P. 1
Analisis Hukum Penyelesaian Hutang Piutang Perseroan Terbatas Dalam Likuidasi_Agung Yuriandi

Analisis Hukum Penyelesaian Hutang Piutang Perseroan Terbatas Dalam Likuidasi_Agung Yuriandi

|Views: 4,874|Likes:
Published by Agung Yuriandi
Likuidasi perusahaan dilakukan oleh perorangan atau badan hukum dengan dasar RUPS. Namun, permasalahan yang didapati oleh Likuidator adalah proses pembayaran hutang dan penagihan piutang.
Likuidasi perusahaan dilakukan oleh perorangan atau badan hukum dengan dasar RUPS. Namun, permasalahan yang didapati oleh Likuidator adalah proses pembayaran hutang dan penagihan piutang.

More info:

Categories:Types, Research, Law
Published by: Agung Yuriandi on Mar 18, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

06/22/2015

ANALISIS HUKUM PENYELESAIAN HUTANG PIUTANG PERSEROAN TERBATAS DALAM LIKUIDASI Oleh : Agung Yuriandi Medan 2011

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Dalam dunia usaha, suatu perusahaan tidak selalu berjalan dengan baik, dan acapkali keadaan keuangannya sudah sedemikian rupa sehingga perusahaan tersebut tidak lagi sanggup membayar utang-utangnya. Hal demikian dapat pula terjadi terhadap perorangan yang melakukan suatu usaha.1 Kehidupan suatu perusahaan dapat saja dalam kondisi untung atau keadaan rugi. Kalau keadaan untung, perusahaan berkembang dan berkembang terus, sehingga menjadi perusahaan raksasa. Sebaliknya, apabila kondisi perusahaan menderita kerugian, maka garis hidupnya menurun. Jadi, garis hidup suatu perusahaan pada suatu saat naik dan pada saat lain menurun, begitu seterusnya, sehingga garis hidup perusahaan itu merupakan garis yang menaik dan menurun seperti grafik. Sebagian perusahaan dapat mempertahankan hidupnya, tetapi sebagian tidak dapat mempertahankan lagi hidupnya, akhirnya perusahaan tersebut terpaksa gulung tikar.
Victor M. Situmorang dan Hendri Soekarso, Pengantar Hukum Kepailitan di Indonesia, (Jakarta : Rineka Cipta, 1994), hal. 1., sebagaimana dikutip Elvira Dewi Ginting, ”Analisis Hukum Mengenai Pengaturan Reorganisasi Perusahaan Dalam Kaitannya Dengan Hukum Kepalitan”, (Tesis : Program Studi Magister Ilmu Hukum Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara, 2005), hal. 1.
1

2

Kegagalan perusahaan dalam menjalankan aktivitas bisnisnya, terutama dalam memenuhi kewajibannya kepada pihak lain, dapat disebabkan oleh kondisi internal dan eksternal. Kondisi internal biasanya diakibatkan mismanagement dan fraud yang dilakukan oleh kalangan internal perusahaan, dimulai dari Pemegang Saham, Komisaris, Direksi, karyawan maupun pihak terkait yang dapat mengendalikan perusahaan secara tidak langsung.2 Kondisi eksternal adalah kondisi di luar jangkauan pihak perusahaan yang berdampak kepada kinerja perusahaan, antara lain kebijakan pemerintah atau publik dan kondisi makro ekonomi di suatu negara maupun global. Dalam rangka pengembangan suatu perusahaan mungkin atau pasti mempunyai hutang. Bagi suatu perusahaan, hutang bukanlah merupakan sesuatu yang buruk, asal perusahaan itu masih dapat membayar kembali. Perusahaan yang seperti ini disebut perusahaan yang solvable artinya perusahaan yang mampu membayar hutang-hutangnya. Sebaliknya, jika suatu perusahaan yang sudah tidak mampu membayar hutang-hutangnya lagi disebut insolvensi, artinya tidak mampu membayar. Istilah hukumnya insolvensi menunjukkan pada suatu kumpulan dari aturan-aturan yang mengatur hubungan debitor (yang berada dalam kesulitan pembayaran akibat ketidakmampuan finansial) dengan para kreditornya.3 Dalam meningkatkan pendapatan perusahaan dibutuhkan cash flow yang baik. Cash flow adalah arus kas yang masuk dan keluar dari rekening perusahaan. Apakah pemasukan lebih sedikit dari pengeluaran ataukah pemasukan lebih besar dari
Hermansyah, Hukum Perbankan Nasional Indonesia, (Jakarta : Kencana Prenada Media Group 2007), hal 149. 3 J. B. Huizink, Insolventie, Alih Bahasa Linus Doludjawa, (Jakarta : Pusat Studi Hukum dan Ekonomi Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2004), hal. 21., sebagaimana dikutip Elvira Dewi Ginting, Loc.cit., hal. 1-2.
2

3

pengeluaran. Pendapatan perusahaan adalah hal yang penting untuk ditingkatkan, begitu juga dengan pengeluaran perusahaan yang harus ditekan (cut spending). Dalam dunia perbankan harus memperhatikan cara menyimpan pendapatan, bukan hanya meningkatkan pendapatan. Maka, sebelum mendirikan sebuah perusahaan sebaiknya diperhatikan perusahaan tersebut bergerak dalam bidang usaha apa, bagaimana kinerjanya, bagaimana manajemennya, dan lain sebagainya. Krisis moneter yang melanda hampir seluruh belahan dunia di pertengahan tahun 1997 telah memporak-porandakan sendi-sendi perekonomian. Dunia usaha merupakan dunia yang paling menderita dan merasakan dampak krisis yang tengah melanda. Hal ini juga dirasakan oleh Indonesia, yang mengakibatkan Indonesia telah mengalami krisis kepercayaan khususnya terhadap perbankan. Kondisi perbankan di Indonesia telah mengalami masalah-masalah yang menuju suatu kehancuran akibat krisis ekonomi yang diawali oleh krisis nilai tukar. Krisis tersebut telah menyebabkan kinerja perekonomian Indonesia menurun tajam, dan kemudian berubah menjadi krisis yang berkepanjangan di berbagai bidang usaha. Proses penyebaran krisis berkembang cepat mengingat tingginya keterbukaan perekonomian Indonesia dan ketergantungan pada sektor luar negeri yang sangat besar. 4 Dalam dunia bisnis, masalah di perusahaan sudah pasti berbagai macam ragam. Setiap perusahaan pastinya menghadapi masalah, jika ada masalah berarti perusahaan tersebut berkembang ke arah yang lebih baik. Keberhasilan sebuah perusahaan bukan hanya diukur dengan besar kecil perusahaan melainkan seberapa
Zulkarnain Sitompul, Perlindungan Dana Nasabah : Suatu Gagasan Tentang Pendirian Lembaga Penjamin Simpanan di Indonesia, (Jakarta : Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2002), hal. 2., sebagaimana dikutip Ibid., hal. 2.
4

4

baik perusahaan itu keluar dari masalah tersebut.5 Adapun masalah yang sering dihadapi oleh perusahaan, antara lain : hutang-piutang; karyawan; investasi; perpajakan; dan lain sebagainya. Dalam penelitian ini akan dibahas mengenai hutang-piutang perseroan terbatas dalam likuidasi. Pada umumnya dalam transaksi jual beli untuk penyerahan dan pembayaran atas barang yang dibeli terjadi pada waktu yang sama. Hal ini berarti modal kerja atau modal usaha si penjual cepat diperolehnya kembali dan langsung dipakai untuk perputaran bisnis selanjutnya. Namun, dalam hal ini tidak jarang pelaksanaan pembayaran dari pembeli itu baru dapat ditunaikan berdassakan kesepakatan di antara mereka dalam tenggang waktu tertentu, misalnya sekitar dua sampai empat bulan berikutnya. Kondisi sebelum dilaksanakan konsekuenssi timbulnya hak tagih dari pihak penjual sehingga keadaan ini disebut masa penagihan (collection period). Hak tagih atas piutang ini dalam dunia ekonomi dikenal sebagai piutang dagang (account receivable). 6 Dalam hal perusahaan sudah tidak beroperasi lagi diakibatkan oleh kemunduran pendapatan perusahaan, maka pemegang saham dapat mengadakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) untuk membubarkan perusahaan tersebut. Namun, oleh karena perseroan merupakan badan hukum yang lahir dan diciptakan berdasarkan proses hukum (created by a legal process), maka pembubaran perseroan juga harus melalui proses hukum pula. Pembubaran perseroan tidak mempunyai arti identik dengan ”berakhirnya” eksistensi perseroan. Perseroan adalah subjek hukum,
Bismar Nasution, “Catatan Perkuliahan : Hukum Perusahaan”, (Medan : Program Studi Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, 2009). 6 Rinus Pantouw, Hak Tagih Factor Atas Piutang Dagang, (Jakarta : Kencana, 2006), hal. 1.
5

5

memiliki aktiva dan passiva. Setelah pembubarannya diucapkan, eksistensinya tetap ada dengan dengan catatan bahwa posisinya itu dalam stadium likuidasi (pemberesan). Hak yang dimilikinya harus direalisasikan dan kewajiban yang dipikul wajib dipenuhi. Perusahaan tidak boleh lagi melakukan hak dan kewajibannya itu. Perusahaan itu ada sepanjang diperlukan untuk pemberesan.7 Pembubaran Perseroan menurut hukum sesuai dengan ketentuan Pasal 143 ayat (1) Undang-Undang No. 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas mempunyai arti : a. Penghentian kegiatan usaha Perseroan; b. Namun penghentian kegiatan usaha itu, tidak mengakibatkan status hukumnya hilang; dan c. Perseroan yang dibubarkan baru kehilangan status badan hukumnya, sampai selesainya likuidasi, dan pertanggung jawaban likuidator proses akhir likuidasi diterima oleh RUPS, Pengadilan Negeri, atau Hakim Pengawas.

Berdasarkan Pasal 142 ayat (1) Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dinyatakan, pembubaran perseroan terjadi8 : a. “Berdasarkan keputusan RUPS; b. Karena jangka waktu berdirinya yang ditetapkan dalam anggaran dasar telah berakhir; c. Berdasarkan penetapan pengadilan;

Mariam Darus Badrulzaman dalam Rachmadi Usman, Aspek-Aspek Hukum Perbankan di Indonesia, (Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 2001), hal. 168. 8 Pasal 142 ayat (1) Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 106, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4756.

7

6

d. Dengan dicabutnya kepailitan berdasarkan putusan pengadilan niaga yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap, harta pailit Perseroan tidak cukup untuk membayar biaya kepailitan; e. Karena harta pailit Perseroan yang telah dinyatakan Pailit berada dalam keadaan insolvensi sebagaimana diatur dalam Undang-Undang tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang ; atau f. Karena dicabutnya izin usaha Perseroan sehingga mewajibkan Perseroan melakukan likuidasi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan”. Likuidasi (vereffening, winding-up) mengandung arti pemberesan

penyelesaian dan pengakhiran urusan Perseroan setelah adanya keputusan, apakah itu berdasar keputusan RUPS, atau berdasar Penetapan Pengadilan yang menghentikan atau membubarkan Perseroan. Selama penyelesaian pembubaran atau pemberesan berjalan, Perseroan itu berstatus “Perseroan dalam Penyelesaian” yang oleh pasal 143 ayat (2) disebut Perseroan “Dalam Likuidasi”. Kata tersebut harus dicantumkan dibelakang nama Perseroan pada setiap surat keluar Perseroan. 9 Pengertian likuidasi yang disebutkan di atas, tidak jauh berbeda dengan apa yang dirumuskan dalam Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 1999 tentang Pencabutan Izin Usaha, Pembubaran, dan Likuidasi Bank. 10 Disebutkan dalam Pasal 1 angka 4, bahwa yang dimaksud dengan likuidasi bank adalah tindakan penyelesaian seluruh hak dan kewajiban bank sebagai akibat pencabutan izin usaha dan pembubaran badan hukum bank. Ini berarti, likuidasi bank merupakan kelanjutan dari tindakan pencabutan izin usaha dan pembubaran badan hukum bank, begitu juga dengan Perseroan Terbatas. Pada akhirnya akan ditunjuk suatu tim yang bertugas

Pasal 143 ayat (2) Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, Ibid. Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 1999 tentang Pencabutan Izin Usaha, Pembubaran, dan Likuidasi Bank, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 52, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3831.
10

9

7

melakukan pemberesan Perseroan Terbatas yang telah dicabut izin usahanya oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan. Apabila terjadi pembubaran Perseroan baik berdasarkan keputusan RUPS, karena jangka waktu berdiri yang ditetapkan dalam Anggaran Dasar telah berakhir atau dengan dicabutnya kepailitan berdasarkan keputusan Pengadilan Niaga yang telah berkekuatan hukum tetap, maka pembubaran itu wajib diikuti dengan likuidasi. Pihak yang melakukan likuidasi dalam pembubaran Perseroan adalah Likuidator. Salah satu tugas terberat dari likuidator dalam proses likuidasi perusahaan ini adalah penyelesaian utang dan penagihan piutang perusahaan pada pihak ketiga. Sebagaimana diketahui Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, dalam hal pengaturan tentang pembubaran dan likuidasi perusahaan diatur dalam Bab X, dalam pasal-pasal tersebut sama sekali tidak dijumpai adanya pengaturan tentang penyelesaian hutang piutang pada perusahaan yang sedang dilikuidasi. Sehingga likuidator dalam melakukan penyelesaian hutang piutang ini mengacu pada Kitab Undang-undang Hukum Perdata. Dalam proses pembayaran hutang dan penagihan piutang inilah sering timbul konflik, yang terkadang harus diselesaikan melalui jalur hukum dengan proses gugat-menggugat di Pengadilan. Dalam proses pembayaran utang dan penagihan piutang ini sering timbul konflik, yang terkadang harus diselesaikan melalui jalur hukum di Pengadilan. Ada perbedaan signifikan antara kondisi kesulitan keuangan, kebangkrutan (pailit) dan likuidasi. Perusahaan dikatakan mengalami kesulitan keuangan jika perusahaan tidak mampu membayar kewajibannya sesuai dengan tenggang waktu yang telah disepakati. Pada umumnya, kesulitan keuangan diawali dengan

8

tertundanya pembayaran utang pemasok, kemudian diikuti dengan terlambatnya pembayaran bunga pinjaman dan diakhiri dengan katidakmampuan perusahaan membayar pokok pinjaman pada bank atau kreditor lainnya. Restrukturisasi utang dapat menjadi solusi untuk kondisi ini. Pihak perusahaan dapat melakukan negosiasi dengan para kreditor untuk memberikan kemudahan dengan cara menurunkan suku bunga kredit, memperpanjang jangka waktu pinjaman, atau bahkan sampai disetujuinya tidak dibebankan bunga pinjaman selama periode tertentu. Pada dasarnya, masa-masa kesulitan keuangan menyebabkan para kreditor menjadi disibukkan untuk mencari cara agar pinjaman yang telah diberikan nantinya tetap dapat dikembalikan oleh peminjam.11 Istilah kebangkrutan (kapailitan) sering dirancukan dengan istilah likuidasi. Hati-hati dengan istilah bangkrut. Kondisi kebangkrutan bisa berarti bahwa perusahaan sedang melakukan proses reorganisasi di bawah pengawasan pengadilan. Dalam literatur dari Amerika Serikat terkenal dengan istilah Chapter 11.12 berbeda dengan literatur dari Inggris, istilah bangkrut hanya diterapkan untuk individu, bukan perusahaan. Untuk perusahaan, mereka mengenal istilah insolvensi. 13

Candra Dermawan, “Kesulitan Kuangan, Kebangkrutan, dan Likuidasi”, http://candra.us/blog/?p=91., diakses pada 14 Maret 2011. 12 Chapter 11 adalah Undang-Undang Kepailitan Amerika Serikat atau populer dengan sebutan Chapter 11 adalah satu peraturan tentang Reorganisasi sesuai dengan hukum kepailitan Amerika Serikat. Bidang usaha berbentuk apapun bisa meminta perlindungan Chapter 11 UndangUndang Kepailitan termasuk perseroan, perusahaan perseorangan, atau perorangan yang memiliki utang tanpa jaminan paling sedikit US$. 336.900,- atau utang beragun paling sedikit US$. 1.010.650,-. Walaupun demikian, perlindungan Chapter 11 ini sebagian besar hanya diajukan oleh badan perseroan. Dalam Wikipedia, ”Chapter 11 Undang-Undang Kepailitan Amerika Serikat”, http://id.wikipedia.org/wiki/Bab_11_Undang-Undang_Kepailitan_Amerika_Serikat., diakses pada 14 Maret 2011. 13 Candra Dermawan, Loc.cit.

11

9

Jadi apabila manajer mengatakan

bahwa perusahaannya mengalami

kebangkrutan (Chapter 11), berarti perusahaan masih memiliki 2 pilihan. Pertama, perusahaan akan membaik. Perusahaan dapat melewati krisis keuangan dan keluar dari kebangkrutan sebagai perusahaan yang sehat. Istilahnya, perusahaan mengalami turn around. Kedua, perusahaan harus dilikuidasi atau perusahaan mengalami kondisi upside down. Istilah likuidasi (Chapter 7)14 berarti proses penjualan harta dibawah pengawasan pengadilan. Teori keuangan mengatakan bahwa likuidasi terjadi karena 2 hal. Pertama, memang karena perusahaan dalam kesulitan keuangan. Kedua, likuidasi dilakukan karena untuk memaksimumkan kekayaan pemilik. Meskipun perusahaan dalam keadaan sehat, tetapi jika nilai jual harta sekarang melebihi going concern-nya, maka pemilik bisa melikuidasi perusahaan.15 Pada tulisan ini, penulis mengambil contoh kasus pada proses likuidasi PT.Schutter Indonesia.Likuidasi ditempuh oleh PT. Schutter Indonesia pada tahun 2006. Setelah Perusahaan mengadakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) untuk membubarkan Perusahan, dan dilanjutkan RUPS tersebut untuk menentukan likuidator. Selanjutnya likuidator bekerja untuk melikuidasi perusahaan, dan dalam melaksanakan likuidasi ini, likuidator masih berpedoman pada Undang-Undang No. 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas16 dan dalam proses likuidasi PT. Schutter

Chapter 7 adalah suatu proses kebangkrutan dimana perusahaan memberhentikan semua operasi dan keluar dari bisnis atau bidang usaha tersebut. Seorang likuidator ditunjuk untuk melikuidasi (menjual) aset perusahaan, dan uang tersebut digunakan untuk melunasi utang perusahaan. Dalam Investopedia, “Chapter 7”, http://www.investopedia.com/terms/c/chapter7.asp., diakses pada 14 Maret 2011. 15 Ibid. 16 Undang-Undang No. 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 13, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3587.

14

10

Indonesia terdapat beberapa masalah dalam penyelesaian utang dan penagihan piutang perusahaan, seperti adanya utang perusahaan kepada pemegang saham dan adanya piutang perusahaan kepada pemegang saham.17 Proses likuidasi dapat diselesaikan dengan penyelesaian melalui pengadilan (formal) atau penyelesaian melalui jalur di luar pengadilan (informal). Sebagian besar perusahaan Indonesia memilih penyelesaian informal. Dalam resolusi informal, perusahaan dapat merestrukturisasi harta atau kewajibannya tanpa harus mengikuti hukum kepailitan. Sebagai contoh : perusahaan dapat menjual beberapa hartanya untuk melunasi kewajiban-kewajibannya. Dalam restrukturisasi kewajiban,

perusahaan mencoba untuk mencari investor baru atau melakukan debt to equity swap. Pilihan yang terakhir menyebabkan pemberi hutang berubah status menjadi pemilik perusahaan.18 Masalah utama pada penjualan harta adalah pasar yang tidak likuid. Perusahaan menghadapi kesulitan menjual harta pada harga yang layak. Pembeli potensial yang ingin membeli dengan harga terbaik adalah perusahaan-perusahaan di industri yang sama. Jika perusahaan pesaing juga terkena dampak penurunan industri sehingga mereka juga dalam kesulitan likuiditas, maka harga jual harta bisa tertekan. 19 Resolusi formal melibatkan pengadilan sebagai pengawas proses resolusi. Pengadilan mencoba untuk membagi wewenang dan tanggung jawab setiap kreditor

Iskandar, Aziarni Hasibuan & Partners, “Laporan Pertanggungjawaban Likuidator PT. Schutter Indonesia (Dalam Likuidasi)”, Medan, 18 Feburari 2008. 18 Candra Dermawan, Op.cit. 19 Ibid.

17

11

dengan tujuan tercapainya penyelesaian yang cepat dan terbaik. Negara-negara yang mengadopsi hukum (common law) seperti, Amerika Serikat, Inggris dan negaranegara bekas jajahannya lebih memilih menggunakan pendekatan formal. Pada umumnya negara yang menganut common law lebih memberikan kepastian hukum sehingga penyelesaian lewat hukum mampu memberi resolusi yang efisien. Alasan yang sebaliknya terjadi mengapa negara-negara yang akar hukumnya berasal dari civil law (hukum sipil), termasuk Indonesia, lebih memilih menggunakan penyelesaian informal. 20 Pemilihan penyelesaian masalah keuangan ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Bank Dunia (1999). Dibanding 5 negara di Asia (Indonesia, Korea, Philipina, Malaysia, dan Thailand), perusahaan Indonesia memiliki persentase terkecil dalam hal memanfaatkan resolusi formal. Dari 66 perusahaan kesulitan keuangan yang menjadi subjek observasi yang dilakukan oleh Bank Dunia, hanya 2 (3.03%) perusahaan Indonesia yang melakukan reorganisasi formal. Sebagai bandingan, perusahaan di Korea (22.41%), Malaysia (7.09%), Philipina (5%), dan Thailand (22.6%) memiliki angka yang lebih tinggi. Sekali lagi, alasan utama yang mendasari pemilihan itu adalah sistem hukum yang tidak berjalan dengan baik, sehingga perusahaan ‘enggan’ memilih berurusan dengan pengadilan. Padahal, penegakan hukum akan sangat membantu kreditor untuk menyelesaikan masalah kebangkrutan perusahaan. Dengan penyelesaian yang efisien, nilai perusahaan

20

Ibid.

12

diharapkan tidak terdistorsi percuma. Untuk itu, pemerintah perlu terus memperbaiki sistem dan penegakan hukum di Indonesia. 21 Likuidasi mungkin tampak seperti proses yang ideal bagi direksi perusahaan yang ingin menutup atau mengakhiri perusahaan. Prosedur likuidasi dapat mempengaruhi masa depan semua yang terlibat terutama jika perusahaan mengalami masalah selama dalam masa likuidasi. Jika dapat ditemukan prosedur yang salah selama masa likuidasi maka dapat memiliki efek negatif bagi masa depan untuk semua pihak yang terkait. 22 Dalam Pasal 142 ayat (2) huruf a.,23 Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 Jo. Pasal 114 ayat (4) Undang-Undang No. 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas, tidak ada ditentukan kapan likuidator tersebut harus ditunjuk sehingga yang terjadi adalah Perseroan Terbatas sudah dibubarkan namun likuidator belum diangkat tapi yang dilakukan adalah penunjukan Pelaksana Tugas Direktur. Sebenarnya menurut ketentuan hukum ini harus ditunjuk likuidator untuk melakukan likuidasi. Inilah yang sering terjadi di dunia usaha. Setelah ditunjuk Pelaksana Tugas Direktur maka beberapa bulan kemudian barulah diangkat likuidator. Sementara itu, pada saat kepengurusan oleh Pelaksana Tugas Direktur banyak sekali kebijakan-kebijakan yang dibuat tidak menguntungkan perseroan. Kebijakan tersebut merugikan dalam bentuk

Ibid. “Perusahaan – Company Profil – Setelah sebuah Perusahaan Likuidasi Sukarela”, http://www.companyprofil.com/perusahaan-company-profil-setelah-sebuah-perusahaan-likuidasisukarela.html., diakses pada 14 Maret 2011. 23 Pasal 142 ayat (2) huruf a., Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, Op.cit., menyatakan bahwa : ”Dalam hal terjadi pembubaran Perseroan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) : a. Wajib diikuti dengan likuidasi yang dilakukan oleh likuidator atau kurator”.
22

21

13

penggelapan aset perusahaan. Penggelapan aset itu menjadi hambatan bagi likuidator untuk melakukan pembayaran utang kepada pihak ketiga/kreditur. Kesulitan selanjutnya adalah dalam Pasal 147 ayat (3) Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas24 telah ditentukan menenai jangka waktu pengajuan tagihan oleh kreditor, namun sering terjadi kreditor baru melakukan penagihan setelah jangka waktu tersebut berlalu. Hal ini adalah problem dalam melikuidasi perseroan terbatas oleh likuidator. Beberapa perusahaan mungkin ingin memulai usaha baru setelah likuidasi tetapi hal ini dapat sulit dicapai. Hal tersebut sulit dicapai karena likuidasi memiliki dampak negatif terhadap reputasi perusahaan. Namun, beberapa perusahaan mungkin dalam posisi yang nyaman untuk memulai bisnis lagi terutama jika sebelumnya melewati Anggota Sukarela Likuidasi yang biasanya dilakukan oleh perusahaan. Likuidasi kadang-kadang menjadi proses yang sulit. 25 Dalam rangka untuk menghindari masalah di kemudian hari perusahaan PT. Schutter Indonesia mencari bantuan dari praktisi insolvensi untuk melakukan likuidasi. Berdasarkan uraian di atas penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan tesis yang mengangkat judul ”Analisis Hukum Penyelesaian Hutang Piutang Perseroan Terbatas Dalam Likuidasi”.

Pasal 147 ayat (3), Ibid., menyatakan bahwa : “Jangka waktu pengajuan tagihan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf d., adalah 60 (enam puluh) hari terhitung sejak tanggal pengumuman sebagaimana dimaksud pada ayat (1)”. 25 Ibid.

24

14

B. Rumusan Masalah Dari latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka pada tulisan ini didapat 3 (tiga) permasalahan, yaitu : 1. Bagaimana pengaturan mengenai penyelesaian hutang-piutang terhadap perseroan terbatas yang dilikuidasi? 2. Bagaimana penentuan Likuidator pada Perusahaan yang sedang dalam tahap Likuidasi menurut Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas? 3. Hambatan-hambatan apa saja yang dijumpai Likuidator dalam penyelesaian hutang piutang terhadap likuidasi Perusahaan Terbatas?

C. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui analisis hukum penyelesaian hutang piutang perseoan terbatas dalam likuidasi. Dari rumusan masalah yang disebutkan di atas, maka tujuan dari penelitian ini antara lain : 1. Untuk mengetahui pengaturan penyelesaian hutang-piutang terhadap

perseroan terbatas yang dilikuidasi; 2. Untuk mengetahui penentuan Likuidator pada Perusahaan yang sedang dalam tahap Likuidasi menurut Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas; dan 3. Untuk mengetahui hambatan-hambatan yang sering dijumpai Likuidator pada penyelesaian hutang piutang terhadap likuidasi perseroan terbatas.

15

D. Manfaat Penelitian Adapun hasil penelitian ini memberikan manfaat kepada Perseroan Terbatas, Praktisi Hukum, akademisi, dan dapat memperkaya literatur di perpustakaan. Ada dua manfaat yang tersirat, yaitu manfaat : 1. Secara Teoritis a. Sebagai bahan masukan bagi para akademisi maupun sebagai bahan pertimbangan bagi penelitian selanjutnya. b. Memperkaya literatur di perpustakaan. 2. Secara Praktis a. Sebagai bahan masukan bagi perusahaan-perusahaan di Indonesia dalam melakukan likuidasi terhadap perusahaan. b. Sebagai bahan masukan bagi Praktisi Hukum yang menjadi likuidator, dalam hal melakukan likuidasi suatu perusahaan agar sistem hukum dapat berjalan dengan baik.

E. Keaslian Penelitian Berdasarkan informasi yang didapat melalui penelusuran kepustakaan pada repository.usu.ac.id., bahwa penelitian dengan judul : ”Analisis Hukum Penyelesaian Hutang Piutang Perseroan Terbatas dalam Likuidasi” tidak pernah dilakukan. Namun, apabila digunakan kata kunci ”hutang piutang + likuidasi perusahaan” sebagai pencarian, maka hasil yang didapat antara lain : 1. Elvira Dewi Ginting, ”Analisis Hukum Mengenai Pengaturan Reorganisasi Perusahaan Dalam Kaitannya dengan Hukum Kepailitan”, (Tesis : Sekolah

16

Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara, 2005). Tesis ini membahas mengenai manfaat reorganisasi perusahaan dan pengaturan reorganisasi perusahaan dalam peraturan perundang-undangan di Indonesia. Dibimbing oleh Bismar Nasution, Keizerina Devi, dan Sunarmi; dan 2. Manahan M. P. Sitompul, ”Penyelesaian Sengketa Utang Piutang Perusahaan Dengan Perdamaian Di Dalam Atau Di Luar Proses Kepailitan (Studi : Mengenai Lembaga Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang)”, (Disertasi : Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara, 2009). Disertasi ini membahas mengenai kinerja lembaga mediasi, sebab-sebab kegagalan upaya penyelesaian sengketa utang-piutang perusahaan dengan perdamaian melalui Kepailitan dan PKPU, perbandingan pengaturan reorganisasi perusahaan di Amerika. Dibimbing oleh Mariam Darus Badrulzaman, Amiruddin Abdul Wahab, dan Bismar Nasution.

Penulisan penelitian ini memiliki rumusan masalah dan tujuan penelitian yang berbeda. Begitu juga dengan kajiannya berupa penyelesaian hutang-piutang perseroan terbatas dalam hal perusahaan likuidasi yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Pertanggungjawaban tersebut dapat berupa isi dan contoh kasus yang dipaparkan dalam tesis ini.

17

F.

Kerangka Teoritis dan Konsepsi 1. Kerangka Teori Kerangka teori atau teori yang digunakan adalah untuk menjawab

permasalahan yang disebutkan di atas, yaitu : mengenai pengaturan penyelesaian hutang-piutang pada perseroan terbatas yang dilikuidasi; pelaksanaan penentuan likuidator; hambatan-hambatan yang ditemukan oleh likuidator. Perkembangan ilmu selalu dipengaruhi oleh penemuan baru dalam hal metodologi, kontinuitas penelitian dan kesinambungan eksistensi ilmu itu sendiri. Untuk itu diperlukan adanya suatu teori yang menjelaskan hubungan di antara data dan fakta walaupun tidak begitu sempurna tetapi memberi pedoman tentang cara penelitian, tujuan penelitian serta pengumpulan data.26 Teori akan berfungsi untuk memberikan petunjuk atas gejala-gejala yang timbul dalam penelitian. Teori ilmu merupakan suatu penjelasan rasional yang berkesesuaian dengan objek yang dijelaskannya. Suatu penjelasan biar bagaimanapun meyakinkan, tetapi harus didukung oleh fakta empiris untuk dapat dinyatakan benar.27 Teori sebenarnya merupakan suatu generalisasi yang dicapai setelah mengadakan pengujian dan hasilnya menyangkut ruang lingkup faktor yang sangat luas. Kadang-kadang dikatakan orang, bahwa teori itu sebenarnya merupakan ”an elaborate hypothesis”, suatu hukum akan terbentuk apabila suatu teori telah diuji dan diterima oleh ilmuwan, sebagai suatu keadaan yang benar dalam keadaan-keadaan
Manahan M. P. Sitompul, “Penyelesaian Sengketa Utang-Piutang Perusahaan Dengan Perdamaian Di Dalam Atau Di Luar Proses Kepailitan (Studi Mengenai Lembaga Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang)”, (Disertasi : Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara, 2009), hal. 42. 27 M. Solly Lubis, Filsafat Ilmu dan Penelitian, (Bandung : Mandar Maju, 1994), hal. 27., sebagaimana dikutip Ibid.
26

18

tertentu.28 Seperti yang dikemukakan oleh James E. Mauch, Jack W. Birch, sebagai berikut 29 : ”Theory explains the relations among facts, though not completely. In turn, they guide research procedures, objectives and data collection. In (this) general sense, every thesis or disertation proposal should be based on theory”. Kerangka teori dan kerangka konsep dalam penelitian ini akan dikemukakan beberapa teori yang dapat memberikan pedoman dan arahan untuk tercapainya tujuan penelitian ini yang berasal dari pendapat para ilmuwan dan selanjutnya disusun beberapa konsep yang bersumber dari berbagai peraturan dan perundang-undangan yang menunjang tercapainya tujuan penelitian ini. Teori hukum dimaksud adalah teori kepastian hukum dan teori manfaat hukum. Kepastian hukum (rule of law) secara normatif adalah ketika suatu peraturan dibuat dan diundangkan secara pasti karena mengatur secara jelas dan logis. Jelas dalam artian tidak menimbulkan keragu-raguan (multi-tafsir) dan logis dalam artian kepastian hukum menjadi sistem norma dengan norma lain sehingga tidak berbenturan atau menimbulkan konflik norma. Konflik norma yang ditimbulkan dari ketidakpastian aturan dapat berbentuk konstelasi norma, reduksi norma atau distorsi norma. Menurut David M. Trubek, rule of law merupakan30 : ”hal penting bagi pertumbuhan ekonomi dan membawa dampak yang luas bagi reformasi sistem ekonomi di seluruh dunia yang berdasarkan pada teori

Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta : Universitas Indonesia Press., 1996), hal. 126-127. 29 James E. Maruch, Jack W. Birch, Guide To The Succesful Thesis and Disertation, Books in Library and Information Science, (New York : Marcel Dekker Inc., 1993), hal. 102., sebagaimana dikutip Ibid. 30 Bismar Nasution, “Modul Perkuliahan : Peranan Hukum Dalam Pembangunan Ekonomi”, (Medan : Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, 2009), hal. 7.

28

19

apa yang dibutuhkan untuk pembangunan dan bagaimana peranan hukum dalam perubahan ekonomi”. Selanjutnya Adam Smith, sebagai bapak perekonomian modern telah melahirkan ajaran mengenai keadilan (justice) mengatakan bahwa tujuan keadilan adalah untuk melindungi dari kerugian (”the end of justice is to secure from injury”).31 Setiap perusahaan yang akan dilikuidasi sudah pasti ingin menghindari kerugian yang akan dialaminya di kemudian hari. Jadi, dengan begitu akan tercapai keadilan bagi pengurus, pengawas, maupun pemegang saham perusahaan. Penyelesaian hutang piutang juga tidak luput dari teori hukum ini, bahwa hutang yang harus dibayar tercapai kesepakatan yang bersifat win-win solution. Piutang yang ditagih juga harus berkeadilan bagi debitor dan kreditornya. Tata cara penagihan piutang dan pembayaran hutang tersebut dilakukan agar terhindar dari kerugian (potential losses). Salah satu unsur rule of law yang dapat mendorong tingkat pertumbuhan ekonomi adalah kepastian hukum yaitu kepastian berusaha. Lamanya prosedur dalam berusaha mengakibatkan sulitnya pertumbuhan ekonomi. Banyak aturan yang tumpang tindih mengakibatkan prosedur yang lama, berbelit-belit dan ekonomi biaya tinggi. Data yang terkait dengan korupsi, belum berjalan, e-governement dan transparansi. Aspek certainty dan predicttbiliy belum dilaksanakan secara menyeluruh. Kepastian berusaha serta aturan-aturan yang akan ditetapkan harus melalui proses keterbukaan dan terutama tidak berlaku surut tanpa alasan yang jelas

31

Ibid.

20

serta tidak diubah dari waktu ke waktu (predictable), sehingga pengusaha dapat menyesuaikan kegiatan usahanya berdasarkan aturan dan kebijakan yang sudah ada.32 Dengan terselesaikannya hutang piutang dari perseroan terbatas yang dilikuidasi, selanjutnya akan tercipta kemanfaatan hukum bagi pihak yang terkait di dalamnya. Adapun teori manfaat hukum disebut juga dengan teori utilitarian yang dikemukakan oleh Jeremy Bentham (”greatest amount of happiness for the greatest number of people”). Baik buruknya hukum harus diukur dari baik buruknya akibat yang dihasilkan oleh penerapan hukum itu. Suatu ketentuan hukum baru dapat dinilai baik, jika akibat-akibat yang dihasilkan dari penerapannya adalah kebaikan. 33 Dalam hal penyelesaian hutang piutang perseroan terbatas yang dilikuidasi haruslah memperoleh hasil yang baik. Maksudnya adalah menekan pihak-pihak yang menderita kerugian, demi kelancaran proses likuidasi dan orang-orang yang terkait di dalamnya. Hukum berfungsi sebagai perlindungan kepentingan dari berbagai kegiatan manusia, dimana hukum itu harus dilaksanakan. Pelaksanaan hukum dapat berlangsung secara normal, damai, tetapi dapat juga terjadi berbagai pelanggaran terhadap hukum. Dalam hal ini hukum harus ditegakkan. Penegakan hukum atau yang dikenal dengan law enforcement merupakan suatu keharusan untuk mewujudkan

Ibid. Bryan Magee, The Story Of Philosophy : Kisah Tentang Filsafat, (Yogyakarta : Kanisius, 2008), hal. 182.
33

32

21

suatu perlindungan dan kepastian hukum. Melalui penegakan hukum itu menjadi suatu kenyataan yang hidup di dalam masyarakat. 34 Terkait dengan penyelesaian hutang piutang perseroan terbatas dalam likuidasi adalah untuk menegakkan hukum yaitu ketentuan Pasal 142 ayat (2) huruf a., bahwa setiap terjadi pembubaran Perseroan harus diikuti dengan likuidasi yang dilakukan oleh likuidator atau kurator. Walaupun sudah ditentukan hal tersebut oleh ketentuan perundang-undangan namun perseroan terbatas yang ada tetap melakukan penunjukan Pelaksana Tugas Direksi. Hal ini terjadi karena tidak adanya bagian hukum, atau orang yang mengerti hukum yang bekerja di perusahaan tersebut. Jadi, karena kebiasaan memberikan tugas kepada karyawan dengan cara membuat surat kuasa maka sering disalahgunakan oleh Pelaksana Tugas Direktur tersebut. Di dalam menegakkan hukum ada 3 (tiga) hal yang harus diperhatikan, di antaranya35 : kepastian hukum (rectssicherheit), kemanfaatan (zweckmassigheit), dan keadilan (gerechtigheit). Kepastian hukum merupakan suatu perlindungan yustiabel terhadap tindakan sewenang-wenang yang berarti bahwa seseorang akan dapat memperoleh sesuatu yang diharapkan dalam keadaan tertentu. Masyarakat mengharapkan adanya kepastian hukum, dimana dengan kepastian hukum masyarakat akan lebih tertib. Sebaliknya juga masyarakat mengharapkan manfaat dalam pelaksanaan atau penegakan hukum. Hukum adalah diciptakan untuk mengatur manusia, maka pelaksanaan hukum atau penegakan hukum harus memberi manfaat

Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum : Suatu Pengantar, (Yogjakarta : Liberty, 1995), hal. 14., sebagaimana dikutip Budi Satrio, “Penegakan Hukum Pidana di Bidang Pasar Modal”, (Tesis: Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara, 2009). 35 Ibid.

34

22

atau kegunaan bagi masyarakat. Jangan sampai justru karena hukumnya dilaksanakan atau ditegakkan timbul keresahan di dalam masyarakat. Jika kepastian hukum sudah tercapai maka kemanfaatan hukum, dan keadilan hukum juga akan tercapai. Kaitannya dengan penyelesaian hutang piutang perseroan terbatas yang dilikuidasi adalah apabila ketentuan Pasal 142 ayat (2) huruf a., sudah ditegakkan dari awal pembubaran perseroan maka akan tidak ada masalah kedepannya seperti penyalahgunaan wewenang Pelaksana Tugas Direksi dan penggelapan aset perusahaan. Hal ini akan meminimalisir kerugian yang diderita oleh Perseroan. Oleh karena perseroan tidak menegakkannya maka akibat hukum yang dialami adalah adanya hambatan-hambatan likuidator pada saat melikuidasi perseroan terbatas. Pada akhirnya keadilan juga sangat berperan penting di dalam pelaksanaan dan penegakan hukum di masyarakat. Jangan ada keberpihakan hukum terhadap salah satu kepentingan selain kepentingan-kepentingan bersama yang hidup di dalam masyarakat. Secara umum penegakan hukum dapat diartikan sebagai tindakan menerapkan perangkat sarana hukum tertentu untuk memaksakan sanksi hukum guna menjamin penataan terhadap ketentuan yang ditetapkan tersebut, sedangkan menurut Satjipto Rahardjo penegakan hukum adalah ”suatu proses untuk mewujudkan keinginan-keinginan hukum (yaitu pikiran-pikiran badan pembuat undang-undang yang dirumuskan dalam peraturan-peraturan hukum) menjadi kenyataan”.36 Secara konsepsional, inti dan arti penegakan hukum terletak pada kegiatan menyerasikan

Satjipto Rahardjo, Masalah Penegakan Hukum, (Bandung : Sinar Baru, 1988), hal. 24., sebagaimana dikutip Budi Satrio, Op.cit.

36

23

hubungan nilai-nilai yang terjabarkan di dalam kaedah-kaedah dari sikap tindak sebagai rangkaian penjabaran nilai tahap akhir untuk menciptakan, memelihara, dan mempertahankan kedamaian pergaulan hidup. Lebih lanjut dikatakan keberhasilan penegakan hukum mungkin dipengaruhi oleh beberapa faktor yang mempunyai arti netral, sehingga dampak negatif atau positifnya terletak pada isi faktor-faktor tersebut. Faktor-faktor saling berkaitan dengan eratnya, merupakan esensi serta tolok ukur dari efektivitas penegakaan hukum. Faktor-faktor tersebut antara lain 37 : 1. ”Hukum (undang-undang); 2. Penegakan Hukum, yakni pihak-pihak yang membentuk maupun menerapkan hukum; 3. Semua atau fasilitas yang mendukung penegakan hukum; 4. Masyarakat, yakni dimana hukum tersebut diterapkan; 5. Faktor kebudayaan, yakni sebagai hasil karya, cipta, dan rasa yang didasarkan pada karsa manusia di dalam pergaulan hidup”. Setelah mengetahui pengaturan dan pelaksanaan penyelesaian hutang piutang pada perseroan terbatas yang dilikuidasi selanjutnya apa yang tertulis (das sollen)38 akan dipelajari untuk dilakukan pendekatan dengan contoh kasus yang dibahas pada penelitian ini (das sein).39

Soerjono Soekanto, Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1983), hal. 5. 38 Das Sollen adalah sesuatu yang mengharuskan kita untuk berfikir dan bersikap. Contoh : norma, kaidah, dan sebagainya. Dapat diartikan bahwa das sollen merupakan kaidah dan norma serta kenyataan normatif seperti apa yang seharusnya dilakukan. 39 Das Sein adalah sesuatu yang merupakan implementasi dari segala hal yang kejadiannya diatur oleh das sollen dan mogen. Dapat dipahami bahwa das sein merupakan peristiwa konkrit yang terjadi.

37

24

2.

Kerangka Konsep Selanjutnya, untuk menghindari kesalahan dalam memaknai konsep-konsep

yang digunakan dalam penelitian ini, maka berikut akan diberikan definisi operasional dari konsep-konsep yang digunakan, yaitu : 1. Perseroan Terbatas adalah badan hukum yang merupakan persekutuan modal, didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam Undang-Undang Perseroan Terbatas serta peraturan pelaksanaannya.40 2. Hutang adalah kewajiban-kewajiban yang dibuat oleh perusahaan atau perseroan terbatas dalam hal perdagangannya ataupun perikatan kontrak yang dilakukan. 3. Piutang adalah hak-hak dari perseroan terbatas yang dibuat oleh perusahaan karena adanya wanprestasi atau melanggar ketentuan dari kontrak kerja yang sudah diperbuat. 4. Kreditor adalah pihak (perorangan, organisasi, perusahaan atau pemerintah) yang memiliki tagihan kepada pihak lain (pihak kedua) atas properti atau layanan jasa yang diberikan (biasanya dalam bentuk kontrak atau perjanjian) dimana diperjanjikan bahwa pihak kedua tersebut akan mengembalikan properti yang nilainya sama atau jasa. Pihak kedua ini disebut sebagai

40

Pasal 1 angka 1 Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, Op.cit.

25

peminjam atau yang berhutang. Secara singkat dapat dikatakan pihak yang memberikan kredit atau pinjaman kepada pihak lainnya.41 5. Debitor adalah pihak yang berhutang ke pihak lain, biasanya dengan menerima sesuatu dari kreditor yang dijanjikan debitor untuk dibayar kembali pada masa yang akan datang. Pemberian pinjaman kadang memerlukan juga jaminan atau agunan dari pihak debitor. Jika seorang debitor gagal membayar pada tenggat waktu yang dijanjikan, suatu proses koleksi formal dapat dilakukan yang kadang mengizinkan penyitaan harta milik debitor untuk memaksa pembayaran.42 6. Aktiva adalah sarana atau sumber daya ekonomik yang dimiliki oleh suatu kesatuan usaha atau perusahaan yang harga perolehannya atau nilai wajarnya harus diukur secara objektif. 43 7. Passiva adalah pengorbanan ekonomis yang harus dilakukan oleh suatu perusahaan pada masa yang akan datang, pengorbanan untuk masa yang akan datang ini terjadi akibat kegiatan usaha kewajiban ini dibedakan menjadi utang lancar dan utang jangka panjang. 44 8. Likuidasi adalah pembubaran perusahaan sebagai badan hukum yang meliputi pembayaran kewajiban kepada para kreditor dan pembagian harta yang tersisa

41 42

Wikipedia, “Kreditor”, http://id.wikipedia.org/wiki/Kreditur., diakses pada 22 Maret 2011. Wikipedia, “Debitor”, http://id.wikipedia.org/wiki/Debitur., diakses pada 22 Maret 2011. 43 Jopie Jusuf, Analisis Kredit Untuk Account Officer, (Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 1995). “Definisi Aktiva & Pasiva”, http://rahasiaakuntansi.blogspot.com/2010/03/definisi-aktivapasiva.html., diakses pada 22 Maret 2011.
44

26

kepada para pemegang saham. Likuidasi dilakukan dalam rangka pembubaran badan hukum.45 9. Likuidator adalah orang atau badan yang berwenang untuk menyelesaikan segala urusan yang berkaitan dengan pembubaran perusahaan. Likuidator dapat ditunjuk oleh pengadilan atau Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).46 10. Perusahaan Dalam Likuidasi adalah setelah suatu perusahaan dinyatakan dalam dalam likuidasi oleh Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) atau oleh pihak-pihak lain maka selanjutnya perusahaan tersebut ditulis kata ”Dalam Likuidasi” di belakang nama perusahaan tersebut.47

Kerangka konsep digunakan untuk mengabstraksikan gejala atau fenomena yang akan diteliti. Penyelesaian hutang-piutang misalnya, adalah suatu konsep yang dipakai untuk menggambarkan cidera janji atau ”wanprestasi”. Dengan kata lain, konsep merupakan generalisasi dari sekelompok fenomena tertentu, sehingga dapat dipakai untuk menggambarkan berbagai fenomena yang sama. Atau dapat pula dikatakan bahwa konsep adalah suatu kata atau lambang yang menggambarkan kesamaan-kesamaan dalam berbagai gejala walaupun berbeda. 48

Likuidasi, menurut Black’s Law Dictionary 6th Edition, yaitu : “with respect with winding up of affairs of corporation, is process of reducing assets to cash, discharging liabilities and dividing surplus or loss. Occurs when a corporation distributes its net assets to its shareholders and ceases its legal existence”. 46 Pasal 152 ayat (1), Loc.cit. 47 Pasal 143 ayat (2), Ibid. 48 Rianto Adi, Metodologi Penelitian Sosial dan Hukum, (Jakarta : Granit, 2004), hal. 27.

45

27

G. Metode Penelitian Penelitian merupakan sarana ilmu pengetahuan dan teknologi. Penelitian dilakukan untuk mencari kegunaan atau mencari jawaban dari keingintahuan. Pengetahuan dan teknologi diperoleh saat ini dipastikan melalui kegiatan penelitian termasuk ilmu-ilmu sosial yang di dalamnya termasuk ilmu hukum.49 Penelitian mengandung metode atau cara yang harus dilalui sebagai syarat dalam penelitian. Metode dilaksanakan pada setiap kegiatan penelitian didasarkan pada cakupan ilmu pengetahuan yang mendasari kegiatan penelitian. Meskipun masing-masing terdapat karakteristik metode yang digunakan pada setiap kegiatan penelitian, akan tetapi terdapat prinsip-prinsip umum yang harus dipahami oleh semua peneliti seperti pemahaman yang sama terhadap validitas dari hasil capaian termasuk penerapan prinsip-prinsip kejujuran ilmiah. 50 Kejujuran ilmiah adalah kode etik penulisan karya tulis ilmiah, yaitu : 1. ”Menjunjung tinggi posisi terhormat penulis sebagai orang terpelajar, kebenaran hakiki informasi yang disebarluaskan dan tidak menyesatkan orang lain; 2. Tidak menyulitkan pembaca dengan tulisan yang dibuat; 3. Memperhatikan kepentingan penerbit penyandang dana penerbitan dengan cara mempadatkan tulisan agar biaya pencetakan bisa ditekan; 4. Memiliki kesadaran akan perlunya bantuan penyunting sebagai jembatan penghubung dengan pembaca; 5. Teliti, cermat, mengikuti petunjuk penyunting mengenai format dan sebagainya; 6. Tanggap dan mengikuti usul/saran penyunting; 7. Bersikap jujur mutlak diterapkan kepada diri sendiri dan umum dengan tidak menutupi kelemahan diri; 8. Menjunjung tinggi hak, pendapat, temuan orang lain dengan cara tidak mengambil ide orang lain diakui sebagai ide/gagasan sendiri;
Muhamad Muhdar, “Bahan Kuliah Metode Penelitian Hukum : Sub Pokok Bahasan Penulisan Hukum”, (Balikpapan : Universitas Balikpapan, 2010), hal. 2. 50 Ibid.
49

28

9. Mengakui hak cipta/Hak Kekayaan Intelektual dengan cara tidak melakukan plagiat atas tulisan sendiri dan orang lain”. 51 Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif dengan menggunakan pendekatan juridis normatif. 52 Objek penelitian adalah penyelesaian hutang piutang perseroan terbatas dalam likuidasi, yang menjadi contoh untuk penelitian ini adalah PT. Schutter Indonesia.

1.

Jenis dan Sifat Penelitian Pada penelitian hukum, tidak semua masalah-masalah kemasyarakatan dapat

dijadikan masalah dalam penelitian. Masalah yang diangkat dalam penelitian ini haruslah mengandung issu hukum yaitu masalah likuidasi PT. Schutter Indonesia. Jadi, jenis penelitian yang digunakan adalah menggunakan pendekatan kasus (case approach).53 Untuk selanjutnya akan dilakukan pendekatan peraturan perundangundangan (statute approach). Pendekatan ini adalah memisahkan dan

mengelompokkan mana yang merupakan kaidah hukum dan mana yang bukan kaidah hukum. Sedangkan sifat penelitian dari penulisan tesis ini adalah deskriptif yang ditujukan untuk menggambarkan secara tepat, akurat, dan sistematis mengenai gejala-

Etika Penulisan Ilmiah, (DITJEN DIKTI : Lokakarya Pelatihan Penulisan Artikel Ilmiah yang diselenggarakan DP2M), hal. 2-6., seperti yang diringkas/disarikan oleh M. A. Rifai., dalam Munandir., “Kode Etik Menulis : Butir-Butir”, www.unissula.ac.id /perpustakaan/.../Munandir%20(kode%20etik).ppt., 2007, diakses pada 25 Mei 2010. 52 Adapun tahap-tahap dalam analisis yuridis normatif adalah : merumuskan azas-azas hukum dari data hukum positif tertulis; merumuskan pengertian-pengertian hukum; pembentukan standarstandar hukum; dan perumusan kaidah-kaidah hukum. Amirudin dan Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, (Jakarta : Rajawali Press, 2010), hal. 166-167. 53 Pendekatan Kasus (case approach) adalah dimaksudkan untuk mempelajari secara intensif tentang latar belakang masalah keadaan dan posisi suatu peristiwa.

51

29

gejala hukum terkait dengan peranan hukum dalam pembangunan ekonomi studi terhadap penyelesaian hutang-piutang dalam perseroan terbatas yang dilikuidasi.

2.

Sumber Bahan Hukum Pada penelitian hukum dengan studi kasus yang dilakukan ini maka maka

sumber bahan hukum yang digunakan dapat dibagi ke dalam beberapa kelompok, yaitu : 1. Bahan hukum primer, meliputi seluruh peraturan perundang-undangan yang relevan dengan permasalahan dan tujuan penelitian, antara lain : UndangUndang No. 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing; Undang-Undang No. 3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan; Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan; Undang-Undang No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal; Undang-Undang No. 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas; Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang; Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas; Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 1999 tentang Pencabutan Izin Usaha, Pembubaran dan Likuidasi Bank; Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata); dan peraturan perundangundangan yang berkaitan dengan penelitian ini. 2. Bahan hukum sekunder digunakan untuk membantu memahami berbagai konsep hukum dalam bahan hukum primer, analisis bahan hukum primer dibantu oleh bahan hukum sekunder yang diperoleh dari berbagai sumber baik jurnal, buku-buku, makalah, serta karya ilmiah mengenai likuidasi, kepailitan,

30

reorganisasi perusahaan, dan restrukturisasi, berita, ulasan media, juga sumber-sumber lain yang relevan dengan penyelesaian hutang-piutang perseroan terbatas dalam likuidasi. Bahan hukum sekunder pada penelitian hukum ini adalah Laporan Pertanggungjawaban Likuidator PT. Schutter Indonesia (Dalam Likuidasi). 3. Bahan hukum tertier diperlukan dipergunakan untuk berbagai hal dalam hal penjelasan makna-makna kata dari bahan hukum sekunder dan bahan hukum primer, khususnya kamus-kamus hukum dan ekonomi.

3.

Teknik Pengumpulan Data Seluruh bahan hukum dikumpulkan dengan menggunakan tekhnik studi

kepustakaan54 (library research) dan studi dokumen dari berbagai sumber yang dipandang relevan, antara lain mengenai hutang piutang dalam hukum keperdataan dan perseroan terbatas dalam likuidasi. Perpustakaan yang digunakan adalah Perpustakaan Universitas Sumatera Utara dan Perpustakaan Cabang Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. Kasus yang digunakan diambil dari likuidator langsung PT. Schutter Indonesia sebagai contoh kasus pada tesis ini.

Menurut Bambang Sunggono, studi kepustakaan dapat membantu peneliti dalam berbagai keperluan, misalnya : a) Mendapatkan gambaran atau informasi tentang penelitian yang sejenis dan berkaitan dengan permasalahan yang diteliti; b) Mendapatkan metode, teknik, atau cara pendekatan pemecahan permasalahan yang digunakan; c) Sebagai sumber data sekunder; d) Mengetahui historis dan perspektif dari permasalahan penelitiannya; e) Mendapatkan informasi tentang cara evaluasi atau analisis data yang dapat digunakan; f) Memperkaya ide-ide baru; dan g) Mengetahui siapa saja peneliti lain di bidang yang sama dan siapa pemakai hasil penelitian tersebut, seperti yang dikemukakan Bambang Sunggono, Metodologi Penelitian Hukum, (Jakarta : Rajawali Press, 2010), hal. 112-113.

54

31

4.

Analisis Data Bahan hukum primer yang terinventarisasi terlebih dahulu disistematisasikan

sesuai dengan substansi yang diatur dengan mempertimbangkan relevansinya terhadap rumusan permasalahan dan tujuan penelitian. Kemudian dilakukan prediktabilitas hukum, mencari keadilan hukum, perlindungan hukum, dan lain-lain. 55 Penarikan kesimpulan dilakukan dengan menggunakan logika berfikir deduktif – induktif yaitu dilakukan dengan teori yang digunakan dijadikan sebagai titik tolak untuk melakukan penelitian. Deduktif artinya menggunakan teori sebagai alat, ukuran dan bahkan instrumen untuk membangun hipotesis, sehingga secara tidak langsung akan menggunakan teori sebagai pisau analisis dalam melihat masalah dalam penyelesaian hutang piutang dan proses likuidasi perseroan terbatas. Teorisasi induktif adalah menggunakan data sebagai awal pijakan melakukan penelitian, bahkan dalam format induktif tidak mengenal teorisasi sama sekali artinya teori dan teorisasi bukan hal yang penting untuk dilakukan. Maka deduktif – induktif adalah penarikan kesimpulan didasarkan pada teori yang digunakan pada awal penelitian dan data-data yang didapat sebagai tunjangan pembuktian teori tersebut. 56

Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung : Rosda, 2006), hal. 248, dalam Burhan Bungin, Penelitian Kualitatif : Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya, Ed. 1, Cet. 3, (Jakarta : Kencana, 2009), hal. 144-145. 56 Ibid., hal. 26-29.

55

32

BAB II PENGATURAN PENYELESAIAN HUTANG PIUTANG TERHADAP PERSEROAN TERBATAS YANG DILIKUIDASI

Sebelum menguraikan mengenai pengaturan penyelesaian hutang-piutang terhadap perseroan terbatas yang dilikuidasi. Ada baiknya dilakukan pengelompokan variabel terhadap bab ini, yang terdiri dari : Penyelesaian Hutang, Hak Tagih Factor atas Piutang Dagang dan Perseroan Terbatas yang dilikuidasi. Pada penyelesaian hutang-piutang perusahaan biasanya dimulai dari perjanjian bisnis yang tidak dijalankan dengan baik. Jika perjalanan bisnis tidak baik dalam hal ini merugi dan tidak bisa ditutupi dengan daya apapun lagi maka perusahaan tersebut dapat dilikuidasi. Sebelum dilikuidasi perusahaan tersebut harus menyelesaikan hutang piutangnya terhadap pihak lain. Untuk pertama sekali yang akan dibahas adalah mengenai Likuidasi Perseroan Terbatas. Pengaturan mengenai Likuidasi Perseroan Terbatas dipengaruhi oleh masuknya Indonesia menjadi anggota World Trade Organization (WTO) melalui Undang-Undang No. 7 Tahun 1994 tentang Pengesahan Agreement Establishing The World Trade Organization (Persetujuan Pembentukan Organisasii Perdagangan Dunia). 57 Sejak masuknya Indonesia ke WTO, pasar di Indonesia menjadi sangat terbuka dan semakin mengurangi kebijakan-kebijakan yang restriktif. Peraturan perundang-undangan di Indonesia juga banyak dipengaruhi oleh Amerika Serikat.

Undang-Undang No. 7 Tahun 1994 tentang Pengesahan Agreement Establishing The World Trade Organization (Persetujuan Pembentukan Organisasi Perdagangan Dunia), Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1994 Nomor 57, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3564.

57

33

Banyak peraturan yang diselaraskan dengan prinsip perdagangan bebas (structural adjutment). Hal ini dapat dilihat dari disesuaikannya peraturan-peraturan yang berlaku di Indonesia seperti Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Undang-Undang No. 19 Tahun 2002 tentang hak Cipta, Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentag Perbankan, dan lain sebagainya.58

A.

Likuidasi Perseroan Terbatas di Amerika Serikat Likuidasi Perseroan Terbatas di Amerika Serikat dapat dilihat pada Chapter 7,

Title 11 Bankruptcy Code. Pada peraturan tersebut mengatur mengenai proses likuidasi berdasarkan hukum kepailitan Amerika Serikat. Sebaliknya, Chapter 11 dan 13 mengatur mengenai proses reorganisasi perseroan terbatas debitur dalam kebangkrutan. Chapter 7 adalah bentuk paling umum dari kebangkrutan di Amerika Serikat. 59 Pada bulan April 2005, Kongres Amerika Serikat mengeluarkan sebuah undang-undang baru yang efektif 17 Oktober 2005, yang berkaitan dengan kebangkrutan pribadi. Peraturan-peraturan baru ini diharapkan mempersulit mereka yang ingin menghapuskan atau merestrukturisasi hutang-hutang mereka, salah satunya dengan cara membuat biaya-biayanya lebih tinggi. 60 Pada bulan Mei 2003, kurang dari 2 (dua) tahun setelah dikeluarkannya undang-undang tersebut. Strouds, suatu rantai usaha toko seprai dan peralatan rumah
Mahmul Siregar, Perdagangan Internasional dan Penanaman Modal Studi Kesiapan dalam Perjanjian Investasi Multilateral, Cetakan Kedua : Revisi, (Medan : Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara, 2008), hal. 487. 59 Investopedia, “Chapter 7”, Op.cit. 60 Robert D. Hisrich, Michael P. Peters, dan Dean A. Shepherd, Enterpreneurship Kewirausahaan, Edisi 7, (Jakarta : Salemba Empat, Tanpa Tahun), hal. 738.
58

34

tangga, melaporkan kebangkrutan likuidasi Chapter 7. Rantai usaha yang berpusat di Los Angeles itu tidak mampu menghadapi kompetisi dari Bed, Bath, & Beyond dan Linens ’n Things, dalam perekonomian yang lemah. Rantai usaha itu didirikan lebih dari 70 toko dengan lebih dari 1.500 pekerja di seluruh Amerika Serikat. Keputusan untuk menutup perusahaan dibuat setelah perusahaan itu mengalami kerugian sebesar US$. 8,8 juta selama 10 bulan terakhir operasinya. 61 Pada tahun 1995, Edison Brothers Shoe Stores, dahulu salah satu rantai usaha toko sepatu terbesar di Amerika Serikat, menyatakan kebangkrutannya. Sebagai generasi ketiga dari dinasti Edison dengan gelar MBA dari Harvard University, pada tahun 1999 Peter Edison mampu membeli produk terpenting yaitu rantai sepatu Edison, Bakers Shoe, senilai US$. 8 juta. Dengan persediaan yang hanya cukup untuk musim yang sedang berjalan dan sebuah citra label sepatu murah, ia memulai sebuah strategi untuk merevitalisasi citra label tersebut. Ia menutup lusinan toko kurang menguntungkan dan mengubah model toko-toko yang tersisa secara satu per satu agar tampak seperti butik-butik kelas atas. Penjualan di toko-toko yang telah direnovasi tersebut naik 50% dan bisnisnya secara perlahan memperoleh keuntungan.62 Kedua contoh kasus di atas membedakan antara likuidasi dan reorganisasi. Likuidasi mengisyaratkan bahwa perusahaan tidak ingin untuk membuka perusahaan lagi, sedangkan reorganisasi adalah bahwa perusahaan memperoleh pinjaman modal kembali untuk bangkit dari keterpurukan. Namun, yang akan dibahas dalam riset penelitian ini adalah mengenai likuidasi perseroan terbatas.

61 62

Ibid. Ibid.

35

1.

Alternatives to Chapter 7 Debitur harus menyadari bahwa ada beberapa alternatif untuk Chapter 7.

Sebagai contoh, debitur yang terlibat dalam bisnis, termasuk perusahaan, kemitraan, dan perseorangan, mungkin lebih suka untuk tetap dalam bisnis dan menghindari likuidasi. Debitur tersebut harus mempertimbangkan pengajuan permohonan pada Chapter 11 dari Bankcruptcy Code. Dalam Chapter 11, debitur dapat meminta penyesuaian hutang, baik dengan mengurangi hutang maupun dengan

memperpanjang waktu untuk pembayaran (dalam hal ini disebut Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang – PKPU), atau mungkin mencari reorganisasi yang lebih komprehensif. Perusahaan perorangan juga mungkin memenuhi persyaratan untuk bantuan di bawah Chapter 13 Bankcruptcy Code.63 Selain itu, debitur individu yang memiliki penghasilan tetap dapat meminta penyesuaian hutang di bawah Chapter 13 dari Bankcruptcy Code. Sebuah keuntungan tertentu dari Chapter 13 adalah bahwa pada peraturan tersebut menyediakan kesempatan bagi debitur individu untuk menyelamatkan rumah debitur dari penyitaan dengan mengizinkan debitur untuk “mengejar” pembayaran yang tertunggak melalui rencana pembayaran. Selain itu, pengadilan dapat memberhentikan Chapter 7, kasus yang diajukan oleh individu yang memiliki hutang terutama konsumen daripada hutang bisnis jika pengadilan menemukan bahwa pemberian bantuan akan menjadi penyalahgunaan Chapter 7, Title 11, United State Code § 707 (b). 64

United States Courts, “Chapter 7 : Liquidation Under the Bankruptcy Code”, http://www.uscourts.gov/FederalCourts/Bankruptcy/BankruptcyBasics/Chapter7.aspx., diakses pada 08 Mei 2011. 64 Ibid.

63

36

Jika “penghasilan debitur pada bulan pengajuan likuidasi” debitur65 : 1. Lebih dari pendapatan rata-rata per kapita, Bankcruptcy Code mensyaratkan penerapan “means test” untuk menentukan apakah Chapter 7 disalahgunakan atau tidak. Penyalahgunaan dianggap jika pendapatan pemohon bulanan debitur saat ini selama 5 (lima) tahun, setelah dikurangi biaya statutorily tertentu diperbolehkan, adalah lebih dari : (i) US$. 11.725,- atau (ii) 25% dari hutang non-priority tanpa jaminan debitur, selama jumlah yang setidaknya US$. 7.025,-; 2. Debitur mungkin membantah dugaan penyalahgunaan ketentuan Likuidasi tersebut hanya dengan menunjukkan keadaan khusus yang membenarkan biaya tambahan atau penyesuaian penghasilan bulanan saaat ini. Kecuali debitur mengatasi dugaan penyalahgunaan, kasus ini umumnya akan dikonversi ke Chapter 13 (dengan persetujuan debitur) atau akan diberhentikan menurut Title 11, United State Code § 707 (b) (1);

Debitur juga harus menyadari bahwa perjanjian di luar pengadilan dengan kreditur atau debt counseling dapat memberikan alternatif untuk pengajuan kebangkrutan selanjutnya.66

2.

Latar Belakang Likuidasi Sebuah perkara Likuidasi yang diatur dalam Chapter 7 tidak melibatkan

rencana pembayaran seperti yang termaksud dalam Chapter 13. Sebaliknya,
65 66

Ibid. Ibid.

37

likuidator mengumpulkan dan menjual aset-aset debitur dan menggunakan hasil penjualan tersebut untuk membayar hutang atas klaim kreditur sesuai dengan ketentuan Bankruptcy Code. Bagian aset debitur dapat mengganggu hak gadai dan hipotek yang diperjanjikan kepada kreditur lainnya. Selain itu, Bankruptcy Code akan memungkinkan debitur untuk menjaga sisa aset tertentu, tetapi likuidator akan melikuidasi aset debitur yang tersisa. Dengan demikian calon debitur harus menyadari bahwapengajuan permohonan melalui Chapter 7 – Likuidasi dapat mengakibatkan kerugian harta benda.67 Di dalam Bankcruptcy Code jika dianalogikan dengan peraturan perundangan di Indonesia, maka Chapter 7 adalah Likuidasi dan Tata Caranya, Chapter 13 adalah Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU), dan Chapter 11 adalah Reorganisasi Perusahaan. Melalui proses likuidasi di Amerika Serikat sudah pasti menyebabkan kerugian harta benda karena pembayaran-pembayaran hutang kepada pihak lain yang melakukan hubungan dagang dengan pemohon likuidasi.

3.

Chapter 7 Eligibility Untuk memenuhi persyaratan pada bantuan Likuidasi – Chapter 7,

Bankruptcy Code, debitur mungkin seorang individu, kemitraan, atau korporasi atau badan usaha lain sesuai dengan 11 United State Code § § 101 (41), 109 b. Tunduk pada tes-tes yang diajukan berarti yang dijelaskan di atas untuk debitur perorangan, bantuan tersedia untuk Chapter 7 terlepas dari jumlah hutang debitur atau apakah debitur adalah bangkrut. Seorang individu tidak dapat mengajukan permohonan
67

Ibid.

38

Chapter 7 atau Chapter lainnya, namun, jika selama 180 hari sebelum permohonan pailit sebelum diberhentikan karena kegagalan disengaja debitur untuk tampil di depan pengadilan atau mematuhi perintah pengadilan, atau debitur secara sukarela diberhentikan kasus sebelumnya setelah kreditur mencari bantuan dari pengadilan kepailitan untuk memulihkan properti dimana debitur memegang hak gadai (11 United State Code § § 109 g., 362 d., dan e.). Selain itu, individu tidak mungkin menjadi debitur pada Chapter 7 atau Chapter pada Bankruptcy Code kecuali atas permohonannya sendiri dan dalam waktu 180 hari sebelum pengajuan likuidasi, menerima konseling kredit dari lembaga kredit yang disetujui konseling baik dalam individual ataupun grup konseling (11 United State Code. § § 109, 111). Ada pengecualian dalam situasi darurat atau dimana U.S. Trustee (atau administrator kepailitan) telah menetapkan bahwa ada lembaga yang cukup menyediakan konseling yang dibutuhkan. Jika suatu manajemen utang (PKPU) dikembangkan selama konseling kredit diperlukan, maka harus diajukan kepada Pengadilan. 68 Salah satu tujuan utama dari kebangkrutan adalah untuk kejujuran terhadap hutang debitur tertentu adalah sebuah “fresh start”. Debitur tidak memiliki kewajiban pembayaran hutang. Dalam hal Chapter 7, bagaimanapun, discharge hanya tersedia untuk debitur individual, bukan untuk kemitraan atau perusahaan (11 United State Code § 727 a., 1). Meskipun Chapter 7 individu biasanya menghasilkan debit hutang, hak untuk melepaskan adalah tidak mutlak, dan beberapa jenis hutang yang tidak

68

Ibid.

39

habis dibayarkan. Selain itu, debit kepailitan tidak memadamkan hak pada properti yang dimiliki debitur. 69 Chapter 7 Eligibility adalah studi kelayakan terhadap subjek hukum yang akan dilikuidasi. Studi kelayakan tersebut berupa penghitungan hutang-piutang pemohon (debitur) terhadap aset yang dimiliki. Biasanya aset yang dimiliki lebih sedikit dari pada hutang yang ada. Dengan demikian studi kelayakan dipandang perlu untuk melakukan penghitungan tersebut. Jadi, mengecilkan kemungkinan subjek hukum yang sanggup membayar namun menyalahgunakan peraturan Likuidasi ini. Di Amerika Serikat, pemerintah bertanggung jawab penuh kepada setiap subjek hukum yang melakukan suatu usaha perdagangan, salah satu contohnya dapat dilihat pada peraturan-peraturan mengenai likuidasinya bahwa pemerintah tidak lepas tangan terhadap pemohon (debitur) yang akan melakukan likuidasi. Campur tangan pemerintah kental sekali jika dilihat dalam peraturan likuidasi yang diatur dalam Chapter 7 tersebut. Hal ini diupayakan agar tercipta kepastian hukum yang baik. Terkait dengan teori yang digunakan dalam penulisan riset ini, David M. Trubek, rule of law yang dapat mendorong tingkat pertumbuhan ekonomi adalah kepastian hukum yaitu kepastian berusaha.

4.

How Chapter 7 Works (Cara Kerja Chapter 7) Kasus likuidasi pada Chapter 7 dimulai dengan debitur mengajukan

permohonan untuk likuidasi pada Bankcruptcy Court (Pengadilan Kepailitan di Amerika Serikat, sedangkan di Indonesia disebut Pengadilan Niaga). Pengadilan
69

Ibid.

40

tersebut terletak di wilayah tempat tinggal debitur ataupun usaha dan aset yang paling besar dimiliki. Ada 3 (tiga) persyaratan permohonan debitur yang harus diajukan, antara lain 70 : 1. Schedule of Assets and Liabilites (Laporan Keuangan); 2. Schedule of Current Income and Expenditures (Laporan Laba Rugi); dan 3. A Statement of Financial Affairs (Pernyataan dari Lembaga Keuangan). 4. A Schedule of Executory Contracts and Unexpired Leases (Kontrak-Kontrak Perjanjian yang dibuat dan belum berakhir). Poin ini adalah tambahan.

Debitur juga harus menyediakan trustee (kurator) yang ditugaskan melalui salinan pengembalian pajak atau transkrip untuk tahun pajak yang terbaru serta pajak pada saat pengajuan likuidasi (termasuk pengembalian pajak untuk tahun sebelumnya yang belum mengajukan saat permohonan diajukan) (11 United State Code § 521). Debitur dengan hutang yang dimiliki konsumen, konsumen harus mengajukan dokumen-dokumen sebagai bukti yang diajukan sebagai persyaratan pengajuan tambahan. Debitur dan konsumen yang memiliki hutang harus memeriksa kebenaran dokumen yang diajukan berdasarkan konseling kredit, bukti pembayaran dari debitor jika ada, diterima 60 hari sebelum pengajuan. Sebuah laporan laba bersih per bulan dan setiap peningkatan dalam pendapatan atau biaya yang timbul akibat pengajuan, dan catatan kepentingan debitur memiliki kualifikasi pendidikan formal atau pendidikan negara bagian. Contoh : seorang suami dan istri dapat mengajukan permohonan petisi bersama atau perorangan (11 United State Code § 302 a.). bahkan

70

Ibid.

41

jika pengajuan bersama, suami dan istri tunduk pada semua persyaratan dokumen pengajuan debitur individu (formulir pengajuan dapat dibeli di toko buku, atau di download melalui internet. 71 Pengadilan harus mengenakan biaya untuk pengajuan permohonan tersebut yaitu US$. 245,- biaya US$. 39,- administrasi lainnya, dan biaya tambahan trustee US$. 15,-. Biasanya, biaya yang harus dibayarkan kepada panitera pengadilan atas pengajuan pemrohonan tersebut. Dengan izin pengadilan, bagaimanapun, debitur dapat membayar biaya tersebut secara mengangsur (28 United State Code § 1930 a.). Angsuran tersebut dapat dilakukan sebanyak 4 (empat) kali selama 120 hari setelah formulir permohonan diajukan. Pengadilan juga dapat memperpanjang masa angsuran atas biaya tersebut selama 180 hari setelah pengajuan permohonan. Debitur juga dapat membayar biaya administrasi US$. 39,- dan surcharge trustee US$. 15,dengan angsuran. Jika permohonan bersama yang diajukan maka hanya 1 (satu) biaya yang akan dibayarkan. Debitur harus menyadari bahwa kegagalan untuk membayar biaya perkara tersebut dapat mengakibatkan pemberhentian kasus tersebut (11 United Stated Code § 707 a.). 72 Jika penghasilan debitur kurang dari 150% dari tingkat kemiskinan (sebagaimana didefinisikan dalam Bankruptcy Code), dan debitur tidak dapat membayar biaya Chapter 7 bahkan dengan angsuran, maka pengadilan dapat

71 72

Ibid. Ibid.

42

mengenyampingkan persyaratan biaya harus dibayar (28 United Stated Code § 1930 f.). 73 Untuk melengkapi Official Bankruptcy Forms yang terdiri dari laporan keuangan, jadwal pembayaran hutang, debitur harus memberikan informasi tambahan sebagai berikut74 : 1. Daftar semua kreditur dan jumlah dan sifat klaim kreditur; 2. Sumber, jumlah, dan frekuensi pendapatan debitur; 3. Daftar semua harta debitur, dan 4. Sebuah daftar rinci dari biaya bulanan debitur, seperti : biaya pengeluaran sewa bangunan tempat usaha; rekening air, listrik, dan telepon; pajak-pajak; transportasi, jaminan sosial, dan lain sebagainya.

Pengajuan permohonan secara bersama-sama, pemohon harus mengumpulkan informasi apakah mengajukan petisi bersama, petisi individu yang terpisah, atau bahkan jika hanya satu yang mengajukan. Dalam situasi dimana berkas-berkas debitur hanya satu, pendapatan dan beban dari debitur lain yang dibutuhkan agar pengadilan, trustee dan kreditur dapat mengevaluasi posisi keuangan usaha tersebut.75 Di antara jadwal bahwa debitur yang mengajukan permohonan jadwal properti “exemt” atau dikecualikan. Bankruptcy Code memungkinkan seorang debitur perorangan untuk melindungi beberapa kekayaan dari klaim kreditor yang bebas pajak menurut Federal Bankruptcy Law atau berdasarkan Laws of the Debtor’s Home

73 74

Ibid. Ibid. 75 Ibid.

43

State (11 United State Code § 522 b.). Banyak negara bagian telah mengambil keuntungan dari ketentuan dalam Bankruptcy Code yang memungkinkan masingmasing negara bagian untuk mengadopsi hukum pembebasan sendiri di tempat pengecualian federal. Dalam yurisdiksi lain, debitur individual memiliki pilihan untuk memilih antara paket Pengecualian Federal atau Pengecualian Tersedia di bawah hukum negara. Jadi, apakah properti tertentu yang dikecualikan dan dapat disimpan oleh debitur sering merupakan masalah hukum negara. Debitur harus berkonsultasi dengan seorang pengacara untuk menentukan pengecualian yang tersedia di negara tempat tinggal debitur. 76 Pengajuan permohonan berdasarkan Chapter 7 secara otomatis berhenti berdasarkan tindakan pengumpulan data-data aset yang tidak termasuk dalam aset likuidasi (11 United State Code § 362). Pengajuan permohonan aset yang tidak termasuk dalam aset likuidasi tersebut adalah tindakan yang terdaftar berdasarkan (11 United State Code § 362 b.) dan tinggal menunggu waktu efektif terhadap putusan hanya untuk waktu yang singkat dalam beberapa situasi. Tinggal menunggu putusan penetapan dan tidak memerlukan tindakan hukum lain. Selama tetap berlaku, kreditur umumnya tidak dapat memulai atau melanjutkan tuntutan hukum, wage garnishments, atau bahkan panggilan telepon untuk menuntut pembayaran. Petugas Kebangkrutan memberikan pemberitahuan dari kasus kebangkrutan itu untuk semua kreditur yang nama dan alamatnya diberitahukan oleh debitur. 77

76 77

Ibid. Ibid.

44

Antara 20 sampai dengan 40 hari setelah permohonan diajukan, trustee akan mengadakan pertemuan kreditur. Jika trustee Amerika Serikat atau administrator kebangkrutan menetapkan jadwal pertemuan di tempat yang tidak memiliki trustee Amerika Serikat atau staf administratof kebangkrutan (Staf Pengadilan Niaga), pertemuan dapat diadakan tidak lebihd ari 60 hari setelah perintah untuk itu. Selama pertemuan ini, trustee menempatkan debitur di bawah sumpah, dan keduanya trustee dan kreditur dapat mengajukan pertanyaan. Debitur harus menghadiri pertemuan tersebut dan menjawab seluruh pertanyaan yang diajukan tentang urusan keuangan debitur dan properti (11 United State Code § 343). Jika pemohon telah mengajukan petisi bersama, maka keduanya harus menghadiri pertemuan kreditur dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Dalam waktu 10 hari rapat kreditur, trustee Amerika Serikat akan melaporkan ke pengadilan apakah kasus tersebut harus dianggap merupakan penyalahgunaan dalam studi kelayakan Likuidasi (11 United State Code § 704 b). 78 Hal ini penting bagi debitur untuk bekerja sama dengan trustee dan untuk menyediakan laporan keuangan atau dokumen-dokumen yang diminta oleh trustee. Bankruptcy Code mengharuskan trutee untuk mengajukan pertanyaan debitur pada pertemuan kreditur untuk memastikan bahwa debitur menyadari adanya potensi konsekuensi mencari aset pada kebangkrutan seperti efek pada sejarah kredit, kemampuan untuk mengajukan permohonan di bawah peraturan yang berbeda, efek menerima debit, dan efek untuk menegaskan kembali utang. Beberapa trustee memberikan informasi tertulis tentang topik ini pada atau sebelum pertemuan untuk
78

Ibid.

45

memastikan bahwa debitur mengetahui informasi ini. Untuk menjaga penilaian independen, hakim pengadilan dilarang menghadiri pertemuan kreditur (11 United State Code § 341 c).79 Dalam rangka kesepakatan debitur memperoleh bantuan (pinjaman), Bankruptcy Code memungkinkan debitur untuk mengkonversi Chapter 7 kepada Chapter 11, 12, atau 13 sepanjang debitur yang memenuhi syarat untuk menjadi debitur di bawah Chapter yang baru. Namun, kondisi konversi sukarela debitur adalah bahwa kasus tersebut belum pernah dikonversi ke Chapter 7 dari Chapter lain (11 United State Code § 706 a). Dengan demikian, debitur tidak akan diizinkan untuk mengkonversi kasus tersebut berulang kali dari satu Chapter ke Chapter yang lain. 80 Kelihatan disini bahwa pemerintah tidak lepas tangan dari perannya terhadap penegakan hukum. Pemohon sudah membayar biaya administrasi, maka saat likuidasi diajukan inilah Pemerintah bekerja untuk memprosesnya. Tidak lepas tangan begitu saja seperti yang terjadi di Indonesia. Pemerintah hanya mengenakan biaya administrasi tetapi tidak ada pelayanan yang diberikan kepada pemohon likuidasi. Ketidakjelasan peran pemerintah (dalam hal Indonesia) menyebabkan perseroan terbatas kebingungan dalam mengambil sikap apakah akan melikuidasi perusahaan, mempailitkan, dan/atau mereorganisasi perseroan terbatas. Berbeda dengan Amerika Serikat, pihak pengadilan menunjuk trustee terpercaya untuk menetapkan apakah

79 80

Ibid. Ibid.

46

suatu perseroan terbatas itu layak atau tidak untuk dilikuidasi. Dengan demikian berjalanlah sistem hukum dengan baik.

5.

Role of The Case Trustee Ketika persyaratan untuk pengajuan likuidasi pada Chapter 7 diajukan, trustee

Amerika Serikat (atau Pengadilan Kebangkrutan di Alabama dan North Carolina) menunjuk trustee pada kasus yang diterima untuk mengelola kasus tersebut dan melikuidasi aset pemohon/debitur (11 United State Code § § 701, 704). Jika semua aset debitur dibebaskan atau tunduk pada hak gadai yang berlaku, maka trustee biasanya akan menetapkan “tidak ada aset” di dalam laporan kepada pengadilan, dan tidak akan ada distribusi kepada kreditur tanpa jaminan. Kebanyakan kasus Chapter 7 melibatkan debitur individu yang tidak memiliki aset dalam pembayaran hutang. Tetapi jika kasus tersebut tampaknya memiliki aset, pada awal kasus, kreditur tanpa jaminan harus mengajukan gugatan mereka kepada pengadilan dalam jangka waktu 90 hari setelah tanggal pertama ditetapkan untuk pertemuan kreditur tersebut. Bagaimanapun setelah 180 hari terlewati sejak tanggal perkara ini diajukan untuk mengajukan klaim (11United State Code § 502 b). Dalam kasus Chapter 7 ada aset yang khas, tidak perlu bagi kreditur untuk mengajukan bukti klaim karena tidak akan ada distribusi. Jika trustee kemudian memiliki aset yang akan dibagikan kepada kreditur tanpa jaminan, Pengadilan Kepailitan (Pengadilan Niaga) akan memberikan pemberitahuan kepada kreditur dan akan memberikan waktu tambahan untuk mengajukan bukti klaim. Meskipun kreditur dijamin tidak perlu mengajukan bukti klaim dalam kasus Chapter 7 untuk menjaga kepentingan keamanan atau gadai,

47

mungkin ada alasan lain untuk mengajukan klaim. Seorang kreditur dalam kasus Chapter 7 yang memiliki hak gadai atas properti, debitur harus berkonsultasi dengan seorang pengacara untuk meminta nasihat.81 Dimulai dari kasus kepailitan yang menciptakan properti. Properti tersebut menjadi milik sah dari semua harta debitur. Ini terdiri dari semua kepentingan hukum atau adil dari debitur dalam properti pada saat dimulainya kasus ini, termasuk properti yang dimiliki atau dipegang oleh orang lain jika debitur memiliki kepentingan properti. secara umum, kreditur debitur dibayar dari properti yang dikecualikan dari warisan yang didapat dari debitur. 82 Peran utama dari trustee dalam kasus Chapter 7 pada kasus aset adalah untuk melikuidasi aset pengecualian debitur dengan cara memaksimalkan kembali kepada kreditur konkuren debitur. Trustee yang menyelesaikan hal ini adalah dengan cara menjual properti debitur jika bersih dari hak gadai (selama properti tidak dibebaskan). Trustee juga mungkin mencoba untuk memulihkan keuangan atau properti di bawah kewenangan trustee “avoiding powers”. Kekuatan trustee yang menhindari termasuk kuasa untuk menyisihkan transfer khusus dibuat untuk kreditur dalam waktu 90 hari sebelum permohonan, membatalkan kepentingan keamanan dan transfer prepetition lain dari kekayaan yang tidak benar disempurnakan berdasarkan hukum NonBankruptcy Law pada saat permohonan; dan mengejar klaim untuk tidak dinyatakan pailit. Selain itu, jika debitur adalah sebuah bisnis, Pengadilan Kebangkrutan (Pengadilan Niaga) dapat memberikan wewenang kepada trustee untuk menjalankan

81 82

Ibid. Ibid.

48

bisniss tersebut untuk jangka waktu yang terbatas, jika operasi tersebut akan menguntungkan kreditur dan meningkatkan nilai likuidasi debitur (11 United State Code § 721). 83 Pada §. 726 dari Bankruptcy Code mengatur tentang pembagian harta warisan. Pasal ini mengatur ada enam kelas klaim dan masing-masing kelas harus dibayar secara penuh sebelum kelas yang lebih rendah berikutnya dibayar. Debitur hanya dibayarkan jika semua kelas lain klaim telah dibayar lunas. Oleh karena itu, debitur tidak tertarik disposisikan hal ini kepda trustee tentang aktiva sebenarnya, kecuali sehubungan dengan pembayaran hutang-hutang yang untuk beberapa alasan tidak dischargeable dalam perkara kepailitan. Perhatian utama debitur individu dalam kasus Chapter 7 adalah untuk mempertahankan properti dengan membebaskan dan menerima penjualan aset yang mencakup sebagai hutang sebanyak mungkin. 84 Ternyata di dalam Bankruptcy Code Amerika Serikat yang diatur di dalamnya mengenai Likuidasi. Fungsi likuidator juga dapat menjalankan perusahaan apabila ada suatu perjanjian-perjanjian kerja sama yang belum diselesaikan. Apabila memperoleh keuntungan hal tersebut dapat menjadi nilai tambah pada aset debitur.

6.

The Chapter 7 Discharge Pada The Chapter 7 Discharge diharapkan kepada pemohon untuk

berkonsultasi dengan penasehat hukum yang berkompeten sebelum mengajukan untuk membahas ruang lingkup debitur tersebut. Secara umum, termasuk kasus-kasus

83 84

Ibid. Ibid.

49

yang diberhentikan atau dikonversi, debitur individu menerima debit lebih dari 99% dari kasus Chapter 7. Dalam kebanyakan kasus, kecuali sebuah pihak yang berkeinginan untuk mengklaim objek, Pengadilan Kebangkrutan (Pengadilan Niaga) akan mengeluarkan perintah debit yang relatif awal dalam kasus umumnya. Waktu 60 sampai dengan 90 hari setelah tanggal pertama ditetapkan untuk pertemuan kreditur.85 Dasar-dasar untuk menolak suatu debitur individual debit pada kasus Chapter 7 adalah pihak-pihak yang berpindah-pindah. Di antara alasan lain, pengadilan dapat menolak debitur yang tidak menyertakan laporan keuangan, tidak menjelaskan laba rugi terhadap aset yang dimiliki, melakukan kejahatan pailit seperti sumpah palsu, gagal mematuhi perintah yang sah dari Pengadilan Kebangkrutan (Pengadilan Niaga), atau menghancurkan properti yang akan menjadi milik warisan, atau gagal untuk menyelesaikan kursus instruksional yang disetujui oleh manajemen keuangan. (11 United State Code § 727). 86 Kreditur akan mempertahankan beberapa hak-haknya untuk memperoleh properti yang dimiliki debitur walaupun sebuah penetapan discharged ini telah dikeluarkan pengadilan. Tergantung pada keadaan pemohon, jika debitur memohon untuk menjaga properti yang dijamin (seperti mobil), debitur mungkin memutuskan untuk “reaffirm” hutang. Penegasan kembali adalah suatu perjanjian antara debitur dan kreditur bahwa debitur akan tetap bertangung jawab dan akan membayar seluruh atau sebagian dari uang yang terutang, meskipun hutang sebaliknya akan habis dalam

85 86

Ibid. Ibid.

50

proses kepailitan. Sebagai gantinya, kreditur tidak akan mengambil mobil tersebut selama debitur menunjukkan pembayaran kepada kreditur. 87 Jika debtiru memutuskan untuk menegaskan kembali hutangnya, maka debitur harus melakukan sebelum debit dimasukkan. Debitur harus menandatangani perjanjian tertulis dan penegasan kembali melalui pengadilan (11 United State Code § 524 c). Bankruptcy Code mensyaratkan bahwa perjanjian penegasan kembali harus berisi serangkaian luas pengungkapan yang dijelaskan dalam (11 United State Code § 524 k). Antara lain, pengungkapan yang harus diberitahu kepada debitur dari jumlah hutang yang akan ditegaskan kembali dan bagaimana hal tersebut dihitung dan ditegaskan kembali itu berarti bahwa kewajiban pribadi debitur untuk hutang yang tidak akan habis dalam kepailitan. Pengungkapan juga mengharuskan debitur untuk menandatangani dan melampirkan laporan laba rugi tahun berjalan dan biaya yang menunjukkan bahwa saldo pembdapatan membayar biaya yang cukup untuk membayar penegasan kembali hutang tersebut. Jika saldo tidak cukup untuk membayar hutang yang akan ditegaskan kembali tersebut, ada dugaan dari kesulitan yang tidak semestinya, dan pengadilan dapat memutuskan untuk tidak menyetujui perjanjian penegasan kembali. Kecuali debitur diwakili oleh pengacara, hakim kepailitan harus menyetujui perjanjian penegasan kembali. 88 Jika debitur diwakili oleh pengacara sehubungan dengan perjanjian penegasan kembali, pengacara harus menyatakan secara tertulis bahwa pengacara tersebut menyarankan debitur dari efek hukum dan konsekuensi dari perjanjian yang akan
87 88

Ibid. Ibid.

51

dibuat, termasuk hal-hal yang sudah ada dalam perjanjian itu. Pengacara itu juga harus menyatakan bahwa debitur sepenuhnya menginformasikan dan secara sukarela membuat kesepakatan dan penegasan kembali hutang tidak akan menciptakan kesulitan yang tidak semestinya untuk debitur atau keluarga debitur (11 United State Code § 524 k). Bankruptcy Code membutuhkan pendengaran penegasan kembali jika debitur belum diwakili oleh pengacara selama negosiasi perjanjian, atau jika pengadilan menyetujui perjanjian penegasan kembali (11 United State Code § 524 d dan m). Debitur dapat membayar seluruh hutang secara sukarela,

bagaimanapun caranya, walaupun tidak ada kesepakatan penegasan kembali (11 United State Code § 524 f). 89 Dalam hal likuidasi diterima oleh Pengadilan Kepailitan/Kebangkrutan (Penagdilan Niaga) atau dengan kata lain Chapter 7 terpenuhi maka kreditur tidak dimungkinkan lagi untuk melanjutkan tindakan hukum lainnya terhadap debitur. Tapi tidak semua hutang dari Pemohon/Debitur dihapus dengan Chapter 7. Hutang tidak habis termasuk hutang untuk tunjangan dan tunjangan anak, pajak tertentu, hutang dengan pasti kelebihan pembayaran manfaat pendidikan atau pinjaman dibuat atau dijamin oleh unit Pemerintah, hutang asuransi kematian, hutang asuransi jaminan dana kecelakaan, dan hutang untuk perintah restitusi kriminal (11 United State Code § 523 a). Debitur akan terus bertanggung jawab untuk jenis hutang sejauh mereka tidak dibayar dalam hal Chapter 7. Hutang untuk uang atau harta yang diperoleh palsu, hutang untuk penipuan atau penyalahgunaan kepercayaan sementara bertindak dalam kapasitas fidusia, dan hutang untuk asuransi kesehatan disengaja atau
89

Ibid.

52

berbahaya oleh debitur untuk entitas lain atau milik entitas lain akan dibuang kecuali kreditur tepat waktu melampirkan bukti hutang dan berlaku dalam sebuah tindakan untuk memiliki hutang tersebut dinyatakan non-dischargeable (11 United State Code § 523 c).90 Pengadilan dapat membatalkan sebuah permohonan likuidasi atas permintaan trustee, kreditur, jika aset tersebut berasal dari penipuan oleh debitur. Jika debitur membeli properti yang dengan sengaja dan curang dalam laporan pembeliannya maka properti tersebut diserahkan kepada trustee, atau jika debitur (tanpa penjelasan memuaskan) membuat kesalahan terhadap materi-materi yang disajikan atau gagal untuk menyediakan dokumen atau informasi lainnya sehubungan dengan audit kasus debitur (11 United State Code § 727 d). 91

Permohonan likuidasi di Amerika Serikat juga harus berdasarkan saran dari pengacara atau konsultan hukum. Bagi debitur yang ingin melikuidasi perusahaannya maka pemohon harus mengikuti segala tata cara yang berlaku. Tata cara tersebut juga harus dibarengi dengan kejujuran dari debitur mengenai asal-muasal aset yang dimilikinya sehingga dapat memudahkan trustee untuk melakukan penjualan aset-aset agar dapat dibayarkan kepada kreditur. Dalam peraturan kepailitan Amerika Serikat kelihatan adanya perlindungan kepada debitur. Namun, apabila debitur tersebut tidak benar dalam mengajukan lampiran-lampiran dalam permohonannya maka

perlindungan tersebut akan berkurang dan lebih mengutamakan kreditur. Jadi, ada

90 91

Ibid. Ibid.

53

keseimbangan hukum disini antara kreditur dan debitur mengenai penyelesaian hutang-piutang. Setelah mengetahui peraturan mengenai likuidasi yang berlaku di Amerika Serikat, selanjutnya akan dibahas mengenai likuidasi Perseroan Terbatas yang ada di Indonesia. Likuidasi di Indonesia diatur dalam Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, dan untuk masalah penyelesaian hutang-piutangnya diatur dalam Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.

B.

Pengaturan Mengenai Likuidasi dalam Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas Pengertian Likuidasi Tidak ditemukan satu pasalpun di dalam KUHD ataupun KUH Perdata yang

1.

menggunakan istilah likuidasi. Dari beberapa kepustakaan yang ada, banyak yang membahas dalam bab yang diberi judul berakhirnya perseroan terbatas. Pemecahan atau bubarnya perseroan terbatas untuk menjelaskan tentang likuidasi. Secara umum, penyebutan likuidasi sudah menjadi suatu istilah yang dapat dimengerti di dalam masyarakat.92 Jika ditinjau dari asal katanya, yang dimaksud dengan bubarnya atau berakhirnya sebenarnya adalah ”ontbinding”, dimana arti yang lebih mendekati ketepatan adalah ”pemecahan”. Pemecahan disini dimaksudkan adalah pecahnya para

Murni, “Analisis Terhadap Likuidasi Persekutuan Komanditer (CV), Untuk Menjadi Perseroan Terbatas (PT) dalam Perspektif Hukum Ekonomi”, (Tesis : Universitas Diponegoro Semarang, 1998), hal. 79.

92

54

pemegang saham dengan tujuan untuk menghakhiri berdirinya persekutuan. Setelah pecahnya para Pemegang Saham bukan berarti langsung perseroan terbatas menjadi bubar, akan tetapi para Pemegang Saham masih harus melakukan beberapa urusan yang sifatnya pemberesan terhadap perseroan terbatas yang masih berjalan beberapa waktu lagi (loopende zaken), seperti pembayaran hutang-hutang dan tagihan-tagihan perseroan terbatas kepada pihak ketiga, pembagian keuntungan atau saldo kepada para Pemegang Saham jika masih ada, dan sebagainya. Setelah urusan pemberesan selesai barulah Perseroan Terbatas tersebut dinyatakan bubar (einde). Segala proses yang terjadi dari mulai pemecahan sampai urusan pemberesan itu disebut dalam banyak literatur hukum sebagai likuidasi. 93 Meskipun KUHD tidak menggunakan istilah likuidasi, namun kepustakaan hukum banyak yang menggunakan istilah likuidasi, dan peraturan yang dikeluarkan sekarang ini telah memasukkan likuidasi dalam pasal-pasal khusus, bahkan digunakan pula sebagai judul peraturan, yaitu peraturan yang berkaitan dengan lembaga keuangan perbankan. Dalam Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, pada Pasal 37 ayat (3), yang menyebutkan bahwa94 : ”Dalam hal direksi bank tidak menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham sebagaimana dimaksud dalam ayat (2), Pimpinan Bank Indonesia meminta kepada pengadilan untuk mengeluarkan penetapan yang berisi pembubaran badan hukum bank, penunjukan tim likuidasi, dan perintah pelaksanaan likuidasi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku”.
Ibid., hal. 79-80. Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1998 Nomor 182, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3790.
94 93

55

Meskipun ketentuan tersebut tidak memberikan definisi, ciri-ciri, dan struktur hukum terhadap makna lembaga likuidasi, namun terminologi likuidasi telah dimasukkan di dalam perundang-undangan. Tampaknya undang-undang perbankan melihat likuidasi dalam pengertian luas, yaitu sebagai suatu proses, yang diawali dengan pembubaran dan diikuti dengan pemberesan. Jadi istilah likuidasi ini mecakup lembaga pembubaran dan pemberesan,95 meskipun tidak disebutkan dalam pasalpasalnya. Agar lebih jelas, kiranya perlu diketahui pula pengertian likuidasi dari berbagai literatur, antara lain : Kamus Besar Bahasa Indonesia, menyebutkan bahwa96 : ”Likuidasi adalah proses membubarkan perusahaan sebagai badan hukum yang meliputi pembayaran kewajiban kepada para kreditur dan pembagian harta yang tersisa kepada pemegang saham (persero)”. Kamus Hukum Ekonomi Elips, menyebutkan bahwa97 : ”Liquidation adalah pembubaran perusahaan diikuti dengan proses penjualan harta perusahaan, penagihan piutang, pelunasan hutang, serta penyelesaian sisa harta atau hutang antara para pemegang saham”. Kamus Perbankan, menyebutkan bahwa98 : ”Likuidasi adalah suatu tindakan untuk membubarkan suatu perusahaan atau badan hukum”. Black’s Law Dictionary, menyebutkan bahwa99 :
95

Mariam Darus Badrulzaman, Aneka Hukum Bisnis, (Bandung : Alumni, 1994), hal. 124, sebagaimana dikutip Murni, Op.cit. 96 Kamus Besar Bahasa Indonesia Online, ”Likuidasi”, http://kamusbahasaindonesia.org/likuidasi., diakses pada 08 Mei 2011. 97 ELIPS, Kamus Hukum Ekonomi Elips, (Jakarta : Proyek Elips, 1997). 98 Institut Bankir Indonesia, Kamus Perbankan Indonesia, (Jakarta : Institut Bankir Indonesia, 1980).

56

”Liquidation is the act or process of setting or making clear, fixed and determinate that which before was uncertain or unascertained”. Dalam pandangan ahli hukum Andi Hakim, likuidasi diartikan sebagai penyelesaian, khususnya untuk badan hukum/organisasi lain mengenai pengakhiran, setelah keputusan untuk membubarkannya, suatu badan hukum setelah

pembubarannya masih bekerja untuk menyelesaikan urusannya.100 Sementara itu Van Schilfgaarde dan Doorhout Mees dalam Van de BV en de NV dan Nederlands Handels en Faillissementrecht mengemukakan101 : “Likuidasi (pembubaran) adalah penghentian kegiatan Perseroan Terbatas sebagai akibat dari berakhirnya tujuan perseroan. Pembubaran tidak mempunyai arti identik dengan “berakhirnya” eksistensi perseroan. Perseroan adalah subjek hukum, memiliki aktiva dan pasiva. Setelah pembubarannya diucapkan, eksistensinya tetap ada dengan catatan bahwa posisinya itu dalam stadium likuidasi (pembubaran). Hak yang dimilikinya harus direalisasikan dan kewajiban yang dipikulnya wajib dipenuhi. Perseroan Terbatas tidak boleh lagi melakukan hak dan kewajibannya itu. Perseroan Terbatas itu ada sepanjang diperlukan untuk pemberesan”. Pemerintah banyak mengeluarkan peraturan perundang-undangan yang menggunakan istilah-istilah yang berkembang di dalam dunia usaha akibat dari masuknya Indonesia ke World Trade Organization (WTO). Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas merupakan salah satu produk hukum yang dikeluarkan untuk tujuan mengurangi resktriktif yang ada pada peraturan sebelumnya. Peraturan ini mengalami banyak penyempurnaan mengenai masalah likuidasi.
99

Henry Campbell Black, Black’s Law Dictionary, Fifth Edition, h. 639, sebagaimana dikutip Murni, Op.cit. 100 Andi Hakim, Kamus Hukum, (Jakarta : Ghalia Indonesia, 1986), hal. 354, sebagaimana dikutip Murni, Op.cit., hal. 82. 101 Sebagaimana dikutip Mariam Darus Badrulzaman dalam Rachmadi Usman, Op.cit., hal. 168.

57

Di dalam Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas pengertian likuidasi dibedakan dengan pembubaran, dikatakan dalam Pasal 142 ayat (1), bahwa pembubaran merupakan proses menuju ke arah likuidasi yang selanjutnya akan diikuti dengan likuidasi oleh likuidator. Walaupun ketentuan ini tidak dijelaskan mengenai likuidasi, namun mengenai sebab-sebab terjadinya likuidasi, proses pembubaran dan pemberesannya diatur cukup rinci mulai dari Pasal 142 sampai dengan Pasal 152. 102 Sebenarnya ada suatu keadaan yang sangat mirip dengan likuidasi yaitu yang disebut “Kepailitan” (Faillisement, Bankruptcy). Pailit adalah suatu keadaan dimana debitur berada dalam keadaan tidak mampu membayar hutang-hutang kemudian kreditur memohon kepada hakim agar dinyatakan pailit. 103 Kadang kala kepailitan dapat menjadikan suatu badan usaha dapat dilikuidasi, namun likuidasi tidak selalu disebabkan oleh kepailitan. 104 Kerangka pengertian likuidasi, memberikan kemungkinan yang lebih luas mengenai sebab-sebab terjadinya likuidasi, misalnya karena ingin bergabung dengan perusahaan lain (merger) atau ingin merubah bentuk badan usaha. Demikian juga mengenai akibat hukum dari likuidasi adalah berbeda dengan akibat hukum dari terjadinya kepailitan. Oleh sebab itu, dapat dikatakan bahwa pada terminologi likuidasi dan kepailitan terdapat perbedaan yang cukup prinsipil. Yang pertama, terjadinya likuidasi tidak selalu disebabkan karena ketidakmampuan membayar hutang-piutang. Sebab pada saat terjadinya likuidasi kadang kala aset/harta kekayaan
102 103

Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, Op.cit. Sunarmi, Hukum Kepailitan, Terbitan Pertana, (Medan : USU Press, 2009), hal. 20. 104 Murni, Op.cit., hal. 83.

58

perseroan masih ada (tidak habis). Namun kepailitan terjadi oleh karena ketidakmampuan membayar hutang-piutang, memang sudah tidak tersisa lagi harta kekayaan perseroan.105 Kedua, dalam likuidasi selalu akan mengakibatkan eksistensi suatu badan menjadi bubar/berakhir, sedangkan dalam kepailitan tidak selalu mengakibatkan bubarnya perseroan, oleh karena dapat diambil alih oleh pemilik yang baru, seorang kreditur atau pihak ketiga lainnya. Ketiga, likuidasi dapat terjadi tanpa putusan pengadilan atau dengan putusan dari pengadilan, sedangkan terjadinya kepailitan dengan melalui putusan pengadilan, dimana sebelumnya harus ada permohonan kepada hakim komisaris. 106 Vollmar menekankan bahwa orang harus dapat membedakan antara pembubaran kebersamaan perkawinan dengan pembubaran pada kebersamaan dalam perseroan. Pembubaran perkawinan menyangkut lenyapnya atau putusnya suatu hubungan hukum, sedangkan pada pembubaran perseroan, usaha yang dijalankan bersama berakhir dalam arti bahwa lantas tidak dapat diterimanya pekerjaanpekerjaan baru, dan disitu masih ada sesuatu yang harus diselesaikan, hutang-piutang yang ada masih harus dilunasi, harus ada perhitungan keuntungan dan kerugian. 107 Menelusuri beberapa pengertian dari para ahli dan sumber kepustakaan yang ada, maka dapat membantu penegasan bahwa likuidasi merupakan suatu proses berangkai yang diawali dari tahap pemberesan, keseluruhan proses tersebut yang
Ibid., hal. 83-84. Ibid., hal. 84-85. 107 F.H.F.A. Vollmar, Pengantar Studi Hukum Perdata, Jilid II, Cetakan I, Terjemahan I.S. Adiwimarto, (Jakarta : Rajawali Press, 1984), hal. 372-372, sebagaimana dikutip Murni, Op.cit., hal. 85.
106 105

59

disebut dengan likuidasi. Proses likuidasi itu selesai barulah suatu badan hukum itu dapat dikatakan bubar/berakhir. 108 Seiring dengan semakin pesatnya dunia usaha, kemajuan dan kehancuran usaha dapat terjadi dengan berbagai sebab. Kompleksitas persoalan bubarnya suatu usaha juga tidak dibatasi hanya dengan apa yang dikatakan peraturan saja melainkan masih bisa disebabkan oleh berbagai macam keadaan-keadaan diluar ketentuan perundang-undangan. Oleh sebab itu, banyak kalangan yang berpendapat bahwa ketentuan mengenai bubarnya perseroan bukanlah suatu ketetapan yang bersifat harga mati. 109

2.

Pembubaran dan Likuidasi Perseroan Terbatas Pembubaran dan likuidasi perseroan terbatas berpedoman pada Pasal 142 ayat

(1), Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, dapat terjadi karena 110 : a. “Berdasarkan keputusan RUPS; b. Karena jangka waktu berdirinya yang ditetapkan dalam anggaran dasar telah berakhir; c. Berdasarkan penetapan pengadilan; d. Dengan dicabutnya kepailitan berdasarkan putusan pengadilan niaga yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap, harta pailit Perseroan tidak cukup untuk membayar biaya kepailitan; e. Karena harta pailit Perseroan yang telah dinyatakan pailit berada dalam keadaan insolvensi sebagaimana diatur dalam undang-undang tenang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang; atau f. Karena dicabutnya izin usaha Perseroan sehingga mewajibkan Perseroan melakukan likuidasi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan”.

108 109

Murni, Op.cit., hal. 85. Ibid., hal. 90. 110 Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, Op.cit.

60

Dengan demikian, jika perseroan telah bubar maka perseroan tidak dapat melakukan perbuatan hukum, kecuali untuk membereskan kekayaan dalam proses likuidasi. Sementara itu, dalam proses pemberesan (likuidasi) yang dilakukan oleh likuidator maka mengenai nama-nama anggota ditentukan oleh Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) jika perseroan tersebut dibubarkan berdasarkan keputusan RUPS. Namun, jika keanggotaan likuidator dapat diangkat oleh pengadilan, sehingga pembubaran perseroan tersebut berdasarkan penetapan pengadilan. Selain itu, jika pembubaran perseroan telah diputuskan dua lembaga, dalam hal ini tidak disertai penunjukan likuidator maka direksi secara ex officio bertindak sebagai likuidator. 111 Selain itu, pengangkatan dan pemberhentian likuidator perseroan terbatas atas permohonan satu orang atau lebih yang berkepentingan atau atas permohonan kejaksaan. Ketua Pengadilan Negeri dapat mengangkat likuidator baru dan memberhentikan likuidator lama, karena yang bersangkutan tidak melaksanakan tugas sebagaimana mestinya atau dalam hal hutang perseroan melebihi kekayaan perseroan.112 Dalam pada itu, kewajiban likuidator dari perseroan terbatas menurut Pasal 147 ayat (1), Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas yang menyatakan bahwa113 : “Dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal pembubaran Perseroan, likuidator wajib memberitahukan :

Elsi Kartika Sari dan Advendi Simangunsong, Hukum dalam Ekonomi, (Jakarta : Grasindo, Tanpa Tahun), hal. 65-66. 112 Ibid., hal. 66. 113 Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, Op.cit.

111

61

a. Kepada semua kreditor mengenai pembubaran Perseroan dengan cara mengumumkan pembubaran Perseroan dalam surat kabar dan Berita Negara Republik Indonesia; dan b. Pembubaran Perseroan kepada Menteri untuk dicatat dalam daftar Perseroan bahwa perseroan dalam likuidasi”. Dengan kata lain, berdasarkan ketentuan di atas dapat diartikan bahwa likuidator dari perseroan yang telah bubar wajib memberitahukan kepada semua kreditornya dengan surat tercatat mengenai bubarnya perseroan. Pemberitahuan tersebut memuat nama dan alamat likuidator, tata cara pengajuan tagihan, dan jangka waktu mengajukan tagihan yang tidak boleh lebih dari 60 hari terhitung sejak surat pemberitahuan diterima. 114 Kreditor yang mengajukan tagihan sesuai dengan ketentuan yang berlaku tetapi ditolak, dapat mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri, paling lambat 60 hari terhitung sejak tanggal penolakan.115 Likuidator wajib mendaftarkan dan mengumumkan hasil akhir proses likuidasi sesuai ketentuan yang berlaku. 116 Perseroan yang sedang dalam proses likuidasi harus selalu mencantumkan kata “Dalam Likuidasi” di belakang nama perseroan di setiap surat keluar. Likuidator wajib memberitahukan mengenai bubarnya perseroan kepada semua kreditor perseroan dengan surat tercatat.117 Likuidator bertanggung jawab kepada RUPS untuk melakukan likuidasi yang dilakukannya atas kekayaan perseroan. Sisa kekayaan hasil

Pasal 147 ayat (2) dan (3), Ibid. Pasal 150 ayat (1), Ibid. 116 Pengumuman tersebut seperti yang tercantum dalam Pasal 149 ayat (1) huruf b., yang menyatakan bahwa “Kewajiban likuidator dalam melakukan pemberesan harta kekayaan Perseroan dalam proses likuidasi meliputi pelaksanaan : b. Pengumuman dalam surat kabar dan Berita Negara Republik Indonesia mengenai rencana pembagian kekayaan hasil likuidasi”, Ibid. 117 Pasal 143 ayat (2), Ibid.
115

114

62

likuidasi dibagikan kepada pemegang saham secara proporsional.118 Likuidator wajib mendaftarkan dan mengumumkan hasil akhir proses likuidasi tersebut dan mengumumkannya dalam dua surat kabar harian. 119 Pembubaran sebagaimana tersebut di atas wajib untuk dilakukan pendaftaran dan pengumuman tentang telah dibubarkannya perseroan. Dalam pendaftaran dan pengumuman wajib disebutkan nama dan alamat likuidator. Jika hal itu tidak dilakukan, akibat bubarnya perseroan tidak berlaku bagi pihak ketiga. Jika likuidator lalai melakukan pendaftaran dan pengumuman, likuidator secara tanggung renteng bertanggung jawab atas kerugian yang diderita pihak ketiga. 120 Jika perseroan bubar, perseroan tidak dapat melakukan perbuatan hukum, kecuali diperlukan untuk membereskan kekayaannya dalam proses likuidasi. Tindakan pemberesan dari likuidator meliputi121 : 1. Pencatatan dan pengumpulan kekayaan perseroan; 2. Penentuan tata cara pembagian kekayaan; 3. Pembayaran kepada para kreditur; 4. Pembayaran sisa kekayaan hasil likuidasi kepada pemegang saham; dan 5. Tindakan-tindakan lain yang perlu dilakukan dalam pelaksanaan pemberesan kekayaan.

Pasal 149 ayat (1) huruf d., Ibid. Pasal 147 ayat (4) huruf b., Ibid. 120 Frans Satrio Wicaksono, Tanggung Jawab Pemegang Saham, Direksi, & Komisaris Perseroan Terbatas, Cetakan Pertama, (Jakarta : Visimedia, Oktober 2009), hal. 38. Lihat Pasal 149 ayat (1) huruf b., Ibid. 121 Ibid., hal. 38-39. Lihat Pasal 149 ayat (1). Ibid.
119

118

63

Setelah

mengetahui

kewajiban

likuidator,

selanjutnya

dapat

ditarik

kesimpulan mengenai tanggung jawab likuidator. Mengenai tanggung jawab ini dapat dilihat melalui hak dan tanggung jawab Pemegang Saham maupun Likuidator. Jika ada hak pemegang saham maka disitu ada kewajiban likuidator. Begitu juga sebaliknya, jika ada hak Likuidator maka ada tanggung jawab Pemegang Saham.

3.

Tanggung Jawab Likuidator Tanggung jawab likuidator adalah kepada Pemegang Saham karena

Likuidator ditunjuk berdasarkan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), atau dengan kata lain atas kehendak dari RUPS. Seluruh tanggung jawab likuidator dapat dilihat berdasarkan Pasal 149 ayat (1) Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Jika dibandingkan dengan Likuidasi di Amerika Serikat mengenai tanggung jawab Likuidatornya atas penyelesaian hubungan perjanjian kerja sama, apabila di Amerika Serikat, Likuidatornya berhak untuk menjalankan atau menyelesaikan perjanjian kerja sama ataupun perjanjian bisnis yang masih berjalan tetapi dengan persyaratan seluruh hasil kekayaan hasil hubungan kerja tersebut harus dimasukkan ke dalam harta likuidasi sebagai aset yang akan dibagikan nantinya kepada Kreditur ataupun Pemegang Saham. Begitu juga dengan di Indonesia, bahwa Likuidator juga berperan sampai pada tahap seperti di Amerika Serikat. Dapat dikatakan peran Likuidator Perseroan Terbatas adalah sebagai fasilitator dalam hal pemberesan harta kekayaan dan pembubaran Perseroan Terbatas. Tujuan pemberesan harta kekayaan ini adalah agar tercapailah makna dari hukum itu, yaitu keadilan. Pemegang Saham sudah pasti tidak terdiri dari satu orang

64

saja (individu) ataupun satu perusahaan (badan hukum) walaupun undang-undang mengizinkan untuk itu. Jadi, oleh karena itu pembagian sisa hasil kekayaan setelah pembayaran hutang dan penagihan piutang yang ada barulah dibagikan kepada Pemegang Saham. Disinilah peran dari Likuidator dalam memfasilitasi hal tersebut secara adil dan merata. Likuidator harus berlaku adil terhadap besaran saham yang dimiliki setiap subjek hukum sebagai Pemegang Sahamnya.. Likuidator juga bertanggung jawab kepada Pengadilan yang mengangkatnya atas likuidasi Perseroan Terbatas yang dilakukan. 122 Likuidator wajib

memberitahukan kepada Menteri Hukum dan Hak Azasi Manusia Republik Indonesia (Menkumham)123 dan mengumumkan hasil akhir proses likuidasi dalam surat kabar setelah RUPS memberikan pelunasan dan pembebasan kepada likuidator atau setelah Pengadilan menerima pertanggung jawaban likuidator yang ditunjuknya.124 Likuidator dapat terdiri dari satu orang atau beberapa orang. Likuidator dapat dipilih dari para karyawan ataupun pengurus perusahaan bertindak langsung secara mandiri, ataupun juga orang di luar persekutuan (dalam hal ini Konsultan Hukum atau Pengacara). Bila tidak terdapat kesepakatan, maka dapat dimintakan kepada Pengadilan Negeri setempat untuk menunjuk likuidatornya. Untuk itu sebaiknya sejak saat perseroan didirikan telah diadakan pengaturan dalam anggaran dasar perseroan mengenai pihak yang bertindak sebagai likuidator. 125

Pasal 146 ayat (2) jo. Pasal 152 ayat (1), Ibid. Pasal 152 ayat (8), Ibid. 124 Memberikan “pelunasan dan pembebasan kepada Likuidator” artinya adalah bahwa Pemegang Saham perseroan terbatas tersebut melaksanakan kewajibannya dalam hal pembayaran berupa uang tunai sesuai dengan yang diperjanjikan pada saat RUPS penunjukan likuidator. 125 Murni, Op.cit., hal. 97.
123

122

65

Dalam hal penunjukan likuidator, Vollmar mengatakan bahwa126 : “Jika tidak ditentukan dalam anggaran dasar mengenai siapa yang dapat bertindak sebagai likuidator dan berapa jumlah yang dikehendaki, maka disinilah mereka secara bersama-sama dapat bertindak sebagai likuidator”. Tugas likuidator ini selain melakukan urusan penghitungan juga harus mendaftarkan akte pembubaran perseroan ke Pengadilan Negeri setempat barulah setelah itu mendaftarkannya ke Departemen Hukum dan Hak Azasi Manusia (Depkumham) untuk diumumkan di Berita Negara Republik Indonesia. Pengumuman pada surat kabar sesungguhnya untuk menunjukkan iktikad baik dari pembubaran perseroan terbatas tersebut agar diketahui oleh pihak ketiga (kreditur). 127

a.

Internal Proses pemberesan dikatakan selesai apabila penagihan dari pihak ketiga

sudah dilunasi semuanya (seluruh kreditur). Setelah itu barulah honorarium para likuidator, dan bila masih ada sisa, maka dapat diadakan pembagian antara para sekutu, sedangkan jika tidak terdapat sisa, maka pembagian beban kerugian ditetapkan sesuai dengan aturan dalam perjanjian pendirian perseroan (anggaran dasar) dan bilamana tidak diperjanjikan maka akan dibagi sesuai dengan imbangan nilai pemasukannya. Akan tetapi, apabila beberapa waktu kemudian masuh muncul kreditur baru yang mendalilkan bahwa dirinya mempunyai beberapa tagihan yang masih belum terbayar, maka perkara tersebut harus diserahkan kepada hakim. Hakim dapat membuka kembali arsip pemberesannya, sepanjang ada bukti yang menguatkan

126 127

F.H.F.A. Vollmar, Op.cit., hal. 376, sebagaimana dikutip Murni, Op.cit., hal. 98. Ibid.

66

untuk itu, bahkan dimungkinkan hakim mengangkat seorang likuidator baru bila diperlukan. 128 Setelah likuidator betul-betul telah selesai melaksanakan tugas pemberesan, maka likuidator harus memberikan laporan hasil penghitungannya itu secara internal kepada struktur Perseroan Terbatas yaitu Pemegang Saham. Penyampaian laporan tersebut pada saat Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Laporan disampaikan secara tertulis dengan disertai segala dokumen-dokumen yang menunjang. Setelah para perseroan meneliti semua laporan, apakah semua kreditur sudah dilunasi termasuk honorarium likuidator, maka likuidator dapat dibebaskan dari tanggung jawab atas tugas-tugasnya.129

b.

Eksternal Dalam menjalankan tugas pemberesan, likuidator tidak hanya

bertanggungjawab menyampaikan laporannya saja kepada para Pemegang Saham ataupun Pengadilan tapi juga likuidator harus bertanggung jawab secara eksternal yang berkaitan dengan pihak luar. Pada azasnya, dalam setiap bentuk badan usaha, baik yang berbentuk Perseroan maupun Persekutuan, tanggung jawab eksternal adalah berkaitan dengan pihak luar. Pihak luar disini maksudnya adalah para kreditur atau masyarakat luas, namun pada beberapa bentuk badan usaha tertentu. Tanggung

128 129

Ibid., hal. 98-99. Ibid., hal. 99.

67

jawab eksternal itu tidak hanya berkaitan dengan para kreditur perseroan saja tetapi juga menyangkut tanggung jawab kepada lembaga pemerintah.130 Misalnya, dalam struktur Perseroan yang bergerak di lingkungan lembaga keuangan atau perbankan, likuidator bertanggung jawab kepada pejabat pemerintah yang berwenang, dalam hal ini adalah Menteri Keuangan. Jika perseroan tersebut bergerak di luar bidang keuangan, likuidator harus memberikan laporan pertanggung jawaban tugasnya kepada menteri tekhnis yang membawahi bidang usaha perseroan tersebut, dalam kapasitasnya sebagai forum RUPS.131 Dalam struktur Perusahaan Daerah, laporan pertanggung jawaban juga harus diberikan kepada Pemerintah Daerah yang mendirikan perusahaan yang

bersangkutan.132 Dalam hal seorang likuidator yang pengangkatannya ditunjuk oleh hakim juga harus memberikan laporan pertanggung jawaban itu kepada hakim. Sedangkan bagi perseroan terbatas, tanggung jawab likuidator secara eksternal adalah berkaitan dengan pelunasan kepada para kreditur perseroan.133 Setelah mengetahui ruang lingkup likuidasi dan tugas-tugas likuidator tersebut di atas, maka selanjutnya akan dibahas mengenai perkembangan Likuidasi dalam kegiatan bisnis. Likuidasi dalam kegiatan berusaha.

Ibid., hal. 101. Ibid. 132 Sebagai contoh Perusahaan Daerah adalah dapat dilihat pada PT.Bank Sumut dan PT.Pembangunan Prasarana Sumatera Utara, disini Pemegang Sahamnya adalah Pemerintah Daerah yaitu Kepala Daerah. 133 Murni, Loc.cit.
131

130

68

4.

Perkembangan Likuidasi dalam Kegiatan Bisnis Pada dasarnya likuidasi dapat dipahami sebagai arti dari pembubaran, dan

prosedur likuidasi dalam arti luas mengandung suatu proses, dimana tahap awal dari proses tersebut adalah pecah/bubarnya para perseroan dan diikuti dengan tahap pemberesan.134 Akibat hukum dari terjadinya likuidasi adalah bubarnya eksistensi suatu badan hukum. Dengan pesatnya perkembangan kegiatan bisnis, menjadikan semakin ketatnya persaingan di dalam dunia usaha. Tampaknya masalah umum yang sering menjadi persoalan dunia usaha adalah kesedian sumber dana atau modal yang tidak cukup bagi perseroan agar tetap eksis di dalam menjalankan kegiatan usaha.135 Untuk itulah berbagai strategi bersaing telah banyak dikembangkan dalam prakteknya, seperti melalui strategi merger, akuisisi, konsolidasi, dan likuidasi. Likuidasi untuk merger ataupun likuidasi untuk menutup badan hukum atau menyudahi badan usaha. Hal ini menunjukkan bahwa dunia usaha itu menuntut adanya perubahan-perubahan (inovasi) baik dari aspek hukum maupun aspek manajerial, seperti perubahan kinerja, perubahan organisasi kepemilikan, ataupun penyempurnaan peraturan-peraturan yang berkaitan dengan dunia usaha. Dalam beberapa tahun terakhir, upaya merger dan likuidasi juga telah dilakukan oleh pemerintah terhadap perusahaan-perusahaan negara (BUMN) yang dinilai mengalami kesulitan keuangan serta tidak dapat mengembangkan usaha atau yang sering kali dikatakan sebagai perusahaan yang tidak sehat.136 Berdasarkan Surat Keputusan

Gunawan Widjaja, Seri Pemahaman Perseroan Terbatas : 150 Tanya Jawab Tentang Perseroan Terbatas, Cetakan Pertama, (Jakarta : Forum Sahabat, Agustus 2008), hal. 122. 135 Murni, Loc.cit., hal. 102. 136 Ibid.

134

69

Menteri Keuangan No. 749/1989 yang menyebutkan bahwa kriteria penilaian BUMN, yaitu : rentabilitas, likuiditas, dan solvabilitas. Sebagai contoh : pada tahun 1990, PT. Pusat Perkayuan Marunda dilikuidasi dan hasil aset likuidasinya disertakan ke PT. Kawasan Berikat Nusantara,137 PT. Tirta Raya, dan PT. Batu Bara dilikuidasi kemudian merger dengan PT. Tambang Batu Bara Bukit Asam. Sebagaimana dalam uraian sebelumnya, dalam arti luas likuidasi dipahami sebagai suatu proses yang diawali dengan pembubaran dan diikuti dengan pemberesan, dimana akibat dari likuidasi itu menjadikan bubarnya eksistensi badan usaha. Terlepas dari apa yang menjadi sebab dan tujuan diadakan likuidasi, kedua tahap pembubaran dan pemberesan itu perlu dilalui dalam setiap proses likuidasi. Dalam struktur hukum merger, pengertian merger dipahami sebagai bentuk kerja sama yang ada di antara perusahaan, yakni adanya sebuah perusahaan yang mengambil alih satu atau lebih perusahaan yang lain. Setelah terjadi pengambilalihan, perusahaan yang diambil alih tersebut dibubarkan sehingga eksistensinya sebagai badan hukum lenyap dan kegiatan usahanya dilanjutkan oleh perusahaan yang mengambil alih.138 Pada waktu terjadinya pengambilalihan, tentunya perusahaan

Peraturan Pemerintah No. 31 Tahun 1990 tentang Pembubaran Perusahaan Perseroan (Persero) PT. Pusat Perkayuan Marunda dan Penambahan Penyertaan Modal Negara yang Berasal dari Kekayaan Negara Hasil Likuidasi Perusahaan Perseroan (Persero) Tersebut ke Dalam Modal Saham Perseroan (Persero) PT.Kawasan Berikat Nusantara, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1990 Nomor 39. 138 Pasal 1 angka 9, Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, Op.cit., menyatakan bahwa : “Penggabungan adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh satu Perseroan atau lebih untuk menggabungkan diri dengan Perseroan lain yang telah ada yang mengakibatkan aktiva dan pasiva dari Perseroan yang menggabungkan diri beralih karena hukum kepada Perseroan yang menerima penggabungan dan selanjutnya status badan hukum Perseroan yang menggabungkan diri berakhir karena hukum”.

137

70

harus berada dalam stadium likuidasi, dimana pada umumnya perusahaan dalam stadium ini diberi tanda “Dalam Likuidasi”. 139 Dengan demikian, likuidasi untuk merger dapat dipahami bahwa proses pemberesan itu tidak dilakukan sesuai dengan maksud pemberesan. Jika terdapat perhitungan dalam pemberesan, hal itu dimaksudkan dalam rangka untuk mengetahui posisi akhir (sebelum diadakan likuidasi) dari aktiva dan pasiva perusahaan yang akan di-merger. Biasanya perusahaan-perusahaan yang akan di-merger dapat menjadi perusahaan cabang dan pemilik perusahaan yang di-merger dapat bergabung dengan perusahaan hasil merger. 140 Di dalam perkembangan kegiatan bisnis, penggunaan likuidasi tidak hanya sebagai upaya pembubaran suatu institusi/badan hukum saja namun juga dapat digunakan sebagai cara pengembangan perusahaan.141 Oleh sebab itu selain likuidasi itu untuk tujuan merger, diketahui pula adanya likuidasi yang bertujuan untuk merubah bentuk badan usaha. Hal ini biasanya dilakukan terhadap badan-badan usaha yang masih berbentuk persekutuan Comanditaire Venootschap (CV) atau Firma untuk menjadi suatu Perseroan Terbatas (PT). Dengan begitu banyak perkembangan yang ada mengenai likuidasi perseroan terbatas hal yang paling mendasar alasan dilikuidasinya perseroan terbatas adalah ketidaksanggupan untuk tetap bertahan dalam dunia bisnis. Pemerintah sendiri juga

Pasal 143 ayat (2), Ibid. Murni, Op.cit., hal. 106. 141 Dalam likuidasi dilakukan untuk pengembangan usaha adalah apabila perusahaan awalnya berbentuk Comanditaire Venootschap kemudian dilikuidasi untuk didirikan kembali menjadi Perseroan Terbatas. Lihat : Robert D. Hisrich, Op.cit., Lihat juga Munir Fuady, Hukum Bisnis Dalam Teori dan Praktik, Buku Kesatu, (Bandung : Citra Aditya Bakti, 1991), hal. 28., sebagaimana dikutip Ibid., hal. 107.
140

139

71

merasakan hal itu dengan melikuidasinya BUMN yang tidak bisa memberikan keuntungan kepada Negara. Notabene memberikan profit sharing pada saat pembagian dividen, yang terjadi adalah BUMN tersebut terus-menerus melakukan permohonan penyertaan modal.

C.

Pertimbangan Likuidasi Perseroan Terbatas Bila ditinjau dari sudut penyebutannya saja, yaitu Perseroan Terbatas (PT),

maka yang terbayang adalah suatu perusahaan besar dengan modal yang cukup kuat. Secara sederhana penyebutan ini telah dapat menyatakan karakteristik Perseroan Terbatas, yang tersimpul dari kata “Perseroan” dan “Terbatas”. Dari kedua kata perseroan dan terbatas itu dapat diartikan bahwa Perseroan Terbatas, seluruh modal yang dimiliki terbagi dalam sero-sero (saham-saham) sedangkan terbatas memberi makna pada tanggung jawab para pemegang saham adalah terbatas pada nilai jumlah saham yang dimilikinya. Sekalipun dalam beberapa kepustakaan belum ditemukan penjelasan asal-muasal terjadinya penyebutan itu, namun penggunaan istilah itu telah lazim digunakan dan bahkan kini telah menjadi judul resmi undang-undang, yaitu Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. 142 Likuidasi dilakukan berdasarkan keputusan RUPS sesuai dengan yang tersebut di dalam Pasal 142, Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas sudah pasti setiap perseroan terbatas memiliki alasan-alasan dalam hal pembubaran perseroan. Latar belakang tersebut dapat dilihat pada Akte Risalah Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada saat pembubaran perseroan. Latar belakang
142

Murni, Op.cit., hal. 110-111.

72

sebuah Perseroan Terbatas dilikuidasi dapat disamakan dengan pertimbangan likuidasi perseroan terbatas. Namun, subjek yang mempertimbangkan hal tersebut adalah Pemegang Saham sebagai pemilik perseroan. Perkembangan bisnis persreoan juga menjadi suatu pertimbangan dalam pengambilan keputusan melikuidasi perseroan.143 Seluruh tindakan direksi dalam Perseroan Terbatas juga harus dicatat melalui Anggaran Dasar yang perubahannya juga disesuaikan melalui Surat Keputusan Menteri Hukum dan HAM (SK MENKUMHAM). 144 Hal ini ditempuh agar dapat diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia dan memberitahukan masyarakat luas. Dalam hal likuidasi juga harus diumumkan di Berita Negara Republik Indonesia.145 Namun, pertimbangan dari dilikuidasi perseroan terbatas tidak dicantumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia. Dalam membahas mengenai “Analisis Hukum Penyelesaian Hutang Piutang Perseroan Terbatas Dalam Likuidasi” ini tidak dibahas mengenai aspek-aspek lain mengenai pertimbangan likuidasinya melainkan

RUPS adalah organ Perseroan yang mempunyai wewenang yang tidak diberikan kepada Direksi atau Dewan Komisaris dalam batas yang ditentukan dalam Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, dan RUPS mengangkat Direksi dan Komisaris. Kemudian keputusan-keputusan yang menyangkut struktur organisasi Perseroan, yaitu perubahan anggaran dasar, penggabungan, peleburan, pemisahan, pembubaran dan likuidasi Perseroan, hak dan kewajiban para pemegangg saham, pengeluaran saham baru dan pembagian/penggunaan keuntungan yang dibuat Perseroan sepenuhnya menjadi wewenang RUPS. Lihat : Laura Ginting, “Analisis Hukum Kedudukan Rapat Umum Pemegang Saham pada Perseroan Terbatas Dilihat Dari Anggaran Dasar”, (Tesis : Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara, 2008), hal. 107. 144 Veronica Tampubolon, “Pertanggungjawaban Perbuatan Hukum Perseroan yang Dimuat Dalam Akta Notaris (Ditinjau Dari Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata)”, (Tesis : Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, 2010). 145 Pasal 149 ayat (1) huruf b., Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, Op.cit.

143

73

hanya pertimbangan bisnis karena perseroan terbatas tidak mencukupi antara pendapatan dengan pengeluaran. Oleh sebab itu, para pemegang saham harus turut bertanggung jawab secara penuh sampai harta kekayaan pribadi atas perbuatan yang dilakukan oleh salah satu persero, maka akan banyak kendala dalam melacak harta kekayaan pribadi dari tiaptiap pemegang saham dan karenanya sulit untuk dapat dilaksanakan. Atas dasar inilah karakteristik pertanggungjawaban yang terbatas sangat mutlak dilekatkan pada bentuk Perseroan Terbatas. 146 Dengan melekatnya tanggung jawab terbatas pada Perseroan Terbatas, hal ini dapat menjadi pertimbangan tersendiri bagi seseorang yang akan melakukan investasi modalnya ke dalam suatu Perseroan Terbatas, bahwa harta kekayaan pribadi akan terhindar dari tuntutan para kreditur Perseroan Terbatas, sementara harapan keuntungan dari Perseroan Terbatas masih dapat diperoleh.147 Adapun yang menjadi pertimbangan dilikuidasinya sebuah perseroan terbatas dalam riset ini adalah Laporan Keuangan yang terdiri dari Laporan Laba Rugi perseroan terbatas dan Neraca Keuangan didapat bahwa tidak seimbangnya antara pendapatan dengan pengeluaran. Berbagai cara sudah dilakukan namun tidak menunjukkan hasil yang maksimal. Hal ini terkait juga dengan hukum persaingan

Murni, Op.cit., hal. 112. Dengan diterbitkannya Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, maka prinsip pertanggungjawaban kini dapat diterobos dalam hal jika terjadi keadaan-keadaan khusus, sebagaimana yang tercantum dalam Pasal 3 ayat (2) yang menyatakan bahwa : “ketentuan-ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku apabila : a. Persyaratan Perseroan sebagai badan hukum belum atau tidak terpenuhi; b. Pemegang Saham yang bersangutan baik langsung maupun tidak langsung dengan iktikad buruk memanfaatkan Perseroan untuk kepentingan pribadi; c. Pemegang Saham yang bersangkutan terlibat dalam perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh Perseroan; atau d. Pemegang Saham yang bersangkutan baik langsung maupun tidak langsung secara melawan hukum menggunakan kekayaan Perseroan, yang mengakibatkan kekayaan Perseroan menjadi tidak cukup untuk melunasi utang Perseroan”, Loc.cit.
147

146

74

yang semakin ketat. Studi kelayakan (feasibility study) juga dilakukan dalam hal memperoleh keadaan pasar saat ini, namun didapat bahwa perseroan terbatas (yang menjadi subjek penelitian ini PT. Schutter Indonesia). Ada juga mengenai pertimbangan-pertimbangan lain dalam melikuidasi perseroan terbatas yakni : mengenai infrastruktur yang tidak mendukung, hambatan-hambatan yang terjadi dalam pengurusan perusahaan baik internal maupun eksternal, dan lain sebagainya. Jadi, berdasarkan itu pula Pemegang Saham dapat mengambil keputusan untuk menyudahi atau menutup atau membubarkan perseroan.

D.

Pengaturan Penyelesaian Hutang Piutang Perseroan Terbatas Dalam Likuidasi Pengaturan penyelesaian hutang piutang perseroan terbatas pada saat likuidasi

dilakukan oleh Likuidator. 148 Jika aset cukup maka tidak perlu ditempuh jalur kepailitan namun sebaliknya apabila aset tidak cukup maka akan ditempuh jalur tersebut. Dalam hal tidak perseroan memiliki aset yang cukup, maka tidak ada masalah dalam proses likuidasinya. Sebaliknya jika aset tidak cukup likuidasi akan terganggu karena proses yang pertama ditempuh adalah melakukan permohonan pailit ke Pengadilan Niaga dengan persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).149 Permohonan pailit dilakukan berdasarkan ketentuan Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang. Hal pertama sekali yang dilakukan oleh likuidator adalah mengumumkan selanjutnya diikuti dengan pencatatan dan pengumpulan kekayaan dan utang
148 149

Pasal 149 ayat (1) huruf c., Ibid. Pasal 104 ayat (1), Ibid.

75

perseroan.150 Pencatatan tersebut bertujuan untuk menghitung seluruh kekayaan apakah cukup atau tidak dalam hal pembayaran hutang. Selain hutang ada juga piutang usaha yang harus ditagih oleh likuidator. Hal ini juga bermanfaat agar aset perseroan terbatas cukup untuk membayar seluruh hutang dan kewajiban perseroan terbatas. Sudah dibahas pada bab sebelumnya mengenai asal-muasal hutang piutang dari perseroan terbatas adalah berasal dari hubungan-hubungan bisnis dengan pihak lain. Namun, dalam hal ini banyak sekali perjanjian kerja sama yang tidak diberikan haknya kepada perseroan. Perseroan dilikuidasi bergerak atas nama Perseroan Terbatas Dalam Likuidasi dilakukan oleh Likuidator. Penyelesaian hutang-piutang bisa melalui jalur pengadilan (in-court) maupun luar pengadilan (out-court). Penyelesaian sengketa utang piutang melalui jalur pengadilan, antara lain : a. Gugatan perdata biasa; b. Arbitrase; c. Proses kepailitan dan atau PKPU. Sedangkan penyelesaian utang piutang melalui luar pengadilan antara lain dapat menggunakan : a. Alternative Dispute Resolution (ADR); b. Jasa Mediator “Prakarsa Jakarta”; dan lain sebagainya. Hal tersebut di atas demi melakukan penegakan hukum.151 Ketegasan masalah sengketa hutang piutang merupakan sengketa perdata dipertegas dalam beberapa yuridsprudensi, antara lain berdasarkan Putusan Mahkamah Agung tanggal 11 Maret 1970 No. 93 K/Kr/1969 yang secara jelas dan tegas menyatakan ”Sengketa tentang hutang-piutang merupakan sengketa perdata”. Jadi, penjelasan penyelesaian sengketa hutang piutang harus menempuh jalur perdata.

150 151

Pasal 149 ayat (1) huruf a., Ibid. Manahan M. P. Sitompul, Op.cit.

76

Dalam perusahaan terbatas yang sedang dalam tahap likuidasi, jika ingin menuntut haknya berupa pembayaran hutang dapat ditempuh jalur pengadilan. Dasar hukumnya adalah Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata) dengan dalil wanprestasi.152

1.

Jalur Pengadilan (Gugatan Perdata Biasa) Wanprestasi timbul dari persetujuan (agreement). Artinya untuk mendalilkan

suatu subjek hukum telah wanprestasi, harus ada lebih dahulu perjanjian antara kedua belah pihak sebagaimana ditentukan dalam Pasal 1320 KUH Perdata 153 : “Supaya terjadi persetujuan yang sah, perlu dipenuhi empat syarat: kesepakatan mereka yang mengikatkan dirinya; kecakapan untuk membuat suatu perikatan; suatu pokok persoalan tertentu; suatu sebab yang tidak terlarang”. Wanprestasi terjadi karena debitur (yang dibebani kewajiban) tidak memenuhi isi perjanjian yang disepakati, seperti : a. Tidak dipenuhinya prestasi sama sekali, b. Tidak tepat waktu dipenuhinya prestasi, c. Tidak layak memenuhi prestasi yang dijanjikan,

Pada wanprestasi diperlukan lebih dahulu suatu proses, seperti Pernyataan lalai (inmorastelling, negligent of expression, inter pellatio, ingeberkestelling). Hal ini sebagaimana dimaksud Pasal 1243 KUH Perdata yang menyatakan “Perikatan ditujukan untuk memberikan sesuatu, untuk berbuat sesuatu, atau untuk tidak berbuat

152 153

Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Staatsblad Tahun 1847 Nomor 23. Ibid.

77

sesuatu” atau jika ternyata dalam perjanjian tersebut terdapat klausul yang mengatakan debitur langsung dianggap lalai tanpa memerlukan somasi (summon) atau peringatan. Hal ini diperkuat yurisprudensi Mahkamah Agung No. 186 K/Sip/1959 tanggal 1 Juli 1959 yang menyatakan : “apabila perjanjian secara tegas menentukan kapan pemenuhan perjanjian, menurut hukum, debitur belum dapat dikatakan alpa memenuhi kewajiban sebelum hal itu dinyatakan kepadanya secara tertulis oleh pihak kreditur”. Pada wanprestasi, perhitungan ganti rugi dihitung sejak saat terjadi kelalaian. Hal ini sebagaimana diatur Pasal 1237 KUH Perdata yang menyatakan bahwa154 : “Pada suatu perikatan untuk memberikan barang tertentu, barang itu menjadi tanggungan kreditur sejak perikatan lahir. Jika debitur lalai untuk menyerahkan barang yang bersangkutan, maka barang itu, semenjak perikatan dilakukan, menjadi tanggungannya”. Pasal 1246 KUH Perdata menyatakan bahwa : “biaya, ganti rugi dan bunga, yang boleh dituntut kreditur, terdiri atas kerugian yang telah dideritanya dan keuntungan yang sedianya dapat diperolehnya”.155 Berdasarkan pasal 1246 KUH Perdata tersebut, dalam wanprestasi, penghitungan ganti rugi harus dapat diatur berdasarkan jenis dan jumlahnya secara rinci seperti kerugian kreditur, keuntungan yang akan diperoleh sekiranya perjanjian tersebut dipenuhi dan ganti rugi bunga (interest). Dengan demikian kiranya dapat dipahami bahwa ganti rugi dalam wanprestasi (injury damage) yang dapat dituntut haruslah terinci dan jelas. Meskipun tuntutan ganti rugi tidak diperlukan secara terinci, beberapa yurisprudensi Mahkamah Agung membatasi tuntutan besaran nilai dan jumlah ganti rugi, seperti :
154 155

Ibid. Ibid.

78

a. Putusan Mahkamah Agung No. 196 K/ Sip/ 1974 tanggal 7 Oktober 1976 menyatakan “besarnya jumlah ganti rugi perbuatan melawan hukum, dipegangi prinsip Pasal 1372 KUH Perdata yakni didasarkan pada penilaian kedudukan sosial ekonomi kedua belah pihak”. b. Putusan Mahkamah Agung No. 1226 K/Sip/ 1977 tanggal 13 April 1978, menyatakan, “soal besarnya ganti rugi pada hakekatnya lebih merupakan soal kelayakan dan kepatutan yang tidak dapat didekati dengan suatu ukuran”.

Namun, ada kelemahan dalam berperkara pada jalur pengadilan, dimana pihak-pihak yang ada yang dengan sengaja memperlambat proses ini untuk maksudmaksud tertentu sehingga penyelesaian perkara terkesan lambat dan makan biaya yang banyak. Terhadap proses litigasi melalui pengadilan ini muncul berbagai kritik yang dilontarkan oleh masyarakat pencari keadilan terutama dari pelaku usaha, wujud kritik tersebut menurut Suyud Margono dapat diuraikan sebagai berikut 156 : a. “Penyelesaian sengketa ‘lambat’ (waste of time), kelambatan tersebut diakibatkan oleh pemeriksaan yang sangat formal dan sangat teknis menjadikan arus perkara semakin deras, beban terlalu banyak (over loaded); b. Biaya perkara ‘mahal’, apabila dikaitkan dengan lama penyelesaian perkara. Biaya perkara mahal membuat orang berperkara menjadi lumpuh dan terkuras waktu dan pikiran (litigation paralyze people); c. Perkara tidak tanggap (unresponsive), karena dianggap sering mengabaikan perlindungan hukum dan kebutuhan masyarakat, dan sering berlaku tidak adil atau unfair; d. Putusan pengadilan tidak menyelesaikan sengketa, tidak mampu memberikan penyelesaian yang memuaskan yang memberikan kedamaian dan ketentraman kepada pihak-pihak disebabkan oleh : 1. Salah satu pihak pasti menang, dan pihak lain pasti kalah (win-lose); 2. Keadaan win-lose akan menumbuhkan bibit dendam, permusuhan serta kebencian;
Suyud Margono, ADR dan Arbitrase, Proses Pelembagaan dan Aspek Hukum, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1994), hal. 65-66., sebagaimana dikutip Manahan M. P. Sitompul, Op.cit.
156

79

3. Putusan pengadilan membingungkan; 4. Putusan pengadilan sering tidak memberi kepastian hukum (uncertainty) dan tidak bisa diprediksi (unpredictable). e. Kemampuan para hakim bersifat ‘generalis’, memiliki pengetahuan yang terbatas hanya di bidang hukum saja”. Selain kritik di atas yang paling menonjol adalah kritik terhadap sistem perkara yang tidak sistematis dan tidak didisain untuk menyelesaikan sengketa secara efisien karena hanya memberi putusan yang abstrak melalui proses banding, kasasi, dan peninjauan kembali yang kemudian sulit dieksekusi. Kaitannya dengan likuidator yang menyelesaikan pembayaran hutang-piutang ini adalah bahwa likuidator akan memakan waktu yang lama dalam hal likuidasi. Waktu yang lama akan membutuhkan biaya yang tidak sedikit, dengan begitu perseroan terbatas yang sedang dalam likuidasi akan sulit untuk menghemat pengeluaran (cut spending) perseroan. Untuk menyelesaikan sengketa agar lebih efektif dan efisien perlu dilakukan inovasi terhadap peraturan dan lembaga-lembaga yang menyangkut peradilan. Lembaga dading yang diatur dalam Pasal 130 HIR/154 RBG mewajibkan hakim untuk mendamaikan kedua belah pihak yang bersengketa sebelum memeriksa pokok perkara. Mekanisme dading (damai) ini mempunyai beberapa keuntungan yang dibuat dan disetujui kedua belah pihak yang bersengketa dan selanjutnya diajukan kepada hakim yang memeriksa lalu hakim membuat suatu keputusan perdamaian yang memuat akta perdamaian itu sendiri ditambah perintah untuk melaksanakan isi perdamaian. Putusan perdamaian ini bersifat final and binding artinya terhadap

80

putusan itu tidak dapat dilakukan upaya hukum lagi dan hal ini mengikat kedua belah pihak yang berperkara. 157 Dari uraian mengenai penyelesaian sengketa melalui jalur pengadilan ini untuk menuntut hak/hutang dari kreditor maka Likuidator membutuhkan waktu yang lama dalam pemberesan harta kekayaan perseroan terbatas. Terkait dengan pembatasan masalah pengaturan penyelesaian sengketa hutang piutang perseroan terbatas dalam likuidasi maka pembahasan mengenai jalur pengadilan (in-court) dengan gugatan biasa saja yang akan dibahas. Untuk pembahasan jalur pengadilan lainnya tidak termasuk dalam substansi penulisan penelitian ini. Pada jalur luar pengadilan (out-court) selanjutnya akan dibahas mengenai penyelesaian hutang piutang melalui Alternative Dispute Resolution (ADR).

2.

Jalur Luar Pengadilan (Alternative Dispute Resolution – ADR) Alternative Dispute Resolution (ADR) dalam bahasa Indonesia dikenal

dengan beberapa istilah seperti : Pilihan Penyelesaian Sengketa (PPS), Mekanisme Alternatif Penyelesaian Sengketa (MAPS) dan Penyelesaian Sengketa Alternatif (PSA).158 Penggunaan istilah ADR adalah untuk mengelompokkan proses negosiasi, mediasi, konsiliasi dan arbitrase. ADR dapat diartikan dalam 2 (dua) hal, yaitu : a. Alternative to Litigation : Seluruh mekanisme penyelesaian sengketa di luar pengadilan termasuk arbitrase merupakan bagian ADR.

157 158

Manahan M. P. Sitompul, Op.cit. Ibid.

81

b. Alternative to Adjudication : yang termasuk ADR hanyalah negosiasi, mediasi dan konsiliasi yakni mekanisme penyelesaian sengketa yang bersifat konsensus atau kooperatif.

Di Indonesia penggunaan ADR tersebut adalah termasuk dalam pengertian Alternative to Adjudication, hal ini dapat dilihat dari judul Undang-Undang No. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa. 159 Jadi jelas, yang dimaksud dengan ADR itu dalam ketentuan tersebut adalah penyelesaian di luar Adjudication (out of court), sedangkan Arbitrase termasuk ke dalam kelompok adjudikasi bersama-sama dengan litigasi. Dalam penjelasan ketentuan ADR ini disebutkan bahwa Alternatif Penyelesaian Sengketa (ADR) adalah lembaga penyelesaian sengketa atau bedan pendapat melalui prosedur yang disepakati para pihak, yakni penyelesaian di luar pengadilan dengan cara konsultasi, negosiasi, mediasi, konsoliasi atau penilaian ahli. 160 Dalam perkembangan selanjutnya istilah ADR memberi kesan bahwa pengembangan mekanisme penyelesaian sengketa secara konsensus hanya dapat dilakukan di luar penagdilan (out of court), sedang saat ini sudah diterapkan mediasi di pengadilan sebagai annexed court berdasarkan Peraturan Mahkamah Agung No. 2 Tahun 2003. Hadimulyo memperkenalkan Strategi Penyelesaian Sengketa, yaitu : konsiliasi; fasilitasi; negosiasi; ditambah dengan pengalaman di bidang birokrasi

Undang-Undang No. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 138, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3872. 160 Manahan M. P. Sitompul, Loc.cit.

159

82

yakni konsultasi dan koordinasi, sedang fasilitasi adalah bantuan pihak ketiga untuk menghasilkan suatu pertemuan atau perundingan yang produktif. 161

a.

Negosiasi Negosiasi merupakan salah satu bentuk Penyelesaian Sengketa Alternatif

dimana par apihak yang bersengketa melakukan perundingan secara langsung (ada kalanya didampingi pengacara masing-masing) untuk mencari penyelesaian sengketa yang sedang mereka hadapi ke arah kesepakatan bersama (konsensus) atas dasar winwin solution. Negosiasi dapat diwujudkan dalam bentuk komunikasi dua arah yang dirancang untuk mencapai kesepakatan pada saat kedua belah pihak memiliki berbagai kepentingan yang sama maupun yang berbeda.162 Secara umum negosiasi dapat diartikan sebagai suatu upaya penyelesaian sengketa para pihak tanpa melalui proses peradilan dengan tujuan tercapai kesepakatan bersama atas dasar kerja sama yang lebih harmonis dan kreatif.163 Pengertian sehari-hari dari negosiasi adalah berunding atau bermusyawaran, asal katanya adalah negotiation yang berarti perundingan, sedang yang mengadakan perundingan disebut negotiator. Manusia selalu melakukan negosiasi dalam kehidupannya sehari-hari baik dalam kehidupan bisnis, pribadi, keluarga, pergaulan, mitra kerja, majikan, karyawan, teman bahkan dengan lawan sengketa. Bila seorang pelaku usaha, pengacara hendak melakukan negosiasi akan diperhadapkan dengan
Hadimulyo, Mempertimbangkan ADR : Kajian Alternatif Penyelesaian Sengketa di Luar Pengadilan, (Jakarta : ELSAM, 1997), hal. 31-32., sebagaimana dikutip oleh Ibid. 162 Sayud Margono, Op.cit., sebagaimana dikuttip Ibid. 163 Jony Emirson, Hukum Bisnis Indonesia, (Jakarta : Proyek Peningkatan Penelitian Pendidikan Tinggi, Dirjendikti DepPenNas, PT. Prehalindo, 2002), hal. 494., sebagaimana dikutip Ibid.
161

83

kegiatan besar, sehingga perlu mempersiapkan diri tentang apa yang harus dilakukannya sewaktu menggunakan strategi agar dapat dijalankan sebaik mungkin untuk mencapai hasil yang saling menguntungkan.164 Ada 7 (tujuh) prinsip umum negosiasi yang harus dilaksanakan, yaitu 165 : 1. Negosiasi melibatkan dua pihak atau lebih; 2. Pihak-pihak yang bersengketa harus menjunjung tinggi ketertiban satu sama lain dalam mencapai hasil yang diinginkan bersama; 3. Pihak-pihak yang bersangkutan setidak-tidaknya pada awalnya menganggap negosiasi sebagai cara yang lebih memuaskan untuk menyelesaikan sengketa dibandingkan dengan metode-metode yang lain; 4. Masing-masing pihak harus beranggapan bahwa ada kemungkinan untuk membujuk pihak lain untuk memodifikasi posisi awal mereka; 5. Setiap pihak harus mempunyai harapan akan sebuah hasil akhir yang mereka terima dan suatu konsep tentang seperti apa hasil akhir itu; 6. Masing-masing pihak harus mempunyai suatu tingkat kuasa atas kemampuan pihak lain untuk bertindak; 7. Proses negosiasi itu sendiri pada dasarnya merupakan salah satu interaksi di antara orang-orang, terutama antara komunikasi lisan yang langsung walaupun kadang-kadang dengan elemen tertulis.

Manahan M. P. Sitompul, Op.cit. Alan Fowler dalam Runtung Sitepu, Modul Penyelesaian Sengketa Alternatif, (Medan : Program Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara, 2003), hal. 5., sebagaimana dikutip oleh Ibid.
165

164

84

b.

Mediasi Mediasi adalah proses untuk menyelesaikan sengketa dengan bantuan pihak

ketiga yang netral. Peranan pihak netral tersebut adalah untuk membantu para pihak untuk mengidentifikasi masalah-masalah yang dipersengketakan dengan membangun suatu proposal yang diharapkan dapat menyelesaikan sengketa tersebut. Mediator tidak berwenang untuk memutus sengketa yang ditanganinya, hanya dapat mengikuti pertemuan-pertemuan rahasia bersama pihak-pihak yang bersengketa. 166 Dari rumusan atau definisi yang dikemukakan oleh beberapa sarjana, dapat ditarik kesimpulan bahwa pengertian mediasi mengandung unsur-unsur sebagai berikut 167 : 1. “Mediasi adalah sebuah proses penyelesaian sengketa berdasarkan perundingan; 2. Mediator terlibat dan diterima oleh para pihak yang bersengketa di dalam perundingan; 3. Mediator bertugas membantu para pihak yang bersengketa untuk mencari penyelesaian; 4. Mediator tidak mempunyai kewenangan membuat keputusan selama perundingan berlangsung; 5. Tujuan mediasi adalah untuk mencapai atau menghasilkan kesepakatan yang dapat diterima pihak-pihak yang bersengketa guna mengakhiri sengketa”. Peran mediator ini sangat tergantung kepada kebutuhan para pihak untuk menyelesaikan sengketa, peran itu bisa dari yang paling ringan hingga yang paling berat sesuai kebutuhan dari sengketa itu dengan kemauan para pihak. Peran dan kegiatan mediator dapat dilihat sebagai jenis terapis negosiasi. Terapis artinya menganalisis dan mendiagnosis suatu sengketa dan kemudian menyusun acara yang

166 167

Manahan M. P. Sitompul, Loc.cit. Suyud Margono, Op.cit., hal. 253., sebagaimana dikutip Ibid.

85

memungkinkan intervensi lain dengan tujuan mencapai suatu kesepakatan yang memuaskan kedua belah pihak. 168 Peran penting mediator adalah melakukan diagnosa konflik, identifikasi masalah serta kepentingan-kepentingan kritis, menyusun agenda, memperlancar dan mengendalikan komunikasi, mengajar para pihak dalam proses dan keterampilan tawar menawar, membantu para pihak mengumpulkan informasi penting,

penyelesaian masalah untuk menciptakan pilihan-pilihan, dan diagnosa sengketa untuk memudahkan penyelesaian problem.169 Bilamana menurut mediator diperlukan bertemunya salah satu pihak untuk membicarakan sesuatu tanpa disertai pihak lainnya, maka mediator membuat pertemuan dalam bilik kecil (caucusing). Caucusing adalah melakukan pertemuan antara mediator dengan salah satu pihak, dimana mediator memanggil para pihak satu per satu di dalam kamar tersendiri (dimungkinkan memanipulasi situasi dalam pembicaraan) demi untuk tercapainya tujuan perdamaian.170 Hal memanipulasi situasi ini juga perlu dimaklumi oleh mediator agar dalam melakukan caucusing bila menemukan situasi yang tidak menguntungkan bagi salah satu pihak dapat dieliminasi oleh mediator demi tercapainya perdamaian antara pihak-pihak yang bersengketa. 171

Loc.cit. Gary Goodpaster dalam Ibid. 170 Runtung Sitepu, Bahan Kuliah ADR, (Medan : PPS S3 Universitas Sumatera Utara, Tanggal 12 September 2003), sebagaimana dikutip Ibid. 171 Manahan M. P. Sitompul, Op.cit.
169

168

86

b.

Konsiliasi Konsiliasi juga merupakan salah satu bentuk penyelesaian sengketa bisnis.

Konsiliasi dapat diartikan sebagai upaya membawa pihak-pihak yang bersengketa untuk menyelesaikan permasalahan antara kedua belah pihak secara negosiasi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, konsiliasi diartikan sebagai usaha mempertemukan keinginan pihak yang berselisih untuk mencapai persetujuan dan menyelesaikan perselisihan itu. Menurut Oppenheim, konsiliasi adalah proses penyelesaian sengketa dengan menyerahkan kepada komisi orang-orang yang bertugas untuk menguraikan atau mejelaskan fakta-fakta dan setelah mendengar para pihak dan mengupayakan agar mereka mencapai suatu kesepakatan, membuat usulan-usulan untuk suatu penyelesaian, namun keputusan tersebut tidak mengikat. 172 Pada mulanya konsiliasi timbul dalam penyelesaian sengketa internasional diatur dalam perjanjian antara Swedia dan Chili pada tahun 1920. kemudian pada tahun 1922, konsiliasi dan arbitrase ditetapkan sebagai alternatif penyelesaian sengketa dalam suatu perjanjian yang dibuat antara Jerman dan Swiss. Konsiliasi di Amerika Serikat merupakan tahap awal dari proses mediasi, dengan acuan penerapan apabila terhadap seseorang diajukan proses mediasi, dan tuntutan yang diajukan climant dapat diterimanya dalam kedudukannya sebagai respondent. Dalam tahap yang demikian telah diperoleh penyelesaian tanpa melanjutkan sengketa, karena pihak responden dengan kemauan baik (goodwill) bersedia menerima apa yang

Oppenheim, dalam Huala Adolf, et.al., Masalah-Masalah Hukum dan Perdagangan Internasional, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1994), hal. 186., sebagaimana dikutip Ibid.

172

87

dikemukakan oleh climant. Cara penyelesaian dengan goodwill demikian ini disebut konsiliasi winning over by goodwill. 173 Biasanya alasan responden memenuhi tuntutan secara iktikad baik (goodwill) adalah karena : a. responden sendiri mengerti dan menyadari sejauh mana seriusnya persoalan yang dipersengketakan, sehingga dianggap layak untuk memenuhi permintaan; dan b. tidak ingin permasalahan ini dicampuri pihak ketiga, dengan pengharapan penyelesaian akan lebih baik tercapai antara kedua belah pihak. 174

Jadi, dalam hal pengaturan penyelesaian sengketa hutang piutang pada perseroan terbatas dalam likuidasi tidak ada pengaturan pasti untuk itu. Tugas likuidatorlah yang menerapkan bagaimana cara menyelesaikan hutang piutang perseroan terbatas dalam likuidasi. Semua pilihan yang tersedia adalah sepenuhnya hak likuidator. Pengaturannya dapat dikejar dengan menggunakan KUH Perdata khususnya mengenai wanprestasi (cidera janji). Cidera janji tersebut terkait dengan tidak dipenuhinya perjanjian-perjanjian dalam hubungan bisnis antar badan hukum (dengan tujuan kepastian hukum). Sebuah hubungan bisnis pada dasarnya adalah hubungan yang berlandaskan kepercayaan. Sebuah perseroan terbatas merasa sudah menjalankan kewajibannya, tetapi perseroan terbatas lain tersebut belum membayar ongkos atas pekerjaan yang sudah dilakukan. Kejadian seperti ini sering terjadi di Indonesia dan sering menimbulkan kerugian yang besar bagi pihak yang dikhianati. Untuk mengatasi
Joni Emirzon, Hukum Bisnis Indonesia, (Proyek Peningkatan Penelitian Pendidikan Tinggi, Dirjendikti, Depennas, 2002)., sebagaimana dikutip Ibid. 174 M. Yahya Harahap, et.al., Laporan Akhir Penelitian Hukum Tentang ADR, (BPHN : Depkeh RI, 1995/1996), hal. 52., sebagaimana dikutip Ibid.
173

88

masalah seperti ni maka harus dicermati surat perjanjian kerja sama yang dibuat. Di dalam surat perjanjian kerja sama biasanya memuat objek yang harus dikerjakan oleh kedua belah pihak. 175 Seandainya perseroan terbatas dalam likuidasi sudah melakukan kewajiban sesuai dengan isi perjanjian kerja sama tersebut dan hingga batas waktu pembayaran, mitra kerja belum juga memenuhi kewajibannya (wanprestasi) maka dapat dilayangkan surat tagihan dengan cara persuasif. Bila melakukan somasi terhadap kreditur tersebut maka isi somasi itu antara lain peringatan terhadap kelalain kreditur dan tuntutan sanksi yang diinginkan. Jika somasi tidak juga digubris, maka dapat diselesaikan melalui jalur pengadilan. 176 Terkait dengan teori hukum yang digunakan untuk membedah permasalahan yang timbul dalam penelitian ini yaitu teori keadilan (Adam Smith) yang mengatakan bahwa tujuan keadilan adalah untuk melindungi dari kerugian. Untuk menyelesaikan hutang piutang oleh likuidator dibutuhkan likuidator yang dapat melihat keadilan itu sendiri. Kerugian harus bisa diminimalisir, apalagi masalah biaya berperkara di pengadilan. Maka dari itu, peran likuidator adalah penting guna terciptanya keadilan bagi kreditur maupun debitur. Jika keadilan tercipta dalam mengambil jalan tengah yaitu perdamaian penyelesaian hutang piutang maka akan terhindar dari kerugian yang besar.

Eka An Aqimuddin dan Marya Agung Kusmagi, Solusi Bila Terjerat Kasus Bisnis, Cetakan Pertama, (Jakarta : Raih Asa Sukses, 2010), hal. 198. 176 Ibid.

175

89

BAB III PENENTUAN LIKUIDATOR TERHADAP LIKUIDASI PERSEROAN TERBATAS MENURUT UNDANG-UNDANG NO. 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS Penentuan Likuidator menurut Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas adalah berdasarkan Pasal 142 ayat (2) huruf a., yang menyatakan bahwa “Dalam hal terjadi pembubaran Perseroan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) : a. Wajib diikuti dengan likuidasi yang dilakukan oleh likuidator atau kurator”. Pada ketentuan ini jelas bahwa penunjukan likuidator dilakukan setelah adanya pernyataan melalui RUPS, karena jangka waktu berdirinya telah habis, berdasarkan penetapan pengadilan, dicabutnya kepailitan berdasarkan putusan pengadilan niaga yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap, harta pailit Perseroan tidak cukup membayar biaya kepailitan karena harta pailit Perseroan yang telah dinyatakan pailit berada dalam keadaan insolvensi, karena dicabutnya izin usaha Perseroan sehingga mewajibkan Perseroan melakukan likuidasi. 177 Tidak ada diatur di dalam ketentuan hukum perusahaan mengenai jangka waktu perseroan terbatas untuk menentukan likuidatornya.

A.

Direktur Bertindak Sebagai Likuidator Adanya celah hukum dalam ketentuan hukum perusahaan mengenai

penentuan siapa yang menjadi likuidator terhadap perseroan terbatas yang dilikuidasi

177

Pasal 142 ayat (1), Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas,

Op.cit.

90

adalah dapat dilihat dalam Pasal 142 ayat (3), Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas yang menyatakan bahwa : “Dalam hal pembubaran terjadi berdasarkan keputusan RUPS, jangka waktu berdirinya yang ditetapkan dalam anggaran dasar telah berakhir atau dengan dicabutnya kepailitan berdasarkan keputusan pengadilan niaga dan RUPS tidak menunjuk likuidator, Direksi bertindak selaku likuidator”. Berdasarkan Pasal inilah Direksi dapat bertindak sebagai Likuidator. Maka seluruh kewajiban likuidator dibebankan kepada Direksi karena bertindak sebagai Likuidator. Sudah pasti penegakan hukum dalam ketentuan likuidasi ini tidak berjalan dengan maksimal dikarenakan Direksi yang bertindak sebagai Likuidator tidak mengetahui tugas-tugasnya karena tidak sesuai dengan bidang keilmuan yang dimiliki. Disinilah peran dari bagian hukum perusahaan untuk membantu Direksi dalam melikuidasi perusahaan. Perusahaan-perusahaan yang ada di Indonesia pada umumnya memiliki karyawan untuk mengurusi persoalan hukum yang dihadapi oleh perusahaan. Namun, dikarenakan kebiasaan atau faktor budaya Direksi dalam menjalankan tugas sehari-hari dengan cara memerintahkan para karyawannya. Maka secara langsung Direksi melakukan penunjukan Pelaksana Tugas Direksi untuk melakukan Likuidasi tersebut. Dikarenakan tidak adanya kesadaran hukum Pelaksana Tugas Direksi maka seluruh tindakan hukumnya dibebankan oleh pemberi kewenangan yaitu Direksi. Pelaksana Tugas Direksi tersebut berbuat sewenang-wenang karena diberikan kewenangan yang besar, yaitu : dapat melakukan penggelapan aset-aset perusahaan. Hal ini menyulitkan untuk membayar hutang-hutang perseroan.

91

Seharusnya Direksi dalam hal melakukan likuidasi menggunakan atan meminta advice (nasihat) hukum dari Konsultan Hukum atau Pengacara. Tujuannya agar Direksi dapat bertindak dengan baik tidak lari dari code of conduct yang sudah ditentukan dalam Anggaran Dasar Perseroan Terbatas.178 Sebenarnya permasalahan mencuat setelah Direksi bertindak sebagai Likuidator. Dengan penunjukan tersebut maka penegakan hukum akan sulit dilakukan (dalam hal Direksi tidak memiliki pendidikan hukum yang cukup). Penegakan hukum tidak tercapai maka tujuannya juga tidak tercapai yaitu kepastian hukum, kemanfaatan hukum, dan keadilan hukum. Kepastian hukum terkait dengan penentuan Likuidator terhadap likuidasi Perseroan Terbatas adalah berhubungan dengan Pasal 142 ayat (2) a., UndangUndang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Jadi disini ditentukan bahwa yang melakukan likuidasi adalah likuidator atau kurator. Namun, karena undangundang juga menentukan likuidator juga dapat dilaksanakan oleh Direksi maka dengan tujuan menghemat pengeluaran perseroan (cut spending) Direksilah yang melakukan likuidator. Budaya hukum Direksi adalah menyuruh bawahan untuk melakukan pekerjaannya, bisa dikatakan pendelagasian tugas. Tetapi yang terjadi adalah penyalahgunaan wewenang oleh pelaksana tugas tadi. Jadi, sebaiknya apabila Perseroan Terbatas memutuskan untuk melikuidasi perusahaannya maka RUPS harus menunjuk likuidator (orang yang mempunyai keahlian hukum) untuk melaksanakan tugas likuidasi tersebut.
Anggaran Dasar Perseroan Terbatas dibuat oleh Notaris namun pengumumannya dilakukan oleh Menteri pada Berita Negara Republik Indonesia. Seluruh perubahan anggaran dasar ini harus ada penyesuaian dengan ketentuan hukum perusahaan berdasarkan Pasal 30 ayat (1), Ibid., Lihat juga Hiasinta Yanti Susanti Tan, “Konsekuensi Perubahan Undang-Undang Perseroan Terbatas Terhadap Eksistensi Perseroan Terbatas”, (Tesis : Program Magister Ilmu Hukum Universitas Diponegoro, Semarang, 2008).
178

92

B.

Penentuan Likuidator Terhadap Likuidasi Perseroan Terbatas Menurut Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas,

tepatnya Pasal 142 ayat (2) huruf a., maka likuidator harus ditunjuk setelah RUPS memutuskan pembubaran perseroan terbatas.179 Jika penunjukan likuidator dilakukan maka diharapkan akan tercapai penegakan hukum. Tergantung dari kompeten atau tidak likuidator dalam melakukan tugasnya. Sudah pasti terkait mengenai pendidikan dan spesialisasi hukum dari likuidator itu sendiri. Berangkat dari teori penegakan hukum (Soerjono Soekanto) yang mengatakan faktor-faktor penegakan hukum, antara lain 180 : 1. 2. 3. 4. 5. “Undang-Undang; Penegakan hukum, orang-orang yang melakukan itu; Fasilitas yang mendukung penegakan hukum; Masyarakat, tempat hukum itu ditegakkan; Faktor kebudayaan, kebiasaan hukum”.

Maka penegakan hukum dapat dilakukan jika undang-undang tersebut tidak memberikan pengartian yang berbeda-beda, atau dapat dikatakan substansinya baik. Lalu orang-orang yang melakukan likuidasi tersebut apakah mengerti atau tidak mengenai tahapan likuidasi perseroan terbatas. Fasilitas yang mendukung adalah lembaga peradilannya untuk menyelesaikan hutang piutang perseroan terbatas. Masyarakat tempat hukum itu ditegakkan adalah ketentuan hukum perusahaan yang berlaku bagi dunia usaha/pelaku usaha. Faktor kebudayaan atau kebiasaan hukum adalah mengenai kebudayaan hukum pelaku usaha tersebut apakah patuh dan taat terhadap undang-undang atau tidak.

179 180

Loc.cit. Soerjono Soekanto, Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, Op.cit.

93

Setelah mengetahui seluruh aspek-aspek hukum yang terdapat dari penegakan hukum. Selanjutnya likuidator dapat bertindak sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku yaitu tahapan likuidasi.

C.

Praktek Pelaksanaan Pembubaran Perseroan Terbatas Dalam praktek pembubaran Perseroan menurut Undang-Undang No. 40

Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas akibat keputusan RUPS ternyata terdapat inkonsistensi pelaksanaan Pasal 152 ayat 5 yang mengatur tentang pencatatan berakhirnya status badan hukum Perseroan dan menghapus nama Perseroan dalam Daftar Perseroan. Pembubaran perseroan dalam Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 diatur dalam Pasal 142 sampai dengan Pasal 152, dimana yang berbeda dengan pengaturan dalam Undang-Undang No. 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas (Pasal 114 sampai dengan 124) adalah mengenai berakhirnya status badan hukum Persroan.181 Dalam Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas ditegaskan bahwa Menteri akan mencatat berakhirnya status badan hukum Perseroan yaitu setelah mendapatkan pemberitahuan dari Likuidator tentang hasil akhir proses likuidasi yang dicantumkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) ”terakhir”. Untuk lebih jelasnya berikut akan diuraikan langkah-langkah pembubaran Perseroan Terbatas berdasarkan RUPS, yaitu :

Jusuf Patrianto Tjahjono, “Praktek Pelaksanaan Pembubaran PT”, http://notarissby.blogspot.com/2008/07/praktek-pelaksanaan-pembubaran-pt.html., diakses pada 11 Mei 2011.

181

94

1. Pelaksanaan RUPS dengan materi acara pembubaran Perseroan Terbatas diikuti dengan penunjukan likuidator untuk melakukan proses likuidasi; 182 2. Dalam jangka waktu 30 hari terhitung sejak tanggal pembubaran Perseroan, Likuidator harus mengumumkan dalam Surat Kabar dan Berita Negara Republik Indonesia serta memberitahukan kepada Menteri; 183 (dalam tahap ini Menteri hanya mencatat bahwa Perseroan dalam Likuidasi). 3. Dalam tahap pemberesan harta kekayaan Perseroan, Likuidator wajib mengumumkan dalam Surat Kabar dan Berita Negara Republik Indonesia mengenai Rencana pembagian kekayaan hasil likuidasi; 184 4. Diadakan RUPS tentang pertanggungjawaban Likuidator dalam melaksanakan proses likuidasi, sekaligus memberikan pelunasan dan pembebasan kepada Likuidator, yang diikuti pengumuman dalam Surat Kabar mengenai hasil akhir proses likuidasi dan pemberitahuan kepada Menteri; 185 5. Menteri mencatat berakhirnya status badan hukum Perseroan dan menghapus nama Perseroan dari Daftar Perseroan diikuti dengan pengumuman dalam Berita Negara Republik Indonesia.186

Singkatnya Likuidator harus mengumumkan 3 (tiga) kali dalam Surat Kabar (mengenai pembubaran, rencana pembagian kekayaan hasil likuidasi, dan hasil akhir proses likuidasi) dan 1 (satu) kali dalam Berita Negara Republik Indonesia (mengenai
182

Pasal 142 ayat (1) dan (2), Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, Op.cit. 183 Pasal 147 ayat (1), Ibid. 184 Pasal 149, Ibid. 185 Pasal 152 ayat (3), Ibid. 186 Pasal 152 ayat (5) jo., ayat (8), Ibid.

95

pembubaran), serta memberitahukan kepada Menteri 2 (dua) kali (mengenai pembubaran dan hasil akhir likuidasi). 187 Dalam praktek ketika memasukkan data untuk memenuhi ketentuan Pasal 152 ayat (3), Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (proses pemberitahuan hasil akhir likuidasi) ternyata data di database Sistem Administrasi Badan Hukum (Sisminbakum) telah dihapus. Rupanya pada waktu pertama kali melaporkan/memberitahukan pembubaran Perseroan, seketika itu pula Menteri (melalui Sisminbakum) melakukan pencatatan berakhirnya status badan hukum Perseroan (seharusnya Menteri hanya melakukan pencatatan bahwa Perseroan dalam proses likuidasi). 188 Jadi dalam praktek Berita Acara RUPS ”terakhir” yang berisi hasil akhir proses likuidasi dan pelunasan serta pembebasan likuidator tidak dapat diberitahukan kepada Menteri melalui Sisminbakum, oleh karena data Perseroan telah dihapus. Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah implikasinya bagi likuidator bila prosedur Pasal 152 ayat (3) Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas tidak dilaksanakan. Diperlukan kajian tambahan atau penelitian lanjutan mengenai hal ini. 189 Dari uraian di atas dapat disimpulkan status badan hukum suatu Perseroan berakhir yaitu bukan oleh karena pencatatan yang dilakukan oleh Menteri namun pada saat dilakukan pemberesan dan pertanggungjawaban likuidator telah diterima oleh RUPS demikian sesuai dengan Pasal 143 ayat (1) Undang-Undang No. 40 Tahun
187 188

Jusuf Patrianto Tjahjono, Op.cit. Ibid. 189 Ibid.

96

2007 tentang Perseroan Terbatas. Seharusnya perlu diadakan koreksi terhadap ketentuan dalam Pasal 152 ayat (5) dan (6) yang mengesankan bahwa hapusnya/berakhirnya status badan hukum Perseroan dengan adanya tindakan pencatatan oleh Menteri. Tindakan pencatatan oleh Menteri adalah suatu tindakan administratif yang tidak mempunyai implikasi hukum apapun terhadap

hapusnya/berakhirnya suatu Perseroan.190

190

Ibid.

97

BAB IV HAMBATAN-HAMBATAN PENYELESAIAN HUTANG PIUTANG TERHADAP LIKUIDASI PERSEROAN TERBATAS

Hambatan penyelesaian hutang piutang dihadapi oleh likuidator karena likuidator bertanggung jawab kepada Pemegang Saham atas pemberesan yang dilakukan terhadap Perseroan Terbatas. Adapun permasalahan yang dihadapi oleh likuidator, antara lain : a. Tidak ada ditentukan kapan seharusnya likuidator tersebut harus ditunjuk oleh ketentuan peraturan perundang-undangan; b. Pembagian sisa hasil likuidasi perseroan; c. Pungutan liar dalam laporan pencabutan izin usaha pada instansi pemerintah; d. Penggelapan aset oleh pengurus perusahaan; e. Pada saat menagih hutang, ternyata kreditor sudah tidak beroperasi lagi; dan lain sebagainya. Pembahasan pertama akan dibahas mengenai sisa hasil likuidasi perseroan.

A.

Pembagian Sisa Hasil Likuidasi Perseroan Dalam praktek likuidasi perseroan terbatas, salah satu tahap yang harus

dilakukan adalah tahap pemberesan oleh likuidator. Dalam tahap pemberesan ini ada satu masalah yang cukup krusial untuk dibahas secara mendalam, karena dalam masalah ini menyangkut beberapa bidang hukum yaitu hukum perusahaan, hukum pertanahan, dan hukum perpajakan. Masalah yang terjadi adalah dalam tahap pemberesan ternyata terdapat sisa aset perseroan berupa hak atas tanah (Hak Guna

98

Bangunan) atas nama perseroan. Bagaimana cara membagikan aset tersebut kepada pemegang saham.191 Pembubaran dan likuidasi adalah dua perbuatan hukum yang tidak terpisahkan, karenaa setiap pembubaran wajib diikuti oleh tindakan likuidasi. 192 Jika Sisminbakum konsekuen terhadap bunyi peraturan yang ada, maka sebelum dilakukan tindakan likuidasi, status badan hukum dari Perseroan Terbatas tetap ada. Oleh karena itu, pasti ada implikasinya apabila tindakan pembubaran tidak diikuti oleh tindakan likuidasi. Salah satu kewajiban likuidator adalah melakukan pembayaran sisa kekayaan hasil likuidasi kepada pemegang saham yang dilakukan setelah dilaksanakannya pembayaran kepada seluruh kreditor.193 Masalahnya adalah jangka waktu setelah keputusan pembubaran perseroan, likuidator melaksanakan pembagian sisa hasil likuidasi. Dalam ketentuan UndangUndang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas menyebutkan “tenggang waktu” waktu yang berbeda dalam Pasal 147 ayat (3) dan Pasal 149 ayat (3). Jika diamati seolah-olah ketentuan mengenai tenggang waktu tersebut mengatur hal yang berbeda, dalam Pasal 147 ayat (3) mengatur jangka waktu pengajuan tagihan, sedangkan dalam Pasal 149 ayat (3) adalah mengenai jangka waktu untuk mengajukan keberatan terhadap rencana pembagian kekayaan hasil likuidasi. Namun yang menjadi masalah adalah acuan penghitungan jangka waktu 60 hari dimulai dari mana.
Jusuf Patrianto Tjahjono, “Pembagian Sisa Hasil Likuidasi Perseroan”, http://notarissby.blogspot.com/2008/08/pembagian-sisa-hasil-likuidasi.html., diakses pada 12 Mei 2011. 192 Pasal 142 ayat (2), Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, Op.cit. 193 Pasal 149 ayat (1), huruf d., Ibid.
191

99

Dalam Pasal 147 ayat (3) Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dan penjelasannya diketahui 60 hari sejak tanggal pengumuman paling akhir yaitu tanggal pengumuman dalam Berita Negara Republik Indonesia (bukan tanggal pengumuman di Surat Kabar); sedangkan dalam Pasal 149 ayat (3) jangka waktu 60 hari dihitung dari pengumuman tentang rencana pembagian kekayaan hasil likuidasi jadi bukan dari pengumuman pembubaran seperti yang tercantum dalam Pasal 147 ayat (1). 194 Dalam praktek para Notaris sering hanya berpatokan pada tanggal Pengumuman pembubaran sesuai dengan Pasal 147 ayat (1) Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, bahkan jarang sekali menyarankan kepada kliennya untuk melakukan Pengumuman tentang rencana pembagian kekayaan hasil likuidasi. Padahal akibat tidak dilaksanakannya tindakan ini adalah fatal. Karena dengan tidak dilakukannya tindakan tersebut hak kreditor untuk mengajukan keberatan telah ditiadakan, oleh karena itu setiap tindakan hukum berikutnya yang dilakukan oleh likuidator terhadap sisa hasil kekayaan perseroan dapat dinyatakan “batal demi hukum”. Ketentuan Pasal 150 tidak dapat dipakai sebagai alasan untuk membela diri. 195 Jadi, solusi mengenai kapan dapat dibagikan sisa kekayaan hasil likuidasi kepada pemegang saham adalah sebagai berikut 196 :

Dalam hal ini harus juga ditafsirkan tanggal pengumuman yang paling akhir yaitu tanggal pengumuman dalam Berita Negara Republik Indonesia, walaupun dalam penjelasan resmi Pasal 149 ayat (3) cukup jelas, Ibid. 195 Jusuf Patrianto Tjahjono, “Pembagian Sisa Hasil Likuidasi Perseroan”, Op.cit. 196 Ibid.

194

100

1. Apabila terdapat kreditor yang mengajukan tagihan, maka paling tidak pembayarannya harus menunggu setelah lewatnya waktu 60 hari setelah pengumuman rencana pembagian (atau setidak-tidaknya 120 hari setelah pengumuman pembubaran perseroan); 2. Apaila terdapat kreditor yang mengajukan tagihan dan keberatannya terhadap rencana pembagian ditolak oleh Likuidator, maka pembagiannya harus menunggu sampai dengan adanya putusan Pengadilan terhadap pokok gugatan tersebut;197 3. Apabila tidak terdapat kreditor yang mengajukan tagihan, maka setelah lewatnya jangka waktu 60 hari setelah tanggal pengumuman pembubaran (yang digunakan adalah tanggal pengumuman di Berita Negara Republik Indonesia, bukan tanggal Pengumuman di Surat Kabar), dapat dilakukan pembagian.

Khusus mengenai point ketiga di atas, karena tidak ada aturannya dalam undang-undang, maka demi keamanan terhadap sahnya tindakan likuidator perlu diadakan penegasan dalam suatu RUPS bahwa setelah jangka waktu yang ditetapkan dalam Pasal 147 ayat (3) Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, benar-benar tidak terdapat tagihan dari kreditor manapun dan oleh karena itu RUPS memutuskan memberikan kewenangan kepada likuidator untuk

membagikan sisa kekayaan perseroan kepada pemegang saham sesuai dengan proporsi kepemilikan sahamnya di dalam perseroan, semuanya dengan mengingat

197

Pasal 149 ayat 4, Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, Op.cit.

101

ketentuan dalam Pasal 150 ayat (2) bahwa “kreditor dapat mengajukan tagihan melalui Pengadilan dalam jangka waktu 2 tahun sejak pengumuman pembubaran Perseroan”.198 Dalam melakukan pembagian sisa kekayaan perseroan hasill likuidasi kepada pemegang sahamnya harus benar-benar diperhatikan waktu pelaksanaannya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dengan akibat hukum bahwa jika tidak dilakukan sesuai prosedur maka perbuatan hukum tersebut dapat dinyatakan batal demi hukum. Peringatan kepada para calon pembeli aset yang berasal dari sisa hasil likuidasi perseroan yang dibubarkan agar lebih berhati-hati, lebih aman jika membeli aset tersebut selewatnya 2 tahun setelah pengumuman pembubaran perseroan.199

B.

Aset Perseroan Adalah Aset Bersama dari Pemegang Saham Sesuai Dengan Proporsi Kepemilikan Saham Masing-Masing Pemegang Saham Dalam Perseoan Permasalahan berikutnya adalah subjek hukum dalam tindakan pembagian

aset perseroan jika masih ada sebidang tanah dengan Hak Guna Bangunan atas nama perseroan. Persoalan ini dapat diselesaikan dengan mudah apabila para pemegang saham sepakat untuk menjual aset tersebut, namun jka pemegang saham tidak sepakat maka masalah yang akan timbul. Pertanyaan yang mendasar adalah mengenai pemegang saham adalah pemilik perseroan yang merupakan satu kesatuan dengan keberadaan Perseroan atau Perseroan sebagai Person/Orang (legal entity) yang

198 199

Jusuf Patrianto Tjahjono, “Pembagian Sisa Hasil Likuidasi Perseroan”, Loc.cit. Ibid.

102

mandiri terdiri dari para pemegang saham (karena Perseroan didirikan berdasarkan perjanjian dan setelah didirikan maka Perseroan seolah-olah mempunyai “jiwa” tersendiri dari para pendirinya (Pemegang Saham). 200 Pilihan tersebut membawa implikasi hukum yang berbeda, dapat dilihat terlebih dahulu mengenai Teori Karakteristik Perseroan, yaitu 201 : “Dalam Teori Karakteristik Perseroan mendalilkan bahwa dalam perseroan terbatas dengan karakteristik tertutup, tanggung jawab pemegang saham lebih besar dibandingkan tanggung jawabnya dalam perseroan dengan karakteristik terbuka, dengan demikian pula kekuasaan RUPS lebih utama daripada kekuasaan Pengurus, perseroan terbatas dengan karakteristik tertutup lebih berkarakter sebagai person yang mandiri, dibandingkan perseroan terbatas dengan karakteristik terbuka lebih sebagai alat (fungsi) daripada berkarakter sebagai person. Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas lebih menganut paham perseroan dengan karakteristik terbuka, beda dengan Undang-Undang No. 1 Tahun 1995 lebih menganut paham perseroan dengan karakteristik tertutup karena kekuasaan RUPS dalam Undang-Undang No. 1 Tahun 1995 diakui sebagai pemegang kekuasaan tertinggi”. Relevansi pembahasan mengenai karakteristik perseroan ini erat kaitannya dengan penentuan apakah aset perseroan tersebut merupakan barang milik bersama secara bebas atau milik bersama secara terikat. Penentuan ini berdampak pada pengenaan pajak bagi para pemegang saham yang memperoleh aset/kekayaan hasil likuidasi perseroan. 202 Menurut Herlien Budiono mengenai Pemilikan Bersama menurut teori dan praktek, penentuan kepemilikan bersama bersifat terikat atau bebas bergantung pada

200 201

Ibid. Ibid. 202 Ibid.

103

sebab (oorzaak) yang mengakibatkan para pemilik memiliki suatu kebendaan bersama-sama, antara lain203 : 1. Pemilikan bersama yang bebas (vrje medeeigendom) – pemilikan bersama merupakan tujuan dari para pemiliknya; 2. Pemilikan bersama yang terikat (gebonden medeeigendom) – pemilikan bersama merupakan akibat dari suatu peristiwa hukum yang lain.

Persamaan dari pemilikan bebas dan terikat di atas adalah bahwa pemiliknya memiliki bagian yang tidak terbagi atas keseluruhan benda yang dimiliki bersam. Contoh : pemilikan bersama yang terikat : karena bubarnya perkawinan, ex suamiisteri bersama memiliki harta benda perkawinan; karena bubarnya persekutuan perdata (maatschap) atau perkumpulan yang tidak berbadan hukum, para persero bersama memiliki harta perseroan; karena meninggalnya pewaris, para ahli waris bersama memiliki harta peninggalan. 204 Kewenangan bertindak dari kepemilikan bersama adalah terwujud pada bebas atau tidaknya para pemilik untuk setiap saat mengalihkan bagian yang tidak terbagi yang dimiliki atas harta bersama. Pada pemilikan bersama yang terikat, para pemiliknya tidak bebas untuk mengalihkan bagian tidak terbaginya semua tindakan hukum harus dilakukan bersama-sama. Sedangkan pada pemilikan bersama yang bebas, para pemilik bebas untuk mengalihkan bagian tidak terbagi aset tersebut.205

Herlien Budiono, “Pemilikan Bersama Menurut Teori dan Praktek”, Seminar di Surabaya, 08 Februari 2008., sebagaimana dikutip Ibid. 204 Pasal 833 ayat (1) jo. Pasal 955, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Op.cit. 205 Jusuf Patrianto Tjahjono, “Pembagian Sisa Hasil Likuidasi Perseroan”, Op.cit.

203

104

Pemisahan dan pembagian pemilikan bersama yang bebas diatur dalam Pasal 573 KUH Perdata yang menyatakan bahwa : “membagi sesuatu kebandaan yang menjadi milik lebih dari satu orang harus dilakukan menurut aturan-aturan yang ditentukan tentang pemisahan dan pembagian harta pembagian”. Pada pemisahan dan pembagian persekutuan perdata (maatschap) diatur dalam Pasal 1652 KUH Perdata yang menyatakan bahwa : “aturan-aturan tentang pembagian warisan-warisan, caracara pembagian itu dilakukan, serta kewajiban-kewajiban yang terbit karenanya antara orang-orang yang turut mewaris, berlaku juga untuk pembagian di antara para persero”.206 Pemisahan dan pembagian bersifat pengalihan hak, pada Pasal 1083 KUH Perdata menyebutkan bahwa207 : “Tiap waris dianggap seketika menggantikan si meninggal dalam hak miliknya atas benda-benda yang dibagikan kepadanya atau yang secara pembelian diperolehnya berdasarkan Pasal 1076. Dengan demikian, maka tiada seorang pun dari para waris dianggap pernah memperoleh hak milik atas benda-benda yang lainnya dari harta peninggalan” Jika kepada ahli waris A dibagikan sebuah rumah, maka ahli waris B sebuah pabrik, yang terjadi adalah : A tidak pernah memiliki pabrik dan B tidak pernah memiliki rumah; A dan B masing-masing memperoleh rumah dan pabrik bukan karena pemisahan dan pembagian tetapi karena warisan. Bukan peralihan/perolehan hak, tetapi mengkonstatir peristiwa hukum.208 Pemisahan dan pembagian untuk pemilikan bersama yang terikat bersifat deklaratif, berlaku surut sejak terjadinya pemilikan bersama yaitu sejak bubarnya
206 207

Ibid. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Op.cit. 208 Jusuf Patrianto Tjahjono, “Pembagian Sisa Hasil Likuidasi Perseroan”, Loc.cit.

105

perkawinan dan bubarnya persekutuan perdata (maataschap)/perkumpulan tidak berbadan hukum, meninggalnya pewaris. Pemisahan dan pembagian untuk kepemilikan bersama yang bersifat pengalihan hak “translatif” berlaku sejak terjadinya pemisahan dan pembagian. Tujuan pemisahan dan pembagian tersebut adalah mengakhiri pemilikan bersama dan kepada pihak yang dipisahkan dan dibagikan suatu benda mempunyai hak pengurusan dan pemilikan atas bendanya.209 Aset sisa hasil likuidasi perseroan merupakan harta pemilikan bersama bebas atau terikat dari pemegang saham, patokannya bergantung pada sebab (oorzaak) yang mengakibatkan para pemilik memiliki suatu benda. Dalam hal inilah penting sekali untuk menganalisa dari segi karakteristik Perseroan. Jika karakteristik Perseroan terbuka, maka keberadaan Perseroan Terbatas sebagai alat (fungsi) membawa akibat pemilikan suatu benda adalah untuk memenuhi suatu tujuan yang hendak dicapai Perseroan melalui Pengurusnya untuk kepentingan para pemegang saham, sehingga dalam hal ini dapat dikatakan hakekat pemilikan benda oleh Perseroan merupakan pemilikan bersama yang bebas. Konsekuensinya pembagian aset tersebut kepada para pemegang saham merupakan peralihan hak yang translatif. Contoh : Perseroan yang berusaha di bidang developer/real estate, bubar dan dilikuidasi, maka sisa asetnya berupa kaplingan dan/atau rumah di perumahan yang dikembangkan oleh Perseroan (contoh Perseroan Terbatas karakteristik terbuka di bidang kepemilikan bersama, perseroan terbatas sebagai alat, aset yang dimiliki untuk mencapai tujuan bersama).

209

Ibid.

106

Terhadap perbuatan hukum ini pemegang saham dikenai pajak khususnya Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB). 210 Jika Perseroan dengan karakteristik tertutup, maka aset yang diperoleh Perseroan adalah merupakan aset yang digunakan untuk menunjang keberadaan perseroan. Dalam hal ini kepemilikan aset merupakan kepemilikan bersama yang terikat. Konsekuensinya pembagian aset hasil likuidasi kepada para pemegang saham merupakan tindakan yang bersifat deklaratif (hanya untuk mengkonstatir suatu peristiwa hukum dalam hal ini likuidasi) dan oleh karena itu terhadap tindakan tersebut tidak dapat dikenai pajak, karena tidak terjadi peralihan hak secara translatif. Contoh : Perseroan yang berusaha di bidang industri, memiliki aset pabrik berikut hak atas tanahnya, bubar dan dilikuiasi, sisa asetnya berupa bangunan dan tanah dimana pabrik tersebut didirikan (contoh Perseroan Terbatas karakteristik tertutup di bidang kepemilikan bersama, pembelian dan kepemilikan atas aset untuk menunjang keberadaan Perseroan dan bukan untuk tujuan Perseroan).211 Sisa hasil likuidasi harta Perseroan yang dibubarkan tidak harus dalam bentuk uang tunai, namun dapat saja berupa aset. Barang tidak bergerak (khususnya hak atas tanah dan/atau bangunan) dan/atau barang bergerak baik berwujud maupun tidak berwujud. Khusus mengenai sisa hasil likuidasi yang berupa aset dalam bentuk barang tidak bergerak khususnya hak atas tanah dan/atau bangunan, apabila aset tersebut diperoleh dan dipergunakan untuk menunjang keberadaan Perseroan, maka dapat dikategorikan sebagai barang milik bersama secara terikat dari para pemegang

210 211

Ibid. Ibid.

107

saham, sedangkan jika aset tersebut diperoleh dan dipergunakan untuk memenuhi tujuan Perseroan maka sisa hasil likuidasi tersebut adalah merupakan barang milik bersama secara bebas.212

C.

Jangka Waktu Pengangkatan Likuidator Dalam Pasal 142 ayat (2) huruf a., Undang-Undang No. 40 Tahun 2007

tentang Perseroan Terbatas tidak ada ditentukan kapan saat yang tepat likuidator tersebut harus ditunjuk. Hal ini menyebabkan Perseroan Terbatas sudah dibubarkan tetapi likuidator belum diangkat. Perseroan Terbatas hanya menunjuk Pelaksana Tugas Direktur, padahal jika Perseroan Terbatas sudah dibubarkan tidaklah mungkin adalagi Pelaksana Tugas Direktur. Inilah yang sering terjadi sehingga menyebabkan banyak kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh Pelaksana Tugas Direktur tersebut. Barulah setelah beberapa bulan diangkat likuidator untuk menyelesaikan likuidasi Perseroan Terbatas. Dengan kata lain, substansi Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas belum lengkap mengatur mengenai likuidasi Perseroan Terbatas. Hal ini mengakibatkan tidak adanya dasar hukum mengenai kapan saatnya likuidator tersebut diangkat. Terkait dengan teori penegakan hukum bahwa setiap proses pembubaran perseroan terbatas harus diikuti dengan likuidasi. Jadi, likuidator diangkat pada saat RUPS tentang pembubaran perseroan, disinilah langsung diangkat likuidator tersebut. Jika melihat undang-undang itu dari satu sisi saja maka, akan sulit untuk menentukan kapan saat yang tepat untuk mengangkat likuidator.
212

Ibid.

108

Kegunaan mengangkat likuidator tersebut bertujuan untuk menegakkan hukum yaitu Pasal 149 ayat (2) huruf a., Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Jika hukum sudah tegak maka akan diperoleh kepastian hukum, dalam hal likuidasi, kepastian hukum tersebut adalah Perseroan Terbatas akan segera melakukan pemberesan harta kekayaan dan mengumumkan atas likuidasi perseroan terbatas tersebut pada Berita Negara Republik Indonesia. Jika kepastian hukum tercapai, kemanfaatan hukum juga ikut tercapai dalam hal likuidasi perseroan terbatas ini manfaat hukumnya adalah bahwa likuidator tidak dihadapkan dengan kasus-kasus penggelapan aset perusahaan. Kemanfaatan hukum tidak terlepas dari keadilan hukum, likuidasi perseroan terbatas mengakibatkan keadilan bagi seluruh karyawan dan pemegang saham dalam hal pembagian sisa hasil likuidasi perseroan terbatas. Maka untuk kedepannya terkait dengan teori rule of law (David M. Trubek) diharapkan kepada pembuat undang-undang agar lebih memperhatikan predictability, stability, dan fairness.213 Dalam hal ini, di dalam Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas harus memuat mengenai jangka waktu penunjukan likuidator. Penetapan jangka waktu tersebut akan membuat ketentuan ini bisa diprediksi. Jika tidak ditentukan kapan jangka waktu penunjukan likuidator tersebut, maka yang terjadi adalah mis-interpretation (kesalahan dalam menafsirkan). Pengurus perusahaan dalam hal ini Direksi akan mengacu pada Pasal 142 ayat (3), yang menyatakan bahwa214 :

Bismar Nasution, “Modul Perkuliahan : Peranan Hukum Dalam Pembangunan Ekonomi”, Op.cit., hal. 7. 214 Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, Op.cit.

213

109

“Dalam hal pembubaran terjadi berdasarkan keputusan RUPS, jangka waktu berdirinya yang ditetapkan dalam anggaran dasar telah berakhir atau dengan dicabutnya kepailitan berdasarkan keputusan pengadilan niaga dan RUPS tidak menunjuk likuidator, Direksi bertindak selaku likuidator”. Jika hal itu terjadi maka Direksi akan kebingungan dalam melakukan tindakan dalam hal likuidasi perseroan terbatas. Hal ini dikarenakan bidang keilmuan yang berbeda dalam mengurusi masalah likuidasi. Untuk melikuidasi perusahaan dibutuhkan seseorang yang mengerti mengenai hukum perusahaan, bisa dikatakan seorang Konsultan Hukum, Pengacara, ataupun Notaris.

D.

Pungutan Liar Dalam Laporan Pencabutan Izin Usaha Laporan pencabutan izin usaha dilakukan berdasarkan pada Undang-Undang

No. 3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan pada Pasal 25 ayat (3), menyatakan bahwa215 : ”Apabila terjadi pembubaran perusahaan atau kantor cabang, kantor pembantu atau perwakilannya, pemilik atau pengurus maupun likwidatur berkewajiban untuk melaporkannya”. Pasal ini mengisyaratakan agar laporan pembubaran perseroan terbatas juga dilaporkan pada lembaga terkait yaitu Dinas Pendatan Daerah (dahulu Departemen Perindustrian dan Perdagangan) yang menggunakan azas satu pintu. Namun, kenyataannya tetap saja harus menghadapi dari meja satu ke meja lainnya. Hal ini membutuhkan biaya yang banyak. Pada saat pendaftaran pertama sudah dilakukan, begitu juga pada perpanjangan, dan selanjutnya pada saat pembubaran juga harus

Undang-Undang No. 3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1982 Nomor 7, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3214.

215

110

melaporkan. Padahal tidak ada suatu apapun yang dilakukan oleh instansi pemerintah yang berwenang untuk itu dalam hal pengawasan perusahaan. Seharusnya instansi pemerintah tersebut bertugas untuk menyediakan data-data perusahaan yang ada di wilayah kerjanya. Pada bagian Menimbang huruf b., disebutkan bahwa : ”adanya Daftar Perusahaan itu penting untuk Pemerintah guna melakukan pembinaan, pengarahan, pengawasan dan menciptakan iklim dunia usaha yang sehat karena Daftar Perusahaan mencatat bahan-bahan keterangan yang dibuat secara benar dari setiap kegiatan usaha sehingga dapat lebih menjamin perkembangan dan kepastian berusaha bagi dunia usaha”. Pada tujuan ini berarti Dinas Pendapatan Daerah mempunyai kewenangan untuk membina, mengarahkan, mengawasi, dan menciptakan iklim dunia usaha yang sehat. Tetapi cara-caranya tidak dicantumkan dalam peraturan tersebut. Undangundang ini hanya melegalisasikan kutipan-kutipan liar (pungli) bagi Pemerintah untuk meningkatkan pendapatannya. Akibatnya akan timbul transaction cost yang tinggi bagi perusahaan untuk mendaftarkan, merubah, atau membubarkan perseroan.216 Jika tidak didaftarkan atau diberitahukan bahwa perseroan sudah dibubarkan maka akan terjerat ketentuan pidana pada Pasal 32 yang menyatakan bahwa217 : (1) ”Barang siapa yang menurut Undang-undang ini dan atau peraturan pelaksanaannya diwajibkan mendaftarkan perusahaannya dalam Daftar Perusahaan yang dengan sengaja atau karena kelalaiannya tidak memenuhi kewajibannya diancam dengan pidana penjara selama-lamanya 3 (tiga) bulan atau pidana denda setinggi-tingginya Rp. 3.000.000,- (tiga juta rupiah). (2) Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) pasal ini merupakan kejahatan”.

Transaction Cost timbul akibat dari keperluan untuk mengurusi Tanda Daftar Perusahaan. Pada saat pembubaran juga, likuidator wajib untuk melaporkannya. Hal ini dikutip biaya administrasi yang besarannya ditetapkan oleh Menteri (Pasal 30, Ibid.). 217 Undang-Undang No. 3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan, Loc.cit.

216

111

Apabila peraturan ini dijalankan dengan baik maka pelaku usaha tidak keberatan untuk menjalankannya apalagi hanya membayar biaya administrasi yang masih terjangkau pelaku usaha. Kenyataannya selain membayar administrasi tersebut ada juga pembayaran yang dilakukan kepada oknum-oknum tertentu. Hal ini dapat dilihat pada korupsi yang dilakukan sebagai berikut 218 : ”Lembaga Penyalur Aspirasi Rakyat (Lempar) melakukan aksi unjukrasa di Kantor Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejatisu), Jalan Abdul Haris Nasution, Medan, Selasa (08/03/2011). Dalam aksi ini salah satu tuntutan dari Lempar adalah meminta Kejatisu untuk mengusut dugaan korupsi pembangunan Kantor Unit Pelayanan Teknis (UPT) Dinas Pendapatan Sumut sebesar Rp. 8,2 miliar di sepuluh Kabupaten/Kota se-Sumut. Di antaranya UPT Pematang Siantar, Kisaran, Padang, Sidempuan, Lubuk Pakam, Tebing Tinggi, Balige, Samosir, Sidikalang, Tarutung, dan Rantau Parapat”. Berdasarkan data di atas dapat dikatakan bahwa Dinas Pendapatan Daerah terindikasi korupsi dana-dana taktis pembangunan UPT. Korupsi juga dilakukan melalui pungutan liar di Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPPT) Kota Medan yang mengeluarkan perizinan usaha perdagangan, seperti yang dikatakan Sugisno, salah seorang pelaku usaha di Kota Medan bahwa219 : ”Praktik pungutan liar (pungli) ini terbilang sangat halus dan rapi sehingga sangat sulit untuk pembuktiannya. Biasanya, praktik pungli ini dilakukan saat masyarakat, pelaku usaha dan Usaha Kecil Menengah (UKM) akan mengambil izin kepada petugas juru bayar di loket depan seperti Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP), Tanda Daftar Perusahaan (TDP), Surat Usaha Jasa Konstruksi (SIUJK) dan beberapa izin lainnya. Saat mengambil izin itu, petugas loket tanpa malu-malu meminta kepada masyarakat uang terima kasih yang jumlahnya bervariasi. Sementara tanda bukti setoran tertulis tarif sesuai retribusi yang tertuang di Perda No. 22 Tahun
Mandailing Online, “Usut Kasus Dugaan Korupsi di Dispenda Sumut Rp. 9,3 M”, http://www.mandailingonline.com/2011/03/usut-kasus-dugaan-korupsi-di-dispenda-sumut-rp93-m/., diakses pada 11 Mei 2011. 219 Jurnal Medan, “Pungli Menggurita di BPPT Medan”, http://medan.jurnas.com/index.php?option=com_content&task=view&id=57953&Itemid=53., diakses pada 11 Mei 2011.
218

112

2002. Seperti Tarif SIUP golongan kecil retribusi Rp.150.000,- menjadi Rp.250.000,- golongan menengah berbentuk CV Rp.300.000,- menjadi Rp.450.000,- dan SIUP besar bentuk usaha PT retribusi Rp.450.000,membengkak menjadi Rp.600.000,-. Demikian juga untuk tarif TDP untuk golongan perorangan atau CV kecil Rp.150.000,- menjadi Rp.250.000,-, usaha besar berbentuk PT dari Rp.300.000,- menjadi Rp.400.000,-. Demikian juga tarif izin gangguan industri (HO) dari Rp.680.400,- menjadi Rp.900.000,-. Sedangkan tarif SIUJK dari Rp.150.000,- menjadi Rp.250.000,-. Ironisnya lagi, tarif izin daftar ulang HO industri membengkak naik sampai 100% dengan alasan uang perubahan dan ditambah dengan uang badan hukum. Contohnya : seperti izin CV. Aur Indah kalau dihitung-hitung retribusinya hanya sekitar Rp.900.000,- saja. Tetapi di BPPT tarif membengkak menjadi Rp.2.250.144,- dengan perincian retribusi Rp.1.102.571,-, uang perubahan tambah 100% dan ditambah uang usaha berbadan hukum Rp.25.000,- jadi total yang dibayar adalah Rp.2.230.144,-”. Pengalaman Sugino di atas membuktikan bahwa pelayanan masyarakat masih belum mudah, transparan, tepat waktu, dan prima. Para pejabat tersebut kebanyakan menginginkan untuk dilayani, dengan begitu, sebaik apapun dibuat peraturan perundang-undangan maka akan dimentahkan oleh sikap perilaku aparaturnya sendiri. Inilah salah satu faktor dari tidak tegaknya hukum dengan baik yaitu budaya suap. Seperti yang dikatakan oleh Soerjono Soekanto mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi penegakan hukum yaitu salah satunya adalah faktor budaya atau kebiasaan hukum.

3.

Penggelapan Aset oleh Pengurus Perusahaan Penggelapan aset masa likuidasi oleh pengurus perusahaan terjadi

dikarenakan tidak adanya ditentukan waktu dalam hal penunjukan likuidator. Dengan

113

begitu maka Direksi bertindak sebagai likuidator. 220 Bertindaknya Direksi sebagai likuidator dikarenakan tidak adanya perintah dari RUPS untuk menunjuk likuidator. Sehingga Direksi menunjuk lagi Pelaksana Tugas Direksi dalam hal melikuidasi perusahaan. Namun, yang terjadi malah sebaliknya Pelaksana Tugas Direksi dengan seenaknya menjual aset-aset perusahaan tanpa memasukkan hasil penjualan kedalam rekening perusahaan. Dengan penggelapan yang dilakukan oleh Pelaksana Tugas Direksi ini maka perusahaan dapat mengambil langkah untuk memberhentikan secara langsung Pelaksana Tugas Direksi tersebut dan menunjuk likuidator yang berkompeten dalam melaksanakan likuidasi perseroan terbatas. Kasus penggelapan ini dapat diadukan ke Kepolisian dengan membuat pengaduan sesuai prosedur yang berlaku. Dengan begitu, pelaku penggelapan akan menjalani proses hukum. Proses hukum tersebut adalah proses hukum pidana dimana pelaku akan diganjar dengan hukuman penjara selama-lamanya 4 (empat) tahun.221 Penggelapan (verduistering) diatur dalam Bab XXIV (Buku II) KUHP Pasal 372-377. Pengertian yuridis mengenai penggelapan itu sendiri diatur dalam ketentuan Pasal 372 KUHP. Pengertian dari penggelapan itu sendiri tidak dirumuskan secara khusus dalam KUHP. Penggelapan bukan berarti membuat sesuatu menjadi gelap atau tidak terang, namun memiliki pengertian yang lebih luas. Ada beberapa bentuk

220

Pasal 142 ayat (3), Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas,

Op.cit. Pasal 372, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, menyebutkan bahwa : ”Barangsiapa dengan sengaja dan melawan hukum memiliki barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian adalah kepunyaan orang lain, tetapi yang ada dalam kekuasaannya bukan karena kejahatan diancam karena penggelapan, dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau denda paling banyak sembilan ratus rupiah”.
221

114

tindak pidana penggelapan, baik dalam penggelapan dalam bentuk pokok yang diatur dalam Pasal 372 KUHP yang merupakan ketentuan yuridis dari tindak pidana penggelapan itu sendiri, penggelapan ringan yang diatur dalam Pasal 372 KUHP, penggelapan dalam bentuk pemberatan dimana ada ketentuan khusus yang menyebabkan tindak pidananya dijadikan alasan pemberatan yang diatur dalam Pasal 374 dan 375 KUHP dan tindak pidana penggelapan dalam keluarga yang diatur dalam Pasal 376 KUHP. Tindak pidana penggelapan dalam jabatan likuidator itu sendiri terdiri dari unsur-unsur objektif berupa perbuatan memiliki, objek kejahatan sebuah benda, sebagian atau seluruhnya milik orang lain dan dimana benda berada dalam kekuasaannya bukan karena kejahatan dan unsur-unsur subjektif berupa kesengajaan dan melawan hukum. Selain itu ada beberapa unsur khusus yang digunakan terhadap tindak pidana penggelapan dalam jabatan yaitu karena adanya hubungan kerja, jabatan, dan mendapat upah khusus. Dalam kasus ini, penjatuhan sanksi pidana yang harus dilakukan hakim terhadap Pelaksana Tugas Direksi yang melakukan tindak kejahatan tersebut adalah Pasal 374 yaitu penggelapan dengan pemberatan. Unsurunsur yang terdapat dalam Pasal 372 KUHP sudah terpenuhi, baik unsur objektif maupun subjektifnya. Selain itu ketentuan khusus yang memberatkan dalam hal ini terdakwa menggunakan jabatan yang dimilikinya untuk melakukan penggelapan juga sudah terpenuhi. Setelah urusan pengaduan dan proses berperkara di pengadilan terkait dengan penggelapan aset likuidasi oleh Pelaksana Tugas Direksi selesai maka selanjutnya Likuidator yang sudah ditunjuk oleh RUPS dapat melanjutkan pekerjaannya untuk

115

melikuidasi perseroan terbatas tersebut. Adapun pihak yang melaporkan adalah Organ Perusahaan, bisa itu Direksi, Komisaris, ataupun Pemegang Saham. Namun, proses berperkara di pengadilan ini lama dan memakan waktu yang panjang. Dengan begitu sebaiknya likuidator yang baru ditunjuk langsung mengadakan perdamaian bisa melalui Negosiasi, Mediasi, ataupun Konsiliasi. Hal ini untuk mewujudkan penyelesaian perkara melalui Luar Pengadilan dengan menggunakan Alternative Dispute Resolution (ADR).

116

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A.

Kesimpulan Setelah melakukan penelitian mengenai “Analisis Hukum Penyelesaian

Sengketa Hutang Piutang Perseroan Terbatas Dalam Likuidasi”, maka kesimpulan yang didapat, sebagai berikut : 1. Mengenai pengaturan penyelesaian sengketa hutang piutang perseroan terbatas dalam likuidasi dilakukan oleh likuidator melalui 2 (dua) cara yaitu : a. Jalur Pengadilan dengan cara gugat-menggugat dengan mendalilkan suatu subjek hukum telah melakukan wanprestasi. Wanprestasi terjadi karena debitur (yang dibebani kewajiban) tidak memenuhi isi perjanjian yang disepakati, seperti : tidak dipenuhinya prestasi sama sekali; tidak tepat waktu dipenuhinya prestasi; dan tidak layak memenuhi prestasi yang dijanjikan. Hal ini diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. b. Jalur Luar Pengadilan dengan menempuh Alternative Dispute Resolution (ADR) diatur dalam Undang-Undang No. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa. Adapun caranya, antara lain : negosiasi; mediasi; dan konsiliasi. Dalam hal likuidator menyelesaikan likuidasi perseroan terbatas yang diatur dalam Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, maka likuidator untuk menyelesaikan seluruh persoalan dalam hal pemberesan

117

perseroan terbats. Pemberesan perseroan terbatas tersebut, termasuk di dalamnya adalah penyelesaian sengketa hutang piutang.

2. Penentuan waktu likuidator terhadap likuidasi perseroan terbatas, menurut Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan terbatas tidak ada diatur. Maka hal ini dapat diinterpretasikan dengan melihat ketentuan Pasal 142 ayat (2) huruf a., penunjukan likuidator dilakukan setelah RUPS mengadakan rapat dalam acara pembubaran perseroan. Maka penunjukan likuidator dilakukan pada saat itu juga. Hal ini dilakukan demi menegakkan hukum agar tercapai kepastian, kemanfaatan, dan keadilan hukum.

3. Hambatan-hambatan penyelesaian hutang piutang yang dihadapi oleh likuidator dikarenakan likuidator bertanggung jawab kepada Pemegang Saham atas pemberesan yang dilakukan terhadap Perseroan Terbatas. Adapun permasalahan yang dihadapi oleh likuidator, antara lain : a. Tidak ada ditentukan oleh Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas mengenai kapan seharusnya likuidator tersebut ditunjuk untuk melikuidasi Perseroan Terbatas; b. Pembagian sisa hasil likuidasi perseroan apabila salah satu Pemegang Saham tidak setuju untuk menjualnya; c. Pungutan liar dalam laporan pencabutan izin usaha; d. Penggelapan aset oleh pengurus perusahaan.

118

B.

Saran Berdasarkan analisis dari kesimpulan di atas, selanjutnya akan disarankan

beberapa sebagai pemecahan masalah, antara lain :

1. Kesimpulan pertama mengutarakan bahwa penyelesaian hutang piutang perseroan terbatas dalam likuidasi diatur diselesaikan dengan jalur pengadilan (in-court) maupun luar pengadilan (out-court). Maka saran yang diajukan sebaiknya likuidator berupaya untuk menyelesaikan sengketa tersebut dengan cara luar pengadilan karena cara ini tidak memakan waktu yang lama dan biasanya tidak berbiaya mahal. Penumpukan perkara di pengadilan membuat penyelesaian memakan waktu lama dan biaya yang tidak sedikit.

2. Pada kesimpulan kedua didapat bahwa tidak ada penetapan jangka waktu penentuan likuidator dalam melikuidasi perseroan terbatas di dalam UndangUndang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, maka sebaiknya hal ini dijadikan masukan bagi legislator dalam merevisi ketentuan hukum perusahaan ini. Hal ini dilakukan demi menegakkan hukum agar pelaku usaha atau badan hukum tidak kebingungan dalam menginterpretasikan ketentuan likuidasi tersebut. Ketentuan mengenai jangka waktu yang tidak diatur tersebut membuat mis-interpretation yang dilakukan oleh Perseroan Terbatas. Terkait dengan teori penegakan hukum, sebaiknya Likuidasi dapat langsung dilakukan oleh Likuidator berdasarkan keputusan RUPS. Dengan begitu halhal yang tidak diinginkan akan terhindari. Jika, revisi tidak memungkinkan sebaiknya para penegak hukum khususnya para Konsultan Hukum baik itu

119

Notaris ataupun Pengacara sudah bisa menginterpretasi kemauan undangundang, bahwa setelah melakukan RUPS untuk membubarkan perusahaan langsung ditunjuk Likuidator dalam putusan RUPS tersebut.

3. Mengenai hambatan-hambatan yang muncul pada saat penyelesaian sengketa hutang piutang perseroan terbatas dalam likuidasi sebenarnya bisa dianulir melalui penegakan hukum yang baik berdasarkan peraturan perundangundangan yang ada. Mengenai penagihan hutang sementara perusahaan sudah tutup atau tidak beroperasi lagi (sudah likuidasi duluan), dapat dilakukan berdasarkan Pasal 150 ayat (2) Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas bahwa : “kreditor dapat mengajukan tagihan melalui Pengadilan dalam jangka waktu 2 (dua) tahun sejak pengumuman pembubaran Perseroan.

Demikianlah saran yang diajukan agar kiranya dapat menjadi pertimbangan di kemudian hari, baik untuk memperkaya khasanah kepustakaan maupun untuk penelitian selanjutnya mengenai sengketa hutang piutang perseroan terbatas dalam likuidasi.

120

DAFTAR PUSTAKA

BUKU Adi, Rianto., Metodologi Penelitian Sosial dan Hukum, Jakarta : Granit, 2004.

Amirudin dan Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, Jakarta : Rajawali Press, 2010.

Asshiddiqie, Jimly., Konstitusi Ekonomi, Jakarta : Kompas, 2010.

Aqimuddin, Eka An., dan Marya Agung Kusmagi, Solusi Bila Terjerat Kasus Bisnis, Cetakan Pertama, Jakarta : Raih Asa Sukses, 2010.

Bungin, Burhan., Penelitian Kualitatif : Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya, Ed. 1, Cet. 3, Jakarta : Kencana, 2009.

Darmodiharjo, Darji., dan Shidarta, Pokok-Pokok Filsafat Hukum : Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 1995.

ELIPS, Kamus Hukum Ekonomi Elips, Jakarta : Proyek Elips, 1997.

Ginting, Elvira Dewi., ”Analisis Hukum Mengenai Pengaturan Reorganisasi Perusahaan Dalam Kaitannya Dengan Hukum Kepalitan”, Tesis : Program Studi Magister Ilmu Hukum Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara, 2005.

Ginting, Laura., “Analisis Hukum Kedudukan Rapat Umum Pemegang Saham pada Perseroan Terbatas Dilihat Dari Anggaran Dasar”, Tesis : Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara, 2008.

Hermansyah, Hukum Perbankan Nasional Indonesia, Jakarta : Kencana Prenada Media Group 2007.

121

Hisrich, Robert D., Michael P. Peters, dan Dean A. Shepherd, Enterpreneurship Kewirausahaan, Edisi 7, Jakarta : Salemba Empat, Tanpa Tahun.

Institut Bankir Indonesia, Kamus Perbankan Indonesia, Jakarta : Institut Bankir Indonesia, 1980.

Iskandar, Aziarni Hasibuan & Partners, “Laporan Pertanggungjawaban Likuidator PT. Schutter Indonesia (Dalam Likuidasi)”, Medan, 18 Feburari 2008.

Jusuf, Jopie., Analisis Kredit Untuk Account Officer, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 1995. Magee, Bryan., The Story Of Philosophy : Kisah Tentang Filsafat, Yogyakarta : Kanisius, 2008. Muhdar, Muhamad., “Bahan Kuliah Metode Penelitian Hukum : Sub Pokok Bahasan Penulisan Hukum”, Balikpapan : Universitas Balikpapan, 2010.

Murni, “Analisis Terhadap Likuidasi Persekutuan Komanditer (CV), Untuk Menjadi Perseroan Terbatas (PT) dalam Perspektif Hukum Ekonomi”, Tesis : Universitas Diponegoro Semarang, 1998.

Nasution, Bismar., “Catatan Perkuliahan : Hukum Perusahaan”, Medan : Program Studi Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, 2009.

--------------------------., “Modul Perkuliahan : Peranan Hukum Dalam Pembangunan

Ekonomi”, Medan : Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, 2009. Pantouw, Rinus., Hak Tagih Factor Atas Piutang Dagang, Jakarta : Kencana, 2006.

Sari, Elsi Kartika., dan Advendi Simangunsong, Hukum dalam Ekonomi, Jakarta : Grasindo, Tanpa Tahun.

122

Satrio, Budi., “Penegakan Hukum Pidana di Bidang Pasar Modal”, Tesis: Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara, 2009.

Siregar, Mahmul., Perdagangan Internasional dan Penanaman Modal Studi Kesiapan dalam Perjanjian Investasi Multilateral, Cetakan Kedua : Revisi, Medan : Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara, 2008.

Sitompul, Manahan M. P., “Penyelesaian Sengketa Utang-Piutang Perusahaan Dengan Perdamaian Di Dalam Atau Di Luar Proses Kepailitan (Studi Mengenai Lembaga Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang)”, Disertasi : Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara, 2009.

Soekanto, Soerjono., Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta : Universitas Indonesia Press., 1996. ------------------------., Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1983.

Sunggono, Bambang., Metodologi Penelitian Hukum, Jakarta : Rajawali Press, 2010. Sunarmi, Hukum Kepailitan, Terbitan Pertana, Medan : USU Press, 2009.

Tampubolon, Veronica., “Pertanggungjawaban Perbuatan Hukum Perseroan yang Dimuat Dalam Akta Notaris (Ditinjau Dari Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata)”, Tesis : Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, 2010.

Tan, Hiasinta Yanti Susanti., “Konsekuensi Perubahan Undang-Undang Perseroan Terbatas Terhadap Eksistensi Perseroan Terbatas”, Tesis : Program Magister Ilmu Hukum Universitas Diponegoro, Semarang, 2008.

Usman, Rachmadi., Aspek-Aspek Hukum Perbankan di Indonesia, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 2001.

123

Wicaksono, Frans Satrio., Tanggung Jawab Pemegang Saham, Direksi, & Komisaris Perseroan Terbatas, Cetakan Pertama, Jakarta : Visimedia, Oktober 2009.

Widjaja, Gunawan., Seri Pemahaman Perseroan Terbatas : 150 Tanya Jawab Tentang Perseroan Terbatas, Cetakan Pertama, Jakarta : Forum Sahabat, Agustus 2008.

ARTIKEL INTERNET Arsyad, Amirullah., “Globalisasi dan Hukum Perbandingan”, http://amrulgunper82.blogspot.com/2011/01/globalisasi-dan-hukumperbandingan.html., diakses pada 18 Maret 2011.

Dermawan, Candra., “Kesulitan Kuangan, Kebangkrutan, http://candra.us/blog/?p=91., diakses pada 14 Maret 2011.

dan

Likuidasi”,

“Definisi Aktiva & Pasiva”, http://rahasiaakuntansi.blogspot.com/2010/03/definisiaktiva-pasiva.html., diakses pada 22 Maret 2011. Investopedia, “Chapter 7”, http://www.investopedia.com/terms/c/chapter7.asp., diakses pada 14 Maret 2011.

Jurnal

Medan, “Pungli Menggurita di BPPT Medan”, http://medan.jurnas.com/index.php?option=com_content&task=view&id=579 53&Itemid=53., diakses pada 11 Mei 2011.

Kamus

Besar Bahasa Indonesia Online, ”Likuidasi”, http://kamusbahasaindonesia.org/likuidasi., diakses pada 08 Mei 2011.

Mandailing Online, “Usut Kasus Dugaan Korupsi di Dispenda Sumut Rp. 9,3 M”, http://www.mandailingonline.com/2011/03/usut-kasus-dugaan-korupsi-didispenda-sumut-rp93-m/., diakses pada 11 Mei 2011.

Munandir., “Kode Etik Menulis : Butir-Butir”, www.unissula.ac.id /perpustakaan/.../Munandir%20(kode%20etik).ppt., 2007, diakses pada 25 Mei 2010.

124

Nasution, Bismar., “Pertanggungjawaban Direksi Dalam Pengelolaan Perseroan”, http://bismar.wordpress.com/., diakses pada 16 Maret 2011.

“Perusahaan – Company Profil – Setelah sebuah Perusahaan Likuidasi Sukarela”, http://www.companyprofil.com/perusahaan-company-profil-setelah-sebuahperusahaan-likuidasi-sukarela.html., diakses pada 14 Maret 2011.

Sunarmi, “Perbandingan Sistem Hukum Kepailitan Antara Inodnesia (Civil Law System) dengan Amerika Serikat (Common Law System)”, http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1597/1/perdata-sunarmi5.pdf., diakses pada 19 Maret 2011.

Tjahjono, Jusuf Patrianto., “Praktek Pelaksanaan Pembubaran PT”, http://notarissby.blogspot.com/2008/07/praktek-pelaksanaan-pembubaranpt.html., diakses pada 11 Mei 2011.

--------------------------------------., “Pembagian Sisa Hasil Likuidasi Perseroan”, http://notarissby.blogspot.com/2008/08/pembagian-sisa-hasil-likuidasi.html., diakses pada 12 Mei 2011.

United States Courts, “Chapter 7 : Liquidation Under the Bankruptcy Code”, http://www.uscourts.gov/FederalCourts/Bankruptcy/BankruptcyBasics/Chapte r7.aspx., diakses pada 08 Mei 2011.

Wikipedia, ”Chapter 11 Undang-Undang Kepailitan Amerika Serikat”, http://id.wikipedia.org/wiki/Bab_11_UndangUndang_Kepailitan_Amerika_Serikat., diakses pada 14 Maret 2011.

Wikipedia, “Kreditur”, http://id.wikipedia.org/wiki/Kreditur., diakses pada 22 Maret 2011.

Wikipedia, “Debitur”, http://id.wikipedia.org/wiki/Debitur., diakses pada 22 Maret 2011.

125

PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, Staatsblad Tahun 1915 Nomor 732.

Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Staatsblad Tahun 1847 Nomor 23.

Peraturan Pemerintah No. 31 Tahun 1990 tentang Pembubaran Perusahaan Perseroan (Persero) PT. Pusat Perkayuan Marunda dan Penambahan Penyertaan Modal Negara yang Berasal dari Kekayaan Negara Hasil Likuidasi Perusahaan Perseroan (Persero) Tersebut ke Dalam Modal Saham Perseroan (Persero) PT.Kawasan Berikat Nusantara, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1990 Nomor 39.

Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 1999 tentang Pencabutan Izin Usaha, Pembubaran, dan Likuidasi Bank, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 52, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3831.

Undang-Undang No. 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1967 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2818.

Undang-Undang No. 3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1982 Nomor 7, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3214.

Undang-Undang No. 7 Tahun 1994 tentang Pengesahan Agreement Establishing The World Trade Organization (Persetujuan Pembentukan Organisasi Perdagangan Dunia), Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1994 Nomor 57, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3564.

Undang-Undang No. 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 13, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3587.

126

Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1998 Nomor 182, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3790.

Undang-Undang No. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 138, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3872.

Undang-Undang No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 67, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4724.

Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 106, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4756.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->