Diskusi_Kelompok_Terfokus

VIII.

DISKUSI KELOMPOK TERFOKUS

8.1. Diskusi Kelompok
Hari/Tanggal : Senin, 3 Juli 2006 Pukul : 13.30 – 15.30

1. Kelompok: OTONOMI DAN KEWENANGAN DESA
Fasilitator Peserta : 1. Arie Sujito 2. Bambang Hudayana : M. Barori-STPMD “APMD”, Alit-Majelis Madya Gianyar, MaryunaniFE Unibraw, Steny-HUMA, Sulikanti-Bappenas, Yusuf-SAINS, Lubis-YIPD, Suharman-PSPK UGM, Kamardi-Perekat Ombara, Franky-AMAN, Ibnu-FH Unibraw, Toto-BPMKS Sumedang, AzamPemdes Kebumen, Sofyan-Akatiga, Matt Stephan-World Bank, Vitristaf DPD, Kasmuin-CePAD, Adri Warsena-FPPD.

Fasilitator Sesi ini kita akan mengeksplorasi pemikiran menjadi lebih dalam, set up diskusi kelompok ini diharapkan akan muncul pemikiran-pemikiran, ide-ide tentang otonomi dan kewenangan desa itu seperti apa? Pilihan-pilihan yang visible. Tadi sudah banyak disampaikan Pak Toro dan Simatupang telah mengesplorasi banyak hal pilihan-pilihan berangkat dari peta normatif maupun empiris hubungan antara pusat, provinsi, kabupaten dan desa. Secara prinsip kita punya kebutuhan melalui otonomi dan desentralisasi, maka ini lebih memungkinkan terjadinya demokrasi. Pak Simatupang juga bicara banyak secara sangat normatif dan reduktif. Pak Toro tadi mengungkap beberapa pilihan seperti local self goverment, itu bagian terpenting dari otonomi dan demokrasi. Kita bisa belajar dari review, tapi yang lebih penting itu adalah penataan dan kelembagaannya ke depan seperti apa? Barori Ada pandangan tentang pemberdayaan masyarakat desa itu dibingkai dalam desentralisasi, kita pahami dulu konteks desentralisasi. Ada 3 domain dengan asumsi desa adalah sebagai wilayah pemerintahan yang di dalamnya ada pemerintahan dan pembangunan, domain ini yang perlu kita sepakati dengan bingkai itulah pemerintahan desa diberi kewenangan untuk melaksanakan pembangunan dan pemerintahannya, sehingga pemerintahan yang desentalistik dan pembangunan yang desentralistik menjadi prasyarat pemberdayaan masyarakat desa. Pemberdayaan masyarakat desa itu mencakup 3 hal yaitu: 1) pemerintahan yang desentralistik, 2) pembangunan yang desentralistik, dan 3) desentralistik fiscal. Secara normatif hal ini sudah kita temukan dalam UU 32/2004 maupun di PP 72/205, persoalannya kita memantapkan itu, apa yang menjadi kewenangan desa. Masyarakat desa akan berdaya kalau ada kewenangan yang melikupi dirinya, yang harus kita kedepankan adalah sebuah ketentuan bahwa level pemerintahan kita harus mempunyai otonomi pemerintahan sendiri-sendiri. Oleh karena itu kewenangan desa harus kita sepakati dan pahami bersama dan secara normatif UU dan PP sudah mendorong ke sana. Sejauh mana kewenangan itu bisa dijadikan posisi baru desa dalam melaksanakan pemerintahan dan pembangunan? Desentralisasi harus diikuti dengan otonomi desa yang nilainya sama dengan otonomi di tingkat kabupaten, provinsi
Menggagas Desa Masa Depan

46

maupun pusat. Otonomi dimaknai juga dengan kewenangan desa dalam mengelola pemerintahan dan pembangunan. Perangkat untuk disana sudah kita punyai, pembangunan yang desentralistik, perencanaan pembangunan yang berhenti di tingkat desa. Fasilitator Otonomi desa diletakkan dalam 3 hal: pemerintahan, kewenangan dan keuangan desa. Memahami otonomi dengan diletakkan hubungan antara desa, kabupaten, provinsi dan pusat. Tadi di diskusi ada hal penting, meskipun belum dilihat spesifik. Alit Anggap contoh bangunan, dasarnya kuat, perlu porsi yang jelas menyangkut kewenangan desa. Di UU 32/2004 pasal 200 itu sudah, menyangkut kewenangan desa pasal 206 perlu dirujuk ke tingkat kabupaten. Rujukan ini ditindaklanjuti di tingkat kabupaten sampai ke tingkat desa, sehingga posisinya jelas, mana hak-hak desa. Sebab kita tahu, desa kita karakternya berbeda-beda, apa yang sudah ada kita kembangkan, rujukannya berdasarkan UU yang sudah ada, bagaimana kejelasan porsinya. Tentang keuangan, pendapatan asli desa, perlu diperjelas, mana saja yang boleh sehingga desa itu bisa diberdayakan sesuai dengan semangat otonomi. Fasilitator Maksud Pak Alit, itu perlu dirinci lagi dalam Perda. Maryunani Otonomi dan kewenangan, saya ingin menambahkan satu muatan bahwa otonomi itu adalah sebuah sistem yang hirarki vertikal dan horizontal. Kalau bicara otonomi desa bisa kita tangkap hirarkhi horisontalnya, bahwa desentralisasi fiskal perlu diikuti dengan kewenangan, desentralisasi fiskal yang di PP 72/2005 ada 3 komponen besar, bagaimana desa mampu dalam pendanaan dalam pembangunannya, kemudian diikuti desa itu mampu mengelola sendiri dana dan pembangunannya, dan diarahkan ke kegiatan ekonomi produktif, maka kemandirian itu ada disitu. Persoalannya, apa betul desa desentralisasi itu ada? Pengalaman di kabupaten/kota di Jawa Timur, desentralisasi yang ada ini desentralisasi yang sentralistik, dimana posisi desa itu memiliki bargaining position dengan kabupaten atau sebaliknya sejauh mana kabupaten ini memberikan good will-nya, sehingga sinergitas keduanya ini belum ada. Persoalan bukan pada normatifnya tetapi pada good will kabupaten. Sejauh mana regulasi ini diikuti good will agar sampai ke desa? Stenly Soal tawaran dari Mas Toro, dari pilihan itu mesti dipilah lagi ke level yang lebih konkret, dengan memilih salah satu atau meramu ke tiga hal itu apa saja kewenangannya yang akan menjadi turunannya. Kita tidak bisa bicara kewenangan secara konkrit kalau tidak memilih dari 3 model itu, atau mengacu ke UU yang ada. Kalau mengacu ke UU, pertanyaannya adalah apakah sudah cukup, kalau tidak cukup dengan model itu apa yang akan kita pilih? Melihat perkembangan politik mungkin hanya model local self government yang konkrit, model seperti ini khan tergantung masing-masing daerah, kalau mau milih 3 hal itu dipecah dan turunan-turunan dari model itu. Usul saya, yang masyarakat adat maka akan self governing community. Sulikanti Regulasi ini masih baru, saya tidak yakin itu sudah dilaksanakan pemerintah daerah. Daripada kita mengganti yang ada, kita laksanakan itu dahulu, kadang kita bagus di konsep, pelaksanaannya amburadul. Bentuk apa saja ke depan, lebih baik kita identifikasi dari pelaksanaannya yang maju yang mana? Apakah self governing community, yang jadi
Menggagas Desa Masa Depan

47

pertanyaanya masuk tidak kita ke masyarakat adat. Kita tidak mudah menentukan 3 itu, kita perlu merenung posisi dimana, sehingga bisa melihat/ambil yang mana? Semakin banyak aturan semakin tidak benar, biarkan mereka mengatur sendiri. Fasilitator Yang perlu kita bahas adalah mana yang perlu diatur dan mana yang tidak. Pak Hans tadi mengatakan, kalau negara tidak beres bukan berarti negara tidak dibutuhkan. Kalau kita setir sedikit dari Pak Sutoro dari 3 model, kalau local state government itu pernah dijalankan masa orde baru. Persoalannya desa itu akan dispesifikasikan dengan UU sendiri atau tidak, tetapi memastikan ada pengakuan negara atas desa. Perlu diidentifikasi otonominya seperti apa? Kelembagaanya seperti apa, lalu solusinya seperti apa? Yusuf Bagaimana self goverment community itu bisa menghadapai tantangan pluralitas? Fasilitator Pertanyaan ini penting ketika Pak Syamsudin Haris mengatakan ada tuntutan untuk tidak menyeragamkan. Lubis Bicara otonomi dan kewenangan desa ada 2 hal: 1. Kewenangan yang diberikan kepada desa, belum benar-benar kepada desa, sehingga kita tidak optimal dalam pemberdayaan desa. Sudah saatnya memberikan kewenangan perijinan kepada masyarakat bukan hanya KTP saja tetapi juga seperti pemungut retribusi, penanganan retribusi sampah, warungwarung kecil, sehingga desa dapat diberdayakan, mendapat income untuk memberdayakan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan desa. 2. Jangan sampai kewenangan yang diberikan itu tidak ada kontrol, karena akan menghambat investasi di daerah, jangan sampai kebablasan memungut retribusi yang tidak mendukung investasi. Suharman Berhubungan dengan fiskal, otonomi dan kewenangan untuk mengelola sumbersumbernya perlu dipahami: 1. Otonomi dan kewenangan itu bukan di ruang hampa, tarik menarik dengan pasar. Banyak bondo desa berubah menjadi ruko, bondo desa yang telah menjadi uang mudah sekali menjadi elitis sifatnya, misalnya untuk membiayai pamong desa. Di Kampung Naga masyarakat menolak menjadi obyek wisata tetapi tidak memperoleh hasil serupiahpun dari kegiatan wisata itu. 2. Tidak sterilnya faktor politik di bawah. Contohnya, Bupati menganggarkan dana APBD dan disalurkan ke desa pendukungnya. Pasar dan politik menjadi eksternal environment yang harus diperhatikan dari otonomi dan kewenangan desa. Kita tidak perlu pesimis, dengan regulasi kita bisa menata/mengukur eksternal environment. 3. Persoalan kontrol dan elitis, otonomi dan kewenangan desa, kontrol itu bagaimana mekanismenya? Format itu perlu dikedepankan. Kamardi Kita sudah membahas konsep ideal tentang desa, paling tidak ada 3 hal untuk didesakkan yaitu : 1. Akses pengelolaan sumber daya masyarakat adat di desa, di UU 22/99 dan UU 32/2004 SDA yang dikelola kabupaten tidak boleh dikelola desa sebaliknya yang dikelola desa tidak boleh dikelola kabupaten, faktanya tidak demikian. Pergeseran seperti itu juga APBDes, perda perlu mengakui adat di desa. Hambatan lain itu di daerah, pusat dan daerah tidak sinkron, mereka saling lempar tanggung jawab.
Menggagas Desa Masa Depan

48

2. Hak konservasi, termasuk tata nilai, adat itu sepotong dipahami di desa. Normanorma itu kalau bisa diadopsi di desa untuk membuat sistem hukum adapt, dan perda perlu mengakui itu. Saya mendukung perlu adanya pendetailan UU ke dalam perda. 3. Kewenangan ini ketika di desa, harus dipertegas pemerintahan itu lebih ke administrasi, tetapi pengaturan tata nilai, sistem, roh kehidupan di desa jangan diintervensi, jangan dicampur aduk. 4. Untuk PP 72/2005 pasal 68, desa paling sedikit mendapat 10% dari retribusi, ayat C desa mendapat 10% dari DAU, ini yang disebut ADD. Ketika ADD turun maka yang bagian dari retribusi tidak diberikan. Franky Bicara kewenangan, akses SDA, saya merasa tidak bijaksana kalau tidak kita undang departemen lain, misalnya kehutanan, perkebunan, tambang dll, karena regulasi itu banyak benturan. Ibnu Kita tidak diskusi membagi kewenangan per sektoral, yang perlu kita rumuskan bagaimana memberi/membagi kewenangan. Kita tidak mungkin per sektoral, itu pun per daerah berbeda-beda. Konstitusi sudah memberikan kewenangan, pasal 18 ayat 5 amandmen UUD, sayangnya konstitusi tidak mengatur desa. Dari rumusan, pusat itu ada 5, namun ada urusan wajib daerah yang menyangkut kesejahteraan rakyat, misalnya ketenagakerjaan, pendidikan dll. Kalau di luar itu maka bisa dilakukan daerah maupun kabupaten. Dari UU 22/99 keluar PP 25 yang membagi per sektor, yang tidak diatur di PP 25 maka kewenangan kabupaten. Problemnya bagaimana mengatur kewenangan desa yang tidak ada di konstitusi. Kewenangan desa itu ada yang asli, dan ada yang dari kabupaten, yang dianut ini tidak konsisten dengan UUD. Kalau desa kewenangannya diatur kabupaten, sedangkan kewenangan kabupaten sepanjang tidak diatur pusat. Sekarang kita mau pakai, apakah kabupaten mengatur seperti pusat mengatur kabupaten atau kabupaten minta kepada desa, formula apa yang akan kita pakai? apakah model konstitusi atau desa melist dulu, ini tidak bisa diseragamkkan, ini hanya bisa buat kriteria. Problemnya ada sektor pendidikan, kesehatan, ini bisa dirinci. Yang dimaksud kewenangan itu adalah menjalankan sebagian kewenangan pemerintahan. Pembagian selama ini tidak pernah dilakukan dengan baik, semuanya remang-remang. Formula apa yang akan kita pakai untuk kita berikan desa? Kalau menurut konstitusi maka daerah membuat perda tentang kewenangan. Sebenarnya kewenangan itu tergantung model otonomi seperti apa yang kita anut. Toto Barangkali sudah kita kenal namanya desa itu tumbuh dari adat istiadat, asal usul, prinsip ini yang harus kita pegang, kemudian timbul dan tumbuh dari bawah, idealnya menggali dari bawah. Contohnya, kita mengenal tanah adat dan tanah sertifikat, yang punya kewenangan tanah adat adalah desa, jadi menggalinya dari bawah, kita tinggal membuat rambu untuk dilaksanakan kabupaten. Otonomi yang kita gali, kewenangannya sejauh mana desa itu mampu melaksanakan sendiri? Fasilitator Yang belum clear itu kewenangannya seperti apa? Itu tadi proses otonomi dan kewenangannya. Azam Pendapat itu sangat dipengaruhi lingkungan. Saya dari lingkungan birokrat, berkaitan masalah kewenangan, tanah bengkok desa yang berubah menjadi ruko. Itu menjadi kewenangan desa, desa boleh menjual dan mengalihkan. Kalau sampai bendo desa
Menggagas Desa Masa Depan

49

Kita pernah menantang IMB. Benturan terjadi antara kabupaten dengan desa. kemampuan perangkat. saya mengusulkan pertanggungjawaban kades. kita berangkat dari mana? Konstitusi tidak jelas mengatur tentang desa. unsur pemerintahan eksekutif. masyarakat tidak dihargai. tidak perlu detail. pertanggungjawaban. pertama harus memilih dulu model pemerintahan. saya setuju desa punya kewenangan. yang perlu diatur adalah kewenangan dari pemerintah. kades dipilih masyarakat tetapi tanggung jawab kepada bupati melalui camat. UU 32/2004 akan dibagi 3 yaitu pemerintahan daerah. kalau mereka tidak mampu maka jangan diberikan kewenangan. Ibnu Yang perlu kita diskusikan itu mekanisme. Sudah ada perda tentang bondo desa. pihak yang memakai bondo desa harus mengganti minimal sesuai dengan harganya. masyarakat dikebiri oleh pejabat. Peradilan komunitas itu bisa di dalamnya peradilan adat. Kita sudah membuat perda kewenangan desa. Dari struktur pemerintahnya juga sangat kurang. walaupun itu bertentangan dengan hokum. Untuk bisa meletakkan wewenang desa. Dari RUU harus jelas pemerintahannya. Sofyan Mekanisme kewenangan. ini perlu didorong dan didefinisikan. syaratnya dirubah. Apakah model konstitusi atau desa yang menentukan. Komentar Pak Ibnu. administrasi. legislatif. Matt Stephen Otoritas desa untuk menyelesaikan masalah. karena yang dihadapi adalah SDM. desa dan pilkada. kalau spirit tidak homogen maka kewenangan yang kita address kita ke sana seperti apa? Ide pak Ibnu menarik. tapi belum dilaksanakan. karena akan ada tarik menarik dengan kabupaten dan provinsi. penyelesaian konflik itu menjadi kewenangan di desa. Franky Saya setuju. dukungan masyarakat. Kewenangan itu sangat sulit dilaksanakan. Mnurut saya. hanya itu harus diberikan kriteria secara bertahap. maka kita bisa melihat wewenang desa akan seperti apa. dia bisa membuat peraturan. kewenangan yang asli tidak perlu kita atur. Desa di Kebumen tidak punya tanah bengkok dan di Banyumas ada dan luas sehingga penghasilannya sangat banyak dan bisa mengatur pembangunan di desa. Maka perlu ada penilian terhadap kabupaten. lalu dia menjustifikasi bahwa di wilayahnya ada hutan Menggagas Desa Masa Depan 50 . misalnya di Minangkabau sudah ada surat edaran untuk peradilan tinggi untuk peradilan negeri di Minangkabau agar mengacu ke peradilan desa. Fasilitator Normatif regulasi sudah ada. namun ada problem-problem empiris. infrastruktur. Pertanyaannya adalah mempertimbangkan konteks daerah. Desa bisa menyelesaikan peradilan desa yang informal.diambil oleh pemerintah tanpa ganti rugi maka itu sudah kebodohan desa. peradilan desa itu sudah ada preseden. Oleh karena itu ada formula dan tahapan yang harus dilaksanakan. Untuk kasus yang kecil-kecil. sehingga hanya berhenti di tingkat kabupaten. jadi penting bicara kewenangan adalah kemampuan desa membuat peraturan tetapi desa juga punya otoritas untuk membuat keputusan. kepala desa ini harusnya standar minimal SMA. karena otonomi itu mengatur dan mengurus. yudikatif tidak jelas. Vitri Indonesia terlalu banyak aturan. bagaimana kalau desa? Lalu kita akan training untuk IMB. kalau kita pilih self governing community. di peraturan itu belum ada. anggaran desa itu seperti darimana saja. Ciri otonomi. namun perlu dipisah peradilan desa dan komunitas.sebaiknya tetap masuk ke pemerintahan daerah. aturan dibuat untuk dilanggar. wewenang dan anggaran. bagaimana interaksi dengan peradilan formal dan sebagai pengakuan kepada masyarakat untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.

Menggagas Desa Masa Depan 51 . Rahma–LIPI. Wai. sisi yang lain normatifnya saja sangat sulit. Riawan Tjandra – Atmajaya Yogyakarta 2. 2. • Implementasi Pancasila. Agus R. Wafi–BPD. Bapak kita mencoba mengelaborasi UU 16/69 tentang desa praja sampai dengan UU 32/2004. Mengkaitkan apa yang disampaikan di depan. • Bahwa kesenjangan demokrasi pada aras desa berpengaruh pada kebijakan desa. Aturan sering bertubrukan. kalau perlu ada departemen khusus agraria. Adnan–LP3ES. ada beberapa yang hal perlu dicermati dalam diskusi kelompok kita sebagai berikut: • Transformasi UU 32/2004 berpengaruh pada sisi demokrasi desa. namun departemen kehutanan bilang itu haknya departemen.adatnya. Haryo Habirono – FPPD : Ade–PPK. hubungan antar sektor. Fasilitator Persoalan kewenangan tidak cukup tetapi juga kapasitas. Susmanto–Letmindo/GTZ Aceh/ LGSP. IKPM bilang jelas bahwa itu kewenangannya Papua. SDA yang sudah diatur dalam UU sektoral. pengaturannya bukan sektoral lagi. Yuni–Asppuk. mana yang baik dan tidak baik. Dahlia–TTS SoE. tanahnya. Abu–Persepsi. Widyohari–STPMD ”APMD”. apakah mungkin menjadi suatu pilihan yang cocok (bottom up)/ internalisasi nilai. akan terjadi pertarungan dengan negara. termasuk kultur. Kalau bicara kewenangan yang sudah ada sejak awal itupun harus diikuti pengembangan kapasitas dan pembinaan paradigma. UU 32/2004. sehingga terjadi benturan kelembagaan. kalau itu sudah dikaji maka kita butuh sistematika perundang-undangannya seperti apa? Setelah itu kita sebarkan ke seluruh daerah untuk mensikapi mana yang baik mana yang tidak. Widya-FPPM. itu tidak akan selesai kalau tidak duduk dalam satu meja. Syamsul Hadi–Bina Swagiri. Irwan–Letmindo/GTZ Aceh.Lakpesdam. Kelompok: DEMOKRASI DESA Fasilitator Peserta : 1. Fasilitator Tadi muncul satu pendapat bahwa ini pengalaman praktis. Datuk–Asosiasi Nagari. Fasilitator Bapak-bapak. pembinaan dan pengawasan itu dalam konteks pelaksanaan otonomi daerah dan tanggung jawab pelaksanaan. Hans Antlov-LGSP. Marhaban-PMD Depdagri. UU dalam ranah desa. hubungan sektoral berbenturan. ibu-ibu. dan itu menjadi pertarungan yang riel. akhirnya dicabut kewenangannya. Joana–World Bank. walaupun intinya ada pengembangan kapasitas itu menjadi perhatian khusus. Kasmuin Saya sepakat seperti tidak perlu ada penyeragaman. resolusinya apakah membentuk UU baru atau bagaimana? Kewenangan ini harus dipastikan. Ade Regulasi perlu ada keharusan pelaksanaan UU PA. Terkait kewenangan harus dikembalikan ke konstitusi. Kasus riel pertentangan RUU PA Aceh dengan Otsus Papua. • Demokrasi.

melainkan kontrol. masyarakat belum. maka merujuk pada 3 aspek: 1. dipilih dan menjadi badan penyeimbang. artinya harus dengan target sekian orang. Ada BPD yang belum berperan dalam fungsinya – check and balances. Menjadi penting adanya demokrasi di desa/kelurahan adalah dipilih langsung. maka pemilihan kades juga dibiayai. • Perlu juga dipikirkan pendidikan politik di desa. kaitannya dengan psikologi demokrasi. dengan harapan yang lain akan melengkapi. implementasi maka masyarakat merasa bertanggung jawab terhadap hasil pembangunan. fungsinya diberangus dengan dalih-dalih. Tetapi dengan demokrasi perwakilan yang ada sebelumya. tapi cenderung melihat apa yang dibutuhkan desa. Joana Pada prinsipnya setuju BPD – perwakilan yang mewakili prinsip-prinsip demokrasi. Basis kewenangan desa adalah desentraslisasi sedangkan otonomi desa dari masyarakat. Jadi perlu ada ketegasan masyarakat dalam proses pembangunan. • Demokrasi yang cocok yang bagaimana? Demokrasi tidak perlu dicocok-cocokan. Saya lebih tertarik pada bagaimana demokrasi ada di desa. Dengan keluarnya UU 32/2004 terbelalak. Eksperimentasi demokrasi desa dihindari karena tidak match dengan demokrasi. Bagaimana bisa melibatkan masyarakat lebih luas. Menggagas Desa Masa Depan 52 . dengan adanya pemilihan Presiden/Bupati dibiayai oleh APBN/APBD. adanya fakta kasuskasus harus dibenarkan. Melihat fakta kelemahankelemahan BPD ya. musrenbang tidak ada artinya. dipilih langsung. implementasi dan pengawasan. Bila masyarakat terlibat dalam proses perencanan. polanya masih top down. tidak hanya dalam pengambilan keputusan. Saya lebih cenderung kembali ke UU 22/99. melihat nilai demokrasi yang ada di di desa dengan model perwakilan yang dipilih langsung. permasalahan diantara mereka. BPD menjadi Badan Perwakilan Desa. Dengan aturan saat ini belum berati demokrasi sudah berjalan di desa. Wafi • Kaitan dalam hal ini. sehingga seorang kandidat kepala desa tidak perlu manggung di desa. Ade Sulit menjawab demokrasi dengan model yang mana. Demokrasi apa yang paling cocok di Indonesia? 2. Kendala-kendala yang perlu diperhatikan! Pada akhir pertemuan akan disepakati wakil yang akan menyampaikan presentasi. Dari beberapa hal tersebut. tetapi juga dalam menyalurkan aspirasi masyarakat/cari input. jadi tidak perlu ada batasan quorum. Sehingga musrenbang desa mentok di Kabupaten. mengontrol pembangunan di desa. Fungsi lembaga-lembaga yang mampu mengusung demokrasi? 3. • Persoalan quorum menjadi masalah. sehingga tidak ada raja-raja kecil di desa. Tetapi selain itu ternyata lembaga itu sendiri tidak cukup untuk melahirkan nilai-nilai demokrasi di desa. euforia politik.• • • Kaitan demokrasi dengan skala kebutuhan masyarakat. Sebagai pelaku perwakilan di desa saya sendiri sedang bersemangat dengan proses demokrasi di desa. • Keuangan. Pada dasarnya masalah desa/masyarakat desa adalah mereka tidak terlibat dalam proses perencanan. Belum ada kepastian mewakili kepentingan masyarakat. Tidak setuju BPD akan mempreteli kekuatan desa seperti kata Syamsudin Haris tadi. Berangkat dari program pengembangan seperti yang dilakukan dalam PPK. saya lebih optimis. Masih ada kecenderungan elit desa yang menentukan.

Bagaimana desa yang mempunyai dana untuk dapat membeli hasil-hasil panen? Kebutuhan basis desa jangan dikesampingkan. pemuda. Kalau di desa Sumba Timur. Keikutsertaaan masyarakat dalam pemeliharaan pembangunan di desa saat ini agak lemah. ninik mamak. sehingga semua bisa dicek dengan jelas.Datu Apa yang disinyalir saat ini sangat setuju. berbeda dengan desa-desa di Jawa dan di luar Jawa. Itu bagaimana? Teringat pertemuan forum warga di Surabaya. Menurut saya. Susmanto Menyinggung tentang BPD berkontradiksi dengan pemerintah desa. tidak hanya di Jawa tetapi juga di luar Jawa. serta masyarakat tidak ada inisiatif mengontrol pembangunan di desa/nagari. Marhaban Demokrasi yang bagaimana? Bagi saya pribadi dilihat dari literatur ada dua macam demokrasi. Pemdes di daerah belum betul-betul mau kewenangan diserahkan ke desa. kemudian ada buku Freedman ”alternative development” dengan konsep political democracy-inclusive democracy adalah demokrasi yang kita bahas. Masyarakat desa saat ini belum diberdayakan. tapi perlu tupoksi yang jelas. politik (Pembuatan Perdes). Secara umum. Pemikiran dan wacana tadi sangat menambah perspektif bagi kita. alim ulama. Tana Toraja. Proyek PPK di daerah. tapi kita tawarkan kepada yang lain. maka masyarakat akan diam. menampung. is there any democracy? Dewan morokaki di Banten dipilih dari ketokohan. provinsi. Nah. Fasilitator Kita menawarkan beberapa pemikiran. saya yang termasuk mendambakan demokrasi terutama di desa. jadi tidak memaksakan keinginan kita. saat ini diserahkan kepada desa/swakelola. Saya pahami bahwa peran warga desa. di nagari pemilihannya dengan cara perwakilan kelompok. Demokrasi seperti apa yang disepakati? Misalnya pemilihan langsung. Keberagaman dalam UU 32/2004 dan PP 72/2005 masih umum. disini adalah self community governing + inclusive demokrasi. yang punya uang yang menang. kelompok perempuan. istrinya carik ya. Hebatnya demokrasi. Syamsul Hadi Keterwakilan BPD dalam UU 32/2004 belum baik juga. seperti freedman. demokrasi yang diserahkan pada tingkat ‘state’. masyarakat harus dilibatkan dalam pembangunan. bagi yang kalah masih diberikan kesempatan untuk memberi kritik. tetapi terkadang ada pesanpesan dari daerah. di nagari disebut BPN (Badan Perwakilan Nagari). yaitu penyelengaranggan negara diserahkan kepada elit dan limited government – terbatas. akhirnya ada porsi presentase untuk perempuan. yaitu demokrasi modern – representatif dengan 2 prinsip dasar: prinsip representative government. alim ulama. itu ada pada Kabupaten/Kota ke atas. bagaimanapun proses pemilihannya tidak terlalu persoalkan. Apa yang disampaikan Joana perlu. ninik mamak. negara. silahkan. pemuda. yang ’mbok bakulan’ (not: ibu-ibu yang berjualan) tidak ada. Representative demokrasi bukan ada di kita. BPD dan lembaga lain di desa. sosial (kontrol jalannya pemerintahan di desa). Menggagas Desa Masa Depan 53 . perencanaan pembangunan masih top down. Kalau secara antropogis barangkali desa lebih tua dibanding dengan kabupaten/kota. Di desa yang diperlukan adalah self community governing + inclusive demokrasi. ada tiga area demokrasi: bidang pembangunan (perencanaan). kalau masyarakatnya kumpul tetapi ada raja. Kanada. Sinyalir kolusi di BPD ada kemungkinan. Kalau dipilih langsung bagaimana keterwakilan unsurunsur masyarakat. Amerika. ada keberhasilan dalam keterlibatan masyarakat menentukan keputusan. Australia. sehingga kades.

ada rapat/rembug desa. Problemnya. ada mekanisme kontrol internal di desa. Kalau kepala daerah memiliki wilayah. yaitu partisipasi merupakan kendala yang terbesar di desa. harus menjamin keberlangsungan lembaga-lembaga lokal di desa. kemudian tidak lahir dari masyarakat. dulu ada forum di desa yang memenuhi ini. ini parah. dan lain-lain. Marhaban Saya beda dengan apa yang disampaikan Hans tadi. karena itu murni dari adat. PPK bagus. romantisme bahwa demokrasi desa diserahkan saja kepada desa. Eropa barat menyerahkan otonomi se-grass root mungkin. mayarakat dilibatkan dalam proses perencanaan hingga pengawasan. tapi masih ada celah-celah. wali nagari/kades memiliki masyarakat. Tetapi BPD pada banyak desa menjadi alat legitimasi aparat desa. wali nagari tidak perlu untuk menjadi pengurus parpol. Kedepan perlu ditempatkan suatu forum di desa. masih sebagian bergantung pada pemerintah. jangan ada kabijakan jeruk makan jeruk. Karena teori apa saja di Indonesia tidak jalan. Datu Kalau saya diminta untuk mewakili partai di desa tidak setuju. Partisipasi menjadi titik demokrasi. Kades. Demokrasi desa dibangun ala kelokalan setempat. Apapun bentuknya tidak masalah. perwakilan. masing-masing desa berbeda. juga pengalaman negara lain yang berhasil. desa boleh memasukan unsur permusyawatan. maka elit-elit diluar Jawa akan tersisih. sehingga tepat kita mencari demokrasi. Yang penting 3 (tiga) itu. Masa yang lalu ada demokrasi di desa. Berapa persen orang yang menyampaikan ketidakpuasan mereka terhadap BPD? Menjadi pertentangan tersendiri di masyarakat bagaimana menyalurkan aspirasinya. Tidak ada sistem check and balances – itu sulit. Kerena itu. kalau tidak ada. Dari prosedur itu tidak menjamin. itu harus dilembagakan. menjadi grup politik masyarakat. saya setuju dengan Pak Sus. Ini perlu dikembangan untuk melakukan check and balances di desa. kalau cair sama sekali juga memiliki kelemahan. Negara silahkan mengatur regulasai tentang desa. tetapi juga tidak sepenuhnya mewakili masyarakat. tetapi juga harus memberikan ruang bagi lokal. siapa saja: buruh. Sangat mahal bagi negara untuk representatif demokrasi. Abu Apapun demokrasi yang diusung adalah demokrasi yang menjamim kemandirian di desa. semangat demokrasi di desa menurut saya sangat berbeda dengan masyarakat di tingkat atas. ada badan legislatif. sehingga BPD tidak cukup mewakili sebagai institusi perwakilan di desa – kelompok-kelompok di desa. Fungsi negara menjamin bagaiman masyarakat teribat dalam proses pembangunan di desa. eksekutif. Aspek persamaan itu perempuan dibelakangkan. empowerment yang ditumbuhkan dibunuh kembali. Kendala yang perlu diperhatikan. Sulitnya minta ampun untuk melibatkan masyarakat dalam partisipasi di desa. Dalam proyek PPK. Oleh karena itu BPD ada tetapi harus ada mekanisme lain yang sifatnya Menggagas Desa Masa Depan 54 . Saya mengkritik teman-teman di PMD. BPD sebagai institusi menjadi cek and balances bagi pemerintah desa. partisipasi di desa adalah milik elit desa. tetapi sekarang tidak. meskipun BPD mewakili masyrakat di desa. Barat tahu persis otonomi daerah itu. Menyinggung yang disampaikan Pak Sus. meskipun bukan satusatunya problem di desa. tidak memadainya apa yang ada di BPD. Wa’i Ada kemunduran BPD menjadi bamus (badan musyawarah). Juga dalam penguatan masyarakat di desa. petani.Widyohari Saya sebetulnya sepakat dengan Pak Sus. Perlu dimasukan unsur-unsur/aspek penyetaraan dan lain-lain. sesepuh.

Itu bukan Eropa. keterwakilan partisipasi. Perlu mengacu pada prinsip-prinsip pokok dalam membangun sistem demokrasi di desa seperti human right. adanya penokohan. tidak masyarakat. seolah bentuk lebih bagus daripada isinya. mereka bisa. pikirannya. • BPD dan Kades itu alat negara? Widyohari Lembaga independent silahkan masyarakat bentuk sendiri. sehingga seharusnya ada kursi kosong di DPRD... orangnya terbatas. Kalau dalam parpol terwakili 60%-70% maka ada 30% yang tidak memilih. Menggagas Desa Masa Depan 55 . ada kebutuhan. kita fasilitasi.insidential. Saya hanya mengkritisi itu. • Partisipasi dalam berbagai bentuk. Hans Saya tidak setuju demokrasi terlalu mahal. tenaga. sehingga dia akan kuat. Kita terjebak dengan panyakit partisipasi. Kalau BPD. Membandingkan dengan yang di atas. • Musrenbang sebenarnya ada masalah. Fasilitator Karena waktu tinggal 15 menit masih ada 7 orang yang belum bicara. pemikirannya terbatas. jadi kendalanya struktural dan kultural. contohnya sesudah pemilihan dan terpilih. • Pemimpin formal di masyarakat pasti diikuti masyarakatnya. Yuni Saya mau ikuti yang sudah ada. Pancasila dan UUD 1945. Adnan Seringkali kita memperjuangkan bentuk daripada isi. tapi tidak bisa dilantik karena kepentingan poltik di tingkat atas. Banyak pendapat tentang partisipasi. demokrasipun kalah. Jadi masyarakat perlu kita latih. kepentingan. Setahu saya Eropa dan Amerika hanya ada di kabupaten/kota. parpolpun tidak mewakili masyarakat. Selama ini banyak dikatakan kita sudah. Apa masyarakat tahu bagaimana membaca APBDes? Ketika dalam perumusan perencanan mereka tidak semua terlibat. LPM sebagai lembaga induk yang membawahi lembaga-lembaga di masyarakat. bagi saya yang penting unsur keterwakilannya dari aspek kewilayahan. kehadirian fisik. itu diseimbangkan. permusyawaratan – perwakilan. Amerika. Negara tetangga lain. silahkan. pengangguran. kelompok dan lainlain. jangan-jangan partisipasinya terpimpin atau terbina. Contoh. Apapapun bentuk demokrasinya kalau tidak ada suara perempuan maka tidak demokratis. Widya Bagi saya demokrasi seperti apa? Kembali pada kearifan lokal. Bagaimana kearifan lokal bisa timbul kembali? Dahlia • Bagi saya perlu ada lembaga demokrasi di desa. ini dan itu. bagi saya tidak masalah. Kalau di pemerintahan. India. lembaga dari luar yang ada di tempat kami. • Kades di TTS seperti alat politik. modul disiapkan seperti dulu sebelum ada otonomi. Filipina. tapi negara Asia. ada potensi. diwadahi dalam forum. dananya. pengkulturan masyarakat. dan lain-lain sebagaimana yang tercantum dalam covenantcovenant Internasional. Dana disiapkan.. mengapa Indonesia tidak bisa? Olahraga kalah. persoalan budaya. lebih mementingkan proyek. • Usul: perlu ada pelatihan bagi LPM untuk perencanaan pembangunan.

BPD sebagai tool untuk check and balances 2. sedangkan kalau mereka ke sawah mendapatkan sepuluhribu. senin-jum’at tidak demokratis. Bagaimana ditingkat kabupaten/kota. diawali di rumah tangga? Apa itu sudah kita lakukan? • Kasus di Palembayan. mandul. Harus mengacu pada analisis kebutuhan desa 3.. pandangan pragmatis) • Focus pada pembentukan lembaga bukan membangun esensi check and balances • Kemampuan ekonomi masyarakat • Trauma pengalaman berdemokrasi yang “mboten up” tidak memihak kepada kebutuhan masyarakat contoh masyarakat Menggagas Desa Masa Depan 56 . karena oranya tidak demokratis. BPN tidak berfungsi. sikap elitis. hanya kata-katanya yang berbeda. sabtu. siapa yang bisa disepakati untuk mewakili? Jadi Pak Datuk dan Ibu Ade untuk mewakili. Musrenbang hanya dilaksanakan satu hari. bagaimana kalau kita mengundang petani untuk mengikuti musrenbang.. kalau bukan kebutuhan. Bagaimana menanamkan demokrasi di masyarakat. cuma hari sabtu saja yang demokratis. ada yang mengusulkan ada kursi kosong-golput. contohnya beberapa anggota BPN tinggal di Bukittinggi. kontrol dan pelaksana • Bentuk diserahkan pada kearifan dan keunikan local dengan acuan dari pusat • Lembaga itu harus mampu mewakili semua aspirasi masyarakat • BPD dan lembaga kemasyarakatan yang ada harus ditopang dengan capacity building yang memadai Kendala-kendala: • Keterbatasan partisipasi masyarakat antara lain karena sistem yang belum mendukung (structural) • Kendala cultural (misalnya budaya patrialistik. • Peguatan kelembagaan banyak kendala.Agus • Demokrasi kebutuhan di desa. kalau tidak demokrasi maka akan menjadi otoriter.hhahaahhaaa. Keterwakilan lembaga kemasyarakatan lainnya Fungsi lembaga-lembaga: • Lembaga di desa terdiri dari lembaga formal dan non formal • Fungsi lembaga desa bervariasi: sebagai fungsi legislasi. Demokrasi hanya satu hari.. Fasilitator Biar saja semuanya pemikiran masuk. banyak kendala menciptakan masyarakat demokratis... elit-elit menyelewengkan demokrasi. jadi hanya hari sabtu saja. kita semua membicarakan hal yang sama. Fasilitator Sulit menggabungkan semua wacana. injecting participating in local. kita sepakati siapa yang mewakili untuk menyampaikan diskusi kita? Marhaban Sedikit saja. Benang Merah Pemikiran: Demokrasi yang cocok bagi desa: Inclusive demokrasi perlu menjadi pertimbangan utama dalam rangka membentuk self community governance masyarakat terlibat secara luas dalam proses pengambilan keputusan 1.

yaitu: 1. karakter dan budaya setempat bisa masuk. 2. Abu-Persepsi. Ninuk Kita di DPRD Deli Serdang sedang membuat Raperda yang saat ini sudah menjadi perda tentang ADD. 2) orang desanya tidak tahu bahwa ada UU 32/2004. Bambang Hudayana 2. Mengapa kabupaten tidak responsif?. Menggagas Desa Masa Depan 57 . merujuk PP 72/2005. bagaimana menghubungkan ADD dengan pelayanan publik? ADD selalu memakan belanja rutin kabupaten. 4. Sumber pendapatan desa harus jelas apa-apa saja. Sebelumnya kita melakukan pertemuan dengan beberapa desa. Kamardi-Perekat Ombara. mungkin kita harus menentukan kriteria kepala desa itu seperti apa. ada PP 72/2005. Kewenangan desa harus jelas. kemudian ADD untuk apa?. Betapa ADD yang menjadi masa depan desa masih terbatas.00 3. Arie Sujito : Ninuk-BPD Deli Serdang. Dahlia-PMD TTS. Syamsul-Bina Swagiri.00 – 13. Fasilitator Itu fenomena di Deli Serdang. sehingga dapat memberikan semacam apresiasi terhadap masyarakat dan karakter masyarakat itu sendiri. pendapatan desa rendah. dengan skala prioritas.5 Milyar. alasannya 1) SDM tidak mampu. Kelompok: ADD (ALOKASI DANA DESA) Fasilitator Peserta : 1. mereka minta supaya ADD dapat dilaksanakan sendiri oleh orang desa. sehingga ini terkait dengan kewenangan desa. persoalannya mengapa ADD tidak bisa cepat dilaksankan? Saya pikir banyak kabupaten tidak rela menyerahkan uang sekian banyak. Adri Warsena-FPPD. Legitimasi pemerintahan desa ini perlu proses yang demokrasi.Hari/Tanggal : Senin. Ade-KDP World Bank. Di Deli Serdang baru dianggarkan 11. Tumpak-PMD. Alit Asmara Terkait informasi dari teman Deli Serdang tadi saya konsentrasi di desa. kalau ada uangnya ADD mereka menanganinya. Fasilitator ADD menjadi harapan di desa. dalam kaitan ADD. seharusnya sesuai ADD 43 Milyar harus diserahkan kepada desa. karena selama ini yang menjadi bendahara desa adalah kaur umum yang merangkap jabatan. Kesiapan kelembagaan nanti menyangkut SDM yang ada. yaitu digunakan untuk pembangunan fisik. Perda-perda dan perdes. Datu-As Wali Nagari. Sukoco-Kades Wiladeg. Alit Asmara-Majelis Madya Gianyar. 3 Juli 2006 Pukul : 11. Perencanaan di tingkat desa perlu dikelola melalui SDM di tingkat desa. 3. Joana-World Bank. Ini sebenarnya ada keberatan tersendiri dari Pemkab. sehingga ada kejelasan potensi. Soekirman-Wakil Bupati Sergai. Masukkan dari 4 desa yang kami lakukan. terkait dengan UU 32/2004 ada beberapa hal yang perlu kita sikapi bersama seperti ada beberapa UU yang baru itu menarik ke pusat dan posisi daripada BPD perlu memperoleh perhatian kita bersama. Kasmuin-CePAD. ada 4 permasalahan yang kita perhatikan. sosialisasi dari kedua UU dan PP tidak sampai kepada kepala desa. maksudnya bendahara desa. terkait juga dengan aspirasi masyarakat ketika perda atau perdes itu disusun. 5. dengan adanya ADD masyarakat punya kemampuan untuk mengelola ADD.

misalnya perda yang mengatur sekian % dari APBD harus dilakukan untuk ADD.Dukungan dan partisipasi dari masyarakat seperti apa. Maka ADD keluar dengan peraturan Bupati saja tapi aturannya sangat ketat sekali. Perlu disiapkan resolusi managemen konflik di desa 2. Alasan dari Bupati adalah untuk langkah awal dan nanti kedepannya tidak akan diatur. DAU yang dipotong anggaran rutin. ADD ini dimanfaatkan untuk pencalonan Bupati bahwa nanti desa akan dialokasikan dana. faktor politik (karena tidak milih). sehingga kalau ada ketentuan dari pusat maka mereka tidak dapat menolak. Sepertinya itu masih terjadi. Desa tidak ada otorita mengatur sendiri.kemungkinannya adalah. maka dengan kesiapan ini kita dapat menuju kewenangan dan hak desa sehingga tidak ada alasan untuk tidak memberikan porsi itu kepada desa. kalau itu tidak disiapkan di desa. Sukoco Ilustrasi di Gunung Kidul. 3. 2. kalau diukur dari PP masih jauh. maka akan memindah budaya korupsi di desa. setelah ADD jalan desa sudah hotmix. ada yang pakai peraturan Bupati. Adanya regulasi yang tegas dan pro desa. walaupun itu sudah dimentahi temen-teman lurah pada waktu itu. Fasilitator Jadi ADD itu bukan identik dengan pengembalian dana 10% yang berasal dari retribusi itu ya? Kamardi Ya bukan. Mungkin juga faktor politik. Yang menjadi orientasi ke depan. Ini yang selama itu belum jelas. kalau tidak ya tidak. mestinya 23 Milyar. ada yang tidak tapi tiba-tiba ada bimbingan teknis. jadi berbeda sumbernya. Dana yang pertama itu 10 Milyar. bagaimana ADD itu mutlak kewenangan desa. Jadi ADD itu benar-benar mutlak untuk desa. dengan presentase sekian % untuk BPD. karena di PP itu 2 hal yang dimandatkan. yang harus diperjelas dalam perda itu bahwa itu harus dipisahkan dengan PAD atau APBD itu sendiri. Menggagas Desa Masa Depan 58 . Kamardi Soal ADD itu selain perda mengawali kebijakan karena konsekwensi PP 72/2005 sudah dijelaskan ADD itu. faktor APBD kabupaten belum siap. itu perda yang mengatur bukan hanya peraturan Bupati. pembangunan dan lain-lain. Efek ADD luar biasa. memang nilai asli desa ada gotong royong. dia memandang bahwa kapasitas dan potensi desa belum siap. sehingga ada ketergantungan dari peraturan Bupati. kalau kami loyal maka dananya dapat turun. sudah jelas bagian desa itu paling kecil 10% dari retribusi daerah dan ADD itu merupakan dana perimbanagn yang diberikan pusat kepada daerah. Disamping ada keuntungannya ADD juga ada sisi buruknya. 1. Saya sepakat dengan kawan dari Bali bahwa harus ada ketegasan hak dan wewenang yang harus dimilki oleh desa. penduduk desa paling tidak mendapatkan bagian 10% dari retribusi daerah. yang mengatur kabupaten tapi hanya pedoman umum saja dan teknisnya diserahkan ke desa. Dari teman Deli Serdang tadi ada ketidakrelaan pemerintah kota untuk memberikan porsi kepada desa. lha bagaimana mengelola itu? Bagaimana menyiapkan kelembagaan di desa itu? 1. Syamsul Kenapa kabupaten tidak iklas memberikan ADD. Catatan lebih jauh. termasuk juga dalam perencanaan dan juga kegiatan-kegiatan yang menyangkut desa. partisipasi dan lain sebaginya tapi di ayat b.

1. Contoh di Ngada. rata-rata mereka mendapatkan sekitar 75 juta per desa. karena orientasinya untuk diri mereka sendiri. PP 72/2005 di kabupaten. Honor kades. Sejak berpisah dari Deli Serdang. kemudian kami cetak dan dibagi ke semua kepala desa. kabupaten jangan terlalu mengatur penggunaan ADD. tetapi hanya rambu. yang seharusnya kabupaten induk memberikan kepada Serdai. mereka lebih percaya ke konsultan lokal. Baru 10 bulan bupati dan wakil bupati hasil pemilihan langsung. di desa itu tidak ada Bandes. karena tujuan ADD untuk mempercepat pembangunan dan kesejahteraan masyarakat desa justru akan tertunda lebih jauh lagi karena banyaknya permasalahan yang muncul karena realisasi ADD dengan penguatan kapasitas itu. Pembangunan sendiri belum. Proses pembuatan keputusan awal harus partisipatif. ada soal dengan kabupaten induk. Di pemahaman tingkat kabupaten beda persepsi. Ade Saya sependapat bahwa ADD diperlukan pengalaman selama ini. 10 % DAU maka harusnya 15 M. sehingga menguntungkan pihak luar. ADD tidak merata ke seluruh desa. Bupati mengakali 50 juta per desa. boleh memberi pedoman tapi tidak usah detail. karena akan menentukan besar kecilnya ADD kedepan. Kalau ADD jalan dan proses perayuan dari pihak luar itu terus maka yang ada adalah pembunuhan terhadap inisiasi desa. Ada kecenderungan berbeda. kabupaten hanya memberi rambu-rambu saja. Partisipasi masyarakat desa sangat turun. Mekanisme pencairan dana cukup baik. 3.Fasilitator ADD itu hak desa. Fasilitator Penguatan bukan hanya pada aparat. dananya harus memadai. di Ngada tidak terlalu percaya pengawas dari pemerintah. Disini juga ada tim pengawas. Sebaiknya tidak ada pembatasan yang rigid. Duit dari PKPS BBM itu seharusnya swakelola. kriterianya sangat banyak. karena kecamatan memfasilitasinya dan yang paling mencolok adalah infrastruktur baik jalan desa maupun irigasi. PMD. Menggagas Desa Masa Depan 59 . Yang ditanyai Bandes. Pembangunan oleh desa lebih efektif. bertahap. 2. tidak sama persepsi dan empati antara ketua Bappeda. lalu APBDes dan itu masih dilakukan oleh LSM. saya sangat sepakat sekali antara realisasi ADD dengan penguatan kapasitas kelembagaan desa harus digarap bersama dan segera. Kasmuin Ada semacam tindak lanjut saja. Soekirman Sergai baru berjalan 2 tahun 6 bulan. tapi juga pada masyarakat karena mereka punya kapasitas dan lebih mandiri. jalan dll. hanya beberapa desa. dan setiap desa memperoleh dana yang berbeda sesuai dengan kebutuhannya. dan kabag hukum. Yang baik itu PPK. porsinya tidak ditentukan. karena adanya fasilitator pendamping sehingga lebih tepat sasaran. DPRD dan lain-lain. yang jadi kebutuhan desa lagi itu adalah keputusan musbangdes. datang kontraktor di atas kertas swakelola. kalau rata maka 75 juta per desa. sehingga mereka bisa bikin pasar. setiap tahapan harus dipertanggungjawabkan lebih dulu. PP 72/2005 harus dikuatkan dengan perda. Betapa pentingnya kewenangan desa. tidak ada mark up. dan baru menerima PP 72/2005. itu sudah mendarah daging. Apakah kita perlu merumuskan dan mencari strategi untuk mendorong hambatan-hambatan mengapa ADD itu macet dilakukan daerah? misalnya kita mendorong class action apabila ADD tidak dilakukan sebagaimana mestinya. Saya ingin menyampaikan bahwa ada 3 kebutuhan yang berbeda anatara di level desa dan kabupaten. Sejak dahulu semua orang menghendaki supaya daerahnya mendapatkan sebesar-besar. ADD seharusnya didahului RPJMDes.

Fasilitator Saya ada info dari Pak Girsang bahwa ketika mensosialisasikan ADD. masih perlu dukungan masyarakat. 4. dana pemberdayaan. Instrumen apa yang kita gunakan untuk mengatur ADD itu. Bagaimana kita melakukan penguatan. 2. selanjutnya pengalokasiannya bagaimana? Mungkin ada contoh dari beberapa kawan. perlu prinsip keadilan di tingkat wilayah. kabupaten hanya memberi acuan saja. Joana ADD adalah hak desa yang diterima untuk mengurus kepentingan diri sendiri. Peningkatan SDM. Di desa itu banyak uang. tentang ADD mengenai minimum yang harus disediakan desa. semua anggaran dari luar harus masuk APBDes sehingga ada pertanggungjawaban dilevel desa. perlu komitmen di tingkat nasional. apakah sesuai dengan perda atau yang lainnya. sudah jelas di PP konsekwensi logisnya kalau ada urusan di desa. 3.Fasilitator Jadi skenarionya. misalnya best bracticenya diungkap disini. sasarannya kepada aparat dan masyarakat desa? Swakelola itu saya sepakat. kalau tidak ya ada batas minimum. Instrumen akan sangat berharga. Inilah yang kita pilih dan kita prioritaskan. tapi belum ada pengalaman yang itu diinisiasi oleh masyarakat sendiri. Sumber Daya Alam. Perlunya needs assesment di desa. 2. Perlu komitmen yang lebih di tingkat nasional. Pedoman level pusat belum ada regulasi. Sekarang ini kita juga mendapat mandat untuk memonitor PPK berbasis masyarakat tetapi skenario bagaimana setelah itu kita tidak tahu. Kalau melihat dari 10% itu tidak cukup. Abu Dari pengalaman kami di Klaten untuk mengawal ADD di tingkat kabupaten tidak cukup pemdes dan kades. Tumpak Menurut kami dengan adanya ADD kita perlu cermati 2 hal yaitu: 1. yang itu berasal dari kabupaten. yaitu : 1. Perlu ada intervensi dari pusat supaya daerah tidak gamang melaksanakan ini. Ekonomi kerakyatan. Untuk daerah miskin perlu jumlah minimum yang perlu disediakan desa dan kalau itu masih kurang mungkin dapat di ambilkan dari APBN. Pembangunan infrastruktur. Datu ADD itu kalau di Jawa tapi kalau di Sumatra Barat namanya DAUN. bagaimana mengaturnya? Karena itu kita juga harus mengetahui bahwa itu adalah uang hasil dari hutang. Jadi mestinya uang itu mengikuti fungsi-fungsi yang ada. 10% dari APBD. Elemen di desa perlu mendapatkan penguatan untuk bersama-sama mendorong elemen di desa melek APBD dan APBDes. Yang perlu kita minta pertama adalah komitmen kabupaten. Menggagas Desa Masa Depan 60 . urusan ini mesti ada fungsi dan juga anggarannya. DAKN. Dan kalau itu tidak berhasil maka kami akan melakukan penguatan terhadap masyarakat diluar kecamatan untuk melaksanakan pengawasan apapun proyek didesa. sehingga dapat dijadikan bahan untuk pembuatan kebijakan bagi Depdagri. Arah pembangunan ke 5 sasaran. Instrumen kebijakan. Pembangunan kemasyarakatan. 5. tapi kalau di Nagari ada dana bagi hasil yang besarnya 35%. sekarang ada juga ADD dari Provinsi. Ada satu masalah ditingkat nasional dengan adanya intervensi PP 72/2005. tujuan sebenarnya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. ADD itu harus diintegrasikan kedalam APBDes.

sehingga dapat dipertanggungjawabkan. Karena kami sadar keterbatasn SDM yang ada di desa. 6. sehingga jumlahnya masih kecil. Bagaimana memperkuat ADD di level daerah supaya prosesnya lebih cepat. bukan kami tidak percaya tapi sampai sekarang ini belum diapa-apakan. Jito (Fasilitator 2) Kita sudah petakan dari sejumlah pengalaman praktis bapak ibu semuanya. 1. 4. Ada trend kepedulian yang semakin meningkat di level daerah tentang pentingnya ADD sebagai haknya untuk menjalankan pemerintahannya. supaya desa itu merasa memiliki atas policy. Problem manipulasi atau KKN atas pengelolaan ADD. Perlu ada intervensi positif agar proses tidak berhenti di tengah jalan. Indikatornya: a. Masalah. atau perlu dibuat peraturan-peraturan yang dapat lebih manjamin ADD bisa membuat perubahan-perubahan. forum tidak menghendaki tidak terlalu rigid. 3. dalam bentuk block grant. kurang serius menjalankan kebijakan ADD yang benar-benar dapat menjawab masalah yang dihadapi oleh desa yang menjadi kebutuhan desa. mekanisme pengucurannya seperti apa ? 2. b. Pemda berhenti membuat perda. Kewenangan kabupaten itu sampai detail apa tidak. bagaimana ADD itu diserahkan ke desa. Jadi perlu ada petunjuk teknis dari pusat yang hanya berisi pokok-pokoknya saja dan untuk detailnya menyesuaikan di daerah. Catatan juga dari kami bahwa : 1. 3. untuk catatan ADD bukan lagi kebijakan populis Bupati. akan tetapi daerah masih setengah hati. sekarang sudah ditetapkan tetapi sampai sekarang belum ada apa-apa. Kabupaten enggan untuk ADD 2. jadi bukan SE Bupati tapi sudah menjadi perda. 7. Perlu juga dibentuk lembaga penguatan masyarakat yang partisipatif dan itu bentukkan dari masyarakat sendiri bukan dari pemerintah. maka dibutuhkan untuk mempersiapkan sistem pengelolaan ADD. sebaiknya ini adalah bagian penting yang segera untuk diintervensi. SE Mendagri dan peraturan yang ada. Ada semacam keyakinan ADD itu membawa perubahan di desa. karena komitmen 10% kami hanya mendapatkan 7%. nanti akan kita buatkan petanya dan buat kesimpulannya. Satu hal yang penting dan relevan dengan apa yang kita bincangkan antara pusat dan daerah belum connect. 6. 4. 5. masalah politik 5. Oleh karena itu perlu didorong langkah-langkah oleh semua komponen di desa. Fasilitator Ada beberapa catatan penting yang dapat kita tarik dari diskusi ini. maka desalah yang perlu mendetailkannya. Akses informasi masyarakat untuk mengetahui PP masih sangat terbatas. keterbatasan PAD. Dari 10 juta menjadi 98-100 juta. Sumber pendapatan desa belum jelas. Menggagas Desa Masa Depan 61 .Dahlia Saya sangat sepakat dengan apa yang disampaikan dan hanya akan menambahkan bahwa yang terjadi di kabupaten TTS ADD belum pernah ada. Pemda belum berani memberikan komitmen 10% yang menjadi semacam tolak ukurnya. sehingga dapat independen. tetapi ini sudah menjadi kebijakan yang sifatnya daerah. Ada 3 kapasitas potensial desa yang belum siap. Fungsi dari pemerintah kabupaten atau pusat untuk memberikan dead line yang bersifat umum. walaupun itu difasilitasi oleh negara. Jadi harus ada mekanisme kelembagaan. Itu dikarenakan adanya PP. Pentingnya terintegrasinya ADD dengan program lain yang masuk ke desa.

aktivitasnya. Empat prinsip ini paling tidak yang menjadi patokan kita bagaimana memberikan gagasan pada pengembangan keuangan desa. Untoro-PMD. (2) BUMDes sebagaimana dimaksud ayat (1) berpedoman pada peraturan perundang-undangan (Bagaimana peraturan perundangundangan PP 72/2005. Dalam UU 32/2004 yang khusus bicara tentang keuangan desa yaitu pasal 213 tentang BUMDes menyebutkan: ayat (1) Desa dapat mendirikan BUMDes sesuai kebutuhan dan potensi desa. Sebelum mengerucut. Tadi pak Maryunani mengantarkan pada kita. Silahkan. pikiran dan pengalaman bapak/ibu tentang BUMDes. Yuni Pristiwati . tadi sudah disampaikan oleh pak Dony). Dony-DPRD Sumedang. Kita bisa mulai dengan mengeksplorasi pengalaman saat ini. Kenapa dibatasi BUMDes? karena topiknya keuangan dan ekonomi desa. Perkenalan Untuk lebih mengakrabkan suasana. kejelasan wewenang dan peran (pengelola dan kepala desa).ASPPUK 2. Pengalaman-pengalaman praktis. peserta memperkenalkan jati dirinya. Barori-STPMD “APMD”. Firsty Husbany-DRSP. Kenapa tidak yang ruang lingkupnya lebih luas misalnya pendapatan desa? kalau BUMDes ruang lingkupnya terlalu kecil. bagaimana posisi dan bagaimana pengelolaannya? Ada prinsipprinsip yang harus dipenuhi dalam pengelolaan keuangan desa diantaranya adalah prinsip pemanfaatan karena dari manapun dan seperti apapun pengelolaan keuangan desa harus diorientasikan pemanfaatannya bagi masyarakat. Fasilitator Kita mengingat kembali apa yang telah dibahas. baik untuk mikro finance maupun BUMDes. pembagunan. Erni-FPPD. Suharman-PSPK UGM. Toto Suharyana-BPMKS Sumedang. yang didalamnya termasuk aktivitas mikro finance. 9. Edward Kenapa BUMDes dan mikro finance? karena kita ketahui bahwa BUMDes adalah salah satu jenis pendapatan di desa. Stefan Jansen-GTZ Pro FI. (3) BUMDes menjadi milik desa dapat melakukan aktivitas pinjaman sesuai dengan peraturan perundangundangan. Widya PujiFPPM. Diskusi ini diharapkan bisa mempertajam pasal-pasal yang sudah ada disitu. Agus R Rahman-LIPI. yaitu prinsip transparansi. 8. usaha kecil. keberlajutan.7. Sumarjono – STPMD “APMD” : Adnan-LP3ES. Apakah mikro finance nanti akan cenderung atau pengelolaannya diarahkan ke BUMDes? Menggagas Desa Masa Depan 62 . Ada 4 penerima manfaat yang harus diperhatikan. Edward Lubis-YIPD Jakarta. dan bagi pemerintah itu sendiri. profesional (harus dikelola dengan betul-betul). Sofyan-Akatiga. 4. apa keuangan desa. Sunarti-Kementrian Pemberdayaan Perempuan. Transparansi. M. kita eksplorasi pandangan. Yusuf-Sajogyo Sains. Tidak perlu ADD itu rigid meskipun kontrol sangat perlu dilakukan agar penggunaan ADD benar-benar sesuai dengan yang diharapkan. problematikanya. Kelompok: MIKRO KREDIT DAN BUMDes Fasilitator Peserta : 1. dan apa cerita suksesnya (apa faktor masalah dan faktor pendukung). Susmanto-FPPD/LGSP.

alternatifnya bagaimana keuangan bisa dikelola. Dalam konteks desa yang kita lihat selama ini. masyarakat sekarang ini justru senang. kita bicara tentang keuangan desa lebih luas dan kita bicara pengelolaan keuangan desa pada dua level yaitu yang berkaitan dengan desentralisasi fiscal (ADD) dan didalam bagaimana kita mengelola keuangan desa. Persoalannya. Jadi uang itu muter. Karena dibutuhkan tambahan modal. tetapi biar pembahasan tidak terlalu melebar. sedangkan masyarakat mempunyai keterbatasan dalam mengakses teknologi. Dia punya idealisasi. juga merespon apa yang telah disampaikan narasumber. Oleh karena itu lembaga keuangan yang akan dibentuk tidak bisa berdiri sendiri sebagai lembaga keuangan. dimana salah satunya melalui BUMDes dan mikro kredit. Dimana mikro kredit ini salah satu aktivitasnya usahanya adalah BUMDes. mestinya produk yang kompetitif yang sarat dengan teknologi. dia tidak bisa membeli teknologi itu maka dia butuh tambahan modal. ini dimaksudkan supaya lebih focus. bargaining posititionnya kuat. Micro finance menurut pandangan saya. Kita tidak dikungkung dengan dua topic ini. dari segi system micro finance itu sehat. Ketika desa membiayai sendiri. Barori Pak Lubis juga benar. sehingga ketika bicara micro finance tidak boleh lepas dari bicara konteks ekonomi secara lebih luas. tetapi yang lebih penting adalah tantangan ke depan. Tantangan kedepan adalah produk desa. belum dalam konteks yang lebih positif. Kita kembali pada topik yang akan dibahas. Turunan dari topik yang dibahas disana tadi adalah bahasan tentang micro finance dan ada mandat dari UU 32/2004 atau PP 72/2005 yang kemungkinan dibentuk BUMDes di tingkat desa. tunggakan kecil kalau itu menjadi indikatornya. tetapi tidak apaapa kalau kita sepakat. Kenapa? Karena ternyata uang yang dipakai disini untuk membayar cicilan disana. Kegiatan produksi bagian dari kegiatan ekonomi pedesaan yang selama ini ada. tetapi topic besarnya kita bicara tentang keuangan desa. wawasan pengalaman tentang dua hal seperti itu. Bicara mengenai keuangan desa tentu saja ruang lingkupnya cukup luas. Artinya. itu otonom.Fasilitator Topik mikro kredit dan BUMDes. Tentu saja forum ini nanti akan memberikan gagasan. adalah sebuah supporting system dalam sebuah perekonomian. Bahkan ada yang berpendapat bahwa paradigma pembangunan dibalik. produk skala umum. Salah satu dalam pasal itu. Dalam konteks itu micro finance bicara disitu. Paling tidak dari arahan SC/panitia tidak diarahkan kesana. saya sudah buat seperti ini tetapi rentenir (pelepas uang) masih banyak berkeliaran. merdeka. maka dibutuhkan lembaga keuangan yang kuat. micro finance yang saya buka ini dalam rangka untuk menangkal rentenir-rentenir di pasar sekitar. Ketika bicara keuangan desa. Jika disepakati. Komentar saya. sistem kelembagaanya sehat. pembangunan dan kemasyarakatannya. Lembaga keuangan yang ada selama ini seperti apa? Micro finance yang kita lihat selama ini sudah banyak di desa. Apakah pada skala individu yang memanfaatkan jasa micro finance juga meningkat kesejahteraan dan pendapatannya? Penelitian intensif tentang indivisuindividu sebagai nasabah utama belum dilakukan. Bicara tentang ekonomi desa salah satu indikatornya adalah ketika desa itu mampu membiayai kegiatankegiatan pemerintahan. Tambahan modal itu bisa merupakan kredit. bagaimana menggali sumber-sumber pendapatan asli desa? Saya mengusulkan forum ini juga seperti itu. semakin banyak akses kepada uang semakin senang. “kuasai teknologi pasca panennya kemudian kita bicara proses usaha taninya”. dst. Menggagas Desa Masa Depan 63 . Teknologi itu mahal. tetapi pembicaraan kita adalah keuangan desa dan salah satu topiknya BUMDes. Teman saya di Minomartani membuka koperasi simpan pinjam diantara warga perumahan di sekitar Jogja. Oleh karena itu lembaga perkreditan dibutuhkan di desa dalam rangka mendukung produk yang berkualitas dan syarat dengan teknologi. omsetnya sudah sampai 2 milyar lebih (dalam satu kecamatan di Minomartani). kita tidak boleh lupa bahwa keuangan itu basisnya produksi.

dan BRI hanya bisa mengejar untuk melunasi hutangnya. tidak setengah-setengah. pasal 7881…. karena proses mengatur BUMDes sudah cukup maju. Kita harus memperhatikan yang seperti ini. Artinya kelembagaan ekonomi mikro/keuangan desa menjadi untungnya sendiri. Sebenarnya dalam PP tetang desa sudah lebih focus lagi. Ketika petani bicara masalah teknis budidaya pertanian datangnya ke PPL. pokoknya uangannya kembali. keuangan dari sisi pemerintahan desa. produksi dilepaskan. dan kita punya banyak anggota yang consent tentang itu. Sidoarjo. kalau kita bicara keuangan desa memang sangat luas. tetapi ketika sudah panen diserahkan kepada pasar bebas. Fungsi lembaga keuangan mikro terutama melakukan intermediasi keuangan di desa. Ke depan. Tetapi kita harus hati-hati kalau kita menerimakan kepada sustainability. Jasa ini penting. Artinya ini sebuah boot yang mengakomodasi pelaku-pelaku ekonomi dalam melaksanakan produksi. Sehingga yang namanya perlindungan terhadap petani/masyarakat kecil/pelaku ekonomi kita kelihatannya setengah hati. Kami mereka-reka. sudah ada Permendagri. Pada saat panen PPL sembunyi. dia harus bersaing disana. Diskusi seperti ini sudah cukup lama. lebih luas daripada kredit. beli bibitnya ke lembaga kredit (BRI). bagaimana sebetulnya institutional rised membentuk kelembagaan ekonomi yang betul-betul komperhensif. apakah peran bank BPD menjadi penting didalam manajement BUMDes atau mungkin Bawasda atau ouditor publik ? atau mungkin tidak perlu karena bank BPD dimasa depan di desa menjadi lebih kuat akuntabilitasnya.petani/pelaku ekonomi di desa ada didalam berbagai macam “pembinaan”. BUMDes dengan usaha simpan pinjam dan omsetnya sudah Menggagas Desa Masa Depan 64 . Micro finance dan BUMDes. Keterkaitan BUMDes dangan mikro kredit. karana BUMDes mempunyai potensi untuk menutup kesenjangan supplaydemand di tingkat desa. tidak dalam sektor keuangan di desa. sampai tingkat pasar dilepas. memang dari sisi keuangan menjadi sustainable. Ini yang disebut dengan pemberdayaan yang total. pembentukan dan pengelolaan badan usaha di desa. sekarang di banyak daerah terutama di Jatim (Trenggalek. Kita memang berfokus pada BUMDes. memang dua hal ini sangat erat. dan apa yang kita bicarakan disini kerangkanya tidak lepas dari apa yang tadi dibicarakan. karena pendekatannya efisiensi. Kita perlu pengawasan eksternal. Tawaran untuk diskusi awal. Kita dasarnya adalah pasal 213 UU 32/2004. kita focus ke sektor keuangan di desa. Dalam peraturan perundangundangan yang dimaksud disitu adalah Peraturan Daerah Kabupaten/Kota tentang pedoman tata cara. Kita bisa belajar. Dan untuk Perda itu dapat disusun. Untoro Tanpa membatasi pembicaraan. secara garis besar lembaga kuangan desa harus integrated. secara teknis harus untung (saved uang). Stefan Saya usul. pembiayaan sampai pemasaran. baik bagi orang yang mau menabung. apakah mnicro finance tergantung juga pada roda perekonomian yang ada. Ini awal untuk memancing diskusi lebih lanjut. apakah namanya sustainable rural banking (dari kacamata teritoritik)? Kenapa sustainable rural banking ? karena hidup matinya (sustainable) bank. Ini beberapa point yang bisa menciptakan resiko untuk BUMDes. Nanti kita bisa mendengar pendapat dari bapak-bapak. jangan sampai seperti sekarang. meminjam untuk tujuan investasi atau working capital apa saja. tahun 80-an ada buku besar dari PSPK tentang Perkreditan Rakyat (almr Mubyarto dan Gunawan Sumodiningrat) mempertemuankan antara pendekatan efisiensi dan pendekatan efektivitas. karena cukup luas kalau kita lihat tantangan di sector riel. dll). jangan sampai dia melunasi hutangnya bukan karena berdasarkan nilai tambah yang dia peroleh dari aktivitas ekonominya tetapi dari menjual aset-aset produksi sekedar untuk melunasi hutangnya. mudah-mudahan dalam waktu tidak terlalu lama bisa dikeluarkan sehingga pada saat daerah menyusun perda dapat digunakan. berdasarkan peraturan perundang-undangan. saat ini Dirjen PMD sedang mempersiapkan peraturan mendagri.

Kenapa harus BUMDes? Karena untuk menjawab permasalahan. tetapi ini belum dipayungi oleh BUMDes. lumbung desa. Permasalahan. satu desa ada 60 juta. Keuangan desa dikelola melalui APBDes. kalau lembagalembaga keuangan yang ada di pedesaan. nanti partial-partial yang ada di masyarakat bisa bubar. BUMDes itu harus dengan Perdes tetapi tidak bisa berhubungan dengan lembaga perbankan karena harus ada akte notaris. NOleh karena itu nanti setelah terbentuk di Perdes. (aktivitas sudah jalan tetapi payung hukumnya belum ada). dari aspek legal dianggap tidak ada karena payung hukumnya tidak ada. Ini usaha-usaha BUMDes baik yang sedang kami rintis. dari yang telah kami praktekkan kami mencoba mengumpulkan lembaga-lembaga keuangan yang ada di desa cecara partial. Itu merupakan salah satu unit usaha BUMDes di desa. Ini harus kita ingat supaya tidak campur aduk. Sesudah Perdes jadi dan BUMDes sudah jalan. baru dari APBDes masuk ke BUMDes. dan warung nasi. dan usaha lain seperti persewaan hand traktor. UEP PKK. seperti ADD (di Sumedang disebut DADU: Dana Alokasi Desa Umum). Pelaksanaan di kabupaten Sumedang. dimana pembentukan BUMDes kami ambil dari partial-partial yang terbaik. sama yang kami buat. Bahkan dana perimbangan desa (ADD) ujinya di Sumedang. Toto Kami akan memberikan gambaran apa yang telah kami lakukan di Sumedang. dari APBDes ke BUMDes. Dengan regulasi kebijakan dari atas dapat diarahkan ke sana. Disepakati. Ada aturan BUMDes. sebab lebih dulu praktek dimasyarakat daripada peraturan. Kami menyikapi bahwa untuk keuangan desa tidak sama dengan BUMDes. sementara Perda turun belakangan. apalagi di pedesaan. kalau kita langsung mengenalkan BUMDesa. Tadi disampaikan bahwa justru BUMDes ini yang jumlahnya puluhan ribu yang non bank dan non koperasi. sedangkan keputusan bupati turun th 2003. seperti usaha simpan pinjam. tapi setelah jalan menjadi pinjam simpan. Oleh karena itu. tetapi ADD itu masuk dulu ke APBDes di desa. Tetapi manakala disodorkan ke bank tidak akui. Jadi kita mengadopsi. UEP PPK. Padahal Perdes itu aturan hukum desa. ATK). manakala go public pihak perbankan belum merespon. Lumbung desa juga merupakan salah satu unit usaha BUMDes. Setelah terbentuknya BUMDes. Galian pasir (galian C) juga dikelola oleh BUMDes. yang boleh menghimpun dana masyarakat itu hanya bank atau harus berbentuk koperasi. banyak pinjamnya. pertokoan (fotocopy. BUMDes bisa menjadi PAD desa. rekening dari masyarakat dilebihkan 1. Status badan hukumnya masih PERDES. Kemudian untuk pemuda (karang taruna) untuk penagihan rekening air dan listrik dipayungi oleh BUMDes. Jadi tidak serta merta keuangan itu masuk ke BUMDes. Contoh ada yang beli trakor dan laku disewakan. tinggal di akta notariskan. ada yang sudah berjalan. dan khusus untuk lembaga keuangan mikro bulan Oktober 2006 akan dikeluarkan Peraturan Presiden tentang kebijakan nasional mengenai keuangan mokro untuk melindungi lembaga keuangan mikro yang nyata-nyata bisa menghadapi pelepas uang dan jumlahnya banyak untuk bisa beroperasional tanpa dianggap illegal. jarang yang simpan. Yang dapat dimasukkan oleh kami ke BUMDes adalah unit simpan pinjam. Dari ADD disisihkan harus ada untuk modal BUMDes. mau beli lagi tetapi karena uang kurang maka harus pinjam ke bank. bahkan bantuan gubernur (tugas pembantuan) diakses. harus ada akta notaris.000.besar. Dengan itu maka Menggagas Desa Masa Depan 65 . karena BUMDes aturannya/payung hukumnya turun belakangan. Kami mencoba mengangkat dari partial-partial yang ada karena di desa paling tidak ada >5 lembaga-lembaga ekonomi desa yang bisa dipayungi BUMDes. Depdagri sedang konsen pada BUMDes. dan ada yang masih dalam perjalanan. sehingga ekonomi yang tumbuh di desa itu sudah ada. diangkat menjadi pengurus BUMDes. tapi satu sama lain saling mengkait. bahkan kalau sudah jalan. bagaimana aturan dengan praktek yang sudah ada. kedudukannya sama dengan UU.

Sebenarnya fokus (tujuan) dari awalnya adalah untuk penanggulangan/ pengentasan kemiskinan. Dalam diskusi ini. Ada keberpihakan politik yang melindungi nilai tukar. 53 juta/tahun). tidak haya aturan teknis saja. bukan hanya kebijakan. Ada pengalaman saya. sementara kepala desa berpikiran bahwa itu keuntungannya masuk desa. walaupun usaha seperti ini sudah banyak. karena gudang yang dibangun diatas tanah kas desa. Mungkin ini control. Kalau petani tidak mau mengubahnya. Kalau di pertanian jelas. Apakah betul di desa sudah mampu untuk menabung? Ini masalah. Sofyan Persoalan. Apalagi adanya keharusan aturan dalam BUMDes bahwa yang melakukan usaha harus berbadan hukum. Jangan sampai nanti BUMDesnya berkembang dan yang menikmati hanya elit-elit desa saja. tetapi dengan pertimbangan. maka tanahnya diambil. tidak semata-mata orientasi bisnis. rencana pembangunan gudang ini kemudian diprotes oleh warga. maka saya penekanannya pada tabungan. tanpa ada kontribusi kepada masyarakat/warga desa. saya pribadi mengharapkan juga politik keberpihakan yang jelas pada petani. ada mekanisme control dan orientasi kemanfaat pada masyarakat juga menjadi pertimbangan. kenapa orang di desa sulit mendapatkan usaha? Salah satunya kurang mendapatkan akses kredit. Usaha-usaha di desa dilakukan tanpa harus berbadan hukum. Kalau kondisi petani yang terus mengalami nilai tukar produknya selalu melemah. Bagaimana tanah yang dipakai itu dapat memberikan kontribusi pada desa? Menggagas Desa Masa Depan 66 . sehingga pemiskinan akan terus berlangsung. dll. Oleh karena itu kalau akan dikembangkan micro finance harus didasari/diimbangi dengan politik keberpihakan pemerintah terhadap perlindungan petani yang kehilangan nilai tukar. Kita juga harus lihat ini. kalau di desa petani (pertanian) terjadi pelemahan nilai tukar produk pertanian terhadap produk industri. puskesmas. ini tentu akan sulit.5 ha tanah kas desa yang didistribusikan kepada petani (hasilnya sekitar Rp. tidak ada lagi persoalan belas kasih sosial desa terhadap petani. bahwa melihat tujuan micro finance sebagai intermediary tabungan dan kredit. tetapi imbas (pemasukan) ke desa tidak pernah ada. hampir tiap masa ada kelemahan nilai tukar terhadap industri. tetapi ini tidak dimengerti oleh warganya. Widya Ada tanah kas desa yang dipakai dengan tujuan kembali ke masyarakat. Masalah micro finance secara riel ini bagus sekali. Ada 12. Tadi dikatakan lumbung desa juga bisa menjadi badan usaha BUMDes. Maksud saya. warga punya pandangan bahwa kepala desa bisa mengontrol itu untuk kepentingan pribadinya. di satu desa yang kepala desanya punya inisiatif membangun suatu gudang untuk menampung hasil bumi warga desanya. Persoalannya. saya mewanti-wanti bahwa kepemilikan BUMDes ini hanya elit desa (kepala desa dan aparat desa) saja. Agus Dalam hal BUMDes. sekolah. Selama ini banyak tanah-tanah kas desa yang dipakai oleh pemerintah pusat seperti untuk kantor polisi. Kenapa control desa terhadap tanah/petani hanya sebatas persoalan bagaimana caranya agar tanah ini bisa menghasilkan pendapatan untuk desa. dan saya pribadi setuju.ada peningkatan pelayanan masyarakat. Tanpa itu. Fasilitator Kalau kita bicara BUMDes. maka dia tidak bisa menabung. gagasan intermediary untuk menciptakan tabungan dan kredit di desa mustahil. hal ini sebenarnya bisa untuk BUMDes. bagaimana usaha-usaha seperti ini yang tidak berbadan hukum bisa memperoleh akses kredit? Juga usaha yang dilakukan desa. misalnya di desa ada mekanisme lelang tanah kas desa.

Otomatis mereka yang tidak punya KTP tidak bisa punya akses ke bank. Pengalaman ini sudah ada dimana-mana. menunjukkan bahwa akses masyarakat terhadap pengambilan keputusan di desa. tidak dari daerah. tetapi departemen lainnya pro liberalisasi pasar. juga soal tanah-tanah mati sehingga jangan salahkan orang Indramayu menjadi PSK di Jakarta. saya lebih sepakat kalau kita kembalikan pada kearifan local contoh kasus di Sumedang. (terjadinya dept capital). karena sepertinya yang bicara desa itu hanya Depdagri sementara departemen yang lain tidak pernah melakukan affirmative terhadap desa. dimana agunan itu banyak dimiliki laki-laki. tetapi bagaimana menyikapi BUMDes sehingga bisa sesuai dengan realitanya. harus lebih jelas. (bagaimana akses perempuan) Fasilitator Saya menegaskan bahwa. petani kita hancur. paling tidak ada suatu realita yang kita harapkan. apapun bentuknya. artinya harus ada perhatian khusus terhadap perempuan. Hasil studi dari Bank Dunia membuktikan bahwa dengan memberikan pendidikan pada perempuan (meningkatkan pendidikannya dari SD—SMA) dapat meningkatkan 0. Sebenarnya perempuan itu terbukti bahwa pengembalian kredit itu rajin (kemacetan 99%). bahwa di lapangan 60% pelaku usaha mikro kecil itu perempuan tetapi mereka kesulitan dalam mengakases kredit. Belajar dari pengalaman itu. kembalikan saja ke masyarakat karena mereka yang lebih tahu tentang kondisinya daripada kita. kearifan desa disana. Firsty Kita ada di 2 kutub yang sangat berlawanan.03% GNP. 60% desa-desa di Jawa (Indramayu hanya 10% yang mengambil keputusan di desa itu) termasuk soal ekonomi. pada sisi lain ada harapan kita apa yang seharusnya. Adnan Negara ini tidak sekedar memproteksi desa tetapi harus affirmative action sudah saatnya dilakukan. harus ada skema khusus untuk kebutuhan-kebutuhan perempuan agar bisa memberikan nilai tambah. jangan sampai ada penyeragaman. Apakah dengan BUMDes. 70% dikuasi elit desa. Kalau tidak. Jangan-jangan yang kita diskusikan ini apa yang sebenarnya menguntungkan elit desa. misalnya soal pupuk. atau mereka (di desa) yang bahkan tidak punya KTP. Usulan. Misalnya kasus UU Perbankan. untuk apa? Tetap saja petani mati. sudah harus menyangkut pada politik perUUan yang lebih konkrit terhadap desa. saya lihat petani juga semakin parah. Contohnya di seminar 2 hari ini. kalau pupuk di lepas dipasar bebas. UU Koperasi tidak ada yang menyentuh sampai ke masyarakat desa. kita sepakat tidak ingin menjadikan desa sebagai objek. jadi tidak hanya di formal saja tetapi juga non formal. Walaupun Depdagrinya jungkir balik. Ini yang perlu dipertahankan (jenis usahanya). apakah desa terutama masyarakat desa menjadi pemasaran produk-produk termasuk produk perbankan ? Dalam kegiatan ini. Tidak usah bicara partisipasi. Studi LP3ES sekitar 10 th yll (dipimpin pak Dawam). termasuk dari BPR pun atau MF yang paling kecil sekalipun selalu ada persyaratanpersyaratan yang sangat sulit diakses terutama oleh kaum perempuan.Mengenai BUMDes. Semua ini pendekatan insidental. bagaimana menjembataninya? Menggagas Desa Masa Depan 67 . masing-masing mempunyai institusi sendiri. kalau itu dikaitkan dengan micro finance bagi salah satu usaha BUMDes. saya kira Indonesia sudah makmur. karena ada problem seperti ini. termasuk skema kreditnya. apakah mereka menjadi objek atau subjek? Bagaimana kita menyikapinya? Skema kredit. Sunarti Menyoroti dari sisi perempuan. BUMDes itu sesuatu yang bagus. bagaimana kebijakan subsidi pupuk? Lebih parah lagi. mungkin karena untuk mendapatkan kredit harus ada agunan. ya tunggu 15 tahun lagi Negara kita ini sudah selesai. semuanya harus affirmative.

dia punya cukup banyak beras dan dibagikan ke petani tetangganya. Itu nanti justru akan menjadi konflik. Kerangkanya harus ekonomi kerakyatan. Masih ada PR-PR bahwa dari tingkat nasional sampai ke desa yang sampai sekarang masih menjadi problematic. Nanti hutan di Jawa juga habis karena kita tidak bisa mengelola ekonomi desa hutan. bagaimana memperlakukan uang sebagai pelaku bukan object? Itu yang harus kita perhatikan. Mekanisme/trust seperti apa yang dibangun oleh rentenir sehingga mereka membangun jariangan cukup kuat? PSPK dengan Pemda Ngawai sedang membangun kerjasama untuk mencari pola-pola dasar (skim) dari micro finance. Bagaimana “bank” menurunkan kadar formalitasnya mendekati pola-pola rentenir? “kalau rentenirnya masuk angin. Menggagas Desa Masa Depan 68 . tetapi juga bisa mendatangkan poliklinik. Justru kami akan menggunakan instrument itu sebagai sodoran. dikerokin juga sama yang ngutangi!”. BUMDes jangan sampai menjadi instrument/kapitalisme di desa yang akan memporakporandakan tatanan di bawah. Ini kan lintah darat yang sangat manusiawi. nanti kembali sekian”. Saya berpikir. afirmatifnya seperti apa?. misalUU kehutanan. Karena selama ini dana yang dikucurkan dari atas sampai ke bawah variasinya sangat luar biasa. bukan sebaliknya menjadi instrumen pengisap kekayaan. Bagaimana masyarakat bisa memanfaatkan potensi yang ada didesanya untuk menjadi usaha itu terhalang oleh aturan-aturan sektoral yang lain. sehingga dikembalikan.000. jalan tidak? Indonesia itu tidak hanya Jawa. mana yang kira-kira pas? Seperti yang disampaikan mas Untoro.Jenis usaha. Karena dulu surat Mentri Kehutanan berkali-kali ganti sampai sekarang tidak ada kepastian tentang itu. Unit usaha BUMDes harus yang realitas muncul. Kita coba memakai kelompok tani hutan. 10. Kasus yang menarik. cukup “kamu jualan disitu. karena nanti yang terjadi hanya papan nama saja. Kalau nanti BUMDes masuk harus dibungkas dalam sebuah proses. saya menulis “Bupati versus rentenir”. 2 tahun terakhir saya bergulat dengan petani hutan dan desa-desa yang mengepung hutan itu miskinnya luar biasa sehingga mereka menjarah hutan. belum terselesaikan. bukan dipaksakan muncul. kenapa Pemda Ngawi tidak gunakan BUMDes untuk mengatur micro finance di desa? Ini menarik untuk coba diaplikasikan. tetapi rentenir tidak membutuhkan itu. siapa mau berobat. tetapi tetangganya itu ditanya “apakah beras itu sudah sampai?” Dan mereka tersinggung. Kami berani menjamin bahwa itu pasti akan ada banyak ganjalan. hanya sekedar untuk menunjukkan bahwa dia itu bukan hanya orang yang bisa membagian beras. harus kita lihat kemampuan desa menjalankan BUMDes. dan ternyata kendalanya sama yaitu persoalan landasan hukum. ini cukup Rp. Persoalan tentang micro finance. jangan sampai itu hanya urusannya PMD. Saya menggarisbawahi bahwa: (1) jangan sampai BUMDes itu justru menjadi instrument bagi capital besar yang menghisap desa dan (2) BUMDes jangan sampai menjadi sebuah instruksi yang wajib dialkukan di tingkat desa tanpa ada kegiatan yang riel di masyarakat itu. tiap desa harus muncul BUMDes. ada seorang ibu yang membuka penggilingan gabah di kecamatan Pleret. yang nanti akan membawa kesejahteraan bagi masyarakat. ini tidak pas. Jadi sistem ekonomi kerakyatan ini yang harus kita kawal. dia jalan menggunakan mekanisme bank. kami sudah meneliti tentang rentenir sampai saya mengkritisi kebijakan bupati Bantul. bagaimana di daerah lain (Kalimantan)? Apakah mereka sudah mampu untuk mengalami proses monoterisasi. karena terbukti (dari LP3ES) bahwa yang menguasai perekonomian desa hanyalah segelintir orang. dan betul-betul menjadi bagian dari supra ekonomi desa. Suharman Saya merespon tentang BUMDes dengan membandingkan kita dulu pernah punya KUD. bahwa nanti akan ada Perda. Saya sepakat dengan teman-teman bahwa jangan sampai kita nanti menjadi paket kebijakan. silahkan gratis. bagaimana seorang penggilingan beras bisa mendatangkan poliklinik dari luar untuk buka prakatek di sini. perlu ada koordinasi dengan sector-sektor yang lain. Kenapa? karena bupati menggunakan bank pasar (beroperasi pada level pasar-pasar desa). Kemudian si ibu mendatangkan poliklinik di rumahnya. Tentang kehutanan.

Informasinya di Bantul BPRnya maju. sementara kalau bank kelemahannya pada persyaratan. karena koperasi ada keterbatasannya hanya dari. (2) harus ada kedaulatan rakyat (kedaulatan pangan terhadap sumber daya bersama). yang cirinya adalah ekonomi yang berpihak pada rakyat. seharusnya sudah jadi BPR tetapi tidak mau. Untoro Kami menyusun PP itu berdasarkan kondisi di lapangan. bahkan assetnya sudah 1 milyar. kabupaten (melalui bupati) harus mengalokasikan dananya (berapa % dari APBD) untuk pengembangan ekonomi yang dialokasikan untuk modal BUMDes. Pengawasan dilakukan oleh BPD dan Bawasda sepanjang bantuan modal/aset2 daerah). Mengenai hutan. Untuk bisa mengoptimalkan peran BUMDes. itu yang kita lindungi. Pengelolaanya bagaimana? Itu diserahkan daerah. Karena ujung-ujungnya siapa yang berkuasa atas BUMDes? Apalagi ini rentan terhadap sumber daya bersama. Menggagas Desa Masa Depan 69 . Prinsipnya. Sampai sekarang dari > 4500 BUMDes. tidak dipaksa. kurang terpayungi secara hukum. Usaha-usaha ekonomi masyarakat yang kurang terakomodasi.Edward Untuk mengatasi monopoli kepemilikan. misalnya hutan. Saat ini dalam UU baru dimana koperasi sudah diakui sebagai badan hukum yang legal untuk bisa mengakses ke bank. Prinsipnya. (2) tersedianya sumber daya desa yang belum dimanfaatkan secara maksimal terutama kekayaan desa. Justru Depdagri bertujuan menembus kebuntuan untuk mengatasi itu. usaha ekonomi desa simpan pinjam juga maju. jadi BUMDes saja. maka tidak akan ada masalah rentenir. Nanti konsekuensinya. Alur tembusnya melalui pasal 213 UU 32/2004 dan PP 72/2005. Kalau itu bisa. Ini yang di back up oleh GTZ ProFI. tapi juga berfungsi social (visi dan misi jelas). Yusuf Saya sepakat bahwa harus ada mekanisme control untuk mengatur posisi modal. Mengenai tanah kas desa. di Sidoarjo justru tanah kas desa ini yang digunakan sebagai modal BUMDes. UKM kurang bisa mengakses kredit bank. Tetapi jangan sampai BUMDes itu komersil. Yang dimaksud kebutuhan dan potensi desa ada 4 (empat) hal yaitu (1) Kebutuhan masyarakat terutama dalam pemenuhan kebutuhan pokok. ekonomi masyarakat itu juga boleh bisnis. (3) tersedianya sumberdaya manusia yang mampu mengelola badan usaha sebagai asset penggerak perekonomian masyarakat dan (4) adanya unit-unit usaha masyarakat yang merupakan kegiatan ekonomi warga masyarakat yang dikelola secara paksa dan kurang terakomodasi. kalau itu kekayaan desa harus dikembalikan ke desa karena banyak pasar desa yang sudah berkembang justru diambil kabupaten. Depdagri bertangungjawab terhadap LKM-LKM yang non bank dan non koperasi. maka perlunya disini bagaimana bisa menjembatani ? Fungsi utama BUMDes adalah (1) fungsi social. Dan pengawasan keuangan oleh auditor independent. tidak ada satupun yang mau menjadi BPR. “Bupati vs rentenir” di Bantul. Kalau pasar desa itu jelas merupakan kekayaan desa. Ini juga diakui oleh Bank Indonesia. hutan itu milik Negara dan dikelola Negara. dan pusat hanya kebijakan. Kepemilikan. Permasalahn kredit sudah sejak lama. tidak dijual. Celakanya dengan diserahkan ke daerah justru banyak dijumpai illegal logging. jelas dikelola oleh pemerintah desa (sebagai penasihat) dan masyarakat. disitu menyebutkan tentang jasa keuangan. Jangan sampai kalau bisnis itu sudah kapitalis. Kemudian dimana mikro finance masuk? Tadi dikeluhkan bahwa permasalahnya tidak bisa akses ke bank. Di dalam PP 72/2005 disebutkan bahwa pembentukan BUMDes disesuakan kebutuhan dan potensi desa. Bisakah bupati/walikota memberikan jaminan kepada pengusaha-pengusaha kecil yang dinilai layak untuk meminjam ke bank. oleh dan untuk anggota. bentuk yang tepat untuk dasar hukum BUMDes adalah koperasi.

Ini menjadi ramburambu. pemerintah bekerjasama dengan NGO. Dalam micro finance harus ada rambu-rambu yang jelas. Kalau ini membahayakan harus ditolak. Solusinya. Karena ketika micro finance itu memudahkan kredit bagi perempuan justru nanti akan melemahkan perempuan. kepastian hukum. sedikit susah untuk LKM karena asetnya terlalu kecil. kalau asetnya sudah sekian juta harus menjadi BPR? Maka tawaran koperasi itu mungkin menarik. Stefan Mengenai perlindungan tabungan. Kalau sekarang ada pintu/jendela yang disediakan seperti LKM. Seperti ini ada linkage program. karena survey membuktikan bahwa kredit usaha simpan pinjam yang dilaksanakan oleh perempuan lebih baik daripada yang dilaksanakan oleh laki-laki. apa bedanya? Ini merupakan hal kritis yang perlu menjadi perhatian kita. sehingga mereka rajin mengembalikan. bagaimana cara mengelola kredit mikro. kalau berfungsi seperti ini otomatis ada perlindungan. (tanggung renteng) Fasilitator Kenapa PMD berani ? mungin karena ada support dari GTZ Pro FI. sehingga mereka dapat berhubungan secara legal dengan bank. Apa yang terjadi? Mereka tidak mengembalikan karena mengaggap “itu uang rakyat”. lebih memberdayakan pada perempuan. Jadi perlu disisipkan. Fasilitator Prinsip yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa usaha itu harus berpihak pada rakyat dalam kerangka ekonomi kerakyatan. Bagaimana keamanannya? Kalau nanti pintu masuknya hanya ke bank. Menggagas Desa Masa Depan 70 . Dan rakyat/masyarakat tidak lagi menganggap bahwa itu uang rakyat.Barori Masalah kelembagaan. Apakah ini perpanjangan tangan. Adnan Kebijakan tata pembaharuan desa termasuk micro finance harus link and match dengan upaya pengentasan kemiskinan. Mengenai BUMDes perlu ditambah dengan: 1) fasilitasi (dari Depdagri). salah satu problemnya itu. tapi koperasi seperti apa? Toto Saya mendukung ibu dari pemberdayaan perempuan. dasar hukum LKM harus ada. asetnya sudah 1 milyar lebih. koperasi itu bukan bank. Sunarti Contoh pengalaman di Malaysia. Suharman Simpan pinjam itu justru controlnya social. Prinsipnya. Strateginya. 2) pelatihan dan 3) pendampingan (bisa dari Depdagri kontrak sarjana yang ada didesa sehingga bisa merekrut tenaga kerja di pedesaan). Pengawasan juga kuat seperti bank. Tiga ketua UPK di kecamatan adalah perempuan. Sebagaimana bank yang lain. Kalau kita lihat draft UU LKM. apakah di BUMDes ketika terjadi pailit ada yang bisa bertangung jawab? Ini problematik yang tidak bisa diputuskan dalam forum ini. kemudian di deposit (tabung) di bank (fungsi intermediasi). LKM hanya berfungsi seperti handle agency. Pemerintah Malaysia pernah memberikan dana untuk taskin tetapi dikelola sendiri. mereka menerima uang di masyarakat. Ketika masih pada skala kecil tidak apa2. masyarakat langsung control. Widya Bagi saya. jangan disamaratakan perempuan itu lemah. uang dari pemerintah diberikan langsung kepada NGO untuk dikelola.

termasuk affirmative action lintas sektoral. perpanjangan tangan usaha-usaha besar (bank) atau usaha lain. dan pendampingan maupun pemberian modal • berfungsi sebagai intermediasi (LKM) • harus diikuti dengan keberpihakan politik yang jelas • khusus untuk LKM ada skim khusus kredit yang dekat dengan rakyat (belajar dari rentenir) • ada jaminan afalis (kalau dibutuhkan) dari pihak-pihak tertentu untuk menghindari akses modal yang rendah • ada mekanisme dan komposisi kepemilikan modal yang jelas Semua itu tidak boleh lepas sebagai sebuah upaya sistemik dalam pengentasan kemiskianan. • sebagai affimative action. • ada kejelasan hukum berbasis pada potensi ekonomi rakyat. tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah khususnya pengembangan UKM (tidak ada “proteksi market”).Fasilitator Kesimpulan diskusi : • Identifiaski pengalaman terkait dengan bagaimana pengembangan ekonomi desa melalui BUMDes dan LKM. Menggagas Desa Masa Depan 71 . Dari pengalaman itu. • Problematika: selama ini masyarakat kecil khususnya perempuan tidak mendapat fasilitasi yang cukup. • ada alokasi dari dana APBD. • ada regulasi (peraturan) yang mendukung sehingga usaha pengembangan ekonomi desa ini bisa berlanjut. Rambu-rambu BUMDes atau MF seperti apa? • dilihat dari basis pada kemampuan dan pengalaman desa agar tidak dibentuk berdasarkan penyeragaman. • ada pengawasan yang jelas. sebagai pengembangan ekonomi desa untuk menghindari pertarungan modal besar • menjadi subjek dalam peksanaan pelayanan bukan menjadi objek. harus dibentuk berdasarkan aktivitas riel. • harus ada badan hukum yang jelas dengan orientasi kerakyatan. selain usaha bisnis harus ada: • pemberdayaan: bentuk bisa fasilitasi. pelatihan. • kepemilikan oleh rakyat. Kita mencoba membuat tawaran dengan dua institusi yaitu BUMDes yang salah satu didalamnya ada micro finance sebagai alternatif pengembangan ekonomi desa. di masyarakat lokal tentu sudah banyak program-program yang terkait dengan dua hal itu. Dan ada anggapan bahwa uang dari pemerintah tidak perlu dikembalikan. menghindari kooptasi elit • harus memberi ruang dan bertumpu pada inisiatif dan kearifan local. Dari sisi LKM atau BUMDes. • ada kejelasan tatalaksana manajemen. • Perlu adanya MONEV dalam pelaksanaan. • ada mekanisme control dalam pelaksanaan dan mengedepankan manfaat untuk rakyat (kesejahteraan rakyat). • memberikan perhatian pada masalah-masalah perempuan. • Tidak ada aspek payung legal : koperasi dan bank • Akses terhadap modal dan informasi rendah Ini semua merupakan problem kemiskinan yang ada di desa.

Widyohari-STPMD “APMD”. karena tadi waktunya pendek. Sadu dan Pak Ibnu Tricahyo hadir bersama kita. • konsep-konsep perwakilan daerah.. Elke Rapp-DRSP. BPD. . Ini tadi diskusi yang berkembang yang kita bahas di sessi kedua. Pak Sadu sudah panjang lebar. tapi yang penting kita bicarakan adalah desa sebagai kesatuan masyarakat hukum. topik kedua mengenai tata hubungan desa dengan supra desa. Sadu–STPDN. Wa’i-Lakpesdam. supaya out put yang kita hasilkan dari diskusi kelompok ini adalah bagaimana mempermudah kita dalam rangka membantu kita semua.. Nurwafi-BPD. Azam-Pemdes Kebumen. Artinya kalau Pak Ibnu ingin mengatakan secara tata kenegaraan UU 32/2004 itu salah demi hukum. Bagaimana seharusnya pengaturan hukum mengenai desa? Dalam bingkai NKRI sebaiknya dihapus saja dulu. Riawan Tjandra – UAJ Jogjakarta : Prof. Haryo Habirono – FPPD 2. Salini-DSF. kami persilahkan kalau ada yang ingin berkontribusi. Jadi kalau bicara tentang pembangunan ekonomi dan sebagainya lebih banyak berkait dengan komunitas-komunitas itu. terima kasih atas kehadirannya di ruangan ini. Widya-FPPM. • otonomi itu bentuknya bagaimana? • representasi desa itu bagaimana? • persoalan kedudukan desa. dari dulu saya tidak tahu ini kemana dan kaya apa. bahwa: • pengaturan desa itu menjadi sangat penting. Kelompok: TATA HUBUNGAN DESA DENGAN SUPRA DESA Fasilitator Peserta : 1. Menggagas Desa Masa Depan 72 .5. dalam konteks tata hubungan desa dengan supra desa. Jadi ini dilema. kalau saya beri kesempatan lagi dia akan presentasi lagi. kan begitu. kami persilahkan saja. Toro-STPMD “APMD”. berpendapat. hubungan kerja. Silahkan kalau ada yang ingin berkontribusi menindaklanjuti hal itu. Untuk itu. bukan hanya sekedar pemerintah desa. Kalau Pak Sadu ingin menambahkan point-point yang lebih tegas. Saya kira itu.. cuma desentralisasi dalam konteks desa ini arahnya kemana. desentralisasi dari pemerintah pusat itu seakan menimbulkan sentralisasi kekuasaan di pemerintah daerah. Dalam pengertian desa itu sendiri kita harus tahu ada pemerintah desa. khususnya Depdagri dalam rangka menyusun naskah akademik tentang pengaturan mengenai desa. sesuai saja. Sadu Terima kasih. mungkin saya sampaikan. padahal kalau kita mau bicara desentralisasi ya daerah dan desa. yang penting yang harus dirubah. Steny-HUMA. dan ada komunitas-komunitas tertentu. saya kira dengan yang kita bahas tadi. Dua pembicara Pak Prof. nanti diskusi akan berkembang lagi. Tetapi yang terjadi dalam praktek. Ibnu–Unibraw.. Tadi ini masih ada beberapa perbedaan kedudukan desa di dalam UUD 1945 yang diamandemen dengan kedudukan desa di dalam UU 32/2004 ini beda. Irwan-Letmindo/GTZ Aceh Fasilitator Ibu dan bapak sekalian. melengkapi apa yang sudah disampaikan tadi. sedikit semampu saya membuat catatan ini ada beberapa point yang tadi juga telah disampaikan oleh moderator. Terus hubungan desa dengan supra desanya itu sendiri.. Franky-AMAN.. juga ditangan pemerintah desa. Jayus-UNEJ. Mas Ibnu sudah panjang lebar. pola kerjanya bagaimana. inkonsistensi. sementara di dalam kepanitiaan disini ada beberapa kisi yang mungkin juga mudah dipandu-arah diskusi kita. kita akan bersama-sama menindaklanjuti diskusi yang sessi kedua tadi. nanti eksplorasi lebih jauh bisa kita lakukan. untuk tidak mengatakan salah. dibuat mengambang.

Saya menawarkan gagasan. anggaran banyak. Pertemuan ini dimaksudkan dalam rangka mengisi. Fasilitator Jadi supaya kita lebih fokus. hanya hal itu tidak dilaksanakan. karena orang-orang desa yang berkualitas sudah tidak mau jadi perangkat desa. waktu itu Gubernur Jawa Barat bicara tentang provinsi termaju di Indonesia. Ini barangkali masalah pokoknya disini Widyohari Saya nyambung Prof. kemudian begitu selesai ya selesai tidak ada pensiun.. kemudian siapa yang mau bekerja di desa? Padahal kita bayangkan ada pemberian kewenangan yang besar. Masyarakat hukum dengan masyarakat hukum adat berbeda.. dan itu bisa nampak dari diberikannya ADD yang besar juga program-programnya. artinya sudah ada regulasi mengenai keberadaan dan peran masyarakat adat. akhirnya gubernur setuju. Dan untuk desa diminta naskah akademik. tapi kedudukannya tidak jelas. Cuma nanti kembali kalau kepada kedudukan organisasi yang tidak jelas. saya tidak tahu. Merupakan suatu keharusan kalau kita membiarkan desa seperti bentuk-bentuk yang lama. dia menjadi mata rantai yang terlemah dan akan tersisihkan. Ada beberapa di kabupaten yang seperti Sumedang dan Bandung. mungkin untuk memperkuat kedudukan tadi saya sepakat dengan Pak Ibnu. Jadi desa mengatur tentang kedudukan desa itu sendiri. fungsi-fungsi yang sudah dijalankan oleh desa. sekarang tidak ada. Mohon maaf. mengenai Undang-Undang tentang Desa ini. munculnya undang-undang desa dan itu akan mendorong juga kedudukan desa yang lebih jelas. Ini kayaknya konteks yang kita bahas berbeda. kayaknya sebelumya membuat undang-undang tanpa naskah akademik. yang dipungut adalah iuran. bukannya masyarakat adat tidak prnting. kewajiban-kewajiban pemerintah. Barangkali ini bisa menjadi semacam model. Saya bertanya. memberikan masukan sekaligus itu adalah ajang advokasi kita dalam penyusunan naskah akademik mengenai desa. kalau dulu masih ada pengganti asusila. saya lihat visi dari kepala daerah dalam membangun kabupaten berbasis desa. sehingga bisa mengatur tentang pengaturan dan kedudukan desa.. Franky Menurut saya tidak hanya regulasi. buktinya sudah ada tapi pemerintah daerah tidak bisa apa-apa. apakah pemerintah desa adalah organisasi pemerintah sesungguhnya? Dia menjalankan fungsi-fungsi. tapi kalau kita lihat data. Kalau saya ngomong begitu mungkin tersingggung. Nah ini akan menjadi dilema. tapi memang ini hal khusus yang dibicarakan mestinya dalam ruang dan waktu Menggagas Desa Masa Depan 73 . Jadi sebelumnya. otonomi desa yang sebenarnya juga akan semakin jelas. Fasilitator Saya potong sedikit. khususnya untuk pengaturan. nah ini menjadi babak baru. Kalau tidak salah SK Menteri Kehutanan menjelaskan soal masyarakat hukum adat. Ini lebih memberi peluang. Saya ngomong sama gubernur itu akan menjadi omong kosong kalau desanya tertinggal. bahwa undang-undang tentang Desa kedepan harus diinikan. tapi orang yang bekerja di desa adalah orang-orang yang mohon maaf kalau saya katakan tidak berkualitas. tetapi juga kebijakan yang lebih konkret. saya harus informasikan karena ini informasi juga saya dengar dari orang yang harus saya percaya yaitu dari Depdagri sendiri. bisa mengatur pilkades yang baik. sudah ada komitmen politik bersama Komisi II DPR bahwa kedepan akan ada Undang-Undang tentang Desa. Paling sedikit per-Oktober Mendagri mendapat PR dari Komisi II DPR untuk menyerahkan atau mempresentasikan draf awal naskah akademik.Desentralisasi kepada daerah jelas. tidak boleh memungut pajak dan retribusi atas dirinya sendiri. larinya pengganti ekonomi. pegawai desa itu kedudukannya seperti apa? Ini sampai sekarang tidak jelas. desentralisasi kepada desa itu bentuknya seperti apa. dia tidak digaji.

Kita sedang membicarakan masyarakat hukum. Sekarang saya melakukan perubahan perda. Nah sekarang kita ingin fokuskan supaya kita mencapai apa yang tadi dilontarkan Pak Sadu dan Pak Ibnu. Fasilitator Ya. kemudian struktur organisasipun jangan diatur. apakah ini semua? Apa dan bagaimana struktur yang akan dilaksanakan. dan 3) Desa Teritorial yang adatnya sudah tidak jalan karena masyarakatnya heterogen. ada self community governance. saya pikir apa konsekuensinya. yang namanya kaur pembangunan selamanya kaur pembangunan. Elke Usulan tadi bagus sekali. adatnya masih kuat. apakah disitu adat istiadat masyarakat yang tradisional masih ada atau tidak ada lagi desa. kita kembali ketiga tipe desa. itu menjadikan aspirasi ini apa artinya. Konsultasi publik saya tahu. Karena kalau semua sudah diatur. mungkin struktur ini akan berbeda lagi. ini mungkin kita bahas asas-asasnya saja. Sadu Kalau dilihat dari jenisnya ada tiga: 1) Desa Geneologis. yang namanya sekdes sampai mati tetap sekdes. Dalam undang-undang nanti. Fasilitator Kalau tadi kita bicara tentang otonomi itu mungkin akan menjadi berbeda dengan yang kemarin. local self governance. Kita pernah mencoba pada penyusunan perda 2004. Ini lalu memang tipikal otonominya menjadi berbeda. Kalau ada self gonernance kita harus lihat peran kecamatan. Dari dulu desa deperti ini terus. bisa dengan penurunan pangkat. kami melontarkan bahwa ada garis dalam struktur pemerintahan desa. atau self community governance. Artinya mekanisme ini tolong. dimana desa yang masih homogen. untuk melihat struktur apa akan dipakai. katakanlah sekdes terkena masalah norma sosial. jadi semua provinsi bisa mengetahui kalau ada proses. Kalau kita mulai dari tingkat desa. Jadi namanya desa nanti akan ada lima perangkat. Usulan-usulan dari masyarakat banyak dan bagus dan itu saya masukan. Kita diskusi mengenai local state government. lima struktur itu bebas saja. apakah masih perlu atau mungkin dengan badan kerjasama antardesa atau langsung kabupaten. local state governance. tapi kita juga jelaskan juga usulan anda tidak bisa masuk kesini karena nanti akan berbenturan dengan peraturan. Pak Prayitno mengenai kedudukan desa. tipe 2) Desa Campuran yang adatnya sudah mulai pudar. tidak serta merta langsung kita berhentikan. local self government. dan ini membuat undang-undang yang akan dilaksanakan dan bersifat nasional. kecamatan. Itu sudah ada usulan dari kawan-kawan.yang khusus. ini agak beda. dari bawah. Menggagas Desa Masa Depan 74 . sudah jenuh juga. minimal kalau ada sekian provinsi. Ini saya antisipasi kalau terjadi suatu permasalahan hukum. jangan terlalu detail. tapi itu masih kurang. step by step. Akhirnya hal itu menjadi kekhawatiran dari masyarakat itu sendiri oleh UU 32/2004. Kalau kita mengembalikan self community governance apa gunanya kita diskusi tentang itu lagi. Kalau ada desa langsung dari pemerintahan. dan self government community. ada local state governance. dari legislasi. kami mengundang sembilan ratus dua puluh orang. Azam Terima kasih. masa jabatan tidak usah diatur. ada sanksi disitu. kaur umum dengan prestasi yang bagus bisa menjadi sekdes. Pak Eko cukup jelas membuat tipologi desa dari hasil-hasil studinya. saya kebetulan dari orang pemerintah. apakah local self governance. Franky Artinya itu mementahkan diskusi kita yang kemarin dengan Pak Eko.

sangat bagus menyangkut perbedaan antara desentralisasi kepada desa dan desentralisasi kepada daerah. Steny Saya hanya melanjutkan apa yang sudah dikemukakan. kabupaten atau kecamatan bagaimana unsur-unsur itu sebagai fasilitator. yang penting prinsip-prinsip sebagai sebuah desa itu tercover. Kemudian kalau bicara soal desa berdasarkan pengakuan maka saya baru membayangkan kalau desa yang kita bicarakan kemarin. Soal aturannya tidak perlu terlalu ‘jlimet’. apa mau kawan-kawan di level bawah.Diharapkan dalam diskusi kelompok ini bagaimana nanti itu diatur dalam undangundang yang baru. tapi saya justru melihat itu jangka panjang.. sehingga berhasilnya desa itu kuncinya memang di tingkat kabupaten.istilahnya desa itu sangat tergantung kepada kabupaten. kami tidak terlalu pusing apakah sebuah bagian dari pemerintah daerah atau berdiri sendiri. kalau memang terpisah dan itu lebih memberikan keleluasaan terhadap hak-hak kita sebagai orang desa maka itu akan lebih bisa menjamin bagi desa. kami sebenarnya dari desa selalu memberikan masukan-masukan yang positif mengenai keberadaan lurah-desa. Itulah yang mungkin bagi kita selaku orang desa akan lebih mencerminkan hak-hak kita di semua aspek kehidupan berbangsa dan bernegara akan lebih terjamin? Sehingga kalau akan diturunkan sebuah undang-undang atau tidak. Saya hanya mau menghubungkan saja konsensi yang sudah dibicarakan itu dengan rencana atau kemauan kita kedepan. dan perdes itu sulit kita bayangkan dalam hal kewenangan. bicara kualitas sumberdaya manusia itu penting. penyeragaman. komando. yang diharapkan adalah hak-hak prinsipnya yang diperoleh.. self governing community memang seperti yang dikatakan Pak Sadu. Kemudian sentralistik. bagaimana otonomi desa yang disebutkan dalam konteks pemerintahan kabupaten. apakah yang disampaikan berdiri lepas dari sistem pemerintahan kabupaten atau masuk sebagai sub-sistem pemerintahan kabupaten? Kalau Pak Ibnu tadi tidak mengatakan. Nah itulah yang saya kira butuh kerja lebih keras lagi. tapi pasti ada asas-asas penting atau dinamika-dinamika lokal penting yang kira-kira akan keluar menjadi argumentasi kita di level nasional. Atau sebaliknya. Nurwafi Terima kasih. Kaitannya dengan posisi desa dengan supra desa. tapi oleh perdes kemudian bisa diambil alih oleh Menggagas Desa Masa Depan 75 . Saya kira desa dan pemerintah kabupaten tidak menerjemahkan kedua UU itu lurus-lurus seperti apa yang kita bayangkan. tapi beberapa waktu sering mengatakan otonomi desa itu kan otonomi di dalam otonom. asas-asas yang sangat prinsip bisa kita terima sebagai hak. selama ini hanya instruktur. dan saya kira kawan-kawan dari pemerintahan desa ada disini. yang prinsip bagaimana hak-hak. sehingga tidak perlu menyangkut nanti apakah undang-undang atau hanya sekedar revisi bukan hal yang seperti dulu lagi. Kepada desa itu kira-kira berdasarkan pengakuan mungkin lebih mirip dengan Pak Ibnu bahwa kepada desa itu berdasarkan hak. mereka punya suara dan bicara soal dinamika lokal seperti apa yang sudah mereka buat. Oleh karena itu memang selama ini punya pengalaman bahwa bagian dari kabupaten adalah kecenderungan-kecenderungan yang. Coba berusaha lagi melihat dinamika seperti apa yang sudah dibangun selama ini pasca UU 22/99 dan pasca UU 32/2004. Fasilitator Saya ingin klarifikasi dari Pak Wafi. Jadi kalau nanti dibawah atau bagian langsung dari kabupaten. Nurwafi Prinsipnya. selama bisa memberikan suatu jaminan-jaminan hak desa bagi kita tidak terlalu prinsip. Dalam UU di level nasional misalnya justru dikatakan sebagai kewenangan pusat atau daerah. mungkin dalam pikiran normatif. bagi kami orang desa sebenarnya tidak tertalu prinsip. Saya ambil contoh dibeberapa desa misalnya mereka buat perdes.

misalkan mana yang menjadi institusi desa sendiri dengan institusi sektoral di tingkat kabupaten. dan banyak pegawai kecamatan menyusun program desa dan dirumuskan setelah ada ketentuan atau ketetapan mengenai APBD. Nah ini nanti juga akan menimbulkan persoalan baru. lebih spesifik lagi. Jadi antara otonomi desa dengan segala kemampuannya meskipun tadi Prof mengatakan bahwa pada realitasnya SDM di desa sangat memprihatinkan. Seandainya ada gagasan untuk melapaskan. adalah keinginan mereka misalnya kalau ada orang luar masuk. Jadi self governing community itu berlaku untuk daerah mana. Oh. Pemerintah provinsi dan kabupaten sudah harus bisa melihat itu. ini desa kita yang menggaruk gatal ditubuh sendiri tetapi muternya itu harus kemana-mana dulu. sepanjang konstitusi itu tidak menempatkan desa menjadi yang harus diatur dalam konstitusi maka selamanya tidak akan menjadi keharmonisan. Ketiga. Fasilitator Kalau saya menangkap. Ini juga yang kemudian harus dimasukan dalam kebijakan bagaimana menumbuhkan desa dalam struktur ini.kewenangan desa. Pada sisi yang lain kemudian memang bersilangan dengan pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya sektoral di tingkat kabupaten. Itu dinamika lokal dan yang begitu jelas kebutuhan dari bawah. taruhlah ada kebijakan-kebijakan yang harus ditempatkan proporsinya secara tepat. artinya kita menyerahkan pengaturan desa kepada kabupaten atau provinsi. Anda itu tidak bisa merusmuskan sendiri. yang merupakan kewenangan pemerintah kabupaten memberikan ijin. Dengan satu pengertian bahwa ini mengadopsi tiga hal tadi. kalau sudah bicara persoalan dilepas pasti saya akan berpikir beda lagi. Jadi impian saya kalau kita bicara dari self governing community maka pembicaraan soal hak otoritas mereka itu menjadi salah satu muatan dalam UU kalau kita mau merekomendasikan. Jadi mereka tidak bisa menyusun program dengan kolom-kolom yang kosong. Ini menyedihkan dari satu sisi aspek kemandirian. maka kira-kira awalnya harus melalui persetujuan dan ijin mereka. Titik temu atau kompromi antara support dengan titik kemandirian desa itulah yang sebetulnya menurut saya belum ketemu. begitu? Provinsi lebih umum. kami cocok menggunakan ini dan seterusnya. perijinan dan sebagainya masuk. setelah tahu desa itu dapat berapa baru bisa. Wa’i Terima kasih. pendidikan dan sebagainya. tapi hal yang tidak ada dalam bagian dari UU itu perlu diatur dalam perda. Jayus Sebenarnya persoalan desa itu kembali lagi pada persoalan konstitusi. karena perda dalam satu kabupaten dengan kabupaten lainnya tidak sama. bahwa struktur desa tidak akan bisa dilepas dari persoalan kabupaten. saya merasa bahwa pembicaraan ini sebenarnya mengenai tarik ulur antara support yang diberikan oleh supra desa dengan kemandirian desa. kalau tadi menjadi sebuah muatan yang akan menjadi bagian dari peraturan daerah saya justru sangat sependapat. karena di banyak desa program-program desa disusun atau dirumuskan hanya oleh institusi di atasnya. orang akan mengatakan ini semacam cek kosong. Kedua. Saya kira bisa menjadi rekomendasi kita kedepan bagaimana mengatur hubungan antara komunitas-komunitas lokal yang disebut self governing community dengan pemerintah daerah. Jadi ini nanti secara aspek politis juga harus dipertimbangkan bahwa desa sebagai satu kesatuan hukum memiliki aspirasi (dalam musrenbang dan Menggagas Desa Masa Depan 76 . Memang desa memiliki perangkat organisasi yang seperti dimiliki oleh kabupaten. saya tidak punya suatu keyakinan apakah pembuat UU nanti berkenan. dan lainnya untuk daerah mana. lalu mau kita apakan dalam konteks kewenangan dalam struktur yang mau kita implementasikan? Saya hanya mau mengatakan satu hal penting yang sering keluar dalam self governing community selama ini. Saya kira begitu aja. kabupaten lebih khusus lagi. Oleh karena itu didalam UU nanti yang hendak diatur adalah hal yang dianggap penting secara umum dalam UU tentang desa. Contoh di diskusi kemarin soal inpres. atau kalau ada investasi. meskipun itu birokrasi di tingkat desa.

saya ingin bertanya. tidak pernah serius dilaksanakan. itu artinya yang namanya penyerahan. jadi dia sebagai desa yang otonom tapi tidak bisa semua desa di Indonesia kita perlakuan sama. tapi tidak pernah terlaksana. jadi konsep bantuan itu sudah kita tolak. kepegawaian. Fasilitator Pertama yang ingin disampaikan. Sadu yang selalu membedakan antara otonomi pemberian dengan otonomi asli. jangan sampai kita membuat UU bertabrakan dengan konstitusi. yang menurut saya sudah siap didorong untuk menjadi desa yang otonom. melakukan supervisi. Ini peran pemerintah. Ketiga. Ini yang kita hadapi sekarang dalam UUD 1945 pasal 18A dan 18B. Oleh karena itu dalam konteks ini kalau kita lihat UU 32/2004 pasal 1 ada bunyi ”Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi menjadi wilayah provinsi dan kabupaten”. Ini ada dua jalur yang sebetulnya bisa dimainkan oleh masyarakat desa. bagaimana kepada desa? Kalau tadi Wafi sudah menyebutkan sebagai fasilitator. kabupaten. Sekarang mengenai desa otonom. Kedua. karena tujuan akhir dari RUU Desa adalah bagaimana desa itu dengan otonominya bisa bangkit dan mandiri. otonomi pemberian itu sama dengan konsep bantuan. Kalau nasional pakai umum satu-duaMenggagas Desa Masa Depan 77 . mereka bisa menyesuaikan dengan perkembangan zaman dan seterusnya. Nah sekarang yang namanya konsep pemberian harus diganti dengan konsep pembagian atau penyerahan. pada sisi lain masyarakat desa juga sebagai konstituen dari partai politik. jadi kategorinya jelas. Local State Government adalah desa administratif atau kelurahan. karena pengalamannya Jawa. Mas Toro silahkan. Sutoro Mengulang yang kemarin. Menurut saya istilah itu sekarang sudah tidak relevan. alokasi atau pembagian itu berarti desa punya hak. ganti konsep alokasi. membina. dia sedang berbicara tentang desa adat. hubungan dengan supra desa dan seterusnya. Nah ini persoalannya sekarang. Pertanyaannya adalah apakah konstitusi ini yakin menjadi modelnya pemerintah? Ini harus jelas dulu. Itu mungkin yang saya bisa katakan bahwa titik kompromi itu yang belum ketemu. Kembali pada SDM. Sadu Apapun yang kita lakukan kepada desa tentu terkait dengan sistem pemerintahan nasional. Pertama. Tadi Mas Franky dari AMAN. itu kan diawal pembicaraan tadi Prof Sadu menyampaikan bahwa desa itu sebagai obyek politik terus dan selalu dimarginalkan. Karena pengalamannya sudah lebih baik.sebagainya). artinya desa harus lepas dari kabupaten meskipun ada hirarki tapi tidak seperti yang sekarang menjadi bagian atau sub-sistem pemerintah kabupaten. pemberdayaanpemberdayaan itu sudah ada. Kemudian tugas pemerintah yang lebih tinggi memfasilitasi. tidak pernah ada pemberdayaan yang konkret baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Pak Azam bicara tentang desa otonom. dan desa. Meskipun Direktorat Jenderal PMD yang mengenai desa ini sudah lebih dari tiga puluh tahun. disamakan sajalah. BPD-nya sudah lebih siap. apakah dengan otonomi desa itu lalu SDM akan segera up-grade atau sebenarnya sekarang ini kondisinya didalam UU juga PP 72/2005 atau kemarin ada Kepmendagri 64/1999 yang diacu untuk pengaturan mengenai desa. Kedua. adalah Local Self Government itu yang namanya desa umum atau desa teritorial. kalau kita mau mendorong desa yang otonom maka NKRI dibagi provinsi. kemudian Mas Wafi. Itu posisinya jelas. Hanya berhenti disitu. bagaimana kedudukan desa itu dalam otonominya. sebut saja yang namanya Self Governing Community itu sebagai desa adat atau desa geneologis. itu bisa kita petakan secara jelas. mempermudah saja supaya tidak campur aduk. pembinaan kapasitas dan seterusnya. Nanti masing-masing pilihan ini akan mempunyai konsekuensi terhadap administrasi. Saya agak kurang setuju dengan Prof. kemudian berkaitan dengan SDM di desa yang lemah. harus konsisten dengan sistem di tingkat nasional. tapi ya begitu saja.

persoalan selama ini yang sering terjadi adalah kita kurang mencermati kewenangan administrasi pemerintah pusat dan pemerintah kabupaten begitu besar di level desa. kuatnya begitu. jadi larinya pada penghasilan. Steny Konkretnya. ia kehilangan hak-hak sosial. tadi saya terima kasih diberikan saran. nanti saya pikirkan. Jangan sampai kita melakukan kesalahan yang kedua. Setelah wajib pihak kepala desa dan BPD dan juga lembaga kemasyarakatan disitu harus stakeholders dulu yang memutuskan ya atau tidak. Saya juga bingung. Saya mau menambahkan saja. perhutanan dan sebagainya dan itu ada di wilayah desa. makanya mereka menghargai betul pada adat. intinya satu yaitu wajib. Kecuali desa-desa yang memang masyarakatnya sudah sangat heterogen. tadi sudah disinggung dan bicara soal tata hubungan desa dengan supra desa. Kalau tiba-tiba ada orang datang bawa secarik kertas bahwa saya akan membuka tambang disini lalu masyarakat desa terima sampahnya. Soal istilah. Fasilitator Kalau dalam UU 22/99 pasal 110 ada pihak ketiga yang ingin membangun atau mengeksploitasi desa itu harus mendapat persetujuan dari masyarakat desa melalu kepala desa dan BPD. keuntungan untuk desa sekian. penyeragaman kemudian merusak akar-akar yang ada. adat sudah tidak lagi punya kekuatan. Bagaimana dengan yang begitu. tidak perlu ada pemerintahan. Kalau kita menerima pasal 18B semua self governing communty saja. Dulu lebih banyak pada penghargaan-penghargaan sosial. apakah diteruskan seperti itu saja atau perlu ada suatu klausul atau satu peran juga yang boleh kita katakan sebagai negosiasi perijinan yang juga dimiliki oleh pemerintah desa terhadap ijin-ijin yang masuk ke wilayah desa. Kalau Bali saya lihat meskipun sudah modern tapi adatnya-agama masih kuat. Desa-desa yang adatnya masih kuat berikan kesempatan. Sutoro Saya kira pasal 18B itu sudah ketinggalan zaman. Kemudian SDM lemah itu kembali dari organisasi yang tidak jelas. yang dikejar harga ekonomi. dulu dia punya kekayaan besar kemudian dipecah-pecah.tiga ya harus konsisten. Orang diundang adat tanpa alasan yang jelas. kalau organisasi ini jelas kita bisa membuat sistem seleksi. dia bisa ditolak di-aben disitu. apakah kita kemudian hanya bicara soal presentase. Urusan desa adat orang lebih patuh ketimbang desa dinas. hak dan kewajibannya jelas. Seperti dulu ada di Sumatera Barat rancu. Dari sekian ijin yang diberikan di Indonesia. Tapi pertanyaannya tadi 18A-18B itu dipisahkan. karena konfliknya disitu. itu yang mesti didudukan dulu karena berangkatnya dari situ. itu difasilitasi di pasal berikutnya. Kalau desa itu tidak jelas. Menggagas Desa Masa Depan 78 . supervisi. Jadi kalau kita diundang dalam kegiatan adat tanpa alasan yang jelas tidak datang. meninggal harus cari tempat lain. Jadi sebelumya stakeholders harus dikumpulkan dulu. perijinan itu juga harus melibatkan mereka dalam persetujuan. jadi ya kita harus menyesuaikan diri dengan kondisi. tapi kalau pakai size ada besar-sedang-kecil ya konsisten. hanya sekali lagi jangan membuat aturan yang berlaku untuk seluruh desa padahal ada kategorisasi yang cukup tajam. itu bukan harus. Nurwafi Di PP 72/2005 itu malah lebih jelas. sekarang tidak kesitu yang dikejar. kabupaten sekian atau bicara pada level yang lebih mendasar. makanya dia membedakan ada desa dinas dan desa adat. sekarang mau disatukan lagi sudah tidak bisa. sebagian besar obyek perijinan adalah pertambangan. kalau semua bisa jadi satu. akarnya sudah tercabut. bunyi pasalnya wajib. tidak perlu ada administrasi. kalau tidak ada upaya-upaya hukumnya. Kalau dulu orang itu rebutan jadi kepala desa karena gengsinya luar biasa-status sosial. sekarang penghargaan sosial tidak ada. peran pemerintah sebagai fasilitasi.

Kedua.. disitukan ada di UU tapi tidak diterapkan. kalau kiranya cukup. kalau masih ada ide-ide. kita masih akan terus menambahkan. hal itu perlu menjadi sebuah pemikiran yang lebih jelas. Menggagas Desa Masa Depan 79 . nanti dalam diskusi pleno presentasi. itu berkaitan dengan sanksi. ditaruh didalam meja. UU 5/79 saya pikir itu bagus kontruksinnya cuma persoalannya pada sentralistis. Jayus Alangkah bijak kalau kita mau mencoba membaca hal baik dan tidak baik dari peraturanperaturan UU yang pernah ada. Itu akan menjadi sebuah muatan disamping adanya persoalan. Fasilitator Oleh karena itu. Untuk itu kita cukupkan sekian dulu diskusi kita..Fasilitator Dalam konteks diskusi kita ini posisinya ada dimana. tetap saja bunyi pasal 18 juga tidak akan berubah. kita lihat lagi th 48.. Jadi saya kira memang kawan-kawan dari desa yang lebih tahu persis. Fasilitator Saya kira ini cukup. Elke Saya hanya ingin. Apa ada relawan. jadi tidak pernah tahu padahal ada. karena saya yakin didalam UU 32/2004 ada yang baik dan ada yang tidak baik. Fasilitator Ya. Fasilitator Kalau tidak diterapkan itu persoalannya juga banyak orang tidak baca. Ini tugas kita semua terutama pemerintah daerah bagaimana memfaslitasi orang baca. padahal sosialisasi sudah sekali-dua kali. bukankah begitu? Sekarang saya hanya ingin mengingatkan waktunya. Saya minta mas Wafi bersama kami melengkapi ini. biar nanti kalau terkait dengan desa. coba kita lihat th 65. kalau kita tanya kenyataan di lapangan. mekanisme keluhan. Nurwafi Salah satu kelemahan adalah sanksi. hanya orang desanya sendiri. saya ingin mengundang salah seorang teman untuk mempresentasikan hasil diskusi kita. soal hak-hak desa itu ada. kemarin kita sudah mengangkat seorang bapak kedudukan desa. Pak Toro selama belum ada amandemen. hak-haknya belum maksimal bisa diupayakan. itu yang pertama. Soal ADD. apakah hubungan desa dengan warga desanya? Steny Itu hubungan dari pemerintah daerah sama pemerintah pusat. UU 22/99 demikian pula. apa bisa ditulis dalam flipchart topik-topik yang akan disampaikan? Fasilitator Apakah ini perlu saya tuliskan? Sutoro Saya kira perlu Pak dituliskan garis besarnya. Nanti kita akan bantu merapikan hasil-hasil.

Pengaturan relasi antara desa dengan supra desa tetap harus mengacu pada dasar konstitusi dan derivasinya. sangat penting pula desa diberikan legal standing dan kemampuan menjalankan class action dalam judicial process. Bentuk organisasi desa perlu disesuaikan dengan karakteristik dan tipologi desa. Diperlukan adanya konsistensi implementasi dari policy. Tipologi desa perlu dicermati dalam mendesain pengaturan mengenai kedudukan desa dalam state. agenda kedepan adalah mendorong kabupaten untuk menyusun perda dan program untuk mewujudkan desa yang memiliki kewenangan yang jelas dan mendorong kemampuan mereka untuk menjalankan kewenangan tersebut. Selain jaminan kewenangan. Konsistensi implementasi dari policy. Ada pendapat yang melihat pasal 18A konstitusi justru sebenarnya menjadi dasar untuk mendesain desa otonom dan 18B sebagai basis pengaturan bagi desa adat. • • • Menggagas Desa Masa Depan 80 . Salah satu tolok ukur desa mampu menjalankan kewenangan adalah mampu menyusun dan menjalankan peraturan desa secara konkrit. 3. Presentasi Kelompok: OTONOMI DAN KEWENANGAN DESA Disampaikan oleh: Kamardi • • • Masalah Kewenangan desa: Pilihan tentang posisi desa sejauh ini belum jelas. Oleh karena itu. fasilitasi. Presentasi Hasil Diskusi Kelompok Hari/Tanggal : Senin. Bahkan. ke depan perlu penguatan kapasitas desa untuk mampu menjalankan kewenangan (aparat dan masyarakat) dengan baik. Hal ini berkaitan dengan desa otonom dan desa adat. Perlu ada ruang yang jelas bagi desa dalam kewenangan perijinan. 4.00 Moderator : M. Bentuk otonomi dan kewenangan desa mencakup hubungan desa dengan supra desa Bentuk organisasi ---) berkaitan dengan SDM.00 – 17. UU 32/2004 sejauh ini belum banyak ditindaklanjuti oleh kabupaten dalam menjamin desa memiliki otonomi. capacity building menyangkut desa. Selama ini good will pemda masih dipertanyakan karena banyak ide tentang kewenangan muncul di pusat. 8. tetapi di daerah tidak direspon dengan baik dan cepat. capacity building menyangkut desa Deskripsi singkat : 1. 3 Juli 2006 Pukul : 16. Otonomi dan kewenangan harus diberikan kepada desa. fasilitasi. tetapi forum lebih banyak menaruh perhatian pada posisi desa sbg local self government.Benang Merah Pemikiran : • • • • Kedudukan desa dalam konstitusi dan derivasinya. 2. Barori 1. karena desa merupakan wilayah yang menjalankan pemerintahan. 5.2. pembangunan dan tatanan kehidupan masyarakat dan budaya lokal.

Berkenaan dengan kewenangan desa dalam kelola dan penyelesaian masalah. desa masa depan ditandai oleh adanya otonomi desa yang berorientasi pada penjaminan kesejahteraaan dan keadilan dalam bingkai yang lebih demokratis dan partispatif. pemilihan itu bagaimana bentuknya. ulamanya kita kumpulkan lalu kita pilih satu. 5 unsur dari pemuda. lebih dari 1600 s/d 3000 21 orang. menurut Perda Sumbar kalau penduduknya 1600 maka wakilnya ada 16 orang. hanya perlu good will dari semua unsur. ini bagaimana menurut pendapat Bapak? Dahlia Agenda ke depan. kami ada 7 jorong. Menurut PP 72/2005 dibatasi 5-11. Bapak Seandainya akan memekarkan diri itu bagaimana? Menggagas Desa Masa Depan 81 . Oleh karena itu pula.• • • • • • • Untuk merumuskan kewenangan desa. Tanggapan Datu Kita mau menambahkan sedikit untuk BPD. Sementara itu pihak kabupaten lebih berkaitan dengan urusan keadministrasian. mekanisme. atau dimensi kultural). Berdasarkan pengalaman. kita kembalikan ke masyarakat. perlu adanya kepastian melalui regulasi atau kebijakan yang membuat bahwa otonomi desa dengan kewenangannnya tersebut tidak dimanipulasi oleh kepentingan elit desa. Datuk kita kumpulkan lalu kita pilih wakil. bagaimana jalan keluarnya? Menurut PP 72/2005 itu 5-11 orang. perlu disusun indikator dan acuan pengembangan otonomi desa melalui pentahapan. dan dukungan administrasi keuangan dan kelembagaaan. beliau tadi ada keinginan BPD dipilih langsung oleh masyarakat. seperti misalnya dalam kasus mengelola peradilan informal. masalah kewenangan desa mengatur peradilan informal harus diakui dan sekaligus disinkronkan dengan peradilan formal. Terdapat bukti bahwa desa mampu mengurusi urusannya sendiri. perlu adanya kepastian melalui regulasi atau kebijakan yang membuat bahwa otonomi desa dengan kewenangannnya tersebut tidak dimanipulasi oleh kepentingan elit desa. 5 unsur dari bundo kandung. 5 unsur dari nini mamak. 5 unsur dari pemuda. jadi tidak perlu regulasi baru. Moderator Kita tuntaskan dulu kelompok ini. Perlu pengkajian tentang masalah otonomi asli dengan belajar dari sejarah perkembangan desa. regulasi tidak terlalu banyak. perlu adanya kewenangan yang luas bagi desa. dalam kaitan itu khususnya desa adat punya akses mengelola di SDA dan urusan komunitas nilai-nilai (roh. silahkan. pemilihannya tentu per jorong. Problemnya adalah masih ada masalah benturan legalitas karena peradilan formal belum mengakomodasinya. jadi kalau ada tanggapan dari kelompok demokrasi desa. bagaimana keterwakilan. lebih besar dari 3000 25 orang. Oleh karena itu. Bagi saya regulasi atau kebijakan itu sudah ada yang mengakomodir. Dan dengan demikian. ada juga 1500 orang. Perlu penataan ulang (khususnya di pemerintahan pusat) tentang pemberian kewenangan kepada desa yang tidak konsisten antar sektor (menghindari tubrukan antar sektor). Saya dari Limapuluh Kota. terdiri 5 unsur dari cerdik pandai. masalah kewenangan desa harus memperhatikan konteks daerah masing-masing Agenda ke depan. biasanya kalau ada pemilihan kita perhitungkan aspek kemasyarakatan. 1 jorong ada penduduknya 700. bagaimana keterwakilan kelompok lain.

Soal pemekaran ini dijamin oleh UU. Kendala-kendala yang penting diperhatikan Demokrasi yang cocok bagi desa: • Inclusive demokrasi perlu menjadi pertimbangan utama dalam rangka membentuk self community governance yaitu suatu kondisi dimana masyarakat dapat terlibat secara luas dalam proses pengambilan keputusan. Keterwakilan lembaga kemasyarakatan lainnya Fungsi lembaga-lembaga: • Lembaga di desa terdiri dari lembaga formal dan non formal • Fungsi lembaga desa bervariasi: sebagai fungsi legislasi. Toto Hak asal usul di pasal 206 UU 32/2004. Soal jumlah. 1. Fungsi lembaga-lembaga yang mampu mengusung/melaksanakan demokrasi desa 3. substansi adalah menghindari elit desa. yang dimaksud Badan Permusyawaratan Desa adalah BPD dalam UU no 10. Presentasi Kelompok: DEMOKRASI DESA Disampaikan oleh : Ade Kisi-kisi: 1. pandangan pragmatis) • Fokus pada Pemda dan desa masih sebatas pada pembentukan lembaga. dulu ada kelipatan dari jumlah penduduk. Harus mengacu pada analisis kebutuhan desa 3. tetapi bagaimana partisipasi dan demokrasi di masyarakat. artinya perda yang baru mengacu ke UU khususnya pasal 206. bagaimana kita menghindari dominasi elit desa. perlu ditambahkan. contoh di penjelasan. 2. tetapi kembali jangan sampai pemekaran itu kemauan elit desa. pemekaran itu semata-mata untuk pelayanan publik. sehingga nanti yang menjadi hak asal usul itu tidak diintervensi lagi. kontrol dan pelaksana • Bentuk diserahkan pada kearifan dan keunikan lokal dengan acuan dari pusat • Lembaga itu harus mampu mewakili semua aspirasi masyarakat • BPD dan lembaga kemasyarakatan yang ada harus ditopang dengan capacity building yang memadai Kendala-kendala: • Keterbatasan partisipasi masyarakat antara lain karena ssstem yang belum mendukung (structural) • Kendala cultural (misalnya budaya patrialistik. Masalah regulasi. sikap elitis. kalau regulasi tersumbat maka UU tidak akan jalan. Demokrasi yang paling cocok untuk ditawarkan bagi pengaturan desa di Indonesia? 2. Barangkali pemerintah kabupaten tetap mengacu UU 32/2004 dan PP 72/2005. jadi seolah sama. bahwa BPDnya tetap seperti semula. bagaimanapun akan memberikan cipratan langsung. lalu pemerintah membuat perda yang baru. saya sampaikan bahwa pasal 206 UU 32/2004. belum menyentuh bagaimana membangun essensi check and balances • Kemampuan ekonomi masyarakat yang bervariasi berkorelasi pada tingkat partisipasi Menggagas Desa Masa Depan 82 . Kamardi Kalau belajar di UU 32/2004 ini frustasi juga.Alit Terkait dengan aturan/perda setempat. BPD sebagai tool untuk check and balances 2.

sedangkan masalah bentuk kelembagaan itu sudahlah. Bapak Apa yang digambarkan Pak Ibnu seolah-olah desa itu menjadi satu kesatuan dengan kepala desanya. tapi itu pembaruan tatanegara karena dibentuk BPD yang melaksanakan fungsi legislasi. sinergi ini yang perlu dirumuskan dengan baik. Datu Pertanyaan masih ada yaitu desa masa depan itu seperti apa? Ibnu Demokrasi yang paling cocok tentang pengaturan desa di Indonesia. yang jadi mahal itu money politic. bagaimana APBD itu membiayai juga. apakah tidak kita pikirkan semacam Dewan Perwakilan Desa yang mewakili desa untuk membuat perda? Masalah dengan Syamsudin Haris yang dipreteli. yang saya usulkan itu DPD. Bahwa DPD itu tidak cukup mewakili masyarakat. sehingga demokrasinya bisa berjalan. Kabupaten membuat perda ada yang merepresentasi desa. tapi tidak serta merta mewakili desa. karena demokrasi itu menghendaki prosedural. Menormakan ini tidak bisa seragam. Tadi Pak Ibnu lebih menekankan soal perwakilan desa di DPR. sehingga netralitas calon kades. mekanismenya terserah. problemnya adalah masyarakat desa yang selalu terus menerus menjadi marginal yang ditinggalkan kepala desanya yang menjadi kepanjangan tangan pemerintah di atasnya. oleh karena itu kita perlu menemukan kearifan-kearifan. Mekanisme di pusat sudah ada. untuk menghilangkan jago itu membiayai sendiri. Itu perlu dinormakan. Marhaban Waktu kita merumuskan demokrasi kita kembali ke sejarah demokrasi itu. Kalau akan ada dewan perwakilan desa justru konsolidasi kepala desa berhadapan dengan kepala desa di tingkat bawah. karena kabupaten yang mengatur desa tidak ada representasi desa mewakili desa saat membuat perda. tapi bukan dipreteli dalam pembaruan tatanegara. bagaimana kita membuat regulasi desa dengan memangkas itu? Bapak Format kelembagaan itu. menghendaki lembaga-lembaga yang kompetansi di situ. Contoh di Jepara. Tadi ada kerancuan dengan sistem yang berlaku di nasional dengan Menggagas Desa Masa Depan 83 . ini sebetulnya ada gejala yang sudah muncul dengan paguyuban-paguyuban pamong desa. Ibnu Itu bukan wakil pemerintah desa. government for the people. Problem demokrasi selanjutnya adalah dalam melaksanakan tugasnya dengan tata cara yang demokratis. maka ditopang dengan mekanisme lain yang berangkat dari inisiatif masyarakat sendiri. selama ini yang mengatur pusat dan kabupaten. tetapi institusi yang mewakili desa. Biaya pilkades itu kecil. bisa pemilu atau yang lainnya. mekanisme demokrasi seperti apa untuk jalan keluar. tapi ad hoc saja. tetapi baru sebatas pada elit-elit desa Tanggapan Widyohari Anggaran Pilkades masuk APBN dan turun melalui APBD. kades menuntut perpanjangan masa jabatan kepala desa. saat pusat membuat UU maka disana sudah ada DPD yang mewakili daerah. BPD sinergis. bagaimana lembaga di desa. yang penting mendesak pemerintah di atas desa untuk menjamin nilai-nilai lokal. kades.• Trauma pengalaman berdemokrasi yang tidak memihak kepada kebutuhan masyarakat.

sesuai dengan kebutuhan dan kriteria yang jelas terutama pemetaan bagi desa yang diprioritaskan mendapatkan ADD Perbedaan persepsi antar sektor di level kabupaten atas ADD ADD hendaknya diintegrasikan dengan APBDes (RPJMDes) Problem-problem dari PP perlu ditindaklanjuti dengan Perda Manipulasi atas ADD akan membunuh partisipasi desa Perlu memetakan best practice untuk menjadi referensi dan replikasi.kabupaten/kota. kalau masyarakat tidak demokratis itu akan menjadi fasisme. tetapi perlu memperhatikan konteks daerah dan desa Perlu intervensi positif (kebijakan) oleh pemerintah pusat Perlu membangun kesadaran kritis atas kelola uang berbasis loan and project • • • • • • • • • • • • • • • • • Menggagas Desa Masa Depan 84 . karena ADD adalah dana perimbangan Perlu pedoman umum dari pemda. Presentasi Kelompok: ADD (ALokasi Dana Desa) Disampaikan oleh: Dahlia • • • • Sebagian besar kabupaten enggan (keberatan) melaksanakan kebijakan ADD Akses masyarakat untuk mengetahui informasi PP dan ADD sangat terbatas Masyarakat desa belum jelas dengan sumber-sumber pendapatan desa Ada 3 faktor penghambat pelaksanaan ADD yaitu: − Kapasitas potensial desa yang belum siap − Keterbatasan APBD (PAD) − Masalah politis yaitu tarik ulur kepentingan politik di daerah Ada pengalaman desa yang sudah menyiapkan kelembagaan (sistem) dan bisa berjalan dengan baik Terlalu kakunya pengelolaan ADD oleh kabupaten Pengelolaan ADD semestinya mutlak oleh desa.15 Moderator : Sumarjono 3. Kita harus tempatkan demokrasi good and clear governance di tingkat II karena di situ ada konstituen political. diatur oleh Perda Semestinya ADD tidak identik bagi hasil. demokrasi harus dimulai dari yang terendah. contoh kepala desa minta untuk ikut jadi pengurus partai politik dan negara menolak dengan tegas. masyarakat berkumpul untuk memutuskan berbagai hal.00 – 15. Kalau Dewan Perwakilan Desa itu saya dukung. tetapi aturan teknis dilakukan desa Mengkaitkan antara ADD dengan penguatan kapasitas kelembagaan desa Tidak perlu ada pembatasan yang rigit dalam kelola ADD. tetapi harus ada ramburambu umum yang prinsip Proses perencanaan. karena dalam institusi demokrasi itu adalah membangun komunitas politik tetapi non praktis. Di desa itu ada deliberatif demokrasi. masyarakat. Self Governing Community itu dikaitkan dengan demokrasi bagus sekali. 4 Juli 2006 Pukul : 14. Hari/Tanggal : Selasa. Penguatan kelembagaan. soal check and balance itu tidak kita khawatirkan. kalau kulturnya sudah bagus dan mandiri maka itu bisa dikendalikan. keluarga. pelaksanaan dan pelestarian dari ADD harus partisipatif. Harus ada kemudahan-kemudahan demokrasi di tingkat masyarakat. itu budaya demokrasi kuno yang disebut open deliberation. melibatkan seluruh elemen masyarakat Informasi penggunaan dana harus transparan (diumumkan kepada publik) dan ada mekanisme pertanggungjawaban pada publik (Pengalaman Ngada): tidak semua desa diberikan ADD.

Saya persilahkan tanggapannya. Perlu ada audit independen (dipilih masyarakat) dari stakeholders Moderator Kelompok diskusi ADD telah membuat kesimpulan-kesimpulan terkait dengan pelaksanaan ADD yang belum seluruh kabupaten/kota melaksankan ADD. delegasi dan wewenang tanpa resources itu adalah omong kosong. Moderator Untuk selanjutnya saya persilahkan kelompok tata hubungan desa dengan supra desa. wacana ini muncul dalam kerangka pemberdayaan. bagi saya kalau sudah tidak inheren maka PP itu akan gugur. • Bentuk otonomi dan kewenangan desa mencakup hubungan desa dengan supra desa • Bentuk organisasi pemerintahan desa berkaitan dengan SDM. Menurut World Bank agar uang tidak nyangkut di elit. Pak Ibnu melihat makro dari hukum tata Negara. Presentasi Kelompok: TATA HUBUNGAN DESA DENGAN SUPRA DESA Disampaikan oleh: Nurwafi Diskusi kita adalah hubungan antara desa dengan supra desa dalam NKRI. kalau desa diatur sendiri maka tidak boleh diatur dalam perimbangan kabupaten. 4.• • • • • Perlu pendidikan bagi masyarakat untuk advokasi pada level kabupaten. ini memang strategi pemberdayaan. Marhaban Kita di PMD. Benang Merah pemikiran yg perlu dipresentasikan dlm pleno: • Kedudukan desa dalam konstitusi dan derivasinya. maka 80% langsung ke masyarakat. Dahlia Kalau desa tidak inheren dalam kabupaten maka tidak bisa mendapatkan ADD. mulai kemarin rumusannya desa diatur dengan UU tersendiri. Ketentuan 10% dari APBD tidak cukup. artinya desa tidak lagi inheren dalam kabupaten. karena desa itu sudah di bawah negara. kalau kita ambil 10% itu hanya acuan tetapi APBN yang membiayai. Tanggapan Ibnu Kita ini menggagas desa masa depan. ini konsekuensi pilihan yang kita lakukan. Dengan demikian ADD menjadi problem. Menggagas Desa Masa Depan 85 . melakukan kritik dan usulan-usulan agar ADD dapat dilakanakan dengan baik. Ini memang berbenturan dengan tata negara. dalam kebijakan ADD Perlu ada penguatan kapasitas aparat dan kelembagaan serta elemen-elemen masyarakat desa dengan pendekatan partisipatif Perlu ada intervensi dari pusat tentang batasan alokasi yang akan diberikan ke desa supaya dana yang dikucurkan ke desa mencukupi untuk pembangunan di desa Perlu ada komitmen yang lebih besar lagi di tingkat nasional. Ini memang dalam perspektif yang mikro. karena ADD itu 10% dari dana kabupaten. yang kami sampaikan ini hanya pokok-pokoknya saja.

Menggagas Desa Masa Depan 86 . Moderator Silahkan untuk dijawab Wafi Logika berpikirnya di balik. Tanggapan Tumpak Kalau bicara hubungan desa dengan supra desa maka akan terkait dengan kewenangan. tanah. Ketiga overlap. provinsi. air dan udara dikuasai negara dan digunakan sebesarbesarnya untuk kemakmuran rakyat. Untuk kelompok ini harus clear model mana yang akan diadopsi. dimana desa tidak boleh mengklaim bahwa ini kewenangannya. Justru dengan otonomi desa. Ada pendapat yang melihat pasal 18A UUD 45 (konstitusi) sebenarnya menjadi dasar untuk mendesain desa otonom dan 18B sebagai basis pengaturan bagi desa adat. di UU 32/2004 itu diatur urusan wajib. Pengaturan relasi antara desa dengan supra desa tetap harus mengacu pada dasar konstitusi dan derivasinya. fasilitasi. Kasmuin Pasal 33 UUD 45. Separated itu maksudnya adalah ada pembedaan yang tegas antara kabupaten. delegatif dan kewenangan lain-lain. Saya kira pasal ini pasal yang tidak dirubah. Di UU ada kewenangan atributif. 9. 8. jelas ada 3 model yaitu: 1) inklusif otorelation. Bentuk organisasi desa perlu disesuaikan dengan karakteristik dan tipologi desa. yang terjadi adalah dengan otonomi selama ini SDA sudah cepat habis. capacity building menyangkut desa. saya tidak bisa membayangkan otonomi itu diberikan di desa tanpa ada pemberdayaan di desa. Ini harus diperjelas dulu landasan akademik kita apa? Di dalam inter government relation. capacity building yang menyangkut desa. setiap eksploitasi akan melibatkan masyarakat desa. Yang harus kita pertegas adalah otonomi yang berpihak masyarakat desa dan ada jaminan untuk digunakan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. koncuren. Hal ini berkaitan dengan desa otonom dan desa adat. pilihan. Diperlukan adanya konsistensi pemerintah pusat dan daerah dalam praktek pelaksanaan setiap kebijakan. dan 3) overlap. namun sudah ada kebijakan pemerintah yang mengarah ke kepedulian terhadap desa.• Konsistensi implementasi dari policy. Deskripsi singkat : 6. Untuk kelompok lain silahkan tanggapannya. Perlu ada ruang yang jelas bagi desa dalam kewenangan perijinan. Bumi. pusat sampai dengan aturan main keuangannya. Yang inklusif itu ada hubungan antar desa yang harus melaksanakan. Moderator Desa menjadi obyek supra desa. fasilitasi. tetapi untuk hubungan desa dengan supra desa ini harus tegas. semua level harus bertanggung jawab untuk mengatasi itu. Tipologi desa perlu dicermati dalam mendesain pengaturan mengenai kedudukan desa dalam negara. karena dulu tidak pernah melibatkan desa maka akan terjadi kehancuran-kehancuran itu. 7. 2) separated. Saya justru berpikir optimis akan memberikan kemakmuran. 10. walaupun secara yuridis formal belum nampak. kenapa justru ada eksploitasi. Bahkan. sangat penting pula desa diberikan legal standing dan kemampuan menjalankan class action dalam judicial process.

eksternalitas. kita harus kita pisahkan kontrol dan pengawasan. selanjutnya dari wakil kelompok BUMDes. kayaknya ini lebih dekat dengan delegatoris. 2. kalau saya melihat lebih ke politik. • Untuk pengelolaan modal maka perlu Lembaga Mikro Kridit • Lembaga Mikro Kredit seperti apa yang ada desa ? Lembaga Keuangan Desa perlu ada kerangka kerja yang baik. UU 22/99 wewenang. ada pemisahan yang tegas karena ada pendekatan akuntabilitas. Presentasi Kelompok: MIKRO KREDIT DAN BUMDES Disampaikan oleh: Adnan Sumber hukum PP 72/2005 Pasal 78 s/d 201 • Mikro kredit berkait dengan produksi. padahal kalau residual teori itu wewenang. nampaknya yang diberikan itu urusan. apalagi mau kita bawa ke desa. apakah dalam bentuk semacam Rural Banking sustainable Usulan diberi nama BUMDes • Perlu manajemen yang profesional • BUMDES perlu pengakuan dengan payung hukum • Kegiatan mikro finance selama ini yang berkembang di pedesaan adalah usaha simpan pinjam Menggagas Desa Masa Depan 87 . Kalau kontrol itu hanya melakukan uji. karena di Australia ada banyak UU otonomi daerah. Negara-negara baru (Amerika Serikat. Australia. Skandinavia. Berkaitan dengan pasal 33 ayat 2 negara sebagai pelaku. Perancis) urusan politik dibawa sedekat mungkin dengan rakyat. karena pengawasan ikut mengarahkan. dan efisiensi. Newe Zealand) meletakkan otonomi level di urus di tingkat state (politik). Hubungan wewenang yang diatur pasal 18 a itu. yang dipakai dalam pasal 18 ayat 5 itu hanya urusan. Negara-negara old model (Jerman. fasilitator. itu yang berkaitan dengan yang strategis. ini pada akhirnya digunakan untuk kemakmuran rakyat. supra desa itu seperti apa? Apakah dia supervisi.Ibnu Masalah urusan dan wewenang. Moderator Tampaknya sudah cukup waktu. Pasal 1 negara memberi pengaturan. kalau sudah diberikan urusan maka berhak atas wewenang. maka perlu modal. Oleh karena itu gagasan apa yang akan kita sampaikan. Saya kira disana ada politik. dan pemasaran. Moderator Dari awal memang ada cara pandang yang berbeda antara ketentuan hukum dengan nilainilai filosofis hukum yang akan diberlakukan di Indonesia. Dalam pasal 18 residual teori yang dipakai tetapi yang dipakai urusan. Kalau kita baca otonomi daerah dan desentralisasi ada 2 cara : 1. tetapi juga persoalan politik. Saya tidak mengerti Pak Ryaas belajar di Amerika tahu persis otonomi itu. di UU 32/2004 itu urusan. kalau pengawasan maka ikut mengarahkan. Saya pilih ke istilah kontrol. pada tingkat lokal itu begitu mahal demokrasi kita. sehingga terbit banyak SE yang mengatur daerah. UU 5/74 itu wewenang. otonomi ini yang diambil berdasarkan persoalan politik. ini yang menjadi tali sentralistik. 5. teknologi. oleh karena itu terbit UU sektoral. Marhaban Otonomi bukan hanya persoalan hukum. Kita harus jelas apakah kontrol atau pengawasan.

terbatas pada Bank dan Koperasi • Rendahnya akses modal bagi masyarakat miskin dan perempuan • Ada pandangan masyarakat kalau uang dari pemerintah tidak perlu dikembalikan – sehingga banyak kredit program macet.Pengalaman Layanan Keuangan di Masyarakat Jenis layanan kredit di Desa • Program kredit dari PPK. Pengalaman Kabupaten Sumedang: Yang dimasukkan ke dalam BUMDes: • Alokasi anggaran simpan pinjam • Unit usaha simpan pinjam menjadi bagian BUMDes • Lumbung Desa • Kegiatan penarikan rekening listrik • Penyewaan hand traktor • Unit toko untuk pelayanan masyarakat (berbagai produk dan jasa) • Warung nasi dsb. Menggagas Desa Masa Depan 88 . untuk rakyat (petani. • BUMDes harus memberikan perhatian pada masalah perempuan • Pembentukan BUMDes bukan penyeragaman dan pemaksaan (pengalaman KUD). • Kebijakan antar sektor belum saling mendukung untuk pengembangan ekonomi desa • Lebih dari 60% ekonomi desa dikuasai oleh kelompok elit dan pemilik modal besar. • Bagaimana dengan kepemilikan BUMDes (Masyarakat dan harus dihindari kepentingan dan kooptasi elit desa • Jenis usaha dan model BUMDes harus memberi ruang dan bertumpu pada inisiatif dan kearifan lokal Problem • Tidak ada fasilitasi sistemik untuk pengembangan usaha kecil di desa • Tidak ada perlindungan pasar untuk pelaku usaha kecil • Belum ada payung hukum yang jelas untuk LKM. juga bukan instrumen kapital besar yang mengancam ekonomi pedesaan. • Untuk mengatasi monopoli elit dalam BUMDes maka bentuk hukum yang diusulkan koperasi yang berorientasi pada ekonomi kerakyatan. tetapi dinas lain terkait harus melakukan hal tersebut. Tawaran tentang Pengembangan Ekonomi Desa (BUMDes dan LKM) • BUMDes dan LKM harus menjadi upaya pengembangan ekonomi lokal dan pengentasan kemiskinan. Perempuan terbukti sebagai pelaku ekonomi yang tanggung dan mayoritas di desa. • Ada alokasi modal dari APBD untuk pengembangan BUMDes. Ditingkat desa BUMDes itu dibentuk berdasarkan Perdes. P4K • Simpan pinjam desa • Lumbung desa • Koperasi desa Perempuan terbukti sebagai nasabah yang baik dalam kredit dan penerima program yang efektif. (kebijakan ini tidak hanya dilakukan Depdagri/Ditjen PMD. • Perlu ada afirmative action dalam pengembangan ekonomi di desa. dll) untuk menghindari pertarungan dengan pemodal dan elit desa. nelayan. • BUMDes dibentuk berdasarkan aktivitas ekonomi yang telah ada di tingkat lokal dan untuk melindungi ekonomi lokal. Tetapi dasar ini belum bisa akses ke lembaga perbankan. oleh karena itu disarankan untuk berbadan hukum/diaktekan.

Sebenarnya tidak ada perintah di PP untuk membuat pedum. Ini agak rumit membagi payung hukum untuk BUMDes. rakyat miskin (petani. siapa yang akan mengontrol BUMDes. Ada affirmative action dalam layanan usaha BUMDes kepada perempuan. Ini ada yang menarik dari Pak Maryunani dan Stefan. karena semua akan menjadi bemper ekonomi desa. LKM (Lembaga Keuangan Mikro) • Keberadaan LKM tidak lepas dari upaya menyediakan layanan modal bagi pelaku ekonomi untuk pengembangan usaha. panjang sekali prosesnya. fasilitasi pengembangan produksi dan pasar sebagai satu sistem pengelolaan. termasuk monitoring dan pengawasan. Moderator Langsung saja dari kelompok lain yang akan menanggapi atau memberi masukkan. Perlu ada kejelasan tatalaksana dan manajemen profesional. perda mengacu UU. Tanggapan Maryunani Berbagi pengalaman. sehingga kalau kita membuat BUMDes harus dihindari yang menyangkut LKM dan koperasi. kita tidak yakin kalau di APBD nya tidak ada. supaya tidak gamang dalam mengatur itu. Pengawasan. perdes mengacu perda. tenaga dan pikiran. Ada kejelasan tentang kewenangan desa dalam pengelolaan sumberdaya ekonomi. Di tingkat II. Rakyat harus menjadi subyek dalam kegiatan BUMDes (mengedepankan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat dalam rangka kedaulatan ekonomi rakyat). • Ada jaminan/afalis untuk PUK yang mengalami kesulitan dalam akses modal (baik dari pemerintah-lembaga lain). kalau kita bandingkan dengan BUMD itu bentuknya perusahaan daerah. Perlu ada kejelasan dan dibangun sinergi kebijakan antar sektor dalam pengembangan ekonomi desa (BUMDes). agar tidak bertabarakan dengan UU lain maka harus di luar LKM dan koperasi. pemerintah Jawa Timur sudah menunjukkan good will. Dalam pengelolaan itu bagaimana rakyat desa itu komit. Tumpak PMD sudah mencoba payung hukum untuk BUMDes ini. • Ada mekanisme monitoring dan evaluasi dalam pengelolaan LKM.nelayan. Pemda sudah membuat tim pembina BUMDes. • LKM bukan menjadi perpanjangan tangan usaha kapital besar maupun intermediasi dari bank komersial yang ada. sebagai komisaris. • Ada kejelasan bentuk hukum untuk melindungi dana rakyat yang disimpan. • Dalam LKM harus diikuti dengan pendampingan. dll). mau memberikan waktu.• • • • • • Jenis usaha harus memberi ruang dan bertumpu pada inisiatif dan kearifan lokal. Kita harus tegas mengatur ini. • Perlu dibangun pola dasar dan skema yang memungkinkan akses masyarakat miskin dan perempuan mendapatkan layanan secara mudah. agar perda itu baik dan benar. untuk tingkat desa apa? Di PP 72/2005 ditetapkan perdes. • Ada mekanisme dan skema kredit yang sesuai dengan kondisi masyarakat (belajar dari pengelaman “bank plecit” ). ini ada UU yang mengatur LKM dan koperasi. sehingga perlu pembinaan. BUMDes itu akan dibiayai APBD. dana itu bila didistribusikan setelah eksekutif bertemu dengan legislatif. karena di PP 72/2005 itu akan dikelola pemerintah desa. Menggagas Desa Masa Depan 89 .

keahliannya apa dan mengacu UU yang sudah ada. Kasmuin Membandingkan gagasan itu. menggagas desa masa depan. seperti ADD. bukan khusus untuk BUMDes. Lebih fundamental lagi. Pengalaman di Sumedang dengan perdes mereka tidak cukup melakukan akses bisnis. Desa senantiasa menjadi ajang tempur untuk mencari keadilan dalam kehidupan negara kita masih panjang. maka tidak bisa ke sana nanti. saya cenderung untuk merumuskan badan hukum tersendiri dalam BUMDes. Sehingga pedoman seperti Pak Tumpak itu benar. Kalau kita menganut badan hukum koperasi. ini akan menjadi ladang baru bagi percepatan proses korupsi di desa. Payung hukum yang ada adalah yang umum. ke bank misalnya. Jadi tergantung pilihan masyarakat disitu maunya seperti apa. lebih banyak ke perangkat desanya. Moderator Diskusi ini kita akhiri. itu milik bersama dan hasilnya akan dibagi bersama dalam anggotanya. Menggagas Desa Masa Depan 90 . dan itu diputuskan dengan keputusan desa. Di daerah kami ada pasar desa yang besar tetapi tidak memberikan kontribusi kepada desa.Yuni Sengaja kita tidak mengusulkan satu jenis badan hukum. bukan soal ADDnya tetapi bagaimana kita mengelola ADD itu. Yang awalnya untuk meningkatkan pendapatan desa. PR menghadang kita sesuai dengan profesi kita masing-masing dalam upaya kita untuk membela desa. BUMDes yang lemah payung hukumnya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful