USULAN JUDUL PROPOSAL SKRIPSI

IDENTITAS Nama NIM Semester Jurusan Dosen Wali Alamat HP JUDUL ANALISIS YURIDIS PENYELESAIAN SENGKETA KEWARISAN DI PENGADILAN AGAMA USULAN PEMBIMBING SKRIPSI 1. 2. : Fakhriya Hakim : 07210021 : VII : Al-Ahwal Al-Syakhshiyyah : Drs. M. Nur Yasin, M. Ag : Jl. Batujajar II/14 Malang : 085 649 692 024

Malang, 11 Maret 2011 Mengetahui, Dosen Wali Mahasiswa

Drs. M. Nur Yasin, M. Ag NIP. 196910241995031003

Fakhriya Hakim NIM. 07210021

J. 1996. yaitu dengan adanya Compidium Frejer yang disahkan dengan peraturan Resulutie der Indische Regeering pada tanggal 25 Mei 1760.. yaitu preode Teori Receptio in complex dan preode teori Receptei. Remaja Rosdakarya. Yang dipelopori oleh C.3 Teori reception in complex adalah teori penerimaan Hukum Islam. hlm. Kedudukan Hukum Islam dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia. yakni Hukum Islam baru berlaku bila dikehendaki atau diterima oleh Hukum Adat. Bandung. Teori ini dipelopori oleh LWC Van Den Berg. sepenuhnya bagi orangorang yang beragama Islam karena mereka telah memeluk agama Islam meskipun dalam pelaksanaannya terdapat penyimpangan-penyimpangan. melainkan juga institusi sosial.Snouck Hurgronje berdasarkan penelitiannya di Aceh dan tanah Gayo. Pengadilan tidak bisa dilihat sebagai institusi yang berdiri sendiri dan bekerja secara otonom.OUTLINE USULAN JUDUL PROPOSAL SKRIPSI JUDUL: ANALISIS YURIDIS PENYELESAIAN SENGKETA KEWARISAN DI PENGADILAN AGAMA LATAR BELAKANG N. Jakarta: Gema Insani Press. 1991.2 Ditinjau dari sejarah hukum Hindia Belanda. Edinburgh: University Press. di dalam Tjun Surjaman(Ed). Apresiasi pemerintah Hindia Belanda pada teori ini hanya terdapat dalam hukum kekeluargaan Islam. kedudukan Hukum Islam dapat dibagi dalam dua preode. hal 204 3 Ismail Suny. Dimensi Hukum Islam Dalam Sistem Hukum Nasional.73 . (Satjipto Raharjo 204).Coulson menyatakan bahwa hukum senantiasa hidup dan berkembang sejalan dengan laju perkembangan suatu masyarakat ( N. Histoiy of Islamic Law.Coulson:1). Hal 1 Satjipto Raharjo. A. Sedangkan teori Receptie adalah teori penerimaan Hukum Islam oleh Hukum Adat.J.Coulson.J. Hukum Islam di Indonesia.2. cet. akan diselesaikan oleh Hakim agama Islam apabila hukum adat mereka menghendakinnya” 1 2 N. dalam Amrullah Ahmad dkk.1994. Teori ini merupakn reaksi menentang teori Van Den Berg yang manifestasinya terlihat dalam IS (indische Staatsregeling) tahun 1929 Pasal 134 ayat (2) yang berbunyi:”dalam hal terjadi masalah perdata antar sesame orang Islam. yakni hukum perkawinan dan hukum kewarisan. tetapi senantiasa berada dalam proses pertukaran (interaksi) dengan lingkungannya.1 Senada dengan itu Satjipto Raharjo menegaskan bahwa pengadilan tidak hanya institusi hukum.

Hukum Waris Adat.Muhibbin. ibid 8 H. 5 Ratno Lukito.6 Kekeluargaan yang bersifat kebapak-ibuan adalah yang paling merata terdapat di Indonesia. sifat kebapak-ibuan (parental). Salah satu dari hasil keadaan semacam ini adalah serangkaian perkara warisan yang teramat rumit yang muncul dari relasi antar personal antara orangorang yang berasal dari latar belakang tradisi hukum yang berbeda-beda. (Yogyakarta UII Press. Sumatra Timur. Alumni. Sistem keturunan yang berbeda-beda ini berpengaruh terhadap sistem kewarisan dalam masyarakat tersebut.dkk. sifat kebapakan (patriarchaat). pustaka Alvabet. teori receptionexit oleh Hazairin telah berkembang bersama dengan teori reception a contrario oleh sayuti Thalib. namun masih sulit menyelesaikan pluralisme hukum waris di negeri ini. hlm. hlm. Aceh. harus diingat bahwa sebagian besar dari mereka beragama Islam maka bagi golongan terbesar ini tidak dapat diabaikan pengaruh dari peraturan warisan yang terdapat dalam hukum waris Islam. H.Busyro M. 1992). bahkan harus di kembangkan juga teori eksistensi yang menyatakan bahwa hukum Islam ada atau eksis di dalam hukum nasional. hlm 43 . dan Lombok7 Bagi orang-orang Indoneseia asli yang takluk kepada hukum adat. seluruh Sulawesi. Seluruh Kalimantan. Sumatra Selatan. yaitu : 1. yaitu di Jawa. Jakarta. Pengadilan Agama 4 Ichtijanto. Ternate. Bandung. sifat keibuan (matriarchaat). Jakarta. dalam proses pembangunan bangsa khusunya pembangunan hukum. 1983.Moh. Hukum Kewarisan Islam. dalam Moh.75. Di antara orang-orang Indonesia asli tidak terdapat satu sifat kekeluargaan. 2008. Hukum sacral dan hukum sekuler. Sinar grafika 2009.4 Meskipun harapan adanya unifikasi hukum tidak pernah padam dan terus diperjuangkan pembentukannya. 347 6 Hilman Hadikusuma. Madura. 2. sebagai salah satu lembaga yang berwenang menyelesaikan perkara kewarisan di Indonesia.”Pembangunan Hukum Islam Perspektif Moral”.5 Bangsa indonesia yang enganut berbagai agama dan kepercayaan mempunyai bentuk kekerabatan dengan sistem keturunan yang berbeda-beda. 33 7 Hilman Hadikusuma.Pasca kemerdekaan. dan 3. Riau.8 Sehubungan dengan hal tersebut diatas. hlm.Abdul Wahid .(Ed) Politik Pembangunan Hukum Nasional. melainkan di berbagai daerah terdapat berbagai sifat kekeluargaan yang dapat dimasukkan dalam tiga golongan. Seluruh Kalimantan.

152 ini tidak mengatur kewenangan PA. Ketentuan tersebut mengisyaratkan kemauan politik penjajah untuk selalu memantau putusan-putusan PA. Kondisi tersebut berdampak negatif terhadap martabat dan wibawa PA. Tetapi pengakuan tersebut dibarengi dengan kewajiban PA memuat keputusannya dalam suatu register yang setiap tiga bulan sekali harus disampaikan kepada Kepala Daerah setempat (Bupati atau lainnya) untuk memperoleh penyaksian (visum). pada tanggal 3 januari 1946 PA dialihkan dan Departemen Kehakiman ke Departemen Agama. Stbl 1882 No. Bedasarkan PP. dan diserahkannya kedua kewenangan tersebut kepada Landraad (pengadilan negeri). yang dikenal dengan quasi peradilan. 5. 152 Belanda mengakui keberadaan PA. Sementara PA dinyatakan dikecualikan dari penghapusan. Berdasarkan Stbl 1882 No. 3. dan sekaligus menempatkan PA subordinasi eksekutif. maka dengan Peraturan Pemerintah No. PA bernasib baik dibanding Peradilan Swapraja dan Peradilan Adat. (dasar hukum berdirinya PA di luar Jawa & Madura. ltulah sebabnya PA dipandang sebagai pilar utama berdirinya Departemen Agama. Kalau di masa penjajahan dan di awal kemerdekaan PA berada di bawah Departemen Kehakiman.1/ 1951 tentang Tindakan-Tindakan Sementara Penyatuan Peradilan Di Indonesia.(selanjutnya disebut PA) telah mengalami sebuah perjalanan panjang dari segi dinamika hukum dan eksistensi yang secara kronologis. antara lain sebagai berikut: 1. Akibatnya di daerah-daerah yang kuat pengaruh hukum adat. 116 & 610 yo Stbl 1937 No. 5/SD/1946. Akibatnya setiap putusan PA memerlukan fiat eksekusi (executoir verkiaring) dan PN. karenanya kewenangan PA mengacu kepada Stbl 1835 No. Kal-Sel & Kal-Tim). maka sengketa waris orang Islam diajukan ke PN. Tetapi kewenangan tersebut dikaitkan dengan anak kalimat yang berbunyi “apabila menurut hukum yang hidup diputus menurut hukum agama Islam”. 638 & 639. Lepasnya kewenangan mengeksekusi putusan . Hanya di daerah-daerah yang kuat . Dua Peradilan disebut terakhir dihapus oleh UU Darurat No.58. Dicabutnya kewenangan terhadap sengketa waris dan eksekusi putusan oleh Stbl 1937 No. 45 Tahun 1957. 2. 4. (Qodri Azizy:138). dan PN lah selanjutnya yang mengeksekusi putusan PA. PA di wilayah tersebut diberi kewenangan mengadili perkara waris. menyebabkan PA menjadi peradilan semu.

menuntut adanya lembaga kasasi terhadap putusan tingkat banding. karena berbeda dasar hukum berdirinya. Mahkamah Agung menerbitkan Peraturan MA No.7/1989. 6. 4/1977 tentang jalannya pengadilan pemeriksaan kasasi dalam perkara perdata dan pidana oleh Peradilan Agama dan Peradilan Militer. Dalam upaya mengisi kekosongan hukum tersebut. (MA. 9. PERMA tersebut diiringi oleh Surat Edaran MA NO. Pasal 10 ayat (1) menyatakan bahwa PA merupakan salah satu pelaksana kekuasaan kehakiman di bawah MA.1/1977 tanggal 26 Nofember 1977 yang membuka peluang diajukannya permohonan kasasi oleh pihak yang tidak puas terhadap putusan tingkat banding. Karena titelatur dan nomenklatur PA tidak seragam. berdampak positif terhadap yurisdiksi absolut PA. melainkan public orde.6 Tahun 1980 pada tanggal 28 Januari 1980 yang mengatur penyatuan nomenklatur tersebut yakni Pengadilan Agama untuk tingkat pertama dan Pengadilan Tinggi Agama untuk tingkat banding. Seperti halnya dengan daerah-daerah lain. Akan tetapi titik lemahnya bahwa setiap putusan PA perlu dikukuhkan oleh PN.14 Tahun 1970. hal mana sering menimbulkan kebingungan masyarakat. Eksistensi PA sebagai peradilan yang mandiri terwujud dengan diundangkannya UU No. hukum acara dan . UU No.1/1974 Tentang Perkawinan. maka Menteri Agama menerbitkan KMA No. Undang-undang ini mengatur kedudukan. di mana PA mendapat tambahan kewenangan yang luas terkait dengan masalah perkawinan umat Islam. Lembaga pengukuhan tersebut sesungguhnya kontradiksi dengan semangat kesetaraan empat lingkungan peradilan sebagaimana dimaksud oleh Pasal 10 ayat (1) UU No. Semangat undang-undang ini menjadikan masalah perkawinan bukan lagi private affair.14 Tahun 1970 Tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman adalah undang-undang yang untuk pertama kali mengakui bahwa PA adalah peradilan negara. 341-343). 10. Pengakuan tersebut merupakan awal dan cikal bakal yang signifikan bagi perkembangan PA selanjutnya. Namun kewenangan belum dapat diseragamkan. eksekusi putusan PA di wilayah tersebut juga memerlukan fiat eksekusi dari PN. Diundangkannya UU No. 7. Meningkatnya kesadaran hukum masyarakat.pengaruh hukum Islam perkara waris diajukan ke PA. 8.

Dalam hal Penggugat atau Pemohon tidak mengajukan. Tuntutan pembagian harta bersama. yakni dikembalikannya kewenangan menangani perkara waris menjadi kenyataan. maka pembinaan badan Peradilan Agama dilakukan oleh MA dengan memperhatikan saran dan pendapat Menteri Agama dan Majelis Ulama Indonesia. Dengan demikian. tetapi telah diakui oleh suatu hukum dasar yakni Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia.21 Tahun 2004 tanggal 23 Maret 2004 yang mengatur pengalihan Peradilan Agama dari Departemen Agama ke Mahkamah Agung. karena organisasi PA sudah memiliki Juru Sita. tetapi oleh Presiden selaku Kepala Negara. sebagaimana diamanatkan oleh Penjelasan Umum Alinea 4 Undang-undang No. Di samping itu.kewenangan PA secara eksplisit. maka pihak lawan (Tergugat atau Termohon) dapat mengajukan tuntutan pembagian harta bersama tersebut dalam gugat rekonpensi. dapat digabung dengan perkara perceraian dalam bentuk kumulasi objektif. karena eksistensi dan tata urutan keempat Iingkungan peradilan diakui dalam suatu hukum dasar. Buat Peradilan Agama ide tersebut baru terealisir pada tanggal 30 Juni 2004 dengan terbitnya Keppres No. Hanya saja kewenangan tersebut belum optimal.4/ 2004 Tentang Kekuasaan Kehakiman. Persoalan yang mengganjal adalah masalah sengketa milik dalam perkara yang menjadi kewenangan PA. pengangkatannya tidak lagi dilakukan oleh Menteri Agama. Bagi keempat lingkungan peradilan khususnya PA. Lembaga pengukuhan dihapus. 12. atau diajukan tersendiri sesudah putusan perceraian mempunyai kekuatan hukum yang tetap. Hakim yang merupakan personifikasi pengadilan. eksistensi dan tata urutan keempat lingkungan peradilan tidak hanya diakui oleh peraturan perundang-undangan setingkat undang-undang.35 Tahun 1999 Tentang Perubahan Undang-undang No. karena dimungkinkannya hak opsi.14 Tahun 1970. yang mengakomodir ide satu atap keempat lingkungan peradilan di bawah Mahkamah Agung. Mengingat karakteristik dan latar belakang historisnya. 11. Penantian panjang umat Islam. PA diberi kewenangan mengeksekusi putusannya. Buah reformasi di bidang hukum antara lain diundangkannya Undang-undang No. Amandemen Ketiga Undang-undang Dasar 1945 pada tahun 2002 merupakan klimaks reformasi di bidang kekuasan kehakiman. dengan lahirnya pasal 24 sampai dengan pasal 24 C. . perubahan tersebut merupakan peristiwa yang monumental.

Tiga hal mendasar dalam UU No. Absolute competentie terhadap perkara waris ditentukan oleh agama pewaris.badilag. yang paling menonjol adalah sengketa ekonomi syari’ah. Berkaca pula kepada salahsatu poin perubahan kewenangan yg dibawa oleh Undang9 http://www. pembinaan. Sudah sepatutnya mendapat suatu porsi pembahasan tersendiri baik dari segi perbedaan materi dengan versi sumbersumber hukum yang terdahulu (Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 dan lain-lain) maupun dari segi social setting. tetapi telah meliputi organisasi. dan hak opsi).30 .net/data/ARTIKEL/WACANA%20HUKUM%20ISLAM/sengketa-milik%20artikel diakses pada 8 maret 2011 pukul 20. yakni mengenai kewenangan. administrasi. maka UU No. yang pelaksanaannya memperhatikan saran dan pendapat Menteri Agama dan MUI. karena memiliki nilai filosofis dan historis. pembinaan.Urutan tersebut seyogianya diimplementasikan dalam segala aspek hukum. untuk itu perlu dilakukan penyesuaian seperlunya. 13. Kewenangan PA semakin luas.7/1989 yang diubah.7/1989 tidak relevan dengan perkembangan yang ada.9 Dari periodisasi dinamika hukum dalam sejarah perjalanan Pengadilan Agama diatas bisa dicermati bahwasannya pasang surut serta perkembangan hukum yang panjang menuntut adanya pergeseran-pergesaran sudut pandang baik dalam melihat hukum maupun pola penerapannya agar sesuai dengan tujuan-tujuan hukum itu sendiri. apresiasi masyarakat. Sementara pembinaan oleh MA tidak hanya di bidang teknis dan administrasi yudisial. political will Pemerintah dan sejarah tentunya. dan hak opsi. praktisi. Para hakim. Semenjak berlakunya Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama Salah satu dari tiga hal perubahan mendasar tersebut diatas (mengenai kewenangan. dirasa sangat urgen serta layak untuk dibahas dan dicermati kembali.3/2006 pada tangga 20 Maret 2006. Dengan terlaksananya ide satu atap. Sedangkan hak opsi dalam perkara waris dihapus.hak opsi yang mana merupakan suatu penegasan mengenai kompetensi absolut perkara kewarisan di Pengadilan Agama. dan financial. bukan sesuatu yang kebetulan dan tanpa makna. akademisi maupun masyarakat hukum pada umumnya diharapkan bisa lebih fleksibel dalam upayanya menempatkan hukum secara proporsional sesuai dengan perkembangannya. Kebutuhan hukum tersebut terpenuhi dengan diundangkannya Undang-undang No.

Apakah Ketentuan Penyelesaian Sengketa Kewarisan di Pengadilan Agama yang Ada Sekarang Ini Sudah Sesuai dengan Tujuan Hukum? TUJUAN PENELITIAN 1. Hal tersebut semata-mata dimaksudkan untuk memposisikan hukum kembali kepada tujuan-tujuan hukum itu sendiri secara umum dan secara khusus dalam penyelesaian sengketa kewarisan di Pengadilan Agama bisa meminimalisir kekeliruan penerapan hukum yang timbul sebagai konsekuensi kesalahan konsep hukum penyelesaian sengketa kewarisan menurut para Hakim. maka peneliti tertarik untuk mengkaji dan menganalisa lebih lanjut tentang sengketa kewarisan di Pengadilan Agama. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan uraian latar belakang diatas. Berdasarkan paparan tersebut diatas. 2. Praktisi. memahami serta mencermati dari perspektif ilmu hukum bahwa ketentuan penyelesaian sengketa kewarisan di pengadilan agama yang ada sekarang ini sudah sesuai dengan tujuan hukum DAFTAR ISI/TABLE OF CONTENTS Cover/Tittle Page . akademisi maupun masyarakat hukum secara luas. maka permasalahan pokok dalam penulisan skripsi ini dapat dirumuskan sebagai berikut : 1. yang mana akan disusun dalam suatu karya ilmiah berbentuk skripsi dengan judul ANALISIS YURIDIS PENYELESAIAN SENGKETA KEWARISAN DI PENGADILAN AGAMA. khususnya terkait dengan norma hukum yang terkandung di dalamnya maupun kesesuaian penepannya menurut tujuan hukum.Undang Nomor 3 Tahun 2006 (kewenangan Peradilan Agama terhadap sengketa ekonomi syariah) yang mana mendapatkan porsi perhatian yang besar dari masyarakat hukum terkait. Bagaimana Norma Hukum Penyelesaian Sengketa Kewarisan di Indonesia? 2. menelaah dan memahami dari perspektif ilmu hukum dan beberapa aspek lainnya yang berubungan terkait norma hukum penyelesaian sengketa kewarisan di indonesia. maka sudah sepatutnya pula penyelesaian sengketa kewarisan di Pengadilan Agama (yang juga salah satu unsur penting perubahan kewenangan) diposisikan untuk dicermati dan dibahas pula.

Hukum Kewarisan Islam sebagai Sumber Hukum Positif di Indonesia C. Definisi Operasional G.Sumber Hukum Kewarisan pada Peradilan Agama BAB III: METODE PENELITIAN A. Sistematika Pembahasan BAB II: KAJIAN PUSTAKA A.Kewenangan Pengadilan Agama pada Sengketa Kewarisan . Rumusan Masalah C.Hukum Islam di Indonesia . Hukum Kewarisan Islam di Indonesia . Batasan Penelitian F. Kegunaan Penelitian E. Penelitian Terdahulu B.Kompetensi Pengadilan Agama menurut Perundang-Undangan D. Latar Belakang B. Sengketa Kewarisan di Pengadilan Agama .Pengadilan Agama sebagai Pelaksana Kekuasaan Kehakiman . Tujuan Penelitian D. Paradigma Penelitian .Lembar Persetujuan Lembar Pengesahan Lembar Persembahan Surat Pernyataan Motto Kata Pengantar Daftar Isi Daftar Tabel Abstrak BAB I: PENDAHULUAN A. Kedudukan dan Kewenangan Pengadilan Agama .

Analisa Data G. Praktik dan Ketentuan Penyelesaian Sengketa Kewarisan di Pengadilan Agama yang Sesuai dengan Tujuan Hukum BAB V: PENUTUP A. Jenis Penelitian D. Kesimpulan B. Keabsahan Data BAB IV: PEMBAHASAN A.B. Norma Hukum Penyelesaian Sengketa Kewarisan pada Pengadilan Agama di Indonesia B. Sumber Data E. Saran Daftar Pustaka Lampiran METODE PENELITIAN . Pendekatan Penelitian C. Teknik Pengumpulan Data F.

dimana dalam pendekatannya menggunakan pendekatan penelitian kualitatif. penjelasan. jenis penelitian yang akan diterapkan peneliti masuk dalam kategori penelitian hukum normatif. Dualisme Kompetensi Absolut Pengadilan Agama dan Pengadilan Negeri dalam perkara No. PENELITIAN TERDAHULU Berdasarkan tema penelitian terkait. yang mana dimaksudkan memberi keterangan. Oleh Siti Mariatul Qibtiyah pada tahun 2001.Dalam penelitian hukum. - Analisis Yuridis terhadap Kompetensi Pengadilan Agama dalam Perkara Kewarisan orang Islam dengan Berlakunya Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989. kemudian menerapkannya menurut landasan hukum yang berlaku dari teori-teori yang ada. Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan sehingga bahan pustaka terbagi menjadi tiga kelompok yaitu bahan hukum primer.PO oleh Syifaul Qulub pada tahun 2010 - Masalah Waris (Studi di PA dan PN Kota Malang). Oleh Tia Rianto pada tahun 2002. Oleh Syamsul Huda pada tahun 2004 .G/2000/PA. Penelitianpenelitian tersebut antara lain : - Analisis Yuridis terhadap Perkara Waris di Pengadilan Agama Ponorogo dalam Peran dan Kewenangan Peradilan Agama. Lalu terakhir setelah semua data terkumpul maka analisa data yang digunakan adalah analisa deskriptif kualitatif. 519/Pdt.bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier. ditemukan beberapa penelitian yang telah dilakukan dan memiliki relevansi terhadap tema yang diangkat peneliti. dapat dirumuskan bahwa metode yang sesuai dengan penelitian ini adalah metode dokumentasi. Pada metode pengumpulan datanya. dan untuk memperoleh gambaran secara singkat mengenai asas-asas dan segala informasi serta bahan hukum.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful