DIKLAT TEKNIS SUBSTANTIF DASAR

KEPABEANAN DAN CUKAI

Disusun Oleh:

Adang Karyana Syahbana, S.ST.
(Widyaiswara Madya)

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI 2011

DIKLAT TEKNIS SUBSTANTIF DASAR

KEPABEANAN DAN CUKAI

Disusun Oleh:

Adang Karyana Syahbana, S.ST.
(Widyaiswara Madya)

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI 2011

Klasifikasi Barang

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

i

................................... 24 27 DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai ii .......... Prasyarat Kompetensi ……………….... Identifikasi dan Klasifikasi Barang ..……………………………………........................................ B... KEGIATAN BELAJAR ….................. Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) ........................................... 14 C....................................................... Relevansi Modul ...... MODUL KLASIFIKASI BARANG A.. 16 1) Dasar Hukum ………………………………………………….... Kegiatan Belajar (KB) 1 ……………........................1..... Buku Tarif Bea Masuk Indonesia ………………………………….…………………............ 1.Klasifikasi Barang DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR ...... 4.................................... 1.............. Deskripsi Singkat …………………….......... Latihan 1 …………………………………………………………... 11 3) Publikasi Pelengkap HS ……………………………………… 13 4) Sistem Pengkodean …………………………………………........ PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL …………………………………………................................. 2........ 2) Struktur BTBMI ………………………………………………… 16 18 3) Kode Penomoran dan Pentakikan …………………………… 21 4) Arti kata “lain-lain” ……………………………………………........ PETA KONSEP MODUL …………………………………………………………....... 1) Identifikasi dan Klasifikasi Barang ………………………........................2........................................................…………………………………………………… 1...... Uraian dan contoh ..... 2) Langkah-Langkah Dalam Mengklasifikasi Barang ………… B......... Pendahuluan ………………………………………………………………… 1............................................. Harmonized System ……………………………………………… 4 4 5 5 8 10 i ii v vi 1 1 1 2 3 4 4 1) Pengantar ……………………………………………………… 10 2) Tujuan Harmonized System ………………………………....……………........ 3.. DAFTAR ISI ........ KLASIFIKASI BARANG Indikator Keberhasilan ....................... A..................

..... 33 TEKNIK KLASIFIKASI BARANG Indikator Keberhasilan ....................Klasifikasi Barang 1.......4... 33 A....................... 4) Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 4 ………………………………………………………… 5) Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 5 ………………………………………………………… 6) Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 6 ………………………………………………………… 44 42 41 37 35 33 B....... 47 1) Pengantar ……………………………………………………… 47 2) Nota Penelitian Klasifikasi Barang ………………………….2................................. Nota Penelitian …………………………………………………….......... 27 29 32 2...... 52 53 54 57 DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai iii .4.... Umpan Balik dan Tindak Lanjut ……………………....... 2................3...........5............. Ketentuan Umum Untuk Menginterpretasi Harmonized System .............. 47 3) Praktek Pembuatan Nota Penelitian Klasifikasi Barang…… 49 2. Umpan Balik dan Tindak Lanjut ……………………... Kegiatan Belajar (KB) 2 …………….1............. 33 2) Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 2a dan 2b ……………………………………………… 3) Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 3a.........……………………………………………………...... b dan c ……………………………………………........... 2.....5....... Tahapan Mengklasifikasi Barang . 1) ketentuan umum untuk menginterpretasi harmonized system nomor 1 ………………………………………………..... Rangkuman …………………………………………………………. Rangkuman ………………………………………………………….... 2.................... 1......................………………………………………………… 33 2.............. 45 C......3. Tes Formatif 2 ………………………………………………………. Tes Formatif 1 ………………………………………………………........... 1...... Uraian dan contoh ................ Latihan 2 ……..................

.............. Tes Formatif 3 ………………………………………………………..3....... 59 3) Catatan Ilustratif ………………………………………………........ 81 89 89 90 93 PENUTUP ……………………………………………………………………………....... Struktur Pengelompokan Barang Pada BTBMI .... Jenis Catatan pada BTBMI ..........4.. 58 1) Catatan definitive ……………………………………………… 59 2) Catatan Eksklusif ……………………………………………............ Catatan Penting Pada BTBMI ………………………………….................2.........................1......... Uraian dan contoh . 67 3) BAB pada BTBMI ……………………………………………….. 95 KUNCI JAWABAN ( TES FORMATIF DAN TES SUMATIF ) …………………… 99 DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………………............. 104 DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai iv ... 58 A............. Rangkuman …………………………………………………………................................. 3..... 94 TES SUMATIF …………………………...Klasifikasi Barang 3. 3..... Umpan Balik dan Tindak Lanjut ……………………...............................………………………………………………… 58 3.. Kegiatan Belajar (KB) 3 ……………........……………………………………………………........................... 60 B... 58 CATATAN PENTING DALAM BUKU TARIF BEA MASUK INDONESIA (BTBMI) Indikator Keberhasilan …....... 60 4) Catatan lain-lain ………………………………………………. 62 1) Gambaran per bagian ………………………………………… 62 2) Hubungan antar BAB …………………………………………...........5........................ 69 C. 3...................... Latihan 3 …….... 3........

maka kegiatan belajar dapat dilanjutkan pada kegiatan belajar berikutnya. Lihat kunci jawaban Tes Formatif dari kegiatan belajar tersebut yang terletak pada bagian akhir modul ini. maka peserta diklat dapat dinyatakan lulus dari kegiatan belajar DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai v . apabila ternyata hasil Tes Formatif peserta diklat memperoleh nilai minimal 67 (jumlah yang benar x 100/15). apabila ternyata hasil tes sumatif peserta diklat memperoleh nilai minimal 67 (jumlah yang benar x 100/25). Cara mempelajari setiap kegiatan belajar adalah mengikuti tahap-tahap berikut ini: 1. 2. 7. 8. Pelajari materi yang menjadi isi dari setiap kegiatan belajar (dengan cara membaca materi minimal 3 kali membaca isi materi kegiatan belajar tersebut). Cocokkan hasil tes sumatif dengan kunci jawaban tes sumatif. namun apabila diperoleh angka di bawah 67. Kerjakan Tes Sumatif apabila semua Tes Formatif dari seluruh kegiatan belajar telah dilakukan. Lihat apa yang menjadi target indikator dari kegiatan belajar tersebut.Klasifikasi Barang PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL Untuk dapat memahami modul ini secara benar. Lakukan review materi secara umum. Lihat kunci jawaban Tes Sumatif yang terletak pada bagian akhir modul ini 9. 5. Cocokkan hasil tes formatif dengan kunci jawaban tersebut. 3. Kerjakanlah Tes Formatif pada kegiatan belajar yang sedang dipelajari. 6. dengan cara membaca kembali ringkasan materi untuk mendapatkan hal-hal penting yang menjadi fokus perhatian pada kegiatan belajar ini. maka peserta diklat diharapkan mempelajari modul ini secara urut mulai dari Kegiatan Belajar 1 sampai dengan Kegiatan Belajar 3. 4. maka peserta diklat diharuskan mempelajari kembali kegiatan belajar tersebut agar selanjutnya dapat diperoleh angka minimal 67.

5. agar lebih mudah dipahami maka disarankan kepada peserta diklat untuk mempelajari peta konsep modul. Struktur BTBMI. Sistem Pengkodean. 3a. Praktek Pembuatan Nota Penelitian Klasifikasi Barang Kegiatan Belajar 3 – CATATAN PENTING DALAM BUKU TARIF BEA MASUK INDONESIA (BTBMI) Materi : Jenis Catatan pada BTBMI : Catatan definitive. Catatan Ilustratif. Harmonized System : Pengantar. Nota Penelitian Klasifikasi Barang.Klasifikasi Barang PETA KONSEP Dalam mempelajari modul ini. Catatan Penting Pada BTBMI DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai vi . Tahapan Mengklasifikasi Barang. Langkah-Langkah Dalam Mengklasifikasi Barang. 3b. Kode Penomoran dan Pentakikan. Hubungan antar BAB. Buku Tarif Bea Masuk Indonesia : Dasar Hukum. 3c. 2a. Struktur Pengelompokan Barang Pada BTBMI : Gambaran per bagian. Tujuan Harmonized System. Nota Penelitian : Pengantar. 6. Kegiatan Belajar 1 – KLASIFIKASI BARANG Materi : Identifikasi dan Klasifikasi Barang: Identifikasi dan Klasifikasi Barang. 4. Publikasi Pelengkap HS. Catatan lain-lain. Arti kata “lain-lain” Kegiatan Belajar 2 – TEKNIK KLASIFIKASI BARANG Materi : Ketentuan Umum Untuk Menginterpretasi Harmonized System : ketentuan umum untuk menginterpretasi harmonized system nomor 1. Catatan Eksklusif. Dengan demikian pola pikir yang sistematik dalam mempelajari modul dapat terjaga secara berkesinambungan selama mempelajari modul. 2b. BAB pada BTBMI.

seorang klasifikator harus terlebih dahulu memahami pengetahuan barang dan pengetahuan mengenai klasifikasi barang. Seorang klasifikator harus memiliki kemampuan dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang karena akan menentukan ketepatan dalam klasifikasi dalam Pemberitahuan Impor Barang (PIB) yang pada akhirnya menentukan ketepatan jumlah bea masuk dan pungutan impor lainnya yang harus dibayar. Prasyarat Kompetensi Peserta yang akan ditunjuk untuk mengikuti Diklat Teknis Substantif Dasar DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 1 .Klasifikasi Barang A PENDAHULUAN MODUL KLASIFIKASI BARANG 1. Diskripsi singkat Seorang Pegawai Ditjen Bea dan Cukai harus menjadi seorang klasifikator dibidang kepabeanan Oleh karena itu. 2.

Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Standar Kompetensi Setelah mempelajari modul ini. 3. misi dan tujuan organisasi pada organisasi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. para siswa mampu menjelaskan pengelompokkan barang dan jenis catatan berdasarkan BTBMI. Kompetensi Dasar Setelah mempelajari Modul ini para siswa diharapkan dapat menjelaskan : 1. Dengan pengalaman dan dasar pendidikan tersebut diharapkan peserta diklat akan mempunyai gambaran awal tentang klasifikasi barang impor / ekspor pada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai sehingga diharapkan lebih mudah mencerna dan memahami modul Klasifikasi Barang. Persyaratan tersebut penting karena pengalaman kerja sangat perlu bagi kelancaran pelaksanaan tugas sebagai pemeriksa dalam lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Diklat Teknis Substantif Dasar merupakan Diklat yang bertujuan mencetak pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai sebagai pelaksana pemeriksa yang mempunyai kemampuan melaksanakan tugas dalam pemeriksaan barang dan tugas pemeriksaan lainnya untuk menjamin dipenuhinya visi. para Siswa diharapkan mampu memahami landasan dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang berdasarkan Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI).Klasifikasi Barang adalah pegawai lulusan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas dan pernah bertugas sebagai pelaksana pada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai sesuai ketentuan Kepegawaian Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. tahapan dalam engklasifikasi barang dan membuat nota penelitian klasifikasi barang berdasarkan BTMBI. Identifikasi dan klasifikasi barang DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 2 . para siswa diharapakan mampu menerapkan ketentuan umum untuk menginterpretasi Harmonized System.

Buku Tarif Bea Masuk Indonesia. Struktur pengelompokan barang 9. Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI ) 2007. Tahapan Mengklasifikai Barang. 4. Harmonized System (HS) 3. Materi modul ini terkait pada mata pelajaran lain. Jenis catatan pada BTBMI 8. Ketentuan Umum untuk Menginterpretasikan Harmonized System. Tahapan dalam engklasifikasi barang 6. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 3 .Klasifikasi Barang 2. Nota penelitian klasifikasi barang 7. b. Ketentuan umum untuk menginterpretasi Harmonized System 5. Catatan penting dalam BTBMI 4. Nota Penelitian. Relevansi Modul Relevansi modul terhadap tugas pekerjaan yang akan dijalankan peserta diklat adalah sebagai berikut : a. Harmonize System. dan diharapkan dapat memberikan gambaran secara utuh tugas pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dalam pengklasifikasian barang. serta Catatan Penting dalam Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI). Setelah mempelajari materi modul ini diharapkan peserta mendapat pemahaman yang benar tentang klasifikasi barang.

Identifikasi dan klasifikasi barang 2. Uraian dan Contoh Seorang Pegawai Ditjen Bea dan Cukai harus menjadi seorang klasifikator dibidang kepabeanan Oleh karena itu.1. Kegiatan Belajar (KB) 1 KLASIFIKASI BARANG Indikator Keberhasilan : Setelah mempelajari materi diharapkan siswa mampu menjelaskan: : 1. seorang klasifikator harus terlebih dahulu memahami pengetahuan barang dan pengetahuan mengenai klasifikasi barang. Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI ) 2007 1.Klasifikasi Barang B KEGIATAN BELAJAR 1. Harmonized System (HS) 3. Seorang klasifikator harus memiliki kemampuan dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang karena akan menentukan ketepatan dalam klasifikasi DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 4 .

Langkah ini dinamakan Identifikasi barang. barulah kita dapat melakukan langkah kedua yaitu Klasifikasi barang. Informasi apa yang diperlukan untuk mengidentifikasi suatu barang dan darimana informasi tersebut diperoleh? Informasi yang diperlukan sebenarnya tergantung dari uraian yang ada pada BTBMI yang berkaitan dengan barang DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 5 . Diharapkan dengan menggunakan metode ini para siswa dapat dengan mudah mengklasifikasi barang.Klasifikasi Barang dalam Pemberitahuan Impor Barang (PIB) yang pada akhirnya menentukan ketepatan jumlah bea masuk dan pungutan impor lainnya yang harus dibayar. Namun sekali lagi perlu diingat. Seorang klasifikaotr tidak mungkin dapat mengklasifikasikan suatu barang dengan benar bila ia tidak tahu spesifikasi barang tersebut. kita harus tahu lebih dulu spesifikasi barang itu. klasifikasi yang benar hanya dapat dilakukan apabila mengetahui jenis barang dan memahami aturan-aturan mengklasifikasi dengan benar. Dalam buku ini akan dijelaskan dengan singkat langkah-langkah praktis dalam mengklasifikasi barang. IDENTIFIKASI DAN KLASIFIKASI BARANG 1) Identifikasi dan Klasifikasi Barang Langkah-langkah apa yang harus dilakukan untuk dapat mengklasifikasi suatu barang dengan benar? Biasanya klasifikasi tersebut dilakukan dengan mencari langsung pos tarif yang dianggap sesuai. Sebelum mengklasifikasi suatu barang. Cara seperti ini tidak akurat dan sering menyebabkan terjadinya kesalahan klasifikasi yang mengakibatkan negara dirugikan. Setelah kita mendapatkan seluruh informasi yang dibutuhkan melalui identifikasi barang. A. baru diketahui bahwa informasi yang ada belum lengkap sehingga kita harus kembali melakukan identifikasi barang untuk memperoleh informasi yang diperlukan tersebut. Keakuratan mengklasifikasi tergantung dari keakuratan dalam mengidentifikasi barang. Perlu diingat bahwa setelah melakukan tahap klasifikasi. Langkah pertama dalam mengklasifikasi adalah apa yang akan diklasifikasikan.

hanyalah kuda bibit. banyak sumber informasi yang dapat kita gunakan. informasi yang diperlukan untuk mengklasifikasikan kuda hidup. buatan. Semakin sederhana dan rinci uraian barang pada BTBMI.Klasifikasi Barang bersangkutan. Informasi lain dapat kita peroleh dari berbagai sumber di atas. Fisik barang itu sendiri sudah Mari menjawab pertanyaan tesebut dengan memberikan beberapa informasi yang kita butuhkan. misalnya apakah bentuknya cair atau padat. bagaimana bentuknya. apa komposisinya. Darimana kita dapat memperoleh informasi yang kita perlukan untuk mengklasifikasi suatu barang? memperhatikan bagan di bawah ini: Untuk mengetahui spesifikasi barang yang akan kita klasifikasikan. butiran atau bongkahan. semakin mudah bagi kita untuk mengklasifikasikan barang karena tidak dibutuhkan informasi yang terlalu rumit (misalnya. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 6 . apakah bentuk asal atau preparat. apa kegunaannya. untuk tujuan olah raga. kegunaan. atau kuda untuk sirkus). Bagaimana seandainya yang akan kita klasifikasikan adalah suatu bahan kimia? Barangkali sebelum mengklasifikasi kita memerlukan berbagai informasi mengenai barang kimia tersebut: apakah organik atau anorganik. Demikian juga apabila barang tersebut berupa barang elektronik. Informasi yang diperlukan tentunya semakin banyak dan rumit. dan sebagainya. Semakin banyak informasi yang kita miliki tentang barang tersebut. bagaimana pengemasnya. Berapa watt dan voltage tenaga listrik yang dibutuhkan. dan keterangan lainnya. semakin akurat kita mengklasifikasikannya. dan sebagainya.

bahan yang dominan? • What for? Digunakan untuk apa? ⇒ kegunaan tertentu. aksesoris. bagian dari barang lain. lebh dari satu macam kegunaan? • How is it imported? Bagaimana saat diimpor? ⇒ kemasan? belum lengkap? terurai? dalam bentuk set? Pertanyaan di atas harus dijawab sebelum kita memulai tahap klasifikasi. mesin? • What is it made of? Dibuat dari apa barang tersebut? ⇒ komposisi.Klasifikasi Barang Identifikasi barang diperlukan untuk menjawab setidak-tidaknya empat pertanyaan dasar di bawah ini: • What is it? Barang apa yang diimpor? ⇒ bahan baku. atau barang jadi? produk pertanian. campuran. Apabila kita sudah mempunyai jawaban. kimia. setengah jadi. elektronik. barulah kita berusaha mencari pos yang DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 7 .

fungsi. iii. Tahapan Mengklasifikasi Barang DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 8 . Keterangan kemurnian barang akan berkaitan dengan harga barang tersebut. Demikian juga negara asal barang akan berpengaruh terhadap mutu atau harga barang. proses sederhana dan proses canggih/kompleks. mempelajari jenis. bahan baku dan semua informasi mengenai barang. kimia. prosedur yang digunakan adalah sebagai berikut : i. dari jenis pabrik apa. Prosedur Umum Klasifikasi Dalam mengklasifikasi barang menggunakan BTBMI. 2) Langkah-Langkah Dalam Mengklasifikasi Barang a. menentukan klasifikasi barang ke dalam BTBMI (dapat dimulai baik dari segi bahan baku menjadi barang jadi. Hal ini untuk mengetahui grade atau kemurnian dari bahan tersebut. iv. Keterangan pabrik atau produsen barang perlu diperhatikan. ii. bukan satu pos tertentu?). merumuskan identitas atau deskripsi barang tersebut. Kita dapat menemukan satu pos tertentu bila pos dimaksud dengan spesifik menguraikan jenis barangnya. Untuk itu kita perlu mengantisipasi semua pos tarif yang mungkin untuk dipilih satu pos yang paling sesuai. mesin. mineral. misalnya apakah pabrik farmasi atau pabrik produksi pipa plastik.Klasifikasi Barang tepat. dan seterusnya). v. setelah 3W + 1H ⇒ What are the classifiable codes? Mengapa “What are classifiable codes?” (pos-pos. Namun pada umumnya suatu pos mencakup atau menguraikan satu kelompok barang sehingga sepintas lalu seakan-akan ada satu barang yang dicakup oleh dua atau lebih pos. Kalau dari pabrik farmasi kecenderungannya grade farmasi atau kemurnian mendekati 100 %. b. Dengan kata lain. pertanian. identifikasi barang yang akan diklasifikasikan. melihat buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI).

perhatikan pada Bagian. Setelah menemukan satu bab yang paling sesuai berdasarkan kajian di atas. barang kimia. Pada tahap ini kadang-kadang kita sudah dapat menemukan pos yang mencakup barang tersebut dengan rinci. langkah selanjutnya adalah melihat pembebanannya (BM. guna. Ketentuan Umum Untuk Menginterpretasi Harmonized System dan teori pendukung lainnya. dalam penentuan sub-pos dan pos tarif pun kadang timbul permasalahan klasifikasi yang sama dengan penentuan pos (4-digit). Pertamina. fungsi. Dalam tahap ini tentunya menggunakan kaidah-kaidah seperti yang ada dalam nomor 1 sampai dengan 10 Ketentuan Umum Untuk Menginterpretasi Harmonized System 5. atau cukai) dan ada atau tidak peraturan tata niaganya (IT. bauatan. atau pos mana barang tersebut diklasifikasikan. dan lain-lain.). Buku Tarif Bea Masuk Indonesia. PPN. 1. Apabila ada catatan yang mengeluarkan barang tersebut dari Bab atau Bagian yang kita pilih. Dengan mengetahui spesifikasi barang. maka kita mulai menelusuri pos-pos yang mungkin mencakup barang yang akan kita klasifikasikan dalam bab tersebut. Apabila sudah dipilih satu pos tarif yang benar-benar sesuai dengan uraian barang. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 9 . berat. biasanya kita sudah mempunyai gambaran umum apakah barang tersebut diklasifikasikan di bab tersebut atau di bab lainnya. Pilih bab atau bab-bab yang berkaitan dengan spesifikasi barang tersebut. Karena pembebanan tersebut sering berubah. misalnya barang tersebut produk pertanian. Tahapan lebih rinci akan dijelaskan kemudian setelah memahami apa itu Harmonized System. Pada tahap ini. atau mesin. 4. PPnBM. Perhatikan penjelasan-penjelasan dalam catatan Bagian maupun catatan Bab yang berkaitan dengan barang yang akan kita klasifikasi. IP.Klasifikasi Barang Dalam penjelasan ini disajikan tahapan mengklasifikasi barang secara garis besar. maka langkah selanjutnya tinggal menentukan sub-pos (6-digit) dan pos tarif (9-digit) yang sesuai. 3. baca dan perhatikan baik-baik catatan Bagian dan catatan Bab yang berkaitan dengan pilihan bab atau bab-bab pada butir 1. kemasan dan informasi lain yang bergunauntuk mengklasifikasi barang. kita bisa memilih bab-bab yang lebih spesifik. Kita identifikasi dulu barang yang akan kita klasifikasi. Identitas barang meliputi : nama. Bila sudah kita temukan satu pos yang tepat. Bab. Bila sudah kita tentukan. Ingat. 2.

penetapan klasifikasi barang diatur lebih lanjut oleh Menteri Keuangan. B. pengangkutan dan statistik. Pada saat ini sistem pengklasifikasian barang di Indonesia didasarkan pada Harmonized System dan dituangkan dalam bentuk suatu daftar tarif yang kita kenal dengan sebutan Buku Tarif Bea Masuk Indonesia.Klasifikasi Barang jangan lupa selalu menggunakan pembebanan yang up to date berdasarkan ketentuan yang terbaru. HARMONIZED SYSTEM 1) Pengantar Klasifikasi barang adalah suatu daftar penggolongan barang yang dibuat secara sistematis dengan tujuan untuk mempermudah pentarifan transaksi perdagangan. Berdasarkan pasal 14 ayat 2 Undangundang Kepabenan Indonesia Nomor 10 tahun 1995. a. Sejarah Sistem Klasifikasi di Indonesia DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 10 .

Customs Cooperation Council (CCC) yang sekarang dikenal dengan nama World Customs Organisation (Organisasi Pabean Dunia) telah membentuk suatu kelompok studi yang berusaha untuk menciptakan suatu nomenklatur klasifikasi barang yang tidak semata-mata untuk keperluan pabean. mulai berlaku sejak tanggal 1 Januari 1973 sampai dengan 30 Juni 1975. Sistem CCCN Edisi 1985 (CCCN 1985). hanya pada sistem CCCN ini terdapat penyempurnaan sistem penomoran pada sub-pos dari dua digit menjadi tiga digit atau semula 6 digit menjadi 7 digit. d. b. b. e. Pada dasarnya sistem pentarifan ini sama dengan sistem sebelumnya. kelompok studi tersebut berhasil menyusun suatu DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 11 . Sistem Brussel (Brussel Tariff Nomenclature atau BTN). Pada akhir tahun 1986. Sistem CCCN ini mulai diberlakukan pada tanggal 1 Oktober 1980 sampai dengan 31 Maret 1985. Mengapa HS ? Sejak tahun 1970. Indonesia telah menggunakan beberapa sistem klasifikasi untuk barang impor. Sistem ini merupakan penyempurnaan dari sistem CCCN sebelumnya dan mulai diberlakukan pada tanggal 1 April 1987 sampai dengan 31 desember 1988. Penetapan tarif ini merupakan penyempurnaan dari penetapan tarif sebelumnya dan mulai diberlakukan pada tanggal 1 Juli 1975 sampai dengan 30 september 1980. yaitu : a.Klasifikasi Barang Sebelum diberlakukannya Harmonized System. 26 tahun 1988 dan diwujudkan dalam bentuk Buku Tarif Bea Masuk Indonesia 1989 dan dinyatakan berlaku mulai tanggal 1 Januari 1989. yang berlaku sejak kemerdekaan Republik Indonesia sampai dengan 31 Desember 1972. Sistem ini diterapkan di Indonesia berdasarkan PP No. dan negosiasi perdagangan. Sistem Customs Cooperation Council (CCCN). tetapi juga digunakan untuk kepentingan lain seperti statistik. f. c. Sistem Harmonisasi (Harmonized System). Sistem Jenewa (Geneve Nomenclature). pengangkutan. Sistem Brussel Edisi 1975 (BTN 1975).

termasuk Indonesia yang telah meratifikasi konvensi HS dengan Keppres Nomor 35 tahun 1993. Menyadari hal yang demikian WCO pada tanggal 14 Juni 1983 meluncurkan HS yang mulai berlaku secara internasional pada tanggal 1 Januari 1988. Namun sekarang hampir seluruh negara di dunia telah meratifikasi konvensi ini. iv. 2) Tujuan Harmonized System Adanya perbedaan sistem klasifikasi tarif antara negara di dunia. untuk memberikan perhatian kepada perkembangan teknologi dan masyarakat industri serta pola perdagangan Internasional. iii. Pen jelasan dan penggolongan barang untuk tujuan perdagangan seperti tarif pengangkutan. sebenarnya Indonesia telah menggunakan BTBMI berdasarkan HS sejak tanggal 1 Januari 1989. untuk penetapan Tarif Pabean secara mendunia. Mengapa HS dijadikan dasar klasifikasi secara internasional? Ada beberapa DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 12 . pembuatan dan analisis Statistik perdagangan dunia.Klasifikasi Barang nomenklatur (daftar klasifikasi barang berdasarkan kelompok-kelompok) yang dinamakan Harmonized Commodity Description and Coding System atau lebih dikenal dengan sebutan Harmonized System (HS). Memberikan Sistem Internasional yang resmi untuk pemberian Kode. Pada awalnya. nomenklatur tersebut disahkan dalam suatu konvensi yang dikenal dengan nama Konvensi HS. perkembangan masyarakat industri dan pola perdagangan Internasional. Untuk memberikan kekuatan hukum yang pasti. keperluan pengangkutan. dengan tujuan : i. dokumentasi dan sebagainya. Memudahkan pengumpulan. konvensi HS ditandatangani oleh 70 negara yang sebagian besar adalah negara Eropa. ii. Memberikan keseragaman dalam daftar penggolongan barang yang dibuat secara sistematis. Memperbaharui sistem klasifikasi barang sebelumnya. mengakibatkan timbulnya kesulitan dalam mengantisipasi kemajuan teknologi. Meskipun baru meratifikasi pada tahun 1993.

4. e. World Customs Organization (WCO). HS menggunakan dasar yang seragam untuk keperluan pentarifan secara internasional. eksportir. 3. yaitu: 1. The International Chamber or Shipping (ICS). misalnya: a. produsen. Menggunakan “bahasa pabean” sehingga dapat dengan mudah dimengerti oleh importir. Publikasi dimaksud adalah: a. The Standard International Trade Classificatioan (SITC) 3) Publikasi Pelengkap HS Harmonized System mempunyai beberapa publikasi pelengkap yang digunakan untuk lebih mempermudah klasifikasi barang. dan aparat bea dan cukai. HS adalah pedoman klasifikasi yang sistematik untuk seluruh barang yang diperdagangkan secara internasional. The Explanatory Notes to the Harmonized System (EN) DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 13 . 2. Publikasi-publikasi tersebut juga diterbitkan oleh WCO. d. The International Air Transport Association (IATA). Merupakan kumpulan data yang seragam secara internasional sehingga dapat digunakan untuk mendukung analisis dan statistik perdagangan internasional. 5. Sederhana dan memberikan kepastian dalam hal aplikasi dan interpretasi yang benar dan sama untuk keperluan negosiasi. HS telah dibuat sedemikian rupa sehingga standard klasifikasi barang dan sistem kode penomoran barang dapat dijadikan acuan untuk berbagai kebutuhan oleh berbagai lembaga internasional yang berkaitan dengan perdagangan. pengangkut.Klasifikasi Barang keuntungan yang didapat setiap negara yang mengadopsi HS sebagai pedoman klasifikasi barang. b. c. The International Union Railway (IUR).

Dispute Settled Classification Opinion.84). Volume 2 (Bab 30. 4) Sistem Pengkodean DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 14 .97). Explanatory Notes adalah referensi yang sangat diperlukan untuk mendapatkan interpretasi yang benar dari HS.L) dan Volume II (M Z). 1 (Bab 1 . Publikasi lain Publikasi lain yang merupakan pelengkap HS adalah the Compendium of Classification Opinions. Explanatory Notes juga mengalami perubahan (amandemen) untuk menyesuaikan isinya dengan struktur HS. Untuk itu membaca Explanatory Notes harus selalu disesuaikan dengan konteksnya dalam HS.29). Karena pentingnya Explanatory Notes ini. dan Correlation Tables. yaitu Vol. Explanatory Notes yang digunakan saat ini adalah edisi kedua (tahun 1996) yang terdiri dari empat volume. explanatory notes merupakan interpretasi resmi (official interpretation) dari HS pada level internasional dan merupakan pelengkap yang sangat penting dari HS. sebagian negara anggota WCO mensahkannya sebagai dokumen yang berkekuatan hukum Seiring perkembangan teknologi.Klasifikasi Barang Explanatory Notes bukan merupakan bagian yang integral dari HS. yaitu Volume I (A . dan Volume 4 (Bab 85 . Volume 3 (Bab 64 .63). b. The Alphabetical Index Untuk mempermudah mengklasifikasikan suatu barang pada pos-pos atau sub-sub pos dalam nomenklatur HS atau Explanatory Notes. namun sebagaimana disetujui WCO. c. WCO juga menerbitkan buku indeks yang dikenal dengan nama the Alphabetical Index. the Harmonized System Commodity Data Base (dalam bentuk CD-ROM). Alphabetical Index terdiri dari dua volume. the Training Modules.

pengangkutan. HS yang tersusun dari pos dan sub-pos. misalnya untuk barang pos atau peralatan pelayaran. Masing-masing negara penandatangan konvensi (contracting party) dapat mengembangkan penggolongan 6-digit tersebut menjadi kelompok yang lebih spesifik sesuai dengan kebijaksanaan ekonomi dan industrinya. Multipurpose nomenclature HS yang mempunyai 6 digit penggolongan. 98. Seperti telah disinggung sebelumnya. Catatan Bab. Ada tiga Bab yang belum digunakan dalam HS yang ada saat ini. dan Catatan Sub-Pos. dan 99. Indonesia juga menggunakan Bab 98 untuk keperluan ekspor barang tertentu yang pada bulan April 1999 dicabut kembali. dan sebagainya. Structured nomenclature HS adalah nomenklatur yang terdiri dari 21 Bagian. dirancang tidak hanya untuk keperluan kepabeanan. yaitu: a. bersama dengan Ketentuan Umum Menginterpretasi. sedangkan Bab 98 dan 99 digunakan untuk keperluan khusus bagi masing-masing contracting party.Klasifikasi Barang Harmonized System mempunyai dua karakteristik yang sangat mendasar. Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System (KUM HS) merupakan bagian terpenting yang harus DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 15 . Harmonized System mempunyai tiga bagian utama atau integral. b. Ketentuan Umum Untuk Menginterpretasi Harmonized System (General Rules for the Interpretation of the HS). statistik. dan 1. semua negara mempunyai kesatuan persepsi tentang pengklasifikasian suatu barang. merupakan pedoman mengklasifikasi barang yang sistematik dan seragam.241 pos. Bab 77 dipersiapkan untuk keperluan di masa mendatang. yaitu Bab 77. Catatan Bagian. namun juga dipergunakan secara internasional dalam bidang lain seperti negosiasi perdagangan. yaitu: 1. 96 Bab (+ Bab 77). Dengan tetap berdasar kepada HS 6-digit.

Pada contoh di atas. Indonesia menggunakan sistem penomoran 10 digit dalam BTBMI yang merupakan penjabaran lebih lanjut dari sub-sub pos dalam HS. 11 _______ ______________ • Dua angka pertama untuk menunjukkan pada bab mana barang itu diklasifikasikan. Pos (4-digit) dan Sub-pos (6-digit) yang disusun dengan sistematik. Catatan Bab.11. • • Empat angka pertama menunjukkan Pos atau Heading dalam setiap bab. dan Catatan Sub-Pos. Catatan Bagian. HS menggunakan kode nomor dalam mengklasifikasikan barang.Klasifikasi Barang dipahami sebelum melangkah lebih jauh untuk meng klasifikasikan barang menggunakan HS.01. Pada contoh di atas. pos (4-digit). Untuk keperluan nasional. Penjelasan mengenai hal ini akan dibahas lebih rinci pada penjelasan berikutnya. BUKU TARIF BEA MASUK INDONESIA 1) Dasar Hukum DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 16 . Mengingat pentingnya memahami KUM HS. dan sub-pos (6digit) dengan penjelasan sebagai berikut: 01 __ 01 11 Bab (Chapter) 1 Pos (Heading) 01. 01 Sub-pos (Sub-heading) 0101. 2. barang dimaksud diklasifikasikan pada pos 01. KUM HS berisi enam prinsip dasar yang harus dipatuhi dalam mengklasifikasi barang. Pada contoh di atas. Sistem penomoran dalam HS terbagi menjadi Bab (2-digit). barang dimaksud diklasifikasikan pada sub-pos 0101. C. bagian ini akan dibahas tersendiri. barang dimaksud diklasifikasikan pada Bab 1. 3. Enam angka pertama menunjukkan Sub Pos dalam setiap Pos. Kode-kode nomor tersebut mencakup uraian barang yang tersusun secara sistematis.

Pemerintah bersama Dewan Perwakilan Rakyat telah berhasil membahas dan menyetujui Rancangan Undang-Undang Kepabeanan. Berbagai bantuan teknis dalam rangka menunjang kelancaran pelaksanaan sistem dan prosedur kepabeanan Internasional. Selanjutnya berdasarkan pasal 14 ayat 2 Undang-undang tersebut. Atas dasar pertimbangan di atas. Sebagai anggota WCO. Pasal 14 ayat (1) Undang-Undang ini menyebutkan bahwa “Untuk penetapan tarif Bea Masuk. Perlindungan terhadap konsumen dalam negeri. barang dikelompokkan berdasarkan sistem klasifikasi barang”. d) Pemenuhan perjanjian serta kesepakatan Internasional. yang sebelumnya dikenal dengan nama Customs Cooperation Council sejak tanggal 30 April 1957. Pengurangan hambatan dalam perdagangan Internasional guna mendukung terciptanya perdagangan bebas. Pengaturan lebih lanjut penentuan klasifikasi barang dilakukan dengan memperhatikan: a) b) c) Upaya peningkatan daya saing produk Indonesia dipasar Internasional.05/1996 tanggal 21 Juni 1996 tentang Penetapan Sistem Klasifikasi Barang dan Besarnya Tarif Bea Masuk Atas Barang Impor. yang kemudian dikenal dengan nama Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan saat ini telah diamandemend dengan UU no.Klasifikasi Barang Pada akhir tahun 1995. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 17 . 17 tahun 2006 . telah diterima oleh Indonesia. barang barang dikelompokkan berdasarkan sistem klasifikasi sebagaimana dimaksud dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 1993 tentang Pengesahan International Convention The Harmonized Commodity Description and Coding System beserta protocolnya”. Indonesia telah menjadi anggota World Customs Organization. Berdasarkan keputusan Presiden Republik Indonesia nomor 35 tahun 1993. penetapan klasifikasi barang ditentukan oleh Menteri Keuangan. Pemerintah menerbitkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor : 440/KMK. Indonesia telah menunjukkan peran serta yang aktif dalam kegiatan WCO dan telah banyak menarik manfaat dari organisasi ini. Dalam Pasal 1 Keputusan ini disebutkan “Untuk penetapan tarif Bea Masuk.

Berdasarkan Artikel XVI HS Convention. 3. berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 81/KMK. Penyempurnan Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 1988 tentang Perubahan dan Tambahan atas Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 1969 tentang Pembebasan atas Impor dan Perubahan atas Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 47 Tahun 1986 tentang Bea Masuk Tambahan Atas Barang Impor. 01/1995 yang merupakan: 1. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 639/KMK. World Customs Organization telah mengesahkan amandemen lampiran konvensi. 2) Struktur BTBMI DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 18 .01/1995 di atas selanjutnya dijabarkan dalam bentuk penerbitan BTBMI edisi tahun 1996.05/1994 tanggal 16 Maret 1994 telah ditetapkan bahwa terhitung sejak 1 April 1994 . Hingga saat ini BTBMI 1996 dimaksud telah beberapa kali diubah atau direvisi sesuai dengan perkembangan kebijaksanaan nasional. Pemerintah pada tanggal 29 Desember 1995 telah mengeluarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 639/KMK. Sebagai tindak lanjutnya . Klasifikasi struktur barang dalam Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI) mengacu kepada sistem klasifikasi dari HS Convention.Klasifikasi Barang Indonesia telah menjadi Contracting Party dari “International Convention on the Harmonized Commodity Description and Coding Sistem”. Dasar penggunaan sistem klasifikasi barang berdasarkan HS versi 1996. yang semula mempergunakan HS versi 1992. BTBMI terakhir dengan BTBMI tahun 2007 menggunakan HS ver 2007 berdasarkan AHTN. Dasar penetapan besarnya tarif bea masuk (bea masuk tambahan dilebur bersama bea masuk) untuk barang bersangkutan. menjadi “HS versi 1996”. Menindaklanjuti adanya amandemen HS 1996 tersebut. 2.

00 ) berasal dari teks AHTN. Sekarang kta akan mempelajari tentang BTBMI.11. kecuali: DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 19 . 6 (enam) dan 10 (sepuluh) digit pada bab 98 merupakan teks berasal dari uraian barang dalam bahasa Indonesia. 2) Uraian barang pada subpos ASEAN (8 digit) merupakan terjemahan dari teks AHTN. Kolom : a. beberapa tahun sebelum Indonesia meratifikasi HS Convention dan saat ini yang berlaku adalah BTBMI 2007 berdasarkan AHTN. b. kecuali: ♦ yang 2 digit terakhirnya 00 ( misalnya 8709. 4) 4 (empat). ♦ yang 4 digit terakhirnya 00.10.00 ) berasal dari teks HS – WCO. BTBMI adalah buku tarif bea masuk yang digunakan di Indonesia semenjak 1989 yaitu. 3) Uraian barang pada pos tarif nasional (10 digit) merupakan teks berasal dari uraian barang dalam bahasa Indonesia. BTBMI tidak lain adalah HS yang dimodifikasi atau dijabarkan lebih lanjut untuk digunakan dalam pentarifan dan penanganan barang impor ke Indonesia. 2) 8 (delapan) digit berasal dari teks AHTN.Klasifikasi Barang Pada bab terdahulu kita telah mempelajari gambaran umum tentang Harmonized System. Kolom kedua adalah kolom “Uraian Barang” dalam bahasa Indonesia yang disusun dengan pola sebagai berikut: 1) Uraian barang pada pos (4 digit) dan subpos (6 digit) merupakan terjemahan dari teks HS-WCO. 3) 10 (sepuluh) digit merupakan teks berasal dari uraian barang dalam bahasa Indonesia. BTBMI mempunyai struktur sebagai berikut: 1. Kolom pertama adalah kolom “Pos/Subpos/Pos Tarif” yang mencantumkan nomor pos/subpos sebagai berikut : 1) 4 (empat) dan 6 (enam) digit pertama berasal dari teks Harmonized System-World Customs Organization (HS-WCO).21.00 ( misalnya 8709.00.

21.00. 4) Khusus uraian barang dalam bab 98 merupakan teks berasal dari uraian barang dalam bahasa Indonesia. 2) Uraian barang pada subpos ASEAN (8 digit) merupakan teks AHTN dalam bahasa Inggris.00 ) berasal dari teks AHTN.01/2003 tanggal 18 Desember 2003.10. 3) Uraian barang pada pos tarif nasional (10 digit) merupakan terjemahan dari teks bahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris.10. Kolom ketiga adalah kolom “Description of Goods” dalam bahasa Inggris yang disusun dengan pola sebagai berikut : 1) Uraian barang pos (4 digit) dan subpos (6 digit) merupakan teks HSWCO dalam bahasa Inggris. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 20 .00 ) berasal dari teks HS – WCO. e.11. 4) Khusus uraian barang dalam bab 98 merupakan teks berasal dari uraian barang dalam bahasa Indonesia. kecuali : ♦ yang 2 digit terakhirnya 00 ( misalnya 8709.Klasifikasi Barang ♦ yang 2 digit terakhirnya 00 ( misalnya 8709. ♦ yang 4 digit terakhirnya 00. Kolom keempat adalah kolom “Bea Masuk Umum” yang mencantumkan pembebanan tarif bea masuk atas barang impor berlaku umum berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 547/KMK. d.01/2003 tanggal 18 Desember 2003.00 ( misalnya 8709. Kolom kelima adalah kolom “Bea Masuk CEPT” yang mencantumkan pembebanan tarif bea masuk yang berlaku untuk impor barang dari negaranegara ASEAN dalam rangka Skema CEPT berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 546/KMK.00 ) merupakan teks asli HS – WCO. c.21.00.00 ) merupakan teks AHTN.00 ( misalnya 8709. ♦ yang 4 digit terakhirnya 00.11.

Kolom kedelapan adalah kolom “Larangan/Pembatasan” yang mencantumkan ketentuan larangan atau pembatasan barang impor berdasarkan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 230/MPP/KEP/7/1997 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 62/MPP/KEP/02/2001 dan tata niaga impor dan peredaran bahan berbahaya tertentu ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 254/MPP/KEP/7/2000.03/2003 tanggal 11 Agustus 2003.04/2000 dan Nomor 570/KMK.04/2000 sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 39/KMK. Pencantuman tanda asterisk (*) pada kolom pembebanan tarif ditujukan untuk hal-hal sebagai berikut : a. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 21 .03/2003 tanggal 28 Januari 2003 dan Nomor 355/KMK. h. Kolom ketujuh adalah kolom “PPnBM” yang mencantumkan pembebanan tarif PPnBM yang ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 569/KMK. i. Pencantuman tanda satu asterisk (*) pada kolom “Bea Masuk Umum” berarti pembebanan impornya mengikuti tarif pada pos tarif 87. Kolom keenam adalah kolom “PPN” yang mencantumkan pembebanan tarif PPN berdasarkan Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 18 Tahun 2000. Tanda strip (-) pada kolom Bea Masuk CEPT berarti komoditi pada pos tarif bersangkutan tidak termasuk dalam skema CEPT. Kolom kesembilan adalah kolom “Keterangan” yang disediakan untuk mencantumkan keterangan tambahan yang dianggap perlu dan ketentuan lain yang belum ditampung pada kolom-kolom sebelumnya.Klasifikasi Barang f. Pencantuman tanda strip (-) pada kolom pembebanan tarif ditujukan untuk hal-hal sebagai berikut : a. serta ketentuan instansi teknis lainnya. 2.01 sampai dengan 87. Tanda strip (-) pada kolom PPN atau PPnBM berarti komoditi pada pos tariff bersangkutan tidak dikenakan pembebanan PPN atau PPnBM. b. 3. g.05.

segar atau DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 22 . Pencantuman tanda satu asterisk (*) pada kolom “PPN”. akar dan bonggol tertentu yang dapat dimakan. Perlu diingat bahwa selain BM yang tercantum dalam BTBMI. Nomor Pos tarif (10-digit) dan uraiannya. PTNI (Peraturan Tata Niaga Impor) ditetapkan oleh Menteri Perindustrian dan Perdagangan. terdapat juga BM Anti Dumping yang ditetapkan tersendiri oleh Menteri Keuangan. 2 digit selanjutnya mengacu kepada AHTN dan 2 digit terakhir adalah pecahan pos tarif nasional. (2) Empat digit pertama (0705) menunjukkan Pos. besarnya BM. Untuk memahami sistem penomoran tersebut.Klasifikasi Barang b. perhatikan contoh berikut: 0705. 19 dan 20. Apabila terdapat keraguan dalam menginterpretasikan teks yang tercantum dalam Catatan Penjelasan Tambahan (SEN). 4 Catatan Penjelasan Tambahan (SEN) merupakan pedoman dalam menginterpretasikan pengertian maupun istilah teknis barang yang tercantum dalam Subpos pos tarif tertentu.00 Selada kubis (selada bongkahan) (1) Dua digit pertama (07) menunjukkan Bab.00.11.). Bea Masuk Anti Dumping berlaku di Indonesia sejak tanggal 1 April 1996 berlandaskan Undang-Undang Nomor 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan sesuai pasal 18. maka yang mengikat secara hukum adalah teks asli SEN dalam bahasa Inggris. Pos 07. dan PPnBM ditetapkan oleh Menteri Keuangan. PPnBM dan pemberlakuan ketentuan larangan/pembatasan berlaku hanya terhadap sebagian jenis barang atau sebagian kelompok barang dalam pos tarif bersangkutan.05: Selada (Lactuca sativa) dan chicory (Chicorium spp. “PPnBM” dan “Larangan/Pembatasan” berarti pengenaan PPN. PPN. Bab 07 : Sayuran. 3) Kode Penomoran dan Pentakikan a. Sistem Penomoran Sistem penomoran klasifikasi dalam BTBMI menggunakan 10-digit dengan susunan 6 digit pertama mengacu pada konvensi HS.

Selada * Ingat.19.. 0705.10 . Apabila pos tarif 0705.Selada kubis (selada bongkolan).11.00. demikian seterusnya sehingga diperoleh pengelompokan barang yang lebih rinci. Di bawah ini disajikan contoh sistem takik dengan menggunakan contoh yang sudah ada (pos tarif 0705.00 : .00.11. (3) Enam digit pertama (0705.10) menunjukkan Sub-pos yaitu selada.00. (3) Bila uraian pada butir b dipecah.10 dipecah menjadi 0705. digunakan dua takik (. khusus untuk negara Indonesia.11 dan 0705 19.-).11 dipecah lagi menjadi pos tarif yang lebih rinci. (2) Penggunaan satu takik (-) dimulai pada uraian Sub-pos (6-digit).10 tidak dicantumkan karena sub-pos tersebut dipecah lagi menjadi sub-pos 0705. maka digunakan pemecahan menggunakan tiga takik pada digit 9 dan 10. Sub-pos 0705.Lain-lain) b.Klasifikasi Barang dingin.11.10: .Dingin DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 23 .05 Selada (Lactuca sativa) dan chicory (Chicorium spp. (4) Bila uraian pada butir c dipecah lagi.00 -.11.Segar 0705.11.19: 0705. digunakan tiga takik (.-).. dengan penjelasan sebagai berikut: (1) Pos (4-digit) tidak diberi takik.10 .. misalnya : 0705.000): 07. 0705.)..Selada (4) Sepuluh digit pertama (0705. dalam HS/BTBMI sub-pos 0705..20 . Sistem Takik Selain menggunakan sistem nomor.00. -) untuk mengklasifikasi barang. segar atau dingin).00) menunjukkan Pos Tarif 0705.11 dan 0705.00.. HS/BTBMI juga menggunakan sistem takik (dash.

00 .01 (Kentang.11.10 3901. Barang tertentu mempunyai kode 10. 20. dalam BTBMI tidak dicantumkan (hanya dicantumkan uraian barangnya yaitu: .barang lainnya (lain-lain).10.. -. Kedua jenis barang tersebut dapat dipecah kembali lagi menjadi dua kelompok di atas (barang tertentu dan lain-lain) yang lebih spesifik.Mutu farmasi DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 24 .11 dan 0705. .19. maupun pos tarif) dibagi atau dirinci dengan dua cara. contoh : 1) sub-pos 0705. Barang tertentu A .. segar atau dingin) dibagi menjadi ketimun dan ketimun acar saja.11..07 (Ketimun dan ketimun acar. sub-pos..selada) karena sub-pos tersebut dipecah lebih lanjut menjadi 0705.. Mari kita lihat contoh berikut: 39. 5) Pemecahan pos tarif (10-digit) juga mengikuti pola di atas.barang tertentu B atau barang tertentu A .21. 2) Dalam HS/BTBMI hanya ada dua jenis barang. perhatikan digit kelima dan keenam.10..00 --.Dingin Perlu diperhatikan bahwa kadang-kadang nomor sub-pos atau pos tarif yang dipecah lebih lanjut tidak dicantumkan secara eksplisit dalam BTBMI.Klasifikasi Barang Namun apabila ASEAN misalnya akan membagi dari subpos 0705.10.Dalam bentuk padat -.Segar 0705. yaitu barang tertentu dan lainlain. 3) Setiap kelompok barang di atas (baik dalam pos. maka : 0705.barang lainnya (lain-lain). segar atau dingin) dibagi menjadi bibit dan lain-lain.barang tertentu B : Pos 07. dalam bentuk asal.00 . 4) Bila pos dipecah menjadi sub-sub pos.20.10.Polimer dari etilena. Contoh: Barang tertentu A .Butiran 3901.00 -.01 3901.Polietilena berat jenis kurang dari 0.94: -. 30. 80. yaitu barang tertentu A . Pos 07..11.10.

Bentuk lain : 3901. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 25 .10. 99.. • • • • 4) Barang tertentu mempunyai kode 10. yaitu menjadi 11.Digunakan dalam pembuatan kabel telepon atau kabel Untuk pemecahan pos tarif.10. Barang lainnya (lain-lain) diberi kode 90..00 --. Kata “lain-lain” terdapat pada Bab. bandingkan dengan uraian barang pada pos-pos terdahulu dalam bab yang sama.10.99.29.10. ..10. 20.00 3901. b) apabila kata “lain-lain” dimaksud terdapat pada bab.00 listrik 3901.. bandingkan dengan uraian barang pada sub-sub pos terdahulu.Lain-lain. Arti kata “lain-lain” Dalam klasifikasi BTBMI dengan sistem HS kata “Lain-lain”. perhatikan hal-hal berikut ini: a) bandingkan kelompok barang “lain-lain” dimaksud dengan kelompok barang yang setara..Cair atau pasta -.. 12.perhatikan dua digit terakhir.. .Mutu kabel --.. berfungsi untuk menampung barang yang belum disebut pada uraian jenis barang sebelumnya.23.91.30.Klasifikasi Barang 3901. Bila kode 10 dipecah lagi menjadi lebih rinci. digunakan dalam pembuatan kabel telepon atau kabel listrik 3901.. Sub-Pos dan Pos Tarif Nasional Untuk dapat memahami arti kata “Lain-lain” .10.00 --. digunakan digit kesembilan. c) apabila kata “lain-lain” dimaksud terdapat pada pos.00 --.00 3901. d) apabila kata “lain-lain” dimaksud terdapat pada sub-pos. dalam pos yang sama. .Lain-lain -. 30.Lain-lain --. 92.22. Pos. 19. Demikian juga kode 900 bila dipecah menjadi 91. bandingkan dengan uraian barang pada bab-bab terdahulu.

selain B1 dan B2. Metode di atas dapat difahami dengan lebih mudah apabila kita dapat menggambarkannya dalam bentuk diagram pohon. selain B1 dan B2. Cara membaca: Lain-lain (3): barang selain C1 dan C2. C2. B2. pada sub-pos yang sama. yang termasuk dalam Lain-lain (1). A2. Barang Lain-lain (2) dibagi menjadi barang C1. pengertian kata lain-lain DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 26 . Dengan sedikit latihan menggunakan BTBMI. Lain-lain (3) adalah termasuk kelompok barang A selain A1 dan A2. Lain-lain (1): barang selain A1 dan A2. dan Lain-lain (2). Lain-lain (2): barang selain B1 dan B2. dan Lain-lain (3). Lain-lain (3) adalah termasuk kelompok barang A selain A1 dan A2. Barang Lain-lain (1) dibagi menjadi barang B1. Lain-lain (2) adalah termasuk kelompok barang A selain A1 dan A2. dan Lain-lain (1). Di bawah ini disajikan mengetahui kelompok barang yang termasuk lain-lain dengan menggunakan metode diagram pohon dengan contoh sebagai berikut: • • • • • • Barang A dibagi menjadi barang A1. bandingkan dengan uraian barang pada pos-pos tarif terdahulu. Jadi. selain C1 dan C2. yang termasuk dalam barang A. sehingga akan jelas kelompok barang mana yang akan dibandingkan dengan barang lain-lain barang lain-lain yang ingin kita ketahui. yang termasuk dalam Lain-lain (2).Klasifikasi Barang e) apabila kata “lain-lain” dimaksud terdapat pada pos tarif.

Dalam diktat ini pengertian lainlain dibatasi pemahamannya sebatas berkaitan dengan uraian jenis barang pada judul Bab. dengan Bab 62”.Lain-lain Kata lain-lain dalam sub-pos ini berfungsi untuk menampung binatang sejenis lembu. kalkun dan ayam mutiara c) Judul Sub Pos Sub-pos 0102. Pos 01. 6) selain kuda. hidup yang belum disebutkan pada sub-sub pos sebelumnya. catatan Bab. keledai.Klasifikasi Barang tersebut akan dapat dengan mudah dimengerti. Pos. Kata lainnya dalam pos ini berfungsi untuk menampung binatang hidup yang belum disebutkan pada pos-pos sebelumnya.06: Binatang hidup lainnya.90 : . tanpa dikaitkan dengan catatan Bagian. selain binatang sejenis selain yang telah disebutkan pada Bab 50 sampai lembu. Bab 63: Barang tekstil sudah jadi lainnya . Sub-pos maupun Pos tarif nasional. maupun catatan Sub-pos. Di bawah ini disajikan beberapa contoh pengertian kata lain-lain yang terdapat dalam BTBMI: a) Judul Bab. b) Judul Pos. selain babi 7) selain biri-biri dan kambing 8) selain unggas dari jenis : ayam spesies Gallus domesticus. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 27 . bebek. Secara lebih rinci judul bab tersebut dapat diuraikan menjadi “Tekstil dan barang tekstil. Secara lebih rinci uraian dalam sub-po stersebut dapat diuraikan menjadi: Binatang hidup. Secara lebih rinci uraian pos tersebut dapat diuraikan menjadi: Binatang hidup... Secara singkat makna kata lainnya berfungsi untuk menampung barang tekstil sudah jadi yang belum disebutkan pada bab-bab sebelumnya dalam Bagian XI.. bagal dan hinnies.

Dalam kegiatan belajar ini telah dijelaskan dengan singkat langkah-langkah DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 28 . data apa yang diperlukan mengenai pompa tersebut ? 3. 10) termasuk binatang sejenis lembu. Rangkuman 1.2. Apa isi Buku Tarif Bea Masuk Indonesia ? 9.3.Klasifikasi Barang 9) selain kuda. Apa yang dimaksud dengan sistem pentakikan dalam penomoran HS? 10. Bila akan diimpor sebuah pompa air yang menggunakan tenaga listrk. Mengapa kita harus mengidentifikasi barang sebelum mengklasifikasinya ? 2. Pasal berapa dalam Undang-undang no. 10 tahun 1995 yang berkaitan dengan klasifikasi barang ? 8. Bagaimana sistem penomoran Harmonized System ? 7. bagal dan hinnies. Bagaimana langkah-langkah dalam meng klasifi kasi barang ? 4. Apa tujuan Harmnized System 6. namun bukan untuk bibit 1. Apa yang dimaksud dengan Harmonized System ? 5. Bagaimana cara membaca pengertian kata “Lain-lain” dalam BTBMI ? 1. keledai. Latihan 1 1.

identifikasi barang. Dalam mengklasifikasi barang menggunakan BTBMI. Untuk keperluan nasional. perkembangan masyarakat industri dan pola perdagangan Internasional. Perbedaan sistem klasifikasi tarif antara negara di dunia. merumuskan identitas. fungsi. mengakibatkan timbulnya kesulitan dalam mengantisipasi kemajuan teknologi. Pada saat ini sistem pengklasifikasian barang di Indonesia didasarkan pada Harmonized System dan dituangkan dalam bentuk suatu daftar tarif yang kita kenal dengan sebutan Buku Tarif Bea Masuk Indonesia. Berdasarkan pasal 14 ayat 2 Undang-undang Kepabenan Indonesia Nomor 10 tahun 1995. c. d. pengangkutan dan statistik. 2. prosedur yang digunakan adalah sebagai berikut : a. 3. menentukan klasifikasi barang. WCO meluncurkan HS yang mulai berlaku secara internasional pada tanggal 1 Januari 1988.Klasifikasi Barang praktis dalam mengklasifikasi barang. 4. Bagaimana seandainya yang akan kita klasifikasikan adalah suatu bahan kimia? Sebelum mengklasifikasi kita memerlukan identifikasi untuk mendapatkan informasi mengenai: : organik atau anorganik. bentuknya. mempelajari jenis. Indonesia telah menjadi Contracting Party dari “International Convention on the Harmonized Commodity Description and Coding Sistem”. dan sebagainya. HS menggunakan kode nomor dalam mengklasifikasikan barang. melihat BTBMI . kegunaannya. berdasarkan keputusan Presiden Republik Indonesia nomor 35 tahun 1993. komposisinya. Kode-kode nomor tersebut mencakup uraian barang yang tersusun secara sistematis. b. Sebagai DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 29 . Indonesia menggunakan sistem penomoran 10 digit dalam BTBMI yang merupakan penjabaran lebih lanjut dari sub-sub pos dalam HS. Klasifikasi barang adalah suatu daftar penggolongan barang yang dibuat secara sistematis dengan tujuan untuk mempermudah pentarifan transaksi perdagangan. bahan baku dan semua informasi mengenai barang. e. 5. bentuk asal atau preparat.

S ) HS bersifat harmonis karena standard klasifikasi dan sistem kode penomoran barang digunakan untuk berbagai kepentingan. berfungsi untuk menampung barang yang belum disebut pada uraian jenis barang sebelumnya. HS/BTBMI juga menggunakan sistem takik (dash. 1. sertificate of analysis. Lingkarilah huruf B apabila pernyataan ini Saudara anggap benar dan huruf S apabila pernyataan Saudara anggap salah. udara dan kereta api. Test Formatif 1 A. ( B . label kemasan dan data lainnya. Sub-Pos dan Pos Tarif Nasional. Sistem penomoran klasifikasi dalam BTBMI menggunakan 10-digit dengan susunan 6 digit pertama mengacu pada konvensi HS dan 2 digit terakhir adalah pecahan pos tarif nasional. Kata “lain-lain” terdapat pada Bab.S ) Customs Cooperation Council di Brussels pada tanggal 14 Juni 1983 menghasilkan Konvensi Internasional tentang The Harmonized Commodity Description and Coding System (HS) dan mulai berlaku di Indonesi sejak tanggal 1 Januari 1988. 2. brosur.S ) Untuk mengklasifikasi barang diperlukan data mengenai nama. Dalam klasifikasi BTBMI dengan sistem HS kata “Lain-lain”. pengertian kata lain-lain tersebut akan dapat dengan mudah dimengerti 1.Klasifikasi Barang tindak lanjutnya struktur Klasifikasi barang dalam Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI) mengacu kepada sistem klasifikasi dari HS Convention 6. Salah satu tujuan HS adalah untuk DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 30 . Informasi mengenai barang tersebut dapat kita peroleh melalui : kondisi fisik. seperti Pabean. ( B . -) untuk mengklasifikasi barang 7. jenis dan spesifikasi lainnya secara akurat. perdagangan internasional dan pengangkutan laut. ( B . Pos. 3.4. Selain menggunakan sistem nomor. statistik. Dengan sedikit latihan menggunakan BTBMI.

struktur HS terdiri dari : KUM HS . Heading. barangnya. Bunyi kalimat diatas sesuai dengan bunyi UU no. atau d ) 1. b. 5. b. b. Demikian dalam kekuatan hukumnya sama. barang dikelompokkan berdasarkan sistem klasifikasi barang. ( B . 4. 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan pada : a.Klasifikasi Barang memberikan ketidak seragaman secara internasional penggolongan barang dalam tarif pabean. c. c. sub-heading dan penomoran hingga ke Pos tarif (10 digit). Fungsi dasar HS adalah untuk memberikan keseragaman dalam mengklasifikasi barang guna memberikan kemudahan pada perdagangan internasional. Untuk mengklasifikasi barang.S ) Ditinjau dari fungsi pengklasifikasian. Catatan Bagian. tanggal 1 Januari 1989 tanggal 1 Agustus 1988 tanggal 31 Januari 1988 tanggal 11 Januari 1989 3. d. Untuk penetapan tarif bea masuk. dikenal prosedur umum untuk mengklasifikasi DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 31 . c.S ) Apabila terdapat perbedaan sistem klasifikasi pada setiap negara akan memperpanjang waktu untuk penetapan bea masuk dan pengeluaran barang impor di pelabuhan. karena yang utama adalah uraian B. Bab dan Subheading . The Harmonized Commodity Description and Coding System (HS) mulai berlaku secara internasional sejak : a. pasal 16 pasal 115 pasal 14 pasal 116 2. ( B . Pilihlah jawaban yang Saudara anggap benar dengan cara melingkari huruf yang terdapat di depan jawaban tersebut a. d.

.Klasifikasi Barang barang. karena uraian jenis barangnya tidak ada dalam BTBMI 5. Sebutkan tujuan Harmonized System ? Apakah besarnya tarif bea masuk Indonesia secara hukum sesuai seperti apa yang tertulis dalam BTBMI tersebut ? DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 32 . c. pernyataan a. d.. a. 3. mengidentifikasi barang dengan mempelajari jenis dan spesifikasinya merumuskan identitas atau deskripsi barang tersebut melihat Buku Tarif klasifikasinya d. harus mengacu kepada perkembangan terakhir besarnya penetapan Bea Masuk c. Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan singkat dan benar 1.. hanyalah sementara (mengikuti surat Keputusan Menteri Keuangan RI) b. b. sebelum HS ! 2.. Sebutkan 3 Sistem dalam mengklasifikasi barang yang pernah digunakan Pemerintahan Republik Indonesia. b dan c benar C.. 4. Jelaskan apa yang dimaksud dengan konvensi HS ? Mengapa kita memilih suatu system seperti HS dalam menentukan klasifikasi barang ? 4. b. b dan c benar Bea Masuk Indonesia dan menentukan Dalam pengamatan sementara untuk mengklasifikasi barang. maka sebutkan pernyataan dibawah ini yang tidak benar a.. selalu berubah pernyataan a. Prosedur tersebut secara umum ialah . c. Jenis suatu jenis barang dimungkinkan tidak ada dalam HS Dapat terkait dengan beberapa bab Mengklasifikasi barang seluruhnya harus tepat secara eksak Barang tidak dapat diklasifikasikan. Pencantuman besarnya Bea Masuk pada Buku tarif Bea Masuk Indonesia : a.. d.. 5.

...... Umpan Balik dan Tindak Lanjut Bandingkanlah hasil jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif yang ada di belakang modul ini. Untuk kelompok C : Apabila benar seluruhnya nilai menjadi 100 DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 33 ...5.. Hitunglah jumlah jawaban Anda yang benar atau sejauh mana Anda menguasai mata pelajaran tersebut..Klasifikasi Barang 1. Kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap terhadap materi kegiatan belajar Rumus Tingkat Penguasaan Untuk kelompok A dan B : Jumlah Jawaban yang benar dibagi 10 kemudian dikali 100 % = ..

Tahapan dalam mengklasifikasi barang 3.Klasifikasi Barang Untuk nilai keseluruhan maka dibagi rata-rata dari (A+B) dan C Arti tingkat penguasaan : * 90 % . bila tingkat penguasaan Anda masih dibawah 80 %. Anda harus mengulangi membaca Modul kembali. terutama bagian yang belum Anda kuasai 2. Nota Penelitian Klasifikasi Barang DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 34 . Hasilnya Baik ! akan tetapi.100 % * 80 % * 70 % * 89 % 79 % 69 % = Baik sekali = Baik = Cukup = Kurang Kalau Anda mencapai tingkat penguasaan 80% keatas Anda dapat meneruskan kepada modul atau bagian pelajaran lain. Kegiatan Belajar (KB) 2 TEKNIK KLASIFIKASI BARANG Indikator Keberhasilan : Setelah mempelajari materi diharapkan siswa mampu menjelaskan 1. Ketentuan umum untuk menginterpretasikan Harmonized System 2.

klasifikasi harus ditentukan menurut uraian yang terdapat dalam pos dan berbagai Catatan Bagian atau Bab yang berkaitan serta menurut ketentuan-ketentuan berikut ini. KUM HS mutlak diperlukan sebagai pedoman dasar yang tidak boleh ditinggalkan. A. Seorang klasifikator harus memiliki kemampuan dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang karena akan menentukan ketepatan pengisian Pemberitahuan Impor Barang yang pada akhirnya menentukan ketepatan jumlah bea masuk dan pungutan impor lainnya yang harus dibayar. KUM HS 1 : Judul Bagian. Uraian dan Contoh Seorang klasifikator dibidang kepabeanan harus dapat mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang dengan terampil. Oleh karena itu. sadar atau tidak. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 35 . Mengingat begitu kompleksnya teknik klasifikasi barang. Untuk itu. untuk tujuan hukum. salah satu ketentuan dalam KUM HS harus dipergunakan. marilah kita pelajari satu-persatu enam butir KUM HS tersebut. KETENTUAN UMUM UNTUK MENGINTERPRETASI HARMONIZED SYSTEM 1) Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 1 Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System (KUM HS) merupakan pintu gerbang untuk memasuki klasifikasi barang. seorang klasifikator harus terlebih dahulu memahami pengetahuan barang dan pengetahuan mengenai klasifikasi barang.Klasifikasi Barang 2. Bab dan Sub-bab hanya dimaksudkan untuk memudahkan referensi saja. asalkan pos atau Catatan tersebut tidak menentukan lain.1. Setiap kali melakukan kegiatan klasifikasi barang.

Contohnya. 3. Namun mengingat banyaknya jenis barang. sutera adalah produk hewani. Contohnya. tetapi karena sifatnya yang khusus dalam HS tidak diklasifikasikan pada bab 5 (produk hewani tidak dirinci atau termasuk dalam pos lainnya). DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 36 . Uraian pos dan catatan-catatan tersebut merupakan pertimbangan utama. dan 5. tidak mungkin semua jenis barang dapat dicakup dengan persis pada setiap bab.jenis keledai .Klasifikasi Barang Penjelasan: HS adalah nomenklatur yang bersifat sistematik.02 hanya untuk produk tertentu.umur 2 tahun .dapat mendemontrasikan beberapa permainan dalam pertunjukan sirkus Pengklasifikasian apakah pada bab 1 atau bab 95 Perhatikan gambar keledai yang biasa digunakan untuk sirkus. catatan 2 Bab 31 menjelaskan pos 31. 4. Karena itu perlu diingat agar selalu mempertimbangkan semua bab atau pos yang mungkin mencakup suatu barang. tidak mempunyai kekuatan hukum. Uraian pada bab hanya untuk referensi saja. catatan bagian. dalam hal KUM HS 1 tidak bisa digunakan barulah digunakan KUM HS 2. Yang mempunyai kekuatan hukum adalah pos (heading). catatan bab. tetapi diklasifikasikan khusus pada bab 50. Apabila pos dan catatan-catatan tersebut tidak menentukan lain. Spesifikasi keledai : . Batasan ini tidak boleh diperluas dengan menggunakan KUM HS 2(b). dan catatan sub-pos.

asalkan pada saat diajukan. asalkan pada saat diimpor sudah mempunyai sifat utama sebagai barang lengkap atau rampung Sebagai contoh beberapa set sepeda yang diimpor dalam keadaan terurai. dan tiap setnya tidak ada sadel dan ban dalamnya. barang yang tidak lengkap atau belum rampung tersebut memiliki karakter utama dari barang itu dalam keadaan lengkap atau rampung.Klasifikasi Barang Bagaimana pengklasifikasiannya bila keledai tersebut diimpor oleh grup sirkus dari jerman ? 2) Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 2a dan 2 b KUM HS 2 a : Setiap referensi untuk suatu barang dalam suatu pos harus dianggap meliputi juga referensi barang tersebut dalam keadaan tidak lengkap atau belum rampung. Penjelasan: Barang tidak lengkap atau tidak rampung dianggap sebagai barang lengkap atau rampung. Referensi ini harus dianggap juga meliputi refensi untuk barang tersebut dalam keadaan lengkap atau rampung (atau yang berdasarkan ketentuan ini dapat digolongkan sebagai lengkap atau rampung) yang diajukan dalam keadaan belum dirakit atau terbongkar. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 37 . Namun tetap dianggap set sepeda karena sifat utamanya sebagai sepeda telah dimiliki.

memiliki laher dalam as ban . ketentuan ini hanya berlaku apabila pos atau catatan bagian atau catatan bab tidak menentukan lain. Mengapa demikian ? karena sifat sebagai susunya tidak berubah. karena uraian posnya sudah menyebutkan bahwa produk dalam pos tersebut tidak dicampur..Klasifikasi Barang Spesifikasi : .Ada alat perubah kecepatan .03 (-lard oil. maka pengklasifikasiannya tetap sebagai susu. Bagaimana pengklasifikasiannya bila sepeda tersebut : a) tidak dicat ..tidak diemulsi atau dicampur. Penjelasan: Campuran atau kombinasi dua atau lebih bahan atau zat diklasifikasikan berdasarkan KUM HS 1. Ingat.Sepeda merk :”Bamby” . Contoh.bisa dikendarai oleh orang tua maupun anakanak : Perhatikan gambar sepeda diatas.). Sebagai contoh suatu susu yang telah ditambah sedikit vitamin.. .b) tidak ada sadelnya c) dalam keadaan terurai KUM HS 2 b : Setiap referensi untuk suatu bahan atau zat dalam pos. Barang yang terdiri lebih dari satu jenis bahan atau zat harus diklasifikasikan sesuai prinsip dari Ketentuan 3. harus dianggap juga meliputi referensi untuk campuran atau kombinasi dari bahan atau zat itu dengan bahan atau zat lain. maka KUM HS DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 38 . pos 15.. Setiap referensi untuk barang dari bahan atau zat tertentu harus dianggap juga meliputi referensi untuk barang yang sebagian atau seluruhnya terdiri dari bahan atau zat tersebut.

bagian luarnya dilapisi plastik. Spesifikasi tutup botol : . KUM HS 3 baru dipergunakan DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 39 . maka klasifikasiannya harus diberlakukan sebagai berikut : Penjelasan: KUM HS 3 hanya dipergunakan bila KUM HS 2 tidak bisa dipergunakan. bagaimana bila sumbat botol bagian atas dilapis plastik ? 3) Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 3a. barang yang dengan pertimbangan awal dapat diklasifikasikan dalam dua pos atau lebih. Bagaimana pengklasifikasian tutup botol tersebut. b dan c KUM HS 3 : Apabila dengan menerapkan Ketentuan 2 (b) atau untuk berbgaia alasan lain. KUM HS 3(b).Terbuat dari gabus . KUM HS 2(b) tidak dapat digunakan (harus digunakan KUM HS 3).Klasifikasi Barang 2(b) tidak berlaku. Apabila tambahan atau campuran bahan atau zat menghilangkan sifat barang seperti diuraikan pada pos. baru kemudian KUM HS 3(c). Sekali lagi diingatkan. apakah pada bab 45 atau bab 39 Perhatikan sumbat botol diatas. Penggunaan KUM HS 3 harus urut dari KUM HS 3(a).

Klasifikasi Barang apabila uraian pos. bukan pada pos 87. maka KUM HS 3(a) tidak DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 40 .atau hanya merujuk kepada bagian dari bahan atau zat terkandung dalam campuran atau barang komposisi atau hanya merujuk kepada bagian dari barang dalam set yang disiapkan untuk penjualan eceran. Penjelasan: Pos dengan uraian lebih spesifik lebih diutamakan dari pos dengan uraian yang lebih umum. Contoh. Pos yang menyebutkan barang yang disebutkan secara rinci lebih diutamakan dari pos yang menyebutkan bagian suatu barang. Saringan oli walau sebagai bagian dari mesin pada pos 8409. catatan 4(b) bab 97 menentukan bahwa barang yang dirinci pada pos 97. Contoh shavers/hair clippers diklasifikasikan pada pos 85. Namun demikian.05 dan juga dirinci pada pos 97. bukan pada pos 85.01 sampai dengan 97.09 (self-contained motor). harus lebih diutamakan dari pos yang memberikan uraian yang lebih umum. namun pos 8421 uraian barangnya lebih rinci. catatan bagian. harus diklasifikasikan pada pos terdahulu awal (berarti bertentangan dengan KUM HS 3c ).03. Pos yang menyebutkan nama barang lebih diutamakan dari pos yang menyebutkan kelompok barang. Contoh. walaupun salah satu dari pos tersebut memberikan uraian yang lebih lengkap atau lebih tepat. Apabila dua atau lebih pos menguraikan hanya bagian dari bahan atau zat yang terkandung dalam suatu barang campuran atau komposit. atau catatan bab tidak menentukan lain. KUM HS 3 a : Pos yang memberikan uraian yang paling spesifik. Dalam hal ini KUM HS 3(c) tidak berlaku. maka pos-pos tersebut harus dianggap setara sepanjang berkaitan dengan barang tersebut. apabila dua pos atau lebih yang masing-masing pos hanya merujuk kepada bagian dari bahan atau zat yang terkandung dalam barang campuran atau barang komposisi. tufted textile for motor cars diklasifikasikan pada pos 57.06.08.10. atau bagian dari item dalam satu set barang untuk penjualan eceran.

meskipun salah satu pos lebih rinci dari pos lainnya. barang komposit yang terdiri dari bahan yang berbeda. dan barang yang dikemas dalam bentuk set untuk penjualan eceran.Klasifikasi Barang berlaku dan digunakan KUM HS 3(b) atau 3(c). ready-toeat-meal). Contoh.10). yang tidak dapat diklasifikasikan berdasarkan referensi 3 (a). rak bumbu dengan beberapa botol tempat bumbu kosong. Beberapa produk/barang bersama-sama untuk keperluan/kegiatan tertentu. Yang dimaksud dengan karakter utama (Essential character) pada KUM HS ini mengacu pada bahan atau komponen. Penjelasan: KUM HS 3(b) hanya berlaku untuk campuran. sisir DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 41 . Yang dimaksud dengan barang dikemas dalam bentuk set untuk penjualan eceran yaitu: • • • Paling sedikit dua produk yang berbeda pos (sembilan sendok bukan set). KUM HS 3 b : Barang campuran dan barang komposisi yang terdiri dari bahan yang berbeda atau yang dibuat dari komponen yang berbeda. serta barang yang disiapkan dalam set untuk penjualan eceran. Bisa langsung dijual tanpa perlu dibungkus/dikemas kembali (contoh. dan bersama-sama membentuk barang jadi yang secara normal tidak diperdagangkan terpisah. asalkan satu sama lain adapted to the other. jumlah. kemasan. harus diklasifikasikan berdasarkan bahan atau komponen yang memberikan karakter utama barang tersebut. KUM HS 3(b) berlaku juga untuk komponen yang terpisah. barang komposit yang terdiri dari komponen yang berbeda. berat atau nilai. Contoh set: hairdressing set yang terdiri dari electric hair clipper (85. mutually complementary. dan bahan utama yang berkaitan dengan penggunaan barang. sepanjang kriteria ini dapat diterapkan. dan bila KUM HS 3(a) tidak bisa digunakan.

dan handuk dari tekstil (63. kecap. bumbu. dikemas dalam tas kulit (42. dalam proporsi tertentu untuk keperluan industri (contoh. bawang dan cabe Perhatikan mie instan yang sudah mask diatas.03).15). saus.02).Klasifikasi Barang (96. Bingkai ini ditinjau dari bahan baku memiliki bahan yang sama dan seimbang antara pos 44. suatu bingkai berbentuk bujur sangkar yang 2 sisi terbuat dari kayu dan dua sisi lainnya terbuat dari logam.Mengandung mie. KUM HS 3(b) tidak berlaku untuk barang yang terdiri dari beberapa bagian yang dikemas terpisah (baik kemasan yang biasa digunakan maupun tidak). gunting (82. Contohnya.13).Supermi instan bungkus . sikat (96. Tahukah Saudara ketika belum dimasak yang bungkusannya terdiri dari : mie. saus.14 dan pos DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 42 . bumbudan bahan lainnya.10 (berdasarkan komponen yang memberikan sifat utama). barang diklasifikasikan pada pos terakhir. minuman).merk :”Mi Enak” .02) diklasifikasikan pada pos 85. maka barang tersebut harus diklasifikasikan dalam pos tarif terakhir berdasarkan urutan penomorannya di antara pos tarif yang mempunyai pertimbangan yang setara. Bagaimana Saudara mengklasifikasi bila dalam keadaan mentah atau dalam bungkusan ? KUM HS 3 c: Apabila barang tidak dapat diklasifikasikan berdasarkan referensi 3 (a) atau 3(b). Spesifikasi Mie :Instan : . Penjelasan: Bila KUM HS 3(a) dan 3(b) tidak dapat digunakan.

maka bingkai tersebut harus diklasifikasikan pada pos terakhir.memiliki kekuatan sama pada lapisan karet dan plastikas ban Perhatikan vanbelt ini. Berdasarkan KUM HS 4. yaitu pos 83. namun karena menurut KUM HS 3c. Ketentuan ini menetapkan bahwa barang-barang tersebut harus digolongkan kedalam pos atas barang DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 43 . tujuannya). harus diklasifikasikan ke dalam pos yang sesuai untuk barang yang paling menyerupai. b) Ketentuan ini mengenai barang-barang yang tidak dapat diklasifikasikan ke dalam salah satu pos dalam HS. klasifikasi berdasarkan barang yang sifatnya paling sesuai (misalnya uraian barangnya. Penjelasan: a) KUM HS 4 baru digunakan apabila KUM HS 1 sampai dengan KUM HS 3 tidak dapat digunakan.Van belt merk : :”Ando” .06.mengandung bahan plastik dan karet yang sama tebal .Klasifikasi Barang 83.06. Spesifikasi barang : . sifatnya. karena tidak ada uraian yang sesuai (misalnya yang baru muncul di pasaran dunia). bagaimana pengklasifikasiannya bila terbuat dari bahan plastik dan karet yang sama tebalnya ? 4) Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 4 KUM HS 4: Barang yang tidak dapat diklasifikasikan berdasarkan referensi diatas.

Ketentuan berikut ini harus diberlakukan terhadap barang tersebut di bawah ini : Tas kamera. kotak (boxes). Hal tersebut dilakukan untuk meneliti pada pos mana yang memiliki unsur kesamaan terbanyak. apabila kemasan tersebut memang biasa dijual dengan barang tersebut. KUM HS 4 baru digunakan apabila benar-benar tidak ada lagi data atau informasi yang dapat diperoleh untuk mengidentifikasi barang dimaksud. cocok untuk penggunaan jangka panjang dan diajukan bersama barangnya. penggunaan. data teknis. c) Pada waktu menerapkan ketentuan No.4. tas instrumen musik. Untuk itu. sifat. koper senapan. sangat disarankan untuk mencari lebih dulu informasi tentang barang dimaksud dari berbagai sumber yang ada. Namun demikian. dan seterusnya. barang yang akan diklasifikasikan harus diperbandingkan dengan uraian barang dalam beberapa pos HS yang memiliki kesamaan jenis atau karakternya. seperti literatur. Perlu diingatkan. 5) Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 5 KUM HS 5 : Sebagai tambahan dari aturan di atas. dan sebagainya. dibentuk secara khusus atau pas untuk menyimpan barang atau perangkat barang tertentu. internet. d) Persamaan dapat tergantung dari beberapa faktor seperti nama.Klasifikasi Barang yang memiliki persamaan terbanyak. kotak kalung dan kemasan semacam itu. tas instrumen gambar. dan tempat semacam itu yang: DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 44 . Penjelasan: KUM HS 5(a) berlaku untuk Peti (cases). sebelum memutuskan menggunakan KUM HS 4. harus diklasifikasikan menurut barangnya. ketentuan ini tidak berlaku untuk kemasan yang memberikan seluruh karakter utamanya.

gitar dengan kemasannya . dan sebagainya.Terbuat dari karet yang dilapisi tekstil tebal Perhatikan gambar guitar dan kemasannya diatas. Bagaimana Saudara mengklasifikasiguitar beserta kemasan diatas ? KUM HS 5 b : Berdasarkan aturan dari ketentuan nomor 5 (a) di atas.Klasifikasi Barang • • • • • khusus dibuat untuk barang tertentu. tidak memberikan sifat utama. tempat teleskop. Penjelasan: Mengacu pada KUM HS 5(a). biasa dijual bersama dengan barangnya. apabila bahan atau kemasan pembungkus tersebut memang biasa untuk membungkus barang tersebut. Contoh: tempat perhiasan. tempat senjata. pembungkus/tempat simpan diklasifikasikan DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 45 . tempat alat musik.merk :”Refly” . Spesifikasi barang : . Namun demikian ketentuan ini tidak mengikat apabila bahan atau kemasan pembungkus tersebut secara nyata cocok untuk dipakai berulangulang. digunakan untuk jangka waktu lama. bahan pembungkus dan kemasan pembungkus yang diajukan bersama dengan barangnya harus diklasifikasikan menurut barangnya. dimasukkan bersama barangnya (bila dimasukkan terpisah diklasifikasikan pada pos tersendiri).

contohnya gas yang diimpor bersama pengemasnya (tabung gas di bawah tekanan). Tempat semacam itu harus Sebagai contoh.Terbuat baja tahan karat Bagaimana pengklasifikasian suatu gas beserta tabungnya yang dapat diisi ulang ? Tabung gas LPG dengan isinya LPG pada pos berapa dalam Harmonized System ? 6) Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 6 KUM HS 6 : Untuk tujuan hukum klasifikasi barang dalam sub pos dari suatu pos harus ditentukan berdasarkan uraian dari subpos tersebut dan catatan subpos bersangkutan. sedangkan pengemasnya diklasifikasikan pada pos tarif tabung gas. Ketentuan ini tidak berlaku untuk tempat simpan yang nilainya jauh lebih tinggi dari barang yang disimpan di dalamnya. serta ketentuan ini di atas dengan penyesuaian seperlunya. Ketentuan ini tidak berlaku untuk pembungkus/tempat simpan yang digunakan berulang-ulang (repetitive use). dengan DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 46 .Klasifikasi Barang dengan barangnya bila biasa dipakai untuk barang tersebut. maka gasnya diklasifikasikan pada pos tarif gas.tabung gas berisi gas . tempat teh dari perak dan tempat diklasifikasikan tersendiri permen dari porselin berdekorasi China Spesifikasi barang : .merk :”Reflon” .

11 dan 7110. Platinum pada catatan 4(b) Bab 71 tidak sama dengan Platinum pada catatan subpos 2 (khusus untuk sub-pos 7110. biasanya kita sudah mempunyai gambaran umum apakah barang tersebut diklasifikasikan di bab tersebut atau DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 47 . KUM HS 6 berlaku sepanjang konteksnya tidak menentukan lain. 2. langkah-langkah berikut ini dapat digunakan untuk mengklasifikasi barang: 1. catatan bab. 3. Dengan mengetahui spesifikasi barang. Bila sudah kita tentukan. Baca dan cermati catatan Bagian atau Bab (atau catatan Sub-pos dalam hal tertentu) yang ditunjuk oleh penjelasan pada butir 3. Bab. Artinya. TAHAPAN MENGKLASIFIKASI BARANG Secara lebih rinci. atau pos mana barang tersebut diklasifikasikan. catatan bagian.19). Apabila ada catatan yang mengeluarkan barang tersebut dari Bab atau Bagian yang kita pilih. atau catatan subpos harus tetap menjadi pertimbangan utama. Perhatikan penjelasan-penjelasan dalam catatan Bagian maupun catatan Bab yang berkaitan dengan barang yang akan kita klasifikasi.Klasifikasi Barang pengertian bahwa hanya subpos yang setara yang dapat diperbandingkan. misalnya barang tersebut produk pertanian. Penjelasan: KUM HS 1 sampai dengan KUM HS 5 berlaku mutatis mutandis (secara langsung) untuk subsub pos pada satu pos yang sama (perbandingan pada takik yang sama). perhatikan pada Bagian. Pilih bab atau bab-bab yang berkaitan dengan spesifikasi barang tersebut. Pada tahap ini. baca dan perhatikan baik-baik catatan Bagian dan catatan Bab yang berkaitan dengan pilihan bab atau bab-bab pada butir 1. B. Kita identifikasi dulu barang yang akan kita klasifikasi. kita bisa memilih bab-bab yang lebih spesifik. Kita ulangi proses pengklasifikasian pada butir 3. barang kimia. atau mesin. Kecuali apabila konteksnya menentukan lain. 4. untuk keperluan ketentuan ini diberlakukan juga catatan Bagian dan catatan Bab. Contohnya.

8. kita baru dapat menggunakan KUM HS 2 apabila KUM HS 1 benar-benasr tidak dapat digunakan. dalam penentuan sub-pos dan pos tarif pun kadang timbul permasalahan klasifikasi yang sama dengan penentuan pos (4-digit). 5. Bila sudah kita temukan satu pos yang tepat. perlu diperhatikan bahwa yang dimaksud dengan sifat utama (essential character) meliputi berbagai aspek. Cara untuk meyakinkan bahwa KUM HS 1 gugur adalah dengan berusaha membuktikan bahwa hanya ada satu pos yang sesuai untuk barang tersebut. Dalam hal menggunakan KUM HS 3 (b). Pada tahap ini kadang-kadang kita sudah dapat menemukan pos yang mencakup barang tersebut dengan rinci. nilai (value). maka langkah selanjutnya tinggal menentukan sub-pos (6-digit) dan pos tarif (9-digit) yang sesuai. harus selalu diingat bahwa yang dibandingkan adalah pos-pos . Dalam membandingkan pos-pos. Usahakan paling tidak selalu mempertimbangkan ketiga aspek tersebut sebelum menentukan sifat utama suatu barang campuran. 7. kita mulai menggunakan KUM HS 2. Apabila sudah dipilih satu pos tarif yang benar-benar sesuai dengan uraian DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 48 . Beberapa aspek yang dapat digunakan sebagai dasar penentuan sifat utama adalah fungsi/kegunaan. dan bentuk fisik (appearance). maka kita mulai menelusuri pos-pos yang mungkin mencakup barang yang akan kita klasifikasikan dalam bab tersebut. atau pos-pos tarif. Ingat. perbandingan dimaksud tidak berdasarkan pembebanan impornya!. Ingat. Ingat. 6. maka yang harus dikerjakan adalah mencari informasi atau data tersebut lebih dulu. Jangan terburu-buru menggunakan KUM HS 2 sebelum kita benar-benar yakin KUM HS 1 tidak dapat digunakan. Sampai tahap ini sebenarnya kita sedang menggunakan KUM HS 1. Apabila sepintas lalu ada beberapa pos yang sesuai dengan spesifikasi barang. dalam mengklasifikasi. Setelah menemukan satu bab yang paling sesuai berdasarkan kajian di atas.Klasifikasi Barang di bab lainnya. Dalam hal KUM HS 1 tidak bisa diterapkan karena informasi atau data spesifikasi barang kurang lengkap. atau pospos tarif yang setara (perhatikan takiknya). sub-sub pos. sub-sub pos.

setidaknya ada dua fihak yang berkepentingan yaitu aparat DJBC dan importir/PPJK. Untuk memudahkan. Dalam mekanisme ini tidak jarang timbul perbedaan pendapat mengenai klasifikasi barang antara importir/PPJK dan aparat DJBC. PPnBM. dalam rangka pengimporan importir/PPJK memberitahukan sendiri jenis barang. NOTA PENELITIAN KLASIFIKASI BARANG 1) Pengantar Berkaitan dengan klasifikasi barang. bisa singkat atau memerlukan uraian yang cukup panjang tergantung pada permasalahan yang dihadapi. Dalam diktat ini disajikan cara membuat uraian rinci klasifikasi barang tersebut. Selanjutnya DJBC akan 2) Nota Penelitian Klasifikasi Barang Pada bagian akhir diktat ini disajikan juga contoh soal klasifikasi barang menggunakan nota penelitian klasifikasi barang. uraian rinci klasifikasi barang dimaksud kita sebut saja Nota Penelitian Klasifikasi Barang. Kerangka nota penelitian klasifikasi barang sebenarnya tidak baku. Sebagaimana selama ini telah berjalan. langkah selanjutnya adalah melihat pembebanannya (BM. atau cukai) dan ada atau tidak peraturan tata niaganya (IT.). Namun dalam diktat ini pembuatan nota penelitian klasifikasi barang tersebut diarahkan untuk mengikuti ketentuanketentuan dasar mengklasifikasi barang sesuai HS/BTBMI. C. dan lainlain. meneliti dan menetapkan klasifikasi barang tersebut. klasifikasi. aparat DJBC diharuskan membuat uraian rinci yang menjelaskan dasar klasifikasi barang dimaksud. Dalam mempertahankan pendapatnya. jangan lupa selalu menggunakan pembebanan yang up to date berdasarkan ketentuan yang terbaru. Karena pembebanan tersebut sering berubah. IP. Pertamina. Soal tersebut dapat dijawab dengan menggunakan contoh nota penelitian di bawah ini: DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 49 . dan pembebanan impornya.Klasifikasi Barang barang. PPN.

Contoh 2.Klasifikasi Barang Contoh 1. (Contoh ini umumnya diterapkan pada penelitian klasifikasi di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai): DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 50 .

Arang kayu masuk Bab 44.Klasifikasi Barang 3) Praktek Pembuatan Nota Penelitian Klasifikasi Barang 1..Bab 30.. Nama dan Jenis barang : Norit mengandung arang aktif dari arang kayu dalam bentuk tablet 5 gram dipergunakan untuk mengatasi keracunan atau perut kembung. .Subpos 3004.Pos 3004. Obat dalam dosis tertentu.Menurut catatan 1 (d) Bab 44 tidak meliputi arang aktif masuk pos 3802 .90 Lain-lain DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 51 . Bahan tersebut telah terdaftar dalam Farmakope Indonesia Alasan Klasifikasi : .Produk farmasi . .Bab 38 catatan 1 (d) tidak meliputi barang untuk obat …masuk Bab 30 Uraian klasifikasi : .

Subpos 3004.Pos tarif 3305.PPN … % PPh %. Nama dan Jenis barang : Sosis daging sapi yang dimasak Alasan Klasifikasi : .90. Nama dan Jenis barang : Shampo merk : KAO dalam tube 100 ml mengandung obat anti ketombe dan anti jamur atau kerontokan rambut Alasan Klasifikasi : .PPN … % P 3. .Makanan olahan masuk Bagian IV .90 Lain-lain .99. . .Shampo termasuk kosmetik Bab 33.Bila mengandung obat Bab 30 Lihat Bab 30 catatan 1(d) :Bab ini tidak meliputi pos 3303-3307 walau mengandung obat Uraian klasifikasi : . lihat cat 1 “.90.Lihat Bab 16 catatan 2 “Bab 16 meliputi olahan daging lebih dari 20 % makanan mengandung DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 52 . shampo Pos 3305.10 shampo . % .Subpos 3305. % .00 BM …..diolah selain dari bab 2 dan 3 masuk Bab 16…” .Pos 3305 preparat digunakan pada rambut.99..90.10.kosmetika… ..shampo Kesimpulan : Shampo mengandung obat anti kerontokan diklasifikasikan pada pos tarif 3305.Bab 33. 2.Klasifikasi Barang .00 Lain-lain Kesimpulan : Norit diklasifikasikan pada pos tarif 3004.90.00 BM ….10.90..00.Pos tarif 3004.Olahan dari ikan masuk Bab 16.

Bahan cat termasuk produk kimia bagian VI. Uraian klasifikasi : .Pos 1601 .50 alkid (poliester) dari poliester . 4. Alasan Klasifikasi : .sosis .50.. % . DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 53 .Subpos 1601.Klasifikasi Barang Uraian klasifikasi : . cat masuk bab 32 .00.Olahan dari daging ...00 BM …..Barang dari logam tidak mulia masuk Bagian XV. sosis .Subpos 3907.10.50.Pos tarif 3907. % PPN … % PPh %.pelarut kurang dr 50 % ke pos 3907.PPN … % PPh %.12.Bab 39..12. bahan pelarut yang mudah manguap 28 % dan bahan lainnya 13%.Bab 16 . 5..00 BM ….polimer ..00.Pos tarif 1601...Lihat catatan 4 bab 32 . Nama dan Jenis barang : Bahan untuk membuat cat besi mengandung bahan alkyd resin (poliester resin) 55 %..Pos 3907 poliester (alkid resin) .00…mengandung daging sapi Kesimpulan : Sosis daging sapi tersebut diklasifikasikan pada pos tarif 1601.10.00 cair Kesimpulan : Bahan cat tersebut diklasifikasikan pada pos tarif 3907. Nama dan Jenis barang : Kawat pilinan dari baja terdiri dari 5 buah yang dipilin tidak diisolasi ukuran diameter 2.5 cm digunakan untuk penarik mobil derek Alasan Klasifikasi : ..00.10.. pos 3208 meliputi bahan yang mengandung bahan pelarut mudah menguap lebih dari 50 % .

Pos tarif 7312.Subpos 7312. (walau bagian untuk mobil derek) Uraian klasifikasi : .Sub pos 8708.Pos tarif 8708.91.90. 6.Bab 87 Kendaraan yang bergerak selain diatas rel … . .Lihat Bagian XV catatan 2 “kawat dipilin masuk bagian untuk pemakaian umum pos 7312 ….Mobil derek masuk bab 87 ..90..00 ukuran 25 mm Kesimpulan : Kawat tersebut diklasifikasikan pada pos tarif 7312. Nama dan Jenis barang : Bagian dari kendaraan bermotor berupa : Radiator untuk mobil bus mini untuk pengangkutan 15 orang dengan mesin diesel dalam keadaan CKD masa total 10 ton Alasan Klasifikasi : . .90 bagian dan aksesori lainnya ….Kendaraan yang bergerak selain diatas Kendaraan Bab 87 . DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 54 .Radiator bagian dari kendaraan bermotor berjalan bukan di rel.Sub pos 8708. radiator .91.Klasifikasi Barang .Lihat Bagian XVII catatan 2(B) bagian untuk pemakaian umum tidak boleh masuk Bab 87 .Bab 73.Pos 8708 bagian untuk kendaraan bermotor. Bagiannya masuk pos 8708.Barang dari logam tidak mulia masuk Bab 73.00 BM …. kawat dipilin .30.kawat .Pos 7312 .% PPN …% PPh….10.00 untuk bus mini Kesimpulan : rel… masuk Bagian XVII.10.barang dari baja ..%.10. Uraian klasifikasi : .

harus menggunakan KUM HS nomor berapa ? 2.30. Bagaimana menurut pendapat Saudara mengenai penggunaan KUM HS nomor 4 dalam prakteknya ? 4. Sebutkab tahapan dalam membuat nota penelitian klasifikasi barang ? 8. Dahulu sampai dengan 10. Sebutkan contoh barang yang dalam mengklasifikasinya menerapkan KUM HS nomor 3a (selain yang telah disebutkan contoh diatas) 3.3. diperlukan data mengenai barangnya ? Sebutkan contoh kasus ! 5. Dalam mengklasifikasi barang dalam BTBMI diperlukan suatu pedoman. Rangkuman 1. rantai baja dan hiasan dari plastik. % . Mengapa dalam mengklsifikasi barang harus memperhatiakan bagian dan bab serta catatan bagian dan catatan babnya yang terkait dengan barang tersebut ? 7. Pedoman tersebut adalah Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System (KUM HS) merupakan ketentuan untuk memasuki klasifikasi barang. Mengapa sebelum mengklasifikasi barang. Dalam mengklasifikasi barang gantungan kunci yang terdiri dari ring baja. 2. nomor 7 sampai 10 dihilangkan dan DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 55 . Latihan 2 1. Bagaimana tahapan dalam mengklasifikasi barang agar menghasilkan pos tarif yang akurat ? 6.Klasifikasi Barang Radiaotor tersebut diklasifikasikan pada pos tarif 8708. Saat ini KUM HS hanya terdiri dari nomor 1 sampai dengan nomor 6. Nota penelitian klasifikasi barang seyogyanya memuat hal-hal apa saja ? 9.PPN … % PPh %.00 BM …. Mengapa dalam mengklasifikasi barang tidak hanya menyebutkan 9 digitnya atau kesimpulannya saja ? 2.2.91.

ditambah informasi barang dari brosur. demikian juga hasil penelitian klasifikasi barang harus disajikan dalam bentuk format yang benar. Lingkarilah huruf B apabila pernyataan ini Saudara anggap benar dan huruf S apabila pernyataan Saudara anggap salah. alas an klasifikasi. Dalam membuat nota penelitian klasifikasi barang ada yang sederhana dengan hanya menggunakan BTBMI.Klasifikasi Barang beberapa diantaranya menjadi surat keputusan Dirjen Bea dan Cukai 2. hasil analisa laboratorium atau sumber informasi lainnya 2. namun dilapangan nama barang berdasarkan hasil pemeriksaan. Berdasarkan pertimbangan tersebut baru ditentukan pos tarif yang tepat. 3. Pengamatan uraian barang dalam BTBMI dengan melihat bagaian.4.S ) Judul Bagian. ( B . Bab dan Sub-bab pada Buku tarif Bea Masuk DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 56 . Proses dalam mengklasifikasi barang harus seuai dengan aturan. bab dan catatan yang berkaitan dengan barang yang akan diklasifikasi. Pada prinsipnya meliputi identifikasi barang. agar menghasilkan keputusan yang tepat sesuai aturan yang benar. uraian klasifikasi dan kesimpulan. Test Formatif 2 A. mendeskripsikan jenis barang. Pada umumnya hsil penelitian dituangkan dalam suatu format yang berisikan komponen : nama dan jenis barang. 1. Dalam proses mengklasifikasi barang diperlukan tahapan yang sesuai. kemudian melihat uraian barang dalam BTBMI sesuai dengan yang akan diklasifikasi.

nama barang dan uraian jenis barang b.S ) Pernyataan 2b pada KUM HS adalah Barang tidak lengkap atau tidak rampung dianggap sebagai barang lengkap atau rampung. ( B . harus diklasifikasikan dengan barang tersebut jika biasa dijual dengan barang itu 5. ( B . alasan atau catatan yang digunakan c. asalkan pada saat diimpor sudah mempunyai sifat utama sebagai barang lengkap atau rampung 3. dengan bentuk atau kelengkapan khusus untuk menyimpan barang tertentu atau seperangkat barang tertentu. Pililihlah jawaban yang Saudara anggap benar dengan cara melingkari huruf yang terdapat di depan jawaban tersebut 1. cocok untuk pemakaian jangka panjang dan diimpor lengkap dengan isinya. Dalam membuat Nota Penelitian Klasifikasi Barang maka diperlukan kerangka yang singkat atau memerlukan uraian yang cukup panjang tergantung pada permasalahan yang dihadapi. sebaiknya kita identifikasi dulu barang yang akan kita klasifikasi. peti instrumen dan tempat simpan yang semacam.S ) Pernyataan 5b pada KUM HS adalah Peti kamera. ( B . Namun demikian nota tersebut setidak-tidaknya memuat tentang : a. ( B . Tidak mengikat secara hukum dalam mengklasifikasi 2. Dengan mengetahui spesifikasi barang maka akan lebih mendekati keakuratan dalam mengklasifikasi barang B.Klasifikasi Barang Indonesia hanya dimaksudkan untuk memudahkan penyebutan saja. Uraian klasifikasi mulai 2 digit sampai dengan 9 digit DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 57 .S ) Sebelum mengklasifikasi barang.S) Pernyataan 3a pada KUM HS adalah Pos yang memuat uraian yang paling terinci harus lebih diutamakan daripada pos yang memuat uraian yang lebih umum sifatnya 4.

berdasarkan KUM HS nomor : a. Larutan dengan kandungan asam cuka (acetic acid) lebih dari 10 % dikeluarkan dari bab 22 berdasarkan catatan : a. namun diklasifikasikan pada bab 22 dikarenakan KUM HS nomor : a. Suatu kemasan mengandung mie. 5a 3. diklasifikasikan sebagai mie pada bab 19. esklusif c. 3a 5. 3b b. 1 b. Walalupun etil alkohol merupakan bahan kimia organik. 5a d. 3a c. bumbu. 3c c. Jawablah dengan benar dan lengkap 1. 2b b. 2a c. pengertian 4. Definitif b. pernyataan a. Tabung gas LPG yang berisi gas LPG tidak dapat diklasifikasikan menjadi stu pos tarif karena ketentuan menurut KUM HS nomor : a. 2b d. 5b C. 3b d. Mengapa olahan makanan yang terbuat dari daging sapi yang dikukus tidak diklasifikasikan pada bab 2 DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 58 .Klasifikasi Barang d. ilustrasi d. b dan c benar 2. saos dan bawang.

tidak dikelantang dan tidak dimerserisasi. Automatic voltage regulator yang digunakan sebagai stabilizer otomatis untuk komputer harus diklasifikasikan pada pos 85. UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT Bandingkanlah hasil jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif yang ada DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 59 .Klasifikasi Barang 2.04 atau 90. Benang tenun terbuat dari campuran 70 % kapas (cotton) dan 30 % nilon.32 . 3. merupakan benang tunggal.5.Ketentuan dan catatan apa yang digunakan dalam mengklasifikasi barang tersebut 2. Mengapa sabun mandi mengandung obat pembasmi kuman walaupun mengandung obat tidak diklasifikasikan pada bab 30 sebagai produk farmasi. Mengapa tutup kepala (topi) pengaman untuk pengendara sepeda motor yang terbuat dari bahan plastik tidak diklasifikasikan pada bab 39 ? 4. dari serat disisir dengan nomor benang 150 decitex. Sebutkan alasannya 5.

Hitunglah jumlah jawaban Anda yang benar atau sejauh mana Anda menguasai mata pelajaran tersebut.. Arti tingkat penguasaan : * 90 % .. Anda harus mengulangi membaca Modul kembali..100 % * 80 % * 70 % * 89 % 79 % 69 % = Baik sekali = Baik = Cukup = Kurang Kalau Anda mencapai tingkat penguasaan 80% keatas Anda dapat meneruskan kepada modul atau bagian pelajaran lain..... Kegiatan Belajar (KB) 3 DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 60 . terutama bagian yang belum Anda kuasai 3.Klasifikasi Barang di belakang modul ini... bila tingkat penguasaan Anda masih dibawah 80 %. Kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap terhadap materi kegiatan belajar Rumus Tingkat Penguasaan Jumlah Jawaban Anda yang benar dibagi 15 kemudian dikali 100 % = .. Hasilnya Baik ! akan tetapi..

dan Catatan Sub-pos. JENIS CATATAN PADA BTBMI Disamping KUM HS. Struktur pengelompokkan barang 3. Seorang klasifikator harus memiliki kemampuan dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang karena akan menentukan ketepatan pengisian Pemberitahuan Impor Barang (PIB) yang pada akhirnya menentukan ketepatan jumlah bea masuk dan pungutan impor lainnya yang harus dibayar. Uraian dan Contoh Untuk menjadi menjadi seorang klasifikator dibidang kepabeanan yang handal harus dapat mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang dengan terampil. catatan-catatan dalam HS merupakan bagian integral yang harus diperhatikan benar-benar.Klasifikasi Barang CATATAN PENTING DALAM BUKU TARIF BEA MASUK INDONESIA (BTBMI) Indikator Keberhasilan : Setelah mempelajari materi diharapkan siswa mampu menjelaskan: 1. HS mempunyai Catatan Bagian. A. Catatan-catatan tersebut dapat dibagi berdasarkan jenisnya. Oleh karena itu.1. Jenis catatan pada BTBMI 2. Catatan Bab. Catatan penting dalam BTBMI 3. seorang klasifikator harus terlebih dahulu memahami pengetahuan barang dan pengetahuan mengenai klasifikasi barang. yaitu: DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 61 . Catatan-catatan tersebut mempunyai kekuatan hukum sama seperti uraian pos atau sub-pos.

08. 2) Catatan Eksklusif Catatan yang mengeluarkan barang tertentu dari suatu pos atau sub-pos dan memasukkannya dalam pos atau sub-pos tertentu lainnya. bahan jahit bedah steril yang semacam itu dan perekat kertas steril untuk penutup luka bedah. … … … … Preparat kontrasepsi kimia dengan bahan dasar hormon atau pembunuh sperma. Contoh: Catatan 1 Bab 2: Bab ini tidak meliputi: (a) Produk dari jenis yang diuraikan dalam pos No.02). (b) Usus. 05. 02. yang harus diklasifikasikan dalam pos tersebut dan tidak dalam pos lainnya dari Nomenklatur ini: (a) Catgut bedah steril.04) atau darah binatang (pos No.10. (b) (c) (d) (e) (f) (g) (h) Laminaria steril dan laminaria steril yang dapat menggembung. atau 02.01 sampai dengan 02. Hemostatik bedah atau gigi steril yang dapat menyerap.11 atau 30. selain produk dari pos No. 05. Contoh: Catatan 4 Bab 30: Pos no. yang tidak layak atau tidak sesuai untuk konsumsi manusia. 02. 30.04 hanya berlaku untuk hal berikut ini.Klasifikasi Barang 1) Catatan Definitif Catatan yang menjelaskan pengklasifikasian suatu barang pada pos atau sekumpulan pos tertentu.09 (Bab 15). atau (c) Lemak hewani. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 62 . kandung kemih atau perut dari binatang (pos No.

03. ikat pinggang. Catatan 1 Bab 9: Campuran dari produk dimaksud dalam pos no.Klasifikasi Barang 3) Catatan Ilustratif Catatan yang memberikan gambaran terhadap pengertian atau istilah yang perlu dijabarkan lebih lanjut. yang menguraikan pengertian-pengertian yang bersifat Catatan 2 Bab 3: Dalam Bab ini pengertian “pellet” adalah produk-produk yang telah diaglomerasi baik secara langsung dengan cara dikompresi atau dengan penambahan sejumlah kecil bahan pengikat. 91. istilah “barang pakaian dan perlengkapan pakaian” berlaku.13). ii. 09. apron dan pakaian pelindung lainnya.04 sampai dengan 09. 42.10 harus diklasifikasikan sebagai berikut: (a) Campuran dua produk atau lebih dari pos yang sama harus digolongkan dalam pos itu. 4) Catatan Lain-lain Catatan teknis.Contoh: i. antara lain.04 sampai DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 63 .10. Tambahan dari bahan lainnya ke dalam produk dari pos no. untuk sarung tangan (termasuk sarung tangan olah raga). tali penahan celana. 09. Contoh : Catatan 3 Bab 42: Untuk keperluan pos no. tali sandang dan semua jenis gelang. (b) Campuran dua produk atau lebih dari pos yang berlainan harus digolongkan dalam pos no. tetapi tidak termasuk arloji tangan (pos no. 09.

(b) Pegas dan lembaran untuk pegas.17 atau 73. Tatacara mengklasifikasi harus diikuti dengan urut agar benar-benar diperoleh hasil yang akurat.12.08. 73. 83.06. dan uraian pada pos.Klasifikasi Barang dengan 09. selain pegas untuk lonceng atau arloji (pos no.14).. sub-pos. Dalam Bab 73 sampai dengan 76 dan 78 sampai dengan 82 (tetapi bukan dalam pos no. Membaca dengan teliti dan memahami catatan-catatan di atas. 83. termasuk KUM HS. iii. 83.10 dan bingkai serta kaca dari logam tidak mulia.10 (atau campuran seperti yang dimaksud dalam (a) atau (b) di atas) tidak mempengaruhi penggolongannya asalkan…. dan pos tarif yang berkaitan dengan barang yang akan diklasifikasikan merupakan syarat mutlak yang harus dilakukan agar klasifikasi yang dilakukan benar-benar akurat. 91. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 64 .01.15. barang dari Bab 82 atau 83 tidak termasuk dari Bab 72 sampai dengan 76 Bab 78 sampai dengan 81. 73. 73. Mengklasifikasi barang tidak dapat dilakukan dengan hanya sekedar mencari satu pos tertentu saja.07.15) apa yang disebut bagian dari barang tidaklah termasuk uraian tentang bagian untuk pemakaian umum seperti diuraikan di atas. dari logam tidak mulia.18 dan barang semacam itu dari logam tidak mulia lainnya. istilah “bagian untuk pemakaian umum” berarti: (a) Barang dari pos no. 83. 83. Untuk beberapa hal cara seperti ini mungkin berhasil namun labih banyak risiko kegagalannya. Explanatory Notes. dari pos no. 73. Catatan 2 Bagian XV: Dalam seluruh Nomenklatur.02. Dengan memperhatikan ketentuan dalam ayat di atas dan Catatan 1 Bab 83. dan (c) Barang dari pos no. 73.

dan barang jadi (finished products). Namun beberapa jenis minyak dan lemak dikeluarkan dari bagian I dan diklasifikasikan pada bab 15. Di bawah ini disajikan urutan pengelompokan barang dalam HS/BTBMI: Bagian I mencakup binatang hidup dan produk dari binatang (daging. demikian juga halnya dengan jangat. produk susu. kulit. Sebagai contoh. produk yang dapat dimakan lainnya. barang dikelompokkan dalam 96 bab (dan bab 77 sebagai persiapan masa mendatang) yang dikelompokkan dalam 21 bagian. sepatu dari kulit binatang pada Bab 64. ikan. Struktur Pengelompokan Barang Pada BTBMI 1) Gambaran Per Bagian Dalam Harmonized System (HS). bulu dan barang terbuat daripadanya (diklasifikasikan pada bagian VIII). Pengelompokan tersebut berdasarkan urutan tingkat pengerjaannya. telur.Klasifikasi Barang B. dan produk yang tidak dapat dimakan). barang setengah jadi (semi-finished products). Bab 1 sampai dengan bab 24 (Bagian I sampai dengan Bagian IV) mencakup produk-produk pertanian dalam arti luas. bahan yang tidak/belum dikerjakan (unworked products). Bagian II DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 65 . jangat dan kulit binatang pada Bab 41. binatang hidup diklasifikasikan pada Bab 1. yaitu bahan baku (raw material). Urutan pengelompokan ini juga berlaku untuk bab dan pos. madu.

Berbagai jenis gula yang murni secara kimiawi diklasifikasikan pada Bab 29.).dan tembakau. kecuali beberapa jenis minyak dan lemak tertentu (bab 15) dan kayu (bab 44). Bagian III hanya terdiri dari bab 15 yang mencakup lemak dan minyak hewani dan nabati dan produk terbuat daripadanya (misalnya malam/wax). Demikian juga bahan pemanis tiruan masuk Bab 29. tepung. Minyak pada Bab II baik dalam keadaan mentah. sayuran. karena minyak nabati yang mudah menguap masuk Bab 33 sebagai minyak atsiri. produk makanan siap saji yang diawetkan diklasifikasikan pada Bagian IV. sereal. Terhadap produk yang telah mengalami proses lebih lanjut diklasifikasikan pada bab 19. Contohnya.Klasifikasi Barang mencakup produk sayuran. biji-bijian. telah diproses. bersama-sama dengan produk industri makanan yang tidak dicakup bab-bab sebelumnya. bab 20 atau bab 21. diantaranya digoreng. minuman keras. Umumnya minyak tidak menguap. HUBUNGAN BAGIAN I DAN II DENGAN BAGIAN IV BAGIAN I & II BAGIAN IV *BAB 2 (DAGING) BAB 3 (IKAN) *BAB 16 DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 66 DIPROSES LEBIH LANJUT . Produk-produk yang termasuk bagian I dan II belum mengalami proses pengerjaan kecuali sampai tahap tertentu (dengan beberapa pengecualian). Bagian IV mencakup produk minuman. baik yang bisa dimakan atau tidak (tanaman. seperti saccharin dan dulcin. dsb. cuka. Bab 16 meliputi daging atau ikan yang telah mengalami proses lebih lanjut. misalnya minyak goreng atau margarine yang siap dikonsumsi. buah. dikukus atau diawetkan secara permanen. Bab 17 meliputi gula dan bahan lainnya seperti sirop. madu tiruan dan karamel.

Sesuai dengan kemajuan teknologi. Karena DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 67 . sabun. bahan peledak. Hasil pertambangan yang telah diolah secara lain. pupuk.Klasifikasi Barang *BAB 4 (SUSU) BAB 10 (GANDUM. seperti 25 meliputi produk garam. batuan pada Bab 25 atau bijih logam pada Bab 26. Kecuali kalau susunannya mensyaratkan lain. belerang dan batuan lainnya hanya dalam keadaan mentah (crude). baik sumber mineral anorganik seperti tanah. hancur. cat. sedangkan apabila merupakan hasil bentukan atau pahatan masuk Bab 68 dan kalau bahan tersebut merupakan hasil pembakaran maka masuk Bab 69. dan lain-lain. maka produk barang-barang tersebut semakin bervariasi dan bertambah jenisnya. dan sumber bahan organik pada Bab 27 seperti batu bara. KENTANG) *BAB 20 Bagian V Mencakup produk mineral. Bagian VI Mencakup produk-produk kimia. Batu-batuan setengah permata atau batu permata digolongkan pada Bab 71. hasil gilingan atau saringan. maka Bab tambang. karet buatan serta barang dari plastik dan karet buatan banyak diimpor Indonesia. kosmetik. misalnya dimurnikan sebagai bahan kimia anorganik masuk Bab 28.GANDUMAN) *BAB 19 BAB 11 (PRODUK-GILINGAN) *BAB 7 (SAYURAN) BAB 8 (BUAH-BUAHAN) BAB 11 (PRODUK GILINGAN. hasil tumbuk. Bagian VII Mencakup plastik dan produk dari plastik (bab 39) dan karet dan produk dari karet (bab 40). baik yang berbentuk asal (primary form) maupun produk-produk industri kimia seperti produk farmasi. dan minyak bumi. Komoditi plastik. telah dicuci.

. khususnya dalam rangka klasifikasi barang. yaitu bab 39 (Plastik dan Barang Dari Plastik) dan bab 40 (Karet dan Barang Dari Karet). kulit berbulu. maka pengenalan dan proses pengidentifikasi barang tersebut semakin sulit. 4006 :TIDAK DIVULKANISASI : KARET PUGARAN : SISA.02 juga mencakup produk-produk tertentu terbuat bukan dari kulit. REJA : COUMPOND 3916-3921 : BARANG SETENGAH JADI 3922-3924 : BARANG JADI 4007-40016 : BARANG SETENGAH JADI 4017 : KARET KERAS Bagian VIII Mencakup produk-produk tertentu yang berasal dari binatang seperti jangat dan kulit (bab 41). Bagian VII Mencakup plastik/barang dari plastik serta karet/barang dari karet. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 68 . Bagian ini terdiri dari 2 bab. REJA.Klasifikasi Barang kemajuan teknologi pembuatan barang. termasuk kulit berbulu imitasi (bab 43).. Struktur dalam Bab 39 secara garis besar adalah : BAB 39 PLASTIK DAN BARANG DARI PLASTIK BAB 40 KARET DAN BARANG DARI KARET SUB-BAB 1 3901-3911 : POLIMER BUATAN 3912-3913 : POLIMER ALAMI 3914 : PENUKAR ION 4001-4002 : BAHAN KARET 4003 4004 4005 SUB-BAB II 3915 : SISA.01 dan 42. barang dari kulit atau usus binatang (bab 42).. Perlu dicatat bahwa pos 42.

Serat dapat berasal dari tumbuhan. Ada dua sistem yang dipakai dalam penomoran benang. yaitu pulp (bab 47). bulu unta. bulu kelinci. henneps. bulu kambing Angora (Mohair) dan sutera.Klasifikasi Barang Bagian IX Mencakup produk yang berasal dari tumbuhan. rami. yaitu : 1. goni dan sisal. misalnya serat kapas. 2. seperti kayu dan barang dari kayu (bab 44). Bagian XI Mencakup produk tekstil mulai dari sutera (bab 50) sampai dengan pakaian dan permadani (bab 63). dan produk industri percetakan (bab 49). Istilah sintetik digunakan dalam hubungan bahan polimer seperti poliamida. poliurethan dan lainnya. Benang tersebut biasa disebut sebagai lusi dan pakan. Serat dari tumbuhan atau disebut serat nabati. Serat yang berasal dari hewan misalnya bulu domba atau bulu anak domba. Sistem penomoran benang langsung (Direct Yarn Number) Sistem penomoran benang tidak langsung (Indirect Yarn Number) Kain yang terbuat dari benang dengan cara tenun. Bahan dasar tekstil adalah serat. Namun. bisa dilihat besar atau kecilnya suatu benang. benang pakan kalau dalam mesin rajut adalah yang bergerak menyilang benang lusi atau sesuai arah lebar kain. Kain rajut dibuat dengan jalan menjeratkan benang satu dengan yang lain atau pada DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 69 . Serat bila diproses akan menjadi benang. asetat sellulosa. dan semacam itu. Melalui data nomor benang. kertas karton dan barang terbuat daripadanya (bab 48). kertas. dibuat dengan mesin tenun melalui cara menyilangkan kelompok benang satu terhadap yang lain. yaitu serat sintetik dan serat artificial (tiruan). hewani. gabus dan barang dari gabus (bab 45). poliester. dan barang kerajinan tangan (bab 46). flaks. Serat buatan adalah serat hasil industri kimia. Bagian X Juga masih mencakup produk yang berasal dari tumbuhan. kemudian dari benang menjadi kain atau produk tekstil lainnya. mineral dan buatan manusia. sedangkan serat tiruan digunakan dalam hubungan untuk bahan dari rayon viskosa. Untuk memahami ini lihat Catatan 1 Bab 54. beberapa produk seperti furniture diklasifikasikan di bab lain (bab 94). Serat buatan manusia atau man made fiber terbagi dua.

Bagian XII Mencakup produk alas kaki (bab 64). dan bermacam-macam barang hasil pabrik (bab 96). pesawat ruang angkasa. atau bedah (bab 90). peralatan permainan. Bagian XV Mencakup logam tidak mulia dan barang terbuat daripadanya. Bagian XIV Mencakup hanya bab 71 yaitu mencakup mutiara dan batu mulia. pesawat terbang. fotografi. Bagian XIX Hanya terdiri dari bab 93 yang mencakup senjata dan amunisi. Bagian XVII Mencakup kendaraan. dll. gips. mainan. peralatan mekanik. dll. dan barang dari rambut manusia (bab 67). Bagian XIII Mencakup produk-produk yang diperoleh dari batu. (bab 66). sinematografi. payung.). plaster. dan kaca/barang dari kaca (bab 70). keramik (bab 69). dan uang logam. dan bangunan prefabrikasi (bab 94). Bagian ini mempunyai pos dan sub-pos yang sangat besar dibandingkan dengan bagian lainnya. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 70 . (bab 68). logam mulia. perhiasan. Bagian XVIII Mencakup perlatan optik. contohnya kaos. perlengkapan penerangan. kontrol. Bagian XVI Mencakup mesin.Klasifikasi Barang benang itu sendiri. tongkat jalan. ukuran. dll. dan peralatan listrik. semen. dan alat transportasi lainnya (kereta api. dan peralatan olahraga (bab 95). Bagian XX Mencakup furniture. dan perlatan musik (bab 92). papan nama iluminasi. Namun demikian bagian ini tidak mencakup barang dari logam dasar yang termasuk dalam bab-bab di belakangnya (seperti mesin dan kendaraan). lampu. T shirt dan kain katun (lihat Bab 60 tentang jenis kain ini). kapal laut. juga produk-produk tertentu dari bulu. tutup kepala (bab 65). jam (bab 91). medis. bunga buatan.

Pada Bab 6 tidak termasuk benih. 2) Hubungan Antar Bab Apabila kita mempelajari Bab demi Bab Harmonized System. dan barang antik. di bawah ini disajikan gambaran keterkaitan antar bab dalam HS: • Bab 1 mencakup antara lain binatang hidup. barang kegemaran kaum pengumpul. • Bab 6 meliputi semua tanaman hidup yang umumnya dimaksud untuk dijual oleh tukang bibit atau yang bergerak dibidang hortikultura yang serasi untuk ditanam atau dijadikan pajangan.Klasifikasi Barang Bagian XXI Hanya terdiri dari bab 97 yang mencakup hasil karya seni. diasap dan dipanggang. akan kita dapati bahwa terdapat keterkaitan antara bab tertentu dengan bab atau beberapa bab lainnya. Sayuran atau buah yang diawetkan dengan cuka atau dengan cara lain misalnya masuk Bab 20. melainkan pada bab 95 (pos 95. Namun kuda hidup yang digunakan dalam sirkus tidak klasifikasikan pada bab 1.08). • Daging pada Bab 2 hanya terhadap pengolahan terbatas seperti : segar. judul bab dalam HS sebagian besar bersifat umum. Dengan demikian dapat dimengerti apabila suatu barang yang sepintas termasuk dalam suatu bab ternyata diklasifikasikan pada bab lain. Produk yang dikemas dalam kedap udara dan mengalami pengolahan lebih jauh selain pengolahan dari Bab 2 maka diklasifikasikan pada bab 16. Perlu diingat bahwa judul bab bukan merupakan uraian yang bersifat mengikat secara hukum. Tetapi apabila kembang gula tersebut mengandung kokoa. Selain itu. Sebagai contoh. dingin. Hal ini dapat difahami mengingat antara bab satu dengan bab lainnya kadang-kadang mencakup barang yang mengandung bahan yang sama atau merupakan proses lebih lanjut dari barang dalam bab sebelumnya. maka harus DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 71 . • Kembang gula (sugar confectionery) diklasifikasikan pada bab 17. buah atau buah berbonggol dan umbi-umbian tertentu.

frame kacamata dari plastik (bab 90). Adalah tidak mungkin untuk menggambarkan dengan rinci keterkaitan antas bab dalam diktat ini. maka harus diklasifikasikan pada Bab 39 (plastik). barang tersebut diklasifikasikan di bab-bab lain. beberapa mesin dan peralatan tertentu tetap diklasifikasikan pada bab 84 meskipun elektrik. Sebagai contoh. Barang dari plastik diklasifikasikan pada Bab 39. furniture dari plastik (bab 94). seperti mesin dengan motor listrik. Bila sudah berbentuk barang yang khusus dibuat untuk keperluan tertentu.03 (electric central heating boiler) dan pos 84. Namun apabila etilene terpolimerisasi menjadi polietilena dengan jumlah unit monomer (n) 5 atau lebih. 3) Bab Pada BTBMI BAGIAN I BINATANG HIDUP. Untuk mengetahui keterkaitan antara bab satu dengan bab lainnya. dan sebagainya. Namun demikian. dan beberapa mesin lainnya.Klasifikasi Barang diklasifikasikan olahan makanan mengandung kokoa pada bab 18 (pos 18. • Bahan kimia etilena diklasifikasikan pada Bab 29 (bahan kimia organik).06). Untuk itu membaca catatan bab maupun catatan bagian merupakan kewajiban sebelum kita mengklasifikasikan suatu barang pada pos tertentu.19 (wood dryer). PRODUK HEWANI DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai BAB 72 . • Mesin dan peralatan mekanis diklasifikasikan pada bab 84 sedangkan mesin dan peralatan listrik diklasifikasikan pada bab 85. Contoh-contoh di atas adalah sebagian kecil contoh keterkaitan antar bab dalam HS. mesin pada pos 84. kita dapat melihat di catatan bab maupun catatan bagian. kotak jam dari plastik (bab 91).

Klasifikasi Barang 1. Daging & sisanya yang dapat dimakan 3. malti . getah. produk nabati tidak dirinci DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai pos lainnya 73 atau termasuk . pati. ekstrak nabati lainnya 14. madu alam. gluten gandum. akar dan bonggol tertentu yang dapat dimakan 8. bunga potong dan daun untuk hiasan 7. jerami dan makanan ternak. Binatang hidup 2. Sayuran. tidak dirinci atau termasuk dalam pos lain. Lak. mate dan rempah-rempah 10. umbi akar dan yang semacam itu. Ikan dan udang-udangan. damar dan air. tidak dirinci atau termasuk dalam pos lainnya 5. 12. teh. Buah & buah berbatok yang dapat dimakan. Biji mengandung minyak dan buah mengandung minyak . Bahan nabati untuk anyam-anyaman. Produk pabrik susu. bermacam-macam butir. 13. BAGIAN II PRODUK NABATI BAB 6. tanaman industri atau obat . Kopi. biji dan buah. Produk industri penggilingan . telur unggas. inulin . binatang lunak dan binatang air lainnya yang tidak bertulang belakang 4. Gandum-ganduman 11. Produk hewani. Pohon hidup dan tanaman lainnya. kulit dari buah jeruk dan melon 9. produk hewani yang dapat dimakan.

buah. Ampas. binatang lunak atau dari binatang air yang tidak bertulang belakang 17. minuman keras dan cuka 23. MINUMAN. tepung. 74 22. Minuman. pati atau susu. (Judul Bab sama dengan Bagian) BAGIAN IV BAHAN MAKANAN OLAHAN. DTSD Bermacam-macam olahan DTSD Kepabeanan dan Cukai yang dapat dimakan 21. dari ikan atau dari udang-udangan. MALAM HEWANI ATAU NABATI BAB 15. Olahan dari daging.Klasifikasi Barang BAGIAN III MINYAK DAN LEMAK HEWANI ATAU NABATI DAN PRODUK DISOSIASINYA. Olahan dari gandum-ganduman. TEMBAKAU DAN TEMBA KAU PENGGANTI BUATAN BAB 16. MINUMAN KERAS DAN CUKA. . Gula dan kembang gula 18. Kakao & olahan kakao 19. produk industri kue. Olahan dari sayuran. 20. olahan makanan hewan 24. LEMAK OLAHAN YANG DAPAT DIMAKAN. kacang atau bagian lain dari tanaman. dan sisa dari industri makanan. Tembakau dan tembakau pengganti buatan.

Ekstrak bahan samak DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai atau bahan celup. dempul dan damar lainnya. bahan celup. kapur dan semen. Bijih logam. preparat . bahan mengandung bitumen. dari unsur radio aktif dan dari isotop 29. tinta 33. tanah dan batu. Garam. senyawa organik atau organik dari logam mulia. Minyak atsiri dan resinoida. bahan samak dan 75 turunannya. Bahan kimia anorganik. Produk farmasi 31. pigmen dan bahan pewarna lainnya.Klasifikasi Barang BAGIAN V PRODUK MINERAL BAB 25. Bahan kimia organik 30. Bahan bakar mineral. Pupuk 32. dari logam tanah langka. belerang. bahan plester. wangi-wangian. Sabun bahan organik penggiat permukaan. 26. terak dan abu 27. kosmetika atau preparat pewangi 34. minyak mineral dan produk sulingannya. preparat pencuci. cat dan vernis. malam mineral BAGIAN VI PRODUK INDUSTRI KIMIA DAN INDUSTRI YANG ADA HUBUNGANNYA DENGAN INDUSTRI KIMIA BAB 28.

Klasifikasi Barang

BAGIAN

VII

PLASTIK DAN BARANG DARI PLASTIK; KARET DAN BARANG DARI KARET

BAB 39. 40.
Plastik dan Barang dari plastik Kulit dan Barang dari Kulit

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 76

Klasifikasi Barang

BAGIAN

VIII

JANGAT DAN KULIT MENTAH, KULIT SAMAK, KULIT BERBULU DAN BARANGNYA; PELANA TERMASUK PERLENGKAPANNYA DAN PAKAINAN KUDA; BARANG UNTUK BERPERGIAN, TAS TANGAN DAN TEMPAT SIMPAN SEMACAMNYA; BARANG DARI USUS (LAIN DARI USUS ULAT SUTERA)

BAB
41. 42. 43.

Jangat dan kulit mentah (lain dari kulit berbulu) dan kulit samak

Barang dari kulit samak; pelana termasuk perlengkapan dan pakaian kuda; barang untuk bepergian, tas tangan dan wadah yang semacam itu; barang dari usus hewan (lain dari pada usus ulat sutera) Kulit berbulu dan kulit berbulu tiruan

BAGIAN

IX

KAYU DAN BARANG DARI KAYU; ARANG KAYU; GABUS DAN BARANG DARI GABUS; BARANG DARI JERAMI, RUMPUT ESPARTO ATAU DARI BAHAN ANYAMAN LAINNYA; KERANJANG DAN BARANG ANYAMAN

BAB 44. Kayu dan barang dari kayu; arang kayu 45. Gabus dan barang dari DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai gabus 77 46. Barang dari jerami, dari rumput esparto atau dari bahan anyaman
lainnya; keranjang dan barang anyaman

Klasifikasi Barang

BAGIAN

X

PULP DARI KAYU ATAU DARI BAHAN SELLULOSA BERSERAT LAINNYA; KERTAS ATAU KERTAS KARTON (BEKAS DAN SISA) YANG DIPEROLEH KEMBALI; KERTAS DAN KERTAS KARTON DAN BARANGNYA

BAB
47.
Pulp dari kayu atau dari bahan sellulosa berserat lainnya, kertas atau kertas karton (bekas dan sisa) yang diperoleh

48. Kertas dan kertas karton; barang dari pulp kertas, dari kertas atau kertas
karton

49. Barang cetakan, surat kabar, gambar dan produk lainnya dari industri
percetakan; naskah tulisan tangan, naskah ketikan dan rencana

BAGIAN

XI

TEKSTIL DAN BARANG TEKSTIL

BAB

50. Sutera 51. Wool, bulu hewan halus DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai
78

atau kasar; benang bulu kuda dan kain tenunan

56. Gumpalan, kain kempa dan bukan tenunan; benang khsusu; benang pintal, tali tambang dan kabel dan barangbarangnya 57. 58.
Permadani dan tekstil penutup lantai lainnya Kain tenunan khusus; kain tekstil berjumbai; renda; permadani; hiasan;

52. Kapas

53. Serat tekstil dari nabati
lainnya ; benang kertas dan

PAYUNG PANAS. TUTUP KEPALA. Barang dan perlengkapan pakaian. PAYUNG. BULU UNGGAS. Barang dan perlengkapan pakaian. OLAHAN DAN BARANGNYA. Barang tekstil sudah jadi lainnya. TONGKAT DUDUK. pecut dan 67. Bulu unggas dan bulu unggas olahan serta barang terbuat dari bulu unggas atau bullu unggas tiruan. tongkat jalan. PECUT DAN BAGIANNYA. tidak dirajut atau dikait 63. Payung. BUNGA TIRUAN. barang dari rambut manusia . CAMBUK. gombal BAGIAN XII ALAS KAKI. Tutup kepala dan bagiannya 79 bagiannya semacam dari barang 66. BARANG DARI RAMBUT MANUSIA BAB 64. pakaian bekas dan barang tekstil bekas. rajutan atau kaitan 62.Klasifikasi Barang 61. pelindung kaki dan yang semacam itu . Alas kaki. cambuk. tongkat duduk. bunga tiruan. TONGKAT JALAN. payung panas. bagian DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 65. setelan.

LOGAM MULIA. MATA UANG LOGAM BAB DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 80 . KACA DAN BARANG DARI KACA BAB 68. Kaca dan barang dari kaca BAGIAN XIV MUTIARA ALAM DAN MUTIARA BUDIDAYA. gips. PERHIASAN IMITASI.Klasifikasi Barang BAGIAN XIII BARANG DARI BATU. asbes. Produk keramik 70. BATU PERMATA ATAU SEMI PERMATA. LOGAM MULIA KERAJANG DAN BARANGNYA. GIPS. ASBES. MIKA ATAU DARI BAHAN SEMACAM ITU. mika atau bahan semacam itu 69. PRODUK KERAMIK. SEMEN. semen. Barang dari batu.

Nikel dan barang terbuat dari 81. PERLENGKAPAN LISTRIK. DAN BAGIAN SERTA PERLENGKAPAN DARI BARANG YANG SEMACAM ITU BAB DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 81 . Aluminium dan barang terbuat dari aluminium 82. peralatan. dari logam tidak mulia. Tembaga dan barang terbuat dari 79. (Judul Bab sama dengan Bagian) BAGIAN XV LOGAM TIDAK MULIA DAN BARANG DARI LOGAM TIDAK MULIA BAB 72.Klasifikasi Barang 71. Perkakas. BAGIANNYA PESAWAT PEREKAM DAN PESAWAT REPRODUKSI SUARA. Logam tidak mulia lainnya. Seng dan barang terbuat dari seng 80. barang tajam. PESAWAT PEREKAM ATAU REPRODUKSI SUARA DAN GAMBAR UNTUK TELEVISI. Timah hitam dan barang terbuat dari timah hitam 73. Besi dan baja 78. barangnya 76.sendok dan garpu. Timah dan barang terbuat dari tembaga timah 75. Bermacam-macam barang dari logam tidak mulia BAGIAN XVI MESIN DAN PESAWAT MEKANIK.bagian bagiannya dari logam tidak mulia 83. Barang dari besi dan baja 74. nikel sermet.

perlengkapan isyarat lalu lintas mekanik dari segala jenis (termasuk elektronik) 87. ketel uap. PRESISI. pesawat ruang angkasa. bagiannya 85. INSTRUMEN MUSIK. SINEMATOGRAFI. BAGIAN XVIII ALAT DAN APARAT OPTIK. PENELITI.Klasifikasi Barang 84. Kendaraan selain yang begerak diatas rel kereta api atau trem. Mesin dan alat listrik serta bagiannya. UKUR. PESAWAT TERBANG. KENDARAAN AIR DAN PERLENG KAPAN PENGANGKUTAN YANG BERKAITAN BAB 86. POTOGRAFI. alat pemasang dan perlengkapan rel kereta api atau trem dan bagiannya. dan bagian serta perlengkapan dari barang yang semacam itu BAGIAN XVII KENDARAAN. BAGIAN DAN PERLENGKAPANNYA DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 82 BAB . pesawat perekam dan pesawat reproduksi suara. pesawat perekam dan reproduksi gambar dan suara untuk televisi. Lokomotif kereta api atau trem. serta bagiannya 89. mesin dan pesawat mekanik. Kapal udara. dan bagian serta perlengkapannya 88. KEDOKTERAN DAN BEDAH. LONCENG DAN ARLOJI. kendaran yang bergerak diatas rel dan bagiannya. Reaktor nuklir.

kedokteran dan bedah. BAGIAN DAN KELENGKAPANNYA BAB 93. (Judul Bab sama dengan Bagian) BAGIAN XX BERMACAM-MACAM BARANG HASIL PABRIK DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 83 BAB . peneliti. fotografi. bagian dan perlengkapannya 91. presisi. Alat dan aparat optik. bagian dan perlengkapan dari barang seperti itu BAGIAN XIX SENJATA DAN AMUNISI. ukur. Instrumen musik .Klasifikasi Barang 90. sinematografi. Lonceng dan arloji dan bagiannya 92.

papan nama iluminasi dan semacam itu. kasur. lapik kasur. tidak dirinci atau termasuk dalam pos manapun. keperluan permainan dan keperluan olah raga. (Judul Bab sama dengan Bagian) C. lampu dan perlengkapan penerangan. Mainan. catatan-catatan dalam HS merupakan bagian integral yang DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 84 . Bermacam-macam barang hasil pabrik lain XXI HASIL KARYA SENI. Perabot rumah. bagian dan kelengkapannya 96. Catatan Penting Pada BTBMI Disamping KUM HS. isyarat iluminasi. kasur tempat tidur. BARANG KEGEMARAN KAUM PENGUMPUL DAN BARANG ANTIK BAGIAN BAB 97. bantal dan kelengkapannya.Klasifikasi Barang 94. bangunan prefabrikasi 95.

sisa daging. Ketentuan ini tidak berlaku untuk produk diisi dari pos 19. kaper.. buah zaitun.02. adas pedas.Klasifikasi Barang harus diperhatikan benar-benar. saccharata). moluska atau invertebrata air lainnya. sisa daging. tarragon.09). daging. atau berbagai kombinasinya. terong. ikan atau krustasea. HS mempunyai Catatan Bagian. moluska atau invertebrata air lainnya.03 atau 21. darah.11 dan 07. labu sumsum. diklasifikasikan dalam pos pada Bab 16 yang sesuai dengan komponen atau komponen-komponen yang mendominasi menurut beratnya. jagung manis (Zea mays var. buah dari genus Capsicum atau dari genus Pimenta. 07. 3) Bagian IV Bab 19 Cacatan 1 1. dan Catatan Sub-pos. Catatan-catatan tersebut mempunyai kekuatan hukum sama seperti uraian pos atau sub-pos.04. 2) Bagian II Bab 16 Catatan 2 2. 07.10. ikan atau krustasea.12 kata "sayuran" meliputi jamur.02 atau olahan dari pos 21. lebih dari 20% menurut beratnya.Bab ini tidak meliputi : (a) Kecuali dalam hal produk diisi dari pos 19. chervil. Catatan Bab. Dalam hal apabila olahan mengandung dua atau lebih produk yang disebut di atas.09. lebih dari 20% menurut beratnya (Bab 16). diolah secara khusus untuk makanan hewan (pos 23. cress dan marjoram manis (Majorana hortensis atau Origanum majorana) yang dapat dimakan. Catatan-catatan penting tersebut adalah : 1) Bagian II Bab 7 Catatan 2 2.Dalam pos 07. olahan makanan mengandung sosis. darah. parsley.Olahan makanan digolongkan dalam Bab ini asalkan mengandung sosis. atau (c) Obat-obatan dan produk lain dari Bab 30. 4) Bagian IV DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 85 . daging. labu kuning. atau berbagai kombinasinya.. cendawan tanah.. (b) Biskuit atau barang lain yang dibuat dari tepung atau dari pati.

dan (c) pada saat diajukan. 5) Bagian VI Bagian VI catatan 3 3. dihomogenisasi secara halus. pengawet atau keperluan lain.Klasifikasi Barang Bab 20 catatan subpos 2 2.. istilah "olahan homogen" berarti olahan buah.Untuk keperluan subpos 2007. asalkan unsur tersebut : (a) berdasarkan penyiapannya jelas dapat dikenal untuk digunakan bersamasama tanpa dibungkus ulang sebelumnya. Olahan ini dapat mengandung sejumlah kecil buah yang dapat dilihat. disiapkan untuk penjualan eceran sebagai makanan bayi atau untuk keperluan diet.10.07. Untuk penerapan definisi ini tidak memperhitungkan sejumlah kecil berbagai bahan yang ditambahkan pada olahan tersebut sebagai penyedap. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 86 .10 harus dipertimbangkan lebih dahulu daripada subpos lain dari pos 20. dalam kemasan dengan berat bersih tidak melebihi 250 g.Barang yang disiapkan dalam set yang terdiri dari dua atau lebih unsur yang terpisah. (b) diajukan bersama. beberapa atau seluruhnya yang digolongkan dalam Bagian ini dan dimaksudkan untuk dicampur bersama untuk memperoleh produk dari Bagian VI atau VII. Subpos 2007. harus diklasifikasikan dalam pos yang sesuai dengan produk tersebut.. baik berdasarkan sifat atau perbandingan relatifnya. dapat dikenali sebagai unsur yang saling melengkapi satu sama lain.

Namun demikian.Dalam Catatan 1 Bab ini dan dalam pos 40. istilah "karet sintetik" berlaku untuk : (a) Zat sintetik tidak jenuh yang dapat diubah dengan tidak kembali ke sifat semula melalui vulkanisasi menggunakan belerang menjadi zat non termoplastik. tidak diperkenankan. seperti perentang..Klasifikasi Barang 6) Bagian VII Bab 39 catatan 4 4. bagian unit komonomer dari polimer yang termasuk dalam pos yang sama harus digolongkan bersama. Untuk keperluan Catatan ini. 87 peliat dan pengisi. kecuali apabila konteksnya menentukan lain. 7) Bagian VII Bab 40 catatan 4 (a) 4. . keberadaan berbagai zat DTSD DTSD Kepabeanantidak Cukai yang dan diperlukan untuk ikatan silang. yang pada suhu antara 18 C dan 29 C tidak akan putus bila di rentang hingga tiga kali panjang aslinya. dapat ditambahkan zat yang diperlukan untuk ikatan silang. produk kopoliadisi. maka kopolimer atau campuran polimer harus diklasifikasikan dalam pos terakhir berdasarkan urutan penomoran di antara pos yang mempunyai pertimbangan yang setara. dan setelah direntang hingga dua kali panjang aslinya selama lima menit.02. keberadaan zat yang dimaksud oleh Catatan 5 (b) (ii) dan (iii) juga diperkenankan. block copolymer dan graft copolymer) dan campuran polimer harus diklasifikasikan dalam pos yang mencakup polimer dari unit komonomer tersebut yang beratnya mendominasi berat unit komonomer tunggal lainnya. kopolimer (termasuk kopolikondensasi. Dalam hal tidak terdapat unit komonomer tunggal yang mendominasi. Untuk keperluan pengujian ini.Istilah "kopolimer" meliputi semua polimer yang unit monomer tunggalnya tidak ada yang beratnya 95% atau lebih menurut berat total kandungan polimer tersebut. Untuk keperluan Bab ini. seperti pengaktif dan akselerator vulkanisasi. panjangnya akan kembali menjadi tidak lebih dari satu setengah kali panjang aslinya..

(b) Pegas dan lembaran untuk pegas. selain pegas jam atau arloji (pos 91. Apabila tidak satupun bahan tekstil yang mendominasi menurut beratnya.10) dan benang berlogam (pos 56.17 atau 73.10 dan bingkai serta cermin (c) 88 dari logam tidak mulia. untuk pengklasifikasian kain tenunan.14). pertama. 73.15) referensi untuk bagian barang tidak meliputi referensi untuk bagian pemakaian umum sebagaimana dirinci di atas.08. (d) Apabila Bab atau pos merujuk pada barang dari bahan tekstil yang berbeda . maka bahan tersebut harus diperlakukan sebagai bahan 9) Bagian XV Bagian XV catatan 2 2. dan kemudian pos yang tepat dalam Bab tersebut.18 dan barang semacam itu dari logam tidak mulia lainnya. tanpa memperhatikan berbagai bahan yang tidak diklasifikasikan dalam Bab tersebut. dari logam tidak mulia.07. (c) Apabila Bab 54 dan 55 berkaitan dengan berbagai Bab lainnya. benang berlogam harus dianggap sebagai bahan tekstil. Dalam Nomenklatur ini.(A) Barang yang dapat diklasifikasikan dalam Bab 50 sampai dengan 55 atau dalam pos 58.09 atau 59. barang tersebut harus diklasifikasikan seolah-olah seluruhnya terdiri dari satu bahan tekstil yang termasuk dalam pos terakhir berdasarkan urutan penomoran di antara pos-pos dengan pertimbangan yang setara. 73.02 dan dari campuran dua bahan tekstil atau lebih harus diklasifikasikan seolah-olah seluruhnya terdiri dari satu bahan tekstil yang beratnya mendominasi berat setiap bahan tekstil lainnya. (b) Pilihan pos yang sesuai harus dilakukan.15. 83.. maka Bab 54 dan 55 harus diperlakukan sebagai Bab tunggal. dengan menentukan Babnya. dari pos 83. DTSD Kepabeanan dan Cukai 83.06. . (B) Untuk keperluan ketentuan di atas : (a) Benang lilit dari bulu kuda (pos 51.05) harus diperlakukan sebagai bahan tekstil tunggal yang beratnya dianggap seperti berat keseluruhan komponennya.12.02. 73. 83.01. Dalam Bab 73 sampai dengan 76 dan Bab 78 sampai dengan 82 (tetapi tidak dalam pos 73.Klasifikasi Barang 8) Bagian XI Bagian XI catatan 2 (A-B) 2. dan DTSD Barang dari pos 83. istilah "bagian untuk pemakaian umum" berarti: (a) Barang dari pos 73.

5. dengan peralatan penggerak. yang termasuk dalam salah satu pos dalam Bab 84 atau 85. dan.Apabila mesin (termasuk kombinasi mesin) terdiri dari komponen tersendiri (terpisah atau saling dihubungkan dengan pipa. melaksanakan program pengolahan yang memerlukan modifikasi pelaksanaannya.Kecuali apabila konteksnya menentukan lain. 11) Bagian XVI Bab 84 catatan 5 5. 4. (iii) Mengerjakan perhitungan aritmatika yang ditentukan oleh pemakai.71.Untuk keperluan Catatan ini. perlengkapan.. instalasi. permesinan.Klasifikasi Barang 10) Bagian XVI Bagaian XVI catatan 3. 89 (ii) Diprogram secara bebas menurut kebutuhan pemakai. mesin gabungan yang terdiri dari dua atau lebih mesin yang dipasang bersama untuk membentuk satu kesatuan dan mesin lainnya yang dirancang untuk keperluan melakukan dua fungsi atau lebih yang saling melengkapi atau fungsi alternatif. 4 dan 5 3. istilah " mesin " berarti berbagai mesin. istilah "mesin pengolah data otomatis" berarti mesin yang dapat : (i) Menyimpan program atau programprogram pengolahan dan sekurang-kurangnya data yang diperlukan segera untuk DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai pelaksanaan program tersebut.(A) Untuk keperluan pos 84. dengan kabel listrik atau dengan peralatan lainnya) yang dimaksudkan untuk digunakan bersama untuk melakukan fungsi tertentu secara jelas. harus diklasifikasikan seolah-olah terdiri hanya dari komponen tersebut atau sebagai mesin tersebut yang melakukan fungsi utama.. (iv) Tanpa intervensi manusia. dengan keputusan . seluruhnya harus diklasifikasikan dalam pos yang sesuai dengan fungsi tersebut.. aparatus atau peralatan yang disebut dalam pos pada Bab 84 atau 85..

kontak atau komponen tercetak lainnya (misalnya. atau induktansi khusus. elemen DTSD Kepabeanan dan Cukai semi konduktor).34 "sirkit tercetak" adalah sirkit yang diperoleh dengan pembentukan di atas dasar pengisolasi. mesin pemilin atau mesin pembuat kabel) dari kawat logam. suatu mesin yang kegunaan utamanya tidak diuraikan dalam pos manapun atau yang tidak ada satupun kegunaannya merupakan kegunaan utama. kapasitor). juga tidak meliputi resistor. Namun demikian. harus diperlakukan seolah-olah kegunaan utamanya adalah kegunaan satu-satunya. kecuali apabila konteksnya menentukan lain.79.Untuk keperluan klasifikasi. resistor. melalui berbagai proses pencetakan (misalnya. penyepuhan. memodulasi atau memperkuat sinyal DTSD elektris (misalnya. harus diklasifikasikan dalam pos 84.Untuk keperluan pos 85. Berdasarkan Catatan 2 pada Bab ini dan Catatan 3 pada Bagian XVI. tersendiri atau saling berhubungan menurut pola yang ditetapkan sebelumnya.79 juga meliputi mesin untuk membuat tali atau kabel (misalnya... selain elemen yang dapat memproduksi. pencetakan timbul. Istilah " sirkit tercetak " tidak meliputi sirkit yang dikombinasi 90 dengan elemen selain yang diperoleh selama proses pencetakan. benang tekstil atau berbagai bahan lainnya atau dari kombinasi bahan bahan tersebut. induktansi. menyearahkan. Pos 84. kapasitor.Klasifikasi Barang 12) Bagian XVI Bab 84 catatan 7 7. sirkit tercetak dapat dilengkapi dengan elemen penghubung tidak dicetak. 13) Bagian XVI Bab 85 catatan 5 5. pengetsaan) atau melalui teknik "sirkit film" berupa elemen konduktor. mesin yang digunakan untuk lebih dari satu kegunaan. mesin penjalin. Sirkit film tipis atau tebal yang terdiri dari elemen pasif dan aktif yang diperoleh selama proses teknologis yang .

79.81 atau 84.82 atau barang dari pos 84. atau (l) Sikat dari jenis yang digunakan sebagai bagian dari kendaraan (pos 96. atau barang semacam itu dari plastik (Bab 39). barang dari pos 84.06. cincin pipih atau sejenisnya dari berbagai bahan (diklasifikasikan menurut bahan utamanya atau dalam pos 84. (e) Mesin atau aparatus dari pos 84. Bagian atau aksesori yang memenuhi uraian dalam dua pos atau lebih dari pos pada Bab-bab tersebut.84) atau barang lainnya dari karet divulkanisasi selain karet keras (pos 40.. (d) Barang dari pos 83.Istilah "bagian" serta "bagian dan aksesori" tidak berlaku untuk barang berikut. (h) Barang dari Bab 91. (b) Bagian untuk pemakaian umum.16). (f) Mesin atau perlengkapan elektris (Bab 85). dapat diidentifikasi sebagai barang dari Bagian ini maupun tidak : (a) Sambungan. asalkan barang tersebut merupakan bagian integral dari mesin atau motor.05. (k) Lampu atau alat kelengkapan penerangan dari pos 94.91 dengan 88 tidak berlaku untuk bagian atau aksesori yang tidak cocok untuk digunakan sematamata atau terutama dengan barang dari Bab-bab tersebut.Klasifikasi Barang 14) Bagaian XVII Bagian XVII catatan 2 dan 3 2.83.03). harus diklasifikasikan menurut pos yang sesuai dengan . dari logam tidak mulia (Bagian XV). (c) Barang dari Bab 82 (perkakas). (ij) Senjata (Bab 93). sebagaimana dirinci dalam Catatan 2 Bagian XV. (g) Barang dari Bab 90. DTSD Referensi dan "bagian" atau "aksesori" dalam Bab 86 sampai DTSD Kepabeanan untukCukai 3.01 sampai dengan 84. atau bagiannya.

dengan pengukuran nilai aktual secara konstan atau periodik.Klasifikasi Barang 15) Bagian XVIII Bab 90 catatan 7 7. yang dirancang untuk memberi faktor tersebut untuk. distabilkan terhadap gangguan.Pos 90. tekanan atau variabel lainnya dari cairan atau gas secara otomatis. dan mempertahankannya pada nilai yang dikehendaki. yang pengoperasiannya tergantung pada fenomena listrik yang berubah-ubah menurut faktor yang dikontrol. dengan pengukuran nilai aktual secara konstan atau periodik. distabilkan terhadap gangguan.. yang dirancang untuk memberi faktor ini untuk. atau untuk mengontrol suhu secara otomatis. dan mempertahankannya pada nilai yang dikehendaki. dan (b) Regulator besaran listrik otomatis dan instrumen atau aparatus untuk mengontrol besaran bukan listrik secara otomatis.32 berlaku hanya untuk : (a) Instrumen dan aparatus untuk mengontrol arus. tinggi permukaan. yang penggunaannya tergantung maupun tidak pada fenomena elektris yang berubah-ubah menurut faktor yang harus dikontrol secara otomatis. 16) Bagian XXI DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 92 .

Klasifikasi Barang Bab 97 catatan 5 5. Sebutkan posnya saja batu pualam yang masih bongkahan dan yang telah jadi ubin ? 7. Sebutkan contoh catatan definitif pada Bab 39 ? 2. Sebutkan contoh catatan ekslusif pada Bab 71 ? 3.. 3.2. Sebutkan catatan ilustratif pada pada Bagian ? 4. bingkai yang bukan merupakan jenis atau nilai yang wajar untuk barang tersebut. gambar. Sebutkan 3 contoh barang termasuk bagian untuk pemakaian umum ? 8. Latihan 3 1. Rangkuman DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 93 . Merujuk pada Catatan ini.Bingkai yang terpasang pada lukisan. Apakah bingkai dan gambar yang sama mahal harganya diklasifikasikan dalam satu pos tarif ? 3. Bagaimana pengklasifikasian motor untuk mobil mainan ? 10. Daging sapi yang diolah sederhana masuk pos berapa ? Bagaimana bila telah dikukus masuk Bab berapa ? 6. ukiran. harus diklasifikasikan terpisah.3. barang cetakan atau litograf harus diklasifikasikan dengan barang tersebut. Saringan udara untuk mesin diklasifikasikan pada pos berapa ? 11. asalkan dari jenis dan nilai yang wajar untuk barang tersebut. gambar pastel. Sebutkan pos saja untuk barang mentega dan margarin ? 5. kolase atau plakat hiasan semacam itu. Bagaimana syarat komputer menurut Harmonized system pada Bab 84 ? 9.

Salah satu syarat menjadi seorang klasifikator yang baik adalah harus dapat memahami catatan penting. Secara singkat jenis catatan tersebut meliputi. 2. Hal ini diperlukan agar jangan sampai salah dalam menempatkan pengelompokan barang sesuai Harmonized system. Secara garis besarnya pintu gerbang tersebut akan mengatur tentang suatu barang yang boleh dimasukan.Sebaiknya seorang klasifikator yang bak akan memahami pengelompokan jenis barang dalam BTBMI 3. hewani. barang untuk kemanan dan barang kelontong.Klasifikasi Barang 1. ( B . Lingkarilah huruf B apabila pernyataan ini Saudara anggap benar dan huruf S apabila pernyataan Saudara anggap salah. nabati mineral dan selanjutnya kepada bahan kimia dan produknya. BTBMI terdiri dari 21 Bagian. Bab dan Sub-bab pada Buku tarif Bea Masuk DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 94 . illustratif. atau dikeluarkan sebagian serta penjelasan lainyya. Terakhir dengan mesin.4. dan penjelasan.S ) Judul Bagian. 1. Pengelompokan barang ini berawal dari binatang. Catatan merupakan pintu gerbang dalam memasuk bagian dan bab dalam BTBMI. Urutan pengelompokan barang umumnya didasarkan atas bahan dasar. barang presisi. Bab 1 sampai dengan 77 dan bab 78 sampai dengan bab 98. catatan definitive. Berbagai jenis barang akan dijelaskan dengan catatan dalam bagian. dikeluarkan. Bahkan dalam KUM HS nomor satu dinyatakan bahwa hal yang mengikat dalam mengklasifikasi barang adalah catatan. bab maupun subpos yang bersifat mengikat. kendaraan. Pemahaman pengelompokan barang akan mempermudah dan mempercepat dalam mengklasifikasi. proses setengah jadi dan barang jadi. Test Formatif 3 A. baik catatan bagian. 3. Catatan merupakan salah satu syarat penting dalam mengklasifikasi barang. bab maupun subpos. eksklusive.

cocok untuk pemakaian jangka panjang dan diimpor lengkap dengan isinya. ( B . harus diklasifikasikan dengan barang tersebut jika biasa dijual dengan barang itu 5. ( B .S ) Pernyataan 2b pada KUM HS adalah Barang tidak lengkap atau tidak rampung dianggap sebagai barang lengkap atau rampung.S ) Sebelum mengklasifikasi barang. Dengan mengetahui spesifikasi barang maka akan lebih mendekati keakuratan dalam mengklasifikasi barang B. alasan atau catatan yang digunakan c. Namun demikian nota tersebut setidak-tidaknya memuat tentang : a. asalkan pada saat diimpor sudah mempunyai sifat utama sebagai barang lengkap atau rampung 3.S ) Pernyataan 5b pada KUM HS adalah Peti kamera. nama barang dan uraian jenis barang b. ( B . Tidak mengikat secara hukum dalam mengklasifikasi 2. Pilihlah jawaban yang Saudara anggap benar dengan cara melingkari huruf yang terdapat di depan jawaban tersebut 1.S) Pernyataan 3a pada KUM HS adalah Pos yang memuat uraian yang paling terinci harus lebih diutamakan daripada pos yang memuat uraian yang lebih umum sifatnya 4. Dalam membuat Nota Penelitian Klasifikasi Barang maka diperlukan kerangka yang singkat atau memerlukan uraian yang cukup panjang tergantung pada permasalahan yang dihadapi. Uraian klasifikasi mulai 2 digit sampai dengan 9 digit DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 95 . ( B .Klasifikasi Barang Indonesia hanya dimaksudkan untuk memudahkan penyebutan saja. peti instrumen dan tempat simpan yang semacam. dengan bentuk atau kelengkapan khusus untuk menyimpan barang tertentu atau seperangkat barang tertentu. sebaiknya kita identifikasi dulu barang yang akan kita klasifikasi.

5a d. esklusif c. 5a 3. Larutan dengan kandungan asam cuka (acetic acid) lebih dari 10 % dikeluarkan dari bab 22 berdasarkan catatan : a. Walalupun etil alkohol merupakan bahan kimia organik. pernyataan a. Mengapa olahan makanan yang terbuat dari daging sapi yang dikukus tidak diklasifikasikan pada bab 2 2. 3b d. 3a 5. 2b d. 2b b. Mengapa sabun mandi mengandung obat pembasmi kuman walaupun mengandung obat tidak diklasifikasikan pada bab 30 sebagai produk farmasi. ilustrasi d. bumbu. Tabung gas LPG yang berisi gas LPG tidak dapat diklasifikasikan menjadi stu pos tarif karena ketentuan menurut KUM HS nomor : a. 2a c. 5b C. 1 b. berdasarkan KUM HS nomor : a. saos dan bawang. 3a c. b dan c benar 2. Suatu kemasan mengandung mie. 3c c. pengertian 4.Klasifikasi Barang d. definitif b. 3b b. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 96 . Jawablah pertanyaan soal dibawah ini dengan ringkas 1. diklasifikasikan sebagai mie pada bab 19. namun diklasifikasikan pada bab 22 dikarenakan KUM HS nomor : a.

. tidak dikelantang dan tidak dimerserisasi...5. Automatic voltage regulator yang digunakan sebagai stabilizer otomatis untuk komputer harus diklasifikasikan pada pos 85.. Hitunglah jumlah jawaban Anda yang benar atau sejauh mana Anda menguasai mata pelajaran tersebut.. dari serat disisir dengan nomor benang 150 decitex. Sebutkan alasannya 5.Klasifikasi Barang 3.100 % = Baik sekali DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 97 . Arti tingkat penguasaan : * 90 % . Kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap terhadap materi kegiatan belajar Rumus Tingkat Penguasaan Jumlah Jawaban Anda yang benar dibagi 15 kemudian dikali 100 % = .. Benang tenun terbuat dari campuran 70 % kapas (cotton) dan 30 % nilon.04 atau 90... UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT Bandingkanlah hasil jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif yang ada di belakang modul ini...Ketentuan dan catatan apa yang digunakan dalam mengklasifikasi barang tersebut 3. Mengapa tutup kepala (topi) pengaman untuk pengendara sepeda motor yang terbuat dari bahan plastik tidak diklasifikasikan pada bab 39 ? 4. merupakan benang tunggal..32 .

dan Identifikasi Serat. bila tingkat penguasaan Anda masih dibawah 80 %. dan Jangat. mengidentifikasi Barang dari Batu. Produk Keramik dan Barang dari Kaca. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 98 . Penomoran Benang. Anda harus mengulangi membaca Modul kembali. Kulit dan Barang dari Kulit. mengidentifikasi Plastik dan Barang dari Plastik.Klasifikasi Barang * 80 % * 70 % * 89 % 79 % 69 % = Baik = Cukup = Kurang Kalau Anda mencapai tingkat penguasaan 80% keatas Anda dapat meneruskan kepada modul atau bagian pelajaran lain. Hasilnya Baik ! akan tetapi. mengidentifikasi Serat. maupun tes formatif yang tersedia) diharapkan Saudara telah memahami bagaimana cara bahan / barang kimia anorganik – organic maupun produk yang terbuat daripadanya. terutama bagian yang belum Anda kuasai PENUTUP Setelah Saudara selesai mempelajari Modul ini (membaca serta mengerjakan latihan soal. Karet dan Barang dari Karet. Benang dan Kain.

b. koran. Untuk hal yang lebih “complicated” Saudara harus mencari tambahan pengetahuan sendiri melalui informasi di media masa. c.Klasifikasi Barang Mutiara. 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan pada : a. barang dikelompokkan berdasarkan sistem klasifikasi barang. Intan dan Logam Mulia. atau d ) 1. majalah serta media internet. Untuk penetapan tarif bea masuk. TES SUMATIF Pilihlah jawaban yang Saudara anggap benar dengan cara melingkari huruf yang terdapat di depan jawaban tersebut a. Bunyi kalimat diatas sesuai dengan bunyi UU no. baik buku pengetahuan. pasal 16 DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 99 . dan Logam Mulia dan mengidentifikasi mesin – mesin serta barang – barang dari elektronika Dengan kemampuan Saudara mengidentifikasi barang-barang tersebut diharapkan Saudara nantinya dapat mengklasifikasikannya kedalam Buku Tarif Bea Masuk Indonesia. Modul ini merupakan dasar dari pengetahuan dan identifikasi barang yang minimal harus Saudara ketahui.

. selalu berubah pernyataan a. hanyalah sementara (mengikuti surat Keputusan Menteri Keuangan RI) b. Untuk mengklasifikasi barang. harus mengacu kepada perkembangan terakhir besarnya penetapan Bea Masuk c. maka sebutkan pernyataan dibawah ini yang tidak benar a. pernyataan a. d. dikenal prosedur umum untuk mengklasifikasi barang.Klasifikasi Barang b. pasal 115 pasal 14 pasal 116 The Harmonized Commodity Description and Coding System (HS) mulai berlaku secara internasional sejak : a... karena uraian jenis barangnya tidak ada dalam BTBMI 5. tanggal 1 Januari 1989 tanggal 1 Agustus 1988 tanggal 31 Januari 1988 tanggal 11 Januari 1989 3. c. b. d. b dan c benar 6. Dalam pengamatan sementara untuk mengklasifikasi barang. Prosedur tersebut secara umum ialah . b. d. c.... Jenis suatu jenis barang dimungkinkan tidak ada dalam HS Dapat terkait dengan beberapa bab Mengklasifikasi barang seluruhnya harus tepat secara eksak Barang tidak dapat diklasifikasikan. a. b. c. d. c. 2. Dalam membuat Nota Penelitian Klasifikasi Barang maka diperlukan kerangka yang singkat atau memerlukan uraian yang cukup panjang tergantung pada DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 100 .. Pencantuman besarnya Bea Masuk pada Buku tarif Bea Masuk Indonesia : a. mengidentifikasi barang dengan mempelajari jenis dan spesifikasinya merumuskan identitas atau deskripsi barang tersebut melihat Buku Tarif klasifikasinya d. b dan c benar Bea Masuk Indonesia dan menentukan 4..

c. c. Namun demikian nota tersebut setidak-tidaknya memuat tentang : a. Dalam membuat Nota Penelitian Klasifikasi Barang maka diperlukan kerangka yang singkat atau memerlukan uraian yang cukup panjang tergantung pada DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 101 . diklasifikasikan sebagai mie pada bab 19. b. Tabung gas LPG yang berisi gas LPG tidak dapat diklasifikasikan menjadi stu pos tarif karena ketentuan menurut KUM HS nomor : a. namun diklasifikasikan pada bab 22 dikarenakan KUM HS nomor : a. b. d. d. c. bumbu. d. 7. d. berdasarkan KUM HS nomor : a. Walalupun etil alkohol merupakan bahan kimia organik. b. b. c. 1 2a 2b 3a 10. Larutan dengan kandungan asam cuka (acetic acid) lebih dari 10 % dikeluarkan dari bab 22 berdasarkan catatan : a. b. b dan c benar Suatu kemasan mengandung mie. saos dan bawang. 3b 3c 5a 5b 11. nama barang dan uraian jenis barang alasan atau catatan yang digunakan Uraian klasifikasi mulai 2 digit sampai dengan 9 digit pernyataan a. 2b 3a 3b 5a 8. d. Definitif esklusif ilustrasi pengertian 9.Klasifikasi Barang permasalahan yang dihadapi. c.

Larutan dengan kandungan asam cuka (acetic acid) lebih dari 10 % dikeluarkan dari bab 22 berdasarkan catatan : a. b dan c benar 12. b. saos dan bawang. b. b. berdasarkan KUM HS nomor : a. c. diklasifikasikan sebagai mie pada bab 19. bumbu. 3b 3c 5a 5b DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 102 . d. c. d. namun diklasifikasikan pada bab 22 dikarenakan KUM HS nomor : a. b. b. c. 1 2a 2b 3a 15. definitif esklusif ilustrasi pengertian 14. Suatu kemasan mengandung mie. Tabung gas LPG yang berisi gas LPG tidak dapat diklasifikasikan menjadi stu pos tarif karena ketentuan menurut KUM HS nomor : a. c. d. Namun demikian nota tersebut setidak-tidaknya memuat tentang : a. d. 2b 3a 3b 5a 13. Walalupun etil alkohol merupakan bahan kimia organik. d. nama barang dan uraian jenis barang alasan atau catatan yang digunakan Uraian klasifikasi mulai 2 digit sampai dengan 9 digit pernyataan a. c.Klasifikasi Barang permasalahan yang dihadapi.

3 1. KUNCI JAWABAN TEST FORMATIF 1.Klasifikasi Barang KUNCI JAWABAN I. TEST FORMATIF 1 DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 103 . 2.

a 2. b) Sistem Customs Cooperation Council (CCCN). 4. B 5. Sistem ini merupakan penyempurnaan dari sistem CCCN sebelumnya dan mulai diberlakukan pada tanggal 1 April 1987 sampai dengan 31 desember DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 104 . d C. B. Penetapan tarif ini merupakan penyempurnaan dari penetapan tarif sebelumnya dan mulai diberlakukan pada tanggal 1 Juli 1975 sampai dengan 30 september 1980. d 4. Pada dasarnya sistem pentarifan ini sama dengan sistem sebelumnya. Kelompok Pilihan Ganda 1. Sistem CCCN ini mulai diberlakukan pada tanggal 1 Oktober 1980 sampai dengan 31 Maret 1985. b 3. c 5. S B. 2. S 3. Kelompok Pernyataan Benar (B) atau Salah (S) 1 B.Klasifikasi Barang A. Kelompok Essay Nomor 1 a) Sistem Brussel Edisi 1975 (BTN 1975). hanya pada sistem CCCN ini terdapat penyempurnaan sistem penomoran pada sub-pos dari dua digit menjadi tiga digit atau semula 6 digit menjadi 7 digit. c) Sistem CCCN Edisi 1985 (CCCN 1985).

produsen. Untuk memberikan kekuatan hukum yang pasti. kelompok studi tersebut berhasil menyusun suatu nomenklatur (daftar klasifikasi barang berdasarkan kelompok-kelompok) yang dinamakan Harmonized Commodity Description and Coding System atau lebih dikenal dengan sebutan Harmonized System (HS). c) HS menggunakan dasar yang seragam untuk keperluan pentarifan secara internasional. pengangkut. dan . nomenklatur disahkan dalam Konvensi HS Nomor 3 a) HS adalah pedoman klasifikasi yang sistematik untuk seluruh barang yang diperdagangkan secara internasional.Klasifikasi Barang 1988. f) Merupakan kumpulan data yang seragam secara internasional sehingga dapat digunakan untuk mendukung analisis dan statistik perdagangan internasional. e) Sederhana dan memberikan kepastian dalam hal aplikasi dan interpretasi yang benar dan sama untuk keperluan negosiasi. eksportir. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 105 . Nomor 4 a) Memberikan keseragaman dalam daftar penggolongan barang yang dibuat secara sistematis. pembuatan dan analisis Statistik Pabean secara perdagangan dunia. dan aparat bea dan cukai. b) HS adalah pedoman klasifikasi yang sistematik untuk seluruh barang yang diperdagangkan secara internasional. Nomor 2 Pada akhir tahun 1986. b) Memudahkan pengumpulan. d) Menggunakan “bahasa pabean” sehingga dapat dengan mudah dimengerti oleh importir. untuk penetapan Tarif mendunia.

Klasifikasi Barang
c) Memberikan Sistem Internasional yang resmi Kode, Pen jelasan dan untuk pemberian penggolongan barang untuk tujuan

perdagangan seperti tarif pengangkutan, keperluan pengangkutan, dokumentasi dan sebagainya. d) Memperbaharui memberikan sistem klasifikasi kepada barang sebelumnya, teknologi untuk dan

perhatian

perkembangan

masyarakat industri serta pola perdagangan Internasional.

Nomor 5 Buku tarif Bea Masuk Indonesia hanyalah suatu referensi praktis agar dapat secara optimal digunakan di lapangan. Ketentuan hukum yang legal adalah sesuai Surat Keputusan Menteri Keuangan tentang perubahan Tarif Bea Masuk Indonesia (lihat Kata Pengantar pada BBTBMI)

2. TEST FORMATIF 2

A. Kelompok Pernyataan Benar (B) atau Salah (S) 1. B 2. S 3. B 4. S 5. B

B. Kelompok Pilihan Ganda 1. d 2. c 3. b 4. a 5. d

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 106

Klasifikasi Barang
C. Kelompok Essay

Diberitahukan hanya 6 digitnya (sub posnya) 1. Daging sapi hasil olahan sesuai bab 2 (pengolahan sementara/terbatas) diklasifikasikan pada bab 2. Bentuk pengolahan bukan sederhana, seperti dipanggang, dikukus dan pengolahan selain pada bab 2 diklasifikasikan pada bab 16. Lihat catatan 1 bab 16. Perhatikan pos tarif 1602.50.000. 2. Lihat catatan 1(e) Bab 30 3. Lihat catatan 1(n) Bab 39 4. Lihat catatan 2(A) Bagian XI 5. Lihat catatan 6(b) Bab 90 Perhatikan sub-pos 5206.24.

3. TES FORMATIF 3

A. Kelompok Pernyataan Benar (B) atau Salah (S) 1. B 2. S 3. B 4. S 5. B

B. Kelompok Pilihan Ganda 1. d 2. c 3. b 4. a 5. d

C. Kelompok Essay

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 107

Klasifikasi Barang
Diberitahukan hanya 6 digitnya (sub posnya) 1. Daging sapi hasil olahan sesuai bab 2 (pengolahan sementara/terbatas) diklasifikasikan pada bab 2. Bentuk pengolahan bukan sederhana, seperti di panggang, dikukus dan pengolahan selain pada bab 2 diklasifikasikan pada bab 16. Lihat catatan 1 bab 16. Perhatikan pos tarif 1602.50.000 2. Lihat catatan 1(e) Bab 30 3. Lihat catatan 1(n) Bab 39 4. Lihat catatan 2(A) Bagian XI 5. Lihat catatan 6(b) Bab 90 Perhatikan sub-pos 5206.24.

II. KUNCI JAWABAN TES SUMATIF

1. a 2. b 3. d 4. c 2. d 3. d 4. c 5. b 6. a 7. d 8. d 9. c 10. b 11. a 12. d

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 108

Jakarta Explanatory Notes. Wordl Customs Organization. (1995) Pusdiklat Bea dan Cukai. World Customs Organization. World Organization (1994) *** DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 109 .Klasifikasi Barang DAFTAR PUSTAKA Harmonized System. 2007 version Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (2007) Departemen Keuangan RI. 2007 Pengantar Klasifikasi Barang. Jakarta Classification Disputes Settled by The Harmonized System Committee.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful