P. 1
kepentingan individu

kepentingan individu

|Views: 679|Likes:
Published by Nur Iustitia

More info:

Published by: Nur Iustitia on Mar 20, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/04/2012

pdf

text

original

Sections

  • Hubungan masyarakat dan individu dalam kehidupan sosial antar manusia
  • Scribd Archive > Charge to your Mobile Phone Bill

1. HUBUNGAN INDIVIDU DAN MASYARAKAT

Banyak para ahil telah memberikan pengertian tentang masyarakat. Smith, Stanley dan Shores
mendefinisikan masyarakat sebagai suatu kelompok individu-individu yang terorganisasi serta berfikir
tentatang diri mereka sendiri sebagai suatu kelompok yang berbeda. (Smith, Stanley, Shores, 1950,
p. 5).

Dari pengertian tersebut di atas ada dua hal yang perlu diperhatikan yaitu bahwa masyarakat itu
kelompok yang terorganisasi dan masyarakat itu suatu kelompok yang berpikir tentang dirinya sendiri
yang berbeda dengan kelompok yang lain. Oleh karena itu orang yang berjalan bersama-sama atau
duduk bersama-sama yang tidak terorganisasi bukanlah masyarakat. Kelompok yang tidak berpikir
tentang kelompoknya sebagai suatu kelompok bukanlah masyarakat. Oleh karena itu kelompok
burung yang terbang bersama dan semut yang berbaris rapi bukanlah masyarakat dalam arti yang
sebenarnya sebab mereka berkelompok hanya berdasarkan naluri saja

Znaniecki menyatakan bahwa masyarakat merupakan suatu sistem yang meliputi unit biofisik para
individu yang bertempat tinggal pada suatu daerah geografis tertentu selama periiode waktu tertentu
dari suatu generasi. Dalam sosiology suatu masyarakat dibentuk hanya dalam kesejajaran
kedudukan yang diterapkan dalam suatu organisasi. (F Znaniecki, 1950, p. 145),

Jika kita bandingkan dua pendapat tersebut di atas tampak bahwa pendapat Znaniecki tersebut
memunculkan unsur baru dalam pengertian masyarakat yaitu masyarakat itu suatu kelompok yang
telah bertempat tinggal pada suatu daerah tertentu dalam lingkungan geografis tertentu dan kelompok
itu merupakan suatu sistem biofisik. Oleh karena itu masyarakat bukanlah kelompok yang berkumpul
secara mekanis akan tetapi berkumpul secara sistemik. Manusia yang satu dengan yang lain saling
memberi, manusia dengan lingkungannya selain menerima dan saling memberi. Konsep ini
dipengaruhi oleh konsep pandangan ekologis terhadap satwa sekalian alam.

Parson menjelaskan bahwa suatu sistem sosial di mana semua fungsi prasyarat yang bersumber dan
dalam dirinya sendiri bertemu secara ajeg (tetap) disebut masyarakat. Sistem sosial terdiri dari
pluralitas prilaku-pnilaku perseorangan yang berinteraksi satu sama lain dalam suatu lingkungan fsik.
Jika masing masing individu ini berinteraksi dalam waktu yang lama dari generasi ke generasi dan
terjadi pada proses sosialisasi pada generasi tersebut maka aspek ini akan menjadi aspek yang
penting dalam sistem sosial. Dalam berintegrasi dan bersosialisasi ini kelompok tersebut
mempergunakan kerangka acuan pendidikan.

Dari berbagai pendapat tersebut di atas maka W F Connell (1972, p. 68-69) menyimpulkan bahwa
masyarakat adalah (1) suatu kelompok orang yang berpikir tentang diri mereka sendiri sebagai
kelompok yang berbeda, diorganisasi, sebagai kelompok yang diorganisasi secara tetap untuk waktu
yang lama dalam rintang kehidupan seseorang secara terbuka dan bekerja pada daerah geografls
tertentu, (2) kelompok orang yang mencari penghidupan secara berkelompok, sampai turun temurun
dan mensosialkan anggota anggotanya melalui pendidikan, (3) suatu ke orang yang mempunyai
sistem kekerabatan yang terorganisasi yang mengikat anggota-anggotanya secara bersama dalam
keselurühan yang terorganisasi.

Pendapat tersebut di atas tidak berbeda dengan pendapat Liton yang dikutip oleh Indan Encang
(1982, p.14) yang menyatakan bahwa masyarakat adalah setiap kelompok manusia yang telah cukup
lama hidup dan bekerja sama, sehingga mereka itu dapat mengorganisasikan dirinya dan berpikir
tentang dirinya sebagai satu kesatuan sosial dengan batas-batas tartentu.

Pengertian masyarakat tersebut di atas merupakan pengertian yang sangat luas. Penduduk
Indonesia sebagai masyarakat dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Penduduk yang berpikir tentang dirinya sendiri sebagai suatu kelompok yang berbeda dengan
kelompok penduduk pada suatu masyarakat lain seperti penduduk Singapura, kelompok Jawa,
Sunda, Banjar, Maluku, Sasak merupakan kelompok bagian dari penduduk Indonesia.
2. Penduduk Indonesia ini secara relatif mencukupi kebutuhan diri sendiri sebagai suatu kelompok
yaitu mencukupi kehidupannya dalam masyarakatnya terutama dengan bercocok tanam yang
ditopang dengan perindustrian.
3. Penduduk Indonesia telah ada sebagai kelompok sosial yang diakui pada periode waktu yang
lama sampai sekarang, yaitu sejak Indonesia Merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945.
4. Mereka hidup dan bekerja dalam beribu-ribu pulau besar dan kecil yang terletak di daerah
geografis antara Samudera India dan Samudra Pasifik antara benua Asia dan Australia.

5. Pengarahan anggota dari masyarakat Indonesia ini melalui unit-unit keluarga yang kecil seperti
kelompok-kelompok etnik dan keluarga merupakan kelompok yang terkecil.
6. Sosialisasi anak-anak melalui sekolah terutama pada anak-anak umur empat atau lima tahun
sampai 18 tahun baik melalui sekolah negeri maupun swasta baik melalui pendidikan formal
maupun pendidikan non-formal.
7. Masyarakat Indonesia ini mengikat anggota-anggotanya melalui sistem yang digeneralisasikan
dan suatu kekerabatan. Sistem ini didasarkan pada prinsip-prinsip demokrasi, dalam kehidupan
sosial politik, kehidupan ekonomi dan lapangan kehidupan yang lain. Ikatan yang paling kuat
adalah adanya satu pandangan hidup bangsa Indonesia yaitu Pancasila dan dasar hukum
nasional yang satu yaitu UUD 1945.
Pengertian individu :

Dalam ilmu sosial individu merupakan bagian terkecil dari kelompok masyarakat yang tidak dapat
dipisah lagi menjadi bagian yang lebih kecil. Umpama keluarga sebagai kelompok sosial yang terkecil
terdiri dari ayah, ibu dan anak. Ayah merupakan individu yang sudah tidak dapat dibagi lagi, demikian
pula Ibu. Anak masih dapat dibagi sebab dalam suatu keluarga jumlah anak dapat lebih dari satu.

Hubungan individu dan masyarakat secara umum :

Hubungan antara individu dan masyarakat telah lama dibicarakan orang. Soeyono Soekanto (1981,
p.4) menyatakan bahwa sejak Plato pada zaman Yunani Kuno telah ditelaah tentang hubungan
individu dengan masyarakat. K. J. Veerger (1986, p. 10) lebih lanjut menjelaskah bahwa pembahasan
tentang hubung individu dan masyarakat telah dibahas sejak Socrates guru Plato.

Hubungan antara individu dan masyarakat telah.banyak disoroti oleh para ahli baik para filsuf maupun
para ilmuan sosial. Berbagai pandangan itu pada dasarnya dapat dikelompokkan kedalam tiga
pendapat yaitu pendapat yang menyatakan bahwa (1) masyarakat yang menentukan individu, (2)
individu yang menentuk masyarakat, dan (3) idividu dan masyarakat saling menentukan.

Pandangan yang pertama terhadap hubungan antara masyarakat dan individu didasarkan bahwa
masyarakat itu mempunyai suatu realitas tersendini. Masyarakat yang penting dan Individu itu hidup
untuk masyarakat. Pandangan ini berakar pada realisme yaitu suatu aliran filsafat yang mengatakan
bahwa konsep-konsep umum seperti manusia binatang, pohon, keadaan, keindahan dan sebagainya
itu mewakili realita luar diri yang memikirkan mereka. Jadi di luar manusia yang sedang berpikir ada
suatu realitas tertentu yang bersifat umum. Oleh karena itu berlaku secara umum dan tidak terikat
oleh yang satu persatu. Jika mengatakan manusia itu makhluk jasmani dan rohani, maka kita
membicarakan setiap manusia terlepas dan manusia yang manapun dan di manapun. Konsekuensi
dari pendapat itu maka masyarakat itu merupakan suatu realitas. Masyarakat memiliki realitas
tersendiri dan tidak terikat oleh unsur yang lain dan yang berlaku umum. Masyarakat yang
dipindahkan oleh seseorang itu berada di luar orang yang berpikir tentang masyarakat itu sendiri.
Sebelum individu ada masyarakat yang dipikirkan itu telah ada. Oleh karena itu masyarakat itu tidak
terikat pada individu yang memikirkannya. Menurut K J Veerger (1986) ada tiga pandangan yang
memandang masyarakat sebagai suatu realitas yaitu pandangan holistis, organis dan kolektivitis.

Pandangan holisme terhadap hubungan individu dan masyarakat. Istilah holisme berasal dan bahasa
Yunani, Holos yang berarti keseluruhan. Holisme memandang secara berlebihan terhadap totalitas
(keseluruhan) path kesatuan kehidupan manusia dengan mengingkari adanya perbedaan di antara
manusia. Keseluruhan dipandang sebagai sesuatu hal yang melebihi dari bagian-bagian. Pandangan
yang bersifat holistis ini tampak pada pandangan Aguste Comte (1798 - 1853). Menurut Aguste
Comte masyarakat dilihat suatu kesatuan di mana dalam bentuk dan arahnya tidak tergantung pada
inisiatif bebas anggotanya, melainkan pada proses spontan otomatis perkembangan akal budi
manusia. Akal budi dan cara orang berpikir berkembang dengan sendirinya. Prosesnya berlangsung
secara bertahap, merupakan proses alam yang tak terelakkan dan tak terhentikan. Perkembangan ini
dikuasal Oleh hukum universal yang berlaku bagi semua orang di manapun dan kapanpun Dan
pandangan Comte in dapat diketahui bahwa umat manusia itu dipandang sebagai suatu keseluruhan,
individu merupakan bagian-bagian yang hidup untuk kepentingan keseluruhan.

Pandangan organisme terhadap hubungan antara individu dan masyarakat. Organisme suatu aliran
yang berpendapat bahwa masyarakat itu berevolusi atau berkembang berdasarkan suatu pninsip
intrinsik di dalani dirinya sama seperti halnya dengan tiap-tiap organisme atau makhluk hidup. Prinsip
perkembangan ini berperan dengan lepas bebas dari kesadaran dan kemauan anggota masyarakat.

Pandangan hubungan antara individu dan masyarakat sesuai dengan konsep organisme muncul dari
Herbart Spencer (1985) diringkas oleh Margaret H Poloma (1979) sebagai berikut:
1. Masyarakat maupun organisme hidup sama-sama mengalami pertumbuhan.
2. Disebabkan oleh pertambahan dalam ukurannya, maka struktur tubuh sosial (social body)
maupun tubuh organisme hidup (living body) itu mengalami pertambahan pula, dimana semakin
besar suatu struktur sosial maka semakin banyak pula bagian-bagiannya, seperti halnya
dengan sistem biologis yang menjadi semakin kompleks sementara ia tumbuh menjadi semakin
besar Binatang yang lebih kecil, misalnya cacing tanah, hanya sedikit memiliki bagian-bagian
yang dapat dibedakan bila dibanding dengan makhluk yang lebih sempurna, misalnya manusia.
3. Tiap bagian yang tumbuh di dalam tubuh organissme biologis maupun organisme sosial
memiliki fungsi dan tujuan tertentu: “mereka tumbuh menjadi organ yang berbeda dengan tugas
yang berbeda pula”. Pada manusia, hati memiliki struktur dan fungsi yang berbeda dengan
paru-paru; demikian juga dengan keluarga sebagai struktur institusional memiliki tujuan yang
berbeda dengan sistem politik atau alconomi.
4. Baik di dalam sistem organisme maupun sistem sosial, perubahan pada suatu bagian akan
mengakibatkan perubahan pada bagian lain dan pada akhirnya di dalam sistem secara
keseluruhan. Perubahan sistem politik dari suatu pemerintahan demokratis ke suatu
pemerintahan totaliter akan mempengaruhi keluarga, pendidikan, agama dan sebagainya.
Bagian-bagian itu saling berkaitan satu sama lain.
5. Bagian-bagian tersebut, walau saling berkaitan, merupakan suatu struktur-mikro yang dapat
dipelajari secara terpisah. Demikianlah maka sistem peredaran atau sistem pembuangan
merupakan pusat perhatian para spesialis biologi dan media, seperti halnya sistem politik atau
sistern ekonomi merupakan sasaran pengkajian para ahli politik dan ekonomi.
Dari uraian tersebut di atas dapat diketahui bahwa menurut Spencer masyarakat dipandang sebagai
organisme hidup yang alamiah dan deterministis (bebas). Semua gejala sosial diterangkan
berdasarkan hukum alam. Hukum yang mengatur pertumbuhan fisik tubuh manusla juga mcngatur
pertumbuhan sosial. Manusia sebagai individu tidak bebas dalam menentukan arah pertumbuhan
masyarakat. Manusia sebagai individu justru ditentukan oleh masyarakat dalam pertumbuhannya.
Masyarakat berdiri sendiri dan berkembang bebas dari kemauan dan tanggung ja anggotanya di
bawah kuasa hukum alam.

Hubungan individu dan masyarakat berdasarkan kolektivisme. Menurut pandangan kolektif
masyarakat mempunyai realitas yang kuat. Segala sesuatu kepentingan individu ditentukan oleh
masyarakat. Masyarakat mengatur secara seragam untuk kepentingan kolektif.

Menurut Peter Jarvis (1986) yang dikutip oleh DR Wuradji MS (1988) Karl Mark, Bowles, Wailer dan
Illich tokoh paham kolektif yang berpendapat bahwa individu tidak mempunyai kebebasan, kebebasan
pribadi dibatasi oleh kelompok elite (kelompok atas yang berkuasa) dengan mengatas namakan
rakyat banyak.

Konsep masyarakat kolektif ini diterapkan pada paham totalitas di negara-negara komunis seperti
RRC. Di dalam negara komunis individu tidak mempunyai hak untuk mengatur kepentingan diari
sendiri, segala kebutuban diatur oleh negara. Negara diperintah oleh satu partai politik komunis.
Dalam negara komunis ini makan, pakaian, perumahan dan kerja diatur oleh negara, individu tidak
punya pilihan lain kecuali yang telah ditentukan oleh negara. Semua hak milik individu seperti yang
dimiliki orang-orang atau keluarga di negara kita ini tidak ada.

Hubungan individu dan masyarakat menurut paham individualistis. Individualisme suatu paham yang
menyatakan bahwa dalam kehidupan seorang individu kepentingan dan kebutuhan individu yang
lebih penting dan pada kebutuhan dan kepentingan masyarakat. Individu yang menentukan corak
masyarakat yang dinginkan. Masyarakat harus melayani kepentmgan individu. Individu mempunyai
hak yang mutlak dan tidak boleh dirampas oleh masyarakat demi kepentingan umum.

Paham individualisme juga disebut Atomisme. Atomisme berpendapat bahwa hubungan antara
individu itu seperti hubungan antar atom-atom yang membentuk molekul-molekul. Oleh karena itu
hubungan in bersifat lahiriah. Bukan kesatuan yang penting tetapi keaneka ragaman yang penting
dalam masyarakat.

Pandangan individualistis ini yang otomistis ini berakar pada nominalisme suatu aliran filsafat yang

menyatakan bahwa konsep-konsep umum itu tidak mewakili realitas dari sesuatu hal. Yang menjadi
realitas itu individu. Realitas masyarakat itu ada karena individu itu ada. Jika individu tidak ada maka
masyarakat itu tidak ada. Jadi adanya individu itu tidak tergantung pada adanya masyarakat.

J.J. Rousseau (1712-1778) dalam bukunya "kotrak sosial" menjelaskan paham liberalisme dan
individualisme dalam satu kalimat yang terkenal: “Manusia itu dilahirkan merdeka, tetapi di mana-
mana dibelenggu” (Driarkara SY, 1964, p. 109). Manusia itu bebas (merdeka) dan hidup pada
lingkungan sekitar dan sesamanya. Hidup dalam lingkungan tertutup dari lingkungan dan sesamanya
itu manusia merasa bahagia. Masyarakat hanya merupakan suatu kumpulan atau jumlah orang yang
secara kebetulan saja berkumpul pada suatu tempat seperti butli-butir pasir tersebut di atas. Tidak
ada hubungan satu dengan yang lain. Masyarakat terbina karena orang-orang yang kebetulan tidak
berhubungan satu sama lain itu berhubungan disebabkan oleh adanya suatu kebutuhan, sehingga
masing-masing individu itu mengadakan kontrak sosial untuk hidup bersama. Bentuk kerja sama
dalam hidup bersama itu dibatasi oleh kebutuhan masing-masing individu. Hanya sampai pada batas
tertentu saja individu itu hidup dalam masyarakat. Makin banyak kebutuhan seorang yang dapat
dtharapkan dari masyarakat maka hubungan dengan masyarakat makin erat, sebaliknya makin
sedikit kebutuhannya dalam masyarakat makin renggang hubungannya dengan masyarakat.

Paham yang memandang hubungan antara individu dan masyarakat dari segi interaksi. Dari uraian
tersebut di atas kita telah mengetahui paham totalisme dan individualisme yang masih berpijak pada
satu kutub. Paham totalisme berpijak pada masyarakat, sebaliknya paham individualisme. Totalisme
mengabaikan peranan individu dalam masyarakat sebaliknya, paham individualisme mengabaikan
peranan masyarakat dalam kehidupan individu. Oleh karena itu kedua-duanya diliputi oleh kesalahan
detotalisme. Pabam individu memandang manusia sebagal seorang individu itu sebagai segala-
galanya di luar individu itu tidak ada. Jadi masyarakat pun pada dasarnya tidak ada yang ada hanya
individu. Sebaliknya paham totalisme memandang masyarakat itu segala di luar masyarakat itu tidak
ada. Jadi individu itu hanya ada jika masyarakat itu ada. Adanya individu itu terikat pada adanya
masyarakat.

Paham yang ketiga ini memandang masyarakat sebagai proses di mana manusia sendiri
mengusahakan kehidupan bersama mcnurut konsepsinya dengan bertanggung jawab atas hasilnya.
Manusia tidak berada
di dalam masyarakat bagaikan burung di dalam kurungannya, melainkan ia bermasyarakat.
Masyarakat bulcan wadah melainkan aksi, yaitu social action. Masyarakat terdiri dari sejumlab
pengertian, perasaan, sikap, dan tindakan, yang tidak terbilang banyaknya. Orang berkontak dan
berhubungan satu dengan yang lain menurut pola-pola sikap dan perilaku tertentu, yang entah
dengan suka, entah terpaksa telah diterima oleh mereka. Umumnya dapat dikatakan bahwa
kebanyakan orang akan menyesuaikan kelakuan mereka dengan pola-pola itu. Seandainya tidak,
hidup sebagai manusia menjadi mustahil. “Masyarakat sebagai proses” dapat dipandang dari dua
segi yang dalam kenyataannya tidak dipisahkan satu dengan yang lain karena merupakan satu
kesatuan. Pertama masyarakat dapat dipandang dari segi anggotanya yang membentuk, mendukung,
menunjang dan meneruskan suatu pola kehidupan tertentu yang kita sebut masyarakat. Kedua
masyarakat dapat ditinjau dari segi pengaruh struktumya atas anggotanya. Pengaruh ini sangat
penting sehingga boleh dikatakan bahwa tanpa pengaruh ini manusia satu persatu tidak akan hidup.
Marilah kita perhatikan bagaimana jika pengaruh masyarakat yang berupa kepemimpinan, bahasa,
hukum, agama, keluarga, ekonomi, pertahanan, moralitas dan lain sebagainya. Tanpa itu semua
manusia satu persatu tidak akan berdaya, ia akan jatuh ke dalam suatu keadaan, di mana-mana
manusia tidak akan berdaya dan manusia akan hancur oleh kekuatan-kekuatan alam dan nalurinya
sendin.

Hubungan individu-masyarakat yaitu bahwa hidup bermasyarakat adalah ciptaan dan usaha manusia
sendiri. Manusia berkeluarga, ia berkelompok. Selalu membuat sesuatu dan berbuat. Keluarga,
kelompok, masyarakat dan negara tidak merupakan kesatuan-kesatuan yang berdiri di luar. Mereka
ada usaha manusia, yang terus dipertahankan, dipelihara, ditunjang, atau apabila perlu-diubahkan
atau diganti oleh manusia. Mereka adalah bagian hidupnya. Mereka adalah bentuk perilaku yang
tergantung dari dia. Hidup bermasyarakat yang diusahakan dan diciptakan sendiri, bertujuan untuk
memungkinkan perkembangannya sebagai manusia. Sebab tanpa masyarakat tidak ada hidup
individual yang manusiawi. Jadi manusia sekaligus membentuk dan dibentuk oleh hasil karyanya
sendiri, yaitu masyarakat. Manusia tidak bebas dalam arti bahwa ia bebas memilih antara hidup
sendiri atau hidup berbagai dengan orang lain. Ia harus hidup berbagai agar tidak hancur. Tetapi cara
dan bentuk hidup berbagai itu ditentukannya dengan bebas. Tidak ada satu pola kebudayaan yang
mutlak dan universal. Jadi ada relasi timbal balik antara individu. Di satu pihak individu ikut

membentuk dan menegakkan masyarakat, dan ia bertanggungjawab. Di lain pihak masyarakat
menghidupi individu dan oleh karenanya bersifat mengikat bagi dia.

Hubungan antara masyarakat dan individu dapat digambarkan sebagai kutub positif dan kutup negatif
pada aliran listrik. Jika dua kutub itu dihubungkan listrik ia akan mampu memberi kekuatan baginya
dan menimbulkan suasana yang cerah. Jika individu dan masyarakat dipersatukan maka kehidupan
individu dan masyarakat akan lebih bergairah dan suasana kehidupan individu dan kehidupan
masyarakat akan lebih bermakna dan hidup serta bergairrah.

HUBUNGAN INDIVIDU DAN MASYARAKAT DI INDONESIA

Dari uraian tersebut di atas kita dapat mengetahui bahwa hubungan individu dan masyarakat itu
dapat ditinjau dari segi masyarakat saja (totalisme), ditinjau dari segi individu saja (individualisme)
dan ditinjau dari segi interaksi individu dan masyarakat. Dengan memperhatikan tiga pandangan ini
maka bagaimana hubungan individu dan masyarakat di Indonesia? Profesor Supomo menyatakan
bahwa hubungan antara warga negana dan negara Indonesia adalah hubungan yang integral.
Driyarkara SY menyatakan bahwa hubungan masyarakat Indonesia pada dasarnya adalah hubungan
yang integral (Driyarkara, 1959, p. 225). Dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa paham yang dianut
untuk menggambarkan hubungan antara individu dan masyarakat di Indonesia adalah paham
integralisme.

Paham inntegralisme berpendapat bahwa individu-individu yang bermacam-macam itu merupakan
suatu kesatuan dan keseluruhan yang utuh. Manusia dalam masyarakat yang teratur dan tertib itu
berada dalam suatu integrasi. Menurut Dniyarkara SY integrasi semacam ini dapat berarti dalam arti
sosiologis dan psikologis, sebab manusia yang berada dalam integrasi itu merasa aman, tenang dan
bahagia. Integrasi semacam ini terdapat dalam masyanakat kecil maupun besar, seperti keluarga,
desa dan negara.
Menurut peneitian J. H. Boeke (1953) yang dikutip oleb Driyarkara SY (1959, p. 229-230) terhadap
masyarakat Tenganan dan masyarakat Badui serta Tengger disimpuilcan bahwa dalam masyarakat
yang integral akan terlihat adanya unsur-unsur pokok sebagai berikut: (1) keyakinan tentang adanya
hubungan antara manusia dan dunia yang tak terlihat, (2) hubungan antara manusia dengan tanah
tumpah darah yang sangat erat, (3) hubungan antara manusia dengan keluarga yang erat, (4) suatu
bentuk masyarakat di mana semua anggotanya mengerti seluk beluk masyarakatnya, (5) kehidupan
material yang layak karena orang mengerti bagaimana mencari kehidupan itu.

Hubungan individu dan masyarakat dalam Indonesia merdeka seperti yang dimaksud Prof. Supomo
dapat diperhatikan dalam rumusan Proklamasi Kemerdekaan RI, Undang-Undang Dasar 1945 dan
GBHN. Dalam Proklamasi dirumuskan: Kami bangsa Indonesia dengan mi menyatakan
kemerdekaannya. Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan
dengan cara seksama dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Atas nama bangsa Indonesia.
Sukarno Hatta. (Nugroho Notosusanto, 1983, p. 17). Penggunaan kata kami dan atas nama bangsa
Indonesia menunjukkan bahwa negara yang dikemer dekaan itu untuk semua warga bangsa
Indonesia, bukan untuk Sukarno maupun Hatta. Hal ini berarti bahwa kemerdekaan untuk seluruh
bangsa Indonesia diperjuangkan oleh masing-masing warga bangsa Indonesia. Jadi individu dan
masyarakat terinntegrasi untuk memperjuangkan dan mempertahankan kemederkaan Indonesia.
Dalam Pembukaan UUD 1945 alinea pertama dinyatakan bahwa kemerdekaan adalah hak segala
bangsa. Pada alinea kedua dinyatakan bahwa perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah
mengantarkan negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Pada alinea
yang ketiga atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan didorong oleh keinginan yang luhur
supaya berkebangsaan yang bebas maka rakyat Indonesia menyatakan kemerdekaannya. Pada
alinea keempat dinyatakan bahwa pemerintahan negara Indonesia yang dibentuk adalah untuk
melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan
kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia
yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Dari kenyataan ini dapat
disimpulkan bahwa kepentingan yang diperjuangkan adalah masyarakat secara keseluruhan dan
individu-individu sebagai warga bangsa secara perseorangan.

Perhatian terhadap masyarakat dan individu dapat dijumpai pada pasal-pasal dalam UUD 1945
seperti pasal 30 yang mengatur hak dan kewajiban warga negara untuk membela negara, pasal 31
yang mengatur hak dan kewajiban tentang pengajaran bagi tiap-tiap warga negara dan pemerintah,
pasal 33 yang mengatur tentang (1) perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan atas
asas kekeluargaan, (2) cabang cabang produksi yang penting bagi negara dan menguasai hajat

hidup orang banyak dikuasai oleh negara, (3) bumi dan air dan kekayaan-kekayaan alam yang
terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besamya
kemakmuran rakyat, pasal 34 menyatakan bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh
negara. Dalam pasal 27 dijelaskan bahwa setiap warga negara mempunyai kedudukan yang sama
dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu tidak ada
kecualinya. Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi
kemanusiaan. Pasal 28 menyatakan tiap-tiap warga negara mempunyai kemerdekaan berserikat,
berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan sebagaimana ditetapkan dalam Undang-
undang. Pasal 29 negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya
masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu. Pada pasal 1
dijelaskan bahwa Negara Indonesia adalah negara kesatuan yang berbentuk Republik dan
kedaulatan di tangan rakyat dan dilakukan sepenuhnya oleh MPR. Jika pasal demi pasal tersebut di
atas diperhatikan maka jelas bahwa individu dan masyarakat diberi kewajiban dan hak dalam
mengejar kehidupan yang bahagia sejahtera.

Dalam Ketetapan MPR nomor II/MPR/l988 tentang tujuan pembangunan nasional dijelaskan bahwa
pembangunan nasional adalah untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang merata material
dan spiritual berdasarkan Pancasila di dalam wadah negara Kesatauan Republik Indonesia yang
merdeka, berdaulat, bersatu dan berkedaulatan rakyat dalam suasana perikehidupan bangsa yang
aman, tenteram, tertib dan dinamis serta dalam lingkungan pergaulan dunia yang merdeka,
bersahabat, tertib dan damai.
Dan pemyataan ini dapat diketahui bahwa kepentingan individu dan kepentingan bersama-sama
mendapat perhatian dan diberi tempat yang sama dalam menciptakan kehidupan yang bahagia
sejahtera.
Berdasarkan ketetapan MPR NO. II/MPR/1978 tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan
Pancasila dijelaskan tentang Pandangan Pancasila terhadap hubungan individu dan masyarakat
bahwa. kebahagian manusia akan tercapai jika dapat dikembangkan hubungan yang selaras, serasi,
dan seimbang antara manusia dan masyarakat. Hubungan sosial yang selarasdan serasi, selaras dan
seimbang itu antara individu dan masyarakat itu tidak netral, tetapi dijiwai oleh nilai-nilal yang
terkandung dalam lima sila dalam Pancasila secara kesatuan.

Dan uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa pandangan integralisme ini tidak lain adalah
pandangan Pancasila yang memandang hubungan individu dan masyarakat itu secara serasi selaras
dan seimbang dalam menciptakan manusia yang sejahtera dan bahagia lahir batin, dunia dan akhirat.

Dalam ilmu sosial individu merupakan bagian terkecil dari kelompok masyarakat yang tidak
dapat dipisah lagi menjadi bagian yang lebih kecil. Umpama keluarga sebagai kelompok
sosial yang terkecil terdiri dari ayah, ibu dan anak. Ayah merupakan individu yang sudah
tidak dapat dibagi lagi, demikian pula Ibu. Anak masih dapat dibagi sebab dalam suatu
keluarga jumlah anak dapat lebih dari satu.Hubungan individu dan masyarakat secara umum :
Hubungan antara individu dan masyarakat telah lama dibicarakan orang. Soeyono Soekanto
(1981, p.4) menyatakan bahwa sejak Plato pada zaman Yunani Kuno telah ditelaah tentang
hubungan individu dengan masyarakat. K. J. Veerger (1986, p. 10) lebih lanjut menjelaskah
bahwa pembahasan tentang hubung individu dan masyarakat telah dibahas sejak Socrates
guru Plato.
Hubungan antara individu dan masyarakat telah.banyak disoroti oleh para ahli baik para filsuf
maupun para ilmuan sosial. Berbagai pandangan itu pada dasarnya dapat dikelompokkan
kedalam tiga pendapat yaitu pendapat yang menyatakan bahwa (1) masyarakat yang

menentukan individu, (2) individu yang menentuk masyarakat, dan (3) idividu dan
masyarakat saling menentukan.
Pandangan yang pertama terhadap hubungan antara masyarakat dan individu didasarkan
bahwa masyarakat itu mempunyai suatu realitas tersendini. Masyarakat yang penting dan
Individu itu hidup untuk masyarakat. Pandangan ini berakar pada realisme yaitu suatu aliran
filsafat yang mengatakan bahwa konsep-konsep umum seperti manusia binatang, pohon,
keadaan, keindahan dan sebagainya itu mewakili realita luar diri yang memikirkan mereka.
Jadi di luar manusia yang sedang berpikir ada suatu realitas tertentu yang bersifat umum.
Oleh karena itu berlaku secara umum dan tidak terikat oleh yang satu persatu. Jika
mengatakan manusia itu makhluk jasmani dan rohani, maka kita membicarakan setiap
manusia terlepas dan manusia yang manapun dan di manapun. Konsekuensi dari pendapat itu
maka masyarakat itu merupakan suatu realitas. Masyarakat memiliki realitas tersendiri dan
tidak terikat oleh unsur yang lain dan yang berlaku umum. Masyarakat yang dipindahkan
oleh seseorang itu berada di luar orang yang berpikir tentang masyarakat itu sendiri. Sebelum
individu ada masyarakat yang dipikirkan itu telah ada. Oleh karena itu masyarakat itu tidak
terikat pada individu yang memikirkannya. Menurut K J Veerger (1986) ada tiga pandangan
yang memandang masyarakat sebagai suatu realitas yaitu pandangan holistis, organis dan
kolektivitis.
Pandangan holisme terhadap hubungan individu dan masyarakat. Istilah holisme berasal dan
bahasa Yunani, Holos yang berarti keseluruhan. Holisme memandang secara berlebihan
terhadap totalitas (keseluruhan) path kesatuan kehidupan manusia dengan mengingkari
adanya perbedaan di antara manusia. Keseluruhan dipandang sebagai sesuatu hal yang
melebihi dari bagian-bagian. Pandangan yang bersifat holistis ini tampak pada pandangan
Aguste Comte (1798 – 1853). Menurut Aguste Comte masyarakat dilihat suatu kesatuan di
mana dalam bentuk dan arahnya tidak tergantung pada inisiatif bebas anggotanya, melainkan
pada proses spontan otomatis perkembangan akal budi manusia. Akal budi dan cara orang
berpikir berkembang dengan sendirinya. Prosesnya berlangsung secara bertahap, merupakan
proses alam yang tak terelakkan dan tak terhentikan. Perkembangan ini dikuasal Oleh hukum
universal yang berlaku bagi semua orang di manapun dan kapanpun Dan pandangan Comte
in dapat diketahui bahwa umat manusia itu dipandang sebagai suatu keseluruhan, individu
merupakan bagian-bagian yang hidup untuk kepentingan keseluruhan.
Pandangan organisme terhadap hubungan antara individu dan masyarakat. Organisme suatu
aliran yang berpendapat bahwa masyarakat itu berevolusi atau berkembang berdasarkan suatu
pninsip intrinsik di dalani dirinya sama seperti halnya dengan tiap-tiap organisme atau
makhluk hidup. Prinsip perkembangan ini berperan dengan lepas bebas dari kesadaran dan
kemauan anggota masyarakat.
Pandangan hubungan antara individu dan masyarakat sesuai dengan konsep organisme
muncul dari Herbart Spencer (1985) diringkas oleh Margaret H Poloma (1979) sebagai
berikut:

1. Masyarakat maupun organisme hidup sama-sama mengalami pertumbuhan.
2. Disebabkan oleh pertambahan dalam ukurannya, maka struktur tubuh sosial (social
body) maupun tubuh organisme hidup (living body) itu mengalami pertambahan pula,
dimana semakin besar suatu struktur sosial maka semakin banyak pula bagian-
bagiannya, seperti halnya dengan sistem biologis yang menjadi semakin kompleks
sementara ia tumbuh menjadi semakin besar Binatang yang lebih kecil, misalnya
cacing tanah, hanya sedikit memiliki bagian-bagian yang dapat dibedakan bila
dibanding dengan makhluk yang lebih sempurna, misalnya manusia.
3. Tiap bagian yang tumbuh di dalam tubuh organissme biologis maupun organisme
sosial memiliki fungsi dan tujuan tertentu: “mereka tumbuh menjadi organ yang
berbeda dengan tugas yang berbeda pula”. Pada manusia, hati memiliki struktur dan

fungsi yang berbeda dengan paru-paru; demikian juga dengan keluarga sebagai
struktur institusional memiliki tujuan yang berbeda dengan sistem politik atau
alconomi.

4. Baik di dalam sistem organisme maupun sistem sosial, perubahan pada suatu bagian
akan mengakibatkan perubahan pada bagian lain dan pada akhirnya di dalam sistem
secara keseluruhan. Perubahan sistem politik dari suatu pemerintahan demokratis ke
suatu pemerintahan totaliter akan mempengaruhi keluarga, pendidikan, agama dan
sebagainya. Bagian-bagian itu saling berkaitan satu sama lain.
5. Bagian-bagian tersebut, walau saling berkaitan, merupakan suatu struktur-mikro yang
dapat dipelajari secara terpisah. Demikianlah maka sistem peredaran atau sistem
pembuangan merupakan pusat perhatian para spesialis biologi dan media, seperti
halnya sistem politik atau sistern ekonomi merupakan sasaran pengkajian para ahli
politik dan ekonomi.
Dari uraian tersebut di atas dapat diketahui bahwa menurut Spencer masyarakat dipandang
sebagai organisme hidup yang alamiah dan deterministis (bebas). Semua gejala sosial
diterangkan berdasarkan hukum alam. Hukum yang mengatur pertumbuhan fisik tubuh
manusla juga mcngatur pertumbuhan sosial. Manusia sebagai individu tidak bebas dalam
menentukan arah pertumbuhan masyarakat. Manusia sebagai individu justru ditentukan oleh
masyarakat dalam pertumbuhannya. Masyarakat berdiri sendiri dan berkembang bebas dari
kemauan dan tanggung ja anggotanya di bawah kuasa hukum alam.
Hubungan individu dan masyarakat berdasarkan kolektivisme. Menurut pandangan kolektif
masyarakat mempunyai realitas yang kuat. Segala sesuatu kepentingan individu ditentukan
oleh masyarakat. Masyarakat mengatur secara seragam untuk kepentingan kolektif.
Menurut Peter Jarvis (1986) yang dikutip oleh DR Wuradji MS (1988) Karl Mark, Bowles,
Wailer dan Illich tokoh paham kolektif yang berpendapat bahwa individu tidak mempunyai
kebebasan, kebebasan pribadi dibatasi oleh kelompok elite (kelompok atas yang berkuasa)
dengan mengatas namakan rakyat banyak.
Konsep masyarakat kolektif ini diterapkan pada paham totalitas di negara-negara komunis
seperti RRC. Di dalam negara komunis individu tidak mempunyai hak untuk mengatur
kepentingan diari sendiri, segala kebutuban diatur oleh negara. Negara diperintah oleh satu
partai politik komunis. Dalam negara komunis ini makan, pakaian, perumahan dan kerja
diatur oleh negara, individu tidak punya pilihan lain kecuali yang telah ditentukan oleh
negara. Semua hak milik individu seperti yang dimiliki orang-orang atau keluarga di negara
kita ini tidak ada.
Hubungan individu dan masyarakat menurut paham individualistis. Individualisme suatu
paham yang menyatakan bahwa dalam kehidupan seorang individu kepentingan dan
kebutuhan individu yang lebih penting dan pada kebutuhan dan kepentingan masyarakat.
Individu yang menentukan corak masyarakat yang dinginkan. Masyarakat harus melayani
kepentmgan individu. Individu mempunyai hak yang mutlak dan tidak boleh dirampas oleh
masyarakat demi kepentingan umum.
Paham individualisme juga disebut Atomisme. Atomisme berpendapat bahwa hubungan
antara individu itu seperti hubungan antar atom-atom yang membentuk molekul-molekul.
Oleh karena itu hubungan in bersifat lahiriah. Bukan kesatuan yang penting tetapi keaneka
ragaman yang penting dalam masyarakat.
Pandangan individualistis ini yang otomistis ini berakar pada nominalisme suatu aliran
filsafat yang menyatakan bahwa konsep-konsep umum itu tidak mewakili realitas dari
sesuatu hal. Yang menjadi realitas itu individu. Realitas masyarakat itu ada karena individu
itu ada. Jika individu tidak ada maka masyarakat itu tidak ada. Jadi adanya individu itu tidak
tergantung pada adanya masyarakat.
J.J. Rousseau (1712-1778) dalam bukunya “kotrak sosial” menjelaskan paham liberalisme

dan individualisme dalam satu kalimat yang terkenal: “Manusia itu dilahirkan merdeka, tetapi
di mana-mana dibelenggu” (Driarkara SY, 1964, p. 109). Manusia itu bebas (merdeka) dan
hidup pada lingkungan sekitar dan sesamanya. Hidup dalam lingkungan tertutup dari
lingkungan dan sesamanya itu manusia merasa bahagia. Masyarakat hanya merupakan suatu
kumpulan atau jumlah orang yang secara kebetulan saja berkumpul pada suatu tempat seperti
butli-butir pasir tersebut di atas. Tidak ada hubungan satu dengan yang lain. Masyarakat
terbina karena orang-orang yang kebetulan tidak berhubungan satu sama lain itu berhubungan
disebabkan oleh adanya suatu kebutuhan, sehingga masing-masing individu itu mengadakan
kontrak sosial untuk hidup bersama. Bentuk kerja sama dalam hidup bersama itu dibatasi oleh
kebutuhan masing-masing individu. Hanya sampai pada batas tertentu saja individu itu hidup
dalam masyarakat. Makin banyak kebutuhan seorang yang dapat dtharapkan dari masyarakat
maka hubungan dengan masyarakat makin erat, sebaliknya makin sedikit kebutuhannya
dalam masyarakat makin renggang hubungannya dengan masyarakat.
Paham yang memandang hubungan antara individu dan masyarakat dari segi interaksi. Dari
uraian tersebut di atas kita telah mengetahui paham totalisme dan individualisme yang masih
berpijak pada satu kutub. Paham totalisme berpijak pada masyarakat, sebaliknya paham
individualisme. Totalisme mengabaikan peranan individu dalam masyarakat sebaliknya,
paham individualisme mengabaikan peranan masyarakat dalam kehidupan individu. Oleh
karena itu kedua-duanya diliputi oleh kesalahan detotalisme. Pabam individu memandang
manusia sebagal seorang individu itu sebagai segala-galanya di luar individu itu tidak ada.
Jadi masyarakat pun pada dasarnya tidak ada yang ada hanya individu. Sebaliknya paham
totalisme memandang masyarakat itu segala di luar masyarakat itu tidak ada. Jadi individu itu
hanya ada jika masyarakat itu ada. Adanya individu itu terikat pada adanya masyarakat.
Paham yang ketiga ini memandang masyarakat sebagai proses di mana manusia sendiri
mengusahakan kehidupan bersama mcnurut konsepsinya dengan bertanggung jawab atas
hasilnya. Manusia tidak berada
di dalam masyarakat bagaikan burung di dalam kurungannya, melainkan ia bermasyarakat.
Masyarakat bulcan wadah melainkan aksi, yaitu social action. Masyarakat terdiri dari
sejumlab pengertian, perasaan, sikap, dan tindakan, yang tidak terbilang banyaknya. Orang
berkontak dan berhubungan satu dengan yang lain menurut pola-pola sikap dan perilaku
tertentu, yang entah dengan suka, entah terpaksa telah diterima oleh mereka. Umumnya dapat
dikatakan bahwa kebanyakan orang akan menyesuaikan kelakuan mereka dengan pola-pola
itu. Seandainya tidak, hidup sebagai manusia menjadi mustahil. “Masyarakat sebagai proses”
dapat dipandang dari dua segi yang dalam kenyataannya tidak dipisahkan satu dengan yang
lain karena merupakan satu kesatuan. Pertama masyarakat dapat dipandang dari segi
anggotanya yang membentuk, mendukung, menunjang dan meneruskan suatu pola kehidupan
tertentu yang kita sebut masyarakat. Kedua masyarakat dapat ditinjau dari segi pengaruh
struktumya atas anggotanya. Pengaruh ini sangat penting sehingga boleh dikatakan bahwa
tanpa pengaruh ini manusia satu persatu tidak akan hidup. Marilah kita perhatikan bagaimana
jika pengaruh masyarakat yang berupa kepemimpinan, bahasa, hukum, agama, keluarga,
ekonomi, pertahanan, moralitas dan lain sebagainya. Tanpa itu semua manusia satu persatu
tidak akan berdaya, ia akan jatuh ke dalam suatu keadaan, di mana-mana manusia tidak akan
berdaya dan manusia akan hancur oleh kekuatan-kekuatan alam dan nalurinya sendin.
Hubungan individu-masyarakat yaitu bahwa hidup bermasyarakat adalah ciptaan dan usaha
manusia sendiri. Manusia berkeluarga, ia berkelompok. Selalu membuat sesuatu dan berbuat.
Keluarga, kelompok, masyarakat dan negara tidak merupakan kesatuan-kesatuan yang berdiri
di luar. Mereka ada usaha manusia, yang terus dipertahankan, dipelihara, ditunjang, atau
apabila perlu-diubahkan atau diganti oleh manusia. Mereka adalah bagian hidupnya. Mereka
adalah bentuk perilaku yang tergantung dari dia. Hidup bermasyarakat yang diusahakan dan
diciptakan sendiri, bertujuan untuk memungkinkan perkembangannya sebagai manusia.
Sebab tanpa masyarakat tidak ada hidup individual yang manusiawi. Jadi manusia sekaligus
membentuk dan dibentuk oleh hasil karyanya sendiri, yaitu masyarakat. Manusia tidak bebas

dalam arti bahwa ia bebas memilih antara hidup sendiri atau hidup berbagai dengan orang
lain. Ia harus hidup berbagai agar tidak hancur. Tetapi cara dan bentuk hidup berbagai itu
ditentukannya dengan bebas. Tidak ada satu pola kebudayaan yang mutlak dan universal. Jadi
ada relasi timbal balik antara individu. Di satu pihak individu ikut membentuk dan
menegakkan masyarakat, dan ia bertanggungjawab. Di lain pihak masyarakat menghidupi
individu dan oleh karenanya bersifat mengikat bagi dia.
Keluarga adalah unit/satuan masyarakat terkecil yang sekaligus merupakan suatu kelompok
kecil dalam masyarakat. Kelompok ini dalam hubungannya dengan perkembangan individu
sering dikenal dengan sebutan primary group. Kelompok inilah yang melahrikan individu
dengan berbgai macam bentuk kepribadiannya dalam masyarakat.
Keluarga merupakan gejala universal yang terdapat dimana-mana di dunia ini. Sebagai gejala
yang universal, keluarga mempunyai 4 karakteristik yang memberi kejelasan tentang konsep
keluarga .
1. Keluarga terdiri dari orang-orang yang bersatu karena ikatan perkawinan, darah atau
adopsi. Yang mengiakt suami dan istri adalah perkawinan, yang mempersatukan orang tua
dan anak-anak adalah hubungan darah (umumnya) dan kadang-karang adopsi.
2. para anggota suatu keluarga biasanya hidup bersama-sama dalam satu rumah dan mereka
membentuk sautu rumah tangga (household), kadang-kadang satu rumah tangga itu hanya
terdiri dari suami istri tanpa anak-anak, atau dengan satu atau dua anak saja
3. Keluarga itu merupakan satu kesatuan orang-orang yang berinteraksi dan saling
berkomunikasi, yang memainkan peran suami dan istri, bapak dan ibu, anak laki-laki dan
anak perempuan
4. Keluarga itu mempertahankan suatu kebudayaan bersama yang sebagian besar berasal dari
kebudayaan umum yang lebih luas.
Dalam bentuknya yang paling dasar sebuah keluarga terdiri atas seorang laki-laki dan seorang
perempuan, dan ditambah dengan anak-anak mereka yang belum menikah, biasanya tinggal
dalam satu rumah, dalam antropologi disebut keluarga inti.. satu keluarga ini dapat juga
terwujud menjadi keluarga luas dengan adanya tambahan dari sejumlah orang lain, baik yang
kerabat maupun yang tidak sekerabat, yang secara bersama-sama hidup dalam satu rumah
tangga dengan keluarga inti. Emile Durkheim mengemukakan tentang sosiologi keluarga
dalam karyanya : Introduction a la sosiologi de la famile (mayor Polak, 1979: 331).
Bersumber dari karya ini muncul istilah : keluarga conjugal : yaitu keluarga dalam
perkawinan monogamy, terdiri dari ayah, ibi, dan anak-anaknya. Keluarga conjugal sering
juga disebut keluarga batih atau keluarga inti. Koentjaraningrat membedakan 3 macam
keluarga luas berdasarkan bentuknya :
1. keluarga luas utrolokal, berdasarkan adapt utrolokal, terdiri dari keluarga inti senior
dengan keluarga-keluarga batih/inti anak laki-laki maupun anak perempuan
2. keluarga luas viriolokal, berdasakan adapt viriolokal, terdiri dari satu keluarga inti senior
dengan keluarga-keluarga inti dari anak-anak lelaki
3. Keluarga luas uxorilokal, berdasarkan adapt uxorilokal, terdiri dari satu keluarga inti senior
dengan keluarga-keluarga batih/inti anak-anak perempuan
Dalam keluarga sering kita jumpai adanya pekerjaan-pekerjaan yang harus dilakukan. Suatu
pekerjaan yagn harus dilakukan itu biasanya disebut fungsi. Fungsi keluarga adalah suatu
pekerjaan-pekerjaan yang harus dilaksanakn didalam atau oleh keluarga itu. Macam-macam
fungsi keluarga adalah
1. Fungsi biologis
2. Fungsi Pemeliharaan

3. Fungsi Ekonomi
4. Fungsi Keagamaan
5. Fungsi Sosial
Dikutip dari sumber :
1. Materi ISD minggu ke 3

Scribd
Upload a Document

Top of Form

Search Books, Presentations, Business, Academics...

Bottom of Form

Explore

Documents

• Books - Fiction

• Books - Non-fiction

• Health & Medicine

• Brochures/Catalogs

• Government Docs

• How-To Guides/Manuals

• Magazines/Newspapers

• Recipes/Menus

• School Work

• + all categories

• Featured

• Recent

People

• Authors

• Students

• Researchers

• Publishers

• Government & Nonprofits

• Businesses

• Musicians

• Artists & Designers

• Teachers

• + all categories

• Most Followed

• Popular

• Sign Up

• |

• Log In

1

First Page
Previous Page
Next Page

/ 9

Sections not available
Zoom Out
Zoom In
Fullscreen
Exit Fullscreen
Select View Mode

View Mode

BookSlideshowScroll

Top of Form

Search wit

Bottom of Form

Readcast
Add a Comment
Embed & Share

Reading should be social! Post a message on your social networks to let others know what
you're reading. Select the sites below and start sharing.

Readcast this Document

Top of Form

e6e4d17202f295

Login to Add a Comment

4gen

Bottom of Form

Share & Embed

Add to Collections

Download this Document for Free

Auto-hide: on

MAKALAH SOSIAL DASAR
DISUSUN OLEH :
Hendry Ulaen
080113086
FAKULTAS KEDOKTERAN
PROGRAM STUDI KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS SAM RATULANGI
MANADO
2009

BAB II
ISI

1. Pengertian Masyarakat

Masyarakat merupakan salah satu satuan sosial sistem sosial, atau kesatuan hidup manusia. Istilah

inggrisnya adalahsociety , sedangkan masyarakat itu sendiri berasal dari bahasa ArabSyakara yang berarti

ikut serta atau partisipasi, kata Arab masyarakat berarti saling bergaul yang istilah ilmiahnya berinteraksi.

Masyarakat dapat diartikan bermacam-macam menurut pendapat tiap orang. Berikut ini akan dijelaskan

beberapa pengertian masyarakat menurut para ahli :
M e n u r u t P r o f . D r .
K o e n t j a r a n i n g r a t
m a s y a r a k a t a d a l a h
m a n u s i a y a n g s a l i n g
berinteraksi yang memiliki perasaan untuk kegiatan tersebut dan adanya suatu
keterikatan untuk mencapai tujuan bersama.
M a c I v e r d a n P a g e
m e n g a t a k a n b a h w a :
“ M a s y a r a k a t i a l a h s u a t u
s i s t e m d a r i

kebiasaan dan tata cara, dari wewenang dan kerjasama antara berbagai kelompok dan penggolongan, dari

pengawasan tingkah laku serta kebebasan manusia. Keseluruhan yang selalu berubah ini kita namakan

masyarakat.”
M e n u r u t R a l p h L i n t o n
m a s y a r a k a t m e r u p a k a n
s e t i a p k e l o m p o k m a n u s i a
y a n g

telah hidup dan bekerja bersama cukup lama sehingga mereka dapat mengatur diri mereka dan

menganggap diri mereka sebagai suatu kesatuan sosial dengan batas- batas yang dirumuskan dengan jelas.

S e l o S o e m a r d j a n
m e n y a t a k a n b a h w a
m a s y a r a k a t a d a l a h o r a n g -
o r a n g y a n g
hidup bersama, yang menghasilkan kebudayaan.
M e n u r u t K a r l M a r x
m a s y a r a k a t a d a l a h s u a t u
s t r u k t u r y a n g m e n d e r i t a
s u a t u
ketegangan organisasi atau perkembangan akibat adanya pertentangan antara
kelompok-kelompok yang terbagi secara ekonomi.
M e n u r u t E m i l e D u r k h e i m
m a s y a r a k a t m e r u p a k a n
s u a u k e n y a t a a n o b j e k t i f
pribadi-pribadi yang merupakan anggotanya.
M e n u r u t P a u l B . H o r t o n
& C . H u n t m a s y a r a k a t
m e r u p a k a n k u m p u l a n
manusia yang relatif mandiri, hidup bersama-sama dalam waktu yang cukup lama,
2
tinggal di suatu wilayah tertentu, mempunyai kebudayaan sama serta melakukan
sebagian besar kegiatan di dalam kelompok / kumpulan manusia tersebut.
F . Z n a n i e c k i
m e n y a t a k a n b a h w a
m a s y a r a k a t m e r u p a k a n
s u a t u s i s t e m y a n g
meliputi unit biofisik para individu yang bertempat tinggal pada suatu daerah
geografis tertentu selama periode waktu tertentu dari suatu generasi.
S m i t h , S t a n l e y d a n
S h o r e s m e n d e f i n i s i k a n
m a s y a r a k a t s e b a g a i s u a t u
kelompok individu-individu yang terorganisasi serta berpikir tentatang diri mereka
sendiri sebagai suatu kelompok yang berbeda.
D a r i b e r b a g a i p e n d a p a t
t e r s e b u t d i a t a s m a k a W
F C o n n e l l ( 1 9 7 2 , p . 6 8 -
6 9 )

menyimpulkan bahwa masyarakat adalah (1) suatu kelompok orang yang berpikir tentang diri mereka

sendiri sebagai kelompok yang berbeda, diorganisasi, sebagai kelompok yang diorganisasi secara tetap

untuk waktu yang lama dalam rintang kehidupan seseorang secara terbuka dan bekerja pada daerah

geografls tertentu, (2) kelompok orang yang mencari penghidupan secara berkelompok, sampai turun

temurun dan mensosialkan anggota anggotanya melalui pendidikan, (3) suatu ke orang yang mempunyai

sistem kekerabatan yang terorganisasi yang mengikat anggota-anggotanya secara bersama dalam

keselurühan yang terorganisasi.

2. Unsur-Unsur Masyarakat

Menurut Soerjono Soekanto dalam masyarakat setidaknya memuat unsur
sebagai berikut ini :

1.Beranggotakan minimal dua orang.

2. Anggotanya sadar sebagai satu kesatuan.

3. Berhubungan dalam waktu yang cukup lama yang menghasilkan manusia baru

yang saling berkomunikasi dan membuat aturan-aturan hubungan antar anggota

masyarakat.

4. Menjadi sistem hidup bersama yang menimbulkan kebudayaan serta keterkaitan

satu sama lain sebagai anggota masyarakat.

3. Kriteria masyarakat yang baik

Menurut Marion Levy diperlukan empat kriteria yang harus dipenuhi agar
sekumpulan manusia bisa dikatakan / disebut sebagai masyarakat.
3

1. Ada sistem tindakan utama.

2. Saling setia pada sistem tindakan utama.

3. Mampu bertahan lebih dari masa hidup seorang anggota.

4. Sebagian atan seluruh anggota baru didapat dari kelahiran / reproduksi manusia.

4. Pengertian Individu

Individu dalam Bahasa Latin berarti bagian terkecil yang tak dapat dibagi- bagi. Individu dalam

Bahasa Prancis artinya orang seorang, kata ini selalu mengacu pada manusia dan tidak pada yang bukan

manusia, dalam hal ini adalah satu orang manusia “Individere” berarti makhluk individual yang tidak dapat

dibagi-bagikan.

Dalam ilmu sosial individu merupakan bagian terkecil dari kelompok masyarakat yang tidak

dapat dipisah lagi menjadi bagian yang lebih kecil. Misalnya keluarga sebagai kelompok sosial yang

terkecil terdiri dari ayah, ibu dan anak. Ayah merupakan individu yang sudah tidak dapat dibagi lagi,

demikian pula Ibu. Anak masih dapat dibagi sebab dalam suatu keluarga jumlah anak dapat lebih dari satu.

5. Hubungan Individu dan Masyarakat

Hubungan antara individu dan masyarakat telah.banyak disoroti oleh para ahli baik para filsuf

maupun para ilmuan sosial. Berbagai pandangan itu pada dasarnya dapat dikelompokkan kedalam tiga

pendapat yaitu pendapat yang menyatakan bahwa (1) masyarakat yang menentukan individu, (2) individu

yang menentukan masyarakat, dan
(3)
individu
dan
masyarakat
saling
menentukan.

Pandangan yang pertama terhadap hubungan antara masyarakat dan individu didasarkan bahwa

masyarakat itu mempunyai suatu realitas tersendiri dan tidak terikat oleh unsur yang lain dan yang berlaku

umum. Masyarakat yang dipindahkan oleh seseorang itu berada di luar orang yang berpikir tentang

masyarakat itu sendiri. Sebelum individu ada masyarakat yang dipikirkan itu telah ada. Oleh karena itu

masyarakat itu tidak terikat pada individu yang memikirkannya. Menurut K J Veerger (1986) ada tiga

pandangan yang memandang masyarakat sebagai suatu realitas yaitu pandangan holistis, organisme dan

kolektivitis.

Pertama, pandangan holisme terhadap hubungan individu dan masyarakat. Pandangan yang

bersifat holistis ini tampak pada pandangan Aguste Comte (1798 - 1853). Menurut Aguste Comte

masyarakat dilihat suatu kesatuan di mana dalam
4

bentuk dan arahnya tidak tergantung pada inisiatif bebas anggotanya, melainkan pada proses spontan

otomatis perkembangan akal budi manusia. Akal budi dan cara orang berpikir berkembang dengan

sendirinya. Prosesnya berlangsung secara bertahap, merupakan proses alam yang tak terelakkan dan tak

terhentikan. Perkembangan ini dikuasai oleh hukum universal yang berlaku bagi semua orang di manapun

dan kapanpun dan pandangan Comte in dapat diketahui bahwa umat manusia itu dipandang sebagai suatu

keseluruhan, individu merupakan bagian-bagian yang hidup untuk kepentingan keseluruhan.

Kedua, Pandangan organisme terhadap hubungan antara individu dan masyarakat. Organisme

suatu aliran yang berpendapat bahwa masyarakat itu berevolusi atau berkembang berdasarkan suatu

pninsip intrinsik di dalani dirinya sama seperti halnya dengan tiap-tiap organisme atau makhluk hidup.

Prinsip perkembangan ini berperan dengan lepas bebas dari kesadaran dan kemauan anggota masyarakat.

Ketiga, hubungan individu dan masyarakat berdasarkan kolektivisme. Menurut pandangan

kolektif masyarakat mempunyai realitas yang kuat. Segala sesuatu kepentingan individu ditentukan oleh

masyarakat. Masyarakat mengatur secara seragam untuk kepentingan kolektif. Menurut Peter Jarvis (1986)

yang dikutip oleh DR Wuradji MS (1988) Karl Mark, Bowles, Wailer dan Illich tokoh paham kolektif

yang berpendapat bahwa individu tidak mempunyai kebebasan, kebebasan pribadi dibatasi oleh kelompok

elite (kelompok atas yang berkuasa) dengan mengatasnamakan rakyat banyak.

Pandangan yang kedua adalah hubungan individu dan masyarakat menurut paham individualistis.

Individualisme suatu paham yang menyatakan bahwa dalam kehidupan seorang individu kepentingan dan

kebutuhan individu yang lebih penting dan pada kebutuhan dan kepentingan masyarakat. Individu yang

menentukan corak masyarakat yang dinginkan. Masyarakat harus melayani kepentingan individu. Individu

mempunyai hak yang mutlak dan tidak boleh dirampas oleh masyarakat demi kepentingan umum. Paham

individualisme juga disebut Atomisme. Atomisme berpendapat bahwa hubungan antara individu itu seperti

hubungan antar atom-atom yang membentuk molekul-molekul. Oleh karena itu hubungan ini bersifat

lahiriah. Bukan kesatuan yang penting tetapi keaneka ragaman yang penting dalam masyarakat. Pandangan

individualistis ini yang otomistis ini berakar pada nominalisme suatu aliran filsafat yang menyatakan

bahwa konsep-konsep umum itu
5

tidak mewakili realitas dari sesuatu hal. Yang menjadi realitas itu individu. Realitas masyarakat itu ada

karena individu itu ada. Jika individu tidak ada maka masyarakat itu tidak ada. Jadi adanya individu itu

tidak tergantung pada adanya masyarakat.

Paham yang ketiga yaitu paham yang memandang hubungan antara individu dan masyarakat dari

segi interaksi. Dari uraian tersebut di atas kita telah mengetahui paham totalisme dan individualisme yang

masih berpijak pada satu kutub. Paham totalisme berpijak pada masyarakat, sebaliknya paham

individualisme. Totalisme mengabaikan peranan individu dalam masyarakat sebaliknya, paham

individualisme mengabaikan peranan masyarakat dalam kehidupan individu. Oleh karena itu kedua-

duanya diliputi oleh kesalahan detotalisme. Paham individu memandang manusia sebagai seorang individu

itu sebagai segala-galanya di luar individu itu tidak ada. Jadi masyarakat pun pada dasarnya tidak ada,

yang ada hanya individu. Sebaliknya paham totalisme memandang segala di luar masyarakat itu tidak ada.

Jadi individu itu hanya ada jika masyarakat itu ada. Adanya individu itu terikat pada adanya masyarakat.

Paham yang ketiga ini memandang masyarakat sebagai proses dimana manusia sendiri

mengusahakan kehidupan bersama menurut konsepsinya dengan bertanggung jawab atas hasilnya.

Manusia tidak berada di dalam masyarakat bagaikan burung di dalam kurungannya, melainkan ia

bermasyarakat. Masyarakat bukan wadah melainkan aksi, yaitu social action. Masyarakat terdiri dari

sejumlah pengertian, perasaan, sikap, dan tindakan, yang tidak terbilang banyaknya. Orang berkontak dan

berhubungan satu dengan yang lain menurut pola-pola sikap dan perilaku tertentu, yang entah dengan

suka, entah terpaksa telah diterima oleh mereka. Umumnya dapat dikatakan bahwa kebanyakan orang akan

menyesuaikan kelakuan mereka dengan pola-pola itu. Seandainya tidak, hidup sebagai manusia menjadi

mustahil. “Masyarakat sebagai proses” dapat dipandang dari dua segi yang dalam kenyataannya tidak

dipisahkan satu dengan yang lain karena merupakan satu kesatuan. Pertama masyarakat dapat dipandang

dari segi anggotanya yang membentuk, mendukung, menunjang dan meneruskan suatu pola kehidupan

tertentu yang kita sebut masyarakat. Kedua masyarakat dapat ditinjau dari segi pengaruh strukturnya atas

anggotanya. Pengaruh ini sangat penting sehingga boleh dikatakan bahwa tanpa pengaruh ini manusia satu

persatu tidak akan hidup. Marilah kita perhatikan bagaimana jika pengaruh masyarakat yang berupa

kepemimpinan, bahasa, hukum, agama, keluarga, ekonomi, pertahanan, moralitas dan lain sebagainya.

Tanpa itu semua manusia satu
6

persatu tidak akan berdaya, ia akan jatuh ke dalam suatu keadaan, di mana-mana manusia tidak akan

berdaya dan manusia akan hancur oleh kekuatan-kekuatan alam dan
nalurinya
sendiri.

Hubungan antara masyarakat dan individu dapat digambarkan sebagai kutub positif dan kutup

negatif pada aliran listrik. Jika dua kutub itu dihubungkan listrik ia akan mampu memberi kekuatan

baginya dan menimbulkan suasana yang cerah. Jika individu dan masyarakat dipersatukan maka kehidupan

individu dan masyarakat akan lebih bergairah dan suasana kehidupan individu dan kehidupan masyarakat

akan lebih bermakna dan hidup serta bergairah.
7

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

Hubungan individu-masyarakat yaitu bahwa hidup bermasyarakat adalah ciptaan dan usaha

manusia sendiri. Manusia berkeluarga, ia berkelompok. Selalu membuat sesuatu dan berbuat. Keluarga,

kelompok, masyarakat dan negara tidak merupakan kesatuan-kesatuan yang berdiri di luar. Mereka ada

usaha manusia, yang terus dipertahankan, dipelihara, ditunjang, atau apabila perlu-diubahkan atau diganti

oleh manusia. Mereka adalah bagian hidupnya. Mereka adalah bentuk perilaku yang tergantung dari dia.

Hidup bermasyarakat yang diusahakan dan diciptakan sendiri, bertujuan untuk memungkinkan

perkembangannya sebagai manusia. Sebab tanpa masyarakat tidak ada hidup individual yang manusiawi.

Jadi manusia sekaligus membentuk dan dibentuk oleh hasil karyanya sendiri, yaitu masyarakat. Manusia

tidak bebas dalam arti bahwa ia bebas memilih antara hidup sendiri atau hidup berbagai dengan orang lain.

Ia harus hidup berbagai agar tidak hancur. Tetapi cara dan bentuk hidup berbagai itu ditentukannya dengan

bebas. Tidak ada satu pola kebudayaan yang mutlak dan universal. Jadi ada relasi timbal balik antara

individu. Di satu pihak individu ikut membentuk dan menegakkan masyarakat, dan ia bertanggungjawab.

Di lain pihak masyarakat menghidupi individu dan oleh karenanya bersifat mengikat bagi dia.
SaranPenulis menyarankan kepada kita semua agar kita bisa menerapkan hubungan

indivudu dan masyarakat yang telah dijelaskan di atas, dan kita seharusnya mengikuti hubungan yang

ketiga, yang bersifat interaksi supaya terjalin hubungan yang baik antar individu dan menghasilkan

masyarakat yang rukun.
Penulis percaya bahwa makalah ini masih belum sempurna, karena itu mohon
kritik dan saran yang membangun dalam rangka penyempurnaan makalah ini.
8

DAFTAR PUSTAKA

R u m a m p u k , S e l v i e . 2 0 0 8 . B a h a n
K u l i a h I l m u S o s i a l D a s a r .
M u h a m m a d , A b d u l K a d i r . 2 0 0 5 .
I l m u S o s i a l B u d a y a D a s a r .
B a n d u n g : P T .
Citra Aditya Bakti
w w w . o r g a n i s a s i . o r g
h t t p : / / p a k g u r u o n l i n e . p e n d i d i k a
n . n e t 9

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->