Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan

2(1), 74-86

PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN PARTISIPASI BELAJAR DAN HASIL BELAJAR TEORI AKUNTANSI MAHASISWA JURUSAN EKONOMI UNDIKSHA Ni Made Suci Jurusan Pendidikan Ekonomi Fakultas Ilmu Sosial Undiksha Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan partisipasi dan hasil belajar mahasiswa dalam mata kuliah teori akuntansi serta untuk mendeskripsikan tanggapan mahasiswa terhadap penerapan model pembelajaran berbasis masalah dengan pendekatan kooperatif. Penelitian ini menggunakan desain penelitian tindakan kelas yang dilakukan pada semester genap tahun ajaran 2006/2007 dengan jumlah mahasiwa 38 orang. Teknik pengumpulan data dengan observasi, kuesioner, dan tes hasil belajar kemudian dianalisis dengan metode analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran berbasis masalah dengan pendekatan kooperatif 1) meningkatkan aktivitas (partisipasi) mahasiswa dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) 2) meningkatkan hasil belajar mata kuliah teori akuntansi 3) mendapat respon yang positif dari mahasiswa karena pembelajaran menjadi lebih bermakna. Kata-kata kunci: Pembelajaran berbasis masalah, pendekatan kooperatif, dan hasil belajar Abstract This research has purpose to increases the avtivity and students’ achievement in accouting theory and describe the conception of students against problem based learning with cooperative approach. The research design by doing class room action research for semester VII on the study year 2006/2007 with 38 students. The technique that used to collect the data are observation, quesioneres and than analyze with desriptive method. The research are problem based learning with cooperative approach 1) to increase the activity students in learning process 2) to increase the result study in accounting theory 3) having positive responses from the students because the learing sence being better. The key words: Problem based learning, cooperative approach, achievement

JPPP, Lembaga Penelitian Undiksha, April 2008

74

April 2008 75 . Adapun faktor yang diduga menjadi penyebabnya adalah 1) pembelajaran lebih ditekankan pada pengumpulan pengetahuan tanpa JPPP. kurikulum. akan tetapi untuk pengembangan sistem akuntansinya perlu pemahaman basis teorinya sehingga sistem akuntansi menjadi lebih bermanfaat bagi pemakai. Kesulitan dan kegagalan mahasiswa dalam belajar disebabkan oleh mahasiswa itu sendiri faktor internal maupun faktor ekternal yang berupa fasilitas. situasi pembelajaran diarahkan pada learning to know. Hal ini tampak pada rendahnya partisipasi mahasiswa dalam kegiatan belajar mengajar dan perstasi belajar teori akuntansi juga kurang memuaskan. Sebagaimana diketahui akuntansi adalah ilmu terapan. Pengajaran teori akuntansi selama ini lebih menekankan aspek kognitif saja dalam cakupan materinya maupun dalam proses pembelajarannya sehingga mahasiswa tidak mempunyai kesempatan untuk mengembangkan daya nalarnya dan kesulitan memahami apa yang diajarkan oleh dosen.Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan 2(1). Studi pendahuluan dilakukan terhadap prestasi belajar teori akuntansi menunjukan bahwa 75% mahasiswa memperoleh nilai C. dan permasalahan yang disampaikan cenderung bersifat akademik (book oriented) tidak mengacu pada masalah-masalah kontektual yang dekat dengan kehidupan mahasiswa sehingga pembelajaran teori akuntansi menjadi kurang bermakna bagi mahasiswa. dan kekurang pegetahuan dosen dalam pengelolaan dan penetapan strategi pembelajaran yang tepat sangat berpengaruh terhadap prestasi belajar mahasiswa. D dan E sedangkan sisinya 25% memperoleh nilai B dan A. Hal ini perlu ditingkatkan menjadi sebaliknya. 74-86 Pendahuluan Pemahaman terhadap teori akuntansi secara konvensional dilakukan dengan memahami teknik akuntansi itu sendiri. ilmu yang dipakai dalam praktek bisnis sehingga nuansa empiris praktisnya lebih dominan. mudah mengembangkannya dan memprediksi apa yang akan terjadi di masa yang akan datang berkaitan dengan praktek akuntansi itu sendiri. Dalam kenyataannya kegagalan mahasiswa dalam belajarnya hanya ditimpakan sebagai kegagalan yang disebabkan oleh mahasiswa itu sendiri padahal kegagalan dosen dalam membelajarkan mahasiswanya. sumber belajar dan kemampuan dosen dalam membelajarkan mahasiswanya. Metode ceramah yang dipergunakan dalam pembelajaran teori akuntansi selama ini menyebabkan mahasiswa terpaku mendengarkan cerita dan betul-betul membosankan. padahal penalaran dan pemahaman merupakan kemampuan yang sangat penting bagi siapa saja yang ingin menjadi profesional dalam bidangnya. Lembaga Penelitian Undiksha.

