KEMENTERIAN BADAN USAHA MILIK NEGARA

Gedung Kementerian Badan Usaha Milik Negara Jl. Medan Merdeka Selatan 13 Jakarat Pusat

DAFTAR ISI
Hal DAFTAR ISI KATA PENGANTAR BAB I : PENDAHULUAN i iv 1 1 2 5 7 9 10 17 17 17 18 19 21 22 23 24 25 26 27 27 28 29 30 31

I.1. Maksud dan Ruang Lingkup I.2. Visi dan Misi Presiden Dalam RPJMN 2010-2014 I.3. Visi, Misi, Tujuan Dan Sasaran Kementerian BUMN sesuai Renstra Kementerian BUMN Tahun 2010-2014 I.4. Prioritas RPJMN 2010-2014 Di Bidang Pembinaan BUMN I.5. Arah Kebijakan Pembinaan BUMN Sesuai Renstra Kementerian BUMN Tahun 2010-2014 dan master Plan BUMN Tahun 2010-2014 I.6. Perkembangan BUMN Dan Kontribusinya Dalam Perekonomian Nasional serta Potensi-potensi Yang Dimiliki BUMN

BAB II : PERKEMBANGAN BUMN TAHUN 2005-2009 II.1. Perkembangan Kinerja BUMN II.1.1 Perkembangan Jumlah BUMN II.1.2. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN II.1.3. Perkembangan Kontribusi BUMN II.2. Perkembangan Sektoral BUMN II.2.1. Sektor Usaha Perbankan II.2.2. Sektor Usaha Asuransi II.2.3. Sektor Usaha Jasa Keuangan II.2.4. Sektor Usaha Jasa Konstruksi II.2.5. Sektor Usaha Farmasi II.2.6. Sektor Usaha Aneka Industri II.2.7. Sektor Usaha Kawasan Industri dan Perumahan II.2.8. Sektor Usaha Sarana Angkutan dan Pariwisata II.2.9. Sektor Usaha Prasaran Angkutan II.2.10. Sektor Usaha Logistik dan Sertifikasi II.2.11. Sektor Usaha Perkebunan

i

II.2.12. Sektor Usaha Kehutanan II.2.13. Sektor Usaha Perikanan II.2.14. Sektor Usaha Kertas, Percetakan, dan Penerbitan II.2.15. Sektor Usaha Penunjang Pertanian II.2.16. Sektor Usaha Pertambangan dan Semen II.2.17. Sektor Usaha Industri Strategis II.2.18. Sektor Usaha Energi & Sumber Daya Alam II.2.19. Sektor Usaha Telekomunikasi, Media dan Industri Penunjang Telekomunikasi II.3. Penerapan Tata Kelola Perusahaan Yang Baik II. 3.1. Assessment GCG II. 3.2. Re-Assessment GCG II. 3.3. Self Assessment GCG (Mandiri) II. 3.4. Review Tindak Lanjut Hasil Assesment GCG II. 3.5. Monitoring GCG melalui Kuesioner II. 3.6. Pelatihan Risk Management dan Internal Control System II. 3.7. Evaluation Tools atas Internal Control dan Risk Management II. 3.8. Pengkajian Penyempurnaan Evaluation Tools Penerapan GCG II. 3.9. Penyusunan Kriteria Penilaian GCG Tingkat Lanjutan II.4 Program Kemitraan dan Bina Lingkungan II.4.1. Program Kemitraan Tahun 2005 - 2009 II.4.2. Program Bina Lingkungan Tahun 2005 - 2009 BAB III : RENCANA DAN PELAKSANAAN PROGRAM PEMBINAAN BUMN TAHUN 2005-2009 III.1. Rencana Program Tahun 2005-2009 III.1.1 Rencana Rightsizing Tahun 2005-2009 III.1.2 Rencana Privatisasi Tahun 2005 - 2009 III.1.3 Program Kewajiban Pelayanan Umum (Public Service Obligation PSO) Tahun 2005 - 2009 III.1.4 Program Optimalisasi Aset BUMN Tahun 2005-2009 III.1.5 Program Pengembangan Teknologi Informasi Tahun 2005-2009 III.2 Pelaksanaan Program Tahun 2005 - 2009 III.2.1 Pelaksanaan Restrukturisasi Tahun 2005 - 2009

31 32 33 34 35 36 37 38 38 39 39 40 40 41 41 41 41 43 43 43 47 51 52 52 55 55 57 58 59 59

ii

3.2.2014 IV.2014 IV. 2.2. Program Penyelenggaran Public Service Obligation (PSO) 2010 . Informasi & Teknologi (TI) 2010 .1.2009 III. Program Privatisasi 2010 . 1. 1.4. Maksud dan Tujuan Restrukturisasi IV.1.2. Arah Kebijakan Privatisasi IV. 4.2014 IV. Definisi.2. Definisi. 2. 2.2.2014 IV.2.2.2 Pelaksanaan Privatisasi 2005 .3.2009 BAB IV : PROGRAM PEMBINAAN BUMN TAHUN 2010 . Program Restrukturisasi IV. Kriteria Privatisasi IV. 6. 2. 2. Ruang Lingkup Restrukturisasi IV.2014 IV.6 Pelaksanaan Penanganan Bantuan Pemerintah Yang Belum Ditetapkan Statusnya (BPYBDS) 2005 .3 Pelaksanaan Public Servive Obligation (PSO) Tahun 2005-2009 III. Prosedur Privatisasi IV.3. 1. Informasi serta Teknologi Informasi 2005 . 5. Program Pengembangan Data.2014 IV. Metode Privatisasi IV.2009 III. 2. Maksud dan Tujuan Privatisasi IV. 1.4 Pelaksanaan Optimalisasi Aset BUMN 2005-2009 III. Monitoring Penyelesaian Bantuan Pemerintah Yang Belum Ditetapkan Statusnya (BPYBDS) BAB V : KESIMPULAN LAMPIRAN 67 70 71 73 75 78 78 78 78 79 104 104 104 105 106 107 111 112 113 115 121 iii .5 Pelaksanaan Penyediaan Data.5. Program Optimalisasi Aset BUMN 2010 . Program Restrukturisasi 2010 .III.

Restrukturisasi BUMN merupakan proses yang berkelanjutan dan satu kesatuan yang terintegrasi dengan strategi penyelamatan ekonomi nasional. dan masyarakat. perbaikan tata kelola perusahaan (good corporate governance) juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam memenangkan persaingan. menyelenggarakan kemanfaatan umum berupa penyediaan barang atau jasa yang bermutu tinggi dan memadai bagi pemenuhan hajat hidup orang banyak. strategi pengelolaan BUMN ke depan perlu diarahkan pada peningkatan daya saing BUMN. Hal ini diutamakan agar BUMN dapat mencapai tujuan memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap ekonomi nasional. menjadi perintis kegiatan-kegiatan usaha yang belum dapat dilaksanakan oleh sektor swasta dan koperasi dan turut aktif memberikan bimbingan dan bantuan kepada pengusaha golongan ekonomi lemah. maksud dan tujuan didirikannya BUMN adalah untuk memberikan sumbangan bagi perkembangan perekonomian nasional pada umumnya dan penerimaan Negara pada khususnya. Perubahan yang sangat cepat dalam dua dekade terakhir serta diperkirakan akan semakin cepat pada masa-masa mendatang menyebabkan semakin perlunya pembentukan BUMN-BUMN yang unggul dan berdaya saing tinggi. perbaikan sinergi antar BUMN. serta (3) menjadi agen pemerintah dalam menyelenggarakan kemaslahatan hidup masyarakat luas sebagaimana diamanatkan dalam UU BUMN. koperasi. pengembangan kemampuan berusaha dan penciptaan peluang-peluang baru melalui manajemen yang dinamis dan profesional untuk dapat memasuki dan berkompetisi dalam era persaingan global. Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang BUMN. Disamping itu. Oleh karena itu. mengejar keuntungan.KATA PENGANTAR Kementerian BUMN sebagai instansi pemerintah yang memiliki tugas merumuskan kebijakan di bidang pembinaan dan pengawasan BUMN memiliki peran strategis dan penting dalam upaya memacu perekonomian Indonesia. Upaya ini dapat dilakukan melalui: (1) perumusan kebijakan yang mengarahkan BUMN agar mampu menyediakan barang/jasa berkualitas tinggi dengan harga yang terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. (2) memberikan kontribusi yang signifikan bagi perekonomian nasional. Master Plan BUMN 2010-2014 ini menggambarkan kebijakan utama penataan BUMN ke depan dan di dalamnya dijelaskan berbagai kebijakan Pemerintah dalam melaksanakan pembinaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) selaras dengan kebijakan . anggaran negara dan kesejahteraan masyarakat secara luas.

privatisasi BUMN. optimalisasi aset BUMN. Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-2014. Program pembinaan BUMN tersebut dilandasi oleh peraturan perundangan yang berlaku. Berbagai kebijakan dalam pembinaan BUMN yang dilaksanakan oleh Kementerian BUMN pada dasarnya dilakukan dalam rangka peningkatan kinerja dan nilai perusahaan. informasi dan teknologi informasi. public service obligation.1. Disamping program-program tersebut juga dijelaskan mengenai program Kemitraan dan Bina Lingkungan serta perkembangan Bantuan Pemerintah Yang Belum Ditentukan Statusnya. Dokumen ini menjelaskan kebijakan pemerintah dalam pembinaan BUMN. Melalui penerbitan Master Plan ini. manajemen/ karyawan BUMN dan para pelaku ekonomi. Undangundang Nomor 19 Tahun 2003 tentang BUMN.BAB I PENDAHULUAN I. Maksud Dan Ruang Lingkup Master Plan BUMN 2010-2014 memuat berbagai kebijakan Pemerintah dalam melaksanakan pembinaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang selaras dengan kebijakan sektoral. yaitu pasal 33 Undang-undang Dasar 1945. pembuat kebijakan. serta data. yang meliputi program restrukturisasi BUMN. 1 . serta peraturan lainnya yang terkait. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025. kerangka analisis program pembinaan BUMN serta tindakan spesifik Kementerian BUMN yang telah diambil saat ini atau yang akan direncanakan dalam jangka pendek dan jangka panjang (tahun 2010-2014). yang merupakan penyempurnaan terhadap dokumen serupa yang diterbitkan pada tahun 2005 oleh Kementerian Negara BUMN. Kementerian BUMN bermaksud memberikan penjelasan mengenai kebijakan dan program pembinaan BUMN kepada publik.

yang dilakukan oleh seluruh masyarakat secara aktif. melalui pembangunan ekonomi yang berlandaskan pada keunggulan daya saing. Terwujudnya masyarakat. Presiden telah menetapkan VISI1 untuk masa pemerintahan periode 2010-2014 yaitu “Indonesia yang Sejahtera. - - 2 . Terwujudnya pembangunan yang adil dan merata. aman dan damai. Visi Dan Misi Presiden Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-2014 Dalam melaksanakan tugas-tugas pemerintahan. kekayaan sumber daya alam. serta meletakkan pondasi yang lebih kuat bagi Indonesia yang adil dan demokratis. sumber daya manusia dan budaya bangsa.2. bangsa dan negara yang demokratis. bermartabat dan menjunjung tinggi kebebasan yang bertanggung jawab serta hak asasi manusia. namun tidak dapat terlepas dari kondisi dan tantangan lingkungan global dan domestik pada kurun waktu 2010-2014 yang mempengaruhinya. dengan penjelasan sebagai berikut: Kesejahteraan Rakyat. Misi pemerintah dalam periode 2010-2014 diarahkan untuk mewujudkan Indonesia yang lebih sejahtera. (2) Memperkuat Pilar-Pilar Demokrasi. dan Berkeadilan”. Terwujudnya peningkatan kesejahteraan rakyat. Presiden telah menetapkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014. Sedangkan Misi2 yang akan dilaksanakan dalam rangka mencapai visi tersebut adalah (1) Melanjutkan Pembangunan Menuju Indonesia yang Sejahtera.I. RPJMN tahun 2010-2014 tersebut telah ditetapkan dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2010. yang hasilnya dapat dinikmati oleh seluruh bangsa Indonesia. berbudaya. yang merupakan penjabaran dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025. Tujuan penting ini dikelola melalui kemajuan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Demokratis. (3) Memperkuat Dimensi Keadilan di Semua Bidang. Keadilan. Demokrasi.

yang ditandai dengan: peningkatan kemampuan struktur pertahanan Negara dan lembaga keamanan Negara. (3) kesehatan. kuatnya peran masyarakat sipil dan partai politik dalam kehidupan bangsa. (2) Perbaikan Tata Kelola Pemerintahan. yaitu: (1) reformasi birokrasi dan tata kelola. ditetapkan lima agenda utama pembangunan nasional3 tahun 2010-2014. yang ditandai dengan: membaiknya pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah.Dalam mewujudkan visi dan misi pembangunan nasional 2010-2014. Visi dan Misi pemerintah 2010-2014 tersebut dirumuskan dan dijabarkan lebih operasional ke dalam sejumlah program prioritas4 sehingga lebih mudah diimplementasikan dan diukur tingkat keberhasilannya. dan (4) memperkuat daya saing perekonomian. serta (11) kebudayaan. (5): Pembangunan Yang Inklusif Dan Berkeadilan. terdepan. (2) Hukum : meningkatnya kesadaran dan penegakan hukum. (4) Penegakkan Hukum Dan Pemberantasan Korupsi. (9) lingkungan hidup dan bencana. (7) iklim investasi dan usaha. Berdasarkan UU Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) Tahun 2005-2025. Bidang-Bidang yang menjadi perhatian utama RPJMN Tahun 2010-2014 adalah: (1) Pertahanan dan Keamanan. (2) pendidikan. (3) Penegakan Pilar Demokrasi. (10) daerah tertinggal. (2) meningkatkan kualitas SDM. (5) ketahanan pangan. dan kelanjutan penataan sistem hukum nasional. UU Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) tahun 2005-2025 3 . terluar. tema dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-20145 adalah (1) memantapkan penataan kembali NKRI. (8) energi. dan paskakonflik. posisi penting Indonesia sebagai negara demokrasi yang besar makin meningkat dengan keberhasilan diplomasi di forum internasional. yaitu: (1) Pembangunan Ekonomi dan Peningkatan Kesejahteraan Rakyat. (6) infrastruktur. dan inovasi teknologi. tercapainya konsolidasi penegakan supremasi hukum. (3) Politik. kreativitas. (3) membangun kemampuan IPTEK. penegakan hak asasi manusia. (4) penanggulangan kemiskinan.

dan tenaga surya untuk kelistrikan. perikanan. makin mantapnya nilai-nilai baru yang positif dan produktif dalam rangka memantapkan budaya dan karakter bangsa. dipercepatnya pengembangan pusat-pusat pertumbuhan potensial di luar Jawa.(4) Pelayanan Publik. tenaga angin. optimal. antarkelompok masyarakat. menurunnya angka kemiskinan dan tingkat pengangguran disertai dengan berkembangnya lembaga jaminan sosial. percepatan pembangunan infrastruktur dengan lebih meningkatkan kerja sama antara pemerintah dan dunia usaha. energi dan sumber daya mineral dikembangkan secara sinergi. cepat. dan berkelanjutan. serta pos dan telematika. kesejahteraan. dan perlindungan anak. (6) Daya Saing Perekonomian yang meningkat melalui : penguatan industri manufaktur sejalan dengan penguatan pembangunan pertanian dan kelautan serta sumber daya alam lainnya sesuai dengan potensi daerah secara terpadu. peningkatan kualitas dan relevansi pendidikan. terpeliharanya keanekaragaman hayati dan kekhasan sumber daya alam tropis lainnya yang dimanfaatkan untuk mewujudkan nilai tambah. wisata bahari. meningkatnya kesetaraan gender. meningkatnya tingkat pendidikan masyarakat. panas bumi. (7) Pengelolaan SDA dan LH yang makin berkembang melalui : penguatan kelembagaan dan peningkatan kesadaran masyarakat yang ditandai dengan berkembangnya proses rehabilitasi dan konservasi sumber daya alam dan lingkungan hidup yang disertai dengan menguatnya partisipasi aktif masyarakat. meningkatnya derajat kesehatan dan status gizi masyarakat. industri maritim. pengembangan sumber daya air dan pengembangan perumahan dan permukiman. serta modal 4 . khususnya bioenergi. tenaga air. terkendalinya jumlah dan laju pertumbuhan penduduk. daya saing bangsa. meningkatnya tumbuh kembang optimal. transparan dan akuntabel makin meningkat yang ditandai dengan terpenuhinya standar pelayanan minimum di semua tingkatan pemerintah. (5) Kesejahteraan Rakyat yang terus meningkat ditunjukkan oleh membaiknya berbagai indikator pembangunan sumber daya manusia : meningkatnya pendapatan per kapita. meningkatnya pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. menurunnya kesenjangan kesejahteraan antarindividu. penataan kelembagaan ekonomi yang mendorong prakarsa masyarakat. Kualitas pelayanan publik yang lebih murah. dan antardaerah. peningkatan pemanfaatan energi terbarukan. industri kelautan yang meliputi perhubungan laut. pengembangan jaringan infrastruktur transportasi.

(3) Meningkatkan kualitas 5 . serta (3) menjadi agen pemerintah dalam menyelenggarakan kemaslahatan hidup masyarakat luas sebagaimana diamanatkan dalam UU BUMN.pembangunan nasional pada masa yang akan datang. Kementerian BUMN menetapkan Misi7 sebagai berikut (1) Meningkatkan kualitas pengelolaan BUMN yang semakin transparan dan akuntabel. Untuk mewujudkan visi tersebut. memerlukan adanya koordinasi dan peran serta dari seluruh lembaga/institusi Pemerintah. Tujuan Dan Sasaran Kementerian BUMN Sesuai Rencana Strategis Kementerian BUMN Tahun 2010-2014 Upaya Pemerintah dalam memperkuat daya saing perekonomian nasional guna peningkatan kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat dalam mewujudkan cita-cita Bangsa Indonesia pada umumnya dan misi Pembangunan Jangka Panjang (tahun 2005-2025) dan Pembangunan Jangka Menengah (tahun 2010-2014) pada khususnya. sesuai dengan Rencana Strategis Kementerian BUMN Tahun 2010-2014. mantapnya kelembagaan dan kapasitas antisipatif serta penanggulangan bencana di setiap tingkatan pemerintahan. Visi. Misi. meningkatnya kualitas perencanaan tata ruang serta konsistensi pemanfaatan ruang dengan mengintegrasikannya ke dalam dokumen perencanaan pembangunan terkait dan penegakan peraturan dalam rangka pengendalian pemanfaatan ruang. (2) memberikan kontribusi yang signifikan bagi perekonomian nasional. telah ditetapkan Visi6 Kementerian BUMN yaitu “Mewujudkan BUMN sebagai instrumen Negara untuk peningkatan kesejahteraan rakyat berdasarkan mekanisme korporasi”. I. Kementerian BUMN sebagai instansi pemerintah yang memiliki tugas merumuskan kebijakan di bidang pembinaan dan pengawasan BUMN. terlaksananya pembangunan kelautan sebagai gerakan yang didukung oleh semua sektor. (2) Meningkatkan peran BUMN untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional dan pendapatan negara.3. Berdasarkan hal-hal tersebut. diharuskan mengambil peran dalam upaya perbaikan kondisi perekonomian Indonesia melalui: (1) perumusan kebijakan yang mengarahkan BUMN agar mampu menyediakan barang/jasa berkualitas tinggi dengan harga yang terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.

(4) Meningkatkan peran BUMN dalam usaha keperintisan.1 Sasaran 4.4 : Meningkatnya Kapasitas dan Kemampuan Pembinaan BUMN : Terlaksananya reformasi birokrasi : Meningkatnya kapasitas dan kemampuan SDM : Tersedianya sarana dan prasarana yang memadai : Terlaksananya penyusunan dan harmonisasi peraturan perundang-undangan : Terwujudnya penerapan best practices GCG dan sistem penilaian kinerja : Tersusunnya best practice GCG : Terlaksananya penerapan best practice GCG : Terlaksananya sistem remunerasi berbasis kinerja di BUMN : Terlaksananya sistem penilaian kinerja di BUMN yang mangacu pada standar internasional.1 Sasaran 1. : Meningkatnya peran BUMN dalam pengelolaan SDA strategis dan pertahanan nasional : Terwujudnya kebijakan untuk meningkatkan porsi SDA strategis yang dikelola oleh BUMN : Terlaksananya penerapan peraturan perundang-undangan yang berpihak pada BUMN untuk mengelola SDA strategis : Terlaksananya penerapan peraturan perundangan yang berpihak pada BUMN dalam pengembangan industri pertahanan : Terwujudnya kemampuan BUMN industri pertahanan untuk penyediaan alutsista : Meningkatnya Kinerja BUMN : Meningkatnya keuntungan BUMN : Meningkatnya sinergi antar BUMN Tujuan 2 Sasaran 2.3 Sasaran 2. Kementerian Negara BUMN di dalam Rencana Strategisnya menetapkan 9 (sembilan) tujuan dan 30 sasaran strategis yang ingin dicapai dalam periode pemerintahan tahun 2010-2014.2 Sasaran 2.4 Tujuan 4 Sasaran 4. sebagai berikut: Tujuan 1 Sasaran 1.2 Sasaran 3.1 Sasaran 2.3 Sasaran 1. Berdasarkan visi dan misi di atas.2 6 .pelaksanaan penugasan pemerintah untuk pelayanan umum(PSO). (5) Meningkatkan peran BUMN dalam rangka pengembangan UMKM.4 Tujuan 3 Sasaran 3.2 Sasaran 1. (6) Peningkatan peran BUMN untuk percepatan pelaksanaan prioritas pembangunan nasional.1 Sasaran 3.3 Sasaran 3.

5 Sasaran 9.6 7 .1 Sasaran 7.3 Tujuan 9 Sasaran 9.3 Sasaran 9.1 Sasaran 9.2 Tujuan 7 Sasaran 7.1 Sasaran 6.1 Sasaran 8.2 Sasaran 8.3 Tujuan 8 Sasaran 8.2 Sasaran 7.Tujuan 5 Sasaran 5.1 Sasaran 5.2 : Meningkatnya peran BUMN untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional : Meningkatnya belanja modal (Capital Expenditure) BUMN : Meningkatnya belanja operasional (Operating Expenditure) BUMN : Meningkatnya kualitas pelaksanaan penugasan pemerintah untuk pelayanan umum : Terlaksananya pemisahan tanggungjawab antara pemberi tugas (Pemerintah) dan pelaksana tugas (BUMN) secara konsisten : Terwujudnya pelaksanaan tugas pelayanan umum secara transparan.2 Sasaran 9. : Meningkatnya peran BUMN dalam keperintisan usaha dan pengembangan UMKM : Meningkatnya peran BUMN dalam program Public Private Partnership (P3) : Meningkat dan meluasnya jangkauan penyaluran dana PKBL : Meningkatnya efektivitas penyaluran dana pemerintah (KUR) untuk pengembangan UMKM : Terwujudnya sistem pengelolaan BUMN yang semakin sehat dan kompetitif : Terwujudnya harmonisasi peraturan perundang-undangan yang mengarah pada perwujudan pengelolaan BUMN berbasis mekanisme korporasi : Terwujudnya jumlah BUMN yang ideal : Berkurangnya BUMN yang rugi dan bermasalah : Meningkatnya peran BUMN dalam percepatan pelaksanaan prioritas pembangunan nasional : Meningkatnya peran BUMN untuk ketahanan energi : Meningkatnya peran BUMN untuk ketahanan pangan : Meningkatnya peran BUMN untuk pembangunan infrastruktur Meningkatnya peran BUMN untuk peningkatan pertahanan Meningkatnya peran BUMN dalam pengembangan UMKM Meningkatnya peran BUMN untuk lingkungan hidup Tujuan 6 Sasaran 6.4 Sasaran 9.

8 . serta (5) pelaksanaan tata kelola yang baik (good governance). yaitu : a. Prioritas RPJMN Tahun 2010-2014 Di Bidang Pembinaan BUMN Permasalahan dan tantangan dalam pembinaan dan pengawasan BUMN yang dicantumkan dalam RPJM 2010-2014 adalah sebagai berikut: (1) masih terdapatnya ketidakharmonisan peraturan perundang-undangan yang menyebabkan penafsiran yang berpengaruh terhadap kepastian hukum di bidang pengurusan. dalam RPJMN tahun 2010-2014. kegiatan prioritas yang terkait dengan Kementerian BUMN dalam RPJMN 2010-2014 adalah program di bidang Pembinaan dan Pengawasan BUMN9. (4) pelaksanaan otonomi daerah yang sering tidak kondusif bagi pengembangan usaha.4. (3) persaingan usaha yang makin ketat. (3) meningkatnya peran BUMN dalam pengelolaan SDA strategis dan pertahanan nasional. (2) terwujudnya penerapan best practices GCG dan sistem penilaian kinerja. (5) meningkatnya peran BUMN untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.I. Transformasi dan konsolidasi BUMN bidang energi dimulai dari PLN dan Pertamina yang selesai selambat-lambatnya 2010 dan diikuti oleh BUMN lainnya. (7) meningkatnya peran BUMN dalam keperintisan usaha dan pengembangan UMKM. sasaran pembangunan dalam pembinaan BUMN8 adalah sebagai berikut: (1) meningkatnya kapasitas dan kemampuan pembinaan BUMN. (9) meningkatnya peran BUMN dalam percepatan pelaksanaan prioritas pembangunan nasional. (8) terwujudnya sistem pengelolaan BUMN yang semakin sehat dan kompetitif. Selanjutnya. regional. maupun global yang sedang dalam tahap pemulihan. (6) meningkatnya kualitas pelaksanaan penugasan pemerintah untuk pelayanan umum. pengawasan. (2) kondisi ekonomi baik nasional. Terkait dengan hal tersebut. (4) meningkatnya keuntungan BUMN. sebagai berikut: (1) Dukungan pelaksanaan program prioritas Pemerintah bidang energi (Prioritas Nasional). dan pembinaan BUMN.

penggunaan gas alam sebagai bahan bakar angkutan umum perkotaan di Palembang.000 MW per tahun mulai 2010 dengan rasio elektrifikasi yang mencakup 62% pada 2010 dan 80% pada 2014. dan nuklir secara bertahap. monitoring dan evaluasi kinerja BUMN (8) Penetapan peraturan pelaksanaan pemisahan administrasi keuangan PSO dan Perpres tentang SOP pelaksanaan PSO (9) Penyusunan peraturan perundangan yang mengarah pada perwujudan pengelolaan BUMN berbasis mekanisme korporasi murni (10) Kajian BUMN rugi dan bermasalah (11) Penyusunan dan pelaksanaan Program Tahunan Privatisasi (12) Kajian rightsizing BUMN (13) Uji kepatutan dan kelayakan calon Direksi dan Dewan Komisaris (14) Dukungan pelaksanaan program prioritas Pemerintah bidang ketahanan pangan (15) Dukungan pelaksanaan program prioritas Pemerintah bidang infrastruktur 9 . dan Denpasar.2 juta barrel per hari mulai 2014. Perluasan program konversi minyak tanah ke gas sehingga mencakup 42 juta Kepala Keluarga pada 2010. Peningkatan kapasitas pembangkit listrik sebesar rata-rata 3.000 MW pada 2014 dan dimulainya produksi coal bed methane untuk membangkitkan listrik pada 2011 disertai pemanfaatan potensi tenaga surya. pupuk dan industri hilir lainnya. microhydro. (2) Restrukturisasi BUMN besar/ penting/ strategis (Prioritas Nasional) (3) Penyusunan best practice GCG (4) Penetapan system remunerasi berbasis kinerja di BUMN (5) Penyusunan peraturan mengenai penerapan system penilaian yang mengacu pada standar internasional (6) Kajian. Revitalisasi industri pengolah hasil ikutan/turunan minyak bumi dan gas sebagai bahan baku industri tekstil. Surabaya.000 MW pada 2012 dan 5. dan produksi minyak bumi sebesar lebih dari 1. e.b. d. c. Peningkatan pemanfaatan energi terbarukan termasuk energi alternatif geothermal sehingga mencapai 2. evaluasi dan monitoring pendayagunaan asset BUMN (7) Penetapan target.

kegiatan usaha. (5) peningkatan kualitas pelaksanaan pelayanan umum. Sedangkan restrukturisasi korporasi meliputi penataan kembali bentuk badan usaha. Restrukturisasi dilakukan baik secara sektoral maupun korporasi. Dalam rangka mencapai jumlah dan skala BUMN yang ideal. Hal ini dilakukan dalam upaya meningkatkan kinerja dan nilai (value) perusahaan. transparan dan obyektif. Selain itu. maka dalam Master Plan BUMN Tahun 2010-2014. perbaikan struktur keuangan dan manajemen. 10 . manajemen dan keuangan.5. Restrukturisasi sektoral dilakukan untuk menciptakan iklim usaha yang kondusif sehingga tercapai efisiensi dan pelayanan yang optimal. BUMN yang ada akan dikelompokkan ulang berdasarkan sektor industrinya. penciptaan struktur industri yang sehat dan kompetitif. Arah Kebijakan Pembinaan BUMN Sesuai Rencana Strategis Kementerian BUMN Tahun 2010-2014 Dan Master Plan BUMN Tahun 2010-2014 Arah kebijakan utama terkait dengan pembinaan BUMN adalah restrukturisasi. penyebaran kepemilikan oleh publik serta pengembangan pasar modal domestik. Privatisasi dilakukan dalam rangka meningkatkan kinerja dan nilai tambah perusahaan. (3) penerapan Good Governance dan Good Corporate Governance. dalam konteks pembinaan BUMN juga akan diambil kebijakan berupa: (1) pemantapan proses seleksi pengurus BUMN secara profesional. (4) peningkatan kinerja dan daya saing dan keberlanjutan usaha BUMN.I. revitalisasi dan profitisasi BUMN secara bertahap dan berkesinambungan. (2) penetapan peraturan pelaksanaan UU BUMN dan harmonisasi peraturan perundang-undangan lainnya sesuai dengan UU Perseroan Terbatas dan/atau Capital Market Protocol. serta (6) peningkatan peran BUMN dalam mendorong pelaksanaan prioritas pembangunan nasional. organisasi. Melalui penerapan kebijakan ini. Kementerian BUMN menyusun program rightsizing untuk memperbaiki struktur bisnis BUMN secara menyeluruh. Peningkatan kinerja dan nilai BUMN tersebut dilakukan melalui langkahlangkah restrukturisasi dan privatisasi. pemberdayaan BUMN yang mampu bersaing dan berorientasi global.

swasta dan koperasi melaksanakan peran saling mendukung berdasarkan demokrasi ekonomi. Perkembangan. Sektor 11 . peran Di BUMN/pemerintah awal era dalam nasional pembangunan. tidak diminati swasta dan bersifat pioneering. BUMN juga merupakan salah satu sumber penerimaan Negara yang signifikan dalam bentuk berbagai jenis penerimaan Negara. Seperti yang telah disebutkan dalam Rencana Strategis Kementerian Negara Tahun 2010-2014.6. BUMN/pemerintah masuk antara lain ke dalam sektor-sektor yang memerlukan pembiayaan cukup besar. Perkembangan Jumlah BUMN Tahun 2005-2009 Uraian Perum Persero Persero Tbk Jumlah BUMN Kepemilikan Negara Minoritas 2005 13 114 12 139 21 2006 13 114 12 139 21 2007 14 111 14 139 21 2008 14 113 14 141 20 2009 14 112 15 141 19 BUMN memiliki potensi yang sangat besar untuk berkembang yang sampai dengan saat ini belum termanfaatkan secara optimal. Pada perekonomian masa awal kemerdekaan. di samping usaha swasta dan koperasi. Dalam menjalankan kegiatan usahanya. (5) profesionalisme SDM. BUMN. potensi-potensi tersebut antara lain: (1) keberadaan BUMN di hampir semua sektor usaha. Keberadaan BUMN Sesuai dengan Pasal 33 UUD 1945.I. (3) brand image BUMN. BUMN berperan strategis sebagai pelaksana pelayanan publik.6. Disamping itu data. dan 15 BUMN yang merupakan Persero Terbuka. (4) pengalaman usaha BUMN.1. informasi dan teknologi informasi pada BUMN telah tersedia dan terbangun dengan baik. penyeimbang kekuatankekuatan swasta besar dan turut membantu pengembangan usaha kecil/koperasi. Kontribusi Dalam Perekonomian Nasional Serta Potensi-Potensi Yang Dimiliki BUMN Sampai dengan akhir tahun 2009 terdapat 141 BUMN yang terdiri dari 14 BUMN berbentuk Perum. antara lain pajak dan dividen. Tabel 1. cukup penting. BUMN merupakan salah satu penggerak utama perekonomian nasional. Adapun perkembangan jumlah BUMN dan kepemilikan Negara minoritas tahun 2005-2009 sebagaimana tersebut pada Tabel 1. 112 BUMN berbentuk Persero. I. (2) kepemilikan aset yang besar.

Bahkan di beberapa sektor usaha. Pada awal tahun 2004.23. terdapat BUMN yang menjalankan usahanya.40 triliun.1. Jika melihat pada BUMN yang ada saat ini.14 Triliun per tahun. menghasilkan barang dan jasa untuk dalam negeri maupun ekspor. tetapi juga memiliki potensi yang besar untuk menjalin sinergi yang saling menguntungkan diantara sesama BUMN sehingga akan memberikan percepatan dalam pencapaian kinerja perusahaan.27 Triliun per tahun.37 triliun. sedangkan posisi pada akhir tahun 2008 Capex sebesar Rp.453.32.128. dan memberi layanan yang optimal bagi konsumen.korporasi yang andal dalam membangun perekonomian nasional diperlukan untuk menciptakan lapangan kerja. Jumlah BUMN yang mencapai 141 dan tersebar hampir di semua sektor usaha tidak hanya membuat BUMN sangat berpotensi untuk berkontribusi yang signifikan kepada masyarakat dan negara secara umum. demikian juga kontribusi BUMN dalam bentuk pajak cenderung meningkat dimana rata-rata pajak yang diberikan selama periode 2005–2009 sebesar Rp. kita akan mengetahui bahwa BUMN adalah sebuah entitas yang memiliki potensi untuk dapat berkembang menjadi sebuah entitas bisnis yang besar dan kuat.028. Keberadaan BUMN selama ini telah memberikan kontribusi yang besar kepada Negara. baik berupa dividen. 12 . penerimaan Negara dari Pajak dan kontribusinya bagi pergerakan sektor riil. Peningkatan Capex dan Opex tersebut menunjukkan kontribusi BUMN bagi pergerakan sektor riil. BUMN adalah penguasa pasar (market leader) sehingga memiliki peran yang sangat signifikan baik bagi stabilitas sektor bisnis maupun ekonomi secara umum.32 triliun dan Opex sebesar Rp. Belanja modal (capital expenditures/Capex) dan belanja operasional (operational expenditures/Opex) BUMN juga mengalami peningkatan.73. Rata-rata dividen yang diberikan BUMN kepada Negara selama periode 2005–2009 sebesar Rp.26 triliun dan Opex sebesar Rp. Hampir di semua lini bisnis dan sektor usaha yang ada di Indonesia. Capex BUMN adalah Rp.

Dengan usahausaha yang dijalankan di sektor perintisan membuat nama BUMN dikenal luas di seluruh nusantara. dan berdaya saing tinggi. berkinerja baik.150 trilliun tersebut.BUMN sebagai badan usaha juga dapat berperan dalam mendorong penerapan praktek-praktek bisnis dengan standar etika dan transparansi. Melalui kerja sama usaha dengan swasta maupun BUMN.72. sehingga upaya-upaya restrukturisasi/revitalisasi/ profitisasi yang berkelanjutan perlu terus dilaksanakan.39%. I. dengan return on equity (ROE) sebesar 12. Bukan hanya karena mereka menguasai hajat hidup orang banyak tetapi lebih dari itu.2. Brand image BUMN Tidak dapat dipungkiri bahwa perjalanan sejarah telah membuat BUMN memiliki brand image yang sangat kuat khususnya di dalam negeri. Aset yang belum didayagunakan tersebut menjadi potensi tersendiri bagi BUMN dalam upayanya untuk terus memperbaiki kinerja agar dapat memberikan kontribusi yang lebih besar kepada kesejahteraan rakyat.6. Pos Indonesia.84 triliun. PLN. dari total aset BUMN tersebut.89%. Bank BRI. laba BUMN pada akhir tahun 2009 hanya mencapai Rp. Namun. akuntabilitas. dan Pertamina adala BUMN-BUMN yang sudah sangat melekat di benak seluruh rakyat Indonesia. 13 .150 Triliun yang sebagian besar masih menggunakan nilai buku. Hal ini dapat dilihat dari rasio return on asset (ROA) BUMN yang masih relatif kecil. Sebuah nilai yang sangat besar yang apabila mampu dimanfaatkan secara maksimal tentu akan memicu pertumbuhan sektor riil dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan (sustainability growth). yaitu sebesar 3.3. independensi. belum seluruhnya dimanfaatkan secara optimal dengan baik guna menghasilkan pendapatan bagi perusahaan. mereka adalah bagian dari sejarah perkembangan bangsa Indonesia. Pegadaian. total aset BUMN tercatat mencapai ± Rp2. aset-aset yang masih idle tersebut akan menjadi salah satu kunci dalam upaya untuk mewujudkan BUMN yang sehat. I.6. Dorongan untuk meningkatkan praktek good corporate governance perlu mendapatkan perhatian. Kepemilikan Aset Sampai dengan akhir tahun 2009. responsibilitas dan fairness (GCG) serta profesionalisme pengelolaan perusahaan. Dari total aset yang mencapai + 2.

berkinerja baik dan berdaya saing tinggi sehingga mampu memberikan kontribusi yang optimal bagi perekonomian nasional. BUMN seharusnya memiliki pengalaman yang jauh lebih banyak daripada perusahaan-perusahaan swasta lain yang belum begitu lama berdiri. Namun patut diperhatikan juga bahwa. Dengan usia yang sudah sedemikian lama. regional. Pengalaman usaha BUMN Jika dilihat secara seksama. Mekanisme penetapan pengurus BUMN yang semakin transparan dan mengutamakan nilai-nilai profesionalisme dan integritas 14 .5. Ketatnya pengawasan dalam pengelolaan BUMN juga semakin mendorong peningkatan integritas SDM BUMN. Profesionalisme SDM Dengan eksistensi di dalam perekonomian dan pengalaman yang cukup lama di dunia bisnis serta besarnya jumlah aset yang dikelola. Competitive advantage ini harus dapat dioptimalkan sehingga bisa mendukung upaya penciptaan BUMN yang sehat. Brand image BUMN semakin membaik yang tergambar dari semakin meningkatnya jumlah BUMN yang mendapatkan penghargaan ditingkat nasional. I. dan internasional.Brand image yang sangat kuat ini merupakan salah satu competitive advantage yang dimiliki oleh BUMN untuk bersaing dengan perusahaan swasta lain.6. pengalaman usaha BUMN tersebut harus selalu diiringi dengan inovasi dan kreativitas usaha sehingga BUMN akan tetap mendapat kepercayaan dari masyarakat. hampir seluruh BUMN lahir pada awal kemerdekaan Indonesia bahkan ada beberapa BUMN yang merupakan hasil nasionalisasi perusahaan-perusahaan belanda. maka sumber daya manusia dan profesionalisme yang dimiliki oleh BUMN kiranya tidak perlu diragukan lagi. Perbaikan sistem remunerasi yang semakin berkeadilan dan berbasis kinerja semakin mendorong peningkatan profesionalisme SDM BUMN. Pemahaman yang mendalam tentang nature of business menjadi salah satu kunci agar suatu perusahaan mampu berkembang dan bisa menjawab setiap tantangan zaman.6.4. Pengalaman adalah salah satu nilai tambah yang sangat penting bagi perusahaan terutama untuk menghadapi persaingan usaha yang semakin kompetitif. I.

BUMN membutuhkan kecepatan dalam seluruh aspek pengambilan keputusan korporasi. dengan demikian pemanfaatan teknologi informasi akan meningkatkan efisiensi dan menciptakan nilai tambah perusahaan. Kini. Data. 15 . dan teknologi informasi menjadikan BUMN memiliki sarana yang relatif lebih lengkap dalam menghadapi persaingan di pasar lokal maupun pasar global serta memberikan kemampuan bagi BUMN untuk menciptakan nilai tambah dan mengembangkan usaha. I. informasi. dan lengkap akan membantu manajemen melakukan analisis dan mengambil keputusan dengan cepat dan akurat. Tanpa penguasaan data dan informasi. maka BUMN perlu mempunyai kebijakan tata kelola teknologi informasi yang menjadi bagian dari tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance). implementasi teknologi informasi lebih mengarah pada sinergi pemanfaatan informasi dan teknologi informasi yang digunakan pada rantai bisnis baik di lingkungan internal maupun eksternal. BUMN akan kehilangan kesempatan dan kecepatan mengantisipasi perubahan. Dalam situasi turbulensi ekonomi.semakin mendorong persaingan SDM BUMN untuk meningkatkan kapasitas dan kemampuan dalam setiap pengambilan keputusan.6. Informasi dan Teknologi Informasi Disamping hal-hal tersebut diatas.6. Agar teknologi informasi yang diimplementasikan di BUMN dapat dipastikan memberikan outcome sesuai dengan kebutuhan bisnis. tepat. Penguasaan data dan informasi menjadi faktor yang penting karena data dan informasi yang dapat disajikan dengan cepat. implementasi teknologi informasi akan sangat berperan dalam pengendalian internal perusahaan. Bagi perusahaan. penguasaan terhadap data.

Segala upaya yang telah dilakukan selama ini. Yang pada gilirannya akan memberikan kontribusi yang optimal bagi perekonomian nasional. baik Visi dan Misi Pemerintah untuk mensejahterakan rakyat. pada dasarnya adalah untuk meningkatkan efisiensi/efektifitas perusahaan sehingga kinerja dan nilai perusahaan meningkat. mewujudkan demokrasi dan memeratakan keadilan. baik yang telah berhasil.Keberadaan BUMN sebagai salah satu pelaku ekonomi Indonesia dengan segala peran. yakni mewujudkan BUMN menjadi instrumen negara untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat berdasarkan mekanisme korporasi. Peningkatan peran dan kualitas pembinaan dan pengawasan BUMN dalam melaksanakan tujuan-tujuan dan sasaran-sasaran strategis yang dicantumkan dalam Renstra Kementerian BUMN 2010-2014. bidang-bidang/program-program yang tertuang dalam RPJM 2010-2014. bentuk kontribusinya terhadap perekonomian serta potensi-potensi yang dimilikinya. fungsi. menjadi sangat penting artinya. dalam kerangka untuk terus meningkatkan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance). dalam mengatasi permasalahan dan tantangan yang dihadapi maupun dalam mencapai sasaran-sasaran pembangunan dalam pembinaan BUMN seperti yang tercantum dalam RPJM 2010-2014. maka transformasi/konsolidasi/ restrukturisasi/revitalisasi secara bertahap dan berkesinambungan. 16 . seyogianya dapat menjadi lokomotif ataupun pelaku ekonomi yang handal yang dapat mendukung. Seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) diharapkan memahami ketentuan/peraturan perundang-undangan yang berlaku terkait dengan BUMN dan menjalankan peran. maupun dalam mewujudkan Visi dan Misi Kementerian BUMN. tugas dan tanggungjawab masing-masing untuk mendukung peningkatan peran dan kualitas pembinaan dan pengelolaan BUMN dalam rangka meningkatkan kinerja/nilai dan kontribusi perusahaan dalam perekonomian nasional. belum berhasil maupun yang masih akan dilakukan. sedang dalam penyelesaian.

PT TVRI menjadi BLU dan Likuidasi PT AAF). negara juga memiliki saham dengan kepemilikan minritas pada 19 badan usaha.1. Tabel 1 : Perkembangan Jumlah BUMN di Indonesia Periode tahun 2005 . Likuidasi PT ISI dan terbentuknya Perum LKBN Antara.BAB II PERKEMBANGAN BUMN TAHUN 2005-2009 Kinerja BUMN dalam lima tahun terakhir (2005-2009) sebagian besar menunjukkan kecenderungan perbaikan. Tahun 2007. Di samping itu. penerapan Tata Kelola Perusahaan Yang Baik (GCG) dan perkembangan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan. Pada tahun 2008 terjadi penambahan jumlah BUMN yaitu PTDI dan PT Askrindo. 17 . 1. 1. terdapat 2 (dua) Persero menjadi Tbk. dan pada tahun 2009 terjadi penambahan BUMN Tbk yaitu PT Bank BTN. Perkembangan jumlah BUMN dan kepemilikan negara minoritas dapat dilihat pada Tabel 1. meskipun terdapat sebagian kecil BUMN masih menghadapi kendala-kendala untuk berkembang.2009 Jumlah BUMN ( Saham Negara ? 51%) Persero Tbk Persero Perum Perjan Jumlah BUMN Jumlah 51 % Perusahaan Dengan Saham Negara ? 2005 12 114 13 0 139 21 2006 12 114 13 0 139 21 2007 14 111 14 0 139 21 2008 14 113 14 0 141 19 2009 15 112 14 0 141 19 Pada Tahun 2005 terjadi pengurangan jumlah Perjan (Perjan Rumah Sakit dan RRI berubah menjadi Badan Layanan Umum/BLU) dan pengurangan jumlah Persero (Merger 4 Persero Perikanan.Perkembangan Jumlah BUMN Jumlah BUMN di Indonesia pada tahun 2009 sebanyak 141 perusahaan dan beroperasi pada hampir seluruh sektor usaha. II. Di bawah ini disajikan perkembangan kinerja BUMN masing-masing sektor. khususnya industri hulu. Perkembangan Kinerja BUMN II.

770 2006 1.217. sedangkan Return on Equity (ROE) berfluktuasi dari tahun ke tahun dengan kisaran antara 6.451.2.117 1.291.185 Prog 2009 2.193 370.840 Dari tabel 2 tersebut di atas.000 72.89% atau rata-rata 11.322 1.696 865. ROE. total ekuitas.00% .96% .481 445.454.150.969.496 64.720 49.69% atau ratarata 3.12.034 931. terlihat bahwa kinerja BUMN mengalami peningkatan/pertumbuhan yang terlihat dari total asset.584.Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Data kinerja BUMN periode tahun 2005-2009 secara umum dapat dilihat pada tabel 2 sebagai berikut.254 921.20% per tahun.15% per tahun.161. perkembangan ROA.717.998 565.890 754. total pendapatan.II.2009 Rp Miliar Total Aset Total Hutang Ekuitas Pendapatan Laba Bersih 2005 1.371 1. Gambaran perkembangan ROA dan ROE dapat dilihat dalam grafik berikut: Grafik 1: Perkembangan ROA dan ROE 18 .060 655. Selanjutnya.3.005. aset.630 1. ekuitas dan kontribusi BUMN dapat dilihat pada grafik-grafik dan tabel-tabel sebagai berikut : a.487 514.626 499.152 25. dan total laba bersih. Return on Asset (ROA) dan Return on Equity (ROE) Return on Asset (ROA) periode 2005 – 2009 berkisar antara 2.171 2007 1. 1. Tabel 2 : Perkembangan Kinerja BUMN Periode tahun 2005 .349 63. laba.032 1.307 2008 1.

b. Pertumbuhan tersebut disamping karena meningkatnya keuntungan BUMN. juga disebabkan oleh kebijakan pemerintah untuk meningkatkan devidend pay out ratio dari rata-rata 20% sebelum krisis moneter 1997. Kontribusi Dividen Pada periode tahun 2004-2009 terjadi pertumbuhan kontribusi deviden rata-rata 25. menjadi sekitar 40% setelah krisis moneter. a. 19 . jumlah laba bersih yang diperoleh BUMN pada periode tahun 2005-2009 juga mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan yaitu tumbuh ratarata 20. Hal ini disebabkan sebagian besar aset dibiayai dari dana eksternal/hutang. Grafik 2: Perkembangan Total Aktiva. Ekuitas dan Hutang (dalam Rp Triliun) c.3. Ekuitas dan Hutang Dilihat dari sisi jumlah aset. bahkan beberapa BUMN dikenakan lebih dari 50%. Perkembangan Total Aktiva. tampak terjadi pertumbuhan yang cukup signifikan dalam periode tahun 2005-2009. 1. Namun pertumbuhan jumlah aset tersebut dirasakan belum proporsional dengan pertumbuhan modal perusahaan yang pertumbuhannya relatif lambat. Gambaran kontribusi dividen BUMN sebagaimana terlihat pada Grafik 5 sebagai berikut. Perkembangan Jumlah Laba Bersih Sama halnya dengan jumlah aset. II.09% per tahun.28%/tahun. Perkembangan Kontribusi BUMN Kontribusi BUMN terhadap penerimaan negara pada dasarnya bersumber dari dividen BUMN dan pajak yang disetorkan BUMN.

maka sebelum 5 tahun terakhir terdapat hasil divestasi/privatisasi BUMN yang disetorkan ke kas Negara karena situasi keuangan Pemerintah maupun kebijakan pada saat itu. Namun demikian. pada periode tahun 2005-2009 juga mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi yaitu rata-rata 18. Adapun gambaran hasil privatisasi 2004-2009 sebagaimana terlihat pada Grafik 7 sebagai berikut. Kontribusi Pajak Kontribusi BUMN lainnya yaitu pajak.Grafik 5: Kontribusi Dividen BUMN Catatan : Pembagian laba tahun 2009 belum ditetapkan oleh RUPS b. Sampai dengan tahun 2009 telah dilakukan privatisasi terhadap 15 BUMN melalui metode IPO dan SPO (13 BUMN) dan metode EMBO (2 BUMN). Peningkatan kontribusi pajak BUMN antara lain disebabkan oleh adanya peningkatan keuntungan BUMN. telah diambil kebijakan yang pada intinya hasil privatisasi BUMN terutama adalah untuk keperluan mendukung pengembangan BUMN itu sendiri.13% per tahun. Grafik 6: Kontribusi Pajak Selain kontribusi dalam bentuk deviden dan pajak. Gambaran kontribusi pajak sebagaimana terlihat pada Grafik 6 sebagai berikut. kurang lebih dalam waktu 5 tahun terakhir. 20 .

Perkembangan BUMN Secara Sektoral Dalam Rencana Strategis Kementerian BUMN tahun 2010-2014 terdapat 19 sektor usaha BUMN yang meliputi : sektor usaha perbankan. media dan penunjang telekomunikasi.00% 355 260 100 0 2005 2006 Kapitalisasi Pasar BUMN Tbk 2007 2008 % Kapitalisasi Pasar BUMN Tbk 2009 5. prasarana angkutan. sarana angkutan dan pariwisata. perkebunan.00% 20. Grafik 8 : Kapitalisasi Pasar BUMN Terbuka 700 637 45. energi dan sumber daya mineral serta sektor telekomunikasi. 21 .00% II.00% 10. 2.00% 15. asuransi.23% 493 32.00% 589 40.00% 0. industri strategis. kawasan industri dan perumahan. jasa konstruksi.00% 500 400 300 200 29. hal ini dapat dilihat dari penguasaan kapitalisasi pasar per 30 Desember 2009 yang mencapai 31. aneka industri.48 Triliun dari total kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) . jasa keuangan. industri farmasi. kehutanan.00% 25.57% 30.57% atau senilai Rp 637. penunjang pertanian. kertas percetakan dan penerbitan.97% 31. logistik dan jasa sertifikasi.Grafik 7: Kontribusi Privatisasi Peran 15 BUMN Tbk dalam Pasar Modal cukup besar. perikanan.64% 32.40% 600 40. pertambangan dan semen. Adapun gambaran kapitalisasi pasar BUMN Terbuka 2005-2009 sebagaimana terlihat pada Grafik 8 sebagai berikut.00% 35.

24% 19.640 685. pertumbuhan aset tersebut diikuti dengan peningkatan pertumbuhan laba bersih rata-rata 26.599 478.989 363. tingkat penyaluran pinjaman. micro banking (BRI) dan pembiayaan perumahan (BTN). Masing-masing bank BUMN ini memiliki fokus bisnis yang berbeda yaitu Corporate Banking.9%.93% 2. Tabel 3.583 Adapun kinerja Bank BUMN tahun 2005 .II.499.25% 260. Kinerja Operasional BUMN Perbankan Periode Tahun 2005-2009 CAR NPL Net Loan/Kredit (Rp Juta) DPK (Rp Juta) 2005 2006 2007 2008 2009 17.4%. baik yang bersifat operasional maupun finansial.56% 1. Peningkatan kinerja tersebut antara lain tercermin dalam peningkatan pencapaian pendapatan dan laba bersih perseroan. 2.717 438.520. BNI.2009 pada umumnya meningkat yang antara lain disebabkan Bank BUMN telah berhasil dalam melakukan restrukturisasi.120 487.317.565. yaitu 15.172. terjadi pertumbuhan aset yang cukup tinggi.03% 14.82% 16.28% 1.89% 19.745 564.162.540 292. Commercial Banking dan Consumer Banking (Mandiri dan BNI). Isu utama BUMN perbankan adalah adanya PBI No.432 583.618. serta Dana Pihak Ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun.91% 3.1. Dalam kurun waktu 5 tahun. Sedangkan Bank Ekspor Indonesia (BEI) sesuai dengan Undang-Undang RI Nomor 2 Tahun 2009 telah berubah menjadi Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) yang pembinaan dan pengawasanya berada di bawah Menteri Keuangan.8/16/2006 Tentang Kepemilikan Tunggal (Single Presence Policy) Pada Perbankan Indonesia yang mengharuskan keempat Bank BUMN untuk masuk dalam satu kepemilikan (misalnya holding atau merger). Kinerja operasional Bank BUMN tahun 2005-2009 tercermin dari tingkat Capital Adequency Ratio (CAR).593 804.07% 6. Gambaran mengenai data keuangan pokok BUMN Perbankan tersaji dalam Tabel 4 sebagai berikut.330. Tabel 3 menunjukkan rata-rata CAR dan NPL.224. serta total penyaluran pinjaman dan dana pihak ketiga yang dihimpun oleh 4 BUMN selama periode tahun 2005-2009. Sektor Usaha Perbankan Terdapat 4 Bank BUMN (Mandiri.262. Net Non Performing Loan (NPL). BRI dan BTN) yang semuanya merupakan BUMN Terbuka. 22 .

965 79.855 68. data keuangan pokok BUMN Sektor Asuransi dapat dijelaskan dalam Tabel 6 di bawah ini. pertumbuhan aset tersebut diikuti dengan peningkatan pertumbuhan laba bersih rata-rata 27.566 45.667 17.116 2008 19. Gambaran mengenai kinerja operasional tersebut dapat dilihat pada tabel 5 berikut.088 104.712 27. PT Jamsostek. PT Jasa Raharja.576 Prognosa 2009 938. dana investasi. PT Jamsostek. terjadi pertumbuhan aset yang cukup tinggi. PT Asabri. 2. Keempat BUMN asuransi yang direncanakan akan dijadikan/ditunjuk sebagai badan penyelenggara jaminan sosial.263 2006 624.2.118 63. PT Taspen dan PT Asabri. PT Taspen.427 86.054 49. 1 Sumber: Data publikasi diolah 23 . dengan kemungkinan perubahan bentuk/status hukum BUMN tersebut.989 92.144 2009 18.8%. BUMN Asuransi mampu meningkatkan kinerja operasional yang tercermin dari peningkatan premi/iuran yang dihimpun. adalah PT Askes.943 61.557 109. PT Jiwasraya.774 68.039 13. dan cadangan teknis.380 88.186 8.038 97. yaitu 20. PT Jasindo.650 2007 15.248 71.7%. PT ASEI. Investasi. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Perbankan Tahun 2005 – 20091 Rp Miliar 2005 563. Adapun isu utama BUMN Sektor Asuransi adalah adanya Undang-undang Nomor 40/2004 tanggal 19 Oktober 2004 tentang Sistem Jaminan Nasional (SJSN) yang menetapkan perlu adanya Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Nasional. Selama periode tahun 2005-2009. Perkembangan Premi.602 6.Tabel 4.877 10. PT Askes. Secara agregat. PT Askrindo dan PT RUI.969 2007 742. Tabel 5.362 60.234 59.484 38.484 Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih II.484 2008 851.516 2006 12. dan Cadangan Teknis BUMN Asuransi Tahun 2005 – 2009 Rp Miliar Premi Investasi Cadangan Teknis 2005 11.688 75.588 Dalam kurun waktu 5 tahun.426 31.Sektor Usaha Asuransi Terdapat 10 (sepuluh) BUMN yang bergerak di sektor usaha asuransi.

212 2. Terkait fungsi untuk melakukan restrukturisasi dan revitalisasi BUMN. 24 .5 Triliun pada tahun 2008 dan sebesar Rp 1 Triliun pada tahun 2009. Masing-masing BUMN Usaha Jasa Keuangan memiliki karakteristik berbeda sehingga isu yang dihadapi juga berbeda-beda. pengelolaan aset BUMN dan kegiatan investasi. dan PT Kliring Berjangka Indonesia (kliring berjangka dan resi gudang). Selanjutnya PT Kliring Berjangka Indonesia memerlukan dukungan dari instansi terkait untuk kegiatan usaha resi gudang. PT PPA yang semula hanya mengelola aset eks BPPN. Sektor Usaha Jasa Keuangan Terdapat 7 (tujuh) BUMN yang bergerak di sektor usaha jasa keuangan dan 1 (satu) perusahaan minoritas. 5 BUMN lain di sektor ini meliputi PT Danareksa (sekuritas. Sementara itu. PT PNM (jasa pembiayaan).561 6.291 Prognosa 2009 147. perlu dilakukan mengingat PT Danareksa masih memiliki akumulasi kerugian yang cukup besar. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Asuransi Tahun 2005 – 2009 Rp Miliar 2005 69.219 9.341 2. PT PANN Multi Finance saat ini dalam kondisi ekuitas negatif terkait beban bunga hutang SLA untuk proyek pesawat terbang dan kapal ikan yang merupakan penugasan pemerintah.327 33. restrukturisasi lanjutan untuk penguatan likuiditas dan permodalan. investasi dan manajemen investasi).076 18.606 2008 133. 2.728 2006 86.Tabel 6.455 4. Sedangkan untuk PT Danareksa. Sebagai contoh. Saat ini BUMN yang telah dan sedang dalam program restrukturisasi oleh PT PPA per 31 Desember 2009 adalah 17 BUMN.3. Perum Jamkrindo (penjaminan kredit kecil).450 12.548 Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih II. saat ini sesuai PP 61 tahun 2008 mendapat tambahan tugas untuk melakukan restrukturisasi dan revitalisasi BUMN.690 15. maka PT PPA telah memperoleh PMN sebesar Rp 1.318 2007 105. Untuk Perum Pegadaian saat ini dalam proses pemerseroan.026 25.828 12.793 36.622 3.815 1.719 21. Perum Jamkrindo dan PT PNM terlibat intensif dalam penjaminan dan penyaluran kredit kecil/KUR yang memerlukan perhatian Pemerintah untuk menjaga kelayakan tingkat modal minimal apabila menghadapi kredit bermasalah. Perum Pegadaian.

7% per tahun dan laba bersih 19. sedangkan total ekuiti per tahun tumbuh 27.1%. sebagaimana terlihat pada Tabel 7 dibawah ini.218 4. Secara agregat.8% per tahun. ditandai dengan kenaikan beberapa indikator kinerja keuangan utama sebagaimana terlihat dalam Tabel 8 sebagai berikut. yaitu PT Rekayasa Industri. dari tahun 2005-2009.010 II.107 767 2007 16. Disamping itu terdapat perusahaan konsruksi dimana kepemilikan negara adalah minoritas. Sektor Usaha Jasa Konstruksi BUMN Sektor Usaha Jasa Konstruksi terdiri dari 14 BUMN yang 2 (dua) diantaranya adalah BUMN Terbuka. PT Virama Karya dan PT Yodya Karya. 25 . PT Bina Karya. terjadi pertumbuhan aset BUMN Jasa Konstruksi rata-rata 21. PT Indah Karya.380 1. PT PP. persaingan yang ketat dalam mendapatkan proyek baik proyek pemerintah maupun proyek swasta.711 1.4.553 7. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Jasa Keuangan Tahun 2005 – 2009 Rp Miliar Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih 2005 11. serta keterbatasan dalam tenaga ahli. Periode 2005 – 2009. kinerja BUMN Sektor Usaha Jasa Konstruksi mengalami trend yang positif.974 1.543 754 2008 22. PT Brantas Abipraya.6% per tahun dengan kenaikan laba yang meningkat rata-rata 25.198 973 Prognosa 2009 30. Tabel 7. 2.661 520 2006 13.943 3.963 3. ekuitas dan aset BUMN Jasa Keuangan. Keempat belas BUMN tersebut adalah PT Adhi Karya. PT Waskita Karya. PT Wijaya Karya. PT Istaka Karya. Isu strategis yang dihadapi BUMN konstruksi antara lain meningkatnya kebutuhan modal kerja yang disebabkan oleh meningkatnya proyek yang diterima dan meningkatnya harga bahan baku yang menimbulkan tingkat hutang tinggi (leverage) sehingga mempengaruhi kinerja perusahaan. PT Nindya Karya. PT Hutama Karya. PT Indra Karya. dengan rata-rata pertumbuhan aset 26.6% per tahun.Dalam 5 tahun terakhir terlihat adanya pertumbuhan laba.076 5. PT Amarta Karya.025 3.423 2.133 5.

548 1. c.163 295 2007 16.832 145 2007 3.828 4.083 267 2 Sumber: www. sebagaimana dapat dilihat dalam Tabel 9 di bawah ini.607 16.384 180 2008 3.148 1. Persaingan obat-obat kimia dengan obat-obat herbal dengan penitrasi pasar yang cukup tajam dan harga yang relatif lebih kompetitif.0% per tahun dalam kurun waktu 2005-2009.com dan Laporan Tahunan PT Kalbe Farma 26 .361 417 2008 20.989 198 Prognosa 2009 3.342 2.018 4.482 13. Dalam kaitannya Obat Generik BUMN Farmasi menghadapi masalah impor bahan baku dan harga beli Pemerintah terhadap Obat Generik.768 3.2 b.Tabel 8.499 1.737 19.843 657 Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih II.934 118 2006 2.557 2.666 3.478 254 2006 12.159 25. 2.0% dan laba bersih rata-rata 23. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Jasa Konstruksi Tahun 2005-2009 Rp Miliar 2005 10.324 512 Prognosa 2009 23.240 1. Kecenderungan upaya merger/akuisisi perusahaan-perusahaan farmasi di Indonesia maupun global untuk langkah efisiensi dan pengembangan pasar.5. Isu-isu strategis yang dihadapi oleh BUMN farmasi meliputi antara lain : a.116 3.274 2. Tabel 9. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Farmasi Tahun 2005 .627 2.321 5. Sektor Usaha Industri Farmasi BUMN Sektor Usaha Farmasi meliputi 3 (tiga) BUMN yang 2 (dua) diantaranya berbentuk Persero Terbuka yang bergerak di bidang farmasi dan obat-obatan (PT Kimia Farma Tbk dan PT Indofarma Tbk) serta 1 (satu) BUMN yang bergerak di bidang produk vaksin yang sahamnya dimiliki 100% oleh Negara RI (PT Bio Farma).672 1.763 29. Total aset BUMN Farmasi meningkat rata-rata 13.pfizer.2009 Rp Miliar Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih 2005 2.

yaitu 4.226 45.944 658. dll).513 (94.210) Rp Juta Prognosa 2009 971. b. Alat-alat produksi relatif tua sehingga produktivitas rendah dan biaya perawatan tinggi sehingga mengurangi daya saing.543 (65.117) 2007 778. PT KI Wijayakusuma.261 557. Disamping itu terdapat 3 perusahaan dengan kepemilikan negara minoritas.3%.468 119.6.221 (158. dan perlunya sinkronisasi kebijakan/regulasi antara Pusat dengan Daerah (pembebasan lahan/lokasi. PT IGLAS bergerak dalam industri gelas dan PT Garam bergerak dalam industri garam. Beberapa isu strategis yang dihadapi oleh BUMN Aneka Industri antara lain : a.101 (97. PT PDIP Batam dan PT KI Medan. dengan pertumbuhan 27 .0% per tahun. Kenaikan total aset BUMN sektor Aneka Industri selama periode 2005 – 2009 sangat kecil. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Aneka Industri Tahun 2005 . BUMN sektor Kawasan Industri dan Perumahan mengalami pertumbuhan aset yang cukup signifikan. Tabel 10. Perum Perumnas.832) 473. yaitu hanya 3.302 554. Selama 5 tahun terakhir.432) 2006 804. Sektor Usaha Aneka Industri BUMN Sektor Aneka Industri meliputi 4 (empat) BUMN yang terdiri dari 2 (dua) BUMN yang bergerak di bidang usaha TPT (Tekstil dan Produk Tekstil) yaitu PT Industri Sandang Nusantara (ISN) dan PT Primissima. PT KBN. perijinan.948) Keterangan Total Aktiva Ekuitas Pendapatan/sales Laba/(Rugi) Bersih II. Beban hutang cukup besar dan mengalami kesulitan likuiditas/modal kerja.308 47.661 (72. namun demikian dalam kurun waktu tersebut BUMN Sektor Aneka Industri belum mampu membukukan laba.2009 2005 876. 2.014) 2008 874.7. Sektor Usaha Kawasan Industri dan Perumahan BUMN Kawasan Industri dan Perumahan terdiri dari 5 (lima) BUMN Kawasan Industri. 2.168 441. Isu-isu strategis yang dihadapi oleh BUMN Kawasan Industri dan Perumahan antara lain adalah persaingan pembangunan perumahan oleh BUMN dengan swasta.741 214. PT KI Makasar. 1(satu) BUMN Perumahan.II. Gambaran umum kinerja BUMN Aneka Industri 2004-2009 terlihat pada Tabel 10 sebagai berikut.648 (53.

8.9% per tahun. yang intinya memisahkan antara regulator dan operator sehingga akan berdampak negatif pada kinerja perusahaan pelayaran.319 2006 1. PT Hotel Indonesia Natour. Tabel 11. Perum PPD.035 79. Perkembangan kinerja keuangan BUMN Sektor Usaha Sarana Angkutan dan Pariwisata tahun 2004-2009 dapat dilihat dalam Tabel 12 sebagai berikut. PT ASDP. PT Kereta Api Indonesia.laba bersih 35.744 992.033.377 569. Kondisi armada angkutan yang sudah tua yang menggangu tingkat kenyamanan dan keselamatan penumpang. sedangkan pendapatan usaha tumbuh lebih baik yaitu 11.469 (44.286 614. PT TWCBPB.479 2007 1.642 69. c. PT PELNI.965 Prognosa 2009 2.844.730 784.335 66.794 59.035. Perum Damri. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Kawasan Industri dan Perumahan Tahun 2005 – 2009 Rp Juta Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih 2005 1.056 II. Penyelesaian restrukturisasi perusahaan meliputi restrukturisasi hutang.862.975. PT Pelayaran Bahtera Adhiguna.317 1. PT Merpati Nusantara. Sekalipun demikian sampai dengan tahun 2008 BUMN sarana angkutan dan pariwisata masih merugi sekalipun dari tahun ke tahun kerugiannya menurun dan pada tahun 2009 telah memperoleh laba. 2. terlihat pada Tabel 11 sebagai berikut.827 977. d.882. b.286 1. Isu Strategis BUMN Sarana Angkutan dan Pariwisata meliputi antara lain : a.817 795.9%.394 541. PT BTDC. PT Djakarta Lloyd. Pemberlakuan UU No.194. organisasi dan SDM.540) 2008 1. 17 Th 2008 tentang pelayaran. BUMN Sektor Perhotelan mengalami kesulitan untuk melakukan pengembangan usaha karena kekurangan modal kerja dan pada umumnya bangunan hotel sudah tua serta mengalami kelebihan jumlah pegawai Aset BUMN sarana angkutan dan pariwisata tumbuh relatif kecil yakni rata-rata 9. Sektor Usaha Sarana Angkutan dan Pariwisata BUMN yang bergerak di sektor usaha sarana angkutan dan pariwisata terdiri dari 9 (sembilan) BUMN Sarana Angkutan dan 3 (tiga) BUMN Pariwisata.1%. Gambaran umum kinerja BUMN Sektor Usaha Kawasan Industri dan Perumahan tahun 2005–2009. 28 . yakni PT Garuda Indonesia.543 547.

Tabel 13.458 6.342 (259.Tabel 12. Isu strategis yang dihadapi oleh BUMN Sektor Usaha Prasarana Angkutan antara lain : a.345 11.925. PT Jasa Marga.061 33.510 20.524.916 2.367 Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih 29 .218 23.818.236.915.885.170.430.9.756. Pemberlakuan Undang-undang No.838.881 Prognosa 2009 48.905.750 2.534.771. maka akan ada pemisahan antara operator dan regulator yang akan diatur oleh Badan Otoritas Pelabuhan b. Investasi difokuskan kepada segmen usaha jasa layanan penumpang.976.984 2007 39. PT Pelindo I – IV dan 2 (dua) BUMN Kebandarudaraan.403 8.546 9.136 18.753 2008 44.881 (67.544.357 31.2% dengan pertumbuhan laba bersih mencapai 14.168.883 27.200 (641.220. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Sarana Angkutan dan Pariwisata Tahun 2005-2009 Rp Juta 2005 20.955 3.900. Perkembangan kinerja BUMN Sektor Prasarana Angkutan dapat dilihat dalam Tabel 13 sebagai berikut.157. PT Rukindo.1% per tahun.756.930 8.157 13.285.669.224.946 19.455.156. 1 (satu) BUMN Pengerukan. Sektor Usaha Prasarana Angkutan BUMN Sektor Prasarana Angkutan terdiri dari 4 (empat) BUMN Kepelabuhanan.591 29.558.957.156.269) Prognosa 2009 30.220 2. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Prasarana Angkutan Tahun 2005-2009 Rp Juta 2005 29. jasa pendaratan dan segmen usaha non aeronautika.421. Pemberlakuan UU No 17 tahun 2008 tentang Pelayaran. PT Angkasa Pura I & II.857 8.330 14.167.595 10. maka investasi untuk segmen usaha ATS dibatasi untuk investasi yang sangat prioritas. dan 1 (satu) BUMN Operator Jalan Tol.189) 2006 22. Total aset BUMN sektor Usaha Prasarana Angkutan tumbuh 13.700) 2008 29.928) 2007 26.1 th 2009 tentang penerbangan serta antisipasi pemisahan Air Traffic Services (ATS).565 (1.706 3.581.259 11.117.381 Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih II.672 30.119. 2.845 20.797 1.094.078.745.773.508 2006 31.

maka masalah cross ownership diantara keduanya perlu diseleisaikan. PT Surveyor Indonesia. kinerja keuangannya sangat buruk dan mengalami kesulitan likuiditas. pergudangan. Distribusi.6% dan aset tumbuh rata-rata 7. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Logistik dan Jasa Sertifikasi Tahun 2005–2009 Rp Juta 2005 19. Perkembangan kinerja BUMN sektor perdagangan.702.168) Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih 30 .184 7. dan Jasa Sertifikasi antara lain : a.730.124 14. PT PP Berdikari.10. Khusus PT Survey Udara.791 23. Bisnis utama PT Pos Indonesia. BUMN sektor pergudangan terkendala dengan keterbatasan pendanaan untuk ekspansi usaha dan terkait erat dengan regulasi Pemda dan laju pengembangan daerah setempat c.967 153.051. klien yang cukup banyak dan SDM yang kompeten b. Untuk sektor Jasa Penilai di samping PT Sucofindo dan PT Surveyor Indonesia perlu bersaing dengan swasta.864 Prognosa 2009 24. Hal ini ditunjukkan dengan rata-rata pertumbuhan pendapatan mencapai 20. PT Varuna Tirta Prakasya.II. Saat ini pemisahan biaya antara PSO dan non PSO belum dapat dilaksanakan.631 28.692 4. Distribusi.672) 2006 17.292 7. Sektor Usaha Logistik dan Jasa Sertifikasi Terdapat 10 (sepuluh) BUMN yang bergerak di Sektor Perdagangan. Beban PSO yang ditanggung PT Pos tidak seimbang dengan dana kompensasi PSO dari Pemerintah.020. Perusahaan ini tidak dapat bersaing dan memiliki alat produksi yang sudah tua. PT Sarinah.245 (493. dalam 5 tahun terakhir relatif berfluktuasi dengan kecenderungan tumbuh. e. Kinerja BUMN sektor perdagangan. d.575 (28.885 63.766. Pergudangan. Isu strategis yang dihadapi BUMN Sektor Perdagangan. khususnya jasa pengiriman kalah bersaing dengan perusahaan swasta.243 5. namun BUMN Perdagangan memiliki beberapa kelebihan berupa jaringan pemasaran yang cukup luas. distribusi dan jasa sertifikasi.966.687 13. PT Pos Indonesia. distribusi dan jasa sertifikasi 2005–2009 mengalami pertumbuhan yang baik sebagaimana terlihat pada Tabel 14 sebagai berikut. Pergudangan. dan Jasa Sertifikasi.019 2008 24.243. pergudangan.687 2007 22. Kinerja BUMN Perdagangan kurang optimal.055.397. Tabel 14. PT Sucofindo.082 16.619 201.421.164.569. Di samping tingkat kompetisi di sektor perdagangan dan masalah internal antara lain keuangan dan operasional. PT Banda Ghara Reksa.581.1%.438. meliputi PT Perusahaan Perdagangan Indonesia.622 7.061. PT Biro Klarifikasi Indonesia dan PT Survey Udara Penas. 2.

774 2008 34. sedangkan ekuitas meningkat rata-rata 16. 2.003.193 27. Kemampuan leverage secara umum rendah sehingga perlu dilakukan holding.7%.817. Dengan pertumbuhan aset selama periode 2005 – 2009 ratarata sebesar 14. Kemampuan untuk membiayai investasi rendah karena kemampuan leverage secara sendiri-sendiri sangat rendah.915.783 21.532 2. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Perkebunan Tahun 2005-2009 Rp Juta Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih 2005 21.688.9%.6% per tahun. d. Adapun perkembangan kinerja BUMN Sektor Perkebunan dari tahun 2005.328.024.d. e.684 1.708.335 Prognosa 2009 37.11. XIV) & PT RNI.288.838 13. akibat adanya pencabutan areal kerja yang dikelola oleh Departemen Kehutanan pada awal tahun 2000-an. Produk dan produktivitas perkebunan pada umumnya rendah karena umur tanaman yang sudah tua dan komposisi tanaman tidak ideal. Sektor Usaha Kehutanan BUMN Sektor Kehutanan terdiri atas 6 (enam) BUMN yaitu PT Inhutani I s. Keterbatasan modal kerja. Isu strategis yang dihadapi BUMN Sektor Perkebunan antara lain: a.124. Isu strategis yang dihadapi BUMN Sektor Kehutanan antara lain: a.283 12.507 2006 24. Tabel 15. Keterbatasan areal lahan yang dikuasai PT Inhutani I-V. Kemampuan dan kualifikasi SDM belum memenuhi standardisasi.236.474. c.212.II.544 20. untuk itu perlu dilakukan holding.400 II. investasi pada usaha kehutanan memerlukan time period yang cukup lama yaitu sampai dengan 7-8 tahun untuk dapat menikmati hasilnya.934 33.686. b. 2. Sebagian usia fasilitas pabrik sudah tua.790 9.148.074 2.560 1. b. V dan Perum Perhutani.803.2009 dapat dilihat pada Tabel 15. Hal tersebut timbul karena keterlambatan replanting.789 33.12.d.338. Sektor Usaha Perkebunan BUMN Sektor Perkebunan terdiri dari 14 PT Perkebunan Nusantara (PTPN I s.230 7.392.547 2007 29.947. Oleh 31 .263 7.420 1.221.929. terjadi pula peningkatan laba bersih rata-rata 26.

Tabel Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Kehutanan Tahun 2005-2009 Rp Juta Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih 2005 2.732 2. PT Usaha Mina. Perusahaan beroperasi belum normal sebagai dampak peleburan BUMN PT Tirta Raya Mina.9%.131 Prognosa 2009 2.894.352. c.814.054.671 2. Banyak aktiva perusahaan yang tidak produktif.934. Kinerja keuangan BUMN kehutanan cenderung membaik dalam 5 tahun terakhir. d.055. Hal ini ditunjukkan dengan pertumbuhan laba bersih rata-rata 48. dan PT Perikani.490 41.760 103.451 1.104 2006 2.9%.9%.031 45. Perkembangan kinerja keuangan BUMN Sektor Usaha Kehutanan tahun 20052009 terlihat dalam Tabel 16 sebagai berikut.712.13.530. Peralatan industri milik PT Inhutani yang sudah tidak sesuai lagi dengan produksi hasil hutan saat ini. Kondisi perusahaan secara keseluruhan kurang baik. 32 .187 2.404 2.839 118.587. 2.904.810 2.652. pendapatan tumbuh 12. e.746. Sekalipun demikian.1% sedangkan ekuitas mengalami pertumbuhan negatif sebesar 1. Paska penggabungan perusahaan perikanan belum beroperasi dengan baik b.681.379 1. Isu strategis yang dihadapi BUMN Sektor Perikanan antara lain : a. Pasar kayu HTI terbatas pada industri kertas dalam negeri.597 37.660. aset belum tumbuh secara optimal karena hanya tumbuh 0. c.sebab itu dunia perbankan sampai dengan saat ini belum ada yang mau menyalurkan modalnya di usaha kehutanan.601 1.510 1. Kondisi keuangan perusahaan sangat buruk dengan ekuitas negatif. Sektor Usaha Perikanan Terdapat 2 (dua) BUMN yang bergerak di sektor usaha perikanan yaitu Perum Prasarana Perikanan Samudra (PPS) dan PT Perikanan Nusantara. Tabel 16. sehingga diperlukan penanganan khusus dari BUMN pengelola hutan. Kondisi sosial lingkungan wilayah hutan yang belum mendukung sepenuhnya keamanan dan kelestarian hutan.736 II.087 1. karena desain awal industri ditujukan untuk produk kayu alam.603.043 2007 2. Jumlah dan umur armada serta modal kerja masih menjadi hambatan untuk kelancaran operasi.487 2008 2.

5%.116 (22.463) 98. Percetakan dan Penerbitandalam 5 tahun terakhir berfluktuasi. Industri kertas sudah sangat kompetitif.14.955) 2007 197. PT Kertas Leces dan 4 (empat) BUMN Percetakan dan Penerbitan.563 2. Perkembangan Kinerja Tahun 2005-2009 2005 102.613 (77.037) 103.204 (16.472 (1. Sektor kompetitif dan daya saing sangat rendah karena .592 72. PT Balai Pustaka. Perum Peruri. Isu strategis yang dihadapi BUMN Sektor Kertas. Skala usaha yang relatif sangat kecil dan eksistensi BUMN Percetakan dan penerbitan Kinerja BUMN Kertas.112 (21. PT Pradya Paramita.1% meskipun masih menderita ekuitas negatif. 2. BUMN Sektor Usaha Kertas.907) 2008 198.224) 156.263) Keuangan BUMN Sektor Usaha Perikanan Rp Juta Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih 2006 147. Perkembangan kinerja keuangan BUMN Sektor Usaha Perikanan terlihat sebagaimana dalam Tabel 17 sebagai berikut.294 (253) Prognosa 2009 202. Tabel 17. 33 . Perum PNRI. ekuitas negatif karena mengalami rugi terus-menerus. dan kesulitan memperoleh pasokan gas b. d. sedangkan BUMN kertas memiliki mesin yang sudah tua dan kesulitan bahan baku serta permodalan c. Percetakan dan Penerbitan antara lain : a. Percetakan dan Penerbitan terdiri dari 2 (dua) BUMN Kertas. pendapatan mengalami pertumbuhan 10. struktur permodalan kurang sehat. mesin sudah cukup tua sehingga beban pemeliharaan tinggi .8% sedangkan laba bersih cenderung berfluktuasi. Hal ini ditunjukkan dengan pertumbuhan aset mencapai 20. Percetakan dan Penerbitan BUMN Sektor Usaha Kertas. Pemerintah telah mencabut hak ekslusif pada BUMN untuk mencetak dan mengedarkan buku pelajaran sehingga saat ini sektor percetakan dan penerbitan bersifat kompetitif.232 (11.457) 123.223 II.459 (15.Kinerja BUMN perikanan masih memprihatinkan meskipun terdapat perkembangan positif dalam beberapa aspek.304 82. Aset mengalami pertumbuhan rata-rata 6. PT Kertas Kraft Aceh.

c.367 347.581. Isu strategis yang dihadapi BUMN Sektor Penunjang Pertanian antara lain: a. sehingga Bulog mengalami kerugian.743. PT PUSRI.071 2. penetapan harga pembelian beras (HPB) oleh Pemerintah untuk kebutuhan raskin ditetapkan berdasarkan besarnya dana subsidi raskin yang ditetapkan dalam APBN dan bukan atas dasar kalkulasi biaya yang dikeluarkan untuk pengadaan dan penyaluran raskin.Perkembangan kinerja keuangan BUMN Sektor Usaha Kertas. dan Perum Bulog.694 616.929 2. Percetakan dan Penerbitan dapat dilihat dalam Tabel 18 sebagai berikut.653) 2007 3.964.565) 2006 3. Untuk Perum Jasa Tirta I & II. PT Jasa Tirta I & II. d.863. b.717.818. 2. 2 (dua) BUMN Perbenihan.15. pemeliharaan saluran irigasi dan daerah aliran sungai (DAS). yakni apabila HPB lebih tinggi dari biaya yang dikeluarkan. sangat tergantung pada adanya subsidi benih. Terdapat kekurang”fair”an SK penetapan HPB oleh Menkeu. HPB yang ditetapkan Pemerintah lebih rendah dari total biaya yang dikeluarkan oleh Bulog.628 (110.568 47. Sektor Usaha Penunjang Pertanian BUMN Sektor Usaha Penunjang Pertanian terdiri dari 1 (satu) BUMN Pupuk. Akibatnya umur ekonomis dari sarana/prasarana tersebut semakin pendek dan sering terjadi banjir. usia pabrik sudah tua serta kurangnya pasokan gas.771 1. Tabel 18. Untuk BUMN Perbenihan. 2 (dua) BUMN Pengairan. 34 .289 2008 3. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Percetakan dan Penerbitan Rp Juta 2005 2.518 (145.130.045 294. tarif jasa air yang ditetapkan Pemerintah (Menteri PU) masih dibawah tingkat keekonomiannya (tidak ekonomis) sehingga perusahaan tidak memperoleh dana yang cukup (dari pendapatan jasa air) untuk membiayai pemeliharaan prasarana/sarana yang dikelola sehingga seperti pengerukan sedimentasi bendungan. Untuk Perum Bulog. Sedangkan apabila HPB lebeih rendah. Untuk BUMN Pupuk. kekurangannya menjadi kerugian Bulog. Seyogianya kekurangan tersebut selayaknya diganti Pemerintah selaku pemberi tugas.578.482.406 (123. maka kelebihannya harus disetor ke kas Negara. PT SHS dan PT Pertani. Apabila subsidi benih dihilangkan maka BUMN bisa merugi.344) Prognosa 2009 3.222 (16.871 492.319) Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih II.927 241.728 1.163 2.862.

PT Semen Baturaja dan PT Semen Kupang.6% per tahun.568.255 17.098. 35 . Tabel 19. Pada periode 2005 – 2009.837 2.994. PT BB Bukit Asam.935 2007 24.732 39.148. BUMN sektor Pertambangan dan Semen dapat meningkatkan total aset dengan rata-rata pertumbuhan 13. yaitu 38.379 1.136 2006 21.586.074 9.581 2.553.956 II.934 15. PT Aneka Tambang.224.Selama periode 2005 – 2009 BUMN sektor Usaha Penunjang Pertanian mengalami pertumbuhan aset sebesar 13. Diantara isu strategis BUMN Pertambangan adalah rencana pembentukan BUMN Pertambangan yang terintegrasi (IRC) melalui pembentukan Holding Company guna meningkatkan skala ekonomis. Sektor Usaha Pertambangan dan Semen BUMN Sektor Usaha Pertambangan dan Semen terdiri dari 7 BUMN yaitu 4 (empat) BUMN Sektor Pertambangan. 2.337 868.399 11.962 897. Perkembangan kinerja keuangan BUMN Sektor Usaha Penunjang Pertanian terlihat sebagaimana dalam Tabel 19 sebagai berikut.730 39. Pertumbuhan tersebut diikuti dengan peningkatan ekuitas rata-rata 22.16.701 12.122 24.719.126.049.806 2008 33.299 17. Perkembangan kinerja keuangan BUMN Sektor Pertambangan dan Semen dapat dilihat pada Tabel 20 sebagai berikut.296.297.9% per tahun.942 8.529.601.9% per tahun.3% yang diikuti dengan pertumbuhan laba bersih 28.184. PT Semen Gresik.646. PT Sarana Karya.473. PT Timah. Sedangkan isu strategis yang dihadapi BUMN Semen adalah optimalisasasi holding BUMN Semen (PT Semen Gresik Group Tbk) dengan melakukan pemisahan aset (spin off) PT Semen Gresik Tbk dan pengembangan usaha PT Semen Baturaja guna meningkatkan kapasitas produksi.9% per tahun dengan pertumbuhan laba bersih yang cukup tinggi. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Penunjang Pertanian Tahun 2005-2009 Rp Juta Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih 2005 20.073.835 Prognosa 2009 32. leverage dan nilai perusahaan yang sampai saat ini masih dalam tahap pembahasan. dan 3 (tiga) BUMN Semen.

Tabel 20.

Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Pertambangan dan Semen Tahun 2005-2009 Rp Juta
2005 197.834.182 81.918.469 329.958.353 9.069.349 2006 225.610.789 134.420.344 371.854.949 22.081.547 2007 279.771.590 161.505.091 420.952.937 33.186.800 2008 321.841.157 169.361.679 585.867.650 35.566.054 Prognosa 2009 329.413.225 171.453.926 374.807.089 19.496.734

Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih

II. 2.17. Sektor Usaha Industri Strategis BUMN sektor usaha Industri Strategis terdiri dari 2 (dua) BUMN Industri Pertahanan, PT Dahana dan PT Pindad, 3 (tiga) BUMN Baja dan Konstruksi Baja, PT Krakatau Steel, PT Boma Bisma Indra, PT Barata Indonesia, 1 (satu) BUMN Industri Kereta Api, PT INKA, 1 (satu) BUMN Kedirgantaraan, PT Dirgantara Indonesia dan 4 (empat) BUMN Dok Perkapalan, PT Dok Kodja Bahari, PT Dok & Perkapalan Surabaya, PT PAL Indonesia, PT Indusri Kapal Indonesia. Isu-isu strategis yang dihadpi oleh BUMN Sektor Usaha Industri Strategis adalah : a. b. c. d. e. Keterbatasan pendanaan, sehingga pengembangan usaha berjalan sangat lambat. Tingginya ketergantungan kepada bahan baku impor. Skala usaha dan kapasitas produksi yang masih rendah, sehingga belum efisiensi yang berdampak pada lemahnya daya saing. Prasarana dan saran produksi yang relatif telah berusia tua dan ketinggalan teknologi yang memerlukan dana cukup besar untuk revitalisasi dan alih teknologi. Kondisi keuangan perusahaan yang sudah mengkhawatirkan, sehingga menyulitkan untuk akses ke sumber pendanaan dan untuk mendapatkan order pekerjaan (PT Barata Indonesia, PT Boma Bisma Indra, PT Dirgantara Indonesia, PT PAL Indonesia, PT Dok dan Perkapalan Kodja Bahari, PT Industri Kapal Indonesia). Perkembangan kinerja BUMN Sektor Industri Strategis dari tahun 2005-2009 terlihat dalam Tabel 21. Pada periode 2005 – 2009, BUMN sektor Usaha Industri Strategis dapat meningkatkan total aset dengan rata-rata pertumbuhan 9,3% per tahun, yang juga diikuti dengan pertumbuhan ekuitas rata-rata 15,8% per tahun. Pada tahun 2006 dan 2007 BUMN Sektor Industri Strategis masih mengalami kerugian, namun pada 2 tahun terakhir sudah mampu membukukan laba.

36

Tabel 21.

Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Industri Strategis Tahun 2005-2009 Rp Juta
2005 15.982.193 3.566.036 15.062.416 228.707 2006 18.305.011 4.404.781 15.780.303 (237.971) 2007 19.790.843 4.364.670 18.638.017 (181.194) 2008 24.724.658 4.646.064 25.398.892 373.554 Prognosa 2009 22.169.961 4.823.251 21.274.755 400.863

Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih

II. 2.18. Sektor Usaha Energi dan Sumber Daya Alam BUMN Sektor Usaha Energi terdiri dari 5 (lima) BUMN, PT PLN, PT Pertamina, PT PGN, PT Batan Teknologi dan PT EMI. Dengan pertumbuhan aset selama periode 2005 – 2009 rata-rata mencapai sebesar 12,4% per tahun, sedangkan ekuitas meningkat rata-rata sebesar 1,0 %. Isu-isu strategis yang dihadapi oleh BUMN sektor usaha energi antara lain : a. Produk yang dihasilkan berhubungan dengan hayat hidup orang banyak (mengemban tugas Public Service Obligation/PSO), sehingga penetapan harga/tarif masih diatur oleh Pemerintah. b. Perlunya dilakukan restrukturisasi secara menyeluruh (PT Pertamina, PT Perusahaan Listrik Negara), baik organisasi maupun usaha, termasuk anak-anak perusahaan agar operasional perusahaan lebih efisien dan efektif. c. Investasi untuk pembangunan pembangkit listrik baru (PT Perusahaan Listrik Negara) membutuhkan waktu dan dana yang sangat besar, sehingga kebutuhan masyarakat terhadap listrik belum terpenuhi sebagaimana harapan. Adapun perkembangan kinerja keuangan BUMN Sektor Usaha Energi adalah sebagaimana Tabel 22 sebagai berikut.
Tabel 22. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Energi Tahun 2005-2009 Rp Juta
2005 236.310.016 146.049.529 85.011.144 (3.588.986) 2006 266.199.786 147.756.069 114.944.477 452.330 2007 297.965.615 145.186.024 127.013.989 (3.758.415) 2008 322.428.217 138.119.760 184,268,485 (9.962.804) Prognosa 2009 376.484.955 151.239.966 166.361.897 13.040.486

Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih

37

II.

2.19.

Sektor

Usaha

Telekomunikasi,

Media

dan

Industri

Penunjang

Telekomunikasi BUMN yang bergerak di sektor usaha telekomunikasi terdiri dari 5 (lima) BUMN, PT Telkom, PT INTI, PT LEN Industri, Perum LKBN Antara, Perum Perusahaan Film Negara. Perkembangan kinerja keuangan BUMN Sektor Usaha Telekomunikasi adalah sebagaimana Tabel 22. Isu strategis yang dihadapi oleh BUMN sektor usaha telekomunikasi antara lain : a. b. Saat ini terdapat 10 perusahaan operator telepon seluler di Indonesia yang berdampak pada perang tarif dan tingkat persaingan yang sangat ketat. Untuk pengembangan infrastruktur dan layanan telekomunikasi dibutuhkan dana yang sangat besar, sementara dengan ketatnya persaingan menuntut setiap operatoe untuk melakukan efisiensi secara ketat. Kepemilikan asing dalam industri telekomunikasi terkait dengan masalah naionalisme dan karena telekomunikasi termasuk industry yang menguasai hayat hidup orang banyak. Ketatnya persaingan dan banyaknya alat-alat komunikasi yang masuk ke Indonesia dari luar negeri, mengancam keberadaan perusahaan industri peralatan telekomunikasi Indonesia (PT Industri Telekomunikasi Indonesia). Pada periode 2005 – 2009, BUMN sektor Usaha Industri Strategis dapat meningkatkan total aset dengan rata-rata pertumbuhan 11,3% per tahun dengan pertumbuhan laba bersih yang cukup tinggi, yaitu 6,2% per tahun. Pertumbuhan tersebut diikuti dengan peningkatan ekuitas rata-rata 12,6% per tahun.
Tabel 22. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Telekomunikasi Tahun 2005-2009 Rp Juta
2005 63.176.678 23.871.848 42.528.270 8.012.347 2006 76.301.596 28.651.835 52.220.931 11.017.141 2007 83.230.795 34.276.989 60.496.862 12.854.898 2008 92.500.325 34.847.399 62.020.947 10.623.901 Prognosa 2009 96.378.922 38.092.656 48.617.237 9.324.478

c.

d.

Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih

II. .3. Penerapan Tata Kelola Perusahaan Yang Baik (GCG) Dalam melaksanakan tugas dan fungsi perencanaan dan evaluasi penerapan tata kelola perusahaan yang baik (GCG) di BUMN, Kementerian BUMN telah melakukan halhal sebagai berikut :

38

8). II. II.91%.3. yaitu telah melaksanakan Program Assessment 39 . Kualitas penerapan GCG dapat dikelompokkan ke dalam 5 kategori/tingkatan capaian aktual penerapan GCG. 3.a. dari “sangat baik” sampai dengan “sangat kurang” sebagaimana terlihat pada Tabel 23 sebagai berikut.26 100. baik 31.2.d. maka telah dilakukan upaya-upaya yang lebih intensif terhadap implementasi GCG di BUMN (dengan hasil kegiatan sebagaimana dikemukan di butir II.1. sedangkan yang berkategori kurang secara kumulatif sebanyak 19. sehingga masih tersisa 32 BUMN yang belum dilakukan assessment. Kegiatan monitoring GCG dalam rangka fungsi pembinaan dan pengawasan kepada BUMN . 3.11 5.95%. Assessment GCG Pelaksanaan assessment GCG sampai akhir tahun 2009 mencapai 109 BUMN dari 141 BUMN. Dari jumlah 32 BUMN yang tersisa tersebut diharapkan dapat diselesaikan pada tahun 2010. Untuk terus mendorong penerapan prinsip-prinsip GCG di BUMN serta untuk menyesuaikan dengan best practice penerapan GCG dalam dunia usaha.00 Tabel di atas menunjukkan skor hasil assessment GCG murni sebagian besar dalam kategori cukup. Hasil Asessment GCG pada BUMN Sampai Tahun 2009 Jumlah BUMN Grade / Tingkat Predikat Range Score sd 31 Des 2007 Sangat baik Baik Cukup Kurang Sangat Kurang 90 < X < 100 75 < X < 90 60 < X < 75 50 < X < 60 X < 50 0 < X < 100 29 44 9 9 91 s. Re-Assessment GCG Re-assessment perlu dilakukan untuk mengetahui perkembangan pelaksanaan GCG pada BUMN yang masih dianggap perlu peningkatan.d.14%. secara umum penerapan GCG pada BUMN masih perlu peningkatan dalam kualitas penerapan prinsip-prinsip GCG-nya.13 32. II. Re-assessment GCG ditujukan kepada BUMN yang memenuhi kriteria. b. Tabel 23.1 s.3.50 8. Hal ini berarti. yakni 48. 31 Des 2008 30 46 9 9 94 sd 31 Des 2009 59 35 6 9 109 0 % 1 2 3 4 5 Jumlah 54.

sebanyak 24 BUMN mengalami peningkatan kualitas dalam penerapan prinsip-prinsip GCG-nya. Sampai dengan tahun 2009 jumlah BUMN yang telah direview berjumlah 47 BUMN.4. Hal tersebut ditunjukkan dengan peningkatan skor GCG hasil self assessment dibandingkan dengan skor hasil assessment GCG murni sebelumnya. Self Assessment GCG (Mandiri) Sampai dengan tahun 2009. dan Perum Bulog dan PT Asuransi Jasa Indonesia. Sedangkan sebanyak 7 BUMN lainnya masih dalam proses pelaksanaan oleh assessor. yaitu BUMN tersebut telah melaksanakan assessment GCG tahun 2005 dan sebelumnya. PT Bhanda Ghara Reksa.3. Program assessment GCG yang dicanangkan oleh Kementerian BUMN telah meningkatkan perbaikan kualitas penerapan prinsip-prinsip GCG pada BUMN. Review Tindak Lanjut Hasil Assesment GCG Review dilakukan terhadap BUMN yang memenuhi kriteria. namun penurunan skor tersebut tidak menurunkan kategori penilaian sebelumnya (kategorinya tetap “Baik”). sebanyak 5 BUMN telah menyelesaikan reassessment GCG. terdapat 27 BUMN yang melakukan self assessment GCG dan hasilnya telah dilaporkan kepada Kementerian BUMN. Dari 25 BUMN yang melaksanakan self assessment secara mandiri. Hasil-hasil program assessment GCG kualitas diharapkan dapat ditindaklanjuti secara konsekuen oleh BUMN. 40 . II. yaitu PT Sarinah. PT Asuransi Jasa Raharja.GCG. 3. 3. Karena penerapan GCG dijadikan indikator kinerja utama dalam penilaian kinerja BUMN (Key Performance Indicator). dan Assessment-nya dilakukan dalam 2 tahun terakhir (2007-2008). Upaya perbaikan terutama pada aspek kebijakan GCG dan pelaksanaan GCG di Direksi dan Dewan Komisaris. Pelaksanaan self assessment oleh BUMN telah memicu perbaikan signifikan dalam penerapan GCG di BUMN. sedangkan terjadi penurunan skor GCG pada 1 BUMN. Sampai dengan tahun 2008. II. 5 BUMN yang telah melakukan reassessment tersebut berhasil melaksanakan langkah-langkah perbaikan yang signifikan sehingga kualitas penerapan GCG mengalami peningkatan dibandingkan dengan hasil assessment sebelumnya. perolehan skor GCG-nya rendah (70<). dan perolehan skor di atas 70.

BUMN yang telah menyerahkan jawaban kuesioner sebanyak 21 BUMN. 3. Sampai dengan saat ini. Evaluasi atas internal control terdiri dari “point of focus” dan penjelasan/komentar. II. II. 3. 3. 3. prinsip dan nilai ekonomis manajemen risiko korporasi dan keterkaitan dengan GCG dan internal audit. Evaluation Tools atas Internal Control dan Risk Management Tim Koordinasi dan Monitoring GCG melakukan kajian atas evaluation tools atas internal control (COSO Framework) yang terdiri dari 5 (lima) alat evaluasi. dan (4) pembelajaran melalui studi kasus.7. serta hal-hal yang dapat dijadikan bahan pembelajaran bagi BUMN lainnya. Perkembangan kriteria penilaian GCG dilakukan sejalan dengan Program Assessment GCG Kementerian Negara BUMN.6. kriteria assessment penerapan GCG di lingkungan BUMN telah mengalami perkembangan dan perubahan sebagai konsekuensi perkembangan praktik GCG yang dinamis. Penjelasan/komentar disediakan untuk mencatat suatu penjelasan bagaimana masalah-masalah yang ditekankan dalam point of focus diterapkan pada entitas yang dinilai.8. Point of Focus merepresentasikan isu-isu yang relevan dengan masing-masing komponen pengendalian internal yang dievaluasi. Pelatihan Risk Management dan Internal Control System Tujuan pelatihan risk management dan internal control system adalah untuk memberikan pemahaman atas penerapan program risk management dan internal control system sebagai satu kesatuan program yang terintegrasi dengan pelaksanaan GCG di BUMN.5. II. sesuai dengan 5 (lima) komponen internal control dan contoh pengisian dalam evaluation tools tersebut.II. Monitoring GCG melalui Kuesioner Tim Koordinasi dan Monitoring GCG telah menyebarkan kuesioner untuk pengumpulan data penerapan GCG pada 50 BUMN. Tidak seluruh Point of Focus ini relevan dengan setiap entitas. Materi pelatihan meliputi : (1) konsep. dan mencatat komentar-komentar yang relevan. sebagai berikut: 41 . Hasil monitoring penerapan GCG melalui kuesioner tersebut akan diolah untuk memberikan informasi mengenai penerapan GCG pada BUMN tersebut. Pengkajian Penyempurnaan Evaluation Tools Penerapan GCG Sejak tahun 2001 sampai dengan tahun 2008 ini. (3) key risk indicators sebagai early warning system bagi korporasi. (2) kerangka kerja internal manajemen risiko korporasi dari sudut pandang COSO.

a. Scorecard Penilaian GCG 224 parameter merupakan kriteria assessment yang pertama kali dan digunakan sebagai kriteria assessment GCG pada 16 BUMN pada tahun 2001. b. Sejalan dengan terbitnya Keputusan Menteri BUMN Nomor :KEP-117/MBU/2002 tentang Penerapan GCG pada BUMN, Scorecard Penilaian 224 parameter mengalami pengembangan kriteria menjadi 256 parameter (Scorecard Penilaian 256 parameter). Pengembangan kriteria tersebut pada tahun 2002 khususnya terkait dengan materi mengenai Komite di tingkat Dewan Komisaris. c. Selanjutnya pada tahun 2004, Kementerian Negara BUMN menerbitkan kriteria assessment penerapan GCG sebagai hasil ADB Project. Kriteria assessment GCG ADB Project terdiri atas 81 parameter dengan menggunakan kuesioner. d. Penyempurnaan Scorecard Penilaian GCG 256 parameter. Pada tahun 2006, Kementerian Negara BUMN dan BPKP menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) Nomor: MOU-03/MBU/2006 –MOUKerjasama Percepatan

199/K/D5/2006 tanggal 14 Februari 2006 tentang

Pemberantasan Korupsi Dan Penerapan Tata Kelola Perusahaan Yang Baik Di Lingkungan Badan Usaha Milik Negara. Kerjasama tersebut merupakan upaya kedua belah pihak agar peningkatan kualitas penerapan GCG melalui program assessment GCG dan revieu tindak lanjut hasil asessment GCG dilakukan secara

berkesinambungan. Tekad Kementerian BUMN untuk memiliki standar penilaian GCG disambut oleh BPKP dengan memberikan masukan penyempurnaan scorecard Penilaian GCG 256 parameter melalui: Re-klasifikasi parameter sesuai tanggung jawab dan wewenang Organ BUMN dan aspek penilaian berdasarkan TOR Kementerian BUMN, dan mengeliminasi duplikasi/pengulangan parameter yang secara subtantif menjadi tanggung jawab dominan pada salah satu Organ BUMN. Perbaikan teknik pembobotan aspek penilaian GCG, indikator dan parameter penilaian GCG yang dilakukan dengan menilai tingkat pengaruh parameter terhadap indikator dan tingkat pengaruh indikator terhadap aspek-aspek penilaian GCG. Langkah-langkah penyempurnaan tersebut menghasilkan Scorecard Penailaian GCG 160 parameter yang dicakup dalam 50 indikator dan 5 aspek penilaian GCG. Reklasifikasi, eliminasi dan perbaikan teknik pembobotan membawa dampak positif terhadap penilaian yang tidak lagi redundency. Scorecard Penilaian GCG 160 42

parameter tersebut disepakati oleh Kementerian BUMN cq Staf Ahli Bidang Tata Kelola Perusahaan dan BPKP sesuai Kesepakatan Bersama tanggal 19 Oktober 2006, sebagai metodologi assessment penerapan GCG di lingkungan BUMN yang dilakukan oleh BPKP. Scorecard Penilaian GCG 160 parameter ditetapkan sebagai standar penilaian GCG di lingkungan BUMN sesuai surat Sekretaris Kementerian Negara BUMN Nomor :S-168/MBU/2008 tanggal 27 Juni 2008 tentang Assessment Program GCG di BUMN, dan dengan disampaikannya surat tersebut kepada BUMN maka surat Sekretaris Kementerian Negara BUMN Nomor :S-612/S.MBU/2005 tanggal 19 Oktober 2005 dinyatakan tidak berlaku. II. 3.9. Penyusunan Kriteria Penilaian GCG Tingkat Lanjutan Kriteria penilaian GCG di lingkungan BUMN dengan Scorecard Penilaian GCG 160 parameter disadari merupakan penilaian pada tahap pembentukan infrastruktur GCG dan pelaksanaan internalisasi, sehingga lebih menitikberatkan pada aspek kelengkapan infrastruktur GCG dan aspek kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan. Selama pelaksanaan monitoring pelaksanaan assesssment GCG tahun-tahun sebelumnya (sejak tahun 2006), tanggapan dan masukan mengenai parameter penilaian GCG telah diperoleh baik dari Konsultan maupun dari pihak BUMN. Tanggapan dan masukan tersebut selanjutnya akan dibahas Tim Koordinasi dan Monitoring dan jika diperlukan diteruskan kepada BPKP sebagai bahan kajian perbaikan parameter penilaian GCG. Selanjutnya perlu tahapan yang lebih tinggi yakni tahap lanjutan dalam penilaian penerapan GCG dengan fokus pada bagaimana infrastruktur GCG yang telah dibangun bekerja dan memberikan hasil pada peningkatan nilai perusahaan secara optimal. Pada tahap ini perlu dibuat parameter penilaian yang berorientasi hasil (results).

II. 4. Program Kemitraan dan Bina Lingkungan II.4.1. Program Kemitraan Tahun 2005 - 2009 a. Realisasi Penyaluran Dana Program Kemitraan Program Kemitraan adalah program program untuk meningkatkan kemampuan usaha kecil agar menjadi tangguh dan mandiri melalui pemanfaatan dana dari bagian laba BUMN. Adapun sumber Dana Kemitraan yaitu:

43

1) 2)

Penyisihan laba setelah pajak maksimal sebesar 2% (dua persen). Jasa administrasi pinjaman/marjin/bagi hasil, bunga deposito dan/atau jasa giro dari dana Program Kemitraan setelah dikurangi beban operasional.

3)

Pelimpahan dana Program Kemitraan dari BUMN lain, jika ada.

Program Kemitraan selain dilaksanakan melalui penyaluran dana bergulir juga pemberian dukungan non material kepada para mitra binaannya diantaranya yaitu: 1) 2) 3) Pembentukan cluster mitra binaan Pemberian dukungan pelatihan dan keterampilan Pemberian kesempatan untuk melakukan promosi pada event-event nasional maupun internasional. Program kemitraan ditujukan bagi usaha kecil yaitu memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 200.000.000,- (dua ratus juta rupiah), tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha atau memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp 1.000.000.000,- (satu milyar rupiah) serta masih berstatus non bankable.

Realisasi penyaluran pinjaman dan hibah selama tahun 2004-2006 sebagai berikut:
(Rp Juta)
No. 1 2 Uraian Penyaluran Pinjaman Hibah Total 2004 478,201.00 60,961.00 539,162.00 2005 554,016.00 66,596.00 620,612.00 Tahun 2006 2007 536,855.00 584,363.00 40,911.00 72,731.00 577,766.00 657,094.00 2008 1,194,230.00 105,664.00 1,299,894.00 Prognosa 2009 1,312,577.00 197,095.00 1,509,672.00

Grafik penyaluran dana Program Kemitraan tahun 2004 - 2009:

Prognosa 2009

44

sektor Jasa (19%).854 5.344 9. Realisasi Penyaluran Pinjaman menurut Sektor Usaha Rata-rata Penyaluran dana Program kemitraan dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2009 jika ditinjau dari kelompok sektor usaha mitra binaan. 45 .655 669.134 Sd.332 872.534 39. 2009 8.Sedangkan total akumulasi dana Program Kemitraan tahun 2006 sampai dengan tahun 2009 sebagai berikut: (Rp Juta) No Pinjaman Hibah Total Sd 2006 5.984 560.292 596.364.146 Sd 2007 5. sebagian besar diserap oleh sektor perdagangan (38%) kemudian oleh sektor Industri (22%).101 640.087 47.346 113.619.143. sektor Perkebunan dan Pertanian (9%).885 775.194 121.249 7.907 55.240 Sd 2008 7.949.367 35.417 b.328.585 6.713 55.012 146.961.456. dan sektor lainnya (2%). sector Peternakan dan Perikanan (10%).691 493.919.676 Realisasi mitra binaan dalam 5 tahun terakhir disajikan sebagai berikut: No Uraian 2005 2006 2007 2008 Prognosa 2009 1 2 3 Unit UKM Outstanding Akumulasi 446.

Sulawesi Utara 2 %. Kementerian BUMN menunjuk BUMN Koordinator wilayah pada tiap propinsi untuk tugas kooordinasi pelaksanaan penyaluran dana PKBL di tiap propinsi . Sulawesi tengah (0.0% Banten 2.3% Sultra 0.1% Sumbar 2.2% Jateng 9.3% Kalbar 1.3%) Kalimantan Selatan ( 2. penerima distribusi pinjaman PKBL yang terbesar adalah Kalimantan Timur (7.6% Sulbar & Sulsel 3.4%).7%).5%). c. 2) Resiko usaha di sektor tersebut relatif cukup tinggi mengingat usaha sangat tergantung pada kondisi alam. Di Sulawesi Barat dan Selatan ( 3.3% Riau & Kepri 3. Kalimantan Barat (1. Maluku ( 1. DKI Jakarta ( 8. Dalam distribusi penyaluran dana PKBL pada 33 propinsi di Indonesia daerah Jawa Barat yang terbesar menerima pinjaman yaitu (13.5% DIY 2. Bengkulu (0.2 %).2% Kalteng 0.1% Bali 2. Sumatra Selatan dan Babel ( 5.4% Maluku Utara 0. Jawa Tengah ( 9.9%).7 % Irjabar & Papua 1.2% ).2% Maluku 0. Bali (2. Sumatra utara ( 7. Sumatra Barat (2.1%).5% 46 .2% Gorontalo 0.6%).1%).0% NTB 1.8% Sumsel & Babel 5.4%) . Untuk Kalimantan.1% Kalsel 2.3% Jambi 1.9% Sulteng 0.8% Lampung 2.8% Jabar 13. NAD 3.Beberapa penyebab rendahnya penyerapan sektor perkebunan.9% Bengkulu 0.5%). Lampung (2%).5% Kaltim 7. NTB (1.3%).8%).3%).4% Jatim 13. NTT (2.8%). perikanan dan peternakan antara lain : 1) Kebutuhan pendanaan untuk pengembangan usaha di sektor tersebut relatif cukup besar.4% NTT 2.3% DISTRIBUSI DANA PROGRAM KEMITRAAN Sumut 7. Jawa Timur (13%).9 %) dan di Irian Jaya & Papua ( 1.6% DKI Jakarta 8.5%) Kalimantan Tengah (0.3% Sulut 2. Alokasi dana penyaluran ditetapkan sesuai dengan rencana kegiatan anggaran BUMN. Realisasi Distribusi Pinjaman Dana Program Kemitraan Dalam mendistribusikan dana Program Kemitraan Bina Lingkungan. 3) Keterbatasan kemampuan pengelola PKBL dalam melakukan pembinaan sektor tersebut.

Jumlah penyaluran dari 5 BUMN Dari jumlah dana tersedia Pertamina mempunyai kontribusi terbesar yaitu 1. Pelaksanaan penyaluran dilakukan secara langsung kepada objek penerima bantuan. 2) Bantuan pendidikan dan pelatihan. BUMN dengan Tingkat Jumlah Penyaluran Dana Kemitraan Terbesar Kinerja pelaksanaan Program Kemitraan.2. termasuk tingkat efektivitas penyaluran dana kemitraan. 6) Bantuan pelestarian alam. 4) Bantuan pengembangan prasarana dan atau sarana umum. 2) Hasil bunga deposito dan atau jasa giro dari dana Program BL. Bank Mandiri. namun tidak menutup kemungkinan bekerja sama dengan pihak lain berdasarkan kondisi/pertimbangan tertentu.9. PT Bank BRI. dan PT. secara keseluruhan sangat dipengaruhi oleh kinerja penyaluran dari lima BUMN yaitu PT Pertamina. Total penyaluran dari lima BUMN tersebut mencapai 2.19 Triliun atau sebesar 12% dari jumlah dana yang tersedia secara nasional.2009 a. efisiensi biaya. PT.MBU/2007 ruang lingkup program Bina lingkungan berupa : 1) Bantuan korban bencana alam. BUMN wajib melaksanakan survey untuk memastikan kebenaran. Terhadap objek bantuan. Program Bina Lingkungan Tahun 2005 . 47 . dan sebagainya. Bantuan diberikan oleh BUMN berdasarkan proposal/permohonan yang disampaikan masyarakat maupun atas inisiatif/program kerja BUMN itu sendiri.4. 3) Bantuan peningkatan kesehatan. keahlian/pengetahuan. Adapaun sumber dana Program Bina Lingkungan yaitu: 1) Penyisihan laba setelah pajak maksimal sebesar 2% (dua persen). PT Jasa Raharja.d.693 triliun. adalah program pemberdayaan kondisi sosial masyarakat oleh BUMN melalui pemanfaatan dana dari bagian laba BUMN. Berdasarkan Peraturan Menteri BUMN Nomor PER-05.76 Triliun dari total penyaluran nasional Rp. Realisasi Penyaluran Dana Program Bina Lingkungan Program Bina Lingkungan. Telkom. 5) Bantuan sarana ibadah. misalnya keterbatasan SDM. II.

48 . BUMN wajib pula memperhatiakn azas pemerataan dalam penyaluran. gempa bumi Jogjakarta.kebutuhan dan kewajaran permintaan bantuan. gempa bumi di Padang dan Bengkulu. bencana Situ Gintung dan bencana gempa di Jawa Barat. Fokus Program Bina Lingkungan BUMN peduli pada tahap rehabiitasi adalah pembangunan sarana umum dan pemulihan ekonomi masyarakat antara lain pembangunan pasar. Realisasi Program Bina Lingkungan BUMN Peduli Kementerian BUMN bersama BUMN melaksanakan program Bina Lingkungan BUMN Peduli yang merupakan program bina lingkungan yang dilakukan secara bersamasama antar BUMN dan pelaksanaannya ditetapkan dan dikoordinir oleh Menteri BUMN. banjir besar Jakarta. Bina Lingkungan BUMN Peduli telah berpartisapasi aktif dalam berbagai penanggulangan bencana alam antara lain bencana Tsunami Aceh. obat-obatan dan perawatan selama periode darurat dan tahap rehabilitasi yang merupakan bantuan pasca bencana. Selama kurun waktu tahun 2005 sampai dengan 2009. jembatan. Mengingat dana yang terbatas. Program bantuan untuk bencana dilaksanakan dalam 2 tahap yaitu tahap tanggap darurat berupa bantuan sembako. Penyaluran dana Bina Lingkungan per tahun serta akumulasi dana Bina Lingkungan sampai dengan tahun 2009 disajikan sebagai berikut: (Rp Juta) Prognosa 2009 b. pusat kesehatan masyarakat desa dan penyediaan air bersih. sekolah dan sarana ibadah.

Bentuk pelatihan lain diberikan pula kepada guru guru SMP. garment dan keterampilan lainnya. MTs dan SMA berupa pelatihan mengajar Fisika secara gampang. Program ini sangat membantu guru-guru dalam memberikan metode lain pengajaran Fisika pada siswa. BUMN Peduli telah membuat program BUMN peduli pendidikan dan pelatihan dalam bentuk memberikan pelatihan keterampilan praktis seperti Balai Latihan Kerja Industri (BLKI) dibidang las. mulai SD sampai dengan SMA. otomotive. Buku-buku yang disumbangkan kepada sekolah didaerah lokasi Gempa berupa buku-buku referensi penunjang pelajaran dan majalah-majalah sains agar dapat membantu meningkatkan pengetahuan umum siswa. Program Bina Lingkungan BUMN Peduli tahun 2009 berupa bantuan pendidikan beasiswa pendidikan dan pelatihan yaitu pemberian beasiswa untuk S1. tujuannya terutama untuk siswa putus sekolah agar mendapat pelatihan guna mendapat pekerjaan. asik dan menyenangkan. Dalam rangka membantu mengurangi tingkat penganguran. 49 . Disamping itu program ini juga untuk mahasiswa kurang mampu yang akan menyelesaikan program pendidikannya.Pada tahun 2008 Disamping membangun fasilitas umum. bengkel. bantuan untuk pelatihan tetap dilaksanakan. S2 dan S3 yang direncanakan akan dikerjasamakan dengan pihak Universitas Negeri. dengan demikian diharapkan fisika menjadi pelajaran yang menyenangkan. bantuan diberikan dalam bentuk bea siswa dan bantuan buku kepada siswa sekolah. Selain program bea siswa pendidikan untuk pendidikan formal.

57 Triliun dan Rp 25. BUMN telah memberikan kontribusi yang relatif besar kepada Negara.84 Triliun pada tahun 2009.03 Triliun pada tahun 2009. maka dalam kurun waktu tahun 20052009 BUMN telah menyalurkan dana Program Kemitraan sebesar Rp 8. yaitu berupa dividen rata-rata dividen sebesar Rp 23.25 Triliun dan Rp 370. BUMN juga menyumbangkan kontribusi pajak. yang dalam periode 20042008 mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi yaitu rata-rata sekitar 18% per tahun dengan sumbangan rata rata sebesar Rp 61.150. Sedangkan dalam kurun waktu 2005-2009 capaian Return on Assets (RoA) dan Return on Equity (RoE) rata-rata mencapai 3. 50 . Selanjutnya kontribusi BUMN terhadap pengembangan usaha kecil melalui Program Kemitraan dan Bina Lingkungan.77 Triliun pada tahun 2005 menjadi Rp 110.65 Triliun per tahun. Disamping kontribusi Dividen.291.04 Triliun per tahun atau mengalami peningkatan rata-rata sekitar 25% per tahun. Selanjutnya pertumbuhan Laba Usaha dan Laba Bersih masing-masing dari Rp 82.Kinerja seluruh BUMN selama periode waktu 2005-2009 terus mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan terlihat dari pertumbuhan asset dan Ekuitas masing-masing dari Rp 1.20%.56 Triliun dengan akumulasi jumlah mitra binaan sampai dengan tahun 2009 mencapai 640.98 Triliun.417 orang/unit kerja.15% dan 11. BUMN juga terus mengalami perbaikan dalam menerapkan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance/GCG) yang yang ditunjukkan dengan peningkatan pencapaian skor hasil assessment dengan kategori Baik.06 Triliun pada tahun 2005 menjadi Rp 2. Sedangkan dana Bina Lingkungan yang telah disalurkan oleh BUMN selama kurun waktu 2005-2009 seluruhnya mencapai sebesar Rp 1.03 Triliun dan Rp 566.78 Triliun dan Rp 72.

Sebenarnya jumlah BUMN sebanyak 141 BUMN seperti sekarang ini. Kegiatan restrukturisasi yang salah satu pokok utamanya adalah regrouping/konsolidasi BUMN secara sektoral untuk memetakan kembali jumlah dan skala usaha masing-masing BUMN/sektor tersebut. Kajian-kajian yang telah dilakukan terhadap beberapa sektor menggunakan DIPA Kementerian BUMN dan biaya perusahaan selama tahun 2005-2009 adalah Sektor Perkebunan. Sektor Industri Strategis. Secara umum dari data-data yang disajikan terlihat bahwa pertumbuhan aset BUMN tidak/kurang agresif. Namun demikian. Sektor Konstruksi. untuk mendapatkan jumlah dan skala yang lebih ideal (rightsizing). Holding PT RNI. karena berdasarkan data yang ada. dalam rangka sosialisasi Master Plan BUMN Tahun 2005-2009. mungkin bukan merupakan 51 . tindakan/kegiatan penataan jumlah dan skala BUMN menuju jumlah dan skala yang lebih ideal (rightsizing) sebagaimana telah dikemukakan dalam Master Plan BUMN Tahun 2005-2009 yaitu tahun 2007 menjadi 102 BUMN. tahun 2009 menjadi 69 BUMN. Sektor Farmasi. DPR (Komisi VI dan Komisi XI) dan dalam berbagai kesempatan dan seminar juga telah disampaikan rencana jumlah dan skala BUMN yang lebih ideal (rightsizing). Di samping itu. Berdasarkan ketentuan yang ada. 25 BUMN Besar per Desember 2008. tahun 2008 menjadi 87 BUMN.BAB III RENCANA DAN PELAKSANAAN PROGRAM PEMBINAAN BUMN TAHUN 2005-2009 Selama kurun waktu tahun 2005-2009 Kementerian BUMN telah melakukan berbagai upaya pembinaan BUMN untuk meningkatkan kinerja dan nilai BUMN. telah disampaikan Master Plan tersebut kepada pihak-pihak terkait yaitu antara lain Kantor Kementerian Perekonomian. menunjukkan lebih dari 97% dari total aset dan laba bersih serta 92% ekuitas dan 87% penjualan seluruh BUMN. sampai dengan akhir 2009 memang belum dapat dilakukan sepenuhnya. Sektor Pertambangan serta Sektor Dok dan Perkapalan. disadari bahwa perlu dilakukan upaya-upaya pembinaan lebih lanjut untuk lebih meningkatkan kinerja dan nilai BUMN tersebut. dan modal perusahaan tumbuh lebih lambat serta return relatif masih rendah karena selama ini sebagian besar kegiatan BUMN dibiayai dari dana eksternal/hutang. Kementerian Keuangan. mengharuskan adanya kajian bersama antara Menteri BUMN dan Menteri Keuangan (Menteri Teknis jika diperlukan).

Selanjutnya. Holding. 4) Keberadaannya berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku dan umumnya captive market. 2) Single player atau masuk sebagai pemain utama. 3) Belum memiliki potensi untuk dimerger ataupun holding.masalah sepanjang memiliki kinerja yang baik yang memberikan konstribusi yang terus tumbuh dalam perekonomian nasional. 52 . Merger/Konsolidasi.1. III. Divestasi. dan Likuidasi Rencana program rightsizing tahun 2005-2009 atas masing-masing opsi dapat disampaikan sebagai berikut : a. tata cara dan model penataan perlu dikaji secara obyektif dengan mengedepankan kepentingan jangka panjang BUMN dan perekonomian nasional. Strategi rightsizing tersebut telah digariskan oleh Kementerian BUMN untuk memperbaiki struktur bisnis BUMN secara menyeluruh dalam rangka mencapai jumlah dan skala BUMN yang lebih ideal.2009 III. terutama mengenai keberadaan BUMN.1 Rencana Program Tahun 2005 . Stand Alone Kebijakan stand alone (BUMN tetap seperti sediakala) diterapkan untuk mempertahankan keberadaan BUMN-BUMN tertentu utamanya yang memiliki salah satu kriteria sebagai berikut: 1) Market share cukup signifikan dan mengandung unsur keamanan. program rightsizing tersebut tetap berpegang pada asas-asas yang telah disepakati dalam konstitusi yaitu Pasal 33 Undang-undang Dasar 1945.1 Rencana Rightsizing Tahun 2005-2009 Pencapaian jumlah dan skala BUMN yang lebih ideal (rightsizing) merupakan inti dari program restrukturisasi sektoral tahun 2005-2009. Secara garis besar. Beberapa opsi untuk rightsizing tersebut secara garis besar dapat digambarkan sebagai berikut Stand Alone.

tingkat kompetisi yang tinggi.1. 2) Jenis usaha dan segmen pasar berlainan. prospek bisnis yang cerah dan kepemilikan Pemerintah yang masih dominan. c. 4) Masih ada prospek/ bisnis prospektif. 3) Mayoritas saham dimiliki Pemerintah. 4) Kinerja tergolong kurang baik. 53 . Dalam Master Plan BUMN Tahun 2005-2009 terdapat 8 Sektor BUMN (48 BUMN) yang dilakukan holding (Lampiran 7. 5) Pemerintah merupakan pemilik mayoritas.Dalam Master Plan BUMN Tahun 2005-2009. Holding Pembentukan holding menjadi pilihan yang rasional untuk BUMN yang berada dalam sektor yang sama namun memiliki produk maupun sasaran pasar yang berbeda. terdapat 35 BUMN yang masuk kriteria stand alone (Lampiran 7. namun masih memiliki potensi untuk digabung dengan BUMN lain.1. 5) Going Concern diragukan.1. 3) Kompetisi tinggi. 2) Kompetisi tinggi.a) b. Secara garis besar kriteria untuk BUMN-BUMN yang akan di-merger atau konsolidasi adalah sebagai berikut: 1) Jenis usaha dan segmen pasar sama.b). Beberapa kriteria utama BUMN-BUMN yang akan di-holding adalah sebagai berikut: 1) Sektor usaha sama.c). Merger/Konsolidasi Kebijakan ini dilakukan untuk mencapai struktur yang prospektif bagi BUMN yang berada dalam sektor bisnis yang sama dengan pasar yang identik dan kepemilikan Pemerintah 100%. Dalam Master Plan BUMN Tahun 2005-2009 terdapat 11 Sektor BUMN (27 BUMN) yang dilakukan merger/konsolidasi (Lampiran 7.

d). 3) Bidang usahanya menurut Undang-undang tidak secara khusus harus dikelola oleh BUMN. 54 . Beberapa BUMN yang termasuk dalam kategori ini antara lain BUMN Sektor Angkutan Darat dan Aneka Industri. Likuidasi Kebijakan likuidasi dilakukan untuk BUMN-BUMN yang tidak memiliki kewajiban PSO.1. Disamping itu terdapat kriteria tambahan yaitu: 1) Berbentuk Persero. 5) Tidak mengelola sumber daya alam yang menurut ketentuan peraturan perundangan tidak boleh diprivatisasi. skala usaha kecil.d. Alternatif ini dilakukan sesuai dengan kriteria dalam Undang-undang Nomor 19 tahun 2003 dan Peraturan Pemerintah Nomor 33 tahun 2005. Divestasi Kebijakan ini diutamakan bagi investor dalam negeri atau melalui proses akuisisi dan/atau merger/konsolidasi oleh BUMN lain. berada dalam sektor yang kompetitif. e. 6) Tidak bergerak di sektor tertentu yang oleh pemerintah diberikan tugas khusus untuk melaksanakan kegiatan tertentu yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat. 2) Berada pada sektor usaha atau industri yang kompetitif atau unsur teknologinya cepat berubah. mengalami kerugian selama beberapa tahun dan mempunyai ekuitas yang negatif. 4) Tidak bergerak di sektor pertahanan dan keamanan. 7) Memenuhi ketentuan/peraturan pasar modal apabila privatisasi dilakukan melalui pasar modal. Hal ini dilakukan untuk mencegah kerugian BUMN lebih lanjut. Dalam Master Plan BUMN Tahun 2005-2009 terdapat 27 BUMN yang masuk kriteria divestasi (Lampiran 7.

sesuai kebijakan yang dilakukan dalam 5 tahun terakhir. III. Pemilihan-pemilihan BUMN tersebut untuk diprivatisasi sesuai dengan ketentuan/peraturan yang ada meliputi antara lain. Sosialisasi PTP serta Pelaksanaan PTP.3 Program Kewajiban Pelayanan Umum (Public Service Obligation PSO) Tahun 2005 . 55 . industri kompetitif atau kepemilikan negara minoritas.III. Sepanjang tahun 2007 – 2011 telah dimasukkan program privatisasi. Pemerintah dapat menugaskan penyediaan fasilitas pelayanan umum tersebut kepada BUMN dengan tetap memperhatikan maksud dan tujuan kegiatan BUMN yaitu sebagai unit usaha yang ditugaskan untuk memupuk keuntungan dan menyetor bagian keuntungan (deviden) kepada Negara. Untuk tahun 2007 sebanyak 24 BUMN. Sesuai dengan pasal 66 UU nomor 19/2003 tentang BUMN.2). jo Peraturan Pemerintah 59 Tahun 2010. tahun 2008 sebanyak 15 BUMN.2009 Sesuai dengan Undang-undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang BUMN dan Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2005 tentang Tata Cara Privatisasi. maka prosedur privatisasi meliputi : Penyusunan Program Tahunan Privatisasi (PTP). maka hasil privatisasi diutamakan untuk kepentingan dan pengembangan BUMN. Konsultasi dengan DPR untuk mendapatkan persetujuan. Pembahasan PTP untuk mendapatkan Arahan Komite Privatisasi dan Rekomendasi Menteri Keuangan.2 Rencana Privatisasi Tahun 2005 . Penyediaan fasilitas pelayanan umum oleh Pemerintah adalah merupakan amanat dari pasal 34 ayat (3) UndangUndang Dasar 1945 yang menegaskan bahwa Pemerintah bertanggung jawab atas fasilitas kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak.1.PSO) adalah kewajiban dunia usaha termasuk BUMN untuk melaksanakan penyediaan fasilitas pelayanan umum berdasarkan penugasan dari Pemerintah (Kementerian/Lembaga).2009 Kewajiban Pelayanan Umum (Public Service Obligation . Di samping itu.1. dan 2009-2011 sebanyak 11 BUMN (Lampiran 7.

Monitoring (on the spot) Pelaksanaan PSO-BUMN tahun yang lalu. yang dilaksanakan setiap tahun. legislatif. Penyusunan Rancangan Peraturan Presiden (Perpres) tentang Kerangka Dasar (Grand Design) dan Prosedur Operasional Baku (Standard Operating Procedure/SOP) Pelaksanaan Kewajiban Pelayanan Umum oleh BUMN.dalam arti apabila penugasan (yang wujudnya berupa penyediaan barang dan jasa tertentu yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat) tersebut menurut kajian tidak fisibel. yaitu: - Mewujudkan kesamaan persepsi stakeholder (Eksekutif. Mengupayakan penurunan peran PSO secara selektif dalam pengaturan ekonomi berdasarkan perkembangan kondisi sosial ekonomi masyarakat dan kebijakan Pemerintah. Kementerian BUMN telah menetapkan arah Kebijakan Program Kewajiban Pelayanan Umum (Public Service Obligation . 19/2003 tersebut diatas. Dalam rangka mewujudkan amanat UUD 1945 dan UU No. Evaluasi atas Laporan pelaksanaan PSO-BUMN tahun lalu. maka Pemerintah harus memberikan kompensasi atas semua biaya yang telah dikeluarkan oleh BUMN termasuk margin yang diharapkan.PSO). - - Penjabaran atas arah kebijakan tersebut diatas dituangkan dalam bentuk Program Kerja Utama sebagai berikut: - Pembahasan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya PSO-BUMN tahun yang akan datang. Penyusunan Rancangan Peraturan Menteri Negara BUMN tentang Model Pemisahan Administrasi Pembukuan Kegiatan Kewajiban Pelayanan Umum dari Kegiatan Komersial di BUMN. Menerapkan analisa ” risk management ” dalam pelaksanaan PSO. - 56 . prinsip. yang dilaksanakan setiap tahun. Mewujudkan sistem dan prosedur baku yang bersifat teknis operasional dalam pelaksanaan PSO. yudikatif dan BUMN) terkait dengan pengertian. yang dilaksanakan setiap tahun. substansi dan peran strategis program PSO.

dalam kenyataannya masih terdapat aset-aset BUMN yang idle/belum termanfaatkan secara optimal. Beberapa permasalahan yang menjadi kendala optimalisasi aset BUMN tersebut antara lain : Belum adanya ketentuan dan prosedur baku mengenai optimalisasi aset BUMN (baik pendayagunaan maupun pemindahtanganan) yang dapat digunakan sebagai dasar konsep bagi Direksi BUMN dan dasar penetapan kebijakan oleh Kementerian BUMN (selaku Pemegang Saham) yang dapat diaplikasikan dan sesuai ketentuan/peraturan umum terkait yang berlaku saat ini. Unit organisasi tersebut diharapkan dapat mendukung - - kebijakan Kementerian BUMN dalam melakukan langkah-langkah pembinaan dan pengawasan atas kegiatan pengelolaan aset oleh Direksi 57 . Dalam rangka mengantisipasi berbagai persoalan yang kemungkinan timbul dalam pengelolaan asset.III. pada tahun 2006 Kementerian BUMN membentuk unit organisasi yang khusus menangani pendayagunaan asset. Sampai dengan saat ini. Terdapat beberapa peraturan dan kebijakan sektoral yang diterbitkan oleh instansi/lembaga/pemerintah daerah yang cenderung menyebabkan upaya optimalisasi aset oleh BUMN menjadi tidak mudah untuk dilakukan.4 Program Optimalisasi Aset BUMN Tahun 2005-2009 Aset BUMN merupakan bagian dari kekayaan negara yang sudah dipisahkan dan disertakan pada BUMN untuk dikelola dan dimanfaatkan secara optimal oleh Direksi BUMN dalam rangka menghasilkan barang dan/atau jasa sesuai dengan maksud dan tujuan pendirian masing-masing BUMN. Sinergi BUMN dalam rangka optimalisasi aset-aset BUMN masih belum banyak dilakukan. kegiatan pengelolaan aset dimaksud telah dilakukan oleh Direksi BUMN yang meliputi : penggunaan aset-aset produktif sebagai prasarana/sarana produksi. Namun demikian. sebagai kelengkapan unit yang menangani penghapusbukuan/pelepasan asset BUMN. dan optimalisasi aset-aset tidak produktif melalui “pola kerjasama” dengan pihak ketiga terhadap aset-aset yang idle/underutilized untuk menciptakan nilai tambah dan “pola penghapusbukuan” terhadap asetaset yang secara ekonomis tidak menguntungkan untuk tetap dipertahankan. Hal ini terkait keterbatasan informasi dan koordinasi antar masing-masing BUMN.1.

pengembangan. Menyusun Ketentuan Baku 3. dan relevan dilakukan pengumpulan. digital dokumen.5 Program Pengembangan Teknologi Informasi Tahun 2005-2009 Sebagai acuan arah pengembangan teknologi informasi. dan e-reporting (rincian program terlampir pada Lampiran 10). dan pengembangan SDM teknologi informasi. dan evaluasi/pengedalian. pengoperasian. aplikasi. Monitoring Berkala 2007 konsultan 2008 2009 Keterangan selesai 2007 belum realisasi selesai 2009 belum realisasi belum realisasi terealisasi internal internal internal internal internal internal internal internal III. Dalam pelaksanaan pengelolaan asset BUMN. telah disusun master plan teknologi informasi Kementerian BUMN tahun 20062009 yang berisi road map dan action plan per tahun berkaitan dengan tata kelola teknologi informasi yaitu perencanaan. pengolahan. Laporan BUMN dikumpulkan dalam bentuk hardcopy. telah disusun rencana pelaksanaan pengelolaan aset sebagai berikut : Rencana Kegiatan / Tahun 1. pemeliharaan.BUMN yang mengarah pada konsep efisiensi dalam penggunaan sumber daya dan pengelolaan resiko. Pemetaan Aset Idle 5. tata laksana/proses. dan penyajian. Menyusun Kajiaan SOP 2. sehingga dalam master plan dimuat rencana tiga tahun ke depan untuk infrastruktur sistem informasi/teknologi informasi. Sedangkan untuk untuk memenuhi kebutuhan data dan informasi yang lengkap. kebijakan teknologi informasi. Tata kelola teknologi informasi mencakup SDM/organisasi. Menyusun Surat Edaran 4. cepat.1. 58 . Penelitian Manfaat PA 6. dan teknologi. serta pendokumentasian laporan BUMN. setelah dibentuknya unit organisasi yang menangani Pendayagunaan Aset pada tahun 2006.

Restrukturisasi Sektoral dalam rangka perampingan BUMN untuk mencapai jumlah dan skala BUMN yang lebih ideal (rightsizing). 2). Sektor BUMN Farmasi Kegiatan Telah dilakukan kajian yang berkoordinasi dengan PT Mandiri Sekuritas pada tahun 2005 bersama-sama dengan Deputi Teknis.2009 III. sesuai dengan Inpres Nomor 5 Tahun 2008 tentang fokus program ekonomi tahun 2008-2009 karena beberapa hal antara lain. belum seluruh BUMN dilakukan kajian dan masih diperlukan koordinasi beberapa instansi terkait.1 Pelaksanaan Restrukturisasi Tahun 2005 . telah dilakukan kajian beberapa sektor BUMN sebagai berikut: No 1). 1). sesuai dengan Undang-undang Nomor 2 Tahun 2009 telah menjadi Lembaga Ekspor Indonesia yang pembinaan dan pengawasan di bawah Menteri Keuangan.2009 a.2 Pelaksanaan Program Tahun 2005 . Adapun PT Bank Ekspor Indonesia yang semula berada dalam BUMN dengan kriteris Stand Alone. Stand Alone Terhadap 35 BUMN besar dalam Master Plan BUMN Tahun 2005-2009 dalam pelaksanaannya menjadi 34 BUMN. rekomendasi : Konsolidasi usaha melalui peleburan KAEF dan INAF adalah lebih baik dibandingkan dengan struktur konsolidasi usaha lainnya. Rencana Rightsizing 139 BUMN menjadi 102 BUMN pada tahun 2007.2.III. 87 BUMN pada tahun 2008 dan 69 BUMN tahun 2009 (sebagaimana lampiran) secara umum belum dapat dilaksanakan termasuk pergeseran jumlah dan skala BUMN yang lebih ideal (righsizing). Telah dilakukan kajian yang berkoordinasi dengan PT Sucofindo Appraisal Utama pada tahun 2008 dengan rekomendasi : Holding BUMN Dok dan Perkapalan dengan terlebih dahulu dilakukan restrukturisasi internal 2). Merger/Konsolidasi Terhadap 11 sektor BUMN yang direncanakan akan dimerger/ konsolidasi dalam Master Plan Tahun 2005-2009. BUMN Dok dan Perkapalan 59 .

Sektor Kehutanan : Inhutani I-V & Perhutani Kegiatan Sudah dilakukan kajian oleh E&Y pada th 2003. Pertambangan PT BA. Kontruksi: Adhi. Sedangkan 5 sektor lainnya belum dilakukan kajian antara lain disebabkan karena belum dapat dimasukkannya dalam rencana anggaran DIPA Kementerian BUMN dan sebagian sektor BUMN yang telah dimasukkan dalam anggaran DIPA tidak berhasil dilakukan kajian karena dalam proses pelelangan yang dilaksanakan oleh Tim lelang Kementerian BUMN tidak ada konsultan yang memenuhi kriteria dan adanya keterbatasan waktu untuk diulang kembali. Waskita. namun masih diperlukan kajian lebih lanjut. WIKA. Rapat forum BUMN karya. Telah dilakukan kajian oleh Citigroup. 3). Nindya. Untuk sektor perdagangan. dimana hal tersebut juga dalam rangka menindaklanjuti PBI Nomor 8/16/2006 tentang Kepemilikan Tunggal pada Perbankan Indonesia Telah dilakukan kajian restrukturisasi BUMN Perkebunan oleh Konsultan Independen PT Danareksa Sekuritas & PT Bahana Securities tahun 2005 dengan rekomendasi pembentukan satu holding (satu perusahaan induk) Konsultan PT Primus Sarana Artha Consultan Hasil kajian : 9 BUMN konstruksi menjadi 4-5. Brantas. namun konsultan independen mengundurkan diri. Sektor BUMN Perbankan dan Jasa Keuangan Kegiatan Telah dilakukan kajian awal pembentukan holding Perbankan dan Jasa Keuangan bersama deputi Teknis. 9 BUMN konstruksi jadi 6 BUMN. 5 BUMN konsultan masuk ke BUMN konstruksi. Amarta 4). Perkebunan : PT PN I-XIV & RNI 3). PP. 2). Konsultan Hukum & Perpajakan yang ditunjuk oleh BUMN Pertambangan dan dikoordinir oleh Deputi PISET. ANTAM TIMAH : & 60 .No 3). HK. Holding Untuk BUMN-BUMN/ sektor yang direncanakan akan dilakukan/dimasukkan dalam kegiatan holding telah dilakukan kajian sebagai berikut : No 1). kehutanan telah dilakukan kajian awal oleh konsultan independen. Istaka. 5 BUMN konsultan divestasi. pertanian.

likuidasi dll) - 61 . Sedangkan untuk sektor pelayaran telah dilakukan kajian awal oleh konsultan independen. Sektor BUMN Industri Strategis Kegiatan Telah dilakukan kajian yang berkoordinasi dengan KAP Aryanto Amir Jusuf & Mawar tahun 2005 bersama-sama dengan Deputi Teknis. Selanjutnya manajemen PT BUMN Holding melakukan langkahlangkah konsolidasi internal (merger.No 5). divestasi perusahaan anak & privatisasi). Untuk sektor kawasan. Sebagai gambaran tentang rencana pembentukan super holding dapat disampaikan sebagai berikut: Alternatif I : Top Down/ Secara Sekaligus Super Holding dibentuk melalui pendirian Satu Perusahaan Induk (PT BUMN Holding) yang penyertaannya berasal dari inbreng penyertaan Negara RI pada 141 BUMN. sektor kebandarudaraan dan sektor pelabuhan belum dilakukan kajian antara lain disebabkan karena belum dapat dimasukkan dalam rencana anggaran DIPA Kementerian BUMN dan sebagian sektor BUMN yang telah dimasukkan dalam anggaran DIPA tidak berhasil dilakukan kajian karena dalam proses pelelangan yang dilaksanakan oleh Tim lelang Kementerian BUMN tidak ada konsultan yang memenuhi. Sedangkan untuk PT BBI direkomendasikan untuk likuidasi atau alternatif lain adalah pembentukan Strategic Holding Company (SHC). Namun demikian. holding sektoral. PT INKA dan PT Barata Indonesia. Khusus mengenai holding. akuisisi. pendekatan yang digunakan dalam pendekatan holding pada akhirnya bukanlah pembentukan super holding melainkan pembentukan holding secara sektoral. maka telah pula dilakukan kajian mengenai pembentukan Super Holding dengan 3 alternatif pendekatan seperti dikemukakan dibawah ini. namun konsultan independen mengundurkan diri karena tidak dapat menyelesaikan pekerjaannya sesuai waktu yang ditentukan. PT PAL. rekomendasi : revitalisasi bagi PT KS (revitalisasi.

Setelah Holding Sektoral terbentuk. Keuangan  Merencanakan. farmasi. fungsi-fungsi yang ditangani “Super Holding” antara lain: Perencanaan Korporasi. dll) dan BUMN2 besar Dalam kajian tersebut.  Mengkoordinasikan penyusunan sistem perencanaan dan pengelolaan keuangan serta sistem akuntansi keuangan. pertambangan. - Alternatif III : Fokus BUMN2 Besar dan Sektoral Yang Sudah Selesai Kombinasi holding sektoral yang relatif sudah selesai (perkebunan. maka dilanjutkan dengan pembentukan Super Holding BUMN(PT BUMN Holding). Holding Karya dll.  Mengevaluasi pelaksanaan sistem perencanaan pengelolaan keuangan pada sub2 holding. Holding Pertambangan.  Mengevaluasi pelaksanaan investasi dan pengembangan dan strategic procurement pada sub2 Holding. Investasi dan Pengembangan  Merencanakan. dan 62 .Alternatif II: Bottom Up/ Secara Sektoral (Approach yang dijalankan bertahap selama ini) Pembentukan Super Holding dilakukan secara bertahap melalui pembentukan Holding-Holding sektoral misal Holding Perkebunan. Holding Farmasi. mengkaji dan menyusun kebijakan-kebijakan yang menyangkut masalah2 keuangan dan pendanaan untuk investasi/pengembangan dan strategic procurement. mengkaji dan menyusun kebijakan2 strategis tentang investasi/pengembangan serta strategic procurement pada sub2 Holding.  Mengkoordinasikan program investasi dan pengembangan serta strategic procurement sub2 Holding.

PT Pengerukan Indonesia. belum dapat dilaksanakan seluruhnya. Namun pelaksanaan divestasi hanya dapat dilakukan terhadap 2 BUMN yaitu divestasi 5. PT Asuransi Jasa Indonesia. mengkaji dan menyusun kebijakan sistem informasi dan komunikasi Super holding. PT Sucofindo.- Teknologi Informasi dan Komunikasi  Merencanakan. PT Indah Karya. PT Suveyor Indonesia. mengkaji dan menyusun kebijakan2 strategis terkait SDM. namun belum mendapatkan persetujuan DPR. PT Industri Sandang Nusantara. PT Semen Baturaja.31% saham PT PGN pada tahun 2006 yang merupakan divestasi lanjutan IPO tahun 2003 yang telah mendapat persetujuan DPR dan telah ada Peraturan Pemerintahnya. PT Sarana Karya. Divestasi Dari rencana divestasi sebanyak 27 BUMN sesuai Master Plan BUMN Tahun 2005-2009.  Mengkoordinasikan sitem administrasi dan analisa seluruh informasi serta sistem perencanan dan pengembangan SDM pad sub2 holding  Mengevaluasi kebijakan-kebijakan sistem dan teknologi informasi pad sub2 holding. Khusus untuk PT Pengerukan Indonesia berubah dari rencana semula privatisasi menjadi pengalihan saham secara inbreng kepada PT Pelindo I-IV 2). namun dalam perjalanannya berubah menjadi privatisasi melalui IPO melalui penerbitan saham baru dan telah mendapat persetujuan DPR tahun 2009 Dilakukan restrukturisasi / penyehatan oleh PT PPA pada tahun 2007 karena kondisi keuangan yang buruk Telah masuk dalam Program Tahunan Privatisasi Tahun 2008.3% saham PT BNI pada tahun 2007 yang masuk dalam Program Tahunan Privatisasi Tahun 2007. BUMN PT Garuda Indonesia Keterangan semula direncanakan divestasi melalui strategic sale. PT 63 . PT Virama Karya. Rencana divestasi terhadap 27 BUMN tersebut tidak terlaksana karena beberapa hal sebagai berikut: No 1). PT Asuransi Jiwasraya. PT Yodya Karya. serta 11.  Merencanakan. 4). PT Indra Karya. PT Merpati Airlines (MNA) Nusantara 3).

PT Permodalan Nasional Madani (PNM) dan PT Cambrics Primissima PT Danareksa. 6). PT PANN Multi Finance. restrukturisasi adalah upaya yang dilakukan dalam rangka penyehatan BUMN yang merupakan salah satu langkah strategis untuk 64 . Belum diusulkan masuk dalam PTP 5). PT Asuransi Ekspor Indonesia. PT Industri Gelas 5). Restrukturisasi oleh PT PPA 7). Restrukturisasi Korporasi Sesuai dengan Undang-undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang BUMN. Likuidasi PT Industri Soda Indonesia (ISI) yang semula direncanakan untuk didivestasi sesuai Master Plan BUMN Tahun 2005-2009. PT Boma Bisma Indra. Dan saat ini sedang dilakukan penjualan aset melalui lelang. Direncanakan akan masuk dalam Program Tahunan Privatisasi tahun 2012 Direncanakan untuk didivestasi sesuai Master Plan BUMN Tahun 2005-2009.No BUMN Bina Karya. telah dilakukan likuidasi (dibubarkan) berdasarkan RUPS Luar Biasa pada tanggal 9 Oktober 2007 dan Peraturan Pemerintah Nomor 70 Tahun 2008 karena kondisi keuangan perusahaan yang sangat buruk Diputuskan direstrukturisasi untuk kelangsungan usaha mengingat kondisi keuangan yang memprihatinkan. Keterangan 4). PT Konversi Energi Abadi (PT EMI) PT Garam Telah diusulkan dalam Program Tahunan Privatisasi tahun 2007. b. namun tidak mendapatkan Arahan Komite Privatisasi dan Rekomendasi Menteri Keuangan. PT Industri Soda Indonesia 8). telah dilakukan likuidasi (dibubarkan) berdasarkan RUPS Luar Biasa pada tanggal 9 Oktober 2007 dan Peraturan Pemerintah Nomor 70 Tahun 2008 karena kondisi keuangan perusahaan yang sangat buruk dan tidak ada prospek usaha. Perum Damri. PT Reasuransi Umum Indonesia.

sesuai 65 . PT Bahtera Adhiguna (Persero) Menyiapkan PT Bahtera Adhiguna (BAG) dalam Program Tahunan Privatisasi (PTP) 2008. namun belum memperoleh persetujuan Pimpinan DPR. revitalisasi armada. Sudah dibahas dalam Panja Komisi VI dan Komisi XI DPR RI. Restrukturisasi yang telah dan sedang dilakukan adalah restrukturisasi hutang. Dalam melakukan restrukturisasi tersebut PT Merpati Nusantara Airlines telah mendapatkan suntikan dana PMN. Restrukturisasi yang telah dilakukan selama tahun 2005-2009 sebagai berikut: 1). 2). menerima dana restrukturisasi sebesar RP 300 miliar melalui PT PPA yang digunakan untuk restrukturisasi SDM. dan modal kerja. Serta tahun 2008 kwartal IV. relokasi operasi dan penambahan modal kerja. Dalam melakukan restrukturisasi tersebut PT Garuda Indonesia telah mendapatkan suntikan dana PMN pada tahun 2006 dan 2007 masing-masing sebesar Rp 500 miliar (total Rp 1 triliun). yaitu Tahun 2006 sebesar Rp 75 miliar dan 2007 sebesar Rp 450 miliar untuk restrukturisasi hutang. armada. restrukturisasi pegawai/lay off. mendapatkan Arahan Komite Privatisasi dan Rekomendasi Menteri Keuangan serta telah mendapatkan persetujuan DPR RI. Sejalan dengan program restrukturisasi tersebut pada tahun 2007 dan 2008 PT Garuda Indonesia direncanakan akan diprivatisasi. Karena Kondisi BAG yang memprihatinkan. 3). PT Garuda Indonesia (Persero) Restrukturisasi PT Garuda Indonesia yang dikoordinasikan oleh Kantor Menko Perekonomian dalam bentuk tim.memperbaiki kondisi internal perusahaan guna memperbaiki kinerja dan meningkatkan nilai perusahaan. PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) Restrukturisasi PT Merpati Nusantara Airlines yang dikoordinasikan oleh Kantor Menko Perekonomian dalam bentuk tim. organisasi dan SDM serta armada.

6). Perum Pegadaian Saat ini sudah dilakukan kajian untuk proses pemerseroan Perum Pegadaian. 5). Restrukturisasi Korporasi yang Ditangani oleh PT PPA Dengan terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2008 tentang Perubahan Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pendirian Perusahaan Perseroan (Persero) di Bidang Pengelolaan Aset . PT Pengerukan Indonesia (Persero) Menyiapkan Rukindo dalam Program Tahunan Privatisasi (PTP) Tahun 2008.pembahasan dengan Meneg BUMN. maka bersama Kedeputian Teknis dan Sekretaris Kementerian sedang disiapkan usulan inbreng BAG kepada PLN (semula direncanakan BAG diakuisisi PTBA). Seperti halnya dengan BAG. maka tugas restrukturisasi dan/atau revitalisasi BUMN menjadi tugas PT PPA (matriks penanganan restrukturisasi oleh PT PPA sesuai Lampiran 8). karena PT Pengerukan Indonesia belum memperoleh persetujuan Pimpinan DPR untuk diakuisisi oleh Pelindo I – IV yang selama ini membiayai restrukturisasi Rukindo. 4). maka Rukindo juga sedang disiapkan untuk diinbrengkan kepada Pelindo I – IV. yaitu restrukturisasi BUMN sebagai berikut : PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) PT Waskita Karya (Persero) PT Berdikari (Persero) PT Djakarta Lloyd (Persero) PT Hotel Indonesia Natour (Persero) PT Varuna Tirta Prakarsya (Persero) 66 . sedangkan unit Deputi Bidang Restrukturisasi dan Privatisasi hanya mengikuti perkembangan pelaksanaan restrukturisasi dan/atau revitalisasi BUMN tersebut dalam pembahasan-pembahasan dengan PT PPA dan Unit Teknis bersama Menteri BUMN.

PT Jasa Marga Tbk. PTPN III (ditunda pelaksanaannya). PT BTN. - 67 . Seleksi lembaga/profesi penunjang untuk privatisasi PT Wijaya Karya Tbk. PT BNI Tbk. PTP tahun 2008 (44 BUMN termasuk carry over PTP tahun 2007) dan 2009 (20 BUMN yang merupakan carry over PTPN tahun 2008) Tahun 2005 dan 2006 tidak ada PTP karena Komite Privatisasi baru terbentuk pada tanggal 13 Oktober 2006 melalui Keputusan Presiden RI Nomor 18 Tahun 2006. PTPN VII (ditunda pelaksanaannya) dan PT Rekayasa Industri/minoritas (ditunda pelaksanaannya).2. Menyampaikan Usulan PTP kepada Komite Privatisasi untuk mendapatkan arahan dan kepada Menteri Keuangan untuk mendapatkan rekomendasi. PT Krakatau Steel (pelaksanaannya direncanakan tahun 2010). Berkoordinasi dengan BUMN dalam rangka melakukan konsultasi dengan DPR RI (Komisi VI dan Komisi XI).2009 telah dilakukan langkah-langkah sebagai berikut: a. PT Pembangunan Perumahan. PTPN IV (ditunda pelaksanaannya).2009 Selama kurun waktu 2005 . 6 BUMN minoritas.2 Pelaksanaan Privatisasi 2005 . Mendampingi Menteri BUMN melakukan pembahasan PTP dalam rapat Komite Privatisasi. Persiapan Privatisasi Melakukan kajian dan seleksi terhadap BUMN untuk dimasukkan dalam Program Tahunan Privatisasi (PTP) tahun 2007 (15 BUMN).- Perum Pengangkutan Djakarta Perum Produksi Film Negara PT Balai Pustaka (Persero) PT PAL Indonesia (Persero) PT Dok dan Perkapalan Kodja Bahari (Persero) PT Industri Gelas (Persero) PT Industri Sandang Nusantara (Persero) PT Kertas Kraft Aceh (Persero) PT PLN (Persero) PT Industri Kapal Indonesia (Persero) PT Cambrics Primissima (Persero) PT Semen Kupang (Persero) III. Melakukan pembahasan dengan Tim Pelaksana Komite Privatisasi.

854 miliar Rp.08 IPO Rp 5.7 IPO IPO Rp 4.3 PT BNI Tbk.086 mliar Rp. sizing atas saham yang akan dilepas oleh Menteri BUMN.362 miliar Rp. 759. 3.92% TOTAL HASIL PRIVATISASI 2005 .63 miliar 72.086 miliar 76. 15 PT Jasa Marga PT Wijaya Karya 30 31.088 miliar 55.3 Rp. Pelaksanaan penjualan saham Laporan Penyetoran hasil penjualan saham Penetapan biaya dan hasil privatisasi c. 3. 3.58 miliar 70 68.195 T Rp.863.2009 Tahun 2005 tidak ada pelaksanaan privatisasi karena tidak ada PTP (Komite Privatisasi baru terbentuk tanggal 13 Oktober 2006).174 miliar Rp 1.36 Total Tahun 2007 TAHUN 2008 TIDAK ADA PRIVATISASI (Target APBN Rp 0.31 Placement Rp 3.05 miliar Rp 9. Dan pada tahun 2006 juga tidak ada PTP.33 TAHUN 2007 11. 2.7 T SPO Rp 3. Hasil Privatisasi Hasil privatisasi selama pelaksanaan Master Plan Tahun 2005 – 2009 adalah sebagai berikut: PERUSAHAAN PERSEROAN/ BUMN % SAHAM DIJUAL METODE TARGET APBN/ APBN-P HASIL PRIVATISASI APBN PERUSAHAAN % SISA SAHAM NEGARA RI TAHUN 2005 TIDAK ADA PRIVATISASI (Target APBN Rp 1 T) TAHUN 2006 PT PGN Tbk 5. Pelaksanaan privatisasi Koordinasi dengan underwriter/Penasehat Keuangan melakukan due diligence Pembahasan dan penandatanganan dengan lembaga/profesi penunjang perjanjian-perjanjian/kontrak Usulan dan Pembahasan Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) dengan instansi terkait Pembahasan atas hasil due diligence dan hasil valuasi saham Pembahasan prospektus Usulan penetapan pricing. namun pelaksanaan privatisasi PT PGN 68 .b.58 miliar Rp 7.975.5 T) TAHUN 2009 PT BTN 27.888.

Menindaklanjuti proses pelaksanaan privatisasi 5 BUMN minoritas yang telah mendapatkan ada Peraturan Pemerintahnya.Tbk merupakan privatisasi lanjutan yang sudah mendapat persetujuan DPR dan telah ada Peraturan Pemerintah. 2). Perkembangan dan Penyelesaian Masih Berlanjut privatisasi adalah : 1). Melakukan persiapan pelaksanaan privatisasi PT Garuda Indonesia dan PT Krakatau Steel yang telah mendapatkan persetujuan DPR dan rencananya akan dilaksanakan pada tahun 2009. pelaksanaan privatisasi Yang Hal-hal yang sedang ditindaklanjuti terkait dengan rencana pelaksanaan e. 3). Tahun 2009 dilaksanakan privatisasi terhadap PT Bank Tabungan Negara (Persero). 2). 3). sedangkan pelaksanaan privatisasi terhadap 6 BUMN Minoritas sampai saat ini masih dalam proses karena PP tentang privatisasi 6 BUMN minoritas tersebut baru terbit pada tanggal 31 Desember 2008. Perlunya sosialisasi program privatisasi secara menyeluruh kepada seluruh stakeholders untuk menyamakan persepsi sehingga pelaksanaan privatisasi tidak terhambat. Pelaksanaan privatisasi dalam rangka restrukturisasi terhadap BUMN yang kondisinya sudah mengkhawatirkan (penyelamatan) sulit dilakukan karena tidak ada/terbatasnya investor yang berminat. d. Mengusulkan kembali rencana privatisasi beberapa BUMN kepada Menteri Keuangan dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua Komite Privatisasi. Pelaksanaan program privatisasi yang telah mendapat arahan Komite Privatisasi. Melakukan langkah-langkah persiapan privatisasi terhadap BUMNBUMN yang disulkan tersebut. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan privatisasi Beberapa hal yang perlu diperhatikan yang dapat menjadi kendala/tantangan dalam pelaksanaa privatisasi adalah : 1). Pada tahun 2008 tidak ada pelaksanaan privatisasi karena kondisi perekonomian dan pasar modal tidak mendukung. rekomendasi Menteri Keuangan dan persetujuan DPR memerlukan waktu yang relatif lama sehingga terkadang sering kehilangan momentum. 4). 69 .

Kementerian BUMN telah melakukan berbagai kegiatan sebagai berikut: a. Pengkajian pemisahan pembukuan kegiatan PSO dari kegiatan komersial BUMN. dengan menampilkan para pakar dan pejabat K/L sebagai pembicara.3 Pelaksanaan Public Servive Obligation (PSO) Tahun 2005-2009 Terkait dengan arah Kebijakan Program Kewajiban Pelayanan Umum (Public Service Obligation . Kesamaan pandangan tersebut merupakan bahan masukan yang sangat berharga dalam penyusunan konsep Peraturan Presiden tentang Kerangka Dasar (Grand Design) dan Prosedur Operasional Baku (Standard Operating Procedure . maupun pemeriksa (auditor). Sosialisasi Pelaksanaan PSO. penerima tugas (operator).4). c. Departemen Keuangan. pada tanggal 12 Mei 2009 di Bogor. yang dihadiri oleh para pejabat eselon II K/L pemberi tugas. Finalisasi draft Peraturan Presiden (Perpres) tentang Kerangka Dasar (Grand Design) dan Prosedur Operasional Baku (Standard Operating Procedure SOP) Pelaksanaan PSO e. dimana dari kajian tersebut telah diperoleh model pemisahan pembukuan kegiatan PSO dari kegiatan komersial BUMN. dimana dari Rakor tersebut telah diperoleh berbagai masukan dan kesamaan pandangan mengenai prinsip pelaksanaan PSO. Rapat Koordinasi (Rakor) pelaksanaan PSO. BPK. Keberadaan ketentuan tersebut sangat diperlukan untuk menghindari timbulnya multi tafsir terhadap pelaksanaan PSO baik dari sisi K/L pemberi tugas (regulator).SOP) Pelaksanaan PSO. dan Kementerian BUMN serta para Direktur Keuangan BUMN pelaksana PSO. Beberapa ketentuan dan peraturan perundang-undangan yang terkait dengan privatisasi masih perlu disinkronisasikan kembali. para pejabat dari (Kementerian/Lembaga) K/L pemberi tugas PSO. Pembentukan Tim Kecil guna menyelesaikan proses finalisasi Kerangka Dasar (Grand Design) dan Prosedur Operasional Baku (Standard Operating Procedure . 70 . III. para pejabat Departemen Keuangan. - b.SOP) Pelaksanaan PSO dengan melibatkan wakil dari Kementerian Keuangan. antara lain melalui: Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) tentang PSO pada tanggal 3-4 Agustus 2006 di Bali. d. para Direksi BUMN pelaksana PSO.PSO). yang dihadiri oleh para pimpinan Komisi IV. V dan VI DPR-RI. Penyusunan draft Peraturan Menteri BUMN tentang Pemisahan Pembukuan Kegiatan PSO dari Kegiatan Komersial BUMN. dan Kementerian BUMN.2.

Penghapusbukuan dan/atau Pemindahtanganan Aset (Aktiva Tetap) BUMN Kebijakan Kementerian BUMN dalam pengelolaan kekayaan BUMN lebih diarahkan pada optimalisasi/pemanfaatan aktiva tetap yang dimiliki BUMN terutama untuk aktiva tetap berupa tanah dan bangunan. Penyampaian draft Perpres tentang Kerangka Dasar (Grand Design) dan Prosedur Operasional Baku (Standard Operating Procedure . BUMN akan menikmati pula hal-hal sebagai berikut : Penghematan beban atas aktiva yang semula idle (beban PBB dan biaya perawatan). BUMN dapat pula memperoleh akses dana/modal serta akses pasar melalui mitra kerjasama dalam pendayagunaan aset. 71 . Pendayagunaan Aset BUMN Pendayagunaan aset BUMN dimaksudkan untuk menciptakan nilai tambah atas idle/underutilized sehingga dapat memberikan tambahan kontribusi kepada BUMN.4 Pelaksanaan Optimalisasi Aset BUMN 2005-2009 a. b. Pendapatan ikutan kegiatan utama BUMN akibat bertambahnya volume dengan adanya kerja sama pemanfaatan aktiva. Penghapusbukuan dan pelepasan asset yang dimiliki BUMN hanya dilakukan jika berdasarkan pertimbangan teknis dan ekonomis tidak menguntungkan bagi BUMN.2. Manfaat dari pelaksanaan pendayagunaan aset selain dapat menghasilkan tambahan pendapatan.2009 Keterangan/Tahun Persetujuan Pendayagunaan Aset BUMN Memperoleh Persetujuan Kajian (NDB) Pendayagunaan 2006 0 0 0 2007 45 Surat 17 BUMN 48 Nota 2008 15 Surat 12 BUMN 25 Nota 2009 18 Surat 12 BUMN 32 Nota Catatan : Unit Pelaksana Pendayagunaan Aset baru dibentuk akhir tahun 2006 dan secara efektif melakukan kegiatan pada tahun 2007. Terbebasnya BUMN dari resiko okupasi aset akibat terlantarkan.f. Adapun Data Perkembangan Dana PSO selama 4 tahun terakhir dapat dijelaskan pada Lampiran 9 III. Tabel : Perkembangan Pendayagunaan Aset BUMN Periode tahun 2005 .SOP) Pelaksanaan PSO dan pembahasannya dengan Sekretariat Kabinet.

Kepada Pemda/Instansi (jual beli) . Kementerian BUMN pada tahun 2008 telah membangun aplikasi portal asset Kementerian BUMN dan telah mulai melakukan sosialisasi kepada 15 BUMN pada tahun 2009. telah dilakukan langkah awal sejak tahun 2007 dengan memerintahkan kepada Direksi BUMN untuk melakukan inventarisasi dan pemetaan aktiva tetap yang dimiliki masing-masing perusahaan. 72 .Lelang/Hapus Administrasi 2004 144 95 49 8 17 119 2005 52 36 16 5 6 41 2006 23 13 10 1 3 19 2007 69 35 34 3 5 61 2008 2009 66 39 27 10 6 50 58 35 23 8 13 37 c. Untuk mendukung persiapan implementasi Portal Aset Kementerian BUMN tersebut. operasional dan dampak keputusan terhadap kebijakan umum Kementerian BUMN dalam penghapusbukuan aktiva tetap BUMN.Penetapan persetujuan Menteri BUMN atas usulan penghapusbukuan dan pemindahtanganan aktiva tetap BUMN dilakukan secara prudent dengan mempertimbangkan aspek legal.2009 Uraian Surat penghapusbukuan Aktiva Tetap BUMN Jenis Aktiva Tetap : .Lainnya Pola Pemindahtanganan : .Kepada Pemda utk proyek pembangunan . Permohonan ijin atas penghapusbukuan harus disertai dengan menyampaikan Pakta Integritas dari Direksi yang bersangkutan. Tabel : Perkembangan Penghapusbukuan Aktiva Tetap BUMN Periode tahun 2005 . Penyediaan Sistem Informasi Aset BUMN Dalam rangka mewujudkan wadah inventarisasi data dan informasi asset BUMN berbasis Teknologi Informasi.Tanah dan Bangunan .

Jl. Jakarta Pusat berjumlah 500 titik untuk 14 lantai.III. (c) tersedianya satu PC untuk satu pegawai. - - 73 . disamping telah dilakukan penambahan bandwith layanan internet yang semula 256 Kbps menjadi 4. Penyediaan data dividen baik mencakup kegiatan perencanaan/penetapan target hingga monitoring penyetoran. Upaya-upaya yang telah dilakukan dalam rangka pengumpulan. penyimpanan laporan secara fisik di perpustakaan juga sudah dilakukan scaning laporan untuk menuju sistem pendokumentasian secara elektronik.5 Pelaksanaan Penyediaan Data. yaitu (a) layanan pengaduan melalui SMS dengan short code 2866 (SMS Center). (b) tersedianya portal publik Kementerian Negara BUMN yang telah diredesain. Pengembangan sistem informasi. serta pendokumentasian laporan BUMN untuk memenuhi kebutuhan data dan informasi adalah: pengumpulan buku laporan BUMN yang kemudian dilanjutkan dengan inputing/pemasukan data ke dalam database. pengolahan. Medan Merdeka Selatan 13. portal aset. Informasi serta Teknologi Informasi 2005 .2.id untuk seluruh aplikasi Kementerian Negara BUMN.2009 a. (c) tersedianya 300 akun email bagi pegawai.196 Kbps. portal SDM. dan penyajian. penyediaan 31 server untuk mendukung aplikasi yang dimiliki oleh Kementerian Negara BUMN yang berada di colocation Telkom Slipi dan penyediaan jaringan di Gedung Kementerian Negara BUMN. portal PKBL. Executive Information System (EIS) dan Office Automation (OA).go. tata kelola TI BUMN dan sinergi TI BUMN yang dihasilkan oleh kelompok kerja TI BUMN yang dibentuk pada rapat koordinasi bidang TI antara Kementerian Negara BUMN dengan BUMN mulai tahun 2006. Pengembangan Sistem Informasi dan Teknologi Informasi Dalam kurun waktu tahun 2004-2009 pengembangan sistem informasi dan teknologi informasi yang telah dicapai adalah : Tersedianya draft masterplan teknologi informasi tahun 2006-2009 yang menjadi acuan pengelolaan sistem informasi/teknologi informasi Kementerian Negara BUMN Pengelolaan infrastruktur sistem informasi/teknologi informasi Kementerian Negara BUMN yaitu (a) tersedianya domain bumn. yaitu dengan penggantian dan penambahan PC untuk mendukung operasional Kementerian Negara BUMN dari 204 unit pada tahun 2004 menjadi 456 unit pada tahun 2009. (b) tersedianya layanan internet bagi seluruh pegawai selama 24/7. (d) tersedianya draft panduan penyusunan masterplan TI BUMN.

Pelatihan Office Automation pada bulan Desember 2007 diikuti oleh pegawai Kementerian Negara BUMN. Unaudited. Implementasi. dan wartawan. electronic analyzing.  SDM Pengadaan outsourcing tenaga bidang TI. Pelatihan seluruh portal kepada 50 BUMN yang mengajukan permintaan pelatihan tambahan kepada masing-masing BUMN mulai dari Oktober 2008 .- Penyiapan dan penyampaian data untuk Laporan Kinerja Pemerintah Pusat yang dilakukan secara periodik yaitu Semester. Pembangunan dan Pengelolaan Perpustakaan. Sosialisasi dan Pelatihan Aplikasi Pelatihan portal publik kepada admin BUMN yang dilaksanakan pada 6– 21 Agustus 2007 diikuti oleh 337 peserta dari 134 BUMN. Pelatihan Portal EIS. dan Audited.  Pembentukan Kelompok Kerja TI BUMN yang bertugas menyusun panduan masterplan TI BUMN. Peluncuran dan sosialisasi portal publik diselenggarakan pada 22 Agustus 2007 yang dihadiri oleh 228 undangan yang terdiri dari Direksi BUMN. hingga electronic documentation. b.  Sosialisasi pemakaian Open source di Kementerian Negara BUMN (Linux) pada tahun 2008.2009. Saat ini sedang dilakukan implementasi penyampaian data/laporan secara elektronik berbasis web melalui Executive Information System. 74 . SDM. PKBL dan Publik kepada admin BUMN yang dilaksanakan pada 14 April – 8 Mei 2008 dan 27 Agustus – 8 September 2009.  Rapat Koordinasi Bidang Sistem Informasi antara Kementerian Negara BUMN dengan BUMN pada bulan Desember 2006. 1 orang tahun 2004 menjadi 10 orang pada tahun 2009. Dengan aplikasi ini maka akan dapat dilakukan electronic reporting. Namun demikian pengisian/input data ke dalam database existing (sistem lama) tetap dilakukan secara paralel untuk memenuhi kebutuhan informasi di Kementerian BUMN. Hal ini mengingat dibutuhkan payung hukum dan SDM yang memadai untuk implementasi sistem baru dimana terdapat perubahan cara penyampaian laporan periodik BUMN yang semula disampaikan kepada Menteri BUMN dalam bentuk hardcopy sekarang dalam bentuk dokumen digital dan e-reporting. Tata Kelola TI BUMN dan Sinergi BUMN pada tahun 2006. diikuti oleh 672 peserta dari 142 BUMN. instansi pemerintah.

Melalui Kementerian Teknis Pemerintah melakukan pembangunan fasilitas serta infrastruktur yang dicatat sebagai asset Negara hasil proyek.2009 Bantuan pemerintah Yang Belum Ditetapkan Statusnya (BPYBDS) pada umumnya merupakan investasi Pemerintah pada infrastruktur. umumnya BPYBDS berasal dari asset eks proyek berupa tanah dan bangunan. dan panduan sinergi teknolgi informasi dapat ditetapkan Menteri BUMN sehingga dapat diimplementasikan sebagai pedoman bagi BUMN untuk menngkatkan peran teknologi informasi di perusahaan untuk menciptakan nilai tambah dan daya saing. efisiensi. Berdasarkan data yang tersedia. Penambahan jumlah SDM yang memiliki kompetensi Agar organisasi pengelola teknologi informasi dapat optimal mendukung pencapaian strategi dan tujuan Kementerian BUMN dengan memanfaatkan teknologi informasi. panduan penyusunan master plan. dan kelanjutan implementasi sebelumnya. meskipun ada beberapa BPYBDS berasal dari eks dana 75 . Pengembangan sistem informasi dan teknologi informasi Pengembangan sistem informasi dan teknologi informasi 2010 – 2014 mengacu pada Rencana Strategis Kementerian BUMN 2010 – 2014 dengan memperhatikan perubahan teknologi. Penyediaan Data dan Informasi Agar perubahan cara penyampaian laporan BUMN kepada Menteri BUMN dalam bentuk dokumen digital dan e-reporting. maka dibutuhkan jumlah SDM yang memadai dan kompeten.Kursus dan Pelatihan  CCNA 1 orang  CISA Reviw Course 2 orang  Linux 15 orang  Zend Framework 3 orang c. Panduan pengelolaan teknologi informasi di BUMN Konsep panduan pengelolaan teknologi informasi di BUMN yang meliputi panduan tata kelola.2. Hal-hal yang perlu ditindaklanjuti Implementasi Portal Kementerian BUMN Berdasarkan catatan BPK bahwa pemanfaatan aplikasi belum optimal maka perlu diperlukan langkah-langkah untuk mengimplementasikan seluruh modul-modul secara bertahap yang membutuhkan dukungan (sponsorship) dari Menteri BUMN dalam bentuk kebijakan formal dan peraturan. maka dibutuhkan kebijakan Kementerian BUMN yang secara terintegrasi mengaitkan dengan kepatuhan BUMN menyampaikan laporan dan dipertimbangkan dalam penilaian kinerja BUMN dan penilaian GCG BUMN. kebutuhan. III.6 Pelaksanaan Penanganan Bantuan Pemerintah Yang Belum Ditetapkan Statusnya (BPYBDS) 2005 .

Tahun 2008 PMN pada PT PGN sebesar Rp 99.000. Dalam penetapan BPYBDS menjadi Penyertaan Modal Negara (PMN) diawali dengan usulan dari BUMN kepada Kementerian Teknis pemilik proyek.692. Kondisi asset BPYBDS sangat bervariatif. yang selanjutnya diteruskan kepada Kementerian Keuangan.929. Perkembangan Rekapitulasi BPYBDS dan PMN Dalam Rp Juta Keterangan/Tahun Jumlah BPYBDS Menjadi PMN Saldo BPYBDS 2007 (Audit) 12.0 12. karena beberapa pertimbangan : Pada dasarnya anggaran eks proyek tidak menyebutkan peruntukkan BPYBDS menjadi PMN. Gambaran penanganan BPYBDS dapat dilihat pada Tabel berikut.272 milyar 3.980.98 milyar 76 . Aset Negara eks proyek Pemerintah diserahkelolakan kepada BUMN dengan ditandatanganinya Berita Acara Serah Terima Operasi (BASTO) atau Berita Acara Serah Terima (BAST).0 59. Penanganan penetapan status BPYBDS menjadi PMN selama ini belum sebagaimana yang diharapkan. Menteri Keuangan meminta BPKP melakukan reviu/audit guna menetapkan nilai actual BPYBDS yang akan dijadikan PMB.0 50. Sebelum ditettapkannya BPYBDS. karena kondisi sudah cukup lama. Tahun 2007 PMN pada PT Inka sebesar Rp. Kelayakan penetapan status BPYBDS untuk dijadikan penyertaan atau lainnya seperti disewakan atau dijual putus. Rekapitulasi dan penanganan BPYBDS dimulai dari tahun 2007 sejak dikeluarkannya Keputusan Presiden Nomor 17 Tahun 2007 tentang Tim Penertiban Barang Milik Negara. mengingat eksisting BPYBDS berasal dari akumulasi tahun-tahun sebelumnya sejak tahun 1990. Tabel.263.talangan/pinjaman dari Pemerintah seperti pada PT Sarana Karya maupun PT Dirgantara Indonesia.931.586.566.100 milyar 2.592.2 2009 (un-Audit) 50.4 46.991. Tahun 2009 PMN pada PT PGN dan PJT II sebesar Rp 59.0 Catatan : 1.6 99.0 2008 (Audit) 46.272.0 100.041.303.929.362.

Secara umum rencana rightsizing BUMN untuk mencapai jumlah dan skala BUMN yang lebih ideal serta rencana privatisasi pada tahun 2005–2009 belum dapat terlaksana sepenuhnya karena beberapa hal antara lain masih diperlukannya

kajian independen untuk beberapa sektor serta updating data untuk sektor-sektor yang waktu kajiannya dirasakan memerlukan pembaharuan datanya, kesamaan persepsi, serta sinkronisasi ketentuan dan peraturan perundang-undangan terkait. Dengan adanya kajian yang lebih mendalam serta sosialisasi dan koordinasi dengan instansi terkait, diharapkan program righsizing dan privatisasi dapat terlaksana sesuai rencana. Dari sisi peraturan perundangan, setiap BUMN dapat ditugaskan untuk melaksanakan kewajiban pelayanan umum/ public service obligation (PSO). PSO mempunyai peran penting dan strategis dalam pelaksanaan kebijakan Pemerintah khususnya dibidang subsidi. Oleh karena itu kondisi BUMN yang ditugaskan oleh Pemerintah (Kementerian/Lembaga – K/L) untuk melaksanakan tugas PSO harus senantiasa terpelihara dengan baik agar dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. Penugasan Pemerintah (K/L) kepada BUMN harus benar-benar memperhatikan peran dan fungsi BUMN sebagai unit usaha, di sisi lain penugasan Pemerintah tidak dapat dijadikan alasan oleh BUMN untuk mengalami kerugian. Pemisahan pembukuan antara kegiatan usaha komersiil dan kegiatan usaha atas dasar penugasan Pemerintah harus dilakukan secara jelas. Dalam rangka pelaksanaan pendayagunaan aset BUMN, dengan adanya ketentuan baku berupa peraturan Menteri diharapkan pemanfaatan aset BUMN akan semakin optimal. Sedangkan percepatan penyelesaian BPYBDS menjadi PMN akan membantu BUMN dalam melakukan restrukturisasi permodalan sehingga akan meningkatkan leverage perusahaan. Pembangunan dan pengembangan sistem informasi sangat diperlukan dalam proses pengolahan data pada Kementerian BUMN. Pengolahan data dengan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi sangat mendukung proses analisis secara lebih cepat dan akurat. Hal ini sangat dibutuhkan para pengambil keputusan dalam rangka pembinaan BUMN. Dengan mengikuti kemajuan perkembangan teknologi informasi, Kementerian BUMN akan lebih efektif melakukan pembinaan terhadap BUMN.

77

BAB IV PROGRAM PEMBINAAN BUMN TAHUN 2010 - 2014

IV. 1. Program Restrukturisasi 2010 - 2014 IV. 1.1. Definisi, Maksud dan Tujuan Restrukturisasi Sesuai dengan Undang-undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik negara, restrukturisasi adalah upaya yang dilakukan dalam rangka penyehatan BUMN yang merupakan salah satu langkah strategis untuk memperbaiki kondisi internal perusahaan guna memperbaiki kinerja dan meningkatkan nilai perusahaan. Restrukturisasi dilakukan dengan maksud untuk menyehatkan BUMN agar dapat beroperasi secara efisien dan efektif/produktif dan menerapkan tata kelola perusahaan yang baik (GCG). Restrukturisasi juga bertujuan untuk meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan, memberikan manfaat berupa dividen dan pajak kepada Negara, menghasilkan produk dan layanan dengan harga yang kompetitif kepada konsumen dan memudahkan pelaksanaan privatisasi. Pelaksanaan program restrukturisasi harus tetap memperhatikan asas biaya dan manfaat yang diperoleh. IV. 1.2. Ruang Lingkup Restrukturisasi a. Restrukturisasi Sektoral yang pelaksanaannya disesuaikan dengan kebijakan sektor dan/atau Peraturan Perundang-undangan; b. Restrukturisasi Perusahaan/Korporasi yang meliputi : 1). Peningkatan intensitas persaingan usaha, terutama di sektor-sektor yang terdapat monopoli, baik yang diregulasi maupun monopoli alamiah; 2). Penataan hubungan fungsional antara pemerintah selaku regulator dan BUMN selaku badan usaha, termasuk di dalamnya penerapan prinsipprinsip tata kelola perusahaan yang baik dan menetapkan arah dalam rangka pelaksanaan kewajiban pelayanan publik. 3). Restrukturisasi Internal yang mencakup keuangan, organisasi/ manajemen, operasional, sistem dan prosedur.

78

IV. 1.3. Program Restrukturisasi a. Restrukturisasi Sektoral 1). Rightsizing BUMN Program restrukturisasi sektoral pada intinya adalah untuk mencapai jumlah dan skala usaha BUMN yang ideal yang merupakan kelanjutan dan penajaman dari program rightsizing BUMN yang terdapat di dalam Master Plan BUMN 2005 – 2009. Sebagaimana telah dipaparkan pada bab sebelumnya bahwa dengan memperhatikan perkembangan BUMN yang ada saat ini (tahun 2009) sebanyak 141 BUMN, sebagian besar merupakan perusahaan dengan kinerja dan skala usaha yang relatif kecil dengan kinerja yang belum optimal. Jika diperhatikan, dari 141 BUMN yang ada pada akhir tahun 2009, berdasarkan data per 31 Desember 2008, sebanyak 25 BUMN (25 BUMN besar) telah mempresentasikan 97,16% dari total aset, 91,73% dari total ekuitas, 86,69% dari total penjualan dan 98,11% dari total laba bersih seluruh BUMN. Menyadari bahwa sebagian besar BUMN yang ada saat ini kinerjanya belum optimal dan belum memiliki daya saing yang kuat terutama dalam menghadapi perubahan iklim usaha yang sedemikian cepat dalam era globalisasi dimana kegiatan perusahaan tidak lagi dibatasi oleh batas-batas antar negara dan adanya saling ketergantungan antar bangsa, pasar dan perusahaan-perusahaan. Kenyataan tersebut mengharuskan Pemerintah untuk mengambil langkah-langkah strategis dan nyata guna terwujudnya BUMN yang handal dan mampu menjadi pemain utama (champion) baik di tingkat nasional, regional maupun global, sehingga reformasi BUMN melalui restrukturisasi (revitalisasi), profitisasi dan privatisasi menjadi perioritas utama Kementerian BUMN dalam kebijakan pembinaan BUMN ke depan. Reformasi BUMN yang menjadi perioritas utama kebijakan Kementerian BUMN dalam pembinaan BUMN tersebut dituangkan dalam Program Rightsizing BUMN untuk memperbaiki struktur bisnis BUMN 79

maka kepemilikan Negara pada BUMN tersebut dapat dipertimbangkan untuk tidak mayoritas atau bahkan dilepas (divestasi). Ini berdasarkan pada konsep dasar penataan BUMN bahwa apapun bentuknya kebijakan penataan BUMN tidak boleh mengurangi fungsi pelayanan kepada masyarakat. kinerja.secara menyeluruh. Pedoman Rightsizing BUMN “Kesepakatan” yang melibatkan berbagai elemen stakeholders BUMN mengenai bidang usaha atau produk/jasa yang dihasilkan BUMN yang “menyangkut hajat hidup orang banyak” perlu diterjemahkan secara lebih riil. untuk mencapai jumlah dan skala usaha BUMN yang lebih ideal. BUMN-BUMN yang secara nyata mengemban fungsi Public Service Obligation (PSO) akan tetap dipertahankan keberadaannya tanpa mengurangi tuntutan efisiensi dan transparansi manajemen. Sedangkan terhadap BUMN yang bidang usahanya atau produk/jasa yang dihasilkan tidak termasuk dalam kategori “menyangkut hajat hidup orang banyak”. dan dilakukan regrouping/konsolidasi. 2). Program ini tetap dilakukan berdasarkan pertimbangan urgensi kepemilikan mayoritas Negara pada suatu BUMN. namun beberapa kriteria di bawah ini setidaknya dapat menerjemahkan berbagai pendapat tersebut yaitu: 80 . Kriteria BUMN yang “menyangkut hajat hidup orang banyak” selama ini menjadi perdebatan berbagai kalangan. BUMN-BUMN yang bidang usaha atau produk/jasa yang dihasilkannya termasuk dalam kategori “menyangkut hajat hidup orang banyak” sebagaimana digariskan pada Pasal 33 UUD 1945 tetap harus dipertahankan kepemilikan mayoritas Negara pada BUMN tersebut. Program rightsizing BUMN adalah program utama dari program restrukturisasi/penataan kembali BUMN dengan cara pemetaan secara lebih tajam. tertutama untuk sektor-sektor atau BUMN yang dirasakan Negara tidak perlu lagi ikut serta dalam sektor usaha tersebut. profil sektoral. penciptaan nilai dan potensi sinergi antar BUMN tanpa mengabaikan azas-azas yang terdapat dalam Pasal 33 UUD 1945.

Single player atau masuk sebagai pemain utama. Keberadaannya berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku dan umumnya captive market. Terkait erat dengan Keamanan Negara. maka dapat dikategorikan sebagai BUMN yang ”menyangkut hajat hidup orang banyak”. Secara umum cara atau model rightsizing BUMN tersebut dapat dilakukan melalui berbagai shareholder action dengan gambaran sebagai berikut: Stand Alone Kebijakan stand alone (tetap berdiri sendiri) diterapkan untuk mempertahankan keberadaan BUMN tertentu utamanya yang memiliki salah satu dari kriteria sebagai berikut: Market share cukup signifikan. Bila memperhitungkan kemungkinan terjadi dilusi pada momen-momen tertentu. Namun hal ini masih menyisakan pertanyaan berapa minimal saham yang harus dimiliki oleh Negara pada kategori ini. BUMN tersebut mayoritas sahamnya harus dimiliki oleh Negara. Penataan BUMN melalui penerapan program rightsizing BUMN perlu dikaji secara obyektif dengan mengedepankan kepentingan jangka panjang BUMN dan perekonomian nasional. mungkin perlu dipertimbangkan untuk mempertahankan kepemilikan Negara sedikitnya 55%. Konsekuensinya. Mengemban PSO. Penting bagi stabilitas ekonomi/Keuangan Negara.Amanat Pendirian oleh Peraturan Perundangan untuk tetap dimiliki oleh Negara. Apakah kepemilikan 51% sudah mencukupi. ataukah harus lebih dari 51%. Melakukan Konservasi Alam/Budaya. Apabila suatu BUMN yang bidang usaha atau produk/jasa yang dihasilkan memiliki satu atau lebih kriteria-kriteria tersebut. Merger/Konsolidasi 81 . Belum memiliki potensi untuk dimerger/konsolidasi ataupun holding. Berbasis Sumber Daya Alam yang menurut Undang-undang harus dimiliki mayoritas oleh Negara. Mengandung unsur keamanan.

82 . Masih ada prospek/ bisnis prospektif. Meningkatkan skala ekonomis perusahaan dengan daya saing yang lebih baik. prospek bisnis yang cerah dan kepemilikan Pemerintah yang masih dominan.Kebijakan ini dilakukan untuk mencapai struktur yang prospektif bagi BUMN yang berada dalam sektor bisnis yang sama dengan pasar yang identik dan kepemilikan Pemerintah 100%. Menciptakan value creation melalui perbaikan struktur permodalan dan peningkatan kapasitas pendanaan. Pemerintah merupakan pemilik mayoritas. Mayoritas saham dimiliki Pemerintah. tingkat kompetisi yang tinggi. Holding Pembentukan holding ini menjadi pilihan yang rasional untuk BUMN yang berada dalam sektor yang sama namun memiliki produk maupun sasaran pasar yang berbeda. seperti penciptaan industri hilir baru. Kompetisi tinggi. Memperbaiki struktur permodalan dan membuka peluang pendanaan untuk ekspansi bisnis. Jenis usaha dan segmen pasar berlainan. Beberapa kriteria utama BUMN-BUMN yang akan diholding adalah sebagai berikut: Sektor usaha sama. Kompetisi tinggi. Going Concern diragukan. Terciptanya sinergi diantara perusahaan asal. Secara garis besar kriteria untuk BUMN-BUMN yang akan di-merger/konsolidasi adalah sebagai berikut: Jenis usaha dan segmen pasar sama. pendanaan dan kebijakan strategis lainnya ditarik ke perusahaan induk. Nilai manfaat secara kualitatif yang dapat dicapai melalui merger/konsolidasi secara umum adalah : Meningkatkan efisiensi karena masing-masing perusahaan akan lebih fokus pada kegiatan operasional. sedangkan pemasaran. namun masih memiliki potensi untuk digabung dengan BUMN lain. Kinerja tergolong kurang baik.

sementara kemampuan negara tidak memungkinkan melakukan tambahan modal. terdapat kriteria tambahan lainnya. Terciptanya sinergi diantara perusahaan asal. Bergerak di bidang usaha yang kompetitif atau pihak swasta juga telah banyak ikut berperan serta dalam menghasilkan produk/jasa yang sama dengan suatu BUMN yang akan didivestasi. Memperbaiki struktur permodalan dan membuka peluang pendanaan untuk ekspansi bisnis. Guna meningkatkan kinerja dan pengembangan usaha dibutuhkan modal yang cukup besar. Memenuhi ketentuan/peraturan pasar modal apabila divestasi saham Negara RI pada suatu BUMN dilakukan melalui pasar modal. kebijakan divestasi dilakukan dengan melepas saham milik Negara pada suatu BUMN dalam jumlah mayoritas. 83 . Selain kriteria-kriteria tersebut. Divestasi Terkait dengan Program Rightsizing BUMN. terkait dengan Program Rightsizing. Meningkatkan skala ekonomis perusahaan dengan daya saing yang lebih baik. yaitu: Berbentuk Persero. Kriteria BUMN yang dapat didivestasi sesuai dengan kriteria BUMN yang boleh diprivatisasi sebagaimana diatur dalam Undangundang Nomor 19 tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara dan Peraturan Pemerintah Nomor 33 tahun 2005 tentang tata Cara Privatisasi Perusahaan Perseroan (Persero). sedangkan pemasaran. Dalam rangka penyelamatan dan mempertahankan kelangsungan hidup suatu BUMN. pendanaan dan kebijakan strategis lainnya ditarik ke perusahaan induk.Nilai manfaat secara kualitatif yang dapat dicapai melalui pembentukan holding secara umum adalah : Meningkatkan efisiensi karena masing-masing perusahaan asal lebih fokus pada kegiatan operasional. seperti penciptaan industri hilir baru. Menciptakan value creation melalui perbaikan struktur permodalan dan peningkatan kapasitas pendanaan. dimana kemampuan negara tidak memungkinkan melakukan tambahan modal.

Usahanya tidak prospektif. restrukturisasi PT Pertamina dan pelaksanaan rightsizing 33 BUMN. terdapat 3 (tiga) program utama yang menjadi tanggung jawab Kementerian BUMN yang meliputi restrukturisasi PT PLN. Secara garis besar kriteria BUMN yang akan dilikuidasi adalah sebagai berikut: Tidak ada PSO – ”non strategis” (tidak harus dipertahankan status BUMN). Ekuitas negatif. 3). diharapkan Negara akan memiliki beberapa BUMN dengan jumlah dan skala usaha BUMN yang ideal dengan skenario rightsizing sebagai berikut: Tahun 2010 Tahun 2011 Tahun 2012 Tahun 2013 Tahun 2014 ± 117 ± 102 ± 91 ± 85 ± 78 BUMN BUMN BUMN BUMN BUMN 84 .2014 Sejalan dengan dengan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2010 tentang Percepatan Pelaksanaan Perioritas Pebangunan Nasional Tahun 2010. Melalui penerapanan Program Rightsizing BUMN. Dalam beberapa tahun mengalami kerugian terus-menerus.Likuidasi Kebijakan likuidasi merupakan langkah terakhir yang diambil untuk suatu BUMN guna mencegah kerugian yang lebih besar yang dapat menimbulkan permasalahan yang lebih berat. Skenario Program Rightsizing BUMN 2010 . Kompetisi usaha tinggi. Eksternalitas rendah.

PT PP Tbk. Brantas. PT Brantas Adipraya. Amarta Jmlh Sblm 9 SA Adhi. PT Virama Karya. BUMN Konsultan Konstruksi terdiri dari PT Indra Karya. Brantas. Istaka. Amarta. PT Wijaya Karya Tbk. HK. Nindya. PP. PP. PT Amarta Karya. PT Nindya Karya. Istaka 5 5 BUMN Konsultan Konstruksi dialihkan ke BUMN Konstruksi SA 1 Diinbrengkan ke Pelindo 1 Diinbrengkan ke PLN PTPN I-XIV & RNI 0 0 Jenis Restrukturisasi L D H MK Waskita diambil alih oleh PPA Jmlh Stlh 8 Konsultan Konstruksi : Indra. PT Indah Karya.Program Rightsizing BUMN Tahun 2010 No 1 Sektor BUMN Kontruksi: Adhi. WIKA. WIKA. Nindya. 85 . Waskita. Indah. Virama. HK. PT Istaka Karya. Yodya & Bina 0 2 Pengerukan PT Rukindo 3 Pelayaran : BAG 4 Perkebunan : PT PN I-XIV & RNI 15 - - - 1 5 Aneka Industri : PT Cambric Primissima 6 Pertambangan: PT Sarana Karya Jumlah 1 - - - 0 1 33 - - - - 0 9 BUMN Konstruksi dan Konsultan Konstruksi BUMN Konstruksi terdiri dari PT Adhi Karya Tbk. PT Waskita Karya. PT Hutama Karya. PT Bina Karya dan PT Yodya karya. Rencana restrukturisasi BUMN Konstruksi dan Konsultan Konstruksi telah dilakukan kajian oleh Konsultan PT Primus Sarana Artha pada tahun 2005.

perlu dilakukan kajian ulang dengan memperhatikan kondisi terkini. Kementerian Keuangan dan BUMN Perkebunan) pada tahun 2006-2007. telah dilakukan penilaian kembali terhadap saham Negara RI pada PT BAG oleh konsultan independen untuk menentukan nilai wajar (nilai pasar) atas saham Negara RI pada PT BAG tersebut yang akan dialihkan kepada PT PLN untuk dituangkan di dalam Rancangan Peraturan Pemerintah tentang pengalihan saham tersebut. PT Bina Karya dan PT Yodya karya) akan dilakukan program Merger/Konsolidasi dengan mengalihkan saham milik Negara kepada 5 BUMN Konstruksi. PT PP Tbk. Sedangkan 4 BUMN Konstruksi lainnya dan 5 BUMN Konsultan Konstruksi (PT Indra Karya. Hasil kajian merekomendasikan pembentukan satu holding.Hasil kajian merekomendasikan dari 9 BUMN Konstruksi akan tetap dipertahankan 5 BUMN Konstruksi Stand Alon (SA). 5 BUMN Konsultan Konstruksi direncanakan akan diinbrengkan pada BUMN Konstruksi SA. Namun demikian. PT Waskita Karya. Dalam forum BUMN Karya telah disepakati bahwa 9 BUMN Konstruksi akan diregrouping menjadi 6 BUMN. PT Wijaya Karya Tbk.IV). PT BAG Terhadap PT BAG akan dilakukan pengalihan Saham Negara RI pada PT BAG kepada PT PLN dalam rangka penyelamatan PT BAG. PT Indah Karya. PT Virama Karya. BUMN Perkebunan BUMN Perkebunan terdiri dari 15 BUMN. PT Hutama Karya. Memperhatikan kondisi masing-masing BUMN sampai dengan akhir tahun 2009. PT Rukindo Saham Negara RI pada PT Rukindo direncanakan akan diinbrengkan kepada BUMN Kepelabuhan (PT Pelindo I . sedangkan PT Waskita Karya karena memerlukan restrukturisasi permodalan akan dikonsolidasikan dengan PT PPA yang mengakibatkan kepemilikan Negara minoritas. Rencana Restrukturisasi BUMN Perkebunan (PTPN I – XIV dan PT RNI) telah dilakukan kajian PT Danareksa Sekuritas dan PT Bahana Securities pada tahun 2005 dan dilanjutkan oleh Tim Holding BUMN Perkebunan (terdiri dari wakil Kementerian BUMN. yaitu PTPN I – XIV dan PT RNI. rencana restrukturisasi 9 BUMN Konstruksi akan dipertahankan SA sebanyak 8 BUMN. Sesuai dengan ketentuan Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. mengingat hasil kajian sudah cukup lama (tahun 2005). 86 . sedangkan 5 BUMN Konsultan Konstruksi akan diakuisisi/inbreng ke 6 BUMN tersebut. maka sebelum rencana restrukturisasi dilaksanakan. yaitu PT Adhi Karya Tbk.

menurut ketentuan Tidak bergerak di sektor tertentu yang oleh pemerintah diberikan tugas khusus untuk melaksanakan kegiatan tertentu yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat. Telah disampaikan surat Menteri Negara BUMN kepada Menteri Keuangan yaitu Nomor : S-10/MBU/2008 tanggal 4 Januari 2008. maka rencana restrukturisasi BUMN Perkebunan perlu dilakukan kajian ulang dengan memperhatikan kondisi terkini. Mengingat kondisi BUMN Perkebunan. Menanggapi surat Menteri BUMN Nomor S-10/MBU/2008 tanggal 4 Januari 2008 kepada Menteri Keuangan yang juga ditembuskan kepada Menteri. PT Cambrics Primissima PT Cambrics Primissima akan dilakukan divestasi seluruh saham milik Negara (52. terutama akibat krisis keuangan pada akhir tahun 2008.210/M/2/2008 tanggal 28 Februari 2008 telah menyatakan sependapat dengan rencana pembentukan holding BUMN Perkebunan. Bidang usahanya menurut Undang-undang tidak secara khusus harus dikelola oleh BUMN. Beberapa tahun terakhir mengalami kerugian dan nilai ekuitas terus menurun. Tidak mengelola sumber daya alam yang peraturan perundangan tidak boleh diprivatisasi.Telah dilakukan pembahasan di Rakortas pada tanggal 8 November 2007. baik internal maupun eksternal telah mengalami perubahan yang cukup signifikan. Tidak bergerak di sektor pertahanan dan keamanan. Nomor S867/MBU/2008 tanggal 11 November 2008 & Nomor S-67/MBU/2009 tanggal 29 Januari 2009. Telah dilaksanakan Seminar tentang Holding BUMN Perkebunan yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Hukum dan Pembangunan pada tanggal 18 Maret 2010 yang dibuka oleh Menteri BUMN dan dihadiri oleh Ketua Komisi VI DPR RI dan beberapa anggota Komisi VI dan Komisi XI DPR RI. Dalam seminar tersebut dapat disimpulkan bahwa restrukturisasi BUMN Perkebunan dilakukan melalui pembentukan Holding BUMN Perkebunan yang akan dilaksanakan pada tahun 2010. Menteri Pertanian melalui surat Nomor 45/TU. 87 . Deputi Menteri BUMN yang membidangi BUMN Perkebunan dan Deputi Menteri BUMN Bidang Restrukturisasi dan Privatisasi.79%) melalui metode penjualan langsung kepada investor (strategic Sale/SS) dengan pertimbangan : Berada pada industri/sektor usaha yang kompetitif dan unsur teknologinya cepat berubah.

pengembalian KP dan modal kerja. Tidak mengelola sumber daya alam yang peraturan perundangan tidak boleh diprivatisasi. 88 . jaringan pemasaran yang lebih luas dan sistem manajerial yang lebih baik. Kesulitan akses pendanaan untuk investasi dan modal kerja karena performance neraca yang jelek. sedangkan kemungkinan untuk mendapatkan tambahan Penyertaan Modal Negara (PMN) sangat kecil. sedangkan kemungkinan untuk mendapatkan tambahan Penyertaan Modal Negara (PMN) sangat kecil. Untuk kelangsungan hidup dan pengembangan usaha selain membutuhkan dana.Operasional perusahaan mulai terganggu karena peralatan sudah tua dan kesulitan likuiditas. Guna memperbaiki kinerja. PT Sarana Karya PT Sarana Karya akan dilakukan divestasi seluruh saham milik Negara (100%) melalui metode penjualan langsung kepada investor (strategic Sale/SS) dengan mengutamakan akuisisi oleh BUMN lain (akusisi) dengan pertimbangan : Berada pada industri/sektor usaha yang kompetitif dan unsur teknologinya cepat berubah. dimana PT Timah Tbk telah memberikan dana sebesar Rp 17. sejak tahun 2008 telah dilakukan KSO dengan PT Timah Tbk. Bidang usahanya menurut Undang-undang tidak secara khusus harus dikelola oleh BUMN. Tidak bergerak di sektor pertahanan dan keamanan. akan terjadi rightsizing terhadap 33 BUMN. Peralatan dan fasilitas produksi sangat terbatas dan tua dan kesulitan likuiditas. Pada tahun 2010. sehingga pada akhir tahun 2010 diharapkan jumlah BUMN menjadi ± 117 BUMN. Terbatasnya akses pendanaan karena performance neraca yang terus memburuk. Pangsa pasar masih terbatas (PU). juga diperlukan adanya alih teknologi. jaringan pemasaran yang lebih luas dan sistem manajerial yang lebih baik. Untuk kelangsungan hidup dan pengembangan usaha selain membutuhkan dana. juga diperlukan adanya alih teknologi.86 milyar untuk investasi. menurut ketentuan Tidak bergerak di sektor tertentu yang oleh pemerintah diberikan tugas khusus untuk melaksanakan kegiatan tertentu yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat.

PT Sarinah.Program Rightsizing BUMN Tahun 2011 No 1 Sektor BUMN Asuransi : Askes. Jamsostek. ASEI. RUI. Jiwasraya. Jamsostek. PT Pertani 8 Pertambangan : PT BA. Taspen. Jasindo. Jasindo. Askrindo Jmlh Sblm 10 Jenis Restrukturisasi L D H Jmlh Stlh 10 SA Askes. Jasa Raharja. Askrindo - MK - 2 Pelabuhan : Pelindo I-IV 3 Kebandarudaraan : AP I – II 4 Perdagangan : PT PPI. Taspen. Asabri. ANTAM & TIMAH 9 Farmasi : INAF. Asabri. ASEI. PT PP Berdikari 5 Pelayaran : Pelni. KF & Biofarma Jumlah 4 2 - - - 2 1 3 - - - - 1 3 - - - - 1 6 Perhutani 2 - - Inhutani I-V - - 2 - - 1 3 - - - - 1 3 Biofarma 36 - - INAF & KF 2 21 89 . ASDP 6 Kehutanan : Inhutani I-V & Perhutani 7 Pertanian : PT SHS. Jiwasraya. Jasa Raharja. RUI. Djakarta Lloid.

Dari 2 BUMN tersebut akan dilakukan pembentukan 1 holding BUMN kebandar-udaraan. sehingga tetap menjadi BUMN (SA). yaitu PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PT PPI. 90 . BUMN Pelabuhan BUMN Pelabuhan terdiri dari 4 BUMN. BUMN Pelayaran BUMN Perlayaran terdiri dari 3 BUMN.BUMN Asuransi BUMN Asuransi terdiri dari 10 BUMN. PT ASEI. PT Askes. namun sebelumnya perlu dilakukan kajian terlebih dahulu. Dari 4 BUMN tersebut akan dilakukan pembentukan 2 holding BUMN Pelabuhan berdasarkan wilayah. yaitu Wilayah Barat dan Wilayah Timur. namun sebelumnya perlu dilakukan kajian terlebih dahulu. dan PT ASDP. Terhadap BUMN perdagangan tersebut akan dilakukan Merger/Konsolidasi menjadi 1 BUMN. PT Taspen. Terhadap 3 BUMN Pelayaran tersebut akan dilakukan pembentukan 1 holding BUMN Pelayaran. yaitu PT Pelindo I – IV. PT Jiwasraya dan PT Jasa Raharja dan PT Askrindo. namun sebelumnya perlu dilakukan kajian terlebih dahulu. PT Sarinah dan PT Berdikari. BUMN Kebandar-udaraan BUMN Kebandar-udaraan terdiri dari 2 BUMN. Dengan demikian. 4 BUMN Asuransi (PT ASABRI. 10 BUMN Asuransi tersebut tetap SA. PT Jamsostek) akan menjadi Badan Penyelenggara SJSN dengan kemungkinan perubahan bentuk hukum menjadi Perusahaan Umum (Perum). PT Taspen. yaitu PT Pelni. yaitu PT ASABRI. PT Jasindo. namun sebelumnya perlu dilakukan kajian terlebih dahulu. PT Askes. PT Jamsostek. PT Djakarta Lloyd. BUMN Perdagangan BUMN Perdagangan terdiri dari 3 BUMN. PT RUI. yaitu PT Angkasa Pura I & II.

91 . yaitu PT Antam Tbk. BUMN Farmasi BUMN Farmasi terdiri dari 3 BUMN. maka rencana restrukturisasi BUMN Pertambangan perlu dilakukan kajian ulang dengan memperhatikan kondisi terkini. yaitu PT Sang Hyang Seri dan PT Pertani. Telah disampaikan surat Menteri Negara BUMN kepada Menteri Keuangan yaitu Nomor : S-10/MBU/2008 taggal 4 Januari 2008. namun sebelumnya perlu dilakukan kajian terlebih dahulu. PT Timah Tbk dan PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PT BA Tbk). Rencana restrukturisasi terhadap 3 BUMN Pertambangan tersebut telah dilakukan kajian oleh Citigroup sebagai Financial Advisor (FA) dan Soemadipradja & Taher (Konsultan Hukum) pada tahun 2006 yang merekomendasikan pembentukan perusahaan induk (holding) yang mengintegrasikan seluruh BUMN Pertambangan (Integrated Resouces Comapny/IRC). yaitu PT Bio Farma. BUMN Pertambangan BUMN Pertambangan terdiri dari 4 BUMN. PT Kimia Farma Tbk dan PT Indofarma Tbk. Nomor S867/MBU/2008 taggal 11 Nopember 2008 & Nomor S-67/MBU/ 2009 taggal 29 Januari 2009 Mengingat kajian dilakukan pada tahun 2006 dan beberapa tahun terakhir telah terjadi banyak perubahan kondisi baik internal maupun eksternal. namun sebelumnya perlu dilakukan kajian terlebih dahulu. yaitu PT Inhutani I – V dan Perum Perhutani. Perum Perhutani tetap dipertahankan berdiri sendiri (SA) BUMN Pertanian BUMN Pertanian terdiri dari 2 BUMN.BUMN Kehutanan BUMN Kehutanan terdiri dari 6 BUMN. Terhadap BUMN Pertanian tersebut akan dilakukan Merger/Konsolidasi menjadi 1 BUMN. Terhadap 2 BUMN Farmasi lainnya (PT Kimia Farma Tbk dan PT Indofarma Tbk) telah dilakukan kajian oleh PT Mandiri Sekuritas pada tahun 2005. Terhadap PT Inhutani I – V akan dilakukan pembentukan 1 holding. PT Bio Farma tetap dipertahankan SA karena adanya penugasan khusus dari pemerintah untuk memperoduksi vaksin.

maka rencana restrukturisasi BUMN Farmasi perlu dilakukan kajian ulang dengan memperhatikan kondisi terkini. DPS. Pada tahun 2011. sehingga pada akhir tahun 2011 jumlah BUMN akan menjadi ± 102 BUMN. PT Pradya Paramita. IKI. BKI. akan terjadi rightsizing terhadap 35 BUMN.Hasil Kajian merekomendasikan untuk dilakukan merjer/konsolidasi melalui peleburan PT Kimia Farma Tbk dengan PT Indofarma Tbk. Kertas Leces 3 Penunjang Pertanian : Perum Jasa Tirta I/II 4 Dok & Perkapalan : PT DKB. Program Rightsizing BUMN Tahun 2012 No Sektor BUMN 1 Sertifikasi Sucofindo. Survai Udara Penas 2 Kertas & Percetakan/ Penerbitan : PT Balai Pustaka. & Pradya Paramita Jmlh Stlh 2 6 Peruri & PNRI 2 - - - - 1 4 - - - - 1 2 - - - - 0 18 7 92 . PNRI. Mengingat kajian dilakukan pada tahun 2005 dan beberapa tahun terakhir telah terjadi banyak perubahan kondisi baik internal maupun eksternal. Alternatif lain yang direkomendasikan adalah pembentukan holding BUMN Farmasi. SI.KKA. Sucofindo 3 Balai Pustaka. PERURI. PAL 5 Aneka Industri : PT Garam PT Insan Jumlah Jmlh Sblm 4 SA BKI Jenis Restrukturisasi L D H Survai Udara Penas KKA & Kertas Leces MK SI.

PT Balai Pustaka (PT BP) dan PT Pratnya Paramita. namun sebelumnya perlu dilakukan kajian terlebih dahulu. yaitu PT PAL Indonesia. PT Sucofindo. Perum Jasa Tirta I dan Perum Jasa Tirta II akan dilakukan merger/konsolidasi menjadi 1 BUMN. 93 . PT Sucofindo dan PT Surveyor Indonesia akan dilakukan Merger/Kosolidasi. PT KKA dan PT Kertas Leces akan dilakukan divestasi seluruh saham Negara RI melalui metode penjualan saham Negara langsung kepada investor (strategic sale/SS) atau pengalihan saham Negara kepada BUMN lain. PT Surveyor Indonesia dan PT Survai Udara Penas.BUMN Sertifikasi BUMN Sertifikasi terdiri dari 4 BUMN. PT Survei Udara Penas akan dilakukan tindakan likuidasi karena kondisi perusahaan baik keuangan. namun sebelumnya perlu dilakukan kajian terlebih dahulu. PT Dok & Perkapalan Surabaya (PT DPS) dan PT Industri Kapal Indonesia (PT IKI). namun sebelumnya perlu dilakukan kajian terlebih dahulu. yaitu Perum Percetakan Uang RI (PERURI). Percetakan dan Penerbitan BUMN Kertas. BUMN Penunjang Pertanian BUMN Penunjang Pertanian terdiri dari 2 BUMN. yaitu PT Biro Klasifikasi Indonesia (PT BKI). Rencana restrukturisasi BUMN Dok & Perkapalan telah dilakukan kajian terhadap PT DKB dan PT PAL Indonesia oleh PT Sucofindo Appraisal Utama pada tahun 2008. yaitu Perum Jasa Tirta I dan Perum Jasa Tirta II. PT BKI akan tetap dipertahankan SA. PT BP dan PT Pradnya Paramita akan dilakukan merger/konsolidasi menjadi 1 BUMN. percetakan dan penerbitan terdiri dari 6 BUMN. operasional dan prospek usaha yang tidak memungkinan lagi untuk dipertahankan. PT Kertas Kraft Aceh (PT KKA). BUMN Dok dan Perkapalan BUMN Dok & Perkapalan terdiri dari 4 BUMN. BUMN Kertas. Perum Percetakan Regara RI (Perum PNRI). PERURI dan Perum PNRI akan tetap dipertahankan berdiri sendiri (SA). PT Dok & Perkapalan Kodja Bahari (PT DKB). PT Kertas Leces.

Pertamina. Terhadap PT Garam dan PT Insan akan dilakukan divestasi seluruh saham milik Negara melalui metode penjualan langsung saham Negara RI kepada investor (strategic sale/SS) dengan pertimbangan selain membutuhkan dana untuk memperbaiki kinerja dan pengembangan usaha. juga membutuhkan teknologi yang lebih baik. PT HIN. PT BGR. Pertamina. Posindo 1 - BGR. maka rencana restrukturisasi BUMN Dok & Pertambangan perlu dilakukan kajian ulang dengan memperhatikan kondisi terkini. PT TWC. PT Insan dan PT Garam. PGN. sehingga pada akhir tahun 2012 jumlah BUMN akan menjadi ± 91 BUMN. PGN - PT EMI - - 3 2 - - - 1 4 Bulog. Program Rightsizing BUMN Tahun 2013 No Sektor BUMN 1 Hotel & Pariwisata : PT BTDC. HIN Jmlh Stlh 3 SA PT TWC PPFN MK - 4 PLN. yaitu PT Iglas.Hasil kajian merekomendasi untuk dilakukan restrukturisasi internal terlebih dahulu. jaringan pemsaran yang lebih luas dan sistem manajerial yang lebih baik. selanjutnya dibentuk holding BUMN Dok dan Perkapalan bersama-sama dengan BUMN Dok dan Perkapalan lainnya. Pada tahun 2012. Posindo 5 Aneka Industri PT Iglas Jumlah Jmlh Stlh 4 Jenis Restrukturisasi L D H BTDC. VTP PT Iglas - - 2 - - 0 15 9 94 . PT VTP. akan terjadi rightsizing terhadap 18 BUMN. BUMN Aneka Industri BUMN Aneka Industri terdiri dari 4 BUMN. PPFN 2 Energi : PLN. EMI 3 Perikanan : Perikanan Nusantara & PPPS 4 Logistik Perum Bulog. yaitu PT DPS dan PT IKI. Mengingat kajian dilakukan pada tahun 2005 dan beberapa tahun terakhir telah terjadi banyak perubahan kondisi baik internal maupun eksternal.

PT EMI akan dilakukan divestasi seluruh saham Negara RI melalui penjualan langsung kepada investor (strategic sale/SS) atau pengalihan seluruh saham Negara kepada BUMN lain. PT Varuna Tirta Prasada (PT VTP) dan PT Pos Indonesia. PT TWC Borobudur tetap dipertahankan berdiri sendiri (SA) karena terkait dengan pelestarian budaya. PT BTDC dan PT HIN akan dijadikan holding. dan PT Energi Manajemen Indonesia (PT EMI) PT PLN. PT Perikanan Nusantara dan Perum Prasarana Perikanan Samudra akan dilakukan merger/konsolidasi. BUMN Energi BUMN Energi terdiri dari 4 BUMN. namun sebelumnya harus dilakukan kajian terlebih dahulu. Perum Bulog dan PT Pos Indonesia akan tetap dipertahankan berdiri sendiri (SA). PT BGR dan PT VTP akan dilakukan divestasi seluruh saham negara melalui metode penjualan saham negara langsung kepada investor (strategic sale/SS) atau pengalihan seluruh saham negara pada BUMN lain. PT Pertamina. yaitu Perum Bulog. PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PT PGN Tbk). 95 . yaitu PT Perusahaan Listrik Negara (PT PLN). PT PGN Tbk tetap dipertahankan berdiri sendiri (SA). PT Banda Ghara Reksa (PT BGR). PT TWC Borobudur. BUMN Perikanan BUMN Perikanan teridi dari 2 BUMN. BUMN Logistik BUMN Logistik terdiri dari 4 BUMN. PT BTDC. yaitu PT Hotel Indonesia Natour (PT HIN). namun sebelumnya perlu dilakukan kajian terlebih dahulu.BUMN Hotel & Pariwisata BUMN Hotel dan Pariwisata terdiri dari 3 BUMN. PT Pertamina. yaitu PT Perikanan Nusantara dan Perum Prasarana Perikanan Samudera (Perum PPS).

namun sebelumnya perlu dilakukan kajian terlebih dahulu. PTKS. yaitu Perum PPD dan Perum Damri (BUMN Angkutan) serta PT Jasa Marga (BUMN Prasarana Angkutan). PT BBI 3 Semen PT Semen Gresik Tbk. Program Rightsizing BUMN Tahun 2014 No 1 Sektor BUMN Jmlh Stlh 3 SA PT JM Jenis Restrukturisasi L D H MK Damri. PT Dahana. PT Semen Baturaja.BUMN Aneka Industri PT Iglas akan dilakukan divestasi seluruh saham negara melalui metode penjualan saham negara langsung kepada investor (strategic sale/SS) atau metode lain yang sesuai. & PPD Jmlh Stlh 2 Angkutan & Prasarana Angkutan Darat : DAMRI & PPD. PT Jasa Marga 2 Industri Strategis : PT Inti. Pada tahun 2013. PT INKA. Perum PPD dan Perum Damri akan dilakukan merger/konsolidasi menjadi 1 BUMN. 96 . PT Pindad. PT Jasa Marga akan tetap dipertahankan berdiri sendiri (SA). PT INTI LEN. Barata. PT Semen Kupang Jumlah 8 PT KS. BBI PT Pindad & PTDahana INKA diakuisisi oleh PT KAI 3 3 PT Semen Gresik Tbk. PT Barata. PT LEN. sehingga pada akhir tahun 2013 jumlah BUMN akan menjadi ± 85 BUMN. PT Semen Baturaja 14 PT Semen Kupang - - 2 7 BUMN Angkutan dan Prasarana Angkutan BUMN Angkutan dan Prasarana Angkutan terdiri dari 3 BUMN. akan terjadi rightsizing terhadap 15 BUMN.

Pada tahun 2014. sehingga PT INKA menjadi anak perusahaan PT KAI. PT Semen Kupang akan dilakukan divestasi seluruh saham Negara RI melalui metode penjualan seluruh saham Negara RI langsung kepada investor (strategic sale/SS) atau pengalihan seluruh saham negara RI pada PT Semen Kupang kepada BUMN sejenis lainnya. PT Dahana. yaitu PT Krakatau Steel (PT KS). PT INKA akan dialihkan kepada PT KAI. akan terjadi rightsizing 14 BUMN.BUMN Industri Strategis BUMN Industri Strategis terdiri dari 8 BUMN. PT Pindad dan PT Industri Kereta Api (PT INKA). PT Boma Bisma Indra (PT BBI). sehingga pada akhir tahun 2014 jumlah BUMN akan menjadi ± 78 BUMN. PT LEN Industri. PT Semen Gresik Tbk dan PT Semen Baturaja tetap dipertahankan berdiri sendiri (SA). PT Semen Baturaja dan PT Semen Kupang. PT KS dan PT INTI tetap dipertahankan berdiri sendiri (SA PT LEN Industri. PT Barata Indonesia. PT Pindad dan PT Dahana yang merupakan BUMN dengan bidang usaha yang terkait pada keamanan dan pertahanan akan dilakukan merger/ konsolidasi. namun sebelumnya perlu dilakukan kajian terlebih dahulu. BUMN Semen BUMN Semen terdiri dari 3 BUMN. PT Barata Indonesia dan PT BBI akan dilakukan divestasi seluruh saham negara RI melalui metode penjualan saham Negara RI langsung kepada investor (strategic sale/SS) atau pengalihan seluruh saham negara RI kepada BUMN lain. PT Industri Telekomunikasi Indonesia (PT INTI). yaitu PT Semen Gresik Tbk. namun sebelumnya perlu dilakukan kajian terlebih dahulu. 97 .

Jumlah BUMN Hasil Rightsizing No. 6 PT Asuransi Ekspor Indonesia (Persero) PT Jamsostek) 7 PT Asuransi Jasa Raharja (Persero) Asuransi menjadi 8 PT Asuransi Jasa Indonesia (Persero) Badan penyelenggaran 9 PT Asuransi Jiwasraya (Persero) SJSN sengan 10 PT Asuransi Kredit Indonesia (Persero) kemungkinan berubah 11 PT Asuransi ABRI (Persero) badan hukum menjadi 12 PT Asuransi Kesehatan (Persero) Perum (2011) 13 PT Asuransi Tabungan Pensiunan (Persero) 14 PT Asuransi Jaminan Sosial Tenaga kerja (Persero) BUMN JASA PEMBIAYAAN 15 Perum Pegadaian SA 16 Perum Jamkrindo SA 17 PT Danareksa SA 18 PT Kliring Berjangka Indonesia (Persero) SA 19 PT PANN Multi Finance (Persero) SA 20 PT Permodalan Nasional Madani (Persero) SA 21 PT Perusahaan Pengelola Aset (Persero) SA BUMN JASA KONSTRUKSI & KONSULTAN KONSTRUKSI 22 PT Adhi Karya (Persero) Tbk 8 BUMN Konstruksi SA. BUMN Keterangan BUMN PERBANKAN 1 PT Bank Mandiri (Persero) Tbk SA 2 PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk SA 3 PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk SA 4 PT Bank Tabungan negara (Persero) Tbk SA BUMN ASURANSI 5 PT Reasuransi Umum Indonesia (Persero) 4 BUMN (PT Asabri. PT Taspen. PT Askes. 1 BUMN Konstruksi 23 PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (PT Waskita Karya) diambil 24 PT Hutama Karya (Persero) alih oleh PT PPA dalam 25 PT Nindya Karya (Persero) rangka 26 PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk restrukturisasi/revitalisasi dan 27 PT Amarta Karya (Persero) 5 BUMN Konsultan 28 PT Istaka Karya (Persero) Konstruksi dialihkan ke 29 PT Brantas Adipraya (Persero) BUMN Konstruksi SA (2010) BUMN PERUMAHAN & KAWASAN INDUSTRI 30 Perum Pembangunan Perumahan Nasional SA 31 PT Kawasan Berikat Nusantara (Persero) SA 32 PT Kawasan Industri Makasar (Persero) SA 33 PT Kawasan Industri Medan (Persero) SA 34 PT Kawasan Industri Wijaya Kusuma (Persero) SA 35 PT PDI Pulau Batam (Persero) SA BUMAN FARMASI 36 PT Bio Farma (Persero) SA 37 Hasil Merger/Konsolidasi PT Kimia Farma dan 2011 PT Indofarma BUMN LOGISTIK 38 Perum Bulog PT VTP dan PT BGR dilakukan divestasi atau dialihkan ke BUMN lain 39 PT Pos Indonesia (Persero) (2013) 98 .

PT Sarinah dan 2011 PT Berdikari BUMN JALAN TOL 54 PT Jasa Marga (Persero) Tbk SA BUMN BAJA & KONSTRUKSI BAJA 55 PT Krakatau Steel (Persero) PT Barata Indonesia dan PT BBI dilakukan divestasi atau dialihkan ke BUMN lain (2014) BUMN DOK & PERKAPALAN 56 Holding BUMN Dok & Perkapalan (PT PAL. PT DKB. 2011 PT BA) BUMN TELEKOMUNIKASI 65 PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) SA 66 Perum LKBN Antara SA 99 . Prambanan dan Ratu Boko (Persero) SA 41 Holding (PT HIN dan PT BTDC) 2013 42 Perum Produksi Film Negara SA BUMN JASA PENILAI 43 PT Biro Klasifikasi Indonesia (Persero) PT Survai Udara Penas dilikuidasi dan PT SI & PT 44 Hasil Merger/Konsolidasi PT Sucofindo Sucofindo Merger/Konsolidasi dan PT Surveyor Indonesia (2012) BUMN PELABUHAN 45 Holding BUMN Pelabuhan Wilayah Barat 4 BUMN Pelabuhan menjadi 2 (Pelindi I – II) Holding berdasarkan wilayah (2011) 46 Holding BUMN Pelabuhan Wilayah Timur (Pelindo III – IV) BUMN PELAYARAN 47 Holding BUMN Pelayaran (PT Pelni.BUMN PARIWISATA 40 PT TWC Borobudur. PT IKI) BUMN ENERGI 57 PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) PT EMI didivestasi 58 PT Pertamina (Persero) 100% (2013) 59 PT Perusahaan Gas Negara (Persero) BUMN INDUSTRI BERBASIS TEKNOLOGI 60 PT Batan Teknologi (Persero) PT LEN Industri didivestasi atau 61 PT Dirgantara Indonesia (Persero) dialihkan kepada BUMN lain. PT Pindad 62 PT Industri Telekomunikasi dan PT Dahana Merger/Konsolidasi dan PT INKA dialihkan ke PT KAI (2014) Indonesia (Persero) BUMN INDUSTRI PERTAHANAN 63 Hasil Merger/Konsolidasi PT Pindad dan PT Dahana 2014 BUMN PERTAMBANGAN 64 Holding BUMN Pertambangan (PT Antam. 2012 PT DPS. PT Djakarta PT BAG diinbrengkan Lloyd. PT ASDP) kepada PT PLN (2010) BUMN KEBANDARUDARAAN 48 Holding BUMN Kebandarudaraan (PT AP I – II) 2011 BUMN ANGKUTAN DARAT & KERETA API 49 PT Kereta Api Indonesia (Persero) SA 50 Hasil Merger/Konsolidasi Perum Damri dan PPD 2014 BUMN PENERBANGAN 51 PT Garuda Indonesia (Persero) SA 52 PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) SA BUMN PERDAGANGAN 53 Hasil Merger/Konsolidasi PT PPI. PT Timah.

II 2012 BUMN PERCETAKAN & PENERBITAN 75 Perum Percetakan Negara Republik Indonesia PT KKA. Melalui pembenahan dalam segala aspek kegiatan perusahaan yang berkesinambungan tersebut BUMN akan memiliki daya saing yang semakin baik yang selanjutnya akan berdampak kepada peningkatan kinerja dan nilai tambah perusahaan. sistem dan prosedur. Restrukturisasi perusahaan/korporasi ini tidak hanya dilakukan terhadap BUMN yang mengalami kerugian atau kesulitan dalam kegiatan usahanya.BUMN SEMEN 67 PT Semen Gresik (Persero) Tbk PT Semen Kupang dilakukan divestasi atau dialihkan kepada BUMN lain (2014) 68 PT Semen Baturaja (Persero) BUMN KEHUTANAN 69 Perum Perhutani SA 70 Holding BUMN Pertaniann (PT Inhutani I – V) 2011 BUMN PERIKANAN 71 Hasil Merger/Konsolidasi PT Perikanan Nusantara dan 2013 Perum PPS BUMN PERKEBUNAN 72 Holding BUMN Perkebunan (PTPN I – XIV dan PT RNI) 2010 BUMN PERTANIAN 73 Hasil Merger/Konsolidasi PT Sang Hyang Seri dan 2011 PT Pertani BUMN PENUNJANG PERTANIAN 74 Hasil Merger/Konsolidasi Perum Jasa Tirta I . operasional. Restrukturisiasi perusahaan/korporasi ini dilakukan terhadap segala aspek kegiatan perusahaan yang meliputi keuangan. 100 . Program restrukturisasi ini harus dituangkan di dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) masing-masing BUMN setiap tahunnya. PT Kertas Leces dilakukan divestasi atau 76 Perum Percetakan Uang Republik Indonesia dialihkan kepada BUMN 77 Hasil Merger/Konsolidasi PT Balai Pustaka dan lain (2012) PT Pratnya Paramita BUMN PUPUK 78 PT Pupuk Sriwijaya (Persero) SA b. tetapi dilakukan pula pada setiap BUMN guna terus mengupayakan terwujudnya kinerja dan nilai tambah perusahaan yang lebih baik. organisasi/manajemen. Restrukturisasi Perusahaan/Korporasi Dalam rangka penyehatan BUMN yang merupakan salah satu langkah strategis untuk memperbaiki kondisi internal BUMN guna memperbaiki kinerja dan meningkatkan nilai perusahaan. restrukturisasi perusahaan/korporasi merupakan program rutin yang berkesinambungan yang dilaksanakan dari tahun-ketahun.

Dari 22 BUMN tersebut. PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) PT Kertas Kraft Aceh (Persero) PT Industri Sandang (Persero) 101 . Menteri Keuangan dan Menteri Teknis tempat dimana sektor usaha BUMN bergerak (apabila diperlukan). Tugas Komite Restrukturisasi dan Revitalisasi BUMN antara lain menetapkan BUMN yang akan direstrukturisasi dan/atau direvitalisasi oleh PT PPA serta skema restrukturisasi dan/atau revitalisasi yang akan diterapkan. dimana tugas PT PPA ditambah untuk melakukan restrukturisasi dan/atau revitalisasi BUMN. 2). melalui pembenahan sistem dan prosedur yang tidak dapat terpisahkan dari kegiatan restrukturisasi perusahaan/korporasi akan memperbaiki tata kelola BUMN mengarah kepada tata kelola perusahaan yang sesuai dengan prinsipprinsip Good Corporate Governance (GCG). Khusus untuk penanganan BUMN-BUMN yang mengalami kerugian dan mengalami kesulitan baik keuangan maupun operasional. Restrukturisasi dan/atau revitalisasi BUMN tersebut. restrukturisasi dilakukan oleh PT Perusahaan Pengelola Aset (Persero) atau PT PPA sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2008 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pendirian Perusahaan Perseroan (Persero) di Bidang Pengelolaan Aset. yaitu : 1). Pelaksanaan restrukturisasi perusahaan/korporasi oleh PT PPA mulai dilaksanakan sejak bulan April 2009 dengan telah diterbitkannya Peraturan Menteri BUMN Nomor PER-01/MBU/2009 tanggal 8 April 2009 tentang Pedoman Restrukturisasi dan Revitalisasi Badan Usaha Milik Negara oleh Perusahaan perseroan (Persero) PT Perusahaan Pengelola Aset. pada tahun 2009 telah diserahkan penanganannya kepada PT PPA untuk dilakukan kajian tuntas (due deligence) sebanyak 11 BUMN. BUMN mengalami kerugian 3 tahun dalam 5 tahun terakhir berjumlah 22 BUMN. Berdasarkan data per 31 Desember 2008 (audited). pelaksanaanya berpedoman kepada Peraturan Menteri Negara BUMN Nomor PER-01/MBU/2009 tentang Pedoman Restrukturisasi dan Revitalisasi BUMN oleh PT PPA dan dalam pelaksanaannya dibentuk Komite Restrukturisasi dan Revitalisasi BUMN yang keanggotaannya terdiri dari Menteri BUMN.Selain itu. 3).

PT PAL Indonesia (Persero) PT Waskita Karya (Persero) PT Djakarta Lloyd (Persero) PT PP Berdikari (Persero) PT Hotel Indonesia Natour (Persero) PT Varuta Tirta Persada (Persero) Dari 17 BUMN yang telah diserahkan penanganannya kepada PT PPA. 7). 10). 3 BUMN diantaranya. 6). 6). 7). 10). Sisanya sebanyak 11 BUMN yang mengalami kerugian 3 tahun dalam 5 tahun terakhir akan dilanjutkan penyerahan penangannya kepada PT PPA pada tahun 2010 adalah : 1). pada tahun 2009 juga telah diserahkan kepada PT PPA untuk menangani 6 BUMN lainnya yang mengalami kesulitan baik keuangan maupun operasional (tidak termasuk dalam 24 BUMN rugi tersebut di atas). Sedangkan 13 BUMN lainnya masih dalam proses kajian tuntas (due deligence) dengan progres yang bebeda-beda untuk selanjutnya akan dimintakan keputusan skema restrukturisasi dan revitalisasinya kepada Komite Restrukturisasi dan Revitalisasi dan persetujuan dari Menteri Keuangan. 11). 6). 3). 5). PT Industri Gelas (Persero) PT Balai Pustaka (Persero) PT Cambrics Primissima (Persero) Perum PPD PT Industri Kapal Indonesia (Persero) Perum PFN PT Survey Udara Penas (Persero) PT Semen Kupang (Persero) Selain 11 BUMN tersebut. 9). 3). 8). PT Indah Karya (Persero) PT Pelayaran nasional Indonesia (Persero) PT Pengerukan Indonesia (Persero) PT Perkebunan Nusantara XIV (Persero) PT Kertas Leces (Persero) PT Pradnya Paramita (Persero) PT Perikanan Nusantara (Persero) Perum Prasarana Perikanan Samudera PT Boma Bisma Indra (Persero) PT Dok dan Perkapalan Kodja Bahari (Persero) 102 . 5). 9). yaitu : 1). 5).4). 8). 4). 2). yaitu PT Merpati Nusantara Airlines (Persero). 4). 2). PT PAL Indonesia (Persero) dan PT Waskita Karya (Persero) saat ini sedang dilaksanakan program restrukturisasi dan revitalisasi.

restrukturisasi BUMN yang memerlukan pendanaan sulit diharapkan mendapatkan suntikan dana dari APBN. sehingga permasalahan yang dihadapi oleh BUMN tidak serta merta dapat diatasi dan kajian yang telah dilakukan memerlukan pemutakhiran data dan kajian kembali. dalam penanganannya tetap harus mempertimbangkan berbagai aspek sebelum keputusan likuidasi diambil. sebelum penanganannya diserahkan kepada PT PPA. Pelaksanaan restrukturisasi BUMN yang menimbulkan implikasi pajak. Selanjutnya. Untuk itu. Sekretaris Negara dan Presiden yang akan membutuhkan waktu yang relatif cukup lama. perlu mendapatkan kejelasan untuk penanganan dampak pajak tersebut. DPR RI. Terhadap BUMN yang sulit atau tidak mungkin lagi dipertahankan kelangsungan hidupnya karena kondisi perusahaan yang sudah sangat mengkhawatirkan dan tidak memiliki prospek. tetapi sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang berlaku juga melibatkan instansi terkait lainnya antara lain seperti Kementerian Keuangan. maka akan dilakukan evaluasi terlebih dahulu berdasarkan kinerja per 31 Desember 2009 guna menentukan apakah akan diserahkan kepada PT PPA atau langsung dilakukan restrukturisasi sektoral melalui shareholder action tertentu dalam rangka rightsizing BUMN. Kementerian Hukum dan HAM. Hal-hal yang Perlu Mendapatkan Perhatian dalam Program Restrukturisasi Pelaksanaan program restrukturisasi baik restrukturisasi sektoral maupun restrukturisasi perusahaan/korporasi oleh PT PPA yang telah dilakukan kajian yang melibatkan tidak hanya Kementerian BUMN. Perlu ditingkatkan sosialisasi program restrukturisasi untuk menyamakan persepsi mengenai tujuan pelaksanaan program restrukturisasi BUMN. diperlukan peningkatan upaya-upaya koordinasi dan komunikasi dengan instansi dan lembaga terkait tersebut. Kementerian Teknis. 103 . penyerahan penanganan restrukturisasi dan revitalisasi BUMN yang memiliki permasalahan kepada PT PPA akan dievaluasi setiap tahunnya guna menentukan BUMN mana yang akan diserahkan. PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) Terhadap 11 BUMN tersebut. Dengan kondisi keterbatasan APBN saat ini.11).

kepada pihak lain dalam rangka meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan. Disamping juga untuk lebih mendorong penerapan prinsip-prinsip Good Corporate Governance. Arah Kebijakan Privatisasi Arah kebijakan privatisasi ke depan bukan semata-mata untuk pemenuhan APBN. 2. 2. Definisi. Maksud dan Tujuan Privatisasi Sesuai Undang-undang Nomor 19 tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara dan Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2005 tentang tata Cara Privatisasi Perusahaan Perseroan (Persero) jo Peraturan Pemerintah Nomor 59 Tahun 2009 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2005 tentang Tata Cara Privatisasi Perusahaan Perseroan (Persero). Program Privatisasi 2010 . Sedangkan Tujuan privatisasi adalah untuk meningkatkan kinerja dan nilai tambah perusahaan dan meningkatkan peran serta masyarakat dalam pemilikan saham Persero. memperbesar manfaat bagi negara dan masyarakat. baik sebagian maupun seluruhnya. tetapi diperioritaskan dalam rangka mendukung pengembangan perusahaan dengan metode utama melalui penawaran umum di pasar modal. dan menumbuhkan iklim usaha.2014 IV. dan kewajaran. dan kapasitas pasar”. Maksud privatisasi adalah memperluas kepemilikan masyarakat atas Persero. Privatisasi yang dilakukan tidak melalui metode penawaran umum lewat di pasar modal akan dilakukan dengan sangat selektif dan hati-hati. menciptakan Persero yang berdaya saing dan berorientasi global. 2. ekonomi makro. akuntabilitas. menciptakan struktur industri yang sehat dan kompetitif. menciptakan struktur keuangan dan manajemen keuangan yang baik/kuat. IV. Metode ini terutama digunakan untuk BUMN-BUMN yang memerlukan pendanaan yang tidak dapat diperoleh/dipenuhi dari pasar modal dan/atau Pemerintah serta 104 . kemandirian. Privatisasi adalah penjualan saham Persero.IV.2. serta memperluas kepemilikan saham oleh masyarakat. pertanggung-jawaban.1. meningkatkan efisiensi dan produktivitas perusahaan. Privatisasi dilakukan dengan memperhatikan prinsip-prinsip transparansi.

dalam 2 tahun berturut-turut menghasilkan laba. Sedangkan kriteria khusus yang harus dimiliki oleh BUMN yang akan diprivatisasi adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) 5) Tidak ada PSO. 7) Kepemilikan minoritas sehingga tidak ada kontrol negara dan lambat laun kepemilikan akan terdilusi dan tidak strategis.3. privatisasi juga dilakukan dalam rangka program restrukturisasi dan rightsizing BUMN. profitisasi sulit dilaksanakan.memerlukan peningkatan kompetensi tehnis. b. 8) Untuk yang IPO. Rugi terus menerus. manajemen dan pemasaran. Kriteria umum tersebut adalah sebagai berikut: a. Telah dan sedang dalam restrukturisasi. Perbaikan struktur modal/leverage. Sebagian aset atau kegiatan dari Persero yang melaksanakan kewajiban pelayanan umum dan/atau yang berdasarkan Undang-undang kegiatan usahanya harus dilakukan oleh BUMN. atau 2) Industri/sektor usaha yang unsur teknologinya cepat berubah. dapat dipisahkan untuk dijadikan penyertaan dalam pendirian perusahaan untuk selanjutnya apabila diperlukan dapat diprivatisasi. Ada kebutuhan dana untuk pengembangan. masih potensial profitisasi. ada alokasi PMN tapi perlu pendanaan tambahan. 105 . 2. Selain itu. Kriteria Privatisasi Kriteria Umum bagi BUMN-BUMN yang akan diprivatisasi telah ditetapkan dalam Undang-undang Nomor 19 tahun 2005 dan Peraturan Pemerintah Nomor 33 tahun 2003 jo Peraturan Pemerintah Nomor 59 Tahun 2009 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2005 tentang Tata Cara Privatisasi Perusahaan Perseroan (Persero). Persero yang dapat diprivatisasi harus sekurang-kurangnya memenuhi kriteria: 1) Industri/sektor usahanya kompetitif. 6) Perubahan regulasi yang berpengaruh pada sektor usaha. IV.

Penjualan Saham Berdasarkan Ketentuan Pasar Modal Selain kriteria sebagaimana diatur sesuai dengan Undang-undang Nomor 19 tahun 2005 dan Peraturan Pemerintah Nomor 33 tahun 2003. Metode Privatisasi Privatisasi dilakukan dengan menggunakan salah satu dari 3 metode di bawah ini yaitu: 1) 2) 3) Penjualan Saham berdasarkan Ketentuan Pasar Modal. pemasaran teknologi. Membutuhkan dana yang besar namun menghadapi keterbatasan dana dari Pemerintah (selaku shareholder) dan/atau kesulitan menarik dana dari pasar modal. inovasi/pengembangan produk. 2) Persero yang bergerak di sektor usaha yang berkaitan dengan pertahanan dan keamanan negara. 3) Persero yang bergerak di sektor tertentu yang oleh Pemerintah diberikan tugas khusus untuk melaksanakan kegiatan tertentu yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat. Penjualan Saham Langsung kepada Investor/Strategic Sale (SS) Penjualan Saham kepada Manajemen dan/atau Karyawan (Employee and Management Buy Out /EMBO) a. 106 . manajemen. juga harus sesuai dengan peraturan dan ketentuan yang berlaku lainnya yang terkait dengan BUMN yang akan diprivatisasi. Memerlukan bantuan dan keahlian. 2).4. seperti operasi/teknis. dan kemampuan pendanaan. b. 4) Persero yang bergerak di bidang usaha sumber daya alam yang secara tegas berdasarkan Peraturan Perundang-undangan yang dilarang untuk diprivatisasi. “know-how”. 2. expertise dari mitra strategis. IV. masing-masing metode tersebut memiliki kriteria yang berbeda-beda. Penjualan Saham Langsung kepada Investor (Strategic Sale/SS) Penjualan Saham Langsung kepada Investor (Strategic Sale/SS) dapat dilakukan terhadap BUMN-BUMN yang memenuhi kriteria di bawah ini: 1).Sedangkan Persero yang tidak dapat diprivatisasi adalah: 1) Persero yang bidang usahanya berdasarkan peraturan perundangan hanya boleh dikelola oleh BUMN. Kriteria BUMN yang akan diprivatisasi dengan metode Penjualan Saham berdasarkan Ketentuan Pasar Modal selain harus memenuhi persyaratan sesuai dengan ketentuan pasar modal.

c. sehingga karyawan dan manajemen mampu untuk berpartisipasi dalam kepemilikannya. Penjualan Saham kepada Manajemen dan/atau Karyawan (Employee and Management Buy Out /EMBO) Adapun metode penjualan saham kepada Manajemen dan/atau karyawan (Employee and Management Buy Out / EMBO) digunakan untuk BUMNBUMN yang masuk dalam kriteria: 1). Memiliki bidang usaha yang core business-nya jasa profesional (brainware). Nilai aset relatif kecil dan hasil penjualan saham relatif tidak terlalu besar. atau core business-nya bukan jasa profesional tetapi bidang usahanya sangat kompetitif dan memerlukan kompetensi tehnis khusus. 4). 5).5. 4). Nature of business–nya dianggap dapat dijalankan dan dimiliki oleh karyawan/manajemen. Mendorong lebih lanjut pengelolaan dan pengembangan sebagian aset/kegiatan operasionalnya yang dapat dipisahkan untuk dikerjasamakan dengan mitra strategis. 3). 2). 107 . 2. 5). Merupakan sektor yang bukan strategis bagi Pemerintah. IV. Modal perusahaan tidak terlalu besar. Perusahaan harus menjaga kelangsungan (kesinambungan) program yang telah terjadwal sehingga diharapkan program privatisasi tidak akan mengubah dinamika manajemen yang ada dan tidak mempengaruhi kegiatan usaha. Prosedur Privatisasi Prosedur privatisasi sesuai dengan Undang-undang Nomor 19 tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara dan Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2005 tentang tata Cara Privatisasi Perusahaan Perseroan (Persero) jo Peraturan Pemerintah Nomor 59 Tahun 2009 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2005 tentang Tata Cara Privatisasi Perusahaan Perseroan (Persero) secara garis besar adalah sebagaimana flowchart berikut ini.3). Mengurangi kepemilikan Negara menjadi minoritas sepanjang tidak bertentangan dengan regulasi.

30 IPO (saham baru) Maks.54 SS (divestasi) Maks 100 SS/akuisisi (divestasi) Krakatau Steel telah mendapatkan dan privatisasi akan dilaksanakan Program Tahunan Privatisasi (PTP) Tahun 2010 telah disampaikan kepada Menteri Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua Komite Privatisasi untuk mendapatkan arahan dan kepada Menteri Keuangan untuk mendapatkan rekomendasi masing-masing melalui surat Nomor S-885/MBU/2009 dan Nomor : S-884/MBU/2009 tanggal 28 Desember 2009. Program Privatisasi Tahun 2010 No 1.36 52. 2. 15 SPO (right issue) Maks. 7. 6.79 48.79 SS (divestasi) Maks 48. Perusahaan PT PN III PT PN IV PT PN VII PT BNI Tbk PT Primissima PT Kertas Padalarang PT Sarana Karya % Saham Negara RI 100 100 100 76. 5. 3. 30 IPO (saham baru) Maks. 4.Seleksi BUMN (dituangkan dalam Program T ahunan Privatisasi) Arahan Komite Privatisasi & Rekomendasi Menkeu Sosialisasi Konsultasi/ Persetujuan DPR Penerbitan Peraturan Pemerintah Pelaksanaan a. 30 IPO (saham baru) Maks. 52. 108 .54 100 Catatan : PT Garuda Indonesia dan PT persetujuan DPR RI pada tahun 2009 tahun 2010. % Saham Metode Dilepas Maks.

5. 7. 35 (saham baru) Maks.65 (divestasi) Maks.97 100 100 88. Perusahaan PT PANN PT Garam PT INTI PT Industri Sandang PT Kertas Kraft Aceh PT Pegadaian PT Danareksa % Saham Negara RI 93. 4. 30 (saham baru) Maks. 49 (saham baru) Maks. 7. Program Privatisasi Tahun 2012 No 1. 100 (divestasi) Maks. 35 (saham baru) Maks. 5. 6.97 (divestasi) Maks.74 100 % Saham Dilepas Maks. 100 (divestasi) Maks 96. 2. 35 (saham baru) Maks. 3.b. 30 (saham baru) Metode IPO/SS SS SS SS SS IPO IPO 109 . 49 (divestasi) Maks. 4.65 100 100 % Saham Dilepas Maks. 6. 2. 30 (saham baru) Maks.10 100 100 100 96. Program Privatisasi Tahun 2011 No 1. 30 (saham baru) Maks. 3. 40 (divestasi) Metode IPO IPO IPO IPO IPO/SS IPO SS c. 4. Perusahaan PT Hutama Karya PT Jasindo PT Rekayasa Industri PT Semen Baturaja PT PNM PT KBN PT KBI % Saham Negara RI 100 100 4.

2.82 (divestasi) Maks.20 Maks. 6. 30 (saham baru) Metode SS SS SS/akuisisi SS/akuisisi SS IPO e.78 (divestasi) Maks. 17.82 100 17. 100 (divestasi) Maks.48 SS (divestasi) 3. No Perusahaan Setelah penerapan program restrukturisasi dan privatisasi dalam kurun waktu 2010 – 2014 tersebut di atas (dengan asumsi umum bahwa divestasi 100% kepemilikan Negara pada BUMN hanya terhadap BUMN dengan nilai aset realif kecil).d. 63. Program Privatisasi Tahun 2013 No 1. 5.48 Maks. PT BBI 100 Maks 100 SS (divestasi) 5. 61. 3. 40 IPO (saham baru) Catatan : PT Waskita Karya telah mendapatkan persetujuan DPR RI pada tahun 2008 dan privatisasi akan dilaksanakan tahun 2014 setelah program restrukturisasi diselesaikan. 10 SS (divestasi) 6. 50 (divestasi) Maks. PT Merpati Nusantara 93. PT Barata Indonesia 100 Maks 100 SS (divestasi) 4. PT SOCFINDO 10 Maks. 100 (divestasi) Maks. PT Semen Kupang 61. Program Privatisasi Tahun 2014 % Saham Metode Dilepas 1.30 IPO Farmasi (saham baru) 2. Perusahaan PT SIER PT Industri Gelas PT Bhanda Gara Reksa PT Bahana PUI PT EMI PT Asuransi Jiwasraya % Saham Negara RI 50 63.78 100 100 % Saham Dilepas Maks. diharapkan akan terjadi peningkatan kinerja dan nilai BUMN sebagai berikut : % Saham Negara RI 100 110 . Holding/Merger Maks. 4.

39 kali). dan pertanggungjawaban pelaksanaan PSO. dan aturan mengenai penuangan PSO dalam suatu kontrak yang jelas. diperlukan upaya-upaya peningkatan koordinasi dan komunikasi dengan instansi dan lembaga terkait tersebut. pelaksanaan PSO. Untuk itu. diharapkan pelaksanaan PSO oleh BUMN akan dapat berjalan secara transparan.2014 Pemerintah akan terus mendorong ketaatan semua pihak terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku dibidang PSO khususnya Pasal 66 UU No.583 Triliun pada tahun 2014 (meningkat 5. Kementerian Keuangan. Aset BUMN akan meningkat dari Rp 2. sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang berlaku tidak hanya melibatkan Kementerian BUMN. Dengan ketaatan semua pihak terhadap ketentuan perundang-undangan yang berlaku dan penyempurnaan ketentuan-ketentuan pelaksanaan PSO.149 Triliun pada tahun 2009 menjadi Rp 11. aturan mengenai besaran dan perhitungan margin pelaksanaan PSO. 2). tetapi juga instansi dan lembaga lainnya seperti Komite Privatisasi. IV.986 Triliun pada tahun 2014 (meningkat 5. sehingga membutuhkan waktu yang relatif cukup lama yang kadang sering mengakibatkan hilangnya momentum yang tepat dari pelaksanaan privatisasi tersebut. 111 . dan menciptakan aturan-aturan pelaksanaan (Perpres atau Peraturan Pemerintah) PSO.1) 2) Ekuitas BUMN akan meningkat dari Rp 566 Triliun pada tahun 2009 menjadi Rp 2. Perlu dilakukan peningkatan upaya-upaya sosialisasi yang lebih intensif dalam rangka menyamakan persepsi mengenai privatisasi. Sekretaris Negara dan Presiden. Hal-hal yang Perlu Mendapat Perhatian dalam Pelaksanaan Privatisasi BUMN 1). DPR RI. khususnya yang menyangkut Standard Operating Procedure (SOP) tentang pengusulan/penugasan PSO. Program Penyelenggaran Public Service Obligation (PSO) 2010 . Proses pelaksanaan privatisasi. Kementerian Hukum dan HAM. dan bertanggung jawab. fair.28 kali). 3. 19 tahun 2003 tentang BUMN.

telah dilakukan permintaan data aset kepada para Deputi Teknis sebagai bahan masukan penyusunan Bank Data Aset (Sistem Informasi Aset BUMN berbasis TI). Kedepan diharapkan dana PSO/subsidi akan menurun seiring dengan meningkatnya kesejahteraan masyarakat. Dalam kurun waktu 2010 – 2014. Dalam pelaksanaan tugas optimalisasi pengelolaan aset tersebut. dan tidak ada alasan bagi BUMN untuk rugi karena adanya penugasan dari Pemerintah (K/L). dan di lain sisi BUMN yang ditugaskan untuk melaksanakan PSO akan dapat berkembang secara sehat. sehingga memudahkan monitoring dan evaluasi pelaksanaan PSO. Kementerian BUMN telah membangun sistem Bank Data Aset. BUMN diwajibkan mengisi Bank Data Aset melalui Portal Aset setelah selesai dilakukannya sosialisasi dan trial pengisian. maka penugasan pelaksanaan PSO oleh K/L akan dapat berjalan dengan baik di satu sisi. IV.Apabila pelaksanaan PSO dapat dilakukan secara transparan. sebagai berikut : Pembangunan Portal Aset telah dilakukan tahun 2009 dan akan segera dilanjutkan dengan sosialisasi serta trial pengisian Bank Data Aset tahun 2010 (Sistem Informasi Aset BUMN berbasis TI). Kementerian BUMN secara langsung akan mengumpulkan data aset untuk menyusun Bank Data Aset (Sistem Informasi Aset BUMN berbasis TI) untuk tahun buku 2011 dari BUMN. Program Optimalisasi Aset BUMN 2010 . beberapa kegiatan dan kebijakan yang akan dilaksanakan dalam rangka optimalisasi aset BUMN adalah sebagai berikut : Sistem Bank Data Aset tersebut dilakukan secara bertahap 112 . Terpisahnya pembukuan kegiatan pelaksanaan PSO dari kegiatan komersial BUMN secara keseluruhan. Namun naik-turunnya jumlah dana PSO/subsidi sangat tergantung kepada kebijakan Pemerintah. fair dan bertanggungjawab. 4.2014 Optimalisasi pengelolaan aset merupakan salah satu bentuk pendayagunaan aset. baik melalui optimalisasi pemanfaatan ataupun penghapusbukuan. Dalam rangka mempercepat pengumpulan data.

Kajian aktiva tetap BUMN oleh konsultan . Informasi & Teknologi (TI) 2010 .2014 IV. akurat.1. Monitoring Pengelolaan Aset BUMN 3.No 1.Standard Operating Procedure b. dan integrasi data BUMN Optimalisasi Aset BUMN a. akurat. e. Pembangunan Pemeliharaan Sosialisasi Implementasi Monitoring. d. c. Kajian optimalisasi aset BUMN . b. melaksanakan kajiankajian tentang isu-isu strategis BUMN yang menjadi salah satu referensi dalam pengambilan keputusan Kementerian serta menjadi pusat penelitian yang kredibel dan terpercaya yang siap menawarkan solusi atas permasalahan BUMN baik bagi pihak internal maupun eksternal. Kebijakan-kebijakan strategis yang akan diambil terkait pengembangan data adalah : 113 . pengolahan. Untuk mencapai hal tersebut. Kegiatan Sistem Informasi Aset BUMN Berbasis TI 2010 2011 2012 2013 2014 a. Data Unit data dan informasi akan dikembangkan menjadi pusat data dan informasi yang lengkap.Peraturan Pendayagunaan Aktiva Tetap BUMN .Peraturan Pemindahtanganan Aktiva Tetap BUMN .Swakelola c. 5. Disamping itu. tajam dan terpercaya serta menjadi pendukung think tank pengambilan keputusan Kementerian BUMN. evaluasi. maka diperlukan penyediaan data dan informasi tentang BUMN secara lengkap. 5. Ketentuan dan prosedur . Program Pengembangan Data. dan mutakhir dengan mendasarkan pada prinsip efisiensi dan efektivitas dalam pengumpulan. dan pendokumentasiannya. 2. Informasi dan akses data kepada stakeholders IV.

2. tepat. Selain itu.Mendorong pengumpulan dan pengolahan data yang efektif dan efisien dengan memberdayakan system teknologi informasi. Melibatkan secara aktif BUMN-BUMN dalam pengumpulan dan penyediaan data dan infromasi dengan mengkaitkannya pada pengukuran kinerja BUMN dan Direksi BUMN Merekrut. tajam dan terpercaya dalam kurun waktu 2010 – 2014 adalah sebagai berikut : NO 1 2 3 4 KEGIATAN Penyiapan infrastruktur dan suprastruktur data dan informasi Positioning Pusat data dan Mapping isuisu strategis BUMN Pelaksanaan kajian atas isu-isu strategis BUMN Diseminasi hasil kajian kepada stakeholders 2010 2011 2012 2013 2014 IV. dan mudah diperoleh. dengan implementasi teknologi informasi dan komunikasi diharapkan juga dapat menyediakan data/informasi dengan murah. 5. cerdas dan berpengalaman dalam melakukan analisa korporat Tajam dan sensitive dalam melihat permasalahan BUMN dan berusaha memberikan kajian untuk memberikan referensi solusi atas masalah yang dihadapi tersebut. melatih dan memberdayakan SDM yang trampil. meningkatkan efisiensi dan efektivitas. lengkap. cepat. terkini. akurat. implementasi teknologi informasi dan Komunikasi dapat digunakan untuk meningkatkan fungsi pengendalian. 114 . dan meningkatkan implementasi prinsip-prinsip penyelenggaran kepemerintahan yang baik (good government governance) yang lain seperti transparansi. Kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan untuk pengembangan pusat data dan informasi yang lengkap. konsisten. sehingga dapat membantu pimpinan mengambil keputusan dengan tepat. Terkait dengan tujuan tersebut. dan kewajaran. akuntabilitas. Informasi Dan Teknologi Informasi Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi di Kementerian BUMN diharapkan dapat mempercepat terwujudnya program pemerintah untuk melakukan reinventing government melalui reformasi birokrasi penyelenggaraan kepemerintahan di lingkungan Kementerian BUMN.

maka harus memperhatikan efisiensi penggunaan sumber daya dan pengelolaan risiko. 6. Dalam rangka pelaksanaan restrukturisasi 115 . diharapkan Kementerian BUMN mendapatkan manfaat sinkronisasi dan integrasi rencana teknologi informasi dan komunikasi dengan rencana strategis Kementerian BUMN. realisasi solusi teknologi informasi dan komunikasi yang sesuai kebutuhan secara efisien. IV. bahwa mengingat pemanfaatan teknologi informasi dan Komunikasi oleh institusi pemerintahan telah semakin meningkat. Untuk mendukung tujuan penyelenggaraan pemerintahan. peningkatan efisiensi dan efektivitas belanja teknologi informasi dan komunikasi dan pendekatan yang meningkatkan pencapaian nilai (value) dari implementasi teknologi informasi dan komunikasi nasional. Monitoring Penyelesaian Bantuan Pemerintah Yang Belum Ditetapkan Statusnya (BPYBDS) Bantuan Pemerintah Yang Belum Ditetapkan Statusnya (BPYBDS) pada umumnya merupakan hasil proyek dari Kementerian Teknis yang sumber pembiayaannya dipenuhi dari DIPA/APBN. Kementerian BUMN akan menetapkan Master Plan khusus yang terkait dengan teknologi informasi. Hasil proyek tersebut biasanya diserahkankelolakan kepada BUMN. karena belum ada penetapan secara legal. serta dapat mengoptimalkan ketercapaian value dari penyelenggaraan teknologi informasi dan komunikasi di lingkungan kerja kementerian BUMN untuk internal manajemen dan pelayanan public. untuk memastikan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi tersebut benar-benar mendukung tujuan penyelenggaraan pemerintahan. Secara terperinci. efisiensi belanja teknologi informasi dan komunikasi. pengelolaan yang lebih baik. diperlukan rencana teknologi informasi dan komunikasi yang lebih harmonis. 41 tentang Panduan Tata Kelola Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional Versi 1 Tahun 2007. Dengan tata kelola teknologi informasi dan komunikasi yang baik. sehingga dalam pencatatan pembukuan BUMN sebagai barang yang diserahkelolakan tersebut BPYBDS tidak secara tegas masuk kategori hutang atau ekuitas.Sebagaimana disebutkan dalam PerMenKominfo No. operasi sistem teknologi informasi dan komunikasi yang memberikan nilai tambah secara signifikan kepada public dan internal manajemen pemerintahan.

perlu ditempuh kebijakan sebagai berikut.29 juta. 116 . 1) BUMN Pemilik BPYBDS diminta memberikan konfirmasi maupun penyempuranaan atas hasil rekapitulasi Tim BPYBDS. agar ditindaklanjuti dengan tindakan korporasi melalui pengesahan RUPS tentang Perubahan/Penambahan Modal Disetor serta perubahan Anggaran Dasar Perusahaan. updated sehingga valid untuk melakukan monitoring. status BPYBDS perlu ditetapkan secara definitif menjadi Penyertaan Modal Negara yang pembukuannya masuk kedalam ekuitas perusahaan. agar data hasil rekapitulasi Tim BPYBDS akurat.permodalan BUMN. diharapkan secara langsung dimohonkan untuk diproses menjadi penambahan Penyertaan Modal Negara dengan tetap dilakukan reviu/audit dan berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan serta instansi terkait lainnya untuk preoses penyelesaian penetapan statusnya (seperti proses PMN pada Bandara Dipati Amir. Pada sat ini jumlah BPYBDS diperkirakan mencapai Rp 47. Menteri BUMN melalui Keputusan No. 2) BPYBDS yang baru saja diserahterimakan kepada BUMN melalui Berita Acara Serah Terima (BAST) / Berita Acara Serah Terima Operasi (BASTO) maupun yang akan diserahterimakan pada waktu mendatang. sebagaimana terlampir. Jambi). yang tersebar pada 23 BUMN. baik jumlah BPYBDS maupun perkembangan terakhir. 3) BPYBDS yang telah ditetapkan statusnya menjadi Penyertaan Modal Negara (PMN) melalui Peraturan Pemerintah (PP) pada tahun-tahun sebelumnya.: Kep. Penetapan RUPS tentang Perubahan Modal Disetor tersebut dapat dimohonkan secara tertulis kepada Menteri BUMN dengan melampirkan dokumen pendukung.15/MBU/2010 tertanggal 25 Januari 2010 telah membentuk suatu Tim yang bertugas melakukan koordinasi dengan BUMN Pemilik BPYBDS dalam rangka monitoring perkembangan penyelesaian BPYBDS menjadi Penyertaan Modal Negara (PMN).3 trilyun dan US$ 18. Untuk dapat segera menyelesaikan perubahan status BPYBDS yang saat ini tercatat pada BUMN tersebut. Bangka dan Bandara Sultan Toha.

17 triliun 0.96 triliun 2012 11.Dengan dapat diprosesnya secara langsung BAST/BASTO sebagaimana dimaksud pada angka 2) di atas.00 triliun 0.13 triliun 7.96 triliun 7.79 triliun 2013 4.79 triliun 4.22 triliun 0.00 triliun 117 .00 triliun 19.35 triliun 28.79 triliun 0.00 triliun 11.13 triliun 2011 19.00 triliun 4. eksisting BPYBDS saat ini secara bertahap dapat diselesaikan penetapan statusnya sebagai PMN yang diharapkan dapat selesai hingga tahun 2013 dengan perkiraan jadwal penyelesaian sebagai berikut : Keterangan/Tahun Jumlah BPYBDS Penyelesaian (PMN) Penambahan Baru Saldo BPYBDS 2010 47.17 triliun 0.

Program rightsizing BUMN adalah program utama dari program restrukturisasi/penataan kembali BUMN dengan cara pemetaan secara lebih tajam. Selain itu. profil sektoral. Cara atau model dalam rangka rightsizing BUMN dapat dilakukan melalui berbagai shareholder action. untuk mencapai jumlah dan skala usaha BUMN yang lebih ideal. Holding.Restrukturisasi adalah upaya yang dilakukan dalam rangka penyehatan BUMN guna memperbaiki kinerja dan meningkatkan nilai perusahaan. diharapkan jumlah BUMN pada tahun 2010 menjadi ± 117 BUMN. terhadap perusahaan yang mengalami kerugian dan kesulitan keuangan serta operasional. dan dilakukan regrouping/konsolidasi. Restrukturisasi meliputi restrukturisasi sektoral yang pelaksanaannya disesuaikan dengan kebijakan sektor dan/atau peraturan peundang-undangan dan restrukturisasi perusahaan/korporasi. tahun 2013 menjadi ± 85 BUMN dan tahun 2014 menjadi ± 78 BUMN. penciptaan nilai dan potensi sinergi antar BUMN tanpa mengabaikan azas-azas yang terdapat dalam Pasal 33 UUD 1945. kinerja. sehingga dapat memberikan manfaat berupa dividen dan pajak kepada Negara. pada tahun 2011 menjadi ± 102 BUMN. yaitu Stand Alone. Skenario hasil rightsizing BUMN dalam kurun waktu 2010 – 2014. Restrukturisasi perusahaan/korporasi merupakan program rutin yang berkesinambungan dari tahun ke tahun dalam rangka terus memperbaiki kinerja dan meningkatkan nilai perusahaan dan dituangkan dalam RKAP setiap BUMN setiap tahunnya. menghasilkan produk dan layanan dengan harga yang kompetitif kepada konsumen dan memudahkan pelaksanaan privatisasi. tahun 2012 menjadi ± 91 BUMN. Divestasi dan Likuidasi. Merger/Konsolidasi. Program ini tetap dilakukan berdasarkan pertimbangan urgensi kepemilikan mayoritas Negara pada suatu BUMN. Pelaksanaan restrukturisasi perusahaan/korporasi oleh PT PPA mulai dilaksanakan sejak bulan April 2009 dengan telah diterbitkannya Peraturan Menteri BUMN Nomor PER-01/MBU/2009 tanggal 8 April 2009 tentang Pedoman Restrukturisasi dan Revitalisasi Badan Usaha Milik Negara oleh Perusahaan perseroan (Persero) 118 . restrukturisasi dilakukan oleh PT PPA sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2008 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pendirian Perusahaan Perseroan (Persero) di Bidang Pengelolaan Aset.

pelaksanaan PSO.28 kali). Pemerintah akan terus mendorong ketaatan semua pihak terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku dibidang PSO khususnya Pasal 66 UU No. Dalam kurun waktu 5 tahun ke depan terdapat 36 BUMN yang akan diprivatisasi. privatisasi juga dilakukan dalam rangka program restrukturisasi dan rightsizing BUMN. Privatisasi adalah penjualan saham Persero. baik sebagian maupun seluruhnya.39 kali). khususnya yang menyangkut Standard Operating Procedure (SOP) tentang pengusulan/penugasan PSO. Disamping juga untuk lebih mendorong penerapan prinsip-prinsip Good Corporate Governance. Setelah penerapan program restrukturisasi dan privatisasi dalam kurun waktu 2010 – 2014 (dengan asumsi umum bahwa divestasi 100% kepemilikan Negara pada BUMN hanya terhadap BUMN dengan nilai aset realif kecil). Arah kebijakan privatisasi ke depan bukan semata-mata untuk pemenuhan APBN. 2) Aset BUMN akan meningkat dari Rp 2. kepada pihak lain dalam rangka meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan. dan menciptakan aturan-aturan pelaksanaan (Perpres atau Peraturan Pemerintah) PSO. Metode ini terutama digunakan untuk BUMN-BUMN yang memerlukan pendanaan yang tidak dapat diperoleh/dipenuhi dari pasar modal dan/atau Pemerintah serta memerlukan peningkatan kompetensi tehnis. Dengan dilakukannya restrukturisasi perusahaan/korporasi oleh PT PPA. diharapkan akan terjadi peningkatan kinerja dan nilai BUMN sebagai berikut : 1) Ekuitas BUMN akan meningkat dari Rp 566 Triliun pada tahun 2009 menjadi Rp 2. tetapi diperioritaskan dalam rangka mendukung pengembangan perusahaan dengan metode utama melalui penawaran umum di pasar modal. manajemen dan pemasaran. Selain itu. Dalam kaitan dengan kewajiban pelayanan umum/ public service obligation (PSO). memperbesar manfaat bagi negara dan masyarakat. dan pertanggungjawaban pada tahun 2009 menjadi 119 .PT Perusahaan Pengelola Aset. Privatisasi yang dilakukan tidak melalui metode penawaran umum lewat di pasar modal akan dilakukan dengan sangat selektif dan hati-hati.583 Triliun pada tahun 2014 (meningkat 5. 19 tahun 2003 tentang BUMN.149 Triliun Rp 11.986 Triliun pada tahun 2014 (meningkat 5. diharapkan sampai dengan akhir tahun 2014 seluruh BUMN yang mengalami kerugian dan memiliki permasalahan keuangan dan operasional telah menunjukkan perbaikan kinerja dan tidak ada lagi BUMN yang mengalami kerugian. serta memperluas kepemilikan saham oleh masyarakat.

implementasi teknologi informasi dan Komunikasi dapat digunakan untuk meningkatkan fungsi pengendalian. dan mutakhir dengan mendasarkan pada prinsip efisiensi dan efektivitas dalam pengumpulan. tepat. akurat. dengan implementasi teknologi informasi dan komunikasi diharapkan juga dapat menyediakan data/informasi dengan murah. 120 . Dalam rangka pelaksanaan restrukturisasi permodalan BUMN. perlu dilakukan pemisahan pembukuan antara kegiatan pelaksanaan PSO dari kegiatan komersial BUMN secara keseluruhan. meningkatkan efisiensi dan efektivitas. dan aturan mengenai penuangan PSO dalam suatu kontrak yang jelas. BPYBDS pada umumnya merupakan hasil proyek dari Kementerian Teknis yang sumber pembiayaannya dipenuhi dari DIPA/APBN yang diserahkankelolakan kepada BUMN. Selain itu. Dalam pelaksanaan tugas optimalisasi pengelolaan aset tersebut. akuntabilitas. sehingga memudahkan monitoring dan evaluasi pelaksanaan PSO. cepat. Terkait dengan tujuan tersebut. dan pendokumentasiannya. maka diperlukan penyediaan data dan informasi tentang BUMN secara lengkap. lengkap. konsisten. status BPYBDS perlu ditetapkan secara definitif menjadi Penyertaan Modal Negara yang pembukuannya masuk kedalam ekuitas perusahaan. karena belum ada penetapan secara legal.pelaksanaan PSO. dan mudah diperoleh. Selain itu. Untuk mencapai hal tersebut. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi di Kementerian BUMN diharapkan dapat mempercepat terwujudnya program pemerintah untuk melakukan reinventing government melalui reformasi birokrasi penyelenggaraan kepemerintahan di lingkungan Kementerian BUMN. aturan mengenai besaran dan perhitungan margin pelaksanaan PSO. Data dan informasi yang lengkap. sehingga dapat membantu pimpinan mengambil keputusan dengan tepat. Kementerian BUMN telah membangun sistem Bank Data Aset. dan kewajaran. pengolahan. tajam dan terpercaya akan menjadi pendukung think tank pengambilan keputusan di Kementerian BUMN. Optimalisasi pengelolaan aset merupakan salah satu bentuk pendayagunaan aset. terkini. sehingga dalam pencatatan pembukuan BUMN sebagai barang yang diserahkelolakan tersebut BPYBDS tidak secara tegas masuk kategori hutang atau ekuitas. baik melalui optimalisasi pemanfaatan ataupun penghapusbukuan. dan meningkatkan implementasi prinsip-prinsip penyelenggaran kepemerintahan yang baik (good government governance) yang lain seperti transparansi. akurat.

15% dan 11.57 Triliun dan Rp 25. (d) pengalaman usaha BUMN. Sesuai dengan Undang-undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara. BUMN pada dasarnya memiliki potensi yang sangat besar namun belum termanfaatkan secara optimal.77 Triliun pada tahun 2005 menjadi Rp 110. d) menjadi perintis kegiatan-kegiatan usaha yang belum dapat dilaksanakan oleh sektor swasta dan koperasi. Sedangkan dalam kurun waktu 2005-2009 capaian Return on Assets (RoA) dan Return on Equity (RoE) rata-rata mencapai 3. b) mengejar keuntungan. c) menyelenggarakan kemanfaatan umum berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang bermutu tinggi dan memadai bagi pemenuhan hajat hidup orang banyak. Selanjutnya pertumbuhan Laba Usaha dan Laba Bersih masing-masing dari Rp 82. 112 BUMN Persero dan 14 BUMN Perum.150.03 Triliun dan Rp 566.06 Triliun pada tahun 2005 menjadi Rp 2.03 Triliun pada tahun 2009. (e) profesionalisme SDM. dan e) turut aktif memberikan bimbingan dan bantuan kepada pengusaha golongan ekonomi lemah.20%. (b) kepemilikan aset yang besar. koperasi. dan (f) penguasaan data. Keberadaan serta Maksud dan Tujuan Pendirian BUMN Sesuai dengan Pasal 33 Undang Undang Dasar Tahun 1945 Badan Usaha Milik Negara (BUMN) merupakan salah satu penggerak utama perekonomian nasional disamping Koperasi dan Swasta. 121 . informasi dan teknologi informasi.84 Triliun pada tahun 2009.78 Triliun dan Rp 72.25 Triliun dan Rp 370. Perkembangan Kinerja BUMN 2005-2009 Jumlah BUMN sampai dengan saat iniadalah sebanyak 141 BUMN terdiri dari 15 BUMN Tbk. BUMN didirikan dengan maksud dan tujuan: a) memberikan sumbangan bagi perkembangan perekonomian Nasional pada umumnya dan penerimaan Negara pada khususnya. dan masyarakat. (c) brand image BUMN.291. 2. antara lain: (a) keberadaan BUMN di hampir semua sektor usaha.BAB V KESIMPULAN 1. Kinerja seluruh BUMN selama waktu 2005-2009 terus mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan terlihat dari pertumbuhan asset dan Ekuitas masing-masing dari Rp 1.

Restrukturisasi korporasi. BUMN telah memberikan kontribusi yang relatif besar kepada Negara. dalam artian bahwa rencana rightsizing BUMN menjadi 69 pada tahun 2009 belum dapat dilaksanakan.98 Triliun.48 Triliun dari total kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI). Sedangkan kontribusi pajak dalam periode 2004-2008 mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi yaitu rata-rata sekitar 18% per tahun dengan sumbangan rata rata sebesar Rp 61. Selain itu. baik berupa dividen.04 Triliun per tahun dengan peningkatan ratarata sekitar 25% per tahun. Sedangkan dana Bina Lingkungan yang telah disalurkan BUMN seluruhnya mencapai sebesar Rp 1. Kontribusi/peran dari 15 BUMN yang sudah masuk Pasar Modal (BUMN Tbk) pada dasarnya juga relatif besar jika dilihat dari penguasaan/kapitalisasi pasar per 30 Desember 2009 yang mencapai 31. Rata-rata dividen BUMN sebesar Rp 23. Pajak dan kontribusinya bagi pergerakan sektor riil. aset dan ekuitas terbesar selama kurun waktu 2005-2009. dalam kurun waktu 2005-2009 penyaluran dana Program Kemitraan sebesar Rp 8. laba. dan kajian tentang kemungkinan pembentukan Super Holding dengan 3 alternatif pendekatan. pelaksanaannya 122 . Kementerian BUMN juga telah melakukan kajian terhadap 25 BUMN besar dengan pendapatan. Kegiatan restrukturisasi melalui regrouping/konsolidasi sektoral untuk mendapatkan jumlah dan skala BUMN yang ideal (rightsizing) sampai dengan akhir 2009 belum berhasil. Kontribusi BUMN 2005-2009 Dalam kurun waktu 2005-2009.3.56 Triliun dengan akumulasi jumlah mitra binaan sampai dengan tahun 2009 mencapai 640. 4. Dari 17 BUMN yang diserahkan kepada PT PPA. Meskipun demikian Kementerian BUMN dibantu oleh konsultan independen telah banyak menghasilkan kajian-kajian dan alternatif model terkait dengan rencana rightsizing dimaksud.417 orang/unit kerja. Selanjutnya kontribusi BUMN terhadap pengembangan usaha kecil melalui Program Kemitraan dan Bina Lingkungan. terutama terhadap BUMN yang ditangani/diserahkan kepada PT Perusahaan Pengelola Asset (PT PPA) juga belum berjalan secara baik. Pelaksanaan Master Plan 2005-2009 Dalam pelaksanaan Master Plan 2005-2009 banyak upaya-upaya yang telah dilakukan Kementerian BUMN meskipun belum memberikan hasil yang optimal.57% atau senilai Rp 637.65 Triliun per tahun.

Meskipun demikian Kementerian BUMN telah melakukan kajian dan seleksi terhadap BUMN untuk dimasukkan dalam Program Tahunan Privatisasi (PTP) tahun 2007 (15 BUMN). 5. sehingga banyak BUMN yang tidak bisa segera pulih dari kesulitan yang dihadapinya. Selanjutnya untuk pelaksanaan program Privatisasi. hingga akhir tahun 2009 baru terdapat 15 BUMN yang Go Public (menjual sahamnya melalui Pasar Modal) atau baru sekitar 11% dari jumlah BUMN yang ada. guna mencapai jumlah dan skala BUMN yang ideal (rightsizing) sehingga dapat meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan. memberikan manfaat berupa dividen dan pajak kepada Negara. Arah kebijakan tersebut sejalan Visi dan Misi Presiden untuk masa pemerintahan periode 2010-2014 yaitu “Indonesia yang Sejahtera. revitalisasi dan profitisasi BUMN secara bertahap dan berkesinambungan. PTP tahun 2008 (44 BUMN termasuk carry over PTP tahun 2007) dan 2009 (20 BUMN yang merupakan carry over PTPN tahun 2008). Arah Kebijakan Pembinaan BUMN 2010-2014 Arah kebijakan pembinaan BUMN dalam kurun waktu 2010-2014 pada dasarnya masih melanjutkan atau memantapkan program restrukturisasi. Arah kebijakan pembinaan BUMN kedepan juga diselaraskan dengan bidangbidang yang menjadi perhatian utama dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014.tidak dapat berjalan secara cepat sebagaimana yang diharapkan. Demokratis. Unit organisasi tersebut diharapkan dapat mendukung kebijakan Kementerian BUMN dalam melakukan langkah-langkah pembinaan dan pengawasan atas kegiatan pengelolaan aset oleh Direksi BUMN yang mengarah pada konsep efisiensi dalam penggunaan sumber daya dan pengelolaan resiko. Adapun arah kebijakan pembinaan BUMN tahun 2010-2014 adalah sebagai berikut : 123 . dan Berkeadilan” dan sejalan dengan Visi Kementerian BUMN yaitu “Meningkatnya peran BUMN sebagai instrumen Negara untuk peningkatan kesejahteraan rakyat berdasarkan mekanisme korporasi”. Kemudian terkait dengan program Optimalisasi Aset BUMN Kementerian BUMN telah membentuk unit organisasi yang khusus menangani pendayagunaan asset pada tahun 2006. Tahun 2005 dan 2006 tidak ada PTP karena Komite Privatisasi baru terbentuk pada tanggal 13 Oktober 2006 melalui Keputusan Presiden RI Nomor 18 Tahun 2006.

dan menciptakan aturan-aturan pelaksanaan (Perpres atau Peraturan Pemerintah) PSO sehingga diharapkan pelaksanaannya dapat berjalan secara transparan. dan bertanggung jawab dengan melakukan pemisahan pembukuan antara kegiatan PSO dan kegiatan komersial. 19 tahun 2003 tentang BUMN. c) tahun 2012 sebanyak +91 BUMN. b) tahun 2011 sebanyak +102 BUMN. dan Restrukturisasi Perusahaan/Korporasi diarahkan untuk meningkatkan intensitas persaingan usaha. tetapi diprioritaskan guna mendukung pengembangan perusahaan dengan metode utama melalui penawaran umum di pasar modal (Initial Public Offering/IPO). Privatisasi dilakukan dengan menggunakan salah satu dari 3 metode yaitu: a) Penjualan Saham berdasarkan Ketentuan Pasar Modal. Terkait Program Privatisasi Arah kebijakan privatisasi ke depan adalah bahwa privatisasi bukan semata-mata untuk pemenuhan APBN. dan e) tahun 2014 sebanyak +78 BUMN. menata hubungan antara pemerintah selaku regulator dan BUMN selaku badan usaha.a. Dalam kurun waktu 2010-2014 Kementerian BUMN diharapkan dapat melakukan privatisasi terhadap sekitar 36 BUMN. Restrukturisasi sektoral dimaksudkan untuk memperoleh jumlah dan skala BUMN yang ideal (rightsizing) dengan skenario hasil rightsizing diharapkan menghasilan jumlah BUMN sebagai berikut : a) tahun 2010 sebanyak +117 BUMN. dan restrukturisasi secara internal yang mencakup keuangan. sistem dan prosedur. Terkait Program Restrukturisasi Restrukturisasi Sektoral pelaksanaannya disesuaikan dengan kebijakan sektor dan/atau Peraturan Perundang-undangan yang ada. b) Penjualan Saham Langsung kepada Investor/Strategic Sale (SS). d) tahun 2013 sebanyak +85 BUMN. organisasi/ manajemen. Terkait Program PSO Kementerian BUMN akan terus mendorong ketaatan semua pihak terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku dibidang PSO khususnya Pasal 66 UU No. dan c) Penjualan Saham kepada Manajemen dan/atau Karyawan (Employee and Management Buy Out /EMBO). 124 . fair. c. operasional. Privatisasi dilakukan dalam rangka mendukung program restrukturisasi dan rightsizing BUMN. b. yang pelaksanaannya dilakukan melalui kriteria-kriteria tertentu sebagaimana telah diamanatkan dalam Undang-undang Nomor 19 tahun 2003 dan Peraturan Pemerintah 33 tahun 2005 jo Peraturan Pemerintah Nomor 59 tahun 2009.

71% dari total laba bersih seluruh BUMN.48 Triliun dari total kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI). tajam dan terpercaya serta menjadi think tank pengambilan keputusan Kementerian BUMN. e.99% dari total Ekuitas. Terkait Program Pengembangan Data. 91. Selanjutnya pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi di Kementerian BUMN diharapkan dapat mempercepat terwujudnya program tata kelola teknologi informasi dan komunikasi yang baik. akurat. Dari kenyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa Arah kebijakan pembinaan BUMN dalam kurun waktu 2010-2014 untuk tetap melanjutkan/memantapkan program restrukturisasi.14% dari total asset. 25. Informasi dan Teknologi Unit data dan informasi akan dikembangkan menjadi pusat data dan informasi yang lengkap.d. Dalam pelaksanaan tugas optimalisasi pengelolaan aset tersebut.16% dari total asset. 86. 25 BUMN Terbesar. Terkait Program Optimalisasi Asset Optimalisasi pengelolaan aset merupakan salah satu bentuk restrukturisasi aset. Kementerian BUMN diharapkan dapat menjadi pusat penelitian yang kredibel dan terpercaya yang siap menawarkan solusi atas permasalahan BUMN baik bagi pihak internal maupun eksternal. Penguasaan Pasar BUMN Terbuka dan Value Creation Dari 141 BUMN yang dimiliki Negara. 12. Diharapkan pada tahun 2014 nanti nilai perusahaan (value creation) dari BUMN dari sisi ekuitas mencapai Rp 2.11% dari total laba bersih seluruh BUMN.82% dari total penjualan dan 36. baik melalui optimalisasi pemanfaatan ataupun penghapusbukuan. Selanjutnya untuk 15 BUMN yang sudah go public (Tbk) menguasai 46. sehingga diharapkan Kementerian BUMN mendapatkan manfaat sinkronisasi dan integrasi rencana teknologi informasi dan komunikasi dengan rencana strategis Kementerian BUMN 6.73% dari total Ekuitas. guna mendukung peningkatan kinerja dan peningkatan nilai perusahaan. serta peningkatan kontribusi berupa dividen dan pajak kepada Negara. revitalisasi dan profitisasi BUMN guna mencapai jumlah dan skala BUMN yang ideal (rightsizing) pada dasarnya sudah sangat tepat.583 Triliun 125 . Ditambahkan pula bahwa penguasaan/kapitalisasi pasar BUMN Tbk per 30 Desember 2009 yang mencapai 31. Kementerian BUMN telah membangun sistem Bank Data Aset.986 Triliun dan dari sisi asset mencapai Rp 11.57% atau senilai Rp 637. ternyata 25 BUMN terbesar menguasai 97.69% dari total penjualan dan 98.

f. namun juga melibatkan Kementerian Keuangan dan Kementerian Teknis serta DPR-RI. sehingga sering kehilangan momentum pelaksanaannya di samping dapat muncul resistensi dari stakeholder yang menghambat pelaksanaan privatisasi. d.06 Triliun dan Rp 1. Pelaksanaan program restrukturisasi baik sektoral maupun korporasi tidak hanya melibatkan Kementerian BUMN. Dengan demikian penyelesaian proses restrukturisasi harus melalui proses dan tahapan yang telah ditentukan dan relatif membutuhkan waktu yang lebih lama/panjang. Pelaksanaan restrukturisasi BUMN yang menimbulkan implikasi pajak sangat memberatkan keuangan BUMN sehingga memerlukan adanya ketegasan penanganan dari dampak perpajakan tersebut.39 kali. 7. Di samping itu. e.dari posisi awal tahun 2010 masing-masing sebesar Rp 370.291. Hal-hal yang perlu mendapatkan perhatian dalam rangka pelaksanaan Master Plan BUMN 2010-2014 a. namun tetap perlu menjadi perhatian pihak-pihak yang terkait untuk mengimplementasikannya. Master Plan BUMN 2005-2009 walaupun telah mendapatkan legitimasi dari pimpinan pemerintahan tertinggi (Inpres Nomor 5 Tahun 2008). c. Pelaksanaan program privatisasi yang telah mendapat arahan dari Komite Privatisasi dan rekomendasi dari Menteri Keuangan memerlukan waktu yang relatif lama.25 Triliun atau meningkat sekitar 5. Untuk itu Master Plan BUMN 2010-2014 perlu mendapatkan legitimasi lebih dini dari pimpinan tertinggi pemerintahan sehingga akan menjadikan perhatian semua pihak yang terkait untuk melaksanakannya. b. sehingga permasalahan yang dihadapi BUMN tidak serta merta segera dapat diatasi. Perlunya sinkronisasi peraturan-peraturan yang terkait dengan pelaksanaan kegiatan BUMN sehingga tidak saling bertentangan antara peraturan yang satu dengan yang lainnya. BUMN juga terus mengalami perbaikan dalam menerapkan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance/GCG) yang 126 . perlunya sosialisasi yang intensif guna menyamakan persepsi mengenai tujuan dari pelaksanaan rightsizing BUMN.

Perlunya dukungan internal Kementerian BUMN dan seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) untuk pelaksanaan Master Plan 2010-2014. Implementasi Portal Kementerian BUMN belum optimal dan penyediaan Data dan Informasi dari laporan BUMN yang terintegrasi perlu terus peningkatan.ditunjukkan dengan peningkatan pencapaian skor hasil assessment dengan kategori Baik. h. Pelaksanaan PSO sangat tergantung dari kebijakan Kementerian Teknis mengingat DIPA PSO melekat pada Kementerian Teknis dimana BUMN beroperasi. g. i. 127 .

Pokok-pokok Data Keuangan BUMN Berdasarkan Sektor 2. Master Plan Teknologi Informasi 2010 . Data BUMN Penyelenggara PSO 10.2009 11. Peraturan yang terkait dengan Pembinaan BUMN 6. Program Kemitraan & Bina Lingkungan 7.LAMPIRAN 1. Data BUMN yang telah Listing di Bursa Efek 5. Data BUMN 25 Besar 4.2014 . Matriks Penanganan Restrukturisasi Korporasi oleh PT PPA 9. Program Berkesinambungan Teknologi Informasi Tahun 2006 . Rencana Rightsizing dan Privatisasi Tahun 2005-2009 8. Value Creation 3.

LAMPIRAN 1 POKOK-POKOK DATA KEUANGAN BUMN BERDASARKAN SEKTOR .

59% 19.44 2006 624.234.763.009 3.030 5.Rp.66 Prognosa 2009 938.737.014 2.60 16.158 295.427.553.739 2.72 2008 851.050 145.173 1.257 4.384.403 4.07% 5.212.93 133.513 254.327.70% 8.622.943.989.95% 9.010.103 198.59% 7.543.86% 7.117 19.39% 17.48% 5.133.11% 12.017.450.022 2.877.563 5.484.406 8.676 4.47% 21.440 33.391.81 105.965 4.95 3.263.380.240.83% 9.823 754.184 2.257 2.810 5.321.015 2.291.047 3.74% 9.361.77 16.627. Juta No SEKTOR Akun Total Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) Total Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) Total Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) Total Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) Total Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) 2005 563.076.968 2.768.186 1.46% 26.711.310 85.53 2007 742.26% 9.44% 15.766 657.501 1.576.548.452 2.602.055 1.423.083.039.186.966 3.612 3.934.245 5.21% 5.606.32 23.546 1.163.478.09% 24.248.828.14 3.360 3.644 91.570 512.85% 0.95% 4.548.184 88.413 3.292 15.20 2.40 11.023 68.054.18% 6.253 3.379 3.238 180.815.025.51% 0.59% 39.57 3.267 1.393 1.380.147.573 5.274.44 86.482.288 1.719.228 4.688.198.843.40% 18.573 16.840 4.70% 9.78 2.26% 7.908 29.69% 23.430 13.178 13.503 61.35% 36.72% 9.943.974.341.606 25.592 18.173 117.567 10.509.87 13.298 21.265 2.814 71.734 2.41% 15.47% 16.774.27% 3.455.422 2.766 5.65% 3.728.41 10.697 973.607.481 1.159.638 767.231 2.68% 7.364 75.27 69.690.86 22.048 59.561.48% 25.116.828.665.359 16.025.71% 18.342 520.499.503 25.457 417.960 6.500 36.37% 6.85% 17.677 1.027 267.218.312 1.793.24% 4.97 147.219.54% 10.070 1.56 I PERBANKAN II ASURANSI III JASA KEUANGAN IV JASA KONSTRUKSI V INDUSTRI FARMASI .56% 15.972 1.076.02% 10.01% 9.878 3.607 7.960 2.83 30.672.20% 6.082 2.386 68.56% 0.279 7.026.985 2.31% 14.855.324.282 49.107.022 12.85% 0.933 2.832.963.556.034 5.749 4.661.24 20.37% 11.98 12.318.342.033 12.72% 0.300 1.969.709 6.208 5.45% 24.36% 18.343 9.

47 1.403 8.544.232.014) -9.543 547.292 7.66 31.844.32 44.827 977.508 7.930 8.766.194.706 3.75% 0.86% 3.513 (69.221 (97.330 14.10% -350.308 47.581.700) -0.692 4.74 1.622 7.89% 5.421.101 (97.56% 6.184 7.035.702.756.08% 1.88 20.794 59.317 1.25% 0.900.93 26.845 20.42 24.648 (30.864 0.26% 3.595 10.771.510 20.35 1.80 30.25% 0.56% 0.245 (493.817 795.540) -2.236.89% 2.30% 10.394 541.661 (51.802 1.170.220.056 3.619 201.458 6.881 8.672 30.967 153.168 441.730.Rp.42% 4.168) -2.46 29.66% 1.469 (44.966.051.915.905.367 7.37% 0.243 5.357 31.697) (53.832) 473.944 658.377 569.750 2.93% 3.818.642 69.48% 12.70% -78.345 11.62 48.82% -7.094.210) -18.08% 148.753 6.631 28.58 2006 804.078.575 (28.75% 1.08 1.62% 2.78% (15.881 (67.569.269) -0.550.224.17% -12.124 14.31 39.38% 15.033.744 992.286 614.157 13.43 2007 778.78 22.76% 0.035 79.020.119.955 3.916 2.91 29.687 13.468) (94.200 (641.218 23.857 8.791 23.882.131 11.286 1.261 557.76) 2.302 554.883 27.862.226 45.546 9.342 (259.397.57 17.885 63.90% 1.468 119.432) -6.44 22.67% 1.50% 1.23% 5.189) -5.957.117) -11.228 4.438.928) -2.061.756.095) (158.37% -4.69% 9.25% -152.68% 0.64 19.168.05% -10.773.019 0.71 Prognosa 2009 971.976.741 214.082 16.430.156.984 6.455.66% 12.07% 10.23% -0.543 (65.98 2008 874.948) -10.534.242.672) -0. Juta No SEKTOR Akun Total Aset Ekuitas Pendapatan Laba Usaha Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) Total Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) Total Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) Total Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) Total Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) 2005 876.061 33.60% 10.167.687 0.121) (72.745.75% 2.335 66.055.61% 0.156.669.76% 0.39% 1.15% -0.925.565 (1.057 29.838.136 18.54% 6.09% -24.09 VI ANEKA INDUSTRI VII PERUMAHAN & KAWASAN INDUSTRI VIII Sarana Angkutan dan Pariwisata IX Prasarana Angkutan X LOGISTIK DAN JASA SERTIFIKASI .243.43 24.220 2.730 784.87% 10.965 3.421.975.42% 0.27% 18.479 3.99% -4.581.164.319 3.885.558.310.946 19.

263 7.732 2.935 4.686.224) 156.783 21.124.17% 9.732 39.601.337 868.136 4.15% 11.55% 2. Juta No SEKTOR PERKEBUNAN Akun 2005 21.104 1.962 897.835 6.482.20% 0.32% 6.24 2.451 1.09) 3.222 (16.33% (12.299 17.130.473.592 72.915.532 2.289 1.789 33.96% 1.660.230 7.41 198.717.70% 16.12 Total Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) Total Aset KEHUTANAN Ekuitas Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) Total Aset PERIKANAN Ekuitas Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) Total Aset KERTAS.863.34 147.934 15.88% -49.148.95% -51.043 1.00% 0.79% 7.81% 20.529.790 9.67% 5.904.719.92) 3.20% 1.701 12.283 12.837 2.806 6.34% 1.934 33.Rp.56% 17.204 (16.760 103.474.18% 13.774 8.463) 98.19% 0.400 4.71% (2.420 1.90% 5.296.187 2.122 24.72 32.578.304 82.224.771 1.29 102.817. PERCETAKAN Ekuitas & PENERBITAN Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) Total Aset Ekuitas PENUNJANG PERTANIAN Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) XI XII XIII XIV XV .942 8.40 202.746.459 (15.26 24.671 2.99% 15.64% 2.730 39.947.18% (10.04% 72.41% 24.055.994.94% 0.53% 0.95 21.547 4.894.379 1.40% 11.40 197.518 (145.708.223 1.073.694 616.263) -1.712.48% 0.530.10% -10.934.560 1.42% -3.544 20.862.20% 10.297.472 (1.003.43% 1.392.074 2.071 2.406 (123.236.85 33.116 (22.112 (21.193 27.684 1.653) -3.565) -3.52 20.929 2.037) 103.52% 1.907) -6.13% 1.338.288.601 1.184.024.603.335 8.490 41.457) 123.510 1.563 2.652.94 2.681.21% 13.367 347.85% 13.581.21 2008 34.568 47.688.927 241.956 6.212.41 2006 24.507 5.97% 1.98 2.487 1.294 (253) -0.628 (110.049.087 1.098.054.23) 3.031 45.955) -10.929.803.810 2.05% 2.255 17.404 2.871 492.16% 1.131 4.344) -0.41% 6.838 13.23% -1.646.221.232 (11.074 9.37 2007 29.568.597 37.12 2.399 11.581 2.319) -3.64 Prognosa 2009 37.87% 1.379 1.613 (77.743.148.586.98) 3.163 2.818.964.587.126.045 294.38% 1.328.79 2.839 118.00% (10.728 1.73% -31.352.87 2.49% 24.22% 7.13% 1.736 3.553.814.

486 3.453.863 1.83 2.944.185.008 514.46% 8.020.182 81.07% 1.823.37% 0.51% 8.069 114.949 22.496.96% 11.714 2.958.989 60.67% 12.892 373.186.364.09% -7.270 8.758.931 11.157 169.68 18.42 15.49 96.496.011 4.325 34.867.630.566.225 171.186.962.781 15.638.40% 3.251 21.25 2.45% 1.755 400.Rp.989 (3.500.024 127.416 228.254.986) -1.199.871.193 3.89% 2.847.800 11.330 0.399 62.032.982.220.239.069 25.966 166.347 12.79% 16.897 13.43% 0.31% 0.451.477 452.420.05 83.036 15.588.956 2.03% 12.53 297.56% 1.48% 1.926 374.020 931.92% -4.169.44% 37.144 (3.092.55% 0.119.854.650 35.92 22.790.86% 20.16 266.961 4.971) -1.623.322.43 2008 321.717.979 63.016 146.30% -5.469 329.176.554 1.505.00% 0.274.47% 12.664 655.303 (237.81 .420 754.017.922 38.034.371.547 9.324.33 92.724.098 1.301.39% 3.091 420.049.15% 3.529 85.536 1.67% 24.937 33.80 76.276.610.069.795 34.161.771.062.679 585.26% 3.734 5.307.60 376.361.65 2006 225.670 18.031 499.615 145.089 19.651.291.566.952.013.305 565.310. Juta No XVI SEKTOR PERTAMBANGAN DAN SEMEN Akun Total Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) Total Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) Total Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) Total Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) Total Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) 2005 197.081.955 151.398.212 1.58% 11.69% 3.50% 1.854.485 (9.361.43% 6.92% 11.862 12.713 72.720.969.62 63.90 24.230.404.678 23.896 865.658 4.054 11.62% 1.843 4.17% 0.32 322.947 10.152.017 (181.060.305.707 1.484.617.428.848 42.696.344 371.68% 33.44% 38.39% 6.756.413.415) -1.04% 4.49% 30.81% 8.59% 1.48 236.012.901 11.890.596 28.217 138.66 2007 279.786 147.064 25.716 445.73 19.898 15.141 14.41% 3.011.05% 21.807.349.378.000.735 370.040.52% -2.353 9.53 XVII INDUSTRI STRATEGIS XVIII ENERGI XIX TELEKOMUNIKASI TOTAL 1.150.769 1.804) -3.835 52.171.46% 0.528.656 48.31% 3.646.236 64.44 2.780.478 9.268.49% 1.841.834.237 9.194) -0.00% 3.770.65 Prognosa 2009 329.590 161.840.918.349 4.965.117.789 134.454 49.49 2.26% -2.496.760 184.21% 1.

LAMPIRAN 2 VALUE CREATION SEKTOR BUMN .

024 PER 2010 =12.039 478.082 6.699 5 Perikanan 107 128 154 184 221 6 Kehutanan 3.02 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun 1 Perbankan 332.07 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun PER 2010 =9.894 4 1.82 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun PER 2010 =12.098 7.569 3.316 85.847 574.603 7.713 26.083 3.410 13. Miliar) No Sektor 2010 2011 2012 2013 2014 KETERANGAN PER 2010 =20.693 KEDEPUTIAN RESTRUKTURISASI DAN PRIVATISASI 3 8 .670 15.056 31.580 3 Jasa Pembiayaan Percetakan & Penerbitan 10.204 18.141 2.Value Creation NILAI PERUSAHAAN (Rp.525 59.509 11.75 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun PER 2010 =9.533 399.98 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun PER 2010 =47.318 7 Perkebunan Logistik dan Sertifikasi 21.235 5.617 689.267 37.559 12.540 2 Asuransi 41.04 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun PER 2010 =32.99 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun PER 2010 =34.784 2.924 9.45 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun 8 6.520 45.245 21.430 71.529 4.271 49.

217 68.556 13.861 7.474 100.439.985.488.247 236.571 723.111 39.734 47.203 14 Penunjang Pertanian 71.774 2.085 867.033 11 Aneka industri Sarana Angkutan & Pariwisata 8.286 102.563 2012 16.392 4.630 11.303 2011 13.531 2014 23.276 2013 19.574 17 Energi 502.867 16.2 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun PER 2010 =59.727.267 2.23 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun PER 2010 =25.556 2.697 284.640 12 33.Value Creation … Lanjutan NILAI PERUSAHAAN (Rp.660 13 Prasarana Angkutan 57.072 85.963 179.812 147.070 4.843 409.344 122.149 22.812 257.33 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun 10 Kawasan Industri 3.375 15 Pertambangan 197.175 1.073.957 19.169 120.03 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun PER 2010 =17.968 69.969 149.010 214.313 1.025 9.97 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun PER 2010 =34. Miliar) No Sektor 9 Konstruksi 2010 11.978 27.437 KETERANGAN PER 2010 =16.920 .243 18 Telekomunikasi 124.012 16 Industri Strategis 13.298 15.76 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun PER 2010 =16.562 83.041.036 340.143 602.03 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun PER 2010 =18.9 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun PER 2010 =20.702 1.67 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun PER 2010 =48.680 57.884 5.66 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun PER 2010 =13.

596.54 2.150T pada tahun 2009 menjadi Rp.2.88x 2010 2011 2012 2013 2014 11.566T pada tahun 2009 menjadi Rp.986 T pada tahun 2014 (meningkat 5.Kesimpulan Value Creation BUMN 2009 Aset BUMN Ekuitas Hutang DER 2.60 2.61 2.28x) Aset BUMN akan meningkat dari Rp.88x Ekuitas BUMN akan meningkat dari Rp.2.629.985.00 566.39x) (Dengan asumsi DER sama dengan posisi 2009 yaitu 2.11.03 1.582.88 x) .583 T pada tahun 2014 (meningkat 5.92 8.150.

LAMPIRAN 3 DATA BUMN 25 BESAR .

Coverage 25 BUMN Besar
Dari 141 BUMN, sebagian besar adalah perusahaan dengan Kinerja dan skala usaha yang relatif kecil. Lebih dari 97% dari Total ASET dan LABA BERSIH serta 92% EKUITAS dan 87% PENJUALAN seluruh BUMN berasal dari hanya dari 25 BUMN terbesar (data Audited 2008).

BUMN Terbesar dan Proporsinya Terhadap Total
(Rp. Trilliun)
Aset Total 2008 14 Tbk 25 BUMN Σ % Σ % 1,977.80 46.14 912.56 Ekuitas 526.13 25.99 136.74 Penjualan 1,161.71 12.82 148.93 Laba bersih 78.47 36.71 28.81

97.16
1,921.63
14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. PT Jamsostek PT TB Bukit Asam Tbk PT Taspen Perum Bulog * PT Jasa Marga Tbk PT Pelabuhan Indonesia II PT Bank Ekspor Indonesia PT Angkasa Pura II PT Angkasa Pura I PT Garuda Indonesia PT Kereta Api Indonesia * PT PLN *

91.73
482.62

86.69
1,007.09

98.11
76.99

25 BUMN Terbesar
1. PT Pertamina * 2. PT Bank Mandiri Tbk 3. PT Telekomunikasi Indonesia Tbk 4. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk 5. PT Pupuk Sriwidjaja * 6. PT Bank Negara Indonesia Tbk 7. PT PGN Tbk 8. PT Aneka Tambang Tbk 9. PT Semen Gresik Tbk 10. PT Krakatau Steel 11. PT Askes 12. PT Timah Tbk 13. PT Bank Tabungan Negara

14 BUMN Tbk
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. PT Bank Mandiri Tbk PT Telkom Tbk PT Bank Rakyat Indonesia Tbk PT Bank Negara Indonesia Tbk PT PGN Tbk PT Aneka Tambang Tbk PT Semen Gresik Tbk PT Timah Tbk PT TB Bukit Asam Tbk PT Jasa Marga Tbk
11. 12. 13. 14. PT Kimia Farma Tbk PT Indo Farma Tbk PT Adhi Karya Tbk PT Wijaya Karya Tbk

Catatan: * BUMN Pelaksana PSO (5 yang lainnya yaitu PELNI, Sang Hyang Seri, Pertani, POS dan Antara)

Breakdown Figur Keuangan Pokok
Breakdown Berdasarkan Aset
72 BUMN 28 BUMN
BUMN Kecil Lainnya

Aset <1 T Aset 1 T -- <2,5 T

DI, PNM, Waskita, Askrindo, PTPN II, Hutama, Jasindo, PTPN XIII, Peruri, PTPN VI, PTPN VIII, PTPN X, KF, Perhutani, Pelindo I, ASDP, PANN, PTPN XI, PTPN IX, Jamkrindo, Kertas Leces, Perumnas, Pelindo IV, PPI, Djakarta Lloyd, Nindya, MNA, PTPN XII

23 BUMN

SGG, AP I, AP II, KAI, Pelindo II, Askes, Timah, Pelni, Wika, PTBA, PTPN III, PTPN IV, Adhi Karya, Asabri, Posindo, Pelindo III, RNI, Danareksa, PAL, PTPN VII, PTPN V, PT PP, Jasa Raharja

Aset 2,5 T -- <10 T Aset 10 T -- <100 T

14 BUMN

Telkom, Jamsostek, BTN, Pusri, Taspen, PGN, Bulog, KS, Jasa Marga, GIA, BEI, Jiwasraya, Pegadaian, Antam,

5 BUMN

Bank Mandiri, Pertamina, PLN, BRI, BNI

Aset > 100 T

Breakdown Berdasarkan Pendapatan
84 BUMN 23 BUMN
BUMN Kecil Lainnya
Posindo, Jiwasraya, Pelindo II, Pelindo III, Perhutani, MNA, AP II, Pelni, I, Jasa Raharja, PTPN VI, PTPN VIII, PTPN II, PTPN XI, Peruri, PTPN X, Indo Farma, PTPN IX, PPI, SHS, Nindya Karya, Sucofindo, BEI

Pendapatan <1 T

Pendapatan 1 T -- <2,5 T

23 BUMN

Antam, Timah, Jamsostek, PTBA, Adhi Karya, Taspen, Askes, Wika, KAI, PTPN III, BTN, PTPN IV, PP, PTPN V, PTPN VII, RNI, Jasindo, Waskita, Pegadaian, Jasa Marga, Hutama, PTPN XIII, KF

Pendapatan 2,5 T -- <10 T

10 BUMN

Telkom, Pusri, BRI, Mandiri, KS, Bulog, GIA, BNI, SGG, PGN

Pendapatan 10 T -- <100 T

2 BUMN

Pertamina, PLN

Pendapatan>100T

NO COPY ALLOWED

Breakdown Figur Keuangan Pokok (Lanjutan)
Breakdown Berdasarkan Ekuitas
53 BUMN

BUMN
PTPN XIII, KF, Peruri, PANN, Jiwasraya, PPA, Taspen, Jasindo,

Ekuitas <100 M

Kecil Lainnya

51 BUMN

Bio farma, PAL, PTPN X, Asabri, PTPN VIII, Danareksa, RNI, Adhi Karya, ASEI, PTPN XII, PTPN VI, Perumnas, PNM, INTI, Sucofindo, PP, PTPN XI, Waskita, GIA, KBN, Inhutani III, Posindo, Inhutani I, PTPN IX, Hutama, INAF, Kertas Leces, Semen Baturaja, SI, Inka, Jasa Tirta II, Rukindo, Garam, BTDC, Pindad, Inhutani II, Dahana, SHS, Berdikari, PTPN II, Damri, KBI, TWC Borobudur

Ekuitas 100 M -- < 1 T

31 BUMN

PGN, Antam, SGG, AP I, Jasa Marga, AP II, KS, PELNI, Pelindo II, BEI, Bulog, PTBA, Timah, KAI, BTN, Pelindo III, PTPN IV, Askes, PTPN III, Jamsostek, Pegadaian, Askrindo, Jasa Raharja, Wika, ASDP, PTPN VII, Pelindo I, PTPN V, Perhutani, Jamkrindo, Pelindo IV

Ekuitas 1 T -- <10 T

5 BUMN

Telkom, Bank Mandiri, BRI, BNI, Pusri

Ekuitas 10 T -- <100 T

2 BUMN

Pertamina, PLN
53 BUMN
BUMN Kecil Lainnya

Ekuitas > 100 T

Breakdown Berdasarkan Laba Bersih
Laba Bersih<10 M

43 BUMN

PPI, Bulog, PTPN X, PTPN XII, ASDP, PPA, PTPN IX, Waskita, PANN, Askrindo, Hutama, Sucofindo, ASEI, PTPN II, INKA, Jasa Tirta II, BTDC, BKI, Dahana, Inhutani V, Jiwasraya, KBN, Danareksa, Damri, KAI, Posindo, PTPN XI, Pindad, SI, KBI, BGR, Brantas, Istaka, KIM, Perumnas, Kertas Leces, Jasa Tirta I, Djakarta Lloyd, PNM, SHS, DPS, PTPN I, LEN

Laba Bersih 10 M -- < 100 M Laba Bersih 100M -- <1T

35 BUMN

Jamsostek, Pelindo II, PTPN III, PTPN IV, Pegadaian, Jasa Marga, KS, Askes, AP II, Pelindo III, BTN, KF, PTPN V, AP I, Taspen, PTPN VII, BEI, Jasa Raharja, Peruri, RNI, PTPN XIII, Pelindo I, Asabri, PTPN VIII, Perhutani, Wika, ADHI, GAI, Pelindo IV, PP, PTPN VI, Semen Baturaja, Jasindo, Bio Farma, Jamkrindo

9 BUMN

BRI, Bank Mandiri, PGN, SGG, PTBA, Antam, Timah, Pusri, BNI

Laba Bersih 1T -- <10T

2 BUMN

Pertamina, Telkom

Laba Bersih>10T

NO COPY ALLOWED

LAMPIRAN 4 DATA BUMN YANG TELAH LISTING DI BURSA EFEK .

PT Kimia Farma Tbk PT Indo Farma Tbk PT Adhi Karya Tbk PT Wijaya Karya Tbk PT Jasa Marga Tbk PT Pembangunan Perumahan Tbk . 13. 16.BUMN Yang Telah Listing 1. 9. 2. 7. 8. 8. PT PGN Tbk PT Aneka Tambang Tbk PT Semen Gresik Tbk PT Timah Tbk PT TB Bukit Asam Tbk 11. 6. PT Telkom Tbk PT Bank Mandiri Tbk PT Bank Rakyat Indonesia Tbk PT Bank Negara Indonesia Tbk PT Bank Tabungan Negara Tbk. 14. 5. 3. 15. 4. 12.

00% 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Catatan : Kapitalisasi Pasar BUMN Tbk tahun 2005 dan 2006 adalah kapitalisasi terhadap Bursa Efek Jakarta.00 100.00 0.RAHASIA & TERBATAS Kapitalisasi Pasar BUMN Tbk Kapitalisasi pasar BUMN Terbuka (Rp triliun) % terhadap total kapitalisasi pasar 700.00 45.00% 10.60% 36.00% 40.00 500.00 29. sedangkan Kapitalisasi Pasar BUMN Tbk Tahun 2007.00% 15.98% 250.00 260.00% 25.00 300.87% 493.00% 20.00 400.80% 32.00 31.id Kementerian Negara BUMN 17 .00% 30.77 35.40% 636.bapepam.00 40.00% 0.00 153.go.23% 600.26 32. 2008 & 2009 adalah kapitalisasi terhadap Bursa Efek Indonesia Sumber : diolah dari www.00 386.00% 35.14 200.00% 5.00% 630.

LAMPIRAN 5 PERATURAN YANG TERKAIT DENGAN PEMBINAAN BUMN .

Pus selaku Pemegang Saham/ Pemilik Modal BUMN (pasal 1 ayat 5) Pengalihan tugas dan kewenangan Menteri Keuangan sebagai Pemegang Saham dalam Perusahaan Perseroan (Persero) kepada Menteri Negara Pendayagunaan BUMN . 13 th 1998 tentang Perusahaan Umum Pengalihan/ Pelimpahan kedudukan. PP No. 15 Th 1998.Pembinaan dan Pengelolaan BUMN Pembinaan BUMN oleh Departemen/ Menteri Teknis Menteri Keuangan sebagai Pemegang Saham Negara RI / Pemilik Modal pada BUMN dan memegang Kewenangan Pembinaan BUMN UU No. 12 th 1998 tentang Perusahaan Perseroan. 50 th 1998. 38/1999. PP No. tugas dan kewenangan Menteri Keuangan pada Persero. Inpres No. 2003 (1960-1969) (1969-1998) (1998) (1998-2001) (2001-2003) (2003-Sekarang) (2003-Sekarang) UU 19/2003 PP No. 39/1999 tentang BUMN Menteri BUMN adalah pihak yang mendapatkan Kuasa dari Negara/ Pem. 2001 Pelimpahan kedudukan. tugas dan kewenangan Menteri Keuangan pada Persero. Keppres No. 12 th 1969 tentang Perusahaan Perseroan. Perum dan Perjan kepada Menteri BUMN PP No. 19 PRP th1960 tentang Perusahaan Negara PP No. Keppres No. 11 tahun 1973. Perum dan Perjan kepada Menteri BUMN PP No. Perusahaan Umum dan Perusahaan Perseroan • Menteri Keuangan sebagai Pembina Keuangan • Menteri Teknis sebagai Pembina Teknis NO COPY ALLOWED PP No. Inpres No. 3 th 1983 tentang Tata Cara Pembinaan dan Pengawasan Perusahaan Jawatan. 41 th. 64 th.

19 Tahun 2003 tentang BUMN Peraturan Pemerintah No. kewenangan pengelolaan keuangan Negara. kewenangan sebagai wakil Pemerintah selaku pemegang saham atau pemilik modal pada BUMN dilakukan oleh Menteri yang ditunjuk atau dikuasakan untuk itu. • Penatausahaan penyertaan saham/modal pada BUMN. serta pembinaan dan pengawasan kepada perusahaan Negara (BUMN) dilakukan oleh Menteri Keuangan. Perum dan Perjan kepada Menteri BUMN. pendirian BUMN dan pengalihan bentuk Perjan dilakukan oleh Menteri Keuangan. • Dalam UU 19/2003.17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara Undang-Undang No. sedangkan bentuk hukum Perjan ditiadakan. pengusulan penyertaan modal Negara. • PP 41/2003 tentang pelimpahan kewenangan Menteri Keuangan pada persero. Dasar Hukum Undang-Undang No. • Pembinaan terhadap Persero dan perum dilakukan oleh Menteri BUMN dalam kedudukan sebagai pemegang saham/ pemilik modal BUMN. Pembinaan BUMN secara ringkas: • Bentuk BUMN disederhanakan menjadi dua bentuk yaitu Persero dan Perum. 1 Keterangan • Dalam UU 17/2003. • Persero ditiadakan untuk mengejar keuntungan sedangkan Perum dibentuk untuk melaksanakan kemanfaatan umum dalam kerangka korporasi. termasuk kepemilikan kekayaan Negara yang dipisahkan.19 Tahun 2003 tentang BUMN 20 .41 tahun 2003 2 Undang-Undang No. • Penegasan kembali praktek-praktek corporate Governance yang mengatur pelaksanaan pengelolaan BUMN secara baik • Penetapan prosedur privatisasi untuk menjammin transparansi dan persaingan yang adil serta menjamin terdapatnya manfaat bagi publik daru program privatisasi tersebut.PEMBINAAN BUMN No.

S/2009 Undang-Undang No: 19/2003 Peraturan Pemerintah No: 33/2005 Jo.MBU/2007 Surat Edaran Menteri BUMN Nomor. SE-03/MBU. 3 4 Keterangan Ketentuan mengenai Good Corporate Governance Pengangkatan dan Pemberhentian Direksi dan Komisaris BUMN Dasar Hukum Peraturan Menteri BUMN Nomor: PER-8/4/PBI/2006 Peraturan Menteri BUMN Nomor: PER-03/MBU/2009 Keputusan Menteri BUMN Nomor: KEP-09A/MBU/2005 KEP-59/MBU/2004 Peraturan Menteri BUMN Nomor: PER-5/MBU/2007 Keputusan Menteri BUMN Nomor: KEP-236/MBU/2003 Peraturan Menteri BUMN Nomor: PER-05/MBU/2008 Surat Menteri BUMN No: S298/S. PP No: 59/2009 Peraturan Menteri BUMN No: 1/2010 Instruksi Menteri No: 1&2 Tahun 2002 Keputusan Menteri Keuangan No: 89/KMK.013/1991 5 Program Kemitraan dan Bina Lingkungan 6 Pengadaan Barang dan Jasa di Lingkuingan BUMN 7 8 Sinergi BUMN Privatisasi BUMN 9 Pedoman Pemindahtanganan Aktiva Tetap 21 .PEMBINAAN BUMN No.

Dasar Hukum Ps 4 UU No. 44/2005 ttg Tata cara penatausahaan dan PMN pada BUMN dan PT 2 Pembahasan dengan DPR RI dalam rangka mendapatkan persetujuan (Terkait dengan pengalihan kekayaan negara berupa selain tanah dan bangunan yang nialainya lebih dari Rp 100 milyar kedalam perusahaan milik Negara – UU Perbendaharaan Negara) Menteri Negara BUMN menyampaikan RPP tentang peleburan kepada Menteri Keuangan untuk diteruskan ke Presiden guna mendapatkan persetujuan. Kajian Bersama tersebut dapat mengikutsertakan Menteri Teknis dan/atau Menteri lain dan/atau pimpinan instansi lain yang dianggap perlu dan/atau dapat menggunakan konsultan independen. Menteri Negara BUMN melaksanakan peleburan BUMN setelah diterbitkannya PP mengenai peleburan BUMN Ps 45 . 1/2004 ttg Perbendaharaan Negara UU No. 44/2005 ttg Tata cara penatausahaan dan PMN pada BUMN dan PT Ps 10 UU No. 19/2003 ttg BUMN Ps 4 . Pengawasan dan Pembubaran BUMN Ps 10 PP No. 45/2005 ttg Pendirian. PELEBURAN DAN PENGAMBILALIHAN BUMN No. Pengambilalihan dan Perubahan Bentuk Hukum BUMN 3 4 5 Tata cara peleburan BUMN dengan BUMN dilakukan sesuai dengan Peraturan perundang-undangan di bidang perseroan terbatas PP 43/2005 Pasal 11 ayat (1) 22 .46 UU No. 43/2005 ttg Penggabungan. 19/2003 ttg BUMN Ps 10 PP No.PENGGABUNGAN. Pengurusan. Peleburan.8 PP No. 17/2003 ttg Keuangan Negara Ps 11 PP No. 1 Keterangan Kajian bersama rencana peleburan BUMN oleh Menteri Negara BUMN dan Menteri Keuangan.

UU 40/2007 tt g PT Pasal 127 ayat (6) & (7) 23 . peleburan tidak dapat dilaksanakan. PELEBURAN DAN PENGAMBILALIHAN BUMN No. maka keberatan tersebut harus disampaikan dalam RUPS guna mendapat penyelesaian. Selama penyelesaian belum tercapai.PENGGABUNGAN. 6 7 Keterangan Direksi BUMN yang akan melakukan peleburan menyusun Rancangan Peleburan Rancangan peleburan tersebut harus mendapat persetujuan Dewan Komisaris dan RUPS masing-masing BUMN Direksi BUMN yang akan melakukan peleburan wajib mengumumkan ringkasan rancangan paling sedikit dal 1 Surat Kabar dan mengumumkan secara tertulis kepada karyawan BUMN yang akan melakukan peleburan dalam jangka waktu paling lambat 30 hari sebelum pemanggilan RUPS yang di dalamnya juga memuat bahwa pihak yang berkepentingan dapat memperoleh rancangan peleburan di Kantor BUMN sejak tanggal pengumuman sampai penyelenggaraan RUPS Dasar Hukum UU 40/2007 tt g PT Pasal 123 ayat (1) & (2) UU 40/2007 tt g PT Pasal 123 ayat (3) 8 UU 40/2007 tt g PT Pasal 127 ayat (2) & (3) 9 Kreditur dapat mengajukan keberatan dalam jangka waktu paling lambat 14 dari setelah pengumuman. Apabila dalam jangka waktu tersebut kreditur tidak mengajukan keberatan dianggap menyetujui peleburan UU 40/2007 tt g PT Pasal 127 ayat (4) & (5) 10 Dalam hal keberatan kreditur tidak dapat diselesaikan oleh Direksi sampai dengan penyelenggaraan RUPS.

47:2. 25 milyar dan max. 5 tahun (ps. Pasal 28 dan Pasal 29 UU Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat tidak bisa dilaksanakan karena belum adanya PP (Peraturan Pemerintah). 28 juga diancam pidana denda min. 5/1999 tentang Larangan Praktek Monopoli Dan Persaingan Tidak Sehat tanggal 5 Maret 1999 24 . • Pelanggaran terhadap ps. PELEBURAN DAN PENGAMBILALIHAN BUMN No. 28). 49).e). 6 bulan (ps. Rp. • Komisi Pengawas Persaingan Usaha dapat membatalkan M&A yang mengakibatkan monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat (ps. 11 Keterangan Rancangan peleburan yang telah disetujui RUPS dituangkan dalam akta peleburan yang dibuat di hadapan notaris dalam bahasa indonesia dan akta peleburan tersebut akan menjadi dasar pembuatan akta pendirian BUMN hasil peleburan Salinan akta peleburan dilampirkan pada pengajuan permohonan untuk mendapatkan keputusan Menteri Hukum dan Ham mengenai pengesahan badan hukum hasil peleburan dan penyampaian pemberitahuan kepada Menteri Hukum dan Ham tentang perubahan anggaran dasar Direksi BUMN hasil peleburan wajib mengumumkan hasil peleburan dalam 1 surat kabar atau lebih dalam jangka waktu paling lambat 30 hari sejak tanggal berlakunya peleburan Peleburan Persero terbuka dilaksanakan dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal • Merger & Akuisisi tidak boleh mengakibatkan monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat (ps. Rp.PENGGABUNGAN. Dasar Hukum UU 40/2007 tt PT Pasal 128 ayat (1) & (3) 12 UU 40/2007 tt PT Pasal 129 & 130 13 UU 40/2007 tt PT Pasal 133 ayat (1) 14 15 PP 43/2005 Pasal 46 Undang-undang No. • Selain itu dapat dijatuhkan pidana tambahan berupa pencabutan izin usaha atau larangan untuk menjadi direktur atau komisaris min. 2 tahun dan max. 100 milyar atau pidana kurungan pengganti denda max. 48:1).

wajib dipenuhi persyaratan sebagai berikut : Pada saat terjadinya Merger atau Konsolidasi.E.1 & No. Konsolidasi dan Akuisisi Bank 17 Penggabungan Usaha Atau Peleburan Usaha Perusahaan Publik Atau Emiten. Peraturan Bapepam IX.PENGGABUNGAN. jumlah aktiva Bank hasil Merger atau Konsolidasi tidak melebihi 20% (dua puluh per seratus) dari jumlah aktiva seluruh Bank di Indonesia. 25 . 28 TAHUN 1999 Tentang Merger.G. 16 Keterangan Perbankan : Untuk dapat memperoleh izin Merger atau Konsolidasi.IX. • Quorum dan Voting dalam RUPS hanya memperhitungkan kehadiran/suara Pemegang Saham Independen. PELEBURAN DAN PENGAMBILALIHAN BUMN No. • Merger/Konsolidasi dilakukan dengan memperhatikan kepentingan Perseroan. Dasar Hukum Pasal 8 (ayat 2) PP NO.1 tentang Benturan Kepentingan. masyarakat dan persaingan sehat serta ada jaminan tetap terpenuhinya hak-hak pemegang saham publik dan karyawan.

LAMPIRAN 6 PROGRAM KEMITRAAN DAN BINA LINGKUNGAN .

Program Pengembangan UMKM yang dilakukan oleh Kementerian BUMN Dari UMKM non-bankable Menjadi UMKM bankable Program Kemitraan & Bina Lingkungan (PKBL) Program Corporate Social Responsibility (CSR) Penyaluran Kredit Usaha Mikro. Kecil dan Menengah (UMKM) oleh BUMN Sektor Perbankan .

komunitas setempat. baik bagi Perseroan sendiri. maupun masyarakat pada umumnya . Program Corporate Social Responsibility (CSR) Dasar Hukum : UU Nomor 40 tahun 2007 Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan yang dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya Perseroan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (2 % dari net profit yang diperkirakan): Komitmen Perseroan untuk berperan serta dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan guna meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat.Program PKBL dan CSR Program Kemitraan & Bina Lingkungan (PKBL) Dasar Hukum : UU Nomor 19 tahun 2003 Program Kemitraan (2% dari laba bersih) : Program untuk meningkatkan kemampuan usaha kecil agar menjadi tangguh dan mandiri melalui pemanfaatan dana dari bagian laba BUMN Program Bina Lingkungan (2% dari laba bersih) : Program pemberdayaan kondisi sosial masyarakat oleh BUMN melalui pemanfaatan dana dari bagian laba BUMN BUMN wajib menyisihkan sebagian laba bersihnya untuk keperluan pembinaan usaha kecil/koperasi serta pembinaan masyarakat sekitar BUMN.

dengan tujuan untuk menumbuhkan kewirausahaan di beberapa perguruan tinggi di Indonesia. yaitu BUMN yang mempunyai dana bantuan besar bersinergi dengan BUMN yang tidak memiliki dana namun mempunyai program yang bagus. jenis usaha dan kluster dari hulu hilir.Pelaksanaan Program PKBL dan CSR  Pemberian bantuan pelatihan dan penyediaan prasarana  Penyalurkan pinjaman modal langsung dengan bunga rendah  Penyaluran bantuan dengan metode kluster. Salah satu BUMN Karya telah menyalurkan dana kemitraan sebesar Rp 540 juta kepada 48 pengusaha mikro dan kecil yang memiliki keterkaitan bidang usaha dengan perusahaan tersebut. sektor.d sekarang. . dengan tujuan untuk memudahkan pelaksanaan penyaluran pinjaman dan pembinaan usaha  Pelaksanaan sinergi antara BUMN. Bentuk Program Contoh Pelaksaan Program:  Pada bulan Januari 2010. baik dalam kluster lokasi. melalui mekanisme channeling atau executing untuk sektor-sektor usaha di atas  Pemberian bantuan kesehatan dan bantuan dana pendidikan.  Program Wirausaha Mandiri yang telah dilaksanakan oleh Bank Mandiri sejak tahun 2007 s.

000 60.000 80.000 825.d 2009.000 1. peningkatan tersebut tercermin pula pada jumlah mitra binaan PKBL BUMN yang mengalami peningkatan sebesar 138.000 1.194 47.000 50.346 39..687 1.500.000 10.929 90. 86 % antara tahun 2007 s. 86 %. terdapat peningkatan realisasi penyaluran PKBL BUMN sebesar 138.000 40.000 - Jumlah Mitra Binaan 79.Gambaran Umum Penyaluran PKBL Secara Nasional ..000 30. Orang Realisasi Penyaluran Program PKBL 2..510 77.837 70.500.000 20.000.000 1.473 500.971.087 2006 2007 2008 2009 Realisasi Penyaluran Program PKBL Jumlah Mitra Binaan Catatan: Data penyaluran PKBL untuk tahun 2009 masih berdasarkan pada hasil prognosa .000.026.000 2006 2007 2008 2009 1.000 2.717.. Rp juta .

134 Key Findings Penyaluran kredit MKM oleh BUMN sektor perbankan selama periode 2007 s.000 176. Rp.000 285.000 230.d 2009 mengalami pertumbuhan sebesar 61.152 200.33% 250.Penyaluran Kredit UMKM oleb BUMN Sektor Perbankan … nilai kredit MKM yang disalurkan Bank BUMN mengalami trend pertumbuhan yang positif …..000 2007 2008 2009 Source : Bank Indonesia .000 100.740 150.000 50. Triliun 300.

8 Triliun. pembangunan pabrik biodiesel. Diharapkan dengan kegiatan tersebut BUMN Konstruksi dapat membangun kerjasama dengan para pengusaha.000 km yang dilakukan oleh kontraktor BUMN dan operator jalan tol Jasa Marga.9 Triliun menjadi Rp. • Sebagai salah satu upaya untuk mendukung program pengembangan infrastruktur yang dicanangkan oleh Pemerintah. Melalui upaya-upaya tersebut diharapkan PTPN dapat membangun kerjasama dengan para pengusaha yang bergerak di bidang usaha perkebunan dan pengolahan produk-produk turunan dari hasil perkebunan. diantaranya melalui pembangunan ruas tol Trans Jawa sepanjang 1. khususnya yang bergerak di bidang jasa konstruksi. sebagai BUMN Perkebunan untuk melakukan perluasan lahan tanaman. Kementerian BUMN telah mendorong BUMN Konstruksi untuk berpartisipasi dalam pembangunan infrastruktur. baik secara sendirisendiri dan bersinergi. powerplant berbahan baku biomassa sawit dan tebu. Kementerian BUMN telah mendorong PTPN. Infrastruktur Ketahanan Pangan . 61. Untuk mendukung program ketahanan pangan yang dicanangkan oleh Pemerintah. pabrik pupuk NPK dan kerjasama pembuatan pabrik ban sepeda motor.20.Beberapa bentuk sinergi BUMN Non Perbankan dengan Para Pengusaha KEY POINTS • Belanja Pemerintah untuk infrastruktur pada tahun 2009 meningkat 3 kali dibandingkan tahun 2005 dari Rp.

Diharapkan melalui upaya-upaya tersebut PLN dapat membangun kerjasama dengan para pengusaha yang memiliki keterkaitan dengan bidang energi. penyempurnaan pelaksanaan independent power producer (IPP) dan kebijakan terkait dengan subsidi.000 MW Tahap II dengan fokus pada pengembangan energi terbarukan yaitu panas bumi dan tenaga air. Pertamina dapat menjalin kerjasama dengan para pengusaha antara lain dalam keperluan distribusi BBM dan LPG. • Melakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap industri listrik nasional baik dari sisi ketersediaan energi primer. Kementerian BUMN telah mendorong PLN melakukan upaya-upaya sebagai berikut: • Penuntasan proyek pembangkit listrik 10. Pertamina dapat menjalin kerjasama dengan para pengusaha untuk meningkatkan produksi minyak dan gas bumi dalam bentuk KSO (Kerjasama Operasi). Sedangkan di sektor hilir.000 MW Tahap I yang dilanjutkan dengan pembangkit listrik 10.Beberapa bentuk sinergi BUMN Non Perbankan dengan Para Pengusaha (lanjutan………) KEY POINTS PLN Untuk mendukung program ketahanan energi yang dicanangkan oleh Pemerintah. Pertamina Di sektor hulu. Energi . penetapan Tarif Dasar Listrik.

LAMPIRAN 7 RENCANA RIGHTSIZING DAN PRIVATISASI TAHUN 2005-2009 .

Tbk (TELKOM) PT Jaminan Sosial Tenaga Kerja PT Bank Tabungan Negara (BTN) PT Pupuk Sriwidjaja (PUSRI) PT Perusahaan Gas Negara. Prambanan dan Ratu Boko PT Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) PT Batan Teknologi Perum Produksi Film Negara (PFN) PT Kliring Berjangka Indonesia (KBI) PT Perikanan Nusantara .2009 Stand Alone No 1 BUMN PT Bank Mandiri. Tbk 19 20 21 22 23 24 25 26 27 PT Asuransi Jasa Raharja PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) PT Asuransi ABRI (ASABRI) PT Pos Indonesia (POSINDO) Perum Pembangunan Perumahan Nasional (PERUMNAS) Perum Percetakan Uang RI (PERURI) Perum Perhutani PT Biofarma Perum Sarana Pengembangan Usaha (SPU) 11 12 13 14 15 16 17 PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) PT Taspen Perum Bulog PT Jasa Marga PT Bank Ekspor Indonesia (BEI) PT Kereta Api Indonesia (KAI) Perum Pegadaian 28 29 30 31 32 33 34 35 Perum Percetakan Negara Indonesia (PNRI) Perum Prasarana Perikanan Samudra (PPS) PT TWC Borobudur. Tbk (PGN) PT Semen Gresik. Tbk (BRI) PT Telekomunikasi Indonesia. Tbk (BNI) PT Bank Rakyat Indonesia.Rencana Rightsizing Tahun 2005 . Tbk N0. 18 BUMN PT Asuransi Kesehatan Indonesia (ASKES) 2 3 4 5 6 7 8 9 10 PT Pertamina PT Bank Negara Indonesia.

Sektor Farmasi . 5). 9). Tbk 3). Sektor Dok & Perkapalan PT Industri Kapal Indonesia (IKI) PT Dok dan Perkapalan Kodja Bahari PT Perusahaan Perdagangan Indonesia 2). Sektor Pertahanan 11). 4). Sektor Perdagangan PT PP Berdikari PT Sarinah PT Bhanda Ghara Reksa (BGR) PT Varuna Tirta Prakasya PT Bali Tourism & Development Corporation PT Hotel Indonesia Natour (HIN) Perum Jasa Tirta I Perum Jasa Tirta II PT Inhutani I PT Inhutani II PT Inhutani III PT Inhutani IV PT Inhutani V PT Sang Hyang Seri (SHS) PT Pertani PT Kertas Leces PT Kertas Kraft Aceh PT Balai Pustaka (BP) PT Pradnya Paramita PT Pindad PT Dahana PT Kimia Farma. 8). Sektor Kehutanan 7). Sektor Pertanian Sektor Kertas Sektor Percetakan 10).Rencana Rightsizing Tahun 2005 – 2009 …. Sektor Pergudangan Sektor Pariwisata Sektor Penunjang Pertanian 6). Tbk PT Indo Farma.Lanjutan Merger/Konsolidasi No SEKTOR BUMN PT Dok dan Perkapalan Surabaya (DPS) 1).

Lanjutan Holding No Sektor BUMN PT Perkebunan I (PTPN I) PT Perkebunan II (PTPN II) PT Perkebunan III (PTPN III) PT Perkebunan IV (PTPN IV) PT Perkebunan V (PTPN V) PT Perkebunan VI (PTPN VI) PT Perkebunan VII (PTPN VII) PT Perkebunan VIII (PTPN VIII) PT Perkebunan IX (PTPN IX) PT Perkebunan X (PTPN X) PT Perkebunan XI (PTPN XI) PT Perkebunan XII (PTPN XII) PT Perkebunan XIII (PTPN XIII) PT Perkebunan XIV (PTPN XIV) PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) PT Aneka Tambang. Tbk (ANTAM) PT Tambang Batubara Bukit Asam. Tbk PT Adhi Karya PT Wijaya Karya (WIKA) PT Waskita Karya PT Pembangunan Perumahan (PP) PT Hutama Karya PT Nindya Karya PT Istaka Karya PT Brantas Abipraya PT Amarta Karya PT Krakatau Steel (KS) PT Industri Telekomunikasi Indonesia (INTI) PT Barata Indonesia PT LEN Industri PT Industri Kereta Api (INKA) PT PAL Indonesia 1) Sektor Perkebunan 2) Sektor Pertambangan 3) Sektor Konstruksi 4) Sektor Industri Strategis .Rencana Rightsizing Tahun 2005 – 2009 …. Tbk (PT BA) PT Timah.

Lanjutan Holding No Sektor BUMN PT Kawasan Berikat Nusantara (KBN) PT Kawasan Industri Medan (KIM) 5) Sektor Kawasan PT Kawasan Industri Makassar (KIMA) PT Pengembangan Daerah Industri (PDI) Pulau Batam PT Kawasan Industri Wijaya Kusuma (KIW) PT Angkasa Pura I (AP I) 6) Sektor Kebandarudaraan PT Angkasa Pura II (AP II) PT Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI) PT Djakarta Lloyd 7) Sektor Pelayaran PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) PT Pelayaran Bahtera Adhiguna (BAG) PT Pelabuhan Indonesia I (PELINDO I PT Pelabuhan Indonesia II (PELINDO II) 8) Sektor Pelabuhan PT Pelabuhan Indonesia III (PELINDO III) PT Pelabuhan Indonesia IV (PELINDO IV) .Rencana Rightsizing Tahun 2005 – 2009 ….

15 16 17 BUMN PT Industri Soda Indonesia (ISI) PT Industri Gelas (IGLAS) PT Industri Sandang Indonesia (INSAN) 4 5 6 7 8 18 19 20 21 22 Perum Damri PT Boma Bisma Indra (BBI) PT Primissima PT Indra Karya PT Yodya karya 9 10 11 12 13 14 PT Asuransi Ekspor Indonesia (ASEI) PT Sucofindo PT Reansuransi Umum Indonesia (RUI) PT Pengerukan Indonesia PT Garam PT Surveyor Indonesia (SI) 23 24 25 26 27 PT Virama Karya PT Indah Karya PT Konservasi Energi Abadi (Koneba) PT Bina Karya PT Sarana Karya .Lanjutan Divestasi No 1 2 3 BUMN PT Garuda Indonesia (GIA) PT Merpati Nusantara (MNA) PT Asuransi Jiwasraya PT Permodalan (PNM) PT Dana Reksa PT PANN Multi Finance PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) PT Semen Baturaja Nasional Madani No.Rencana Rightsizing Tahun 2005 – 2009 ….

12 100 100 100 100 100 100 100 100 100 52.Rencana Privatisasi Tahun 2007 No.56 9.9 5. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 BUMN PT Jasa Marga PT BNI PT BTN PT Wijaya Karya PT Permodalan Nasional Madani PT Garuda PT Merpati PT Krakatau Steel PT Dirgantara PT Industri Soda Indonesia PT IGLAS PT Cambrics Primissima PT Indah Karya PT Indra Karya PT Virama Karya PT Yodya Karya PT Bina Karya PT JIHD PT Kertas Padalarang PT Atmindo PT Intirub PT PPLI PT Kertas Blabak PT Kertas Basuki Rahmat % Saham Negara 100 99.33 40.84 0.79 100 100 100 100 100 1.00 0.4 Rencana Metode IPO IPO/SPO IPO IPO IPO IPO IPO IPO IPO SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS Dasar Pertimbangan Kompetitif Kompetitif Kompetitif Kompetitif Kompetitif Kompetitif Kompetitif Kompetitif Kompetitif Kompetitif Kompetitif Kompetitif Kompetitif Kompetitif Kompetitif Kompetitif Kompetitif Kepemilikan negara minoritas Kepemilikan negara minoritas Kepemilikan negara minoritas Kepemilikan negara minoritas Kepemilikan negara minoritas Kepemilikan negara minoritas Kepemilikan negara minoritas .76 36.

Sektor terbuka dan kompetitif .12 .97 85. perlu permodalan tinggi untuk pengembangan (akan dikaji lebih mendalam) Kepemilikan Negara Minoritas Kompetitif Kompetitif Kepemilikan Negara Minoritas .Akses keteknologi dan pemasaran Sektor kompetitif.Untuk meningkatkan daya saing perusahaan (competitiveness) Sektor kompetitif. kepemilikan negara minoritas (akan ditinjau kembali) Pengembangan perusahaan 8 9 10 11 12 13 PT INTI PT Koneba PT JIEP PT SIER PT Bank Bukopin PT Dirgantara 100 100 50 50 18 17 IPO IPO SS/Divestasi SS/Divestasi Placement SS/Dilusi/ Divestasi EMBO/ Divestasi SS/Divestasi dan Dilusi 14 15 PT Rekayasa industri PT Surveyor 4.Rencana Privatisasi Tahun 2008 No. BUMN % Saham Negara Rencana Metode Dasar Pertimbangan 1 2 3 4 5 6 7 PT Asuransi Jasa Indonesia PT Asuransi Jiwasraya PT Sarana Karya PT Rukindo PT Semen Baturaja PT Industri Sandang PT Krakatau Steel 100 100 100 100 100 100 100 IPO/Dilusi IPO/SO IPO IPO IPO IPO IPO Kompetitif Kompetitif Pengembangan usaha Cut loss Butuh dana Pengembangan teknologi dan pasar Pengembangan usaha .Perseroan membutuhkan tambahan modal .

00 70 59.78 10 100 Rencana Metode SS/Dilusi SS/ Divestasi IPO IPO SS SO/Dilusi SO/Dilusi SO SS/ Divestasi SS IPO/SS No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 BUMN PT Kliring Berjangka PT ASEI PT Reasuransi PT Danareksa PT Sucofindo PT Bank Mandiri Tbk PT BRI Tbk PT Bank BTN PT Bahana PUI PT Sucofindo BUMN Pupuk Dasar Pertimbangan Kebutuhan pengembangan dana Kompetitif Pengembangan usaha Pengembangan usaha Kompetitif/ Kebutuhan dana/ pengembangan usaha Butuh dana pengembangan bisnis Kebutuhan pengembangan dana Kebutuhan pengembangan dana Kompetitif pengembangan usaha pengembangan usaha .Rencana Privatisasi Tahun 2009-2011 % Saham Negara 100 100 100 100 95.5 100 17.

LAMPIRAN 8 MATRIKS PENANGANAN RESTRUKTURISASI KORPORASI OLEH PT PPA .

PROGRESS PENANGANAN RESTRUKTURISASI/REVITALISASI BUMN OLEH PPA 2009 NO 1 BUMN PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) STATUS Menteri Keuangan telah menyetujui pemberian pinjaman untuk pembelian 15 unit pesawat MA 60 yang akan direalisasikan tahun 2010-2011 Perjanjian pemberian pinjaman telah ditandatangani pada tanggal 16 Desember 2009 yang digunakan untuk: Penyelesaian pembangunan 10 kapal dengan jumlah plafond sebesar USD 25. PT PPA belum dapat memberikan bantuan pinjaman sebagaimana yang diperlukan oleh PPFN 2 PT PAL (Persero) 3 PT Waskita Karya 4 PT Semen Kupang (Persero) 5 6 Perum Pengangkutan Perum PPFN .50 M Biaya talangan selama transisi fast cash business (3 bulan) Rp9.94 M Pelaksanaan setoran modal oleh PT PPA akan dilakukan setelah terbitnya Peraturan Pemerintah terkait Restrukturisasi dan/atau Revitalisasi PT WK. Dengan adanya KSO tersebut maka diharapkan di PT Semen Kupang (Persero) dapat segera beroperasi kembali.19 M Biaya talangan selama masa persiapan perampingan (3 bulan) Rp38.24 M Biaya pengeluaran barang dari pelabuhan Rp 11 M Pembayaran sebagian hutang pihak ketiga (closed project) Rp16. PT Semen Kupang telah menandatangani Perjanjian KSO dengan PT Sarana Agro Gemilang (SAG) pada tanggal 1 Sep 2009. Permasalahan pembayaran pesangon karyawan telah diselesaikan dengan melakukan penjualan aset property milik PPD.50 M Tambahan Modal kerja divisi pemeliharaan / perbaikan kapal dan rekayasa umum Rp 27.6 juta Restrukturisasi korporasi sebesar maksimal Rp 193.37 M: Perampingan karyawan Rp 90.

PPA telah menawarkan untuk membantu melakukan pembahasan kemungkinan penyelesaian kewajiban tsb. Sedang dilakukan Financial Due Diligence (FDD) dan Legal Due Diligence (LDD). termasuk kajian pengoperasian kembali KKA.PROGRESS PENANGANAN RESTRUKTURISASI BUMN OLEH PT PPA … Lanjutan 2010 NO BUMN 1 PT Iglas (Persero) STATUS Telah disampaikan kepada Komite Restrukturisasi dan Revitalisasi pada tanggal 2 Oktober 2009 Mengusulkan pemberian pinjaman sebesar Rp 106. disepakati bahwa PT Balai Pustaka akan di restrukturisasi didasarkan sejarah Balai Pustaka. Proses pengumpulan data dan penyusunan laporan kajian 10 11 PT Industri Kapal (Persero) PT Survai Udara Penas (Persero) .77 milyar Opsi penyelesaian lainnya yaitu kajian likuidasi dan divestasi telah disampaikan kepada Ketuan Tim Pelaksana Komite RR Kajian Restrukturisasi PT Djakarta Lloyd masih membutuhkan kajian lanjutan yang harus dilengkapi dengan business plan dari Manajemen Djakarta Lloyd. Arahan Menteri Negara BUMN dalam rapat tanggal 18 Januari 2010. Saat ini PT BP dalam proses penyelesaian Rencana Bisnis. saat ini VTP sedang mempertimbangkan penyelesaian kewajiban kepada Bank Mandiri. Sesuai informasi terakhir Dirkeu. Laporan kajian awal upaya pengoperasian kembali PT KKA telah disampaikan kepada Menteri Negara BUMN 4 5 6 7 PT Balai Pustaka (Persero) PT Berdikari (Persero) PT Hotel Indonesia (Persero) PT Primisima (Persero) 8 PT Kertas Kraft Aceh (Persero) - - 9 PT Varuna Tirta Prakasya (Persero) Pengumpulan informasi dan identifikasi awal permasalahan. 2 PT Djakarta LLyod (Persero) 3 PT Industri Sandang Nusantara (Persero) PPA telah memberikan talangan sebesar Rp 25 M di luar konteks restrukturisasi dan/atau revitalisasi untuk membiayai kebutuhan operasional perusahaan dan saat ini sedang dilaksanakan finalisasi Kajian Kelayakan Restrukturisasi dan/atau Revitalisasi (FDD dan Kajian Bisnis). Proses finalisasi kajian kelayakan restrukturisasi dan/atau revitalisasi Finalisasi kajian kelayakan Restrukturisasi dan/atau Revitalisasi Finalisasi kajian kelayakan Restrukturisasi dan/atau Revitalisasi PPA telah memberikan dana talangan sebesar Rp 125.72 milyar untuk Rasionalisasi karyawan Dilakukan Kajian menyeluruh atas opsi-opsi penyelesaian permasalahan KKA.

LAMPIRAN 9 DATA BUMN PENYELENGGARA PSO .

959. vidio/TV.309.289.96 42.NO A.00 - - 38.00 6.12 Bidang Pangan Surat/Keputusan. PT PLN Menteri ESDM UU Nomor 30/2009 33.500.776.283. PT PELNI Menhub -Keputusan Dirjen Perla -Kontrak (tahunan) -Keputusan Menkominfo -Kontrak (tahunan) -Keputusan Menkominfo 3. PT Pertani Mentan Surat Nomor…(tahunan) 31.471.66 82.448.64 118.95 12.00 600.78 JUMLAH 100. PT Pusri Mentan 8.60 677.00 7.89 6. PT KAI PEMBERI TUGAS DASAR HUKUM PENUGASAN -UU No. PT Posindo Menkominfo Penyediaan Kapal Laut kelas Ekonomi Penyediaan pelayanan KPCLK Penyediaan dan/atau distribusi berita (cetak.23 34.00 2.797.22 37.11 319.(tahunan ) Penyediaan dan distribusi pupuk bersubsidi Penyediaan dan distribusi benih dan pupuk Penyediaan dan distribusi benih dan pupuk Penyediaan dan penyaluran Raskin dan CBP 3.809.00 408. Perum Bulog Menko Kesra Surat/Keputusan (tahunan) 5.00 125.93 Catatan: Data tahun 2005 tidak dapat disajikan karena datanya tersebar. BUMN Bidang Sarana Perhubungan 1.81 5.272. Perum Antara Menkominfo -Kontrak (tahunan) B.269.458.81 134.50 505.63 9.44 1.54 10.84 68. Bidang Energi Keputusan BPH Migas (tahunan) Penyediaan dan distribusi BBM tertentu Penyediaan tenaga listrik 59. PT SHS Mentan Surat Nomor…(tahunan) 176.79 237.00 115.830.282. dan Asdep Kewajiban Pelayanan Umum yang bertugas memonitor dan menginventarisir data PSO baru dibentuk pada tahun 2006 47 .12 11.93 127.999.00 5.17 50.60 790.318. PT Pertamina BPH Migas 6.169.00 425. Foto) tertentu kepada kelompok/ daerah tertentu 679.64 1.904..172.29 933.00 76.75 175. 13/2007 Ttg Perkeretaapian -Kontrak (tahunan) PRODUK/JASA YANG DITUGASKAN Penyediaan KA kelas ekonomi 2006 2007 2008 2009 Menhub 450.00 16.05 4.31 732.480.201. C.00 118.

LAMPIRAN 10 PROGRAM BERKESINAMBUNGAN TEKNOLOGI INFORMASI TAHUN 2006 .2009 .

go. kursus dan sertifikasi 2 3 Pengembangan SDM 4 Pengembangan Aplikasi a. Membangun aplikasi yang digunakan untuk membantu menangani proses privatisasi BUMN dan membangun sub portal yang menyajikan informasi ahsil privatisasi kepada publik melalui www. security.id.bumnri.PROGRAM BERKESINAMBUNGAN TEKNOLOGI INFORMASI TAHUN 2006 No 1 Program Menyusun Kebijakan Teknologi Informasi Kementerian Negara BUMN Pengembangan Infrastruktur Keterangan Menyusun Kebijakan Teknologi Informasi untuk diusulkan dapat disahkan oleh Menteri dalam rangka melaksanakan IT Governance Menambah jumlah server.bumn.com Website Kementerian Negara BUMN mulai diluncurkan pada tahun 2002. Website Kementerian Negara BUMN dengan alamat www.id atau www.go. maka dilakukan perubahan rancangan dan konten informasi website. Agar website tersebut lebih dapat memenuhi kebutuhan Kementerian Negara BUMN dalam mendukung transparansi dan tanggung jawab Kementerian Negara BUMN kepada publik. a. anti virus dan anti spyware untuk mendukung aplikasi yang berjalan di atasnya Menambah jumlah SDM melalui outsorcing dan meningkatkan kualitas SDM Teknologi informasi melalui pendidikan. perangkat jaringan.bumn. PC/notebook. software. Pembangunan Aplikasi Privatisasi BUMN .

Open Office di KNBUMN) Menyediakan perangkat yang memadai untuk menjalankan aplikasi . Pembangunan Sistem Informasi Fit and Proper Direksi BUMN d. Melakukan pembangunan aplikasi yang dapat menyajikan informasi SDM BUMN dan membantu proses Fit and Proper Test calon Direksi BUMN UJI KEPATUTAN DAN KELAYAKAN Direksi dan Komisaris BUMN (CV Direksi. mekanisme UJI KEPATUTAN DAN KELAYAKAN) Melakukan pembangunan aplikasi yang dapat menyajikan informasi SDM BUMN dan membantu proses Fit and Proper Test calon Direksi Anak Perusahaan BUMN. Pembangunan Sistem Informasi BUMN (Executive Information System) Melakukan pembangunan aplikasi yang ditujukan untuk menyediakan informasi terkait BUMN bagi pimpinan di lingkungan Kementerian Negara BUMN dan membantu pimpinan dalam mengambil kebijakan dan keputusan terhadap pengelolaan BUMN. SDM. 2 3 4 5 6 Pembangunan PKBL Online Knowledge Management Melakukan pembangunan aplikasi untuk menyimpan dan menyajikan informasi Anggaran Dasar BUMN Portal publik dan eksekutif dapat diakses melalui HP. dan unit tata usaha. Pembangunan Sistem Informasi Fit and Proper Direksi Anak Perusahaan BUMN e. Implementasi Office Automation tersebut dimulai dengan pembuatan dokumen elektronik yang akan disimpan dalam sistem. Uji Kepatutan dan Kelayakan Direksi dan Komisaris Anak Perusahaan BUMN Keterangan b. Melakukan pembangunan aplikasi yang ditujukan untuk menyediakan otomasi alur kerja yang melibatkan seluruh unit di Kementerian Negara BUMN seperti perencanaan. Pembangunan Office Automation dan pembuatan dokumen elektronik c.PROGRAM BERKESINAMBUNGAN TEKNOLOGI INFORMASI TAHUN 2007 No 1 Program Pengembangan Aplikasi a. perlengkapan. Komisaris dan 1 tingkat di bawah Direksi. PDA Mobile access Operasional dan pemeliharaan Sosialisasi Open source Penambahan Server Reliabilitas email Sosialisasi pemakaian open sourse (Linux. f. arsip dan dokumentasi. keuangan.

data. email ke dalam perangkat komunikasi) Data Center standar Menyediakan perangkat yang memadai untuk menjalankan aplikasi Menyediakan perangkat yang memadai untuk menjalankan aplikasi Menyediakan perangkat yang memadai untuk menjalankan aplikasi Menyediakan infrastruktur datacenter bagi server dan aplikasi dalam rangka mendukung ketersediaan dan reliabilitas layanan TI Menyediakan keamanan data dan informasi yang diproses melalui jaringan Kementerian BUMN Keterangan 2 3 Penambahan dan Upgrade Perangkat Jaringan Pengadaan Infrastruktur untuk menyiapkan IP Phone 4 5 Reliabilitas jaringan dan keamanan . Menyediakan perangkat yang memadai untuk menjalankan aplikasi Menyediakan perangkat yang memadai untuk menjalankan aplikasi 2009 1 2 3 Upgrade Server Upgrade Storage Unified Communication (Integrasi voice. video.PROGRAM BERKESINAMBUNGAN TEKNOLOGI INFORMASI TAHUN 2008 & 2009 No Program 2008 1 Pembangunan Portal Aset BUMN Melakukan pembangunan aplikasi yang dapat menyajikan informasi aset BUMN dan membantu Kementerian Negara BUMN dalam rangka mengoptimalkan aset BUMN.

pendidikan.id Pengadaan Server (18 unit). 1 Program/Rencana Kerja Menyusun Kebijakan Teknologi Informasi Kementerian Negara BUMN Pengembangan Aplikasi Realisasi Draft Master Plan Teknologi Informasi Kementerian BUMN tahun 2006-2010 Pembangunan dan launching SMS Center 2866 untuk keluhan dan pengaduan melalui SMS Redesain Portal Publik dan Pembangunan Sub Portal Privatisasi www.id dan http://priv. Tata Kelola TI BUMN dan Sinergi BUMN pada tahun 2006 Rapat Koordinasi Bidang Sistem Informasi antara Kementerian Negara BUMN dengan BUMN pada bulan Desember 2006 2 3 Pengembangan Infrastruktur (hardware/software) 4 Pengembangan dan peningkatan kualitas SDM Koordinasi pemanfaatan sistem informasi/teknologi informasi 5 . dan perangkat jaringan Pengadaan PC/notebook/printer/scanner Pengadaan anti virus (200 lisensi) Langganan layanan dedicated internet (1.bumn.id dan bumn-ri.com Langganan layanan informasi saham real time (4 client) Menambah jumlah SDM melalui outsorcing Mengirim pegawai untuk mengikuti workshop. seminar. storage.go.bumn.go.go. kursus dan sertifikasi Pembentukan Kelompok Kerja TI BUMN yang bertugas menyusun panduan masterplan TI BUMN.REALISASI PROGRAM TEKNOLOGI INFORMASI TAHUN 2006 No.024 Kbps) Langganan domain bumn.

pengelolaan keuangan.bumn. Pembangunan PKBL Online 2 3 Operasional dan pemeliharaan Pengembangan Infrastruktur (hardware/software) 4 Sosialisasi dan pelatihan pemanfaatan sistem informasi/teknologi informasi a.048 Kbps) Langganan layanan informasi saham real time (6 client) Penyediaan layanan internet menggunakan Jaringan lokal yang menghubungkan Lapangan Banteng-Merdeka Selatan melalui DINAccess Penyediaan jaringan di Gedung Kementerian Negara BUMN Jalan Merdeka Selatan 13. pendidikan. Pengadaan PC/notebook/printer/scanner Langganan layanan dedicated internet (2. pengadaan. Pelatihan seluruh portal kepada 50 BUMN yang mengajukan permintaan pelatihan tambahan kepada masing-masing BUMN 5 Pengembangan dan peningkatan kualitas SDM a. Pembangunan Office Automation dan pembuatan dokumen elektronik Realisasi Pembangunan Executive Information System http://eis. penyediaan ATK. Pelatihan Office Automation pada bulan Desember 2007 diikuti oleh pegawai Kementerian Negara BUMN.go.go.id dengan modul-modul perencanaan. persuratan. dan pengumuman Pembangunan Portal SDM http://sdm.id Pembangunan portal PKBL http://pkbl. 1 Program/Rencana Kerja Pengembangan Aplikasi a. Mengirim pegawai untuk mengikuti workshop.id/internal dan http://pkbl.id Pembangunan Office Automation http://oa.bumn. kursus dan . sertifikasi seminar. Pembangunan Sistem Informasi Fit and Proper Direksi BUMN a. dokumentasi dan arsip.go. pengelolaan aset TI.REALISASI PROGRAM TEKNOLOGI INFORMASI TAHUN 2007 No.id/internal dan http://sdm. Pengadaan outsourcing tenaga bidang TI b. Jakarta Pusat berjumlah 500 titik untuk 14 lantai (Pindah Kantor dari Gedung 16 Lantai Jalan Dr Wahidin Raya 1 Jakarta) a. produk dan bantuan hukum.go.bumn.go.bumn.go.bumn. kehumasan. pengelolaan aset.id Migrasi colocation dari Telkom Slipi ke Telkom Karet untuk penambahan kapasitas server karena kebutuhan aplikasi. perpustakaan. pengelolaan agenda/ jadwal. b. c. Pembangunan Sistem Informasi BUMN (Executive Information System) a. pengelolaan SDM.bumn. Pelatihan portal publik kepada admin BUMN yang dilaksanakan pada 6–21 Agustus 2007 diikuti oleh 337 peserta dari 134 BUMN.

go.bumn.bumn.id/internal dan http://aset. 2 3 4 5 Pengembangan Infrastruktur (hardware/software) 6 Pengembangan dan peningkatan kualitas SDM Kursus dan Pelatihan 1) CCNA 1 orang 2) CISA Reviw Course 2 orang 3) Zend Framework 3 orang 4) Java Standard Edition Course 1 orang 5) Project Management Course 1 orang .go.REALISASI PROGRAM TEKNOLOGI INFORMASI TAHUN 2008 No 1 Program/Rencana Kerja Pembangunan Portal Aset BUMN Penambahan dan Upgrade Perangkat Jaringan Pengadaan Infrastruktur untuk menyiapkan IP Phone Sosialisasi Open source Realisasi Pembangunan portal Aset (http://aset.id) Menyediakan perangkat jaringan yang memadai untuk menjalankan aplikasi Menyediakan prototype komunikasi voice dan video yang tersedia untuk komunikasi di Kementerian BUMN Sosialisasi pemakaian Open source di Kementerian Negara BUMN (Linux) pada tahun 2008 (15 orang) 1) 2) Pengadaan PC/notebook/printer/scanner Penggantian dan Penambahan PC untuk mendukung operasional Kementerian Negara BUMN dari 204 unit pada tahun 2004 menjadi 456 unit pada tahun 2009.

video. Upgrade jaringan internet menjadi 4. email ke dalam perangkat tersedia untuk komunikasi di Kementerian BUMN komunikasi) Reliabilitas email Data Center standar Reliabilitas jaringan dan keamanan Sosialisasi dan Implementasi Portal Berkelanjutan Pengembangan Infrastruktur (hardware/software) Pengembangan dan peningkatan kualitas SDM Menyediakan email yang dapat memenuhi kebutuhan email yang aman. mobile messaging dan web mail yang nyaman bagi pengguna Berdasarkan prioritas realisasi ditunda ke anggaran tahun 2010 Menyediakan server yang berfungsi sebagai Single Sign On server melalui Active Directory Pelatihan Portal EIS. SDM.096 Kbps pada tahun 2009. Penambahan 80 komputer bagi pegawai kementerian BUMN Kursus dan Pelatihan 1) Diklat Pimpinan III 1 orang 2) Diklat Pimpinan IV 1 orang . diikuti oleh 672 peserta dari 142 BUMN.REALISASI PROGRAM TEKNOLOGI INFORMASI TAHUN 2009 Program/Rencana Kerja Upgrade Server Upgrade Storage Realisasi Menyediakan perangkat yang memadai untuk menjalankan aplikasi Menyediakan perangkat yang memadai untuk menjalankan aplikasi Unified Communication (Integrasi voice. PKBL dan Publik kepada admin BUMN yang dilaksanakan pada 14 April – 8 Mei 2008 dan 27 Agustus – 8 September 2009. Menyediakan implementasi penuh komunikasi voice dan video yang data.

LAMPIRAN 11 MASTER PLAN TEKNOLOGI INFORMASI KEMENTERIAN BUMN 2010 .2014 .

ROADMAP 2010-2014 2010 Persiapan Fondasi Implementasi Sistem Terintegrasi Monitoring BUMN dengan static Dashboard & Ekspansi Layanan Peletakan Basis Knowledge Management 2012 Business Intelligent 2013 Pengambilan Keputusan Secara Dinamis dengan BUMN Dashboard Dinamis 2014 57 .

penyempurnaan fitur dan optimalisasi pemanfaatan portal 2. Optimalisasi pemanfaatan portal sebagai Knowledge Management 4. Revitalisasi Infrastruktur Datacenter 2. IT Steering Commitee 8. Rakor TI 2013 1.ROADMAP 2010-2014 2010 1. Pelatihan Pegawai Sistem Informasi 2011 1. penyempurnaan fitur dan optimalisasi pemanfaatan portal 2. Rakor TI 2014 1. Pemeliharaan Portal Internal 4. Pemeliharaan Portal Publik 3. Implementasi Control Room (Tahap I) 7. Unified Wireless LAN 6. Pemeliharaan portal internal dan eksternal. Pelatihan/kursus kompetensi TI 3. Control Room 4. Rakor TI . Pelatihan 7. Pemanfaatan Mailing Room 6. Server dan Storage 5. ETL otomatis dari system BUMN 6. Pemeliharaan hardware dan software 5. Pemeliharaan dan Penambahan Fitur Porta Pemeliharaan dan Penambahan Fitur Portal 2. Redesain database dan aplikasi 2. Optimalisasi pemanfaatan portal sebagai Knowledge Management dan DSS 4. Tim Implementasi BUMN 10. Implementasi Mailing Room (Tahap I) 6. Pelatihan/kursus kompetensi TI 3. Audit Tata Kelola TI 7. Pemeliharaan portal internal dan eksternal. Rakor TI 9. Pembangunan dashboard dengan Query Dinamik 3. Pelatihan/kursus kompetensi TI 5. Optimalisasi pemanfaatan portal sebagai Knowledge Management dan DSS 4. Sistem Keamanan Terintegrasi 5. Mailing Room 3. Pembangunan Business Intelligence 6. Pembentukan Tim Steering Committee untuk proyek TI 5. Tim Implementasi Kementerian BUMN 2012 1.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful