BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Usaha transportasi bukan hanya berupa gerakan barang dan orang dari suatu tempat ke tempat lain dengan cara dan kondisi yang statis, akan tetapi transportasi itu selalu diusahakan perbaikan dan kemajuannya sesuai dengan perkembangan peradaban dan teknologi. Dengan demikian transportasi itu selalu diusahakan perbaikan dan peningkatannya, sehingga akan tercapai efisiensinya yang lebih baik. Ini berarti bahwa orang akan selalu berusaha mencapai efisiensi transportasi ini sehingga pengangkutan barang dan orang itu akan memakan waktu yang secepat mungkin dan dengan pengeluaran biaya yang sekecil mungkin. Pada dasarnya, pengangkutan atau pemindahan penumpang dan barang dengan transportasi ini adalah dengan maksud untuk dapat mencapai ke tempat tujuan dan menciptakan/menaikkan utilitas (kegunaan) dari barang yang diangkut. Utilitas yang dapat diciptakan oleh transportasi atau pengangkutan tersebut, khususnya untuk barang yang diangkut, pada dasarnya ada dua macam, yaitu:1 1) utilitas tempat (place utility), yaitu kenaikan/tambahan nilai ekonomi atau nilai kegunaan daripada suatu komoditi yang diciptakan dengan mengangkutnya dari suatu tempat/daerah dimana barang tersebut mempunyai kegunaan lebih besar. utilitas waktu (time utility), yaitu transportasi akan menyebabkan terciptanya kesanggupan daripada barang untuk memenuhi kebutuhan manusia dengan menyediakan barang yang bersangkutan yaitu tidak hanya dimana mereka dibutuhkan, tetapi juga pada waktu bilamana mereka diperlukan.

2)

Pengangkutan sebagai proses, yaitu serangkaian perbuatan mulai dari pemuatan ke dalam alat pengangkut, kemudian dibawa menuju ke tempat yang telah ditentukan, dan pembongkaran atau penurunan di tempat tujuan. Pengangkutan sebagai perjanjian, pada umumnya bersifat lisan (tidak tertulis) tetapi selalu didukung oleh dokumen angkutan yang membuktikan bahwa perjanjian sudah terjadi. Pengangkutan sebagai proses merupakan sistem hukum yang mempunyai unsur-unsur sistem, yaitu:2 1. 2. 3. 4. 5. subjek (pelaku) hukum pengangkutan, yaitu pihak-pihak dalam perjanjian dan pihak yang berkepentingan dalam pengangkutan. status pelaku hukum pengangkutan, khususnya pengangkut selalu berstatus perusahaan badan hukum atau bukan badan hukum. objek hukum pengangkutan, yaitu proses penyelenggaraan pengangkutan. peristiwa hukum pengangkutan, yaitu proses penyelenggaraan pengangkutan. hubungan hukum pengangkutan, yaitu hubungan kewajiban dan hak antara pihakpihak dan mereka yang berkepentingan dengan pengangkutan.
1

Rustian Kamaludin, 1986, Ekonomi Transportasi, Penerbit Ghalia Indonesia, Padang, hlm.

11

Abdulkadir Muhammad, 1998, Hukum Pengangkutan Niaga, Penerbit PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, hlm. 12.

2

1

Penerbit Djambatan. ilmu pengetahuan.3 Pengangkutan merupakan bidang kegiatan yang sangat vital dalam kehidupan masyarakat. 3. METODA PENDEKATAN Dalam penyusunan tulisan ini penulis menggunakan metoda pendekatan Yuridis Normatif H. maka untuk itu dipandang perlu untuk menyampaikan sebuah ulasan mengenai Perjanjian Pengangkutan barang melalui Kapal Laut. 2. baik geografis maupun kebutuhan yang tidak dihindari dalam rangka pelaksanaan pembangunan ekonomi. maka dalam pengangkutan domestic maupun internasional. hlm. Dengan mempertimbangkan faktor biaya dan pembatasan beban kiriman.N Purwosutjipto. 2. Pengertian Pokok Hukum Dagang Indonesia. maka penulis merumuskan pokok permasalahan. B.M. Terjadinya Perjanjian Pengangkutan barang melalui Kapal Laut Akibat-akibat yang timbul dari Perjanjian Pengangkutan barang melalui Kapal Laut Tanggung Jawab Pengangkutan barang dengan Kapal Laut D. Bagaimanakah proses terjadinya Perjanjian Pengangkutan barang melalui Kapal Laut? Akibat-akibat apakah yang timbul dari Perjanjian Pengangkutan barang melalui Kapal Laut? Bagaimanakah tanggung jawab Pengangkutan barang dengan Kapal Laut? C. yaitu: 1. dimana pengangkut mengikatkan diri untuk menyelenggarakan pengangkutan barang dan/atau orang dari suatu tempat ke tempat tujuan tertentu dengan selamat. walaupun pengangkutan melalui jalur laut sifatnya lebih lama dan tentu tidak sedikit resiko dan permasalahannya. sedangkan pengirim mengikatkan diri untuk membayar uang angkutan. yaitu melalui udara atau melalui laut. 3. dihadapkan kepada dua pilihan jalur.Pengangkutan sebagai perjanjian merupakan perjanjian timbal balik antara pengangkut dengan pengirim. Mengingat pengangkutan melalui laut juga berdasarkan pada perjanjian. TUJUAN PENULISAN Adapun tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui 1. Jakarta. maka para pengirim cenderung memilih jalur laut. POKOK PERMASALAHAN Berdasarkan uraian dari latar belakang. 3 2 . 2. dan teknologi. 1995. Dengan jalur tempuh yang dipisahkan oleh lautan. Dikatakan sangat vital karena didasari oleh berbagai faktor.

Cara terjadi perjanjian pengangkutan dapat secara langsung antara pihak-pihak atau secara tidak langsung dengan menggunakan jasa perantara (ekspeditur. Penawaran dari pihak pengirim. PROSES TERJADINYA PERJANJIAN PENGANGKUTAN KAPAL LAUT BARANG MELALUI Proses terjadinya Perjanjian Pengangkutan menunjuk pada serangkaian perbuatan tentang penawaran dan penerimaan yang dilakukan oleh pengangkut dan pengirim atau penumpang secara timbal balik. Ini berarti pengirim atau penumpang mencari sendiri pengangkut untuknya. Pada pengangkutan laut. biro perjalanan). 7 Tahun 1994 tentang Pengesahan Agreement Establishing The Word Trade Organization (Persetujuan Pembentukan Organisasi Perdagangan Dunia). Pada pengangkutan laut. Apabila pembuatan perjanjian pengangkutan dilakukan secara langsung. pengangkut hanya menunggu permintaan dari pengirim atau penumpang.BAB II PEMBAHASAN A. pengangkut mengumumkan atau mengiklankan kedatangan dan keberangkatan kapal laut. maka penawaran pihak pengangkut dilakukan dengan menghubungi langsung pihak pengirim atau penumpang. Dengan memperhatikan Undang-undang No. kapal laut menyinggahi pelabuhan-pelabuhan untuk memuat barang atau penumpang. besarnya tarif maksimum ditetapkan setinggi-tingginya 40% termasuk bea masuk tambahan. melainkan ada dalam kebiasaan yang hidup dalam praktek pengangkutan. Ini berarti pengangkut mencari sendiri muatan atau penumpang untuk diangkut. Dalam perjanjian pengangkutan barang di laut terlebih dahulu ada perjanjian perdagangan antara kedua negara. Penawaran dari pihak pengangkut Pengangkut merupakan pengusaha pengangkutan yang memiliki dan menjalankan perusahaan pengangkut yang berbentuk perusahaan persekutuan badan hukum. atau melalui media massa. maka penawaran pihak pengirim atau penumpang dilakukan dengan menghubungi langsung pihak pengangkut. Tarif bea masuk dikenakan berdasarkan perjanjian atau kesepakatan yang dilakukan Pemerintah Republik Indonesia dengan Pemerintah negara lain atau beberapa negara lain. Jika penawaran pihak pengangkut dilakukan melalui media massa. 3 . penumpang Apabila pembuatan perjanjian pengangkutan dilakukan secara langsung. Dalam hal pengangkutan barang di laut yang lebih ditekankan mengenai kesepakatan mengenai tarif bea masuk. sehingga pengirim atau penumpang dapat memesan untuk kepentingan pengirim atau keberangkatannya. 3. Hal ini terjadi setelah pengirim atau penumpang mendengar atau membaca mengumuman dari pengangkut. misalnya: bea masuk berdasarkan Common Effective Preferential Tariff untuk Asean Free Trade Area (Cept for AFTA). 1. yang tidak ada pengaturannya dalam undang-undang.

sehingga barang dilindungi dari perbuatan sewenang-wenang dan tidak bertanggung jawab pengangkut. Dalam KUHD ada ketentuan yang mengatur saat terjadi persetujuan kehendak. Dalam Pasal 90 KUHD dinyatakan bahwa surat muatan merupakan perjanjian antara pengirim atau ekspeditur dengan pengangkut. maka perantara menghubungi pengangkut atas nama pengirim atau penumpang. sebagian ada ditentukan dalam undang-undang dan sebagian lagi tidak ada. perjanjian pengangkutan laut terjadi dan mengikat pihak-pihak "sejak surat tanda terima barang ditandatangani" oleh pengangkut atau orang atas nama pengangkut. Di kapal mana barang itu berada (Pasal 510 KUHD).Jika penawaran dilakukan melalui perantara (ekspeditur. tanggal penerimaan sama dengan tanggal surat itu. konosemen merupakan persetujuan yang mengikat pengangkut. 3. ditandatangani oleh pengirim atau ekspeditur. Penyerahan konosemen sebelum barang yang tersebut 2. Tanda bukti atas barang. dengan memiliki konosemen berarti sekaligus memiliki barang yang tersebut didalamnya. Tetapi penerbitan konosemen bukan suatu keharusan. Dari ketentuan ini dapat diketahui bahwa penerbit surat tanda terima adalah suatu keharusan. sedangkan pengangkut atau perwakilan tidak ada di tempat itu. dengan adanya konosemen pengangkut atau agen atau nakhoda mengakui bahwa ia telah menerima barang dari pengirim untuk diangkut dengan kapal yang bersangkutan. Tetapi menurut ketentuan Pasal 505 KUHD. Menurut ketentuan Pasal 504 KUHD pengirim yang telah menyerahkan barang kepada pengangkut di kapal menerima surat tanda terima (mate's receipt) yang merupakan bukti bahwa barangnya telah dimuat dalam kapal. Pelindung barang yang diangkut dengan kapal yang bersangkutan. 4 . maka kebiasaan yang hidup dalam praktek pengangkutan diikuti. maka dapat dinyatakan bahwa surat muatan dibuat oleh pengirim atau ekspeditur atas nama pengirim. Konosemen mempunyai arti penting dalam dunia perusahaan pengangkutan laut dan perdagangan sebab konsomenen berfungsi sebagai: 1. Surat tanda terima membuktikan bahwa barang sudah diterima dan dimuat dalam kapal sesuai dengan penyerahan dari pengirim. Setiap pemegang konosemen berhak menuntut penyerahan barang yang tersebut didalamnya. Berdasarkan ketentuan Pasal 504 KUHD konosemen diterbitkan oleh pengangkut atas permintaan pengirim. Dalam surat tanda terima itu dicantumkan tanda tangan pengangkut dan tanggal penerimaan jika diterbitkan konosemen. ia dapat menukarkan surat tanda terima itu dengan konosemen yang diterbitkan oleh pengangkut. pengirim dan penerima. Jika pengirim menghendaki konosemen. Dalam hal tidak ada ketentuan. baik mengenai pengangkutan barang maupun penumpang. Surat bukti tanda terima barang di atas kapal. nakhoda dibolehkan menerbitkan konosemen apabila ada barang yang harus diterima untuk diangkut. Dengan demikian. biro perjalanan). Dokumen pengangkutan terdiri dari surat muatan. dan baru berfungsi sebagai surat perjanjian (bukti ada perjanjian) jika pengangkut menandatangani juga surat muatan tersebut dan dalam Pasal 506 KUHD dinyatakan bahwa konosemen adalah surat bertanggal dalam mana pengangkut menerangkan bahwa ia telah menerima barang tertentu untuk diangkut ke suatu tempat tujuan yang ditunjuk dan di sana menyerahkannya kepada orang yang ditunjuk (penerima) disertai dengan janji-janji apa penyerahan akan terjadi. Mengenai kapan perjanjian pengangkutan itu terjadi dan mengikat pihak-pihak. Pengirim menyerahkan barang kepada perantara (ekspeditur) untuk diangkut. Memperhatikan ketentuan Pasal 90 KUHD.

Konosemen atas pengganti (aan toonder). konosemen adalah bukti perjanjian pengangkutan yang memuat syarat-syarat pengangkutan. 2. 13. Tanda tangan pengangkut. Dalam KUHD tidak ada pasal khusus yang memerinci isi yang perlu dimuat dalam konosemen. Jumlah biaya pengangkutan dan biaya-biaya lain. Tempat penyerahan oleh pengangkut terusan. Nama pelabuhan pembongkaran. 16. Nama dan pengangkut sebelumnya. nama penerima tidak dicantumkan dalam konosemen. 3. tetapi dicantumkan "atau pembawa" atau "yang menunjukkan". 14. 4. 4. 5 . Nama dan tanggal pembuatan konosemen. 7. Konosemen ini diperoleh (diserahkan) kepada pihak lain dengan cara endosemen (Pasal 506 ayat 3 KUHD). Nama dan alamat pengirim. Konosemen atas nama (op naam). Tempat pembayaran biaya pengangkutan dan biaya-biaya lain. Konosemen ini diperalihkan (diserahkan) kepada pihak lain dengan cara dari tangan ketangan. 8. Jenis barang. 3. merek. Tempat penerimaan oleh pengangkut sebelumnya. Kontrak atau persyaratan pengangkutan. 10. Nama kapal yang mengangkut. 6. Konosemen atas tunjuk (aan toonder). ukuran berat. Syarat-syarat penyerahan (klausula-klausula perjanjian).didalamnya diserahkan oleh pengangkut. dalam konosemen dinyatakan bahwa biaya pengangkutan diserahkan lebih dahulu di pelabuhan pemuatan (freight prepaid) oleh pengirim atau dibayar kemudian di pelabuhan tujuan (freight to collected) oleh penerima. Ada tiga konosemen dilihat dari cara peralihannya: 1. 9. Jumlah konosemen asli yang diterbitkan. isi yang perlu dimuat dalam konosemen dapat dirinci sebagai berikut: 1. 11. jumlah. 2. 12. Konosemen ini diperalihkan (diserahkan) kepada pihak lain dengan cara cesse. Nama dan alamat penerima. Kuitansi pembayaran biaya pengangkutan. nama penerima dicantumkan dengan jelas diikuti oleh "atau pengganti" dalam konosemen. 5. Nama pelabuhan pemuatan. Nama dan alamat pengangkut (perusahaan pelayaran). 5. dianggap sebagai penyerahan barang tersebut (Pasal 517 a KUHD). tetapi dari beberapa pasal yang mengatur perihal konosemen dan contoh konosemen yang diterbitkan oleh perusahaan pelayaran. Yang paling banyak digunakan dalam praktek pengangkutan laut di Indonesia adalah konosemen atas (op naam). 15. nama penerima dicantumkan dengan jelas dalam konosemen.

kecuali apabila barang muatan tersebut rusak atau hilang. Kewajiban dari pemakai jasa ialah membayar upah angkutan. maka pihak pemakai jasa dapat menuntut pihak pengangkut yaitu yang dapat berupa pembatalan perjanjian pengangkutan atau menuntut ganti rugi atau menuntut pembatalan dan ganti rugi. hilangnya barang baik seluruhnya atau sebagian. hlm. Baik pihak pengangkut maupun pihak pemakai jasa. maka perjanjian itu dapat diancam dengan kebatalan. maka pengangkut berhak untuk menuntut penggantian kerugian kepada pihak pemakai jasa (pengirim). sehingga pengangkut tidak dapat menyerahkan barang-barang yang ia angkut. Jadi apabila terjadi keterlambatan sedangkan barang dalam keadaan selamat tidak rusak atau hilang. Apabila salah satu pihak tidak melakukan prestasi sesuai dengan apa yang menjadi isi perjanjian. Dan ia harus secara jujur memberi tahu tentang keadaan barang yang akan diangkut kepada pengangkut. maka merupakan kebiasaan dalam pengangkutan laut dan tidak ada ganti kerugian (denda). kewajiban pokok pengangkut adalah sebagai berikut : Wiwoho Soejono. 1987. Yogyakarta. Kebiasaan menentukan bahwa waktu keberangkatan sewaktu-waktu dapat berubah tanpa pemberitahuan lebih dahulu.B.4 Pengaturan kewajiban dan hak pihak-pihak dalam pengangkutan laut terdapat dalam Bab V A Buku II KUHD untuk barang dan Bab V B Buku II KUHD untuk penumpang. Dan para pihak ini saling mempunyai hak untuk melakukan penuntutan. Namun pengangkut dapat membebaskan dirinya dari kewajiban tersebut asal ia dapat membuktikan bahwa tidak diserahkannya barang atau adanya kerusakan itu karena terjadinya suatu peristiwa yang sepatutnya tidak dapat dicegahnya atau dihindarinya atau adanya keadaan memaksa (overmacht) atau kerusakan tersebut disebabkan karena sifat. seperti telah diketahui para pihak di dalam perjanjian pengangkutan itu ialah pihak pengangkut dan pihak pemakai jasa. Pengangkut juga diwajibkan mengganti kerugian yang disebabkan oleh rusak. Penerbit Liberty. Undang-undang menganut asas bahwa penundaan keberangkatan harus dengan persetujuan kedua belah pihak. Hukum Pengangkutan Laut di Indonesia dan Perkembangannya. dua bab ini berlaku sebagai lex specialis pengangkutan laut. keadaan atau cacat dari barang itu sendiri atau juga karena kesalahan pengirim. kedua belah pihak mempunyai kewajiban untuk melakukan prestasi. sedangkan Bab I sampai dengan Bab IV Buku III KUHPerdata berlaku sebagai lex generalis. 24 4 6 . Dalam hal ini pengirim tidak memberi tahukan secara benar kepada pengangkut tentang barang-barang yang akan diangkut atau karena sifat. Hal ini diatur dalam Pasal 468 KUHD. Dalam perjanjian pengangkutan laut. Kebiasaan yang hidup dalam praktek pengangkutan adalah kebiasaan yang berderajat hukum keperdataan. AKIBAT-AKIBAT YANG TIMBUL DARI PERJANJIAN PENGANGKUTAN BARANG MELALUI KAPAL LAUT Dengan adanya perjanjian pengangkutan barang melalui kapal laut akan menimbulkan hak dan kewajiban bagi masing-masing pihak. keadaan dan cacat yang terdapat pada barang-barang dan karena itu pengangkut menderita kerugian. Sebaliknya kalau pihak pemakai jasa menderita kerugian sebagai akibat pihak pengangkut tidak memenuhi apa yang menjadi isi perjanjian pengangkutan. Kewajiban pengangkut ialah menjaga keselamatan barang yang diangkut sejak saat penerimaannya sampai saat penyerahannya.

syarat-syarat dan cara bagaimana tujuan itu dapat dicapai melalui perjanjian pengangkutan. ia harus membayar biaya pengangkutan lebih dahulu. 2. pengatur muatan. 7 .1. Pihak-pihak yang berkepentingan dalam perjanjian itu masing-masing mempunyai kewajiban dan hak secara bertimbal balik. Subyek perjanjian pengangkutan meliputi pihak-pihak yang berkepentingan dalam pengangkutan yang terdiri dari pengangkut. Menyerahkan barang yang diangkut kepada penerima dengan sebaik-baiknya dalam keadaan lengkap. permata dan barang berharga lainnya. tujuan yang hendak dicapai. eksportir. Tujuan yang hendak dicapai meliputi tibanya barang atau penumpang di tempat tujuan dengan selamat dan lunasnya pembayaran biaya pengangkutan. 2. pengirim. yaitu sebagai pendukung kewajiban dan hak dalam pengangkutan. Dalam pengertian tujuan termasuk juga segi kepentingan pihak-pihak dan kepentingan masyarakat. Pendukung kewajiban dan hak ini dapat berupa manusia pribadi atau badan hukum. status hukum. yaitu manfaat apa yang mereka peroleh setelah pengangkutan selesai. apabila sifat dan harga barang-barang tersebut diberitahukan kepadanya sebelum atau pada saat penerimaan (Pasal 469 KUHD) dan berdasarkan Pasal 491 KUHD. penerima ataupun eksportir. obyek hukum. keadaan atau cacat barang itu sendiri. baik ia pengangkut. 3. Tetapi pengangkut tidak bertanggung jawab mengganti kerugian apabila ia dapat membuktikan bahwa tidak diserahkan seluruh. Apabila barang yang diangkut itu tidak diserahkan seluruh atau sebagian atau rusak. tidak rusak atau tidak terlambat. Pihak-pihak yang berkepentingan dalam pengangkutan mengadakan persetujuan yang meliputi obyek pengangkutan. penerima wajib membayar biaya pengangkutan kepada pengangkut setelah penyerahan barang dilakukan di tempat tujuan. Tetapi kebiasaan yang berlaku dan diikuti adalah apabila pengirim menyerahkan barang kepada pengangkut. kemudian baru diperhitungkan dengan penerima. 3. Suatu peristiwa yang tidak dapat dicegah atau dihindari terjadi. utuh. menjaga barang yang diangkut dengan sebaik-baiknya. hubungan hukum dan tujuan hukum. Perjanjian pengangkutan barang melalui kapal laut merupakan bagian dari sub sistem tata hukum nasional. memelihara. pengirim. sebagian atau rusaknya barang itu karena : 1. yang terdiri dari komponen-komponen subsistem: subyek hukum. Menyelenggarakan pengangkutan barang dari pelabuhan pemuatan sampai di pelabuhan tujuan dengan selamat. Kesalahan atau kelalaian pengirim sendiri (Pasal 468 ayat 2 KUHD Pengangkut hanya bertanggung jawab terhadap pencurian dan kehilangan emas. Merawat. pengusaha pergudangan. penerima. yaitu hukum keperdataan dagang (perusahaan). peristiwa hukum. pengangkut bertanggung jawab mengganti kerugian kepada pengirim. pengusaha pergudangan (Pihak yang berkepentingan secara langsung terikat dalam perjanjian yang dibuat). uang dan surat berharga serta kerusakan barang berharga yang mudah rusak. Kewajiban pokok ini diimbangi dengan hak atas biaya pengangkutan yang diterima dari pengirim atau penerima. perak. karena pengangkut tidak mempunyai hak retensi bila penerima tidak membayar biaya pengangkutan setelah barang diserahkan kepadanya. Sifat. Subyek pengangkutan mempunyai status yang diakui oleh hukum.

penerima memperoleh manfaat untuk konsumsi pribadi maupun keuntungan komersial. kejadian yang datang dari luar barang atau diri penumpang. ketiga prinsip tanggung jawab mutlak (absolute liability). e. Dengan selamat artinya barang yang diangkut tidak mengalami kerusakan. Tujuan dari pihak pengangkut adalah memperoleh pembayaran biaya pengangkutan. tidak bertentangan dengan ketertiban umum dan tidak bertentangan dengan kesusilaan. Dari kepentingan pengirim. kedua prinsip tanggung jawab berdasarkan praduga (presumption of liability). Pembayaran ini dilakukan pada awal pengangkutan oleh pengirim. kehilangan. 2. 8 . Tujuan pihak-pihak Tujuan pihak-pihak yang diakui sah oleh hukum pengangkutan "tiba di tempat akhir pengangkutan dengan selamat" dan lunas pembayaran biaya pengangkutan. Tujuan ini merupakan keadaan yang dicapai setelah perbuatan selesai dilakukan atau berakhir. TANGGUNG JAWAB PENGANGKUTAN BARANG DENGAN KAPAL LAUT Setidak-tidaknya ada tiga prinsip tanggung jawab pengangkut dalam hukum pengangkutan yaitu pertama prinsip tanggung jawab berdasarkan kesalahan (fault liability). profesi. 1. keahlian di tempat yang dituju (tempat baru). meningkatkan ilmu pengetahuan. tetap seperti semula. Tiba di tempat akhir pengangkutan artinya sampai di tempat yang ditetapkan dalam perjanjian pengangkutan. kekurangan. Dari kepentingan penumpang. d. manfaat c. C. Manfaat atau kenikmatan tersebut adalah sebagai berikut : a. pengirim memperoleh manfaat untuk konsumsi pribadi maupun keuntungan komersial. atau pada akhir pengangkutan setelah penyerahan barang kepada penerima dan penerima membayar biaya pengangkutan. artinya isi perjanjian pengangkutan yang menjadi tujuan itu harus tidak dilarang oleh undang-undang. Tujuan yang diakui sah oleh hukum disebut juga tujuan yang halal menurut Pasal 1320 KUHPerdata. Jika pengaruh itu datang dari dalam barang. Manfaat yang Diperoleh Tercapainya tujuan perjanjian pengangkutan memberi manfaat atau kenikmatan kepada pihak-pihak yang berkepentingan dan masyarakat luas. Dari kepentingan penerima. pengangkut memperoleh manfaat keuntungan material sejumlah uang atau keuntungan immaterial berupa meningkatkan kepercayaan masyarakat atas jasa pengangkutan yang diusahakan oleh pengangkut. melainkan juga kepentingan umum (masyarakat luas). maka pengangkut tidak bertanggung jawab. yang menjadi tanggung jawab pengangkut. Dari kepentingan masyarakat luas. mudah busuk. Dari kepentingan pengangkutan. misalnya terlampau masak. Pengertian "dengan selamat" disini terbatas pada tidak ada pengaruh akibat dari perbuatan. masyarakat memperoleh kebutuhan yang merata dan kelangsungan pembangunan. yaitu unsur keempat : "kausa yang halal". penumpang memperoleh manfaat kesempatan mengemban tugas. b. Tujuan perjanjian pengangkutan tidak hanya mengenai kepentingan pihak-pihak. keadaan. kemusnahan.Tujuan hukum pengangkutan adalah tujuan pihak-pihak dalam pengangkutan yang diakui sah oleh hukum.

bukan pada pihak yang dirugikan. bila ia tidak dapat menyerahkan atau tidak merawat sepatutnya untuk menyelamatkan barang muatan. Menurut ketentuan Pasal 1236 KUHPerdata.5 Timbulnya konsep tanggung jawab karena pengangkutan memenuhi kewajiban tidak sebagaimana mestinya. Laut dan Udara. Hal ini terbukti dari antara lain ketentuan salah satu pasal berikut ini. Pengangkut tidak dimungkinkan membebaskan diri dari tanggung jawab dengan alasan apapun yang menimbulkan kerugian itu. hlm. 3. Prinsip ini tidak mengenal beban pembuktian tentang kesalahan. Unsur kesalahan tidak relevan. 1994. atau tidak baik atau tidak jujur atau tidak dipenuhi sama sekali. Beban pembuktian ada pada pihak pengangkut. Prinsip Tanggung Jawab Mutlak Menurut prinsip ini pengangkut harus bertanggung jawab membayar ganti kerugian terhadap setiap kerugian yang timbul dari pengangkutan yang diselenggarakannya tanpa keharusan pembuktian ada tidaknya kesalahan pengangkut. PT. kerugian dan bunga itu pada umumnya terdiri dari kerugian yang telah diderita dan laba yang sedianya akan diterima. Dalam Pasal 468 ayat 2 KUHD ditentukan bahwa apabila barang yang diangkut itu tidak diserahkan seluruh atau sebagian. pengangkut bertanggung jawab mengganti kerugian kepada pengirim. Prinsip Tanggung Jawab Berdasarkan Kesalahan Menurut prinsip ini setiap pengangkut yang melakukan kesalahan dalam penyelenggaraan pengangkutan harus bertanggung jawab membayar ganti kerugian atas segala kerugian yang timbul dari kesalahannya itu. Hukum Pengangkutan Darat. Abdulkadir Muhammad. 27 5 9 . atau peristiwa yang menimbulkan kerugian itu tidak mungkin dihindari. 2.1. kerugian yang diderita dan bunga yang layak diterima. ternyata undang-undang pengangkutan yang mengatur ketiga jenis pengangkutan tersebut menganut prinsip tanggung jawab berdasarkan praduga. Yang dimaksud dengan tidak bersalah adalah tidak melakukan kelalaian. laut dan udara di Indonesia. Pasal 1246 KUHPerdata menentukan bahwa biaya. Prinsip Tanggung Jawab Berdasarkan Praduga Menurut prinsip ini pengangkut dianggap selalu bertanggung jawab atas setiap kerugian yang timbul dari pengangkutan yang diselenggarakannya. Pihak yang menderita kerugian harus membuktikan kesalahan pengangkut itu. bukan pada pengangkut. Citra Aditya Bakti. Prinsip ini adalah yang umum berlaku seperti yang diatur dalam Pasal 1365 KUHPerdata tentang Perbuatan Melawan Hukum. pengangkut wajib membayar ganti kerugian atas biaya. Beban pembuktian ada pada pihak yang dirugikan. Luas tanggung jawab pengangkut ditentukan dalam Pasal 1236 dan 1246 KUHPerdata. Pihak yang dirugikan cukup menunjukkan adanya kerugian yang diderita dalam pengangkutan yang diselenggarakan oleh pengangkut. Apabila prinsip-prinsip ini dihubungkan dengan undang-undang yang mengatur pengangkutan darat. Jakarta. telah mengambil tindakan yang perlu untuk menghindari kerugian. maka ia dibebaskan dari kewajiban membayar ganti rugi. tetapi jika pengangkut dapat membuktikan bahwa ia tidak bersalah. atau rusak. Tetapi pengangkut tidak bertanggung jawab mengganti kerugian apabila ia dapat membuktikan bahwa tidak diserahkan seluruh atau sebagian atau rusaknya brang itu karena suatu peristiwa yang tidak dapat dicegah atau dihindari terjadi.

Dalam hal pengangkutan barang di laut yang lebih ditekankan mengenai kesepakatan mengenai tarif bea masuk. Kewajiban pihak pengangkut adalah menyelenggarakan pengangkutan dari tempat tertentu ke tempat tujuan dengan alamat. kedua prinsip tanggung jawab berdasarkan praduga (presumption of liability). B. Sedangkan kewajiban pihak pengirim atau penumpang adalah membayar biaya pengangkutan. Tujuan yang diakui sah oleh hukum disebut juga tujuan yang halal. pengatur muatan.BAB III PENUTUP A. yaitu sebagai pendukung kewajiban dan hak dalam pengangkutan. Masing-masing pihak yang berkepentingan dalam pengangkutan hendaknya melakukan tanggung jawabnya masing-masing dengan maksimal demi terpenuhinya hak pihak lainnya dengan baik. pengirim. Setidak-tidaknya ada tiga prinsip tanggung jawab pengangkut dalam hukum pengangkutan yaitu pertama prinsip tanggung jawab berdasarkan kesalahan (fault liability). eksportir. Tujuan hukum pengangkutan adalah tujuan pihak-pihak dalam pengangkutan yang diakui sah oleh hukum. KESIMPULAN Dalam perjanjian pengangkutan barang di laut terlebih dahulu ada perjanjian perdagangan antara kedua negara. maka dapat diberikan beberapa saran. Mengenai kapan perjanjian pengangkutan itu terjadi dan mengikat pihak-pihak. 2. ketiga prinsip tanggung jawab mutlak (absolute liability). maka kebiasaan yang hidup dalam praktek pengangkutan diikuti. SARAN Berdasarkan kesimpulan tersebut diatas. sebagai berikut: 1. 10 . Dalam KUHD ada ketentuan yang mengatur saat terjadi persetujuan kehendak Subyek perjanjian pengangkutan meliputi pihak-pihak yang berkepentingan dalam pengangkutan yang terdiri dari pengangkut. demi terlaksananya sebuah pengangkutan yang baik dan terlindunginya kepentingan masng-masing pihak itu sendiri. Masing-masing pihak yang berkepentingan dalam pengangkutan hendaknya memperhatikan dengan baik setiap tahapan proses.tujuan hukum pengangkutan adalah terpenuhinya kewajiban dan hak pihak-pihak dalam pengangkutan. Dalam hal tidak ada ketentuan. Hal ini akan membuat sebuah pengangkutan tidak hanya menjadi sebuah aktivitas bisnis namun akan menjadi sebuah hubungan bisnis yang langgeng dan menguntungkan. penerima. pengusaha pergudangan Subyek pengangkutan mempunyai status yang diakui oleh hukum. sebagian ada ditentukan dalam undang-undang dan sebagian lagi tidak ada.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful