P. 1
Teori Mengajar

Teori Mengajar

|Views: 491|Likes:
Published by Haren Te
beberapa teori mengajar dari para ahli
beberapa teori mengajar dari para ahli

More info:

Categories:Types, Resumes & CVs
Published by: Haren Te on Mar 20, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/19/2012

pdf

text

original

TEORI MENGAJAR

1. Mengajar Menurut Jerome S.Bruner A. Proses Belajar Mengajar Menurut Jerome S. Bruner Pendirian yang terkenal yang dikemukakan oleh J. Bruner ialah, bahwa setiap mata pelajaran dapat diajarakan dengan efektif dalam bentuk yang jujur secara intelektual kepada setiap anak dalam setiap tingkat perkembangannya. Pendiriannya ini didasarkan sebagian besar atas penelitian Jean Piaget tentang perkembangan intelektual anak. Berhubungan dengan hal itu, antara lain: a. Perkembangan intelektual anak Menurut penelitian J. Piaget, perkembangan intelektual anak dapat dibagi menjadi tiga taraf. 1. Fase pra-operasional, sampai usia 5-6 tahun, masa pra sekolah, jadi tidak berkenaan dengan anak sekolah. Pada taraf ini ia belum dapat mengadakan perbedaan yang tegas antara perasaan dan motif pribadinya dengan realitas dunia luar. Karena itu ia belum dapat memahami dasar matematikan dan fisika yang fundamental, bahwa suatu jumlah tidak berunah bila bentuknya berubah. Pada taraf ini kemungkinan untuk menyampaikan konsep-konsep tertentu kepada anak sangat terbatas.

2. Fase operasi kongkrit, pada taraf ke-2 ini operasi itu ³internalized´, artinya dalam menghadapi suatu masalah ia tidak perlu memecahkannya dengan percobaan dan perbuatan yang nyata; ia telah dapat melakukannya dalam pikirannya. Namun pada taraf operai kongkrit ini ia hanya dapat memecahkan masalah yang langsung dihadapinya secara nyata. Ia belum mampu memecahkan masalah yang tidak dihadapinya secara nyata atau kongkrit atau yang belum pernah dialami sebelumnya.

3. Fase operasi formal, pada taraf ini anak itu telah sanggup beroperasi berdasarkan kemungkinan hipotesis dan tidak lagi dibatasi oleh apa yang berlangsung dihadapinya sebelumnya. b. Tahap-tahap dalam proses belajar mengajar 1

Menurut Bruner, dalam prosses belajar siswa menempuh tiga tahap, yaitu: 1. Tahap informasi (tahap penerimaan materi) Dalam tahap ini, seorang siswa yang sedang belajar memperoleh sejumlah keterangan mengenai materi yang sedang dipelajari. 2. Tahap transformasi (tahap pengubahan materi) Dalam tahap ini, informasi yang telah diperoleh itu dianalisis, diubah atau ditransformasikan menjadi bentuk yang abstrakatau konseptual. 3. Tahap evaluasi Dalam tahap evaluasi, seorang siswa menilai sendiri sampai sejauh mana informasi yang telah ditransformasikan tadi dapat dimanfaatkan untuk memahami gejala atau masalah yang dihadapi. c. Kurikulum spiral J. S. Bruner dalam belajar matematika menekankan pendekatan dengan bentuk spiral. Pendekatan spiral dalam belajar mengajar matematika adalah menanamkan konsep dan dimulai dengan benda kongkrit secara intuitif, kemudian pada tahap-tahap yang lebih tinggi (sesuai dengan kemampuan siswa) konsep ini diajarkan dalam bentuk yang abstrak dengan menggunakan notasi yang lebih umum dipakai dalam matematika. Penggunaan konsep Bruner dimulai dari cara intuitif keanalisis dari eksplorasi kepenguasaan. Misalnya, jika ingin menunjukkan angka 3 (tiga) supaya menunjukkan sebuah himpunan dengan tiga anggotanya.

Contoh himpunan tiga buah mangga. Untuk menanamkan pengertian 3 diberikan 3 contoh himpunan mangga. Tiga mangga sama dengan 3 mangga.

B. Alat-Alat Mengajar Jerome Bruner membagi alat instruksional dalam 4 macam menurut fungsinya. a. alat untuk menyampaikan pengalaman ³vicarious´. Yaitu menyajikan bahanbahan kepada murid-murid yang sedianya tidak dapat mereka peroleh dengan pengalaman langsung yang lazim di sekolah. Ini dapat dilakukan melalui film, TV, rekaman suara dll.

2

b. Alat model yang dapat memberikan pengertian tentang struktur atau prinsip suatu gejala, misalnya model molekul atau alat pernafasan, tetapi juga eksperimen atau demonstrasi, juga program yang memberikan langkah-langkah untuk memahami suatu prinsip atau struktur pokok. c. Alat dramatisasi, yakni yang mendramatisasikan sejarah suatu peristiwa atau tokoh, film tentang alam yang memperlihatkan perjuangan untuk hidup, untuk memberi pengertian tentang suatu ide atau gejala. d. Alat automatisasi seperti ³teaching machine´ atau pelajaran berprograma, yang menyajikan suatu masalah dalam urutan yang teratur dan memberi ballikan atau feedback tentang responds murid.

2. Teori mengajar Ausabel Dalam teori mengajar menurut Ausubel ini sering juga disebutkan bahwa mengajar adalah memberikan bahan verbal yang bermakna bagi siswa. Inti utama dalam mengajar ialah mengindentifikasi apa yang telah diketahui siswa dan menerangkan apa yang perlu diketahuinya lebih lanjut serta bagaimana menstrukturkannya sehingga apa yang dipelajarinya tersebut mudah untuk dipahami sebagai sesuatu kebulatan pengetahuan yang utuh. Berhubungan dengan itu maka Ausubel mengemukakan konsep antara lain: 1. Bahan pengait Berupa bahan atau materi pelajaran lain akan tetapi sangat mendukung dan berkaitan dengan materi yang akan atau sedang diajarkan, sehingga guru dituntut untuk tahu dan dapat mempelajari bahan-bahan lain yang berkaitan dengan materi yang disaksikan. Seperti jika seorang guru menerangkan gerhana materi total maka bahan pengaitannya adalah perdasaran planet. 1. Belajar bermakna Mempelajari bahan pelajaran dengan berusaha menghayati makna logis makna psikologis dari materi yang disajikan. 3

‡ Makna logis, yaitu makna yang terdapat dalam kamus atau dengan perkataan lain adalh makna yang tidak terbantahkebenarannya. ‡ Makna psikologis, yaitu makna menurut persepsi seseorang terhadap yang diterimanya, sehingga bisa saja makna psikologis ini akan berbeda-beda masingmasing orang.

3. Teori Mengajar GAGNE Teori pembelajaran (perskriptif): Agar siswa mampu memainkan perannya dalam drama (hasil) dengan

baik,organisasilah isi/materi pembelajaran kondisi) dengan menggunakan model bermain peran atau role playing(metode/strategi).

Teori belajar (deskriptif): Bila isi/materi pembelajaran(kondisi) di organisasi dengan menggunakan model bermain peran atau role playing (metode/strategi), maka dipastikan siswa mampu memainkan perannya dalam drama (hasil) dengan baik.

Sembilan peristiwa belajar Gagne dalam bukunya yang berjudul ´The Conditions of Learning´ (1965), Gagne mengidentifikasikan mengenai kondisi mental seseorang agar siap untuk belajar. Ia mengemukakan apa yang dinamakan dengan ´nine events of nstruction´ atau sembilan langkah/peristiwa belajar. Sembilan langkah/ peristiwa ini merupakan tahapan-tahapan yang berurutan di dalam sebuah proses pembelajaran. Tujuannya adalah memberikan kondisi yang sedemikian rupa, sehingga proses pembelajaran dapat berjalan secara efektif dan efisien. Agar kesembilan langkah/peristiwa itu berarti dan memberi makna yang dalam bagi siswa, maka guru harus melakukan apa yang memang harus dilakukan. Dengan kata lain menyediakan suatu pengalaman belajar atau apapun namanya agar kondisi mental siswa itu terus terjaga untuk kepentingan proses pembelajaran. Apa yang dikemukan oleh Gagne itu 4

akan berarti jika kita (guru) mampu menyediakan sesuatu (materi, sumber belajar, pengalaman belajar, aktivitas, dll.) yang memang dibutuhkan. Tabel berikut ini memperjelas bagaimana kesembilan peristiwa belajar dan pembelajaran itu menjadi berarti karena proses mental yang seharusnya ada pada diri siswa telah difasilitasi oleh guru dengan angkah/tindakan kongrit.

Langkah pembelajaran proses mental siswa yang dilakukan Guru
LANGKAH PEMBELAJARAN PROSES SISWA MENTAL YANG GURU DILAKUKAN

1. Menarik perhatian siswa

- Merangsang daya penerimaan siswa. -Menciptakan curiosity siswa

- Menciptakan efek-efek suara tertentu - Mengajukan pertanyaan yang menantang - Menguraikan tujuan pada awal pelajaran, secara lisan maupun tertulis

2. Menyampaikan siswa tentang pembelajaran

kepada - Membuat/ tujuan menentukan tingkat harapan yang akan dicapai selama belajar - Mendapatkan kembali atau dan menggiatkan shortterm memory siswa

3. Menstimulir/memanggil dahulu informasi atau pemberitahuan yang sudah diperoleh sebelum pembelajaran 4. Menyajikan pembelajaran

- Bertanya, berdiskusi, melihat gambar/video, mendengarkan cerita sesuai topik yang dipelajari

isi -Siswa secara - Menyampaikan materi selektif menanggapi pembelajaran dengan isi pelajaran menggunakan berbagai metode, pendekatan, strategi, dan alat bantu pelajaran - Menyediakan pedomanpetunjuk belajar yang praktis 5

5. Menyajikan pedoman atau - Siswa menulis petunjuk belajar berbagai hal untuk disimpan pada

memori supaya bertahan lama 6. Memberi kesempatan - Merespons untuk latihan atau untuk pertanyaan, tugas, ferformence latihan, dll. 7. Memberi umpan balik - Mengetahui tingkat penguasaan materi dan tingkat kebenaran tugas yang dikerjakan - Mendapatkan/ mempertegas kembali isi pelajaran sebagai bahan evaluasi akhir - Berlatih, mempraktikkan apa yang telah diperolehnya (kognitif, afektif, psikomotorik) dalam situasi yang baru - Memberi pertanyaan, tugas, latihan yang harus dilaksanakan - Memberi penguatan/ memuji

8. Melakukan penilaian

- Melakukan penilaian

9. Mengekalkan dan mengembangkan pengetahuan dan kemahiran siswa

- Menyediakan kesempatan yang luas bagi siswa untuk memanfaatkan berbagai pengetahuan, sikap, dan keterampilan tersebut dalam situasi yang berbeda (praktikum, unjuk kerja, project, simulasi, dll

6

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->