P. 1
sosiologi agama

sosiologi agama

|Views: 788|Likes:
Published by Aprilia Zulinda

More info:

Published by: Aprilia Zulinda on Mar 20, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/03/2013

pdf

text

original

Sekte

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Belum Diperiksa Langsung ke: navigasi, cari Dalam sosiologi agama, sekte umumnya adalah sebuah kelompok keagamaan atau politik yang memisahkan diri dari kelompok yang lebih besar, biasanya karena pertikaian tentang masalahmasalah doktriner. Dalam sejarah, penggunaannya di lingkungan agama Kristen mengandung konotasi penghinaan dan biasanya merujuk kepada suatu gerakan yang menganut keyakinan atau ajaran yang sesat dan yang seringkali menyimpang dari ajaran dan praktik ortodoks.[1] Dalam konteks India, sekte merujuk kepada suatu tradisi yang terorganisir.

Daftar isi
[sembunyikan]
y y y y

y y y

1 Etimologi 2 Definisi dan deskripsi sosiologis 3 Konsep sekte dalam konteks India 4 Padanan kata ini dalam bahasa Perancis, Spanyol, Jerman, Polandia, Belanda, dan Rumania o 4.1 Arti "sekte" di negara-negara yang memiliki tradisi Katolik yang kuat 5 Lihat pula 6 Rujukan 7 Pranala luar

[sunting] Etimologi
Kata sekte berasal dari istilah bahasa Latin secta (dari sequi, mengikut), yang berarti (1) suatu langkah atau jalan kehidupan, (2) suatu aturan perilaku atau prinsip-prinsip dasar, (3) suatu aliran atau doktrin filsafat. Sectarius atau sectilis juga merujuk kepada pemotongan, namun makna ini, berlawanan dengan pandangan umum, tidak terkait dengan etimologi kata ini. Sectator adalah pemimping atau penganut yang setia.

[sunting] Definisi dan deskripsi sosiologis
Artikel utama: Tipologi gereja-sekte

Khususnya partai-partai komunis dari 1919 mengalami berbagai perpecahan. Sementara kultus mampu memaksakan norma-normanya dan gagasan-gagasannya terhadap anggotanya. atau penganut saja. meskipun baru dan inovatif. buruh. sekte biasanya tidak mempunyai "anggota" dengan kewajiban-kewajiban yang tegas."[8] [9] [sunting] Konsep sekte dalam konteks India . yang memisahkan diri dari partai massanya. sekte memiliki tingkat ketegangan yang tinggi dengan lingkungan sekitarnya [5]. Lebih jauh. sosial-demokrat. Menurut Wallis. atau setelah doktrin itu tidak lagi mempunyai relevansi yang jelas terhadap realitas yang berubah. Sosiolog Inggris Roy Wallis[7] menyatakan bahwa sekte dicirikan oleh "otoritarianisme epistemologis": sekte-sekte memiliki suatu locus yang berwibawa yang dapat mengabsahkan suatu ajaran sesat. dan karenanya juga memproduksi banyak sekte. Ia membedakan hal ini dengan kultus yang digambarkannya memiliki ciri khas "individualisme epistemologis". yang daripadanya mereka memisahkan diri" [4]. dan komunis yang berbasis massa. sosiolog Amerika Rodney Stark dan William Sims Bainbridge menegaskan bahwa "sekte-sekte mengklaim dirinya sebagai kelompok yang otentik dan bersih. [2] Salah seorang yang pertama mendefinisikannya adalah Max Weber dan Ernst Troeltsch (1931) [3] Dalam tipologi gereja-sekte mereka digambarkan sebagai kelompok-kelompok keagamaan yang baru terbentuk untuk memprotes unsur-unsur dari agama asalnya (biasanya suatu denominasi. melainkan hanya pengikut. simpatisan. Motivasinya cenderung terletak dalam tuduhan kemurtadan atau ajaran sesat dalam denominasi asalnya. namun keyakinan-keyakinannya berada dalam batas konteks masyarakat itu. berbeda dengan gereja. suatu kultus keagamaan atau politik juga mempunyai ketegangan yang tinggi dengan masyarakat sekitarnya. mereka menegaskan bahwa. Mereka seringkali memprotes kecenderungan-kecenderungan liberal dalam perkembangan denominasi dan menganjurkan umat untuk kembali ke agama yang sejati. "sekte mengklaim dirinya memiliki suatu akses yang unik dan isitimewa kepada kebenaran atau keselamatan dan "para pemeluk mereka yang teguh biasanya menganggap semua yang ada di luar batas-batas kolektivitasnya 'keliru'". di antaranya dapat disebut sebagai sekte dari induknya. Salah satu faktor utama yang tampaknya menghasilkan sekte politik adalah ketaatan yang ketat kepada suatu doktrin atau gagasan setelah waktunya telah lewat. sebagai versi dari iman yang telah diperbarui.Ada beberapa definisi dan deskripsi sosiologis untuk istilah ini. Sektarianisme kadang-kadang didefinisikan dalam sosiologi agama sebagai suatu pandangan dunia yang menekankan keabsahan unik dari kredo dan praktik-praktik orang percaya dan hal itu meningkatkan ketegangan dengan masyarakat yang lebih luas melalui tindakan mereka membangun praktik-praktik yang menegaskan batas pemisahnya. seringkali berasal-usul dari sekte-sekte utopis. Maksudnya ialah bahwa "kultus tidak mempunyai locus otoritas tertinggi yang jelas di luar anggotanya masing-masing. Partai-partai sosialis. pendukung. [6] Sebaliknya.

Sosiologi secara umum adalah ilmu pengetauan yang mempelajari masyarakat secara empiris untuk mencapai hokum kemasyarakatan yang seumum-umumnya. Demikian pula di beberapa negara Eropa di mana Protestanisme tidak pernah benar-benar populer. digunakan untuk merujuk kepada sekte keagamaan atau politik yang berbahaya. agama. atau "Sekte"." Dan menurut Michaels. prinsip sosiologi. TEMPAT. seorang Indolog. "Sekte-sekte India tidak memusatkan perhatian pada ajaran sesat. menulis dalam bukunya tentang Hinduisme bahwa dalam konteks India kata "sekte tidak menunjukkan adanya perpecahan atau komunitas yang terasingkan. karena tidak adanya pusat atau pusat yang menuntut membuat hal ini tidak mungkin. "secta". tak peduli berapa besar kelompok itu."[10] y Lihat pula Daftar sekte Hindu [sunting] Padanan kata ini dalam bahasa Perancis. [sunting] Lihat pula PENGERTIAN. Sosiologi juga dapat diartikan sebagai ilmu tentang perilaku social ditinjau dari kecenderungan . dan objek kajian sosiologi agama. Jerman. maka ada beberapa hal lain yang tidak lupa kami singgung dalam pembahasan ini. [sunting] Arti "sekte" di negara-negara yang memiliki tradisi Katolik yang kuat Di Amerika Latin. seringkali dengan konotasi negatif yang sama yang dimiliki kata 'kultus' dalam bahasa Inggris. dalam pengertian yang sama ketika orang di negara-negara berbahasa Inggris menggunakan kata kultus (cult). yang biasanya didirikan oleh si pendiri yang melakukan praktik-praktik asketik. di antaranya adalah mengenai pengertian sosiologi. Belanda. tampak di Rusia. Spanyol. Hal ini. Sebaliknya. Belarus dan Polandia.Axel Michaels. FUNGSI DAN ALIRANALIRAN SERTA METODE PENELITIAN DALAM SOSIOLOGI AGAMA Posted February 13. Leave a Comment Pengertian Sosiologi Agama Jika berbicara mengenai definisi sosiologi agama. dan Rumania Dalam bahasa-bahasa Eropa selain Inggris kata padanan untuk 'sekte'. Gereja-gereja Ortodoks (baik Yunani maupun Katolik) sering menggambarkan kelompok-kelompok Protestan (khususnya yang lebih kecil) sebagai sekte. Polandia. kata ini seringkali digunakna untuk merujuk kelompok keagamaan nonKatolik Roma manapun. "sekta". Ukraina. 2010 by Rofiah in Agama. melainkan lebih pada suatu tradisi yang terorganisir. fokusnya adalah pada para penganut dan pengikutnya. antara lain. seperti misalnya "secte".

Dengan kata lain. Kristen dengan Islam dan sebagainya. Konflik antar kelompok. Lebih konkrit lagi. ikut mengambil bagian dalam menciptakan jenis-jenis kebudayaan. maka sosiologi agama mempelajarinya dari sudut empiris sosiologis. Ada beberapa definisi sosiologi agama yang dapat kit ketahui. Roberts. Sampai seberapa jauh agama dan nilai keagamaan memainkan peranan dan berpengaruh atas eksistensi dan operasi masyarakat. Jika tugas dari sosiologi umum adalah untuk mencapai hokum kemasyarakatan yang seluasluasnya. pemeliharaannya dan pembaharuannya 2). demi kepentingan masyarakat agama itu sendiri dan masyarakat luas pada umumnya. fanatisme dan lain sebagainya. sasaran (objek) kajian sosiologi agama adalah memfokuskan kajian paada 1). dan itulah sasaran langsung dari sosiologi agama.Sosiologi agama aladah suatu cabang sosiologi umum yang mempelajari masyarakat agama secara sosiologis guna mencapai keterangan-keterangan ilmiah dan pasti. dan memandang agama sebagai fenomena social. Jika teologi mempelajar agama dan masyarakat agama dari segi ³supra-natural´. Prinsip sosiologi ditandai dengan 2 prinsip dasar. yaitu: percaya kepada data empiric dan objektivitas. seberapa jauh unsure kepercayaan mempengaruhi pembentukan kepribadian pemeluk-pemeluknya. yaitu yang disebut dengan istilah masyarakat agama. praktek penyembahan. Perilaku individu dalam kelompok-kelompok tersebut atau proses social yang mempengaruhi status keagamaan dan perilaku ritual 3). Sosiologi agama selalu berusaha untuk menemukan pinsip-prinsip umum mengenai hubungan agama dengan masyarakat. Bagi sosiolog.Sosiologi agama adalah ilmu yang membahas tentang hubungan antara berbagai kesatuan masyarakat. agama adalah suatu kepercayaan atau seperangkat nilai yang minmbulkan ketaatan pada seseorang atau kelompok tertentu kepada sesuatu yang mereka kagumi. kepercayaan hanyalah salah satu bagian kecil dari aspek agama yang menjadi perhatiannya. . misalnya Katolik lawan Protestan. perubahan social. dengan memperhatikan symbol-simbol interaksi. . di antaranya adalah: . terhadap tuhan atau dewa-dewa tertentu. Agama dalam arti sempit ialah seperangkat kepercayaan. yang akan dicari dalam fenomena agama itu adalah dimensi sosiologisnya. Menurut Keith A. kegiatan demi kelangsungan hidupnya. memainkan peranan dalam munculnya strata (lapisan) social. Kelompok-kelompok dan lemabaga keagamaan.individu dengan individu lain. dogma. cita-citakan dan hargai. misalnya. maka tugas dari sosiologi agama adalah untuk mencapai keterangan-keterangan ilmiah tentang masyarakat agama khususnya. tetapi agama sebagai fenomena social. diobservasi dan . Masyarakat agama tidak lain ialah suatu persekutuan hidup (baik dalam lingkup sempit maupun luas) yang unsure konstitutif utamanya adalah agama atau nilai-nilai keagamaan. amal ibadah. perbedaan atau masyarakat secara utuh dengan berbagai system agama. Sosiolog hanya berurusan dengan fakta-fakta yang dapat diukur. tingkat dan jenis spesialisasi berbagai peranan agama dalam berbagai masyarakat dan system keagamaan yang berbeda. sesungguhnya yang dimaksud bukanlah agama sebagai sutu system (dogma dan moral). Dalam arti luas. sebagai fakta social yang dapat dilaksanakan dan dialami oleh banyak orang. Ilmu ini hanya mengkonstatasi akibat empiris kebenaran-kebenaran supra-empiris. mewarnai dasar-dasar haluan Negara. yang meliputi pembentukannya.Sosiologi agama adalah studi tentang fenomena social. seberapa jauh agama ikut mempengaruhi proses social. pereturan etika. Bila dikatakan bahwa yang menjadi sasaran sosiologi agama adalah masyarakat agama. Sosiologi agama menjadi disiplin ilmu tersendiri sejak munculnya karya Weber dan Durkheim.

yaitu: . baik orangnya suci maupun tidak suci. tetapi harus berusaha untuk mengerti kelompok itu atas dasar penelitiannya menghindarkan bias dalam interpretasi proses-proses kelompok itu. Ia diciptakan untuk memecahkan masalah-masalah sosio-religius yang timbul waktu itu di Eropa akibat kurangnya pengetahuan tentang segi-segi sosiologis kehidupan beragama. Karena maksud ilmu tersebut bukanlah untuk membuktikan kebenaran (objektivitas) ajaran agama. jika seorang sosiolog agama akan melakukan suatu analisis tentang sosiologi terhadap agama. Sistem budaya Tempat Sosiologi Agama Tempat sosiologi agama sudah diterangkan dalam definisi sosiologi agama itu sendiri. dengan bantuan sosiologi agama. Berdasarkan keterangan di atas.diuji. Sebagai warga Negara sosiolog mempunyai kepentingan dan preferensi nasional namun mereka harus terbuka terhadap data dan menghindarkan diri dari prejudgment (mengambil keputusan sebelum membuktikan kebenarannya) terhadap suatu kelompok atau proses keagamaan tertentu. sosiologi agama merupakan ilmu yang menduduki tempat yang profan. tradisi dan keyakinan yang dianut oleh masyarakat lain serta memahami perbedaan yang ada. maka ia harus memahami: 1. Talcott Parsons berpendapat. bukan berarti bahwa sosiolog mengklaim bahwa tidak bias salah. membantu kita untuk mengontrol atau mengendalikan setiap tindakan dan perilaku keberagamaan kita dalam kehidupan bermasyarakat. kritis dan rasional untuk mengahadapi gejala-gejala social keberagamaan masyarakat. Sistm kepribadian individu 3. kita akan semakin memahami nilai-nilai. Seorang sosiolog boleh tidak setuju dengan pandangan suatu kelompok yang sedang diteliti.dan ilmu ini lebih merupakan ilmu praktis (terpakai) daripada ilmu teoritis murni. Ilmuan social harus sepenuh hati untuk mencari kebenaran. Djamari berpendapat bahwa ada 2 implikasi sosiologi agama bagi agama. demikian juga sosiologi agama bermaksud membantu para pemimpin agama dalam mengatasi masalah-masalah sosio-religius yang tidak kalah beratnya dengan masalah-masalah social nonkeagamaan. Menurut pandangan Durkheim. Tanpa hal itu. mejadi alas an untuk timbulnya konflik di antara umat beragama. sebab tidak ada satu disiplin ilmu pun yang berhak menyatakan dirinya maha tahu atau paling benar. Sistem social kelompok 4. atau bias mencapai kebenaran umum. fungsi sosiologi agama adalah mendukung dan melestraikan masyarakat yang sudah ada. memberikan pengetahuan tentang pola-pola interkasi social keberagamaan yang terjadi dalam masyarakat. serta kita dapat mengambil tindakan yang tepat dan akurat terhadap setiap situasi social yang kita hadapi. Maka. Dalam prinsip objektivitas. norma. System fisiologis organisme 2. Ia merupakan cabang dan juga vertical dari sosiologi umum. Ia bukanlah ilmu yang sacral. ilmu yang dilakukan dan dibina oleh sarjana ilmu social. Objektivitas berarti sosiolog berusaha mencegah kepercayaan agama pribadi masuk ke dalam bidang studinya. membuat kita lebih tanggap. Sebagai sosiologi positif ia telah membuktikan daya gunanya dalam hal mengatasi kesulitan-kesulitan yang muncul dalam masyarakat serta menunjukkan cara-cara ilmiah untuk perbaikan dan pengembangan masyarakat. Fungsi Sosiologi Agama Sosiologi agama memberikan kontribusi yang tidak kecil lagi bagi instansi keagamaan. maka dapat dikatakan bahwa sosiologi agama mempunyai kedudukan yang sama tingginya dengan rumpun ilmu social yang lain. melainkan untuk mencari keterangan teknis ilmiah mengenai hal ikhwal masyarakat agama.

serta Simmel berpendapat bahwa untuk mengerti masyarakat modern. Pendekatan yang didasarkan atas sejarah personal. Pendekatan ini telah membimbing ke arah pengembangan teori tentang evolusi agama dan perkembangan tipologi kelompok-kelompok keagamaan. teknologi. Pendekatan tersebut didasarkan kepada personal historis dan perkembangan kebudayaan umat manusia. kita harus mngetahui sejarah masa silam. Metode Penelitian Dalam Sosiologi Agama Sebagaimana penelaahan proses social lainnya. b. Suatu kritik sosiologis tentang peran agama dalam mayarakat dapat membantu kita untuk menentukan masalah teologi yang mana yang paling berguna bagi masyarakat. sosiologi agama memberikan sumbangan kepada dialog kegamaan di dalam masyarakat. analisis komparatif lintas budaya. Beberapa sosiolog menggunakan data historis untuk mencari pola-pola interaksi antara agama dan masyarakat. Analisis hisoris telah digunakan oleh Talcott Parson dan Bellah dalam rangka menjelaskan evolusi agama. Dengan cara ini. kita perlu melihat sejarah kejadian dan perkembangan eksistensinya dimulai dari bentuk yang sederhana hingga bentuk yang lebih kompleks yang tampak sekarang. Max Weber ketika menerangkan tentang sumbangan teologi Protestan dalam melahirkan kapitalisme dan sebagainya. apakah itu masalah kepercayaan. a. Talmon menggunakan data lintas budaya untuk menelaah pola-pola di antara gerakan millenarian. maupun pada tingkat individu. Analisis Sejarah Objek studi sosiologi adalah menerangkan realitas masa kini. moral. Untuk mengerti persoalan yang dihadapi manusia saat ini. seperti Karl Marx. Durkheim. seseorang harus mengerti peran penting agama dalam masyarakat. 2. setiap kita harus menjelaskan fakta manusiawi yang berhubungan dengan sesuatu waktu. observasi. Analisis Lintas Budaya Dengan membandingkan pola-pola sosioreligius di beberapa daerah kebudayaan. Berger dalam uraian tentang memudarnya agama dalam masyarakat modern. yang berhubungan erat dengan kehidupan manusia dan yang mempengaruhi gagasan serta perilaku manusia.1. sosiolog dapat memperoleh gambaran mengenai korelasi unsure budaya tertentu atau kondisi sosiokultural secara umum. hokum. Pengumpulan data dan metode yang digunakan antara lain dengan data sejarah. system ekonomi. eksperimen yang terkontrol. Weber. Sejarah dalam hal ini hanya sebagai metode analisis atas dasar pemikiran bahwa sejarah dapat menyajikan gambaran tentang unsur-unsur yang mendukung timbulnya suatu lembaga. Karna itu. berusaha menelusuri awal perkemabangan tokoh keagamaan secara individual. survai samlpling dan content analisis. kajian sosiologi agama menggunakan metode ilmiah. baik dalam arti sekuler maupun religious. Semua pelopor sosiologi Eropa. Menambah pengertian tentang hakikat fenomena agama di beragai kelompok masyarakat. yaitu gerakan keagamaan yang menganggap akan adanya era baru di masa yang . Pendekatan sejarah bertujuan untuk menemukan inti karakter agama dengan menelusuri sumber di masa lampau sebelim tercampuri tradisi lain. untuk menemukan sumber-sumber dan jejak perkembangan perilaku keagamaan sebagai hasil dialog dengan dunia sekitarnya. Meskipun terkadang metode ini tidak selalu dapat menjawab persoalan yang dihadapi karena agama tidak sama nilai maupun kepentingannya untuk setiap tempat dan waktu.

Mungkin data terbatas pada kemampuan observer dan apa yang dianggap benar dalam suatu kasus. di dalam beberapa hal masih dapat dilalukan. Kelemahan dari metode ini antara lain adalah: 1. Misalnya. indivudu tidak dilihat reponnya yang lahir. Interaksi simbolik maksudnya adalah suatu perspektif teoritik sosiologi dan psikologi social. Responden misalnya ditanya tentang: 1. Tipe-tipe anggota yang menjadi objek dalam interaksi simbolik itu digunakan sebagai dasar analisis. terutama mengenai perilaku atau karakteristik yag sifatnya pribadi. Tidak semua observer tertarik pada pola yang sama. belum tentu benar pada kasus lain. terikat oleh sesuau aspek tertentu yang menjadi perhatian peneliti. Observasi peran serta berguna jika peneliti berpendapat bahwa ada kesenjangan antara apa yang dikatan dengan perilaku orang-orang yang sedang diteliti. 2. Studi kasus member peluang bagi peneliti untuk mengumpulkan data secara mendalam. Sering makna simbolik dan tata laku dielajari sejak dini secara menyeluruh dengan jalan individu berperan serta di dalam kelompok. Hal itu dapat dilakukan dengan terus terang. juga sulit dalam mendapatkan ketepatan yang disyaratkan oleh para saintis. Namun.akan dating setelah jatuhnya penguasa yang lama. responden menyatakan bahwa ia sangat komitmen dengan ajaran ortodoksi agama. tetapi sering kurang meluas. Observasi peranserta memberikan kesempatan untuk mendapatkan data secara otentik. Observasi Partisipatif Dengan partisipasi dalam kelompok. Data yang dilaporkan sering terikat oleh system penyaringan peneliti sendiri. 4. Eksperimen Metode eksperimen sulit dilaksanakan dalam bidang sosiologi agama. Dengan perspektif ini. c. observasi seperti ini sering dihubungkan dengan metode riset kualitatif. 2. Keuntungan dari metode observasi partisipatif adalah: 1. yang mungkin tidak tercakup oleh kuesioner maupun interview singkat. Sampel dan populasi bias berupa oganisasi keagamaan atau penduduk sustu kota atau desa. jarak antara orang yang sedang bicara dan gerak merupakan contoh fenomena yang sering secara simbolik sangat signifikan dalam rangka memperoleh pengertian suatu kebudayaan. misalnya untuk mengeevaluasi hasil pebedaan belajar dari beberapa model pendidikan agama. Riset Survei dan Analisis Statistik Peneliti menyusun kuesioner. Salah satu kesulitan pelaksanaan analisis sosiologi agama melalui analisis lintas budaya yaitu sangat bervariasinya konsep agama pada daerah kebudayaan yang berlainan. peneliti dapat mengobservasi perilaku orang-orang dalam konteks religious. artinya orang yang dobservasi itu boleh mengetahui bahwa mereka sedang dipelajari. Frekuensi kehadiran ditempat-tempat peribadatan. 3. . Pakainan. Karena itu. Afiliasi keagamaannya. namun perilakunya sehari-hari tidak relevan. d. namun dipahami makna dari perilaku itu. Apa yang dipilih dan dicatat oleh observer mungkin tidak lengkap. 2. perlu dipertanyakan. Diperlukan sejumlah besar kasus untuk menggenaralisasikan pola yang diidentifikasikan. Memungkinkan pengamatan interaksi simbolik antara anggota kelompok secara mendalam. melakukan interview dengan sampel dari sustu populasi. Dengan observasi peran serta dapat terungkap kualitas perilaku yang lebih dalam. e. pandangan mata. 3.

tentang akan kembalinya nabi Isa (yesus) dan indicator religiousitas lainnya. Tentang eivil religion (sejenis agama bangsa) dipelajari melalui analisis isi referensi relegius.3. Apa yang dikatakan orang dikatakan orang tidak selaras dengan perilakunya. Analisis statistic tentang korelasi karakteristik keagamaan dengan atribut social belum tentu menunjukkan factor penyebab dari atribut tersebut. Frekuensi menghadiri acara kegerejaan atau pengajian dengan tradisionalisme peran wanita dan pria. 2. 4. 4. Data tidak menunjukkan proses yang dilalui oleh sesuatu subyek hanya bersifat statis atau non hirostik. Fundamentalisme dengan anti semitisme 2. atau lagu qasidahan yang dilantunkan oleh senimannya. 3. deklarasi teks dan lain-lain. namun salah satu kesulitannyaadalah asumsinya bahwa asumsi tertulis dianggap sebagai gambaran tepat dari pandangan rakyat. hanya menfokuskan pada laporan pengalaman keagamaan. maka data survey untuk mengidentifikasi sesuatu lebih cermat dari korelasi religious dengan sikap dan karakteristik social tertentu. diartikan´kurang religious atau kurang orthodox seseorang responden. 2. Adapun kesukarannya antara lain adalah: 1. Afiliasi denominasi atau organisasi keagamaan tertentu dengan mobilitas social dan tingkat pendapatan. baik berpa tulisan. 5. misalnya dalam Declaration of Independence. Analisis Isi Peneliti mencoba mencari keterangan dari teman-tenman religious. Pertanyaan-pertanyaan sering tidak memberikan peluang kepada orang untuk mengemukakan modes alternatif religiuisitas yang lainnya. 5. eksistensi tuhan. Pengetahuan tentang ajaran agama atau doktrin yang dikembangkan oleh sesuatu organisasi keagamaan. Sikap suatu kelompok keagamaan dapat dianalisisdari isi khotbah yang diterbitkan oleh kelompok tersebut. Keterlibatan religious seorang Amerika misalnya. yang berarti interpretasi makna suatu event kadang-kadang hilang. Prosedur ini sangat berguna untuk memperlihatkan korelasi dari karakteristik keagamaan tertentu dengan sesuatu sikap social. Misalnya: 1. pidato pengukuhan presiden dan statement lain yang erat hubungannya dengan tujuan bangsa sesuatu Negara. Frekuensi keteraturan sembahyangnya. 3. atau atribut religious tertentu. f. Kalau metode historis dan observasi memberi peluang kepada interpretasi data subjektif. bukubuku khotbah. doktrin. 3. Content analisis bermanfaat. Informasi yang dikumpulkan melalui daftar pertanyaan ³lebih lunak´ dari pada hakikat informasi yang sebenarnya. Kadang-kadang peneliti beranggapan jawaban yang negative terhadap sesuatu pertanyaan. Padahal pidato pengukuhan . 4. Dengan kata lain. Kepercayaan kepada sesuatu konsep keagamaan tertentu seperti tentang hidup setelah mati. tidak menunjukkan fase-fase perkembangan sebab akibat. Misalnya korelasi antara: 1. 7. 6. dianalisis dari buku-buku agama popular yang terbit di Negara tersebut. Informasi survey tidak melibatkan kepada studi yang langsung mengenai pengalaman keagamaan itu sendiri. riset survey memberikan kesempatan kepada peneliti untuk mengendalikan variable dan identifikasi korelasi. Pandangan hidup dari organisasi atau aliran agama dapat diidentifikasi dari tema atau isi lagu-lagu yang biasa dinyanyikan di gereja.

tetapi kepadanya diserahkan sepenuhnya untuk menentukan sendiri bagaimana ia akan menggunakan informasi itu. kesimpulan yang sifatnya netral tanpa diwarnai pertimbangan teologis atau filosofis. Adapun perbedaan aliran dalam sosiologi agama dengan cirri-ciri tersendiri disebabkan oleh: 1. Karena konflik social dianggapnya sebagai kekuatan social utama dari perkembangan masyarakat yang ingin maju kepada tahap-tahap yang lebih sempurna. Gagasan ini dicetuskan oleh Hegel. mengenai kualitas pemimpinnya dan reaksi (baik positif maupun negative) dari naggota-anggota lemaganya. 2. akan mendapat jawaban panjang tentang sejarah dari masyarakat agama yang bersangkutan dan akan ditunjukkan kekuatan-kekuatan (social) yang mendorong berdirinya unsure-unsur budaya yang menopang kelangsungan hidup.presiden misalnya. Sebagai sarana mutlak (yang diberikan oleh alam sendiri) untuk memajukan masyarakat manusia. Masyarakat yang hidup dalam keseimbangan (equilibrium) dianggap sebagai masyarakat yang tertidur dan berhenti dalam peruses kemajuannya. A.5 ALIRAN-ALIRAN DALAM SOSIOLOGI AGAMA Sosiologi agama bukan merupakan satu kesatuan yang seragam. Karl Marx dan Weber. Aliran Positivisme Aliran ini mengikuti sosiologi yang empiris-positivistis dan menyetarakan masyarakat agama dengan benda-benda alamiah. Instansi pemerintah atau keagamaan yang berkonsultasi dengan pendukung aliran ini untuk mengadakan penelitian mengenai lembaganya atau organisasinya. Perbedaan visi atas realitias masyarakat. Bagi mereka kedudukan sosiologi agama sangat dekat dengan sejarah dan filsafat dan merupakan suatu refleksi dan analisis sistematis terhadap masyarakat. C. Sangat lakunya buku-buku agama belum tentu menggambarkan tingkat religiusitas penduduk. 2. dilepas dari konteks sejarah perkembangan yang dialami masyarakat itu dalam waktu yang lampau. B. yaitu hasil yang seobjektif mungkin. Instansi pemerintah dan kalangan agama yang berkonsultasi dengan pendukung aliran ini. lantas mempersilakan instansi yang bersangkutan untuk mengadakan perubahan yang sesuai. kebudayaan dan agama. digunakan pula metode dan pendekatan yang berbeda. khususnya mengenai kekuatan tertentu yang dianggap memerankan peranan dominan atas kehidupan masyarakat. masyarakat yang baik ialah masyarakat yang hidup dalam situasi konfliktual. Tujuan aliran ini adalah hendak mengungkap pola-pola social dasar dan peranannya dalam mencipatakan masyarakat. Akibat dari perbedaan visi tesebut. Aliran Klasik Aliran ini muncul pada pertengahan abad ke-19 dan belahan pertama dari abad ke-20 yang ditopang oleh sejumlah sarjana (kecuali Durkheinm dan Weber). akan mendapat keterangan banyak tentang struktur organisasinya. Instansi yang berkonsultasi akan diyakinkan mengenai pentingnya keterangan (ilmiah) itu. disbanding dengan tuntutan-tuntutan modern dalam situasi yang sudah berubah. belum tentu mencerminkan sikap dan nilai yang demiliki dan disetujui oleh suatu penduduk suatu Negara tertentu. Aliran Teori Konflik (Teori Kritis) Menurut ahli teori ini. Cara penganalisisan demikian itu dipegang ketat dan konsekuen demi tercapainya hasil yang diinginkan. Dengan kata lain. Ia menyibukkan diri dengan kuantifikasi dari dimensi masyarakat yang kualitatif dengan metode pengukuran yang eksak dan menarik kesimpulan yang dibuktikan dengan fakta-fakta. karena dianggap kurang menyadari atau membiarkan adanya kekurangan dan ketidakadilan yang dibungkam oleh struktur kekuasaan . Aliran ini tidak sepakat dengan para ahli aliran fungsionalisme yang melihat keseimbangan soosial masyarakat sebagai bentuk hidup yang ideal.

Apabilapendukung aliran ini diminta untuk melakukan sebuah penelitian terhadap suatu masyarakat agama. Penelitian yang dilakukan sebegaian besar bertujuan untuk mendapatkan keterangan-keterangan tentang apakah tugas-tugas yang dilaksanakan oleh pimpinan adan anggotanya berjalan dengan baik. D. Dan hal yang tidak boleh dilupakan dalam analisisnya adalah usaha menempatkan situasi yang dhadapi dalam kurun sejarah perkembangan yang telah dilewati yang tidak dapat dilepaskan dari masalah baru yang hendak dicari pemecahannya. Jika salah satu instansi pemerintah dan keagamaan berkonsultasi dengan pendukung aliran ini. Airan Fungsionalisme Para pendukung aliran ini bertolak belakang dari pendirian dasar bahwa masyarakat itu suatu system perimbangan. Sosiologi Agama Durkheim oleh Mohamad Zaki Hussein Indeks Islam | Indeks Artikel ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota . Bagian mana dari lembaga tersebut yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Aliran ini menerima prinsip kerja yang memperkecil penelitiannya pada suatu problem mikro. Bagian mana dari lembaga tersebut yang berfungsi baik 2). karena dianggap sebagai suatu hal yang mengasingkan orang dari masyarakat. Aliran ini tidak dapat memusatkan perhatiannya pada problem mikro saja. yang tidak berjalan baik.yang bertahan. Aliran sosiologi ini mempunyai persamaan dengan aliran sosiologi kalsik yang selalu tertarik pada problem-problem makro. karena pengkajian masalah yang kecil akan mengundang persoalan yang lebih besar. timbulnya suatu bentrokan dalam organisasi dipandang berfungasi korektif untuk membenahi kesalahan-kesalahan yang telah terjadi. dan yang berhasil digali dari keasadaran kelompok-kelompok yang saling bertentangan. sehingga system sosialnya untuk sebagian besar terdiri dari kaidah-kaidah yang dibentuk oleh agama. di mana setiap kelompok memberikan sumbangannya yang khas melalui peranannya masing-masing yang telah ditentukan demi lestarinya suatu masyarakat. maka mereka akan mendapat seperangkat penjelasan tentang unsure-unsur pertentangan yang ada dalam tubuh organisasinya. dan mempunyai kewajiban moril untuk menyadari sifat saling ketergantungannya. dan masalah-masalah mikro hanya diperhatikan sejauh itu dapat memberikan keterangan bagi pemecahan masalah yang besar. lalu diberikan solusi yang dipandang tepat untuk mengatasi masalahmasalah yang dihadapi. Penelitian yang dilakukan oleh aliran fungsionalisme telah melahirkan kesimpulankesimpulanyang sangat berguna bagi instansi-instansi keagamaan/ pemerintah. baik masyarakat religious maupun masyarakat profan.Teori ini melihat agama sebagai suatu bentuk kebudayaan yang istimewa. yang dianggap berguna sebagai sampel untuk mengetahui kedaan keseluruhannya sebagai system keseimbangan. keduanya mengembang fungsi bagi umat manusia. baik lahiriyah maupun bathiniyah. Aliran ini juga tidak menyetujui metode kuantitatif dari aliran positivism. maka ada 2 hal pokok yang menjadi perhatian utamanya: 1). Menurut mereka. Menurut aliran ini. yang pengaruhnya meresapi tingkah laku manusia penganutnya.

Dengen demikian. serta . yang melibatkan dua ciri tadi. yaitu totem. yang memaksakan pemisahan radikal dari yang duniawi. dan hal ini akan dibahas nanti. sehingga setiap upaya untuk menghilangkan sifat "kudus" dari moralitas akan menjurus kepada penolakan dari setiap bentuk moral. tetap terdapat pada moralitas rasional. melainkan sosiologis. yaitu kekudusan. yang berwujud dalam bentuk pantangan-pantangan atau larangan-larangan dalam suatu upacara keagamaan. Sifat kudus itu dapat diartikan bahwa sesuatu yang "kudus" itu "dikelilingi oleh ketentuan-ketentuan tata cara keagamaan dan laranganlarangan. Praktek ritual ini ditentukan oleh suatu bentuk lembaga yang pasti. Di sini dapat kita lihat bahwa sesuatu itu disebut agama bukan dilihat dari substansi isinya tetapi dari bentuknya." Sifat kudus ini dibayangkan sebagai suatu kesatuan yang berada di atas segala-galanya. B. tetapi agama tidak dapat melepaskan kedua unsur di atas. Ada dua jenis praktek ritual yang terjalin dengan sangat erat yaitu pertama. lambang totem dan para anggota suku itu sendiri. Durkheim menyambungkan lahirnya pengkudusan ini dengan perkembangan masyarakat. praktek ritual yang negatif. Pada totemisme Australia. kekuatan kudus itu jelas terlihat berbeda dari obyek-obyek totemnya. Kita juga akan melihat nanti bahwa menurut Durkheim agama selalu memiliki hubungan dengan masyarakatnya. Definisi Agama Menurut Durkheim Definisi agama menurut Durkheim adalah suatu "sistem kepercayaan dan praktek yang telah dipersatukan yang berkaitan dengan hal-hal yang kudusÉ kepercayaan-kepercayaan dan praktekpraktek yang bersatu menjadi suatu komunitas moral yang tunggal. Karena itu semua benda di dalam totemisme Australia memiliki sifat yang kudus. karena ia akan menjadi bukan agama lagi. suatu agama itu juga selalu melibatkan ritual tertentu. Agama tidak harus melibatkan adanya konsep mengenai suatu mahluk supranatural. dan memiliki sifat yang historis. Dunia modern dengan moralitas rasionalnya juga tidak menghilangkan sifat kudus daripada moralitasnya sendiri. Ritual Agama Selain daripada melibatkan sifat "kudus". "kekudusan"-pun merupakan prasyarat bagi suatu aturan moral untuk dapat hidup di masyarakat. Ciri khas yang sama. ada tiga obyek yang dianggap kudus. yang menjadi syarat sesuatu dapat disebut agama. sehingga memiliki tempat tertentu di dalam organisasi masyarakat. yaitu "sifat kudus" dari agama dan "praktek-praktek ritual" dari agama. dan disebut sebagai mana. Sebuah aturan moral hanya bisa hidup apabila ia memiliki sifa "kudus" seperti di atas. benda-benda yang berada di dalam alam semesta dianggap sebagai bagian dari kelompok totem tertentu." Dari definisi ini ada dua unsur yang penting.A. ketika salah satu unsur tersebut terlepas. C. Ini terlihat dari rasa hormat dan perasaan tidak bisa diganggu-gugat yang diberikan oleh masyarakat kepada moralitas rasional tersebut. Tetapi di Amerika Utara dan Melanesia. Sifat Kudus Dari Agama Sifat kudus yang dimaksud Durkheim dalam kaitannya dengan pembahasan agama bukanlah dalam artian yang teologis. Ini menunjukkan bahwa "kekudusan" suatu obyek itu tidak tergantung dari sifat-sifat obyek itu an sich tetapi tergantung dari pemberian sifat "kudus" itu oleh masyarakatnya. Pada totemisme Australia ini tidak ada pemisahan yang jelas antara obyek-obyek totem dengan kekuatan kudusnya. Di dalam totemisme.

"burung kakatua". . Praktek-praktek ritual yang negatif itu memiliki fungsi untuk tetap membatasi antara yang kudus dan yang duniawi. Tetapi ide mengenai "klasifikasi" itu sendiri tidak merupakan hasil dari pengamatan panca-indera secara langsung. individu dibawa ke suatu alam yang baginya nampak berbeda dengan dunia sehari-hari. dilahirkan dari keadaan kolektif yang bergejolak. Praktek ini menjamin agar kedua dunia. Hal yang sama juga terjadi pada konsep "kudus"." Tetapi hal itu mencerminkan bahwa agama adalah merupakan implikasi dari perkembangan masyarakat. Konsep "kudus" seperti yang sudah dibicarakan di atas tidak muncul karena sifat-sifat dari obyek yang dikuduskan itu. yang berwujud dalam bentuk upacara-upacara keagamaan itu sendiri dan merupakan intinya.. Dengan demikian. Menurut Durkheim totemisme mengimplikasikan adanya pengklasifikasian terhadap alam yang bersifat hierarkis. atau dengan kata lain sifat-sifat daripada obyek tersebut tidak mungkin bisa menimbulkan perasaan kekeramatan masyarakat terhadap obyek itu sendiri. yang adalah upacara keagamaan itu sendiri. maka Durkheim berpendapat bahwa sebenarnya totem itu. Menurut Durkheim ide tentang "klasifikasi yang hierarkis" muncul sebagai akibat dari adanya pembagian masyarakat menjadi suku-suku dan kelompok-kelompok analog. sehingga berfungsi untuk memperbaharui tanggung-jawab seseorang terhadap ideal-ideal keagamaan. Upacara-upacara keagamaan. di mana totem pada saat yang sama merupakan lambang dari Tuhan dan masyarakat. Di dalam totemisme juga. Contoh dari praktek negatif ini misalnya adalah dihentikannya semua pekerjaan ketika sedang berlangsung upacara keagamaan.praktek ritual yang positif. Adapun praktek-praktek ritual yang positif. Di dalam hal ini agama menurut Durkheim adalah sebuah fakta sosial yang penjelasannya memang harus diterangkan oleh fakta-fakta sosial lainnya. beserta pemisahannya dengan dunia sehari-hari. Obyek dari klasifikasi seperti "matahari". Orang yang taat terhadap praktek negatif ini berarti telah menyucikan dan mempersiapkan dirinya untuk masuk ke dalam lingkungan yang kudus. Hal ini misalnya ditunjukkan oleh penjelasan Durkheim yang menyatakan bahwa konsep-konsep dan kategorisasi hierarkis terhadap konsep-konsep itu merupakan produk sosial. begitu pula dengan pemasukkan suatu obyek ke dalam bagian klasifikasi tertentu. menurut Durkheim dari pengatamannya terhadap totemisme. dll. memiliki suatu fungsi untuk tetap mereproduksi kesadaran ini dalam masyarakat. yang merupakan obyek kudus. dan pemisahan ini justru adalah dasar dari eksistensi "kekudusan" itu. D. melambangkan kelebihan daripada masyarakat dibandingkan dengan individu-individu. Di sini perlu diketahui bahwa itu tidak mengimplikasikan pengertian bahwa "agama menciptakan masyarakat. tetapi dapat kita lihat bahwa kesadaran akan yang kudus itu. Hubungan Antara Agama Dengan Kondisi Masyarakat Di atas tadi sudah dijelaskan bahwa agama dan masyarakat memiliki hubungan yang erat. itu memang timbul secara langsung dari pengamatan panca-indera. dengan demikian. Di dalam suatu upacara. yaitu yang "kudus" dengan yang "profan" tidak saling mengganggu. berupaya menyatukan diri dengan keimanan secara lebih khusyu. walaupun di dalam buku Giddens tidak dijelaskan penjelasan Durkheim secara rinci mengenai asal-usul sosial dari konsep "kekudusan'.

di mana diikuti perubahan dari "agama" ke moralitas rasional individual. yang terwujud dalam pengumpulan orang dalam upacara keagamaan. yang dengan begitu turut serta di dalam memainkan fungsi penguatan solidaritas. yang menekankan "kultus individu" tidak muncul dari egoisme. seperti yang juga telah disebutkan di atas. Seperti misalnya konsep kekuatan kekudusan pada totem itu jugalah yang di kemudian hari berkembang menjadi konsep dewa-dewa. Dengan demikian. tetapi ia tidak mengikutsertakan suatu bentuk anarki. Walaupun begitu. Di sini perlu ditekankan bahwa moralitas individual tidak sama dengan egoisme. yang memiliki ciri-ciri dan memainkan peran yang sama seperti agama. yang pada hakekatnya adalah juga mahluk sosial. menunjukkan perbedaan antara moralitas individual dengan egoisme. Agama juga memiliki sifatnya yang historis. Demikian pula Revolusi Perancis telah mendorong tumbuhnya moralitas individual itu. dan agama nampak memainkan peran ini. otoritas moral dan kebebasan individual sebenarnya bukanlah dua hal yang saling berkontradiksi. Seseorang. karena moralitas itu hanya bisa hidup apabila orang memberikan rasa hormat kepadanya dan menganggap bahwa hal itu tidak bisa diganggu-gugat. dsb. Moralitas individual itu memiliki sifat kudus. di atas mana solidaritas mekanis itu bergantung. Moralitas individual. Contoh konkrit dari hal ini adalah dalam bidang ilmu pengetahuan. menekankan lagi kepercayaan mereka atas orde moral yang ada. seperti rasa hormat terhadap pendapat-pendapat orang lain dan publikasi hasil-hasil penelitian serta tukar menukar informasi. Ini terlihat dalam transisi dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern. yang tidak memungkinkan bentuk solidaritas apapun. Menurut Durkheim totemisme adalah agama yang paling tua yang di kemudian hari menjadi sumber dari bentuk-bentuk agama lainnya. Dan ini merupakan suatu bentuk "kekudusan" yang dinisbahkan oleh masyarakat kepada moralitas individual tersebut. Ilmu pengetahuan menekankan penelitian bebas yang merupakan salah satu bagian dari moralitas individual. suatu penelitian ilmiah dengan kebebasan penelitiannya justru hanya bisa berlangsung dalam kerangka peraturan-peraturan moral. sehingga pantas untuk ditaati (sifat kudus dari moralitas individual). Masyarakat menjadi "masyarakat" karena fakta bahwa para anggotanya taat kepada kepercayaan dan pendapat bersama. Kemudian perubahan-perubahan sosial di masyarakat juga dapat merubah bentuk-bentuk gagasan di dalam sistem-sistem kepercayaan.seperti yang telah disebutkan di atas melibatkan adanya perubahan otoritas moral dari agama ke moralitas individual yang rasional. moralitas individual itu. Adanya anggapan bahwa moralitas individual itu berada di atas individu itu sendiri.Hubungan antara agama dengan masyarakat juga terlihat di dalam masalah ritual. hanya bisa . Moralitas Individual Modern Transisi dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern --yang melibatkan pembagian kerja yang semakin kompleks-. menyimpan satu ciri khas dari agama yaitu "kekudusan". Ritual. dan praktek ritual secara terus menerus menekankan ketaatan manusia terhadap agama. E. Di sini agama nampak sebagai alat integrasi masyarakat. Kesatuan masyarakat pada masyarakat tradisional itu sangat tergantung kepada conscience collective (hati nurani kolektif). Durkheim menyebutkan bahwa sumber dari moralitas individual yang modern ini adalah agama Protestan.

Di dalam hal ini. yang berarti juga mengimplikasikan subordinasi dirinya oleh otoritas moral. melalui pengambilan keuntungan dari masyarakatnya. melalui perlindungan masyarakat. sehingga peraturan moral adalah syarat bagi adanya suatu kehidupan sosial. melalui bentuk otoritas moral yang sesuai dengan individualisme itu sendiri. Menurut Durkheim. Bagaimanakah dengan sisi egoistis manusia yang tidak bisa dilepaskan dari diri manusia yang diakui oleh Durkheim sendiri? Setiap manusia memang memulai kehidupannya dengan dikuasai oleh kebutuhan akan rasa yang memiliki kecenderungan egoistis. . tidak ada masyarakat yang bisa hidup tanpa aturan yang tetap.mendapatkan kebebasannya melalui masyarakat. yaitu moralitas individual. disiplin atau penguasaan gerak hati. yang dihasilkan oleh masyarakat. melalui keanggotaannya dalam masyarakat. sebagai hasil perkembangan sosial. merupakan komponen yang penting di dalam semua peraturan moral. pada tingkat tertentu merangsang keinginan-keinginan egoistis tertentu dan juga merangsang anomi. melainkan adalah keinginan-keinginan egoistis yang merupakan produk sosial. Individualisme masyarakat modern. Dari sini dapat dikatakan bahwa moralitas individual yang rasional itu dapat dijadikan sebagai otoritas pengganti agama pada masyarakat modern. Tetapi egoisme yang menjadi permasalahan kebanyakan adalah bukan egoisme jenis ini. Hal ini dapat diselesaikan dengan konsolidasi moral dari pembagian kerja.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->