DIKLAT TEKNIS SUBSTANTIF DASAR

KEPABEANAN DAN CUKAI

Disusun Oleh:

Adang Karyana Syahbana, S.ST.
(Widyaiswara Madya)

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI 2011

DIKLAT TEKNIS SUBSTANTIF DASAR

KEPABEANAN DAN CUKAI

Disusun Oleh:

Adang Karyana Syahbana, S.ST.
(Widyaiswara Madya)

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI 2011

Klasifikasi Barang

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

i

.............. Harmonized System ……………………………………………… 4 4 5 5 8 10 i ii v vi 1 1 1 2 3 4 4 1) Pengantar ……………………………………………………… 10 2) Tujuan Harmonized System ………………………………..................... PETA KONSEP MODUL …………………………………………………………............................................…………………………………………………… 1....... 2) Langkah-Langkah Dalam Mengklasifikasi Barang ………… B.................... Kegiatan Belajar (KB) 1 …………….....................................1..................... 4................. KEGIATAN BELAJAR …................. Identifikasi dan Klasifikasi Barang .......................... Latihan 1 …………………………………………………………........... 2) Struktur BTBMI ………………………………………………… 16 18 3) Kode Penomoran dan Pentakikan …………………………… 21 4) Arti kata “lain-lain” …………………………………………….............. Buku Tarif Bea Masuk Indonesia …………………………………...................... 1) Identifikasi dan Klasifikasi Barang ………………………..........……………………………………................................ Uraian dan contoh ........Klasifikasi Barang DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR ........ B..............…………….. Prasyarat Kompetensi ………………....................................... 3....... 1. 14 C................................. 24 27 DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai ii ............... PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL …………………………………………............ MODUL KLASIFIKASI BARANG A. A... Deskripsi Singkat ……………………...2................ KLASIFIKASI BARANG Indikator Keberhasilan ...... DAFTAR ISI .... Pendahuluan ………………………………………………………………… 1........…………………............................. Relevansi Modul .................... Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) ........ 16 1) Dasar Hukum …………………………………………………... 1..................... 11 3) Publikasi Pelengkap HS ……………………………………… 13 4) Sistem Pengkodean ………………………………………….... 2............................

...... b dan c ……………………………………………...Klasifikasi Barang 1............. Tes Formatif 2 ……………………………………………………….................... Tahapan Mengklasifikasi Barang .............1....... Rangkuman …………………………………………………………. 45 C...................5................................. 4) Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 4 ………………………………………………………… 5) Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 5 ………………………………………………………… 6) Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 6 ………………………………………………………… 44 42 41 37 35 33 B..............3. 27 29 32 2. 52 53 54 57 DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai iii . Ketentuan Umum Untuk Menginterpretasi Harmonized System ................... Uraian dan contoh ....... 33 2) Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 2a dan 2b ……………………………………………… 3) Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 3a....... Latihan 2 ……..............4.......... 1..................... 47 3) Praktek Pembuatan Nota Penelitian Klasifikasi Barang…… 49 2........... 1) ketentuan umum untuk menginterpretasi harmonized system nomor 1 ………………………………………………..... Tes Formatif 1 ………………………………………………………................ Nota Penelitian ……………………………………………………...5...………………………………………………… 33 2... Umpan Balik dan Tindak Lanjut ……………………..........3.……………………………………………………... 1..... 2... Rangkuman …………………………………………………………........... 33 A. Umpan Balik dan Tindak Lanjut ……………………..... 47 1) Pengantar ……………………………………………………… 47 2) Nota Penelitian Klasifikasi Barang …………………………............ 2....... 33 TEKNIK KLASIFIKASI BARANG Indikator Keberhasilan ........ 2........2...... Kegiatan Belajar (KB) 2 ……………......4..........................

......... 60 4) Catatan lain-lain ………………………………………………...........1....... 81 89 89 90 93 PENUTUP ……………………………………………………………………………........................................ 62 1) Gambaran per bagian ………………………………………… 62 2) Hubungan antar BAB ………………………………………….. 3............. 60 B... 67 3) BAB pada BTBMI ……………………………………………….................5..... Jenis Catatan pada BTBMI ..………………………………………………… 58 3......... Uraian dan contoh .. 59 3) Catatan Ilustratif ………………………………………………............ 104 DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai iv .............……………………………………………………........... 58 A...................... 94 TES SUMATIF …………………………...... Kegiatan Belajar (KB) 3 …………….2...3.......... Struktur Pengelompokan Barang Pada BTBMI ................................................... 3.................... 58 CATATAN PENTING DALAM BUKU TARIF BEA MASUK INDONESIA (BTBMI) Indikator Keberhasilan …........ 95 KUNCI JAWABAN ( TES FORMATIF DAN TES SUMATIF ) …………………… 99 DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………………....................... Latihan 3 …….... Rangkuman ………………………………………………………….......... Umpan Balik dan Tindak Lanjut …………………….. 3......Klasifikasi Barang 3. 3..4.. 69 C. Tes Formatif 3 ………………………………………………………. Catatan Penting Pada BTBMI …………………………………............. 58 1) Catatan definitive ……………………………………………… 59 2) Catatan Eksklusif ……………………………………………...

Cara mempelajari setiap kegiatan belajar adalah mengikuti tahap-tahap berikut ini: 1. Cocokkan hasil tes formatif dengan kunci jawaban tersebut. Cocokkan hasil tes sumatif dengan kunci jawaban tes sumatif. Pelajari materi yang menjadi isi dari setiap kegiatan belajar (dengan cara membaca materi minimal 3 kali membaca isi materi kegiatan belajar tersebut). 7. apabila ternyata hasil tes sumatif peserta diklat memperoleh nilai minimal 67 (jumlah yang benar x 100/25). Lihat apa yang menjadi target indikator dari kegiatan belajar tersebut.Klasifikasi Barang PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL Untuk dapat memahami modul ini secara benar. apabila ternyata hasil Tes Formatif peserta diklat memperoleh nilai minimal 67 (jumlah yang benar x 100/15). 3. dengan cara membaca kembali ringkasan materi untuk mendapatkan hal-hal penting yang menjadi fokus perhatian pada kegiatan belajar ini. maka peserta diklat dapat dinyatakan lulus dari kegiatan belajar DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai v . 6. Lihat kunci jawaban Tes Sumatif yang terletak pada bagian akhir modul ini 9. Kerjakan Tes Sumatif apabila semua Tes Formatif dari seluruh kegiatan belajar telah dilakukan. 4. 8. maka kegiatan belajar dapat dilanjutkan pada kegiatan belajar berikutnya. maka peserta diklat diharuskan mempelajari kembali kegiatan belajar tersebut agar selanjutnya dapat diperoleh angka minimal 67. namun apabila diperoleh angka di bawah 67. maka peserta diklat diharapkan mempelajari modul ini secara urut mulai dari Kegiatan Belajar 1 sampai dengan Kegiatan Belajar 3. 5. Lihat kunci jawaban Tes Formatif dari kegiatan belajar tersebut yang terletak pada bagian akhir modul ini. Kerjakanlah Tes Formatif pada kegiatan belajar yang sedang dipelajari. 2. Lakukan review materi secara umum.

5. Praktek Pembuatan Nota Penelitian Klasifikasi Barang Kegiatan Belajar 3 – CATATAN PENTING DALAM BUKU TARIF BEA MASUK INDONESIA (BTBMI) Materi : Jenis Catatan pada BTBMI : Catatan definitive. Tujuan Harmonized System.Klasifikasi Barang PETA KONSEP Dalam mempelajari modul ini. 3b. Sistem Pengkodean. 6. Struktur BTBMI. 2b. Nota Penelitian Klasifikasi Barang. BAB pada BTBMI. Langkah-Langkah Dalam Mengklasifikasi Barang. agar lebih mudah dipahami maka disarankan kepada peserta diklat untuk mempelajari peta konsep modul. Kode Penomoran dan Pentakikan. Catatan Eksklusif. Buku Tarif Bea Masuk Indonesia : Dasar Hukum. 3c. 4. 2a. Publikasi Pelengkap HS. 3a. Catatan Ilustratif. Arti kata “lain-lain” Kegiatan Belajar 2 – TEKNIK KLASIFIKASI BARANG Materi : Ketentuan Umum Untuk Menginterpretasi Harmonized System : ketentuan umum untuk menginterpretasi harmonized system nomor 1. Tahapan Mengklasifikasi Barang. Kegiatan Belajar 1 – KLASIFIKASI BARANG Materi : Identifikasi dan Klasifikasi Barang: Identifikasi dan Klasifikasi Barang. Catatan lain-lain. Hubungan antar BAB. Dengan demikian pola pikir yang sistematik dalam mempelajari modul dapat terjaga secara berkesinambungan selama mempelajari modul. Struktur Pengelompokan Barang Pada BTBMI : Gambaran per bagian. Nota Penelitian : Pengantar. Catatan Penting Pada BTBMI DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai vi . Harmonized System : Pengantar.

Klasifikasi Barang A PENDAHULUAN MODUL KLASIFIKASI BARANG 1. Diskripsi singkat Seorang Pegawai Ditjen Bea dan Cukai harus menjadi seorang klasifikator dibidang kepabeanan Oleh karena itu. Seorang klasifikator harus memiliki kemampuan dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang karena akan menentukan ketepatan dalam klasifikasi dalam Pemberitahuan Impor Barang (PIB) yang pada akhirnya menentukan ketepatan jumlah bea masuk dan pungutan impor lainnya yang harus dibayar. Prasyarat Kompetensi Peserta yang akan ditunjuk untuk mengikuti Diklat Teknis Substantif Dasar DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 1 . 2. seorang klasifikator harus terlebih dahulu memahami pengetahuan barang dan pengetahuan mengenai klasifikasi barang.

Identifikasi dan klasifikasi barang DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 2 . para siswa mampu menjelaskan pengelompokkan barang dan jenis catatan berdasarkan BTBMI. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Standar Kompetensi Setelah mempelajari modul ini. para siswa diharapakan mampu menerapkan ketentuan umum untuk menginterpretasi Harmonized System. Diklat Teknis Substantif Dasar merupakan Diklat yang bertujuan mencetak pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai sebagai pelaksana pemeriksa yang mempunyai kemampuan melaksanakan tugas dalam pemeriksaan barang dan tugas pemeriksaan lainnya untuk menjamin dipenuhinya visi. Kompetensi Dasar Setelah mempelajari Modul ini para siswa diharapkan dapat menjelaskan : 1. 3. Persyaratan tersebut penting karena pengalaman kerja sangat perlu bagi kelancaran pelaksanaan tugas sebagai pemeriksa dalam lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. misi dan tujuan organisasi pada organisasi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. tahapan dalam engklasifikasi barang dan membuat nota penelitian klasifikasi barang berdasarkan BTMBI.Klasifikasi Barang adalah pegawai lulusan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas dan pernah bertugas sebagai pelaksana pada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai sesuai ketentuan Kepegawaian Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. para Siswa diharapkan mampu memahami landasan dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang berdasarkan Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI). Dengan pengalaman dan dasar pendidikan tersebut diharapkan peserta diklat akan mempunyai gambaran awal tentang klasifikasi barang impor / ekspor pada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai sehingga diharapkan lebih mudah mencerna dan memahami modul Klasifikasi Barang.

Jenis catatan pada BTBMI 8. Ketentuan umum untuk menginterpretasi Harmonized System 5. Tahapan Mengklasifikai Barang. Buku Tarif Bea Masuk Indonesia. dan diharapkan dapat memberikan gambaran secara utuh tugas pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dalam pengklasifikasian barang. serta Catatan Penting dalam Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI). Ketentuan Umum untuk Menginterpretasikan Harmonized System. 4. Harmonize System. Setelah mempelajari materi modul ini diharapkan peserta mendapat pemahaman yang benar tentang klasifikasi barang. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 3 . Nota Penelitian. Nota penelitian klasifikasi barang 7. Catatan penting dalam BTBMI 4. b.Klasifikasi Barang 2. Harmonized System (HS) 3. Tahapan dalam engklasifikasi barang 6. Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI ) 2007. Materi modul ini terkait pada mata pelajaran lain. Relevansi Modul Relevansi modul terhadap tugas pekerjaan yang akan dijalankan peserta diklat adalah sebagai berikut : a. Struktur pengelompokan barang 9.

Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI ) 2007 1.1. Identifikasi dan klasifikasi barang 2. Harmonized System (HS) 3. seorang klasifikator harus terlebih dahulu memahami pengetahuan barang dan pengetahuan mengenai klasifikasi barang.Klasifikasi Barang B KEGIATAN BELAJAR 1. Seorang klasifikator harus memiliki kemampuan dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang karena akan menentukan ketepatan dalam klasifikasi DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 4 . Kegiatan Belajar (KB) 1 KLASIFIKASI BARANG Indikator Keberhasilan : Setelah mempelajari materi diharapkan siswa mampu menjelaskan: : 1. Uraian dan Contoh Seorang Pegawai Ditjen Bea dan Cukai harus menjadi seorang klasifikator dibidang kepabeanan Oleh karena itu.

Informasi apa yang diperlukan untuk mengidentifikasi suatu barang dan darimana informasi tersebut diperoleh? Informasi yang diperlukan sebenarnya tergantung dari uraian yang ada pada BTBMI yang berkaitan dengan barang DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 5 . Diharapkan dengan menggunakan metode ini para siswa dapat dengan mudah mengklasifikasi barang. IDENTIFIKASI DAN KLASIFIKASI BARANG 1) Identifikasi dan Klasifikasi Barang Langkah-langkah apa yang harus dilakukan untuk dapat mengklasifikasi suatu barang dengan benar? Biasanya klasifikasi tersebut dilakukan dengan mencari langsung pos tarif yang dianggap sesuai. Perlu diingat bahwa setelah melakukan tahap klasifikasi. Langkah ini dinamakan Identifikasi barang. Namun sekali lagi perlu diingat. Langkah pertama dalam mengklasifikasi adalah apa yang akan diklasifikasikan. Dalam buku ini akan dijelaskan dengan singkat langkah-langkah praktis dalam mengklasifikasi barang. baru diketahui bahwa informasi yang ada belum lengkap sehingga kita harus kembali melakukan identifikasi barang untuk memperoleh informasi yang diperlukan tersebut. Sebelum mengklasifikasi suatu barang. barulah kita dapat melakukan langkah kedua yaitu Klasifikasi barang. Seorang klasifikaotr tidak mungkin dapat mengklasifikasikan suatu barang dengan benar bila ia tidak tahu spesifikasi barang tersebut. Keakuratan mengklasifikasi tergantung dari keakuratan dalam mengidentifikasi barang. kita harus tahu lebih dulu spesifikasi barang itu.Klasifikasi Barang dalam Pemberitahuan Impor Barang (PIB) yang pada akhirnya menentukan ketepatan jumlah bea masuk dan pungutan impor lainnya yang harus dibayar. Setelah kita mendapatkan seluruh informasi yang dibutuhkan melalui identifikasi barang. Cara seperti ini tidak akurat dan sering menyebabkan terjadinya kesalahan klasifikasi yang mengakibatkan negara dirugikan. klasifikasi yang benar hanya dapat dilakukan apabila mengetahui jenis barang dan memahami aturan-aturan mengklasifikasi dengan benar. A.

buatan. apakah bentuk asal atau preparat. apa kegunaannya. untuk tujuan olah raga. banyak sumber informasi yang dapat kita gunakan. atau kuda untuk sirkus). hanyalah kuda bibit. dan sebagainya. semakin akurat kita mengklasifikasikannya. misalnya apakah bentuknya cair atau padat. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 6 . Demikian juga apabila barang tersebut berupa barang elektronik. butiran atau bongkahan. semakin mudah bagi kita untuk mengklasifikasikan barang karena tidak dibutuhkan informasi yang terlalu rumit (misalnya. Bagaimana seandainya yang akan kita klasifikasikan adalah suatu bahan kimia? Barangkali sebelum mengklasifikasi kita memerlukan berbagai informasi mengenai barang kimia tersebut: apakah organik atau anorganik. Fisik barang itu sendiri sudah Mari menjawab pertanyaan tesebut dengan memberikan beberapa informasi yang kita butuhkan. bagaimana bentuknya. Darimana kita dapat memperoleh informasi yang kita perlukan untuk mengklasifikasi suatu barang? memperhatikan bagan di bawah ini: Untuk mengetahui spesifikasi barang yang akan kita klasifikasikan.Klasifikasi Barang bersangkutan. informasi yang diperlukan untuk mengklasifikasikan kuda hidup. Informasi yang diperlukan tentunya semakin banyak dan rumit. Semakin sederhana dan rinci uraian barang pada BTBMI. kegunaan. Semakin banyak informasi yang kita miliki tentang barang tersebut. Informasi lain dapat kita peroleh dari berbagai sumber di atas. dan keterangan lainnya. bagaimana pengemasnya. Berapa watt dan voltage tenaga listrik yang dibutuhkan. dan sebagainya. apa komposisinya.

Klasifikasi Barang Identifikasi barang diperlukan untuk menjawab setidak-tidaknya empat pertanyaan dasar di bawah ini: • What is it? Barang apa yang diimpor? ⇒ bahan baku. aksesoris. barulah kita berusaha mencari pos yang DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 7 . setengah jadi. Apabila kita sudah mempunyai jawaban. elektronik. bahan yang dominan? • What for? Digunakan untuk apa? ⇒ kegunaan tertentu. bagian dari barang lain. campuran. kimia. lebh dari satu macam kegunaan? • How is it imported? Bagaimana saat diimpor? ⇒ kemasan? belum lengkap? terurai? dalam bentuk set? Pertanyaan di atas harus dijawab sebelum kita memulai tahap klasifikasi. atau barang jadi? produk pertanian. mesin? • What is it made of? Dibuat dari apa barang tersebut? ⇒ komposisi.

pertanian. iv. iii. Namun pada umumnya suatu pos mencakup atau menguraikan satu kelompok barang sehingga sepintas lalu seakan-akan ada satu barang yang dicakup oleh dua atau lebih pos. bukan satu pos tertentu?). identifikasi barang yang akan diklasifikasikan. b. dan seterusnya). bahan baku dan semua informasi mengenai barang. v. fungsi. kimia. Kita dapat menemukan satu pos tertentu bila pos dimaksud dengan spesifik menguraikan jenis barangnya. melihat buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI). ii. setelah 3W + 1H ⇒ What are the classifiable codes? Mengapa “What are classifiable codes?” (pos-pos. Keterangan kemurnian barang akan berkaitan dengan harga barang tersebut. Keterangan pabrik atau produsen barang perlu diperhatikan. menentukan klasifikasi barang ke dalam BTBMI (dapat dimulai baik dari segi bahan baku menjadi barang jadi. prosedur yang digunakan adalah sebagai berikut : i. Prosedur Umum Klasifikasi Dalam mengklasifikasi barang menggunakan BTBMI. 2) Langkah-Langkah Dalam Mengklasifikasi Barang a. Demikian juga negara asal barang akan berpengaruh terhadap mutu atau harga barang. mineral. Untuk itu kita perlu mengantisipasi semua pos tarif yang mungkin untuk dipilih satu pos yang paling sesuai. mesin. mempelajari jenis. merumuskan identitas atau deskripsi barang tersebut. Tahapan Mengklasifikasi Barang DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 8 . misalnya apakah pabrik farmasi atau pabrik produksi pipa plastik. Hal ini untuk mengetahui grade atau kemurnian dari bahan tersebut. proses sederhana dan proses canggih/kompleks. Dengan kata lain.Klasifikasi Barang tepat. dari jenis pabrik apa. Kalau dari pabrik farmasi kecenderungannya grade farmasi atau kemurnian mendekati 100 %.

Kita identifikasi dulu barang yang akan kita klasifikasi. Tahapan lebih rinci akan dijelaskan kemudian setelah memahami apa itu Harmonized System. barang kimia. atau cukai) dan ada atau tidak peraturan tata niaganya (IT. Buku Tarif Bea Masuk Indonesia. baca dan perhatikan baik-baik catatan Bagian dan catatan Bab yang berkaitan dengan pilihan bab atau bab-bab pada butir 1. Setelah menemukan satu bab yang paling sesuai berdasarkan kajian di atas. dan lain-lain. 4. Pada tahap ini. langkah selanjutnya adalah melihat pembebanannya (BM. PPnBM. Ketentuan Umum Untuk Menginterpretasi Harmonized System dan teori pendukung lainnya. IP. Apabila sudah dipilih satu pos tarif yang benar-benar sesuai dengan uraian barang. PPN. 3. berat. kemasan dan informasi lain yang bergunauntuk mengklasifikasi barang. biasanya kita sudah mempunyai gambaran umum apakah barang tersebut diklasifikasikan di bab tersebut atau di bab lainnya. Perhatikan penjelasan-penjelasan dalam catatan Bagian maupun catatan Bab yang berkaitan dengan barang yang akan kita klasifikasi. guna. atau mesin. perhatikan pada Bagian. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 9 . Apabila ada catatan yang mengeluarkan barang tersebut dari Bab atau Bagian yang kita pilih. Karena pembebanan tersebut sering berubah. fungsi. Ingat.). atau pos mana barang tersebut diklasifikasikan.Klasifikasi Barang Dalam penjelasan ini disajikan tahapan mengklasifikasi barang secara garis besar. Pilih bab atau bab-bab yang berkaitan dengan spesifikasi barang tersebut. Bila sudah kita tentukan. 2. kita bisa memilih bab-bab yang lebih spesifik. bauatan. maka langkah selanjutnya tinggal menentukan sub-pos (6-digit) dan pos tarif (9-digit) yang sesuai. Bab. maka kita mulai menelusuri pos-pos yang mungkin mencakup barang yang akan kita klasifikasikan dalam bab tersebut. Dengan mengetahui spesifikasi barang. Identitas barang meliputi : nama. Dalam tahap ini tentunya menggunakan kaidah-kaidah seperti yang ada dalam nomor 1 sampai dengan 10 Ketentuan Umum Untuk Menginterpretasi Harmonized System 5. Bila sudah kita temukan satu pos yang tepat. dalam penentuan sub-pos dan pos tarif pun kadang timbul permasalahan klasifikasi yang sama dengan penentuan pos (4-digit). 1. misalnya barang tersebut produk pertanian. Pada tahap ini kadang-kadang kita sudah dapat menemukan pos yang mencakup barang tersebut dengan rinci. Pertamina.

Berdasarkan pasal 14 ayat 2 Undangundang Kepabenan Indonesia Nomor 10 tahun 1995.Klasifikasi Barang jangan lupa selalu menggunakan pembebanan yang up to date berdasarkan ketentuan yang terbaru. a. pengangkutan dan statistik. Pada saat ini sistem pengklasifikasian barang di Indonesia didasarkan pada Harmonized System dan dituangkan dalam bentuk suatu daftar tarif yang kita kenal dengan sebutan Buku Tarif Bea Masuk Indonesia. HARMONIZED SYSTEM 1) Pengantar Klasifikasi barang adalah suatu daftar penggolongan barang yang dibuat secara sistematis dengan tujuan untuk mempermudah pentarifan transaksi perdagangan. B. penetapan klasifikasi barang diatur lebih lanjut oleh Menteri Keuangan. Sejarah Sistem Klasifikasi di Indonesia DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 10 .

Sistem Customs Cooperation Council (CCCN). b. Sistem Harmonisasi (Harmonized System). hanya pada sistem CCCN ini terdapat penyempurnaan sistem penomoran pada sub-pos dari dua digit menjadi tiga digit atau semula 6 digit menjadi 7 digit. Indonesia telah menggunakan beberapa sistem klasifikasi untuk barang impor. Pada dasarnya sistem pentarifan ini sama dengan sistem sebelumnya. tetapi juga digunakan untuk kepentingan lain seperti statistik. Sistem CCCN Edisi 1985 (CCCN 1985). c. yaitu : a. pengangkutan. Sistem ini diterapkan di Indonesia berdasarkan PP No. dan negosiasi perdagangan. mulai berlaku sejak tanggal 1 Januari 1973 sampai dengan 30 Juni 1975. Sistem ini merupakan penyempurnaan dari sistem CCCN sebelumnya dan mulai diberlakukan pada tanggal 1 April 1987 sampai dengan 31 desember 1988. Mengapa HS ? Sejak tahun 1970. Sistem Jenewa (Geneve Nomenclature). f. b. Sistem Brussel (Brussel Tariff Nomenclature atau BTN). Sistem Brussel Edisi 1975 (BTN 1975). yang berlaku sejak kemerdekaan Republik Indonesia sampai dengan 31 Desember 1972. d. kelompok studi tersebut berhasil menyusun suatu DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 11 . Sistem CCCN ini mulai diberlakukan pada tanggal 1 Oktober 1980 sampai dengan 31 Maret 1985. Pada akhir tahun 1986. Customs Cooperation Council (CCC) yang sekarang dikenal dengan nama World Customs Organisation (Organisasi Pabean Dunia) telah membentuk suatu kelompok studi yang berusaha untuk menciptakan suatu nomenklatur klasifikasi barang yang tidak semata-mata untuk keperluan pabean. 26 tahun 1988 dan diwujudkan dalam bentuk Buku Tarif Bea Masuk Indonesia 1989 dan dinyatakan berlaku mulai tanggal 1 Januari 1989. Penetapan tarif ini merupakan penyempurnaan dari penetapan tarif sebelumnya dan mulai diberlakukan pada tanggal 1 Juli 1975 sampai dengan 30 september 1980. e.Klasifikasi Barang Sebelum diberlakukannya Harmonized System.

Namun sekarang hampir seluruh negara di dunia telah meratifikasi konvensi ini. dokumentasi dan sebagainya. pembuatan dan analisis Statistik perdagangan dunia. Menyadari hal yang demikian WCO pada tanggal 14 Juni 1983 meluncurkan HS yang mulai berlaku secara internasional pada tanggal 1 Januari 1988. Pada awalnya. iv. mengakibatkan timbulnya kesulitan dalam mengantisipasi kemajuan teknologi. iii. untuk penetapan Tarif Pabean secara mendunia. Memperbaharui sistem klasifikasi barang sebelumnya. perkembangan masyarakat industri dan pola perdagangan Internasional. Memberikan Sistem Internasional yang resmi untuk pemberian Kode. sebenarnya Indonesia telah menggunakan BTBMI berdasarkan HS sejak tanggal 1 Januari 1989. termasuk Indonesia yang telah meratifikasi konvensi HS dengan Keppres Nomor 35 tahun 1993.Klasifikasi Barang nomenklatur (daftar klasifikasi barang berdasarkan kelompok-kelompok) yang dinamakan Harmonized Commodity Description and Coding System atau lebih dikenal dengan sebutan Harmonized System (HS). Mengapa HS dijadikan dasar klasifikasi secara internasional? Ada beberapa DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 12 . 2) Tujuan Harmonized System Adanya perbedaan sistem klasifikasi tarif antara negara di dunia. Untuk memberikan kekuatan hukum yang pasti. untuk memberikan perhatian kepada perkembangan teknologi dan masyarakat industri serta pola perdagangan Internasional. dengan tujuan : i. Meskipun baru meratifikasi pada tahun 1993. keperluan pengangkutan. ii. Memudahkan pengumpulan. Memberikan keseragaman dalam daftar penggolongan barang yang dibuat secara sistematis. Pen jelasan dan penggolongan barang untuk tujuan perdagangan seperti tarif pengangkutan. nomenklatur tersebut disahkan dalam suatu konvensi yang dikenal dengan nama Konvensi HS. konvensi HS ditandatangani oleh 70 negara yang sebagian besar adalah negara Eropa.

Klasifikasi Barang keuntungan yang didapat setiap negara yang mengadopsi HS sebagai pedoman klasifikasi barang. Merupakan kumpulan data yang seragam secara internasional sehingga dapat digunakan untuk mendukung analisis dan statistik perdagangan internasional. e. 5. Publikasi-publikasi tersebut juga diterbitkan oleh WCO. HS adalah pedoman klasifikasi yang sistematik untuk seluruh barang yang diperdagangkan secara internasional. HS telah dibuat sedemikian rupa sehingga standard klasifikasi barang dan sistem kode penomoran barang dapat dijadikan acuan untuk berbagai kebutuhan oleh berbagai lembaga internasional yang berkaitan dengan perdagangan. The International Union Railway (IUR). The Standard International Trade Classificatioan (SITC) 3) Publikasi Pelengkap HS Harmonized System mempunyai beberapa publikasi pelengkap yang digunakan untuk lebih mempermudah klasifikasi barang. eksportir. produsen. HS menggunakan dasar yang seragam untuk keperluan pentarifan secara internasional. pengangkut. 4. Publikasi dimaksud adalah: a. misalnya: a. The International Chamber or Shipping (ICS). World Customs Organization (WCO). 2. dan aparat bea dan cukai. b. The Explanatory Notes to the Harmonized System (EN) DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 13 . c. Sederhana dan memberikan kepastian dalam hal aplikasi dan interpretasi yang benar dan sama untuk keperluan negosiasi. Menggunakan “bahasa pabean” sehingga dapat dengan mudah dimengerti oleh importir. yaitu: 1. 3. The International Air Transport Association (IATA). d.

yaitu Volume I (A . 4) Sistem Pengkodean DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 14 . explanatory notes merupakan interpretasi resmi (official interpretation) dari HS pada level internasional dan merupakan pelengkap yang sangat penting dari HS.L) dan Volume II (M Z). Karena pentingnya Explanatory Notes ini. the Harmonized System Commodity Data Base (dalam bentuk CD-ROM). Explanatory Notes juga mengalami perubahan (amandemen) untuk menyesuaikan isinya dengan struktur HS. Publikasi lain Publikasi lain yang merupakan pelengkap HS adalah the Compendium of Classification Opinions. Volume 3 (Bab 64 .84). Explanatory Notes adalah referensi yang sangat diperlukan untuk mendapatkan interpretasi yang benar dari HS.63). namun sebagaimana disetujui WCO. The Alphabetical Index Untuk mempermudah mengklasifikasikan suatu barang pada pos-pos atau sub-sub pos dalam nomenklatur HS atau Explanatory Notes.97). Untuk itu membaca Explanatory Notes harus selalu disesuaikan dengan konteksnya dalam HS. c.29). Alphabetical Index terdiri dari dua volume. Dispute Settled Classification Opinion. dan Volume 4 (Bab 85 . Explanatory Notes yang digunakan saat ini adalah edisi kedua (tahun 1996) yang terdiri dari empat volume. yaitu Vol. Volume 2 (Bab 30. sebagian negara anggota WCO mensahkannya sebagai dokumen yang berkekuatan hukum Seiring perkembangan teknologi. 1 (Bab 1 . b. WCO juga menerbitkan buku indeks yang dikenal dengan nama the Alphabetical Index. the Training Modules.Klasifikasi Barang Explanatory Notes bukan merupakan bagian yang integral dari HS. dan Correlation Tables.

b. Catatan Bab. dirancang tidak hanya untuk keperluan kepabeanan. HS yang tersusun dari pos dan sub-pos. sedangkan Bab 98 dan 99 digunakan untuk keperluan khusus bagi masing-masing contracting party. Bab 77 dipersiapkan untuk keperluan di masa mendatang. Seperti telah disinggung sebelumnya. yaitu: 1. Dengan tetap berdasar kepada HS 6-digit. Indonesia juga menggunakan Bab 98 untuk keperluan ekspor barang tertentu yang pada bulan April 1999 dicabut kembali. misalnya untuk barang pos atau peralatan pelayaran. dan 1. pengangkutan. Multipurpose nomenclature HS yang mempunyai 6 digit penggolongan. Structured nomenclature HS adalah nomenklatur yang terdiri dari 21 Bagian. 98. namun juga dipergunakan secara internasional dalam bidang lain seperti negosiasi perdagangan. yaitu: a.Klasifikasi Barang Harmonized System mempunyai dua karakteristik yang sangat mendasar. dan Catatan Sub-Pos. dan 99. merupakan pedoman mengklasifikasi barang yang sistematik dan seragam. Catatan Bagian. Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System (KUM HS) merupakan bagian terpenting yang harus DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 15 . semua negara mempunyai kesatuan persepsi tentang pengklasifikasian suatu barang. statistik.241 pos. yaitu Bab 77. Masing-masing negara penandatangan konvensi (contracting party) dapat mengembangkan penggolongan 6-digit tersebut menjadi kelompok yang lebih spesifik sesuai dengan kebijaksanaan ekonomi dan industrinya. bersama dengan Ketentuan Umum Menginterpretasi. dan sebagainya. Ketentuan Umum Untuk Menginterpretasi Harmonized System (General Rules for the Interpretation of the HS). Ada tiga Bab yang belum digunakan dalam HS yang ada saat ini. 96 Bab (+ Bab 77). Harmonized System mempunyai tiga bagian utama atau integral.

Catatan Bab. Kode-kode nomor tersebut mencakup uraian barang yang tersusun secara sistematis.01. Enam angka pertama menunjukkan Sub Pos dalam setiap Pos. Indonesia menggunakan sistem penomoran 10 digit dalam BTBMI yang merupakan penjabaran lebih lanjut dari sub-sub pos dalam HS. 2. 11 _______ ______________ • Dua angka pertama untuk menunjukkan pada bab mana barang itu diklasifikasikan. BUKU TARIF BEA MASUK INDONESIA 1) Dasar Hukum DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 16 . Pada contoh di atas. pos (4-digit). 01 Sub-pos (Sub-heading) 0101. HS menggunakan kode nomor dalam mengklasifikasikan barang. • • Empat angka pertama menunjukkan Pos atau Heading dalam setiap bab. barang dimaksud diklasifikasikan pada Bab 1.11. dan sub-pos (6digit) dengan penjelasan sebagai berikut: 01 __ 01 11 Bab (Chapter) 1 Pos (Heading) 01. C. barang dimaksud diklasifikasikan pada pos 01. Pada contoh di atas. bagian ini akan dibahas tersendiri. 3.Klasifikasi Barang dipahami sebelum melangkah lebih jauh untuk meng klasifikasikan barang menggunakan HS. Sistem penomoran dalam HS terbagi menjadi Bab (2-digit). Pos (4-digit) dan Sub-pos (6-digit) yang disusun dengan sistematik. Untuk keperluan nasional. dan Catatan Sub-Pos. Mengingat pentingnya memahami KUM HS. Pada contoh di atas. KUM HS berisi enam prinsip dasar yang harus dipatuhi dalam mengklasifikasi barang. Penjelasan mengenai hal ini akan dibahas lebih rinci pada penjelasan berikutnya. Catatan Bagian. barang dimaksud diklasifikasikan pada sub-pos 0101.

Indonesia telah menunjukkan peran serta yang aktif dalam kegiatan WCO dan telah banyak menarik manfaat dari organisasi ini.Klasifikasi Barang Pada akhir tahun 1995. Pemerintah bersama Dewan Perwakilan Rakyat telah berhasil membahas dan menyetujui Rancangan Undang-Undang Kepabeanan.05/1996 tanggal 21 Juni 1996 tentang Penetapan Sistem Klasifikasi Barang dan Besarnya Tarif Bea Masuk Atas Barang Impor. 17 tahun 2006 . Dalam Pasal 1 Keputusan ini disebutkan “Untuk penetapan tarif Bea Masuk. Selanjutnya berdasarkan pasal 14 ayat 2 Undang-undang tersebut. Pemerintah menerbitkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor : 440/KMK. barang dikelompokkan berdasarkan sistem klasifikasi barang”. yang kemudian dikenal dengan nama Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan saat ini telah diamandemend dengan UU no. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 17 . Atas dasar pertimbangan di atas. Indonesia telah menjadi anggota World Customs Organization. Sebagai anggota WCO. d) Pemenuhan perjanjian serta kesepakatan Internasional. yang sebelumnya dikenal dengan nama Customs Cooperation Council sejak tanggal 30 April 1957. penetapan klasifikasi barang ditentukan oleh Menteri Keuangan. Perlindungan terhadap konsumen dalam negeri. Pengaturan lebih lanjut penentuan klasifikasi barang dilakukan dengan memperhatikan: a) b) c) Upaya peningkatan daya saing produk Indonesia dipasar Internasional. Pengurangan hambatan dalam perdagangan Internasional guna mendukung terciptanya perdagangan bebas. Berbagai bantuan teknis dalam rangka menunjang kelancaran pelaksanaan sistem dan prosedur kepabeanan Internasional. telah diterima oleh Indonesia. Berdasarkan keputusan Presiden Republik Indonesia nomor 35 tahun 1993. barang barang dikelompokkan berdasarkan sistem klasifikasi sebagaimana dimaksud dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 1993 tentang Pengesahan International Convention The Harmonized Commodity Description and Coding System beserta protocolnya”. Pasal 14 ayat (1) Undang-Undang ini menyebutkan bahwa “Untuk penetapan tarif Bea Masuk.

Dasar penetapan besarnya tarif bea masuk (bea masuk tambahan dilebur bersama bea masuk) untuk barang bersangkutan. 2. berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 81/KMK. Hingga saat ini BTBMI 1996 dimaksud telah beberapa kali diubah atau direvisi sesuai dengan perkembangan kebijaksanaan nasional. Berdasarkan Artikel XVI HS Convention.05/1994 tanggal 16 Maret 1994 telah ditetapkan bahwa terhitung sejak 1 April 1994 . Klasifikasi struktur barang dalam Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI) mengacu kepada sistem klasifikasi dari HS Convention. Sebagai tindak lanjutnya . Keputusan Menteri Keuangan Nomor 639/KMK.Klasifikasi Barang Indonesia telah menjadi Contracting Party dari “International Convention on the Harmonized Commodity Description and Coding Sistem”. Pemerintah pada tanggal 29 Desember 1995 telah mengeluarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 639/KMK. Menindaklanjuti adanya amandemen HS 1996 tersebut. Penyempurnan Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 1988 tentang Perubahan dan Tambahan atas Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 1969 tentang Pembebasan atas Impor dan Perubahan atas Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 47 Tahun 1986 tentang Bea Masuk Tambahan Atas Barang Impor.01/1995 di atas selanjutnya dijabarkan dalam bentuk penerbitan BTBMI edisi tahun 1996. menjadi “HS versi 1996”. Dasar penggunaan sistem klasifikasi barang berdasarkan HS versi 1996. 2) Struktur BTBMI DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 18 . 01/1995 yang merupakan: 1. yang semula mempergunakan HS versi 1992. World Customs Organization telah mengesahkan amandemen lampiran konvensi. BTBMI terakhir dengan BTBMI tahun 2007 menggunakan HS ver 2007 berdasarkan AHTN. 3.

21. kecuali: DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 19 . 3) Uraian barang pada pos tarif nasional (10 digit) merupakan teks berasal dari uraian barang dalam bahasa Indonesia.Klasifikasi Barang Pada bab terdahulu kita telah mempelajari gambaran umum tentang Harmonized System.00 ) berasal dari teks HS – WCO. BTBMI mempunyai struktur sebagai berikut: 1. beberapa tahun sebelum Indonesia meratifikasi HS Convention dan saat ini yang berlaku adalah BTBMI 2007 berdasarkan AHTN. Kolom pertama adalah kolom “Pos/Subpos/Pos Tarif” yang mencantumkan nomor pos/subpos sebagai berikut : 1) 4 (empat) dan 6 (enam) digit pertama berasal dari teks Harmonized System-World Customs Organization (HS-WCO). Sekarang kta akan mempelajari tentang BTBMI.11.00 ) berasal dari teks AHTN. b. 4) 4 (empat). BTBMI tidak lain adalah HS yang dimodifikasi atau dijabarkan lebih lanjut untuk digunakan dalam pentarifan dan penanganan barang impor ke Indonesia. 2) Uraian barang pada subpos ASEAN (8 digit) merupakan terjemahan dari teks AHTN. BTBMI adalah buku tarif bea masuk yang digunakan di Indonesia semenjak 1989 yaitu. kecuali: ♦ yang 2 digit terakhirnya 00 ( misalnya 8709. Kolom kedua adalah kolom “Uraian Barang” dalam bahasa Indonesia yang disusun dengan pola sebagai berikut: 1) Uraian barang pada pos (4 digit) dan subpos (6 digit) merupakan terjemahan dari teks HS-WCO. 3) 10 (sepuluh) digit merupakan teks berasal dari uraian barang dalam bahasa Indonesia.00 ( misalnya 8709. 6 (enam) dan 10 (sepuluh) digit pada bab 98 merupakan teks berasal dari uraian barang dalam bahasa Indonesia. Kolom : a.00.10. ♦ yang 4 digit terakhirnya 00. 2) 8 (delapan) digit berasal dari teks AHTN.

Kolom ketiga adalah kolom “Description of Goods” dalam bahasa Inggris yang disusun dengan pola sebagai berikut : 1) Uraian barang pos (4 digit) dan subpos (6 digit) merupakan teks HSWCO dalam bahasa Inggris. 2) Uraian barang pada subpos ASEAN (8 digit) merupakan teks AHTN dalam bahasa Inggris.10. ♦ yang 4 digit terakhirnya 00.00 ( misalnya 8709.01/2003 tanggal 18 Desember 2003.10.21.00 ) berasal dari teks AHTN.11. kecuali : ♦ yang 2 digit terakhirnya 00 ( misalnya 8709. 3) Uraian barang pada pos tarif nasional (10 digit) merupakan terjemahan dari teks bahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris.00. ♦ yang 4 digit terakhirnya 00.00.Klasifikasi Barang ♦ yang 2 digit terakhirnya 00 ( misalnya 8709. d. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 20 .01/2003 tanggal 18 Desember 2003. Kolom kelima adalah kolom “Bea Masuk CEPT” yang mencantumkan pembebanan tarif bea masuk yang berlaku untuk impor barang dari negaranegara ASEAN dalam rangka Skema CEPT berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 546/KMK. e. c.00 ) berasal dari teks HS – WCO.00 ) merupakan teks AHTN. 4) Khusus uraian barang dalam bab 98 merupakan teks berasal dari uraian barang dalam bahasa Indonesia.21. Kolom keempat adalah kolom “Bea Masuk Umum” yang mencantumkan pembebanan tarif bea masuk atas barang impor berlaku umum berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 547/KMK. 4) Khusus uraian barang dalam bab 98 merupakan teks berasal dari uraian barang dalam bahasa Indonesia.00 ( misalnya 8709.11.00 ) merupakan teks asli HS – WCO.

05. serta ketentuan instansi teknis lainnya. h.Klasifikasi Barang f. Kolom ketujuh adalah kolom “PPnBM” yang mencantumkan pembebanan tarif PPnBM yang ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 569/KMK.03/2003 tanggal 11 Agustus 2003. Pencantuman tanda satu asterisk (*) pada kolom “Bea Masuk Umum” berarti pembebanan impornya mengikuti tarif pada pos tarif 87. Tanda strip (-) pada kolom PPN atau PPnBM berarti komoditi pada pos tariff bersangkutan tidak dikenakan pembebanan PPN atau PPnBM. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 21 . Pencantuman tanda strip (-) pada kolom pembebanan tarif ditujukan untuk hal-hal sebagai berikut : a.04/2000 sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 39/KMK. g. 2. b. Kolom keenam adalah kolom “PPN” yang mencantumkan pembebanan tarif PPN berdasarkan Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 18 Tahun 2000. Tanda strip (-) pada kolom Bea Masuk CEPT berarti komoditi pada pos tarif bersangkutan tidak termasuk dalam skema CEPT. i.03/2003 tanggal 28 Januari 2003 dan Nomor 355/KMK. Kolom kesembilan adalah kolom “Keterangan” yang disediakan untuk mencantumkan keterangan tambahan yang dianggap perlu dan ketentuan lain yang belum ditampung pada kolom-kolom sebelumnya. Kolom kedelapan adalah kolom “Larangan/Pembatasan” yang mencantumkan ketentuan larangan atau pembatasan barang impor berdasarkan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 230/MPP/KEP/7/1997 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 62/MPP/KEP/02/2001 dan tata niaga impor dan peredaran bahan berbahaya tertentu ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 254/MPP/KEP/7/2000.04/2000 dan Nomor 570/KMK.01 sampai dengan 87. 3. Pencantuman tanda asterisk (*) pada kolom pembebanan tarif ditujukan untuk hal-hal sebagai berikut : a.

00. segar atau DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 22 . Sistem Penomoran Sistem penomoran klasifikasi dalam BTBMI menggunakan 10-digit dengan susunan 6 digit pertama mengacu pada konvensi HS. PPN. Pencantuman tanda satu asterisk (*) pada kolom “PPN”. PTNI (Peraturan Tata Niaga Impor) ditetapkan oleh Menteri Perindustrian dan Perdagangan. Perlu diingat bahwa selain BM yang tercantum dalam BTBMI. “PPnBM” dan “Larangan/Pembatasan” berarti pengenaan PPN. terdapat juga BM Anti Dumping yang ditetapkan tersendiri oleh Menteri Keuangan. PPnBM dan pemberlakuan ketentuan larangan/pembatasan berlaku hanya terhadap sebagian jenis barang atau sebagian kelompok barang dalam pos tarif bersangkutan. perhatikan contoh berikut: 0705. besarnya BM. Untuk memahami sistem penomoran tersebut. Nomor Pos tarif (10-digit) dan uraiannya.11.05: Selada (Lactuca sativa) dan chicory (Chicorium spp. 4 Catatan Penjelasan Tambahan (SEN) merupakan pedoman dalam menginterpretasikan pengertian maupun istilah teknis barang yang tercantum dalam Subpos pos tarif tertentu. Pos 07. maka yang mengikat secara hukum adalah teks asli SEN dalam bahasa Inggris. 2 digit selanjutnya mengacu kepada AHTN dan 2 digit terakhir adalah pecahan pos tarif nasional. 19 dan 20.).00 Selada kubis (selada bongkahan) (1) Dua digit pertama (07) menunjukkan Bab. 3) Kode Penomoran dan Pentakikan a. akar dan bonggol tertentu yang dapat dimakan. Apabila terdapat keraguan dalam menginterpretasikan teks yang tercantum dalam Catatan Penjelasan Tambahan (SEN). Bea Masuk Anti Dumping berlaku di Indonesia sejak tanggal 1 April 1996 berlandaskan Undang-Undang Nomor 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan sesuai pasal 18. (2) Empat digit pertama (0705) menunjukkan Pos. Bab 07 : Sayuran.Klasifikasi Barang b. dan PPnBM ditetapkan oleh Menteri Keuangan.

00.00.00.11.11.Klasifikasi Barang dingin. digunakan dua takik (.. (3) Enam digit pertama (0705.. digunakan tiga takik (.11..Selada (4) Sepuluh digit pertama (0705.10 tidak dicantumkan karena sub-pos tersebut dipecah lagi menjadi sub-pos 0705.11 dan 0705. misalnya : 0705.-).19.. -) untuk mengklasifikasi barang.10 . 0705. Apabila pos tarif 0705. Sistem Takik Selain menggunakan sistem nomor.Selada kubis (selada bongkolan). demikian seterusnya sehingga diperoleh pengelompokan barang yang lebih rinci.11 dipecah lagi menjadi pos tarif yang lebih rinci.11. khusus untuk negara Indonesia.Segar 0705.20 .11 dan 0705 19.10) menunjukkan Sub-pos yaitu selada. (2) Penggunaan satu takik (-) dimulai pada uraian Sub-pos (6-digit).10 dipecah menjadi 0705. 0705.-).Selada * Ingat.).10 .Dingin DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 23 .00 : .19: 0705.. maka digunakan pemecahan menggunakan tiga takik pada digit 9 dan 10.00) menunjukkan Pos Tarif 0705. dalam HS/BTBMI sub-pos 0705.00.00 -.00. Sub-pos 0705. Di bawah ini disajikan contoh sistem takik dengan menggunakan contoh yang sudah ada (pos tarif 0705.000): 07. (4) Bila uraian pada butir c dipecah lagi. dengan penjelasan sebagai berikut: (1) Pos (4-digit) tidak diberi takik.Lain-lain) b.11.. HS/BTBMI juga menggunakan sistem takik (dash. segar atau dingin).05 Selada (Lactuca sativa) dan chicory (Chicorium spp. (3) Bila uraian pada butir b dipecah.10: .

segar atau dingin) dibagi menjadi bibit dan lain-lain.. contoh : 1) sub-pos 0705. dalam BTBMI tidak dicantumkan (hanya dicantumkan uraian barangnya yaitu: ..11.00 -.barang lainnya (lain-lain). -. Mari kita lihat contoh berikut: 39. Barang tertentu mempunyai kode 10. 4) Bila pos dipecah menjadi sub-sub pos.10 3901.Polietilena berat jenis kurang dari 0.00 --.10.barang tertentu B : Pos 07. Barang tertentu A .07 (Ketimun dan ketimun acar. 5) Pemecahan pos tarif (10-digit) juga mengikuti pola di atas..10.selada) karena sub-pos tersebut dipecah lebih lanjut menjadi 0705.94: -. 3) Setiap kelompok barang di atas (baik dalam pos.00 .19. sub-pos.01 (Kentang.11.10. 30.Dalam bentuk padat -..10.. 2) Dalam HS/BTBMI hanya ada dua jenis barang. Contoh: Barang tertentu A . dalam bentuk asal. maupun pos tarif) dibagi atau dirinci dengan dua cara.Mutu farmasi DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 24 .20.Butiran 3901.00 . 80.barang tertentu B atau barang tertentu A ..Klasifikasi Barang Namun apabila ASEAN misalnya akan membagi dari subpos 0705. maka : 0705. .21. Kedua jenis barang tersebut dapat dipecah kembali lagi menjadi dua kelompok di atas (barang tertentu dan lain-lain) yang lebih spesifik. segar atau dingin) dibagi menjadi ketimun dan ketimun acar saja. yaitu barang tertentu dan lainlain. perhatikan digit kelima dan keenam.01 3901.11 dan 0705.Segar 0705.Dingin Perlu diperhatikan bahwa kadang-kadang nomor sub-pos atau pos tarif yang dipecah lebih lanjut tidak dicantumkan secara eksplisit dalam BTBMI. 20. yaitu barang tertentu A .10. Pos 07..Polimer dari etilena.barang lainnya (lain-lain).11.

Demikian juga kode 900 bila dipecah menjadi 91.00 3901.10. 30.Digunakan dalam pembuatan kabel telepon atau kabel Untuk pemecahan pos tarif.00 --.Lain-lain. Sub-Pos dan Pos Tarif Nasional Untuk dapat memahami arti kata “Lain-lain” .perhatikan dua digit terakhir.10. Kata “lain-lain” terdapat pada Bab. 12.Klasifikasi Barang 3901.30. Arti kata “lain-lain” Dalam klasifikasi BTBMI dengan sistem HS kata “Lain-lain”. digunakan dalam pembuatan kabel telepon atau kabel listrik 3901. bandingkan dengan uraian barang pada bab-bab terdahulu.00 --. . bandingkan dengan uraian barang pada pos-pos terdahulu dalam bab yang sama. Pos. c) apabila kata “lain-lain” dimaksud terdapat pada pos.29.Bentuk lain : 3901. perhatikan hal-hal berikut ini: a) bandingkan kelompok barang “lain-lain” dimaksud dengan kelompok barang yang setara. dalam pos yang sama.10. berfungsi untuk menampung barang yang belum disebut pada uraian jenis barang sebelumnya. Barang lainnya (lain-lain) diberi kode 90..23..00 3901..10. digunakan digit kesembilan.. 19.22.Cair atau pasta -..Mutu kabel --. b) apabila kata “lain-lain” dimaksud terdapat pada bab. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 25 . . d) apabila kata “lain-lain” dimaksud terdapat pada sub-pos... 20.00 --. 99. 92. • • • • 4) Barang tertentu mempunyai kode 10.91..10.Lain-lain -. .99.. bandingkan dengan uraian barang pada sub-sub pos terdahulu.00 listrik 3901. yaitu menjadi 11.10.Lain-lain --. Bila kode 10 dipecah lagi menjadi lebih rinci.

Lain-lain (3) adalah termasuk kelompok barang A selain A1 dan A2. dan Lain-lain (2). yang termasuk dalam Lain-lain (1). Lain-lain (2): barang selain B1 dan B2. Dengan sedikit latihan menggunakan BTBMI. A2. yang termasuk dalam Lain-lain (2). Lain-lain (2) adalah termasuk kelompok barang A selain A1 dan A2. yang termasuk dalam barang A. pada sub-pos yang sama. Jadi.Klasifikasi Barang e) apabila kata “lain-lain” dimaksud terdapat pada pos tarif. Barang Lain-lain (2) dibagi menjadi barang C1. C2. bandingkan dengan uraian barang pada pos-pos tarif terdahulu. Barang Lain-lain (1) dibagi menjadi barang B1. B2. Cara membaca: Lain-lain (3): barang selain C1 dan C2. dan Lain-lain (1). dan Lain-lain (3). Lain-lain (1): barang selain A1 dan A2. Metode di atas dapat difahami dengan lebih mudah apabila kita dapat menggambarkannya dalam bentuk diagram pohon. Di bawah ini disajikan mengetahui kelompok barang yang termasuk lain-lain dengan menggunakan metode diagram pohon dengan contoh sebagai berikut: • • • • • • Barang A dibagi menjadi barang A1. selain C1 dan C2. pengertian kata lain-lain DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 26 . selain B1 dan B2. selain B1 dan B2. sehingga akan jelas kelompok barang mana yang akan dibandingkan dengan barang lain-lain barang lain-lain yang ingin kita ketahui. Lain-lain (3) adalah termasuk kelompok barang A selain A1 dan A2.

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 27 . tanpa dikaitkan dengan catatan Bagian. Di bawah ini disajikan beberapa contoh pengertian kata lain-lain yang terdapat dalam BTBMI: a) Judul Bab. Pos 01. Bab 63: Barang tekstil sudah jadi lainnya .90 : ....06: Binatang hidup lainnya. Secara lebih rinci judul bab tersebut dapat diuraikan menjadi “Tekstil dan barang tekstil. Kata lainnya dalam pos ini berfungsi untuk menampung binatang hidup yang belum disebutkan pada pos-pos sebelumnya. bagal dan hinnies.Lain-lain Kata lain-lain dalam sub-pos ini berfungsi untuk menampung binatang sejenis lembu. Sub-pos maupun Pos tarif nasional. maupun catatan Sub-pos. b) Judul Pos. dengan Bab 62”. Secara lebih rinci uraian dalam sub-po stersebut dapat diuraikan menjadi: Binatang hidup. 6) selain kuda. selain babi 7) selain biri-biri dan kambing 8) selain unggas dari jenis : ayam spesies Gallus domesticus. Secara lebih rinci uraian pos tersebut dapat diuraikan menjadi: Binatang hidup. bebek.Klasifikasi Barang tersebut akan dapat dengan mudah dimengerti. Secara singkat makna kata lainnya berfungsi untuk menampung barang tekstil sudah jadi yang belum disebutkan pada bab-bab sebelumnya dalam Bagian XI. hidup yang belum disebutkan pada sub-sub pos sebelumnya. Pos. Dalam diktat ini pengertian lainlain dibatasi pemahamannya sebatas berkaitan dengan uraian jenis barang pada judul Bab. keledai. selain binatang sejenis selain yang telah disebutkan pada Bab 50 sampai lembu. kalkun dan ayam mutiara c) Judul Sub Pos Sub-pos 0102. catatan Bab.

bagal dan hinnies. namun bukan untuk bibit 1. Mengapa kita harus mengidentifikasi barang sebelum mengklasifikasinya ? 2. 10 tahun 1995 yang berkaitan dengan klasifikasi barang ? 8. Rangkuman 1. keledai. Apa yang dimaksud dengan sistem pentakikan dalam penomoran HS? 10.Klasifikasi Barang 9) selain kuda. Bagaimana sistem penomoran Harmonized System ? 7. Bila akan diimpor sebuah pompa air yang menggunakan tenaga listrk. Bagaimana langkah-langkah dalam meng klasifi kasi barang ? 4. Apa yang dimaksud dengan Harmonized System ? 5. Apa tujuan Harmnized System 6. Pasal berapa dalam Undang-undang no. 10) termasuk binatang sejenis lembu.3. Latihan 1 1.2. Apa isi Buku Tarif Bea Masuk Indonesia ? 9. Bagaimana cara membaca pengertian kata “Lain-lain” dalam BTBMI ? 1. Dalam kegiatan belajar ini telah dijelaskan dengan singkat langkah-langkah DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 28 . data apa yang diperlukan mengenai pompa tersebut ? 3.

Kode-kode nomor tersebut mencakup uraian barang yang tersusun secara sistematis. bahan baku dan semua informasi mengenai barang. dan sebagainya. berdasarkan keputusan Presiden Republik Indonesia nomor 35 tahun 1993. 4. e. Pada saat ini sistem pengklasifikasian barang di Indonesia didasarkan pada Harmonized System dan dituangkan dalam bentuk suatu daftar tarif yang kita kenal dengan sebutan Buku Tarif Bea Masuk Indonesia. merumuskan identitas. mempelajari jenis. 3. identifikasi barang. bentuknya. Indonesia telah menjadi Contracting Party dari “International Convention on the Harmonized Commodity Description and Coding Sistem”. WCO meluncurkan HS yang mulai berlaku secara internasional pada tanggal 1 Januari 1988. perkembangan masyarakat industri dan pola perdagangan Internasional. 5.Klasifikasi Barang praktis dalam mengklasifikasi barang. mengakibatkan timbulnya kesulitan dalam mengantisipasi kemajuan teknologi. komposisinya. HS menggunakan kode nomor dalam mengklasifikasikan barang. Sebagai DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 29 . melihat BTBMI . fungsi. c. Berdasarkan pasal 14 ayat 2 Undang-undang Kepabenan Indonesia Nomor 10 tahun 1995. Bagaimana seandainya yang akan kita klasifikasikan adalah suatu bahan kimia? Sebelum mengklasifikasi kita memerlukan identifikasi untuk mendapatkan informasi mengenai: : organik atau anorganik. Dalam mengklasifikasi barang menggunakan BTBMI. b. prosedur yang digunakan adalah sebagai berikut : a. kegunaannya. d. Untuk keperluan nasional. 2. Klasifikasi barang adalah suatu daftar penggolongan barang yang dibuat secara sistematis dengan tujuan untuk mempermudah pentarifan transaksi perdagangan. bentuk asal atau preparat. pengangkutan dan statistik. menentukan klasifikasi barang. Indonesia menggunakan sistem penomoran 10 digit dalam BTBMI yang merupakan penjabaran lebih lanjut dari sub-sub pos dalam HS. Perbedaan sistem klasifikasi tarif antara negara di dunia.

S ) HS bersifat harmonis karena standard klasifikasi dan sistem kode penomoran barang digunakan untuk berbagai kepentingan. statistik. Pos. ( B . Sistem penomoran klasifikasi dalam BTBMI menggunakan 10-digit dengan susunan 6 digit pertama mengacu pada konvensi HS dan 2 digit terakhir adalah pecahan pos tarif nasional. Lingkarilah huruf B apabila pernyataan ini Saudara anggap benar dan huruf S apabila pernyataan Saudara anggap salah. Dalam klasifikasi BTBMI dengan sistem HS kata “Lain-lain”. sertificate of analysis.Klasifikasi Barang tindak lanjutnya struktur Klasifikasi barang dalam Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI) mengacu kepada sistem klasifikasi dari HS Convention 6. Kata “lain-lain” terdapat pada Bab. perdagangan internasional dan pengangkutan laut. ( B . HS/BTBMI juga menggunakan sistem takik (dash. ( B . 1. jenis dan spesifikasi lainnya secara akurat. label kemasan dan data lainnya. Informasi mengenai barang tersebut dapat kita peroleh melalui : kondisi fisik.S ) Untuk mengklasifikasi barang diperlukan data mengenai nama. Sub-Pos dan Pos Tarif Nasional. Test Formatif 1 A. 3. seperti Pabean. udara dan kereta api. 2. Salah satu tujuan HS adalah untuk DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 30 . -) untuk mengklasifikasi barang 7. Dengan sedikit latihan menggunakan BTBMI.S ) Customs Cooperation Council di Brussels pada tanggal 14 Juni 1983 menghasilkan Konvensi Internasional tentang The Harmonized Commodity Description and Coding System (HS) dan mulai berlaku di Indonesi sejak tanggal 1 Januari 1988. pengertian kata lain-lain tersebut akan dapat dengan mudah dimengerti 1. berfungsi untuk menampung barang yang belum disebut pada uraian jenis barang sebelumnya. brosur. Selain menggunakan sistem nomor.4.

struktur HS terdiri dari : KUM HS . barangnya. Untuk mengklasifikasi barang. barang dikelompokkan berdasarkan sistem klasifikasi barang. c. Heading. Untuk penetapan tarif bea masuk. c. b. d. ( B . tanggal 1 Januari 1989 tanggal 1 Agustus 1988 tanggal 31 Januari 1988 tanggal 11 Januari 1989 3. 4. karena yang utama adalah uraian B. ( B . The Harmonized Commodity Description and Coding System (HS) mulai berlaku secara internasional sejak : a. Bunyi kalimat diatas sesuai dengan bunyi UU no. Catatan Bagian. c. sub-heading dan penomoran hingga ke Pos tarif (10 digit).Klasifikasi Barang memberikan ketidak seragaman secara internasional penggolongan barang dalam tarif pabean. Fungsi dasar HS adalah untuk memberikan keseragaman dalam mengklasifikasi barang guna memberikan kemudahan pada perdagangan internasional. 5. b. Bab dan Subheading . 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan pada : a. pasal 16 pasal 115 pasal 14 pasal 116 2. atau d ) 1.S ) Ditinjau dari fungsi pengklasifikasian. dikenal prosedur umum untuk mengklasifikasi DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 31 . Pilihlah jawaban yang Saudara anggap benar dengan cara melingkari huruf yang terdapat di depan jawaban tersebut a. d. b. Demikian dalam kekuatan hukumnya sama.S ) Apabila terdapat perbedaan sistem klasifikasi pada setiap negara akan memperpanjang waktu untuk penetapan bea masuk dan pengeluaran barang impor di pelabuhan.

. Jelaskan apa yang dimaksud dengan konvensi HS ? Mengapa kita memilih suatu system seperti HS dalam menentukan klasifikasi barang ? 4. selalu berubah pernyataan a. a. b. b dan c benar Bea Masuk Indonesia dan menentukan Dalam pengamatan sementara untuk mengklasifikasi barang. pernyataan a... d. Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan singkat dan benar 1. 5. 4. Jenis suatu jenis barang dimungkinkan tidak ada dalam HS Dapat terkait dengan beberapa bab Mengklasifikasi barang seluruhnya harus tepat secara eksak Barang tidak dapat diklasifikasikan.... Sebutkan tujuan Harmonized System ? Apakah besarnya tarif bea masuk Indonesia secara hukum sesuai seperti apa yang tertulis dalam BTBMI tersebut ? DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 32 .. mengidentifikasi barang dengan mempelajari jenis dan spesifikasinya merumuskan identitas atau deskripsi barang tersebut melihat Buku Tarif klasifikasinya d. harus mengacu kepada perkembangan terakhir besarnya penetapan Bea Masuk c. Sebutkan 3 Sistem dalam mengklasifikasi barang yang pernah digunakan Pemerintahan Republik Indonesia. c. 3.. b. b dan c benar C. karena uraian jenis barangnya tidak ada dalam BTBMI 5. Prosedur tersebut secara umum ialah . hanyalah sementara (mengikuti surat Keputusan Menteri Keuangan RI) b.Klasifikasi Barang barang. c. maka sebutkan pernyataan dibawah ini yang tidak benar a. sebelum HS ! 2. d. Pencantuman besarnya Bea Masuk pada Buku tarif Bea Masuk Indonesia : a.

.5.....Klasifikasi Barang 1. Kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap terhadap materi kegiatan belajar Rumus Tingkat Penguasaan Untuk kelompok A dan B : Jumlah Jawaban yang benar dibagi 10 kemudian dikali 100 % = .... Untuk kelompok C : Apabila benar seluruhnya nilai menjadi 100 DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 33 . Hitunglah jumlah jawaban Anda yang benar atau sejauh mana Anda menguasai mata pelajaran tersebut... Umpan Balik dan Tindak Lanjut Bandingkanlah hasil jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif yang ada di belakang modul ini..

Hasilnya Baik ! akan tetapi. bila tingkat penguasaan Anda masih dibawah 80 %.Klasifikasi Barang Untuk nilai keseluruhan maka dibagi rata-rata dari (A+B) dan C Arti tingkat penguasaan : * 90 % . Ketentuan umum untuk menginterpretasikan Harmonized System 2. Anda harus mengulangi membaca Modul kembali. Kegiatan Belajar (KB) 2 TEKNIK KLASIFIKASI BARANG Indikator Keberhasilan : Setelah mempelajari materi diharapkan siswa mampu menjelaskan 1. Tahapan dalam mengklasifikasi barang 3.100 % * 80 % * 70 % * 89 % 79 % 69 % = Baik sekali = Baik = Cukup = Kurang Kalau Anda mencapai tingkat penguasaan 80% keatas Anda dapat meneruskan kepada modul atau bagian pelajaran lain. Nota Penelitian Klasifikasi Barang DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 34 . terutama bagian yang belum Anda kuasai 2.

Oleh karena itu. Uraian dan Contoh Seorang klasifikator dibidang kepabeanan harus dapat mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang dengan terampil. seorang klasifikator harus terlebih dahulu memahami pengetahuan barang dan pengetahuan mengenai klasifikasi barang. marilah kita pelajari satu-persatu enam butir KUM HS tersebut. sadar atau tidak. Seorang klasifikator harus memiliki kemampuan dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang karena akan menentukan ketepatan pengisian Pemberitahuan Impor Barang yang pada akhirnya menentukan ketepatan jumlah bea masuk dan pungutan impor lainnya yang harus dibayar. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 35 . Mengingat begitu kompleksnya teknik klasifikasi barang. untuk tujuan hukum. KUM HS mutlak diperlukan sebagai pedoman dasar yang tidak boleh ditinggalkan. Bab dan Sub-bab hanya dimaksudkan untuk memudahkan referensi saja. Setiap kali melakukan kegiatan klasifikasi barang. KETENTUAN UMUM UNTUK MENGINTERPRETASI HARMONIZED SYSTEM 1) Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 1 Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System (KUM HS) merupakan pintu gerbang untuk memasuki klasifikasi barang.Klasifikasi Barang 2. KUM HS 1 : Judul Bagian. salah satu ketentuan dalam KUM HS harus dipergunakan. A. klasifikasi harus ditentukan menurut uraian yang terdapat dalam pos dan berbagai Catatan Bagian atau Bab yang berkaitan serta menurut ketentuan-ketentuan berikut ini.1. asalkan pos atau Catatan tersebut tidak menentukan lain. Untuk itu.

Contohnya. tidak mungkin semua jenis barang dapat dicakup dengan persis pada setiap bab. tetapi karena sifatnya yang khusus dalam HS tidak diklasifikasikan pada bab 5 (produk hewani tidak dirinci atau termasuk dalam pos lainnya). Uraian pos dan catatan-catatan tersebut merupakan pertimbangan utama. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 36 . Karena itu perlu diingat agar selalu mempertimbangkan semua bab atau pos yang mungkin mencakup suatu barang. Yang mempunyai kekuatan hukum adalah pos (heading). Contohnya. 4.Klasifikasi Barang Penjelasan: HS adalah nomenklatur yang bersifat sistematik. dalam hal KUM HS 1 tidak bisa digunakan barulah digunakan KUM HS 2. catatan bab. Namun mengingat banyaknya jenis barang. Apabila pos dan catatan-catatan tersebut tidak menentukan lain.umur 2 tahun .02 hanya untuk produk tertentu. Batasan ini tidak boleh diperluas dengan menggunakan KUM HS 2(b). dan 5. sutera adalah produk hewani. Spesifikasi keledai : . tidak mempunyai kekuatan hukum.jenis keledai . dan catatan sub-pos. 3. catatan bagian. Uraian pada bab hanya untuk referensi saja.dapat mendemontrasikan beberapa permainan dalam pertunjukan sirkus Pengklasifikasian apakah pada bab 1 atau bab 95 Perhatikan gambar keledai yang biasa digunakan untuk sirkus. catatan 2 Bab 31 menjelaskan pos 31. tetapi diklasifikasikan khusus pada bab 50.

Penjelasan: Barang tidak lengkap atau tidak rampung dianggap sebagai barang lengkap atau rampung. Namun tetap dianggap set sepeda karena sifat utamanya sebagai sepeda telah dimiliki. barang yang tidak lengkap atau belum rampung tersebut memiliki karakter utama dari barang itu dalam keadaan lengkap atau rampung. asalkan pada saat diajukan. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 37 .Klasifikasi Barang Bagaimana pengklasifikasiannya bila keledai tersebut diimpor oleh grup sirkus dari jerman ? 2) Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 2a dan 2 b KUM HS 2 a : Setiap referensi untuk suatu barang dalam suatu pos harus dianggap meliputi juga referensi barang tersebut dalam keadaan tidak lengkap atau belum rampung. Referensi ini harus dianggap juga meliputi refensi untuk barang tersebut dalam keadaan lengkap atau rampung (atau yang berdasarkan ketentuan ini dapat digolongkan sebagai lengkap atau rampung) yang diajukan dalam keadaan belum dirakit atau terbongkar. asalkan pada saat diimpor sudah mempunyai sifat utama sebagai barang lengkap atau rampung Sebagai contoh beberapa set sepeda yang diimpor dalam keadaan terurai. dan tiap setnya tidak ada sadel dan ban dalamnya.

Mengapa demikian ? karena sifat sebagai susunya tidak berubah. Sebagai contoh suatu susu yang telah ditambah sedikit vitamin.03 (-lard oil. maka pengklasifikasiannya tetap sebagai susu.Ada alat perubah kecepatan ..Klasifikasi Barang Spesifikasi : . Ingat. Penjelasan: Campuran atau kombinasi dua atau lebih bahan atau zat diklasifikasikan berdasarkan KUM HS 1. .Sepeda merk :”Bamby” .b) tidak ada sadelnya c) dalam keadaan terurai KUM HS 2 b : Setiap referensi untuk suatu bahan atau zat dalam pos. harus dianggap juga meliputi referensi untuk campuran atau kombinasi dari bahan atau zat itu dengan bahan atau zat lain. maka KUM HS DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 38 . karena uraian posnya sudah menyebutkan bahwa produk dalam pos tersebut tidak dicampur.bisa dikendarai oleh orang tua maupun anakanak : Perhatikan gambar sepeda diatas. Bagaimana pengklasifikasiannya bila sepeda tersebut : a) tidak dicat .tidak diemulsi atau dicampur..). Contoh.. ketentuan ini hanya berlaku apabila pos atau catatan bagian atau catatan bab tidak menentukan lain. Setiap referensi untuk barang dari bahan atau zat tertentu harus dianggap juga meliputi referensi untuk barang yang sebagian atau seluruhnya terdiri dari bahan atau zat tersebut.. Barang yang terdiri lebih dari satu jenis bahan atau zat harus diklasifikasikan sesuai prinsip dari Ketentuan 3. pos 15.memiliki laher dalam as ban .

apakah pada bab 45 atau bab 39 Perhatikan sumbat botol diatas. Bagaimana pengklasifikasian tutup botol tersebut. baru kemudian KUM HS 3(c).Terbuat dari gabus . Apabila tambahan atau campuran bahan atau zat menghilangkan sifat barang seperti diuraikan pada pos. barang yang dengan pertimbangan awal dapat diklasifikasikan dalam dua pos atau lebih. KUM HS 2(b) tidak dapat digunakan (harus digunakan KUM HS 3). KUM HS 3 baru dipergunakan DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 39 . KUM HS 3(b). maka klasifikasiannya harus diberlakukan sebagai berikut : Penjelasan: KUM HS 3 hanya dipergunakan bila KUM HS 2 tidak bisa dipergunakan. Sekali lagi diingatkan.bagian luarnya dilapisi plastik. b dan c KUM HS 3 : Apabila dengan menerapkan Ketentuan 2 (b) atau untuk berbgaia alasan lain. bagaimana bila sumbat botol bagian atas dilapis plastik ? 3) Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 3a. Penggunaan KUM HS 3 harus urut dari KUM HS 3(a). Spesifikasi tutup botol : .Klasifikasi Barang 2(b) tidak berlaku.

atau catatan bab tidak menentukan lain. Apabila dua atau lebih pos menguraikan hanya bagian dari bahan atau zat yang terkandung dalam suatu barang campuran atau komposit. catatan bagian. apabila dua pos atau lebih yang masing-masing pos hanya merujuk kepada bagian dari bahan atau zat yang terkandung dalam barang campuran atau barang komposisi.06. Contoh. walaupun salah satu dari pos tersebut memberikan uraian yang lebih lengkap atau lebih tepat.03. tufted textile for motor cars diklasifikasikan pada pos 57. harus lebih diutamakan dari pos yang memberikan uraian yang lebih umum. Namun demikian. Contoh. Pos yang menyebutkan nama barang lebih diutamakan dari pos yang menyebutkan kelompok barang. Contoh shavers/hair clippers diklasifikasikan pada pos 85. Pos yang menyebutkan barang yang disebutkan secara rinci lebih diutamakan dari pos yang menyebutkan bagian suatu barang. maka pos-pos tersebut harus dianggap setara sepanjang berkaitan dengan barang tersebut.05 dan juga dirinci pada pos 97.atau hanya merujuk kepada bagian dari bahan atau zat terkandung dalam campuran atau barang komposisi atau hanya merujuk kepada bagian dari barang dalam set yang disiapkan untuk penjualan eceran. maka KUM HS 3(a) tidak DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 40 . KUM HS 3 a : Pos yang memberikan uraian yang paling spesifik. catatan 4(b) bab 97 menentukan bahwa barang yang dirinci pada pos 97. harus diklasifikasikan pada pos terdahulu awal (berarti bertentangan dengan KUM HS 3c ).Klasifikasi Barang apabila uraian pos.08. Saringan oli walau sebagai bagian dari mesin pada pos 8409. Penjelasan: Pos dengan uraian lebih spesifik lebih diutamakan dari pos dengan uraian yang lebih umum.09 (self-contained motor).01 sampai dengan 97. Dalam hal ini KUM HS 3(c) tidak berlaku.10. bukan pada pos 87. atau bagian dari item dalam satu set barang untuk penjualan eceran. bukan pada pos 85. namun pos 8421 uraian barangnya lebih rinci.

barang komposit yang terdiri dari bahan yang berbeda. dan barang yang dikemas dalam bentuk set untuk penjualan eceran. sisir DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 41 . Yang dimaksud dengan barang dikemas dalam bentuk set untuk penjualan eceran yaitu: • • • Paling sedikit dua produk yang berbeda pos (sembilan sendok bukan set). Yang dimaksud dengan karakter utama (Essential character) pada KUM HS ini mengacu pada bahan atau komponen. KUM HS 3(b) berlaku juga untuk komponen yang terpisah. kemasan. mutually complementary. ready-toeat-meal).10). serta barang yang disiapkan dalam set untuk penjualan eceran. dan bersama-sama membentuk barang jadi yang secara normal tidak diperdagangkan terpisah. jumlah. KUM HS 3 b : Barang campuran dan barang komposisi yang terdiri dari bahan yang berbeda atau yang dibuat dari komponen yang berbeda.Klasifikasi Barang berlaku dan digunakan KUM HS 3(b) atau 3(c). berat atau nilai. Penjelasan: KUM HS 3(b) hanya berlaku untuk campuran. dan bila KUM HS 3(a) tidak bisa digunakan. meskipun salah satu pos lebih rinci dari pos lainnya. sepanjang kriteria ini dapat diterapkan. Bisa langsung dijual tanpa perlu dibungkus/dikemas kembali (contoh. asalkan satu sama lain adapted to the other. dan bahan utama yang berkaitan dengan penggunaan barang. Contoh set: hairdressing set yang terdiri dari electric hair clipper (85. rak bumbu dengan beberapa botol tempat bumbu kosong. harus diklasifikasikan berdasarkan bahan atau komponen yang memberikan karakter utama barang tersebut. Contoh. yang tidak dapat diklasifikasikan berdasarkan referensi 3 (a). barang komposit yang terdiri dari komponen yang berbeda. Beberapa produk/barang bersama-sama untuk keperluan/kegiatan tertentu.

14 dan pos DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 42 . gunting (82. Contohnya. bumbu.Mengandung mie. saus.13). Tahukah Saudara ketika belum dimasak yang bungkusannya terdiri dari : mie.02). Bingkai ini ditinjau dari bahan baku memiliki bahan yang sama dan seimbang antara pos 44. maka barang tersebut harus diklasifikasikan dalam pos tarif terakhir berdasarkan urutan penomorannya di antara pos tarif yang mempunyai pertimbangan yang setara. bumbudan bahan lainnya. barang diklasifikasikan pada pos terakhir. dalam proporsi tertentu untuk keperluan industri (contoh. dan handuk dari tekstil (63. suatu bingkai berbentuk bujur sangkar yang 2 sisi terbuat dari kayu dan dua sisi lainnya terbuat dari logam.02) diklasifikasikan pada pos 85. sikat (96. minuman). Penjelasan: Bila KUM HS 3(a) dan 3(b) tidak dapat digunakan.Supermi instan bungkus .10 (berdasarkan komponen yang memberikan sifat utama). dikemas dalam tas kulit (42. Bagaimana Saudara mengklasifikasi bila dalam keadaan mentah atau dalam bungkusan ? KUM HS 3 c: Apabila barang tidak dapat diklasifikasikan berdasarkan referensi 3 (a) atau 3(b).Klasifikasi Barang (96. bawang dan cabe Perhatikan mie instan yang sudah mask diatas.merk :”Mi Enak” . KUM HS 3(b) tidak berlaku untuk barang yang terdiri dari beberapa bagian yang dikemas terpisah (baik kemasan yang biasa digunakan maupun tidak).03).15). Spesifikasi Mie :Instan : . saus. kecap.

harus diklasifikasikan ke dalam pos yang sesuai untuk barang yang paling menyerupai. Spesifikasi barang : . Ketentuan ini menetapkan bahwa barang-barang tersebut harus digolongkan kedalam pos atas barang DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 43 . karena tidak ada uraian yang sesuai (misalnya yang baru muncul di pasaran dunia).06.mengandung bahan plastik dan karet yang sama tebal .Klasifikasi Barang 83. Penjelasan: a) KUM HS 4 baru digunakan apabila KUM HS 1 sampai dengan KUM HS 3 tidak dapat digunakan. b) Ketentuan ini mengenai barang-barang yang tidak dapat diklasifikasikan ke dalam salah satu pos dalam HS. yaitu pos 83. Berdasarkan KUM HS 4. namun karena menurut KUM HS 3c.Van belt merk : :”Ando” . sifatnya.06.memiliki kekuatan sama pada lapisan karet dan plastikas ban Perhatikan vanbelt ini. klasifikasi berdasarkan barang yang sifatnya paling sesuai (misalnya uraian barangnya. tujuannya). bagaimana pengklasifikasiannya bila terbuat dari bahan plastik dan karet yang sama tebalnya ? 4) Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 4 KUM HS 4: Barang yang tidak dapat diklasifikasikan berdasarkan referensi diatas. maka bingkai tersebut harus diklasifikasikan pada pos terakhir.

internet. 5) Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 5 KUM HS 5 : Sebagai tambahan dari aturan di atas. Perlu diingatkan. seperti literatur. tas instrumen gambar.Klasifikasi Barang yang memiliki persamaan terbanyak. koper senapan. data teknis. sebelum memutuskan menggunakan KUM HS 4. kotak kalung dan kemasan semacam itu. kotak (boxes). Namun demikian. dan tempat semacam itu yang: DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 44 . d) Persamaan dapat tergantung dari beberapa faktor seperti nama. cocok untuk penggunaan jangka panjang dan diajukan bersama barangnya. tas instrumen musik. dibentuk secara khusus atau pas untuk menyimpan barang atau perangkat barang tertentu. penggunaan. Penjelasan: KUM HS 5(a) berlaku untuk Peti (cases). apabila kemasan tersebut memang biasa dijual dengan barang tersebut. barang yang akan diklasifikasikan harus diperbandingkan dengan uraian barang dalam beberapa pos HS yang memiliki kesamaan jenis atau karakternya. sangat disarankan untuk mencari lebih dulu informasi tentang barang dimaksud dari berbagai sumber yang ada. dan seterusnya. c) Pada waktu menerapkan ketentuan No. Hal tersebut dilakukan untuk meneliti pada pos mana yang memiliki unsur kesamaan terbanyak. KUM HS 4 baru digunakan apabila benar-benar tidak ada lagi data atau informasi yang dapat diperoleh untuk mengidentifikasi barang dimaksud. Ketentuan berikut ini harus diberlakukan terhadap barang tersebut di bawah ini : Tas kamera. dan sebagainya. harus diklasifikasikan menurut barangnya.4. ketentuan ini tidak berlaku untuk kemasan yang memberikan seluruh karakter utamanya. Untuk itu. sifat.

tidak memberikan sifat utama. Spesifikasi barang : . biasa dijual bersama dengan barangnya.Terbuat dari karet yang dilapisi tekstil tebal Perhatikan gambar guitar dan kemasannya diatas. tempat alat musik.Klasifikasi Barang • • • • • khusus dibuat untuk barang tertentu. apabila bahan atau kemasan pembungkus tersebut memang biasa untuk membungkus barang tersebut. pembungkus/tempat simpan diklasifikasikan DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 45 . Penjelasan: Mengacu pada KUM HS 5(a). Bagaimana Saudara mengklasifikasiguitar beserta kemasan diatas ? KUM HS 5 b : Berdasarkan aturan dari ketentuan nomor 5 (a) di atas. tempat teleskop. Contoh: tempat perhiasan. tempat senjata. Namun demikian ketentuan ini tidak mengikat apabila bahan atau kemasan pembungkus tersebut secara nyata cocok untuk dipakai berulangulang.gitar dengan kemasannya . dan sebagainya. digunakan untuk jangka waktu lama. bahan pembungkus dan kemasan pembungkus yang diajukan bersama dengan barangnya harus diklasifikasikan menurut barangnya. dimasukkan bersama barangnya (bila dimasukkan terpisah diklasifikasikan pada pos tersendiri).merk :”Refly” .

tabung gas berisi gas . maka gasnya diklasifikasikan pada pos tarif gas. dengan DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 46 . sedangkan pengemasnya diklasifikasikan pada pos tarif tabung gas.Klasifikasi Barang dengan barangnya bila biasa dipakai untuk barang tersebut.merk :”Reflon” . Ketentuan ini tidak berlaku untuk pembungkus/tempat simpan yang digunakan berulang-ulang (repetitive use). Ketentuan ini tidak berlaku untuk tempat simpan yang nilainya jauh lebih tinggi dari barang yang disimpan di dalamnya. serta ketentuan ini di atas dengan penyesuaian seperlunya. Tempat semacam itu harus Sebagai contoh.Terbuat baja tahan karat Bagaimana pengklasifikasian suatu gas beserta tabungnya yang dapat diisi ulang ? Tabung gas LPG dengan isinya LPG pada pos berapa dalam Harmonized System ? 6) Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 6 KUM HS 6 : Untuk tujuan hukum klasifikasi barang dalam sub pos dari suatu pos harus ditentukan berdasarkan uraian dari subpos tersebut dan catatan subpos bersangkutan. contohnya gas yang diimpor bersama pengemasnya (tabung gas di bawah tekanan). tempat teh dari perak dan tempat diklasifikasikan tersendiri permen dari porselin berdekorasi China Spesifikasi barang : .

Dengan mengetahui spesifikasi barang. catatan bab. 3. TAHAPAN MENGKLASIFIKASI BARANG Secara lebih rinci. misalnya barang tersebut produk pertanian. atau pos mana barang tersebut diklasifikasikan. Perhatikan penjelasan-penjelasan dalam catatan Bagian maupun catatan Bab yang berkaitan dengan barang yang akan kita klasifikasi. Bab.19). Pada tahap ini. atau catatan subpos harus tetap menjadi pertimbangan utama. Kita ulangi proses pengklasifikasian pada butir 3. kita bisa memilih bab-bab yang lebih spesifik. 4. barang kimia. Baca dan cermati catatan Bagian atau Bab (atau catatan Sub-pos dalam hal tertentu) yang ditunjuk oleh penjelasan pada butir 3. biasanya kita sudah mempunyai gambaran umum apakah barang tersebut diklasifikasikan di bab tersebut atau DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 47 . Artinya. 2. untuk keperluan ketentuan ini diberlakukan juga catatan Bagian dan catatan Bab. B.11 dan 7110. Kita identifikasi dulu barang yang akan kita klasifikasi. catatan bagian. baca dan perhatikan baik-baik catatan Bagian dan catatan Bab yang berkaitan dengan pilihan bab atau bab-bab pada butir 1. Bila sudah kita tentukan. Pilih bab atau bab-bab yang berkaitan dengan spesifikasi barang tersebut. atau mesin. KUM HS 6 berlaku sepanjang konteksnya tidak menentukan lain. langkah-langkah berikut ini dapat digunakan untuk mengklasifikasi barang: 1. Contohnya. Penjelasan: KUM HS 1 sampai dengan KUM HS 5 berlaku mutatis mutandis (secara langsung) untuk subsub pos pada satu pos yang sama (perbandingan pada takik yang sama). perhatikan pada Bagian. Apabila ada catatan yang mengeluarkan barang tersebut dari Bab atau Bagian yang kita pilih. Platinum pada catatan 4(b) Bab 71 tidak sama dengan Platinum pada catatan subpos 2 (khusus untuk sub-pos 7110.Klasifikasi Barang pengertian bahwa hanya subpos yang setara yang dapat diperbandingkan. Kecuali apabila konteksnya menentukan lain.

Dalam hal menggunakan KUM HS 3 (b). Ingat. Apabila sepintas lalu ada beberapa pos yang sesuai dengan spesifikasi barang.Klasifikasi Barang di bab lainnya. 5. Dalam membandingkan pos-pos. nilai (value). sub-sub pos. atau pospos tarif yang setara (perhatikan takiknya). Beberapa aspek yang dapat digunakan sebagai dasar penentuan sifat utama adalah fungsi/kegunaan. 8. Dalam hal KUM HS 1 tidak bisa diterapkan karena informasi atau data spesifikasi barang kurang lengkap. maka kita mulai menelusuri pos-pos yang mungkin mencakup barang yang akan kita klasifikasikan dalam bab tersebut. kita mulai menggunakan KUM HS 2. sub-sub pos. harus selalu diingat bahwa yang dibandingkan adalah pos-pos . dalam penentuan sub-pos dan pos tarif pun kadang timbul permasalahan klasifikasi yang sama dengan penentuan pos (4-digit). Setelah menemukan satu bab yang paling sesuai berdasarkan kajian di atas. Cara untuk meyakinkan bahwa KUM HS 1 gugur adalah dengan berusaha membuktikan bahwa hanya ada satu pos yang sesuai untuk barang tersebut. perbandingan dimaksud tidak berdasarkan pembebanan impornya!. Jangan terburu-buru menggunakan KUM HS 2 sebelum kita benar-benar yakin KUM HS 1 tidak dapat digunakan. dalam mengklasifikasi. Pada tahap ini kadang-kadang kita sudah dapat menemukan pos yang mencakup barang tersebut dengan rinci. Ingat. 7. Bila sudah kita temukan satu pos yang tepat. maka langkah selanjutnya tinggal menentukan sub-pos (6-digit) dan pos tarif (9-digit) yang sesuai. Ingat. Apabila sudah dipilih satu pos tarif yang benar-benar sesuai dengan uraian DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 48 . 6. kita baru dapat menggunakan KUM HS 2 apabila KUM HS 1 benar-benasr tidak dapat digunakan. Sampai tahap ini sebenarnya kita sedang menggunakan KUM HS 1. perlu diperhatikan bahwa yang dimaksud dengan sifat utama (essential character) meliputi berbagai aspek. atau pos-pos tarif. maka yang harus dikerjakan adalah mencari informasi atau data tersebut lebih dulu. Usahakan paling tidak selalu mempertimbangkan ketiga aspek tersebut sebelum menentukan sifat utama suatu barang campuran. dan bentuk fisik (appearance).

PPnBM. IP. Karena pembebanan tersebut sering berubah. dan pembebanan impornya. Sebagaimana selama ini telah berjalan. Soal tersebut dapat dijawab dengan menggunakan contoh nota penelitian di bawah ini: DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 49 . Untuk memudahkan. Selanjutnya DJBC akan 2) Nota Penelitian Klasifikasi Barang Pada bagian akhir diktat ini disajikan juga contoh soal klasifikasi barang menggunakan nota penelitian klasifikasi barang.). NOTA PENELITIAN KLASIFIKASI BARANG 1) Pengantar Berkaitan dengan klasifikasi barang. jangan lupa selalu menggunakan pembebanan yang up to date berdasarkan ketentuan yang terbaru. PPN. dalam rangka pengimporan importir/PPJK memberitahukan sendiri jenis barang. meneliti dan menetapkan klasifikasi barang tersebut. C. Kerangka nota penelitian klasifikasi barang sebenarnya tidak baku. atau cukai) dan ada atau tidak peraturan tata niaganya (IT. Dalam diktat ini disajikan cara membuat uraian rinci klasifikasi barang tersebut. Pertamina. Dalam mempertahankan pendapatnya. langkah selanjutnya adalah melihat pembebanannya (BM.Klasifikasi Barang barang. bisa singkat atau memerlukan uraian yang cukup panjang tergantung pada permasalahan yang dihadapi. aparat DJBC diharuskan membuat uraian rinci yang menjelaskan dasar klasifikasi barang dimaksud. Namun dalam diktat ini pembuatan nota penelitian klasifikasi barang tersebut diarahkan untuk mengikuti ketentuanketentuan dasar mengklasifikasi barang sesuai HS/BTBMI. setidaknya ada dua fihak yang berkepentingan yaitu aparat DJBC dan importir/PPJK. dan lainlain. uraian rinci klasifikasi barang dimaksud kita sebut saja Nota Penelitian Klasifikasi Barang. Dalam mekanisme ini tidak jarang timbul perbedaan pendapat mengenai klasifikasi barang antara importir/PPJK dan aparat DJBC. klasifikasi.

Klasifikasi Barang Contoh 1. Contoh 2. (Contoh ini umumnya diterapkan pada penelitian klasifikasi di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai): DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 50 .

Arang kayu masuk Bab 44.Menurut catatan 1 (d) Bab 44 tidak meliputi arang aktif masuk pos 3802 ..Bab 30.Bab 38 catatan 1 (d) tidak meliputi barang untuk obat …masuk Bab 30 Uraian klasifikasi : . ..Subpos 3004. Bahan tersebut telah terdaftar dalam Farmakope Indonesia Alasan Klasifikasi : . . Nama dan Jenis barang : Norit mengandung arang aktif dari arang kayu dalam bentuk tablet 5 gram dipergunakan untuk mengatasi keracunan atau perut kembung.90 Lain-lain DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 51 .Pos 3004. Obat dalam dosis tertentu.Klasifikasi Barang 3) Praktek Pembuatan Nota Penelitian Klasifikasi Barang 1.Produk farmasi .

99. Nama dan Jenis barang : Shampo merk : KAO dalam tube 100 ml mengandung obat anti ketombe dan anti jamur atau kerontokan rambut Alasan Klasifikasi : .Makanan olahan masuk Bagian IV . . shampo Pos 3305.10. .00.Pos 3305 preparat digunakan pada rambut.Bila mengandung obat Bab 30 Lihat Bab 30 catatan 1(d) :Bab ini tidak meliputi pos 3303-3307 walau mengandung obat Uraian klasifikasi : ..00 BM ….Shampo termasuk kosmetik Bab 33.00 Lain-lain Kesimpulan : Norit diklasifikasikan pada pos tarif 3004.Subpos 3305. 2.diolah selain dari bab 2 dan 3 masuk Bab 16…” .90 Lain-lain .90.kosmetika… .10 shampo . Nama dan Jenis barang : Sosis daging sapi yang dimasak Alasan Klasifikasi : .Lihat Bab 16 catatan 2 “Bab 16 meliputi olahan daging lebih dari 20 % makanan mengandung DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 52 .PPN … % P 3..90.Bab 33.Subpos 3004.99.. lihat cat 1 “.Pos tarif 3004.Olahan dari ikan masuk Bab 16.90. % .PPN … % PPh %.Klasifikasi Barang .Pos tarif 3305. ..90.shampo Kesimpulan : Shampo mengandung obat anti kerontokan diklasifikasikan pada pos tarif 3305.90.00 BM ….10. % .

% . cat masuk bab 32 . pos 3208 meliputi bahan yang mengandung bahan pelarut mudah menguap lebih dari 50 % . Nama dan Jenis barang : Bahan untuk membuat cat besi mengandung bahan alkyd resin (poliester resin) 55 %......12. Uraian klasifikasi : .50 alkid (poliester) dari poliester ...Lihat catatan 4 bab 32 .00..00 BM ….Subpos 1601.00.00 BM ….polimer . 4. % PPN … % PPh %.Pos 1601 ..Bab 16 . sosis .sosis ..Klasifikasi Barang Uraian klasifikasi : . bahan pelarut yang mudah manguap 28 % dan bahan lainnya 13%.00…mengandung daging sapi Kesimpulan : Sosis daging sapi tersebut diklasifikasikan pada pos tarif 1601. 5. Alasan Klasifikasi : .10.50.10. Nama dan Jenis barang : Kawat pilinan dari baja terdiri dari 5 buah yang dipilin tidak diisolasi ukuran diameter 2.Pos 3907 poliester (alkid resin) ..Barang dari logam tidak mulia masuk Bagian XV.Bahan cat termasuk produk kimia bagian VI.00 cair Kesimpulan : Bahan cat tersebut diklasifikasikan pada pos tarif 3907.50.Pos tarif 1601..Olahan dari daging . DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 53 .10.PPN … % PPh %.Bab 39.5 cm digunakan untuk penarik mobil derek Alasan Klasifikasi : .12.Pos tarif 3907.pelarut kurang dr 50 % ke pos 3907.00.Subpos 3907.

Pos tarif 7312.Subpos 7312.30.Pos tarif 8708.. (walau bagian untuk mobil derek) Uraian klasifikasi : .barang dari baja . kawat dipilin .90.Radiator bagian dari kendaraan bermotor berjalan bukan di rel.Sub pos 8708. radiator . 6.kawat ..Sub pos 8708.Bab 87 Kendaraan yang bergerak selain diatas rel … .%.Barang dari logam tidak mulia masuk Bab 73.91.10. ..Bab 73.00 untuk bus mini Kesimpulan : rel… masuk Bagian XVII.91.Klasifikasi Barang .90.Kendaraan yang bergerak selain diatas Kendaraan Bab 87 . DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 54 .Lihat Bagian XVII catatan 2(B) bagian untuk pemakaian umum tidak boleh masuk Bab 87 .10. .Lihat Bagian XV catatan 2 “kawat dipilin masuk bagian untuk pemakaian umum pos 7312 ….00 BM …. Bagiannya masuk pos 8708.10.% PPN …% PPh….90 bagian dan aksesori lainnya …. Uraian klasifikasi : .Mobil derek masuk bab 87 .00 ukuran 25 mm Kesimpulan : Kawat tersebut diklasifikasikan pada pos tarif 7312.Pos 8708 bagian untuk kendaraan bermotor. Nama dan Jenis barang : Bagian dari kendaraan bermotor berupa : Radiator untuk mobil bus mini untuk pengangkutan 15 orang dengan mesin diesel dalam keadaan CKD masa total 10 ton Alasan Klasifikasi : .Pos 7312 .

diperlukan data mengenai barangnya ? Sebutkan contoh kasus ! 5.PPN … % PPh %.2. Mengapa dalam mengklasifikasi barang tidak hanya menyebutkan 9 digitnya atau kesimpulannya saja ? 2. Nota penelitian klasifikasi barang seyogyanya memuat hal-hal apa saja ? 9.3. % . 2. Dalam mengklasifikasi barang gantungan kunci yang terdiri dari ring baja. Sebutkab tahapan dalam membuat nota penelitian klasifikasi barang ? 8. Saat ini KUM HS hanya terdiri dari nomor 1 sampai dengan nomor 6. nomor 7 sampai 10 dihilangkan dan DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 55 . Mengapa dalam mengklsifikasi barang harus memperhatiakan bagian dan bab serta catatan bagian dan catatan babnya yang terkait dengan barang tersebut ? 7. rantai baja dan hiasan dari plastik. harus menggunakan KUM HS nomor berapa ? 2. Mengapa sebelum mengklasifikasi barang.30. Pedoman tersebut adalah Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System (KUM HS) merupakan ketentuan untuk memasuki klasifikasi barang. Rangkuman 1. Latihan 2 1. Dalam mengklasifikasi barang dalam BTBMI diperlukan suatu pedoman. Bagaimana tahapan dalam mengklasifikasi barang agar menghasilkan pos tarif yang akurat ? 6. Dahulu sampai dengan 10.91. Bagaimana menurut pendapat Saudara mengenai penggunaan KUM HS nomor 4 dalam prakteknya ? 4.00 BM ….Klasifikasi Barang Radiaotor tersebut diklasifikasikan pada pos tarif 8708. Sebutkan contoh barang yang dalam mengklasifikasinya menerapkan KUM HS nomor 3a (selain yang telah disebutkan contoh diatas) 3.

Lingkarilah huruf B apabila pernyataan ini Saudara anggap benar dan huruf S apabila pernyataan Saudara anggap salah. Dalam membuat nota penelitian klasifikasi barang ada yang sederhana dengan hanya menggunakan BTBMI. bab dan catatan yang berkaitan dengan barang yang akan diklasifikasi. 1.S ) Judul Bagian. kemudian melihat uraian barang dalam BTBMI sesuai dengan yang akan diklasifikasi. ( B .4. Test Formatif 2 A. 3. Berdasarkan pertimbangan tersebut baru ditentukan pos tarif yang tepat. agar menghasilkan keputusan yang tepat sesuai aturan yang benar. hasil analisa laboratorium atau sumber informasi lainnya 2. ditambah informasi barang dari brosur. Proses dalam mengklasifikasi barang harus seuai dengan aturan.Klasifikasi Barang beberapa diantaranya menjadi surat keputusan Dirjen Bea dan Cukai 2. Pengamatan uraian barang dalam BTBMI dengan melihat bagaian. Pada prinsipnya meliputi identifikasi barang. Pada umumnya hsil penelitian dituangkan dalam suatu format yang berisikan komponen : nama dan jenis barang. namun dilapangan nama barang berdasarkan hasil pemeriksaan. uraian klasifikasi dan kesimpulan. Bab dan Sub-bab pada Buku tarif Bea Masuk DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 56 . mendeskripsikan jenis barang. demikian juga hasil penelitian klasifikasi barang harus disajikan dalam bentuk format yang benar. alas an klasifikasi. Dalam proses mengklasifikasi barang diperlukan tahapan yang sesuai.

Dalam membuat Nota Penelitian Klasifikasi Barang maka diperlukan kerangka yang singkat atau memerlukan uraian yang cukup panjang tergantung pada permasalahan yang dihadapi. asalkan pada saat diimpor sudah mempunyai sifat utama sebagai barang lengkap atau rampung 3.Klasifikasi Barang Indonesia hanya dimaksudkan untuk memudahkan penyebutan saja. alasan atau catatan yang digunakan c. ( B .S ) Pernyataan 2b pada KUM HS adalah Barang tidak lengkap atau tidak rampung dianggap sebagai barang lengkap atau rampung. nama barang dan uraian jenis barang b. peti instrumen dan tempat simpan yang semacam. ( B . Tidak mengikat secara hukum dalam mengklasifikasi 2. Pililihlah jawaban yang Saudara anggap benar dengan cara melingkari huruf yang terdapat di depan jawaban tersebut 1. sebaiknya kita identifikasi dulu barang yang akan kita klasifikasi. dengan bentuk atau kelengkapan khusus untuk menyimpan barang tertentu atau seperangkat barang tertentu. harus diklasifikasikan dengan barang tersebut jika biasa dijual dengan barang itu 5. Uraian klasifikasi mulai 2 digit sampai dengan 9 digit DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 57 .S ) Pernyataan 5b pada KUM HS adalah Peti kamera.S) Pernyataan 3a pada KUM HS adalah Pos yang memuat uraian yang paling terinci harus lebih diutamakan daripada pos yang memuat uraian yang lebih umum sifatnya 4. Dengan mengetahui spesifikasi barang maka akan lebih mendekati keakuratan dalam mengklasifikasi barang B. cocok untuk pemakaian jangka panjang dan diimpor lengkap dengan isinya. Namun demikian nota tersebut setidak-tidaknya memuat tentang : a. ( B .S ) Sebelum mengklasifikasi barang. ( B .

3a 5. 5a 3. 2a c. Suatu kemasan mengandung mie. namun diklasifikasikan pada bab 22 dikarenakan KUM HS nomor : a. Definitif b. b dan c benar 2. esklusif c. 3c c. 2b b. Mengapa olahan makanan yang terbuat dari daging sapi yang dikukus tidak diklasifikasikan pada bab 2 DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 58 . saos dan bawang. Larutan dengan kandungan asam cuka (acetic acid) lebih dari 10 % dikeluarkan dari bab 22 berdasarkan catatan : a. 3a c. Tabung gas LPG yang berisi gas LPG tidak dapat diklasifikasikan menjadi stu pos tarif karena ketentuan menurut KUM HS nomor : a. 5a d. 3b d. pengertian 4. 5b C. 2b d. 3b b. Jawablah dengan benar dan lengkap 1. diklasifikasikan sebagai mie pada bab 19. bumbu.Klasifikasi Barang d. Walalupun etil alkohol merupakan bahan kimia organik. 1 b. berdasarkan KUM HS nomor : a. ilustrasi d. pernyataan a.

Sebutkan alasannya 5. 3.Ketentuan dan catatan apa yang digunakan dalam mengklasifikasi barang tersebut 2. tidak dikelantang dan tidak dimerserisasi. Automatic voltage regulator yang digunakan sebagai stabilizer otomatis untuk komputer harus diklasifikasikan pada pos 85.Klasifikasi Barang 2. Mengapa tutup kepala (topi) pengaman untuk pengendara sepeda motor yang terbuat dari bahan plastik tidak diklasifikasikan pada bab 39 ? 4.04 atau 90. Benang tenun terbuat dari campuran 70 % kapas (cotton) dan 30 % nilon. UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT Bandingkanlah hasil jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif yang ada DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 59 .5. dari serat disisir dengan nomor benang 150 decitex. Mengapa sabun mandi mengandung obat pembasmi kuman walaupun mengandung obat tidak diklasifikasikan pada bab 30 sebagai produk farmasi.32 . merupakan benang tunggal.

Kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap terhadap materi kegiatan belajar Rumus Tingkat Penguasaan Jumlah Jawaban Anda yang benar dibagi 15 kemudian dikali 100 % = .. bila tingkat penguasaan Anda masih dibawah 80 %.. Anda harus mengulangi membaca Modul kembali. Hitunglah jumlah jawaban Anda yang benar atau sejauh mana Anda menguasai mata pelajaran tersebut.. Hasilnya Baik ! akan tetapi. Kegiatan Belajar (KB) 3 DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 60 .100 % * 80 % * 70 % * 89 % 79 % 69 % = Baik sekali = Baik = Cukup = Kurang Kalau Anda mencapai tingkat penguasaan 80% keatas Anda dapat meneruskan kepada modul atau bagian pelajaran lain.Klasifikasi Barang di belakang modul ini.. terutama bagian yang belum Anda kuasai 3...... Arti tingkat penguasaan : * 90 % ...

seorang klasifikator harus terlebih dahulu memahami pengetahuan barang dan pengetahuan mengenai klasifikasi barang.1.Klasifikasi Barang CATATAN PENTING DALAM BUKU TARIF BEA MASUK INDONESIA (BTBMI) Indikator Keberhasilan : Setelah mempelajari materi diharapkan siswa mampu menjelaskan: 1. Catatan penting dalam BTBMI 3. yaitu: DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 61 . HS mempunyai Catatan Bagian. A. Catatan-catatan tersebut mempunyai kekuatan hukum sama seperti uraian pos atau sub-pos. Oleh karena itu. catatan-catatan dalam HS merupakan bagian integral yang harus diperhatikan benar-benar. Jenis catatan pada BTBMI 2. Struktur pengelompokkan barang 3. Catatan Bab. dan Catatan Sub-pos. Catatan-catatan tersebut dapat dibagi berdasarkan jenisnya. JENIS CATATAN PADA BTBMI Disamping KUM HS. Uraian dan Contoh Untuk menjadi menjadi seorang klasifikator dibidang kepabeanan yang handal harus dapat mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang dengan terampil. Seorang klasifikator harus memiliki kemampuan dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang karena akan menentukan ketepatan pengisian Pemberitahuan Impor Barang (PIB) yang pada akhirnya menentukan ketepatan jumlah bea masuk dan pungutan impor lainnya yang harus dibayar.

yang tidak layak atau tidak sesuai untuk konsumsi manusia.09 (Bab 15).08. 30.Klasifikasi Barang 1) Catatan Definitif Catatan yang menjelaskan pengklasifikasian suatu barang pada pos atau sekumpulan pos tertentu.11 atau 30. atau 02. atau (c) Lemak hewani. 05. 2) Catatan Eksklusif Catatan yang mengeluarkan barang tertentu dari suatu pos atau sub-pos dan memasukkannya dalam pos atau sub-pos tertentu lainnya.04 hanya berlaku untuk hal berikut ini. Contoh: Catatan 1 Bab 2: Bab ini tidak meliputi: (a) Produk dari jenis yang diuraikan dalam pos No.02). selain produk dari pos No. bahan jahit bedah steril yang semacam itu dan perekat kertas steril untuk penutup luka bedah. (b) (c) (d) (e) (f) (g) (h) Laminaria steril dan laminaria steril yang dapat menggembung.04) atau darah binatang (pos No. 02.10. (b) Usus. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 62 .01 sampai dengan 02. Contoh: Catatan 4 Bab 30: Pos no. Hemostatik bedah atau gigi steril yang dapat menyerap. yang harus diklasifikasikan dalam pos tersebut dan tidak dalam pos lainnya dari Nomenklatur ini: (a) Catgut bedah steril. 05. … … … … Preparat kontrasepsi kimia dengan bahan dasar hormon atau pembunuh sperma. 02. kandung kemih atau perut dari binatang (pos No.

91. Catatan 1 Bab 9: Campuran dari produk dimaksud dalam pos no. 42. tali penahan celana. tali sandang dan semua jenis gelang. tetapi tidak termasuk arloji tangan (pos no. antara lain.10. untuk sarung tangan (termasuk sarung tangan olah raga).Contoh: i. ii.10 harus diklasifikasikan sebagai berikut: (a) Campuran dua produk atau lebih dari pos yang sama harus digolongkan dalam pos itu.03.04 sampai DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 63 . 4) Catatan Lain-lain Catatan teknis. apron dan pakaian pelindung lainnya. (b) Campuran dua produk atau lebih dari pos yang berlainan harus digolongkan dalam pos no.Klasifikasi Barang 3) Catatan Ilustratif Catatan yang memberikan gambaran terhadap pengertian atau istilah yang perlu dijabarkan lebih lanjut. yang menguraikan pengertian-pengertian yang bersifat Catatan 2 Bab 3: Dalam Bab ini pengertian “pellet” adalah produk-produk yang telah diaglomerasi baik secara langsung dengan cara dikompresi atau dengan penambahan sejumlah kecil bahan pengikat.13). Tambahan dari bahan lainnya ke dalam produk dari pos no. 09. 09.04 sampai dengan 09. istilah “barang pakaian dan perlengkapan pakaian” berlaku. 09. ikat pinggang. Contoh : Catatan 3 Bab 42: Untuk keperluan pos no.

dan uraian pada pos. 73.02. 83. selain pegas untuk lonceng atau arloji (pos no. Dengan memperhatikan ketentuan dalam ayat di atas dan Catatan 1 Bab 83. sub-pos.15.14).10 dan bingkai serta kaca dari logam tidak mulia.15) apa yang disebut bagian dari barang tidaklah termasuk uraian tentang bagian untuk pemakaian umum seperti diuraikan di atas. termasuk KUM HS. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 64 .01. 73. 73. Explanatory Notes. 83. iii.07. istilah “bagian untuk pemakaian umum” berarti: (a) Barang dari pos no.Klasifikasi Barang dengan 09. dan pos tarif yang berkaitan dengan barang yang akan diklasifikasikan merupakan syarat mutlak yang harus dilakukan agar klasifikasi yang dilakukan benar-benar akurat. 83.10 (atau campuran seperti yang dimaksud dalam (a) atau (b) di atas) tidak mempengaruhi penggolongannya asalkan….17 atau 73. Membaca dengan teliti dan memahami catatan-catatan di atas. dari logam tidak mulia. barang dari Bab 82 atau 83 tidak termasuk dari Bab 72 sampai dengan 76 Bab 78 sampai dengan 81. 91.. 83. Untuk beberapa hal cara seperti ini mungkin berhasil namun labih banyak risiko kegagalannya.18 dan barang semacam itu dari logam tidak mulia lainnya. Mengklasifikasi barang tidak dapat dilakukan dengan hanya sekedar mencari satu pos tertentu saja. Dalam Bab 73 sampai dengan 76 dan 78 sampai dengan 82 (tetapi bukan dalam pos no.06. dan (c) Barang dari pos no. dari pos no. 73.08. Tatacara mengklasifikasi harus diikuti dengan urut agar benar-benar diperoleh hasil yang akurat. Catatan 2 Bagian XV: Dalam seluruh Nomenklatur. 73. 83.12. (b) Pegas dan lembaran untuk pegas.

telur. sepatu dari kulit binatang pada Bab 64. kulit. bulu dan barang terbuat daripadanya (diklasifikasikan pada bagian VIII). binatang hidup diklasifikasikan pada Bab 1. yaitu bahan baku (raw material). dan produk yang tidak dapat dimakan). madu. produk susu. dan barang jadi (finished products). demikian juga halnya dengan jangat. Namun beberapa jenis minyak dan lemak dikeluarkan dari bagian I dan diklasifikasikan pada bab 15. barang setengah jadi (semi-finished products). bahan yang tidak/belum dikerjakan (unworked products). barang dikelompokkan dalam 96 bab (dan bab 77 sebagai persiapan masa mendatang) yang dikelompokkan dalam 21 bagian. produk yang dapat dimakan lainnya. Sebagai contoh.Klasifikasi Barang B. ikan. jangat dan kulit binatang pada Bab 41. Urutan pengelompokan ini juga berlaku untuk bab dan pos. Bagian II DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 65 . Pengelompokan tersebut berdasarkan urutan tingkat pengerjaannya. Bab 1 sampai dengan bab 24 (Bagian I sampai dengan Bagian IV) mencakup produk-produk pertanian dalam arti luas. Struktur Pengelompokan Barang Pada BTBMI 1) Gambaran Per Bagian Dalam Harmonized System (HS). Di bawah ini disajikan urutan pengelompokan barang dalam HS/BTBMI: Bagian I mencakup binatang hidup dan produk dari binatang (daging.

Bab 16 meliputi daging atau ikan yang telah mengalami proses lebih lanjut. sayuran. telah diproses. Minyak pada Bab II baik dalam keadaan mentah. Bagian IV mencakup produk minuman. misalnya minyak goreng atau margarine yang siap dikonsumsi. Berbagai jenis gula yang murni secara kimiawi diklasifikasikan pada Bab 29. biji-bijian.dan tembakau. diantaranya digoreng.). madu tiruan dan karamel. baik yang bisa dimakan atau tidak (tanaman. tepung. dsb. minuman keras. Contohnya. cuka. seperti saccharin dan dulcin. Produk-produk yang termasuk bagian I dan II belum mengalami proses pengerjaan kecuali sampai tahap tertentu (dengan beberapa pengecualian). Umumnya minyak tidak menguap. karena minyak nabati yang mudah menguap masuk Bab 33 sebagai minyak atsiri. Demikian juga bahan pemanis tiruan masuk Bab 29. Bab 17 meliputi gula dan bahan lainnya seperti sirop. dikukus atau diawetkan secara permanen. Terhadap produk yang telah mengalami proses lebih lanjut diklasifikasikan pada bab 19. bab 20 atau bab 21.Klasifikasi Barang mencakup produk sayuran. bersama-sama dengan produk industri makanan yang tidak dicakup bab-bab sebelumnya. buah. kecuali beberapa jenis minyak dan lemak tertentu (bab 15) dan kayu (bab 44). sereal. HUBUNGAN BAGIAN I DAN II DENGAN BAGIAN IV BAGIAN I & II BAGIAN IV *BAB 2 (DAGING) BAB 3 (IKAN) *BAB 16 DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 66 DIPROSES LEBIH LANJUT . Bagian III hanya terdiri dari bab 15 yang mencakup lemak dan minyak hewani dan nabati dan produk terbuat daripadanya (misalnya malam/wax). produk makanan siap saji yang diawetkan diklasifikasikan pada Bagian IV.

Klasifikasi Barang *BAB 4 (SUSU) BAB 10 (GANDUM. Komoditi plastik. Batu-batuan setengah permata atau batu permata digolongkan pada Bab 71. hancur. pupuk. baik sumber mineral anorganik seperti tanah. Bagian VII Mencakup plastik dan produk dari plastik (bab 39) dan karet dan produk dari karet (bab 40). sabun. Sesuai dengan kemajuan teknologi. kosmetik. maka produk barang-barang tersebut semakin bervariasi dan bertambah jenisnya. telah dicuci. dan lain-lain. misalnya dimurnikan sebagai bahan kimia anorganik masuk Bab 28. baik yang berbentuk asal (primary form) maupun produk-produk industri kimia seperti produk farmasi. dan sumber bahan organik pada Bab 27 seperti batu bara. sedangkan apabila merupakan hasil bentukan atau pahatan masuk Bab 68 dan kalau bahan tersebut merupakan hasil pembakaran maka masuk Bab 69. maka Bab tambang. belerang dan batuan lainnya hanya dalam keadaan mentah (crude). Kecuali kalau susunannya mensyaratkan lain. karet buatan serta barang dari plastik dan karet buatan banyak diimpor Indonesia. cat. bahan peledak.GANDUMAN) *BAB 19 BAB 11 (PRODUK-GILINGAN) *BAB 7 (SAYURAN) BAB 8 (BUAH-BUAHAN) BAB 11 (PRODUK GILINGAN. hasil gilingan atau saringan. dan minyak bumi. hasil tumbuk. batuan pada Bab 25 atau bijih logam pada Bab 26. Hasil pertambangan yang telah diolah secara lain. KENTANG) *BAB 20 Bagian V Mencakup produk mineral. Bagian VI Mencakup produk-produk kimia. Karena DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 67 . seperti 25 meliputi produk garam.

4006 :TIDAK DIVULKANISASI : KARET PUGARAN : SISA. REJA. maka pengenalan dan proses pengidentifikasi barang tersebut semakin sulit. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 68 . REJA : COUMPOND 3916-3921 : BARANG SETENGAH JADI 3922-3924 : BARANG JADI 4007-40016 : BARANG SETENGAH JADI 4017 : KARET KERAS Bagian VIII Mencakup produk-produk tertentu yang berasal dari binatang seperti jangat dan kulit (bab 41). Bagian VII Mencakup plastik/barang dari plastik serta karet/barang dari karet. Bagian ini terdiri dari 2 bab.. Struktur dalam Bab 39 secara garis besar adalah : BAB 39 PLASTIK DAN BARANG DARI PLASTIK BAB 40 KARET DAN BARANG DARI KARET SUB-BAB 1 3901-3911 : POLIMER BUATAN 3912-3913 : POLIMER ALAMI 3914 : PENUKAR ION 4001-4002 : BAHAN KARET 4003 4004 4005 SUB-BAB II 3915 : SISA. barang dari kulit atau usus binatang (bab 42).Klasifikasi Barang kemajuan teknologi pembuatan barang... khususnya dalam rangka klasifikasi barang. Perlu dicatat bahwa pos 42.01 dan 42. kulit berbulu.02 juga mencakup produk-produk tertentu terbuat bukan dari kulit. yaitu bab 39 (Plastik dan Barang Dari Plastik) dan bab 40 (Karet dan Barang Dari Karet). termasuk kulit berbulu imitasi (bab 43).

poliurethan dan lainnya. Serat bila diproses akan menjadi benang. Serat yang berasal dari hewan misalnya bulu domba atau bulu anak domba. hewani. yaitu : 1. dan semacam itu. poliester. Serat buatan manusia atau man made fiber terbagi dua. kertas karton dan barang terbuat daripadanya (bab 48).Klasifikasi Barang Bagian IX Mencakup produk yang berasal dari tumbuhan. rami. Namun. flaks. kemudian dari benang menjadi kain atau produk tekstil lainnya. Serat dapat berasal dari tumbuhan. Istilah sintetik digunakan dalam hubungan bahan polimer seperti poliamida. Ada dua sistem yang dipakai dalam penomoran benang. seperti kayu dan barang dari kayu (bab 44). goni dan sisal. bisa dilihat besar atau kecilnya suatu benang. bulu kambing Angora (Mohair) dan sutera. Kain rajut dibuat dengan jalan menjeratkan benang satu dengan yang lain atau pada DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 69 . Untuk memahami ini lihat Catatan 1 Bab 54. bulu kelinci. asetat sellulosa. Bagian XI Mencakup produk tekstil mulai dari sutera (bab 50) sampai dengan pakaian dan permadani (bab 63). Serat dari tumbuhan atau disebut serat nabati. kertas. dan barang kerajinan tangan (bab 46). mineral dan buatan manusia. gabus dan barang dari gabus (bab 45). Sistem penomoran benang langsung (Direct Yarn Number) Sistem penomoran benang tidak langsung (Indirect Yarn Number) Kain yang terbuat dari benang dengan cara tenun. yaitu pulp (bab 47). Benang tersebut biasa disebut sebagai lusi dan pakan. Melalui data nomor benang. henneps. sedangkan serat tiruan digunakan dalam hubungan untuk bahan dari rayon viskosa. Serat buatan adalah serat hasil industri kimia. Bagian X Juga masih mencakup produk yang berasal dari tumbuhan. misalnya serat kapas. dibuat dengan mesin tenun melalui cara menyilangkan kelompok benang satu terhadap yang lain. dan produk industri percetakan (bab 49). beberapa produk seperti furniture diklasifikasikan di bab lain (bab 94). yaitu serat sintetik dan serat artificial (tiruan). benang pakan kalau dalam mesin rajut adalah yang bergerak menyilang benang lusi atau sesuai arah lebar kain. bulu unta. Bahan dasar tekstil adalah serat. 2.

Bagian XIX Hanya terdiri dari bab 93 yang mencakup senjata dan amunisi. dll. perhiasan. kapal laut. keramik (bab 69). dan peralatan olahraga (bab 95). T shirt dan kain katun (lihat Bab 60 tentang jenis kain ini). pesawat terbang. dan peralatan listrik. Bagian XX Mencakup furniture. (bab 66). dan bermacam-macam barang hasil pabrik (bab 96). medis. Bagian XIV Mencakup hanya bab 71 yaitu mencakup mutiara dan batu mulia. mainan. (bab 68). Bagian XV Mencakup logam tidak mulia dan barang terbuat daripadanya. dll.Klasifikasi Barang benang itu sendiri. bunga buatan. contohnya kaos. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 70 . Bagian XIII Mencakup produk-produk yang diperoleh dari batu. jam (bab 91). peralatan permainan. fotografi. gips. ukuran. logam mulia.). papan nama iluminasi. payung. juga produk-produk tertentu dari bulu. peralatan mekanik. perlengkapan penerangan. Bagian XII Mencakup produk alas kaki (bab 64). dan alat transportasi lainnya (kereta api. dan uang logam. dan bangunan prefabrikasi (bab 94). kontrol. sinematografi. plaster. dll. pesawat ruang angkasa. dan kaca/barang dari kaca (bab 70). Bagian ini mempunyai pos dan sub-pos yang sangat besar dibandingkan dengan bagian lainnya. atau bedah (bab 90). dan barang dari rambut manusia (bab 67). semen. lampu. Bagian XVIII Mencakup perlatan optik. dan perlatan musik (bab 92). Bagian XVI Mencakup mesin. Namun demikian bagian ini tidak mencakup barang dari logam dasar yang termasuk dalam bab-bab di belakangnya (seperti mesin dan kendaraan). tongkat jalan. tutup kepala (bab 65). Bagian XVII Mencakup kendaraan.

Klasifikasi Barang Bagian XXI Hanya terdiri dari bab 97 yang mencakup hasil karya seni. dingin. Perlu diingat bahwa judul bab bukan merupakan uraian yang bersifat mengikat secara hukum. buah atau buah berbonggol dan umbi-umbian tertentu. Produk yang dikemas dalam kedap udara dan mengalami pengolahan lebih jauh selain pengolahan dari Bab 2 maka diklasifikasikan pada bab 16. akan kita dapati bahwa terdapat keterkaitan antara bab tertentu dengan bab atau beberapa bab lainnya. • Bab 6 meliputi semua tanaman hidup yang umumnya dimaksud untuk dijual oleh tukang bibit atau yang bergerak dibidang hortikultura yang serasi untuk ditanam atau dijadikan pajangan. barang kegemaran kaum pengumpul. maka harus DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 71 . Dengan demikian dapat dimengerti apabila suatu barang yang sepintas termasuk dalam suatu bab ternyata diklasifikasikan pada bab lain. Sayuran atau buah yang diawetkan dengan cuka atau dengan cara lain misalnya masuk Bab 20. • Daging pada Bab 2 hanya terhadap pengolahan terbatas seperti : segar. judul bab dalam HS sebagian besar bersifat umum. Namun kuda hidup yang digunakan dalam sirkus tidak klasifikasikan pada bab 1. dan barang antik. • Kembang gula (sugar confectionery) diklasifikasikan pada bab 17. Tetapi apabila kembang gula tersebut mengandung kokoa. di bawah ini disajikan gambaran keterkaitan antar bab dalam HS: • Bab 1 mencakup antara lain binatang hidup. Sebagai contoh. Selain itu. Pada Bab 6 tidak termasuk benih. melainkan pada bab 95 (pos 95. diasap dan dipanggang. 2) Hubungan Antar Bab Apabila kita mempelajari Bab demi Bab Harmonized System. Hal ini dapat difahami mengingat antara bab satu dengan bab lainnya kadang-kadang mencakup barang yang mengandung bahan yang sama atau merupakan proses lebih lanjut dari barang dalam bab sebelumnya.08).

Sebagai contoh. Contoh-contoh di atas adalah sebagian kecil contoh keterkaitan antar bab dalam HS.Klasifikasi Barang diklasifikasikan olahan makanan mengandung kokoa pada bab 18 (pos 18. dan beberapa mesin lainnya.19 (wood dryer).03 (electric central heating boiler) dan pos 84. 3) Bab Pada BTBMI BAGIAN I BINATANG HIDUP. mesin pada pos 84. dan sebagainya. Bila sudah berbentuk barang yang khusus dibuat untuk keperluan tertentu. Untuk itu membaca catatan bab maupun catatan bagian merupakan kewajiban sebelum kita mengklasifikasikan suatu barang pada pos tertentu. • Bahan kimia etilena diklasifikasikan pada Bab 29 (bahan kimia organik). kotak jam dari plastik (bab 91).06). kita dapat melihat di catatan bab maupun catatan bagian. Adalah tidak mungkin untuk menggambarkan dengan rinci keterkaitan antas bab dalam diktat ini. Barang dari plastik diklasifikasikan pada Bab 39. PRODUK HEWANI DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai BAB 72 . Untuk mengetahui keterkaitan antara bab satu dengan bab lainnya. furniture dari plastik (bab 94). beberapa mesin dan peralatan tertentu tetap diklasifikasikan pada bab 84 meskipun elektrik. seperti mesin dengan motor listrik. frame kacamata dari plastik (bab 90). • Mesin dan peralatan mekanis diklasifikasikan pada bab 84 sedangkan mesin dan peralatan listrik diklasifikasikan pada bab 85. barang tersebut diklasifikasikan di bab-bab lain. maka harus diklasifikasikan pada Bab 39 (plastik). Namun apabila etilene terpolimerisasi menjadi polietilena dengan jumlah unit monomer (n) 5 atau lebih. Namun demikian.

Produk industri penggilingan . Gandum-ganduman 11. BAGIAN II PRODUK NABATI BAB 6. pati. 13. malti . kulit dari buah jeruk dan melon 9. telur unggas. Produk hewani. akar dan bonggol tertentu yang dapat dimakan 8. biji dan buah. Bahan nabati untuk anyam-anyaman. damar dan air. mate dan rempah-rempah 10. binatang lunak dan binatang air lainnya yang tidak bertulang belakang 4. Binatang hidup 2. Ikan dan udang-udangan. tidak dirinci atau termasuk dalam pos lain. Buah & buah berbatok yang dapat dimakan. tidak dirinci atau termasuk dalam pos lainnya 5. Lak. ekstrak nabati lainnya 14.Klasifikasi Barang 1. produk hewani yang dapat dimakan. produk nabati tidak dirinci DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai pos lainnya 73 atau termasuk . jerami dan makanan ternak. gluten gandum. Sayuran. 12. getah. Kopi. bermacam-macam butir. Produk pabrik susu. Daging & sisanya yang dapat dimakan 3. teh. bunga potong dan daun untuk hiasan 7. inulin . umbi akar dan yang semacam itu. tanaman industri atau obat . Pohon hidup dan tanaman lainnya. madu alam. Biji mengandung minyak dan buah mengandung minyak .

Klasifikasi Barang BAGIAN III MINYAK DAN LEMAK HEWANI ATAU NABATI DAN PRODUK DISOSIASINYA. produk industri kue. Olahan dari sayuran. tepung. Minuman. Ampas. dari ikan atau dari udang-udangan. Kakao & olahan kakao 19. Olahan dari daging. binatang lunak atau dari binatang air yang tidak bertulang belakang 17. DTSD Bermacam-macam olahan DTSD Kepabeanan dan Cukai yang dapat dimakan 21. Gula dan kembang gula 18. kacang atau bagian lain dari tanaman. minuman keras dan cuka 23. dan sisa dari industri makanan. buah. LEMAK OLAHAN YANG DAPAT DIMAKAN. Olahan dari gandum-ganduman. MALAM HEWANI ATAU NABATI BAB 15. 74 22. MINUMAN. 20. Tembakau dan tembakau pengganti buatan. TEMBAKAU DAN TEMBA KAU PENGGANTI BUATAN BAB 16. (Judul Bab sama dengan Bagian) BAGIAN IV BAHAN MAKANAN OLAHAN. MINUMAN KERAS DAN CUKA. . olahan makanan hewan 24. pati atau susu.

dari logam tanah langka. kapur dan semen. tinta 33. bahan samak dan 75 turunannya. preparat . Pupuk 32. Minyak atsiri dan resinoida. Garam. Ekstrak bahan samak DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai atau bahan celup. senyawa organik atau organik dari logam mulia. Bijih logam. preparat pencuci. Bahan bakar mineral. bahan plester. dari unsur radio aktif dan dari isotop 29. bahan celup. belerang.Klasifikasi Barang BAGIAN V PRODUK MINERAL BAB 25. Produk farmasi 31. kosmetika atau preparat pewangi 34. cat dan vernis. minyak mineral dan produk sulingannya. pigmen dan bahan pewarna lainnya. malam mineral BAGIAN VI PRODUK INDUSTRI KIMIA DAN INDUSTRI YANG ADA HUBUNGANNYA DENGAN INDUSTRI KIMIA BAB 28. bahan mengandung bitumen. terak dan abu 27. dempul dan damar lainnya. Sabun bahan organik penggiat permukaan. wangi-wangian. Bahan kimia organik 30. tanah dan batu. Bahan kimia anorganik. 26.

Klasifikasi Barang

BAGIAN

VII

PLASTIK DAN BARANG DARI PLASTIK; KARET DAN BARANG DARI KARET

BAB 39. 40.
Plastik dan Barang dari plastik Kulit dan Barang dari Kulit

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 76

Klasifikasi Barang

BAGIAN

VIII

JANGAT DAN KULIT MENTAH, KULIT SAMAK, KULIT BERBULU DAN BARANGNYA; PELANA TERMASUK PERLENGKAPANNYA DAN PAKAINAN KUDA; BARANG UNTUK BERPERGIAN, TAS TANGAN DAN TEMPAT SIMPAN SEMACAMNYA; BARANG DARI USUS (LAIN DARI USUS ULAT SUTERA)

BAB
41. 42. 43.

Jangat dan kulit mentah (lain dari kulit berbulu) dan kulit samak

Barang dari kulit samak; pelana termasuk perlengkapan dan pakaian kuda; barang untuk bepergian, tas tangan dan wadah yang semacam itu; barang dari usus hewan (lain dari pada usus ulat sutera) Kulit berbulu dan kulit berbulu tiruan

BAGIAN

IX

KAYU DAN BARANG DARI KAYU; ARANG KAYU; GABUS DAN BARANG DARI GABUS; BARANG DARI JERAMI, RUMPUT ESPARTO ATAU DARI BAHAN ANYAMAN LAINNYA; KERANJANG DAN BARANG ANYAMAN

BAB 44. Kayu dan barang dari kayu; arang kayu 45. Gabus dan barang dari DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai gabus 77 46. Barang dari jerami, dari rumput esparto atau dari bahan anyaman
lainnya; keranjang dan barang anyaman

Klasifikasi Barang

BAGIAN

X

PULP DARI KAYU ATAU DARI BAHAN SELLULOSA BERSERAT LAINNYA; KERTAS ATAU KERTAS KARTON (BEKAS DAN SISA) YANG DIPEROLEH KEMBALI; KERTAS DAN KERTAS KARTON DAN BARANGNYA

BAB
47.
Pulp dari kayu atau dari bahan sellulosa berserat lainnya, kertas atau kertas karton (bekas dan sisa) yang diperoleh

48. Kertas dan kertas karton; barang dari pulp kertas, dari kertas atau kertas
karton

49. Barang cetakan, surat kabar, gambar dan produk lainnya dari industri
percetakan; naskah tulisan tangan, naskah ketikan dan rencana

BAGIAN

XI

TEKSTIL DAN BARANG TEKSTIL

BAB

50. Sutera 51. Wool, bulu hewan halus DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai
78

atau kasar; benang bulu kuda dan kain tenunan

56. Gumpalan, kain kempa dan bukan tenunan; benang khsusu; benang pintal, tali tambang dan kabel dan barangbarangnya 57. 58.
Permadani dan tekstil penutup lantai lainnya Kain tenunan khusus; kain tekstil berjumbai; renda; permadani; hiasan;

52. Kapas

53. Serat tekstil dari nabati
lainnya ; benang kertas dan

Bulu unggas dan bulu unggas olahan serta barang terbuat dari bulu unggas atau bullu unggas tiruan. bunga tiruan. PECUT DAN BAGIANNYA. PAYUNG. TONGKAT DUDUK. payung panas. Tutup kepala dan bagiannya 79 bagiannya semacam dari barang 66. BULU UNGGAS. gombal BAGIAN XII ALAS KAKI. tongkat duduk. tongkat jalan. Barang dan perlengkapan pakaian. pecut dan 67. Barang tekstil sudah jadi lainnya. bagian DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 65. pakaian bekas dan barang tekstil bekas. Payung. PAYUNG PANAS. Barang dan perlengkapan pakaian. TUTUP KEPALA. rajutan atau kaitan 62. CAMBUK. BUNGA TIRUAN. tidak dirajut atau dikait 63. setelan. pelindung kaki dan yang semacam itu . BARANG DARI RAMBUT MANUSIA BAB 64. Alas kaki. OLAHAN DAN BARANGNYA. cambuk. TONGKAT JALAN. barang dari rambut manusia .Klasifikasi Barang 61.

LOGAM MULIA KERAJANG DAN BARANGNYA. ASBES. Barang dari batu. asbes. Kaca dan barang dari kaca BAGIAN XIV MUTIARA ALAM DAN MUTIARA BUDIDAYA. Produk keramik 70.Klasifikasi Barang BAGIAN XIII BARANG DARI BATU. MIKA ATAU DARI BAHAN SEMACAM ITU. semen. gips. PERHIASAN IMITASI. GIPS. PRODUK KERAMIK. mika atau bahan semacam itu 69. LOGAM MULIA. MATA UANG LOGAM BAB DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 80 . SEMEN. BATU PERMATA ATAU SEMI PERMATA. KACA DAN BARANG DARI KACA BAB 68.

nikel sermet. Tembaga dan barang terbuat dari 79. barang tajam. Bermacam-macam barang dari logam tidak mulia BAGIAN XVI MESIN DAN PESAWAT MEKANIK. Nikel dan barang terbuat dari 81. barangnya 76. dari logam tidak mulia. Seng dan barang terbuat dari seng 80. Timah dan barang terbuat dari tembaga timah 75. Barang dari besi dan baja 74.Klasifikasi Barang 71. Aluminium dan barang terbuat dari aluminium 82. Perkakas. DAN BAGIAN SERTA PERLENGKAPAN DARI BARANG YANG SEMACAM ITU BAB DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 81 .sendok dan garpu. Timah hitam dan barang terbuat dari timah hitam 73.bagian bagiannya dari logam tidak mulia 83. PESAWAT PEREKAM ATAU REPRODUKSI SUARA DAN GAMBAR UNTUK TELEVISI. BAGIANNYA PESAWAT PEREKAM DAN PESAWAT REPRODUKSI SUARA. PERLENGKAPAN LISTRIK. (Judul Bab sama dengan Bagian) BAGIAN XV LOGAM TIDAK MULIA DAN BARANG DARI LOGAM TIDAK MULIA BAB 72. Logam tidak mulia lainnya. peralatan. Besi dan baja 78.

UKUR. serta bagiannya 89. bagiannya 85. KENDARAAN AIR DAN PERLENG KAPAN PENGANGKUTAN YANG BERKAITAN BAB 86.Klasifikasi Barang 84. BAGIAN DAN PERLENGKAPANNYA DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 82 BAB . alat pemasang dan perlengkapan rel kereta api atau trem dan bagiannya. POTOGRAFI. INSTRUMEN MUSIK. LONCENG DAN ARLOJI. PENELITI. pesawat perekam dan pesawat reproduksi suara. dan bagian serta perlengkapannya 88. dan bagian serta perlengkapan dari barang yang semacam itu BAGIAN XVII KENDARAAN. Kapal udara. PRESISI. Kendaraan selain yang begerak diatas rel kereta api atau trem. mesin dan pesawat mekanik. KEDOKTERAN DAN BEDAH. Mesin dan alat listrik serta bagiannya. SINEMATOGRAFI. pesawat ruang angkasa. Reaktor nuklir. ketel uap. pesawat perekam dan reproduksi gambar dan suara untuk televisi. PESAWAT TERBANG. kendaran yang bergerak diatas rel dan bagiannya. perlengkapan isyarat lalu lintas mekanik dari segala jenis (termasuk elektronik) 87. Lokomotif kereta api atau trem. BAGIAN XVIII ALAT DAN APARAT OPTIK.

kedokteran dan bedah. presisi.Klasifikasi Barang 90. fotografi. bagian dan perlengkapannya 91. BAGIAN DAN KELENGKAPANNYA BAB 93. Lonceng dan arloji dan bagiannya 92. ukur. bagian dan perlengkapan dari barang seperti itu BAGIAN XIX SENJATA DAN AMUNISI. Alat dan aparat optik. (Judul Bab sama dengan Bagian) BAGIAN XX BERMACAM-MACAM BARANG HASIL PABRIK DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 83 BAB . peneliti. sinematografi. Instrumen musik .

(Judul Bab sama dengan Bagian) C. tidak dirinci atau termasuk dalam pos manapun. papan nama iluminasi dan semacam itu. lampu dan perlengkapan penerangan. keperluan permainan dan keperluan olah raga. Catatan Penting Pada BTBMI Disamping KUM HS.Klasifikasi Barang 94. Bermacam-macam barang hasil pabrik lain XXI HASIL KARYA SENI. BARANG KEGEMARAN KAUM PENGUMPUL DAN BARANG ANTIK BAGIAN BAB 97. kasur tempat tidur. isyarat iluminasi. bantal dan kelengkapannya. Mainan. lapik kasur. bagian dan kelengkapannya 96. Perabot rumah. kasur. catatan-catatan dalam HS merupakan bagian integral yang DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 84 . bangunan prefabrikasi 95.

labu sumsum.Klasifikasi Barang harus diperhatikan benar-benar. diklasifikasikan dalam pos pada Bab 16 yang sesuai dengan komponen atau komponen-komponen yang mendominasi menurut beratnya.Dalam pos 07. HS mempunyai Catatan Bagian.03 atau 21. sisa daging.. chervil. buah zaitun.11 dan 07.12 kata "sayuran" meliputi jamur.02 atau olahan dari pos 21. terong.Olahan makanan digolongkan dalam Bab ini asalkan mengandung sosis. ikan atau krustasea.09. adas pedas. (b) Biskuit atau barang lain yang dibuat dari tepung atau dari pati. daging.. moluska atau invertebrata air lainnya.10. sisa daging. 07. lebih dari 20% menurut beratnya.09). moluska atau invertebrata air lainnya. darah. parsley. Catatan-catatan penting tersebut adalah : 1) Bagian II Bab 7 Catatan 2 2. olahan makanan mengandung sosis.Bab ini tidak meliputi : (a) Kecuali dalam hal produk diisi dari pos 19. ikan atau krustasea. atau berbagai kombinasinya. daging. dan Catatan Sub-pos. cendawan tanah.04. 2) Bagian II Bab 16 Catatan 2 2. Dalam hal apabila olahan mengandung dua atau lebih produk yang disebut di atas. darah. Catatan-catatan tersebut mempunyai kekuatan hukum sama seperti uraian pos atau sub-pos. labu kuning. saccharata). jagung manis (Zea mays var. tarragon. 07. Catatan Bab. diolah secara khusus untuk makanan hewan (pos 23.. 4) Bagian IV DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 85 . atau berbagai kombinasinya. cress dan marjoram manis (Majorana hortensis atau Origanum majorana) yang dapat dimakan. 3) Bagian IV Bab 19 Cacatan 1 1. buah dari genus Capsicum atau dari genus Pimenta. lebih dari 20% menurut beratnya (Bab 16). kaper. atau (c) Obat-obatan dan produk lain dari Bab 30.02. Ketentuan ini tidak berlaku untuk produk diisi dari pos 19.

(b) diajukan bersama..Klasifikasi Barang Bab 20 catatan subpos 2 2.07. dalam kemasan dengan berat bersih tidak melebihi 250 g. dan (c) pada saat diajukan.10 harus dipertimbangkan lebih dahulu daripada subpos lain dari pos 20. beberapa atau seluruhnya yang digolongkan dalam Bagian ini dan dimaksudkan untuk dicampur bersama untuk memperoleh produk dari Bagian VI atau VII. 5) Bagian VI Bagian VI catatan 3 3. istilah "olahan homogen" berarti olahan buah. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 86 . disiapkan untuk penjualan eceran sebagai makanan bayi atau untuk keperluan diet.. Untuk penerapan definisi ini tidak memperhitungkan sejumlah kecil berbagai bahan yang ditambahkan pada olahan tersebut sebagai penyedap. dihomogenisasi secara halus. Olahan ini dapat mengandung sejumlah kecil buah yang dapat dilihat. baik berdasarkan sifat atau perbandingan relatifnya. pengawet atau keperluan lain. asalkan unsur tersebut : (a) berdasarkan penyiapannya jelas dapat dikenal untuk digunakan bersamasama tanpa dibungkus ulang sebelumnya. dapat dikenali sebagai unsur yang saling melengkapi satu sama lain. Subpos 2007. harus diklasifikasikan dalam pos yang sesuai dengan produk tersebut.Untuk keperluan subpos 2007.10.Barang yang disiapkan dalam set yang terdiri dari dua atau lebih unsur yang terpisah.

keberadaan zat yang dimaksud oleh Catatan 5 (b) (ii) dan (iii) juga diperkenankan. Dalam hal tidak terdapat unit komonomer tunggal yang mendominasi.Dalam Catatan 1 Bab ini dan dalam pos 40. kopolimer (termasuk kopolikondensasi...Klasifikasi Barang 6) Bagian VII Bab 39 catatan 4 4. kecuali apabila konteksnya menentukan lain. seperti perentang. istilah "karet sintetik" berlaku untuk : (a) Zat sintetik tidak jenuh yang dapat diubah dengan tidak kembali ke sifat semula melalui vulkanisasi menggunakan belerang menjadi zat non termoplastik. Untuk keperluan Bab ini. Untuk keperluan Catatan ini. yang pada suhu antara 18 C dan 29 C tidak akan putus bila di rentang hingga tiga kali panjang aslinya. block copolymer dan graft copolymer) dan campuran polimer harus diklasifikasikan dalam pos yang mencakup polimer dari unit komonomer tersebut yang beratnya mendominasi berat unit komonomer tunggal lainnya.Istilah "kopolimer" meliputi semua polimer yang unit monomer tunggalnya tidak ada yang beratnya 95% atau lebih menurut berat total kandungan polimer tersebut. tidak diperkenankan.02. bagian unit komonomer dari polimer yang termasuk dalam pos yang sama harus digolongkan bersama. Untuk keperluan pengujian ini. seperti pengaktif dan akselerator vulkanisasi. 87 peliat dan pengisi. Namun demikian. maka kopolimer atau campuran polimer harus diklasifikasikan dalam pos terakhir berdasarkan urutan penomoran di antara pos yang mempunyai pertimbangan yang setara. keberadaan berbagai zat DTSD DTSD Kepabeanantidak Cukai yang dan diperlukan untuk ikatan silang. produk kopoliadisi. dapat ditambahkan zat yang diperlukan untuk ikatan silang. . dan setelah direntang hingga dua kali panjang aslinya selama lima menit. 7) Bagian VII Bab 40 catatan 4 (a) 4. panjangnya akan kembali menjadi tidak lebih dari satu setengah kali panjang aslinya.

untuk pengklasifikasian kain tenunan.08. benang berlogam harus dianggap sebagai bahan tekstil. Dalam Bab 73 sampai dengan 76 dan Bab 78 sampai dengan 82 (tetapi tidak dalam pos 73.15) referensi untuk bagian barang tidak meliputi referensi untuk bagian pemakaian umum sebagaimana dirinci di atas.01.18 dan barang semacam itu dari logam tidak mulia lainnya.. dari pos 83. dari logam tidak mulia.(A) Barang yang dapat diklasifikasikan dalam Bab 50 sampai dengan 55 atau dalam pos 58. istilah "bagian untuk pemakaian umum" berarti: (a) Barang dari pos 73. barang tersebut harus diklasifikasikan seolah-olah seluruhnya terdiri dari satu bahan tekstil yang termasuk dalam pos terakhir berdasarkan urutan penomoran di antara pos-pos dengan pertimbangan yang setara. DTSD Kepabeanan dan Cukai 83. (b) Pilihan pos yang sesuai harus dilakukan.14). 73. maka bahan tersebut harus diperlakukan sebagai bahan 9) Bagian XV Bagian XV catatan 2 2. 73. (b) Pegas dan lembaran untuk pegas.10) dan benang berlogam (pos 56. maka Bab 54 dan 55 harus diperlakukan sebagai Bab tunggal.06.12.02.Klasifikasi Barang 8) Bagian XI Bagian XI catatan 2 (A-B) 2. 83.07. tanpa memperhatikan berbagai bahan yang tidak diklasifikasikan dalam Bab tersebut. Dalam Nomenklatur ini.10 dan bingkai serta cermin (c) 88 dari logam tidak mulia.02 dan dari campuran dua bahan tekstil atau lebih harus diklasifikasikan seolah-olah seluruhnya terdiri dari satu bahan tekstil yang beratnya mendominasi berat setiap bahan tekstil lainnya.15. dengan menentukan Babnya. (B) Untuk keperluan ketentuan di atas : (a) Benang lilit dari bulu kuda (pos 51.05) harus diperlakukan sebagai bahan tekstil tunggal yang beratnya dianggap seperti berat keseluruhan komponennya.17 atau 73. . dan DTSD Barang dari pos 83. Apabila tidak satupun bahan tekstil yang mendominasi menurut beratnya. selain pegas jam atau arloji (pos 91. 83. (d) Apabila Bab atau pos merujuk pada barang dari bahan tekstil yang berbeda . dan kemudian pos yang tepat dalam Bab tersebut. 73.09 atau 59. pertama. (c) Apabila Bab 54 dan 55 berkaitan dengan berbagai Bab lainnya.

instalasi.Untuk keperluan Catatan ini. (iii) Mengerjakan perhitungan aritmatika yang ditentukan oleh pemakai. seluruhnya harus diklasifikasikan dalam pos yang sesuai dengan fungsi tersebut. aparatus atau peralatan yang disebut dalam pos pada Bab 84 atau 85. 4 dan 5 3..Kecuali apabila konteksnya menentukan lain.(A) Untuk keperluan pos 84. 11) Bagian XVI Bab 84 catatan 5 5. 4. permesinan. melaksanakan program pengolahan yang memerlukan modifikasi pelaksanaannya. dengan peralatan penggerak. 5. istilah "mesin pengolah data otomatis" berarti mesin yang dapat : (i) Menyimpan program atau programprogram pengolahan dan sekurang-kurangnya data yang diperlukan segera untuk DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai pelaksanaan program tersebut. istilah " mesin " berarti berbagai mesin. 89 (ii) Diprogram secara bebas menurut kebutuhan pemakai.Apabila mesin (termasuk kombinasi mesin) terdiri dari komponen tersendiri (terpisah atau saling dihubungkan dengan pipa. dan. perlengkapan. dengan kabel listrik atau dengan peralatan lainnya) yang dimaksudkan untuk digunakan bersama untuk melakukan fungsi tertentu secara jelas.. mesin gabungan yang terdiri dari dua atau lebih mesin yang dipasang bersama untuk membentuk satu kesatuan dan mesin lainnya yang dirancang untuk keperluan melakukan dua fungsi atau lebih yang saling melengkapi atau fungsi alternatif. harus diklasifikasikan seolah-olah terdiri hanya dari komponen tersebut atau sebagai mesin tersebut yang melakukan fungsi utama... dengan keputusan .71.Klasifikasi Barang 10) Bagian XVI Bagaian XVI catatan 3. yang termasuk dalam salah satu pos dalam Bab 84 atau 85. (iv) Tanpa intervensi manusia.

harus diperlakukan seolah-olah kegunaan utamanya adalah kegunaan satu-satunya. resistor. mesin pemilin atau mesin pembuat kabel) dari kawat logam. pengetsaan) atau melalui teknik "sirkit film" berupa elemen konduktor. selain elemen yang dapat memproduksi. atau induktansi khusus. suatu mesin yang kegunaan utamanya tidak diuraikan dalam pos manapun atau yang tidak ada satupun kegunaannya merupakan kegunaan utama. kecuali apabila konteksnya menentukan lain. 13) Bagian XVI Bab 85 catatan 5 5. juga tidak meliputi resistor. menyearahkan. induktansi. elemen DTSD Kepabeanan dan Cukai semi konduktor). Istilah " sirkit tercetak " tidak meliputi sirkit yang dikombinasi 90 dengan elemen selain yang diperoleh selama proses pencetakan. sirkit tercetak dapat dilengkapi dengan elemen penghubung tidak dicetak.. Sirkit film tipis atau tebal yang terdiri dari elemen pasif dan aktif yang diperoleh selama proses teknologis yang . mesin penjalin.34 "sirkit tercetak" adalah sirkit yang diperoleh dengan pembentukan di atas dasar pengisolasi. harus diklasifikasikan dalam pos 84. kapasitor).Klasifikasi Barang 12) Bagian XVI Bab 84 catatan 7 7. melalui berbagai proses pencetakan (misalnya. memodulasi atau memperkuat sinyal DTSD elektris (misalnya.Untuk keperluan pos 85. mesin yang digunakan untuk lebih dari satu kegunaan.. kapasitor.79. Pos 84. Berdasarkan Catatan 2 pada Bab ini dan Catatan 3 pada Bagian XVI.Untuk keperluan klasifikasi. penyepuhan. benang tekstil atau berbagai bahan lainnya atau dari kombinasi bahan bahan tersebut. pencetakan timbul. Namun demikian. kontak atau komponen tercetak lainnya (misalnya. tersendiri atau saling berhubungan menurut pola yang ditetapkan sebelumnya.79 juga meliputi mesin untuk membuat tali atau kabel (misalnya.

(c) Barang dari Bab 82 (perkakas).81 atau 84.Istilah "bagian" serta "bagian dan aksesori" tidak berlaku untuk barang berikut.83.84) atau barang lainnya dari karet divulkanisasi selain karet keras (pos 40. asalkan barang tersebut merupakan bagian integral dari mesin atau motor. (b) Bagian untuk pemakaian umum.16). atau bagiannya. sebagaimana dirinci dalam Catatan 2 Bagian XV. (d) Barang dari pos 83. Bagian atau aksesori yang memenuhi uraian dalam dua pos atau lebih dari pos pada Bab-bab tersebut.05.01 sampai dengan 84.. (ij) Senjata (Bab 93). atau barang semacam itu dari plastik (Bab 39).82 atau barang dari pos 84. barang dari pos 84. (f) Mesin atau perlengkapan elektris (Bab 85). cincin pipih atau sejenisnya dari berbagai bahan (diklasifikasikan menurut bahan utamanya atau dalam pos 84. atau (l) Sikat dari jenis yang digunakan sebagai bagian dari kendaraan (pos 96. harus diklasifikasikan menurut pos yang sesuai dengan .79.91 dengan 88 tidak berlaku untuk bagian atau aksesori yang tidak cocok untuk digunakan sematamata atau terutama dengan barang dari Bab-bab tersebut.Klasifikasi Barang 14) Bagaian XVII Bagian XVII catatan 2 dan 3 2. dapat diidentifikasi sebagai barang dari Bagian ini maupun tidak : (a) Sambungan.03). dari logam tidak mulia (Bagian XV). (h) Barang dari Bab 91. (g) Barang dari Bab 90. DTSD Referensi dan "bagian" atau "aksesori" dalam Bab 86 sampai DTSD Kepabeanan untukCukai 3. (k) Lampu atau alat kelengkapan penerangan dari pos 94. (e) Mesin atau aparatus dari pos 84.06.

yang pengoperasiannya tergantung pada fenomena listrik yang berubah-ubah menurut faktor yang dikontrol. 16) Bagian XXI DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 92 .. distabilkan terhadap gangguan.Pos 90.Klasifikasi Barang 15) Bagian XVIII Bab 90 catatan 7 7. distabilkan terhadap gangguan. yang dirancang untuk memberi faktor ini untuk.32 berlaku hanya untuk : (a) Instrumen dan aparatus untuk mengontrol arus. dan (b) Regulator besaran listrik otomatis dan instrumen atau aparatus untuk mengontrol besaran bukan listrik secara otomatis. dengan pengukuran nilai aktual secara konstan atau periodik. tinggi permukaan. atau untuk mengontrol suhu secara otomatis. yang penggunaannya tergantung maupun tidak pada fenomena elektris yang berubah-ubah menurut faktor yang harus dikontrol secara otomatis. dan mempertahankannya pada nilai yang dikehendaki. yang dirancang untuk memberi faktor tersebut untuk. tekanan atau variabel lainnya dari cairan atau gas secara otomatis. dan mempertahankannya pada nilai yang dikehendaki. dengan pengukuran nilai aktual secara konstan atau periodik.

Merujuk pada Catatan ini. Apakah bingkai dan gambar yang sama mahal harganya diklasifikasikan dalam satu pos tarif ? 3.Bingkai yang terpasang pada lukisan. Sebutkan posnya saja batu pualam yang masih bongkahan dan yang telah jadi ubin ? 7. Daging sapi yang diolah sederhana masuk pos berapa ? Bagaimana bila telah dikukus masuk Bab berapa ? 6.2. Sebutkan contoh catatan ekslusif pada Bab 71 ? 3.3. Sebutkan pos saja untuk barang mentega dan margarin ? 5. bingkai yang bukan merupakan jenis atau nilai yang wajar untuk barang tersebut.. Saringan udara untuk mesin diklasifikasikan pada pos berapa ? 11. 3. Sebutkan contoh catatan definitif pada Bab 39 ? 2. Bagaimana pengklasifikasian motor untuk mobil mainan ? 10. harus diklasifikasikan terpisah. Sebutkan catatan ilustratif pada pada Bagian ? 4. Rangkuman DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 93 . gambar pastel. Latihan 3 1. gambar. Bagaimana syarat komputer menurut Harmonized system pada Bab 84 ? 9. barang cetakan atau litograf harus diklasifikasikan dengan barang tersebut. Sebutkan 3 contoh barang termasuk bagian untuk pemakaian umum ? 8. kolase atau plakat hiasan semacam itu. asalkan dari jenis dan nilai yang wajar untuk barang tersebut.Klasifikasi Barang Bab 97 catatan 5 5. ukiran.

Terakhir dengan mesin. 1. Pemahaman pengelompokan barang akan mempermudah dan mempercepat dalam mengklasifikasi. Secara singkat jenis catatan tersebut meliputi.4. dan penjelasan. nabati mineral dan selanjutnya kepada bahan kimia dan produknya.S ) Judul Bagian. kendaraan. Bab 1 sampai dengan 77 dan bab 78 sampai dengan bab 98. baik catatan bagian. proses setengah jadi dan barang jadi. dikeluarkan. bab maupun subpos yang bersifat mengikat. Pengelompokan barang ini berawal dari binatang. illustratif. Urutan pengelompokan barang umumnya didasarkan atas bahan dasar. eksklusive. barang presisi. atau dikeluarkan sebagian serta penjelasan lainyya. Salah satu syarat menjadi seorang klasifikator yang baik adalah harus dapat memahami catatan penting. Lingkarilah huruf B apabila pernyataan ini Saudara anggap benar dan huruf S apabila pernyataan Saudara anggap salah. hewani. Test Formatif 3 A. Bahkan dalam KUM HS nomor satu dinyatakan bahwa hal yang mengikat dalam mengklasifikasi barang adalah catatan. Hal ini diperlukan agar jangan sampai salah dalam menempatkan pengelompokan barang sesuai Harmonized system. bab maupun subpos.Sebaiknya seorang klasifikator yang bak akan memahami pengelompokan jenis barang dalam BTBMI 3. ( B . Catatan merupakan salah satu syarat penting dalam mengklasifikasi barang. barang untuk kemanan dan barang kelontong. 2.Klasifikasi Barang 1. Catatan merupakan pintu gerbang dalam memasuk bagian dan bab dalam BTBMI. Bab dan Sub-bab pada Buku tarif Bea Masuk DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 94 . catatan definitive. Secara garis besarnya pintu gerbang tersebut akan mengatur tentang suatu barang yang boleh dimasukan. BTBMI terdiri dari 21 Bagian. Berbagai jenis barang akan dijelaskan dengan catatan dalam bagian. 3.

Namun demikian nota tersebut setidak-tidaknya memuat tentang : a. ( B . alasan atau catatan yang digunakan c.S ) Pernyataan 5b pada KUM HS adalah Peti kamera.S ) Pernyataan 2b pada KUM HS adalah Barang tidak lengkap atau tidak rampung dianggap sebagai barang lengkap atau rampung. harus diklasifikasikan dengan barang tersebut jika biasa dijual dengan barang itu 5. ( B . Dalam membuat Nota Penelitian Klasifikasi Barang maka diperlukan kerangka yang singkat atau memerlukan uraian yang cukup panjang tergantung pada permasalahan yang dihadapi. Tidak mengikat secara hukum dalam mengklasifikasi 2. peti instrumen dan tempat simpan yang semacam. sebaiknya kita identifikasi dulu barang yang akan kita klasifikasi. nama barang dan uraian jenis barang b.S) Pernyataan 3a pada KUM HS adalah Pos yang memuat uraian yang paling terinci harus lebih diutamakan daripada pos yang memuat uraian yang lebih umum sifatnya 4. cocok untuk pemakaian jangka panjang dan diimpor lengkap dengan isinya. Dengan mengetahui spesifikasi barang maka akan lebih mendekati keakuratan dalam mengklasifikasi barang B. ( B .S ) Sebelum mengklasifikasi barang. asalkan pada saat diimpor sudah mempunyai sifat utama sebagai barang lengkap atau rampung 3. ( B .Klasifikasi Barang Indonesia hanya dimaksudkan untuk memudahkan penyebutan saja. dengan bentuk atau kelengkapan khusus untuk menyimpan barang tertentu atau seperangkat barang tertentu. Uraian klasifikasi mulai 2 digit sampai dengan 9 digit DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 95 . Pilihlah jawaban yang Saudara anggap benar dengan cara melingkari huruf yang terdapat di depan jawaban tersebut 1.

b dan c benar 2. Jawablah pertanyaan soal dibawah ini dengan ringkas 1. ilustrasi d. 3b b. Mengapa olahan makanan yang terbuat dari daging sapi yang dikukus tidak diklasifikasikan pada bab 2 2. Larutan dengan kandungan asam cuka (acetic acid) lebih dari 10 % dikeluarkan dari bab 22 berdasarkan catatan : a. pengertian 4. berdasarkan KUM HS nomor : a. esklusif c. 5b C. 5a d. Suatu kemasan mengandung mie. 3c c. definitif b. pernyataan a. 5a 3. namun diklasifikasikan pada bab 22 dikarenakan KUM HS nomor : a. 3b d. diklasifikasikan sebagai mie pada bab 19. Mengapa sabun mandi mengandung obat pembasmi kuman walaupun mengandung obat tidak diklasifikasikan pada bab 30 sebagai produk farmasi. 1 b. saos dan bawang. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 96 . Walalupun etil alkohol merupakan bahan kimia organik. 3a 5. 2a c. 2b b.Klasifikasi Barang d. 2b d. Tabung gas LPG yang berisi gas LPG tidak dapat diklasifikasikan menjadi stu pos tarif karena ketentuan menurut KUM HS nomor : a. 3a c. bumbu.

Mengapa tutup kepala (topi) pengaman untuk pengendara sepeda motor yang terbuat dari bahan plastik tidak diklasifikasikan pada bab 39 ? 4... UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT Bandingkanlah hasil jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif yang ada di belakang modul ini.. Arti tingkat penguasaan : * 90 % .. Automatic voltage regulator yang digunakan sebagai stabilizer otomatis untuk komputer harus diklasifikasikan pada pos 85. tidak dikelantang dan tidak dimerserisasi. dari serat disisir dengan nomor benang 150 decitex.. Sebutkan alasannya 5..Ketentuan dan catatan apa yang digunakan dalam mengklasifikasi barang tersebut 3.100 % = Baik sekali DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 97 ..32 . Benang tenun terbuat dari campuran 70 % kapas (cotton) dan 30 % nilon.5. Kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap terhadap materi kegiatan belajar Rumus Tingkat Penguasaan Jumlah Jawaban Anda yang benar dibagi 15 kemudian dikali 100 % = ..04 atau 90..Klasifikasi Barang 3. Hitunglah jumlah jawaban Anda yang benar atau sejauh mana Anda menguasai mata pelajaran tersebut. merupakan benang tunggal...

Hasilnya Baik ! akan tetapi. terutama bagian yang belum Anda kuasai PENUTUP Setelah Saudara selesai mempelajari Modul ini (membaca serta mengerjakan latihan soal. Kulit dan Barang dari Kulit. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 98 . bila tingkat penguasaan Anda masih dibawah 80 %.Klasifikasi Barang * 80 % * 70 % * 89 % 79 % 69 % = Baik = Cukup = Kurang Kalau Anda mencapai tingkat penguasaan 80% keatas Anda dapat meneruskan kepada modul atau bagian pelajaran lain. Produk Keramik dan Barang dari Kaca. mengidentifikasi Barang dari Batu. Karet dan Barang dari Karet. mengidentifikasi Serat. Penomoran Benang. dan Identifikasi Serat. dan Jangat. Anda harus mengulangi membaca Modul kembali. maupun tes formatif yang tersedia) diharapkan Saudara telah memahami bagaimana cara bahan / barang kimia anorganik – organic maupun produk yang terbuat daripadanya. Benang dan Kain. mengidentifikasi Plastik dan Barang dari Plastik.

Modul ini merupakan dasar dari pengetahuan dan identifikasi barang yang minimal harus Saudara ketahui. majalah serta media internet. pasal 16 DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 99 . koran. baik buku pengetahuan. Untuk hal yang lebih “complicated” Saudara harus mencari tambahan pengetahuan sendiri melalui informasi di media masa. atau d ) 1. TES SUMATIF Pilihlah jawaban yang Saudara anggap benar dengan cara melingkari huruf yang terdapat di depan jawaban tersebut a. barang dikelompokkan berdasarkan sistem klasifikasi barang.Klasifikasi Barang Mutiara. Untuk penetapan tarif bea masuk. c. Bunyi kalimat diatas sesuai dengan bunyi UU no. 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan pada : a. b. dan Logam Mulia dan mengidentifikasi mesin – mesin serta barang – barang dari elektronika Dengan kemampuan Saudara mengidentifikasi barang-barang tersebut diharapkan Saudara nantinya dapat mengklasifikasikannya kedalam Buku Tarif Bea Masuk Indonesia. Intan dan Logam Mulia.

b. d.. c. d. d. Pencantuman besarnya Bea Masuk pada Buku tarif Bea Masuk Indonesia : a. Dalam pengamatan sementara untuk mengklasifikasi barang. b. Dalam membuat Nota Penelitian Klasifikasi Barang maka diperlukan kerangka yang singkat atau memerlukan uraian yang cukup panjang tergantung pada DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 100 . pasal 115 pasal 14 pasal 116 The Harmonized Commodity Description and Coding System (HS) mulai berlaku secara internasional sejak : a. Jenis suatu jenis barang dimungkinkan tidak ada dalam HS Dapat terkait dengan beberapa bab Mengklasifikasi barang seluruhnya harus tepat secara eksak Barang tidak dapat diklasifikasikan. maka sebutkan pernyataan dibawah ini yang tidak benar a. d.Klasifikasi Barang b. c. selalu berubah pernyataan a... pernyataan a. dikenal prosedur umum untuk mengklasifikasi barang. b dan c benar Bea Masuk Indonesia dan menentukan 4. a. b.... c.. Untuk mengklasifikasi barang. b dan c benar 6.. harus mengacu kepada perkembangan terakhir besarnya penetapan Bea Masuk c. hanyalah sementara (mengikuti surat Keputusan Menteri Keuangan RI) b. 2. karena uraian jenis barangnya tidak ada dalam BTBMI 5. tanggal 1 Januari 1989 tanggal 1 Agustus 1988 tanggal 31 Januari 1988 tanggal 11 Januari 1989 3. Prosedur tersebut secara umum ialah . mengidentifikasi barang dengan mempelajari jenis dan spesifikasinya merumuskan identitas atau deskripsi barang tersebut melihat Buku Tarif klasifikasinya d. c.

d. b. c. Namun demikian nota tersebut setidak-tidaknya memuat tentang : a. d.Klasifikasi Barang permasalahan yang dihadapi. b. b. c. saos dan bawang. Walalupun etil alkohol merupakan bahan kimia organik. d. berdasarkan KUM HS nomor : a. c. 7. b dan c benar Suatu kemasan mengandung mie. bumbu. d. Dalam membuat Nota Penelitian Klasifikasi Barang maka diperlukan kerangka yang singkat atau memerlukan uraian yang cukup panjang tergantung pada DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 101 . Definitif esklusif ilustrasi pengertian 9. d. Tabung gas LPG yang berisi gas LPG tidak dapat diklasifikasikan menjadi stu pos tarif karena ketentuan menurut KUM HS nomor : a. b. diklasifikasikan sebagai mie pada bab 19. c. Larutan dengan kandungan asam cuka (acetic acid) lebih dari 10 % dikeluarkan dari bab 22 berdasarkan catatan : a. nama barang dan uraian jenis barang alasan atau catatan yang digunakan Uraian klasifikasi mulai 2 digit sampai dengan 9 digit pernyataan a. 2b 3a 3b 5a 8. namun diklasifikasikan pada bab 22 dikarenakan KUM HS nomor : a. 1 2a 2b 3a 10. b. 3b 3c 5a 5b 11. c.

b.Klasifikasi Barang permasalahan yang dihadapi. d. Walalupun etil alkohol merupakan bahan kimia organik. b dan c benar 12. b. diklasifikasikan sebagai mie pada bab 19. berdasarkan KUM HS nomor : a. saos dan bawang. 1 2a 2b 3a 15. b. c. bumbu. nama barang dan uraian jenis barang alasan atau catatan yang digunakan Uraian klasifikasi mulai 2 digit sampai dengan 9 digit pernyataan a. b. b. namun diklasifikasikan pada bab 22 dikarenakan KUM HS nomor : a. 3b 3c 5a 5b DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 102 . Tabung gas LPG yang berisi gas LPG tidak dapat diklasifikasikan menjadi stu pos tarif karena ketentuan menurut KUM HS nomor : a. Larutan dengan kandungan asam cuka (acetic acid) lebih dari 10 % dikeluarkan dari bab 22 berdasarkan catatan : a. c. d. d. c. Namun demikian nota tersebut setidak-tidaknya memuat tentang : a. d. d. definitif esklusif ilustrasi pengertian 14. Suatu kemasan mengandung mie. c. c. 2b 3a 3b 5a 13.

Klasifikasi Barang KUNCI JAWABAN I. KUNCI JAWABAN TEST FORMATIF 1. 3 1. 2. TEST FORMATIF 1 DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 103 .

Kelompok Essay Nomor 1 a) Sistem Brussel Edisi 1975 (BTN 1975). 4.Klasifikasi Barang A. Penetapan tarif ini merupakan penyempurnaan dari penetapan tarif sebelumnya dan mulai diberlakukan pada tanggal 1 Juli 1975 sampai dengan 30 september 1980. Kelompok Pernyataan Benar (B) atau Salah (S) 1 B. hanya pada sistem CCCN ini terdapat penyempurnaan sistem penomoran pada sub-pos dari dua digit menjadi tiga digit atau semula 6 digit menjadi 7 digit. d C. Kelompok Pilihan Ganda 1. Sistem ini merupakan penyempurnaan dari sistem CCCN sebelumnya dan mulai diberlakukan pada tanggal 1 April 1987 sampai dengan 31 desember DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 104 . c 5. a 2. d 4. S B. c) Sistem CCCN Edisi 1985 (CCCN 1985). B. b 3. b) Sistem Customs Cooperation Council (CCCN). 2. B 5. Sistem CCCN ini mulai diberlakukan pada tanggal 1 Oktober 1980 sampai dengan 31 Maret 1985. S 3. Pada dasarnya sistem pentarifan ini sama dengan sistem sebelumnya.

e) Sederhana dan memberikan kepastian dalam hal aplikasi dan interpretasi yang benar dan sama untuk keperluan negosiasi. DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 105 . untuk penetapan Tarif mendunia. b) Memudahkan pengumpulan. b) HS adalah pedoman klasifikasi yang sistematik untuk seluruh barang yang diperdagangkan secara internasional. dan .Klasifikasi Barang 1988. f) Merupakan kumpulan data yang seragam secara internasional sehingga dapat digunakan untuk mendukung analisis dan statistik perdagangan internasional. nomenklatur disahkan dalam Konvensi HS Nomor 3 a) HS adalah pedoman klasifikasi yang sistematik untuk seluruh barang yang diperdagangkan secara internasional. Nomor 4 a) Memberikan keseragaman dalam daftar penggolongan barang yang dibuat secara sistematis. eksportir. dan aparat bea dan cukai. Nomor 2 Pada akhir tahun 1986. d) Menggunakan “bahasa pabean” sehingga dapat dengan mudah dimengerti oleh importir. produsen. kelompok studi tersebut berhasil menyusun suatu nomenklatur (daftar klasifikasi barang berdasarkan kelompok-kelompok) yang dinamakan Harmonized Commodity Description and Coding System atau lebih dikenal dengan sebutan Harmonized System (HS). Untuk memberikan kekuatan hukum yang pasti. pengangkut. pembuatan dan analisis Statistik Pabean secara perdagangan dunia. c) HS menggunakan dasar yang seragam untuk keperluan pentarifan secara internasional.

Klasifikasi Barang
c) Memberikan Sistem Internasional yang resmi Kode, Pen jelasan dan untuk pemberian penggolongan barang untuk tujuan

perdagangan seperti tarif pengangkutan, keperluan pengangkutan, dokumentasi dan sebagainya. d) Memperbaharui memberikan sistem klasifikasi kepada barang sebelumnya, teknologi untuk dan

perhatian

perkembangan

masyarakat industri serta pola perdagangan Internasional.

Nomor 5 Buku tarif Bea Masuk Indonesia hanyalah suatu referensi praktis agar dapat secara optimal digunakan di lapangan. Ketentuan hukum yang legal adalah sesuai Surat Keputusan Menteri Keuangan tentang perubahan Tarif Bea Masuk Indonesia (lihat Kata Pengantar pada BBTBMI)

2. TEST FORMATIF 2

A. Kelompok Pernyataan Benar (B) atau Salah (S) 1. B 2. S 3. B 4. S 5. B

B. Kelompok Pilihan Ganda 1. d 2. c 3. b 4. a 5. d

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 106

Klasifikasi Barang
C. Kelompok Essay

Diberitahukan hanya 6 digitnya (sub posnya) 1. Daging sapi hasil olahan sesuai bab 2 (pengolahan sementara/terbatas) diklasifikasikan pada bab 2. Bentuk pengolahan bukan sederhana, seperti dipanggang, dikukus dan pengolahan selain pada bab 2 diklasifikasikan pada bab 16. Lihat catatan 1 bab 16. Perhatikan pos tarif 1602.50.000. 2. Lihat catatan 1(e) Bab 30 3. Lihat catatan 1(n) Bab 39 4. Lihat catatan 2(A) Bagian XI 5. Lihat catatan 6(b) Bab 90 Perhatikan sub-pos 5206.24.

3. TES FORMATIF 3

A. Kelompok Pernyataan Benar (B) atau Salah (S) 1. B 2. S 3. B 4. S 5. B

B. Kelompok Pilihan Ganda 1. d 2. c 3. b 4. a 5. d

C. Kelompok Essay

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 107

Klasifikasi Barang
Diberitahukan hanya 6 digitnya (sub posnya) 1. Daging sapi hasil olahan sesuai bab 2 (pengolahan sementara/terbatas) diklasifikasikan pada bab 2. Bentuk pengolahan bukan sederhana, seperti di panggang, dikukus dan pengolahan selain pada bab 2 diklasifikasikan pada bab 16. Lihat catatan 1 bab 16. Perhatikan pos tarif 1602.50.000 2. Lihat catatan 1(e) Bab 30 3. Lihat catatan 1(n) Bab 39 4. Lihat catatan 2(A) Bagian XI 5. Lihat catatan 6(b) Bab 90 Perhatikan sub-pos 5206.24.

II. KUNCI JAWABAN TES SUMATIF

1. a 2. b 3. d 4. c 2. d 3. d 4. c 5. b 6. a 7. d 8. d 9. c 10. b 11. a 12. d

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 108

2007 Pengantar Klasifikasi Barang. World Customs Organization. Wordl Customs Organization. 2007 version Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (2007) Departemen Keuangan RI. World Organization (1994) *** DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai 109 . Jakarta Classification Disputes Settled by The Harmonized System Committee. Jakarta Explanatory Notes.Klasifikasi Barang DAFTAR PUSTAKA Harmonized System. (1995) Pusdiklat Bea dan Cukai.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful