1

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit infeksi virus yang dibawa melalui gigitan nyamuk aedes aegepty. Penyakit DBD sampai saat ini masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang utama di Indonesia dan sering menimbulkan angka Kejadian Luar Biasa (KLB) dengan kematian yang besar. Tempat yang disukai sebagai tempat perindukannya adalah tempat penampungan air (TPA ) untuk keperluan sehari-hari, seperti: drum, tangki

reservoir, tempayan, bak mandi,/wc dan ember, tempat penampungan air bukan untuk keperluan sehari-hari, seperti: tempat minum burung, vas bunga, perangkap semut tampungan air dibelakang lemari es, dan barang-barang bekas (ban, botol, kaleng, plastik dan lain lain) serta tempat penampungan air alamiah seperti: lobang pohon, lobang batu, pelempah daun, tempurung kelapa, pelempah pisang dan potongan bambu (Soegijanto, 2004).

Penyakit DBD pertama kali ditemukan pada tahun 1968 di Surabaya dengan kasus 58 orang anak, 24 diantaranya meninggal dengan Case Fatality Rate (CFR) = 41,3%. Sejak itu penyakit DBD menunjukkan kecenderungan peningkatan jumlah kasus dan luas daerah terjangkit. Seluruh wilayah Indonesia mempunyai resiko untuk terjangkit penyakit DBD, kecuali daerah yang memiliki

2

ketinggian lebih dari 1000 meter diatas permukaan laut. Penyakit DBD dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, mobilitas penduduk, kepadatan penduduk, adanya kontainer buatan ataupun alami ditempat pembuangan akhir sampah (TPA) ataupun ditempat sampah lainnya, penyuluhan dan perilaku masyarakat, antara lain : pengetahuan, sikap, kegiatan pemberantasan sarang nyamuk (PSN), fogging, abatisasi, dan pelaksanaan 3M+T (menguras, menutup, mengubur dan taburkan) (Marlinda 2005) diakses tanggal 02 Oktober 2010.

Penanganan yang paling efektif untuk pencegahan penyakit DBD sesuai juga dengan yang disampaikan oleh DepKes RI (2005) adalah meningkatkan

kebersihan lingkungan dengan cara 3M+T, yaitu menguras tempat penampungan air, dikuras paling sedikit seminggu sekali, menutup rapat-rapat tempat penampungan air dan menimbun dalam tanah barang-barang bekas atau sampah yang dapat menampung air hujan, taburkan bubuk abate di sumur atau di bak penampungan air. Kepadatan nyamuk ini akan meningkat pada waktu musim hujan, dimana terdapat genangan air bersih yang dapat menjadi tempat berkembangbiaknya nyamuk Aedes aegypti (Depkes RI, 2005).

Pemerintah melalui Puskesmas memberikan bantuan berupa pengasapan sarang nyamuk (fogging) dan memberikan bubuk abate untuk membunuh jentik nyamuk bagi daerah yang memiliki penderita penyakit DBD. Penyakit DBD mudah berkembang oleh karena: antara rumah jaraknya berdekatan, yang

3

memungkinkan penularan karena jarak terbang aedes aegypti 40-100 meter. Aedes aegypti betina mempunyai kebiasaan menggigit berulang (multiple biters), yaitu menggigit beberapa orang secara bergantian dalam waktu singkat (Depkes RI, 2005).

Informasi tentang pencegahan penyakit DBD umumnya masyarakat sudah teriama, salah satu informasi yang sudah diberikan pada masyarakat yaitu tentang program 3M. Informasi tentang penyakit DBD ini telah sejak lama dapat kita saksikan di berbagi media, baik media elektronik maupun media cetak serta penyuluhan dari petugas dan kader kesehatan terdekat. Tujuan penyebarluasan informasi mengenai penyakit DBD yaitu terbentuknya pengetahuan, sikap dan perilaku orang dalam menjaga atau memelihara kebersihan lingkungan khususnya kebersihan tempat-tempat penampungan air yang dapat menjadi sarang nyamuk DBD dan terbebasnya lingkungan baik rumah-rumah

pemukiman, sekolah maupun tempat-tempat umum dari jentik nyamuk sehingga angka kesakitan dan kematian dapat terus berkurang atau diminimalisir serendah mungkin.

Penyebaran penyakit DBD terkait dengan perilaku keluarga, sangat erat hubungannya dengan kebiasaan hidup bersih dan kesadaran keluarga terhadap bahaya penyakit DBD (Satari, 2004). Tingginya angka kesakitan penyakit ini disebabkan oleh karena perilaku keluarga itu sendiri. Faktor lain yang

4

mempengaruhi adalah pengetahuan, sikap, dan tindakan keluarga untuk menjaga kebersihan lingkungan.

Keluarga merupakan pembentuk unit dasar dari masyarakat, keluarga juga berfungsi sebagai tolak ukur penilaian tingkah laku. Peningkatan kesehatan keluarga antara lain adalah dengan perilaku hidup bersih dan sehat. Sedangkan gerakan PSN dilakukan mulai dari rumah tangga secara kontinyu, serentak dan berkesinambungan. Jika di rumah terdapat jentik nyamuk aedes aegypti berarti keluarga dan tetangga terancam penularan penyakit DBD. Itulah sebabnya pencegahan penyakit DBD sangat dipengaruhi oleh perilaku keluarga di rumah.

Pada awal tahun 2004 masyarakat Indonesia dikejutkan kembali dengan merebaknya penyakit DBD dengan jumlah kasus yang cukup banyak. Merebaknya kembali kasus pnyakit DBD ini menimbulkan reaksi dari berbagai kalangan. Sebagian menganggap hal ini terjadi karena kurangnya kesadaran masyarakat akan keberhasilan lingkungan dan sebagian lagi menganggap karena pemerintah lambat dalam mengantisipasi dan merespon kasus ini (Litbang kes, 2004).

Di Indonesia, jumlah penderita penyakit DBD periode Januari ±Agustus 2005 di seluruh Indonesia mencapai 38.635 orang, sebanyak 539 penderita diantaranya meninggal dunia (Utama, 2007). Di Jawa Barat korban demam berdarah Januari-

5

Desember 2009 mencapai 37.861 orang (Lucyati, 2009). Dari jumlah penderita tersebut korban yang meninggal dunia sebanyak 307 orang. Di Kabupaten Bandung periode Januari- Desember 2009 terdapat 1370 orang penderita dan dari jumlah tersebut 2 orang meninggal dunia, (Dinkes Kab. Bandung, 2010).

Hasil rekapitulasi penderita penyakit DBD dari Puskesmas Baleendah periode Januari sampai dengan Desember 2009 sebanyak 53 orang penderita. Jumlah penderita terbanyak adalah di Kelurahan Baleendah sebanyak 38 orang penderita dan Januari sampai dengan Juni 2010 sebanyak 13 orang penderita.

Secara geografis sebagian wilayah Kelurahan Baleendah terletak di bantara sungai Citarum. Pada musim hujan sungai ini sering mendatangkan banjir dan menggenangi sebagian rumah warga dan wilayah di Kelurahan Baleendah. Lingkungan seperti ini memungkinkan meningkatnya perkembang-biakan nyamuk Aedes Aegypti.

Berdasarkan uraian diatas, peneliti masih perlu untuk melakukan penelitian mengenai perilaku keluarga terhadap pencegahan penyakit DBD di lingkungan rumah di Kelurahan Baleendah Kecamatan Baleendah. Penentuan Kelurahan Baleendah sebagai lokasi penelitian adalah karena masih tingginya angka kasus/jumlah penderita penyakit DBD di Kelurahan Baleendah Kecamatan Baleendah.

C. . Rumusan masalah Berdasarkan dari latar belakang dan fenomena diatas. maka peneliti tertarik untuk mengetahui ³Bagaimana gambaran perilaku keluarga terhadap pencegahan penyakit DBD di lingkungan rumah di Kelurahan Baleendah Kecamatan Baleendah´. B. belum pernah dilakukannya penelitian mengenai perilaku keluarga terhadap pencegahan penyakit DBD di lingkungan rumah. Maka sangatlah tepat apabila dilakukan penelitian mengenai perilaku keluarga terhadap pencegahan penyakit DBD di lingkungan rumah di Kelurahan Baleendah Kecamatan Baleendah. Tujuan Penelitian 1.6 Menurut data yang diperoleh dari Puskesmas Baleendah. Tujuan Umum Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat gambaran perilaku keluarga terhadap pencegahan penyakit DBD di lingkungan rumah di Kelurahan Baleendah Kecamatan Baleendah. b) Mengidentifikasi sikap keluarga terhadap pencegahan penyakit DBD. 2. Tujuan khusus a) Mengidentifikasi pengetahuan keluarga terhadap pencegahan penyakit DBD.

d) Mengidentifikasi perilaku keluarga terhadap pencegahan penyakit DBD D. sehingga dapat menjadi perhatian serius bagi Puskesmas dalam pencegahan penyakit DBD dan pengembangan sasaran pelayanan kesehatan kepada masyarakat di masa mendatang. . STIK Immanuel Bandung Diharapkan dapat memberi kontribusi dalam proses belajar bagi mahasiswa STIK Immanuel Bandung.7 c) Mengidentifikasi tindakan keluarga terhadap pencegahan penyakit DBD. baik dalam belajar maupun dalam melakukan penelitian selanjutnya. 3. Peneliti Menambah pengetahuan dan informasi tentang penyakit DBD dan proses penelitian memperoleh gambaran perilaku keluarga terhadap pencegahan penyakit DBD di lingkungan rumah di Kelurahan Baleendah Kecamatan Baleendah. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi: 1. 2. Puskesmas Data awal bagi puskemas dalam melakukan program kerja di Kelurahan Baleendah Kecamatan Baleendah.

c. b. Perilaku Perilaku adalah bentuk respon atau reaksiterhadap stimulus atau rangsangan dari luar organisme (orang). 2003). Pengindraan ini terjadi melalui panca indra manusia yaitu : indra penglihatan. mengingat (Comprehension). penciuman. Sikap terdiri dari beberapa struktur dan tingkatan. pendengaran. ( Notoatmodjo. aplikasi (Aplication). Struktur sikap yaitu Komponen Kognitif (Cognitif) berisi kepercayaan seseorang mengenai apa yang berlaku atau apa yang benar bagi objek sikap.8 E. Sikap Sikap merupakan reaksi atau respons seseorang yang masih tertutup terhadap stimulus atau objek. dan evaluasi (Evaluation). indra raba. 2007). Komponen Afektif (affective) komponen afektif menyangkut masalah emosional subektif seseorang terhadap suatu objek sikap dan Komponen konatif (conative) Komponen perilaku atau . sistesis (Synthesis). analisis (Analysis). Defenisi Konseptual a. Pengetahuan Pengetahuan merupakan hasil dari tahu (Know) dan terjadi setelah seseorang melakukan pengindraan terhadap objek tertentu. indra rasa. namun dalam memberikan respon sangat tergantung pada karakteristik atau faktor-faktor lain yang bersangkutan (Notoatmodjo. Defenisi Konseptual dan Defenisi Operasional 1.

merespon (responding). Pencegahan dilakukan oleh masyarakat di lingkungan rumah dengan melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) (Depkes RI. f. d. menghargai (valuting). Pencegahan Penyakit DBD Pencegahan adalah usaha yang ditujukan untuk mencegah terjadinya penyakit melalui suatu usaha yang dilakukan secara berkala untuk mendeteksi suatu penyakit secara dini (Effendy. 1998).9 komponen konatif dalam struktur sikap menunjukkan bagaimana perilaku atau kecenderungan berperilaku yang ada dalam diri seseorang berkaitan dengan objek sikap yang dihadapinya. Sedangkan tingkatan dari sikap yaitu menerima (receiving). 2007) e. 1998). . dan bertanggung jawab (responsible) (Notoatmodjo. Tindakan Tindakan atau praktik adalah suatu perbuatan nyata untuk melaksanakan atau mempraktikan apa yang diketahui atau disikapinya (Notaotmodjo. 1998). Keluarga Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat dibawah suatu atap dalam suatu keadaan ketergantungan (Depkes RI. 2003).

DBD serta tanda dan gejala DBD. . Definisi operasional Variabel Perilak keluarga Sub variabel terhadap a. Pengetahuan Defenisi Operasional Alat Hasil Ukur Baik : Skala ukur apabila Ordinal Pengetahuan adalah sesuatu yang Angket keluarga tentang pencegahan penyakit DBD keluarga terhadap diketahui didapatkan > 60% 100% pencegahan DBD penyakit DBD. pengertian penyakit penyebab. dengan tingka pengetahuan memahami mengaplikasikan meliputi: y Tahu tahu (C2) (C3) (C1).10 2. dan yang Kurang : apabila didapatkan < 60% (Know) mengetaui DBD. Defenisi Operasional Tabel 1.

Sikap terhadap keluarga Sikap yang ini dimaksud penilaian dalam Angket atau Mendukung (Favorable) apabila didapatkan: Nilai T • mean T Ordinal penelitian pencegahan DBD pendapat keluarga terhadap pencegahan DBD yang meliputi respon kognitif. yaitu cara penganan penyakit DBD.11 y Pemahaman (Comperhansion) memahami cara pencegahan penyakit DBD itu sendiri. y Mengamplikasikan. b. Tidak mendukung (Unfavorable)apabil a didapatkan: Nilai T < mean T . respon afektif dan respon konatif.

Menghindari tidur siang. Menguras bak air Tidak Menutup penampungan air mendukung (Unfavorable)apabil Mengubur barang-barang bekas a didapatkan: nilai T Menyingkirkan pakaian< mean T pakaian yang tergantung di balik pintu di dalam kamar 5.12 c. 3. Tindakan Tindakan dalam penelitian ini Observasi keluarga melaksanakan penyakit Mendukung (Favorable) apabila didapatkan: nilai T • mean T Ordinal keluarga terhadap apakah pencegahan DBD program pencegahan DBD dalam hal ini meliputi 3M : 1. 2. terutama di pagi hari antara jam 9-10 atau sore hari sekitar jam 3-5 . 4.

maupun yang semprot. 7. Memelihara ikan pemakan jentik . Penggunaan boleh obat racun nyamuk nyamuk bakar. gosok.13 6.

Posyandu. Apabila penerimaan perilaku baru atau adopsi perilaku baru melalui proses yang didasari oleh pengetahuan. seperti RS. Perilaku kesehatan pada dasarnya adalah salah satu respon keluarga terhadap stimulasi yang berkaitan dengan pencegahan penyakit DBD. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (Overt behavior). dan lain-lain akan mempengaruhi derajat kesehatan seseorang.) yaitu bagaimana keluarga dapat mengetahui dan menyikapi suatu stimulasi yang diberikan .14 F. Selain itu pula perilaku dalam mencari pelayanan kesehatan yang disediakan. Kerangka Pikir Pencegahan penyakit menular khususnya demam berdarah melalui upaya penyuluhan dan pendidikan kesehatan kepada masyarakat serta melakukan tindakan pengasapan (fogging). kesadaran dan sikap yang positif maka perilaku tersebut akan bersifat langgeng (long lasting) sebaliknya apabila perilaku tidak didasari oleh pengetahuan. Respon tersebut dapat bersifat pasif (pengetahuan dan sikap. Dan respon yang bersifat aktif. kesadaran dan sikap yang positif maka tindakan tersebut tidak akan . yaitu tindakan yang bersifat nyata atau praktis. Kesadaran masyarakat tercermin dari perilaku kesehatannya yang sangat ditentukan oleh peran aktif para orang tua dalam menanamkan perilaku sehat bagi keluarganya. Upaya dari pihak masyarakat yang dalam hal ini diwakili oleh para orang tua. Puskesmas.

2003) Perilaku keluarga dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu diantaranya faktor internal dan faktor eksternal. tersedianya fasilitas kesehatan atau sarana kesehatan. tokoh masayarakat (Notoatmodjo. majalah. yang terwujud dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan. bahwa perilaku kesehatan dipengaruhi atau terbentuk dari tiga faktor yaitu : faktor predisposisi (Predisposing factor). jenis kelamin. yang terwujud dalam lingkungan fisik. Radio. . yang terwujud dalam pengetahuan. Faktor internal atau faktor dari dalam dipengaruhi oleh : umur. Faktor eksternal atau faktor dari luar didapat dari sumber-sumber informasi seperti informasi dari petugas kesehatan. sikap. informasi media cetak : buku. Faktor pendukung (Enabling factor). informasi dari media elektronik : TV. Oleh karena itu apabila pengetahuan masyarakat memadai dan diiringi sikap yang posotif maka akan tercapai upaya pencegahan penyakit DBD yang lebih baik. Faktor pendorong (Reinforcing factor).15 berlangsung lama. kepercayaan. Menurut Lewrence Green 1980 (dalam Notoatmodjo. 2003). nilai-nilai dan keyakinan. pendidikan dan sosial dan ekonomi.

Faktor eksternal: informasi dari petugas kesehatan dan informasi dari media .Favorable . Sikap keluarga meliputi : penilaian dan pendapat keluarga terhadap pencegahan DBD 3. 2007 . KERANGKA KONSEP PERILAKU KELUARGA TERHADAP PENCEGAHAN PENYAKIT DBD DI LINGKUNGAN RUMAH DI KELURAHAN BALEENDAH KECAMATAN BALEENDAH Faktor Pendukung/ Enabling y Tersedianya fasilitas pelayanan kesehatan y Tersedianya pelayanan pengobatan gratis di Puskesmas Faktor predisposisi (Predisposing factor) 1.Favorable . Tindakan keluarga meliputi : tindakan nyata keluarga terhadap Faktor internal: umur. Pengetahuan keluarga meliputi : menyebutkan dan memahami tentang pencegahan DBD 2. jenis kelamin. pendidikan dan sosial ekonomi.Unfavorable T mean T T < mean .16 G.Kurang Baik > 60%-100% < 60% PENCEGAHAN DBD .Unfavorable T mean T T < mean Faktor Pendorong/Reinforcing y Dukungan Petugas Kesehatan y Penyuluhan Kesehatan Keterangan: = Variabel yang diteliti = Variabel yang tidak diteliti Sumber : Modifikasil Lewrence Green dalam Notoatmodjo.Baik .

sedang dorongan merupakan usaha untuk memenuhi kebutuhan yang ada dalam diri manusia. 2007) Dari uraian diatas.(Marlinda. Menurut Skinner (1938 dalam Notoadmodjo. (stimulus).2004). tanggapan dan respon. Terdapat berbagai macam kebutuhan diantaranya kebutuhan dasar dan kebutuhan tambahan. ranah afektif (sikap) dan ranah psikomotor (ketrampilan). Perilaku 1. 2007) menyatakan bahwa perilaku merupakan hasil hubungan antara perangsang. Perilaku merupakan tindakan atau perbuatan suatu organisme yang dapat diamati dan bahkan dapat dipelajari. Aspek prilaku yang dikembangkan dalam proses pendidikan meliputi tiga ranah yaitu: ranah kognitif (pengetahuan). Notoadmodjo (2007) mengambil kesimpulan bahwa perilaku manusia secara operasional dapat di kelompokkan menjadi tiga . dalam Notoadmodjo. Bloom (1908. Defenisi Perilaku Perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas organisme (makhluk hidup) yang bersangkutan.17 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Robert Kwick (1974 dalam Notoadmodjo. 2007). Perilaku manusia berasal dari dorongan yang ada dalam diri manusia.

antara lain adalah fasilitas. rasa dan raba. Untuk mewujudkan sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan factor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan. tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup. sikap dan tindakan nyata atau perbuatan. penciuman. b. . Perilaku dalam bentuk pengetahuan (knowledge) merupakan hasil dari tahu. dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. yaitu perilaku dalam bentuk pengetahuan. c. Perilaku dalam bentuk sikap (attitude) merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau obyek. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. yakni indera penglihatan.18 macam. pendengaran. Bentuk Operasional Perilaku Menurut Notoatmodjo (2007) bentuk operasional dari pada perilaku dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis yaitu: a. 2. Penginderaan terjadi melalui pancaindera manusia. Atau dengan kata lain bahwa manifestasi sikap itu tidak dapat langsung dilihat. Perilaku dalam bentuk tindakan (practice) adalah suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (overt behavior).

Faktor memperkuat atau mendorong (reinforcing factors) : sikap dan perilaku mendukung(enabling factors) : ketersediaan sumber- 4. Faktor yang sumber/fasilitas. Faktor-faktor yang berperan dalam pembentukan perilaku Menurut Green dalam Notoadmodjo (2007). kepercayaan. b. c. Perilaku kesehatan b. tradisi. nilai dan sebagainya. Faktor prediposisi (predisposing factors) : pengetahuan. Perilaku sakit c. Perilaku peran sakit 5. sikap. yaitu: a. dikutip dari Notoadmodjo. Perilaku Kesehatan Menurut Notoadmodjo (2007) mengatakan bahwa perilaku kesehatan pada dasarnya adalah suatu respon seseorang (organisme) terhadap stimulus yang . Klasifikasi perilaku Klasifikasi perilaku yang berhubungan dengan kesehatan (Health related behavior) menurut Becker (1979. 2007) sebagai berikut: a.19 3.

maupun aktif (tindakan) yang dilakukan sehubungan dengan penyakit dan sakit tersebut. misalnya: tidur memakai kelambu untuk mencegah gigitan nyamuk aedes aegepty. baik secara pasif (mengetahui. b. maupun ke fasilitas kesehatan tradisional (dukun. mantri. sinshe dan sebagainya). Notoadmodjo (2007). Yaitu perilaku untuk melakukan atau mencari pengobatan. atau mencari pengobatan ke fasilitas-fasilitas kesehatan modern (puskesmas. misalnya usaha-usaha mengobati sendiri penyakitnya. bersikap. yakni: a. makanan. dan mempersepsi penyakit dan rasa sakit yang ada pada dirinya dan di luar dirinya. adalah respon untuk melakukan pencegahan penyakit. Perilaku sehubungan dengan peningkatan dan pemeliharaan kesehatan. . Perilaku terhadap sakit dan penyakit ini dengan sendirinya sesuai dengan tingkat-tingkat pencegahan penyakit. Perilaku seseorang terhadap sakit dan penyakit. dokter praktek. Termasuk juga perilaku untuk tidak menularkan penyakit kepada orang lain. Perilaku pencegahan penyakit (health prevention behavior).20 berkaitan dengan sakit dan penyakit. c. (health promotion behavior). serta lingkungan. dan sebagainya). yaitu bagaimana manusia berespon. Perilaku sehubungan dengan pencarian pengobatan (health seeking behavior). sistem pelayanan kesehatan.

cenderung Sejak tahun 1968 jumlah kasusnya meningkat dan penyebarannya bertambah luas. . nyeri pada pergerkan bola mata. sakit kepala yang hebat. gangguan rasa mengecap.21 d. Demam berdarah dengue adalahpenyakit yang terutama terdapat pada anak dan remaja atau pada orang dewasa dengan tanda-tanda klinis berupa demam. 2005). trombositopenia ringan dan petekie spontan. Sindrom renjatan dengue (dengue shock syndrom. dengan tanpa ruam. B. Pengertian Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. dan limfadenopati. Keeadaan ini dengan peningkatan mobilitas penduduk sejalan dengan erat kaitannya semakin lancarnya hubungan transfortasi serta tersebarluasnya virus dengue dan nyamuk penularannya diberbagai wilayah di Indonesia(Depkes. disingkat DSS). demambifasik. yang biasanyan memburuk setelah pada dua hari pertama.. Demam Berdarah Dengue (DBD) 1. Perilaku sehubungan dengan pemulihan kesehatan (health rehabilitation behavior). nyeri otot / nyeri sendi yang disertai leukopeia. dan sendi. Demam berdarah dengue terdapat pada anak dan dewasa dengan gejala utama demam. yaitu perilaku yang berhubungan dengan usaha-usaha pemulihan kesehatan setelah sembuh dari suatu penyakit. nyeri otot.

Patofisiologi Ada dua perubahan patofisiologis utama terjadi pada demam berdarah dengue. DEN-3 dan DEN 4. 3. Etiologi Penyebab penyakit DBD adalah virus dengue yang dibawa oleh nyamuk aedes aegypti yang mempunyai ciri belang hitam-putih diseluruh tubuh sebagai vektor ke tubuh manusia melalui gigitan nyamuk tersebut. infeksi dengan salah satu serotype akan menimbulkan antibodi protektif seumur hidup untuk serotype yang bersangkutan. Infeksi yang pertama kali dapat memberi gejala sebagai demam dengue (DD). Virus Dengue dahulu termasuk group B Antropod Borne Virus (Arboviruses) adalah virus RNA. Apabila orang itu mendapat infeksi berulang oleh tipe virus dengue yang berlainan akan menimbulkan reaksi yang berbeda (Mansjoer. Serotype DEN-3 merupakan serotype yang dominan di Indonesia dan ada hubungannya dengan kasus-kasus berat pada saat terjadi kejadian luar biasa (KLB) (Depkes. Ke-4 serotype virus tersebut diketemukan diberbagai daerah di Indonesia. Sampai saat ini dikenal ada 4 serotipe: DEN-1. 2005). Pertama adalah peningkatan permeabilitas vaskuler yang meningkatkan kehilangan plasma dari kompartemen vaskuler.22 2. termasuk family Flacviridae. DEN-2. Keadaan ini . 2000). genus Flavivirus. tetapi tidak untuk serotype yang lain.

23 mengakibatkan hemokonsentrasi. demam dengue . bila kehilangan plasma sangat membahayakan. Karenanya. sampai sindrom syok dengue. tekanan nadi rendah. dengan depresi besar kadar C3 dan C5.Secara klinis biasanya ditandai . sehingga diperlukan studi lebih lanjut. Mediator yang meningkatkan permeabilitas vaskuler dan mekanisme pasti fenomena perdarahan yang timbul pada infeksi dengue belum teridentifikasi. Perubahan kedua adalah ganguan pada hemostatis yang mencakup perubahan vaskuler. demam berdarah dengue. 2005). dan koagulopati. Defek trombosit terjadi baik kualitatif dan kuantitatif yaitu beberapa trombosit yang bersirkulasi selama fase akut demam berdarah dengue mungkin kelelahan (tidak mampu berfungsi normal). 4.000 per mm3 mungkin masih mengalami fase perdarahan yang panjang (Ngastiyah. Temuan konstan pada demam berdarah dengue adalah aktivasi system komplemen. Masa inkubasi dengue 4-7 hari. penyakit paling ringan (mild undifferentiated febrile illness). dan tanda syok lain. trmbositopenia. meskipun pasien dengan jumlah trombosit lebih besar dari 100. Manifestasi Klinis Infeksi virus dengue mengakibatkan manifestasi klinis yang bervariasi mulai dari asimtomatik.

g. nyeri pada anggota badan (kepala. muntah. Kenaikan nilai Ht/hemokonsentrasi. Syok yang terjadi pada saat demam biasanya mempunyai prognosis yang buruk. yaitu sedikitnya 20%. dan nyeri kepala (Depkes. hepatomegali. e. yang tetap tinggi selama 2-7 hari. seperti uji torniquet positif. hematemesis. pirpura. Leukopenia . punggung.24 dengan demam tinggi. seperti: lisis. 5. epistaksia. 1999): a. dan melena. kemudian turun secara disertai gagal ginjal tidak spesifik. persendian. dan kegagalan sirkulasi. fenomena perdarahan. Demam akut. Demam berkisar 39º40ºC anoreksi. Dengan/tanpa syok. Demam dengue pada bayi dan anak berupa demam ringan disertai timbulnya ruam makulopapular. Pada anak besar dan dewasa dikenal sindrom trias dengue berupa demam tinggi mendadak. d. malaise. bola mata. dan sendi). nyeri pada punggung. dan timbul ruam makulopapular. Manifestasi perdarahan. tulang. Adanya ruam-ruam pada kulit. 2005). perdarahan gusi. f. Diagnosa Diagnosis penyakit DBD biasa dilakukan secara klinis (WHO. b. petekie. dan kepala. ekimosis. Tanda lain menyerupai demam dengue yaitu anoreksia. c. Pembesaran hati dan nyeri tekan tanpa ikterus.

hipotensi. Imunoglobulin) dan atau isolasi virus. Beberapa pemeriksaan laboratorium yang dapat membantu diagnosis adalah: . diagnosis penyakit DBD dipastikan dengan pemeriksaan serologi (IHA. kulit dingin dan lembab. yaitu nadi cepat dan lemah. sianosis disekitar mulut. Kriteria Laboratorium: Menurut Mansjor. tekanan nadi menyempit (< 20 mmHg). 2005) membagi menjadi 4 derajat yaitu: 1) Derajat I: Demam disertai gejala-gejala umum yang tidak khas dan manifestasi perdarahan spontan satu-satunya adalah uji tourniquet positif 2) Derajat II : Gejala-gejala derajat I.000/mm) dan peningkatan nilai hematokrit >20%. (2000) seseorang didiagnosa penyakit DBD jika hasil laboratorium menunjukkan hasil trombositopenia (<100. nadi tidak dapat diraba dan tekanan darah tidak terukur. 3) Derajat III : Didapatkan kegagalan sirkulasi. (Depkes. 4) Derajat IV: Syok berat (profound shock). gelisah.25 Derajat beratnya penyakit DBD secara klinis sangat bervariasi. disertai gejala-gejala perdarahan kulit spontan atau manifestasi perdarahan yang lebih berat.

Obat antipiretik (paracetamol) diberikan bila suhu > 38º C. 2000).45% : dektrosa 5% (1:3) dipasang dengan tetesan rumatan sesuai berat badan. disertai uji tourniquet positif atauperdarahan spontan. Apabila pada tindak lanjut telah terjadi perbaikan klinis dan laborantorium. sebaiknya diberikan infuse NaCl. 6. limposit plasma biru (20-50%). kardiomegali. berikan minuman 1-2 liter/hari atau1 sendok makan setiap 5 menit. cairan rongga peritonium (ascites) dan penebalan dinding kandung empedu pada USG abdomen (Mansjoer.26 hipoalbuminemia. efusi pleura. Apabila pasien tidak dapat minum atau muntah terus menerus. 2) Hepatomegali. 0. tetapi bila kadar Ht cenderung naik dan trombosit menurun. . dan trombositopenia ringan dapat dikelolah seperti berikut : Apabila pasien msih dapat minum. Pada dengan riwayat kejang dapat diberikan obat anti konvulsif. Ht tiap 6 jam dan trombosit setiap 6-12 jam. pasien dapat dipulangkan. Di samping itu perlu dlakukan pemeriksaan Hb. hiponatremia. Pemeriksaan radiologi yang menunjang diagnosis: 1) Dilatasi pembuluh darah paru. peningkatan kadar transaminase. Penatalaksanaan Pada pasien dngan keluhan demam 2-7 hari. dilatasi vena hepatica. dan efusi perikard.

27 maka infuse caiaran diganti dengan ringer laktat dan tetesan disesuaikan (Depkes RI. untuk keberhasilan pemberantasan diperlukan total coverage (meliputi seluruh wilayah) agar nyamuk tak dapat berkembang biak lagi. Tetapi karena vektor tersebar luas. 2005) 7. Vektor Dengue khususnya aedes aegypty yang mempunyai ciri-ciri berupa belang hitam putih sebenarnya mudah diberantas karena sarang-sarangnya terbatas di tempat yang berisi air bersih dan jarak terbangnya maksimum 100 meter. Pencegahan wabah penyakit DBD didasarkan pada pengendalian vektor. Pencegahan Penyakit DBD Untuk memutuskan rantai penularan. pemberantasan vektor dianggap cara paling memadai saat ini. karena vaksin belum tersedia. Namun yang terdepan dan strategis dalam pelaksanaan pencegahan DBD ini adalah . Perilaku keluarga terhadap pencegahan penyakit DBD Dalam masalah ini pemerintah telah melakukan berbagai upaya pencegahan penyakit DBD dengan memutus mata rantai penularannya dengan pemberantasan vektor penyakit demam berdarah dengue. Saat ini satu-satunya cara yang efektif untuk menghindari infeksi virus Dengue adalah menghindari gigitan dari nyamuk yang terinfeksi (Marlinda. 8. 2004).

2005). Lingkungan Menurut Maironah (2005) Metode lingkungan untuk mengendalikan nyamuk tersebut antara lain dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). modifikasi tempat perkembangbiakan nyamuk. Keterlibatan tanggung jawab meliputi penyediaan sarana kesehatan lingkungan yang memenuhi syarat kesehatan misalnya penyediaan tong sampah. 2005). Menurut Maironah (2005). sebagai contoh keluarga dapat melakukan: . pemantauan dan pengawasan lingkungan rumah tangga dan halaman erat kaitannya dalam pencegahan penyakit DBD. Keterlibatan emosional menyangkut berbagai anjuran-anjuran kepada anggota keluarga dengan berbuat sesuatu dalam kaitannya dengan penyediaan sarana dan upaya pemberantasan penyakit DBD (.28 perilaku keluarga dalam memutuskan mata rantai penularan penyakit DBD di lingkungannya (Depkes RI. pengelolaan sarana yang diadakan agar tetap terjamin dan terpelihara sehingga tidak menjadi perindukan vektor penyakit DBD misalnya memelihara parit dengan tidak membuang sampah kedalamnya. dalam melakukan pencegahan penyakit DBD ini keluarga perlu melakukan beberapa metode yang tepat yaitu: a. Perilaku keluarga yang dimaksud dalam pencegahan penyakit DBD adalah keterlibatan tanggung jawab mental dan emosional. pengelolaan sampah padat.

4) Mengubur kaleng bekas. bekas pembungkus makanan yang ada disekitar rumah. botol-botol. Biologi Pencegahan penyakit DBD secara biologi antara lain dengan vas bunga dan tempat minuman menggunakan ikan pemakan jentik jika mempunyai kolam di sekitar rumah. bak mandi. misalnya: (a) Pakaian sebagai pelindung dapat mengurangi resiko gigitan nyamuk jika pakaian cukup tebal atau longgar dan gunakanlah baju lengan panjang dan celana panjang. 3) Cara lain yang dapat dilakukan keluarga. antara lain: 1) Pengasapan/fogging berguna untuk mengurangi kemungkinan penularan sampai batas waktu tertentu. vas bunga. dan kolam sesuai dengan dosis/takaran yaitu 1 gram bubuk abate untuk 10 liter air. c. 2) Memberikan bubuk abate pada tempat-tempat penampungan seperti gentong air. . pelastik. ban. kulit kerang.29 1) Menguras bak mandi/penampungan air satu kali seminggu. 3) Menutup rapat tempat penampungan air. Kimiawi Cara pencegahan menurut Depkes (2004). 2) Mengganti/menguras burungseminggu sekali. b.

terutama di pagi hari antara jam 9-10 atau sore hari sekitar jam 3-5. memasang kelambu. memeriksa jentik berkala. (c) Hindari tidur siang. dan lain-lain sesuai dengan kondisi setempat (Marlinda. karena nyamuk aedes aegepty mempunyai kebiasaan menggigit pada pada jam-jam tersebut. 2004). yaitu menutup. memasang obat nyamuk. maupun yang semprot. Selain itu juga melakukan beberapa cara pencegahan yang lain seperti memelihara ikan pemakan jentik. Dari keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa cara yang paling efektif yang dapat dilakukan keluarga dalam pencegahan penyaki DBD adalah dengan 3M. (d) Gunakan kelambu saat tidur atau gunakan kipas angin di kamar tidur karena nyamuk pada umumnya tidak suka dilingkungan berangin. menyemprot dengan insektisida. memberikan bubuk abate. gosok. karena nyamuk aedes aegepty senang berada ditempat gelap dan istirahat di pakaian yang bergantungan. menggunakan kelambu pada waktu tidur. (e) Singkirkan pakaian-pakaian yang tergantung di balik pintu di dalam kamar. menimbun.30 (b) Gunakan racun nyamuk boleh obat nyamuk bakar. . menguras.

31 9. (Kozier Barbara. Peran adalah bentuk dari perilaku yang diharapkan dari seseorang pada situasi sosial tertentu. Peran adalah seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain terhadap seseorang sesuai kedudukannya dalam suatu sistem. Peran dipengaruhi oleh keadaan sosial baik dari dalam maupun dari luar dan bersifat stabil. 1995) . Peran Perawat Peran perawat adalah memberi pelayanan kesehatan kepada keluraga berupa pendidikan dan fasilitas agar perilaku keluraga terhadap pencegahan penyakit DBD di lingkungan rumah semakin meningkat.

. Variabel Penelitian Variabel adalah suatu atribut atau objek yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulan (Sugiyono. 2005). b. 2.32 BAB III METODE PENELITIAN A. Sikap keluarga terhadap pencegahan penyakit DBD c. 3. Sub Variabel Penelitian Sub variabel dalam penelitian ini adalah: a. Tindakan keluarga terhadap pencegahan penyakit DBD. Variabel penelitian adalah perilaku keluarga terhadap pencegahan penyakit DBD di lingkungan rumah di Kelurahan Baleendah Kecamatan Baleendah Kabupaten Bandung. Pengetahuan keluarga terhadap pencegahan penyakit DBD. 2006). Desain penelitian Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain deskriptif yaitu untuk mendapatkan gambaran atau deskripsi tentang perilaku keluarga terhadap pencegahan penyakit DBD di lingkungan rumah di Kelurahan Baleendah Kecamatan Baleendah (Arikunto. Desain Penelitian 1.

2002). Tehnik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah diambil secara Area Probability sample. Populasi dan Sampel Penelitian 1. Jumlah keluarga di Kelurahan Baleendah adalah 11996 keluarga. Populasi Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti (Notoatmodjo. 2002).33 B. 2. yaitu: Keterangan : n = Besar Sampel Minimum N = Jumlah Populasi d = Kesalahan (absolute) yang dapat di tolerir pada penelitian ini yaitu (0. Cara pengambilan banyaknya seimbang dari tiap-tiap wilayah dan diambil secara acak. Sampel Sampel adalah sebagian atau wakil yang diteliti (Arikunto. Besar sampel dalam penelitian ini ditentukan oleh rumus Cochran (1991). Dilakukan dengan mengambil wakil dari setiap wilayah yang terdapat dalam populasi. Sebagai populasi dalam penelitian ini adalah seluruh keluarga di Kelurahan Baleendah Kecamatan Baleendah. Cara menentukan besarnya sampel dari masing-masing wilayah di Kelurahan Baleendah digunakan teknik Proposional Rondom Sample.1) .

513558 4.530093 6.678571 2.711640 2.546627 6.242394 5.728505 2.506283 3.207341 3.737103 6.149471 7.960648 3.134259 4 7 4 8 6 4 2 8 5 7 3 4 2 3 3 2 4 6 .092262 2.984788 8.630622 4.878307 3.34 Besarnya proporsi jumlah sampel dari setiap wilaya di tentukan dengan menggunakan rumus :  Keterangan : n = Jumlah sempel dalam setiap wilayah X= Jumlah populasi dalam setiap wilayah N= Jumlah total populasi S= Ukuran sampel total Tabel Proporsi Sampel Setiap Rw NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 POPULASI SETIAP RW 429 787 482 997 721 451 260 923 573 832 425 495 305 324 328 267 427 742 SAMPEL SETIAP PENGGENAPAN RW SAMPEL 3.521495 2.

Bersedia menjadi responden dan 3. 2006). 2.17328 3 3 2 3 4 2 99 Setelah dilakukan perhitungan dengan diketahui jumlah populasi 11996 keluarga di Kelurahan Baleendah Kecamatan Baleendah.058532 99. 1. Kriteria Sampel Adapun kriteria sampel adalah sebagai berikut: 1. Variabel Penelitian Variabel Penelitian adalah suatu atribut.430556 3. atau nilai dari orang. Mampu membaca dan menggunakan bahasa Indonesia dengan baik.505291 2. D.191138 4.365079 2.35 19 20 21 22 23 24 424 347 294 386 528 249 Total 11. objek kegiana yang mempunyai variasi tertentu yang di tetapkan oleh peneliti untuk dipelajari. Orang tua (ayah atau ibu) dari anggota keluarga. sifar. C.868717 2. Variabel Pengetahuan keluarga tentang pencegahan penyakit DBD 2. maka didapat besar sampel sebanyak 99 keluarga. Variabel Tindakan keluarga pencegahan penyakit DBD .996 3. Variabel Sikap keluarga terhadap pencegahan penyakit DBD 3. atau kemudian ditarik kesimpulan (sugiyono.

Alasan penggunaan angket tertutup adalah untuk memungkinkan jawaban lebih terarah. 15 pertanyaan untuk sikap. Angket yang digunakan berbentuk angket tertutup.36 E. terutama di pagi hari antara jam 9-10 atau . meliputi 3M dan cara lain yang dapat dilakukan keluarga untuk pencegahan DBD. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data pada penelitian ini mempergunakan angket atau kuesioner yaitu : suatu daftar pertanyaan yang dipergunakan untuk memperoleh data atau informasi dari responden tentang hal-hal yang ingin diketahui (Arikunto. menghindari tidur siang. seperti : menyingkirkan pakaian-pakaian yang tergantung di balik pintu atau di dalam kamar. 2003). Jumlah pertanyaan dan pernyataan dalam angket yang dibagikan yaitu 30 yang terdiri dari 15 pertanyaan untuk pengetahuan. F. sikap keluarga terhadap pencegahan penyakit DBD. Komponen angket terdiri dari aspek pengetahuan. artinya jawaban sudah disediakan sehingga responden tinggal memilih jawaban yang telah ada. Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian ini di lingkungan rumah di Kelurahan Baleendah Kecamatan Baleendah Kabupaten Bandung yang akan dilaksanakan pada bulan Maret 2011 sampai dengan April 2011. sedangkan untuk tindakan dilakukan dengan cara observasi.

G. 2005). bila nilai koefisiennya di bawah 0. Uji validitas ini dilakukan untuk menguji ketepatan suatu item dalam pengukuran instrumentnya. 2006). ” .3 maka butir instrument tersebut tidak valid (Sugiono. Uji validitas akan dilakukan kepada keluarga di Kelurahan Manggahang Kecamatan Baleendah Kabupaten Bandung yang juga termasuk endemik penyakit DBD. Uji validitas yang digunakan untuk instrument pengetahuan yang berupa skor dikotomi yaitu bernilai 0 dan 1 digunakan koefisien korelasi biseral (Agus Riyanto. maupun yang disemprot.37 sore hari sekitar jam 3-5. penggunaan racun nyamuk baik obat nyamuk bakar. Suatu pernyataan dikatakan valid dan dapat mengukur varibel penelitian yang dimaksud jika nilai keofisiennya lebih dari 0.3 maka item tersebut dapat digunakan dalam dalam analisis selanjutnya. Uji Coba Instrumen 1. Uji Validitas Validitas adalah keadaan yang menggambarkan tingkat instrument yang bersangkutan mampu mengukur yang akan diukur (Arikunto. 2009).

38 Keterangan : ” Koefisien korelasi biseral antara skor butir soal nomor i dengan skor total Rata-rata skor total responden yang menjawab benar butir soal nomor i Rata-rata skor toral semua responden Standar deviasi skor total semua responden Proporsi jawaban yang benar untuk butir soal nomor i Proporsi jawaban yang salah untuk butir soal nomor i š  š        Sedangkan untuk uji validitas instrument sikap yang berupa skor yang memiliki tingkatan (ordinal) rumus yang digunakan adalah dengan menggunakan validitas korelasi pearson product moment : ”š›  š›  š ›  Keterangan : rxy n X Y = Koefisien korelasi variabel X dan variabel Y = Jumlah sampel = Skor jawaban masing-masing item = Skor total .

Uji reabilitas untuk variabel pengetahuan digunkanan teknik koefisien reabilitas kuder richardson 20 dengan rumus sebagai berikut : Keterangan :   Reabilitas instrument Banyaknya butir pertanyaan . Sekumpulan pertanyaan dikatakan reliable dan berhasil mengukur variable yang kita ukur apabila koefesien reliabilitasnya lebih besar dari atau sama dengan 0.70 (Kaplan. Uji reliabilitas ini dilakukan pada seluruh item pertanyaan yang valid atau seluruh item pertanyaan yang tidak valid disisihkan. jadi dapat diandalkan. Reliabilitas Menurut Arikunto (2002).39 Uji validitas dilakukan pada 30 keluarga yang berada di Kelurahan Manggahang Kecamatan Baleendah Kabupaten Bandung. Reliabel artinya dapat dipercaya. reliabilitas menunjuk pada suatu pengertian bahwa sesuatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik. Reliabilitas menunjuk pada tingkat keterandalan sesuatu. 1993). H.

dengan rumus sebagai berikut :  Keterangan :   Jumlah instrument pertanyaan Jumlah Varians dari tiap instrument Varian dari keseluruhan instrument  Uji reabilitas dilakukan pada 30 keluarga yang berada di Kelurahan Manggahang Kecamatan Baleendah Kabupaten Bandung. Pengumpulan data 1.40   Varians total Proporsi subjek yang menjawab betul (Skor 1) Proporsi subjek yang menjawab salah (Skor 0)  Uji reabilitas yang digunakan untuk variabel sikap adalah koefisien reabilitas Alpha Cronbach. Dalam penelitian ini untuk perhitungan uji validitas dan uji reliabilitas dilakukan dengan menggunakan bantuan computerized. Pengolahan Data Pengolahan data pada dasarnya merupakan suatu proses untuk memperoleh data atau data ringkasan berdasarkan suatu kelompok data mentah dengan . I.

S=2. TS=2. Editing Editing adalah menyeleksi data yang telah didapat dari hasil wawancara untuk mendapatkan data yang akurat. Entri data Entri data adalah memasukan data melalui pengolahan komputer. Tabulasi data Tabulasi data adalah penyusunan data sedemikian rupa sehingga memudahkan dalam penjumlahan data dan disajikan dalam bentuk tulisan.41 menggunakan rumus tertentu sehingga menghasilkan informasi yang diperlukan (Setiadi. S=3. Koding Koding adalah melakukan pengkodean data agar tidak terjadi kekeliruan dalam melakukan tabulasi data. STS=1) Bersikap negatif : (SS=1. Pengolahan data dilakukan dengan cara: a. d. TS=3. 2007). STS=4) c. . 1) Koding butir jawaban untuk pengetahuan dengan menggunakan penilaian : Nilai 1 untuk jawaban yang benar dan Nilai 0 untuk jawaban yang salah. b. 2) Koding butir untuk jawaban pertanyaan sikap (skala likert) Bersikap positif : (SS=4.

dan jika salah satu jawaban tidak diisi diberi nilai nol (0). Untuk variabel pengetahuan teknik analisa yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan rumus proporsi. Dari jawaban responden masing-masing item pertanyaan diberi skor.42 2. Rumusnya adalah : Keterangan : P = Persentase x = Jumlah skor jawaban benar responden n = Jumlah nilai maksimal responden Selanjutnya hasil perhitungan pada tingkat penyesusaian kualitatif dimasukkan dalam batasan-batasan kriteria objektif seperti di utarakan Arikunto (2002) sebagai berikut: . Analisa Data Analisa data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara: a. Untuk setiap item yang dijawab benar diberi nilai satu (1). 1) Pengetahuan keluarga tentang pencegahan penyakit DBD Untuk mengukur variabel pengetahuan tentang pencegahan penyakit DBD. Analisa Univariat Dilakukan untuk mendiskripsikan tiap variabel dalam bentuk distribusi frekuensi.

39% 1% .43 >60% -100% = Baik <60% = Kurang Setelah itu dimasukkan dalam batasan-batasan kriteria objektif kemudian dihitung persentase untuk masing-masing kelompok.79% 40% .59% 20% .19% 0% : Seluruh klien : Hampir seluruh klien : Sebagian besar dari seluruh klien : Sebagian dari seluruh klien : Sebagian kecil dari seluruh klien : Hampir tidak ada dari seluruh klien : Tidak ada dari seluruh klien .90% 60% . 2002) 100% 80% . dengan menggunakan rumus sebagai berikut : Keterangan : P f n : Persentase klien : Jumlah klien yang termasuk dalam kriteria : Jumlah keseluruhan klien Dari hasil perhitungan kemudian diinterprestasikan berdasarkan kriteria sebagai berikut (Arikunto.

Pada skala likert disediakan lima alternative jawaban dan setiap jawaban sudah tersedia nilainya. 2008). Interprestasi data menggunakan rumus Skor T (Azwar 2008) .44 2) Sikap keluarga tentang pencegahan penyakit DBD Untuk mengukur sikap digunakan skala likert. Dalam skala likert item ada yang bersifat positif (favorable) terhadap masalah yang diteliti. Untuk pertanyaan positif (favorable) yaitu: Sangat setuju (SS) diberi skor = 4 Setuju (S) diberi skor = 3 Tidak setuju (TS) diberi skor = 2 Sangat tidak setuju (STS) diberi skor = 1 Untuk pertanyaan negatif (unfavorable) yaitu: Sangat setuju (SS) diberi skor = 1 Setuju (S) diberi skor = 2 Tidak setuju (TS) diberi skor = 3 Sangat tidak setuju (STS) diberi skor = 4 Kemudian dari jawaban responden masing-masing item pertanyaan dihitung tabulasi. sebaliknya ada yang bersifat negatif (unfavorable) terhadap masalah yang diteliti. Untuk sikap dikategorikan menjadi posittif dan negatif dengan menghitung terlebih dahulu skor-T (Azwar.

dengan menggunakan rumus sebagai berikut : . Kategori: a) Kurang dari mean yaitu nilai skor kurang dari rata-rata b) Lebih dari mean yaitu nilai skor lebih dari rata-rata Setelah itu dimasukkan dalam batasan-batasan kriteria objektif kemudian dihitung persentase untuk masing-masing kelompok.45  Keterangan : T X = Skor responden = Skor responden pada skala sikap yang hendak diubah menjadi skor T = Mean skor dalam kelompok SD = Standar deviasi Penentuan skor T dilakukan pada setiap item pertanyaan. selanjutnya hasil perhitungan dimasukkan dalam standar kriteria objektif yang bersifat kualitatif yaitu : mendukung (favorabel) jika T > dari mean T dan tidak mendukung (unfavorabel) jika T < dari mean T.

39% 1% . 2002) 100% 80% .59% 20% . apakah tindakan responden benar (+) atau tidak benar (-) digunakan skor T: Interprestasi data menggunakan rumus Skor T (Azwar 2008)  .46 Keterangan : P f n : Persentase klien : Jumlah klien yang termasuk dalam kriteria : Jumlah keseluruhan klien Dari hasil perhitungan kemudian diinterprestasikan berdasarkan kriteria sebagai berikut (Arikunto.19% 0% : Seluruh klien : Hampir seluruh klien : Sebagian besar dari seluruh klien : Sebagian dari seluruh klien : Sebagian kecil dari seluruh klien : Hampir tidak ada dari seluruh klien : Tidak ada dari seluruh klien 3) Variabel Tindakan keluarga tentang pencegahan penyakit DBD Untuk mengukur variabel Tindakan keluarga tentang pencegahan penyakit DBD menggunakan hasil observasi.79% 40% .90% 60% .

Kategori: a) Kurang dari mean yaitu nilai skor kurang dari rata-rata b) Lebih dari mean yaitu nilai skor lebih dari rata-rata Setelah itu dimasukkan dalam batasan-batasan kriteria objektif kemudian dihitung persentase untuk masing-masing kelompok.47 Keterangan : T X = Skor responden = Skor responden pada skala tindakan yang hendak diubah menjadi skor T = Mean skor dalam kelompok SD = Standar Deviasi Penentuan skor T dilakukan pada setiap item pernyataan. selanjutnya hasil perhitungan dimasukkan dalam standar kriteria objektif yang bersifat kualitatif yaitu : mendukung (favorabel) jika T > dari mean T dan tidak mendukung (unfavorabel) jika T < dari mean T. dengan menggunakan rumus sebagai berikut : .

59% 20% . 2002) 100% 80% .48 Keterangan : P f n : Persentase klien : Jumlah klien yang termasuk dalam kriteria : Jumlah keseluruhan klien Dari hasil perhitungan kemudian diinterprestasikan berdasarkan kriteria sebagai berikut (Arikunto.39% 1% .19% 0% : Seluruh klien : Hampir seluruh klien : Sebagian besar dari seluruh klien : Sebagian dari seluruh klien : Sebagian kecil dari seluruh klien : Hampir tidak ada dari seluruh klien : Tidak ada dari seluruh klien 4) Variabel perilaku keluarga terhadap pencegahan DBD Untuk mengetahu perilaku keluarga terhadap pencegahan penyakit DBD ini dilakukan dengan cara mengakumulasikan nilai total yang didapatkan dari tiap sub variabel. Skor tersebut selanjutnya di jumlahkan dan ditransformasikan ke dalam skor T dengan rumus sebagai berikut :  .90% 60% .79% 40% .

dengan menggunakan rumus sebagai berikut : . selanjutnya hasil perhitungan dimasukkan dalam standar kriteria objektif yang bersifat kualitatif yaitu : mendukung (favorabel) jika T > dari mean T dan tidak mendukung (unfavorabel) jika T < dari mean T. Kategori: a) Kurang dari mean yaitu nilai skor kurang dari rata-rata b) Lebih dari mean yaitu nilai skor lebih dari rata-rata Setelah itu dimasukkan dalam batasan-batasan kriteria objektif kemudian dihitung persentase untuk masing-masing kelompok.49 Keterangan : T X = Skor responden = Skor responden pada skala perilaku yang hendak diubah menjadi skor T = Mean skor dalam kelompok SD = Standar Deviasi Penentuan skor T dilakukan pada setiap item pernyataan.

Tahap Persiapan a.90% 60% . Prosedur penelitian 1. 2002) 100% 80% . Menyusun proposal penelitian . Melakukan studi kepustakaan tentang hal yang berkaitan dengan penelitian d.79% 40% .19% 0% : Seluruh klien : Hampir seluruh klien : Sebagian besar dari seluruh klien : Sebagian dari seluruh klien : Sebagian kecil dari seluruh klien : Hampir tidak ada dari seluruh klien : Tidak ada dari seluruh klien J.39% 1% . Melakukan studi pendahuluan dan pengambilan data untuk menentukan masalah c.50 Keterangan : P f n : Persentase klien : Jumlah klien yang termasuk dalam kriteria : Jumlah keseluruhan klien Dari hasil perhitungan kemudian diinterprestasikan berdasarkan kriteria sebagai berikut (Arikunto.59% 20% . Memilih lahan penelitian b.

Pengolahan data dan analisa data b. Permohonan ijin peneitian 2. Tahap pelaksanaan a.51 e. Tahap akhir a. Penyajian hasil penelitian . Penyusunan laporan penelitian c. Konsultasi proposal penelitian f. Mendapatkan informant consent dari responden c. Melakukan pengumpulan data 3. Seminar proposal penelitian g. Melakukan uji coba instrument b. Perbaikan proposal h.