DIKLAT TEKNIS SUBSTANTIF DASAR

KEPABEANAN DAN CUKAI

Disusun Oleh:

Adang Karyana Syahbana, S.ST.
(Widyaiswara Madya)

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI 2011

DIKLAT TEKNIS SUBSTANTIF DASAR

KEPABEANAN DAN CUKAI

Disusun Oleh:

Adang Karyana Syahbana, S.ST.
(Widyaiswara Madya)

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI 2011

Klasifikasi Barang

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

i

... Identifikasi dan Klasifikasi Barang ............. PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL ………………………………………….. 2) Struktur BTBMI ………………………………………………… 16 18 3) Kode Penomoran dan Pentakikan …………………………… 21 4) Arti kata “lain-lain” ……………………………………………... 2) Langkah-Langkah Dalam Mengklasifikasi Barang ………… B........…………………..…………….............................................…………………………………………………… 1........... A........................ Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) ...... Latihan 1 …………………………………………………………......... MODUL KLASIFIKASI BARANG A.................................. 4............. 2................................................................. DAFTAR ISI ........ 14 C..................……………………………………............................. KEGIATAN BELAJAR …..................1........ 11 3) Publikasi Pelengkap HS ……………………………………… 13 4) Sistem Pengkodean …………………………………………........... 1) Identifikasi dan Klasifikasi Barang ………………………. Kegiatan Belajar (KB) 1 ……………............................ 24 27 DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai ii ...................................Klasifikasi Barang DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR ........ Relevansi Modul .......... Uraian dan contoh ............... KLASIFIKASI BARANG Indikator Keberhasilan ............... 16 1) Dasar Hukum ………………………………………………….................................................. Pendahuluan ………………………………………………………………… 1................ PETA KONSEP MODUL ………………………………………………………….... Harmonized System ……………………………………………… 4 4 5 5 8 10 i ii v vi 1 1 1 2 3 4 4 1) Pengantar ……………………………………………………… 10 2) Tujuan Harmonized System ………………………………........ 1............... Prasyarat Kompetensi ………………......2........................ Deskripsi Singkat …………………….......... 3.. B.......... 1............ Buku Tarif Bea Masuk Indonesia ………………………………….......

.......... 33 A........... Uraian dan contoh ..........................1.......... 52 53 54 57 DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai iii .. Rangkuman …………………………………………………………...................................... Rangkuman …………………………………………………………. Latihan 2 ……............... Umpan Balik dan Tindak Lanjut ……………………..................... 1) ketentuan umum untuk menginterpretasi harmonized system nomor 1 ……………………………………………….......... 2....... 2.. Tes Formatif 1 ……………………………………………………….... 47 3) Praktek Pembuatan Nota Penelitian Klasifikasi Barang…… 49 2..2......... b dan c ……………………………………………................ Umpan Balik dan Tindak Lanjut …………………….............. 47 1) Pengantar ……………………………………………………… 47 2) Nota Penelitian Klasifikasi Barang …………………………....... 33 2) Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 2a dan 2b ……………………………………………… 3) Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 3a......... 45 C.. Nota Penelitian ……………………………………………………........3........... 2... Kegiatan Belajar (KB) 2 …………….............4......... 1........ Tes Formatif 2 ………………………………………………………...3....5.....Klasifikasi Barang 1... Tahapan Mengklasifikasi Barang ..........4........………………………………………………… 33 2....... 33 TEKNIK KLASIFIKASI BARANG Indikator Keberhasilan .. Ketentuan Umum Untuk Menginterpretasi Harmonized System ... 4) Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 4 ………………………………………………………… 5) Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 5 ………………………………………………………… 6) Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 6 ………………………………………………………… 44 42 41 37 35 33 B............... 1............ 27 29 32 2........……………………………………………………..............5.

................... 60 B.... 58 A........ Uraian dan contoh .... 67 3) BAB pada BTBMI ………………………………………………........ Latihan 3 ……... Umpan Balik dan Tindak Lanjut ……………………....... 104 DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai iv ....... 3.... 94 TES SUMATIF …………………………. 95 KUNCI JAWABAN ( TES FORMATIF DAN TES SUMATIF ) …………………… 99 DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………………..…………………………………………………….... 3...5........3.... 58 1) Catatan definitive ……………………………………………… 59 2) Catatan Eksklusif ……………………………………………............................... Kegiatan Belajar (KB) 3 ……………...............4.. 81 89 89 90 93 PENUTUP …………………………………………………………………………….... 3....................... Tes Formatif 3 ……………………………………………………….....………………………………………………… 58 3............ Catatan Penting Pada BTBMI …………………………………........................2........................... Jenis Catatan pada BTBMI ......................... 59 3) Catatan Ilustratif ……………………………………………….. 62 1) Gambaran per bagian ………………………………………… 62 2) Hubungan antar BAB …………………………………………....Klasifikasi Barang 3.... 69 C............................ Rangkuman …………………………………………………………. 58 CATATAN PENTING DALAM BUKU TARIF BEA MASUK INDONESIA (BTBMI) Indikator Keberhasilan …..... 3.............. 60 4) Catatan lain-lain ………………………………………………..........1. Struktur Pengelompokan Barang Pada BTBMI ......................

maka peserta diklat diharuskan mempelajari kembali kegiatan belajar tersebut agar selanjutnya dapat diperoleh angka minimal 67. 7. Kerjakanlah Tes Formatif pada kegiatan belajar yang sedang dipelajari. 2. Cocokkan hasil tes formatif dengan kunci jawaban tersebut. Kerjakan Tes Sumatif apabila semua Tes Formatif dari seluruh kegiatan belajar telah dilakukan. Cara mempelajari setiap kegiatan belajar adalah mengikuti tahap-tahap berikut ini: 1. 6. 8. apabila ternyata hasil tes sumatif peserta diklat memperoleh nilai minimal 67 (jumlah yang benar x 100/25). Pelajari materi yang menjadi isi dari setiap kegiatan belajar (dengan cara membaca materi minimal 3 kali membaca isi materi kegiatan belajar tersebut). dengan cara membaca kembali ringkasan materi untuk mendapatkan hal-hal penting yang menjadi fokus perhatian pada kegiatan belajar ini. Lihat apa yang menjadi target indikator dari kegiatan belajar tersebut. 5. 3. namun apabila diperoleh angka di bawah 67. Cocokkan hasil tes sumatif dengan kunci jawaban tes sumatif. Lihat kunci jawaban Tes Sumatif yang terletak pada bagian akhir modul ini 9. maka kegiatan belajar dapat dilanjutkan pada kegiatan belajar berikutnya. 4. maka peserta diklat dapat dinyatakan lulus dari kegiatan belajar DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai v .Klasifikasi Barang PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL Untuk dapat memahami modul ini secara benar. Lakukan review materi secara umum. Lihat kunci jawaban Tes Formatif dari kegiatan belajar tersebut yang terletak pada bagian akhir modul ini. apabila ternyata hasil Tes Formatif peserta diklat memperoleh nilai minimal 67 (jumlah yang benar x 100/15). maka peserta diklat diharapkan mempelajari modul ini secara urut mulai dari Kegiatan Belajar 1 sampai dengan Kegiatan Belajar 3.

Publikasi Pelengkap HS. Catatan Penting Pada BTBMI DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai vi . Struktur Pengelompokan Barang Pada BTBMI : Gambaran per bagian. Langkah-Langkah Dalam Mengklasifikasi Barang. Nota Penelitian Klasifikasi Barang. Kegiatan Belajar 1 – KLASIFIKASI BARANG Materi : Identifikasi dan Klasifikasi Barang: Identifikasi dan Klasifikasi Barang. Hubungan antar BAB. Harmonized System : Pengantar. Tujuan Harmonized System. 5. Catatan Eksklusif.Klasifikasi Barang PETA KONSEP Dalam mempelajari modul ini. 2b. Sistem Pengkodean. Buku Tarif Bea Masuk Indonesia : Dasar Hukum. Tahapan Mengklasifikasi Barang. 4. Catatan Ilustratif. 6. Kode Penomoran dan Pentakikan. 3b. agar lebih mudah dipahami maka disarankan kepada peserta diklat untuk mempelajari peta konsep modul. 3c. 3a. Nota Penelitian : Pengantar. Praktek Pembuatan Nota Penelitian Klasifikasi Barang Kegiatan Belajar 3 – CATATAN PENTING DALAM BUKU TARIF BEA MASUK INDONESIA (BTBMI) Materi : Jenis Catatan pada BTBMI : Catatan definitive. BAB pada BTBMI. 2a. Dengan demikian pola pikir yang sistematik dalam mempelajari modul dapat terjaga secara berkesinambungan selama mempelajari modul. Struktur BTBMI. Catatan lain-lain. Arti kata “lain-lain” Kegiatan Belajar 2 – TEKNIK KLASIFIKASI BARANG Materi : Ketentuan Umum Untuk Menginterpretasi Harmonized System : ketentuan umum untuk menginterpretasi harmonized system nomor 1.

Seorang klasifikator harus memiliki kemampuan dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang karena akan menentukan ketepatan dalam klasifikasi dalam Pemberitahuan Impor Barang (PIB) yang pada akhirnya menentukan ketepatan jumlah bea masuk dan pungutan impor lainnya yang harus dibayar. 2. Diskripsi singkat Seorang Pegawai Ditjen Bea dan Cukai harus menjadi seorang klasifikator dibidang kepabeanan Oleh karena itu. Prasyarat Kompetensi Peserta yang akan ditunjuk untuk mengikuti Diklat Teknis Substantif Dasar DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 1 .Klasifikasi Barang A PENDAHULUAN MODUL KLASIFIKASI BARANG 1. seorang klasifikator harus terlebih dahulu memahami pengetahuan barang dan pengetahuan mengenai klasifikasi barang.

para Siswa diharapkan mampu memahami landasan dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang berdasarkan Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI). para siswa diharapakan mampu menerapkan ketentuan umum untuk menginterpretasi Harmonized System. Diklat Teknis Substantif Dasar merupakan Diklat yang bertujuan mencetak pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai sebagai pelaksana pemeriksa yang mempunyai kemampuan melaksanakan tugas dalam pemeriksaan barang dan tugas pemeriksaan lainnya untuk menjamin dipenuhinya visi. 3. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Standar Kompetensi Setelah mempelajari modul ini. Persyaratan tersebut penting karena pengalaman kerja sangat perlu bagi kelancaran pelaksanaan tugas sebagai pemeriksa dalam lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.Klasifikasi Barang adalah pegawai lulusan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas dan pernah bertugas sebagai pelaksana pada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai sesuai ketentuan Kepegawaian Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. tahapan dalam engklasifikasi barang dan membuat nota penelitian klasifikasi barang berdasarkan BTMBI. Kompetensi Dasar Setelah mempelajari Modul ini para siswa diharapkan dapat menjelaskan : 1. Dengan pengalaman dan dasar pendidikan tersebut diharapkan peserta diklat akan mempunyai gambaran awal tentang klasifikasi barang impor / ekspor pada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai sehingga diharapkan lebih mudah mencerna dan memahami modul Klasifikasi Barang. para siswa mampu menjelaskan pengelompokkan barang dan jenis catatan berdasarkan BTBMI. misi dan tujuan organisasi pada organisasi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Identifikasi dan klasifikasi barang DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 2 .

Relevansi Modul Relevansi modul terhadap tugas pekerjaan yang akan dijalankan peserta diklat adalah sebagai berikut : a. Setelah mempelajari materi modul ini diharapkan peserta mendapat pemahaman yang benar tentang klasifikasi barang. Jenis catatan pada BTBMI 8. 4. Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI ) 2007. Harmonized System (HS) 3. Tahapan Mengklasifikai Barang. Struktur pengelompokan barang 9. serta Catatan Penting dalam Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI). b. Nota penelitian klasifikasi barang 7.Klasifikasi Barang 2. Nota Penelitian. Catatan penting dalam BTBMI 4. Ketentuan Umum untuk Menginterpretasikan Harmonized System. Buku Tarif Bea Masuk Indonesia. dan diharapkan dapat memberikan gambaran secara utuh tugas pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dalam pengklasifikasian barang. Materi modul ini terkait pada mata pelajaran lain. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 3 . Ketentuan umum untuk menginterpretasi Harmonized System 5. Harmonize System. Tahapan dalam engklasifikasi barang 6.

Kegiatan Belajar (KB) 1 KLASIFIKASI BARANG Indikator Keberhasilan : Setelah mempelajari materi diharapkan siswa mampu menjelaskan: : 1. Identifikasi dan klasifikasi barang 2. Harmonized System (HS) 3. Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI ) 2007 1. seorang klasifikator harus terlebih dahulu memahami pengetahuan barang dan pengetahuan mengenai klasifikasi barang. Uraian dan Contoh Seorang Pegawai Ditjen Bea dan Cukai harus menjadi seorang klasifikator dibidang kepabeanan Oleh karena itu.1.Klasifikasi Barang B KEGIATAN BELAJAR 1. Seorang klasifikator harus memiliki kemampuan dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang karena akan menentukan ketepatan dalam klasifikasi DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 4 .

Setelah kita mendapatkan seluruh informasi yang dibutuhkan melalui identifikasi barang. klasifikasi yang benar hanya dapat dilakukan apabila mengetahui jenis barang dan memahami aturan-aturan mengklasifikasi dengan benar. Sebelum mengklasifikasi suatu barang. IDENTIFIKASI DAN KLASIFIKASI BARANG 1) Identifikasi dan Klasifikasi Barang Langkah-langkah apa yang harus dilakukan untuk dapat mengklasifikasi suatu barang dengan benar? Biasanya klasifikasi tersebut dilakukan dengan mencari langsung pos tarif yang dianggap sesuai. Diharapkan dengan menggunakan metode ini para siswa dapat dengan mudah mengklasifikasi barang. Cara seperti ini tidak akurat dan sering menyebabkan terjadinya kesalahan klasifikasi yang mengakibatkan negara dirugikan. Langkah ini dinamakan Identifikasi barang. baru diketahui bahwa informasi yang ada belum lengkap sehingga kita harus kembali melakukan identifikasi barang untuk memperoleh informasi yang diperlukan tersebut. kita harus tahu lebih dulu spesifikasi barang itu. Perlu diingat bahwa setelah melakukan tahap klasifikasi. Dalam buku ini akan dijelaskan dengan singkat langkah-langkah praktis dalam mengklasifikasi barang. Namun sekali lagi perlu diingat. Langkah pertama dalam mengklasifikasi adalah apa yang akan diklasifikasikan. A. barulah kita dapat melakukan langkah kedua yaitu Klasifikasi barang. Informasi apa yang diperlukan untuk mengidentifikasi suatu barang dan darimana informasi tersebut diperoleh? Informasi yang diperlukan sebenarnya tergantung dari uraian yang ada pada BTBMI yang berkaitan dengan barang DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 5 . Seorang klasifikaotr tidak mungkin dapat mengklasifikasikan suatu barang dengan benar bila ia tidak tahu spesifikasi barang tersebut. Keakuratan mengklasifikasi tergantung dari keakuratan dalam mengidentifikasi barang.Klasifikasi Barang dalam Pemberitahuan Impor Barang (PIB) yang pada akhirnya menentukan ketepatan jumlah bea masuk dan pungutan impor lainnya yang harus dibayar.

buatan. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 6 . dan keterangan lainnya. bagaimana bentuknya.Klasifikasi Barang bersangkutan. semakin mudah bagi kita untuk mengklasifikasikan barang karena tidak dibutuhkan informasi yang terlalu rumit (misalnya. misalnya apakah bentuknya cair atau padat. untuk tujuan olah raga. butiran atau bongkahan. informasi yang diperlukan untuk mengklasifikasikan kuda hidup. Informasi yang diperlukan tentunya semakin banyak dan rumit. Semakin banyak informasi yang kita miliki tentang barang tersebut. banyak sumber informasi yang dapat kita gunakan. semakin akurat kita mengklasifikasikannya. hanyalah kuda bibit. apa komposisinya. Informasi lain dapat kita peroleh dari berbagai sumber di atas. Berapa watt dan voltage tenaga listrik yang dibutuhkan. dan sebagainya. Bagaimana seandainya yang akan kita klasifikasikan adalah suatu bahan kimia? Barangkali sebelum mengklasifikasi kita memerlukan berbagai informasi mengenai barang kimia tersebut: apakah organik atau anorganik. kegunaan. Demikian juga apabila barang tersebut berupa barang elektronik. Darimana kita dapat memperoleh informasi yang kita perlukan untuk mengklasifikasi suatu barang? memperhatikan bagan di bawah ini: Untuk mengetahui spesifikasi barang yang akan kita klasifikasikan. bagaimana pengemasnya. dan sebagainya. Semakin sederhana dan rinci uraian barang pada BTBMI. apa kegunaannya. apakah bentuk asal atau preparat. atau kuda untuk sirkus). Fisik barang itu sendiri sudah Mari menjawab pertanyaan tesebut dengan memberikan beberapa informasi yang kita butuhkan.

mesin? • What is it made of? Dibuat dari apa barang tersebut? ⇒ komposisi. kimia. Apabila kita sudah mempunyai jawaban. barulah kita berusaha mencari pos yang DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 7 .Klasifikasi Barang Identifikasi barang diperlukan untuk menjawab setidak-tidaknya empat pertanyaan dasar di bawah ini: • What is it? Barang apa yang diimpor? ⇒ bahan baku. atau barang jadi? produk pertanian. aksesoris. elektronik. setengah jadi. campuran. lebh dari satu macam kegunaan? • How is it imported? Bagaimana saat diimpor? ⇒ kemasan? belum lengkap? terurai? dalam bentuk set? Pertanyaan di atas harus dijawab sebelum kita memulai tahap klasifikasi. bahan yang dominan? • What for? Digunakan untuk apa? ⇒ kegunaan tertentu. bagian dari barang lain.

Prosedur Umum Klasifikasi Dalam mengklasifikasi barang menggunakan BTBMI.Klasifikasi Barang tepat. identifikasi barang yang akan diklasifikasikan. setelah 3W + 1H ⇒ What are the classifiable codes? Mengapa “What are classifiable codes?” (pos-pos. Tahapan Mengklasifikasi Barang DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 8 . dan seterusnya). iii. Keterangan pabrik atau produsen barang perlu diperhatikan. iv. bukan satu pos tertentu?). Keterangan kemurnian barang akan berkaitan dengan harga barang tersebut. mesin. pertanian. Hal ini untuk mengetahui grade atau kemurnian dari bahan tersebut. mineral. menentukan klasifikasi barang ke dalam BTBMI (dapat dimulai baik dari segi bahan baku menjadi barang jadi. misalnya apakah pabrik farmasi atau pabrik produksi pipa plastik. Kita dapat menemukan satu pos tertentu bila pos dimaksud dengan spesifik menguraikan jenis barangnya. v. 2) Langkah-Langkah Dalam Mengklasifikasi Barang a. proses sederhana dan proses canggih/kompleks. mempelajari jenis. Kalau dari pabrik farmasi kecenderungannya grade farmasi atau kemurnian mendekati 100 %. prosedur yang digunakan adalah sebagai berikut : i. dari jenis pabrik apa. kimia. bahan baku dan semua informasi mengenai barang. merumuskan identitas atau deskripsi barang tersebut. fungsi. Namun pada umumnya suatu pos mencakup atau menguraikan satu kelompok barang sehingga sepintas lalu seakan-akan ada satu barang yang dicakup oleh dua atau lebih pos. melihat buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI). Untuk itu kita perlu mengantisipasi semua pos tarif yang mungkin untuk dipilih satu pos yang paling sesuai. Dengan kata lain. Demikian juga negara asal barang akan berpengaruh terhadap mutu atau harga barang. b. ii.

Bila sudah kita temukan satu pos yang tepat. Ketentuan Umum Untuk Menginterpretasi Harmonized System dan teori pendukung lainnya. Pada tahap ini. atau cukai) dan ada atau tidak peraturan tata niaganya (IT. perhatikan pada Bagian. 2. 1. Dengan mengetahui spesifikasi barang. Dalam tahap ini tentunya menggunakan kaidah-kaidah seperti yang ada dalam nomor 1 sampai dengan 10 Ketentuan Umum Untuk Menginterpretasi Harmonized System 5. dalam penentuan sub-pos dan pos tarif pun kadang timbul permasalahan klasifikasi yang sama dengan penentuan pos (4-digit). misalnya barang tersebut produk pertanian. kita bisa memilih bab-bab yang lebih spesifik. atau mesin. Buku Tarif Bea Masuk Indonesia. Tahapan lebih rinci akan dijelaskan kemudian setelah memahami apa itu Harmonized System. barang kimia. berat. Apabila sudah dipilih satu pos tarif yang benar-benar sesuai dengan uraian barang.). Identitas barang meliputi : nama. PPnBM. bauatan. Bila sudah kita tentukan. PPN. Pertamina. Karena pembebanan tersebut sering berubah. maka langkah selanjutnya tinggal menentukan sub-pos (6-digit) dan pos tarif (9-digit) yang sesuai. dan lain-lain. Apabila ada catatan yang mengeluarkan barang tersebut dari Bab atau Bagian yang kita pilih. IP. atau pos mana barang tersebut diklasifikasikan. Ingat. biasanya kita sudah mempunyai gambaran umum apakah barang tersebut diklasifikasikan di bab tersebut atau di bab lainnya. Setelah menemukan satu bab yang paling sesuai berdasarkan kajian di atas. kemasan dan informasi lain yang bergunauntuk mengklasifikasi barang. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 9 . Pilih bab atau bab-bab yang berkaitan dengan spesifikasi barang tersebut. langkah selanjutnya adalah melihat pembebanannya (BM. maka kita mulai menelusuri pos-pos yang mungkin mencakup barang yang akan kita klasifikasikan dalam bab tersebut. 4. Kita identifikasi dulu barang yang akan kita klasifikasi. guna. 3. baca dan perhatikan baik-baik catatan Bagian dan catatan Bab yang berkaitan dengan pilihan bab atau bab-bab pada butir 1. Bab.Klasifikasi Barang Dalam penjelasan ini disajikan tahapan mengklasifikasi barang secara garis besar. Perhatikan penjelasan-penjelasan dalam catatan Bagian maupun catatan Bab yang berkaitan dengan barang yang akan kita klasifikasi. Pada tahap ini kadang-kadang kita sudah dapat menemukan pos yang mencakup barang tersebut dengan rinci. fungsi.

B. Berdasarkan pasal 14 ayat 2 Undangundang Kepabenan Indonesia Nomor 10 tahun 1995. penetapan klasifikasi barang diatur lebih lanjut oleh Menteri Keuangan. Pada saat ini sistem pengklasifikasian barang di Indonesia didasarkan pada Harmonized System dan dituangkan dalam bentuk suatu daftar tarif yang kita kenal dengan sebutan Buku Tarif Bea Masuk Indonesia. a. HARMONIZED SYSTEM 1) Pengantar Klasifikasi barang adalah suatu daftar penggolongan barang yang dibuat secara sistematis dengan tujuan untuk mempermudah pentarifan transaksi perdagangan.Klasifikasi Barang jangan lupa selalu menggunakan pembebanan yang up to date berdasarkan ketentuan yang terbaru. Sejarah Sistem Klasifikasi di Indonesia DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 10 . pengangkutan dan statistik.

yaitu : a. Sistem Brussel (Brussel Tariff Nomenclature atau BTN). Customs Cooperation Council (CCC) yang sekarang dikenal dengan nama World Customs Organisation (Organisasi Pabean Dunia) telah membentuk suatu kelompok studi yang berusaha untuk menciptakan suatu nomenklatur klasifikasi barang yang tidak semata-mata untuk keperluan pabean. Penetapan tarif ini merupakan penyempurnaan dari penetapan tarif sebelumnya dan mulai diberlakukan pada tanggal 1 Juli 1975 sampai dengan 30 september 1980. Pada dasarnya sistem pentarifan ini sama dengan sistem sebelumnya. hanya pada sistem CCCN ini terdapat penyempurnaan sistem penomoran pada sub-pos dari dua digit menjadi tiga digit atau semula 6 digit menjadi 7 digit. mulai berlaku sejak tanggal 1 Januari 1973 sampai dengan 30 Juni 1975. b. Sistem CCCN ini mulai diberlakukan pada tanggal 1 Oktober 1980 sampai dengan 31 Maret 1985. f. tetapi juga digunakan untuk kepentingan lain seperti statistik. Sistem CCCN Edisi 1985 (CCCN 1985). Sistem ini merupakan penyempurnaan dari sistem CCCN sebelumnya dan mulai diberlakukan pada tanggal 1 April 1987 sampai dengan 31 desember 1988. 26 tahun 1988 dan diwujudkan dalam bentuk Buku Tarif Bea Masuk Indonesia 1989 dan dinyatakan berlaku mulai tanggal 1 Januari 1989. Indonesia telah menggunakan beberapa sistem klasifikasi untuk barang impor. Sistem Harmonisasi (Harmonized System). yang berlaku sejak kemerdekaan Republik Indonesia sampai dengan 31 Desember 1972. kelompok studi tersebut berhasil menyusun suatu DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 11 . b.Klasifikasi Barang Sebelum diberlakukannya Harmonized System. Pada akhir tahun 1986. Sistem Jenewa (Geneve Nomenclature). pengangkutan. Sistem Customs Cooperation Council (CCCN). Sistem Brussel Edisi 1975 (BTN 1975). dan negosiasi perdagangan. e. d. Sistem ini diterapkan di Indonesia berdasarkan PP No. c. Mengapa HS ? Sejak tahun 1970.

Untuk memberikan kekuatan hukum yang pasti. Pen jelasan dan penggolongan barang untuk tujuan perdagangan seperti tarif pengangkutan. ii. konvensi HS ditandatangani oleh 70 negara yang sebagian besar adalah negara Eropa. Menyadari hal yang demikian WCO pada tanggal 14 Juni 1983 meluncurkan HS yang mulai berlaku secara internasional pada tanggal 1 Januari 1988.Klasifikasi Barang nomenklatur (daftar klasifikasi barang berdasarkan kelompok-kelompok) yang dinamakan Harmonized Commodity Description and Coding System atau lebih dikenal dengan sebutan Harmonized System (HS). Memudahkan pengumpulan. Pada awalnya. untuk penetapan Tarif Pabean secara mendunia. termasuk Indonesia yang telah meratifikasi konvensi HS dengan Keppres Nomor 35 tahun 1993. Mengapa HS dijadikan dasar klasifikasi secara internasional? Ada beberapa DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 12 . Memperbaharui sistem klasifikasi barang sebelumnya. keperluan pengangkutan. iii. Namun sekarang hampir seluruh negara di dunia telah meratifikasi konvensi ini. Memberikan keseragaman dalam daftar penggolongan barang yang dibuat secara sistematis. dokumentasi dan sebagainya. 2) Tujuan Harmonized System Adanya perbedaan sistem klasifikasi tarif antara negara di dunia. Memberikan Sistem Internasional yang resmi untuk pemberian Kode. perkembangan masyarakat industri dan pola perdagangan Internasional. iv. pembuatan dan analisis Statistik perdagangan dunia. Meskipun baru meratifikasi pada tahun 1993. mengakibatkan timbulnya kesulitan dalam mengantisipasi kemajuan teknologi. sebenarnya Indonesia telah menggunakan BTBMI berdasarkan HS sejak tanggal 1 Januari 1989. dengan tujuan : i. untuk memberikan perhatian kepada perkembangan teknologi dan masyarakat industri serta pola perdagangan Internasional. nomenklatur tersebut disahkan dalam suatu konvensi yang dikenal dengan nama Konvensi HS.

eksportir. World Customs Organization (WCO). d. Publikasi dimaksud adalah: a. yaitu: 1. HS telah dibuat sedemikian rupa sehingga standard klasifikasi barang dan sistem kode penomoran barang dapat dijadikan acuan untuk berbagai kebutuhan oleh berbagai lembaga internasional yang berkaitan dengan perdagangan. HS menggunakan dasar yang seragam untuk keperluan pentarifan secara internasional. The Standard International Trade Classificatioan (SITC) 3) Publikasi Pelengkap HS Harmonized System mempunyai beberapa publikasi pelengkap yang digunakan untuk lebih mempermudah klasifikasi barang. Publikasi-publikasi tersebut juga diterbitkan oleh WCO. 5. e. Merupakan kumpulan data yang seragam secara internasional sehingga dapat digunakan untuk mendukung analisis dan statistik perdagangan internasional. HS adalah pedoman klasifikasi yang sistematik untuk seluruh barang yang diperdagangkan secara internasional. 2. The International Air Transport Association (IATA). 3. pengangkut. 4. Menggunakan “bahasa pabean” sehingga dapat dengan mudah dimengerti oleh importir. The International Union Railway (IUR). b. c. The Explanatory Notes to the Harmonized System (EN) DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 13 . misalnya: a.Klasifikasi Barang keuntungan yang didapat setiap negara yang mengadopsi HS sebagai pedoman klasifikasi barang. produsen. Sederhana dan memberikan kepastian dalam hal aplikasi dan interpretasi yang benar dan sama untuk keperluan negosiasi. The International Chamber or Shipping (ICS). dan aparat bea dan cukai.

Karena pentingnya Explanatory Notes ini.84).63). Explanatory Notes juga mengalami perubahan (amandemen) untuk menyesuaikan isinya dengan struktur HS. Dispute Settled Classification Opinion. sebagian negara anggota WCO mensahkannya sebagai dokumen yang berkekuatan hukum Seiring perkembangan teknologi. Publikasi lain Publikasi lain yang merupakan pelengkap HS adalah the Compendium of Classification Opinions. Volume 3 (Bab 64 . namun sebagaimana disetujui WCO. The Alphabetical Index Untuk mempermudah mengklasifikasikan suatu barang pada pos-pos atau sub-sub pos dalam nomenklatur HS atau Explanatory Notes. 1 (Bab 1 . Untuk itu membaca Explanatory Notes harus selalu disesuaikan dengan konteksnya dalam HS.L) dan Volume II (M Z). yaitu Vol. the Training Modules. Explanatory Notes adalah referensi yang sangat diperlukan untuk mendapatkan interpretasi yang benar dari HS. dan Correlation Tables. dan Volume 4 (Bab 85 . Volume 2 (Bab 30. yaitu Volume I (A .97). the Harmonized System Commodity Data Base (dalam bentuk CD-ROM). c. b. Alphabetical Index terdiri dari dua volume. explanatory notes merupakan interpretasi resmi (official interpretation) dari HS pada level internasional dan merupakan pelengkap yang sangat penting dari HS. Explanatory Notes yang digunakan saat ini adalah edisi kedua (tahun 1996) yang terdiri dari empat volume.29). WCO juga menerbitkan buku indeks yang dikenal dengan nama the Alphabetical Index.Klasifikasi Barang Explanatory Notes bukan merupakan bagian yang integral dari HS. 4) Sistem Pengkodean DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 14 .

Seperti telah disinggung sebelumnya. Masing-masing negara penandatangan konvensi (contracting party) dapat mengembangkan penggolongan 6-digit tersebut menjadi kelompok yang lebih spesifik sesuai dengan kebijaksanaan ekonomi dan industrinya. semua negara mempunyai kesatuan persepsi tentang pengklasifikasian suatu barang. dirancang tidak hanya untuk keperluan kepabeanan. Dengan tetap berdasar kepada HS 6-digit. HS yang tersusun dari pos dan sub-pos. dan 1. Ada tiga Bab yang belum digunakan dalam HS yang ada saat ini. statistik. b.241 pos. dan 99. sedangkan Bab 98 dan 99 digunakan untuk keperluan khusus bagi masing-masing contracting party. dan sebagainya. pengangkutan. yaitu Bab 77. dan Catatan Sub-Pos. Structured nomenclature HS adalah nomenklatur yang terdiri dari 21 Bagian. yaitu: 1.Klasifikasi Barang Harmonized System mempunyai dua karakteristik yang sangat mendasar. Indonesia juga menggunakan Bab 98 untuk keperluan ekspor barang tertentu yang pada bulan April 1999 dicabut kembali. Bab 77 dipersiapkan untuk keperluan di masa mendatang. namun juga dipergunakan secara internasional dalam bidang lain seperti negosiasi perdagangan. Ketentuan Umum Untuk Menginterpretasi Harmonized System (General Rules for the Interpretation of the HS). Harmonized System mempunyai tiga bagian utama atau integral. Catatan Bagian. 98. 96 Bab (+ Bab 77). Catatan Bab. bersama dengan Ketentuan Umum Menginterpretasi. misalnya untuk barang pos atau peralatan pelayaran. Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System (KUM HS) merupakan bagian terpenting yang harus DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 15 . merupakan pedoman mengklasifikasi barang yang sistematik dan seragam. yaitu: a. Multipurpose nomenclature HS yang mempunyai 6 digit penggolongan.

Kode-kode nomor tersebut mencakup uraian barang yang tersusun secara sistematis. 01 Sub-pos (Sub-heading) 0101. BUKU TARIF BEA MASUK INDONESIA 1) Dasar Hukum DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 16 . 2.01. Catatan Bagian. 11 _______ ______________ • Dua angka pertama untuk menunjukkan pada bab mana barang itu diklasifikasikan. Mengingat pentingnya memahami KUM HS. C. Indonesia menggunakan sistem penomoran 10 digit dalam BTBMI yang merupakan penjabaran lebih lanjut dari sub-sub pos dalam HS.Klasifikasi Barang dipahami sebelum melangkah lebih jauh untuk meng klasifikasikan barang menggunakan HS. Penjelasan mengenai hal ini akan dibahas lebih rinci pada penjelasan berikutnya. KUM HS berisi enam prinsip dasar yang harus dipatuhi dalam mengklasifikasi barang. Catatan Bab.11. Sistem penomoran dalam HS terbagi menjadi Bab (2-digit). Pada contoh di atas. barang dimaksud diklasifikasikan pada pos 01. Pos (4-digit) dan Sub-pos (6-digit) yang disusun dengan sistematik. Pada contoh di atas. Pada contoh di atas. barang dimaksud diklasifikasikan pada sub-pos 0101. Enam angka pertama menunjukkan Sub Pos dalam setiap Pos. dan Catatan Sub-Pos. HS menggunakan kode nomor dalam mengklasifikasikan barang. 3. barang dimaksud diklasifikasikan pada Bab 1. bagian ini akan dibahas tersendiri. dan sub-pos (6digit) dengan penjelasan sebagai berikut: 01 __ 01 11 Bab (Chapter) 1 Pos (Heading) 01. • • Empat angka pertama menunjukkan Pos atau Heading dalam setiap bab. pos (4-digit). Untuk keperluan nasional.

Indonesia telah menjadi anggota World Customs Organization. yang kemudian dikenal dengan nama Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan saat ini telah diamandemend dengan UU no.05/1996 tanggal 21 Juni 1996 tentang Penetapan Sistem Klasifikasi Barang dan Besarnya Tarif Bea Masuk Atas Barang Impor. Sebagai anggota WCO. d) Pemenuhan perjanjian serta kesepakatan Internasional. Atas dasar pertimbangan di atas. Perlindungan terhadap konsumen dalam negeri. yang sebelumnya dikenal dengan nama Customs Cooperation Council sejak tanggal 30 April 1957. Berbagai bantuan teknis dalam rangka menunjang kelancaran pelaksanaan sistem dan prosedur kepabeanan Internasional. barang dikelompokkan berdasarkan sistem klasifikasi barang”. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 17 . barang barang dikelompokkan berdasarkan sistem klasifikasi sebagaimana dimaksud dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 1993 tentang Pengesahan International Convention The Harmonized Commodity Description and Coding System beserta protocolnya”. Pasal 14 ayat (1) Undang-Undang ini menyebutkan bahwa “Untuk penetapan tarif Bea Masuk. Indonesia telah menunjukkan peran serta yang aktif dalam kegiatan WCO dan telah banyak menarik manfaat dari organisasi ini. Berdasarkan keputusan Presiden Republik Indonesia nomor 35 tahun 1993. telah diterima oleh Indonesia. Pengurangan hambatan dalam perdagangan Internasional guna mendukung terciptanya perdagangan bebas. Pengaturan lebih lanjut penentuan klasifikasi barang dilakukan dengan memperhatikan: a) b) c) Upaya peningkatan daya saing produk Indonesia dipasar Internasional. Dalam Pasal 1 Keputusan ini disebutkan “Untuk penetapan tarif Bea Masuk. Pemerintah bersama Dewan Perwakilan Rakyat telah berhasil membahas dan menyetujui Rancangan Undang-Undang Kepabeanan.Klasifikasi Barang Pada akhir tahun 1995. penetapan klasifikasi barang ditentukan oleh Menteri Keuangan. 17 tahun 2006 . Pemerintah menerbitkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor : 440/KMK. Selanjutnya berdasarkan pasal 14 ayat 2 Undang-undang tersebut.

01/1995 di atas selanjutnya dijabarkan dalam bentuk penerbitan BTBMI edisi tahun 1996. Berdasarkan Artikel XVI HS Convention. Sebagai tindak lanjutnya . Keputusan Menteri Keuangan Nomor 639/KMK. Penyempurnan Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 1988 tentang Perubahan dan Tambahan atas Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 1969 tentang Pembebasan atas Impor dan Perubahan atas Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 47 Tahun 1986 tentang Bea Masuk Tambahan Atas Barang Impor. Dasar penetapan besarnya tarif bea masuk (bea masuk tambahan dilebur bersama bea masuk) untuk barang bersangkutan. World Customs Organization telah mengesahkan amandemen lampiran konvensi. BTBMI terakhir dengan BTBMI tahun 2007 menggunakan HS ver 2007 berdasarkan AHTN. 01/1995 yang merupakan: 1. berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 81/KMK. Hingga saat ini BTBMI 1996 dimaksud telah beberapa kali diubah atau direvisi sesuai dengan perkembangan kebijaksanaan nasional.Klasifikasi Barang Indonesia telah menjadi Contracting Party dari “International Convention on the Harmonized Commodity Description and Coding Sistem”. Dasar penggunaan sistem klasifikasi barang berdasarkan HS versi 1996. menjadi “HS versi 1996”. 3. 2) Struktur BTBMI DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 18 .05/1994 tanggal 16 Maret 1994 telah ditetapkan bahwa terhitung sejak 1 April 1994 . Klasifikasi struktur barang dalam Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI) mengacu kepada sistem klasifikasi dari HS Convention. Menindaklanjuti adanya amandemen HS 1996 tersebut. yang semula mempergunakan HS versi 1992. 2. Pemerintah pada tanggal 29 Desember 1995 telah mengeluarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 639/KMK.

Kolom pertama adalah kolom “Pos/Subpos/Pos Tarif” yang mencantumkan nomor pos/subpos sebagai berikut : 1) 4 (empat) dan 6 (enam) digit pertama berasal dari teks Harmonized System-World Customs Organization (HS-WCO). BTBMI tidak lain adalah HS yang dimodifikasi atau dijabarkan lebih lanjut untuk digunakan dalam pentarifan dan penanganan barang impor ke Indonesia. Sekarang kta akan mempelajari tentang BTBMI.21. 3) Uraian barang pada pos tarif nasional (10 digit) merupakan teks berasal dari uraian barang dalam bahasa Indonesia. 6 (enam) dan 10 (sepuluh) digit pada bab 98 merupakan teks berasal dari uraian barang dalam bahasa Indonesia. kecuali: ♦ yang 2 digit terakhirnya 00 ( misalnya 8709. BTBMI mempunyai struktur sebagai berikut: 1. beberapa tahun sebelum Indonesia meratifikasi HS Convention dan saat ini yang berlaku adalah BTBMI 2007 berdasarkan AHTN.Klasifikasi Barang Pada bab terdahulu kita telah mempelajari gambaran umum tentang Harmonized System.00 ) berasal dari teks AHTN. ♦ yang 4 digit terakhirnya 00.11. 2) Uraian barang pada subpos ASEAN (8 digit) merupakan terjemahan dari teks AHTN. 4) 4 (empat).00 ) berasal dari teks HS – WCO. Kolom kedua adalah kolom “Uraian Barang” dalam bahasa Indonesia yang disusun dengan pola sebagai berikut: 1) Uraian barang pada pos (4 digit) dan subpos (6 digit) merupakan terjemahan dari teks HS-WCO. kecuali: DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 19 . BTBMI adalah buku tarif bea masuk yang digunakan di Indonesia semenjak 1989 yaitu.10. 3) 10 (sepuluh) digit merupakan teks berasal dari uraian barang dalam bahasa Indonesia. Kolom : a.00. 2) 8 (delapan) digit berasal dari teks AHTN.00 ( misalnya 8709. b.

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 20 .00. 4) Khusus uraian barang dalam bab 98 merupakan teks berasal dari uraian barang dalam bahasa Indonesia. Kolom keempat adalah kolom “Bea Masuk Umum” yang mencantumkan pembebanan tarif bea masuk atas barang impor berlaku umum berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 547/KMK.01/2003 tanggal 18 Desember 2003.10.00 ) merupakan teks AHTN.00 ) berasal dari teks AHTN.00 ) berasal dari teks HS – WCO.00.Klasifikasi Barang ♦ yang 2 digit terakhirnya 00 ( misalnya 8709. Kolom kelima adalah kolom “Bea Masuk CEPT” yang mencantumkan pembebanan tarif bea masuk yang berlaku untuk impor barang dari negaranegara ASEAN dalam rangka Skema CEPT berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 546/KMK. Kolom ketiga adalah kolom “Description of Goods” dalam bahasa Inggris yang disusun dengan pola sebagai berikut : 1) Uraian barang pos (4 digit) dan subpos (6 digit) merupakan teks HSWCO dalam bahasa Inggris. c. d.00 ( misalnya 8709.00 ) merupakan teks asli HS – WCO.11.10. ♦ yang 4 digit terakhirnya 00. ♦ yang 4 digit terakhirnya 00. 4) Khusus uraian barang dalam bab 98 merupakan teks berasal dari uraian barang dalam bahasa Indonesia. kecuali : ♦ yang 2 digit terakhirnya 00 ( misalnya 8709. 3) Uraian barang pada pos tarif nasional (10 digit) merupakan terjemahan dari teks bahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris. 2) Uraian barang pada subpos ASEAN (8 digit) merupakan teks AHTN dalam bahasa Inggris.21.21.01/2003 tanggal 18 Desember 2003.11.00 ( misalnya 8709. e.

Tanda strip (-) pada kolom Bea Masuk CEPT berarti komoditi pada pos tarif bersangkutan tidak termasuk dalam skema CEPT. g. Kolom keenam adalah kolom “PPN” yang mencantumkan pembebanan tarif PPN berdasarkan Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 18 Tahun 2000.Klasifikasi Barang f. Kolom kesembilan adalah kolom “Keterangan” yang disediakan untuk mencantumkan keterangan tambahan yang dianggap perlu dan ketentuan lain yang belum ditampung pada kolom-kolom sebelumnya. Tanda strip (-) pada kolom PPN atau PPnBM berarti komoditi pada pos tariff bersangkutan tidak dikenakan pembebanan PPN atau PPnBM. 3.01 sampai dengan 87. Kolom kedelapan adalah kolom “Larangan/Pembatasan” yang mencantumkan ketentuan larangan atau pembatasan barang impor berdasarkan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 230/MPP/KEP/7/1997 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 62/MPP/KEP/02/2001 dan tata niaga impor dan peredaran bahan berbahaya tertentu ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 254/MPP/KEP/7/2000. serta ketentuan instansi teknis lainnya.03/2003 tanggal 28 Januari 2003 dan Nomor 355/KMK. Pencantuman tanda asterisk (*) pada kolom pembebanan tarif ditujukan untuk hal-hal sebagai berikut : a.03/2003 tanggal 11 Agustus 2003. b.04/2000 dan Nomor 570/KMK. Pencantuman tanda strip (-) pada kolom pembebanan tarif ditujukan untuk hal-hal sebagai berikut : a. Pencantuman tanda satu asterisk (*) pada kolom “Bea Masuk Umum” berarti pembebanan impornya mengikuti tarif pada pos tarif 87. h. 2. Kolom ketujuh adalah kolom “PPnBM” yang mencantumkan pembebanan tarif PPnBM yang ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 569/KMK. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 21 .05.04/2000 sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 39/KMK. i.

Pencantuman tanda satu asterisk (*) pada kolom “PPN”. 2 digit selanjutnya mengacu kepada AHTN dan 2 digit terakhir adalah pecahan pos tarif nasional. PPN. Apabila terdapat keraguan dalam menginterpretasikan teks yang tercantum dalam Catatan Penjelasan Tambahan (SEN). dan PPnBM ditetapkan oleh Menteri Keuangan. Bab 07 : Sayuran.00 Selada kubis (selada bongkahan) (1) Dua digit pertama (07) menunjukkan Bab.).00.05: Selada (Lactuca sativa) dan chicory (Chicorium spp. 19 dan 20. Sistem Penomoran Sistem penomoran klasifikasi dalam BTBMI menggunakan 10-digit dengan susunan 6 digit pertama mengacu pada konvensi HS. Nomor Pos tarif (10-digit) dan uraiannya. Pos 07. perhatikan contoh berikut: 0705.11. terdapat juga BM Anti Dumping yang ditetapkan tersendiri oleh Menteri Keuangan. Perlu diingat bahwa selain BM yang tercantum dalam BTBMI. Untuk memahami sistem penomoran tersebut. 4 Catatan Penjelasan Tambahan (SEN) merupakan pedoman dalam menginterpretasikan pengertian maupun istilah teknis barang yang tercantum dalam Subpos pos tarif tertentu.Klasifikasi Barang b. akar dan bonggol tertentu yang dapat dimakan. Bea Masuk Anti Dumping berlaku di Indonesia sejak tanggal 1 April 1996 berlandaskan Undang-Undang Nomor 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan sesuai pasal 18. (2) Empat digit pertama (0705) menunjukkan Pos. PTNI (Peraturan Tata Niaga Impor) ditetapkan oleh Menteri Perindustrian dan Perdagangan. besarnya BM. segar atau DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 22 . maka yang mengikat secara hukum adalah teks asli SEN dalam bahasa Inggris. “PPnBM” dan “Larangan/Pembatasan” berarti pengenaan PPN. 3) Kode Penomoran dan Pentakikan a. PPnBM dan pemberlakuan ketentuan larangan/pembatasan berlaku hanya terhadap sebagian jenis barang atau sebagian kelompok barang dalam pos tarif bersangkutan.

Sub-pos 0705.... Di bawah ini disajikan contoh sistem takik dengan menggunakan contoh yang sudah ada (pos tarif 0705. dengan penjelasan sebagai berikut: (1) Pos (4-digit) tidak diberi takik.Segar 0705.11.11.10) menunjukkan Sub-pos yaitu selada..11 dipecah lagi menjadi pos tarif yang lebih rinci.10 . (3) Enam digit pertama (0705.000): 07.10 .00 -. HS/BTBMI juga menggunakan sistem takik (dash.00. maka digunakan pemecahan menggunakan tiga takik pada digit 9 dan 10. segar atau dingin). misalnya : 0705. demikian seterusnya sehingga diperoleh pengelompokan barang yang lebih rinci.00. (4) Bila uraian pada butir c dipecah lagi.10: .00) menunjukkan Pos Tarif 0705.Dingin DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 23 .. (3) Bila uraian pada butir b dipecah. (2) Penggunaan satu takik (-) dimulai pada uraian Sub-pos (6-digit).00. digunakan dua takik (.19: 0705.20 .Lain-lain) b.05 Selada (Lactuca sativa) dan chicory (Chicorium spp.11.-).00.00 : .-).Selada (4) Sepuluh digit pertama (0705.19.. digunakan tiga takik (.11.Klasifikasi Barang dingin. Sistem Takik Selain menggunakan sistem nomor.11 dan 0705 19. 0705.10 tidak dicantumkan karena sub-pos tersebut dipecah lagi menjadi sub-pos 0705. -) untuk mengklasifikasi barang.11. dalam HS/BTBMI sub-pos 0705.10 dipecah menjadi 0705. 0705.Selada * Ingat.11 dan 0705. Apabila pos tarif 0705.). khusus untuk negara Indonesia.00.Selada kubis (selada bongkolan).

10 3901. Pos 07.94: -. 80. .Mutu farmasi DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 24 .Segar 0705. maka : 0705. Contoh: Barang tertentu A .07 (Ketimun dan ketimun acar.11. 5) Pemecahan pos tarif (10-digit) juga mengikuti pola di atas... -. yaitu barang tertentu dan lainlain.Polietilena berat jenis kurang dari 0..barang tertentu B : Pos 07.01 (Kentang.11.10. Barang tertentu mempunyai kode 10. perhatikan digit kelima dan keenam.10. 2) Dalam HS/BTBMI hanya ada dua jenis barang. sub-pos. 30. 4) Bila pos dipecah menjadi sub-sub pos.. contoh : 1) sub-pos 0705. Barang tertentu A . segar atau dingin) dibagi menjadi bibit dan lain-lain. 3) Setiap kelompok barang di atas (baik dalam pos. yaitu barang tertentu A .11. dalam BTBMI tidak dicantumkan (hanya dicantumkan uraian barangnya yaitu: . Kedua jenis barang tersebut dapat dipecah kembali lagi menjadi dua kelompok di atas (barang tertentu dan lain-lain) yang lebih spesifik.11 dan 0705.01 3901.10. Mari kita lihat contoh berikut: 39.19.00 --. segar atau dingin) dibagi menjadi ketimun dan ketimun acar saja...Butiran 3901. 20.barang tertentu B atau barang tertentu A .21..00 -.barang lainnya (lain-lain).10.barang lainnya (lain-lain). dalam bentuk asal.Polimer dari etilena.10. maupun pos tarif) dibagi atau dirinci dengan dua cara.Dalam bentuk padat -.Klasifikasi Barang Namun apabila ASEAN misalnya akan membagi dari subpos 0705.Dingin Perlu diperhatikan bahwa kadang-kadang nomor sub-pos atau pos tarif yang dipecah lebih lanjut tidak dicantumkan secara eksplisit dalam BTBMI.00 .20.selada) karena sub-pos tersebut dipecah lebih lanjut menjadi 0705.00 .

.Bentuk lain : 3901..91. • • • • 4) Barang tertentu mempunyai kode 10.Cair atau pasta -.10.00 listrik 3901.10.10. Pos. bandingkan dengan uraian barang pada bab-bab terdahulu. 30... bandingkan dengan uraian barang pada sub-sub pos terdahulu. 92..00 --. Demikian juga kode 900 bila dipecah menjadi 91.22.00 --.Digunakan dalam pembuatan kabel telepon atau kabel Untuk pemecahan pos tarif.Lain-lain --. digunakan digit kesembilan. Kata “lain-lain” terdapat pada Bab. 19. 99.Lain-lain.00 3901. .10.. 20. d) apabila kata “lain-lain” dimaksud terdapat pada sub-pos. . 12.perhatikan dua digit terakhir.29. perhatikan hal-hal berikut ini: a) bandingkan kelompok barang “lain-lain” dimaksud dengan kelompok barang yang setara.10.23. bandingkan dengan uraian barang pada pos-pos terdahulu dalam bab yang sama.. yaitu menjadi 11. b) apabila kata “lain-lain” dimaksud terdapat pada bab.. dalam pos yang sama. Arti kata “lain-lain” Dalam klasifikasi BTBMI dengan sistem HS kata “Lain-lain”.Mutu kabel --. digunakan dalam pembuatan kabel telepon atau kabel listrik 3901.30. .Klasifikasi Barang 3901. berfungsi untuk menampung barang yang belum disebut pada uraian jenis barang sebelumnya. Bila kode 10 dipecah lagi menjadi lebih rinci. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 25 .00 3901.10. c) apabila kata “lain-lain” dimaksud terdapat pada pos. Sub-Pos dan Pos Tarif Nasional Untuk dapat memahami arti kata “Lain-lain” . Barang lainnya (lain-lain) diberi kode 90.Lain-lain -..00 --.99.

Cara membaca: Lain-lain (3): barang selain C1 dan C2. pada sub-pos yang sama. Lain-lain (3) adalah termasuk kelompok barang A selain A1 dan A2. selain B1 dan B2. Di bawah ini disajikan mengetahui kelompok barang yang termasuk lain-lain dengan menggunakan metode diagram pohon dengan contoh sebagai berikut: • • • • • • Barang A dibagi menjadi barang A1. A2. bandingkan dengan uraian barang pada pos-pos tarif terdahulu. B2. Lain-lain (2) adalah termasuk kelompok barang A selain A1 dan A2. Lain-lain (2): barang selain B1 dan B2. C2. yang termasuk dalam barang A. selain C1 dan C2. Metode di atas dapat difahami dengan lebih mudah apabila kita dapat menggambarkannya dalam bentuk diagram pohon. dan Lain-lain (1). dan Lain-lain (2). Lain-lain (1): barang selain A1 dan A2. yang termasuk dalam Lain-lain (2). sehingga akan jelas kelompok barang mana yang akan dibandingkan dengan barang lain-lain barang lain-lain yang ingin kita ketahui. dan Lain-lain (3).Klasifikasi Barang e) apabila kata “lain-lain” dimaksud terdapat pada pos tarif. yang termasuk dalam Lain-lain (1). Barang Lain-lain (2) dibagi menjadi barang C1. Barang Lain-lain (1) dibagi menjadi barang B1. Lain-lain (3) adalah termasuk kelompok barang A selain A1 dan A2. pengertian kata lain-lain DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 26 . Jadi. selain B1 dan B2. Dengan sedikit latihan menggunakan BTBMI.

Pos 01. b) Judul Pos. Di bawah ini disajikan beberapa contoh pengertian kata lain-lain yang terdapat dalam BTBMI: a) Judul Bab. tanpa dikaitkan dengan catatan Bagian.Klasifikasi Barang tersebut akan dapat dengan mudah dimengerti. Dalam diktat ini pengertian lainlain dibatasi pemahamannya sebatas berkaitan dengan uraian jenis barang pada judul Bab. Secara lebih rinci uraian pos tersebut dapat diuraikan menjadi: Binatang hidup. hidup yang belum disebutkan pada sub-sub pos sebelumnya. maupun catatan Sub-pos. bebek. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 27 . 6) selain kuda. keledai. catatan Bab.90 : .. Secara lebih rinci judul bab tersebut dapat diuraikan menjadi “Tekstil dan barang tekstil.Lain-lain Kata lain-lain dalam sub-pos ini berfungsi untuk menampung binatang sejenis lembu. dengan Bab 62”. bagal dan hinnies. Pos..06: Binatang hidup lainnya. selain babi 7) selain biri-biri dan kambing 8) selain unggas dari jenis : ayam spesies Gallus domesticus.. Sub-pos maupun Pos tarif nasional. Bab 63: Barang tekstil sudah jadi lainnya . kalkun dan ayam mutiara c) Judul Sub Pos Sub-pos 0102. Kata lainnya dalam pos ini berfungsi untuk menampung binatang hidup yang belum disebutkan pada pos-pos sebelumnya. selain binatang sejenis selain yang telah disebutkan pada Bab 50 sampai lembu. Secara singkat makna kata lainnya berfungsi untuk menampung barang tekstil sudah jadi yang belum disebutkan pada bab-bab sebelumnya dalam Bagian XI. Secara lebih rinci uraian dalam sub-po stersebut dapat diuraikan menjadi: Binatang hidup.

Bagaimana sistem penomoran Harmonized System ? 7. Apa yang dimaksud dengan sistem pentakikan dalam penomoran HS? 10. data apa yang diperlukan mengenai pompa tersebut ? 3. Bagaimana cara membaca pengertian kata “Lain-lain” dalam BTBMI ? 1. Latihan 1 1. Rangkuman 1. Apa tujuan Harmnized System 6. Apa isi Buku Tarif Bea Masuk Indonesia ? 9.2. Dalam kegiatan belajar ini telah dijelaskan dengan singkat langkah-langkah DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 28 . bagal dan hinnies. Apa yang dimaksud dengan Harmonized System ? 5. Bila akan diimpor sebuah pompa air yang menggunakan tenaga listrk.Klasifikasi Barang 9) selain kuda. keledai. namun bukan untuk bibit 1. Pasal berapa dalam Undang-undang no. Bagaimana langkah-langkah dalam meng klasifi kasi barang ? 4. 10) termasuk binatang sejenis lembu.3. Mengapa kita harus mengidentifikasi barang sebelum mengklasifikasinya ? 2. 10 tahun 1995 yang berkaitan dengan klasifikasi barang ? 8.

Klasifikasi Barang praktis dalam mengklasifikasi barang. Berdasarkan pasal 14 ayat 2 Undang-undang Kepabenan Indonesia Nomor 10 tahun 1995. komposisinya. Perbedaan sistem klasifikasi tarif antara negara di dunia. fungsi. Bagaimana seandainya yang akan kita klasifikasikan adalah suatu bahan kimia? Sebelum mengklasifikasi kita memerlukan identifikasi untuk mendapatkan informasi mengenai: : organik atau anorganik. berdasarkan keputusan Presiden Republik Indonesia nomor 35 tahun 1993. Dalam mengklasifikasi barang menggunakan BTBMI. 2. HS menggunakan kode nomor dalam mengklasifikasikan barang. perkembangan masyarakat industri dan pola perdagangan Internasional. menentukan klasifikasi barang. e. kegunaannya. bahan baku dan semua informasi mengenai barang. identifikasi barang. 3. c. Indonesia menggunakan sistem penomoran 10 digit dalam BTBMI yang merupakan penjabaran lebih lanjut dari sub-sub pos dalam HS. WCO meluncurkan HS yang mulai berlaku secara internasional pada tanggal 1 Januari 1988. melihat BTBMI . mengakibatkan timbulnya kesulitan dalam mengantisipasi kemajuan teknologi. 5. Kode-kode nomor tersebut mencakup uraian barang yang tersusun secara sistematis. 4. Untuk keperluan nasional. Sebagai DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 29 . pengangkutan dan statistik. mempelajari jenis. d. prosedur yang digunakan adalah sebagai berikut : a. bentuk asal atau preparat. dan sebagainya. Indonesia telah menjadi Contracting Party dari “International Convention on the Harmonized Commodity Description and Coding Sistem”. Pada saat ini sistem pengklasifikasian barang di Indonesia didasarkan pada Harmonized System dan dituangkan dalam bentuk suatu daftar tarif yang kita kenal dengan sebutan Buku Tarif Bea Masuk Indonesia. Klasifikasi barang adalah suatu daftar penggolongan barang yang dibuat secara sistematis dengan tujuan untuk mempermudah pentarifan transaksi perdagangan. b. merumuskan identitas. bentuknya.

berfungsi untuk menampung barang yang belum disebut pada uraian jenis barang sebelumnya. sertificate of analysis. -) untuk mengklasifikasi barang 7. Kata “lain-lain” terdapat pada Bab. jenis dan spesifikasi lainnya secara akurat. ( B .4. Dalam klasifikasi BTBMI dengan sistem HS kata “Lain-lain”. Sistem penomoran klasifikasi dalam BTBMI menggunakan 10-digit dengan susunan 6 digit pertama mengacu pada konvensi HS dan 2 digit terakhir adalah pecahan pos tarif nasional. Sub-Pos dan Pos Tarif Nasional. 3. perdagangan internasional dan pengangkutan laut. seperti Pabean. ( B .S ) Untuk mengklasifikasi barang diperlukan data mengenai nama. 1. brosur. HS/BTBMI juga menggunakan sistem takik (dash. Lingkarilah huruf B apabila pernyataan ini Saudara anggap benar dan huruf S apabila pernyataan Saudara anggap salah.Klasifikasi Barang tindak lanjutnya struktur Klasifikasi barang dalam Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI) mengacu kepada sistem klasifikasi dari HS Convention 6. Salah satu tujuan HS adalah untuk DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 30 .S ) Customs Cooperation Council di Brussels pada tanggal 14 Juni 1983 menghasilkan Konvensi Internasional tentang The Harmonized Commodity Description and Coding System (HS) dan mulai berlaku di Indonesi sejak tanggal 1 Januari 1988. Selain menggunakan sistem nomor. ( B . 2. pengertian kata lain-lain tersebut akan dapat dengan mudah dimengerti 1. Informasi mengenai barang tersebut dapat kita peroleh melalui : kondisi fisik. Dengan sedikit latihan menggunakan BTBMI. Pos. statistik. udara dan kereta api. Test Formatif 1 A.S ) HS bersifat harmonis karena standard klasifikasi dan sistem kode penomoran barang digunakan untuk berbagai kepentingan. label kemasan dan data lainnya.

c. Heading. ( B .Klasifikasi Barang memberikan ketidak seragaman secara internasional penggolongan barang dalam tarif pabean. c.S ) Apabila terdapat perbedaan sistem klasifikasi pada setiap negara akan memperpanjang waktu untuk penetapan bea masuk dan pengeluaran barang impor di pelabuhan. ( B . Catatan Bagian. Untuk mengklasifikasi barang. d. 5. karena yang utama adalah uraian B. The Harmonized Commodity Description and Coding System (HS) mulai berlaku secara internasional sejak : a.S ) Ditinjau dari fungsi pengklasifikasian. tanggal 1 Januari 1989 tanggal 1 Agustus 1988 tanggal 31 Januari 1988 tanggal 11 Januari 1989 3. b. barang dikelompokkan berdasarkan sistem klasifikasi barang. struktur HS terdiri dari : KUM HS . Bunyi kalimat diatas sesuai dengan bunyi UU no. atau d ) 1. pasal 16 pasal 115 pasal 14 pasal 116 2. Fungsi dasar HS adalah untuk memberikan keseragaman dalam mengklasifikasi barang guna memberikan kemudahan pada perdagangan internasional. Demikian dalam kekuatan hukumnya sama. b. 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan pada : a. b. dikenal prosedur umum untuk mengklasifikasi DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 31 . Bab dan Subheading . barangnya. c. d. 4. Untuk penetapan tarif bea masuk. Pilihlah jawaban yang Saudara anggap benar dengan cara melingkari huruf yang terdapat di depan jawaban tersebut a. sub-heading dan penomoran hingga ke Pos tarif (10 digit).

. mengidentifikasi barang dengan mempelajari jenis dan spesifikasinya merumuskan identitas atau deskripsi barang tersebut melihat Buku Tarif klasifikasinya d. pernyataan a. maka sebutkan pernyataan dibawah ini yang tidak benar a. karena uraian jenis barangnya tidak ada dalam BTBMI 5.Klasifikasi Barang barang.. d. 3. c. sebelum HS ! 2. b. a. selalu berubah pernyataan a. d.. b dan c benar C.. Jelaskan apa yang dimaksud dengan konvensi HS ? Mengapa kita memilih suatu system seperti HS dalam menentukan klasifikasi barang ? 4.. Pencantuman besarnya Bea Masuk pada Buku tarif Bea Masuk Indonesia : a. Jenis suatu jenis barang dimungkinkan tidak ada dalam HS Dapat terkait dengan beberapa bab Mengklasifikasi barang seluruhnya harus tepat secara eksak Barang tidak dapat diklasifikasikan. hanyalah sementara (mengikuti surat Keputusan Menteri Keuangan RI) b. 5. Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan singkat dan benar 1. 4. b.. Sebutkan 3 Sistem dalam mengklasifikasi barang yang pernah digunakan Pemerintahan Republik Indonesia.. b dan c benar Bea Masuk Indonesia dan menentukan Dalam pengamatan sementara untuk mengklasifikasi barang. Sebutkan tujuan Harmonized System ? Apakah besarnya tarif bea masuk Indonesia secara hukum sesuai seperti apa yang tertulis dalam BTBMI tersebut ? DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 32 .. c. harus mengacu kepada perkembangan terakhir besarnya penetapan Bea Masuk c. Prosedur tersebut secara umum ialah .

Hitunglah jumlah jawaban Anda yang benar atau sejauh mana Anda menguasai mata pelajaran tersebut.. Umpan Balik dan Tindak Lanjut Bandingkanlah hasil jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif yang ada di belakang modul ini...... Untuk kelompok C : Apabila benar seluruhnya nilai menjadi 100 DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 33 .. Kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap terhadap materi kegiatan belajar Rumus Tingkat Penguasaan Untuk kelompok A dan B : Jumlah Jawaban yang benar dibagi 10 kemudian dikali 100 % = ...5...Klasifikasi Barang 1.

Ketentuan umum untuk menginterpretasikan Harmonized System 2.Klasifikasi Barang Untuk nilai keseluruhan maka dibagi rata-rata dari (A+B) dan C Arti tingkat penguasaan : * 90 % . Nota Penelitian Klasifikasi Barang DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 34 . Tahapan dalam mengklasifikasi barang 3.100 % * 80 % * 70 % * 89 % 79 % 69 % = Baik sekali = Baik = Cukup = Kurang Kalau Anda mencapai tingkat penguasaan 80% keatas Anda dapat meneruskan kepada modul atau bagian pelajaran lain. bila tingkat penguasaan Anda masih dibawah 80 %. terutama bagian yang belum Anda kuasai 2. Anda harus mengulangi membaca Modul kembali. Kegiatan Belajar (KB) 2 TEKNIK KLASIFIKASI BARANG Indikator Keberhasilan : Setelah mempelajari materi diharapkan siswa mampu menjelaskan 1. Hasilnya Baik ! akan tetapi.

asalkan pos atau Catatan tersebut tidak menentukan lain. A. klasifikasi harus ditentukan menurut uraian yang terdapat dalam pos dan berbagai Catatan Bagian atau Bab yang berkaitan serta menurut ketentuan-ketentuan berikut ini. KUM HS mutlak diperlukan sebagai pedoman dasar yang tidak boleh ditinggalkan.Klasifikasi Barang 2. Seorang klasifikator harus memiliki kemampuan dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang karena akan menentukan ketepatan pengisian Pemberitahuan Impor Barang yang pada akhirnya menentukan ketepatan jumlah bea masuk dan pungutan impor lainnya yang harus dibayar. marilah kita pelajari satu-persatu enam butir KUM HS tersebut. Uraian dan Contoh Seorang klasifikator dibidang kepabeanan harus dapat mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang dengan terampil. seorang klasifikator harus terlebih dahulu memahami pengetahuan barang dan pengetahuan mengenai klasifikasi barang. sadar atau tidak. Oleh karena itu. salah satu ketentuan dalam KUM HS harus dipergunakan.1. Untuk itu. untuk tujuan hukum. Bab dan Sub-bab hanya dimaksudkan untuk memudahkan referensi saja. KETENTUAN UMUM UNTUK MENGINTERPRETASI HARMONIZED SYSTEM 1) Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 1 Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System (KUM HS) merupakan pintu gerbang untuk memasuki klasifikasi barang. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 35 . Mengingat begitu kompleksnya teknik klasifikasi barang. Setiap kali melakukan kegiatan klasifikasi barang. KUM HS 1 : Judul Bagian.

tetapi diklasifikasikan khusus pada bab 50. Apabila pos dan catatan-catatan tersebut tidak menentukan lain. Batasan ini tidak boleh diperluas dengan menggunakan KUM HS 2(b). catatan 2 Bab 31 menjelaskan pos 31.Klasifikasi Barang Penjelasan: HS adalah nomenklatur yang bersifat sistematik. Karena itu perlu diingat agar selalu mempertimbangkan semua bab atau pos yang mungkin mencakup suatu barang. 4. tetapi karena sifatnya yang khusus dalam HS tidak diklasifikasikan pada bab 5 (produk hewani tidak dirinci atau termasuk dalam pos lainnya).dapat mendemontrasikan beberapa permainan dalam pertunjukan sirkus Pengklasifikasian apakah pada bab 1 atau bab 95 Perhatikan gambar keledai yang biasa digunakan untuk sirkus. dan catatan sub-pos. 3. Yang mempunyai kekuatan hukum adalah pos (heading). catatan bab.jenis keledai . sutera adalah produk hewani. tidak mempunyai kekuatan hukum. Spesifikasi keledai : .umur 2 tahun . catatan bagian. tidak mungkin semua jenis barang dapat dicakup dengan persis pada setiap bab. dalam hal KUM HS 1 tidak bisa digunakan barulah digunakan KUM HS 2. Uraian pada bab hanya untuk referensi saja. Contohnya. Contohnya.02 hanya untuk produk tertentu. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 36 . dan 5. Namun mengingat banyaknya jenis barang. Uraian pos dan catatan-catatan tersebut merupakan pertimbangan utama.

dan tiap setnya tidak ada sadel dan ban dalamnya.Klasifikasi Barang Bagaimana pengklasifikasiannya bila keledai tersebut diimpor oleh grup sirkus dari jerman ? 2) Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 2a dan 2 b KUM HS 2 a : Setiap referensi untuk suatu barang dalam suatu pos harus dianggap meliputi juga referensi barang tersebut dalam keadaan tidak lengkap atau belum rampung. Referensi ini harus dianggap juga meliputi refensi untuk barang tersebut dalam keadaan lengkap atau rampung (atau yang berdasarkan ketentuan ini dapat digolongkan sebagai lengkap atau rampung) yang diajukan dalam keadaan belum dirakit atau terbongkar. barang yang tidak lengkap atau belum rampung tersebut memiliki karakter utama dari barang itu dalam keadaan lengkap atau rampung. asalkan pada saat diimpor sudah mempunyai sifat utama sebagai barang lengkap atau rampung Sebagai contoh beberapa set sepeda yang diimpor dalam keadaan terurai. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 37 . asalkan pada saat diajukan. Namun tetap dianggap set sepeda karena sifat utamanya sebagai sepeda telah dimiliki. Penjelasan: Barang tidak lengkap atau tidak rampung dianggap sebagai barang lengkap atau rampung.

03 (-lard oil. maka KUM HS DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 38 . Barang yang terdiri lebih dari satu jenis bahan atau zat harus diklasifikasikan sesuai prinsip dari Ketentuan 3. pos 15. Contoh.. ketentuan ini hanya berlaku apabila pos atau catatan bagian atau catatan bab tidak menentukan lain. Setiap referensi untuk barang dari bahan atau zat tertentu harus dianggap juga meliputi referensi untuk barang yang sebagian atau seluruhnya terdiri dari bahan atau zat tersebut.bisa dikendarai oleh orang tua maupun anakanak : Perhatikan gambar sepeda diatas. harus dianggap juga meliputi referensi untuk campuran atau kombinasi dari bahan atau zat itu dengan bahan atau zat lain. Ingat. .).. maka pengklasifikasiannya tetap sebagai susu. Bagaimana pengklasifikasiannya bila sepeda tersebut : a) tidak dicat .tidak diemulsi atau dicampur..Ada alat perubah kecepatan .Sepeda merk :”Bamby” .memiliki laher dalam as ban . Sebagai contoh suatu susu yang telah ditambah sedikit vitamin. Mengapa demikian ? karena sifat sebagai susunya tidak berubah. Penjelasan: Campuran atau kombinasi dua atau lebih bahan atau zat diklasifikasikan berdasarkan KUM HS 1.Klasifikasi Barang Spesifikasi : .b) tidak ada sadelnya c) dalam keadaan terurai KUM HS 2 b : Setiap referensi untuk suatu bahan atau zat dalam pos.. karena uraian posnya sudah menyebutkan bahwa produk dalam pos tersebut tidak dicampur.

Apabila tambahan atau campuran bahan atau zat menghilangkan sifat barang seperti diuraikan pada pos. b dan c KUM HS 3 : Apabila dengan menerapkan Ketentuan 2 (b) atau untuk berbgaia alasan lain. Penggunaan KUM HS 3 harus urut dari KUM HS 3(a). KUM HS 2(b) tidak dapat digunakan (harus digunakan KUM HS 3). Sekali lagi diingatkan.Klasifikasi Barang 2(b) tidak berlaku. baru kemudian KUM HS 3(c). KUM HS 3 baru dipergunakan DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 39 . Bagaimana pengklasifikasian tutup botol tersebut. KUM HS 3(b). barang yang dengan pertimbangan awal dapat diklasifikasikan dalam dua pos atau lebih. maka klasifikasiannya harus diberlakukan sebagai berikut : Penjelasan: KUM HS 3 hanya dipergunakan bila KUM HS 2 tidak bisa dipergunakan.bagian luarnya dilapisi plastik.Terbuat dari gabus . bagaimana bila sumbat botol bagian atas dilapis plastik ? 3) Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 3a. apakah pada bab 45 atau bab 39 Perhatikan sumbat botol diatas. Spesifikasi tutup botol : .

Dalam hal ini KUM HS 3(c) tidak berlaku. KUM HS 3 a : Pos yang memberikan uraian yang paling spesifik. Pos yang menyebutkan nama barang lebih diutamakan dari pos yang menyebutkan kelompok barang.09 (self-contained motor). Contoh. Saringan oli walau sebagai bagian dari mesin pada pos 8409. harus diklasifikasikan pada pos terdahulu awal (berarti bertentangan dengan KUM HS 3c ). maka pos-pos tersebut harus dianggap setara sepanjang berkaitan dengan barang tersebut. harus lebih diutamakan dari pos yang memberikan uraian yang lebih umum. Penjelasan: Pos dengan uraian lebih spesifik lebih diutamakan dari pos dengan uraian yang lebih umum.atau hanya merujuk kepada bagian dari bahan atau zat terkandung dalam campuran atau barang komposisi atau hanya merujuk kepada bagian dari barang dalam set yang disiapkan untuk penjualan eceran. bukan pada pos 85.Klasifikasi Barang apabila uraian pos. apabila dua pos atau lebih yang masing-masing pos hanya merujuk kepada bagian dari bahan atau zat yang terkandung dalam barang campuran atau barang komposisi. Contoh shavers/hair clippers diklasifikasikan pada pos 85. namun pos 8421 uraian barangnya lebih rinci. Pos yang menyebutkan barang yang disebutkan secara rinci lebih diutamakan dari pos yang menyebutkan bagian suatu barang.05 dan juga dirinci pada pos 97.10. maka KUM HS 3(a) tidak DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 40 . catatan bagian. catatan 4(b) bab 97 menentukan bahwa barang yang dirinci pada pos 97. bukan pada pos 87. Contoh. atau catatan bab tidak menentukan lain.06. tufted textile for motor cars diklasifikasikan pada pos 57. Namun demikian. atau bagian dari item dalam satu set barang untuk penjualan eceran.03. walaupun salah satu dari pos tersebut memberikan uraian yang lebih lengkap atau lebih tepat.08.01 sampai dengan 97. Apabila dua atau lebih pos menguraikan hanya bagian dari bahan atau zat yang terkandung dalam suatu barang campuran atau komposit.

10). Beberapa produk/barang bersama-sama untuk keperluan/kegiatan tertentu. kemasan. dan bahan utama yang berkaitan dengan penggunaan barang. dan bila KUM HS 3(a) tidak bisa digunakan. meskipun salah satu pos lebih rinci dari pos lainnya. berat atau nilai. harus diklasifikasikan berdasarkan bahan atau komponen yang memberikan karakter utama barang tersebut. dan barang yang dikemas dalam bentuk set untuk penjualan eceran. mutually complementary. Contoh. barang komposit yang terdiri dari bahan yang berbeda. KUM HS 3 b : Barang campuran dan barang komposisi yang terdiri dari bahan yang berbeda atau yang dibuat dari komponen yang berbeda. sisir DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 41 . barang komposit yang terdiri dari komponen yang berbeda. asalkan satu sama lain adapted to the other. Penjelasan: KUM HS 3(b) hanya berlaku untuk campuran.Klasifikasi Barang berlaku dan digunakan KUM HS 3(b) atau 3(c). Contoh set: hairdressing set yang terdiri dari electric hair clipper (85. Yang dimaksud dengan karakter utama (Essential character) pada KUM HS ini mengacu pada bahan atau komponen. sepanjang kriteria ini dapat diterapkan. serta barang yang disiapkan dalam set untuk penjualan eceran. KUM HS 3(b) berlaku juga untuk komponen yang terpisah. jumlah. ready-toeat-meal). Yang dimaksud dengan barang dikemas dalam bentuk set untuk penjualan eceran yaitu: • • • Paling sedikit dua produk yang berbeda pos (sembilan sendok bukan set). dan bersama-sama membentuk barang jadi yang secara normal tidak diperdagangkan terpisah. yang tidak dapat diklasifikasikan berdasarkan referensi 3 (a). rak bumbu dengan beberapa botol tempat bumbu kosong. Bisa langsung dijual tanpa perlu dibungkus/dikemas kembali (contoh.

02).merk :”Mi Enak” . kecap. bumbu. suatu bingkai berbentuk bujur sangkar yang 2 sisi terbuat dari kayu dan dua sisi lainnya terbuat dari logam. bawang dan cabe Perhatikan mie instan yang sudah mask diatas.15). barang diklasifikasikan pada pos terakhir. minuman). sikat (96.Mengandung mie. dalam proporsi tertentu untuk keperluan industri (contoh.Klasifikasi Barang (96. saus. Bingkai ini ditinjau dari bahan baku memiliki bahan yang sama dan seimbang antara pos 44. saus.02) diklasifikasikan pada pos 85. Contohnya.14 dan pos DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 42 .Supermi instan bungkus . Spesifikasi Mie :Instan : . dikemas dalam tas kulit (42. KUM HS 3(b) tidak berlaku untuk barang yang terdiri dari beberapa bagian yang dikemas terpisah (baik kemasan yang biasa digunakan maupun tidak). maka barang tersebut harus diklasifikasikan dalam pos tarif terakhir berdasarkan urutan penomorannya di antara pos tarif yang mempunyai pertimbangan yang setara.03). gunting (82. bumbudan bahan lainnya. Bagaimana Saudara mengklasifikasi bila dalam keadaan mentah atau dalam bungkusan ? KUM HS 3 c: Apabila barang tidak dapat diklasifikasikan berdasarkan referensi 3 (a) atau 3(b). Penjelasan: Bila KUM HS 3(a) dan 3(b) tidak dapat digunakan.10 (berdasarkan komponen yang memberikan sifat utama). dan handuk dari tekstil (63. Tahukah Saudara ketika belum dimasak yang bungkusannya terdiri dari : mie.13).

Ketentuan ini menetapkan bahwa barang-barang tersebut harus digolongkan kedalam pos atas barang DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 43 .06. harus diklasifikasikan ke dalam pos yang sesuai untuk barang yang paling menyerupai. maka bingkai tersebut harus diklasifikasikan pada pos terakhir. b) Ketentuan ini mengenai barang-barang yang tidak dapat diklasifikasikan ke dalam salah satu pos dalam HS.memiliki kekuatan sama pada lapisan karet dan plastikas ban Perhatikan vanbelt ini. sifatnya.Van belt merk : :”Ando” . bagaimana pengklasifikasiannya bila terbuat dari bahan plastik dan karet yang sama tebalnya ? 4) Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 4 KUM HS 4: Barang yang tidak dapat diklasifikasikan berdasarkan referensi diatas. karena tidak ada uraian yang sesuai (misalnya yang baru muncul di pasaran dunia).mengandung bahan plastik dan karet yang sama tebal .Klasifikasi Barang 83. yaitu pos 83. Spesifikasi barang : . Penjelasan: a) KUM HS 4 baru digunakan apabila KUM HS 1 sampai dengan KUM HS 3 tidak dapat digunakan.06. klasifikasi berdasarkan barang yang sifatnya paling sesuai (misalnya uraian barangnya. namun karena menurut KUM HS 3c. tujuannya). Berdasarkan KUM HS 4.

harus diklasifikasikan menurut barangnya. data teknis. Untuk itu. 5) Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 5 KUM HS 5 : Sebagai tambahan dari aturan di atas. sebelum memutuskan menggunakan KUM HS 4. c) Pada waktu menerapkan ketentuan No. Penjelasan: KUM HS 5(a) berlaku untuk Peti (cases). seperti literatur. Perlu diingatkan. kotak kalung dan kemasan semacam itu. tas instrumen musik. KUM HS 4 baru digunakan apabila benar-benar tidak ada lagi data atau informasi yang dapat diperoleh untuk mengidentifikasi barang dimaksud. kotak (boxes). Hal tersebut dilakukan untuk meneliti pada pos mana yang memiliki unsur kesamaan terbanyak. dan seterusnya. d) Persamaan dapat tergantung dari beberapa faktor seperti nama. cocok untuk penggunaan jangka panjang dan diajukan bersama barangnya. koper senapan. sangat disarankan untuk mencari lebih dulu informasi tentang barang dimaksud dari berbagai sumber yang ada. internet. dan tempat semacam itu yang: DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 44 . Namun demikian. barang yang akan diklasifikasikan harus diperbandingkan dengan uraian barang dalam beberapa pos HS yang memiliki kesamaan jenis atau karakternya.4. apabila kemasan tersebut memang biasa dijual dengan barang tersebut. Ketentuan berikut ini harus diberlakukan terhadap barang tersebut di bawah ini : Tas kamera. penggunaan. tas instrumen gambar. sifat. dibentuk secara khusus atau pas untuk menyimpan barang atau perangkat barang tertentu. dan sebagainya. ketentuan ini tidak berlaku untuk kemasan yang memberikan seluruh karakter utamanya.Klasifikasi Barang yang memiliki persamaan terbanyak.

tempat senjata. pembungkus/tempat simpan diklasifikasikan DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 45 . tempat alat musik. biasa dijual bersama dengan barangnya.gitar dengan kemasannya .merk :”Refly” . tidak memberikan sifat utama. Namun demikian ketentuan ini tidak mengikat apabila bahan atau kemasan pembungkus tersebut secara nyata cocok untuk dipakai berulangulang. apabila bahan atau kemasan pembungkus tersebut memang biasa untuk membungkus barang tersebut. bahan pembungkus dan kemasan pembungkus yang diajukan bersama dengan barangnya harus diklasifikasikan menurut barangnya. dimasukkan bersama barangnya (bila dimasukkan terpisah diklasifikasikan pada pos tersendiri). dan sebagainya.Klasifikasi Barang • • • • • khusus dibuat untuk barang tertentu. Bagaimana Saudara mengklasifikasiguitar beserta kemasan diatas ? KUM HS 5 b : Berdasarkan aturan dari ketentuan nomor 5 (a) di atas. Spesifikasi barang : .Terbuat dari karet yang dilapisi tekstil tebal Perhatikan gambar guitar dan kemasannya diatas. digunakan untuk jangka waktu lama. Penjelasan: Mengacu pada KUM HS 5(a). Contoh: tempat perhiasan. tempat teleskop.

Tempat semacam itu harus Sebagai contoh. Ketentuan ini tidak berlaku untuk pembungkus/tempat simpan yang digunakan berulang-ulang (repetitive use). serta ketentuan ini di atas dengan penyesuaian seperlunya.tabung gas berisi gas . maka gasnya diklasifikasikan pada pos tarif gas. contohnya gas yang diimpor bersama pengemasnya (tabung gas di bawah tekanan).Klasifikasi Barang dengan barangnya bila biasa dipakai untuk barang tersebut.Terbuat baja tahan karat Bagaimana pengklasifikasian suatu gas beserta tabungnya yang dapat diisi ulang ? Tabung gas LPG dengan isinya LPG pada pos berapa dalam Harmonized System ? 6) Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 6 KUM HS 6 : Untuk tujuan hukum klasifikasi barang dalam sub pos dari suatu pos harus ditentukan berdasarkan uraian dari subpos tersebut dan catatan subpos bersangkutan. sedangkan pengemasnya diklasifikasikan pada pos tarif tabung gas.merk :”Reflon” . dengan DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 46 . tempat teh dari perak dan tempat diklasifikasikan tersendiri permen dari porselin berdekorasi China Spesifikasi barang : . Ketentuan ini tidak berlaku untuk tempat simpan yang nilainya jauh lebih tinggi dari barang yang disimpan di dalamnya.

Apabila ada catatan yang mengeluarkan barang tersebut dari Bab atau Bagian yang kita pilih.19). atau catatan subpos harus tetap menjadi pertimbangan utama.11 dan 7110. Bila sudah kita tentukan. Pada tahap ini. perhatikan pada Bagian. Dengan mengetahui spesifikasi barang. Artinya. B. atau pos mana barang tersebut diklasifikasikan. Kecuali apabila konteksnya menentukan lain. Kita ulangi proses pengklasifikasian pada butir 3. 3. untuk keperluan ketentuan ini diberlakukan juga catatan Bagian dan catatan Bab. KUM HS 6 berlaku sepanjang konteksnya tidak menentukan lain.Klasifikasi Barang pengertian bahwa hanya subpos yang setara yang dapat diperbandingkan. Pilih bab atau bab-bab yang berkaitan dengan spesifikasi barang tersebut. catatan bagian. atau mesin. Perhatikan penjelasan-penjelasan dalam catatan Bagian maupun catatan Bab yang berkaitan dengan barang yang akan kita klasifikasi. Platinum pada catatan 4(b) Bab 71 tidak sama dengan Platinum pada catatan subpos 2 (khusus untuk sub-pos 7110. misalnya barang tersebut produk pertanian. Baca dan cermati catatan Bagian atau Bab (atau catatan Sub-pos dalam hal tertentu) yang ditunjuk oleh penjelasan pada butir 3. catatan bab. kita bisa memilih bab-bab yang lebih spesifik. barang kimia. Bab. Contohnya. 2. Kita identifikasi dulu barang yang akan kita klasifikasi. baca dan perhatikan baik-baik catatan Bagian dan catatan Bab yang berkaitan dengan pilihan bab atau bab-bab pada butir 1. Penjelasan: KUM HS 1 sampai dengan KUM HS 5 berlaku mutatis mutandis (secara langsung) untuk subsub pos pada satu pos yang sama (perbandingan pada takik yang sama). TAHAPAN MENGKLASIFIKASI BARANG Secara lebih rinci. langkah-langkah berikut ini dapat digunakan untuk mengklasifikasi barang: 1. biasanya kita sudah mempunyai gambaran umum apakah barang tersebut diklasifikasikan di bab tersebut atau DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 47 . 4.

atau pospos tarif yang setara (perhatikan takiknya). dalam mengklasifikasi. Setelah menemukan satu bab yang paling sesuai berdasarkan kajian di atas. perlu diperhatikan bahwa yang dimaksud dengan sifat utama (essential character) meliputi berbagai aspek. Sampai tahap ini sebenarnya kita sedang menggunakan KUM HS 1. Ingat. nilai (value). Dalam hal menggunakan KUM HS 3 (b). Usahakan paling tidak selalu mempertimbangkan ketiga aspek tersebut sebelum menentukan sifat utama suatu barang campuran. kita mulai menggunakan KUM HS 2. sub-sub pos. Ingat. sub-sub pos. maka yang harus dikerjakan adalah mencari informasi atau data tersebut lebih dulu.Klasifikasi Barang di bab lainnya. Dalam membandingkan pos-pos. perbandingan dimaksud tidak berdasarkan pembebanan impornya!. dalam penentuan sub-pos dan pos tarif pun kadang timbul permasalahan klasifikasi yang sama dengan penentuan pos (4-digit). Beberapa aspek yang dapat digunakan sebagai dasar penentuan sifat utama adalah fungsi/kegunaan. Cara untuk meyakinkan bahwa KUM HS 1 gugur adalah dengan berusaha membuktikan bahwa hanya ada satu pos yang sesuai untuk barang tersebut. 8. Dalam hal KUM HS 1 tidak bisa diterapkan karena informasi atau data spesifikasi barang kurang lengkap. atau pos-pos tarif. Jangan terburu-buru menggunakan KUM HS 2 sebelum kita benar-benar yakin KUM HS 1 tidak dapat digunakan. 7. Bila sudah kita temukan satu pos yang tepat. Ingat. 5. maka kita mulai menelusuri pos-pos yang mungkin mencakup barang yang akan kita klasifikasikan dalam bab tersebut. Apabila sepintas lalu ada beberapa pos yang sesuai dengan spesifikasi barang. kita baru dapat menggunakan KUM HS 2 apabila KUM HS 1 benar-benasr tidak dapat digunakan. dan bentuk fisik (appearance). harus selalu diingat bahwa yang dibandingkan adalah pos-pos . 6. Pada tahap ini kadang-kadang kita sudah dapat menemukan pos yang mencakup barang tersebut dengan rinci. Apabila sudah dipilih satu pos tarif yang benar-benar sesuai dengan uraian DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 48 . maka langkah selanjutnya tinggal menentukan sub-pos (6-digit) dan pos tarif (9-digit) yang sesuai.

Untuk memudahkan. jangan lupa selalu menggunakan pembebanan yang up to date berdasarkan ketentuan yang terbaru. PPN. dan pembebanan impornya. bisa singkat atau memerlukan uraian yang cukup panjang tergantung pada permasalahan yang dihadapi. uraian rinci klasifikasi barang dimaksud kita sebut saja Nota Penelitian Klasifikasi Barang. klasifikasi. atau cukai) dan ada atau tidak peraturan tata niaganya (IT. C. Karena pembebanan tersebut sering berubah.Klasifikasi Barang barang. dan lainlain. setidaknya ada dua fihak yang berkepentingan yaitu aparat DJBC dan importir/PPJK. Dalam mekanisme ini tidak jarang timbul perbedaan pendapat mengenai klasifikasi barang antara importir/PPJK dan aparat DJBC. IP. langkah selanjutnya adalah melihat pembebanannya (BM.). Selanjutnya DJBC akan 2) Nota Penelitian Klasifikasi Barang Pada bagian akhir diktat ini disajikan juga contoh soal klasifikasi barang menggunakan nota penelitian klasifikasi barang. Namun dalam diktat ini pembuatan nota penelitian klasifikasi barang tersebut diarahkan untuk mengikuti ketentuanketentuan dasar mengklasifikasi barang sesuai HS/BTBMI. NOTA PENELITIAN KLASIFIKASI BARANG 1) Pengantar Berkaitan dengan klasifikasi barang. Kerangka nota penelitian klasifikasi barang sebenarnya tidak baku. Dalam diktat ini disajikan cara membuat uraian rinci klasifikasi barang tersebut. dalam rangka pengimporan importir/PPJK memberitahukan sendiri jenis barang. Soal tersebut dapat dijawab dengan menggunakan contoh nota penelitian di bawah ini: DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 49 . PPnBM. meneliti dan menetapkan klasifikasi barang tersebut. aparat DJBC diharuskan membuat uraian rinci yang menjelaskan dasar klasifikasi barang dimaksud. Dalam mempertahankan pendapatnya. Sebagaimana selama ini telah berjalan. Pertamina.

Contoh 2. (Contoh ini umumnya diterapkan pada penelitian klasifikasi di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai): DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 50 .Klasifikasi Barang Contoh 1.

. Nama dan Jenis barang : Norit mengandung arang aktif dari arang kayu dalam bentuk tablet 5 gram dipergunakan untuk mengatasi keracunan atau perut kembung.. . Bahan tersebut telah terdaftar dalam Farmakope Indonesia Alasan Klasifikasi : .90 Lain-lain DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 51 ..Menurut catatan 1 (d) Bab 44 tidak meliputi arang aktif masuk pos 3802 .Pos 3004. Obat dalam dosis tertentu.Subpos 3004.Bab 38 catatan 1 (d) tidak meliputi barang untuk obat …masuk Bab 30 Uraian klasifikasi : .Bab 30.Arang kayu masuk Bab 44.Produk farmasi .Klasifikasi Barang 3) Praktek Pembuatan Nota Penelitian Klasifikasi Barang 1.

10. shampo Pos 3305. % .Pos 3305 preparat digunakan pada rambut.shampo Kesimpulan : Shampo mengandung obat anti kerontokan diklasifikasikan pada pos tarif 3305.90.diolah selain dari bab 2 dan 3 masuk Bab 16…” .00 BM ….10.90.. Nama dan Jenis barang : Sosis daging sapi yang dimasak Alasan Klasifikasi : . lihat cat 1 “.00 BM ….Subpos 3305.PPN … % P 3.90.Pos tarif 3305. % .00.kosmetika… .90.Klasifikasi Barang . ..Shampo termasuk kosmetik Bab 33. .Olahan dari ikan masuk Bab 16.Subpos 3004.Pos tarif 3004.PPN … % PPh %..90. 2.Bila mengandung obat Bab 30 Lihat Bab 30 catatan 1(d) :Bab ini tidak meliputi pos 3303-3307 walau mengandung obat Uraian klasifikasi : . Nama dan Jenis barang : Shampo merk : KAO dalam tube 100 ml mengandung obat anti ketombe dan anti jamur atau kerontokan rambut Alasan Klasifikasi : . .99.Makanan olahan masuk Bagian IV .00 Lain-lain Kesimpulan : Norit diklasifikasikan pada pos tarif 3004.90 Lain-lain .10 shampo .99.Lihat Bab 16 catatan 2 “Bab 16 meliputi olahan daging lebih dari 20 % makanan mengandung DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 52 .Bab 33..

.10. Uraian klasifikasi : . 4.00. % .10. Nama dan Jenis barang : Bahan untuk membuat cat besi mengandung bahan alkyd resin (poliester resin) 55 %.Bahan cat termasuk produk kimia bagian VI..00 BM ….Bab 39.Pos tarif 1601. sosis ..Bab 16 .12. 5.10.. cat masuk bab 32 ..Subpos 1601. Nama dan Jenis barang : Kawat pilinan dari baja terdiri dari 5 buah yang dipilin tidak diisolasi ukuran diameter 2.Barang dari logam tidak mulia masuk Bagian XV.Pos tarif 3907.Olahan dari daging . % PPN … % PPh %.Pos 3907 poliester (alkid resin) .pelarut kurang dr 50 % ke pos 3907.Klasifikasi Barang Uraian klasifikasi : ...00…mengandung daging sapi Kesimpulan : Sosis daging sapi tersebut diklasifikasikan pada pos tarif 1601.00 BM ….. bahan pelarut yang mudah manguap 28 % dan bahan lainnya 13%.00 cair Kesimpulan : Bahan cat tersebut diklasifikasikan pada pos tarif 3907.. Alasan Klasifikasi : .polimer .Pos 1601 .50..00.Lihat catatan 4 bab 32 .12.Subpos 3907.50.50 alkid (poliester) dari poliester . DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 53 .PPN … % PPh %.00. pos 3208 meliputi bahan yang mengandung bahan pelarut mudah menguap lebih dari 50 % .5 cm digunakan untuk penarik mobil derek Alasan Klasifikasi : ..sosis ..

Subpos 7312..91.Pos 7312 . Bagiannya masuk pos 8708.10.00 BM ….00 untuk bus mini Kesimpulan : rel… masuk Bagian XVII.30.Pos 8708 bagian untuk kendaraan bermotor. (walau bagian untuk mobil derek) Uraian klasifikasi : . radiator .%.Pos tarif 7312.Mobil derek masuk bab 87 . Uraian klasifikasi : .Bab 87 Kendaraan yang bergerak selain diatas rel … .91..Sub pos 8708.Pos tarif 8708.kawat .Lihat Bagian XV catatan 2 “kawat dipilin masuk bagian untuk pemakaian umum pos 7312 ….90.barang dari baja .Kendaraan yang bergerak selain diatas Kendaraan Bab 87 . 6. kawat dipilin .Bab 73.Klasifikasi Barang .% PPN …% PPh…. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 54 ..Barang dari logam tidak mulia masuk Bab 73.90.10.Sub pos 8708. Nama dan Jenis barang : Bagian dari kendaraan bermotor berupa : Radiator untuk mobil bus mini untuk pengangkutan 15 orang dengan mesin diesel dalam keadaan CKD masa total 10 ton Alasan Klasifikasi : .00 ukuran 25 mm Kesimpulan : Kawat tersebut diklasifikasikan pada pos tarif 7312.90 bagian dan aksesori lainnya ….10. . .Lihat Bagian XVII catatan 2(B) bagian untuk pemakaian umum tidak boleh masuk Bab 87 .Radiator bagian dari kendaraan bermotor berjalan bukan di rel.

Pedoman tersebut adalah Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System (KUM HS) merupakan ketentuan untuk memasuki klasifikasi barang. rantai baja dan hiasan dari plastik. 2. Nota penelitian klasifikasi barang seyogyanya memuat hal-hal apa saja ? 9. Mengapa dalam mengklsifikasi barang harus memperhatiakan bagian dan bab serta catatan bagian dan catatan babnya yang terkait dengan barang tersebut ? 7.30. Rangkuman 1. diperlukan data mengenai barangnya ? Sebutkan contoh kasus ! 5.00 BM …. Saat ini KUM HS hanya terdiri dari nomor 1 sampai dengan nomor 6. % . Dalam mengklasifikasi barang gantungan kunci yang terdiri dari ring baja. Latihan 2 1. Bagaimana menurut pendapat Saudara mengenai penggunaan KUM HS nomor 4 dalam prakteknya ? 4. Mengapa dalam mengklasifikasi barang tidak hanya menyebutkan 9 digitnya atau kesimpulannya saja ? 2.2. Dahulu sampai dengan 10. Bagaimana tahapan dalam mengklasifikasi barang agar menghasilkan pos tarif yang akurat ? 6. nomor 7 sampai 10 dihilangkan dan DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 55 . Dalam mengklasifikasi barang dalam BTBMI diperlukan suatu pedoman.91.3.Klasifikasi Barang Radiaotor tersebut diklasifikasikan pada pos tarif 8708. harus menggunakan KUM HS nomor berapa ? 2. Sebutkan contoh barang yang dalam mengklasifikasinya menerapkan KUM HS nomor 3a (selain yang telah disebutkan contoh diatas) 3. Sebutkab tahapan dalam membuat nota penelitian klasifikasi barang ? 8.PPN … % PPh %. Mengapa sebelum mengklasifikasi barang.

Dalam membuat nota penelitian klasifikasi barang ada yang sederhana dengan hanya menggunakan BTBMI. Test Formatif 2 A. ditambah informasi barang dari brosur. agar menghasilkan keputusan yang tepat sesuai aturan yang benar.Klasifikasi Barang beberapa diantaranya menjadi surat keputusan Dirjen Bea dan Cukai 2. ( B . 3. namun dilapangan nama barang berdasarkan hasil pemeriksaan. Pengamatan uraian barang dalam BTBMI dengan melihat bagaian. Berdasarkan pertimbangan tersebut baru ditentukan pos tarif yang tepat. mendeskripsikan jenis barang. demikian juga hasil penelitian klasifikasi barang harus disajikan dalam bentuk format yang benar. hasil analisa laboratorium atau sumber informasi lainnya 2. Bab dan Sub-bab pada Buku tarif Bea Masuk DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 56 . Dalam proses mengklasifikasi barang diperlukan tahapan yang sesuai. bab dan catatan yang berkaitan dengan barang yang akan diklasifikasi. alas an klasifikasi.4. kemudian melihat uraian barang dalam BTBMI sesuai dengan yang akan diklasifikasi. Proses dalam mengklasifikasi barang harus seuai dengan aturan. Pada umumnya hsil penelitian dituangkan dalam suatu format yang berisikan komponen : nama dan jenis barang.S ) Judul Bagian. Lingkarilah huruf B apabila pernyataan ini Saudara anggap benar dan huruf S apabila pernyataan Saudara anggap salah. 1. uraian klasifikasi dan kesimpulan. Pada prinsipnya meliputi identifikasi barang.

Pililihlah jawaban yang Saudara anggap benar dengan cara melingkari huruf yang terdapat di depan jawaban tersebut 1. cocok untuk pemakaian jangka panjang dan diimpor lengkap dengan isinya. alasan atau catatan yang digunakan c. ( B .Klasifikasi Barang Indonesia hanya dimaksudkan untuk memudahkan penyebutan saja. Dengan mengetahui spesifikasi barang maka akan lebih mendekati keakuratan dalam mengklasifikasi barang B. harus diklasifikasikan dengan barang tersebut jika biasa dijual dengan barang itu 5. asalkan pada saat diimpor sudah mempunyai sifat utama sebagai barang lengkap atau rampung 3. Tidak mengikat secara hukum dalam mengklasifikasi 2. ( B . Uraian klasifikasi mulai 2 digit sampai dengan 9 digit DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 57 . dengan bentuk atau kelengkapan khusus untuk menyimpan barang tertentu atau seperangkat barang tertentu.S ) Sebelum mengklasifikasi barang. Dalam membuat Nota Penelitian Klasifikasi Barang maka diperlukan kerangka yang singkat atau memerlukan uraian yang cukup panjang tergantung pada permasalahan yang dihadapi. ( B .S ) Pernyataan 2b pada KUM HS adalah Barang tidak lengkap atau tidak rampung dianggap sebagai barang lengkap atau rampung. Namun demikian nota tersebut setidak-tidaknya memuat tentang : a. ( B .S ) Pernyataan 5b pada KUM HS adalah Peti kamera. sebaiknya kita identifikasi dulu barang yang akan kita klasifikasi.S) Pernyataan 3a pada KUM HS adalah Pos yang memuat uraian yang paling terinci harus lebih diutamakan daripada pos yang memuat uraian yang lebih umum sifatnya 4. nama barang dan uraian jenis barang b. peti instrumen dan tempat simpan yang semacam.

3a 5. 3b b. Mengapa olahan makanan yang terbuat dari daging sapi yang dikukus tidak diklasifikasikan pada bab 2 DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 58 . 3a c. 2b b. 5b C. Suatu kemasan mengandung mie. esklusif c. Jawablah dengan benar dan lengkap 1. bumbu. saos dan bawang. Larutan dengan kandungan asam cuka (acetic acid) lebih dari 10 % dikeluarkan dari bab 22 berdasarkan catatan : a. 2a c. diklasifikasikan sebagai mie pada bab 19. 3b d.Klasifikasi Barang d. 5a 3. Definitif b. namun diklasifikasikan pada bab 22 dikarenakan KUM HS nomor : a. pengertian 4. 1 b. 3c c. pernyataan a. 2b d. ilustrasi d. Walalupun etil alkohol merupakan bahan kimia organik. Tabung gas LPG yang berisi gas LPG tidak dapat diklasifikasikan menjadi stu pos tarif karena ketentuan menurut KUM HS nomor : a. berdasarkan KUM HS nomor : a. 5a d. b dan c benar 2.

UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT Bandingkanlah hasil jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif yang ada DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 59 . tidak dikelantang dan tidak dimerserisasi. merupakan benang tunggal.Ketentuan dan catatan apa yang digunakan dalam mengklasifikasi barang tersebut 2. Mengapa tutup kepala (topi) pengaman untuk pengendara sepeda motor yang terbuat dari bahan plastik tidak diklasifikasikan pada bab 39 ? 4. Automatic voltage regulator yang digunakan sebagai stabilizer otomatis untuk komputer harus diklasifikasikan pada pos 85.32 . Sebutkan alasannya 5.5. dari serat disisir dengan nomor benang 150 decitex. Mengapa sabun mandi mengandung obat pembasmi kuman walaupun mengandung obat tidak diklasifikasikan pada bab 30 sebagai produk farmasi.Klasifikasi Barang 2.04 atau 90. 3. Benang tenun terbuat dari campuran 70 % kapas (cotton) dan 30 % nilon.

Hitunglah jumlah jawaban Anda yang benar atau sejauh mana Anda menguasai mata pelajaran tersebut. Kegiatan Belajar (KB) 3 DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 60 .... Hasilnya Baik ! akan tetapi....100 % * 80 % * 70 % * 89 % 79 % 69 % = Baik sekali = Baik = Cukup = Kurang Kalau Anda mencapai tingkat penguasaan 80% keatas Anda dapat meneruskan kepada modul atau bagian pelajaran lain.. terutama bagian yang belum Anda kuasai 3. Arti tingkat penguasaan : * 90 % .. Kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap terhadap materi kegiatan belajar Rumus Tingkat Penguasaan Jumlah Jawaban Anda yang benar dibagi 15 kemudian dikali 100 % = .. bila tingkat penguasaan Anda masih dibawah 80 %..Klasifikasi Barang di belakang modul ini.. Anda harus mengulangi membaca Modul kembali.

Jenis catatan pada BTBMI 2. catatan-catatan dalam HS merupakan bagian integral yang harus diperhatikan benar-benar. Struktur pengelompokkan barang 3. Catatan-catatan tersebut mempunyai kekuatan hukum sama seperti uraian pos atau sub-pos. yaitu: DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 61 . seorang klasifikator harus terlebih dahulu memahami pengetahuan barang dan pengetahuan mengenai klasifikasi barang.Klasifikasi Barang CATATAN PENTING DALAM BUKU TARIF BEA MASUK INDONESIA (BTBMI) Indikator Keberhasilan : Setelah mempelajari materi diharapkan siswa mampu menjelaskan: 1. dan Catatan Sub-pos. Seorang klasifikator harus memiliki kemampuan dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang karena akan menentukan ketepatan pengisian Pemberitahuan Impor Barang (PIB) yang pada akhirnya menentukan ketepatan jumlah bea masuk dan pungutan impor lainnya yang harus dibayar. Uraian dan Contoh Untuk menjadi menjadi seorang klasifikator dibidang kepabeanan yang handal harus dapat mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang dengan terampil. Catatan-catatan tersebut dapat dibagi berdasarkan jenisnya. HS mempunyai Catatan Bagian. JENIS CATATAN PADA BTBMI Disamping KUM HS. Catatan Bab. A.1. Catatan penting dalam BTBMI 3. Oleh karena itu.

02. atau (c) Lemak hewani. Contoh: Catatan 4 Bab 30: Pos no. yang tidak layak atau tidak sesuai untuk konsumsi manusia.04 hanya berlaku untuk hal berikut ini. yang harus diklasifikasikan dalam pos tersebut dan tidak dalam pos lainnya dari Nomenklatur ini: (a) Catgut bedah steril. 02. 05. kandung kemih atau perut dari binatang (pos No.09 (Bab 15). … … … … Preparat kontrasepsi kimia dengan bahan dasar hormon atau pembunuh sperma.04) atau darah binatang (pos No. (b) Usus.10.08. Hemostatik bedah atau gigi steril yang dapat menyerap. 2) Catatan Eksklusif Catatan yang mengeluarkan barang tertentu dari suatu pos atau sub-pos dan memasukkannya dalam pos atau sub-pos tertentu lainnya. 05.11 atau 30. (b) (c) (d) (e) (f) (g) (h) Laminaria steril dan laminaria steril yang dapat menggembung. bahan jahit bedah steril yang semacam itu dan perekat kertas steril untuk penutup luka bedah.Klasifikasi Barang 1) Catatan Definitif Catatan yang menjelaskan pengklasifikasian suatu barang pada pos atau sekumpulan pos tertentu.02). atau 02. selain produk dari pos No.01 sampai dengan 02. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 62 . Contoh: Catatan 1 Bab 2: Bab ini tidak meliputi: (a) Produk dari jenis yang diuraikan dalam pos No. 30.

untuk sarung tangan (termasuk sarung tangan olah raga). 91. 09. Tambahan dari bahan lainnya ke dalam produk dari pos no. yang menguraikan pengertian-pengertian yang bersifat Catatan 2 Bab 3: Dalam Bab ini pengertian “pellet” adalah produk-produk yang telah diaglomerasi baik secara langsung dengan cara dikompresi atau dengan penambahan sejumlah kecil bahan pengikat. apron dan pakaian pelindung lainnya.10 harus diklasifikasikan sebagai berikut: (a) Campuran dua produk atau lebih dari pos yang sama harus digolongkan dalam pos itu. tali penahan celana.10. Contoh : Catatan 3 Bab 42: Untuk keperluan pos no.04 sampai dengan 09. 09. tetapi tidak termasuk arloji tangan (pos no. 4) Catatan Lain-lain Catatan teknis. ii.03.Contoh: i. 09.04 sampai DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 63 . istilah “barang pakaian dan perlengkapan pakaian” berlaku. Catatan 1 Bab 9: Campuran dari produk dimaksud dalam pos no.13).Klasifikasi Barang 3) Catatan Ilustratif Catatan yang memberikan gambaran terhadap pengertian atau istilah yang perlu dijabarkan lebih lanjut. 42. (b) Campuran dua produk atau lebih dari pos yang berlainan harus digolongkan dalam pos no. antara lain. ikat pinggang. tali sandang dan semua jenis gelang.

Untuk beberapa hal cara seperti ini mungkin berhasil namun labih banyak risiko kegagalannya.12. dari logam tidak mulia.14).10 dan bingkai serta kaca dari logam tidak mulia. iii. Catatan 2 Bagian XV: Dalam seluruh Nomenklatur. dan uraian pada pos.06. 91. 73. Explanatory Notes. dan (c) Barang dari pos no.18 dan barang semacam itu dari logam tidak mulia lainnya.15) apa yang disebut bagian dari barang tidaklah termasuk uraian tentang bagian untuk pemakaian umum seperti diuraikan di atas. 83.17 atau 73. 83. 73. 83. selain pegas untuk lonceng atau arloji (pos no.10 (atau campuran seperti yang dimaksud dalam (a) atau (b) di atas) tidak mempengaruhi penggolongannya asalkan…. Dalam Bab 73 sampai dengan 76 dan 78 sampai dengan 82 (tetapi bukan dalam pos no. Dengan memperhatikan ketentuan dalam ayat di atas dan Catatan 1 Bab 83.15. istilah “bagian untuk pemakaian umum” berarti: (a) Barang dari pos no. dari pos no. 73. 83.07. 73. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 64 . (b) Pegas dan lembaran untuk pegas. Tatacara mengklasifikasi harus diikuti dengan urut agar benar-benar diperoleh hasil yang akurat.02. dan pos tarif yang berkaitan dengan barang yang akan diklasifikasikan merupakan syarat mutlak yang harus dilakukan agar klasifikasi yang dilakukan benar-benar akurat. 83. sub-pos. Mengklasifikasi barang tidak dapat dilakukan dengan hanya sekedar mencari satu pos tertentu saja. barang dari Bab 82 atau 83 tidak termasuk dari Bab 72 sampai dengan 76 Bab 78 sampai dengan 81. Membaca dengan teliti dan memahami catatan-catatan di atas. 73.Klasifikasi Barang dengan 09.01.08.. termasuk KUM HS.

produk yang dapat dimakan lainnya. Pengelompokan tersebut berdasarkan urutan tingkat pengerjaannya. ikan. barang setengah jadi (semi-finished products).Klasifikasi Barang B. sepatu dari kulit binatang pada Bab 64. produk susu. dan produk yang tidak dapat dimakan). barang dikelompokkan dalam 96 bab (dan bab 77 sebagai persiapan masa mendatang) yang dikelompokkan dalam 21 bagian. bahan yang tidak/belum dikerjakan (unworked products). yaitu bahan baku (raw material). Bab 1 sampai dengan bab 24 (Bagian I sampai dengan Bagian IV) mencakup produk-produk pertanian dalam arti luas. Struktur Pengelompokan Barang Pada BTBMI 1) Gambaran Per Bagian Dalam Harmonized System (HS). dan barang jadi (finished products). Urutan pengelompokan ini juga berlaku untuk bab dan pos. jangat dan kulit binatang pada Bab 41. madu. Bagian II DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 65 . kulit. bulu dan barang terbuat daripadanya (diklasifikasikan pada bagian VIII). Sebagai contoh. Namun beberapa jenis minyak dan lemak dikeluarkan dari bagian I dan diklasifikasikan pada bab 15. telur. Di bawah ini disajikan urutan pengelompokan barang dalam HS/BTBMI: Bagian I mencakup binatang hidup dan produk dari binatang (daging. binatang hidup diklasifikasikan pada Bab 1. demikian juga halnya dengan jangat.

cuka. Berbagai jenis gula yang murni secara kimiawi diklasifikasikan pada Bab 29. Contohnya. madu tiruan dan karamel. Bagian III hanya terdiri dari bab 15 yang mencakup lemak dan minyak hewani dan nabati dan produk terbuat daripadanya (misalnya malam/wax). kecuali beberapa jenis minyak dan lemak tertentu (bab 15) dan kayu (bab 44). Minyak pada Bab II baik dalam keadaan mentah. HUBUNGAN BAGIAN I DAN II DENGAN BAGIAN IV BAGIAN I & II BAGIAN IV *BAB 2 (DAGING) BAB 3 (IKAN) *BAB 16 DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 66 DIPROSES LEBIH LANJUT .Klasifikasi Barang mencakup produk sayuran. bab 20 atau bab 21. Produk-produk yang termasuk bagian I dan II belum mengalami proses pengerjaan kecuali sampai tahap tertentu (dengan beberapa pengecualian). Bab 17 meliputi gula dan bahan lainnya seperti sirop. Bab 16 meliputi daging atau ikan yang telah mengalami proses lebih lanjut. baik yang bisa dimakan atau tidak (tanaman. dikukus atau diawetkan secara permanen. dsb. sayuran. misalnya minyak goreng atau margarine yang siap dikonsumsi. Bagian IV mencakup produk minuman. diantaranya digoreng. produk makanan siap saji yang diawetkan diklasifikasikan pada Bagian IV. bersama-sama dengan produk industri makanan yang tidak dicakup bab-bab sebelumnya. Terhadap produk yang telah mengalami proses lebih lanjut diklasifikasikan pada bab 19. buah. Demikian juga bahan pemanis tiruan masuk Bab 29. seperti saccharin dan dulcin. tepung.).dan tembakau. Umumnya minyak tidak menguap. karena minyak nabati yang mudah menguap masuk Bab 33 sebagai minyak atsiri. telah diproses. minuman keras. biji-bijian. sereal.

baik sumber mineral anorganik seperti tanah. telah dicuci. hancur. seperti 25 meliputi produk garam. Batu-batuan setengah permata atau batu permata digolongkan pada Bab 71. dan minyak bumi. cat. maka Bab tambang. dan lain-lain. hasil gilingan atau saringan. Bagian VII Mencakup plastik dan produk dari plastik (bab 39) dan karet dan produk dari karet (bab 40). kosmetik. misalnya dimurnikan sebagai bahan kimia anorganik masuk Bab 28. Komoditi plastik. belerang dan batuan lainnya hanya dalam keadaan mentah (crude). pupuk.GANDUMAN) *BAB 19 BAB 11 (PRODUK-GILINGAN) *BAB 7 (SAYURAN) BAB 8 (BUAH-BUAHAN) BAB 11 (PRODUK GILINGAN. Bagian VI Mencakup produk-produk kimia. KENTANG) *BAB 20 Bagian V Mencakup produk mineral. Karena DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 67 . baik yang berbentuk asal (primary form) maupun produk-produk industri kimia seperti produk farmasi. sabun. Hasil pertambangan yang telah diolah secara lain. karet buatan serta barang dari plastik dan karet buatan banyak diimpor Indonesia. dan sumber bahan organik pada Bab 27 seperti batu bara. Kecuali kalau susunannya mensyaratkan lain. Sesuai dengan kemajuan teknologi. sedangkan apabila merupakan hasil bentukan atau pahatan masuk Bab 68 dan kalau bahan tersebut merupakan hasil pembakaran maka masuk Bab 69. bahan peledak.Klasifikasi Barang *BAB 4 (SUSU) BAB 10 (GANDUM. hasil tumbuk. batuan pada Bab 25 atau bijih logam pada Bab 26. maka produk barang-barang tersebut semakin bervariasi dan bertambah jenisnya.

yaitu bab 39 (Plastik dan Barang Dari Plastik) dan bab 40 (Karet dan Barang Dari Karet). Perlu dicatat bahwa pos 42. REJA : COUMPOND 3916-3921 : BARANG SETENGAH JADI 3922-3924 : BARANG JADI 4007-40016 : BARANG SETENGAH JADI 4017 : KARET KERAS Bagian VIII Mencakup produk-produk tertentu yang berasal dari binatang seperti jangat dan kulit (bab 41). termasuk kulit berbulu imitasi (bab 43)..01 dan 42.. kulit berbulu.02 juga mencakup produk-produk tertentu terbuat bukan dari kulit. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 68 . barang dari kulit atau usus binatang (bab 42).. REJA.Klasifikasi Barang kemajuan teknologi pembuatan barang. Bagian ini terdiri dari 2 bab. maka pengenalan dan proses pengidentifikasi barang tersebut semakin sulit. Struktur dalam Bab 39 secara garis besar adalah : BAB 39 PLASTIK DAN BARANG DARI PLASTIK BAB 40 KARET DAN BARANG DARI KARET SUB-BAB 1 3901-3911 : POLIMER BUATAN 3912-3913 : POLIMER ALAMI 3914 : PENUKAR ION 4001-4002 : BAHAN KARET 4003 4004 4005 SUB-BAB II 3915 : SISA. Bagian VII Mencakup plastik/barang dari plastik serta karet/barang dari karet. 4006 :TIDAK DIVULKANISASI : KARET PUGARAN : SISA. khususnya dalam rangka klasifikasi barang.

Bagian XI Mencakup produk tekstil mulai dari sutera (bab 50) sampai dengan pakaian dan permadani (bab 63). Ada dua sistem yang dipakai dalam penomoran benang. beberapa produk seperti furniture diklasifikasikan di bab lain (bab 94). Serat dapat berasal dari tumbuhan. Serat dari tumbuhan atau disebut serat nabati. Serat yang berasal dari hewan misalnya bulu domba atau bulu anak domba. asetat sellulosa. dan semacam itu. Melalui data nomor benang. kertas. Serat bila diproses akan menjadi benang. Sistem penomoran benang langsung (Direct Yarn Number) Sistem penomoran benang tidak langsung (Indirect Yarn Number) Kain yang terbuat dari benang dengan cara tenun. kertas karton dan barang terbuat daripadanya (bab 48). Istilah sintetik digunakan dalam hubungan bahan polimer seperti poliamida. dan produk industri percetakan (bab 49). dibuat dengan mesin tenun melalui cara menyilangkan kelompok benang satu terhadap yang lain. gabus dan barang dari gabus (bab 45). misalnya serat kapas. benang pakan kalau dalam mesin rajut adalah yang bergerak menyilang benang lusi atau sesuai arah lebar kain. sedangkan serat tiruan digunakan dalam hubungan untuk bahan dari rayon viskosa. Serat buatan manusia atau man made fiber terbagi dua. flaks. poliurethan dan lainnya. Untuk memahami ini lihat Catatan 1 Bab 54. bulu unta. Kain rajut dibuat dengan jalan menjeratkan benang satu dengan yang lain atau pada DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 69 . seperti kayu dan barang dari kayu (bab 44). rami. goni dan sisal. yaitu : 1. Namun. Serat buatan adalah serat hasil industri kimia. bulu kelinci. dan barang kerajinan tangan (bab 46). kemudian dari benang menjadi kain atau produk tekstil lainnya. Benang tersebut biasa disebut sebagai lusi dan pakan. bulu kambing Angora (Mohair) dan sutera. yaitu pulp (bab 47). mineral dan buatan manusia. 2. hewani. yaitu serat sintetik dan serat artificial (tiruan). Bahan dasar tekstil adalah serat. poliester. henneps.Klasifikasi Barang Bagian IX Mencakup produk yang berasal dari tumbuhan. bisa dilihat besar atau kecilnya suatu benang. Bagian X Juga masih mencakup produk yang berasal dari tumbuhan.

dll.Klasifikasi Barang benang itu sendiri. T shirt dan kain katun (lihat Bab 60 tentang jenis kain ini). logam mulia. juga produk-produk tertentu dari bulu. Bagian XIX Hanya terdiri dari bab 93 yang mencakup senjata dan amunisi. payung. dan bangunan prefabrikasi (bab 94). mainan. Bagian XVI Mencakup mesin. contohnya kaos.). Bagian XVIII Mencakup perlatan optik. jam (bab 91). dan barang dari rambut manusia (bab 67). Bagian XV Mencakup logam tidak mulia dan barang terbuat daripadanya. keramik (bab 69). plaster. peralatan mekanik. tongkat jalan. dan peralatan listrik. fotografi. atau bedah (bab 90). dll. (bab 68). peralatan permainan. dan kaca/barang dari kaca (bab 70). pesawat ruang angkasa. sinematografi. Bagian XVII Mencakup kendaraan. pesawat terbang. dan alat transportasi lainnya (kereta api. ukuran. Bagian XIV Mencakup hanya bab 71 yaitu mencakup mutiara dan batu mulia. kontrol. Namun demikian bagian ini tidak mencakup barang dari logam dasar yang termasuk dalam bab-bab di belakangnya (seperti mesin dan kendaraan). papan nama iluminasi. Bagian XII Mencakup produk alas kaki (bab 64). bunga buatan. tutup kepala (bab 65). dan uang logam. dll. medis. kapal laut. perhiasan. dan perlatan musik (bab 92). Bagian XIII Mencakup produk-produk yang diperoleh dari batu. (bab 66). gips. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 70 . dan peralatan olahraga (bab 95). semen. Bagian XX Mencakup furniture. lampu. dan bermacam-macam barang hasil pabrik (bab 96). perlengkapan penerangan. Bagian ini mempunyai pos dan sub-pos yang sangat besar dibandingkan dengan bagian lainnya.

2) Hubungan Antar Bab Apabila kita mempelajari Bab demi Bab Harmonized System. Dengan demikian dapat dimengerti apabila suatu barang yang sepintas termasuk dalam suatu bab ternyata diklasifikasikan pada bab lain. • Bab 6 meliputi semua tanaman hidup yang umumnya dimaksud untuk dijual oleh tukang bibit atau yang bergerak dibidang hortikultura yang serasi untuk ditanam atau dijadikan pajangan. Tetapi apabila kembang gula tersebut mengandung kokoa. • Kembang gula (sugar confectionery) diklasifikasikan pada bab 17.08). Pada Bab 6 tidak termasuk benih.Klasifikasi Barang Bagian XXI Hanya terdiri dari bab 97 yang mencakup hasil karya seni. Namun kuda hidup yang digunakan dalam sirkus tidak klasifikasikan pada bab 1. dingin. maka harus DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 71 . buah atau buah berbonggol dan umbi-umbian tertentu. Produk yang dikemas dalam kedap udara dan mengalami pengolahan lebih jauh selain pengolahan dari Bab 2 maka diklasifikasikan pada bab 16. barang kegemaran kaum pengumpul. Selain itu. melainkan pada bab 95 (pos 95. diasap dan dipanggang. Sayuran atau buah yang diawetkan dengan cuka atau dengan cara lain misalnya masuk Bab 20. akan kita dapati bahwa terdapat keterkaitan antara bab tertentu dengan bab atau beberapa bab lainnya. Perlu diingat bahwa judul bab bukan merupakan uraian yang bersifat mengikat secara hukum. • Daging pada Bab 2 hanya terhadap pengolahan terbatas seperti : segar. Hal ini dapat difahami mengingat antara bab satu dengan bab lainnya kadang-kadang mencakup barang yang mengandung bahan yang sama atau merupakan proses lebih lanjut dari barang dalam bab sebelumnya. judul bab dalam HS sebagian besar bersifat umum. Sebagai contoh. di bawah ini disajikan gambaran keterkaitan antar bab dalam HS: • Bab 1 mencakup antara lain binatang hidup. dan barang antik.

kotak jam dari plastik (bab 91). Bila sudah berbentuk barang yang khusus dibuat untuk keperluan tertentu. beberapa mesin dan peralatan tertentu tetap diklasifikasikan pada bab 84 meskipun elektrik. Adalah tidak mungkin untuk menggambarkan dengan rinci keterkaitan antas bab dalam diktat ini. frame kacamata dari plastik (bab 90). kita dapat melihat di catatan bab maupun catatan bagian. PRODUK HEWANI DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai BAB 72 . Namun demikian.06). Barang dari plastik diklasifikasikan pada Bab 39. dan sebagainya. • Mesin dan peralatan mekanis diklasifikasikan pada bab 84 sedangkan mesin dan peralatan listrik diklasifikasikan pada bab 85. seperti mesin dengan motor listrik. • Bahan kimia etilena diklasifikasikan pada Bab 29 (bahan kimia organik). Namun apabila etilene terpolimerisasi menjadi polietilena dengan jumlah unit monomer (n) 5 atau lebih.19 (wood dryer). Sebagai contoh. 3) Bab Pada BTBMI BAGIAN I BINATANG HIDUP. Untuk mengetahui keterkaitan antara bab satu dengan bab lainnya.03 (electric central heating boiler) dan pos 84. mesin pada pos 84. dan beberapa mesin lainnya. furniture dari plastik (bab 94). Untuk itu membaca catatan bab maupun catatan bagian merupakan kewajiban sebelum kita mengklasifikasikan suatu barang pada pos tertentu. maka harus diklasifikasikan pada Bab 39 (plastik).Klasifikasi Barang diklasifikasikan olahan makanan mengandung kokoa pada bab 18 (pos 18. barang tersebut diklasifikasikan di bab-bab lain. Contoh-contoh di atas adalah sebagian kecil contoh keterkaitan antar bab dalam HS.

tidak dirinci atau termasuk dalam pos lain. BAGIAN II PRODUK NABATI BAB 6. 12. Lak. Bahan nabati untuk anyam-anyaman. madu alam. Daging & sisanya yang dapat dimakan 3. Produk industri penggilingan . Pohon hidup dan tanaman lainnya. bermacam-macam butir. Kopi. Biji mengandung minyak dan buah mengandung minyak .Klasifikasi Barang 1. Binatang hidup 2. getah. pati. bunga potong dan daun untuk hiasan 7. damar dan air. Produk pabrik susu. tidak dirinci atau termasuk dalam pos lainnya 5. 13. tanaman industri atau obat . mate dan rempah-rempah 10. gluten gandum. inulin . produk hewani yang dapat dimakan. akar dan bonggol tertentu yang dapat dimakan 8. ekstrak nabati lainnya 14. Produk hewani. Ikan dan udang-udangan. telur unggas. teh. produk nabati tidak dirinci DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai pos lainnya 73 atau termasuk . malti . Buah & buah berbatok yang dapat dimakan. umbi akar dan yang semacam itu. kulit dari buah jeruk dan melon 9. jerami dan makanan ternak. biji dan buah. binatang lunak dan binatang air lainnya yang tidak bertulang belakang 4. Sayuran. Gandum-ganduman 11.

MINUMAN. buah. Ampas. MALAM HEWANI ATAU NABATI BAB 15. LEMAK OLAHAN YANG DAPAT DIMAKAN. Kakao & olahan kakao 19. produk industri kue. olahan makanan hewan 24. dan sisa dari industri makanan. tepung. MINUMAN KERAS DAN CUKA. binatang lunak atau dari binatang air yang tidak bertulang belakang 17. Olahan dari gandum-ganduman. (Judul Bab sama dengan Bagian) BAGIAN IV BAHAN MAKANAN OLAHAN. Olahan dari sayuran. dari ikan atau dari udang-udangan. . 20. Gula dan kembang gula 18. Minuman. kacang atau bagian lain dari tanaman. Tembakau dan tembakau pengganti buatan. pati atau susu.Klasifikasi Barang BAGIAN III MINYAK DAN LEMAK HEWANI ATAU NABATI DAN PRODUK DISOSIASINYA. TEMBAKAU DAN TEMBA KAU PENGGANTI BUATAN BAB 16. Olahan dari daging. 74 22. DTSD Bermacam-macam olahan DTSD Kepabeanan dan Cukai yang dapat dimakan 21. minuman keras dan cuka 23.

dari unsur radio aktif dan dari isotop 29. preparat . Bijih logam. dari logam tanah langka. terak dan abu 27. Garam. Produk farmasi 31. wangi-wangian. Bahan kimia organik 30. bahan samak dan 75 turunannya. Bahan kimia anorganik. kapur dan semen. tanah dan batu. Ekstrak bahan samak DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai atau bahan celup.Klasifikasi Barang BAGIAN V PRODUK MINERAL BAB 25. Pupuk 32. pigmen dan bahan pewarna lainnya. Sabun bahan organik penggiat permukaan. cat dan vernis. Bahan bakar mineral. dempul dan damar lainnya. preparat pencuci. bahan plester. tinta 33. belerang. bahan celup. kosmetika atau preparat pewangi 34. senyawa organik atau organik dari logam mulia. minyak mineral dan produk sulingannya. 26. malam mineral BAGIAN VI PRODUK INDUSTRI KIMIA DAN INDUSTRI YANG ADA HUBUNGANNYA DENGAN INDUSTRI KIMIA BAB 28. Minyak atsiri dan resinoida. bahan mengandung bitumen.

Klasifikasi Barang

BAGIAN

VII

PLASTIK DAN BARANG DARI PLASTIK; KARET DAN BARANG DARI KARET

BAB 39. 40.
Plastik dan Barang dari plastik Kulit dan Barang dari Kulit

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 76

Klasifikasi Barang

BAGIAN

VIII

JANGAT DAN KULIT MENTAH, KULIT SAMAK, KULIT BERBULU DAN BARANGNYA; PELANA TERMASUK PERLENGKAPANNYA DAN PAKAINAN KUDA; BARANG UNTUK BERPERGIAN, TAS TANGAN DAN TEMPAT SIMPAN SEMACAMNYA; BARANG DARI USUS (LAIN DARI USUS ULAT SUTERA)

BAB
41. 42. 43.

Jangat dan kulit mentah (lain dari kulit berbulu) dan kulit samak

Barang dari kulit samak; pelana termasuk perlengkapan dan pakaian kuda; barang untuk bepergian, tas tangan dan wadah yang semacam itu; barang dari usus hewan (lain dari pada usus ulat sutera) Kulit berbulu dan kulit berbulu tiruan

BAGIAN

IX

KAYU DAN BARANG DARI KAYU; ARANG KAYU; GABUS DAN BARANG DARI GABUS; BARANG DARI JERAMI, RUMPUT ESPARTO ATAU DARI BAHAN ANYAMAN LAINNYA; KERANJANG DAN BARANG ANYAMAN

BAB 44. Kayu dan barang dari kayu; arang kayu 45. Gabus dan barang dari DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai gabus 77 46. Barang dari jerami, dari rumput esparto atau dari bahan anyaman
lainnya; keranjang dan barang anyaman

Klasifikasi Barang

BAGIAN

X

PULP DARI KAYU ATAU DARI BAHAN SELLULOSA BERSERAT LAINNYA; KERTAS ATAU KERTAS KARTON (BEKAS DAN SISA) YANG DIPEROLEH KEMBALI; KERTAS DAN KERTAS KARTON DAN BARANGNYA

BAB
47.
Pulp dari kayu atau dari bahan sellulosa berserat lainnya, kertas atau kertas karton (bekas dan sisa) yang diperoleh

48. Kertas dan kertas karton; barang dari pulp kertas, dari kertas atau kertas
karton

49. Barang cetakan, surat kabar, gambar dan produk lainnya dari industri
percetakan; naskah tulisan tangan, naskah ketikan dan rencana

BAGIAN

XI

TEKSTIL DAN BARANG TEKSTIL

BAB

50. Sutera 51. Wool, bulu hewan halus DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai
78

atau kasar; benang bulu kuda dan kain tenunan

56. Gumpalan, kain kempa dan bukan tenunan; benang khsusu; benang pintal, tali tambang dan kabel dan barangbarangnya 57. 58.
Permadani dan tekstil penutup lantai lainnya Kain tenunan khusus; kain tekstil berjumbai; renda; permadani; hiasan;

52. Kapas

53. Serat tekstil dari nabati
lainnya ; benang kertas dan

PAYUNG PANAS. OLAHAN DAN BARANGNYA. BULU UNGGAS. tongkat duduk. cambuk. Alas kaki. pecut dan 67. BARANG DARI RAMBUT MANUSIA BAB 64. Tutup kepala dan bagiannya 79 bagiannya semacam dari barang 66. bunga tiruan. rajutan atau kaitan 62. Barang tekstil sudah jadi lainnya. pelindung kaki dan yang semacam itu . TUTUP KEPALA. CAMBUK. Barang dan perlengkapan pakaian. tidak dirajut atau dikait 63. TONGKAT DUDUK.Klasifikasi Barang 61. gombal BAGIAN XII ALAS KAKI. Payung. TONGKAT JALAN. tongkat jalan. Barang dan perlengkapan pakaian. Bulu unggas dan bulu unggas olahan serta barang terbuat dari bulu unggas atau bullu unggas tiruan. PECUT DAN BAGIANNYA. setelan. BUNGA TIRUAN. payung panas. PAYUNG. bagian DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 65. pakaian bekas dan barang tekstil bekas. barang dari rambut manusia .

PRODUK KERAMIK. Barang dari batu. PERHIASAN IMITASI. BATU PERMATA ATAU SEMI PERMATA. SEMEN. LOGAM MULIA KERAJANG DAN BARANGNYA. MATA UANG LOGAM BAB DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 80 . asbes. Kaca dan barang dari kaca BAGIAN XIV MUTIARA ALAM DAN MUTIARA BUDIDAYA.Klasifikasi Barang BAGIAN XIII BARANG DARI BATU. ASBES. Produk keramik 70. gips. GIPS. LOGAM MULIA. semen. KACA DAN BARANG DARI KACA BAB 68. MIKA ATAU DARI BAHAN SEMACAM ITU. mika atau bahan semacam itu 69.

Barang dari besi dan baja 74. DAN BAGIAN SERTA PERLENGKAPAN DARI BARANG YANG SEMACAM ITU BAB DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 81 . nikel sermet. Nikel dan barang terbuat dari 81. Logam tidak mulia lainnya. barangnya 76. peralatan. PERLENGKAPAN LISTRIK. barang tajam. Timah dan barang terbuat dari tembaga timah 75. Besi dan baja 78. Aluminium dan barang terbuat dari aluminium 82. Timah hitam dan barang terbuat dari timah hitam 73. BAGIANNYA PESAWAT PEREKAM DAN PESAWAT REPRODUKSI SUARA. Bermacam-macam barang dari logam tidak mulia BAGIAN XVI MESIN DAN PESAWAT MEKANIK. dari logam tidak mulia.sendok dan garpu.Klasifikasi Barang 71. PESAWAT PEREKAM ATAU REPRODUKSI SUARA DAN GAMBAR UNTUK TELEVISI. (Judul Bab sama dengan Bagian) BAGIAN XV LOGAM TIDAK MULIA DAN BARANG DARI LOGAM TIDAK MULIA BAB 72. Perkakas. Tembaga dan barang terbuat dari 79.bagian bagiannya dari logam tidak mulia 83. Seng dan barang terbuat dari seng 80.

dan bagian serta perlengkapan dari barang yang semacam itu BAGIAN XVII KENDARAAN. Reaktor nuklir.Klasifikasi Barang 84. BAGIAN DAN PERLENGKAPANNYA DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 82 BAB . LONCENG DAN ARLOJI. KENDARAAN AIR DAN PERLENG KAPAN PENGANGKUTAN YANG BERKAITAN BAB 86. dan bagian serta perlengkapannya 88. POTOGRAFI. mesin dan pesawat mekanik. PESAWAT TERBANG. SINEMATOGRAFI. Lokomotif kereta api atau trem. BAGIAN XVIII ALAT DAN APARAT OPTIK. KEDOKTERAN DAN BEDAH. ketel uap. pesawat perekam dan reproduksi gambar dan suara untuk televisi. serta bagiannya 89. bagiannya 85. PRESISI. pesawat perekam dan pesawat reproduksi suara. Mesin dan alat listrik serta bagiannya. Kendaraan selain yang begerak diatas rel kereta api atau trem. INSTRUMEN MUSIK. PENELITI. pesawat ruang angkasa. alat pemasang dan perlengkapan rel kereta api atau trem dan bagiannya. Kapal udara. UKUR. perlengkapan isyarat lalu lintas mekanik dari segala jenis (termasuk elektronik) 87. kendaran yang bergerak diatas rel dan bagiannya.

bagian dan perlengkapan dari barang seperti itu BAGIAN XIX SENJATA DAN AMUNISI. kedokteran dan bedah. sinematografi. ukur. BAGIAN DAN KELENGKAPANNYA BAB 93.Klasifikasi Barang 90. bagian dan perlengkapannya 91. peneliti. Alat dan aparat optik. presisi. fotografi. Lonceng dan arloji dan bagiannya 92. (Judul Bab sama dengan Bagian) BAGIAN XX BERMACAM-MACAM BARANG HASIL PABRIK DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 83 BAB . Instrumen musik .

isyarat iluminasi. papan nama iluminasi dan semacam itu. bangunan prefabrikasi 95. kasur. (Judul Bab sama dengan Bagian) C. bantal dan kelengkapannya. Catatan Penting Pada BTBMI Disamping KUM HS. catatan-catatan dalam HS merupakan bagian integral yang DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 84 . kasur tempat tidur. Perabot rumah. keperluan permainan dan keperluan olah raga. Bermacam-macam barang hasil pabrik lain XXI HASIL KARYA SENI. lapik kasur.Klasifikasi Barang 94. Mainan. tidak dirinci atau termasuk dalam pos manapun. lampu dan perlengkapan penerangan. bagian dan kelengkapannya 96. BARANG KEGEMARAN KAUM PENGUMPUL DAN BARANG ANTIK BAGIAN BAB 97.

12 kata "sayuran" meliputi jamur. ikan atau krustasea. sisa daging. lebih dari 20% menurut beratnya (Bab 16). diolah secara khusus untuk makanan hewan (pos 23. 07. daging. diklasifikasikan dalam pos pada Bab 16 yang sesuai dengan komponen atau komponen-komponen yang mendominasi menurut beratnya.11 dan 07.02.Olahan makanan digolongkan dalam Bab ini asalkan mengandung sosis. kaper. Ketentuan ini tidak berlaku untuk produk diisi dari pos 19. darah.Klasifikasi Barang harus diperhatikan benar-benar. atau (c) Obat-obatan dan produk lain dari Bab 30. moluska atau invertebrata air lainnya.02 atau olahan dari pos 21. Dalam hal apabila olahan mengandung dua atau lebih produk yang disebut di atas. buah dari genus Capsicum atau dari genus Pimenta. Catatan Bab. adas pedas. saccharata).Dalam pos 07. cress dan marjoram manis (Majorana hortensis atau Origanum majorana) yang dapat dimakan. terong.. cendawan tanah. darah.09). Catatan-catatan penting tersebut adalah : 1) Bagian II Bab 7 Catatan 2 2. 3) Bagian IV Bab 19 Cacatan 1 1. 2) Bagian II Bab 16 Catatan 2 2. labu kuning. atau berbagai kombinasinya.03 atau 21. parsley. buah zaitun. (b) Biskuit atau barang lain yang dibuat dari tepung atau dari pati. 4) Bagian IV DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 85 . dan Catatan Sub-pos. atau berbagai kombinasinya. tarragon.09.. daging. lebih dari 20% menurut beratnya. HS mempunyai Catatan Bagian. 07. chervil. jagung manis (Zea mays var.10. ikan atau krustasea. moluska atau invertebrata air lainnya.Bab ini tidak meliputi : (a) Kecuali dalam hal produk diisi dari pos 19. labu sumsum. olahan makanan mengandung sosis..04. Catatan-catatan tersebut mempunyai kekuatan hukum sama seperti uraian pos atau sub-pos. sisa daging.

dapat dikenali sebagai unsur yang saling melengkapi satu sama lain. istilah "olahan homogen" berarti olahan buah.07. dan (c) pada saat diajukan. (b) diajukan bersama. pengawet atau keperluan lain.Barang yang disiapkan dalam set yang terdiri dari dua atau lebih unsur yang terpisah.. harus diklasifikasikan dalam pos yang sesuai dengan produk tersebut. 5) Bagian VI Bagian VI catatan 3 3. disiapkan untuk penjualan eceran sebagai makanan bayi atau untuk keperluan diet.Klasifikasi Barang Bab 20 catatan subpos 2 2.10. Subpos 2007. Olahan ini dapat mengandung sejumlah kecil buah yang dapat dilihat. dihomogenisasi secara halus. baik berdasarkan sifat atau perbandingan relatifnya. asalkan unsur tersebut : (a) berdasarkan penyiapannya jelas dapat dikenal untuk digunakan bersamasama tanpa dibungkus ulang sebelumnya.10 harus dipertimbangkan lebih dahulu daripada subpos lain dari pos 20. dalam kemasan dengan berat bersih tidak melebihi 250 g.Untuk keperluan subpos 2007. beberapa atau seluruhnya yang digolongkan dalam Bagian ini dan dimaksudkan untuk dicampur bersama untuk memperoleh produk dari Bagian VI atau VII.. Untuk penerapan definisi ini tidak memperhitungkan sejumlah kecil berbagai bahan yang ditambahkan pada olahan tersebut sebagai penyedap. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 86 .

.Dalam Catatan 1 Bab ini dan dalam pos 40. yang pada suhu antara 18 C dan 29 C tidak akan putus bila di rentang hingga tiga kali panjang aslinya. seperti perentang. kecuali apabila konteksnya menentukan lain. keberadaan berbagai zat DTSD DTSD Kepabeanantidak Cukai yang dan diperlukan untuk ikatan silang. dan setelah direntang hingga dua kali panjang aslinya selama lima menit.Klasifikasi Barang 6) Bagian VII Bab 39 catatan 4 4. Namun demikian. block copolymer dan graft copolymer) dan campuran polimer harus diklasifikasikan dalam pos yang mencakup polimer dari unit komonomer tersebut yang beratnya mendominasi berat unit komonomer tunggal lainnya. Untuk keperluan Catatan ini.. seperti pengaktif dan akselerator vulkanisasi.02. 87 peliat dan pengisi. produk kopoliadisi. bagian unit komonomer dari polimer yang termasuk dalam pos yang sama harus digolongkan bersama. Untuk keperluan pengujian ini. Untuk keperluan Bab ini. maka kopolimer atau campuran polimer harus diklasifikasikan dalam pos terakhir berdasarkan urutan penomoran di antara pos yang mempunyai pertimbangan yang setara. keberadaan zat yang dimaksud oleh Catatan 5 (b) (ii) dan (iii) juga diperkenankan. dapat ditambahkan zat yang diperlukan untuk ikatan silang. tidak diperkenankan. kopolimer (termasuk kopolikondensasi. Dalam hal tidak terdapat unit komonomer tunggal yang mendominasi. istilah "karet sintetik" berlaku untuk : (a) Zat sintetik tidak jenuh yang dapat diubah dengan tidak kembali ke sifat semula melalui vulkanisasi menggunakan belerang menjadi zat non termoplastik. panjangnya akan kembali menjadi tidak lebih dari satu setengah kali panjang aslinya.Istilah "kopolimer" meliputi semua polimer yang unit monomer tunggalnya tidak ada yang beratnya 95% atau lebih menurut berat total kandungan polimer tersebut. . 7) Bagian VII Bab 40 catatan 4 (a) 4.

73. dan kemudian pos yang tepat dalam Bab tersebut. untuk pengklasifikasian kain tenunan. 73.14).01.07. maka bahan tersebut harus diperlakukan sebagai bahan 9) Bagian XV Bagian XV catatan 2 2.10) dan benang berlogam (pos 56.10 dan bingkai serta cermin (c) 88 dari logam tidak mulia. benang berlogam harus dianggap sebagai bahan tekstil.Klasifikasi Barang 8) Bagian XI Bagian XI catatan 2 (A-B) 2.06. barang tersebut harus diklasifikasikan seolah-olah seluruhnya terdiri dari satu bahan tekstil yang termasuk dalam pos terakhir berdasarkan urutan penomoran di antara pos-pos dengan pertimbangan yang setara.15) referensi untuk bagian barang tidak meliputi referensi untuk bagian pemakaian umum sebagaimana dirinci di atas.09 atau 59. tanpa memperhatikan berbagai bahan yang tidak diklasifikasikan dalam Bab tersebut. (b) Pilihan pos yang sesuai harus dilakukan. DTSD Kepabeanan dan Cukai 83.. (B) Untuk keperluan ketentuan di atas : (a) Benang lilit dari bulu kuda (pos 51. Dalam Nomenklatur ini. Apabila tidak satupun bahan tekstil yang mendominasi menurut beratnya. 73. dengan menentukan Babnya.17 atau 73. 83. pertama.18 dan barang semacam itu dari logam tidak mulia lainnya. 83.15.02.12. Dalam Bab 73 sampai dengan 76 dan Bab 78 sampai dengan 82 (tetapi tidak dalam pos 73.(A) Barang yang dapat diklasifikasikan dalam Bab 50 sampai dengan 55 atau dalam pos 58. selain pegas jam atau arloji (pos 91. dan DTSD Barang dari pos 83. (d) Apabila Bab atau pos merujuk pada barang dari bahan tekstil yang berbeda . (b) Pegas dan lembaran untuk pegas. dari pos 83. (c) Apabila Bab 54 dan 55 berkaitan dengan berbagai Bab lainnya.05) harus diperlakukan sebagai bahan tekstil tunggal yang beratnya dianggap seperti berat keseluruhan komponennya. .08.02 dan dari campuran dua bahan tekstil atau lebih harus diklasifikasikan seolah-olah seluruhnya terdiri dari satu bahan tekstil yang beratnya mendominasi berat setiap bahan tekstil lainnya. dari logam tidak mulia. istilah "bagian untuk pemakaian umum" berarti: (a) Barang dari pos 73. maka Bab 54 dan 55 harus diperlakukan sebagai Bab tunggal.

. istilah " mesin " berarti berbagai mesin. 11) Bagian XVI Bab 84 catatan 5 5. harus diklasifikasikan seolah-olah terdiri hanya dari komponen tersebut atau sebagai mesin tersebut yang melakukan fungsi utama. dan.. 4 dan 5 3. yang termasuk dalam salah satu pos dalam Bab 84 atau 85. 89 (ii) Diprogram secara bebas menurut kebutuhan pemakai.Apabila mesin (termasuk kombinasi mesin) terdiri dari komponen tersendiri (terpisah atau saling dihubungkan dengan pipa. seluruhnya harus diklasifikasikan dalam pos yang sesuai dengan fungsi tersebut.Kecuali apabila konteksnya menentukan lain.Klasifikasi Barang 10) Bagian XVI Bagaian XVI catatan 3. instalasi. 5.71. 4.(A) Untuk keperluan pos 84. (iv) Tanpa intervensi manusia. istilah "mesin pengolah data otomatis" berarti mesin yang dapat : (i) Menyimpan program atau programprogram pengolahan dan sekurang-kurangnya data yang diperlukan segera untuk DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai pelaksanaan program tersebut. dengan peralatan penggerak. perlengkapan.. melaksanakan program pengolahan yang memerlukan modifikasi pelaksanaannya. permesinan. dengan keputusan .Untuk keperluan Catatan ini.. dengan kabel listrik atau dengan peralatan lainnya) yang dimaksudkan untuk digunakan bersama untuk melakukan fungsi tertentu secara jelas. mesin gabungan yang terdiri dari dua atau lebih mesin yang dipasang bersama untuk membentuk satu kesatuan dan mesin lainnya yang dirancang untuk keperluan melakukan dua fungsi atau lebih yang saling melengkapi atau fungsi alternatif. (iii) Mengerjakan perhitungan aritmatika yang ditentukan oleh pemakai. aparatus atau peralatan yang disebut dalam pos pada Bab 84 atau 85.

penyepuhan. selain elemen yang dapat memproduksi. melalui berbagai proses pencetakan (misalnya.34 "sirkit tercetak" adalah sirkit yang diperoleh dengan pembentukan di atas dasar pengisolasi. atau induktansi khusus. benang tekstil atau berbagai bahan lainnya atau dari kombinasi bahan bahan tersebut. induktansi. kontak atau komponen tercetak lainnya (misalnya. Pos 84. pencetakan timbul. Istilah " sirkit tercetak " tidak meliputi sirkit yang dikombinasi 90 dengan elemen selain yang diperoleh selama proses pencetakan. mesin penjalin. pengetsaan) atau melalui teknik "sirkit film" berupa elemen konduktor. memodulasi atau memperkuat sinyal DTSD elektris (misalnya. kecuali apabila konteksnya menentukan lain. harus diperlakukan seolah-olah kegunaan utamanya adalah kegunaan satu-satunya.79 juga meliputi mesin untuk membuat tali atau kabel (misalnya. mesin pemilin atau mesin pembuat kabel) dari kawat logam. Sirkit film tipis atau tebal yang terdiri dari elemen pasif dan aktif yang diperoleh selama proses teknologis yang . suatu mesin yang kegunaan utamanya tidak diuraikan dalam pos manapun atau yang tidak ada satupun kegunaannya merupakan kegunaan utama.79. mesin yang digunakan untuk lebih dari satu kegunaan.Klasifikasi Barang 12) Bagian XVI Bab 84 catatan 7 7. Namun demikian. sirkit tercetak dapat dilengkapi dengan elemen penghubung tidak dicetak.. 13) Bagian XVI Bab 85 catatan 5 5.. kapasitor). juga tidak meliputi resistor. kapasitor. Berdasarkan Catatan 2 pada Bab ini dan Catatan 3 pada Bagian XVI. elemen DTSD Kepabeanan dan Cukai semi konduktor). harus diklasifikasikan dalam pos 84. resistor.Untuk keperluan pos 85. menyearahkan. tersendiri atau saling berhubungan menurut pola yang ditetapkan sebelumnya.Untuk keperluan klasifikasi.

cincin pipih atau sejenisnya dari berbagai bahan (diklasifikasikan menurut bahan utamanya atau dalam pos 84. (d) Barang dari pos 83. sebagaimana dirinci dalam Catatan 2 Bagian XV.91 dengan 88 tidak berlaku untuk bagian atau aksesori yang tidak cocok untuk digunakan sematamata atau terutama dengan barang dari Bab-bab tersebut. (ij) Senjata (Bab 93).01 sampai dengan 84.Istilah "bagian" serta "bagian dan aksesori" tidak berlaku untuk barang berikut. (g) Barang dari Bab 90.16). harus diklasifikasikan menurut pos yang sesuai dengan .03).79.. DTSD Referensi dan "bagian" atau "aksesori" dalam Bab 86 sampai DTSD Kepabeanan untukCukai 3. (c) Barang dari Bab 82 (perkakas).Klasifikasi Barang 14) Bagaian XVII Bagian XVII catatan 2 dan 3 2. atau bagiannya. atau barang semacam itu dari plastik (Bab 39). (e) Mesin atau aparatus dari pos 84.05. atau (l) Sikat dari jenis yang digunakan sebagai bagian dari kendaraan (pos 96. Bagian atau aksesori yang memenuhi uraian dalam dua pos atau lebih dari pos pada Bab-bab tersebut. dari logam tidak mulia (Bagian XV).83. (k) Lampu atau alat kelengkapan penerangan dari pos 94. dapat diidentifikasi sebagai barang dari Bagian ini maupun tidak : (a) Sambungan. (f) Mesin atau perlengkapan elektris (Bab 85).82 atau barang dari pos 84.84) atau barang lainnya dari karet divulkanisasi selain karet keras (pos 40. barang dari pos 84. asalkan barang tersebut merupakan bagian integral dari mesin atau motor.06. (b) Bagian untuk pemakaian umum. (h) Barang dari Bab 91.81 atau 84.

. atau untuk mengontrol suhu secara otomatis. yang dirancang untuk memberi faktor ini untuk. distabilkan terhadap gangguan. tinggi permukaan. dan (b) Regulator besaran listrik otomatis dan instrumen atau aparatus untuk mengontrol besaran bukan listrik secara otomatis.Pos 90. yang pengoperasiannya tergantung pada fenomena listrik yang berubah-ubah menurut faktor yang dikontrol. yang penggunaannya tergantung maupun tidak pada fenomena elektris yang berubah-ubah menurut faktor yang harus dikontrol secara otomatis.Klasifikasi Barang 15) Bagian XVIII Bab 90 catatan 7 7. dan mempertahankannya pada nilai yang dikehendaki. dan mempertahankannya pada nilai yang dikehendaki. yang dirancang untuk memberi faktor tersebut untuk. 16) Bagian XXI DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 92 . dengan pengukuran nilai aktual secara konstan atau periodik. distabilkan terhadap gangguan.32 berlaku hanya untuk : (a) Instrumen dan aparatus untuk mengontrol arus. dengan pengukuran nilai aktual secara konstan atau periodik. tekanan atau variabel lainnya dari cairan atau gas secara otomatis.

Klasifikasi Barang Bab 97 catatan 5 5. Sebutkan pos saja untuk barang mentega dan margarin ? 5. 3. harus diklasifikasikan terpisah.2. Latihan 3 1.3. kolase atau plakat hiasan semacam itu. Daging sapi yang diolah sederhana masuk pos berapa ? Bagaimana bila telah dikukus masuk Bab berapa ? 6. Bagaimana pengklasifikasian motor untuk mobil mainan ? 10. asalkan dari jenis dan nilai yang wajar untuk barang tersebut. Sebutkan contoh catatan ekslusif pada Bab 71 ? 3. Sebutkan 3 contoh barang termasuk bagian untuk pemakaian umum ? 8. gambar. Apakah bingkai dan gambar yang sama mahal harganya diklasifikasikan dalam satu pos tarif ? 3. Sebutkan contoh catatan definitif pada Bab 39 ? 2.Bingkai yang terpasang pada lukisan. gambar pastel. Rangkuman DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 93 . barang cetakan atau litograf harus diklasifikasikan dengan barang tersebut. bingkai yang bukan merupakan jenis atau nilai yang wajar untuk barang tersebut. Merujuk pada Catatan ini.. ukiran. Saringan udara untuk mesin diklasifikasikan pada pos berapa ? 11. Bagaimana syarat komputer menurut Harmonized system pada Bab 84 ? 9. Sebutkan catatan ilustratif pada pada Bagian ? 4. Sebutkan posnya saja batu pualam yang masih bongkahan dan yang telah jadi ubin ? 7.

BTBMI terdiri dari 21 Bagian. Catatan merupakan pintu gerbang dalam memasuk bagian dan bab dalam BTBMI. 2. barang presisi. Terakhir dengan mesin. kendaraan.Sebaiknya seorang klasifikator yang bak akan memahami pengelompokan jenis barang dalam BTBMI 3. bab maupun subpos. dan penjelasan. barang untuk kemanan dan barang kelontong. Bab dan Sub-bab pada Buku tarif Bea Masuk DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 94 . eksklusive. Bab 1 sampai dengan 77 dan bab 78 sampai dengan bab 98. Bahkan dalam KUM HS nomor satu dinyatakan bahwa hal yang mengikat dalam mengklasifikasi barang adalah catatan. Pengelompokan barang ini berawal dari binatang. ( B . Test Formatif 3 A. nabati mineral dan selanjutnya kepada bahan kimia dan produknya. Salah satu syarat menjadi seorang klasifikator yang baik adalah harus dapat memahami catatan penting. catatan definitive. dikeluarkan. proses setengah jadi dan barang jadi. Pemahaman pengelompokan barang akan mempermudah dan mempercepat dalam mengklasifikasi.Klasifikasi Barang 1. bab maupun subpos yang bersifat mengikat. Secara garis besarnya pintu gerbang tersebut akan mengatur tentang suatu barang yang boleh dimasukan.S ) Judul Bagian. Catatan merupakan salah satu syarat penting dalam mengklasifikasi barang. Urutan pengelompokan barang umumnya didasarkan atas bahan dasar. Berbagai jenis barang akan dijelaskan dengan catatan dalam bagian. Lingkarilah huruf B apabila pernyataan ini Saudara anggap benar dan huruf S apabila pernyataan Saudara anggap salah. illustratif. Secara singkat jenis catatan tersebut meliputi. hewani. baik catatan bagian. atau dikeluarkan sebagian serta penjelasan lainyya. Hal ini diperlukan agar jangan sampai salah dalam menempatkan pengelompokan barang sesuai Harmonized system. 3.4. 1.

( B . sebaiknya kita identifikasi dulu barang yang akan kita klasifikasi. Pilihlah jawaban yang Saudara anggap benar dengan cara melingkari huruf yang terdapat di depan jawaban tersebut 1. ( B . harus diklasifikasikan dengan barang tersebut jika biasa dijual dengan barang itu 5. nama barang dan uraian jenis barang b. dengan bentuk atau kelengkapan khusus untuk menyimpan barang tertentu atau seperangkat barang tertentu. Dengan mengetahui spesifikasi barang maka akan lebih mendekati keakuratan dalam mengklasifikasi barang B.S ) Sebelum mengklasifikasi barang. Dalam membuat Nota Penelitian Klasifikasi Barang maka diperlukan kerangka yang singkat atau memerlukan uraian yang cukup panjang tergantung pada permasalahan yang dihadapi. cocok untuk pemakaian jangka panjang dan diimpor lengkap dengan isinya.S ) Pernyataan 2b pada KUM HS adalah Barang tidak lengkap atau tidak rampung dianggap sebagai barang lengkap atau rampung. Namun demikian nota tersebut setidak-tidaknya memuat tentang : a. Uraian klasifikasi mulai 2 digit sampai dengan 9 digit DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 95 .S ) Pernyataan 5b pada KUM HS adalah Peti kamera. ( B . Tidak mengikat secara hukum dalam mengklasifikasi 2. alasan atau catatan yang digunakan c. peti instrumen dan tempat simpan yang semacam.Klasifikasi Barang Indonesia hanya dimaksudkan untuk memudahkan penyebutan saja. ( B . asalkan pada saat diimpor sudah mempunyai sifat utama sebagai barang lengkap atau rampung 3.S) Pernyataan 3a pada KUM HS adalah Pos yang memuat uraian yang paling terinci harus lebih diutamakan daripada pos yang memuat uraian yang lebih umum sifatnya 4.

definitif b. berdasarkan KUM HS nomor : a. Mengapa olahan makanan yang terbuat dari daging sapi yang dikukus tidak diklasifikasikan pada bab 2 2. 3c c. Mengapa sabun mandi mengandung obat pembasmi kuman walaupun mengandung obat tidak diklasifikasikan pada bab 30 sebagai produk farmasi. namun diklasifikasikan pada bab 22 dikarenakan KUM HS nomor : a. diklasifikasikan sebagai mie pada bab 19. 5b C.Klasifikasi Barang d. Tabung gas LPG yang berisi gas LPG tidak dapat diklasifikasikan menjadi stu pos tarif karena ketentuan menurut KUM HS nomor : a. Walalupun etil alkohol merupakan bahan kimia organik. 2a c. Suatu kemasan mengandung mie. 5a 3. 5a d. 1 b. 3b b. b dan c benar 2. Larutan dengan kandungan asam cuka (acetic acid) lebih dari 10 % dikeluarkan dari bab 22 berdasarkan catatan : a. bumbu. 3a c. 2b d. Jawablah pertanyaan soal dibawah ini dengan ringkas 1. saos dan bawang. 3b d. esklusif c. 2b b. pengertian 4. ilustrasi d. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 96 . 3a 5. pernyataan a.

100 % = Baik sekali DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 97 ..5. UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT Bandingkanlah hasil jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif yang ada di belakang modul ini. merupakan benang tunggal.Ketentuan dan catatan apa yang digunakan dalam mengklasifikasi barang tersebut 3. Hitunglah jumlah jawaban Anda yang benar atau sejauh mana Anda menguasai mata pelajaran tersebut.. Sebutkan alasannya 5. dari serat disisir dengan nomor benang 150 decitex.04 atau 90.. Arti tingkat penguasaan : * 90 % .. Kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap terhadap materi kegiatan belajar Rumus Tingkat Penguasaan Jumlah Jawaban Anda yang benar dibagi 15 kemudian dikali 100 % = .. Automatic voltage regulator yang digunakan sebagai stabilizer otomatis untuk komputer harus diklasifikasikan pada pos 85..Klasifikasi Barang 3. Benang tenun terbuat dari campuran 70 % kapas (cotton) dan 30 % nilon... tidak dikelantang dan tidak dimerserisasi.... Mengapa tutup kepala (topi) pengaman untuk pengendara sepeda motor yang terbuat dari bahan plastik tidak diklasifikasikan pada bab 39 ? 4.32 .

Kulit dan Barang dari Kulit. dan Jangat. Karet dan Barang dari Karet. maupun tes formatif yang tersedia) diharapkan Saudara telah memahami bagaimana cara bahan / barang kimia anorganik – organic maupun produk yang terbuat daripadanya. mengidentifikasi Plastik dan Barang dari Plastik. Anda harus mengulangi membaca Modul kembali. Benang dan Kain. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 98 . terutama bagian yang belum Anda kuasai PENUTUP Setelah Saudara selesai mempelajari Modul ini (membaca serta mengerjakan latihan soal.Klasifikasi Barang * 80 % * 70 % * 89 % 79 % 69 % = Baik = Cukup = Kurang Kalau Anda mencapai tingkat penguasaan 80% keatas Anda dapat meneruskan kepada modul atau bagian pelajaran lain. mengidentifikasi Serat. Produk Keramik dan Barang dari Kaca. Penomoran Benang. bila tingkat penguasaan Anda masih dibawah 80 %. dan Identifikasi Serat. Hasilnya Baik ! akan tetapi. mengidentifikasi Barang dari Batu.

Modul ini merupakan dasar dari pengetahuan dan identifikasi barang yang minimal harus Saudara ketahui. pasal 16 DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 99 . atau d ) 1. Untuk penetapan tarif bea masuk. Untuk hal yang lebih “complicated” Saudara harus mencari tambahan pengetahuan sendiri melalui informasi di media masa. barang dikelompokkan berdasarkan sistem klasifikasi barang. dan Logam Mulia dan mengidentifikasi mesin – mesin serta barang – barang dari elektronika Dengan kemampuan Saudara mengidentifikasi barang-barang tersebut diharapkan Saudara nantinya dapat mengklasifikasikannya kedalam Buku Tarif Bea Masuk Indonesia. baik buku pengetahuan.Klasifikasi Barang Mutiara. b. majalah serta media internet. TES SUMATIF Pilihlah jawaban yang Saudara anggap benar dengan cara melingkari huruf yang terdapat di depan jawaban tersebut a. c. koran. Intan dan Logam Mulia. 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan pada : a. Bunyi kalimat diatas sesuai dengan bunyi UU no.

mengidentifikasi barang dengan mempelajari jenis dan spesifikasinya merumuskan identitas atau deskripsi barang tersebut melihat Buku Tarif klasifikasinya d. b dan c benar Bea Masuk Indonesia dan menentukan 4. a. pernyataan a. d. c.. maka sebutkan pernyataan dibawah ini yang tidak benar a. d. c.. 2. Untuk mengklasifikasi barang. b dan c benar 6. d. Dalam pengamatan sementara untuk mengklasifikasi barang. c. karena uraian jenis barangnya tidak ada dalam BTBMI 5. pasal 115 pasal 14 pasal 116 The Harmonized Commodity Description and Coding System (HS) mulai berlaku secara internasional sejak : a. Jenis suatu jenis barang dimungkinkan tidak ada dalam HS Dapat terkait dengan beberapa bab Mengklasifikasi barang seluruhnya harus tepat secara eksak Barang tidak dapat diklasifikasikan.. b. harus mengacu kepada perkembangan terakhir besarnya penetapan Bea Masuk c. Prosedur tersebut secara umum ialah . selalu berubah pernyataan a. c.. Pencantuman besarnya Bea Masuk pada Buku tarif Bea Masuk Indonesia : a... tanggal 1 Januari 1989 tanggal 1 Agustus 1988 tanggal 31 Januari 1988 tanggal 11 Januari 1989 3. hanyalah sementara (mengikuti surat Keputusan Menteri Keuangan RI) b. d. dikenal prosedur umum untuk mengklasifikasi barang. b.Klasifikasi Barang b.. Dalam membuat Nota Penelitian Klasifikasi Barang maka diperlukan kerangka yang singkat atau memerlukan uraian yang cukup panjang tergantung pada DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 100 . b..

namun diklasifikasikan pada bab 22 dikarenakan KUM HS nomor : a. Dalam membuat Nota Penelitian Klasifikasi Barang maka diperlukan kerangka yang singkat atau memerlukan uraian yang cukup panjang tergantung pada DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 101 . c. d. diklasifikasikan sebagai mie pada bab 19. b. c. d. 1 2a 2b 3a 10. Tabung gas LPG yang berisi gas LPG tidak dapat diklasifikasikan menjadi stu pos tarif karena ketentuan menurut KUM HS nomor : a. b. b. c. c. saos dan bawang. 2b 3a 3b 5a 8.Klasifikasi Barang permasalahan yang dihadapi. 3b 3c 5a 5b 11. bumbu. 7. b. b dan c benar Suatu kemasan mengandung mie. d. Definitif esklusif ilustrasi pengertian 9. Walalupun etil alkohol merupakan bahan kimia organik. d. Larutan dengan kandungan asam cuka (acetic acid) lebih dari 10 % dikeluarkan dari bab 22 berdasarkan catatan : a. nama barang dan uraian jenis barang alasan atau catatan yang digunakan Uraian klasifikasi mulai 2 digit sampai dengan 9 digit pernyataan a. berdasarkan KUM HS nomor : a. d. c. b. Namun demikian nota tersebut setidak-tidaknya memuat tentang : a.

c. c. d. d. nama barang dan uraian jenis barang alasan atau catatan yang digunakan Uraian klasifikasi mulai 2 digit sampai dengan 9 digit pernyataan a. b. diklasifikasikan sebagai mie pada bab 19. namun diklasifikasikan pada bab 22 dikarenakan KUM HS nomor : a. b dan c benar 12. d. c. Namun demikian nota tersebut setidak-tidaknya memuat tentang : a. b. c. Walalupun etil alkohol merupakan bahan kimia organik. Larutan dengan kandungan asam cuka (acetic acid) lebih dari 10 % dikeluarkan dari bab 22 berdasarkan catatan : a.Klasifikasi Barang permasalahan yang dihadapi. berdasarkan KUM HS nomor : a. b. Tabung gas LPG yang berisi gas LPG tidak dapat diklasifikasikan menjadi stu pos tarif karena ketentuan menurut KUM HS nomor : a. b. 3b 3c 5a 5b DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 102 . d. d. definitif esklusif ilustrasi pengertian 14. Suatu kemasan mengandung mie. c. bumbu. b. 1 2a 2b 3a 15. saos dan bawang. 2b 3a 3b 5a 13.

Klasifikasi Barang KUNCI JAWABAN I. TEST FORMATIF 1 DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 103 . 2. 3 1. KUNCI JAWABAN TEST FORMATIF 1.

Kelompok Essay Nomor 1 a) Sistem Brussel Edisi 1975 (BTN 1975). Sistem ini merupakan penyempurnaan dari sistem CCCN sebelumnya dan mulai diberlakukan pada tanggal 1 April 1987 sampai dengan 31 desember DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 104 . S B. d C. Pada dasarnya sistem pentarifan ini sama dengan sistem sebelumnya. c 5. Kelompok Pernyataan Benar (B) atau Salah (S) 1 B. c) Sistem CCCN Edisi 1985 (CCCN 1985). B.Klasifikasi Barang A. b) Sistem Customs Cooperation Council (CCCN). a 2. Penetapan tarif ini merupakan penyempurnaan dari penetapan tarif sebelumnya dan mulai diberlakukan pada tanggal 1 Juli 1975 sampai dengan 30 september 1980. b 3. S 3. 2. d 4. Sistem CCCN ini mulai diberlakukan pada tanggal 1 Oktober 1980 sampai dengan 31 Maret 1985. 4. hanya pada sistem CCCN ini terdapat penyempurnaan sistem penomoran pada sub-pos dari dua digit menjadi tiga digit atau semula 6 digit menjadi 7 digit. Kelompok Pilihan Ganda 1. B 5.

f) Merupakan kumpulan data yang seragam secara internasional sehingga dapat digunakan untuk mendukung analisis dan statistik perdagangan internasional. Untuk memberikan kekuatan hukum yang pasti. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 105 . d) Menggunakan “bahasa pabean” sehingga dapat dengan mudah dimengerti oleh importir. b) Memudahkan pengumpulan. kelompok studi tersebut berhasil menyusun suatu nomenklatur (daftar klasifikasi barang berdasarkan kelompok-kelompok) yang dinamakan Harmonized Commodity Description and Coding System atau lebih dikenal dengan sebutan Harmonized System (HS). produsen. b) HS adalah pedoman klasifikasi yang sistematik untuk seluruh barang yang diperdagangkan secara internasional. pengangkut. dan . nomenklatur disahkan dalam Konvensi HS Nomor 3 a) HS adalah pedoman klasifikasi yang sistematik untuk seluruh barang yang diperdagangkan secara internasional. untuk penetapan Tarif mendunia. Nomor 2 Pada akhir tahun 1986. dan aparat bea dan cukai. e) Sederhana dan memberikan kepastian dalam hal aplikasi dan interpretasi yang benar dan sama untuk keperluan negosiasi.Klasifikasi Barang 1988. c) HS menggunakan dasar yang seragam untuk keperluan pentarifan secara internasional. eksportir. Nomor 4 a) Memberikan keseragaman dalam daftar penggolongan barang yang dibuat secara sistematis. pembuatan dan analisis Statistik Pabean secara perdagangan dunia.

Klasifikasi Barang
c) Memberikan Sistem Internasional yang resmi Kode, Pen jelasan dan untuk pemberian penggolongan barang untuk tujuan

perdagangan seperti tarif pengangkutan, keperluan pengangkutan, dokumentasi dan sebagainya. d) Memperbaharui memberikan sistem klasifikasi kepada barang sebelumnya, teknologi untuk dan

perhatian

perkembangan

masyarakat industri serta pola perdagangan Internasional.

Nomor 5 Buku tarif Bea Masuk Indonesia hanyalah suatu referensi praktis agar dapat secara optimal digunakan di lapangan. Ketentuan hukum yang legal adalah sesuai Surat Keputusan Menteri Keuangan tentang perubahan Tarif Bea Masuk Indonesia (lihat Kata Pengantar pada BBTBMI)

2. TEST FORMATIF 2

A. Kelompok Pernyataan Benar (B) atau Salah (S) 1. B 2. S 3. B 4. S 5. B

B. Kelompok Pilihan Ganda 1. d 2. c 3. b 4. a 5. d

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 106

Klasifikasi Barang
C. Kelompok Essay

Diberitahukan hanya 6 digitnya (sub posnya) 1. Daging sapi hasil olahan sesuai bab 2 (pengolahan sementara/terbatas) diklasifikasikan pada bab 2. Bentuk pengolahan bukan sederhana, seperti dipanggang, dikukus dan pengolahan selain pada bab 2 diklasifikasikan pada bab 16. Lihat catatan 1 bab 16. Perhatikan pos tarif 1602.50.000. 2. Lihat catatan 1(e) Bab 30 3. Lihat catatan 1(n) Bab 39 4. Lihat catatan 2(A) Bagian XI 5. Lihat catatan 6(b) Bab 90 Perhatikan sub-pos 5206.24.

3. TES FORMATIF 3

A. Kelompok Pernyataan Benar (B) atau Salah (S) 1. B 2. S 3. B 4. S 5. B

B. Kelompok Pilihan Ganda 1. d 2. c 3. b 4. a 5. d

C. Kelompok Essay

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 107

Klasifikasi Barang
Diberitahukan hanya 6 digitnya (sub posnya) 1. Daging sapi hasil olahan sesuai bab 2 (pengolahan sementara/terbatas) diklasifikasikan pada bab 2. Bentuk pengolahan bukan sederhana, seperti di panggang, dikukus dan pengolahan selain pada bab 2 diklasifikasikan pada bab 16. Lihat catatan 1 bab 16. Perhatikan pos tarif 1602.50.000 2. Lihat catatan 1(e) Bab 30 3. Lihat catatan 1(n) Bab 39 4. Lihat catatan 2(A) Bagian XI 5. Lihat catatan 6(b) Bab 90 Perhatikan sub-pos 5206.24.

II. KUNCI JAWABAN TES SUMATIF

1. a 2. b 3. d 4. c 2. d 3. d 4. c 5. b 6. a 7. d 8. d 9. c 10. b 11. a 12. d

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 108

Klasifikasi Barang DAFTAR PUSTAKA Harmonized System. 2007 Pengantar Klasifikasi Barang. 2007 version Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (2007) Departemen Keuangan RI. Wordl Customs Organization. World Customs Organization. (1995) Pusdiklat Bea dan Cukai. World Organization (1994) *** DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 109 . Jakarta Explanatory Notes. Jakarta Classification Disputes Settled by The Harmonized System Committee.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful