P. 1
MAKALAH Agama Islam (Etika)

MAKALAH Agama Islam (Etika)

|Views: 3,369|Likes:

More info:

Published by: Winda Listya Ningrum on Mar 20, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/26/2013

pdf

text

original

1

MAKALAH
Agama Islam
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah

”Etika, Moral, dan Akhlak”

















Di Susun Oleh:

Winda Listya Ningrum J2A009007
Ana Rahmawati J2A009008
Ririn Sulpiani J2A009009
Florenta J2A009010
Devi Anastasia Shinta J2A009012
Ndaru Atmi Purnami J2A009013





JURUSAN MATEMATIKA
FAKUTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2010
2


KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya
kepada kami, sehingga kami dapat menyusun dan menyelesaikan Makalah AGAMA ISLAM
yang berjudul “Etika, Moral dan Akhlak” ini. Sholawat dan salam tetap tercurahkan kepada
Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa kebenaran.
Di dalam makalah ini kami mengangkat tema tentang Etika, Moral dan Akhlak yang
sering kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagaimana kita ketahui Etika, Moral dan
Akhlak sangat berperan dalam kehidupan kita karena Etika, Moral dan Akhlak mencerminkan
kepribadian diri dari seseorang. Hal tersebut juga dijelaskan dalam ajaran agama Islam yaitu
yang terkandung dalam Al-Qur‟an dan Hadist.
Tidak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Suparno, S.Ag selaku
Dosen Pengampu mata kuliah Agama Islam dan teman-teman Matematika Angkatan 2009
dalam menyusun makalah ini.
Kami menyadari bahwa makalah ini tidak lepas dari kekeliruan. Oleh karena itu kami
sangat mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca. Dengan segala kerendahan hati,
semoga makalah yang kami buat ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca.





Semarang, April 2010




Penulis
3


DAFTAR ISI

Kata Pengantar ………………………………………………………… 2
Daftar Isi …………………………………………………………. 3

BAB I Pendahuluan
A. Latar Belakang ………………………………………………………… 4
B. Tujuan …………………………………………………………. 4
C. Pengantar ke Materi ………………………………………………………… 4
D. Rumusan Masalah …………………………………………………………. 5

BAB II Pembahasan …………………………………………………………. 6

BAB III Penutup ……………………………………………………….. 16
A. Hipotesa ………………………………………………………. 16
B. Hasil Hipotesa ………………………………………………………. 16
C. Kesimpulan ………………………………………………………. 17
D. Saran ……………………………………………………… 18

4

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Etika, Moral dan Akhlak sangat dekat dengan kehidupan kita. Tanpa kita sadari setiap
hari kita selalu berhubungan dengan hal tersebut. Pada zaman sekarang dimana mobilitas
kehidupan seseorang yang sangat tinggi dan kemajuan teknologi yang semakin pesat banyak
orang-orang yang mengabaikan hal tersebut, terutama di kalangan “Remaja”. Sering kita lihat
banyak remaja yang tidak punya Etika, Moral dan Akhlak. Misalnya seorang murid yang tidak
menghormati gurunya bahkan ada seorang anak yang tidak menghormati orang tuanya.
Mungkin hal ini disebabkan oleh pengaruh lingkungan dimana pergaulan remaja saat ini
sudah tidak terkontrol lagi bahkan cenderung ke arah pergaulan bebas.
Dari pendapat-pendapat yang kami sebutkan di atas diketahui bahwa kita harus
memberikan kesadaran moral kepada para remaja. Hal ini harus ditanamkan sejak dini di
dalam diri para remaja, karena remaja merupakan generasi penerus bangsa. Oleh karena itu
makalah ini kami buat untuk memotivasi dan memberikan kesadaran kepada para remaja
supaya memiliki Etika, Moral dan Akhlak yang baik.

B. Tujuan
Tujuan dibuatnya makalah ini adalah untuk melengkapi tugas dari mata kuliah Agama
Islam. Dan untuk menambah wawasan serta informasi mengenai Etika, Moral dan Akhlak
yang diridhai oleh Allah SWT.

C. Pengantar ke Materi
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan
seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu
saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu disisi Allah
ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi
Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat <49>:13)
Pergaulan adalah satu cara seseorang untuk bersosialisasi dengan lingkungannya.
Bergaul dengan orang lain menjadi satu kebutuhan yang sangat mendasar, bahkan bisa
dikatakan wajib bagi setiap manusia yang “masih hidup” di dunia ini. Sungguh menjadi
5

sesuatu yang aneh atau bahkan sangat langka, jika ada orang yang mampu hidup sendiri.
Karena memang begitulah fitrah manusia. Manusia membutuhkan kehadiran orang lain dalam
kehidupannya.
Oleh karena itu etika, moral dan akhlak sangat diperlukan dalam hidup bermasya-rakat
agar terjalin hubungan yang harmonis antar sesama manusia. Tanpa adanya akhlak maka
manusia dalam melakukan kegiatan sosialnya menjadi tidak terarah. Perbuatan yang muncul
akan kurang bermakna dan cenderung menyimpang dari yang diajarkan agama. Jika manusia
memegang akhlak, berarti mereka memegang Islam. Maka nilai-nilai untuk mengatur
kehidupan sangatlah penting dan dorongan pribadi merupakan kunci utama dalam penciptaan
akhlak yang mulia.

D. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dan tujuan dari Akhlak ?
2. Apa perbedaan dari Etika, Moral dan Akhlak?
3. Apa landasan dan kedudukan dari Akhlak?
4. Jelaskan karakteristik Akhlak dalam Islam?
5. Bagaimana aktualisasi Akhlak dalam kehidupan bermasyarakat?















6

BAB II
PEMBAHASAN

1. Pengertian dan Tujuan Akhlak
Kata akhlak merupakan bentuk jamak dari kata khuluq, berasal dari bahasa Arab yang
berarti perangai, tingkah laku dan tabiat. Secara terminologi, akhlak berarti tingkah laku
seseorang yang didorong oleh suatu keinginan secara sadar untuk melakukan suatu perbuatan
yang baik. Dalam kehidupan sehari-hari sering dijumpai kata akhlak, moral dan etika yang
ketiganya memiliki makna hampir sama, yakni tingkah laku manusia.
Namun jika dilihat dari sumbernya, ketiga kata tersebut akan berbeda. Akhlak
bersumber dari agama. Moral berasal dari adat-istiadat masyarakat. Sedangkan etika, filsafat
oral dari akal pikiran.
Jika dikaji lebih mendalam dan dihubungkan dengan konteks kalimat kata akhlak,
moral dan etika memiliki pengertian yang berbeda. Akhlak adalah tingkah laku baik, buruk,
salah benar yang merupakan penilaian dipandang dari sudut hukum yang berlaku dalam ajaran
agama. Moral, istilah yang digunakan untuk menentukan batas-batas suatu sifat, perangai,
kehendak, pendapat atau perbuatan yang layak dikatakan benar, salah, baik atau buruk. Yang
dimaksud penilaian benar atau salah dalam moral, adalah masyarakat secara umum.
Sedangkan etika merupakan cabang dari filsafat yang mempelajari tingkah laku
manusia untuk menentukan nilai perbuatan baik dan buruk, ukuran yang dipergunakan adalah
akal pikiran. Jika diperbandingkan antara ketiga kata tersebut maka etika merupakan ilmu,
moral adalah ajaran, dan akhlak adalah tingkah laku manusia.
Tujuan akhlak dibagi menjadi 2 macam, yaitu tujuan umum dan tujuan khusus.
Adapun tujuan umum dari akhlak adalah menjadikan diri seorang muslim dengan
akhlak yang luhur dan adab yang mulia baik itu lahiriyah maupun batiniyah
Adapun tujuan akhlak secara khusus adalah :
1. Mensucikan jiwa insaniyah dari iri, dengki, bohong, khianat, dan lainnya yang
termasuk dalam akhlak yang jelek.
2. Supaya membiasakan diri untuk berakhlak mulia seperti jujur, bersikap baik,
amanah, pemaaf dan lainnya yang termasuk kedalam akhlak mahmudah.
7


2. Perbedaan antara Akhlak, Moral dan Etika
Perbedaan antara akhlak dengan moral dan etika dapat dilihat dari dasar penentuan
atau standar ukuran baik dan buruk yang digunakannya. Standar baik dan buruk akhlak
berdasarkan Al Qur‟an dan Sunnah Rasul, sedangkan moral dan etika berdasarkan adat
istiadat atau kesepakatan yang dibuat oleh suatu masyarakat jika masyarakat menganggap
suatu perbuatan itu baik maka baik pulalah nilai perbuatan itu. Dengan demikian standar nilai
moral dan etika bersifat lokal dan temporal, sedangkan standar akhlak bersifat universal dan
abadi. Dalam pandangan Islam, akhlak merupakan cermin dari apa yang ada dalam jiwa
seseorang. Karena itu akhlak yang baik merupakan dorongan dari keimanan seseorang, sebab
keimanan harus ditampilkan dalam prilaku nyata sehari-hari. Inilah yang menjadi misi
diutusnya Rasul sebagaimana disabdakannya :
“ Aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia.”(Hadits riwayat Ahmad)
Secara umum dapat dikatakan bahwa akhlak yang baik pada dasarnya adalah
akumulasi dari aqidah dan syari‟at yang bersatu secara utuh dalam diri seseorang. Apabila
aqidah telah mendorong pelaksanaan syari‟at akan lahir akhlak yang baik, atau dengan kata
lain akhlak merupakan perilaku yang tampak apabila syari‟at Islam telah dilaksanakan
berdasarkan aqidah.
3. Landasan dan Kedudukan Akhlak
Dasar dari akhlak adalah al-Qur‟an dan hadis. Dalam Q. S. al-Qalam (68) : 4,
dinyatakan:
i. . _ll _l., '
Artinya : dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.
Pujian tersebut bersifat individual yang ditujukan kepada pribadi Rasul saw. karena
beliau mempunyai keagungan dan keanggunan moralitas. Banyak Nabi dan Rasul, tetapi
8

hanya Rasul saw. yang mendapatkan pujian tersebut. Kemudian dalam ayat yang lain al-
Qur‟an menyatakan bahwa keagungan akhlak tersebut layak dijadikan standar akhlak bagi
umatnya:

Ayat di atas mengisyaratkan bahwa Rasul sengaja diproyeksikan oleh Allah untuk
menadi “lokomotif” akhlak umat manusia secara universal, karena beliau diutus sebagai
rahmatan li al-„alamin. Rasul bersabda: “sesungguhnya saya diutus hanyalah untuk
menyempurnakan akhlak yang mulia”.
Hadis di atas tidak secara langsung menyatakan bahwa akhlak menenpati posisi yang
strategis dalam kehidupan manusia, karenanya misi Rasul yang paling utama adalah untuk
mengupayakan perbaikan akhlak yang dekaden. Persoalannya adalah bagaimana subtansi
akhlak Rasul. Dalam hal ini para sahabat pernah bertanya pada „Aisyah, istri Rasul, yang
dinggap mengetahui secara detail tentang diri Rasul dalam keseharian, maka „Aisyah
menjawab:
” كان خلقه القرأن”
(subtansi akhlak Rasul adalah al-Qur‟an).
Ada 3 pandangan tentang kedudukan akhlak yaitu:
1. Akhlak sebagai amal utama
Pendidikan dan pengajaran di sekolah-sekolah islami semuanya diarahkan pada
pencapaian akhlak. Pengajaran ilmu Tauhid misalnya selain memberikan dasar keyakinan
mesti juga mencerminkan norma-norma tingkah laku serta budi pekerti dalam pergaulan
sosial. Akhlak disini dipandang sebagai suatu yang agung “kebaikan adalah baiknya
perangaian”.
Ada beberapa literatur yang menyatakan keutamaan akhlak dalam Riyadl Al-Sholihin
disebut; “yang paling sempurna imannya adalah orang muslim yang paling bagus akhlaknya
dan sebaik-baiknya kalian adalah yang paling baik pada keluarganya”.
Hal senada juga disebutkan dalam kitab Ihya Ulummudin; Al-fadl berkata; “dari Rosul
SAW bahwa seorang wanita berpuasa di siang hari dan sholat di malam hari tetapi tidak baik
9

perangaiannya. Ia menyakiti tetangganya dengan ucapan-ucapan. Rosul bersabda; “tidak ada
kebaikan baginya, ia termasuk ahli neraka”.
Hadits-hadits di atas menunjukkan beetapa tingginya nilai akhlak, dalam kitab
Ta‟limul Muta‟allim dikatakan; “sebaik-baiknya ilmu adalah tingkah laku da sebaik-baiknya
amal adalah menjaga tingkahh laku”.

2. Akhlak sebagainya media penerima nur dan ilmu Allah SWT
Ada anggapan bahwa ilmu dan nur Allah SWT tidak bisa diterima kecuali oleh orang-
orang yang suci, orang yang jauh dari maksiat. Dalam kitab Tanwir Al-Qutub, Najmuddin
menyebutkan; “setiap maksiat yang dilakukan adalah penghalang dari tercapainya ilmu karena
pada dasarnya adalah cahaya yang dihujamkan Allah ke dalam hati, sedang maksiat justru
mematikan cahaya tersebut”.
Imam Al-Ghozali manggambarkan hati sebagai cermin dalam maksiat sebagai
keterangan yang menutupi kejernihannya. Semakin sering sekali seseorang melakukan
maksiat berarti semakin banyak kotoran menutupi hatinya sehingga hatinya menjadi gelap.
Al-qur‟an menyatakan; “sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang meraka usahakan
itulah yang menutupi hati meraka sendiri (QS. Al-muthoffifin; 14).
Dalam suatu riwayat dikatakan bahwa imam syafi‟I pernah mengeluh kepada gurunya
tentang jelek hafalannya, sang guru menyarankan agar ia menjauhi maksiat karena ilmu
adalah cahaya sementara maksiat itu adalah perusak cahaya tersebut.
Dengan demikian akhlak adalah suatu yang sangat penting berkaitan dengan bisa
tidaknya mendapatkan cahaya pengetahuan dari Allah SWT, jika sesorang melakukan maksiat
maka ia tidak bisa menerima cahaya pengetahuan dari Allah SWT, sebaliknya jika seseorang
mempunyai akhlak yang baik ia akan menerima cahaya pengetahuan.

3. Akhlak sebagai sarana mencapai ilmu manfaat
Sekolah-sekolah mengenal adanya konsep ilmu manfaat (Al‟ilam Al-nafi‟) dan tidak
manfaat (Ghair Al-nafi). Alwy Al-haddad menyatakan: “Ilmu itu ada dua macam, ilmu yang
meresap kedalam hati dan ilmu yang hanya ada di mulut saja. Ilmu yang pertama adalah ilmu
yang bermanfaat sementara ilmu yang kedua akan menjadi hujjah (alasan) Allah SWT untuk
menyiksa keturunan adam”.
Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang dapat memberikan kepada yang bersangkutan
dan juga kepada orang lain, adapun ilmu yang tidak bermanfa‟at adalah ilmu yang tidak
10

memberikan kebaikan kepada orang lain dan dirinya sendiri.
Ilmu yang ada pada seseorang pada dasarnya berkembang sesuai dengan kemampuan
akal dan kemanfaatannya berjalan sesuai dengan tingkat pribadi yang bersangkutan. Jika yang
mempunyai ilmu adalah orang baik maka dengan ilmunya itu pasti akan memberikan
kebaikan kepada orang lain dan sebaliknya juga yang bersangkutan adalah orang jahat maka
pasti ilmunya akan di arahkan untuk tujuan yang jahat.
Sebagian ulama memberikan bandingan bahwa bertambahnya pengetahuan orang jahat
adalah seperti bertambahnya kesuburan pohon kemaron atau brotowali (pohon yang buahnya
sangat pahit) jika bertambah subur maka akan bertambah rasa pahitnya sementara itu menurut
Alwy Al-Haddad ilmu yang berada pada cendikiawan jahat (Ulama Al-Su‟) tidak bisa di sebut
ilmu agama dalam arti yang sebenarnya, sebab ilmu yang di miliki hanyalah ilmu yang di
mulutnya bukan ada di hatinya.

Akhlak berperan penting dalam pencapaian ilmu manfaat karena ia merupakan
landasan utama bagi terbentuknya pribadi yang saleh ketika kesalehan diri telah terbentuk
maka segala ilmu yang diperoleh akan digunakan untuk kebaikan orang lain. Cara membentuk
kesalehan diri antara lain dengan mengendalikan, Imam Syafi‟I menyatakan: “siapa yang
tidak bisa mengendalikan napsunya, tidak akan bermanfa‟at ilmunya”.
Uraian secara lebih luas tentang cara mendapat ilmu manfaat diuraikan Ibnu Hajar Al-
Asqolani, menurutnya ada tiga syarat tercapainya ilmu: (1) tidak cinta dunia (seperti wanita
,harta dan tahta), (2) tidak berteman dengan orang jahat, (3) tidak menyakiti orang lain. Orang
yang menginginkan ilmu manfa‟at harus menjaga diri dari perbuatan-perbuatan yang tidak
baik sehingga ia dapat menerima cahaya pengetahuan dari Allah SWT.



4. Karateristik Akhlak

“Sesungguhnya yang paling sempurna imannya dari orang-orang mukmin adalah yang
paling baik akhlaknya” (H. R. Turmudzi).


11

Akhlak dalam islam mempunyai beberapa karakteristik, yaitu:
1. Akhlak meliputi hal-hal yang bersifat umum dan terperinci. Di dalam al-Qur‟an ada materi
akhlak yang dijelaskan secara umum dan ada pula yang mendetail. Misalnya dalam Q. S. al-
Nahl (16) : 90, diserukan perintah untuk berakhlak secara umum; berbuat adil, berbuat
kebaikan, melarang perbuatan keji, munkar dan permusuhan. Sedangkan dalam surat al-
Hujurat (49) : 12, secara terperinci dinyatalan larangan untuk saling mencela dan memanggil
dengan gelar yang buruk.
2. Akhlak bersifat menyeluruh ke setiap sendi. Saat dimana pun dan keadaan apa pun akhlak
harus tercermin.
3. Akhlak dalam Islam mengatur semua segi kehidupan manusia baik yang bersifat vertikal
maupun horizontal yang mengatur segi dunyawiyah manusia. Penerapan akhlak dapat
memberikan nasib kemaslahatan masyarakat bangsa. Sebagai para penyelenggara negara
akhlak harus tetap tercermin. Dari mengolah potensi alam, dalam kegiatan berekonomi,
berpolitik bahkan dalam segala hal yang menyukseskan kemajuan negara. Tanpa
mengesampingkan inti dari penunjangnya, semuanya melibatkan akhlak.
4. Akhlak sebagai buah dari iman. Iman diibaratkan sebuah akar, ibadah adalah batang, ranting
dan daunnya, sementara akhlak adalah buahnya.
5. Akhlak menjaga konsistensi antara cara dan tujuan. Islam tidak mengizinkan mancapai tujuan,
walaupun baik, dengan cara-cara kotor yang bertentangan dengan syariat. Karena hal tersebut
bertentangan dengan prinsip-prinsip al-Akhlaq al-Karimah.
Ciri-ciri akhlak Islamiyyah ialah:
Bersifat mutlak dan menyeluruh: Akhlak Islamiyyah bersifat mutlak, tidak boleh
dipinda atau diubahsuai, dikenakan kepada seluruh individu tanpa mengira keturunan,
warna kulit, pangkat, tempat, dan masa.
Melengkapkan dan menyempurnakan tuntutan: Ditinjau dari sudut kejadian manusia
yang dibekalkan dengan pelbagai naluri, akhlak Islamiyyah adalah merangkumi
semuaaspek kemanusiaan rohaniyyah, jasmaniyyah danaqliyyah, sesuai dengan semua
tuntutan naluri dalam usaha mengawal sifat-sifat yang tercela (sifat-sifat mazmumah)
untuk kesempurnaan insan, bukan untuk mengawal kebebasan peribadi seseorang.
12

Bersifat sederhana dan seimbang: tuntutan akhlak dalam Islam adalah sederhana, tidak
membebankan sehingga menjadi pasif dan tidak pula membiarkan sehingga
menimbulkan bahaya dan kerosakan.
Mencakupi suruhan dan larangan: Bagi kebaikan manusia, perlaksanakan akhlak
Islamiyyah meliputi suruhan dan larangan dengan tidak boleh mengutamakan atau
mengabaikan mana-mana aspek tersebut.
Bersih dalam perlaksanaan: Untuk mencapai kebaikan, akhlak Islmaiyyah memerintah
supaya cara dan metod perlaksanaan sesuatu perbuatan dan tindakan itu hendaklah
dengan cara yang baik dan saluran yang benar yang telah ditetapkan oleh akhlak
Islamiyyah. Ertinya untuk mencapai suatu matlamat, cara perlaksanaannya mestilah
bersih menurut tata cara Islam. Islam tidak menerima falsafah: Matlamat tidak
menghalalkan cara.
Keseimbangan: Akhlak dalam Islam membawa kesinambungan bagi tuntutan realiti
hidup antara rohaniyyah dan jasmaniyyah serta aqliyyah, dan antara kehidupan dunia dan
akhirat sesuai dengan tabii manusia itu sendiri.

5. Aktualisasi Akhlak dalam Kehidupan
Secara garis besar fungsi dan tujuan pengamalan akhlak mulia bagi umat manusia adalah :
1. Sebagai pengamalan Syariat Islam
Sebagai pengamalan Syariat Islam. Islam sebagai agama rahmat bagi seluruh alam
semeste telah ,e,berikan tuntunan prilaku dan etika secar sempurna, sehingga dengan
niat karena Allah SWT, pengamalan akhlak yang mulia itu insya Allah akan menjadi
ibadah bagi umat islam yang mengamalkanya

2. Sebagai Identias
Sebagai Identias, Akhlak mulia ini diperuntukkan oleh Allah kepada manusia yang
berakal budi karena dengan tuntunan akhlak yang mulia akanbisa membedakan
antara manusia denga hewan

3. Pengatur Tatanan Sosial
Akhlak Mulia Sebagai Pengatur Tatanan Sosial berarti dengan pengamalan akhlak
mulia yang sudah dicontohkan oleh yang Mulia Saydina Muhammad SAW
13

mengukuhkan bahwa manusia sebagai makhluk sosial tidak akan pernah bisa dan
lepas dari pengaruh lingkungannya. Dengan akhlak mulia ini tatanan sosial yang
terbentuk semakin memberikan makna dan nilai yang tidak saling merugikan

4. Rahmat Bagi Seluruh Alam
Akhlak Mulia Sebagai Rahmat Bagi Seluruh Alam berarti akhlak mulia yang
diperuntukkan bagi manusia tidak hanya mengatur tatanan hubungan manusia
dengan manusia lainnya tetapi juga hubungan antara manusia dengan makhluk –
makluk lain selian manusia dan alam sekitarnya

5. Perlindungan Diri dan Hak Azazi Manusia ( HAM )
Akhlak Mulia Sebagai Perlindunagn Diri dan Hak Azazi Manusia ( HAM ) berarti
dengan menjalin hubungan yang baik berdasarkan hukum dan syariat agama akan
terbentuk hubungan yang saling menghargai dan saling menguntungkan

Akhlak kepada Allah, Sesama manusia, dan Lingkungan.
1. Akhlak kepada Allah
a. Beribadah kepada Allah, yaitu melaksanakan perintah Allah untuk menyembah-
Nya sesuai dengan perintah-Nya. Seorang muslim beribadah membuktikan
ketundukkan terhadap perintah Allah.
b. Berzikir kepada Allah, yaitu mengingat Allah dalam berbagai situasi dan kondisi,
baik diucapkan dengan mulut maupun dalam hati. Berzikir kepada Allah
melahirkan ketenangan dan ketentraman hati.
c. Berdo‟a kepada Allah, yaitu memohon apa saja kepada Allah. Do‟a meru-pakan
inti ibadah, karena ia merupakan pengakuan akan keterbatasan dan
ketidakmampuan manusia, sekaligus pengakuan akan kemahakuasaan Allah
terhadap segala sesuatu. Kekuatan do‟a dalam ajaran Islam sangat luar biasa,
karena ia mampu menembus kekuatan akal manusia. Oleh karena itu berusaha
dan berdo‟a merupakan dua sisi tugas hidup manusia yang bersatu secara utuh
14

dalam aktifitas hidup setiap muslim.Orang yang tidak pernah berdo‟a adalah
orang yang tidak menerima keterbatasan dirinya sebagai manusia karena itu
dipandang sebagai orang yang sombong ; suatu perilaku yang tidak disukai
Allah.
d. Tawakal kepada Allah, yaitu berserah diri sepenuhnya kepada Allah dan
menunggu hasil pekerjaan atau menanti akibat dari suatu keadaan.
e. Tawaduk kepada Allah, yaitu rendah hati di hadapan Allah. Mengakui bahwa
dirinya rendah dan hina di hadapan Allah Yang Maha Kuasa, oleh karena itu
tidak layak kalau hidup dengan angkuh dan sombong, tidak mau memaafkan
orang lain, dan pamrih dalam melaksanakan ibadah kepada Allah.
2. Akhlak kepada sesama manusia
a. Akhlak kepada diri sendiri
(1) Sabar, yaitu prilaku seseorang terhadap dirinya sendiri sebagai hasil dari
pengendalian nafsu dan penerimaan terhadap apa yang menimpanya.Sabar diung-
kapkan ketika melaksanakan perintah, menjauhi larangan dan ketika ditimpa musibah.
(2) Syukur, yaitu sikap berterima kasih atas pemberian nikmat Allah yang tidak bisa
terhitung banyaknya. Syukur diungkapkan dalam bentuk ucapan dan per-buatan.
Syukur dengan ucapan adalah memuji Allah dengan bacaan alhamdulillah, sedangkan
syukur dengan perbuatan dilakukan dengan menggunakan dan me-manfaatkan nikmat
Allah sesuai dengan aturan-Nya.
(3) Tawaduk, yaitu rendah hati, selalu menghargai siapa saja yang dihadapinya, orang
tua, muda, kaya atau miskin. Sikap tawaduk melahirkan ketenangan jiwa, menjauhkan
dari sifat iri dan dengki yang menyiksa diri sendiri dan tidak menyenangkan orang lain
b. Akhlak kepada ibu bapak
Akhlak kepada ibu bapak adalah berbuat baik kepada keduanya dengan ucapan dan
perbuatan. Berbuat baik kepada ibu bapak dibuktikan dalam bentuk-bentuk per-buatan
antara lain : menyayangi dan mencintai ibu bapak sebagai bentuk terima kasih dengan
15

cara bertutur kata sopan dan lemah lembut, mentaati perintah, me-ringankan beban,
serta menyantuni mereka jika sudah tua dan tidak mampu lagi berusaha.
c. Akhlak kepada keluarga
Akhlak terhadap keluarga adalah mengembangkann kasih sayang di antara anggota
keluarga yang diungkapkan dalam bentuk komunikasi.
Komunikasi yang didorong oleh rasa kasih sayang yang tulus akan dirasakan oleh
seluruh anggota keluarga. Apabila kasih sayang telah mendasari komunikasi orang tua
dengan anak, maka akan lahir wibawa pada orang tua. Demikian sebaliknya, akan lahir
kepercayaan orang tua pada anak oleh karena itu kasih sayang harus menjadi muatan
utama dalam komunikasisemua pihak dalam keluarga.
Dari komunikasi semacam itu akan lahir saling keterikatan batin,keakraban, dan
keterbukaan di antara anggota keluarga dan menghapuskan kesenjangan di antara
mereka. Dengan demikian rumah bukan hanya menjadi tempat menginap, tetapi betul-
betul menjadi tempat tinggal yang damai dan menyenangkan, menjadi surga bagi
penghuninya. Melalui komunikasi seperti itu pula dilakukan pendidikan dalam
keluarga, yaitu menanamkan nilai-nilai moral kepada anak-anak sebagai landasan bagi
pendidikan yang akan mereka terima pada masa-masa selanjutnya.
3. Akhlak kepada lingkungan
Misi agama Islam adalah mengembangkan rahmat bukan hanya kepada manusia tetapi
juga kepada alam dan lingkungan hidup. Misi tersebut tidak terlepas dari tujuan
diangkatnya manusia sebagai khalifah di muka bumi,yaitu sebagai wakil Allah yang
bertugas mamakmurkan, mengelola dan melestarikan alam. Berakhlak kepada
lingkungan hidup adalah menjalin dan mengembangkan hubungan yang harmonis
dengan alam sekitarnya.






16

BAB III
PENUTUP


A. Hipotesa
Dalam makalah tentang Etika, Moral dan Akhlak ini, kami mengambil sebuah hipotesa yang
ada di dalam kehidupan kita. Bahwa :

“Faktor lingkungan sangat berpengaruh dalam pembentukan Etika, Moral, dan Akhlak
seorang anak, terutama di lingkungan keluarga yakni peran kedua orangtua.”

B. Hasil hipotesa
Dari penyebaran angket agama tentang hipotesa yang telah kami lakukan diperoleh hasil
hipotesa yaitu :
1. Remaja sebagai generasi muda pada saat ini kurang memiliki etika, moral, dan akhlak.
A. Setuju : 80%
B. Tidak setuju :10%
C. Ragu-ragu :10%
2. Karena pengaruh budaya barat, Etika, Moral, dan Akhlak bangsa Indonesia telah
mengalami penurunan.
A. Setuju : 75%
B. Tidak setuju : 10%
C. Ragu-ragu : 15%
3. Semakin jarangnya intensitas pertemuan orangtua dan anak, maka Etika, Moral, dan
Akhlak anak tersebut kurang baik.
A. Setuju : 70%
B. Tidak setuju : 10%
C. Ragu-ragu : 20%
4. Semakin keras proteksi orangtua terhadap anak maka perilaku anak akan semakin
menyimpang ke arah yang negatif.
A. Setuju : 55%
B. Tidak setuju : 20%
C. Ragu-ragu : 35%
5. Perceraian orangtua mempengaruhi Etika, Moral, dan Akhlak seorang anak.
A. Setuju : 70%
B. Tidak setuju : 10%
C. Ragu-ragu : 20%
6. Ketika seseorang bergelimpangan harta, maka seseorang tersebut memiliki akhlak
kurang terpuji.
A. Setuju : 25%
B. Tidak setuju : 35%
C. Ragu-ragu : 40%
17


Berdasarkan angket yang kami edarkan didapatkan analisis hipotesis sebagai berikut :
Remaja sebagai generasi muda saat ini sebagian besar kurang memiliki etika, moral dan
akhlak. Namun tidak semuanya seperti itu, tergantung individu anak tersebut.
Pengaruh perkembangan zaman saat ini, membuat mudahnya budaya barat masuk ke
Indonesia. Sehingga mengakibatkan penurunan etika, moral dan akhlak bangsa Indonesia. Di lain sisi
masih ada beberapa budaya barat yang baik, asalkan kita bisa menyaring mana yang baik dan mana
yang buruk. Hanya saja sebagian besar dari kebudayaan barat bertolak belakang dengan etika budaya
kita.
Jarangnya intensitas pertemuan orang tua dengan anak dapat mempengaruhi pembentukan
etika, moral dan akhlak yang kurang baik terhadap anak. Pertemuan dengan orang tua bisa
mempengaruhi pembentukan kepribadi anak. Namun tidak sepenuhnya karena pengawasan dan
perhatian terhadap anak tetap bisa dilakukan dengan media lain, misalnya melalui situs jejaring sosial
yang marak saat ini yaitu facebook.
Kerasnya proteksi orang tua terhadap anak dapat membentuk perilaku anak yang menyimpang
ke arah negatif. Akan tetapi hal tersebut tergantung dari sifat anak dan perilaku orang tua itu sendiri.
Ketika anak hidup di lingkungan keluarga broken home maka secara tidak langsung akan
mempengaruhi etika, moral dan akkhlak seorang anak. Tetapi pada kenyataanya ketika pasca
perceraian orang tua, apabila anak tersebut berada pada lingkungan yang baik dan kondisi mental
yang cukup kuat maka etika, moral dan akhlak akan tetap terjaga.
Harta tidak mempengaruhi pembentukan etika, moral dan akhlak terhadap anak. Karena
seorang anak yang memiliki akhlak yang terpuji dapat dipengaruhi oleh bimbingan dan asuhan yang
tepat dari orang tua serta lingkungan sekitar. Kurang terpujinya akhlak sebagian besar masyarakat
jaman sekarang dipengaruhi oleh kurang bersyukurnya mereka terhadap sang pencipta.
Jadi berdasarkan analisis hipotisis diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa Faktor lingkungan sangat
berpengaruh dalam pembentukan Etika, Moral, dan Akhlak seorang anak, terutama di lingkungan
keluarga yakni peran kedua orangtua. Namun semua itu tergantung dari individu anak itu sendiri.


C. Kesimpulan
Akhirnya dilihat dari fungsi dan peranannya, dapat dikatakan bahwa etika, moral, dan
akhlak sama, yaitu menentukan hukum atau nilai dari suatu perbuatan yang dilakukan
manusia untuk ditentukan baik-buruknya. Kesemua istilah tersebut sama-sama menghendaki
terciptanya keadaan masyarakat yang baik, teratur, aman, damai, dan tentram sehingga
sejahtera batiniah dan lahiriyah.
Perbedaaan antara etika, moral, dan susila dengan akhlak adalah terletak pada sumber
yang dijadikan patokan untuk menentukan baik dan buruk. Jika dalam etika penilaian baik
buruk berdasarkan pendapat akal pikiran, dan pada moral dan susila berdasarkan kebiasaan
yang berlaku umum di masyarakat, maka pada akhlak ukuran yang digunakan untuk
menentukan baik buruk itu adalah al-qur'an dan al-hadis.
18

Perbedaan lain antara etika, moral dan susila terlihat pula pada sifat dan kawasan
pembahasannya. Jika etika lebih banyak bersifat teoritis, maka pada moral dan susila lebih
banyak bersifat praktis. Etika memandang tingkah laku manusia secara umum, sedangkan
moral dan susila bersifat local dan individual. Etika menjelaskan ukuran baik-buruk,
sedangkan moral dan susila menyatakan ukuran tersebut dalam bentuk perbuatan.
Namun demikian etika, moral, susila dan akhlak tetap saling berhubungan dan
membutuhkan. Uraian tersebut di atas menunjukkan dengan jelas bahwa etika, moral dan
susila berasala dari produk rasio dan budaya masyarakat yang secara selektif diakui sebagai
yang bermanfaat dan baik bagi kelangsungan hidup manusia. Sementara akhlak berasal dari
wahyu, yakni ketentuan yang berdasarkan petunjuk Al-Qur'an dan Hadis. Dengan kata lain
jika etika, moral dan susila berasal dari manusia sedangkan akhlak berasal dari Tuhan.

D. Saran
Berdasarkan hasil dari penulisan makalah yang kami buat ini. Maka kami
menyarankan kepada para remaja untuk menjaga Etika, Moral dan Akhlak terutama dengan
orang tua. Karena sesuai dengan ajaran agama kita, kita harus memiliki Etika, Moral dan
Akhlak yang terpuji. Dengan hal itu kita akan disukai, dihargai dan dihormati oleh banyak
orang. Dan dengan hal tersebut pula bangsa Indonesia akan bisa lebih baik dan lebih maju dari
sekarang ini.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->