I.

Hukum Adat di Indonesia Hukum adat adalah sistem hukum yang dikenal dalam lingkungan kehidupan sosial di Indonesia dan negara-negara Asia lainnya. Sumbernya adalah peraturan-peraturan hukum tidak tertulis yang tumbuh dan berkembang dan dipertahankan dengan kesadaran hukum masyarakatnya, sehingga hukum adat memiliki kemampuan menyesuaikan diri dan elastis. Hukum Adat berbeda di tiap daerah karena pengaruh agama, kerajaan, dan masuknya bangsa lain. Penegak hukum adat adalah pemuka adat sebagai pemimpin yang sangat disegani dan besar pengaruhnya dalam lingkungan masyarakat adat untuk menjaga keutuhan hidup sejahtera. Dari 19 daerah lingkungan hukum (rechtskring) di Indonesia, sistem hukum adat dibagi dalam tiga kelompok, yaitu hukum adat mengenai tata negara, hukum adat mengenai warga (hukum pertalian sanak, hukum tanah, hukum perhutangan), dan hukum adat menganai delik (hukum pidana). Menurut Cornelis van Vollenhoven daerah di Nusantara menurut hukum adat bisa dibagi menjadi 23 lingkungan adat yaitu Aceh, Gayo dan Batak, Nias dan sekitarnya, Minangkabau, Mentawai, Sumatra Selatan, Enggano, Melayu, Bangka dan Belitung, Kalimantan (Dayak), Sangihe-Talaud, Gorontalo, Toraja, Sulawesi Selatan (Bugis/Makassar), Maluku Utara, Maluku Ambon, Maluku Tenggara, Papua, Nusa Tenggara dan Timor, Bali dan Lombok, Jawa dan Madura (Jawa Pesisiran), Jawa Mataraman, serta Jawa Barat (Sunda) II. Sejarah Perkembangan Hukum Adat di Indonesia A. Sebelum Kemerdekaan 1. Zaman Hindu Ini merupakan zaman di mana kerajaan-kerajaan yang ada dipengaruhi oleh agama Hindu dan sebagian kecil agama Budha, contohnya Kerajaan Sriwijaya, Medang, Singosari, dan Majapahit . Hal ini terlihat adanya pembagian-pembagian kasta dalam bidang pemerintahan dan peradilan. 2. Zaman Islam
1

Pasai dan Perlak) pengaruh Islam sangat kuat. hukum adat sama dengan hukum Islam dan kedudukannya lebih rendah dari hukum Eropa. B. 3. tetapi termuat dalam Pembukaan UUD 1945 alinea IV dan Pasal II Aturan Peralihan. sedangkan hukum perundangan dan hukum adat tidak mendapat perhatian saat itu. Kalimantan dan Sulawesi. Peraturan pada masa pemerintahan Belanda tetap berlaku selama tidak bertentangan dengan hukum militer. 1 Balatentara Jepang 1942 pasal 3. Penerapannya bersifat opportunitas (tergantung kebutuhan). Masa Pendudukan Jepang Masa itu berlaku hukum militer. Hukum adat identik dengan hukum agama. 4. Lampung. Hukum adat sendiri kedudukannya dianggap lebih rendah dari hukum Eropa. 2 .Di daerah Aceh (Kerj. Masa pemerintahan Raffles dan Daendels Menurut keduanya. Masa UUD 1945 (17 Agustus 1945 – 27 Desember 1945) Secara tegas hukum adat tidak ditentukan dalam satu pasal pun. Jawa. Dan kebanyakan hanya mempengaruhi bidang kerohanian saja. Ketentuan ini diatur pada UU No. Sumatera Selatan (Palembang). di daerahdaerah lain seperti Minangkabau. sehingga hanya berlaku untuk pribumi. adanya agama Islam yang mempengaruhi hukum adat dibawa oleh para pedagang. Zaman VOC (1596 – 1608 / 1600 – 1800) Hukum adat berlaku untuk penduduk pribumi. 2. Menurut pemerintah VOC. Konstitusi RIS (27 Desember 1949 – 17 Agustus 1950) Di dalam konstitusi RIS mengenai hukum adat antara lain Pasal 144 (1) tentang hakim adat dan hakim agama. Bali. Sesudah Kemerdekaan 1. 5. Pasal 145 (2) tentang pengadilan adat. dan Pasal 146 (1) tentang aturan hukum adat yang menjadi dasar hukuman.

Pasal 23 ayat 1. Kelompok pertama adalah. UUDS 1950 (17 Agustus 1950 – 5 Juli 1959) Pasal 104 ayat 1 UUDS 1950 isinya : Dimana istilah hukum adat digunakan dengan jelas untuk dapat dipergunakan sebagai dasar menjatuhkan hukuman oleh pengadilan di dalam keputusan-keputusannya. Jadi dasar hukum adat sekarang adalah Dekrit Presiden 5 Juli 1959. III. berpakaian. Tap MPR No. 14/1970 tentang Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman.3. II/1074 (Repelita Kedua 1974/1975 – 1978/1979). maka ada kalangan lain yang mengelompokan mereka dari perspektif sosio-ekologis. Sedangkan kelompok kedua adalah. (pasal peralihan UUD 1945). Tap MPR No. UU No. 19/1964 jo UU No. II/MPRS/1960 tentang “Pembinaan Hukum Nasional”. Kedudukan Hukum Adat dalam Tata Hukum Indonesia Hukum Adat dijadikan dasar bagi terbentuknya hukum nasional dalam rangka pembangunan hukum. 14/1970 tentang Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman. peladang berpindah (ulang-alik) dan petani menetap. dan Tap MPR No. Pasal 24 UUD 1945. Pasal 23 ayat 1 UUD 1945. Hal ini dapat dilihat dalam Tap MPRS No. Masyarakat Kasepuhan dan Masyarakat Suku Naga yang juga cukup ketat dalam memelihara dan menjalankan adat tetapi masih membuka ruang cukup luas bagi adanya hubungan-hubungan ‘komersil’ dengan dunia luar. 4. IV/MPR/197. 5. II/MPRS/1960. Tap MPRS No. Politik hokum Indonesia terhadap hukum adat tercantum dalam Tap MPRS No.5 tahun 1960 pasal 5. dan UU No. antara lain. pola makan mereka dll. II/MPR/1978. 3 . II/MPR/1997. 11/MPRS/1960. UUD 1945 (berdasarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959) termuat dalam Pasal II Aturan Peralihan UUD 1945. Keppress RI No. UU No. antara lain. Persekutuan Masyarakat Adat Sebagian antropolog dan ekolog mengelompokkan masyarakat adat dalam kelompok pemburu-peramu. kelompok Masyarakat Kanekes di Banten dan Masyarakat Kajang di Sulawesi Selatan yang menempatkan diri sebagai “pertapa-bumi” yang percaya bahwa mereka adalah kelompok masyarakat ‘terpilih’ yang bertugas memelihara kelestarian bumi dengan berdoa dan hidup prihatin. Pilihan hidup prihatin mereka dapat dilihat dari adat tentang bertani.

Menyadari keragaman dari masyarakat adat. IV. Masuk dalam kelompok ini misalnya Masyarakat Adat Dayak dan Masyarakat Penan di Kalimantan. laut dll) dan mengembangkan sistem pengelolaan yang unik tetapi tidak mengembangkan adat yang ketat untuk perumahan maupun pemilihan jenis tanaman kalau dibanding dengan Masyarakat Kanekes maupun Kasepuhan. antara lain. maka siapapun tidak berhak untuk mengambil spesies tersebut. Masyarakat Dani dan Masyarakat Deponsoro di Papua Barat. Mereka yang dapat dimasukkan dalam kelompok ini adalah. Sasi ikan lompa di Pulau Haruku sangat terkenal sebagai satu acara tahunan yang unik bagi masyarakat di Pulau Haruku dan Ambon (sebelum kerusuhan terjadi) yang menunjukkan salah satu bentuk kearifan tradisional dalam menjaga kelestarian lingkungan. untuk kemudian di panen ketika sasi dibuka lagi. Pada umumnya mereka memiliki sistim pengelolaan sumber daya alam yang luar biasa (menunjukkan tingginya ilmu pengetahuan mereka) dan dekat sekali dengan alam. Sebagai 4 . masyarakat Melayu Deli yang bermukim di wilayah perkebunan tembakau di Sumatera Utara dan menyebut dirinya sebagai Rakyat Penunggu. Dengan ditetapkannya sasi atas spesies dan di wilayah tertentu oleh Kewang (semacam polisi adat di Maluku Tengah). sungai. sesungguhnya masih banyak pengelompokan yang dapat dikembangkan termasuk.Kelompok ketiga adalah Masyarakat-masyarakat adat yang hidup tergantung dari alam (hutan. untuk Masyarakat Punan dan Sama (Bajao) yang lebih cenderung hidup secara nomadik baik di hutan maupun di laut. Kelompok keempat adalah mereka yang sudah tercerabut dari tatanan pengelolaan sumber daya alam yang “asli” sebagai akibat dari penjajahan yang telah berkembang selama ratusan tahun. Masyarakat Krui di Lampung dan Masyarakat Kei maupun Masyarakat Haruku di Maluku. Di Maluku dan Papua masyarakat adat yang tinggal di pulau-pulau kecil maupun di wilayah pesisir memiliki sistem ‘sasi’ atau larangan memanen atau mengambil dari alam untuk waktu tertentu. Ciri-Ciri Kepemimpinan Adat Seringkali pemimpin pemerintahan dikategorikan sebagai pemimpin formal dan para pemimpin adat sebagai pemimpin informal. Pada masyarakat adat. dualisme kepemimpinan pemerintah/negara dan adat ini ada kalanya menimbulkan berbagai permasalahan. Ketentuan ini memungkinkan adanya pengembangbiakan dan membesarnya si ikan lompa. misalnya. Masyarakat Pakava dan Lindu di Sulawesi Tengah.

pemimpin mengemban mandat yang dipercayakan rakyat kepada dirinya. yang berjuang untuk kepentingan anggotanya dengan menggunakan cara-cara yang demokratis pula. Dalam kondisi krisis legitimasi ini. maka perlu diterapkannya prinsip-prinsip demokrasi dalam kepemimpinan masyarakat adat : 1. Pusat kekuasaan tidak ada berada pada pemimpin. pemimpin masyarakat adat menerapkan tipe kepemimpinan yang demokratis. melainkan ada pada rakyat. maka partisipasi masyarakat memegang peranan penting untuk terlibat aktif di dalamnya. sementara di sisi lain masyarakat tetap mempercayai pemimpin adat. Lingkungan Masyarakat Adat Seiring dengan pesatnya pembangunan dan meningkatnya kebutuhan manusia. 5 . 3. Proses pemilihan yang demokratis didasarkan aturan main yang disepakati bersama. baik secara langsung atau tidak mempengaruhi dan mengubah kondisi dan keadaan dari lingkungan sosial sebelumnya. Akibatnya keserasian lingkungan sosial menjadi terganggu bahkan bisa berubahubah dengan tempo yang tidak menentu dan dikhawatirkan akan mempengaruhi eksistensi pranata dan norma serta nilai-nilai kekerabatan yang dimiliki oleh komunitas adat terpencil akan tergerus. Oleh karena itu. Dalam menjalankan fungsinya. pemberdayaan lingkungan sosial bagi komunitas adat terpencil perlu dilakukan agar dapat mempertahankan dan membendung pengaruh-pengaruh yang dapat mengancam eksistensi pranata dan norma serta nilai-nilai kekerabatan yang dimiliki oleh komunitas adat terpencil. Proses regenerasi pemimpin yang demokratis dimana setiap warga masyarakat yang memiliki kemampuan leadership memiliki hak sekaligus tanggung jawab untuk menjadi pemimpin. V. 2. baik dari segi kriteria maupun mekanisme pemilihan. pemerintah/negara jelas mengakui pemimpin formal seperti misalnya kepala desa / lurah. Dalam kerangka mencapai tujuan ini. berbagai macam permasalahan lingkungan sosial komunitas adat terpencil timbul. Konsep partisipasi di sini diartikan sebagai pelibatan dan keterlibatan seluruh elemen masyarakat dalam upaya mencapai kesejahteraan seluruh anggota masyarakat.contoh adalah masalah legitimasi.

sebagian kelompok memposisikan mereka sebagai kelompok yang diidealkan dalam berhubungan dengan alam dengan menekankan pada realita akan adanya hubungan spiritualitas dari masyarakat-masyarakat adat dengan alam. Sedangkan kelompok lain. DAFTAR PUSTAKA Moh. kita seharusnya merasa beruntung dengan adanya masyarakat-masyarakat adat yang barangkali berjumlah lebih dari seribu kelompok. Catatan-Catatan Terhadap Hukum Adat Dewasa Ini. Keragaman ini dapat dilihat dari segi budaya. 1992. 1979. termasuk pemerintah orde baru. Bandung: Mandar Maju. 6 . serta organisasi ekonomi dan sosial. Ada lebih dari seribu bahasa yang telah dimanfaatkan dan dapat membantu pengembangan khasanah bahasa Indonesia dan masih banyak lagi hal lain yang bisa mereka sumbangkan. Dalam kaitannya dengan permasalahan lingkungan hidup. Pengantar Ilmu Hukum Adat Indonesia. Di Indonesia. Keberadaan mereka merupakan suatu kekayaan bangsa karena artinya ada lebih dari seribu ragam ilmu pengetahuan yang telah mereka kembangkan. Koesnoe. Hilman.Aspek terpenting yang harus diketahui dan disadari oleh pihak-pihak yang ingin memahami permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat adat adalah kenyataan tentang keragaman mereka. Surabaya : Airlangga University Press. agama dan atau kepercayaan. mereka dianggap sebagai penghambat utama dari perkembangan “kemajuan” khususnya dari segi ekonomi.

wordpress. Artikel Masyarakat Adat.com/2007/ artikel-masyarakat-adat. Diunduh (http://rumahapresiasi. Diunduh (http://www.ireyogya.htm).. Krisdyatmiko.org/adat/mo dul _ kepemimpinan. Kamis. 7 .com/2009/ 05/sejarah-hukum-adat. 2009. Diunduh (http://mklh3sejarahhukumadat. Kamis. 2007. 24 September 2009 pukul 16. Modul Kepemimpinan Adat.Defli. 24 September 2009 pukul 16. Kamis. 24 September 2009 pukul 16. Sejarah Hukum Adat.html).34 WIB.blogspot.34 WIB Adjhee.html). 2009.33 WIB.