PERBANDINGAN PENGGUNAAN METODE CERAMAH DAN DISKUSI

DALAM MEMAHAMI PELAJARAN AQIDAH AKHLAK
DI MAN 11 LEBAK BULUS JAKARTA SELATAN




















OLEH :

DASUKI
NIM : 0011017647










JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2006/1427 H

id19299656 pdfMachine by Broadgun Software - a great PDF writer! - a great PDF creator! - http://www.pdfmachine.com http://www.broadgun.com
PERBANDINGAN PENGGUNAAN METODE CERAMAH DAN DISKUSI
DALAM MEMAHAMI PELAJARAN AQIDAH AKHLAK
DI MAN 11 LEBAK BULUS JAKARTA SELATAN



SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh
Gelar Sarjana Pendidikan pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta




Oleh :

DASUKI
NIM : 0011017647



Di Bawah Bimbingan

Pembimbing I Pembimbing II





Drs. H. Ahmad Syafi’ie Noor, M.A. Bahrissalim, M.Ag.
NIP. 150 009 403 NIP. 150 289 253




JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2006/1427 H

i
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah swt yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya
sehingga penulis bisa menyelesaikan skripsi ini sebagai tugas akhir untuk memenuhi
persyaratan mencapai gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I). Shalawat dan salam
semoga tercurah kepada Nabi Muhammad saw yang telah membawa umatnya dari
alam kegelapan menuju alam yang terang benderang penuh dengan cahaya hidayah
Allah swt.
Membuat skripsi bukanlah tugas yang mudah dan ringan, melainkan tugas
yang berat dan membutuhkan banyak tenaga, biaya dan waktu. Oleh karena itu, sudah
sepatutnya penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah
membantu dan memberikan dukungan, baik dalam bentuk dukungan moril maupun
materil kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini, karena dengan bantuan
pihak-pihak tersebutlah penulis dapat menyelesaikan tugas akhir ini. Ucapan terima
kasih ini penulis tujukan khususnya kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Salman Harun, sebagai mantan Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah
dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Bapak Prof. Dr. Dede Rosyada, M.A. sebagai Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Bapak Drs. Abdul Fattah Wibisono, M.A. sebagai Ketua Jurusan Pendidikan
Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri
Syarif Hidayatullah Jakarta.
id19311609 pdfMachine by Broadgun Software - a great PDF writer! - a great PDF creator! - http://www.pdfmachine.com http://www.broadgun.com
ii
4. Bapak Drs. Sapiuddin, M.Ag. sebagai Sekretaris Jurusan Pendidikan Agama
Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta.
5. Bapak Drs. H. Ahmad Syafi’ie Noor sebagai dosen pembimbing I yang telah
memberikan pengarahan, waktu dan dukungan, disela-sela kesibukannya
membimbing penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
6. Bapak Bahrissalim, M.Ag. sebagai dosen pembimbing II yang telah memberikan
petunjuk teknis mengenai pembuatan skripsi dan penelitian lapangan kepada
penulis.
7. Bapak Drs. H. Muarif S.A.M., M.Pd. sebagai dosen penasehat akademik penulis
pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta.
8. Segenap dosen yang telah mengajar penulis dalam menempuh pendidikan selama
kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, semoga
ilmu yang diberikan bermanfaat bagi penulis.
9. Pimpinan Perpustakaan Utama dan Perpustakaan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah
menyediakan banyak buku-buku sumber kepada penulis dalam menyusun skripsi
ini.
10. Bapak Drs. H.U. Effendi Halba sebagai kepala sekolah MAN 11 Lebak Bulus
yang telah memberikan izin dan membantu penulis dalam melakukan penelitian.
iii
Dan tidak lupa ucapan terima kasih ini penulis sampaikan kepada orang-orang
terdekat penulis diantaranya:
1. Ibu Kesih (Almarhumah) dan Bapak Castam (Almarhum) tercinta, yang telah
mencurahkan segenap kasih sayangnya serta segala bentuk pengorbanannya yang
tidak dapat dibayar dengan apapun juga.
2. Kak Dasri, Kak Carwan, Kak Carkim, dan Kak Tarsono yang selalu memberikan
dorongan dan doa kepada penulis.
3. Bapak H.M. Sofyan Sumhudi, S.H. dan Bapak Drs. H. Nawar Ilta sebagai Bapak
Angkat Penulis yang telah memberikan dorongan dan dukungan baik berupa
moril dan materil kepada penulis.
4. Kak Ujang, Kak Ulil Albab, Kak Wawan, Kak Anton, Kak Nandang, Kak
Anikmah, Kak Ayu Febrian, dan semua sahabat-sahabat penulis serta semua
pihak yang turut memberikan dorongan, dukungan dan doa kepada penulis.
Penulis hanya mampu berdoa, semoga amal baik dan bantuan mereka
mendapat pahala yang berlipat ganda dari Allah swt. Penulis juga berdoa semoga
karya tulis ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca umumnya. Amin
ya robbal ‘alamin.
Jakarta, 15 Desember 2006 M.
24 Dzul Qoidah 1427 H.

Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR…………………………………………………………….. i
iv
DAFTAR ISI………………………………………………………………………. iv
DAFTAR TABEL ………………………………………………………………… vi
BAB 1 PENDAHULUAN
A. Pemilihan Pokok Masalah ……………………………………………. 1
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah ………………………………… 4
C. Metode Pembahasan …………………………………………………. 4
D. Sistematika Penyusunan ……………………………………………… 6
BAB II KAJIAN TEORI
A. Metode Ceramah …………………………………………………….. 7
1. Pengertian Metode Ceramah ……………………………………... 7
2. Kelebihan Metode Ceramah …………………………………….. 9
3. Kelemahan Metode Ceramah ………..……………………….….. 9
B. Metode Diskusi ……………………………………………………… 10
1. Pengertian Metode Diskusi…………………………………….… 10
2. Kelebihan Metode Diskusi………………………………………. 12
3. Kelemahan Metode Diskusi………..………………………….…. 12
C. Pelajaran Aqidah Akhlak ………………………………………….… 13
1. Pengertian Pelajaran Aqidah Akhlak ………………………….… 13
2. Tujuan Pelajaran Aqidah Akhlak ……………………………….. 15
3. Ruang Lingkup Pelajaran Aqidah Akhlak …………………….… 17
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Tujuan dan Manfaat Penelitian …………………………………….… 19
v
B. Tempat dan Waktu Penelitian ……………………………………….. 19
C. Populasi dan Sampel ………………………………………………… 20
D. Teknik Pengumpulan Data ………………………………………..…. 21
E. Teknik Analisa Data ……………………………………………...…. 22
BAB IV HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Umum Madrasah Aliyah Negeri 11 Lebak Bulus ……….. 24
B. Deskripsi Data ………………………………………………………. 29
C. Analisa dan Interpretasi Data ……………………………………….. 29
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ………………………………………………………….. 54
B. Saran-saran ………………………………………………………….. 54
DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………. 56
LAMPIRAN-LAMPIRAN

1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Pemilihan Pokok Masalah
Keberhasilan seorang guru dalam menyampaikan suatu materi pelajaran, tidak
hanya dipengaruhi oleh kemampuannya dalam menguasai materi yang akan
disampaikan. Akan tetapi ada faktor-faktor lain yang harus dikuasainya sehingga ia
mampu menyampaikan materi secara profesional dan efektif. Menurut Zakiyah
Daradjat “… pada dasarnya ada tiga kompetensi yang harus dimiliki oleh guru yaitu
kompetensi kepribadian, kompetensi penguasaan atas bahan, dan kompetensi dalam
cara-cara mengajar.”
1

Ketiga kompetensi tersebut harus berkembang secara selaras dan tumbuh
terbina dalam kepribadian guru. Sehingga diharapkan dengan memiliki tiga
kompetensi dasar tersebut seorang guru dapat mengerahkan segala kemampuan dan
keterampilannya dalam mengajar secara profesional dan efektif.
Mengenai kompetensi dalam cara-cara mengajar, seorang guru dituntut untuk
mampu merecanakan atau mampu menyususun setiap program satuan pelajaran,
mempergunakan dan mengembangkan media pendidikan serta mampu memilih
metode yang bervariatif dan efektif.
Ketepatan seorang guru dalam memilih metode pengajaran yang efektif dalam
suatu pembelajaran akan dapat menghasilkan pembelajaran yang efektif yaitu

1
Zakiyah Daradjat, Metodi Khusus Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995),
Cet. Ke-I, h. 263
id19348687 pdfMachine by Broadgun Software - a great PDF writer! - a great PDF creator! - http://www.pdfmachine.com http://www.broadgun.com
2
tercapainya tujuan pembelajaran yang diinginkan. Sebaliknya ketidaktepatan seorang
guru dalam memilih metode pengajaran yang efektif dalam suatu pembelajaran, maka
akan dapat menimbulkan kegagalan dalam mencapai pembelajaran yang efektif yaitu
tidak tercapainya tujuan pembelajaran yang diinginkan. Hal ini sesuai dengan apa
yang diungkapkan oleh Sukadi bahwa “proses pembelajaran yang tidak mencapai
sasaran, dapat dikatakan sebagai pembelajaran yang tidak efektif.”
2

Dalam pemilihan metode pengajaran ada beberapa faktor yang harus jadi
dasar pertimbangan yaitu: berpedoman pada tujuan, perbedaan individual anak didik,
kemampuan guru, sifat bahan pelajaran, situasi kelas, kelengkapan fasilitas dan
kelebihan serta kelemahan metode pengajaran.
3
Sehingga dengan memperhatikan
beberapa faktor pertimbangan tersebut guru dapat menentukan metode mana yang
tepat untuk digunakan ketika akan menyampaikan suatu materi pelajaran kepada
muridnya, mungkin ia akan menggunakan satu metode saja atau mungkin
menggunakan kombinasi dari beberapa metode pengajaran.
Dalam skripsi ini penulis ingin membandingkan penggunaan dua buah
metode pengajaran yaitu metode ceramah dan metode diskusi dalam pengajaran
bidang studi aqidah akhlak. Metode ceramah adalah suatu metode yang digunakan
untuk menyampaikan keterangan atau informasi tentang suatu pokok persoalan atau
masalah secara lisan. Dengan metode ceramah, guru akan mudah mengawasi

2
Sukadi, Guru Powerful Guru Masa Depan, (Bandung: Kolbu, 2006), Cet. Ke-1, h. 10

3
Syaiful Bahri Djamarah, Guru Dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif, (Jakarta: PT.
Rineka Cipta, 2000), Cet. Ke-1, h. 191-193
3
ketertiban siswa dalam mendengarkan pelajaran, disebabkan mereka melakukan
kegiatan yang sama. Akan tetapi dengan metode tersebut guru sulit mengontrol
sejauh mana pengetahuan siswa terhadap pelajaran yang telah disampaikan.
Sedangkan metode diskusi adalah suatu metode pengajaran melalui sarana
bertukar pikiran untuk menghadapi persoalan yang dihadapi. Dalam diskusi proses
interaksi terjadi antara dua individu atau lebih yang terlibat. Saling menukar
pengalaman informasi dalam memecahkan masalah. Akan tetapi dalam diskusi
biasanya hanya dikuasai oleh siswa yang suka berbicara. Disamping itu, ada
kemungkinan penyimpangan dalam pembicaraan sehingga membutuhkan waktu yang
panjang.
Dengan memperhatikan kelebihan dan kelemahan metode ceramah dan
metode diskusi diatas, penulis tertarik untuk mengetahui manakah diantara kedua
metode tersebut yang lebih efektif untuk dipergunakan dalam pengajaran aqidah
akhlak terhadap siswa madrasah aliyah. Dalam diskusi penulis bersama teman-teman
pada saat perkuliahan bidang studi metodologi pengajaran agama Islam disimpulkan
bahwa metode diskusi lebih efektif dibandingkan dengan metode ceramah dalam
pengajaran aqidah akhlak pada siswa madrasah aliyah, pertimbangannya adalah
karena siswa aliyah telah dapat berfikir dewasa dan kritis dalam menyikapi berbagai
masalalah.
Akan tetapi bagi penulis jawaban tersebut tidak memuaskan, sehingga penulis
berminat untuk mencari jawabannya secara langsung dengan melakukan penelitian
4
pada salah satu madrasah aliyah yang ada di Jakarta. Dan akhirnya penulis
memutuskan memilih MAN 11 Lebak Bulus Jakarta Selatan sebagai objek penelitian.
Untuk tercapainya tujuan tersebut penulis merumuskan dalam sebuah judul
skripsi yaitu: “Perbandingan penggunaan metode cermah dan diskusi dalam
memahami pelajaran aqidah akhlak di MAN 11 Lebak Bulus Jakarta Selatan.”
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah

1. Pembatasan Masalah
Penelitian tentang efektifitas tidaknya suatu metode, akan dilihat dari hasil
belajar siswa yang dibatasi pada hasil belajar ranah kognitif bidang studi aqidah
akhlak, kelas II MAN 11, tahun ajaran 2005/2006.
2. Perumusan Masalah
Dengan memperhatikan pembatasan masalah diatas, maka penulis
merumuskan masalah sebagai berikut:
a. Bagaimana pelaksanaan proses pembelajaran bidang studi aqidah akhlak
dengan menggunakan metode ceramah dan metode diskusi?
b. Metode apa yang paling efektif, ceramah atau diskusi dalam proses
pembelajaran bidang studi aqidah akhlak?
C. Metode Pembahasan
Dalam pembahasan karya tulis ini penulis menggunakan metode sebagai
berikut:
5
1. Deskriptif, karena penulis meneliti kejadian yang kini sedang berlangsung,
yaitu penggunaan metode ceramah dan diskusi dalam pengajaran PAI
(Pendidikan Agama Islam) khususnya mata pelajaran aqidah akhlak.
2. Library research, yaitu penelitian kepustakaan yang ada hubungannya dengan
masalah karya tulis ini seperti: buku-buku, majalah, koran, Al-Qur’an, Al-
Hadits dan sebagainya.
3. Field research, yaitu penelitian lapangan dengan menggunakan:
a. Observasi, yaitu dengan mengadakan pengamatan langsung ke Madrasah
Aliyah Negeri 11 Lebak Bulus Jakarta Selatan.
b. Wawancara, yakni mengadakan tanya jawab dengan kepala sekolah dan
guru aqidah akhlak serta guru lainnya yang dapat memberikan data yang
diperlukan.
c. Dokumentasi, mencari data mengenai hal-hal berupa catatan, transkip,
buku, surat kabar, agenda, dan sebagainya yang berhubungan dengan
penelitian.
d. Angket, yaitu teknik penelitian dengan cara memberikan pertanyaan
secara tertulis kepada siswa guna mendapatkan data yang lebih akurat.
Dalam teknik ini penulis menggunakan teknik random sampling, dengan
mengambil jumlah sampel yang akan menjadi responden sebanyak 25%
dari jumlah populasi yaitu 55 siswa dari 217 siswa. Adapun sampel yang
diambil dalam penelitian ini adalah siswa kelas 2.
6
Adapun dalam teknik penulisan skripsi ini, penulis berpedoman pada buku
“Pedoman Penulisan Skripsi, Tesis dan Disertasi” UIN Syarif hidayatullah Jakarta,
yang diterbitkan oleh UIN Jakarta Press, cetakan kedua, tahun 2002.
D. Sistematika Penyusunan
Dalam penyusunan skripsi ini penulis membagi kedalam 5 bab, yaitu:
Bab I Pendahuluan, meliputi pemilihan pokok masalah, pembatasan dan
perumusan masalah, metode pembahasan, dan sistematika penyusunan.
Bab II Kajian Teori, meliputi pengertian, kelebihan, dan kelemahan metode
ceramah dan diskusi, serta pengertian, tujuan dan ruang lingkup pelajaran aqidah
akhlak.
Bab III Metodologi Penelitian, meliputi tujuan dan manfaat penelitian, tempat
dan waktu penelitian, populasi dan sampel, teknik pengumpulan data, dan teknik
analisa data.
Bab IV Hasil penelitian, meliputi Madrasah Negeri 11 Lebak Bulus, deskripsi
data, analisa dan interpretasi data.
Bab V Penutup, meliputi kesimpulan dan saran-saran serta terakhir dilengkapi
dengan daftar kepustakaan dan lampiran-lampiran.

7
BAB II
KAJIAN TEORI
A. Metode Ceramah
1. Pengertian Metode Ceramah
Yang dimaksud metode ceramah adalah cara menyampaikan sebuah
materi pelajaran dengan cara penuturan lisan kepada siswa atau khalayak ramai.
1

Adapun menurut M. Basyiruddin Usman yang dimaksud dengan metode ceramah
adalah “teknik penyampaian pesan pengajaran yang sudah lazim disampaikan
oleh para guru di sekolah. Ceramah diartikan sebagai suatu cara penyampaian
bahan secara lisan oleh guru bilamana diperlukan.”
2
Pengertian senada juga
diungkapkan oleh Mahfuz Sholahuddin dkk., bahwa metode ceramah adalah suatu
cara penyampaian bahan pelajaran secara lisan oleh guru di depan kelas atau
kelompok.
3
Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan yang
dimaksud dengan metode ceramah adalah cara belajar mengajar yang
menekankan pada pemberitahuan satu arah dari pengajar kepada pelajar (pengajar
aktif, pelajar pasif).
4


1
Armai Arief, Pengantar dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002),
Cet. Ke-I, 135-136

2
M. Basyiruddin Usman, Metodologi Pembelajaran Islam, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002),
Cet. Ke-I, h. 34

3
Mahfuz Sholahuddin dkk., Metodologi Pendidikan Islam, (Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1986),
h. 43

4
Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai
Pustaka, 2002), Cet. Ke-3, h. 740
id19362703 pdfMachine by Broadgun Software - a great PDF writer! - a great PDF creator! - http://www.pdfmachine.com http://www.broadgun.com
8
Dari beberapa pengertian diatas dapat penulis simpulkan bahwa yang
dimaksud dengan metode ceramah adalah cara penyampaian bahan pelajaran kepada
siswa secara lisan. Adapun gambaran penggunaan metode ini dikemukakan Zakiyah
Daradjat dalam bukunya Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam bahwa “dalam
metode ceramah ini murid duduk, melihat dan mendengarkan serta percaya bahwa
apa yang diceramahkan guru itu adalah benar, murid mengutip iktisar ceramah
semampu murid itu sendiri dan menghafalnya tanpa ada penyelidikan lebih lanjut
oleh guru yang bersangkutan.”
5

Sejak zaman Rasulullah metode ceramah merupakan cara yang paling awal
yang dilakukan Rasulullah saw dalam penyampaian wahyu kepada umat.
Karakteristik yang menonjol dari metode ceramah adalah peranan guru tampak lebih
dominan. Sementara siswa lebih banyak pasif dan menerima apa yang disampaikan
oleh guru. Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad saw bersabda:
U ¯ Q - N · O Ò ¯ Q - C O
O Ò - Þ - ¯ : C O O Ò - ¯ © O ` O O Ò - ¯ ³ - O ·
O Ò - 4 © ³ × 4 · ±
Artinya: “Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat.”
Menurut M. Basyiruddin Usman, metode ceramah layak digunakan guru
dimuka kelas apabila:
a. Pesan yang akan disampaikan berupa fakta atau informasi;
b. Jumlah siswanya terlalu banyak;

5
Zakiyah Daradjat, dkk., op. cit., h. 289
9
c. Guru adalah seorang pembicara yang baik, berwibawa dan dapat merangsang
siswa;
6

2. Kelebihan Metode Ceramah
a. Suasana kelas berjalan dengan tenang karena murid melakukan aktivitas yang
sama, sehingga guru dapat mengawasi murid sekaligus secara komfrehensif.
b. Tidak membutuhkan tenaga yang banyak dan waktu yang lama, dengan waktu
yang singkat murid dapat menerima pelajaran sekaligus secara bersamaan.
c. Pelajaran bisa dilaksanakan dengan cepat, karena dalam waktu yang sedikit
dapat diuraikan bahan yang banyak.
d. Melatih para pelajar untuk menggunakan pendengarannya dengan baik
sehingga mereka dapat menangkap dan menyimpulkan isi ceramah dengan
cepat dan tepat.
7

e. Dapat memberikan motivasi dan dorongan kepada siswa dalam belajar;
f. Fleksibel dalam penggunaan waktu dan bahan, jika bahan banyak sedangkan
waktu terbatas maka dapat dibicarakan pokok-pokok permasalahannya saja,
sedangkan bila waktu masih panjang, dapat dijelaskan lebih mendetail.
8


3. Kelemahan Metode Ceramah
a. Interaksi cenderung bersifat centered (berpusat pada guru).
b. Guru kurang dapat mengetahui dengan pasti sejauh mana siswa telah
menguasai bahan ceramah.
c. Mungkin saja siswa memperoleh konsep-konsep lain yang berbeda dengan
apa yang dimaksudkan guru.
d. Siswa kurang menangkap apa yang dimaksudkan oleh guru, jika ceramah
berisi istilah-istilah yang kurang/tidak dimengerti oleh siswa dan akhirnya
mengarah kepada verbalisme.
e. Tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk memecahkan masalah.
Karena siswa hanya diarahkan untuk mengikuti fikiran guru.
f. Kurang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan
kecakapan dan kesempatan mengeluarkan pendapat.
g. Guru lebih aktif sedangkan murid bersikap pasif.
9


6
M. Basyiruddin, dkk., op. cit., h. 35-36

7
Armai Arief, op. cit., h. 139

8
M. Basyiruddin, dkk., op. cit., h. 35

9
Armai Arief, op. cit., h. 139-140

10
h. Bila guru menyampaikan bahan sebanyak-banyaknya dalam waktu yang terbatas,
menimbulkan kesan pemompaan atau pemaksaan terhadap kempuan penerimaan
siswa.
i. Cenderung membosankan dan perhatian siswa berkurang, kerena guru kurang
memperhatikan faktor-faktor psikologis siswa, sehingga bahan yang dijelaskan
menjadi kabur.
10


Untuk mengatasi kelemahan-kelemahan tersebut seorang guru harus
mengusahakan hal-hal sebagai berikut:
a. Untuk menghilangkan kesalahpahaman siswa terhadap materi yang diberikan,
hendaknya diberi penjelasan beserta keterangan-keterangan, gerak-gerik, dan
contoh yang memadai dan bila perlu hendaknya menggunakan media yang
refresentatif.
b. Selingilah metode ceramah dengan metode lainnya untuk menghilangkan
kebosanan peserta didik.
c. Susunlah ceramah secara sistematis.
d. Mengulang kata atau istilah-istilah yang digunakan secara jelas, dapat membantu
siswa yang kurang atau lambat kemampuan dan daya tangkapnya.
e. Carilah umpan balik sebanyak mungkin sewaktu ceramah berlangsung.
11

B. Metode Dikusi
1. Pengertian Metode Diskusi
Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan bahwa yang
dimaksud dengan metode diskusi adalah “Cara belajar atau mengajar yang
melakukan tukar pikiran antara murid dengan guru, murid dengan murid sebagai
peserta diskusi.”
12
Namun tidak semua kegiatan bertukar pikiran dapat dikatakan
berdiskusi. Menurut Maidar G. Arsjad dan Mukti U.S. diskusi pada dasarnya
adalah “Suatu bentuk tukar pikiran yang teratur dan terarah, baik dalam kelompok

10
Ibid., h. 140

11
Basyiruddin, dkk., op. cit., h. 35-36

12
Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, op. cit., h. 740

11
kecil atau besar, dengan tujuan untuk mendapatkan suatu pengertian, kesepakatan,
dan keputusan bersama mengenai suatu masalah.
13
Sedangkan menurut Zuhairini
dkk., yang diaksud metode diskusi “…ialah suatu metode didalam mempelajari
bahan atau menyampaikan bahan dengan jalan mendiskusikannya, sehingga
berakibat menimbulkan pengertian serta perubahan tingkah laku murid.
14

Dari beberapa pengertian diatas dapat penulis simpulkan bahwa yang
dimaksud dengan metode diskusi ialah suatu cara penyampaian materi pelajaran
dengan jalan bertukarpikiran atau mendiskusikannya, baik antara guru dengan siswa
ataupun sesama siswa.
Seiring dengan itu, metode diskusi berfungsi untuk merangsang murid
berpikir atau mengeluarkan pendapatnya sendiri mengenai persoalan-persoalan yang
kadang-kadang tidak dapat dipecahkan oleh suatu jawaban atau suatu cara saja, tetapi
memerlukan wawasan/ilmu pengetahuan yang mampu mencari jalan terbaik
(alternatif terbaik).
Dari beberapa jawaban atau jalan keluar yang ada bagaimana mendapatkan
jawaban yang paling tepat untuk mendekati kebenaran sesuai dengan ilmu yang ada
pada kita. Jadi, metode diskusi tidak hanya percakapan atau debat, melainkan cara
untuk mendapatkan jawaban dari permasalahan yang dihadapi.


13
Maidar G. Arsjad dan Mukti U.S., Pembinaan Kemampuan Berbicara Bahasa Indonesia,
(Jakarta: Erlangga, 1991), Cet. Ke-2, h. 37

14
H. Zuhairini, Metodik Khusus Pendidikan Agama, (Surabaya: Usaha Nasional, 1983), Cet.
Ke-8, h. 89
12
2. Kelebihan Metode Diskusi
Menurut Armai Arief, di dalam bukunya Pengatar Ilmu dan Metodologi
Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), disebutkan bahwa diantara
keunggulan metode diskusi adalah antara lain:
a. Suasana kelas lebih hidup, sebab siswa mengarahkan perhatian atau
pikirannya kepada masalah yang sedang didiskusikan.
b. Dapat menaikan prestasi kepribadian individu, seperti: sikap toleransi,
demokrasi, berpikir kritis, sistematis, sabar dan sebagainya.
c. Kesimpulan hasil diskusi mudah dipahami siswa, karena mereka mengikuti
proses berpikir sebelum sampai kepada suatu kesimpulan.
d. Siswa dilatih belajar untuk mematuhi peraturan-peraturan dan tata tertib
layaknya dalam suatu musyawarah.
e. Membantu murid untuk mengambil keputusan yang lebih baik.
f. Tidak terjebak kedalam pikiran individu yang kadang-kadang salah, penuh
prasangka dan sempit. Dengan diskusi seseorang dapat mempertimbangkan
alasan-alasan/pikiran-pikiran orang lain.
15


3. Kelemahan Metode Diskusi
Menurut Roetiyah N.K., di dalam bukunya Strategi Belajar Mengajar
disebutkan bahwa kekuarangan penggunaan metode diskusi antara lain:
a. Kadang-kadang bisa terjadi adanya pandangan dari berbagai sudut bagi
masalah yang dipecahkan, bahkan mungkin pembicaraan menjadi
menyimpang, sehingga memerlukan waktu yang panjang.
b. Dalam diskusi menghendaki pembuktian logis, yang tidak terlepas dari fakta-
fakta; dan tidak merupakan jawaban yang hanya dugaan atau coba-coba saja.
c. Tidak dapat dipakai pada kelompok yang besar.
d. Biasanya orang menghendaki pendekatan yang lebih formal.
16

Kelemahan lain dalam metode diskusi adalah kadang-kadang ada siswa yang
memonopoli pembicaraan, dan ada pula siswa yang pasif dan tidak acuh. Dalam hal

15
Armai Arief, op. cit., h. 148-149

16
Roetiyah N.K., Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Bina Aksara, 1988), Cet. Ke-2, h. 6

13
N ³
³
N ³ O ³ E
C ¬ ³ ³
demikian guru hendaknya memperhatikan dan memberi motivasi kepada siswa
supaya seluruh siswa ikut serta dalam diskusi.
Untuk mengatasi kelemahan atau segi negatif dari metode ini, maka perlu
memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a. Pimpinan diskusi diberikan kepada murid dan diatur secara bergiliran.
b. Pimpinan diskusi yang diberikan kepada murid, perlu bimbingan dari guru.
c. Guru mengusahakan supaya seluruh siswa ikut berpartisipasi dalam diskusi.
d. Mengusahakan supaya semua siswa mendapat giliran berbicara, sementara siswa
lain belajar mendengarkan pendapat temannya.
e. Mengoptimalkan waktu yang ada untuk mendapatkan hasil yang diinginkan.
17


C. Pelajaran Aqidah Akhlak
1. Pengertian Pelajaran Aqidah akhlak
Pelajaran aqidah akhlak merupakan salah satu mata pelajaran yang
diajarkan disekolah formal dan merupakan rumpun mata pelajaran Pendidikan
Agama Islam (PAI). Secara etimologi (bahasa) kata “aqidah akhlak” terdiri dari
dua kata “aqidah” dan “akhlak”. Kata aqidah berasal dari bahasa Arab yaitu
yang berarti kepercayaan atau keyakinan.
18

Sedangkan secara terminologi (istilah) aqidah berarti segala keyakinan
yang ditetapkan oleh Islam yang disertai oleh dalil-dalil yang pasti.
19
Hal-hal
yang termasuk di dalam pembahasan aqidah yaitu tentang Tuhan dan segala sifat-

17
Armai Arief, op. cit., h. 149

18
Ahmad Warson Munawir, Kamus Al-Munawir, Kamus Bahasa Arab Indonesia, (Surabaya:
Pustaka Progressif, 1997), h. 1024

19
Moh. Rifa’I, dkk., Aqidah Akhlak, (Semarang: CV. Wicaksana, 1994), Jilid I, h. 1

14

- =
E -

= U
¯

= U
-
= U
-
= U ¯ -
C C U - - = U -
sifat-Nya serta hal-hal yang berkaitan dengan alam semesta, seperti terjadinya
alam.
Adapun pengertian akhlak secara etimologi adalah berasal dari bahasa Arab,
yaitu bentuk jamak dari kata yang berasal dari kata dengan
bentuk jamaknya yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau
tabi’at.
20
Ibnu Athir menjelaskan bahwa hakekat makna itu ialah gambaran
batin manusia yang tepat (jiwa dan sifatnya) sedangkan merupakan gambaran
bentuk luasnya (raut muka, warna kulit, tinggi rendahnya tubuh dan lain
sebagainya).
21

Secara terminologi ada beberapa definisi akhlak yang telah dikemukakan oleh
para ahli, diantaranya:
a. Imam Ghozali
“Akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan perbuatan
dengan mudah tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.
22

b. Ibnu Miskawaih
“Akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorong untuk
melakukan perbuatan tanpa melakukan pemikiran dan pertimbangan.
23


20
Hamzah Yaqub, Etika Islam, Pembinaan Akhlakul Karimah Suatu Pengantar, (Bandung:
CV. Diponogoro, 1983), Cet. Ke-2, h. 11

21
Ahmad Musthofa, Akhlak Tashowuf, (Bandung: Pustaka Setia, 1999) Cet. Ke-I, h. 17

22
Asmaran A.S., Pengantar Studi Akhlak, (Jakarta: Rajawali Press, 1992), Cet. Ke-I, h. 2

23
Abu Ali Ahmad Ibn Miskawaih, Menuju Kesempurnaan Akhlak, Terj. Helmi Hidayat
(Bandung: Mizan, 1994). h. 56
15
c. Abu Bakar Aceh
“Akhlak adalah suatu sikap yang digerakan oleh jiwa yang menimbulkan
tindakan dan perbuatan manusia baik terhadap Tuhan maupun sesama manusia serta
terhadap diri sendiri.
24

Melihat pengertian aqidah akhlak yang telah diuraikan di atas, maka dapat
disimpulkan bahwa pelajaran aqidah akhlak merupakan suatu mata pelajaran yang
diajarkan di sekolah formal dan merupakan bagian dari mata pelajaran Pendidikan
Agama Islam yang didalamnya mencakup persoalan keimanan dan budi pekerti yang
dapat mengembangkan kepribadian peserta didik.
2. Tujuan Pelajaran Aqidah Akhlak
Aqidah akhlak merupakan salah satu bidang studi dalam pendidikan agama
Islam. Maka tujuan umum pendidikan aqidah akhlak sesuai dengan tujuan umum
pendidikan agama Islam. Menurut Abdurrahman Saleh Abdullah, tujuan umum
pendidikan agama Islam adalah membentuk kepribadian sebagai khalifah Allah atau
sekurang-kurangnya mempersiapkan peserta didik ke jalan yang mengacu pada tujuan
akhir manusia. Tujuan utama khalifah Allah adalah beriman kepada Allah dan tunduk
patuh secara total kepadaNya.
25
Hal ini sesuai dengan firman Allah:
Ò 4 ` = U ³ e - ¯ ¹ T
Ò " - " ^ · ³ º ¯ O ¬ l ³ Ò ¹ ^ R T ÷


24
Abu Bakar Aceh, Mutiara Akhlak, (Jakarta: Bulan Bintang, 1959), Cet. Ke-I, h.95

25
Abdurrahman Saleh Abdullah, Teori Pendidikan Berdasarkan Al-Qur’an, (Jakarta: PT.
Rineka Cipta, 2005). Cet. Ke-III, h.133
16
Artinya : “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya
mereka mengabdi kepada-Ku.” (Q.S. Adz-Dzariyat : 56).
Sedangkan tujuan khusus pelajaran aqidah akhlak menurut Direktorat Jendral
Kelembagaan Agama Islam adalah sebagai berikut:
Untuk menumbuhkan dan meningkatkan keimanan peserta didik yang
diwujudkan dalam akhlaknya yang terpuji, melalui pemberian dan pemupukan
pengetahuan, penghayatan serta pengamalan peserta didik tentang aqidah dan akhlak
Islam, sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang dan meningkatkan
kualitas keimanan dan ketakwaanya kepada Allah swt seta berakhlak mulia dalam
kehidupan pribadi, masyarakat, berbangsa dan bernegara, serta untuk dapat
melanjutkan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
26

Dari kutipan diatas dapat dipahami bahwa tujuan pelajaran aqidah akhlak
searah dengan tujuan nasional yaitu: “Tujuan pendidikan nasional adalah
meningkatkan kualitas manusia Indonesia, yakni manusia yang beriman dan bertaqwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin,
bekerja keras, tangguh, bertanggung jawab, mandiri, cerdas dan terampil serta sehat
jasmani dan rohani.
27




26
Depag RI/Dirjen Kelembagaan Agama Islam, Kurikulum Berbasis Kompetensi Madrasah
Aliyah, (Jakarta: 2004), h. 22

27
Nana Sudjana, Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum Sekolah, (Bandung: Sinar Baru,
1989) Cet. Ke-I, h. 21
17
3. Ruang Lingkup Pelajaran Aqidah Akhlak
Ruang lingkup pelajaran aqidah akhlak yang terdapat di madrasah aliyah
memiliki isi bahan pelajaran yang dapat mengarahkan pada pencapaian kemampuan
peserta didik untuk dapat memahami rukun iman secara ilmiah serta pengalaman dan
pembiasaan berakhlak Islami, untuk dapat dijadikan landasan perilaku dalam
kehidupan sehari-hari serta sebagai bekal untuk jenjang berikutnya.
Adapun ruang lingkup pelajaran aqidah akhlak di dalam kurikulum 2004
untuk madrasah aliyah ada tiga aspek, yaitu:
a. Aspek Aqidah
Aspek aqidah ini meliputi sub-sub aspek: kebenaran aqidah Islam,
hubungan aqidah, akhlak, ke-Esaan Allah swt, Allah Maha Pemberi Rizki, Maha
Pengasih dan Penyayang, Maha Pengampun dan Penyantun, Maha Benar dan
Maha Adil.
28
Dari beberapa sub aqidah ini tentu saja dengan menggunakan
argumen dalil-dalil aqli dan naqli. Selain itu juga meyakini bahwa, “Muhammad
saw adalah rosul terakhir, meyakini kebenaran Al-Qur’an dengan dalil aqli dan
naqli. Meyakini qodlo dan qodar, hubungan usaha dan do’a, hubungan prilaku
manusia dengan terjadinya bencana alam.
29




28
Ibid., h. 23

29
Ibid

18
b. Aspek Akhlak
Adapun yang menjadi aspek akhlak diantaranya: “Beradab secara Islam dalam
bemusyawarah untuk membangun demokrasi, berakhlak terpuji kepada orang tua,
guru, ulil amri, dan waliyullah”.
30
Hal ini memiliki tujuan untuk memperkokoh
integrasi dan kredibilitas pribadi, memperkokoh kehidupan bermasyarakat, berbangsa
dan bernegara, bersedia melanjutkan misi utama rosul dalam membawa perdamaian,
terbiasa menghindari akhlak tercela yang dapat merusak tatanan kehidupan
masyarakat, berbangsa dan bernegara seperti membunuh, merampok, mencuri,
menyebar fitnah, membuat kekerasan, mengkonsumsi atau mengedarkan narkoba dan
malas bekerja.
c. Aspek Kisah Keteladanan
Aspek kisah keteladanan diantaranya mengapresiasi dan meneladani sifat dan
prilaku sahabat utama Rosulullah saw dengan landasan agama yang kuat.
31

Ketiga aspek diatas merupakan bagian dari ajaran-ajaran dasar yang terdapat
dalam Agama Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Al-Hadits. Oleh karena itu
diharapkan dapat membentuk peserta didik menjadi beriman dan bertaqwa kepada
Allah swt dan memiliki akhlak yang mulia sebagaimana akhlak para nabi dan rosul.

30
Ibid

31
Ibid
19
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penulisan Skripsi ini adalah sebagai berikut:
a. Penulis ingin mengetahui bagaimanakah proses pembelajaran aqidah
akhlak dengan menggunakan metode ceramah dan diskusi.
b. Penulis ingin mengetahui metode apa yang paling efektif, ceramah atau
diskusi dalam pembelajaran aqidah akhlak di MAN 11 Lebak Bulus.
2. Manfaat Penelitian Skripsi ini sebagai berikut:
a. Skripsi ini dapat dijadikan bahan pertimbangan para guru maupun calon
guru agama dalam memilih metode pengajaran aqidah akhlak yang tepat.
b. Skripsi ini dapat menambah khazanah dalam dunia pendidikan terutama
dalam masalah metodologi pengajaran agama Islam.
B. Tempat dan Waktu Penelitian
1. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di MAN 11 Lebak Bulus Jakarta Selatan, pada
kelas 2 semester 2.
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan sejak tanggal 14 Nopember 2006 sampai akhir
penelitian 14 Mei 2006.


id19376093 pdfMachine by Broadgun Software - a great PDF writer! - a great PDF creator! - http://www.pdfmachine.com http://www.broadgun.com
20
C. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Menurut Suharsimi Arikunto, populasi adalah “keseluruhan objek
penelitian”.
1
Adapun populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa MAN 11
Lebak Bulus Jakarta Selatan.
2. Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh
populasi tersebut.
2
Dalam penelitian ini, penulis mengambil sampel dengan cara
sampel random atau sampel campur, yaitu suatu teknik sampling dimana penulis
“mencampur” subjek-subjek di dalam populasi sehingga semua subjek dianggap
sama. Dengan demikian penulis memberi hak yang sama kepada setiap subjek
untuk memperoleh kesempatan dipilih menjadi sampel. Setiap subjek yang
terdaftar sebagai sampel, diberi nomor urut mulai dari nomor 1 sampai dengan
nomor 55. Jadi dalam penelitian ini penulis tidak menjadikan seluruh populasi
yang berjumlah 217 orang siswa sebagai objek penelitian. Tetapi penulis hanya
menetapkan 25% saja sebagai sampel penelitian, yaitu 55 responden. Hal ini
sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Suharsimi Arikunto bahwa “…, jika

1
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), Edisi Revisi V,
Cet. Ke-12, h. 108

2
Sugiono, Metode Penelitian Administrasi, (Jakarta: CV. Alfabeta, 2003), Cet. Ke-10, h. 91

21
jumlah objeknya besar, maka sampel yang diambil antara 10-15% atau 20-25%
atau lebih”.
3

D. Teknik Pengumpulan Data
Dalam pengumpulan data penulis menggunakan beberapa teknik
pengumpulan data dalam penelitian antara lain:
1. Observasi
Sebagai metode ilmiah observasi diartiakan pengamatan dan pencatatan
dengan sistematik fenomena-fenomena yang diselidiki. Dalam arti yang
sebenarnya tidak hanya sebatas pada pengamatan yang dilaksanakan secara
langsung maupun tidak langsung. Observasi yang dilakukan penulis adalah
dengan melakukan pengamatan yang berkaitan dengan keadaan umum lokasi
penelitian.
2. Wawancara
Wawancara yaitu proses tanya jawab dalam penelitian yang berlansung secara
lisan, bertatap muka dan mendengarkan secara langsung informasi-informasi atau
keterangan-keterangan, dalam hal ini yang diwawancarai adalah kepala sekolah, guru
bidang studi aqidah akhlak dan guru lainnya yang dapat memberikan informasi yang
dibutuhkan.
3. Dokumentasi
Dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal berupa catatan, transkip,
buku, surat kabar, agenda dan sebagainya.
4


3
Suharsimi Arikunto, op. cit. h. 112
22
4. Angket
Angket adalah teknik pengumpulan data atau informasi dengan menyerahkan
atau mengirimkan daftar pertanyaan untuk diisi sendiri oleh responden.
5

Angket yang disebarkan kepada responden berbentuk angket tertutup atau
terstruktur dengan alternatif jawaban yang telah disediakan. Adapun pertanyaan-
pertanyaan yang terdapat dalam angket berkisar pada permasalahan yang dibahas
dalam skripsi ini. Adapun jumlah item pertanyaan dalam angket adalah sebanyak 25
item pertanyaan, jumlah tersebut sudah memadai sebagaimana disampaikan oleh
Sugiono bahwa “jumlah angket yang memadai adalah antara 20 s/d 30 pertanyaan”.
6

E. Teknik Analisa Data
Data yang sudah terkumpul penulis kualifikasikan atau tuangkan kedalam
bentuk angka-angka, sehingga data tersebut bersifat kuantitatif, untuk selanjutnya
dianalisa dan diinterpretasikan secara deskriptif. Pengalihan data kedalam bentuk
kuantitatif ini ditempuh dengan menggunakan rumus:
f
P = X 100%
N
Keterangan : f = Frekuensi yang sedang dicari persentasinya.
N = Number of cases (jumlah frekuensi).

4
Ibid, hal. 206

5
Irawan Soehartono, Metode Penelitian Sosial, (Jakarta: PT. Remaja Rosdakarya, 2002), Cet.
Ke-5, h. 65

6
Sugiono, op. cit. h. 164

23
P = Angka persentase.
7

Untuk memudahkan penulis dalam melakukan analisa dan interpretasi data,
maka penulis menentukan skala persentase sebagaimana tertera pada tabel berikut:
Tabel 1
SKALA PERSENTASE
NO PERSENTASE PENAFSIRAN
1. 100% Seluruhnya
2. 91-99% Hampir seluruhnya
3. 61-90% Sebagian besar
4. 51-60% Lebih dari separuh
5. 50% Separuhnya
6. 40-49% Hampir separuhnya
7. 11-39% Sebagian kecil
8. 1-10% Sedikit sekali
9. 0% Tidak ada


7
Anas Sudijono, Pengantar Statistik Pendidikan, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2001), Cet.
Ke-11, h. 40
24
BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Umum Madrasah Aliyah Negeri 11 Jakarta
1. Sejarah Berdirinya Madrasah Aliyah Negeri 11 Jakarta
Pada awalnya MAN 11 Lebak Bulus adalah MAN 1 Filial Mampang Prapatan
yang berdiri pada tahun 1983, dimana pada waktu itu MAN 1 Filial Mampang
Prapatan masih menumpang atau menempati gedung yayasan “Raudhatul
Muta’alimin” sampai dengan tahun 1996 + 13 tahun. Kemudian pada kurun waktu
itu, Pemerintah Daerah (PEMDA) dalam hal ini Kanwil Departemen Agama Propinsi
DKI Jakarta mencarikan tempat yang sekarang ini ditempati, yaitu MAN 11 Lebak
Bulus Cilandak Jakarta Selatan.
2. Tujuan Berdirinya Madrasdah Aliyah Negeri 11 Jakarta
Adapun Tujuan berdirinya Madrasah Aliyah Negeri 11 Lebak Bulus adalah
untuk menyukseskan Program Pemerintah yaitu, Mencerdaskan Bangsa baik dibidang
Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) dan Ilmu Pengetahuan dibidang Agama
(IMTAQ).
3. Keadaan Guru dan Siswa
a. Keadaan Guru
Berdasarkan data yang dikumpulkan melalui wawancara dengan Bapak
Kepala Sekolah MAN 11 Jakarta, bahwa keberadaan guru pada MAN 11 Jakarta
tertera pada tabel berikut:

id19391968 pdfMachine by Broadgun Software - a great PDF writer! - a great PDF creator! - http://www.pdfmachine.com http://www.broadgun.com
25
Tabel 2
Keadaan Guru
NO NAMA GURU
PEND.
TERAKHIR
JABATAN STATUS
1. Drs. H. U. Effendi Halba SL. IAIN Kep. Sekolah Tetap
2. Dra. Hj. Mardiyah SL. IAIN Guru Tetap
3. Drs. Sahrudin SL. IKIP Guru Tetap
4. Drs. Asy’ari SL. IAIN Guru Tetap
5. Dra. Hj. Ade Karmanah SL. IAIN Guru Tetap
6. Ahmad Latif Sueb, BA. SL. IAIN Guru Tetap
7. Dra. Hj. Siti Atiah SL. IAIN Guru Tetap
8. Dra. Hj. Nurmina Naenggolan SL. IAIN Guru Tetap
9. Drs. Sodri SL. IAIN Guru Tetap
10. Drs. Zaenal Abidin, M.Pd. S2.UHAMKA Guru Tetap
11. Sulistiowati, S.Pd. SL. IKIP Guru Tetap
12. Oktavizani SM. IKIP Guru Tetap
13. Anaverta Dinamarti, S.Ag. SL. IAIN Guru Tetap
14. Drs. Hanapi SL. IAIN Wakabidsis Tetap
15. Drs. Abidin SL. IAIN Guru Tetap
16. Naning Syarfiningsih, S.Pd. SL. IKIP Guru Tetap
17. Oktavizani NR, S.Pd. SL. IKIP Guru Tetap
18. Drs. Maryanto SL. IKIP Guru Tetap
19. Drs. Amir Kodir SL. IAIN Guru Tetap
20. Dra. Hj. Asnidar Meuraksa SL. IAIN Guru Tetap
21. Rosmalina, S.Pd. SL. UNJ Guru Tetap
22. Mohammad Yasin, S.Pd. SL. UHAMKA Wakabidkur Tetap
23. Sri Husniyahwati, S.Ag. SL. IAIC Guru Tetap
24. Ratri Sugesti Sumatra Dewi, S. Pd. SL. UNILA Guru Tetap
25. Nuraini, S.Ag. SL. STAIA Guru Tetap
26. Darmadi, S.Pd. SL. IKIP Guru Tetap
27. Hj. Masturoh, S.Ag. SL. IAIN Guru Tetap
28. Dra. Vivi Hafizah SL. IKIP Guru Tidak Tetap
29. Dra. Zubaidah SL. IKIP Guru Tidak Tetap
30. Syafriyatno D3. IKIP Guru Tidak Tetap
31. H. Ahmad Kamil, BA. SM. UAJ Guru Tidak Tetap
32. Tuti Janatun, S.Pd. SL. UNESA Guru Tidak Tetap
26
b. Keadaan Siswa
Keberadaan siswa MAN 11 Jakarta, tertera pada tabel di bawah ini:
Tabel 3
Keadaan Siswa
BULAN
JULI AGUST. SEP. OKT. NO KELAS
L P JM L P JM L P JM L P JM
1 X. 1 6 19 25 6 19 25 6 19 25 6 18 25
2 X. 2 11 14 25 11 14 25 11 14 25 11 14 25
3 X. 3 11 14 25 11 14 25 11 14 25 11 14 25
JUMLAH 28 47 75 28 47 75 28 47 75 28 46 75
4 XI. 1 IPA 3 17 20 3 17 20 3 17 20 3 17 20
5 XI. IPS I 14 18 32 14 18 32 14 18 32 14 18 32
6 XI. IPS II 17 14 21 17 14 21 17 14 21 17 14 21
JUMLAH 34 49 73 34 49 73 34 49 73 34 49 73
7 3 IPA 12 20 32 12 20 32 12 20 32 12 20 32
8 3 IPS 19 18 37 19 18 37 19 18 37 19 18 37
JUMLAH 31 38 69 31 38 69 31 38 69 31 38 69
TOTAL 93 134 217 93 134 217 93 134 217 93 133 216

BULAN
NOP. DES. JAN. FEB. NO KELAS
L P JM L P JM L P JM L P JM
1 X. 1 6 18 25 6 18 25 6 18 25 6 18 25
2 X. 2 11 14 25 11 14 25 11 14 25 11 14 25
3 X. 3 11 14 25 11 14 25 11 14 25 11 14 25
JUMLAH 28 46 75 28 46 75 28 46 75 28 46 75
4 XI. 1 IPA 3 17 20 3 17 20 3 17 20 3 17 20
5 XI. IPS I 14 18 32 14 18 32 14 18 32 14 18 32
6 XI. IPS II 17 14 21 17 14 21 17 14 21 17 14 21
JUMLAH 34 49 73 34 49 73 34 49 73 34 49 73
3 IPA 12 20 32 12 20 32 12 20 32 12 20 32
8 3 IPS 19 18 37 19 18 37 19 18 37 19 18 37
JUMLAH 31 38 69 31 38 69 31 38 69 31 38 69
TOTAL 93 133 216 93 133 216 93 133 216 93 133 216
27
Tabel 3
(Lanjutan)
BULAN
MARET APRIL MEI NO KELAS
L P JM L P JM L P JM
1 X. 1 6 18 25 6 18 25 6 18 25
2 X. 2 11 14 25 11 14 25 11 14 25
3 X. 3 11 14 25 11 14 25 11 14 25
JUMLAH 28 46 75 28 46 75 28 46 75
4 XI. 1 IPA 3 17 20 3 17 20 3 16 20
5 XI. IPS I 14 18 32 14 18 32 14 18 32
6 XI. IPS II 17 14 21 17 14 21 17 14 21
JUMLAH 34 49 73 34 49 73 34 48 73
7 3 IPA 12 20 32 12 20 32 12 20 32
8 3 IPS 19 18 37 19 18 37 19 18 37
JUMLAH 31 38 69 31 38 69 31 38 69
TOTAL 93 133 216 93 133 216 93 132 216

4. Keadaan Sarana dan Prasarana
Keadaan sarana dan prasarana yang dimiliki MAN 11 Jakarta adalah:
a. Laboratorium Biologi
b. Laboratorium Bahasa
c. Laboratorium Komputer
d. Perpustakaan
e. Musik Gambus
f. Micro Teacing Room
g. Aula Serba Guna
h. Bangku Belajar
i. Kursi Belajar
j. Kantor Kepala Sekolah
28
k. Ruang Guru
l. Ruang Tata Usaha
m. Lapangan Olah Raga
n. Mushala
5. Struktur Organisasi
Struktur Organisasi MAN 11 Jakarta, tertera pada tabel di bawah ini:
Tabel 4
Struktur Organisasi


























Koord. Perpustakaan
Drs. H. Zaenal Abidin, M.Pd.
Pem. Paskibra/PMR
Khairul Sani
Pem. Or. Pr.
Syafriatno
Kepala Sekolah
Drs. H. Ujang Effendi Halba
Ka. Tata Usaha
Tugiman, M.Si.
Wakamad Kesiswaan
Drs. Hanapi
Wakamad Kurikulum
Mohammad Yasin, S.Pd.
Wakamad Sarana dan Prasarana
Drs. Basinah Dasridal
Koordinator BP/BK
H. A. Kamil, BA.
Koordinator KBK dan Bhs. Inggris
Mohammad Yasin, S.Pd.
Pembina KIR
Drs. Amir Kodir
Pembina Lab. IPA
Sulistiowati, S.Pd.
Guru
Piket
Pemb. Komputer
Betty Indriasari, S. Kom.

Wali Kelas
Kls.
1.2
Kls.
1.1
Kls.
1.3
Kls.
2 IPA
Kls.
2 IPS
Kls.
3 IPA
Kls.
3 IPS
29
B. Deskripsi Data
Berdasarkan data yang diperoleh penulis dari angket-angket yang disebarkan
kepada responden di MAN 11 Lebak Bulus sebanyak 55 responden, maka hasilnya
penulis deskripsikan dalam bentuk tabel-tabel.
C. Analisa dan Interpretasi Data
Untuk mengetahui perbandingan antara metode ceramah dan metode diskusi,
maka penulis menganalisa dan menginterpretasikan data yang telah diperoleh. Untuk
memudahkan penulis dalam menganalisa dan menginterpretasikan data dari hasil
penelitian, maka setiap item dibuat tabulasi yang merupakan proses perubahan data
dari intrumen penelitian (angket) menjadi tabel-tabel (persentase). Untuk lebih jelas
dapat dilihat pada tabel-tabel berikut:
Tabel 5
Siswa menyenangi pelajaran aqidah akhlak

NO. ALTERNATIF JAWABAN F %
1

a. Senang

b. Kurang senang

c. Tidak senang


55

0

0


100

0

0

JUMLAH 55 100%

Data pada tabel 5 di atas menyebutkan, bahwa pernyataan tentang siswa
menyenangi pelajaran aqidah akhlak, adalah siswa yang menyatakan senang (100%),
30
siswa yang menyatakan kurang senang (0%), dan siswa yang menyatakan tidak
senang (0%). Maka analisa data pada tabel 5 di atas, bahwa seluruh siswa MAN 11
Lebak Bulus Jakarta menyenangi pelajaran aqidah akhlak, tidak ada siswa yang
kurang senang atau tidak senang terhadap pelajaran aqidah akhlak.
Tabel 6
Penyebab siswa menyenangi pelajaran aqidah akhlak
NO. ALTERNATIF JAWABAN F %
2

a. Pelajarannya mudah dipahami

b. Cara guru mengajar enak

c. Nilai ulangannya selalu bagus


24

30

1


43,6

54,5

1,9

JUMLAH 55 100%

Data pada tabel 6 di atas menyebutkan, bahwa penyebab siswa menyenangi
pelajaran aqidah akhlak adalah, pelajarannya mudah dipahami (43,6%), cara guru
mengajarnya enak (54,5%), dan nilai ulangannya selalu bagus (1,9%). Maka analisa
data pada tabel 6 di atas, bahwa lebih dari separuh siswa MAN 11 Lebak Bulus
menyenangi pelajaran aqidah akhlak disebabkan cara guru mengajarnya enak, dan
kurang dari separuh siswa menyenangi pelajaran aqidah akhlak disebabkan
pelajarannya mudah dipahami, dan sedikit sekali siswa yang menyenangi pelajaran
aqidah akhlak disebabkan nilainya selalu bagus.

31
Tabel 7
Metode pengajaran yang sering digunakan guru dalam pengajaran aqidah akhlak

NO. ALTERNATIF JAWABAN F %
3

a. Metode ceramah

b. Metode diskusi

c. Metode penugasan


18

35

2


32,7

63,6

3,7

JUMLAH 55 100%

Data pada tabel 7 di atas menyebutkan, bahwa metode pengajaran yang sering
digunakan guru dalam pengajaran aqidah akhlak, adalah metode ceramah (32,7%),
metode diskusi (63,6%), metode penugasan (3,7%). Maka analisa data pada tabel 7 di
atas, bahwa sebagian besar siswa MAN 11 Lebak Bulus menyatakan guru lebih
sering menggunakan metode diskusi dalam pengajaran aqidah akhlak, sebagian kecil
siswa menyatakan bahwa guru lebih sering menggunakan metode ceramah dalam
pengajaran aqidah akhlak, dan sedikit sekali siswa yang menyatakan bahwa guru
lebih sering menggunakan metode penugasan dalam pengajaran aqidah akhlak.
Tabel 8
Suasana kelas berjalan dengan tenang ketika guru mengajar aqidah akhlak dengan
metode ceramah
32
NO. ALTERNATIF JAWABAN F %

4

a. Tenang

b. Kurang tenang

c. Tidak tenang


13

40

2


23,6

72,7

3,7

JUMLAH 55 100%

Data pada tabel 8 di atas menyebutkan, bahwa pernyataan suasana kelas
berjalan dengan tenang ketika guru mengajar aqidah akhlak dengan metode ceramah,
adalah siswa yang menyatakan tenang (23,6%), siswa yang menyatakan kurang
tenang (72,7%), dan siswa yang menyatakan tidak tenang (3,7%). Maka analisa data
pada tabel 8 di atas, bahwa sebagian besar siswa MAN 11 Lebak Bulus menyatakan
suasana kelas berjalan kurang tenang ketika pelajaran aqidah akhlak diajarkan dengan
metode ceramah, sebagian kecil siswa menyatakan bahwa suasana kelas berjalan
dengan tenang, dan sedikit sekali siswa yang menyatakan bahwa suasana kelas
berjalan tidak tenang.
Tabel 9
Suasana kelas tetap terkendali ketika guru mengajar aqidah akhlak dengan metode
diskusi
NO. ALTERNATIF JAWABAN F %
5 a. Terkendali 22 40
33
Tabel 9
(Lanjutan)
5
b. Kurang terkendali

c. Tidak terkendali
33

0
60

0
JUMLAH 55 100%

Data pada tabel 9 di atas menyebutkan, bahwa pernyataan suasana kelas
tetap terkendaali ketika guru mengajar aqidah akhlak dengan metode ceramah, adalah
siswa yang menyatakan terkendali (40%), siswa yang menyatakan kurang terkendali
(60%), dan siswa yang menyatakan tidak terkendali (0%). Maka analisa data pada
tabel 9 di atas, bahwa lebih dari separuh siswa MAN 11 Lebak Bulus menyatakan
suasana kelas kurang terkendali ketika pelajaran aqidah akhlak diajarkan dengan
metode diskusi, hampir separuh siswa menyatakan bahwa suasana kelas tetap
terkendali, dan tidak ada siswa yang menyatakan bahwa suasana kelas berjalan tidak
terkendali .
Tabel 10
Siswa dapat menangkap dengan jelas apa yang disampaikan oleh guru ketika
pelajaran aqidah akhlak disampaikan dengan metode ceramah
NO. ALTERNATIF JAWABAN F %
6 a. Jelas 30 54,5
34
Tabel 10
(Lanjutan)
NO. ALTERNATIF JAWABAN F %
6
b. Kurang Jelas

c. Tidak Jelas
25

0
45,5

0
JUMLAH 55 100%

Data pada tabel 10 di atas menyebutkan, bahwa pernyataan siswa dapat
menangkap dengan jelas apa yang disampaikan oleh guru ketika pelajaran aqidah
akhlak disampaikan dengan metode ceramah, adalah siswa yang menyatakan jelas
(54,5%), siswa yang menyatakan kurang jelas (45,5%), dan siswa yang menyatakan
tidak jelas (0%). Maka analisa data pada tabel 10 di atas, bahwa lebih dari separuh
siswa MAN 11 Lebak Bulus menyatakan dapat menangkap dengan jelas apa yang
disampaikan oleh guru ketika pelajaran aqidah akhlak diajarkan dengan metode
ceramah, hampir separuh siswa menyatakan kurang jelas dan tidak ada siswa yang
menyatakan tidak jelas.
Tabel 11
Siswa turut berperan aktif ketika pelajaran aqidah akhlak disampaikan guru dengan
metode diskusi
NO. ALTERNATIF JAWABAN F %
7 a. Berperan aktif 29 52,7
35
Tabel 11
(Lanjutan)
NO. ALTERNATIF JAWABAN F %
7
b. Kurang berperan aktif

c. Tidak berperan aktif
22

4
40

7,3
JUMLAH 55 100%

Data pada tabel 11 di atas menyebutkan, bahwa pernyataan siswa turut
berperan aktif ketika pelajaran aqidah akhlak disampaikan guru dengan metode
diskusi, adalah siswa yang menyatakan berperan aktif (52,7%), siswa yang
menyatakan kurang berperan aktif (40%), dan siswa yang menyatakan tidak berperan
aktif (7,3%). Maka analisa data pada tabel 11 di atas, bahwa lebih dari separuh siswa
MAN 11 Lebak Bulus menyatakan turut berperan aktif ketika pelajaran aqidah akhlak
disampaikan guru dengan metode diskusi, hampir separuh siswa menyatakan kurang
berperan aktif dan sedikit sekali siswa yang menyatakan tidak berperan aktif.
Tabel 12
Guru memberikan dorongan untuk belajar kepada siswa ketika pelajaran aqidah
akhlak disampaikan dengan metode ceramah
NO. ALTERNATIF JAWABAN F %
8 a. Memberikan dorongan 49 89,1
36
Tabel 12
(Lanjutan)
NO. ALTERNATIF JAWABAN F %
8
b. Kurang memberikan dorongan

c. Tidak memberikan dorongan
5

1
9,1

1,8
JUMLAH 55 100%

Data pada tabel 12 di atas menyebutkan, bahwa pernyataan guru memberikan
dorongan untuk belajar kepada siswa ketika pelajaran aqidah akhlak disampaikan
dengan metode ceramah, adalah siswa yang menyatakan memberikan dorongan
(89,1%), siswa yang menyatakan kurang memberikan dorongan (9,1%), dan siswa
yang menyatakan tidak memberikan dorongan (1,8%). Maka analisa data pada tabel
12 di atas, bahwa sebagian besar siswa MAN 11 Lebak Bulus menyatakan guru
memberikan dorongan untuk belajar kepada siswa ketika pelajaran aqidah akhlak
disampaikan dengan metode ceramah, sedikit sekali siswa yang menyatakan guru
kurang memberikan dorongan atau tidak memberikan dorongan.
Tabel 13
Guru aqidah akhlak menggunakan metode ceramah ketika materi yang disampaikan
cukup banyak
NO. ALTERNATIF JAWABAN F %
9 a. Selalu menggunakan 17 30,9
37
Tabel 13
(Lanjutan)
NO. ALTERNATIF JAWABAN F %
9
b. Kadang-kadang menggunakan

c. Tidak pernah menggunakan
34

4
61,8

7,3
JUMLAH 55 100%

Data pada tabel 13 di atas menyebutkan, bahwa pernyataan guru aqidah
akhlak menggunakan metode ceramah ketika materi yang disampaikan cukup banyak,
adalah siswa yang menyatakan menggunakan (30,9%), siswa yang menyatakan
kadang-kadang menggunakan (61,8%), dan siswa yang menyatakan tidak pernah
menggunakan (7,3%). Maka analisa data pada tabel 13 di atas, bahwa sebagian besar
siswa MAN 11 Lebak Bulus menyatakan guru aqidah akhlak kadang-kadang
menggunakan metode ceramah ketika materi yang disampaikan cukup banyak,
sebagian kecil siswa menyatakan guru selalu menggunakan dan sedikit sekali siswa
yang menyatakan guru tidak pernah menggunakan.
Tabel 14
Siswa mendengarkan pendapat temannya dengan baik ketika pelajaran aqidah akhlak
disampaikan dengan metode diskusi
NO. ALTERNATIF JAWABAN F %
10 a. Mendengarkan dengan baik 37 67,3
38
Tabel 14
(Lanjutan)
NO. ALTERNATIF JAWABAN F %
10
b. Kurang mendengarkan dengan baik

c. Tidak mendengarkan dengan baik
18

0
32,7

0
JUMLAH 55 100%

Data pada tabel 14 di atas menyebutkan, bahwa pernyataan siswa
mendengarkan pendapat temannya dengan baik ketika pelajaran aqidah akhlak
disampaikan dengan metode diskusi, adalah siswa yang menyatakan mendengarkan
dengan baik (67,3%), siswa yang menyatakan kurang mendengarkan dengan baik
(32,7%), dan siswa yang menyatakan tidak mendengarkan dengan baik (0%). Maka
analisa data pada tabel 14 di atas, bahwa sebagian besar siswa MAN 11 Lebak Bulus
menyatakan mendengarkan pendapat temannya dengan baik ketika pelajaran aqidah
akhlak disampaikan dengan metode diskusi, sebagian kecil siswa kurang
mendengarkan dengan baik, dan tidak ada siswa yang tidak mendengarkan dengan
baik.
Tabel 15
Siswa diberi kesempatan untuk bertanya ketika pelajaran aqidah akhlak disampaikan
guru dengan metode ceramah
NO. ALTERNATIF JAWABAN F %
11 a. Diberi kesempatan 54 98,2
39
Tabel 15
(Lanjutan)
NO. ALTERNATIF JAWABAN F %
11
b. Kurang diberi kesempatan

c. Tidak diberi kesempatan
1

0
1,8

0
JUMLAH 55 100%

Data pada tabel 15 di atas menyebutkan, bahwa pernyataan siswa diberi
kesempatan untuk bertanya ketika pelajaran aqidah akhlak disampaikan guru dengan
metode ceramah, adalah siswa yang menyatakan diberi kesempatan (98,2%), siswa
yang menyatakan kurang diberi kesempatan (1,8%), dan siswa yang menyatakan
tidak diberi kesempatan (0%). Maka analisa data pada tabel 15 di atas, bahwa hampir
seluruhnya siswa MAN 11 Lebak Bulus menyatakan diberi kesempatan untuk
bertanya ketika pelajaran aqidah akhlak disampaikan guru dengan metode ceramah,
sedikit sekali siswa yang menyatakan kurang diberi kesempatan dan tidak ada siswa
yang menyatakan tidak diberi kesempatan.
Tabel 16
Jawaban atau pendapat peserta diskusi dapat diterima secara logis ketika pelajaran
aqidah akhlak disampaikan dengan metode diskusi
NO. ALTERNATIF JAWABAN F %
12 a. Dapat diterima 29 52,7
40
Tabel 16
(Lanjutan)

NO. ALTERNATIF JAWABAN F %
12
b. Kurang dapat diterima

c. Tidak dapat diterima
26

0
47,3

0
JUMLAH 55 100%

Data pada tabel 16 di atas menyebutkan, bahwa pernyataan jawaban atau
pendapat peserta diskusi dapat diterima secara logis ketika pelajaran aqidah akhlak
disampaikan dengan metode diskusi, adalah siswa yang menyatakan dapat diterima
(52,7%), siswa yang menyatakan kurang dapat diterima (47,3%), dan siswa yang
menyatakan tidak dapat diterima (0%). Maka analisa data pada tabel 16 di atas,
bahwa lebih dari separuh siswa MAN 11 Lebak Bulus menyatakan jawaban atau
pendapat peserta diskusi dapat diterima secara logis ketika pelajaran aqidah akhlak
disampaikan dengan metode diskusi, hampir separuh siswa yang menyatakan kurang
dapat diterima secara logis dan tidak ada siswa yang menyatakan tidak dapat diterima
secara logis.
Tabel 17
Pertanyaan siswa dijawab cukup jelas oleh guru ketika pelajaran aqidah akhlak
disampaikan dengan metode ceramah
41
NO. ALTERNATIF JAWABAN F %
13

a. Cukup jelas

b. Kurang Jelas

c. Tidak Jelas


47

7

1


85,5

12,7

1,8

JUMLAH 55 100%

Data pada tabel 17 di atas menyebutkan, bahwa pernyataan pertanyaan siswa
dijawab cukup jelas oleh guru ketika pelajaran aqidah akhlak disampaikan dengan
metode ceramah, adalah siswa yang menyatakan cukup jelas (85,5%), siswa yang
menyatakan kurang jelas (12,7%), dan siswa yang menyatakan tidak jelas (1,8%).
Maka analisa data pada tabel 17 di atas, bahwa sebagian besar siswa MAN 11 Lebak
Bulus menyatakan pertanyaan mereka dijawab cukup jelas oleh guru ketika pelajaran
aqidah akhlak disampaikan dengan metode ceramah, sebagian kecil siswa
menyatakan kurang jelas, dan sedikit sekali siswa yang menyatakan tidak jelas.
Tabel 18
Siswa dapat menyimpulkan dengan baik hasil diskusi pada mata pelajaran aqidah
akhlak
NO. ALTERNATIF JAWABAN F %
14
a. Dapat menyimpulkan dengan baik

b. Kurang dapat menyimpulkan dengan baik
22

32
40

58,2
42
Tabel 18
(Lanjutan)
NO. ALTERNATIF JAWABAN F %
14 c. Tidak dapat meyimpulkan dengan baik 1 1,8
JUMLAH 55 100%

Data pada tabel 18 di atas menyebutkan, bahwa pernyataan siswa dapat
menyimpulkan dengan baik hasil diskusi pada mata pelajaran aqidah akhlak, adalah
siswa yang menyatakan dapat menyimpulkan dengan baik (40%), siswa yang
menyatakan kurang dapat menyimpulkan dengan baik (58,2%), dan siswa yang
menyatakan tidak dapat menyimpulkan dengan baik (1,8%). Maka analisa data pada
tabel 18 di atas, bahwa lebih dari separuh siswa MAN 11 Lebak Bulus menyatakan
siswa kurang dapat menyimpulkan dengan baik hasil diskusi pada mata pelajaran
aqidah akhlak, hampir separuh siswa dapat menyimpulkan dengan baik, dan sedikit
sekali siswa yang tidak dapat menyimpulkan dengan baik.
Tabel 19
Siswa dapat menyimpulkan isi ceramah dengan baik setelah guru menyampaikan
pelajaran aqidah akhlak dengan metode ceramah
NO. ALTERNATIF JAWABAN F %
15
a. Dapat menyimpulkan dengan baik

b. Kurang dapat menyimpulkan dengan baik
22

31
40

56,4
43
Tabel 19
(Lanjutanan)
NO. ALTERNATIF JAWABAN F %
15 c. Tidak dapat meyimpulkan dengan baik 2 3,6
JUMLAH 55 100%

Data pada tabel 19 di atas menyebutkan, bahwa pernyataan siswa dapat
menyimpulkan isi ceramah dengan baik setelah guru menyampaikan pelajaran aqidah
akhlak dengan metode ceramah, adalah siswa yang menyatakan dapat menyimpulkan
dengan baik (40%), siswa yang menyatakan kurang dapat menyimpulkan dengan baik
(56,4%), dan siswa yang menyatakan tidak dapat menyimpulkan dengan baik (3,6%).
Maka analisa data pada tabel 19 di atas, bahwa lebih dari separuh siswa MAN 11
Lebak Bulus menyatakan siswa kurang dapat menyimpulkan isi ceramah dengan baik
setelah guru menyampaikan pelajaran aqidah akhlak dengan metode ceramah, hampir
separuh siswa dapat menyimpulkan isi ceramah dengan baik, dan sedikit sekali siswa
yang tidak dapat menyimpulkan isi ceramah dengan baik.
Tabel 20
Siswa merasa senang apabila guru mengajar aqidah akhlak dengan metode ceramah
NO. ALTERNATIF JAWABAN F %
16
a. Senang

b. Kurang senang
35

19
63,6

34,5
44
Tabel 20
(Lanjutan)
NO. ALTERNATIF JAWABAN F %
16 c. Tidak senang 1 1,9
JUMLAH 55 100%

Data pada tabel 20 di atas menyebutkan, bahwa pernyataan siswa merasa
senang apabila guru mengajar aqidah akhlak dengan metode ceramah, adalah siswa
yang menyatakan senang (63,6%), siswa yang menyatakan kurang senang (34,5%),
dan siswa yang menyatakan tidak senang (1,9%). Maka analisa data pada tabel 20 di
atas, bahwa sebagian besar siswa MAN 11 Lebak Bulus menyatakan merasa senang
apabila guru mengajar aqidah akhlak dengan metode ceramah, sebagian kecil siswa
menyatakan kurang senang, dan sedikit sekali siswa yang mengatakan tidak senang.
Tabel 21
Siswa merasa senang apabila guru mengajar aqidah akhlak dengan metode diskusi
NO. ALTERNATIF JAWABAN F %
17
a. Senang

b. Kurang senang

c. Tidak senang
38

15

2
69,1

27,3

3,6
JUMLAH 55 100%
45
Data pada tabel 21 di atas menyebutkan, bahwa pernyataan siswa merasa
senang apabila guru mengajar aqidah akhlak dengan metode diskusi, adalah siswa
yang menyatakan senang (69,1%), siswa yang menyatakan kurang senang (27,3%),
dan siswa yang menyatakan tidak senang (3,6%). Maka analisa data pada tabel 21 di
atas, bahwa sebagian besar siswa MAN 11 Lebak Bulus menyatakan merasa senang
apabila guru mengajar aqidah akhlak dengan metode diskusi, sebagian kecil siswa
menyatakan kurang senang, dan sedikit sekali siswa yang mengatakan tidak senang.
Tabel 22
Penyebab siswa senang belajar aqidah akhlak bila guru menyampaikannya dengan
metode ceramah
NO. ALTERNATIF JAWABAN F %
18
a. Gurunya menarik

b. Belajarnya santai

c. Senang mendengarkan ceramah

3

40

12


5,5

72,7

21,8

JUMLAH 55 100%

Data pada tabel 22 di atas menyebutkan, bahwa penyebab siswa senang
belajar aqidah akhlak bila guru menyampaikannya dengan metode ceramah, adalah
siswa yang menyatakan karena gurunya menarik (5,5%), siswa yang menyatakan
karena belajarnya santai (72,7%), dan siswa yang menyatakan karena senang
mendengarkan ceramah (21,8%). Maka analisa data pada tabel 22 di atas, bahwa
sebagian besar siswa MAN 11 Lebak Bulus menyatakan penyebab mereka senang
46
belajar aqidah akhlak bila guru menyampaikannya dengan metode ceramah adalah
karena belajarnya santai, sebagian kecil menyatakan menyenagi karena senang
mendengarkan ceramah, dan sedikit sekali yang menyatakan menyenangi karena
gurunya menarik.
Tabel 23
Penyebab siswa senang belajar aqidah akhlak bila guru menyampaikannya dengan
metode diskusi
NO. ALTERNATIF JAWABAN F %
19

a. Terlatih berfikir kritis

b. Punya kesempatan belajar mengemukakan
pendapat

c. Dapat belajar memecahkan permasalahan bersama-
sama


9

28


18



16,4

50,9


32,7


JUMLAH 55 100%

Data pada tabel 23 di atas menyebutkan, bahwa penyebab siswa senang
belajar aqidah akhlak bila guru menyampaikannya dengan metode diskusi, adalah
siswa yang menyatakan karena terlatih berfikir kritis (16,4%), siswa yang
menyatakan karena punya kesempatan belajar mengemukakan pendapat (50,9%), dan
siswa yang menyatakan karena dapat belajar memecahkan permasalahan bersama-
sama (32,7%). Maka analisa data pada tabel 23 di atas, bahwa lebih dari separuh
siswa MAN 11 Lebak Bulus menyatakan penyebab mereka senang belajar aqidah
47
akhlak bila guru menyampaikannya dengan metode diskusi adalah karena mereka
punya kesempatan untuk mengemukakan pendapat, sebagian kecil siswa menyatakan
karena dapat memecahkan permasalahan bersama-sama, dan sebagian kecil lagi
menyatakan karena terlatih berfikir kritis.

Tabel 24
Penyebab siswa tidak senang ketika pelajaran aqidah akhlak disampaikan guru
dengan metode ceramah
NO. ALTERNATIF JAWABAN F %
20

a. Penampilan guru tidak menarik

b. Penjelasan guru sulit difahami

c. Bosan


0

20

35


0

36,4

63,6

JUMLAH 55 100%

Data pada tabel 24 di atas menyebutkan, bahwa penyebab siswa tidak senang
ketika pelajaran aqidah akhlak disampaikan guru dengan metode ceramah, adalah
siswa yang menyatakan karena penampilan guru tidak menarik (0%), siswa yang
menyatakan karena penjelasan guru sulit difahami (36,4%), dan siswa yang
menyatakan bosan (63,6%). Maka analisa data pada tabel 24 di atas, bahwa sebagian
besar siswa MAN 11 Lebak Bulus menyatakan penyebab mereka tidak senang belajar
aqidah akhlak bila guru menyampaikannya dengan metode ceramah adalah karena
48
bosan, sebagian kecil siswa meyatakan karena penjelasan guru sulit difahami, dan
tidak ada siswa yang menyatakan karena penampilan guru tidak menarik.
Tabel 25
Penyebab siswa tidak senang ketika pelajaran aqidah akhlak disampaikan guru
dengan metode diskusi
NO. ALTERNATIF JAWABAN F %
21

a. Pembicaraan peserta diskusi sering menyimpang
dari topik bahasan

b. Pemimpin diskusi tidak mampu memimpin
diskusi dengan baik

c. Pendapat yang dikemukakan oleh peserta diskusi
sering tidak logis


16


16


23



29,1


29,1


41,8


JUMLAH 55 100%

Data pada tabel 25 di atas menyebutkan, bahwa penyebab siswa tidak senang
ketika pelajaran aqidah akhlak disampaikan guru dengan metode diskusi, adalah
siswa yang menyatakan karena pembicaraan peserta diskusi sering menyimpang dari
topik bahasan (29,1%), siswa yang menyatakan karena pemimpin diskusi tidak dapat
memimpin diskusi dengan baik (29,1%), dan siswa yang menyatakan pendapat yang
dikemukakan peserta diskusi sering tidak logis (41,8%). Maka analisa data pada
tabel 25 di atas, bahwa hampir separuh siswa MAN 11 Lebak Bulus menyatakan
penyebab mereka tidak senang belajar aqidah akhlak bila guru menyampaikannya
dengan metode diskusi adalah karena pendapat yang dikemukakan peserta diskusi
49
sering tidak logis, sebagian kecil siswa menyatakan karena pembicaraan peserta
diskusi sering menyimpang dari topik bahasan, dan sebagian kecil lagi siswa
menyatakan karena pemimpin diskusi tidak dapat memimpin diskusi dengan baik.
Tabel 26
Prestasi siswa semakin meningkat ketika pelajaran aqidah akhlak disampaikan guru
dengan metode ceramah
NO. ALTERNATIF JAWABAN F %
22

a. Semakin meningkat

b. Tetap saja

c. Menurun


15

40

0


27,3

72,7

0

JUMLAH 55 100%

Data pada tabel 26 di atas menyebutkan, bahwa pernyataan prestasi siswa
semakin meningkat ketika pelajaran aqidah akhlak disampaikan guru dengan metode
ceramah, adalah siswa yang menyatakan semakin meningkat (27,3%), siswa yang
menyatakan tetap saja (72,7%), dan siswa yang menyatakan menurun (0%). Maka
analisa data pada tabel 26 di atas, bahwa sebagian besar siswa MAN 11 Lebak Bulus
menyatakan prestasi siswa tetap saja ketika pelajaran aqidah akhlak disampaikan guru
dengan metode ceramah, sebagian kecil siswa menyatakan semakin meningkat, dan
tidak ada siswa yang menyatakan menurun.

50
Tabel 27
Prestasi siswa semakin meningkat ketika pelajaran aqidah akhlak disampaikan guru
dengan metode diskusi

NO. ALTERNATIF JAWABAN F %
23

a. Semakin meningkat

b. Tetap saja

c. Menurun


23

30

2


41,8

54,5

3,7

JUMLAH 55 100%


Data pada tabel 27 di atas menyebutkan, bahwa pernyataan prestasi siswa
semakin meningkat ketika pelajaran aqidah akhlak disampaikan guru dengan metode
diskusi, adalah siswa yang menyatakan semakin meningkat (41,8%), siswa yang
menyatakan tetap saja (54,5%), dan siswa yang menyatakan menurun (3,7%). Maka
analisa data pada tabel 27 di atas, bahwa lebih dari separuh siswa MAN 11 Lebak
Bulus menyatakan prestasi siswa tetap saja ketika pelajaran aqidah akhlak
disampaikan guru dengan metode diskusi, hampir separuh siswa menyatakan
semakin meningkat, dan sedikit sekali siswa yang menyatakan menurun.
Tabel 28
Metode pengajaran yang lebih disukai diantara metode ceramah dan metode diskusi
dalam kegiatan belajar mengajar aqidah akhlak
51
NO. ALTERNATIF JAWABAN F %
24

a. Saya lebih menyukai metode ceramah daripada
metode diskusi

b. Saya lebih menyukai metode diskusi daripada
metode ceramah

c. Saya meyukai metode ceramah sama dengan metode
diskusi


12


23


20



21,8


41,8


36,4


JUMLAH 55 100%

Data pada tabel 28 di atas menyebutkan, bahwa pernyataan metode
pengajaran yang lebih disukai diantara metode ceramah dan metode diskusi dalam
kegiatan belajar mengajar aqidah akhlak, adalah siswa yang menyatakan saya lebih
menyukai metode ceramah daripada metode diskusi (21,8%), siswa yang menyatakan
saya lebih menyukai metode diskusi daripada metode ceramah (41,8%), dan siswa
yang menyatakan saya meyukai metode ceramah sama dengan metode diskusi
(36,4%). Maka analisa data pada tabel 28 di atas, bahwa hampir separuh siswa MAN
11 Lebak Bulus menyatakan metode pengajaran yang lebih disukai diantara metode
ceramah dan metode diskusi dalam kegiatan belajar mengajar aqidah akhlak adalah
mereka lebih menyukai metode diskusi daripada metode ceramah, sebagian kecil
siswa menyatakan mereka menyukai metode ceramah sama dengan metode diskusi,
dan sebagian kecil lagi menyatakan mereka lebih menyukai metode ceramah daripada
metode diskusi.

52
Tabel 29
Prestasi aqidah akhlak siswa dengan adanya metode ceramah dan diskusi
NO. ALTERNATIF JAWABAN F %
25

a. Prestasi saya semakin meningkat ketika pelajaran
aqidah akhlak diajarkan dengan metode ceramah
daripada dengan metode diskusi

b. Prestasi saya semakin meningkat ketika pelajaran
aqidah akhlak diajarkan dengan metode diskusi
daripada dengan metode ceramah

c. Prestasi saya pada mata pelajaran aqidah akhlak sama
saja, baik diajarkan dengan metode ceramah maupun
diajarkan dengan metode diskusi



7



22



26





12,7



40



47,3



JUMLAH 55 100%

Data pada tabel 28 di atas menyebutkan, bahwa prestasi siswa pada mata
pelajaran aqidah akhlak dengan adanya metode ceramah dan diskusi, adalah siswa
yang menyatakan prestasi saya semakin meningkat ketika pelajaran aqidah akhlak
diajarkan dengan metode ceramah daripada dengan metode diskusi (12,7%), siswa
yang menyatakan prestasi saya semakin meningkat ketika pelajaran aqidah akhlak
diajarkan dengan metode diskusi daripada dengan metode ceramah (40%), dan siswa
yang menyatakan prestasi saya pada mata pelajaran aqidah akhlak sama saja, baik
diajarkan dengan metode ceramah maupun diajarkan dengan metode diskusi (47,3%).
Maka analisa data pada tabel 28 di atas, bahwa hampir separuh siswa MAN 11 Lebak
Bulus menyatakan prestasi mereka pada mata pelajaran aqidah akhlak sama saja, baik
53
diajarkan dengan metode ceramah maupun diajarkan dengan metode diskusi, hampir
separuh lagi menyatakan prestasi mereka semakin meningkat ketika pelajaran aqidah
akhlak diajarkan dengan metode diskusi daripada dengan metode ceramah, dan
sebagian kecil menyatakan prestasi mereka semakin meningkat ketika pelajaran
aqidah akhlak diajarkan dengan metode ceramah daripada dengan metode diskusi.



54
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang dilakukan, mengenai perbandingan metodologi
ceramah dan diskusi dalam memahami pelajaran aqidah akhlak di MAN 11 Lebak
Bulus, maka dapat disimpulkan sebagi berikut:
1. Metode yang sering digunakan dalam pengajaran aqidah akhlak di MAN 11
Lebak Bulus Jakarta Selatan adalah metode ceramah dan metode diskusi.
Meskipun penggunaan metode ceramah dan metode diskusi tidak secara tuntas
dapat mencapai tujuan yang diharapkan, namun kedua metode tersebut cukup
efektif untuk meningkatkan prestasi siswa, khususnya dalam pengajaran aqidah
akhlak.
2. Metode pengajaran diskusi lebih efektif daripada metode pengajaran ceramah
dalam pengajaran aqidah akhlak di MAN 11 Lebak Bulus Jakarta Selatan. Hal ini
terlihat dari prestasi mereka lebih meningkat ketika pelajaran aqidah akhlak
disampaikan dengan metode diskusi dibandingkan dengan metode ceramah.
B. Saran-Saran
Dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan di MAN 11 Lebak Bulus
terutama dalam hal metodologi pengajaran aqidah akhlak, perlu kiranya penulis
memberikan sumbangan pikiran agar MAN 11 Lebak Bulus lebih baik lagi mutu
pendidikannya dan lebih maju lagi perkembangannya.
id19405031 pdfMachine by Broadgun Software - a great PDF writer! - a great PDF creator! - http://www.pdfmachine.com http://www.broadgun.com
55
1. Kepala sekolah hendaknya memberikan pengawasan yang melekat kepada guru-
guru, agar mereka merasa diperhatikan sehingga terdorong untuk meningkatkan
potensi profesinya dan lebih memperkaya keterampilan mengajarnya.
2. Hendaknya guru-guru MAN 11 Lebak Bulus menjalin kerjasama yang lebih
baik dengan orang tua siswa dan masyarakat lainnya sehingga masyarakat
merasa memiliki dan merasa berkewajiban untuk turut memajukan Madrasah
tersebut.
3. Hendaknya guru aqidah akhlak lebih meningkatkan keterampilan mengajarnya
baik dalam menggunakan metode ceramah maupun metode diskusi dan metode-
metode yang lain, sehingga siswa mudah menerima pengajaran aqidah akhlak
dengan baik.
4. Hendaknya para siswa menyadari, bahwa belajar adalah kewajiban bagi setiap
muslim laki-laki dan perempuan, oleh karena itu para siswa hendaknya belajar
dengan giat dan ikhlas.








56
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Abdurrahman Shaleh, Dr., Teori Pendidikan Berdasarkan Al-Qur’an,
Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2005, Cet. Ke-3.

Aceh, Abu Bakar, Mutiara Akhlak, Jakarta: Bulan Bintang, 1959, Cet. Ke-1.

Arief, Armai, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, Jakarta: Ciputat
Pers, 2002, Cet. Ke-1.

Arikunto, Suharsimi, Prof. Dr., Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek,
Yogyakarta: Rineka Cipta, 2002, Cet. Ke-12.

Arsyad, Maidar G., dan Mukti U.S., Pembinaan Kemampuan Berbicara Bahasa
Indonesia, Jakarta: Erlangga, 1991, Cet. Ke-2.

AS., Asmaran, Pengantar Studi Akhlak, Jakarta: Rajawali Press, 1992, Cet. Ke-1.

Daradjat, Zakiah, Prof. Dr., Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, Jakarta: Bumi
Aksara, 1995, Cet. Ke-1.

Djamarah, Syaiful Bahri, Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif, Jakarta:
PT. Rineka Cipta, 2000, Cet. Ke-1.

Munawir, Warson, Ahmad, Kamus Al-Munawir, Kamus Bahasa Arab Indonesia,
Surabaya: Pustaka Progressif, 1997.

Miskawaih, Ibn, Abu Ali Ahmad, Menuju Kesempurnaan Akhlak, Terj. Helmi
Hidayat, Bandung: Mizan, 1994.

Musthofa, Ahmad, Akhlak Tashawuf, Bandung: Pustaka Setia, 1999, Cet. Ke-1.

N.K., Roetiyah, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Bina Aksara, 1988.

Penyusun, Tim, Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai
Pustaka, 2002, Cet. Ke-3.

RI, Depag/Dirjen Kelembagaan Agama Islam, Kurikulum Berbasis Kompetensi
Madrasah Aliyah, Jakarta: 2004.

Rifa’i, Moh. dkk., Aqidah Akhlak, Semarang: CV. Wicaksana, 1994, Jilid 1.

57
Shalahuddin, Mahfudz, dkk., Metodologi Pendidikan Islam, Surabaya: PT. Bina Ilmu,
1986.

Soehartono, Irawan, Metode Penelitian Sosial, Jakarta: PT. Remaja Rosdakarya,
2002, Cet. Ke-5.

Sudijono, Anas, Prof. Drs., Pengantar Statistik Pendidikan, Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada, 2001, Cet. Ke-11.

Sudjana, Nana, Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum Sekolah, Bandung: Sinar
Baru, 1989, Cet. Ke-1.

Sugiono, Prof. Dr., Metode Penelitian Administrasi, Jakarta: CV. Alfabeta, 2003, Cet.
Ke-10

Sukadi, Drs., Guru Powerful Guru Masa Depan, Bandung: Kolbu, 2006, Cet. Ke-1


Usman, Basyiruddin, M., Metodologi Pembelajaran Islam, Jakarta: Ciputat Pers,
2002, Cet. Ke-1.

Yaqub, Hamzah, Etika Islam, Pembinaan Akhlakul Karimah Suatu Pengatar,
Bandung: CV. Diponogoro, 1983, Cet. Ke-2.

Zuhairini, H., Metodik Khusus Pendidikan Agama, Surabaya: Usaha Nasional, 1983,
Cet. Ke-8.

PERBANDINGAN PENGGUNAAN METODE CERAMAH DAN DISKUSI DALAM MEMAHAMI PELAJARAN AQIDAH AKHLAK DI MAN 11 LEBAK BULUS JAKARTA SELATAN

SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta

Oleh : DASUKI NIM : 0011017647

Di Bawah Bimbingan Pembimbing I Pembimbing II

Drs. H. Ahmad Syafi’ie Noor, M.A. NIP. 150 009 403

Bahrissalim, M.Ag. NIP. 150 289 253

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2006/1427 H

M. Membuat skripsi bukanlah tugas yang mudah dan ringan.I). Abdul Fattah Wibisono. Dr. i . sebagai Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Dr. Bapak Prof. Dede Rosyada. biaya dan waktu.A. sebagai mantan Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.KATA PENGANTAR  Segala puji bagi Allah swt yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis bisa menyelesaikan skripsi ini sebagai tugas akhir untuk memenuhi persyaratan mencapai gelar Sarjana Pendidikan Islam (S. Bapak Drs. Salman Harun. 2. sudah sepatutnya penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu dan memberikan dukungan.A. Ucapan terima kasih ini penulis tujukan khususnya kepada: 1. Bapak Prof. karena dengan bantuan pihak-pihak tersebutlah penulis dapat menyelesaikan tugas akhir ini. Oleh karena itu. M. melainkan tugas yang berat dan membutuhkan banyak tenaga. 3. baik dalam bentuk dukungan moril maupun materil kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad saw yang telah membawa umatnya dari alam kegelapan menuju alam yang terang benderang penuh dengan cahaya hidayah Allah swt. sebagai Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.Pd.

. ii . H. Effendi Halba sebagai kepala sekolah MAN 11 Lebak Bulus yang telah memberikan izin dan membantu penulis dalam melakukan penelitian. 7. Bapak Bahrissalim. sebagai Sekretaris Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.A. H. Ahmad Syafi’ie Noor sebagai dosen pembimbing I yang telah memberikan pengarahan.Pd. 10. sebagai dosen penasehat akademik penulis pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Muarif S. disela-sela kesibukannya membimbing penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. waktu dan dukungan. 5. M.Ag. 6. Bapak Drs. Pimpinan Perpustakaan Utama dan Perpustakaan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah menyediakan banyak buku-buku sumber kepada penulis dalam menyusun skripsi ini.4. 9. 8.U. Bapak Drs. Bapak Drs. M.M. Sapiuddin. sebagai dosen pembimbing II yang telah memberikan petunjuk teknis mengenai pembuatan skripsi dan penelitian lapangan kepada penulis. semoga ilmu yang diberikan bermanfaat bagi penulis.Ag. Bapak Drs. H. Segenap dosen yang telah mengajar penulis dalam menempuh pendidikan selama kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. M.

S. Kak Nandang. Bapak H. Kak Dasri. Penulis hanya mampu berdoa. Penulis DAFTAR ISI KATA PENGANTAR……………………………………………………………. dan semua sahabat-sahabat penulis serta semua pihak yang turut memberikan dorongan. i iii . dukungan dan doa kepada penulis. yang telah mencurahkan segenap kasih sayangnya serta segala bentuk pengorbanannya yang tidak dapat dibayar dengan apapun juga. Kak Ulil Albab. 3.Dan tidak lupa ucapan terima kasih ini penulis sampaikan kepada orang-orang terdekat penulis diantaranya: 1. 15 Desember 2006 M. Kak Anikmah. Kak Carkim. Kak Ayu Febrian. dan Bapak Drs. Kak Ujang. Kak Carwan. Ibu Kesih (Almarhumah) dan Bapak Castam (Almarhum) tercinta. dan Kak Tarsono yang selalu memberikan dorongan dan doa kepada penulis. H. Penulis juga berdoa semoga karya tulis ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca umumnya. Kak Anton. semoga amal baik dan bantuan mereka mendapat pahala yang berlipat ganda dari Allah swt.. 4.H. 24 Dzul Qoidah 1427 H. 2. Sofyan Sumhudi. Amin ya robbal ‘alamin. Nawar Ilta sebagai Bapak Angkat Penulis yang telah memberikan dorongan dan dukungan baik berupa moril dan materil kepada penulis. Jakarta.M. Kak Wawan.

.DAFTAR ISI………………………………………………………………………. Tujuan Pelajaran Aqidah Akhlak ……………………………….… 13 2. 4 D. 7 1. Pengertian Metode Ceramah ……………………………………. Metode Ceramah ……………………………………………………. Pembatasan dan Perumusan Masalah ………………………………… 4 C. Sistematika Penyusunan ……………………………………………… 6 BAB II KAJIAN TEORI A...…………………………. 12 3. Pemilihan Pokok Masalah ……………………………………………. Pengertian Pelajaran Aqidah Akhlak …………………………. iv DAFTAR TABEL ………………………………………………………………… vi BAB 1 PENDAHULUAN A. 15 3. Metode Diskusi ……………………………………………………… 10 1. Kelemahan Metode Diskusi……….……………………….. 9 3. Kelemahan Metode Ceramah ……….… 10 2. Metode Pembahasan ………………………………………………….… 13 1.…. Tujuan dan Manfaat Penelitian ……………………………………. Kelebihan Metode Ceramah ……………………………………. Pengertian Metode Diskusi……………………………………. Kelebihan Metode Diskusi………………………………………. 7 2.. 12 C.. 1 B.. Pelajaran Aqidah Akhlak ………………………………………….… 17 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Ruang Lingkup Pelajaran Aqidah Akhlak ……………………. 9 B.….… 19 iv ..

24 B. 56 LAMPIRAN-LAMPIRAN v .. Saran-saran …………………………………………………………. 54 B. 54 DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………. Teknik Pengumpulan Data ……………………………………….…..…... 19 C. 22 BAB IV HASIL PENELITIAN A. Gambaran Umum Madrasah Aliyah Negeri 11 Lebak Bulus ………. 21 E.. Kesimpulan ………………………………………………………….B. 29 C. Deskripsi Data ………………………………………………………. Teknik Analisa Data ……………………………………………. Tempat dan Waktu Penelitian ………………………………………. 29 BAB V PENUTUP A... Populasi dan Sampel ………………………………………………… 20 D.. Analisa dan Interpretasi Data ……………………………………….

kompetensi penguasaan atas bahan. 263 1 1 . 1995). Sehingga diharapkan dengan memiliki tiga kompetensi dasar tersebut seorang guru dapat mengerahkan segala kemampuan dan keterampilannya dalam mengajar secara profesional dan efektif. Akan tetapi ada faktor-faktor lain yang harus dikuasainya sehingga ia mampu menyampaikan materi secara profesional dan efektif. seorang guru dituntut untuk mampu merecanakan atau mampu menyususun setiap program satuan pelajaran. tidak hanya dipengaruhi oleh kemampuannya dalam menguasai materi yang akan disampaikan. h. (Jakarta: Bumi Aksara. Pemilihan Pokok Masalah Keberhasilan seorang guru dalam menyampaikan suatu materi pelajaran. Menurut Zakiyah Daradjat “… pada dasarnya ada tiga kompetensi yang harus dimiliki oleh guru yaitu kompetensi kepribadian.BAB I PENDAHULUAN A. Ke-I. Ketepatan seorang guru dalam memilih metode pengajaran yang efektif dalam suatu pembelajaran akan dapat menghasilkan pembelajaran yang efektif yaitu Zakiyah Daradjat. Cet.”1 Ketiga kompetensi tersebut harus berkembang secara selaras dan tumbuh terbina dalam kepribadian guru. dan kompetensi dalam cara-cara mengajar. Metodi Khusus Pengajaran Agama Islam. Mengenai kompetensi dalam cara-cara mengajar. mempergunakan dan mengembangkan media pendidikan serta mampu memilih metode yang bervariatif dan efektif.

Metode ceramah adalah suatu metode yang digunakan untuk menyampaikan keterangan atau informasi tentang suatu pokok persoalan atau masalah secara lisan. (Jakarta: PT.tercapainya tujuan pembelajaran yang diinginkan. kemampuan guru. dapat dikatakan sebagai pembelajaran yang tidak efektif. Guru Dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif. (Bandung: Kolbu.3 Sehingga dengan memperhatikan beberapa faktor pertimbangan tersebut guru dapat menentukan metode mana yang tepat untuk digunakan ketika akan menyampaikan suatu materi pelajaran kepada muridnya. situasi kelas. Ke-1. guru akan mudah mengawasi 2 Sukadi. Cet. 10 Syaiful Bahri Djamarah. 191-193 3 2 . Sebaliknya ketidaktepatan seorang guru dalam memilih metode pengajaran yang efektif dalam suatu pembelajaran. Rineka Cipta. Dalam skripsi ini penulis ingin membandingkan penggunaan dua buah metode pengajaran yaitu metode ceramah dan metode diskusi dalam pengajaran bidang studi aqidah akhlak. Ke-1. 2000). kelengkapan fasilitas dan kelebihan serta kelemahan metode pengajaran. perbedaan individual anak didik. maka akan dapat menimbulkan kegagalan dalam mencapai pembelajaran yang efektif yaitu tidak tercapainya tujuan pembelajaran yang diinginkan. Dengan metode ceramah. h. Cet. mungkin ia akan menggunakan satu metode saja atau mungkin menggunakan kombinasi dari beberapa metode pengajaran. sifat bahan pelajaran.”2 Dalam pemilihan metode pengajaran ada beberapa faktor yang harus jadi dasar pertimbangan yaitu: berpedoman pada tujuan. Hal ini sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Sukadi bahwa “proses pembelajaran yang tidak mencapai sasaran. 2006). h. Guru Powerful Guru Masa Depan.

Dalam diskusi penulis bersama teman-teman pada saat perkuliahan bidang studi metodologi pengajaran agama Islam disimpulkan bahwa metode diskusi lebih efektif dibandingkan dengan metode ceramah dalam pengajaran aqidah akhlak pada siswa madrasah aliyah. sehingga penulis berminat untuk mencari jawabannya secara langsung dengan melakukan penelitian 3 . disebabkan mereka melakukan kegiatan yang sama. Disamping itu. pertimbangannya adalah karena siswa aliyah telah dapat berfikir dewasa dan kritis dalam menyikapi berbagai masalalah. penulis tertarik untuk mengetahui manakah diantara kedua metode tersebut yang lebih efektif untuk dipergunakan dalam pengajaran aqidah akhlak terhadap siswa madrasah aliyah. Dalam diskusi proses interaksi terjadi antara dua individu atau lebih yang terlibat. Saling menukar pengalaman informasi dalam memecahkan masalah. Akan tetapi dalam diskusi biasanya hanya dikuasai oleh siswa yang suka berbicara.ketertiban siswa dalam mendengarkan pelajaran. Akan tetapi dengan metode tersebut guru sulit mengontrol sejauh mana pengetahuan siswa terhadap pelajaran yang telah disampaikan. ada kemungkinan penyimpangan dalam pembicaraan sehingga membutuhkan waktu yang panjang. Sedangkan metode diskusi adalah suatu metode pengajaran melalui sarana bertukar pikiran untuk menghadapi persoalan yang dihadapi. Akan tetapi bagi penulis jawaban tersebut tidak memuaskan. Dengan memperhatikan kelebihan dan kelemahan metode ceramah dan metode diskusi diatas.

2. Untuk tercapainya tujuan tersebut penulis merumuskan dalam sebuah judul skripsi yaitu: “Perbandingan penggunaan metode cermah dan diskusi dalam memahami pelajaran aqidah akhlak di MAN 11 Lebak Bulus Jakarta Selatan. ceramah atau diskusi dalam proses pembelajaran bidang studi aqidah akhlak? C. Dan akhirnya penulis memutuskan memilih MAN 11 Lebak Bulus Jakarta Selatan sebagai objek penelitian. Metode Pembahasan Dalam pembahasan karya tulis ini penulis menggunakan metode sebagai berikut: 4 . Bagaimana pelaksanaan proses pembelajaran bidang studi aqidah akhlak dengan menggunakan metode ceramah dan metode diskusi? b. Perumusan Masalah Dengan memperhatikan pembatasan masalah diatas. akan dilihat dari hasil belajar siswa yang dibatasi pada hasil belajar ranah kognitif bidang studi aqidah akhlak. maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut: a. kelas II MAN 11.pada salah satu madrasah aliyah yang ada di Jakarta. Metode apa yang paling efektif. tahun ajaran 2005/2006.” B. Pembatasan Masalah Penelitian tentang efektifitas tidaknya suatu metode. Pembatasan dan Perumusan Masalah 1.

Deskriptif. mencari data mengenai hal-hal berupa catatan. yaitu teknik penelitian dengan cara memberikan pertanyaan secara tertulis kepada siswa guna mendapatkan data yang lebih akurat.1. Al-Qur’an. Angket. agenda. transkip. dengan mengambil jumlah sampel yang akan menjadi responden sebanyak 25% dari jumlah populasi yaitu 55 siswa dari 217 siswa. Dokumentasi. 5 . dan sebagainya yang berhubungan dengan penelitian. 2. Wawancara. Field research. buku. d. 3. Observasi. Dalam teknik ini penulis menggunakan teknik random sampling. karena penulis meneliti kejadian yang kini sedang berlangsung. Adapun sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah siswa kelas 2. yaitu dengan mengadakan pengamatan langsung ke Madrasah Aliyah Negeri 11 Lebak Bulus Jakarta Selatan. c. b. majalah. yaitu penelitian kepustakaan yang ada hubungannya dengan masalah karya tulis ini seperti: buku-buku. koran. yakni mengadakan tanya jawab dengan kepala sekolah dan guru aqidah akhlak serta guru lainnya yang dapat memberikan data yang diperlukan. Library research. AlHadits dan sebagainya. yaitu penelitian lapangan dengan menggunakan: a. surat kabar. yaitu penggunaan metode ceramah dan diskusi dalam pengajaran PAI (Pendidikan Agama Islam) khususnya mata pelajaran aqidah akhlak.

Bab V Penutup. Tesis dan Disertasi” UIN Syarif hidayatullah Jakarta. tujuan dan ruang lingkup pelajaran aqidah akhlak. yaitu: Bab I Pendahuluan. populasi dan sampel. dan teknik analisa data. dan kelemahan metode ceramah dan diskusi. meliputi Madrasah Negeri 11 Lebak Bulus. teknik pengumpulan data. dan sistematika penyusunan. D. Bab III Metodologi Penelitian. 6 . meliputi tujuan dan manfaat penelitian. kelebihan. cetakan kedua. Bab IV Hasil penelitian. tahun 2002. yang diterbitkan oleh UIN Jakarta Press. metode pembahasan. serta pengertian. tempat dan waktu penelitian. meliputi kesimpulan dan saran-saran serta terakhir dilengkapi dengan daftar kepustakaan dan lampiran-lampiran.Adapun dalam teknik penulisan skripsi ini. deskripsi data. penulis berpedoman pada buku “Pedoman Penulisan Skripsi. Sistematika Penyusunan Dalam penyusunan skripsi ini penulis membagi kedalam 5 bab. Bab II Kajian Teori. meliputi pengertian. analisa dan interpretasi data. pembatasan dan perumusan masalah. meliputi pemilihan pokok masalah.

. Basyiruddin Usman yang dimaksud dengan metode ceramah adalah “teknik penyampaian pesan pengajaran yang sudah lazim disampaikan oleh para guru di sekolah.3 Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan yang dimaksud dengan metode ceramah adalah cara belajar mengajar yang menekankan pada pemberitahuan satu arah dari pengajar kepada pelajar (pengajar aktif.4 Armai Arief. (Jakarta: Ciputat Pers. bahwa metode ceramah adalah suatu cara penyampaian bahan pelajaran secara lisan oleh guru di depan kelas atau kelompok.”2 Pengertian senada juga diungkapkan oleh Mahfuz Sholahuddin dkk. Cet. Pengantar dan Metodologi Pendidikan Islam. Ceramah diartikan sebagai suatu cara penyampaian bahan secara lisan oleh guru bilamana diperlukan. Metode Ceramah 1. (Jakarta: Balai Pustaka. Ke-I. pelajar pasif). 1986). 2002). h. 2002). Cet. Cet. 34 3 2 1 Mahfuz Sholahuddin dkk. 740 4 7 . (Surabaya: PT.. Pengertian Metode Ceramah Yang dimaksud metode ceramah adalah cara menyampaikan sebuah materi pelajaran dengan cara penuturan lisan kepada siswa atau khalayak ramai.1 Adapun menurut M.BAB II KAJIAN TEORI A. (Jakarta: Ciputat Pers. Ke-I. Basyiruddin Usman. 43 Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Metodologi Pembelajaran Islam. Bina Ilmu. 135-136 M. Ke-3. Metodologi Pendidikan Islam. h. h. 2002).

Sementara siswa lebih banyak pasif dan menerima apa yang disampaikan oleh guru. Nabi Muhammad saw bersabda:     . Karakteristik yang menonjol dari metode ceramah adalah peranan guru tampak lebih dominan. murid mengutip iktisar ceramah semampu murid itu sendiri dan menghafalnya tanpa ada penyelidikan lebih lanjut oleh guru yang bersangkutan. melihat dan mendengarkan serta percaya bahwa apa yang diceramahkan guru itu adalah benar.”5 Sejak zaman Rasulullah metode ceramah merupakan cara yang paling awal yang dilakukan Rasulullah saw dalam penyampaian wahyu kepada umat. Dalam sebuah hadits. Adapun gambaran penggunaan metode ini dikemukakan Zakiyah Daradjat dalam bukunya Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam bahwa “dalam metode ceramah ini murid duduk.Dari beberapa pengertian diatas dapat penulis simpulkan bahwa yang dimaksud dengan metode ceramah adalah cara penyampaian bahan pelajaran kepada siswa secara lisan.

h. 289 8 . b. op. metode ceramah layak digunakan guru dimuka kelas apabila: a. cit.” Menurut M..   Artinya: “Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat.. 5 Zakiyah Daradjat. Jumlah siswanya terlalu banyak. dkk. Basyiruddin Usman. Pesan yang akan disampaikan berupa fakta atau informasi.

berwibawa dan dapat merangsang siswa. c. h. e.. Guru lebih aktif sedangkan murid bersikap pasif.. cit. c. Tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk memecahkan masalah. jika bahan banyak sedangkan waktu terbatas maka dapat dibicarakan pokok-pokok permasalahannya saja. f. Interaksi cenderung bersifat centered (berpusat pada guru). Pelajaran bisa dilaksanakan dengan cepat. 139-140 7 8 9 9 . Melatih para pelajar untuk menggunakan pendengarannya dengan baik sehingga mereka dapat menangkap dan menyimpulkan isi ceramah dengan cepat dan tepat. dengan waktu yang singkat murid dapat menerima pelajaran sekaligus secara bersamaan. h. op. Basyiruddin.6 2.8 3. 7 e. d.. dapat dijelaskan lebih mendetail.. g. b. Tidak membutuhkan tenaga yang banyak dan waktu yang lama.c. Basyiruddin. d.9 6 M. Fleksibel dalam penggunaan waktu dan bahan. sedangkan bila waktu masih panjang. h. dkk. 139 M. jika ceramah berisi istilah-istilah yang kurang/tidak dimengerti oleh siswa dan akhirnya mengarah kepada verbalisme. Siswa kurang menangkap apa yang dimaksudkan oleh guru.. karena dalam waktu yang sedikit dapat diuraikan bahan yang banyak. Kurang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kecakapan dan kesempatan mengeluarkan pendapat. Guru kurang dapat mengetahui dengan pasti sejauh mana siswa telah menguasai bahan ceramah. sehingga guru dapat mengawasi murid sekaligus secara komfrehensif. Suasana kelas berjalan dengan tenang karena murid melakukan aktivitas yang sama. Mungkin saja siswa memperoleh konsep-konsep lain yang berbeda dengan apa yang dimaksudkan guru. Guru adalah seorang pembicara yang baik. Dapat memberikan motivasi dan dorongan kepada siswa dalam belajar.. cit. b. op. f. 35 Armai Arief. op. Kelemahan Metode Ceramah a. dkk. Karena siswa hanya diarahkan untuk mengikuti fikiran guru. cit. cit. Kelebihan Metode Ceramah a. op. 35-36 Armai Arief. h.

Metode Dikusi 1. Pengertian Metode Diskusi Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan metode diskusi adalah “Cara belajar atau mengajar yang melakukan tukar pikiran antara murid dengan guru. gerak-gerik. 740 11 12 10 . hendaknya diberi penjelasan beserta keterangan-keterangan. Susunlah ceramah secara sistematis. diskusi pada dasarnya adalah “Suatu bentuk tukar pikiran yang teratur dan terarah. h.h.”12 Namun tidak semua kegiatan bertukar pikiran dapat dikatakan berdiskusi. op. h. Arsjad dan Mukti U.11 B.. d. Mengulang kata atau istilah-istilah yang digunakan secara jelas. e. murid dengan murid sebagai peserta diskusi. menimbulkan kesan pemompaan atau pemaksaan terhadap kempuan penerimaan siswa. op. cit. Carilah umpan balik sebanyak mungkin sewaktu ceramah berlangsung. kerena guru kurang memperhatikan faktor-faktor psikologis siswa.. baik dalam kelompok 10 Ibid. Bila guru menyampaikan bahan sebanyak-banyaknya dalam waktu yang terbatas. Cenderung membosankan dan perhatian siswa berkurang. 140 Basyiruddin.. Menurut Maidar G. dan contoh yang memadai dan bila perlu hendaknya menggunakan media yang refresentatif. 35-36 Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa. cit.S. dkk. dapat membantu siswa yang kurang atau lambat kemampuan dan daya tangkapnya. Selingilah metode ceramah dengan metode lainnya untuk menghilangkan kebosanan peserta didik. h.10 Untuk mengatasi kelemahan-kelemahan tersebut seorang guru harus mengusahakan hal-hal sebagai berikut: a. sehingga bahan yang dijelaskan menjadi kabur. b. Untuk menghilangkan kesalahpahaman siswa terhadap materi yang diberikan. c.. i.

. Dari beberapa jawaban atau jalan keluar yang ada bagaimana mendapatkan jawaban yang paling tepat untuk mendekati kebenaran sesuai dengan ilmu yang ada pada kita.. tetapi memerlukan wawasan/ilmu pengetahuan yang mampu mencari jalan terbaik (alternatif terbaik). metode diskusi berfungsi untuk merangsang murid berpikir atau mengeluarkan pendapatnya sendiri mengenai persoalan-persoalan yang kadang-kadang tidak dapat dipecahkan oleh suatu jawaban atau suatu cara saja. Ke-2. (Surabaya: Usaha Nasional. baik antara guru dengan siswa ataupun sesama siswa.13 Sedangkan menurut Zuhairini dkk. dengan tujuan untuk mendapatkan suatu pengertian. Seiring dengan itu. Zuhairini. h. Metodik Khusus Pendidikan Agama. 1991). 37 14 13 H. melainkan cara untuk mendapatkan jawaban dari permasalahan yang dihadapi. Cet. 1983). kesepakatan. h. Maidar G. Ke-8. sehingga berakibat menimbulkan pengertian serta perubahan tingkah laku murid.kecil atau besar. (Jakarta: Erlangga. yang diaksud metode diskusi “…ialah suatu metode didalam mempelajari bahan atau menyampaikan bahan dengan jalan mendiskusikannya. Pembinaan Kemampuan Berbicara Bahasa Indonesia. 89 11 . dan keputusan bersama mengenai suatu masalah. Cet. Jadi.S. Arsjad dan Mukti U.14 Dari beberapa pengertian diatas dapat penulis simpulkan bahwa yang dimaksud dengan metode diskusi ialah suatu cara penyampaian materi pelajaran dengan jalan bertukarpikiran atau mendiskusikannya. metode diskusi tidak hanya percakapan atau debat.

Biasanya orang menghendaki pendekatan yang lebih formal. yang tidak terlepas dari faktafakta. c. (Jakarta: Bina Aksara. 1988). bahkan mungkin pembicaraan menjadi menyimpang. seperti: sikap toleransi. h. b. Kelemahan Metode Diskusi Menurut Roetiyah N. Dengan diskusi seseorang dapat mempertimbangkan alasan-alasan/pikiran-pikiran orang lain. 2002). Kelebihan Metode Diskusi Menurut Armai Arief. Tidak terjebak kedalam pikiran individu yang kadang-kadang salah. di dalam bukunya Strategi Belajar Mengajar disebutkan bahwa kekuarangan penggunaan metode diskusi antara lain: a. di dalam bukunya Pengatar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam.2.15 3. karena mereka mengikuti proses berpikir sebelum sampai kepada suatu kesimpulan. Kesimpulan hasil diskusi mudah dipahami siswa. Ke-2. h.. penuh prasangka dan sempit. cit. berpikir kritis. sabar dan sebagainya. op. Tidak dapat dipakai pada kelompok yang besar. sehingga memerlukan waktu yang panjang. 6 16 12 . Dalam diskusi menghendaki pembuktian logis. disebutkan bahwa diantara keunggulan metode diskusi adalah antara lain: a.. Strategi Belajar Mengajar.16 Kelemahan lain dalam metode diskusi adalah kadang-kadang ada siswa yang memonopoli pembicaraan. d. Kadang-kadang bisa terjadi adanya pandangan dari berbagai sudut bagi masalah yang dipecahkan. f. Membantu murid untuk mengambil keputusan yang lebih baik.K. Siswa dilatih belajar untuk mematuhi peraturan-peraturan dan tata tertib layaknya dalam suatu musyawarah. (Jakarta: Ciputat Pers.. Dalam hal 15 Armai Arief. sebab siswa mengarahkan perhatian atau pikirannya kepada masalah yang sedang didiskusikan. dan tidak merupakan jawaban yang hanya dugaan atau coba-coba saja. demokrasi. Suasana kelas lebih hidup. Dapat menaikan prestasi kepribadian individu. c. 148-149 Roetiyah N. d. b. sistematis.K. dan ada pula siswa yang pasif dan tidak acuh. Cet. e.

h.. sementara siswa lain belajar mendengarkan pendapat temannya. dkk. 1 13 . Jilid I. 149 Ahmad Warson Munawir. Rifa’I. Mengusahakan supaya semua siswa mendapat giliran berbicara. 1024 19 18 Moh.17 C. d.19 Hal-hal yang termasuk di dalam pembahasan aqidah yaitu tentang Tuhan dan segala sifat- 17 Armai Arief. e. Kamus Al-Munawir.. cit. Guru mengusahakan supaya seluruh siswa ikut berpartisipasi dalam diskusi. 1994). maka perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut: a. 1997).18    Sedangkan secara terminologi (istilah) aqidah berarti segala keyakinan yang ditetapkan oleh Islam yang disertai oleh dalil-dalil yang pasti. h. op. Secara etimologi (bahasa) kata “aqidah akhlak” terdiri dari    dua kata “aqidah” dan “akhlak”. c. Mengoptimalkan waktu yang ada untuk mendapatkan hasil yang diinginkan. h. Pelajaran Aqidah Akhlak 1. perlu bimbingan dari guru. Wicaksana. kepada siswa Untuk mengatasi kelemahan atau segi negatif dari metode ini. Kata aqidah berasal dari bahasa Arab yaitu yang berarti kepercayaan atau keyakinan.demikian guru hendaknya memperhatikan dan memberi motivasi supaya seluruh siswa ikut serta dalam diskusi. Aqidah Akhlak. Kamus Bahasa Arab Indonesia. Pengertian Pelajaran Aqidah akhlak Pelajaran aqidah akhlak merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan disekolah formal dan merupakan rumpun mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Pimpinan diskusi yang diberikan kepada murid. Pimpinan diskusi diberikan kepada murid dan diatur secara bergiliran. (Semarang: CV. b. (Surabaya: Pustaka Progressif.

Cet. perangai. Imam Ghozali “Akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan perbuatan dengan mudah tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. h. seperti terjadinya alam.20    Ibnu Athir menjelaskan bahwa hakekat makna - yang berasal dari kata dengan  -  yang berarti budi pekerti. Ke-2. Cet. yaitu bentuk jamak dari kata bentuk jamaknya tabi’at. h. 1983). (Bandung: Pustaka Setia. Helmi Hidayat (Bandung: Mizan. Etika Islam. Pembinaan Akhlakul Karimah Suatu Pengantar. 1999) Cet. Terj. (Bandung: CV. 17 Asmaran A. tingkah laku atau itu ialah gambaran   batin manusia yang tepat (jiwa dan sifatnya) sedangkan merupakan gambaran   bentuk luasnya (raut muka.sifat-Nya serta hal-hal yang berkaitan dengan alam semesta.22 b. Ibnu Miskawaih “Akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorong untuk melakukan perbuatan tanpa melakukan pemikiran dan pertimbangan. Pengantar Studi Akhlak. Adapun pengertian akhlak secara etimologi adalah berasal dari bahasa Arab. Diponogoro..23 Hamzah Yaqub.S. diantaranya: a. 11 21 20 Ahmad Musthofa. (Jakarta: Rajawali Press. h. 56 23 14 . Ke-I. tinggi rendahnya tubuh dan lain sebagainya).21 Secara terminologi ada beberapa definisi akhlak yang telah dikemukakan oleh para ahli. Menuju Kesempurnaan Akhlak. h. 1994). 1992). Ke-I. warna kulit. 2 22 Abu Ali Ahmad Ibn Miskawaih. Akhlak Tashowuf.

2005). (Jakarta: Bulan Bintang. (Jakarta: PT.c. Ke-I. Menurut Abdurrahman Saleh Abdullah. Cet.133 25 15 . Cet. tujuan umum pendidikan agama Islam adalah membentuk kepribadian sebagai khalifah Allah atau sekurang-kurangnya mempersiapkan peserta didik ke jalan yang mengacu pada tujuan akhir manusia. Tujuan Pelajaran Aqidah Akhlak Aqidah akhlak merupakan salah satu bidang studi dalam pendidikan agama Islam. Abu Bakar Aceh “Akhlak adalah suatu sikap yang digerakan oleh jiwa yang menimbulkan tindakan dan perbuatan manusia baik terhadap Tuhan maupun sesama manusia serta terhadap diri sendiri. Ke-III. maka dapat disimpulkan bahwa pelajaran aqidah akhlak merupakan suatu mata pelajaran yang diajarkan di sekolah formal dan merupakan bagian dari mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang didalamnya mencakup persoalan keimanan dan budi pekerti yang dapat mengembangkan kepribadian peserta didik. h.95 Abdurrahman Saleh Abdullah.24 Melihat pengertian aqidah akhlak yang telah diuraikan di atas. 1959).25 Hal ini sesuai dengan firman Allah:    24 Abu Bakar Aceh. 2. h. Maka tujuan umum pendidikan aqidah akhlak sesuai dengan tujuan umum pendidikan agama Islam. Mutiara Akhlak. Rineka Cipta. Teori Pendidikan Berdasarkan Al-Qur’an. Tujuan utama khalifah Allah adalah beriman kepada Allah dan tunduk patuh secara total kepadaNya.

Artinya : “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. bekerja keras. berkepribadian. berdisiplin. Ke-I. Adz-Dzariyat : 56). serta untuk dapat melanjutkan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi.26 Dari kutipan diatas dapat dipahami bahwa tujuan pelajaran aqidah akhlak searah dengan tujuan nasional yaitu: “Tujuan pendidikan nasional adalah meningkatkan kualitas manusia Indonesia. melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan. Sedangkan tujuan khusus pelajaran aqidah akhlak menurut Direktorat Jendral Kelembagaan Agama Islam adalah sebagai berikut: Untuk menumbuhkan dan meningkatkan keimanan peserta didik yang diwujudkan dalam akhlaknya yang terpuji. 22 Nana Sudjana. sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang dan meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaanya kepada Allah swt seta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi. masyarakat. yakni manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.” (Q. berbangsa dan bernegara. penghayatan serta pengamalan peserta didik tentang aqidah dan akhlak Islam. tangguh. h. (Bandung: Sinar Baru.S. (Jakarta: 2004). mandiri. berbudi pekerti luhur. h. cerdas dan terampil serta sehat jasmani dan rohani.27 Depag RI/Dirjen Kelembagaan Agama Islam. bertanggung jawab. 1989) Cet. Kurikulum Berbasis Kompetensi Madrasah Aliyah. 21 27 26 16 . Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum Sekolah.

3. Maha Pengasih dan Penyayang. Aspek Aqidah Aspek aqidah ini meliputi sub-sub aspek: kebenaran aqidah Islam. 29 28 Ibid. Maha Pengampun dan Penyantun.28 Dari beberapa sub aqidah ini tentu saja dengan menggunakan argumen dalil-dalil aqli dan naqli. yaitu: a. “Muhammad saw adalah rosul terakhir. meyakini kebenaran Al-Qur’an dengan dalil aqli dan naqli. h.. Meyakini qodlo dan qodar. ke-Esaan Allah swt. Selain itu juga meyakini bahwa. hubungan prilaku manusia dengan terjadinya bencana alam. hubungan aqidah. hubungan usaha dan do’a. 23 Ibid 29 17 . Adapun ruang lingkup pelajaran aqidah akhlak di dalam kurikulum 2004 untuk madrasah aliyah ada tiga aspek. Allah Maha Pemberi Rizki. untuk dapat dijadikan landasan perilaku dalam kehidupan sehari-hari serta sebagai bekal untuk jenjang berikutnya. akhlak. Ruang Lingkup Pelajaran Aqidah Akhlak Ruang lingkup pelajaran aqidah akhlak yang terdapat di madrasah aliyah memiliki isi bahan pelajaran yang dapat mengarahkan pada pencapaian kemampuan peserta didik untuk dapat memahami rukun iman secara ilmiah serta pengalaman dan pembiasaan berakhlak Islami. Maha Benar dan Maha Adil.

merampok. bersedia melanjutkan misi utama rosul dalam membawa perdamaian. menyebar fitnah. berakhlak terpuji kepada orang tua. mengkonsumsi atau mengedarkan narkoba dan malas bekerja. terbiasa menghindari akhlak tercela yang dapat merusak tatanan kehidupan masyarakat. guru. berbangsa dan bernegara seperti membunuh. Oleh karena itu diharapkan dapat membentuk peserta didik menjadi beriman dan bertaqwa kepada Allah swt dan memiliki akhlak yang mulia sebagaimana akhlak para nabi dan rosul. berbangsa dan bernegara. mencuri. Aspek Kisah Keteladanan Aspek kisah keteladanan diantaranya mengapresiasi dan meneladani sifat dan prilaku sahabat utama Rosulullah saw dengan landasan agama yang kuat. ulil amri. 30 Ibid Ibid 31 18 .31 Ketiga aspek diatas merupakan bagian dari ajaran-ajaran dasar yang terdapat dalam Agama Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Al-Hadits. membuat kekerasan. dan waliyullah”.b. c.30 Hal ini memiliki tujuan untuk memperkokoh integrasi dan kredibilitas pribadi. memperkokoh kehidupan bermasyarakat. Aspek Akhlak Adapun yang menjadi aspek akhlak diantaranya: “Beradab secara Islam dalam bemusyawarah untuk membangun demokrasi.

Penulis ingin mengetahui metode apa yang paling efektif. 2. 2. b. Tujuan Penulisan Skripsi ini adalah sebagai berikut: a. Skripsi ini dapat dijadikan bahan pertimbangan para guru maupun calon guru agama dalam memilih metode pengajaran aqidah akhlak yang tepat. ceramah atau diskusi dalam pembelajaran aqidah akhlak di MAN 11 Lebak Bulus. B. 19 .BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. pada kelas 2 semester 2. b. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Penulis ingin mengetahui bagaimanakah proses pembelajaran aqidah akhlak dengan menggunakan metode ceramah dan diskusi. Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di MAN 11 Lebak Bulus Jakarta Selatan. Manfaat Penelitian Skripsi ini sebagai berikut: a. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Skripsi ini dapat menambah khazanah dalam dunia pendidikan terutama dalam masalah metodologi pengajaran agama Islam. Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan sejak tanggal 14 Nopember 2006 sampai akhir penelitian 14 Mei 2006.

Ke-12. Dengan demikian penulis memberi hak yang sama kepada setiap subjek untuk memperoleh kesempatan dipilih menjadi sampel. Prosedur Penelitian. h. 108 2 1 Sugiono. Metode Penelitian Administrasi. 2. Cet. Jadi dalam penelitian ini penulis tidak menjadikan seluruh populasi yang berjumlah 217 orang siswa sebagai objek penelitian.C. populasi adalah “keseluruhan objek penelitian”.2 Dalam penelitian ini. (Jakarta: Rineka Cipta. 2003). 2002). Edisi Revisi V. yaitu suatu teknik sampling dimana penulis “mencampur” subjek-subjek di dalam populasi sehingga semua subjek dianggap sama. Cet. (Jakarta: CV.1 Adapun populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa MAN 11 Lebak Bulus Jakarta Selatan. jika Suharsimi Arikunto. Setiap subjek yang terdaftar sebagai sampel. h. Populasi dan Sampel 1. yaitu 55 responden. penulis mengambil sampel dengan cara sampel random atau sampel campur. Sampel Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. diberi nomor urut mulai dari nomor 1 sampai dengan nomor 55. Populasi Menurut Suharsimi Arikunto. Ke-10. 91 20 . Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Suharsimi Arikunto bahwa “…. Alfabeta. Tetapi penulis hanya menetapkan 25% saja sebagai sampel penelitian.

surat kabar. maka sampel yang diambil antara 10-15% atau 20-25% atau lebih”. cit.jumlah objeknya besar. Wawancara Wawancara yaitu proses tanya jawab dalam penelitian yang berlansung secara lisan. buku. op. bertatap muka dan mendengarkan secara langsung informasi-informasi atau keterangan-keterangan.3 D. agenda dan sebagainya. dalam hal ini yang diwawancarai adalah kepala sekolah. Dokumentasi Dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal berupa catatan. guru bidang studi aqidah akhlak dan guru lainnya yang dapat memberikan informasi yang dibutuhkan. Teknik Pengumpulan Data Dalam pengumpulan data penulis menggunakan beberapa teknik pengumpulan data dalam penelitian antara lain: 1.4 3 Suharsimi Arikunto. Observasi yang dilakukan penulis adalah dengan melakukan pengamatan yang berkaitan dengan keadaan umum lokasi penelitian. 2. 112 21 . Observasi Sebagai metode ilmiah observasi diartiakan pengamatan dan pencatatan dengan sistematik fenomena-fenomena yang diselidiki. 3. Dalam arti yang sebenarnya tidak hanya sebatas pada pengamatan yang dilaksanakan secara langsung maupun tidak langsung. h. transkip.

4 Ibid. cit. Remaja Rosdakarya. untuk selanjutnya dianalisa dan diinterpretasikan secara deskriptif. 2002). Adapun jumlah item pertanyaan dalam angket adalah sebanyak 25 item pertanyaan. sehingga data tersebut bersifat kuantitatif. h. 65 6 5 Sugiono. Angket Angket adalah teknik pengumpulan data atau informasi dengan menyerahkan atau mengirimkan daftar pertanyaan untuk diisi sendiri oleh responden. hal.4. (Jakarta: PT. jumlah tersebut sudah memadai sebagaimana disampaikan oleh Sugiono bahwa “jumlah angket yang memadai adalah antara 20 s/d 30 pertanyaan”. 164 22 . X 100% N = Number of cases (jumlah frekuensi). 206 Irawan Soehartono. Pengalihan data kedalam bentuk kuantitatif ini ditempuh dengan menggunakan rumus: f P = N Keterangan : f = Frekuensi yang sedang dicari persentasinya. Adapun pertanyaanpertanyaan yang terdapat dalam angket berkisar pada permasalahan yang dibahas dalam skripsi ini. op. Teknik Analisa Data Data yang sudah terkumpul penulis kualifikasikan atau tuangkan kedalam bentuk angka-angka. Ke-5. h. Cet.6 E.5 Angket yang disebarkan kepada responden berbentuk angket tertutup atau terstruktur dengan alternatif jawaban yang telah disediakan. Metode Penelitian Sosial.

6. 4.7 Untuk memudahkan penulis dalam melakukan analisa dan interpretasi data. 8.P = Angka persentase. h. 2001). 7. 5. 3. Cet. maka penulis menentukan skala persentase sebagaimana tertera pada tabel berikut: Tabel 1 SKALA PERSENTASE NO 1. 9. PERSENTASE 100% 91-99% 61-90% 51-60% 50% 40-49% 11-39% 1-10% 0% PENAFSIRAN Seluruhnya Hampir seluruhnya Sebagian besar Lebih dari separuh Separuhnya Hampir separuhnya Sebagian kecil Sedikit sekali Tidak ada Anas Sudijono. (Jakarta: RajaGrafindo Persada. Ke-11. 40 7 23 . Pengantar Statistik Pendidikan. 2.

Mencerdaskan Bangsa baik dibidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) dan Ilmu Pengetahuan dibidang Agama (IMTAQ). Keadaan Guru dan Siswa a. bahwa keberadaan guru pada MAN 11 Jakarta tertera pada tabel berikut: 24 . Sejarah Berdirinya Madrasah Aliyah Negeri 11 Jakarta Pada awalnya MAN 11 Lebak Bulus adalah MAN 1 Filial Mampang Prapatan yang berdiri pada tahun 1983.BAB IV HASIL PENELITIAN A. dimana pada waktu itu MAN 1 Filial Mampang Prapatan masih menumpang atau menempati gedung yayasan “Raudhatul Muta’alimin” sampai dengan tahun 1996 + 13 tahun. yaitu MAN 11 Lebak Bulus Cilandak Jakarta Selatan. Gambaran Umum Madrasah Aliyah Negeri 11 Jakarta 1. 2. Kemudian pada kurun waktu itu. Keadaan Guru Berdasarkan data yang dikumpulkan melalui wawancara dengan Bapak Kepala Sekolah MAN 11 Jakarta. Tujuan Berdirinya Madrasdah Aliyah Negeri 11 Jakarta Adapun Tujuan berdirinya Madrasah Aliyah Negeri 11 Lebak Bulus adalah untuk menyukseskan Program Pemerintah yaitu. 3. Pemerintah Daerah (PEMDA) dalam hal ini Kanwil Departemen Agama Propinsi DKI Jakarta mencarikan tempat yang sekarang ini ditempati.

Hj. IKIP SL. S. IAIN SL. S. 19. Nuraini. IAIN SL. S. 23. IAIN SL.Pd. IKIP SL. IKIP D3. IAIN SL. Abidin Naning Syarfiningsih. 12.Pd. S. 21. 5. 14. Hj. UNILA SL. Effendi Halba Dra. IAIN SL. 11. 4. 16. IAIN SL. IAIN S2. Oktavizani Anaverta Dinamarti. IKIP SL. Hj. 6. Sekolah Guru Guru Guru Guru Guru Guru Guru Guru Guru Guru Guru Guru Wakabidsis Guru Guru Guru Guru Guru Guru Guru Wakabidkur Guru Guru Guru Guru Guru Guru Guru Guru Guru Guru STATUS Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tidak Tetap Tidak Tetap Tidak Tetap Tidak Tetap Tidak Tetap 25 . IKIP SL.Pd. Maryanto Drs. UNJ SL. S. 32. 2. M. Ade Karmanah Ahmad Latif Sueb. TERAKHIR SL.Pd. 25. Hj. 18. IKIP SL. IAIN SL. IKIP SM.Ag. Darmadi. 31. IAIN SL. 30. Ratri Sugesti Sumatra Dewi. IAIN SL. S. Sri Husniyahwati. U.Pd. Tuti Janatun. Asnidar Meuraksa Rosmalina. Oktavizani NR. Sulistiowati. Drs. 28. 3. Nurmina Naenggolan Drs. Mardiyah Drs. Dra. 7. IAIN SL. Zubaidah Syafriyatno H. S. Sahrudin Drs. 27. UAJ SL. S. 17. Hanapi Drs.Pd. IAIN SL. Asy’ari Dra. NAMA GURU Drs. 20. 13. Sodri Drs. 29. 24. Drs. S. Siti Atiah Dra. BA. BA. Masturoh. Pd. STAIA SL.UHAMKA SL. UHAMKA SL. S. Hj. Ahmad Kamil. UNESA JABATAN Kep. 8. 15.Ag.Pd. IKIP SL. Mohammad Yasin. IAIN SL. PEND. IAIN SL. 22. IKIP SM.Tabel 2 Keadaan Guru NO 1. IKIP SL. 9. IAIC SL. S. 10. S. Dra. 26.Ag. Hj. H.Pd. Vivi Hafizah Dra. Zaenal Abidin.Ag. Amir Kodir Dra.

IPS II JUMLAH 3 IPA 8 3 IPS JUMLAH TOTAL 6 11 11 28 3 14 17 34 12 19 31 93 NOP. 3 JUMLAH XI. P 18 14 14 46 17 18 14 49 20 18 38 133 JM 25 25 25 75 20 32 21 73 32 37 69 216 BULAN NO 1 2 3 4 5 6 KELAS L X. P 18 14 14 46 17 18 14 49 20 18 38 133 JM 25 25 25 75 20 32 21 73 32 37 69 216 L 6 11 11 28 3 14 17 34 12 19 31 93 DES. L P JM L 6 11 11 28 3 14 17 34 12 19 31 93 19 14 14 47 17 18 14 49 20 18 38 134 25 25 25 75 20 32 21 73 32 37 69 217 6 11 11 28 3 14 17 34 12 19 31 93 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 KELAS L X. 3 JUMLAH XI.b. IPS II JUMLAH 3 IPA 3 IPS JUMLAH TOTAL 6 11 11 28 3 14 17 34 12 19 31 93 JULI P 19 14 14 47 17 18 14 49 20 18 38 134 JM 25 25 25 75 20 32 21 73 32 37 69 217 SEP. tertera pada tabel di bawah ini: Tabel 3 Keadaan Siswa BULAN AGUST. 2 X. 1 IPA XI. P 18 14 14 46 17 18 14 49 20 18 38 133 JM 25 25 25 75 20 32 21 73 32 37 69 216 L 6 11 11 28 3 14 17 34 12 19 31 93 FEB. Keadaan Siswa Keberadaan siswa MAN 11 Jakarta. 1 X. 1 IPA XI. P 18 14 14 46 17 18 14 49 20 18 38 133 JM 25 25 25 75 20 32 21 73 32 37 69 216 L 6 11 11 28 3 14 17 34 12 19 31 93 JAN. IPS I XI. P 19 14 14 47 17 18 14 49 20 18 38 134 JM 25 25 25 75 20 32 21 73 32 37 69 217 L 6 11 11 28 3 14 17 34 12 19 31 93 OKT. 2 X. IPS I XI. P 18 14 14 46 17 18 14 49 20 18 38 133 JM 25 25 25 75 20 32 21 73 32 37 69 216 26 . 1 X.

Perpustakaan e. Aula Serba Guna h. Musik Gambus f. 1 X. Laboratorium Bahasa c. 1 IPA XI. IPS II JUMLAH 3 IPA 3 IPS JUMLAH TOTAL L 6 11 11 28 3 14 17 34 12 19 31 93 MARET P JM 18 25 14 25 14 25 46 75 17 20 18 32 14 21 49 73 20 32 18 37 38 69 133 216 L 6 11 11 28 3 14 17 34 12 19 31 93 JM 25 25 25 75 20 32 21 73 32 37 69 216 L 6 11 11 28 3 14 17 34 12 19 31 93 MEI P 18 14 14 46 16 18 14 48 20 18 38 132 JM 25 25 25 75 20 32 21 73 32 37 69 216 4. Keadaan Sarana dan Prasarana Keadaan sarana dan prasarana yang dimiliki MAN 11 Jakarta adalah: a. Micro Teacing Room g.Tabel 3 (Lanjutan) BULAN APRIL P 18 14 14 46 17 18 14 49 20 18 38 133 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 KELAS X. 3 JUMLAH XI. Kantor Kepala Sekolah 27 . 2 X. Laboratorium Komputer d. Bangku Belajar i. IPS I XI. Laboratorium Biologi b. Kursi Belajar j.

Komputer Betty Indriasari. 1. 1. Basinah Dasridal Koordinator BP/BK H. Koord. S. Guru Piket Pemb. Lapangan Olah Raga n. Or. H. S. Struktur Organisasi Struktur Organisasi MAN 11 Jakarta. M. M. Paskibra/PMR Khairul Sani Pem. Tata Usaha Tugiman. Wakamad Kesiswaan Drs. Ruang Tata Usaha m.2 Kls.1 Kls. Kom.k. Koordinator KBK dan Bhs.3 Kls. Ruang Guru l. Pr. Syafriatno Wali Kelas Kls.Si. Zaenal Abidin. S. 1. IPA Sulistiowati. Pembina KIR Drs. H.Pd. 2 IPS Kls. Wakamad Sarana dan Prasarana Drs. S. A. Pem. 3 IPA Kls. tertera pada tabel di bawah ini: Tabel 4 Struktur Organisasi Kepala Sekolah Drs. Mushala 5. Kamil. Perpustakaan Drs. Amir Kodir Pembina Lab.Pd. Ujang Effendi Halba Ka. 2 IPA Kls. Hanapi Wakamad Kurikulum Mohammad Yasin. BA. Inggris Mohammad Yasin.Pd. 3 IPS 28 .Pd.

B. C. Senang 1 ALTERNATIF JAWABAN F 55 0 0 % 100 0 0 100% b. maka penulis menganalisa dan menginterpretasikan data yang telah diperoleh. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel-tabel berikut: Tabel 5 Siswa menyenangi pelajaran aqidah akhlak NO. a. Tidak senang JUMLAH 55 Data pada tabel 5 di atas menyebutkan. 29 . Untuk memudahkan penulis dalam menganalisa dan menginterpretasikan data dari hasil penelitian. Analisa dan Interpretasi Data Untuk mengetahui perbandingan antara metode ceramah dan metode diskusi. adalah siswa yang menyatakan senang (100%). Kurang senang c. maka setiap item dibuat tabulasi yang merupakan proses perubahan data dari intrumen penelitian (angket) menjadi tabel-tabel (persentase). maka hasilnya penulis deskripsikan dalam bentuk tabel-tabel. bahwa pernyataan tentang siswa menyenangi pelajaran aqidah akhlak. Deskripsi Data Berdasarkan data yang diperoleh penulis dari angket-angket yang disebarkan kepada responden di MAN 11 Lebak Bulus sebanyak 55 responden.

Pelajarannya mudah dipahami 2 b. ALTERNATIF JAWABAN a. bahwa penyebab siswa menyenangi pelajaran aqidah akhlak adalah. dan nilai ulangannya selalu bagus (1. tidak ada siswa yang kurang senang atau tidak senang terhadap pelajaran aqidah akhlak. dan siswa yang menyatakan tidak senang (0%).5 1. Maka analisa data pada tabel 6 di atas. dan sedikit sekali siswa yang menyenangi pelajaran aqidah akhlak disebabkan nilainya selalu bagus. pelajarannya mudah dipahami (43. cara guru mengajarnya enak (54. Tabel 6 Penyebab siswa menyenangi pelajaran aqidah akhlak NO.5%).6%). Maka analisa data pada tabel 5 di atas. bahwa lebih dari separuh siswa MAN 11 Lebak Bulus menyenangi pelajaran aqidah akhlak disebabkan cara guru mengajarnya enak. 30 .6 54. Cara guru mengajar enak c.siswa yang menyatakan kurang senang (0%).9%). dan kurang dari separuh siswa menyenangi pelajaran aqidah akhlak disebabkan pelajarannya mudah dipahami.9 100% Data pada tabel 6 di atas menyebutkan. Nilai ulangannya selalu bagus JUMLAH F 24 30 1 55 % 43. bahwa seluruh siswa MAN 11 Lebak Bulus Jakarta menyenangi pelajaran aqidah akhlak.

bahwa metode pengajaran yang sering digunakan guru dalam pengajaran aqidah akhlak. sebagian kecil siswa menyatakan bahwa guru lebih sering menggunakan metode ceramah dalam pengajaran aqidah akhlak.7%). Tabel 8 Suasana kelas berjalan dengan tenang ketika guru mengajar aqidah akhlak dengan metode ceramah 31 . Metode ceramah 3 b. dan sedikit sekali siswa yang menyatakan bahwa guru lebih sering menggunakan metode penugasan dalam pengajaran aqidah akhlak.7%). Maka analisa data pada tabel 7 di atas. metode diskusi (63. adalah metode ceramah (32.6 3.7 63.6%). bahwa sebagian besar siswa MAN 11 Lebak Bulus menyatakan guru lebih sering menggunakan metode diskusi dalam pengajaran aqidah akhlak. metode penugasan (3. Metode penugasan 18 35 2 32. Metode diskusi c.7 JUMLAH 55 100% Data pada tabel 7 di atas menyebutkan.Tabel 7 Metode pengajaran yang sering digunakan guru dalam pengajaran aqidah akhlak NO. ALTERNATIF JAWABAN F % a.

adalah siswa yang menyatakan tenang (23. Tabel 9 Suasana kelas tetap terkendali ketika guru mengajar aqidah akhlak dengan metode diskusi NO. a. Terkendali F 22 % 40 32 . siswa yang menyatakan kurang tenang (72. Kurang tenang c.6 72. bahwa pernyataan suasana kelas berjalan dengan tenang ketika guru mengajar aqidah akhlak dengan metode ceramah. Maka analisa data pada tabel 8 di atas. dan sedikit sekali siswa yang menyatakan bahwa suasana kelas berjalan tidak tenang.7%). Tenang 4 ALTERNATIF JAWABAN F 13 40 2 % 23.7 3. Tidak tenang JUMLAH 55 Data pada tabel 8 di atas menyebutkan.7%). sebagian kecil siswa menyatakan bahwa suasana kelas berjalan dengan tenang. 5 ALTERNATIF JAWABAN a.NO.7 100% b. bahwa sebagian besar siswa MAN 11 Lebak Bulus menyatakan suasana kelas berjalan kurang tenang ketika pelajaran aqidah akhlak diajarkan dengan metode ceramah. dan siswa yang menyatakan tidak tenang (3.6%).

bahwa pernyataan suasana kelas tetap terkendaali ketika guru mengajar aqidah akhlak dengan metode ceramah. Maka analisa data pada tabel 9 di atas. siswa yang menyatakan kurang terkendali (60%). bahwa lebih dari separuh siswa MAN 11 Lebak Bulus menyatakan suasana kelas kurang terkendali ketika pelajaran aqidah akhlak diajarkan dengan metode diskusi. Jelas ALTERNATIF JAWABAN F 30 % 54.5 33 . hampir separuh siswa menyatakan bahwa suasana kelas tetap terkendali. dan tidak ada siswa yang menyatakan bahwa suasana kelas berjalan tidak terkendali .Tabel 9 (Lanjutan) b. 6 a. adalah siswa yang menyatakan terkendali (40%). Tidak terkendali 33 0 60 0 JUMLAH 55 100% Data pada tabel 9 di atas menyebutkan. Kurang terkendali 5 c. Tabel 10 Siswa dapat menangkap dengan jelas apa yang disampaikan oleh guru ketika pelajaran aqidah akhlak disampaikan dengan metode ceramah NO. dan siswa yang menyatakan tidak terkendali (0%).

dan siswa yang menyatakan tidak jelas (0%).5%). Kurang Jelas 6 c. ALTERNATIF JAWABAN b. bahwa lebih dari separuh siswa MAN 11 Lebak Bulus menyatakan dapat menangkap dengan jelas apa yang disampaikan oleh guru ketika pelajaran aqidah akhlak diajarkan dengan metode ceramah. 7 ALTERNATIF JAWABAN a.Tabel 10 (Lanjutan) NO.5 Data pada tabel 10 di atas menyebutkan. hampir separuh siswa menyatakan kurang jelas dan tidak ada siswa yang menyatakan tidak jelas. Maka analisa data pada tabel 10 di atas. bahwa pernyataan siswa dapat menangkap dengan jelas apa yang disampaikan oleh guru ketika pelajaran aqidah akhlak disampaikan dengan metode ceramah. Tidak Jelas JUMLAH 0 55 0 100% F 25 % 45. siswa yang menyatakan kurang jelas (45.7 34 . Tabel 11 Siswa turut berperan aktif ketika pelajaran aqidah akhlak disampaikan guru dengan metode diskusi NO. adalah siswa yang menyatakan jelas (54. Berperan aktif F 29 % 52.5%).

bahwa pernyataan siswa turut berperan aktif ketika pelajaran aqidah akhlak disampaikan guru dengan metode diskusi. dan siswa yang menyatakan tidak berperan aktif (7. Maka analisa data pada tabel 11 di atas. adalah siswa yang menyatakan berperan aktif (52.Tabel 11 (Lanjutan) NO. siswa yang menyatakan kurang berperan aktif (40%). 8 ALTERNATIF JAWABAN a.3 100% F 22 % 40 Data pada tabel 11 di atas menyebutkan. bahwa lebih dari separuh siswa MAN 11 Lebak Bulus menyatakan turut berperan aktif ketika pelajaran aqidah akhlak disampaikan guru dengan metode diskusi.3%). hampir separuh siswa menyatakan kurang berperan aktif dan sedikit sekali siswa yang menyatakan tidak berperan aktif. Tidak berperan aktif JUMLAH 4 55 7.1 35 . Memberikan dorongan F 49 % 89. ALTERNATIF JAWABAN b. Tabel 12 Guru memberikan dorongan untuk belajar kepada siswa ketika pelajaran aqidah akhlak disampaikan dengan metode ceramah NO.7%). Kurang berperan aktif 7 c.

Maka analisa data pada tabel 12 di atas.Tabel 12 (Lanjutan) NO.1%). bahwa sebagian besar siswa MAN 11 Lebak Bulus menyatakan guru memberikan dorongan untuk belajar kepada siswa ketika pelajaran aqidah akhlak disampaikan dengan metode ceramah. Selalu menggunakan F 17 % 30. sedikit sekali siswa yang menyatakan guru kurang memberikan dorongan atau tidak memberikan dorongan. Kurang memberikan dorongan 8 c.8 100% F 5 % 9.1 Data pada tabel 12 di atas menyebutkan. ALTERNATIF JAWABAN b.8%). bahwa pernyataan guru memberikan dorongan untuk belajar kepada siswa ketika pelajaran aqidah akhlak disampaikan dengan metode ceramah.9 36 . Tabel 13 Guru aqidah akhlak menggunakan metode ceramah ketika materi yang disampaikan cukup banyak NO. 9 ALTERNATIF JAWABAN a. siswa yang menyatakan kurang memberikan dorongan (9.1%). adalah siswa yang menyatakan memberikan dorongan (89. Tidak memberikan dorongan JUMLAH 1 55 1. dan siswa yang menyatakan tidak memberikan dorongan (1.

siswa yang menyatakan kadang-kadang menggunakan (61.3%). ALTERNATIF JAWABAN b.8 Data pada tabel 13 di atas menyebutkan.8%). Mendengarkan dengan baik F 37 % 67.Tabel 13 (Lanjutan) NO. dan siswa yang menyatakan tidak pernah menggunakan (7. 10 ALTERNATIF JAWABAN a.9%). adalah siswa yang menyatakan menggunakan (30. bahwa sebagian besar siswa MAN 11 Lebak Bulus menyatakan guru aqidah akhlak kadang-kadang menggunakan metode ceramah ketika materi yang disampaikan cukup banyak. Tidak pernah menggunakan JUMLAH 4 55 7.3 100% F 34 % 61. bahwa pernyataan guru aqidah akhlak menggunakan metode ceramah ketika materi yang disampaikan cukup banyak. Kadang-kadang menggunakan 9 c.3 37 . Tabel 14 Siswa mendengarkan pendapat temannya dengan baik ketika pelajaran aqidah akhlak disampaikan dengan metode diskusi NO. sebagian kecil siswa menyatakan guru selalu menggunakan dan sedikit sekali siswa yang menyatakan guru tidak pernah menggunakan. Maka analisa data pada tabel 13 di atas.

2 38 .3%). adalah siswa yang menyatakan mendengarkan dengan baik (67. Diberi kesempatan F 54 % 98. Tidak mendengarkan dengan baik JUMLAH 0 55 0 100% F 18 % 32.7%).7 Data pada tabel 14 di atas menyebutkan. siswa yang menyatakan kurang mendengarkan dengan baik (32. dan siswa yang menyatakan tidak mendengarkan dengan baik (0%). Kurang mendengarkan dengan baik 10 c. bahwa pernyataan siswa mendengarkan pendapat temannya dengan baik ketika pelajaran aqidah akhlak disampaikan dengan metode diskusi. ALTERNATIF JAWABAN b. Maka analisa data pada tabel 14 di atas. Tabel 15 Siswa diberi kesempatan untuk bertanya ketika pelajaran aqidah akhlak disampaikan guru dengan metode ceramah NO. bahwa sebagian besar siswa MAN 11 Lebak Bulus menyatakan mendengarkan pendapat temannya dengan baik ketika pelajaran aqidah akhlak disampaikan dengan metode diskusi.Tabel 14 (Lanjutan) NO. dan tidak ada siswa yang tidak mendengarkan dengan baik. sebagian kecil siswa kurang mendengarkan dengan baik. 11 ALTERNATIF JAWABAN a.

Dapat diterima F 29 % 52. Tabel 16 Jawaban atau pendapat peserta diskusi dapat diterima secara logis ketika pelajaran aqidah akhlak disampaikan dengan metode diskusi NO.8 Data pada tabel 15 di atas menyebutkan. ALTERNATIF JAWABAN b.8%). adalah siswa yang menyatakan diberi kesempatan (98. bahwa hampir seluruhnya siswa MAN 11 Lebak Bulus menyatakan diberi kesempatan untuk bertanya ketika pelajaran aqidah akhlak disampaikan guru dengan metode ceramah. dan siswa yang menyatakan tidak diberi kesempatan (0%). siswa yang menyatakan kurang diberi kesempatan (1. Tidak diberi kesempatan JUMLAH 0 55 0 100% F 1 % 1. bahwa pernyataan siswa diberi kesempatan untuk bertanya ketika pelajaran aqidah akhlak disampaikan guru dengan metode ceramah.7 39 .2%). Kurang diberi kesempatan 11 c. 12 ALTERNATIF JAWABAN a. Maka analisa data pada tabel 15 di atas.Tabel 15 (Lanjutan) NO. sedikit sekali siswa yang menyatakan kurang diberi kesempatan dan tidak ada siswa yang menyatakan tidak diberi kesempatan.

hampir separuh siswa yang menyatakan kurang dapat diterima secara logis dan tidak ada siswa yang menyatakan tidak dapat diterima secara logis. bahwa lebih dari separuh siswa MAN 11 Lebak Bulus menyatakan jawaban atau pendapat peserta diskusi dapat diterima secara logis ketika pelajaran aqidah akhlak disampaikan dengan metode diskusi. Tidak dapat diterima JUMLAH Data pada tabel 16 di atas menyebutkan. adalah siswa yang menyatakan dapat diterima (52.Tabel 16 (Lanjutan) NO. Tabel 17 Pertanyaan siswa dijawab cukup jelas oleh guru ketika pelajaran aqidah akhlak disampaikan dengan metode ceramah 40 .3 0 100% 12 c. ALTERNATIF JAWABAN b. bahwa pernyataan jawaban atau pendapat peserta diskusi dapat diterima secara logis ketika pelajaran aqidah akhlak disampaikan dengan metode diskusi. dan siswa yang menyatakan tidak dapat diterima (0%). Maka analisa data pada tabel 16 di atas. siswa yang menyatakan kurang dapat diterima (47.7%). Kurang dapat diterima F 26 0 55 % 47.3%).

NO.

ALTERNATIF JAWABAN a. Cukup jelas

F 47 7 1

% 85,5 12,7 1,8 100%

13

b. Kurang Jelas c. Tidak Jelas JUMLAH

55

Data pada tabel 17 di atas menyebutkan, bahwa pernyataan pertanyaan siswa dijawab cukup jelas oleh guru ketika pelajaran aqidah akhlak disampaikan dengan metode ceramah, adalah siswa yang menyatakan cukup jelas (85,5%), siswa yang menyatakan kurang jelas (12,7%), dan siswa yang menyatakan tidak jelas (1,8%). Maka analisa data pada tabel 17 di atas, bahwa sebagian besar siswa MAN 11 Lebak Bulus menyatakan pertanyaan mereka dijawab cukup jelas oleh guru ketika pelajaran aqidah akhlak disampaikan dengan metode ceramah, sebagian kecil siswa menyatakan kurang jelas, dan sedikit sekali siswa yang menyatakan tidak jelas. Tabel 18 Siswa dapat menyimpulkan dengan baik hasil diskusi pada mata pelajaran aqidah akhlak NO. ALTERNATIF JAWABAN a. Dapat menyimpulkan dengan baik 14 b. Kurang dapat menyimpulkan dengan baik 32 58,2 F 22 % 40

41

Tabel 18 (Lanjutan) NO. 14 ALTERNATIF JAWABAN c. Tidak dapat meyimpulkan dengan baik JUMLAH F 1 55 % 1,8 100%

Data pada tabel 18 di atas menyebutkan, bahwa pernyataan siswa dapat menyimpulkan dengan baik hasil diskusi pada mata pelajaran aqidah akhlak, adalah siswa yang menyatakan dapat menyimpulkan dengan baik (40%), siswa yang menyatakan kurang dapat menyimpulkan dengan baik (58,2%), dan siswa yang menyatakan tidak dapat menyimpulkan dengan baik (1,8%). Maka analisa data pada tabel 18 di atas, bahwa lebih dari separuh siswa MAN 11 Lebak Bulus menyatakan siswa kurang dapat menyimpulkan dengan baik hasil diskusi pada mata pelajaran aqidah akhlak, hampir separuh siswa dapat menyimpulkan dengan baik, dan sedikit sekali siswa yang tidak dapat menyimpulkan dengan baik. Tabel 19 Siswa dapat menyimpulkan isi ceramah dengan baik setelah guru menyampaikan pelajaran aqidah akhlak dengan metode ceramah NO. ALTERNATIF JAWABAN a. Dapat menyimpulkan dengan baik 15 b. Kurang dapat menyimpulkan dengan baik 31 56,4 F 22 % 40

42

Tabel 19 (Lanjutanan) NO. 15 ALTERNATIF JAWABAN c. Tidak dapat meyimpulkan dengan baik JUMLAH F 2 55 % 3,6 100%

Data pada tabel 19 di atas menyebutkan, bahwa pernyataan siswa dapat menyimpulkan isi ceramah dengan baik setelah guru menyampaikan pelajaran aqidah akhlak dengan metode ceramah, adalah siswa yang menyatakan dapat menyimpulkan dengan baik (40%), siswa yang menyatakan kurang dapat menyimpulkan dengan baik (56,4%), dan siswa yang menyatakan tidak dapat menyimpulkan dengan baik (3,6%). Maka analisa data pada tabel 19 di atas, bahwa lebih dari separuh siswa MAN 11 Lebak Bulus menyatakan siswa kurang dapat menyimpulkan isi ceramah dengan baik setelah guru menyampaikan pelajaran aqidah akhlak dengan metode ceramah, hampir separuh siswa dapat menyimpulkan isi ceramah dengan baik, dan sedikit sekali siswa yang tidak dapat menyimpulkan isi ceramah dengan baik. Tabel 20 Siswa merasa senang apabila guru mengajar aqidah akhlak dengan metode ceramah NO. a. Senang 16 b. Kurang senang 19 34,5 ALTERNATIF JAWABAN F 35 % 63,6

43

Senang 17 b. sebagian kecil siswa menyatakan kurang senang.5%). a. adalah siswa yang menyatakan senang (63.Tabel 20 (Lanjutan) NO.9 100% Data pada tabel 20 di atas menyebutkan. Tidak senang JUMLAH F 1 55 % 1.3 3. Kurang senang c.6%).9%). Tidak senang JUMLAH ALTERNATIF JAWABAN F 38 15 2 55 % 69. 16 ALTERNATIF JAWABAN c. Maka analisa data pada tabel 20 di atas. siswa yang menyatakan kurang senang (34. dan sedikit sekali siswa yang mengatakan tidak senang. bahwa sebagian besar siswa MAN 11 Lebak Bulus menyatakan merasa senang apabila guru mengajar aqidah akhlak dengan metode ceramah. bahwa pernyataan siswa merasa senang apabila guru mengajar aqidah akhlak dengan metode ceramah.6 100% 44 . dan siswa yang menyatakan tidak senang (1. Tabel 21 Siswa merasa senang apabila guru mengajar aqidah akhlak dengan metode diskusi NO.1 27.

6%). dan sedikit sekali siswa yang mengatakan tidak senang. Belajarnya santai c. ALTERNATIF JAWABAN a.5 72.7%). adalah siswa yang menyatakan karena gurunya menarik (5. bahwa sebagian besar siswa MAN 11 Lebak Bulus menyatakan penyebab mereka senang 45 . dan siswa yang menyatakan tidak senang (3.8 100% Data pada tabel 22 di atas menyebutkan.5%). sebagian kecil siswa menyatakan kurang senang. siswa yang menyatakan karena belajarnya santai (72.7 21. adalah siswa yang menyatakan senang (69. Gurunya menarik 18 b.Data pada tabel 21 di atas menyebutkan. bahwa penyebab siswa senang belajar aqidah akhlak bila guru menyampaikannya dengan metode ceramah. Tabel 22 Penyebab siswa senang belajar aqidah akhlak bila guru menyampaikannya dengan metode ceramah NO.3%). bahwa sebagian besar siswa MAN 11 Lebak Bulus menyatakan merasa senang apabila guru mengajar aqidah akhlak dengan metode diskusi.1%). Senang mendengarkan ceramah JUMLAH F 3 40 12 55 % 5.8%). Maka analisa data pada tabel 22 di atas. dan siswa yang menyatakan karena senang mendengarkan ceramah (21. bahwa pernyataan siswa merasa senang apabila guru mengajar aqidah akhlak dengan metode diskusi. siswa yang menyatakan kurang senang (27. Maka analisa data pada tabel 21 di atas.

Tabel 23 Penyebab siswa senang belajar aqidah akhlak bila guru menyampaikannya dengan metode diskusi NO.belajar aqidah akhlak bila guru menyampaikannya dengan metode ceramah adalah karena belajarnya santai. ALTERNATIF JAWABAN a. sebagian kecil menyatakan menyenagi karena senang mendengarkan ceramah. dan siswa yang menyatakan karena dapat belajar memecahkan permasalahan bersamasama (32.4%). Maka analisa data pada tabel 23 di atas.9%). bahwa lebih dari separuh siswa MAN 11 Lebak Bulus menyatakan penyebab mereka senang belajar aqidah 46 .4 50. Dapat belajar memecahkan permasalahan bersamasama JUMLAH F 9 28 % 16. bahwa penyebab siswa senang belajar aqidah akhlak bila guru menyampaikannya dengan metode diskusi. Terlatih berfikir kritis b. dan sedikit sekali yang menyatakan menyenangi karena gurunya menarik. Punya kesempatan belajar mengemukakan pendapat c.7%). adalah siswa yang menyatakan karena terlatih berfikir kritis (16. siswa yang menyatakan karena punya kesempatan belajar mengemukakan pendapat (50.7 55 100% Data pada tabel 23 di atas menyebutkan.9 19 18 32.

siswa yang menyatakan karena penjelasan guru sulit difahami (36. bahwa penyebab siswa tidak senang ketika pelajaran aqidah akhlak disampaikan guru dengan metode ceramah. Tabel 24 Penyebab siswa tidak senang ketika pelajaran aqidah akhlak disampaikan guru dengan metode ceramah NO.akhlak bila guru menyampaikannya dengan metode diskusi adalah karena mereka punya kesempatan untuk mengemukakan pendapat. Penampilan guru tidak menarik 20 b. dan siswa yang menyatakan bosan (63. dan sebagian kecil lagi menyatakan karena terlatih berfikir kritis.4 63.6 100% Data pada tabel 24 di atas menyebutkan. Bosan JUMLAH F 0 20 35 55 % 0 36.4%).6%). ALTERNATIF JAWABAN a. bahwa sebagian besar siswa MAN 11 Lebak Bulus menyatakan penyebab mereka tidak senang belajar aqidah akhlak bila guru menyampaikannya dengan metode ceramah adalah karena 47 . sebagian kecil siswa menyatakan karena dapat memecahkan permasalahan bersama-sama. adalah siswa yang menyatakan karena penampilan guru tidak menarik (0%). Penjelasan guru sulit difahami c. Maka analisa data pada tabel 24 di atas.

bahwa hampir separuh siswa MAN 11 Lebak Bulus menyatakan penyebab mereka tidak senang belajar aqidah akhlak bila guru menyampaikannya dengan metode diskusi adalah karena pendapat yang dikemukakan peserta diskusi 48 . siswa yang menyatakan karena pemimpin diskusi tidak dapat memimpin diskusi dengan baik (29.1%). sebagian kecil siswa meyatakan karena penjelasan guru sulit difahami. Maka analisa data pada tabel 25 di atas. dan tidak ada siswa yang menyatakan karena penampilan guru tidak menarik. adalah siswa yang menyatakan karena pembicaraan peserta diskusi sering menyimpang dari topik bahasan (29.8%). Tabel 25 Penyebab siswa tidak senang ketika pelajaran aqidah akhlak disampaikan guru dengan metode diskusi NO.1 23 41.1 16 29. ALTERNATIF JAWABAN a. bahwa penyebab siswa tidak senang ketika pelajaran aqidah akhlak disampaikan guru dengan metode diskusi. dan siswa yang menyatakan pendapat yang dikemukakan peserta diskusi sering tidak logis (41. Pembicaraan peserta diskusi sering menyimpang dari topik bahasan 21 b. Pendapat yang dikemukakan oleh peserta diskusi sering tidak logis JUMLAH F 16 % 29. Pemimpin diskusi tidak mampu memimpin diskusi dengan baik c.8 55 100% Data pada tabel 25 di atas menyebutkan.bosan.1%).

Tabel 26 Prestasi siswa semakin meningkat ketika pelajaran aqidah akhlak disampaikan guru dengan metode ceramah NO.sering tidak logis.3%). siswa yang menyatakan tetap saja (72.7%). sebagian kecil siswa menyatakan karena pembicaraan peserta diskusi sering menyimpang dari topik bahasan. sebagian kecil siswa menyatakan semakin meningkat. ALTERNATIF JAWABAN a. dan siswa yang menyatakan menurun (0%). adalah siswa yang menyatakan semakin meningkat (27. Semakin meningkat 22 b.7 0 100% Data pada tabel 26 di atas menyebutkan.3 72. Menurun JUMLAH F 15 40 0 55 % 27. 49 . bahwa pernyataan prestasi siswa semakin meningkat ketika pelajaran aqidah akhlak disampaikan guru dengan metode ceramah. Maka analisa data pada tabel 26 di atas. dan sebagian kecil lagi siswa menyatakan karena pemimpin diskusi tidak dapat memimpin diskusi dengan baik. dan tidak ada siswa yang menyatakan menurun. Tetap saja c. bahwa sebagian besar siswa MAN 11 Lebak Bulus menyatakan prestasi siswa tetap saja ketika pelajaran aqidah akhlak disampaikan guru dengan metode ceramah.

Tetap saja c. ALTERNATIF JAWABAN a.8%). Menurun JUMLAH 55 Data pada tabel 27 di atas menyebutkan. Tabel 28 Metode pengajaran yang lebih disukai diantara metode ceramah dan metode diskusi dalam kegiatan belajar mengajar aqidah akhlak menyatakan 50 .8 54.7 100% 23 b. dan sedikit sekali siswa yang menyatakan menurun. adalah siswa yang menyatakan semakin meningkat (41. Maka analisa data pada tabel 27 di atas. hampir separuh siswa semakin meningkat. Semakin meningkat F 23 30 2 % 41. siswa yang menyatakan tetap saja (54.5%).Tabel 27 Prestasi siswa semakin meningkat ketika pelajaran aqidah akhlak disampaikan guru dengan metode diskusi NO. dan siswa yang menyatakan menurun (3. bahwa pernyataan prestasi siswa semakin meningkat ketika pelajaran aqidah akhlak disampaikan guru dengan metode diskusi.7%). bahwa lebih dari separuh siswa MAN 11 Lebak Bulus menyatakan prestasi siswa tetap saja ketika pelajaran aqidah akhlak disampaikan guru dengan metode diskusi.5 3.

Maka analisa data pada tabel 28 di atas. Saya lebih menyukai metode ceramah daripada metode diskusi F 12 % 21.8 20 36. bahwa pernyataan metode pengajaran yang lebih disukai diantara metode ceramah dan metode diskusi dalam kegiatan belajar mengajar aqidah akhlak. siswa yang menyatakan saya lebih menyukai metode diskusi daripada metode ceramah (41.8 24 b. ALTERNATIF JAWABAN a.8%).NO. dan sebagian kecil lagi menyatakan mereka lebih menyukai metode ceramah daripada metode diskusi.4 55 100% Data pada tabel 28 di atas menyebutkan. sebagian kecil siswa menyatakan mereka menyukai metode ceramah sama dengan metode diskusi. Saya meyukai metode ceramah sama dengan metode diskusi JUMLAH 23 41.8%). Saya lebih menyukai metode diskusi daripada metode ceramah c. dan siswa yang menyatakan saya meyukai metode ceramah sama dengan metode diskusi (36.4%). 51 . bahwa hampir separuh siswa MAN 11 Lebak Bulus menyatakan metode pengajaran yang lebih disukai diantara metode ceramah dan metode diskusi dalam kegiatan belajar mengajar aqidah akhlak adalah mereka lebih menyukai metode diskusi daripada metode ceramah. adalah siswa yang menyatakan saya lebih menyukai metode ceramah daripada metode diskusi (21.

7%). bahwa prestasi siswa pada mata pelajaran aqidah akhlak dengan adanya metode ceramah dan diskusi. baik diajarkan dengan metode ceramah maupun diajarkan dengan metode diskusi JUMLAH F % 7 12. ALTERNATIF JAWABAN a. dan siswa yang menyatakan prestasi saya pada mata pelajaran aqidah akhlak sama saja. baik 52 . Prestasi saya pada mata pelajaran aqidah akhlak sama saja.7 25 22 40 26 47. Maka analisa data pada tabel 28 di atas.3%). Prestasi saya semakin meningkat ketika pelajaran aqidah akhlak diajarkan dengan metode ceramah daripada dengan metode diskusi b. siswa yang menyatakan prestasi saya semakin meningkat ketika pelajaran aqidah akhlak diajarkan dengan metode diskusi daripada dengan metode ceramah (40%). Prestasi saya semakin meningkat ketika pelajaran aqidah akhlak diajarkan dengan metode diskusi daripada dengan metode ceramah c.Tabel 29 Prestasi aqidah akhlak siswa dengan adanya metode ceramah dan diskusi NO.3 55 100% Data pada tabel 28 di atas menyebutkan. adalah siswa yang menyatakan prestasi saya semakin meningkat ketika pelajaran aqidah akhlak diajarkan dengan metode ceramah daripada dengan metode diskusi (12. baik diajarkan dengan metode ceramah maupun diajarkan dengan metode diskusi (47. bahwa hampir separuh siswa MAN 11 Lebak Bulus menyatakan prestasi mereka pada mata pelajaran aqidah akhlak sama saja.

dan sebagian kecil menyatakan prestasi mereka semakin meningkat ketika pelajaran aqidah akhlak diajarkan dengan metode ceramah daripada dengan metode diskusi. 53 . hampir separuh lagi menyatakan prestasi mereka semakin meningkat ketika pelajaran aqidah akhlak diajarkan dengan metode diskusi daripada dengan metode ceramah.diajarkan dengan metode ceramah maupun diajarkan dengan metode diskusi.

Hal ini terlihat dari prestasi mereka lebih meningkat ketika pelajaran aqidah akhlak disampaikan dengan metode diskusi dibandingkan dengan metode ceramah. B. maka dapat disimpulkan sebagi berikut: 1. Kesimpulan Dari hasil penelitian yang dilakukan. khususnya dalam pengajaran aqidah akhlak. perlu kiranya penulis memberikan sumbangan pikiran agar MAN 11 Lebak Bulus lebih baik lagi mutu pendidikannya dan lebih maju lagi perkembangannya. 54 . mengenai perbandingan metodologi ceramah dan diskusi dalam memahami pelajaran aqidah akhlak di MAN 11 Lebak Bulus. namun kedua metode tersebut cukup efektif untuk meningkatkan prestasi siswa.BAB V PENUTUP A. Saran-Saran Dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan di MAN 11 Lebak Bulus terutama dalam hal metodologi pengajaran aqidah akhlak. Meskipun penggunaan metode ceramah dan metode diskusi tidak secara tuntas dapat mencapai tujuan yang diharapkan. 2. Metode pengajaran diskusi lebih efektif daripada metode pengajaran ceramah dalam pengajaran aqidah akhlak di MAN 11 Lebak Bulus Jakarta Selatan. Metode yang sering digunakan dalam pengajaran aqidah akhlak di MAN 11 Lebak Bulus Jakarta Selatan adalah metode ceramah dan metode diskusi.

4. 2. Hendaknya guru aqidah akhlak lebih meningkatkan keterampilan mengajarnya baik dalam menggunakan metode ceramah maupun metode diskusi dan metodemetode yang lain. agar mereka merasa diperhatikan sehingga terdorong untuk meningkatkan potensi profesinya dan lebih memperkaya keterampilan mengajarnya. Kepala sekolah hendaknya memberikan pengawasan yang melekat kepada guruguru. Hendaknya guru-guru MAN 11 Lebak Bulus menjalin kerjasama yang lebih baik dengan orang tua siswa dan masyarakat lainnya sehingga masyarakat merasa memiliki dan merasa berkewajiban untuk turut memajukan Madrasah tersebut. Hendaknya para siswa menyadari. 55 . 3. bahwa belajar adalah kewajiban bagi setiap muslim laki-laki dan perempuan. sehingga siswa mudah menerima pengajaran aqidah akhlak dengan baik.1. oleh karena itu para siswa hendaknya belajar dengan giat dan ikhlas.

.. Ke-1. Cet. Pembinaan Kemampuan Berbicara Bahasa Indonesia. Cet. Pengantar Studi Akhlak. Menuju Kesempurnaan Akhlak. Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam. Surabaya: Pustaka Progressif. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Teori Pendidikan Berdasarkan Al-Qur’an. Aceh. Armai. Moh. 56 . Arsyad. Cet. Warson. Suharsimi. 2002..S. 1994. Abu Bakar. Syaiful Bahri. Arief. 1992. Maidar G. Dr.K. Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam. Penyusun. 2005. Ke-1. 1994. Jakarta: Erlangga. Jakarta: Rajawali Press. Ibn. Rifa’i. 2002.. Ke-1. Cet. Ke-1. Mutiara Akhlak. Tim. Cet. Cet. Arikunto. Dr. Jakarta: PT. 2002. Asmaran. Akhlak Tashawuf. Miskawaih. Wicaksana. Ke-3. Bandung: Mizan. Cet.DAFTAR PUSTAKA Abdullah.. Depag/Dirjen Kelembagaan Agama Islam. 1997. Dr. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Bulan Bintang. Djamarah. Kamus Pusat Bahasa. Jakarta: Balai Pustaka.. dkk. Abdurrahman Shaleh. 1959. Munawir. Ke-2. Zakiah. Kamus Al-Munawir. Kamus Bahasa Arab Indonesia. Helmi Hidayat. Rineka Cipta. 1995. Strategi Belajar Mengajar. Aqidah Akhlak. 2000. Ahmad. Rineka Cipta. Jakarta: Ciputat Pers. 1999. Terj. Bandung: Pustaka Setia. Musthofa. Yogyakarta: Rineka Cipta. Ahmad. Abu Ali Ahmad. Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif. RI. Cet. Jakarta: Bumi Aksara. Cet. Jakarta: Bina Aksara. dan Mukti U. Roetiyah. 1988. Kurikulum Berbasis Kompetensi Madrasah Aliyah. Daradjat.. Jilid 1. Ke-3. Jakarta: PT. Prof. AS. N. Semarang: CV. Ke-1. Prof. Ke-12.. Jakarta: 2004. 1991. Ke-1. Cet.

Ke-11. dkk. Ke-1.. Diponogoro. Ke-2.. Bina Ilmu. M. 1989. Ke-1 Usman.. Cet. Dr. Ke-10 Sukadi. 2006. Mahfudz. 1986. Prof. 1983. Alfabeta. 2001.Shalahuddin. Cet. Jakarta: Ciputat Pers.. Soehartono. Ke-8.. Surabaya: Usaha Nasional. Cet. Metode Penelitian Administrasi. Nana. Zuhairini. Jakarta: PT. Pembinaan Akhlakul Karimah Suatu Pengatar. 57 . Ke-5. Metodologi Pembelajaran Islam. Metodik Khusus Pendidikan Agama. Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum Sekolah. Cet. Jakarta: CV. Raja Grafindo Persada. Sugiono. 1983. Basyiruddin. Cet. Jakarta: PT. Pengantar Statistik Pendidikan. Cet. Yaqub. Cet. Etika Islam. Prof. Sudjana. H. Anas. Drs. Irawan.. Remaja Rosdakarya. Hamzah. 2002. 2003. 2002. Surabaya: PT. Metodologi Pendidikan Islam. Ke-1. Drs. Bandung: Kolbu. Sudijono. Bandung: CV. Bandung: Sinar Baru. Guru Powerful Guru Masa Depan. Metode Penelitian Sosial. Cet.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful