P. 1
Referensi Bagi Hakim Peradilan Agama, Tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga

Referensi Bagi Hakim Peradilan Agama, Tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga

4.83

|Views: 6,871|Likes:
Published by Hukum, Inc.
Buku Referensi Bagi Hakim Peradilan Agama, Tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga oleh Komnas Perempuan
Buku Referensi Bagi Hakim Peradilan Agama, Tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga oleh Komnas Perempuan

More info:

Categories:Types, Research, Law
Published by: Hukum, Inc. on Aug 26, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial Share Alike

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/28/2013

pdf

text

original

Keadilan adalah kondisi di mana setiap orang, dalam masyarakat tertentu secara umum,

memperoleh apa saja yang menjadi haknya dan memperoleh bagian kekayaan dari kekayaan

kita bersama. Kondisi sebaliknya adalah ketidakadilan. (Agnes Widanti, 2005: hal. 6). Seperti yang

disebutkan di atas, ketidakadilan gender terkait dengan aspek relasi laki-laki dan perempuan.

Ketika struktur sosial dan budaya menempatkan relasi gender secara timpang, maka akan lahir

ketidakadilan gender. Analisis gender mengenalkan lima bentuk ketidakadilan, sebagai salah

satu cara untuk mengenali ketimpangan relasi laki-laki dan perempuan. Yaitu; subordinasi,

marjinalisasi, beban ganda, kekerasan dan stereotipe.

a. Subordinasi

Ordinat adalah titik pusat, sementara subordinat adalah sesuatu yang bergantung pada titik

tersebut. Secara sederhana, subordinasi berarti pengkondisian atau penetapan seseorang pada

keadaan yang tidak mandiri, tidak diakui dan tentu saja tidak diperhitungkan. Kecuali dia harus

melekat dan bergantung, atau subordinat pada orang lain. Relasi gender yang timpang bisa

mengakibatkan subordinasi salah satu jenis kelamin, biasanya perempuan, yaitu ketika

keberadaan perempuan tidak diakui dan tidak diperhatikan.

Jika perempuan akan memutuskan suatu hal tentang dirinya, dia harus melibatkan orang

lain yang laki-laki. Bahkan keputusan dirinya tidak dianggap dan tidak diakui. Jika ingin membikin

kartu tanda penduduk misalnya, mengurus paspor, membuka rekening di bank, atau mendirikan

16

REFERENSI BAGI HAKIM PERADILAN AGAMA
TENTANG KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

sebuah usaha, dia harus menyertakan izin suami. Sementara laki-laki tidak memerlukan

penyertaan izin istri.

Dalam rumah tangga, masyarakat, maupun negara, banyak kebijakan dibuat tanpa

‘menganggap penting’ kaum perempuan. Di beberapa negara Islam, masih ada yang tidak

memperkenankan perempuan memilih suara dalam Pemilu. Karena suara perempuan sudah

cukup diwakili oleh suara laki-laki; suami atau orang tua. Apalagi untuk dicalonkan dan dipilih.

Kuwait, baru tahun 2005 memperbolehkan perempuan ikut serta dalam pemilihan umum. Hukum

pidana di Pakistan, tidak menerima kesaksian perempuan dan anak-anak untuk kasus pidana

pembunuhan. Mereka hanya menerima kesaksian laki-laki saja. Jika terjadi pembunuhan di dalam

rumah, yang hanya disaksikan perempuan dan atau anak-anak, maka besar kemungkinan

terdakwa akan terlepas dari jeratan hukum. Karena tidak ada saksi yang dianggap kompeten

diajukan ke pengadilan.

Konstruksi yang sama juga terjadi di masyarakat pesantren yang tidak mengarahkan tujuan

belajar bagi perempuan untuk menjadi ulama perempuan. Yaitu sosok yang pintar dan mampu

berijtihad dalam agama. Tetapi tidak jauh dari tujuan untuk menjadi istri yang taat kepada suami,

atau paling jauh untuk menjadi istri bagi sang kyai atau ulama. Konstruksi ini mensubordinasi

posisi perempuan dalam pencarian ilmu pengetahuan. Perempuan menjadi terhambat untuk

bisa pintar dan menjadi ulama sebagaimana laki-laki. Padahal pada awal Islam, banyak catatan

yang melukiskan keterlibatan ulama-ulama perempuan. Al-Hafidz al-Maqdisi (w. 600 H) mencatat

dalam kitabnya ‘al-Kamâl fî asmâ ar-Rijâl’, ada 824 nama perempuan di abad pertama, kedua dan

ketiga hijriyah, yang memiliki kontribusi pengajaran ilmu-ilmu transmisi (ar-riwâyah). (Muhammad

al-Habasy, 2005: hal. 16).

Beberapa pasal hukum di Indonesia yang mensubordinasi perempuan bisa dilihat dari ilustrasi

yang diberikan Donny Danardono. Menurutnya, Kitab Undang-undang Hukum Perdata, masih

mengharuskan istri untuk membawa suami ketika menghadap hakim di pengadilan untuk urusan-

urusan perdata. Ada pasal yang menyatakan: “Suami wajib mengemudikan harta kekayaan milik

pribadi istrinya (kecuali dinyatakan lain dalam perjanjian kawin), tapi setiap bentuk pemindahan tangan

harta tersebut harus mendapat persetujuan istrinya”. Bahkan suami boleh menjual atau memindah-

tangankan harta persatuan (harta yang diperoleh bersama selama perkawinan) tanpa

persetujuan istrinya (pasal 124 KUH Perdata). Perjanjian pernikahan, yang ditetapkan pada pasal

139 KUH Perdata, sebagai kesepakatan yang setara antara laki-laki dan perempuan, kemudian

ditentang sendiri dengan pengecualian bahwa perjanjian perkawinan tidak boleh mengurangi

dan menghalangi posisi laki-laki sebagai suami (pasal 140). Di antaranya pernyataan bahwa:

“Suami adalah kepala persatuan suami-istri”. (Pasal 105). (Sulistyowati Irianto (ed.), 2006: hal. 7-8).

Lies Marcoes juga memberikan ilustrasi mengenai subordinasi gender perempuan, antara

lain, dapat dilihat dari:

1.Masih sedikitnya perempuan yang bekerja di dalam peran pengambil keputusan dan

menduduki peran penentu kebijakan.

2.Adanya status perempuan sebagai jenis kelamin yang lebih rendah dibandingkan laki-

laki. Misalnya perempuan yang tidak menikah dinilai secara sosial lebih rendah dari laki-

laki yang tidak menikah, perempuan yang tidak punya anak dihargai lebih rendah dari

lelaki yang tidak punya anak. Karenanya suami dibenarkan secara hukum dan sosial

melakukan poligami. Lelaki lajang akibat perceraian dianggap lebih berharga dibandingkan

17

perempuan dengan status yang sama.

3.Dalam pengupahan, perempuan yang menikah dibayar sebagai pekerja lajang dengan

anggapan setiap perempuan mendapatkan nafkah yang cukup dari suaminya.

4.Di beberapa perusahaan terdapat aturan di mana gaji perempuan mendapatkan potongan

pajak lebih tinggi karena dianggap sebagai pekerja lajang meskipun secara de facto harus

menafkahi keluarga. (Lies Marcoes, 2001: hal. 14-15).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->