P. 1
Referensi Bagi Hakim Peradilan Agama, Tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga

Referensi Bagi Hakim Peradilan Agama, Tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga

4.83

|Views: 6,870|Likes:
Published by Hukum, Inc.
Buku Referensi Bagi Hakim Peradilan Agama, Tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga oleh Komnas Perempuan
Buku Referensi Bagi Hakim Peradilan Agama, Tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga oleh Komnas Perempuan

More info:

Categories:Types, Research, Law
Published by: Hukum, Inc. on Aug 26, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial Share Alike

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/28/2013

pdf

text

original

Sebagaimana telah disebutkan pada bab pertama, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT)

merupakan salah satu bentuk kekerasan berbasis gender, yakni kekerasan yang terjadi karena

adanya asumsi gender dalam relasi laki-laki dan perempuan yang dikonstruksikan masyarakat.

KDRT bukan sekedar percekcokan atau perselisihan antara suami istri. Perselisihan antara suami

dan istri dalam rumah tangga adalah hal biasa, karena pertemuan dua individu yang berbeda

dalam satu rumah, pasti akan menghadirkan perbedaan keinginan dan harapan. Keadaan ini

memungkinkan terjadinya perselisihan dan percekcokan. KDRT lebih buruk dari sekedar

perselisihan dalam rumah tangga. KDRT bersumber pada cara pandang yang merendahkan

martabat kemanusiaan dan relasi yang timpang, serta pembakuan peran-peran gender pada

seseorang. Dengan demikian, KDRT bisa menimpa dan terjadi pada siapa saja yang hidup dalam

rumah tangga. Bisa terjadi pada istri, suami, ibu, anak, saudara atau pekerja rumah tangga (PRT)

yang hidup dalam satu rumah. Tetapi, perempuan lebih banyak menjadi korban KDRT karena

konstruksi masyarakat yang masih patriarkhi.

Kekerasan adalah segala tindakan yang mengakibatkan kesakitan. Selama ini memang

kesakitan belum pernah didefinisikan. Jika kesakitan merupakan kondisi kebalikan dari kesehatan,

kita bisa mengambil definisi kesehatan dari UU Kesehatan No. 23 tahun 1992. Kesehatan adalah:

3.1

31

“Keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara

sosial dan ekonomi”. Sementara menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO); “Kesehatan adalah

keadaan sempurna, baik fisik, mental, maupun sosial dan tidak hanya terbebas dari penyakit dan cacat”.

Berarti, ada empat aspek kesehatan; fisik, mental, sosial dan ekonomi. Setiap individu, atau

kelompok masyarakat tidak memenuhi semua indikator kesehatan ini, maka ia dapat dikatakan

tidak sehat atau sakit. Karena itu, kesakitan pun memiliki empat aspek; fisik, mental, sosial dan

ekonomi, begitupun kekerasan. Termasuk kekerasan dalam rumah tangga. (Komnas Perempuan,

2007: hal. 7-9).

Kekerasan dalam rumah tangga, sebagaimana disebutkan dalam UU PKDRT No. 23 Tahun

2004, adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat

timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran

rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan

kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.

Sesungguhnya kekerasan yang dialami seorang istri memiliki dimensi yang tidak tunggal.

Seseorang yang menjadi korban kekerasan fisik, biasanya ia telah mengalami kekerasan psikis

sebelumnya dan sesudahnya. Tidak sedikit juga yang mengalami kekerasan dan penelantaran

ekonomi. Kekerasan fisik bisa muncul dalam berbagai bentuk dan rupa. mulai dari menampar,

menempeleng, memukul, membanting, menendang, membenturkan ke benda lain sampai bisa

jadi menusuk dengan pisau bahkan membakar. Dalam banyak kasus yang terjadi, kekerasan

fisik yang dialami perempuan banyak yang mengakibatkan cidera berat, cacat permanen, bahkan

kehilangan nyawa. Bisa jadi, kekerasan fisik itu tidak memiliki dampak, atau hilang bekas fisiknya,

tetapi hampir selalu memiliki implikasi psikologis dan sosial pada korbannya.

Kekerasan non-fisik atau kekerasan mental —kekerasan yang mengarah pada serangan

terhadap mental/psikis seseorang, merupakan yang paling banyak terjadi dalam kasus-kasus

yang dilaporkan lembaga-lembaga pendamping. Bisa berbentuk ucapan-ucapan menyakitkan,

kata-kata kotor, bentakan, penghinaan, ancaman. Perempuan dijadikan sasaran pelampiasan,

bisa jadi karena faktor-faktor yang ada di luar rumah tangga. Tidak sedikit juga, yang justru

dibalik, perempuan sebagai korban ditempatkan sebagai pelaku oleh suami, dengan

memutarbalikkan fakta. Ia mengungkapkan: “Istri saya menyakiti saya karena berbicara dengan laki-

laki lain; Ia sengaja menghina saya dengan menyediakan makanan yang tidak saya sukai; Ia sama sekali

tidak menghormati saya sebagai suami”. Ini adalah bentuk pemutarbalikan fakta, yang justru

seringkali didukung budaya dan keluarga, sehingga perempuan semakin terpuruk dan tidak

memperoleh dampingan yang memadai.

Kekerasan berdimensi ekonomi yang dialami perempuan, termasuk yang terbanyak terjadi

pada kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga. Sekalipun dalam konstruksi masyarakat di

Indonesia, laki-laki ditempatkan sebagai kepala rumah tangga yang berkewajiban untuk mencari

dan memberi nafkah kepada istri, tetapi tidak sedikit dari mereka yang menelantarkan istri dan

anak-anak. Bahkan ada yang secara sengaja mengontrol pendapatan istri, melarang istri bekerja

tetapi juga tidak memberikan uang atau pendapatan yang cukup untuk keluarga.

Kekerasan seksual, yakni kekerasan yang mengarah kepada serangan terhadap seksualitas

seseorang, bisa berupa pemaksaan hubungan seksual (perkosaan), pemukulan dan bentuk-

bentuk kekerasan lain yang menyertai hubungan intim; bisa sebelum atau sesudah hubungan

intim, pemaksaan berbagai posisi dan kondisi hubungan seksual, pemaksaan aktivitas tertentu,

32

REFERENSI BAGI HAKIM PERADILAN AGAMA
TENTANG KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

pornografi, penghinaan terhadap seksualitas perempuan melalui bahasa verbal, ataupun

pemaksaan pada istri untuk terus menerus hamil atau menggugurkan kehamilan. Kekerasan

seksual yang dialami perempuan, biasanya disertai dengan kekerasan-kekerasan lain, baik fisik,

mental, maupun ekonomi. Dan yang pasti tidak saja berdampak pada organ seks/reproduksi

secara fisik, namun juga berdampak pada kondisi psikis atau mental.

Kasus-kasus di bawah ini, bisa menggambarkan betapa seriusnya kekerasan terhadap

perempuan, dilakukan ‘suami tercinta’ dan di dalam rumah tangga yang diasumsikan sebagai

‘rumah yang aman’ dan ‘tempat menyemai rasa kasih dan sayang’.

“Pada bulan Pebruari 1994, seorang perempuan bernama Zainab yang tengah sekarat dibawa
suaminya, Hail Syarif, seorang imam masjid ke sebuah rumah sakit dekat Rawalpindi, Pakistan.
Menurut suaminya, korban menderita luka bakar akibat terjatuh ke dalam minyak yang sedang
mendidih. Hasil pemeriksaan dokter menyatakan bahwa Zainab menderita luka bakar akut di
bagian dalam tubuhnya sehingga tak punya harapan hidup lagi. Namun Allah Maha Besar,
ternyata keadaan Zainab semakin membaik dan nyawanya tertolong. Korban kemudian
bersaksi bahwa vaginaya ditusuk oleh sang suami dengan sebatang besi merah yang
membara. Kasus ini dibawa ke pengadilan. Hail Syarif dihukum seumur hidup. Sementara
Zainab atas biaya pemerintahan PM Benazir Bhutto dirawat di sebuah rumah sakit di London”.

(Ciciek Farha, 1999: 16).

“Ia bernama “H”, berusia 30 tahun, baru saja melahirkan anaknya yang ketiga. Dalam sepuluh
tahun usia perkawinan, suami sangat jarang memberikan nafkah, sering ‘main perempuan’,
dan seringa pula melakukan kekerasan. Saat mengandung anak ketiga ia tidak mampu lagi
bertahan, terjadi perpisahan, dan dua anaknya tinggal bersama keluarga besar suami. Suatu
hari, ia datang menjenguk anak-anak, mendapati bahwa anak, suami dan perempuan
‘simpanan’ suami sedang berada di kamar tidur. Terjadilah pertengkaran yang berbuntut
penganiyaan, bahkan keluarga besar suami ikut menganiaya “H”. “H” jatuh tidak sadarkan diri,
dan dua hari kemudian kehilangan nyawanya. Kasus ini sampai ke pengadilan, tetapi suami
tidak terjerat hukuman”. (Pendampingan Kalyanamitra, catatan tahun 2000).

“Mar, anak sulung dari 4 bersaudara berumur 18 tahun, belum menikah, tidak bersekolah lagi,
dan bekerja mencari nafkah sebagai tukang cuci pakaian. Beberapa hari setelah tsunami,
bersama kedua orang tuanya, Mar dan adik-adiknya pulang ke kampung di Kecamatan
Kembang Tanjung Pidie untuk melihat kondisi rumah yang tertinggal dan mencoba
membersihkannya. Setelah seharian bekerja di sana, ibunya memutuskan kembali ke tenda
pengungsian. Mar dan ketiga adiknya tinggal di rumah bersama ayahnya. Beberapa malam
kemudian, ketika semuanya tertidur, Mar diperkosa ayahnya. Kejadian ini tak berani Mar
ceritakan kepada siapa pun. Dua bulan kemudian, ibunya melihat ada yang lain pada diri Mar.
Sambil membujuk, ibunya pun bertanya, kuatir ada masalah yang dihadapi Mar. Mar tidak
mau membuka masalahnya, dia hanya berkata takut pada ayahnya. Kemudian ibunya
membawa Mar ke bidan. Ternyata Mar sudah hamil dua bulan. Barulah Mar mengakui bahwa
pelakunya adalah ayahnya. Awalnya ibu tidak percaya dan marah, tetapi Mar meyakinkan
ibunya. Karena takut dan malu, bulan Mei 2005, ayah dan ibu Mar membawa semua keluarga
nya pindah dari desa asalnya, tanpa memberitahukan penduduk setempat ke mana mereka
pindah”. (Komnas Perempuan, 2006: hal. 42).

“Rita tidak jarang dipukul suaminya, bila Rita menanggapi kemarahan suaminya. Menurut
suaminya, ia memukuli istrinya karena Rita menjawabnya saat ia marah. Menurutnya, istri
harus diam, kalau tidak nanti dipukul lagi. Tetapi sering bingung, karena suaminya juga marah

33

kalau Rita diam saja, tidak menanggapi kemarahan suaminya. Bahkan dalam keadaan seperti
itu suaminya juga dapat menjadi-jadi kemarahannya”. (Penelitian Soetrisno, dari Komnas
Perempuan, 2002: 80).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->