P. 1
Masterplan BUMN 2010-2014

Masterplan BUMN 2010-2014

4.0

|Views: 7,520|Likes:
Published by Ruhul Dahrial

More info:

Published by: Ruhul Dahrial on Mar 21, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/06/2013

pdf

text

original

Sections

  • I.1. Maksud Dan Ruang Lingkup
  • BAB II PERKEMBANGAN BUMN TAHUN 2005-2009
  • II. 1. Perkembangan Kinerja BUMN
  • II. 1.1.Perkembangan Jumlah BUMN
  • II. 1.2.Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN
  • II. 1.3. Perkembangan Kontribusi BUMN
  • II. 2.1. Sektor Usaha Perbankan
  • II. 2.3. Sektor Usaha Jasa Keuangan
  • II. 2.4. Sektor Usaha Jasa Konstruksi
  • II. 2.6. Sektor Usaha Aneka Industri
  • II. 2.7. Sektor Usaha Kawasan Industri dan Perumahan
  • II. 2.8. Sektor Usaha Sarana Angkutan dan Pariwisata
  • II. 2.9. Sektor Usaha Prasarana Angkutan
  • II. 2.10. Sektor Usaha Logistik dan Jasa Sertifikasi
  • II. 2.11. Sektor Usaha Perkebunan
  • II. 2.12. Sektor Usaha Kehutanan
  • II. 2.13. Sektor Usaha Perikanan
  • II. 2.14. BUMN Sektor Usaha Kertas, Percetakan dan Penerbitan
  • II. 2.15. Sektor Usaha Penunjang Pertanian
  • II. 2.16. Sektor Usaha Pertambangan dan Semen
  • II. 2.17. Sektor Usaha Industri Strategis
  • II. 2.18. Sektor Usaha Energi dan Sumber Daya Alam
  • II. .3. Penerapan Tata Kelola Perusahaan Yang Baik (GCG)
  • II. 3.1. Assessment GCG
  • II. 3.2. Re-Assessment GCG
  • II. 3.3. Self Assessment GCG (Mandiri)
  • II. 3.4. Review Tindak Lanjut Hasil Assesment GCG
  • II. 3.5. Monitoring GCG melalui Kuesioner
  • II. 3.6. Pelatihan Risk Management dan Internal Control System
  • II. 3.7. Evaluation Tools atas Internal Control dan Risk Management
  • II. 3.8. Pengkajian Penyempurnaan Evaluation Tools Penerapan GCG
  • II. 3.9. Penyusunan Kriteria Penilaian GCG Tingkat Lanjutan
  • II. 4. Program Kemitraan dan Bina Lingkungan
  • II.4.1. Program Kemitraan Tahun 2005 - 2009
  • II.4.2. Program Bina Lingkungan Tahun 2005 - 2009
  • III.1 Rencana Program Tahun 2005 - 2009
  • III.1.1 Rencana Rightsizing Tahun 2005-2009
  • III.1.2 Rencana Privatisasi Tahun 2005 - 2009
  • III.1.4 Program Optimalisasi Aset BUMN Tahun 2005-2009
  • III.1.5 Program Pengembangan Teknologi Informasi Tahun 2005-2009
  • III.2 Pelaksanaan Program Tahun 2005 - 2009
  • III.2.1 Pelaksanaan Restrukturisasi Tahun 2005 - 2009
  • III.2.2 Pelaksanaan Privatisasi 2005 - 2009
  • III.2.3 Pelaksanaan Public Servive Obligation (PSO) Tahun 2005-2009
  • III.2.4 Pelaksanaan Optimalisasi Aset BUMN 2005-2009
  • BAB IV PROGRAM PEMBINAAN BUMN TAHUN 2010 - 2014
  • IV. 1. Program Restrukturisasi 2010 - 2014
  • IV. 1.1. Definisi, Maksud dan Tujuan Restrukturisasi
  • IV. 1.2. Ruang Lingkup Restrukturisasi
  • IV. 1.3. Program Restrukturisasi
  • IV. 2. Program Privatisasi 2010 - 2014
  • IV. 2.1. Definisi, Maksud dan Tujuan Privatisasi
  • IV. 2.2. Arah Kebijakan Privatisasi
  • IV. 2.3. Kriteria Privatisasi
  • IV. 2.4. Metode Privatisasi
  • IV. 2.5. Prosedur Privatisasi
  • IV. 3. Program Penyelenggaran Public Service Obligation (PSO) 2010 - 2014
  • IV. 4. Program Optimalisasi Aset BUMN 2010 - 2014
  • IV. 5. Program Pengembangan Data, Informasi & Teknologi (TI) 2010 - 2014

KEMENTERIAN BADAN USAHA MILIK NEGARA

Gedung Kementerian Badan Usaha Milik Negara Jl. Medan Merdeka Selatan 13 Jakarat Pusat

DAFTAR ISI
Hal DAFTAR ISI KATA PENGANTAR BAB I : PENDAHULUAN i iv 1 1 2 5 7 9 10 17 17 17 18 19 21 22 23 24 25 26 27 27 28 29 30 31

I.1. Maksud dan Ruang Lingkup I.2. Visi dan Misi Presiden Dalam RPJMN 2010-2014 I.3. Visi, Misi, Tujuan Dan Sasaran Kementerian BUMN sesuai Renstra Kementerian BUMN Tahun 2010-2014 I.4. Prioritas RPJMN 2010-2014 Di Bidang Pembinaan BUMN I.5. Arah Kebijakan Pembinaan BUMN Sesuai Renstra Kementerian BUMN Tahun 2010-2014 dan master Plan BUMN Tahun 2010-2014 I.6. Perkembangan BUMN Dan Kontribusinya Dalam Perekonomian Nasional serta Potensi-potensi Yang Dimiliki BUMN

BAB II : PERKEMBANGAN BUMN TAHUN 2005-2009 II.1. Perkembangan Kinerja BUMN II.1.1 Perkembangan Jumlah BUMN II.1.2. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN II.1.3. Perkembangan Kontribusi BUMN II.2. Perkembangan Sektoral BUMN II.2.1. Sektor Usaha Perbankan II.2.2. Sektor Usaha Asuransi II.2.3. Sektor Usaha Jasa Keuangan II.2.4. Sektor Usaha Jasa Konstruksi II.2.5. Sektor Usaha Farmasi II.2.6. Sektor Usaha Aneka Industri II.2.7. Sektor Usaha Kawasan Industri dan Perumahan II.2.8. Sektor Usaha Sarana Angkutan dan Pariwisata II.2.9. Sektor Usaha Prasaran Angkutan II.2.10. Sektor Usaha Logistik dan Sertifikasi II.2.11. Sektor Usaha Perkebunan

i

II.2.12. Sektor Usaha Kehutanan II.2.13. Sektor Usaha Perikanan II.2.14. Sektor Usaha Kertas, Percetakan, dan Penerbitan II.2.15. Sektor Usaha Penunjang Pertanian II.2.16. Sektor Usaha Pertambangan dan Semen II.2.17. Sektor Usaha Industri Strategis II.2.18. Sektor Usaha Energi & Sumber Daya Alam II.2.19. Sektor Usaha Telekomunikasi, Media dan Industri Penunjang Telekomunikasi II.3. Penerapan Tata Kelola Perusahaan Yang Baik II. 3.1. Assessment GCG II. 3.2. Re-Assessment GCG II. 3.3. Self Assessment GCG (Mandiri) II. 3.4. Review Tindak Lanjut Hasil Assesment GCG II. 3.5. Monitoring GCG melalui Kuesioner II. 3.6. Pelatihan Risk Management dan Internal Control System II. 3.7. Evaluation Tools atas Internal Control dan Risk Management II. 3.8. Pengkajian Penyempurnaan Evaluation Tools Penerapan GCG II. 3.9. Penyusunan Kriteria Penilaian GCG Tingkat Lanjutan II.4 Program Kemitraan dan Bina Lingkungan II.4.1. Program Kemitraan Tahun 2005 - 2009 II.4.2. Program Bina Lingkungan Tahun 2005 - 2009 BAB III : RENCANA DAN PELAKSANAAN PROGRAM PEMBINAAN BUMN TAHUN 2005-2009 III.1. Rencana Program Tahun 2005-2009 III.1.1 Rencana Rightsizing Tahun 2005-2009 III.1.2 Rencana Privatisasi Tahun 2005 - 2009 III.1.3 Program Kewajiban Pelayanan Umum (Public Service Obligation PSO) Tahun 2005 - 2009 III.1.4 Program Optimalisasi Aset BUMN Tahun 2005-2009 III.1.5 Program Pengembangan Teknologi Informasi Tahun 2005-2009 III.2 Pelaksanaan Program Tahun 2005 - 2009 III.2.1 Pelaksanaan Restrukturisasi Tahun 2005 - 2009

31 32 33 34 35 36 37 38 38 39 39 40 40 41 41 41 41 43 43 43 47 51 52 52 55 55 57 58 59 59

ii

2014 IV. Program Restrukturisasi 2010 .4. 2.2.2. Program Optimalisasi Aset BUMN 2010 .2014 IV.2014 IV. 2. Monitoring Penyelesaian Bantuan Pemerintah Yang Belum Ditetapkan Statusnya (BPYBDS) BAB V : KESIMPULAN LAMPIRAN 67 70 71 73 75 78 78 78 78 79 104 104 104 105 106 107 111 112 113 115 121 iii . Definisi.5.1. 1.2.2014 IV.4 Pelaksanaan Optimalisasi Aset BUMN 2005-2009 III. Prosedur Privatisasi IV.3 Pelaksanaan Public Servive Obligation (PSO) Tahun 2005-2009 III.III.3. 4. Ruang Lingkup Restrukturisasi IV. Maksud dan Tujuan Privatisasi IV. Metode Privatisasi IV. 6.2009 BAB IV : PROGRAM PEMBINAAN BUMN TAHUN 2010 .5 Pelaksanaan Penyediaan Data.2.2014 IV.2. 3. Maksud dan Tujuan Restrukturisasi IV. Program Penyelenggaran Public Service Obligation (PSO) 2010 .3. Informasi serta Teknologi Informasi 2005 .2 Pelaksanaan Privatisasi 2005 . Definisi. 5. 2. 2. Program Restrukturisasi IV. 1.2. 2. 1.2009 III.6 Pelaksanaan Penanganan Bantuan Pemerintah Yang Belum Ditetapkan Statusnya (BPYBDS) 2005 . Program Privatisasi 2010 .2. 2. Kriteria Privatisasi IV. Arah Kebijakan Privatisasi IV. 1. Informasi & Teknologi (TI) 2010 . Program Pengembangan Data.2014 IV.1.2009 III.

Oleh karena itu. perbaikan tata kelola perusahaan (good corporate governance) juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam memenangkan persaingan. dan masyarakat. Disamping itu. menjadi perintis kegiatan-kegiatan usaha yang belum dapat dilaksanakan oleh sektor swasta dan koperasi dan turut aktif memberikan bimbingan dan bantuan kepada pengusaha golongan ekonomi lemah. Upaya ini dapat dilakukan melalui: (1) perumusan kebijakan yang mengarahkan BUMN agar mampu menyediakan barang/jasa berkualitas tinggi dengan harga yang terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. mengejar keuntungan. (2) memberikan kontribusi yang signifikan bagi perekonomian nasional. Master Plan BUMN 2010-2014 ini menggambarkan kebijakan utama penataan BUMN ke depan dan di dalamnya dijelaskan berbagai kebijakan Pemerintah dalam melaksanakan pembinaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) selaras dengan kebijakan . maksud dan tujuan didirikannya BUMN adalah untuk memberikan sumbangan bagi perkembangan perekonomian nasional pada umumnya dan penerimaan Negara pada khususnya. perbaikan sinergi antar BUMN. menyelenggarakan kemanfaatan umum berupa penyediaan barang atau jasa yang bermutu tinggi dan memadai bagi pemenuhan hajat hidup orang banyak. anggaran negara dan kesejahteraan masyarakat secara luas. Restrukturisasi BUMN merupakan proses yang berkelanjutan dan satu kesatuan yang terintegrasi dengan strategi penyelamatan ekonomi nasional. Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang BUMN.KATA PENGANTAR Kementerian BUMN sebagai instansi pemerintah yang memiliki tugas merumuskan kebijakan di bidang pembinaan dan pengawasan BUMN memiliki peran strategis dan penting dalam upaya memacu perekonomian Indonesia. koperasi. serta (3) menjadi agen pemerintah dalam menyelenggarakan kemaslahatan hidup masyarakat luas sebagaimana diamanatkan dalam UU BUMN. Hal ini diutamakan agar BUMN dapat mencapai tujuan memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap ekonomi nasional. strategi pengelolaan BUMN ke depan perlu diarahkan pada peningkatan daya saing BUMN. Perubahan yang sangat cepat dalam dua dekade terakhir serta diperkirakan akan semakin cepat pada masa-masa mendatang menyebabkan semakin perlunya pembentukan BUMN-BUMN yang unggul dan berdaya saing tinggi. pengembangan kemampuan berusaha dan penciptaan peluang-peluang baru melalui manajemen yang dinamis dan profesional untuk dapat memasuki dan berkompetisi dalam era persaingan global.

yang merupakan penyempurnaan terhadap dokumen serupa yang diterbitkan pada tahun 2005 oleh Kementerian Negara BUMN. optimalisasi aset BUMN.1. pembuat kebijakan. Dokumen ini menjelaskan kebijakan pemerintah dalam pembinaan BUMN. manajemen/ karyawan BUMN dan para pelaku ekonomi. serta data. kerangka analisis program pembinaan BUMN serta tindakan spesifik Kementerian BUMN yang telah diambil saat ini atau yang akan direncanakan dalam jangka pendek dan jangka panjang (tahun 2010-2014). yaitu pasal 33 Undang-undang Dasar 1945. Kementerian BUMN bermaksud memberikan penjelasan mengenai kebijakan dan program pembinaan BUMN kepada publik. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025. Program pembinaan BUMN tersebut dilandasi oleh peraturan perundangan yang berlaku. privatisasi BUMN.BAB I PENDAHULUAN I. serta peraturan lainnya yang terkait. 1 . Disamping program-program tersebut juga dijelaskan mengenai program Kemitraan dan Bina Lingkungan serta perkembangan Bantuan Pemerintah Yang Belum Ditentukan Statusnya. Melalui penerbitan Master Plan ini. Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-2014. yang meliputi program restrukturisasi BUMN. Maksud Dan Ruang Lingkup Master Plan BUMN 2010-2014 memuat berbagai kebijakan Pemerintah dalam melaksanakan pembinaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang selaras dengan kebijakan sektoral. informasi dan teknologi informasi. public service obligation. Berbagai kebijakan dalam pembinaan BUMN yang dilaksanakan oleh Kementerian BUMN pada dasarnya dilakukan dalam rangka peningkatan kinerja dan nilai perusahaan. Undangundang Nomor 19 Tahun 2003 tentang BUMN.

Presiden telah menetapkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014. dengan penjelasan sebagai berikut: Kesejahteraan Rakyat. melalui pembangunan ekonomi yang berlandaskan pada keunggulan daya saing. Sedangkan Misi2 yang akan dilaksanakan dalam rangka mencapai visi tersebut adalah (1) Melanjutkan Pembangunan Menuju Indonesia yang Sejahtera. kekayaan sumber daya alam. yang dilakukan oleh seluruh masyarakat secara aktif. Demokrasi. (2) Memperkuat Pilar-Pilar Demokrasi. berbudaya. Terwujudnya masyarakat. sumber daya manusia dan budaya bangsa. Demokratis. yang hasilnya dapat dinikmati oleh seluruh bangsa Indonesia. serta meletakkan pondasi yang lebih kuat bagi Indonesia yang adil dan demokratis. Tujuan penting ini dikelola melalui kemajuan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. dan Berkeadilan”. Terwujudnya peningkatan kesejahteraan rakyat. Terwujudnya pembangunan yang adil dan merata. bangsa dan negara yang demokratis.I.2. (3) Memperkuat Dimensi Keadilan di Semua Bidang. bermartabat dan menjunjung tinggi kebebasan yang bertanggung jawab serta hak asasi manusia. Presiden telah menetapkan VISI1 untuk masa pemerintahan periode 2010-2014 yaitu “Indonesia yang Sejahtera. Misi pemerintah dalam periode 2010-2014 diarahkan untuk mewujudkan Indonesia yang lebih sejahtera. Visi Dan Misi Presiden Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-2014 Dalam melaksanakan tugas-tugas pemerintahan. namun tidak dapat terlepas dari kondisi dan tantangan lingkungan global dan domestik pada kurun waktu 2010-2014 yang mempengaruhinya. - - 2 . RPJMN tahun 2010-2014 tersebut telah ditetapkan dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2010. aman dan damai. Keadilan. yang merupakan penjabaran dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025.

posisi penting Indonesia sebagai negara demokrasi yang besar makin meningkat dengan keberhasilan diplomasi di forum internasional. kuatnya peran masyarakat sipil dan partai politik dalam kehidupan bangsa. (9) lingkungan hidup dan bencana. penegakan hak asasi manusia. Visi dan Misi pemerintah 2010-2014 tersebut dirumuskan dan dijabarkan lebih operasional ke dalam sejumlah program prioritas4 sehingga lebih mudah diimplementasikan dan diukur tingkat keberhasilannya. serta (11) kebudayaan. (3) Penegakan Pilar Demokrasi. (2) Hukum : meningkatnya kesadaran dan penegakan hukum. dan kelanjutan penataan sistem hukum nasional. dan paskakonflik. Bidang-Bidang yang menjadi perhatian utama RPJMN Tahun 2010-2014 adalah: (1) Pertahanan dan Keamanan. (2) Perbaikan Tata Kelola Pemerintahan. (3) membangun kemampuan IPTEK. yaitu: (1) Pembangunan Ekonomi dan Peningkatan Kesejahteraan Rakyat. dan inovasi teknologi. (10) daerah tertinggal. UU Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) tahun 2005-2025 3 . (4) Penegakkan Hukum Dan Pemberantasan Korupsi. (3) Politik. ditetapkan lima agenda utama pembangunan nasional3 tahun 2010-2014. terluar. Berdasarkan UU Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) Tahun 2005-2025. (2) pendidikan. (8) energi. (3) kesehatan. kreativitas.Dalam mewujudkan visi dan misi pembangunan nasional 2010-2014. terdepan. (2) meningkatkan kualitas SDM. yang ditandai dengan: peningkatan kemampuan struktur pertahanan Negara dan lembaga keamanan Negara. yang ditandai dengan: membaiknya pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah. tema dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-20145 adalah (1) memantapkan penataan kembali NKRI. (5) ketahanan pangan. (7) iklim investasi dan usaha. yaitu: (1) reformasi birokrasi dan tata kelola. (4) penanggulangan kemiskinan. (6) infrastruktur. dan (4) memperkuat daya saing perekonomian. tercapainya konsolidasi penegakan supremasi hukum. (5): Pembangunan Yang Inklusif Dan Berkeadilan.

dipercepatnya pengembangan pusat-pusat pertumbuhan potensial di luar Jawa. dan tenaga surya untuk kelistrikan. antarkelompok masyarakat.(4) Pelayanan Publik. dan antardaerah. transparan dan akuntabel makin meningkat yang ditandai dengan terpenuhinya standar pelayanan minimum di semua tingkatan pemerintah. industri kelautan yang meliputi perhubungan laut. tenaga angin. dan berkelanjutan. cepat. meningkatnya pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. peningkatan pemanfaatan energi terbarukan. makin mantapnya nilai-nilai baru yang positif dan produktif dalam rangka memantapkan budaya dan karakter bangsa. optimal. peningkatan kualitas dan relevansi pendidikan. menurunnya angka kemiskinan dan tingkat pengangguran disertai dengan berkembangnya lembaga jaminan sosial. meningkatnya derajat kesehatan dan status gizi masyarakat. panas bumi. Kualitas pelayanan publik yang lebih murah. dan perlindungan anak. pengembangan jaringan infrastruktur transportasi. meningkatnya kesetaraan gender. terkendalinya jumlah dan laju pertumbuhan penduduk. khususnya bioenergi. kesejahteraan. percepatan pembangunan infrastruktur dengan lebih meningkatkan kerja sama antara pemerintah dan dunia usaha. meningkatnya tingkat pendidikan masyarakat. (7) Pengelolaan SDA dan LH yang makin berkembang melalui : penguatan kelembagaan dan peningkatan kesadaran masyarakat yang ditandai dengan berkembangnya proses rehabilitasi dan konservasi sumber daya alam dan lingkungan hidup yang disertai dengan menguatnya partisipasi aktif masyarakat. serta pos dan telematika. (5) Kesejahteraan Rakyat yang terus meningkat ditunjukkan oleh membaiknya berbagai indikator pembangunan sumber daya manusia : meningkatnya pendapatan per kapita. terpeliharanya keanekaragaman hayati dan kekhasan sumber daya alam tropis lainnya yang dimanfaatkan untuk mewujudkan nilai tambah. penataan kelembagaan ekonomi yang mendorong prakarsa masyarakat. (6) Daya Saing Perekonomian yang meningkat melalui : penguatan industri manufaktur sejalan dengan penguatan pembangunan pertanian dan kelautan serta sumber daya alam lainnya sesuai dengan potensi daerah secara terpadu. wisata bahari. daya saing bangsa. industri maritim. serta modal 4 . perikanan. pengembangan sumber daya air dan pengembangan perumahan dan permukiman. meningkatnya tumbuh kembang optimal. energi dan sumber daya mineral dikembangkan secara sinergi. menurunnya kesenjangan kesejahteraan antarindividu. tenaga air.

mantapnya kelembagaan dan kapasitas antisipatif serta penanggulangan bencana di setiap tingkatan pemerintahan. Tujuan Dan Sasaran Kementerian BUMN Sesuai Rencana Strategis Kementerian BUMN Tahun 2010-2014 Upaya Pemerintah dalam memperkuat daya saing perekonomian nasional guna peningkatan kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat dalam mewujudkan cita-cita Bangsa Indonesia pada umumnya dan misi Pembangunan Jangka Panjang (tahun 2005-2025) dan Pembangunan Jangka Menengah (tahun 2010-2014) pada khususnya. diharuskan mengambil peran dalam upaya perbaikan kondisi perekonomian Indonesia melalui: (1) perumusan kebijakan yang mengarahkan BUMN agar mampu menyediakan barang/jasa berkualitas tinggi dengan harga yang terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Misi. Kementerian BUMN menetapkan Misi7 sebagai berikut (1) Meningkatkan kualitas pengelolaan BUMN yang semakin transparan dan akuntabel. terlaksananya pembangunan kelautan sebagai gerakan yang didukung oleh semua sektor. (3) Meningkatkan kualitas 5 . serta (3) menjadi agen pemerintah dalam menyelenggarakan kemaslahatan hidup masyarakat luas sebagaimana diamanatkan dalam UU BUMN. Berdasarkan hal-hal tersebut. Untuk mewujudkan visi tersebut. memerlukan adanya koordinasi dan peran serta dari seluruh lembaga/institusi Pemerintah.3. Visi. meningkatnya kualitas perencanaan tata ruang serta konsistensi pemanfaatan ruang dengan mengintegrasikannya ke dalam dokumen perencanaan pembangunan terkait dan penegakan peraturan dalam rangka pengendalian pemanfaatan ruang. Kementerian BUMN sebagai instansi pemerintah yang memiliki tugas merumuskan kebijakan di bidang pembinaan dan pengawasan BUMN. sesuai dengan Rencana Strategis Kementerian BUMN Tahun 2010-2014. (2) Meningkatkan peran BUMN untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional dan pendapatan negara.pembangunan nasional pada masa yang akan datang. (2) memberikan kontribusi yang signifikan bagi perekonomian nasional. I. telah ditetapkan Visi6 Kementerian BUMN yaitu “Mewujudkan BUMN sebagai instrumen Negara untuk peningkatan kesejahteraan rakyat berdasarkan mekanisme korporasi”.

4 Tujuan 4 Sasaran 4.4 Tujuan 3 Sasaran 3.3 Sasaran 1.pelaksanaan penugasan pemerintah untuk pelayanan umum(PSO).2 Sasaran 3. sebagai berikut: Tujuan 1 Sasaran 1. Berdasarkan visi dan misi di atas.1 Sasaran 1.1 Sasaran 2. : Meningkatnya peran BUMN dalam pengelolaan SDA strategis dan pertahanan nasional : Terwujudnya kebijakan untuk meningkatkan porsi SDA strategis yang dikelola oleh BUMN : Terlaksananya penerapan peraturan perundang-undangan yang berpihak pada BUMN untuk mengelola SDA strategis : Terlaksananya penerapan peraturan perundangan yang berpihak pada BUMN dalam pengembangan industri pertahanan : Terwujudnya kemampuan BUMN industri pertahanan untuk penyediaan alutsista : Meningkatnya Kinerja BUMN : Meningkatnya keuntungan BUMN : Meningkatnya sinergi antar BUMN Tujuan 2 Sasaran 2. (4) Meningkatkan peran BUMN dalam usaha keperintisan. (5) Meningkatkan peran BUMN dalam rangka pengembangan UMKM.3 Sasaran 2.2 Sasaran 2.2 Sasaran 1.3 Sasaran 3.2 6 .4 : Meningkatnya Kapasitas dan Kemampuan Pembinaan BUMN : Terlaksananya reformasi birokrasi : Meningkatnya kapasitas dan kemampuan SDM : Tersedianya sarana dan prasarana yang memadai : Terlaksananya penyusunan dan harmonisasi peraturan perundang-undangan : Terwujudnya penerapan best practices GCG dan sistem penilaian kinerja : Tersusunnya best practice GCG : Terlaksananya penerapan best practice GCG : Terlaksananya sistem remunerasi berbasis kinerja di BUMN : Terlaksananya sistem penilaian kinerja di BUMN yang mangacu pada standar internasional. (6) Peningkatan peran BUMN untuk percepatan pelaksanaan prioritas pembangunan nasional.1 Sasaran 3.1 Sasaran 4. Kementerian Negara BUMN di dalam Rencana Strategisnya menetapkan 9 (sembilan) tujuan dan 30 sasaran strategis yang ingin dicapai dalam periode pemerintahan tahun 2010-2014.

2 Tujuan 7 Sasaran 7.3 Tujuan 8 Sasaran 8.3 Tujuan 9 Sasaran 9.1 Sasaran 5.1 Sasaran 7.5 Sasaran 9. : Meningkatnya peran BUMN dalam keperintisan usaha dan pengembangan UMKM : Meningkatnya peran BUMN dalam program Public Private Partnership (P3) : Meningkat dan meluasnya jangkauan penyaluran dana PKBL : Meningkatnya efektivitas penyaluran dana pemerintah (KUR) untuk pengembangan UMKM : Terwujudnya sistem pengelolaan BUMN yang semakin sehat dan kompetitif : Terwujudnya harmonisasi peraturan perundang-undangan yang mengarah pada perwujudan pengelolaan BUMN berbasis mekanisme korporasi : Terwujudnya jumlah BUMN yang ideal : Berkurangnya BUMN yang rugi dan bermasalah : Meningkatnya peran BUMN dalam percepatan pelaksanaan prioritas pembangunan nasional : Meningkatnya peran BUMN untuk ketahanan energi : Meningkatnya peran BUMN untuk ketahanan pangan : Meningkatnya peran BUMN untuk pembangunan infrastruktur Meningkatnya peran BUMN untuk peningkatan pertahanan Meningkatnya peran BUMN dalam pengembangan UMKM Meningkatnya peran BUMN untuk lingkungan hidup Tujuan 6 Sasaran 6.2 Sasaran 7.2 Sasaran 9.Tujuan 5 Sasaran 5.2 Sasaran 8.3 Sasaran 9.6 7 .1 Sasaran 6.4 Sasaran 9.1 Sasaran 9.2 : Meningkatnya peran BUMN untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional : Meningkatnya belanja modal (Capital Expenditure) BUMN : Meningkatnya belanja operasional (Operating Expenditure) BUMN : Meningkatnya kualitas pelaksanaan penugasan pemerintah untuk pelayanan umum : Terlaksananya pemisahan tanggungjawab antara pemberi tugas (Pemerintah) dan pelaksana tugas (BUMN) secara konsisten : Terwujudnya pelaksanaan tugas pelayanan umum secara transparan.1 Sasaran 8.

Prioritas RPJMN Tahun 2010-2014 Di Bidang Pembinaan BUMN Permasalahan dan tantangan dalam pembinaan dan pengawasan BUMN yang dicantumkan dalam RPJM 2010-2014 adalah sebagai berikut: (1) masih terdapatnya ketidakharmonisan peraturan perundang-undangan yang menyebabkan penafsiran yang berpengaruh terhadap kepastian hukum di bidang pengurusan. sasaran pembangunan dalam pembinaan BUMN8 adalah sebagai berikut: (1) meningkatnya kapasitas dan kemampuan pembinaan BUMN. Terkait dengan hal tersebut. dan pembinaan BUMN. dalam RPJMN tahun 2010-2014. Selanjutnya. kegiatan prioritas yang terkait dengan Kementerian BUMN dalam RPJMN 2010-2014 adalah program di bidang Pembinaan dan Pengawasan BUMN9. (5) meningkatnya peran BUMN untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. (9) meningkatnya peran BUMN dalam percepatan pelaksanaan prioritas pembangunan nasional.4. (3) persaingan usaha yang makin ketat. (3) meningkatnya peran BUMN dalam pengelolaan SDA strategis dan pertahanan nasional. serta (5) pelaksanaan tata kelola yang baik (good governance). yaitu : a. (2) kondisi ekonomi baik nasional. pengawasan. (4) pelaksanaan otonomi daerah yang sering tidak kondusif bagi pengembangan usaha.I. (2) terwujudnya penerapan best practices GCG dan sistem penilaian kinerja. (8) terwujudnya sistem pengelolaan BUMN yang semakin sehat dan kompetitif. Transformasi dan konsolidasi BUMN bidang energi dimulai dari PLN dan Pertamina yang selesai selambat-lambatnya 2010 dan diikuti oleh BUMN lainnya. sebagai berikut: (1) Dukungan pelaksanaan program prioritas Pemerintah bidang energi (Prioritas Nasional). (7) meningkatnya peran BUMN dalam keperintisan usaha dan pengembangan UMKM. 8 . (6) meningkatnya kualitas pelaksanaan penugasan pemerintah untuk pelayanan umum. (4) meningkatnya keuntungan BUMN. maupun global yang sedang dalam tahap pemulihan. regional.

000 MW per tahun mulai 2010 dengan rasio elektrifikasi yang mencakup 62% pada 2010 dan 80% pada 2014. Revitalisasi industri pengolah hasil ikutan/turunan minyak bumi dan gas sebagai bahan baku industri tekstil. dan Denpasar. c. Surabaya. monitoring dan evaluasi kinerja BUMN (8) Penetapan peraturan pelaksanaan pemisahan administrasi keuangan PSO dan Perpres tentang SOP pelaksanaan PSO (9) Penyusunan peraturan perundangan yang mengarah pada perwujudan pengelolaan BUMN berbasis mekanisme korporasi murni (10) Kajian BUMN rugi dan bermasalah (11) Penyusunan dan pelaksanaan Program Tahunan Privatisasi (12) Kajian rightsizing BUMN (13) Uji kepatutan dan kelayakan calon Direksi dan Dewan Komisaris (14) Dukungan pelaksanaan program prioritas Pemerintah bidang ketahanan pangan (15) Dukungan pelaksanaan program prioritas Pemerintah bidang infrastruktur 9 .2 juta barrel per hari mulai 2014. d. pupuk dan industri hilir lainnya. (2) Restrukturisasi BUMN besar/ penting/ strategis (Prioritas Nasional) (3) Penyusunan best practice GCG (4) Penetapan system remunerasi berbasis kinerja di BUMN (5) Penyusunan peraturan mengenai penerapan system penilaian yang mengacu pada standar internasional (6) Kajian. dan nuklir secara bertahap. e.b. Perluasan program konversi minyak tanah ke gas sehingga mencakup 42 juta Kepala Keluarga pada 2010. microhydro.000 MW pada 2014 dan dimulainya produksi coal bed methane untuk membangkitkan listrik pada 2011 disertai pemanfaatan potensi tenaga surya. dan produksi minyak bumi sebesar lebih dari 1. penggunaan gas alam sebagai bahan bakar angkutan umum perkotaan di Palembang. Peningkatan pemanfaatan energi terbarukan termasuk energi alternatif geothermal sehingga mencapai 2. evaluasi dan monitoring pendayagunaan asset BUMN (7) Penetapan target. Peningkatan kapasitas pembangkit listrik sebesar rata-rata 3.000 MW pada 2012 dan 5.

dalam konteks pembinaan BUMN juga akan diambil kebijakan berupa: (1) pemantapan proses seleksi pengurus BUMN secara profesional. Arah Kebijakan Pembinaan BUMN Sesuai Rencana Strategis Kementerian BUMN Tahun 2010-2014 Dan Master Plan BUMN Tahun 2010-2014 Arah kebijakan utama terkait dengan pembinaan BUMN adalah restrukturisasi. Hal ini dilakukan dalam upaya meningkatkan kinerja dan nilai (value) perusahaan. kegiatan usaha. 10 . Restrukturisasi sektoral dilakukan untuk menciptakan iklim usaha yang kondusif sehingga tercapai efisiensi dan pelayanan yang optimal. Restrukturisasi dilakukan baik secara sektoral maupun korporasi. pemberdayaan BUMN yang mampu bersaing dan berorientasi global. Privatisasi dilakukan dalam rangka meningkatkan kinerja dan nilai tambah perusahaan. Selain itu. penciptaan struktur industri yang sehat dan kompetitif. organisasi. Peningkatan kinerja dan nilai BUMN tersebut dilakukan melalui langkahlangkah restrukturisasi dan privatisasi. (2) penetapan peraturan pelaksanaan UU BUMN dan harmonisasi peraturan perundang-undangan lainnya sesuai dengan UU Perseroan Terbatas dan/atau Capital Market Protocol. (3) penerapan Good Governance dan Good Corporate Governance. Melalui penerapan kebijakan ini. penyebaran kepemilikan oleh publik serta pengembangan pasar modal domestik. Dalam rangka mencapai jumlah dan skala BUMN yang ideal. serta (6) peningkatan peran BUMN dalam mendorong pelaksanaan prioritas pembangunan nasional. transparan dan obyektif.I. maka dalam Master Plan BUMN Tahun 2010-2014. Sedangkan restrukturisasi korporasi meliputi penataan kembali bentuk badan usaha. Kementerian BUMN menyusun program rightsizing untuk memperbaiki struktur bisnis BUMN secara menyeluruh. perbaikan struktur keuangan dan manajemen. (5) peningkatan kualitas pelaksanaan pelayanan umum. (4) peningkatan kinerja dan daya saing dan keberlanjutan usaha BUMN. manajemen dan keuangan.5. revitalisasi dan profitisasi BUMN secara bertahap dan berkesinambungan. BUMN yang ada akan dikelompokkan ulang berdasarkan sektor industrinya.

peran Di BUMN/pemerintah awal era dalam nasional pembangunan. Kontribusi Dalam Perekonomian Nasional Serta Potensi-Potensi Yang Dimiliki BUMN Sampai dengan akhir tahun 2009 terdapat 141 BUMN yang terdiri dari 14 BUMN berbentuk Perum. (3) brand image BUMN. (2) kepemilikan aset yang besar. potensi-potensi tersebut antara lain: (1) keberadaan BUMN di hampir semua sektor usaha. Keberadaan BUMN Sesuai dengan Pasal 33 UUD 1945. Seperti yang telah disebutkan dalam Rencana Strategis Kementerian Negara Tahun 2010-2014. (4) pengalaman usaha BUMN. I. penyeimbang kekuatankekuatan swasta besar dan turut membantu pengembangan usaha kecil/koperasi. cukup penting. BUMN juga merupakan salah satu sumber penerimaan Negara yang signifikan dalam bentuk berbagai jenis penerimaan Negara. BUMN berperan strategis sebagai pelaksana pelayanan publik.6. antara lain pajak dan dividen. tidak diminati swasta dan bersifat pioneering. BUMN. Disamping itu data. Dalam menjalankan kegiatan usahanya. di samping usaha swasta dan koperasi. dan 15 BUMN yang merupakan Persero Terbuka. (5) profesionalisme SDM. Sektor 11 .6.1. 112 BUMN berbentuk Persero. Tabel 1. BUMN/pemerintah masuk antara lain ke dalam sektor-sektor yang memerlukan pembiayaan cukup besar.I. Perkembangan. informasi dan teknologi informasi pada BUMN telah tersedia dan terbangun dengan baik. Adapun perkembangan jumlah BUMN dan kepemilikan Negara minoritas tahun 2005-2009 sebagaimana tersebut pada Tabel 1. Pada perekonomian masa awal kemerdekaan. Perkembangan Jumlah BUMN Tahun 2005-2009 Uraian Perum Persero Persero Tbk Jumlah BUMN Kepemilikan Negara Minoritas 2005 13 114 12 139 21 2006 13 114 12 139 21 2007 14 111 14 139 21 2008 14 113 14 141 20 2009 14 112 15 141 19 BUMN memiliki potensi yang sangat besar untuk berkembang yang sampai dengan saat ini belum termanfaatkan secara optimal. BUMN merupakan salah satu penggerak utama perekonomian nasional. swasta dan koperasi melaksanakan peran saling mendukung berdasarkan demokrasi ekonomi.

37 triliun. Pada awal tahun 2004. Jumlah BUMN yang mencapai 141 dan tersebar hampir di semua sektor usaha tidak hanya membuat BUMN sangat berpotensi untuk berkontribusi yang signifikan kepada masyarakat dan negara secara umum.14 Triliun per tahun. Hampir di semua lini bisnis dan sektor usaha yang ada di Indonesia. baik berupa dividen. Rata-rata dividen yang diberikan BUMN kepada Negara selama periode 2005–2009 sebesar Rp. demikian juga kontribusi BUMN dalam bentuk pajak cenderung meningkat dimana rata-rata pajak yang diberikan selama periode 2005–2009 sebesar Rp. penerimaan Negara dari Pajak dan kontribusinya bagi pergerakan sektor riil.73. menghasilkan barang dan jasa untuk dalam negeri maupun ekspor. dan memberi layanan yang optimal bagi konsumen. Keberadaan BUMN selama ini telah memberikan kontribusi yang besar kepada Negara.27 Triliun per tahun.23. Peningkatan Capex dan Opex tersebut menunjukkan kontribusi BUMN bagi pergerakan sektor riil. BUMN adalah penguasa pasar (market leader) sehingga memiliki peran yang sangat signifikan baik bagi stabilitas sektor bisnis maupun ekonomi secara umum. kita akan mengetahui bahwa BUMN adalah sebuah entitas yang memiliki potensi untuk dapat berkembang menjadi sebuah entitas bisnis yang besar dan kuat. sedangkan posisi pada akhir tahun 2008 Capex sebesar Rp. Belanja modal (capital expenditures/Capex) dan belanja operasional (operational expenditures/Opex) BUMN juga mengalami peningkatan. terdapat BUMN yang menjalankan usahanya. Jika melihat pada BUMN yang ada saat ini.1.32 triliun dan Opex sebesar Rp. Capex BUMN adalah Rp. 12 .028.26 triliun dan Opex sebesar Rp. Bahkan di beberapa sektor usaha.32.korporasi yang andal dalam membangun perekonomian nasional diperlukan untuk menciptakan lapangan kerja.128.40 triliun.453. tetapi juga memiliki potensi yang besar untuk menjalin sinergi yang saling menguntungkan diantara sesama BUMN sehingga akan memberikan percepatan dalam pencapaian kinerja perusahaan.

BUMN sebagai badan usaha juga dapat berperan dalam mendorong penerapan praktek-praktek bisnis dengan standar etika dan transparansi. responsibilitas dan fairness (GCG) serta profesionalisme pengelolaan perusahaan. mereka adalah bagian dari sejarah perkembangan bangsa Indonesia. independensi. Melalui kerja sama usaha dengan swasta maupun BUMN. dan berdaya saing tinggi.6. aset-aset yang masih idle tersebut akan menjadi salah satu kunci dalam upaya untuk mewujudkan BUMN yang sehat. laba BUMN pada akhir tahun 2009 hanya mencapai Rp.6. Dorongan untuk meningkatkan praktek good corporate governance perlu mendapatkan perhatian. Pegadaian.150 Triliun yang sebagian besar masih menggunakan nilai buku. dari total aset BUMN tersebut.39%.2. Dengan usahausaha yang dijalankan di sektor perintisan membuat nama BUMN dikenal luas di seluruh nusantara. total aset BUMN tercatat mencapai ± Rp2. I. Dari total aset yang mencapai + 2. dengan return on equity (ROE) sebesar 12.89%. berkinerja baik. Brand image BUMN Tidak dapat dipungkiri bahwa perjalanan sejarah telah membuat BUMN memiliki brand image yang sangat kuat khususnya di dalam negeri.150 trilliun tersebut.72. dan Pertamina adala BUMN-BUMN yang sudah sangat melekat di benak seluruh rakyat Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari rasio return on asset (ROA) BUMN yang masih relatif kecil. akuntabilitas. I. Bank BRI. 13 . Kepemilikan Aset Sampai dengan akhir tahun 2009. Namun.84 triliun. PLN. Aset yang belum didayagunakan tersebut menjadi potensi tersendiri bagi BUMN dalam upayanya untuk terus memperbaiki kinerja agar dapat memberikan kontribusi yang lebih besar kepada kesejahteraan rakyat. sehingga upaya-upaya restrukturisasi/revitalisasi/ profitisasi yang berkelanjutan perlu terus dilaksanakan. belum seluruhnya dimanfaatkan secara optimal dengan baik guna menghasilkan pendapatan bagi perusahaan. yaitu sebesar 3. Sebuah nilai yang sangat besar yang apabila mampu dimanfaatkan secara maksimal tentu akan memicu pertumbuhan sektor riil dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan (sustainability growth). Pos Indonesia.3. Bukan hanya karena mereka menguasai hajat hidup orang banyak tetapi lebih dari itu.

Namun patut diperhatikan juga bahwa. Brand image BUMN semakin membaik yang tergambar dari semakin meningkatnya jumlah BUMN yang mendapatkan penghargaan ditingkat nasional. I. dan internasional. Dengan usia yang sudah sedemikian lama. Pengalaman usaha BUMN Jika dilihat secara seksama. berkinerja baik dan berdaya saing tinggi sehingga mampu memberikan kontribusi yang optimal bagi perekonomian nasional. regional. Ketatnya pengawasan dalam pengelolaan BUMN juga semakin mendorong peningkatan integritas SDM BUMN. hampir seluruh BUMN lahir pada awal kemerdekaan Indonesia bahkan ada beberapa BUMN yang merupakan hasil nasionalisasi perusahaan-perusahaan belanda. pengalaman usaha BUMN tersebut harus selalu diiringi dengan inovasi dan kreativitas usaha sehingga BUMN akan tetap mendapat kepercayaan dari masyarakat.4. maka sumber daya manusia dan profesionalisme yang dimiliki oleh BUMN kiranya tidak perlu diragukan lagi.6. Mekanisme penetapan pengurus BUMN yang semakin transparan dan mengutamakan nilai-nilai profesionalisme dan integritas 14 . BUMN seharusnya memiliki pengalaman yang jauh lebih banyak daripada perusahaan-perusahaan swasta lain yang belum begitu lama berdiri. Pengalaman adalah salah satu nilai tambah yang sangat penting bagi perusahaan terutama untuk menghadapi persaingan usaha yang semakin kompetitif. Pemahaman yang mendalam tentang nature of business menjadi salah satu kunci agar suatu perusahaan mampu berkembang dan bisa menjawab setiap tantangan zaman.5.Brand image yang sangat kuat ini merupakan salah satu competitive advantage yang dimiliki oleh BUMN untuk bersaing dengan perusahaan swasta lain. Competitive advantage ini harus dapat dioptimalkan sehingga bisa mendukung upaya penciptaan BUMN yang sehat. Profesionalisme SDM Dengan eksistensi di dalam perekonomian dan pengalaman yang cukup lama di dunia bisnis serta besarnya jumlah aset yang dikelola.6. Perbaikan sistem remunerasi yang semakin berkeadilan dan berbasis kinerja semakin mendorong peningkatan profesionalisme SDM BUMN. I.

6. BUMN akan kehilangan kesempatan dan kecepatan mengantisipasi perubahan. Agar teknologi informasi yang diimplementasikan di BUMN dapat dipastikan memberikan outcome sesuai dengan kebutuhan bisnis. BUMN membutuhkan kecepatan dalam seluruh aspek pengambilan keputusan korporasi. dengan demikian pemanfaatan teknologi informasi akan meningkatkan efisiensi dan menciptakan nilai tambah perusahaan. implementasi teknologi informasi akan sangat berperan dalam pengendalian internal perusahaan.semakin mendorong persaingan SDM BUMN untuk meningkatkan kapasitas dan kemampuan dalam setiap pengambilan keputusan. I. Dalam situasi turbulensi ekonomi. Penguasaan data dan informasi menjadi faktor yang penting karena data dan informasi yang dapat disajikan dengan cepat. maka BUMN perlu mempunyai kebijakan tata kelola teknologi informasi yang menjadi bagian dari tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance). Tanpa penguasaan data dan informasi. dan lengkap akan membantu manajemen melakukan analisis dan mengambil keputusan dengan cepat dan akurat. tepat. penguasaan terhadap data.6. implementasi teknologi informasi lebih mengarah pada sinergi pemanfaatan informasi dan teknologi informasi yang digunakan pada rantai bisnis baik di lingkungan internal maupun eksternal. Kini. Bagi perusahaan. Data. dan teknologi informasi menjadikan BUMN memiliki sarana yang relatif lebih lengkap dalam menghadapi persaingan di pasar lokal maupun pasar global serta memberikan kemampuan bagi BUMN untuk menciptakan nilai tambah dan mengembangkan usaha. 15 . Informasi dan Teknologi Informasi Disamping hal-hal tersebut diatas. informasi.

mewujudkan demokrasi dan memeratakan keadilan. seyogianya dapat menjadi lokomotif ataupun pelaku ekonomi yang handal yang dapat mendukung. Seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) diharapkan memahami ketentuan/peraturan perundang-undangan yang berlaku terkait dengan BUMN dan menjalankan peran. bentuk kontribusinya terhadap perekonomian serta potensi-potensi yang dimilikinya. sedang dalam penyelesaian. baik yang telah berhasil. belum berhasil maupun yang masih akan dilakukan. tugas dan tanggungjawab masing-masing untuk mendukung peningkatan peran dan kualitas pembinaan dan pengelolaan BUMN dalam rangka meningkatkan kinerja/nilai dan kontribusi perusahaan dalam perekonomian nasional. maka transformasi/konsolidasi/ restrukturisasi/revitalisasi secara bertahap dan berkesinambungan. Segala upaya yang telah dilakukan selama ini. menjadi sangat penting artinya. bidang-bidang/program-program yang tertuang dalam RPJM 2010-2014. fungsi.Keberadaan BUMN sebagai salah satu pelaku ekonomi Indonesia dengan segala peran. maupun dalam mewujudkan Visi dan Misi Kementerian BUMN. Yang pada gilirannya akan memberikan kontribusi yang optimal bagi perekonomian nasional. Peningkatan peran dan kualitas pembinaan dan pengawasan BUMN dalam melaksanakan tujuan-tujuan dan sasaran-sasaran strategis yang dicantumkan dalam Renstra Kementerian BUMN 2010-2014. dalam kerangka untuk terus meningkatkan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance). dalam mengatasi permasalahan dan tantangan yang dihadapi maupun dalam mencapai sasaran-sasaran pembangunan dalam pembinaan BUMN seperti yang tercantum dalam RPJM 2010-2014. yakni mewujudkan BUMN menjadi instrumen negara untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat berdasarkan mekanisme korporasi. baik Visi dan Misi Pemerintah untuk mensejahterakan rakyat. 16 . pada dasarnya adalah untuk meningkatkan efisiensi/efektifitas perusahaan sehingga kinerja dan nilai perusahaan meningkat.

PT TVRI menjadi BLU dan Likuidasi PT AAF).1.2009 Jumlah BUMN ( Saham Negara ? 51%) Persero Tbk Persero Perum Perjan Jumlah BUMN Jumlah 51 % Perusahaan Dengan Saham Negara ? 2005 12 114 13 0 139 21 2006 12 114 13 0 139 21 2007 14 111 14 0 139 21 2008 14 113 14 0 141 19 2009 15 112 14 0 141 19 Pada Tahun 2005 terjadi pengurangan jumlah Perjan (Perjan Rumah Sakit dan RRI berubah menjadi Badan Layanan Umum/BLU) dan pengurangan jumlah Persero (Merger 4 Persero Perikanan. khususnya industri hulu. 1. negara juga memiliki saham dengan kepemilikan minritas pada 19 badan usaha. dan pada tahun 2009 terjadi penambahan BUMN Tbk yaitu PT Bank BTN. Di bawah ini disajikan perkembangan kinerja BUMN masing-masing sektor. Tabel 1 : Perkembangan Jumlah BUMN di Indonesia Periode tahun 2005 . penerapan Tata Kelola Perusahaan Yang Baik (GCG) dan perkembangan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan. II. Di samping itu.Perkembangan Jumlah BUMN Jumlah BUMN di Indonesia pada tahun 2009 sebanyak 141 perusahaan dan beroperasi pada hampir seluruh sektor usaha. Tahun 2007. 17 . Perkembangan Kinerja BUMN II. 1. terdapat 2 (dua) Persero menjadi Tbk. Likuidasi PT ISI dan terbentuknya Perum LKBN Antara. meskipun terdapat sebagian kecil BUMN masih menghadapi kendala-kendala untuk berkembang.BAB II PERKEMBANGAN BUMN TAHUN 2005-2009 Kinerja BUMN dalam lima tahun terakhir (2005-2009) sebagian besar menunjukkan kecenderungan perbaikan. Pada tahun 2008 terjadi penambahan jumlah BUMN yaitu PTDI dan PT Askrindo. Perkembangan jumlah BUMN dan kepemilikan negara minoritas dapat dilihat pada Tabel 1.

117 1.322 1. dan total laba bersih.Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Data kinerja BUMN periode tahun 2005-2009 secara umum dapat dilihat pada tabel 2 sebagai berikut.193 370.454.96% .720 49.161.998 565.185 Prog 2009 2.032 1.496 64.005.840 Dari tabel 2 tersebut di atas.89% atau rata-rata 11.696 865.451.152 25.20% per tahun.150.15% per tahun.626 499. total ekuitas.034 931.000 72.481 445. ROE. Return on Asset (ROA) dan Return on Equity (ROE) Return on Asset (ROA) periode 2005 – 2009 berkisar antara 2.630 1. perkembangan ROA. laba.487 514. Tabel 2 : Perkembangan Kinerja BUMN Periode tahun 2005 .12.584. aset.217. Gambaran perkembangan ROA dan ROE dapat dilihat dalam grafik berikut: Grafik 1: Perkembangan ROA dan ROE 18 .890 754.00% .69% atau ratarata 3.II.3. Selanjutnya.770 2006 1.2009 Rp Miliar Total Aset Total Hutang Ekuitas Pendapatan Laba Bersih 2005 1.349 63. total pendapatan.371 1.307 2008 1. sedangkan Return on Equity (ROE) berfluktuasi dari tahun ke tahun dengan kisaran antara 6.060 655.717. terlihat bahwa kinerja BUMN mengalami peningkatan/pertumbuhan yang terlihat dari total asset.969.254 921.291.171 2007 1. ekuitas dan kontribusi BUMN dapat dilihat pada grafik-grafik dan tabel-tabel sebagai berikut : a. 1.2.

jumlah laba bersih yang diperoleh BUMN pada periode tahun 2005-2009 juga mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan yaitu tumbuh ratarata 20. tampak terjadi pertumbuhan yang cukup signifikan dalam periode tahun 2005-2009. juga disebabkan oleh kebijakan pemerintah untuk meningkatkan devidend pay out ratio dari rata-rata 20% sebelum krisis moneter 1997. Namun pertumbuhan jumlah aset tersebut dirasakan belum proporsional dengan pertumbuhan modal perusahaan yang pertumbuhannya relatif lambat. Perkembangan Total Aktiva. Ekuitas dan Hutang (dalam Rp Triliun) c. a. Hal ini disebabkan sebagian besar aset dibiayai dari dana eksternal/hutang. Perkembangan Jumlah Laba Bersih Sama halnya dengan jumlah aset. II.b.3. bahkan beberapa BUMN dikenakan lebih dari 50%. Kontribusi Dividen Pada periode tahun 2004-2009 terjadi pertumbuhan kontribusi deviden rata-rata 25. 1.28%/tahun. Grafik 2: Perkembangan Total Aktiva. menjadi sekitar 40% setelah krisis moneter. 19 . Gambaran kontribusi dividen BUMN sebagaimana terlihat pada Grafik 5 sebagai berikut. Perkembangan Kontribusi BUMN Kontribusi BUMN terhadap penerimaan negara pada dasarnya bersumber dari dividen BUMN dan pajak yang disetorkan BUMN. Ekuitas dan Hutang Dilihat dari sisi jumlah aset.09% per tahun. Pertumbuhan tersebut disamping karena meningkatnya keuntungan BUMN.

Namun demikian. Adapun gambaran hasil privatisasi 2004-2009 sebagaimana terlihat pada Grafik 7 sebagai berikut. Kontribusi Pajak Kontribusi BUMN lainnya yaitu pajak. 20 .13% per tahun. pada periode tahun 2005-2009 juga mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi yaitu rata-rata 18. maka sebelum 5 tahun terakhir terdapat hasil divestasi/privatisasi BUMN yang disetorkan ke kas Negara karena situasi keuangan Pemerintah maupun kebijakan pada saat itu. telah diambil kebijakan yang pada intinya hasil privatisasi BUMN terutama adalah untuk keperluan mendukung pengembangan BUMN itu sendiri.Grafik 5: Kontribusi Dividen BUMN Catatan : Pembagian laba tahun 2009 belum ditetapkan oleh RUPS b. Sampai dengan tahun 2009 telah dilakukan privatisasi terhadap 15 BUMN melalui metode IPO dan SPO (13 BUMN) dan metode EMBO (2 BUMN). kurang lebih dalam waktu 5 tahun terakhir. Grafik 6: Kontribusi Pajak Selain kontribusi dalam bentuk deviden dan pajak. Peningkatan kontribusi pajak BUMN antara lain disebabkan oleh adanya peningkatan keuntungan BUMN. Gambaran kontribusi pajak sebagaimana terlihat pada Grafik 6 sebagai berikut.

kehutanan.00% 355 260 100 0 2005 2006 Kapitalisasi Pasar BUMN Tbk 2007 2008 % Kapitalisasi Pasar BUMN Tbk 2009 5. prasarana angkutan.40% 600 40. sarana angkutan dan pariwisata.00% 0. aneka industri.00% 15. industri farmasi.00% II. perkebunan. hal ini dapat dilihat dari penguasaan kapitalisasi pasar per 30 Desember 2009 yang mencapai 31. penunjang pertanian. jasa konstruksi. kawasan industri dan perumahan.00% 25. kertas percetakan dan penerbitan. logistik dan jasa sertifikasi.00% 10.00% 500 400 300 200 29. 21 .57% 30. energi dan sumber daya mineral serta sektor telekomunikasi. pertambangan dan semen. Grafik 8 : Kapitalisasi Pasar BUMN Terbuka 700 637 45. 2.64% 32.00% 20. industri strategis. jasa keuangan. media dan penunjang telekomunikasi.97% 31. perikanan. Perkembangan BUMN Secara Sektoral Dalam Rencana Strategis Kementerian BUMN tahun 2010-2014 terdapat 19 sektor usaha BUMN yang meliputi : sektor usaha perbankan.00% 589 40. Adapun gambaran kapitalisasi pasar BUMN Terbuka 2005-2009 sebagaimana terlihat pada Grafik 8 sebagai berikut. asuransi.00% 35.48 Triliun dari total kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) .Grafik 7: Kontribusi Privatisasi Peran 15 BUMN Tbk dalam Pasar Modal cukup besar.23% 493 32.57% atau senilai Rp 637.

317.520.432 583.262.28% 1.91% 3. micro banking (BRI) dan pembiayaan perumahan (BTN).4%.82% 16.640 685.25% 260.224.89% 19. Gambaran mengenai data keuangan pokok BUMN Perbankan tersaji dalam Tabel 4 sebagai berikut.540 292. Sedangkan Bank Ekspor Indonesia (BEI) sesuai dengan Undang-Undang RI Nomor 2 Tahun 2009 telah berubah menjadi Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) yang pembinaan dan pengawasanya berada di bawah Menteri Keuangan.172. serta Dana Pihak Ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun.8/16/2006 Tentang Kepemilikan Tunggal (Single Presence Policy) Pada Perbankan Indonesia yang mengharuskan keempat Bank BUMN untuk masuk dalam satu kepemilikan (misalnya holding atau merger).565.745 564. yaitu 15. Tabel 3 menunjukkan rata-rata CAR dan NPL. Isu utama BUMN perbankan adalah adanya PBI No. Masing-masing bank BUMN ini memiliki fokus bisnis yang berbeda yaitu Corporate Banking. Peningkatan kinerja tersebut antara lain tercermin dalam peningkatan pencapaian pendapatan dan laba bersih perseroan. Commercial Banking dan Consumer Banking (Mandiri dan BNI).93% 2. Net Non Performing Loan (NPL).717 438.1.583 Adapun kinerja Bank BUMN tahun 2005 . Kinerja Operasional BUMN Perbankan Periode Tahun 2005-2009 CAR NPL Net Loan/Kredit (Rp Juta) DPK (Rp Juta) 2005 2006 2007 2008 2009 17.07% 6.9%. baik yang bersifat operasional maupun finansial.499. BRI dan BTN) yang semuanya merupakan BUMN Terbuka. Tabel 3.162. terjadi pertumbuhan aset yang cukup tinggi. pertumbuhan aset tersebut diikuti dengan peningkatan pertumbuhan laba bersih rata-rata 26. Dalam kurun waktu 5 tahun.2009 pada umumnya meningkat yang antara lain disebabkan Bank BUMN telah berhasil dalam melakukan restrukturisasi.II.03% 14.120 487.24% 19. Sektor Usaha Perbankan Terdapat 4 Bank BUMN (Mandiri. Kinerja operasional Bank BUMN tahun 2005-2009 tercermin dari tingkat Capital Adequency Ratio (CAR).593 804. 22 . serta total penyaluran pinjaman dan dana pihak ketiga yang dihimpun oleh 4 BUMN selama periode tahun 2005-2009.989 363. tingkat penyaluran pinjaman. 2. BNI.618.330.56% 1.599 478.

667 17.234 59. PT Taspen dan PT Asabri.118 63.8%. Keempat BUMN asuransi yang direncanakan akan dijadikan/ditunjuk sebagai badan penyelenggara jaminan sosial.Tabel 4. pertumbuhan aset tersebut diikuti dengan peningkatan pertumbuhan laba bersih rata-rata 27. PT Jamsostek.774 68.650 2007 15.588 Dalam kurun waktu 5 tahun.855 68.516 2006 12.484 Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih II. Adapun isu utama BUMN Sektor Asuransi adalah adanya Undang-undang Nomor 40/2004 tanggal 19 Oktober 2004 tentang Sistem Jaminan Nasional (SJSN) yang menetapkan perlu adanya Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Nasional.263 2006 624.039 13.965 79.144 2009 18.576 Prognosa 2009 938. 1 Sumber: Data publikasi diolah 23 .427 86.Sektor Usaha Asuransi Terdapat 10 (sepuluh) BUMN yang bergerak di sektor usaha asuransi.362 60. BUMN Asuransi mampu meningkatkan kinerja operasional yang tercermin dari peningkatan premi/iuran yang dihimpun. PT Taspen. Perkembangan Premi.380 88. PT Jiwasraya.088 104.186 8. PT Jasindo.943 61.038 97. Investasi.712 27. PT Asabri.484 38.054 49. data keuangan pokok BUMN Sektor Asuransi dapat dijelaskan dalam Tabel 6 di bawah ini.969 2007 742.877 10. PT Askes.2. Secara agregat. terjadi pertumbuhan aset yang cukup tinggi. PT Askrindo dan PT RUI. dan cadangan teknis. Selama periode tahun 2005-2009.557 109. yaitu 20. 2. adalah PT Askes.426 31. Gambaran mengenai kinerja operasional tersebut dapat dilihat pada tabel 5 berikut. dan Cadangan Teknis BUMN Asuransi Tahun 2005 – 2009 Rp Miliar Premi Investasi Cadangan Teknis 2005 11. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Perbankan Tahun 2005 – 20091 Rp Miliar 2005 563.989 92. Tabel 5. PT Jasa Raharja. dana investasi. PT Jamsostek.248 71.7%.688 75.566 45. dengan kemungkinan perubahan bentuk/status hukum BUMN tersebut.484 2008 851.602 6. PT ASEI.116 2008 19.

dan PT Kliring Berjangka Indonesia (kliring berjangka dan resi gudang).815 1.219 9. restrukturisasi lanjutan untuk penguatan likuiditas dan permodalan. maka PT PPA telah memperoleh PMN sebesar Rp 1.690 15. 2. Perum Jamkrindo (penjaminan kredit kecil). Sedangkan untuk PT Danareksa.719 21. Sementara itu. Perum Pegadaian.291 Prognosa 2009 147.5 Triliun pada tahun 2008 dan sebesar Rp 1 Triliun pada tahun 2009.318 2007 105. saat ini sesuai PP 61 tahun 2008 mendapat tambahan tugas untuk melakukan restrukturisasi dan revitalisasi BUMN. 24 .076 18.327 33. pengelolaan aset BUMN dan kegiatan investasi.728 2006 86. Terkait fungsi untuk melakukan restrukturisasi dan revitalisasi BUMN.793 36.561 6.548 Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih II.828 12. Perum Jamkrindo dan PT PNM terlibat intensif dalam penjaminan dan penyaluran kredit kecil/KUR yang memerlukan perhatian Pemerintah untuk menjaga kelayakan tingkat modal minimal apabila menghadapi kredit bermasalah.455 4. 5 BUMN lain di sektor ini meliputi PT Danareksa (sekuritas.606 2008 133. investasi dan manajemen investasi).Tabel 6. Masing-masing BUMN Usaha Jasa Keuangan memiliki karakteristik berbeda sehingga isu yang dihadapi juga berbeda-beda. Saat ini BUMN yang telah dan sedang dalam program restrukturisasi oleh PT PPA per 31 Desember 2009 adalah 17 BUMN.622 3. PT PANN Multi Finance saat ini dalam kondisi ekuitas negatif terkait beban bunga hutang SLA untuk proyek pesawat terbang dan kapal ikan yang merupakan penugasan pemerintah.026 25. perlu dilakukan mengingat PT Danareksa masih memiliki akumulasi kerugian yang cukup besar. PT PPA yang semula hanya mengelola aset eks BPPN. Selanjutnya PT Kliring Berjangka Indonesia memerlukan dukungan dari instansi terkait untuk kegiatan usaha resi gudang. Sektor Usaha Jasa Keuangan Terdapat 7 (tujuh) BUMN yang bergerak di sektor usaha jasa keuangan dan 1 (satu) perusahaan minoritas. Untuk Perum Pegadaian saat ini dalam proses pemerseroan.341 2. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Asuransi Tahun 2005 – 2009 Rp Miliar 2005 69.450 12. Sebagai contoh.212 2.3. PT PNM (jasa pembiayaan).

711 1. PT PP.4.423 2.076 5.380 1. 2.1%. Tabel 7. PT Indra Karya. serta keterbatasan dalam tenaga ahli.218 4. PT Nindya Karya. sedangkan total ekuiti per tahun tumbuh 27.6% per tahun.661 520 2006 13. PT Bina Karya.974 1.010 II.107 767 2007 16. PT Istaka Karya. Isu strategis yang dihadapi BUMN konstruksi antara lain meningkatnya kebutuhan modal kerja yang disebabkan oleh meningkatnya proyek yang diterima dan meningkatnya harga bahan baku yang menimbulkan tingkat hutang tinggi (leverage) sehingga mempengaruhi kinerja perusahaan. persaingan yang ketat dalam mendapatkan proyek baik proyek pemerintah maupun proyek swasta.6% per tahun dengan kenaikan laba yang meningkat rata-rata 25.963 3.553 7. Sektor Usaha Jasa Konstruksi BUMN Sektor Usaha Jasa Konstruksi terdiri dari 14 BUMN yang 2 (dua) diantaranya adalah BUMN Terbuka. PT Indah Karya. 25 . PT Virama Karya dan PT Yodya Karya.943 3.8% per tahun.7% per tahun dan laba bersih 19. sebagaimana terlihat pada Tabel 7 dibawah ini. PT Wijaya Karya. yaitu PT Rekayasa Industri. dengan rata-rata pertumbuhan aset 26.543 754 2008 22.133 5. PT Hutama Karya.Dalam 5 tahun terakhir terlihat adanya pertumbuhan laba. dari tahun 2005-2009. PT Amarta Karya.025 3. ditandai dengan kenaikan beberapa indikator kinerja keuangan utama sebagaimana terlihat dalam Tabel 8 sebagai berikut. Keempat belas BUMN tersebut adalah PT Adhi Karya. kinerja BUMN Sektor Usaha Jasa Konstruksi mengalami trend yang positif. Secara agregat. PT Waskita Karya. Periode 2005 – 2009. Disamping itu terdapat perusahaan konsruksi dimana kepemilikan negara adalah minoritas.198 973 Prognosa 2009 30. PT Brantas Abipraya. ekuitas dan aset BUMN Jasa Keuangan. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Jasa Keuangan Tahun 2005 – 2009 Rp Miliar Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih 2005 11. terjadi pertumbuhan aset BUMN Jasa Konstruksi rata-rata 21.

768 3.com dan Laporan Tahunan PT Kalbe Farma 26 .324 512 Prognosa 2009 23.274 2.548 1. Kecenderungan upaya merger/akuisisi perusahaan-perusahaan farmasi di Indonesia maupun global untuk langkah efisiensi dan pengembangan pasar.0% dan laba bersih rata-rata 23.163 295 2007 16. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Jasa Konstruksi Tahun 2005-2009 Rp Miliar 2005 10.666 3.018 4. Persaingan obat-obat kimia dengan obat-obat herbal dengan penitrasi pasar yang cukup tajam dan harga yang relatif lebih kompetitif.pfizer.5. c.2 b.0% per tahun dalam kurun waktu 2005-2009.384 180 2008 3.843 657 Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih II.737 19.607 16.934 118 2006 2. Isu-isu strategis yang dihadapi oleh BUMN farmasi meliputi antara lain : a.499 1.627 2. Total aset BUMN Farmasi meningkat rata-rata 13.478 254 2006 12. sebagaimana dapat dilihat dalam Tabel 9 di bawah ini.482 13. Sektor Usaha Industri Farmasi BUMN Sektor Usaha Farmasi meliputi 3 (tiga) BUMN yang 2 (dua) diantaranya berbentuk Persero Terbuka yang bergerak di bidang farmasi dan obat-obatan (PT Kimia Farma Tbk dan PT Indofarma Tbk) serta 1 (satu) BUMN yang bergerak di bidang produk vaksin yang sahamnya dimiliki 100% oleh Negara RI (PT Bio Farma).321 5.240 1.Tabel 8. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Farmasi Tahun 2005 .557 2.989 198 Prognosa 2009 3.342 2.763 29.148 1.2009 Rp Miliar Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih 2005 2. Dalam kaitannya Obat Generik BUMN Farmasi menghadapi masalah impor bahan baku dan harga beli Pemerintah terhadap Obat Generik. 2.832 145 2007 3.361 417 2008 20.083 267 2 Sumber: www.828 4.116 3.159 25.672 1. Tabel 9.

namun demikian dalam kurun waktu tersebut BUMN Sektor Aneka Industri belum mampu membukukan laba.468 119. PT IGLAS bergerak dalam industri gelas dan PT Garam bergerak dalam industri garam.948) Keterangan Total Aktiva Ekuitas Pendapatan/sales Laba/(Rugi) Bersih II.7. b. yaitu 4. Gambaran umum kinerja BUMN Aneka Industri 2004-2009 terlihat pada Tabel 10 sebagai berikut. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Aneka Industri Tahun 2005 . Sektor Usaha Aneka Industri BUMN Sektor Aneka Industri meliputi 4 (empat) BUMN yang terdiri dari 2 (dua) BUMN yang bergerak di bidang usaha TPT (Tekstil dan Produk Tekstil) yaitu PT Industri Sandang Nusantara (ISN) dan PT Primissima.261 557.II. Beban hutang cukup besar dan mengalami kesulitan likuiditas/modal kerja. PT KI Wijayakusuma. PT KBN.432) 2006 804. dan perlunya sinkronisasi kebijakan/regulasi antara Pusat dengan Daerah (pembebasan lahan/lokasi.661 (72. 1(satu) BUMN Perumahan. Perum Perumnas. Tabel 10. Alat-alat produksi relatif tua sehingga produktivitas rendah dan biaya perawatan tinggi sehingga mengurangi daya saing.221 (158. Selama 5 tahun terakhir.513 (94. Isu-isu strategis yang dihadapi oleh BUMN Kawasan Industri dan Perumahan antara lain adalah persaingan pembangunan perumahan oleh BUMN dengan swasta. dengan pertumbuhan 27 . yaitu hanya 3.2009 2005 876.302 554.168 441. PT PDIP Batam dan PT KI Medan.308 47. Beberapa isu strategis yang dihadapi oleh BUMN Aneka Industri antara lain : a. PT KI Makasar. dll).226 45.648 (53.014) 2008 874.210) Rp Juta Prognosa 2009 971.832) 473.0% per tahun. 2.3%. Sektor Usaha Kawasan Industri dan Perumahan BUMN Kawasan Industri dan Perumahan terdiri dari 5 (lima) BUMN Kawasan Industri. BUMN sektor Kawasan Industri dan Perumahan mengalami pertumbuhan aset yang cukup signifikan.6. perijinan.741 214. 2.543 (65.117) 2007 778.944 658.101 (97. Kenaikan total aset BUMN sektor Aneka Industri selama periode 2005 – 2009 sangat kecil. Disamping itu terdapat 3 perusahaan dengan kepemilikan negara minoritas.

319 2006 1.540) 2008 1. Tabel 11.335 66.479 2007 1.844.975. yang intinya memisahkan antara regulator dan operator sehingga akan berdampak negatif pada kinerja perusahaan pelayaran.1%. Kondisi armada angkutan yang sudah tua yang menggangu tingkat kenyamanan dan keselamatan penumpang.286 1.394 541.194. PT Djakarta Lloyd.744 992. PT Hotel Indonesia Natour. 28 .862. 17 Th 2008 tentang pelayaran. PT TWCBPB. organisasi dan SDM. PT ASDP. d. terlihat pada Tabel 11 sebagai berikut.8. Sektor Usaha Sarana Angkutan dan Pariwisata BUMN yang bergerak di sektor usaha sarana angkutan dan pariwisata terdiri dari 9 (sembilan) BUMN Sarana Angkutan dan 3 (tiga) BUMN Pariwisata. Isu Strategis BUMN Sarana Angkutan dan Pariwisata meliputi antara lain : a.9%.056 II.730 784. PT PELNI.033. c. Penyelesaian restrukturisasi perusahaan meliputi restrukturisasi hutang.469 (44. Pemberlakuan UU No. b.9% per tahun. Perum PPD.laba bersih 35. yakni PT Garuda Indonesia. Sekalipun demikian sampai dengan tahun 2008 BUMN sarana angkutan dan pariwisata masih merugi sekalipun dari tahun ke tahun kerugiannya menurun dan pada tahun 2009 telah memperoleh laba. Perum Damri. sedangkan pendapatan usaha tumbuh lebih baik yaitu 11. PT Merpati Nusantara.642 69.377 569. 2.286 614.543 547.317 1.827 977. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Kawasan Industri dan Perumahan Tahun 2005 – 2009 Rp Juta Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih 2005 1.817 795. Gambaran umum kinerja BUMN Sektor Usaha Kawasan Industri dan Perumahan tahun 2005–2009. Perkembangan kinerja keuangan BUMN Sektor Usaha Sarana Angkutan dan Pariwisata tahun 2004-2009 dapat dilihat dalam Tabel 12 sebagai berikut.035. PT Pelayaran Bahtera Adhiguna.965 Prognosa 2009 2. PT BTDC.035 79. BUMN Sektor Perhotelan mengalami kesulitan untuk melakukan pengembangan usaha karena kekurangan modal kerja dan pada umumnya bangunan hotel sudah tua serta mengalami kelebihan jumlah pegawai Aset BUMN sarana angkutan dan pariwisata tumbuh relatif kecil yakni rata-rata 9.882.794 59. PT Kereta Api Indonesia.

524.558. Perkembangan kinerja BUMN Sektor Prasarana Angkutan dapat dilihat dalam Tabel 13 sebagai berikut. Pemberlakuan UU No 17 tahun 2008 tentang Pelayaran. Tabel 13.565 (1.845 20.930 8.189) 2006 22. PT Pelindo I – IV dan 2 (dua) BUMN Kebandarudaraan.881 (67.797 1.595 10. Total aset BUMN sektor Usaha Prasarana Angkutan tumbuh 13. Investasi difokuskan kepada segmen usaha jasa layanan penumpang.838.381 Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih II.916 2.2% dengan pertumbuhan laba bersih mencapai 14.773. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Sarana Angkutan dan Pariwisata Tahun 2005-2009 Rp Juta 2005 20. PT Jasa Marga.220 2. PT Rukindo.367 Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih 29 . maka investasi untuk segmen usaha ATS dibatasi untuk investasi yang sangat prioritas. maka akan ada pemisahan antara operator dan regulator yang akan diatur oleh Badan Otoritas Pelabuhan b.168. dan 1 (satu) BUMN Operator Jalan Tol.357 31.534.544.753 2008 44.224. Pemberlakuan Undang-undang No.156.885.857 8.403 8.984 2007 39.220.430.900.976.883 27.581.455.957.421.119.591 29.700) 2008 29.706 3.458 6. Isu strategis yang dihadapi oleh BUMN Sektor Usaha Prasarana Angkutan antara lain : a.925.756.928) 2007 26.510 20. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Prasarana Angkutan Tahun 2005-2009 Rp Juta 2005 29.345 11.285.117. 2.881 Prognosa 2009 48. jasa pendaratan dan segmen usaha non aeronautika.094.546 9.750 2.236.905.167.156.157.915.330 14.259 11.269) Prognosa 2009 30.200 (641.669.9.218 23.1 th 2009 tentang penerbangan serta antisipasi pemisahan Air Traffic Services (ATS). Sektor Usaha Prasarana Angkutan BUMN Sektor Prasarana Angkutan terdiri dari 4 (empat) BUMN Kepelabuhanan.745.Tabel 12.1% per tahun.756.672 30.170.508 2006 31. PT Angkasa Pura I & II.955 3.061 33.771. 1 (satu) BUMN Pengerukan.818.342 (259.157 13.078.136 18.946 19.

dan Jasa Sertifikasi antara lain : a.292 7. d. meliputi PT Perusahaan Perdagangan Indonesia.967 153.6% dan aset tumbuh rata-rata 7.766. Perusahaan ini tidak dapat bersaing dan memiliki alat produksi yang sudah tua.575 (28. Sektor Usaha Logistik dan Jasa Sertifikasi Terdapat 10 (sepuluh) BUMN yang bergerak di Sektor Perdagangan.864 Prognosa 2009 24.051.631 28.164. khususnya jasa pengiriman kalah bersaing dengan perusahaan swasta.055. e. maka masalah cross ownership diantara keduanya perlu diseleisaikan.421. Perkembangan kinerja BUMN sektor perdagangan. Kinerja BUMN Perdagangan kurang optimal. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Logistik dan Jasa Sertifikasi Tahun 2005–2009 Rp Juta 2005 19.885 63.245 (493.569. pergudangan. Kinerja BUMN sektor perdagangan.243. BUMN sektor pergudangan terkendala dengan keterbatasan pendanaan untuk ekspansi usaha dan terkait erat dengan regulasi Pemda dan laju pengembangan daerah setempat c. dalam 5 tahun terakhir relatif berfluktuasi dengan kecenderungan tumbuh. PT Biro Klarifikasi Indonesia dan PT Survey Udara Penas.622 7. PT Varuna Tirta Prakasya.966. PT PP Berdikari. Untuk sektor Jasa Penilai di samping PT Sucofindo dan PT Surveyor Indonesia perlu bersaing dengan swasta.687 13. Bisnis utama PT Pos Indonesia. Pergudangan.184 7. Beban PSO yang ditanggung PT Pos tidak seimbang dengan dana kompensasi PSO dari Pemerintah. pergudangan. Isu strategis yang dihadapi BUMN Sektor Perdagangan. Pergudangan.438.1%. PT Surveyor Indonesia. distribusi dan jasa sertifikasi 2005–2009 mengalami pertumbuhan yang baik sebagaimana terlihat pada Tabel 14 sebagai berikut.581.672) 2006 17.061.019 2008 24. PT Banda Ghara Reksa.619 201. klien yang cukup banyak dan SDM yang kompeten b. namun BUMN Perdagangan memiliki beberapa kelebihan berupa jaringan pemasaran yang cukup luas.10. Hal ini ditunjukkan dengan rata-rata pertumbuhan pendapatan mencapai 20.730. Khusus PT Survey Udara.020. Tabel 14.243 5.692 4.II. 2. Saat ini pemisahan biaya antara PSO dan non PSO belum dapat dilaksanakan.124 14. Distribusi. PT Pos Indonesia.397. PT Sucofindo. PT Sarinah.082 16.702.168) Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih 30 .687 2007 22. Distribusi. distribusi dan jasa sertifikasi. Di samping tingkat kompetisi di sektor perdagangan dan masalah internal antara lain keuangan dan operasional.791 23. dan Jasa Sertifikasi. kinerja keuangannya sangat buruk dan mengalami kesulitan likuiditas.

684 1.074 2.790 9. Sebagian usia fasilitas pabrik sudah tua.236. Hal tersebut timbul karena keterlambatan replanting.148.288.d. Sektor Usaha Perkebunan BUMN Sektor Perkebunan terdiri dari 14 PT Perkebunan Nusantara (PTPN I s. Tabel 15.947.838 13. Produk dan produktivitas perkebunan pada umumnya rendah karena umur tanaman yang sudah tua dan komposisi tanaman tidak ideal. b. Keterbatasan areal lahan yang dikuasai PT Inhutani I-V. untuk itu perlu dilakukan holding. Kemampuan leverage secara umum rendah sehingga perlu dilakukan holding. Isu strategis yang dihadapi BUMN Sektor Perkebunan antara lain: a. Oleh 31 . Dengan pertumbuhan aset selama periode 2005 – 2009 ratarata sebesar 14. Sektor Usaha Kehutanan BUMN Sektor Kehutanan terdiri atas 6 (enam) BUMN yaitu PT Inhutani I s.817.507 2006 24.934 33.474.547 2007 29.12.283 12. V dan Perum Perhutani. d.230 7.688. Kemampuan untuk membiayai investasi rendah karena kemampuan leverage secara sendiri-sendiri sangat rendah.929.686.338.003. 2.560 1.392.420 1.400 II.2009 dapat dilihat pada Tabel 15. 2. investasi pada usaha kehutanan memerlukan time period yang cukup lama yaitu sampai dengan 7-8 tahun untuk dapat menikmati hasilnya. XIV) & PT RNI. b. sedangkan ekuitas meningkat rata-rata 16.d.328. Adapun perkembangan kinerja BUMN Sektor Perkebunan dari tahun 2005.335 Prognosa 2009 37.024.11.7%.9%.803. akibat adanya pencabutan areal kerja yang dikelola oleh Departemen Kehutanan pada awal tahun 2000-an.212. Isu strategis yang dihadapi BUMN Sektor Kehutanan antara lain: a.II.263 7. Kemampuan dan kualifikasi SDM belum memenuhi standardisasi.193 27.221.708.6% per tahun. Keterbatasan modal kerja.789 33.774 2008 34. c.124.532 2.544 20. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Perkebunan Tahun 2005-2009 Rp Juta Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih 2005 21.915.783 21. e. terjadi pula peningkatan laba bersih rata-rata 26.

671 2.814. Kondisi sosial lingkungan wilayah hutan yang belum mendukung sepenuhnya keamanan dan kelestarian hutan. Kinerja keuangan BUMN kehutanan cenderung membaik dalam 5 tahun terakhir. Isu strategis yang dihadapi BUMN Sektor Perikanan antara lain : a.810 2.736 II.054.760 103. Tabel Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Kehutanan Tahun 2005-2009 Rp Juta Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih 2005 2.660. dan PT Perikani. Pasar kayu HTI terbatas pada industri kertas dalam negeri.587. 2.894. Hal ini ditunjukkan dengan pertumbuhan laba bersih rata-rata 48. Banyak aktiva perusahaan yang tidak produktif.597 37. Perusahaan beroperasi belum normal sebagai dampak peleburan BUMN PT Tirta Raya Mina.490 41.681. c. Peralatan industri milik PT Inhutani yang sudah tidak sesuai lagi dengan produksi hasil hutan saat ini.131 Prognosa 2009 2.043 2007 2.603. Kondisi perusahaan secara keseluruhan kurang baik. Kondisi keuangan perusahaan sangat buruk dengan ekuitas negatif.530. Perkembangan kinerja keuangan BUMN Sektor Usaha Kehutanan tahun 20052009 terlihat dalam Tabel 16 sebagai berikut.404 2.sebab itu dunia perbankan sampai dengan saat ini belum ada yang mau menyalurkan modalnya di usaha kehutanan.087 1. d.934.510 1.904.379 1.104 2006 2. Sekalipun demikian.9%.652.839 118.746.352.13. karena desain awal industri ditujukan untuk produk kayu alam.187 2.487 2008 2.031 45. Jumlah dan umur armada serta modal kerja masih menjadi hambatan untuk kelancaran operasi.1% sedangkan ekuitas mengalami pertumbuhan negatif sebesar 1.732 2. pendapatan tumbuh 12.712. Sektor Usaha Perikanan Terdapat 2 (dua) BUMN yang bergerak di sektor usaha perikanan yaitu Perum Prasarana Perikanan Samudra (PPS) dan PT Perikanan Nusantara. aset belum tumbuh secara optimal karena hanya tumbuh 0.601 1. c. 32 .9%.9%.451 1. sehingga diperlukan penanganan khusus dari BUMN pengelola hutan.055. Tabel 16. Paska penggabungan perusahaan perikanan belum beroperasi dengan baik b. e. PT Usaha Mina.

Aset mengalami pertumbuhan rata-rata 6. Perum Peruri. ekuitas negatif karena mengalami rugi terus-menerus.8% sedangkan laba bersih cenderung berfluktuasi. Sektor kompetitif dan daya saing sangat rendah karena .204 (16.263) Keuangan BUMN Sektor Usaha Perikanan Rp Juta Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih 2006 147. PT Balai Pustaka. Perum PNRI. Percetakan dan Penerbitan antara lain : a.463) 98. 2.294 (253) Prognosa 2009 202. sedangkan BUMN kertas memiliki mesin yang sudah tua dan kesulitan bahan baku serta permodalan c. Percetakan dan Penerbitan terdiri dari 2 (dua) BUMN Kertas.457) 123. Percetakan dan Penerbitandalam 5 tahun terakhir berfluktuasi. PT Pradya Paramita.304 82.459 (15.037) 103.232 (11. PT Kertas Leces dan 4 (empat) BUMN Percetakan dan Penerbitan.Kinerja BUMN perikanan masih memprihatinkan meskipun terdapat perkembangan positif dalam beberapa aspek. Perkembangan kinerja keuangan BUMN Sektor Usaha Perikanan terlihat sebagaimana dalam Tabel 17 sebagai berikut. Pemerintah telah mencabut hak ekslusif pada BUMN untuk mencetak dan mengedarkan buku pelajaran sehingga saat ini sektor percetakan dan penerbitan bersifat kompetitif. d. struktur permodalan kurang sehat. mesin sudah cukup tua sehingga beban pemeliharaan tinggi .907) 2008 198. 33 . Perkembangan Kinerja Tahun 2005-2009 2005 102.14. Percetakan dan Penerbitan BUMN Sektor Usaha Kertas.955) 2007 197.223 II. BUMN Sektor Usaha Kertas. Tabel 17.116 (22.613 (77. PT Kertas Kraft Aceh.112 (21. Hal ini ditunjukkan dengan pertumbuhan aset mencapai 20.224) 156.5%. pendapatan mengalami pertumbuhan 10.592 72. dan kesulitan memperoleh pasokan gas b.472 (1. Isu strategis yang dihadapi BUMN Sektor Kertas. Industri kertas sudah sangat kompetitif. Skala usaha yang relatif sangat kecil dan eksistensi BUMN Percetakan dan penerbitan Kinerja BUMN Kertas.563 2.1% meskipun masih menderita ekuitas negatif.

Sedangkan apabila HPB lebeih rendah. pemeliharaan saluran irigasi dan daerah aliran sungai (DAS). d.Perkembangan kinerja keuangan BUMN Sektor Usaha Kertas. Terdapat kekurang”fair”an SK penetapan HPB oleh Menkeu. HPB yang ditetapkan Pemerintah lebih rendah dari total biaya yang dikeluarkan oleh Bulog. Akibatnya umur ekonomis dari sarana/prasarana tersebut semakin pendek dan sering terjadi banjir.743.344) Prognosa 2009 3. PT Jasa Tirta I & II.862.818. Percetakan dan Penerbitan dapat dilihat dalam Tabel 18 sebagai berikut.163 2.289 2008 3.863. maka kelebihannya harus disetor ke kas Negara.717.319) Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih II.568 47.15.578. dan Perum Bulog.367 347.964. Untuk BUMN Pupuk. Seyogianya kekurangan tersebut selayaknya diganti Pemerintah selaku pemberi tugas. 2 (dua) BUMN Pengairan. sangat tergantung pada adanya subsidi benih. penetapan harga pembelian beras (HPB) oleh Pemerintah untuk kebutuhan raskin ditetapkan berdasarkan besarnya dana subsidi raskin yang ditetapkan dalam APBN dan bukan atas dasar kalkulasi biaya yang dikeluarkan untuk pengadaan dan penyaluran raskin. usia pabrik sudah tua serta kurangnya pasokan gas. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Percetakan dan Penerbitan Rp Juta 2005 2. sehingga Bulog mengalami kerugian.871 492. PT PUSRI. Apabila subsidi benih dihilangkan maka BUMN bisa merugi.130.929 2. Isu strategis yang dihadapi BUMN Sektor Penunjang Pertanian antara lain: a.771 1. tarif jasa air yang ditetapkan Pemerintah (Menteri PU) masih dibawah tingkat keekonomiannya (tidak ekonomis) sehingga perusahaan tidak memperoleh dana yang cukup (dari pendapatan jasa air) untuk membiayai pemeliharaan prasarana/sarana yang dikelola sehingga seperti pengerukan sedimentasi bendungan. Untuk Perum Jasa Tirta I & II. Untuk Perum Bulog.927 241. kekurangannya menjadi kerugian Bulog. PT SHS dan PT Pertani. Sektor Usaha Penunjang Pertanian BUMN Sektor Usaha Penunjang Pertanian terdiri dari 1 (satu) BUMN Pupuk. 2.581. 34 .653) 2007 3. 2 (dua) BUMN Perbenihan. yakni apabila HPB lebih tinggi dari biaya yang dikeluarkan.518 (145. b.628 (110. Tabel 18.728 1.482.045 294. c. Untuk BUMN Perbenihan.071 2.565) 2006 3.406 (123.222 (16.694 616.

299 17.646. leverage dan nilai perusahaan yang sampai saat ini masih dalam tahap pembahasan. Diantara isu strategis BUMN Pertambangan adalah rencana pembentukan BUMN Pertambangan yang terintegrasi (IRC) melalui pembentukan Holding Company guna meningkatkan skala ekonomis.732 39.956 II.601. Sektor Usaha Pertambangan dan Semen BUMN Sektor Usaha Pertambangan dan Semen terdiri dari 7 BUMN yaitu 4 (empat) BUMN Sektor Pertambangan.529. 2.126.296. PT Aneka Tambang.098.073.224. PT BB Bukit Asam.473.6% per tahun.934 15. PT Sarana Karya. PT Semen Baturaja dan PT Semen Kupang.255 17.586. PT Timah.719. Perkembangan kinerja keuangan BUMN Sektor Pertambangan dan Semen dapat dilihat pada Tabel 20 sebagai berikut. Perkembangan kinerja keuangan BUMN Sektor Usaha Penunjang Pertanian terlihat sebagaimana dalam Tabel 19 sebagai berikut. Pertumbuhan tersebut diikuti dengan peningkatan ekuitas rata-rata 22. Sedangkan isu strategis yang dihadapi BUMN Semen adalah optimalisasasi holding BUMN Semen (PT Semen Gresik Group Tbk) dengan melakukan pemisahan aset (spin off) PT Semen Gresik Tbk dan pengembangan usaha PT Semen Baturaja guna meningkatkan kapasitas produksi.3% yang diikuti dengan pertumbuhan laba bersih 28.379 1.9% per tahun dengan pertumbuhan laba bersih yang cukup tinggi.136 2006 21.9% per tahun.Selama periode 2005 – 2009 BUMN sektor Usaha Penunjang Pertanian mengalami pertumbuhan aset sebesar 13.049.148.835 Prognosa 2009 32.837 2. Pada periode 2005 – 2009.568.184.074 9. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Penunjang Pertanian Tahun 2005-2009 Rp Juta Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih 2005 20.935 2007 24.553.337 868.701 12.942 8.994.730 39.581 2.806 2008 33. dan 3 (tiga) BUMN Semen.399 11. Tabel 19.16. PT Semen Gresik.122 24.297. yaitu 38. 35 .962 897.9% per tahun. BUMN sektor Pertambangan dan Semen dapat meningkatkan total aset dengan rata-rata pertumbuhan 13.

Tabel 20.

Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Pertambangan dan Semen Tahun 2005-2009 Rp Juta
2005 197.834.182 81.918.469 329.958.353 9.069.349 2006 225.610.789 134.420.344 371.854.949 22.081.547 2007 279.771.590 161.505.091 420.952.937 33.186.800 2008 321.841.157 169.361.679 585.867.650 35.566.054 Prognosa 2009 329.413.225 171.453.926 374.807.089 19.496.734

Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih

II. 2.17. Sektor Usaha Industri Strategis BUMN sektor usaha Industri Strategis terdiri dari 2 (dua) BUMN Industri Pertahanan, PT Dahana dan PT Pindad, 3 (tiga) BUMN Baja dan Konstruksi Baja, PT Krakatau Steel, PT Boma Bisma Indra, PT Barata Indonesia, 1 (satu) BUMN Industri Kereta Api, PT INKA, 1 (satu) BUMN Kedirgantaraan, PT Dirgantara Indonesia dan 4 (empat) BUMN Dok Perkapalan, PT Dok Kodja Bahari, PT Dok & Perkapalan Surabaya, PT PAL Indonesia, PT Indusri Kapal Indonesia. Isu-isu strategis yang dihadpi oleh BUMN Sektor Usaha Industri Strategis adalah : a. b. c. d. e. Keterbatasan pendanaan, sehingga pengembangan usaha berjalan sangat lambat. Tingginya ketergantungan kepada bahan baku impor. Skala usaha dan kapasitas produksi yang masih rendah, sehingga belum efisiensi yang berdampak pada lemahnya daya saing. Prasarana dan saran produksi yang relatif telah berusia tua dan ketinggalan teknologi yang memerlukan dana cukup besar untuk revitalisasi dan alih teknologi. Kondisi keuangan perusahaan yang sudah mengkhawatirkan, sehingga menyulitkan untuk akses ke sumber pendanaan dan untuk mendapatkan order pekerjaan (PT Barata Indonesia, PT Boma Bisma Indra, PT Dirgantara Indonesia, PT PAL Indonesia, PT Dok dan Perkapalan Kodja Bahari, PT Industri Kapal Indonesia). Perkembangan kinerja BUMN Sektor Industri Strategis dari tahun 2005-2009 terlihat dalam Tabel 21. Pada periode 2005 – 2009, BUMN sektor Usaha Industri Strategis dapat meningkatkan total aset dengan rata-rata pertumbuhan 9,3% per tahun, yang juga diikuti dengan pertumbuhan ekuitas rata-rata 15,8% per tahun. Pada tahun 2006 dan 2007 BUMN Sektor Industri Strategis masih mengalami kerugian, namun pada 2 tahun terakhir sudah mampu membukukan laba.

36

Tabel 21.

Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Industri Strategis Tahun 2005-2009 Rp Juta
2005 15.982.193 3.566.036 15.062.416 228.707 2006 18.305.011 4.404.781 15.780.303 (237.971) 2007 19.790.843 4.364.670 18.638.017 (181.194) 2008 24.724.658 4.646.064 25.398.892 373.554 Prognosa 2009 22.169.961 4.823.251 21.274.755 400.863

Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih

II. 2.18. Sektor Usaha Energi dan Sumber Daya Alam BUMN Sektor Usaha Energi terdiri dari 5 (lima) BUMN, PT PLN, PT Pertamina, PT PGN, PT Batan Teknologi dan PT EMI. Dengan pertumbuhan aset selama periode 2005 – 2009 rata-rata mencapai sebesar 12,4% per tahun, sedangkan ekuitas meningkat rata-rata sebesar 1,0 %. Isu-isu strategis yang dihadapi oleh BUMN sektor usaha energi antara lain : a. Produk yang dihasilkan berhubungan dengan hayat hidup orang banyak (mengemban tugas Public Service Obligation/PSO), sehingga penetapan harga/tarif masih diatur oleh Pemerintah. b. Perlunya dilakukan restrukturisasi secara menyeluruh (PT Pertamina, PT Perusahaan Listrik Negara), baik organisasi maupun usaha, termasuk anak-anak perusahaan agar operasional perusahaan lebih efisien dan efektif. c. Investasi untuk pembangunan pembangkit listrik baru (PT Perusahaan Listrik Negara) membutuhkan waktu dan dana yang sangat besar, sehingga kebutuhan masyarakat terhadap listrik belum terpenuhi sebagaimana harapan. Adapun perkembangan kinerja keuangan BUMN Sektor Usaha Energi adalah sebagaimana Tabel 22 sebagai berikut.
Tabel 22. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Energi Tahun 2005-2009 Rp Juta
2005 236.310.016 146.049.529 85.011.144 (3.588.986) 2006 266.199.786 147.756.069 114.944.477 452.330 2007 297.965.615 145.186.024 127.013.989 (3.758.415) 2008 322.428.217 138.119.760 184,268,485 (9.962.804) Prognosa 2009 376.484.955 151.239.966 166.361.897 13.040.486

Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih

37

II.

2.19.

Sektor

Usaha

Telekomunikasi,

Media

dan

Industri

Penunjang

Telekomunikasi BUMN yang bergerak di sektor usaha telekomunikasi terdiri dari 5 (lima) BUMN, PT Telkom, PT INTI, PT LEN Industri, Perum LKBN Antara, Perum Perusahaan Film Negara. Perkembangan kinerja keuangan BUMN Sektor Usaha Telekomunikasi adalah sebagaimana Tabel 22. Isu strategis yang dihadapi oleh BUMN sektor usaha telekomunikasi antara lain : a. b. Saat ini terdapat 10 perusahaan operator telepon seluler di Indonesia yang berdampak pada perang tarif dan tingkat persaingan yang sangat ketat. Untuk pengembangan infrastruktur dan layanan telekomunikasi dibutuhkan dana yang sangat besar, sementara dengan ketatnya persaingan menuntut setiap operatoe untuk melakukan efisiensi secara ketat. Kepemilikan asing dalam industri telekomunikasi terkait dengan masalah naionalisme dan karena telekomunikasi termasuk industry yang menguasai hayat hidup orang banyak. Ketatnya persaingan dan banyaknya alat-alat komunikasi yang masuk ke Indonesia dari luar negeri, mengancam keberadaan perusahaan industri peralatan telekomunikasi Indonesia (PT Industri Telekomunikasi Indonesia). Pada periode 2005 – 2009, BUMN sektor Usaha Industri Strategis dapat meningkatkan total aset dengan rata-rata pertumbuhan 11,3% per tahun dengan pertumbuhan laba bersih yang cukup tinggi, yaitu 6,2% per tahun. Pertumbuhan tersebut diikuti dengan peningkatan ekuitas rata-rata 12,6% per tahun.
Tabel 22. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Telekomunikasi Tahun 2005-2009 Rp Juta
2005 63.176.678 23.871.848 42.528.270 8.012.347 2006 76.301.596 28.651.835 52.220.931 11.017.141 2007 83.230.795 34.276.989 60.496.862 12.854.898 2008 92.500.325 34.847.399 62.020.947 10.623.901 Prognosa 2009 96.378.922 38.092.656 48.617.237 9.324.478

c.

d.

Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih

II. .3. Penerapan Tata Kelola Perusahaan Yang Baik (GCG) Dalam melaksanakan tugas dan fungsi perencanaan dan evaluasi penerapan tata kelola perusahaan yang baik (GCG) di BUMN, Kementerian BUMN telah melakukan halhal sebagai berikut :

38

11 5. Hal ini berarti. yakni 48.13 32.50 8. Dari jumlah 32 BUMN yang tersisa tersebut diharapkan dapat diselesaikan pada tahun 2010.8). Kegiatan monitoring GCG dalam rangka fungsi pembinaan dan pengawasan kepada BUMN . II. sehingga masih tersisa 32 BUMN yang belum dilakukan assessment.d. baik 31. secara umum penerapan GCG pada BUMN masih perlu peningkatan dalam kualitas penerapan prinsip-prinsip GCG-nya. Assessment GCG Pelaksanaan assessment GCG sampai akhir tahun 2009 mencapai 109 BUMN dari 141 BUMN.95%.00 Tabel di atas menunjukkan skor hasil assessment GCG murni sebagian besar dalam kategori cukup. Untuk terus mendorong penerapan prinsip-prinsip GCG di BUMN serta untuk menyesuaikan dengan best practice penerapan GCG dalam dunia usaha. Hasil Asessment GCG pada BUMN Sampai Tahun 2009 Jumlah BUMN Grade / Tingkat Predikat Range Score sd 31 Des 2007 Sangat baik Baik Cukup Kurang Sangat Kurang 90 < X < 100 75 < X < 90 60 < X < 75 50 < X < 60 X < 50 0 < X < 100 29 44 9 9 91 s. II.3.a. 3.3. Tabel 23.1 s. maka telah dilakukan upaya-upaya yang lebih intensif terhadap implementasi GCG di BUMN (dengan hasil kegiatan sebagaimana dikemukan di butir II.91%. dari “sangat baik” sampai dengan “sangat kurang” sebagaimana terlihat pada Tabel 23 sebagai berikut. yaitu telah melaksanakan Program Assessment 39 .14%.d. 3. Re-Assessment GCG Re-assessment perlu dilakukan untuk mengetahui perkembangan pelaksanaan GCG pada BUMN yang masih dianggap perlu peningkatan. sedangkan yang berkategori kurang secara kumulatif sebanyak 19. Re-assessment GCG ditujukan kepada BUMN yang memenuhi kriteria. b. Kualitas penerapan GCG dapat dikelompokkan ke dalam 5 kategori/tingkatan capaian aktual penerapan GCG.1.2.26 100. 31 Des 2008 30 46 9 9 94 sd 31 Des 2009 59 35 6 9 109 0 % 1 2 3 4 5 Jumlah 54. II.

II.4. Hal tersebut ditunjukkan dengan peningkatan skor GCG hasil self assessment dibandingkan dengan skor hasil assessment GCG murni sebelumnya. 5 BUMN yang telah melakukan reassessment tersebut berhasil melaksanakan langkah-langkah perbaikan yang signifikan sehingga kualitas penerapan GCG mengalami peningkatan dibandingkan dengan hasil assessment sebelumnya. Pelaksanaan self assessment oleh BUMN telah memicu perbaikan signifikan dalam penerapan GCG di BUMN. sedangkan terjadi penurunan skor GCG pada 1 BUMN. Program assessment GCG yang dicanangkan oleh Kementerian BUMN telah meningkatkan perbaikan kualitas penerapan prinsip-prinsip GCG pada BUMN. sebanyak 5 BUMN telah menyelesaikan reassessment GCG. yaitu PT Sarinah. Dari 25 BUMN yang melaksanakan self assessment secara mandiri.GCG. sebanyak 24 BUMN mengalami peningkatan kualitas dalam penerapan prinsip-prinsip GCG-nya. II. yaitu BUMN tersebut telah melaksanakan assessment GCG tahun 2005 dan sebelumnya. Sampai dengan tahun 2009 jumlah BUMN yang telah direview berjumlah 47 BUMN. 3. Hasil-hasil program assessment GCG kualitas diharapkan dapat ditindaklanjuti secara konsekuen oleh BUMN. perolehan skor GCG-nya rendah (70<). namun penurunan skor tersebut tidak menurunkan kategori penilaian sebelumnya (kategorinya tetap “Baik”). Sampai dengan tahun 2008. terdapat 27 BUMN yang melakukan self assessment GCG dan hasilnya telah dilaporkan kepada Kementerian BUMN. dan Perum Bulog dan PT Asuransi Jasa Indonesia. Upaya perbaikan terutama pada aspek kebijakan GCG dan pelaksanaan GCG di Direksi dan Dewan Komisaris. Karena penerapan GCG dijadikan indikator kinerja utama dalam penilaian kinerja BUMN (Key Performance Indicator).3. PT Bhanda Ghara Reksa. PT Asuransi Jasa Raharja. Sedangkan sebanyak 7 BUMN lainnya masih dalam proses pelaksanaan oleh assessor. 40 . Review Tindak Lanjut Hasil Assesment GCG Review dilakukan terhadap BUMN yang memenuhi kriteria. Self Assessment GCG (Mandiri) Sampai dengan tahun 2009. dan Assessment-nya dilakukan dalam 2 tahun terakhir (2007-2008). dan perolehan skor di atas 70. 3.

prinsip dan nilai ekonomis manajemen risiko korporasi dan keterkaitan dengan GCG dan internal audit. II. II. Evaluation Tools atas Internal Control dan Risk Management Tim Koordinasi dan Monitoring GCG melakukan kajian atas evaluation tools atas internal control (COSO Framework) yang terdiri dari 5 (lima) alat evaluasi. BUMN yang telah menyerahkan jawaban kuesioner sebanyak 21 BUMN. 3. dan (4) pembelajaran melalui studi kasus. sesuai dengan 5 (lima) komponen internal control dan contoh pengisian dalam evaluation tools tersebut.5. sebagai berikut: 41 . Point of Focus merepresentasikan isu-isu yang relevan dengan masing-masing komponen pengendalian internal yang dievaluasi. Sampai dengan saat ini. Hasil monitoring penerapan GCG melalui kuesioner tersebut akan diolah untuk memberikan informasi mengenai penerapan GCG pada BUMN tersebut. II. 3. Evaluasi atas internal control terdiri dari “point of focus” dan penjelasan/komentar. Tidak seluruh Point of Focus ini relevan dengan setiap entitas.II. (3) key risk indicators sebagai early warning system bagi korporasi. (2) kerangka kerja internal manajemen risiko korporasi dari sudut pandang COSO. Pengkajian Penyempurnaan Evaluation Tools Penerapan GCG Sejak tahun 2001 sampai dengan tahun 2008 ini. Materi pelatihan meliputi : (1) konsep.7. serta hal-hal yang dapat dijadikan bahan pembelajaran bagi BUMN lainnya. Pelatihan Risk Management dan Internal Control System Tujuan pelatihan risk management dan internal control system adalah untuk memberikan pemahaman atas penerapan program risk management dan internal control system sebagai satu kesatuan program yang terintegrasi dengan pelaksanaan GCG di BUMN. 3. dan mencatat komentar-komentar yang relevan.8. Perkembangan kriteria penilaian GCG dilakukan sejalan dengan Program Assessment GCG Kementerian Negara BUMN. Monitoring GCG melalui Kuesioner Tim Koordinasi dan Monitoring GCG telah menyebarkan kuesioner untuk pengumpulan data penerapan GCG pada 50 BUMN. 3. kriteria assessment penerapan GCG di lingkungan BUMN telah mengalami perkembangan dan perubahan sebagai konsekuensi perkembangan praktik GCG yang dinamis.6. Penjelasan/komentar disediakan untuk mencatat suatu penjelasan bagaimana masalah-masalah yang ditekankan dalam point of focus diterapkan pada entitas yang dinilai.

a. Scorecard Penilaian GCG 224 parameter merupakan kriteria assessment yang pertama kali dan digunakan sebagai kriteria assessment GCG pada 16 BUMN pada tahun 2001. b. Sejalan dengan terbitnya Keputusan Menteri BUMN Nomor :KEP-117/MBU/2002 tentang Penerapan GCG pada BUMN, Scorecard Penilaian 224 parameter mengalami pengembangan kriteria menjadi 256 parameter (Scorecard Penilaian 256 parameter). Pengembangan kriteria tersebut pada tahun 2002 khususnya terkait dengan materi mengenai Komite di tingkat Dewan Komisaris. c. Selanjutnya pada tahun 2004, Kementerian Negara BUMN menerbitkan kriteria assessment penerapan GCG sebagai hasil ADB Project. Kriteria assessment GCG ADB Project terdiri atas 81 parameter dengan menggunakan kuesioner. d. Penyempurnaan Scorecard Penilaian GCG 256 parameter. Pada tahun 2006, Kementerian Negara BUMN dan BPKP menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) Nomor: MOU-03/MBU/2006 –MOUKerjasama Percepatan

199/K/D5/2006 tanggal 14 Februari 2006 tentang

Pemberantasan Korupsi Dan Penerapan Tata Kelola Perusahaan Yang Baik Di Lingkungan Badan Usaha Milik Negara. Kerjasama tersebut merupakan upaya kedua belah pihak agar peningkatan kualitas penerapan GCG melalui program assessment GCG dan revieu tindak lanjut hasil asessment GCG dilakukan secara

berkesinambungan. Tekad Kementerian BUMN untuk memiliki standar penilaian GCG disambut oleh BPKP dengan memberikan masukan penyempurnaan scorecard Penilaian GCG 256 parameter melalui: Re-klasifikasi parameter sesuai tanggung jawab dan wewenang Organ BUMN dan aspek penilaian berdasarkan TOR Kementerian BUMN, dan mengeliminasi duplikasi/pengulangan parameter yang secara subtantif menjadi tanggung jawab dominan pada salah satu Organ BUMN. Perbaikan teknik pembobotan aspek penilaian GCG, indikator dan parameter penilaian GCG yang dilakukan dengan menilai tingkat pengaruh parameter terhadap indikator dan tingkat pengaruh indikator terhadap aspek-aspek penilaian GCG. Langkah-langkah penyempurnaan tersebut menghasilkan Scorecard Penailaian GCG 160 parameter yang dicakup dalam 50 indikator dan 5 aspek penilaian GCG. Reklasifikasi, eliminasi dan perbaikan teknik pembobotan membawa dampak positif terhadap penilaian yang tidak lagi redundency. Scorecard Penilaian GCG 160 42

parameter tersebut disepakati oleh Kementerian BUMN cq Staf Ahli Bidang Tata Kelola Perusahaan dan BPKP sesuai Kesepakatan Bersama tanggal 19 Oktober 2006, sebagai metodologi assessment penerapan GCG di lingkungan BUMN yang dilakukan oleh BPKP. Scorecard Penilaian GCG 160 parameter ditetapkan sebagai standar penilaian GCG di lingkungan BUMN sesuai surat Sekretaris Kementerian Negara BUMN Nomor :S-168/MBU/2008 tanggal 27 Juni 2008 tentang Assessment Program GCG di BUMN, dan dengan disampaikannya surat tersebut kepada BUMN maka surat Sekretaris Kementerian Negara BUMN Nomor :S-612/S.MBU/2005 tanggal 19 Oktober 2005 dinyatakan tidak berlaku. II. 3.9. Penyusunan Kriteria Penilaian GCG Tingkat Lanjutan Kriteria penilaian GCG di lingkungan BUMN dengan Scorecard Penilaian GCG 160 parameter disadari merupakan penilaian pada tahap pembentukan infrastruktur GCG dan pelaksanaan internalisasi, sehingga lebih menitikberatkan pada aspek kelengkapan infrastruktur GCG dan aspek kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan. Selama pelaksanaan monitoring pelaksanaan assesssment GCG tahun-tahun sebelumnya (sejak tahun 2006), tanggapan dan masukan mengenai parameter penilaian GCG telah diperoleh baik dari Konsultan maupun dari pihak BUMN. Tanggapan dan masukan tersebut selanjutnya akan dibahas Tim Koordinasi dan Monitoring dan jika diperlukan diteruskan kepada BPKP sebagai bahan kajian perbaikan parameter penilaian GCG. Selanjutnya perlu tahapan yang lebih tinggi yakni tahap lanjutan dalam penilaian penerapan GCG dengan fokus pada bagaimana infrastruktur GCG yang telah dibangun bekerja dan memberikan hasil pada peningkatan nilai perusahaan secara optimal. Pada tahap ini perlu dibuat parameter penilaian yang berorientasi hasil (results).

II. 4. Program Kemitraan dan Bina Lingkungan II.4.1. Program Kemitraan Tahun 2005 - 2009 a. Realisasi Penyaluran Dana Program Kemitraan Program Kemitraan adalah program program untuk meningkatkan kemampuan usaha kecil agar menjadi tangguh dan mandiri melalui pemanfaatan dana dari bagian laba BUMN. Adapun sumber Dana Kemitraan yaitu:

43

1) 2)

Penyisihan laba setelah pajak maksimal sebesar 2% (dua persen). Jasa administrasi pinjaman/marjin/bagi hasil, bunga deposito dan/atau jasa giro dari dana Program Kemitraan setelah dikurangi beban operasional.

3)

Pelimpahan dana Program Kemitraan dari BUMN lain, jika ada.

Program Kemitraan selain dilaksanakan melalui penyaluran dana bergulir juga pemberian dukungan non material kepada para mitra binaannya diantaranya yaitu: 1) 2) 3) Pembentukan cluster mitra binaan Pemberian dukungan pelatihan dan keterampilan Pemberian kesempatan untuk melakukan promosi pada event-event nasional maupun internasional. Program kemitraan ditujukan bagi usaha kecil yaitu memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 200.000.000,- (dua ratus juta rupiah), tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha atau memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp 1.000.000.000,- (satu milyar rupiah) serta masih berstatus non bankable.

Realisasi penyaluran pinjaman dan hibah selama tahun 2004-2006 sebagai berikut:
(Rp Juta)
No. 1 2 Uraian Penyaluran Pinjaman Hibah Total 2004 478,201.00 60,961.00 539,162.00 2005 554,016.00 66,596.00 620,612.00 Tahun 2006 2007 536,855.00 584,363.00 40,911.00 72,731.00 577,766.00 657,094.00 2008 1,194,230.00 105,664.00 1,299,894.00 Prognosa 2009 1,312,577.00 197,095.00 1,509,672.00

Grafik penyaluran dana Program Kemitraan tahun 2004 - 2009:

Prognosa 2009

44

328.417 b.585 6.146 Sd 2007 5.101 640. sebagian besar diserap oleh sektor perdagangan (38%) kemudian oleh sektor Industri (22%). Realisasi Penyaluran Pinjaman menurut Sektor Usaha Rata-rata Penyaluran dana Program kemitraan dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2009 jika ditinjau dari kelompok sektor usaha mitra binaan.292 596. sektor Perkebunan dan Pertanian (9%). 2009 8.Sedangkan total akumulasi dana Program Kemitraan tahun 2006 sampai dengan tahun 2009 sebagai berikut: (Rp Juta) No Pinjaman Hibah Total Sd 2006 5.713 55.332 872. sector Peternakan dan Perikanan (10%).961.655 669.907 55. 45 . sektor Jasa (19%).367 35.534 39.134 Sd.143.344 9.691 493.456.919.364.984 560.949.676 Realisasi mitra binaan dalam 5 tahun terakhir disajikan sebagai berikut: No Uraian 2005 2006 2007 2008 Prognosa 2009 1 2 3 Unit UKM Outstanding Akumulasi 446.087 47.240 Sd 2008 7.012 146.249 7. dan sektor lainnya (2%).619.885 775.194 121.346 113.854 5.

3%).4%).5%).3% Riau & Kepri 3. Bengkulu (0.6% Sulbar & Sulsel 3. NAD 3.8% Jabar 13.9 %) dan di Irian Jaya & Papua ( 1.3% Kalbar 1.0% NTB 1. Kalimantan Barat (1.3% DISTRIBUSI DANA PROGRAM KEMITRAAN Sumut 7.2 %).8%). Sumatra Selatan dan Babel ( 5.5% DIY 2.9%). Di Sulawesi Barat dan Selatan ( 3.8%).3% Jambi 1.0% Banten 2.9% Sulteng 0. NTT (2.2% Gorontalo 0.5% 46 . Realisasi Distribusi Pinjaman Dana Program Kemitraan Dalam mendistribusikan dana Program Kemitraan Bina Lingkungan. Bali (2.2% ). Sulawesi tengah (0. Sumatra utara ( 7.4% Maluku Utara 0.1% Sumbar 2.1% Bali 2. DKI Jakarta ( 8. Sumatra Barat (2.5% Kaltim 7. Maluku ( 1.3%).2% Maluku 0.3% Sultra 0. perikanan dan peternakan antara lain : 1) Kebutuhan pendanaan untuk pengembangan usaha di sektor tersebut relatif cukup besar. Jawa Tengah ( 9.6%).5%) Kalimantan Tengah (0.7%). 3) Keterbatasan kemampuan pengelola PKBL dalam melakukan pembinaan sektor tersebut.3% Sulut 2. Sulawesi Utara 2 %.2% Kalteng 0. Jawa Timur (13%).5%).4% NTT 2.4% Jatim 13. Kementerian BUMN menunjuk BUMN Koordinator wilayah pada tiap propinsi untuk tugas kooordinasi pelaksanaan penyaluran dana PKBL di tiap propinsi .6% DKI Jakarta 8. Untuk Kalimantan.7 % Irjabar & Papua 1. c. Dalam distribusi penyaluran dana PKBL pada 33 propinsi di Indonesia daerah Jawa Barat yang terbesar menerima pinjaman yaitu (13. Alokasi dana penyaluran ditetapkan sesuai dengan rencana kegiatan anggaran BUMN.1% Kalsel 2. Lampung (2%).4%) .1%).3%) Kalimantan Selatan ( 2.8% Sumsel & Babel 5. penerima distribusi pinjaman PKBL yang terbesar adalah Kalimantan Timur (7.1%).8% Lampung 2.2% Jateng 9.9% Bengkulu 0. NTB (1. 2) Resiko usaha di sektor tersebut relatif cukup tinggi mengingat usaha sangat tergantung pada kondisi alam.Beberapa penyebab rendahnya penyerapan sektor perkebunan.

2) Bantuan pendidikan dan pelatihan.76 Triliun dari total penyaluran nasional Rp. Jumlah penyaluran dari 5 BUMN Dari jumlah dana tersedia Pertamina mempunyai kontribusi terbesar yaitu 1. adalah program pemberdayaan kondisi sosial masyarakat oleh BUMN melalui pemanfaatan dana dari bagian laba BUMN. Total penyaluran dari lima BUMN tersebut mencapai 2. Bantuan diberikan oleh BUMN berdasarkan proposal/permohonan yang disampaikan masyarakat maupun atas inisiatif/program kerja BUMN itu sendiri. 2) Hasil bunga deposito dan atau jasa giro dari dana Program BL. misalnya keterbatasan SDM.9.693 triliun. Bank Mandiri. keahlian/pengetahuan. PT Bank BRI. II. Berdasarkan Peraturan Menteri BUMN Nomor PER-05.19 Triliun atau sebesar 12% dari jumlah dana yang tersedia secara nasional. Pelaksanaan penyaluran dilakukan secara langsung kepada objek penerima bantuan. dan sebagainya.2. BUMN wajib melaksanakan survey untuk memastikan kebenaran. BUMN dengan Tingkat Jumlah Penyaluran Dana Kemitraan Terbesar Kinerja pelaksanaan Program Kemitraan.MBU/2007 ruang lingkup program Bina lingkungan berupa : 1) Bantuan korban bencana alam. 4) Bantuan pengembangan prasarana dan atau sarana umum. 47 . dan PT. Adapaun sumber dana Program Bina Lingkungan yaitu: 1) Penyisihan laba setelah pajak maksimal sebesar 2% (dua persen). efisiensi biaya.2009 a. Program Bina Lingkungan Tahun 2005 . PT Jasa Raharja. 3) Bantuan peningkatan kesehatan.d. 6) Bantuan pelestarian alam. Terhadap objek bantuan.4. secara keseluruhan sangat dipengaruhi oleh kinerja penyaluran dari lima BUMN yaitu PT Pertamina. Telkom. termasuk tingkat efektivitas penyaluran dana kemitraan. 5) Bantuan sarana ibadah. namun tidak menutup kemungkinan bekerja sama dengan pihak lain berdasarkan kondisi/pertimbangan tertentu. Realisasi Penyaluran Dana Program Bina Lingkungan Program Bina Lingkungan. PT.

Mengingat dana yang terbatas. jembatan. pusat kesehatan masyarakat desa dan penyediaan air bersih. Bina Lingkungan BUMN Peduli telah berpartisapasi aktif dalam berbagai penanggulangan bencana alam antara lain bencana Tsunami Aceh. gempa bumi Jogjakarta. 48 . Penyaluran dana Bina Lingkungan per tahun serta akumulasi dana Bina Lingkungan sampai dengan tahun 2009 disajikan sebagai berikut: (Rp Juta) Prognosa 2009 b. bencana Situ Gintung dan bencana gempa di Jawa Barat. BUMN wajib pula memperhatiakn azas pemerataan dalam penyaluran. Program bantuan untuk bencana dilaksanakan dalam 2 tahap yaitu tahap tanggap darurat berupa bantuan sembako. Realisasi Program Bina Lingkungan BUMN Peduli Kementerian BUMN bersama BUMN melaksanakan program Bina Lingkungan BUMN Peduli yang merupakan program bina lingkungan yang dilakukan secara bersamasama antar BUMN dan pelaksanaannya ditetapkan dan dikoordinir oleh Menteri BUMN. obat-obatan dan perawatan selama periode darurat dan tahap rehabilitasi yang merupakan bantuan pasca bencana.kebutuhan dan kewajaran permintaan bantuan. Selama kurun waktu tahun 2005 sampai dengan 2009. sekolah dan sarana ibadah. banjir besar Jakarta. gempa bumi di Padang dan Bengkulu. Fokus Program Bina Lingkungan BUMN peduli pada tahap rehabiitasi adalah pembangunan sarana umum dan pemulihan ekonomi masyarakat antara lain pembangunan pasar.

MTs dan SMA berupa pelatihan mengajar Fisika secara gampang. tujuannya terutama untuk siswa putus sekolah agar mendapat pelatihan guna mendapat pekerjaan.Pada tahun 2008 Disamping membangun fasilitas umum. 49 . Program Bina Lingkungan BUMN Peduli tahun 2009 berupa bantuan pendidikan beasiswa pendidikan dan pelatihan yaitu pemberian beasiswa untuk S1. dengan demikian diharapkan fisika menjadi pelajaran yang menyenangkan. asik dan menyenangkan. garment dan keterampilan lainnya. bantuan diberikan dalam bentuk bea siswa dan bantuan buku kepada siswa sekolah. Buku-buku yang disumbangkan kepada sekolah didaerah lokasi Gempa berupa buku-buku referensi penunjang pelajaran dan majalah-majalah sains agar dapat membantu meningkatkan pengetahuan umum siswa. otomotive. mulai SD sampai dengan SMA. bantuan untuk pelatihan tetap dilaksanakan. bengkel. Bentuk pelatihan lain diberikan pula kepada guru guru SMP. Dalam rangka membantu mengurangi tingkat penganguran. Selain program bea siswa pendidikan untuk pendidikan formal. Disamping itu program ini juga untuk mahasiswa kurang mampu yang akan menyelesaikan program pendidikannya. BUMN Peduli telah membuat program BUMN peduli pendidikan dan pelatihan dalam bentuk memberikan pelatihan keterampilan praktis seperti Balai Latihan Kerja Industri (BLKI) dibidang las. Program ini sangat membantu guru-guru dalam memberikan metode lain pengajaran Fisika pada siswa. S2 dan S3 yang direncanakan akan dikerjasamakan dengan pihak Universitas Negeri.

84 Triliun pada tahun 2009.98 Triliun. BUMN juga terus mengalami perbaikan dalam menerapkan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance/GCG) yang yang ditunjukkan dengan peningkatan pencapaian skor hasil assessment dengan kategori Baik. BUMN telah memberikan kontribusi yang relatif besar kepada Negara. BUMN juga menyumbangkan kontribusi pajak.15% dan 11.04 Triliun per tahun atau mengalami peningkatan rata-rata sekitar 25% per tahun. Disamping kontribusi Dividen.78 Triliun dan Rp 72. 50 .57 Triliun dan Rp 25.77 Triliun pada tahun 2005 menjadi Rp 110. yang dalam periode 20042008 mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi yaitu rata-rata sekitar 18% per tahun dengan sumbangan rata rata sebesar Rp 61. Sedangkan dana Bina Lingkungan yang telah disalurkan oleh BUMN selama kurun waktu 2005-2009 seluruhnya mencapai sebesar Rp 1.65 Triliun per tahun.Kinerja seluruh BUMN selama periode waktu 2005-2009 terus mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan terlihat dari pertumbuhan asset dan Ekuitas masing-masing dari Rp 1.150. yaitu berupa dividen rata-rata dividen sebesar Rp 23. Selanjutnya pertumbuhan Laba Usaha dan Laba Bersih masing-masing dari Rp 82.417 orang/unit kerja.03 Triliun dan Rp 566. Sedangkan dalam kurun waktu 2005-2009 capaian Return on Assets (RoA) dan Return on Equity (RoE) rata-rata mencapai 3. Selanjutnya kontribusi BUMN terhadap pengembangan usaha kecil melalui Program Kemitraan dan Bina Lingkungan.291.20%.06 Triliun pada tahun 2005 menjadi Rp 2.25 Triliun dan Rp 370. maka dalam kurun waktu tahun 20052009 BUMN telah menyalurkan dana Program Kemitraan sebesar Rp 8.56 Triliun dengan akumulasi jumlah mitra binaan sampai dengan tahun 2009 mencapai 640.03 Triliun pada tahun 2009.

disadari bahwa perlu dilakukan upaya-upaya pembinaan lebih lanjut untuk lebih meningkatkan kinerja dan nilai BUMN tersebut. menunjukkan lebih dari 97% dari total aset dan laba bersih serta 92% ekuitas dan 87% penjualan seluruh BUMN. tahun 2008 menjadi 87 BUMN. 25 BUMN Besar per Desember 2008. DPR (Komisi VI dan Komisi XI) dan dalam berbagai kesempatan dan seminar juga telah disampaikan rencana jumlah dan skala BUMN yang lebih ideal (rightsizing). tahun 2009 menjadi 69 BUMN. mungkin bukan merupakan 51 . Sebenarnya jumlah BUMN sebanyak 141 BUMN seperti sekarang ini. karena berdasarkan data yang ada. Kementerian Keuangan. Kajian-kajian yang telah dilakukan terhadap beberapa sektor menggunakan DIPA Kementerian BUMN dan biaya perusahaan selama tahun 2005-2009 adalah Sektor Perkebunan. Sektor Pertambangan serta Sektor Dok dan Perkapalan. Sektor Farmasi. Sektor Konstruksi. Berdasarkan ketentuan yang ada. Namun demikian. Sektor Industri Strategis. dalam rangka sosialisasi Master Plan BUMN Tahun 2005-2009. Holding PT RNI. Secara umum dari data-data yang disajikan terlihat bahwa pertumbuhan aset BUMN tidak/kurang agresif. mengharuskan adanya kajian bersama antara Menteri BUMN dan Menteri Keuangan (Menteri Teknis jika diperlukan). dan modal perusahaan tumbuh lebih lambat serta return relatif masih rendah karena selama ini sebagian besar kegiatan BUMN dibiayai dari dana eksternal/hutang. sampai dengan akhir 2009 memang belum dapat dilakukan sepenuhnya. untuk mendapatkan jumlah dan skala yang lebih ideal (rightsizing). telah disampaikan Master Plan tersebut kepada pihak-pihak terkait yaitu antara lain Kantor Kementerian Perekonomian. tindakan/kegiatan penataan jumlah dan skala BUMN menuju jumlah dan skala yang lebih ideal (rightsizing) sebagaimana telah dikemukakan dalam Master Plan BUMN Tahun 2005-2009 yaitu tahun 2007 menjadi 102 BUMN.BAB III RENCANA DAN PELAKSANAAN PROGRAM PEMBINAAN BUMN TAHUN 2005-2009 Selama kurun waktu tahun 2005-2009 Kementerian BUMN telah melakukan berbagai upaya pembinaan BUMN untuk meningkatkan kinerja dan nilai BUMN. Di samping itu. Kegiatan restrukturisasi yang salah satu pokok utamanya adalah regrouping/konsolidasi BUMN secara sektoral untuk memetakan kembali jumlah dan skala usaha masing-masing BUMN/sektor tersebut.

Beberapa opsi untuk rightsizing tersebut secara garis besar dapat digambarkan sebagai berikut Stand Alone. 4) Keberadaannya berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku dan umumnya captive market. program rightsizing tersebut tetap berpegang pada asas-asas yang telah disepakati dalam konstitusi yaitu Pasal 33 Undang-undang Dasar 1945. Stand Alone Kebijakan stand alone (BUMN tetap seperti sediakala) diterapkan untuk mempertahankan keberadaan BUMN-BUMN tertentu utamanya yang memiliki salah satu kriteria sebagai berikut: 1) Market share cukup signifikan dan mengandung unsur keamanan. III. 3) Belum memiliki potensi untuk dimerger ataupun holding. Holding. Selanjutnya. 52 .2009 III. 2) Single player atau masuk sebagai pemain utama.1 Rencana Program Tahun 2005 . Secara garis besar. terutama mengenai keberadaan BUMN. tata cara dan model penataan perlu dikaji secara obyektif dengan mengedepankan kepentingan jangka panjang BUMN dan perekonomian nasional.masalah sepanjang memiliki kinerja yang baik yang memberikan konstribusi yang terus tumbuh dalam perekonomian nasional. dan Likuidasi Rencana program rightsizing tahun 2005-2009 atas masing-masing opsi dapat disampaikan sebagai berikut : a. Divestasi. Strategi rightsizing tersebut telah digariskan oleh Kementerian BUMN untuk memperbaiki struktur bisnis BUMN secara menyeluruh dalam rangka mencapai jumlah dan skala BUMN yang lebih ideal.1. Merger/Konsolidasi.1 Rencana Rightsizing Tahun 2005-2009 Pencapaian jumlah dan skala BUMN yang lebih ideal (rightsizing) merupakan inti dari program restrukturisasi sektoral tahun 2005-2009.

5) Pemerintah merupakan pemilik mayoritas. 53 . 2) Kompetisi tinggi. tingkat kompetisi yang tinggi. Beberapa kriteria utama BUMN-BUMN yang akan di-holding adalah sebagai berikut: 1) Sektor usaha sama. Dalam Master Plan BUMN Tahun 2005-2009 terdapat 11 Sektor BUMN (27 BUMN) yang dilakukan merger/konsolidasi (Lampiran 7.1. 4) Masih ada prospek/ bisnis prospektif. c. Secara garis besar kriteria untuk BUMN-BUMN yang akan di-merger atau konsolidasi adalah sebagai berikut: 1) Jenis usaha dan segmen pasar sama. prospek bisnis yang cerah dan kepemilikan Pemerintah yang masih dominan. Merger/Konsolidasi Kebijakan ini dilakukan untuk mencapai struktur yang prospektif bagi BUMN yang berada dalam sektor bisnis yang sama dengan pasar yang identik dan kepemilikan Pemerintah 100%. 3) Kompetisi tinggi. 5) Going Concern diragukan.a) b. namun masih memiliki potensi untuk digabung dengan BUMN lain. 3) Mayoritas saham dimiliki Pemerintah. 2) Jenis usaha dan segmen pasar berlainan.1. Holding Pembentukan holding menjadi pilihan yang rasional untuk BUMN yang berada dalam sektor yang sama namun memiliki produk maupun sasaran pasar yang berbeda.c). terdapat 35 BUMN yang masuk kriteria stand alone (Lampiran 7. 4) Kinerja tergolong kurang baik.1. Dalam Master Plan BUMN Tahun 2005-2009 terdapat 8 Sektor BUMN (48 BUMN) yang dilakukan holding (Lampiran 7.Dalam Master Plan BUMN Tahun 2005-2009.b).

Likuidasi Kebijakan likuidasi dilakukan untuk BUMN-BUMN yang tidak memiliki kewajiban PSO.1. Alternatif ini dilakukan sesuai dengan kriteria dalam Undang-undang Nomor 19 tahun 2003 dan Peraturan Pemerintah Nomor 33 tahun 2005. 6) Tidak bergerak di sektor tertentu yang oleh pemerintah diberikan tugas khusus untuk melaksanakan kegiatan tertentu yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat. 5) Tidak mengelola sumber daya alam yang menurut ketentuan peraturan perundangan tidak boleh diprivatisasi. Beberapa BUMN yang termasuk dalam kategori ini antara lain BUMN Sektor Angkutan Darat dan Aneka Industri. Divestasi Kebijakan ini diutamakan bagi investor dalam negeri atau melalui proses akuisisi dan/atau merger/konsolidasi oleh BUMN lain. Disamping itu terdapat kriteria tambahan yaitu: 1) Berbentuk Persero. 3) Bidang usahanya menurut Undang-undang tidak secara khusus harus dikelola oleh BUMN. 4) Tidak bergerak di sektor pertahanan dan keamanan.d. 54 . skala usaha kecil. berada dalam sektor yang kompetitif. Dalam Master Plan BUMN Tahun 2005-2009 terdapat 27 BUMN yang masuk kriteria divestasi (Lampiran 7.d). 7) Memenuhi ketentuan/peraturan pasar modal apabila privatisasi dilakukan melalui pasar modal. 2) Berada pada sektor usaha atau industri yang kompetitif atau unsur teknologinya cepat berubah. e. Hal ini dilakukan untuk mencegah kerugian BUMN lebih lanjut. mengalami kerugian selama beberapa tahun dan mempunyai ekuitas yang negatif.

sesuai kebijakan yang dilakukan dalam 5 tahun terakhir. Sosialisasi PTP serta Pelaksanaan PTP. III. tahun 2008 sebanyak 15 BUMN. Sepanjang tahun 2007 – 2011 telah dimasukkan program privatisasi.3 Program Kewajiban Pelayanan Umum (Public Service Obligation PSO) Tahun 2005 .III. jo Peraturan Pemerintah 59 Tahun 2010.1. maka prosedur privatisasi meliputi : Penyusunan Program Tahunan Privatisasi (PTP). dan 2009-2011 sebanyak 11 BUMN (Lampiran 7.1. Pemilihan-pemilihan BUMN tersebut untuk diprivatisasi sesuai dengan ketentuan/peraturan yang ada meliputi antara lain. Sesuai dengan pasal 66 UU nomor 19/2003 tentang BUMN. Pembahasan PTP untuk mendapatkan Arahan Komite Privatisasi dan Rekomendasi Menteri Keuangan. Di samping itu. Pemerintah dapat menugaskan penyediaan fasilitas pelayanan umum tersebut kepada BUMN dengan tetap memperhatikan maksud dan tujuan kegiatan BUMN yaitu sebagai unit usaha yang ditugaskan untuk memupuk keuntungan dan menyetor bagian keuntungan (deviden) kepada Negara. industri kompetitif atau kepemilikan negara minoritas.2). 55 . maka hasil privatisasi diutamakan untuk kepentingan dan pengembangan BUMN. Konsultasi dengan DPR untuk mendapatkan persetujuan.2009 Kewajiban Pelayanan Umum (Public Service Obligation .2009 Sesuai dengan Undang-undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang BUMN dan Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2005 tentang Tata Cara Privatisasi.2 Rencana Privatisasi Tahun 2005 . Untuk tahun 2007 sebanyak 24 BUMN. Penyediaan fasilitas pelayanan umum oleh Pemerintah adalah merupakan amanat dari pasal 34 ayat (3) UndangUndang Dasar 1945 yang menegaskan bahwa Pemerintah bertanggung jawab atas fasilitas kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak.PSO) adalah kewajiban dunia usaha termasuk BUMN untuk melaksanakan penyediaan fasilitas pelayanan umum berdasarkan penugasan dari Pemerintah (Kementerian/Lembaga).

yang dilaksanakan setiap tahun.PSO).dalam arti apabila penugasan (yang wujudnya berupa penyediaan barang dan jasa tertentu yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat) tersebut menurut kajian tidak fisibel. legislatif. substansi dan peran strategis program PSO. - 56 . Kementerian BUMN telah menetapkan arah Kebijakan Program Kewajiban Pelayanan Umum (Public Service Obligation . Penyusunan Rancangan Peraturan Menteri Negara BUMN tentang Model Pemisahan Administrasi Pembukuan Kegiatan Kewajiban Pelayanan Umum dari Kegiatan Komersial di BUMN. Penyusunan Rancangan Peraturan Presiden (Perpres) tentang Kerangka Dasar (Grand Design) dan Prosedur Operasional Baku (Standard Operating Procedure/SOP) Pelaksanaan Kewajiban Pelayanan Umum oleh BUMN. Dalam rangka mewujudkan amanat UUD 1945 dan UU No. Evaluasi atas Laporan pelaksanaan PSO-BUMN tahun lalu. yudikatif dan BUMN) terkait dengan pengertian. Mewujudkan sistem dan prosedur baku yang bersifat teknis operasional dalam pelaksanaan PSO. maka Pemerintah harus memberikan kompensasi atas semua biaya yang telah dikeluarkan oleh BUMN termasuk margin yang diharapkan. - - Penjabaran atas arah kebijakan tersebut diatas dituangkan dalam bentuk Program Kerja Utama sebagai berikut: - Pembahasan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya PSO-BUMN tahun yang akan datang. yang dilaksanakan setiap tahun. 19/2003 tersebut diatas. Menerapkan analisa ” risk management ” dalam pelaksanaan PSO. yang dilaksanakan setiap tahun. yaitu: - Mewujudkan kesamaan persepsi stakeholder (Eksekutif. prinsip. Monitoring (on the spot) Pelaksanaan PSO-BUMN tahun yang lalu. Mengupayakan penurunan peran PSO secara selektif dalam pengaturan ekonomi berdasarkan perkembangan kondisi sosial ekonomi masyarakat dan kebijakan Pemerintah.

dan optimalisasi aset-aset tidak produktif melalui “pola kerjasama” dengan pihak ketiga terhadap aset-aset yang idle/underutilized untuk menciptakan nilai tambah dan “pola penghapusbukuan” terhadap asetaset yang secara ekonomis tidak menguntungkan untuk tetap dipertahankan. kegiatan pengelolaan aset dimaksud telah dilakukan oleh Direksi BUMN yang meliputi : penggunaan aset-aset produktif sebagai prasarana/sarana produksi. dalam kenyataannya masih terdapat aset-aset BUMN yang idle/belum termanfaatkan secara optimal.1. Sinergi BUMN dalam rangka optimalisasi aset-aset BUMN masih belum banyak dilakukan. Unit organisasi tersebut diharapkan dapat mendukung - - kebijakan Kementerian BUMN dalam melakukan langkah-langkah pembinaan dan pengawasan atas kegiatan pengelolaan aset oleh Direksi 57 .III. Namun demikian. Terdapat beberapa peraturan dan kebijakan sektoral yang diterbitkan oleh instansi/lembaga/pemerintah daerah yang cenderung menyebabkan upaya optimalisasi aset oleh BUMN menjadi tidak mudah untuk dilakukan.4 Program Optimalisasi Aset BUMN Tahun 2005-2009 Aset BUMN merupakan bagian dari kekayaan negara yang sudah dipisahkan dan disertakan pada BUMN untuk dikelola dan dimanfaatkan secara optimal oleh Direksi BUMN dalam rangka menghasilkan barang dan/atau jasa sesuai dengan maksud dan tujuan pendirian masing-masing BUMN. sebagai kelengkapan unit yang menangani penghapusbukuan/pelepasan asset BUMN. Hal ini terkait keterbatasan informasi dan koordinasi antar masing-masing BUMN. Sampai dengan saat ini. Dalam rangka mengantisipasi berbagai persoalan yang kemungkinan timbul dalam pengelolaan asset. pada tahun 2006 Kementerian BUMN membentuk unit organisasi yang khusus menangani pendayagunaan asset. Beberapa permasalahan yang menjadi kendala optimalisasi aset BUMN tersebut antara lain : Belum adanya ketentuan dan prosedur baku mengenai optimalisasi aset BUMN (baik pendayagunaan maupun pemindahtanganan) yang dapat digunakan sebagai dasar konsep bagi Direksi BUMN dan dasar penetapan kebijakan oleh Kementerian BUMN (selaku Pemegang Saham) yang dapat diaplikasikan dan sesuai ketentuan/peraturan umum terkait yang berlaku saat ini.

Laporan BUMN dikumpulkan dalam bentuk hardcopy. dan penyajian. sehingga dalam master plan dimuat rencana tiga tahun ke depan untuk infrastruktur sistem informasi/teknologi informasi. setelah dibentuknya unit organisasi yang menangani Pendayagunaan Aset pada tahun 2006. Monitoring Berkala 2007 konsultan 2008 2009 Keterangan selesai 2007 belum realisasi selesai 2009 belum realisasi belum realisasi terealisasi internal internal internal internal internal internal internal internal III. aplikasi. digital dokumen. Penelitian Manfaat PA 6. Tata kelola teknologi informasi mencakup SDM/organisasi. telah disusun rencana pelaksanaan pengelolaan aset sebagai berikut : Rencana Kegiatan / Tahun 1. pengolahan. Menyusun Kajiaan SOP 2. Dalam pelaksanaan pengelolaan asset BUMN. tata laksana/proses. serta pendokumentasian laporan BUMN. Menyusun Surat Edaran 4. dan teknologi. dan pengembangan SDM teknologi informasi.BUMN yang mengarah pada konsep efisiensi dalam penggunaan sumber daya dan pengelolaan resiko. kebijakan teknologi informasi. pengoperasian. Pemetaan Aset Idle 5. Sedangkan untuk untuk memenuhi kebutuhan data dan informasi yang lengkap. telah disusun master plan teknologi informasi Kementerian BUMN tahun 20062009 yang berisi road map dan action plan per tahun berkaitan dengan tata kelola teknologi informasi yaitu perencanaan. cepat.5 Program Pengembangan Teknologi Informasi Tahun 2005-2009 Sebagai acuan arah pengembangan teknologi informasi. dan relevan dilakukan pengumpulan. dan e-reporting (rincian program terlampir pada Lampiran 10). 58 . pemeliharaan. Menyusun Ketentuan Baku 3. dan evaluasi/pengedalian.1. pengembangan.

belum seluruh BUMN dilakukan kajian dan masih diperlukan koordinasi beberapa instansi terkait. Sektor BUMN Farmasi Kegiatan Telah dilakukan kajian yang berkoordinasi dengan PT Mandiri Sekuritas pada tahun 2005 bersama-sama dengan Deputi Teknis.2009 III. sesuai dengan Undang-undang Nomor 2 Tahun 2009 telah menjadi Lembaga Ekspor Indonesia yang pembinaan dan pengawasan di bawah Menteri Keuangan. Restrukturisasi Sektoral dalam rangka perampingan BUMN untuk mencapai jumlah dan skala BUMN yang lebih ideal (rightsizing). BUMN Dok dan Perkapalan 59 . Rencana Rightsizing 139 BUMN menjadi 102 BUMN pada tahun 2007.2009 a. Merger/Konsolidasi Terhadap 11 sektor BUMN yang direncanakan akan dimerger/ konsolidasi dalam Master Plan Tahun 2005-2009. 1). telah dilakukan kajian beberapa sektor BUMN sebagai berikut: No 1). sesuai dengan Inpres Nomor 5 Tahun 2008 tentang fokus program ekonomi tahun 2008-2009 karena beberapa hal antara lain.III.1 Pelaksanaan Restrukturisasi Tahun 2005 . 87 BUMN pada tahun 2008 dan 69 BUMN tahun 2009 (sebagaimana lampiran) secara umum belum dapat dilaksanakan termasuk pergeseran jumlah dan skala BUMN yang lebih ideal (righsizing). Stand Alone Terhadap 35 BUMN besar dalam Master Plan BUMN Tahun 2005-2009 dalam pelaksanaannya menjadi 34 BUMN. Telah dilakukan kajian yang berkoordinasi dengan PT Sucofindo Appraisal Utama pada tahun 2008 dengan rekomendasi : Holding BUMN Dok dan Perkapalan dengan terlebih dahulu dilakukan restrukturisasi internal 2). 2). rekomendasi : Konsolidasi usaha melalui peleburan KAEF dan INAF adalah lebih baik dibandingkan dengan struktur konsolidasi usaha lainnya.2.2 Pelaksanaan Program Tahun 2005 . Adapun PT Bank Ekspor Indonesia yang semula berada dalam BUMN dengan kriteris Stand Alone.

Sektor Kehutanan : Inhutani I-V & Perhutani Kegiatan Sudah dilakukan kajian oleh E&Y pada th 2003. PP. Waskita. HK. Perkebunan : PT PN I-XIV & RNI 3). Nindya.No 3). 2). Untuk sektor perdagangan. Sektor BUMN Perbankan dan Jasa Keuangan Kegiatan Telah dilakukan kajian awal pembentukan holding Perbankan dan Jasa Keuangan bersama deputi Teknis. Brantas. 5 BUMN konsultan divestasi. namun masih diperlukan kajian lebih lanjut. Konsultan Hukum & Perpajakan yang ditunjuk oleh BUMN Pertambangan dan dikoordinir oleh Deputi PISET. Amarta 4). WIKA. dimana hal tersebut juga dalam rangka menindaklanjuti PBI Nomor 8/16/2006 tentang Kepemilikan Tunggal pada Perbankan Indonesia Telah dilakukan kajian restrukturisasi BUMN Perkebunan oleh Konsultan Independen PT Danareksa Sekuritas & PT Bahana Securities tahun 2005 dengan rekomendasi pembentukan satu holding (satu perusahaan induk) Konsultan PT Primus Sarana Artha Consultan Hasil kajian : 9 BUMN konstruksi menjadi 4-5. 5 BUMN konsultan masuk ke BUMN konstruksi. Sedangkan 5 sektor lainnya belum dilakukan kajian antara lain disebabkan karena belum dapat dimasukkannya dalam rencana anggaran DIPA Kementerian BUMN dan sebagian sektor BUMN yang telah dimasukkan dalam anggaran DIPA tidak berhasil dilakukan kajian karena dalam proses pelelangan yang dilaksanakan oleh Tim lelang Kementerian BUMN tidak ada konsultan yang memenuhi kriteria dan adanya keterbatasan waktu untuk diulang kembali. Kontruksi: Adhi. kehutanan telah dilakukan kajian awal oleh konsultan independen. 9 BUMN konstruksi jadi 6 BUMN. Holding Untuk BUMN-BUMN/ sektor yang direncanakan akan dilakukan/dimasukkan dalam kegiatan holding telah dilakukan kajian sebagai berikut : No 1). 3). Telah dilakukan kajian oleh Citigroup. Istaka. Pertambangan PT BA. ANTAM TIMAH : & 60 . pertanian. namun konsultan independen mengundurkan diri. Rapat forum BUMN karya.

namun konsultan independen mengundurkan diri karena tidak dapat menyelesaikan pekerjaannya sesuai waktu yang ditentukan. PT PAL. Sedangkan untuk PT BBI direkomendasikan untuk likuidasi atau alternatif lain adalah pembentukan Strategic Holding Company (SHC). Selanjutnya manajemen PT BUMN Holding melakukan langkahlangkah konsolidasi internal (merger. Sebagai gambaran tentang rencana pembentukan super holding dapat disampaikan sebagai berikut: Alternatif I : Top Down/ Secara Sekaligus Super Holding dibentuk melalui pendirian Satu Perusahaan Induk (PT BUMN Holding) yang penyertaannya berasal dari inbreng penyertaan Negara RI pada 141 BUMN. maka telah pula dilakukan kajian mengenai pembentukan Super Holding dengan 3 alternatif pendekatan seperti dikemukakan dibawah ini. Sedangkan untuk sektor pelayaran telah dilakukan kajian awal oleh konsultan independen. Untuk sektor kawasan. pendekatan yang digunakan dalam pendekatan holding pada akhirnya bukanlah pembentukan super holding melainkan pembentukan holding secara sektoral. rekomendasi : revitalisasi bagi PT KS (revitalisasi.No 5). divestasi perusahaan anak & privatisasi). Namun demikian. sektor kebandarudaraan dan sektor pelabuhan belum dilakukan kajian antara lain disebabkan karena belum dapat dimasukkan dalam rencana anggaran DIPA Kementerian BUMN dan sebagian sektor BUMN yang telah dimasukkan dalam anggaran DIPA tidak berhasil dilakukan kajian karena dalam proses pelelangan yang dilaksanakan oleh Tim lelang Kementerian BUMN tidak ada konsultan yang memenuhi. Sektor BUMN Industri Strategis Kegiatan Telah dilakukan kajian yang berkoordinasi dengan KAP Aryanto Amir Jusuf & Mawar tahun 2005 bersama-sama dengan Deputi Teknis. Khusus mengenai holding. PT INKA dan PT Barata Indonesia. likuidasi dll) - 61 . akuisisi. holding sektoral.

Holding Karya dll. Holding Farmasi. mengkaji dan menyusun kebijakan2 strategis tentang investasi/pengembangan serta strategic procurement pada sub2 Holding.  Mengkoordinasikan program investasi dan pengembangan serta strategic procurement sub2 Holding.  Mengevaluasi pelaksanaan investasi dan pengembangan dan strategic procurement pada sub2 Holding. mengkaji dan menyusun kebijakan-kebijakan yang menyangkut masalah2 keuangan dan pendanaan untuk investasi/pengembangan dan strategic procurement. Setelah Holding Sektoral terbentuk.  Mengkoordinasikan penyusunan sistem perencanaan dan pengelolaan keuangan serta sistem akuntansi keuangan. Keuangan  Merencanakan. dan 62 . farmasi. Holding Pertambangan. - Alternatif III : Fokus BUMN2 Besar dan Sektoral Yang Sudah Selesai Kombinasi holding sektoral yang relatif sudah selesai (perkebunan.  Mengevaluasi pelaksanaan sistem perencanaan pengelolaan keuangan pada sub2 holding. dll) dan BUMN2 besar Dalam kajian tersebut. Investasi dan Pengembangan  Merencanakan.Alternatif II: Bottom Up/ Secara Sektoral (Approach yang dijalankan bertahap selama ini) Pembentukan Super Holding dilakukan secara bertahap melalui pembentukan Holding-Holding sektoral misal Holding Perkebunan. fungsi-fungsi yang ditangani “Super Holding” antara lain: Perencanaan Korporasi. pertambangan. maka dilanjutkan dengan pembentukan Super Holding BUMN(PT BUMN Holding).

PT Sucofindo. PT Sarana Karya.3% saham PT BNI pada tahun 2007 yang masuk dalam Program Tahunan Privatisasi Tahun 2007. PT Semen Baturaja. PT Asuransi Jiwasraya. PT Virama Karya. Namun pelaksanaan divestasi hanya dapat dilakukan terhadap 2 BUMN yaitu divestasi 5. PT Pengerukan Indonesia. BUMN PT Garuda Indonesia Keterangan semula direncanakan divestasi melalui strategic sale.  Mengkoordinasikan sitem administrasi dan analisa seluruh informasi serta sistem perencanan dan pengembangan SDM pad sub2 holding  Mengevaluasi kebijakan-kebijakan sistem dan teknologi informasi pad sub2 holding. PT Indah Karya. namun dalam perjalanannya berubah menjadi privatisasi melalui IPO melalui penerbitan saham baru dan telah mendapat persetujuan DPR tahun 2009 Dilakukan restrukturisasi / penyehatan oleh PT PPA pada tahun 2007 karena kondisi keuangan yang buruk Telah masuk dalam Program Tahunan Privatisasi Tahun 2008. Rencana divestasi terhadap 27 BUMN tersebut tidak terlaksana karena beberapa hal sebagai berikut: No 1). serta 11. PT Suveyor Indonesia. PT Asuransi Jasa Indonesia. mengkaji dan menyusun kebijakan2 strategis terkait SDM. PT Merpati Airlines (MNA) Nusantara 3). belum dapat dilaksanakan seluruhnya. mengkaji dan menyusun kebijakan sistem informasi dan komunikasi Super holding. Divestasi Dari rencana divestasi sebanyak 27 BUMN sesuai Master Plan BUMN Tahun 2005-2009.31% saham PT PGN pada tahun 2006 yang merupakan divestasi lanjutan IPO tahun 2003 yang telah mendapat persetujuan DPR dan telah ada Peraturan Pemerintahnya. Khusus untuk PT Pengerukan Indonesia berubah dari rencana semula privatisasi menjadi pengalihan saham secara inbreng kepada PT Pelindo I-IV 2).  Merencanakan. PT 63 . namun belum mendapatkan persetujuan DPR. PT Industri Sandang Nusantara.- Teknologi Informasi dan Komunikasi  Merencanakan. PT Indra Karya. 4). PT Yodya Karya.

b. telah dilakukan likuidasi (dibubarkan) berdasarkan RUPS Luar Biasa pada tanggal 9 Oktober 2007 dan Peraturan Pemerintah Nomor 70 Tahun 2008 karena kondisi keuangan perusahaan yang sangat buruk Diputuskan direstrukturisasi untuk kelangsungan usaha mengingat kondisi keuangan yang memprihatinkan.No BUMN Bina Karya. Belum diusulkan masuk dalam PTP 5). telah dilakukan likuidasi (dibubarkan) berdasarkan RUPS Luar Biasa pada tanggal 9 Oktober 2007 dan Peraturan Pemerintah Nomor 70 Tahun 2008 karena kondisi keuangan perusahaan yang sangat buruk dan tidak ada prospek usaha. namun tidak mendapatkan Arahan Komite Privatisasi dan Rekomendasi Menteri Keuangan. PT Industri Soda Indonesia 8). PT PANN Multi Finance. Direncanakan akan masuk dalam Program Tahunan Privatisasi tahun 2012 Direncanakan untuk didivestasi sesuai Master Plan BUMN Tahun 2005-2009. PT Industri Gelas 5). Restrukturisasi oleh PT PPA 7). PT Permodalan Nasional Madani (PNM) dan PT Cambrics Primissima PT Danareksa. Likuidasi PT Industri Soda Indonesia (ISI) yang semula direncanakan untuk didivestasi sesuai Master Plan BUMN Tahun 2005-2009. PT Asuransi Ekspor Indonesia. Restrukturisasi Korporasi Sesuai dengan Undang-undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang BUMN. PT Boma Bisma Indra. Keterangan 4). PT Konversi Energi Abadi (PT EMI) PT Garam Telah diusulkan dalam Program Tahunan Privatisasi tahun 2007. PT Reasuransi Umum Indonesia. restrukturisasi adalah upaya yang dilakukan dalam rangka penyehatan BUMN yang merupakan salah satu langkah strategis untuk 64 . Perum Damri. 6). Dan saat ini sedang dilakukan penjualan aset melalui lelang.

organisasi dan SDM serta armada. Dalam melakukan restrukturisasi tersebut PT Garuda Indonesia telah mendapatkan suntikan dana PMN pada tahun 2006 dan 2007 masing-masing sebesar Rp 500 miliar (total Rp 1 triliun). revitalisasi armada. Restrukturisasi yang telah dilakukan selama tahun 2005-2009 sebagai berikut: 1). PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) Restrukturisasi PT Merpati Nusantara Airlines yang dikoordinasikan oleh Kantor Menko Perekonomian dalam bentuk tim. namun belum memperoleh persetujuan Pimpinan DPR. dan modal kerja. 2). Sudah dibahas dalam Panja Komisi VI dan Komisi XI DPR RI. PT Garuda Indonesia (Persero) Restrukturisasi PT Garuda Indonesia yang dikoordinasikan oleh Kantor Menko Perekonomian dalam bentuk tim. Sejalan dengan program restrukturisasi tersebut pada tahun 2007 dan 2008 PT Garuda Indonesia direncanakan akan diprivatisasi. armada. 3). Karena Kondisi BAG yang memprihatinkan. Dalam melakukan restrukturisasi tersebut PT Merpati Nusantara Airlines telah mendapatkan suntikan dana PMN. restrukturisasi pegawai/lay off. mendapatkan Arahan Komite Privatisasi dan Rekomendasi Menteri Keuangan serta telah mendapatkan persetujuan DPR RI.memperbaiki kondisi internal perusahaan guna memperbaiki kinerja dan meningkatkan nilai perusahaan. menerima dana restrukturisasi sebesar RP 300 miliar melalui PT PPA yang digunakan untuk restrukturisasi SDM. yaitu Tahun 2006 sebesar Rp 75 miliar dan 2007 sebesar Rp 450 miliar untuk restrukturisasi hutang. sesuai 65 . relokasi operasi dan penambahan modal kerja. Restrukturisasi yang telah dan sedang dilakukan adalah restrukturisasi hutang. Serta tahun 2008 kwartal IV. PT Bahtera Adhiguna (Persero) Menyiapkan PT Bahtera Adhiguna (BAG) dalam Program Tahunan Privatisasi (PTP) 2008.

5). Restrukturisasi Korporasi yang Ditangani oleh PT PPA Dengan terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2008 tentang Perubahan Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pendirian Perusahaan Perseroan (Persero) di Bidang Pengelolaan Aset . sedangkan unit Deputi Bidang Restrukturisasi dan Privatisasi hanya mengikuti perkembangan pelaksanaan restrukturisasi dan/atau revitalisasi BUMN tersebut dalam pembahasan-pembahasan dengan PT PPA dan Unit Teknis bersama Menteri BUMN. Seperti halnya dengan BAG. karena PT Pengerukan Indonesia belum memperoleh persetujuan Pimpinan DPR untuk diakuisisi oleh Pelindo I – IV yang selama ini membiayai restrukturisasi Rukindo. maka bersama Kedeputian Teknis dan Sekretaris Kementerian sedang disiapkan usulan inbreng BAG kepada PLN (semula direncanakan BAG diakuisisi PTBA). 4). Perum Pegadaian Saat ini sudah dilakukan kajian untuk proses pemerseroan Perum Pegadaian.pembahasan dengan Meneg BUMN. PT Pengerukan Indonesia (Persero) Menyiapkan Rukindo dalam Program Tahunan Privatisasi (PTP) Tahun 2008. maka tugas restrukturisasi dan/atau revitalisasi BUMN menjadi tugas PT PPA (matriks penanganan restrukturisasi oleh PT PPA sesuai Lampiran 8). 6). maka Rukindo juga sedang disiapkan untuk diinbrengkan kepada Pelindo I – IV. yaitu restrukturisasi BUMN sebagai berikut : PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) PT Waskita Karya (Persero) PT Berdikari (Persero) PT Djakarta Lloyd (Persero) PT Hotel Indonesia Natour (Persero) PT Varuna Tirta Prakarsya (Persero) 66 .

2009 Selama kurun waktu 2005 . PTPN VII (ditunda pelaksanaannya) dan PT Rekayasa Industri/minoritas (ditunda pelaksanaannya).2. Menyampaikan Usulan PTP kepada Komite Privatisasi untuk mendapatkan arahan dan kepada Menteri Keuangan untuk mendapatkan rekomendasi. PT BTN. PTP tahun 2008 (44 BUMN termasuk carry over PTP tahun 2007) dan 2009 (20 BUMN yang merupakan carry over PTPN tahun 2008) Tahun 2005 dan 2006 tidak ada PTP karena Komite Privatisasi baru terbentuk pada tanggal 13 Oktober 2006 melalui Keputusan Presiden RI Nomor 18 Tahun 2006. Seleksi lembaga/profesi penunjang untuk privatisasi PT Wijaya Karya Tbk. PT Krakatau Steel (pelaksanaannya direncanakan tahun 2010). Mendampingi Menteri BUMN melakukan pembahasan PTP dalam rapat Komite Privatisasi. PT Pembangunan Perumahan. - 67 .2009 telah dilakukan langkah-langkah sebagai berikut: a. PT BNI Tbk. PTPN III (ditunda pelaksanaannya). 6 BUMN minoritas. Melakukan pembahasan dengan Tim Pelaksana Komite Privatisasi. PTPN IV (ditunda pelaksanaannya). PT Jasa Marga Tbk.- Perum Pengangkutan Djakarta Perum Produksi Film Negara PT Balai Pustaka (Persero) PT PAL Indonesia (Persero) PT Dok dan Perkapalan Kodja Bahari (Persero) PT Industri Gelas (Persero) PT Industri Sandang Nusantara (Persero) PT Kertas Kraft Aceh (Persero) PT PLN (Persero) PT Industri Kapal Indonesia (Persero) PT Cambrics Primissima (Persero) PT Semen Kupang (Persero) III. Berkoordinasi dengan BUMN dalam rangka melakukan konsultasi dengan DPR RI (Komisi VI dan Komisi XI). Persiapan Privatisasi Melakukan kajian dan seleksi terhadap BUMN untuk dimasukkan dalam Program Tahunan Privatisasi (PTP) tahun 2007 (15 BUMN).2 Pelaksanaan Privatisasi 2005 .

31 Placement Rp 3. 3. 2.33 TAHUN 2007 11.195 T Rp.63 miliar 72.7 IPO IPO Rp 4.362 miliar Rp.7 T SPO Rp 3.5 T) TAHUN 2009 PT BTN 27. Pelaksanaan penjualan saham Laporan Penyetoran hasil penjualan saham Penetapan biaya dan hasil privatisasi c.086 miliar 76. Hasil Privatisasi Hasil privatisasi selama pelaksanaan Master Plan Tahun 2005 – 2009 adalah sebagai berikut: PERUSAHAAN PERSEROAN/ BUMN % SAHAM DIJUAL METODE TARGET APBN/ APBN-P HASIL PRIVATISASI APBN PERUSAHAAN % SISA SAHAM NEGARA RI TAHUN 2005 TIDAK ADA PRIVATISASI (Target APBN Rp 1 T) TAHUN 2006 PT PGN Tbk 5. 759.088 miliar 55. 15 PT Jasa Marga PT Wijaya Karya 30 31.08 IPO Rp 5.863. Dan pada tahun 2006 juga tidak ada PTP.58 miliar Rp 7.58 miliar 70 68. 3.3 Rp.36 Total Tahun 2007 TAHUN 2008 TIDAK ADA PRIVATISASI (Target APBN Rp 0.888. namun pelaksanaan privatisasi PT PGN 68 .975. 3.92% TOTAL HASIL PRIVATISASI 2005 .b.05 miliar Rp 9.174 miliar Rp 1.2009 Tahun 2005 tidak ada pelaksanaan privatisasi karena tidak ada PTP (Komite Privatisasi baru terbentuk tanggal 13 Oktober 2006).3 PT BNI Tbk.086 mliar Rp. sizing atas saham yang akan dilepas oleh Menteri BUMN. Pelaksanaan privatisasi Koordinasi dengan underwriter/Penasehat Keuangan melakukan due diligence Pembahasan dan penandatanganan dengan lembaga/profesi penunjang perjanjian-perjanjian/kontrak Usulan dan Pembahasan Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) dengan instansi terkait Pembahasan atas hasil due diligence dan hasil valuasi saham Pembahasan prospektus Usulan penetapan pricing.854 miliar Rp.

2). 4). Pada tahun 2008 tidak ada pelaksanaan privatisasi karena kondisi perekonomian dan pasar modal tidak mendukung. Perkembangan dan Penyelesaian Masih Berlanjut privatisasi adalah : 1). pelaksanaan privatisasi Yang Hal-hal yang sedang ditindaklanjuti terkait dengan rencana pelaksanaan e. Mengusulkan kembali rencana privatisasi beberapa BUMN kepada Menteri Keuangan dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua Komite Privatisasi. Melakukan langkah-langkah persiapan privatisasi terhadap BUMNBUMN yang disulkan tersebut. Pelaksanaan program privatisasi yang telah mendapat arahan Komite Privatisasi. d. sedangkan pelaksanaan privatisasi terhadap 6 BUMN Minoritas sampai saat ini masih dalam proses karena PP tentang privatisasi 6 BUMN minoritas tersebut baru terbit pada tanggal 31 Desember 2008. 69 . Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan privatisasi Beberapa hal yang perlu diperhatikan yang dapat menjadi kendala/tantangan dalam pelaksanaa privatisasi adalah : 1). Perlunya sosialisasi program privatisasi secara menyeluruh kepada seluruh stakeholders untuk menyamakan persepsi sehingga pelaksanaan privatisasi tidak terhambat. Menindaklanjuti proses pelaksanaan privatisasi 5 BUMN minoritas yang telah mendapatkan ada Peraturan Pemerintahnya. 3). Pelaksanaan privatisasi dalam rangka restrukturisasi terhadap BUMN yang kondisinya sudah mengkhawatirkan (penyelamatan) sulit dilakukan karena tidak ada/terbatasnya investor yang berminat. Melakukan persiapan pelaksanaan privatisasi PT Garuda Indonesia dan PT Krakatau Steel yang telah mendapatkan persetujuan DPR dan rencananya akan dilaksanakan pada tahun 2009. 2).Tbk merupakan privatisasi lanjutan yang sudah mendapat persetujuan DPR dan telah ada Peraturan Pemerintah. 3). Tahun 2009 dilaksanakan privatisasi terhadap PT Bank Tabungan Negara (Persero). rekomendasi Menteri Keuangan dan persetujuan DPR memerlukan waktu yang relatif lama sehingga terkadang sering kehilangan momentum.

BPK. yang dihadiri oleh para pimpinan Komisi IV. 70 .4). dimana dari kajian tersebut telah diperoleh model pemisahan pembukuan kegiatan PSO dari kegiatan komersial BUMN. yang dihadiri oleh para pejabat eselon II K/L pemberi tugas. Penyusunan draft Peraturan Menteri BUMN tentang Pemisahan Pembukuan Kegiatan PSO dari Kegiatan Komersial BUMN. d. para pejabat dari (Kementerian/Lembaga) K/L pemberi tugas PSO. c. III. Finalisasi draft Peraturan Presiden (Perpres) tentang Kerangka Dasar (Grand Design) dan Prosedur Operasional Baku (Standard Operating Procedure SOP) Pelaksanaan PSO e. V dan VI DPR-RI.2. Pengkajian pemisahan pembukuan kegiatan PSO dari kegiatan komersial BUMN. Rapat Koordinasi (Rakor) pelaksanaan PSO. Sosialisasi Pelaksanaan PSO. Keberadaan ketentuan tersebut sangat diperlukan untuk menghindari timbulnya multi tafsir terhadap pelaksanaan PSO baik dari sisi K/L pemberi tugas (regulator). para pejabat Departemen Keuangan. Pembentukan Tim Kecil guna menyelesaikan proses finalisasi Kerangka Dasar (Grand Design) dan Prosedur Operasional Baku (Standard Operating Procedure .SOP) Pelaksanaan PSO dengan melibatkan wakil dari Kementerian Keuangan. Kesamaan pandangan tersebut merupakan bahan masukan yang sangat berharga dalam penyusunan konsep Peraturan Presiden tentang Kerangka Dasar (Grand Design) dan Prosedur Operasional Baku (Standard Operating Procedure . antara lain melalui: Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) tentang PSO pada tanggal 3-4 Agustus 2006 di Bali. dan Kementerian BUMN. Departemen Keuangan. penerima tugas (operator). - b. Beberapa ketentuan dan peraturan perundang-undangan yang terkait dengan privatisasi masih perlu disinkronisasikan kembali.PSO). maupun pemeriksa (auditor). dan Kementerian BUMN serta para Direktur Keuangan BUMN pelaksana PSO.SOP) Pelaksanaan PSO. para Direksi BUMN pelaksana PSO. Kementerian BUMN telah melakukan berbagai kegiatan sebagai berikut: a. dengan menampilkan para pakar dan pejabat K/L sebagai pembicara. dimana dari Rakor tersebut telah diperoleh berbagai masukan dan kesamaan pandangan mengenai prinsip pelaksanaan PSO. pada tanggal 12 Mei 2009 di Bogor.3 Pelaksanaan Public Servive Obligation (PSO) Tahun 2005-2009 Terkait dengan arah Kebijakan Program Kewajiban Pelayanan Umum (Public Service Obligation .

BUMN dapat pula memperoleh akses dana/modal serta akses pasar melalui mitra kerjasama dalam pendayagunaan aset. Pendayagunaan Aset BUMN Pendayagunaan aset BUMN dimaksudkan untuk menciptakan nilai tambah atas idle/underutilized sehingga dapat memberikan tambahan kontribusi kepada BUMN.4 Pelaksanaan Optimalisasi Aset BUMN 2005-2009 a. Penghapusbukuan dan/atau Pemindahtanganan Aset (Aktiva Tetap) BUMN Kebijakan Kementerian BUMN dalam pengelolaan kekayaan BUMN lebih diarahkan pada optimalisasi/pemanfaatan aktiva tetap yang dimiliki BUMN terutama untuk aktiva tetap berupa tanah dan bangunan.f. Tabel : Perkembangan Pendayagunaan Aset BUMN Periode tahun 2005 . Terbebasnya BUMN dari resiko okupasi aset akibat terlantarkan. Penyampaian draft Perpres tentang Kerangka Dasar (Grand Design) dan Prosedur Operasional Baku (Standard Operating Procedure . BUMN akan menikmati pula hal-hal sebagai berikut : Penghematan beban atas aktiva yang semula idle (beban PBB dan biaya perawatan). 71 . Manfaat dari pelaksanaan pendayagunaan aset selain dapat menghasilkan tambahan pendapatan. Penghapusbukuan dan pelepasan asset yang dimiliki BUMN hanya dilakukan jika berdasarkan pertimbangan teknis dan ekonomis tidak menguntungkan bagi BUMN.2.2009 Keterangan/Tahun Persetujuan Pendayagunaan Aset BUMN Memperoleh Persetujuan Kajian (NDB) Pendayagunaan 2006 0 0 0 2007 45 Surat 17 BUMN 48 Nota 2008 15 Surat 12 BUMN 25 Nota 2009 18 Surat 12 BUMN 32 Nota Catatan : Unit Pelaksana Pendayagunaan Aset baru dibentuk akhir tahun 2006 dan secara efektif melakukan kegiatan pada tahun 2007. Adapun Data Perkembangan Dana PSO selama 4 tahun terakhir dapat dijelaskan pada Lampiran 9 III.SOP) Pelaksanaan PSO dan pembahasannya dengan Sekretariat Kabinet. b. Pendapatan ikutan kegiatan utama BUMN akibat bertambahnya volume dengan adanya kerja sama pemanfaatan aktiva.

2009 Uraian Surat penghapusbukuan Aktiva Tetap BUMN Jenis Aktiva Tetap : .Kepada Pemda utk proyek pembangunan . Tabel : Perkembangan Penghapusbukuan Aktiva Tetap BUMN Periode tahun 2005 .Kepada Pemda/Instansi (jual beli) . Kementerian BUMN pada tahun 2008 telah membangun aplikasi portal asset Kementerian BUMN dan telah mulai melakukan sosialisasi kepada 15 BUMN pada tahun 2009.Penetapan persetujuan Menteri BUMN atas usulan penghapusbukuan dan pemindahtanganan aktiva tetap BUMN dilakukan secara prudent dengan mempertimbangkan aspek legal. telah dilakukan langkah awal sejak tahun 2007 dengan memerintahkan kepada Direksi BUMN untuk melakukan inventarisasi dan pemetaan aktiva tetap yang dimiliki masing-masing perusahaan. Untuk mendukung persiapan implementasi Portal Aset Kementerian BUMN tersebut. operasional dan dampak keputusan terhadap kebijakan umum Kementerian BUMN dalam penghapusbukuan aktiva tetap BUMN. 72 . Permohonan ijin atas penghapusbukuan harus disertai dengan menyampaikan Pakta Integritas dari Direksi yang bersangkutan.Lelang/Hapus Administrasi 2004 144 95 49 8 17 119 2005 52 36 16 5 6 41 2006 23 13 10 1 3 19 2007 69 35 34 3 5 61 2008 2009 66 39 27 10 6 50 58 35 23 8 13 37 c. Penyediaan Sistem Informasi Aset BUMN Dalam rangka mewujudkan wadah inventarisasi data dan informasi asset BUMN berbasis Teknologi Informasi.Lainnya Pola Pemindahtanganan : .Tanah dan Bangunan .

penyimpanan laporan secara fisik di perpustakaan juga sudah dilakukan scaning laporan untuk menuju sistem pendokumentasian secara elektronik. Pengembangan Sistem Informasi dan Teknologi Informasi Dalam kurun waktu tahun 2004-2009 pengembangan sistem informasi dan teknologi informasi yang telah dicapai adalah : Tersedianya draft masterplan teknologi informasi tahun 2006-2009 yang menjadi acuan pengelolaan sistem informasi/teknologi informasi Kementerian Negara BUMN Pengelolaan infrastruktur sistem informasi/teknologi informasi Kementerian Negara BUMN yaitu (a) tersedianya domain bumn. tata kelola TI BUMN dan sinergi TI BUMN yang dihasilkan oleh kelompok kerja TI BUMN yang dibentuk pada rapat koordinasi bidang TI antara Kementerian Negara BUMN dengan BUMN mulai tahun 2006. portal PKBL.2. yaitu dengan penggantian dan penambahan PC untuk mendukung operasional Kementerian Negara BUMN dari 204 unit pada tahun 2004 menjadi 456 unit pada tahun 2009. dan penyajian. (b) tersedianya portal publik Kementerian Negara BUMN yang telah diredesain. serta pendokumentasian laporan BUMN untuk memenuhi kebutuhan data dan informasi adalah: pengumpulan buku laporan BUMN yang kemudian dilanjutkan dengan inputing/pemasukan data ke dalam database. Informasi serta Teknologi Informasi 2005 .id untuk seluruh aplikasi Kementerian Negara BUMN. portal SDM. yaitu (a) layanan pengaduan melalui SMS dengan short code 2866 (SMS Center). Executive Information System (EIS) dan Office Automation (OA). pengolahan.2009 a. portal aset. (d) tersedianya draft panduan penyusunan masterplan TI BUMN.III.5 Pelaksanaan Penyediaan Data. Penyediaan data dividen baik mencakup kegiatan perencanaan/penetapan target hingga monitoring penyetoran. Pengembangan sistem informasi. Upaya-upaya yang telah dilakukan dalam rangka pengumpulan. (b) tersedianya layanan internet bagi seluruh pegawai selama 24/7. (c) tersedianya 300 akun email bagi pegawai.go. - - 73 . disamping telah dilakukan penambahan bandwith layanan internet yang semula 256 Kbps menjadi 4.196 Kbps. (c) tersedianya satu PC untuk satu pegawai. penyediaan 31 server untuk mendukung aplikasi yang dimiliki oleh Kementerian Negara BUMN yang berada di colocation Telkom Slipi dan penyediaan jaringan di Gedung Kementerian Negara BUMN. Medan Merdeka Selatan 13. Jl. Jakarta Pusat berjumlah 500 titik untuk 14 lantai.

Dengan aplikasi ini maka akan dapat dilakukan electronic reporting. Pelatihan seluruh portal kepada 50 BUMN yang mengajukan permintaan pelatihan tambahan kepada masing-masing BUMN mulai dari Oktober 2008 . SDM. dan Audited. Pembangunan dan Pengelolaan Perpustakaan. PKBL dan Publik kepada admin BUMN yang dilaksanakan pada 14 April – 8 Mei 2008 dan 27 Agustus – 8 September 2009.- Penyiapan dan penyampaian data untuk Laporan Kinerja Pemerintah Pusat yang dilakukan secara periodik yaitu Semester.  Rapat Koordinasi Bidang Sistem Informasi antara Kementerian Negara BUMN dengan BUMN pada bulan Desember 2006. Tata Kelola TI BUMN dan Sinergi BUMN pada tahun 2006. dan wartawan. hingga electronic documentation. Sosialisasi dan Pelatihan Aplikasi Pelatihan portal publik kepada admin BUMN yang dilaksanakan pada 6– 21 Agustus 2007 diikuti oleh 337 peserta dari 134 BUMN. Unaudited. Implementasi.2009. diikuti oleh 672 peserta dari 142 BUMN.  Sosialisasi pemakaian Open source di Kementerian Negara BUMN (Linux) pada tahun 2008. 74 . Namun demikian pengisian/input data ke dalam database existing (sistem lama) tetap dilakukan secara paralel untuk memenuhi kebutuhan informasi di Kementerian BUMN. Pelatihan Portal EIS. b. Hal ini mengingat dibutuhkan payung hukum dan SDM yang memadai untuk implementasi sistem baru dimana terdapat perubahan cara penyampaian laporan periodik BUMN yang semula disampaikan kepada Menteri BUMN dalam bentuk hardcopy sekarang dalam bentuk dokumen digital dan e-reporting. Peluncuran dan sosialisasi portal publik diselenggarakan pada 22 Agustus 2007 yang dihadiri oleh 228 undangan yang terdiri dari Direksi BUMN.  Pembentukan Kelompok Kerja TI BUMN yang bertugas menyusun panduan masterplan TI BUMN. Saat ini sedang dilakukan implementasi penyampaian data/laporan secara elektronik berbasis web melalui Executive Information System. Pelatihan Office Automation pada bulan Desember 2007 diikuti oleh pegawai Kementerian Negara BUMN. electronic analyzing.  SDM Pengadaan outsourcing tenaga bidang TI. 1 orang tahun 2004 menjadi 10 orang pada tahun 2009. instansi pemerintah.

maka dibutuhkan jumlah SDM yang memadai dan kompeten. maka dibutuhkan kebijakan Kementerian BUMN yang secara terintegrasi mengaitkan dengan kepatuhan BUMN menyampaikan laporan dan dipertimbangkan dalam penilaian kinerja BUMN dan penilaian GCG BUMN. Pengembangan sistem informasi dan teknologi informasi Pengembangan sistem informasi dan teknologi informasi 2010 – 2014 mengacu pada Rencana Strategis Kementerian BUMN 2010 – 2014 dengan memperhatikan perubahan teknologi. kebutuhan. Berdasarkan data yang tersedia.6 Pelaksanaan Penanganan Bantuan Pemerintah Yang Belum Ditetapkan Statusnya (BPYBDS) 2005 .2009 Bantuan pemerintah Yang Belum Ditetapkan Statusnya (BPYBDS) pada umumnya merupakan investasi Pemerintah pada infrastruktur. Melalui Kementerian Teknis Pemerintah melakukan pembangunan fasilitas serta infrastruktur yang dicatat sebagai asset Negara hasil proyek.Kursus dan Pelatihan  CCNA 1 orang  CISA Reviw Course 2 orang  Linux 15 orang  Zend Framework 3 orang c. Hal-hal yang perlu ditindaklanjuti Implementasi Portal Kementerian BUMN Berdasarkan catatan BPK bahwa pemanfaatan aplikasi belum optimal maka perlu diperlukan langkah-langkah untuk mengimplementasikan seluruh modul-modul secara bertahap yang membutuhkan dukungan (sponsorship) dari Menteri BUMN dalam bentuk kebijakan formal dan peraturan. panduan penyusunan master plan. efisiensi.2. dan kelanjutan implementasi sebelumnya. dan panduan sinergi teknolgi informasi dapat ditetapkan Menteri BUMN sehingga dapat diimplementasikan sebagai pedoman bagi BUMN untuk menngkatkan peran teknologi informasi di perusahaan untuk menciptakan nilai tambah dan daya saing. Penambahan jumlah SDM yang memiliki kompetensi Agar organisasi pengelola teknologi informasi dapat optimal mendukung pencapaian strategi dan tujuan Kementerian BUMN dengan memanfaatkan teknologi informasi. meskipun ada beberapa BPYBDS berasal dari eks dana 75 . III. umumnya BPYBDS berasal dari asset eks proyek berupa tanah dan bangunan. Panduan pengelolaan teknologi informasi di BUMN Konsep panduan pengelolaan teknologi informasi di BUMN yang meliputi panduan tata kelola. Penyediaan Data dan Informasi Agar perubahan cara penyampaian laporan BUMN kepada Menteri BUMN dalam bentuk dokumen digital dan e-reporting.

100 milyar 2.272. karena beberapa pertimbangan : Pada dasarnya anggaran eks proyek tidak menyebutkan peruntukkan BPYBDS menjadi PMN.566. mengingat eksisting BPYBDS berasal dari akumulasi tahun-tahun sebelumnya sejak tahun 1990.980.0 50. Kondisi asset BPYBDS sangat bervariatif. Gambaran penanganan BPYBDS dapat dilihat pada Tabel berikut.000.991.0 2008 (Audit) 46. Kelayakan penetapan status BPYBDS untuk dijadikan penyertaan atau lainnya seperti disewakan atau dijual putus.2 2009 (un-Audit) 50. Tabel.0 100. karena kondisi sudah cukup lama. yang selanjutnya diteruskan kepada Kementerian Keuangan. Tahun 2007 PMN pada PT Inka sebesar Rp.362.98 milyar 76 .0 Catatan : 1. Menteri Keuangan meminta BPKP melakukan reviu/audit guna menetapkan nilai actual BPYBDS yang akan dijadikan PMB. Tahun 2009 PMN pada PT PGN dan PJT II sebesar Rp 59. Tahun 2008 PMN pada PT PGN sebesar Rp 99.586.4 46.929.303. Aset Negara eks proyek Pemerintah diserahkelolakan kepada BUMN dengan ditandatanganinya Berita Acara Serah Terima Operasi (BASTO) atau Berita Acara Serah Terima (BAST). Perkembangan Rekapitulasi BPYBDS dan PMN Dalam Rp Juta Keterangan/Tahun Jumlah BPYBDS Menjadi PMN Saldo BPYBDS 2007 (Audit) 12.272 milyar 3.0 59.talangan/pinjaman dari Pemerintah seperti pada PT Sarana Karya maupun PT Dirgantara Indonesia. Penanganan penetapan status BPYBDS menjadi PMN selama ini belum sebagaimana yang diharapkan.931.0 12. Dalam penetapan BPYBDS menjadi Penyertaan Modal Negara (PMN) diawali dengan usulan dari BUMN kepada Kementerian Teknis pemilik proyek. Sebelum ditettapkannya BPYBDS.592.263. Rekapitulasi dan penanganan BPYBDS dimulai dari tahun 2007 sejak dikeluarkannya Keputusan Presiden Nomor 17 Tahun 2007 tentang Tim Penertiban Barang Milik Negara.692.6 99.041.929.

Secara umum rencana rightsizing BUMN untuk mencapai jumlah dan skala BUMN yang lebih ideal serta rencana privatisasi pada tahun 2005–2009 belum dapat terlaksana sepenuhnya karena beberapa hal antara lain masih diperlukannya

kajian independen untuk beberapa sektor serta updating data untuk sektor-sektor yang waktu kajiannya dirasakan memerlukan pembaharuan datanya, kesamaan persepsi, serta sinkronisasi ketentuan dan peraturan perundang-undangan terkait. Dengan adanya kajian yang lebih mendalam serta sosialisasi dan koordinasi dengan instansi terkait, diharapkan program righsizing dan privatisasi dapat terlaksana sesuai rencana. Dari sisi peraturan perundangan, setiap BUMN dapat ditugaskan untuk melaksanakan kewajiban pelayanan umum/ public service obligation (PSO). PSO mempunyai peran penting dan strategis dalam pelaksanaan kebijakan Pemerintah khususnya dibidang subsidi. Oleh karena itu kondisi BUMN yang ditugaskan oleh Pemerintah (Kementerian/Lembaga – K/L) untuk melaksanakan tugas PSO harus senantiasa terpelihara dengan baik agar dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. Penugasan Pemerintah (K/L) kepada BUMN harus benar-benar memperhatikan peran dan fungsi BUMN sebagai unit usaha, di sisi lain penugasan Pemerintah tidak dapat dijadikan alasan oleh BUMN untuk mengalami kerugian. Pemisahan pembukuan antara kegiatan usaha komersiil dan kegiatan usaha atas dasar penugasan Pemerintah harus dilakukan secara jelas. Dalam rangka pelaksanaan pendayagunaan aset BUMN, dengan adanya ketentuan baku berupa peraturan Menteri diharapkan pemanfaatan aset BUMN akan semakin optimal. Sedangkan percepatan penyelesaian BPYBDS menjadi PMN akan membantu BUMN dalam melakukan restrukturisasi permodalan sehingga akan meningkatkan leverage perusahaan. Pembangunan dan pengembangan sistem informasi sangat diperlukan dalam proses pengolahan data pada Kementerian BUMN. Pengolahan data dengan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi sangat mendukung proses analisis secara lebih cepat dan akurat. Hal ini sangat dibutuhkan para pengambil keputusan dalam rangka pembinaan BUMN. Dengan mengikuti kemajuan perkembangan teknologi informasi, Kementerian BUMN akan lebih efektif melakukan pembinaan terhadap BUMN.

77

BAB IV PROGRAM PEMBINAAN BUMN TAHUN 2010 - 2014

IV. 1. Program Restrukturisasi 2010 - 2014 IV. 1.1. Definisi, Maksud dan Tujuan Restrukturisasi Sesuai dengan Undang-undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik negara, restrukturisasi adalah upaya yang dilakukan dalam rangka penyehatan BUMN yang merupakan salah satu langkah strategis untuk memperbaiki kondisi internal perusahaan guna memperbaiki kinerja dan meningkatkan nilai perusahaan. Restrukturisasi dilakukan dengan maksud untuk menyehatkan BUMN agar dapat beroperasi secara efisien dan efektif/produktif dan menerapkan tata kelola perusahaan yang baik (GCG). Restrukturisasi juga bertujuan untuk meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan, memberikan manfaat berupa dividen dan pajak kepada Negara, menghasilkan produk dan layanan dengan harga yang kompetitif kepada konsumen dan memudahkan pelaksanaan privatisasi. Pelaksanaan program restrukturisasi harus tetap memperhatikan asas biaya dan manfaat yang diperoleh. IV. 1.2. Ruang Lingkup Restrukturisasi a. Restrukturisasi Sektoral yang pelaksanaannya disesuaikan dengan kebijakan sektor dan/atau Peraturan Perundang-undangan; b. Restrukturisasi Perusahaan/Korporasi yang meliputi : 1). Peningkatan intensitas persaingan usaha, terutama di sektor-sektor yang terdapat monopoli, baik yang diregulasi maupun monopoli alamiah; 2). Penataan hubungan fungsional antara pemerintah selaku regulator dan BUMN selaku badan usaha, termasuk di dalamnya penerapan prinsipprinsip tata kelola perusahaan yang baik dan menetapkan arah dalam rangka pelaksanaan kewajiban pelayanan publik. 3). Restrukturisasi Internal yang mencakup keuangan, organisasi/ manajemen, operasional, sistem dan prosedur.

78

IV. 1.3. Program Restrukturisasi a. Restrukturisasi Sektoral 1). Rightsizing BUMN Program restrukturisasi sektoral pada intinya adalah untuk mencapai jumlah dan skala usaha BUMN yang ideal yang merupakan kelanjutan dan penajaman dari program rightsizing BUMN yang terdapat di dalam Master Plan BUMN 2005 – 2009. Sebagaimana telah dipaparkan pada bab sebelumnya bahwa dengan memperhatikan perkembangan BUMN yang ada saat ini (tahun 2009) sebanyak 141 BUMN, sebagian besar merupakan perusahaan dengan kinerja dan skala usaha yang relatif kecil dengan kinerja yang belum optimal. Jika diperhatikan, dari 141 BUMN yang ada pada akhir tahun 2009, berdasarkan data per 31 Desember 2008, sebanyak 25 BUMN (25 BUMN besar) telah mempresentasikan 97,16% dari total aset, 91,73% dari total ekuitas, 86,69% dari total penjualan dan 98,11% dari total laba bersih seluruh BUMN. Menyadari bahwa sebagian besar BUMN yang ada saat ini kinerjanya belum optimal dan belum memiliki daya saing yang kuat terutama dalam menghadapi perubahan iklim usaha yang sedemikian cepat dalam era globalisasi dimana kegiatan perusahaan tidak lagi dibatasi oleh batas-batas antar negara dan adanya saling ketergantungan antar bangsa, pasar dan perusahaan-perusahaan. Kenyataan tersebut mengharuskan Pemerintah untuk mengambil langkah-langkah strategis dan nyata guna terwujudnya BUMN yang handal dan mampu menjadi pemain utama (champion) baik di tingkat nasional, regional maupun global, sehingga reformasi BUMN melalui restrukturisasi (revitalisasi), profitisasi dan privatisasi menjadi perioritas utama Kementerian BUMN dalam kebijakan pembinaan BUMN ke depan. Reformasi BUMN yang menjadi perioritas utama kebijakan Kementerian BUMN dalam pembinaan BUMN tersebut dituangkan dalam Program Rightsizing BUMN untuk memperbaiki struktur bisnis BUMN 79

BUMN-BUMN yang secara nyata mengemban fungsi Public Service Obligation (PSO) akan tetap dipertahankan keberadaannya tanpa mengurangi tuntutan efisiensi dan transparansi manajemen. Ini berdasarkan pada konsep dasar penataan BUMN bahwa apapun bentuknya kebijakan penataan BUMN tidak boleh mengurangi fungsi pelayanan kepada masyarakat. penciptaan nilai dan potensi sinergi antar BUMN tanpa mengabaikan azas-azas yang terdapat dalam Pasal 33 UUD 1945. Sedangkan terhadap BUMN yang bidang usahanya atau produk/jasa yang dihasilkan tidak termasuk dalam kategori “menyangkut hajat hidup orang banyak”. maka kepemilikan Negara pada BUMN tersebut dapat dipertimbangkan untuk tidak mayoritas atau bahkan dilepas (divestasi). Program rightsizing BUMN adalah program utama dari program restrukturisasi/penataan kembali BUMN dengan cara pemetaan secara lebih tajam. dan dilakukan regrouping/konsolidasi.secara menyeluruh. namun beberapa kriteria di bawah ini setidaknya dapat menerjemahkan berbagai pendapat tersebut yaitu: 80 . kinerja. tertutama untuk sektor-sektor atau BUMN yang dirasakan Negara tidak perlu lagi ikut serta dalam sektor usaha tersebut. profil sektoral. Program ini tetap dilakukan berdasarkan pertimbangan urgensi kepemilikan mayoritas Negara pada suatu BUMN. BUMN-BUMN yang bidang usaha atau produk/jasa yang dihasilkannya termasuk dalam kategori “menyangkut hajat hidup orang banyak” sebagaimana digariskan pada Pasal 33 UUD 1945 tetap harus dipertahankan kepemilikan mayoritas Negara pada BUMN tersebut. Kriteria BUMN yang “menyangkut hajat hidup orang banyak” selama ini menjadi perdebatan berbagai kalangan. untuk mencapai jumlah dan skala usaha BUMN yang lebih ideal. 2). Pedoman Rightsizing BUMN “Kesepakatan” yang melibatkan berbagai elemen stakeholders BUMN mengenai bidang usaha atau produk/jasa yang dihasilkan BUMN yang “menyangkut hajat hidup orang banyak” perlu diterjemahkan secara lebih riil.

BUMN tersebut mayoritas sahamnya harus dimiliki oleh Negara. Penting bagi stabilitas ekonomi/Keuangan Negara. Konsekuensinya. Merger/Konsolidasi 81 . ataukah harus lebih dari 51%. Penataan BUMN melalui penerapan program rightsizing BUMN perlu dikaji secara obyektif dengan mengedepankan kepentingan jangka panjang BUMN dan perekonomian nasional. Berbasis Sumber Daya Alam yang menurut Undang-undang harus dimiliki mayoritas oleh Negara. mungkin perlu dipertimbangkan untuk mempertahankan kepemilikan Negara sedikitnya 55%. Single player atau masuk sebagai pemain utama. Belum memiliki potensi untuk dimerger/konsolidasi ataupun holding. Apabila suatu BUMN yang bidang usaha atau produk/jasa yang dihasilkan memiliki satu atau lebih kriteria-kriteria tersebut.Amanat Pendirian oleh Peraturan Perundangan untuk tetap dimiliki oleh Negara. Mengandung unsur keamanan. Bila memperhitungkan kemungkinan terjadi dilusi pada momen-momen tertentu. Keberadaannya berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku dan umumnya captive market. Terkait erat dengan Keamanan Negara. Namun hal ini masih menyisakan pertanyaan berapa minimal saham yang harus dimiliki oleh Negara pada kategori ini. Apakah kepemilikan 51% sudah mencukupi. Mengemban PSO. Melakukan Konservasi Alam/Budaya. Secara umum cara atau model rightsizing BUMN tersebut dapat dilakukan melalui berbagai shareholder action dengan gambaran sebagai berikut: Stand Alone Kebijakan stand alone (tetap berdiri sendiri) diterapkan untuk mempertahankan keberadaan BUMN tertentu utamanya yang memiliki salah satu dari kriteria sebagai berikut: Market share cukup signifikan. maka dapat dikategorikan sebagai BUMN yang ”menyangkut hajat hidup orang banyak”.

Meningkatkan skala ekonomis perusahaan dengan daya saing yang lebih baik. Masih ada prospek/ bisnis prospektif. Nilai manfaat secara kualitatif yang dapat dicapai melalui merger/konsolidasi secara umum adalah : Meningkatkan efisiensi karena masing-masing perusahaan akan lebih fokus pada kegiatan operasional. seperti penciptaan industri hilir baru. Beberapa kriteria utama BUMN-BUMN yang akan diholding adalah sebagai berikut: Sektor usaha sama. Pemerintah merupakan pemilik mayoritas. Secara garis besar kriteria untuk BUMN-BUMN yang akan di-merger/konsolidasi adalah sebagai berikut: Jenis usaha dan segmen pasar sama. Going Concern diragukan. Jenis usaha dan segmen pasar berlainan. Terciptanya sinergi diantara perusahaan asal. Mayoritas saham dimiliki Pemerintah. namun masih memiliki potensi untuk digabung dengan BUMN lain. Holding Pembentukan holding ini menjadi pilihan yang rasional untuk BUMN yang berada dalam sektor yang sama namun memiliki produk maupun sasaran pasar yang berbeda. prospek bisnis yang cerah dan kepemilikan Pemerintah yang masih dominan. tingkat kompetisi yang tinggi. sedangkan pemasaran. Menciptakan value creation melalui perbaikan struktur permodalan dan peningkatan kapasitas pendanaan. Kompetisi tinggi.Kebijakan ini dilakukan untuk mencapai struktur yang prospektif bagi BUMN yang berada dalam sektor bisnis yang sama dengan pasar yang identik dan kepemilikan Pemerintah 100%. Kompetisi tinggi. pendanaan dan kebijakan strategis lainnya ditarik ke perusahaan induk. Kinerja tergolong kurang baik. Memperbaiki struktur permodalan dan membuka peluang pendanaan untuk ekspansi bisnis. 82 .

Memenuhi ketentuan/peraturan pasar modal apabila divestasi saham Negara RI pada suatu BUMN dilakukan melalui pasar modal. dimana kemampuan negara tidak memungkinkan melakukan tambahan modal. Kriteria BUMN yang dapat didivestasi sesuai dengan kriteria BUMN yang boleh diprivatisasi sebagaimana diatur dalam Undangundang Nomor 19 tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara dan Peraturan Pemerintah Nomor 33 tahun 2005 tentang tata Cara Privatisasi Perusahaan Perseroan (Persero). Menciptakan value creation melalui perbaikan struktur permodalan dan peningkatan kapasitas pendanaan. Selain kriteria-kriteria tersebut. 83 . yaitu: Berbentuk Persero. Divestasi Terkait dengan Program Rightsizing BUMN. terkait dengan Program Rightsizing. Memperbaiki struktur permodalan dan membuka peluang pendanaan untuk ekspansi bisnis. Dalam rangka penyelamatan dan mempertahankan kelangsungan hidup suatu BUMN. terdapat kriteria tambahan lainnya. sementara kemampuan negara tidak memungkinkan melakukan tambahan modal. Bergerak di bidang usaha yang kompetitif atau pihak swasta juga telah banyak ikut berperan serta dalam menghasilkan produk/jasa yang sama dengan suatu BUMN yang akan didivestasi. Meningkatkan skala ekonomis perusahaan dengan daya saing yang lebih baik. Guna meningkatkan kinerja dan pengembangan usaha dibutuhkan modal yang cukup besar.Nilai manfaat secara kualitatif yang dapat dicapai melalui pembentukan holding secara umum adalah : Meningkatkan efisiensi karena masing-masing perusahaan asal lebih fokus pada kegiatan operasional. Terciptanya sinergi diantara perusahaan asal. sedangkan pemasaran. seperti penciptaan industri hilir baru. kebijakan divestasi dilakukan dengan melepas saham milik Negara pada suatu BUMN dalam jumlah mayoritas. pendanaan dan kebijakan strategis lainnya ditarik ke perusahaan induk.

Likuidasi Kebijakan likuidasi merupakan langkah terakhir yang diambil untuk suatu BUMN guna mencegah kerugian yang lebih besar yang dapat menimbulkan permasalahan yang lebih berat. Dalam beberapa tahun mengalami kerugian terus-menerus. Eksternalitas rendah. Kompetisi usaha tinggi.2014 Sejalan dengan dengan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2010 tentang Percepatan Pelaksanaan Perioritas Pebangunan Nasional Tahun 2010. terdapat 3 (tiga) program utama yang menjadi tanggung jawab Kementerian BUMN yang meliputi restrukturisasi PT PLN. diharapkan Negara akan memiliki beberapa BUMN dengan jumlah dan skala usaha BUMN yang ideal dengan skenario rightsizing sebagai berikut: Tahun 2010 Tahun 2011 Tahun 2012 Tahun 2013 Tahun 2014 ± 117 ± 102 ± 91 ± 85 ± 78 BUMN BUMN BUMN BUMN BUMN 84 . Usahanya tidak prospektif. Ekuitas negatif. 3). restrukturisasi PT Pertamina dan pelaksanaan rightsizing 33 BUMN. Melalui penerapanan Program Rightsizing BUMN. Skenario Program Rightsizing BUMN 2010 . Secara garis besar kriteria BUMN yang akan dilikuidasi adalah sebagai berikut: Tidak ada PSO – ”non strategis” (tidak harus dipertahankan status BUMN).

Program Rightsizing BUMN Tahun 2010 No 1 Sektor BUMN Kontruksi: Adhi. Nindya. PT Waskita Karya. PP. PP. PT Brantas Adipraya. PT Virama Karya. Istaka. PT Bina Karya dan PT Yodya karya. Indah. WIKA. 85 . Amarta. Nindya. PT Nindya Karya. Brantas. WIKA. Istaka 5 5 BUMN Konsultan Konstruksi dialihkan ke BUMN Konstruksi SA 1 Diinbrengkan ke Pelindo 1 Diinbrengkan ke PLN PTPN I-XIV & RNI 0 0 Jenis Restrukturisasi L D H MK Waskita diambil alih oleh PPA Jmlh Stlh 8 Konsultan Konstruksi : Indra. Virama. PT Amarta Karya. PT Istaka Karya. Waskita. PT Hutama Karya. PT Wijaya Karya Tbk. HK. HK. Brantas. Rencana restrukturisasi BUMN Konstruksi dan Konsultan Konstruksi telah dilakukan kajian oleh Konsultan PT Primus Sarana Artha pada tahun 2005. PT PP Tbk. BUMN Konsultan Konstruksi terdiri dari PT Indra Karya. Yodya & Bina 0 2 Pengerukan PT Rukindo 3 Pelayaran : BAG 4 Perkebunan : PT PN I-XIV & RNI 15 - - - 1 5 Aneka Industri : PT Cambric Primissima 6 Pertambangan: PT Sarana Karya Jumlah 1 - - - 0 1 33 - - - - 0 9 BUMN Konstruksi dan Konsultan Konstruksi BUMN Konstruksi terdiri dari PT Adhi Karya Tbk. Amarta Jmlh Sblm 9 SA Adhi. PT Indah Karya.

maka sebelum rencana restrukturisasi dilaksanakan. 86 . PT BAG Terhadap PT BAG akan dilakukan pengalihan Saham Negara RI pada PT BAG kepada PT PLN dalam rangka penyelamatan PT BAG. PT Bina Karya dan PT Yodya karya) akan dilakukan program Merger/Konsolidasi dengan mengalihkan saham milik Negara kepada 5 BUMN Konstruksi. sedangkan PT Waskita Karya karena memerlukan restrukturisasi permodalan akan dikonsolidasikan dengan PT PPA yang mengakibatkan kepemilikan Negara minoritas. Memperhatikan kondisi masing-masing BUMN sampai dengan akhir tahun 2009. Dalam forum BUMN Karya telah disepakati bahwa 9 BUMN Konstruksi akan diregrouping menjadi 6 BUMN. PT Rukindo Saham Negara RI pada PT Rukindo direncanakan akan diinbrengkan kepada BUMN Kepelabuhan (PT Pelindo I . PT Waskita Karya. yaitu PTPN I – XIV dan PT RNI. Sedangkan 4 BUMN Konstruksi lainnya dan 5 BUMN Konsultan Konstruksi (PT Indra Karya.IV). PT Indah Karya. sedangkan 5 BUMN Konsultan Konstruksi akan diakuisisi/inbreng ke 6 BUMN tersebut. Hasil kajian merekomendasikan pembentukan satu holding. PT Wijaya Karya Tbk. perlu dilakukan kajian ulang dengan memperhatikan kondisi terkini. telah dilakukan penilaian kembali terhadap saham Negara RI pada PT BAG oleh konsultan independen untuk menentukan nilai wajar (nilai pasar) atas saham Negara RI pada PT BAG tersebut yang akan dialihkan kepada PT PLN untuk dituangkan di dalam Rancangan Peraturan Pemerintah tentang pengalihan saham tersebut.Hasil kajian merekomendasikan dari 9 BUMN Konstruksi akan tetap dipertahankan 5 BUMN Konstruksi Stand Alon (SA). Kementerian Keuangan dan BUMN Perkebunan) pada tahun 2006-2007. 5 BUMN Konsultan Konstruksi direncanakan akan diinbrengkan pada BUMN Konstruksi SA. yaitu PT Adhi Karya Tbk. PT Virama Karya. PT PP Tbk. rencana restrukturisasi 9 BUMN Konstruksi akan dipertahankan SA sebanyak 8 BUMN. Rencana Restrukturisasi BUMN Perkebunan (PTPN I – XIV dan PT RNI) telah dilakukan kajian PT Danareksa Sekuritas dan PT Bahana Securities pada tahun 2005 dan dilanjutkan oleh Tim Holding BUMN Perkebunan (terdiri dari wakil Kementerian BUMN. Sesuai dengan ketentuan Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Namun demikian. mengingat hasil kajian sudah cukup lama (tahun 2005). PT Hutama Karya. BUMN Perkebunan BUMN Perkebunan terdiri dari 15 BUMN.

Bidang usahanya menurut Undang-undang tidak secara khusus harus dikelola oleh BUMN. Mengingat kondisi BUMN Perkebunan.Telah dilakukan pembahasan di Rakortas pada tanggal 8 November 2007. terutama akibat krisis keuangan pada akhir tahun 2008. PT Cambrics Primissima PT Cambrics Primissima akan dilakukan divestasi seluruh saham milik Negara (52.79%) melalui metode penjualan langsung kepada investor (strategic Sale/SS) dengan pertimbangan : Berada pada industri/sektor usaha yang kompetitif dan unsur teknologinya cepat berubah. baik internal maupun eksternal telah mengalami perubahan yang cukup signifikan. Tidak mengelola sumber daya alam yang peraturan perundangan tidak boleh diprivatisasi. menurut ketentuan Tidak bergerak di sektor tertentu yang oleh pemerintah diberikan tugas khusus untuk melaksanakan kegiatan tertentu yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat. Nomor S867/MBU/2008 tanggal 11 November 2008 & Nomor S-67/MBU/2009 tanggal 29 Januari 2009. 87 . Dalam seminar tersebut dapat disimpulkan bahwa restrukturisasi BUMN Perkebunan dilakukan melalui pembentukan Holding BUMN Perkebunan yang akan dilaksanakan pada tahun 2010. Telah dilaksanakan Seminar tentang Holding BUMN Perkebunan yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Hukum dan Pembangunan pada tanggal 18 Maret 2010 yang dibuka oleh Menteri BUMN dan dihadiri oleh Ketua Komisi VI DPR RI dan beberapa anggota Komisi VI dan Komisi XI DPR RI. Tidak bergerak di sektor pertahanan dan keamanan. Menanggapi surat Menteri BUMN Nomor S-10/MBU/2008 tanggal 4 Januari 2008 kepada Menteri Keuangan yang juga ditembuskan kepada Menteri. Deputi Menteri BUMN yang membidangi BUMN Perkebunan dan Deputi Menteri BUMN Bidang Restrukturisasi dan Privatisasi. Beberapa tahun terakhir mengalami kerugian dan nilai ekuitas terus menurun.210/M/2/2008 tanggal 28 Februari 2008 telah menyatakan sependapat dengan rencana pembentukan holding BUMN Perkebunan. Menteri Pertanian melalui surat Nomor 45/TU. Telah disampaikan surat Menteri Negara BUMN kepada Menteri Keuangan yaitu Nomor : S-10/MBU/2008 tanggal 4 Januari 2008. maka rencana restrukturisasi BUMN Perkebunan perlu dilakukan kajian ulang dengan memperhatikan kondisi terkini.

PT Sarana Karya PT Sarana Karya akan dilakukan divestasi seluruh saham milik Negara (100%) melalui metode penjualan langsung kepada investor (strategic Sale/SS) dengan mengutamakan akuisisi oleh BUMN lain (akusisi) dengan pertimbangan : Berada pada industri/sektor usaha yang kompetitif dan unsur teknologinya cepat berubah. Pangsa pasar masih terbatas (PU). sejak tahun 2008 telah dilakukan KSO dengan PT Timah Tbk. Guna memperbaiki kinerja. menurut ketentuan Tidak bergerak di sektor tertentu yang oleh pemerintah diberikan tugas khusus untuk melaksanakan kegiatan tertentu yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat. Bidang usahanya menurut Undang-undang tidak secara khusus harus dikelola oleh BUMN. Tidak bergerak di sektor pertahanan dan keamanan. 88 . Terbatasnya akses pendanaan karena performance neraca yang terus memburuk. Untuk kelangsungan hidup dan pengembangan usaha selain membutuhkan dana. dimana PT Timah Tbk telah memberikan dana sebesar Rp 17. sedangkan kemungkinan untuk mendapatkan tambahan Penyertaan Modal Negara (PMN) sangat kecil. jaringan pemasaran yang lebih luas dan sistem manajerial yang lebih baik. akan terjadi rightsizing terhadap 33 BUMN. Peralatan dan fasilitas produksi sangat terbatas dan tua dan kesulitan likuiditas. juga diperlukan adanya alih teknologi. pengembalian KP dan modal kerja. Pada tahun 2010. jaringan pemasaran yang lebih luas dan sistem manajerial yang lebih baik. Untuk kelangsungan hidup dan pengembangan usaha selain membutuhkan dana.86 milyar untuk investasi. juga diperlukan adanya alih teknologi. sehingga pada akhir tahun 2010 diharapkan jumlah BUMN menjadi ± 117 BUMN. Kesulitan akses pendanaan untuk investasi dan modal kerja karena performance neraca yang jelek. sedangkan kemungkinan untuk mendapatkan tambahan Penyertaan Modal Negara (PMN) sangat kecil. Tidak mengelola sumber daya alam yang peraturan perundangan tidak boleh diprivatisasi.Operasional perusahaan mulai terganggu karena peralatan sudah tua dan kesulitan likuiditas.

Asabri. Jasindo. RUI. Taspen. ASEI. Asabri. Taspen. Jiwasraya. Jamsostek.Program Rightsizing BUMN Tahun 2011 No 1 Sektor BUMN Asuransi : Askes. Jasa Raharja. RUI. Djakarta Lloid. Jiwasraya. Jasindo. ASEI. Jasa Raharja. Jamsostek. KF & Biofarma Jumlah 4 2 - - - 2 1 3 - - - - 1 3 - - - - 1 6 Perhutani 2 - - Inhutani I-V - - 2 - - 1 3 - - - - 1 3 Biofarma 36 - - INAF & KF 2 21 89 . PT Pertani 8 Pertambangan : PT BA. Askrindo - MK - 2 Pelabuhan : Pelindo I-IV 3 Kebandarudaraan : AP I – II 4 Perdagangan : PT PPI. ASDP 6 Kehutanan : Inhutani I-V & Perhutani 7 Pertanian : PT SHS. PT Sarinah. PT PP Berdikari 5 Pelayaran : Pelni. Askrindo Jmlh Sblm 10 Jenis Restrukturisasi L D H Jmlh Stlh 10 SA Askes. ANTAM & TIMAH 9 Farmasi : INAF.

sehingga tetap menjadi BUMN (SA). PT Jiwasraya dan PT Jasa Raharja dan PT Askrindo. PT Askes. PT ASEI. 10 BUMN Asuransi tersebut tetap SA. Dengan demikian. PT Djakarta Lloyd. BUMN Pelabuhan BUMN Pelabuhan terdiri dari 4 BUMN. yaitu Wilayah Barat dan Wilayah Timur. PT Askes.BUMN Asuransi BUMN Asuransi terdiri dari 10 BUMN. PT Taspen. BUMN Perdagangan BUMN Perdagangan terdiri dari 3 BUMN. yaitu PT ASABRI. yaitu PT Pelni. PT Jamsostek) akan menjadi Badan Penyelenggara SJSN dengan kemungkinan perubahan bentuk hukum menjadi Perusahaan Umum (Perum). Dari 2 BUMN tersebut akan dilakukan pembentukan 1 holding BUMN kebandar-udaraan. BUMN Kebandar-udaraan BUMN Kebandar-udaraan terdiri dari 2 BUMN. PT Sarinah dan PT Berdikari. 90 . namun sebelumnya perlu dilakukan kajian terlebih dahulu. yaitu PT Angkasa Pura I & II. yaitu PT Pelindo I – IV. yaitu PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PT PPI. Terhadap 3 BUMN Pelayaran tersebut akan dilakukan pembentukan 1 holding BUMN Pelayaran. dan PT ASDP. namun sebelumnya perlu dilakukan kajian terlebih dahulu. namun sebelumnya perlu dilakukan kajian terlebih dahulu. Dari 4 BUMN tersebut akan dilakukan pembentukan 2 holding BUMN Pelabuhan berdasarkan wilayah. PT Jamsostek. PT Taspen. BUMN Pelayaran BUMN Perlayaran terdiri dari 3 BUMN. PT Jasindo. Terhadap BUMN perdagangan tersebut akan dilakukan Merger/Konsolidasi menjadi 1 BUMN. namun sebelumnya perlu dilakukan kajian terlebih dahulu. PT RUI. 4 BUMN Asuransi (PT ASABRI.

Rencana restrukturisasi terhadap 3 BUMN Pertambangan tersebut telah dilakukan kajian oleh Citigroup sebagai Financial Advisor (FA) dan Soemadipradja & Taher (Konsultan Hukum) pada tahun 2006 yang merekomendasikan pembentukan perusahaan induk (holding) yang mengintegrasikan seluruh BUMN Pertambangan (Integrated Resouces Comapny/IRC). yaitu PT Bio Farma. yaitu PT Inhutani I – V dan Perum Perhutani.BUMN Kehutanan BUMN Kehutanan terdiri dari 6 BUMN. PT Kimia Farma Tbk dan PT Indofarma Tbk. Nomor S867/MBU/2008 taggal 11 Nopember 2008 & Nomor S-67/MBU/ 2009 taggal 29 Januari 2009 Mengingat kajian dilakukan pada tahun 2006 dan beberapa tahun terakhir telah terjadi banyak perubahan kondisi baik internal maupun eksternal. Terhadap 2 BUMN Farmasi lainnya (PT Kimia Farma Tbk dan PT Indofarma Tbk) telah dilakukan kajian oleh PT Mandiri Sekuritas pada tahun 2005. Terhadap PT Inhutani I – V akan dilakukan pembentukan 1 holding. PT Timah Tbk dan PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PT BA Tbk). Perum Perhutani tetap dipertahankan berdiri sendiri (SA) BUMN Pertanian BUMN Pertanian terdiri dari 2 BUMN. namun sebelumnya perlu dilakukan kajian terlebih dahulu. BUMN Pertambangan BUMN Pertambangan terdiri dari 4 BUMN. BUMN Farmasi BUMN Farmasi terdiri dari 3 BUMN. Telah disampaikan surat Menteri Negara BUMN kepada Menteri Keuangan yaitu Nomor : S-10/MBU/2008 taggal 4 Januari 2008. yaitu PT Antam Tbk. maka rencana restrukturisasi BUMN Pertambangan perlu dilakukan kajian ulang dengan memperhatikan kondisi terkini. namun sebelumnya perlu dilakukan kajian terlebih dahulu. 91 . Terhadap BUMN Pertanian tersebut akan dilakukan Merger/Konsolidasi menjadi 1 BUMN. PT Bio Farma tetap dipertahankan SA karena adanya penugasan khusus dari pemerintah untuk memperoduksi vaksin. yaitu PT Sang Hyang Seri dan PT Pertani.

Survai Udara Penas 2 Kertas & Percetakan/ Penerbitan : PT Balai Pustaka. DPS. sehingga pada akhir tahun 2011 jumlah BUMN akan menjadi ± 102 BUMN. Pada tahun 2011. Alternatif lain yang direkomendasikan adalah pembentukan holding BUMN Farmasi. SI. PT Pradya Paramita. PERURI. IKI. & Pradya Paramita Jmlh Stlh 2 6 Peruri & PNRI 2 - - - - 1 4 - - - - 1 2 - - - - 0 18 7 92 . PAL 5 Aneka Industri : PT Garam PT Insan Jumlah Jmlh Sblm 4 SA BKI Jenis Restrukturisasi L D H Survai Udara Penas KKA & Kertas Leces MK SI. Sucofindo 3 Balai Pustaka. Program Rightsizing BUMN Tahun 2012 No Sektor BUMN 1 Sertifikasi Sucofindo. akan terjadi rightsizing terhadap 35 BUMN. Kertas Leces 3 Penunjang Pertanian : Perum Jasa Tirta I/II 4 Dok & Perkapalan : PT DKB. BKI. PNRI.Hasil Kajian merekomendasikan untuk dilakukan merjer/konsolidasi melalui peleburan PT Kimia Farma Tbk dengan PT Indofarma Tbk. maka rencana restrukturisasi BUMN Farmasi perlu dilakukan kajian ulang dengan memperhatikan kondisi terkini.KKA. Mengingat kajian dilakukan pada tahun 2005 dan beberapa tahun terakhir telah terjadi banyak perubahan kondisi baik internal maupun eksternal.

PERURI dan Perum PNRI akan tetap dipertahankan berdiri sendiri (SA). namun sebelumnya perlu dilakukan kajian terlebih dahulu. operasional dan prospek usaha yang tidak memungkinan lagi untuk dipertahankan. Perum Jasa Tirta I dan Perum Jasa Tirta II akan dilakukan merger/konsolidasi menjadi 1 BUMN. namun sebelumnya perlu dilakukan kajian terlebih dahulu. PT BP dan PT Pradnya Paramita akan dilakukan merger/konsolidasi menjadi 1 BUMN. 93 . BUMN Dok dan Perkapalan BUMN Dok & Perkapalan terdiri dari 4 BUMN. Rencana restrukturisasi BUMN Dok & Perkapalan telah dilakukan kajian terhadap PT DKB dan PT PAL Indonesia oleh PT Sucofindo Appraisal Utama pada tahun 2008. PT Dok & Perkapalan Surabaya (PT DPS) dan PT Industri Kapal Indonesia (PT IKI). PT Sucofindo. yaitu PT Biro Klasifikasi Indonesia (PT BKI). PT Kertas Leces. PT Balai Pustaka (PT BP) dan PT Pratnya Paramita. PT Survei Udara Penas akan dilakukan tindakan likuidasi karena kondisi perusahaan baik keuangan. yaitu Perum Percetakan Uang RI (PERURI). yaitu Perum Jasa Tirta I dan Perum Jasa Tirta II. PT KKA dan PT Kertas Leces akan dilakukan divestasi seluruh saham Negara RI melalui metode penjualan saham Negara langsung kepada investor (strategic sale/SS) atau pengalihan saham Negara kepada BUMN lain. PT Sucofindo dan PT Surveyor Indonesia akan dilakukan Merger/Kosolidasi. Perum Percetakan Regara RI (Perum PNRI). BUMN Kertas. percetakan dan penerbitan terdiri dari 6 BUMN. namun sebelumnya perlu dilakukan kajian terlebih dahulu. PT BKI akan tetap dipertahankan SA. PT Dok & Perkapalan Kodja Bahari (PT DKB). PT Surveyor Indonesia dan PT Survai Udara Penas. BUMN Penunjang Pertanian BUMN Penunjang Pertanian terdiri dari 2 BUMN.BUMN Sertifikasi BUMN Sertifikasi terdiri dari 4 BUMN. Percetakan dan Penerbitan BUMN Kertas. yaitu PT PAL Indonesia. PT Kertas Kraft Aceh (PT KKA).

PPFN 2 Energi : PLN. selanjutnya dibentuk holding BUMN Dok dan Perkapalan bersama-sama dengan BUMN Dok dan Perkapalan lainnya. Posindo 5 Aneka Industri PT Iglas Jumlah Jmlh Stlh 4 Jenis Restrukturisasi L D H BTDC. Pertamina. jaringan pemsaran yang lebih luas dan sistem manajerial yang lebih baik. PGN. PT HIN. Posindo 1 - BGR. PGN - PT EMI - - 3 2 - - - 1 4 Bulog. Terhadap PT Garam dan PT Insan akan dilakukan divestasi seluruh saham milik Negara melalui metode penjualan langsung saham Negara RI kepada investor (strategic sale/SS) dengan pertimbangan selain membutuhkan dana untuk memperbaiki kinerja dan pengembangan usaha. yaitu PT DPS dan PT IKI. VTP PT Iglas - - 2 - - 0 15 9 94 . PT VTP. yaitu PT Iglas. akan terjadi rightsizing terhadap 18 BUMN. Pada tahun 2012. maka rencana restrukturisasi BUMN Dok & Pertambangan perlu dilakukan kajian ulang dengan memperhatikan kondisi terkini. PT BGR. PT Insan dan PT Garam. BUMN Aneka Industri BUMN Aneka Industri terdiri dari 4 BUMN. PT TWC. Pertamina. EMI 3 Perikanan : Perikanan Nusantara & PPPS 4 Logistik Perum Bulog. HIN Jmlh Stlh 3 SA PT TWC PPFN MK - 4 PLN. Mengingat kajian dilakukan pada tahun 2005 dan beberapa tahun terakhir telah terjadi banyak perubahan kondisi baik internal maupun eksternal. Program Rightsizing BUMN Tahun 2013 No Sektor BUMN 1 Hotel & Pariwisata : PT BTDC. juga membutuhkan teknologi yang lebih baik. sehingga pada akhir tahun 2012 jumlah BUMN akan menjadi ± 91 BUMN.Hasil kajian merekomendasi untuk dilakukan restrukturisasi internal terlebih dahulu.

PT Varuna Tirta Prasada (PT VTP) dan PT Pos Indonesia. PT PGN Tbk tetap dipertahankan berdiri sendiri (SA).BUMN Hotel & Pariwisata BUMN Hotel dan Pariwisata terdiri dari 3 BUMN. PT Perikanan Nusantara dan Perum Prasarana Perikanan Samudra akan dilakukan merger/konsolidasi. yaitu PT Perusahaan Listrik Negara (PT PLN). BUMN Logistik BUMN Logistik terdiri dari 4 BUMN. namun sebelumnya harus dilakukan kajian terlebih dahulu. yaitu PT Hotel Indonesia Natour (PT HIN). PT Pertamina. 95 . PT BTDC dan PT HIN akan dijadikan holding. yaitu PT Perikanan Nusantara dan Perum Prasarana Perikanan Samudera (Perum PPS). PT Pertamina. yaitu Perum Bulog. PT TWC Borobudur tetap dipertahankan berdiri sendiri (SA) karena terkait dengan pelestarian budaya. namun sebelumnya perlu dilakukan kajian terlebih dahulu. PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PT PGN Tbk). Perum Bulog dan PT Pos Indonesia akan tetap dipertahankan berdiri sendiri (SA). PT BGR dan PT VTP akan dilakukan divestasi seluruh saham negara melalui metode penjualan saham negara langsung kepada investor (strategic sale/SS) atau pengalihan seluruh saham negara pada BUMN lain. PT EMI akan dilakukan divestasi seluruh saham Negara RI melalui penjualan langsung kepada investor (strategic sale/SS) atau pengalihan seluruh saham Negara kepada BUMN lain. dan PT Energi Manajemen Indonesia (PT EMI) PT PLN. PT Banda Ghara Reksa (PT BGR). PT BTDC. PT TWC Borobudur. BUMN Perikanan BUMN Perikanan teridi dari 2 BUMN. BUMN Energi BUMN Energi terdiri dari 4 BUMN.

PT Barata. PT Jasa Marga akan tetap dipertahankan berdiri sendiri (SA). PT Dahana. BBI PT Pindad & PTDahana INKA diakuisisi oleh PT KAI 3 3 PT Semen Gresik Tbk. akan terjadi rightsizing terhadap 15 BUMN. namun sebelumnya perlu dilakukan kajian terlebih dahulu. Barata. Perum PPD dan Perum Damri akan dilakukan merger/konsolidasi menjadi 1 BUMN. PT INTI LEN. PT INKA. Pada tahun 2013. 96 . PT Semen Kupang Jumlah 8 PT KS. & PPD Jmlh Stlh 2 Angkutan & Prasarana Angkutan Darat : DAMRI & PPD. PTKS. PT LEN. PT BBI 3 Semen PT Semen Gresik Tbk. yaitu Perum PPD dan Perum Damri (BUMN Angkutan) serta PT Jasa Marga (BUMN Prasarana Angkutan). PT Pindad. sehingga pada akhir tahun 2013 jumlah BUMN akan menjadi ± 85 BUMN. PT Semen Baturaja 14 PT Semen Kupang - - 2 7 BUMN Angkutan dan Prasarana Angkutan BUMN Angkutan dan Prasarana Angkutan terdiri dari 3 BUMN. Program Rightsizing BUMN Tahun 2014 No 1 Sektor BUMN Jmlh Stlh 3 SA PT JM Jenis Restrukturisasi L D H MK Damri. PT Semen Baturaja. PT Jasa Marga 2 Industri Strategis : PT Inti.BUMN Aneka Industri PT Iglas akan dilakukan divestasi seluruh saham negara melalui metode penjualan saham negara langsung kepada investor (strategic sale/SS) atau metode lain yang sesuai.

PT LEN Industri. namun sebelumnya perlu dilakukan kajian terlebih dahulu. yaitu PT Semen Gresik Tbk. PT Semen Kupang akan dilakukan divestasi seluruh saham Negara RI melalui metode penjualan seluruh saham Negara RI langsung kepada investor (strategic sale/SS) atau pengalihan seluruh saham negara RI pada PT Semen Kupang kepada BUMN sejenis lainnya. PT Dahana. 97 . PT Barata Indonesia. PT Pindad dan PT Industri Kereta Api (PT INKA). PT INKA akan dialihkan kepada PT KAI.BUMN Industri Strategis BUMN Industri Strategis terdiri dari 8 BUMN. PT Barata Indonesia dan PT BBI akan dilakukan divestasi seluruh saham negara RI melalui metode penjualan saham Negara RI langsung kepada investor (strategic sale/SS) atau pengalihan seluruh saham negara RI kepada BUMN lain. Pada tahun 2014. BUMN Semen BUMN Semen terdiri dari 3 BUMN. akan terjadi rightsizing 14 BUMN. PT Pindad dan PT Dahana yang merupakan BUMN dengan bidang usaha yang terkait pada keamanan dan pertahanan akan dilakukan merger/ konsolidasi. sehingga PT INKA menjadi anak perusahaan PT KAI. PT Semen Baturaja dan PT Semen Kupang. namun sebelumnya perlu dilakukan kajian terlebih dahulu. yaitu PT Krakatau Steel (PT KS). sehingga pada akhir tahun 2014 jumlah BUMN akan menjadi ± 78 BUMN. PT Industri Telekomunikasi Indonesia (PT INTI). PT KS dan PT INTI tetap dipertahankan berdiri sendiri (SA PT LEN Industri. PT Semen Gresik Tbk dan PT Semen Baturaja tetap dipertahankan berdiri sendiri (SA). PT Boma Bisma Indra (PT BBI).

PT Askes. PT Taspen.Jumlah BUMN Hasil Rightsizing No. 6 PT Asuransi Ekspor Indonesia (Persero) PT Jamsostek) 7 PT Asuransi Jasa Raharja (Persero) Asuransi menjadi 8 PT Asuransi Jasa Indonesia (Persero) Badan penyelenggaran 9 PT Asuransi Jiwasraya (Persero) SJSN sengan 10 PT Asuransi Kredit Indonesia (Persero) kemungkinan berubah 11 PT Asuransi ABRI (Persero) badan hukum menjadi 12 PT Asuransi Kesehatan (Persero) Perum (2011) 13 PT Asuransi Tabungan Pensiunan (Persero) 14 PT Asuransi Jaminan Sosial Tenaga kerja (Persero) BUMN JASA PEMBIAYAAN 15 Perum Pegadaian SA 16 Perum Jamkrindo SA 17 PT Danareksa SA 18 PT Kliring Berjangka Indonesia (Persero) SA 19 PT PANN Multi Finance (Persero) SA 20 PT Permodalan Nasional Madani (Persero) SA 21 PT Perusahaan Pengelola Aset (Persero) SA BUMN JASA KONSTRUKSI & KONSULTAN KONSTRUKSI 22 PT Adhi Karya (Persero) Tbk 8 BUMN Konstruksi SA. 1 BUMN Konstruksi 23 PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (PT Waskita Karya) diambil 24 PT Hutama Karya (Persero) alih oleh PT PPA dalam 25 PT Nindya Karya (Persero) rangka 26 PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk restrukturisasi/revitalisasi dan 27 PT Amarta Karya (Persero) 5 BUMN Konsultan 28 PT Istaka Karya (Persero) Konstruksi dialihkan ke 29 PT Brantas Adipraya (Persero) BUMN Konstruksi SA (2010) BUMN PERUMAHAN & KAWASAN INDUSTRI 30 Perum Pembangunan Perumahan Nasional SA 31 PT Kawasan Berikat Nusantara (Persero) SA 32 PT Kawasan Industri Makasar (Persero) SA 33 PT Kawasan Industri Medan (Persero) SA 34 PT Kawasan Industri Wijaya Kusuma (Persero) SA 35 PT PDI Pulau Batam (Persero) SA BUMAN FARMASI 36 PT Bio Farma (Persero) SA 37 Hasil Merger/Konsolidasi PT Kimia Farma dan 2011 PT Indofarma BUMN LOGISTIK 38 Perum Bulog PT VTP dan PT BGR dilakukan divestasi atau dialihkan ke BUMN lain 39 PT Pos Indonesia (Persero) (2013) 98 . BUMN Keterangan BUMN PERBANKAN 1 PT Bank Mandiri (Persero) Tbk SA 2 PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk SA 3 PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk SA 4 PT Bank Tabungan negara (Persero) Tbk SA BUMN ASURANSI 5 PT Reasuransi Umum Indonesia (Persero) 4 BUMN (PT Asabri.

PT ASDP) kepada PT PLN (2010) BUMN KEBANDARUDARAAN 48 Holding BUMN Kebandarudaraan (PT AP I – II) 2011 BUMN ANGKUTAN DARAT & KERETA API 49 PT Kereta Api Indonesia (Persero) SA 50 Hasil Merger/Konsolidasi Perum Damri dan PPD 2014 BUMN PENERBANGAN 51 PT Garuda Indonesia (Persero) SA 52 PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) SA BUMN PERDAGANGAN 53 Hasil Merger/Konsolidasi PT PPI. PT Sarinah dan 2011 PT Berdikari BUMN JALAN TOL 54 PT Jasa Marga (Persero) Tbk SA BUMN BAJA & KONSTRUKSI BAJA 55 PT Krakatau Steel (Persero) PT Barata Indonesia dan PT BBI dilakukan divestasi atau dialihkan ke BUMN lain (2014) BUMN DOK & PERKAPALAN 56 Holding BUMN Dok & Perkapalan (PT PAL. PT Djakarta PT BAG diinbrengkan Lloyd. 2011 PT BA) BUMN TELEKOMUNIKASI 65 PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) SA 66 Perum LKBN Antara SA 99 . PT DKB.BUMN PARIWISATA 40 PT TWC Borobudur. PT Timah. Prambanan dan Ratu Boko (Persero) SA 41 Holding (PT HIN dan PT BTDC) 2013 42 Perum Produksi Film Negara SA BUMN JASA PENILAI 43 PT Biro Klasifikasi Indonesia (Persero) PT Survai Udara Penas dilikuidasi dan PT SI & PT 44 Hasil Merger/Konsolidasi PT Sucofindo Sucofindo Merger/Konsolidasi dan PT Surveyor Indonesia (2012) BUMN PELABUHAN 45 Holding BUMN Pelabuhan Wilayah Barat 4 BUMN Pelabuhan menjadi 2 (Pelindi I – II) Holding berdasarkan wilayah (2011) 46 Holding BUMN Pelabuhan Wilayah Timur (Pelindo III – IV) BUMN PELAYARAN 47 Holding BUMN Pelayaran (PT Pelni. PT IKI) BUMN ENERGI 57 PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) PT EMI didivestasi 58 PT Pertamina (Persero) 100% (2013) 59 PT Perusahaan Gas Negara (Persero) BUMN INDUSTRI BERBASIS TEKNOLOGI 60 PT Batan Teknologi (Persero) PT LEN Industri didivestasi atau 61 PT Dirgantara Indonesia (Persero) dialihkan kepada BUMN lain. PT Pindad 62 PT Industri Telekomunikasi dan PT Dahana Merger/Konsolidasi dan PT INKA dialihkan ke PT KAI (2014) Indonesia (Persero) BUMN INDUSTRI PERTAHANAN 63 Hasil Merger/Konsolidasi PT Pindad dan PT Dahana 2014 BUMN PERTAMBANGAN 64 Holding BUMN Pertambangan (PT Antam. 2012 PT DPS.

100 . tetapi dilakukan pula pada setiap BUMN guna terus mengupayakan terwujudnya kinerja dan nilai tambah perusahaan yang lebih baik. Restrukturisiasi perusahaan/korporasi ini dilakukan terhadap segala aspek kegiatan perusahaan yang meliputi keuangan. Program restrukturisasi ini harus dituangkan di dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) masing-masing BUMN setiap tahunnya.II 2012 BUMN PERCETAKAN & PENERBITAN 75 Perum Percetakan Negara Republik Indonesia PT KKA. sistem dan prosedur.BUMN SEMEN 67 PT Semen Gresik (Persero) Tbk PT Semen Kupang dilakukan divestasi atau dialihkan kepada BUMN lain (2014) 68 PT Semen Baturaja (Persero) BUMN KEHUTANAN 69 Perum Perhutani SA 70 Holding BUMN Pertaniann (PT Inhutani I – V) 2011 BUMN PERIKANAN 71 Hasil Merger/Konsolidasi PT Perikanan Nusantara dan 2013 Perum PPS BUMN PERKEBUNAN 72 Holding BUMN Perkebunan (PTPN I – XIV dan PT RNI) 2010 BUMN PERTANIAN 73 Hasil Merger/Konsolidasi PT Sang Hyang Seri dan 2011 PT Pertani BUMN PENUNJANG PERTANIAN 74 Hasil Merger/Konsolidasi Perum Jasa Tirta I . Restrukturisasi perusahaan/korporasi ini tidak hanya dilakukan terhadap BUMN yang mengalami kerugian atau kesulitan dalam kegiatan usahanya. operasional. restrukturisasi perusahaan/korporasi merupakan program rutin yang berkesinambungan yang dilaksanakan dari tahun-ketahun. PT Kertas Leces dilakukan divestasi atau 76 Perum Percetakan Uang Republik Indonesia dialihkan kepada BUMN 77 Hasil Merger/Konsolidasi PT Balai Pustaka dan lain (2012) PT Pratnya Paramita BUMN PUPUK 78 PT Pupuk Sriwijaya (Persero) SA b. Melalui pembenahan dalam segala aspek kegiatan perusahaan yang berkesinambungan tersebut BUMN akan memiliki daya saing yang semakin baik yang selanjutnya akan berdampak kepada peningkatan kinerja dan nilai tambah perusahaan. organisasi/manajemen. Restrukturisasi Perusahaan/Korporasi Dalam rangka penyehatan BUMN yang merupakan salah satu langkah strategis untuk memperbaiki kondisi internal BUMN guna memperbaiki kinerja dan meningkatkan nilai perusahaan.

Pelaksanaan restrukturisasi perusahaan/korporasi oleh PT PPA mulai dilaksanakan sejak bulan April 2009 dengan telah diterbitkannya Peraturan Menteri BUMN Nomor PER-01/MBU/2009 tanggal 8 April 2009 tentang Pedoman Restrukturisasi dan Revitalisasi Badan Usaha Milik Negara oleh Perusahaan perseroan (Persero) PT Perusahaan Pengelola Aset. Dari 22 BUMN tersebut. melalui pembenahan sistem dan prosedur yang tidak dapat terpisahkan dari kegiatan restrukturisasi perusahaan/korporasi akan memperbaiki tata kelola BUMN mengarah kepada tata kelola perusahaan yang sesuai dengan prinsipprinsip Good Corporate Governance (GCG). pelaksanaanya berpedoman kepada Peraturan Menteri Negara BUMN Nomor PER-01/MBU/2009 tentang Pedoman Restrukturisasi dan Revitalisasi BUMN oleh PT PPA dan dalam pelaksanaannya dibentuk Komite Restrukturisasi dan Revitalisasi BUMN yang keanggotaannya terdiri dari Menteri BUMN. Tugas Komite Restrukturisasi dan Revitalisasi BUMN antara lain menetapkan BUMN yang akan direstrukturisasi dan/atau direvitalisasi oleh PT PPA serta skema restrukturisasi dan/atau revitalisasi yang akan diterapkan. BUMN mengalami kerugian 3 tahun dalam 5 tahun terakhir berjumlah 22 BUMN. Restrukturisasi dan/atau revitalisasi BUMN tersebut. Menteri Keuangan dan Menteri Teknis tempat dimana sektor usaha BUMN bergerak (apabila diperlukan). pada tahun 2009 telah diserahkan penanganannya kepada PT PPA untuk dilakukan kajian tuntas (due deligence) sebanyak 11 BUMN. dimana tugas PT PPA ditambah untuk melakukan restrukturisasi dan/atau revitalisasi BUMN. 3).Selain itu. 2). Khusus untuk penanganan BUMN-BUMN yang mengalami kerugian dan mengalami kesulitan baik keuangan maupun operasional. PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) PT Kertas Kraft Aceh (Persero) PT Industri Sandang (Persero) 101 . restrukturisasi dilakukan oleh PT Perusahaan Pengelola Aset (Persero) atau PT PPA sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2008 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pendirian Perusahaan Perseroan (Persero) di Bidang Pengelolaan Aset. yaitu : 1). Berdasarkan data per 31 Desember 2008 (audited).

11). 9). PT PAL Indonesia (Persero) PT Waskita Karya (Persero) PT Djakarta Lloyd (Persero) PT PP Berdikari (Persero) PT Hotel Indonesia Natour (Persero) PT Varuta Tirta Persada (Persero) Dari 17 BUMN yang telah diserahkan penanganannya kepada PT PPA. 4). PT Indah Karya (Persero) PT Pelayaran nasional Indonesia (Persero) PT Pengerukan Indonesia (Persero) PT Perkebunan Nusantara XIV (Persero) PT Kertas Leces (Persero) PT Pradnya Paramita (Persero) PT Perikanan Nusantara (Persero) Perum Prasarana Perikanan Samudera PT Boma Bisma Indra (Persero) PT Dok dan Perkapalan Kodja Bahari (Persero) 102 . 8). 7). 7). 4). Sisanya sebanyak 11 BUMN yang mengalami kerugian 3 tahun dalam 5 tahun terakhir akan dilanjutkan penyerahan penangannya kepada PT PPA pada tahun 2010 adalah : 1). 6). 10). 2). 5). 3). PT PAL Indonesia (Persero) dan PT Waskita Karya (Persero) saat ini sedang dilaksanakan program restrukturisasi dan revitalisasi. 5). Sedangkan 13 BUMN lainnya masih dalam proses kajian tuntas (due deligence) dengan progres yang bebeda-beda untuk selanjutnya akan dimintakan keputusan skema restrukturisasi dan revitalisasinya kepada Komite Restrukturisasi dan Revitalisasi dan persetujuan dari Menteri Keuangan. yaitu PT Merpati Nusantara Airlines (Persero). 6). 9).4). 10). 5). 6). pada tahun 2009 juga telah diserahkan kepada PT PPA untuk menangani 6 BUMN lainnya yang mengalami kesulitan baik keuangan maupun operasional (tidak termasuk dalam 24 BUMN rugi tersebut di atas). PT Industri Gelas (Persero) PT Balai Pustaka (Persero) PT Cambrics Primissima (Persero) Perum PPD PT Industri Kapal Indonesia (Persero) Perum PFN PT Survey Udara Penas (Persero) PT Semen Kupang (Persero) Selain 11 BUMN tersebut. 2). 3 BUMN diantaranya. 3). yaitu : 1). 8).

tetapi sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang berlaku juga melibatkan instansi terkait lainnya antara lain seperti Kementerian Keuangan. Selanjutnya. Untuk itu. Kementerian Teknis. penyerahan penanganan restrukturisasi dan revitalisasi BUMN yang memiliki permasalahan kepada PT PPA akan dievaluasi setiap tahunnya guna menentukan BUMN mana yang akan diserahkan. diperlukan peningkatan upaya-upaya koordinasi dan komunikasi dengan instansi dan lembaga terkait tersebut. 103 . Kementerian Hukum dan HAM. Hal-hal yang Perlu Mendapatkan Perhatian dalam Program Restrukturisasi Pelaksanaan program restrukturisasi baik restrukturisasi sektoral maupun restrukturisasi perusahaan/korporasi oleh PT PPA yang telah dilakukan kajian yang melibatkan tidak hanya Kementerian BUMN.11). sebelum penanganannya diserahkan kepada PT PPA. sehingga permasalahan yang dihadapi oleh BUMN tidak serta merta dapat diatasi dan kajian yang telah dilakukan memerlukan pemutakhiran data dan kajian kembali. Terhadap BUMN yang sulit atau tidak mungkin lagi dipertahankan kelangsungan hidupnya karena kondisi perusahaan yang sudah sangat mengkhawatirkan dan tidak memiliki prospek. DPR RI. Sekretaris Negara dan Presiden yang akan membutuhkan waktu yang relatif cukup lama. Perlu ditingkatkan sosialisasi program restrukturisasi untuk menyamakan persepsi mengenai tujuan pelaksanaan program restrukturisasi BUMN. maka akan dilakukan evaluasi terlebih dahulu berdasarkan kinerja per 31 Desember 2009 guna menentukan apakah akan diserahkan kepada PT PPA atau langsung dilakukan restrukturisasi sektoral melalui shareholder action tertentu dalam rangka rightsizing BUMN. dalam penanganannya tetap harus mempertimbangkan berbagai aspek sebelum keputusan likuidasi diambil. Pelaksanaan restrukturisasi BUMN yang menimbulkan implikasi pajak. PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) Terhadap 11 BUMN tersebut. restrukturisasi BUMN yang memerlukan pendanaan sulit diharapkan mendapatkan suntikan dana dari APBN. perlu mendapatkan kejelasan untuk penanganan dampak pajak tersebut. Dengan kondisi keterbatasan APBN saat ini.

serta memperluas kepemilikan saham oleh masyarakat. ekonomi makro. 2.IV.2. menciptakan struktur industri yang sehat dan kompetitif. dan kewajaran. menciptakan Persero yang berdaya saing dan berorientasi global. Metode ini terutama digunakan untuk BUMN-BUMN yang memerlukan pendanaan yang tidak dapat diperoleh/dipenuhi dari pasar modal dan/atau Pemerintah serta 104 . Disamping juga untuk lebih mendorong penerapan prinsip-prinsip Good Corporate Governance. IV. Privatisasi dilakukan dengan memperhatikan prinsip-prinsip transparansi. Definisi. baik sebagian maupun seluruhnya. Maksud privatisasi adalah memperluas kepemilikan masyarakat atas Persero. Sedangkan Tujuan privatisasi adalah untuk meningkatkan kinerja dan nilai tambah perusahaan dan meningkatkan peran serta masyarakat dalam pemilikan saham Persero. 2. memperbesar manfaat bagi negara dan masyarakat. dan kapasitas pasar”. kemandirian. tetapi diperioritaskan dalam rangka mendukung pengembangan perusahaan dengan metode utama melalui penawaran umum di pasar modal.1. meningkatkan efisiensi dan produktivitas perusahaan. dan menumbuhkan iklim usaha. Privatisasi adalah penjualan saham Persero. Privatisasi yang dilakukan tidak melalui metode penawaran umum lewat di pasar modal akan dilakukan dengan sangat selektif dan hati-hati.2014 IV. akuntabilitas. menciptakan struktur keuangan dan manajemen keuangan yang baik/kuat. 2. Program Privatisasi 2010 . Arah Kebijakan Privatisasi Arah kebijakan privatisasi ke depan bukan semata-mata untuk pemenuhan APBN. pertanggung-jawaban. Maksud dan Tujuan Privatisasi Sesuai Undang-undang Nomor 19 tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara dan Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2005 tentang tata Cara Privatisasi Perusahaan Perseroan (Persero) jo Peraturan Pemerintah Nomor 59 Tahun 2009 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2005 tentang Tata Cara Privatisasi Perusahaan Perseroan (Persero). kepada pihak lain dalam rangka meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan.

Kriteria umum tersebut adalah sebagai berikut: a. Persero yang dapat diprivatisasi harus sekurang-kurangnya memenuhi kriteria: 1) Industri/sektor usahanya kompetitif. 105 . Ada kebutuhan dana untuk pengembangan. profitisasi sulit dilaksanakan. Sebagian aset atau kegiatan dari Persero yang melaksanakan kewajiban pelayanan umum dan/atau yang berdasarkan Undang-undang kegiatan usahanya harus dilakukan oleh BUMN. dalam 2 tahun berturut-turut menghasilkan laba. Selain itu. atau 2) Industri/sektor usaha yang unsur teknologinya cepat berubah.memerlukan peningkatan kompetensi tehnis. Perbaikan struktur modal/leverage. IV. dapat dipisahkan untuk dijadikan penyertaan dalam pendirian perusahaan untuk selanjutnya apabila diperlukan dapat diprivatisasi. Telah dan sedang dalam restrukturisasi. manajemen dan pemasaran. Sedangkan kriteria khusus yang harus dimiliki oleh BUMN yang akan diprivatisasi adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) 5) Tidak ada PSO. 7) Kepemilikan minoritas sehingga tidak ada kontrol negara dan lambat laun kepemilikan akan terdilusi dan tidak strategis. Kriteria Privatisasi Kriteria Umum bagi BUMN-BUMN yang akan diprivatisasi telah ditetapkan dalam Undang-undang Nomor 19 tahun 2005 dan Peraturan Pemerintah Nomor 33 tahun 2003 jo Peraturan Pemerintah Nomor 59 Tahun 2009 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2005 tentang Tata Cara Privatisasi Perusahaan Perseroan (Persero). Rugi terus menerus. 8) Untuk yang IPO. 6) Perubahan regulasi yang berpengaruh pada sektor usaha. masih potensial profitisasi. privatisasi juga dilakukan dalam rangka program restrukturisasi dan rightsizing BUMN. 2. ada alokasi PMN tapi perlu pendanaan tambahan. b.3.

IV. Penjualan Saham Berdasarkan Ketentuan Pasar Modal Selain kriteria sebagaimana diatur sesuai dengan Undang-undang Nomor 19 tahun 2005 dan Peraturan Pemerintah Nomor 33 tahun 2003. juga harus sesuai dengan peraturan dan ketentuan yang berlaku lainnya yang terkait dengan BUMN yang akan diprivatisasi. 106 . Membutuhkan dana yang besar namun menghadapi keterbatasan dana dari Pemerintah (selaku shareholder) dan/atau kesulitan menarik dana dari pasar modal. 2). seperti operasi/teknis. “know-how”. inovasi/pengembangan produk. 2) Persero yang bergerak di sektor usaha yang berkaitan dengan pertahanan dan keamanan negara. 3) Persero yang bergerak di sektor tertentu yang oleh Pemerintah diberikan tugas khusus untuk melaksanakan kegiatan tertentu yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat.4. manajemen. masing-masing metode tersebut memiliki kriteria yang berbeda-beda. 2. 4) Persero yang bergerak di bidang usaha sumber daya alam yang secara tegas berdasarkan Peraturan Perundang-undangan yang dilarang untuk diprivatisasi. Metode Privatisasi Privatisasi dilakukan dengan menggunakan salah satu dari 3 metode di bawah ini yaitu: 1) 2) 3) Penjualan Saham berdasarkan Ketentuan Pasar Modal. Kriteria BUMN yang akan diprivatisasi dengan metode Penjualan Saham berdasarkan Ketentuan Pasar Modal selain harus memenuhi persyaratan sesuai dengan ketentuan pasar modal. pemasaran teknologi. Penjualan Saham Langsung kepada Investor/Strategic Sale (SS) Penjualan Saham kepada Manajemen dan/atau Karyawan (Employee and Management Buy Out /EMBO) a.Sedangkan Persero yang tidak dapat diprivatisasi adalah: 1) Persero yang bidang usahanya berdasarkan peraturan perundangan hanya boleh dikelola oleh BUMN. expertise dari mitra strategis. Memerlukan bantuan dan keahlian. Penjualan Saham Langsung kepada Investor (Strategic Sale/SS) Penjualan Saham Langsung kepada Investor (Strategic Sale/SS) dapat dilakukan terhadap BUMN-BUMN yang memenuhi kriteria di bawah ini: 1). dan kemampuan pendanaan. b.

Memiliki bidang usaha yang core business-nya jasa profesional (brainware). 4). Modal perusahaan tidak terlalu besar. 5). 5). Nature of business–nya dianggap dapat dijalankan dan dimiliki oleh karyawan/manajemen. Mengurangi kepemilikan Negara menjadi minoritas sepanjang tidak bertentangan dengan regulasi. 2. 2). atau core business-nya bukan jasa profesional tetapi bidang usahanya sangat kompetitif dan memerlukan kompetensi tehnis khusus. 4). IV. 107 . Mendorong lebih lanjut pengelolaan dan pengembangan sebagian aset/kegiatan operasionalnya yang dapat dipisahkan untuk dikerjasamakan dengan mitra strategis. sehingga karyawan dan manajemen mampu untuk berpartisipasi dalam kepemilikannya. Penjualan Saham kepada Manajemen dan/atau Karyawan (Employee and Management Buy Out /EMBO) Adapun metode penjualan saham kepada Manajemen dan/atau karyawan (Employee and Management Buy Out / EMBO) digunakan untuk BUMNBUMN yang masuk dalam kriteria: 1). Prosedur Privatisasi Prosedur privatisasi sesuai dengan Undang-undang Nomor 19 tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara dan Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2005 tentang tata Cara Privatisasi Perusahaan Perseroan (Persero) jo Peraturan Pemerintah Nomor 59 Tahun 2009 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2005 tentang Tata Cara Privatisasi Perusahaan Perseroan (Persero) secara garis besar adalah sebagaimana flowchart berikut ini. Nilai aset relatif kecil dan hasil penjualan saham relatif tidak terlalu besar. c.3). Perusahaan harus menjaga kelangsungan (kesinambungan) program yang telah terjadwal sehingga diharapkan program privatisasi tidak akan mengubah dinamika manajemen yang ada dan tidak mempengaruhi kegiatan usaha.5. Merupakan sektor yang bukan strategis bagi Pemerintah. 3).

54 100 Catatan : PT Garuda Indonesia dan PT persetujuan DPR RI pada tahun 2009 tahun 2010. 15 SPO (right issue) Maks. 6.36 52. 2. Program Privatisasi Tahun 2010 No 1. 52. 4. 30 IPO (saham baru) Maks. 30 IPO (saham baru) Maks. 30 IPO (saham baru) Maks. 3. Perusahaan PT PN III PT PN IV PT PN VII PT BNI Tbk PT Primissima PT Kertas Padalarang PT Sarana Karya % Saham Negara RI 100 100 100 76.79 SS (divestasi) Maks 48. 108 .54 SS (divestasi) Maks 100 SS/akuisisi (divestasi) Krakatau Steel telah mendapatkan dan privatisasi akan dilaksanakan Program Tahunan Privatisasi (PTP) Tahun 2010 telah disampaikan kepada Menteri Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua Komite Privatisasi untuk mendapatkan arahan dan kepada Menteri Keuangan untuk mendapatkan rekomendasi masing-masing melalui surat Nomor S-885/MBU/2009 dan Nomor : S-884/MBU/2009 tanggal 28 Desember 2009. 7.79 48.Seleksi BUMN (dituangkan dalam Program T ahunan Privatisasi) Arahan Komite Privatisasi & Rekomendasi Menkeu Sosialisasi Konsultasi/ Persetujuan DPR Penerbitan Peraturan Pemerintah Pelaksanaan a. % Saham Metode Dilepas Maks. 5.

5. 2.65 100 100 % Saham Dilepas Maks. Perusahaan PT PANN PT Garam PT INTI PT Industri Sandang PT Kertas Kraft Aceh PT Pegadaian PT Danareksa % Saham Negara RI 93. 4. 4. Program Privatisasi Tahun 2011 No 1. 7. 100 (divestasi) Maks 96.97 (divestasi) Maks. 35 (saham baru) Maks.10 100 100 100 96. 35 (saham baru) Maks. 2. 6. 4. 49 (saham baru) Maks. 30 (saham baru) Maks.74 100 % Saham Dilepas Maks. 30 (saham baru) Metode IPO/SS SS SS SS SS IPO IPO 109 .65 (divestasi) Maks. 40 (divestasi) Metode IPO IPO IPO IPO IPO/SS IPO SS c. 49 (divestasi) Maks. 5. 6. Perusahaan PT Hutama Karya PT Jasindo PT Rekayasa Industri PT Semen Baturaja PT PNM PT KBN PT KBI % Saham Negara RI 100 100 4.97 100 100 88. 7. Program Privatisasi Tahun 2012 No 1. 30 (saham baru) Maks. 3. 3. 100 (divestasi) Maks.b. 30 (saham baru) Maks. 35 (saham baru) Maks.

PT Barata Indonesia 100 Maks 100 SS (divestasi) 4. 30 (saham baru) Metode SS SS SS/akuisisi SS/akuisisi SS IPO e. PT Merpati Nusantara 93. 40 IPO (saham baru) Catatan : PT Waskita Karya telah mendapatkan persetujuan DPR RI pada tahun 2008 dan privatisasi akan dilaksanakan tahun 2014 setelah program restrukturisasi diselesaikan.48 SS (divestasi) 3. 100 (divestasi) Maks. 17. 6. 10 SS (divestasi) 6. 5. No Perusahaan Setelah penerapan program restrukturisasi dan privatisasi dalam kurun waktu 2010 – 2014 tersebut di atas (dengan asumsi umum bahwa divestasi 100% kepemilikan Negara pada BUMN hanya terhadap BUMN dengan nilai aset realif kecil). PT Semen Kupang 61.30 IPO Farmasi (saham baru) 2. Holding/Merger Maks.82 (divestasi) Maks.78 (divestasi) Maks. PT BBI 100 Maks 100 SS (divestasi) 5.20 Maks. diharapkan akan terjadi peningkatan kinerja dan nilai BUMN sebagai berikut : % Saham Negara RI 100 110 . 50 (divestasi) Maks. PT SOCFINDO 10 Maks.48 Maks. 2.82 100 17. 100 (divestasi) Maks. 4. Program Privatisasi Tahun 2014 % Saham Metode Dilepas 1.78 100 100 % Saham Dilepas Maks. Program Privatisasi Tahun 2013 No 1.d. 63. 3. Perusahaan PT SIER PT Industri Gelas PT Bhanda Gara Reksa PT Bahana PUI PT EMI PT Asuransi Jiwasraya % Saham Negara RI 50 63. 61.

Proses pelaksanaan privatisasi. 3. Perlu dilakukan peningkatan upaya-upaya sosialisasi yang lebih intensif dalam rangka menyamakan persepsi mengenai privatisasi. dan bertanggung jawab. sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang berlaku tidak hanya melibatkan Kementerian BUMN.28 kali).39 kali). diharapkan pelaksanaan PSO oleh BUMN akan dapat berjalan secara transparan. Hal-hal yang Perlu Mendapat Perhatian dalam Pelaksanaan Privatisasi BUMN 1). khususnya yang menyangkut Standard Operating Procedure (SOP) tentang pengusulan/penugasan PSO. Aset BUMN akan meningkat dari Rp 2. DPR RI. Kementerian Keuangan. diperlukan upaya-upaya peningkatan koordinasi dan komunikasi dengan instansi dan lembaga terkait tersebut.1) 2) Ekuitas BUMN akan meningkat dari Rp 566 Triliun pada tahun 2009 menjadi Rp 2. sehingga membutuhkan waktu yang relatif cukup lama yang kadang sering mengakibatkan hilangnya momentum yang tepat dari pelaksanaan privatisasi tersebut. pelaksanaan PSO. 19 tahun 2003 tentang BUMN. fair. aturan mengenai besaran dan perhitungan margin pelaksanaan PSO.583 Triliun pada tahun 2014 (meningkat 5.2014 Pemerintah akan terus mendorong ketaatan semua pihak terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku dibidang PSO khususnya Pasal 66 UU No. Sekretaris Negara dan Presiden. IV. dan aturan mengenai penuangan PSO dalam suatu kontrak yang jelas. 2). Program Penyelenggaran Public Service Obligation (PSO) 2010 . 111 . Dengan ketaatan semua pihak terhadap ketentuan perundang-undangan yang berlaku dan penyempurnaan ketentuan-ketentuan pelaksanaan PSO. Kementerian Hukum dan HAM.149 Triliun pada tahun 2009 menjadi Rp 11. dan menciptakan aturan-aturan pelaksanaan (Perpres atau Peraturan Pemerintah) PSO. Untuk itu. dan pertanggungjawaban pelaksanaan PSO.986 Triliun pada tahun 2014 (meningkat 5. tetapi juga instansi dan lembaga lainnya seperti Komite Privatisasi.

IV. Namun naik-turunnya jumlah dana PSO/subsidi sangat tergantung kepada kebijakan Pemerintah. maka penugasan pelaksanaan PSO oleh K/L akan dapat berjalan dengan baik di satu sisi. sehingga memudahkan monitoring dan evaluasi pelaksanaan PSO. 4. Terpisahnya pembukuan kegiatan pelaksanaan PSO dari kegiatan komersial BUMN secara keseluruhan. Kedepan diharapkan dana PSO/subsidi akan menurun seiring dengan meningkatnya kesejahteraan masyarakat. telah dilakukan permintaan data aset kepada para Deputi Teknis sebagai bahan masukan penyusunan Bank Data Aset (Sistem Informasi Aset BUMN berbasis TI). Dalam kurun waktu 2010 – 2014. Kementerian BUMN telah membangun sistem Bank Data Aset. dan tidak ada alasan bagi BUMN untuk rugi karena adanya penugasan dari Pemerintah (K/L). Dalam pelaksanaan tugas optimalisasi pengelolaan aset tersebut.Apabila pelaksanaan PSO dapat dilakukan secara transparan. baik melalui optimalisasi pemanfaatan ataupun penghapusbukuan. dan di lain sisi BUMN yang ditugaskan untuk melaksanakan PSO akan dapat berkembang secara sehat. BUMN diwajibkan mengisi Bank Data Aset melalui Portal Aset setelah selesai dilakukannya sosialisasi dan trial pengisian.2014 Optimalisasi pengelolaan aset merupakan salah satu bentuk pendayagunaan aset. sebagai berikut : Pembangunan Portal Aset telah dilakukan tahun 2009 dan akan segera dilanjutkan dengan sosialisasi serta trial pengisian Bank Data Aset tahun 2010 (Sistem Informasi Aset BUMN berbasis TI). Kementerian BUMN secara langsung akan mengumpulkan data aset untuk menyusun Bank Data Aset (Sistem Informasi Aset BUMN berbasis TI) untuk tahun buku 2011 dari BUMN. beberapa kegiatan dan kebijakan yang akan dilaksanakan dalam rangka optimalisasi aset BUMN adalah sebagai berikut : Sistem Bank Data Aset tersebut dilakukan secara bertahap 112 . Program Optimalisasi Aset BUMN 2010 . fair dan bertanggungjawab. Dalam rangka mempercepat pengumpulan data.

Informasi & Teknologi (TI) 2010 .No 1. d. Program Pengembangan Data. dan integrasi data BUMN Optimalisasi Aset BUMN a. Kegiatan Sistem Informasi Aset BUMN Berbasis TI 2010 2011 2012 2013 2014 a. b. Data Unit data dan informasi akan dikembangkan menjadi pusat data dan informasi yang lengkap.Peraturan Pemindahtanganan Aktiva Tetap BUMN . Untuk mencapai hal tersebut.Swakelola c. c. Kajian optimalisasi aset BUMN . Ketentuan dan prosedur . 5.Peraturan Pendayagunaan Aktiva Tetap BUMN . akurat. Disamping itu. e. dan pendokumentasiannya. melaksanakan kajiankajian tentang isu-isu strategis BUMN yang menjadi salah satu referensi dalam pengambilan keputusan Kementerian serta menjadi pusat penelitian yang kredibel dan terpercaya yang siap menawarkan solusi atas permasalahan BUMN baik bagi pihak internal maupun eksternal. pengolahan. Informasi dan akses data kepada stakeholders IV.Standard Operating Procedure b.1. Pembangunan Pemeliharaan Sosialisasi Implementasi Monitoring. akurat. maka diperlukan penyediaan data dan informasi tentang BUMN secara lengkap. 2.2014 IV. Monitoring Pengelolaan Aset BUMN 3. 5. dan mutakhir dengan mendasarkan pada prinsip efisiensi dan efektivitas dalam pengumpulan.Kajian aktiva tetap BUMN oleh konsultan . tajam dan terpercaya serta menjadi pendukung think tank pengambilan keputusan Kementerian BUMN. evaluasi. Kebijakan-kebijakan strategis yang akan diambil terkait pengembangan data adalah : 113 .

114 . meningkatkan efisiensi dan efektivitas. 5. lengkap. dan meningkatkan implementasi prinsip-prinsip penyelenggaran kepemerintahan yang baik (good government governance) yang lain seperti transparansi. implementasi teknologi informasi dan Komunikasi dapat digunakan untuk meningkatkan fungsi pengendalian. tepat. sehingga dapat membantu pimpinan mengambil keputusan dengan tepat. cepat. konsisten. akuntabilitas. terkini. Kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan untuk pengembangan pusat data dan informasi yang lengkap. Informasi Dan Teknologi Informasi Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi di Kementerian BUMN diharapkan dapat mempercepat terwujudnya program pemerintah untuk melakukan reinventing government melalui reformasi birokrasi penyelenggaraan kepemerintahan di lingkungan Kementerian BUMN. Terkait dengan tujuan tersebut. Melibatkan secara aktif BUMN-BUMN dalam pengumpulan dan penyediaan data dan infromasi dengan mengkaitkannya pada pengukuran kinerja BUMN dan Direksi BUMN Merekrut.2. dan kewajaran. melatih dan memberdayakan SDM yang trampil. tajam dan terpercaya dalam kurun waktu 2010 – 2014 adalah sebagai berikut : NO 1 2 3 4 KEGIATAN Penyiapan infrastruktur dan suprastruktur data dan informasi Positioning Pusat data dan Mapping isuisu strategis BUMN Pelaksanaan kajian atas isu-isu strategis BUMN Diseminasi hasil kajian kepada stakeholders 2010 2011 2012 2013 2014 IV. dan mudah diperoleh. dengan implementasi teknologi informasi dan komunikasi diharapkan juga dapat menyediakan data/informasi dengan murah. akurat. Selain itu.Mendorong pengumpulan dan pengolahan data yang efektif dan efisien dengan memberdayakan system teknologi informasi. cerdas dan berpengalaman dalam melakukan analisa korporat Tajam dan sensitive dalam melihat permasalahan BUMN dan berusaha memberikan kajian untuk memberikan referensi solusi atas masalah yang dihadapi tersebut.

Kementerian BUMN akan menetapkan Master Plan khusus yang terkait dengan teknologi informasi.Sebagaimana disebutkan dalam PerMenKominfo No. Secara terperinci. 41 tentang Panduan Tata Kelola Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional Versi 1 Tahun 2007. sehingga dalam pencatatan pembukuan BUMN sebagai barang yang diserahkelolakan tersebut BPYBDS tidak secara tegas masuk kategori hutang atau ekuitas. Dalam rangka pelaksanaan restrukturisasi 115 . peningkatan efisiensi dan efektivitas belanja teknologi informasi dan komunikasi dan pendekatan yang meningkatkan pencapaian nilai (value) dari implementasi teknologi informasi dan komunikasi nasional. diperlukan rencana teknologi informasi dan komunikasi yang lebih harmonis. maka harus memperhatikan efisiensi penggunaan sumber daya dan pengelolaan risiko. karena belum ada penetapan secara legal. Monitoring Penyelesaian Bantuan Pemerintah Yang Belum Ditetapkan Statusnya (BPYBDS) Bantuan Pemerintah Yang Belum Ditetapkan Statusnya (BPYBDS) pada umumnya merupakan hasil proyek dari Kementerian Teknis yang sumber pembiayaannya dipenuhi dari DIPA/APBN. untuk memastikan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi tersebut benar-benar mendukung tujuan penyelenggaraan pemerintahan. Hasil proyek tersebut biasanya diserahkankelolakan kepada BUMN. serta dapat mengoptimalkan ketercapaian value dari penyelenggaraan teknologi informasi dan komunikasi di lingkungan kerja kementerian BUMN untuk internal manajemen dan pelayanan public. pengelolaan yang lebih baik. diharapkan Kementerian BUMN mendapatkan manfaat sinkronisasi dan integrasi rencana teknologi informasi dan komunikasi dengan rencana strategis Kementerian BUMN. bahwa mengingat pemanfaatan teknologi informasi dan Komunikasi oleh institusi pemerintahan telah semakin meningkat. IV. operasi sistem teknologi informasi dan komunikasi yang memberikan nilai tambah secara signifikan kepada public dan internal manajemen pemerintahan. 6. Untuk mendukung tujuan penyelenggaraan pemerintahan. efisiensi belanja teknologi informasi dan komunikasi. realisasi solusi teknologi informasi dan komunikasi yang sesuai kebutuhan secara efisien. Dengan tata kelola teknologi informasi dan komunikasi yang baik.

sebagaimana terlampir. Untuk dapat segera menyelesaikan perubahan status BPYBDS yang saat ini tercatat pada BUMN tersebut.3 trilyun dan US$ 18.15/MBU/2010 tertanggal 25 Januari 2010 telah membentuk suatu Tim yang bertugas melakukan koordinasi dengan BUMN Pemilik BPYBDS dalam rangka monitoring perkembangan penyelesaian BPYBDS menjadi Penyertaan Modal Negara (PMN). Jambi). agar data hasil rekapitulasi Tim BPYBDS akurat. baik jumlah BPYBDS maupun perkembangan terakhir. 3) BPYBDS yang telah ditetapkan statusnya menjadi Penyertaan Modal Negara (PMN) melalui Peraturan Pemerintah (PP) pada tahun-tahun sebelumnya. agar ditindaklanjuti dengan tindakan korporasi melalui pengesahan RUPS tentang Perubahan/Penambahan Modal Disetor serta perubahan Anggaran Dasar Perusahaan. 2) BPYBDS yang baru saja diserahterimakan kepada BUMN melalui Berita Acara Serah Terima (BAST) / Berita Acara Serah Terima Operasi (BASTO) maupun yang akan diserahterimakan pada waktu mendatang. yang tersebar pada 23 BUMN. Pada sat ini jumlah BPYBDS diperkirakan mencapai Rp 47.29 juta. 1) BUMN Pemilik BPYBDS diminta memberikan konfirmasi maupun penyempuranaan atas hasil rekapitulasi Tim BPYBDS. 116 .permodalan BUMN. diharapkan secara langsung dimohonkan untuk diproses menjadi penambahan Penyertaan Modal Negara dengan tetap dilakukan reviu/audit dan berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan serta instansi terkait lainnya untuk preoses penyelesaian penetapan statusnya (seperti proses PMN pada Bandara Dipati Amir.: Kep. Menteri BUMN melalui Keputusan No. updated sehingga valid untuk melakukan monitoring. status BPYBDS perlu ditetapkan secara definitif menjadi Penyertaan Modal Negara yang pembukuannya masuk kedalam ekuitas perusahaan. Penetapan RUPS tentang Perubahan Modal Disetor tersebut dapat dimohonkan secara tertulis kepada Menteri BUMN dengan melampirkan dokumen pendukung. perlu ditempuh kebijakan sebagai berikut. Bangka dan Bandara Sultan Toha.

00 triliun 4.79 triliun 4.17 triliun 0.00 triliun 117 .00 triliun 19.79 triliun 0.Dengan dapat diprosesnya secara langsung BAST/BASTO sebagaimana dimaksud pada angka 2) di atas.13 triliun 2011 19.13 triliun 7.17 triliun 0.00 triliun 0. eksisting BPYBDS saat ini secara bertahap dapat diselesaikan penetapan statusnya sebagai PMN yang diharapkan dapat selesai hingga tahun 2013 dengan perkiraan jadwal penyelesaian sebagai berikut : Keterangan/Tahun Jumlah BPYBDS Penyelesaian (PMN) Penambahan Baru Saldo BPYBDS 2010 47.79 triliun 2013 4.96 triliun 7.00 triliun 11.96 triliun 2012 11.22 triliun 0.35 triliun 28.

yaitu Stand Alone. Holding. kinerja. Program rightsizing BUMN adalah program utama dari program restrukturisasi/penataan kembali BUMN dengan cara pemetaan secara lebih tajam. Skenario hasil rightsizing BUMN dalam kurun waktu 2010 – 2014. tahun 2012 menjadi ± 91 BUMN. pada tahun 2011 menjadi ± 102 BUMN. terhadap perusahaan yang mengalami kerugian dan kesulitan keuangan serta operasional. Merger/Konsolidasi. Program ini tetap dilakukan berdasarkan pertimbangan urgensi kepemilikan mayoritas Negara pada suatu BUMN. Restrukturisasi meliputi restrukturisasi sektoral yang pelaksanaannya disesuaikan dengan kebijakan sektor dan/atau peraturan peundang-undangan dan restrukturisasi perusahaan/korporasi. menghasilkan produk dan layanan dengan harga yang kompetitif kepada konsumen dan memudahkan pelaksanaan privatisasi. penciptaan nilai dan potensi sinergi antar BUMN tanpa mengabaikan azas-azas yang terdapat dalam Pasal 33 UUD 1945. sehingga dapat memberikan manfaat berupa dividen dan pajak kepada Negara. diharapkan jumlah BUMN pada tahun 2010 menjadi ± 117 BUMN. Divestasi dan Likuidasi. Selain itu. Cara atau model dalam rangka rightsizing BUMN dapat dilakukan melalui berbagai shareholder action. dan dilakukan regrouping/konsolidasi. Pelaksanaan restrukturisasi perusahaan/korporasi oleh PT PPA mulai dilaksanakan sejak bulan April 2009 dengan telah diterbitkannya Peraturan Menteri BUMN Nomor PER-01/MBU/2009 tanggal 8 April 2009 tentang Pedoman Restrukturisasi dan Revitalisasi Badan Usaha Milik Negara oleh Perusahaan perseroan (Persero) 118 . Restrukturisasi perusahaan/korporasi merupakan program rutin yang berkesinambungan dari tahun ke tahun dalam rangka terus memperbaiki kinerja dan meningkatkan nilai perusahaan dan dituangkan dalam RKAP setiap BUMN setiap tahunnya.Restrukturisasi adalah upaya yang dilakukan dalam rangka penyehatan BUMN guna memperbaiki kinerja dan meningkatkan nilai perusahaan. profil sektoral. tahun 2013 menjadi ± 85 BUMN dan tahun 2014 menjadi ± 78 BUMN. untuk mencapai jumlah dan skala usaha BUMN yang lebih ideal. restrukturisasi dilakukan oleh PT PPA sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2008 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pendirian Perusahaan Perseroan (Persero) di Bidang Pengelolaan Aset.

serta memperluas kepemilikan saham oleh masyarakat.39 kali).149 Triliun Rp 11. manajemen dan pemasaran. Privatisasi adalah penjualan saham Persero. Privatisasi yang dilakukan tidak melalui metode penawaran umum lewat di pasar modal akan dilakukan dengan sangat selektif dan hati-hati. Pemerintah akan terus mendorong ketaatan semua pihak terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku dibidang PSO khususnya Pasal 66 UU No. diharapkan sampai dengan akhir tahun 2014 seluruh BUMN yang mengalami kerugian dan memiliki permasalahan keuangan dan operasional telah menunjukkan perbaikan kinerja dan tidak ada lagi BUMN yang mengalami kerugian. khususnya yang menyangkut Standard Operating Procedure (SOP) tentang pengusulan/penugasan PSO. dan pertanggungjawaban pada tahun 2009 menjadi 119 .28 kali). 19 tahun 2003 tentang BUMN. tetapi diperioritaskan dalam rangka mendukung pengembangan perusahaan dengan metode utama melalui penawaran umum di pasar modal.583 Triliun pada tahun 2014 (meningkat 5. pelaksanaan PSO. Setelah penerapan program restrukturisasi dan privatisasi dalam kurun waktu 2010 – 2014 (dengan asumsi umum bahwa divestasi 100% kepemilikan Negara pada BUMN hanya terhadap BUMN dengan nilai aset realif kecil). Selain itu. privatisasi juga dilakukan dalam rangka program restrukturisasi dan rightsizing BUMN. memperbesar manfaat bagi negara dan masyarakat.986 Triliun pada tahun 2014 (meningkat 5. Dalam kurun waktu 5 tahun ke depan terdapat 36 BUMN yang akan diprivatisasi. Arah kebijakan privatisasi ke depan bukan semata-mata untuk pemenuhan APBN. kepada pihak lain dalam rangka meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan. diharapkan akan terjadi peningkatan kinerja dan nilai BUMN sebagai berikut : 1) Ekuitas BUMN akan meningkat dari Rp 566 Triliun pada tahun 2009 menjadi Rp 2. 2) Aset BUMN akan meningkat dari Rp 2. Disamping juga untuk lebih mendorong penerapan prinsip-prinsip Good Corporate Governance. Metode ini terutama digunakan untuk BUMN-BUMN yang memerlukan pendanaan yang tidak dapat diperoleh/dipenuhi dari pasar modal dan/atau Pemerintah serta memerlukan peningkatan kompetensi tehnis. Dengan dilakukannya restrukturisasi perusahaan/korporasi oleh PT PPA.PT Perusahaan Pengelola Aset. Dalam kaitan dengan kewajiban pelayanan umum/ public service obligation (PSO). baik sebagian maupun seluruhnya. dan menciptakan aturan-aturan pelaksanaan (Perpres atau Peraturan Pemerintah) PSO.

Optimalisasi pengelolaan aset merupakan salah satu bentuk pendayagunaan aset. Dalam pelaksanaan tugas optimalisasi pengelolaan aset tersebut. 120 . cepat. terkini.pelaksanaan PSO. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi di Kementerian BUMN diharapkan dapat mempercepat terwujudnya program pemerintah untuk melakukan reinventing government melalui reformasi birokrasi penyelenggaraan kepemerintahan di lingkungan Kementerian BUMN. meningkatkan efisiensi dan efektivitas. status BPYBDS perlu ditetapkan secara definitif menjadi Penyertaan Modal Negara yang pembukuannya masuk kedalam ekuitas perusahaan. dan pendokumentasiannya. dan aturan mengenai penuangan PSO dalam suatu kontrak yang jelas. dan mutakhir dengan mendasarkan pada prinsip efisiensi dan efektivitas dalam pengumpulan. akurat. sehingga memudahkan monitoring dan evaluasi pelaksanaan PSO. implementasi teknologi informasi dan Komunikasi dapat digunakan untuk meningkatkan fungsi pengendalian. dan mudah diperoleh. tepat. akurat. sehingga dalam pencatatan pembukuan BUMN sebagai barang yang diserahkelolakan tersebut BPYBDS tidak secara tegas masuk kategori hutang atau ekuitas. karena belum ada penetapan secara legal. pengolahan. sehingga dapat membantu pimpinan mengambil keputusan dengan tepat. maka diperlukan penyediaan data dan informasi tentang BUMN secara lengkap. akuntabilitas. Selain itu. Terkait dengan tujuan tersebut. tajam dan terpercaya akan menjadi pendukung think tank pengambilan keputusan di Kementerian BUMN. konsisten. Selain itu. lengkap. Untuk mencapai hal tersebut. perlu dilakukan pemisahan pembukuan antara kegiatan pelaksanaan PSO dari kegiatan komersial BUMN secara keseluruhan. aturan mengenai besaran dan perhitungan margin pelaksanaan PSO. Data dan informasi yang lengkap. dengan implementasi teknologi informasi dan komunikasi diharapkan juga dapat menyediakan data/informasi dengan murah. baik melalui optimalisasi pemanfaatan ataupun penghapusbukuan. BPYBDS pada umumnya merupakan hasil proyek dari Kementerian Teknis yang sumber pembiayaannya dipenuhi dari DIPA/APBN yang diserahkankelolakan kepada BUMN. dan meningkatkan implementasi prinsip-prinsip penyelenggaran kepemerintahan yang baik (good government governance) yang lain seperti transparansi. dan kewajaran. Kementerian BUMN telah membangun sistem Bank Data Aset. Dalam rangka pelaksanaan restrukturisasi permodalan BUMN.

15% dan 11. BUMN didirikan dengan maksud dan tujuan: a) memberikan sumbangan bagi perkembangan perekonomian Nasional pada umumnya dan penerimaan Negara pada khususnya.77 Triliun pada tahun 2005 menjadi Rp 110. 121 . 2. Sedangkan dalam kurun waktu 2005-2009 capaian Return on Assets (RoA) dan Return on Equity (RoE) rata-rata mencapai 3.BAB V KESIMPULAN 1. dan masyarakat. Keberadaan serta Maksud dan Tujuan Pendirian BUMN Sesuai dengan Pasal 33 Undang Undang Dasar Tahun 1945 Badan Usaha Milik Negara (BUMN) merupakan salah satu penggerak utama perekonomian nasional disamping Koperasi dan Swasta. (c) brand image BUMN. b) mengejar keuntungan.78 Triliun dan Rp 72.06 Triliun pada tahun 2005 menjadi Rp 2. Perkembangan Kinerja BUMN 2005-2009 Jumlah BUMN sampai dengan saat iniadalah sebanyak 141 BUMN terdiri dari 15 BUMN Tbk.03 Triliun pada tahun 2009.84 Triliun pada tahun 2009. dan e) turut aktif memberikan bimbingan dan bantuan kepada pengusaha golongan ekonomi lemah.57 Triliun dan Rp 25.25 Triliun dan Rp 370. dan (f) penguasaan data. BUMN pada dasarnya memiliki potensi yang sangat besar namun belum termanfaatkan secara optimal. informasi dan teknologi informasi. koperasi. Sesuai dengan Undang-undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara. 112 BUMN Persero dan 14 BUMN Perum. c) menyelenggarakan kemanfaatan umum berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang bermutu tinggi dan memadai bagi pemenuhan hajat hidup orang banyak. (e) profesionalisme SDM.150. (b) kepemilikan aset yang besar. (d) pengalaman usaha BUMN.03 Triliun dan Rp 566.20%. Selanjutnya pertumbuhan Laba Usaha dan Laba Bersih masing-masing dari Rp 82. Kinerja seluruh BUMN selama waktu 2005-2009 terus mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan terlihat dari pertumbuhan asset dan Ekuitas masing-masing dari Rp 1. antara lain: (a) keberadaan BUMN di hampir semua sektor usaha. d) menjadi perintis kegiatan-kegiatan usaha yang belum dapat dilaksanakan oleh sektor swasta dan koperasi.291.

Sedangkan kontribusi pajak dalam periode 2004-2008 mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi yaitu rata-rata sekitar 18% per tahun dengan sumbangan rata rata sebesar Rp 61. baik berupa dividen. laba. Meskipun demikian Kementerian BUMN dibantu oleh konsultan independen telah banyak menghasilkan kajian-kajian dan alternatif model terkait dengan rencana rightsizing dimaksud.3. Pajak dan kontribusinya bagi pergerakan sektor riil. dan kajian tentang kemungkinan pembentukan Super Holding dengan 3 alternatif pendekatan.65 Triliun per tahun. pelaksanaannya 122 . dalam kurun waktu 2005-2009 penyaluran dana Program Kemitraan sebesar Rp 8.98 Triliun. dalam artian bahwa rencana rightsizing BUMN menjadi 69 pada tahun 2009 belum dapat dilaksanakan. Kegiatan restrukturisasi melalui regrouping/konsolidasi sektoral untuk mendapatkan jumlah dan skala BUMN yang ideal (rightsizing) sampai dengan akhir 2009 belum berhasil.48 Triliun dari total kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI). BUMN telah memberikan kontribusi yang relatif besar kepada Negara. 4. Kontribusi/peran dari 15 BUMN yang sudah masuk Pasar Modal (BUMN Tbk) pada dasarnya juga relatif besar jika dilihat dari penguasaan/kapitalisasi pasar per 30 Desember 2009 yang mencapai 31. Kementerian BUMN juga telah melakukan kajian terhadap 25 BUMN besar dengan pendapatan.57% atau senilai Rp 637.56 Triliun dengan akumulasi jumlah mitra binaan sampai dengan tahun 2009 mencapai 640. terutama terhadap BUMN yang ditangani/diserahkan kepada PT Perusahaan Pengelola Asset (PT PPA) juga belum berjalan secara baik. Selanjutnya kontribusi BUMN terhadap pengembangan usaha kecil melalui Program Kemitraan dan Bina Lingkungan. Pelaksanaan Master Plan 2005-2009 Dalam pelaksanaan Master Plan 2005-2009 banyak upaya-upaya yang telah dilakukan Kementerian BUMN meskipun belum memberikan hasil yang optimal. Sedangkan dana Bina Lingkungan yang telah disalurkan BUMN seluruhnya mencapai sebesar Rp 1. Selain itu. Rata-rata dividen BUMN sebesar Rp 23.417 orang/unit kerja.04 Triliun per tahun dengan peningkatan ratarata sekitar 25% per tahun. aset dan ekuitas terbesar selama kurun waktu 2005-2009. Dari 17 BUMN yang diserahkan kepada PT PPA. Restrukturisasi korporasi. Kontribusi BUMN 2005-2009 Dalam kurun waktu 2005-2009.

guna mencapai jumlah dan skala BUMN yang ideal (rightsizing) sehingga dapat meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan. Arah kebijakan pembinaan BUMN kedepan juga diselaraskan dengan bidangbidang yang menjadi perhatian utama dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014. Demokratis.tidak dapat berjalan secara cepat sebagaimana yang diharapkan. memberikan manfaat berupa dividen dan pajak kepada Negara. revitalisasi dan profitisasi BUMN secara bertahap dan berkesinambungan. Adapun arah kebijakan pembinaan BUMN tahun 2010-2014 adalah sebagai berikut : 123 . Tahun 2005 dan 2006 tidak ada PTP karena Komite Privatisasi baru terbentuk pada tanggal 13 Oktober 2006 melalui Keputusan Presiden RI Nomor 18 Tahun 2006. 5. PTP tahun 2008 (44 BUMN termasuk carry over PTP tahun 2007) dan 2009 (20 BUMN yang merupakan carry over PTPN tahun 2008). Meskipun demikian Kementerian BUMN telah melakukan kajian dan seleksi terhadap BUMN untuk dimasukkan dalam Program Tahunan Privatisasi (PTP) tahun 2007 (15 BUMN). Kemudian terkait dengan program Optimalisasi Aset BUMN Kementerian BUMN telah membentuk unit organisasi yang khusus menangani pendayagunaan asset pada tahun 2006. dan Berkeadilan” dan sejalan dengan Visi Kementerian BUMN yaitu “Meningkatnya peran BUMN sebagai instrumen Negara untuk peningkatan kesejahteraan rakyat berdasarkan mekanisme korporasi”. hingga akhir tahun 2009 baru terdapat 15 BUMN yang Go Public (menjual sahamnya melalui Pasar Modal) atau baru sekitar 11% dari jumlah BUMN yang ada. sehingga banyak BUMN yang tidak bisa segera pulih dari kesulitan yang dihadapinya. Unit organisasi tersebut diharapkan dapat mendukung kebijakan Kementerian BUMN dalam melakukan langkah-langkah pembinaan dan pengawasan atas kegiatan pengelolaan aset oleh Direksi BUMN yang mengarah pada konsep efisiensi dalam penggunaan sumber daya dan pengelolaan resiko. Arah kebijakan tersebut sejalan Visi dan Misi Presiden untuk masa pemerintahan periode 2010-2014 yaitu “Indonesia yang Sejahtera. Arah Kebijakan Pembinaan BUMN 2010-2014 Arah kebijakan pembinaan BUMN dalam kurun waktu 2010-2014 pada dasarnya masih melanjutkan atau memantapkan program restrukturisasi. Selanjutnya untuk pelaksanaan program Privatisasi.

dan Restrukturisasi Perusahaan/Korporasi diarahkan untuk meningkatkan intensitas persaingan usaha. d) tahun 2013 sebanyak +85 BUMN. tetapi diprioritaskan guna mendukung pengembangan perusahaan dengan metode utama melalui penawaran umum di pasar modal (Initial Public Offering/IPO).a. dan restrukturisasi secara internal yang mencakup keuangan. dan bertanggung jawab dengan melakukan pemisahan pembukuan antara kegiatan PSO dan kegiatan komersial. dan menciptakan aturan-aturan pelaksanaan (Perpres atau Peraturan Pemerintah) PSO sehingga diharapkan pelaksanaannya dapat berjalan secara transparan. Terkait Program PSO Kementerian BUMN akan terus mendorong ketaatan semua pihak terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku dibidang PSO khususnya Pasal 66 UU No. operasional. Terkait Program Restrukturisasi Restrukturisasi Sektoral pelaksanaannya disesuaikan dengan kebijakan sektor dan/atau Peraturan Perundang-undangan yang ada. dan e) tahun 2014 sebanyak +78 BUMN. Restrukturisasi sektoral dimaksudkan untuk memperoleh jumlah dan skala BUMN yang ideal (rightsizing) dengan skenario hasil rightsizing diharapkan menghasilan jumlah BUMN sebagai berikut : a) tahun 2010 sebanyak +117 BUMN. Privatisasi dilakukan dalam rangka mendukung program restrukturisasi dan rightsizing BUMN. yang pelaksanaannya dilakukan melalui kriteria-kriteria tertentu sebagaimana telah diamanatkan dalam Undang-undang Nomor 19 tahun 2003 dan Peraturan Pemerintah 33 tahun 2005 jo Peraturan Pemerintah Nomor 59 tahun 2009. c. b) Penjualan Saham Langsung kepada Investor/Strategic Sale (SS). 19 tahun 2003 tentang BUMN. sistem dan prosedur. fair. organisasi/ manajemen. Terkait Program Privatisasi Arah kebijakan privatisasi ke depan adalah bahwa privatisasi bukan semata-mata untuk pemenuhan APBN. Privatisasi dilakukan dengan menggunakan salah satu dari 3 metode yaitu: a) Penjualan Saham berdasarkan Ketentuan Pasar Modal. Dalam kurun waktu 2010-2014 Kementerian BUMN diharapkan dapat melakukan privatisasi terhadap sekitar 36 BUMN. c) tahun 2012 sebanyak +91 BUMN. b) tahun 2011 sebanyak +102 BUMN. dan c) Penjualan Saham kepada Manajemen dan/atau Karyawan (Employee and Management Buy Out /EMBO). menata hubungan antara pemerintah selaku regulator dan BUMN selaku badan usaha. b. 124 .

Kementerian BUMN diharapkan dapat menjadi pusat penelitian yang kredibel dan terpercaya yang siap menawarkan solusi atas permasalahan BUMN baik bagi pihak internal maupun eksternal. baik melalui optimalisasi pemanfaatan ataupun penghapusbukuan.48 Triliun dari total kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI). guna mendukung peningkatan kinerja dan peningkatan nilai perusahaan. sehingga diharapkan Kementerian BUMN mendapatkan manfaat sinkronisasi dan integrasi rencana teknologi informasi dan komunikasi dengan rencana strategis Kementerian BUMN 6.11% dari total laba bersih seluruh BUMN. tajam dan terpercaya serta menjadi think tank pengambilan keputusan Kementerian BUMN. Diharapkan pada tahun 2014 nanti nilai perusahaan (value creation) dari BUMN dari sisi ekuitas mencapai Rp 2. Selanjutnya pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi di Kementerian BUMN diharapkan dapat mempercepat terwujudnya program tata kelola teknologi informasi dan komunikasi yang baik.82% dari total penjualan dan 36.583 Triliun 125 . 25. 91. Selanjutnya untuk 15 BUMN yang sudah go public (Tbk) menguasai 46.986 Triliun dan dari sisi asset mencapai Rp 11.69% dari total penjualan dan 98. 86. 12. akurat.71% dari total laba bersih seluruh BUMN. Dari kenyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa Arah kebijakan pembinaan BUMN dalam kurun waktu 2010-2014 untuk tetap melanjutkan/memantapkan program restrukturisasi. Terkait Program Optimalisasi Asset Optimalisasi pengelolaan aset merupakan salah satu bentuk restrukturisasi aset. Penguasaan Pasar BUMN Terbuka dan Value Creation Dari 141 BUMN yang dimiliki Negara.14% dari total asset.57% atau senilai Rp 637. Terkait Program Pengembangan Data. e. Ditambahkan pula bahwa penguasaan/kapitalisasi pasar BUMN Tbk per 30 Desember 2009 yang mencapai 31. Dalam pelaksanaan tugas optimalisasi pengelolaan aset tersebut.99% dari total Ekuitas. Informasi dan Teknologi Unit data dan informasi akan dikembangkan menjadi pusat data dan informasi yang lengkap.73% dari total Ekuitas.16% dari total asset.d. serta peningkatan kontribusi berupa dividen dan pajak kepada Negara. ternyata 25 BUMN terbesar menguasai 97. 25 BUMN Terbesar. Kementerian BUMN telah membangun sistem Bank Data Aset. revitalisasi dan profitisasi BUMN guna mencapai jumlah dan skala BUMN yang ideal (rightsizing) pada dasarnya sudah sangat tepat.

06 Triliun dan Rp 1. Pelaksanaan program privatisasi yang telah mendapat arahan dari Komite Privatisasi dan rekomendasi dari Menteri Keuangan memerlukan waktu yang relatif lama.dari posisi awal tahun 2010 masing-masing sebesar Rp 370. Di samping itu. namun tetap perlu menjadi perhatian pihak-pihak yang terkait untuk mengimplementasikannya. d.25 Triliun atau meningkat sekitar 5. Perlunya sinkronisasi peraturan-peraturan yang terkait dengan pelaksanaan kegiatan BUMN sehingga tidak saling bertentangan antara peraturan yang satu dengan yang lainnya. BUMN juga terus mengalami perbaikan dalam menerapkan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance/GCG) yang 126 . Hal-hal yang perlu mendapatkan perhatian dalam rangka pelaksanaan Master Plan BUMN 2010-2014 a. f.39 kali. Pelaksanaan restrukturisasi BUMN yang menimbulkan implikasi pajak sangat memberatkan keuangan BUMN sehingga memerlukan adanya ketegasan penanganan dari dampak perpajakan tersebut. perlunya sosialisasi yang intensif guna menyamakan persepsi mengenai tujuan dari pelaksanaan rightsizing BUMN. e. Pelaksanaan program restrukturisasi baik sektoral maupun korporasi tidak hanya melibatkan Kementerian BUMN. Untuk itu Master Plan BUMN 2010-2014 perlu mendapatkan legitimasi lebih dini dari pimpinan tertinggi pemerintahan sehingga akan menjadikan perhatian semua pihak yang terkait untuk melaksanakannya. sehingga permasalahan yang dihadapi BUMN tidak serta merta segera dapat diatasi. Dengan demikian penyelesaian proses restrukturisasi harus melalui proses dan tahapan yang telah ditentukan dan relatif membutuhkan waktu yang lebih lama/panjang. sehingga sering kehilangan momentum pelaksanaannya di samping dapat muncul resistensi dari stakeholder yang menghambat pelaksanaan privatisasi.291. namun juga melibatkan Kementerian Keuangan dan Kementerian Teknis serta DPR-RI. b. 7. c. Master Plan BUMN 2005-2009 walaupun telah mendapatkan legitimasi dari pimpinan pemerintahan tertinggi (Inpres Nomor 5 Tahun 2008).

ditunjukkan dengan peningkatan pencapaian skor hasil assessment dengan kategori Baik. Pelaksanaan PSO sangat tergantung dari kebijakan Kementerian Teknis mengingat DIPA PSO melekat pada Kementerian Teknis dimana BUMN beroperasi. i. h. 127 . g. Perlunya dukungan internal Kementerian BUMN dan seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) untuk pelaksanaan Master Plan 2010-2014. Implementasi Portal Kementerian BUMN belum optimal dan penyediaan Data dan Informasi dari laporan BUMN yang terintegrasi perlu terus peningkatan.

2014 . Program Berkesinambungan Teknologi Informasi Tahun 2006 . Data BUMN yang telah Listing di Bursa Efek 5. Peraturan yang terkait dengan Pembinaan BUMN 6. Program Kemitraan & Bina Lingkungan 7.2009 11. Matriks Penanganan Restrukturisasi Korporasi oleh PT PPA 9. Value Creation 3. Pokok-pokok Data Keuangan BUMN Berdasarkan Sektor 2.LAMPIRAN 1. Rencana Rightsizing dan Privatisasi Tahun 2005-2009 8. Master Plan Teknologi Informasi 2010 . Data BUMN Penyelenggara PSO 10. Data BUMN 25 Besar 4.

LAMPIRAN 1 POKOK-POKOK DATA KEUANGAN BUMN BERDASARKAN SEKTOR .

173 1.298 21.228 4.56 I PERBANKAN II ASURANSI III JASA KEUANGAN IV JASA KONSTRUKSI V INDUSTRI FARMASI .050 145.59% 7.688.57 3.45% 24.310 85.644 91.47% 21.312 1.022 12.14 3.72% 0.85% 17.697 973.198.386 68.076.09% 24.81 105.117 19.21% 5.076.503 25.430 13.53 2007 742.968 2.07% 5.380.989.450.18% 6.039.974.739 2.969.69% 23.288 1.65% 3.74% 9.823 754.027 267.300 1.98 12.719.672.31% 14.422 2.561.843.83% 9.607.810 5.563 5.282 49.60 16.665.500 36.72% 9.933 2.231 2.163.37% 11.72 2008 851.24 20.737.009 3.592 18.95% 4.78 2.245 5.855.576.87 13.379 3.070 1.248.267 1.943.033 12.481 1.452 2.318.840 4.70% 9.393 1.291.455.85% 0.047 3.015 2.384.71% 18.27 69.85% 0.556.709 6.607 7.963.361.570 512.734 2.327.055 1.59% 39.93 133.606.77 16.025.034 5.26% 7.02% 10.253 3.24% 4.26% 9.35% 36.985 2.184 88.342 520.343 9.014 2.606 25.627.41 10.257 4.573 5.828.638 767.023 68.257 2.553.274.116.690.39% 17.972 1.017.543.83 30.40 11.676 4.022 2. Juta No SEKTOR Akun Total Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) Total Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) Total Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) Total Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) Total Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) 2005 563.908 29.602.70% 8.240.208 5.360 3.11% 12.025.403 4.36% 18.711.763.503 61.943.082 2.178 13.960 6.212.Rp.364 75.265 2.814 71.457 417.427.877.238 180.147.966 3.292 15.026.774.423.728.815.501 1.56% 0.965 4.95 3.20% 6.219.20 2.513 254.010.661.44 2006 624.828.478.413 3.41% 15.186 1.44 86.342.406 8.54% 10.548.184 2.234.158 295.622.054.960 2.86% 7.186.832.97 147.66 Prognosa 2009 938.68% 7.103 198.48% 25.567 10.159.46% 26.40% 18.48% 5.573 16.86 22.218.133.391.279 7.47% 16.934.030 5.083.107.482.01% 9.048 59.51% 0.749 4.59% 19.793.32 23.359 16.27% 3.546 1.548.263.766 657.173 117.612 3.95% 9.380.499.484.768.509.321.677 1.324.440 33.44% 15.766 5.878 3.341.37% 6.56% 15.

844.242.87% 10.75% 2.10% -350.07% 10.744 992.357 31.210) -18.857 8.71 Prognosa 2009 971.513 (69.62 48.157 13.66% 1.09% -24.37% -4.57 17.984 6.232.226 45.827 977.42% 4.794 59.26% 3.23% -0.864 0.881 (67.057 29.930 8.672) -0.661 (51.818.236.23% 5.31 39.67% 1.32 44.46 29.189) -5.543 547.944 658.121) (72.60% 10.15% -0.168 441.09 VI ANEKA INDUSTRI VII PERUMAHAN & KAWASAN INDUSTRI VIII Sarana Angkutan dan Pariwisata IX Prasarana Angkutan X LOGISTIK DAN JASA SERTIFIKASI .37% 0.882.061 33.730 784.056 3.595 10.91 29.194.966.61% 0.885 63.101 (97.672 30.156.432) -6.544.43 24.319 3.168.367 7.78% (15.93% 3.750 2.76% 0.308 47.08 1.17% -12.48% 12.335 66.756.75% 0.261 557.687 0.035.58 2006 804.164.438.397.168) -2.80 30.310.25% 0.47 1.25% 0.66% 12.622 7.99% -4.469 (44.550.741 214.377 569.50% 1.033.93 26.468 119.Rp.900.228 4.540) -2.575 (28.167.286 614.44 22.38% 15.89% 5.42 24.170.245 (493.669.479 3.76) 2.184 7.317 1.967 153.925.200 (641.458 6.342 (259.756.119.421.791 23.86% 3.905.534.224.642 69.39% 1.916 2.88 20.75% 1.78 22.771.745.061.700) -0.89% 2.345 11.56% 0.54% 6.302 554.68% 0.619 201.508 7.957.885.928) -2.697) (53.581.243 5.394 541.766.051.292 7.976.220.565 (1.883 27.82% -7.62% 2.648 (30.43 2007 778.955 3.156.430.706 3.035 79.082 16.558.692 4.117) -11.965 3.421.124 14.468) (94.055.08% 148.702.243.42% 0.832) 473.020.131 11.948) -10.862.845 20.330 14.019 0.817 795.631 28.30% 10.094.455.70% -78.095) (158.90% 1.220 2.915.569.838.543 (65.286 1.74 1.218 23.881 8.25% -152.269) -0.08% 1.66 31.773.546 9.753 6.221 (97.975.136 18.05% -10.27% 18.687 13.510 20.802 1.730.946 19.98 2008 874.403 8.69% 9. Juta No SEKTOR Akun Total Aset Ekuitas Pendapatan Laba Usaha Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) Total Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) Total Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) Total Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) Total Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) 2005 876.76% 0.581.56% 6.35 1.64 19.078.014) -9.

487 1.131 4.934.055.935 4.530.294 (253) -0.653) -3.956 6.894.224.684 1.043 1.Rp.12 2.40 202.23) 3.184.601.730 39.212.810 2.263 7.603.463) 98.774 8.223 1.835 6.18% (10.660.818.17% 9.41% 6.00% (10.55% 2.222 (16.087 1.289 1.743.560 1.18% 13.116 (22.613 (77.20% 10.53% 0.790 9.597 37.686.803.507 5.907) -6.23% -1.297.587.96% 1.34% 1.328.232 (11.701 12.789 33.736 3.862.98 2.71% (2.074 9.13% 1.79 2.688.474.13% 1.929.962 897.92) 3.929 2.947.037) 103. PERCETAKAN Ekuitas & PENERBITAN Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) Total Aset Ekuitas PENUNJANG PERTANIAN Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) XI XII XIII XIV XV .553.87% 1.942 8.601 1.074 2.379 1.565) -3.41 2006 24.193 27.510 1.838 13.94 2.20% 0.071 2.871 492.806 6.21 2008 34.255 17.814.130.64% 2.732 2.392.148.337 868.732 39.045 294.406 (123.578.22% 7.934 15.482.717.87 2.628 (110.187 2.16% 1.04% 72.94% 0.024.88% -49.367 347.32% 6.05% 2.304 82.518 (145.99% 15.003.230 7.934 33.26 24.34 147.20% 1.00% 0.964.915.95 21.98) 3.43% 1.64 Prognosa 2009 37.15% 11.760 103.12 Total Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) Total Aset KEHUTANAN Ekuitas Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) Total Aset PERIKANAN Ekuitas Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) Total Aset KERTAS.420 1.586.581.457) 123.771 1.783 21.472 (1.70% 16.547 4.72 32.48% 0.592 72.42% -3.224) 156.994.927 241.459 (15.098.073.652.379 1.563 2.21% 13.24 2.112 (21.09) 3.41% 24.38% 1.473.529.122 24.490 41.646.81% 20.404 2.85% 13.85 33.694 616.29 102.49% 24.204 (16.73% -31.568.839 118.837 2.904.104 1.671 2. Juta No SEKTOR PERKEBUNAN Akun 2005 21.399 11.544 20.955) -10.163 2.95% -51.283 12.40 197.817.148.10% -10.054.296.67% 5.344) -0.56% 17.581 2.33% (12.136 4.031 45.97% 1.124.19% 0.90% 5.288.532 2.712.708.37 2007 29.568 47.221.049.335 8.263) -1.79% 7.52 20.352.236.451 1.400 4.299 17.746.338.719.728 1.319) -3.126.41 198.863.681.40% 11.52% 1.

325 34.89% 2.713 72.55% 0.854.944.724.41% 3.092.969.73 19.769 1.404.169.670 18.696.790.596 28.420.05 83.031 499.03% 12.091 420.268.371.089 19.937 33.780.871.45% 1.42 15.451.770.303 (237.43 2008 321.781 15.623.56% 1.758.756.554 1.361.965.789 134.305 565.17% 0.926 374.843 4.966 166.650 35.588.270 8.069 114.049.66 2007 279.49% 30.017.034.92 22.157 169.890.638.254.505.44% 37.274.496.610.344 371.922 38.217 138.011 4.807.032.453.79% 16.44 2.566.898 15.361.68% 33.378.484.500.25 2.Rp.931 11.83 2.069.33 92.52% -2.054 11.961 4.81 .220.656 48.00% 0.536 1.646.016 146.31% 0.069 25.251 21.486 3.193 3.349.119.615 145.590 161.755 400.171.707 1.679 585.39% 6.547 9.150.416 228.81% 8.44% 38.835 52.956 2.081.664 655.024 127.32 322.036 15.48% 1.90 24.26% -2.897 13.276.020 931.528.617.862 12.979 63.428.161.199.454 49.62 63.53 297.96% 11.986) -1.949 22.347 12.013.771.39% 3.469 329.786 147.841.800 11.194) -0.735 370.49 2.982.330 0.67% 12.717.848 42.658 4.477 452.896 865.16 266.324.485 (9.847.00% 3.566.413.43% 6.834.795 34.892 373.307.301.53 XVII INDUSTRI STRATEGIS XVIII ENERGI XIX TELEKOMUNIKASI TOTAL 1.720.21% 1.062.353 9.09% -7.50% 1.760 184.182 81.322.237 9.225 171.823.230.176.05% 21.186.65 Prognosa 2009 329.51% 8.86% 20.236 64.68 18.716 445.49 96.40% 3.958.971) -1.69% 3.48 236.651.26% 3.30% -5.529 85.420 754.867.398.92% 11.43% 0.918.37% 0.58% 11.496.62% 1.239.017 (181.46% 8.49% 1.947 10.291.46% 0.364.59% 1.15% 3.962.141 14.478 9.92% -4.117.47% 12.31% 3.000.678 23.212 1.060.152.854.008 514.098 1.349 4.07% 1.040.840.496.989 60.04% 4.011.60 376.144 (3.020.80 76.863 1.399 62.630.012.989 (3.901 11. Juta No XVI SEKTOR PERTAMBANGAN DAN SEMEN Akun Total Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) Total Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) Total Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) Total Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) Total Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) 2005 197.310.955 151.064 25.714 2.734 5.305.67% 24.415) -1.65 2006 225.186.952.804) -3.185.

LAMPIRAN 2 VALUE CREATION SEKTOR BUMN .

02 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun 1 Perbankan 332.07 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun PER 2010 =9.316 85.75 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun PER 2010 =9.430 71.024 PER 2010 =12.083 3.509 11.617 689.82 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun PER 2010 =12.318 7 Perkebunan Logistik dan Sertifikasi 21.533 399.Value Creation NILAI PERUSAHAAN (Rp.894 4 1.924 9.098 7.039 478.235 5.141 2.45 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun 8 6.847 574.410 13.784 2.569 3.082 6.204 18.99 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun PER 2010 =34.525 59.520 45.056 31.529 4.267 37.98 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun PER 2010 =47.693 KEDEPUTIAN RESTRUKTURISASI DAN PRIVATISASI 3 8 . Miliar) No Sektor 2010 2011 2012 2013 2014 KETERANGAN PER 2010 =20.559 12.670 15.04 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun PER 2010 =32.540 2 Asuransi 41.271 49.699 5 Perikanan 107 128 154 184 221 6 Kehutanan 3.245 21.580 3 Jasa Pembiayaan Percetakan & Penerbitan 10.603 7.713 26.

563 2012 16.556 13.843 409.66 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun PER 2010 =13.03 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun PER 2010 =17.Value Creation … Lanjutan NILAI PERUSAHAAN (Rp.774 2.169 120.149 22.025 9.439.630 11.562 83.640 12 33.175 1.392 4.085 867.574 17 Energi 502.474 100.23 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun PER 2010 =25.985.812 257.375 15 Pertambangan 197. Miliar) No Sektor 9 Konstruksi 2010 11.33 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun 10 Kawasan Industri 3.344 122.867 16.734 47.727.920 .957 19.963 179.217 68.884 5.303 2011 13.041.97 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun PER 2010 =34.313 1.298 15.67 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun PER 2010 =48.03 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun PER 2010 =18.76 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun PER 2010 =16.437 KETERANGAN PER 2010 =16.070 4.073.702 1.036 340.111 39.861 7.286 102.571 723.243 18 Telekomunikasi 124.267 2.2 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun PER 2010 =59.968 69.680 57.203 14 Penunjang Pertanian 71.143 602.276 2013 19.488.9 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun PER 2010 =20.969 149.812 147.012 16 Industri Strategis 13.010 214.660 13 Prasarana Angkutan 57.697 284.531 2014 23.072 85.247 236.033 11 Aneka industri Sarana Angkutan & Pariwisata 8.978 27.556 2.

596.2.150T pada tahun 2009 menjadi Rp.60 2.88 x) .39x) (Dengan asumsi DER sama dengan posisi 2009 yaitu 2.2.00 566.583 T pada tahun 2014 (meningkat 5.92 8.88x 2010 2011 2012 2013 2014 11.54 2.28x) Aset BUMN akan meningkat dari Rp.11.88x Ekuitas BUMN akan meningkat dari Rp.986 T pada tahun 2014 (meningkat 5.150.582.566T pada tahun 2009 menjadi Rp.629.03 1.Kesimpulan Value Creation BUMN 2009 Aset BUMN Ekuitas Hutang DER 2.61 2.985.

LAMPIRAN 3 DATA BUMN 25 BESAR .

Coverage 25 BUMN Besar
Dari 141 BUMN, sebagian besar adalah perusahaan dengan Kinerja dan skala usaha yang relatif kecil. Lebih dari 97% dari Total ASET dan LABA BERSIH serta 92% EKUITAS dan 87% PENJUALAN seluruh BUMN berasal dari hanya dari 25 BUMN terbesar (data Audited 2008).

BUMN Terbesar dan Proporsinya Terhadap Total
(Rp. Trilliun)
Aset Total 2008 14 Tbk 25 BUMN Σ % Σ % 1,977.80 46.14 912.56 Ekuitas 526.13 25.99 136.74 Penjualan 1,161.71 12.82 148.93 Laba bersih 78.47 36.71 28.81

97.16
1,921.63
14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. PT Jamsostek PT TB Bukit Asam Tbk PT Taspen Perum Bulog * PT Jasa Marga Tbk PT Pelabuhan Indonesia II PT Bank Ekspor Indonesia PT Angkasa Pura II PT Angkasa Pura I PT Garuda Indonesia PT Kereta Api Indonesia * PT PLN *

91.73
482.62

86.69
1,007.09

98.11
76.99

25 BUMN Terbesar
1. PT Pertamina * 2. PT Bank Mandiri Tbk 3. PT Telekomunikasi Indonesia Tbk 4. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk 5. PT Pupuk Sriwidjaja * 6. PT Bank Negara Indonesia Tbk 7. PT PGN Tbk 8. PT Aneka Tambang Tbk 9. PT Semen Gresik Tbk 10. PT Krakatau Steel 11. PT Askes 12. PT Timah Tbk 13. PT Bank Tabungan Negara

14 BUMN Tbk
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. PT Bank Mandiri Tbk PT Telkom Tbk PT Bank Rakyat Indonesia Tbk PT Bank Negara Indonesia Tbk PT PGN Tbk PT Aneka Tambang Tbk PT Semen Gresik Tbk PT Timah Tbk PT TB Bukit Asam Tbk PT Jasa Marga Tbk
11. 12. 13. 14. PT Kimia Farma Tbk PT Indo Farma Tbk PT Adhi Karya Tbk PT Wijaya Karya Tbk

Catatan: * BUMN Pelaksana PSO (5 yang lainnya yaitu PELNI, Sang Hyang Seri, Pertani, POS dan Antara)

Breakdown Figur Keuangan Pokok
Breakdown Berdasarkan Aset
72 BUMN 28 BUMN
BUMN Kecil Lainnya

Aset <1 T Aset 1 T -- <2,5 T

DI, PNM, Waskita, Askrindo, PTPN II, Hutama, Jasindo, PTPN XIII, Peruri, PTPN VI, PTPN VIII, PTPN X, KF, Perhutani, Pelindo I, ASDP, PANN, PTPN XI, PTPN IX, Jamkrindo, Kertas Leces, Perumnas, Pelindo IV, PPI, Djakarta Lloyd, Nindya, MNA, PTPN XII

23 BUMN

SGG, AP I, AP II, KAI, Pelindo II, Askes, Timah, Pelni, Wika, PTBA, PTPN III, PTPN IV, Adhi Karya, Asabri, Posindo, Pelindo III, RNI, Danareksa, PAL, PTPN VII, PTPN V, PT PP, Jasa Raharja

Aset 2,5 T -- <10 T Aset 10 T -- <100 T

14 BUMN

Telkom, Jamsostek, BTN, Pusri, Taspen, PGN, Bulog, KS, Jasa Marga, GIA, BEI, Jiwasraya, Pegadaian, Antam,

5 BUMN

Bank Mandiri, Pertamina, PLN, BRI, BNI

Aset > 100 T

Breakdown Berdasarkan Pendapatan
84 BUMN 23 BUMN
BUMN Kecil Lainnya
Posindo, Jiwasraya, Pelindo II, Pelindo III, Perhutani, MNA, AP II, Pelni, I, Jasa Raharja, PTPN VI, PTPN VIII, PTPN II, PTPN XI, Peruri, PTPN X, Indo Farma, PTPN IX, PPI, SHS, Nindya Karya, Sucofindo, BEI

Pendapatan <1 T

Pendapatan 1 T -- <2,5 T

23 BUMN

Antam, Timah, Jamsostek, PTBA, Adhi Karya, Taspen, Askes, Wika, KAI, PTPN III, BTN, PTPN IV, PP, PTPN V, PTPN VII, RNI, Jasindo, Waskita, Pegadaian, Jasa Marga, Hutama, PTPN XIII, KF

Pendapatan 2,5 T -- <10 T

10 BUMN

Telkom, Pusri, BRI, Mandiri, KS, Bulog, GIA, BNI, SGG, PGN

Pendapatan 10 T -- <100 T

2 BUMN

Pertamina, PLN

Pendapatan>100T

NO COPY ALLOWED

Breakdown Figur Keuangan Pokok (Lanjutan)
Breakdown Berdasarkan Ekuitas
53 BUMN

BUMN
PTPN XIII, KF, Peruri, PANN, Jiwasraya, PPA, Taspen, Jasindo,

Ekuitas <100 M

Kecil Lainnya

51 BUMN

Bio farma, PAL, PTPN X, Asabri, PTPN VIII, Danareksa, RNI, Adhi Karya, ASEI, PTPN XII, PTPN VI, Perumnas, PNM, INTI, Sucofindo, PP, PTPN XI, Waskita, GIA, KBN, Inhutani III, Posindo, Inhutani I, PTPN IX, Hutama, INAF, Kertas Leces, Semen Baturaja, SI, Inka, Jasa Tirta II, Rukindo, Garam, BTDC, Pindad, Inhutani II, Dahana, SHS, Berdikari, PTPN II, Damri, KBI, TWC Borobudur

Ekuitas 100 M -- < 1 T

31 BUMN

PGN, Antam, SGG, AP I, Jasa Marga, AP II, KS, PELNI, Pelindo II, BEI, Bulog, PTBA, Timah, KAI, BTN, Pelindo III, PTPN IV, Askes, PTPN III, Jamsostek, Pegadaian, Askrindo, Jasa Raharja, Wika, ASDP, PTPN VII, Pelindo I, PTPN V, Perhutani, Jamkrindo, Pelindo IV

Ekuitas 1 T -- <10 T

5 BUMN

Telkom, Bank Mandiri, BRI, BNI, Pusri

Ekuitas 10 T -- <100 T

2 BUMN

Pertamina, PLN
53 BUMN
BUMN Kecil Lainnya

Ekuitas > 100 T

Breakdown Berdasarkan Laba Bersih
Laba Bersih<10 M

43 BUMN

PPI, Bulog, PTPN X, PTPN XII, ASDP, PPA, PTPN IX, Waskita, PANN, Askrindo, Hutama, Sucofindo, ASEI, PTPN II, INKA, Jasa Tirta II, BTDC, BKI, Dahana, Inhutani V, Jiwasraya, KBN, Danareksa, Damri, KAI, Posindo, PTPN XI, Pindad, SI, KBI, BGR, Brantas, Istaka, KIM, Perumnas, Kertas Leces, Jasa Tirta I, Djakarta Lloyd, PNM, SHS, DPS, PTPN I, LEN

Laba Bersih 10 M -- < 100 M Laba Bersih 100M -- <1T

35 BUMN

Jamsostek, Pelindo II, PTPN III, PTPN IV, Pegadaian, Jasa Marga, KS, Askes, AP II, Pelindo III, BTN, KF, PTPN V, AP I, Taspen, PTPN VII, BEI, Jasa Raharja, Peruri, RNI, PTPN XIII, Pelindo I, Asabri, PTPN VIII, Perhutani, Wika, ADHI, GAI, Pelindo IV, PP, PTPN VI, Semen Baturaja, Jasindo, Bio Farma, Jamkrindo

9 BUMN

BRI, Bank Mandiri, PGN, SGG, PTBA, Antam, Timah, Pusri, BNI

Laba Bersih 1T -- <10T

2 BUMN

Pertamina, Telkom

Laba Bersih>10T

NO COPY ALLOWED

LAMPIRAN 4 DATA BUMN YANG TELAH LISTING DI BURSA EFEK .

2. 7. PT Kimia Farma Tbk PT Indo Farma Tbk PT Adhi Karya Tbk PT Wijaya Karya Tbk PT Jasa Marga Tbk PT Pembangunan Perumahan Tbk . 9. PT Telkom Tbk PT Bank Mandiri Tbk PT Bank Rakyat Indonesia Tbk PT Bank Negara Indonesia Tbk PT Bank Tabungan Negara Tbk. 8. 3. 16. 8. 5. 15. 14. PT PGN Tbk PT Aneka Tambang Tbk PT Semen Gresik Tbk PT Timah Tbk PT TB Bukit Asam Tbk 11.BUMN Yang Telah Listing 1. 6. 4. 13. 12.

00 29.80% 32.go.00 100.00 45.14 200.00% 25.00% 5.60% 36.00 300.00 400.00% 15.00 0.00% 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Catatan : Kapitalisasi Pasar BUMN Tbk tahun 2005 dan 2006 adalah kapitalisasi terhadap Bursa Efek Jakarta.00% 30. sedangkan Kapitalisasi Pasar BUMN Tbk Tahun 2007.RAHASIA & TERBATAS Kapitalisasi Pasar BUMN Tbk Kapitalisasi pasar BUMN Terbuka (Rp triliun) % terhadap total kapitalisasi pasar 700.00% 40.00% 0.77 35.id Kementerian Negara BUMN 17 .00 31.00 40. 2008 & 2009 adalah kapitalisasi terhadap Bursa Efek Indonesia Sumber : diolah dari www.00 500.00 260.bapepam.00% 10.23% 600.87% 493.00% 35.26 32.98% 250.00% 630.00 153.40% 636.00 386.00% 20.

LAMPIRAN 5 PERATURAN YANG TERKAIT DENGAN PEMBINAAN BUMN .

13 th 1998 tentang Perusahaan Umum Pengalihan/ Pelimpahan kedudukan. 2001 Pelimpahan kedudukan. Inpres No. 38/1999. Keppres No. Perusahaan Umum dan Perusahaan Perseroan • Menteri Keuangan sebagai Pembina Keuangan • Menteri Teknis sebagai Pembina Teknis NO COPY ALLOWED PP No. Keppres No. 41 th. 3 th 1983 tentang Tata Cara Pembinaan dan Pengawasan Perusahaan Jawatan.Pembinaan dan Pengelolaan BUMN Pembinaan BUMN oleh Departemen/ Menteri Teknis Menteri Keuangan sebagai Pemegang Saham Negara RI / Pemilik Modal pada BUMN dan memegang Kewenangan Pembinaan BUMN UU No. tugas dan kewenangan Menteri Keuangan pada Persero. 12 th 1969 tentang Perusahaan Perseroan. 15 Th 1998. Inpres No. 11 tahun 1973. 50 th 1998. Perum dan Perjan kepada Menteri BUMN PP No.Pus selaku Pemegang Saham/ Pemilik Modal BUMN (pasal 1 ayat 5) Pengalihan tugas dan kewenangan Menteri Keuangan sebagai Pemegang Saham dalam Perusahaan Perseroan (Persero) kepada Menteri Negara Pendayagunaan BUMN . Perum dan Perjan kepada Menteri BUMN PP No. PP No. 2003 (1960-1969) (1969-1998) (1998) (1998-2001) (2001-2003) (2003-Sekarang) (2003-Sekarang) UU 19/2003 PP No. 12 th 1998 tentang Perusahaan Perseroan. PP No. 39/1999 tentang BUMN Menteri BUMN adalah pihak yang mendapatkan Kuasa dari Negara/ Pem. 19 PRP th1960 tentang Perusahaan Negara PP No. tugas dan kewenangan Menteri Keuangan pada Persero. 64 th.

pendirian BUMN dan pengalihan bentuk Perjan dilakukan oleh Menteri Keuangan. kewenangan pengelolaan keuangan Negara. • Persero ditiadakan untuk mengejar keuntungan sedangkan Perum dibentuk untuk melaksanakan kemanfaatan umum dalam kerangka korporasi. Pembinaan BUMN secara ringkas: • Bentuk BUMN disederhanakan menjadi dua bentuk yaitu Persero dan Perum.PEMBINAAN BUMN No.19 Tahun 2003 tentang BUMN Peraturan Pemerintah No. pengusulan penyertaan modal Negara.41 tahun 2003 2 Undang-Undang No. sedangkan bentuk hukum Perjan ditiadakan.19 Tahun 2003 tentang BUMN 20 . Dasar Hukum Undang-Undang No. • Penegasan kembali praktek-praktek corporate Governance yang mengatur pelaksanaan pengelolaan BUMN secara baik • Penetapan prosedur privatisasi untuk menjammin transparansi dan persaingan yang adil serta menjamin terdapatnya manfaat bagi publik daru program privatisasi tersebut. Perum dan Perjan kepada Menteri BUMN. • PP 41/2003 tentang pelimpahan kewenangan Menteri Keuangan pada persero. termasuk kepemilikan kekayaan Negara yang dipisahkan. • Pembinaan terhadap Persero dan perum dilakukan oleh Menteri BUMN dalam kedudukan sebagai pemegang saham/ pemilik modal BUMN. serta pembinaan dan pengawasan kepada perusahaan Negara (BUMN) dilakukan oleh Menteri Keuangan. • Penatausahaan penyertaan saham/modal pada BUMN. • Dalam UU 19/2003. kewenangan sebagai wakil Pemerintah selaku pemegang saham atau pemilik modal pada BUMN dilakukan oleh Menteri yang ditunjuk atau dikuasakan untuk itu. 1 Keterangan • Dalam UU 17/2003.17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara Undang-Undang No.

PP No: 59/2009 Peraturan Menteri BUMN No: 1/2010 Instruksi Menteri No: 1&2 Tahun 2002 Keputusan Menteri Keuangan No: 89/KMK.PEMBINAAN BUMN No. 3 4 Keterangan Ketentuan mengenai Good Corporate Governance Pengangkatan dan Pemberhentian Direksi dan Komisaris BUMN Dasar Hukum Peraturan Menteri BUMN Nomor: PER-8/4/PBI/2006 Peraturan Menteri BUMN Nomor: PER-03/MBU/2009 Keputusan Menteri BUMN Nomor: KEP-09A/MBU/2005 KEP-59/MBU/2004 Peraturan Menteri BUMN Nomor: PER-5/MBU/2007 Keputusan Menteri BUMN Nomor: KEP-236/MBU/2003 Peraturan Menteri BUMN Nomor: PER-05/MBU/2008 Surat Menteri BUMN No: S298/S.S/2009 Undang-Undang No: 19/2003 Peraturan Pemerintah No: 33/2005 Jo.MBU/2007 Surat Edaran Menteri BUMN Nomor.013/1991 5 Program Kemitraan dan Bina Lingkungan 6 Pengadaan Barang dan Jasa di Lingkuingan BUMN 7 8 Sinergi BUMN Privatisasi BUMN 9 Pedoman Pemindahtanganan Aktiva Tetap 21 . SE-03/MBU.

Pengawasan dan Pembubaran BUMN Ps 10 PP No. 44/2005 ttg Tata cara penatausahaan dan PMN pada BUMN dan PT Ps 10 UU No. 19/2003 ttg BUMN Ps 10 PP No. 1 Keterangan Kajian bersama rencana peleburan BUMN oleh Menteri Negara BUMN dan Menteri Keuangan. 17/2003 ttg Keuangan Negara Ps 11 PP No. PELEBURAN DAN PENGAMBILALIHAN BUMN No. Dasar Hukum Ps 4 UU No. 19/2003 ttg BUMN Ps 4 . 1/2004 ttg Perbendaharaan Negara UU No. Kajian Bersama tersebut dapat mengikutsertakan Menteri Teknis dan/atau Menteri lain dan/atau pimpinan instansi lain yang dianggap perlu dan/atau dapat menggunakan konsultan independen.PENGGABUNGAN.46 UU No. Pengurusan. 45/2005 ttg Pendirian. Menteri Negara BUMN melaksanakan peleburan BUMN setelah diterbitkannya PP mengenai peleburan BUMN Ps 45 . Peleburan.8 PP No. 43/2005 ttg Penggabungan. Pengambilalihan dan Perubahan Bentuk Hukum BUMN 3 4 5 Tata cara peleburan BUMN dengan BUMN dilakukan sesuai dengan Peraturan perundang-undangan di bidang perseroan terbatas PP 43/2005 Pasal 11 ayat (1) 22 . 44/2005 ttg Tata cara penatausahaan dan PMN pada BUMN dan PT 2 Pembahasan dengan DPR RI dalam rangka mendapatkan persetujuan (Terkait dengan pengalihan kekayaan negara berupa selain tanah dan bangunan yang nialainya lebih dari Rp 100 milyar kedalam perusahaan milik Negara – UU Perbendaharaan Negara) Menteri Negara BUMN menyampaikan RPP tentang peleburan kepada Menteri Keuangan untuk diteruskan ke Presiden guna mendapatkan persetujuan.

peleburan tidak dapat dilaksanakan. Apabila dalam jangka waktu tersebut kreditur tidak mengajukan keberatan dianggap menyetujui peleburan UU 40/2007 tt g PT Pasal 127 ayat (4) & (5) 10 Dalam hal keberatan kreditur tidak dapat diselesaikan oleh Direksi sampai dengan penyelenggaraan RUPS. UU 40/2007 tt g PT Pasal 127 ayat (6) & (7) 23 . PELEBURAN DAN PENGAMBILALIHAN BUMN No. Selama penyelesaian belum tercapai. maka keberatan tersebut harus disampaikan dalam RUPS guna mendapat penyelesaian.PENGGABUNGAN. 6 7 Keterangan Direksi BUMN yang akan melakukan peleburan menyusun Rancangan Peleburan Rancangan peleburan tersebut harus mendapat persetujuan Dewan Komisaris dan RUPS masing-masing BUMN Direksi BUMN yang akan melakukan peleburan wajib mengumumkan ringkasan rancangan paling sedikit dal 1 Surat Kabar dan mengumumkan secara tertulis kepada karyawan BUMN yang akan melakukan peleburan dalam jangka waktu paling lambat 30 hari sebelum pemanggilan RUPS yang di dalamnya juga memuat bahwa pihak yang berkepentingan dapat memperoleh rancangan peleburan di Kantor BUMN sejak tanggal pengumuman sampai penyelenggaraan RUPS Dasar Hukum UU 40/2007 tt g PT Pasal 123 ayat (1) & (2) UU 40/2007 tt g PT Pasal 123 ayat (3) 8 UU 40/2007 tt g PT Pasal 127 ayat (2) & (3) 9 Kreditur dapat mengajukan keberatan dalam jangka waktu paling lambat 14 dari setelah pengumuman.

11 Keterangan Rancangan peleburan yang telah disetujui RUPS dituangkan dalam akta peleburan yang dibuat di hadapan notaris dalam bahasa indonesia dan akta peleburan tersebut akan menjadi dasar pembuatan akta pendirian BUMN hasil peleburan Salinan akta peleburan dilampirkan pada pengajuan permohonan untuk mendapatkan keputusan Menteri Hukum dan Ham mengenai pengesahan badan hukum hasil peleburan dan penyampaian pemberitahuan kepada Menteri Hukum dan Ham tentang perubahan anggaran dasar Direksi BUMN hasil peleburan wajib mengumumkan hasil peleburan dalam 1 surat kabar atau lebih dalam jangka waktu paling lambat 30 hari sejak tanggal berlakunya peleburan Peleburan Persero terbuka dilaksanakan dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal • Merger & Akuisisi tidak boleh mengakibatkan monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat (ps. 6 bulan (ps. 5/1999 tentang Larangan Praktek Monopoli Dan Persaingan Tidak Sehat tanggal 5 Maret 1999 24 . • Pelanggaran terhadap ps. 48:1). Pasal 28 dan Pasal 29 UU Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat tidak bisa dilaksanakan karena belum adanya PP (Peraturan Pemerintah). • Komisi Pengawas Persaingan Usaha dapat membatalkan M&A yang mengakibatkan monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat (ps.PENGGABUNGAN. Rp. 25 milyar dan max. 28 juga diancam pidana denda min. 2 tahun dan max. Rp.e). 49). 28). Dasar Hukum UU 40/2007 tt PT Pasal 128 ayat (1) & (3) 12 UU 40/2007 tt PT Pasal 129 & 130 13 UU 40/2007 tt PT Pasal 133 ayat (1) 14 15 PP 43/2005 Pasal 46 Undang-undang No. • Selain itu dapat dijatuhkan pidana tambahan berupa pencabutan izin usaha atau larangan untuk menjadi direktur atau komisaris min. PELEBURAN DAN PENGAMBILALIHAN BUMN No. 47:2. 5 tahun (ps. 100 milyar atau pidana kurungan pengganti denda max.

IX. 28 TAHUN 1999 Tentang Merger.1 tentang Benturan Kepentingan.G. 16 Keterangan Perbankan : Untuk dapat memperoleh izin Merger atau Konsolidasi. PELEBURAN DAN PENGAMBILALIHAN BUMN No.1 & No. masyarakat dan persaingan sehat serta ada jaminan tetap terpenuhinya hak-hak pemegang saham publik dan karyawan. 25 . Peraturan Bapepam IX.PENGGABUNGAN.E. Konsolidasi dan Akuisisi Bank 17 Penggabungan Usaha Atau Peleburan Usaha Perusahaan Publik Atau Emiten. • Quorum dan Voting dalam RUPS hanya memperhitungkan kehadiran/suara Pemegang Saham Independen. jumlah aktiva Bank hasil Merger atau Konsolidasi tidak melebihi 20% (dua puluh per seratus) dari jumlah aktiva seluruh Bank di Indonesia. wajib dipenuhi persyaratan sebagai berikut : Pada saat terjadinya Merger atau Konsolidasi. Dasar Hukum Pasal 8 (ayat 2) PP NO. • Merger/Konsolidasi dilakukan dengan memperhatikan kepentingan Perseroan.

LAMPIRAN 6 PROGRAM KEMITRAAN DAN BINA LINGKUNGAN .

Program Pengembangan UMKM yang dilakukan oleh Kementerian BUMN Dari UMKM non-bankable Menjadi UMKM bankable Program Kemitraan & Bina Lingkungan (PKBL) Program Corporate Social Responsibility (CSR) Penyaluran Kredit Usaha Mikro. Kecil dan Menengah (UMKM) oleh BUMN Sektor Perbankan .

Program Corporate Social Responsibility (CSR) Dasar Hukum : UU Nomor 40 tahun 2007 Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan yang dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya Perseroan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (2 % dari net profit yang diperkirakan): Komitmen Perseroan untuk berperan serta dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan guna meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat. baik bagi Perseroan sendiri.Program PKBL dan CSR Program Kemitraan & Bina Lingkungan (PKBL) Dasar Hukum : UU Nomor 19 tahun 2003 Program Kemitraan (2% dari laba bersih) : Program untuk meningkatkan kemampuan usaha kecil agar menjadi tangguh dan mandiri melalui pemanfaatan dana dari bagian laba BUMN Program Bina Lingkungan (2% dari laba bersih) : Program pemberdayaan kondisi sosial masyarakat oleh BUMN melalui pemanfaatan dana dari bagian laba BUMN BUMN wajib menyisihkan sebagian laba bersihnya untuk keperluan pembinaan usaha kecil/koperasi serta pembinaan masyarakat sekitar BUMN. maupun masyarakat pada umumnya . komunitas setempat.

yaitu BUMN yang mempunyai dana bantuan besar bersinergi dengan BUMN yang tidak memiliki dana namun mempunyai program yang bagus. dengan tujuan untuk menumbuhkan kewirausahaan di beberapa perguruan tinggi di Indonesia. baik dalam kluster lokasi. . dengan tujuan untuk memudahkan pelaksanaan penyaluran pinjaman dan pembinaan usaha  Pelaksanaan sinergi antara BUMN. sektor.  Program Wirausaha Mandiri yang telah dilaksanakan oleh Bank Mandiri sejak tahun 2007 s. melalui mekanisme channeling atau executing untuk sektor-sektor usaha di atas  Pemberian bantuan kesehatan dan bantuan dana pendidikan. jenis usaha dan kluster dari hulu hilir. Salah satu BUMN Karya telah menyalurkan dana kemitraan sebesar Rp 540 juta kepada 48 pengusaha mikro dan kecil yang memiliki keterkaitan bidang usaha dengan perusahaan tersebut. Bentuk Program Contoh Pelaksaan Program:  Pada bulan Januari 2010.Pelaksanaan Program PKBL dan CSR  Pemberian bantuan pelatihan dan penyediaan prasarana  Penyalurkan pinjaman modal langsung dengan bunga rendah  Penyaluran bantuan dengan metode kluster.d sekarang.

peningkatan tersebut tercermin pula pada jumlah mitra binaan PKBL BUMN yang mengalami peningkatan sebesar 138.000 1.000 20.000.000 40.000 2006 2007 2008 2009 1. Rp juta ..473 500.000 50.000 1. 86 % antara tahun 2007 s. Orang Realisasi Penyaluran Program PKBL 2.026.837 70.000 - Jumlah Mitra Binaan 79.929 90.000 1.346 39.500.717.194 47.971.Gambaran Umum Penyaluran PKBL Secara Nasional .000 2.000 60.087 2006 2007 2008 2009 Realisasi Penyaluran Program PKBL Jumlah Mitra Binaan Catatan: Data penyaluran PKBL untuk tahun 2009 masih berdasarkan pada hasil prognosa ..510 77.687 1.000..000 80. 86 %.d 2009.500.000 825.000 10.000 30. terdapat peningkatan realisasi penyaluran PKBL BUMN sebesar 138..

000 176.000 100. Triliun 300.d 2009 mengalami pertumbuhan sebesar 61.000 2007 2008 2009 Source : Bank Indonesia .740 150.33% 250.000 50.152 200.134 Key Findings Penyaluran kredit MKM oleh BUMN sektor perbankan selama periode 2007 s.000 230..Penyaluran Kredit UMKM oleb BUMN Sektor Perbankan … nilai kredit MKM yang disalurkan Bank BUMN mengalami trend pertumbuhan yang positif ….000 285. Rp.

20. Kementerian BUMN telah mendorong PTPN. Untuk mendukung program ketahanan pangan yang dicanangkan oleh Pemerintah. Kementerian BUMN telah mendorong BUMN Konstruksi untuk berpartisipasi dalam pembangunan infrastruktur. pembangunan pabrik biodiesel. pabrik pupuk NPK dan kerjasama pembuatan pabrik ban sepeda motor.Beberapa bentuk sinergi BUMN Non Perbankan dengan Para Pengusaha KEY POINTS • Belanja Pemerintah untuk infrastruktur pada tahun 2009 meningkat 3 kali dibandingkan tahun 2005 dari Rp. Melalui upaya-upaya tersebut diharapkan PTPN dapat membangun kerjasama dengan para pengusaha yang bergerak di bidang usaha perkebunan dan pengolahan produk-produk turunan dari hasil perkebunan. baik secara sendirisendiri dan bersinergi. 61. powerplant berbahan baku biomassa sawit dan tebu. • Sebagai salah satu upaya untuk mendukung program pengembangan infrastruktur yang dicanangkan oleh Pemerintah. sebagai BUMN Perkebunan untuk melakukan perluasan lahan tanaman.9 Triliun menjadi Rp.000 km yang dilakukan oleh kontraktor BUMN dan operator jalan tol Jasa Marga. Infrastruktur Ketahanan Pangan .8 Triliun. diantaranya melalui pembangunan ruas tol Trans Jawa sepanjang 1. Diharapkan dengan kegiatan tersebut BUMN Konstruksi dapat membangun kerjasama dengan para pengusaha. khususnya yang bergerak di bidang jasa konstruksi.

Energi . penetapan Tarif Dasar Listrik. • Melakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap industri listrik nasional baik dari sisi ketersediaan energi primer. Diharapkan melalui upaya-upaya tersebut PLN dapat membangun kerjasama dengan para pengusaha yang memiliki keterkaitan dengan bidang energi. Sedangkan di sektor hilir.000 MW Tahap I yang dilanjutkan dengan pembangkit listrik 10. Pertamina dapat menjalin kerjasama dengan para pengusaha antara lain dalam keperluan distribusi BBM dan LPG.Beberapa bentuk sinergi BUMN Non Perbankan dengan Para Pengusaha (lanjutan………) KEY POINTS PLN Untuk mendukung program ketahanan energi yang dicanangkan oleh Pemerintah. Pertamina Di sektor hulu. Pertamina dapat menjalin kerjasama dengan para pengusaha untuk meningkatkan produksi minyak dan gas bumi dalam bentuk KSO (Kerjasama Operasi). penyempurnaan pelaksanaan independent power producer (IPP) dan kebijakan terkait dengan subsidi. Kementerian BUMN telah mendorong PLN melakukan upaya-upaya sebagai berikut: • Penuntasan proyek pembangkit listrik 10.000 MW Tahap II dengan fokus pada pengembangan energi terbarukan yaitu panas bumi dan tenaga air.

LAMPIRAN 7 RENCANA RIGHTSIZING DAN PRIVATISASI TAHUN 2005-2009 .

Tbk (TELKOM) PT Jaminan Sosial Tenaga Kerja PT Bank Tabungan Negara (BTN) PT Pupuk Sriwidjaja (PUSRI) PT Perusahaan Gas Negara. Tbk (BNI) PT Bank Rakyat Indonesia.2009 Stand Alone No 1 BUMN PT Bank Mandiri. 18 BUMN PT Asuransi Kesehatan Indonesia (ASKES) 2 3 4 5 6 7 8 9 10 PT Pertamina PT Bank Negara Indonesia. Tbk 19 20 21 22 23 24 25 26 27 PT Asuransi Jasa Raharja PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) PT Asuransi ABRI (ASABRI) PT Pos Indonesia (POSINDO) Perum Pembangunan Perumahan Nasional (PERUMNAS) Perum Percetakan Uang RI (PERURI) Perum Perhutani PT Biofarma Perum Sarana Pengembangan Usaha (SPU) 11 12 13 14 15 16 17 PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) PT Taspen Perum Bulog PT Jasa Marga PT Bank Ekspor Indonesia (BEI) PT Kereta Api Indonesia (KAI) Perum Pegadaian 28 29 30 31 32 33 34 35 Perum Percetakan Negara Indonesia (PNRI) Perum Prasarana Perikanan Samudra (PPS) PT TWC Borobudur. Tbk N0. Tbk (PGN) PT Semen Gresik.Rencana Rightsizing Tahun 2005 . Prambanan dan Ratu Boko PT Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) PT Batan Teknologi Perum Produksi Film Negara (PFN) PT Kliring Berjangka Indonesia (KBI) PT Perikanan Nusantara . Tbk (BRI) PT Telekomunikasi Indonesia.

Tbk PT Indo Farma. 8). Sektor Pertanian Sektor Kertas Sektor Percetakan 10). 5). Sektor Kehutanan 7). 9). Sektor Pertahanan 11). Sektor Farmasi . Sektor Perdagangan PT PP Berdikari PT Sarinah PT Bhanda Ghara Reksa (BGR) PT Varuna Tirta Prakasya PT Bali Tourism & Development Corporation PT Hotel Indonesia Natour (HIN) Perum Jasa Tirta I Perum Jasa Tirta II PT Inhutani I PT Inhutani II PT Inhutani III PT Inhutani IV PT Inhutani V PT Sang Hyang Seri (SHS) PT Pertani PT Kertas Leces PT Kertas Kraft Aceh PT Balai Pustaka (BP) PT Pradnya Paramita PT Pindad PT Dahana PT Kimia Farma. Tbk 3). Sektor Dok & Perkapalan PT Industri Kapal Indonesia (IKI) PT Dok dan Perkapalan Kodja Bahari PT Perusahaan Perdagangan Indonesia 2).Rencana Rightsizing Tahun 2005 – 2009 …. 4). Sektor Pergudangan Sektor Pariwisata Sektor Penunjang Pertanian 6).Lanjutan Merger/Konsolidasi No SEKTOR BUMN PT Dok dan Perkapalan Surabaya (DPS) 1).

Tbk (PT BA) PT Timah.Lanjutan Holding No Sektor BUMN PT Perkebunan I (PTPN I) PT Perkebunan II (PTPN II) PT Perkebunan III (PTPN III) PT Perkebunan IV (PTPN IV) PT Perkebunan V (PTPN V) PT Perkebunan VI (PTPN VI) PT Perkebunan VII (PTPN VII) PT Perkebunan VIII (PTPN VIII) PT Perkebunan IX (PTPN IX) PT Perkebunan X (PTPN X) PT Perkebunan XI (PTPN XI) PT Perkebunan XII (PTPN XII) PT Perkebunan XIII (PTPN XIII) PT Perkebunan XIV (PTPN XIV) PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) PT Aneka Tambang. Tbk (ANTAM) PT Tambang Batubara Bukit Asam.Rencana Rightsizing Tahun 2005 – 2009 …. Tbk PT Adhi Karya PT Wijaya Karya (WIKA) PT Waskita Karya PT Pembangunan Perumahan (PP) PT Hutama Karya PT Nindya Karya PT Istaka Karya PT Brantas Abipraya PT Amarta Karya PT Krakatau Steel (KS) PT Industri Telekomunikasi Indonesia (INTI) PT Barata Indonesia PT LEN Industri PT Industri Kereta Api (INKA) PT PAL Indonesia 1) Sektor Perkebunan 2) Sektor Pertambangan 3) Sektor Konstruksi 4) Sektor Industri Strategis .

Rencana Rightsizing Tahun 2005 – 2009 ….Lanjutan Holding No Sektor BUMN PT Kawasan Berikat Nusantara (KBN) PT Kawasan Industri Medan (KIM) 5) Sektor Kawasan PT Kawasan Industri Makassar (KIMA) PT Pengembangan Daerah Industri (PDI) Pulau Batam PT Kawasan Industri Wijaya Kusuma (KIW) PT Angkasa Pura I (AP I) 6) Sektor Kebandarudaraan PT Angkasa Pura II (AP II) PT Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI) PT Djakarta Lloyd 7) Sektor Pelayaran PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) PT Pelayaran Bahtera Adhiguna (BAG) PT Pelabuhan Indonesia I (PELINDO I PT Pelabuhan Indonesia II (PELINDO II) 8) Sektor Pelabuhan PT Pelabuhan Indonesia III (PELINDO III) PT Pelabuhan Indonesia IV (PELINDO IV) .

15 16 17 BUMN PT Industri Soda Indonesia (ISI) PT Industri Gelas (IGLAS) PT Industri Sandang Indonesia (INSAN) 4 5 6 7 8 18 19 20 21 22 Perum Damri PT Boma Bisma Indra (BBI) PT Primissima PT Indra Karya PT Yodya karya 9 10 11 12 13 14 PT Asuransi Ekspor Indonesia (ASEI) PT Sucofindo PT Reansuransi Umum Indonesia (RUI) PT Pengerukan Indonesia PT Garam PT Surveyor Indonesia (SI) 23 24 25 26 27 PT Virama Karya PT Indah Karya PT Konservasi Energi Abadi (Koneba) PT Bina Karya PT Sarana Karya .Rencana Rightsizing Tahun 2005 – 2009 ….Lanjutan Divestasi No 1 2 3 BUMN PT Garuda Indonesia (GIA) PT Merpati Nusantara (MNA) PT Asuransi Jiwasraya PT Permodalan (PNM) PT Dana Reksa PT PANN Multi Finance PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) PT Semen Baturaja Nasional Madani No.

84 0.12 100 100 100 100 100 100 100 100 100 52.56 9.79 100 100 100 100 100 1.76 36.33 40.Rencana Privatisasi Tahun 2007 No.00 0.9 5. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 BUMN PT Jasa Marga PT BNI PT BTN PT Wijaya Karya PT Permodalan Nasional Madani PT Garuda PT Merpati PT Krakatau Steel PT Dirgantara PT Industri Soda Indonesia PT IGLAS PT Cambrics Primissima PT Indah Karya PT Indra Karya PT Virama Karya PT Yodya Karya PT Bina Karya PT JIHD PT Kertas Padalarang PT Atmindo PT Intirub PT PPLI PT Kertas Blabak PT Kertas Basuki Rahmat % Saham Negara 100 99.4 Rencana Metode IPO IPO/SPO IPO IPO IPO IPO IPO IPO IPO SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS Dasar Pertimbangan Kompetitif Kompetitif Kompetitif Kompetitif Kompetitif Kompetitif Kompetitif Kompetitif Kompetitif Kompetitif Kompetitif Kompetitif Kompetitif Kompetitif Kompetitif Kompetitif Kompetitif Kepemilikan negara minoritas Kepemilikan negara minoritas Kepemilikan negara minoritas Kepemilikan negara minoritas Kepemilikan negara minoritas Kepemilikan negara minoritas Kepemilikan negara minoritas .

Perseroan membutuhkan tambahan modal .Untuk meningkatkan daya saing perusahaan (competitiveness) Sektor kompetitif.Akses keteknologi dan pemasaran Sektor kompetitif.12 . kepemilikan negara minoritas (akan ditinjau kembali) Pengembangan perusahaan 8 9 10 11 12 13 PT INTI PT Koneba PT JIEP PT SIER PT Bank Bukopin PT Dirgantara 100 100 50 50 18 17 IPO IPO SS/Divestasi SS/Divestasi Placement SS/Dilusi/ Divestasi EMBO/ Divestasi SS/Divestasi dan Dilusi 14 15 PT Rekayasa industri PT Surveyor 4. BUMN % Saham Negara Rencana Metode Dasar Pertimbangan 1 2 3 4 5 6 7 PT Asuransi Jasa Indonesia PT Asuransi Jiwasraya PT Sarana Karya PT Rukindo PT Semen Baturaja PT Industri Sandang PT Krakatau Steel 100 100 100 100 100 100 100 IPO/Dilusi IPO/SO IPO IPO IPO IPO IPO Kompetitif Kompetitif Pengembangan usaha Cut loss Butuh dana Pengembangan teknologi dan pasar Pengembangan usaha .Rencana Privatisasi Tahun 2008 No. perlu permodalan tinggi untuk pengembangan (akan dikaji lebih mendalam) Kepemilikan Negara Minoritas Kompetitif Kompetitif Kepemilikan Negara Minoritas .Sektor terbuka dan kompetitif .97 85.

Rencana Privatisasi Tahun 2009-2011 % Saham Negara 100 100 100 100 95.5 100 17.00 70 59. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 BUMN PT Kliring Berjangka PT ASEI PT Reasuransi PT Danareksa PT Sucofindo PT Bank Mandiri Tbk PT BRI Tbk PT Bank BTN PT Bahana PUI PT Sucofindo BUMN Pupuk Dasar Pertimbangan Kebutuhan pengembangan dana Kompetitif Pengembangan usaha Pengembangan usaha Kompetitif/ Kebutuhan dana/ pengembangan usaha Butuh dana pengembangan bisnis Kebutuhan pengembangan dana Kebutuhan pengembangan dana Kompetitif pengembangan usaha pengembangan usaha .78 10 100 Rencana Metode SS/Dilusi SS/ Divestasi IPO IPO SS SO/Dilusi SO/Dilusi SO SS/ Divestasi SS IPO/SS No.

LAMPIRAN 8 MATRIKS PENANGANAN RESTRUKTURISASI KORPORASI OLEH PT PPA .

PT Semen Kupang telah menandatangani Perjanjian KSO dengan PT Sarana Agro Gemilang (SAG) pada tanggal 1 Sep 2009.50 M Tambahan Modal kerja divisi pemeliharaan / perbaikan kapal dan rekayasa umum Rp 27. PT PPA belum dapat memberikan bantuan pinjaman sebagaimana yang diperlukan oleh PPFN 2 PT PAL (Persero) 3 PT Waskita Karya 4 PT Semen Kupang (Persero) 5 6 Perum Pengangkutan Perum PPFN .94 M Pelaksanaan setoran modal oleh PT PPA akan dilakukan setelah terbitnya Peraturan Pemerintah terkait Restrukturisasi dan/atau Revitalisasi PT WK.19 M Biaya talangan selama masa persiapan perampingan (3 bulan) Rp38. Permasalahan pembayaran pesangon karyawan telah diselesaikan dengan melakukan penjualan aset property milik PPD.24 M Biaya pengeluaran barang dari pelabuhan Rp 11 M Pembayaran sebagian hutang pihak ketiga (closed project) Rp16. Dengan adanya KSO tersebut maka diharapkan di PT Semen Kupang (Persero) dapat segera beroperasi kembali.6 juta Restrukturisasi korporasi sebesar maksimal Rp 193.50 M Biaya talangan selama transisi fast cash business (3 bulan) Rp9.37 M: Perampingan karyawan Rp 90.PROGRESS PENANGANAN RESTRUKTURISASI/REVITALISASI BUMN OLEH PPA 2009 NO 1 BUMN PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) STATUS Menteri Keuangan telah menyetujui pemberian pinjaman untuk pembelian 15 unit pesawat MA 60 yang akan direalisasikan tahun 2010-2011 Perjanjian pemberian pinjaman telah ditandatangani pada tanggal 16 Desember 2009 yang digunakan untuk: Penyelesaian pembangunan 10 kapal dengan jumlah plafond sebesar USD 25.

Laporan kajian awal upaya pengoperasian kembali PT KKA telah disampaikan kepada Menteri Negara BUMN 4 5 6 7 PT Balai Pustaka (Persero) PT Berdikari (Persero) PT Hotel Indonesia (Persero) PT Primisima (Persero) 8 PT Kertas Kraft Aceh (Persero) - - 9 PT Varuna Tirta Prakasya (Persero) Pengumpulan informasi dan identifikasi awal permasalahan. Saat ini PT BP dalam proses penyelesaian Rencana Bisnis. Proses pengumpulan data dan penyusunan laporan kajian 10 11 PT Industri Kapal (Persero) PT Survai Udara Penas (Persero) .77 milyar Opsi penyelesaian lainnya yaitu kajian likuidasi dan divestasi telah disampaikan kepada Ketuan Tim Pelaksana Komite RR Kajian Restrukturisasi PT Djakarta Lloyd masih membutuhkan kajian lanjutan yang harus dilengkapi dengan business plan dari Manajemen Djakarta Lloyd. disepakati bahwa PT Balai Pustaka akan di restrukturisasi didasarkan sejarah Balai Pustaka. Sedang dilakukan Financial Due Diligence (FDD) dan Legal Due Diligence (LDD). Sesuai informasi terakhir Dirkeu.PROGRESS PENANGANAN RESTRUKTURISASI BUMN OLEH PT PPA … Lanjutan 2010 NO BUMN 1 PT Iglas (Persero) STATUS Telah disampaikan kepada Komite Restrukturisasi dan Revitalisasi pada tanggal 2 Oktober 2009 Mengusulkan pemberian pinjaman sebesar Rp 106. termasuk kajian pengoperasian kembali KKA. 2 PT Djakarta LLyod (Persero) 3 PT Industri Sandang Nusantara (Persero) PPA telah memberikan talangan sebesar Rp 25 M di luar konteks restrukturisasi dan/atau revitalisasi untuk membiayai kebutuhan operasional perusahaan dan saat ini sedang dilaksanakan finalisasi Kajian Kelayakan Restrukturisasi dan/atau Revitalisasi (FDD dan Kajian Bisnis).72 milyar untuk Rasionalisasi karyawan Dilakukan Kajian menyeluruh atas opsi-opsi penyelesaian permasalahan KKA. Proses finalisasi kajian kelayakan restrukturisasi dan/atau revitalisasi Finalisasi kajian kelayakan Restrukturisasi dan/atau Revitalisasi Finalisasi kajian kelayakan Restrukturisasi dan/atau Revitalisasi PPA telah memberikan dana talangan sebesar Rp 125. Arahan Menteri Negara BUMN dalam rapat tanggal 18 Januari 2010. PPA telah menawarkan untuk membantu melakukan pembahasan kemungkinan penyelesaian kewajiban tsb. saat ini VTP sedang mempertimbangkan penyelesaian kewajiban kepada Bank Mandiri.

LAMPIRAN 9 DATA BUMN PENYELENGGARA PSO .

63 9.00 - - 38.96 42.64 1.50 505.500.(tahunan ) Penyediaan dan distribusi pupuk bersubsidi Penyediaan dan distribusi benih dan pupuk Penyediaan dan distribusi benih dan pupuk Penyediaan dan penyaluran Raskin dan CBP 3.75 175.00 425.00 115. PT Pertamina BPH Migas 6.60 790. PT SHS Mentan Surat Nomor…(tahunan) 176.809.22 37.17 50.95 12.480.NO A.60 677.283. Perum Bulog Menko Kesra Surat/Keputusan (tahunan) 5.00 76.93 Catatan: Data tahun 2005 tidak dapat disajikan karena datanya tersebar.00 5.66 82. vidio/TV. PT Posindo Menkominfo Penyediaan Kapal Laut kelas Ekonomi Penyediaan pelayanan KPCLK Penyediaan dan/atau distribusi berita (cetak.999.00 118.84 68.31 732.64 118.00 125. dan Asdep Kewajiban Pelayanan Umum yang bertugas memonitor dan menginventarisir data PSO baru dibentuk pada tahun 2006 47 .169.458. 13/2007 Ttg Perkeretaapian -Kontrak (tahunan) PRODUK/JASA YANG DITUGASKAN Penyediaan KA kelas ekonomi 2006 2007 2008 2009 Menhub 450. PT Pusri Mentan 8.282.79 237.00 6..00 7.81 134.830. PT Pertani Mentan Surat Nomor…(tahunan) 31. PT KAI PEMBERI TUGAS DASAR HUKUM PENUGASAN -UU No.00 16.272.05 4.00 600.23 34.318.309. Bidang Energi Keputusan BPH Migas (tahunan) Penyediaan dan distribusi BBM tertentu Penyediaan tenaga listrik 59.78 JUMLAH 100.12 Bidang Pangan Surat/Keputusan.904.289.12 11.81 5.00 2. PT PELNI Menhub -Keputusan Dirjen Perla -Kontrak (tahunan) -Keputusan Menkominfo -Kontrak (tahunan) -Keputusan Menkominfo 3. BUMN Bidang Sarana Perhubungan 1.172.29 933.201.269. Perum Antara Menkominfo -Kontrak (tahunan) B. C.44 1. PT PLN Menteri ESDM UU Nomor 30/2009 33.959. Foto) tertentu kepada kelompok/ daerah tertentu 679.776.448.11 319.00 408.54 10.471.89 6.797.93 127.

2009 .LAMPIRAN 10 PROGRAM BERKESINAMBUNGAN TEKNOLOGI INFORMASI TAHUN 2006 .

go.PROGRAM BERKESINAMBUNGAN TEKNOLOGI INFORMASI TAHUN 2006 No 1 Program Menyusun Kebijakan Teknologi Informasi Kementerian Negara BUMN Pengembangan Infrastruktur Keterangan Menyusun Kebijakan Teknologi Informasi untuk diusulkan dapat disahkan oleh Menteri dalam rangka melaksanakan IT Governance Menambah jumlah server. Website Kementerian Negara BUMN dengan alamat www.bumn.bumn.go. maka dilakukan perubahan rancangan dan konten informasi website. a. software. Agar website tersebut lebih dapat memenuhi kebutuhan Kementerian Negara BUMN dalam mendukung transparansi dan tanggung jawab Kementerian Negara BUMN kepada publik. Membangun aplikasi yang digunakan untuk membantu menangani proses privatisasi BUMN dan membangun sub portal yang menyajikan informasi ahsil privatisasi kepada publik melalui www.id. perangkat jaringan.id atau www. kursus dan sertifikasi 2 3 Pengembangan SDM 4 Pengembangan Aplikasi a. PC/notebook. anti virus dan anti spyware untuk mendukung aplikasi yang berjalan di atasnya Menambah jumlah SDM melalui outsorcing dan meningkatkan kualitas SDM Teknologi informasi melalui pendidikan. Pembangunan Aplikasi Privatisasi BUMN .com Website Kementerian Negara BUMN mulai diluncurkan pada tahun 2002. security.bumnri.

dan unit tata usaha. Melakukan pembangunan aplikasi yang ditujukan untuk menyediakan otomasi alur kerja yang melibatkan seluruh unit di Kementerian Negara BUMN seperti perencanaan. Pembangunan Sistem Informasi Fit and Proper Direksi Anak Perusahaan BUMN e. Melakukan pembangunan aplikasi yang dapat menyajikan informasi SDM BUMN dan membantu proses Fit and Proper Test calon Direksi BUMN UJI KEPATUTAN DAN KELAYAKAN Direksi dan Komisaris BUMN (CV Direksi. Pembangunan Sistem Informasi Fit and Proper Direksi BUMN d. Pembangunan Sistem Informasi BUMN (Executive Information System) Melakukan pembangunan aplikasi yang ditujukan untuk menyediakan informasi terkait BUMN bagi pimpinan di lingkungan Kementerian Negara BUMN dan membantu pimpinan dalam mengambil kebijakan dan keputusan terhadap pengelolaan BUMN.PROGRAM BERKESINAMBUNGAN TEKNOLOGI INFORMASI TAHUN 2007 No 1 Program Pengembangan Aplikasi a. keuangan. SDM. PDA Mobile access Operasional dan pemeliharaan Sosialisasi Open source Penambahan Server Reliabilitas email Sosialisasi pemakaian open sourse (Linux. mekanisme UJI KEPATUTAN DAN KELAYAKAN) Melakukan pembangunan aplikasi yang dapat menyajikan informasi SDM BUMN dan membantu proses Fit and Proper Test calon Direksi Anak Perusahaan BUMN. f. Komisaris dan 1 tingkat di bawah Direksi. Uji Kepatutan dan Kelayakan Direksi dan Komisaris Anak Perusahaan BUMN Keterangan b. perlengkapan. 2 3 4 5 6 Pembangunan PKBL Online Knowledge Management Melakukan pembangunan aplikasi untuk menyimpan dan menyajikan informasi Anggaran Dasar BUMN Portal publik dan eksekutif dapat diakses melalui HP. Open Office di KNBUMN) Menyediakan perangkat yang memadai untuk menjalankan aplikasi . Pembangunan Office Automation dan pembuatan dokumen elektronik c. Implementasi Office Automation tersebut dimulai dengan pembuatan dokumen elektronik yang akan disimpan dalam sistem. arsip dan dokumentasi.

email ke dalam perangkat komunikasi) Data Center standar Menyediakan perangkat yang memadai untuk menjalankan aplikasi Menyediakan perangkat yang memadai untuk menjalankan aplikasi Menyediakan perangkat yang memadai untuk menjalankan aplikasi Menyediakan infrastruktur datacenter bagi server dan aplikasi dalam rangka mendukung ketersediaan dan reliabilitas layanan TI Menyediakan keamanan data dan informasi yang diproses melalui jaringan Kementerian BUMN Keterangan 2 3 Penambahan dan Upgrade Perangkat Jaringan Pengadaan Infrastruktur untuk menyiapkan IP Phone 4 5 Reliabilitas jaringan dan keamanan .PROGRAM BERKESINAMBUNGAN TEKNOLOGI INFORMASI TAHUN 2008 & 2009 No Program 2008 1 Pembangunan Portal Aset BUMN Melakukan pembangunan aplikasi yang dapat menyajikan informasi aset BUMN dan membantu Kementerian Negara BUMN dalam rangka mengoptimalkan aset BUMN. data. video. Menyediakan perangkat yang memadai untuk menjalankan aplikasi Menyediakan perangkat yang memadai untuk menjalankan aplikasi 2009 1 2 3 Upgrade Server Upgrade Storage Unified Communication (Integrasi voice.

024 Kbps) Langganan domain bumn.go.com Langganan layanan informasi saham real time (4 client) Menambah jumlah SDM melalui outsorcing Mengirim pegawai untuk mengikuti workshop.go. pendidikan.go.REALISASI PROGRAM TEKNOLOGI INFORMASI TAHUN 2006 No. kursus dan sertifikasi Pembentukan Kelompok Kerja TI BUMN yang bertugas menyusun panduan masterplan TI BUMN.id Pengadaan Server (18 unit). Tata Kelola TI BUMN dan Sinergi BUMN pada tahun 2006 Rapat Koordinasi Bidang Sistem Informasi antara Kementerian Negara BUMN dengan BUMN pada bulan Desember 2006 2 3 Pengembangan Infrastruktur (hardware/software) 4 Pengembangan dan peningkatan kualitas SDM Koordinasi pemanfaatan sistem informasi/teknologi informasi 5 . dan perangkat jaringan Pengadaan PC/notebook/printer/scanner Pengadaan anti virus (200 lisensi) Langganan layanan dedicated internet (1.bumn. 1 Program/Rencana Kerja Menyusun Kebijakan Teknologi Informasi Kementerian Negara BUMN Pengembangan Aplikasi Realisasi Draft Master Plan Teknologi Informasi Kementerian BUMN tahun 2006-2010 Pembangunan dan launching SMS Center 2866 untuk keluhan dan pengaduan melalui SMS Redesain Portal Publik dan Pembangunan Sub Portal Privatisasi www. storage.bumn.id dan bumn-ri. seminar.id dan http://priv.

Pengadaan outsourcing tenaga bidang TI b. Pembangunan Sistem Informasi Fit and Proper Direksi BUMN a. kursus dan . produk dan bantuan hukum.bumn. pengelolaan SDM. penyediaan ATK.bumn.bumn. Pengadaan PC/notebook/printer/scanner Langganan layanan dedicated internet (2. pengelolaan aset TI. persuratan. Pembangunan PKBL Online 2 3 Operasional dan pemeliharaan Pengembangan Infrastruktur (hardware/software) 4 Sosialisasi dan pelatihan pemanfaatan sistem informasi/teknologi informasi a.id/internal dan http://sdm. perpustakaan. 1 Program/Rencana Kerja Pengembangan Aplikasi a. sertifikasi seminar.id dengan modul-modul perencanaan. Pelatihan portal publik kepada admin BUMN yang dilaksanakan pada 6–21 Agustus 2007 diikuti oleh 337 peserta dari 134 BUMN. Pelatihan seluruh portal kepada 50 BUMN yang mengajukan permintaan pelatihan tambahan kepada masing-masing BUMN 5 Pengembangan dan peningkatan kualitas SDM a. dokumentasi dan arsip. pengelolaan agenda/ jadwal. dan pengumuman Pembangunan Portal SDM http://sdm. pengelolaan aset.bumn. Pembangunan Sistem Informasi BUMN (Executive Information System) a.go. pengadaan. kehumasan.048 Kbps) Langganan layanan informasi saham real time (6 client) Penyediaan layanan internet menggunakan Jaringan lokal yang menghubungkan Lapangan Banteng-Merdeka Selatan melalui DINAccess Penyediaan jaringan di Gedung Kementerian Negara BUMN Jalan Merdeka Selatan 13. b. c.go.go. pendidikan. pengelolaan keuangan. Mengirim pegawai untuk mengikuti workshop.REALISASI PROGRAM TEKNOLOGI INFORMASI TAHUN 2007 No.id Pembangunan Office Automation http://oa.id Migrasi colocation dari Telkom Slipi ke Telkom Karet untuk penambahan kapasitas server karena kebutuhan aplikasi.id/internal dan http://pkbl.id Pembangunan portal PKBL http://pkbl.bumn. Pelatihan Office Automation pada bulan Desember 2007 diikuti oleh pegawai Kementerian Negara BUMN. Pembangunan Office Automation dan pembuatan dokumen elektronik Realisasi Pembangunan Executive Information System http://eis.go. Jakarta Pusat berjumlah 500 titik untuk 14 lantai (Pindah Kantor dari Gedung 16 Lantai Jalan Dr Wahidin Raya 1 Jakarta) a.bumn.go.go.

bumn.id/internal dan http://aset.REALISASI PROGRAM TEKNOLOGI INFORMASI TAHUN 2008 No 1 Program/Rencana Kerja Pembangunan Portal Aset BUMN Penambahan dan Upgrade Perangkat Jaringan Pengadaan Infrastruktur untuk menyiapkan IP Phone Sosialisasi Open source Realisasi Pembangunan portal Aset (http://aset.bumn.id) Menyediakan perangkat jaringan yang memadai untuk menjalankan aplikasi Menyediakan prototype komunikasi voice dan video yang tersedia untuk komunikasi di Kementerian BUMN Sosialisasi pemakaian Open source di Kementerian Negara BUMN (Linux) pada tahun 2008 (15 orang) 1) 2) Pengadaan PC/notebook/printer/scanner Penggantian dan Penambahan PC untuk mendukung operasional Kementerian Negara BUMN dari 204 unit pada tahun 2004 menjadi 456 unit pada tahun 2009.go. 2 3 4 5 Pengembangan Infrastruktur (hardware/software) 6 Pengembangan dan peningkatan kualitas SDM Kursus dan Pelatihan 1) CCNA 1 orang 2) CISA Reviw Course 2 orang 3) Zend Framework 3 orang 4) Java Standard Edition Course 1 orang 5) Project Management Course 1 orang .go.

REALISASI PROGRAM TEKNOLOGI INFORMASI TAHUN 2009 Program/Rencana Kerja Upgrade Server Upgrade Storage Realisasi Menyediakan perangkat yang memadai untuk menjalankan aplikasi Menyediakan perangkat yang memadai untuk menjalankan aplikasi Unified Communication (Integrasi voice. Upgrade jaringan internet menjadi 4.096 Kbps pada tahun 2009. mobile messaging dan web mail yang nyaman bagi pengguna Berdasarkan prioritas realisasi ditunda ke anggaran tahun 2010 Menyediakan server yang berfungsi sebagai Single Sign On server melalui Active Directory Pelatihan Portal EIS. Menyediakan implementasi penuh komunikasi voice dan video yang data. email ke dalam perangkat tersedia untuk komunikasi di Kementerian BUMN komunikasi) Reliabilitas email Data Center standar Reliabilitas jaringan dan keamanan Sosialisasi dan Implementasi Portal Berkelanjutan Pengembangan Infrastruktur (hardware/software) Pengembangan dan peningkatan kualitas SDM Menyediakan email yang dapat memenuhi kebutuhan email yang aman. video. diikuti oleh 672 peserta dari 142 BUMN. SDM. Penambahan 80 komputer bagi pegawai kementerian BUMN Kursus dan Pelatihan 1) Diklat Pimpinan III 1 orang 2) Diklat Pimpinan IV 1 orang . PKBL dan Publik kepada admin BUMN yang dilaksanakan pada 14 April – 8 Mei 2008 dan 27 Agustus – 8 September 2009.

2014 .LAMPIRAN 11 MASTER PLAN TEKNOLOGI INFORMASI KEMENTERIAN BUMN 2010 .

ROADMAP 2010-2014 2010 Persiapan Fondasi Implementasi Sistem Terintegrasi Monitoring BUMN dengan static Dashboard & Ekspansi Layanan Peletakan Basis Knowledge Management 2012 Business Intelligent 2013 Pengambilan Keputusan Secara Dinamis dengan BUMN Dashboard Dinamis 2014 57 .

Rakor TI 2013 1. Implementasi Control Room (Tahap I) 7. Rakor TI 9. Pemeliharaan Portal Internal 4. Pelatihan 7. Revitalisasi Infrastruktur Datacenter 2. IT Steering Commitee 8. ETL otomatis dari system BUMN 6. Optimalisasi pemanfaatan portal sebagai Knowledge Management dan DSS 4. Pelatihan/kursus kompetensi TI 3. Pembangunan dashboard dengan Query Dinamik 3. Pemeliharaan Portal Publik 3. Rakor TI . Pemeliharaan dan Penambahan Fitur Porta Pemeliharaan dan Penambahan Fitur Portal 2. Pelatihan/kursus kompetensi TI 3. Sistem Keamanan Terintegrasi 5. Pelatihan Pegawai Sistem Informasi 2011 1. Unified Wireless LAN 6. Pembentukan Tim Steering Committee untuk proyek TI 5. Pembangunan Business Intelligence 6. Server dan Storage 5. Implementasi Mailing Room (Tahap I) 6. Control Room 4. Tim Implementasi Kementerian BUMN 2012 1. Redesain database dan aplikasi 2. Audit Tata Kelola TI 7. Mailing Room 3. Tim Implementasi BUMN 10. Pemeliharaan hardware dan software 5. Rakor TI 2014 1. Pemeliharaan portal internal dan eksternal. Optimalisasi pemanfaatan portal sebagai Knowledge Management dan DSS 4.ROADMAP 2010-2014 2010 1. penyempurnaan fitur dan optimalisasi pemanfaatan portal 2. Pemanfaatan Mailing Room 6. penyempurnaan fitur dan optimalisasi pemanfaatan portal 2. Pemeliharaan portal internal dan eksternal. Optimalisasi pemanfaatan portal sebagai Knowledge Management 4. Pelatihan/kursus kompetensi TI 5.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->