P. 1
tugas kep. prof

tugas kep. prof

|Views: 2,154|Likes:

More info:

Published by: Dezty Wuland Raihanuun on Mar 21, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/20/2013

pdf

text

original

Perawat diwajibkan mempertahankan kemampuannya dalam menjalankan asuhan
keperawatan yang bermutu tinggi sesuai dengan perkembangan ilmu dan pengetahuan
terbaru, menyesuaikan dengan perubahan peran dan fungsi sesuai dengan kewenangan

keperawatan, mendapatkan pengetahuan dan keterampilan baru dan memodifikasi perilaku
dan pemahaman profesionalismenya. Untuk itu, setiap perawat yang masih aktif menjalankan
tugasnya harus senantiasa mempertahankan dan meningkatkan kemampuannya antara lain
dengan mengikuti pendidikan keperawatan berkelanjutan.

Pendidikan keperawatan berkelanjutan pada prinsipnya tidak selalu harus ditempuh dengan
pendidikan formal, tetapi dapat pula ditempuh dengan mengikuti kursus jangka pendek atau
pelatihan yang diselenggarakan oleh institusi pendidikan tinggi atau belajar mandiri/informal
dengan mengikuti berbagai kesempatan yang diberikan oleh organisasi profesi atau badan
lain yang berwenang.

Dalam SK Menkes No. 674/Menkes/SK/IV/2000 tanggal 14 April 2000 tentang registrasi
dan praktik keperawatan, dinyatakan dengan jelas bahwa setiap perawat diwajibkan selalu
meningkatkan kemampuan keilmuwan dan/keterampilan bidang keperawatan melalui
pendidikan dan/atau pelatihan; baik diselenggarakan oleh pemerintah maupun organisai
profesi.

Di masa mendatang kita berharap bahwa pendidikan keperawatan berkelanjutan/pelatihan
bagi perawat akan dapat ditata secara lebih terkendali dan terencana dan tidak dijalankan
hanya secara sporadik dan secara kebetulan. Tidak berlebihan bila untuk sekedar gambaran,
penatalaksanaan pendidikan keperawatan berkelanjutan di Inggris sudah banyak ditawarkan
sebagian besar oleh universitas/college bagi yang ingin mengikuti jalur formal baik berupa
study days ataupun mengikuti modul-modul tertentu. Mereka tidak dapat menghindar dari
kegiatan ini, karena seperti yang dipersyaratkan oleh NMC (the Nursing and Midwifery
Council), perawat tidak dapat memperpanjang surat izin praktiknya bila tidak ada bukti
bahwa mereka telah cukup mengikuti pendidikan keperawatan berkelanjutan. Perawat juga
dapat mengikuti pendidikan berkelanjutan dengan cara belajar mandiri dari paket-paket yang
terakreditasi yang ditawarkan oleh RCN (The Royal College of Nurses). Banyak perawat
yang mengambil modul ini dalam rangka untuk mendapatkan ijazah S1-nya melalui degree
pathways
tetapi banyak juga yang hanya mengambil modul tanpa ingin memperoleh ijazah
S1. Tentu saja hal-hal seperti ini membutuhkan kebijakan dan perangkat yang memadai.
Barangkali gagasan seperti ini dapat kita terapkan di Indonesia, sehingga perawat kita dapat
meningkatkan ilmunya sementara mereka masih tetap dapat bekerja, sehingga institusi

pelayanan tidak dirugikan dan kesejahteraan keluarga bagi perawat juga dapat dipertahankan
karena mereka tidak perlu meninggalkan keluarga mereka.

Terlepas dari jenjang pendidikan yang ditawarkan, sepertinya ada beberapa hal umum yang
dihadapi oleh semua pendidikan keperawatan baik menengah atau tinggi. Hal ini antara lain
disebabkan oleh berbagai perubahan sosial dan politik yang sama di tanah air kita. Berbagai
persoalan yang kiranya dapat kita pakai sebagai bahan kajian kita bersama adalah:

a.Upaya dalam mempertahankan mutu pendidikan keperawatan. Dalam 15 tahun
terakhir, jumlah institusi pendidikan keperawatan di Indonesia meningkat dengan
cepat dan sering kali hal ini menyulitkan kita untuk mengendalikan dan
mempertahankan mutu pendidikan. Walaupun sudah ada sistem akreditasi bagi
institusi pendidikan kesehatan, namun upaya ini dirasa masih jauh dari yang kita
harapkan.

b.Arah dan kurikulum pendidikan keperawatan. Dalam situasi global saat ini, kita
berharap dapat mencetak tenaga keperawatan yang berkompetensi tinggi. Namun
dampaknya, arah pendidikan sering kali menjadi kabur dan muatan kurikulum
menjadi tidak jelas. Kurikulum seharusnya disusun dengan mendasarkan isi program
pendidikan secara seimbang untuk memenuhi kebutuhan setempat (provinsi/daerah),
nasional dan nternasional.

c.Kesempatan untuk mengikuti pelatihan/pendidikan semakin meningkat secara umum,
namun tidak semua perawat dapat mengakses kesempatan ini karena berbagai faktor
antara lain persyaratan administratif, cara pengusulan, batasan usia dan pembatasan
jumlah peserta yang dapat diterima serta keterbatasan dana dan komitmen dengan
keluarga.

d.Keterbatasan tenaga pengajar dan fasilitas klinik. Jumlah doktor dan master
keperawatan masih sangat terbatas untuk kebutuhan pengajaran program sarjana
keperawatan. Di pengajaran jenjang diploma, penyediaan jumlah tenaga pengajar
dengan kualifikasi master (S2) dan sarjana keperawatan belum memadai. Hal ini juga
terjadi di jenjang pendidikan SPK. Selain keterbatasan tenaga pengajar, sumber
fasilitas pendidikan belum juga memadai seperti lahan praktik, peralatan

laboratorium, dan buku-buku keperawatan dan akses mahasiswa dalam menggunakan
sarana elektronik (mis., jurnal-jurnal keperawatan).

e.Siswa/mahasiswa keperawatan semakin dilibatkan dalam pengembangan kurikulum,
membuat aturan/kebijakan dan evaluasi program. Upaya ini walau nampaknya
berjalan lambat tetapi tetap mendapat perhatian. Perubahan sosial dan kedewasaan
mahasiswa, dengan tuntutan mereka untuk mempunyai bagian dalam program
pendidikan menyebabkan beberapa mahasiswa ikut aktif dalam pengendalian
pengajaran maupun administratif.

PERKEMBANGAN TEORI KEPERAWATAN

Perkembangan sistematik dari keperawatan menuju kepada keperawatan sebagai profesi,
bermula dari pandangan dan pernyataan dari Florence Nightingale yang mempunyai visi yang
sangat maju tentang keperawatan. Dalam perkembangan teori keperawatan selanjutnya, muncul
nama-nama besar ilmuwan keperawatan yang memberikan sumbangan yang sangat bermakna
dalam perkembangan keperawatan.

1.Hildegard E. Peplau (1952)

Teori yang dikembangkannya, yaitu keperawatan psikodinamik (psychodynamic nursing),
sangat dipengaruhi oleh model hubungan interpersonal, khususnya model psikoanalitik. Ia
melihat bahwa keperawatan adalah suatu proses interpersonal yang bersifat terapeutik
(significant therapeutic interpersonal process).

Menurut Peplau, keperawatan adalah therapeutic yang mempunyai seni penyembuhan dalam
membantu orang yang sakit atau orang yang membutuhkan perawatan kesehatan.
Keperawatan dapat dianggap sebagai proses interpersonal sebab melibatkan interaksi antara 2
atau lebih individu dengan tujuan tertentu.

Peplau mengenali 4 fase dalam hubungan interpersonal perawat-klien yang meliputi :

a.Fase orientasi

Fokusnya adalah fase menentukan atau menemukan masalah. Pertama kali perawat dan
pasien bertemu masih sebagai orang yang asing satu sama lain, pasien dan keluarganya
memiliki perasaan butuh bantuan profesional walaupun kebutuhan ini kadang-kadang
tidak dapat dikenali atau dimengerti oleh mereka. Pada fase ini paling penting adalah
perawat bekerja sama secara kolaborasi dengan pasien dan keluarganya dalam
menganalisis situasi yang kemudian bersama-sama mengenali, memperjelas dan
menentukan masalah yang ada. Setelah masalahnya diketahui, diambil keputusan
bersama untuk menentukan tipe/jenis bantuan apa yang diperlukan. Perawat sebagai
fasilitator dapat merujuk klien ke ahli lain sesuai dengan kebutuhan.

b.Fase identifikasi

Fase ini fokusnya memilih bantuan profesional yang sesuai. Pada fase ini pasien
merespon secara selektif ke orang-orang yang dapat memenuhi kebutuhannya, setiap
pasien mempunyai respons berbeda-beda pada fase ini. Respons pasien terhadap
keperawatan adalah :

1)Berpartisipasi dan interdependen dengan perawat,

2)Otonomi dan independen dari perawat,

3)Pasif dan dependen pada perawat.

c.Fase ekploitasi

Fase ini fokusnya adalah menggunakan bantuan profesional untuk alternatif pemecahan
masalah. Pelayanan yang diberikan berdasarkan minat dan kebutuhan dari pasien, pasien
mulai merasa sebagai bagian integral dari lingkungan pelayanan. Pada fase ini pasien
mulai menerima informasi-informasi yang diberikan padanya tentang penyembuhannya,
mungkin berdiskusi atau mengajukan pertanyaan-pertanyaan pada perawat,
mendengarkan penjelasan-penjelasan dari perawat, mendengarkan penjelasan-penjelasan
dari perawat dan sebagainya.

d.Fase resolusi

Fokusnya adalah mengakhiri hubungan profesional. Pasien dan perawat dalam fase ini
perlu untuk mengakhiri hubungan therapeutik mereka.

2.Florence Nightingale (1959)

Nightingale sebagai pioner era modern dalam pengembangan keperawatan, mengembangkan
teori keperawatan yang sangat dipengaruhi oleh pandangan filosofinya tentang interaksi
manusia/klien dengan lingkungannya. Ia melihat penyakit sebagai proses pergantian atau
perbaikan (reparative process). Upaya membantu proses perbaikan atau pergantian tersebut
dapat dilakukan dengan mengadakan manipulasi lingkungan eksternal. Manusia mempunyai
kemampuan alamiah terhadap proses penyembuhan.

3.Faye G. Abdellah (1960)

Abdella mendefinisikan keperawatan (nursing) sebagai pelayanan kepada individu dan
keluarga serta masyarakat yang didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan yang
membentuk/menciptakan sikap dan kemampuan intelektual serta keterampilan teknik dari
individu sehingga mempunyai keinginan yang dalam dan kemampuan untuk menolong
manusia, baik sakit maupun sehat agar mampu menangani kebutuhan kesehatan.

4.Ida Jean Orlando (1961)

Ia menggunakan hubungan interpersonal sebagai landasan teorinya. Perhatian utamanya
adalah sifat unik dari setiap individu/klien, yaitu ekpresi klien, baik verbal maupun
nonverbal, menunjukkan/mengisyaratkan kebutuhan. Kegiatan atau tindakan keperawatan
ditujukan untuk memenuhi kebutuhan klien. Teori keperawatan dari Orlando yang dikenal
sebagai “disciplined professional respons theory”, menekankan pada hubungan timbal balik
(reciprocal relationship) antara perawat dan pasien.

5.Ernestine Wiedenbach (1964)

Perhatian utamanya adalah aspek kiat atau aspek praktik dari keperawatan. Menurut
Wiedenbach keperawatan klinik (clinical nursing) mempunyai empat komponen, yaitu
filsafat (philosophy), kemanfaatan/kegunaan (purpose), praktik, dan kiat (art). Pandangan ini
yang melandasi pendapatnya bahwa pada praktik keperawatan terdapat tiga komponen, yaitu:

a.Mengidentifikasi kebutuhan klien/pasien;

b.Melaksnakan bantuan yang diperlukan; dan

c.Mengevaluasi dan menyatakan (mensahkan) bahwa bantuan yang diberikan memang
bermanfaat.

Teori keperawatan dari Wiedenbach ini kemudian dikenal sebagai “the helping art of clinical
nursing
”.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->