Setiap sistem hukum menunjukkan empat unsur dasar.1 Pengertian Sistem Peradilan Internasional Kata sistem dalam kaitannya dengan peradilan internasional adalah unsur-unsur atau komponen-komponen lembaga peradilan internasional yang secara teratur saling berkaitan sehingga membentuk suatu kesatuan dalam rangka mencapai keadilan internasional. Melalui diferensiasi ini suatu masyarakat terurai ke dalam bidang spesialisasi yang masingmasing sedikit banyak mendapatkan kedudukan yang otonom. Dengan demikian tinjauan perkembangan hukum difokuskan pada hubungan timbal balik antara diferensiasi hukum dengan diferensiasi sosial yang dimungkinkan untuk menggarap kembali peraturan-peraturan. Perkembangan demikian ini menyebabkan susunan masyarakat menjadi semakin komplek. proses penyelenggaraan hukum. Diferensiasi itu sendiri merupakan ciri yang melekat pada masyarakat yang tengah mengalami perkembangan. penerapan peraturan. yaitu: pranata peraturan. Komponen-kompenen tersebut terdiri dari mahkamah internasional. . prosedur pemberian keputusan oleh pengadilan dan lembaga penegakan hukum. pengadilan dan penegakan hukum serta pengaruh diferensiasi lembaga dalam masyarakat terhadap unsur-unsur dasar tersebut. keadilan dan institusi penegak hukum. Dalam hal ini pendekatan pengembangan terhadap sistem hukum menekankan pada beberapa hal. mahkamah pidana internasional dan panel khusus dan spesial pidana internasional. yaitu: bertambah meningkatnya diferensiasi internal dari keempat unsur dasar system hukum tersebut. menyangkut perangkat peraturan.BAB II PEMBAHASAN 2. kemampuan membentuk hukum.

komposisi MI terdiri dari 15 hakim. Statuta adalah hukum-hukum yang terkandung.Sebagai salah satu sub-sistem dalam masyarakat. hukum tidak terlepas dari perubahan-perubahan yang terjadi masyarakat. yang kedudukan di Den Haag. 2. Belanda.2 Mahkamah Internasional MI adalah organ utama lembaga kehakiman PBB. perubahan dalam jangkauan ruang lingkup hukum internasional dan perubahan-perubahan lain. peralihan tanggung jawab dari tuntutan ganti rugi ke ansuransi. perubahan fungsi dari perjanjian kontrak. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hukum sangat dipengaruhi oleh perubahan yang terjadi di sekelilingnya. Hukum disamping mempunyai kepentingan sendiri untuk mewujudkan nilai-nilai tertentu di dalam masyarakat terikat pada bahan-bahan yang disediakan oleh masyarakatnya. Mahakamah ini mulai berfungsi sejak tahun 1946 sebagai pengganti MIP. perubahan di dalam menafsirkan hukum perundang-undangan. untuk memilih anggota mahkamah dilakukan pemungutan suara secara independen oleh majelis MU dan Dewan Keamanan (DK). Pasal 9 Statuta MI menjelaskan. Ke-15 calon hakim tersebut direkrut dari warga negara anggota yang dinilai cakap dibidang hukum internasional. perubahan pembatasan hak milik yang bersifat publik. Menurut Wolfgang Friedmann perubahan hukum dalam masyarakat yang sedang berubah meliputi perubahan hukum tidak tertulis (common law). . Biasanya 5 hakim MI berasal dari anggota tetap DK PBB. tugasnya untuk memeriksa dan memutuskan perkara yang disidangkan baik yang bersifat sengketa maupun yang bersikap nasihat. perubahan konsepsi mengenai hak milik umpamanya dalam masyarakat industri moderen. Yurisdiksi adalah kewenangan yang dimiliki oleh MI yang bersumber pada hukum internasional untuk menentukan dan menegakan sebuah aturan hukum. Fungsi utama MI adalah untuk menjelaskan kasus-kasus persengkataan intersional yang subjeknya adalah negara.

perjanjian khusus 2. Kejahatan perang 4. Penafsiran putusan 6. Jenis kejahatan berat pada pasal 5-8 statuta yaitu sebagai berikut: 1.4 Panel khusus dan spesial pidana internasional Panel khusus pidana internasional (PKPI) dan Panel spesial pidana internasional (PSPI) adalah lembaga peradilan internasional yangberwenang mengadili para tersangka kejahatan berat internasional yang bersifat tidak permanen. Kejahatan genosida 2. Kejahatan terhadap kemanusiaan 3. Perbaikan putusan 2. Penundukkan diri dalam perjanjian Internasional. . Pernyataan penundukan diri negara peserta statuta MI 4. Beberapa kemungkinan cara penerimaan tersebut: 1. yang mewujudkan supremasi hukum internasional yang memastikan bahwa pelaku kejahatan berat internasional di pidana. peradilan ini dibubarkan. Artinya selesai mengadili. Kejahatan agresi 2. Keputusan MI mengenai Yurisdiksinya 5.meliputi: memutuskan perkara-perkara pertikaian dan memberikan opini-opini yang bersifat nasihat. 3.3 Mahkamah Pidana Internasional MPI adalah Mahkamah Pidana Internasional yang berdiri permanen berdasarkan traktat multilateral.

2. yaitu “due process of law” yang dalam bahasa Indonesia dapat diterjemahkan menjadi proses hukum yang adil atau layak.5 Proses Hukum yang Adil atau Layak Di dalam pelaksanaan peradilan pidana. . Secara keliru arti dari proses hukum yang adil dan layak ini seringkali hanya dikaitkan dengan penerapan aturan-aturan hukum acara pidana suatu Negara pada seorang tersangka atau terdakwa. Pada PSPI komposisi penuntut dan hakim ad hoc-nya merupakan gabungan antara peradilan nasional dan internasional. Paling tidak hak-hak untuk didengar pandangannya tentang peristiwa yang terjadi. juga harus didukung oleh sikap batin penegak hukum yang menghormati hak-hak warga masyarakat. Pemahaman tentang proses hukum yang adil dan layak mengandung pula sikap batin penghormatan terhadap hak-hak yang dipunyai warga masyarakat meskipun ia menjadi pelaku kejahatan. ada satu istilah hukum yang dapat merangkum cita-cita peradilan pidana.Perbedaan antara PKPI dan PSPI terletak pada komposisi penuntut dan hakim ad hoc-nya. hak didampingi penasehat hukum dalam setiap tahap pemeriksaan. Padahal arti dari due process of law ini lebih luas dari sekedar penerapan hukum atau perundang-undangan secara formil. Namun kedudukannya sebagai manusia memungkinkan dia untuk mendapatkan hak-haknya tanpa diskriminasi. Konsekuensi logis dari dianutnya proses hukum yang adil dan layak tersebut ialah sistem peradilan pidana selain harus melaksanakan penerapan hukum acara pidana sesuai dengan asas-asasnya. hak memajukan pembelaan dan hak untuk disidang dimuka pengadilan yang bebas dan dengan hakim yang tidak memihak. Sedangkan pada PKPI komposisi sepenuhnya ditentukan berdasarkan ketentuan peradilan internasional.

8 Tahun 1981. Selain itu diharapkan pula penegakan hukum berdasarkan undang-undang tersebut memberikan kekuasaan kehakiman yang bebas dan bertanggung jawab. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa untuk mendapatkan pengakuan terhadap HAM harus melalui perjalanan yang sangat panjang. kehidupan hukum Indonesia telah meniti suatu era baru. yaitu kebangkitan hukum nasional yang mengutamakan perlindungan hak asasi manusia dalam sebuah mekanisme sistem peradilan pidana.Dengan keberadaan UU No. Namun semua itu hanya terwujud apabila orientasi penegakan hukum dilandaskan pada pendekatan sistem. Bahkan menurut Almaududi. Dengan demikian HAM dapat ditegakkan tanpa batas ruang dan waktu. yaitu mempergunakan segenap unsur yang terlibat didalamnya sebagai suatu kesatuan dan saling interrelasi dan saling mempengaruhi satu sama lai INSTRUMEN HUKUM DAN PERADILAN INTERNASIONAL HAM 1. diharapkan sejak awal sudah dapat diberikan dan ditegakkan. Akan tetapi tidak sedikit pula yang meyakini bahwa jaminan HAM sesungguhnya telah tertampung sejak 600 tahun sebelumnya tepatnya dengan lahirnya piagam Madinah pada masa awal Islam. Pengakkan HAM secara internasional dapay didasarkan pada instrument Ham internasional yang terdiri atas berbagai jenis dasar hokum seperti berikut : . Perlindungan hak-hak tersebut. Oleh karena itu patut kita syukuri bahwa sekarang HAM sudah diakui secara Internasional. INSTRUMEN HAM INTERNASIONAL Banyak pakar HAM yang berpendapat bahwa lahirnya gagasan terhadap jaminan hak asasi manusia dimulai dengan adanya perjanjian Magna Charta. perlindungan yang terangkum dalam Piagam Madinah ini lebih komperhensif jika dibandingkan dengan konsep Ham dalam Magna Charta.

kebebasan mempertahankan Hak Asasi Manusia dan keadilan. independence. 4 kebebasan tersebut sebagai beikut : 1. Kebebasan dari ketakutan (Freedom from Fear) 4. Pernyataan tentang HAM dalam deklarasi PBB ini tercermin dalam penggalan dan kalimat yang beragama berbunyi serta “bahwa untuk kemenangan adalah penting untuk menjaga kehidupan. memberikan pesan yang ditujukan kepada kongres tentang 4 (The four freedom) yang diupayakan untuk dipertahankan di dalam perang. Hak Sosial (Pasal 22 – 23). berisi kebebasan mengeluarkan pendapat dan berserikat 2.A. Rossevelt. Rossevelt yang telah dijelaskan di atas. Kebebasan dari kekurangan (Freedom from Want) B. Hak Kebebasan Politik (Pasal 2 – 21). Adapun rincian Ham dalam piagam HAM PBB sebagai berikut : 1. berisi antara lain kebebasan memperoleh pekerjaan 3. Pernyataan umum HAM atau Deklarasi Universal HAM ini dipengaruhi oleh 4 macam kebebasan yang disampaikan oleh Presiden Amerika Serikat. PBB akhirnya dapat menghasilkan Uiversal Declaration of Human Rights pada tanggal 10 Desember1948 yang terdiri atas 30 pasal. kebebasan. Kebebasan untuk berbicara dan menyatakan (Freedom of Speech) 2. Franklin D. Kebebasan beragama (Freedom of Religion) 3.” Berkaitan dengan hal tersebut Presiden Amerika Serikat. Franklin D. Hak Beristirahat dan Hiburan (Pasal 24) . Declaration by United Nation (Deklarasi Perserikatan Bangsa – Bangsa) Deklarasi Perserikatan Bangsa – Bangsa diterbitkan pada tanggal 1 January 1942. Universal Declaration of Human Rights (Deklarasi Universal HAM) Setelah perang dunia II selesai.

Sekalipun suatu Negara berusaha mengikuti pernyataan tersebut. perhatian dunia internasional yang diwakili oleh PBB tampak meningkat setelah .4. di Wina diadakan kofrensi tentang HAM untuk organisasi – organisasi non pemerintah yang menghasilkan deklarasi Wina tentang HAM bagi NGO. kenyataan pelaksanaannya disesuaikan dengan kepentingan nasional tiap – tiap budaya setempat. Hak Asasi menikmati kehidupab social dan internasional (Pasal 28) 8. Akan tetapi. Deklarasi ini mengeaskan secara perbedaan keuniversalan atas latar belakang HAM umat dan keharusan tanpa hukum dan penerapannya memperhatikan menyeluruh manusia semua anggota PBB secara moral berkewajiban pada untuk melaksanakan pernyataan tersebut. untuk Negara. C. 5. antara lain berisi kebebasan memperoleh pendidikan 6. 2 tahun setelah bubarnya Uni Soviet. 2. Hak akan Tingkatan Dasar Penghidupan yang Cukup Bagi Penjagaan Kesehatan dan Keselamatan serta Keluarganya Hak Asasi Pendidikan (Pasal 26). Kewajiban – kewajiban yang harus dipenuhi dalam melaksanakan hak asasi (Pasal 29 – 30) Meskipun pernyataan HAM PBB tersebut bukan merupakan konvension atau perjanjian yang harus ditaati oleh semua anggota PBB. KASUS – KASUS PELANGGARAN HAM INTERNASIONAL Pada dasarnya kasus – kasus terjadinya pelanggaran HAM sangat marak terjadi dan telah berlangsung sejak lama. Deklarasi ini juga menolak klaim nuansa perbedaan HAM antara satu masyarakat dengan masyarakat yang lainnya. Hak Asasi dalam Bidang Kebudayaan (pasal 27) 7. Deklarasi Wina tentang HAM bagi NGO Pada tahun 1973.

Sejumlah pasukan perang sebanyak 85 . mereka melakukan kebijakan yang merugikan warga kulit hitam. Demikian juga pada tahun 1976 terjadi peristiwa berdarah yang menewaskan banyak warga sipil. Misalnya dengan penangkapan secara masal terhadap lawan – lawan politiknya. 1960 di Republik Afrika Selatan Ketika rezim apartheid yang didominasi orang – orang kulit putih berhasil menguasai pemerintahan di Afrika Selatan. Lawan – lawan politik yang tidak segaris dengan pemikirannya ditangkap dan dibunuh. 1933 di Jerman Adolf Hitler yang berhasil memenangkan pemilu melalui Partai Buruh Jerman Sosialis memimpin Jerman dengan sangat otoriter.terjadinya Perang Dunia II yang telah menewaskan banyak umat manusia. Mussolini telah menduduki Negara asing seoerti Etiophia dan Albania. 1924 di Italia Benito Mussolini telah mendirikan sekaligus memimpin [aham fasisme di Italia. c. Banyak kejahatan kemanusiaan pada waktu itu. Ia telah memerintah pada tahun 1924 – 1943 dengan sangat otoriter. d. Diantara contoh pelanggarn HAM Internasional yang terjadi menurut urutan waktu sebagai berikut : a. Diantara peristiwa yang memakan korban adalah terbunuhnya 77 orang dari kalangan sipil pada peristiwa Sharpeville. pembasmian terhadap orang – orang yahudi. Ia juga salah seorang pencetus Perang Dunia II dan berkoalisi dengan Hitler untuk melawan sekutu b. menduduki Chekoslovakia dan Austria serta memicu tejadinya PD II. 1979 di Uni Soviet Negara Uni Soviet atau sekarang Rusia telah melakukan penyerangan berkepanjangan di Afganistan yang berlangsung pada tahun 1979 hingga 1990 an. terutama murid – murid sekolah.

Komunitas internasional melalui Statuta Roma telah menyepakati adanya 4 jenis kejahatan yang masuk dalam kategori kejahatan internasional sebagai berikut : 1) Kejahatan genosida (The crime of genocide) 2) Kejahatan kemanusiaan (Crimes against humanity) . Dalam perang di Bosnia tersebut terjadi pembunuhan masal terhadap 8000 warga muslim Bosnia di Srebenica. e. Berkaitan dengan upaya penanganan pelanggaran HAM internasional. ICC dibentuk berdasarkan perjanjian antarnegara yang diber nama Rome Statute of the International Criminal Court atau popular dengan sebutan Statuta Roma tahun 1998. a. ada beberapa peradilan yang mempunyai kewenangan untuk melakasanakannya seperti berikut.ribu tentara didatangklan dari Uni Soviet untuk bertempur di Afganistan sehingga makan banyak korban. Srebenica adalah daerah kantong bagi penduduk Muslim Bosnia. 3. PERADILAN INTERNASIONAL HAM Peradilan Internasional mengandung pengertian upaya penyelesaian masalah dengan menerapkan ketentuan – ketentuan hokum internasional yang dilakukan oleh peradilan internasional yang dibentuk secara teratur. baik militer maupun sipil. 1992 – 1995 di Serbia Bosnia Pada tahun 1992 – 1995 terjadi perang di Bosnia yang dipimpin oleh Radofan Karadzic. Peradilan internasional ini dilakukan oleh Mahkamah Internasional dan badan – badan peradilan lainnya. Dalam perang tersebut Radofan Karadzic bertekad untuk melakukan pembersihan etnis kepada warga non Serbia. Mahkamah Pidana Internasional (Intenational Crime Court) International Crime Court merupakan pengadilan internasional yang bersifat permanent untuk mengadili para pelaku kejahatan internasional.

. Selain itu. sheingga menyebabkan terjadinya kejahatan – kejahatan yang berada dalam lingkup kejahatan internasional. Dengan demikian. dapat dikatakan bahwa ICC merupakan pengadilan komplementar dari suatu pengadilan nasional. Mahkamah Pidana Internasional memiliki yurisdiksi untuk mengadili dan meminta pertanggungjawaban individu/perseorangan melakukan. jika Negara yang bersangkutan dianggap tidak memiliki atau kemauan. ICC ini berbeda dengan International Court of Justice (ICJ) atau Mahkamah Internasional. ICC berlaku bagi Negara – Negara yang telah meratifikasinya. Mahkamah internasional mempunyai kewenangan untuk memeriksa dan memutus kasus sengketa antar Negara (Contentious case) yang lebih bersifat keperdataan serta memberikan fatwa (advisory opinion).3) Kejahatan perang (War crimes) 4) Kejahatan perang agresi (The crime of aggression) Berdasarkan Statuta Roma. Keberadaan ICC telah efektif sejak tanggal 1 Juli 2002 setelah 60 negara meratifikasinya. Perbedaannya terletak pada kewenangannya. ICC juga dapat mengadili kasus pelanggaran dengan didasarkan ata resolusi PBB. (Individual dan criminal memberikan responsibility) perintah yang memfasilitasi. Namun. ICC mempunyai wewenang untuk mengadili kejahatan – kejahatan HAM internasional seperti yang tercantum dalam Statuta Roma.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful