P. 1
2011_DTSD_Klasifikasi_Barang

2011_DTSD_Klasifikasi_Barang

|Views: 147|Likes:
Published by Rabindra Wicaksana

More info:

Published by: Rabindra Wicaksana on Mar 18, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/24/2015

pdf

text

original

DIKLAT TEKNIS SUBSTANTIF DASAR

KEPABEANAN DAN CUKAI

Disusun Oleh:

Adang Karyana Syahbana, S.ST.
(Widyaiswara Madya)

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI 2011

DIKLAT TEKNIS SUBSTANTIF DASAR

KEPABEANAN DAN CUKAI

Disusun Oleh:

Adang Karyana Syahbana, S.ST.
(Widyaiswara Madya)

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI 2011

Klasifikasi Barang

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

i

..................... Relevansi Modul ..... 2........ 11 3) Publikasi Pelengkap HS ……………………………………… 13 4) Sistem Pengkodean …………………………………………..... Identifikasi dan Klasifikasi Barang ......................... 1....……………………………………............................... A..... DAFTAR ISI ................................................ Buku Tarif Bea Masuk Indonesia …………………………………....... 24 27 DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai ii .............. Latihan 1 ………………………………………………………….....2............................... Uraian dan contoh ................ 14 C.................... Prasyarat Kompetensi ………………................................ 3.................................................. Harmonized System ……………………………………………… 4 4 5 5 8 10 i ii v vi 1 1 1 2 3 4 4 1) Pengantar ……………………………………………………… 10 2) Tujuan Harmonized System ……………………………….…………………………………………………… 1......... PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL …………………………………………........................ 2) Struktur BTBMI ………………………………………………… 16 18 3) Kode Penomoran dan Pentakikan …………………………… 21 4) Arti kata “lain-lain” ……………………………………………....... PETA KONSEP MODUL ………………………………………………………….................... Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) .................................... KLASIFIKASI BARANG Indikator Keberhasilan ...... KEGIATAN BELAJAR ….............. B....…………………........……………...Klasifikasi Barang DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR .. Pendahuluan ………………………………………………………………… 1.......... 2) Langkah-Langkah Dalam Mengklasifikasi Barang ………… B....................... 1.......... 16 1) Dasar Hukum …………………………………………………..........1....... 4... MODUL KLASIFIKASI BARANG A..... 1) Identifikasi dan Klasifikasi Barang ………………………................................................... Deskripsi Singkat ……………………....... Kegiatan Belajar (KB) 1 ……………...................

.... Uraian dan contoh ......………………………………………………… 33 2.........Klasifikasi Barang 1...... 33 A...... Tahapan Mengklasifikasi Barang ...... Tes Formatif 1 ………………………………………………………....... 45 C.. Umpan Balik dan Tindak Lanjut ……………………..............……………………………………………………......4.4..... Kegiatan Belajar (KB) 2 …………….................... 1..... 2......... 2..... 27 29 32 2................ 47 1) Pengantar ……………………………………………………… 47 2) Nota Penelitian Klasifikasi Barang …………………………............................................ 33 TEKNIK KLASIFIKASI BARANG Indikator Keberhasilan ........ Latihan 2 …….................1... Umpan Balik dan Tindak Lanjut …………………….. 1) ketentuan umum untuk menginterpretasi harmonized system nomor 1 ………………………………………………................ Nota Penelitian …………………………………………………….... 33 2) Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 2a dan 2b ……………………………………………… 3) Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 3a.................................... b dan c ……………………………………………....... Ketentuan Umum Untuk Menginterpretasi Harmonized System ... 47 3) Praktek Pembuatan Nota Penelitian Klasifikasi Barang…… 49 2....... 4) Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 4 ………………………………………………………… 5) Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 5 ………………………………………………………… 6) Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 6 ………………………………………………………… 44 42 41 37 35 33 B............. 2..... Rangkuman …………………………………………………………........... 1......3.... Rangkuman …………………………………………………………........... Tes Formatif 2 ………………………………………………………...........2......... 52 53 54 57 DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai iii ...5....5.........3...

........... 104 DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai iv ......... 69 C. Jenis Catatan pada BTBMI .......Klasifikasi Barang 3................ 62 1) Gambaran per bagian ………………………………………… 62 2) Hubungan antar BAB ………………………………………….. Uraian dan contoh .............. 60 4) Catatan lain-lain ………………………………………………........... Kegiatan Belajar (KB) 3 ……………..............4..3................. Tes Formatif 3 ………………………………………………………....................... Rangkuman …………………………………………………………........... Catatan Penting Pada BTBMI …………………………………............………………………………………………… 58 3............1........ 58 A.............. 67 3) BAB pada BTBMI ………………………………………………................. 3....... 3..................... 3.... 59 3) Catatan Ilustratif ………………………………………………...2. 94 TES SUMATIF …………………………......................5. 3.......... Umpan Balik dan Tindak Lanjut ……………………... 81 89 89 90 93 PENUTUP …………………………………………………………………………….. 60 B..... Latihan 3 …….........................……………………………………………………........ 58 1) Catatan definitive ……………………………………………… 59 2) Catatan Eksklusif ……………………………………………...... Struktur Pengelompokan Barang Pada BTBMI ...... 58 CATATAN PENTING DALAM BUKU TARIF BEA MASUK INDONESIA (BTBMI) Indikator Keberhasilan ….............. 95 KUNCI JAWABAN ( TES FORMATIF DAN TES SUMATIF ) …………………… 99 DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………………......

maka peserta diklat diharapkan mempelajari modul ini secara urut mulai dari Kegiatan Belajar 1 sampai dengan Kegiatan Belajar 3. maka kegiatan belajar dapat dilanjutkan pada kegiatan belajar berikutnya. maka peserta diklat dapat dinyatakan lulus dari kegiatan belajar DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai v . 2. Kerjakanlah Tes Formatif pada kegiatan belajar yang sedang dipelajari. Cocokkan hasil tes formatif dengan kunci jawaban tersebut. Pelajari materi yang menjadi isi dari setiap kegiatan belajar (dengan cara membaca materi minimal 3 kali membaca isi materi kegiatan belajar tersebut). 4. Lihat kunci jawaban Tes Sumatif yang terletak pada bagian akhir modul ini 9. Cara mempelajari setiap kegiatan belajar adalah mengikuti tahap-tahap berikut ini: 1.Klasifikasi Barang PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL Untuk dapat memahami modul ini secara benar. Lihat kunci jawaban Tes Formatif dari kegiatan belajar tersebut yang terletak pada bagian akhir modul ini. apabila ternyata hasil Tes Formatif peserta diklat memperoleh nilai minimal 67 (jumlah yang benar x 100/15). 3. dengan cara membaca kembali ringkasan materi untuk mendapatkan hal-hal penting yang menjadi fokus perhatian pada kegiatan belajar ini. Lakukan review materi secara umum. 8. 6. Kerjakan Tes Sumatif apabila semua Tes Formatif dari seluruh kegiatan belajar telah dilakukan. 5. namun apabila diperoleh angka di bawah 67. maka peserta diklat diharuskan mempelajari kembali kegiatan belajar tersebut agar selanjutnya dapat diperoleh angka minimal 67. Lihat apa yang menjadi target indikator dari kegiatan belajar tersebut. apabila ternyata hasil tes sumatif peserta diklat memperoleh nilai minimal 67 (jumlah yang benar x 100/25). Cocokkan hasil tes sumatif dengan kunci jawaban tes sumatif. 7.

Harmonized System : Pengantar. Hubungan antar BAB. agar lebih mudah dipahami maka disarankan kepada peserta diklat untuk mempelajari peta konsep modul. Tujuan Harmonized System. Catatan Ilustratif. 3c. Tahapan Mengklasifikasi Barang. Dengan demikian pola pikir yang sistematik dalam mempelajari modul dapat terjaga secara berkesinambungan selama mempelajari modul. Arti kata “lain-lain” Kegiatan Belajar 2 – TEKNIK KLASIFIKASI BARANG Materi : Ketentuan Umum Untuk Menginterpretasi Harmonized System : ketentuan umum untuk menginterpretasi harmonized system nomor 1. Kode Penomoran dan Pentakikan. Catatan Penting Pada BTBMI DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai vi . 4.Klasifikasi Barang PETA KONSEP Dalam mempelajari modul ini. 3b. Catatan lain-lain. Sistem Pengkodean. 2b. Nota Penelitian Klasifikasi Barang. 6. BAB pada BTBMI. Struktur Pengelompokan Barang Pada BTBMI : Gambaran per bagian. Publikasi Pelengkap HS. Buku Tarif Bea Masuk Indonesia : Dasar Hukum. Langkah-Langkah Dalam Mengklasifikasi Barang. 3a. Catatan Eksklusif. 2a. Struktur BTBMI. 5. Kegiatan Belajar 1 – KLASIFIKASI BARANG Materi : Identifikasi dan Klasifikasi Barang: Identifikasi dan Klasifikasi Barang. Praktek Pembuatan Nota Penelitian Klasifikasi Barang Kegiatan Belajar 3 – CATATAN PENTING DALAM BUKU TARIF BEA MASUK INDONESIA (BTBMI) Materi : Jenis Catatan pada BTBMI : Catatan definitive. Nota Penelitian : Pengantar.

Seorang klasifikator harus memiliki kemampuan dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang karena akan menentukan ketepatan dalam klasifikasi dalam Pemberitahuan Impor Barang (PIB) yang pada akhirnya menentukan ketepatan jumlah bea masuk dan pungutan impor lainnya yang harus dibayar. Diskripsi singkat Seorang Pegawai Ditjen Bea dan Cukai harus menjadi seorang klasifikator dibidang kepabeanan Oleh karena itu. 2. Prasyarat Kompetensi Peserta yang akan ditunjuk untuk mengikuti Diklat Teknis Substantif Dasar DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 1 .Klasifikasi Barang A PENDAHULUAN MODUL KLASIFIKASI BARANG 1. seorang klasifikator harus terlebih dahulu memahami pengetahuan barang dan pengetahuan mengenai klasifikasi barang.

tahapan dalam engklasifikasi barang dan membuat nota penelitian klasifikasi barang berdasarkan BTMBI. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Standar Kompetensi Setelah mempelajari modul ini. Identifikasi dan klasifikasi barang DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 2 . misi dan tujuan organisasi pada organisasi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Kompetensi Dasar Setelah mempelajari Modul ini para siswa diharapkan dapat menjelaskan : 1.Klasifikasi Barang adalah pegawai lulusan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas dan pernah bertugas sebagai pelaksana pada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai sesuai ketentuan Kepegawaian Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. para Siswa diharapkan mampu memahami landasan dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang berdasarkan Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI). Persyaratan tersebut penting karena pengalaman kerja sangat perlu bagi kelancaran pelaksanaan tugas sebagai pemeriksa dalam lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Diklat Teknis Substantif Dasar merupakan Diklat yang bertujuan mencetak pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai sebagai pelaksana pemeriksa yang mempunyai kemampuan melaksanakan tugas dalam pemeriksaan barang dan tugas pemeriksaan lainnya untuk menjamin dipenuhinya visi. Dengan pengalaman dan dasar pendidikan tersebut diharapkan peserta diklat akan mempunyai gambaran awal tentang klasifikasi barang impor / ekspor pada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai sehingga diharapkan lebih mudah mencerna dan memahami modul Klasifikasi Barang. para siswa diharapakan mampu menerapkan ketentuan umum untuk menginterpretasi Harmonized System. para siswa mampu menjelaskan pengelompokkan barang dan jenis catatan berdasarkan BTBMI. 3.

Nota Penelitian. Harmonized System (HS) 3. Setelah mempelajari materi modul ini diharapkan peserta mendapat pemahaman yang benar tentang klasifikasi barang. Buku Tarif Bea Masuk Indonesia. serta Catatan Penting dalam Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI). 4. Relevansi Modul Relevansi modul terhadap tugas pekerjaan yang akan dijalankan peserta diklat adalah sebagai berikut : a. Ketentuan umum untuk menginterpretasi Harmonized System 5. Harmonize System. Nota penelitian klasifikasi barang 7. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 3 . Tahapan Mengklasifikai Barang. Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI ) 2007.Klasifikasi Barang 2. Ketentuan Umum untuk Menginterpretasikan Harmonized System. Jenis catatan pada BTBMI 8. Struktur pengelompokan barang 9. Tahapan dalam engklasifikasi barang 6. Materi modul ini terkait pada mata pelajaran lain. dan diharapkan dapat memberikan gambaran secara utuh tugas pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dalam pengklasifikasian barang. Catatan penting dalam BTBMI 4. b.

Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI ) 2007 1.1.Klasifikasi Barang B KEGIATAN BELAJAR 1. Seorang klasifikator harus memiliki kemampuan dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang karena akan menentukan ketepatan dalam klasifikasi DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 4 . Harmonized System (HS) 3. Identifikasi dan klasifikasi barang 2. Uraian dan Contoh Seorang Pegawai Ditjen Bea dan Cukai harus menjadi seorang klasifikator dibidang kepabeanan Oleh karena itu. Kegiatan Belajar (KB) 1 KLASIFIKASI BARANG Indikator Keberhasilan : Setelah mempelajari materi diharapkan siswa mampu menjelaskan: : 1. seorang klasifikator harus terlebih dahulu memahami pengetahuan barang dan pengetahuan mengenai klasifikasi barang.

Informasi apa yang diperlukan untuk mengidentifikasi suatu barang dan darimana informasi tersebut diperoleh? Informasi yang diperlukan sebenarnya tergantung dari uraian yang ada pada BTBMI yang berkaitan dengan barang DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 5 . kita harus tahu lebih dulu spesifikasi barang itu. barulah kita dapat melakukan langkah kedua yaitu Klasifikasi barang. Sebelum mengklasifikasi suatu barang. Keakuratan mengklasifikasi tergantung dari keakuratan dalam mengidentifikasi barang. A. Langkah ini dinamakan Identifikasi barang. Setelah kita mendapatkan seluruh informasi yang dibutuhkan melalui identifikasi barang. Langkah pertama dalam mengklasifikasi adalah apa yang akan diklasifikasikan. Seorang klasifikaotr tidak mungkin dapat mengklasifikasikan suatu barang dengan benar bila ia tidak tahu spesifikasi barang tersebut. Diharapkan dengan menggunakan metode ini para siswa dapat dengan mudah mengklasifikasi barang. Cara seperti ini tidak akurat dan sering menyebabkan terjadinya kesalahan klasifikasi yang mengakibatkan negara dirugikan.Klasifikasi Barang dalam Pemberitahuan Impor Barang (PIB) yang pada akhirnya menentukan ketepatan jumlah bea masuk dan pungutan impor lainnya yang harus dibayar. Perlu diingat bahwa setelah melakukan tahap klasifikasi. baru diketahui bahwa informasi yang ada belum lengkap sehingga kita harus kembali melakukan identifikasi barang untuk memperoleh informasi yang diperlukan tersebut. Namun sekali lagi perlu diingat. Dalam buku ini akan dijelaskan dengan singkat langkah-langkah praktis dalam mengklasifikasi barang. IDENTIFIKASI DAN KLASIFIKASI BARANG 1) Identifikasi dan Klasifikasi Barang Langkah-langkah apa yang harus dilakukan untuk dapat mengklasifikasi suatu barang dengan benar? Biasanya klasifikasi tersebut dilakukan dengan mencari langsung pos tarif yang dianggap sesuai. klasifikasi yang benar hanya dapat dilakukan apabila mengetahui jenis barang dan memahami aturan-aturan mengklasifikasi dengan benar.

bagaimana pengemasnya. apa kegunaannya. Semakin banyak informasi yang kita miliki tentang barang tersebut. Semakin sederhana dan rinci uraian barang pada BTBMI. butiran atau bongkahan. Informasi yang diperlukan tentunya semakin banyak dan rumit. Informasi lain dapat kita peroleh dari berbagai sumber di atas. semakin mudah bagi kita untuk mengklasifikasikan barang karena tidak dibutuhkan informasi yang terlalu rumit (misalnya. bagaimana bentuknya. kegunaan. Demikian juga apabila barang tersebut berupa barang elektronik. Bagaimana seandainya yang akan kita klasifikasikan adalah suatu bahan kimia? Barangkali sebelum mengklasifikasi kita memerlukan berbagai informasi mengenai barang kimia tersebut: apakah organik atau anorganik. buatan. hanyalah kuda bibit. Darimana kita dapat memperoleh informasi yang kita perlukan untuk mengklasifikasi suatu barang? memperhatikan bagan di bawah ini: Untuk mengetahui spesifikasi barang yang akan kita klasifikasikan. Fisik barang itu sendiri sudah Mari menjawab pertanyaan tesebut dengan memberikan beberapa informasi yang kita butuhkan. apa komposisinya. atau kuda untuk sirkus).Klasifikasi Barang bersangkutan. informasi yang diperlukan untuk mengklasifikasikan kuda hidup. apakah bentuk asal atau preparat. Berapa watt dan voltage tenaga listrik yang dibutuhkan. dan keterangan lainnya. semakin akurat kita mengklasifikasikannya. misalnya apakah bentuknya cair atau padat. dan sebagainya. banyak sumber informasi yang dapat kita gunakan. dan sebagainya. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 6 . untuk tujuan olah raga.

elektronik. bagian dari barang lain. kimia. lebh dari satu macam kegunaan? • How is it imported? Bagaimana saat diimpor? ⇒ kemasan? belum lengkap? terurai? dalam bentuk set? Pertanyaan di atas harus dijawab sebelum kita memulai tahap klasifikasi. mesin? • What is it made of? Dibuat dari apa barang tersebut? ⇒ komposisi. atau barang jadi? produk pertanian. aksesoris. barulah kita berusaha mencari pos yang DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 7 .Klasifikasi Barang Identifikasi barang diperlukan untuk menjawab setidak-tidaknya empat pertanyaan dasar di bawah ini: • What is it? Barang apa yang diimpor? ⇒ bahan baku. Apabila kita sudah mempunyai jawaban. setengah jadi. bahan yang dominan? • What for? Digunakan untuk apa? ⇒ kegunaan tertentu. campuran.

dari jenis pabrik apa. bahan baku dan semua informasi mengenai barang. Prosedur Umum Klasifikasi Dalam mengklasifikasi barang menggunakan BTBMI. merumuskan identitas atau deskripsi barang tersebut. prosedur yang digunakan adalah sebagai berikut : i. melihat buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI).Klasifikasi Barang tepat. bukan satu pos tertentu?). dan seterusnya). Kita dapat menemukan satu pos tertentu bila pos dimaksud dengan spesifik menguraikan jenis barangnya. pertanian. 2) Langkah-Langkah Dalam Mengklasifikasi Barang a. Tahapan Mengklasifikasi Barang DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 8 . Kalau dari pabrik farmasi kecenderungannya grade farmasi atau kemurnian mendekati 100 %. setelah 3W + 1H ⇒ What are the classifiable codes? Mengapa “What are classifiable codes?” (pos-pos. iii. misalnya apakah pabrik farmasi atau pabrik produksi pipa plastik. identifikasi barang yang akan diklasifikasikan. v. iv. mesin. b. Keterangan kemurnian barang akan berkaitan dengan harga barang tersebut. ii. Untuk itu kita perlu mengantisipasi semua pos tarif yang mungkin untuk dipilih satu pos yang paling sesuai. Namun pada umumnya suatu pos mencakup atau menguraikan satu kelompok barang sehingga sepintas lalu seakan-akan ada satu barang yang dicakup oleh dua atau lebih pos. proses sederhana dan proses canggih/kompleks. mempelajari jenis. Keterangan pabrik atau produsen barang perlu diperhatikan. menentukan klasifikasi barang ke dalam BTBMI (dapat dimulai baik dari segi bahan baku menjadi barang jadi. Demikian juga negara asal barang akan berpengaruh terhadap mutu atau harga barang. Hal ini untuk mengetahui grade atau kemurnian dari bahan tersebut. fungsi. mineral. Dengan kata lain. kimia.

Buku Tarif Bea Masuk Indonesia. Identitas barang meliputi : nama. berat. biasanya kita sudah mempunyai gambaran umum apakah barang tersebut diklasifikasikan di bab tersebut atau di bab lainnya.). dan lain-lain. Apabila sudah dipilih satu pos tarif yang benar-benar sesuai dengan uraian barang. barang kimia. IP. dalam penentuan sub-pos dan pos tarif pun kadang timbul permasalahan klasifikasi yang sama dengan penentuan pos (4-digit). Pilih bab atau bab-bab yang berkaitan dengan spesifikasi barang tersebut. Dengan mengetahui spesifikasi barang. Bila sudah kita temukan satu pos yang tepat. Bila sudah kita tentukan. Tahapan lebih rinci akan dijelaskan kemudian setelah memahami apa itu Harmonized System. misalnya barang tersebut produk pertanian. Ingat. Ketentuan Umum Untuk Menginterpretasi Harmonized System dan teori pendukung lainnya. guna. bauatan. Setelah menemukan satu bab yang paling sesuai berdasarkan kajian di atas. Apabila ada catatan yang mengeluarkan barang tersebut dari Bab atau Bagian yang kita pilih.Klasifikasi Barang Dalam penjelasan ini disajikan tahapan mengklasifikasi barang secara garis besar. 4. Pada tahap ini. kita bisa memilih bab-bab yang lebih spesifik. Karena pembebanan tersebut sering berubah. PPnBM. atau pos mana barang tersebut diklasifikasikan. PPN. 2. 3. kemasan dan informasi lain yang bergunauntuk mengklasifikasi barang. langkah selanjutnya adalah melihat pembebanannya (BM. 1. Perhatikan penjelasan-penjelasan dalam catatan Bagian maupun catatan Bab yang berkaitan dengan barang yang akan kita klasifikasi. perhatikan pada Bagian. maka kita mulai menelusuri pos-pos yang mungkin mencakup barang yang akan kita klasifikasikan dalam bab tersebut. Kita identifikasi dulu barang yang akan kita klasifikasi. Bab. atau mesin. atau cukai) dan ada atau tidak peraturan tata niaganya (IT. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 9 . baca dan perhatikan baik-baik catatan Bagian dan catatan Bab yang berkaitan dengan pilihan bab atau bab-bab pada butir 1. maka langkah selanjutnya tinggal menentukan sub-pos (6-digit) dan pos tarif (9-digit) yang sesuai. Dalam tahap ini tentunya menggunakan kaidah-kaidah seperti yang ada dalam nomor 1 sampai dengan 10 Ketentuan Umum Untuk Menginterpretasi Harmonized System 5. Pada tahap ini kadang-kadang kita sudah dapat menemukan pos yang mencakup barang tersebut dengan rinci. Pertamina. fungsi.

Berdasarkan pasal 14 ayat 2 Undangundang Kepabenan Indonesia Nomor 10 tahun 1995. penetapan klasifikasi barang diatur lebih lanjut oleh Menteri Keuangan. a. Pada saat ini sistem pengklasifikasian barang di Indonesia didasarkan pada Harmonized System dan dituangkan dalam bentuk suatu daftar tarif yang kita kenal dengan sebutan Buku Tarif Bea Masuk Indonesia.Klasifikasi Barang jangan lupa selalu menggunakan pembebanan yang up to date berdasarkan ketentuan yang terbaru. Sejarah Sistem Klasifikasi di Indonesia DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 10 . B. pengangkutan dan statistik. HARMONIZED SYSTEM 1) Pengantar Klasifikasi barang adalah suatu daftar penggolongan barang yang dibuat secara sistematis dengan tujuan untuk mempermudah pentarifan transaksi perdagangan.

Sistem Customs Cooperation Council (CCCN).Klasifikasi Barang Sebelum diberlakukannya Harmonized System. yang berlaku sejak kemerdekaan Republik Indonesia sampai dengan 31 Desember 1972. Sistem CCCN Edisi 1985 (CCCN 1985). mulai berlaku sejak tanggal 1 Januari 1973 sampai dengan 30 Juni 1975. tetapi juga digunakan untuk kepentingan lain seperti statistik. Sistem Brussel Edisi 1975 (BTN 1975). Pada akhir tahun 1986. Pada dasarnya sistem pentarifan ini sama dengan sistem sebelumnya. Sistem Jenewa (Geneve Nomenclature). Sistem ini diterapkan di Indonesia berdasarkan PP No. Sistem ini merupakan penyempurnaan dari sistem CCCN sebelumnya dan mulai diberlakukan pada tanggal 1 April 1987 sampai dengan 31 desember 1988. 26 tahun 1988 dan diwujudkan dalam bentuk Buku Tarif Bea Masuk Indonesia 1989 dan dinyatakan berlaku mulai tanggal 1 Januari 1989. Customs Cooperation Council (CCC) yang sekarang dikenal dengan nama World Customs Organisation (Organisasi Pabean Dunia) telah membentuk suatu kelompok studi yang berusaha untuk menciptakan suatu nomenklatur klasifikasi barang yang tidak semata-mata untuk keperluan pabean. Sistem Harmonisasi (Harmonized System). hanya pada sistem CCCN ini terdapat penyempurnaan sistem penomoran pada sub-pos dari dua digit menjadi tiga digit atau semula 6 digit menjadi 7 digit. b. Penetapan tarif ini merupakan penyempurnaan dari penetapan tarif sebelumnya dan mulai diberlakukan pada tanggal 1 Juli 1975 sampai dengan 30 september 1980. Sistem Brussel (Brussel Tariff Nomenclature atau BTN). Mengapa HS ? Sejak tahun 1970. Sistem CCCN ini mulai diberlakukan pada tanggal 1 Oktober 1980 sampai dengan 31 Maret 1985. pengangkutan. f. d. c. Indonesia telah menggunakan beberapa sistem klasifikasi untuk barang impor. kelompok studi tersebut berhasil menyusun suatu DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 11 . yaitu : a. dan negosiasi perdagangan. b. e.

termasuk Indonesia yang telah meratifikasi konvensi HS dengan Keppres Nomor 35 tahun 1993. mengakibatkan timbulnya kesulitan dalam mengantisipasi kemajuan teknologi. Memudahkan pengumpulan. untuk memberikan perhatian kepada perkembangan teknologi dan masyarakat industri serta pola perdagangan Internasional. Untuk memberikan kekuatan hukum yang pasti. untuk penetapan Tarif Pabean secara mendunia. Memberikan Sistem Internasional yang resmi untuk pemberian Kode. keperluan pengangkutan. konvensi HS ditandatangani oleh 70 negara yang sebagian besar adalah negara Eropa. ii. iii. Namun sekarang hampir seluruh negara di dunia telah meratifikasi konvensi ini. perkembangan masyarakat industri dan pola perdagangan Internasional. nomenklatur tersebut disahkan dalam suatu konvensi yang dikenal dengan nama Konvensi HS. Memperbaharui sistem klasifikasi barang sebelumnya. Pen jelasan dan penggolongan barang untuk tujuan perdagangan seperti tarif pengangkutan. Meskipun baru meratifikasi pada tahun 1993. Memberikan keseragaman dalam daftar penggolongan barang yang dibuat secara sistematis. Menyadari hal yang demikian WCO pada tanggal 14 Juni 1983 meluncurkan HS yang mulai berlaku secara internasional pada tanggal 1 Januari 1988. dengan tujuan : i.Klasifikasi Barang nomenklatur (daftar klasifikasi barang berdasarkan kelompok-kelompok) yang dinamakan Harmonized Commodity Description and Coding System atau lebih dikenal dengan sebutan Harmonized System (HS). iv. Pada awalnya. dokumentasi dan sebagainya. Mengapa HS dijadikan dasar klasifikasi secara internasional? Ada beberapa DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 12 . sebenarnya Indonesia telah menggunakan BTBMI berdasarkan HS sejak tanggal 1 Januari 1989. 2) Tujuan Harmonized System Adanya perbedaan sistem klasifikasi tarif antara negara di dunia. pembuatan dan analisis Statistik perdagangan dunia.

yaitu: 1. Publikasi-publikasi tersebut juga diterbitkan oleh WCO. HS menggunakan dasar yang seragam untuk keperluan pentarifan secara internasional. The Explanatory Notes to the Harmonized System (EN) DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 13 . produsen. World Customs Organization (WCO). The International Chamber or Shipping (ICS). HS adalah pedoman klasifikasi yang sistematik untuk seluruh barang yang diperdagangkan secara internasional. 3. c. Sederhana dan memberikan kepastian dalam hal aplikasi dan interpretasi yang benar dan sama untuk keperluan negosiasi. 4. The International Union Railway (IUR). pengangkut. Menggunakan “bahasa pabean” sehingga dapat dengan mudah dimengerti oleh importir.Klasifikasi Barang keuntungan yang didapat setiap negara yang mengadopsi HS sebagai pedoman klasifikasi barang. e. The International Air Transport Association (IATA). Merupakan kumpulan data yang seragam secara internasional sehingga dapat digunakan untuk mendukung analisis dan statistik perdagangan internasional. eksportir. dan aparat bea dan cukai. 2. Publikasi dimaksud adalah: a. HS telah dibuat sedemikian rupa sehingga standard klasifikasi barang dan sistem kode penomoran barang dapat dijadikan acuan untuk berbagai kebutuhan oleh berbagai lembaga internasional yang berkaitan dengan perdagangan. The Standard International Trade Classificatioan (SITC) 3) Publikasi Pelengkap HS Harmonized System mempunyai beberapa publikasi pelengkap yang digunakan untuk lebih mempermudah klasifikasi barang. misalnya: a. d. 5. b.

c.Klasifikasi Barang Explanatory Notes bukan merupakan bagian yang integral dari HS. WCO juga menerbitkan buku indeks yang dikenal dengan nama the Alphabetical Index.97). the Training Modules. namun sebagaimana disetujui WCO.63). 4) Sistem Pengkodean DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 14 .L) dan Volume II (M Z). yaitu Vol. Alphabetical Index terdiri dari dua volume. Explanatory Notes yang digunakan saat ini adalah edisi kedua (tahun 1996) yang terdiri dari empat volume. dan Correlation Tables. yaitu Volume I (A . Untuk itu membaca Explanatory Notes harus selalu disesuaikan dengan konteksnya dalam HS. Karena pentingnya Explanatory Notes ini. Dispute Settled Classification Opinion. dan Volume 4 (Bab 85 . explanatory notes merupakan interpretasi resmi (official interpretation) dari HS pada level internasional dan merupakan pelengkap yang sangat penting dari HS. Explanatory Notes juga mengalami perubahan (amandemen) untuk menyesuaikan isinya dengan struktur HS.29). sebagian negara anggota WCO mensahkannya sebagai dokumen yang berkekuatan hukum Seiring perkembangan teknologi. Volume 3 (Bab 64 . The Alphabetical Index Untuk mempermudah mengklasifikasikan suatu barang pada pos-pos atau sub-sub pos dalam nomenklatur HS atau Explanatory Notes. Explanatory Notes adalah referensi yang sangat diperlukan untuk mendapatkan interpretasi yang benar dari HS. 1 (Bab 1 . b. the Harmonized System Commodity Data Base (dalam bentuk CD-ROM).84). Publikasi lain Publikasi lain yang merupakan pelengkap HS adalah the Compendium of Classification Opinions. Volume 2 (Bab 30.

Masing-masing negara penandatangan konvensi (contracting party) dapat mengembangkan penggolongan 6-digit tersebut menjadi kelompok yang lebih spesifik sesuai dengan kebijaksanaan ekonomi dan industrinya. semua negara mempunyai kesatuan persepsi tentang pengklasifikasian suatu barang. 98. Bab 77 dipersiapkan untuk keperluan di masa mendatang. merupakan pedoman mengklasifikasi barang yang sistematik dan seragam. namun juga dipergunakan secara internasional dalam bidang lain seperti negosiasi perdagangan. Seperti telah disinggung sebelumnya. Indonesia juga menggunakan Bab 98 untuk keperluan ekspor barang tertentu yang pada bulan April 1999 dicabut kembali. pengangkutan. Ada tiga Bab yang belum digunakan dalam HS yang ada saat ini. Structured nomenclature HS adalah nomenklatur yang terdiri dari 21 Bagian. dan sebagainya. b. dan 99. yaitu: a. Catatan Bab. dan 1. Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System (KUM HS) merupakan bagian terpenting yang harus DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 15 . 96 Bab (+ Bab 77). sedangkan Bab 98 dan 99 digunakan untuk keperluan khusus bagi masing-masing contracting party. Catatan Bagian. Ketentuan Umum Untuk Menginterpretasi Harmonized System (General Rules for the Interpretation of the HS).241 pos. yaitu: 1.Klasifikasi Barang Harmonized System mempunyai dua karakteristik yang sangat mendasar. dan Catatan Sub-Pos. dirancang tidak hanya untuk keperluan kepabeanan. bersama dengan Ketentuan Umum Menginterpretasi. statistik. Harmonized System mempunyai tiga bagian utama atau integral. Multipurpose nomenclature HS yang mempunyai 6 digit penggolongan. HS yang tersusun dari pos dan sub-pos. misalnya untuk barang pos atau peralatan pelayaran. yaitu Bab 77. Dengan tetap berdasar kepada HS 6-digit.

Pada contoh di atas. Untuk keperluan nasional. dan Catatan Sub-Pos. barang dimaksud diklasifikasikan pada pos 01. Pos (4-digit) dan Sub-pos (6-digit) yang disusun dengan sistematik. BUKU TARIF BEA MASUK INDONESIA 1) Dasar Hukum DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 16 . dan sub-pos (6digit) dengan penjelasan sebagai berikut: 01 __ 01 11 Bab (Chapter) 1 Pos (Heading) 01. Penjelasan mengenai hal ini akan dibahas lebih rinci pada penjelasan berikutnya. 01 Sub-pos (Sub-heading) 0101.01. barang dimaksud diklasifikasikan pada sub-pos 0101. • • Empat angka pertama menunjukkan Pos atau Heading dalam setiap bab. Enam angka pertama menunjukkan Sub Pos dalam setiap Pos. KUM HS berisi enam prinsip dasar yang harus dipatuhi dalam mengklasifikasi barang. Indonesia menggunakan sistem penomoran 10 digit dalam BTBMI yang merupakan penjabaran lebih lanjut dari sub-sub pos dalam HS. 2. HS menggunakan kode nomor dalam mengklasifikasikan barang.11. Sistem penomoran dalam HS terbagi menjadi Bab (2-digit). Catatan Bagian. Mengingat pentingnya memahami KUM HS. Catatan Bab. 3. pos (4-digit). 11 _______ ______________ • Dua angka pertama untuk menunjukkan pada bab mana barang itu diklasifikasikan. Pada contoh di atas. Kode-kode nomor tersebut mencakup uraian barang yang tersusun secara sistematis. bagian ini akan dibahas tersendiri. Pada contoh di atas.Klasifikasi Barang dipahami sebelum melangkah lebih jauh untuk meng klasifikasikan barang menggunakan HS. barang dimaksud diklasifikasikan pada Bab 1. C.

Dalam Pasal 1 Keputusan ini disebutkan “Untuk penetapan tarif Bea Masuk. Indonesia telah menunjukkan peran serta yang aktif dalam kegiatan WCO dan telah banyak menarik manfaat dari organisasi ini. Selanjutnya berdasarkan pasal 14 ayat 2 Undang-undang tersebut. Pengurangan hambatan dalam perdagangan Internasional guna mendukung terciptanya perdagangan bebas. barang dikelompokkan berdasarkan sistem klasifikasi barang”. d) Pemenuhan perjanjian serta kesepakatan Internasional. 17 tahun 2006 . penetapan klasifikasi barang ditentukan oleh Menteri Keuangan. yang kemudian dikenal dengan nama Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan saat ini telah diamandemend dengan UU no. Indonesia telah menjadi anggota World Customs Organization. Pemerintah bersama Dewan Perwakilan Rakyat telah berhasil membahas dan menyetujui Rancangan Undang-Undang Kepabeanan. Pasal 14 ayat (1) Undang-Undang ini menyebutkan bahwa “Untuk penetapan tarif Bea Masuk. barang barang dikelompokkan berdasarkan sistem klasifikasi sebagaimana dimaksud dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 1993 tentang Pengesahan International Convention The Harmonized Commodity Description and Coding System beserta protocolnya”. Pengaturan lebih lanjut penentuan klasifikasi barang dilakukan dengan memperhatikan: a) b) c) Upaya peningkatan daya saing produk Indonesia dipasar Internasional. Sebagai anggota WCO. telah diterima oleh Indonesia. Berdasarkan keputusan Presiden Republik Indonesia nomor 35 tahun 1993. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 17 . yang sebelumnya dikenal dengan nama Customs Cooperation Council sejak tanggal 30 April 1957. Atas dasar pertimbangan di atas. Berbagai bantuan teknis dalam rangka menunjang kelancaran pelaksanaan sistem dan prosedur kepabeanan Internasional. Perlindungan terhadap konsumen dalam negeri.Klasifikasi Barang Pada akhir tahun 1995. Pemerintah menerbitkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor : 440/KMK.05/1996 tanggal 21 Juni 1996 tentang Penetapan Sistem Klasifikasi Barang dan Besarnya Tarif Bea Masuk Atas Barang Impor.

Berdasarkan Artikel XVI HS Convention. Hingga saat ini BTBMI 1996 dimaksud telah beberapa kali diubah atau direvisi sesuai dengan perkembangan kebijaksanaan nasional. Menindaklanjuti adanya amandemen HS 1996 tersebut. BTBMI terakhir dengan BTBMI tahun 2007 menggunakan HS ver 2007 berdasarkan AHTN. Dasar penggunaan sistem klasifikasi barang berdasarkan HS versi 1996.Klasifikasi Barang Indonesia telah menjadi Contracting Party dari “International Convention on the Harmonized Commodity Description and Coding Sistem”. 01/1995 yang merupakan: 1.01/1995 di atas selanjutnya dijabarkan dalam bentuk penerbitan BTBMI edisi tahun 1996. Penyempurnan Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 1988 tentang Perubahan dan Tambahan atas Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 1969 tentang Pembebasan atas Impor dan Perubahan atas Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 47 Tahun 1986 tentang Bea Masuk Tambahan Atas Barang Impor. berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 81/KMK. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 639/KMK. Klasifikasi struktur barang dalam Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI) mengacu kepada sistem klasifikasi dari HS Convention. 3.05/1994 tanggal 16 Maret 1994 telah ditetapkan bahwa terhitung sejak 1 April 1994 . Sebagai tindak lanjutnya . World Customs Organization telah mengesahkan amandemen lampiran konvensi. Dasar penetapan besarnya tarif bea masuk (bea masuk tambahan dilebur bersama bea masuk) untuk barang bersangkutan. yang semula mempergunakan HS versi 1992. menjadi “HS versi 1996”. Pemerintah pada tanggal 29 Desember 1995 telah mengeluarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 639/KMK. 2. 2) Struktur BTBMI DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 18 .

21. 6 (enam) dan 10 (sepuluh) digit pada bab 98 merupakan teks berasal dari uraian barang dalam bahasa Indonesia.11. b. BTBMI adalah buku tarif bea masuk yang digunakan di Indonesia semenjak 1989 yaitu. kecuali: ♦ yang 2 digit terakhirnya 00 ( misalnya 8709. Kolom kedua adalah kolom “Uraian Barang” dalam bahasa Indonesia yang disusun dengan pola sebagai berikut: 1) Uraian barang pada pos (4 digit) dan subpos (6 digit) merupakan terjemahan dari teks HS-WCO. 2) Uraian barang pada subpos ASEAN (8 digit) merupakan terjemahan dari teks AHTN. BTBMI tidak lain adalah HS yang dimodifikasi atau dijabarkan lebih lanjut untuk digunakan dalam pentarifan dan penanganan barang impor ke Indonesia.00 ) berasal dari teks AHTN. 2) 8 (delapan) digit berasal dari teks AHTN. Kolom pertama adalah kolom “Pos/Subpos/Pos Tarif” yang mencantumkan nomor pos/subpos sebagai berikut : 1) 4 (empat) dan 6 (enam) digit pertama berasal dari teks Harmonized System-World Customs Organization (HS-WCO).10. 4) 4 (empat). BTBMI mempunyai struktur sebagai berikut: 1. kecuali: DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 19 . Kolom : a.00. beberapa tahun sebelum Indonesia meratifikasi HS Convention dan saat ini yang berlaku adalah BTBMI 2007 berdasarkan AHTN. ♦ yang 4 digit terakhirnya 00. Sekarang kta akan mempelajari tentang BTBMI. 3) Uraian barang pada pos tarif nasional (10 digit) merupakan teks berasal dari uraian barang dalam bahasa Indonesia.00 ( misalnya 8709.00 ) berasal dari teks HS – WCO.Klasifikasi Barang Pada bab terdahulu kita telah mempelajari gambaran umum tentang Harmonized System. 3) 10 (sepuluh) digit merupakan teks berasal dari uraian barang dalam bahasa Indonesia.

Kolom kelima adalah kolom “Bea Masuk CEPT” yang mencantumkan pembebanan tarif bea masuk yang berlaku untuk impor barang dari negaranegara ASEAN dalam rangka Skema CEPT berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 546/KMK.01/2003 tanggal 18 Desember 2003.Klasifikasi Barang ♦ yang 2 digit terakhirnya 00 ( misalnya 8709. 2) Uraian barang pada subpos ASEAN (8 digit) merupakan teks AHTN dalam bahasa Inggris. c.10. Kolom keempat adalah kolom “Bea Masuk Umum” yang mencantumkan pembebanan tarif bea masuk atas barang impor berlaku umum berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 547/KMK. e.00 ) merupakan teks AHTN.00 ) berasal dari teks HS – WCO. 3) Uraian barang pada pos tarif nasional (10 digit) merupakan terjemahan dari teks bahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris. 4) Khusus uraian barang dalam bab 98 merupakan teks berasal dari uraian barang dalam bahasa Indonesia. ♦ yang 4 digit terakhirnya 00. Kolom ketiga adalah kolom “Description of Goods” dalam bahasa Inggris yang disusun dengan pola sebagai berikut : 1) Uraian barang pos (4 digit) dan subpos (6 digit) merupakan teks HSWCO dalam bahasa Inggris.10.01/2003 tanggal 18 Desember 2003.11. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 20 . d. 4) Khusus uraian barang dalam bab 98 merupakan teks berasal dari uraian barang dalam bahasa Indonesia.00 ( misalnya 8709.00.11. kecuali : ♦ yang 2 digit terakhirnya 00 ( misalnya 8709.00 ( misalnya 8709. ♦ yang 4 digit terakhirnya 00.00.00 ) merupakan teks asli HS – WCO.00 ) berasal dari teks AHTN.21.21.

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 21 . Pencantuman tanda satu asterisk (*) pada kolom “Bea Masuk Umum” berarti pembebanan impornya mengikuti tarif pada pos tarif 87. b. i. Kolom kesembilan adalah kolom “Keterangan” yang disediakan untuk mencantumkan keterangan tambahan yang dianggap perlu dan ketentuan lain yang belum ditampung pada kolom-kolom sebelumnya. serta ketentuan instansi teknis lainnya. Tanda strip (-) pada kolom PPN atau PPnBM berarti komoditi pada pos tariff bersangkutan tidak dikenakan pembebanan PPN atau PPnBM. Pencantuman tanda strip (-) pada kolom pembebanan tarif ditujukan untuk hal-hal sebagai berikut : a. Tanda strip (-) pada kolom Bea Masuk CEPT berarti komoditi pada pos tarif bersangkutan tidak termasuk dalam skema CEPT.Klasifikasi Barang f. Pencantuman tanda asterisk (*) pada kolom pembebanan tarif ditujukan untuk hal-hal sebagai berikut : a. Kolom ketujuh adalah kolom “PPnBM” yang mencantumkan pembebanan tarif PPnBM yang ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 569/KMK.04/2000 dan Nomor 570/KMK. g.03/2003 tanggal 28 Januari 2003 dan Nomor 355/KMK.03/2003 tanggal 11 Agustus 2003. h. 2.05. Kolom kedelapan adalah kolom “Larangan/Pembatasan” yang mencantumkan ketentuan larangan atau pembatasan barang impor berdasarkan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 230/MPP/KEP/7/1997 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 62/MPP/KEP/02/2001 dan tata niaga impor dan peredaran bahan berbahaya tertentu ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 254/MPP/KEP/7/2000.01 sampai dengan 87. 3. Kolom keenam adalah kolom “PPN” yang mencantumkan pembebanan tarif PPN berdasarkan Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 18 Tahun 2000.04/2000 sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 39/KMK.

Pos 07. segar atau DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 22 .05: Selada (Lactuca sativa) dan chicory (Chicorium spp. akar dan bonggol tertentu yang dapat dimakan. PTNI (Peraturan Tata Niaga Impor) ditetapkan oleh Menteri Perindustrian dan Perdagangan. Nomor Pos tarif (10-digit) dan uraiannya. PPN. besarnya BM. terdapat juga BM Anti Dumping yang ditetapkan tersendiri oleh Menteri Keuangan. 19 dan 20. dan PPnBM ditetapkan oleh Menteri Keuangan. perhatikan contoh berikut: 0705. 2 digit selanjutnya mengacu kepada AHTN dan 2 digit terakhir adalah pecahan pos tarif nasional. maka yang mengikat secara hukum adalah teks asli SEN dalam bahasa Inggris. Sistem Penomoran Sistem penomoran klasifikasi dalam BTBMI menggunakan 10-digit dengan susunan 6 digit pertama mengacu pada konvensi HS. (2) Empat digit pertama (0705) menunjukkan Pos. Perlu diingat bahwa selain BM yang tercantum dalam BTBMI. 4 Catatan Penjelasan Tambahan (SEN) merupakan pedoman dalam menginterpretasikan pengertian maupun istilah teknis barang yang tercantum dalam Subpos pos tarif tertentu.).11.00 Selada kubis (selada bongkahan) (1) Dua digit pertama (07) menunjukkan Bab. Bea Masuk Anti Dumping berlaku di Indonesia sejak tanggal 1 April 1996 berlandaskan Undang-Undang Nomor 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan sesuai pasal 18. Pencantuman tanda satu asterisk (*) pada kolom “PPN”. 3) Kode Penomoran dan Pentakikan a.Klasifikasi Barang b.00. Bab 07 : Sayuran. Apabila terdapat keraguan dalam menginterpretasikan teks yang tercantum dalam Catatan Penjelasan Tambahan (SEN). PPnBM dan pemberlakuan ketentuan larangan/pembatasan berlaku hanya terhadap sebagian jenis barang atau sebagian kelompok barang dalam pos tarif bersangkutan. Untuk memahami sistem penomoran tersebut. “PPnBM” dan “Larangan/Pembatasan” berarti pengenaan PPN.

Lain-lain) b..05 Selada (Lactuca sativa) dan chicory (Chicorium spp.20 .11. 0705.Segar 0705. dalam HS/BTBMI sub-pos 0705.Klasifikasi Barang dingin.11. Di bawah ini disajikan contoh sistem takik dengan menggunakan contoh yang sudah ada (pos tarif 0705.00. (2) Penggunaan satu takik (-) dimulai pada uraian Sub-pos (6-digit). khusus untuk negara Indonesia.00 -.11. dengan penjelasan sebagai berikut: (1) Pos (4-digit) tidak diberi takik.-).10 dipecah menjadi 0705..11. (3) Bila uraian pada butir b dipecah.000): 07..10 tidak dicantumkan karena sub-pos tersebut dipecah lagi menjadi sub-pos 0705. digunakan tiga takik (..00.00.00.10) menunjukkan Sub-pos yaitu selada. digunakan dua takik (..). HS/BTBMI juga menggunakan sistem takik (dash.19.-). demikian seterusnya sehingga diperoleh pengelompokan barang yang lebih rinci.11 dipecah lagi menjadi pos tarif yang lebih rinci. segar atau dingin).11 dan 0705. Sistem Takik Selain menggunakan sistem nomor.00.00 : .10 . 0705.Dingin DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 23 . misalnya : 0705.19: 0705.11 dan 0705 19. maka digunakan pemecahan menggunakan tiga takik pada digit 9 dan 10.10 . (3) Enam digit pertama (0705.Selada (4) Sepuluh digit pertama (0705. (4) Bila uraian pada butir c dipecah lagi. -) untuk mengklasifikasi barang.11. Apabila pos tarif 0705.10: .Selada kubis (selada bongkolan).00) menunjukkan Pos Tarif 0705. Sub-pos 0705.Selada * Ingat..

80. maka : 0705. segar atau dingin) dibagi menjadi ketimun dan ketimun acar saja.. perhatikan digit kelima dan keenam.Butiran 3901.Polimer dari etilena. .barang tertentu B : Pos 07. dalam bentuk asal.10. 3) Setiap kelompok barang di atas (baik dalam pos.Mutu farmasi DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 24 . Barang tertentu mempunyai kode 10. yaitu barang tertentu A .10.Dingin Perlu diperhatikan bahwa kadang-kadang nomor sub-pos atau pos tarif yang dipecah lebih lanjut tidak dicantumkan secara eksplisit dalam BTBMI. segar atau dingin) dibagi menjadi bibit dan lain-lain. Contoh: Barang tertentu A . yaitu barang tertentu dan lainlain.barang tertentu B atau barang tertentu A .01 (Kentang..10.19. contoh : 1) sub-pos 0705. 4) Bila pos dipecah menjadi sub-sub pos.Polietilena berat jenis kurang dari 0. Kedua jenis barang tersebut dapat dipecah kembali lagi menjadi dua kelompok di atas (barang tertentu dan lain-lain) yang lebih spesifik..selada) karena sub-pos tersebut dipecah lebih lanjut menjadi 0705. 20.11.Dalam bentuk padat -. 2) Dalam HS/BTBMI hanya ada dua jenis barang.Segar 0705. Mari kita lihat contoh berikut: 39.Klasifikasi Barang Namun apabila ASEAN misalnya akan membagi dari subpos 0705..10.94: -.07 (Ketimun dan ketimun acar.10 3901.01 3901. Barang tertentu A .barang lainnya (lain-lain).. Pos 07.00 .11 dan 0705.00 .. dalam BTBMI tidak dicantumkan (hanya dicantumkan uraian barangnya yaitu: . 5) Pemecahan pos tarif (10-digit) juga mengikuti pola di atas.10.20..11.21. -.00 -. 30.00 --. maupun pos tarif) dibagi atau dirinci dengan dua cara. sub-pos.barang lainnya (lain-lain).11.

10. Sub-Pos dan Pos Tarif Nasional Untuk dapat memahami arti kata “Lain-lain” .Lain-lain --.23.Lain-lain.10. dalam pos yang sama.10.00 3901. c) apabila kata “lain-lain” dimaksud terdapat pada pos.. Barang lainnya (lain-lain) diberi kode 90. bandingkan dengan uraian barang pada pos-pos terdahulu dalam bab yang sama. 19.99. perhatikan hal-hal berikut ini: a) bandingkan kelompok barang “lain-lain” dimaksud dengan kelompok barang yang setara.00 --.91.Klasifikasi Barang 3901.Bentuk lain : 3901.00 --. b) apabila kata “lain-lain” dimaksud terdapat pada bab. .10.00 listrik 3901.. Arti kata “lain-lain” Dalam klasifikasi BTBMI dengan sistem HS kata “Lain-lain”.10.Digunakan dalam pembuatan kabel telepon atau kabel Untuk pemecahan pos tarif. d) apabila kata “lain-lain” dimaksud terdapat pada sub-pos. bandingkan dengan uraian barang pada bab-bab terdahulu. Bila kode 10 dipecah lagi menjadi lebih rinci. 20. Pos.Cair atau pasta -.. digunakan digit kesembilan.00 --. . Demikian juga kode 900 bila dipecah menjadi 91.30. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 25 .. 12. 92.29. 30..22. • • • • 4) Barang tertentu mempunyai kode 10.perhatikan dua digit terakhir. digunakan dalam pembuatan kabel telepon atau kabel listrik 3901. 99.Lain-lain -.... yaitu menjadi 11. Kata “lain-lain” terdapat pada Bab.. bandingkan dengan uraian barang pada sub-sub pos terdahulu. .Mutu kabel --. berfungsi untuk menampung barang yang belum disebut pada uraian jenis barang sebelumnya.10.00 3901.

A2. pengertian kata lain-lain DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 26 . dan Lain-lain (1). Lain-lain (1): barang selain A1 dan A2. yang termasuk dalam Lain-lain (1). selain B1 dan B2. Lain-lain (3) adalah termasuk kelompok barang A selain A1 dan A2. pada sub-pos yang sama. dan Lain-lain (3). dan Lain-lain (2). sehingga akan jelas kelompok barang mana yang akan dibandingkan dengan barang lain-lain barang lain-lain yang ingin kita ketahui. Di bawah ini disajikan mengetahui kelompok barang yang termasuk lain-lain dengan menggunakan metode diagram pohon dengan contoh sebagai berikut: • • • • • • Barang A dibagi menjadi barang A1. Barang Lain-lain (1) dibagi menjadi barang B1. Cara membaca: Lain-lain (3): barang selain C1 dan C2. Metode di atas dapat difahami dengan lebih mudah apabila kita dapat menggambarkannya dalam bentuk diagram pohon. selain C1 dan C2. selain B1 dan B2. C2. Barang Lain-lain (2) dibagi menjadi barang C1. yang termasuk dalam Lain-lain (2). Lain-lain (2): barang selain B1 dan B2. bandingkan dengan uraian barang pada pos-pos tarif terdahulu. Jadi. Lain-lain (2) adalah termasuk kelompok barang A selain A1 dan A2. B2. Lain-lain (3) adalah termasuk kelompok barang A selain A1 dan A2. Dengan sedikit latihan menggunakan BTBMI.Klasifikasi Barang e) apabila kata “lain-lain” dimaksud terdapat pada pos tarif. yang termasuk dalam barang A.

bagal dan hinnies. 6) selain kuda. kalkun dan ayam mutiara c) Judul Sub Pos Sub-pos 0102.. tanpa dikaitkan dengan catatan Bagian. keledai. b) Judul Pos. selain babi 7) selain biri-biri dan kambing 8) selain unggas dari jenis : ayam spesies Gallus domesticus. selain binatang sejenis selain yang telah disebutkan pada Bab 50 sampai lembu. Kata lainnya dalam pos ini berfungsi untuk menampung binatang hidup yang belum disebutkan pada pos-pos sebelumnya. hidup yang belum disebutkan pada sub-sub pos sebelumnya. Di bawah ini disajikan beberapa contoh pengertian kata lain-lain yang terdapat dalam BTBMI: a) Judul Bab.Klasifikasi Barang tersebut akan dapat dengan mudah dimengerti. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 27 .. maupun catatan Sub-pos. Secara lebih rinci uraian dalam sub-po stersebut dapat diuraikan menjadi: Binatang hidup. Sub-pos maupun Pos tarif nasional. Bab 63: Barang tekstil sudah jadi lainnya .. Pos 01. Pos. catatan Bab. Dalam diktat ini pengertian lainlain dibatasi pemahamannya sebatas berkaitan dengan uraian jenis barang pada judul Bab.90 : .06: Binatang hidup lainnya. dengan Bab 62”. Secara lebih rinci judul bab tersebut dapat diuraikan menjadi “Tekstil dan barang tekstil.Lain-lain Kata lain-lain dalam sub-pos ini berfungsi untuk menampung binatang sejenis lembu. Secara singkat makna kata lainnya berfungsi untuk menampung barang tekstil sudah jadi yang belum disebutkan pada bab-bab sebelumnya dalam Bagian XI. bebek. Secara lebih rinci uraian pos tersebut dapat diuraikan menjadi: Binatang hidup.

2. Bagaimana langkah-langkah dalam meng klasifi kasi barang ? 4. Dalam kegiatan belajar ini telah dijelaskan dengan singkat langkah-langkah DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 28 . keledai. Bila akan diimpor sebuah pompa air yang menggunakan tenaga listrk. 10) termasuk binatang sejenis lembu. Latihan 1 1. bagal dan hinnies. 10 tahun 1995 yang berkaitan dengan klasifikasi barang ? 8. Apa tujuan Harmnized System 6. Bagaimana sistem penomoran Harmonized System ? 7.3. Apa yang dimaksud dengan Harmonized System ? 5. Bagaimana cara membaca pengertian kata “Lain-lain” dalam BTBMI ? 1. data apa yang diperlukan mengenai pompa tersebut ? 3. Rangkuman 1. Pasal berapa dalam Undang-undang no.Klasifikasi Barang 9) selain kuda. Apa isi Buku Tarif Bea Masuk Indonesia ? 9. Apa yang dimaksud dengan sistem pentakikan dalam penomoran HS? 10. Mengapa kita harus mengidentifikasi barang sebelum mengklasifikasinya ? 2. namun bukan untuk bibit 1.

melihat BTBMI . Indonesia telah menjadi Contracting Party dari “International Convention on the Harmonized Commodity Description and Coding Sistem”. mengakibatkan timbulnya kesulitan dalam mengantisipasi kemajuan teknologi. bentuk asal atau preparat. bentuknya. 3. Kode-kode nomor tersebut mencakup uraian barang yang tersusun secara sistematis. mempelajari jenis. dan sebagainya. c. merumuskan identitas. 5. bahan baku dan semua informasi mengenai barang. komposisinya. Indonesia menggunakan sistem penomoran 10 digit dalam BTBMI yang merupakan penjabaran lebih lanjut dari sub-sub pos dalam HS. prosedur yang digunakan adalah sebagai berikut : a. Berdasarkan pasal 14 ayat 2 Undang-undang Kepabenan Indonesia Nomor 10 tahun 1995. Bagaimana seandainya yang akan kita klasifikasikan adalah suatu bahan kimia? Sebelum mengklasifikasi kita memerlukan identifikasi untuk mendapatkan informasi mengenai: : organik atau anorganik. e. Klasifikasi barang adalah suatu daftar penggolongan barang yang dibuat secara sistematis dengan tujuan untuk mempermudah pentarifan transaksi perdagangan. Dalam mengklasifikasi barang menggunakan BTBMI. fungsi. Sebagai DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 29 . berdasarkan keputusan Presiden Republik Indonesia nomor 35 tahun 1993. Perbedaan sistem klasifikasi tarif antara negara di dunia. identifikasi barang. Pada saat ini sistem pengklasifikasian barang di Indonesia didasarkan pada Harmonized System dan dituangkan dalam bentuk suatu daftar tarif yang kita kenal dengan sebutan Buku Tarif Bea Masuk Indonesia. Untuk keperluan nasional. WCO meluncurkan HS yang mulai berlaku secara internasional pada tanggal 1 Januari 1988. perkembangan masyarakat industri dan pola perdagangan Internasional. d.Klasifikasi Barang praktis dalam mengklasifikasi barang. pengangkutan dan statistik. HS menggunakan kode nomor dalam mengklasifikasikan barang. b. 4. 2. kegunaannya. menentukan klasifikasi barang.

Lingkarilah huruf B apabila pernyataan ini Saudara anggap benar dan huruf S apabila pernyataan Saudara anggap salah.4. perdagangan internasional dan pengangkutan laut.S ) Untuk mengklasifikasi barang diperlukan data mengenai nama. jenis dan spesifikasi lainnya secara akurat. 2. udara dan kereta api. Sistem penomoran klasifikasi dalam BTBMI menggunakan 10-digit dengan susunan 6 digit pertama mengacu pada konvensi HS dan 2 digit terakhir adalah pecahan pos tarif nasional.S ) HS bersifat harmonis karena standard klasifikasi dan sistem kode penomoran barang digunakan untuk berbagai kepentingan. pengertian kata lain-lain tersebut akan dapat dengan mudah dimengerti 1. HS/BTBMI juga menggunakan sistem takik (dash. Sub-Pos dan Pos Tarif Nasional.S ) Customs Cooperation Council di Brussels pada tanggal 14 Juni 1983 menghasilkan Konvensi Internasional tentang The Harmonized Commodity Description and Coding System (HS) dan mulai berlaku di Indonesi sejak tanggal 1 Januari 1988. 1. berfungsi untuk menampung barang yang belum disebut pada uraian jenis barang sebelumnya. -) untuk mengklasifikasi barang 7. Informasi mengenai barang tersebut dapat kita peroleh melalui : kondisi fisik. Selain menggunakan sistem nomor. 3. Dalam klasifikasi BTBMI dengan sistem HS kata “Lain-lain”. ( B . brosur. statistik.Klasifikasi Barang tindak lanjutnya struktur Klasifikasi barang dalam Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI) mengacu kepada sistem klasifikasi dari HS Convention 6. Kata “lain-lain” terdapat pada Bab. seperti Pabean. Dengan sedikit latihan menggunakan BTBMI. Salah satu tujuan HS adalah untuk DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 30 . ( B . sertificate of analysis. label kemasan dan data lainnya. Test Formatif 1 A. Pos. ( B .

Klasifikasi Barang memberikan ketidak seragaman secara internasional penggolongan barang dalam tarif pabean. c. Fungsi dasar HS adalah untuk memberikan keseragaman dalam mengklasifikasi barang guna memberikan kemudahan pada perdagangan internasional. dikenal prosedur umum untuk mengklasifikasi DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 31 . 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan pada : a.S ) Ditinjau dari fungsi pengklasifikasian. Heading. tanggal 1 Januari 1989 tanggal 1 Agustus 1988 tanggal 31 Januari 1988 tanggal 11 Januari 1989 3. Untuk mengklasifikasi barang. ( B . b. Bunyi kalimat diatas sesuai dengan bunyi UU no. Bab dan Subheading . pasal 16 pasal 115 pasal 14 pasal 116 2.S ) Apabila terdapat perbedaan sistem klasifikasi pada setiap negara akan memperpanjang waktu untuk penetapan bea masuk dan pengeluaran barang impor di pelabuhan. The Harmonized Commodity Description and Coding System (HS) mulai berlaku secara internasional sejak : a. Pilihlah jawaban yang Saudara anggap benar dengan cara melingkari huruf yang terdapat di depan jawaban tersebut a. 5. 4. karena yang utama adalah uraian B. Demikian dalam kekuatan hukumnya sama. b. d. b. ( B . d. Catatan Bagian. c. sub-heading dan penomoran hingga ke Pos tarif (10 digit). struktur HS terdiri dari : KUM HS . c. atau d ) 1. barangnya. barang dikelompokkan berdasarkan sistem klasifikasi barang. Untuk penetapan tarif bea masuk.

selalu berubah pernyataan a. b dan c benar Bea Masuk Indonesia dan menentukan Dalam pengamatan sementara untuk mengklasifikasi barang. b dan c benar C. Sebutkan 3 Sistem dalam mengklasifikasi barang yang pernah digunakan Pemerintahan Republik Indonesia...Klasifikasi Barang barang.. Sebutkan tujuan Harmonized System ? Apakah besarnya tarif bea masuk Indonesia secara hukum sesuai seperti apa yang tertulis dalam BTBMI tersebut ? DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 32 . b.. 4.. karena uraian jenis barangnya tidak ada dalam BTBMI 5. Pencantuman besarnya Bea Masuk pada Buku tarif Bea Masuk Indonesia : a. Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan singkat dan benar 1.. mengidentifikasi barang dengan mempelajari jenis dan spesifikasinya merumuskan identitas atau deskripsi barang tersebut melihat Buku Tarif klasifikasinya d. Prosedur tersebut secara umum ialah .. sebelum HS ! 2. harus mengacu kepada perkembangan terakhir besarnya penetapan Bea Masuk c. pernyataan a. hanyalah sementara (mengikuti surat Keputusan Menteri Keuangan RI) b.. d. Jelaskan apa yang dimaksud dengan konvensi HS ? Mengapa kita memilih suatu system seperti HS dalam menentukan klasifikasi barang ? 4. d. 3. a. b. Jenis suatu jenis barang dimungkinkan tidak ada dalam HS Dapat terkait dengan beberapa bab Mengklasifikasi barang seluruhnya harus tepat secara eksak Barang tidak dapat diklasifikasikan. 5. c. maka sebutkan pernyataan dibawah ini yang tidak benar a. c.

Untuk kelompok C : Apabila benar seluruhnya nilai menjadi 100 DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 33 .Klasifikasi Barang 1. Hitunglah jumlah jawaban Anda yang benar atau sejauh mana Anda menguasai mata pelajaran tersebut... Umpan Balik dan Tindak Lanjut Bandingkanlah hasil jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif yang ada di belakang modul ini....5.. Kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap terhadap materi kegiatan belajar Rumus Tingkat Penguasaan Untuk kelompok A dan B : Jumlah Jawaban yang benar dibagi 10 kemudian dikali 100 % = ......

bila tingkat penguasaan Anda masih dibawah 80 %. Ketentuan umum untuk menginterpretasikan Harmonized System 2. Tahapan dalam mengklasifikasi barang 3. terutama bagian yang belum Anda kuasai 2. Anda harus mengulangi membaca Modul kembali. Nota Penelitian Klasifikasi Barang DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 34 .100 % * 80 % * 70 % * 89 % 79 % 69 % = Baik sekali = Baik = Cukup = Kurang Kalau Anda mencapai tingkat penguasaan 80% keatas Anda dapat meneruskan kepada modul atau bagian pelajaran lain. Hasilnya Baik ! akan tetapi.Klasifikasi Barang Untuk nilai keseluruhan maka dibagi rata-rata dari (A+B) dan C Arti tingkat penguasaan : * 90 % . Kegiatan Belajar (KB) 2 TEKNIK KLASIFIKASI BARANG Indikator Keberhasilan : Setelah mempelajari materi diharapkan siswa mampu menjelaskan 1.

seorang klasifikator harus terlebih dahulu memahami pengetahuan barang dan pengetahuan mengenai klasifikasi barang. klasifikasi harus ditentukan menurut uraian yang terdapat dalam pos dan berbagai Catatan Bagian atau Bab yang berkaitan serta menurut ketentuan-ketentuan berikut ini. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 35 . Bab dan Sub-bab hanya dimaksudkan untuk memudahkan referensi saja. KUM HS mutlak diperlukan sebagai pedoman dasar yang tidak boleh ditinggalkan. Setiap kali melakukan kegiatan klasifikasi barang.1. A. asalkan pos atau Catatan tersebut tidak menentukan lain. salah satu ketentuan dalam KUM HS harus dipergunakan. sadar atau tidak. untuk tujuan hukum. marilah kita pelajari satu-persatu enam butir KUM HS tersebut. KETENTUAN UMUM UNTUK MENGINTERPRETASI HARMONIZED SYSTEM 1) Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 1 Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System (KUM HS) merupakan pintu gerbang untuk memasuki klasifikasi barang. Uraian dan Contoh Seorang klasifikator dibidang kepabeanan harus dapat mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang dengan terampil.Klasifikasi Barang 2. Mengingat begitu kompleksnya teknik klasifikasi barang. KUM HS 1 : Judul Bagian. Oleh karena itu. Seorang klasifikator harus memiliki kemampuan dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang karena akan menentukan ketepatan pengisian Pemberitahuan Impor Barang yang pada akhirnya menentukan ketepatan jumlah bea masuk dan pungutan impor lainnya yang harus dibayar. Untuk itu.

dan 5. tetapi diklasifikasikan khusus pada bab 50.jenis keledai . tidak mungkin semua jenis barang dapat dicakup dengan persis pada setiap bab.Klasifikasi Barang Penjelasan: HS adalah nomenklatur yang bersifat sistematik. sutera adalah produk hewani. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 36 . Apabila pos dan catatan-catatan tersebut tidak menentukan lain.02 hanya untuk produk tertentu. tidak mempunyai kekuatan hukum. catatan bagian. Karena itu perlu diingat agar selalu mempertimbangkan semua bab atau pos yang mungkin mencakup suatu barang. 4. Yang mempunyai kekuatan hukum adalah pos (heading). catatan bab. Spesifikasi keledai : . Contohnya. dan catatan sub-pos. tetapi karena sifatnya yang khusus dalam HS tidak diklasifikasikan pada bab 5 (produk hewani tidak dirinci atau termasuk dalam pos lainnya). Namun mengingat banyaknya jenis barang. dalam hal KUM HS 1 tidak bisa digunakan barulah digunakan KUM HS 2.umur 2 tahun . Uraian pos dan catatan-catatan tersebut merupakan pertimbangan utama. Batasan ini tidak boleh diperluas dengan menggunakan KUM HS 2(b). 3. Contohnya. Uraian pada bab hanya untuk referensi saja.dapat mendemontrasikan beberapa permainan dalam pertunjukan sirkus Pengklasifikasian apakah pada bab 1 atau bab 95 Perhatikan gambar keledai yang biasa digunakan untuk sirkus. catatan 2 Bab 31 menjelaskan pos 31.

Penjelasan: Barang tidak lengkap atau tidak rampung dianggap sebagai barang lengkap atau rampung. barang yang tidak lengkap atau belum rampung tersebut memiliki karakter utama dari barang itu dalam keadaan lengkap atau rampung. dan tiap setnya tidak ada sadel dan ban dalamnya. Namun tetap dianggap set sepeda karena sifat utamanya sebagai sepeda telah dimiliki. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 37 . Referensi ini harus dianggap juga meliputi refensi untuk barang tersebut dalam keadaan lengkap atau rampung (atau yang berdasarkan ketentuan ini dapat digolongkan sebagai lengkap atau rampung) yang diajukan dalam keadaan belum dirakit atau terbongkar. asalkan pada saat diajukan.Klasifikasi Barang Bagaimana pengklasifikasiannya bila keledai tersebut diimpor oleh grup sirkus dari jerman ? 2) Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 2a dan 2 b KUM HS 2 a : Setiap referensi untuk suatu barang dalam suatu pos harus dianggap meliputi juga referensi barang tersebut dalam keadaan tidak lengkap atau belum rampung. asalkan pada saat diimpor sudah mempunyai sifat utama sebagai barang lengkap atau rampung Sebagai contoh beberapa set sepeda yang diimpor dalam keadaan terurai.

Ingat. Mengapa demikian ? karena sifat sebagai susunya tidak berubah.. Sebagai contoh suatu susu yang telah ditambah sedikit vitamin.tidak diemulsi atau dicampur.Sepeda merk :”Bamby” .Klasifikasi Barang Spesifikasi : .03 (-lard oil...memiliki laher dalam as ban . Contoh. ketentuan ini hanya berlaku apabila pos atau catatan bagian atau catatan bab tidak menentukan lain.. Bagaimana pengklasifikasiannya bila sepeda tersebut : a) tidak dicat . . Barang yang terdiri lebih dari satu jenis bahan atau zat harus diklasifikasikan sesuai prinsip dari Ketentuan 3. harus dianggap juga meliputi referensi untuk campuran atau kombinasi dari bahan atau zat itu dengan bahan atau zat lain. Penjelasan: Campuran atau kombinasi dua atau lebih bahan atau zat diklasifikasikan berdasarkan KUM HS 1.bisa dikendarai oleh orang tua maupun anakanak : Perhatikan gambar sepeda diatas. pos 15.Ada alat perubah kecepatan . maka KUM HS DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 38 .).b) tidak ada sadelnya c) dalam keadaan terurai KUM HS 2 b : Setiap referensi untuk suatu bahan atau zat dalam pos. karena uraian posnya sudah menyebutkan bahwa produk dalam pos tersebut tidak dicampur. Setiap referensi untuk barang dari bahan atau zat tertentu harus dianggap juga meliputi referensi untuk barang yang sebagian atau seluruhnya terdiri dari bahan atau zat tersebut. maka pengklasifikasiannya tetap sebagai susu.

Terbuat dari gabus . baru kemudian KUM HS 3(c). Penggunaan KUM HS 3 harus urut dari KUM HS 3(a). KUM HS 3 baru dipergunakan DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 39 . maka klasifikasiannya harus diberlakukan sebagai berikut : Penjelasan: KUM HS 3 hanya dipergunakan bila KUM HS 2 tidak bisa dipergunakan. Bagaimana pengklasifikasian tutup botol tersebut. b dan c KUM HS 3 : Apabila dengan menerapkan Ketentuan 2 (b) atau untuk berbgaia alasan lain. Sekali lagi diingatkan. bagaimana bila sumbat botol bagian atas dilapis plastik ? 3) Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 3a.bagian luarnya dilapisi plastik. KUM HS 2(b) tidak dapat digunakan (harus digunakan KUM HS 3). KUM HS 3(b). Spesifikasi tutup botol : . barang yang dengan pertimbangan awal dapat diklasifikasikan dalam dua pos atau lebih. Apabila tambahan atau campuran bahan atau zat menghilangkan sifat barang seperti diuraikan pada pos. apakah pada bab 45 atau bab 39 Perhatikan sumbat botol diatas.Klasifikasi Barang 2(b) tidak berlaku.

Namun demikian. harus diklasifikasikan pada pos terdahulu awal (berarti bertentangan dengan KUM HS 3c ). Apabila dua atau lebih pos menguraikan hanya bagian dari bahan atau zat yang terkandung dalam suatu barang campuran atau komposit. Dalam hal ini KUM HS 3(c) tidak berlaku. walaupun salah satu dari pos tersebut memberikan uraian yang lebih lengkap atau lebih tepat.03. KUM HS 3 a : Pos yang memberikan uraian yang paling spesifik. Contoh. maka KUM HS 3(a) tidak DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 40 . namun pos 8421 uraian barangnya lebih rinci. apabila dua pos atau lebih yang masing-masing pos hanya merujuk kepada bagian dari bahan atau zat yang terkandung dalam barang campuran atau barang komposisi.08.01 sampai dengan 97.atau hanya merujuk kepada bagian dari bahan atau zat terkandung dalam campuran atau barang komposisi atau hanya merujuk kepada bagian dari barang dalam set yang disiapkan untuk penjualan eceran. Contoh. Pos yang menyebutkan nama barang lebih diutamakan dari pos yang menyebutkan kelompok barang. catatan 4(b) bab 97 menentukan bahwa barang yang dirinci pada pos 97.05 dan juga dirinci pada pos 97. atau bagian dari item dalam satu set barang untuk penjualan eceran. maka pos-pos tersebut harus dianggap setara sepanjang berkaitan dengan barang tersebut. Pos yang menyebutkan barang yang disebutkan secara rinci lebih diutamakan dari pos yang menyebutkan bagian suatu barang. tufted textile for motor cars diklasifikasikan pada pos 57. catatan bagian. harus lebih diutamakan dari pos yang memberikan uraian yang lebih umum.Klasifikasi Barang apabila uraian pos.09 (self-contained motor). Contoh shavers/hair clippers diklasifikasikan pada pos 85. bukan pada pos 87.10. bukan pada pos 85. atau catatan bab tidak menentukan lain. Saringan oli walau sebagai bagian dari mesin pada pos 8409. Penjelasan: Pos dengan uraian lebih spesifik lebih diutamakan dari pos dengan uraian yang lebih umum.06.

Yang dimaksud dengan barang dikemas dalam bentuk set untuk penjualan eceran yaitu: • • • Paling sedikit dua produk yang berbeda pos (sembilan sendok bukan set). yang tidak dapat diklasifikasikan berdasarkan referensi 3 (a). Beberapa produk/barang bersama-sama untuk keperluan/kegiatan tertentu. Yang dimaksud dengan karakter utama (Essential character) pada KUM HS ini mengacu pada bahan atau komponen. ready-toeat-meal). KUM HS 3 b : Barang campuran dan barang komposisi yang terdiri dari bahan yang berbeda atau yang dibuat dari komponen yang berbeda. Bisa langsung dijual tanpa perlu dibungkus/dikemas kembali (contoh. dan barang yang dikemas dalam bentuk set untuk penjualan eceran. Penjelasan: KUM HS 3(b) hanya berlaku untuk campuran. jumlah. sepanjang kriteria ini dapat diterapkan. Contoh. mutually complementary. kemasan.Klasifikasi Barang berlaku dan digunakan KUM HS 3(b) atau 3(c). barang komposit yang terdiri dari bahan yang berbeda. dan bahan utama yang berkaitan dengan penggunaan barang. serta barang yang disiapkan dalam set untuk penjualan eceran. asalkan satu sama lain adapted to the other. barang komposit yang terdiri dari komponen yang berbeda.10). KUM HS 3(b) berlaku juga untuk komponen yang terpisah. meskipun salah satu pos lebih rinci dari pos lainnya. berat atau nilai. harus diklasifikasikan berdasarkan bahan atau komponen yang memberikan karakter utama barang tersebut. sisir DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 41 . Contoh set: hairdressing set yang terdiri dari electric hair clipper (85. dan bila KUM HS 3(a) tidak bisa digunakan. dan bersama-sama membentuk barang jadi yang secara normal tidak diperdagangkan terpisah. rak bumbu dengan beberapa botol tempat bumbu kosong.

dan handuk dari tekstil (63. Contohnya. bawang dan cabe Perhatikan mie instan yang sudah mask diatas. bumbu. suatu bingkai berbentuk bujur sangkar yang 2 sisi terbuat dari kayu dan dua sisi lainnya terbuat dari logam. Tahukah Saudara ketika belum dimasak yang bungkusannya terdiri dari : mie. sikat (96.02).10 (berdasarkan komponen yang memberikan sifat utama). bumbudan bahan lainnya. barang diklasifikasikan pada pos terakhir.15). Penjelasan: Bila KUM HS 3(a) dan 3(b) tidak dapat digunakan. KUM HS 3(b) tidak berlaku untuk barang yang terdiri dari beberapa bagian yang dikemas terpisah (baik kemasan yang biasa digunakan maupun tidak). kecap.14 dan pos DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 42 . minuman). dikemas dalam tas kulit (42. saus.Mengandung mie.Klasifikasi Barang (96.merk :”Mi Enak” . Bagaimana Saudara mengklasifikasi bila dalam keadaan mentah atau dalam bungkusan ? KUM HS 3 c: Apabila barang tidak dapat diklasifikasikan berdasarkan referensi 3 (a) atau 3(b). Bingkai ini ditinjau dari bahan baku memiliki bahan yang sama dan seimbang antara pos 44. saus.02) diklasifikasikan pada pos 85.13). dalam proporsi tertentu untuk keperluan industri (contoh. Spesifikasi Mie :Instan : . gunting (82. maka barang tersebut harus diklasifikasikan dalam pos tarif terakhir berdasarkan urutan penomorannya di antara pos tarif yang mempunyai pertimbangan yang setara.03).Supermi instan bungkus .

harus diklasifikasikan ke dalam pos yang sesuai untuk barang yang paling menyerupai. Spesifikasi barang : .memiliki kekuatan sama pada lapisan karet dan plastikas ban Perhatikan vanbelt ini.Van belt merk : :”Ando” . maka bingkai tersebut harus diklasifikasikan pada pos terakhir. namun karena menurut KUM HS 3c.06. yaitu pos 83. tujuannya). bagaimana pengklasifikasiannya bila terbuat dari bahan plastik dan karet yang sama tebalnya ? 4) Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 4 KUM HS 4: Barang yang tidak dapat diklasifikasikan berdasarkan referensi diatas.Klasifikasi Barang 83. Berdasarkan KUM HS 4. klasifikasi berdasarkan barang yang sifatnya paling sesuai (misalnya uraian barangnya. Ketentuan ini menetapkan bahwa barang-barang tersebut harus digolongkan kedalam pos atas barang DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 43 . Penjelasan: a) KUM HS 4 baru digunakan apabila KUM HS 1 sampai dengan KUM HS 3 tidak dapat digunakan.mengandung bahan plastik dan karet yang sama tebal .06. sifatnya. b) Ketentuan ini mengenai barang-barang yang tidak dapat diklasifikasikan ke dalam salah satu pos dalam HS. karena tidak ada uraian yang sesuai (misalnya yang baru muncul di pasaran dunia).

5) Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 5 KUM HS 5 : Sebagai tambahan dari aturan di atas. Hal tersebut dilakukan untuk meneliti pada pos mana yang memiliki unsur kesamaan terbanyak. dibentuk secara khusus atau pas untuk menyimpan barang atau perangkat barang tertentu. harus diklasifikasikan menurut barangnya. Penjelasan: KUM HS 5(a) berlaku untuk Peti (cases). kotak kalung dan kemasan semacam itu. penggunaan. dan sebagainya. kotak (boxes). tas instrumen gambar. sangat disarankan untuk mencari lebih dulu informasi tentang barang dimaksud dari berbagai sumber yang ada. Ketentuan berikut ini harus diberlakukan terhadap barang tersebut di bawah ini : Tas kamera. cocok untuk penggunaan jangka panjang dan diajukan bersama barangnya. sifat. KUM HS 4 baru digunakan apabila benar-benar tidak ada lagi data atau informasi yang dapat diperoleh untuk mengidentifikasi barang dimaksud. seperti literatur. dan tempat semacam itu yang: DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 44 . c) Pada waktu menerapkan ketentuan No. barang yang akan diklasifikasikan harus diperbandingkan dengan uraian barang dalam beberapa pos HS yang memiliki kesamaan jenis atau karakternya. sebelum memutuskan menggunakan KUM HS 4. Untuk itu. koper senapan.4. Namun demikian. d) Persamaan dapat tergantung dari beberapa faktor seperti nama.Klasifikasi Barang yang memiliki persamaan terbanyak. tas instrumen musik. dan seterusnya. ketentuan ini tidak berlaku untuk kemasan yang memberikan seluruh karakter utamanya. data teknis. internet. apabila kemasan tersebut memang biasa dijual dengan barang tersebut. Perlu diingatkan.

tempat senjata. Contoh: tempat perhiasan. tempat teleskop. bahan pembungkus dan kemasan pembungkus yang diajukan bersama dengan barangnya harus diklasifikasikan menurut barangnya. Bagaimana Saudara mengklasifikasiguitar beserta kemasan diatas ? KUM HS 5 b : Berdasarkan aturan dari ketentuan nomor 5 (a) di atas. digunakan untuk jangka waktu lama. tempat alat musik. Spesifikasi barang : . biasa dijual bersama dengan barangnya. dimasukkan bersama barangnya (bila dimasukkan terpisah diklasifikasikan pada pos tersendiri). apabila bahan atau kemasan pembungkus tersebut memang biasa untuk membungkus barang tersebut. tidak memberikan sifat utama.Klasifikasi Barang • • • • • khusus dibuat untuk barang tertentu.merk :”Refly” .Terbuat dari karet yang dilapisi tekstil tebal Perhatikan gambar guitar dan kemasannya diatas. dan sebagainya.gitar dengan kemasannya . Penjelasan: Mengacu pada KUM HS 5(a). Namun demikian ketentuan ini tidak mengikat apabila bahan atau kemasan pembungkus tersebut secara nyata cocok untuk dipakai berulangulang. pembungkus/tempat simpan diklasifikasikan DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 45 .

serta ketentuan ini di atas dengan penyesuaian seperlunya. Ketentuan ini tidak berlaku untuk pembungkus/tempat simpan yang digunakan berulang-ulang (repetitive use). maka gasnya diklasifikasikan pada pos tarif gas. contohnya gas yang diimpor bersama pengemasnya (tabung gas di bawah tekanan). Ketentuan ini tidak berlaku untuk tempat simpan yang nilainya jauh lebih tinggi dari barang yang disimpan di dalamnya.Terbuat baja tahan karat Bagaimana pengklasifikasian suatu gas beserta tabungnya yang dapat diisi ulang ? Tabung gas LPG dengan isinya LPG pada pos berapa dalam Harmonized System ? 6) Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 6 KUM HS 6 : Untuk tujuan hukum klasifikasi barang dalam sub pos dari suatu pos harus ditentukan berdasarkan uraian dari subpos tersebut dan catatan subpos bersangkutan.Klasifikasi Barang dengan barangnya bila biasa dipakai untuk barang tersebut.merk :”Reflon” . Tempat semacam itu harus Sebagai contoh. tempat teh dari perak dan tempat diklasifikasikan tersendiri permen dari porselin berdekorasi China Spesifikasi barang : .tabung gas berisi gas . sedangkan pengemasnya diklasifikasikan pada pos tarif tabung gas. dengan DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 46 .

Kecuali apabila konteksnya menentukan lain. 2.Klasifikasi Barang pengertian bahwa hanya subpos yang setara yang dapat diperbandingkan. Kita identifikasi dulu barang yang akan kita klasifikasi. Bab. untuk keperluan ketentuan ini diberlakukan juga catatan Bagian dan catatan Bab. Penjelasan: KUM HS 1 sampai dengan KUM HS 5 berlaku mutatis mutandis (secara langsung) untuk subsub pos pada satu pos yang sama (perbandingan pada takik yang sama). atau mesin. Apabila ada catatan yang mengeluarkan barang tersebut dari Bab atau Bagian yang kita pilih. kita bisa memilih bab-bab yang lebih spesifik. catatan bab. KUM HS 6 berlaku sepanjang konteksnya tidak menentukan lain. Baca dan cermati catatan Bagian atau Bab (atau catatan Sub-pos dalam hal tertentu) yang ditunjuk oleh penjelasan pada butir 3. Pilih bab atau bab-bab yang berkaitan dengan spesifikasi barang tersebut. barang kimia. Platinum pada catatan 4(b) Bab 71 tidak sama dengan Platinum pada catatan subpos 2 (khusus untuk sub-pos 7110. 3. Perhatikan penjelasan-penjelasan dalam catatan Bagian maupun catatan Bab yang berkaitan dengan barang yang akan kita klasifikasi. Kita ulangi proses pengklasifikasian pada butir 3. Artinya. atau catatan subpos harus tetap menjadi pertimbangan utama. Dengan mengetahui spesifikasi barang. B.19). catatan bagian. atau pos mana barang tersebut diklasifikasikan. langkah-langkah berikut ini dapat digunakan untuk mengklasifikasi barang: 1. biasanya kita sudah mempunyai gambaran umum apakah barang tersebut diklasifikasikan di bab tersebut atau DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 47 .11 dan 7110. Contohnya. Bila sudah kita tentukan. 4. perhatikan pada Bagian. Pada tahap ini. TAHAPAN MENGKLASIFIKASI BARANG Secara lebih rinci. baca dan perhatikan baik-baik catatan Bagian dan catatan Bab yang berkaitan dengan pilihan bab atau bab-bab pada butir 1. misalnya barang tersebut produk pertanian.

maka yang harus dikerjakan adalah mencari informasi atau data tersebut lebih dulu. atau pos-pos tarif. harus selalu diingat bahwa yang dibandingkan adalah pos-pos . atau pospos tarif yang setara (perhatikan takiknya). Sampai tahap ini sebenarnya kita sedang menggunakan KUM HS 1. Cara untuk meyakinkan bahwa KUM HS 1 gugur adalah dengan berusaha membuktikan bahwa hanya ada satu pos yang sesuai untuk barang tersebut. dalam penentuan sub-pos dan pos tarif pun kadang timbul permasalahan klasifikasi yang sama dengan penentuan pos (4-digit). perlu diperhatikan bahwa yang dimaksud dengan sifat utama (essential character) meliputi berbagai aspek. Dalam hal menggunakan KUM HS 3 (b). Bila sudah kita temukan satu pos yang tepat. Apabila sepintas lalu ada beberapa pos yang sesuai dengan spesifikasi barang. maka kita mulai menelusuri pos-pos yang mungkin mencakup barang yang akan kita klasifikasikan dalam bab tersebut.Klasifikasi Barang di bab lainnya. Jangan terburu-buru menggunakan KUM HS 2 sebelum kita benar-benar yakin KUM HS 1 tidak dapat digunakan. dan bentuk fisik (appearance). perbandingan dimaksud tidak berdasarkan pembebanan impornya!. Setelah menemukan satu bab yang paling sesuai berdasarkan kajian di atas. 6. Ingat. Dalam membandingkan pos-pos. Dalam hal KUM HS 1 tidak bisa diterapkan karena informasi atau data spesifikasi barang kurang lengkap. kita baru dapat menggunakan KUM HS 2 apabila KUM HS 1 benar-benasr tidak dapat digunakan. Beberapa aspek yang dapat digunakan sebagai dasar penentuan sifat utama adalah fungsi/kegunaan. sub-sub pos. 7. 5. maka langkah selanjutnya tinggal menentukan sub-pos (6-digit) dan pos tarif (9-digit) yang sesuai. Pada tahap ini kadang-kadang kita sudah dapat menemukan pos yang mencakup barang tersebut dengan rinci. kita mulai menggunakan KUM HS 2. Ingat. dalam mengklasifikasi. 8. sub-sub pos. Apabila sudah dipilih satu pos tarif yang benar-benar sesuai dengan uraian DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 48 . Ingat. Usahakan paling tidak selalu mempertimbangkan ketiga aspek tersebut sebelum menentukan sifat utama suatu barang campuran. nilai (value).

Sebagaimana selama ini telah berjalan. IP.Klasifikasi Barang barang. langkah selanjutnya adalah melihat pembebanannya (BM. meneliti dan menetapkan klasifikasi barang tersebut. aparat DJBC diharuskan membuat uraian rinci yang menjelaskan dasar klasifikasi barang dimaksud. atau cukai) dan ada atau tidak peraturan tata niaganya (IT. uraian rinci klasifikasi barang dimaksud kita sebut saja Nota Penelitian Klasifikasi Barang.). Kerangka nota penelitian klasifikasi barang sebenarnya tidak baku. dan lainlain. Dalam diktat ini disajikan cara membuat uraian rinci klasifikasi barang tersebut. dalam rangka pengimporan importir/PPJK memberitahukan sendiri jenis barang. Selanjutnya DJBC akan 2) Nota Penelitian Klasifikasi Barang Pada bagian akhir diktat ini disajikan juga contoh soal klasifikasi barang menggunakan nota penelitian klasifikasi barang. Karena pembebanan tersebut sering berubah. klasifikasi. jangan lupa selalu menggunakan pembebanan yang up to date berdasarkan ketentuan yang terbaru. Untuk memudahkan. Soal tersebut dapat dijawab dengan menggunakan contoh nota penelitian di bawah ini: DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 49 . Pertamina. dan pembebanan impornya. C. PPN. PPnBM. bisa singkat atau memerlukan uraian yang cukup panjang tergantung pada permasalahan yang dihadapi. Namun dalam diktat ini pembuatan nota penelitian klasifikasi barang tersebut diarahkan untuk mengikuti ketentuanketentuan dasar mengklasifikasi barang sesuai HS/BTBMI. Dalam mekanisme ini tidak jarang timbul perbedaan pendapat mengenai klasifikasi barang antara importir/PPJK dan aparat DJBC. Dalam mempertahankan pendapatnya. NOTA PENELITIAN KLASIFIKASI BARANG 1) Pengantar Berkaitan dengan klasifikasi barang. setidaknya ada dua fihak yang berkepentingan yaitu aparat DJBC dan importir/PPJK.

Contoh 2. (Contoh ini umumnya diterapkan pada penelitian klasifikasi di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai): DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 50 .Klasifikasi Barang Contoh 1.

Produk farmasi . .Arang kayu masuk Bab 44.90 Lain-lain DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 51 .Bab 38 catatan 1 (d) tidak meliputi barang untuk obat …masuk Bab 30 Uraian klasifikasi : .Menurut catatan 1 (d) Bab 44 tidak meliputi arang aktif masuk pos 3802 .Pos 3004. Bahan tersebut telah terdaftar dalam Farmakope Indonesia Alasan Klasifikasi : .Subpos 3004..Klasifikasi Barang 3) Praktek Pembuatan Nota Penelitian Klasifikasi Barang 1. .Bab 30. Obat dalam dosis tertentu.. Nama dan Jenis barang : Norit mengandung arang aktif dari arang kayu dalam bentuk tablet 5 gram dipergunakan untuk mengatasi keracunan atau perut kembung.

90. shampo Pos 3305.Bab 33.Lihat Bab 16 catatan 2 “Bab 16 meliputi olahan daging lebih dari 20 % makanan mengandung DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 52 . Nama dan Jenis barang : Sosis daging sapi yang dimasak Alasan Klasifikasi : .kosmetika… ..00. .99. .99.Pos 3305 preparat digunakan pada rambut.Subpos 3305. 2.Bila mengandung obat Bab 30 Lihat Bab 30 catatan 1(d) :Bab ini tidak meliputi pos 3303-3307 walau mengandung obat Uraian klasifikasi : .Olahan dari ikan masuk Bab 16.Subpos 3004.PPN … % PPh %. % .10. % . Nama dan Jenis barang : Shampo merk : KAO dalam tube 100 ml mengandung obat anti ketombe dan anti jamur atau kerontokan rambut Alasan Klasifikasi : ..10.Pos tarif 3305.diolah selain dari bab 2 dan 3 masuk Bab 16…” .Shampo termasuk kosmetik Bab 33..shampo Kesimpulan : Shampo mengandung obat anti kerontokan diklasifikasikan pada pos tarif 3305.00 BM ….90.90.00 BM ….Makanan olahan masuk Bagian IV .10 shampo . .PPN … % P 3. lihat cat 1 “.90..90.Pos tarif 3004.90 Lain-lain .00 Lain-lain Kesimpulan : Norit diklasifikasikan pada pos tarif 3004.Klasifikasi Barang .

cat masuk bab 32 . Nama dan Jenis barang : Kawat pilinan dari baja terdiri dari 5 buah yang dipilin tidak diisolasi ukuran diameter 2.00 cair Kesimpulan : Bahan cat tersebut diklasifikasikan pada pos tarif 3907.10.pelarut kurang dr 50 % ke pos 3907. 4.00 BM ….polimer .. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 53 .50.PPN … % PPh %..50 alkid (poliester) dari poliester .Pos tarif 1601..Bab 16 .Barang dari logam tidak mulia masuk Bagian XV.Klasifikasi Barang Uraian klasifikasi : .Bab 39.Lihat catatan 4 bab 32 . Nama dan Jenis barang : Bahan untuk membuat cat besi mengandung bahan alkyd resin (poliester resin) 55 %.00..Bahan cat termasuk produk kimia bagian VI.Pos 1601 .5 cm digunakan untuk penarik mobil derek Alasan Klasifikasi : .Olahan dari daging .12.12.00.00…mengandung daging sapi Kesimpulan : Sosis daging sapi tersebut diklasifikasikan pada pos tarif 1601. % PPN … % PPh %... % . sosis . 5.sosis . Alasan Klasifikasi : ..10...Pos 3907 poliester (alkid resin) ...Subpos 1601.00.00 BM …..Pos tarif 3907.10.50. pos 3208 meliputi bahan yang mengandung bahan pelarut mudah menguap lebih dari 50 % .Subpos 3907. bahan pelarut yang mudah manguap 28 % dan bahan lainnya 13%. Uraian klasifikasi : .

Sub pos 8708.Barang dari logam tidak mulia masuk Bab 73..Bab 73.Pos tarif 8708. Uraian klasifikasi : . (walau bagian untuk mobil derek) Uraian klasifikasi : .00 ukuran 25 mm Kesimpulan : Kawat tersebut diklasifikasikan pada pos tarif 7312.10.Pos 7312 .Pos tarif 7312.90.kawat ..Bab 87 Kendaraan yang bergerak selain diatas rel … . Nama dan Jenis barang : Bagian dari kendaraan bermotor berupa : Radiator untuk mobil bus mini untuk pengangkutan 15 orang dengan mesin diesel dalam keadaan CKD masa total 10 ton Alasan Klasifikasi : .91. .barang dari baja .90.00 untuk bus mini Kesimpulan : rel… masuk Bagian XVII. .10. kawat dipilin .Kendaraan yang bergerak selain diatas Kendaraan Bab 87 .Radiator bagian dari kendaraan bermotor berjalan bukan di rel.10. radiator . Bagiannya masuk pos 8708.Pos 8708 bagian untuk kendaraan bermotor.Subpos 7312.91. 6.%.00 BM ….Lihat Bagian XV catatan 2 “kawat dipilin masuk bagian untuk pemakaian umum pos 7312 ….Mobil derek masuk bab 87 .Sub pos 8708.Lihat Bagian XVII catatan 2(B) bagian untuk pemakaian umum tidak boleh masuk Bab 87 . DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 54 ..Klasifikasi Barang .% PPN …% PPh….30.90 bagian dan aksesori lainnya ….

Latihan 2 1.30.2. Nota penelitian klasifikasi barang seyogyanya memuat hal-hal apa saja ? 9. Pedoman tersebut adalah Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System (KUM HS) merupakan ketentuan untuk memasuki klasifikasi barang. Dalam mengklasifikasi barang dalam BTBMI diperlukan suatu pedoman. Mengapa dalam mengklasifikasi barang tidak hanya menyebutkan 9 digitnya atau kesimpulannya saja ? 2.Klasifikasi Barang Radiaotor tersebut diklasifikasikan pada pos tarif 8708. Bagaimana tahapan dalam mengklasifikasi barang agar menghasilkan pos tarif yang akurat ? 6.3. % . Mengapa sebelum mengklasifikasi barang. Saat ini KUM HS hanya terdiri dari nomor 1 sampai dengan nomor 6. 2.00 BM …. Dalam mengklasifikasi barang gantungan kunci yang terdiri dari ring baja.PPN … % PPh %. Dahulu sampai dengan 10.91. nomor 7 sampai 10 dihilangkan dan DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 55 . Rangkuman 1. Sebutkan contoh barang yang dalam mengklasifikasinya menerapkan KUM HS nomor 3a (selain yang telah disebutkan contoh diatas) 3. rantai baja dan hiasan dari plastik. diperlukan data mengenai barangnya ? Sebutkan contoh kasus ! 5. harus menggunakan KUM HS nomor berapa ? 2. Bagaimana menurut pendapat Saudara mengenai penggunaan KUM HS nomor 4 dalam prakteknya ? 4. Sebutkab tahapan dalam membuat nota penelitian klasifikasi barang ? 8. Mengapa dalam mengklsifikasi barang harus memperhatiakan bagian dan bab serta catatan bagian dan catatan babnya yang terkait dengan barang tersebut ? 7.

alas an klasifikasi.S ) Judul Bagian. hasil analisa laboratorium atau sumber informasi lainnya 2. Berdasarkan pertimbangan tersebut baru ditentukan pos tarif yang tepat. namun dilapangan nama barang berdasarkan hasil pemeriksaan. mendeskripsikan jenis barang. demikian juga hasil penelitian klasifikasi barang harus disajikan dalam bentuk format yang benar.4. Lingkarilah huruf B apabila pernyataan ini Saudara anggap benar dan huruf S apabila pernyataan Saudara anggap salah. kemudian melihat uraian barang dalam BTBMI sesuai dengan yang akan diklasifikasi. Proses dalam mengklasifikasi barang harus seuai dengan aturan. 1. Test Formatif 2 A. ( B . 3. Bab dan Sub-bab pada Buku tarif Bea Masuk DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 56 . Dalam proses mengklasifikasi barang diperlukan tahapan yang sesuai. bab dan catatan yang berkaitan dengan barang yang akan diklasifikasi. agar menghasilkan keputusan yang tepat sesuai aturan yang benar. Pengamatan uraian barang dalam BTBMI dengan melihat bagaian. uraian klasifikasi dan kesimpulan. ditambah informasi barang dari brosur. Pada prinsipnya meliputi identifikasi barang.Klasifikasi Barang beberapa diantaranya menjadi surat keputusan Dirjen Bea dan Cukai 2. Pada umumnya hsil penelitian dituangkan dalam suatu format yang berisikan komponen : nama dan jenis barang. Dalam membuat nota penelitian klasifikasi barang ada yang sederhana dengan hanya menggunakan BTBMI.

Pililihlah jawaban yang Saudara anggap benar dengan cara melingkari huruf yang terdapat di depan jawaban tersebut 1.S ) Sebelum mengklasifikasi barang. asalkan pada saat diimpor sudah mempunyai sifat utama sebagai barang lengkap atau rampung 3. harus diklasifikasikan dengan barang tersebut jika biasa dijual dengan barang itu 5.S) Pernyataan 3a pada KUM HS adalah Pos yang memuat uraian yang paling terinci harus lebih diutamakan daripada pos yang memuat uraian yang lebih umum sifatnya 4. nama barang dan uraian jenis barang b. ( B . Uraian klasifikasi mulai 2 digit sampai dengan 9 digit DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 57 .S ) Pernyataan 2b pada KUM HS adalah Barang tidak lengkap atau tidak rampung dianggap sebagai barang lengkap atau rampung. alasan atau catatan yang digunakan c. ( B . peti instrumen dan tempat simpan yang semacam. Namun demikian nota tersebut setidak-tidaknya memuat tentang : a. Dengan mengetahui spesifikasi barang maka akan lebih mendekati keakuratan dalam mengklasifikasi barang B. Dalam membuat Nota Penelitian Klasifikasi Barang maka diperlukan kerangka yang singkat atau memerlukan uraian yang cukup panjang tergantung pada permasalahan yang dihadapi. ( B .Klasifikasi Barang Indonesia hanya dimaksudkan untuk memudahkan penyebutan saja. ( B . dengan bentuk atau kelengkapan khusus untuk menyimpan barang tertentu atau seperangkat barang tertentu. cocok untuk pemakaian jangka panjang dan diimpor lengkap dengan isinya. sebaiknya kita identifikasi dulu barang yang akan kita klasifikasi. Tidak mengikat secara hukum dalam mengklasifikasi 2.S ) Pernyataan 5b pada KUM HS adalah Peti kamera.

2a c. 2b d. esklusif c. 2b b. 3b d. diklasifikasikan sebagai mie pada bab 19. 5a d. Jawablah dengan benar dan lengkap 1. Definitif b. Larutan dengan kandungan asam cuka (acetic acid) lebih dari 10 % dikeluarkan dari bab 22 berdasarkan catatan : a. pengertian 4. namun diklasifikasikan pada bab 22 dikarenakan KUM HS nomor : a. 3c c.Klasifikasi Barang d. pernyataan a. Mengapa olahan makanan yang terbuat dari daging sapi yang dikukus tidak diklasifikasikan pada bab 2 DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 58 . Walalupun etil alkohol merupakan bahan kimia organik. 3a c. 1 b. Suatu kemasan mengandung mie. Tabung gas LPG yang berisi gas LPG tidak dapat diklasifikasikan menjadi stu pos tarif karena ketentuan menurut KUM HS nomor : a. bumbu. 5b C. 5a 3. 3b b. 3a 5. berdasarkan KUM HS nomor : a. saos dan bawang. ilustrasi d. b dan c benar 2.

UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT Bandingkanlah hasil jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif yang ada DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 59 . tidak dikelantang dan tidak dimerserisasi.Ketentuan dan catatan apa yang digunakan dalam mengklasifikasi barang tersebut 2.Klasifikasi Barang 2. Benang tenun terbuat dari campuran 70 % kapas (cotton) dan 30 % nilon. merupakan benang tunggal.32 .5. 3. dari serat disisir dengan nomor benang 150 decitex. Mengapa sabun mandi mengandung obat pembasmi kuman walaupun mengandung obat tidak diklasifikasikan pada bab 30 sebagai produk farmasi. Automatic voltage regulator yang digunakan sebagai stabilizer otomatis untuk komputer harus diklasifikasikan pada pos 85.04 atau 90. Mengapa tutup kepala (topi) pengaman untuk pengendara sepeda motor yang terbuat dari bahan plastik tidak diklasifikasikan pada bab 39 ? 4. Sebutkan alasannya 5.

. bila tingkat penguasaan Anda masih dibawah 80 %.Klasifikasi Barang di belakang modul ini..... Hasilnya Baik ! akan tetapi.... Arti tingkat penguasaan : * 90 % .. terutama bagian yang belum Anda kuasai 3...100 % * 80 % * 70 % * 89 % 79 % 69 % = Baik sekali = Baik = Cukup = Kurang Kalau Anda mencapai tingkat penguasaan 80% keatas Anda dapat meneruskan kepada modul atau bagian pelajaran lain. Hitunglah jumlah jawaban Anda yang benar atau sejauh mana Anda menguasai mata pelajaran tersebut. Kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap terhadap materi kegiatan belajar Rumus Tingkat Penguasaan Jumlah Jawaban Anda yang benar dibagi 15 kemudian dikali 100 % = . Kegiatan Belajar (KB) 3 DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 60 . Anda harus mengulangi membaca Modul kembali.

Seorang klasifikator harus memiliki kemampuan dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang karena akan menentukan ketepatan pengisian Pemberitahuan Impor Barang (PIB) yang pada akhirnya menentukan ketepatan jumlah bea masuk dan pungutan impor lainnya yang harus dibayar. Struktur pengelompokkan barang 3. A. Catatan Bab.1.Klasifikasi Barang CATATAN PENTING DALAM BUKU TARIF BEA MASUK INDONESIA (BTBMI) Indikator Keberhasilan : Setelah mempelajari materi diharapkan siswa mampu menjelaskan: 1. yaitu: DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 61 . JENIS CATATAN PADA BTBMI Disamping KUM HS. Uraian dan Contoh Untuk menjadi menjadi seorang klasifikator dibidang kepabeanan yang handal harus dapat mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang dengan terampil. Catatan penting dalam BTBMI 3. Catatan-catatan tersebut dapat dibagi berdasarkan jenisnya. Oleh karena itu. Catatan-catatan tersebut mempunyai kekuatan hukum sama seperti uraian pos atau sub-pos. Jenis catatan pada BTBMI 2. catatan-catatan dalam HS merupakan bagian integral yang harus diperhatikan benar-benar. HS mempunyai Catatan Bagian. dan Catatan Sub-pos. seorang klasifikator harus terlebih dahulu memahami pengetahuan barang dan pengetahuan mengenai klasifikasi barang.

30.01 sampai dengan 02. (b) (c) (d) (e) (f) (g) (h) Laminaria steril dan laminaria steril yang dapat menggembung. 02.Klasifikasi Barang 1) Catatan Definitif Catatan yang menjelaskan pengklasifikasian suatu barang pada pos atau sekumpulan pos tertentu.08. 05. Contoh: Catatan 1 Bab 2: Bab ini tidak meliputi: (a) Produk dari jenis yang diuraikan dalam pos No. selain produk dari pos No. 05. 02.04 hanya berlaku untuk hal berikut ini. (b) Usus.04) atau darah binatang (pos No. atau (c) Lemak hewani. Contoh: Catatan 4 Bab 30: Pos no. atau 02. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 62 .11 atau 30. … … … … Preparat kontrasepsi kimia dengan bahan dasar hormon atau pembunuh sperma. 2) Catatan Eksklusif Catatan yang mengeluarkan barang tertentu dari suatu pos atau sub-pos dan memasukkannya dalam pos atau sub-pos tertentu lainnya. Hemostatik bedah atau gigi steril yang dapat menyerap.09 (Bab 15). yang harus diklasifikasikan dalam pos tersebut dan tidak dalam pos lainnya dari Nomenklatur ini: (a) Catgut bedah steril.10. bahan jahit bedah steril yang semacam itu dan perekat kertas steril untuk penutup luka bedah. kandung kemih atau perut dari binatang (pos No.02). yang tidak layak atau tidak sesuai untuk konsumsi manusia.

03. ikat pinggang. ii. Tambahan dari bahan lainnya ke dalam produk dari pos no. 4) Catatan Lain-lain Catatan teknis. untuk sarung tangan (termasuk sarung tangan olah raga).04 sampai DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 63 . (b) Campuran dua produk atau lebih dari pos yang berlainan harus digolongkan dalam pos no. 09.13).Klasifikasi Barang 3) Catatan Ilustratif Catatan yang memberikan gambaran terhadap pengertian atau istilah yang perlu dijabarkan lebih lanjut.10.10 harus diklasifikasikan sebagai berikut: (a) Campuran dua produk atau lebih dari pos yang sama harus digolongkan dalam pos itu.Contoh: i. Contoh : Catatan 3 Bab 42: Untuk keperluan pos no. apron dan pakaian pelindung lainnya. tali penahan celana. 42. yang menguraikan pengertian-pengertian yang bersifat Catatan 2 Bab 3: Dalam Bab ini pengertian “pellet” adalah produk-produk yang telah diaglomerasi baik secara langsung dengan cara dikompresi atau dengan penambahan sejumlah kecil bahan pengikat. 09. 91. 09. istilah “barang pakaian dan perlengkapan pakaian” berlaku. tali sandang dan semua jenis gelang.04 sampai dengan 09. tetapi tidak termasuk arloji tangan (pos no. Catatan 1 Bab 9: Campuran dari produk dimaksud dalam pos no. antara lain.

06. 73.10 dan bingkai serta kaca dari logam tidak mulia. 73. Dalam Bab 73 sampai dengan 76 dan 78 sampai dengan 82 (tetapi bukan dalam pos no. termasuk KUM HS. dan pos tarif yang berkaitan dengan barang yang akan diklasifikasikan merupakan syarat mutlak yang harus dilakukan agar klasifikasi yang dilakukan benar-benar akurat. dari logam tidak mulia.. Dengan memperhatikan ketentuan dalam ayat di atas dan Catatan 1 Bab 83.14). (b) Pegas dan lembaran untuk pegas. Tatacara mengklasifikasi harus diikuti dengan urut agar benar-benar diperoleh hasil yang akurat. selain pegas untuk lonceng atau arloji (pos no. Mengklasifikasi barang tidak dapat dilakukan dengan hanya sekedar mencari satu pos tertentu saja. istilah “bagian untuk pemakaian umum” berarti: (a) Barang dari pos no.02.17 atau 73.18 dan barang semacam itu dari logam tidak mulia lainnya. 83.01. dan (c) Barang dari pos no.08. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 64 . Untuk beberapa hal cara seperti ini mungkin berhasil namun labih banyak risiko kegagalannya. 91.10 (atau campuran seperti yang dimaksud dalam (a) atau (b) di atas) tidak mempengaruhi penggolongannya asalkan…. dari pos no. 83. 83. iii. 73. barang dari Bab 82 atau 83 tidak termasuk dari Bab 72 sampai dengan 76 Bab 78 sampai dengan 81.12.15.Klasifikasi Barang dengan 09. dan uraian pada pos. 83. Catatan 2 Bagian XV: Dalam seluruh Nomenklatur. 83. sub-pos.15) apa yang disebut bagian dari barang tidaklah termasuk uraian tentang bagian untuk pemakaian umum seperti diuraikan di atas. Membaca dengan teliti dan memahami catatan-catatan di atas. 73. 73.07. Explanatory Notes.

madu. produk yang dapat dimakan lainnya. dan produk yang tidak dapat dimakan). Struktur Pengelompokan Barang Pada BTBMI 1) Gambaran Per Bagian Dalam Harmonized System (HS). barang setengah jadi (semi-finished products). Sebagai contoh. kulit. jangat dan kulit binatang pada Bab 41. bulu dan barang terbuat daripadanya (diklasifikasikan pada bagian VIII). Bagian II DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 65 . Pengelompokan tersebut berdasarkan urutan tingkat pengerjaannya. sepatu dari kulit binatang pada Bab 64.Klasifikasi Barang B. ikan. Bab 1 sampai dengan bab 24 (Bagian I sampai dengan Bagian IV) mencakup produk-produk pertanian dalam arti luas. demikian juga halnya dengan jangat. barang dikelompokkan dalam 96 bab (dan bab 77 sebagai persiapan masa mendatang) yang dikelompokkan dalam 21 bagian. produk susu. dan barang jadi (finished products). telur. bahan yang tidak/belum dikerjakan (unworked products). binatang hidup diklasifikasikan pada Bab 1. yaitu bahan baku (raw material). Namun beberapa jenis minyak dan lemak dikeluarkan dari bagian I dan diklasifikasikan pada bab 15. Urutan pengelompokan ini juga berlaku untuk bab dan pos. Di bawah ini disajikan urutan pengelompokan barang dalam HS/BTBMI: Bagian I mencakup binatang hidup dan produk dari binatang (daging.

Umumnya minyak tidak menguap. sereal.). kecuali beberapa jenis minyak dan lemak tertentu (bab 15) dan kayu (bab 44). Produk-produk yang termasuk bagian I dan II belum mengalami proses pengerjaan kecuali sampai tahap tertentu (dengan beberapa pengecualian). biji-bijian. dsb. Demikian juga bahan pemanis tiruan masuk Bab 29. bab 20 atau bab 21. Contohnya. telah diproses.Klasifikasi Barang mencakup produk sayuran. Bab 16 meliputi daging atau ikan yang telah mengalami proses lebih lanjut. dikukus atau diawetkan secara permanen. cuka. Terhadap produk yang telah mengalami proses lebih lanjut diklasifikasikan pada bab 19. baik yang bisa dimakan atau tidak (tanaman. diantaranya digoreng. Bagian IV mencakup produk minuman. Bagian III hanya terdiri dari bab 15 yang mencakup lemak dan minyak hewani dan nabati dan produk terbuat daripadanya (misalnya malam/wax). seperti saccharin dan dulcin. buah. misalnya minyak goreng atau margarine yang siap dikonsumsi. sayuran.dan tembakau. HUBUNGAN BAGIAN I DAN II DENGAN BAGIAN IV BAGIAN I & II BAGIAN IV *BAB 2 (DAGING) BAB 3 (IKAN) *BAB 16 DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 66 DIPROSES LEBIH LANJUT . Bab 17 meliputi gula dan bahan lainnya seperti sirop. karena minyak nabati yang mudah menguap masuk Bab 33 sebagai minyak atsiri. minuman keras. produk makanan siap saji yang diawetkan diklasifikasikan pada Bagian IV. Berbagai jenis gula yang murni secara kimiawi diklasifikasikan pada Bab 29. tepung. madu tiruan dan karamel. Minyak pada Bab II baik dalam keadaan mentah. bersama-sama dengan produk industri makanan yang tidak dicakup bab-bab sebelumnya.

Batu-batuan setengah permata atau batu permata digolongkan pada Bab 71. pupuk. belerang dan batuan lainnya hanya dalam keadaan mentah (crude). Bagian VII Mencakup plastik dan produk dari plastik (bab 39) dan karet dan produk dari karet (bab 40). kosmetik. Sesuai dengan kemajuan teknologi. Hasil pertambangan yang telah diolah secara lain. sedangkan apabila merupakan hasil bentukan atau pahatan masuk Bab 68 dan kalau bahan tersebut merupakan hasil pembakaran maka masuk Bab 69.Klasifikasi Barang *BAB 4 (SUSU) BAB 10 (GANDUM. hasil tumbuk. maka Bab tambang. karet buatan serta barang dari plastik dan karet buatan banyak diimpor Indonesia. baik yang berbentuk asal (primary form) maupun produk-produk industri kimia seperti produk farmasi. hasil gilingan atau saringan. baik sumber mineral anorganik seperti tanah.GANDUMAN) *BAB 19 BAB 11 (PRODUK-GILINGAN) *BAB 7 (SAYURAN) BAB 8 (BUAH-BUAHAN) BAB 11 (PRODUK GILINGAN. seperti 25 meliputi produk garam. maka produk barang-barang tersebut semakin bervariasi dan bertambah jenisnya. dan minyak bumi. Bagian VI Mencakup produk-produk kimia. batuan pada Bab 25 atau bijih logam pada Bab 26. misalnya dimurnikan sebagai bahan kimia anorganik masuk Bab 28. KENTANG) *BAB 20 Bagian V Mencakup produk mineral. bahan peledak. dan lain-lain. Kecuali kalau susunannya mensyaratkan lain. dan sumber bahan organik pada Bab 27 seperti batu bara. cat. Komoditi plastik. sabun. telah dicuci. Karena DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 67 . hancur.

Struktur dalam Bab 39 secara garis besar adalah : BAB 39 PLASTIK DAN BARANG DARI PLASTIK BAB 40 KARET DAN BARANG DARI KARET SUB-BAB 1 3901-3911 : POLIMER BUATAN 3912-3913 : POLIMER ALAMI 3914 : PENUKAR ION 4001-4002 : BAHAN KARET 4003 4004 4005 SUB-BAB II 3915 : SISA... termasuk kulit berbulu imitasi (bab 43). DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 68 . maka pengenalan dan proses pengidentifikasi barang tersebut semakin sulit. yaitu bab 39 (Plastik dan Barang Dari Plastik) dan bab 40 (Karet dan Barang Dari Karet). REJA : COUMPOND 3916-3921 : BARANG SETENGAH JADI 3922-3924 : BARANG JADI 4007-40016 : BARANG SETENGAH JADI 4017 : KARET KERAS Bagian VIII Mencakup produk-produk tertentu yang berasal dari binatang seperti jangat dan kulit (bab 41). Perlu dicatat bahwa pos 42.02 juga mencakup produk-produk tertentu terbuat bukan dari kulit. kulit berbulu.Klasifikasi Barang kemajuan teknologi pembuatan barang. Bagian ini terdiri dari 2 bab. REJA. barang dari kulit atau usus binatang (bab 42)..01 dan 42. Bagian VII Mencakup plastik/barang dari plastik serta karet/barang dari karet. 4006 :TIDAK DIVULKANISASI : KARET PUGARAN : SISA. khususnya dalam rangka klasifikasi barang.

henneps. Untuk memahami ini lihat Catatan 1 Bab 54. bulu unta. bisa dilihat besar atau kecilnya suatu benang. misalnya serat kapas. 2. Serat dapat berasal dari tumbuhan. kertas. dan barang kerajinan tangan (bab 46). Bagian XI Mencakup produk tekstil mulai dari sutera (bab 50) sampai dengan pakaian dan permadani (bab 63). Serat bila diproses akan menjadi benang. goni dan sisal. poliurethan dan lainnya.Klasifikasi Barang Bagian IX Mencakup produk yang berasal dari tumbuhan. yaitu pulp (bab 47). rami. bulu kelinci. Serat dari tumbuhan atau disebut serat nabati. poliester. bulu kambing Angora (Mohair) dan sutera. beberapa produk seperti furniture diklasifikasikan di bab lain (bab 94). seperti kayu dan barang dari kayu (bab 44). Namun. Melalui data nomor benang. Bagian X Juga masih mencakup produk yang berasal dari tumbuhan. sedangkan serat tiruan digunakan dalam hubungan untuk bahan dari rayon viskosa. Serat buatan manusia atau man made fiber terbagi dua. dan semacam itu. yaitu : 1. Bahan dasar tekstil adalah serat. dan produk industri percetakan (bab 49). Istilah sintetik digunakan dalam hubungan bahan polimer seperti poliamida. yaitu serat sintetik dan serat artificial (tiruan). Sistem penomoran benang langsung (Direct Yarn Number) Sistem penomoran benang tidak langsung (Indirect Yarn Number) Kain yang terbuat dari benang dengan cara tenun. benang pakan kalau dalam mesin rajut adalah yang bergerak menyilang benang lusi atau sesuai arah lebar kain. Kain rajut dibuat dengan jalan menjeratkan benang satu dengan yang lain atau pada DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 69 . Serat yang berasal dari hewan misalnya bulu domba atau bulu anak domba. flaks. Ada dua sistem yang dipakai dalam penomoran benang. hewani. mineral dan buatan manusia. dibuat dengan mesin tenun melalui cara menyilangkan kelompok benang satu terhadap yang lain. Serat buatan adalah serat hasil industri kimia. asetat sellulosa. kertas karton dan barang terbuat daripadanya (bab 48). gabus dan barang dari gabus (bab 45). Benang tersebut biasa disebut sebagai lusi dan pakan. kemudian dari benang menjadi kain atau produk tekstil lainnya.

logam mulia. gips. dan alat transportasi lainnya (kereta api. keramik (bab 69). dan bermacam-macam barang hasil pabrik (bab 96).Klasifikasi Barang benang itu sendiri. peralatan permainan. Bagian XIX Hanya terdiri dari bab 93 yang mencakup senjata dan amunisi. ukuran. plaster. pesawat terbang. mainan. contohnya kaos. perhiasan. Bagian XIV Mencakup hanya bab 71 yaitu mencakup mutiara dan batu mulia. dll. bunga buatan. (bab 68). Bagian XVII Mencakup kendaraan. semen. atau bedah (bab 90). juga produk-produk tertentu dari bulu. pesawat ruang angkasa. Bagian XVI Mencakup mesin. kapal laut. T shirt dan kain katun (lihat Bab 60 tentang jenis kain ini). tongkat jalan. Bagian XIII Mencakup produk-produk yang diperoleh dari batu. peralatan mekanik. papan nama iluminasi. dan perlatan musik (bab 92). tutup kepala (bab 65). dan bangunan prefabrikasi (bab 94). Bagian XII Mencakup produk alas kaki (bab 64). dan uang logam. fotografi. Bagian XVIII Mencakup perlatan optik. dan kaca/barang dari kaca (bab 70). Bagian ini mempunyai pos dan sub-pos yang sangat besar dibandingkan dengan bagian lainnya. dan barang dari rambut manusia (bab 67). jam (bab 91). dan peralatan olahraga (bab 95). Bagian XV Mencakup logam tidak mulia dan barang terbuat daripadanya. Bagian XX Mencakup furniture. kontrol. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 70 . (bab 66). sinematografi. lampu. dan peralatan listrik. medis. payung. dll.). dll. perlengkapan penerangan. Namun demikian bagian ini tidak mencakup barang dari logam dasar yang termasuk dalam bab-bab di belakangnya (seperti mesin dan kendaraan).

Pada Bab 6 tidak termasuk benih. Perlu diingat bahwa judul bab bukan merupakan uraian yang bersifat mengikat secara hukum. Dengan demikian dapat dimengerti apabila suatu barang yang sepintas termasuk dalam suatu bab ternyata diklasifikasikan pada bab lain. Tetapi apabila kembang gula tersebut mengandung kokoa.08). Hal ini dapat difahami mengingat antara bab satu dengan bab lainnya kadang-kadang mencakup barang yang mengandung bahan yang sama atau merupakan proses lebih lanjut dari barang dalam bab sebelumnya. • Kembang gula (sugar confectionery) diklasifikasikan pada bab 17. akan kita dapati bahwa terdapat keterkaitan antara bab tertentu dengan bab atau beberapa bab lainnya. diasap dan dipanggang. buah atau buah berbonggol dan umbi-umbian tertentu. Sebagai contoh. judul bab dalam HS sebagian besar bersifat umum. dingin. Selain itu. 2) Hubungan Antar Bab Apabila kita mempelajari Bab demi Bab Harmonized System. di bawah ini disajikan gambaran keterkaitan antar bab dalam HS: • Bab 1 mencakup antara lain binatang hidup. • Bab 6 meliputi semua tanaman hidup yang umumnya dimaksud untuk dijual oleh tukang bibit atau yang bergerak dibidang hortikultura yang serasi untuk ditanam atau dijadikan pajangan. maka harus DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 71 . Sayuran atau buah yang diawetkan dengan cuka atau dengan cara lain misalnya masuk Bab 20. melainkan pada bab 95 (pos 95. Produk yang dikemas dalam kedap udara dan mengalami pengolahan lebih jauh selain pengolahan dari Bab 2 maka diklasifikasikan pada bab 16.Klasifikasi Barang Bagian XXI Hanya terdiri dari bab 97 yang mencakup hasil karya seni. • Daging pada Bab 2 hanya terhadap pengolahan terbatas seperti : segar. dan barang antik. barang kegemaran kaum pengumpul. Namun kuda hidup yang digunakan dalam sirkus tidak klasifikasikan pada bab 1.

frame kacamata dari plastik (bab 90).06).03 (electric central heating boiler) dan pos 84.Klasifikasi Barang diklasifikasikan olahan makanan mengandung kokoa pada bab 18 (pos 18. furniture dari plastik (bab 94). • Bahan kimia etilena diklasifikasikan pada Bab 29 (bahan kimia organik). Contoh-contoh di atas adalah sebagian kecil contoh keterkaitan antar bab dalam HS. kita dapat melihat di catatan bab maupun catatan bagian. dan sebagainya. PRODUK HEWANI DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai BAB 72 . maka harus diklasifikasikan pada Bab 39 (plastik). 3) Bab Pada BTBMI BAGIAN I BINATANG HIDUP. Untuk itu membaca catatan bab maupun catatan bagian merupakan kewajiban sebelum kita mengklasifikasikan suatu barang pada pos tertentu. barang tersebut diklasifikasikan di bab-bab lain. kotak jam dari plastik (bab 91). Namun demikian. mesin pada pos 84. Sebagai contoh. Barang dari plastik diklasifikasikan pada Bab 39. dan beberapa mesin lainnya. Adalah tidak mungkin untuk menggambarkan dengan rinci keterkaitan antas bab dalam diktat ini. Untuk mengetahui keterkaitan antara bab satu dengan bab lainnya. beberapa mesin dan peralatan tertentu tetap diklasifikasikan pada bab 84 meskipun elektrik. seperti mesin dengan motor listrik. • Mesin dan peralatan mekanis diklasifikasikan pada bab 84 sedangkan mesin dan peralatan listrik diklasifikasikan pada bab 85.19 (wood dryer). Namun apabila etilene terpolimerisasi menjadi polietilena dengan jumlah unit monomer (n) 5 atau lebih. Bila sudah berbentuk barang yang khusus dibuat untuk keperluan tertentu.

damar dan air. bermacam-macam butir. tidak dirinci atau termasuk dalam pos lainnya 5. teh. produk nabati tidak dirinci DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai pos lainnya 73 atau termasuk . telur unggas. Ikan dan udang-udangan. Buah & buah berbatok yang dapat dimakan. Produk pabrik susu. getah. BAGIAN II PRODUK NABATI BAB 6.Klasifikasi Barang 1. Lak. biji dan buah. Produk hewani. tidak dirinci atau termasuk dalam pos lain. Bahan nabati untuk anyam-anyaman. pati. Sayuran. jerami dan makanan ternak. mate dan rempah-rempah 10. Daging & sisanya yang dapat dimakan 3. akar dan bonggol tertentu yang dapat dimakan 8. madu alam. produk hewani yang dapat dimakan. 12. bunga potong dan daun untuk hiasan 7. ekstrak nabati lainnya 14. Binatang hidup 2. Kopi. tanaman industri atau obat . kulit dari buah jeruk dan melon 9. Biji mengandung minyak dan buah mengandung minyak . Produk industri penggilingan . 13. umbi akar dan yang semacam itu. gluten gandum. Gandum-ganduman 11. malti . Pohon hidup dan tanaman lainnya. inulin . binatang lunak dan binatang air lainnya yang tidak bertulang belakang 4.

TEMBAKAU DAN TEMBA KAU PENGGANTI BUATAN BAB 16. binatang lunak atau dari binatang air yang tidak bertulang belakang 17. LEMAK OLAHAN YANG DAPAT DIMAKAN. Olahan dari sayuran.Klasifikasi Barang BAGIAN III MINYAK DAN LEMAK HEWANI ATAU NABATI DAN PRODUK DISOSIASINYA. Olahan dari daging. MALAM HEWANI ATAU NABATI BAB 15. Tembakau dan tembakau pengganti buatan. buah. produk industri kue. 20. 74 22. olahan makanan hewan 24. MINUMAN KERAS DAN CUKA. Kakao & olahan kakao 19. kacang atau bagian lain dari tanaman. tepung. dan sisa dari industri makanan. pati atau susu. dari ikan atau dari udang-udangan. minuman keras dan cuka 23. Olahan dari gandum-ganduman. MINUMAN. DTSD Bermacam-macam olahan DTSD Kepabeanan dan Cukai yang dapat dimakan 21. Gula dan kembang gula 18. Minuman. . Ampas. (Judul Bab sama dengan Bagian) BAGIAN IV BAHAN MAKANAN OLAHAN.

dempul dan damar lainnya. Minyak atsiri dan resinoida. Sabun bahan organik penggiat permukaan. bahan samak dan 75 turunannya. Produk farmasi 31. dari logam tanah langka.Klasifikasi Barang BAGIAN V PRODUK MINERAL BAB 25. Bahan kimia anorganik. preparat pencuci. bahan plester. Garam. wangi-wangian. bahan celup. minyak mineral dan produk sulingannya. Pupuk 32. Ekstrak bahan samak DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai atau bahan celup. terak dan abu 27. tanah dan batu. kapur dan semen. 26. cat dan vernis. pigmen dan bahan pewarna lainnya. senyawa organik atau organik dari logam mulia. preparat . Bijih logam. Bahan bakar mineral. Bahan kimia organik 30. kosmetika atau preparat pewangi 34. tinta 33. malam mineral BAGIAN VI PRODUK INDUSTRI KIMIA DAN INDUSTRI YANG ADA HUBUNGANNYA DENGAN INDUSTRI KIMIA BAB 28. belerang. bahan mengandung bitumen. dari unsur radio aktif dan dari isotop 29.

Klasifikasi Barang

BAGIAN

VII

PLASTIK DAN BARANG DARI PLASTIK; KARET DAN BARANG DARI KARET

BAB 39. 40.
Plastik dan Barang dari plastik Kulit dan Barang dari Kulit

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 76

Klasifikasi Barang

BAGIAN

VIII

JANGAT DAN KULIT MENTAH, KULIT SAMAK, KULIT BERBULU DAN BARANGNYA; PELANA TERMASUK PERLENGKAPANNYA DAN PAKAINAN KUDA; BARANG UNTUK BERPERGIAN, TAS TANGAN DAN TEMPAT SIMPAN SEMACAMNYA; BARANG DARI USUS (LAIN DARI USUS ULAT SUTERA)

BAB
41. 42. 43.

Jangat dan kulit mentah (lain dari kulit berbulu) dan kulit samak

Barang dari kulit samak; pelana termasuk perlengkapan dan pakaian kuda; barang untuk bepergian, tas tangan dan wadah yang semacam itu; barang dari usus hewan (lain dari pada usus ulat sutera) Kulit berbulu dan kulit berbulu tiruan

BAGIAN

IX

KAYU DAN BARANG DARI KAYU; ARANG KAYU; GABUS DAN BARANG DARI GABUS; BARANG DARI JERAMI, RUMPUT ESPARTO ATAU DARI BAHAN ANYAMAN LAINNYA; KERANJANG DAN BARANG ANYAMAN

BAB 44. Kayu dan barang dari kayu; arang kayu 45. Gabus dan barang dari DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai gabus 77 46. Barang dari jerami, dari rumput esparto atau dari bahan anyaman
lainnya; keranjang dan barang anyaman

Klasifikasi Barang

BAGIAN

X

PULP DARI KAYU ATAU DARI BAHAN SELLULOSA BERSERAT LAINNYA; KERTAS ATAU KERTAS KARTON (BEKAS DAN SISA) YANG DIPEROLEH KEMBALI; KERTAS DAN KERTAS KARTON DAN BARANGNYA

BAB
47.
Pulp dari kayu atau dari bahan sellulosa berserat lainnya, kertas atau kertas karton (bekas dan sisa) yang diperoleh

48. Kertas dan kertas karton; barang dari pulp kertas, dari kertas atau kertas
karton

49. Barang cetakan, surat kabar, gambar dan produk lainnya dari industri
percetakan; naskah tulisan tangan, naskah ketikan dan rencana

BAGIAN

XI

TEKSTIL DAN BARANG TEKSTIL

BAB

50. Sutera 51. Wool, bulu hewan halus DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai
78

atau kasar; benang bulu kuda dan kain tenunan

56. Gumpalan, kain kempa dan bukan tenunan; benang khsusu; benang pintal, tali tambang dan kabel dan barangbarangnya 57. 58.
Permadani dan tekstil penutup lantai lainnya Kain tenunan khusus; kain tekstil berjumbai; renda; permadani; hiasan;

52. Kapas

53. Serat tekstil dari nabati
lainnya ; benang kertas dan

Alas kaki. OLAHAN DAN BARANGNYA. pakaian bekas dan barang tekstil bekas. PECUT DAN BAGIANNYA. Tutup kepala dan bagiannya 79 bagiannya semacam dari barang 66. TONGKAT DUDUK. bunga tiruan. gombal BAGIAN XII ALAS KAKI. rajutan atau kaitan 62. tongkat duduk. pecut dan 67. Barang tekstil sudah jadi lainnya. BARANG DARI RAMBUT MANUSIA BAB 64. pelindung kaki dan yang semacam itu . TONGKAT JALAN. PAYUNG. PAYUNG PANAS. CAMBUK. setelan. barang dari rambut manusia . payung panas.Klasifikasi Barang 61. Bulu unggas dan bulu unggas olahan serta barang terbuat dari bulu unggas atau bullu unggas tiruan. Barang dan perlengkapan pakaian. TUTUP KEPALA. Barang dan perlengkapan pakaian. tongkat jalan. cambuk. tidak dirajut atau dikait 63. BUNGA TIRUAN. BULU UNGGAS. Payung. bagian DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 65.

MATA UANG LOGAM BAB DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 80 . Produk keramik 70. asbes. KACA DAN BARANG DARI KACA BAB 68. PRODUK KERAMIK. GIPS. MIKA ATAU DARI BAHAN SEMACAM ITU. mika atau bahan semacam itu 69. Kaca dan barang dari kaca BAGIAN XIV MUTIARA ALAM DAN MUTIARA BUDIDAYA. PERHIASAN IMITASI. LOGAM MULIA.Klasifikasi Barang BAGIAN XIII BARANG DARI BATU. semen. LOGAM MULIA KERAJANG DAN BARANGNYA. SEMEN. gips. BATU PERMATA ATAU SEMI PERMATA. ASBES. Barang dari batu.

bagian bagiannya dari logam tidak mulia 83. dari logam tidak mulia. Perkakas. Bermacam-macam barang dari logam tidak mulia BAGIAN XVI MESIN DAN PESAWAT MEKANIK. PERLENGKAPAN LISTRIK. peralatan. (Judul Bab sama dengan Bagian) BAGIAN XV LOGAM TIDAK MULIA DAN BARANG DARI LOGAM TIDAK MULIA BAB 72. BAGIANNYA PESAWAT PEREKAM DAN PESAWAT REPRODUKSI SUARA. Timah hitam dan barang terbuat dari timah hitam 73. Seng dan barang terbuat dari seng 80. Aluminium dan barang terbuat dari aluminium 82. Tembaga dan barang terbuat dari 79. Logam tidak mulia lainnya. barangnya 76. nikel sermet. DAN BAGIAN SERTA PERLENGKAPAN DARI BARANG YANG SEMACAM ITU BAB DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 81 . Besi dan baja 78. PESAWAT PEREKAM ATAU REPRODUKSI SUARA DAN GAMBAR UNTUK TELEVISI. barang tajam. Timah dan barang terbuat dari tembaga timah 75.sendok dan garpu. Nikel dan barang terbuat dari 81. Barang dari besi dan baja 74.Klasifikasi Barang 71.

Mesin dan alat listrik serta bagiannya. dan bagian serta perlengkapan dari barang yang semacam itu BAGIAN XVII KENDARAAN. BAGIAN DAN PERLENGKAPANNYA DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 82 BAB . ketel uap. Reaktor nuklir. pesawat perekam dan reproduksi gambar dan suara untuk televisi. mesin dan pesawat mekanik. kendaran yang bergerak diatas rel dan bagiannya. dan bagian serta perlengkapannya 88. LONCENG DAN ARLOJI. UKUR. POTOGRAFI. Lokomotif kereta api atau trem. SINEMATOGRAFI. serta bagiannya 89. KENDARAAN AIR DAN PERLENG KAPAN PENGANGKUTAN YANG BERKAITAN BAB 86.Klasifikasi Barang 84. PRESISI. PESAWAT TERBANG. Kendaraan selain yang begerak diatas rel kereta api atau trem. Kapal udara. KEDOKTERAN DAN BEDAH. alat pemasang dan perlengkapan rel kereta api atau trem dan bagiannya. pesawat perekam dan pesawat reproduksi suara. pesawat ruang angkasa. BAGIAN XVIII ALAT DAN APARAT OPTIK. bagiannya 85. perlengkapan isyarat lalu lintas mekanik dari segala jenis (termasuk elektronik) 87. INSTRUMEN MUSIK. PENELITI.

Alat dan aparat optik. kedokteran dan bedah. ukur. Lonceng dan arloji dan bagiannya 92. BAGIAN DAN KELENGKAPANNYA BAB 93. Instrumen musik . bagian dan perlengkapannya 91. sinematografi. peneliti. (Judul Bab sama dengan Bagian) BAGIAN XX BERMACAM-MACAM BARANG HASIL PABRIK DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 83 BAB .Klasifikasi Barang 90. presisi. fotografi. bagian dan perlengkapan dari barang seperti itu BAGIAN XIX SENJATA DAN AMUNISI.

BARANG KEGEMARAN KAUM PENGUMPUL DAN BARANG ANTIK BAGIAN BAB 97. keperluan permainan dan keperluan olah raga. lampu dan perlengkapan penerangan. papan nama iluminasi dan semacam itu. Bermacam-macam barang hasil pabrik lain XXI HASIL KARYA SENI. bangunan prefabrikasi 95. catatan-catatan dalam HS merupakan bagian integral yang DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 84 . Catatan Penting Pada BTBMI Disamping KUM HS. Mainan. (Judul Bab sama dengan Bagian) C. lapik kasur. Perabot rumah. kasur.Klasifikasi Barang 94. tidak dirinci atau termasuk dalam pos manapun. bantal dan kelengkapannya. bagian dan kelengkapannya 96. isyarat iluminasi. kasur tempat tidur.

kaper. olahan makanan mengandung sosis. cress dan marjoram manis (Majorana hortensis atau Origanum majorana) yang dapat dimakan. Catatan Bab.Dalam pos 07. daging. dan Catatan Sub-pos. sisa daging. atau (c) Obat-obatan dan produk lain dari Bab 30. 07. 07. (b) Biskuit atau barang lain yang dibuat dari tepung atau dari pati. lebih dari 20% menurut beratnya (Bab 16).. moluska atau invertebrata air lainnya. tarragon. daging.12 kata "sayuran" meliputi jamur. 3) Bagian IV Bab 19 Cacatan 1 1.04. diolah secara khusus untuk makanan hewan (pos 23. adas pedas. lebih dari 20% menurut beratnya. ikan atau krustasea. Catatan-catatan penting tersebut adalah : 1) Bagian II Bab 7 Catatan 2 2. cendawan tanah. Dalam hal apabila olahan mengandung dua atau lebih produk yang disebut di atas. parsley.02.. diklasifikasikan dalam pos pada Bab 16 yang sesuai dengan komponen atau komponen-komponen yang mendominasi menurut beratnya. terong. Ketentuan ini tidak berlaku untuk produk diisi dari pos 19.Klasifikasi Barang harus diperhatikan benar-benar. atau berbagai kombinasinya.09. Catatan-catatan tersebut mempunyai kekuatan hukum sama seperti uraian pos atau sub-pos.09). labu sumsum. 4) Bagian IV DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 85 . moluska atau invertebrata air lainnya. buah zaitun.. saccharata). darah.11 dan 07.Bab ini tidak meliputi : (a) Kecuali dalam hal produk diisi dari pos 19. labu kuning. darah. jagung manis (Zea mays var. sisa daging. atau berbagai kombinasinya. HS mempunyai Catatan Bagian. chervil. buah dari genus Capsicum atau dari genus Pimenta. ikan atau krustasea.02 atau olahan dari pos 21.03 atau 21.Olahan makanan digolongkan dalam Bab ini asalkan mengandung sosis.10. 2) Bagian II Bab 16 Catatan 2 2.

harus diklasifikasikan dalam pos yang sesuai dengan produk tersebut. asalkan unsur tersebut : (a) berdasarkan penyiapannya jelas dapat dikenal untuk digunakan bersamasama tanpa dibungkus ulang sebelumnya. 5) Bagian VI Bagian VI catatan 3 3. istilah "olahan homogen" berarti olahan buah. Olahan ini dapat mengandung sejumlah kecil buah yang dapat dilihat. Subpos 2007. beberapa atau seluruhnya yang digolongkan dalam Bagian ini dan dimaksudkan untuk dicampur bersama untuk memperoleh produk dari Bagian VI atau VII.10. dan (c) pada saat diajukan. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 86 . baik berdasarkan sifat atau perbandingan relatifnya. (b) diajukan bersama. dihomogenisasi secara halus..10 harus dipertimbangkan lebih dahulu daripada subpos lain dari pos 20. pengawet atau keperluan lain.Klasifikasi Barang Bab 20 catatan subpos 2 2. dalam kemasan dengan berat bersih tidak melebihi 250 g. Untuk penerapan definisi ini tidak memperhitungkan sejumlah kecil berbagai bahan yang ditambahkan pada olahan tersebut sebagai penyedap.07. dapat dikenali sebagai unsur yang saling melengkapi satu sama lain. disiapkan untuk penjualan eceran sebagai makanan bayi atau untuk keperluan diet..Untuk keperluan subpos 2007.Barang yang disiapkan dalam set yang terdiri dari dua atau lebih unsur yang terpisah.

Dalam Catatan 1 Bab ini dan dalam pos 40. kecuali apabila konteksnya menentukan lain. kopolimer (termasuk kopolikondensasi. Untuk keperluan Bab ini. Untuk keperluan pengujian ini. keberadaan zat yang dimaksud oleh Catatan 5 (b) (ii) dan (iii) juga diperkenankan.. .Istilah "kopolimer" meliputi semua polimer yang unit monomer tunggalnya tidak ada yang beratnya 95% atau lebih menurut berat total kandungan polimer tersebut. produk kopoliadisi. istilah "karet sintetik" berlaku untuk : (a) Zat sintetik tidak jenuh yang dapat diubah dengan tidak kembali ke sifat semula melalui vulkanisasi menggunakan belerang menjadi zat non termoplastik. 7) Bagian VII Bab 40 catatan 4 (a) 4. seperti pengaktif dan akselerator vulkanisasi. 87 peliat dan pengisi. bagian unit komonomer dari polimer yang termasuk dalam pos yang sama harus digolongkan bersama. block copolymer dan graft copolymer) dan campuran polimer harus diklasifikasikan dalam pos yang mencakup polimer dari unit komonomer tersebut yang beratnya mendominasi berat unit komonomer tunggal lainnya. yang pada suhu antara 18 C dan 29 C tidak akan putus bila di rentang hingga tiga kali panjang aslinya. seperti perentang. Untuk keperluan Catatan ini. Namun demikian. tidak diperkenankan. maka kopolimer atau campuran polimer harus diklasifikasikan dalam pos terakhir berdasarkan urutan penomoran di antara pos yang mempunyai pertimbangan yang setara.02. dapat ditambahkan zat yang diperlukan untuk ikatan silang. Dalam hal tidak terdapat unit komonomer tunggal yang mendominasi. panjangnya akan kembali menjadi tidak lebih dari satu setengah kali panjang aslinya.. keberadaan berbagai zat DTSD DTSD Kepabeanantidak Cukai yang dan diperlukan untuk ikatan silang.Klasifikasi Barang 6) Bagian VII Bab 39 catatan 4 4. dan setelah direntang hingga dua kali panjang aslinya selama lima menit.

benang berlogam harus dianggap sebagai bahan tekstil. (d) Apabila Bab atau pos merujuk pada barang dari bahan tekstil yang berbeda .12. maka bahan tersebut harus diperlakukan sebagai bahan 9) Bagian XV Bagian XV catatan 2 2.10) dan benang berlogam (pos 56. 73. Apabila tidak satupun bahan tekstil yang mendominasi menurut beratnya.15. Dalam Nomenklatur ini.02 dan dari campuran dua bahan tekstil atau lebih harus diklasifikasikan seolah-olah seluruhnya terdiri dari satu bahan tekstil yang beratnya mendominasi berat setiap bahan tekstil lainnya.10 dan bingkai serta cermin (c) 88 dari logam tidak mulia. (c) Apabila Bab 54 dan 55 berkaitan dengan berbagai Bab lainnya.07. barang tersebut harus diklasifikasikan seolah-olah seluruhnya terdiri dari satu bahan tekstil yang termasuk dalam pos terakhir berdasarkan urutan penomoran di antara pos-pos dengan pertimbangan yang setara. 83.Klasifikasi Barang 8) Bagian XI Bagian XI catatan 2 (A-B) 2.09 atau 59.08. dengan menentukan Babnya. maka Bab 54 dan 55 harus diperlakukan sebagai Bab tunggal. 73. dari logam tidak mulia. istilah "bagian untuk pemakaian umum" berarti: (a) Barang dari pos 73. selain pegas jam atau arloji (pos 91. 73. pertama. 83. tanpa memperhatikan berbagai bahan yang tidak diklasifikasikan dalam Bab tersebut. Dalam Bab 73 sampai dengan 76 dan Bab 78 sampai dengan 82 (tetapi tidak dalam pos 73.01. dari pos 83.14). .15) referensi untuk bagian barang tidak meliputi referensi untuk bagian pemakaian umum sebagaimana dirinci di atas. (b) Pegas dan lembaran untuk pegas.. untuk pengklasifikasian kain tenunan. dan kemudian pos yang tepat dalam Bab tersebut.02.18 dan barang semacam itu dari logam tidak mulia lainnya. DTSD Kepabeanan dan Cukai 83. (B) Untuk keperluan ketentuan di atas : (a) Benang lilit dari bulu kuda (pos 51.05) harus diperlakukan sebagai bahan tekstil tunggal yang beratnya dianggap seperti berat keseluruhan komponennya. (b) Pilihan pos yang sesuai harus dilakukan.(A) Barang yang dapat diklasifikasikan dalam Bab 50 sampai dengan 55 atau dalam pos 58.06. dan DTSD Barang dari pos 83.17 atau 73.

(iv) Tanpa intervensi manusia. aparatus atau peralatan yang disebut dalam pos pada Bab 84 atau 85.. permesinan. 89 (ii) Diprogram secara bebas menurut kebutuhan pemakai. 4. seluruhnya harus diklasifikasikan dalam pos yang sesuai dengan fungsi tersebut. dan. dengan keputusan . melaksanakan program pengolahan yang memerlukan modifikasi pelaksanaannya. dengan peralatan penggerak. yang termasuk dalam salah satu pos dalam Bab 84 atau 85.Klasifikasi Barang 10) Bagian XVI Bagaian XVI catatan 3. mesin gabungan yang terdiri dari dua atau lebih mesin yang dipasang bersama untuk membentuk satu kesatuan dan mesin lainnya yang dirancang untuk keperluan melakukan dua fungsi atau lebih yang saling melengkapi atau fungsi alternatif.71. istilah " mesin " berarti berbagai mesin.. dengan kabel listrik atau dengan peralatan lainnya) yang dimaksudkan untuk digunakan bersama untuk melakukan fungsi tertentu secara jelas. instalasi. istilah "mesin pengolah data otomatis" berarti mesin yang dapat : (i) Menyimpan program atau programprogram pengolahan dan sekurang-kurangnya data yang diperlukan segera untuk DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai pelaksanaan program tersebut..Apabila mesin (termasuk kombinasi mesin) terdiri dari komponen tersendiri (terpisah atau saling dihubungkan dengan pipa.. (iii) Mengerjakan perhitungan aritmatika yang ditentukan oleh pemakai.Untuk keperluan Catatan ini. 4 dan 5 3. 11) Bagian XVI Bab 84 catatan 5 5. harus diklasifikasikan seolah-olah terdiri hanya dari komponen tersebut atau sebagai mesin tersebut yang melakukan fungsi utama.Kecuali apabila konteksnya menentukan lain.(A) Untuk keperluan pos 84. 5. perlengkapan.

harus diperlakukan seolah-olah kegunaan utamanya adalah kegunaan satu-satunya. resistor.79. sirkit tercetak dapat dilengkapi dengan elemen penghubung tidak dicetak... Berdasarkan Catatan 2 pada Bab ini dan Catatan 3 pada Bagian XVI. Namun demikian. memodulasi atau memperkuat sinyal DTSD elektris (misalnya. harus diklasifikasikan dalam pos 84. mesin yang digunakan untuk lebih dari satu kegunaan. kecuali apabila konteksnya menentukan lain. kontak atau komponen tercetak lainnya (misalnya. elemen DTSD Kepabeanan dan Cukai semi konduktor). atau induktansi khusus. penyepuhan. kapasitor). mesin penjalin. Pos 84. Istilah " sirkit tercetak " tidak meliputi sirkit yang dikombinasi 90 dengan elemen selain yang diperoleh selama proses pencetakan.34 "sirkit tercetak" adalah sirkit yang diperoleh dengan pembentukan di atas dasar pengisolasi. induktansi. suatu mesin yang kegunaan utamanya tidak diuraikan dalam pos manapun atau yang tidak ada satupun kegunaannya merupakan kegunaan utama. tersendiri atau saling berhubungan menurut pola yang ditetapkan sebelumnya.Untuk keperluan klasifikasi. kapasitor.Klasifikasi Barang 12) Bagian XVI Bab 84 catatan 7 7. juga tidak meliputi resistor.Untuk keperluan pos 85. selain elemen yang dapat memproduksi.79 juga meliputi mesin untuk membuat tali atau kabel (misalnya. benang tekstil atau berbagai bahan lainnya atau dari kombinasi bahan bahan tersebut. pencetakan timbul. pengetsaan) atau melalui teknik "sirkit film" berupa elemen konduktor. Sirkit film tipis atau tebal yang terdiri dari elemen pasif dan aktif yang diperoleh selama proses teknologis yang . mesin pemilin atau mesin pembuat kabel) dari kawat logam. melalui berbagai proses pencetakan (misalnya. menyearahkan. 13) Bagian XVI Bab 85 catatan 5 5.

barang dari pos 84. atau (l) Sikat dari jenis yang digunakan sebagai bagian dari kendaraan (pos 96. (ij) Senjata (Bab 93). dapat diidentifikasi sebagai barang dari Bagian ini maupun tidak : (a) Sambungan. (d) Barang dari pos 83.03). asalkan barang tersebut merupakan bagian integral dari mesin atau motor.01 sampai dengan 84.91 dengan 88 tidak berlaku untuk bagian atau aksesori yang tidak cocok untuk digunakan sematamata atau terutama dengan barang dari Bab-bab tersebut.05.Istilah "bagian" serta "bagian dan aksesori" tidak berlaku untuk barang berikut.06. sebagaimana dirinci dalam Catatan 2 Bagian XV. (f) Mesin atau perlengkapan elektris (Bab 85).79.83. atau barang semacam itu dari plastik (Bab 39).84) atau barang lainnya dari karet divulkanisasi selain karet keras (pos 40.. (c) Barang dari Bab 82 (perkakas). DTSD Referensi dan "bagian" atau "aksesori" dalam Bab 86 sampai DTSD Kepabeanan untukCukai 3. (h) Barang dari Bab 91. Bagian atau aksesori yang memenuhi uraian dalam dua pos atau lebih dari pos pada Bab-bab tersebut. dari logam tidak mulia (Bagian XV). (b) Bagian untuk pemakaian umum. harus diklasifikasikan menurut pos yang sesuai dengan . (e) Mesin atau aparatus dari pos 84.81 atau 84.Klasifikasi Barang 14) Bagaian XVII Bagian XVII catatan 2 dan 3 2.82 atau barang dari pos 84.16). cincin pipih atau sejenisnya dari berbagai bahan (diklasifikasikan menurut bahan utamanya atau dalam pos 84. (g) Barang dari Bab 90. atau bagiannya. (k) Lampu atau alat kelengkapan penerangan dari pos 94.

yang dirancang untuk memberi faktor ini untuk. dan mempertahankannya pada nilai yang dikehendaki. tekanan atau variabel lainnya dari cairan atau gas secara otomatis.32 berlaku hanya untuk : (a) Instrumen dan aparatus untuk mengontrol arus..Pos 90.Klasifikasi Barang 15) Bagian XVIII Bab 90 catatan 7 7. distabilkan terhadap gangguan. dan mempertahankannya pada nilai yang dikehendaki. dan (b) Regulator besaran listrik otomatis dan instrumen atau aparatus untuk mengontrol besaran bukan listrik secara otomatis. yang dirancang untuk memberi faktor tersebut untuk. distabilkan terhadap gangguan. yang pengoperasiannya tergantung pada fenomena listrik yang berubah-ubah menurut faktor yang dikontrol. dengan pengukuran nilai aktual secara konstan atau periodik. yang penggunaannya tergantung maupun tidak pada fenomena elektris yang berubah-ubah menurut faktor yang harus dikontrol secara otomatis. atau untuk mengontrol suhu secara otomatis. 16) Bagian XXI DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 92 . tinggi permukaan. dengan pengukuran nilai aktual secara konstan atau periodik.

gambar. Sebutkan posnya saja batu pualam yang masih bongkahan dan yang telah jadi ubin ? 7. Bagaimana pengklasifikasian motor untuk mobil mainan ? 10. Bagaimana syarat komputer menurut Harmonized system pada Bab 84 ? 9. barang cetakan atau litograf harus diklasifikasikan dengan barang tersebut. Merujuk pada Catatan ini.Klasifikasi Barang Bab 97 catatan 5 5. Sebutkan pos saja untuk barang mentega dan margarin ? 5. ukiran. kolase atau plakat hiasan semacam itu. bingkai yang bukan merupakan jenis atau nilai yang wajar untuk barang tersebut.3. asalkan dari jenis dan nilai yang wajar untuk barang tersebut. Daging sapi yang diolah sederhana masuk pos berapa ? Bagaimana bila telah dikukus masuk Bab berapa ? 6. 3. Rangkuman DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 93 . harus diklasifikasikan terpisah.. Apakah bingkai dan gambar yang sama mahal harganya diklasifikasikan dalam satu pos tarif ? 3. Sebutkan contoh catatan ekslusif pada Bab 71 ? 3.2. gambar pastel. Sebutkan catatan ilustratif pada pada Bagian ? 4. Latihan 3 1. Sebutkan contoh catatan definitif pada Bab 39 ? 2.Bingkai yang terpasang pada lukisan. Sebutkan 3 contoh barang termasuk bagian untuk pemakaian umum ? 8. Saringan udara untuk mesin diklasifikasikan pada pos berapa ? 11.

kendaraan. Pengelompokan barang ini berawal dari binatang. Urutan pengelompokan barang umumnya didasarkan atas bahan dasar. bab maupun subpos yang bersifat mengikat. Bab 1 sampai dengan 77 dan bab 78 sampai dengan bab 98.4. dan penjelasan. atau dikeluarkan sebagian serta penjelasan lainyya.Klasifikasi Barang 1. Catatan merupakan salah satu syarat penting dalam mengklasifikasi barang. BTBMI terdiri dari 21 Bagian. Secara garis besarnya pintu gerbang tersebut akan mengatur tentang suatu barang yang boleh dimasukan. dikeluarkan. Terakhir dengan mesin. Bahkan dalam KUM HS nomor satu dinyatakan bahwa hal yang mengikat dalam mengklasifikasi barang adalah catatan. Lingkarilah huruf B apabila pernyataan ini Saudara anggap benar dan huruf S apabila pernyataan Saudara anggap salah. Secara singkat jenis catatan tersebut meliputi. nabati mineral dan selanjutnya kepada bahan kimia dan produknya. barang untuk kemanan dan barang kelontong. barang presisi. catatan definitive. bab maupun subpos. Test Formatif 3 A. 3. 1. eksklusive. baik catatan bagian. illustratif. ( B . Catatan merupakan pintu gerbang dalam memasuk bagian dan bab dalam BTBMI. Hal ini diperlukan agar jangan sampai salah dalam menempatkan pengelompokan barang sesuai Harmonized system. 2. hewani. Pemahaman pengelompokan barang akan mempermudah dan mempercepat dalam mengklasifikasi.S ) Judul Bagian. proses setengah jadi dan barang jadi. Berbagai jenis barang akan dijelaskan dengan catatan dalam bagian.Sebaiknya seorang klasifikator yang bak akan memahami pengelompokan jenis barang dalam BTBMI 3. Bab dan Sub-bab pada Buku tarif Bea Masuk DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 94 . Salah satu syarat menjadi seorang klasifikator yang baik adalah harus dapat memahami catatan penting.

cocok untuk pemakaian jangka panjang dan diimpor lengkap dengan isinya. ( B .Klasifikasi Barang Indonesia hanya dimaksudkan untuk memudahkan penyebutan saja. harus diklasifikasikan dengan barang tersebut jika biasa dijual dengan barang itu 5. sebaiknya kita identifikasi dulu barang yang akan kita klasifikasi.S) Pernyataan 3a pada KUM HS adalah Pos yang memuat uraian yang paling terinci harus lebih diutamakan daripada pos yang memuat uraian yang lebih umum sifatnya 4.S ) Sebelum mengklasifikasi barang. Pilihlah jawaban yang Saudara anggap benar dengan cara melingkari huruf yang terdapat di depan jawaban tersebut 1. ( B .S ) Pernyataan 2b pada KUM HS adalah Barang tidak lengkap atau tidak rampung dianggap sebagai barang lengkap atau rampung. ( B .S ) Pernyataan 5b pada KUM HS adalah Peti kamera. asalkan pada saat diimpor sudah mempunyai sifat utama sebagai barang lengkap atau rampung 3. Dengan mengetahui spesifikasi barang maka akan lebih mendekati keakuratan dalam mengklasifikasi barang B. nama barang dan uraian jenis barang b. ( B . Namun demikian nota tersebut setidak-tidaknya memuat tentang : a. Uraian klasifikasi mulai 2 digit sampai dengan 9 digit DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 95 . peti instrumen dan tempat simpan yang semacam. dengan bentuk atau kelengkapan khusus untuk menyimpan barang tertentu atau seperangkat barang tertentu. Dalam membuat Nota Penelitian Klasifikasi Barang maka diperlukan kerangka yang singkat atau memerlukan uraian yang cukup panjang tergantung pada permasalahan yang dihadapi. alasan atau catatan yang digunakan c. Tidak mengikat secara hukum dalam mengklasifikasi 2.

namun diklasifikasikan pada bab 22 dikarenakan KUM HS nomor : a. 2b b. b dan c benar 2. saos dan bawang. 3b d. ilustrasi d. Jawablah pertanyaan soal dibawah ini dengan ringkas 1. 1 b. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 96 . Walalupun etil alkohol merupakan bahan kimia organik. pengertian 4. 2b d. esklusif c. diklasifikasikan sebagai mie pada bab 19. pernyataan a. 3b b. 5a d. 3c c. Tabung gas LPG yang berisi gas LPG tidak dapat diklasifikasikan menjadi stu pos tarif karena ketentuan menurut KUM HS nomor : a. Mengapa olahan makanan yang terbuat dari daging sapi yang dikukus tidak diklasifikasikan pada bab 2 2. berdasarkan KUM HS nomor : a. 5a 3. definitif b. 3a 5. bumbu. Larutan dengan kandungan asam cuka (acetic acid) lebih dari 10 % dikeluarkan dari bab 22 berdasarkan catatan : a. 5b C. Suatu kemasan mengandung mie. 2a c. Mengapa sabun mandi mengandung obat pembasmi kuman walaupun mengandung obat tidak diklasifikasikan pada bab 30 sebagai produk farmasi.Klasifikasi Barang d. 3a c.

Hitunglah jumlah jawaban Anda yang benar atau sejauh mana Anda menguasai mata pelajaran tersebut.04 atau 90..32 .Klasifikasi Barang 3.100 % = Baik sekali DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 97 ... dari serat disisir dengan nomor benang 150 decitex. Arti tingkat penguasaan : * 90 % . UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT Bandingkanlah hasil jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif yang ada di belakang modul ini.Ketentuan dan catatan apa yang digunakan dalam mengklasifikasi barang tersebut 3.5.. Automatic voltage regulator yang digunakan sebagai stabilizer otomatis untuk komputer harus diklasifikasikan pada pos 85. Kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap terhadap materi kegiatan belajar Rumus Tingkat Penguasaan Jumlah Jawaban Anda yang benar dibagi 15 kemudian dikali 100 % = .. Mengapa tutup kepala (topi) pengaman untuk pengendara sepeda motor yang terbuat dari bahan plastik tidak diklasifikasikan pada bab 39 ? 4.. tidak dikelantang dan tidak dimerserisasi... Sebutkan alasannya 5.... Benang tenun terbuat dari campuran 70 % kapas (cotton) dan 30 % nilon. merupakan benang tunggal.

terutama bagian yang belum Anda kuasai PENUTUP Setelah Saudara selesai mempelajari Modul ini (membaca serta mengerjakan latihan soal. dan Identifikasi Serat. Kulit dan Barang dari Kulit. Benang dan Kain. mengidentifikasi Barang dari Batu. Anda harus mengulangi membaca Modul kembali. bila tingkat penguasaan Anda masih dibawah 80 %. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 98 . mengidentifikasi Serat. maupun tes formatif yang tersedia) diharapkan Saudara telah memahami bagaimana cara bahan / barang kimia anorganik – organic maupun produk yang terbuat daripadanya. dan Jangat. mengidentifikasi Plastik dan Barang dari Plastik. Penomoran Benang. Hasilnya Baik ! akan tetapi. Produk Keramik dan Barang dari Kaca. Karet dan Barang dari Karet.Klasifikasi Barang * 80 % * 70 % * 89 % 79 % 69 % = Baik = Cukup = Kurang Kalau Anda mencapai tingkat penguasaan 80% keatas Anda dapat meneruskan kepada modul atau bagian pelajaran lain.

Intan dan Logam Mulia. b. Bunyi kalimat diatas sesuai dengan bunyi UU no. majalah serta media internet. barang dikelompokkan berdasarkan sistem klasifikasi barang. dan Logam Mulia dan mengidentifikasi mesin – mesin serta barang – barang dari elektronika Dengan kemampuan Saudara mengidentifikasi barang-barang tersebut diharapkan Saudara nantinya dapat mengklasifikasikannya kedalam Buku Tarif Bea Masuk Indonesia. TES SUMATIF Pilihlah jawaban yang Saudara anggap benar dengan cara melingkari huruf yang terdapat di depan jawaban tersebut a. c. Untuk hal yang lebih “complicated” Saudara harus mencari tambahan pengetahuan sendiri melalui informasi di media masa. koran. pasal 16 DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 99 . Modul ini merupakan dasar dari pengetahuan dan identifikasi barang yang minimal harus Saudara ketahui.Klasifikasi Barang Mutiara. 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan pada : a. atau d ) 1. Untuk penetapan tarif bea masuk. baik buku pengetahuan.

. Prosedur tersebut secara umum ialah . 2. Dalam pengamatan sementara untuk mengklasifikasi barang... b. pernyataan a. c. dikenal prosedur umum untuk mengklasifikasi barang. d. c.Klasifikasi Barang b. Untuk mengklasifikasi barang. tanggal 1 Januari 1989 tanggal 1 Agustus 1988 tanggal 31 Januari 1988 tanggal 11 Januari 1989 3. harus mengacu kepada perkembangan terakhir besarnya penetapan Bea Masuk c. c. mengidentifikasi barang dengan mempelajari jenis dan spesifikasinya merumuskan identitas atau deskripsi barang tersebut melihat Buku Tarif klasifikasinya d.. pasal 115 pasal 14 pasal 116 The Harmonized Commodity Description and Coding System (HS) mulai berlaku secara internasional sejak : a. a. b.. d.. hanyalah sementara (mengikuti surat Keputusan Menteri Keuangan RI) b. karena uraian jenis barangnya tidak ada dalam BTBMI 5.. Pencantuman besarnya Bea Masuk pada Buku tarif Bea Masuk Indonesia : a. maka sebutkan pernyataan dibawah ini yang tidak benar a. d. b dan c benar 6.. c. b. Jenis suatu jenis barang dimungkinkan tidak ada dalam HS Dapat terkait dengan beberapa bab Mengklasifikasi barang seluruhnya harus tepat secara eksak Barang tidak dapat diklasifikasikan. b dan c benar Bea Masuk Indonesia dan menentukan 4. d. selalu berubah pernyataan a. Dalam membuat Nota Penelitian Klasifikasi Barang maka diperlukan kerangka yang singkat atau memerlukan uraian yang cukup panjang tergantung pada DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 100 .

berdasarkan KUM HS nomor : a. Definitif esklusif ilustrasi pengertian 9. d. diklasifikasikan sebagai mie pada bab 19. Namun demikian nota tersebut setidak-tidaknya memuat tentang : a. Larutan dengan kandungan asam cuka (acetic acid) lebih dari 10 % dikeluarkan dari bab 22 berdasarkan catatan : a. b. c. c. c. c. Tabung gas LPG yang berisi gas LPG tidak dapat diklasifikasikan menjadi stu pos tarif karena ketentuan menurut KUM HS nomor : a. Walalupun etil alkohol merupakan bahan kimia organik. namun diklasifikasikan pada bab 22 dikarenakan KUM HS nomor : a. b. b. Dalam membuat Nota Penelitian Klasifikasi Barang maka diperlukan kerangka yang singkat atau memerlukan uraian yang cukup panjang tergantung pada DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 101 . saos dan bawang. c. d. bumbu. 1 2a 2b 3a 10.Klasifikasi Barang permasalahan yang dihadapi. 7. b dan c benar Suatu kemasan mengandung mie. b. 2b 3a 3b 5a 8. d. d. b. 3b 3c 5a 5b 11. nama barang dan uraian jenis barang alasan atau catatan yang digunakan Uraian klasifikasi mulai 2 digit sampai dengan 9 digit pernyataan a. d.

b. c. namun diklasifikasikan pada bab 22 dikarenakan KUM HS nomor : a. berdasarkan KUM HS nomor : a. Suatu kemasan mengandung mie. b. b. 1 2a 2b 3a 15. saos dan bawang. d. definitif esklusif ilustrasi pengertian 14. d. c.Klasifikasi Barang permasalahan yang dihadapi. c. d. d. Tabung gas LPG yang berisi gas LPG tidak dapat diklasifikasikan menjadi stu pos tarif karena ketentuan menurut KUM HS nomor : a. nama barang dan uraian jenis barang alasan atau catatan yang digunakan Uraian klasifikasi mulai 2 digit sampai dengan 9 digit pernyataan a. Namun demikian nota tersebut setidak-tidaknya memuat tentang : a. b. c. Walalupun etil alkohol merupakan bahan kimia organik. 2b 3a 3b 5a 13. Larutan dengan kandungan asam cuka (acetic acid) lebih dari 10 % dikeluarkan dari bab 22 berdasarkan catatan : a. bumbu. 3b 3c 5a 5b DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 102 . diklasifikasikan sebagai mie pada bab 19. c. b. d. b dan c benar 12.

TEST FORMATIF 1 DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 103 . 2.Klasifikasi Barang KUNCI JAWABAN I. KUNCI JAWABAN TEST FORMATIF 1. 3 1.

B. S 3. c 5. d 4. b 3. Penetapan tarif ini merupakan penyempurnaan dari penetapan tarif sebelumnya dan mulai diberlakukan pada tanggal 1 Juli 1975 sampai dengan 30 september 1980. Pada dasarnya sistem pentarifan ini sama dengan sistem sebelumnya. S B. Kelompok Pernyataan Benar (B) atau Salah (S) 1 B. B 5. 2. 4. Kelompok Pilihan Ganda 1. b) Sistem Customs Cooperation Council (CCCN). c) Sistem CCCN Edisi 1985 (CCCN 1985). Sistem ini merupakan penyempurnaan dari sistem CCCN sebelumnya dan mulai diberlakukan pada tanggal 1 April 1987 sampai dengan 31 desember DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 104 . hanya pada sistem CCCN ini terdapat penyempurnaan sistem penomoran pada sub-pos dari dua digit menjadi tiga digit atau semula 6 digit menjadi 7 digit. a 2. Sistem CCCN ini mulai diberlakukan pada tanggal 1 Oktober 1980 sampai dengan 31 Maret 1985. Kelompok Essay Nomor 1 a) Sistem Brussel Edisi 1975 (BTN 1975). d C.Klasifikasi Barang A.

pembuatan dan analisis Statistik Pabean secara perdagangan dunia. produsen. f) Merupakan kumpulan data yang seragam secara internasional sehingga dapat digunakan untuk mendukung analisis dan statistik perdagangan internasional.Klasifikasi Barang 1988. untuk penetapan Tarif mendunia. e) Sederhana dan memberikan kepastian dalam hal aplikasi dan interpretasi yang benar dan sama untuk keperluan negosiasi. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 105 . pengangkut. dan aparat bea dan cukai. d) Menggunakan “bahasa pabean” sehingga dapat dengan mudah dimengerti oleh importir. Nomor 2 Pada akhir tahun 1986. Untuk memberikan kekuatan hukum yang pasti. dan . Nomor 4 a) Memberikan keseragaman dalam daftar penggolongan barang yang dibuat secara sistematis. kelompok studi tersebut berhasil menyusun suatu nomenklatur (daftar klasifikasi barang berdasarkan kelompok-kelompok) yang dinamakan Harmonized Commodity Description and Coding System atau lebih dikenal dengan sebutan Harmonized System (HS). b) HS adalah pedoman klasifikasi yang sistematik untuk seluruh barang yang diperdagangkan secara internasional. b) Memudahkan pengumpulan. eksportir. c) HS menggunakan dasar yang seragam untuk keperluan pentarifan secara internasional. nomenklatur disahkan dalam Konvensi HS Nomor 3 a) HS adalah pedoman klasifikasi yang sistematik untuk seluruh barang yang diperdagangkan secara internasional.

Klasifikasi Barang
c) Memberikan Sistem Internasional yang resmi Kode, Pen jelasan dan untuk pemberian penggolongan barang untuk tujuan

perdagangan seperti tarif pengangkutan, keperluan pengangkutan, dokumentasi dan sebagainya. d) Memperbaharui memberikan sistem klasifikasi kepada barang sebelumnya, teknologi untuk dan

perhatian

perkembangan

masyarakat industri serta pola perdagangan Internasional.

Nomor 5 Buku tarif Bea Masuk Indonesia hanyalah suatu referensi praktis agar dapat secara optimal digunakan di lapangan. Ketentuan hukum yang legal adalah sesuai Surat Keputusan Menteri Keuangan tentang perubahan Tarif Bea Masuk Indonesia (lihat Kata Pengantar pada BBTBMI)

2. TEST FORMATIF 2

A. Kelompok Pernyataan Benar (B) atau Salah (S) 1. B 2. S 3. B 4. S 5. B

B. Kelompok Pilihan Ganda 1. d 2. c 3. b 4. a 5. d

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 106

Klasifikasi Barang
C. Kelompok Essay

Diberitahukan hanya 6 digitnya (sub posnya) 1. Daging sapi hasil olahan sesuai bab 2 (pengolahan sementara/terbatas) diklasifikasikan pada bab 2. Bentuk pengolahan bukan sederhana, seperti dipanggang, dikukus dan pengolahan selain pada bab 2 diklasifikasikan pada bab 16. Lihat catatan 1 bab 16. Perhatikan pos tarif 1602.50.000. 2. Lihat catatan 1(e) Bab 30 3. Lihat catatan 1(n) Bab 39 4. Lihat catatan 2(A) Bagian XI 5. Lihat catatan 6(b) Bab 90 Perhatikan sub-pos 5206.24.

3. TES FORMATIF 3

A. Kelompok Pernyataan Benar (B) atau Salah (S) 1. B 2. S 3. B 4. S 5. B

B. Kelompok Pilihan Ganda 1. d 2. c 3. b 4. a 5. d

C. Kelompok Essay

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 107

Klasifikasi Barang
Diberitahukan hanya 6 digitnya (sub posnya) 1. Daging sapi hasil olahan sesuai bab 2 (pengolahan sementara/terbatas) diklasifikasikan pada bab 2. Bentuk pengolahan bukan sederhana, seperti di panggang, dikukus dan pengolahan selain pada bab 2 diklasifikasikan pada bab 16. Lihat catatan 1 bab 16. Perhatikan pos tarif 1602.50.000 2. Lihat catatan 1(e) Bab 30 3. Lihat catatan 1(n) Bab 39 4. Lihat catatan 2(A) Bagian XI 5. Lihat catatan 6(b) Bab 90 Perhatikan sub-pos 5206.24.

II. KUNCI JAWABAN TES SUMATIF

1. a 2. b 3. d 4. c 2. d 3. d 4. c 5. b 6. a 7. d 8. d 9. c 10. b 11. a 12. d

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 108

Wordl Customs Organization. World Customs Organization. Jakarta Classification Disputes Settled by The Harmonized System Committee. (1995) Pusdiklat Bea dan Cukai.Klasifikasi Barang DAFTAR PUSTAKA Harmonized System. Jakarta Explanatory Notes. 2007 version Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (2007) Departemen Keuangan RI. 2007 Pengantar Klasifikasi Barang. World Organization (1994) *** DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 109 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->