diskusi dengan teman untuk dapat mencarikan solusi masalah yang dihadapinya. April 2008 76 . Pengalaman belajar diperoleh melalui keterlibatan mahasiswa secara langsung dalam serangkaian kegiatan untuk mengeksplorasi lingkungan dan interaksi dengan materi pelajaran. 3) Sasaran belajar ditentukan oleh dosen sehingga pembelajaran menjadi kurang bermakna bagi mahasiswa. Sedangkan penerapan pendekatan kooperatif dalam pembelajaran ini dilandasi dua alasan pokok yaitu 1) pendekatan kooperatif telah menunjukkan hasil yang efektif dalam membantu mahasiswa menyelesaikan ketrampilan-ketrampilan yang komplek (Heller 1992). Penerapan model pembelajaran berbasis masalah dimaksudkan untuk meningkatkan partisipasi dan prestasi belajar mahasiswa karena melalui pembelajaran ini mahasiswa belajar bagaimana menggunakan konsep dan proses interaksi untuk menilai apa yang mereka ketahui. Selanjutnya mahasiswa mengkontruksi pengetahuannya sendiri berdasarkan pengalaman belajar yang diperolehnya. 2) dalam kelompok. Penyempurnaan KBM teori akuntansi dicobakan dengan mengimplementasikan model pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) dengan pendekatan kooperatif. mahasiswa akan membagi konsep dan prosedur pengetahuan mereka pada saat memecahkan masalah bersama dan selama interaksi tersebut anggota kelompok dapat meminta penjelasan dan pembenaran pada kelompok yang lainnya. mengidentifikasi apa yang ingin diketahui. teman. 2) kurangnya kesempatan bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan bernalarnya melalui diskusi kelompok. mengumpulkan informasi dan secara kolaborasi mengevaluasi hipotesisnya berdasarkan data yang telah dikumpulkan (William& Shelagh) . 74-86 mempertimbangkan ketrampilan proses dan pembentukan sikap dalam pembelajaran. perlu dilakukan suatu upaya yaitu dengan mengimplementasikan suatu model pembelajran yang memungkinkan terjadinya KBM yang kondusif.Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan 2(1). Lembaga Penelitian Undiksha. Pendekatan apapun yang digunakan harus mendudukkan mahasiswa sebagai pusat perhatian dan peran dosen sebagai fasilitator dalam mengupayakan situasi untuk memperkaya pengalaman belajar mahasiswa. Dalan hal ini pembelajaran didesain dengan mengkonfrontasikan mahasiswa dengan masalah-masalah kontektual yang berhubungan dengan materi perkuliahan teori akuntansi sehingga mahasiswa mengetahui mengapa mereka belajar kemudian mengidentifikasi dan mengumpulkan informasi dari buku sumber. Untuk mengatasi masalah tersebut. narasumber dan sumber belajar lainnya. JPPP.

Gisjelairs. Dalam pendekatan problem solving yang konvensional. Model pembelajaran berbasis masalah memiliki sejumlah karateristik yang membedakannya dengan model pembelajaran yang lainnya yaitu 1) pembelajaran bersifat student centered. mahasiswa disuguhi permasalahan setelah mereka dipresentasikan informasi-informasi mengenai JPPP. 5) informasi-informasi baru diperoleh dari belajar mandiri (self directed learning). yaitu 1) Apakah penerapan model pembelajaran berbasis masalah dengan pendekatan kooperatif dapat meningkatkan partisipasi mahasiswa dalam perkuliahan teori Akuntansi? 2) Apakah penerapan model pembelajaran berbasis masalah dengan pendekatan kooperatif dapat meningkatkan prestasi belajar mahasiswa dalam perkuliahan teori Akuntansi? 3) Bagaimanakah respon (tanggapan) mahasiswa terhadap penerapan model pembelajaran berbasis masalah dalam perkuliahan teori Akuntansi. Lembaga Penelitian Undiksha. PBL ini dikembangkan berdasarkan teori psikologi kognitif modern yang menyatakan bahwa belajar suatu proses dalam mana pembelajar secara aktif mengkonstruksi pengetahuannya melalui interaksinya dengan lingkungan belajar yang dirancang oleh fasilitator pembelajaran. terjadi interaksi social baik antar mahasiswa maupun dosen serta materi perkuliahan yang bersifat kontektual. 2) pembelajaran terjadi pada kelompok-kelompok kecil. Barrows (1996). Berdasarkan dua prinsip yang terkandung dalam PBL. pada awalnya dirancang untuk program graduate bidang kesehatan oleh Barrows (1988) yang kemudian diadaptasi untuk program akademik kependidikan oleh Stepein Gallager (1993). maka dosen harus mampu memberikan kondisi terjadinya kesempatan yang luas bagi mahasiswa untuk mengkonstruksi pengetahuan yang ingin dipelajarinya. Teori yang dikembangkan ini mengandung dua prinsip penting yaitu 1) belajar adalah suatu proses konstruksi bukan proses menerima (receptive process) 2) belajar dipengaruhi oleh faktor interaksi social dan sifat kontektual dari pelajaran (Wim.H. 4) masalah menjadi fokus dan merupakan sarana untuk mengembangkan ketrampilan problem solving.Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan 2(1). April 2008 77 . 3) dosen atau guru berperan sebagai fasilitator dan moderator. Pembelajaran berbasis masalah dikenal dengan istilah problem based learning (PBL). Teori ini mengisyaratkan bahwa dalam pembelajaran terdapat proses konstruksi pengetahuan oleh pembelajar. 1996). 74-86 Berdasarkan konsep dasar dan latar belakang yang telah diuraikan maka secara eksplisif terdapat tiga permasalahan pokok yang diupayakan pemecahannya dalam penelitian kelas ini.

April 2008 78 . Lembaga Penelitian Undiksha. sebagai berikut: (1) tujuan pembelajran dirancang untuk mengembangkan keahlian mahasiswa dalam mengidentifikasi masalah. Sedangkan Brooks & Martin (1993) secara lebih rinci menguraikan beberapa ciri penting dari PBL. mahasiswa mengunakan aturan–aturan untuk menentukan dan memperoleh variabel yang tidak diketahui disatu pihak dan variabel yang telah diketahui serta menemukan pemecahannya. tahapan ini merupakan translasi pernyataan masalah ke dalam bentuk pemahaman visual dari situasi masalah yang dapat berupa gambar atau pernyataan-pernyataan. 4) memberikan tanggungjawab kepada mahasiswa untuk mengarahkan sendiri pembelajarannya. 6) menuntut agar mahasiswa menampilkan apa yang telah dipelajari (Savoi&Anderw. 5) membentuk kelompok-kelompok kecil dalam pembelajaran.Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan 2(1). JPPP. pada langkah ini dilakukan kegiatan translasi deskripsi konsep-konsep ekonomi dan akuntansi ke dalam bentuk pernyataan yang sesuai dengan masalah. menentukan informasi yang diperlukan dan menentukan prosedur penyelesaiannya. 3) fasilitator menyiapkan materi perkuliahan yang dapat menuntut mahasiswa / siswa kearah pemecahan masalah. Implementasi PBL dirancang dengan struktur pembelajaran 1) mahasiswa secara individual maupun kelompok dihadapkan pada suatu masalah yang kontektual. (2) adanya keberlanjutan masalah. (3) rencana penyelesaian. 2) masalah yang dikonfrontasikan diusahakan sedekat mungkin dengan kehidupan mahasiswa sehari-hari. 74-86 materi perkuliahan dengan demikian mahasiswa mungkin tidak mngetahui mengapa mereka belajar tentang apa yang dipelajari. dengan syarat masalah harus memunculkan konsep dan prinsip yang relevan dengan materi perkuliahan yang dibahas dan masalah harus bersifat riil. yaitu: (1) visualisasi masalah.1994). pada tahapan ini mahasiswa dituntut menggunakan pemahaman kualitatifnya untuk menganaliasa dan menyatakan masalah dalam istilah akuntansi dan ekonomi. Selanjutnya Frederick Reif & Jonh Heller (1991) merinci lima tahapan strategi yang digunakan untuk membantu mahasiswa dalam memahami konsep-konsep dan aspek prosedural pemecahan masalah. mahasiswa mengevaluasi apakah menyelesaian akhir telah sesuai dengan pengalaman dan harapan yang telah direncanakan. (4) melaksanakan rencana penyelesaian. (3) adanya presentasi masalah sehingga pembelajar merasa memiliki masalah tersebut. (5) meneliti dan mengevaluasi kembali. (2) deskripsi konsep. (4) pengajar berperan sebagai fasilitator yang mampu mengembangkan kreaktivitas berpikir mahasiswa dalam pemecahan masalah.

JPPP. Adapun subyek dari penelitian ini adalah mahasiswa yang memprogram mata kuliah teori pada semester genap tahun 2006/2007. dan (2) Formasi dan kebermanfaatan fungsi kelompok kooperatif untuk memaksimalkan aktivitas dan partisipasi mahasiswa secara keseluruhan. melaksanakan pre tes untuk kepentingan pembentukan kelompok kooperatif. memberikan masalah kontektual sesuai pokok bahasan akuntansi. wawancara. menyusun pedoman observasi. dan refleksi. 74-86 Selanjutnya Heller (1992) mengemukakan keberhasilan pendekatan PBL tergantung pada dua faktor. observasi dan refleksi untuk mengambil keputusan dalam pelaksanaan siklus berikutnya. April 2008 79 . sedang dan rendah). Prosedur penelitian ini dilaksanakan atas empat tahapan. kuesioner dan tes hasil belajar. pelaksanaan. Tahap Perencanaan. kegiatan yang dilakukan adalah menyusun pokok bahasan. Lembaga Penelitian Undiksha. menetapkan skenario pembelajaran. mahasiswa membaut kesimpulan sendiri berdasarkan hasil diskusi yang telah disepakati. dengan kegiatan adalah membagi mahasiswa dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 4-5 orang (mahasiswa berkatagori skor tinggi. yaitu: (1) jenis masalah yang dikonfrontasikan kepada mahasiswa yaitu masalah yang menuntut pemecahan berdasarkan PBL. masing-masing kelompok menyusun konsep. prinsip dan cara-cara pemecahan masalah berdasarkan pengetahuan awal yang dimiliki kemudian dipersentasikan dalam diskusi kelas. mengidentifikasi masalah-masalah kontektual yang berhubungan dengan materi perkuliahan teori akuntansi yang akan dikonfrontasikan kepada mahasiswa. observasi/evaluasi. Sedangkan obyeknya adalah penerapan model pembelajaran berbasis masalah untuk meningkatkan partisipasi dan hasil belajar teori akuntansi. yaitu: perencanaan. pelaksanaan tindakan.Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan 2(1). Tahap Pelaksanaan. Metode Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (classroom action research) yang dengan sengaja dilakukan untuk merencanakan. jadwal pelaksanaan tindakan sesuai dengan alokasi waktu yang tersedia. Penelitian dilakukan melalui tiga siklus tindakan dimana masing-masing siklus terdiri dari tahap perencanaan. melaksanakan kemudian mengamati dampak dari pelaksanaan tindakan tersebut pada subyek penelitian.

Refleksi dilakukan untuk penyempurnaan pelaksanaan tindakan pada siklus berikutnya. 74-86 Tahap observasi dan evaluasi. Mengacu pada tujuan dan hipotesis penelitian. Prestasi belajar mahasiswa dianalisis berdasarkan tingkat penguasaan materi yang dinilai berdasarkan prosedur Penilaian Acuan Patokan (PAP). Hasil Deskripsi proses dan hasil pembelajaran siklus pertama. adalah teknik deskriptif. Partisipasi mahasiswa dalam perkuliahan dianalisis dengan menentukan jumlah persentase komponen aktivitas yang dilakukan secara individual dengan kriteria keberhasilan rata-rata tiap mahasiswa > 75%. maka teknik pengumpulan data yang dipergunakan dalam penelitian ini disesuaikan dengan jenis data yang diperlukan seperti di tunjukkan pada Tabel 1. Adapun topik permasalahan yang dikonfrontasikan pada siklus I adalah a) Bagaimana struktur akuntansi? b) Identifikasi metode dan pendekatan dalam perumusan teori akuntansi di Indonesia? c) JPPP. April 2008 80 . pada tahap ini dosem melakukan observasi terhadap semua hal yang terjadi selama pelaksanaan tindakan dan hasil belajar mahasiswa. Penelitian tindakan kelas ini. Tabel 1 Teknik Pengumpulan Data dan Instrumen Penelitian No 1 2 3 Teknik Pengumpulan Partisipasi mahasiswa Observasi Prestasi Belajar Tes Tanggapan Angket dan mahasiswa wawancara Jenis Data Instrumen Pedoman observasi Tes hasil belajar Pedoman wawancara dan kuesioner Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini. dilakukan pada mahasiswa jurusan pendidikan ekonomi yang memprogram mata kuliah teori akuntansi dengan jumlah mahasiswa 38 orang.Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan 2(1). Lembaga Penelitian Undiksha. 2 dan 3. Tanggapan mahasiswa terhadap penerapan model pembelajaran berbasis masalah dianalisis dengan menentukan skor mahasiswa yang memilih masing-masing item kuesioner dengan kriteria jumlah presentase mahasiswa yang memilih item 4 dan 5 lebih besar dari pada persentase mahasiswa memilih item kuesioner 1.

Berdasarkan hasil belajar dan observasi tindakan pada silus I dilakukan refleksi yang difokuskan upaya menstimulus mahasiswa untuk mampu dan berani mengemukakan ide. Deskripsi proses dan hasil pembelajaran siklus kedua.Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan 2(1). konsep dan prinsip akuntansi yang dapat menghitung laba rugi dan neraca denagn tepat? c) Bagaimana pengakuan laba menurut konsep JPPP. karena mahasiswa belum terbiasa mengemukakan pendapat dan menghargai pendapat teman dan cenderung bertahan walau belum tentu benar jawabannya. isi dan eleemn laporam keuangan! Cukupkah laporan keuangan sebagai media pertangungjawaban? b) Bagaimana struktur teori akuntansi. rekomendasi berdasarkan teori-teori yang telah dipahami dalam mata kuliah prasyarat. Peran dosen sebagai fasilitator dan memberikan bimbingan bila proses pemecahan masalah mendapat hambatan dalam mencapai tujuan pembelajaran. f) Penerapan model pembelajaran berbasis masalah dengan pendekatan kooperatif telah menunjukkan peningkatan hasil belajar mahasiswa dari nilai-nilai rata-rata pre tes 56 menjadi 63 (nilai post tes pada akhir siklus I). April 2008 81 . Adapun topik-topik permasalahan yang dibahas pada siklus kedua adalah: a) Identifikasi jenis. c) Sikap individual mahasiswa masih dominan. e) Kesimpulan yang dirumuskan sering tidak sesuai dengan analisis yang berkembang sehingga peran dosen juga masih tampak dalam mengumpulkan dan menyimpulkan hasil diskusi agar mahasiswa mempunyai pengetahuan yang utuh terhadap suatu permasalahan. menunjukkan bahwa a) Proses komunikasi masih lambat dimana masih menunggu arahan dan bimbingan dosen. b) Kepekaan sosial rendah dan pembelajaran masih banyak warna konvensionalnya dengan dominasi peran dosen yang secara berangsurangsur berkurang pada pertemuan-pertemuan berikutnya. Kemampuan bertanya dan menjawab masih rendah baik dilihat dari jumlah mahasiswa yang aktif maupun bobot pertanyaan dan jawaban yang diberikan. 74-86 Bagaimanakah penyusunan kerangka konseptual dari laporan keuangan? Bagaimana sikap manajemen terhadap penerapan prinsip akuntansi yang berlaku? d) Bagaimana metode penyusunan standar akuntansi di Indonesia dan hubungannya dengan prilaku dan perangkat peraturan yang lainnya? Hasil tindakan pada siklus. Lembaga Penelitian Undiksha. Mahasiswa diberi kesempatan seluas-luasnya untuk berargumentasi dengan hipotesa-hipotesa dan asumsi-asumsi tertentu. d) Kemampuan prediksi dan bernalar mahasiswa masih rendah karena kurangnya kemampuan mahasiswa dalam menginterprestasikan dan mengaplikasikan pengetahuan dan pengalaman belajar yang telah dimiliki.

penilaian dan penentuan laba pada masa inflasi? b) Bagaimana mengukur sumberdaya manusia sebagai asset perusahaan? c) Bagaimana akuntansi sosio ekonomi mengukur asset masyarakat atau negara? d) Bagaimana peranan operasional audit mengontrol kinerja perusahaan? Kondisi KBM pada siklus ketiga dapat diuraikan sebagai berikut: a) Proses komunikasi berlangsung sangat baik dimana mahasiswa telah JPPP. d) Dosen telah mulai mengurangi perannya dan memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada mahasiswa untuk berargumentasi memanfaatkan waktu.04 (terjadi peningkatan 10. b) Mahasiswa telah mampu menggali contohcontoh riil dalam masyarakat sehubungan dengan permasalahan yang dibahas tetapi upaya pengungkapan fenomena masyarakat belum sistematis. take over dan yang lainnya? Kondisi KBM pada siklus kedua ini menunjukkan bahwa: a) Mahasiswa telah lebih aktif dan sistematis dalam mengemukakan ide dan pendapatnya. April 2008 82 . Adapun topik permasalahan kontektual yang dibahas adalah: a) Bagaimana model. Berdasarkan hasil belajar dan observasi tindakan siklus kedua dilakukan refleksi dengan menstimulus mahasiswa untuk aktif dalam KBM secara merata (keseluruhan) dan meningkatkan kemampuan prediksi masa depan dengan asumsi-asumsi yang dirumuskan sehingga solusi permasalahan menjadi lebih akurat.35%). Suatu hal yang patut dicatat bahwa mahasiswa telah berani mengemukakan idenya menguasai permasalahan yang dibahas sehingga suasana KBM lebih demokratis dibandingkan dengan siklus I. fasilitas baik secara individu maupun kelompok. Pelaksanaan tindakan pada siklus ketiga ini difokuskan pada upaya untuk meningkatkan partisipasi mahasiswa dalam KBM secara keseluruhan. E) Dilihat dari hasil belajar mahasiswa juga terjadi peningkatan tetapi belum optimal yaitu rata-rata pre tes 68 dan nilai pos tes 72. sehingga mahasiswa belum mampu melakukan prediksi-prediksi masa depan dengan lebih akurat berdasarkan data dan fakta historis. 74-86 akuntansi dan laba menurut ilmu ekonomi? d) Bagaimana akuntansi merespon konsep laba ekonomi? e) Bagaimana rasio keuangan dapat memprediksi kebangkrutan.Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan 2(1). arus kas. c) Kemampuan merumuskan hasil diskusi sudah lebih baik tetapi belum optimal dimana wawasan mahasiswa perlu ditingkatkan. Terjadi komunikasi yang timbal balik secara terbatas namun belum mampu menyangga pendapat secara lebih luas dan tajam berdasarkan pengalaman belajar yang telah dimilikinya. Deskripsi proses dan hasil pembelajaran siklus ketiga. Lembaga Penelitian Undiksha. ruang. Dalam diskusi kelas nampak adanya dominasi kegiatan oleh mahasiswa tertentu belum terlibat secara merata dan intensif.

(5) melatih kemampuan berbicara di depan forum dimana 100% mahasiswa menyatakan “sangat setuju”. (4) melatif kemampuan mengemukakan pendapat dan menghargai pendapat teman 97. Deskripsi respon (tanggapan) mahasiswa. (7) lebih antusias dalam pembelajaran dimana 97. Angket tentang tanggapan mahasiswa terhadap penerapan model pembelajaran berbasis masalah dengan pendekatan kooperatif. c) Diskusi kelas berlangsung secara demokratis (tidak lagi didominasi oleh mahasiswa tertentu) dengan bobot pertanyaan. (2) menemukan sendiri konsep-konsep dan contoh-contoh dalam memecahakan permasalahn yang dihadapinya. 74-86 terampil dan sistematis dalam mengemukakan ide.36% mahasiswa menyatakan “setuju”. d) Mahasiswa telah mampu merumuskan hasil diskusi serta membuat prediksiprediksi berdasarkan asumsi-asumsi tertentu. b) Mahasiswa telah mampu memberikan contoh-contoh riil dalam mengungkapkan fenomena aktual dalam masyarakat sehubungan dengan permasalahan yang dibahas. Lembaga Penelitian Undiksha.10% mahasiswa menyatakan “sangat setuju” sisanya “setuju” dan “ragu-ragu”. (9) belajar merupakan kebutuhan bukan beban dimana 100% JPPP.37% mahasiswa menyatakan “setuju”. Angket ini terdiri dari 10 (sepuluh) buah pertanyaan dan mahasiswa diharapkan memilih item jawaban yang sesuai dengan kondisi yang dialaminya. pertanyaan maupun jawaban berdasarkan teori dan pengalaman belajar yang dimiliki. 89. e) Dilihat dari hasil belajar juga mengalami yang cukup siginifikan yakni rata-rata pre tes 74.95% mahasiswa menyatakan “setuju” sisanya “sangat setuju” dan “ragu-ragu”. disusun untuk mengetahui pendapat mahasiswa tentang KBM yang dialami dan dirasakan dalam perkuliahan teori akuntansi. 92.56 menjadi 82. April 2008 83 . Penerapan model pembelajaran berbasis masalah dengan pendekatan kooperatif menyebabkan: (1) pembelajaran menjadi lebih bermakna. Jumlah mahasiswa yang mengikuti perkuliahan teori akuntansi 38 orang. (8) lebih tertantang untuk belajar dimana 100% mahasiswa menyatakan sangat “setuju”. Upaya pengungkapan ide dan simpulan permasalahan terurai secara sistematis dan operasional sehingga proses pembelajaran berlangsung dalam suasana yang kondusif. (6) lebih mudah memahami materi teori akuntansi karena dihubungkan dengan masalah-masalah dan contoh-contoh riil di masyarakat dimana 100% mahasiswa menyatakan “sangat setuju”. jawaban dan saran telah lebih baik yang merupakan integrasi dari sejumlah konsep dan teori yang telah dipelajari. (3) melatih kemampuan bertanya dimasna 100% mahasiswa kenyatakan “sangat setuju”.Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan 2(1).04 (nilai pos tes) terjadi peningkatan sekitar 11%.

ide.Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan 2(1). (10) suasana kelas sangat menggembirakan dimana 95% mahasiswa menyatakan “setuju”. Mahasiswa masih memandang bahwa setiap matakuliah mempunyai otoritasnya sendiri-sendiri sehingga hal ini merupakan refleksi untuk memperbaiki kondisi KBM pada siklus kedua. Pada siklus ini tampak suasana pembelajaran lebih demokratis dan ini terbukti juga dari meningkatnya prestasi belajar mahasiswa. Temuan-temuan ini juga mempertegas bahwa ada fase-fase tertentu yang dapat mendukung kekuatan dan kebermaknaan informasi yaitu adanya latihan yang bersifat aplikatif dan balikan-balikan yang bersifat segera dilakukan dalam setiap KBM . aktif dan demokratis karena telah terlatih mengikuti pola pembelajaran yang dikembangkan. Dengan cara ini ternyata mahasiswa lebih aktif dan berani mengemukakan pendapatnya sementara dosen memberikan layanan terhadap terjadinya miskonsepsi dalam pembahasan maupun perumusan kesimpulan. Pembahasan Hasil observasi KBM menunjukkan bahwa hasil belajar (pengalaman belajar) terdahulu sangat membantu mahasiswa dalam membuat suatu asumsi-asumsi dan solusi-solusi permasalahan yang diberikan tetapi hal ini belum optimal. Hambatan yang terjadi dalam pelaksanaan tindakan adalah kurangnya kemampuan nalar mahasiswa dalam memberikan argumentasiargumentasi yang disertai dengan contoh-contoh konkrit maupun analisis berdasarkan pengetahuan prasyarat yang telah dipahaminya dan hal ini merupakan refleksi pelaksanaan tindakan pada siklus ketiga. baik secara individual maupun kelompok karena makin kompleknya permasalahan yang dikonfrontasikan. Mahasiswa dituntut mau dan mampu dalam setiap KBM karena dengan cara itu mahasiswa akan memperoleh pengalaman belajar yang sangat bermakna dalam kehidupannya. saran dalam merumuskan jawaban dan kesimpulan bersama. KBM pada pelaksanaan tindakan siklus ketiga menunjukkan proses yang lebih variatif. April 2008 84 . Pada siklus kedua rencana tindakan diarahkan pada upaya menggali pengetahuan awal mahasiswa dengan memberikan kesempatan yang seluasluasnya untuk mengeluarkan pendapat. Hambatanya terletak pada kurangnya kemampuan mahasiswa untuk mengintegrasikan dan menerapkan berbagai pengetahuan yang dimiliki sebelumnya. Berdasarkan hasil pengamatan diketahui bahwa makin antusiasnya mahasiswa dalam belajar. Penerapan model pembelajaran berbasis masalah dengan pendekatan kooperatif telah mampu meningkatan aktivitas dan hasil belajar mahasiswa JPPP. Lembaga Penelitian Undiksha. 74-86 mahasiswa menyatakan “sangat setuju”.

Akuntansi merupakan ilmu yang dikembangkan dari kondisi praktis sehingga nuansa empiris praktisnya lebih dominan Teori akuntansi dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat secara keseluruhan baik dari segi organisasi. penelitian ini masih sangat sederhana dan memilik banyak keterbatasan karena belum mengkaji secara mendalam berbagai aspek JPPP. prediksi dalam memberikan alternatif solusi suatu permaslahan berkaitan dengan konsep dasar maupun perkembangan teori akuntansi. Kelima. sehingga disarankan upaya pengembangan kemampuan nalar mahasiswa melalui penerapan model maupun perangkat pembelajaran termasuk dosen. bernalar sehingga perubahan layanan menjadi sangat bermakna dalam hidupnya. Kedua. media. Ketiga. April 2008 85 . Keempat. Berdasarkan hasil angket yang diberikan kepada maahsiswa tentang pendapatannya terhadap penerapan model pembelajaran ini hampir semuanya menyatakan setuju karena merasa puas dan pembelajaran menjadi lebih bermanfaat.04. keuangan. Penerapan model pembelajaran ini juga mendapat respon yang positif dari mahasiswa karena mahasiswa mendapat kesempatan yang seluasluasnya untuk mengembangkan kemampuan nalar. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan kondisi pelaksanaan tindakan maka dapat diformulasikan beberapa simpulam sebagai berikut. 74-86 dalam perkuliahan teori akuntansi. penerapan model pembelajaran berbasis masalah dengan pendekatan kooperatif dapat meningkatkan aktivitas mahasiswa dalam KBM mata kuliah teori akuntansi.Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan 2(1). hasil belajar pada siklus terahir PTK ini belum cukup bukti menjelaskan sejauhmana usaha mahasiswa dapat dimaksimalkan dalam KBM baik secara individual maupun kelompok. sarana dan sumber belajar yang memadai. sumberdaya persaingan serta campur tangan pemerintah dalam pengelolaannya sehingga menjadi lebih bernakna dan bermanfaat bagi para pemakainya. Pertama. penerapan model pembelajaran berbasis masalah mendapat respon (tanggapan) yang positif dari mahasiswa karena dengan model ini mahasiswa dapat mengeksploitasi pengetahuan awalnya. penerapan model pembelajaran berbasis masalah dengan pendekatan kooperatif dapat meningkatkan hasil belajar mahasiswa dalam mata kuliah teori akuntansi yang ditunjukkan oleh nilai rata-rata pre tes sebesar 56 meningkat setelah selesainya pelaksanaan tindakan menjadi ratarata 82. Lembaga Penelitian Undiksha.

guru dalam proses belajar mengajar. N. & Simanjuntak. Barrows. B. Bandung: Tarsito Sujana. M. Pasaribu. Edisi kedua. 74-86 pembelajaran yang menentukan keberhasilan penerapan model pembelajaran berbasis masalah sehingga perlu pengembangan dan penelitian lebih lanjut mengenai penerapan model pembelajaran ini. Lembaga Penelitian Undiksha. Jakarta: PT Grafindo Persada. New direction for teaching and learning “Problem Based Learning medichine and beyond: A brief overbiew. L. Jossey Bass Publishers. S. S. Jakarta: Gamedia Pusaka Utama. 1987. Heller. 1996. April 2008 86 . P. Daftar Rujukan Ali. Teori akuntansi. Psikologi pengajaran. July 1992 Harahap. Bandung: Sinar Baru. S.Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan 2(1). 1992. & Arifin. Edisi revisi. W. 1993. Proses belajar mengajar (PBM). group and individual problem solving. 1996. JPPP. Teaching problem solving through coperative gruoping part . Cara belajar siswa aktif dalam proses belajar mengajar. 1988. Bandung: Sinar Baru Winkle. American Journal of Physics. 1993. H.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful