P. 1
Mantiq

Mantiq

|Views: 265|Likes:

More info:

Published by: Fikri Khairul Shaleh on Mar 21, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/23/2014

pdf

text

original

Mantiq

oleh Ust. Husein Al-Kaff Indeks Islam | Indeks Artikel ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Definisi dan Urgensi Mantiq
Mantiq adalah alat atau dasar yang penggunaannya akan menjaga kesalahan dalam berpikir. Lebih jelasnya, Mantiq adalah sebuah ilmu yang membahas tentang alat dan formula berpikir, sehingga seseorang yang menggunakannya akan selamat dari cara berpikir salah. Manusia sebagai makhluk yang berpikir tidak akan lepas dari berpikir. Namun, saat berpikir, manusia seringkali dipengaruhi oleh berbagai tendensi, emosi, subyektifitas dan lainnya sehingga ia tidak dapat berpikir jernih, logis dan obyektif. Mantiq merupakan upaya agar seseorang dapat berpikir dengan cara yang benar, tidak keliru. Sebelum kita pelajari masalah-masalah mantiq, ada baiknya kita mengetahui apa yang dimaksud dengan "berpikir". Berpikir adalah proses pengungkapan sesuatu yang misteri (majhul atau belum diketahui) dengan mengolah pengetahuan-pengetahuan yang telah ada dalam benak kita (dzihn) sehingga yang majhul itu menjadi ma'lûm (diketahui). Faktor-Faktor Kesalahan Berpikir 1. Hal-hal yang dijadikan dasar (premis) tidak benar. 2. Susunan atau form yang menyusun premis tidak sesuai dengan kaidah mantiq yang benar. Argumentasi (proses berpikir) dalam alam pikiran manusia bagaikan sebuah bangunan. Suatu bangunan akan terbentuk sempurna jika tersusun dari bahan-bahan dan konstruksi bangunan yang sesuai dengan teori-teori yang benar. Apabila salah satu dari dua unsur itu tidak terpenuhi, maka bangunan tersebut tidak akan terbentuk dengan baik dan sempurna. Sebagai misal, "[1] Socrates adalah manusia; dan [2] setiap manusia bertindak zalim; maka [3] Socrates bertindak zalim". Argumentasi semacam ini benar dari segi susunan dan formnya. Tetapi, salah satu premisnya salah yaitu premis yang berbunyi "Setiap manusia bertindak zalim", maka konklusinya tidak tepat. Atau misal, "[1] Socrates adalah manusia; dan [2] Socrates adalah seorang ilmuwan", maka "[3] manusia adalah ilmuwan". Dua premis ini benar tetapi susunan atau formnya tidak benar, maka konklusinya tidak benar. (Dalam pembahasan qiyas nanti akan dijelaskan susunan argumentasi yang benar, pen).

Ilmu dan Idrak
Dua kata di atas, Ilmu dan Idrak, mempunyai makna yang sama (sinonim). Dalam ilmu mantiq, kedua kata ini menjadi bahasan yang paling penting karena membahas aspek terpenting dalam pikiran manusia, yakni ilmu. Oleh karena itu, makna ilmu sendiri perlu diperjelas. Para ahli mantiq (mantiqiyyin) mendefinisikan ilmu sebagai berikut:

Benak at u pikiran kita a tidak lepas dari dua kondisi yang kontradiktif. Juz'i adalah tashawwur yang dapat diterapkan (berlaku) hanya pada satu benda saja. Terkadang kita tidak hanya menghimpun tetapi juga [2] memberikan penilaian atau hukum (judgement). dan pada saat yang sama pula tertanam dalam benak gambaran bangunan itu. Kondisi ini disebut "ilmu". Misalnya: Saya kemarin ke Jakarta. sebelum menyaksikan bangunan tersebut. benak atau akal kita terkadang hanya [1] menghimpun gambaran dari sesuatu saja (bangunan. Yani dan lainnya. "air itu dingin". (Misalnya. Kondisi ini disebut "jahil". 15 x 15 = 225 atau berkumpulnya dua hal yang kontradiktif adalah mustahil (tidak mungkin terjadi) adalah hal yang dharuri. yang sifatnya universal. Pada saat keluar rumah.Ilmu adalah gambaran tentang sesuatu yang ada dalam benak (akal). Novel. kita menyaksikan sebuah bangunan yang megah dan indah. dalam misal). (Lihat kembali definisi berpikir). Misalnya: gambaran tentang Budi hanya untuk seorang yang bernama Budi saja. Adik saya sudah mulai masuk sekolah. Kulli dan Juz'i Pembahasan tentang kulli (general) dan juz'i (parsial) secara esensial sangat erat kaitannya dengan tashawwur dan juga secara aksidental berkaitan dengan tashdiq. Namun. yaitu ilmu dan jahil (ketidak tahuan). Dharuri dan Nadzari Ilmu tashawwuri dan ilmu tashdiqi mempunyai dua macam: dharuri dan nadzari. Dharuri adalah ilmu yang tidak membutuhkan pemikiran lagi (aksiomatis). dalam benak kita tidak ada gambaran itu. Jadi Ilmu tashawwuri dharuri adalah gambaran dalam benak yang dipahami tanpa sebuah proses pemikiran. Pada kondisi ilmu. Contoh: bumi itu bulat adalah hal yang nadzari. Kesimpulan. Budi. Manusia dalam berkomunikasi tentang kehidupan sehari-hari menggunakan tashawwur-thasawwur yang juz'i. Sebaliknya. "manusia itu berakal". Jadi tashawwur hanya gambaran akan sesuatu dalam benak. . atau "air itu tidak dingin". Nadzari adalah ilmu yang membutuhkan pemikiran. Kondisi ilmu yang pertama disebut tashawwur dan yang kedua disebut tashdiq. yang dipakai oleh manusia dalam kajian -kajian keilmuan adalah tashawwur-thasawwur kulli. Contoh: 2 x 2 = 4. Bapak saya sudah pensiun dan sebagainya. Sedangkan tashdiq adalah penilaian atau penetapan dengan dua ketetapan: "ya" atau "tidak/bukan". ilmu dibagi menjadi dua. Kulli adalah tashawwur (gambaran benak) yang dapat diterapkan (berlaku) pada beberapa benda di luar. Misalnya. Jadi ilmu tashawwuri nadzari adalah gambaran yang ada dalam benak yang dipahami melalui proses pemikiran. Sedangkan nadzari dapat diketahui melalui sebuah proses pemikiran atau melalui pengetahuan yang sudah diketahui sebelumnya. Seperti: 2 x 2 = 4. atau "manusia itu bukan binatang" dan lain sebagainya. tashawwuri dan tashdiqi. Misalnya: gambaran tentang manusia dapat diterapkan (berlaku) pada banyak orang. bangunan itu indah dan megah). Lebih jelasnya. dharuri (sering juga disebut badihi) adalah ilmu dan pengetahuan yang dengan sendirinya bisa diketahui tanpa membutuhkan pengetahuan dan perantaraan ilmu yang lain.

Setiap manusia adalah hewan dan tidak setiap hewan adalah manusia. kita membutuhkan ma'lûm tashaswwuri. [3] Umum wa khusus Mutlaq (implikasi) dan [4] Umum wa Khusus Minwajhin (asosiasi). Had/ta'rif adalah sebuah jawaban dan keterangan yang didahului pertanyaan "Apa?". 1. kita selalu ingin dan mencari tahu tentang hal-hal yang masih majhul. 2. Misal: tashawwur hewan dan tashawwur manusia. Artinya setiap manusia dapat berpikir dan setiap yang berpikir adalah manusia. baik tashawwuri ataupun tashdiqi. Ahli mantiq menyebut bentuk hubungan itu sebagai "Nisab Arba'ah". afrad kulli yang satu tidak mungkin sama dan bersatu dengan afrad kulli yang lain. Kedua tashawwur ini sangatlah berbeda dan afradnya tidak mungkin sama. Pencarian majhul tashawwur dinamakan "had" atau "ta'rif". Misal: tashawwur manusia dan tashawwur putih. Kedua tashawwur kulli ini bersatu pada seorang manusia yang putih. Umum wa khusus mutlak adalah dua tashawwur kulli yang satu dapat diterapkan pada seluruh afrad kulli yang lain dan tidak sebaliknya. Saat menghadapi sesuatu yang belum kita ketahui (majhul). Nisab Arba'ah Dalam benak kita terdapat banyak tashawwur yang bersifat kulli dan setiap yang kulli mempunyai realita (afrad) lebih dari satu. Dan sesuai dengan fitrah. . juga terbagi menjadi dua majhul tashawwuri dan majhul tashdiqi. dan jarang bersangkutan dengan juz'i. Artinya. Hudud dan Ta'rifat Kita sepakat bahwa masih banyak hal yang belum kita ketahui (majhul). Jawaban dan keterangan yang diberikan adalah had (definisi) dari sesuatu itu. kita akan segara bertanya "apa itu?". Tabâyunadalah dua tashawwur kulli yang masing-masing dari keduanya tidak bisa diterapkan pada seluruh afrad tashawwur kulli yang lain. tetapi terkadang keduanya berpisah seperti pada orang yang hitam dan pada kapur tulis yang putih. Untuk mengetahui hal-hal majhul tashawwuri. Mereka menyebutkan bahwa ada empat kategori relasi: [1] Tabâyun (diferensi). Dengan kata lain. Setiap akibat pasti mempunyai sebab dan lain sebagainya. Kemudian antara tashawwur kulli yang satu dengan yang lain mempunyai hubungan (relasi). Tasâwi adalah dua tashawwur kulli yang keduanya bisa diterapkan pada seluruh afrad kulli yang lain. Umum wa khusus min wajhin adalah dua tashawwur kulli yang masing-masing dari keduanya dapat diterapkan pada sebagian afrad kulli yang lain dan sebagian lagi tidak bisa diterapkan. kita bertanya tentang esensi dan hakikat sesuatu itu. (Lihat definisi kulli ). (Lihat definisi berpikir. Afrad tashawwur hewan lebih umum dan lebih luas sehingga mencakup semua afrad tashawwur manusia. [2] Tasâwi (ekuivalensi). Setiap manusia pasti bukan batu dan setiap batu pasti bukan manusia. Majhul (jahil) sebagai anonim dari ma'lûm (ilmu). Pertemuan lalu telah dibahas bahwa manusia memiliki ilmu dan pengetahuan (ma'lûm). 4.Orang yang beriman adalah orang bertanggung jawab atas segala perbuatannya. Dalam ilmu mantiq kita akan sering menggunakan kulli (gambaran-gambaran yang universal). 3. Misal: tashawwur manusia dan tashawwurt berpikir. Misal: tashawwur manusia dan tashawwur batu.

Oleh karena itu. mendefinisikan suatu materi yang akan dibahas penting sekali sebelum membahas lebih lanjut masalah-masalah yang berkaitan dengannya. [4] 'aradh 'aam (common accidens) dan [5] 'aradh khas (proper accidens). 3. Misal: Apakah manusia itu? Jawabannya adalah "Hewan yang berpikir (natiq)". Lebih jelasnya. [2] jins (genius). Rasam Nâqish. dan "berpikir" adalah fashl manusia. mahmul dan rabithah. misalnya. manusia itu bukan kera dan lain sebagainya). qadhiyyah dibagi menjadi beberapa bagian. "Manusia adalah wujud yang berjalan". Misalnya: "gunung itu indah". 2) mahmul dan 3) rabithah (hubungan antara mawdhu' dan mahmul). maka sesuatu yang pertama disebut mawdhu' dan sesuatu yang kedua dinamakan mahmul dan yang menyatukan antara keduanya adalah rabithah. Lima kulli itu adalah: [1] Nau' (spesies). Rasam Tâm. 2. Misal: "Manusia adalah hewan". dalam disiplin ilmu. Keduanya merupakan bagian dari esensi manusia. [3] fashl (diferentia). Berdasarkan rabithah-nya. adalah definisi yang menggunakan jins dan fashl untuk menjelaskan bagian-bagian dari esensi yang majhul. tashdiq berkaitan dengan dua hal: maudhu' dan mahmul ("gunung" sebagai maudhu' dan "indah" sebagai mahmul). Had Nâqish. adalah definisi yang menggunakan jins saja. Macam-macam Qadhiyyah Setiap qadhiyyah terdiri dari tiga unsur: 1) mawdhu'. Atas dasar itu. 4. tashdiqi adalah penilaian dan penghukuman atas sesuatu dengan sesuatu yang lain (seperti: gunung itu indah. qadhiyyah dibagi menjadi dua: hamliyyah (proposisi kategoris) dan syarthiyyah (proposisi hipotesis). adalah definisi yang menggunakan 'ardh 'âm. tegak lurus dan dapat tertawa". "tegak lurus" dan "tertawa" bukan bagian dari esensi manusia. Had Tâm. proposisi kategorik) . Gabungan dari dua sesuatu itu disebut qadhiyyah (proposisi). "indah" adalah mahmul dan "itu" adalah rabithah (Qadhiyyah hamliyyah. Pembahasan tentang kulliyat khamsah ini secara detail termasuk pembahasan filsafat. bukan pembahasan mantiq. "Gunung" adalah mawdhu'. 1. Qadhiyyah (Proposisi) Sebagaimana yang telah kita ketahui. lalu kita menilai atau menetapkan atasnya sesuatu yang lain. Ilmu mantiq bertugas menunjukkan cara membuat had atau definisi yang benar. adalah definisi yang mengunakan 'ardh khas. Berdasarkan masing-masing unsur itu. "Hewan" adalah jins manusia. "Maujud yang berjalan". Qadhiyyah hamliyyah adalah qadhiyyah yang terdiri dari mawdhu'. ketika kita membayangkan sesuatu. Macam-Macam Definisi (Ta'rif) Setiap definisi bergantung pada kulli yang digunakan. Hewan adalah salah satu dari esensi manusia. Misal: "Manusia adalah wujud yang berjalan. tetapi hanya bagian yang eksiden. Perdebatan tentang sesuatu materi akan menjadi sia-sia kalau definisinya belum jelas dan disepakati. Ada lima kulli yang digunakan untuk mendefinisikan majhul tashawwuri (biasa disebut "kulliyat khamsah").

maka ia bukan ganjil. mantiq dan lainnya adalah qadhiyyah mahshurah. maani'atul jama' dan maani'atul khulw). Tuhan itu banyak) disebut muqaddam dan qadhiyyah yang kedua (dalam contoh. "jika" dan "setiap kali". Maka qadhiyyah mahshurah mempunyai empat macam: 1. "Tuhan itu banyak" adalah qadhiyyah hamliyah. Yang pertama disebut qadhiyyah hamliyyah mujabah (afirmatif) dan yang kedua disebut qadhiyyah hamliyyah salibah (negatif). Bila angka itu genap. Sebenarnya masih banyak lagi pembagian qadhiyyah baik berdasarkan mahmul-nya (qadhiyyah muhassalah dan mu'addlah). manusia akan mati. daimah dan mumkinah) dan qadhiyyah syarthiyyah muttasilah (haqiqiyyah. Qadhiyyah Mahshurah dan Muhmalah Pembagian qadhiyyah berdasarkan mawdhu'-nya dibagi menjadi dua: mahshurah dan muhmalah. Mujabah juz'iyyah: Sebagian manusia pintar Salibah juz'iyyah: Sebagian manusia bukan laki-laki. seperti. Contoh: jika Tuhan itu banyak. demikian pula "bumi akan hancur" sebuah qadhiyyah hamliyah. Kemudian keduanya dihubungkan dengan kata "jika". 2. Mahshurah adalah qadhiyyah yang afrad (realita) mawdhu'-nya ditentukan jumlahnya (kuantitasnya) dengan menggunakan kata "semua" dan "setiap" atau "sebagian" dan "tidak semua". Contohnya. atau manusia itu pintar. Qadhiyyah syarthiyyah dibagi menjadi dua: muttasilah dan munfasilah. Sedangkan dalam muhmalah jumlah afrad mawdhu'-nya tidak ditentukan. Qadhiyyah yang pertama (dalam contoh.Terkadang kita menafikan mahmul dari mawdhu'. filsafat. 3. Dalam ilmu mantiq. atau jihat qadhiyyah (dharuriyyah. bumi akan hancur) disebut tali. Qadhiyyah mahshurah terkadang kulliyah (proposisi determinatif general) dan terkadang juz'iyyah (proposisi determinatif partikular) dan qadhiyyah sendiri ada yang mujabah (afirmatif) dan ada yang salibah (negatif) . Namun qadhiyyah yang paling banyak dibahas dalam ilmu filsafat. Tetapi qadhiyyah syarthiyyah yang menunjukkan adanya perbedaan dan keterpisahan antara dua qadhiyyah disebut munfasilah. qadhiyyah yang dipakai adalah qadhiyyah mahshurah. Contohnya. semua manusia akan mati atau sebagian manusia pintar. maka bumi akan hancur. Antara angka genap dan angka ganjil tidak mungkin kumpul. yang maksudnya bahwa adanya "keseiringan" dan "kebersamaan" antara dua qadhiyyah. eksakta dan ilmu pengetahuan lainnya. Misalnya. Qadhiyyah syarthiyyah yang menggabungkan antara dua qadhiyyah seperti contoh di atas disebut muttasilah. Mujabah kulliyyah: Setiap manusia adalah hewan Salibah kulliyyah: Tidak satupun manusia yang berupa batu. "gunung itu tidak indah". Qadhiyyah syarthiyyah terbentuk dari dua qadhiyyah hamliyah yang dihubungkan dengan huruf syarat seperti. Hukum-Hukum Qadhiyyah . 4.

Tetapi. bahwa tashawwur kulli (misalnya. maka yang lainnya pasti salah. maka yang lain pasti benar. Misalnya: "Sebagian manusia pintar" (juz'iyyah mujabah) dengan "Sebagian manusia tidak pintar" (juz'iyyah salibah). "Semua manusia hewan" (kulliyyah mujabah) dengan "Sebagian manusia bukan hewan" (juz'iyyah salibah). Pada pembahasan terdahulu telah kita ketahui bahwa terdapat empat macam hubungan antara empat tashawwuri kulli: [1] tabâyun. tetapi kuantitas (kam) dan kualitasnya (kaif) berbeda. Ali). qadhiyyah kulliyyah lebih khusus dari qadhiyyah juz'iyyah. Dua qadhiyyah ini disebut pula Hukum dua qadhiyyah mutanaqidhain (kontradiktif) jika salah satu dari dua qadhiyyah itu benar. maka pasti "sebagian A pasti B". Misalnya: "Semua manusia akan mati" (kulliyyah mujabah) dengan "Sebagian manusia akan mati" (juz'iyyah mujabah) atau "Tidak satupun dari manusia akan kekal" (kulliyyah salibah) dengan "Sebagian manusia tidak kekal" (juz'iyyah salibah). jika salah satu salah. 3. maka qadhiyyah kulliyyah belum tentu benar. Demikian pula jika yang satu salah. Dua qadhiyyah biasa dikenal dengan ijtima' al naqidhain mustahil (kombinasi kontradiktif). berbeda dengan masalah tashawwuri. "Semua manusia dapat berpikir" (kulliyyah mujabah) dengan "Tidak satupun dari manusia dapat berpikir" (kulliyyah salibah). Hukum dua qadhiyyah mutadakhilatain (interferentif). maka belum pasti "setiap A adalah B". maka yang lain pasti salah. manusia) lebih umum dari tashawwur juz'i (misalnya. Misalnya. tetapi mungkin saja keduanya benar. maka qadhiyyah juz'iyyah pasti benar. [2] tadhadd. jika qadhiyyah juz'iyyah benar. maka pembahasan berikutnya adalah hubungan antara masing-masing dari empat qadhiyyah mahshurah. . Artinya. maka yang lain belum tentu benar. Demikian pula terdapat empat macam hubungan antara masing-masing empat qadhiyyah mahshurah: [1] tanaqudh. Dukhul tahta tadhad (dakhilatain tahta tadhad [interferensif sub-kontrariatif]) adalah dua qadhiyyah yang sama kuantitasnya (keduanya juz'iyyah). Tetapi jika "sebagian A adalah B". [3] dukhul tahta tadhadd dan [4] tadakhul. Tanaqudh (mutanaqidhain [kontradiktif]) adalah dua qadhiyyah yang mawdhu' dan mahmul-nya sama. Tadhad (kontrariatif) adalah dua qadhiyah yang sama kuantitasnya (keduanya kulliyyah). jika salah satu dari dua qadhiyyah itu salah. [2] tasâwi. maka yang lain belum tentu salah. 2. pen). tetapi yang satu mujabah dan yang lain salibah. Misalnya. 4. 1.Setelah kita ketahui definisi dan pembagian qadhiyyah. [3] umum wa khusus mutlak dan [4] umum wa khusus min wajhin. Tetapi. jika yang satu benar. yakni yang satu kulliyah mujabah dan yang lainnya juz'iyyah salibah. tetapi keduanya mungkin salah. jika qadhiyyah kulliyyah benar. Artinya tidak mungkin (mustahil) keduanya benar atau keduanya salah. Tetapi. jika "setiap A adalah B" (qadhiyyah kulliyyah). Misalnya. Artinya keduanya tidak mungkin benar. maka yang lainnya benar. kedua qadhiyyah itu tidak mungkin salah. Hukum dua qadhiyyah mutadhaddain (kontrariatif). Tadakhul (mutadakhilatain [interferensif]) adalah dua qadhiyyah yang sama kualitasnya tetapi kuantitasnya berbeda. jika salah satu dari dua qadhiyyah itu benar. Di sini. tetapi yang satu mujabah dan lain salibah. Dengan kata lain. (Lihat pembahasan tentang nisab arba'ah. Hukum dua qadhiyyah dakhlatain tahta tadhad (interferensif sub-kontrariatif).

[2] setiap besi akan memuai jika dipanaskan dan [3] kunci itu akan memuai jika dipanaskan. Jadi untuk memberikan hasil (konklusi) diperlukan beberapa qadhiyyah yang saling berkaitan. Manusia disaat ingin mengetahui hal-hal yang majhul. Qiyas adalah kumpulan dari beberapa qadhiyyah yang berkaitan yang jika benar. [1] Kunci itu besi.Tanaqudh Salah satu hukum qadhiyyah yang menjadi dasar semua pembahasan mantiq dan filsafat adalah hukum tanaqudh (hukum kontradiksi). 1. 2. Sebelum kita lebih lnjut membahas tentang qiyas. Qiyas ini terdiri dari tiga qadhiyyah. 2. Qiyas (silogisme) Pembahasan tentang qadhiyyah sebenarnya pendahuluan dari masalah qiyas. Para ahli mantiq dan filsafat menyebutkan bahwa selain mawdhu' dan mahmul dua qadhiyyah mutanaqidhain itu harus sama. Pengetahuan dari juz'i ke juz'i yang lain. sebagaimana pembahasan tentang tashawwur sebagai pendahuluan dari hudud atau ta'rifat. juga ada beberapa kesamaan dalam kedua qadhiyyah tersebut. Argumentasi ini disebut tamtsil (analogi). Atau dengan kata lain. Pengetahuan dari juz'i ke kulli. Argumenatsi ini sifatnya horisontal. Qadhiyyah pertama disebut muqaddimah shugra (premis . Sesuai dengan definisi qiyas di atas. ada baiknya kita secara sekilas beberapa macam hujjah (argumentasi ). 3. dari sebuah titik yang parsial ke titik parsial lainnya. satu qadhiyyah atau beberapa qadhiyyah yang tidak dikaitkan antara satu dengan yang lain tidak akan menghasilkan qadhiyyah baru. dari khusus ke umum (menggeneralisasi yang parsial) Argumentasi ini bersifat vertikal. dari umum ke khusus. 3. Dan itulah yang namanya qiyas. Dan sebenarnya inti pembahasan mantiq adalah hudud dan qiyas. dan disebut istiqra' (induksi). Argumentasi ini disebut qiyas (silogisme). Kesamaan tempat (makan) Kesamaan waktu (zaman) Kesamaan kondisi (syart) Kesamaan korelasi (idhafah) Kesamaan pada sebagian atau keseluruhan (juz dan kull ) Kesamaan dalam potensi dan aktual (bil quwwah dan bil fi'li). Pengetahuan dari kulli ke juz'i. iqtirani (silogisme kategoris) dan istitsna'i (silogisme hipotesis). maka dengan sendirinya (li dzatihi) akan menghasilkan qadhiyyah yang lain (baru). maka terdapat tiga cara untuk mengetahuinya: 1. Kesamaan itu terletak pada: 1. Qiyas Iqtirani Qiyas iqtirani adalah qiyas yang mawdhu' dan mahmul natijahnya berada secara terpisah pada dua muqaddimah. Macam-macam Qiyas Qiyas dibagi menjadi dua. 5. Contoh: "Kunci itu besi" dan "setiap besi akan memuai jika dipanaskan". maka "kunci itu akan memuai jika dipanaskan". Atau dengan kata lain. 6. 4.

Muqaddimah kubra harus kulliyyah. Salah satu dari kedua muqaddimah harus kulliyyah. Syarat-syarat Syakl ketiga. "Setiap Nabi itu makshum".minor). Syakl Ketiga adalah Qiyas yang had awshat-nya menjadi mawdhu' pada kedua muqaddimahnya. "Setiap nabi makshum". Muqaddimah kubra harus kulliyah. Muqaddimah sughra harus mujabah. Syarat-syarat syakl kedua. yang menjadi mahmul pada muqaddimah shugra dan menjadi mawdhu' pada muqaddimah kubra. "Setiap nabi makshum". b. yakni. dan "sebagian nabi adalah imam". Muqaddimah shugra harus mujabah. Natijah merupakan gabungan dari mawdhu' dan mahmul yang sudah tercantum pada dua muqaddimah. Syakl Awwal adalah Qiyas yang had awsth-nya menjadi mahmul pada muqaddimah shugra dan menjadi mawdhu' pada muqaddimah kubra. dan "setiap orang makshum adalah teladan yang baik". a. Misalnya. 3. "kunci" (mawdhu') dan "akan memuai jika dipanaskan" (mahmul). pen). Syarat-syarat syakl awwal. Sedangkan "besi" sebagai had awshat. a. b. (Lihat contoh. Misalnya. 2. qadhiyyah kedua disebut muqaddimah kubra (premis mayor) dan yang ketiga adalah natijah (konklusi). Kedua muqaddimah harus berbeda dalam kualitasnya (kaif. Syakl Kedua adalah Qiyas yang had awshat-nya menjadi mahmul pada kedua muqaddimah-nya. Had awsath harus berada pada kedua muqaddimah (shugra dan kubra) tetapi tidak tecantum dalam natijah. Misalnya. maka "sebagian orang makshum adalah imam". maka "tidak satupun dari nabi itu pendosa". b. dan "tidak satupun pendosa itu makshum". maka "setiap nabi adalah teladan yang baik". Syakl awwal akan menghasilkan natijah yang badihi (jelas dan pasti) jika memenuhi dua syarat berikut ini: a. . yakni mujabah dan salibah). Yang paling berperan dalam qiyas adalah penghubung antara mawdhu' muqadimah shugra dengan mahmul muqaddimah kubra. Empat Bentuk Qiyas Iqtirani Qiyas iqtirani kalau dilihat dari letak kedudukan had awsath-nya pada muqaddimah shugra dan kubra mempunyai empat bentuk : 1. Penghubung itu disebut had awsath. "Makshum" adalah had awsath.

Misalnya. "Jika Muhammad itu utusan Allah. seakan tercengang dan terhipnotis dengan karya Aristoteles. Aristoteles adalah ikon rasionalitas. Misalnya. atau "oleh karena". tak berlebihan jika orang Yunani menganggap Aristoteles sebagai Tuhan dan Dewa rasionalitas. Pemikiran-pemikirannya mampu menghegemoni rasionalitas bangsa Yunani. Misalnya. Dinamakan istitsna'i karena terdapat kata " tetapi". "Jika Fir'aun itu Tuhan. Salah satu dari keduanya harus kulliyyah. bahkan seolah-olah menutup bayang-banyang dua filsuf besar sebelumya. Catatan: Menurut para mantiqiyyin. dan kemudian ditarik sebuah konklusi. Dia adalah peletak dasar cara berpikir yang tersusun dalam premis-premis. "Jika Muhammad utusan Allah. Sedangkan "maka dia mempunyai mukjizat" adalah natijah. Logika Aristoteles telah mampu merapikan µmuntahan ide¶ Plato yang terabadikan dalam ³dialog´nya. Atau c. Tetapi Muhammad mempunyai mukjizat berarti Dia utusan Allah". Jargon rasionalitasnya mampu meluluhkan ilmuwan pada zamannya demi mengungkap hakekat sebuah kebenaran. Bangsa Yunani yang dahulu diliputi dengan dunia mitos. Kedua muqaddimahnya harus mujabah. menjadikan pemikirannya banyak dikenal di tengah-tengah masyarakat Yunani. Sampai pada tingkatan tertentu. Apa yang dilakukan Aristoteles ini disebut logika. Adapun yang keempat sangat sulit diterima oleh pikiran. b. maka dia tidak akan binasa.) Syarat-syarat Syakl keempat. Tetapi dia mempunyai mukjizat. Tetapi bumi tidak hancur. Syakal Keempat adalah Qiyas yang had awsath-nya menjadi mawdhu' pada muqaddimah shugra dan menjadi mahmul pada muqaddimah kubra (kebalikan dari syakl awwal. qiyas ini terbentuk dari qadhiyyah syarthiyyah dan qadhiyyah hamliyyah.Rasionalitas dalam ilmu akan selalu diagungkan seperti halnya demokrasi dalam politik. Maka. Penjelasannya: "Jika Muhammad itu utusan Allah. Posisi Aristoteles sebagai guru Alexander (putra raja Macedonia. berarti Tuhan satu (tidak tidak satu)". . Tali negatif dan muqaddam negatif. dan "Dia mempunyai mukjizat" adalah qadhiyyah hamliyyah. Tali negatif dan muqaddam positif. maka bumi ini akan hancur. Oleh karena itu Aristoteles sebagai penyusun mantiq yang pertama tidak mencantumkan bentuk yang keempat. Misalnya. logika Aristoteles mendapatkan tempat yang sangat prestis khususnya dalam dunia pengetahuan. Philip) dan guru filsafat di sekolah yang didirikannya di Athena. maka dia mempunyai mukjizat. Qiyas Istitsna'i Berbeda dengan qiyas iqtirani. a. maka dia mempunyai mukjizat" adalah qadhiyyah syarthiyyah yang terdiri dari muqaddam dan tali (lihat definisi qadhiyyah syarthiyyah). "Jika Tuhan itu tidak satu. maka dia tidak mempunyai mukjizat. Muqaddam negatif dan tali positif. the Lyceum. berarti dia bukan Tuhan" Bagi bangsa Yunani -dan bahkan bangsa di seluruh dunia-. Muqaddimah shugra harus kulliyyah. Tetapi dia binasa. Oleh karena dia mempunyai mukjizat. "Jika Muhammad bukan nabi. Socrates dan Plato. maka dia mempunyai mukjizat. Macam-Macam Qiyas istitsna'i (silogisme) Ada empat macam qiyas istitsna'i: Muqaddam positif dan tali positif. berarti dia Nabi (bukan bukan nabi)". Misalnya. berarti dia utusan Allah". bentuk qiyas iqtirani yang badihi (jelas sekali) adalah yang pertama sedangkan yang kedua dan ketiga membutuhkan pemikiran. Kedua muqaddimahnya harus berbeda kualitasnya (kaif) d. Logika akan terus berkembang dan mengambil peran yang sangat relevan terhadap segala perkembangan yang µtidak mutlak¶.4.

Pengamatan empiris dan landasan-landasan logis harus dimanfaatkan dalam mempertanyakan setiap aspek dunia secara sistematis . Definisi logika sebagai ilmu untuk meneliti hukum-hukum berpikir dengan tepat harus mempunyai titik pembenaran tentang kebenaran itu sendiri. dialektika dan etika. akal yang menelorkan gagasan dan karya dalam konteks interaksi sosial.serta mengungkap kebenaran. Berbeda dengan Ibnu Sina (1037 M. akal yang menelorkan ilmu dan asumsi di luar indera. hadits. Aristoteles selalu melakukan pendekatan rasional. Oleh Ibnu Khaldun kata ³af`idah´ bermakna akal untuk berfikir yang terbagi dalam tiga tingkatan. Di sini konsepsi (tashawwur) dan legalitas (tashdiq) berkolaborasi untuk menghasilkan konklusi. yaitu ketika sebuah pernyataan sesuai dengan kenyataannya maka itu benar dan pernyataan yang didasarkan pada koherensi logis adalah benar. akal yang memahami esensi di luar diri manusia secara alami. ilmu alat atau pengantar tersebut akan keluar dari . pertama ilmu murni-independen (µulûm maqshûdah bi al-dzât) seperti ilmu syari¶at yang mencakup ilmu tafsir. Dalam hal ini. yaitu yang membedakan apa yang bermanfaat dan apa yang membawa petaka. Pengkajian terhadap ilmu pengantar hendaknya hanya sebatas kapasitasnya sebagai sebuah alat bagi ilmu independen. Dan dialektika adalah logika. Jika aklamasi mengarah kepada logika adalah representasi dari segala kebenaran pengetahuan. Ibnu Khaldun mengklasifikasikan ilmu menjadi dua. Al-Farabi (950 M. karena kekuatan pikir kita sebatas kebenaran yang kita ketahui. Bahkan alam semesta. maka akan timbul pertanyaan µke-independensian¶ logika. Kedua. menurutnya. Maka ahli mantik dalam hal ini mencapai sebuah konklusi. Dalam teorinya. tidak dikendalikan oleh hal-hal yang serba kebetulan. apakah termasuk dari bagian sebuah pengetahuan atau hanya sebagai µkacung¶ ilmu pengetahuan? Stoicisme mengklasifikasikan ilmu menjadi tiga tema besar. Pertama. yaitu metafisika.terlebih ketika menemukan hal baru yang butuh penalaran. Akal menjadi sebuah neraca. karena akallah yang paling relevan untuk membedakan antara manusia dengan segala potensi yang dimilikinya dari makhluk lain. Dan ketiga. Kedua. Mayoritas aktifitas akal di sini adalah konsepsi (tashawwur). Gerakan alam semesta ini tunduk pada hukum-hukum rasional. Keterpengaruhan mantik arab dengan neoplatonisme dan Aristoteles sangat jelas jika dilihat dalam hal ini. Maka mereka lebih cenderung memasukkan logika sebagai bagian dari Filsafat. seperti ilmu bahasa Arab dan ilmu hitung sebagai pengantar ilmu-ilmu syari¶ah. Sehingga akal di sini disebut sebagai akal empirik. hanya dari sisi pandangnya saja yang membuat seakan berbeda. Hal ini tercermin dari setiap karyanya. lepas dari eksperimen empirik atau yang biasa disebut ³akal nazhari´. karena essensi dari pada logika itu sendiri adalah ketetapan hukum untuk mengetahui sesuatu yang belum diketahui.) dalam bukunya al-Isyârât wa al-Tanbîhât yang memisahkan logika sebagai ilmu independen sekaligus sebagai pengantar. fikih dan kalam. Dan sejatinya tidak ditemukan perbedaan yang mendalam. Dengan µdogma¶ inilah budaya Eropa mulai bergerak dari hal-hal yang beraromakan mistik dan takhayul menuju rasio. Pikiran yang tidak didasarkan pada kebenaran tidak memiliki kekuatan. Karena jika tidak demikian.) juga berpendapat bahwa mantik adalah Ra¶îs al-µUlum yang independen. ilmu pengantar (âliyahwasîlah) bagi ilmu-ilmu murni-independen. ³ Wa Ja¶ala Lakum alSam¶a wa al-Abshâr wa al-Af`idah´ ( QS: 67 Ayat 23). dan mantik sebagai pengantar filsafat. dan ilmu filsafat yang mencakup fisika dan ketuhanan. Aktvitas akal di sini adalah sebagai legalitas (tashdiq) yang dihasilkan dari eksperimen. Perumusan logika oleh Aristoteles dan dijadikannya sebagai dasar ilmu pengetahuan secara epistemologi bertujuan untuk mengetahui dan mengenal cara manusia mencapai pengetahuan tentang kenyataan alam semesta -baik sepenuhnya atau tidak.

Sejarahpun mencatat. untuk mewujudkan argumen yang baik dan benar perlu menguasai logika. Pada hakekatnya logika tidak terpisah dari materi. Persia dan India. Al-Ma¶mun bermimpi bertemu dengan Aristoteles. ³Analytica Priora´ (alTahlîlât al-Ulâ). pikiran dan burhan. Sedangkan ilmu perantara bukan disebut ilmu. prinsip dan metode berpikir.Syi¶r). Dalam perkembangan selanjutnya. Pembahasan panjang lebar terhadap ilmu pengantar inilah yang banyak dilakukan oleh ulama khalaf.arah dan tujuan awal. yang salah atau yang benar. Berangkat dari upaya pencarian kebenaran tersebut ilmuwan Yunani seperti Socrates. Baru sekitar abad ke-2 M bangsa Arab mengadopsinya dan diterjemahkan sebatas segi bahasa yaitu kalam dan talaffud tanpa menghubungkannya dengan makna sebenarnya yang digunakan di Yunani ketika itu. Plato dan Aristoteles semakin gencar untuk merumuskan perangkat metode berpikir yang rasional. Tetapi pakar modern mengawali dari sesuatu sehingga akan muncul pemahaman. µRetorika¶ (al. bisa dikatakan tujuan sebenarnya mantik atau logika bukanlah sebagai peletak hukum berpikir melainkan berpikir untuk memperoleh kebenaran. yang pada awalnya merupakan sebuah pemahaman sehingga akan mewujudkan µthing¶ (sesuatu). Lain halnya dengan al-Farabi dalam ³Ihshâ` al-µUlûm´ yang tidak mengkategorikan µisagog¶ (madkhal) sebagai bagian dari mantik. argumen dipakai sebagai penguat gagasan. Terlepas dari ilmu atau bukan. Seiring dengan perkembangan mantik di dunia Arab. Ada enam tema besar dalam mantik Aristoteles yaitu. yaitu dari yang enam menjadi sembilan. ³Analytica Posteriora´ (al. Susunan logika Aristoteles yang sudah tertata rapi disertai peninggalan karyakaryanya dalam jumlah yang banyak dapat dikatakan sebagai salah satu faktor berkembangnya logika Aristoteles ke dunia Arab. Tapi pionir logika formal yang sebenarnya adalah Aristoteles. hanya ilmu independenlah yang dapat disebut sebagai ilmu. penulis sedikitnya telah menggunakan perumusan logika yang diusung Aristoteles sebagai pencipta bentuk-bentuk pengungkapan dan penjelasan baru yang berupa dialektita atau logika. Kesalahan penyimpulan ditemukan ketika tidak menggunakan hukum. dan bisa mengaburkan pengkajian ilmu-ilmu independen. Ketika itu. Makna awal logika Yunani adalah kalam yang kemudian dimaknai sebagai akal. Bentuk logika formal yang ada dewasa ini adalah perwujudan kolaborasi antara pakar klasik dan modern. Perbincangan mereka mengarah bahwa sumber . banyak karya Aristoteles telah diterjemahkan ke berbagai bahasa seperti Syria. ³Topica. meskipun dalam pengertian yang berbeda dengan logika formal modern. µIsagog¶ (madkhal). Seu De Locis Communis´ (al-Jadal).Tahlîlât al-Tsâniyyah). logika banyak mengalami perubahan. ³Categoria Seu Praediecamenta´ (al Maqqûlât). µPotikia¶ (al. Karena korelasi sebuah pernyataan dan jawaban yang logis akan dapat dibuktikan dengan rumusan tersebut. Sejarah mengisahkan tentang perkembangan ilmu berawal dari penerjemahan gede-gedean yang diprakarsai Khalifah Al-Ma¶mun (masa penerjemahan terhadap karya pemikir Yunani dimulai pada masa Khalifah al-Mansur) dari Dinasti Abbasiyah. Maka tak heran jika metode Aristoteles sangat µheboh¶ merasuki hampir di segala cabang ilmu pengetahuan. Arab. Setiap argumen dapat diuji keabsahannya dengan logika. Sembilan tema besar itulah yang banyak berkembang di dunia Arab. Logika dan Perkembangannya Dalam dunia ilmu. ³Perihermenias Seu de Interpretatione´ (al-µIbârah). ³De Sophisticis Elenchis´ (al-Safsathâ¶i).Khithâbah). Bahkan al-Khawarizmi dalam bukunya ´ Mafâtîh al-µUlûm´ juga mengklasifikasikan mantik ke dalam sembilan tema tersebut. Dalam pembacaan ini. Maka. Logika dalam perkembangannya mengalami berbagai fase.

Ilmu asing yang diadopsi Arab diklasifikasikan oleh Khawarizmi berjumlah sembilan cabang ilmu.). laporannya lebih bersifat persuatif sedangkan agama lebih ke imajinatif. seorang filsuf muslim yang juga dokter dan Abu Bakar al-Razi yang mengawali pembukuan ilmu kedokteran dan farmasi. Sarjana Islam mulai proaktif dalam mengembangkan ilmu yang bernafaskan sains. Pengembangan metode eksperimen dari Timur mempunyai pengaruh penting dalam pola berpikir manusia sehingga mengembangkan metode ilmiah yang menggabungkan cara berpikir baik secara deduktif dan induktif. Tematema pokok dari ajaran mereka antara lain hubungan iman-akal budi. yaitu Dominikan dan Fransiskan. eksistensi dan hakekat Tuhan. sebagaimana pendapat Ibnu Rusyd (1198 M. Maka jika kita telisik kembali dalam perjalanan sejarah. hal inilah . bahwa otoritas gereja pada pertengahan abad sangat menghegemoni hampir semua wilayah Eropa dengan mengusung etika rasional sebagai titik tolak pemikiran. Al-Ghazali juga mulai mengkolaborasikan mantik dengan ilmu kalam pada periode selanjutnya. karena dia telah berhasil membujuk bahkan membebaskan karya para intelektual Yunani dari genggaman Romawi. Pindahnya Madrasah Alexandria ke Syria membawa banyak pengaruh dalam dunia pengetahuan. lewat orang-orang muslimlah dunia modern sekarang ini mendapatkan cahaya dan kekuatannya. Pertemuan pemikiran Aristoteles dengan iman kristiani menghasilkan banyak pemikir dan filsuf penting. antropologi. Penertiban dan penyusunan ketika itu menjadikan logika sebagai pedoman dan ilmu dasar dalam bidang astronomi. kemudian pada pertengahan abad (sekitar abad ke-13 hingga abad ke-16 M.) dan akhir abad ke-19 M. Yang perlu ditekankan di sini. Nah. Pengaruh rasionalitas Aristoteles terhadap peradaban Eropa secara periodik terbagi tiga. etika dan politik. yaitu sama-sama melaporkan prinsip-prinsip wujud tertinggi dan mempunyai tujuan puncak yaitu kebahagiaan manusia. Segera Al-Ma¶mun mengirim delegasi ke Roma guna mempelajari ilmu yang banyak berkembang dan tersimpan. Sehingga wahyu Tuhan seakan dipaksakan untuk memasuki wilayah akal. kedokteran dan kalam yang berkembang pesat di Arab sekitar abad IX-XI M. akal hanyalah akal. yaitu pada permulaan abad Masehi (sekitar abad ke-2 dan ke-3 M. Adapun filsafat. kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Rasionalitas Eropa Klasik-Modern Perkembangan logika Barat berawal dari masalah teosentris yang sangat berbalik arah dengan perkembangan mantik di Arab-Islam. karena betapapun itu. Adalah Ayyub bin al-Qasim al-Raqi yang menerjemahkan Isagog dari bahasa Suryani ke Arab yang pada awalnya telah diadopsi dari Madrasah Iskandaria. termasuk Ibnu Sina (1037 M.) bahwa filsafat dan agama mempunyai persamaan. Yahya bin Khalid bin Barmak adalah µSang Hero¶ pada masa itu. yang tidak dapat melampaui posisi agama.kebenaran adalah akal. Berbeda dengan apa yang ditawarkan dunia Islam. Mereka sebagian besar berasal dari dua ordo baru yang lahir dalam abad pertengahan. Hal yang ditakutkan oleh Raja Romawi dari karya para intelektual Yunani adalah ketika buku-buku tersebut dikonsumsi oleh rakyatnya dan mulai tersebar maka agama Nasrani kemungkinan besar akan ditinggalkan. dan mantik adalah salah satu di antaranya. Mereka berusaha untuk memperlihatkan bahwa iman sesuai dengan pikiran-pikiran paling dalam dari manusia. dan kembali pada agama Yunani. Dan pada masa ini filsafat diajarkan di sekolah-sekolah biara serta universitas mengikuti kurikulum tetap yang bersifat internasional.) kemudian ikut andil dalam mengkolaborasikan logika Aristoteles dengan ilmu Islam termasuk filsafat dan nahwu. Ibnu Rusyd (1198 M. Dalam tataran ini Siger de Brabant menyatakan bahwa agama lebih benar dari pada akal. Aliran ini dinamai sebagai filsafat Skolastik (dari kata Latin ³scholasticus´ yang berarti ³guru´).).

Melihat tujuan utama agama nasrani adalah ³fikratul khallash´. logika. pusat perhatian pemikiran tidak lagi wilayah kosmos. yaitu madrasah Agustine.Kindi. Pada hakekatnya relasi mantik dan filsafat tidak akan terpisahkan. sedangkan tujuan iman mendahului akal (Credo ut intelligam) hukumnya wajib agar akal digunakan untuk memikirkan akidah.). Penyelaman terhadap karya sarjana muslim tidak berjalan mulus bahkan mendapatkan penyangkalan dan pembantahan dari pihak gereja yang masih fundamentalis. gereja mulai menerjemahkan karya sarjana Muslim yang berpusat di Spanyol dan Napoli. Zaki Najib Mahmud. Agustine tidak mengakui otoritas wahyu. Dalam tataran ini. maka secara resmi gereja mengeluarkan pelarangan dan pemboikotan terhadap karya Aristoteles pada tahun 1210 M. Mulai abad ke-12 M. Nicollo Machiavelli (1469-1527 M. Dalam bukunya ³De Civitate Dei´ dikatakan bahwa filsafat Kristen adalah cinta akan kebenaran. karena nasrani adalah agama yang rasional. melainkan manusia. Dominika.). Agustine sedikit menjelaskan korelasi antara rasionalitas dan iman. Jargon utamanya adalah ³Antroposentris´ ala mereka. melainkan berakidah untuk berpikir. Descartes sebagai filsuf. Pemisahan rasionalitas dengan agama juga menjadi bahasan utama oleh Dr. Pergolakan iman Kristiani banyak tercabik-cabik dalam pertengahan abad pertama. Mereka mulai menguak kebudayaan klasik Yunani-Romawi kuno yang dihidupkan kembali dalam kesusastraan. Mulai sekarang manusialah yang dianggap sebagai titik fokus dari kenyataan. bahwa berpikir merupakan titik pemberangkatan untuk berakidah.). dan hal itulah yang banyak membantu Thomas Aquinas dalam pembaruan gereja. Nash agama selalu bersifat tunggal. langkah selanjutnya yang diambil adalah menerjemahkan karya Aristoteles langsung dari buku Yunani. bukan akal. Ludwig Feurbach sependapat dengan keputusan gereja. astronomi dan filsafat. Dan dari sini dapat ditarik benang merah bahwa tujuan hakiki filsafat adalah bukan berpikir untuk berakidah. yang menurut sebagian tokoh gereja tidak ada sangkut-pautnya dengan filsafat.) yang sangat melegenda kemudian mulai melebarkan sayap terhadap karya AlFarabi dan Al. Orang Yahudi ketika itu banyak mempelopori penerjemahan kitab kedokteran. Maka dalam argumen selanjutnya. tetapi nash yang berangkat dari penalaran agama akan bervarian selaras dengan perbedaan segi pandangan akal terhadap agama. dengan tokoh utama Francis Bacon (1562-1626 M. Maka. Buku filsafat pertama yang diterjemahkan adalah al-Syifa¶ karya Ibnu Sina (1037 M. seni dan filsafat. karena µberfilsafat¶ harus menggunakan akal sehat dengan melepas subjektifitas. Pengadopsian karya-karya tersebut didukung dengan hadirnya Madrasah Paris yang sedang naik daun sekaligus mendapat µrestu¶ dari Raja Philip dan Agustus. maka ketika membahas µrasionalitas agama¶ lebih ditujukan kepada proses penalaran yang berangkat dari agama. Hal ini sangat berlawanan dengan pernyataan Thomas Aquinas (1274 M. bahwa fungsi akal mendahului iman (Ratio antecedit fidem) guna menjelaskan nilainilai kebenaran dalam akidah. Pergulatan sejarah mengisahkan zaman Renaissance adalah yang menjembatani perkembangan rasionalitas dari abad pertengahan ke era modern sekitar tahun 1400-1600 M.yang menimbulkan perpecahan dalam gereja. dan kebenaran merupakan µkalimah¶ yang menyatu dalam tubuh al-Masih. yaitu dengan munculnya asumsi gereja yang menyatakan tidak adanya filsafat dalam agama karena itu sangat mustahil. Karena banyak berlawanan dengan hasil konsensus gereja. sejatinya agama berangkat dari wahyu disertai nash-nash ilahiyah yang terjaga.) memberikan sebuah elaborasi pernyataan yang berlawanan filsafat klasik tetapi justru . Rasional Latin dan Oxford. matematikawan dan ilmuwan Prancis abad pertengahan (1596-1650 M. matematika. Sedangkan agama dasar utamannya adalah kekuatan iman. Di sinilah awal permulaan terbaginya madrasah Eropa menjadi empat pusat keilmuwan. Berbeda dengan pemikiran Agustine yang banyak menghubungkan wilayah agama dan rasionalitas.

empirisme dan idealisme. hingga wafatnya murid dan kerabat Hunain bin Ishaq. magis dan takhayul. karena justru pada masa sebelumnya telah muncul ilmu nahwu yang banyak berdialog dengan mantik. ada juga yang berpendapat pada awal Daulah Abbasiyah.) diyakini sebagai penerjemah awal ilmu mantik.mengembangkan. karena mereka banyak membantu proses penerjemahan. Namun. yang biasa disebut masa enlightment atau Aufklarung. Sebagian dari ahli sejarah mengatakan. bahwa seluruh alam -selain Tuhan dan jiwa manusiabekerja secara mekanis. Al-Syahrastani sepakat bahwa mantik lebih dulu memasuki wilayah Arab sebelum zaman penerjemahan. bahwa Ibnu Muqaffa¶ (760 M. Tetapi pendapat ini banyak disangkal oleh sejarawan lain. Bahkan Ishaq juga ikut menerjemahkan dari bahasa Suryani. di Prancis Jean Jacque Rousseau (1712-1778 M. yang mulai menciptakan suatu sintesis dari rasionalisme dan empirisme. yang kebanyakan hanya berkutat pada satu negara dan kebudayaan. Barat sampai saat ini mempunyai banyak aliran filsafat. Pario Hermenais. Bahkan ulama nahwu dari Basrah ketika itu mendapatkan julukan ahli mantik. karena dalam metodenya banyak menggunakan rasio. bahwa ilmu mantik mulai masuk ke dalam pemikiran Arab pada abad ke-7 M ketika masa penerjemahan Khalifah Ma¶mun. Dia berpendapat seharusnya para ilmuwan menjauhkan diri dari hal-hal yang bersifat semu dan harus menjabarkan dunia secara matematis. Atas dasar rasionalisme. sehingga aksi perlawanan dan pertentangan dari tiap kelompok tak dapat dihindari./462 H. . Analytica. Pengaruh besar yang dicetuskan Descartes adalah pemahaman tentang fisik alam semesta. hal ini sangat berbeda dengan ulama Nahwu Kufah yang cenderung kurang rasionalistik.) dan di Jerman ada Immanuel Kant (1724-1804 M. bisa jadi keadaan sosial masyarakatnya memang belum butuh atau aksi pencekalan oleh ulama salaf yang begitu menghegemoni. adalah awal penerjemahan buku-buku Yunani.) dijelaskan. Ada yang mengatakan bahwa penerjemahan itu terjadi pada masa kekuasaan Daulah Bani Umayah. Dia menyusun suatu sistem filsafat dengan metode matematika. Akibatnya. serta Eisagoge karya Porphyry.. Proses penerjemahan terhadap karya filsuf Yunani didukung oleh upaya ekspansi umat Islam ke beberapa wilayah asing. belum tersebarnya mantik secara meluas disebabkan karena hilangnya beberapa dokumentasi terjemahan buku-buku mantik sebelum abad ke-8 M. Dalam riwayat al-Qadli al-Sha¶id al-Andalusi (1070 M. Tokoh utamanya adalah John Locke (1632-1704 M. Hal tersebut sangat didukung oleh kondisi sosial politik Basrah yang terus berkecamuk./142 H. Hunain bin Ishaq. juga berpartisipasi dalam menerjemahkan berbagai disiplin ilmu Yunani ke dalam bahasa Arab. Categorias.). Perkembangan baru muncul lagi di abad ke-18 M. Dalam buku Thatawwur Mantiq al-Araby dijelaskan. yang berarti sebelum abad ke-8 M. Oleh karena itu semua peristiwa alami dapat dijelaskan dari sebab musabab mekanis. Nalar Arab. mantik dalam masa ini belum menemukan perkembangan pesat. Atas dasar inilah dia menolak pandangan astrologi. Ia telah menerjemahkan tiga buku karya Aristoteles yaitu.Islam Terdapat banyak versi kapan mulainya penerjemahan dari Yunani ke Arab. Menurut Deboura.). salah satu ahli bahasa. Nah. mantik digunakan sebagai senjata perlawanan untuk adu argumentasi. sekitar tahun 800 M. yang berarti juga menolak penjelasan teologis. Sebuah pertanyaan klasik ³apakah asal-muasal pengetahuan manusia itu?´ diselaraskan dengan pertanyaan ³bagaimana saya tahu?´ adalah hepotesa aktif yang menuntut akal untuk proaktif dalam melihat sesuatu.

Pada saat yang bersamaan. Pertemuan umat Kristen dengan logika menuntut cendekiawan muslim untuk lebih giat mempelajari mantik sebagai upaya dalam menjaga teologi Islam.Organon adalah kitab pertama yang diterjemahkan ke Arab. astronomi serta kimia. Al-Munqidz min al-Dhalâl. yang diprakarsai oleh Yahya bin Musawiyah. spesialis penerjemah ilmu kedokteran dari Yunani ke Arab. Al-Ghazali dst. Tetapi ada faktor-faktor positif yang terdapat pada logika Yunani sehingga dapat diterima di dunia Islam. Al-Farabi. penolakan yang sesungguhnya baru terjadi pada masa al-Ghazali yang menulis bukunya Tahâfut al-Falâsifah pada pertengahan kedua abad kelima Hijriah. mantik menjadi pemeran utama dalam ilmu kedokteran dan mulai berkembang dalam bahasa Arab sekitar abad ke-9 hingga abad ke-11 M. di antaranya akurasi logika dan ilmu-ilmu matematika yang memberikan kontribusi luar biasa dalam peradaban Islam. Islam yang hanya mengenal segi-segi intuisi dan perasaan dalam mempertahankan akidah. yang secara tidak langsung pemikiran Aristoteles berkembang biak tidak hanya dalam kedokteran. Mantik. Penolakan terhadap filsafat termasuk logika Yunani baru terjadi pada masa Imam alAsy¶ari abad keempat Hijriah. Al-Razi. Selanjutnya. Akibatnya. termasuk nahwu. Menurut beberapa penulis. ilmu kalam juga mulai merayap dan terus berkembang di tangan Qadariyah. Mantik dalam hal ini digunakan sebagai rumusan metode dalam pengambilan hukum gramatikal bahasa. karena Islam sebagai negara sangat membutuhkan sistem baru untuk maju. Penolakan tersebut didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan teologis. yaitu sebagai perangkat praktis dan media berargumen yang marak dalam berbagai perdebatan ideologi. mantik digunakan sebagai salah satu langkah kesuksesan pola pikir Arab-Islam. Kemudian mantik mulai berdialektika dan mempengaruhi disiplin ilmu Islam lainnya. terlebih lagi dalam hal silogisme. baru diwariskan ke Mu¶tazilah sebagai titisan golongan rasionalis. Kekaguman akan logika terjadi karena. dulunya. Pada dasarnya logika Aristoteles telah hidup dalam budaya Arab kurang lebih satu setengah abad. . sehingga dengan mantik peran akal menjadi primer demi mencapai tingkat keyakinan. sebut saja Al-Kindi. pada masa itu juga digunakan sebagai piranti tata letak kota. ide-ide materialisme yang diusung Aristoteles juga berperan dalam problematika pimikiran Arab-Islam. Apalagi didukung dengan hadirnya madrasah di Jundisapur (Persia) yang mengawali pelatihan penerjemahan dari teks Yunani pada awal abad pertama yang akhirnya berpindah ke Bagdad. Maka. Logika Aristoteles memberikan perubahan besar dalam dinamika sosial masyarakat Arab. Peran logika Aristoteles dapat disimpulkan dalam tiga hal. bahkan sampai memasuki wilayah ketuhanan (metafisika). Al-Kindi mulai memberanikan diri untuk menerjemahkan filsafat Yunani yang sekaligus mendapat persetujuan dari Khalifah alMa¶mun (850-873 M). Tak hanya itu. bahwa dari sinilah lahir sarjana muslim yang berkompetensi tinggi untuk mengenalkan mantik dalam ilmu keislaman. filsuf dan teolog muslim mempercayai akurasi dan kebenaran logika. yaitu sumber kebenaran dan pengetahuan. Sejak saat itu. Ibnu Sina. dari sini mulai terjadi perbedaan dalam penertiban ilmu antara filsafat Suryani dan Nasrani. Maka tak bisa dipungkiri lagi. Dan terakhir. meskipun kontradiksi dalam hal ini tidak dapat dinafikan. Berawal dari ilmu kedokteran. terlebih dalam urusan administrasi negara serta dalam sistem politik sekalipun. bahwa logika dijadikan sebagai media (wasîlah) untuk menyatukan berbagai ideologi dan pimikiran menuju hakekat Satu Yang Mutlak. astronomi dan matematika melainkan mulai menyentuh wilayah teologi Kristen. kemudian mulai beranjak menggunakan mantik dalam menguatkan sendi-sendi akidah Islam sebagaimana disinggung al-Ghazali dalam bukunya. Orang-orang Nasrani ketika itu juga banyak membantu dalam proses penerjemahan.

mereka mengklaim bahwa mempelajari filsafat dan mantik adalah bagian dari perbuatan setan. asal-muasal masuknya mantik ke dunia Arab melalui jalur kedokteran. Muncul setelahnya. hal 138). Demikian pula yang terjadi dalam mantik. Salah satunya berbunyi ³akan dianggap bodoh lagi diperdebatkan bagi mereka yang mulai meninggalkan bahasa Arab dan berganti mempelajari filsafat Aristoteles´. Dalam logika. Menurut Ibnu Taimiyah. Imam Syafi¶i banyak menggunakan metode eksplorasi (istiqrâ`) untuk mengambil istinbath hukum. artinya yang dipakai saat itu bukan lagi metode Aristoteles melainkan diktat khusus karya Ibnu Sina. Hal-hal seperti itulah yang dilakukan ulama salaf guna membendung fitnah dalam pentakwilan teks-teks suci al-Qur¶an dan Hadist. Bantahan dan sanggahan terhadap al-Kindi kala itu tak dapat dihindari. pengikisan mantik mulai terlihat. Setelah runtuhnya Baghdad abad ke-11 M. logika berperan sebagai timbangan untuk memutuskan yang baik dan buruk. bahkan ketika nahwu dikatakan sebagai µmantiknya¶ bahasa. Apalagi setelah terbunuhnya filsuf muslim Sahruwardi pada akhir abad ke-12 M.). yang berisikan kritikan terhadap aliran Paripatetik dan filsafat materialisme yang dianut oleh aliran Stoicisme. Terlihat dari abad-abad selanjutnya sekitar ke-13 dan ke-14 M. sekitar 970-1030 M. Parahnya. muncul dua penentang papan atas yaitu. Andalusia dijadikan sebagai pusat peradaban keilmuwan kedua.. Padahal dalam fikih. maka mantik juga merupakan µbahasanya¶ akal.nash hadist lainnya yang menyatakan pelarangan terhadap mantik dan filsafat. Di sisi lain. perlawanan terus berlanjut bahkan sampai puncaknya pada abad ke-13 dan ke-14 M.. Penentang terbesar terhadap pemikiran Yunani adalah golongan teolog Asy¶ariyah terutama Al-Ghazali (1059-1111 M). sarjana muslim pertama yang banyak berbicara logika serta menghubungkannya dengan ilmu Islam lain adalah al-Ghazali. Pada masa inilah. Ada pula riwayat yang berbunyi ³barang siapa yang mempelajari logika. abad ke-14 M. Singkatnya. karya Ibnu Sina lebih membumi dari pada karya Aristoteles. Mantik dan filsafat terus dikecam oleh doktrin ke-salafan. mantik sudah tidak dalam bentuknya yang dulu (ala Yunani).) dan Ibnu Taimiyah (1328 M.Perjalanan mantik Arab mengalami sedikit goncangan dari ulama klasik. Sejatinya. Dalam tataran praktis. Namun barat Islam lebih terpengaruh akan hal ini karena mayoritas bermadzhab Maliki yang tidak lain adalah salafi. Karena menurut mereka belajar filsafat sama halnya belajar sesuatu yang menyesatkan. berakhirnya madrasah Bagdad menjadikan mantik lebih dewasa. Imam al-Syafi¶i banyak mengeluarkan hadist-hadist larangan terhadap pembacaan logika dan filsafat. masih banyak lagi nash. Meskipun demikian. sampai pada akhirnya muncul Ibnu Rusyd pemikir besar Islam yang berani melawan mainstream tersebut dengan bukunya Tahâfut al-Tahâfut.. dan berakhir ketika mencapai puncak relasinya dengan ilmu kalam oleh Ghazali (al-Iqtishâd fi al-I¶tiqâd). Yang juga menjadi komentator atas aliran Aristoteles ±selain Ibnu Sina dan Ibn Rusyd. melainkan mulai disusupi nilai-nilai keislaman. Adapun Ibnu Taimiyah melakukan pemboikotan terhadap buku-buku filsafat dan mantik. muncul jamaah Ikhawan al-Shafa dengan basis terbesarnya di Basrah. Imam Al-Dzahabi yang juga melakukan perlawanan terhadap perjalanan filsafat dan mantik Yunani. maka disamakan dengan kaum zindiq´. mereka mengikuti metode Aristoteles tetapi lebih condong kepada .. Dialektika mantik dengan disiplin ilmu Islam lainnya semakin tampak. maka tak heran jika ketika masuk abad ke-10 M. Ibnu Sholah (1244 M.adalah Suhrawardi dengan magnum opusnya ³Hikmat al-Isyraq´. Kecaman dan penolakan terhadap mantik berawal ketika Al-Mutawakkil mulai menduduki kekhalifahan Abbasiyah (846 M/232 H). serta melontarkan predikat µkafir¶ terhadap Ibnu Sina dalam bukunya ³Majmu¶ah Rasâ`il alKubrâ´ (terbitan Kairo. Perlawanan tersebut meluas dari wilayah timur hingga barat. seperti yang sudah dikemas oleh Syeikh Islam Ismail Harawi dalam periwayatannya.

Meskipun masih dalam lingkaran Islam. terlebih dalam pengertian tentang pitagoras. salah satunya adalah Ibnu Taymiyah. Masa setelah hadirnya Ibnu Rusyd dapat dikatakan sebagai masa melangsungkan kembali kritikan-kritikan beserta ulasannya dari golongan rasionalis sebut saja Al-Iji. Maka sistem ini dinamakan ilmu kalam atau teologi rasional. Terlebih lagi. Nah. Relasi Mantik dengan Disiplin Ilmu Islam Lainnya Al-Ghazali menyatakan bahwa teologi retoris sangat kering jika hanya berkutat dengan logika tanpa menyentuh epistem demonstratif. tidak hanya problem-problem teologis dan filsafat saja. Al-Ghazali memberikan inovasi baru yaitu membawa mantik secara perlahan memasuki wilayah kalam. Banyak buku mantik yang telah dihasilkan oleh para pendahulu mereka. yang mereka anggap ³mutasyabihât´. khususnya al-Farabi dalam mengkolaborasikan mantik Yunani dengan pemikiran Arab Islam. terwujud dari ketidakseragaman antara dunia metafisis dan realita. Perjalanan mantik mulai tersebar di Andalusia dan Persia dari abad ke-12 hingga abad ke-13 M. tapi al-Asy¶ari pun . yang mendasari problematika kemasyarakatan. karena lebih setia dengan teks suci agama dibandingkan dengan mu¶tazilah dan filsuf. Model penalaran alAsy¶ari dapat dikategorikan sebagai µorthodox style¶. sehingga butuh sebuah upaya harmonisasi demi mencapai teologi yang mampu menghilangkan skeptisisme. ilmu Kalam yang diusung al-Ghazali bukan dalam artian harfiahnya (yaitu: pembicaraan). al-Ghazali lebih mengunggulkan metode analogi (qiyâs) daripada eksplorasi (istiqrâ¶) karena dianggap tidak dapat membenarkan teori ketuhanan. sampai sekarang. yaitu mantik Aristoteles yang mencakup segala pengetahuan kecuali teologis. nahwu. Tapi menurut Ibnu Khaldun. Mantik dalam pandangan al-Ghazali terbagi dua. Al-Thusi dan Sa¶aduddin Al-Taftazani. Al-Taftazani dan Al-Jurjani juga turut andil dalam memperjelas mantik. Sebenarnya tidak hanya mu¶tazilah dan filsuf saja yang mengedepankan nalar. dan Ibnu AlQaym. dengan style baru yang mulai terbebaskan dari filsafat. baru ketika beranjak ke abad selanjutnya perkembangan mantik berupa penertiban materi yang sengaja diselaraskan oleh al-Tustari di kedua madrasah abad pertengahan. Ketika mantik dianggap hanya dibutuhkan dalam filsafat. logika empirik (mantiq hissi) juga dapat diklasifikasikan sebagai bagian dari mantik. dan mantik ³kasyfi´ yang hanya mencakup masalah ketuhanan. ushul fiqh dan ilmu sosial. Maka standarisasi mantik telah sempurna sekitar abad ke-15 M. Dalam beberapa kurun waktu selanjutnya merupakan masa kritikan terhadap pemakaian metode pikiran dalam memahami soal-soal akidah. Upaya Ibnu Rusyd dalam mengeleminasi logika Yunani ternyata menuai hasil yang tidak mengecewakan. Sejak itu Al-Ghazali melegitimasi umat muslim untuk mempelajari logika dalam kapasitasnya sebagai kewajiban komunal (fardhu kifâyah). buku-buku mantik karya Ibnu Rusyd dan karya Fakhruddin al-Razi menjadi pedoman penting dalam kajian mantik sekaligus menjadi rujukan bagi para sarjana muslim abad ini. Maka ciri khas ilmu kalam adalah rasionalitas atau logika. hal ini disebabkan kuatnya peranan unsur mantik serta dialektika. tapi penalaran yang dipakai mu¶tazilah dan filsuf kebanyakan produk Yunani. Laju perkembangan rasionalitas dalam kancah keilmuwan terlebih di Arab Islam sangat pesat. Dalam relasinya dengan ilmu kalam.Neoplatonisme. Syahdan. Pola pikir tiap sekte dan aliran selalu mengatasnamakan akal. Karena logika adalah perantara dalam segala hal. Ibnu Hazm. melainkan dalam pengertian pembicaraan yang bernalar dan menggunakan logika. Nah. sehingga mulai melakukan pendekatan ta¶wil atau interpretasi metaforis terhadap kalam Tuhan. Ibnu Sholah. fiqh. Ekspansi ilmu mantik dalam tataran teoritis tidak mengalami perkembangan signifikan pada abad ke-13 hingga abad ke-14 M.

hadist Nabi SAW. Bahwa rasional . Tasawuf sebagai disiplin ilmu irasional. Kajian fikih berkembang pada saat peralihan zaman Umawiyah ke zaman Abbasiah. berbeda halnya dengan ahli nahwu Kufah. sedangkan agama kebenaran yang dituju adalah sebuah kebenaran mutlak. Kemudian Syafi¶i meneruskan tema aliran pemikiran gurunya Anas Ibnu Malik dan mulai mengembangkannya. hal ini membuktikan bahwa peran akal beserta rumus-rumusnya akan selalu dibutuhkan meskipun ada beberapa hal yang dapat berjalan tanpanya.) yang terbentuk dalam lingkungan Irak. Praktis. sosial. Dalam disiplin ilmu nahwu. Politik. terutama oleh para ulama bahasa yang ada di Bashrah. Tidak hanya model qiyas yang digunakan ahlu nahwu dalam pengambilan hukum. Syafi¶i sangat berjasa dengan teori yang dirumuskannya. kebenaran ilmu pengetahuan sifatnya relatif. Sementara itu konsensus ulama (ijma¶) juga diterima Syafi¶i sebagai bentuk kebiasaan masyarakat. Kecenderungan pemakaian qiyas seiringan dengan munculnya gramatika dan kaedah bahasa. Jika diruntut dari awal perkembangan mantik. yaitu berdirinya ³school of thought´ oleh Abu Hanifah (699-767 M. Analogi yang banyak digunakan madzhab ini adalah qiyas dan pertimbangan kebaikan umum (istihsan). Mereka lebih memilih mengkiaskan dengan metode sima¶i terhadap dalil fasih yang mereka pakai untuk ber-istinbath. sebagai dasar teoritis Sunnah dan pembentukan analogi atau qiyas sebagai metode rasional untuk mengembangkan hukum itu. Kekuatan politik untuk menjabarkan penalaran ajaran Islam sangatlah riil. Adapun faktor lainnya. ijma¶ dan qiyas. terlihat dari ekspansi yang berimbas juga pada kodifikasi penalaran dalam setiap ilmu. mantik dengan analogi-nya sangat berperan penting. Maka. hal ini bisa dikarenakan keterpengaruhan pemikiran mereka dengan corak filsafat Persia yang lebih mengutamakan logika akal dari pada dalil. yaitu keterbatasan sumber-sumber dalil di samping letak geografisnya yang jauh dari pusat keilmuan dan peradaban. Dalam tataran ini. aritmatika. kedokteran. Konsep µkasb¶ termasuk salah satu teori yang diyakini pengikut al-Asy¶ari. dalam beberapa halnya-pun menggunakan teori dan asas logika. Metodologi alAsy¶ari yang aristotelian dengan ciri rasional-deduktif rupanya paling mendapatkan simpatisan. sebuah perjalanan panjang dalam rangka merelevansikan diri terhadap peradaban manusia yang tak kunjung usai. Untuk menetapkan qiyas mereka tidak sepenuhnya selektif terhadap dalil-dalil yang akan dipakai. dan masih banyak disiplin ilmu lain yang pasti membutuhkan aturan berpikir untuk mencapai sebuah kebenaran yang dituju. Ketelitian dalam mengambil argumen merupakan ciri khas mereka. bahkan menjadi inspirator orisinil bagi pemikiran keislaman. karena pengolahan argumentasinya dinilai sangat logis. pusat argumentasi kalam al-Asy¶ari berada pada upayanya untuk membuktikan adanya Tuhan yang menciptakan seluruh jagad raya dari ketiadaan (ex nihilo) serta pembuktian adanya hari akhir dan malaikat. Bisa disebut bahwa madzhab ini sebagai jalan tengah dari berbagai ekstremitas.menggunakan argumen dan dialektika logis meskipun dalam tataran sekunder. terutama sekali ketika dua abad kemudian Al-Ghazali muncul dengan membawa kekuatan argumennya yang luar biasa. titik tolak fikih berkat Syafi¶i ada empat yaitu Kitab Suci. Epilog Itulah sekelumit proses berpikir manusia. karena ternyata teori illat atau apologi juga banyak difungsikan. sudah berapa cabang keilmuan yang telah disisipi kekuasaan logika? Bahkan sampai kepada pengetahuan yang bertendensi iluminasi atau intuisi sekalipun. Sebagaimana pembahasan dalam teologi. semua titik-titik penting keagamaaan mereka dukung dengan argumen dan dialektik yang logis. Namun.

Kompleksitas yang dipresentasikan akal akan bertaut kelindan sampai suatu masa yang tak terbatas. Tetapi apapun itu. yang menolak tantangan semata. akal dan wahyu Tuhan. yaitu sebuah sikap yang membatasi diri pada iman. boleh jadi akan menuju pada sebuah kesempurnaan misteri. yang setidaknya menjadikan metode ini mulai diterima. karena bertolak dari sebuah pengandaian yang tidak dapat terpenuhi. Berbeda dengan irasionalis. mungkin kita akan sedikit mengetahui bahwa hantaman dan pengikisan mantik pada abad pertengahan adalah problematika terbesar. Sikap rasionalis mencerminkan seseorang suka akan tantangan. Dikatakan seperti itu.sejatinya irasional. bahkan sebaliknya. yang telah menyumbangkan peradaban besar dari sejengkal langkah manusia. Yaitu. akal tetaplah akal. yang bahkan sama sekali tidak terpikirkan oleh Aristo sendiri sebagai pencetak awal logika. Lawan rasionalisme adalah fedeisme. Bisa jadi perihal tersebut juga sedikit melegakan Aristoteles. Sekalipun. . Dan yang patut dihargai adalah upaya akselarasi-akselarasi oleh ulama Islam sebelum di bawa ke Barat. mereka juga tidak menyadari bahwa kemampuan manusia untuk bernalar merupakan ciptaan Tuhan. dan sekaligus menganggap penggunaan nalar manusia tidaklah perlu. memeriksa dan menjawabnya. segala sesuatu pastinya dapat dimengerti seseorang.mata karena keyakinan. bahwa ternyata masih ada pembela-pembela intelektual terhadap karyanya yang terseok-seok melawan arus peradaban terutama oleh para agamawan. sebab dia harus benar-benar memperhatikan. Dengan sebuah historitas.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->