DIKLAT TEKNIS SUBSTANTIF DASAR

KEPABEANAN DAN CUKAI

Disusun Oleh:

Adang Karyana Syahbana, S.ST.
(Widyaiswara Madya)

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI 2011

DIKLAT TEKNIS SUBSTANTIF DASAR

KEPABEANAN DAN CUKAI

Disusun Oleh:

Adang Karyana Syahbana, S.ST.
(Widyaiswara Madya)

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI 2011

Klasifikasi Barang

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

i

...... 16 1) Dasar Hukum ………………………………………………….......... 4... 24 27 DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai ii ................... Relevansi Modul ............... 2) Struktur BTBMI ………………………………………………… 16 18 3) Kode Penomoran dan Pentakikan …………………………… 21 4) Arti kata “lain-lain” …………………………………………….... 1..... KLASIFIKASI BARANG Indikator Keberhasilan .............. 11 3) Publikasi Pelengkap HS ……………………………………… 13 4) Sistem Pengkodean …………………………………………..................Klasifikasi Barang DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR ....... Identifikasi dan Klasifikasi Barang .............................................................. 1) Identifikasi dan Klasifikasi Barang ……………………….... PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL …………………………………………...... DAFTAR ISI ................................... Prasyarat Kompetensi ………………............ 3........ Harmonized System ……………………………………………… 4 4 5 5 8 10 i ii v vi 1 1 1 2 3 4 4 1) Pengantar ……………………………………………………… 10 2) Tujuan Harmonized System ……………………………….............. Uraian dan contoh ...... B............................. 2................................................ 1..... A........................ 14 C........... Latihan 1 …………………………………………………………...... Buku Tarif Bea Masuk Indonesia ………………………………….......................................……………………………………................ PETA KONSEP MODUL …………………………………………………………... 2) Langkah-Langkah Dalam Mengklasifikasi Barang ………… B......…………………..................……………. KEGIATAN BELAJAR …... Pendahuluan ………………………………………………………………… 1............................... Deskripsi Singkat ……………………..1........... Kegiatan Belajar (KB) 1 ……………...2........................................... Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) ...........…………………………………………………… 1........................................... MODUL KLASIFIKASI BARANG A.....

Kegiatan Belajar (KB) 2 ……………................. 27 29 32 2. Latihan 2 ……............ Ketentuan Umum Untuk Menginterpretasi Harmonized System .....................1...................... b dan c ……………………………………………....... Tes Formatif 2 ………………………………………………………........... 4) Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 4 ………………………………………………………… 5) Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 5 ………………………………………………………… 6) Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 6 ………………………………………………………… 44 42 41 37 35 33 B.Klasifikasi Barang 1... Uraian dan contoh ........................ Tahapan Mengklasifikasi Barang ................. 1.... 33 2) Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 2a dan 2b ……………………………………………… 3) Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 3a...........4................ 52 53 54 57 DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai iii ..... 2... 1) ketentuan umum untuk menginterpretasi harmonized system nomor 1 ………………………………………………. Umpan Balik dan Tindak Lanjut ……………………...............………………………………………………… 33 2..................... 2........ 47 3) Praktek Pembuatan Nota Penelitian Klasifikasi Barang…… 49 2... 2....5........……………………………………………………....... Rangkuman …………………………………………………………. Tes Formatif 1 ……………………………………………………….................... 33 A....3......................................... 33 TEKNIK KLASIFIKASI BARANG Indikator Keberhasilan ... 45 C.5.. 1.. Umpan Balik dan Tindak Lanjut ……………………............. Rangkuman ………………………………………………………….............. 47 1) Pengantar ……………………………………………………… 47 2) Nota Penelitian Klasifikasi Barang …………………………..............2.4... Nota Penelitian …………………………………………………….3.

.....4.... 104 DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai iv ....................... Catatan Penting Pada BTBMI …………………………………........ Tes Formatif 3 ……………………………………………………….... Jenis Catatan pada BTBMI .........................2................. 58 A............ Rangkuman …………………………………………………………......5.... 60 4) Catatan lain-lain ……………………………………………….... 3............... 94 TES SUMATIF …………………………... Umpan Balik dan Tindak Lanjut ……………………................ 58 CATATAN PENTING DALAM BUKU TARIF BEA MASUK INDONESIA (BTBMI) Indikator Keberhasilan …...... 59 3) Catatan Ilustratif ……………………………………………….........................………………………………………………… 58 3..... 69 C..... Latihan 3 ……................. 3.....……………………………………………………................................ 62 1) Gambaran per bagian ………………………………………… 62 2) Hubungan antar BAB …………………………………………..... Uraian dan contoh ......... 3... 3.. 58 1) Catatan definitive ……………………………………………… 59 2) Catatan Eksklusif …………………………………………….3.. 81 89 89 90 93 PENUTUP ……………………………………………………………………………..........1... Kegiatan Belajar (KB) 3 ……………..... 95 KUNCI JAWABAN ( TES FORMATIF DAN TES SUMATIF ) …………………… 99 DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………………......... Struktur Pengelompokan Barang Pada BTBMI ......................... 60 B.................. 67 3) BAB pada BTBMI ………………………………………………......Klasifikasi Barang 3......

Cara mempelajari setiap kegiatan belajar adalah mengikuti tahap-tahap berikut ini: 1. maka peserta diklat dapat dinyatakan lulus dari kegiatan belajar DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai v . 8. 5. 6. maka peserta diklat diharapkan mempelajari modul ini secara urut mulai dari Kegiatan Belajar 1 sampai dengan Kegiatan Belajar 3. Lihat kunci jawaban Tes Sumatif yang terletak pada bagian akhir modul ini 9. Lihat kunci jawaban Tes Formatif dari kegiatan belajar tersebut yang terletak pada bagian akhir modul ini. Lihat apa yang menjadi target indikator dari kegiatan belajar tersebut. Kerjakanlah Tes Formatif pada kegiatan belajar yang sedang dipelajari. apabila ternyata hasil Tes Formatif peserta diklat memperoleh nilai minimal 67 (jumlah yang benar x 100/15). 2. Cocokkan hasil tes formatif dengan kunci jawaban tersebut. 7. 4. Cocokkan hasil tes sumatif dengan kunci jawaban tes sumatif.Klasifikasi Barang PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL Untuk dapat memahami modul ini secara benar. 3. Kerjakan Tes Sumatif apabila semua Tes Formatif dari seluruh kegiatan belajar telah dilakukan. namun apabila diperoleh angka di bawah 67. Pelajari materi yang menjadi isi dari setiap kegiatan belajar (dengan cara membaca materi minimal 3 kali membaca isi materi kegiatan belajar tersebut). maka kegiatan belajar dapat dilanjutkan pada kegiatan belajar berikutnya. apabila ternyata hasil tes sumatif peserta diklat memperoleh nilai minimal 67 (jumlah yang benar x 100/25). maka peserta diklat diharuskan mempelajari kembali kegiatan belajar tersebut agar selanjutnya dapat diperoleh angka minimal 67. dengan cara membaca kembali ringkasan materi untuk mendapatkan hal-hal penting yang menjadi fokus perhatian pada kegiatan belajar ini. Lakukan review materi secara umum.

Catatan Penting Pada BTBMI DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai vi . 2a. Catatan Ilustratif. Hubungan antar BAB. Nota Penelitian Klasifikasi Barang.Klasifikasi Barang PETA KONSEP Dalam mempelajari modul ini. 3b. Publikasi Pelengkap HS. Nota Penelitian : Pengantar. 5. agar lebih mudah dipahami maka disarankan kepada peserta diklat untuk mempelajari peta konsep modul. 6. Struktur Pengelompokan Barang Pada BTBMI : Gambaran per bagian. Catatan lain-lain. 3a. Tahapan Mengklasifikasi Barang. Struktur BTBMI. 3c. Dengan demikian pola pikir yang sistematik dalam mempelajari modul dapat terjaga secara berkesinambungan selama mempelajari modul. 2b. Catatan Eksklusif. Kegiatan Belajar 1 – KLASIFIKASI BARANG Materi : Identifikasi dan Klasifikasi Barang: Identifikasi dan Klasifikasi Barang. Harmonized System : Pengantar. Tujuan Harmonized System. Praktek Pembuatan Nota Penelitian Klasifikasi Barang Kegiatan Belajar 3 – CATATAN PENTING DALAM BUKU TARIF BEA MASUK INDONESIA (BTBMI) Materi : Jenis Catatan pada BTBMI : Catatan definitive. Sistem Pengkodean. Arti kata “lain-lain” Kegiatan Belajar 2 – TEKNIK KLASIFIKASI BARANG Materi : Ketentuan Umum Untuk Menginterpretasi Harmonized System : ketentuan umum untuk menginterpretasi harmonized system nomor 1. Buku Tarif Bea Masuk Indonesia : Dasar Hukum. Kode Penomoran dan Pentakikan. 4. BAB pada BTBMI. Langkah-Langkah Dalam Mengklasifikasi Barang.

Prasyarat Kompetensi Peserta yang akan ditunjuk untuk mengikuti Diklat Teknis Substantif Dasar DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 1 .Klasifikasi Barang A PENDAHULUAN MODUL KLASIFIKASI BARANG 1. Diskripsi singkat Seorang Pegawai Ditjen Bea dan Cukai harus menjadi seorang klasifikator dibidang kepabeanan Oleh karena itu. 2. seorang klasifikator harus terlebih dahulu memahami pengetahuan barang dan pengetahuan mengenai klasifikasi barang. Seorang klasifikator harus memiliki kemampuan dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang karena akan menentukan ketepatan dalam klasifikasi dalam Pemberitahuan Impor Barang (PIB) yang pada akhirnya menentukan ketepatan jumlah bea masuk dan pungutan impor lainnya yang harus dibayar.

3. para siswa diharapakan mampu menerapkan ketentuan umum untuk menginterpretasi Harmonized System. Diklat Teknis Substantif Dasar merupakan Diklat yang bertujuan mencetak pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai sebagai pelaksana pemeriksa yang mempunyai kemampuan melaksanakan tugas dalam pemeriksaan barang dan tugas pemeriksaan lainnya untuk menjamin dipenuhinya visi.Klasifikasi Barang adalah pegawai lulusan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas dan pernah bertugas sebagai pelaksana pada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai sesuai ketentuan Kepegawaian Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Standar Kompetensi Setelah mempelajari modul ini. para siswa mampu menjelaskan pengelompokkan barang dan jenis catatan berdasarkan BTBMI. misi dan tujuan organisasi pada organisasi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Dengan pengalaman dan dasar pendidikan tersebut diharapkan peserta diklat akan mempunyai gambaran awal tentang klasifikasi barang impor / ekspor pada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai sehingga diharapkan lebih mudah mencerna dan memahami modul Klasifikasi Barang. tahapan dalam engklasifikasi barang dan membuat nota penelitian klasifikasi barang berdasarkan BTMBI. Kompetensi Dasar Setelah mempelajari Modul ini para siswa diharapkan dapat menjelaskan : 1. Persyaratan tersebut penting karena pengalaman kerja sangat perlu bagi kelancaran pelaksanaan tugas sebagai pemeriksa dalam lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Identifikasi dan klasifikasi barang DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 2 . para Siswa diharapkan mampu memahami landasan dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang berdasarkan Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI).

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 3 . Tahapan Mengklasifikai Barang. b. Nota Penelitian. Catatan penting dalam BTBMI 4. Struktur pengelompokan barang 9. Setelah mempelajari materi modul ini diharapkan peserta mendapat pemahaman yang benar tentang klasifikasi barang. Materi modul ini terkait pada mata pelajaran lain.Klasifikasi Barang 2. Buku Tarif Bea Masuk Indonesia. Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI ) 2007. Harmonize System. Jenis catatan pada BTBMI 8. Nota penelitian klasifikasi barang 7. Tahapan dalam engklasifikasi barang 6. 4. serta Catatan Penting dalam Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI). Relevansi Modul Relevansi modul terhadap tugas pekerjaan yang akan dijalankan peserta diklat adalah sebagai berikut : a. dan diharapkan dapat memberikan gambaran secara utuh tugas pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dalam pengklasifikasian barang. Ketentuan Umum untuk Menginterpretasikan Harmonized System. Ketentuan umum untuk menginterpretasi Harmonized System 5. Harmonized System (HS) 3.

1. Harmonized System (HS) 3.Klasifikasi Barang B KEGIATAN BELAJAR 1. seorang klasifikator harus terlebih dahulu memahami pengetahuan barang dan pengetahuan mengenai klasifikasi barang. Seorang klasifikator harus memiliki kemampuan dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang karena akan menentukan ketepatan dalam klasifikasi DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 4 . Identifikasi dan klasifikasi barang 2. Kegiatan Belajar (KB) 1 KLASIFIKASI BARANG Indikator Keberhasilan : Setelah mempelajari materi diharapkan siswa mampu menjelaskan: : 1. Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI ) 2007 1. Uraian dan Contoh Seorang Pegawai Ditjen Bea dan Cukai harus menjadi seorang klasifikator dibidang kepabeanan Oleh karena itu.

IDENTIFIKASI DAN KLASIFIKASI BARANG 1) Identifikasi dan Klasifikasi Barang Langkah-langkah apa yang harus dilakukan untuk dapat mengklasifikasi suatu barang dengan benar? Biasanya klasifikasi tersebut dilakukan dengan mencari langsung pos tarif yang dianggap sesuai. Dalam buku ini akan dijelaskan dengan singkat langkah-langkah praktis dalam mengklasifikasi barang. Informasi apa yang diperlukan untuk mengidentifikasi suatu barang dan darimana informasi tersebut diperoleh? Informasi yang diperlukan sebenarnya tergantung dari uraian yang ada pada BTBMI yang berkaitan dengan barang DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 5 . Seorang klasifikaotr tidak mungkin dapat mengklasifikasikan suatu barang dengan benar bila ia tidak tahu spesifikasi barang tersebut. Cara seperti ini tidak akurat dan sering menyebabkan terjadinya kesalahan klasifikasi yang mengakibatkan negara dirugikan. Sebelum mengklasifikasi suatu barang. Keakuratan mengklasifikasi tergantung dari keakuratan dalam mengidentifikasi barang. baru diketahui bahwa informasi yang ada belum lengkap sehingga kita harus kembali melakukan identifikasi barang untuk memperoleh informasi yang diperlukan tersebut. barulah kita dapat melakukan langkah kedua yaitu Klasifikasi barang. Langkah ini dinamakan Identifikasi barang.Klasifikasi Barang dalam Pemberitahuan Impor Barang (PIB) yang pada akhirnya menentukan ketepatan jumlah bea masuk dan pungutan impor lainnya yang harus dibayar. kita harus tahu lebih dulu spesifikasi barang itu. klasifikasi yang benar hanya dapat dilakukan apabila mengetahui jenis barang dan memahami aturan-aturan mengklasifikasi dengan benar. Perlu diingat bahwa setelah melakukan tahap klasifikasi. A. Diharapkan dengan menggunakan metode ini para siswa dapat dengan mudah mengklasifikasi barang. Setelah kita mendapatkan seluruh informasi yang dibutuhkan melalui identifikasi barang. Langkah pertama dalam mengklasifikasi adalah apa yang akan diklasifikasikan. Namun sekali lagi perlu diingat.

Klasifikasi Barang bersangkutan. apa kegunaannya. untuk tujuan olah raga. bagaimana bentuknya. misalnya apakah bentuknya cair atau padat. banyak sumber informasi yang dapat kita gunakan. buatan. apakah bentuk asal atau preparat. dan keterangan lainnya. atau kuda untuk sirkus). DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 6 . Semakin banyak informasi yang kita miliki tentang barang tersebut. butiran atau bongkahan. semakin mudah bagi kita untuk mengklasifikasikan barang karena tidak dibutuhkan informasi yang terlalu rumit (misalnya. hanyalah kuda bibit. semakin akurat kita mengklasifikasikannya. Fisik barang itu sendiri sudah Mari menjawab pertanyaan tesebut dengan memberikan beberapa informasi yang kita butuhkan. Berapa watt dan voltage tenaga listrik yang dibutuhkan. Darimana kita dapat memperoleh informasi yang kita perlukan untuk mengklasifikasi suatu barang? memperhatikan bagan di bawah ini: Untuk mengetahui spesifikasi barang yang akan kita klasifikasikan. bagaimana pengemasnya. Semakin sederhana dan rinci uraian barang pada BTBMI. dan sebagainya. Informasi lain dapat kita peroleh dari berbagai sumber di atas. dan sebagainya. informasi yang diperlukan untuk mengklasifikasikan kuda hidup. apa komposisinya. kegunaan. Demikian juga apabila barang tersebut berupa barang elektronik. Bagaimana seandainya yang akan kita klasifikasikan adalah suatu bahan kimia? Barangkali sebelum mengklasifikasi kita memerlukan berbagai informasi mengenai barang kimia tersebut: apakah organik atau anorganik. Informasi yang diperlukan tentunya semakin banyak dan rumit.

kimia. aksesoris. elektronik. Apabila kita sudah mempunyai jawaban. barulah kita berusaha mencari pos yang DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 7 . bagian dari barang lain. bahan yang dominan? • What for? Digunakan untuk apa? ⇒ kegunaan tertentu. mesin? • What is it made of? Dibuat dari apa barang tersebut? ⇒ komposisi. setengah jadi. atau barang jadi? produk pertanian.Klasifikasi Barang Identifikasi barang diperlukan untuk menjawab setidak-tidaknya empat pertanyaan dasar di bawah ini: • What is it? Barang apa yang diimpor? ⇒ bahan baku. campuran. lebh dari satu macam kegunaan? • How is it imported? Bagaimana saat diimpor? ⇒ kemasan? belum lengkap? terurai? dalam bentuk set? Pertanyaan di atas harus dijawab sebelum kita memulai tahap klasifikasi.

Hal ini untuk mengetahui grade atau kemurnian dari bahan tersebut. Kalau dari pabrik farmasi kecenderungannya grade farmasi atau kemurnian mendekati 100 %. bukan satu pos tertentu?). proses sederhana dan proses canggih/kompleks. ii. identifikasi barang yang akan diklasifikasikan. mineral. Dengan kata lain. Namun pada umumnya suatu pos mencakup atau menguraikan satu kelompok barang sehingga sepintas lalu seakan-akan ada satu barang yang dicakup oleh dua atau lebih pos.Klasifikasi Barang tepat. Untuk itu kita perlu mengantisipasi semua pos tarif yang mungkin untuk dipilih satu pos yang paling sesuai. b. bahan baku dan semua informasi mengenai barang. iii. pertanian. fungsi. Kita dapat menemukan satu pos tertentu bila pos dimaksud dengan spesifik menguraikan jenis barangnya. Keterangan kemurnian barang akan berkaitan dengan harga barang tersebut. setelah 3W + 1H ⇒ What are the classifiable codes? Mengapa “What are classifiable codes?” (pos-pos. Prosedur Umum Klasifikasi Dalam mengklasifikasi barang menggunakan BTBMI. dan seterusnya). 2) Langkah-Langkah Dalam Mengklasifikasi Barang a. Tahapan Mengklasifikasi Barang DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 8 . kimia. Keterangan pabrik atau produsen barang perlu diperhatikan. Demikian juga negara asal barang akan berpengaruh terhadap mutu atau harga barang. mempelajari jenis. melihat buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI). v. iv. merumuskan identitas atau deskripsi barang tersebut. prosedur yang digunakan adalah sebagai berikut : i. misalnya apakah pabrik farmasi atau pabrik produksi pipa plastik. mesin. dari jenis pabrik apa. menentukan klasifikasi barang ke dalam BTBMI (dapat dimulai baik dari segi bahan baku menjadi barang jadi.

Ketentuan Umum Untuk Menginterpretasi Harmonized System dan teori pendukung lainnya. langkah selanjutnya adalah melihat pembebanannya (BM. 3. biasanya kita sudah mempunyai gambaran umum apakah barang tersebut diklasifikasikan di bab tersebut atau di bab lainnya. Ingat. 4. Tahapan lebih rinci akan dijelaskan kemudian setelah memahami apa itu Harmonized System. Karena pembebanan tersebut sering berubah. kemasan dan informasi lain yang bergunauntuk mengklasifikasi barang. Perhatikan penjelasan-penjelasan dalam catatan Bagian maupun catatan Bab yang berkaitan dengan barang yang akan kita klasifikasi. Dalam tahap ini tentunya menggunakan kaidah-kaidah seperti yang ada dalam nomor 1 sampai dengan 10 Ketentuan Umum Untuk Menginterpretasi Harmonized System 5. berat. Pilih bab atau bab-bab yang berkaitan dengan spesifikasi barang tersebut. 1. IP. Dengan mengetahui spesifikasi barang. Apabila sudah dipilih satu pos tarif yang benar-benar sesuai dengan uraian barang. bauatan.). Apabila ada catatan yang mengeluarkan barang tersebut dari Bab atau Bagian yang kita pilih. misalnya barang tersebut produk pertanian. baca dan perhatikan baik-baik catatan Bagian dan catatan Bab yang berkaitan dengan pilihan bab atau bab-bab pada butir 1. Buku Tarif Bea Masuk Indonesia. Setelah menemukan satu bab yang paling sesuai berdasarkan kajian di atas. Bab. PPN.Klasifikasi Barang Dalam penjelasan ini disajikan tahapan mengklasifikasi barang secara garis besar. Identitas barang meliputi : nama. Kita identifikasi dulu barang yang akan kita klasifikasi. atau pos mana barang tersebut diklasifikasikan. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 9 . Bila sudah kita tentukan. Pada tahap ini kadang-kadang kita sudah dapat menemukan pos yang mencakup barang tersebut dengan rinci. atau mesin. guna. barang kimia. maka kita mulai menelusuri pos-pos yang mungkin mencakup barang yang akan kita klasifikasikan dalam bab tersebut. Pertamina. dalam penentuan sub-pos dan pos tarif pun kadang timbul permasalahan klasifikasi yang sama dengan penentuan pos (4-digit). fungsi. dan lain-lain. 2. maka langkah selanjutnya tinggal menentukan sub-pos (6-digit) dan pos tarif (9-digit) yang sesuai. kita bisa memilih bab-bab yang lebih spesifik. perhatikan pada Bagian. PPnBM. Bila sudah kita temukan satu pos yang tepat. Pada tahap ini. atau cukai) dan ada atau tidak peraturan tata niaganya (IT.

Berdasarkan pasal 14 ayat 2 Undangundang Kepabenan Indonesia Nomor 10 tahun 1995. HARMONIZED SYSTEM 1) Pengantar Klasifikasi barang adalah suatu daftar penggolongan barang yang dibuat secara sistematis dengan tujuan untuk mempermudah pentarifan transaksi perdagangan. pengangkutan dan statistik. Pada saat ini sistem pengklasifikasian barang di Indonesia didasarkan pada Harmonized System dan dituangkan dalam bentuk suatu daftar tarif yang kita kenal dengan sebutan Buku Tarif Bea Masuk Indonesia. penetapan klasifikasi barang diatur lebih lanjut oleh Menteri Keuangan. a. B. Sejarah Sistem Klasifikasi di Indonesia DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 10 .Klasifikasi Barang jangan lupa selalu menggunakan pembebanan yang up to date berdasarkan ketentuan yang terbaru.

Mengapa HS ? Sejak tahun 1970. kelompok studi tersebut berhasil menyusun suatu DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 11 . Sistem Jenewa (Geneve Nomenclature). hanya pada sistem CCCN ini terdapat penyempurnaan sistem penomoran pada sub-pos dari dua digit menjadi tiga digit atau semula 6 digit menjadi 7 digit. Sistem CCCN Edisi 1985 (CCCN 1985). 26 tahun 1988 dan diwujudkan dalam bentuk Buku Tarif Bea Masuk Indonesia 1989 dan dinyatakan berlaku mulai tanggal 1 Januari 1989. d. Sistem ini diterapkan di Indonesia berdasarkan PP No. Sistem Brussel (Brussel Tariff Nomenclature atau BTN). Customs Cooperation Council (CCC) yang sekarang dikenal dengan nama World Customs Organisation (Organisasi Pabean Dunia) telah membentuk suatu kelompok studi yang berusaha untuk menciptakan suatu nomenklatur klasifikasi barang yang tidak semata-mata untuk keperluan pabean. Pada akhir tahun 1986. Sistem ini merupakan penyempurnaan dari sistem CCCN sebelumnya dan mulai diberlakukan pada tanggal 1 April 1987 sampai dengan 31 desember 1988. yaitu : a. e. Penetapan tarif ini merupakan penyempurnaan dari penetapan tarif sebelumnya dan mulai diberlakukan pada tanggal 1 Juli 1975 sampai dengan 30 september 1980. f. b.Klasifikasi Barang Sebelum diberlakukannya Harmonized System. Sistem Brussel Edisi 1975 (BTN 1975). mulai berlaku sejak tanggal 1 Januari 1973 sampai dengan 30 Juni 1975. Pada dasarnya sistem pentarifan ini sama dengan sistem sebelumnya. pengangkutan. Sistem Harmonisasi (Harmonized System). Indonesia telah menggunakan beberapa sistem klasifikasi untuk barang impor. c. dan negosiasi perdagangan. tetapi juga digunakan untuk kepentingan lain seperti statistik. yang berlaku sejak kemerdekaan Republik Indonesia sampai dengan 31 Desember 1972. b. Sistem CCCN ini mulai diberlakukan pada tanggal 1 Oktober 1980 sampai dengan 31 Maret 1985. Sistem Customs Cooperation Council (CCCN).

nomenklatur tersebut disahkan dalam suatu konvensi yang dikenal dengan nama Konvensi HS. perkembangan masyarakat industri dan pola perdagangan Internasional. Menyadari hal yang demikian WCO pada tanggal 14 Juni 1983 meluncurkan HS yang mulai berlaku secara internasional pada tanggal 1 Januari 1988. untuk memberikan perhatian kepada perkembangan teknologi dan masyarakat industri serta pola perdagangan Internasional. konvensi HS ditandatangani oleh 70 negara yang sebagian besar adalah negara Eropa. Meskipun baru meratifikasi pada tahun 1993. dokumentasi dan sebagainya. Memperbaharui sistem klasifikasi barang sebelumnya. pembuatan dan analisis Statistik perdagangan dunia. Memberikan Sistem Internasional yang resmi untuk pemberian Kode. mengakibatkan timbulnya kesulitan dalam mengantisipasi kemajuan teknologi. dengan tujuan : i. Namun sekarang hampir seluruh negara di dunia telah meratifikasi konvensi ini. untuk penetapan Tarif Pabean secara mendunia. Memberikan keseragaman dalam daftar penggolongan barang yang dibuat secara sistematis. iv. Mengapa HS dijadikan dasar klasifikasi secara internasional? Ada beberapa DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 12 . sebenarnya Indonesia telah menggunakan BTBMI berdasarkan HS sejak tanggal 1 Januari 1989. termasuk Indonesia yang telah meratifikasi konvensi HS dengan Keppres Nomor 35 tahun 1993. Pada awalnya.Klasifikasi Barang nomenklatur (daftar klasifikasi barang berdasarkan kelompok-kelompok) yang dinamakan Harmonized Commodity Description and Coding System atau lebih dikenal dengan sebutan Harmonized System (HS). Pen jelasan dan penggolongan barang untuk tujuan perdagangan seperti tarif pengangkutan. keperluan pengangkutan. ii. Memudahkan pengumpulan. 2) Tujuan Harmonized System Adanya perbedaan sistem klasifikasi tarif antara negara di dunia. iii. Untuk memberikan kekuatan hukum yang pasti.

HS menggunakan dasar yang seragam untuk keperluan pentarifan secara internasional. dan aparat bea dan cukai. pengangkut. HS adalah pedoman klasifikasi yang sistematik untuk seluruh barang yang diperdagangkan secara internasional. yaitu: 1. 4.Klasifikasi Barang keuntungan yang didapat setiap negara yang mengadopsi HS sebagai pedoman klasifikasi barang. 2. b. World Customs Organization (WCO). The Standard International Trade Classificatioan (SITC) 3) Publikasi Pelengkap HS Harmonized System mempunyai beberapa publikasi pelengkap yang digunakan untuk lebih mempermudah klasifikasi barang. 3. 5. d. e. Publikasi dimaksud adalah: a. Merupakan kumpulan data yang seragam secara internasional sehingga dapat digunakan untuk mendukung analisis dan statistik perdagangan internasional. The International Air Transport Association (IATA). produsen. c. Sederhana dan memberikan kepastian dalam hal aplikasi dan interpretasi yang benar dan sama untuk keperluan negosiasi. eksportir. The International Chamber or Shipping (ICS). Publikasi-publikasi tersebut juga diterbitkan oleh WCO. Menggunakan “bahasa pabean” sehingga dapat dengan mudah dimengerti oleh importir. The Explanatory Notes to the Harmonized System (EN) DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 13 . misalnya: a. The International Union Railway (IUR). HS telah dibuat sedemikian rupa sehingga standard klasifikasi barang dan sistem kode penomoran barang dapat dijadikan acuan untuk berbagai kebutuhan oleh berbagai lembaga internasional yang berkaitan dengan perdagangan.

Explanatory Notes adalah referensi yang sangat diperlukan untuk mendapatkan interpretasi yang benar dari HS. b. Dispute Settled Classification Opinion. dan Volume 4 (Bab 85 . The Alphabetical Index Untuk mempermudah mengklasifikasikan suatu barang pada pos-pos atau sub-sub pos dalam nomenklatur HS atau Explanatory Notes.L) dan Volume II (M Z).84). Volume 2 (Bab 30. c. 4) Sistem Pengkodean DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 14 .Klasifikasi Barang Explanatory Notes bukan merupakan bagian yang integral dari HS. Explanatory Notes yang digunakan saat ini adalah edisi kedua (tahun 1996) yang terdiri dari empat volume. Untuk itu membaca Explanatory Notes harus selalu disesuaikan dengan konteksnya dalam HS. sebagian negara anggota WCO mensahkannya sebagai dokumen yang berkekuatan hukum Seiring perkembangan teknologi. yaitu Volume I (A . Alphabetical Index terdiri dari dua volume. Volume 3 (Bab 64 .29). the Training Modules. the Harmonized System Commodity Data Base (dalam bentuk CD-ROM). namun sebagaimana disetujui WCO. Karena pentingnya Explanatory Notes ini. Explanatory Notes juga mengalami perubahan (amandemen) untuk menyesuaikan isinya dengan struktur HS. explanatory notes merupakan interpretasi resmi (official interpretation) dari HS pada level internasional dan merupakan pelengkap yang sangat penting dari HS. 1 (Bab 1 .97). dan Correlation Tables. Publikasi lain Publikasi lain yang merupakan pelengkap HS adalah the Compendium of Classification Opinions. yaitu Vol.63). WCO juga menerbitkan buku indeks yang dikenal dengan nama the Alphabetical Index.

pengangkutan. yaitu: 1. sedangkan Bab 98 dan 99 digunakan untuk keperluan khusus bagi masing-masing contracting party. Catatan Bagian. b. yaitu Bab 77. merupakan pedoman mengklasifikasi barang yang sistematik dan seragam.Klasifikasi Barang Harmonized System mempunyai dua karakteristik yang sangat mendasar. Multipurpose nomenclature HS yang mempunyai 6 digit penggolongan. Seperti telah disinggung sebelumnya. Ada tiga Bab yang belum digunakan dalam HS yang ada saat ini. HS yang tersusun dari pos dan sub-pos. misalnya untuk barang pos atau peralatan pelayaran. Bab 77 dipersiapkan untuk keperluan di masa mendatang. Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System (KUM HS) merupakan bagian terpenting yang harus DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 15 . bersama dengan Ketentuan Umum Menginterpretasi. Catatan Bab. Harmonized System mempunyai tiga bagian utama atau integral.241 pos. namun juga dipergunakan secara internasional dalam bidang lain seperti negosiasi perdagangan. 98. Masing-masing negara penandatangan konvensi (contracting party) dapat mengembangkan penggolongan 6-digit tersebut menjadi kelompok yang lebih spesifik sesuai dengan kebijaksanaan ekonomi dan industrinya. dan 1. Dengan tetap berdasar kepada HS 6-digit. Ketentuan Umum Untuk Menginterpretasi Harmonized System (General Rules for the Interpretation of the HS). 96 Bab (+ Bab 77). dan sebagainya. Indonesia juga menggunakan Bab 98 untuk keperluan ekspor barang tertentu yang pada bulan April 1999 dicabut kembali. dirancang tidak hanya untuk keperluan kepabeanan. yaitu: a. semua negara mempunyai kesatuan persepsi tentang pengklasifikasian suatu barang. dan Catatan Sub-Pos. Structured nomenclature HS adalah nomenklatur yang terdiri dari 21 Bagian. dan 99. statistik.

Sistem penomoran dalam HS terbagi menjadi Bab (2-digit).01. barang dimaksud diklasifikasikan pada Bab 1. Mengingat pentingnya memahami KUM HS. 11 _______ ______________ • Dua angka pertama untuk menunjukkan pada bab mana barang itu diklasifikasikan. dan sub-pos (6digit) dengan penjelasan sebagai berikut: 01 __ 01 11 Bab (Chapter) 1 Pos (Heading) 01. KUM HS berisi enam prinsip dasar yang harus dipatuhi dalam mengklasifikasi barang. HS menggunakan kode nomor dalam mengklasifikasikan barang. Kode-kode nomor tersebut mencakup uraian barang yang tersusun secara sistematis.Klasifikasi Barang dipahami sebelum melangkah lebih jauh untuk meng klasifikasikan barang menggunakan HS. Pos (4-digit) dan Sub-pos (6-digit) yang disusun dengan sistematik. 01 Sub-pos (Sub-heading) 0101. 2. C. Indonesia menggunakan sistem penomoran 10 digit dalam BTBMI yang merupakan penjabaran lebih lanjut dari sub-sub pos dalam HS. barang dimaksud diklasifikasikan pada pos 01. • • Empat angka pertama menunjukkan Pos atau Heading dalam setiap bab. Penjelasan mengenai hal ini akan dibahas lebih rinci pada penjelasan berikutnya. Enam angka pertama menunjukkan Sub Pos dalam setiap Pos. BUKU TARIF BEA MASUK INDONESIA 1) Dasar Hukum DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 16 . dan Catatan Sub-Pos. bagian ini akan dibahas tersendiri. barang dimaksud diklasifikasikan pada sub-pos 0101. Pada contoh di atas. Pada contoh di atas. Untuk keperluan nasional. Pada contoh di atas. Catatan Bagian. Catatan Bab.11. pos (4-digit). 3.

yang sebelumnya dikenal dengan nama Customs Cooperation Council sejak tanggal 30 April 1957.05/1996 tanggal 21 Juni 1996 tentang Penetapan Sistem Klasifikasi Barang dan Besarnya Tarif Bea Masuk Atas Barang Impor. Selanjutnya berdasarkan pasal 14 ayat 2 Undang-undang tersebut. barang dikelompokkan berdasarkan sistem klasifikasi barang”. barang barang dikelompokkan berdasarkan sistem klasifikasi sebagaimana dimaksud dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 1993 tentang Pengesahan International Convention The Harmonized Commodity Description and Coding System beserta protocolnya”. Pengaturan lebih lanjut penentuan klasifikasi barang dilakukan dengan memperhatikan: a) b) c) Upaya peningkatan daya saing produk Indonesia dipasar Internasional. Pengurangan hambatan dalam perdagangan Internasional guna mendukung terciptanya perdagangan bebas. Pemerintah bersama Dewan Perwakilan Rakyat telah berhasil membahas dan menyetujui Rancangan Undang-Undang Kepabeanan. Berdasarkan keputusan Presiden Republik Indonesia nomor 35 tahun 1993. Berbagai bantuan teknis dalam rangka menunjang kelancaran pelaksanaan sistem dan prosedur kepabeanan Internasional. telah diterima oleh Indonesia. Pemerintah menerbitkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor : 440/KMK. Indonesia telah menjadi anggota World Customs Organization. Sebagai anggota WCO. Pasal 14 ayat (1) Undang-Undang ini menyebutkan bahwa “Untuk penetapan tarif Bea Masuk. 17 tahun 2006 . Atas dasar pertimbangan di atas. Indonesia telah menunjukkan peran serta yang aktif dalam kegiatan WCO dan telah banyak menarik manfaat dari organisasi ini. penetapan klasifikasi barang ditentukan oleh Menteri Keuangan.Klasifikasi Barang Pada akhir tahun 1995. Dalam Pasal 1 Keputusan ini disebutkan “Untuk penetapan tarif Bea Masuk. yang kemudian dikenal dengan nama Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan saat ini telah diamandemend dengan UU no. d) Pemenuhan perjanjian serta kesepakatan Internasional. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 17 . Perlindungan terhadap konsumen dalam negeri.

berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 81/KMK. Dasar penggunaan sistem klasifikasi barang berdasarkan HS versi 1996. 01/1995 yang merupakan: 1. 2. menjadi “HS versi 1996”. Hingga saat ini BTBMI 1996 dimaksud telah beberapa kali diubah atau direvisi sesuai dengan perkembangan kebijaksanaan nasional. Berdasarkan Artikel XVI HS Convention. BTBMI terakhir dengan BTBMI tahun 2007 menggunakan HS ver 2007 berdasarkan AHTN. 3. 2) Struktur BTBMI DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 18 .05/1994 tanggal 16 Maret 1994 telah ditetapkan bahwa terhitung sejak 1 April 1994 .Klasifikasi Barang Indonesia telah menjadi Contracting Party dari “International Convention on the Harmonized Commodity Description and Coding Sistem”. Klasifikasi struktur barang dalam Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI) mengacu kepada sistem klasifikasi dari HS Convention. Sebagai tindak lanjutnya . yang semula mempergunakan HS versi 1992. Penyempurnan Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 1988 tentang Perubahan dan Tambahan atas Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 1969 tentang Pembebasan atas Impor dan Perubahan atas Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 47 Tahun 1986 tentang Bea Masuk Tambahan Atas Barang Impor. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 639/KMK. Dasar penetapan besarnya tarif bea masuk (bea masuk tambahan dilebur bersama bea masuk) untuk barang bersangkutan. World Customs Organization telah mengesahkan amandemen lampiran konvensi.01/1995 di atas selanjutnya dijabarkan dalam bentuk penerbitan BTBMI edisi tahun 1996. Pemerintah pada tanggal 29 Desember 1995 telah mengeluarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 639/KMK. Menindaklanjuti adanya amandemen HS 1996 tersebut.

BTBMI tidak lain adalah HS yang dimodifikasi atau dijabarkan lebih lanjut untuk digunakan dalam pentarifan dan penanganan barang impor ke Indonesia.10. 3) 10 (sepuluh) digit merupakan teks berasal dari uraian barang dalam bahasa Indonesia. beberapa tahun sebelum Indonesia meratifikasi HS Convention dan saat ini yang berlaku adalah BTBMI 2007 berdasarkan AHTN. Kolom kedua adalah kolom “Uraian Barang” dalam bahasa Indonesia yang disusun dengan pola sebagai berikut: 1) Uraian barang pada pos (4 digit) dan subpos (6 digit) merupakan terjemahan dari teks HS-WCO.Klasifikasi Barang Pada bab terdahulu kita telah mempelajari gambaran umum tentang Harmonized System.11.00 ( misalnya 8709. 4) 4 (empat). b.00 ) berasal dari teks HS – WCO. BTBMI mempunyai struktur sebagai berikut: 1. kecuali: DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 19 . Kolom pertama adalah kolom “Pos/Subpos/Pos Tarif” yang mencantumkan nomor pos/subpos sebagai berikut : 1) 4 (empat) dan 6 (enam) digit pertama berasal dari teks Harmonized System-World Customs Organization (HS-WCO). ♦ yang 4 digit terakhirnya 00. Kolom : a. BTBMI adalah buku tarif bea masuk yang digunakan di Indonesia semenjak 1989 yaitu.00. 6 (enam) dan 10 (sepuluh) digit pada bab 98 merupakan teks berasal dari uraian barang dalam bahasa Indonesia.21. kecuali: ♦ yang 2 digit terakhirnya 00 ( misalnya 8709. 2) Uraian barang pada subpos ASEAN (8 digit) merupakan terjemahan dari teks AHTN.00 ) berasal dari teks AHTN. 2) 8 (delapan) digit berasal dari teks AHTN. 3) Uraian barang pada pos tarif nasional (10 digit) merupakan teks berasal dari uraian barang dalam bahasa Indonesia. Sekarang kta akan mempelajari tentang BTBMI.

Kolom keempat adalah kolom “Bea Masuk Umum” yang mencantumkan pembebanan tarif bea masuk atas barang impor berlaku umum berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 547/KMK. e. Kolom kelima adalah kolom “Bea Masuk CEPT” yang mencantumkan pembebanan tarif bea masuk yang berlaku untuk impor barang dari negaranegara ASEAN dalam rangka Skema CEPT berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 546/KMK. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 20 .00 ) berasal dari teks AHTN.10.01/2003 tanggal 18 Desember 2003. ♦ yang 4 digit terakhirnya 00.21. kecuali : ♦ yang 2 digit terakhirnya 00 ( misalnya 8709.01/2003 tanggal 18 Desember 2003. c.00.00. 4) Khusus uraian barang dalam bab 98 merupakan teks berasal dari uraian barang dalam bahasa Indonesia. d.00 ) merupakan teks asli HS – WCO. 2) Uraian barang pada subpos ASEAN (8 digit) merupakan teks AHTN dalam bahasa Inggris.11.Klasifikasi Barang ♦ yang 2 digit terakhirnya 00 ( misalnya 8709.10.00 ) berasal dari teks HS – WCO.21. ♦ yang 4 digit terakhirnya 00.00 ) merupakan teks AHTN.00 ( misalnya 8709.11. 3) Uraian barang pada pos tarif nasional (10 digit) merupakan terjemahan dari teks bahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris. 4) Khusus uraian barang dalam bab 98 merupakan teks berasal dari uraian barang dalam bahasa Indonesia. Kolom ketiga adalah kolom “Description of Goods” dalam bahasa Inggris yang disusun dengan pola sebagai berikut : 1) Uraian barang pos (4 digit) dan subpos (6 digit) merupakan teks HSWCO dalam bahasa Inggris.00 ( misalnya 8709.

2. Pencantuman tanda asterisk (*) pada kolom pembebanan tarif ditujukan untuk hal-hal sebagai berikut : a. i. b.Klasifikasi Barang f.03/2003 tanggal 28 Januari 2003 dan Nomor 355/KMK. Kolom ketujuh adalah kolom “PPnBM” yang mencantumkan pembebanan tarif PPnBM yang ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 569/KMK.01 sampai dengan 87. 3. g. Pencantuman tanda strip (-) pada kolom pembebanan tarif ditujukan untuk hal-hal sebagai berikut : a. h. Kolom keenam adalah kolom “PPN” yang mencantumkan pembebanan tarif PPN berdasarkan Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 18 Tahun 2000. Kolom kedelapan adalah kolom “Larangan/Pembatasan” yang mencantumkan ketentuan larangan atau pembatasan barang impor berdasarkan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 230/MPP/KEP/7/1997 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 62/MPP/KEP/02/2001 dan tata niaga impor dan peredaran bahan berbahaya tertentu ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 254/MPP/KEP/7/2000. Tanda strip (-) pada kolom Bea Masuk CEPT berarti komoditi pada pos tarif bersangkutan tidak termasuk dalam skema CEPT. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 21 .05. Kolom kesembilan adalah kolom “Keterangan” yang disediakan untuk mencantumkan keterangan tambahan yang dianggap perlu dan ketentuan lain yang belum ditampung pada kolom-kolom sebelumnya. Pencantuman tanda satu asterisk (*) pada kolom “Bea Masuk Umum” berarti pembebanan impornya mengikuti tarif pada pos tarif 87. Tanda strip (-) pada kolom PPN atau PPnBM berarti komoditi pada pos tariff bersangkutan tidak dikenakan pembebanan PPN atau PPnBM.04/2000 dan Nomor 570/KMK.03/2003 tanggal 11 Agustus 2003. serta ketentuan instansi teknis lainnya.04/2000 sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 39/KMK.

(2) Empat digit pertama (0705) menunjukkan Pos. 3) Kode Penomoran dan Pentakikan a. Apabila terdapat keraguan dalam menginterpretasikan teks yang tercantum dalam Catatan Penjelasan Tambahan (SEN). akar dan bonggol tertentu yang dapat dimakan. 19 dan 20. dan PPnBM ditetapkan oleh Menteri Keuangan. Nomor Pos tarif (10-digit) dan uraiannya. Bea Masuk Anti Dumping berlaku di Indonesia sejak tanggal 1 April 1996 berlandaskan Undang-Undang Nomor 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan sesuai pasal 18. PPN. 4 Catatan Penjelasan Tambahan (SEN) merupakan pedoman dalam menginterpretasikan pengertian maupun istilah teknis barang yang tercantum dalam Subpos pos tarif tertentu. terdapat juga BM Anti Dumping yang ditetapkan tersendiri oleh Menteri Keuangan. PPnBM dan pemberlakuan ketentuan larangan/pembatasan berlaku hanya terhadap sebagian jenis barang atau sebagian kelompok barang dalam pos tarif bersangkutan. Untuk memahami sistem penomoran tersebut. Sistem Penomoran Sistem penomoran klasifikasi dalam BTBMI menggunakan 10-digit dengan susunan 6 digit pertama mengacu pada konvensi HS.Klasifikasi Barang b. Bab 07 : Sayuran. 2 digit selanjutnya mengacu kepada AHTN dan 2 digit terakhir adalah pecahan pos tarif nasional.05: Selada (Lactuca sativa) dan chicory (Chicorium spp. PTNI (Peraturan Tata Niaga Impor) ditetapkan oleh Menteri Perindustrian dan Perdagangan. segar atau DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 22 . Perlu diingat bahwa selain BM yang tercantum dalam BTBMI. perhatikan contoh berikut: 0705. besarnya BM. Pos 07.).00 Selada kubis (selada bongkahan) (1) Dua digit pertama (07) menunjukkan Bab.11. maka yang mengikat secara hukum adalah teks asli SEN dalam bahasa Inggris. “PPnBM” dan “Larangan/Pembatasan” berarti pengenaan PPN. Pencantuman tanda satu asterisk (*) pada kolom “PPN”.00.

10) menunjukkan Sub-pos yaitu selada. digunakan dua takik (. Sistem Takik Selain menggunakan sistem nomor. (4) Bila uraian pada butir c dipecah lagi. segar atau dingin)..Selada * Ingat.Selada (4) Sepuluh digit pertama (0705. (3) Enam digit pertama (0705.00 : .05 Selada (Lactuca sativa) dan chicory (Chicorium spp. demikian seterusnya sehingga diperoleh pengelompokan barang yang lebih rinci.00.Selada kubis (selada bongkolan).00.11.).00 -. maka digunakan pemecahan menggunakan tiga takik pada digit 9 dan 10.000): 07.19: 0705.... (2) Penggunaan satu takik (-) dimulai pada uraian Sub-pos (6-digit).11.Lain-lain) b.00) menunjukkan Pos Tarif 0705. 0705.11 dan 0705 19. 0705.00. digunakan tiga takik (. dengan penjelasan sebagai berikut: (1) Pos (4-digit) tidak diberi takik.00.10 tidak dicantumkan karena sub-pos tersebut dipecah lagi menjadi sub-pos 0705.11.11. khusus untuk negara Indonesia.10 dipecah menjadi 0705.-).11.20 . misalnya : 0705.Dingin DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 23 . HS/BTBMI juga menggunakan sistem takik (dash.00.10 .10 . (3) Bila uraian pada butir b dipecah.. Di bawah ini disajikan contoh sistem takik dengan menggunakan contoh yang sudah ada (pos tarif 0705.Segar 0705.11 dipecah lagi menjadi pos tarif yang lebih rinci.Klasifikasi Barang dingin.19.. Sub-pos 0705. dalam HS/BTBMI sub-pos 0705.11 dan 0705.10: . Apabila pos tarif 0705.-). -) untuk mengklasifikasi barang.

00 .Polimer dari etilena.11. maka : 0705.10..01 3901..10. 2) Dalam HS/BTBMI hanya ada dua jenis barang.Segar 0705. yaitu barang tertentu A .11 dan 0705. 4) Bila pos dipecah menjadi sub-sub pos.11. 20. contoh : 1) sub-pos 0705.07 (Ketimun dan ketimun acar.Klasifikasi Barang Namun apabila ASEAN misalnya akan membagi dari subpos 0705.21. Contoh: Barang tertentu A .00 -.Polietilena berat jenis kurang dari 0. -. yaitu barang tertentu dan lainlain. Barang tertentu mempunyai kode 10.. 3) Setiap kelompok barang di atas (baik dalam pos.Butiran 3901..10.11. 5) Pemecahan pos tarif (10-digit) juga mengikuti pola di atas.barang tertentu B : Pos 07.Dalam bentuk padat -.Dingin Perlu diperhatikan bahwa kadang-kadang nomor sub-pos atau pos tarif yang dipecah lebih lanjut tidak dicantumkan secara eksplisit dalam BTBMI. Mari kita lihat contoh berikut: 39.10. Barang tertentu A . dalam BTBMI tidak dicantumkan (hanya dicantumkan uraian barangnya yaitu: . Pos 07.20.barang lainnya (lain-lain)..barang tertentu B atau barang tertentu A . 80.barang lainnya (lain-lain).19. maupun pos tarif) dibagi atau dirinci dengan dua cara. 30.01 (Kentang.10 3901... segar atau dingin) dibagi menjadi ketimun dan ketimun acar saja.10. sub-pos. dalam bentuk asal. Kedua jenis barang tersebut dapat dipecah kembali lagi menjadi dua kelompok di atas (barang tertentu dan lain-lain) yang lebih spesifik.00 . segar atau dingin) dibagi menjadi bibit dan lain-lain.00 --. perhatikan digit kelima dan keenam. .selada) karena sub-pos tersebut dipecah lebih lanjut menjadi 0705.Mutu farmasi DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 24 .94: -.

00 3901.Lain-lain -.perhatikan dua digit terakhir. perhatikan hal-hal berikut ini: a) bandingkan kelompok barang “lain-lain” dimaksud dengan kelompok barang yang setara. bandingkan dengan uraian barang pada bab-bab terdahulu.99. Bila kode 10 dipecah lagi menjadi lebih rinci.00 listrik 3901. 99. . d) apabila kata “lain-lain” dimaksud terdapat pada sub-pos..00 --.91. 19..10.Bentuk lain : 3901. c) apabila kata “lain-lain” dimaksud terdapat pada pos. b) apabila kata “lain-lain” dimaksud terdapat pada bab. Kata “lain-lain” terdapat pada Bab..10. 92. • • • • 4) Barang tertentu mempunyai kode 10.Lain-lain --. 12.30..00 --.Klasifikasi Barang 3901.00 3901.. berfungsi untuk menampung barang yang belum disebut pada uraian jenis barang sebelumnya. dalam pos yang sama.10. bandingkan dengan uraian barang pada sub-sub pos terdahulu.Lain-lain.23.Digunakan dalam pembuatan kabel telepon atau kabel Untuk pemecahan pos tarif. Pos.00 --.Mutu kabel --.10. digunakan digit kesembilan. Arti kata “lain-lain” Dalam klasifikasi BTBMI dengan sistem HS kata “Lain-lain”.Cair atau pasta -. Demikian juga kode 900 bila dipecah menjadi 91.10.29...10. Barang lainnya (lain-lain) diberi kode 90. . 30. yaitu menjadi 11. bandingkan dengan uraian barang pada pos-pos terdahulu dalam bab yang sama. Sub-Pos dan Pos Tarif Nasional Untuk dapat memahami arti kata “Lain-lain” . digunakan dalam pembuatan kabel telepon atau kabel listrik 3901. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 25 . . 20...22.

C2. yang termasuk dalam Lain-lain (1). A2. Jadi.Klasifikasi Barang e) apabila kata “lain-lain” dimaksud terdapat pada pos tarif. B2. Lain-lain (3) adalah termasuk kelompok barang A selain A1 dan A2. selain B1 dan B2. selain B1 dan B2. Metode di atas dapat difahami dengan lebih mudah apabila kita dapat menggambarkannya dalam bentuk diagram pohon. pengertian kata lain-lain DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 26 . Lain-lain (1): barang selain A1 dan A2. dan Lain-lain (3). pada sub-pos yang sama. yang termasuk dalam barang A. sehingga akan jelas kelompok barang mana yang akan dibandingkan dengan barang lain-lain barang lain-lain yang ingin kita ketahui. dan Lain-lain (2). Barang Lain-lain (2) dibagi menjadi barang C1. Lain-lain (2): barang selain B1 dan B2. Cara membaca: Lain-lain (3): barang selain C1 dan C2. bandingkan dengan uraian barang pada pos-pos tarif terdahulu. selain C1 dan C2. Lain-lain (3) adalah termasuk kelompok barang A selain A1 dan A2. Di bawah ini disajikan mengetahui kelompok barang yang termasuk lain-lain dengan menggunakan metode diagram pohon dengan contoh sebagai berikut: • • • • • • Barang A dibagi menjadi barang A1. Barang Lain-lain (1) dibagi menjadi barang B1. yang termasuk dalam Lain-lain (2). Dengan sedikit latihan menggunakan BTBMI. dan Lain-lain (1). Lain-lain (2) adalah termasuk kelompok barang A selain A1 dan A2.

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 27 . Pos. maupun catatan Sub-pos. Dalam diktat ini pengertian lainlain dibatasi pemahamannya sebatas berkaitan dengan uraian jenis barang pada judul Bab. Secara lebih rinci judul bab tersebut dapat diuraikan menjadi “Tekstil dan barang tekstil. hidup yang belum disebutkan pada sub-sub pos sebelumnya. b) Judul Pos..Klasifikasi Barang tersebut akan dapat dengan mudah dimengerti. keledai. tanpa dikaitkan dengan catatan Bagian.Lain-lain Kata lain-lain dalam sub-pos ini berfungsi untuk menampung binatang sejenis lembu. Secara lebih rinci uraian pos tersebut dapat diuraikan menjadi: Binatang hidup. Sub-pos maupun Pos tarif nasional.06: Binatang hidup lainnya. 6) selain kuda. catatan Bab. Secara singkat makna kata lainnya berfungsi untuk menampung barang tekstil sudah jadi yang belum disebutkan pada bab-bab sebelumnya dalam Bagian XI. bebek. Pos 01. selain babi 7) selain biri-biri dan kambing 8) selain unggas dari jenis : ayam spesies Gallus domesticus. Di bawah ini disajikan beberapa contoh pengertian kata lain-lain yang terdapat dalam BTBMI: a) Judul Bab. bagal dan hinnies. Bab 63: Barang tekstil sudah jadi lainnya . selain binatang sejenis selain yang telah disebutkan pada Bab 50 sampai lembu... Secara lebih rinci uraian dalam sub-po stersebut dapat diuraikan menjadi: Binatang hidup. dengan Bab 62”. kalkun dan ayam mutiara c) Judul Sub Pos Sub-pos 0102. Kata lainnya dalam pos ini berfungsi untuk menampung binatang hidup yang belum disebutkan pada pos-pos sebelumnya.90 : .

3. Pasal berapa dalam Undang-undang no. namun bukan untuk bibit 1. keledai. Mengapa kita harus mengidentifikasi barang sebelum mengklasifikasinya ? 2. Apa isi Buku Tarif Bea Masuk Indonesia ? 9. Bagaimana langkah-langkah dalam meng klasifi kasi barang ? 4. Apa yang dimaksud dengan sistem pentakikan dalam penomoran HS? 10. Bagaimana sistem penomoran Harmonized System ? 7. Apa yang dimaksud dengan Harmonized System ? 5. bagal dan hinnies.2. 10) termasuk binatang sejenis lembu. 10 tahun 1995 yang berkaitan dengan klasifikasi barang ? 8. Apa tujuan Harmnized System 6. Dalam kegiatan belajar ini telah dijelaskan dengan singkat langkah-langkah DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 28 . Latihan 1 1. Bagaimana cara membaca pengertian kata “Lain-lain” dalam BTBMI ? 1.Klasifikasi Barang 9) selain kuda. Rangkuman 1. Bila akan diimpor sebuah pompa air yang menggunakan tenaga listrk. data apa yang diperlukan mengenai pompa tersebut ? 3.

Pada saat ini sistem pengklasifikasian barang di Indonesia didasarkan pada Harmonized System dan dituangkan dalam bentuk suatu daftar tarif yang kita kenal dengan sebutan Buku Tarif Bea Masuk Indonesia. bahan baku dan semua informasi mengenai barang. identifikasi barang. Indonesia menggunakan sistem penomoran 10 digit dalam BTBMI yang merupakan penjabaran lebih lanjut dari sub-sub pos dalam HS. HS menggunakan kode nomor dalam mengklasifikasikan barang. d. WCO meluncurkan HS yang mulai berlaku secara internasional pada tanggal 1 Januari 1988. Dalam mengklasifikasi barang menggunakan BTBMI. Bagaimana seandainya yang akan kita klasifikasikan adalah suatu bahan kimia? Sebelum mengklasifikasi kita memerlukan identifikasi untuk mendapatkan informasi mengenai: : organik atau anorganik. mengakibatkan timbulnya kesulitan dalam mengantisipasi kemajuan teknologi. c. Berdasarkan pasal 14 ayat 2 Undang-undang Kepabenan Indonesia Nomor 10 tahun 1995. berdasarkan keputusan Presiden Republik Indonesia nomor 35 tahun 1993. kegunaannya. 4. prosedur yang digunakan adalah sebagai berikut : a. Kode-kode nomor tersebut mencakup uraian barang yang tersusun secara sistematis. perkembangan masyarakat industri dan pola perdagangan Internasional. 2. mempelajari jenis. merumuskan identitas. pengangkutan dan statistik. dan sebagainya. e. Klasifikasi barang adalah suatu daftar penggolongan barang yang dibuat secara sistematis dengan tujuan untuk mempermudah pentarifan transaksi perdagangan. Indonesia telah menjadi Contracting Party dari “International Convention on the Harmonized Commodity Description and Coding Sistem”. 3. Untuk keperluan nasional. fungsi. komposisinya. bentuknya. melihat BTBMI . Sebagai DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 29 . b. bentuk asal atau preparat.Klasifikasi Barang praktis dalam mengklasifikasi barang. Perbedaan sistem klasifikasi tarif antara negara di dunia. 5. menentukan klasifikasi barang.

2.Klasifikasi Barang tindak lanjutnya struktur Klasifikasi barang dalam Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI) mengacu kepada sistem klasifikasi dari HS Convention 6. Dengan sedikit latihan menggunakan BTBMI.S ) HS bersifat harmonis karena standard klasifikasi dan sistem kode penomoran barang digunakan untuk berbagai kepentingan. Kata “lain-lain” terdapat pada Bab. jenis dan spesifikasi lainnya secara akurat. Sistem penomoran klasifikasi dalam BTBMI menggunakan 10-digit dengan susunan 6 digit pertama mengacu pada konvensi HS dan 2 digit terakhir adalah pecahan pos tarif nasional. Dalam klasifikasi BTBMI dengan sistem HS kata “Lain-lain”. pengertian kata lain-lain tersebut akan dapat dengan mudah dimengerti 1. Selain menggunakan sistem nomor.S ) Untuk mengklasifikasi barang diperlukan data mengenai nama. 3. HS/BTBMI juga menggunakan sistem takik (dash. -) untuk mengklasifikasi barang 7. ( B . Informasi mengenai barang tersebut dapat kita peroleh melalui : kondisi fisik. berfungsi untuk menampung barang yang belum disebut pada uraian jenis barang sebelumnya. udara dan kereta api. label kemasan dan data lainnya.4. Sub-Pos dan Pos Tarif Nasional. seperti Pabean. ( B . Pos.S ) Customs Cooperation Council di Brussels pada tanggal 14 Juni 1983 menghasilkan Konvensi Internasional tentang The Harmonized Commodity Description and Coding System (HS) dan mulai berlaku di Indonesi sejak tanggal 1 Januari 1988. ( B . statistik. sertificate of analysis. Salah satu tujuan HS adalah untuk DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 30 . brosur. 1. Lingkarilah huruf B apabila pernyataan ini Saudara anggap benar dan huruf S apabila pernyataan Saudara anggap salah. Test Formatif 1 A. perdagangan internasional dan pengangkutan laut.

d. 4. dikenal prosedur umum untuk mengklasifikasi DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 31 . karena yang utama adalah uraian B. barang dikelompokkan berdasarkan sistem klasifikasi barang. Catatan Bagian. pasal 16 pasal 115 pasal 14 pasal 116 2. ( B . Untuk penetapan tarif bea masuk. atau d ) 1. Fungsi dasar HS adalah untuk memberikan keseragaman dalam mengklasifikasi barang guna memberikan kemudahan pada perdagangan internasional. The Harmonized Commodity Description and Coding System (HS) mulai berlaku secara internasional sejak : a. sub-heading dan penomoran hingga ke Pos tarif (10 digit). tanggal 1 Januari 1989 tanggal 1 Agustus 1988 tanggal 31 Januari 1988 tanggal 11 Januari 1989 3. c. d. Bunyi kalimat diatas sesuai dengan bunyi UU no. c. ( B . b. b. 5.Klasifikasi Barang memberikan ketidak seragaman secara internasional penggolongan barang dalam tarif pabean. b. barangnya. Heading. c. struktur HS terdiri dari : KUM HS . Bab dan Subheading . Demikian dalam kekuatan hukumnya sama. Untuk mengklasifikasi barang. Pilihlah jawaban yang Saudara anggap benar dengan cara melingkari huruf yang terdapat di depan jawaban tersebut a.S ) Ditinjau dari fungsi pengklasifikasian.S ) Apabila terdapat perbedaan sistem klasifikasi pada setiap negara akan memperpanjang waktu untuk penetapan bea masuk dan pengeluaran barang impor di pelabuhan. 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan pada : a.

Jenis suatu jenis barang dimungkinkan tidak ada dalam HS Dapat terkait dengan beberapa bab Mengklasifikasi barang seluruhnya harus tepat secara eksak Barang tidak dapat diklasifikasikan. Sebutkan 3 Sistem dalam mengklasifikasi barang yang pernah digunakan Pemerintahan Republik Indonesia. Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan singkat dan benar 1. sebelum HS ! 2. pernyataan a. d. c.Klasifikasi Barang barang. mengidentifikasi barang dengan mempelajari jenis dan spesifikasinya merumuskan identitas atau deskripsi barang tersebut melihat Buku Tarif klasifikasinya d. harus mengacu kepada perkembangan terakhir besarnya penetapan Bea Masuk c. 4. b dan c benar Bea Masuk Indonesia dan menentukan Dalam pengamatan sementara untuk mengklasifikasi barang. Jelaskan apa yang dimaksud dengan konvensi HS ? Mengapa kita memilih suatu system seperti HS dalam menentukan klasifikasi barang ? 4. b.. Sebutkan tujuan Harmonized System ? Apakah besarnya tarif bea masuk Indonesia secara hukum sesuai seperti apa yang tertulis dalam BTBMI tersebut ? DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 32 .. maka sebutkan pernyataan dibawah ini yang tidak benar a. selalu berubah pernyataan a.. Prosedur tersebut secara umum ialah . 5. karena uraian jenis barangnya tidak ada dalam BTBMI 5.. b dan c benar C. c... b. Pencantuman besarnya Bea Masuk pada Buku tarif Bea Masuk Indonesia : a. a... hanyalah sementara (mengikuti surat Keputusan Menteri Keuangan RI) b. 3. d.

.... Hitunglah jumlah jawaban Anda yang benar atau sejauh mana Anda menguasai mata pelajaran tersebut.. Untuk kelompok C : Apabila benar seluruhnya nilai menjadi 100 DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 33 . Umpan Balik dan Tindak Lanjut Bandingkanlah hasil jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif yang ada di belakang modul ini.5...... Kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap terhadap materi kegiatan belajar Rumus Tingkat Penguasaan Untuk kelompok A dan B : Jumlah Jawaban yang benar dibagi 10 kemudian dikali 100 % = ..Klasifikasi Barang 1.

100 % * 80 % * 70 % * 89 % 79 % 69 % = Baik sekali = Baik = Cukup = Kurang Kalau Anda mencapai tingkat penguasaan 80% keatas Anda dapat meneruskan kepada modul atau bagian pelajaran lain. terutama bagian yang belum Anda kuasai 2. Anda harus mengulangi membaca Modul kembali. Kegiatan Belajar (KB) 2 TEKNIK KLASIFIKASI BARANG Indikator Keberhasilan : Setelah mempelajari materi diharapkan siswa mampu menjelaskan 1. bila tingkat penguasaan Anda masih dibawah 80 %. Hasilnya Baik ! akan tetapi.Klasifikasi Barang Untuk nilai keseluruhan maka dibagi rata-rata dari (A+B) dan C Arti tingkat penguasaan : * 90 % . Nota Penelitian Klasifikasi Barang DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 34 . Tahapan dalam mengklasifikasi barang 3. Ketentuan umum untuk menginterpretasikan Harmonized System 2.

Seorang klasifikator harus memiliki kemampuan dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang karena akan menentukan ketepatan pengisian Pemberitahuan Impor Barang yang pada akhirnya menentukan ketepatan jumlah bea masuk dan pungutan impor lainnya yang harus dibayar. Uraian dan Contoh Seorang klasifikator dibidang kepabeanan harus dapat mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang dengan terampil. klasifikasi harus ditentukan menurut uraian yang terdapat dalam pos dan berbagai Catatan Bagian atau Bab yang berkaitan serta menurut ketentuan-ketentuan berikut ini.1. Setiap kali melakukan kegiatan klasifikasi barang. asalkan pos atau Catatan tersebut tidak menentukan lain. untuk tujuan hukum. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 35 . Bab dan Sub-bab hanya dimaksudkan untuk memudahkan referensi saja. A. Oleh karena itu. salah satu ketentuan dalam KUM HS harus dipergunakan. sadar atau tidak. KETENTUAN UMUM UNTUK MENGINTERPRETASI HARMONIZED SYSTEM 1) Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 1 Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System (KUM HS) merupakan pintu gerbang untuk memasuki klasifikasi barang. Mengingat begitu kompleksnya teknik klasifikasi barang. seorang klasifikator harus terlebih dahulu memahami pengetahuan barang dan pengetahuan mengenai klasifikasi barang. KUM HS mutlak diperlukan sebagai pedoman dasar yang tidak boleh ditinggalkan.Klasifikasi Barang 2. KUM HS 1 : Judul Bagian. Untuk itu. marilah kita pelajari satu-persatu enam butir KUM HS tersebut.

catatan bagian. 4. catatan bab. Uraian pada bab hanya untuk referensi saja.Klasifikasi Barang Penjelasan: HS adalah nomenklatur yang bersifat sistematik.02 hanya untuk produk tertentu. tidak mungkin semua jenis barang dapat dicakup dengan persis pada setiap bab.umur 2 tahun . Uraian pos dan catatan-catatan tersebut merupakan pertimbangan utama. Contohnya. Spesifikasi keledai : .dapat mendemontrasikan beberapa permainan dalam pertunjukan sirkus Pengklasifikasian apakah pada bab 1 atau bab 95 Perhatikan gambar keledai yang biasa digunakan untuk sirkus. sutera adalah produk hewani. Karena itu perlu diingat agar selalu mempertimbangkan semua bab atau pos yang mungkin mencakup suatu barang. tetapi karena sifatnya yang khusus dalam HS tidak diklasifikasikan pada bab 5 (produk hewani tidak dirinci atau termasuk dalam pos lainnya). Batasan ini tidak boleh diperluas dengan menggunakan KUM HS 2(b). Yang mempunyai kekuatan hukum adalah pos (heading). 3. Contohnya.jenis keledai . tidak mempunyai kekuatan hukum. tetapi diklasifikasikan khusus pada bab 50. Namun mengingat banyaknya jenis barang. dan catatan sub-pos. dalam hal KUM HS 1 tidak bisa digunakan barulah digunakan KUM HS 2. catatan 2 Bab 31 menjelaskan pos 31. dan 5. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 36 . Apabila pos dan catatan-catatan tersebut tidak menentukan lain.

Penjelasan: Barang tidak lengkap atau tidak rampung dianggap sebagai barang lengkap atau rampung. Referensi ini harus dianggap juga meliputi refensi untuk barang tersebut dalam keadaan lengkap atau rampung (atau yang berdasarkan ketentuan ini dapat digolongkan sebagai lengkap atau rampung) yang diajukan dalam keadaan belum dirakit atau terbongkar. asalkan pada saat diimpor sudah mempunyai sifat utama sebagai barang lengkap atau rampung Sebagai contoh beberapa set sepeda yang diimpor dalam keadaan terurai. asalkan pada saat diajukan. Namun tetap dianggap set sepeda karena sifat utamanya sebagai sepeda telah dimiliki. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 37 . dan tiap setnya tidak ada sadel dan ban dalamnya.Klasifikasi Barang Bagaimana pengklasifikasiannya bila keledai tersebut diimpor oleh grup sirkus dari jerman ? 2) Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 2a dan 2 b KUM HS 2 a : Setiap referensi untuk suatu barang dalam suatu pos harus dianggap meliputi juga referensi barang tersebut dalam keadaan tidak lengkap atau belum rampung. barang yang tidak lengkap atau belum rampung tersebut memiliki karakter utama dari barang itu dalam keadaan lengkap atau rampung.

Ada alat perubah kecepatan . Ingat. Barang yang terdiri lebih dari satu jenis bahan atau zat harus diklasifikasikan sesuai prinsip dari Ketentuan 3.tidak diemulsi atau dicampur.. Bagaimana pengklasifikasiannya bila sepeda tersebut : a) tidak dicat .). pos 15.b) tidak ada sadelnya c) dalam keadaan terurai KUM HS 2 b : Setiap referensi untuk suatu bahan atau zat dalam pos. ketentuan ini hanya berlaku apabila pos atau catatan bagian atau catatan bab tidak menentukan lain. maka pengklasifikasiannya tetap sebagai susu. . Mengapa demikian ? karena sifat sebagai susunya tidak berubah.Klasifikasi Barang Spesifikasi : ... harus dianggap juga meliputi referensi untuk campuran atau kombinasi dari bahan atau zat itu dengan bahan atau zat lain.bisa dikendarai oleh orang tua maupun anakanak : Perhatikan gambar sepeda diatas.03 (-lard oil.Sepeda merk :”Bamby” . Penjelasan: Campuran atau kombinasi dua atau lebih bahan atau zat diklasifikasikan berdasarkan KUM HS 1. karena uraian posnya sudah menyebutkan bahwa produk dalam pos tersebut tidak dicampur. Sebagai contoh suatu susu yang telah ditambah sedikit vitamin. Setiap referensi untuk barang dari bahan atau zat tertentu harus dianggap juga meliputi referensi untuk barang yang sebagian atau seluruhnya terdiri dari bahan atau zat tersebut.. maka KUM HS DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 38 .memiliki laher dalam as ban . Contoh.

KUM HS 3 baru dipergunakan DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 39 . Bagaimana pengklasifikasian tutup botol tersebut. apakah pada bab 45 atau bab 39 Perhatikan sumbat botol diatas. KUM HS 2(b) tidak dapat digunakan (harus digunakan KUM HS 3). barang yang dengan pertimbangan awal dapat diklasifikasikan dalam dua pos atau lebih. b dan c KUM HS 3 : Apabila dengan menerapkan Ketentuan 2 (b) atau untuk berbgaia alasan lain.bagian luarnya dilapisi plastik. Spesifikasi tutup botol : .Klasifikasi Barang 2(b) tidak berlaku. KUM HS 3(b). baru kemudian KUM HS 3(c). maka klasifikasiannya harus diberlakukan sebagai berikut : Penjelasan: KUM HS 3 hanya dipergunakan bila KUM HS 2 tidak bisa dipergunakan. bagaimana bila sumbat botol bagian atas dilapis plastik ? 3) Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 3a. Penggunaan KUM HS 3 harus urut dari KUM HS 3(a). Apabila tambahan atau campuran bahan atau zat menghilangkan sifat barang seperti diuraikan pada pos.Terbuat dari gabus . Sekali lagi diingatkan.

Pos yang menyebutkan barang yang disebutkan secara rinci lebih diutamakan dari pos yang menyebutkan bagian suatu barang. bukan pada pos 85.08. catatan bagian. Saringan oli walau sebagai bagian dari mesin pada pos 8409. KUM HS 3 a : Pos yang memberikan uraian yang paling spesifik.atau hanya merujuk kepada bagian dari bahan atau zat terkandung dalam campuran atau barang komposisi atau hanya merujuk kepada bagian dari barang dalam set yang disiapkan untuk penjualan eceran. maka KUM HS 3(a) tidak DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 40 .03. atau bagian dari item dalam satu set barang untuk penjualan eceran. harus diklasifikasikan pada pos terdahulu awal (berarti bertentangan dengan KUM HS 3c ). apabila dua pos atau lebih yang masing-masing pos hanya merujuk kepada bagian dari bahan atau zat yang terkandung dalam barang campuran atau barang komposisi. walaupun salah satu dari pos tersebut memberikan uraian yang lebih lengkap atau lebih tepat. Dalam hal ini KUM HS 3(c) tidak berlaku. Contoh shavers/hair clippers diklasifikasikan pada pos 85. Contoh. atau catatan bab tidak menentukan lain.10.06. Namun demikian.01 sampai dengan 97.Klasifikasi Barang apabila uraian pos. maka pos-pos tersebut harus dianggap setara sepanjang berkaitan dengan barang tersebut. namun pos 8421 uraian barangnya lebih rinci. harus lebih diutamakan dari pos yang memberikan uraian yang lebih umum. Contoh.09 (self-contained motor). tufted textile for motor cars diklasifikasikan pada pos 57. bukan pada pos 87. Apabila dua atau lebih pos menguraikan hanya bagian dari bahan atau zat yang terkandung dalam suatu barang campuran atau komposit. Pos yang menyebutkan nama barang lebih diutamakan dari pos yang menyebutkan kelompok barang. catatan 4(b) bab 97 menentukan bahwa barang yang dirinci pada pos 97.05 dan juga dirinci pada pos 97. Penjelasan: Pos dengan uraian lebih spesifik lebih diutamakan dari pos dengan uraian yang lebih umum.

Yang dimaksud dengan karakter utama (Essential character) pada KUM HS ini mengacu pada bahan atau komponen. KUM HS 3 b : Barang campuran dan barang komposisi yang terdiri dari bahan yang berbeda atau yang dibuat dari komponen yang berbeda.10). dan bila KUM HS 3(a) tidak bisa digunakan. Yang dimaksud dengan barang dikemas dalam bentuk set untuk penjualan eceran yaitu: • • • Paling sedikit dua produk yang berbeda pos (sembilan sendok bukan set). Beberapa produk/barang bersama-sama untuk keperluan/kegiatan tertentu. barang komposit yang terdiri dari bahan yang berbeda. sisir DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 41 . serta barang yang disiapkan dalam set untuk penjualan eceran.Klasifikasi Barang berlaku dan digunakan KUM HS 3(b) atau 3(c). KUM HS 3(b) berlaku juga untuk komponen yang terpisah. berat atau nilai. sepanjang kriteria ini dapat diterapkan. meskipun salah satu pos lebih rinci dari pos lainnya. harus diklasifikasikan berdasarkan bahan atau komponen yang memberikan karakter utama barang tersebut. rak bumbu dengan beberapa botol tempat bumbu kosong. Contoh set: hairdressing set yang terdiri dari electric hair clipper (85. ready-toeat-meal). kemasan. Contoh. dan bersama-sama membentuk barang jadi yang secara normal tidak diperdagangkan terpisah. barang komposit yang terdiri dari komponen yang berbeda. yang tidak dapat diklasifikasikan berdasarkan referensi 3 (a). dan barang yang dikemas dalam bentuk set untuk penjualan eceran. Penjelasan: KUM HS 3(b) hanya berlaku untuk campuran. asalkan satu sama lain adapted to the other. dan bahan utama yang berkaitan dengan penggunaan barang. jumlah. mutually complementary. Bisa langsung dijual tanpa perlu dibungkus/dikemas kembali (contoh.

dikemas dalam tas kulit (42.Klasifikasi Barang (96. Bagaimana Saudara mengklasifikasi bila dalam keadaan mentah atau dalam bungkusan ? KUM HS 3 c: Apabila barang tidak dapat diklasifikasikan berdasarkan referensi 3 (a) atau 3(b). bawang dan cabe Perhatikan mie instan yang sudah mask diatas.14 dan pos DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 42 . Contohnya.10 (berdasarkan komponen yang memberikan sifat utama). Tahukah Saudara ketika belum dimasak yang bungkusannya terdiri dari : mie.15).13). saus.Supermi instan bungkus . minuman). barang diklasifikasikan pada pos terakhir.03). Penjelasan: Bila KUM HS 3(a) dan 3(b) tidak dapat digunakan. dalam proporsi tertentu untuk keperluan industri (contoh.Mengandung mie. bumbudan bahan lainnya.02). saus. Spesifikasi Mie :Instan : .merk :”Mi Enak” . sikat (96. dan handuk dari tekstil (63.02) diklasifikasikan pada pos 85. kecap. suatu bingkai berbentuk bujur sangkar yang 2 sisi terbuat dari kayu dan dua sisi lainnya terbuat dari logam. maka barang tersebut harus diklasifikasikan dalam pos tarif terakhir berdasarkan urutan penomorannya di antara pos tarif yang mempunyai pertimbangan yang setara. bumbu. gunting (82. KUM HS 3(b) tidak berlaku untuk barang yang terdiri dari beberapa bagian yang dikemas terpisah (baik kemasan yang biasa digunakan maupun tidak). Bingkai ini ditinjau dari bahan baku memiliki bahan yang sama dan seimbang antara pos 44.

namun karena menurut KUM HS 3c. maka bingkai tersebut harus diklasifikasikan pada pos terakhir. Berdasarkan KUM HS 4.memiliki kekuatan sama pada lapisan karet dan plastikas ban Perhatikan vanbelt ini.06. yaitu pos 83. b) Ketentuan ini mengenai barang-barang yang tidak dapat diklasifikasikan ke dalam salah satu pos dalam HS.Klasifikasi Barang 83. Penjelasan: a) KUM HS 4 baru digunakan apabila KUM HS 1 sampai dengan KUM HS 3 tidak dapat digunakan. sifatnya. tujuannya). klasifikasi berdasarkan barang yang sifatnya paling sesuai (misalnya uraian barangnya. harus diklasifikasikan ke dalam pos yang sesuai untuk barang yang paling menyerupai. Spesifikasi barang : . bagaimana pengklasifikasiannya bila terbuat dari bahan plastik dan karet yang sama tebalnya ? 4) Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 4 KUM HS 4: Barang yang tidak dapat diklasifikasikan berdasarkan referensi diatas.mengandung bahan plastik dan karet yang sama tebal . Ketentuan ini menetapkan bahwa barang-barang tersebut harus digolongkan kedalam pos atas barang DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 43 .Van belt merk : :”Ando” . karena tidak ada uraian yang sesuai (misalnya yang baru muncul di pasaran dunia).06.

cocok untuk penggunaan jangka panjang dan diajukan bersama barangnya. koper senapan. tas instrumen gambar. dan sebagainya. barang yang akan diklasifikasikan harus diperbandingkan dengan uraian barang dalam beberapa pos HS yang memiliki kesamaan jenis atau karakternya. tas instrumen musik. 5) Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 5 KUM HS 5 : Sebagai tambahan dari aturan di atas. sebelum memutuskan menggunakan KUM HS 4. c) Pada waktu menerapkan ketentuan No. Hal tersebut dilakukan untuk meneliti pada pos mana yang memiliki unsur kesamaan terbanyak. penggunaan. Ketentuan berikut ini harus diberlakukan terhadap barang tersebut di bawah ini : Tas kamera. KUM HS 4 baru digunakan apabila benar-benar tidak ada lagi data atau informasi yang dapat diperoleh untuk mengidentifikasi barang dimaksud. Penjelasan: KUM HS 5(a) berlaku untuk Peti (cases). dan tempat semacam itu yang: DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 44 . harus diklasifikasikan menurut barangnya. apabila kemasan tersebut memang biasa dijual dengan barang tersebut.4. kotak kalung dan kemasan semacam itu. Perlu diingatkan. internet. d) Persamaan dapat tergantung dari beberapa faktor seperti nama. Namun demikian. kotak (boxes). sifat. data teknis. Untuk itu. seperti literatur. dan seterusnya.Klasifikasi Barang yang memiliki persamaan terbanyak. sangat disarankan untuk mencari lebih dulu informasi tentang barang dimaksud dari berbagai sumber yang ada. dibentuk secara khusus atau pas untuk menyimpan barang atau perangkat barang tertentu. ketentuan ini tidak berlaku untuk kemasan yang memberikan seluruh karakter utamanya.

tempat teleskop. apabila bahan atau kemasan pembungkus tersebut memang biasa untuk membungkus barang tersebut.merk :”Refly” . bahan pembungkus dan kemasan pembungkus yang diajukan bersama dengan barangnya harus diklasifikasikan menurut barangnya. digunakan untuk jangka waktu lama. pembungkus/tempat simpan diklasifikasikan DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 45 . Contoh: tempat perhiasan.gitar dengan kemasannya . Bagaimana Saudara mengklasifikasiguitar beserta kemasan diatas ? KUM HS 5 b : Berdasarkan aturan dari ketentuan nomor 5 (a) di atas.Terbuat dari karet yang dilapisi tekstil tebal Perhatikan gambar guitar dan kemasannya diatas. Spesifikasi barang : . Namun demikian ketentuan ini tidak mengikat apabila bahan atau kemasan pembungkus tersebut secara nyata cocok untuk dipakai berulangulang. dan sebagainya. tempat senjata. dimasukkan bersama barangnya (bila dimasukkan terpisah diklasifikasikan pada pos tersendiri). tempat alat musik. biasa dijual bersama dengan barangnya. tidak memberikan sifat utama. Penjelasan: Mengacu pada KUM HS 5(a).Klasifikasi Barang • • • • • khusus dibuat untuk barang tertentu.

Ketentuan ini tidak berlaku untuk tempat simpan yang nilainya jauh lebih tinggi dari barang yang disimpan di dalamnya. Tempat semacam itu harus Sebagai contoh. tempat teh dari perak dan tempat diklasifikasikan tersendiri permen dari porselin berdekorasi China Spesifikasi barang : .merk :”Reflon” . contohnya gas yang diimpor bersama pengemasnya (tabung gas di bawah tekanan).Klasifikasi Barang dengan barangnya bila biasa dipakai untuk barang tersebut. sedangkan pengemasnya diklasifikasikan pada pos tarif tabung gas. dengan DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 46 . maka gasnya diklasifikasikan pada pos tarif gas. Ketentuan ini tidak berlaku untuk pembungkus/tempat simpan yang digunakan berulang-ulang (repetitive use).tabung gas berisi gas .Terbuat baja tahan karat Bagaimana pengklasifikasian suatu gas beserta tabungnya yang dapat diisi ulang ? Tabung gas LPG dengan isinya LPG pada pos berapa dalam Harmonized System ? 6) Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 6 KUM HS 6 : Untuk tujuan hukum klasifikasi barang dalam sub pos dari suatu pos harus ditentukan berdasarkan uraian dari subpos tersebut dan catatan subpos bersangkutan. serta ketentuan ini di atas dengan penyesuaian seperlunya.

B. Perhatikan penjelasan-penjelasan dalam catatan Bagian maupun catatan Bab yang berkaitan dengan barang yang akan kita klasifikasi.11 dan 7110. Kita ulangi proses pengklasifikasian pada butir 3. KUM HS 6 berlaku sepanjang konteksnya tidak menentukan lain. Dengan mengetahui spesifikasi barang. Kecuali apabila konteksnya menentukan lain. Apabila ada catatan yang mengeluarkan barang tersebut dari Bab atau Bagian yang kita pilih. catatan bagian. Pilih bab atau bab-bab yang berkaitan dengan spesifikasi barang tersebut. misalnya barang tersebut produk pertanian. Platinum pada catatan 4(b) Bab 71 tidak sama dengan Platinum pada catatan subpos 2 (khusus untuk sub-pos 7110. Penjelasan: KUM HS 1 sampai dengan KUM HS 5 berlaku mutatis mutandis (secara langsung) untuk subsub pos pada satu pos yang sama (perbandingan pada takik yang sama). barang kimia. Artinya. 2. catatan bab. TAHAPAN MENGKLASIFIKASI BARANG Secara lebih rinci. Contohnya. atau catatan subpos harus tetap menjadi pertimbangan utama. Kita identifikasi dulu barang yang akan kita klasifikasi. perhatikan pada Bagian. atau pos mana barang tersebut diklasifikasikan.19). baca dan perhatikan baik-baik catatan Bagian dan catatan Bab yang berkaitan dengan pilihan bab atau bab-bab pada butir 1. biasanya kita sudah mempunyai gambaran umum apakah barang tersebut diklasifikasikan di bab tersebut atau DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 47 . Bab. Baca dan cermati catatan Bagian atau Bab (atau catatan Sub-pos dalam hal tertentu) yang ditunjuk oleh penjelasan pada butir 3. kita bisa memilih bab-bab yang lebih spesifik. untuk keperluan ketentuan ini diberlakukan juga catatan Bagian dan catatan Bab. 4. Bila sudah kita tentukan.Klasifikasi Barang pengertian bahwa hanya subpos yang setara yang dapat diperbandingkan. langkah-langkah berikut ini dapat digunakan untuk mengklasifikasi barang: 1. atau mesin. Pada tahap ini. 3.

Sampai tahap ini sebenarnya kita sedang menggunakan KUM HS 1. Dalam hal KUM HS 1 tidak bisa diterapkan karena informasi atau data spesifikasi barang kurang lengkap. Jangan terburu-buru menggunakan KUM HS 2 sebelum kita benar-benar yakin KUM HS 1 tidak dapat digunakan. perbandingan dimaksud tidak berdasarkan pembebanan impornya!. maka yang harus dikerjakan adalah mencari informasi atau data tersebut lebih dulu. Dalam hal menggunakan KUM HS 3 (b). kita baru dapat menggunakan KUM HS 2 apabila KUM HS 1 benar-benasr tidak dapat digunakan.Klasifikasi Barang di bab lainnya. sub-sub pos. dalam penentuan sub-pos dan pos tarif pun kadang timbul permasalahan klasifikasi yang sama dengan penentuan pos (4-digit). nilai (value). dalam mengklasifikasi. Ingat. dan bentuk fisik (appearance). 5. 6. perlu diperhatikan bahwa yang dimaksud dengan sifat utama (essential character) meliputi berbagai aspek. maka kita mulai menelusuri pos-pos yang mungkin mencakup barang yang akan kita klasifikasikan dalam bab tersebut. kita mulai menggunakan KUM HS 2. sub-sub pos. Dalam membandingkan pos-pos. atau pospos tarif yang setara (perhatikan takiknya). atau pos-pos tarif. Cara untuk meyakinkan bahwa KUM HS 1 gugur adalah dengan berusaha membuktikan bahwa hanya ada satu pos yang sesuai untuk barang tersebut. Ingat. Pada tahap ini kadang-kadang kita sudah dapat menemukan pos yang mencakup barang tersebut dengan rinci. harus selalu diingat bahwa yang dibandingkan adalah pos-pos . maka langkah selanjutnya tinggal menentukan sub-pos (6-digit) dan pos tarif (9-digit) yang sesuai. Beberapa aspek yang dapat digunakan sebagai dasar penentuan sifat utama adalah fungsi/kegunaan. Apabila sepintas lalu ada beberapa pos yang sesuai dengan spesifikasi barang. Apabila sudah dipilih satu pos tarif yang benar-benar sesuai dengan uraian DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 48 . Bila sudah kita temukan satu pos yang tepat. 8. Ingat. 7. Usahakan paling tidak selalu mempertimbangkan ketiga aspek tersebut sebelum menentukan sifat utama suatu barang campuran. Setelah menemukan satu bab yang paling sesuai berdasarkan kajian di atas.

Namun dalam diktat ini pembuatan nota penelitian klasifikasi barang tersebut diarahkan untuk mengikuti ketentuanketentuan dasar mengklasifikasi barang sesuai HS/BTBMI. jangan lupa selalu menggunakan pembebanan yang up to date berdasarkan ketentuan yang terbaru. Dalam diktat ini disajikan cara membuat uraian rinci klasifikasi barang tersebut. Selanjutnya DJBC akan 2) Nota Penelitian Klasifikasi Barang Pada bagian akhir diktat ini disajikan juga contoh soal klasifikasi barang menggunakan nota penelitian klasifikasi barang. Karena pembebanan tersebut sering berubah. PPnBM. NOTA PENELITIAN KLASIFIKASI BARANG 1) Pengantar Berkaitan dengan klasifikasi barang. Dalam mempertahankan pendapatnya. meneliti dan menetapkan klasifikasi barang tersebut. Dalam mekanisme ini tidak jarang timbul perbedaan pendapat mengenai klasifikasi barang antara importir/PPJK dan aparat DJBC.Klasifikasi Barang barang. aparat DJBC diharuskan membuat uraian rinci yang menjelaskan dasar klasifikasi barang dimaksud. klasifikasi. Soal tersebut dapat dijawab dengan menggunakan contoh nota penelitian di bawah ini: DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 49 . langkah selanjutnya adalah melihat pembebanannya (BM. C. setidaknya ada dua fihak yang berkepentingan yaitu aparat DJBC dan importir/PPJK. Pertamina. dan lainlain. dan pembebanan impornya. IP. Sebagaimana selama ini telah berjalan. bisa singkat atau memerlukan uraian yang cukup panjang tergantung pada permasalahan yang dihadapi.). atau cukai) dan ada atau tidak peraturan tata niaganya (IT. Kerangka nota penelitian klasifikasi barang sebenarnya tidak baku. PPN. dalam rangka pengimporan importir/PPJK memberitahukan sendiri jenis barang. Untuk memudahkan. uraian rinci klasifikasi barang dimaksud kita sebut saja Nota Penelitian Klasifikasi Barang.

Contoh 2.Klasifikasi Barang Contoh 1. (Contoh ini umumnya diterapkan pada penelitian klasifikasi di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai): DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 50 .

Bahan tersebut telah terdaftar dalam Farmakope Indonesia Alasan Klasifikasi : .Arang kayu masuk Bab 44.Subpos 3004.Produk farmasi .Klasifikasi Barang 3) Praktek Pembuatan Nota Penelitian Klasifikasi Barang 1.. Obat dalam dosis tertentu.Menurut catatan 1 (d) Bab 44 tidak meliputi arang aktif masuk pos 3802 .Pos 3004. .Bab 30. Nama dan Jenis barang : Norit mengandung arang aktif dari arang kayu dalam bentuk tablet 5 gram dipergunakan untuk mengatasi keracunan atau perut kembung.90 Lain-lain DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 51 .Bab 38 catatan 1 (d) tidak meliputi barang untuk obat …masuk Bab 30 Uraian klasifikasi : .. .

.00 BM ….diolah selain dari bab 2 dan 3 masuk Bab 16…” .PPN … % PPh %.10.90.Olahan dari ikan masuk Bab 16. lihat cat 1 “.10.Pos 3305 preparat digunakan pada rambut. shampo Pos 3305.Klasifikasi Barang .Pos tarif 3004...90. .10 shampo .Makanan olahan masuk Bagian IV . % .00 Lain-lain Kesimpulan : Norit diklasifikasikan pada pos tarif 3004.kosmetika… . .99.PPN … % P 3.90 Lain-lain .00.Lihat Bab 16 catatan 2 “Bab 16 meliputi olahan daging lebih dari 20 % makanan mengandung DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 52 ..Subpos 3305. Nama dan Jenis barang : Shampo merk : KAO dalam tube 100 ml mengandung obat anti ketombe dan anti jamur atau kerontokan rambut Alasan Klasifikasi : .99.Bila mengandung obat Bab 30 Lihat Bab 30 catatan 1(d) :Bab ini tidak meliputi pos 3303-3307 walau mengandung obat Uraian klasifikasi : .Subpos 3004..00 BM ….90. 2. Nama dan Jenis barang : Sosis daging sapi yang dimasak Alasan Klasifikasi : .Shampo termasuk kosmetik Bab 33.Pos tarif 3305.shampo Kesimpulan : Shampo mengandung obat anti kerontokan diklasifikasikan pada pos tarif 3305.90.Bab 33.90. % .

..12.Pos 1601 .Barang dari logam tidak mulia masuk Bagian XV. pos 3208 meliputi bahan yang mengandung bahan pelarut mudah menguap lebih dari 50 % . Alasan Klasifikasi : ..Lihat catatan 4 bab 32 . % ..Bahan cat termasuk produk kimia bagian VI.pelarut kurang dr 50 % ke pos 3907.00…mengandung daging sapi Kesimpulan : Sosis daging sapi tersebut diklasifikasikan pada pos tarif 1601.50..10.Subpos 1601.Pos 3907 poliester (alkid resin) ..polimer .PPN … % PPh %. Uraian klasifikasi : .00 BM ….50. cat masuk bab 32 .10.sosis .12.Pos tarif 3907.00.5 cm digunakan untuk penarik mobil derek Alasan Klasifikasi : .Bab 16 . Nama dan Jenis barang : Bahan untuk membuat cat besi mengandung bahan alkyd resin (poliester resin) 55 %.Subpos 3907.50 alkid (poliester) dari poliester ... % PPN … % PPh %..00.00 BM ….00 cair Kesimpulan : Bahan cat tersebut diklasifikasikan pada pos tarif 3907. sosis .Klasifikasi Barang Uraian klasifikasi : .Pos tarif 1601..10. 4.Bab 39.Olahan dari daging . Nama dan Jenis barang : Kawat pilinan dari baja terdiri dari 5 buah yang dipilin tidak diisolasi ukuran diameter 2. 5. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 53 ... bahan pelarut yang mudah manguap 28 % dan bahan lainnya 13%.00.

10.. Uraian klasifikasi : .%.Pos 8708 bagian untuk kendaraan bermotor.Lihat Bagian XV catatan 2 “kawat dipilin masuk bagian untuk pemakaian umum pos 7312 ….barang dari baja .91. radiator .10.Radiator bagian dari kendaraan bermotor berjalan bukan di rel.kawat .90 bagian dan aksesori lainnya …. 6.00 BM ….Mobil derek masuk bab 87 .00 ukuran 25 mm Kesimpulan : Kawat tersebut diklasifikasikan pada pos tarif 7312.30.Lihat Bagian XVII catatan 2(B) bagian untuk pemakaian umum tidak boleh masuk Bab 87 .Bab 73.Subpos 7312. Nama dan Jenis barang : Bagian dari kendaraan bermotor berupa : Radiator untuk mobil bus mini untuk pengangkutan 15 orang dengan mesin diesel dalam keadaan CKD masa total 10 ton Alasan Klasifikasi : .Pos 7312 .Kendaraan yang bergerak selain diatas Kendaraan Bab 87 .90.Pos tarif 8708.Pos tarif 7312. Bagiannya masuk pos 8708.91.Klasifikasi Barang .90.Sub pos 8708. kawat dipilin .Bab 87 Kendaraan yang bergerak selain diatas rel … . DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 54 .Sub pos 8708..Barang dari logam tidak mulia masuk Bab 73. (walau bagian untuk mobil derek) Uraian klasifikasi : .% PPN …% PPh….10. .00 untuk bus mini Kesimpulan : rel… masuk Bagian XVII.. .

Dalam mengklasifikasi barang gantungan kunci yang terdiri dari ring baja. harus menggunakan KUM HS nomor berapa ? 2. Saat ini KUM HS hanya terdiri dari nomor 1 sampai dengan nomor 6. Mengapa dalam mengklasifikasi barang tidak hanya menyebutkan 9 digitnya atau kesimpulannya saja ? 2. Pedoman tersebut adalah Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System (KUM HS) merupakan ketentuan untuk memasuki klasifikasi barang. nomor 7 sampai 10 dihilangkan dan DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 55 . Bagaimana tahapan dalam mengklasifikasi barang agar menghasilkan pos tarif yang akurat ? 6. Nota penelitian klasifikasi barang seyogyanya memuat hal-hal apa saja ? 9.00 BM …. Dalam mengklasifikasi barang dalam BTBMI diperlukan suatu pedoman. 2.PPN … % PPh %. diperlukan data mengenai barangnya ? Sebutkan contoh kasus ! 5. rantai baja dan hiasan dari plastik. Latihan 2 1. Sebutkan contoh barang yang dalam mengklasifikasinya menerapkan KUM HS nomor 3a (selain yang telah disebutkan contoh diatas) 3.30.91. Mengapa sebelum mengklasifikasi barang.3. Bagaimana menurut pendapat Saudara mengenai penggunaan KUM HS nomor 4 dalam prakteknya ? 4. Rangkuman 1. Dahulu sampai dengan 10.Klasifikasi Barang Radiaotor tersebut diklasifikasikan pada pos tarif 8708.2. Sebutkab tahapan dalam membuat nota penelitian klasifikasi barang ? 8. % . Mengapa dalam mengklsifikasi barang harus memperhatiakan bagian dan bab serta catatan bagian dan catatan babnya yang terkait dengan barang tersebut ? 7.

4. agar menghasilkan keputusan yang tepat sesuai aturan yang benar. 1. uraian klasifikasi dan kesimpulan. Pada umumnya hsil penelitian dituangkan dalam suatu format yang berisikan komponen : nama dan jenis barang. namun dilapangan nama barang berdasarkan hasil pemeriksaan. Dalam membuat nota penelitian klasifikasi barang ada yang sederhana dengan hanya menggunakan BTBMI. Bab dan Sub-bab pada Buku tarif Bea Masuk DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 56 . 3.Klasifikasi Barang beberapa diantaranya menjadi surat keputusan Dirjen Bea dan Cukai 2. Pada prinsipnya meliputi identifikasi barang.S ) Judul Bagian. Berdasarkan pertimbangan tersebut baru ditentukan pos tarif yang tepat. Lingkarilah huruf B apabila pernyataan ini Saudara anggap benar dan huruf S apabila pernyataan Saudara anggap salah. ( B . mendeskripsikan jenis barang. Dalam proses mengklasifikasi barang diperlukan tahapan yang sesuai. ditambah informasi barang dari brosur. hasil analisa laboratorium atau sumber informasi lainnya 2. demikian juga hasil penelitian klasifikasi barang harus disajikan dalam bentuk format yang benar. Proses dalam mengklasifikasi barang harus seuai dengan aturan. Test Formatif 2 A. kemudian melihat uraian barang dalam BTBMI sesuai dengan yang akan diklasifikasi. bab dan catatan yang berkaitan dengan barang yang akan diklasifikasi. Pengamatan uraian barang dalam BTBMI dengan melihat bagaian. alas an klasifikasi.

Namun demikian nota tersebut setidak-tidaknya memuat tentang : a. harus diklasifikasikan dengan barang tersebut jika biasa dijual dengan barang itu 5. peti instrumen dan tempat simpan yang semacam. Dalam membuat Nota Penelitian Klasifikasi Barang maka diperlukan kerangka yang singkat atau memerlukan uraian yang cukup panjang tergantung pada permasalahan yang dihadapi. ( B . alasan atau catatan yang digunakan c. Tidak mengikat secara hukum dalam mengklasifikasi 2.S ) Pernyataan 5b pada KUM HS adalah Peti kamera.Klasifikasi Barang Indonesia hanya dimaksudkan untuk memudahkan penyebutan saja. ( B . ( B .S ) Sebelum mengklasifikasi barang. cocok untuk pemakaian jangka panjang dan diimpor lengkap dengan isinya.S) Pernyataan 3a pada KUM HS adalah Pos yang memuat uraian yang paling terinci harus lebih diutamakan daripada pos yang memuat uraian yang lebih umum sifatnya 4. dengan bentuk atau kelengkapan khusus untuk menyimpan barang tertentu atau seperangkat barang tertentu. Uraian klasifikasi mulai 2 digit sampai dengan 9 digit DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 57 . Pililihlah jawaban yang Saudara anggap benar dengan cara melingkari huruf yang terdapat di depan jawaban tersebut 1. ( B . asalkan pada saat diimpor sudah mempunyai sifat utama sebagai barang lengkap atau rampung 3. sebaiknya kita identifikasi dulu barang yang akan kita klasifikasi.S ) Pernyataan 2b pada KUM HS adalah Barang tidak lengkap atau tidak rampung dianggap sebagai barang lengkap atau rampung. Dengan mengetahui spesifikasi barang maka akan lebih mendekati keakuratan dalam mengklasifikasi barang B. nama barang dan uraian jenis barang b.

5a 3. namun diklasifikasikan pada bab 22 dikarenakan KUM HS nomor : a. 2b b. Walalupun etil alkohol merupakan bahan kimia organik. bumbu. Jawablah dengan benar dan lengkap 1. 2a c. 5a d. 3b b. 3a c. diklasifikasikan sebagai mie pada bab 19.Klasifikasi Barang d. 3b d. ilustrasi d. 2b d. 1 b. pernyataan a. Mengapa olahan makanan yang terbuat dari daging sapi yang dikukus tidak diklasifikasikan pada bab 2 DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 58 . 5b C. saos dan bawang. pengertian 4. 3a 5. 3c c. berdasarkan KUM HS nomor : a. Larutan dengan kandungan asam cuka (acetic acid) lebih dari 10 % dikeluarkan dari bab 22 berdasarkan catatan : a. b dan c benar 2. Definitif b. Tabung gas LPG yang berisi gas LPG tidak dapat diklasifikasikan menjadi stu pos tarif karena ketentuan menurut KUM HS nomor : a. esklusif c. Suatu kemasan mengandung mie.

Sebutkan alasannya 5. dari serat disisir dengan nomor benang 150 decitex.Ketentuan dan catatan apa yang digunakan dalam mengklasifikasi barang tersebut 2. 3.5. Mengapa tutup kepala (topi) pengaman untuk pengendara sepeda motor yang terbuat dari bahan plastik tidak diklasifikasikan pada bab 39 ? 4.32 . Automatic voltage regulator yang digunakan sebagai stabilizer otomatis untuk komputer harus diklasifikasikan pada pos 85. Benang tenun terbuat dari campuran 70 % kapas (cotton) dan 30 % nilon. Mengapa sabun mandi mengandung obat pembasmi kuman walaupun mengandung obat tidak diklasifikasikan pada bab 30 sebagai produk farmasi. merupakan benang tunggal. tidak dikelantang dan tidak dimerserisasi. UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT Bandingkanlah hasil jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif yang ada DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 59 .04 atau 90.Klasifikasi Barang 2.

Klasifikasi Barang di belakang modul ini..... Kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap terhadap materi kegiatan belajar Rumus Tingkat Penguasaan Jumlah Jawaban Anda yang benar dibagi 15 kemudian dikali 100 % = .. Arti tingkat penguasaan : * 90 % ... Kegiatan Belajar (KB) 3 DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 60 .. terutama bagian yang belum Anda kuasai 3. bila tingkat penguasaan Anda masih dibawah 80 %..100 % * 80 % * 70 % * 89 % 79 % 69 % = Baik sekali = Baik = Cukup = Kurang Kalau Anda mencapai tingkat penguasaan 80% keatas Anda dapat meneruskan kepada modul atau bagian pelajaran lain. Hitunglah jumlah jawaban Anda yang benar atau sejauh mana Anda menguasai mata pelajaran tersebut. Anda harus mengulangi membaca Modul kembali... Hasilnya Baik ! akan tetapi.

yaitu: DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 61 . Seorang klasifikator harus memiliki kemampuan dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang karena akan menentukan ketepatan pengisian Pemberitahuan Impor Barang (PIB) yang pada akhirnya menentukan ketepatan jumlah bea masuk dan pungutan impor lainnya yang harus dibayar. Jenis catatan pada BTBMI 2. dan Catatan Sub-pos.Klasifikasi Barang CATATAN PENTING DALAM BUKU TARIF BEA MASUK INDONESIA (BTBMI) Indikator Keberhasilan : Setelah mempelajari materi diharapkan siswa mampu menjelaskan: 1. HS mempunyai Catatan Bagian. catatan-catatan dalam HS merupakan bagian integral yang harus diperhatikan benar-benar. A. Oleh karena itu. Catatan-catatan tersebut mempunyai kekuatan hukum sama seperti uraian pos atau sub-pos. Struktur pengelompokkan barang 3. seorang klasifikator harus terlebih dahulu memahami pengetahuan barang dan pengetahuan mengenai klasifikasi barang. JENIS CATATAN PADA BTBMI Disamping KUM HS. Catatan-catatan tersebut dapat dibagi berdasarkan jenisnya. Catatan penting dalam BTBMI 3. Uraian dan Contoh Untuk menjadi menjadi seorang klasifikator dibidang kepabeanan yang handal harus dapat mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang dengan terampil. Catatan Bab.1.

kandung kemih atau perut dari binatang (pos No. 05.Klasifikasi Barang 1) Catatan Definitif Catatan yang menjelaskan pengklasifikasian suatu barang pada pos atau sekumpulan pos tertentu. … … … … Preparat kontrasepsi kimia dengan bahan dasar hormon atau pembunuh sperma. Hemostatik bedah atau gigi steril yang dapat menyerap.09 (Bab 15). 02. 05. (b) (c) (d) (e) (f) (g) (h) Laminaria steril dan laminaria steril yang dapat menggembung. atau 02.04 hanya berlaku untuk hal berikut ini. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 62 . atau (c) Lemak hewani. bahan jahit bedah steril yang semacam itu dan perekat kertas steril untuk penutup luka bedah. selain produk dari pos No.02).04) atau darah binatang (pos No.08. 02. (b) Usus. 2) Catatan Eksklusif Catatan yang mengeluarkan barang tertentu dari suatu pos atau sub-pos dan memasukkannya dalam pos atau sub-pos tertentu lainnya.11 atau 30. Contoh: Catatan 4 Bab 30: Pos no. 30.01 sampai dengan 02. yang harus diklasifikasikan dalam pos tersebut dan tidak dalam pos lainnya dari Nomenklatur ini: (a) Catgut bedah steril. Contoh: Catatan 1 Bab 2: Bab ini tidak meliputi: (a) Produk dari jenis yang diuraikan dalam pos No. yang tidak layak atau tidak sesuai untuk konsumsi manusia.10.

09.10. tali penahan celana. tetapi tidak termasuk arloji tangan (pos no.Klasifikasi Barang 3) Catatan Ilustratif Catatan yang memberikan gambaran terhadap pengertian atau istilah yang perlu dijabarkan lebih lanjut. ii. 42. apron dan pakaian pelindung lainnya.13). yang menguraikan pengertian-pengertian yang bersifat Catatan 2 Bab 3: Dalam Bab ini pengertian “pellet” adalah produk-produk yang telah diaglomerasi baik secara langsung dengan cara dikompresi atau dengan penambahan sejumlah kecil bahan pengikat. 09. untuk sarung tangan (termasuk sarung tangan olah raga). istilah “barang pakaian dan perlengkapan pakaian” berlaku. Catatan 1 Bab 9: Campuran dari produk dimaksud dalam pos no. tali sandang dan semua jenis gelang. (b) Campuran dua produk atau lebih dari pos yang berlainan harus digolongkan dalam pos no. 4) Catatan Lain-lain Catatan teknis.10 harus diklasifikasikan sebagai berikut: (a) Campuran dua produk atau lebih dari pos yang sama harus digolongkan dalam pos itu.04 sampai DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 63 . Tambahan dari bahan lainnya ke dalam produk dari pos no. Contoh : Catatan 3 Bab 42: Untuk keperluan pos no. 91. antara lain.Contoh: i. ikat pinggang. 09.03.04 sampai dengan 09.

Untuk beberapa hal cara seperti ini mungkin berhasil namun labih banyak risiko kegagalannya. termasuk KUM HS. (b) Pegas dan lembaran untuk pegas.15.. 83.10 (atau campuran seperti yang dimaksud dalam (a) atau (b) di atas) tidak mempengaruhi penggolongannya asalkan…. 73.08. 73. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 64 . 73. Catatan 2 Bagian XV: Dalam seluruh Nomenklatur. Dengan memperhatikan ketentuan dalam ayat di atas dan Catatan 1 Bab 83.17 atau 73. sub-pos. 83. Membaca dengan teliti dan memahami catatan-catatan di atas. 83. 91. dan pos tarif yang berkaitan dengan barang yang akan diklasifikasikan merupakan syarat mutlak yang harus dilakukan agar klasifikasi yang dilakukan benar-benar akurat.01. 83.02.18 dan barang semacam itu dari logam tidak mulia lainnya. Mengklasifikasi barang tidak dapat dilakukan dengan hanya sekedar mencari satu pos tertentu saja. 83.15) apa yang disebut bagian dari barang tidaklah termasuk uraian tentang bagian untuk pemakaian umum seperti diuraikan di atas. dari logam tidak mulia. Explanatory Notes.06. Tatacara mengklasifikasi harus diikuti dengan urut agar benar-benar diperoleh hasil yang akurat.Klasifikasi Barang dengan 09. 73.14).12. dan (c) Barang dari pos no. Dalam Bab 73 sampai dengan 76 dan 78 sampai dengan 82 (tetapi bukan dalam pos no. iii. istilah “bagian untuk pemakaian umum” berarti: (a) Barang dari pos no.10 dan bingkai serta kaca dari logam tidak mulia. barang dari Bab 82 atau 83 tidak termasuk dari Bab 72 sampai dengan 76 Bab 78 sampai dengan 81.07. dan uraian pada pos. 73. dari pos no. selain pegas untuk lonceng atau arloji (pos no.

madu. kulit. dan barang jadi (finished products). Urutan pengelompokan ini juga berlaku untuk bab dan pos. barang dikelompokkan dalam 96 bab (dan bab 77 sebagai persiapan masa mendatang) yang dikelompokkan dalam 21 bagian. ikan. Namun beberapa jenis minyak dan lemak dikeluarkan dari bagian I dan diklasifikasikan pada bab 15. bulu dan barang terbuat daripadanya (diklasifikasikan pada bagian VIII). sepatu dari kulit binatang pada Bab 64. telur. Di bawah ini disajikan urutan pengelompokan barang dalam HS/BTBMI: Bagian I mencakup binatang hidup dan produk dari binatang (daging. dan produk yang tidak dapat dimakan). Bagian II DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 65 . Sebagai contoh. barang setengah jadi (semi-finished products). jangat dan kulit binatang pada Bab 41. bahan yang tidak/belum dikerjakan (unworked products). demikian juga halnya dengan jangat. Bab 1 sampai dengan bab 24 (Bagian I sampai dengan Bagian IV) mencakup produk-produk pertanian dalam arti luas. yaitu bahan baku (raw material). produk susu. Pengelompokan tersebut berdasarkan urutan tingkat pengerjaannya. produk yang dapat dimakan lainnya. binatang hidup diklasifikasikan pada Bab 1.Klasifikasi Barang B. Struktur Pengelompokan Barang Pada BTBMI 1) Gambaran Per Bagian Dalam Harmonized System (HS).

Berbagai jenis gula yang murni secara kimiawi diklasifikasikan pada Bab 29.Klasifikasi Barang mencakup produk sayuran. Bagian IV mencakup produk minuman.). Terhadap produk yang telah mengalami proses lebih lanjut diklasifikasikan pada bab 19. Bab 16 meliputi daging atau ikan yang telah mengalami proses lebih lanjut. cuka. bersama-sama dengan produk industri makanan yang tidak dicakup bab-bab sebelumnya. seperti saccharin dan dulcin. tepung. dsb. produk makanan siap saji yang diawetkan diklasifikasikan pada Bagian IV. kecuali beberapa jenis minyak dan lemak tertentu (bab 15) dan kayu (bab 44). baik yang bisa dimakan atau tidak (tanaman. sayuran. diantaranya digoreng. Demikian juga bahan pemanis tiruan masuk Bab 29. dikukus atau diawetkan secara permanen. Bab 17 meliputi gula dan bahan lainnya seperti sirop. Minyak pada Bab II baik dalam keadaan mentah. Contohnya. Umumnya minyak tidak menguap. biji-bijian. sereal. bab 20 atau bab 21.dan tembakau. karena minyak nabati yang mudah menguap masuk Bab 33 sebagai minyak atsiri. HUBUNGAN BAGIAN I DAN II DENGAN BAGIAN IV BAGIAN I & II BAGIAN IV *BAB 2 (DAGING) BAB 3 (IKAN) *BAB 16 DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 66 DIPROSES LEBIH LANJUT . madu tiruan dan karamel. Produk-produk yang termasuk bagian I dan II belum mengalami proses pengerjaan kecuali sampai tahap tertentu (dengan beberapa pengecualian). minuman keras. buah. misalnya minyak goreng atau margarine yang siap dikonsumsi. telah diproses. Bagian III hanya terdiri dari bab 15 yang mencakup lemak dan minyak hewani dan nabati dan produk terbuat daripadanya (misalnya malam/wax).

baik sumber mineral anorganik seperti tanah. hasil gilingan atau saringan. hasil tumbuk. maka produk barang-barang tersebut semakin bervariasi dan bertambah jenisnya. Karena DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 67 . cat. baik yang berbentuk asal (primary form) maupun produk-produk industri kimia seperti produk farmasi. dan lain-lain. pupuk. Batu-batuan setengah permata atau batu permata digolongkan pada Bab 71. bahan peledak. Bagian VI Mencakup produk-produk kimia. dan minyak bumi. belerang dan batuan lainnya hanya dalam keadaan mentah (crude). misalnya dimurnikan sebagai bahan kimia anorganik masuk Bab 28.GANDUMAN) *BAB 19 BAB 11 (PRODUK-GILINGAN) *BAB 7 (SAYURAN) BAB 8 (BUAH-BUAHAN) BAB 11 (PRODUK GILINGAN. Bagian VII Mencakup plastik dan produk dari plastik (bab 39) dan karet dan produk dari karet (bab 40). hancur. kosmetik. maka Bab tambang. sabun. Hasil pertambangan yang telah diolah secara lain. telah dicuci. seperti 25 meliputi produk garam. Sesuai dengan kemajuan teknologi. karet buatan serta barang dari plastik dan karet buatan banyak diimpor Indonesia. dan sumber bahan organik pada Bab 27 seperti batu bara.Klasifikasi Barang *BAB 4 (SUSU) BAB 10 (GANDUM. sedangkan apabila merupakan hasil bentukan atau pahatan masuk Bab 68 dan kalau bahan tersebut merupakan hasil pembakaran maka masuk Bab 69. Komoditi plastik. batuan pada Bab 25 atau bijih logam pada Bab 26. KENTANG) *BAB 20 Bagian V Mencakup produk mineral. Kecuali kalau susunannya mensyaratkan lain.

kulit berbulu. maka pengenalan dan proses pengidentifikasi barang tersebut semakin sulit. Bagian VII Mencakup plastik/barang dari plastik serta karet/barang dari karet.01 dan 42..02 juga mencakup produk-produk tertentu terbuat bukan dari kulit. REJA. REJA : COUMPOND 3916-3921 : BARANG SETENGAH JADI 3922-3924 : BARANG JADI 4007-40016 : BARANG SETENGAH JADI 4017 : KARET KERAS Bagian VIII Mencakup produk-produk tertentu yang berasal dari binatang seperti jangat dan kulit (bab 41). Perlu dicatat bahwa pos 42. barang dari kulit atau usus binatang (bab 42)..Klasifikasi Barang kemajuan teknologi pembuatan barang. khususnya dalam rangka klasifikasi barang.. Bagian ini terdiri dari 2 bab. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 68 . Struktur dalam Bab 39 secara garis besar adalah : BAB 39 PLASTIK DAN BARANG DARI PLASTIK BAB 40 KARET DAN BARANG DARI KARET SUB-BAB 1 3901-3911 : POLIMER BUATAN 3912-3913 : POLIMER ALAMI 3914 : PENUKAR ION 4001-4002 : BAHAN KARET 4003 4004 4005 SUB-BAB II 3915 : SISA. 4006 :TIDAK DIVULKANISASI : KARET PUGARAN : SISA. termasuk kulit berbulu imitasi (bab 43). yaitu bab 39 (Plastik dan Barang Dari Plastik) dan bab 40 (Karet dan Barang Dari Karet).

Melalui data nomor benang. 2. yaitu serat sintetik dan serat artificial (tiruan). dibuat dengan mesin tenun melalui cara menyilangkan kelompok benang satu terhadap yang lain. bulu unta. beberapa produk seperti furniture diklasifikasikan di bab lain (bab 94). Bagian XI Mencakup produk tekstil mulai dari sutera (bab 50) sampai dengan pakaian dan permadani (bab 63). dan produk industri percetakan (bab 49). flaks. Benang tersebut biasa disebut sebagai lusi dan pakan. Bahan dasar tekstil adalah serat. dan semacam itu. asetat sellulosa. mineral dan buatan manusia. Serat bila diproses akan menjadi benang. Serat buatan manusia atau man made fiber terbagi dua. poliurethan dan lainnya. benang pakan kalau dalam mesin rajut adalah yang bergerak menyilang benang lusi atau sesuai arah lebar kain. sedangkan serat tiruan digunakan dalam hubungan untuk bahan dari rayon viskosa. Untuk memahami ini lihat Catatan 1 Bab 54. yaitu pulp (bab 47). kertas.Klasifikasi Barang Bagian IX Mencakup produk yang berasal dari tumbuhan. poliester. Serat dari tumbuhan atau disebut serat nabati. bulu kambing Angora (Mohair) dan sutera. kemudian dari benang menjadi kain atau produk tekstil lainnya. hewani. Serat dapat berasal dari tumbuhan. rami. bulu kelinci. Bagian X Juga masih mencakup produk yang berasal dari tumbuhan. dan barang kerajinan tangan (bab 46). henneps. Ada dua sistem yang dipakai dalam penomoran benang. Kain rajut dibuat dengan jalan menjeratkan benang satu dengan yang lain atau pada DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 69 . Sistem penomoran benang langsung (Direct Yarn Number) Sistem penomoran benang tidak langsung (Indirect Yarn Number) Kain yang terbuat dari benang dengan cara tenun. gabus dan barang dari gabus (bab 45). yaitu : 1. goni dan sisal. misalnya serat kapas. Istilah sintetik digunakan dalam hubungan bahan polimer seperti poliamida. Serat buatan adalah serat hasil industri kimia. kertas karton dan barang terbuat daripadanya (bab 48). Serat yang berasal dari hewan misalnya bulu domba atau bulu anak domba. Namun. seperti kayu dan barang dari kayu (bab 44). bisa dilihat besar atau kecilnya suatu benang.

Bagian XIII Mencakup produk-produk yang diperoleh dari batu. peralatan permainan. dan alat transportasi lainnya (kereta api. Namun demikian bagian ini tidak mencakup barang dari logam dasar yang termasuk dalam bab-bab di belakangnya (seperti mesin dan kendaraan). DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 70 . pesawat terbang. dan peralatan listrik. T shirt dan kain katun (lihat Bab 60 tentang jenis kain ini). keramik (bab 69). dll. pesawat ruang angkasa. dan bangunan prefabrikasi (bab 94). jam (bab 91). semen. sinematografi. ukuran. dan bermacam-macam barang hasil pabrik (bab 96). perhiasan. perlengkapan penerangan. dll. plaster. Bagian XIX Hanya terdiri dari bab 93 yang mencakup senjata dan amunisi. juga produk-produk tertentu dari bulu. Bagian XVII Mencakup kendaraan. Bagian XVI Mencakup mesin. dll. Bagian XX Mencakup furniture. (bab 66). dan barang dari rambut manusia (bab 67). (bab 68). fotografi. medis. tutup kepala (bab 65). Bagian XVIII Mencakup perlatan optik. kontrol. dan peralatan olahraga (bab 95). dan kaca/barang dari kaca (bab 70). gips. kapal laut.). contohnya kaos. lampu. payung. logam mulia. Bagian XV Mencakup logam tidak mulia dan barang terbuat daripadanya.Klasifikasi Barang benang itu sendiri. peralatan mekanik. dan perlatan musik (bab 92). dan uang logam. Bagian ini mempunyai pos dan sub-pos yang sangat besar dibandingkan dengan bagian lainnya. Bagian XII Mencakup produk alas kaki (bab 64). mainan. bunga buatan. atau bedah (bab 90). papan nama iluminasi. Bagian XIV Mencakup hanya bab 71 yaitu mencakup mutiara dan batu mulia. tongkat jalan.

melainkan pada bab 95 (pos 95. Sebagai contoh.Klasifikasi Barang Bagian XXI Hanya terdiri dari bab 97 yang mencakup hasil karya seni. diasap dan dipanggang. Namun kuda hidup yang digunakan dalam sirkus tidak klasifikasikan pada bab 1.08). barang kegemaran kaum pengumpul. Produk yang dikemas dalam kedap udara dan mengalami pengolahan lebih jauh selain pengolahan dari Bab 2 maka diklasifikasikan pada bab 16. dingin. akan kita dapati bahwa terdapat keterkaitan antara bab tertentu dengan bab atau beberapa bab lainnya. • Bab 6 meliputi semua tanaman hidup yang umumnya dimaksud untuk dijual oleh tukang bibit atau yang bergerak dibidang hortikultura yang serasi untuk ditanam atau dijadikan pajangan. Perlu diingat bahwa judul bab bukan merupakan uraian yang bersifat mengikat secara hukum. Tetapi apabila kembang gula tersebut mengandung kokoa. Pada Bab 6 tidak termasuk benih. di bawah ini disajikan gambaran keterkaitan antar bab dalam HS: • Bab 1 mencakup antara lain binatang hidup. judul bab dalam HS sebagian besar bersifat umum. Sayuran atau buah yang diawetkan dengan cuka atau dengan cara lain misalnya masuk Bab 20. dan barang antik. Selain itu. • Daging pada Bab 2 hanya terhadap pengolahan terbatas seperti : segar. Dengan demikian dapat dimengerti apabila suatu barang yang sepintas termasuk dalam suatu bab ternyata diklasifikasikan pada bab lain. • Kembang gula (sugar confectionery) diklasifikasikan pada bab 17. 2) Hubungan Antar Bab Apabila kita mempelajari Bab demi Bab Harmonized System. Hal ini dapat difahami mengingat antara bab satu dengan bab lainnya kadang-kadang mencakup barang yang mengandung bahan yang sama atau merupakan proses lebih lanjut dari barang dalam bab sebelumnya. buah atau buah berbonggol dan umbi-umbian tertentu. maka harus DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 71 .

barang tersebut diklasifikasikan di bab-bab lain. Sebagai contoh.Klasifikasi Barang diklasifikasikan olahan makanan mengandung kokoa pada bab 18 (pos 18.19 (wood dryer). Namun demikian. dan beberapa mesin lainnya. PRODUK HEWANI DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai BAB 72 . Untuk itu membaca catatan bab maupun catatan bagian merupakan kewajiban sebelum kita mengklasifikasikan suatu barang pada pos tertentu. furniture dari plastik (bab 94). beberapa mesin dan peralatan tertentu tetap diklasifikasikan pada bab 84 meskipun elektrik. • Bahan kimia etilena diklasifikasikan pada Bab 29 (bahan kimia organik). Namun apabila etilene terpolimerisasi menjadi polietilena dengan jumlah unit monomer (n) 5 atau lebih. kotak jam dari plastik (bab 91). Barang dari plastik diklasifikasikan pada Bab 39.06). Bila sudah berbentuk barang yang khusus dibuat untuk keperluan tertentu. Adalah tidak mungkin untuk menggambarkan dengan rinci keterkaitan antas bab dalam diktat ini. mesin pada pos 84. frame kacamata dari plastik (bab 90). Untuk mengetahui keterkaitan antara bab satu dengan bab lainnya. dan sebagainya. 3) Bab Pada BTBMI BAGIAN I BINATANG HIDUP. maka harus diklasifikasikan pada Bab 39 (plastik).03 (electric central heating boiler) dan pos 84. seperti mesin dengan motor listrik. kita dapat melihat di catatan bab maupun catatan bagian. Contoh-contoh di atas adalah sebagian kecil contoh keterkaitan antar bab dalam HS. • Mesin dan peralatan mekanis diklasifikasikan pada bab 84 sedangkan mesin dan peralatan listrik diklasifikasikan pada bab 85.

Buah & buah berbatok yang dapat dimakan. tidak dirinci atau termasuk dalam pos lain. Pohon hidup dan tanaman lainnya. getah. Binatang hidup 2. Produk hewani. gluten gandum. Bahan nabati untuk anyam-anyaman. produk nabati tidak dirinci DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai pos lainnya 73 atau termasuk . Ikan dan udang-udangan. produk hewani yang dapat dimakan. umbi akar dan yang semacam itu. kulit dari buah jeruk dan melon 9. pati. Produk industri penggilingan . biji dan buah.Klasifikasi Barang 1. bermacam-macam butir. tidak dirinci atau termasuk dalam pos lainnya 5. Sayuran. jerami dan makanan ternak. Produk pabrik susu. akar dan bonggol tertentu yang dapat dimakan 8. tanaman industri atau obat . telur unggas. Gandum-ganduman 11. Kopi. damar dan air. 12. malti . Biji mengandung minyak dan buah mengandung minyak . mate dan rempah-rempah 10. bunga potong dan daun untuk hiasan 7. binatang lunak dan binatang air lainnya yang tidak bertulang belakang 4. inulin . madu alam. BAGIAN II PRODUK NABATI BAB 6. ekstrak nabati lainnya 14. 13. Daging & sisanya yang dapat dimakan 3. Lak. teh.

DTSD Bermacam-macam olahan DTSD Kepabeanan dan Cukai yang dapat dimakan 21. MINUMAN.Klasifikasi Barang BAGIAN III MINYAK DAN LEMAK HEWANI ATAU NABATI DAN PRODUK DISOSIASINYA. . MINUMAN KERAS DAN CUKA. Olahan dari daging. Olahan dari sayuran. 74 22. Tembakau dan tembakau pengganti buatan. Kakao & olahan kakao 19. Minuman. binatang lunak atau dari binatang air yang tidak bertulang belakang 17. produk industri kue. Ampas. LEMAK OLAHAN YANG DAPAT DIMAKAN. MALAM HEWANI ATAU NABATI BAB 15. minuman keras dan cuka 23. pati atau susu. tepung. 20. dan sisa dari industri makanan. TEMBAKAU DAN TEMBA KAU PENGGANTI BUATAN BAB 16. buah. dari ikan atau dari udang-udangan. kacang atau bagian lain dari tanaman. Gula dan kembang gula 18. Olahan dari gandum-ganduman. (Judul Bab sama dengan Bagian) BAGIAN IV BAHAN MAKANAN OLAHAN. olahan makanan hewan 24.

preparat pencuci. Produk farmasi 31. senyawa organik atau organik dari logam mulia. Bahan kimia organik 30. Bijih logam.Klasifikasi Barang BAGIAN V PRODUK MINERAL BAB 25. bahan mengandung bitumen. bahan samak dan 75 turunannya. belerang. pigmen dan bahan pewarna lainnya. minyak mineral dan produk sulingannya. preparat . Ekstrak bahan samak DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai atau bahan celup. dari unsur radio aktif dan dari isotop 29. kosmetika atau preparat pewangi 34. tanah dan batu. Garam. Sabun bahan organik penggiat permukaan. wangi-wangian. 26. kapur dan semen. Pupuk 32. cat dan vernis. malam mineral BAGIAN VI PRODUK INDUSTRI KIMIA DAN INDUSTRI YANG ADA HUBUNGANNYA DENGAN INDUSTRI KIMIA BAB 28. Bahan kimia anorganik. tinta 33. bahan plester. dari logam tanah langka. terak dan abu 27. Minyak atsiri dan resinoida. dempul dan damar lainnya. bahan celup. Bahan bakar mineral.

Klasifikasi Barang

BAGIAN

VII

PLASTIK DAN BARANG DARI PLASTIK; KARET DAN BARANG DARI KARET

BAB 39. 40.
Plastik dan Barang dari plastik Kulit dan Barang dari Kulit

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 76

Klasifikasi Barang

BAGIAN

VIII

JANGAT DAN KULIT MENTAH, KULIT SAMAK, KULIT BERBULU DAN BARANGNYA; PELANA TERMASUK PERLENGKAPANNYA DAN PAKAINAN KUDA; BARANG UNTUK BERPERGIAN, TAS TANGAN DAN TEMPAT SIMPAN SEMACAMNYA; BARANG DARI USUS (LAIN DARI USUS ULAT SUTERA)

BAB
41. 42. 43.

Jangat dan kulit mentah (lain dari kulit berbulu) dan kulit samak

Barang dari kulit samak; pelana termasuk perlengkapan dan pakaian kuda; barang untuk bepergian, tas tangan dan wadah yang semacam itu; barang dari usus hewan (lain dari pada usus ulat sutera) Kulit berbulu dan kulit berbulu tiruan

BAGIAN

IX

KAYU DAN BARANG DARI KAYU; ARANG KAYU; GABUS DAN BARANG DARI GABUS; BARANG DARI JERAMI, RUMPUT ESPARTO ATAU DARI BAHAN ANYAMAN LAINNYA; KERANJANG DAN BARANG ANYAMAN

BAB 44. Kayu dan barang dari kayu; arang kayu 45. Gabus dan barang dari DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai gabus 77 46. Barang dari jerami, dari rumput esparto atau dari bahan anyaman
lainnya; keranjang dan barang anyaman

Klasifikasi Barang

BAGIAN

X

PULP DARI KAYU ATAU DARI BAHAN SELLULOSA BERSERAT LAINNYA; KERTAS ATAU KERTAS KARTON (BEKAS DAN SISA) YANG DIPEROLEH KEMBALI; KERTAS DAN KERTAS KARTON DAN BARANGNYA

BAB
47.
Pulp dari kayu atau dari bahan sellulosa berserat lainnya, kertas atau kertas karton (bekas dan sisa) yang diperoleh

48. Kertas dan kertas karton; barang dari pulp kertas, dari kertas atau kertas
karton

49. Barang cetakan, surat kabar, gambar dan produk lainnya dari industri
percetakan; naskah tulisan tangan, naskah ketikan dan rencana

BAGIAN

XI

TEKSTIL DAN BARANG TEKSTIL

BAB

50. Sutera 51. Wool, bulu hewan halus DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai
78

atau kasar; benang bulu kuda dan kain tenunan

56. Gumpalan, kain kempa dan bukan tenunan; benang khsusu; benang pintal, tali tambang dan kabel dan barangbarangnya 57. 58.
Permadani dan tekstil penutup lantai lainnya Kain tenunan khusus; kain tekstil berjumbai; renda; permadani; hiasan;

52. Kapas

53. Serat tekstil dari nabati
lainnya ; benang kertas dan

setelan. BULU UNGGAS. OLAHAN DAN BARANGNYA. barang dari rambut manusia . TONGKAT JALAN.Klasifikasi Barang 61. payung panas. tidak dirajut atau dikait 63. TUTUP KEPALA. tongkat jalan. PAYUNG PANAS. tongkat duduk. Bulu unggas dan bulu unggas olahan serta barang terbuat dari bulu unggas atau bullu unggas tiruan. CAMBUK. PAYUNG. pecut dan 67. Payung. Barang dan perlengkapan pakaian. BUNGA TIRUAN. PECUT DAN BAGIANNYA. pakaian bekas dan barang tekstil bekas. Tutup kepala dan bagiannya 79 bagiannya semacam dari barang 66. rajutan atau kaitan 62. Barang dan perlengkapan pakaian. gombal BAGIAN XII ALAS KAKI. Barang tekstil sudah jadi lainnya. Alas kaki. bunga tiruan. pelindung kaki dan yang semacam itu . BARANG DARI RAMBUT MANUSIA BAB 64. cambuk. bagian DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 65. TONGKAT DUDUK.

KACA DAN BARANG DARI KACA BAB 68. gips. LOGAM MULIA KERAJANG DAN BARANGNYA.Klasifikasi Barang BAGIAN XIII BARANG DARI BATU. LOGAM MULIA. PRODUK KERAMIK. semen. Barang dari batu. Kaca dan barang dari kaca BAGIAN XIV MUTIARA ALAM DAN MUTIARA BUDIDAYA. mika atau bahan semacam itu 69. ASBES. Produk keramik 70. MIKA ATAU DARI BAHAN SEMACAM ITU. BATU PERMATA ATAU SEMI PERMATA. asbes. GIPS. PERHIASAN IMITASI. SEMEN. MATA UANG LOGAM BAB DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 80 .

Perkakas. barangnya 76. barang tajam. PERLENGKAPAN LISTRIK. Tembaga dan barang terbuat dari 79. nikel sermet. Nikel dan barang terbuat dari 81. Logam tidak mulia lainnya.sendok dan garpu. peralatan. PESAWAT PEREKAM ATAU REPRODUKSI SUARA DAN GAMBAR UNTUK TELEVISI.bagian bagiannya dari logam tidak mulia 83. DAN BAGIAN SERTA PERLENGKAPAN DARI BARANG YANG SEMACAM ITU BAB DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 81 . Bermacam-macam barang dari logam tidak mulia BAGIAN XVI MESIN DAN PESAWAT MEKANIK.Klasifikasi Barang 71. (Judul Bab sama dengan Bagian) BAGIAN XV LOGAM TIDAK MULIA DAN BARANG DARI LOGAM TIDAK MULIA BAB 72. Besi dan baja 78. Aluminium dan barang terbuat dari aluminium 82. Timah hitam dan barang terbuat dari timah hitam 73. Timah dan barang terbuat dari tembaga timah 75. Seng dan barang terbuat dari seng 80. BAGIANNYA PESAWAT PEREKAM DAN PESAWAT REPRODUKSI SUARA. dari logam tidak mulia. Barang dari besi dan baja 74.

mesin dan pesawat mekanik. Kapal udara. serta bagiannya 89. ketel uap. UKUR. pesawat ruang angkasa. INSTRUMEN MUSIK. KEDOKTERAN DAN BEDAH. PESAWAT TERBANG. PENELITI. dan bagian serta perlengkapannya 88. Mesin dan alat listrik serta bagiannya. POTOGRAFI.Klasifikasi Barang 84. pesawat perekam dan pesawat reproduksi suara. PRESISI. pesawat perekam dan reproduksi gambar dan suara untuk televisi. dan bagian serta perlengkapan dari barang yang semacam itu BAGIAN XVII KENDARAAN. bagiannya 85. KENDARAAN AIR DAN PERLENG KAPAN PENGANGKUTAN YANG BERKAITAN BAB 86. alat pemasang dan perlengkapan rel kereta api atau trem dan bagiannya. perlengkapan isyarat lalu lintas mekanik dari segala jenis (termasuk elektronik) 87. Kendaraan selain yang begerak diatas rel kereta api atau trem. BAGIAN XVIII ALAT DAN APARAT OPTIK. BAGIAN DAN PERLENGKAPANNYA DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 82 BAB . LONCENG DAN ARLOJI. kendaran yang bergerak diatas rel dan bagiannya. SINEMATOGRAFI. Reaktor nuklir. Lokomotif kereta api atau trem.

presisi. Lonceng dan arloji dan bagiannya 92. Alat dan aparat optik. peneliti. kedokteran dan bedah. Instrumen musik . ukur. sinematografi. (Judul Bab sama dengan Bagian) BAGIAN XX BERMACAM-MACAM BARANG HASIL PABRIK DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 83 BAB . fotografi. bagian dan perlengkapannya 91.Klasifikasi Barang 90. bagian dan perlengkapan dari barang seperti itu BAGIAN XIX SENJATA DAN AMUNISI. BAGIAN DAN KELENGKAPANNYA BAB 93.

kasur tempat tidur. bangunan prefabrikasi 95. Perabot rumah. keperluan permainan dan keperluan olah raga. Mainan. isyarat iluminasi. (Judul Bab sama dengan Bagian) C. BARANG KEGEMARAN KAUM PENGUMPUL DAN BARANG ANTIK BAGIAN BAB 97.Klasifikasi Barang 94. lapik kasur. Bermacam-macam barang hasil pabrik lain XXI HASIL KARYA SENI. catatan-catatan dalam HS merupakan bagian integral yang DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 84 . lampu dan perlengkapan penerangan. bagian dan kelengkapannya 96. tidak dirinci atau termasuk dalam pos manapun. Catatan Penting Pada BTBMI Disamping KUM HS. bantal dan kelengkapannya. kasur. papan nama iluminasi dan semacam itu.

02. 07. Ketentuan ini tidak berlaku untuk produk diisi dari pos 19. 2) Bagian II Bab 16 Catatan 2 2.Olahan makanan digolongkan dalam Bab ini asalkan mengandung sosis. cendawan tanah. atau (c) Obat-obatan dan produk lain dari Bab 30. terong. jagung manis (Zea mays var. daging. diklasifikasikan dalam pos pada Bab 16 yang sesuai dengan komponen atau komponen-komponen yang mendominasi menurut beratnya. daging.04. buah zaitun. dan Catatan Sub-pos.Bab ini tidak meliputi : (a) Kecuali dalam hal produk diisi dari pos 19. Catatan-catatan tersebut mempunyai kekuatan hukum sama seperti uraian pos atau sub-pos. 07.Dalam pos 07. lebih dari 20% menurut beratnya (Bab 16). Catatan Bab. Catatan-catatan penting tersebut adalah : 1) Bagian II Bab 7 Catatan 2 2. moluska atau invertebrata air lainnya. labu kuning.02 atau olahan dari pos 21. adas pedas. (b) Biskuit atau barang lain yang dibuat dari tepung atau dari pati. kaper.10. darah.Klasifikasi Barang harus diperhatikan benar-benar. saccharata). 4) Bagian IV DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 85 . parsley. chervil.. cress dan marjoram manis (Majorana hortensis atau Origanum majorana) yang dapat dimakan. tarragon. olahan makanan mengandung sosis.03 atau 21. Dalam hal apabila olahan mengandung dua atau lebih produk yang disebut di atas. lebih dari 20% menurut beratnya. labu sumsum. sisa daging.. darah.12 kata "sayuran" meliputi jamur.09. HS mempunyai Catatan Bagian. atau berbagai kombinasinya. diolah secara khusus untuk makanan hewan (pos 23. ikan atau krustasea.09). sisa daging. buah dari genus Capsicum atau dari genus Pimenta..11 dan 07. atau berbagai kombinasinya. 3) Bagian IV Bab 19 Cacatan 1 1. moluska atau invertebrata air lainnya. ikan atau krustasea.

harus diklasifikasikan dalam pos yang sesuai dengan produk tersebut. dan (c) pada saat diajukan. pengawet atau keperluan lain. dihomogenisasi secara halus.10 harus dipertimbangkan lebih dahulu daripada subpos lain dari pos 20. Olahan ini dapat mengandung sejumlah kecil buah yang dapat dilihat. disiapkan untuk penjualan eceran sebagai makanan bayi atau untuk keperluan diet. asalkan unsur tersebut : (a) berdasarkan penyiapannya jelas dapat dikenal untuk digunakan bersamasama tanpa dibungkus ulang sebelumnya.. istilah "olahan homogen" berarti olahan buah. Untuk penerapan definisi ini tidak memperhitungkan sejumlah kecil berbagai bahan yang ditambahkan pada olahan tersebut sebagai penyedap.10.. baik berdasarkan sifat atau perbandingan relatifnya. 5) Bagian VI Bagian VI catatan 3 3.Untuk keperluan subpos 2007.Barang yang disiapkan dalam set yang terdiri dari dua atau lebih unsur yang terpisah. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 86 . dapat dikenali sebagai unsur yang saling melengkapi satu sama lain.Klasifikasi Barang Bab 20 catatan subpos 2 2. (b) diajukan bersama. Subpos 2007.07. beberapa atau seluruhnya yang digolongkan dalam Bagian ini dan dimaksudkan untuk dicampur bersama untuk memperoleh produk dari Bagian VI atau VII. dalam kemasan dengan berat bersih tidak melebihi 250 g.

. seperti perentang. Untuk keperluan Bab ini. Namun demikian. Untuk keperluan pengujian ini. maka kopolimer atau campuran polimer harus diklasifikasikan dalam pos terakhir berdasarkan urutan penomoran di antara pos yang mempunyai pertimbangan yang setara.. panjangnya akan kembali menjadi tidak lebih dari satu setengah kali panjang aslinya. produk kopoliadisi. yang pada suhu antara 18 C dan 29 C tidak akan putus bila di rentang hingga tiga kali panjang aslinya. dan setelah direntang hingga dua kali panjang aslinya selama lima menit. block copolymer dan graft copolymer) dan campuran polimer harus diklasifikasikan dalam pos yang mencakup polimer dari unit komonomer tersebut yang beratnya mendominasi berat unit komonomer tunggal lainnya. Untuk keperluan Catatan ini. dapat ditambahkan zat yang diperlukan untuk ikatan silang. keberadaan zat yang dimaksud oleh Catatan 5 (b) (ii) dan (iii) juga diperkenankan. Dalam hal tidak terdapat unit komonomer tunggal yang mendominasi.Dalam Catatan 1 Bab ini dan dalam pos 40.. 87 peliat dan pengisi.02. seperti pengaktif dan akselerator vulkanisasi. istilah "karet sintetik" berlaku untuk : (a) Zat sintetik tidak jenuh yang dapat diubah dengan tidak kembali ke sifat semula melalui vulkanisasi menggunakan belerang menjadi zat non termoplastik. tidak diperkenankan.Istilah "kopolimer" meliputi semua polimer yang unit monomer tunggalnya tidak ada yang beratnya 95% atau lebih menurut berat total kandungan polimer tersebut. kecuali apabila konteksnya menentukan lain.Klasifikasi Barang 6) Bagian VII Bab 39 catatan 4 4. 7) Bagian VII Bab 40 catatan 4 (a) 4. kopolimer (termasuk kopolikondensasi. keberadaan berbagai zat DTSD DTSD Kepabeanantidak Cukai yang dan diperlukan untuk ikatan silang. bagian unit komonomer dari polimer yang termasuk dalam pos yang sama harus digolongkan bersama.

dan DTSD Barang dari pos 83. untuk pengklasifikasian kain tenunan.06. (b) Pegas dan lembaran untuk pegas. dan kemudian pos yang tepat dalam Bab tersebut.10 dan bingkai serta cermin (c) 88 dari logam tidak mulia.15. Dalam Nomenklatur ini.. 73. dari pos 83.02 dan dari campuran dua bahan tekstil atau lebih harus diklasifikasikan seolah-olah seluruhnya terdiri dari satu bahan tekstil yang beratnya mendominasi berat setiap bahan tekstil lainnya. 83. pertama. istilah "bagian untuk pemakaian umum" berarti: (a) Barang dari pos 73.Klasifikasi Barang 8) Bagian XI Bagian XI catatan 2 (A-B) 2.(A) Barang yang dapat diklasifikasikan dalam Bab 50 sampai dengan 55 atau dalam pos 58.17 atau 73.12. selain pegas jam atau arloji (pos 91. (B) Untuk keperluan ketentuan di atas : (a) Benang lilit dari bulu kuda (pos 51. 73.01. maka Bab 54 dan 55 harus diperlakukan sebagai Bab tunggal. benang berlogam harus dianggap sebagai bahan tekstil. dengan menentukan Babnya.08. maka bahan tersebut harus diperlakukan sebagai bahan 9) Bagian XV Bagian XV catatan 2 2. . barang tersebut harus diklasifikasikan seolah-olah seluruhnya terdiri dari satu bahan tekstil yang termasuk dalam pos terakhir berdasarkan urutan penomoran di antara pos-pos dengan pertimbangan yang setara.15) referensi untuk bagian barang tidak meliputi referensi untuk bagian pemakaian umum sebagaimana dirinci di atas. DTSD Kepabeanan dan Cukai 83.09 atau 59.18 dan barang semacam itu dari logam tidak mulia lainnya. (b) Pilihan pos yang sesuai harus dilakukan.07. (d) Apabila Bab atau pos merujuk pada barang dari bahan tekstil yang berbeda . tanpa memperhatikan berbagai bahan yang tidak diklasifikasikan dalam Bab tersebut.14). 73. Dalam Bab 73 sampai dengan 76 dan Bab 78 sampai dengan 82 (tetapi tidak dalam pos 73. 83.10) dan benang berlogam (pos 56. (c) Apabila Bab 54 dan 55 berkaitan dengan berbagai Bab lainnya.05) harus diperlakukan sebagai bahan tekstil tunggal yang beratnya dianggap seperti berat keseluruhan komponennya.02. Apabila tidak satupun bahan tekstil yang mendominasi menurut beratnya. dari logam tidak mulia.

Untuk keperluan Catatan ini. perlengkapan.Apabila mesin (termasuk kombinasi mesin) terdiri dari komponen tersendiri (terpisah atau saling dihubungkan dengan pipa. dengan kabel listrik atau dengan peralatan lainnya) yang dimaksudkan untuk digunakan bersama untuk melakukan fungsi tertentu secara jelas. istilah " mesin " berarti berbagai mesin. 11) Bagian XVI Bab 84 catatan 5 5. (iii) Mengerjakan perhitungan aritmatika yang ditentukan oleh pemakai... dan.. melaksanakan program pengolahan yang memerlukan modifikasi pelaksanaannya. harus diklasifikasikan seolah-olah terdiri hanya dari komponen tersebut atau sebagai mesin tersebut yang melakukan fungsi utama. 5. seluruhnya harus diklasifikasikan dalam pos yang sesuai dengan fungsi tersebut. permesinan. 89 (ii) Diprogram secara bebas menurut kebutuhan pemakai. dengan keputusan . instalasi. 4. istilah "mesin pengolah data otomatis" berarti mesin yang dapat : (i) Menyimpan program atau programprogram pengolahan dan sekurang-kurangnya data yang diperlukan segera untuk DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai pelaksanaan program tersebut.71.(A) Untuk keperluan pos 84. aparatus atau peralatan yang disebut dalam pos pada Bab 84 atau 85. mesin gabungan yang terdiri dari dua atau lebih mesin yang dipasang bersama untuk membentuk satu kesatuan dan mesin lainnya yang dirancang untuk keperluan melakukan dua fungsi atau lebih yang saling melengkapi atau fungsi alternatif.Kecuali apabila konteksnya menentukan lain. dengan peralatan penggerak. yang termasuk dalam salah satu pos dalam Bab 84 atau 85.Klasifikasi Barang 10) Bagian XVI Bagaian XVI catatan 3. (iv) Tanpa intervensi manusia. 4 dan 5 3..

harus diklasifikasikan dalam pos 84. mesin penjalin. kecuali apabila konteksnya menentukan lain. Berdasarkan Catatan 2 pada Bab ini dan Catatan 3 pada Bagian XVI. benang tekstil atau berbagai bahan lainnya atau dari kombinasi bahan bahan tersebut.79. Istilah " sirkit tercetak " tidak meliputi sirkit yang dikombinasi 90 dengan elemen selain yang diperoleh selama proses pencetakan. kapasitor). melalui berbagai proses pencetakan (misalnya. suatu mesin yang kegunaan utamanya tidak diuraikan dalam pos manapun atau yang tidak ada satupun kegunaannya merupakan kegunaan utama.Untuk keperluan klasifikasi. harus diperlakukan seolah-olah kegunaan utamanya adalah kegunaan satu-satunya. Sirkit film tipis atau tebal yang terdiri dari elemen pasif dan aktif yang diperoleh selama proses teknologis yang . tersendiri atau saling berhubungan menurut pola yang ditetapkan sebelumnya. mesin yang digunakan untuk lebih dari satu kegunaan.. juga tidak meliputi resistor. resistor. penyepuhan. Namun demikian. kontak atau komponen tercetak lainnya (misalnya. elemen DTSD Kepabeanan dan Cukai semi konduktor). selain elemen yang dapat memproduksi. mesin pemilin atau mesin pembuat kabel) dari kawat logam.34 "sirkit tercetak" adalah sirkit yang diperoleh dengan pembentukan di atas dasar pengisolasi. induktansi.Untuk keperluan pos 85. menyearahkan. 13) Bagian XVI Bab 85 catatan 5 5. sirkit tercetak dapat dilengkapi dengan elemen penghubung tidak dicetak. Pos 84. atau induktansi khusus. pencetakan timbul. memodulasi atau memperkuat sinyal DTSD elektris (misalnya..79 juga meliputi mesin untuk membuat tali atau kabel (misalnya.Klasifikasi Barang 12) Bagian XVI Bab 84 catatan 7 7. pengetsaan) atau melalui teknik "sirkit film" berupa elemen konduktor. kapasitor.

(e) Mesin atau aparatus dari pos 84.03). (ij) Senjata (Bab 93). Bagian atau aksesori yang memenuhi uraian dalam dua pos atau lebih dari pos pada Bab-bab tersebut. barang dari pos 84.82 atau barang dari pos 84. atau bagiannya. (k) Lampu atau alat kelengkapan penerangan dari pos 94.Istilah "bagian" serta "bagian dan aksesori" tidak berlaku untuk barang berikut. cincin pipih atau sejenisnya dari berbagai bahan (diklasifikasikan menurut bahan utamanya atau dalam pos 84. asalkan barang tersebut merupakan bagian integral dari mesin atau motor. (d) Barang dari pos 83.05. harus diklasifikasikan menurut pos yang sesuai dengan . (b) Bagian untuk pemakaian umum. (h) Barang dari Bab 91.83.81 atau 84.01 sampai dengan 84. (c) Barang dari Bab 82 (perkakas).91 dengan 88 tidak berlaku untuk bagian atau aksesori yang tidak cocok untuk digunakan sematamata atau terutama dengan barang dari Bab-bab tersebut.84) atau barang lainnya dari karet divulkanisasi selain karet keras (pos 40. sebagaimana dirinci dalam Catatan 2 Bagian XV.Klasifikasi Barang 14) Bagaian XVII Bagian XVII catatan 2 dan 3 2.16). dari logam tidak mulia (Bagian XV). dapat diidentifikasi sebagai barang dari Bagian ini maupun tidak : (a) Sambungan. (f) Mesin atau perlengkapan elektris (Bab 85).06. DTSD Referensi dan "bagian" atau "aksesori" dalam Bab 86 sampai DTSD Kepabeanan untukCukai 3. atau (l) Sikat dari jenis yang digunakan sebagai bagian dari kendaraan (pos 96.79. atau barang semacam itu dari plastik (Bab 39).. (g) Barang dari Bab 90.

yang dirancang untuk memberi faktor tersebut untuk. dan mempertahankannya pada nilai yang dikehendaki. dengan pengukuran nilai aktual secara konstan atau periodik. yang dirancang untuk memberi faktor ini untuk. 16) Bagian XXI DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 92 . tekanan atau variabel lainnya dari cairan atau gas secara otomatis.Klasifikasi Barang 15) Bagian XVIII Bab 90 catatan 7 7. tinggi permukaan. yang pengoperasiannya tergantung pada fenomena listrik yang berubah-ubah menurut faktor yang dikontrol. dan (b) Regulator besaran listrik otomatis dan instrumen atau aparatus untuk mengontrol besaran bukan listrik secara otomatis. distabilkan terhadap gangguan. atau untuk mengontrol suhu secara otomatis. distabilkan terhadap gangguan. dan mempertahankannya pada nilai yang dikehendaki. dengan pengukuran nilai aktual secara konstan atau periodik..32 berlaku hanya untuk : (a) Instrumen dan aparatus untuk mengontrol arus.Pos 90. yang penggunaannya tergantung maupun tidak pada fenomena elektris yang berubah-ubah menurut faktor yang harus dikontrol secara otomatis.

gambar. harus diklasifikasikan terpisah. Bagaimana syarat komputer menurut Harmonized system pada Bab 84 ? 9. 3. kolase atau plakat hiasan semacam itu. asalkan dari jenis dan nilai yang wajar untuk barang tersebut. Sebutkan contoh catatan definitif pada Bab 39 ? 2. Rangkuman DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 93 . Sebutkan pos saja untuk barang mentega dan margarin ? 5. Latihan 3 1.Klasifikasi Barang Bab 97 catatan 5 5.. gambar pastel. bingkai yang bukan merupakan jenis atau nilai yang wajar untuk barang tersebut.Bingkai yang terpasang pada lukisan. barang cetakan atau litograf harus diklasifikasikan dengan barang tersebut. Merujuk pada Catatan ini.3. Daging sapi yang diolah sederhana masuk pos berapa ? Bagaimana bila telah dikukus masuk Bab berapa ? 6. Saringan udara untuk mesin diklasifikasikan pada pos berapa ? 11. Sebutkan catatan ilustratif pada pada Bagian ? 4. Apakah bingkai dan gambar yang sama mahal harganya diklasifikasikan dalam satu pos tarif ? 3. ukiran. Sebutkan contoh catatan ekslusif pada Bab 71 ? 3. Bagaimana pengklasifikasian motor untuk mobil mainan ? 10. Sebutkan posnya saja batu pualam yang masih bongkahan dan yang telah jadi ubin ? 7. Sebutkan 3 contoh barang termasuk bagian untuk pemakaian umum ? 8.2.

Klasifikasi Barang 1. Catatan merupakan pintu gerbang dalam memasuk bagian dan bab dalam BTBMI. Hal ini diperlukan agar jangan sampai salah dalam menempatkan pengelompokan barang sesuai Harmonized system. Urutan pengelompokan barang umumnya didasarkan atas bahan dasar.4. 2. eksklusive. dikeluarkan. Test Formatif 3 A. Secara singkat jenis catatan tersebut meliputi. barang presisi. Berbagai jenis barang akan dijelaskan dengan catatan dalam bagian. kendaraan. dan penjelasan. Bahkan dalam KUM HS nomor satu dinyatakan bahwa hal yang mengikat dalam mengklasifikasi barang adalah catatan. Bab 1 sampai dengan 77 dan bab 78 sampai dengan bab 98. Secara garis besarnya pintu gerbang tersebut akan mengatur tentang suatu barang yang boleh dimasukan. Catatan merupakan salah satu syarat penting dalam mengklasifikasi barang. bab maupun subpos yang bersifat mengikat. 1. catatan definitive. barang untuk kemanan dan barang kelontong. Salah satu syarat menjadi seorang klasifikator yang baik adalah harus dapat memahami catatan penting. nabati mineral dan selanjutnya kepada bahan kimia dan produknya. atau dikeluarkan sebagian serta penjelasan lainyya. Terakhir dengan mesin. bab maupun subpos. Pemahaman pengelompokan barang akan mempermudah dan mempercepat dalam mengklasifikasi. ( B .Sebaiknya seorang klasifikator yang bak akan memahami pengelompokan jenis barang dalam BTBMI 3. hewani. Bab dan Sub-bab pada Buku tarif Bea Masuk DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 94 . illustratif. Lingkarilah huruf B apabila pernyataan ini Saudara anggap benar dan huruf S apabila pernyataan Saudara anggap salah. Pengelompokan barang ini berawal dari binatang. 3. baik catatan bagian. proses setengah jadi dan barang jadi. BTBMI terdiri dari 21 Bagian.S ) Judul Bagian.

Dalam membuat Nota Penelitian Klasifikasi Barang maka diperlukan kerangka yang singkat atau memerlukan uraian yang cukup panjang tergantung pada permasalahan yang dihadapi. asalkan pada saat diimpor sudah mempunyai sifat utama sebagai barang lengkap atau rampung 3. Namun demikian nota tersebut setidak-tidaknya memuat tentang : a. cocok untuk pemakaian jangka panjang dan diimpor lengkap dengan isinya. ( B . alasan atau catatan yang digunakan c. dengan bentuk atau kelengkapan khusus untuk menyimpan barang tertentu atau seperangkat barang tertentu. ( B . Uraian klasifikasi mulai 2 digit sampai dengan 9 digit DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 95 .S ) Sebelum mengklasifikasi barang.S ) Pernyataan 5b pada KUM HS adalah Peti kamera.S) Pernyataan 3a pada KUM HS adalah Pos yang memuat uraian yang paling terinci harus lebih diutamakan daripada pos yang memuat uraian yang lebih umum sifatnya 4. harus diklasifikasikan dengan barang tersebut jika biasa dijual dengan barang itu 5. sebaiknya kita identifikasi dulu barang yang akan kita klasifikasi.Klasifikasi Barang Indonesia hanya dimaksudkan untuk memudahkan penyebutan saja. ( B . nama barang dan uraian jenis barang b. Tidak mengikat secara hukum dalam mengklasifikasi 2.S ) Pernyataan 2b pada KUM HS adalah Barang tidak lengkap atau tidak rampung dianggap sebagai barang lengkap atau rampung. Dengan mengetahui spesifikasi barang maka akan lebih mendekati keakuratan dalam mengklasifikasi barang B. ( B . peti instrumen dan tempat simpan yang semacam. Pilihlah jawaban yang Saudara anggap benar dengan cara melingkari huruf yang terdapat di depan jawaban tersebut 1.

pengertian 4. diklasifikasikan sebagai mie pada bab 19. berdasarkan KUM HS nomor : a. Walalupun etil alkohol merupakan bahan kimia organik. b dan c benar 2. 5a d. 3a 5. namun diklasifikasikan pada bab 22 dikarenakan KUM HS nomor : a. definitif b. pernyataan a. 2b d. 3b d. 5a 3. Mengapa olahan makanan yang terbuat dari daging sapi yang dikukus tidak diklasifikasikan pada bab 2 2. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 96 . saos dan bawang. esklusif c. 2b b. 3b b. Tabung gas LPG yang berisi gas LPG tidak dapat diklasifikasikan menjadi stu pos tarif karena ketentuan menurut KUM HS nomor : a. 3c c. 3a c. bumbu.Klasifikasi Barang d. Larutan dengan kandungan asam cuka (acetic acid) lebih dari 10 % dikeluarkan dari bab 22 berdasarkan catatan : a. 5b C. Mengapa sabun mandi mengandung obat pembasmi kuman walaupun mengandung obat tidak diklasifikasikan pada bab 30 sebagai produk farmasi. ilustrasi d. Jawablah pertanyaan soal dibawah ini dengan ringkas 1. Suatu kemasan mengandung mie. 2a c. 1 b.

Ketentuan dan catatan apa yang digunakan dalam mengklasifikasi barang tersebut 3.100 % = Baik sekali DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 97 .32 . Sebutkan alasannya 5...5.. tidak dikelantang dan tidak dimerserisasi. Arti tingkat penguasaan : * 90 % . Hitunglah jumlah jawaban Anda yang benar atau sejauh mana Anda menguasai mata pelajaran tersebut. dari serat disisir dengan nomor benang 150 decitex. Kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap terhadap materi kegiatan belajar Rumus Tingkat Penguasaan Jumlah Jawaban Anda yang benar dibagi 15 kemudian dikali 100 % = .... Automatic voltage regulator yang digunakan sebagai stabilizer otomatis untuk komputer harus diklasifikasikan pada pos 85.. Benang tenun terbuat dari campuran 70 % kapas (cotton) dan 30 % nilon. merupakan benang tunggal.04 atau 90. Mengapa tutup kepala (topi) pengaman untuk pengendara sepeda motor yang terbuat dari bahan plastik tidak diklasifikasikan pada bab 39 ? 4. UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT Bandingkanlah hasil jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif yang ada di belakang modul ini....Klasifikasi Barang 3..

Karet dan Barang dari Karet. Benang dan Kain. mengidentifikasi Barang dari Batu. mengidentifikasi Plastik dan Barang dari Plastik.Klasifikasi Barang * 80 % * 70 % * 89 % 79 % 69 % = Baik = Cukup = Kurang Kalau Anda mencapai tingkat penguasaan 80% keatas Anda dapat meneruskan kepada modul atau bagian pelajaran lain. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 98 . dan Jangat. dan Identifikasi Serat. mengidentifikasi Serat. Anda harus mengulangi membaca Modul kembali. Kulit dan Barang dari Kulit. terutama bagian yang belum Anda kuasai PENUTUP Setelah Saudara selesai mempelajari Modul ini (membaca serta mengerjakan latihan soal. bila tingkat penguasaan Anda masih dibawah 80 %. Penomoran Benang. Hasilnya Baik ! akan tetapi. Produk Keramik dan Barang dari Kaca. maupun tes formatif yang tersedia) diharapkan Saudara telah memahami bagaimana cara bahan / barang kimia anorganik – organic maupun produk yang terbuat daripadanya.

b. 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan pada : a. Intan dan Logam Mulia. dan Logam Mulia dan mengidentifikasi mesin – mesin serta barang – barang dari elektronika Dengan kemampuan Saudara mengidentifikasi barang-barang tersebut diharapkan Saudara nantinya dapat mengklasifikasikannya kedalam Buku Tarif Bea Masuk Indonesia. c. atau d ) 1. koran. Untuk hal yang lebih “complicated” Saudara harus mencari tambahan pengetahuan sendiri melalui informasi di media masa. barang dikelompokkan berdasarkan sistem klasifikasi barang. Bunyi kalimat diatas sesuai dengan bunyi UU no. Untuk penetapan tarif bea masuk.Klasifikasi Barang Mutiara. pasal 16 DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 99 . baik buku pengetahuan. majalah serta media internet. TES SUMATIF Pilihlah jawaban yang Saudara anggap benar dengan cara melingkari huruf yang terdapat di depan jawaban tersebut a. Modul ini merupakan dasar dari pengetahuan dan identifikasi barang yang minimal harus Saudara ketahui.

d. b.. b dan c benar Bea Masuk Indonesia dan menentukan 4.. a. harus mengacu kepada perkembangan terakhir besarnya penetapan Bea Masuk c. c. c. d. pernyataan a. tanggal 1 Januari 1989 tanggal 1 Agustus 1988 tanggal 31 Januari 1988 tanggal 11 Januari 1989 3. b.. d. hanyalah sementara (mengikuti surat Keputusan Menteri Keuangan RI) b. c. c... selalu berubah pernyataan a. d.. 2. karena uraian jenis barangnya tidak ada dalam BTBMI 5. maka sebutkan pernyataan dibawah ini yang tidak benar a. pasal 115 pasal 14 pasal 116 The Harmonized Commodity Description and Coding System (HS) mulai berlaku secara internasional sejak : a. dikenal prosedur umum untuk mengklasifikasi barang. Dalam membuat Nota Penelitian Klasifikasi Barang maka diperlukan kerangka yang singkat atau memerlukan uraian yang cukup panjang tergantung pada DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 100 . Untuk mengklasifikasi barang. Dalam pengamatan sementara untuk mengklasifikasi barang. Jenis suatu jenis barang dimungkinkan tidak ada dalam HS Dapat terkait dengan beberapa bab Mengklasifikasi barang seluruhnya harus tepat secara eksak Barang tidak dapat diklasifikasikan.. Pencantuman besarnya Bea Masuk pada Buku tarif Bea Masuk Indonesia : a. b.Klasifikasi Barang b. mengidentifikasi barang dengan mempelajari jenis dan spesifikasinya merumuskan identitas atau deskripsi barang tersebut melihat Buku Tarif klasifikasinya d.. Prosedur tersebut secara umum ialah . b dan c benar 6.

bumbu. c. Walalupun etil alkohol merupakan bahan kimia organik. d. c. diklasifikasikan sebagai mie pada bab 19. d.Klasifikasi Barang permasalahan yang dihadapi. b dan c benar Suatu kemasan mengandung mie. nama barang dan uraian jenis barang alasan atau catatan yang digunakan Uraian klasifikasi mulai 2 digit sampai dengan 9 digit pernyataan a. 2b 3a 3b 5a 8. b. namun diklasifikasikan pada bab 22 dikarenakan KUM HS nomor : a. Dalam membuat Nota Penelitian Klasifikasi Barang maka diperlukan kerangka yang singkat atau memerlukan uraian yang cukup panjang tergantung pada DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 101 . 7. c. Larutan dengan kandungan asam cuka (acetic acid) lebih dari 10 % dikeluarkan dari bab 22 berdasarkan catatan : a. b. berdasarkan KUM HS nomor : a. saos dan bawang. b. Tabung gas LPG yang berisi gas LPG tidak dapat diklasifikasikan menjadi stu pos tarif karena ketentuan menurut KUM HS nomor : a. c. d. Namun demikian nota tersebut setidak-tidaknya memuat tentang : a. d. b. b. 1 2a 2b 3a 10. d. 3b 3c 5a 5b 11. Definitif esklusif ilustrasi pengertian 9. c.

b dan c benar 12. c. saos dan bawang. nama barang dan uraian jenis barang alasan atau catatan yang digunakan Uraian klasifikasi mulai 2 digit sampai dengan 9 digit pernyataan a. 1 2a 2b 3a 15. c. 3b 3c 5a 5b DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 102 . b. d. d. b. Tabung gas LPG yang berisi gas LPG tidak dapat diklasifikasikan menjadi stu pos tarif karena ketentuan menurut KUM HS nomor : a. Namun demikian nota tersebut setidak-tidaknya memuat tentang : a. Larutan dengan kandungan asam cuka (acetic acid) lebih dari 10 % dikeluarkan dari bab 22 berdasarkan catatan : a. c. 2b 3a 3b 5a 13. b. diklasifikasikan sebagai mie pada bab 19.Klasifikasi Barang permasalahan yang dihadapi. b. c. berdasarkan KUM HS nomor : a. d. definitif esklusif ilustrasi pengertian 14. Suatu kemasan mengandung mie. b. d. namun diklasifikasikan pada bab 22 dikarenakan KUM HS nomor : a. d. bumbu. c. Walalupun etil alkohol merupakan bahan kimia organik.

TEST FORMATIF 1 DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 103 .Klasifikasi Barang KUNCI JAWABAN I. 2. 3 1. KUNCI JAWABAN TEST FORMATIF 1.

Klasifikasi Barang A. Sistem ini merupakan penyempurnaan dari sistem CCCN sebelumnya dan mulai diberlakukan pada tanggal 1 April 1987 sampai dengan 31 desember DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 104 . 4. Pada dasarnya sistem pentarifan ini sama dengan sistem sebelumnya. Kelompok Pernyataan Benar (B) atau Salah (S) 1 B. Kelompok Pilihan Ganda 1. c 5. B 5. b 3. b) Sistem Customs Cooperation Council (CCCN). S 3. hanya pada sistem CCCN ini terdapat penyempurnaan sistem penomoran pada sub-pos dari dua digit menjadi tiga digit atau semula 6 digit menjadi 7 digit. d 4. a 2. Penetapan tarif ini merupakan penyempurnaan dari penetapan tarif sebelumnya dan mulai diberlakukan pada tanggal 1 Juli 1975 sampai dengan 30 september 1980. S B. B. 2. c) Sistem CCCN Edisi 1985 (CCCN 1985). Sistem CCCN ini mulai diberlakukan pada tanggal 1 Oktober 1980 sampai dengan 31 Maret 1985. Kelompok Essay Nomor 1 a) Sistem Brussel Edisi 1975 (BTN 1975). d C.

Nomor 4 a) Memberikan keseragaman dalam daftar penggolongan barang yang dibuat secara sistematis. d) Menggunakan “bahasa pabean” sehingga dapat dengan mudah dimengerti oleh importir. nomenklatur disahkan dalam Konvensi HS Nomor 3 a) HS adalah pedoman klasifikasi yang sistematik untuk seluruh barang yang diperdagangkan secara internasional. pembuatan dan analisis Statistik Pabean secara perdagangan dunia. untuk penetapan Tarif mendunia.Klasifikasi Barang 1988. c) HS menggunakan dasar yang seragam untuk keperluan pentarifan secara internasional. b) Memudahkan pengumpulan. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 105 . f) Merupakan kumpulan data yang seragam secara internasional sehingga dapat digunakan untuk mendukung analisis dan statistik perdagangan internasional. eksportir. Untuk memberikan kekuatan hukum yang pasti. Nomor 2 Pada akhir tahun 1986. e) Sederhana dan memberikan kepastian dalam hal aplikasi dan interpretasi yang benar dan sama untuk keperluan negosiasi. b) HS adalah pedoman klasifikasi yang sistematik untuk seluruh barang yang diperdagangkan secara internasional. dan . pengangkut. dan aparat bea dan cukai. kelompok studi tersebut berhasil menyusun suatu nomenklatur (daftar klasifikasi barang berdasarkan kelompok-kelompok) yang dinamakan Harmonized Commodity Description and Coding System atau lebih dikenal dengan sebutan Harmonized System (HS). produsen.

Klasifikasi Barang
c) Memberikan Sistem Internasional yang resmi Kode, Pen jelasan dan untuk pemberian penggolongan barang untuk tujuan

perdagangan seperti tarif pengangkutan, keperluan pengangkutan, dokumentasi dan sebagainya. d) Memperbaharui memberikan sistem klasifikasi kepada barang sebelumnya, teknologi untuk dan

perhatian

perkembangan

masyarakat industri serta pola perdagangan Internasional.

Nomor 5 Buku tarif Bea Masuk Indonesia hanyalah suatu referensi praktis agar dapat secara optimal digunakan di lapangan. Ketentuan hukum yang legal adalah sesuai Surat Keputusan Menteri Keuangan tentang perubahan Tarif Bea Masuk Indonesia (lihat Kata Pengantar pada BBTBMI)

2. TEST FORMATIF 2

A. Kelompok Pernyataan Benar (B) atau Salah (S) 1. B 2. S 3. B 4. S 5. B

B. Kelompok Pilihan Ganda 1. d 2. c 3. b 4. a 5. d

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 106

Klasifikasi Barang
C. Kelompok Essay

Diberitahukan hanya 6 digitnya (sub posnya) 1. Daging sapi hasil olahan sesuai bab 2 (pengolahan sementara/terbatas) diklasifikasikan pada bab 2. Bentuk pengolahan bukan sederhana, seperti dipanggang, dikukus dan pengolahan selain pada bab 2 diklasifikasikan pada bab 16. Lihat catatan 1 bab 16. Perhatikan pos tarif 1602.50.000. 2. Lihat catatan 1(e) Bab 30 3. Lihat catatan 1(n) Bab 39 4. Lihat catatan 2(A) Bagian XI 5. Lihat catatan 6(b) Bab 90 Perhatikan sub-pos 5206.24.

3. TES FORMATIF 3

A. Kelompok Pernyataan Benar (B) atau Salah (S) 1. B 2. S 3. B 4. S 5. B

B. Kelompok Pilihan Ganda 1. d 2. c 3. b 4. a 5. d

C. Kelompok Essay

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 107

Klasifikasi Barang
Diberitahukan hanya 6 digitnya (sub posnya) 1. Daging sapi hasil olahan sesuai bab 2 (pengolahan sementara/terbatas) diklasifikasikan pada bab 2. Bentuk pengolahan bukan sederhana, seperti di panggang, dikukus dan pengolahan selain pada bab 2 diklasifikasikan pada bab 16. Lihat catatan 1 bab 16. Perhatikan pos tarif 1602.50.000 2. Lihat catatan 1(e) Bab 30 3. Lihat catatan 1(n) Bab 39 4. Lihat catatan 2(A) Bagian XI 5. Lihat catatan 6(b) Bab 90 Perhatikan sub-pos 5206.24.

II. KUNCI JAWABAN TES SUMATIF

1. a 2. b 3. d 4. c 2. d 3. d 4. c 5. b 6. a 7. d 8. d 9. c 10. b 11. a 12. d

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 108

Klasifikasi Barang DAFTAR PUSTAKA Harmonized System. 2007 Pengantar Klasifikasi Barang. World Customs Organization. (1995) Pusdiklat Bea dan Cukai. Wordl Customs Organization. Jakarta Explanatory Notes. Jakarta Classification Disputes Settled by The Harmonized System Committee. 2007 version Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (2007) Departemen Keuangan RI. World Organization (1994) *** DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 109 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful