BAB II ISI

I.
A.

ANATOMI DAN FISIOLOGI KULIT
Histologi kulit Kulit merupakan organ tubuh paling luar dan membatasi bagian dalam tubuh dari lingkungan luar. Luas kulit pada orang dewasa sekitar 1.5-2 m2 dan beratnya sekitar 16% dari berat badan secara keseluruhan (Martini, 2006) .

Kulit terdiri atas tiga bagian utama, yaitu epidermis, dermis, dan hipodermis. Epidermis terdiri dari stratum korneum yang kaya akan keratin, stratum lucidum, stratum granulosum yang kaya akan keratohialin, stratum spinosum dan stratum basal yang mitotik. Dermis terdiri dari serabut-serabut penunjang antara lain kolagen dan elastin. Sedangkan hipodermis terdiri dari sel-sel lemak, ujung saraf tepi, pembuluh darah dan pembuluh getah bening. B. Fungsi kulit Kulit memiliki banyak fungsi, yang berguna dalam menjaga homeostasis tubuh. Fungsi-fungsi tersebut dapat dibedakan menjadi fungsi proteksi, absorpsi, ekskresi, persepsi, pengaturan suhu tubuh (termoregulasi), dan pembentukan vitamin D. 1. Fungsi proteksi

maka dapat timbul keganasan. panas. tapi bisa menyerap material larut-lipid seperti vitamin A.Sebum yang berminyak dari kelenjar sebasea mencegah kulit dan rambut dari kekeringan serta mengandung zat bakterisid yang berfungsi membunuh bakteri di permukaan kulit. oksigen dan karbon dioksida. c. Pigmen ini bertugas melindungi materi genetik dari sinar matahari.Kulit menyediakan proteksi terhadap tubuh dalam berbagai cara sebagai yaitu berikut: a. yaitu kelenjar sebasea dan kelenjar keringat: a.Kelenjar sebasea Kelenjar sebasea merupakan kelenjar yang melekat pada folikel rambut dan . dan K. Pada stratum basal. Penyerapan dapat berlangsung melalui celah antarsel atau melalui muara saluran kelenjar. tetapi lebih banyak yang melalui sel-sel epidermis daripada yang melalui muara kelenjar. Pigmen melanin melindungi dari efek dari sinar UV yang berbahaya. metabolisme dan jenis vehikulum. Keratin merupakan struktur yang keras. sehingga materi genetik dapat tersimpan dengan baik.5 yang mampu menghambat pertumbuhan mikroba. bersamaan dengan ekskresi keringat. b. Kemampuan absorpsi kulit dipengaruhi oleh tebal tipisnya kulit. d. Fungsi ekskresi Kulit juga berfungsi dalam ekskresi dengan perantaraan dua kelenjar eksokrinnya. yang merepresentasikan antigen terhadap mikroba. Fungsi absorpsi Kulit tidak bisa menyerap air. Apabila terjadi gangguan pada proteksi oleh melanin. dan tersusun rapi dan erat seperti batu bata di permukaan kulit.Keratin melindungi kulit dari mikroba. kaku. hidrasi. sel-sel melanosit melepaskan pigmen melanin ke sel-sel di sekitarnya. Kemudian ada sel fagosit yang bertugas memfagositosis mikroba yang masuk melewati keratin dan sel Langerhans. abrasi (gesekan). kelembaban. 2. D. obat-obatan tertentu. karbondioksida dan uap air memungkinkan kulit ikut mengambil bagian pada fungsi respirasi. Lipid yang dilepaskan mencegah evaporasi air dari permukaan kulit dan dehidrasi. selain itu juga mencegah masuknya air dari lingkungan luar tubuh melalui kulit. Permeabilitas kulit terhadap oksigen. Selain itu ada sel-sel yang berperan sebagai sel imun yang protektif. akan menghasilkan mantel asam dengan kadar pH 5-6. dan zat kimia. Sel pertama yaitu sel Langerhans. Adanya sebum ini. 3. E.

melepaskan lipid yang dikenal sebagai sebum menuju lumen. Sebum dikeluarkan ketika muskulus arektor pili berkontraksi menekan kelenjar sebasea sehingga sebum dikeluarkan ke folikel rambut lalu ke permukaan kulit. dan elektrolig. dan bagi orang yang aktif jumlahnya lebih banyak lagi. keringat juga merupakan sarana untuk mengekskresikan garam.8. Fungsi dari kelenjar keringat merokrin adalah mengatur temperatur permukaan. Fungsi persepsi Kulit mengandung ujung-ujung saraf sensorik di dermis dan subkutis. Kelenjar keringat Walaupun stratum korneum kedap air.0 – 6. Kelenjar keringat apokrin terdapat di daerah aksila. sebuah peptida kecil dengan sifat antibiotik. Kadar pH-nya berkisar 4. Saraf-saraf sensorik tersebut lebih banyak jumlahnya di daerah yang erotik. Kelenjar keringat merokrin (ekrin) terdapat di daerah telapak tangan dan kaki. b. Selain mengeluarkan air dan panas. mengekskresikan air dan elektrolit serta melindungi dari agen asing dengan cara mempersulit perlekatan agen asing dan menghasilkan dermicidin. Rangsangan terhadap dingin diperankan oleh badan-badan Krause yang terletak di dermis. karbondioksida. payudara dan pubis. Akibatnya kelenjar keringat apokrin melepaskan sekretnya ke folikel rambut lalu ke permukaan luar. Terhadap rangsangan panas diperankan oleh badan-badan Ruffini di dermis dan subkutis. Kelenjar keringat apokrin bekerja ketika ada sinyal dari sistem saraf dan hormon sehingga sel-sel mioepitel yang ada di sekeliling kelenjar berkontraksi dan menekan kelenjar keringat apokrin. 1. Seorang yang bekerja dalam ruangan mengekskresikan 200 mL keringat tambahan. yaitu kelenjar keringat apokrin dan kelenjar keringat merokrin. demikian pula badan Merkel Ranvier yang terletak di epidermis. Sebum berfungsi menghambat pertumbuhan bakteri. sekitar 400 mL air dapat keluar dengan cara menguap melalui kelenjar keringat tiap hari. Sebum tersebut merupakan campuran dari trigliserida. 4. dan sampah metabolisme. melumasi dan memproteksi keratin. badan taktil Meissner terletak di papila dermis berperan terhadap rabaan. nutrien organik. kolesterol. Terdapat dua jenis kelenjar keringat. Sekretnya mengandung air. elektrolit. serta aktif pada usia pubertas dan menghasilkan sekret yang kental dan bau yang khas. protein. dan dua molekul organik hasil pemecahan protein yaitu amoniak dan urea. . Sedangkan terhadap tekanan diperankan oleh badan Paccini di epidermis. 2.

2006). Enzim di hati dan ginjal lalu memodifikasi prekursor dan menghasilkan calcitriol.Walaupun tubuh mampu memproduksi vitamin D sendiri. Fungsi pengaturan suhu tubuh (termoregulasi) Kulit berkontribusi terhadap pengaturan suhu tubuh (termoregulasi) melalui dua cara: pengeluaran keringat dan menyesuaikan aliran darah di pembuluh kapiler. tubuh akan mengeluarkan lebih sedikit keringat dan mempersempit pembuluh darah (vasokonstriksi) sehingga mengurangi pengeluaran panas oleh tubuh. Efek penuaan pada kulit Usia yang menginjak 40 tahun akan memberi gambaran penuaan berupa perubahanperubahan tertentu pada kulit. begitu seterusnya. Pada saat suhu tinggi. 1. D. Keratinosit dimulai dari sel basal mengadakan pembelahan. Keratinisasi kulit Keratinisasi merupakan suatu proses pembentukan lapisan keratin dari sel-sel yang membelah. Fungsi pembentukan vitamin D Sintesis vitamin D dilakukan dengan mengaktivasi prekursor 7 dihidroksi kolesterol dengan bantuan sinar ultraviolet. seperti pada abrasi atau terbakar. yang memproduksi serat kolagen dan elastin. makin ke atas sel menjadi makin gepeng dan bergranula menjadi sel granulosum. Fibroblas. tubuh akan mengeluarkan keringat dalam jumlah banyak serta memperlebar pembuluh darah (vasodilatasi) sehingga panas akan terbawa keluar dari tubuh. akan mengalami penurunan jumlah dalam proses penuaan. dan . mengalami apoptosis dan menjadi sel tanduk yang amorf. pada saat suhu rendah. Mekanisme pertumbuhan ini terutama dipengaruhi oleh hormon epidermal growth factor (EPF). maka sel-sel basal akan membelah lebih cepat. 6. mengeras.5. Proses ini memakan waktu sekitar empat minggu untuk epidermis dengan ketebalan 0. Makin lama inti menghilang. Apabila kulit di lapisan terluar tergerus. itu belum memenuhi kebutuhan tubuh secara keseluruhan sehingga pemberian vitamin D sistemik masih tetap diperlukan. Sel-sel yang sudah mengalami keratinisasi akan meluruh dan digantikan dengan sel di bawahnya yang baru saja mengalami keratinisasi untuk kemudian meluruh kembali. C. Penuaan mempengaruhi semua komponen-komponen sistem integumen (Martni. Kebanyakan perubahan tersebut terjadi di lapisan dermis. bentuk vitamin D yang aktif. Serat kolagen menjadi berkurang. lalu sel basal akan berpindah ke atas dan berubah bentuknya menjadi sel spinosum.1 mm. Calcitriol adalah hormon yang berperan dalam mengabsorpsi kalsium makanan dari traktus gastrointestinal ke dalam pembuluh darah. Sebaliknya.

atau imobilisasi. total nilai rendah mengindikasikan resiko tinggi terjadinya dekubitus. Melanosit fungsional akan berkurang sehingga menyebabkan rambut berwarna putih (uban) dan pigmentasi yang atipikal. Produksi keringat berkurang dan kelenjar sebasea akan mengecil sehingga produksi sebum akan berkurang menyebabkan kulit menjadi kering dan lebih rentan terhadap infeksi (karena mantel asam tidak efektif). PENGKAJIAN RESIKO Pencegahan dan pengobatan dekubitus merupakan prioritas utama keperawatan. Total nilai berada di antara 5 sampai 20. II. 3. Skala tersebut menilai lima factor resiko: kondisi fisik. mobilisasi. Gangguan integritas kulit terjadi akibat tekanan yang lama. 2. . Saat ini nilai 16 dianggap beresiko. A. Skala pertama. Dinding pembuluh darah dermis menjadi lebih tebal dan kurang permeabel. Sedangkan serat elastin menjadi kehilangan elastisitasnya. aktivitas. Dekubitus merupakan nekrosis jaringan local yang cenderung terjadi ketika jaringan lunak tertekan di antara tonjolan tulang dengan permukaan eksternal dalam jangka waktu lama (National Pressure Ulcer Advisory Panel [NPUAP]). 4. 5. Skala Norton. ULKUS DEKUBITUS Salah satu aspek utama dalam pembaerian asuhan keperawatan adalah memperhatikan integritas kulit. Jaringan lemak adiposa menjadi longgar.terurai ke dalam bentuk yang tidak beraturan. sehingga menyebabkan terjadinya dekubitus. 6. kondisi mental. menebal dan robek. dan inkontinensia. 7. Sedangkan beberapa melanosit lain akan mengalami pembesaran dan menghasilkan ruam-ruam pigmen. sehingga penyembuhan apabila ada cedera juga menjadi lama. iritasi kulit. Sehingga kulit pada penuaan akan menghasilkan gambaran celah yang disebut sebagai kerut. Sel-sel Langerhans akan berkurang jumlahnya sekitar 50% dan makrofag menjadi kurang aktif sehingga menurunkan aktifitas imun pada kulit. Beberapa skala pengkajian resiko yang dikembangkan oleh perawat memungkinkan mereka mengkaji klien secara sistematis. Proses migrasi sel basal menjadi sel permukaan berjalan lebih lambat.

aktivitas. 1. Iksemia jaringan menyebabkan pucat. nutrisi. penurunan persepsi sensorik. total nilai tinggi menunjukkan resiko tinggi terjadi dekubitus. Gangguan Input Motorik Klien yang tidak mampu mengubah posisi secara mandiri beresiko tinggi terjadi dekubitus. Faktor Resiko Dekubitus a. Ketika terjadi tekanan penutupan kapiler yang cukup besar. Hiperemi merupakan peningkatan aliran darah yang tiba-tiba ke daerah tertentu pada kulit. Total nilai rendah menunjukkan resiko tinggi terjadi dekubitus. Skala Braden dikembangkan berdasarkan factor resiko pada populasi perawatan di rumah. asupan cairan melalui oral. maka terjadilah kerusakan jaringan.Alat pengkajian Knoll menilai delapan factor resiko: kesehatan umum. DEKUBITUS Dekubitus dan ulkus dekubitus merupakan istilah yang digunakan untuk meggambarkan gangguan integritas kulit. yaitu persepsi. mobilisasi. c. b. Total nilai berada dalam rentang 6-23. friksi. inkontinensia. Perubahan Tingkat Kesadaran . Total nilai berada dalam rentang 0-33. kulit yang terang mengalami satu atau dua perubahan hiperemi. dan penyakit yang menjadi factor prediposisi. asupan nutrisi melalui oral. ataupun penurunan sirkulasi beresiko terjadinya dekubitus. Gangguan Input Sensorik Klien yang mengalami perubahan persepsi sensorik terhadap nyeri dan tekanan beresiko tinggi mengalami gangguan integritas kulit daripada klien yang sensasinya normal. Nilai resiko berada pada nilai 12 atau lebih. Klien yang sakit mengalami penurunan mobilisasi. Menilai 6 subskala. Setelah periode iksemi. gangguan fungsi neurologi. status mental. dan gesekan. Tekanan mempengaruhi metabolism sel dengan cara mengurangi atau menghilangkan seirkulasi jaringan yang menyebabkan iksemi jaringan (penurunan aliran darah akibat obstruksi mekanik). aktivitas. kelembaban. B. mobilitas. sensori.

Mobilitas dan aktivitas Mobilitas adalah kemampuan untuk mengubah dan mengontrol posisi tubuh. Beberapa penyangga leher terdapat tekanan yang menutup kapiler. 2. d. Penurunan sensori persepsi . sedangkan yang dimaksud dengan faktor ekstrinsik yaitu faktor . Imobilitas adalah faktor yang paling signifikan dalam kejadian luka tekan b.Klien bingung. Faktor yang mempengaruhi durasi dan intensitas tekanan diatas tulang yang menonjol adalah imobilitas. Pasien yang berbaring terus menerus ditempat tidur tanpa mampu untuk merubah posisi beresiko tinggi untuk terkena luka tekan. disorientasi. Gips. Traksi.faktor resiko untuk terjadinya luka tekan. Dekubitus merupakan potensi komplikasi dari alat penyangga leher ini. Alat Ortotik. a. Faktor yang Mempengaruhi Dekubitus Braden dan Bergstrom (2000) mengembangkan sebuah skema untuk menggambarkan faktor . sedangkan aktivitas adalah kemampuan untuk berpindah. Sedangkan faktor yang mempengaruhi toleransi jaringan dibedakan menjadi dua yaitu faktor ekstrinsik dan faktor intrinsik.faktor dari luar yang mempunyai efek deteriorasi pada lapisan eksternal dari kulit. yaitu faktor tekanan dan toleransi jaringan. inakitifitas. Faktor intrinsik yaitu faktor yang berasal dari pasien. atau mengalami perubahan tingkat kesadaran tidak mampu melindungi dirinya sendiri dari dekubitus. Ada dua hal utama yang berhubungan dengan resiko terjadinya luka tekan. dan Peralatan Lain Gips dan traksi mengurangi mobilisasi klien dan ekstermitasnya. Klien yang menggunakan gips berisiko tinggi terjadi dekubitus karena adanya gaya friksi eksternal mekanik dari permukaan gips yang bergesek pada kulit. Peralatan ortotik seperti penyangga leher digunakan pada pengobatan klien yang mengalami fraktur spinal servikal bagian atas. Gaya mekanik kedua adalah tekanan yang dikeluarkan gips pada kulit jika gips terlalu ketat dikeringkan atau ekstermitasnya bengkak. dan penurunan sensori persepsi.

Jaringan yang mengalami maserasi akan mudah mengalami erosi. kehilangan berat badan. d. g. f. Usia Pasien yang sudah tua memiliki resiko yang tinggi untuk terkena luka tekan karena kulit dan jaringan akan berubah seiring dengan penuaan. penurunan kadar serum albumin. h. Selain itu kelembapan juga mengakibatkan kulit mudah terkena pergesekan (friction) dan perobekan jaringan (shear).Pasien dengan penurunan sensori persepsi akan mengalami penurunan untuk merasakan sensari nyeri akibat tekanan diatas tulang yang menonjol. Bila ini terjadi dalam durasi yang lama. pasien akan mudah terkena luka tekan c. pembuluh darah serta struktur jaringan yang lebih dalam yang berdekatan dengan tulang yang menonjol. Nutrisi Hipoalbuminemia. serta penurunan kohesi antara epidermis dan dermis. Tekanan arteriolar yang rendah . Pergesekan dapat mengakibatkan abrasi dan merusak permukaan epidermis kulit. penurunan respon inflamatori. Penuaan mengakibatkan kehilangan otot. Kelembapan Kelembapan yang disebabkan karena inkontinensia dapat mengakibatkan terjadinya maserasi pada jaringan kulit. dan malnutrisi umumnya diidentifikasi sebagai faktor predisposisi untuk terjadinya luka tekan. Tenaga yang merobek ( shear ) Merupakan kekuatan mekanis yang meregangkan dan merobek jaringan. Pergesekan ( friction) Pergesekan terjadi ketika dua permukaan bergerak dengan arah yang berlawanan. penurunan elastisitas kulit. e. Inkontinensia alvi lebih signifikan dalam perkembangan luka tekan daripada inkontinensia urin karena adanya bakteri dan enzim pada feses dapat merusak permukaan kulit.

Luka pada tingkat ini sudah cukup dalam.Tekanan arteriolar yang rendah akan mengurangi toleransi kulit terhadap tekanan sehingga dengan aplikasi tekanan yang rendah sudah mampu mengakibatkan jaringan menjadi iskemia. 3. i. b. nekrosis jaringan. Temperatur kulit Menurut hasil penelitian Sugama (1992) peningkatan temperatur merupakan faktor yang signifikan dengan resiko terjadinya luka tekan. melipui rusaknya atau nekrosis jaringan subkutan. Meliputi perubahan suhu kulit(lebih hangat/ lebih dingin). konsistensi jaringan. Tingkatan Dekubitus a. Tingkat II Beberapa ketebalan kulit terkelupas termasuk epidermis. Tingkat III Kerusakan kulit secara penuh. kerusakan otot. dermis. biru ataupun sedikit ungu. Stress emosional Depresi dan stress emosional kronik misalnya pada pasien psikiatrik juga merupakan faktor resiko untuk perkembangan dari luka tekan j. Tingkat IV Kerusakan kulit secara penuh dengan kerusakan yang luas . tulang atau pun struktur pendukung lainnya(tendon. sendi) . sensasi(sakit). d. Tingkat I Dekubitus tingkat ini dapat diobservasi terkait dengan kelengkapan kulit yang dibandingkan dengan area lain di tubuh. Luka pada tingkat ini masih dangkal c. ataupun keduanya. Dapat juga meliputi perubahan waran menjadi merah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful