1

ANALISIS RISIKO
Risiko adalah hal yang tidak akan pernah dapat dihindari pada suatu kegiatan / aktivitas yang idlakukan manusia, termasuk aktivitas proyek pembangunan dan proyek konstyruksi. Karena dalam setiap kegiatan, seperti kegiatan konstruksi, pasti ada berbagai ketidakpastian (uncertainty). Faktor ketidakpastian inilah yang akhirnya menyebabkan timbulnya risiko pada suatu kegiatan. Para ahli mendefinisikan risiko sebagai berikut : 1. Risiko adalah suatu variasi dari hasil – hasil yang dapat terjadi selama periode tertentu pada kondisi tertentu (William & Heins, 1985). 2. Risiko adalah sebuah potensi variasi sebuah hasil (William, Smith, Young, 1995). 3. Risiko adalah kombinasi probabilita suatu kejadian dengan konsekuensi atau akibatnya (Siahaan, 2007). Macam Risiko Risiko adalah buah dari ketidakpastian, dan tentunya ada banyak sekali faktor – faktor ketidakpastian pada sebuah proyek yang tentunya dapat menghasilkan berbagai macam risiko. Risiko dapat dikelompokkan menjadi beberapa macam menurut karakteristiknya, yaitu lain: 1. Risiko berdasarkan sifat a. Risiko Spekulatif (Speculative Risk), yaitu risiko yang memang sengaja diadakan, agar dilain pihak dapat diharapkan hal – hal yang menguntungkan. Contoh: Risiko yang disebabkan dalam hutang piutang, membangun proyek, perjudian, menjual produk, dan sebagainya. b. Risiko Murni (Pure Risk), yaitu risiko yang tidak disengaja, yang jika terjadi dapat menimbulkan kerugian secara tiba – tiba. Contoh : Risiko kebakaran, perampokan, pencurian, dan sebagainya. 2. Risiko berdasarkan dapat tidaknya dialihkan a. Risiko yang dapat dialihkan, yaitu risiko yang dapat dipertanggungkan sebagai obyek yang terkena risiko kepada perusahaan asuransi dengan membayar sejumlah premi. Dengan demikian kerugian tersebut menjadi tanggungan (beban) perusahaan asuransi.

Manajemen Risiko Lingkungan - 2010

2

b. Risiko yang tidak dapat dialihkan, yaitu semua risiko yang termasuk dalam risiko spekulatif yang tidak dapat dipertanggungkan pada perusahaan asuransi. 3. Risiko berdasarkan asal timbulnya a. Risiko Internal, yaitu risiko yang berasal dari dalam perusahaan itu sendiri. Misalnya risiko kerusakan peralatan kerja pada proyek karena kesalahan operasi, risiko kecelakaan kerja, risiko mismanagement, dan sebagainya. b. Risiko Eksternal, yaitu risiko yang berasal dari luar perusahaan atau lingkungan luar perusahaan. Misalnya risiko pencurian, penipuan, fluktuasi harga, perubahan politik, dan sebagainya. Selain macam – macam risiko diatas, Trieschman, Gustavon, Hoyt, (2001), juga mengemukakan beberapa macam risiko yang lain, diantaranya : 1. Risiko Statis dan Risiko Dinamis (berdasarkan sejauh mana ketidakpastian berubah karena perubahan waktu) a. Risiko Statis. Yaitu risiko yang asalnya dari masyarakat yang tidak berubah yang berada dalam keseimbangan stabil. Risiko statis dapat bersifat murni ataupun spekulatif. Contoh risiko spekulasi statis : Menjalankan bisnis dalam ekonomi stabil. Contoh risiko murni statis : Ketidakpastian dari terjadinya sambaran petir, angin topan, dan kematian secara acak (secara random). b. Risiko Dinamis. Risiko yang timbul karena terjadi perubahan dalam masyarakat. Risiko dinamis dapat bersifat murni ataupun spekulatif. Contoh sumber risiko dinamis : urbanisasi, perkembangan teknologi, dan perubahan undang – undang atau perubahan peraturan pemerintah. 2. Risiko Subyektif dan Risiko Obyektif a. Risiko Subyektif Risiko yang berkaitan dengan kondisi mental seseorang yang mengalami ragu – ragu atau cemas akan terjadinya kejadian tertentu. b. Risiko Obyektif Probabilita penyimpangan aktual dari yang diharapkan (dari rata - rata) sesuai pengalaman. Manajemen Risiko Untuk dapat menanggulangi semua risiko yang mungkin terjadi, diperlukan sebuah proses yang dinamakan sebagai manajemen risiko. Adapun

Manajemen Risiko Lingkungan - 2010

3

beberapa definisi manajemen risiko dari berbagai literatur yang didapat, antara lain : a. Manajemen risiko merupakan proses formal dimana faktor – faktor risiko secara sistematis diidentifikasi, diukur, dan dicari b. Manajemen risiko merupakan metoda penanganan sistematis formal dimana dikonsentrasikan pada pengientifikasian dan pengontrolan peristiwa atau kejadian yang memiliki kemungkinan perubahan yang tidak diinginkan. c. Manajemen risiko, dalam konteks proyek, adalah seni dan pengetahuan dalam mengidentifikasi, menganalisa, dan menjawab faktor – faktor risiko sepanjang masa proyek. Tabel 1. Definisi manajemen risiko
Definisi Manajemen Risiko Manajemen risiko merupakan pengenalan, pengukuran, dan perlakuan terhadap kerugian dari kemungkinan kecelakaan yang muncul Manajemen risiko merupakan sebuah proses untuk mengidentifikasi terjadinya kerugian yang dialami oleh suatu organisasi dan memilih teknik yang paling tepat untuk menangani kejadian tersebut Manajemen risiko adalah sebuah proses formal untuk mengidentifikasi, menganalisa, dan merespon sebuah risiko secara sistematis, sepanjang jalannya proyek, untuk mendapatkan tingkatan tertinggi atau yang bias diterima, dalam hal mengeliminasi risiko atau kontrol risiko Manajemen risiko merupakan suatu aplikasi dari manajemen umum yang mencoba untuk mengidentifikasi, mengukur, dan menangani sebab dan akibat dari ketidakpastian pada sebuah organisasi Sumber Referensi Williams dan Heins, 1985 Redja, 2008

Al Bahar dan Crandall, 1990

Williams, Smith, Young, 1995

Dalam pelaksanaannya, terdapat beberapa tahapan dalam manajemen risiko. Terdapat beberapa ahli yang mengemukakan pendapat mengenai tahapan – tahapan dalam manajemen risiko. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada Tabel 2.

Manajemen Risiko Lingkungan - 2010

4

Tabel 2. Tahapan manajemen risiko
Tahapan Manajemen Risiko a. Identifikasi risiko b. Menafsir kerugian yang dapat terjadi (menentukan probabilitas dan dampaknya) c. Menangani risiko d. Pengimplementasian e. Memonitor dan mengevaluasi pengimplementasiannya a. Identifikasi misi b. Menafsir risiko dan ketidakpastian c. Mengontrol risiko d. Membiayai risiko e. Pengadministrasian program a. Identifikasi risiko b. Evaluasi risiko c. Memilih teknik manajemen risiko d. Mengimplementasikan dan meninjau kembali keputusan yang dibuat a. Menafsir risiko b. Menganalisa risiko (menentukan probabilitas konsekuensinya) c. Menangani risiko d. Mendokumentasikan proses manajemen risiko dan Sumber Referensi Williams dan Heins, 1985

Williams, Young, 1995

Smith,

Trieschmann, Gustavon, Hoyt, 1995

Kerzner, 1995

a. Mengidentifikasi kerugian b. Menganalisa kerugian c. Memilih teknik pengangan yang tepat (mengontrol risiko dan membiayai risiko) d. Mengimplementasikan dan memonitor program manajemen risiko a. Mengidentifikasi risiko b. Menafsir dan menganalisa risiko c. Mengontrol risiko a. Identifikasi risiko b. Analisa risiko dan proses evaluasi c. Respon manajemen d. Administrasi sistem

Redja, 2008

Loosemore, Raftery, Reilly, Higgon, 2006 Al Bahar Crandall, 1990 dan

Selanjutnya, dalam penelitian ini akan dipakai tahapan – tahapan manajemen risiko yang dikemukakan oleh Al Bahar dan Crandall (1990), dengan sedikit modifikasi, sehingga menjadi sebagai berikut : 1. Identifikasi dan Analisa Risiko 2. Respon manajemen

Manajemen Risiko Lingkungan - 2010

Dalam pelaksanaannya.5 3. image perusahaan. Misalnya akibat kematian. Auditing h. a. c.2010 . harus diidentifikasi. Kerugian atas kekayaan (property). adalah : 1. Manajemen Risiko Lingkungan . Proses identifikasi risiko ini mungkin adalah proses yang terpenting. Membuat klasifikasi kerugian. dan sebagainya Adapun cara – cara pelaksanaan identifikasi risiko secara nyata dalam sebuah proyek. • Kekayaan langsung yang dihubungkan dengan kebutuhan untuk mengganti kekayaan yang hilang atau rusak. usia tua. Identifikasi dan Analisa Risiko Tahapan pertama dalam proses manajemen risiko adalah tahap identifikasi risiko. hutang. identifikasi risiko dapat dilakukan dengan beberapa teknik. Dalam checklist ini dibuat daftar kerugian dan peringkat kerugian yang terjadi. Risk assessment workshop f. misalnya penurunan permintaan. sakit. Checklist j. Incident investigation g. Membuat checklist kerugian potensial. 2. • Kekayaan yang tidak langsung. 3. dan personil perusahaan. Scenario analysis e. Kerugian atas personil perusahaan. Identifikasi risiko merupakan suatu proses yang secara sistematis dan terus menerus dilakukan untuk mengidentifikasi kemungkinan timbulnya risiko atau kerugian terhadap kekayaan. Inspection i. dan sebagainya. pengangguran. ketidakmampuan. sehingga tidak ada risiko yang terlewatkan atau tidak teridentifikasi. Industry benchmarking d. dan sebagainya. antara lain: a. Membuat daftar bisnis yang dapat menimbulkan kerugian. Questionnaire c. karena dari proses inilah. Kerugian atas hutang piutang. karena kerusakan kekayaan atau cideranya pribadi orang lain. Brainstorming b. Adapun proses identifikasi harus dilakukan secara cermat dan komprehensif. HAZOP (Hazard and Operability Studies) k. semua risiko yang ada atau yang mungkin terjadi pada suatu proyek. b. Administrasi system.

2001 Loosemore. Risiko fisik f. Risiko yang berhubungan dengan konstruksi e. Risiko legal c. kategori – kategori risiko yang dikemukakan oleh Al Bahar dan Crandall (1990). Risiko komersial dan legal e. Risiko manusia c. Risiko eksternal b. Risiko teknis d. Risiko desain c. Risiko legal a. Risiko internal c. Risiko pelaksanaan e. 1990 dan Untuk kepentingan tugas akhir ini.6 Dalam mengidentifikasi risiko.2010 . Risiko manajemen d. Risiko finansial b. Risiko kontraktual dan legal d. Risiko ekonomi dan finansial g. 2006 Al Bahar Crandall. yaitu dari risiko yang dipandang dari sudut pandang kontraktor dan yang sering terjadi pada Manajemen Risiko Lingkungan . Risiko teknologi b. beberapa ahli membaginya menjadi beberapa kategori. Risiko manajemen f. Risiko politik dan umum a. dimodifikasi sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kondisi yang diinginkan. 1997 Shen. Risiko partner bisnis h. Risiko finansial dan ekonomi b. Risiko fisik c. Risiko politik a. Kategori risiko Kategori Risiko a. Reilly. Risiko teknis a. Risiko politik dan kebijakan f. Risiko politik dan lingkungan d. Raftery. Ng. Risiko pasar e. Risiko ekonomi f. Risiko yang berhubungan dengan konstruksi b. Risiko bencana alam Sumber Referensi Kerzner. Risiko lingkungan d. diantaranya : Tabel 3. Wu. 1995 Fisk. Higgon.

perang. dan lain sebagainya. Matriks sumber identifikasi risiko Sumber Finansial dan Ekonomi 1. 2. Al Bahar dan Crandall. Konstruksi Yang termasuk dalam kategori ini misalnya kecelakaan kerja. kenaikan upah pekerja. Keppres RI no 80 tahun 2003 4. perubahan desain. Loosemore. Kemungkinan kebangkrutan partner 6. Kenaikan upah pekerja 2. Sanksi keterlambatan 8. Persediaan dana klien 4. Yang termasuk dalam kategori ini misalnya fluktuasi tingkat inflasi dan suku bunga. Kesalahan estimasi 9. 3. dan sebagainya. Kompetisi dengan proyek sejenis 10. Reilly. Finansial & Ekonomi. Fluktuasi tingkat inflasi 12. Raftery. 2001 3. pencurian. dan lain sebagainya. perubahan nilai tukar. Keterlambatan pembayaran dari klien 5. bencana alam. 2006 Tabel 4. proses identifikasi risiko dikembangkan menjadi beberapa jenis risiko yang didapat dari berbagai sumber. embargo. Higgon. Kemungkinan kekurangan modal 7.7 proyek – proyek pemerintah. Dari ketiga kategori risiko tersebut. Kenaikan harga material 3. antara lain : 1. Fluktuasi suku bunga 13. Yang termasuk dalam kategori ini misalnya perubahan dalam hukum dan peraturan. 1990 2.2010 . Klaim dari klien 11. Wu. Ng. Adapun kategori risiko tersebut dimodifikasi sehingga menjadi sebagai berikut : 1. Politik & Lingkungan. perubahan politik. Shen.Fluktuasi nilai tukar mata uang Katego ri Risiko 1 Jenis Risiko 2 3 4 Manajemen Risiko Lingkungan .

Buruknya kualitas material 4. Bencana alam 12. Perubahan hukum. Kurangnya hubungan dengan departemen pemerintah 3. Produktivitas pekerja dan peralatan 7. Aturan polusi dan keselamatan 14. Akurasi dan kelengkapan spesifikasi teknis 14. Embargo 11. Manajemen Risiko Lingkungan . Al Bahar dan Crandall (1990) mengemukakan bahwa. yang dibutuhkan adalah menentukan signifikansi atau dampak dari risiko tersebut. Sabotase pada properti dan peralatan 9. Perang dan kekacauan 10.2010 . Rintangan dari pemerintah 2. Pekerjaan yang tidak sempurna 8. Perselisihan dengan industri 2. Keterbatasan pengadaan material dan pekerja ahli 5. Kondisi fisik lapangan yang tidak diketahui 12.8 Politik dan Lingkungan 1. Pelarangan mensub-kontrakkan 6. Persaingan yang tidak sehat 6. sebelum risiko – risiko tersebut dibawa memasuki tahapan respon manajemen. Pelanggaran kontrak 8. Perubahan desain Setelah proses identifikasi semua risiko – risiko yang mungkin terjadi pada suatu proyek dilakukan. Perselisihan dengan pekerja 3. Kecelakaan di lapangan 13. peraturan dan politik 5. melalui suatu analisa probabilitas. Kebakaran / pencurian material dan peralatan 10. Kontaminasi terhadap lingkungan Konstruksi 1. Peraturan lingkungan 13. Korupsi dan penyuapan 7. diperlukan suatu tindak lanjut untuk menganalisa risiko – risiko tersebut. Kegagalan pada peralatan 11. Lamanya perizinan birokrasi 9. Perubahan kebijakan 4.

seperti yang telah dijelaskan sebelumnya pada bagian lain bab ini. kerugian finansial kecil. Raftery. Sumber : Loosemore. Risk Management in Projects Tabel 6. Setelah data yang dibutuhkan terkumpul. Higgon. Risk Management in Projects Manajemen Risiko Lingkungan . kerugian finansial sangat besar. Peristiwa ini jarang terjadi. kerugian finansial medium. Parameter konsekuensi risiko Parameter Tidak signifikan Kecil Sedang Besar Sangat signifikan Deskripsi Tidak ada yang terluka. Proses evaluasi dampak risiko dilakukan dengan mengkombinasikan antara probabilitas (sebagai bentuk quantitatif dari faktor ketidakpastian / uncertainty) dan dampak / konsekuensi dari terjadinya sebuah risiko. kerugian finansial cukup besar. Cedera parah. Reilly. Reilly. Untuk melakukan proses evaluasi tersebut. Langkah pertama untuk melakukan tahapan ini adalah pengumpulan data yang relevan terhadap risiko yang akan dianalisa. Raftery. Menurut Loosemore. dibutuhkan suatu parameter yang jelas untuk dapat mengukur dampak dari suatu risiko dengan tepat. (2006). Peristiwa ini sering muncul pada berbagai keadaan. beberapa parameter untuk proses evaluasi risiko seperti pada Tabel 5 dan 6. untuk mengevaluasi dampak potensial suatu risiko. Kematian. kerugian finansial besar. selanjutnya dilakukan proses evaluasi dampak dari sebuah risiko. (2006). Higgon. Jika data historis tersebut kurang memadai. Pertolongan pertama. Data – data ini dapat diperoleh dari data historis perusahaan atau dari pengalaman proyek pada masa lalu.9 Menurut Al Bahar dan Crandall (1990). Parameter probabilitas risiko Parameter Jarang terjadi Agak jarang terjadi Mungkin terjadi Sering terjadi Hampir pasti terjadi Deskripsi Peristiwa ini hanya muncul pada keadaan yang luar biasa jarang. Perlu perawatan medis. Reilly dan Higgon (2006). Peristiwa ini kadang terjadi pada suatu waktu. dapat dilakukan teknik identifikasi risiko yang lain. menggunakan teori probabilitas. Tabel 5. Sumber : Loosemore. Raftery.2010 . analisa risiko didefinisikan sebagai sebuah proses yang menggabungkan ketidakpastian dalam bentuk quantitatif. Peristiwa ini pernah terjadi dan mungkin terjadi lagi.

Dengan menghindari risiko. Contohnya : seorang kontraktor yang ingin menghindari risiko politik dan finansial berkaitan dengan proyek pada negara dengan kondisi politik yang tidak stabil. Ada lima strategi alternatif untuk menangani risiko. selanjutnya dapat dilakukan suatu analisa untuk mengevaluasi dampak risiko secara keseluruhan. yaitu : 1.10 Setelah risiko – risiko yang mungkin terjadi dievaluasi dengan menggunakan parameter – parameter probabilitas dan konsekuensi risiko diatas. Strategi ini didasarkan kepada sifat dan dampak potensial / konsekuensi dari risiko itu sendiri. strategi ini merupakan strategi yang umum digunakan untuk menangani risiko. kontraktor dapat mengetahui bahwa perusahaannya tidak akan mengalami kerugian akibat risiko yang telah ditafsir. Meretensi risiko 4. Mencegah risiko dan mengurangi kerugian 3. Manajemen Risiko Lingkungan . maka kemungkinan untuk mendapatkan keuntungan dari proyek tersebut juga ikut menghilang. Mentransfer risiko 5. Menghindari risiko Menghindari risiko merupakan strategi yang sangat penting. Strategi ini secara langsung mengurangi potensi risiko kontraktor dengan 2 cara. Adapun tujuan dari strategi ini adalah untuk memindahkan dampak potensial risiko sebanyak mungkin dan meningkatkan kontrol terhadap risiko. yaitu : 1. Namun demikian. Mengurangi kemungkinan terjadinya risiko. Respon Manajemen Setelah risiko – risiko yang mungkin terjadi diidentifikasi dan dianalisa. apabila kontraktor tersebut menolak untuk melakukan tender. dapat menolak melakukan tender proyek pada negara tersebut. Asuransi 1. 2.2010 . Mencegah risiko dan mengurangi kerugian Alternatif strategi yang kedua adalah mencegah risiko dan mengurangi kerugian. dengan menggunakan matriks evaluasi risiko. kontraktor akan mulai memformulasikan strategi penanganan risiko yang tepat. Menghindari risiko 2. Di sisi lain. kontraktor juga akan kehilangan sebuah peluang untuk mendapatkan keuntungan yang mungkin didapatkan dari asumsi risiko tersebut.

11 2. 5. 4. Dalam mengadopsi strategi retensi risiko ini. Karakeristik esensial dari transfer risiko ini adalah dampak dari suatu risiko. 1. dimana kompensasi ekstra akan diberikan kepada kontraktor apabila terjadi perbedaan kondisi tanah pada suatu proyek. perlu dibedakan antara 2 jenis retensi yang berbeda. Sebuah gedung yang dilengkapi dengan sprinkler system. subkontraktor ataupun supplier material dan peralatan. apabila risiko tersebut benar – benar terjadi. dari dampak finansial suatu risiko yang akan dialami oleh perusahaan. Mentransfer risiko Pada dasarnya. melalui negosiasi. tergantung pada filosofi. Retensi risiko yang terencana (planned) adalah asumsi yang secara sadar dan sengaja dilakukan oleh kontraktor untuk mengenali atau mengidentifikasi risiko. risiko dapat ditahan dengan berbagai cara. Meretensi risiko Retensi risiko telah menjadi aspek penting dari manajemen risiko ketika perusahaan menghadapi risiko proyek. kapanpun kontraktor menjalani perencanaan kontraktual dengan banyak pihak seperti pemilik. Dengan strategi seperti itu. transfer risiko ini dilakukan melalui syarat atau pasal – pasal dalam kontrak seperti : hold – harmless aggrement dan klausul jaminan atau penyesuaian kontrak. Transfer risiko bukanlah asuransi. 2. akan mengurangi dampak finansial. Contohnya : pemasangan alarm atau alat anti – maling pada peralatan di proyek. baik secara utuh maupun sebagian. Asuransi juga Manajemen Risiko Lingkungan . ditanggung bersama atau ditanggung secara utuh oleh pihak lain selain kontraktor. Biasanya. akan mengurangi kemungkinan terjadinya pencurian. kebutuhan khusus. 3. Retensi risiko adalah perkiraan secara internal. apabila gedung tersebut mengalami kebakaran. Retensi risiko yang tidak terencana (unplanned) terjadi ketika kontraktor tidak mengenali atau mengidentifikasi kberadaan dari suatu risiko dan secara tidak sadar mengasumsi kerugian yang akan muncul. Asuransi Asuransi menjadi bagian penting dari program manajemen risiko.2010 . baik untuk sebuah organisasi ataupun untuk individu. transfer risiko dapat dilakukan. dan juga kapabilitas finansial dari kontraktor itu sendiri. Contohnya : penyesuaian pada harga penawaran. Mengurangi dampak finansial dari risiko. apabila risiko tersebut benar – benar terjadi.

pengasuransi (insured) harus membayar sejumlah premi tiap periodenya. memonitor. akan sangat mudah untuk terjadinya miskomunikasi. dibutuhkan beberapa tahapan. 4. memotivasi. Proses mengkaji ulang. untuk menyusun kebijakan dan prosedur program manajemen risiko tersbut. pihak asuransi (insurer) setuju untuk mengganti rugi kerugian yang terjadi (seperti yang tercantum dalam kontrak) dengan balasan. Dengan adanya persetujuan tersebut. 5. dengan demikian banyaknya pihak yang terlibat. Manajer risiko harus mengandalkan kemampuan manajerialnya untuk mengkoordinasi. yaitu : 1. dibutuhkan sebuah kebijakan dan prosedur pelaksanaan proses manajemen risiko yang formal. Smith. Young (1995). Young (1995). ada 5 hal manajerial penting yang dihadapi oleh seorang manajer risiko. Secara formal. Pengkomunikasian risiko. dimana pihak asuransi setuju untuk menerima beban finansial yang muncul dari adanya kerugian. Manajemen Risiko Lingkungan . Pengawasan klaim. Smith. 1.12 termasuk di dalam strategi transfer risiko. Namun. baik secara organisasi maupun personal. Statement kebijakan manajemen risiko Perusahaan harus menyusun statement kebijakan manajemen risiko yang berisi tentang misi dan tujuan dari program manajemen risiko. mengarahkan. memfasilitasi dan menjalankan organisasi menuju rencana penanganan risiko yang rasional dan terintegrasi. asuransi dapat didefinisikan sebagai kontrak persetujuan antara 2 pihak yang terkait yaitu : pengasuransi (insured) dan pihak asuransi (insurer). Manajemen kontrak dan kontrak portfolio.2010 . dan mengevaluasi program manajemen risiko. yang sesuai dengan misi atau tujuan dari program manajemen risiko dan sejalan dengan misi organisasi tersebut. Menurut William. Kebijakan dan prosedur Proses manajemen risiko harus dilakukan oleh semua pihak dalam suatu organisasi. Oleh karena itu. Menurut William. mengorganisasi. yaitu : 1. Tantangan untuk menyusun prosedur dan kebijakan manajemen risiko. 3. 2. Administrasi sistem Administrasi sistem adalah tahapan terakhir dari program manajemen risiko.

4. maka manajemen informasi juga berperan sangat penting untuk kelangsungan proses manajemen risiko. Manual (rencana kegiatan) Perusahaan sedianya menyiapkan rencana kegiatan operasional manajemen risiko. yaitu suatu proses untuk mengatur semua perkara mengenai kontrak. Sistem informasi manajemen risiko Penggunaan teknologi masa kini yang dapat membantu jalannya proses manajemen informasi dalam rangka melakukan manajemen risiko pada suatu proyek. Karena pentingnya informasi risiko ini. setidaknya 4 hal. seperti : penawaran. risiko) yang mengalir dari dan menuju ke manajer risiko. 2. metode. William. yang menangani masalah manajemen risiko. Sistem alokasi sumber daya Mekanisme pembiayaan proses manajemen risiko. 3. Proses pelaporan manajemen risiko Isi dan bentuk formal dari proses pelaporan risiko yang dilakukan oleh pihak – pihak yang terkait dalam proses manajemen risiko. harus dilakukan dengan lancar pula. yang menjelaskan mengenai prosedur. 2. Organisasi Perusahaan sebaiknya menyusun sebuah organisasi atau departemen khusus. Manajemen informasi dapat digunakan sebagai basis dari segala buku text mengenai komunikasi dalam organisasi. Manajemen kontrak Dalam pelaksanaannya. Mengatur hubungan dan kontrak – kontrak dengan agen asuransi dan broker. 2. Smith.13 2. Manajemen informasi Supaya proses manajemen risiko dapat berlajan secara lancar. manajemen risiko juga membutuhkan system manajemen kontrak. 3. 3. Komunikasi risiko Proses pengkomunikasian informasi (dalam hal ini. yaitu : 1. Manajemen Risiko Lingkungan .2010 . Young (1995). Mempersiapkan dokumen atau kontrak penawaran untuk layanan jasa pihak ketiga. memaparkan bahwa. proses pengkomunikasian risiko yang terjadi pada suatu proyek. manajemen kontrak harus dapat menguasai atau menangani. dan juga kegiatan – kegiatan yang akan dilakukan untuk program manajemen risiko. Ruang lingkup manajemen informasi pada program manajemen risiko : 1. dan sebagainya. asuransi.

3. manajemen risiko yang telah dijalankan. Audit program Manajemen Risiko Lingkungan . antara lain : 1. Apabila suatu kejadian yang tidak diinginkan terjadi pada suatu proyek. 2. Memberikan garansi atau menjamin rencana pembiayaan risiko dengan pihak ke tiga. 4. Ada beberapa macam klaim yang harus ditangani oleh manajer risiko. Mengatur dokumen dan sertifikat asuransi. Klaim yang berkaitan dengan sumber daya manusia Klaim yang berhubungan dengan kesehatan dan keselamatan pekerja dalam sebuah perusahaan. manajer risiko mempunyai tanggungjawab untuk bernegosiasi dengan utusan dari pihak asuransi dan mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan klaim tersebut. Klaim yang berkaitan dengan properti Klaim yang terjadi apabila ada suatu kerugian pada suatu proyek dan kontraktor mengajukan klaim pada pihak asuransi. Dengan adanya proses pemantauan dan penkajian ulang ini. perlu dilakukan suatu proses untuk memonitor dan mengkaji ulang program manajemen risiko yang telah dijalankan. kontraktor dapat melihat kesalahan – keslahan atau kekurangan – kekurangan yang terjadi selama proses manajemen risiko. Klaim pertanggungjawaban atau klaim dari pihak ketiga Klaim yang terjadi akibat kecelakaan yang dialami oleh pihak ketiga (misalnya : konsumen jatuh di tempat parkir yang licin). Selain itu.menerus Pemantauan akan proses manajemen risiko yang dijalankan harus dilakukan secara terus – menerus. kontraktor dapat mengetahui sejauh manaproses manajemen risiko yang telah dijalankan.14 3. sehingga terdapat kesinambungan antara data – data yang didapatkan. dengan proses tersebut.2010 . Untuk melakukan proses pemantuan kegiatan manajemen risiko. Pemantauan secara terus . Pengawasan klaim Seorang manajer risiko. 4. 2. 5. beberapa hal harus dilakukan : 1. sehingga kontraktor dapat memperbaiki kekurangannya dan tidak melakukan kesalahan untuk yang kedua kalinya. dan pihak kontraktor mengajukan klaim pada perusahaan asuransi. juga harus dapat berperan dalam manajemen atau pengawasan klaim. Memonitor dan mengkaji ulang program Untuk mengetahui seberapa berhasil.

but in practice it can be very difficult to manage when faced with the scarcity of resources. For public health and environmental decisions. Methods may differ whether it is about general financial decisions or environmental or public health risk assessment. When risk assessment is used for public health or environmental decisions. In theory. both are of nearly equal priority in dealing with first. express loss in terms of dollar amounts. Part of the difficulty of risk management is that measurement of both of the quantities in which risk assessment is concerned . loss can be quantified in a common metric.such as a country's currency. Financial decisions. In that case. serta menyediakan masukan yang obyektif untuk pengembangan program. in which to conduct the risk management process. or some numerical measure of a location's quality of life. the magnitude of the potential loss L. Quantitative risk assessment requires calculations of two components of risk: R. The chance of error in the measurement of these two concepts is large. loss is simply a verbal description of the outcome. Risk assessment consists in an objective evaluation of risk in which assumptions and uncertainties are clearly considered and presented. and the probability p. the "risk" is expressed as: Manajemen Risiko Lingkungan . Audit program dapat digunakan sebagai evaluasi untuk manajer risiko dan fungsi manajemen risiko. Expressed mathematically. especially time. such as increased cancer incidence or incidence of birth defects. Risk assessment is a step in a risk management process.potential loss and probability of occurrence can be very difficult to measure. that the loss will occur.2010 . A risk with a large potential loss and a low probability of occurring is often treated differently from one with a low potential loss and a high likelihood of occurring.15 Proses audit program manajemen risiko harus dijalankan untuk memverifikasi sistem pemantauan dan pelaporan berkala. such as insurance. Risk assessment is the determination of quantitative or qualitative value of risk related to a concrete situation and a recognized threat (also called hazard).

In most countries. by Manajemen Risiko Lingkungan . This is done. etc. In the context of public health. the use of specific chemicals. If the risk estimate takes into account information on the number of individuals exposed. three or more steps are involved. For example. or the operations of specific facilities (e.) and the strength of the evidence it can have that effect.16 Risk assessment is a in an financial point of view. radiation. Population risks are of more use for cost/benefit analysis. aims to determine the qualitative nature of the potential adverse consequences of the contaminant (chemical. If the risk estimate does not take into account the number of individuals exposed. manufacturing plants) is not allowed unless it can be shown that they do not increase the risk of death or illness above a specific threshold. it is termed a "population risk" and is in units of expected increased cases per a time period. individual risks are of more use for evaluating whether risks to individuals are "acceptable". requiring the inputs of different disciplines: 1. the American Food and Drug Administration (FDA) regulates food safety through risk assessment. for chemical hazards. noise. How the risk is determined In the estimation of the risks.g. Hazard Identification. it is termed an "individual risk" and is in units of incidence rate per a time period.2010 . risk assessment is the process of quantifying the probability of a harmful effect to individuals or populations from certain human activities. power plants.[1] The FDA required in 1973 that cancer-causing compounds must not be present in meat at concentrations that would cause a cancer risk greater than 1 in a million lifetimes.

that is. The single loss expectancy can be defined as the loss of value to asset based on a single security incident. The team then calculates the annualized rate of occurrence (ARO) of the threat to the asset. This is done by examining the results of the discipline of exposure assessment.g. Exposure Quantification. to account for the largely unknown effects of animal to human extrapolations. mouse. or how much an organization could estimate to lose from an asset based on the risks. The complexity of this step in many contexts derives mainly from the need to extrapolate results from experimental animals (e.2010 . this risk will vary within a population. For other kinds of hazard. As different location. typically a factor of 10 for each unknown step.17 drawing from the results of the sciences of toxicology and epidemiology. threats. It then becomes possible from a financial perspective to justify expenditures to implement countermeasures to protect the asset. called susceptible populations. or missing data. a range or distribution of possible values is generated in this step. Particular care is taken to determine the exposure of the susceptible population(s). the results of the three steps above are then combined to produce an estimate of risk. Finally. Quantitative risk assessments include a calculation of the single loss expectancy (SLE) of an asset. In addition. Dose-Response Analysis. An alternative to dose-response estimation is to determine an effect unlikely to yield observable effects. a prudent approach is often adopted by including safety factors in the estimate of the "safe" dose. increased variability in humans. Because of the different susceptibilities and exposures. The ARO is an estimate based on the data of how often a threat would be successful in exploiting a vulnerability. From this information. The annualized loss expectancy is a calculation of the single loss expectancy multiplied the annual rate of occurrence. Manajemen Risiko Lingkungan . In developing such a dose. engineering or other disciplines are involved. lifestyles and other factors likely influence the amount of contaminant that is received. and vulnerabilities. and/or from high to lower doses. a no effect concentration. aims to determine the amount of a contaminant (dose) that individuals and populations will receive. is determining the relationship between dose and the probability or the incidence of effect (dose-response assessment). the differences between individuals due to genetics or other factors mean that the hazard may be higher for particular groups. rat) to humans. 3. 2. the annualized loss expectancy (ALE) can be calculated.

18 Manajemen Risiko Lingkungan .2010 .

Manajemen Risiko Lingkungan . kelakuan penilaian dan perasaan dan juga termasuk faktor-faktor pendukung antara lain: latar belakang pendidikan. Persepsi dan definisi terhadap resiko berbeda-beda tergantung dari kepercayaan seseorang. pengalaman praktis di lapangan. karakterisitik individu. 2002). bisa juga diambil dari pengalaman masa lalu. yang harus dilakukan adalah dengan pengumpulan data untuk proses manajemen risiko. Ini merupakan sebuah sarana untuk mengidentifikasi sumber dari resiko dan ketidakpastian. Pendekatan sistematis mengenai manajemen resiko terdiri dari : 1. Banyak pembuat keputusan meyakini bahwa prinsip yang baik dalam manajemen resiko berasal dari tahap identifikasi daripada tahap analisa. Data bisa diperoleh melalui database perusahaan. Rumah sehat sederhana adalah tempat kediaman yang layak dihuni. dan pengaruh lingkungan sekitar. geologis.2010 . dan iklim setempat serta potensi sosial budaya seperti arsitektur lokal. kejelasan informasi. melalui resiko potensial mana yang bisa ditemukan dan kemungkinan disusunnya respon. namun apabila tidak bisa didapat dari database. dan kenyamanan. memperkirakan dampak yang ditimbulkan dan mengembangkan respon yang harus dilakukan untuk menanggapi resiko. yang dibangun menggunakan bahan bangunan dan konstruksi sederhana akan tetapi masih memenuhi standar kebutuhan minimal dari aspek kesehatan. 2. keamanan. Identifikasi Resiko Langkah yang utama dan paling penting dalam menghadapi resiko adalah dengan mengidentifikasikannya. Manajemen resiko adalah sebuah cara yang sistematis dalam memandang sebuah resiko dan menentukan dengan tepat penanganan resiko tersebut. dan cara hidup dan harganya terjangkau oleh masyarakat berpenghasilan rendah atau sedang (Keputusan Menteri Pemukiman dan Prasarana Wilayah Republik Indonesia.19 Risiko Kegiatan Pembangunan Perumahan Resiko adalah bagian penting dari sebuah pelaksanaan terhadap manajemen resiko karena resiko adalah obyek yang menjadi akar teori dan permasalahan yang digunakan untuk mengembangkan teknik-teknik dan analisa dalam menanggulangi resiko itu sendiri. Dampak dan Frekuensi Untuk mengetahui seberapa besar dampak dan frekuensi dari identifikasi resiko. dengan mempertimbangkan dan memanfaatkan potensi local meliputi potensi fisik seperti bahan bangunan. Hal ini dikarenakan identifikasi resiko mencakup perincian pemeriksaan strategi proyek.

MANAJEMEN RISIKO BISNIS KONSTRUKSI Daerah Kota Padang. Berbagai cara penanganan yang mungkin dilakukan oleh kontraktor rumah sehat sederhana adalah: ▪ Asuransi ▪ Menunda proyek ▪ Menentukan klausa akan penambahan atau kompensasi di kontrak pembayaran ▪ Menentukan sistem rekruitmen dan seleksi pekerja ▪ Membuat jadwal dan biaya dalam plan and control yang jelas dan sesuai ▪ Memasukkan klausa yang sesuai dalam tingkat suku bunga.20 Data yang diambil merupakan sebuah asumsi prosentase atas sebuah resiko yang dapat terjadi dalam sebuah item pekerjaan yang diangggap beresiko.2010 . tingkat inflasi dan keterlambatan untuk rencana kontingensi di dalam kontrak ▪ Mengadopsi program safety control. manajemen sistem. Akhmad Suraji. dan Benny Hidayat. dalam kasus ini yaitu kontraktor sebagai pelaksana proyek yang datanya diperoleh dari hasil kuisioner yang dibagikan kepada perusahaan-perusahaan kontraktor di kota Padang. penting juga untuk menentukan alokasi risiko yang tepat agar dapat mengurangi kerugian biaya. (Andar Atmaja. waktu dan kualitas akibat risiko tersebut. dan sebagainya ▪ Mengalihkan pekerjaan ke subkontraktor ▪ Menyediakan/stok kebutuhan material terlebih dahulu dan menyimpannya ▪ Memperbaiki segala kerusakan atas komplain yang diterima. 3. Pada manajemen risiko sangat diperlukan memberikan prioritas utama kepada risiko-risiko yang penting sebelum memulai sebuah proyek konstruksi. 2006) Pada proyek-proyek konstruksi terdapat sangat banyak risiko dimana risikorisiko tersebut sangat bervariatif. pengawasan dan pencegahan yang sesuai ▪ Memasukkan kondisi di dalam kontrak untuk tingkat polusi. Selain itu. Manajemen Risiko Lingkungan . Penelitian ini membahas pandangan mengenai tingkat kepentingan dan penanganan risiko pada proyek konstruksi. Hal ini bertujuan untuk menentukan seberapa besar dampak yang dapat diakibatkan dan mengetahui frekuensi terjadinya resiko yang telah teridentifikasi tersebut. Penanganan Resiko Penanganan resiko adalah elemen terakhir dalam pendekatan manajemen resiko berupa sebuah atau serangkaian tindakan yang menjadi bagian dari para pembuat keputusan untuk menangani segala resiko yang ada.

(2) keterlambatan angsuran dari pemilik. dan risiko legal. Rancangan penelitian ini termasuk penelitian deskriptif yaitu untuk melukiskan fenomena apa adanya.21 Hasil analisa dari perhitungan level risiko secara umum menunjukkan bahwa pada level risiko tidak didapatkan rangking level risiko yang mencapai skala untuk diklasikfikasikan risiko tinggi. Lebih-lebih dalam kehidupan usaha jasa konstruksi. dan para manajer fungsional lainnya(manejer lapangan. Sebagaimana dalam proyek lain.2010 . maka yang dijadikan sampel responden adalah: direktur utama. Terdapat dua jenis sampel yaitu sampel perusahaan dan sampel responden. Sampel responden digunakan teknik purposive random sampling. (6) perubahan moneter Proyek konstruksi sebagai salah satu bentuk proyek memiliki sejumlah risiko dalam pelaksanaannya.2) dan risiko birokrasi atau perizinan yang rumit (nilai 4. (3) keterlambatan pencairan kredit. Data deskriptif ini dikumpulkan dengan teknik kuesioner atau angket. maka masalah penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: Bagaimanakah gambaran intensitas risiko eksternal tidak dapat diprediksi yang terjadi pada proyek konstruksi perumahan? Berdasarkan rumusan masalah maka tujuan penelitian ini adalah mengetahui gambaran intensitas risiko eksternal tidak dapat diprediksi yang terjadi pada proyek konstruksi perumahan. yang diperoleh berdasarkan angket atau kuesioner yang ada dsimasukan kedalam tabel (2) analsis deskritif dengan menggunakan Mean. manejer pengadaan) setiap perusahaan diambil 5 orang responden berdasarkan data DPD REI MALANG jumlah perusahaan Manajemen Risiko Lingkungan . tujuan untuk melukiskan kondisi dalam situasi tertentu. risiko yang terlibat di dalamnya antara lain risiko eksternal. wakil direktur. Identifikasi terhadap risiko-risiko dalam proyek konstruksi perumahan di Malang (Felisitas Kahat Higang.7). Berdasarkan latar belakang diatas. Sedangkan untuk penanganan risiko yang dihasilkan pada penelitian ini menunjukkan bahwa yang paling banyak digunakan adalah bentuk penangan risiko dihindari sebanyak 40 risiko dan bentuk penanganan risiko diterima sebagai biaya sebanyak 8 risiko. manejer keuangan. (5) lonjakan harga. Beberapa risiko yang sering muncul dalam dunia usaha jasa konstruksi. Dengan teknik tersebut. Sedangkan sampel responden diambil dari staf perusahaan yang menjadi sampel penelitian. hanya terdapat risiko sedang yakni risiko perubahan harga dan material (nilai 5. yang secara langsung dapat menimbulkan kerugian antara lain (1) ketidak cocokan kondisi lapangan dengan data-data yang didapat sebelumnya padahal kontraknya lumpsum.. Penelitian deskriptif dirancang untuk memperoleh imformasi mengenai fenomena pada saat penelitian dilakukan. Populasi penelitian adalah semua perusahan Jasa Konstruksi di Malang. (4) keadaan cuaca di lokasi lapangan. risiko teknis. 2004) Risiko merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan. tidak ada perlakuan yang diberikan atau yang dikendalikan seperti yang dijumpai pada penelitian ekperimen. Data yang terkumpul dianalisis dengan langkah sebagai berikut: (1) tabulasi data. risiko internal. penuh dengan risiko yang harus dihadapi.

Bertitik tolak dari hasil penelitian diatas dapat disarankan perlunya mengidentifikasi risiki-risiko ini lebih lanjut lagi agar risiko-risiko dapat diatasi oleh perusahaan jasa konstruksi yang ada di Malang. (b) masalah teknik proyek yang mengalami perubahan dari owner. risiko ini terdiri atas empat jenis yaitu. property fisik. (a) kondisi keuangan yang buruk. kelalaian. Dari 28 perusahaan itu. (e) risiko akibat pihak ketiga dan (f) kerusakan alat. terdiri atas lima jenis yaitu (a) kondisi perekonomian yang buruk (b) penyediaan sumber daya (c) kondisi owner kurang mendukung (d) kondisi perusahaan kurang baik.2010 .blogspot. risiko ini terdiri dari enam jenis yaitu. diambil sampel sebanyak 60% yaitu 16 perusahaan jadi jumlah sampel responden adalah 80 responden. (4) risiko internal tennis.22 sebanyak 28 perusahaan. (a) tidak dipenuhi spesifikasi teknis. (2) risiko dapat diprediksi.. ketidakjujuran. (c) perizinan dan pembebasan lahan. risiko ini terdiri atas tiga jenis yaitu. (c) masalah konstruksi metode kerja konstruksi (d) masalah kondisi fisik aktual yang ditemui dilapangan dan (5) risiko legal.com/2009_09_. (b) kondisi waktu pelaksanaan yang buruk. dan (e) retribusi diluar dugaan (3) risiko internal non teknis. Hasil penelitian dapat digambarkan sebagai berikut: (1) risiko ekternal tidak dapat diprediksi. (a) masalah kontrak dan pasal-pasalnya. Dalam hal ini terutama dalam segi risiko internal non teknis. (b) tuntutan hukum.html Manajemen Risiko Lingkungan .ive.. blackantzz. (c) kondisi SDM yang kurang baik (d) kecurangan.

Manajemen Risiko Lingkungan . a doseresponse assessment should be performed if the data is obtainable. hazard characterization and exposure assessment into an estimation of the adverse effects likely to occur in a given population. The approach used is called risk analysis. and is made up of three components: :: Risk assessment :: Risk management :: Risk communication The diagram below illustrates the relationship between the three components of risk analysis. For chemical agents. The process consists of the following steps: • Hazard identification: The identification of known or potential health effects associated with a particular agent.who.. a dose-response assessment should be performed.2010 . including attendant uncertainties.int/foodsafety/micro/ris. • Hazard characterization: The qualitative and/or quantitative evaluation of the nature of the adverse effects associated with biological.ysis/en/ Risk assessment Risk assessment is the scientific evaluation of known or potential adverse health effects resulting from human exposure to foodborne hazards. • Risk characterization: Integration of hazard identification. • Exposure assessment: The qualitative and/or quantitative evaluation of the degree of intake likely to occur. and physical agents which may be present in food. www.. For biological or physical agents. chemical.23 ABOUT RISK ANALYSIS IN FOOD The World Health Organization (WHO) and the Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO) are in the forefront of the development of risk-based approaches for the management of public health hazards in food.

hal ini dapat juga disebabkan karena ketidakmampuan perusahaan dalam mengelola limbah berbahan berbahaya dan beracun (B3). dan ketersediaan lahan. Pemetaan risiko menunjukkan bahwa risiko lumpur tumpah saat penyimpanan dan pengiriman. Salah satu jenis limbah B3 adalah lumpur dari Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang mengolah air limbah B3. A untuk risiko lumpur tumpah saat penyimpanan dan pengiriman serta paving rusak saat pemanfaatan. yaitu dalam rentang 0-1 nilai risikonya 0.2010 . paving rusak saat penyimpanan. B memiliki probabilitas di bawah 0. Sedangkan penilaian risiko berdasarkan probabilitas risiko dari hasil brainstorming dengan pihak perusahaan. probabilitasnya 0. paving rusak saat penyimpanan dan pengiriman merupakan risiko yang rendah. nilai risikonya dibawah 0. Tetapi AHP memiliki kelemahan yaitu tidak mempertimbangkan adanya ketidakpastian . dan pemanfaatan (Nur Indradewi Oktavitri. Udisubakti Ciptomulyono. yaitu Lumpur tumpah saat penyimpanan dan pengiriman. A dan PT.5 dan untuk risiko paving rusak saat pengiriman nilai peluangnya 0. PT. Berdasarkan penilaian risiko dengan Fuzzy Analytical Hierarchy Process (FAHP) diketahui bahwa risiko paving rusak saat pemanfaatan memiliki nilai risiko berdasarkan dampak yang paling besar. pengiriman. karakteristik lumpur. padahal ketidakpastian ada dalam risiko lingkungan. Manajemen Risiko Lingkungan .2. Pengolahan yang disarankan untuk lumpur B3 ini adalah solidifikasi dengan semen dan produk akhirnya adalah paving. B untuk mengelola risiko lingkungan lumpur B3 dari IPAL yang pengolahannya menggunakan solidifikasi dengan semen sehingga kedua perusahaan dapat mencapai tujuan lingkungannya yaitu melakukan pengembangan berkelanjutan untuk mengelola dampak lingkungan. Hasil identifikasi risiko pada sistem menunjukkan adanya lima risiko.3. Fenton & Wang (2006) menyarankan penggunaan fuzzy dalam mengatasi keterbatasan AHP. Penelitian ini dapat membantu PT. Dengan menggunakan metode analisis akar-masalah Root Cause Analysis (RCA) dapat diungkapkan bahwa seluruh risiko pada pengelolaan lumpur B3 disebabkan oleh faktor teknis dan faktor manusia. maka dari itu perlu adanya manajemen risiko lingkungan untuk limbah B3. sedangkan risiko paving rusak saat pemanfaatan merupakan risiko yang signifikan. Ruang lingkup penelitian ini adalah sistem pengelolaan lumpur B3 dimana sistem ini dipengaruhi oleh key performance indicator (KPI).2 sedangkan PT. produktifitas lumpur.24 Risiko Pengelolaan Limbah B3 Risiko lingkungan adalah probabilitas dari kerusakan lingkungan sehingga dapat menghambat kinerja perusahaan untuk mencapai tujuannya. nilai risiko dalam rentang 0-1 untuk ke lima risiko diatas. Nani Kurniati. Risiko paving rusak saat penyimpanan.7. 2009). Banyak penelitian yang membahas mengenai manajemen risiko lingkungan terutama penilaian risiko dengan berbagai kriteria dampak lingkungan menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP).

25 ANALISIS RESIKO LINGKUNGAN DARI PENGOLAHAN LIMBAH PABRIK TAHU DENGAN KAYU APU (Pistia stratiotes L. dengan bentuk matriks ini. Manajemen Risiko Lingkungan . Penelitian ini menggunakan air limbah pabrik tahu sebagai media kayu apu dengan tujuan melakukan analisis resiko lingkungan. 2004). Perkembangan industri dewasa ini telah memberikan sumbangan besar terhadap perekonomian Indonesia. Efisiensi bahan dan energi dalam pemanfaatan. Kegiatan penelitian yang dilakukan berupa pengumpulan data. Analisis metode matriks dengan cara hirarki tingkatan. kemungkinan dirangking berdasarkan seberapa sering resiko akan terjadi dan besaran dirangking berdasarkan kuat dan hebatnya dampak yang terjadi. Data yang diambil meliputi data pengolahan limbah. pemrosesan. Berdasarkan hasil analisis kualitas lingkungan maka dapat disimpulkan berdasarkan hasil analisis kualitatif beberapa komponen resiko yang memiliki resiko tinggi yaitu pencemaran air permukaan.2010 .) (Alia Damayanti. Joni Hermana. Analisis dilakukan dengan membandingkan kondisi yang ada dengan parameter lingkungan sehingga dapat diketahui tingkat resikonya. Di lain pihak hal tersebut juga memberi dampak pada lingkungan akibat buangan industri maupun eksploitasi sumber daya yang semakin intensif dalam pengembangan industri. dimana data diperoleh dari hasil laporan pelaksanaan penelitian untuk kemudian dianalisis resiko lingkungannya. yakni keyakinan bahwa: operasi industri secara keseluruhan harus menjamin sistem lingkungan alam berfungsi sebagaimana mestinya dalam batasan ekosistem local hingga biosfer. Kayu apu sebagai tumbuhan air memiliki potensi dalam menurunkan kadar pencemar air limbah. Lebih lanjut dinyatakan harus ada transformasi kerangka kontekstual dalam pengelolaan industri. dengan komponen yang paling berpengaruh adalah limbah cair menurut analisis semi kuantitatif serta pengaruh limbah secara keseluruhan terhadap manusia dan lingkungan sekitar pabrik tidak signifikan. dan daur ulang. limbah pabrik tahu Purnomo Surabaya memiliki resiko kecil. akan menghasilkan keunggulan kompetitif dan manfaat ekonomi. kualitas/ baku mutu limbah cair dan sungai tempat pembuangan serta data-data lain yang berkaitan. Suatu metode hirarki digunakan untuk suatu acuan/ matriks kualitatif. Berdasarkan hal di atas pengembangan industri harus dibarengi upaya pengelolaan lingkungan dalam bentuk penanganan limbah yang dilepaskan. yang memiliki kadar organik tinggi. dan Ali Masduqi. Hal tersebut disertai dengan kegiatan penilaian terhadap resiko lingkungan akibat kegiatan maupun hasil buangan industri untuk mendapatkan tingkat resiko dan bahaya dari kegiatan industri tersebut.

sehingga tidak ada lagi daerah yang kosong yang dapat digunakan untuk Sanitary Landfill. medang. di samping tingkat industrialisasi. Surabaya sebagai permukiman pantai adalah pintu keluar dan masuk bagi hinterland yang subur dan kaya hasil bumi. pariwisata.2010 . jumlah masyarakat. dan diukur sampai sejauh mana. air permukaan dan air hujan (lihat gambar ). kambing. Tumbuhan yang umum ada di hutan kota adalah yang dapat hidup baik di dataran rendah yaitu: akasia. bambu. konservasi air harus dipraktekan. ekonomi dan budaya masyarakat. yang bercampur degan air tanah. Fauna yang umum ada di wilayah studi adalah fauna yang biasa diternakkan oleh warga seperti sapi. kebutuhan komersil dan untuk komersil dan untuk rekreasi. standar hidup.com/ Pemahaman tentang sifat air limbah adalah fundamental untuk mendesain pengolahan air limbah yang sesuai dengan teknologi yang efektif. dan dipengaruhi oleh banyak faktor. Manajemen Risiko Lingkungan . serta sosial. meranti. Akibatnya. perlu terlebih dahulu diketahui rona lingkungan wilayah studi. Daerah pemukiman padat. termasuk iklim. Telah menjadikannya sebuah kota dagang. biaya air dan pasokan. aliran air limbah berfluktuasi tergantung dari penggunaannya. dan itik.wordpress. biologi.26 Identifikasi Risiko Lingkungan Sebelum melakukan identifikasi resiko lingkungan akibat aktifitas industri pengolahan kelapa sawit. bungur. tembesu. Air limbah berasal dari penggunaan air oleh rumah tangga. Sebagian besar wilayah studi merupakan pemukiman yang memiliki beberapa kelompok hutan kota. keandalan dan kualitas pasokan air. domba. Selain itu di dalam air juga terdapat ikan hias maupun ikan untuk konsumsi. yang meliputi rona fisik kimia. Sebagian penduduk hidup dari perdagangan. industri. sono. dan pegawai negeri. Pengolahan Limbah Kota hasakona. ayam. kerbau. Pasar dan industri. tanahtanah dibutuhkan untuk perumahan.

dan Ali Masduqi (2004). Joni Hermana.50% karbohidrat. karbohidrat. Bahan-bahan organik yang terkandung di dalam buangan industri tahu pada umumnya sangat tinggi. COD dan TOM. 1987).28 4. Suhu limbah cair tahu pada umumnya lebih tinggi dari air bakunya. lemak dan minyak. Karakteristik kimia meliputi bahan organik. Di antara senyawa-senyawa tersebut. kelarutan oksigen dan gas lain.6 3.11 Sumber: Alia Damayanti. dan tegangan permukaan. karena beberapa zat sulit diuraikan oleh mikroorganisme di dalam air limbah tahu tersebut. sehingga masuknya limbah Manajemen Risiko Lingkungan .60% protein. kerapatan air. Kandungan Pencemar Limbah Tahu Nomor Sampel 1 2 COD (mg/l) BOD (mg/l) N-Total (mg/l) P-Total (mg/l) pH Rata-rata 7250 6870 7050 5643 5395 5389.06 sampai 434. maka kandungan bahan organik pada air buangannya biasanya rendah.27 Sumber limbah cair pabrik tahu berasal dari proses merendam kedelai serta proses akhir pemisahan jonjot-jonjot tahu. yang mencapai 40% . Air buangan industri tahu kualitasnya bergantung dari proses yang digunakan.5 153.2010 . Semakin lama jumlah dan jenis bahan organik ini semakin banyak. suhu. Untuk menentukan besarnya kandungan bahan organik digunakan beberapa teknik pengujian seperti BOD.5 169. Untuk limbah industri tahu tempe ada dua hal yang perlu diperhatikan yakni karakteristik fisika dan kimia. dan 10% lemak (Sugiharto. Suhu buangan industri tahu berasal dari proses pemasakan kedelai.4 161. Uji BOD merupakan parameter yang sering digunakan untuk mengetahui tingkat pencemaran bahan organik. Pada Tabel 6 dapat dilihat bagaimana karakteristik pencemar yang berasal dari limbah pabrik tahu. protein dan lemaklah yang jumlahnya paling besar.5 ? ? 81. viskositas. baik dari industri ataupun dari rumah tangga. Senyawa-senyawa organik di dalam air buangan tersebut dapat berupa protein. Suhu yang meningkat di lingkungan perairan akan mempengaruhi kehidupan biologis. 25 .78 mg/l (Nurhasan dan Pramudya. dalam hal ini akan menyulitkan pengelolaan limbah. Komponen terbesar dari limbah cair tahu yaitu protein (N-total) sebesar 226. Apabila air prosesnya baik. Karakteristik fisika meliputi padatan total. 1987). Pada umumnya konsentrasi ion hidrogen buangan industri tahu ini cenderung bersifat asam. Tabel 6. bahan anorganik dan gas.94 4. yaitu 40oC sampai 46oC. warna dan bau.

Beberapa contoh hasil pengukuran kadar BOD Dan COD di dalam air limbah tahu dan tempe di daerah DKI Jakarta ditunjukkan pada Tabel 1. Pabrik tahu Purnomo Kalidami. Pemanfaatan limbah padat adalah sebagai makanan ternak. Tabel 1. Gas-gas tersebut berasal dari dekomposisi bahan-bahan organik yang terdapat di dalam air buangan. hidrogen sulfida (H2S). Dari uraian rona lingkungan yang dijelaskan dan penjelasan tentang proses pengelolaan limbah sebagaimana disebutkan di atas.2010 .28 cair tahu ke lingkungan perairan akan meningkatkan total nitrogen di peraian tersebut. Gas-gas yang biasa ditemukan dalam limbah adalah gas nitrogen (N2). karbondioksida (CO2 ) dan metana (CH4). Sumber limbah padat berasal dari penyaringan bubur kedelai berupa ampas tahu yang sudah melalui pemerasan berkali-kali dengan menyiram air panas sampai tidak mengandung sari lagi. Walaupun diperkirakan masih ada resiko dalam kegiatan pabrik tahu di lokasi studi. upaya-upaya pengendalian dan minimalisir oleh pihak pabrik dilakukan melalui pengendalian dan pemanfaatan kembali limbah. Pengelolaan limbah cair adalah menggunakan kolam pengolahan limbah dengan menggunakan kayu apu. amonia (NH3 ). Dalam pengolahan limbah ini digunakan air PDAM sebagai pengencer dengan perbandingan 1:6 yaitu 1 bagian limbah pabrik tahu dengan 6 bagian air PDAM. 2009. Surabaya memanfaatkan ampas limbah tahu untuk makanan babi di daerah Pegirian. dapat diidentifikasi dan Manajemen Risiko Lingkungan . dan Arie Herlambang. oksigen (O2 ). Hasil Analisa Limbah Cair Industri Tahu PARAMETER LOKASI Cipinang Kebon Pala Utan Kayu Setia Budi Tebet Kebayoran Lama Kuningan Barat Mampang Cilandak Pasar Minggu Tegal Parang COD(mg/l) 1102 3211 8327 5904 2362 7916 8360 4897 9207 3779 15055 BOD(mg/l) 910 2200 1200 2250 2100 3450 8100 3550 5425 1750 12100 Sumber: Nusa Idaman Said. Surabaya.

dan perilaku masyarakat Pengaruh Limbah Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Tidak ada Tidak ada Ada Ada Ada Tidak ada Sumber: Alia Damayanti. Resiko yang mungkin timbul berupa timbulnya penyakit-penyakit yang diderita oleh masyarakat yang menggunakan air tanah. Prakiraan resiko terhadap udara. Akibat pencemaran tersebut maka warga merasa tidak nyaman dan pindah dari lokasi sekitar pabrik. Tabel 7.29 diperkirakan resiko limbah pabrik tahu terhadap komponen lingkungan seperti pada Tabel 72. dan Ali Masduqi (2004).2010 . Bobotnya kecil karena pencemaran gas yang timbul jumlahnya kecil dan bukan merupakan gas yang berbahaya. Jenis resiko yang muncul bersifat negatif. penyakit perut. Prakiraan resiko terhadap tata guna lahan yang mungkin terjadi yaitu resiko berasal dari buangan limbah terutama limbah cair yang mencemari air tanah dan air permukaan. yang mungkin meresap dan masuk ke dalam air tanah. Joni Hermana. Identifikasi Resiko Komponen Lingkungan. yaitu resiko berasal dari bau limbah tahu yang semakin lama semakin tidak sedap. Bobotnya sedang Manajemen Risiko Lingkungan . Resiko yang muncul bersifat negatif. Prakiraan resiko terhadap air tanah yaitu berasal dari pengolahan limbah cair. budaya. sehingga terjadi perubahan tata guna lahan. Akibat pencemaran tersebut warga khususnya pekerja pabrik merasa kurang nyaman akibat terhisapnya bau ke dalam pernafasan. Bobotnya kecil karena pencemaran yang terjadi tidak berdampak langsung terhadap masyarakat. Resiko yang muncul bersifat negatif. seperti penyakit kulit. Tata guna lahan (tanah) Kualitas udara Kebisingan Kualitas air Flora darat Flora air Fauna darat Fauna air Struktur kependudukan Pendidikan Agama Tingkat kesehatan masyarakat Tingkat pendapatan Estetika lingkungan Sikap. dan lain-lain.

fauna. Resiko yang mungkin timbul berupa berkurangnya kemampuan tumbuhan dalam berfotosintesis sehingga menyebabkan tumbuhan tersebut mati serta bersifat negatif. Surabaya Parameter BOD COD NH4+ PO43pH Data Laboratorium 38 149 3.94 2. yang dibuang ke sungai. Tabel 8. Berkurangnya flora darat mempengaruhi pula fauna yang Manajemen Risiko Lingkungan . seperti pada Tabel 8.5 7. Joni Hermana. Resiko terbesar yang mungkin terjadi adalah matinya biota air.30 karena lokasi dekat dengan warga sehingga ada kemungkinannya mencemari air sumur warga. tumbuhan air. dan Ali Masduqi (2004). Surabaya berada di atas Baku Mutu yang diijinkan Pemda Jawa Timur. Dengan demikian kecil pengaruhnya terhadap flora air.2010 . Prakiraan resiko terhadap flora air berasal dari limbah cair yang berasal dari proses akhir pemisahan jonjot-jonjot tahu yang telah diolah kemudian dibuang ke sungai lalu dihisap oleh tumbuhan yang hidup di sekitar sungai. Tetapi bobotnya kecil karena effluen dari pabrik tahu telah mengalami pengenceran air sungai sehingga konsentrasi pencemar juga menurun. Resiko yang timbul pada flora. Resiko yang mungkin timbul berupa berkurangnya kemampuan tumbuhan dalam berfotosintesis sehingga menyebabkan tumbuhan tersebut mati serta bersifat negatif. Kalidami. Prakiraan resiko terhadap flora darat berasal dari limbah cair yang berasal dari proses akhir pemisahan jonjot-jonjot tahu yang telah diolah kemudian dibuang ke sungai lalu dihisap oleh tumbuhan yang hidup di sekitar sungai. Kalidami. yang memanfaatkan sungai. Prakiraan resiko terhadap fauna darat berasal dari limbah cair yang berasal dari proses akhir pemisahan jonjot-jonjot tahu yang telah diolah kemudian dibuang ke sungai lalu dihisap oleh tumbuhan yang hidup di sekitar sungai. Bobotnya kecil karena effluen dari pabrik tahu telah mengalami pengenceran air sungai sehingga konsentrasi pencemar juga menurun. Effluen Pengolahan Limbah Pabrik Tahu Purnomo. Prakiraan resiko terhadap air permukaan yaitu berasal dari pengolahan limbah cair. dan manusia. dan hewan air. Resiko yang muncul bersifat negatif. Dari hasil pengujian maka effluen dari pengolahan Pabrik Tahu Purnomo.9 Sumber: Alia Damayanti.

sedang atau rendah seperti Tabel 11. Resiko yang mungkin terjadi berupa penurunan estetika lingkungan dan bersifat negatif serta bobotnya kecil. Resiko yang mungkin timbul berupa berkurangnya fauna di dalam air serta bersifat negatif. Prakiraan resiko terhadap fauna air berasal dari limbah cair yang berasal dari kolam pengolahan ke sungai. Bobotnya adalah sedang karena pemanfaatan sungai dipakai untuk menyiram tanaman oleh masyarakat di sekitar sungai. Bobotnya kecil karena pengaruh limbah bagi kehidupan di darat tidak terlalu signifikan. Dengan demikian kecil pengaruhnya terhadap fauna air. Bobotnya kecil karena effluen dari pabrik tahu telah mengalami pengolahan yang baik serta sehingga konsentrasi pencemar juga kecil. dan sebagainya serta bersifat negatif. Prakiraan resiko terhadap tingkat kesehatan masyarakat berasal dari limbah cair yang dari kolam pengolahan yang masuk ke dalam air permukaan/ sungai. Sedangkan pemanfaatan sumur dipakai untuk keperluan sehari-hari seperti mandi. limbah padat yang ditumpuk. perut.31 ada. Prakiraan resiko terhadap estetika lingkungan berasal dari limbah cair yang dari kolam pengolahan yang masuk ke dalam air permukaan/sungai. mencuci. analisis semi kuantitatif dan analisis lingkungan signifikan (Idris. Resiko yang mungkin timbul berupa berkurangnya jumlah fauna daratan. Resiko yang mungkin timbul berupa munculnya penyakit kulit. Dalam analisis ini akan digunakan tiga metode analisis yaitu analisis kualitatif.2010 . di mana masyarakat sekitar tinggal dan memanfaatkan sungai maupun air tanah (sumur). Analisis Resiko Lingkungan merupakan kegiatan memperkirakan kemungkinan munculnya suatu resiko dari suatu kegiatan dan menentukan dampak dari kegiatan/peristiwa tersebut. dan akibat berkurangnya flora darat mengurangi pula makanan bagi fauna darat serta bersifat negatif. Manajemen Risiko Lingkungan . 2003) Dengan metode analisis kualitatif ini akan dibuat matriks kombinasi antara nilai peluang resiko seperti Tabel 9 dan besarnya resiko pada Tabel 10 sehingga akan dihasilkan suatu nilai resiko tinggi. bahkan sumber air untuk memasak.

dengan peluang kecil.32 Tabel 9. Manajemen Risiko Lingkungan . E = Jarang. Keterangan: A = Pasti terjadi. Tingkat kesehatan masyarakat pencemaran air sumur oleh buangan limbah pabrik. Penurunan jumlah fauna air di sekitar sungai akibat limbah yang dibuang sedang. dengan peluang terjadinya sedang. C Jumlah flora air dapat menurun akibat limbah yang masuk ke air permukaan. peluang tejadinya resiko ini adalah jarang. Matriks Peluang Resiko Resiko Perubahan tata guna lahan Pencemaran udara Pencemaran air tanah Pencemaran air permukaan Penurunan jumlah flora darat (terestrial) Penurunan jumlah flora air (aquatik) Penurunan jumlah fauna darat Penurunan jumlah fauna air Penurunan tingkat kesehatan masyarakat Berkurangnya estetika lingkungan Level peluang E D B B D Uraian Masyarakat menjual lahan karena menurunnya kenyamanan lingkungan. Pencemaran air tanah dari kolam pengolahan limbah. B = Kemungkinan besar. Pencemaran udara dapat terjadi karena bau dari proses pengolahan limbah tahu.2010 . karena muka air cukup dalam maka peluangnya besar. peluang terjadinya kecil. C = Kemungkinan sedang. menurun akibat D C C D Pencemaran air sungai dan tumpukan limbah padat mengurangi estetika lingkungan. Pencemaran air permukaan berasal dari air limbah yang dibuang ke sungai walaupun sudah melalui proses pengolahan peluang terjadinya besar. Penurunan jumlah flora darat akibat bau yang berasal dari pengolahan limbah tahu kemungkinan terjadinya kecil. Penurunan jumlah fauna darat di sekitar sungai akibat limbah yang dibuang kecil. peluangnya sedang. D = Kemungkinan kecil.

Risikonya menurun. karena jumlah flora yang Penurunan jumlah flora darat (terestrial) Penurunan jumlah flora air (aquatik) Penurunan jumlah fauna darat Penurunan jumlah fauna air Penurunan tingkat kesehatan masyarakat Berkurangnya estetika lingkungan 2 3 2 3 3 2 Risikonya “Sedang” . 2 = Pengaruh kecil. Sedang karena mempengaruhi manusia dan bila ini terjadi memerlukan prosedur tertentu untuk penanganannya Besar karena mempengaruhi lingkungan dan manusia di sekitar sungai namun dapat diawasi melalui kerjasama yang baik antara pabrik. Sedang karena mempengaruhi populasi ikan dan berdampak pada manusia dapat diatasi dengan manajemen yang baik antara pihak-pihak terkait. Resiko yang berhubungan dengan estetika lingkungan “kecil”. pemerintah serta LSM. Kecil karena tidak terlalu dipengaruhi limbah pabrik. karena risiko ini dapat diatasi dengan pengelolaan pabrik yang lebih baik. “Sedang”. Kecil karena tidak terlalu dipengaruhi limbah pabrik.33 Tabel 10. 5 = Bencana Manajemen Risiko Lingkungan . karena harga lahan di wilayah Surabaya sangat mahal Kecil karena gas yang dihasilkan tidak berbahaya dan jumlahnya sedikit sehingga dapat dengan mudah diatasi. Keterangan : 1 = Pengaruh tidak berarti. 4 = Pengaruhnya besar. karena berhubungan dengan kesehatan manusia. Matriks Besaran Resiko Resiko Perubahan tata guna lahan Pencemaran udara Pencemaran tanah Pencemaran permukaan air air Level peluang 2 2 3 4 Uraian Risikonya “Kecil”. 3 = Pengaruhnya sedang.2010 .

gov. S = Sedang.au/elearning_aml.html Manajemen Risiko Lingkungan . How the risk score is derived can be seen from the sample risk matrix and risk score table shown below. but you can define as many risk scores as you believe are necessary.. Four levels of risk level or score are shown in the matrix and table below. Joni Hermana.austrac.2010 . Matriks Tingkat Resiko Resiko Perubahan tata guna lahan Pencemaran udara Pencemaran air tanah Pencemaran air permukaan Penurunan jumlah flora darat (terestrial) Penurunan jumlah flora air (aquatik) Penurunan jumlah fauna darat Penurunan jumlah fauna air Penurunan tingkat kesehatan masyarakat Berkurangnya estetika lingkungan Peluang E D D B D C D C C D Nilai Besaran 2 2 3 4 2 3 2 3 3 2 Nilai Resiko R R S T R S R S S R Keterangan: T = Tinggi. The risk score may be used to aid decision making and help in deciding what action to take in view of the overall risk._14.. dan Ali Masduqi (2004).34 Tabel 11. R = Rendah Sumber: Alia Damayanti. Risk matrix and risk score Use the risk matrix to combine LIKELIHOOD and IMPACT ratings and values to obtain a risk score. www.

..com/library/use.au/elearning_aml.austrac._14.2010 .html Risk-Era: The Swedish Rescue Service's Tool for Community Risk Management The risk matrix shows the number of risks for each of the risk levels in the diagram. proceedings.esri.0307.htm Manajemen Risiko Lingkungan .35 www.gov...

Frekuensi pencemaran air tanah kecil sebagai akibat dari kolam pengolahan limbah meresap ke dalam tanah kecil. Jumlah fauna air yang menurun akibat pencemaran dari berkurangnya flora air mempunyai frekuensi medium. dan sensitifitas untuk mendapatkan tingkat resiko. Matriks Frekuensi Resiko Perubahan guna lahan tata Frekuensi 1 2 2 3 2 Uraian Masyarakat menjual lahannya karena menurunnya kenyamanan lingkungan. Penurunan jumlah flora air akibat limbah yang masuk mempunyai frekuensi medium. dan Ali Masduqi (2004). Penurunan jumlah flora darat di sekitar sungai akibat menyerap buangan air limbah yang dibuang ke sungai frekuensinya kecil. Penurunan tingkat kesehatan masyarakat akibat penggunaan air sumur untuk mandi. dan memasak frekuensinya kecil. 4 = sering . hal ini tidak pernah terjadi. mempunyai frekuensi kecil. cuci. Joni Hermana. Pada Tabel 12 disajikan matrik frekuensi dan Tabel 13 disajikan matrik nilai besaran. 2 = kecil. Tabel 12. akibat buangan air dari kolam pengolahan limbah dibuang ke sungai.36 Analisis semi kuantitatif juga menggunakan matriks penilaian resiko yang menggabungkan unsure frekuensi.5 = sangat sering terjadi Sumber: Alia Damayanti. Pencemaran udara Pencemaran tanah Pencemaran permukaan air air Penurunan jumlah flora darat (terestrial) Penurunan jumlah flora air (aquatik) Penurunan jumlah fauna darat Penurunan jumlah fauna air Penurunan tingkat kesehatan masyarakat Berkurangnya estetika lingkungan 3 2 3 2 2 Keterangan: 1 = ada kemungkinan tidak terjadi.2010 . Pencemaran air dan tumpukan limbah padat mengurangi estetika. Kemungkinan terjadinya pencemaran air permukaan medium. Frekuensi kejuadian pencemaran udara akibat bau yang timbul dari tumpukan limbah padat dan proses pengolahan limbah adalah kecil. frekuensinya kecil. Penurunan jumlah fauna darat akibat tercemarnya lingkungan dan berkurangnya makanan. 3 = medium. besaran pengaruh. Manajemen Risiko Lingkungan .

Matriks Nilai Besaran Resiko Perubahan tata guna lahan Pencemaran udara Nilai besaran 3 2 Uraian Pengaruhnya sedang kepada masyarakat.au/implementation/p. masyarakat Berkurangnya 2 Pengaruhnya kecil terhadap estetika lingkungan.. 3 = Resiko sedang.licy. Pengaruhnya kecil karena tidak terlalu dipengaruhi limbah pabrik. Pengaruhnya kecil karena tidak terlalu dipengaruhi oleh limbah pabrik.gov. Sedang karena mempengaruhi polulasi ikan dan berdampak pada manusia. estetika lingkungan Keterangan : 1 = Resiko tidak ada. Qualitative Risk Analysis Matrix www.37 Tabel 13. Pengaruhnya kecil karena bukan gas berbahaya dan jumlahnya sedikit. 4 = Resiko besar. Besar karena mempengaruhi manusia. karena jaraknya cukup dekat. 2 = Resiko dan pengaruhnya kecil.dpmc. Joni Hermana.2010 . Pengaruhnya besar karena mempengaruhi lingkungan.cfm Manajemen Risiko Lingkungan . Pengaruhnya sedang karena mempengaruhi kehidupan manusia. Pencemaran air 3 tanah Pencemaran air 4 permukaan Penurunan jumlah 2 flora darat (terestrial) Penurunan jumlah 3 flora air (aquatik) Penurunan jumlah 2 fauna darat Penurunan jumlah 4 fauna air Penurunan tingkat 4 Besar karena berhubungan dengan kehidupan kesehatan manusia. dan Ali Masduqi (2004).. 5 = Resiko besar sekali Sumber: Alia Damayanti.

specify management responsibility Low risk . Manajemen Risiko Lingkungan .lower consequence Tabel 14 menunjukkan matrik nilai sensitivitas dan Tabel 15 menunjukkan nilai resiko yang mungkin dapat terjadi. Penurunan jumlah fauna air 3 Menjadi perhatian masyarakat lokal.detailed action/plan required High risk .necessitating significant adjustment to overall function Minor . Matriks Nilai Sensitivitas Resiko Perubahan tata guna lahan Pencemaran udara Pencemaran air tanah Pencemaran air permukaan Nilai sensitivitas 2 2 3 4 Uraian Menjadi perhatian dari kelompok tertentu.would threaten functional goals / objectives Moderate . 3 = Menjadi perhatian regional/local. masyarakat Berkurangnya estetika 1 Tidak menjadi perhatian masyarakat. Menjadi perhatian dari pemerintah lokal dan masyarakat local Kota Surabaya. 1 = Tidak menjadi perhatian masyarakat.will probably occur in most circumstances Possible .38 (E) Rating risk level: (H) (M) (L) A B Likelihood: C D E 5 4 Consequences: 3 2 1 Extreme risk . Joni Hermana. Tabel 14.manage by routine procedures Almost certain .not expected to occur Rare . Penurunan tingkat kesehatan 3 Menjadi perhatian masyarakat lokal.could occur at some time Unlikely .would threaten an element of the function Negligible . lingkungan Keterangan: 5 = Tidak menjadi internasional/dunia/media. Menjadi perhatian dari kelompok tertentu. 4 = Menjadi perhatian nasional. dan Ali Masduqi (2004). Menjadi perhatian dari kelompok tertentu. Sumber: Alia Damayanti. (aquatik) Penurunan jumlah fauna darat 2 Menjadi perhatian dari kelompok tertentu.would stop achievement of functional goals / objectives Major . Penurunan jumlah flora darat 2 (terestrial) Penurunan jumlah flora air 1 Tidak menjadi perhatian masyarakat. Menjadi perhatian dari masyarakat lokal.2010 . 2 = Menjadi perhatian kelompok.exceptional circumstances only Severe .needs senior management attention Moderate risk .expected in most circumstances Likely .

Kalidami. Joni Hermana. Sumber: Alia Damayanti. dan Ali Masduqi (2004). G = Persepsi/pandangan masyarakat. D = Waktu pemaparan. Sumber: Alia Damayanti. Tabel 16.2010 . Joni Hermana. memerlukan perhatian manajemen tingkat tinggi. pengelolaan dengan prosedur yang rutin. 151 – 300 = Resiko sedang. dan Ali Masduqi (2004). Surabaya memiliki resiko kecil. C = Peluang terjadinya resiko. Dengan demikian dapat disimpulkan limbah dari Pabrik Tahu Purnomo. B = Keseriusan Resiko. Nilai Resiko Resiko Frekuensi (F) 1 2 2 3 2 Pengar uh (S1) 3 2 3 4 2 Sensitivi tas (S2) 2 2 3 4 2 Nilai Resiko R=Fx(S1+S2 5 8 12 24 8 Perubahan tata guna lahan Pencemaran udara Pencemaran air tanah Pencemaran air permukaan Penurunan jumlah flora darat (terestrial) Penurunan jumlah flora air (aquatik) 3 3 1 12 Penurunan jumlah fauna darat 2 2 2 8 Penurunan jumlah fauna air 3 4 3 21 Penurunan tingkat kesehatan 2 4 3 14 masyarakat Berkurangnya estetika lingkungan 2 2 1 6 Total Resiko 118 Keterangan : 0 – 150 = Resiko rendah. F = Metode Pengendalian. Manajemen Risiko Lingkungan . E = Peraturan perundang-undangan..39 Tabel 15. Analisis Dengan Aspek Lingkungan Signifikan Resiko Nilai Resiko (A*B*C*D* E*F*G) A B C D E F G Perubahan tata guna lahan 3 1 1 5 3 1 1 45 Pencemaran udara 1 3 3 8 3 1 1 216 Pencemaran air tanah 7 6 3 5 1 3 1 1890 Pencemaran air permukaan 7 5 3 3 7 1 3 6615 Penurunan jumlah flora darat 2 3 3 3 2 3 1 324 (terestrial) Penurunan jumlah flora air 4 2 1 5 5 7 1 1400 (aquatik) Penurunan jumlah fauna darat 2 2 3 3 2 3 1 216 Penurunan jumlah fauna air 4 2 1 5 5 4 2 1600 Penurunan tingkat kesehatan 3 4 3 5 3 1 3 1620 masyarakat Berkurangnya estetika 3 3 3 5 3 3 1 1215 lingkungan Keterangan: A = Luasan Dampak. memerlukan penelitian dan manajemen terperinci. 301 – 450 = Resiko tinggi.

001 – 588.000 ppm. konsentrasi COD (Chemical Oxygen Demand) di dalam air limbah industri tahu-tempe cukup tinggi yakni berkisar antara 7. sehingga pengolahan limbah akan menjadi beban yang cukup berat bagi mereka.000.001 – 392. maka kadar COD yang keluar masih cukup tinggi yakni sekitar 2100 ppm. Berdasarkan hasil analisis kualitatif beberapa komponen resiko yang memiliki resiko tinggi yaitu pencemaran air permukaan. Tetapi dengan proses tersebut efisiesi pengolahan hanya berkisar antara 50 % . terutama industri rumah tangga mengalirkan langsung air limbahnya ke selokan atau sungai tanpa diolah terlebih dahulu.000. Dengan demikian jika konsertarsi COD dalam air limbah 7000 ppm. Pengaruh limbah secara keseluruhan terhadap manusia dan lingkungan sekitar pabrik tidak signifikan. Dengan kondisi seperti tersebut di atas.245 (Razif. serta mempunyai keasaman yang rendah yakni pH 4-5.000 . 2002).2010 .000 dan signifikan bila 392. Dengan adanya proses biologis anaerob tersebut maka kandungan polutan organik yang ada di dalam air limbah dapat diturunkan.70 % saja. Hanya satu komponen yaitu pencemaran air permukaan yang tinggi namun tidak sampai 196. dengan komponen yang paling berpengaruh adalah limbah cair. Hal ini karena adanya unit pengolahan limbah sehingga limbah memiliki konsentrasi yang kecil. air limbah industri tahu-tempe merupakan salah satu sumber pencemaran lingkungan yang sangat potersial. Ternyata dari hasil evaluasi tidak ada aspek lingkungan signifikan. karena pada umumnya industri-industri. Namun demikian keberadaan industri tahu-tempe harus selalu didukung baik oleh pemerintah maupun oleh masyarakat karena makanan tahu-tempe merupakan makanan yang digemari oleh hampir seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Salah satu cara untuk mengatasi masalah air limbah industri tahu-tempe tersebut adalah dengan kombinasi proses pengolahan biologis anaerob dan aerob. disamping nilai gizinya tinggi harganya pun relatif murah. Limbah industri tahu-tempe dapat menimbulkan pencemaran yang cukup berat karena mengandung polutan organik yang cukup tinggi. cukup signifikan bila 196. Limbah pabrik tahu memiliki resiko kecil.10. karena angka semuanya berada di bawah 196.40 Menurut kriteria aspek lingkungan tidak signifikan bila hasil evaluasi menunjukkan nilai 1 – 196. Keadaan ini akibat masih banyaknya pengrajin tahu/tempe yang belum mengerti akan kebersihan lingkungan dan disamping itu pula tingkat ekonomi yang masih rendah. Secara umum proses pengolahannya dibagi menjadi dua tahap yakni pertama proses Manajemen Risiko Lingkungan .000. Demikian pula dengan industri tahu/tempe yang pada umumnya merupakan industri rumah tangga. Pada saat ini pengelolaan air limbah industri tahu-tempe umumnya dilakukan dengan cara membuat bak penampung air limbah sehingga terjadi proses anaerob. sehinga hal ini masih menjadi sumber pencemaran lingkungan. Limbah cair yang dikeluarkan oleh kegiatan industri-industri umumnya masih menjadi masalah bagi lingkungan sekitarnya. Dari beberapa hasil penelitian.

maka limbah hasil proses pengolahan banyak membawa dampak terhadap lingkungan. menghasilkan gas methan yang dapat digunakan sebagai bahan bakar.. kemudian dilairkan ke bak kontrol untuk memisahkan kotoran padat.41 penguraian anaerob (Anaerobic digesting).000 mg/l. Dengan proses tahap pertama konsentrasi COD dalam air limbah dapat diturukkan sampai kira-kira 600 ppm (efisiensi pengolahan 90 %).000 .id/Sitpa/Arti. COD 7. efisiensi pengolahan hanya sekitar 70-80 %.go. Limbah dari pengolahan tahu dan tempe mempunyai kadar BOD sekitar 5. Tempe dan tahu merupakan makanan yang digemari oleh banyak orang. dan yang ke dua proses pengolahan lanjut dengan sistem biofilter anaerob-aerob.2010 . sehingga air lahannya masih mengandung kadar polutan organik cukup tinggi.000 . serta bau yang ditimbulkan dari sistem anaerob dan tingginya kadar fosfat merupakan masalah yang belum dapat diatasi. Akibat dari banyaknya industri tahu dan tempe.10. Air limbah yang dihasilkan dari proses pembuatan tahu-tempe kumpulkan melalui saluran air limbah. Industri tahu dan tempe merupakan industri kecil yang banyak tersebar di kotakota besar dan kecil. Dengan proses biologis anaerob. Teknologi pengolahan limbah tahu tempe yang ada saat ini pada umumnya berupa pengolahan limbah sistem anaerob. Besarnya beban pencemaran yang ditimbulkan menyebabkan gangguan yang cukup serius terutama untuk perairan disekitar industri tahu dan tempe. Selanjutnya.000 mg/l.html Diagram proses pengolahan air limbah industri tahu-tempe dengan sistem kombinasi biofilter "Anareb-Aerob". Teknologi Pengolahan Limbah Tahu-Tempe Dengan Proses Biofilter Anaerob Dan Aerob www. Air olahan tahap awal ini selanjutnya diolah dengan proses pengolahan lanjut dengan sistem biofilter aerob.bppt. Manajemen Risiko Lingkungan .. sambil di bubuhi dengan larutan kapur atau larutan NaOH air limbah dialirkan ke bak pengurai anaerob.htt.12. Di dalam bak pengurai anaerob tersebut polutan organik yang ada di dalam air limbah akan diuraikan oleh mikroorganisme secara anaerob.kelair.

dan dapat Manajemen Risiko Lingkungan . Limbah cair yang berasal dari industri kecil tahu-tempe Keunggulan proses anaerobik dibandingkan proses aerobik adalah sebagai berikut : • Proses anaerobik dapat segera menggunakan CO2 yang ada sebagai penerima elektron.42 Untuk mengatasi hal tersebut dapat dilakukan dengan cara kombinasi proses biologis anaerob-aerob yakni proses penguraian anaerob dan diikuti dengan proses pengolahan lanjut dengan sistem biofilter anaerob-aerob. Proses tersebut tidak membutuhkan oksigen dan pemakaian oksigen dalam proses penguraian limbah akan menambah biaya pengoperasian. Dengan kombinasi proses tersebut diharapkan konsentrasi COD dalan air olahan yang dihasilkan turun menjadi 60 ppm. Dibawah kondisi aerobik 50% dari karbon organik dirubah menjadi biomassa. 1983. energi yang dihasilkan bakteri anaerobik relatif rendah. metan. Sebagian besar energi didapat dari pemecahan substrat yang ditemukan dalam hasil akhir. • Penguraian anaerobik menghasilkan lebih sedikit lumpur (3-20 kali lebih sedikit dari pada proses aerobik). • Proses anaerobik menghasilkan gas yang bermanfaat. Gas metan mengandung sekitar 90% energi dengan nilai kalori 9. sedangkan proses aerobik masih tersisa 400 600 kg biomassa (Speece. 1983). sehingga jika dibuang tidaklagi mencemari lingkungan sekitarnya.2010 . sedangkan dalam proses anaerobik hanya 5% dari karbon organik yang dirubah menjadi biomassa.150 kg biomassa. Dengan proses anaerobik satu metrik ton COD tinggal 20 . Switzenbaum. yaitu CH4.000 kkal/m3.

www. Sedikit energi terbuang menjadi panas (3-5%).kelair..html Manajemen Risiko Lingkungan .43 • • • • dibakar ditempat proses penguraian atau untuk menghasilkan listrik. Dengan sistem lagon tersebut dapat menurunkan kadar zat organik (BOD) sekitar 50 %. Jakarta Barat. trihalo-methanes) dan senyawa alami recalcitrant seperti liGnin. Pruduksi metan menurunkan BOD dalam Penguraian lumpur limbah. Penguraian anaerobik cocok untuk limbah industri dengan konsentrasi polutan organik yang tinggi..bppt.id/Sitpa/Arti.2010 . Memungkinkan untuk diterapkan pada proses Penguraian limbah dalam jumlah besar. Sistem anaerobik dapat membiodegradasi senyawa xenobiotik (seperti chlorinated aliphatic hydrocarbons seperti trichlorethylene. dengan sistem Penampungan (lagon) Anaerob.htt. Energi untuk penguraian limbah kecil. Beberapa kelemahan Penguraian anaerobik: • Lebih Lambat dari proses aerobik • Sensitif oleh senyawa toksik • Start up membutuhkan waktu lama • Konsentrasi substrat primer tinggi Pengolahan air limbah industri kecil tahu tempe di Semanan.go.

kecepatan aliran air melalui saluran buang akan tidak memadai sehingga ada kemungkinan terjadi limpasan (overtopping).4 hektar tersebut ada satu spillway (saluran buang) selebar kira-kira 5 meter dan dua saluran irigasi yang lebarnya sekitar 1 meter. yang mampu menyerap air adalah tegalan. kecuali gempa dan angin topan. Pada situ seluas 21. mulai dari kaki tanggul. Korban menjadi banyak ketika mitigasi tidak dilakukan dalam bentuk antisipasi dan prevensi. minimal 100 meter dari kaki tanggul tidak boleh ada bangunan. Dari kondisi permukaan itu. dan rumput atau tanah kosong. kebun. Menempel pada bagian luar tanggul adalah permukiman padat. badan air (17 persen). Kondisi permukaannya.5 hektar. sebenarnya tidak terjadi secara tiba-tiba.7 persen). Sungguh rawan karena bisa terkena longsoran tanggul.8 persen). tegalan (22. dari kawasan itulah situ mendapat suplai air di samping mata air asli. Kata Situ Gintung berkonotasi rekreatif: kolam renang. Bencana seperti longsor dan banjir selalu membawa pertanda sebelumnya. Mestinya.6 persen). lokasi berpetualang (adventure camp). atau luberan. rumput atau tanah kosong (4. yang diperkirakan pada saat itu tidak bekerja optimal. terletak di bawah tanggul sekitar 15-20 meter. Pemicu dan Audit Teknologi Kompas online. 2009 by zeniad Bencana. Posted in Uncategorized on April 1.44 Analisis Risko Bencana: Tanggul. Situ tersebut memiliki daerah tangkapan air seluas 112. kebun (18 persen).5 persen). badan air (yaitu situ atau saluran irigasi). kini berupa permukiman (39. Permukiman itu mengurangi lebar Manajemen Risiko Lingkungan . seperti diungkapkan Kepala Bidang Mitigasi Bencana Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Sutopo Purwo Nugroho.2010 . Jika curah hujan besar. Sebagai contoh adalah bencana Situ Gintuing. dan gedung (0. dan rumah makan.

Meski beban massa air menyebabkan tanggul jebol. Ketiga faktor itu adalah faktor internal (kondisi tanggul). curah hujan normal selama tiga jam disusul 1. atau hilangnya batubatu di luar tanggul. Akan tetapi. Rembesan air ke dalam kapiler retakan menyebabkan kapiler bertambah besar. perlu dilakukan kajian lebih mendalam dengan meneliti faktor lainnya. beban massa air berpindah ke bawah sehingga bagian dasar tanggul tergerus. tanggul Situ Gintung tidak jebol. seperti aktivitas pengerukan sedimen situ dengan ekskavator. dan 6 persen karena longsoran dan lainnya. Dari catatan di Stasiun Meteorologi Ciputat—terdekat dengan Situ Gintung— curah hujan 113. dan hujan besar). tersier —mudah longsor. Jakarta banjir besar. Hal inilah yang diduga mengakibatkan tanggul jebol hingga sekitar 20 meter tingginya.2 milimeter per hari. sedangkan tipe lainnya 22 persen. longsor. rembesan air di sekeliling tanggul memberi beban besar sehingga tanggul jebol semakin lebar pada 27 Maret 2009. Kemungkinan penyebab bencana Menurut peneliti dari Pusat Bencana Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. Dari data hasil kajian kualitas air dan pemanfaatan air situ untuk waduk resapan (5 Desember 2008). di sisi dalam datar seperti dinding. Setelah tanggul jebol. pada bagian tanggul yang jebol itu telah didapati erosi buluh (piping). dan sebagainya). 35 persen akibat peluapan air. Situ dengan struktur batuan muda umumnya dibuat tanggul urukan. Juga saat 2007 ketika curah hujan 275-300 mm per hari di sekitar Situ Gintung.2010 . Curah hujan 180 mm pada tahun 1996 tercatat di Stasiun Pondok Betung (Stasiun Ciputat baru dibangun tahun 2007). Selain urukan. Adapun runtuhnya bendung di dunia. 38 persen akibat erosi buluh. Saat itu pun tak terjadi gempa. tanggul situ tetap aman.5 jam curah hujan ekstrem 70 mm per jam. Di sekitar Situ Gintung sudah sejak lama tak ada hutan. pembabatan hutan. untuk mengetahui secara tepat penyebab jebolnya tanggul. faktor eksternal (bencana lain seperti gempa. dari Stasiun Meteorologi Pondok Betung. Pada dua kejadian itu. Kondisi ini berpotensi menambah beban air pada situ karena air tidak tersalur ke luar. Akibatnya. Ketika bagian atas tanggul longsor. dan faktor manusia (pembangunan sekitar tanggul. terjadi deformasi struktur saluran buang. Erosi itu diduga sudah lama terjadi karena muncul mata air di bawah tanggul. ada tipe busur (berbentuk melengkung) dan tipe graviti-tanggul beton di sisi luar miring ke luar. Lapisan tanah pada Situ Gintung merupakan sedimen muda—batuan kuarter. Secara global terdapat 78 persen bendungan jebol adalah tipe urukan. Manajemen Risiko Lingkungan . curah hujan pada saat kejadian bukanlah faktor tunggal penyebab. ada tiga faktor penyebab bencana. Tekanan yang ditimbulkan oleh massa air menyebabkan badan tanggul longsor karena kapiler (retakan kecil) terisi air. 21 persen fondasi jebol. melainkan hanya pemicu.45 saluran air dari semula 5-7 meter kini tinggal 1 meter.

Saat ini sudah ada sejumlah teknologi ciptaan mereka sendiri yang mampu mendeteksi kelayakan teknis sebuah bendung.au/ssd/research/scale. Mengabaikan laporan masyarakat hanya menunjukkan bentuk arogansi penguasa. www. masyarakat Situ Gintung sudah pernah melaporkan kerusakan tanggul pada dua tahun sebelumnya. sementara pemerintah harus membuka diri pada laporan masyarakat. Selain itu. Pada akhirnya. Mestinya pihak yang bertanggung jawab langsung atas Situ Gintung melakukan tugasnya dengan tepat. keselamatan dan keamanan manusia semestinya diletakkan pada posisi teratas kebijakan pembangunan sehingga pada setiap pembangunan harus selalu disertakan analisis risiko bencana.2010 .html Manajemen Risiko Lingkungan .environment.gov. Landscape-scale risk assessment for the ARR The International Science Panel (ISP) in its 2000 examination of whether the Kakadu World Heritage status was at risk from impacts of uranium mining. Beberapa di antaranya perlu diwaspadai karena berpotensi menimbulkan bencana.46 Pelajaran yang mahal Bencana adalah arena belajar yang amat mahal. tertulis atau tidak tertulis. recommended landscape and ecosystem analyses and called for a comprehensive risk assessment within the context of the Kakadu World Heritage area. Masyarakat juga harus ikut bertanggung jawab dengan melaporkan potensi bencana. lembaga penelitian seperti BPPT dan lainnya sudah seharusnya dilibatkan untuk melakukan audit teknologi demi keamanan struktur pada situ-situ. Ada banyak situ lain di Jabodetabek.

Two key results from the integrated assessment are: • Non-mining landscape-scale risks are currently several orders of magnitude greater than mining risks (Table 2). Note the risk posed by para grass has been examined in greater detail by combining a Bayesian habitat suitability model with a spread rate model. Kakadu National Park Initial results from the risk assessment are summarised in Table 2 and are elaborated in more detail in Section 3. and their relative importance rank Category Pathway Hazard Risk rank Action Time frame Park-wide LANDSCAPE Park-wide Floodplains MINESITE Para grass weed 1 Pig damage Take active control In perpetuity 2 Unmanaged fire Research effects In perpetuity 3 Total ecological Research effects In perpetuity 0.47 Outline of the landscape-scale risk assessment for the Magela Creek floodplain. Comparison of landscape and minesite ecological risks to the Magela floodplain. therefore encompassing current and future risk to floodplain habitat diversity depending on distance to source and invasion pathways. Table 2. effect (a monoculture that displaces native vegetation and wildlife habitat) and rapid spread rate (14% per annum). and • Para grass weed (Urochloa mutica) is currently the major ecological risk on the Magela floodplain because of its extent (10% cover).2010 .00009 risk = briefWatching brief 8 Ra-226 2011 Airborne/wind Radon (Ra-222) 9 Watching brief Manajemen Risiko Lingkungan .21 risk = Uranium 4 Sulfate Watching brief 5 2006 Magnesium Watching brief Surface water 6 2006 Manganese Watching brief 2006 Magela Ck 7 Total ecological Watching 20062006 0.10 of the Supervising Scientists Annual Report 2005-2006. although that difference may reduce when on-site water management systems at Ranger mine change in the transition between mine production and mine closure and rehabilitation.

International Institute for Management Development.org D’Arcy. A DAN PT. dan S. Boston Miccolis. Analisis Resiko Lingkungan Effluen IPLT Keputih.2002. Nani Kurniati. Building Enterprise Risk Management on the Foundation Laid by Sarbanes-Oxley.org COSO (The Committee of Sponsoring Organization) of the Treadway Commission. Brogan. dan Ali Masduqi. Hasan. Program Studi Magister Teknik Lingkungan ITS. No.4. The Enron Collapse. 2004b. ANALISIS MANAJEMEN RISIKO LINGKUNGAN LIMBAH BERBAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN (B3) BERDASARKAN PENILAIAN RISIKO DENGAN FUZZY ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (FAHP) (STUDI KASUS : LUMPUR B3 PT. Surabaya. Shah.coso. Vol. Meulbroek. 2003.coso. Enterprise Risk Management – An Analytic Approach. ERM: a Status Report.com Nur Indradewi Oktavitri. Lausanne.2010 . Volume 12. Application Techniques.protiviti. 2004a. C. Enterprise Risk Management. W. (2003). Y. Surabaya.48 DAFTAR PUSTAKA Alia Damayanti. dan I. Idris.Z. http://www. http://www. (2003). Program Pascasarjana. Internal Auditor. Enterprise Risk Management – Integrated Framework. 2005. Oktober 2004 : 151-156 COSO (The Committee of Sponsoring Organization) of the Treadway Commission.. The Institute of Internal auditor.). J. http://www. H. 2009. Journal of Risk Management of Korea.com Hambali. K. Analisis Resiko Lingkungan (Studi Kasus Limbah Pabrik CPO PT Kresna Duta Agroindo Kabupaten Merangin. Hamilton. Florida. (2003). Program Studi Magister Teknik Lingkungan ITS. Program Studi Magister Teknik Lingkungan ITS. B). Program Pascasarjana. Analisa Resiko Limbah Industri Tapioka di Sungai Tulang Bawang. February 2005. DeLoach. Francis. Number 1. PDF Version. PDF Version. Program Pascasarjana. http://www. S. 2003. P. Jurnal Purifikasi.tillinghast. Harvard Business School. 2001. Joni Hermana. Integrated Risk Management for the Firm: A Senior Manager’s Guide (working paper draft). S. J.dan J. 2000. Tillinghast-Towers Perrin. Tesis PROGRAM MAGISTER BIDANG KEAHLIAN REKAYASA KUALITAS JURUSAN TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS Manajemen Risiko Lingkungan . Enterprise Risk Management – Integrated Framework. ANALISIS RESIKO LINGKUNGAN DARI PENGOLAHAN LIMBAH PABRIK TAHU DENGAN KAYU APU (Pistia stratiotes L. 2004. Surabaya. Jambi). Udisubakti Ciptomulyono.5. L. Swiss.

Icfaian School of Management. 2002. Vedpuriswar. Leo J. Nusa Idaman Said.49 TEKNOLOGI INDUSTRI. Ppm Manajemen. Jakarta. Hyderabad. M. SURABAYA. Energi dan Material. Manajemen Risiko Lingkungan .2010 .2010.V. 2001. 2009. Razif. A strategic approach to Enterprise Risk Management. Analisis Resiko Lingkungan: Kumpulan Materi Kuliah. Susilo. INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER. FTSP Jurusan Teknik Lingkungan ITS. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi. dan N. dan Victor Riwu Kaho. Kelompok Teknologi Pengelolaan Air Bersih dan Limbah Cair. Kedeputian Bidang Informatika. Direktorat Teknologi Lingkungan. A. P. V. Manajemen Risiko Berbasis ISO 31000. Madhav. dan Arie Herlambang. Surabaya. Teknologi Pengolahan Limbah Tahu-Tempe Dengan Proses Biofilter Anaerob Dan Aerob. Chowdary.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful