P. 1
Roda Gigi

Roda Gigi

|Views: 1,547|Likes:
Published by Roni Nepology

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Roni Nepology on Mar 20, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/23/2013

pdf

text

original

RODA GIGI

Oleh: Roni Setiawan (08518241014)

PRODI P.T. MEKATRONIKA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI TOGYAKARTA 2010/2011

PENDAHULUAN Mekatronika adalah salah satu cabang ilmu yang mempelajari tentang robot. Struktur robot tidak pernah terlepas dari konstruksi mekanik, dan kendali elektronis. Jika kita mendesain suatu mekanik yang bergerak, semisal adalah robot, hal penting yang tidak bisa kita tinggalkan adalah konstruksi dan transmisi gerakan, serta perhitungan torsi untuk menggerakkan roda maupun sendi. Roda gigi atau gear memungkinkan kita untuk merubah kecepatan putaran dan torsi untuk menyesuaikan motor dengan kondisi bebannya. Roda gigi adalah alat yang mentransmisikan daya dengan menggunakan dua buah roda berbentuk silinder atau kerucut dimana terdapat gigi yang saling bersinggungan pada kelilingnya salah satu diputar maka yang lain akan ikut berputar pula. Roda gigi juga memungkinkan kita untuk mentransmisikan daya motor dari tangkai (shaft) satu ke yang lain. Konsepnya sebenarnya bukan hal yang baru. Orang bangsa Yunani kuno sudah menggunakan roda gigi terbuat dari kayu untuk mentransmisikan daya dari kincir air ke mesin penggiling. Di zaman sekarang ini, roda gigi terbuat dari potongan metal atau plastik yang presisi sehingga transmisi daya lebih efisien.

A. Teori Roda Gigi Rodagigi digunakan untuk mentransmisikan daya besar dan putaran yang tepat. Rodagigi memiliki gigi di sekelilingnya, sehingga penerusan daya dilakukan oleh gigi-gigi kedua roda yang saling berkait. Roda gigi sering digunakan karena dapat meneruskan putaran dan daya yang lebih bervariasi dan lebih kompak daripada menggunakan alat transmisi yang

lainnya, selain itu rodagigi juga memiliki beberapa kelebihan jika dibandingkan dengan alat transmisi lainnya, yaitu : Sistem transmisinya lebih ringkas, putaran lebih tinggi dan daya yang besar. Sistem yang kompak sehingga konstruksinya sederhana. Kemampuan menerima beban lebih tinggi. Efisiensi pemindahan dayanya tinggi karena faktor terjadinya slip sangat kecil.

Kecepatan transmisi rodagigi dapat ditentukan sehingga dapat digunakan dengan pengukuran yang kecil dan daya yang besar. Rodagigi harus mempunyai perbandingan kecepatan sudut tetap antara dua poros. Di samping itu terdapat pula rodagigi yang perbandingan kecepatan sudutnya dapat bervariasi. Ada pula rodagigi dengan putaran yang terputus-putus. Dalam teori, rodagigi pada umumnya dianggap sebagai

benda kaku yang hampir tidak mengalami perubahan bentuk dalam jangka waktu lama.

B. Klasifikasi Roda Gigi Roda gigi di klasifikasikan menurut letak poros, arah putaran, dan bentuk jalur gigi. 1. Menurut letak poros maka rodagigi diklasifikasikan seperti tabel berikut : a. Roda gigi dengan poros sejajar, contoh: Roda gigi lurus, roda gigi miring, roda gigi miring ganda, roda gigi luar, roda gigi dalam dan pinyon, batng gigi dan pinyon b. Roda gigi dengan poros berpotongan, contoh: Roda gigi kerucut lurus, roda gigi kerucut miring, roda gigi kerucut spiral c. Roda gigi dengan poros silang, contoh: Batang gigi miring silang, roda gigi miring silang, roda gigi cacing, roda gigi hyperboloid, roda gigi hypoid 2. Menurut arah putaranya, roda gigi diklasifikasikan seperti tabel berikut : a. Arah putaran berlawanan, contohnya pada roda gigi luar b. Arah putaranya sama, contohnya pada roda gigi dalam dan pinyon 3. Menurut bentuk jalur gigi, rodagigi diklasifikasikan seperti tabel berikut : a. Roda gigi lurus Rodagigi lurus digunakan untuk poros yang sejajar.

Dibandingkan dengan jenis rodagigi yang lain rodagigi lurus ini

paling mudah dalam proses pengerjaannya sehingga harganya lebih murah. Rodagigi lurus ini cocok digunakan pada sistim transmisi yang gaya kelilingnya besar, karena tidak menimbulkan gaya aksial.Ciri-ciri rodagigi lurus adalah : Daya yang ditransmisikan < 25.000 Hp Putaran yang ditransmisikan < 100.000 rpm Kecepatan keliling < 200 m/s Rasio kecepatan yang digunakan o Untuk 1 tingkat ( i ) < 8 o Untuk 2 tingkat ( i ) < 45 o Untuk 3 tingkat ( i ) < 200 ( i ) = Perbandingan kecepatan antara penggerak dengan yang digerakkan Efisiensi keseluruhan untuk masing-masing tingkat 96% -99% tergantung desain dan ukuran. Jenis-jenis rodagigi lurus antara lain : Rodagigi lurus luar (external gearing), pasangan rodagig lurus ini digunakan untuk menaikkan atau menurunkan putaran dalam arah yang berlawanan. Rodagigi lurus dalam (internal gearing), dipakai jika diinginkan alat transmisi yang berukuran kecil dengan perbandingan

reduksi besar. Rodagigi Rack dan Pinyon, berupa pasangan antara batang gigi dan pinion rodagigi jenis ini digunakan untuk merubah gerakan putar menjadi lurus atau sebaliknya. Rodagigi permukaan, memiliki dua sumbu saling berpotongan dengan sudut sebesar 90°. b. Roda gigi miring (helix) Roda gigi miring mempunyai jalur gigi yang membentuk ulir pada jarak bagi. Jumlah pasangan gigi yang saling membuat kontak serentak lebih besar dari pada roda gigi lurus, sehingga pemindahan

momen atau putaran melalui gigi-gigi tersebut dapat berlangsung dengan halus. Sifat ini sangat baik untuk mentransmisikan putaran tinggi dan beban besar. Namun roda gigi miring memerlukan

bantalan aksial dan kotak roda gigi yang lebih kokoh, karena jalur gigi yang berbentuk ulir tersebut menimbulkan gaya reaksi yang sejajar dengan poros. Ciri-ciri rodagigi miring adalah : Arah gigi membentuk sudut terhadap sumbu poros. Distribusi beban sepanjang garis kontak tidak uniform. Kemampuan pembebanan lebih besar dari pada rodagigi lurus. Gaya aksial lebih besar sehingga memerlukan bantalan aksial dan rodagigi yang kokoh. Jenis-jenis rodagigi miring antara lain : Rodagigi miring biasa Rodagigi miring silang Rodagigi miring ganda Rodagigi ganda bersambung c. Roda gigi kerucut lurus Dalam roda gigi kerucut bidang jarak bagi merupakan bidang kerucut yang puncaknya terletak di titik potong sumbu poros. Roda gigi kerucut lurus dengan gigi lurus, adalah yang paling mudah dibuat dan paling sering dipakai. Tetapi roda gigi ini sangat berisik karena perbandingan kontaknya yang kecil. Juga konstruksinya

tidak memungkinkan pemasangan bantalan pada kedua ujung porosporosnya. Jenis roda gigi kerucut : Rodagigi kerucut lurus Rodagigi kerucut miring Rodagigi kerucut spiral Rodagigi kerucut hypoid

d. Roda gigi cacing Ciri-ciri rodagigi cacing adalah: Ciri Kedua sumbu saling bersilang dengan jarak sebesar a a, biasanya sudut yang dibentuk kedua sumbu sebesar 9 90°. Kerjanya halus dan hampir tanpa bunyi. Umumnya arah transmisi tidak dapat dibalik untuk me menaikkan putaran dari roda cacing ke cacing (mengunci sendiri). Perbandingan reduksi bisa dibuat sampai 1 : 150. Kapasitas beban yang besar dimungkinkan karena kontak beberapa gigi (biasanya 2 sampai 4).

Gbr. Macam Roda Gigi

C. Bagian-Bagian Roda Gigi Nama-nama bagian utama roda gigi terdapat dalam dibawah ini. Ukuran roda gigi dinyatakan dengan diameter lingkaran jarak bagi (diameter lingkaran pitch), yaitu lingkaran khayal yang menggelinding tanpa slip. Sedangkan ukuran gigi dinyatakan dengan jarak bagi lingkaran, yaitu jarak sepanjang lingkaran jarak bagi antara profil dua gigi yang berdekatan.

1. Lingkaran pitch (pitch circle), Lingkaran khayal yang menggelinding tanpa terjadinya slip. Lingkaran ini merupakan dasar untuk memberikan ukuran-ukuran gigi seperti tebal gigi, jarak antara gigi dan lain-lain. 2. Pinyon, Rodagigi yang lebih kecil dalam suatu pasangan roda gigi. 3. Diameter lingkaran pitch (pitch circle diameter), Merupakan diameter dari lingkaran pitch. 4. Diametral Pitch, Jumlah gigi persatuan pitch diameter

5. Jarak bagi lingkar (circular pitch) Jarak sepanjang lingkaran pitch antara profil dua gigi yang berdekatan atau keliling lingkaran pitch dibagi dengan jumlah gigi, secara formula dapat ditulis : Keterangan :
d : diameter tusuk (diameter lingkaran pitch)

t : Jarak bagi lingkar 6. Modul (module), merupakan perbandingan antara diameter lingkaran pitch dengan jumlah gigi. Keterangan :
m : modul roda gigi Dp : Jumlah gigi perinchi diameter

7. Adendum (kepala gigi) Jarak antara lingkaran kepala dengan lingkaran pitch dengan lingkaran pitch diukur dalam arah radial. 8. Dedendum (kaki gigi), Jarak antara lingkaran pitch dengan lingkaran kaki yang diukur dalam arah radial. 9. Working Depth, Jumlah jari-jari lingkaran kepala dari sepasang rodagigi yang berkontak dikurangi dengan jarak poros. 10. Clearance Circle, Lingkaran yang bersinggungan dengan lingkaran addendum dari gigi yang berpasangan. 11. Pitch point, Titik singgung dari lingkaran pitch dari sepasang rodagigi yang berkontak. 12. Operating pitch circle, lingkaran-lingkaran singgung dari sepasang rodagigi yang berkontak dan jarak porosnya menyimpang dari jarak poros yang secara teoritis benar. 13. Addendum circle (Lingkaran kepala gigi), lingkaran yang membatasi gigi.

14. Dedendum circle (Lingkaran kaki gigi), lingkaran yang membatasi kaki gigi. 15. Width of space, Tebal ruang antara rodagigi diukur sepanjang lingkaran

pitch. 16. Sudut tekan (pressure angle), Sudut yang dibentuk dari garis normal dengan kemiringan dari sisi kepala gigi. 17. Kedalaman total (total depth), Jumlah dari adendum dan dedendum.

18. Tebal gigi (tooth thickness), Lebar gigi diukur sepanjang lingkaran pitch. 19. Lebar ruang (tooth space), Ukuran ruang antara dua gigi sepanjang lingkaran pitch 20. Sisi kepala (face of tooth), Permukaan gigi diatas lingkaran pitch 21. Sisi kaki (flank of tooth), Permukaan gigi dibawah lingkaran pitch. 22. Puncak kepala (top land), Permukaan di puncak gigi 23. Lebar gigi (face width), Kedalaman gigi diukur sejajar sumbunya

D. Perbandingan Putaran dan Perbandingan Roda Gigi Jika putaran roda gigi yang berpasangan dinyatakan dengan n1 (rpm) pada poros penggerak dan n1 (rpm) pada poros yang digerakkan, diameter lingkaran jarak bagi d1 dan d2 (mm), dan jumlah gigi z1 dan z2, maka perbandingan perputaran u adalah :

Harga i adalah perbandigan transmisi, yaitu perbandingan antara jumlah roda gigi dengan pinyon. Sedangkan untuk jarak sumbu poros a antar rodagigi yang berhubungan dapat dirumuskan:

Persamaan lain dalam roda gigi adalah sebagai berikut: Diameter lingkaran jarak bagi : Diameter lingkaran kepala : Diameter lingkaran dasar : Jarak bagi :

Jarak bagi normal : Tinggi gigi :
Keterangan : dO rO z m a dK rK dg H ck tO te : : : : : : : : : : : : diameter tusuk (diameter lingkaran pitch) panjang jari jari-jari lingkaran jarak bagi Jumlah gigi modul roda gigi jarak sumbu poros diameter lingkaran kepala panjang jari jari-jari lingkaran kepala diameter lingkaran das dasar tinggi gigi kelonggaran puncak jarak bagi jarak bagi normal

E. Kapasitas Beban Roda Gigi 1. Perhitungan Lenturan Besarnya perbandingan kontak adalah 1,0. Perhitungan

dilakukan dengan anggapan bahwa beban penuh dikenak dikenakan pada titik perpotongan A antara garis tekanan dan garis hubung pusat roda gigi pada dan puncak gigi seperti dalam gambar gambar:

Jika tekanan normal pada permukaan gigi dinyatakan dengan Fn, maka ika gaya Fkt (tegak lurus OA) dalam arah keliling atau tangensia pada titik A tangensial adalah:

Sedangkan gaya Ft yang bekerja dalam arah putaran roda gigi pada titik ah jarak bagi adalah adalah:

Ft

Fkt dimana Ft adalah gaya tangensial.

Jika diameter jarak bagi adalah db1 (mm) maka kecepatan keliling v(m/s) pada lingkaran jarak bagi roda gigi yang mempunyai putaran n1(rpm) adalah:

Hubungan antara daya yang ditransmisikan P(kW), gaya tangensia Ft(kg), gaya dan kecepatan keliling v(m/s) adalah:

Dalam keadaan sebenarnya, pada waktu terjadi peralihan jumlah rjadi pasangan yang terkait dari satu menjadi dua atau dari dua me menjadi satu pasang, timbul gaya yang lebih besar. Karena dalam perhitungan h hanya satu pasang gigi saja yang dianggap meneruskan momen, maka pembebanan yang diperhitungkan pada gigi menjadi lebih berat dari pada lebih keadaan sebenarnya. Dalam gambar dibawah, bentuk penampang gigi uk yang akan dipakai sebagai dasar perhitungan kekuatan lenturnya, didekati dengan bentuk parabola dengan puncak dititik A dan dasar di B dan C yang merupakan titik singgun antara parabola dengan profil singgung kaki gigi. Dengan demikian maka gigi tersebut dapat dipandang sebagai balok yang mempunyai kekuatan seragam. Jika b(mm) tegangan lentur
b

lebar sisi, BC = h(mm), dan AE= l (mm), maka (kg/mm2) pada titik B dan C (dimana ukuran

penampangnya adalah b x h), denga beban gaya tangensial Ft pada dengan puncak balok, dapat ditulis sebagai :

Besarnya h2/6l ditentukan dari ukuran dan bentuk gigi. Besaran ini mempunyai dimsensi panjang. Jika dinyatakan dengan perkalian antar Y dan modul m maka :

Persamaan tersebut disebut “persamaan Lewis”, dan Y dinamakan factor bentuk gigi. Tabel tegangan lentur yang diijinkan pada rodagigi:

2. Perhitungan Beban Permukaan

Jika tekanan antara sesama permukaan gigi terlalu b besar, gigi akan mengalami keausan dengan cepat. Selain itu, permukaan gigi juga akan permukaan mengalami kerusakan karena keletihan oleh beban berulang. Dengan demikian maka tekanan yang dikenakan pada permukaan gigi, atau kapasitas pembebanan permukaan, harus dibatasi. Permukaan gigi d ri roda gigi lurus dan roda gigi miring saling dari melakukan kontak garis lurus. Dalam gambar diatas, terdapat dua garis , kontak melalui K1 dan M2 dan tegak lurus bidang gambar. Besarnya tekanan yang timbul sama dengan tekanan antara dua silinder yang berjari-jari I1K1 dan I2K2 atau antara dua silinder dengan jari jari-jari I1M2 dan I2M2, besarnya t tekanan yang timbul
H

(kg/mm2), yang disebut “tegangan

Hertz”, dapat diny dinyatakan dengan rumus berikut ini:

Di sini

disebut “jari jari lengkungan relatip”. Untuk gigi dalam 2<0. “jari-jari

Seperti

halnya

pada

perhitungan

tegangan

lentur,

disini

perbandingan kontak juga dianggap sama dengan 1,0 dan tegangan Hertz dihitung hanya pada titik jarak bagi saja. Untuk roda gigi standar (roda gigi luar) dengan sudut tekanan
0, 1=(z1m/2)sin 0

dan

2=(z2m/2)sin 0,

sehingga:

Keterangan : : tekanan (kg/mm2) H b : lebar sisi (mm) kH : factor tegangan kontak : sudut tekanan

F. Roda Gigi Kerucut 1. Profil Roda Gigi Kerucut Sepasang roda gigi kerucut yang saling berkait dapat diwakili oleh dua bidang kerucut dengan titik puncak yang berimpit dan saling menggelinding tanpa slip. Kedua bidang kerucut ini disebut kerucut jarak bagi. Besarnya sudut puncak kerucut tersebut merupakan ukuran bagi putaran masing-masing porosnya. Roda gigi kerucut yang alur giginya lurus dan menuju ke puncak kerucut dinamakan roda gigi kerucut lurus. Berikut adalah gambar bagian-bagian roda gigi kerucut:

Sumbu poros roda gigi kerucut biasanya berpotongan dengan sudut 90º. Bentuk khusus dari roda gigi kerucut dapat berupa roda gigi miter berupa yang mempunyai sudut kerucut jarak bagi sebesar 45º, sep seperti terlihat dalam gambar gambar:

Persamaan dalam roda gigi kerucut:

Keterangan : d : diameter lingkaran jarak bagi R : panjang sisi kerucut jarak bagi : sudut kerucut jarak bagi z : jumlah roda gigi sebenarnya zV : jumlah roda gigi khayal i : perbandingan putaran : sudut poros 2. Proporsi Roda Gigi Kerucut Diameter lingkaran jarak bagi : d1 = mz1 d2 = mz2 Sisi kerucut: R = d1/(2 sin 1) = d2/(2 sin 2)

Jika ck 0,188m adalah kelonggaran puncak, maka untuk pinyon (roda gigi kecil): Tinggi kepala Tinggi kaki -1 Sudut kepala k1 = tan (hk1/R) -1 Sudut kaki f1 = tan (hf1/R)

Demikian pula dalam hal roda gigi besar : Tinggi kepala hk2 = (1 – x1)m Tinggi kaki hf2 = (1 + x1)m +ck Tinggi gigi: H = 2m + ck
k1 f1

Sudut kerucut kepala Sudut kerucut kaki

=
1-

1

+
f1,

k1, f2

k1

=
2

2

+
f2

k2

=

=

+

Besarnya masing-masing diameter lingkaran kepala : dk1 = d1 + 2hk1 cos 1 dk2 = d2 + 2hk2 cos 2 Besarnya masing – masing diameter lingkaran kaki : X1 = (d2/2) + hk1 sin 1 X2 = (d1/2) + hk2 sin 2 Jika sudut tekanan adalah 0, dan kelonggaran belakang dianggap nol, maka tebal gigi (tebal lingkar) adalah : s1 = (0,5 + 2x1 tan 0)m s2 = (0,5 - 2x1 tan 0)m s1 + s2 = m Lebar sisi gigi b sebaiknya diambil tidak lebih dari 1/3 sisi kerucut, atau kurang dari 10 kali modul pada ujung luar. Pada pasangan roda gigi kerucut hampir tidak pernah dijumpai pemakaian bantalan pada ke dua ujung poros pinyon maupun roda gigi besar. Biasanya hanya salah satu saja yang memakai bantalan pada kedua ujung poros, atau kedua-duanya memakai bantalan pada satu ujung saja. Dengan demikian beban pada permukaan gigi tidak dapat dibuat merata karena lenturan pada poros atau gigi. Karena itu pemilihan lebar sisi perlu diusahakan sekecil mungkin. Untuk menentukan lebar sisi, mula – mula dihitung kekuatannya terhadap beban lentur. Beban lentur yang diizinkan dibagi dengan lebar sisi Fb (kg/mm), untuk gigi dengan penampang yang merupakan harga rata – rata dari penampang ujung luar dan ujung dalam, adalah : F’b1 = F’b2 = Dimana
a1 a1mKvJ1/(K0KsKm) a2mKvJ2/(K0KsKm) a2

dan

(kg/mm2) adalah tegangan lentur yang diizinkan.

G. Roda Gigi Cacing

Pasangan roda gigi cacing terdiri atas sebuah cacing yang mempunyai sangan ulir luar dan sebuah roda cacing yang berkait dengan cacing. Cir yang Ciri sangat menonjol pada roda gigi cacing adalah kerjanya yang halus dan hamp kerjanya hampir tanpa bunyi, se serta kemungkinan perbandingan transmis yang besar. Perbandingan reduksi dapat dibuat sampai 1:100. namun, pada umumnya arah 1:100. transmisi tidak dapat dibalik untuk menaikkan putaran, dari roda cacing ke putaran, cacing. Hal semacam ini disebut mengunci sendiri, karena putaran yang berbalik dari roda cacing rbalik akan dihentikan oleh cacing. Kekurangan dari roda gigi c cacing adalah efisiensinya yang rendah, terutama jika sudut kisa kisarnya kecil. Antara cacing dan rodanya terjadi gesekan besar sehingga menimbulkan sehingga banyak panas. Itulah sebabnya mengapa kapasitas transmisi roda gigi cacing sebabnya sering dibatasi oleh jumlah panas yang timbul. Dalam praktek, roda gigi cacing sering mempergunakan cacing dari baja paduan dengan pengerasan paduan kulit dan roda cacing dari perunggu. Permukaan gigi harus dif gigi difinis dengan

baik, dan pelumasan harus sesuai serta dijaga kelangsungannya. Konstruksi rumah dan poros serta pemasangannya harus kokoh untuk menghindari lenturan dan pergeseran aksial poros cacing. Adapun bentuk profil dari roda ggi cacing adalah:

1. N-worm atau A-worm, Gigi cacing yang punya profil trapozoidal dalam bagian normal dan bagian aksial, diproduksi dengan menggunakan mesin bubut dengan pahat yang berbentuk trapesium, serta tanpa proses penggerindaan. 2. E-worm, Gigi cacing yang menunjukkan involut pada gigi miring dengan antara 87° sampai dengan 45o . 3. K-worm, Gigi cacing yang dipakai untuk perkakas pahat mempunyai bentuk trapezoidal, menunjukkan dua kerucut. 4. H-worm, Gigi cacing dipakai untuk perkakas pahat yang berbentuk cembung. Tipe-tipe dari penggerak rodagigi cacing antara lain : 1. Cylindrical worm gear dengan pasangan gigi globoid 2. Globoid worm gear dipasangkan dengan rodagigi lurus 3. Globoid worm drive dipasangkan dengan rodagigi globoid 4. Rodagigi cacing kerucut dipasangkan dengan rodagigi kerucut globoid yang dinamai dengan rodagigi spiroid

1

2

3

4

Persamaan-persamaan dalam rodagigi cacing adalah: i = z2 / z1 ms = mn / cos , d1 = z1mn / sin , d2 = msz2

a = (d1 + d2)/2 hk = mn, hf = 1,157mn, c = 0,157 mn, H = 2,157mn dk1 = d1 + 2hk, dr1 = d1 – 2hf Dt = d2 + 2hk, B = 0,577dk1, Rt = d1/2-hk Keterangan : i ms a d hf Ø : : : : : : perbandigan transmisi modul aksial jarak sumbu poros diameter lingkaran jarak bagi tinggi kaki gigi sudut lengkung gigi cacing mn z hk H B : : : : : : modul normal sudut kisar jumlah gigi tinggi kepala gigi tinggi roda gigi lebar gigi cacing dr2 = d1 – 2hf atau b = 2,38 ( mn/cos ) + 1,35

Be = dk1sin (ø/2)

H. Rangkaian Roda Gigi 1. Roda Gigi Dengan Poros Tetap Rangkaian roda gigi adalah susunan beberapa roda gigi bertingkat antara poros penggerak dan poros yang digerakkan yang dipergunakan untuk mendapatkan putaran yang diperlukan. Jika semua poros roda gigi dari rangkaian tersebut tetap (tidak berputar) maka dinamakan rangkaian dengan poros tetap, rangkaian ini merupakan jenis yang paling banyak dipakai. Jika dua buah roda gigi luar saling berpasangan, maka

masing-masing roda gigi akan berputar dalam arah yang berlawanan, sedang pada pasangan yang terdiri atas roda gigi luar dan roda gigi dalam, arah putarannya akan sama. Rangkaian jenis ini mempunyai keuntungan dibandingkan dengan yang lain karena bantalan-bantalannya terpasang dengan kokoh sehingga getaran lebih kecil. Dengan demikian kerusakan akibat dari kelelahan dapat dihindari. Namun, rangkaian semacam ini kurang ringkas dan memakan ruangan lebih besar dibandingkan dengan yang berjenis

planiter, apalagi jika perbandingan reduksinya besar.

2. Roda Gigi Planiter Jenis rangkaian roda gigi yang mempunyai poros berp berputar adalah roda gigi planiter Roda gigi planiter mempunyai keuntungan berupa planiter. perbandingan reduksi yang besar, lebih ringkas dibandingkan dengan ang rangkaian roda gigi yang lain, dan sumbu poros inp yang segaris input

dengan sumbu poros outputnya. Tetapi sebaliknya, kadang-kadang sangat kadang sukar untuk memperoleh kaitan roda gigi yang baik serta pembebanan serta yang merata pada permukaan gigi, karena ada bantalan yang dipasang bantalan pada pembawa yang berputar. Hal ini menimbulkan getaran dan suara. menimbulkan Perlu diperhatikan pula bahwa efisiensi roda gigi planiter dengan efisiensi gabungan roda gigi dasar dapat menjadi sangat renda Contoh roda gigi rendah. planiter adalah :

Cara kerjanya adalah jika poros input memutar roda gigi A, roda gigi planit B akan menggelinding pada roda gigi matahari C sehingga lengan H akan memutarkan poros output. Dalam arah transmisi seperti itu putaran poros output akan lebih rendah dari pada putaran poros input. Pada rangkaian jenis planiter, arah transmisi juga dapat dibalik untuk memperoleh putaran output yang lebih tinggi dari pada putaran input. Perbandingan putaran antara poros input A dan poros output H dengan roda gigi C yang diam, dapat dinyatakan dengan lambang iCAH , dan besarnya dapat diperoleh dari persamaan:

DAFTAR PUSTAKA
Chan, Yefri . Teori Roda Gigi. Universitas Darma Persada G. Niemann. H. Winter. Elemen Mesin jilid II. Erlangga. Jakarta. 1990 Ir. Syamsir A. Muin. Dasar - Dasar Perancangan Perkakas Dan Mesin - Mesin Perkakas Edisi I. Jakarta. 1989 J. Stok. Elemen Mesin Jilid . Pradya Paramita. Jakarta. 1990 Rochim, Taufik. Teori Dan Teknologi Proses Permesinan. Departemen Mesin ITB. Bandung. 1993 Sularso, Kiyokatsu, Suga. Dasar Perencanaan dan Pemilihan Elemen Mesin. Pradya Paramita. Jakarta. 1987. http://books.google.com/?id=wUJVAAAAMAAJ . http://elib.unikom.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jiptumm-gdl-s1-2002muhaimi-8693-roda_gigi http://www.wikipedia.com/gigi

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->