KEMENTERIAN BADAN USAHA MILIK NEGARA

Gedung Kementerian Badan Usaha Milik Negara Jl. Medan Merdeka Selatan 13 Jakarat Pusat

DAFTAR ISI
Hal DAFTAR ISI KATA PENGANTAR BAB I : PENDAHULUAN i iv 1 1 2 5 7 9 10 17 17 17 18 19 21 22 23 24 25 26 27 27 28 29 30 31

I.1. Maksud dan Ruang Lingkup I.2. Visi dan Misi Presiden Dalam RPJMN 2010-2014 I.3. Visi, Misi, Tujuan Dan Sasaran Kementerian BUMN sesuai Renstra Kementerian BUMN Tahun 2010-2014 I.4. Prioritas RPJMN 2010-2014 Di Bidang Pembinaan BUMN I.5. Arah Kebijakan Pembinaan BUMN Sesuai Renstra Kementerian BUMN Tahun 2010-2014 dan master Plan BUMN Tahun 2010-2014 I.6. Perkembangan BUMN Dan Kontribusinya Dalam Perekonomian Nasional serta Potensi-potensi Yang Dimiliki BUMN

BAB II : PERKEMBANGAN BUMN TAHUN 2005-2009 II.1. Perkembangan Kinerja BUMN II.1.1 Perkembangan Jumlah BUMN II.1.2. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN II.1.3. Perkembangan Kontribusi BUMN II.2. Perkembangan Sektoral BUMN II.2.1. Sektor Usaha Perbankan II.2.2. Sektor Usaha Asuransi II.2.3. Sektor Usaha Jasa Keuangan II.2.4. Sektor Usaha Jasa Konstruksi II.2.5. Sektor Usaha Farmasi II.2.6. Sektor Usaha Aneka Industri II.2.7. Sektor Usaha Kawasan Industri dan Perumahan II.2.8. Sektor Usaha Sarana Angkutan dan Pariwisata II.2.9. Sektor Usaha Prasaran Angkutan II.2.10. Sektor Usaha Logistik dan Sertifikasi II.2.11. Sektor Usaha Perkebunan

i

II.2.12. Sektor Usaha Kehutanan II.2.13. Sektor Usaha Perikanan II.2.14. Sektor Usaha Kertas, Percetakan, dan Penerbitan II.2.15. Sektor Usaha Penunjang Pertanian II.2.16. Sektor Usaha Pertambangan dan Semen II.2.17. Sektor Usaha Industri Strategis II.2.18. Sektor Usaha Energi & Sumber Daya Alam II.2.19. Sektor Usaha Telekomunikasi, Media dan Industri Penunjang Telekomunikasi II.3. Penerapan Tata Kelola Perusahaan Yang Baik II. 3.1. Assessment GCG II. 3.2. Re-Assessment GCG II. 3.3. Self Assessment GCG (Mandiri) II. 3.4. Review Tindak Lanjut Hasil Assesment GCG II. 3.5. Monitoring GCG melalui Kuesioner II. 3.6. Pelatihan Risk Management dan Internal Control System II. 3.7. Evaluation Tools atas Internal Control dan Risk Management II. 3.8. Pengkajian Penyempurnaan Evaluation Tools Penerapan GCG II. 3.9. Penyusunan Kriteria Penilaian GCG Tingkat Lanjutan II.4 Program Kemitraan dan Bina Lingkungan II.4.1. Program Kemitraan Tahun 2005 - 2009 II.4.2. Program Bina Lingkungan Tahun 2005 - 2009 BAB III : RENCANA DAN PELAKSANAAN PROGRAM PEMBINAAN BUMN TAHUN 2005-2009 III.1. Rencana Program Tahun 2005-2009 III.1.1 Rencana Rightsizing Tahun 2005-2009 III.1.2 Rencana Privatisasi Tahun 2005 - 2009 III.1.3 Program Kewajiban Pelayanan Umum (Public Service Obligation PSO) Tahun 2005 - 2009 III.1.4 Program Optimalisasi Aset BUMN Tahun 2005-2009 III.1.5 Program Pengembangan Teknologi Informasi Tahun 2005-2009 III.2 Pelaksanaan Program Tahun 2005 - 2009 III.2.1 Pelaksanaan Restrukturisasi Tahun 2005 - 2009

31 32 33 34 35 36 37 38 38 39 39 40 40 41 41 41 41 43 43 43 47 51 52 52 55 55 57 58 59 59

ii

Informasi & Teknologi (TI) 2010 . Program Restrukturisasi 2010 .5 Pelaksanaan Penyediaan Data. 2. 1. Program Restrukturisasi IV. 1.2. 1.2009 III. 2.2014 IV.2009 BAB IV : PROGRAM PEMBINAAN BUMN TAHUN 2010 .1. 2. 1.2014 IV.2014 IV.2.3 Pelaksanaan Public Servive Obligation (PSO) Tahun 2005-2009 III.2014 IV.6 Pelaksanaan Penanganan Bantuan Pemerintah Yang Belum Ditetapkan Statusnya (BPYBDS) 2005 . 5. Prosedur Privatisasi IV.3. Metode Privatisasi IV. Program Privatisasi 2010 . 2.4 Pelaksanaan Optimalisasi Aset BUMN 2005-2009 III. Arah Kebijakan Privatisasi IV.2.2014 IV. Maksud dan Tujuan Restrukturisasi IV. Definisi.3. 3. 2. Program Pengembangan Data. Kriteria Privatisasi IV.1.4. 4.2. 6.2014 IV. Monitoring Penyelesaian Bantuan Pemerintah Yang Belum Ditetapkan Statusnya (BPYBDS) BAB V : KESIMPULAN LAMPIRAN 67 70 71 73 75 78 78 78 78 79 104 104 104 105 106 107 111 112 113 115 121 iii .III. 2.2.2 Pelaksanaan Privatisasi 2005 .2. Definisi.2009 III.2. Program Penyelenggaran Public Service Obligation (PSO) 2010 . Informasi serta Teknologi Informasi 2005 . Ruang Lingkup Restrukturisasi IV. Maksud dan Tujuan Privatisasi IV.5. Program Optimalisasi Aset BUMN 2010 .

Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang BUMN. anggaran negara dan kesejahteraan masyarakat secara luas. mengejar keuntungan. menyelenggarakan kemanfaatan umum berupa penyediaan barang atau jasa yang bermutu tinggi dan memadai bagi pemenuhan hajat hidup orang banyak. pengembangan kemampuan berusaha dan penciptaan peluang-peluang baru melalui manajemen yang dinamis dan profesional untuk dapat memasuki dan berkompetisi dalam era persaingan global. Upaya ini dapat dilakukan melalui: (1) perumusan kebijakan yang mengarahkan BUMN agar mampu menyediakan barang/jasa berkualitas tinggi dengan harga yang terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. serta (3) menjadi agen pemerintah dalam menyelenggarakan kemaslahatan hidup masyarakat luas sebagaimana diamanatkan dalam UU BUMN. koperasi. (2) memberikan kontribusi yang signifikan bagi perekonomian nasional. Oleh karena itu. maksud dan tujuan didirikannya BUMN adalah untuk memberikan sumbangan bagi perkembangan perekonomian nasional pada umumnya dan penerimaan Negara pada khususnya. dan masyarakat.KATA PENGANTAR Kementerian BUMN sebagai instansi pemerintah yang memiliki tugas merumuskan kebijakan di bidang pembinaan dan pengawasan BUMN memiliki peran strategis dan penting dalam upaya memacu perekonomian Indonesia. perbaikan sinergi antar BUMN. menjadi perintis kegiatan-kegiatan usaha yang belum dapat dilaksanakan oleh sektor swasta dan koperasi dan turut aktif memberikan bimbingan dan bantuan kepada pengusaha golongan ekonomi lemah. Master Plan BUMN 2010-2014 ini menggambarkan kebijakan utama penataan BUMN ke depan dan di dalamnya dijelaskan berbagai kebijakan Pemerintah dalam melaksanakan pembinaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) selaras dengan kebijakan . Disamping itu. strategi pengelolaan BUMN ke depan perlu diarahkan pada peningkatan daya saing BUMN. Hal ini diutamakan agar BUMN dapat mencapai tujuan memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap ekonomi nasional. Restrukturisasi BUMN merupakan proses yang berkelanjutan dan satu kesatuan yang terintegrasi dengan strategi penyelamatan ekonomi nasional. perbaikan tata kelola perusahaan (good corporate governance) juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam memenangkan persaingan. Perubahan yang sangat cepat dalam dua dekade terakhir serta diperkirakan akan semakin cepat pada masa-masa mendatang menyebabkan semakin perlunya pembentukan BUMN-BUMN yang unggul dan berdaya saing tinggi.

1 . serta data. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025. Maksud Dan Ruang Lingkup Master Plan BUMN 2010-2014 memuat berbagai kebijakan Pemerintah dalam melaksanakan pembinaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang selaras dengan kebijakan sektoral. yang meliputi program restrukturisasi BUMN. informasi dan teknologi informasi. yaitu pasal 33 Undang-undang Dasar 1945. manajemen/ karyawan BUMN dan para pelaku ekonomi. Undangundang Nomor 19 Tahun 2003 tentang BUMN. optimalisasi aset BUMN. Dokumen ini menjelaskan kebijakan pemerintah dalam pembinaan BUMN. Melalui penerbitan Master Plan ini. Berbagai kebijakan dalam pembinaan BUMN yang dilaksanakan oleh Kementerian BUMN pada dasarnya dilakukan dalam rangka peningkatan kinerja dan nilai perusahaan. public service obligation. privatisasi BUMN. Disamping program-program tersebut juga dijelaskan mengenai program Kemitraan dan Bina Lingkungan serta perkembangan Bantuan Pemerintah Yang Belum Ditentukan Statusnya.1. Kementerian BUMN bermaksud memberikan penjelasan mengenai kebijakan dan program pembinaan BUMN kepada publik. kerangka analisis program pembinaan BUMN serta tindakan spesifik Kementerian BUMN yang telah diambil saat ini atau yang akan direncanakan dalam jangka pendek dan jangka panjang (tahun 2010-2014). Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-2014. Program pembinaan BUMN tersebut dilandasi oleh peraturan perundangan yang berlaku. serta peraturan lainnya yang terkait.BAB I PENDAHULUAN I. pembuat kebijakan. yang merupakan penyempurnaan terhadap dokumen serupa yang diterbitkan pada tahun 2005 oleh Kementerian Negara BUMN.

2. Tujuan penting ini dikelola melalui kemajuan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. RPJMN tahun 2010-2014 tersebut telah ditetapkan dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2010. Visi Dan Misi Presiden Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-2014 Dalam melaksanakan tugas-tugas pemerintahan. Keadilan. Misi pemerintah dalam periode 2010-2014 diarahkan untuk mewujudkan Indonesia yang lebih sejahtera. kekayaan sumber daya alam. serta meletakkan pondasi yang lebih kuat bagi Indonesia yang adil dan demokratis. sumber daya manusia dan budaya bangsa. yang merupakan penjabaran dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025. namun tidak dapat terlepas dari kondisi dan tantangan lingkungan global dan domestik pada kurun waktu 2010-2014 yang mempengaruhinya. Terwujudnya masyarakat. melalui pembangunan ekonomi yang berlandaskan pada keunggulan daya saing. Demokratis. Presiden telah menetapkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014. Presiden telah menetapkan VISI1 untuk masa pemerintahan periode 2010-2014 yaitu “Indonesia yang Sejahtera. (2) Memperkuat Pilar-Pilar Demokrasi. Sedangkan Misi2 yang akan dilaksanakan dalam rangka mencapai visi tersebut adalah (1) Melanjutkan Pembangunan Menuju Indonesia yang Sejahtera. bangsa dan negara yang demokratis. - - 2 . bermartabat dan menjunjung tinggi kebebasan yang bertanggung jawab serta hak asasi manusia. Terwujudnya peningkatan kesejahteraan rakyat. yang dilakukan oleh seluruh masyarakat secara aktif. aman dan damai. dengan penjelasan sebagai berikut: Kesejahteraan Rakyat. yang hasilnya dapat dinikmati oleh seluruh bangsa Indonesia. Terwujudnya pembangunan yang adil dan merata.I. berbudaya. Demokrasi. dan Berkeadilan”. (3) Memperkuat Dimensi Keadilan di Semua Bidang.

Visi dan Misi pemerintah 2010-2014 tersebut dirumuskan dan dijabarkan lebih operasional ke dalam sejumlah program prioritas4 sehingga lebih mudah diimplementasikan dan diukur tingkat keberhasilannya. dan kelanjutan penataan sistem hukum nasional. yang ditandai dengan: membaiknya pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah. tercapainya konsolidasi penegakan supremasi hukum. yaitu: (1) Pembangunan Ekonomi dan Peningkatan Kesejahteraan Rakyat. posisi penting Indonesia sebagai negara demokrasi yang besar makin meningkat dengan keberhasilan diplomasi di forum internasional. terdepan. (9) lingkungan hidup dan bencana. (5): Pembangunan Yang Inklusif Dan Berkeadilan. dan paskakonflik. penegakan hak asasi manusia. ditetapkan lima agenda utama pembangunan nasional3 tahun 2010-2014. terluar. (2) Perbaikan Tata Kelola Pemerintahan. tema dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-20145 adalah (1) memantapkan penataan kembali NKRI. yaitu: (1) reformasi birokrasi dan tata kelola. (8) energi. serta (11) kebudayaan. Berdasarkan UU Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) Tahun 2005-2025. kuatnya peran masyarakat sipil dan partai politik dalam kehidupan bangsa. (2) pendidikan. kreativitas.Dalam mewujudkan visi dan misi pembangunan nasional 2010-2014. UU Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) tahun 2005-2025 3 . (2) meningkatkan kualitas SDM. (2) Hukum : meningkatnya kesadaran dan penegakan hukum. (3) Penegakan Pilar Demokrasi. (3) Politik. (5) ketahanan pangan. dan inovasi teknologi. (6) infrastruktur. dan (4) memperkuat daya saing perekonomian. (4) Penegakkan Hukum Dan Pemberantasan Korupsi. (10) daerah tertinggal. (3) kesehatan. (4) penanggulangan kemiskinan. yang ditandai dengan: peningkatan kemampuan struktur pertahanan Negara dan lembaga keamanan Negara. Bidang-Bidang yang menjadi perhatian utama RPJMN Tahun 2010-2014 adalah: (1) Pertahanan dan Keamanan. (3) membangun kemampuan IPTEK. (7) iklim investasi dan usaha.

terpeliharanya keanekaragaman hayati dan kekhasan sumber daya alam tropis lainnya yang dimanfaatkan untuk mewujudkan nilai tambah. percepatan pembangunan infrastruktur dengan lebih meningkatkan kerja sama antara pemerintah dan dunia usaha. optimal. makin mantapnya nilai-nilai baru yang positif dan produktif dalam rangka memantapkan budaya dan karakter bangsa. transparan dan akuntabel makin meningkat yang ditandai dengan terpenuhinya standar pelayanan minimum di semua tingkatan pemerintah. dan tenaga surya untuk kelistrikan. khususnya bioenergi. kesejahteraan. terkendalinya jumlah dan laju pertumbuhan penduduk. serta modal 4 . tenaga air. dan berkelanjutan. cepat. (6) Daya Saing Perekonomian yang meningkat melalui : penguatan industri manufaktur sejalan dengan penguatan pembangunan pertanian dan kelautan serta sumber daya alam lainnya sesuai dengan potensi daerah secara terpadu. energi dan sumber daya mineral dikembangkan secara sinergi. (7) Pengelolaan SDA dan LH yang makin berkembang melalui : penguatan kelembagaan dan peningkatan kesadaran masyarakat yang ditandai dengan berkembangnya proses rehabilitasi dan konservasi sumber daya alam dan lingkungan hidup yang disertai dengan menguatnya partisipasi aktif masyarakat. antarkelompok masyarakat. peningkatan kualitas dan relevansi pendidikan. meningkatnya pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. meningkatnya derajat kesehatan dan status gizi masyarakat. meningkatnya kesetaraan gender. meningkatnya tingkat pendidikan masyarakat. menurunnya angka kemiskinan dan tingkat pengangguran disertai dengan berkembangnya lembaga jaminan sosial.(4) Pelayanan Publik. meningkatnya tumbuh kembang optimal. industri maritim. pengembangan jaringan infrastruktur transportasi. dan antardaerah. perikanan. dipercepatnya pengembangan pusat-pusat pertumbuhan potensial di luar Jawa. Kualitas pelayanan publik yang lebih murah. industri kelautan yang meliputi perhubungan laut. dan perlindungan anak. serta pos dan telematika. peningkatan pemanfaatan energi terbarukan. daya saing bangsa. menurunnya kesenjangan kesejahteraan antarindividu. tenaga angin. pengembangan sumber daya air dan pengembangan perumahan dan permukiman. wisata bahari. penataan kelembagaan ekonomi yang mendorong prakarsa masyarakat. (5) Kesejahteraan Rakyat yang terus meningkat ditunjukkan oleh membaiknya berbagai indikator pembangunan sumber daya manusia : meningkatnya pendapatan per kapita. panas bumi.

mantapnya kelembagaan dan kapasitas antisipatif serta penanggulangan bencana di setiap tingkatan pemerintahan.pembangunan nasional pada masa yang akan datang. telah ditetapkan Visi6 Kementerian BUMN yaitu “Mewujudkan BUMN sebagai instrumen Negara untuk peningkatan kesejahteraan rakyat berdasarkan mekanisme korporasi”. Visi. meningkatnya kualitas perencanaan tata ruang serta konsistensi pemanfaatan ruang dengan mengintegrasikannya ke dalam dokumen perencanaan pembangunan terkait dan penegakan peraturan dalam rangka pengendalian pemanfaatan ruang. Untuk mewujudkan visi tersebut. memerlukan adanya koordinasi dan peran serta dari seluruh lembaga/institusi Pemerintah. sesuai dengan Rencana Strategis Kementerian BUMN Tahun 2010-2014. terlaksananya pembangunan kelautan sebagai gerakan yang didukung oleh semua sektor. Tujuan Dan Sasaran Kementerian BUMN Sesuai Rencana Strategis Kementerian BUMN Tahun 2010-2014 Upaya Pemerintah dalam memperkuat daya saing perekonomian nasional guna peningkatan kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat dalam mewujudkan cita-cita Bangsa Indonesia pada umumnya dan misi Pembangunan Jangka Panjang (tahun 2005-2025) dan Pembangunan Jangka Menengah (tahun 2010-2014) pada khususnya. Kementerian BUMN menetapkan Misi7 sebagai berikut (1) Meningkatkan kualitas pengelolaan BUMN yang semakin transparan dan akuntabel. (2) memberikan kontribusi yang signifikan bagi perekonomian nasional. I. (2) Meningkatkan peran BUMN untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional dan pendapatan negara. Kementerian BUMN sebagai instansi pemerintah yang memiliki tugas merumuskan kebijakan di bidang pembinaan dan pengawasan BUMN.3. serta (3) menjadi agen pemerintah dalam menyelenggarakan kemaslahatan hidup masyarakat luas sebagaimana diamanatkan dalam UU BUMN. (3) Meningkatkan kualitas 5 . Berdasarkan hal-hal tersebut. Misi. diharuskan mengambil peran dalam upaya perbaikan kondisi perekonomian Indonesia melalui: (1) perumusan kebijakan yang mengarahkan BUMN agar mampu menyediakan barang/jasa berkualitas tinggi dengan harga yang terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.

(6) Peningkatan peran BUMN untuk percepatan pelaksanaan prioritas pembangunan nasional.3 Sasaran 1.3 Sasaran 3.pelaksanaan penugasan pemerintah untuk pelayanan umum(PSO). Berdasarkan visi dan misi di atas.4 Tujuan 3 Sasaran 3. Kementerian Negara BUMN di dalam Rencana Strategisnya menetapkan 9 (sembilan) tujuan dan 30 sasaran strategis yang ingin dicapai dalam periode pemerintahan tahun 2010-2014.4 Tujuan 4 Sasaran 4.1 Sasaran 3. : Meningkatnya peran BUMN dalam pengelolaan SDA strategis dan pertahanan nasional : Terwujudnya kebijakan untuk meningkatkan porsi SDA strategis yang dikelola oleh BUMN : Terlaksananya penerapan peraturan perundang-undangan yang berpihak pada BUMN untuk mengelola SDA strategis : Terlaksananya penerapan peraturan perundangan yang berpihak pada BUMN dalam pengembangan industri pertahanan : Terwujudnya kemampuan BUMN industri pertahanan untuk penyediaan alutsista : Meningkatnya Kinerja BUMN : Meningkatnya keuntungan BUMN : Meningkatnya sinergi antar BUMN Tujuan 2 Sasaran 2.4 : Meningkatnya Kapasitas dan Kemampuan Pembinaan BUMN : Terlaksananya reformasi birokrasi : Meningkatnya kapasitas dan kemampuan SDM : Tersedianya sarana dan prasarana yang memadai : Terlaksananya penyusunan dan harmonisasi peraturan perundang-undangan : Terwujudnya penerapan best practices GCG dan sistem penilaian kinerja : Tersusunnya best practice GCG : Terlaksananya penerapan best practice GCG : Terlaksananya sistem remunerasi berbasis kinerja di BUMN : Terlaksananya sistem penilaian kinerja di BUMN yang mangacu pada standar internasional.1 Sasaran 2.2 Sasaran 2.3 Sasaran 2.2 Sasaran 3. sebagai berikut: Tujuan 1 Sasaran 1. (4) Meningkatkan peran BUMN dalam usaha keperintisan. (5) Meningkatkan peran BUMN dalam rangka pengembangan UMKM.1 Sasaran 1.2 6 .2 Sasaran 1.1 Sasaran 4.

5 Sasaran 9.4 Sasaran 9.1 Sasaran 8.1 Sasaran 7. : Meningkatnya peran BUMN dalam keperintisan usaha dan pengembangan UMKM : Meningkatnya peran BUMN dalam program Public Private Partnership (P3) : Meningkat dan meluasnya jangkauan penyaluran dana PKBL : Meningkatnya efektivitas penyaluran dana pemerintah (KUR) untuk pengembangan UMKM : Terwujudnya sistem pengelolaan BUMN yang semakin sehat dan kompetitif : Terwujudnya harmonisasi peraturan perundang-undangan yang mengarah pada perwujudan pengelolaan BUMN berbasis mekanisme korporasi : Terwujudnya jumlah BUMN yang ideal : Berkurangnya BUMN yang rugi dan bermasalah : Meningkatnya peran BUMN dalam percepatan pelaksanaan prioritas pembangunan nasional : Meningkatnya peran BUMN untuk ketahanan energi : Meningkatnya peran BUMN untuk ketahanan pangan : Meningkatnya peran BUMN untuk pembangunan infrastruktur Meningkatnya peran BUMN untuk peningkatan pertahanan Meningkatnya peran BUMN dalam pengembangan UMKM Meningkatnya peran BUMN untuk lingkungan hidup Tujuan 6 Sasaran 6.1 Sasaran 6.2 Tujuan 7 Sasaran 7.2 Sasaran 8.2 Sasaran 9.2 Sasaran 7.3 Tujuan 9 Sasaran 9.2 : Meningkatnya peran BUMN untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional : Meningkatnya belanja modal (Capital Expenditure) BUMN : Meningkatnya belanja operasional (Operating Expenditure) BUMN : Meningkatnya kualitas pelaksanaan penugasan pemerintah untuk pelayanan umum : Terlaksananya pemisahan tanggungjawab antara pemberi tugas (Pemerintah) dan pelaksana tugas (BUMN) secara konsisten : Terwujudnya pelaksanaan tugas pelayanan umum secara transparan.3 Tujuan 8 Sasaran 8.1 Sasaran 5.6 7 .Tujuan 5 Sasaran 5.3 Sasaran 9.1 Sasaran 9.

kegiatan prioritas yang terkait dengan Kementerian BUMN dalam RPJMN 2010-2014 adalah program di bidang Pembinaan dan Pengawasan BUMN9. serta (5) pelaksanaan tata kelola yang baik (good governance). pengawasan. sebagai berikut: (1) Dukungan pelaksanaan program prioritas Pemerintah bidang energi (Prioritas Nasional). (4) meningkatnya keuntungan BUMN. (2) kondisi ekonomi baik nasional. Prioritas RPJMN Tahun 2010-2014 Di Bidang Pembinaan BUMN Permasalahan dan tantangan dalam pembinaan dan pengawasan BUMN yang dicantumkan dalam RPJM 2010-2014 adalah sebagai berikut: (1) masih terdapatnya ketidakharmonisan peraturan perundang-undangan yang menyebabkan penafsiran yang berpengaruh terhadap kepastian hukum di bidang pengurusan. (7) meningkatnya peran BUMN dalam keperintisan usaha dan pengembangan UMKM.4. (6) meningkatnya kualitas pelaksanaan penugasan pemerintah untuk pelayanan umum. (2) terwujudnya penerapan best practices GCG dan sistem penilaian kinerja. sasaran pembangunan dalam pembinaan BUMN8 adalah sebagai berikut: (1) meningkatnya kapasitas dan kemampuan pembinaan BUMN. dan pembinaan BUMN. 8 . maupun global yang sedang dalam tahap pemulihan. regional. yaitu : a. (8) terwujudnya sistem pengelolaan BUMN yang semakin sehat dan kompetitif. dalam RPJMN tahun 2010-2014. (4) pelaksanaan otonomi daerah yang sering tidak kondusif bagi pengembangan usaha. Terkait dengan hal tersebut. (5) meningkatnya peran BUMN untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. (3) persaingan usaha yang makin ketat.I. Transformasi dan konsolidasi BUMN bidang energi dimulai dari PLN dan Pertamina yang selesai selambat-lambatnya 2010 dan diikuti oleh BUMN lainnya. (9) meningkatnya peran BUMN dalam percepatan pelaksanaan prioritas pembangunan nasional. Selanjutnya. (3) meningkatnya peran BUMN dalam pengelolaan SDA strategis dan pertahanan nasional.

d. dan produksi minyak bumi sebesar lebih dari 1. monitoring dan evaluasi kinerja BUMN (8) Penetapan peraturan pelaksanaan pemisahan administrasi keuangan PSO dan Perpres tentang SOP pelaksanaan PSO (9) Penyusunan peraturan perundangan yang mengarah pada perwujudan pengelolaan BUMN berbasis mekanisme korporasi murni (10) Kajian BUMN rugi dan bermasalah (11) Penyusunan dan pelaksanaan Program Tahunan Privatisasi (12) Kajian rightsizing BUMN (13) Uji kepatutan dan kelayakan calon Direksi dan Dewan Komisaris (14) Dukungan pelaksanaan program prioritas Pemerintah bidang ketahanan pangan (15) Dukungan pelaksanaan program prioritas Pemerintah bidang infrastruktur 9 .000 MW per tahun mulai 2010 dengan rasio elektrifikasi yang mencakup 62% pada 2010 dan 80% pada 2014. microhydro. pupuk dan industri hilir lainnya. e. Revitalisasi industri pengolah hasil ikutan/turunan minyak bumi dan gas sebagai bahan baku industri tekstil. Surabaya. dan Denpasar. Peningkatan kapasitas pembangkit listrik sebesar rata-rata 3. Peningkatan pemanfaatan energi terbarukan termasuk energi alternatif geothermal sehingga mencapai 2. penggunaan gas alam sebagai bahan bakar angkutan umum perkotaan di Palembang.000 MW pada 2012 dan 5.2 juta barrel per hari mulai 2014.000 MW pada 2014 dan dimulainya produksi coal bed methane untuk membangkitkan listrik pada 2011 disertai pemanfaatan potensi tenaga surya. Perluasan program konversi minyak tanah ke gas sehingga mencakup 42 juta Kepala Keluarga pada 2010. c. dan nuklir secara bertahap. (2) Restrukturisasi BUMN besar/ penting/ strategis (Prioritas Nasional) (3) Penyusunan best practice GCG (4) Penetapan system remunerasi berbasis kinerja di BUMN (5) Penyusunan peraturan mengenai penerapan system penilaian yang mengacu pada standar internasional (6) Kajian.b. evaluasi dan monitoring pendayagunaan asset BUMN (7) Penetapan target.

Melalui penerapan kebijakan ini. Privatisasi dilakukan dalam rangka meningkatkan kinerja dan nilai tambah perusahaan. (2) penetapan peraturan pelaksanaan UU BUMN dan harmonisasi peraturan perundang-undangan lainnya sesuai dengan UU Perseroan Terbatas dan/atau Capital Market Protocol.I. Dalam rangka mencapai jumlah dan skala BUMN yang ideal. (5) peningkatan kualitas pelaksanaan pelayanan umum. BUMN yang ada akan dikelompokkan ulang berdasarkan sektor industrinya. serta (6) peningkatan peran BUMN dalam mendorong pelaksanaan prioritas pembangunan nasional. revitalisasi dan profitisasi BUMN secara bertahap dan berkesinambungan. 10 . (3) penerapan Good Governance dan Good Corporate Governance. penyebaran kepemilikan oleh publik serta pengembangan pasar modal domestik. Peningkatan kinerja dan nilai BUMN tersebut dilakukan melalui langkahlangkah restrukturisasi dan privatisasi. manajemen dan keuangan. perbaikan struktur keuangan dan manajemen. Restrukturisasi sektoral dilakukan untuk menciptakan iklim usaha yang kondusif sehingga tercapai efisiensi dan pelayanan yang optimal. kegiatan usaha. transparan dan obyektif. penciptaan struktur industri yang sehat dan kompetitif. maka dalam Master Plan BUMN Tahun 2010-2014. pemberdayaan BUMN yang mampu bersaing dan berorientasi global. dalam konteks pembinaan BUMN juga akan diambil kebijakan berupa: (1) pemantapan proses seleksi pengurus BUMN secara profesional. Sedangkan restrukturisasi korporasi meliputi penataan kembali bentuk badan usaha. Restrukturisasi dilakukan baik secara sektoral maupun korporasi. organisasi. Selain itu. Hal ini dilakukan dalam upaya meningkatkan kinerja dan nilai (value) perusahaan. Arah Kebijakan Pembinaan BUMN Sesuai Rencana Strategis Kementerian BUMN Tahun 2010-2014 Dan Master Plan BUMN Tahun 2010-2014 Arah kebijakan utama terkait dengan pembinaan BUMN adalah restrukturisasi.5. Kementerian BUMN menyusun program rightsizing untuk memperbaiki struktur bisnis BUMN secara menyeluruh. (4) peningkatan kinerja dan daya saing dan keberlanjutan usaha BUMN.

112 BUMN berbentuk Persero. dan 15 BUMN yang merupakan Persero Terbuka. BUMN. (2) kepemilikan aset yang besar. Adapun perkembangan jumlah BUMN dan kepemilikan Negara minoritas tahun 2005-2009 sebagaimana tersebut pada Tabel 1. Disamping itu data. BUMN juga merupakan salah satu sumber penerimaan Negara yang signifikan dalam bentuk berbagai jenis penerimaan Negara.6. antara lain pajak dan dividen. Tabel 1.1. Dalam menjalankan kegiatan usahanya. Pada perekonomian masa awal kemerdekaan. BUMN/pemerintah masuk antara lain ke dalam sektor-sektor yang memerlukan pembiayaan cukup besar. (5) profesionalisme SDM.6. (3) brand image BUMN. di samping usaha swasta dan koperasi. Perkembangan. I. Kontribusi Dalam Perekonomian Nasional Serta Potensi-Potensi Yang Dimiliki BUMN Sampai dengan akhir tahun 2009 terdapat 141 BUMN yang terdiri dari 14 BUMN berbentuk Perum. informasi dan teknologi informasi pada BUMN telah tersedia dan terbangun dengan baik. cukup penting. Keberadaan BUMN Sesuai dengan Pasal 33 UUD 1945. Seperti yang telah disebutkan dalam Rencana Strategis Kementerian Negara Tahun 2010-2014. BUMN merupakan salah satu penggerak utama perekonomian nasional. (4) pengalaman usaha BUMN.I. Perkembangan Jumlah BUMN Tahun 2005-2009 Uraian Perum Persero Persero Tbk Jumlah BUMN Kepemilikan Negara Minoritas 2005 13 114 12 139 21 2006 13 114 12 139 21 2007 14 111 14 139 21 2008 14 113 14 141 20 2009 14 112 15 141 19 BUMN memiliki potensi yang sangat besar untuk berkembang yang sampai dengan saat ini belum termanfaatkan secara optimal. swasta dan koperasi melaksanakan peran saling mendukung berdasarkan demokrasi ekonomi. Sektor 11 . penyeimbang kekuatankekuatan swasta besar dan turut membantu pengembangan usaha kecil/koperasi. BUMN berperan strategis sebagai pelaksana pelayanan publik. potensi-potensi tersebut antara lain: (1) keberadaan BUMN di hampir semua sektor usaha. peran Di BUMN/pemerintah awal era dalam nasional pembangunan. tidak diminati swasta dan bersifat pioneering.

Pada awal tahun 2004. dan memberi layanan yang optimal bagi konsumen. terdapat BUMN yang menjalankan usahanya. Peningkatan Capex dan Opex tersebut menunjukkan kontribusi BUMN bagi pergerakan sektor riil. kita akan mengetahui bahwa BUMN adalah sebuah entitas yang memiliki potensi untuk dapat berkembang menjadi sebuah entitas bisnis yang besar dan kuat. Capex BUMN adalah Rp.14 Triliun per tahun.32 triliun dan Opex sebesar Rp.40 triliun.028. sedangkan posisi pada akhir tahun 2008 Capex sebesar Rp. BUMN adalah penguasa pasar (market leader) sehingga memiliki peran yang sangat signifikan baik bagi stabilitas sektor bisnis maupun ekonomi secara umum. menghasilkan barang dan jasa untuk dalam negeri maupun ekspor. Keberadaan BUMN selama ini telah memberikan kontribusi yang besar kepada Negara. Belanja modal (capital expenditures/Capex) dan belanja operasional (operational expenditures/Opex) BUMN juga mengalami peningkatan.73. Rata-rata dividen yang diberikan BUMN kepada Negara selama periode 2005–2009 sebesar Rp.1.23. Hampir di semua lini bisnis dan sektor usaha yang ada di Indonesia.453. penerimaan Negara dari Pajak dan kontribusinya bagi pergerakan sektor riil. baik berupa dividen. 12 .37 triliun. Jumlah BUMN yang mencapai 141 dan tersebar hampir di semua sektor usaha tidak hanya membuat BUMN sangat berpotensi untuk berkontribusi yang signifikan kepada masyarakat dan negara secara umum.korporasi yang andal dalam membangun perekonomian nasional diperlukan untuk menciptakan lapangan kerja.26 triliun dan Opex sebesar Rp.32.27 Triliun per tahun.128. Bahkan di beberapa sektor usaha. Jika melihat pada BUMN yang ada saat ini. demikian juga kontribusi BUMN dalam bentuk pajak cenderung meningkat dimana rata-rata pajak yang diberikan selama periode 2005–2009 sebesar Rp. tetapi juga memiliki potensi yang besar untuk menjalin sinergi yang saling menguntungkan diantara sesama BUMN sehingga akan memberikan percepatan dalam pencapaian kinerja perusahaan.

Sebuah nilai yang sangat besar yang apabila mampu dimanfaatkan secara maksimal tentu akan memicu pertumbuhan sektor riil dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan (sustainability growth). PLN. responsibilitas dan fairness (GCG) serta profesionalisme pengelolaan perusahaan. independensi.3. Aset yang belum didayagunakan tersebut menjadi potensi tersendiri bagi BUMN dalam upayanya untuk terus memperbaiki kinerja agar dapat memberikan kontribusi yang lebih besar kepada kesejahteraan rakyat. Hal ini dapat dilihat dari rasio return on asset (ROA) BUMN yang masih relatif kecil. mereka adalah bagian dari sejarah perkembangan bangsa Indonesia. sehingga upaya-upaya restrukturisasi/revitalisasi/ profitisasi yang berkelanjutan perlu terus dilaksanakan. laba BUMN pada akhir tahun 2009 hanya mencapai Rp. yaitu sebesar 3. akuntabilitas.6. Bukan hanya karena mereka menguasai hajat hidup orang banyak tetapi lebih dari itu. berkinerja baik. dengan return on equity (ROE) sebesar 12. aset-aset yang masih idle tersebut akan menjadi salah satu kunci dalam upaya untuk mewujudkan BUMN yang sehat.BUMN sebagai badan usaha juga dapat berperan dalam mendorong penerapan praktek-praktek bisnis dengan standar etika dan transparansi. Pegadaian. 13 . I.6.2. Melalui kerja sama usaha dengan swasta maupun BUMN.150 trilliun tersebut. belum seluruhnya dimanfaatkan secara optimal dengan baik guna menghasilkan pendapatan bagi perusahaan.89%.84 triliun. Kepemilikan Aset Sampai dengan akhir tahun 2009. Dorongan untuk meningkatkan praktek good corporate governance perlu mendapatkan perhatian. I. Namun. Dengan usahausaha yang dijalankan di sektor perintisan membuat nama BUMN dikenal luas di seluruh nusantara. dari total aset BUMN tersebut.150 Triliun yang sebagian besar masih menggunakan nilai buku. total aset BUMN tercatat mencapai ± Rp2. dan Pertamina adala BUMN-BUMN yang sudah sangat melekat di benak seluruh rakyat Indonesia. Dari total aset yang mencapai + 2. dan berdaya saing tinggi. Brand image BUMN Tidak dapat dipungkiri bahwa perjalanan sejarah telah membuat BUMN memiliki brand image yang sangat kuat khususnya di dalam negeri. Pos Indonesia.39%. Bank BRI.72.

Competitive advantage ini harus dapat dioptimalkan sehingga bisa mendukung upaya penciptaan BUMN yang sehat. maka sumber daya manusia dan profesionalisme yang dimiliki oleh BUMN kiranya tidak perlu diragukan lagi. Dengan usia yang sudah sedemikian lama. Mekanisme penetapan pengurus BUMN yang semakin transparan dan mengutamakan nilai-nilai profesionalisme dan integritas 14 . I.5. hampir seluruh BUMN lahir pada awal kemerdekaan Indonesia bahkan ada beberapa BUMN yang merupakan hasil nasionalisasi perusahaan-perusahaan belanda. Namun patut diperhatikan juga bahwa.6. Profesionalisme SDM Dengan eksistensi di dalam perekonomian dan pengalaman yang cukup lama di dunia bisnis serta besarnya jumlah aset yang dikelola. Brand image BUMN semakin membaik yang tergambar dari semakin meningkatnya jumlah BUMN yang mendapatkan penghargaan ditingkat nasional. Perbaikan sistem remunerasi yang semakin berkeadilan dan berbasis kinerja semakin mendorong peningkatan profesionalisme SDM BUMN. Ketatnya pengawasan dalam pengelolaan BUMN juga semakin mendorong peningkatan integritas SDM BUMN. Pengalaman adalah salah satu nilai tambah yang sangat penting bagi perusahaan terutama untuk menghadapi persaingan usaha yang semakin kompetitif.4. berkinerja baik dan berdaya saing tinggi sehingga mampu memberikan kontribusi yang optimal bagi perekonomian nasional. I. pengalaman usaha BUMN tersebut harus selalu diiringi dengan inovasi dan kreativitas usaha sehingga BUMN akan tetap mendapat kepercayaan dari masyarakat. Pengalaman usaha BUMN Jika dilihat secara seksama. dan internasional. Pemahaman yang mendalam tentang nature of business menjadi salah satu kunci agar suatu perusahaan mampu berkembang dan bisa menjawab setiap tantangan zaman. regional.Brand image yang sangat kuat ini merupakan salah satu competitive advantage yang dimiliki oleh BUMN untuk bersaing dengan perusahaan swasta lain. BUMN seharusnya memiliki pengalaman yang jauh lebih banyak daripada perusahaan-perusahaan swasta lain yang belum begitu lama berdiri.6.

Informasi dan Teknologi Informasi Disamping hal-hal tersebut diatas. dan teknologi informasi menjadikan BUMN memiliki sarana yang relatif lebih lengkap dalam menghadapi persaingan di pasar lokal maupun pasar global serta memberikan kemampuan bagi BUMN untuk menciptakan nilai tambah dan mengembangkan usaha.6. I. Agar teknologi informasi yang diimplementasikan di BUMN dapat dipastikan memberikan outcome sesuai dengan kebutuhan bisnis.semakin mendorong persaingan SDM BUMN untuk meningkatkan kapasitas dan kemampuan dalam setiap pengambilan keputusan. Penguasaan data dan informasi menjadi faktor yang penting karena data dan informasi yang dapat disajikan dengan cepat. tepat. BUMN akan kehilangan kesempatan dan kecepatan mengantisipasi perubahan. Dalam situasi turbulensi ekonomi. BUMN membutuhkan kecepatan dalam seluruh aspek pengambilan keputusan korporasi. maka BUMN perlu mempunyai kebijakan tata kelola teknologi informasi yang menjadi bagian dari tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance). penguasaan terhadap data. Bagi perusahaan. informasi. Tanpa penguasaan data dan informasi. dengan demikian pemanfaatan teknologi informasi akan meningkatkan efisiensi dan menciptakan nilai tambah perusahaan. dan lengkap akan membantu manajemen melakukan analisis dan mengambil keputusan dengan cepat dan akurat.6. Data. implementasi teknologi informasi akan sangat berperan dalam pengendalian internal perusahaan. 15 . implementasi teknologi informasi lebih mengarah pada sinergi pemanfaatan informasi dan teknologi informasi yang digunakan pada rantai bisnis baik di lingkungan internal maupun eksternal. Kini.

bentuk kontribusinya terhadap perekonomian serta potensi-potensi yang dimilikinya. seyogianya dapat menjadi lokomotif ataupun pelaku ekonomi yang handal yang dapat mendukung. 16 . belum berhasil maupun yang masih akan dilakukan.Keberadaan BUMN sebagai salah satu pelaku ekonomi Indonesia dengan segala peran. Seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) diharapkan memahami ketentuan/peraturan perundang-undangan yang berlaku terkait dengan BUMN dan menjalankan peran. menjadi sangat penting artinya. maupun dalam mewujudkan Visi dan Misi Kementerian BUMN. baik yang telah berhasil. sedang dalam penyelesaian. dalam mengatasi permasalahan dan tantangan yang dihadapi maupun dalam mencapai sasaran-sasaran pembangunan dalam pembinaan BUMN seperti yang tercantum dalam RPJM 2010-2014. baik Visi dan Misi Pemerintah untuk mensejahterakan rakyat. mewujudkan demokrasi dan memeratakan keadilan. maka transformasi/konsolidasi/ restrukturisasi/revitalisasi secara bertahap dan berkesinambungan. bidang-bidang/program-program yang tertuang dalam RPJM 2010-2014. tugas dan tanggungjawab masing-masing untuk mendukung peningkatan peran dan kualitas pembinaan dan pengelolaan BUMN dalam rangka meningkatkan kinerja/nilai dan kontribusi perusahaan dalam perekonomian nasional. Segala upaya yang telah dilakukan selama ini. dalam kerangka untuk terus meningkatkan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance). pada dasarnya adalah untuk meningkatkan efisiensi/efektifitas perusahaan sehingga kinerja dan nilai perusahaan meningkat. Peningkatan peran dan kualitas pembinaan dan pengawasan BUMN dalam melaksanakan tujuan-tujuan dan sasaran-sasaran strategis yang dicantumkan dalam Renstra Kementerian BUMN 2010-2014. Yang pada gilirannya akan memberikan kontribusi yang optimal bagi perekonomian nasional. yakni mewujudkan BUMN menjadi instrumen negara untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat berdasarkan mekanisme korporasi. fungsi.

1. 1. penerapan Tata Kelola Perusahaan Yang Baik (GCG) dan perkembangan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan. 1. Tabel 1 : Perkembangan Jumlah BUMN di Indonesia Periode tahun 2005 . dan pada tahun 2009 terjadi penambahan BUMN Tbk yaitu PT Bank BTN. Di samping itu. 17 . Pada tahun 2008 terjadi penambahan jumlah BUMN yaitu PTDI dan PT Askrindo.BAB II PERKEMBANGAN BUMN TAHUN 2005-2009 Kinerja BUMN dalam lima tahun terakhir (2005-2009) sebagian besar menunjukkan kecenderungan perbaikan. PT TVRI menjadi BLU dan Likuidasi PT AAF). meskipun terdapat sebagian kecil BUMN masih menghadapi kendala-kendala untuk berkembang. Di bawah ini disajikan perkembangan kinerja BUMN masing-masing sektor. khususnya industri hulu.2009 Jumlah BUMN ( Saham Negara ? 51%) Persero Tbk Persero Perum Perjan Jumlah BUMN Jumlah 51 % Perusahaan Dengan Saham Negara ? 2005 12 114 13 0 139 21 2006 12 114 13 0 139 21 2007 14 111 14 0 139 21 2008 14 113 14 0 141 19 2009 15 112 14 0 141 19 Pada Tahun 2005 terjadi pengurangan jumlah Perjan (Perjan Rumah Sakit dan RRI berubah menjadi Badan Layanan Umum/BLU) dan pengurangan jumlah Persero (Merger 4 Persero Perikanan. Perkembangan Kinerja BUMN II. terdapat 2 (dua) Persero menjadi Tbk.Perkembangan Jumlah BUMN Jumlah BUMN di Indonesia pada tahun 2009 sebanyak 141 perusahaan dan beroperasi pada hampir seluruh sektor usaha. Perkembangan jumlah BUMN dan kepemilikan negara minoritas dapat dilihat pada Tabel 1. II. negara juga memiliki saham dengan kepemilikan minritas pada 19 badan usaha. Likuidasi PT ISI dan terbentuknya Perum LKBN Antara. Tahun 2007.

Gambaran perkembangan ROA dan ROE dapat dilihat dalam grafik berikut: Grafik 1: Perkembangan ROA dan ROE 18 .034 931.2009 Rp Miliar Total Aset Total Hutang Ekuitas Pendapatan Laba Bersih 2005 1.171 2007 1.496 64.117 1.487 514.161.185 Prog 2009 2. ROE. aset.322 1.307 2008 1. terlihat bahwa kinerja BUMN mengalami peningkatan/pertumbuhan yang terlihat dari total asset.II. dan total laba bersih.454.060 655.96% .998 565.254 921.193 370.890 754.152 25. ekuitas dan kontribusi BUMN dapat dilihat pada grafik-grafik dan tabel-tabel sebagai berikut : a.3.626 499.15% per tahun.770 2006 1.20% per tahun.150. sedangkan Return on Equity (ROE) berfluktuasi dari tahun ke tahun dengan kisaran antara 6.717. total pendapatan.69% atau ratarata 3.Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Data kinerja BUMN periode tahun 2005-2009 secara umum dapat dilihat pada tabel 2 sebagai berikut.584.291. Tabel 2 : Perkembangan Kinerja BUMN Periode tahun 2005 .840 Dari tabel 2 tersebut di atas. Selanjutnya.12.696 865.00% .032 1.451. 1.349 63.969.89% atau rata-rata 11. perkembangan ROA.371 1. Return on Asset (ROA) dan Return on Equity (ROE) Return on Asset (ROA) periode 2005 – 2009 berkisar antara 2.720 49.005.000 72.630 1.481 445. total ekuitas.2. laba.217.

Ekuitas dan Hutang Dilihat dari sisi jumlah aset. Grafik 2: Perkembangan Total Aktiva.b. Pertumbuhan tersebut disamping karena meningkatnya keuntungan BUMN. menjadi sekitar 40% setelah krisis moneter. bahkan beberapa BUMN dikenakan lebih dari 50%.28%/tahun. Perkembangan Total Aktiva. tampak terjadi pertumbuhan yang cukup signifikan dalam periode tahun 2005-2009. II. 1. Namun pertumbuhan jumlah aset tersebut dirasakan belum proporsional dengan pertumbuhan modal perusahaan yang pertumbuhannya relatif lambat. Perkembangan Jumlah Laba Bersih Sama halnya dengan jumlah aset. jumlah laba bersih yang diperoleh BUMN pada periode tahun 2005-2009 juga mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan yaitu tumbuh ratarata 20.3. Ekuitas dan Hutang (dalam Rp Triliun) c. Hal ini disebabkan sebagian besar aset dibiayai dari dana eksternal/hutang. a. 19 . Perkembangan Kontribusi BUMN Kontribusi BUMN terhadap penerimaan negara pada dasarnya bersumber dari dividen BUMN dan pajak yang disetorkan BUMN. juga disebabkan oleh kebijakan pemerintah untuk meningkatkan devidend pay out ratio dari rata-rata 20% sebelum krisis moneter 1997. Kontribusi Dividen Pada periode tahun 2004-2009 terjadi pertumbuhan kontribusi deviden rata-rata 25. Gambaran kontribusi dividen BUMN sebagaimana terlihat pada Grafik 5 sebagai berikut.09% per tahun.

Adapun gambaran hasil privatisasi 2004-2009 sebagaimana terlihat pada Grafik 7 sebagai berikut. Grafik 6: Kontribusi Pajak Selain kontribusi dalam bentuk deviden dan pajak. kurang lebih dalam waktu 5 tahun terakhir.13% per tahun. Namun demikian.Grafik 5: Kontribusi Dividen BUMN Catatan : Pembagian laba tahun 2009 belum ditetapkan oleh RUPS b. Gambaran kontribusi pajak sebagaimana terlihat pada Grafik 6 sebagai berikut. telah diambil kebijakan yang pada intinya hasil privatisasi BUMN terutama adalah untuk keperluan mendukung pengembangan BUMN itu sendiri. Kontribusi Pajak Kontribusi BUMN lainnya yaitu pajak. Sampai dengan tahun 2009 telah dilakukan privatisasi terhadap 15 BUMN melalui metode IPO dan SPO (13 BUMN) dan metode EMBO (2 BUMN). Peningkatan kontribusi pajak BUMN antara lain disebabkan oleh adanya peningkatan keuntungan BUMN. maka sebelum 5 tahun terakhir terdapat hasil divestasi/privatisasi BUMN yang disetorkan ke kas Negara karena situasi keuangan Pemerintah maupun kebijakan pada saat itu. pada periode tahun 2005-2009 juga mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi yaitu rata-rata 18. 20 .

00% 10.00% 25. perkebunan.57% atau senilai Rp 637.97% 31. sarana angkutan dan pariwisata. kertas percetakan dan penerbitan. media dan penunjang telekomunikasi.00% 0. kehutanan. penunjang pertanian.00% 35. 2.Grafik 7: Kontribusi Privatisasi Peran 15 BUMN Tbk dalam Pasar Modal cukup besar.64% 32. Adapun gambaran kapitalisasi pasar BUMN Terbuka 2005-2009 sebagaimana terlihat pada Grafik 8 sebagai berikut.00% 20. Grafik 8 : Kapitalisasi Pasar BUMN Terbuka 700 637 45. pertambangan dan semen. jasa konstruksi.00% 500 400 300 200 29. prasarana angkutan.00% 589 40.57% 30.23% 493 32. jasa keuangan. energi dan sumber daya mineral serta sektor telekomunikasi. kawasan industri dan perumahan. aneka industri.00% II. logistik dan jasa sertifikasi. perikanan. asuransi. Perkembangan BUMN Secara Sektoral Dalam Rencana Strategis Kementerian BUMN tahun 2010-2014 terdapat 19 sektor usaha BUMN yang meliputi : sektor usaha perbankan. 21 .40% 600 40. industri strategis.00% 355 260 100 0 2005 2006 Kapitalisasi Pasar BUMN Tbk 2007 2008 % Kapitalisasi Pasar BUMN Tbk 2009 5.00% 15. hal ini dapat dilihat dari penguasaan kapitalisasi pasar per 30 Desember 2009 yang mencapai 31.48 Triliun dari total kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) . industri farmasi.

432 583. BRI dan BTN) yang semuanya merupakan BUMN Terbuka. baik yang bersifat operasional maupun finansial.745 564. Tabel 3 menunjukkan rata-rata CAR dan NPL.599 478.82% 16. BNI.9%.717 438.II. 2. yaitu 15. Sektor Usaha Perbankan Terdapat 4 Bank BUMN (Mandiri. Dalam kurun waktu 5 tahun.618.25% 260.07% 6.262. micro banking (BRI) dan pembiayaan perumahan (BTN).24% 19.330.4%. terjadi pertumbuhan aset yang cukup tinggi.89% 19.520.583 Adapun kinerja Bank BUMN tahun 2005 . Kinerja operasional Bank BUMN tahun 2005-2009 tercermin dari tingkat Capital Adequency Ratio (CAR). 22 . Tabel 3. Sedangkan Bank Ekspor Indonesia (BEI) sesuai dengan Undang-Undang RI Nomor 2 Tahun 2009 telah berubah menjadi Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) yang pembinaan dan pengawasanya berada di bawah Menteri Keuangan.172.91% 3. Isu utama BUMN perbankan adalah adanya PBI No. tingkat penyaluran pinjaman.640 685.03% 14. pertumbuhan aset tersebut diikuti dengan peningkatan pertumbuhan laba bersih rata-rata 26.93% 2. Commercial Banking dan Consumer Banking (Mandiri dan BNI). Kinerja Operasional BUMN Perbankan Periode Tahun 2005-2009 CAR NPL Net Loan/Kredit (Rp Juta) DPK (Rp Juta) 2005 2006 2007 2008 2009 17. Gambaran mengenai data keuangan pokok BUMN Perbankan tersaji dalam Tabel 4 sebagai berikut.2009 pada umumnya meningkat yang antara lain disebabkan Bank BUMN telah berhasil dalam melakukan restrukturisasi.224.162.317.56% 1.499. Peningkatan kinerja tersebut antara lain tercermin dalam peningkatan pencapaian pendapatan dan laba bersih perseroan.593 804. serta Dana Pihak Ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun.1. Masing-masing bank BUMN ini memiliki fokus bisnis yang berbeda yaitu Corporate Banking.565. serta total penyaluran pinjaman dan dana pihak ketiga yang dihimpun oleh 4 BUMN selama periode tahun 2005-2009. Net Non Performing Loan (NPL).989 363.8/16/2006 Tentang Kepemilikan Tunggal (Single Presence Policy) Pada Perbankan Indonesia yang mengharuskan keempat Bank BUMN untuk masuk dalam satu kepemilikan (misalnya holding atau merger).120 487.28% 1.540 292.

969 2007 742. Adapun isu utama BUMN Sektor Asuransi adalah adanya Undang-undang Nomor 40/2004 tanggal 19 Oktober 2004 tentang Sistem Jaminan Nasional (SJSN) yang menetapkan perlu adanya Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Nasional. 2.712 27.427 86.Tabel 4. PT Jamsostek. PT Jasa Raharja. PT Jiwasraya. Gambaran mengenai kinerja operasional tersebut dapat dilihat pada tabel 5 berikut. BUMN Asuransi mampu meningkatkan kinerja operasional yang tercermin dari peningkatan premi/iuran yang dihimpun.602 6.989 92. dan cadangan teknis. dana investasi.557 109.038 97.650 2007 15.362 60. PT ASEI. Investasi. PT Askes.877 10.667 17. PT Taspen dan PT Asabri.263 2006 624.8%.7%. pertumbuhan aset tersebut diikuti dengan peningkatan pertumbuhan laba bersih rata-rata 27.965 79.Sektor Usaha Asuransi Terdapat 10 (sepuluh) BUMN yang bergerak di sektor usaha asuransi. 1 Sumber: Data publikasi diolah 23 . dan Cadangan Teknis BUMN Asuransi Tahun 2005 – 2009 Rp Miliar Premi Investasi Cadangan Teknis 2005 11.118 63. Secara agregat.588 Dalam kurun waktu 5 tahun.2.688 75.484 2008 851. PT Askrindo dan PT RUI.248 71.144 2009 18.943 61.234 59. dengan kemungkinan perubahan bentuk/status hukum BUMN tersebut. PT Jamsostek. Perkembangan Premi. data keuangan pokok BUMN Sektor Asuransi dapat dijelaskan dalam Tabel 6 di bawah ini.116 2008 19. PT Asabri. terjadi pertumbuhan aset yang cukup tinggi.774 68. PT Taspen.484 38. Tabel 5.576 Prognosa 2009 938. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Perbankan Tahun 2005 – 20091 Rp Miliar 2005 563.855 68. yaitu 20. PT Jasindo. Selama periode tahun 2005-2009. Keempat BUMN asuransi yang direncanakan akan dijadikan/ditunjuk sebagai badan penyelenggara jaminan sosial.484 Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih II.380 88.516 2006 12.186 8.088 104.039 13.426 31. adalah PT Askes.054 49.566 45.

728 2006 86. 24 . Sedangkan untuk PT Danareksa.622 3. Selanjutnya PT Kliring Berjangka Indonesia memerlukan dukungan dari instansi terkait untuk kegiatan usaha resi gudang. Sementara itu.Tabel 6. dan PT Kliring Berjangka Indonesia (kliring berjangka dan resi gudang). Masing-masing BUMN Usaha Jasa Keuangan memiliki karakteristik berbeda sehingga isu yang dihadapi juga berbeda-beda. Untuk Perum Pegadaian saat ini dalam proses pemerseroan. perlu dilakukan mengingat PT Danareksa masih memiliki akumulasi kerugian yang cukup besar. Sektor Usaha Jasa Keuangan Terdapat 7 (tujuh) BUMN yang bergerak di sektor usaha jasa keuangan dan 1 (satu) perusahaan minoritas.793 36.291 Prognosa 2009 147.828 12.719 21. Terkait fungsi untuk melakukan restrukturisasi dan revitalisasi BUMN. PT PANN Multi Finance saat ini dalam kondisi ekuitas negatif terkait beban bunga hutang SLA untuk proyek pesawat terbang dan kapal ikan yang merupakan penugasan pemerintah.815 1. Saat ini BUMN yang telah dan sedang dalam program restrukturisasi oleh PT PPA per 31 Desember 2009 adalah 17 BUMN.3. PT PNM (jasa pembiayaan).212 2.455 4.219 9. pengelolaan aset BUMN dan kegiatan investasi.318 2007 105.327 33. 2. Sebagai contoh.5 Triliun pada tahun 2008 dan sebesar Rp 1 Triliun pada tahun 2009. Perum Jamkrindo (penjaminan kredit kecil). Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Asuransi Tahun 2005 – 2009 Rp Miliar 2005 69.341 2.548 Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih II. saat ini sesuai PP 61 tahun 2008 mendapat tambahan tugas untuk melakukan restrukturisasi dan revitalisasi BUMN. PT PPA yang semula hanya mengelola aset eks BPPN.076 18.450 12. investasi dan manajemen investasi). 5 BUMN lain di sektor ini meliputi PT Danareksa (sekuritas. restrukturisasi lanjutan untuk penguatan likuiditas dan permodalan. Perum Pegadaian.690 15. maka PT PPA telah memperoleh PMN sebesar Rp 1.561 6.026 25.606 2008 133. Perum Jamkrindo dan PT PNM terlibat intensif dalam penjaminan dan penyaluran kredit kecil/KUR yang memerlukan perhatian Pemerintah untuk menjaga kelayakan tingkat modal minimal apabila menghadapi kredit bermasalah.

076 5. 2.7% per tahun dan laba bersih 19. Sektor Usaha Jasa Konstruksi BUMN Sektor Usaha Jasa Konstruksi terdiri dari 14 BUMN yang 2 (dua) diantaranya adalah BUMN Terbuka. PT Wijaya Karya. ekuitas dan aset BUMN Jasa Keuangan.107 767 2007 16.198 973 Prognosa 2009 30. PT Nindya Karya.218 4.943 3.1%.661 520 2006 13.963 3.974 1. Secara agregat.423 2.025 3.8% per tahun. serta keterbatasan dalam tenaga ahli. sebagaimana terlihat pada Tabel 7 dibawah ini. Disamping itu terdapat perusahaan konsruksi dimana kepemilikan negara adalah minoritas. PT Waskita Karya. PT Amarta Karya.543 754 2008 22. Periode 2005 – 2009. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Jasa Keuangan Tahun 2005 – 2009 Rp Miliar Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih 2005 11.Dalam 5 tahun terakhir terlihat adanya pertumbuhan laba. 25 . PT PP.380 1. PT Istaka Karya. Isu strategis yang dihadapi BUMN konstruksi antara lain meningkatnya kebutuhan modal kerja yang disebabkan oleh meningkatnya proyek yang diterima dan meningkatnya harga bahan baku yang menimbulkan tingkat hutang tinggi (leverage) sehingga mempengaruhi kinerja perusahaan.6% per tahun. Tabel 7.133 5. PT Brantas Abipraya. yaitu PT Rekayasa Industri. PT Indra Karya. PT Bina Karya.553 7. sedangkan total ekuiti per tahun tumbuh 27.4. persaingan yang ketat dalam mendapatkan proyek baik proyek pemerintah maupun proyek swasta.010 II. dari tahun 2005-2009. ditandai dengan kenaikan beberapa indikator kinerja keuangan utama sebagaimana terlihat dalam Tabel 8 sebagai berikut. kinerja BUMN Sektor Usaha Jasa Konstruksi mengalami trend yang positif. Keempat belas BUMN tersebut adalah PT Adhi Karya. PT Virama Karya dan PT Yodya Karya.711 1. PT Indah Karya. terjadi pertumbuhan aset BUMN Jasa Konstruksi rata-rata 21. PT Hutama Karya.6% per tahun dengan kenaikan laba yang meningkat rata-rata 25. dengan rata-rata pertumbuhan aset 26.

5.159 25. Kecenderungan upaya merger/akuisisi perusahaan-perusahaan farmasi di Indonesia maupun global untuk langkah efisiensi dan pengembangan pasar.482 13.548 1.832 145 2007 3.116 3.083 267 2 Sumber: www.737 19.321 5.557 2.018 4.Tabel 8.843 657 Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih II.pfizer.com dan Laporan Tahunan PT Kalbe Farma 26 . Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Farmasi Tahun 2005 .148 1. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Jasa Konstruksi Tahun 2005-2009 Rp Miliar 2005 10.672 1. Isu-isu strategis yang dihadapi oleh BUMN farmasi meliputi antara lain : a.828 4.274 2.499 1. Persaingan obat-obat kimia dengan obat-obat herbal dengan penitrasi pasar yang cukup tajam dan harga yang relatif lebih kompetitif.384 180 2008 3.607 16.478 254 2006 12.0% dan laba bersih rata-rata 23.163 295 2007 16.240 1.361 417 2008 20. Sektor Usaha Industri Farmasi BUMN Sektor Usaha Farmasi meliputi 3 (tiga) BUMN yang 2 (dua) diantaranya berbentuk Persero Terbuka yang bergerak di bidang farmasi dan obat-obatan (PT Kimia Farma Tbk dan PT Indofarma Tbk) serta 1 (satu) BUMN yang bergerak di bidang produk vaksin yang sahamnya dimiliki 100% oleh Negara RI (PT Bio Farma).342 2. Tabel 9. c. sebagaimana dapat dilihat dalam Tabel 9 di bawah ini. Dalam kaitannya Obat Generik BUMN Farmasi menghadapi masalah impor bahan baku dan harga beli Pemerintah terhadap Obat Generik. Total aset BUMN Farmasi meningkat rata-rata 13. 2.763 29.666 3.989 198 Prognosa 2009 3.2 b.2009 Rp Miliar Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih 2005 2.768 3.0% per tahun dalam kurun waktu 2005-2009.934 118 2006 2.324 512 Prognosa 2009 23.627 2.

513 (94. b.302 554. 2.7.543 (65.261 557.948) Keterangan Total Aktiva Ekuitas Pendapatan/sales Laba/(Rugi) Bersih II. Beban hutang cukup besar dan mengalami kesulitan likuiditas/modal kerja.741 214.221 (158. dll). Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Aneka Industri Tahun 2005 . 1(satu) BUMN Perumahan. Isu-isu strategis yang dihadapi oleh BUMN Kawasan Industri dan Perumahan antara lain adalah persaingan pembangunan perumahan oleh BUMN dengan swasta. Sektor Usaha Aneka Industri BUMN Sektor Aneka Industri meliputi 4 (empat) BUMN yang terdiri dari 2 (dua) BUMN yang bergerak di bidang usaha TPT (Tekstil dan Produk Tekstil) yaitu PT Industri Sandang Nusantara (ISN) dan PT Primissima.168 441.226 45. Kenaikan total aset BUMN sektor Aneka Industri selama periode 2005 – 2009 sangat kecil. Tabel 10. yaitu 4. Perum Perumnas. Gambaran umum kinerja BUMN Aneka Industri 2004-2009 terlihat pada Tabel 10 sebagai berikut. Beberapa isu strategis yang dihadapi oleh BUMN Aneka Industri antara lain : a.944 658. dengan pertumbuhan 27 .210) Rp Juta Prognosa 2009 971.II. dan perlunya sinkronisasi kebijakan/regulasi antara Pusat dengan Daerah (pembebasan lahan/lokasi. Disamping itu terdapat 3 perusahaan dengan kepemilikan negara minoritas.468 119. Selama 5 tahun terakhir.661 (72. PT IGLAS bergerak dalam industri gelas dan PT Garam bergerak dalam industri garam. yaitu hanya 3.117) 2007 778. Alat-alat produksi relatif tua sehingga produktivitas rendah dan biaya perawatan tinggi sehingga mengurangi daya saing.308 47. BUMN sektor Kawasan Industri dan Perumahan mengalami pertumbuhan aset yang cukup signifikan.2009 2005 876.648 (53. namun demikian dalam kurun waktu tersebut BUMN Sektor Aneka Industri belum mampu membukukan laba. perijinan.6. PT KI Makasar. PT KI Wijayakusuma.3%. PT KBN.832) 473. Sektor Usaha Kawasan Industri dan Perumahan BUMN Kawasan Industri dan Perumahan terdiri dari 5 (lima) BUMN Kawasan Industri.432) 2006 804.014) 2008 874. PT PDIP Batam dan PT KI Medan.101 (97. 2.0% per tahun.

28 .8.377 569. Perkembangan kinerja keuangan BUMN Sektor Usaha Sarana Angkutan dan Pariwisata tahun 2004-2009 dapat dilihat dalam Tabel 12 sebagai berikut. 2. PT PELNI.194.965 Prognosa 2009 2. PT Djakarta Lloyd.035 79.056 II.335 66. yang intinya memisahkan antara regulator dan operator sehingga akan berdampak negatif pada kinerja perusahaan pelayaran. PT ASDP.469 (44. yakni PT Garuda Indonesia. BUMN Sektor Perhotelan mengalami kesulitan untuk melakukan pengembangan usaha karena kekurangan modal kerja dan pada umumnya bangunan hotel sudah tua serta mengalami kelebihan jumlah pegawai Aset BUMN sarana angkutan dan pariwisata tumbuh relatif kecil yakni rata-rata 9. 17 Th 2008 tentang pelayaran.033. b. Tabel 11.394 541. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Kawasan Industri dan Perumahan Tahun 2005 – 2009 Rp Juta Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih 2005 1.730 784.543 547. PT BTDC. Isu Strategis BUMN Sarana Angkutan dan Pariwisata meliputi antara lain : a.laba bersih 35. Perum Damri.1%. PT Hotel Indonesia Natour.317 1. Pemberlakuan UU No. PT Kereta Api Indonesia. Perum PPD.9%.862. organisasi dan SDM. terlihat pada Tabel 11 sebagai berikut.794 59. d. PT Merpati Nusantara.035. PT TWCBPB. PT Pelayaran Bahtera Adhiguna.817 795. Sekalipun demikian sampai dengan tahun 2008 BUMN sarana angkutan dan pariwisata masih merugi sekalipun dari tahun ke tahun kerugiannya menurun dan pada tahun 2009 telah memperoleh laba.286 1.286 614. Penyelesaian restrukturisasi perusahaan meliputi restrukturisasi hutang. Kondisi armada angkutan yang sudah tua yang menggangu tingkat kenyamanan dan keselamatan penumpang.642 69.540) 2008 1. sedangkan pendapatan usaha tumbuh lebih baik yaitu 11.844.319 2006 1.975.479 2007 1. c. Gambaran umum kinerja BUMN Sektor Usaha Kawasan Industri dan Perumahan tahun 2005–2009.882. Sektor Usaha Sarana Angkutan dan Pariwisata BUMN yang bergerak di sektor usaha sarana angkutan dan pariwisata terdiri dari 9 (sembilan) BUMN Sarana Angkutan dan 3 (tiga) BUMN Pariwisata.827 977.744 992.9% per tahun.

881 (67.458 6.455.342 (259.156. Sektor Usaha Prasarana Angkutan BUMN Sektor Prasarana Angkutan terdiri dari 4 (empat) BUMN Kepelabuhanan.534.857 8.595 10.119.955 3. PT Jasa Marga.117.430. PT Angkasa Pura I & II.928) 2007 26.357 31.220.838.771.845 20.167.669. PT Pelindo I – IV dan 2 (dua) BUMN Kebandarudaraan.756.224.818.218 23. maka akan ada pemisahan antara operator dan regulator yang akan diatur oleh Badan Otoritas Pelabuhan b.168.565 (1.797 1.510 20.345 11.750 2. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Prasarana Angkutan Tahun 2005-2009 Rp Juta 2005 29.421.236.745.220 2.285.672 30.544. Total aset BUMN sektor Usaha Prasarana Angkutan tumbuh 13.094.558.Tabel 12.984 2007 39.700) 2008 29.976. jasa pendaratan dan segmen usaha non aeronautika. Tabel 13.753 2008 44.756.508 2006 31.915.2% dengan pertumbuhan laba bersih mencapai 14.061 33.330 14.524.930 8.1 th 2009 tentang penerbangan serta antisipasi pemisahan Air Traffic Services (ATS).9.200 (641.170. PT Rukindo.269) Prognosa 2009 30. maka investasi untuk segmen usaha ATS dibatasi untuk investasi yang sangat prioritas.1% per tahun. 1 (satu) BUMN Pengerukan.900.078.881 Prognosa 2009 48.403 8.581.189) 2006 22. dan 1 (satu) BUMN Operator Jalan Tol. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Sarana Angkutan dan Pariwisata Tahun 2005-2009 Rp Juta 2005 20.381 Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih II.925.591 29.136 18. Investasi difokuskan kepada segmen usaha jasa layanan penumpang.885.773.957. Pemberlakuan Undang-undang No.916 2. Perkembangan kinerja BUMN Sektor Prasarana Angkutan dapat dilihat dalam Tabel 13 sebagai berikut.883 27.905. Pemberlakuan UU No 17 tahun 2008 tentang Pelayaran. 2.157.259 11.157 13.546 9.367 Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih 29 .706 3.156.946 19. Isu strategis yang dihadapi oleh BUMN Sektor Usaha Prasarana Angkutan antara lain : a.

BUMN sektor pergudangan terkendala dengan keterbatasan pendanaan untuk ekspansi usaha dan terkait erat dengan regulasi Pemda dan laju pengembangan daerah setempat c.168) Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih 30 . Pergudangan.687 2007 22.10.051. PT Biro Klarifikasi Indonesia dan PT Survey Udara Penas.622 7.702.687 13. Sektor Usaha Logistik dan Jasa Sertifikasi Terdapat 10 (sepuluh) BUMN yang bergerak di Sektor Perdagangan. Kinerja BUMN sektor perdagangan.243. maka masalah cross ownership diantara keduanya perlu diseleisaikan. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Logistik dan Jasa Sertifikasi Tahun 2005–2009 Rp Juta 2005 19.421.II. khususnya jasa pengiriman kalah bersaing dengan perusahaan swasta. dan Jasa Sertifikasi. meliputi PT Perusahaan Perdagangan Indonesia.581. Hal ini ditunjukkan dengan rata-rata pertumbuhan pendapatan mencapai 20. Pergudangan. distribusi dan jasa sertifikasi.885 63.124 14. d.575 (28. kinerja keuangannya sangat buruk dan mengalami kesulitan likuiditas.692 4. pergudangan. PT Varuna Tirta Prakasya. pergudangan. PT Sucofindo.966. PT Sarinah.631 28.245 (493. Tabel 14.730.766. Di samping tingkat kompetisi di sektor perdagangan dan masalah internal antara lain keuangan dan operasional.243 5.164.619 201.967 153. dalam 5 tahun terakhir relatif berfluktuasi dengan kecenderungan tumbuh. Saat ini pemisahan biaya antara PSO dan non PSO belum dapat dilaksanakan. Beban PSO yang ditanggung PT Pos tidak seimbang dengan dana kompensasi PSO dari Pemerintah.864 Prognosa 2009 24.397. PT Pos Indonesia.569.061.019 2008 24. dan Jasa Sertifikasi antara lain : a. Khusus PT Survey Udara. Perkembangan kinerja BUMN sektor perdagangan.791 23. Distribusi.020. Untuk sektor Jasa Penilai di samping PT Sucofindo dan PT Surveyor Indonesia perlu bersaing dengan swasta. Isu strategis yang dihadapi BUMN Sektor Perdagangan. PT Surveyor Indonesia. Perusahaan ini tidak dapat bersaing dan memiliki alat produksi yang sudah tua. PT Banda Ghara Reksa.6% dan aset tumbuh rata-rata 7. klien yang cukup banyak dan SDM yang kompeten b.672) 2006 17. Kinerja BUMN Perdagangan kurang optimal.292 7.184 7. distribusi dan jasa sertifikasi 2005–2009 mengalami pertumbuhan yang baik sebagaimana terlihat pada Tabel 14 sebagai berikut. namun BUMN Perdagangan memiliki beberapa kelebihan berupa jaringan pemasaran yang cukup luas.438.1%. PT PP Berdikari. Bisnis utama PT Pos Indonesia.055.082 16. 2. Distribusi. e.

400 II.d. Isu strategis yang dihadapi BUMN Sektor Perkebunan antara lain: a. b.d. XIV) & PT RNI.12. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Perkebunan Tahun 2005-2009 Rp Juta Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih 2005 21.6% per tahun. V dan Perum Perhutani. Keterbatasan areal lahan yang dikuasai PT Inhutani I-V. Isu strategis yang dihadapi BUMN Sektor Kehutanan antara lain: a.148.9%. Adapun perkembangan kinerja BUMN Sektor Perkebunan dari tahun 2005. terjadi pula peningkatan laba bersih rata-rata 26.544 20.560 1.124. e. untuk itu perlu dilakukan holding. Oleh 31 .2009 dapat dilihat pada Tabel 15.263 7.230 7. Produk dan produktivitas perkebunan pada umumnya rendah karena umur tanaman yang sudah tua dan komposisi tanaman tidak ideal. akibat adanya pencabutan areal kerja yang dikelola oleh Departemen Kehutanan pada awal tahun 2000-an.684 1.507 2006 24. sedangkan ekuitas meningkat rata-rata 16.024.688.221.817.074 2.790 9. Kemampuan untuk membiayai investasi rendah karena kemampuan leverage secara sendiri-sendiri sangat rendah. 2.947.II. b.789 33.338.236. Sektor Usaha Kehutanan BUMN Sektor Kehutanan terdiri atas 6 (enam) BUMN yaitu PT Inhutani I s.288. Kemampuan dan kualifikasi SDM belum memenuhi standardisasi.934 33.003.532 2.335 Prognosa 2009 37. Keterbatasan modal kerja. c.686. Sebagian usia fasilitas pabrik sudah tua. d.193 27.803. 2.7%. investasi pada usaha kehutanan memerlukan time period yang cukup lama yaitu sampai dengan 7-8 tahun untuk dapat menikmati hasilnya.420 1.392.328.11.838 13.547 2007 29. Kemampuan leverage secara umum rendah sehingga perlu dilakukan holding.929. Tabel 15.283 12. Sektor Usaha Perkebunan BUMN Sektor Perkebunan terdiri dari 14 PT Perkebunan Nusantara (PTPN I s.212. Dengan pertumbuhan aset selama periode 2005 – 2009 ratarata sebesar 14.915.708.774 2008 34.474. Hal tersebut timbul karena keterlambatan replanting.783 21.

055.732 2.597 37.839 118. Isu strategis yang dihadapi BUMN Sektor Perikanan antara lain : a.934. Pasar kayu HTI terbatas pada industri kertas dalam negeri. 2.894. Tabel Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Kehutanan Tahun 2005-2009 Rp Juta Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih 2005 2.404 2.451 1.746.352.601 1. Perkembangan kinerja keuangan BUMN Sektor Usaha Kehutanan tahun 20052009 terlihat dalam Tabel 16 sebagai berikut.510 1. Jumlah dan umur armada serta modal kerja masih menjadi hambatan untuk kelancaran operasi. Kondisi keuangan perusahaan sangat buruk dengan ekuitas negatif.054. pendapatan tumbuh 12. Kinerja keuangan BUMN kehutanan cenderung membaik dalam 5 tahun terakhir. Perusahaan beroperasi belum normal sebagai dampak peleburan BUMN PT Tirta Raya Mina.487 2008 2. Peralatan industri milik PT Inhutani yang sudah tidak sesuai lagi dengan produksi hasil hutan saat ini.031 45.490 41. aset belum tumbuh secara optimal karena hanya tumbuh 0.9%.530. e. PT Usaha Mina.760 103.671 2. Hal ini ditunjukkan dengan pertumbuhan laba bersih rata-rata 48.sebab itu dunia perbankan sampai dengan saat ini belum ada yang mau menyalurkan modalnya di usaha kehutanan. Tabel 16.712. Sektor Usaha Perikanan Terdapat 2 (dua) BUMN yang bergerak di sektor usaha perikanan yaitu Perum Prasarana Perikanan Samudra (PPS) dan PT Perikanan Nusantara.9%.652.379 1. 32 . d.13.681.736 II. c. dan PT Perikani. c. karena desain awal industri ditujukan untuk produk kayu alam. Kondisi perusahaan secara keseluruhan kurang baik.131 Prognosa 2009 2.104 2006 2.814. sehingga diperlukan penanganan khusus dari BUMN pengelola hutan.9%. Banyak aktiva perusahaan yang tidak produktif.587.810 2.603. Paska penggabungan perusahaan perikanan belum beroperasi dengan baik b.187 2.043 2007 2.087 1. Sekalipun demikian.660.1% sedangkan ekuitas mengalami pertumbuhan negatif sebesar 1.904. Kondisi sosial lingkungan wilayah hutan yang belum mendukung sepenuhnya keamanan dan kelestarian hutan.

294 (253) Prognosa 2009 202. Isu strategis yang dihadapi BUMN Sektor Kertas. Aset mengalami pertumbuhan rata-rata 6. Pemerintah telah mencabut hak ekslusif pada BUMN untuk mencetak dan mengedarkan buku pelajaran sehingga saat ini sektor percetakan dan penerbitan bersifat kompetitif.5%.1% meskipun masih menderita ekuitas negatif. Perkembangan kinerja keuangan BUMN Sektor Usaha Perikanan terlihat sebagaimana dalam Tabel 17 sebagai berikut.224) 156. PT Kertas Kraft Aceh. Perum Peruri.955) 2007 197. 2.263) Keuangan BUMN Sektor Usaha Perikanan Rp Juta Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih 2006 147.463) 98.8% sedangkan laba bersih cenderung berfluktuasi. Skala usaha yang relatif sangat kecil dan eksistensi BUMN Percetakan dan penerbitan Kinerja BUMN Kertas. BUMN Sektor Usaha Kertas.472 (1.223 II. dan kesulitan memperoleh pasokan gas b. Percetakan dan Penerbitan antara lain : a. struktur permodalan kurang sehat. sedangkan BUMN kertas memiliki mesin yang sudah tua dan kesulitan bahan baku serta permodalan c.457) 123. PT Kertas Leces dan 4 (empat) BUMN Percetakan dan Penerbitan. 33 .459 (15. Perum PNRI.563 2.232 (11. pendapatan mengalami pertumbuhan 10. Hal ini ditunjukkan dengan pertumbuhan aset mencapai 20.037) 103.112 (21.592 72.14. mesin sudah cukup tua sehingga beban pemeliharaan tinggi . Industri kertas sudah sangat kompetitif. ekuitas negatif karena mengalami rugi terus-menerus. Sektor kompetitif dan daya saing sangat rendah karena . d. PT Balai Pustaka. Percetakan dan Penerbitandalam 5 tahun terakhir berfluktuasi.613 (77.Kinerja BUMN perikanan masih memprihatinkan meskipun terdapat perkembangan positif dalam beberapa aspek.116 (22.304 82. Percetakan dan Penerbitan BUMN Sektor Usaha Kertas. PT Pradya Paramita. Perkembangan Kinerja Tahun 2005-2009 2005 102.907) 2008 198. Percetakan dan Penerbitan terdiri dari 2 (dua) BUMN Kertas. Tabel 17.204 (16.

sehingga Bulog mengalami kerugian. Untuk Perum Jasa Tirta I & II.581.045 294.653) 2007 3. Terdapat kekurang”fair”an SK penetapan HPB oleh Menkeu. Isu strategis yang dihadapi BUMN Sektor Penunjang Pertanian antara lain: a.863. Akibatnya umur ekonomis dari sarana/prasarana tersebut semakin pendek dan sering terjadi banjir. Tabel 18. HPB yang ditetapkan Pemerintah lebih rendah dari total biaya yang dikeluarkan oleh Bulog.071 2. Seyogianya kekurangan tersebut selayaknya diganti Pemerintah selaku pemberi tugas. d.927 241.717. Sektor Usaha Penunjang Pertanian BUMN Sektor Usaha Penunjang Pertanian terdiri dari 1 (satu) BUMN Pupuk.771 1. dan Perum Bulog. Apabila subsidi benih dihilangkan maka BUMN bisa merugi.565) 2006 3. PT SHS dan PT Pertani. tarif jasa air yang ditetapkan Pemerintah (Menteri PU) masih dibawah tingkat keekonomiannya (tidak ekonomis) sehingga perusahaan tidak memperoleh dana yang cukup (dari pendapatan jasa air) untuk membiayai pemeliharaan prasarana/sarana yang dikelola sehingga seperti pengerukan sedimentasi bendungan. maka kelebihannya harus disetor ke kas Negara. 2 (dua) BUMN Perbenihan.728 1.628 (110. b. Untuk BUMN Pupuk.694 616.818.518 (145.743.289 2008 3. 34 . kekurangannya menjadi kerugian Bulog. penetapan harga pembelian beras (HPB) oleh Pemerintah untuk kebutuhan raskin ditetapkan berdasarkan besarnya dana subsidi raskin yang ditetapkan dalam APBN dan bukan atas dasar kalkulasi biaya yang dikeluarkan untuk pengadaan dan penyaluran raskin.Perkembangan kinerja keuangan BUMN Sektor Usaha Kertas. Percetakan dan Penerbitan dapat dilihat dalam Tabel 18 sebagai berikut.568 47. Untuk BUMN Perbenihan. PT PUSRI.482.367 347.871 492.130. Untuk Perum Bulog.578.862. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Percetakan dan Penerbitan Rp Juta 2005 2. 2. usia pabrik sudah tua serta kurangnya pasokan gas.222 (16.163 2.15.319) Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih II. Sedangkan apabila HPB lebeih rendah. c.964. yakni apabila HPB lebih tinggi dari biaya yang dikeluarkan. 2 (dua) BUMN Pengairan.406 (123. PT Jasa Tirta I & II.929 2. sangat tergantung pada adanya subsidi benih.344) Prognosa 2009 3. pemeliharaan saluran irigasi dan daerah aliran sungai (DAS).

BUMN sektor Pertambangan dan Semen dapat meningkatkan total aset dengan rata-rata pertumbuhan 13. Perkembangan kinerja keuangan BUMN Sektor Usaha Penunjang Pertanian terlihat sebagaimana dalam Tabel 19 sebagai berikut.184.835 Prognosa 2009 32.074 9.399 11.337 868. PT BB Bukit Asam. 2.049.6% per tahun.529.956 II. Pertumbuhan tersebut diikuti dengan peningkatan ekuitas rata-rata 22. yaitu 38.730 39.136 2006 21.942 8.553.073. Perkembangan kinerja keuangan BUMN Sektor Pertambangan dan Semen dapat dilihat pada Tabel 20 sebagai berikut.732 39. PT Timah.837 2. PT Aneka Tambang.568. Tabel 19.9% per tahun.934 15. Sedangkan isu strategis yang dihadapi BUMN Semen adalah optimalisasasi holding BUMN Semen (PT Semen Gresik Group Tbk) dengan melakukan pemisahan aset (spin off) PT Semen Gresik Tbk dan pengembangan usaha PT Semen Baturaja guna meningkatkan kapasitas produksi.379 1. Diantara isu strategis BUMN Pertambangan adalah rencana pembentukan BUMN Pertambangan yang terintegrasi (IRC) melalui pembentukan Holding Company guna meningkatkan skala ekonomis.994.9% per tahun.806 2008 33.473. PT Semen Gresik.255 17.122 24.3% yang diikuti dengan pertumbuhan laba bersih 28.16.935 2007 24.148.Selama periode 2005 – 2009 BUMN sektor Usaha Penunjang Pertanian mengalami pertumbuhan aset sebesar 13.719.586.098.9% per tahun dengan pertumbuhan laba bersih yang cukup tinggi. 35 .224. Sektor Usaha Pertambangan dan Semen BUMN Sektor Usaha Pertambangan dan Semen terdiri dari 7 BUMN yaitu 4 (empat) BUMN Sektor Pertambangan.962 897. Pada periode 2005 – 2009.701 12.296. dan 3 (tiga) BUMN Semen.297. leverage dan nilai perusahaan yang sampai saat ini masih dalam tahap pembahasan.581 2. PT Semen Baturaja dan PT Semen Kupang.601. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Penunjang Pertanian Tahun 2005-2009 Rp Juta Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih 2005 20.646.126.299 17. PT Sarana Karya.

Tabel 20.

Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Pertambangan dan Semen Tahun 2005-2009 Rp Juta
2005 197.834.182 81.918.469 329.958.353 9.069.349 2006 225.610.789 134.420.344 371.854.949 22.081.547 2007 279.771.590 161.505.091 420.952.937 33.186.800 2008 321.841.157 169.361.679 585.867.650 35.566.054 Prognosa 2009 329.413.225 171.453.926 374.807.089 19.496.734

Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih

II. 2.17. Sektor Usaha Industri Strategis BUMN sektor usaha Industri Strategis terdiri dari 2 (dua) BUMN Industri Pertahanan, PT Dahana dan PT Pindad, 3 (tiga) BUMN Baja dan Konstruksi Baja, PT Krakatau Steel, PT Boma Bisma Indra, PT Barata Indonesia, 1 (satu) BUMN Industri Kereta Api, PT INKA, 1 (satu) BUMN Kedirgantaraan, PT Dirgantara Indonesia dan 4 (empat) BUMN Dok Perkapalan, PT Dok Kodja Bahari, PT Dok & Perkapalan Surabaya, PT PAL Indonesia, PT Indusri Kapal Indonesia. Isu-isu strategis yang dihadpi oleh BUMN Sektor Usaha Industri Strategis adalah : a. b. c. d. e. Keterbatasan pendanaan, sehingga pengembangan usaha berjalan sangat lambat. Tingginya ketergantungan kepada bahan baku impor. Skala usaha dan kapasitas produksi yang masih rendah, sehingga belum efisiensi yang berdampak pada lemahnya daya saing. Prasarana dan saran produksi yang relatif telah berusia tua dan ketinggalan teknologi yang memerlukan dana cukup besar untuk revitalisasi dan alih teknologi. Kondisi keuangan perusahaan yang sudah mengkhawatirkan, sehingga menyulitkan untuk akses ke sumber pendanaan dan untuk mendapatkan order pekerjaan (PT Barata Indonesia, PT Boma Bisma Indra, PT Dirgantara Indonesia, PT PAL Indonesia, PT Dok dan Perkapalan Kodja Bahari, PT Industri Kapal Indonesia). Perkembangan kinerja BUMN Sektor Industri Strategis dari tahun 2005-2009 terlihat dalam Tabel 21. Pada periode 2005 – 2009, BUMN sektor Usaha Industri Strategis dapat meningkatkan total aset dengan rata-rata pertumbuhan 9,3% per tahun, yang juga diikuti dengan pertumbuhan ekuitas rata-rata 15,8% per tahun. Pada tahun 2006 dan 2007 BUMN Sektor Industri Strategis masih mengalami kerugian, namun pada 2 tahun terakhir sudah mampu membukukan laba.

36

Tabel 21.

Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Industri Strategis Tahun 2005-2009 Rp Juta
2005 15.982.193 3.566.036 15.062.416 228.707 2006 18.305.011 4.404.781 15.780.303 (237.971) 2007 19.790.843 4.364.670 18.638.017 (181.194) 2008 24.724.658 4.646.064 25.398.892 373.554 Prognosa 2009 22.169.961 4.823.251 21.274.755 400.863

Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih

II. 2.18. Sektor Usaha Energi dan Sumber Daya Alam BUMN Sektor Usaha Energi terdiri dari 5 (lima) BUMN, PT PLN, PT Pertamina, PT PGN, PT Batan Teknologi dan PT EMI. Dengan pertumbuhan aset selama periode 2005 – 2009 rata-rata mencapai sebesar 12,4% per tahun, sedangkan ekuitas meningkat rata-rata sebesar 1,0 %. Isu-isu strategis yang dihadapi oleh BUMN sektor usaha energi antara lain : a. Produk yang dihasilkan berhubungan dengan hayat hidup orang banyak (mengemban tugas Public Service Obligation/PSO), sehingga penetapan harga/tarif masih diatur oleh Pemerintah. b. Perlunya dilakukan restrukturisasi secara menyeluruh (PT Pertamina, PT Perusahaan Listrik Negara), baik organisasi maupun usaha, termasuk anak-anak perusahaan agar operasional perusahaan lebih efisien dan efektif. c. Investasi untuk pembangunan pembangkit listrik baru (PT Perusahaan Listrik Negara) membutuhkan waktu dan dana yang sangat besar, sehingga kebutuhan masyarakat terhadap listrik belum terpenuhi sebagaimana harapan. Adapun perkembangan kinerja keuangan BUMN Sektor Usaha Energi adalah sebagaimana Tabel 22 sebagai berikut.
Tabel 22. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Energi Tahun 2005-2009 Rp Juta
2005 236.310.016 146.049.529 85.011.144 (3.588.986) 2006 266.199.786 147.756.069 114.944.477 452.330 2007 297.965.615 145.186.024 127.013.989 (3.758.415) 2008 322.428.217 138.119.760 184,268,485 (9.962.804) Prognosa 2009 376.484.955 151.239.966 166.361.897 13.040.486

Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih

37

II.

2.19.

Sektor

Usaha

Telekomunikasi,

Media

dan

Industri

Penunjang

Telekomunikasi BUMN yang bergerak di sektor usaha telekomunikasi terdiri dari 5 (lima) BUMN, PT Telkom, PT INTI, PT LEN Industri, Perum LKBN Antara, Perum Perusahaan Film Negara. Perkembangan kinerja keuangan BUMN Sektor Usaha Telekomunikasi adalah sebagaimana Tabel 22. Isu strategis yang dihadapi oleh BUMN sektor usaha telekomunikasi antara lain : a. b. Saat ini terdapat 10 perusahaan operator telepon seluler di Indonesia yang berdampak pada perang tarif dan tingkat persaingan yang sangat ketat. Untuk pengembangan infrastruktur dan layanan telekomunikasi dibutuhkan dana yang sangat besar, sementara dengan ketatnya persaingan menuntut setiap operatoe untuk melakukan efisiensi secara ketat. Kepemilikan asing dalam industri telekomunikasi terkait dengan masalah naionalisme dan karena telekomunikasi termasuk industry yang menguasai hayat hidup orang banyak. Ketatnya persaingan dan banyaknya alat-alat komunikasi yang masuk ke Indonesia dari luar negeri, mengancam keberadaan perusahaan industri peralatan telekomunikasi Indonesia (PT Industri Telekomunikasi Indonesia). Pada periode 2005 – 2009, BUMN sektor Usaha Industri Strategis dapat meningkatkan total aset dengan rata-rata pertumbuhan 11,3% per tahun dengan pertumbuhan laba bersih yang cukup tinggi, yaitu 6,2% per tahun. Pertumbuhan tersebut diikuti dengan peningkatan ekuitas rata-rata 12,6% per tahun.
Tabel 22. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Telekomunikasi Tahun 2005-2009 Rp Juta
2005 63.176.678 23.871.848 42.528.270 8.012.347 2006 76.301.596 28.651.835 52.220.931 11.017.141 2007 83.230.795 34.276.989 60.496.862 12.854.898 2008 92.500.325 34.847.399 62.020.947 10.623.901 Prognosa 2009 96.378.922 38.092.656 48.617.237 9.324.478

c.

d.

Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih

II. .3. Penerapan Tata Kelola Perusahaan Yang Baik (GCG) Dalam melaksanakan tugas dan fungsi perencanaan dan evaluasi penerapan tata kelola perusahaan yang baik (GCG) di BUMN, Kementerian BUMN telah melakukan halhal sebagai berikut :

38

II.3. Kegiatan monitoring GCG dalam rangka fungsi pembinaan dan pengawasan kepada BUMN .1 s. 3.91%.11 5. baik 31. Re-assessment GCG ditujukan kepada BUMN yang memenuhi kriteria. yakni 48. b.2. Hal ini berarti. Assessment GCG Pelaksanaan assessment GCG sampai akhir tahun 2009 mencapai 109 BUMN dari 141 BUMN.50 8.14%. 3. Kualitas penerapan GCG dapat dikelompokkan ke dalam 5 kategori/tingkatan capaian aktual penerapan GCG. secara umum penerapan GCG pada BUMN masih perlu peningkatan dalam kualitas penerapan prinsip-prinsip GCG-nya. Untuk terus mendorong penerapan prinsip-prinsip GCG di BUMN serta untuk menyesuaikan dengan best practice penerapan GCG dalam dunia usaha.d.a. dari “sangat baik” sampai dengan “sangat kurang” sebagaimana terlihat pada Tabel 23 sebagai berikut. Re-Assessment GCG Re-assessment perlu dilakukan untuk mengetahui perkembangan pelaksanaan GCG pada BUMN yang masih dianggap perlu peningkatan. II. II. Tabel 23.1.13 32.95%. yaitu telah melaksanakan Program Assessment 39 .d.8). Dari jumlah 32 BUMN yang tersisa tersebut diharapkan dapat diselesaikan pada tahun 2010.3. 31 Des 2008 30 46 9 9 94 sd 31 Des 2009 59 35 6 9 109 0 % 1 2 3 4 5 Jumlah 54.26 100.00 Tabel di atas menunjukkan skor hasil assessment GCG murni sebagian besar dalam kategori cukup. maka telah dilakukan upaya-upaya yang lebih intensif terhadap implementasi GCG di BUMN (dengan hasil kegiatan sebagaimana dikemukan di butir II. sedangkan yang berkategori kurang secara kumulatif sebanyak 19. Hasil Asessment GCG pada BUMN Sampai Tahun 2009 Jumlah BUMN Grade / Tingkat Predikat Range Score sd 31 Des 2007 Sangat baik Baik Cukup Kurang Sangat Kurang 90 < X < 100 75 < X < 90 60 < X < 75 50 < X < 60 X < 50 0 < X < 100 29 44 9 9 91 s. sehingga masih tersisa 32 BUMN yang belum dilakukan assessment.

PT Bhanda Ghara Reksa. sedangkan terjadi penurunan skor GCG pada 1 BUMN. PT Asuransi Jasa Raharja. yaitu BUMN tersebut telah melaksanakan assessment GCG tahun 2005 dan sebelumnya. dan Assessment-nya dilakukan dalam 2 tahun terakhir (2007-2008). Sedangkan sebanyak 7 BUMN lainnya masih dalam proses pelaksanaan oleh assessor. terdapat 27 BUMN yang melakukan self assessment GCG dan hasilnya telah dilaporkan kepada Kementerian BUMN.GCG. sebanyak 24 BUMN mengalami peningkatan kualitas dalam penerapan prinsip-prinsip GCG-nya.3. Sampai dengan tahun 2008. Pelaksanaan self assessment oleh BUMN telah memicu perbaikan signifikan dalam penerapan GCG di BUMN. Upaya perbaikan terutama pada aspek kebijakan GCG dan pelaksanaan GCG di Direksi dan Dewan Komisaris. 3. Sampai dengan tahun 2009 jumlah BUMN yang telah direview berjumlah 47 BUMN. 40 . perolehan skor GCG-nya rendah (70<). dan perolehan skor di atas 70. namun penurunan skor tersebut tidak menurunkan kategori penilaian sebelumnya (kategorinya tetap “Baik”). Karena penerapan GCG dijadikan indikator kinerja utama dalam penilaian kinerja BUMN (Key Performance Indicator). Hasil-hasil program assessment GCG kualitas diharapkan dapat ditindaklanjuti secara konsekuen oleh BUMN. Hal tersebut ditunjukkan dengan peningkatan skor GCG hasil self assessment dibandingkan dengan skor hasil assessment GCG murni sebelumnya.4. II. Dari 25 BUMN yang melaksanakan self assessment secara mandiri. Review Tindak Lanjut Hasil Assesment GCG Review dilakukan terhadap BUMN yang memenuhi kriteria. 3. Self Assessment GCG (Mandiri) Sampai dengan tahun 2009. 5 BUMN yang telah melakukan reassessment tersebut berhasil melaksanakan langkah-langkah perbaikan yang signifikan sehingga kualitas penerapan GCG mengalami peningkatan dibandingkan dengan hasil assessment sebelumnya. yaitu PT Sarinah. II. sebanyak 5 BUMN telah menyelesaikan reassessment GCG. Program assessment GCG yang dicanangkan oleh Kementerian BUMN telah meningkatkan perbaikan kualitas penerapan prinsip-prinsip GCG pada BUMN. dan Perum Bulog dan PT Asuransi Jasa Indonesia.

BUMN yang telah menyerahkan jawaban kuesioner sebanyak 21 BUMN. Pelatihan Risk Management dan Internal Control System Tujuan pelatihan risk management dan internal control system adalah untuk memberikan pemahaman atas penerapan program risk management dan internal control system sebagai satu kesatuan program yang terintegrasi dengan pelaksanaan GCG di BUMN. Sampai dengan saat ini. 3. Evaluasi atas internal control terdiri dari “point of focus” dan penjelasan/komentar.II. 3. II. Evaluation Tools atas Internal Control dan Risk Management Tim Koordinasi dan Monitoring GCG melakukan kajian atas evaluation tools atas internal control (COSO Framework) yang terdiri dari 5 (lima) alat evaluasi.8. sebagai berikut: 41 . 3. II. sesuai dengan 5 (lima) komponen internal control dan contoh pengisian dalam evaluation tools tersebut. Pengkajian Penyempurnaan Evaluation Tools Penerapan GCG Sejak tahun 2001 sampai dengan tahun 2008 ini.5. Monitoring GCG melalui Kuesioner Tim Koordinasi dan Monitoring GCG telah menyebarkan kuesioner untuk pengumpulan data penerapan GCG pada 50 BUMN. Tidak seluruh Point of Focus ini relevan dengan setiap entitas. (3) key risk indicators sebagai early warning system bagi korporasi. 3.6. dan mencatat komentar-komentar yang relevan. kriteria assessment penerapan GCG di lingkungan BUMN telah mengalami perkembangan dan perubahan sebagai konsekuensi perkembangan praktik GCG yang dinamis. Hasil monitoring penerapan GCG melalui kuesioner tersebut akan diolah untuk memberikan informasi mengenai penerapan GCG pada BUMN tersebut. Materi pelatihan meliputi : (1) konsep. serta hal-hal yang dapat dijadikan bahan pembelajaran bagi BUMN lainnya. (2) kerangka kerja internal manajemen risiko korporasi dari sudut pandang COSO. II. prinsip dan nilai ekonomis manajemen risiko korporasi dan keterkaitan dengan GCG dan internal audit. Point of Focus merepresentasikan isu-isu yang relevan dengan masing-masing komponen pengendalian internal yang dievaluasi. Penjelasan/komentar disediakan untuk mencatat suatu penjelasan bagaimana masalah-masalah yang ditekankan dalam point of focus diterapkan pada entitas yang dinilai.7. dan (4) pembelajaran melalui studi kasus. Perkembangan kriteria penilaian GCG dilakukan sejalan dengan Program Assessment GCG Kementerian Negara BUMN.

a. Scorecard Penilaian GCG 224 parameter merupakan kriteria assessment yang pertama kali dan digunakan sebagai kriteria assessment GCG pada 16 BUMN pada tahun 2001. b. Sejalan dengan terbitnya Keputusan Menteri BUMN Nomor :KEP-117/MBU/2002 tentang Penerapan GCG pada BUMN, Scorecard Penilaian 224 parameter mengalami pengembangan kriteria menjadi 256 parameter (Scorecard Penilaian 256 parameter). Pengembangan kriteria tersebut pada tahun 2002 khususnya terkait dengan materi mengenai Komite di tingkat Dewan Komisaris. c. Selanjutnya pada tahun 2004, Kementerian Negara BUMN menerbitkan kriteria assessment penerapan GCG sebagai hasil ADB Project. Kriteria assessment GCG ADB Project terdiri atas 81 parameter dengan menggunakan kuesioner. d. Penyempurnaan Scorecard Penilaian GCG 256 parameter. Pada tahun 2006, Kementerian Negara BUMN dan BPKP menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) Nomor: MOU-03/MBU/2006 –MOUKerjasama Percepatan

199/K/D5/2006 tanggal 14 Februari 2006 tentang

Pemberantasan Korupsi Dan Penerapan Tata Kelola Perusahaan Yang Baik Di Lingkungan Badan Usaha Milik Negara. Kerjasama tersebut merupakan upaya kedua belah pihak agar peningkatan kualitas penerapan GCG melalui program assessment GCG dan revieu tindak lanjut hasil asessment GCG dilakukan secara

berkesinambungan. Tekad Kementerian BUMN untuk memiliki standar penilaian GCG disambut oleh BPKP dengan memberikan masukan penyempurnaan scorecard Penilaian GCG 256 parameter melalui: Re-klasifikasi parameter sesuai tanggung jawab dan wewenang Organ BUMN dan aspek penilaian berdasarkan TOR Kementerian BUMN, dan mengeliminasi duplikasi/pengulangan parameter yang secara subtantif menjadi tanggung jawab dominan pada salah satu Organ BUMN. Perbaikan teknik pembobotan aspek penilaian GCG, indikator dan parameter penilaian GCG yang dilakukan dengan menilai tingkat pengaruh parameter terhadap indikator dan tingkat pengaruh indikator terhadap aspek-aspek penilaian GCG. Langkah-langkah penyempurnaan tersebut menghasilkan Scorecard Penailaian GCG 160 parameter yang dicakup dalam 50 indikator dan 5 aspek penilaian GCG. Reklasifikasi, eliminasi dan perbaikan teknik pembobotan membawa dampak positif terhadap penilaian yang tidak lagi redundency. Scorecard Penilaian GCG 160 42

parameter tersebut disepakati oleh Kementerian BUMN cq Staf Ahli Bidang Tata Kelola Perusahaan dan BPKP sesuai Kesepakatan Bersama tanggal 19 Oktober 2006, sebagai metodologi assessment penerapan GCG di lingkungan BUMN yang dilakukan oleh BPKP. Scorecard Penilaian GCG 160 parameter ditetapkan sebagai standar penilaian GCG di lingkungan BUMN sesuai surat Sekretaris Kementerian Negara BUMN Nomor :S-168/MBU/2008 tanggal 27 Juni 2008 tentang Assessment Program GCG di BUMN, dan dengan disampaikannya surat tersebut kepada BUMN maka surat Sekretaris Kementerian Negara BUMN Nomor :S-612/S.MBU/2005 tanggal 19 Oktober 2005 dinyatakan tidak berlaku. II. 3.9. Penyusunan Kriteria Penilaian GCG Tingkat Lanjutan Kriteria penilaian GCG di lingkungan BUMN dengan Scorecard Penilaian GCG 160 parameter disadari merupakan penilaian pada tahap pembentukan infrastruktur GCG dan pelaksanaan internalisasi, sehingga lebih menitikberatkan pada aspek kelengkapan infrastruktur GCG dan aspek kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan. Selama pelaksanaan monitoring pelaksanaan assesssment GCG tahun-tahun sebelumnya (sejak tahun 2006), tanggapan dan masukan mengenai parameter penilaian GCG telah diperoleh baik dari Konsultan maupun dari pihak BUMN. Tanggapan dan masukan tersebut selanjutnya akan dibahas Tim Koordinasi dan Monitoring dan jika diperlukan diteruskan kepada BPKP sebagai bahan kajian perbaikan parameter penilaian GCG. Selanjutnya perlu tahapan yang lebih tinggi yakni tahap lanjutan dalam penilaian penerapan GCG dengan fokus pada bagaimana infrastruktur GCG yang telah dibangun bekerja dan memberikan hasil pada peningkatan nilai perusahaan secara optimal. Pada tahap ini perlu dibuat parameter penilaian yang berorientasi hasil (results).

II. 4. Program Kemitraan dan Bina Lingkungan II.4.1. Program Kemitraan Tahun 2005 - 2009 a. Realisasi Penyaluran Dana Program Kemitraan Program Kemitraan adalah program program untuk meningkatkan kemampuan usaha kecil agar menjadi tangguh dan mandiri melalui pemanfaatan dana dari bagian laba BUMN. Adapun sumber Dana Kemitraan yaitu:

43

1) 2)

Penyisihan laba setelah pajak maksimal sebesar 2% (dua persen). Jasa administrasi pinjaman/marjin/bagi hasil, bunga deposito dan/atau jasa giro dari dana Program Kemitraan setelah dikurangi beban operasional.

3)

Pelimpahan dana Program Kemitraan dari BUMN lain, jika ada.

Program Kemitraan selain dilaksanakan melalui penyaluran dana bergulir juga pemberian dukungan non material kepada para mitra binaannya diantaranya yaitu: 1) 2) 3) Pembentukan cluster mitra binaan Pemberian dukungan pelatihan dan keterampilan Pemberian kesempatan untuk melakukan promosi pada event-event nasional maupun internasional. Program kemitraan ditujukan bagi usaha kecil yaitu memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 200.000.000,- (dua ratus juta rupiah), tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha atau memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp 1.000.000.000,- (satu milyar rupiah) serta masih berstatus non bankable.

Realisasi penyaluran pinjaman dan hibah selama tahun 2004-2006 sebagai berikut:
(Rp Juta)
No. 1 2 Uraian Penyaluran Pinjaman Hibah Total 2004 478,201.00 60,961.00 539,162.00 2005 554,016.00 66,596.00 620,612.00 Tahun 2006 2007 536,855.00 584,363.00 40,911.00 72,731.00 577,766.00 657,094.00 2008 1,194,230.00 105,664.00 1,299,894.00 Prognosa 2009 1,312,577.00 197,095.00 1,509,672.00

Grafik penyaluran dana Program Kemitraan tahun 2004 - 2009:

Prognosa 2009

44

332 872.961.417 b.346 113.134 Sd. dan sektor lainnya (2%).240 Sd 2008 7.012 146.619.364.676 Realisasi mitra binaan dalam 5 tahun terakhir disajikan sebagai berikut: No Uraian 2005 2006 2007 2008 Prognosa 2009 1 2 3 Unit UKM Outstanding Akumulasi 446.949.146 Sd 2007 5.655 669.Sedangkan total akumulasi dana Program Kemitraan tahun 2006 sampai dengan tahun 2009 sebagai berikut: (Rp Juta) No Pinjaman Hibah Total Sd 2006 5.919. 2009 8.713 55.854 5.367 35.344 9.691 493.087 47.456.101 640.292 596.328. 45 .534 39.885 775. sektor Perkebunan dan Pertanian (9%).585 6. sector Peternakan dan Perikanan (10%). sektor Jasa (19%).249 7.143.907 55. sebagian besar diserap oleh sektor perdagangan (38%) kemudian oleh sektor Industri (22%).194 121.984 560. Realisasi Penyaluran Pinjaman menurut Sektor Usaha Rata-rata Penyaluran dana Program kemitraan dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2009 jika ditinjau dari kelompok sektor usaha mitra binaan.

6% Sulbar & Sulsel 3.5% 46 .3% Sultra 0. Lampung (2%).9% Sulteng 0.2% Maluku 0. penerima distribusi pinjaman PKBL yang terbesar adalah Kalimantan Timur (7. c.1% Sumbar 2.4% NTT 2. Untuk Kalimantan. Sumatra Selatan dan Babel ( 5.Beberapa penyebab rendahnya penyerapan sektor perkebunan.8% Sumsel & Babel 5.5%). 2) Resiko usaha di sektor tersebut relatif cukup tinggi mengingat usaha sangat tergantung pada kondisi alam.7 % Irjabar & Papua 1.9%).2% ). DKI Jakarta ( 8.9 %) dan di Irian Jaya & Papua ( 1.7%).8%).8%). NAD 3.4%) .1%).8% Lampung 2. Sulawesi Utara 2 %.3%) Kalimantan Selatan ( 2.9% Bengkulu 0. Kalimantan Barat (1.0% NTB 1. Jawa Timur (13%). NTB (1. Realisasi Distribusi Pinjaman Dana Program Kemitraan Dalam mendistribusikan dana Program Kemitraan Bina Lingkungan. 3) Keterbatasan kemampuan pengelola PKBL dalam melakukan pembinaan sektor tersebut.2% Kalteng 0.3%). perikanan dan peternakan antara lain : 1) Kebutuhan pendanaan untuk pengembangan usaha di sektor tersebut relatif cukup besar. Maluku ( 1.5% Kaltim 7. Dalam distribusi penyaluran dana PKBL pada 33 propinsi di Indonesia daerah Jawa Barat yang terbesar menerima pinjaman yaitu (13.3% Jambi 1. Di Sulawesi Barat dan Selatan ( 3.3%). Sulawesi tengah (0.1% Bali 2.2 %).3% DISTRIBUSI DANA PROGRAM KEMITRAAN Sumut 7. Sumatra utara ( 7.3% Riau & Kepri 3. Jawa Tengah ( 9.6% DKI Jakarta 8. Bengkulu (0. Alokasi dana penyaluran ditetapkan sesuai dengan rencana kegiatan anggaran BUMN.2% Gorontalo 0.4%). Bali (2.8% Jabar 13. Sumatra Barat (2.4% Jatim 13.1%). NTT (2.1% Kalsel 2.6%).3% Kalbar 1.0% Banten 2.5% DIY 2. Kementerian BUMN menunjuk BUMN Koordinator wilayah pada tiap propinsi untuk tugas kooordinasi pelaksanaan penyaluran dana PKBL di tiap propinsi .5%) Kalimantan Tengah (0.2% Jateng 9.4% Maluku Utara 0.3% Sulut 2.5%).

4. II. 3) Bantuan peningkatan kesehatan. Bantuan diberikan oleh BUMN berdasarkan proposal/permohonan yang disampaikan masyarakat maupun atas inisiatif/program kerja BUMN itu sendiri. BUMN dengan Tingkat Jumlah Penyaluran Dana Kemitraan Terbesar Kinerja pelaksanaan Program Kemitraan. dan sebagainya. efisiensi biaya. Jumlah penyaluran dari 5 BUMN Dari jumlah dana tersedia Pertamina mempunyai kontribusi terbesar yaitu 1. Program Bina Lingkungan Tahun 2005 .19 Triliun atau sebesar 12% dari jumlah dana yang tersedia secara nasional. Total penyaluran dari lima BUMN tersebut mencapai 2. BUMN wajib melaksanakan survey untuk memastikan kebenaran.76 Triliun dari total penyaluran nasional Rp. Realisasi Penyaluran Dana Program Bina Lingkungan Program Bina Lingkungan. Berdasarkan Peraturan Menteri BUMN Nomor PER-05. 6) Bantuan pelestarian alam. PT Jasa Raharja. PT. 2) Bantuan pendidikan dan pelatihan.MBU/2007 ruang lingkup program Bina lingkungan berupa : 1) Bantuan korban bencana alam. Adapaun sumber dana Program Bina Lingkungan yaitu: 1) Penyisihan laba setelah pajak maksimal sebesar 2% (dua persen). secara keseluruhan sangat dipengaruhi oleh kinerja penyaluran dari lima BUMN yaitu PT Pertamina. Bank Mandiri. dan PT. PT Bank BRI. namun tidak menutup kemungkinan bekerja sama dengan pihak lain berdasarkan kondisi/pertimbangan tertentu.9.2009 a. Telkom.2. 5) Bantuan sarana ibadah. termasuk tingkat efektivitas penyaluran dana kemitraan. 2) Hasil bunga deposito dan atau jasa giro dari dana Program BL.693 triliun. adalah program pemberdayaan kondisi sosial masyarakat oleh BUMN melalui pemanfaatan dana dari bagian laba BUMN. keahlian/pengetahuan. misalnya keterbatasan SDM. Pelaksanaan penyaluran dilakukan secara langsung kepada objek penerima bantuan.d. 47 . Terhadap objek bantuan. 4) Bantuan pengembangan prasarana dan atau sarana umum.

gempa bumi Jogjakarta. banjir besar Jakarta. Program bantuan untuk bencana dilaksanakan dalam 2 tahap yaitu tahap tanggap darurat berupa bantuan sembako. Realisasi Program Bina Lingkungan BUMN Peduli Kementerian BUMN bersama BUMN melaksanakan program Bina Lingkungan BUMN Peduli yang merupakan program bina lingkungan yang dilakukan secara bersamasama antar BUMN dan pelaksanaannya ditetapkan dan dikoordinir oleh Menteri BUMN. Fokus Program Bina Lingkungan BUMN peduli pada tahap rehabiitasi adalah pembangunan sarana umum dan pemulihan ekonomi masyarakat antara lain pembangunan pasar. jembatan.kebutuhan dan kewajaran permintaan bantuan. Mengingat dana yang terbatas. bencana Situ Gintung dan bencana gempa di Jawa Barat. obat-obatan dan perawatan selama periode darurat dan tahap rehabilitasi yang merupakan bantuan pasca bencana. Penyaluran dana Bina Lingkungan per tahun serta akumulasi dana Bina Lingkungan sampai dengan tahun 2009 disajikan sebagai berikut: (Rp Juta) Prognosa 2009 b. 48 . sekolah dan sarana ibadah. Bina Lingkungan BUMN Peduli telah berpartisapasi aktif dalam berbagai penanggulangan bencana alam antara lain bencana Tsunami Aceh. pusat kesehatan masyarakat desa dan penyediaan air bersih. BUMN wajib pula memperhatiakn azas pemerataan dalam penyaluran. Selama kurun waktu tahun 2005 sampai dengan 2009. gempa bumi di Padang dan Bengkulu.

Dalam rangka membantu mengurangi tingkat penganguran. Bentuk pelatihan lain diberikan pula kepada guru guru SMP. Program ini sangat membantu guru-guru dalam memberikan metode lain pengajaran Fisika pada siswa. asik dan menyenangkan. Disamping itu program ini juga untuk mahasiswa kurang mampu yang akan menyelesaikan program pendidikannya. Buku-buku yang disumbangkan kepada sekolah didaerah lokasi Gempa berupa buku-buku referensi penunjang pelajaran dan majalah-majalah sains agar dapat membantu meningkatkan pengetahuan umum siswa. dengan demikian diharapkan fisika menjadi pelajaran yang menyenangkan. Program Bina Lingkungan BUMN Peduli tahun 2009 berupa bantuan pendidikan beasiswa pendidikan dan pelatihan yaitu pemberian beasiswa untuk S1. tujuannya terutama untuk siswa putus sekolah agar mendapat pelatihan guna mendapat pekerjaan.Pada tahun 2008 Disamping membangun fasilitas umum. bantuan diberikan dalam bentuk bea siswa dan bantuan buku kepada siswa sekolah. 49 . bengkel. S2 dan S3 yang direncanakan akan dikerjasamakan dengan pihak Universitas Negeri. bantuan untuk pelatihan tetap dilaksanakan. mulai SD sampai dengan SMA. MTs dan SMA berupa pelatihan mengajar Fisika secara gampang. otomotive. BUMN Peduli telah membuat program BUMN peduli pendidikan dan pelatihan dalam bentuk memberikan pelatihan keterampilan praktis seperti Balai Latihan Kerja Industri (BLKI) dibidang las. Selain program bea siswa pendidikan untuk pendidikan formal. garment dan keterampilan lainnya.

maka dalam kurun waktu tahun 20052009 BUMN telah menyalurkan dana Program Kemitraan sebesar Rp 8.03 Triliun dan Rp 566.78 Triliun dan Rp 72.03 Triliun pada tahun 2009.04 Triliun per tahun atau mengalami peningkatan rata-rata sekitar 25% per tahun. Selanjutnya pertumbuhan Laba Usaha dan Laba Bersih masing-masing dari Rp 82.65 Triliun per tahun. 50 . Disamping kontribusi Dividen.56 Triliun dengan akumulasi jumlah mitra binaan sampai dengan tahun 2009 mencapai 640.77 Triliun pada tahun 2005 menjadi Rp 110.20%. BUMN telah memberikan kontribusi yang relatif besar kepada Negara.291.98 Triliun. Sedangkan dalam kurun waktu 2005-2009 capaian Return on Assets (RoA) dan Return on Equity (RoE) rata-rata mencapai 3.06 Triliun pada tahun 2005 menjadi Rp 2.84 Triliun pada tahun 2009. BUMN juga menyumbangkan kontribusi pajak. yang dalam periode 20042008 mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi yaitu rata-rata sekitar 18% per tahun dengan sumbangan rata rata sebesar Rp 61.15% dan 11.417 orang/unit kerja.150.25 Triliun dan Rp 370. yaitu berupa dividen rata-rata dividen sebesar Rp 23. BUMN juga terus mengalami perbaikan dalam menerapkan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance/GCG) yang yang ditunjukkan dengan peningkatan pencapaian skor hasil assessment dengan kategori Baik. Selanjutnya kontribusi BUMN terhadap pengembangan usaha kecil melalui Program Kemitraan dan Bina Lingkungan.57 Triliun dan Rp 25.Kinerja seluruh BUMN selama periode waktu 2005-2009 terus mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan terlihat dari pertumbuhan asset dan Ekuitas masing-masing dari Rp 1. Sedangkan dana Bina Lingkungan yang telah disalurkan oleh BUMN selama kurun waktu 2005-2009 seluruhnya mencapai sebesar Rp 1.

dan modal perusahaan tumbuh lebih lambat serta return relatif masih rendah karena selama ini sebagian besar kegiatan BUMN dibiayai dari dana eksternal/hutang. Kajian-kajian yang telah dilakukan terhadap beberapa sektor menggunakan DIPA Kementerian BUMN dan biaya perusahaan selama tahun 2005-2009 adalah Sektor Perkebunan. 25 BUMN Besar per Desember 2008. sampai dengan akhir 2009 memang belum dapat dilakukan sepenuhnya. telah disampaikan Master Plan tersebut kepada pihak-pihak terkait yaitu antara lain Kantor Kementerian Perekonomian. dalam rangka sosialisasi Master Plan BUMN Tahun 2005-2009. mungkin bukan merupakan 51 . Sektor Farmasi. Sektor Pertambangan serta Sektor Dok dan Perkapalan. untuk mendapatkan jumlah dan skala yang lebih ideal (rightsizing). Secara umum dari data-data yang disajikan terlihat bahwa pertumbuhan aset BUMN tidak/kurang agresif. mengharuskan adanya kajian bersama antara Menteri BUMN dan Menteri Keuangan (Menteri Teknis jika diperlukan). Berdasarkan ketentuan yang ada. DPR (Komisi VI dan Komisi XI) dan dalam berbagai kesempatan dan seminar juga telah disampaikan rencana jumlah dan skala BUMN yang lebih ideal (rightsizing). menunjukkan lebih dari 97% dari total aset dan laba bersih serta 92% ekuitas dan 87% penjualan seluruh BUMN. Kementerian Keuangan. Sektor Industri Strategis. Sektor Konstruksi. tahun 2008 menjadi 87 BUMN. disadari bahwa perlu dilakukan upaya-upaya pembinaan lebih lanjut untuk lebih meningkatkan kinerja dan nilai BUMN tersebut. tindakan/kegiatan penataan jumlah dan skala BUMN menuju jumlah dan skala yang lebih ideal (rightsizing) sebagaimana telah dikemukakan dalam Master Plan BUMN Tahun 2005-2009 yaitu tahun 2007 menjadi 102 BUMN. Holding PT RNI. Sebenarnya jumlah BUMN sebanyak 141 BUMN seperti sekarang ini.BAB III RENCANA DAN PELAKSANAAN PROGRAM PEMBINAAN BUMN TAHUN 2005-2009 Selama kurun waktu tahun 2005-2009 Kementerian BUMN telah melakukan berbagai upaya pembinaan BUMN untuk meningkatkan kinerja dan nilai BUMN. tahun 2009 menjadi 69 BUMN. karena berdasarkan data yang ada. Namun demikian. Kegiatan restrukturisasi yang salah satu pokok utamanya adalah regrouping/konsolidasi BUMN secara sektoral untuk memetakan kembali jumlah dan skala usaha masing-masing BUMN/sektor tersebut. Di samping itu.

dan Likuidasi Rencana program rightsizing tahun 2005-2009 atas masing-masing opsi dapat disampaikan sebagai berikut : a. tata cara dan model penataan perlu dikaji secara obyektif dengan mengedepankan kepentingan jangka panjang BUMN dan perekonomian nasional. Selanjutnya. III.1 Rencana Program Tahun 2005 .1. Beberapa opsi untuk rightsizing tersebut secara garis besar dapat digambarkan sebagai berikut Stand Alone. program rightsizing tersebut tetap berpegang pada asas-asas yang telah disepakati dalam konstitusi yaitu Pasal 33 Undang-undang Dasar 1945. 3) Belum memiliki potensi untuk dimerger ataupun holding. Secara garis besar.1 Rencana Rightsizing Tahun 2005-2009 Pencapaian jumlah dan skala BUMN yang lebih ideal (rightsizing) merupakan inti dari program restrukturisasi sektoral tahun 2005-2009. Holding. 4) Keberadaannya berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku dan umumnya captive market. Merger/Konsolidasi. 52 .2009 III. Divestasi. Strategi rightsizing tersebut telah digariskan oleh Kementerian BUMN untuk memperbaiki struktur bisnis BUMN secara menyeluruh dalam rangka mencapai jumlah dan skala BUMN yang lebih ideal.masalah sepanjang memiliki kinerja yang baik yang memberikan konstribusi yang terus tumbuh dalam perekonomian nasional. terutama mengenai keberadaan BUMN. 2) Single player atau masuk sebagai pemain utama. Stand Alone Kebijakan stand alone (BUMN tetap seperti sediakala) diterapkan untuk mempertahankan keberadaan BUMN-BUMN tertentu utamanya yang memiliki salah satu kriteria sebagai berikut: 1) Market share cukup signifikan dan mengandung unsur keamanan.

c).1. 3) Mayoritas saham dimiliki Pemerintah. namun masih memiliki potensi untuk digabung dengan BUMN lain. Dalam Master Plan BUMN Tahun 2005-2009 terdapat 8 Sektor BUMN (48 BUMN) yang dilakukan holding (Lampiran 7.b).Dalam Master Plan BUMN Tahun 2005-2009. 4) Masih ada prospek/ bisnis prospektif. Merger/Konsolidasi Kebijakan ini dilakukan untuk mencapai struktur yang prospektif bagi BUMN yang berada dalam sektor bisnis yang sama dengan pasar yang identik dan kepemilikan Pemerintah 100%. tingkat kompetisi yang tinggi. 53 .1. 2) Jenis usaha dan segmen pasar berlainan. Beberapa kriteria utama BUMN-BUMN yang akan di-holding adalah sebagai berikut: 1) Sektor usaha sama. Secara garis besar kriteria untuk BUMN-BUMN yang akan di-merger atau konsolidasi adalah sebagai berikut: 1) Jenis usaha dan segmen pasar sama. terdapat 35 BUMN yang masuk kriteria stand alone (Lampiran 7. 5) Pemerintah merupakan pemilik mayoritas. 2) Kompetisi tinggi. Holding Pembentukan holding menjadi pilihan yang rasional untuk BUMN yang berada dalam sektor yang sama namun memiliki produk maupun sasaran pasar yang berbeda.a) b. Dalam Master Plan BUMN Tahun 2005-2009 terdapat 11 Sektor BUMN (27 BUMN) yang dilakukan merger/konsolidasi (Lampiran 7. 4) Kinerja tergolong kurang baik. c. prospek bisnis yang cerah dan kepemilikan Pemerintah yang masih dominan. 5) Going Concern diragukan.1. 3) Kompetisi tinggi.

mengalami kerugian selama beberapa tahun dan mempunyai ekuitas yang negatif. e. 2) Berada pada sektor usaha atau industri yang kompetitif atau unsur teknologinya cepat berubah. Hal ini dilakukan untuk mencegah kerugian BUMN lebih lanjut. skala usaha kecil. berada dalam sektor yang kompetitif. Alternatif ini dilakukan sesuai dengan kriteria dalam Undang-undang Nomor 19 tahun 2003 dan Peraturan Pemerintah Nomor 33 tahun 2005.1. Beberapa BUMN yang termasuk dalam kategori ini antara lain BUMN Sektor Angkutan Darat dan Aneka Industri.d). 3) Bidang usahanya menurut Undang-undang tidak secara khusus harus dikelola oleh BUMN. 54 . Likuidasi Kebijakan likuidasi dilakukan untuk BUMN-BUMN yang tidak memiliki kewajiban PSO. 4) Tidak bergerak di sektor pertahanan dan keamanan. 5) Tidak mengelola sumber daya alam yang menurut ketentuan peraturan perundangan tidak boleh diprivatisasi. Divestasi Kebijakan ini diutamakan bagi investor dalam negeri atau melalui proses akuisisi dan/atau merger/konsolidasi oleh BUMN lain. Dalam Master Plan BUMN Tahun 2005-2009 terdapat 27 BUMN yang masuk kriteria divestasi (Lampiran 7. Disamping itu terdapat kriteria tambahan yaitu: 1) Berbentuk Persero. 6) Tidak bergerak di sektor tertentu yang oleh pemerintah diberikan tugas khusus untuk melaksanakan kegiatan tertentu yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat.d. 7) Memenuhi ketentuan/peraturan pasar modal apabila privatisasi dilakukan melalui pasar modal.

Pemilihan-pemilihan BUMN tersebut untuk diprivatisasi sesuai dengan ketentuan/peraturan yang ada meliputi antara lain. maka hasil privatisasi diutamakan untuk kepentingan dan pengembangan BUMN. Pemerintah dapat menugaskan penyediaan fasilitas pelayanan umum tersebut kepada BUMN dengan tetap memperhatikan maksud dan tujuan kegiatan BUMN yaitu sebagai unit usaha yang ditugaskan untuk memupuk keuntungan dan menyetor bagian keuntungan (deviden) kepada Negara. Sepanjang tahun 2007 – 2011 telah dimasukkan program privatisasi. maka prosedur privatisasi meliputi : Penyusunan Program Tahunan Privatisasi (PTP). Di samping itu.2009 Kewajiban Pelayanan Umum (Public Service Obligation . dan 2009-2011 sebanyak 11 BUMN (Lampiran 7.III. III.3 Program Kewajiban Pelayanan Umum (Public Service Obligation PSO) Tahun 2005 . Pembahasan PTP untuk mendapatkan Arahan Komite Privatisasi dan Rekomendasi Menteri Keuangan. sesuai kebijakan yang dilakukan dalam 5 tahun terakhir. Sesuai dengan pasal 66 UU nomor 19/2003 tentang BUMN. Penyediaan fasilitas pelayanan umum oleh Pemerintah adalah merupakan amanat dari pasal 34 ayat (3) UndangUndang Dasar 1945 yang menegaskan bahwa Pemerintah bertanggung jawab atas fasilitas kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak. 55 . Untuk tahun 2007 sebanyak 24 BUMN.2 Rencana Privatisasi Tahun 2005 . industri kompetitif atau kepemilikan negara minoritas.1. tahun 2008 sebanyak 15 BUMN.2009 Sesuai dengan Undang-undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang BUMN dan Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2005 tentang Tata Cara Privatisasi. Sosialisasi PTP serta Pelaksanaan PTP.PSO) adalah kewajiban dunia usaha termasuk BUMN untuk melaksanakan penyediaan fasilitas pelayanan umum berdasarkan penugasan dari Pemerintah (Kementerian/Lembaga). jo Peraturan Pemerintah 59 Tahun 2010.2).1. Konsultasi dengan DPR untuk mendapatkan persetujuan.

Mewujudkan sistem dan prosedur baku yang bersifat teknis operasional dalam pelaksanaan PSO.dalam arti apabila penugasan (yang wujudnya berupa penyediaan barang dan jasa tertentu yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat) tersebut menurut kajian tidak fisibel. 19/2003 tersebut diatas. Penyusunan Rancangan Peraturan Presiden (Perpres) tentang Kerangka Dasar (Grand Design) dan Prosedur Operasional Baku (Standard Operating Procedure/SOP) Pelaksanaan Kewajiban Pelayanan Umum oleh BUMN. Kementerian BUMN telah menetapkan arah Kebijakan Program Kewajiban Pelayanan Umum (Public Service Obligation . legislatif. Evaluasi atas Laporan pelaksanaan PSO-BUMN tahun lalu. Dalam rangka mewujudkan amanat UUD 1945 dan UU No. Monitoring (on the spot) Pelaksanaan PSO-BUMN tahun yang lalu. yudikatif dan BUMN) terkait dengan pengertian. yang dilaksanakan setiap tahun. yang dilaksanakan setiap tahun. yaitu: - Mewujudkan kesamaan persepsi stakeholder (Eksekutif. Penyusunan Rancangan Peraturan Menteri Negara BUMN tentang Model Pemisahan Administrasi Pembukuan Kegiatan Kewajiban Pelayanan Umum dari Kegiatan Komersial di BUMN.PSO). maka Pemerintah harus memberikan kompensasi atas semua biaya yang telah dikeluarkan oleh BUMN termasuk margin yang diharapkan. prinsip. substansi dan peran strategis program PSO. Menerapkan analisa ” risk management ” dalam pelaksanaan PSO. - 56 . Mengupayakan penurunan peran PSO secara selektif dalam pengaturan ekonomi berdasarkan perkembangan kondisi sosial ekonomi masyarakat dan kebijakan Pemerintah. yang dilaksanakan setiap tahun. - - Penjabaran atas arah kebijakan tersebut diatas dituangkan dalam bentuk Program Kerja Utama sebagai berikut: - Pembahasan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya PSO-BUMN tahun yang akan datang.

sebagai kelengkapan unit yang menangani penghapusbukuan/pelepasan asset BUMN. Namun demikian. dan optimalisasi aset-aset tidak produktif melalui “pola kerjasama” dengan pihak ketiga terhadap aset-aset yang idle/underutilized untuk menciptakan nilai tambah dan “pola penghapusbukuan” terhadap asetaset yang secara ekonomis tidak menguntungkan untuk tetap dipertahankan. Hal ini terkait keterbatasan informasi dan koordinasi antar masing-masing BUMN. Dalam rangka mengantisipasi berbagai persoalan yang kemungkinan timbul dalam pengelolaan asset. Beberapa permasalahan yang menjadi kendala optimalisasi aset BUMN tersebut antara lain : Belum adanya ketentuan dan prosedur baku mengenai optimalisasi aset BUMN (baik pendayagunaan maupun pemindahtanganan) yang dapat digunakan sebagai dasar konsep bagi Direksi BUMN dan dasar penetapan kebijakan oleh Kementerian BUMN (selaku Pemegang Saham) yang dapat diaplikasikan dan sesuai ketentuan/peraturan umum terkait yang berlaku saat ini. kegiatan pengelolaan aset dimaksud telah dilakukan oleh Direksi BUMN yang meliputi : penggunaan aset-aset produktif sebagai prasarana/sarana produksi.1. pada tahun 2006 Kementerian BUMN membentuk unit organisasi yang khusus menangani pendayagunaan asset. Sinergi BUMN dalam rangka optimalisasi aset-aset BUMN masih belum banyak dilakukan.4 Program Optimalisasi Aset BUMN Tahun 2005-2009 Aset BUMN merupakan bagian dari kekayaan negara yang sudah dipisahkan dan disertakan pada BUMN untuk dikelola dan dimanfaatkan secara optimal oleh Direksi BUMN dalam rangka menghasilkan barang dan/atau jasa sesuai dengan maksud dan tujuan pendirian masing-masing BUMN. Sampai dengan saat ini. dalam kenyataannya masih terdapat aset-aset BUMN yang idle/belum termanfaatkan secara optimal. Terdapat beberapa peraturan dan kebijakan sektoral yang diterbitkan oleh instansi/lembaga/pemerintah daerah yang cenderung menyebabkan upaya optimalisasi aset oleh BUMN menjadi tidak mudah untuk dilakukan.III. Unit organisasi tersebut diharapkan dapat mendukung - - kebijakan Kementerian BUMN dalam melakukan langkah-langkah pembinaan dan pengawasan atas kegiatan pengelolaan aset oleh Direksi 57 .

aplikasi. pengembangan. Dalam pelaksanaan pengelolaan asset BUMN. dan teknologi. Menyusun Ketentuan Baku 3. sehingga dalam master plan dimuat rencana tiga tahun ke depan untuk infrastruktur sistem informasi/teknologi informasi.BUMN yang mengarah pada konsep efisiensi dalam penggunaan sumber daya dan pengelolaan resiko. telah disusun rencana pelaksanaan pengelolaan aset sebagai berikut : Rencana Kegiatan / Tahun 1. dan relevan dilakukan pengumpulan. Menyusun Kajiaan SOP 2. telah disusun master plan teknologi informasi Kementerian BUMN tahun 20062009 yang berisi road map dan action plan per tahun berkaitan dengan tata kelola teknologi informasi yaitu perencanaan. kebijakan teknologi informasi.5 Program Pengembangan Teknologi Informasi Tahun 2005-2009 Sebagai acuan arah pengembangan teknologi informasi. serta pendokumentasian laporan BUMN. pengoperasian. Menyusun Surat Edaran 4. pengolahan. dan pengembangan SDM teknologi informasi. Tata kelola teknologi informasi mencakup SDM/organisasi. pemeliharaan. dan e-reporting (rincian program terlampir pada Lampiran 10). tata laksana/proses. dan penyajian.1. cepat. Laporan BUMN dikumpulkan dalam bentuk hardcopy. Sedangkan untuk untuk memenuhi kebutuhan data dan informasi yang lengkap. Penelitian Manfaat PA 6. dan evaluasi/pengedalian. setelah dibentuknya unit organisasi yang menangani Pendayagunaan Aset pada tahun 2006. 58 . Pemetaan Aset Idle 5. digital dokumen. Monitoring Berkala 2007 konsultan 2008 2009 Keterangan selesai 2007 belum realisasi selesai 2009 belum realisasi belum realisasi terealisasi internal internal internal internal internal internal internal internal III.

Restrukturisasi Sektoral dalam rangka perampingan BUMN untuk mencapai jumlah dan skala BUMN yang lebih ideal (rightsizing). 1). 2). sesuai dengan Inpres Nomor 5 Tahun 2008 tentang fokus program ekonomi tahun 2008-2009 karena beberapa hal antara lain. 87 BUMN pada tahun 2008 dan 69 BUMN tahun 2009 (sebagaimana lampiran) secara umum belum dapat dilaksanakan termasuk pergeseran jumlah dan skala BUMN yang lebih ideal (righsizing). Adapun PT Bank Ekspor Indonesia yang semula berada dalam BUMN dengan kriteris Stand Alone.2009 III.2009 a.III. sesuai dengan Undang-undang Nomor 2 Tahun 2009 telah menjadi Lembaga Ekspor Indonesia yang pembinaan dan pengawasan di bawah Menteri Keuangan. BUMN Dok dan Perkapalan 59 .2 Pelaksanaan Program Tahun 2005 .2. Rencana Rightsizing 139 BUMN menjadi 102 BUMN pada tahun 2007. rekomendasi : Konsolidasi usaha melalui peleburan KAEF dan INAF adalah lebih baik dibandingkan dengan struktur konsolidasi usaha lainnya. Stand Alone Terhadap 35 BUMN besar dalam Master Plan BUMN Tahun 2005-2009 dalam pelaksanaannya menjadi 34 BUMN. telah dilakukan kajian beberapa sektor BUMN sebagai berikut: No 1). Merger/Konsolidasi Terhadap 11 sektor BUMN yang direncanakan akan dimerger/ konsolidasi dalam Master Plan Tahun 2005-2009.1 Pelaksanaan Restrukturisasi Tahun 2005 . belum seluruh BUMN dilakukan kajian dan masih diperlukan koordinasi beberapa instansi terkait. Telah dilakukan kajian yang berkoordinasi dengan PT Sucofindo Appraisal Utama pada tahun 2008 dengan rekomendasi : Holding BUMN Dok dan Perkapalan dengan terlebih dahulu dilakukan restrukturisasi internal 2). Sektor BUMN Farmasi Kegiatan Telah dilakukan kajian yang berkoordinasi dengan PT Mandiri Sekuritas pada tahun 2005 bersama-sama dengan Deputi Teknis.

2). ANTAM TIMAH : & 60 . WIKA. pertanian. 9 BUMN konstruksi jadi 6 BUMN.No 3). Waskita. dimana hal tersebut juga dalam rangka menindaklanjuti PBI Nomor 8/16/2006 tentang Kepemilikan Tunggal pada Perbankan Indonesia Telah dilakukan kajian restrukturisasi BUMN Perkebunan oleh Konsultan Independen PT Danareksa Sekuritas & PT Bahana Securities tahun 2005 dengan rekomendasi pembentukan satu holding (satu perusahaan induk) Konsultan PT Primus Sarana Artha Consultan Hasil kajian : 9 BUMN konstruksi menjadi 4-5. Perkebunan : PT PN I-XIV & RNI 3). HK. 3). Telah dilakukan kajian oleh Citigroup. Konsultan Hukum & Perpajakan yang ditunjuk oleh BUMN Pertambangan dan dikoordinir oleh Deputi PISET. Holding Untuk BUMN-BUMN/ sektor yang direncanakan akan dilakukan/dimasukkan dalam kegiatan holding telah dilakukan kajian sebagai berikut : No 1). Sedangkan 5 sektor lainnya belum dilakukan kajian antara lain disebabkan karena belum dapat dimasukkannya dalam rencana anggaran DIPA Kementerian BUMN dan sebagian sektor BUMN yang telah dimasukkan dalam anggaran DIPA tidak berhasil dilakukan kajian karena dalam proses pelelangan yang dilaksanakan oleh Tim lelang Kementerian BUMN tidak ada konsultan yang memenuhi kriteria dan adanya keterbatasan waktu untuk diulang kembali. kehutanan telah dilakukan kajian awal oleh konsultan independen. Sektor Kehutanan : Inhutani I-V & Perhutani Kegiatan Sudah dilakukan kajian oleh E&Y pada th 2003. Nindya. Istaka. Amarta 4). Brantas. Pertambangan PT BA. namun masih diperlukan kajian lebih lanjut. Sektor BUMN Perbankan dan Jasa Keuangan Kegiatan Telah dilakukan kajian awal pembentukan holding Perbankan dan Jasa Keuangan bersama deputi Teknis. PP. Kontruksi: Adhi. Untuk sektor perdagangan. Rapat forum BUMN karya. 5 BUMN konsultan divestasi. namun konsultan independen mengundurkan diri. 5 BUMN konsultan masuk ke BUMN konstruksi.

Sebagai gambaran tentang rencana pembentukan super holding dapat disampaikan sebagai berikut: Alternatif I : Top Down/ Secara Sekaligus Super Holding dibentuk melalui pendirian Satu Perusahaan Induk (PT BUMN Holding) yang penyertaannya berasal dari inbreng penyertaan Negara RI pada 141 BUMN. Sektor BUMN Industri Strategis Kegiatan Telah dilakukan kajian yang berkoordinasi dengan KAP Aryanto Amir Jusuf & Mawar tahun 2005 bersama-sama dengan Deputi Teknis. likuidasi dll) - 61 . Khusus mengenai holding. Selanjutnya manajemen PT BUMN Holding melakukan langkahlangkah konsolidasi internal (merger. Untuk sektor kawasan. PT INKA dan PT Barata Indonesia. PT PAL. divestasi perusahaan anak & privatisasi). akuisisi. sektor kebandarudaraan dan sektor pelabuhan belum dilakukan kajian antara lain disebabkan karena belum dapat dimasukkan dalam rencana anggaran DIPA Kementerian BUMN dan sebagian sektor BUMN yang telah dimasukkan dalam anggaran DIPA tidak berhasil dilakukan kajian karena dalam proses pelelangan yang dilaksanakan oleh Tim lelang Kementerian BUMN tidak ada konsultan yang memenuhi. rekomendasi : revitalisasi bagi PT KS (revitalisasi.No 5). namun konsultan independen mengundurkan diri karena tidak dapat menyelesaikan pekerjaannya sesuai waktu yang ditentukan. holding sektoral. maka telah pula dilakukan kajian mengenai pembentukan Super Holding dengan 3 alternatif pendekatan seperti dikemukakan dibawah ini. Sedangkan untuk sektor pelayaran telah dilakukan kajian awal oleh konsultan independen. Namun demikian. Sedangkan untuk PT BBI direkomendasikan untuk likuidasi atau alternatif lain adalah pembentukan Strategic Holding Company (SHC). pendekatan yang digunakan dalam pendekatan holding pada akhirnya bukanlah pembentukan super holding melainkan pembentukan holding secara sektoral.

farmasi. Holding Karya dll. mengkaji dan menyusun kebijakan2 strategis tentang investasi/pengembangan serta strategic procurement pada sub2 Holding. dan 62 .  Mengevaluasi pelaksanaan sistem perencanaan pengelolaan keuangan pada sub2 holding.  Mengkoordinasikan program investasi dan pengembangan serta strategic procurement sub2 Holding. Holding Farmasi. dll) dan BUMN2 besar Dalam kajian tersebut.Alternatif II: Bottom Up/ Secara Sektoral (Approach yang dijalankan bertahap selama ini) Pembentukan Super Holding dilakukan secara bertahap melalui pembentukan Holding-Holding sektoral misal Holding Perkebunan. mengkaji dan menyusun kebijakan-kebijakan yang menyangkut masalah2 keuangan dan pendanaan untuk investasi/pengembangan dan strategic procurement. Setelah Holding Sektoral terbentuk. fungsi-fungsi yang ditangani “Super Holding” antara lain: Perencanaan Korporasi. - Alternatif III : Fokus BUMN2 Besar dan Sektoral Yang Sudah Selesai Kombinasi holding sektoral yang relatif sudah selesai (perkebunan. pertambangan. maka dilanjutkan dengan pembentukan Super Holding BUMN(PT BUMN Holding). Keuangan  Merencanakan.  Mengkoordinasikan penyusunan sistem perencanaan dan pengelolaan keuangan serta sistem akuntansi keuangan. Investasi dan Pengembangan  Merencanakan.  Mengevaluasi pelaksanaan investasi dan pengembangan dan strategic procurement pada sub2 Holding. Holding Pertambangan.

PT Asuransi Jasa Indonesia. PT Suveyor Indonesia.  Mengkoordinasikan sitem administrasi dan analisa seluruh informasi serta sistem perencanan dan pengembangan SDM pad sub2 holding  Mengevaluasi kebijakan-kebijakan sistem dan teknologi informasi pad sub2 holding. Divestasi Dari rencana divestasi sebanyak 27 BUMN sesuai Master Plan BUMN Tahun 2005-2009. Khusus untuk PT Pengerukan Indonesia berubah dari rencana semula privatisasi menjadi pengalihan saham secara inbreng kepada PT Pelindo I-IV 2). PT Semen Baturaja. namun dalam perjalanannya berubah menjadi privatisasi melalui IPO melalui penerbitan saham baru dan telah mendapat persetujuan DPR tahun 2009 Dilakukan restrukturisasi / penyehatan oleh PT PPA pada tahun 2007 karena kondisi keuangan yang buruk Telah masuk dalam Program Tahunan Privatisasi Tahun 2008. serta 11. 4). PT Asuransi Jiwasraya. PT Indra Karya.3% saham PT BNI pada tahun 2007 yang masuk dalam Program Tahunan Privatisasi Tahun 2007. PT Sarana Karya. mengkaji dan menyusun kebijakan2 strategis terkait SDM. PT Yodya Karya. namun belum mendapatkan persetujuan DPR. PT Merpati Airlines (MNA) Nusantara 3). PT Virama Karya. PT Sucofindo.- Teknologi Informasi dan Komunikasi  Merencanakan. mengkaji dan menyusun kebijakan sistem informasi dan komunikasi Super holding. PT 63 . Namun pelaksanaan divestasi hanya dapat dilakukan terhadap 2 BUMN yaitu divestasi 5. PT Indah Karya. belum dapat dilaksanakan seluruhnya. PT Industri Sandang Nusantara. BUMN PT Garuda Indonesia Keterangan semula direncanakan divestasi melalui strategic sale.31% saham PT PGN pada tahun 2006 yang merupakan divestasi lanjutan IPO tahun 2003 yang telah mendapat persetujuan DPR dan telah ada Peraturan Pemerintahnya. PT Pengerukan Indonesia.  Merencanakan. Rencana divestasi terhadap 27 BUMN tersebut tidak terlaksana karena beberapa hal sebagai berikut: No 1).

Dan saat ini sedang dilakukan penjualan aset melalui lelang. PT Reasuransi Umum Indonesia. Restrukturisasi Korporasi Sesuai dengan Undang-undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang BUMN. PT Konversi Energi Abadi (PT EMI) PT Garam Telah diusulkan dalam Program Tahunan Privatisasi tahun 2007. Keterangan 4). Belum diusulkan masuk dalam PTP 5). PT Asuransi Ekspor Indonesia. telah dilakukan likuidasi (dibubarkan) berdasarkan RUPS Luar Biasa pada tanggal 9 Oktober 2007 dan Peraturan Pemerintah Nomor 70 Tahun 2008 karena kondisi keuangan perusahaan yang sangat buruk Diputuskan direstrukturisasi untuk kelangsungan usaha mengingat kondisi keuangan yang memprihatinkan. Restrukturisasi oleh PT PPA 7). telah dilakukan likuidasi (dibubarkan) berdasarkan RUPS Luar Biasa pada tanggal 9 Oktober 2007 dan Peraturan Pemerintah Nomor 70 Tahun 2008 karena kondisi keuangan perusahaan yang sangat buruk dan tidak ada prospek usaha. restrukturisasi adalah upaya yang dilakukan dalam rangka penyehatan BUMN yang merupakan salah satu langkah strategis untuk 64 . PT Industri Soda Indonesia 8). PT Boma Bisma Indra. Direncanakan akan masuk dalam Program Tahunan Privatisasi tahun 2012 Direncanakan untuk didivestasi sesuai Master Plan BUMN Tahun 2005-2009. b. Perum Damri. PT Permodalan Nasional Madani (PNM) dan PT Cambrics Primissima PT Danareksa. PT Industri Gelas 5). Likuidasi PT Industri Soda Indonesia (ISI) yang semula direncanakan untuk didivestasi sesuai Master Plan BUMN Tahun 2005-2009. 6). namun tidak mendapatkan Arahan Komite Privatisasi dan Rekomendasi Menteri Keuangan. PT PANN Multi Finance.No BUMN Bina Karya.

mendapatkan Arahan Komite Privatisasi dan Rekomendasi Menteri Keuangan serta telah mendapatkan persetujuan DPR RI. organisasi dan SDM serta armada. Sudah dibahas dalam Panja Komisi VI dan Komisi XI DPR RI. PT Garuda Indonesia (Persero) Restrukturisasi PT Garuda Indonesia yang dikoordinasikan oleh Kantor Menko Perekonomian dalam bentuk tim. 2). armada. restrukturisasi pegawai/lay off. 3). Dalam melakukan restrukturisasi tersebut PT Merpati Nusantara Airlines telah mendapatkan suntikan dana PMN. revitalisasi armada. PT Bahtera Adhiguna (Persero) Menyiapkan PT Bahtera Adhiguna (BAG) dalam Program Tahunan Privatisasi (PTP) 2008. yaitu Tahun 2006 sebesar Rp 75 miliar dan 2007 sebesar Rp 450 miliar untuk restrukturisasi hutang.memperbaiki kondisi internal perusahaan guna memperbaiki kinerja dan meningkatkan nilai perusahaan. relokasi operasi dan penambahan modal kerja. menerima dana restrukturisasi sebesar RP 300 miliar melalui PT PPA yang digunakan untuk restrukturisasi SDM. namun belum memperoleh persetujuan Pimpinan DPR. Dalam melakukan restrukturisasi tersebut PT Garuda Indonesia telah mendapatkan suntikan dana PMN pada tahun 2006 dan 2007 masing-masing sebesar Rp 500 miliar (total Rp 1 triliun). dan modal kerja. PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) Restrukturisasi PT Merpati Nusantara Airlines yang dikoordinasikan oleh Kantor Menko Perekonomian dalam bentuk tim. Sejalan dengan program restrukturisasi tersebut pada tahun 2007 dan 2008 PT Garuda Indonesia direncanakan akan diprivatisasi. Serta tahun 2008 kwartal IV. sesuai 65 . Karena Kondisi BAG yang memprihatinkan. Restrukturisasi yang telah dilakukan selama tahun 2005-2009 sebagai berikut: 1). Restrukturisasi yang telah dan sedang dilakukan adalah restrukturisasi hutang.

maka tugas restrukturisasi dan/atau revitalisasi BUMN menjadi tugas PT PPA (matriks penanganan restrukturisasi oleh PT PPA sesuai Lampiran 8). Perum Pegadaian Saat ini sudah dilakukan kajian untuk proses pemerseroan Perum Pegadaian. 4). Seperti halnya dengan BAG. 6). PT Pengerukan Indonesia (Persero) Menyiapkan Rukindo dalam Program Tahunan Privatisasi (PTP) Tahun 2008. 5).pembahasan dengan Meneg BUMN. yaitu restrukturisasi BUMN sebagai berikut : PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) PT Waskita Karya (Persero) PT Berdikari (Persero) PT Djakarta Lloyd (Persero) PT Hotel Indonesia Natour (Persero) PT Varuna Tirta Prakarsya (Persero) 66 . Restrukturisasi Korporasi yang Ditangani oleh PT PPA Dengan terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2008 tentang Perubahan Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pendirian Perusahaan Perseroan (Persero) di Bidang Pengelolaan Aset . maka bersama Kedeputian Teknis dan Sekretaris Kementerian sedang disiapkan usulan inbreng BAG kepada PLN (semula direncanakan BAG diakuisisi PTBA). maka Rukindo juga sedang disiapkan untuk diinbrengkan kepada Pelindo I – IV. sedangkan unit Deputi Bidang Restrukturisasi dan Privatisasi hanya mengikuti perkembangan pelaksanaan restrukturisasi dan/atau revitalisasi BUMN tersebut dalam pembahasan-pembahasan dengan PT PPA dan Unit Teknis bersama Menteri BUMN. karena PT Pengerukan Indonesia belum memperoleh persetujuan Pimpinan DPR untuk diakuisisi oleh Pelindo I – IV yang selama ini membiayai restrukturisasi Rukindo.

6 BUMN minoritas.2009 Selama kurun waktu 2005 . PTPN III (ditunda pelaksanaannya). Seleksi lembaga/profesi penunjang untuk privatisasi PT Wijaya Karya Tbk.2. Persiapan Privatisasi Melakukan kajian dan seleksi terhadap BUMN untuk dimasukkan dalam Program Tahunan Privatisasi (PTP) tahun 2007 (15 BUMN). - 67 . PT Krakatau Steel (pelaksanaannya direncanakan tahun 2010). Mendampingi Menteri BUMN melakukan pembahasan PTP dalam rapat Komite Privatisasi. PTPN IV (ditunda pelaksanaannya). PTP tahun 2008 (44 BUMN termasuk carry over PTP tahun 2007) dan 2009 (20 BUMN yang merupakan carry over PTPN tahun 2008) Tahun 2005 dan 2006 tidak ada PTP karena Komite Privatisasi baru terbentuk pada tanggal 13 Oktober 2006 melalui Keputusan Presiden RI Nomor 18 Tahun 2006.2009 telah dilakukan langkah-langkah sebagai berikut: a. PT BNI Tbk.2 Pelaksanaan Privatisasi 2005 . Melakukan pembahasan dengan Tim Pelaksana Komite Privatisasi. PTPN VII (ditunda pelaksanaannya) dan PT Rekayasa Industri/minoritas (ditunda pelaksanaannya). Berkoordinasi dengan BUMN dalam rangka melakukan konsultasi dengan DPR RI (Komisi VI dan Komisi XI).- Perum Pengangkutan Djakarta Perum Produksi Film Negara PT Balai Pustaka (Persero) PT PAL Indonesia (Persero) PT Dok dan Perkapalan Kodja Bahari (Persero) PT Industri Gelas (Persero) PT Industri Sandang Nusantara (Persero) PT Kertas Kraft Aceh (Persero) PT PLN (Persero) PT Industri Kapal Indonesia (Persero) PT Cambrics Primissima (Persero) PT Semen Kupang (Persero) III. Menyampaikan Usulan PTP kepada Komite Privatisasi untuk mendapatkan arahan dan kepada Menteri Keuangan untuk mendapatkan rekomendasi. PT Jasa Marga Tbk. PT Pembangunan Perumahan. PT BTN.

174 miliar Rp 1.086 miliar 76. Pelaksanaan privatisasi Koordinasi dengan underwriter/Penasehat Keuangan melakukan due diligence Pembahasan dan penandatanganan dengan lembaga/profesi penunjang perjanjian-perjanjian/kontrak Usulan dan Pembahasan Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) dengan instansi terkait Pembahasan atas hasil due diligence dan hasil valuasi saham Pembahasan prospektus Usulan penetapan pricing. namun pelaksanaan privatisasi PT PGN 68 . 3.2009 Tahun 2005 tidak ada pelaksanaan privatisasi karena tidak ada PTP (Komite Privatisasi baru terbentuk tanggal 13 Oktober 2006).33 TAHUN 2007 11. 3. 759.3 PT BNI Tbk.58 miliar Rp 7. 3.31 Placement Rp 3.888.5 T) TAHUN 2009 PT BTN 27. Pelaksanaan penjualan saham Laporan Penyetoran hasil penjualan saham Penetapan biaya dan hasil privatisasi c.362 miliar Rp.92% TOTAL HASIL PRIVATISASI 2005 .08 IPO Rp 5. Hasil Privatisasi Hasil privatisasi selama pelaksanaan Master Plan Tahun 2005 – 2009 adalah sebagai berikut: PERUSAHAAN PERSEROAN/ BUMN % SAHAM DIJUAL METODE TARGET APBN/ APBN-P HASIL PRIVATISASI APBN PERUSAHAAN % SISA SAHAM NEGARA RI TAHUN 2005 TIDAK ADA PRIVATISASI (Target APBN Rp 1 T) TAHUN 2006 PT PGN Tbk 5.975.7 IPO IPO Rp 4.088 miliar 55. 15 PT Jasa Marga PT Wijaya Karya 30 31.36 Total Tahun 2007 TAHUN 2008 TIDAK ADA PRIVATISASI (Target APBN Rp 0.05 miliar Rp 9.58 miliar 70 68. Dan pada tahun 2006 juga tidak ada PTP.b.63 miliar 72. sizing atas saham yang akan dilepas oleh Menteri BUMN.086 mliar Rp.863.195 T Rp. 2.3 Rp.854 miliar Rp.7 T SPO Rp 3.

Melakukan persiapan pelaksanaan privatisasi PT Garuda Indonesia dan PT Krakatau Steel yang telah mendapatkan persetujuan DPR dan rencananya akan dilaksanakan pada tahun 2009. Perlunya sosialisasi program privatisasi secara menyeluruh kepada seluruh stakeholders untuk menyamakan persepsi sehingga pelaksanaan privatisasi tidak terhambat. Menindaklanjuti proses pelaksanaan privatisasi 5 BUMN minoritas yang telah mendapatkan ada Peraturan Pemerintahnya. Mengusulkan kembali rencana privatisasi beberapa BUMN kepada Menteri Keuangan dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua Komite Privatisasi. Pada tahun 2008 tidak ada pelaksanaan privatisasi karena kondisi perekonomian dan pasar modal tidak mendukung. Tahun 2009 dilaksanakan privatisasi terhadap PT Bank Tabungan Negara (Persero). 3). 69 . Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan privatisasi Beberapa hal yang perlu diperhatikan yang dapat menjadi kendala/tantangan dalam pelaksanaa privatisasi adalah : 1). Pelaksanaan program privatisasi yang telah mendapat arahan Komite Privatisasi.Tbk merupakan privatisasi lanjutan yang sudah mendapat persetujuan DPR dan telah ada Peraturan Pemerintah. 3). 4). Melakukan langkah-langkah persiapan privatisasi terhadap BUMNBUMN yang disulkan tersebut. rekomendasi Menteri Keuangan dan persetujuan DPR memerlukan waktu yang relatif lama sehingga terkadang sering kehilangan momentum. d. sedangkan pelaksanaan privatisasi terhadap 6 BUMN Minoritas sampai saat ini masih dalam proses karena PP tentang privatisasi 6 BUMN minoritas tersebut baru terbit pada tanggal 31 Desember 2008. Perkembangan dan Penyelesaian Masih Berlanjut privatisasi adalah : 1). Pelaksanaan privatisasi dalam rangka restrukturisasi terhadap BUMN yang kondisinya sudah mengkhawatirkan (penyelamatan) sulit dilakukan karena tidak ada/terbatasnya investor yang berminat. pelaksanaan privatisasi Yang Hal-hal yang sedang ditindaklanjuti terkait dengan rencana pelaksanaan e. 2). 2).

BPK. Departemen Keuangan. 70 .SOP) Pelaksanaan PSO. para pejabat dari (Kementerian/Lembaga) K/L pemberi tugas PSO. dengan menampilkan para pakar dan pejabat K/L sebagai pembicara. para Direksi BUMN pelaksana PSO. Pembentukan Tim Kecil guna menyelesaikan proses finalisasi Kerangka Dasar (Grand Design) dan Prosedur Operasional Baku (Standard Operating Procedure . Finalisasi draft Peraturan Presiden (Perpres) tentang Kerangka Dasar (Grand Design) dan Prosedur Operasional Baku (Standard Operating Procedure SOP) Pelaksanaan PSO e. penerima tugas (operator). Sosialisasi Pelaksanaan PSO. - b. dan Kementerian BUMN serta para Direktur Keuangan BUMN pelaksana PSO. Keberadaan ketentuan tersebut sangat diperlukan untuk menghindari timbulnya multi tafsir terhadap pelaksanaan PSO baik dari sisi K/L pemberi tugas (regulator). dimana dari Rakor tersebut telah diperoleh berbagai masukan dan kesamaan pandangan mengenai prinsip pelaksanaan PSO. V dan VI DPR-RI. Kementerian BUMN telah melakukan berbagai kegiatan sebagai berikut: a. III. Kesamaan pandangan tersebut merupakan bahan masukan yang sangat berharga dalam penyusunan konsep Peraturan Presiden tentang Kerangka Dasar (Grand Design) dan Prosedur Operasional Baku (Standard Operating Procedure . pada tanggal 12 Mei 2009 di Bogor. antara lain melalui: Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) tentang PSO pada tanggal 3-4 Agustus 2006 di Bali. Penyusunan draft Peraturan Menteri BUMN tentang Pemisahan Pembukuan Kegiatan PSO dari Kegiatan Komersial BUMN. c.PSO).4). dan Kementerian BUMN.2. maupun pemeriksa (auditor).SOP) Pelaksanaan PSO dengan melibatkan wakil dari Kementerian Keuangan. yang dihadiri oleh para pimpinan Komisi IV. para pejabat Departemen Keuangan. d. yang dihadiri oleh para pejabat eselon II K/L pemberi tugas. Rapat Koordinasi (Rakor) pelaksanaan PSO. dimana dari kajian tersebut telah diperoleh model pemisahan pembukuan kegiatan PSO dari kegiatan komersial BUMN.3 Pelaksanaan Public Servive Obligation (PSO) Tahun 2005-2009 Terkait dengan arah Kebijakan Program Kewajiban Pelayanan Umum (Public Service Obligation . Beberapa ketentuan dan peraturan perundang-undangan yang terkait dengan privatisasi masih perlu disinkronisasikan kembali. Pengkajian pemisahan pembukuan kegiatan PSO dari kegiatan komersial BUMN.

b. 71 . Penghapusbukuan dan pelepasan asset yang dimiliki BUMN hanya dilakukan jika berdasarkan pertimbangan teknis dan ekonomis tidak menguntungkan bagi BUMN. Penghapusbukuan dan/atau Pemindahtanganan Aset (Aktiva Tetap) BUMN Kebijakan Kementerian BUMN dalam pengelolaan kekayaan BUMN lebih diarahkan pada optimalisasi/pemanfaatan aktiva tetap yang dimiliki BUMN terutama untuk aktiva tetap berupa tanah dan bangunan. Adapun Data Perkembangan Dana PSO selama 4 tahun terakhir dapat dijelaskan pada Lampiran 9 III. Pendapatan ikutan kegiatan utama BUMN akibat bertambahnya volume dengan adanya kerja sama pemanfaatan aktiva. BUMN dapat pula memperoleh akses dana/modal serta akses pasar melalui mitra kerjasama dalam pendayagunaan aset.2. BUMN akan menikmati pula hal-hal sebagai berikut : Penghematan beban atas aktiva yang semula idle (beban PBB dan biaya perawatan). Manfaat dari pelaksanaan pendayagunaan aset selain dapat menghasilkan tambahan pendapatan.4 Pelaksanaan Optimalisasi Aset BUMN 2005-2009 a.f. Tabel : Perkembangan Pendayagunaan Aset BUMN Periode tahun 2005 . Penyampaian draft Perpres tentang Kerangka Dasar (Grand Design) dan Prosedur Operasional Baku (Standard Operating Procedure . Pendayagunaan Aset BUMN Pendayagunaan aset BUMN dimaksudkan untuk menciptakan nilai tambah atas idle/underutilized sehingga dapat memberikan tambahan kontribusi kepada BUMN.SOP) Pelaksanaan PSO dan pembahasannya dengan Sekretariat Kabinet. Terbebasnya BUMN dari resiko okupasi aset akibat terlantarkan.2009 Keterangan/Tahun Persetujuan Pendayagunaan Aset BUMN Memperoleh Persetujuan Kajian (NDB) Pendayagunaan 2006 0 0 0 2007 45 Surat 17 BUMN 48 Nota 2008 15 Surat 12 BUMN 25 Nota 2009 18 Surat 12 BUMN 32 Nota Catatan : Unit Pelaksana Pendayagunaan Aset baru dibentuk akhir tahun 2006 dan secara efektif melakukan kegiatan pada tahun 2007.

Tabel : Perkembangan Penghapusbukuan Aktiva Tetap BUMN Periode tahun 2005 .Kepada Pemda utk proyek pembangunan .Penetapan persetujuan Menteri BUMN atas usulan penghapusbukuan dan pemindahtanganan aktiva tetap BUMN dilakukan secara prudent dengan mempertimbangkan aspek legal.Tanah dan Bangunan .Kepada Pemda/Instansi (jual beli) .Lelang/Hapus Administrasi 2004 144 95 49 8 17 119 2005 52 36 16 5 6 41 2006 23 13 10 1 3 19 2007 69 35 34 3 5 61 2008 2009 66 39 27 10 6 50 58 35 23 8 13 37 c. 72 . Kementerian BUMN pada tahun 2008 telah membangun aplikasi portal asset Kementerian BUMN dan telah mulai melakukan sosialisasi kepada 15 BUMN pada tahun 2009.Lainnya Pola Pemindahtanganan : .2009 Uraian Surat penghapusbukuan Aktiva Tetap BUMN Jenis Aktiva Tetap : . telah dilakukan langkah awal sejak tahun 2007 dengan memerintahkan kepada Direksi BUMN untuk melakukan inventarisasi dan pemetaan aktiva tetap yang dimiliki masing-masing perusahaan. Permohonan ijin atas penghapusbukuan harus disertai dengan menyampaikan Pakta Integritas dari Direksi yang bersangkutan. Penyediaan Sistem Informasi Aset BUMN Dalam rangka mewujudkan wadah inventarisasi data dan informasi asset BUMN berbasis Teknologi Informasi. Untuk mendukung persiapan implementasi Portal Aset Kementerian BUMN tersebut. operasional dan dampak keputusan terhadap kebijakan umum Kementerian BUMN dalam penghapusbukuan aktiva tetap BUMN.

Jl.196 Kbps. dan penyajian.id untuk seluruh aplikasi Kementerian Negara BUMN.III. Pengembangan sistem informasi. Medan Merdeka Selatan 13.2009 a. Upaya-upaya yang telah dilakukan dalam rangka pengumpulan. penyediaan 31 server untuk mendukung aplikasi yang dimiliki oleh Kementerian Negara BUMN yang berada di colocation Telkom Slipi dan penyediaan jaringan di Gedung Kementerian Negara BUMN. Penyediaan data dividen baik mencakup kegiatan perencanaan/penetapan target hingga monitoring penyetoran. (d) tersedianya draft panduan penyusunan masterplan TI BUMN. serta pendokumentasian laporan BUMN untuk memenuhi kebutuhan data dan informasi adalah: pengumpulan buku laporan BUMN yang kemudian dilanjutkan dengan inputing/pemasukan data ke dalam database. Pengembangan Sistem Informasi dan Teknologi Informasi Dalam kurun waktu tahun 2004-2009 pengembangan sistem informasi dan teknologi informasi yang telah dicapai adalah : Tersedianya draft masterplan teknologi informasi tahun 2006-2009 yang menjadi acuan pengelolaan sistem informasi/teknologi informasi Kementerian Negara BUMN Pengelolaan infrastruktur sistem informasi/teknologi informasi Kementerian Negara BUMN yaitu (a) tersedianya domain bumn. yaitu dengan penggantian dan penambahan PC untuk mendukung operasional Kementerian Negara BUMN dari 204 unit pada tahun 2004 menjadi 456 unit pada tahun 2009. pengolahan. (b) tersedianya layanan internet bagi seluruh pegawai selama 24/7. portal aset. Jakarta Pusat berjumlah 500 titik untuk 14 lantai.go. portal SDM.2. tata kelola TI BUMN dan sinergi TI BUMN yang dihasilkan oleh kelompok kerja TI BUMN yang dibentuk pada rapat koordinasi bidang TI antara Kementerian Negara BUMN dengan BUMN mulai tahun 2006.5 Pelaksanaan Penyediaan Data. disamping telah dilakukan penambahan bandwith layanan internet yang semula 256 Kbps menjadi 4. portal PKBL. - - 73 . Informasi serta Teknologi Informasi 2005 . (c) tersedianya satu PC untuk satu pegawai. (b) tersedianya portal publik Kementerian Negara BUMN yang telah diredesain. yaitu (a) layanan pengaduan melalui SMS dengan short code 2866 (SMS Center). penyimpanan laporan secara fisik di perpustakaan juga sudah dilakukan scaning laporan untuk menuju sistem pendokumentasian secara elektronik. (c) tersedianya 300 akun email bagi pegawai. Executive Information System (EIS) dan Office Automation (OA).

diikuti oleh 672 peserta dari 142 BUMN. dan Audited. Sosialisasi dan Pelatihan Aplikasi Pelatihan portal publik kepada admin BUMN yang dilaksanakan pada 6– 21 Agustus 2007 diikuti oleh 337 peserta dari 134 BUMN. Peluncuran dan sosialisasi portal publik diselenggarakan pada 22 Agustus 2007 yang dihadiri oleh 228 undangan yang terdiri dari Direksi BUMN. hingga electronic documentation. PKBL dan Publik kepada admin BUMN yang dilaksanakan pada 14 April – 8 Mei 2008 dan 27 Agustus – 8 September 2009. instansi pemerintah. dan wartawan.2009. Pelatihan seluruh portal kepada 50 BUMN yang mengajukan permintaan pelatihan tambahan kepada masing-masing BUMN mulai dari Oktober 2008 . electronic analyzing. b. Implementasi. Pelatihan Office Automation pada bulan Desember 2007 diikuti oleh pegawai Kementerian Negara BUMN. Pelatihan Portal EIS.  Pembentukan Kelompok Kerja TI BUMN yang bertugas menyusun panduan masterplan TI BUMN.  Rapat Koordinasi Bidang Sistem Informasi antara Kementerian Negara BUMN dengan BUMN pada bulan Desember 2006. SDM.  Sosialisasi pemakaian Open source di Kementerian Negara BUMN (Linux) pada tahun 2008. Pembangunan dan Pengelolaan Perpustakaan.  SDM Pengadaan outsourcing tenaga bidang TI. Hal ini mengingat dibutuhkan payung hukum dan SDM yang memadai untuk implementasi sistem baru dimana terdapat perubahan cara penyampaian laporan periodik BUMN yang semula disampaikan kepada Menteri BUMN dalam bentuk hardcopy sekarang dalam bentuk dokumen digital dan e-reporting. 74 .- Penyiapan dan penyampaian data untuk Laporan Kinerja Pemerintah Pusat yang dilakukan secara periodik yaitu Semester. Saat ini sedang dilakukan implementasi penyampaian data/laporan secara elektronik berbasis web melalui Executive Information System. Unaudited. Dengan aplikasi ini maka akan dapat dilakukan electronic reporting. Namun demikian pengisian/input data ke dalam database existing (sistem lama) tetap dilakukan secara paralel untuk memenuhi kebutuhan informasi di Kementerian BUMN. Tata Kelola TI BUMN dan Sinergi BUMN pada tahun 2006. 1 orang tahun 2004 menjadi 10 orang pada tahun 2009.

Berdasarkan data yang tersedia. Hal-hal yang perlu ditindaklanjuti Implementasi Portal Kementerian BUMN Berdasarkan catatan BPK bahwa pemanfaatan aplikasi belum optimal maka perlu diperlukan langkah-langkah untuk mengimplementasikan seluruh modul-modul secara bertahap yang membutuhkan dukungan (sponsorship) dari Menteri BUMN dalam bentuk kebijakan formal dan peraturan. dan panduan sinergi teknolgi informasi dapat ditetapkan Menteri BUMN sehingga dapat diimplementasikan sebagai pedoman bagi BUMN untuk menngkatkan peran teknologi informasi di perusahaan untuk menciptakan nilai tambah dan daya saing. dan kelanjutan implementasi sebelumnya.2009 Bantuan pemerintah Yang Belum Ditetapkan Statusnya (BPYBDS) pada umumnya merupakan investasi Pemerintah pada infrastruktur. Penyediaan Data dan Informasi Agar perubahan cara penyampaian laporan BUMN kepada Menteri BUMN dalam bentuk dokumen digital dan e-reporting. maka dibutuhkan kebijakan Kementerian BUMN yang secara terintegrasi mengaitkan dengan kepatuhan BUMN menyampaikan laporan dan dipertimbangkan dalam penilaian kinerja BUMN dan penilaian GCG BUMN. Penambahan jumlah SDM yang memiliki kompetensi Agar organisasi pengelola teknologi informasi dapat optimal mendukung pencapaian strategi dan tujuan Kementerian BUMN dengan memanfaatkan teknologi informasi. III.Kursus dan Pelatihan  CCNA 1 orang  CISA Reviw Course 2 orang  Linux 15 orang  Zend Framework 3 orang c. Panduan pengelolaan teknologi informasi di BUMN Konsep panduan pengelolaan teknologi informasi di BUMN yang meliputi panduan tata kelola.6 Pelaksanaan Penanganan Bantuan Pemerintah Yang Belum Ditetapkan Statusnya (BPYBDS) 2005 . umumnya BPYBDS berasal dari asset eks proyek berupa tanah dan bangunan. Melalui Kementerian Teknis Pemerintah melakukan pembangunan fasilitas serta infrastruktur yang dicatat sebagai asset Negara hasil proyek. panduan penyusunan master plan. efisiensi.2. meskipun ada beberapa BPYBDS berasal dari eks dana 75 . kebutuhan. maka dibutuhkan jumlah SDM yang memadai dan kompeten. Pengembangan sistem informasi dan teknologi informasi Pengembangan sistem informasi dan teknologi informasi 2010 – 2014 mengacu pada Rencana Strategis Kementerian BUMN 2010 – 2014 dengan memperhatikan perubahan teknologi.

Kelayakan penetapan status BPYBDS untuk dijadikan penyertaan atau lainnya seperti disewakan atau dijual putus.talangan/pinjaman dari Pemerintah seperti pada PT Sarana Karya maupun PT Dirgantara Indonesia.929.100 milyar 2.4 46.0 2008 (Audit) 46.0 100.566. Tahun 2008 PMN pada PT PGN sebesar Rp 99.0 59. karena kondisi sudah cukup lama.6 99.98 milyar 76 .692. Kondisi asset BPYBDS sangat bervariatif. Penanganan penetapan status BPYBDS menjadi PMN selama ini belum sebagaimana yang diharapkan.592.000.0 50.586.272 milyar 3. Dalam penetapan BPYBDS menjadi Penyertaan Modal Negara (PMN) diawali dengan usulan dari BUMN kepada Kementerian Teknis pemilik proyek.263.929.303.0 Catatan : 1.980. Perkembangan Rekapitulasi BPYBDS dan PMN Dalam Rp Juta Keterangan/Tahun Jumlah BPYBDS Menjadi PMN Saldo BPYBDS 2007 (Audit) 12. Tahun 2009 PMN pada PT PGN dan PJT II sebesar Rp 59. Tabel. Gambaran penanganan BPYBDS dapat dilihat pada Tabel berikut. Sebelum ditettapkannya BPYBDS. Rekapitulasi dan penanganan BPYBDS dimulai dari tahun 2007 sejak dikeluarkannya Keputusan Presiden Nomor 17 Tahun 2007 tentang Tim Penertiban Barang Milik Negara.0 12. Tahun 2007 PMN pada PT Inka sebesar Rp. Menteri Keuangan meminta BPKP melakukan reviu/audit guna menetapkan nilai actual BPYBDS yang akan dijadikan PMB.041. mengingat eksisting BPYBDS berasal dari akumulasi tahun-tahun sebelumnya sejak tahun 1990.272.931. karena beberapa pertimbangan : Pada dasarnya anggaran eks proyek tidak menyebutkan peruntukkan BPYBDS menjadi PMN. yang selanjutnya diteruskan kepada Kementerian Keuangan.991.2 2009 (un-Audit) 50. Aset Negara eks proyek Pemerintah diserahkelolakan kepada BUMN dengan ditandatanganinya Berita Acara Serah Terima Operasi (BASTO) atau Berita Acara Serah Terima (BAST).362.

Secara umum rencana rightsizing BUMN untuk mencapai jumlah dan skala BUMN yang lebih ideal serta rencana privatisasi pada tahun 2005–2009 belum dapat terlaksana sepenuhnya karena beberapa hal antara lain masih diperlukannya

kajian independen untuk beberapa sektor serta updating data untuk sektor-sektor yang waktu kajiannya dirasakan memerlukan pembaharuan datanya, kesamaan persepsi, serta sinkronisasi ketentuan dan peraturan perundang-undangan terkait. Dengan adanya kajian yang lebih mendalam serta sosialisasi dan koordinasi dengan instansi terkait, diharapkan program righsizing dan privatisasi dapat terlaksana sesuai rencana. Dari sisi peraturan perundangan, setiap BUMN dapat ditugaskan untuk melaksanakan kewajiban pelayanan umum/ public service obligation (PSO). PSO mempunyai peran penting dan strategis dalam pelaksanaan kebijakan Pemerintah khususnya dibidang subsidi. Oleh karena itu kondisi BUMN yang ditugaskan oleh Pemerintah (Kementerian/Lembaga – K/L) untuk melaksanakan tugas PSO harus senantiasa terpelihara dengan baik agar dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. Penugasan Pemerintah (K/L) kepada BUMN harus benar-benar memperhatikan peran dan fungsi BUMN sebagai unit usaha, di sisi lain penugasan Pemerintah tidak dapat dijadikan alasan oleh BUMN untuk mengalami kerugian. Pemisahan pembukuan antara kegiatan usaha komersiil dan kegiatan usaha atas dasar penugasan Pemerintah harus dilakukan secara jelas. Dalam rangka pelaksanaan pendayagunaan aset BUMN, dengan adanya ketentuan baku berupa peraturan Menteri diharapkan pemanfaatan aset BUMN akan semakin optimal. Sedangkan percepatan penyelesaian BPYBDS menjadi PMN akan membantu BUMN dalam melakukan restrukturisasi permodalan sehingga akan meningkatkan leverage perusahaan. Pembangunan dan pengembangan sistem informasi sangat diperlukan dalam proses pengolahan data pada Kementerian BUMN. Pengolahan data dengan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi sangat mendukung proses analisis secara lebih cepat dan akurat. Hal ini sangat dibutuhkan para pengambil keputusan dalam rangka pembinaan BUMN. Dengan mengikuti kemajuan perkembangan teknologi informasi, Kementerian BUMN akan lebih efektif melakukan pembinaan terhadap BUMN.

77

BAB IV PROGRAM PEMBINAAN BUMN TAHUN 2010 - 2014

IV. 1. Program Restrukturisasi 2010 - 2014 IV. 1.1. Definisi, Maksud dan Tujuan Restrukturisasi Sesuai dengan Undang-undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik negara, restrukturisasi adalah upaya yang dilakukan dalam rangka penyehatan BUMN yang merupakan salah satu langkah strategis untuk memperbaiki kondisi internal perusahaan guna memperbaiki kinerja dan meningkatkan nilai perusahaan. Restrukturisasi dilakukan dengan maksud untuk menyehatkan BUMN agar dapat beroperasi secara efisien dan efektif/produktif dan menerapkan tata kelola perusahaan yang baik (GCG). Restrukturisasi juga bertujuan untuk meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan, memberikan manfaat berupa dividen dan pajak kepada Negara, menghasilkan produk dan layanan dengan harga yang kompetitif kepada konsumen dan memudahkan pelaksanaan privatisasi. Pelaksanaan program restrukturisasi harus tetap memperhatikan asas biaya dan manfaat yang diperoleh. IV. 1.2. Ruang Lingkup Restrukturisasi a. Restrukturisasi Sektoral yang pelaksanaannya disesuaikan dengan kebijakan sektor dan/atau Peraturan Perundang-undangan; b. Restrukturisasi Perusahaan/Korporasi yang meliputi : 1). Peningkatan intensitas persaingan usaha, terutama di sektor-sektor yang terdapat monopoli, baik yang diregulasi maupun monopoli alamiah; 2). Penataan hubungan fungsional antara pemerintah selaku regulator dan BUMN selaku badan usaha, termasuk di dalamnya penerapan prinsipprinsip tata kelola perusahaan yang baik dan menetapkan arah dalam rangka pelaksanaan kewajiban pelayanan publik. 3). Restrukturisasi Internal yang mencakup keuangan, organisasi/ manajemen, operasional, sistem dan prosedur.

78

IV. 1.3. Program Restrukturisasi a. Restrukturisasi Sektoral 1). Rightsizing BUMN Program restrukturisasi sektoral pada intinya adalah untuk mencapai jumlah dan skala usaha BUMN yang ideal yang merupakan kelanjutan dan penajaman dari program rightsizing BUMN yang terdapat di dalam Master Plan BUMN 2005 – 2009. Sebagaimana telah dipaparkan pada bab sebelumnya bahwa dengan memperhatikan perkembangan BUMN yang ada saat ini (tahun 2009) sebanyak 141 BUMN, sebagian besar merupakan perusahaan dengan kinerja dan skala usaha yang relatif kecil dengan kinerja yang belum optimal. Jika diperhatikan, dari 141 BUMN yang ada pada akhir tahun 2009, berdasarkan data per 31 Desember 2008, sebanyak 25 BUMN (25 BUMN besar) telah mempresentasikan 97,16% dari total aset, 91,73% dari total ekuitas, 86,69% dari total penjualan dan 98,11% dari total laba bersih seluruh BUMN. Menyadari bahwa sebagian besar BUMN yang ada saat ini kinerjanya belum optimal dan belum memiliki daya saing yang kuat terutama dalam menghadapi perubahan iklim usaha yang sedemikian cepat dalam era globalisasi dimana kegiatan perusahaan tidak lagi dibatasi oleh batas-batas antar negara dan adanya saling ketergantungan antar bangsa, pasar dan perusahaan-perusahaan. Kenyataan tersebut mengharuskan Pemerintah untuk mengambil langkah-langkah strategis dan nyata guna terwujudnya BUMN yang handal dan mampu menjadi pemain utama (champion) baik di tingkat nasional, regional maupun global, sehingga reformasi BUMN melalui restrukturisasi (revitalisasi), profitisasi dan privatisasi menjadi perioritas utama Kementerian BUMN dalam kebijakan pembinaan BUMN ke depan. Reformasi BUMN yang menjadi perioritas utama kebijakan Kementerian BUMN dalam pembinaan BUMN tersebut dituangkan dalam Program Rightsizing BUMN untuk memperbaiki struktur bisnis BUMN 79

Sedangkan terhadap BUMN yang bidang usahanya atau produk/jasa yang dihasilkan tidak termasuk dalam kategori “menyangkut hajat hidup orang banyak”. profil sektoral. Kriteria BUMN yang “menyangkut hajat hidup orang banyak” selama ini menjadi perdebatan berbagai kalangan. BUMN-BUMN yang secara nyata mengemban fungsi Public Service Obligation (PSO) akan tetap dipertahankan keberadaannya tanpa mengurangi tuntutan efisiensi dan transparansi manajemen. Pedoman Rightsizing BUMN “Kesepakatan” yang melibatkan berbagai elemen stakeholders BUMN mengenai bidang usaha atau produk/jasa yang dihasilkan BUMN yang “menyangkut hajat hidup orang banyak” perlu diterjemahkan secara lebih riil. namun beberapa kriteria di bawah ini setidaknya dapat menerjemahkan berbagai pendapat tersebut yaitu: 80 . penciptaan nilai dan potensi sinergi antar BUMN tanpa mengabaikan azas-azas yang terdapat dalam Pasal 33 UUD 1945. dan dilakukan regrouping/konsolidasi. 2). untuk mencapai jumlah dan skala usaha BUMN yang lebih ideal.secara menyeluruh. Program ini tetap dilakukan berdasarkan pertimbangan urgensi kepemilikan mayoritas Negara pada suatu BUMN. kinerja. tertutama untuk sektor-sektor atau BUMN yang dirasakan Negara tidak perlu lagi ikut serta dalam sektor usaha tersebut. Ini berdasarkan pada konsep dasar penataan BUMN bahwa apapun bentuknya kebijakan penataan BUMN tidak boleh mengurangi fungsi pelayanan kepada masyarakat. maka kepemilikan Negara pada BUMN tersebut dapat dipertimbangkan untuk tidak mayoritas atau bahkan dilepas (divestasi). BUMN-BUMN yang bidang usaha atau produk/jasa yang dihasilkannya termasuk dalam kategori “menyangkut hajat hidup orang banyak” sebagaimana digariskan pada Pasal 33 UUD 1945 tetap harus dipertahankan kepemilikan mayoritas Negara pada BUMN tersebut. Program rightsizing BUMN adalah program utama dari program restrukturisasi/penataan kembali BUMN dengan cara pemetaan secara lebih tajam.

Penataan BUMN melalui penerapan program rightsizing BUMN perlu dikaji secara obyektif dengan mengedepankan kepentingan jangka panjang BUMN dan perekonomian nasional. Secara umum cara atau model rightsizing BUMN tersebut dapat dilakukan melalui berbagai shareholder action dengan gambaran sebagai berikut: Stand Alone Kebijakan stand alone (tetap berdiri sendiri) diterapkan untuk mempertahankan keberadaan BUMN tertentu utamanya yang memiliki salah satu dari kriteria sebagai berikut: Market share cukup signifikan. Berbasis Sumber Daya Alam yang menurut Undang-undang harus dimiliki mayoritas oleh Negara. ataukah harus lebih dari 51%. maka dapat dikategorikan sebagai BUMN yang ”menyangkut hajat hidup orang banyak”. Apabila suatu BUMN yang bidang usaha atau produk/jasa yang dihasilkan memiliki satu atau lebih kriteria-kriteria tersebut. mungkin perlu dipertimbangkan untuk mempertahankan kepemilikan Negara sedikitnya 55%. Mengandung unsur keamanan. Merger/Konsolidasi 81 . Belum memiliki potensi untuk dimerger/konsolidasi ataupun holding. Single player atau masuk sebagai pemain utama. Keberadaannya berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku dan umumnya captive market. Namun hal ini masih menyisakan pertanyaan berapa minimal saham yang harus dimiliki oleh Negara pada kategori ini.Amanat Pendirian oleh Peraturan Perundangan untuk tetap dimiliki oleh Negara. Mengemban PSO. BUMN tersebut mayoritas sahamnya harus dimiliki oleh Negara. Bila memperhitungkan kemungkinan terjadi dilusi pada momen-momen tertentu. Melakukan Konservasi Alam/Budaya. Penting bagi stabilitas ekonomi/Keuangan Negara. Konsekuensinya. Apakah kepemilikan 51% sudah mencukupi. Terkait erat dengan Keamanan Negara.

Masih ada prospek/ bisnis prospektif. Menciptakan value creation melalui perbaikan struktur permodalan dan peningkatan kapasitas pendanaan. prospek bisnis yang cerah dan kepemilikan Pemerintah yang masih dominan. Nilai manfaat secara kualitatif yang dapat dicapai melalui merger/konsolidasi secara umum adalah : Meningkatkan efisiensi karena masing-masing perusahaan akan lebih fokus pada kegiatan operasional. Holding Pembentukan holding ini menjadi pilihan yang rasional untuk BUMN yang berada dalam sektor yang sama namun memiliki produk maupun sasaran pasar yang berbeda. Kompetisi tinggi. Secara garis besar kriteria untuk BUMN-BUMN yang akan di-merger/konsolidasi adalah sebagai berikut: Jenis usaha dan segmen pasar sama. Kinerja tergolong kurang baik. Going Concern diragukan. Jenis usaha dan segmen pasar berlainan. seperti penciptaan industri hilir baru. Meningkatkan skala ekonomis perusahaan dengan daya saing yang lebih baik. 82 . namun masih memiliki potensi untuk digabung dengan BUMN lain. pendanaan dan kebijakan strategis lainnya ditarik ke perusahaan induk. Pemerintah merupakan pemilik mayoritas. Terciptanya sinergi diantara perusahaan asal. Memperbaiki struktur permodalan dan membuka peluang pendanaan untuk ekspansi bisnis. Kompetisi tinggi. Beberapa kriteria utama BUMN-BUMN yang akan diholding adalah sebagai berikut: Sektor usaha sama. sedangkan pemasaran. tingkat kompetisi yang tinggi.Kebijakan ini dilakukan untuk mencapai struktur yang prospektif bagi BUMN yang berada dalam sektor bisnis yang sama dengan pasar yang identik dan kepemilikan Pemerintah 100%. Mayoritas saham dimiliki Pemerintah.

terdapat kriteria tambahan lainnya. sementara kemampuan negara tidak memungkinkan melakukan tambahan modal. pendanaan dan kebijakan strategis lainnya ditarik ke perusahaan induk. sedangkan pemasaran. seperti penciptaan industri hilir baru. Dalam rangka penyelamatan dan mempertahankan kelangsungan hidup suatu BUMN. yaitu: Berbentuk Persero. Guna meningkatkan kinerja dan pengembangan usaha dibutuhkan modal yang cukup besar. Meningkatkan skala ekonomis perusahaan dengan daya saing yang lebih baik. dimana kemampuan negara tidak memungkinkan melakukan tambahan modal. Divestasi Terkait dengan Program Rightsizing BUMN. 83 . Bergerak di bidang usaha yang kompetitif atau pihak swasta juga telah banyak ikut berperan serta dalam menghasilkan produk/jasa yang sama dengan suatu BUMN yang akan didivestasi. Menciptakan value creation melalui perbaikan struktur permodalan dan peningkatan kapasitas pendanaan.Nilai manfaat secara kualitatif yang dapat dicapai melalui pembentukan holding secara umum adalah : Meningkatkan efisiensi karena masing-masing perusahaan asal lebih fokus pada kegiatan operasional. Kriteria BUMN yang dapat didivestasi sesuai dengan kriteria BUMN yang boleh diprivatisasi sebagaimana diatur dalam Undangundang Nomor 19 tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara dan Peraturan Pemerintah Nomor 33 tahun 2005 tentang tata Cara Privatisasi Perusahaan Perseroan (Persero). kebijakan divestasi dilakukan dengan melepas saham milik Negara pada suatu BUMN dalam jumlah mayoritas. Selain kriteria-kriteria tersebut. Memperbaiki struktur permodalan dan membuka peluang pendanaan untuk ekspansi bisnis. terkait dengan Program Rightsizing. Memenuhi ketentuan/peraturan pasar modal apabila divestasi saham Negara RI pada suatu BUMN dilakukan melalui pasar modal. Terciptanya sinergi diantara perusahaan asal.

terdapat 3 (tiga) program utama yang menjadi tanggung jawab Kementerian BUMN yang meliputi restrukturisasi PT PLN. Skenario Program Rightsizing BUMN 2010 . Usahanya tidak prospektif. Melalui penerapanan Program Rightsizing BUMN. Ekuitas negatif. Kompetisi usaha tinggi. Eksternalitas rendah. diharapkan Negara akan memiliki beberapa BUMN dengan jumlah dan skala usaha BUMN yang ideal dengan skenario rightsizing sebagai berikut: Tahun 2010 Tahun 2011 Tahun 2012 Tahun 2013 Tahun 2014 ± 117 ± 102 ± 91 ± 85 ± 78 BUMN BUMN BUMN BUMN BUMN 84 . 3). restrukturisasi PT Pertamina dan pelaksanaan rightsizing 33 BUMN. Dalam beberapa tahun mengalami kerugian terus-menerus.2014 Sejalan dengan dengan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2010 tentang Percepatan Pelaksanaan Perioritas Pebangunan Nasional Tahun 2010.Likuidasi Kebijakan likuidasi merupakan langkah terakhir yang diambil untuk suatu BUMN guna mencegah kerugian yang lebih besar yang dapat menimbulkan permasalahan yang lebih berat. Secara garis besar kriteria BUMN yang akan dilikuidasi adalah sebagai berikut: Tidak ada PSO – ”non strategis” (tidak harus dipertahankan status BUMN).

Istaka. HK. PT Virama Karya. Nindya. PP. Amarta Jmlh Sblm 9 SA Adhi. PP. BUMN Konsultan Konstruksi terdiri dari PT Indra Karya. Brantas. PT Istaka Karya. Waskita. Rencana restrukturisasi BUMN Konstruksi dan Konsultan Konstruksi telah dilakukan kajian oleh Konsultan PT Primus Sarana Artha pada tahun 2005. Indah. HK. Nindya. PT Waskita Karya. WIKA. PT Indah Karya. PT Wijaya Karya Tbk. Brantas.Program Rightsizing BUMN Tahun 2010 No 1 Sektor BUMN Kontruksi: Adhi. PT PP Tbk. Virama. PT Nindya Karya. PT Amarta Karya. Amarta. Istaka 5 5 BUMN Konsultan Konstruksi dialihkan ke BUMN Konstruksi SA 1 Diinbrengkan ke Pelindo 1 Diinbrengkan ke PLN PTPN I-XIV & RNI 0 0 Jenis Restrukturisasi L D H MK Waskita diambil alih oleh PPA Jmlh Stlh 8 Konsultan Konstruksi : Indra. WIKA. Yodya & Bina 0 2 Pengerukan PT Rukindo 3 Pelayaran : BAG 4 Perkebunan : PT PN I-XIV & RNI 15 - - - 1 5 Aneka Industri : PT Cambric Primissima 6 Pertambangan: PT Sarana Karya Jumlah 1 - - - 0 1 33 - - - - 0 9 BUMN Konstruksi dan Konsultan Konstruksi BUMN Konstruksi terdiri dari PT Adhi Karya Tbk. 85 . PT Bina Karya dan PT Yodya karya. PT Hutama Karya. PT Brantas Adipraya.

Namun demikian. 5 BUMN Konsultan Konstruksi direncanakan akan diinbrengkan pada BUMN Konstruksi SA. Rencana Restrukturisasi BUMN Perkebunan (PTPN I – XIV dan PT RNI) telah dilakukan kajian PT Danareksa Sekuritas dan PT Bahana Securities pada tahun 2005 dan dilanjutkan oleh Tim Holding BUMN Perkebunan (terdiri dari wakil Kementerian BUMN. sedangkan 5 BUMN Konsultan Konstruksi akan diakuisisi/inbreng ke 6 BUMN tersebut. Dalam forum BUMN Karya telah disepakati bahwa 9 BUMN Konstruksi akan diregrouping menjadi 6 BUMN. Hasil kajian merekomendasikan pembentukan satu holding. rencana restrukturisasi 9 BUMN Konstruksi akan dipertahankan SA sebanyak 8 BUMN.IV). PT Wijaya Karya Tbk. telah dilakukan penilaian kembali terhadap saham Negara RI pada PT BAG oleh konsultan independen untuk menentukan nilai wajar (nilai pasar) atas saham Negara RI pada PT BAG tersebut yang akan dialihkan kepada PT PLN untuk dituangkan di dalam Rancangan Peraturan Pemerintah tentang pengalihan saham tersebut. PT PP Tbk. PT Virama Karya. BUMN Perkebunan BUMN Perkebunan terdiri dari 15 BUMN. maka sebelum rencana restrukturisasi dilaksanakan. perlu dilakukan kajian ulang dengan memperhatikan kondisi terkini. 86 . Sedangkan 4 BUMN Konstruksi lainnya dan 5 BUMN Konsultan Konstruksi (PT Indra Karya. Sesuai dengan ketentuan Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.Hasil kajian merekomendasikan dari 9 BUMN Konstruksi akan tetap dipertahankan 5 BUMN Konstruksi Stand Alon (SA). PT Indah Karya. Memperhatikan kondisi masing-masing BUMN sampai dengan akhir tahun 2009. Kementerian Keuangan dan BUMN Perkebunan) pada tahun 2006-2007. PT Bina Karya dan PT Yodya karya) akan dilakukan program Merger/Konsolidasi dengan mengalihkan saham milik Negara kepada 5 BUMN Konstruksi. yaitu PT Adhi Karya Tbk. PT Hutama Karya. mengingat hasil kajian sudah cukup lama (tahun 2005). PT Rukindo Saham Negara RI pada PT Rukindo direncanakan akan diinbrengkan kepada BUMN Kepelabuhan (PT Pelindo I . PT BAG Terhadap PT BAG akan dilakukan pengalihan Saham Negara RI pada PT BAG kepada PT PLN dalam rangka penyelamatan PT BAG. PT Waskita Karya. yaitu PTPN I – XIV dan PT RNI. sedangkan PT Waskita Karya karena memerlukan restrukturisasi permodalan akan dikonsolidasikan dengan PT PPA yang mengakibatkan kepemilikan Negara minoritas.

Deputi Menteri BUMN yang membidangi BUMN Perkebunan dan Deputi Menteri BUMN Bidang Restrukturisasi dan Privatisasi. menurut ketentuan Tidak bergerak di sektor tertentu yang oleh pemerintah diberikan tugas khusus untuk melaksanakan kegiatan tertentu yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat. 87 . baik internal maupun eksternal telah mengalami perubahan yang cukup signifikan.210/M/2/2008 tanggal 28 Februari 2008 telah menyatakan sependapat dengan rencana pembentukan holding BUMN Perkebunan. Menteri Pertanian melalui surat Nomor 45/TU. terutama akibat krisis keuangan pada akhir tahun 2008. Telah dilaksanakan Seminar tentang Holding BUMN Perkebunan yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Hukum dan Pembangunan pada tanggal 18 Maret 2010 yang dibuka oleh Menteri BUMN dan dihadiri oleh Ketua Komisi VI DPR RI dan beberapa anggota Komisi VI dan Komisi XI DPR RI.79%) melalui metode penjualan langsung kepada investor (strategic Sale/SS) dengan pertimbangan : Berada pada industri/sektor usaha yang kompetitif dan unsur teknologinya cepat berubah. Tidak bergerak di sektor pertahanan dan keamanan. Beberapa tahun terakhir mengalami kerugian dan nilai ekuitas terus menurun. Nomor S867/MBU/2008 tanggal 11 November 2008 & Nomor S-67/MBU/2009 tanggal 29 Januari 2009. Dalam seminar tersebut dapat disimpulkan bahwa restrukturisasi BUMN Perkebunan dilakukan melalui pembentukan Holding BUMN Perkebunan yang akan dilaksanakan pada tahun 2010. Menanggapi surat Menteri BUMN Nomor S-10/MBU/2008 tanggal 4 Januari 2008 kepada Menteri Keuangan yang juga ditembuskan kepada Menteri. PT Cambrics Primissima PT Cambrics Primissima akan dilakukan divestasi seluruh saham milik Negara (52. Mengingat kondisi BUMN Perkebunan.Telah dilakukan pembahasan di Rakortas pada tanggal 8 November 2007. Tidak mengelola sumber daya alam yang peraturan perundangan tidak boleh diprivatisasi. Bidang usahanya menurut Undang-undang tidak secara khusus harus dikelola oleh BUMN. Telah disampaikan surat Menteri Negara BUMN kepada Menteri Keuangan yaitu Nomor : S-10/MBU/2008 tanggal 4 Januari 2008. maka rencana restrukturisasi BUMN Perkebunan perlu dilakukan kajian ulang dengan memperhatikan kondisi terkini.

Tidak bergerak di sektor pertahanan dan keamanan. sejak tahun 2008 telah dilakukan KSO dengan PT Timah Tbk. jaringan pemasaran yang lebih luas dan sistem manajerial yang lebih baik.86 milyar untuk investasi. akan terjadi rightsizing terhadap 33 BUMN. juga diperlukan adanya alih teknologi. Guna memperbaiki kinerja. dimana PT Timah Tbk telah memberikan dana sebesar Rp 17. Terbatasnya akses pendanaan karena performance neraca yang terus memburuk. pengembalian KP dan modal kerja. Peralatan dan fasilitas produksi sangat terbatas dan tua dan kesulitan likuiditas. Kesulitan akses pendanaan untuk investasi dan modal kerja karena performance neraca yang jelek. juga diperlukan adanya alih teknologi. Pangsa pasar masih terbatas (PU). Untuk kelangsungan hidup dan pengembangan usaha selain membutuhkan dana. Tidak mengelola sumber daya alam yang peraturan perundangan tidak boleh diprivatisasi. sedangkan kemungkinan untuk mendapatkan tambahan Penyertaan Modal Negara (PMN) sangat kecil. PT Sarana Karya PT Sarana Karya akan dilakukan divestasi seluruh saham milik Negara (100%) melalui metode penjualan langsung kepada investor (strategic Sale/SS) dengan mengutamakan akuisisi oleh BUMN lain (akusisi) dengan pertimbangan : Berada pada industri/sektor usaha yang kompetitif dan unsur teknologinya cepat berubah. jaringan pemasaran yang lebih luas dan sistem manajerial yang lebih baik. 88 . sehingga pada akhir tahun 2010 diharapkan jumlah BUMN menjadi ± 117 BUMN. sedangkan kemungkinan untuk mendapatkan tambahan Penyertaan Modal Negara (PMN) sangat kecil. Bidang usahanya menurut Undang-undang tidak secara khusus harus dikelola oleh BUMN. menurut ketentuan Tidak bergerak di sektor tertentu yang oleh pemerintah diberikan tugas khusus untuk melaksanakan kegiatan tertentu yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat. Untuk kelangsungan hidup dan pengembangan usaha selain membutuhkan dana.Operasional perusahaan mulai terganggu karena peralatan sudah tua dan kesulitan likuiditas. Pada tahun 2010.

PT Sarinah. Jasa Raharja. Asabri. Taspen. Djakarta Lloid. RUI. RUI. ASEI. Askrindo Jmlh Sblm 10 Jenis Restrukturisasi L D H Jmlh Stlh 10 SA Askes. KF & Biofarma Jumlah 4 2 - - - 2 1 3 - - - - 1 3 - - - - 1 6 Perhutani 2 - - Inhutani I-V - - 2 - - 1 3 - - - - 1 3 Biofarma 36 - - INAF & KF 2 21 89 . Taspen. PT Pertani 8 Pertambangan : PT BA. ANTAM & TIMAH 9 Farmasi : INAF. Jamsostek. Jamsostek. PT PP Berdikari 5 Pelayaran : Pelni. ASDP 6 Kehutanan : Inhutani I-V & Perhutani 7 Pertanian : PT SHS. Jasindo.Program Rightsizing BUMN Tahun 2011 No 1 Sektor BUMN Asuransi : Askes. ASEI. Jiwasraya. Jasindo. Jiwasraya. Jasa Raharja. Asabri. Askrindo - MK - 2 Pelabuhan : Pelindo I-IV 3 Kebandarudaraan : AP I – II 4 Perdagangan : PT PPI.

PT Jiwasraya dan PT Jasa Raharja dan PT Askrindo. PT Taspen. PT Askes. 90 . PT Askes. BUMN Perdagangan BUMN Perdagangan terdiri dari 3 BUMN. PT Jasindo. yaitu PT ASABRI. yaitu PT Pelni. PT RUI. namun sebelumnya perlu dilakukan kajian terlebih dahulu. namun sebelumnya perlu dilakukan kajian terlebih dahulu. PT Taspen. BUMN Kebandar-udaraan BUMN Kebandar-udaraan terdiri dari 2 BUMN. PT Sarinah dan PT Berdikari. Terhadap BUMN perdagangan tersebut akan dilakukan Merger/Konsolidasi menjadi 1 BUMN. yaitu PT Angkasa Pura I & II. BUMN Pelayaran BUMN Perlayaran terdiri dari 3 BUMN. 10 BUMN Asuransi tersebut tetap SA. namun sebelumnya perlu dilakukan kajian terlebih dahulu.BUMN Asuransi BUMN Asuransi terdiri dari 10 BUMN. PT Jamsostek. PT ASEI. Dengan demikian. yaitu PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PT PPI. yaitu PT Pelindo I – IV. sehingga tetap menjadi BUMN (SA). BUMN Pelabuhan BUMN Pelabuhan terdiri dari 4 BUMN. dan PT ASDP. 4 BUMN Asuransi (PT ASABRI. PT Jamsostek) akan menjadi Badan Penyelenggara SJSN dengan kemungkinan perubahan bentuk hukum menjadi Perusahaan Umum (Perum). Dari 4 BUMN tersebut akan dilakukan pembentukan 2 holding BUMN Pelabuhan berdasarkan wilayah. Terhadap 3 BUMN Pelayaran tersebut akan dilakukan pembentukan 1 holding BUMN Pelayaran. PT Djakarta Lloyd. yaitu Wilayah Barat dan Wilayah Timur. namun sebelumnya perlu dilakukan kajian terlebih dahulu. Dari 2 BUMN tersebut akan dilakukan pembentukan 1 holding BUMN kebandar-udaraan.

yaitu PT Inhutani I – V dan Perum Perhutani. yaitu PT Antam Tbk. 91 . BUMN Farmasi BUMN Farmasi terdiri dari 3 BUMN. BUMN Pertambangan BUMN Pertambangan terdiri dari 4 BUMN. namun sebelumnya perlu dilakukan kajian terlebih dahulu. namun sebelumnya perlu dilakukan kajian terlebih dahulu. Terhadap 2 BUMN Farmasi lainnya (PT Kimia Farma Tbk dan PT Indofarma Tbk) telah dilakukan kajian oleh PT Mandiri Sekuritas pada tahun 2005. PT Bio Farma tetap dipertahankan SA karena adanya penugasan khusus dari pemerintah untuk memperoduksi vaksin.BUMN Kehutanan BUMN Kehutanan terdiri dari 6 BUMN. Nomor S867/MBU/2008 taggal 11 Nopember 2008 & Nomor S-67/MBU/ 2009 taggal 29 Januari 2009 Mengingat kajian dilakukan pada tahun 2006 dan beberapa tahun terakhir telah terjadi banyak perubahan kondisi baik internal maupun eksternal. yaitu PT Bio Farma. Terhadap BUMN Pertanian tersebut akan dilakukan Merger/Konsolidasi menjadi 1 BUMN. PT Timah Tbk dan PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PT BA Tbk). Terhadap PT Inhutani I – V akan dilakukan pembentukan 1 holding. yaitu PT Sang Hyang Seri dan PT Pertani. PT Kimia Farma Tbk dan PT Indofarma Tbk. Telah disampaikan surat Menteri Negara BUMN kepada Menteri Keuangan yaitu Nomor : S-10/MBU/2008 taggal 4 Januari 2008. Rencana restrukturisasi terhadap 3 BUMN Pertambangan tersebut telah dilakukan kajian oleh Citigroup sebagai Financial Advisor (FA) dan Soemadipradja & Taher (Konsultan Hukum) pada tahun 2006 yang merekomendasikan pembentukan perusahaan induk (holding) yang mengintegrasikan seluruh BUMN Pertambangan (Integrated Resouces Comapny/IRC). maka rencana restrukturisasi BUMN Pertambangan perlu dilakukan kajian ulang dengan memperhatikan kondisi terkini. Perum Perhutani tetap dipertahankan berdiri sendiri (SA) BUMN Pertanian BUMN Pertanian terdiri dari 2 BUMN.

Sucofindo 3 Balai Pustaka. Alternatif lain yang direkomendasikan adalah pembentukan holding BUMN Farmasi. PT Pradya Paramita.KKA. Program Rightsizing BUMN Tahun 2012 No Sektor BUMN 1 Sertifikasi Sucofindo. Survai Udara Penas 2 Kertas & Percetakan/ Penerbitan : PT Balai Pustaka. Mengingat kajian dilakukan pada tahun 2005 dan beberapa tahun terakhir telah terjadi banyak perubahan kondisi baik internal maupun eksternal. sehingga pada akhir tahun 2011 jumlah BUMN akan menjadi ± 102 BUMN. SI. DPS. IKI. PERURI. Pada tahun 2011. PAL 5 Aneka Industri : PT Garam PT Insan Jumlah Jmlh Sblm 4 SA BKI Jenis Restrukturisasi L D H Survai Udara Penas KKA & Kertas Leces MK SI. Kertas Leces 3 Penunjang Pertanian : Perum Jasa Tirta I/II 4 Dok & Perkapalan : PT DKB. BKI.Hasil Kajian merekomendasikan untuk dilakukan merjer/konsolidasi melalui peleburan PT Kimia Farma Tbk dengan PT Indofarma Tbk. & Pradya Paramita Jmlh Stlh 2 6 Peruri & PNRI 2 - - - - 1 4 - - - - 1 2 - - - - 0 18 7 92 . PNRI. akan terjadi rightsizing terhadap 35 BUMN. maka rencana restrukturisasi BUMN Farmasi perlu dilakukan kajian ulang dengan memperhatikan kondisi terkini.

PT Dok & Perkapalan Kodja Bahari (PT DKB). PT BP dan PT Pradnya Paramita akan dilakukan merger/konsolidasi menjadi 1 BUMN. PT Balai Pustaka (PT BP) dan PT Pratnya Paramita. yaitu Perum Percetakan Uang RI (PERURI). PT Kertas Kraft Aceh (PT KKA). PERURI dan Perum PNRI akan tetap dipertahankan berdiri sendiri (SA).BUMN Sertifikasi BUMN Sertifikasi terdiri dari 4 BUMN. PT Sucofindo. yaitu PT Biro Klasifikasi Indonesia (PT BKI). PT KKA dan PT Kertas Leces akan dilakukan divestasi seluruh saham Negara RI melalui metode penjualan saham Negara langsung kepada investor (strategic sale/SS) atau pengalihan saham Negara kepada BUMN lain. Rencana restrukturisasi BUMN Dok & Perkapalan telah dilakukan kajian terhadap PT DKB dan PT PAL Indonesia oleh PT Sucofindo Appraisal Utama pada tahun 2008. PT Dok & Perkapalan Surabaya (PT DPS) dan PT Industri Kapal Indonesia (PT IKI). PT Survei Udara Penas akan dilakukan tindakan likuidasi karena kondisi perusahaan baik keuangan. PT Sucofindo dan PT Surveyor Indonesia akan dilakukan Merger/Kosolidasi. yaitu PT PAL Indonesia. BUMN Kertas. 93 . Percetakan dan Penerbitan BUMN Kertas. BUMN Dok dan Perkapalan BUMN Dok & Perkapalan terdiri dari 4 BUMN. percetakan dan penerbitan terdiri dari 6 BUMN. Perum Jasa Tirta I dan Perum Jasa Tirta II akan dilakukan merger/konsolidasi menjadi 1 BUMN. namun sebelumnya perlu dilakukan kajian terlebih dahulu. PT BKI akan tetap dipertahankan SA. PT Kertas Leces. Perum Percetakan Regara RI (Perum PNRI). yaitu Perum Jasa Tirta I dan Perum Jasa Tirta II. PT Surveyor Indonesia dan PT Survai Udara Penas. BUMN Penunjang Pertanian BUMN Penunjang Pertanian terdiri dari 2 BUMN. namun sebelumnya perlu dilakukan kajian terlebih dahulu. operasional dan prospek usaha yang tidak memungkinan lagi untuk dipertahankan. namun sebelumnya perlu dilakukan kajian terlebih dahulu.

PT Insan dan PT Garam. maka rencana restrukturisasi BUMN Dok & Pertambangan perlu dilakukan kajian ulang dengan memperhatikan kondisi terkini. yaitu PT Iglas. selanjutnya dibentuk holding BUMN Dok dan Perkapalan bersama-sama dengan BUMN Dok dan Perkapalan lainnya. PT BGR. Mengingat kajian dilakukan pada tahun 2005 dan beberapa tahun terakhir telah terjadi banyak perubahan kondisi baik internal maupun eksternal. BUMN Aneka Industri BUMN Aneka Industri terdiri dari 4 BUMN. PGN - PT EMI - - 3 2 - - - 1 4 Bulog. Terhadap PT Garam dan PT Insan akan dilakukan divestasi seluruh saham milik Negara melalui metode penjualan langsung saham Negara RI kepada investor (strategic sale/SS) dengan pertimbangan selain membutuhkan dana untuk memperbaiki kinerja dan pengembangan usaha. Pertamina. EMI 3 Perikanan : Perikanan Nusantara & PPPS 4 Logistik Perum Bulog. PPFN 2 Energi : PLN. VTP PT Iglas - - 2 - - 0 15 9 94 . PT VTP. PT HIN. akan terjadi rightsizing terhadap 18 BUMN. juga membutuhkan teknologi yang lebih baik. PT TWC. Pada tahun 2012. jaringan pemsaran yang lebih luas dan sistem manajerial yang lebih baik. sehingga pada akhir tahun 2012 jumlah BUMN akan menjadi ± 91 BUMN. PGN. Program Rightsizing BUMN Tahun 2013 No Sektor BUMN 1 Hotel & Pariwisata : PT BTDC.Hasil kajian merekomendasi untuk dilakukan restrukturisasi internal terlebih dahulu. Pertamina. yaitu PT DPS dan PT IKI. Posindo 5 Aneka Industri PT Iglas Jumlah Jmlh Stlh 4 Jenis Restrukturisasi L D H BTDC. HIN Jmlh Stlh 3 SA PT TWC PPFN MK - 4 PLN. Posindo 1 - BGR.

BUMN Energi BUMN Energi terdiri dari 4 BUMN. PT BTDC dan PT HIN akan dijadikan holding. BUMN Logistik BUMN Logistik terdiri dari 4 BUMN. BUMN Perikanan BUMN Perikanan teridi dari 2 BUMN. PT Banda Ghara Reksa (PT BGR). yaitu PT Perikanan Nusantara dan Perum Prasarana Perikanan Samudera (Perum PPS). PT EMI akan dilakukan divestasi seluruh saham Negara RI melalui penjualan langsung kepada investor (strategic sale/SS) atau pengalihan seluruh saham Negara kepada BUMN lain. PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PT PGN Tbk). yaitu PT Hotel Indonesia Natour (PT HIN). PT PGN Tbk tetap dipertahankan berdiri sendiri (SA). PT TWC Borobudur. yaitu Perum Bulog. namun sebelumnya harus dilakukan kajian terlebih dahulu. PT BGR dan PT VTP akan dilakukan divestasi seluruh saham negara melalui metode penjualan saham negara langsung kepada investor (strategic sale/SS) atau pengalihan seluruh saham negara pada BUMN lain. PT BTDC. PT Perikanan Nusantara dan Perum Prasarana Perikanan Samudra akan dilakukan merger/konsolidasi. yaitu PT Perusahaan Listrik Negara (PT PLN). PT Pertamina. namun sebelumnya perlu dilakukan kajian terlebih dahulu. PT Pertamina. 95 . PT Varuna Tirta Prasada (PT VTP) dan PT Pos Indonesia. Perum Bulog dan PT Pos Indonesia akan tetap dipertahankan berdiri sendiri (SA). PT TWC Borobudur tetap dipertahankan berdiri sendiri (SA) karena terkait dengan pelestarian budaya.BUMN Hotel & Pariwisata BUMN Hotel dan Pariwisata terdiri dari 3 BUMN. dan PT Energi Manajemen Indonesia (PT EMI) PT PLN.

Pada tahun 2013. PT BBI 3 Semen PT Semen Gresik Tbk. yaitu Perum PPD dan Perum Damri (BUMN Angkutan) serta PT Jasa Marga (BUMN Prasarana Angkutan). Barata. PT Jasa Marga 2 Industri Strategis : PT Inti. BBI PT Pindad & PTDahana INKA diakuisisi oleh PT KAI 3 3 PT Semen Gresik Tbk.BUMN Aneka Industri PT Iglas akan dilakukan divestasi seluruh saham negara melalui metode penjualan saham negara langsung kepada investor (strategic sale/SS) atau metode lain yang sesuai. PT INKA. PTKS. PT Barata. & PPD Jmlh Stlh 2 Angkutan & Prasarana Angkutan Darat : DAMRI & PPD. namun sebelumnya perlu dilakukan kajian terlebih dahulu. Program Rightsizing BUMN Tahun 2014 No 1 Sektor BUMN Jmlh Stlh 3 SA PT JM Jenis Restrukturisasi L D H MK Damri. Perum PPD dan Perum Damri akan dilakukan merger/konsolidasi menjadi 1 BUMN. PT LEN. sehingga pada akhir tahun 2013 jumlah BUMN akan menjadi ± 85 BUMN. PT Dahana. PT Jasa Marga akan tetap dipertahankan berdiri sendiri (SA). PT INTI LEN. PT Semen Baturaja 14 PT Semen Kupang - - 2 7 BUMN Angkutan dan Prasarana Angkutan BUMN Angkutan dan Prasarana Angkutan terdiri dari 3 BUMN. akan terjadi rightsizing terhadap 15 BUMN. PT Semen Baturaja. 96 . PT Pindad. PT Semen Kupang Jumlah 8 PT KS.

PT LEN Industri. 97 . PT Pindad dan PT Dahana yang merupakan BUMN dengan bidang usaha yang terkait pada keamanan dan pertahanan akan dilakukan merger/ konsolidasi. yaitu PT Krakatau Steel (PT KS). namun sebelumnya perlu dilakukan kajian terlebih dahulu. PT Dahana. sehingga pada akhir tahun 2014 jumlah BUMN akan menjadi ± 78 BUMN. PT Pindad dan PT Industri Kereta Api (PT INKA). Pada tahun 2014. PT Semen Baturaja dan PT Semen Kupang. PT Barata Indonesia. PT INKA akan dialihkan kepada PT KAI. BUMN Semen BUMN Semen terdiri dari 3 BUMN. PT Semen Kupang akan dilakukan divestasi seluruh saham Negara RI melalui metode penjualan seluruh saham Negara RI langsung kepada investor (strategic sale/SS) atau pengalihan seluruh saham negara RI pada PT Semen Kupang kepada BUMN sejenis lainnya. sehingga PT INKA menjadi anak perusahaan PT KAI. PT Semen Gresik Tbk dan PT Semen Baturaja tetap dipertahankan berdiri sendiri (SA). PT KS dan PT INTI tetap dipertahankan berdiri sendiri (SA PT LEN Industri. PT Industri Telekomunikasi Indonesia (PT INTI). PT Boma Bisma Indra (PT BBI). akan terjadi rightsizing 14 BUMN.BUMN Industri Strategis BUMN Industri Strategis terdiri dari 8 BUMN. namun sebelumnya perlu dilakukan kajian terlebih dahulu. PT Barata Indonesia dan PT BBI akan dilakukan divestasi seluruh saham negara RI melalui metode penjualan saham Negara RI langsung kepada investor (strategic sale/SS) atau pengalihan seluruh saham negara RI kepada BUMN lain. yaitu PT Semen Gresik Tbk.

BUMN Keterangan BUMN PERBANKAN 1 PT Bank Mandiri (Persero) Tbk SA 2 PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk SA 3 PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk SA 4 PT Bank Tabungan negara (Persero) Tbk SA BUMN ASURANSI 5 PT Reasuransi Umum Indonesia (Persero) 4 BUMN (PT Asabri.Jumlah BUMN Hasil Rightsizing No. 6 PT Asuransi Ekspor Indonesia (Persero) PT Jamsostek) 7 PT Asuransi Jasa Raharja (Persero) Asuransi menjadi 8 PT Asuransi Jasa Indonesia (Persero) Badan penyelenggaran 9 PT Asuransi Jiwasraya (Persero) SJSN sengan 10 PT Asuransi Kredit Indonesia (Persero) kemungkinan berubah 11 PT Asuransi ABRI (Persero) badan hukum menjadi 12 PT Asuransi Kesehatan (Persero) Perum (2011) 13 PT Asuransi Tabungan Pensiunan (Persero) 14 PT Asuransi Jaminan Sosial Tenaga kerja (Persero) BUMN JASA PEMBIAYAAN 15 Perum Pegadaian SA 16 Perum Jamkrindo SA 17 PT Danareksa SA 18 PT Kliring Berjangka Indonesia (Persero) SA 19 PT PANN Multi Finance (Persero) SA 20 PT Permodalan Nasional Madani (Persero) SA 21 PT Perusahaan Pengelola Aset (Persero) SA BUMN JASA KONSTRUKSI & KONSULTAN KONSTRUKSI 22 PT Adhi Karya (Persero) Tbk 8 BUMN Konstruksi SA. 1 BUMN Konstruksi 23 PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (PT Waskita Karya) diambil 24 PT Hutama Karya (Persero) alih oleh PT PPA dalam 25 PT Nindya Karya (Persero) rangka 26 PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk restrukturisasi/revitalisasi dan 27 PT Amarta Karya (Persero) 5 BUMN Konsultan 28 PT Istaka Karya (Persero) Konstruksi dialihkan ke 29 PT Brantas Adipraya (Persero) BUMN Konstruksi SA (2010) BUMN PERUMAHAN & KAWASAN INDUSTRI 30 Perum Pembangunan Perumahan Nasional SA 31 PT Kawasan Berikat Nusantara (Persero) SA 32 PT Kawasan Industri Makasar (Persero) SA 33 PT Kawasan Industri Medan (Persero) SA 34 PT Kawasan Industri Wijaya Kusuma (Persero) SA 35 PT PDI Pulau Batam (Persero) SA BUMAN FARMASI 36 PT Bio Farma (Persero) SA 37 Hasil Merger/Konsolidasi PT Kimia Farma dan 2011 PT Indofarma BUMN LOGISTIK 38 Perum Bulog PT VTP dan PT BGR dilakukan divestasi atau dialihkan ke BUMN lain 39 PT Pos Indonesia (Persero) (2013) 98 . PT Askes. PT Taspen.

PT IKI) BUMN ENERGI 57 PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) PT EMI didivestasi 58 PT Pertamina (Persero) 100% (2013) 59 PT Perusahaan Gas Negara (Persero) BUMN INDUSTRI BERBASIS TEKNOLOGI 60 PT Batan Teknologi (Persero) PT LEN Industri didivestasi atau 61 PT Dirgantara Indonesia (Persero) dialihkan kepada BUMN lain. PT ASDP) kepada PT PLN (2010) BUMN KEBANDARUDARAAN 48 Holding BUMN Kebandarudaraan (PT AP I – II) 2011 BUMN ANGKUTAN DARAT & KERETA API 49 PT Kereta Api Indonesia (Persero) SA 50 Hasil Merger/Konsolidasi Perum Damri dan PPD 2014 BUMN PENERBANGAN 51 PT Garuda Indonesia (Persero) SA 52 PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) SA BUMN PERDAGANGAN 53 Hasil Merger/Konsolidasi PT PPI. PT Pindad 62 PT Industri Telekomunikasi dan PT Dahana Merger/Konsolidasi dan PT INKA dialihkan ke PT KAI (2014) Indonesia (Persero) BUMN INDUSTRI PERTAHANAN 63 Hasil Merger/Konsolidasi PT Pindad dan PT Dahana 2014 BUMN PERTAMBANGAN 64 Holding BUMN Pertambangan (PT Antam. PT Timah. PT Sarinah dan 2011 PT Berdikari BUMN JALAN TOL 54 PT Jasa Marga (Persero) Tbk SA BUMN BAJA & KONSTRUKSI BAJA 55 PT Krakatau Steel (Persero) PT Barata Indonesia dan PT BBI dilakukan divestasi atau dialihkan ke BUMN lain (2014) BUMN DOK & PERKAPALAN 56 Holding BUMN Dok & Perkapalan (PT PAL. PT Djakarta PT BAG diinbrengkan Lloyd. PT DKB.BUMN PARIWISATA 40 PT TWC Borobudur. 2011 PT BA) BUMN TELEKOMUNIKASI 65 PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) SA 66 Perum LKBN Antara SA 99 . Prambanan dan Ratu Boko (Persero) SA 41 Holding (PT HIN dan PT BTDC) 2013 42 Perum Produksi Film Negara SA BUMN JASA PENILAI 43 PT Biro Klasifikasi Indonesia (Persero) PT Survai Udara Penas dilikuidasi dan PT SI & PT 44 Hasil Merger/Konsolidasi PT Sucofindo Sucofindo Merger/Konsolidasi dan PT Surveyor Indonesia (2012) BUMN PELABUHAN 45 Holding BUMN Pelabuhan Wilayah Barat 4 BUMN Pelabuhan menjadi 2 (Pelindi I – II) Holding berdasarkan wilayah (2011) 46 Holding BUMN Pelabuhan Wilayah Timur (Pelindo III – IV) BUMN PELAYARAN 47 Holding BUMN Pelayaran (PT Pelni. 2012 PT DPS.

organisasi/manajemen. Restrukturisasi perusahaan/korporasi ini tidak hanya dilakukan terhadap BUMN yang mengalami kerugian atau kesulitan dalam kegiatan usahanya. restrukturisasi perusahaan/korporasi merupakan program rutin yang berkesinambungan yang dilaksanakan dari tahun-ketahun. sistem dan prosedur.II 2012 BUMN PERCETAKAN & PENERBITAN 75 Perum Percetakan Negara Republik Indonesia PT KKA. PT Kertas Leces dilakukan divestasi atau 76 Perum Percetakan Uang Republik Indonesia dialihkan kepada BUMN 77 Hasil Merger/Konsolidasi PT Balai Pustaka dan lain (2012) PT Pratnya Paramita BUMN PUPUK 78 PT Pupuk Sriwijaya (Persero) SA b. operasional. tetapi dilakukan pula pada setiap BUMN guna terus mengupayakan terwujudnya kinerja dan nilai tambah perusahaan yang lebih baik. Melalui pembenahan dalam segala aspek kegiatan perusahaan yang berkesinambungan tersebut BUMN akan memiliki daya saing yang semakin baik yang selanjutnya akan berdampak kepada peningkatan kinerja dan nilai tambah perusahaan. Program restrukturisasi ini harus dituangkan di dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) masing-masing BUMN setiap tahunnya.BUMN SEMEN 67 PT Semen Gresik (Persero) Tbk PT Semen Kupang dilakukan divestasi atau dialihkan kepada BUMN lain (2014) 68 PT Semen Baturaja (Persero) BUMN KEHUTANAN 69 Perum Perhutani SA 70 Holding BUMN Pertaniann (PT Inhutani I – V) 2011 BUMN PERIKANAN 71 Hasil Merger/Konsolidasi PT Perikanan Nusantara dan 2013 Perum PPS BUMN PERKEBUNAN 72 Holding BUMN Perkebunan (PTPN I – XIV dan PT RNI) 2010 BUMN PERTANIAN 73 Hasil Merger/Konsolidasi PT Sang Hyang Seri dan 2011 PT Pertani BUMN PENUNJANG PERTANIAN 74 Hasil Merger/Konsolidasi Perum Jasa Tirta I . Restrukturisasi Perusahaan/Korporasi Dalam rangka penyehatan BUMN yang merupakan salah satu langkah strategis untuk memperbaiki kondisi internal BUMN guna memperbaiki kinerja dan meningkatkan nilai perusahaan. 100 . Restrukturisiasi perusahaan/korporasi ini dilakukan terhadap segala aspek kegiatan perusahaan yang meliputi keuangan.

Berdasarkan data per 31 Desember 2008 (audited). 3). Menteri Keuangan dan Menteri Teknis tempat dimana sektor usaha BUMN bergerak (apabila diperlukan). pelaksanaanya berpedoman kepada Peraturan Menteri Negara BUMN Nomor PER-01/MBU/2009 tentang Pedoman Restrukturisasi dan Revitalisasi BUMN oleh PT PPA dan dalam pelaksanaannya dibentuk Komite Restrukturisasi dan Revitalisasi BUMN yang keanggotaannya terdiri dari Menteri BUMN. melalui pembenahan sistem dan prosedur yang tidak dapat terpisahkan dari kegiatan restrukturisasi perusahaan/korporasi akan memperbaiki tata kelola BUMN mengarah kepada tata kelola perusahaan yang sesuai dengan prinsipprinsip Good Corporate Governance (GCG). dimana tugas PT PPA ditambah untuk melakukan restrukturisasi dan/atau revitalisasi BUMN. Khusus untuk penanganan BUMN-BUMN yang mengalami kerugian dan mengalami kesulitan baik keuangan maupun operasional. Pelaksanaan restrukturisasi perusahaan/korporasi oleh PT PPA mulai dilaksanakan sejak bulan April 2009 dengan telah diterbitkannya Peraturan Menteri BUMN Nomor PER-01/MBU/2009 tanggal 8 April 2009 tentang Pedoman Restrukturisasi dan Revitalisasi Badan Usaha Milik Negara oleh Perusahaan perseroan (Persero) PT Perusahaan Pengelola Aset. Restrukturisasi dan/atau revitalisasi BUMN tersebut. Tugas Komite Restrukturisasi dan Revitalisasi BUMN antara lain menetapkan BUMN yang akan direstrukturisasi dan/atau direvitalisasi oleh PT PPA serta skema restrukturisasi dan/atau revitalisasi yang akan diterapkan. restrukturisasi dilakukan oleh PT Perusahaan Pengelola Aset (Persero) atau PT PPA sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2008 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pendirian Perusahaan Perseroan (Persero) di Bidang Pengelolaan Aset. PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) PT Kertas Kraft Aceh (Persero) PT Industri Sandang (Persero) 101 .Selain itu. Dari 22 BUMN tersebut. BUMN mengalami kerugian 3 tahun dalam 5 tahun terakhir berjumlah 22 BUMN. pada tahun 2009 telah diserahkan penanganannya kepada PT PPA untuk dilakukan kajian tuntas (due deligence) sebanyak 11 BUMN. 2). yaitu : 1).

10). 7). 9). PT PAL Indonesia (Persero) dan PT Waskita Karya (Persero) saat ini sedang dilaksanakan program restrukturisasi dan revitalisasi. 9). 3). pada tahun 2009 juga telah diserahkan kepada PT PPA untuk menangani 6 BUMN lainnya yang mengalami kesulitan baik keuangan maupun operasional (tidak termasuk dalam 24 BUMN rugi tersebut di atas). 11). 2). PT Indah Karya (Persero) PT Pelayaran nasional Indonesia (Persero) PT Pengerukan Indonesia (Persero) PT Perkebunan Nusantara XIV (Persero) PT Kertas Leces (Persero) PT Pradnya Paramita (Persero) PT Perikanan Nusantara (Persero) Perum Prasarana Perikanan Samudera PT Boma Bisma Indra (Persero) PT Dok dan Perkapalan Kodja Bahari (Persero) 102 . yaitu : 1). 6).4). PT PAL Indonesia (Persero) PT Waskita Karya (Persero) PT Djakarta Lloyd (Persero) PT PP Berdikari (Persero) PT Hotel Indonesia Natour (Persero) PT Varuta Tirta Persada (Persero) Dari 17 BUMN yang telah diserahkan penanganannya kepada PT PPA. 10). 2). 6). 5). 7). 3). PT Industri Gelas (Persero) PT Balai Pustaka (Persero) PT Cambrics Primissima (Persero) Perum PPD PT Industri Kapal Indonesia (Persero) Perum PFN PT Survey Udara Penas (Persero) PT Semen Kupang (Persero) Selain 11 BUMN tersebut. yaitu PT Merpati Nusantara Airlines (Persero). 5). 4). Sedangkan 13 BUMN lainnya masih dalam proses kajian tuntas (due deligence) dengan progres yang bebeda-beda untuk selanjutnya akan dimintakan keputusan skema restrukturisasi dan revitalisasinya kepada Komite Restrukturisasi dan Revitalisasi dan persetujuan dari Menteri Keuangan. 8). Sisanya sebanyak 11 BUMN yang mengalami kerugian 3 tahun dalam 5 tahun terakhir akan dilanjutkan penyerahan penangannya kepada PT PPA pada tahun 2010 adalah : 1). 4). 5). 6). 3 BUMN diantaranya. 8).

diperlukan peningkatan upaya-upaya koordinasi dan komunikasi dengan instansi dan lembaga terkait tersebut. PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) Terhadap 11 BUMN tersebut. perlu mendapatkan kejelasan untuk penanganan dampak pajak tersebut. sebelum penanganannya diserahkan kepada PT PPA. dalam penanganannya tetap harus mempertimbangkan berbagai aspek sebelum keputusan likuidasi diambil. maka akan dilakukan evaluasi terlebih dahulu berdasarkan kinerja per 31 Desember 2009 guna menentukan apakah akan diserahkan kepada PT PPA atau langsung dilakukan restrukturisasi sektoral melalui shareholder action tertentu dalam rangka rightsizing BUMN. DPR RI.11). tetapi sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang berlaku juga melibatkan instansi terkait lainnya antara lain seperti Kementerian Keuangan. Pelaksanaan restrukturisasi BUMN yang menimbulkan implikasi pajak. Perlu ditingkatkan sosialisasi program restrukturisasi untuk menyamakan persepsi mengenai tujuan pelaksanaan program restrukturisasi BUMN. sehingga permasalahan yang dihadapi oleh BUMN tidak serta merta dapat diatasi dan kajian yang telah dilakukan memerlukan pemutakhiran data dan kajian kembali. 103 . Kementerian Hukum dan HAM. Selanjutnya. Sekretaris Negara dan Presiden yang akan membutuhkan waktu yang relatif cukup lama. Hal-hal yang Perlu Mendapatkan Perhatian dalam Program Restrukturisasi Pelaksanaan program restrukturisasi baik restrukturisasi sektoral maupun restrukturisasi perusahaan/korporasi oleh PT PPA yang telah dilakukan kajian yang melibatkan tidak hanya Kementerian BUMN. Terhadap BUMN yang sulit atau tidak mungkin lagi dipertahankan kelangsungan hidupnya karena kondisi perusahaan yang sudah sangat mengkhawatirkan dan tidak memiliki prospek. Kementerian Teknis. Untuk itu. restrukturisasi BUMN yang memerlukan pendanaan sulit diharapkan mendapatkan suntikan dana dari APBN. Dengan kondisi keterbatasan APBN saat ini. penyerahan penanganan restrukturisasi dan revitalisasi BUMN yang memiliki permasalahan kepada PT PPA akan dievaluasi setiap tahunnya guna menentukan BUMN mana yang akan diserahkan.

serta memperluas kepemilikan saham oleh masyarakat. 2. meningkatkan efisiensi dan produktivitas perusahaan. tetapi diperioritaskan dalam rangka mendukung pengembangan perusahaan dengan metode utama melalui penawaran umum di pasar modal. Privatisasi yang dilakukan tidak melalui metode penawaran umum lewat di pasar modal akan dilakukan dengan sangat selektif dan hati-hati. 2. ekonomi makro. baik sebagian maupun seluruhnya.2. Arah Kebijakan Privatisasi Arah kebijakan privatisasi ke depan bukan semata-mata untuk pemenuhan APBN. akuntabilitas. pertanggung-jawaban. kepada pihak lain dalam rangka meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan. dan menumbuhkan iklim usaha.1. Maksud dan Tujuan Privatisasi Sesuai Undang-undang Nomor 19 tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara dan Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2005 tentang tata Cara Privatisasi Perusahaan Perseroan (Persero) jo Peraturan Pemerintah Nomor 59 Tahun 2009 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2005 tentang Tata Cara Privatisasi Perusahaan Perseroan (Persero). menciptakan Persero yang berdaya saing dan berorientasi global. memperbesar manfaat bagi negara dan masyarakat. kemandirian. Sedangkan Tujuan privatisasi adalah untuk meningkatkan kinerja dan nilai tambah perusahaan dan meningkatkan peran serta masyarakat dalam pemilikan saham Persero.IV. Metode ini terutama digunakan untuk BUMN-BUMN yang memerlukan pendanaan yang tidak dapat diperoleh/dipenuhi dari pasar modal dan/atau Pemerintah serta 104 . Definisi. Privatisasi dilakukan dengan memperhatikan prinsip-prinsip transparansi. Program Privatisasi 2010 . 2. Disamping juga untuk lebih mendorong penerapan prinsip-prinsip Good Corporate Governance. Maksud privatisasi adalah memperluas kepemilikan masyarakat atas Persero. menciptakan struktur keuangan dan manajemen keuangan yang baik/kuat.2014 IV. dan kewajaran. Privatisasi adalah penjualan saham Persero. menciptakan struktur industri yang sehat dan kompetitif. dan kapasitas pasar”. IV.

Persero yang dapat diprivatisasi harus sekurang-kurangnya memenuhi kriteria: 1) Industri/sektor usahanya kompetitif.memerlukan peningkatan kompetensi tehnis. dalam 2 tahun berturut-turut menghasilkan laba. Kriteria Privatisasi Kriteria Umum bagi BUMN-BUMN yang akan diprivatisasi telah ditetapkan dalam Undang-undang Nomor 19 tahun 2005 dan Peraturan Pemerintah Nomor 33 tahun 2003 jo Peraturan Pemerintah Nomor 59 Tahun 2009 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2005 tentang Tata Cara Privatisasi Perusahaan Perseroan (Persero). Perbaikan struktur modal/leverage. Ada kebutuhan dana untuk pengembangan. profitisasi sulit dilaksanakan. 6) Perubahan regulasi yang berpengaruh pada sektor usaha. 2. privatisasi juga dilakukan dalam rangka program restrukturisasi dan rightsizing BUMN. IV. ada alokasi PMN tapi perlu pendanaan tambahan. manajemen dan pemasaran. Selain itu. Rugi terus menerus. dapat dipisahkan untuk dijadikan penyertaan dalam pendirian perusahaan untuk selanjutnya apabila diperlukan dapat diprivatisasi. Kriteria umum tersebut adalah sebagai berikut: a. atau 2) Industri/sektor usaha yang unsur teknologinya cepat berubah. Sebagian aset atau kegiatan dari Persero yang melaksanakan kewajiban pelayanan umum dan/atau yang berdasarkan Undang-undang kegiatan usahanya harus dilakukan oleh BUMN.3. 8) Untuk yang IPO. Sedangkan kriteria khusus yang harus dimiliki oleh BUMN yang akan diprivatisasi adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) 5) Tidak ada PSO. 7) Kepemilikan minoritas sehingga tidak ada kontrol negara dan lambat laun kepemilikan akan terdilusi dan tidak strategis. masih potensial profitisasi. 105 . b. Telah dan sedang dalam restrukturisasi.

Sedangkan Persero yang tidak dapat diprivatisasi adalah: 1) Persero yang bidang usahanya berdasarkan peraturan perundangan hanya boleh dikelola oleh BUMN. 2). 4) Persero yang bergerak di bidang usaha sumber daya alam yang secara tegas berdasarkan Peraturan Perundang-undangan yang dilarang untuk diprivatisasi. expertise dari mitra strategis. “know-how”. dan kemampuan pendanaan. inovasi/pengembangan produk. 2. Penjualan Saham Langsung kepada Investor (Strategic Sale/SS) Penjualan Saham Langsung kepada Investor (Strategic Sale/SS) dapat dilakukan terhadap BUMN-BUMN yang memenuhi kriteria di bawah ini: 1). Memerlukan bantuan dan keahlian. masing-masing metode tersebut memiliki kriteria yang berbeda-beda. manajemen. Penjualan Saham Berdasarkan Ketentuan Pasar Modal Selain kriteria sebagaimana diatur sesuai dengan Undang-undang Nomor 19 tahun 2005 dan Peraturan Pemerintah Nomor 33 tahun 2003. Metode Privatisasi Privatisasi dilakukan dengan menggunakan salah satu dari 3 metode di bawah ini yaitu: 1) 2) 3) Penjualan Saham berdasarkan Ketentuan Pasar Modal. 106 . IV. Membutuhkan dana yang besar namun menghadapi keterbatasan dana dari Pemerintah (selaku shareholder) dan/atau kesulitan menarik dana dari pasar modal. 2) Persero yang bergerak di sektor usaha yang berkaitan dengan pertahanan dan keamanan negara. b. pemasaran teknologi. 3) Persero yang bergerak di sektor tertentu yang oleh Pemerintah diberikan tugas khusus untuk melaksanakan kegiatan tertentu yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat. Penjualan Saham Langsung kepada Investor/Strategic Sale (SS) Penjualan Saham kepada Manajemen dan/atau Karyawan (Employee and Management Buy Out /EMBO) a. seperti operasi/teknis. juga harus sesuai dengan peraturan dan ketentuan yang berlaku lainnya yang terkait dengan BUMN yang akan diprivatisasi.4. Kriteria BUMN yang akan diprivatisasi dengan metode Penjualan Saham berdasarkan Ketentuan Pasar Modal selain harus memenuhi persyaratan sesuai dengan ketentuan pasar modal.

5). atau core business-nya bukan jasa profesional tetapi bidang usahanya sangat kompetitif dan memerlukan kompetensi tehnis khusus. IV. 4).3). Memiliki bidang usaha yang core business-nya jasa profesional (brainware). 2). c. Mengurangi kepemilikan Negara menjadi minoritas sepanjang tidak bertentangan dengan regulasi. sehingga karyawan dan manajemen mampu untuk berpartisipasi dalam kepemilikannya. 2. Nature of business–nya dianggap dapat dijalankan dan dimiliki oleh karyawan/manajemen. 107 . Merupakan sektor yang bukan strategis bagi Pemerintah. Mendorong lebih lanjut pengelolaan dan pengembangan sebagian aset/kegiatan operasionalnya yang dapat dipisahkan untuk dikerjasamakan dengan mitra strategis. Prosedur Privatisasi Prosedur privatisasi sesuai dengan Undang-undang Nomor 19 tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara dan Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2005 tentang tata Cara Privatisasi Perusahaan Perseroan (Persero) jo Peraturan Pemerintah Nomor 59 Tahun 2009 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2005 tentang Tata Cara Privatisasi Perusahaan Perseroan (Persero) secara garis besar adalah sebagaimana flowchart berikut ini. Modal perusahaan tidak terlalu besar. Penjualan Saham kepada Manajemen dan/atau Karyawan (Employee and Management Buy Out /EMBO) Adapun metode penjualan saham kepada Manajemen dan/atau karyawan (Employee and Management Buy Out / EMBO) digunakan untuk BUMNBUMN yang masuk dalam kriteria: 1). Nilai aset relatif kecil dan hasil penjualan saham relatif tidak terlalu besar. 5). 4). Perusahaan harus menjaga kelangsungan (kesinambungan) program yang telah terjadwal sehingga diharapkan program privatisasi tidak akan mengubah dinamika manajemen yang ada dan tidak mempengaruhi kegiatan usaha.5. 3).

4.36 52. 30 IPO (saham baru) Maks. 3. 15 SPO (right issue) Maks. 108 .54 SS (divestasi) Maks 100 SS/akuisisi (divestasi) Krakatau Steel telah mendapatkan dan privatisasi akan dilaksanakan Program Tahunan Privatisasi (PTP) Tahun 2010 telah disampaikan kepada Menteri Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua Komite Privatisasi untuk mendapatkan arahan dan kepada Menteri Keuangan untuk mendapatkan rekomendasi masing-masing melalui surat Nomor S-885/MBU/2009 dan Nomor : S-884/MBU/2009 tanggal 28 Desember 2009. 30 IPO (saham baru) Maks. Program Privatisasi Tahun 2010 No 1.79 SS (divestasi) Maks 48.Seleksi BUMN (dituangkan dalam Program T ahunan Privatisasi) Arahan Komite Privatisasi & Rekomendasi Menkeu Sosialisasi Konsultasi/ Persetujuan DPR Penerbitan Peraturan Pemerintah Pelaksanaan a. 52. 5. % Saham Metode Dilepas Maks. 7.54 100 Catatan : PT Garuda Indonesia dan PT persetujuan DPR RI pada tahun 2009 tahun 2010. 6.79 48. 2. 30 IPO (saham baru) Maks. Perusahaan PT PN III PT PN IV PT PN VII PT BNI Tbk PT Primissima PT Kertas Padalarang PT Sarana Karya % Saham Negara RI 100 100 100 76.

Program Privatisasi Tahun 2011 No 1. 7. 2. 35 (saham baru) Maks.97 100 100 88. 3. 2. 100 (divestasi) Maks. 5.65 100 100 % Saham Dilepas Maks. 30 (saham baru) Metode IPO/SS SS SS SS SS IPO IPO 109 . 3. 6. 4. 35 (saham baru) Maks.10 100 100 100 96. 49 (divestasi) Maks. 100 (divestasi) Maks 96.b. Perusahaan PT Hutama Karya PT Jasindo PT Rekayasa Industri PT Semen Baturaja PT PNM PT KBN PT KBI % Saham Negara RI 100 100 4. Program Privatisasi Tahun 2012 No 1. 40 (divestasi) Metode IPO IPO IPO IPO IPO/SS IPO SS c. 30 (saham baru) Maks. 49 (saham baru) Maks. 4.65 (divestasi) Maks. 7.97 (divestasi) Maks. Perusahaan PT PANN PT Garam PT INTI PT Industri Sandang PT Kertas Kraft Aceh PT Pegadaian PT Danareksa % Saham Negara RI 93. 35 (saham baru) Maks. 30 (saham baru) Maks.74 100 % Saham Dilepas Maks. 30 (saham baru) Maks. 6. 5. 4.

82 100 17.d.48 Maks. 17. 3. No Perusahaan Setelah penerapan program restrukturisasi dan privatisasi dalam kurun waktu 2010 – 2014 tersebut di atas (dengan asumsi umum bahwa divestasi 100% kepemilikan Negara pada BUMN hanya terhadap BUMN dengan nilai aset realif kecil).78 100 100 % Saham Dilepas Maks. PT Merpati Nusantara 93. PT SOCFINDO 10 Maks. 100 (divestasi) Maks. Program Privatisasi Tahun 2013 No 1. 6. PT Barata Indonesia 100 Maks 100 SS (divestasi) 4.20 Maks.30 IPO Farmasi (saham baru) 2. 30 (saham baru) Metode SS SS SS/akuisisi SS/akuisisi SS IPO e. 63. diharapkan akan terjadi peningkatan kinerja dan nilai BUMN sebagai berikut : % Saham Negara RI 100 110 . 2. 100 (divestasi) Maks. 61. 10 SS (divestasi) 6. Program Privatisasi Tahun 2014 % Saham Metode Dilepas 1. 4. PT BBI 100 Maks 100 SS (divestasi) 5. 40 IPO (saham baru) Catatan : PT Waskita Karya telah mendapatkan persetujuan DPR RI pada tahun 2008 dan privatisasi akan dilaksanakan tahun 2014 setelah program restrukturisasi diselesaikan. PT Semen Kupang 61. 50 (divestasi) Maks.82 (divestasi) Maks. Perusahaan PT SIER PT Industri Gelas PT Bhanda Gara Reksa PT Bahana PUI PT EMI PT Asuransi Jiwasraya % Saham Negara RI 50 63. 5. Holding/Merger Maks.78 (divestasi) Maks.48 SS (divestasi) 3.

111 . pelaksanaan PSO. 19 tahun 2003 tentang BUMN. sehingga membutuhkan waktu yang relatif cukup lama yang kadang sering mengakibatkan hilangnya momentum yang tepat dari pelaksanaan privatisasi tersebut. sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang berlaku tidak hanya melibatkan Kementerian BUMN. Kementerian Hukum dan HAM. dan aturan mengenai penuangan PSO dalam suatu kontrak yang jelas. diharapkan pelaksanaan PSO oleh BUMN akan dapat berjalan secara transparan. Sekretaris Negara dan Presiden. fair.583 Triliun pada tahun 2014 (meningkat 5. Aset BUMN akan meningkat dari Rp 2. Hal-hal yang Perlu Mendapat Perhatian dalam Pelaksanaan Privatisasi BUMN 1). tetapi juga instansi dan lembaga lainnya seperti Komite Privatisasi. 3. DPR RI. 2). dan pertanggungjawaban pelaksanaan PSO.28 kali). khususnya yang menyangkut Standard Operating Procedure (SOP) tentang pengusulan/penugasan PSO. Kementerian Keuangan. Proses pelaksanaan privatisasi.149 Triliun pada tahun 2009 menjadi Rp 11. dan menciptakan aturan-aturan pelaksanaan (Perpres atau Peraturan Pemerintah) PSO. Dengan ketaatan semua pihak terhadap ketentuan perundang-undangan yang berlaku dan penyempurnaan ketentuan-ketentuan pelaksanaan PSO. Program Penyelenggaran Public Service Obligation (PSO) 2010 . diperlukan upaya-upaya peningkatan koordinasi dan komunikasi dengan instansi dan lembaga terkait tersebut.1) 2) Ekuitas BUMN akan meningkat dari Rp 566 Triliun pada tahun 2009 menjadi Rp 2. Untuk itu.986 Triliun pada tahun 2014 (meningkat 5. aturan mengenai besaran dan perhitungan margin pelaksanaan PSO. Perlu dilakukan peningkatan upaya-upaya sosialisasi yang lebih intensif dalam rangka menyamakan persepsi mengenai privatisasi.2014 Pemerintah akan terus mendorong ketaatan semua pihak terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku dibidang PSO khususnya Pasal 66 UU No. IV.39 kali). dan bertanggung jawab.

sebagai berikut : Pembangunan Portal Aset telah dilakukan tahun 2009 dan akan segera dilanjutkan dengan sosialisasi serta trial pengisian Bank Data Aset tahun 2010 (Sistem Informasi Aset BUMN berbasis TI).2014 Optimalisasi pengelolaan aset merupakan salah satu bentuk pendayagunaan aset. Terpisahnya pembukuan kegiatan pelaksanaan PSO dari kegiatan komersial BUMN secara keseluruhan. Kementerian BUMN secara langsung akan mengumpulkan data aset untuk menyusun Bank Data Aset (Sistem Informasi Aset BUMN berbasis TI) untuk tahun buku 2011 dari BUMN. maka penugasan pelaksanaan PSO oleh K/L akan dapat berjalan dengan baik di satu sisi. Dalam pelaksanaan tugas optimalisasi pengelolaan aset tersebut. beberapa kegiatan dan kebijakan yang akan dilaksanakan dalam rangka optimalisasi aset BUMN adalah sebagai berikut : Sistem Bank Data Aset tersebut dilakukan secara bertahap 112 . Kementerian BUMN telah membangun sistem Bank Data Aset. dan di lain sisi BUMN yang ditugaskan untuk melaksanakan PSO akan dapat berkembang secara sehat. fair dan bertanggungjawab. dan tidak ada alasan bagi BUMN untuk rugi karena adanya penugasan dari Pemerintah (K/L). Namun naik-turunnya jumlah dana PSO/subsidi sangat tergantung kepada kebijakan Pemerintah. telah dilakukan permintaan data aset kepada para Deputi Teknis sebagai bahan masukan penyusunan Bank Data Aset (Sistem Informasi Aset BUMN berbasis TI).Apabila pelaksanaan PSO dapat dilakukan secara transparan. Kedepan diharapkan dana PSO/subsidi akan menurun seiring dengan meningkatnya kesejahteraan masyarakat. Program Optimalisasi Aset BUMN 2010 . IV. 4. sehingga memudahkan monitoring dan evaluasi pelaksanaan PSO. Dalam kurun waktu 2010 – 2014. baik melalui optimalisasi pemanfaatan ataupun penghapusbukuan. BUMN diwajibkan mengisi Bank Data Aset melalui Portal Aset setelah selesai dilakukannya sosialisasi dan trial pengisian. Dalam rangka mempercepat pengumpulan data.

Monitoring Pengelolaan Aset BUMN 3. dan mutakhir dengan mendasarkan pada prinsip efisiensi dan efektivitas dalam pengumpulan. Program Pengembangan Data. Untuk mencapai hal tersebut. 5. tajam dan terpercaya serta menjadi pendukung think tank pengambilan keputusan Kementerian BUMN. d. dan integrasi data BUMN Optimalisasi Aset BUMN a. dan pendokumentasiannya. Kegiatan Sistem Informasi Aset BUMN Berbasis TI 2010 2011 2012 2013 2014 a. pengolahan. akurat. Ketentuan dan prosedur . melaksanakan kajiankajian tentang isu-isu strategis BUMN yang menjadi salah satu referensi dalam pengambilan keputusan Kementerian serta menjadi pusat penelitian yang kredibel dan terpercaya yang siap menawarkan solusi atas permasalahan BUMN baik bagi pihak internal maupun eksternal. Disamping itu. akurat. evaluasi.Standard Operating Procedure b. 5. b. Data Unit data dan informasi akan dikembangkan menjadi pusat data dan informasi yang lengkap. maka diperlukan penyediaan data dan informasi tentang BUMN secara lengkap. e. Informasi & Teknologi (TI) 2010 .No 1. c.Peraturan Pemindahtanganan Aktiva Tetap BUMN . Informasi dan akses data kepada stakeholders IV. 2.Peraturan Pendayagunaan Aktiva Tetap BUMN .1.2014 IV.Swakelola c. Kebijakan-kebijakan strategis yang akan diambil terkait pengembangan data adalah : 113 . Kajian optimalisasi aset BUMN . Pembangunan Pemeliharaan Sosialisasi Implementasi Monitoring.Kajian aktiva tetap BUMN oleh konsultan .

dan meningkatkan implementasi prinsip-prinsip penyelenggaran kepemerintahan yang baik (good government governance) yang lain seperti transparansi. Selain itu. Informasi Dan Teknologi Informasi Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi di Kementerian BUMN diharapkan dapat mempercepat terwujudnya program pemerintah untuk melakukan reinventing government melalui reformasi birokrasi penyelenggaraan kepemerintahan di lingkungan Kementerian BUMN. sehingga dapat membantu pimpinan mengambil keputusan dengan tepat. dan mudah diperoleh. akurat. Terkait dengan tujuan tersebut. cerdas dan berpengalaman dalam melakukan analisa korporat Tajam dan sensitive dalam melihat permasalahan BUMN dan berusaha memberikan kajian untuk memberikan referensi solusi atas masalah yang dihadapi tersebut. 5.Mendorong pengumpulan dan pengolahan data yang efektif dan efisien dengan memberdayakan system teknologi informasi. melatih dan memberdayakan SDM yang trampil. dengan implementasi teknologi informasi dan komunikasi diharapkan juga dapat menyediakan data/informasi dengan murah. terkini. tajam dan terpercaya dalam kurun waktu 2010 – 2014 adalah sebagai berikut : NO 1 2 3 4 KEGIATAN Penyiapan infrastruktur dan suprastruktur data dan informasi Positioning Pusat data dan Mapping isuisu strategis BUMN Pelaksanaan kajian atas isu-isu strategis BUMN Diseminasi hasil kajian kepada stakeholders 2010 2011 2012 2013 2014 IV. lengkap.2. konsisten. Melibatkan secara aktif BUMN-BUMN dalam pengumpulan dan penyediaan data dan infromasi dengan mengkaitkannya pada pengukuran kinerja BUMN dan Direksi BUMN Merekrut. akuntabilitas. 114 . meningkatkan efisiensi dan efektivitas. tepat. dan kewajaran. cepat. implementasi teknologi informasi dan Komunikasi dapat digunakan untuk meningkatkan fungsi pengendalian. Kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan untuk pengembangan pusat data dan informasi yang lengkap.

Sebagaimana disebutkan dalam PerMenKominfo No. operasi sistem teknologi informasi dan komunikasi yang memberikan nilai tambah secara signifikan kepada public dan internal manajemen pemerintahan. Monitoring Penyelesaian Bantuan Pemerintah Yang Belum Ditetapkan Statusnya (BPYBDS) Bantuan Pemerintah Yang Belum Ditetapkan Statusnya (BPYBDS) pada umumnya merupakan hasil proyek dari Kementerian Teknis yang sumber pembiayaannya dipenuhi dari DIPA/APBN. maka harus memperhatikan efisiensi penggunaan sumber daya dan pengelolaan risiko. untuk memastikan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi tersebut benar-benar mendukung tujuan penyelenggaraan pemerintahan. peningkatan efisiensi dan efektivitas belanja teknologi informasi dan komunikasi dan pendekatan yang meningkatkan pencapaian nilai (value) dari implementasi teknologi informasi dan komunikasi nasional. diharapkan Kementerian BUMN mendapatkan manfaat sinkronisasi dan integrasi rencana teknologi informasi dan komunikasi dengan rencana strategis Kementerian BUMN. Hasil proyek tersebut biasanya diserahkankelolakan kepada BUMN. 6. Secara terperinci. sehingga dalam pencatatan pembukuan BUMN sebagai barang yang diserahkelolakan tersebut BPYBDS tidak secara tegas masuk kategori hutang atau ekuitas. Kementerian BUMN akan menetapkan Master Plan khusus yang terkait dengan teknologi informasi. 41 tentang Panduan Tata Kelola Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional Versi 1 Tahun 2007. Dalam rangka pelaksanaan restrukturisasi 115 . realisasi solusi teknologi informasi dan komunikasi yang sesuai kebutuhan secara efisien. Untuk mendukung tujuan penyelenggaraan pemerintahan. pengelolaan yang lebih baik. serta dapat mengoptimalkan ketercapaian value dari penyelenggaraan teknologi informasi dan komunikasi di lingkungan kerja kementerian BUMN untuk internal manajemen dan pelayanan public. IV. efisiensi belanja teknologi informasi dan komunikasi. karena belum ada penetapan secara legal. Dengan tata kelola teknologi informasi dan komunikasi yang baik. diperlukan rencana teknologi informasi dan komunikasi yang lebih harmonis. bahwa mengingat pemanfaatan teknologi informasi dan Komunikasi oleh institusi pemerintahan telah semakin meningkat.

updated sehingga valid untuk melakukan monitoring. 3) BPYBDS yang telah ditetapkan statusnya menjadi Penyertaan Modal Negara (PMN) melalui Peraturan Pemerintah (PP) pada tahun-tahun sebelumnya. agar data hasil rekapitulasi Tim BPYBDS akurat. 116 . status BPYBDS perlu ditetapkan secara definitif menjadi Penyertaan Modal Negara yang pembukuannya masuk kedalam ekuitas perusahaan. Untuk dapat segera menyelesaikan perubahan status BPYBDS yang saat ini tercatat pada BUMN tersebut. Jambi). diharapkan secara langsung dimohonkan untuk diproses menjadi penambahan Penyertaan Modal Negara dengan tetap dilakukan reviu/audit dan berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan serta instansi terkait lainnya untuk preoses penyelesaian penetapan statusnya (seperti proses PMN pada Bandara Dipati Amir.3 trilyun dan US$ 18. 2) BPYBDS yang baru saja diserahterimakan kepada BUMN melalui Berita Acara Serah Terima (BAST) / Berita Acara Serah Terima Operasi (BASTO) maupun yang akan diserahterimakan pada waktu mendatang. Menteri BUMN melalui Keputusan No. perlu ditempuh kebijakan sebagai berikut. 1) BUMN Pemilik BPYBDS diminta memberikan konfirmasi maupun penyempuranaan atas hasil rekapitulasi Tim BPYBDS.: Kep. yang tersebar pada 23 BUMN. Penetapan RUPS tentang Perubahan Modal Disetor tersebut dapat dimohonkan secara tertulis kepada Menteri BUMN dengan melampirkan dokumen pendukung. baik jumlah BPYBDS maupun perkembangan terakhir. Pada sat ini jumlah BPYBDS diperkirakan mencapai Rp 47. agar ditindaklanjuti dengan tindakan korporasi melalui pengesahan RUPS tentang Perubahan/Penambahan Modal Disetor serta perubahan Anggaran Dasar Perusahaan.permodalan BUMN. sebagaimana terlampir.29 juta. Bangka dan Bandara Sultan Toha.15/MBU/2010 tertanggal 25 Januari 2010 telah membentuk suatu Tim yang bertugas melakukan koordinasi dengan BUMN Pemilik BPYBDS dalam rangka monitoring perkembangan penyelesaian BPYBDS menjadi Penyertaan Modal Negara (PMN).

22 triliun 0.96 triliun 7.79 triliun 0.00 triliun 0.00 triliun 19.96 triliun 2012 11. eksisting BPYBDS saat ini secara bertahap dapat diselesaikan penetapan statusnya sebagai PMN yang diharapkan dapat selesai hingga tahun 2013 dengan perkiraan jadwal penyelesaian sebagai berikut : Keterangan/Tahun Jumlah BPYBDS Penyelesaian (PMN) Penambahan Baru Saldo BPYBDS 2010 47.13 triliun 7.79 triliun 2013 4.17 triliun 0.35 triliun 28.13 triliun 2011 19.79 triliun 4.00 triliun 117 .Dengan dapat diprosesnya secara langsung BAST/BASTO sebagaimana dimaksud pada angka 2) di atas.00 triliun 4.17 triliun 0.00 triliun 11.

profil sektoral. Skenario hasil rightsizing BUMN dalam kurun waktu 2010 – 2014. yaitu Stand Alone. Restrukturisasi meliputi restrukturisasi sektoral yang pelaksanaannya disesuaikan dengan kebijakan sektor dan/atau peraturan peundang-undangan dan restrukturisasi perusahaan/korporasi. Program ini tetap dilakukan berdasarkan pertimbangan urgensi kepemilikan mayoritas Negara pada suatu BUMN.Restrukturisasi adalah upaya yang dilakukan dalam rangka penyehatan BUMN guna memperbaiki kinerja dan meningkatkan nilai perusahaan. kinerja. Cara atau model dalam rangka rightsizing BUMN dapat dilakukan melalui berbagai shareholder action. Selain itu. Restrukturisasi perusahaan/korporasi merupakan program rutin yang berkesinambungan dari tahun ke tahun dalam rangka terus memperbaiki kinerja dan meningkatkan nilai perusahaan dan dituangkan dalam RKAP setiap BUMN setiap tahunnya. menghasilkan produk dan layanan dengan harga yang kompetitif kepada konsumen dan memudahkan pelaksanaan privatisasi. diharapkan jumlah BUMN pada tahun 2010 menjadi ± 117 BUMN. terhadap perusahaan yang mengalami kerugian dan kesulitan keuangan serta operasional. Merger/Konsolidasi. sehingga dapat memberikan manfaat berupa dividen dan pajak kepada Negara. Divestasi dan Likuidasi. untuk mencapai jumlah dan skala usaha BUMN yang lebih ideal. dan dilakukan regrouping/konsolidasi. Pelaksanaan restrukturisasi perusahaan/korporasi oleh PT PPA mulai dilaksanakan sejak bulan April 2009 dengan telah diterbitkannya Peraturan Menteri BUMN Nomor PER-01/MBU/2009 tanggal 8 April 2009 tentang Pedoman Restrukturisasi dan Revitalisasi Badan Usaha Milik Negara oleh Perusahaan perseroan (Persero) 118 . tahun 2013 menjadi ± 85 BUMN dan tahun 2014 menjadi ± 78 BUMN. tahun 2012 menjadi ± 91 BUMN. restrukturisasi dilakukan oleh PT PPA sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2008 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pendirian Perusahaan Perseroan (Persero) di Bidang Pengelolaan Aset. Holding. penciptaan nilai dan potensi sinergi antar BUMN tanpa mengabaikan azas-azas yang terdapat dalam Pasal 33 UUD 1945. Program rightsizing BUMN adalah program utama dari program restrukturisasi/penataan kembali BUMN dengan cara pemetaan secara lebih tajam. pada tahun 2011 menjadi ± 102 BUMN.

privatisasi juga dilakukan dalam rangka program restrukturisasi dan rightsizing BUMN. Disamping juga untuk lebih mendorong penerapan prinsip-prinsip Good Corporate Governance. tetapi diperioritaskan dalam rangka mendukung pengembangan perusahaan dengan metode utama melalui penawaran umum di pasar modal. Dalam kaitan dengan kewajiban pelayanan umum/ public service obligation (PSO). Privatisasi adalah penjualan saham Persero. Setelah penerapan program restrukturisasi dan privatisasi dalam kurun waktu 2010 – 2014 (dengan asumsi umum bahwa divestasi 100% kepemilikan Negara pada BUMN hanya terhadap BUMN dengan nilai aset realif kecil). khususnya yang menyangkut Standard Operating Procedure (SOP) tentang pengusulan/penugasan PSO. diharapkan sampai dengan akhir tahun 2014 seluruh BUMN yang mengalami kerugian dan memiliki permasalahan keuangan dan operasional telah menunjukkan perbaikan kinerja dan tidak ada lagi BUMN yang mengalami kerugian. serta memperluas kepemilikan saham oleh masyarakat. manajemen dan pemasaran. 19 tahun 2003 tentang BUMN. memperbesar manfaat bagi negara dan masyarakat. dan menciptakan aturan-aturan pelaksanaan (Perpres atau Peraturan Pemerintah) PSO. Arah kebijakan privatisasi ke depan bukan semata-mata untuk pemenuhan APBN. pelaksanaan PSO. dan pertanggungjawaban pada tahun 2009 menjadi 119 . kepada pihak lain dalam rangka meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan.149 Triliun Rp 11. Privatisasi yang dilakukan tidak melalui metode penawaran umum lewat di pasar modal akan dilakukan dengan sangat selektif dan hati-hati. diharapkan akan terjadi peningkatan kinerja dan nilai BUMN sebagai berikut : 1) Ekuitas BUMN akan meningkat dari Rp 566 Triliun pada tahun 2009 menjadi Rp 2.39 kali). Metode ini terutama digunakan untuk BUMN-BUMN yang memerlukan pendanaan yang tidak dapat diperoleh/dipenuhi dari pasar modal dan/atau Pemerintah serta memerlukan peningkatan kompetensi tehnis. Selain itu.986 Triliun pada tahun 2014 (meningkat 5. 2) Aset BUMN akan meningkat dari Rp 2.PT Perusahaan Pengelola Aset. Pemerintah akan terus mendorong ketaatan semua pihak terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku dibidang PSO khususnya Pasal 66 UU No.28 kali). baik sebagian maupun seluruhnya. Dengan dilakukannya restrukturisasi perusahaan/korporasi oleh PT PPA. Dalam kurun waktu 5 tahun ke depan terdapat 36 BUMN yang akan diprivatisasi.583 Triliun pada tahun 2014 (meningkat 5.

dan mudah diperoleh. konsisten. meningkatkan efisiensi dan efektivitas. Dalam rangka pelaksanaan restrukturisasi permodalan BUMN. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi di Kementerian BUMN diharapkan dapat mempercepat terwujudnya program pemerintah untuk melakukan reinventing government melalui reformasi birokrasi penyelenggaraan kepemerintahan di lingkungan Kementerian BUMN. 120 . dengan implementasi teknologi informasi dan komunikasi diharapkan juga dapat menyediakan data/informasi dengan murah. karena belum ada penetapan secara legal. Kementerian BUMN telah membangun sistem Bank Data Aset. tajam dan terpercaya akan menjadi pendukung think tank pengambilan keputusan di Kementerian BUMN. Terkait dengan tujuan tersebut. Selain itu. Selain itu. perlu dilakukan pemisahan pembukuan antara kegiatan pelaksanaan PSO dari kegiatan komersial BUMN secara keseluruhan. dan meningkatkan implementasi prinsip-prinsip penyelenggaran kepemerintahan yang baik (good government governance) yang lain seperti transparansi. akuntabilitas. Untuk mencapai hal tersebut. sehingga dalam pencatatan pembukuan BUMN sebagai barang yang diserahkelolakan tersebut BPYBDS tidak secara tegas masuk kategori hutang atau ekuitas. Data dan informasi yang lengkap. aturan mengenai besaran dan perhitungan margin pelaksanaan PSO. dan pendokumentasiannya. sehingga dapat membantu pimpinan mengambil keputusan dengan tepat. akurat. tepat. BPYBDS pada umumnya merupakan hasil proyek dari Kementerian Teknis yang sumber pembiayaannya dipenuhi dari DIPA/APBN yang diserahkankelolakan kepada BUMN. terkini. maka diperlukan penyediaan data dan informasi tentang BUMN secara lengkap.pelaksanaan PSO. dan mutakhir dengan mendasarkan pada prinsip efisiensi dan efektivitas dalam pengumpulan. dan kewajaran. pengolahan. Dalam pelaksanaan tugas optimalisasi pengelolaan aset tersebut. lengkap. akurat. cepat. baik melalui optimalisasi pemanfaatan ataupun penghapusbukuan. dan aturan mengenai penuangan PSO dalam suatu kontrak yang jelas. sehingga memudahkan monitoring dan evaluasi pelaksanaan PSO. Optimalisasi pengelolaan aset merupakan salah satu bentuk pendayagunaan aset. status BPYBDS perlu ditetapkan secara definitif menjadi Penyertaan Modal Negara yang pembukuannya masuk kedalam ekuitas perusahaan. implementasi teknologi informasi dan Komunikasi dapat digunakan untuk meningkatkan fungsi pengendalian.

57 Triliun dan Rp 25. b) mengejar keuntungan. Selanjutnya pertumbuhan Laba Usaha dan Laba Bersih masing-masing dari Rp 82. dan masyarakat. informasi dan teknologi informasi.06 Triliun pada tahun 2005 menjadi Rp 2. (e) profesionalisme SDM.77 Triliun pada tahun 2005 menjadi Rp 110.15% dan 11.25 Triliun dan Rp 370. antara lain: (a) keberadaan BUMN di hampir semua sektor usaha.84 Triliun pada tahun 2009.03 Triliun pada tahun 2009. BUMN didirikan dengan maksud dan tujuan: a) memberikan sumbangan bagi perkembangan perekonomian Nasional pada umumnya dan penerimaan Negara pada khususnya. 121 .20%.291.78 Triliun dan Rp 72. 2. Keberadaan serta Maksud dan Tujuan Pendirian BUMN Sesuai dengan Pasal 33 Undang Undang Dasar Tahun 1945 Badan Usaha Milik Negara (BUMN) merupakan salah satu penggerak utama perekonomian nasional disamping Koperasi dan Swasta. Sedangkan dalam kurun waktu 2005-2009 capaian Return on Assets (RoA) dan Return on Equity (RoE) rata-rata mencapai 3. Perkembangan Kinerja BUMN 2005-2009 Jumlah BUMN sampai dengan saat iniadalah sebanyak 141 BUMN terdiri dari 15 BUMN Tbk. c) menyelenggarakan kemanfaatan umum berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang bermutu tinggi dan memadai bagi pemenuhan hajat hidup orang banyak. BUMN pada dasarnya memiliki potensi yang sangat besar namun belum termanfaatkan secara optimal.150. dan (f) penguasaan data. dan e) turut aktif memberikan bimbingan dan bantuan kepada pengusaha golongan ekonomi lemah.BAB V KESIMPULAN 1. Sesuai dengan Undang-undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara. (b) kepemilikan aset yang besar. 112 BUMN Persero dan 14 BUMN Perum.03 Triliun dan Rp 566. koperasi. (d) pengalaman usaha BUMN. (c) brand image BUMN. Kinerja seluruh BUMN selama waktu 2005-2009 terus mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan terlihat dari pertumbuhan asset dan Ekuitas masing-masing dari Rp 1. d) menjadi perintis kegiatan-kegiatan usaha yang belum dapat dilaksanakan oleh sektor swasta dan koperasi.

Kontribusi BUMN 2005-2009 Dalam kurun waktu 2005-2009. Dari 17 BUMN yang diserahkan kepada PT PPA. Sedangkan kontribusi pajak dalam periode 2004-2008 mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi yaitu rata-rata sekitar 18% per tahun dengan sumbangan rata rata sebesar Rp 61.04 Triliun per tahun dengan peningkatan ratarata sekitar 25% per tahun. baik berupa dividen. Meskipun demikian Kementerian BUMN dibantu oleh konsultan independen telah banyak menghasilkan kajian-kajian dan alternatif model terkait dengan rencana rightsizing dimaksud.48 Triliun dari total kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI). Restrukturisasi korporasi. BUMN telah memberikan kontribusi yang relatif besar kepada Negara.98 Triliun. Selanjutnya kontribusi BUMN terhadap pengembangan usaha kecil melalui Program Kemitraan dan Bina Lingkungan. dan kajian tentang kemungkinan pembentukan Super Holding dengan 3 alternatif pendekatan. Kontribusi/peran dari 15 BUMN yang sudah masuk Pasar Modal (BUMN Tbk) pada dasarnya juga relatif besar jika dilihat dari penguasaan/kapitalisasi pasar per 30 Desember 2009 yang mencapai 31. aset dan ekuitas terbesar selama kurun waktu 2005-2009.3. dalam kurun waktu 2005-2009 penyaluran dana Program Kemitraan sebesar Rp 8. Rata-rata dividen BUMN sebesar Rp 23.65 Triliun per tahun. Sedangkan dana Bina Lingkungan yang telah disalurkan BUMN seluruhnya mencapai sebesar Rp 1.56 Triliun dengan akumulasi jumlah mitra binaan sampai dengan tahun 2009 mencapai 640. dalam artian bahwa rencana rightsizing BUMN menjadi 69 pada tahun 2009 belum dapat dilaksanakan.417 orang/unit kerja. Kementerian BUMN juga telah melakukan kajian terhadap 25 BUMN besar dengan pendapatan. Kegiatan restrukturisasi melalui regrouping/konsolidasi sektoral untuk mendapatkan jumlah dan skala BUMN yang ideal (rightsizing) sampai dengan akhir 2009 belum berhasil. Pelaksanaan Master Plan 2005-2009 Dalam pelaksanaan Master Plan 2005-2009 banyak upaya-upaya yang telah dilakukan Kementerian BUMN meskipun belum memberikan hasil yang optimal. terutama terhadap BUMN yang ditangani/diserahkan kepada PT Perusahaan Pengelola Asset (PT PPA) juga belum berjalan secara baik. 4.57% atau senilai Rp 637. laba. Selain itu. Pajak dan kontribusinya bagi pergerakan sektor riil. pelaksanaannya 122 .

dan Berkeadilan” dan sejalan dengan Visi Kementerian BUMN yaitu “Meningkatnya peran BUMN sebagai instrumen Negara untuk peningkatan kesejahteraan rakyat berdasarkan mekanisme korporasi”. Demokratis. Arah kebijakan pembinaan BUMN kedepan juga diselaraskan dengan bidangbidang yang menjadi perhatian utama dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014. 5. sehingga banyak BUMN yang tidak bisa segera pulih dari kesulitan yang dihadapinya. memberikan manfaat berupa dividen dan pajak kepada Negara. Arah Kebijakan Pembinaan BUMN 2010-2014 Arah kebijakan pembinaan BUMN dalam kurun waktu 2010-2014 pada dasarnya masih melanjutkan atau memantapkan program restrukturisasi. Kemudian terkait dengan program Optimalisasi Aset BUMN Kementerian BUMN telah membentuk unit organisasi yang khusus menangani pendayagunaan asset pada tahun 2006. PTP tahun 2008 (44 BUMN termasuk carry over PTP tahun 2007) dan 2009 (20 BUMN yang merupakan carry over PTPN tahun 2008). revitalisasi dan profitisasi BUMN secara bertahap dan berkesinambungan. Unit organisasi tersebut diharapkan dapat mendukung kebijakan Kementerian BUMN dalam melakukan langkah-langkah pembinaan dan pengawasan atas kegiatan pengelolaan aset oleh Direksi BUMN yang mengarah pada konsep efisiensi dalam penggunaan sumber daya dan pengelolaan resiko. guna mencapai jumlah dan skala BUMN yang ideal (rightsizing) sehingga dapat meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan. Selanjutnya untuk pelaksanaan program Privatisasi. Adapun arah kebijakan pembinaan BUMN tahun 2010-2014 adalah sebagai berikut : 123 . Meskipun demikian Kementerian BUMN telah melakukan kajian dan seleksi terhadap BUMN untuk dimasukkan dalam Program Tahunan Privatisasi (PTP) tahun 2007 (15 BUMN). Arah kebijakan tersebut sejalan Visi dan Misi Presiden untuk masa pemerintahan periode 2010-2014 yaitu “Indonesia yang Sejahtera. Tahun 2005 dan 2006 tidak ada PTP karena Komite Privatisasi baru terbentuk pada tanggal 13 Oktober 2006 melalui Keputusan Presiden RI Nomor 18 Tahun 2006. hingga akhir tahun 2009 baru terdapat 15 BUMN yang Go Public (menjual sahamnya melalui Pasar Modal) atau baru sekitar 11% dari jumlah BUMN yang ada.tidak dapat berjalan secara cepat sebagaimana yang diharapkan.

b) tahun 2011 sebanyak +102 BUMN. tetapi diprioritaskan guna mendukung pengembangan perusahaan dengan metode utama melalui penawaran umum di pasar modal (Initial Public Offering/IPO). dan menciptakan aturan-aturan pelaksanaan (Perpres atau Peraturan Pemerintah) PSO sehingga diharapkan pelaksanaannya dapat berjalan secara transparan. Terkait Program Restrukturisasi Restrukturisasi Sektoral pelaksanaannya disesuaikan dengan kebijakan sektor dan/atau Peraturan Perundang-undangan yang ada. Privatisasi dilakukan dengan menggunakan salah satu dari 3 metode yaitu: a) Penjualan Saham berdasarkan Ketentuan Pasar Modal. dan e) tahun 2014 sebanyak +78 BUMN. menata hubungan antara pemerintah selaku regulator dan BUMN selaku badan usaha. yang pelaksanaannya dilakukan melalui kriteria-kriteria tertentu sebagaimana telah diamanatkan dalam Undang-undang Nomor 19 tahun 2003 dan Peraturan Pemerintah 33 tahun 2005 jo Peraturan Pemerintah Nomor 59 tahun 2009. d) tahun 2013 sebanyak +85 BUMN. 124 . dan Restrukturisasi Perusahaan/Korporasi diarahkan untuk meningkatkan intensitas persaingan usaha. organisasi/ manajemen. c) tahun 2012 sebanyak +91 BUMN. Privatisasi dilakukan dalam rangka mendukung program restrukturisasi dan rightsizing BUMN. c. Dalam kurun waktu 2010-2014 Kementerian BUMN diharapkan dapat melakukan privatisasi terhadap sekitar 36 BUMN. b) Penjualan Saham Langsung kepada Investor/Strategic Sale (SS). operasional. Terkait Program PSO Kementerian BUMN akan terus mendorong ketaatan semua pihak terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku dibidang PSO khususnya Pasal 66 UU No. b. Terkait Program Privatisasi Arah kebijakan privatisasi ke depan adalah bahwa privatisasi bukan semata-mata untuk pemenuhan APBN. dan restrukturisasi secara internal yang mencakup keuangan. fair. sistem dan prosedur. dan bertanggung jawab dengan melakukan pemisahan pembukuan antara kegiatan PSO dan kegiatan komersial. 19 tahun 2003 tentang BUMN.a. dan c) Penjualan Saham kepada Manajemen dan/atau Karyawan (Employee and Management Buy Out /EMBO). Restrukturisasi sektoral dimaksudkan untuk memperoleh jumlah dan skala BUMN yang ideal (rightsizing) dengan skenario hasil rightsizing diharapkan menghasilan jumlah BUMN sebagai berikut : a) tahun 2010 sebanyak +117 BUMN.

d. baik melalui optimalisasi pemanfaatan ataupun penghapusbukuan. serta peningkatan kontribusi berupa dividen dan pajak kepada Negara. 25. Kementerian BUMN diharapkan dapat menjadi pusat penelitian yang kredibel dan terpercaya yang siap menawarkan solusi atas permasalahan BUMN baik bagi pihak internal maupun eksternal. Ditambahkan pula bahwa penguasaan/kapitalisasi pasar BUMN Tbk per 30 Desember 2009 yang mencapai 31.99% dari total Ekuitas. Diharapkan pada tahun 2014 nanti nilai perusahaan (value creation) dari BUMN dari sisi ekuitas mencapai Rp 2. 86. 12. Terkait Program Pengembangan Data.48 Triliun dari total kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI).69% dari total penjualan dan 98.71% dari total laba bersih seluruh BUMN. akurat. tajam dan terpercaya serta menjadi think tank pengambilan keputusan Kementerian BUMN. 25 BUMN Terbesar. revitalisasi dan profitisasi BUMN guna mencapai jumlah dan skala BUMN yang ideal (rightsizing) pada dasarnya sudah sangat tepat.73% dari total Ekuitas. ternyata 25 BUMN terbesar menguasai 97. sehingga diharapkan Kementerian BUMN mendapatkan manfaat sinkronisasi dan integrasi rencana teknologi informasi dan komunikasi dengan rencana strategis Kementerian BUMN 6. Kementerian BUMN telah membangun sistem Bank Data Aset. guna mendukung peningkatan kinerja dan peningkatan nilai perusahaan. Dari kenyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa Arah kebijakan pembinaan BUMN dalam kurun waktu 2010-2014 untuk tetap melanjutkan/memantapkan program restrukturisasi. Selanjutnya pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi di Kementerian BUMN diharapkan dapat mempercepat terwujudnya program tata kelola teknologi informasi dan komunikasi yang baik. Selanjutnya untuk 15 BUMN yang sudah go public (Tbk) menguasai 46.583 Triliun 125 .57% atau senilai Rp 637. e.11% dari total laba bersih seluruh BUMN. Dalam pelaksanaan tugas optimalisasi pengelolaan aset tersebut. 91.82% dari total penjualan dan 36. Informasi dan Teknologi Unit data dan informasi akan dikembangkan menjadi pusat data dan informasi yang lengkap. Penguasaan Pasar BUMN Terbuka dan Value Creation Dari 141 BUMN yang dimiliki Negara. Terkait Program Optimalisasi Asset Optimalisasi pengelolaan aset merupakan salah satu bentuk restrukturisasi aset.16% dari total asset.14% dari total asset.986 Triliun dan dari sisi asset mencapai Rp 11.

Perlunya sinkronisasi peraturan-peraturan yang terkait dengan pelaksanaan kegiatan BUMN sehingga tidak saling bertentangan antara peraturan yang satu dengan yang lainnya. Pelaksanaan program privatisasi yang telah mendapat arahan dari Komite Privatisasi dan rekomendasi dari Menteri Keuangan memerlukan waktu yang relatif lama. 7. Dengan demikian penyelesaian proses restrukturisasi harus melalui proses dan tahapan yang telah ditentukan dan relatif membutuhkan waktu yang lebih lama/panjang.25 Triliun atau meningkat sekitar 5. b. Pelaksanaan program restrukturisasi baik sektoral maupun korporasi tidak hanya melibatkan Kementerian BUMN. namun juga melibatkan Kementerian Keuangan dan Kementerian Teknis serta DPR-RI.dari posisi awal tahun 2010 masing-masing sebesar Rp 370. sehingga permasalahan yang dihadapi BUMN tidak serta merta segera dapat diatasi.06 Triliun dan Rp 1.291. e. d. Pelaksanaan restrukturisasi BUMN yang menimbulkan implikasi pajak sangat memberatkan keuangan BUMN sehingga memerlukan adanya ketegasan penanganan dari dampak perpajakan tersebut. c. namun tetap perlu menjadi perhatian pihak-pihak yang terkait untuk mengimplementasikannya. sehingga sering kehilangan momentum pelaksanaannya di samping dapat muncul resistensi dari stakeholder yang menghambat pelaksanaan privatisasi. perlunya sosialisasi yang intensif guna menyamakan persepsi mengenai tujuan dari pelaksanaan rightsizing BUMN. f.39 kali. BUMN juga terus mengalami perbaikan dalam menerapkan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance/GCG) yang 126 . Master Plan BUMN 2005-2009 walaupun telah mendapatkan legitimasi dari pimpinan pemerintahan tertinggi (Inpres Nomor 5 Tahun 2008). Hal-hal yang perlu mendapatkan perhatian dalam rangka pelaksanaan Master Plan BUMN 2010-2014 a. Untuk itu Master Plan BUMN 2010-2014 perlu mendapatkan legitimasi lebih dini dari pimpinan tertinggi pemerintahan sehingga akan menjadikan perhatian semua pihak yang terkait untuk melaksanakannya. Di samping itu.

i.ditunjukkan dengan peningkatan pencapaian skor hasil assessment dengan kategori Baik. Pelaksanaan PSO sangat tergantung dari kebijakan Kementerian Teknis mengingat DIPA PSO melekat pada Kementerian Teknis dimana BUMN beroperasi. Implementasi Portal Kementerian BUMN belum optimal dan penyediaan Data dan Informasi dari laporan BUMN yang terintegrasi perlu terus peningkatan. g. 127 . Perlunya dukungan internal Kementerian BUMN dan seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) untuk pelaksanaan Master Plan 2010-2014. h.

2009 11. Data BUMN yang telah Listing di Bursa Efek 5.2014 . Master Plan Teknologi Informasi 2010 . Value Creation 3. Pokok-pokok Data Keuangan BUMN Berdasarkan Sektor 2. Program Kemitraan & Bina Lingkungan 7. Matriks Penanganan Restrukturisasi Korporasi oleh PT PPA 9.LAMPIRAN 1. Peraturan yang terkait dengan Pembinaan BUMN 6. Rencana Rightsizing dan Privatisasi Tahun 2005-2009 8. Data BUMN 25 Besar 4. Program Berkesinambungan Teknologi Informasi Tahun 2006 . Data BUMN Penyelenggara PSO 10.

LAMPIRAN 1 POKOK-POKOK DATA KEUANGAN BUMN BERDASARKAN SEKTOR .

107.86% 7.327.676 4.422 2.039.509.455.989.68% 7.95% 4.163.563 5.257 4.960 2.342.97 147.622.482.14 3.72% 0.20 2.32 23.030 5.66 Prognosa 2009 938.484.72% 9.543.386 68.219.46% 26.298 21.234.697 973.774.644 91.607 7.440 33.361.26% 9.010.85% 17.556.54% 10.77 16.711.27 69.076.739 2.855.450.83% 9.173 1.734 2.40 11.37% 11.44% 15.26% 7.01% 9.627.47% 21.02% 10.265 2.592 18.343 9.969.573 5.017.023 68.83 30.95% 9.737.026.70% 8.31% 14.288 1.56% 15.009 3.878 3.21% 5.877.36% 18. Juta No SEKTOR Akun Total Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) Total Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) Total Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) Total Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) Total Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) 2005 563.95 3.78 2.27% 3.828.228 4.59% 7.35% 36.48% 5.37% 6.968 2.39% 17.98 12.966 3.282 49.070 1.823 754.048 59.749 4.103 198.478.934.815.184 2.709 6.843.85% 0.974.274.546 1.159.342 520.24% 4.178 13.158 295.360 3.500 36.576.763.612 3.972 1.57 3.025.430 13.055 1.71% 18.963.198.341.81 105.86 22.40% 18.48% 25.728.965 4.513 254.985 2.69% 23.960 6.70% 9.292 15.18% 6.457 417.606.186 1.263.45% 24.85% 0.573 16.11% 12.253 3.413 3.022 2.050 145.561.208 5.231 2.832.022 12.240.Rp.661.51% 0.014 2.638 767.257 2.570 512.025.943.24 20.173 117.452 2.665.943.116.44 86.245 5.606 25.324.20% 6.56 I PERBANKAN II ASURANSI III JASA KEUANGAN IV JASA KONSTRUKSI V INDUSTRI FARMASI .47% 16.218.65% 3.083.501 1.267 1.766 5.184 88.688.393 1.481 1.814 71.607.09% 24.602.015 2.499.300 1.054.768.384.406 8.379 3.076.364 75.403 4.380.548.359 16.212.427.318.321.53 2007 742.672.828.840 4.310 85.423.87 13.933 2.312 1.72 2008 851.56% 0.391.74% 9.41% 15.291.07% 5.41 10.238 180.690.047 3.59% 39.548.248.908 29.793.93 133.117 19.503 25.147.133.186.719.279 7.034 5.44 2006 624.59% 19.766 657.082 2.553.677 1.503 61.567 10.810 5.380.033 12.027 267.60 16.

302 554.47 1.131 11.82% -7.91 29.101 (97.468) (94.838.23% 5.730 784.76) 2.08% 148.319 3.308 47.753 6.967 153.37% -4.055.80 30.39% 1.194.200 (641.857 8.622 7.90% 1.70% -78.965 3.226 45.156.844.43 2007 778.984 6.581.881 (67.08 1.508 7.243.10% -350.802 1.430.286 614.885 63.76% 0.93 26.672 30.702.37% 0.051.057 29.669.900.975.46 29.42 24.082 16.438.168 441.642 69.094.944 658.164.27% 18.42% 0.905.744 992.74 1.397.661 (51.75% 2.156.09% -24.558.741 214.23% -0.697) (53.930 8.367 7.Rp.98 2008 874.168.817 795.07% 10.687 0.58 2006 804.544.68% 0.86% 3.25% 0.948) -10.928) -2.540) -2.69% 9.377 569.543 547.50% 1.687 13.15% -0.581.976.335 66.89% 5.773.220 2.136 18.756.30% 10. Juta No SEKTOR Akun Total Aset Ekuitas Pendapatan Laba Usaha Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) Total Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) Total Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) Total Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) Total Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) 2005 876.357 31.09 VI ANEKA INDUSTRI VII PERUMAHAN & KAWASAN INDUSTRI VIII Sarana Angkutan dan Pariwisata IX Prasarana Angkutan X LOGISTIK DAN JASA SERTIFIKASI .25% 0.89% 2.119.78 22.220.218 23.56% 6.26% 3.62 48.17% -12.75% 1.43 24.421.885.035.455.479 3.957.546 9.61% 0.38% 15.224.243 5.317 1.946 19.756.766.35 1.67% 1.310.882.700) -0.60% 10.124 14.510 20.095) (158.019 0.631 28.05% -10.513 (69.550.232.93% 3.87% 10.44 22.31 39.832) 473.170.403 8.035 79.168) -2.575 (28.750 2.342 (259.033.54% 6.672) -0.236.292 7.730.08% 1.648 (30.269) -0.167.42% 4.66% 12.569.014) -9.864 0.916 2.458 6.061.078.66% 1.99% -4.827 977.706 3.221 (97.794 59.32 44.64 19.62% 2.955 3.966.619 201.286 1.791 23.818.210) -18.88 20.184 7.117) -11.345 11.881 8.692 4.862.56% 0.189) -5.75% 0.25% -152.595 10.543 (65.57 17.71 Prognosa 2009 971.330 14.121) (72.469 (44.771.245 (493.228 4.915.061 33.534.157 13.421.76% 0.394 541.468 119.242.845 20.925.745.056 3.020.565 (1.261 557.48% 12.66 31.78% (15.883 27.432) -6.

818.835 6.99% 15.406 (123.88% -49.22% 7.472 (1.224.49% 24.420 1.24 2.947.487 1.20% 10.87 2.837 2.40% 11.490 41.929.96% 1.41% 24.730 39.126.131 4.964.224) 156.790 9.927 241.565) -3.16% 1.23) 3.294 (253) -0.283 12.97% 1.187 2.34 147.Rp.94% 0.760 103.586.52% 1.601.037) 103.392.628 (110.230 7.553.367 347.148.530.148.48% 0.64 Prognosa 2009 37. Juta No SEKTOR PERKEBUNAN Akun 2005 21.568 47.838 13.532 2.935 4.839 118.38% 1.37 2007 29.783 21.031 45.934 15.547 4.601 1.43% 1.568.581.907) -6.222 (16.17% 9.00% 0.049.33% (12.708.732 39.338.72 32.451 1.660.344) -0.694 616.289 1.21% 13.26 24.587.255 17.05% 2.70% 16.962 897.736 3.043 1.15% 11.41% 6.98) 3.223 1.399 11.652.20% 0.592 72.130.732 2.463) 98.087 1.56% 17.232 (11.352.518 (145.104 1.603.263 7.581 2.40 202.560 1.124.13% 1.863.19% 0.337 868.32% 6.459 (15.934.684 1.073.81% 20.473.52 20.404 2.79% 7.95 21.71% (2.746.719.136 4.074 9.507 5.112 (21.64% 2.73% -31.803.04% 72.915.717.42% -3.544 20.79 2.204 (16.09) 3.41 2006 24.94 2.510 1.87% 1.319) -3.85 33.098.95% -51.743.296.29 102.379 1.817.671 2.23% -1.40 197.045 294.193 27.894.163 2.212.074 2.929 2.457) 123.934 33.18% 13. PERCETAKAN Ekuitas & PENERBITAN Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) Total Aset Ekuitas PENUNJANG PERTANIAN Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) XI XII XIII XIV XV .184.221.297.90% 5.789 33.613 (77.563 2.400 4.994.12 2.98 2.10% -10.21 2008 34.071 2.474.810 2.653) -3.681.236.871 492.379 1.712.701 12.956 6.806 6.055.41 198.686.12 Total Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) Total Aset KEHUTANAN Ekuitas Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) Total Aset PERIKANAN Ekuitas Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) Total Aset KERTAS.862.335 8.942 8.728 1.771 1.955) -10.304 82.904.00% (10.55% 2.003.20% 1.024.054.34% 1.18% (10.263) -1.116 (22.92) 3.482.578.53% 0.646.597 37.814.85% 13.299 17.122 24.67% 5.774 8.328.288.529.688.13% 1.

51% 8.16 266.48% 1.169.771.150.361.43% 6.807.036 15.81 .305.485 (9.17% 0.610.664 655.349.092.961 4.615 145.986) -1.505.011 4.45% 1.81% 8.896 865.554 1.26% -2.863 1.566.724.454 49.185.630.758.484.49 96.141 14.847.020 931.404.979 63.194) -0.50% 1.00% 0.862 12.947 10.060.016 146.420.854.890.53 XVII INDUSTRI STRATEGIS XVIII ENERGI XIX TELEKOMUNIKASI TOTAL 1.069 114.186.59% 1.43 2008 321.53 297.469 329.962.024 127.496.547 9.25 2.67% 24.268.835 52.62% 1.867.496.349 4.291.790.922 38.15% 3.008 514.000.098 1.05 83.217 138.43% 0.55% 0.119.46% 0.330 0.638.069 25.956 2.307.46% 8.44% 37.656 48.651.58% 11.840.528.734 5.144 (3.92% -4.199.83 2.720.220.714 2.982.186.33 92.755 400.428.566.678 23.679 585.117.193 3.013.091 420.064 25.415) -1.081.310.617.69% 3.230.780.646.39% 6.756.786 147.157 169.478 9.989 60.37% 0.03% 12.901 11.92 22.770.949 22.52% -2.42 15.931 11.225 171.344 371.62 63.416 228.898 15.735 370.66 2007 279.361.451.67% 12.378.44 2.871.21% 1.89% 2.760 184.012.44% 38.017.41% 3.089 19.800 11.529 85.500.795 34.031 499.56% 1.536 1.40% 3.236 64.31% 0.07% 1.069.305 565.623.049.47% 12.011.73 19.892 373.276.325 34.39% 3.26% 3.00% 3.364.944.251 21.854.353 9.60 376.658 4.650 35.301.92% 11.897 13.399 62.171.804) -3.926 374.Rp.965.841.496.848 42.176.254.68 18.90 24.32 322.48 236.952. Juta No XVI SEKTOR PERTAMBANGAN DAN SEMEN Akun Total Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) Total Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) Total Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) Total Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) Total Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) 2005 197.182 81.032.769 1.696.212 1.989 (3.716 445.020.413.054 11.303 (237.30% -5.65 Prognosa 2009 329.239.966 166.237 9.68% 33.017 (181.80 76.486 3.596 28.09% -7.834.05% 21.971) -1.713 72.707 1.420 754.590 161.937 33.65 2006 225.955 151.477 452.781 15.040.823.04% 4.789 134.49 2.843 4.918.49% 30.31% 3.034.86% 20.274.062.161.670 18.347 12.398.322.152.324.79% 16.588.453.49% 1.96% 11.270 8.969.371.717.958.

LAMPIRAN 2 VALUE CREATION SEKTOR BUMN .

024 PER 2010 =12. Miliar) No Sektor 2010 2011 2012 2013 2014 KETERANGAN PER 2010 =20.039 478.98 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun PER 2010 =47.318 7 Perkebunan Logistik dan Sertifikasi 21.559 12.07 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun PER 2010 =9.784 2.082 6.525 59.529 4.569 3.617 689.520 45.580 3 Jasa Pembiayaan Percetakan & Penerbitan 10.083 3.670 15.99 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun PER 2010 =34.271 49.204 18.235 5.02 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun 1 Perbankan 332.04 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun PER 2010 =32.Value Creation NILAI PERUSAHAAN (Rp.699 5 Perikanan 107 128 154 184 221 6 Kehutanan 3.430 71.45 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun 8 6.533 399.847 574.540 2 Asuransi 41.316 85.924 9.267 37.894 4 1.693 KEDEPUTIAN RESTRUKTURISASI DAN PRIVATISASI 3 8 .410 13.603 7.713 26.509 11.098 7.056 31.75 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun PER 2010 =9.141 2.245 21.82 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun PER 2010 =12.

169 120.66 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun PER 2010 =13.571 723.556 2.67 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun PER 2010 =48.217 68.920 .630 11.375 15 Pertambangan 197.041.243 18 Telekomunikasi 124.97 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun PER 2010 =34.957 19.23 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun PER 2010 =25.313 1.085 867.070 4.861 7.556 13.978 27.640 12 33.033 11 Aneka industri Sarana Angkutan & Pariwisata 8.439.660 13 Prasarana Angkutan 57.9 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun PER 2010 =20.010 214.76 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun PER 2010 =16.03 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun PER 2010 =18.812 147.774 2.680 57.563 2012 16.812 257.036 340.298 15.276 2013 19.968 69.175 1.867 16.531 2014 23.Value Creation … Lanjutan NILAI PERUSAHAAN (Rp.574 17 Energi 502.149 22.843 409.727.025 9.012 16 Industri Strategis 13.963 179.303 2011 13.344 122.392 4.073.734 47.702 1.267 2.969 149. Miliar) No Sektor 9 Konstruksi 2010 11.474 100.286 102.33 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun 10 Kawasan Industri 3.203 14 Penunjang Pertanian 71.111 39.2 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun PER 2010 =59.562 83.437 KETERANGAN PER 2010 =16.03 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun PER 2010 =17.143 602.697 284.247 236.072 85.488.884 5.985.

28x) Aset BUMN akan meningkat dari Rp.2.03 1.54 2.60 2.88x Ekuitas BUMN akan meningkat dari Rp.985.88x 2010 2011 2012 2013 2014 11.583 T pada tahun 2014 (meningkat 5.00 566.582.596.986 T pada tahun 2014 (meningkat 5.150T pada tahun 2009 menjadi Rp.629.88 x) .2.61 2.39x) (Dengan asumsi DER sama dengan posisi 2009 yaitu 2.11.92 8.150.566T pada tahun 2009 menjadi Rp.Kesimpulan Value Creation BUMN 2009 Aset BUMN Ekuitas Hutang DER 2.

LAMPIRAN 3 DATA BUMN 25 BESAR .

Coverage 25 BUMN Besar
Dari 141 BUMN, sebagian besar adalah perusahaan dengan Kinerja dan skala usaha yang relatif kecil. Lebih dari 97% dari Total ASET dan LABA BERSIH serta 92% EKUITAS dan 87% PENJUALAN seluruh BUMN berasal dari hanya dari 25 BUMN terbesar (data Audited 2008).

BUMN Terbesar dan Proporsinya Terhadap Total
(Rp. Trilliun)
Aset Total 2008 14 Tbk 25 BUMN Σ % Σ % 1,977.80 46.14 912.56 Ekuitas 526.13 25.99 136.74 Penjualan 1,161.71 12.82 148.93 Laba bersih 78.47 36.71 28.81

97.16
1,921.63
14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. PT Jamsostek PT TB Bukit Asam Tbk PT Taspen Perum Bulog * PT Jasa Marga Tbk PT Pelabuhan Indonesia II PT Bank Ekspor Indonesia PT Angkasa Pura II PT Angkasa Pura I PT Garuda Indonesia PT Kereta Api Indonesia * PT PLN *

91.73
482.62

86.69
1,007.09

98.11
76.99

25 BUMN Terbesar
1. PT Pertamina * 2. PT Bank Mandiri Tbk 3. PT Telekomunikasi Indonesia Tbk 4. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk 5. PT Pupuk Sriwidjaja * 6. PT Bank Negara Indonesia Tbk 7. PT PGN Tbk 8. PT Aneka Tambang Tbk 9. PT Semen Gresik Tbk 10. PT Krakatau Steel 11. PT Askes 12. PT Timah Tbk 13. PT Bank Tabungan Negara

14 BUMN Tbk
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. PT Bank Mandiri Tbk PT Telkom Tbk PT Bank Rakyat Indonesia Tbk PT Bank Negara Indonesia Tbk PT PGN Tbk PT Aneka Tambang Tbk PT Semen Gresik Tbk PT Timah Tbk PT TB Bukit Asam Tbk PT Jasa Marga Tbk
11. 12. 13. 14. PT Kimia Farma Tbk PT Indo Farma Tbk PT Adhi Karya Tbk PT Wijaya Karya Tbk

Catatan: * BUMN Pelaksana PSO (5 yang lainnya yaitu PELNI, Sang Hyang Seri, Pertani, POS dan Antara)

Breakdown Figur Keuangan Pokok
Breakdown Berdasarkan Aset
72 BUMN 28 BUMN
BUMN Kecil Lainnya

Aset <1 T Aset 1 T -- <2,5 T

DI, PNM, Waskita, Askrindo, PTPN II, Hutama, Jasindo, PTPN XIII, Peruri, PTPN VI, PTPN VIII, PTPN X, KF, Perhutani, Pelindo I, ASDP, PANN, PTPN XI, PTPN IX, Jamkrindo, Kertas Leces, Perumnas, Pelindo IV, PPI, Djakarta Lloyd, Nindya, MNA, PTPN XII

23 BUMN

SGG, AP I, AP II, KAI, Pelindo II, Askes, Timah, Pelni, Wika, PTBA, PTPN III, PTPN IV, Adhi Karya, Asabri, Posindo, Pelindo III, RNI, Danareksa, PAL, PTPN VII, PTPN V, PT PP, Jasa Raharja

Aset 2,5 T -- <10 T Aset 10 T -- <100 T

14 BUMN

Telkom, Jamsostek, BTN, Pusri, Taspen, PGN, Bulog, KS, Jasa Marga, GIA, BEI, Jiwasraya, Pegadaian, Antam,

5 BUMN

Bank Mandiri, Pertamina, PLN, BRI, BNI

Aset > 100 T

Breakdown Berdasarkan Pendapatan
84 BUMN 23 BUMN
BUMN Kecil Lainnya
Posindo, Jiwasraya, Pelindo II, Pelindo III, Perhutani, MNA, AP II, Pelni, I, Jasa Raharja, PTPN VI, PTPN VIII, PTPN II, PTPN XI, Peruri, PTPN X, Indo Farma, PTPN IX, PPI, SHS, Nindya Karya, Sucofindo, BEI

Pendapatan <1 T

Pendapatan 1 T -- <2,5 T

23 BUMN

Antam, Timah, Jamsostek, PTBA, Adhi Karya, Taspen, Askes, Wika, KAI, PTPN III, BTN, PTPN IV, PP, PTPN V, PTPN VII, RNI, Jasindo, Waskita, Pegadaian, Jasa Marga, Hutama, PTPN XIII, KF

Pendapatan 2,5 T -- <10 T

10 BUMN

Telkom, Pusri, BRI, Mandiri, KS, Bulog, GIA, BNI, SGG, PGN

Pendapatan 10 T -- <100 T

2 BUMN

Pertamina, PLN

Pendapatan>100T

NO COPY ALLOWED

Breakdown Figur Keuangan Pokok (Lanjutan)
Breakdown Berdasarkan Ekuitas
53 BUMN

BUMN
PTPN XIII, KF, Peruri, PANN, Jiwasraya, PPA, Taspen, Jasindo,

Ekuitas <100 M

Kecil Lainnya

51 BUMN

Bio farma, PAL, PTPN X, Asabri, PTPN VIII, Danareksa, RNI, Adhi Karya, ASEI, PTPN XII, PTPN VI, Perumnas, PNM, INTI, Sucofindo, PP, PTPN XI, Waskita, GIA, KBN, Inhutani III, Posindo, Inhutani I, PTPN IX, Hutama, INAF, Kertas Leces, Semen Baturaja, SI, Inka, Jasa Tirta II, Rukindo, Garam, BTDC, Pindad, Inhutani II, Dahana, SHS, Berdikari, PTPN II, Damri, KBI, TWC Borobudur

Ekuitas 100 M -- < 1 T

31 BUMN

PGN, Antam, SGG, AP I, Jasa Marga, AP II, KS, PELNI, Pelindo II, BEI, Bulog, PTBA, Timah, KAI, BTN, Pelindo III, PTPN IV, Askes, PTPN III, Jamsostek, Pegadaian, Askrindo, Jasa Raharja, Wika, ASDP, PTPN VII, Pelindo I, PTPN V, Perhutani, Jamkrindo, Pelindo IV

Ekuitas 1 T -- <10 T

5 BUMN

Telkom, Bank Mandiri, BRI, BNI, Pusri

Ekuitas 10 T -- <100 T

2 BUMN

Pertamina, PLN
53 BUMN
BUMN Kecil Lainnya

Ekuitas > 100 T

Breakdown Berdasarkan Laba Bersih
Laba Bersih<10 M

43 BUMN

PPI, Bulog, PTPN X, PTPN XII, ASDP, PPA, PTPN IX, Waskita, PANN, Askrindo, Hutama, Sucofindo, ASEI, PTPN II, INKA, Jasa Tirta II, BTDC, BKI, Dahana, Inhutani V, Jiwasraya, KBN, Danareksa, Damri, KAI, Posindo, PTPN XI, Pindad, SI, KBI, BGR, Brantas, Istaka, KIM, Perumnas, Kertas Leces, Jasa Tirta I, Djakarta Lloyd, PNM, SHS, DPS, PTPN I, LEN

Laba Bersih 10 M -- < 100 M Laba Bersih 100M -- <1T

35 BUMN

Jamsostek, Pelindo II, PTPN III, PTPN IV, Pegadaian, Jasa Marga, KS, Askes, AP II, Pelindo III, BTN, KF, PTPN V, AP I, Taspen, PTPN VII, BEI, Jasa Raharja, Peruri, RNI, PTPN XIII, Pelindo I, Asabri, PTPN VIII, Perhutani, Wika, ADHI, GAI, Pelindo IV, PP, PTPN VI, Semen Baturaja, Jasindo, Bio Farma, Jamkrindo

9 BUMN

BRI, Bank Mandiri, PGN, SGG, PTBA, Antam, Timah, Pusri, BNI

Laba Bersih 1T -- <10T

2 BUMN

Pertamina, Telkom

Laba Bersih>10T

NO COPY ALLOWED

LAMPIRAN 4 DATA BUMN YANG TELAH LISTING DI BURSA EFEK .

16. 3. 15. 7. 6. 12. 5. 8. 2. 4. 8. PT Kimia Farma Tbk PT Indo Farma Tbk PT Adhi Karya Tbk PT Wijaya Karya Tbk PT Jasa Marga Tbk PT Pembangunan Perumahan Tbk . 13. PT Telkom Tbk PT Bank Mandiri Tbk PT Bank Rakyat Indonesia Tbk PT Bank Negara Indonesia Tbk PT Bank Tabungan Negara Tbk. PT PGN Tbk PT Aneka Tambang Tbk PT Semen Gresik Tbk PT Timah Tbk PT TB Bukit Asam Tbk 11. 9.BUMN Yang Telah Listing 1. 14.

00% 20.80% 32. sedangkan Kapitalisasi Pasar BUMN Tbk Tahun 2007.RAHASIA & TERBATAS Kapitalisasi Pasar BUMN Tbk Kapitalisasi pasar BUMN Terbuka (Rp triliun) % terhadap total kapitalisasi pasar 700.00% 10.60% 36. 2008 & 2009 adalah kapitalisasi terhadap Bursa Efek Indonesia Sumber : diolah dari www.00 260.00% 40.00 100.00 45.00 40.bapepam.77 35.87% 493.00 500.00% 35.00 153.00 0.14 200.98% 250.00% 0.23% 600.26 32.00% 25.go.00 29.40% 636.00 300.00% 30.00% 630.00% 5.00 31.00 400.00 386.id Kementerian Negara BUMN 17 .00% 15.00% 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Catatan : Kapitalisasi Pasar BUMN Tbk tahun 2005 dan 2006 adalah kapitalisasi terhadap Bursa Efek Jakarta.

LAMPIRAN 5 PERATURAN YANG TERKAIT DENGAN PEMBINAAN BUMN .

Perum dan Perjan kepada Menteri BUMN PP No. Keppres No. 15 Th 1998. Inpres No. 64 th. 11 tahun 1973. tugas dan kewenangan Menteri Keuangan pada Persero. PP No. Perum dan Perjan kepada Menteri BUMN PP No. PP No. 2003 (1960-1969) (1969-1998) (1998) (1998-2001) (2001-2003) (2003-Sekarang) (2003-Sekarang) UU 19/2003 PP No. 19 PRP th1960 tentang Perusahaan Negara PP No. Perusahaan Umum dan Perusahaan Perseroan • Menteri Keuangan sebagai Pembina Keuangan • Menteri Teknis sebagai Pembina Teknis NO COPY ALLOWED PP No.Pus selaku Pemegang Saham/ Pemilik Modal BUMN (pasal 1 ayat 5) Pengalihan tugas dan kewenangan Menteri Keuangan sebagai Pemegang Saham dalam Perusahaan Perseroan (Persero) kepada Menteri Negara Pendayagunaan BUMN . 12 th 1969 tentang Perusahaan Perseroan. 50 th 1998. 39/1999 tentang BUMN Menteri BUMN adalah pihak yang mendapatkan Kuasa dari Negara/ Pem. tugas dan kewenangan Menteri Keuangan pada Persero. 3 th 1983 tentang Tata Cara Pembinaan dan Pengawasan Perusahaan Jawatan. Inpres No. 2001 Pelimpahan kedudukan. 38/1999.Pembinaan dan Pengelolaan BUMN Pembinaan BUMN oleh Departemen/ Menteri Teknis Menteri Keuangan sebagai Pemegang Saham Negara RI / Pemilik Modal pada BUMN dan memegang Kewenangan Pembinaan BUMN UU No. 12 th 1998 tentang Perusahaan Perseroan. 13 th 1998 tentang Perusahaan Umum Pengalihan/ Pelimpahan kedudukan. Keppres No. 41 th.

41 tahun 2003 2 Undang-Undang No. • PP 41/2003 tentang pelimpahan kewenangan Menteri Keuangan pada persero.17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara Undang-Undang No. termasuk kepemilikan kekayaan Negara yang dipisahkan. pendirian BUMN dan pengalihan bentuk Perjan dilakukan oleh Menteri Keuangan. serta pembinaan dan pengawasan kepada perusahaan Negara (BUMN) dilakukan oleh Menteri Keuangan. sedangkan bentuk hukum Perjan ditiadakan. 1 Keterangan • Dalam UU 17/2003. • Pembinaan terhadap Persero dan perum dilakukan oleh Menteri BUMN dalam kedudukan sebagai pemegang saham/ pemilik modal BUMN. • Persero ditiadakan untuk mengejar keuntungan sedangkan Perum dibentuk untuk melaksanakan kemanfaatan umum dalam kerangka korporasi.19 Tahun 2003 tentang BUMN 20 .19 Tahun 2003 tentang BUMN Peraturan Pemerintah No. Dasar Hukum Undang-Undang No. • Dalam UU 19/2003. Perum dan Perjan kepada Menteri BUMN. Pembinaan BUMN secara ringkas: • Bentuk BUMN disederhanakan menjadi dua bentuk yaitu Persero dan Perum. kewenangan sebagai wakil Pemerintah selaku pemegang saham atau pemilik modal pada BUMN dilakukan oleh Menteri yang ditunjuk atau dikuasakan untuk itu. • Penegasan kembali praktek-praktek corporate Governance yang mengatur pelaksanaan pengelolaan BUMN secara baik • Penetapan prosedur privatisasi untuk menjammin transparansi dan persaingan yang adil serta menjamin terdapatnya manfaat bagi publik daru program privatisasi tersebut. kewenangan pengelolaan keuangan Negara.PEMBINAAN BUMN No. pengusulan penyertaan modal Negara. • Penatausahaan penyertaan saham/modal pada BUMN.

013/1991 5 Program Kemitraan dan Bina Lingkungan 6 Pengadaan Barang dan Jasa di Lingkuingan BUMN 7 8 Sinergi BUMN Privatisasi BUMN 9 Pedoman Pemindahtanganan Aktiva Tetap 21 .MBU/2007 Surat Edaran Menteri BUMN Nomor.PEMBINAAN BUMN No. 3 4 Keterangan Ketentuan mengenai Good Corporate Governance Pengangkatan dan Pemberhentian Direksi dan Komisaris BUMN Dasar Hukum Peraturan Menteri BUMN Nomor: PER-8/4/PBI/2006 Peraturan Menteri BUMN Nomor: PER-03/MBU/2009 Keputusan Menteri BUMN Nomor: KEP-09A/MBU/2005 KEP-59/MBU/2004 Peraturan Menteri BUMN Nomor: PER-5/MBU/2007 Keputusan Menteri BUMN Nomor: KEP-236/MBU/2003 Peraturan Menteri BUMN Nomor: PER-05/MBU/2008 Surat Menteri BUMN No: S298/S.S/2009 Undang-Undang No: 19/2003 Peraturan Pemerintah No: 33/2005 Jo. PP No: 59/2009 Peraturan Menteri BUMN No: 1/2010 Instruksi Menteri No: 1&2 Tahun 2002 Keputusan Menteri Keuangan No: 89/KMK. SE-03/MBU.

45/2005 ttg Pendirian. Peleburan. Dasar Hukum Ps 4 UU No. 44/2005 ttg Tata cara penatausahaan dan PMN pada BUMN dan PT Ps 10 UU No.8 PP No.PENGGABUNGAN. Pengambilalihan dan Perubahan Bentuk Hukum BUMN 3 4 5 Tata cara peleburan BUMN dengan BUMN dilakukan sesuai dengan Peraturan perundang-undangan di bidang perseroan terbatas PP 43/2005 Pasal 11 ayat (1) 22 . 19/2003 ttg BUMN Ps 10 PP No. Pengurusan. Pengawasan dan Pembubaran BUMN Ps 10 PP No. PELEBURAN DAN PENGAMBILALIHAN BUMN No. Menteri Negara BUMN melaksanakan peleburan BUMN setelah diterbitkannya PP mengenai peleburan BUMN Ps 45 . 19/2003 ttg BUMN Ps 4 . 1 Keterangan Kajian bersama rencana peleburan BUMN oleh Menteri Negara BUMN dan Menteri Keuangan. Kajian Bersama tersebut dapat mengikutsertakan Menteri Teknis dan/atau Menteri lain dan/atau pimpinan instansi lain yang dianggap perlu dan/atau dapat menggunakan konsultan independen. 17/2003 ttg Keuangan Negara Ps 11 PP No. 1/2004 ttg Perbendaharaan Negara UU No. 44/2005 ttg Tata cara penatausahaan dan PMN pada BUMN dan PT 2 Pembahasan dengan DPR RI dalam rangka mendapatkan persetujuan (Terkait dengan pengalihan kekayaan negara berupa selain tanah dan bangunan yang nialainya lebih dari Rp 100 milyar kedalam perusahaan milik Negara – UU Perbendaharaan Negara) Menteri Negara BUMN menyampaikan RPP tentang peleburan kepada Menteri Keuangan untuk diteruskan ke Presiden guna mendapatkan persetujuan.46 UU No. 43/2005 ttg Penggabungan.

PELEBURAN DAN PENGAMBILALIHAN BUMN No. UU 40/2007 tt g PT Pasal 127 ayat (6) & (7) 23 . 6 7 Keterangan Direksi BUMN yang akan melakukan peleburan menyusun Rancangan Peleburan Rancangan peleburan tersebut harus mendapat persetujuan Dewan Komisaris dan RUPS masing-masing BUMN Direksi BUMN yang akan melakukan peleburan wajib mengumumkan ringkasan rancangan paling sedikit dal 1 Surat Kabar dan mengumumkan secara tertulis kepada karyawan BUMN yang akan melakukan peleburan dalam jangka waktu paling lambat 30 hari sebelum pemanggilan RUPS yang di dalamnya juga memuat bahwa pihak yang berkepentingan dapat memperoleh rancangan peleburan di Kantor BUMN sejak tanggal pengumuman sampai penyelenggaraan RUPS Dasar Hukum UU 40/2007 tt g PT Pasal 123 ayat (1) & (2) UU 40/2007 tt g PT Pasal 123 ayat (3) 8 UU 40/2007 tt g PT Pasal 127 ayat (2) & (3) 9 Kreditur dapat mengajukan keberatan dalam jangka waktu paling lambat 14 dari setelah pengumuman. Selama penyelesaian belum tercapai. maka keberatan tersebut harus disampaikan dalam RUPS guna mendapat penyelesaian. Apabila dalam jangka waktu tersebut kreditur tidak mengajukan keberatan dianggap menyetujui peleburan UU 40/2007 tt g PT Pasal 127 ayat (4) & (5) 10 Dalam hal keberatan kreditur tidak dapat diselesaikan oleh Direksi sampai dengan penyelenggaraan RUPS.PENGGABUNGAN. peleburan tidak dapat dilaksanakan.

Pasal 28 dan Pasal 29 UU Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat tidak bisa dilaksanakan karena belum adanya PP (Peraturan Pemerintah). 5/1999 tentang Larangan Praktek Monopoli Dan Persaingan Tidak Sehat tanggal 5 Maret 1999 24 . 5 tahun (ps. 100 milyar atau pidana kurungan pengganti denda max. 6 bulan (ps. • Komisi Pengawas Persaingan Usaha dapat membatalkan M&A yang mengakibatkan monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat (ps. 11 Keterangan Rancangan peleburan yang telah disetujui RUPS dituangkan dalam akta peleburan yang dibuat di hadapan notaris dalam bahasa indonesia dan akta peleburan tersebut akan menjadi dasar pembuatan akta pendirian BUMN hasil peleburan Salinan akta peleburan dilampirkan pada pengajuan permohonan untuk mendapatkan keputusan Menteri Hukum dan Ham mengenai pengesahan badan hukum hasil peleburan dan penyampaian pemberitahuan kepada Menteri Hukum dan Ham tentang perubahan anggaran dasar Direksi BUMN hasil peleburan wajib mengumumkan hasil peleburan dalam 1 surat kabar atau lebih dalam jangka waktu paling lambat 30 hari sejak tanggal berlakunya peleburan Peleburan Persero terbuka dilaksanakan dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal • Merger & Akuisisi tidak boleh mengakibatkan monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat (ps. Rp. 2 tahun dan max.PENGGABUNGAN. • Selain itu dapat dijatuhkan pidana tambahan berupa pencabutan izin usaha atau larangan untuk menjadi direktur atau komisaris min.e). PELEBURAN DAN PENGAMBILALIHAN BUMN No. 25 milyar dan max. Rp. 48:1). • Pelanggaran terhadap ps. 49). 28 juga diancam pidana denda min. Dasar Hukum UU 40/2007 tt PT Pasal 128 ayat (1) & (3) 12 UU 40/2007 tt PT Pasal 129 & 130 13 UU 40/2007 tt PT Pasal 133 ayat (1) 14 15 PP 43/2005 Pasal 46 Undang-undang No. 47:2. 28).

25 . masyarakat dan persaingan sehat serta ada jaminan tetap terpenuhinya hak-hak pemegang saham publik dan karyawan.IX.PENGGABUNGAN. wajib dipenuhi persyaratan sebagai berikut : Pada saat terjadinya Merger atau Konsolidasi.1 tentang Benturan Kepentingan. • Merger/Konsolidasi dilakukan dengan memperhatikan kepentingan Perseroan. 16 Keterangan Perbankan : Untuk dapat memperoleh izin Merger atau Konsolidasi. Konsolidasi dan Akuisisi Bank 17 Penggabungan Usaha Atau Peleburan Usaha Perusahaan Publik Atau Emiten.G. • Quorum dan Voting dalam RUPS hanya memperhitungkan kehadiran/suara Pemegang Saham Independen. PELEBURAN DAN PENGAMBILALIHAN BUMN No. 28 TAHUN 1999 Tentang Merger. jumlah aktiva Bank hasil Merger atau Konsolidasi tidak melebihi 20% (dua puluh per seratus) dari jumlah aktiva seluruh Bank di Indonesia. Peraturan Bapepam IX.1 & No. Dasar Hukum Pasal 8 (ayat 2) PP NO.E.

LAMPIRAN 6 PROGRAM KEMITRAAN DAN BINA LINGKUNGAN .

Kecil dan Menengah (UMKM) oleh BUMN Sektor Perbankan .Program Pengembangan UMKM yang dilakukan oleh Kementerian BUMN Dari UMKM non-bankable Menjadi UMKM bankable Program Kemitraan & Bina Lingkungan (PKBL) Program Corporate Social Responsibility (CSR) Penyaluran Kredit Usaha Mikro.

Program PKBL dan CSR Program Kemitraan & Bina Lingkungan (PKBL) Dasar Hukum : UU Nomor 19 tahun 2003 Program Kemitraan (2% dari laba bersih) : Program untuk meningkatkan kemampuan usaha kecil agar menjadi tangguh dan mandiri melalui pemanfaatan dana dari bagian laba BUMN Program Bina Lingkungan (2% dari laba bersih) : Program pemberdayaan kondisi sosial masyarakat oleh BUMN melalui pemanfaatan dana dari bagian laba BUMN BUMN wajib menyisihkan sebagian laba bersihnya untuk keperluan pembinaan usaha kecil/koperasi serta pembinaan masyarakat sekitar BUMN. maupun masyarakat pada umumnya . baik bagi Perseroan sendiri. Program Corporate Social Responsibility (CSR) Dasar Hukum : UU Nomor 40 tahun 2007 Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan yang dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya Perseroan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (2 % dari net profit yang diperkirakan): Komitmen Perseroan untuk berperan serta dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan guna meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat. komunitas setempat.

baik dalam kluster lokasi. dengan tujuan untuk menumbuhkan kewirausahaan di beberapa perguruan tinggi di Indonesia. sektor. melalui mekanisme channeling atau executing untuk sektor-sektor usaha di atas  Pemberian bantuan kesehatan dan bantuan dana pendidikan.Pelaksanaan Program PKBL dan CSR  Pemberian bantuan pelatihan dan penyediaan prasarana  Penyalurkan pinjaman modal langsung dengan bunga rendah  Penyaluran bantuan dengan metode kluster. . jenis usaha dan kluster dari hulu hilir. Bentuk Program Contoh Pelaksaan Program:  Pada bulan Januari 2010. yaitu BUMN yang mempunyai dana bantuan besar bersinergi dengan BUMN yang tidak memiliki dana namun mempunyai program yang bagus.  Program Wirausaha Mandiri yang telah dilaksanakan oleh Bank Mandiri sejak tahun 2007 s.d sekarang. Salah satu BUMN Karya telah menyalurkan dana kemitraan sebesar Rp 540 juta kepada 48 pengusaha mikro dan kecil yang memiliki keterkaitan bidang usaha dengan perusahaan tersebut. dengan tujuan untuk memudahkan pelaksanaan penyaluran pinjaman dan pembinaan usaha  Pelaksanaan sinergi antara BUMN.

000 825.000 80..000 10.000 30.000 1.346 39. peningkatan tersebut tercermin pula pada jumlah mitra binaan PKBL BUMN yang mengalami peningkatan sebesar 138.473 500.026. 86 % antara tahun 2007 s. 86 %.971.687 1.d 2009. terdapat peningkatan realisasi penyaluran PKBL BUMN sebesar 138.000..000 - Jumlah Mitra Binaan 79.000 40.500. Rp juta ..Gambaran Umum Penyaluran PKBL Secara Nasional .837 70.929 90. Orang Realisasi Penyaluran Program PKBL 2.000 2..000 60.000 20.717.000 50.000.087 2006 2007 2008 2009 Realisasi Penyaluran Program PKBL Jumlah Mitra Binaan Catatan: Data penyaluran PKBL untuk tahun 2009 masih berdasarkan pada hasil prognosa .194 47.000 1.510 77.000 2006 2007 2008 2009 1.000 1.500.

Rp.d 2009 mengalami pertumbuhan sebesar 61.152 200.134 Key Findings Penyaluran kredit MKM oleh BUMN sektor perbankan selama periode 2007 s.Penyaluran Kredit UMKM oleb BUMN Sektor Perbankan … nilai kredit MKM yang disalurkan Bank BUMN mengalami trend pertumbuhan yang positif …. Triliun 300.000 176.000 2007 2008 2009 Source : Bank Indonesia .000 230.000 50.33% 250.000 100..740 150.000 285.

Infrastruktur Ketahanan Pangan . khususnya yang bergerak di bidang jasa konstruksi. Melalui upaya-upaya tersebut diharapkan PTPN dapat membangun kerjasama dengan para pengusaha yang bergerak di bidang usaha perkebunan dan pengolahan produk-produk turunan dari hasil perkebunan. pabrik pupuk NPK dan kerjasama pembuatan pabrik ban sepeda motor. pembangunan pabrik biodiesel. sebagai BUMN Perkebunan untuk melakukan perluasan lahan tanaman. Diharapkan dengan kegiatan tersebut BUMN Konstruksi dapat membangun kerjasama dengan para pengusaha.9 Triliun menjadi Rp. diantaranya melalui pembangunan ruas tol Trans Jawa sepanjang 1.20. powerplant berbahan baku biomassa sawit dan tebu.8 Triliun.Beberapa bentuk sinergi BUMN Non Perbankan dengan Para Pengusaha KEY POINTS • Belanja Pemerintah untuk infrastruktur pada tahun 2009 meningkat 3 kali dibandingkan tahun 2005 dari Rp. Kementerian BUMN telah mendorong PTPN. • Sebagai salah satu upaya untuk mendukung program pengembangan infrastruktur yang dicanangkan oleh Pemerintah.000 km yang dilakukan oleh kontraktor BUMN dan operator jalan tol Jasa Marga. baik secara sendirisendiri dan bersinergi. Kementerian BUMN telah mendorong BUMN Konstruksi untuk berpartisipasi dalam pembangunan infrastruktur. 61. Untuk mendukung program ketahanan pangan yang dicanangkan oleh Pemerintah.

• Melakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap industri listrik nasional baik dari sisi ketersediaan energi primer. Pertamina dapat menjalin kerjasama dengan para pengusaha antara lain dalam keperluan distribusi BBM dan LPG. Energi . penetapan Tarif Dasar Listrik. Sedangkan di sektor hilir.Beberapa bentuk sinergi BUMN Non Perbankan dengan Para Pengusaha (lanjutan………) KEY POINTS PLN Untuk mendukung program ketahanan energi yang dicanangkan oleh Pemerintah. Pertamina dapat menjalin kerjasama dengan para pengusaha untuk meningkatkan produksi minyak dan gas bumi dalam bentuk KSO (Kerjasama Operasi). penyempurnaan pelaksanaan independent power producer (IPP) dan kebijakan terkait dengan subsidi. Kementerian BUMN telah mendorong PLN melakukan upaya-upaya sebagai berikut: • Penuntasan proyek pembangkit listrik 10.000 MW Tahap II dengan fokus pada pengembangan energi terbarukan yaitu panas bumi dan tenaga air. Pertamina Di sektor hulu.000 MW Tahap I yang dilanjutkan dengan pembangkit listrik 10. Diharapkan melalui upaya-upaya tersebut PLN dapat membangun kerjasama dengan para pengusaha yang memiliki keterkaitan dengan bidang energi.

LAMPIRAN 7 RENCANA RIGHTSIZING DAN PRIVATISASI TAHUN 2005-2009 .

Tbk N0. Prambanan dan Ratu Boko PT Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) PT Batan Teknologi Perum Produksi Film Negara (PFN) PT Kliring Berjangka Indonesia (KBI) PT Perikanan Nusantara .2009 Stand Alone No 1 BUMN PT Bank Mandiri. Tbk 19 20 21 22 23 24 25 26 27 PT Asuransi Jasa Raharja PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) PT Asuransi ABRI (ASABRI) PT Pos Indonesia (POSINDO) Perum Pembangunan Perumahan Nasional (PERUMNAS) Perum Percetakan Uang RI (PERURI) Perum Perhutani PT Biofarma Perum Sarana Pengembangan Usaha (SPU) 11 12 13 14 15 16 17 PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) PT Taspen Perum Bulog PT Jasa Marga PT Bank Ekspor Indonesia (BEI) PT Kereta Api Indonesia (KAI) Perum Pegadaian 28 29 30 31 32 33 34 35 Perum Percetakan Negara Indonesia (PNRI) Perum Prasarana Perikanan Samudra (PPS) PT TWC Borobudur. Tbk (BRI) PT Telekomunikasi Indonesia. Tbk (BNI) PT Bank Rakyat Indonesia. 18 BUMN PT Asuransi Kesehatan Indonesia (ASKES) 2 3 4 5 6 7 8 9 10 PT Pertamina PT Bank Negara Indonesia.Rencana Rightsizing Tahun 2005 . Tbk (PGN) PT Semen Gresik. Tbk (TELKOM) PT Jaminan Sosial Tenaga Kerja PT Bank Tabungan Negara (BTN) PT Pupuk Sriwidjaja (PUSRI) PT Perusahaan Gas Negara.

Tbk PT Indo Farma.Rencana Rightsizing Tahun 2005 – 2009 …. 4). 9). Sektor Pergudangan Sektor Pariwisata Sektor Penunjang Pertanian 6). Sektor Dok & Perkapalan PT Industri Kapal Indonesia (IKI) PT Dok dan Perkapalan Kodja Bahari PT Perusahaan Perdagangan Indonesia 2). Sektor Pertahanan 11). Sektor Perdagangan PT PP Berdikari PT Sarinah PT Bhanda Ghara Reksa (BGR) PT Varuna Tirta Prakasya PT Bali Tourism & Development Corporation PT Hotel Indonesia Natour (HIN) Perum Jasa Tirta I Perum Jasa Tirta II PT Inhutani I PT Inhutani II PT Inhutani III PT Inhutani IV PT Inhutani V PT Sang Hyang Seri (SHS) PT Pertani PT Kertas Leces PT Kertas Kraft Aceh PT Balai Pustaka (BP) PT Pradnya Paramita PT Pindad PT Dahana PT Kimia Farma.Lanjutan Merger/Konsolidasi No SEKTOR BUMN PT Dok dan Perkapalan Surabaya (DPS) 1). Sektor Kehutanan 7). 8). 5). Sektor Pertanian Sektor Kertas Sektor Percetakan 10). Tbk 3). Sektor Farmasi .

Tbk (PT BA) PT Timah.Lanjutan Holding No Sektor BUMN PT Perkebunan I (PTPN I) PT Perkebunan II (PTPN II) PT Perkebunan III (PTPN III) PT Perkebunan IV (PTPN IV) PT Perkebunan V (PTPN V) PT Perkebunan VI (PTPN VI) PT Perkebunan VII (PTPN VII) PT Perkebunan VIII (PTPN VIII) PT Perkebunan IX (PTPN IX) PT Perkebunan X (PTPN X) PT Perkebunan XI (PTPN XI) PT Perkebunan XII (PTPN XII) PT Perkebunan XIII (PTPN XIII) PT Perkebunan XIV (PTPN XIV) PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) PT Aneka Tambang.Rencana Rightsizing Tahun 2005 – 2009 …. Tbk PT Adhi Karya PT Wijaya Karya (WIKA) PT Waskita Karya PT Pembangunan Perumahan (PP) PT Hutama Karya PT Nindya Karya PT Istaka Karya PT Brantas Abipraya PT Amarta Karya PT Krakatau Steel (KS) PT Industri Telekomunikasi Indonesia (INTI) PT Barata Indonesia PT LEN Industri PT Industri Kereta Api (INKA) PT PAL Indonesia 1) Sektor Perkebunan 2) Sektor Pertambangan 3) Sektor Konstruksi 4) Sektor Industri Strategis . Tbk (ANTAM) PT Tambang Batubara Bukit Asam.

Rencana Rightsizing Tahun 2005 – 2009 ….Lanjutan Holding No Sektor BUMN PT Kawasan Berikat Nusantara (KBN) PT Kawasan Industri Medan (KIM) 5) Sektor Kawasan PT Kawasan Industri Makassar (KIMA) PT Pengembangan Daerah Industri (PDI) Pulau Batam PT Kawasan Industri Wijaya Kusuma (KIW) PT Angkasa Pura I (AP I) 6) Sektor Kebandarudaraan PT Angkasa Pura II (AP II) PT Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI) PT Djakarta Lloyd 7) Sektor Pelayaran PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) PT Pelayaran Bahtera Adhiguna (BAG) PT Pelabuhan Indonesia I (PELINDO I PT Pelabuhan Indonesia II (PELINDO II) 8) Sektor Pelabuhan PT Pelabuhan Indonesia III (PELINDO III) PT Pelabuhan Indonesia IV (PELINDO IV) .

15 16 17 BUMN PT Industri Soda Indonesia (ISI) PT Industri Gelas (IGLAS) PT Industri Sandang Indonesia (INSAN) 4 5 6 7 8 18 19 20 21 22 Perum Damri PT Boma Bisma Indra (BBI) PT Primissima PT Indra Karya PT Yodya karya 9 10 11 12 13 14 PT Asuransi Ekspor Indonesia (ASEI) PT Sucofindo PT Reansuransi Umum Indonesia (RUI) PT Pengerukan Indonesia PT Garam PT Surveyor Indonesia (SI) 23 24 25 26 27 PT Virama Karya PT Indah Karya PT Konservasi Energi Abadi (Koneba) PT Bina Karya PT Sarana Karya .Rencana Rightsizing Tahun 2005 – 2009 ….Lanjutan Divestasi No 1 2 3 BUMN PT Garuda Indonesia (GIA) PT Merpati Nusantara (MNA) PT Asuransi Jiwasraya PT Permodalan (PNM) PT Dana Reksa PT PANN Multi Finance PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) PT Semen Baturaja Nasional Madani No.

33 40.9 5.12 100 100 100 100 100 100 100 100 100 52.4 Rencana Metode IPO IPO/SPO IPO IPO IPO IPO IPO IPO IPO SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS Dasar Pertimbangan Kompetitif Kompetitif Kompetitif Kompetitif Kompetitif Kompetitif Kompetitif Kompetitif Kompetitif Kompetitif Kompetitif Kompetitif Kompetitif Kompetitif Kompetitif Kompetitif Kompetitif Kepemilikan negara minoritas Kepemilikan negara minoritas Kepemilikan negara minoritas Kepemilikan negara minoritas Kepemilikan negara minoritas Kepemilikan negara minoritas Kepemilikan negara minoritas .00 0.79 100 100 100 100 100 1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 BUMN PT Jasa Marga PT BNI PT BTN PT Wijaya Karya PT Permodalan Nasional Madani PT Garuda PT Merpati PT Krakatau Steel PT Dirgantara PT Industri Soda Indonesia PT IGLAS PT Cambrics Primissima PT Indah Karya PT Indra Karya PT Virama Karya PT Yodya Karya PT Bina Karya PT JIHD PT Kertas Padalarang PT Atmindo PT Intirub PT PPLI PT Kertas Blabak PT Kertas Basuki Rahmat % Saham Negara 100 99.56 9.76 36.84 0.Rencana Privatisasi Tahun 2007 No.

97 85. kepemilikan negara minoritas (akan ditinjau kembali) Pengembangan perusahaan 8 9 10 11 12 13 PT INTI PT Koneba PT JIEP PT SIER PT Bank Bukopin PT Dirgantara 100 100 50 50 18 17 IPO IPO SS/Divestasi SS/Divestasi Placement SS/Dilusi/ Divestasi EMBO/ Divestasi SS/Divestasi dan Dilusi 14 15 PT Rekayasa industri PT Surveyor 4. BUMN % Saham Negara Rencana Metode Dasar Pertimbangan 1 2 3 4 5 6 7 PT Asuransi Jasa Indonesia PT Asuransi Jiwasraya PT Sarana Karya PT Rukindo PT Semen Baturaja PT Industri Sandang PT Krakatau Steel 100 100 100 100 100 100 100 IPO/Dilusi IPO/SO IPO IPO IPO IPO IPO Kompetitif Kompetitif Pengembangan usaha Cut loss Butuh dana Pengembangan teknologi dan pasar Pengembangan usaha .Sektor terbuka dan kompetitif .Rencana Privatisasi Tahun 2008 No. perlu permodalan tinggi untuk pengembangan (akan dikaji lebih mendalam) Kepemilikan Negara Minoritas Kompetitif Kompetitif Kepemilikan Negara Minoritas .Perseroan membutuhkan tambahan modal .Untuk meningkatkan daya saing perusahaan (competitiveness) Sektor kompetitif.Akses keteknologi dan pemasaran Sektor kompetitif.12 .

5 100 17. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 BUMN PT Kliring Berjangka PT ASEI PT Reasuransi PT Danareksa PT Sucofindo PT Bank Mandiri Tbk PT BRI Tbk PT Bank BTN PT Bahana PUI PT Sucofindo BUMN Pupuk Dasar Pertimbangan Kebutuhan pengembangan dana Kompetitif Pengembangan usaha Pengembangan usaha Kompetitif/ Kebutuhan dana/ pengembangan usaha Butuh dana pengembangan bisnis Kebutuhan pengembangan dana Kebutuhan pengembangan dana Kompetitif pengembangan usaha pengembangan usaha .00 70 59.78 10 100 Rencana Metode SS/Dilusi SS/ Divestasi IPO IPO SS SO/Dilusi SO/Dilusi SO SS/ Divestasi SS IPO/SS No.Rencana Privatisasi Tahun 2009-2011 % Saham Negara 100 100 100 100 95.

LAMPIRAN 8 MATRIKS PENANGANAN RESTRUKTURISASI KORPORASI OLEH PT PPA .

PT PPA belum dapat memberikan bantuan pinjaman sebagaimana yang diperlukan oleh PPFN 2 PT PAL (Persero) 3 PT Waskita Karya 4 PT Semen Kupang (Persero) 5 6 Perum Pengangkutan Perum PPFN .6 juta Restrukturisasi korporasi sebesar maksimal Rp 193.50 M Biaya talangan selama transisi fast cash business (3 bulan) Rp9.19 M Biaya talangan selama masa persiapan perampingan (3 bulan) Rp38.24 M Biaya pengeluaran barang dari pelabuhan Rp 11 M Pembayaran sebagian hutang pihak ketiga (closed project) Rp16.PROGRESS PENANGANAN RESTRUKTURISASI/REVITALISASI BUMN OLEH PPA 2009 NO 1 BUMN PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) STATUS Menteri Keuangan telah menyetujui pemberian pinjaman untuk pembelian 15 unit pesawat MA 60 yang akan direalisasikan tahun 2010-2011 Perjanjian pemberian pinjaman telah ditandatangani pada tanggal 16 Desember 2009 yang digunakan untuk: Penyelesaian pembangunan 10 kapal dengan jumlah plafond sebesar USD 25.50 M Tambahan Modal kerja divisi pemeliharaan / perbaikan kapal dan rekayasa umum Rp 27.94 M Pelaksanaan setoran modal oleh PT PPA akan dilakukan setelah terbitnya Peraturan Pemerintah terkait Restrukturisasi dan/atau Revitalisasi PT WK. Permasalahan pembayaran pesangon karyawan telah diselesaikan dengan melakukan penjualan aset property milik PPD. Dengan adanya KSO tersebut maka diharapkan di PT Semen Kupang (Persero) dapat segera beroperasi kembali. PT Semen Kupang telah menandatangani Perjanjian KSO dengan PT Sarana Agro Gemilang (SAG) pada tanggal 1 Sep 2009.37 M: Perampingan karyawan Rp 90.

Laporan kajian awal upaya pengoperasian kembali PT KKA telah disampaikan kepada Menteri Negara BUMN 4 5 6 7 PT Balai Pustaka (Persero) PT Berdikari (Persero) PT Hotel Indonesia (Persero) PT Primisima (Persero) 8 PT Kertas Kraft Aceh (Persero) - - 9 PT Varuna Tirta Prakasya (Persero) Pengumpulan informasi dan identifikasi awal permasalahan. PPA telah menawarkan untuk membantu melakukan pembahasan kemungkinan penyelesaian kewajiban tsb.77 milyar Opsi penyelesaian lainnya yaitu kajian likuidasi dan divestasi telah disampaikan kepada Ketuan Tim Pelaksana Komite RR Kajian Restrukturisasi PT Djakarta Lloyd masih membutuhkan kajian lanjutan yang harus dilengkapi dengan business plan dari Manajemen Djakarta Lloyd. termasuk kajian pengoperasian kembali KKA. Proses pengumpulan data dan penyusunan laporan kajian 10 11 PT Industri Kapal (Persero) PT Survai Udara Penas (Persero) .72 milyar untuk Rasionalisasi karyawan Dilakukan Kajian menyeluruh atas opsi-opsi penyelesaian permasalahan KKA. Sesuai informasi terakhir Dirkeu. Saat ini PT BP dalam proses penyelesaian Rencana Bisnis. Arahan Menteri Negara BUMN dalam rapat tanggal 18 Januari 2010. Proses finalisasi kajian kelayakan restrukturisasi dan/atau revitalisasi Finalisasi kajian kelayakan Restrukturisasi dan/atau Revitalisasi Finalisasi kajian kelayakan Restrukturisasi dan/atau Revitalisasi PPA telah memberikan dana talangan sebesar Rp 125. saat ini VTP sedang mempertimbangkan penyelesaian kewajiban kepada Bank Mandiri. Sedang dilakukan Financial Due Diligence (FDD) dan Legal Due Diligence (LDD).PROGRESS PENANGANAN RESTRUKTURISASI BUMN OLEH PT PPA … Lanjutan 2010 NO BUMN 1 PT Iglas (Persero) STATUS Telah disampaikan kepada Komite Restrukturisasi dan Revitalisasi pada tanggal 2 Oktober 2009 Mengusulkan pemberian pinjaman sebesar Rp 106. disepakati bahwa PT Balai Pustaka akan di restrukturisasi didasarkan sejarah Balai Pustaka. 2 PT Djakarta LLyod (Persero) 3 PT Industri Sandang Nusantara (Persero) PPA telah memberikan talangan sebesar Rp 25 M di luar konteks restrukturisasi dan/atau revitalisasi untuk membiayai kebutuhan operasional perusahaan dan saat ini sedang dilaksanakan finalisasi Kajian Kelayakan Restrukturisasi dan/atau Revitalisasi (FDD dan Kajian Bisnis).

LAMPIRAN 9 DATA BUMN PENYELENGGARA PSO .

66 82. PT Pertamina BPH Migas 6.60 790. PT KAI PEMBERI TUGAS DASAR HUKUM PENUGASAN -UU No.797.44 1.00 408.471.29 933.959.830.500.79 237.64 118. Bidang Energi Keputusan BPH Migas (tahunan) Penyediaan dan distribusi BBM tertentu Penyediaan tenaga listrik 59.63 9.318.00 7..00 16. PT PELNI Menhub -Keputusan Dirjen Perla -Kontrak (tahunan) -Keputusan Menkominfo -Kontrak (tahunan) -Keputusan Menkominfo 3. C.00 600.169.480.309.283. PT SHS Mentan Surat Nomor…(tahunan) 176. PT Posindo Menkominfo Penyediaan Kapal Laut kelas Ekonomi Penyediaan pelayanan KPCLK Penyediaan dan/atau distribusi berita (cetak. Foto) tertentu kepada kelompok/ daerah tertentu 679.809. vidio/TV.00 2.776. Perum Antara Menkominfo -Kontrak (tahunan) B.00 125. 13/2007 Ttg Perkeretaapian -Kontrak (tahunan) PRODUK/JASA YANG DITUGASKAN Penyediaan KA kelas ekonomi 2006 2007 2008 2009 Menhub 450.50 505. PT Pusri Mentan 8.31 732. PT PLN Menteri ESDM UU Nomor 30/2009 33.93 Catatan: Data tahun 2005 tidak dapat disajikan karena datanya tersebar.172.448.00 76.95 12.272.17 50.00 5.05 4.201.269.75 175. Perum Bulog Menko Kesra Surat/Keputusan (tahunan) 5.282.11 319. BUMN Bidang Sarana Perhubungan 1.54 10.289.00 115.00 425.23 34.(tahunan ) Penyediaan dan distribusi pupuk bersubsidi Penyediaan dan distribusi benih dan pupuk Penyediaan dan distribusi benih dan pupuk Penyediaan dan penyaluran Raskin dan CBP 3.22 37. dan Asdep Kewajiban Pelayanan Umum yang bertugas memonitor dan menginventarisir data PSO baru dibentuk pada tahun 2006 47 .00 6.64 1.NO A.81 5.96 42.60 677.458. PT Pertani Mentan Surat Nomor…(tahunan) 31.84 68.12 Bidang Pangan Surat/Keputusan.904.81 134.89 6.00 - - 38.999.93 127.00 118.78 JUMLAH 100.12 11.

LAMPIRAN 10 PROGRAM BERKESINAMBUNGAN TEKNOLOGI INFORMASI TAHUN 2006 .2009 .

PROGRAM BERKESINAMBUNGAN TEKNOLOGI INFORMASI TAHUN 2006 No 1 Program Menyusun Kebijakan Teknologi Informasi Kementerian Negara BUMN Pengembangan Infrastruktur Keterangan Menyusun Kebijakan Teknologi Informasi untuk diusulkan dapat disahkan oleh Menteri dalam rangka melaksanakan IT Governance Menambah jumlah server.bumnri.bumn. PC/notebook.bumn. perangkat jaringan.id. Membangun aplikasi yang digunakan untuk membantu menangani proses privatisasi BUMN dan membangun sub portal yang menyajikan informasi ahsil privatisasi kepada publik melalui www.com Website Kementerian Negara BUMN mulai diluncurkan pada tahun 2002. security. maka dilakukan perubahan rancangan dan konten informasi website.go. software. a.id atau www. anti virus dan anti spyware untuk mendukung aplikasi yang berjalan di atasnya Menambah jumlah SDM melalui outsorcing dan meningkatkan kualitas SDM Teknologi informasi melalui pendidikan. kursus dan sertifikasi 2 3 Pengembangan SDM 4 Pengembangan Aplikasi a. Agar website tersebut lebih dapat memenuhi kebutuhan Kementerian Negara BUMN dalam mendukung transparansi dan tanggung jawab Kementerian Negara BUMN kepada publik.go. Website Kementerian Negara BUMN dengan alamat www. Pembangunan Aplikasi Privatisasi BUMN .

Melakukan pembangunan aplikasi yang dapat menyajikan informasi SDM BUMN dan membantu proses Fit and Proper Test calon Direksi BUMN UJI KEPATUTAN DAN KELAYAKAN Direksi dan Komisaris BUMN (CV Direksi. Melakukan pembangunan aplikasi yang ditujukan untuk menyediakan otomasi alur kerja yang melibatkan seluruh unit di Kementerian Negara BUMN seperti perencanaan.PROGRAM BERKESINAMBUNGAN TEKNOLOGI INFORMASI TAHUN 2007 No 1 Program Pengembangan Aplikasi a. dan unit tata usaha. Pembangunan Sistem Informasi Fit and Proper Direksi BUMN d. Open Office di KNBUMN) Menyediakan perangkat yang memadai untuk menjalankan aplikasi . 2 3 4 5 6 Pembangunan PKBL Online Knowledge Management Melakukan pembangunan aplikasi untuk menyimpan dan menyajikan informasi Anggaran Dasar BUMN Portal publik dan eksekutif dapat diakses melalui HP. f. Implementasi Office Automation tersebut dimulai dengan pembuatan dokumen elektronik yang akan disimpan dalam sistem. SDM. Uji Kepatutan dan Kelayakan Direksi dan Komisaris Anak Perusahaan BUMN Keterangan b. arsip dan dokumentasi. mekanisme UJI KEPATUTAN DAN KELAYAKAN) Melakukan pembangunan aplikasi yang dapat menyajikan informasi SDM BUMN dan membantu proses Fit and Proper Test calon Direksi Anak Perusahaan BUMN. keuangan. Pembangunan Sistem Informasi BUMN (Executive Information System) Melakukan pembangunan aplikasi yang ditujukan untuk menyediakan informasi terkait BUMN bagi pimpinan di lingkungan Kementerian Negara BUMN dan membantu pimpinan dalam mengambil kebijakan dan keputusan terhadap pengelolaan BUMN. PDA Mobile access Operasional dan pemeliharaan Sosialisasi Open source Penambahan Server Reliabilitas email Sosialisasi pemakaian open sourse (Linux. Pembangunan Sistem Informasi Fit and Proper Direksi Anak Perusahaan BUMN e. Komisaris dan 1 tingkat di bawah Direksi. Pembangunan Office Automation dan pembuatan dokumen elektronik c. perlengkapan.

PROGRAM BERKESINAMBUNGAN TEKNOLOGI INFORMASI TAHUN 2008 & 2009 No Program 2008 1 Pembangunan Portal Aset BUMN Melakukan pembangunan aplikasi yang dapat menyajikan informasi aset BUMN dan membantu Kementerian Negara BUMN dalam rangka mengoptimalkan aset BUMN. video. data. Menyediakan perangkat yang memadai untuk menjalankan aplikasi Menyediakan perangkat yang memadai untuk menjalankan aplikasi 2009 1 2 3 Upgrade Server Upgrade Storage Unified Communication (Integrasi voice. email ke dalam perangkat komunikasi) Data Center standar Menyediakan perangkat yang memadai untuk menjalankan aplikasi Menyediakan perangkat yang memadai untuk menjalankan aplikasi Menyediakan perangkat yang memadai untuk menjalankan aplikasi Menyediakan infrastruktur datacenter bagi server dan aplikasi dalam rangka mendukung ketersediaan dan reliabilitas layanan TI Menyediakan keamanan data dan informasi yang diproses melalui jaringan Kementerian BUMN Keterangan 2 3 Penambahan dan Upgrade Perangkat Jaringan Pengadaan Infrastruktur untuk menyiapkan IP Phone 4 5 Reliabilitas jaringan dan keamanan .

1 Program/Rencana Kerja Menyusun Kebijakan Teknologi Informasi Kementerian Negara BUMN Pengembangan Aplikasi Realisasi Draft Master Plan Teknologi Informasi Kementerian BUMN tahun 2006-2010 Pembangunan dan launching SMS Center 2866 untuk keluhan dan pengaduan melalui SMS Redesain Portal Publik dan Pembangunan Sub Portal Privatisasi www.bumn.id dan http://priv.REALISASI PROGRAM TEKNOLOGI INFORMASI TAHUN 2006 No.024 Kbps) Langganan domain bumn.id Pengadaan Server (18 unit). kursus dan sertifikasi Pembentukan Kelompok Kerja TI BUMN yang bertugas menyusun panduan masterplan TI BUMN. pendidikan. seminar.go.go. dan perangkat jaringan Pengadaan PC/notebook/printer/scanner Pengadaan anti virus (200 lisensi) Langganan layanan dedicated internet (1.go.com Langganan layanan informasi saham real time (4 client) Menambah jumlah SDM melalui outsorcing Mengirim pegawai untuk mengikuti workshop.id dan bumn-ri.bumn. storage. Tata Kelola TI BUMN dan Sinergi BUMN pada tahun 2006 Rapat Koordinasi Bidang Sistem Informasi antara Kementerian Negara BUMN dengan BUMN pada bulan Desember 2006 2 3 Pengembangan Infrastruktur (hardware/software) 4 Pengembangan dan peningkatan kualitas SDM Koordinasi pemanfaatan sistem informasi/teknologi informasi 5 .

b.go. Pembangunan Sistem Informasi Fit and Proper Direksi BUMN a. pengelolaan agenda/ jadwal. Pelatihan Office Automation pada bulan Desember 2007 diikuti oleh pegawai Kementerian Negara BUMN. produk dan bantuan hukum.bumn.bumn.id Migrasi colocation dari Telkom Slipi ke Telkom Karet untuk penambahan kapasitas server karena kebutuhan aplikasi.id Pembangunan Office Automation http://oa. pendidikan. Pembangunan Sistem Informasi BUMN (Executive Information System) a.go. Pengadaan PC/notebook/printer/scanner Langganan layanan dedicated internet (2.go. Pembangunan PKBL Online 2 3 Operasional dan pemeliharaan Pengembangan Infrastruktur (hardware/software) 4 Sosialisasi dan pelatihan pemanfaatan sistem informasi/teknologi informasi a. dokumentasi dan arsip. kursus dan .REALISASI PROGRAM TEKNOLOGI INFORMASI TAHUN 2007 No.048 Kbps) Langganan layanan informasi saham real time (6 client) Penyediaan layanan internet menggunakan Jaringan lokal yang menghubungkan Lapangan Banteng-Merdeka Selatan melalui DINAccess Penyediaan jaringan di Gedung Kementerian Negara BUMN Jalan Merdeka Selatan 13. pengelolaan aset. dan pengumuman Pembangunan Portal SDM http://sdm.id dengan modul-modul perencanaan.bumn. 1 Program/Rencana Kerja Pengembangan Aplikasi a.bumn. penyediaan ATK. sertifikasi seminar. Pelatihan portal publik kepada admin BUMN yang dilaksanakan pada 6–21 Agustus 2007 diikuti oleh 337 peserta dari 134 BUMN. pengadaan. kehumasan.id Pembangunan portal PKBL http://pkbl. Jakarta Pusat berjumlah 500 titik untuk 14 lantai (Pindah Kantor dari Gedung 16 Lantai Jalan Dr Wahidin Raya 1 Jakarta) a. perpustakaan. Pengadaan outsourcing tenaga bidang TI b.go. persuratan. pengelolaan SDM.bumn.id/internal dan http://pkbl. Pembangunan Office Automation dan pembuatan dokumen elektronik Realisasi Pembangunan Executive Information System http://eis. c. pengelolaan keuangan. Pelatihan seluruh portal kepada 50 BUMN yang mengajukan permintaan pelatihan tambahan kepada masing-masing BUMN 5 Pengembangan dan peningkatan kualitas SDM a.go. Mengirim pegawai untuk mengikuti workshop. pengelolaan aset TI.bumn.id/internal dan http://sdm.go.

bumn.go.bumn.REALISASI PROGRAM TEKNOLOGI INFORMASI TAHUN 2008 No 1 Program/Rencana Kerja Pembangunan Portal Aset BUMN Penambahan dan Upgrade Perangkat Jaringan Pengadaan Infrastruktur untuk menyiapkan IP Phone Sosialisasi Open source Realisasi Pembangunan portal Aset (http://aset.id/internal dan http://aset.id) Menyediakan perangkat jaringan yang memadai untuk menjalankan aplikasi Menyediakan prototype komunikasi voice dan video yang tersedia untuk komunikasi di Kementerian BUMN Sosialisasi pemakaian Open source di Kementerian Negara BUMN (Linux) pada tahun 2008 (15 orang) 1) 2) Pengadaan PC/notebook/printer/scanner Penggantian dan Penambahan PC untuk mendukung operasional Kementerian Negara BUMN dari 204 unit pada tahun 2004 menjadi 456 unit pada tahun 2009. 2 3 4 5 Pengembangan Infrastruktur (hardware/software) 6 Pengembangan dan peningkatan kualitas SDM Kursus dan Pelatihan 1) CCNA 1 orang 2) CISA Reviw Course 2 orang 3) Zend Framework 3 orang 4) Java Standard Edition Course 1 orang 5) Project Management Course 1 orang .go.

video. Penambahan 80 komputer bagi pegawai kementerian BUMN Kursus dan Pelatihan 1) Diklat Pimpinan III 1 orang 2) Diklat Pimpinan IV 1 orang . mobile messaging dan web mail yang nyaman bagi pengguna Berdasarkan prioritas realisasi ditunda ke anggaran tahun 2010 Menyediakan server yang berfungsi sebagai Single Sign On server melalui Active Directory Pelatihan Portal EIS. diikuti oleh 672 peserta dari 142 BUMN. Upgrade jaringan internet menjadi 4. Menyediakan implementasi penuh komunikasi voice dan video yang data. email ke dalam perangkat tersedia untuk komunikasi di Kementerian BUMN komunikasi) Reliabilitas email Data Center standar Reliabilitas jaringan dan keamanan Sosialisasi dan Implementasi Portal Berkelanjutan Pengembangan Infrastruktur (hardware/software) Pengembangan dan peningkatan kualitas SDM Menyediakan email yang dapat memenuhi kebutuhan email yang aman. PKBL dan Publik kepada admin BUMN yang dilaksanakan pada 14 April – 8 Mei 2008 dan 27 Agustus – 8 September 2009.096 Kbps pada tahun 2009. SDM.REALISASI PROGRAM TEKNOLOGI INFORMASI TAHUN 2009 Program/Rencana Kerja Upgrade Server Upgrade Storage Realisasi Menyediakan perangkat yang memadai untuk menjalankan aplikasi Menyediakan perangkat yang memadai untuk menjalankan aplikasi Unified Communication (Integrasi voice.

LAMPIRAN 11 MASTER PLAN TEKNOLOGI INFORMASI KEMENTERIAN BUMN 2010 .2014 .

ROADMAP 2010-2014 2010 Persiapan Fondasi Implementasi Sistem Terintegrasi Monitoring BUMN dengan static Dashboard & Ekspansi Layanan Peletakan Basis Knowledge Management 2012 Business Intelligent 2013 Pengambilan Keputusan Secara Dinamis dengan BUMN Dashboard Dinamis 2014 57 .

penyempurnaan fitur dan optimalisasi pemanfaatan portal 2. Sistem Keamanan Terintegrasi 5. ETL otomatis dari system BUMN 6. Pelatihan/kursus kompetensi TI 3. Pemanfaatan Mailing Room 6. Pembangunan dashboard dengan Query Dinamik 3. Implementasi Control Room (Tahap I) 7. Pemeliharaan Portal Publik 3. Unified Wireless LAN 6.ROADMAP 2010-2014 2010 1. Pemeliharaan hardware dan software 5. Pembentukan Tim Steering Committee untuk proyek TI 5. Pelatihan 7. Optimalisasi pemanfaatan portal sebagai Knowledge Management 4. Rakor TI 9. Implementasi Mailing Room (Tahap I) 6. Audit Tata Kelola TI 7. Pelatihan Pegawai Sistem Informasi 2011 1. Optimalisasi pemanfaatan portal sebagai Knowledge Management dan DSS 4. Redesain database dan aplikasi 2. Pembangunan Business Intelligence 6. Tim Implementasi Kementerian BUMN 2012 1. IT Steering Commitee 8. Pemeliharaan dan Penambahan Fitur Porta Pemeliharaan dan Penambahan Fitur Portal 2. Pelatihan/kursus kompetensi TI 5. Rakor TI 2013 1. Rakor TI 2014 1. Revitalisasi Infrastruktur Datacenter 2. Mailing Room 3. Pemeliharaan Portal Internal 4. Server dan Storage 5. penyempurnaan fitur dan optimalisasi pemanfaatan portal 2. Optimalisasi pemanfaatan portal sebagai Knowledge Management dan DSS 4. Pemeliharaan portal internal dan eksternal. Pemeliharaan portal internal dan eksternal. Rakor TI . Pelatihan/kursus kompetensi TI 3. Control Room 4. Tim Implementasi BUMN 10.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful