P. 1
Hormon Tumbuhan

Hormon Tumbuhan

|Views: 646|Likes:
Published by Rini Isromarina

More info:

Published by: Rini Isromarina on Mar 20, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/20/2013

pdf

text

original

Hormon Tumbuhan

Hormon adalah molekul-molekul yang kegiatannya mengatur reaksi-reaksi metabolik penting. Molekul-molekul tersebut dibentuk di dalam organisme dengan proses metabolik dan t idak berfungsi didalam nutrisi (Heddy, 1989). Hormon tumbuhan merupakan senyawa organik yang disentesis di salah satu bagian tumbuhan dan dipindahkan ke bagian lain, dan pada konsentrasi yang sangat rendah mampu menimbulkan suatu respon fisiologis. Hormon tanaman dapat diartikan luas, baik yang buatan maupun yang asli serta yang mendorong ataupun yang menghambat pertumbuhan (Overbeek,1950 dalam Kusumo, 1984). Pada kadar rendah tertentu hormon/zat tumbuh akan mendorong pertumbuhan, sedangkan pada kadar yang lebih t inggi akan menghambat pertumbuhan, meracuni, bahkan memat ikan tanaman (Kusumo,1984). Hormon tumbuhan merupakan bagian dari proses regulasi genetik dan berfungsi sebagai prekursor. Rangsangan lingkungan memicu terbentuknya hormon tumbuhan. Bila konsentrasi hormon telah mencapai tingkat tertentu, sejumlah gen yang semula tidak aktif akan mulai ekspresi. Dari sudut pandang evolusi, hormon tumbuhan merupakan bagian dari proses adaptasi dan pertahanan diri tumbuh-tumbuhan untuk mempertahankan kelangsungan hidup jenisnya. Pemahaman terhadap fitohormon pada masa kini telah membantu peningkatan hasil pertanian dengan ditemukannya berbagai macam zat sintetis yang memiliki pengaruh yang sama dengan fitohormon alami. Aplikasi zat pengatur tumbuh dalam pertanian modern mencakup pengamanan hasil (seperti penggunaan cycocel untuk meningkatkan ketahanan tanaman terhadap lingkungan yang kurang mendukung), memperbesar ukuran dan meningkatkan kualitas produk (misalnya dalam teknologi semangka tanpa biji), atau menyeragamkan waktu berbunga (misalnya dalam aplikasi etilena untuk penyeragaman pembungaan tanaman buah musiman), untuk menyebut beberapa contohnya. Sejauh ini dikenal sejumlah golongan zat yang dianggap sebagai fitohormon, yaitu * Auksin * Sitokinin * Giberelin atau asam giberelat (GA) * Etilena * Asam absisat (ABA) * Asam jasmonat * Steroid (brasinosteroid) * Salisilat * Poliamina. * Triakontanol Untuk mempercepat perakaran pada stek diper lukan perlakuan khusus, yaitu dengan

Perubahan tersebut menurut Gordon (1956) adalah perubahan dari Trypthopan menjadi IAA Tryptamine sebagai salah satu zat organik. 4. 5. Zat Pengatur Tumbuh Beberapa zat pengatur tumbuh yang telah dikenal adalah: 1. zat tersebut atas bantuan enzym nitrilase dapat membentuk auxin. 1988). 3. Konsentrasi dan jumlahnya sangat tergantung pada faktor-faktor seperti umur bahan stek. 1976). 1. AUXIN GIBBERELLIN CYTOKININ ETHYLENE INHIBITORS AUXIN Auxin adalah salah satu hormon tumbuh yang tidak terlepas dari proses pertumbuhan dan perkembangan (growth and development) suatu tanaman. 1952). cara pemberian. Dalam hal ini perlu dikemukakan dalam tanaman fanili Cruciferae dan merupakan zat yang dapat dikelompokan ke dalam auxin (Jones et al. merupakan salah satu zat yang terbentuk dalam biosintesis IAA. Menurut Larsen (1944). Indoleacetaldehyde diidentifikasikan sebagai bahan auxin yang aktif dalam tanaman. waktu/lamanya pember ian hormon. Metabolisme Auxin Hasil penelitian terhadap metabolisme auxin menunjukan bahwa konsentrasi auxin di . Proses pemberian hormon harus memperhatikan jumlah dan konsentrasinya agar didapatkan sistim perakaran yang baik dalam waktu relatif singkat. selanjutnya ia mengemukakan bahwa zat kimia tersebut aktif dalam menstimulasi pertumbuhan kemudian berubah menjadi IAA. Thesis IAA adalah atas bantua bakteri (Rayle dan Purves. Praktek yang mudah dalam pembuktian kebenaran diatas dapat dilakukan dengan Bioassay method yaitu dengan the straight growth tets dan curvature test. Menurut Thimann dan Mahadevan (1958). 1961) menerangkan bahwa Indoleacetonitrile yang terdapat pada tanaman. Kejadian di dalam alam Di dalam alam. merupakan suatu hal yang dapat dibuktikan. Hasil penemuan Kogl dan Konstermans (1934) dan Thymann (1935) mengemukakan bahwa Indole Acetic Acid (IAA) adalah suatu auxin. stimulasi auxin pada pertumbuhan celeoptile ataupun pucuk suatu tanaman. 2. Dan zat organik lain (Indoleethanol) yang terbentuk dari Trypthopan dalam biosin. 2. Ahli lainnya (Cmelin dan Virtanen.pember ian hormon dari luar. jenis hormon dan sistim stek yang digunakan (Yasman dan Smits. terbentuk dari Glucobrassicin atas aktivitas enzym Myrosinase.

Hal ini sebagai akibat adanya photo oksidasi dan enzyme. Tentang sifat dari rantai keasaman. Sedangkan mengenai perubahan Indole-3acetonitrile menjadi IAA dengan bantuan enzym nitrilase prosesnya masih belum diketahui. Proses lain yang menyebabkan inaktifnya IAA ialah karena adanya degradasi oleh photo oksidasi atau aktivitas suatu enzym. Adanya pengaturan ruangan antara struktur cincin dengan rantai keasaman. IAA adalah endogeneous auxin yang terbentuk dari Trypthopan yang merupakan suatu senyawa dengan inti Indole dan selalu terdapat dalam jaringan tanaman di dalam proses biosintesis. Thimann dan went (1966). 3. Ada hubungan yang berbanding terbalik antara aktivitas oksidasi IAA dengan kandungan IAA dalam tanaman. Dalam peristiwa photo oksidasi ini.dalam tanaman mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Rantai yang mempunyai karboksil grup dipisahkan oleh karbon atau karbon dan oksigen akan memberikan aktivitas yang normal. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi konsentrasi IAA ini adalah : a. adanya rantai keasaman (acid chain) c. selanjutnya menjadi Indole-3-acetid acid (IAA). Adapun pigmen yang berperan dalam photo oksidasi ialah Ribovlavin dan B-Carotene. maka aktivitas IAA oksidasi menjadi rendah. Sintesis Auxin b. Sebagaimana diketahui. adanya struktur cincin yang tidak jenuh. d. Trypthopan berubah menjadi IAA dengan membentuk Indole pyruvic acid dan Indole-3-acetaldehyde. pigmen pada tanaman akan menyerap cahaya kemudian energi ini dapat mengoksidasi IAA. Pemecahan Auxin c. Tetapi IAA ini dapat pula terbentuk dari Tryptamine yang selanjutnya menjadi Indole-3-acetaldehyde. b. aktivitas auxsin ditentukan oleh : a. . ternyata aktivitas IAA oksidasinya tinggi. Di dalam daerah meristematic yang kadar auxinnya tinggi. Koeffli (1966) menerangkan bahwa posisi dan panjang rantai keasaman. pemisahan karboksil grup (-COOH) dari struktur cincin. ternyata aktivitas IAA oksidasinya rendah. Pemecahan IAA dapat pula terjadi di dalam alam. begitu pula sebaliknya. In-aktifnya IAA sebagai akibat proses pemecahan molekul. Sedangkan di daerah perakaran yang kandungan auxinnya rendah. berpengaruh terhadap aktivitas auxin. Struktur molekul dan aktivitas auxin Menurut Koeffli. Dalam hal ini apabila kandungan IAA tinggi. CH2COOH NH IAA Keempat persyaratan diatas merupakan faktor yang menentukan terhadap aktivitas auxin.

Terjadinya phototropisme ini disebabkan karena tidak samanya penyebaran auxin di bagian tanaman yang tidak tersinari dengan bagian tanaman yang tersinari. meningkatkan permeabilitas sel terhadap air. maka akumulasi auxin akan berada di dagian bawah. apabila suatu tanaman (celeoptile) diletakan secara horizontal. telah dibuktikan oleh Dolk pd tahun 1936 (dalam Wareing dan Phillips 1970). Abisission h. Contohnya tumbuhnya akar sebagai organ tanaman ke arah bawah. Pembentukan callus (callus formation) dan i. Sedangkan geotropisme positif adalah organ-organ tanaman yang tumbuh kearah bawah sesuai dengan gravitasi bumi. menyebabkan pengurangan tekanan pada dinding sel. Dalam hubungannya dengan permeabilitas sel. Geotropisme d. Apical dominasi e. Dari hasil eksperimennya diperoleh petunjuk bahwa auxin yang terkumpul di bagian bawah memperlihatkan lebih banyak dibanding dengan bagian atas. Pengembangan sel b. Geotropisme Geotropisme adalah pengaruh gravitasi bumi terhadap pertumbuhan organ tanaman. Sel-sel tanaman terdiri dari berbagai komponen bahan cair dan bahan padat. Pertumbuhan akar (root initiation) f. Dilihat dari segi fisiologi.4. Contohnya seperti pertumbuhan batang sebagai organ tanaman. Pengembangan sel Dari hasil studi tentang pengaruh auxin terhadap perkembangan sel. kehadiran auxin meningkatkan difusi masuknya air ke dalam sel. Hal ini menunjukan adanya transportasi auxin ke arah bawah sebagai akibat dari pengaruh geotropisme. Phototropisme c. Arti auxin bagi fisiologi tanaman. Auxin sebagai salah satu hormon tumbuh bagi tanaman mempunyai peranan terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Perbedaan rangsangan (respond) tanaman terhadap penyinaran dinamakan phototropisme. Dengan . tumbuhnya kearah atas. meningkatkan sintesis protein. Keadaan auxi dalam proses geotropisme ini. Respirasi a. hormon tumbuh ini berpengaruh terhadap : a. Phototropisme Suatu tanaman apabila disinari suatu cahaya. c. Bila organ tanaman yang tumbuh berlawanan dengan gravitasi bumi. Untuk membuktikan pengaruh geotropisme terhadap akumulasi auxin. meningkatkan plastisitas dan pengembangan dinding sel. Pada bagian tanaman yang tidak tersinari konsentrasi auxinnya lebih tinggi dibanding dengan bagian tanaman yang tersinari. Parthenocarpy g. menunjukan bahwa terdapat indikasi yaitu auxin dapat menaikan tekanan osmotik. Hal ini ditunjang oleh pendapat Cleland dan Brustrom (1961) bahwa auxin mendukung peningkatan permeabilitas masuknya air ke dalam sel. b. Membengkoknya tanaman tersebut adalah karena terjadinya pemanjangan sel pada bagian sel yang tidak tersinari lebih besar dibanding dengan sel yang ada pada bagian tanaman yang tersinari. maka tanaman tersebut akan membengkok ke arah datangnya sinar. maka keadaan tersebut dinamakan geotropisme negatif.

pertumbuhan ujung batang yang dilengkapi dengan daun muda apabila mengalami hambatan. Fenomena ini kita namakan "apical dominance" Hubungan antara auxin dengan apical dominance pada suatu tanaman telah dibuktikan oleh Skoog dan Thimann (1975). f. bahwa menurut Delvin (1975). Pada tahun 1934 Yasuda berhasil menemukan penyebab Parthenocarpy dengan menggunakan ekstrak tepung sari pada bunga mentimun. Dalam eksperimennya. Anggur. maka akan tumbuh tunas pada ketiak daun. jaringan-jaringan muda terdapat pada apical meristem. sebagai akibat treatment tersebut menyebabkan tumbuhnya tunas di ketiak daun. d. Di dalam proses Parthenocarpy. akan menyebabkan terhambatnya perpanjangan akar tetapi meningkatkan jumlah akar. Hasil analisisnya menunjukan bahwa ekstrak tersebut mengandung auxin. Gustafon telah menemukan terjadinya Parthenocarpy dengan menggunakan IAA yang dicampur dengan lanolin pada stigma. Bahan-bahan yang dipengaruhi gravitasi dinamakan statolith (misalnya pati) dan sel yang terpengaruh oleh gravitasi dinamakan statocyste (termasuk statolith). kemungkinan tanaman tersebut akan terhenti pertumbuhannya. pucuk tanaman kacang (apical bud) dibuang. keadaan seperti ini dinamakan Parthenocarpy. Parthenocarpy Di dalam alam sering kita menjumpai buah yang tidak berbiji. maka pertumbuhan tunas akan tumbuh ke arah samping yang dikenal dengan "tunas lateral" misalnya saja terjadi pemotongan pada ujung batang (pucuk). e. hormon auxin bertalian erat. Perlu dikemukakan pula di sini. Pertumbuhan batang (stem growth) Di dalam alam. Hal ini membuktikan bahwa auxin yang ada di apical bud menghambat tumbuhnya tunas lateral. Selanjutnya pada tahun1936. g. pemberian konsentrasi IAA yang relatif tinggi pada akar. Luckwil (1956) telah melakukan suatu eksperimen dengan menggunakan zat kimia NAA (Naphthalene acetic acid). hubungan antara auxin dengan pertumbuhan batang nyata erat sekali. Sedangkan bahan yang bersifat padat berada di bagian bawah. Hasil penelitian Muir (1942) menunjukan pula bahwa kandungan .adanya gravitasi maka letak bahan yang bersifat cair akan berada di atas. Apical dominance Di dalam pola pertumbuhan tanaman. Di dalam fisiologi. Dari ujung tanaman yang terpotong itu diletakan blok agar yang mengandung auxin. Dari perlakuan tersebut ternyata bahwa tidak terjadi pertumbuhan tunas pada ketiak daun. Hubungannya dengan pertumbuhan tanaman peranan auxin sangat erat sekali. Keadaan seperti ini disebabkan tidak dialaminya pembuahan pada perkembangan buah. IAA (Indole acetid acid) dan IAN (Indole-3-acetonitrile) yang ditreatment pada kecambah kacang. Dari hasil eksperimennya diperoleh petunjuk bahwa ketiga jenis auxin ini mendorong pertumbuhan primordia akar. Dalam gambar diatas diperoleh petunjuk bahwa kandungan auxin yang paling tinggi terdapat pada pucuk yang paling rendah (basal). perpanjangan akar (root initiation) dalam hubungannya dengan pertumbuhan akar. Strawberry dan tanaman famili mentimun. Seperti dikemukakan massart (1902) hasil eksperimennya menunjukan bahwa pembengkakan dinding ovary bunga anggrek dapat distimulasi oleh tepung sari yang telah mati. Di dalam tanaman. Seperti . Apabila ujung coleoptile dipotong.

daun. kadang-kadang diikuti oleh susunan cell division proximal. maka mungkin hormon ini akan mendukung atau menghambat proses tersebut. Mengenai hubungan antara abscission dengan zat tumbuh auxin. Namun di dalam tanaman. 5-T sebagai exogenous auxin yang diaplikasikan pada blak berry. fase pembelahan sel biasanya overlap dengan pengembangan sel (cell enlargementh). auxin akan menghambat abscission. akan terjadi perubahan-perubahan metabolisme dalam dinding sel dan perubahan secara kimia dari pectin dalam midle lamella. bunga. dingin. Mengenai hubungannya dengan auxin. Dalam hubungannya dengan hormon tumbuh. j. kekeringan. buah atau batang. Fase pertama. Disini sel-sel baru akan berdiferensiasi ke dalam periderm dan membentuk suatu lapisan pelindung (Weaver. Keadaan ini akibat hasil pembelahan sel dan/atau pengembangan sel. strawberry dan jeruk. Hasil penelitiannya menunjukan bahwa pertumbuhan buah lebih cepat 60 hari dari fase normal rata-rata 120 hari. Keadaan perkembangan ini selalu diikuti oleh peningkatan ukuran buah. istilah ini diartikan. Abscission Abscission adalah suatu proses secara alami terjadinya pemisahan bagian/organ tanaman dari tanaman. Suatu anggapan mengenai peranan auxin dalam pertumbuhan buah. h. Addicot et al (1955) mengemukakan sbb: Abscission akan terjadi apabila jumlah auxin yang ada di daerah proksimal (proximal region) sama atau lebih dari jumlah auxin yang terdapat di daerah distal (distal region). i. Teori lain (Biggs dan Leopold 1957. 1972). dan fase kedua auxin dengan konsentrasi yang sama akan mendukung terjadinya abscission. Di dalam proses abscission. diterangkan oleh Muller-Thurgau dalam tahun 1898 bahwa endosperma dan embrio di dalam biji menghasilkan auxin yang menstimulasi pertumbuhan endosperma. Dengan kata lain proses abscission ini akan terlambat. Pembentukan lapisan abscission (abscission layer). Teori terakhir dikemukakan oleh Robinstein dan Leopold (1964) yang menerangkan bahwa respon abscission pada daun terhadap auxin dapat dibagi kedalam dua fase jika perlakuan auxin diberikan setelah daun terlepas. menurunnya fase pertumbuhan (growth rate) dan kemampuan tumbuh (vigor) serta diikuti dengan kepekaan . Konsentrasi auxin yang tinggi akan menghambat terjadinya abscission. seperti . 1958) menerangkan bahwa pengaruh auxin terhadap abscission ditentukan oleh konsentrasi auxin itu sendiri. Tetapi apabila jumlah auxin yang berada di daerah distal lebih besar dari daerah proximal. panas. Pertumbuhan buah (fruit growth) Peningkatan volume buah ada hubungannya dengan pertumbuhan buah.auxin pada ovary yang mengalami pembuahan (pollination) meningkat bila dibandingkan dengan ovary yang tidak mengalami pembuahan. Senescence Menurut Alex Comport (1956) dalam Leopold (1961) "senescence" adalah suatu penurunan kemampuan tumbuh (viability) disertai dengan kenaikan vulnerability suatu organisme. akan berpengaruh terhadap abscission. sedangkan auxin dengan konsentrasi rendah akan mempercepat terjadinya abscission. anggur. telah dibuktikan oleh Crane dalam tahun 1949 dengan menggunakan 2. maka tidak akan terjadi abscission. Menurut Addicot (1964) maka dalam proses abscission ini faktor alami seperti . Menurut Weaver (1972).4.

dan GA13. s. GA8. GA7. GA4. Pada tanaman lain yaitu : Lipinus lutens (GA18. adapun hasil penelitian lanjutannya menghasilkan GA1. Kejadian di dalam alam.d GA23. Senescence berkembang dari daun paling bawah menuju kearah atas (progresive senescence) Ciri-ciri terjadinya senescence dapat ditemukan pada morfologi dan perubahan di dalam organ atau seluruh tubuh tanaman. . GA26. GA7 s. Ia dapat mengisolasi crystalline material yang dapat menstimulasi pertumbuhan pada akar kecambah. GA20. Dalam tahun 1951. 1.d GA16. Penelitian lanjutan dilakukan oleh Yabuta dan Hayashi (1939). diketemukan pada pucuk bambu. dan GA22. Di dalam alam telah ditemukan lebih dari sepuluh buah jenis gibberellin. GA26. GA7. Kang (1970) dan Weaver (1972). diketemukan pada anggur. dijumpai pada biji apel. GA1. GA9. GA27. GA19. GA13. dan GA29 diketemukan pada Pharbitis nil. 1954 dalam Weaver 1972). GA23. selanjutnya GA21. GA20. GA1. Senescence yang terjadi seluruh bagian daun dan buah (decideus senescence) 4. Semua organ tumbuh mengalami senescence (over-all senescence) 2. diketemukan pada umbi tulip. s. GA7.d GA4. GA19. GA1. Nama Gibberellin acid untuk zat tersebut telah disepakati oleh kelompok peneliti itu sehingga populer sampai sekarang. s. GA1 s. dijumpai pada sword bean. GA36. Gibberellin . s. GA25. dan GA3. Pada saat yang sama dilakukan pula penelitian di Laboratory of the Imperial Chemical Industries di Inggris sehingga menghasilkan GA3 (Cross. GA3. batang dan buah.d GA9. GA5. Jenis gibberellin yang diketemukan pada jamur yaitu .d GA35.d GA5. GA3. GA13. yang akhirnya buah dan daun terlepas dari batang pokok. GA17. GA2. s. GA7. GA2. gibberellin ada yang diketemukan dalam jamur Gibberella Fujikuroi. ke atas GIBBERELLIN Gibberellin adalah jenis hormon tumbuh yang mula-mula diketemukan di Jepang oleh Kurosawa pada tahun 1926. GA4. ada yang diketemukan pada tanaman tinggi dan ada juga yang diketemukan pada keduanya. Begitu pula pertumbuhan dan pigmentasi warna hijau berubah menjadi warna kuning. GA28). GA9. Ciri dari fenomena ini selalu diikuti dengan kematian. Di dalam alam. Stodola dkk melakukan penelitian terhadap substansi ini dan menghasilkan "Gibberelline A" dan "Gibberelline X". penyakit atau perubahan fisik lainnya.d GA9. Menurut Mac Millan dan Takashashi (1968). GA18. Keadaan seperti ini diikuti oleh meningkatnya abscission serta daun dan buah berguguran dari batang pokok. pada pucuk tanaman jeruk dan biji mentimun diketemukan GA1. senescence terjadi pada daun. Senescence yang terjadi pada bagian atas (top senescence) 3. Sedangkan jenis gibberellin yang diketemukan pada tanaman derajat tinggi yaitu . GA24. GA1. Menurut Leopold (1961) ada empat bentuk senescence yang terjadi pada tanaman yaitu : 1. kemudian GA3. GA4.(susceptibility) terhadap tantangan lingkungan. GA9. Dan yang terakhir yaitu gibberellin yang diketemukan pada jamur dan tanaman derajat tinggi yaitu .

dijumpai pula beberapa senyawa yang di ekstrak dari tanaman. GA17. b. Hasil penelitian Meizger dan Zeivaart (1980) menunjukan bahwa pada pucuk bayam (spinach) didapatkan gibberellin . GA33. GA19. Beberapa contoh growth retardant yang menghambat biosintesis gibberelline pada tanaman antara lain Amo-1618 (2-isopropil-4-dimetil-kamine-5 metil phenil-4pipendine karboksilatmetil klorida) menghambat biosintesis gibberelline pada tanaman mentimun liar (Exhmocytis macrocarpa). beberapa gibberelline mempunyai 19 buah atom karbon dan yang lainnya mempunyai 20 buah atom karbon. Grup hidroksil berada dalam posisi 3 dan 13 (ent gibberellene numbering system) Semua gibberelline dengan 19 atom karbon adalah monocarboxylic acid yang mengandung COOH grup pada posisi 7 dan mempunyai sebuah lactonering. Dan yang terakhir yaitu pada Calonyction aculeatum diketemukan : GA30. jagung. kacang. Dari hasil penelitian Tamura dkk. GA17. namun aktivitasnya seperti gibberelline. 3. pisang (GA7). GA44. GA31. GA13. Di dalam proses biosintesis telah diketemukan zat penghambat (growth retardant) di dalam aktivitas ini. GA4. dan GA29. perbedaan utama pada gibberelline adalah: a.tebu (GA5). Menurut Weaver (1972). Senyawa lain yang ditemukan tanpa gibban skeleton yaitu "Steviol". Begitu pula growth retardant CCC (2-chloroethyl) trimethyl (amonium chloride) memperlihatkan aktivitas yang sama dengan Amo-1618.. dan GA20. C C-C-C C Unit Isoprene (5-C) Unit-unit isoprene ini dapat bergabung sehingga menghasilkan monoterpene (C-10). 2. dan GA34. Amo-1618 menghambat dalam proses perubahan dari Geranylgeranyl pyrophosphat ke Kaurene. GA8. Di dalam alam. Struktur molekul dan aktivitas gibberelline Gibberelline merupakan suatu compound (senyawa) yang mengandung "gibban skeleton".d GA6. Senyawa tersebut tidak mengandung gibberelline atau gibberellane structure tetapi termasuk ke dalam gibberelline. Metabolisme gibberelline Gibberellin adalah zat kimia yang dikelompokan kedalam terpinoid. Adapun pada tanaman Phaseolus coclirecus diketemukan . GA1. Biosintesis gibberelline yang terdapat dalam jamur Gibberella Fujikuroi berproses dari Mevalonic acid sampai menjadi gibberellin. s. barley wheat diketemukan GA1. ia menemukan suatu substansi dalam jamur Helminthosporium sativum yang dinamakan "helminthosporol" yang aktif dalam perpanjangan daun pada kecambah padi dan barley. diterpene (C-20) dan triterpene (C-30). Kemudian pada Rudbeckia bicolor diketemukan . GA53. Sesqueterpene (C-15).d GA9. GA20. GA1. O H OH . GA3 s. Semua kelompok terpinoid terbentuk dari unit isoprene yang terdiri dari 5 atom karbon. GA7.

pembuangan. Sebagai akibat dari proses tersebut. Gejala ini terlihat dari memendeknya internode. karena adanya hidrolisa pati yang dihasilkan dari gibberelline. mobilisasi karbohidrat selama perkecambahan (germination) dan aspek fisiologi kainnya. Pembungaan (flowering) Gibbereline sebagai salah satu hormon tumbuh pada tanaman. maka konsentrasi gula meningkat yang mengakibatkan tekanan osmotik di dalam sel menjadi nai. Hasil dari eksperimen ini menunjukan bahwa gibberellic acid berpengaruh terhadap tanaman kacang yang kerdil dan menjadi tinggi. sehingga ada kecenderungan sel tersebut berkembang. akan mendukung terbentuknya a amilase. Arti gibberellin bagi fisiologi tanaman Gibberellin sebagai hormon tumbuh pada tanaman sangat berpengaruh pada sifat genetik (genetic dwarfism). Tabel 1. 500 dan 1000 mg/l. Dengan memberikan perlakuan GA3 dengan dosis: 250. Hal ini telah dibuktikan oleh Brian dan Hemming (1955). mempunyai peranan dalam pembungaan. dikemukakan bahwa gibbberelline mendukung pengembangan dinding sel. b.CO CH2 HO H COOH H CH3 H GA3 (gibberellic acid) 4. Menurut van Oberbeek (1966) penggunaan gibberelline akan mendukung pembentukan enzym protolictic yang akan membebaskan tryptophan sebagai asal bentuk dari auxin. Genetic dwarfism Genetic dwarfism adalah suatu gejala kerdil yang disebabkan oleh adanya mutasi. hasil eksperimen tsb dapat dilihat pada tabel dibawah. Pengaruh GA3 terhadap pembungaan Spathiphyllum Mauna Loa GA3 (mg/l) Pembangunan (%) minggu setelah perlakuan 10 12 14 16 18 20 0 0 0 0 0 0 10 250 0 0 30 70 70 90 500 20 50 70 100 100 100 1000 0 60 90 100 100 100 . partohenocarpy. Terhadap Genetic dwarfism ini. Penelitian yang dilakukan Henny (1981) pada bungan spothiphyllum Mauna loa. Mengenai hubungannya dengan cell elengation. Hal ini berarti bahwa kehadiran gibberelline tersebut akan meningkatkan kandungan auxin. gibberelline mampu merubah tanaman yang kerdil menjadi tinggi. Mekanisme lain menerangkan bahwa gibberelline akan menstimulasi cell elengation. a. Gibberelline mempunyai peranan dalam mendukung perpanjangan sel (cell elongation). Dalam eksperimennya mereka telah memberi perlakuan penyemprotan gibberellic acid pada berbagai varietas kacang. aktivitas kambium dan mendukung pembentukan RNA baru serta sintesa protein. penyinaran.

sedangkan embrio itu sendiri merupakan suatu bagian hidup yang suatu saat akan menjadi dewasa. rasa dan aroma. kulit biji impermeable ( impermeable seed coat) .c. yaitu terjadinya perubahan dari kondisi yang tidak menguntungkan ke suatu kondisi yang menguntungkan. f. Parthenocarpy dan fruit set Seperti auxin. Secara umum terjadinya dormansi adalah disebabkan oleh faktor luar dan faktor dalam. g. dormansi adalah kemampuan biji untuk mengundurkan fase perkecambahannya hingga saat dan tempat itu menguntungkan untuk tumbuh. Hasil penelitian menunjukan bahwa gibberellic acid (GA3) lebih efektif dalam terjadinya Parthenocarpy dibanding dengan auxin yang dilakukan pada blueberry. gibberelline mempunyai peran penting yaitu mampu mengundurkan pematangan (repening) dan pemasakan (maturing) suatu jenis buah. Mobilisasi bahan makanan selama fase perkecambahan (germination) Biji cerealia terdiri dari embrio dan endosperm. kulit biji yang tebal (tahan terhadap gerakan mekanis) 4. sedangkan gibberellic acid yang diterapkan pada buah pisang matang. Aplikasi GA3 dengan konsentrasi 100. Dari hasil penelitian menunjukan aplikasi gibberelline pada buah tomat dapat memperlambat pematangan buah. Hal ini telah dibuktikan dengan menggunakan GA yang mengakibatkan aktivitas amilase miningkat. d. Dari hasil penelitian menunjukan bahwa gibberelline berperan penting dalam proses aktivitas amilase. Dalam proses pematangan ini. Untuk keperluan kelangsungan hidup embrio maka terjadilah penguraian secara enzimatik yaitu terjadi perubahanpati menjadi gula yang selanjutnya ditranslokasikan ke embrio sebagai sumber energi untuk pertumbuhannya. Sedangkan aplikasi auxin saja tidak memberi pengaruh pada tanaman.. Begitu pula dengan mengadakan aplikasi GA3 + IAA dengan konsentrasi masing-masing 250 dan 500 ppm. Aktivitas enzym a amilase dan protease di dalam endosperm juga didukung oleh GA melalui de novo synthesis. Menurut Copeland (1976). Faktor yang menyebabkan dormansi pada biji adalah sbb: 1. Hal ini ada hubungannya dengan terbentuknya DNA baru yang kemudian menghasilkan RNA. dan 500 ppm mendukung terjadinya diferensiasi xylem pada pucuk olive. Stimulasi aktivitas cambium dan perkembangn xylem Gibberelline mempunyai peranan dalam aktivitas kambium dan perkembangn xylem. warna. Dormansi Dormansi adalah masa istirahat bagi suatu organ tanaman atau biji. ditandai dengan perubahan tekstur. ternyata pemasakannya dapat ditunda. maka terjadi pengaruh sinergis pada xylem. 250. Pertumbuhan embrio selama perkecambahan bergantung pada persiapan bahan makanan yang berada di dalam endosperm. Peranan Gibberellin dalam pematangan buah (fruit ripening) Pematangan (ripening) adalah suatu proses fisiologis. embrio yang belum matang secara fisikologis (physiological immature embriyo) 3. Didalam endosperm terdapat masa pati (starch) yang dikelilingi oleh suatu lapisan "aleuron". Hasil eksperimen lain menunjukan pula bahwa GA3 dapat meningkatkan tandan buah (fruit set) dan hasil. tidak sempurnanya embrio (rudimentery embriyo) 2. gibberelline pun berpengaruh terhadap Parthenocarpy. e.

NH2 N NH Adenine (6-amino purine) 2. Sedangkan apabila perbandingan cytokinin dan auxin berimbang. fase tertundanya metabolisme (a period of partial metabolic arrest) 3. amilase dan protoase di dalam endospem biji barley. maka pertumbuhan tunas. Hasil penelitian menunjukan bahwa purine adenin sangat efektif. senyawa yang aktif adalah kinetin (6-furfuryl amino purine). menurut Amen (1968) ada empat fase yang harus dilalui : 1. Tetapi apabila konsentrasi cytokinin itu . Cytokinin pertama kali ditemukan dalam kultur jaringan di Laboratories of Skoog and Strong University of Wisconsin. Arti Cytokinin bagi fisiologi tanaman Penelitian pertumbuhan pith tissue culture dengan menggunakan cytokinin dan auxin dalam berbagai perbandingan telah dilakukan oleh Weier et al (1974). panjang rantai dan hadirnya suatu double bond dalam rantai tersebut akan meningkatkan aktifitas zat pengatur tumbuh ini. Zat pengatur tumbuh ini mempunyai peranan dalam proses pembelahan sel (cell division). Material yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah batang tembakau yang ditumbuhkan pada medium sintesis. Menurut Miller et al (1955. Di dalam senyawa cytokinin. ke atas CYTOKININ Cytokinin adalah salah satu zat pengatur tumbuh yang ditemukan pada tanaman. ditandai dengan terjadinya penurunan jumlah hormon (hormon level) 2. Peranan hormon tumbuh di dalam biji yang mengalami dorminasi telah dibahas oleh warner (1967) yang mengatakan bahwa GA3 dapat menstimulasi sintesis ribonukleas. daun dan akar akan berimbang pula. fase induksi. Perkecambahan (germination). fase bertahannya embrio untuk berkecambah karena faktor lingkungan yang tidak menguntungkan. adanya zat penghambat (inhibitor) untuk perkecambahan (presence of germination inhibitors).5. maka ini akan mengakibatkan stimulasi pada pertumbuhan akar. 4. Sebaliknya apabila cytokinin lebih rendah dari auxin. 1956). 1. Adenin merupakan bentuk dasar yang menentukan terhadap aktifitas cytokinin. Fase yang terjadi dalam dorminasi biji. Dihasilkan bahwa apabila dalam perbandingan cytokinin lebih besar dari auxin. ditandai dengan meningkatnya hormon dan aktivitas enzym. maka hal ini akan memperlihatkan stimulasi pertumbuhan tunas dan daun. Struktur kimia Cytokinin Bentuk dasar dari cytokinin adalah adenin (6-amino purine).

hormon ini akan berperan pada proses pematangan buah dalam fase climacteric. Interaksi Cytokinin. Struktur kimia dan Biosintesis ethylene Struktur kimia ethylene sangat sederhana yaitu terdiri dari 2 atom karbon dan 4 atom hidrogen seperti gambar di bawah ini : HH C=C HH Ethylene Biosintesis ethylene terjadi di dalam jaringan tanaman yaitu terjadi perubahan dari asam amino methionine atas bantuan cahaya dan FMN (Flavin Mono Nucleotide) menjadi Methionel. namun menurut Rodriquez (1932). zat pengatur tumbuh auxin. Di alam ethilene akan berperan apabila terjadi perubahan secara fisiologis pada suatu tanaman. pertama kali dilakukan oleh Neljubow (1901) dan Kriedermann (1975). Sedangkan dalam pembelahan sel. maka keadaan pertumbuhan tobacco pith culture tersebut akan berbentuk callus. formic acid. Dalam keadaan normal ethylene akan berbentuk gas dan struktur kimianya sangat sederhana sekali. Hasil penelitian Zimmerman et al (1931) menunjukan bahwa ethylene dapat mendukung terjadinya abscission pada daun. ke atas ETHYLENE Ethylene adalah hormon tumbuh yang secara umum berlainan dengan Auxin. Kesemuanya berinteraksi antara satu sama lainnya. methyl disulphide. 1. hasilnya menunjukan gas ethylene dapat membuat perubahan pada akar tanaman. Gibberellin dan Auxin dalam perkembangan tanaman Di dalam alam tidak satu unsurpun yang berdiri sendiri. dan Cytokinin. dikemukakan bahwa IAA dan kinetin. Dan menurut ahli tsb.sedang dan konsentrasi auxin rendah. Penelitian lain telah membuktikan tentang adanya kerja sama antara auxin dan ethylene dalam pembengkakan (swelling) dan perakaran dengan cara mengaplikasikan auxin pada jaringan setelah ethylene berperan. tetapi ketiga hormon tersebut bekerja secara berinteraksi yang dicirikan dalam perkembangan tanaman. kehadiran IAA dan kinetin ini diperlukan dalam proses mitosis walaupun IAA lebih dominan pada fase tersebut. Pada tanaman. . Penelitian terhadap ethylene. sehingga merupakan suatu sistem. Senyawa tersebut mengalami perubahan atas bantuan cahaya dan FMN menjadi ethykene. gibberellin dan cytokinin bekerja tidak sendiri-sendiri. Begitu pula dengan zat pengatur tumbuh. zat tersebut dapat mendukung proses pembungaan pada tanaman nanas. Gibberellin. 3. apabila digunakan secara tersendiri akan menstimulasi sintesis DNA dalam tobacco pith culture. Hasil penelitian menunjukan bahwa kehadiran auxin dapat menstimulasi produksi ethylene.

misalnya Colletriche dan padi. Mekanisme timbal balik secara teratur dengan adanya auxin yaitu konsentrasi auxin yang tinggi menyebabkan terbentuknya ethylene. akan mendukung protein yang akan mengkatalisasi sintesis ethylene dan precursor. Dari hasil eksperimen terhadap buah pear. memperlihatkan bahwa pematangan buah dan sintesa protein terhambat sebagai akibat perlakuan cycloheximide pada permulaan fase climacteric. ternyata sintesis ethylene tidak mengalami hambatan. Tetapi kehadiran ethylene menyebabkan rendahnya konsentrasi auxin di dalam jaringan. Menstimulasi perkecambahan e. Mendukung terbentuknya bulu-bulu akar g. Penelitian lain mengemukakan bahwa perlakuan ethylene pada kecambah kapas menstimulasi aktivitas peroksida dan IAA oksida. Ia mengemukakan bahwa pematangan ini menjadi suatu sequential dalam proses kesinambungan kehidupan buah. buah tersebut ditreated. Peranan ethylene dalam proses pematangan buah Harsen (1967) dalam Dilley (1969) telah mempelajari hubungan antara ethylene dengan tingkat kematangan pada buah pear. Menghambat transportasi auxin secara basipetal dan lateral k. . Di dalam proses pematangan. Mendukung terjadinya abscission pada daun h. d. Menstimulasi pertumbuhan secara isodiametrical lebih besar dibandingkan dengan pertumbuhan secara longitudinal f. dengan actinomysin D pada tingkat pre climacteric. ethylene berpebgaruh terhadap beberapa yang mengontrol pola normal dari proses pematangan.1 ppm. ribonucleic acid synthesis pun diperlukan. Mendukung proses pembungaan pada nanas i. Peranan ethylene dalam fisiologi tanaman Di dalam proses fisiologis. Hubungannya dengan konsentrasi auxin. Mendukung adanya flower fading dalam persarian anggrek j. Protein disintesa secepatnya dalam proses pematangan. Wereing dan Phillips (1970) telah mengelompokan pengaruh ethylene dalam fisiologi tanaman sbb: a. coleoptyle dan mesocotyle pada tanaman tertentu. Dalam eksperimen menggunakan buah pear. menstimulasi perkembangan peroxidase dan phenyl alanine ammonialyase. ethylene mempunyai peranan penting. Menurut Frenkel et al (1968). hormon tumbuh ini menentukan pembentukan protein yang diperlukan dalam aktifitas pertumbuhan. Ethylene yang berkonsentrasi 0. menghambat perpanjangan batang (elengation growth) dan akar pada beberapa species tanaman walaupun ethylene ini dapat menstimulasi perpanjangan batang. Dari hasil eksperimen ini diperoleh petunjuk bahwa actinomysin D menghambat terbentuknya DNA yang bergantung pada RNA sintesis. mendukung epinasti c.2. 3. Menurut konsep tsb. Imascshi et al (1968) mengemukakan bahwa ethylele mendukung peningkatan aktivitas metabolisme dalam jaringan akar ubi jalar. mendukung respirasi climacteric dan pematangan buah b. sedangkan rendahnya konsentrasi auxin. sintesa protein diperlukan pada tingkat pematangan yang normal. Setelah cycloheximide hilang.

ataupun kulit biji (seed coat) misalnya pada tanaman kentang. tunas (bud). 1. Di dalam alam. Plant growth retardant adalah inhibitor yang berperan dalam menghambat aktivitas apical meristematic. gibberellin. CCC. Inhibitor ini mempunyai fungsi atau peranan yang berlawanan dengan zat pengatur tumbuh: auxin. Secara garis besar ternyata inhibitor ini menghambat aktivitas auxin. sering didapat pada proses perkecambahan. ABA sebagai salah satu jenis inhibitor mendukung dormansi. Sedangkan SADH. Plant growth retardant Plant growth retardant adalah inhibitor yang berlawanan dengan kegiatan gibbberellin pada perpanjangan batang. adpokat rose dan kelapa. cinamic acid dan coffeic acid. embrio. apel. Disini IAA mengontrol pembentukan ethylene dalam perpanjangan batang pea. Phosfon-D.2-dimethyl hyrdazide) dan Morphactins (methyl-2-chloro-9-hydroxy fluorene-9-carboxylate/IT 3456 dan n-butyl-9hydroxyfluerene-9-carboxylate/IT 3233). endosperm. inhibitor menyebar disetiap organ tubuh tanaman tergantung dari jenis inhibitor itu sendiri. Ternyata bahwa sintesis gibberellin diblokir sehingga gibberellin tersebut tidak berpengaruh. dan cytokinin. Abscissic acid Di dalam tanaman. CCC (cycocel). batang. Growth retardant ini aktifasinya berlawanan . kacang. Interaksi ethylene dengan auxin dan kinetin Dari hasil penelitian terhadap tanaman kacang (pea). Hal ini terbukti dari hasil penelitian Lang dkk dengan menggunakan CCC dan Amo-1618 pada jamur fusarium moniliforme dan tanaman derajat tinggi. menunjukan bahwa pembentukan ethylene lebih tampak pada jaringan meristem tempat auxin dihasilkan. Gallic acid dan shikimic acid merupakan turunan dari benzoic acid. Hasil penelitian lain menunjukan bahwa adanya penghambatan transportasi auxin oleh endogenous ethylene yang menyebabkan terjadinya abscission pada daun. abscission dan senscence. ke atas INHIBITORS Yang dimaksud dengan istilah inhibitor adalah zat yang menghambat pertumbuhan pada tanaman. Di dalam tanaman. Kehadiran kinetin dalam pertumbuhan tunas lateral dapat mengatasi penghambatan yang diakibatkan oleh IAA. benzoic acid. Phosfon-D dan Amo-1618 menghambat perpanjangan batang (cell elongation). buah. Sedangkan SADH menghambat diamin oksida (yang berperan dalam perubahan tryptamine menjadi IAA).4. beberapa jenis inhibitor adalah merupakan bentuk phenyl compound termasuk phenol. rizoma. Peranan inhibitor di dalam tanaman a. Menurut weaver (1972). ubi (tuber). b. Zat kimia yang dikelompokan dalam growth retardant adalah : Amo-1618. Selanjutnya ia mengemukakan pula bahwa gallic acid dapat diketemukan pada buah yang matang. abscisic acid dapat dijumpai pada daun. gibberellin dan cytokinin. tepung sari. sedangkan ferulic acid dan p-coumaric acid merupakan ko faktor untuk IAA oksida. pertumbuhan pucuk atau dalam dormansi. SADH (succinic acid-2. Abscissic acid (ABA) menyebar di dalam jaringan.

• • • • • • • • • • • Home Agama Info Kesehatan Hiburan International Olah Raga Pembelajaran Pendidikan Politik Sains Sosial Browse » Home » Sains » Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) Wednesday. Artikel Bisnis. Begitu pula morphactin dan turunannya. February 10. Aktifitas MH ini menghambat aktifitas meristematic. Artikel Kesehatan. dan Lain-lain tentunya. Artikel Pendidikan. sehingga menghambat perpanjangan batang. sebaiknya kita mengetahui terlebih dahulu apa yang dinamakan hormon tanaman. . ke atas Mathedu Unila Kumpulan Artikel-artikel Pembelajaran. Hal ini sangat penting karena sering terjadi kerancuan pengertian di masyarakat antara ZPT dengan hormon tanaman. Peranan bahan kimia ini adalah menghambat perpanjangan batang dan berfungsi pula untuk memecahkan auxillary bud. Hormon berasal dari kata . dapat dipergunakan sebagai weed killer. 2010 Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) camera bags yang deficiency • online shop • home network • penelitian • dosis • • Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) sebagai Herbisida Kalau kita berbicara mengenai ZPT.dengan gibberellin. dengan menggunakan konsentrasi yang tinggi. MH (Maleic Hydrazide) sering digunakan sebagai herbisida dalam konsentrasi yang tinggi.

tidak efektif untuk mengendalikan gulma jenis alang-alang namun sangat ampuh dalam membasmi gulma berdaun sempit.4. ZPT yang banyak digunakan sebagai herbisida pemberantas gulma terutama adalah 2.4. ethylen dan ABA. Di era tekhnologi modern saat ini.Yunani yaitu hormon yang berarti menggiatkan.5-T dan MCPA herbisida yang merupakan ZPT yang paling banyak digunakan adalah 2. Giberelin. aktif dalam jumlah yang sangat kecil. Selain itu penggunaan Herbisida 2. dan berdasarkan berbagai macam penelitian maka ditemukan aneka ragam zat pengatur tumbuh yang dapat difungsikan sebagai herbisida untuk mematikan gulma atau tanaman pengganggu. Menurut Moore (1979) hormon adalah suatu zat /senyawa organik yang bukan nutrisi tanaman. Penggunaan Zat pengatur tumbuh bila digunakan dengan konsentrasi rendah akan merangsang dan menggiatkan pertumbuhan tanaman.4-D. 2.5-T dan MCPA atau MCP. IBA. Seiring dengan kemajuan dan perkembangan tekhnologi di bidang pertanian. Yang dimaksud dengan ZPT disini adalah 2. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa semua hormon adalah zat pengatur tumbuh tetapi tidak sebaliknya karena ZPT dapat dibuat atau disintesa oleh manusia tetapi hormon tidak. Untuk pengaruh yang sama . disintesa pada bagian tertentu tanaman kemudian diangkut ke bagian lain dimana zat tersebut menimbulkan pengaruh khusus secara biokimia. ZPT dapat berubah fungsi menjadi racun bila dipakai melebihi kadar tertentu dan dari hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak zat pengatur tumbuh (ZPT) yang dapat dipergunakan sebagai herbisida. merangsang. Lebih lanjut didapatkan pula bahwa. Cytokinin.4-D. Yang dimaksud hormon disini adalah Auxin. Sedangkan zat pengatur tumbuh (ZPT) adalah senyawa organik yang bukan nutrisi tanaman yang dalam jumlah kecil atau konsentrasi rendah akan merangsang dan mengadakan modifikasi secara kwalitatif terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman. NAA dan lain lain. tidak meninggalkan racun pada hewan.4 -D ini sangat ideal karena memiliki beberapa kelebihan diantaranya relatif murah.4-S-T. zat pengatur tumbuh tertentu memepunyai sifat-sifat yang selektif sehingga gulma dapat dimatikan tetapi tanaman pokok yng dibudidayakan tidak terganggu. Saat ini diantara 2.4. 2.5 – S dan MPCA terhadap gulma bervariasi. membangkitkan timbulnya suatu aktivitas. 2. dan sebaliknya bila digunakan dalam jumlah besar/konsentrasi tinggi akan menghambat pertumbuhan bahkan dapat mematikan tanaman. tidak menyebabkan karatan. 2. Pengaruh 2. Herbisida jenis 2.4-D lebih populer pada lahan sawah dibandingkan yang lain karena mempunyai beberapa spesifikasi diantaranya dapat dipergunakan untuk mengendalikan gulma pada lahan sawah.4-D. penggunaan dosis MPCA biasanya lebih tinggi daripada 2.4-D. tidak mudah terbakar dan mudah diencerkan.4-D.4-D. .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->