VIII.

DISKUSI KELOMPOK TERFOKUS

8.1. Diskusi Kelompok
Hari/Tanggal : Senin, 3 Juli 2006 Pukul : 13.30 – 15.30

1. Kelompok: OTONOMI DAN KEWENANGAN DESA
Fasilitator Peserta : 1. Arie Sujito 2. Bambang Hudayana : M. Barori-STPMD “APMD”, Alit-Majelis Madya Gianyar, MaryunaniFE Unibraw, Steny-HUMA, Sulikanti-Bappenas, Yusuf-SAINS, Lubis-YIPD, Suharman-PSPK UGM, Kamardi-Perekat Ombara, Franky-AMAN, Ibnu-FH Unibraw, Toto-BPMKS Sumedang, AzamPemdes Kebumen, Sofyan-Akatiga, Matt Stephan-World Bank, Vitristaf DPD, Kasmuin-CePAD, Adri Warsena-FPPD.

Fasilitator Sesi ini kita akan mengeksplorasi pemikiran menjadi lebih dalam, set up diskusi kelompok ini diharapkan akan muncul pemikiran-pemikiran, ide-ide tentang otonomi dan kewenangan desa itu seperti apa? Pilihan-pilihan yang visible. Tadi sudah banyak disampaikan Pak Toro dan Simatupang telah mengesplorasi banyak hal pilihan-pilihan berangkat dari peta normatif maupun empiris hubungan antara pusat, provinsi, kabupaten dan desa. Secara prinsip kita punya kebutuhan melalui otonomi dan desentralisasi, maka ini lebih memungkinkan terjadinya demokrasi. Pak Simatupang juga bicara banyak secara sangat normatif dan reduktif. Pak Toro tadi mengungkap beberapa pilihan seperti local self goverment, itu bagian terpenting dari otonomi dan demokrasi. Kita bisa belajar dari review, tapi yang lebih penting itu adalah penataan dan kelembagaannya ke depan seperti apa? Barori Ada pandangan tentang pemberdayaan masyarakat desa itu dibingkai dalam desentralisasi, kita pahami dulu konteks desentralisasi. Ada 3 domain dengan asumsi desa adalah sebagai wilayah pemerintahan yang di dalamnya ada pemerintahan dan pembangunan, domain ini yang perlu kita sepakati dengan bingkai itulah pemerintahan desa diberi kewenangan untuk melaksanakan pembangunan dan pemerintahannya, sehingga pemerintahan yang desentalistik dan pembangunan yang desentralistik menjadi prasyarat pemberdayaan masyarakat desa. Pemberdayaan masyarakat desa itu mencakup 3 hal yaitu: 1) pemerintahan yang desentralistik, 2) pembangunan yang desentralistik, dan 3) desentralistik fiscal. Secara normatif hal ini sudah kita temukan dalam UU 32/2004 maupun di PP 72/205, persoalannya kita memantapkan itu, apa yang menjadi kewenangan desa. Masyarakat desa akan berdaya kalau ada kewenangan yang melikupi dirinya, yang harus kita kedepankan adalah sebuah ketentuan bahwa level pemerintahan kita harus mempunyai otonomi pemerintahan sendiri-sendiri. Oleh karena itu kewenangan desa harus kita sepakati dan pahami bersama dan secara normatif UU dan PP sudah mendorong ke sana. Sejauh mana kewenangan itu bisa dijadikan posisi baru desa dalam melaksanakan pemerintahan dan pembangunan? Desentralisasi harus diikuti dengan otonomi desa yang nilainya sama dengan otonomi di tingkat kabupaten, provinsi
Menggagas Desa Masa Depan

46

maupun pusat. Otonomi dimaknai juga dengan kewenangan desa dalam mengelola pemerintahan dan pembangunan. Perangkat untuk disana sudah kita punyai, pembangunan yang desentralistik, perencanaan pembangunan yang berhenti di tingkat desa. Fasilitator Otonomi desa diletakkan dalam 3 hal: pemerintahan, kewenangan dan keuangan desa. Memahami otonomi dengan diletakkan hubungan antara desa, kabupaten, provinsi dan pusat. Tadi di diskusi ada hal penting, meskipun belum dilihat spesifik. Alit Anggap contoh bangunan, dasarnya kuat, perlu porsi yang jelas menyangkut kewenangan desa. Di UU 32/2004 pasal 200 itu sudah, menyangkut kewenangan desa pasal 206 perlu dirujuk ke tingkat kabupaten. Rujukan ini ditindaklanjuti di tingkat kabupaten sampai ke tingkat desa, sehingga posisinya jelas, mana hak-hak desa. Sebab kita tahu, desa kita karakternya berbeda-beda, apa yang sudah ada kita kembangkan, rujukannya berdasarkan UU yang sudah ada, bagaimana kejelasan porsinya. Tentang keuangan, pendapatan asli desa, perlu diperjelas, mana saja yang boleh sehingga desa itu bisa diberdayakan sesuai dengan semangat otonomi. Fasilitator Maksud Pak Alit, itu perlu dirinci lagi dalam Perda. Maryunani Otonomi dan kewenangan, saya ingin menambahkan satu muatan bahwa otonomi itu adalah sebuah sistem yang hirarki vertikal dan horizontal. Kalau bicara otonomi desa bisa kita tangkap hirarkhi horisontalnya, bahwa desentralisasi fiskal perlu diikuti dengan kewenangan, desentralisasi fiskal yang di PP 72/2005 ada 3 komponen besar, bagaimana desa mampu dalam pendanaan dalam pembangunannya, kemudian diikuti desa itu mampu mengelola sendiri dana dan pembangunannya, dan diarahkan ke kegiatan ekonomi produktif, maka kemandirian itu ada disitu. Persoalannya, apa betul desa desentralisasi itu ada? Pengalaman di kabupaten/kota di Jawa Timur, desentralisasi yang ada ini desentralisasi yang sentralistik, dimana posisi desa itu memiliki bargaining position dengan kabupaten atau sebaliknya sejauh mana kabupaten ini memberikan good will-nya, sehingga sinergitas keduanya ini belum ada. Persoalan bukan pada normatifnya tetapi pada good will kabupaten. Sejauh mana regulasi ini diikuti good will agar sampai ke desa? Stenly Soal tawaran dari Mas Toro, dari pilihan itu mesti dipilah lagi ke level yang lebih konkret, dengan memilih salah satu atau meramu ke tiga hal itu apa saja kewenangannya yang akan menjadi turunannya. Kita tidak bisa bicara kewenangan secara konkrit kalau tidak memilih dari 3 model itu, atau mengacu ke UU yang ada. Kalau mengacu ke UU, pertanyaannya adalah apakah sudah cukup, kalau tidak cukup dengan model itu apa yang akan kita pilih? Melihat perkembangan politik mungkin hanya model local self government yang konkrit, model seperti ini khan tergantung masing-masing daerah, kalau mau milih 3 hal itu dipecah dan turunan-turunan dari model itu. Usul saya, yang masyarakat adat maka akan self governing community. Sulikanti Regulasi ini masih baru, saya tidak yakin itu sudah dilaksanakan pemerintah daerah. Daripada kita mengganti yang ada, kita laksanakan itu dahulu, kadang kita bagus di konsep, pelaksanaannya amburadul. Bentuk apa saja ke depan, lebih baik kita identifikasi dari pelaksanaannya yang maju yang mana? Apakah self governing community, yang jadi
Menggagas Desa Masa Depan

47

pertanyaanya masuk tidak kita ke masyarakat adat. Kita tidak mudah menentukan 3 itu, kita perlu merenung posisi dimana, sehingga bisa melihat/ambil yang mana? Semakin banyak aturan semakin tidak benar, biarkan mereka mengatur sendiri. Fasilitator Yang perlu kita bahas adalah mana yang perlu diatur dan mana yang tidak. Pak Hans tadi mengatakan, kalau negara tidak beres bukan berarti negara tidak dibutuhkan. Kalau kita setir sedikit dari Pak Sutoro dari 3 model, kalau local state government itu pernah dijalankan masa orde baru. Persoalannya desa itu akan dispesifikasikan dengan UU sendiri atau tidak, tetapi memastikan ada pengakuan negara atas desa. Perlu diidentifikasi otonominya seperti apa? Kelembagaanya seperti apa, lalu solusinya seperti apa? Yusuf Bagaimana self goverment community itu bisa menghadapai tantangan pluralitas? Fasilitator Pertanyaan ini penting ketika Pak Syamsudin Haris mengatakan ada tuntutan untuk tidak menyeragamkan. Lubis Bicara otonomi dan kewenangan desa ada 2 hal: 1. Kewenangan yang diberikan kepada desa, belum benar-benar kepada desa, sehingga kita tidak optimal dalam pemberdayaan desa. Sudah saatnya memberikan kewenangan perijinan kepada masyarakat bukan hanya KTP saja tetapi juga seperti pemungut retribusi, penanganan retribusi sampah, warungwarung kecil, sehingga desa dapat diberdayakan, mendapat income untuk memberdayakan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan desa. 2. Jangan sampai kewenangan yang diberikan itu tidak ada kontrol, karena akan menghambat investasi di daerah, jangan sampai kebablasan memungut retribusi yang tidak mendukung investasi. Suharman Berhubungan dengan fiskal, otonomi dan kewenangan untuk mengelola sumbersumbernya perlu dipahami: 1. Otonomi dan kewenangan itu bukan di ruang hampa, tarik menarik dengan pasar. Banyak bondo desa berubah menjadi ruko, bondo desa yang telah menjadi uang mudah sekali menjadi elitis sifatnya, misalnya untuk membiayai pamong desa. Di Kampung Naga masyarakat menolak menjadi obyek wisata tetapi tidak memperoleh hasil serupiahpun dari kegiatan wisata itu. 2. Tidak sterilnya faktor politik di bawah. Contohnya, Bupati menganggarkan dana APBD dan disalurkan ke desa pendukungnya. Pasar dan politik menjadi eksternal environment yang harus diperhatikan dari otonomi dan kewenangan desa. Kita tidak perlu pesimis, dengan regulasi kita bisa menata/mengukur eksternal environment. 3. Persoalan kontrol dan elitis, otonomi dan kewenangan desa, kontrol itu bagaimana mekanismenya? Format itu perlu dikedepankan. Kamardi Kita sudah membahas konsep ideal tentang desa, paling tidak ada 3 hal untuk didesakkan yaitu : 1. Akses pengelolaan sumber daya masyarakat adat di desa, di UU 22/99 dan UU 32/2004 SDA yang dikelola kabupaten tidak boleh dikelola desa sebaliknya yang dikelola desa tidak boleh dikelola kabupaten, faktanya tidak demikian. Pergeseran seperti itu juga APBDes, perda perlu mengakui adat di desa. Hambatan lain itu di daerah, pusat dan daerah tidak sinkron, mereka saling lempar tanggung jawab.
Menggagas Desa Masa Depan

48

2. Hak konservasi, termasuk tata nilai, adat itu sepotong dipahami di desa. Normanorma itu kalau bisa diadopsi di desa untuk membuat sistem hukum adapt, dan perda perlu mengakui itu. Saya mendukung perlu adanya pendetailan UU ke dalam perda. 3. Kewenangan ini ketika di desa, harus dipertegas pemerintahan itu lebih ke administrasi, tetapi pengaturan tata nilai, sistem, roh kehidupan di desa jangan diintervensi, jangan dicampur aduk. 4. Untuk PP 72/2005 pasal 68, desa paling sedikit mendapat 10% dari retribusi, ayat C desa mendapat 10% dari DAU, ini yang disebut ADD. Ketika ADD turun maka yang bagian dari retribusi tidak diberikan. Franky Bicara kewenangan, akses SDA, saya merasa tidak bijaksana kalau tidak kita undang departemen lain, misalnya kehutanan, perkebunan, tambang dll, karena regulasi itu banyak benturan. Ibnu Kita tidak diskusi membagi kewenangan per sektoral, yang perlu kita rumuskan bagaimana memberi/membagi kewenangan. Kita tidak mungkin per sektoral, itu pun per daerah berbeda-beda. Konstitusi sudah memberikan kewenangan, pasal 18 ayat 5 amandmen UUD, sayangnya konstitusi tidak mengatur desa. Dari rumusan, pusat itu ada 5, namun ada urusan wajib daerah yang menyangkut kesejahteraan rakyat, misalnya ketenagakerjaan, pendidikan dll. Kalau di luar itu maka bisa dilakukan daerah maupun kabupaten. Dari UU 22/99 keluar PP 25 yang membagi per sektor, yang tidak diatur di PP 25 maka kewenangan kabupaten. Problemnya bagaimana mengatur kewenangan desa yang tidak ada di konstitusi. Kewenangan desa itu ada yang asli, dan ada yang dari kabupaten, yang dianut ini tidak konsisten dengan UUD. Kalau desa kewenangannya diatur kabupaten, sedangkan kewenangan kabupaten sepanjang tidak diatur pusat. Sekarang kita mau pakai, apakah kabupaten mengatur seperti pusat mengatur kabupaten atau kabupaten minta kepada desa, formula apa yang akan kita pakai? apakah model konstitusi atau desa melist dulu, ini tidak bisa diseragamkkan, ini hanya bisa buat kriteria. Problemnya ada sektor pendidikan, kesehatan, ini bisa dirinci. Yang dimaksud kewenangan itu adalah menjalankan sebagian kewenangan pemerintahan. Pembagian selama ini tidak pernah dilakukan dengan baik, semuanya remang-remang. Formula apa yang akan kita pakai untuk kita berikan desa? Kalau menurut konstitusi maka daerah membuat perda tentang kewenangan. Sebenarnya kewenangan itu tergantung model otonomi seperti apa yang kita anut. Toto Barangkali sudah kita kenal namanya desa itu tumbuh dari adat istiadat, asal usul, prinsip ini yang harus kita pegang, kemudian timbul dan tumbuh dari bawah, idealnya menggali dari bawah. Contohnya, kita mengenal tanah adat dan tanah sertifikat, yang punya kewenangan tanah adat adalah desa, jadi menggalinya dari bawah, kita tinggal membuat rambu untuk dilaksanakan kabupaten. Otonomi yang kita gali, kewenangannya sejauh mana desa itu mampu melaksanakan sendiri? Fasilitator Yang belum clear itu kewenangannya seperti apa? Itu tadi proses otonomi dan kewenangannya. Azam Pendapat itu sangat dipengaruhi lingkungan. Saya dari lingkungan birokrat, berkaitan masalah kewenangan, tanah bengkok desa yang berubah menjadi ruko. Itu menjadi kewenangan desa, desa boleh menjual dan mengalihkan. Kalau sampai bendo desa
Menggagas Desa Masa Depan

49

sebaiknya tetap masuk ke pemerintahan daerah. unsur pemerintahan eksekutif. administrasi. desa dan pilkada. Sofyan Mekanisme kewenangan. karena yang dihadapi adalah SDM. peradilan desa itu sudah ada preseden. kalau mereka tidak mampu maka jangan diberikan kewenangan. kewenangan yang asli tidak perlu kita atur. legislatif. Mnurut saya.diambil oleh pemerintah tanpa ganti rugi maka itu sudah kebodohan desa. ini perlu didorong dan didefinisikan. namun perlu dipisah peradilan desa dan komunitas. Desa bisa menyelesaikan peradilan desa yang informal. karena otonomi itu mengatur dan mengurus. kepala desa ini harusnya standar minimal SMA. aturan dibuat untuk dilanggar. walaupun itu bertentangan dengan hokum. Komentar Pak Ibnu. yang perlu diatur adalah kewenangan dari pemerintah. jadi penting bicara kewenangan adalah kemampuan desa membuat peraturan tetapi desa juga punya otoritas untuk membuat keputusan. kades dipilih masyarakat tetapi tanggung jawab kepada bupati melalui camat. Dari struktur pemerintahnya juga sangat kurang. pertama harus memilih dulu model pemerintahan. Untuk kasus yang kecil-kecil. kalau kita pilih self governing community. hanya itu harus diberikan kriteria secara bertahap. Oleh karena itu ada formula dan tahapan yang harus dilaksanakan. maka kita bisa melihat wewenang desa akan seperti apa. Desa di Kebumen tidak punya tanah bengkok dan di Banyumas ada dan luas sehingga penghasilannya sangat banyak dan bisa mengatur pembangunan di desa. kita berangkat dari mana? Konstitusi tidak jelas mengatur tentang desa. Maka perlu ada penilian terhadap kabupaten. lalu dia menjustifikasi bahwa di wilayahnya ada hutan Menggagas Desa Masa Depan 50 . bagaimana kalau desa? Lalu kita akan training untuk IMB. masyarakat dikebiri oleh pejabat. masyarakat tidak dihargai. infrastruktur. Vitri Indonesia terlalu banyak aturan. Ciri otonomi. Benturan terjadi antara kabupaten dengan desa. Kita pernah menantang IMB. Sudah ada perda tentang bondo desa. Kita sudah membuat perda kewenangan desa. saya mengusulkan pertanggungjawaban kades. sehingga hanya berhenti di tingkat kabupaten. dukungan masyarakat. anggaran desa itu seperti darimana saja. Untuk bisa meletakkan wewenang desa. kalau spirit tidak homogen maka kewenangan yang kita address kita ke sana seperti apa? Ide pak Ibnu menarik. misalnya di Minangkabau sudah ada surat edaran untuk peradilan tinggi untuk peradilan negeri di Minangkabau agar mengacu ke peradilan desa. Fasilitator Normatif regulasi sudah ada. UU 32/2004 akan dibagi 3 yaitu pemerintahan daerah. Matt Stephen Otoritas desa untuk menyelesaikan masalah. Ibnu Yang perlu kita diskusikan itu mekanisme. wewenang dan anggaran. Franky Saya setuju. pihak yang memakai bondo desa harus mengganti minimal sesuai dengan harganya. namun ada problem-problem empiris. dia bisa membuat peraturan. Pertanyaannya adalah mempertimbangkan konteks daerah. bagaimana interaksi dengan peradilan formal dan sebagai pengakuan kepada masyarakat untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. tidak perlu detail. yudikatif tidak jelas. Kewenangan itu sangat sulit dilaksanakan. kemampuan perangkat. di peraturan itu belum ada. pertanggungjawaban. penyelesaian konflik itu menjadi kewenangan di desa. Apakah model konstitusi atau desa yang menentukan. Dari RUU harus jelas pemerintahannya. saya setuju desa punya kewenangan. syaratnya dirubah. karena akan ada tarik menarik dengan kabupaten dan provinsi. tapi belum dilaksanakan. Peradilan komunitas itu bisa di dalamnya peradilan adat.

• Implementasi Pancasila. Hans Antlov-LGSP. Fasilitator Bapak-bapak. Susmanto–Letmindo/GTZ Aceh/ LGSP. • Demokrasi. kalau perlu ada departemen khusus agraria. Fasilitator Tadi muncul satu pendapat bahwa ini pengalaman praktis. pembinaan dan pengawasan itu dalam konteks pelaksanaan otonomi daerah dan tanggung jawab pelaksanaan. tanahnya. sehingga terjadi benturan kelembagaan. dan itu menjadi pertarungan yang riel.Lakpesdam. Datuk–Asosiasi Nagari. IKPM bilang jelas bahwa itu kewenangannya Papua. Agus R. Joana–World Bank. akhirnya dicabut kewenangannya. namun departemen kehutanan bilang itu haknya departemen. pengaturannya bukan sektoral lagi. akan terjadi pertarungan dengan negara. kalau itu sudah dikaji maka kita butuh sistematika perundang-undangannya seperti apa? Setelah itu kita sebarkan ke seluruh daerah untuk mensikapi mana yang baik mana yang tidak. Irwan–Letmindo/GTZ Aceh. Kasmuin Saya sepakat seperti tidak perlu ada penyeragaman. UU 32/2004. Wafi–BPD. Riawan Tjandra – Atmajaya Yogyakarta 2. walaupun intinya ada pengembangan kapasitas itu menjadi perhatian khusus. Terkait kewenangan harus dikembalikan ke konstitusi. Abu–Persepsi. Haryo Habirono – FPPD : Ade–PPK. hubungan sektoral berbenturan. apakah mungkin menjadi suatu pilihan yang cocok (bottom up)/ internalisasi nilai. ada beberapa yang hal perlu dicermati dalam diskusi kelompok kita sebagai berikut: • Transformasi UU 32/2004 berpengaruh pada sisi demokrasi desa.adatnya. SDA yang sudah diatur dalam UU sektoral. Kelompok: DEMOKRASI DESA Fasilitator Peserta : 1. UU dalam ranah desa. Bapak kita mencoba mengelaborasi UU 16/69 tentang desa praja sampai dengan UU 32/2004. Menggagas Desa Masa Depan 51 . 2. • Bahwa kesenjangan demokrasi pada aras desa berpengaruh pada kebijakan desa. Rahma–LIPI. Kasus riel pertentangan RUU PA Aceh dengan Otsus Papua. Kalau bicara kewenangan yang sudah ada sejak awal itupun harus diikuti pengembangan kapasitas dan pembinaan paradigma. Widyohari–STPMD ”APMD”. mana yang baik dan tidak baik. termasuk kultur. Yuni–Asppuk. Dahlia–TTS SoE. Wai. sisi yang lain normatifnya saja sangat sulit. resolusinya apakah membentuk UU baru atau bagaimana? Kewenangan ini harus dipastikan. Syamsul Hadi–Bina Swagiri. Fasilitator Persoalan kewenangan tidak cukup tetapi juga kapasitas. Widya-FPPM. ibu-ibu. Adnan–LP3ES. Mengkaitkan apa yang disampaikan di depan. itu tidak akan selesai kalau tidak duduk dalam satu meja. Ade Regulasi perlu ada keharusan pelaksanaan UU PA. hubungan antar sektor. Aturan sering bertubrukan. Marhaban-PMD Depdagri.

Ade Sulit menjawab demokrasi dengan model yang mana. Menjadi penting adanya demokrasi di desa/kelurahan adalah dipilih langsung. implementasi dan pengawasan. tetapi juga dalam menyalurkan aspirasi masyarakat/cari input. Wafi • Kaitan dalam hal ini. implementasi maka masyarakat merasa bertanggung jawab terhadap hasil pembangunan. Belum ada kepastian mewakili kepentingan masyarakat. Masih ada kecenderungan elit desa yang menentukan. adanya fakta kasuskasus harus dibenarkan. dipilih dan menjadi badan penyeimbang. sehingga tidak ada raja-raja kecil di desa. saya lebih optimis. euforia politik. Sebagai pelaku perwakilan di desa saya sendiri sedang bersemangat dengan proses demokrasi di desa. Dengan keluarnya UU 32/2004 terbelalak. musrenbang tidak ada artinya. maka pemilihan kades juga dibiayai. mengontrol pembangunan di desa. artinya harus dengan target sekian orang. • Demokrasi yang cocok yang bagaimana? Demokrasi tidak perlu dicocok-cocokan. Dari beberapa hal tersebut. Ada BPD yang belum berperan dalam fungsinya – check and balances. Basis kewenangan desa adalah desentraslisasi sedangkan otonomi desa dari masyarakat.• • • Kaitan demokrasi dengan skala kebutuhan masyarakat. Bagaimana bisa melibatkan masyarakat lebih luas. jadi tidak perlu ada batasan quorum. Dengan aturan saat ini belum berati demokrasi sudah berjalan di desa. sehingga seorang kandidat kepala desa tidak perlu manggung di desa. • Persoalan quorum menjadi masalah. kaitannya dengan psikologi demokrasi. dipilih langsung. melainkan kontrol. Melihat fakta kelemahankelemahan BPD ya. Saya lebih tertarik pada bagaimana demokrasi ada di desa. fungsinya diberangus dengan dalih-dalih. Menggagas Desa Masa Depan 52 . polanya masih top down. Sehingga musrenbang desa mentok di Kabupaten. permasalahan diantara mereka. Joana Pada prinsipnya setuju BPD – perwakilan yang mewakili prinsip-prinsip demokrasi. Fungsi lembaga-lembaga yang mampu mengusung demokrasi? 3. melihat nilai demokrasi yang ada di di desa dengan model perwakilan yang dipilih langsung. Tidak setuju BPD akan mempreteli kekuatan desa seperti kata Syamsudin Haris tadi. Eksperimentasi demokrasi desa dihindari karena tidak match dengan demokrasi. Tetapi dengan demokrasi perwakilan yang ada sebelumya. maka merujuk pada 3 aspek: 1. Berangkat dari program pengembangan seperti yang dilakukan dalam PPK. Demokrasi apa yang paling cocok di Indonesia? 2. Kendala-kendala yang perlu diperhatikan! Pada akhir pertemuan akan disepakati wakil yang akan menyampaikan presentasi. dengan adanya pemilihan Presiden/Bupati dibiayai oleh APBN/APBD. Saya lebih cenderung kembali ke UU 22/99. Pada dasarnya masalah desa/masyarakat desa adalah mereka tidak terlibat dalam proses perencanan. dengan harapan yang lain akan melengkapi. masyarakat belum. BPD menjadi Badan Perwakilan Desa. tapi cenderung melihat apa yang dibutuhkan desa. tidak hanya dalam pengambilan keputusan. • Keuangan. Tetapi selain itu ternyata lembaga itu sendiri tidak cukup untuk melahirkan nilai-nilai demokrasi di desa. • Perlu juga dipikirkan pendidikan politik di desa. Bila masyarakat terlibat dalam proses perencanan. Jadi perlu ada ketegasan masyarakat dalam proses pembangunan.

Masyarakat desa saat ini belum diberdayakan. yaitu demokrasi modern – representatif dengan 2 prinsip dasar: prinsip representative government. Pemdes di daerah belum betul-betul mau kewenangan diserahkan ke desa. silahkan. berbeda dengan desa-desa di Jawa dan di luar Jawa. Menurut saya. masyarakat harus dilibatkan dalam pembangunan. yang punya uang yang menang. bagaimanapun proses pemilihannya tidak terlalu persoalkan. Keberagaman dalam UU 32/2004 dan PP 72/2005 masih umum. Saya pahami bahwa peran warga desa. Sinyalir kolusi di BPD ada kemungkinan. bagi yang kalah masih diberikan kesempatan untuk memberi kritik. akhirnya ada porsi presentase untuk perempuan. saya yang termasuk mendambakan demokrasi terutama di desa. perencanaan pembangunan masih top down. Australia. is there any democracy? Dewan morokaki di Banten dipilih dari ketokohan.Datu Apa yang disinyalir saat ini sangat setuju. BPD dan lembaga lain di desa. jadi tidak memaksakan keinginan kita. Menggagas Desa Masa Depan 53 . sehingga kades. alim ulama. Kalau secara antropogis barangkali desa lebih tua dibanding dengan kabupaten/kota. di nagari disebut BPN (Badan Perwakilan Nagari). tapi perlu tupoksi yang jelas. Proyek PPK di daerah. kemudian ada buku Freedman ”alternative development” dengan konsep political democracy-inclusive democracy adalah demokrasi yang kita bahas. seperti freedman. Itu bagaimana? Teringat pertemuan forum warga di Surabaya. negara. pemuda. di nagari pemilihannya dengan cara perwakilan kelompok. tetapi terkadang ada pesanpesan dari daerah. Kanada. Representative demokrasi bukan ada di kita. Keikutsertaaan masyarakat dalam pemeliharaan pembangunan di desa saat ini agak lemah. sehingga semua bisa dicek dengan jelas. disini adalah self community governing + inclusive demokrasi. Bagaimana desa yang mempunyai dana untuk dapat membeli hasil-hasil panen? Kebutuhan basis desa jangan dikesampingkan. Kalau di desa Sumba Timur. sosial (kontrol jalannya pemerintahan di desa). pemuda. maka masyarakat akan diam. kelompok perempuan. Syamsul Hadi Keterwakilan BPD dalam UU 32/2004 belum baik juga. ada keberhasilan dalam keterlibatan masyarakat menentukan keputusan. Hebatnya demokrasi. ada tiga area demokrasi: bidang pembangunan (perencanaan). Susmanto Menyinggung tentang BPD berkontradiksi dengan pemerintah desa. Secara umum. saat ini diserahkan kepada desa/swakelola. alim ulama. Tana Toraja. tapi kita tawarkan kepada yang lain. ninik mamak. itu ada pada Kabupaten/Kota ke atas. politik (Pembuatan Perdes). Demokrasi seperti apa yang disepakati? Misalnya pemilihan langsung. serta masyarakat tidak ada inisiatif mengontrol pembangunan di desa/nagari. tidak hanya di Jawa tetapi juga di luar Jawa. ninik mamak. menampung. Apa yang disampaikan Joana perlu. Di desa yang diperlukan adalah self community governing + inclusive demokrasi. kalau masyarakatnya kumpul tetapi ada raja. Pemikiran dan wacana tadi sangat menambah perspektif bagi kita. istrinya carik ya. yaitu penyelengaranggan negara diserahkan kepada elit dan limited government – terbatas. demokrasi yang diserahkan pada tingkat ‘state’. Kalau dipilih langsung bagaimana keterwakilan unsurunsur masyarakat. provinsi. Nah. yang ’mbok bakulan’ (not: ibu-ibu yang berjualan) tidak ada. Fasilitator Kita menawarkan beberapa pemikiran. Marhaban Demokrasi yang bagaimana? Bagi saya pribadi dilihat dari literatur ada dua macam demokrasi. Amerika.

Negara silahkan mengatur regulasai tentang desa. Oleh karena itu BPD ada tetapi harus ada mekanisme lain yang sifatnya Menggagas Desa Masa Depan 54 . semangat demokrasi di desa menurut saya sangat berbeda dengan masyarakat di tingkat atas. Fungsi negara menjamin bagaiman masyarakat teribat dalam proses pembangunan di desa. karena itu murni dari adat. eksekutif. meskipun BPD mewakili masyrakat di desa. Yang penting 3 (tiga) itu. Problemnya. Saya mengkritik teman-teman di PMD. sehingga BPD tidak cukup mewakili sebagai institusi perwakilan di desa – kelompok-kelompok di desa. Perlu dimasukan unsur-unsur/aspek penyetaraan dan lain-lain. wali nagari/kades memiliki masyarakat. saya setuju dengan Pak Sus.Widyohari Saya sebetulnya sepakat dengan Pak Sus. Masa yang lalu ada demokrasi di desa. Berapa persen orang yang menyampaikan ketidakpuasan mereka terhadap BPD? Menjadi pertentangan tersendiri di masyarakat bagaimana menyalurkan aspirasinya. ada rapat/rembug desa. tidak memadainya apa yang ada di BPD. ada badan legislatif. Apapun bentuknya tidak masalah. Menyinggung yang disampaikan Pak Sus. Karena teori apa saja di Indonesia tidak jalan. masih sebagian bergantung pada pemerintah. Dalam proyek PPK. partisipasi di desa adalah milik elit desa. romantisme bahwa demokrasi desa diserahkan saja kepada desa. desa boleh memasukan unsur permusyawatan. Partisipasi menjadi titik demokrasi. PPK bagus. meskipun bukan satusatunya problem di desa. Aspek persamaan itu perempuan dibelakangkan. Tetapi BPD pada banyak desa menjadi alat legitimasi aparat desa. perwakilan. Dari prosedur itu tidak menjamin. sehingga tepat kita mencari demokrasi. harus menjamin keberlangsungan lembaga-lembaga lokal di desa. Kades. tetapi juga tidak sepenuhnya mewakili masyarakat. petani. mayarakat dilibatkan dalam proses perencanaan hingga pengawasan. siapa saja: buruh. jangan ada kabijakan jeruk makan jeruk. Sulitnya minta ampun untuk melibatkan masyarakat dalam partisipasi di desa. tetapi sekarang tidak. Kerena itu. Tidak ada sistem check and balances – itu sulit. kalau tidak ada. tapi masih ada celah-celah. dan lain-lain. juga pengalaman negara lain yang berhasil. Sangat mahal bagi negara untuk representatif demokrasi. ini parah. Kedepan perlu ditempatkan suatu forum di desa. maka elit-elit diluar Jawa akan tersisih. sesepuh. menjadi grup politik masyarakat. ada mekanisme kontrol internal di desa. wali nagari tidak perlu untuk menjadi pengurus parpol. tetapi juga harus memberikan ruang bagi lokal. itu harus dilembagakan. Juga dalam penguatan masyarakat di desa. Abu Apapun demokrasi yang diusung adalah demokrasi yang menjamim kemandirian di desa. Ini perlu dikembangan untuk melakukan check and balances di desa. Kalau kepala daerah memiliki wilayah. Marhaban Saya beda dengan apa yang disampaikan Hans tadi. dulu ada forum di desa yang memenuhi ini. Kendala yang perlu diperhatikan. kemudian tidak lahir dari masyarakat. yaitu partisipasi merupakan kendala yang terbesar di desa. Eropa barat menyerahkan otonomi se-grass root mungkin. BPD sebagai institusi menjadi cek and balances bagi pemerintah desa. kalau cair sama sekali juga memiliki kelemahan. Demokrasi desa dibangun ala kelokalan setempat. Barat tahu persis otonomi daerah itu. Datu Kalau saya diminta untuk mewakili partai di desa tidak setuju. Wa’i Ada kemunduran BPD menjadi bamus (badan musyawarah). masing-masing desa berbeda. empowerment yang ditumbuhkan dibunuh kembali.

orangnya terbatas. pemikirannya terbatas. modul disiapkan seperti dulu sebelum ada otonomi. Amerika. parpolpun tidak mewakili masyarakat. contohnya sesudah pemilihan dan terpilih. diwadahi dalam forum. Apapapun bentuk demokrasinya kalau tidak ada suara perempuan maka tidak demokratis. mengapa Indonesia tidak bisa? Olahraga kalah. India. persoalan budaya. kita fasilitasi. Apa masyarakat tahu bagaimana membaca APBDes? Ketika dalam perumusan perencanan mereka tidak semua terlibat. ini dan itu. Fasilitator Karena waktu tinggal 15 menit masih ada 7 orang yang belum bicara. Dana disiapkan. Menggagas Desa Masa Depan 55 . kelompok dan lainlain. Yuni Saya mau ikuti yang sudah ada. Negara tetangga lain. silahkan. mereka bisa.insidential. permusyawaratan – perwakilan. Kita terjebak dengan panyakit partisipasi.. pengkulturan masyarakat. Adnan Seringkali kita memperjuangkan bentuk daripada isi. jadi kendalanya struktural dan kultural. Kalau BPD. • Partisipasi dalam berbagai bentuk. • Usul: perlu ada pelatihan bagi LPM untuk perencanaan pembangunan. Bagaimana kearifan lokal bisa timbul kembali? Dahlia • Bagi saya perlu ada lembaga demokrasi di desa. Pancasila dan UUD 1945. • Pemimpin formal di masyarakat pasti diikuti masyarakatnya. Filipina. Perlu mengacu pada prinsip-prinsip pokok dalam membangun sistem demokrasi di desa seperti human right. Widya Bagi saya demokrasi seperti apa? Kembali pada kearifan lokal. demokrasipun kalah. lembaga dari luar yang ada di tempat kami. Membandingkan dengan yang di atas. ada kebutuhan. seolah bentuk lebih bagus daripada isinya.. Hans Saya tidak setuju demokrasi terlalu mahal. adanya penokohan. tenaga. dan lain-lain sebagaimana yang tercantum dalam covenantcovenant Internasional. bagi saya tidak masalah. Banyak pendapat tentang partisipasi. pengangguran. • BPD dan Kades itu alat negara? Widyohari Lembaga independent silahkan masyarakat bentuk sendiri. ada potensi. tidak masyarakat. Contoh. itu diseimbangkan. • Musrenbang sebenarnya ada masalah. Saya hanya mengkritisi itu. keterwakilan partisipasi. LPM sebagai lembaga induk yang membawahi lembaga-lembaga di masyarakat. tapi negara Asia. Kalau dalam parpol terwakili 60%-70% maka ada 30% yang tidak memilih. Kalau di pemerintahan. Jadi masyarakat perlu kita latih. bagi saya yang penting unsur keterwakilannya dari aspek kewilayahan. pikirannya. lebih mementingkan proyek. Selama ini banyak dikatakan kita sudah. kepentingan. sehingga dia akan kuat. Setahu saya Eropa dan Amerika hanya ada di kabupaten/kota. sehingga seharusnya ada kursi kosong di DPRD. jangan-jangan partisipasinya terpimpin atau terbina. • Kades di TTS seperti alat politik.. tapi tidak bisa dilantik karena kepentingan poltik di tingkat atas. Itu bukan Eropa. kehadirian fisik. dananya.

Bagaimana ditingkat kabupaten/kota. Keterwakilan lembaga kemasyarakatan lainnya Fungsi lembaga-lembaga: • Lembaga di desa terdiri dari lembaga formal dan non formal • Fungsi lembaga desa bervariasi: sebagai fungsi legislasi.. hanya kata-katanya yang berbeda. contohnya beberapa anggota BPN tinggal di Bukittinggi. banyak kendala menciptakan masyarakat demokratis. bagaimana kalau kita mengundang petani untuk mengikuti musrenbang. BPD sebagai tool untuk check and balances 2. Fasilitator Sulit menggabungkan semua wacana. Demokrasi hanya satu hari.. • Peguatan kelembagaan banyak kendala. injecting participating in local. cuma hari sabtu saja yang demokratis. kontrol dan pelaksana • Bentuk diserahkan pada kearifan dan keunikan local dengan acuan dari pusat • Lembaga itu harus mampu mewakili semua aspirasi masyarakat • BPD dan lembaga kemasyarakatan yang ada harus ditopang dengan capacity building yang memadai Kendala-kendala: • Keterbatasan partisipasi masyarakat antara lain karena sistem yang belum mendukung (structural) • Kendala cultural (misalnya budaya patrialistik. BPN tidak berfungsi. sedangkan kalau mereka ke sawah mendapatkan sepuluhribu. siapa yang bisa disepakati untuk mewakili? Jadi Pak Datuk dan Ibu Ade untuk mewakili.hhahaahhaaa. senin-jum’at tidak demokratis.Agus • Demokrasi kebutuhan di desa. kalau bukan kebutuhan. elit-elit menyelewengkan demokrasi. Bagaimana menanamkan demokrasi di masyarakat. kita semua membicarakan hal yang sama. kita sepakati siapa yang mewakili untuk menyampaikan diskusi kita? Marhaban Sedikit saja. Fasilitator Biar saja semuanya pemikiran masuk. kalau tidak demokrasi maka akan menjadi otoriter.. diawali di rumah tangga? Apa itu sudah kita lakukan? • Kasus di Palembayan. Benang Merah Pemikiran: Demokrasi yang cocok bagi desa: Inclusive demokrasi perlu menjadi pertimbangan utama dalam rangka membentuk self community governance masyarakat terlibat secara luas dalam proses pengambilan keputusan 1. sabtu. Harus mengacu pada analisis kebutuhan desa 3. mandul. jadi hanya hari sabtu saja... pandangan pragmatis) • Focus pada pembentukan lembaga bukan membangun esensi check and balances • Kemampuan ekonomi masyarakat • Trauma pengalaman berdemokrasi yang “mboten up” tidak memihak kepada kebutuhan masyarakat contoh masyarakat Menggagas Desa Masa Depan 56 . Musrenbang hanya dilaksanakan satu hari. karena oranya tidak demokratis. ada yang mengusulkan ada kursi kosong-golput. sikap elitis.

sehingga ada kejelasan potensi. Tumpak-PMD. yaitu digunakan untuk pembangunan fisik. dalam kaitan ADD. yaitu: 1. sehingga ini terkait dengan kewenangan desa. Kamardi-Perekat Ombara. 4. Mengapa kabupaten tidak responsif?. 2. Ini sebenarnya ada keberatan tersendiri dari Pemkab. pendapatan desa rendah. Arie Sujito : Ninuk-BPD Deli Serdang. terkait juga dengan aspirasi masyarakat ketika perda atau perdes itu disusun. 3. terkait dengan UU 32/2004 ada beberapa hal yang perlu kita sikapi bersama seperti ada beberapa UU yang baru itu menarik ke pusat dan posisi daripada BPD perlu memperoleh perhatian kita bersama. alasannya 1) SDM tidak mampu. ada PP 72/2005. Dahlia-PMD TTS. Sukoco-Kades Wiladeg. 2) orang desanya tidak tahu bahwa ada UU 32/2004. karena selama ini yang menjadi bendahara desa adalah kaur umum yang merangkap jabatan. sehingga dapat memberikan semacam apresiasi terhadap masyarakat dan karakter masyarakat itu sendiri. maksudnya bendahara desa. Betapa ADD yang menjadi masa depan desa masih terbatas. Alit Asmara-Majelis Madya Gianyar. Di Deli Serdang baru dianggarkan 11. Kelompok: ADD (ALOKASI DANA DESA) Fasilitator Peserta : 1. Fasilitator Itu fenomena di Deli Serdang. Joana-World Bank. Alit Asmara Terkait informasi dari teman Deli Serdang tadi saya konsentrasi di desa.00 3. ada 4 permasalahan yang kita perhatikan.5 Milyar. seharusnya sesuai ADD 43 Milyar harus diserahkan kepada desa. Bambang Hudayana 2. bagaimana menghubungkan ADD dengan pelayanan publik? ADD selalu memakan belanja rutin kabupaten. kemudian ADD untuk apa?. 5. 3 Juli 2006 Pukul : 11. Ninuk Kita di DPRD Deli Serdang sedang membuat Raperda yang saat ini sudah menjadi perda tentang ADD. Menggagas Desa Masa Depan 57 . persoalannya mengapa ADD tidak bisa cepat dilaksankan? Saya pikir banyak kabupaten tidak rela menyerahkan uang sekian banyak. sosialisasi dari kedua UU dan PP tidak sampai kepada kepala desa. mungkin kita harus menentukan kriteria kepala desa itu seperti apa. Ade-KDP World Bank. Legitimasi pemerintahan desa ini perlu proses yang demokrasi. Perda-perda dan perdes. Abu-Persepsi. Syamsul-Bina Swagiri. kalau ada uangnya ADD mereka menanganinya. merujuk PP 72/2005. Masukkan dari 4 desa yang kami lakukan. karakter dan budaya setempat bisa masuk. Fasilitator ADD menjadi harapan di desa. Kasmuin-CePAD. Soekirman-Wakil Bupati Sergai. Sumber pendapatan desa harus jelas apa-apa saja. Kewenangan desa harus jelas. Kesiapan kelembagaan nanti menyangkut SDM yang ada.00 – 13. dengan skala prioritas. Adri Warsena-FPPD. mereka minta supaya ADD dapat dilaksanakan sendiri oleh orang desa. Datu-As Wali Nagari. Sebelumnya kita melakukan pertemuan dengan beberapa desa. dengan adanya ADD masyarakat punya kemampuan untuk mengelola ADD. Perencanaan di tingkat desa perlu dikelola melalui SDM di tingkat desa.Hari/Tanggal : Senin.

Menggagas Desa Masa Depan 58 . Kamardi Soal ADD itu selain perda mengawali kebijakan karena konsekwensi PP 72/2005 sudah dijelaskan ADD itu. setelah ADD jalan desa sudah hotmix. Desa tidak ada otorita mengatur sendiri. sehingga kalau ada ketentuan dari pusat maka mereka tidak dapat menolak. kalau itu tidak disiapkan di desa. kalau kami loyal maka dananya dapat turun. itu perda yang mengatur bukan hanya peraturan Bupati. termasuk juga dalam perencanaan dan juga kegiatan-kegiatan yang menyangkut desa. 3. Sukoco Ilustrasi di Gunung Kidul. penduduk desa paling tidak mendapatkan bagian 10% dari retribusi daerah. maka dengan kesiapan ini kita dapat menuju kewenangan dan hak desa sehingga tidak ada alasan untuk tidak memberikan porsi itu kepada desa. karena di PP itu 2 hal yang dimandatkan. Yang menjadi orientasi ke depan. walaupun itu sudah dimentahi temen-teman lurah pada waktu itu. Adanya regulasi yang tegas dan pro desa. partisipasi dan lain sebaginya tapi di ayat b. sehingga ada ketergantungan dari peraturan Bupati. dia memandang bahwa kapasitas dan potensi desa belum siap. lha bagaimana mengelola itu? Bagaimana menyiapkan kelembagaan di desa itu? 1. maka akan memindah budaya korupsi di desa. Sepertinya itu masih terjadi. Alasan dari Bupati adalah untuk langkah awal dan nanti kedepannya tidak akan diatur. Syamsul Kenapa kabupaten tidak iklas memberikan ADD. Catatan lebih jauh. yang harus diperjelas dalam perda itu bahwa itu harus dipisahkan dengan PAD atau APBD itu sendiri. memang nilai asli desa ada gotong royong. faktor politik (karena tidak milih). Jadi ADD itu benar-benar mutlak untuk desa. kalau tidak ya tidak. dengan presentase sekian % untuk BPD.kemungkinannya adalah. 1. yang mengatur kabupaten tapi hanya pedoman umum saja dan teknisnya diserahkan ke desa. Disamping ada keuntungannya ADD juga ada sisi buruknya. faktor APBD kabupaten belum siap. Maka ADD keluar dengan peraturan Bupati saja tapi aturannya sangat ketat sekali. Dari teman Deli Serdang tadi ada ketidakrelaan pemerintah kota untuk memberikan porsi kepada desa.Dukungan dan partisipasi dari masyarakat seperti apa. sudah jelas bagian desa itu paling kecil 10% dari retribusi daerah dan ADD itu merupakan dana perimbanagn yang diberikan pusat kepada daerah. misalnya perda yang mengatur sekian % dari APBD harus dilakukan untuk ADD. pembangunan dan lain-lain. ada yang tidak tapi tiba-tiba ada bimbingan teknis. jadi berbeda sumbernya. Dana yang pertama itu 10 Milyar. Efek ADD luar biasa. DAU yang dipotong anggaran rutin. Mungkin juga faktor politik. ADD ini dimanfaatkan untuk pencalonan Bupati bahwa nanti desa akan dialokasikan dana. Saya sepakat dengan kawan dari Bali bahwa harus ada ketegasan hak dan wewenang yang harus dimilki oleh desa. Perlu disiapkan resolusi managemen konflik di desa 2. Fasilitator Jadi ADD itu bukan identik dengan pengembalian dana 10% yang berasal dari retribusi itu ya? Kamardi Ya bukan. bagaimana ADD itu mutlak kewenangan desa. kalau diukur dari PP masih jauh. Ini yang selama itu belum jelas. ada yang pakai peraturan Bupati. 2. mestinya 23 Milyar.

Pembangunan oleh desa lebih efektif. PMD. Proses pembuatan keputusan awal harus partisipatif. bertahap. di Ngada tidak terlalu percaya pengawas dari pemerintah. tetapi hanya rambu. Fasilitator Penguatan bukan hanya pada aparat. boleh memberi pedoman tapi tidak usah detail. hanya beberapa desa. DPRD dan lain-lain. sehingga mereka bisa bikin pasar. kriterianya sangat banyak. di desa itu tidak ada Bandes. 10 % DAU maka harusnya 15 M. karena tujuan ADD untuk mempercepat pembangunan dan kesejahteraan masyarakat desa justru akan tertunda lebih jauh lagi karena banyaknya permasalahan yang muncul karena realisasi ADD dengan penguatan kapasitas itu. porsinya tidak ditentukan. Contoh di Ngada. tidak sama persepsi dan empati antara ketua Bappeda. sehingga menguntungkan pihak luar. jalan dll. Saya ingin menyampaikan bahwa ada 3 kebutuhan yang berbeda anatara di level desa dan kabupaten. kalau rata maka 75 juta per desa. yang jadi kebutuhan desa lagi itu adalah keputusan musbangdes. Kasmuin Ada semacam tindak lanjut saja. Ada kecenderungan berbeda. PP 72/2005 harus dikuatkan dengan perda. itu sudah mendarah daging. rata-rata mereka mendapatkan sekitar 75 juta per desa. dan baru menerima PP 72/2005. Kalau ADD jalan dan proses perayuan dari pihak luar itu terus maka yang ada adalah pembunuhan terhadap inisiasi desa. Bupati mengakali 50 juta per desa. datang kontraktor di atas kertas swakelola. Disini juga ada tim pengawas. mereka lebih percaya ke konsultan lokal. 2. setiap tahapan harus dipertanggungjawabkan lebih dulu. ADD seharusnya didahului RPJMDes. 3. dan setiap desa memperoleh dana yang berbeda sesuai dengan kebutuhannya. Sebaiknya tidak ada pembatasan yang rigid. karena kecamatan memfasilitasinya dan yang paling mencolok adalah infrastruktur baik jalan desa maupun irigasi. tapi juga pada masyarakat karena mereka punya kapasitas dan lebih mandiri. kemudian kami cetak dan dibagi ke semua kepala desa. Ade Saya sependapat bahwa ADD diperlukan pengalaman selama ini. kabupaten hanya memberi rambu-rambu saja. PP 72/2005 di kabupaten. Di pemahaman tingkat kabupaten beda persepsi. 1. lalu APBDes dan itu masih dilakukan oleh LSM. dan kabag hukum. karena adanya fasilitator pendamping sehingga lebih tepat sasaran. karena akan menentukan besar kecilnya ADD kedepan. Partisipasi masyarakat desa sangat turun. Sejak berpisah dari Deli Serdang.Fasilitator ADD itu hak desa. ada soal dengan kabupaten induk. Yang ditanyai Bandes. Apakah kita perlu merumuskan dan mencari strategi untuk mendorong hambatan-hambatan mengapa ADD itu macet dilakukan daerah? misalnya kita mendorong class action apabila ADD tidak dilakukan sebagaimana mestinya. tidak ada mark up. ADD tidak merata ke seluruh desa. Betapa pentingnya kewenangan desa. Honor kades. Yang baik itu PPK. Mekanisme pencairan dana cukup baik. karena orientasinya untuk diri mereka sendiri. Pembangunan sendiri belum. Soekirman Sergai baru berjalan 2 tahun 6 bulan. Sejak dahulu semua orang menghendaki supaya daerahnya mendapatkan sebesar-besar. kabupaten jangan terlalu mengatur penggunaan ADD. yang seharusnya kabupaten induk memberikan kepada Serdai. saya sangat sepakat sekali antara realisasi ADD dengan penguatan kapasitas kelembagaan desa harus digarap bersama dan segera. Menggagas Desa Masa Depan 59 . dananya harus memadai. Baru 10 bulan bupati dan wakil bupati hasil pemilihan langsung. Duit dari PKPS BBM itu seharusnya swakelola.

Instrumen apa yang kita gunakan untuk mengatur ADD itu. Di desa itu banyak uang. Pedoman level pusat belum ada regulasi. Arah pembangunan ke 5 sasaran. Yang perlu kita minta pertama adalah komitmen kabupaten. Instrumen kebijakan. dana pemberdayaan. perlu komitmen di tingkat nasional. Sumber Daya Alam. Perlu komitmen yang lebih di tingkat nasional. apakah sesuai dengan perda atau yang lainnya. Tumpak Menurut kami dengan adanya ADD kita perlu cermati 2 hal yaitu: 1. Pembangunan kemasyarakatan. Untuk daerah miskin perlu jumlah minimum yang perlu disediakan desa dan kalau itu masih kurang mungkin dapat di ambilkan dari APBN. Sekarang ini kita juga mendapat mandat untuk memonitor PPK berbasis masyarakat tetapi skenario bagaimana setelah itu kita tidak tahu. Inilah yang kita pilih dan kita prioritaskan. Fasilitator Saya ada info dari Pak Girsang bahwa ketika mensosialisasikan ADD. tujuan sebenarnya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. yaitu : 1. Joana ADD adalah hak desa yang diterima untuk mengurus kepentingan diri sendiri. Menggagas Desa Masa Depan 60 . Bagaimana kita melakukan penguatan. 3. yang itu berasal dari kabupaten. sehingga dapat dijadikan bahan untuk pembuatan kebijakan bagi Depdagri. Kalau melihat dari 10% itu tidak cukup. Perlunya needs assesment di desa. Ekonomi kerakyatan. 5. ADD itu harus diintegrasikan kedalam APBDes. kalau tidak ya ada batas minimum. tapi belum ada pengalaman yang itu diinisiasi oleh masyarakat sendiri.Fasilitator Jadi skenarionya. 4. Instrumen akan sangat berharga. masih perlu dukungan masyarakat. Abu Dari pengalaman kami di Klaten untuk mengawal ADD di tingkat kabupaten tidak cukup pemdes dan kades. tentang ADD mengenai minimum yang harus disediakan desa. sudah jelas di PP konsekwensi logisnya kalau ada urusan di desa. Elemen di desa perlu mendapatkan penguatan untuk bersama-sama mendorong elemen di desa melek APBD dan APBDes. sekarang ada juga ADD dari Provinsi. 2. kabupaten hanya memberi acuan saja. bagaimana mengaturnya? Karena itu kita juga harus mengetahui bahwa itu adalah uang hasil dari hutang. semua anggaran dari luar harus masuk APBDes sehingga ada pertanggungjawaban dilevel desa. sasarannya kepada aparat dan masyarakat desa? Swakelola itu saya sepakat. Pembangunan infrastruktur. Dan kalau itu tidak berhasil maka kami akan melakukan penguatan terhadap masyarakat diluar kecamatan untuk melaksanakan pengawasan apapun proyek didesa. 2. tapi kalau di Nagari ada dana bagi hasil yang besarnya 35%. perlu prinsip keadilan di tingkat wilayah. Datu ADD itu kalau di Jawa tapi kalau di Sumatra Barat namanya DAUN. Peningkatan SDM. urusan ini mesti ada fungsi dan juga anggarannya. misalnya best bracticenya diungkap disini. Ada satu masalah ditingkat nasional dengan adanya intervensi PP 72/2005. selanjutnya pengalokasiannya bagaimana? Mungkin ada contoh dari beberapa kawan. Jadi mestinya uang itu mengikuti fungsi-fungsi yang ada. DAKN. 10% dari APBD. Perlu ada intervensi dari pusat supaya daerah tidak gamang melaksanakan ini.

Pemda belum berani memberikan komitmen 10% yang menjadi semacam tolak ukurnya. Akses informasi masyarakat untuk mengetahui PP masih sangat terbatas. maka desalah yang perlu mendetailkannya. Problem manipulasi atau KKN atas pengelolaan ADD. sehingga dapat dipertanggungjawabkan. bukan kami tidak percaya tapi sampai sekarang ini belum diapa-apakan. Kewenangan kabupaten itu sampai detail apa tidak. 6. Bagaimana memperkuat ADD di level daerah supaya prosesnya lebih cepat. akan tetapi daerah masih setengah hati. keterbatasan PAD. kurang serius menjalankan kebijakan ADD yang benar-benar dapat menjawab masalah yang dihadapi oleh desa yang menjadi kebutuhan desa. Ada semacam keyakinan ADD itu membawa perubahan di desa. Indikatornya: a. Jadi perlu ada petunjuk teknis dari pusat yang hanya berisi pokok-pokoknya saja dan untuk detailnya menyesuaikan di daerah. masalah politik 5. 1. 3. Jadi harus ada mekanisme kelembagaan. Jito (Fasilitator 2) Kita sudah petakan dari sejumlah pengalaman praktis bapak ibu semuanya. SE Mendagri dan peraturan yang ada. 7. b. 4. sekarang sudah ditetapkan tetapi sampai sekarang belum ada apa-apa. Perlu ada intervensi positif agar proses tidak berhenti di tengah jalan. atau perlu dibuat peraturan-peraturan yang dapat lebih manjamin ADD bisa membuat perubahan-perubahan. Dari 10 juta menjadi 98-100 juta. 3. Sumber pendapatan desa belum jelas. Masalah. 5. sebaiknya ini adalah bagian penting yang segera untuk diintervensi. untuk catatan ADD bukan lagi kebijakan populis Bupati. tetapi ini sudah menjadi kebijakan yang sifatnya daerah. walaupun itu difasilitasi oleh negara. jadi bukan SE Bupati tapi sudah menjadi perda. Pentingnya terintegrasinya ADD dengan program lain yang masuk ke desa. forum tidak menghendaki tidak terlalu rigid. sehingga dapat independen. Perlu juga dibentuk lembaga penguatan masyarakat yang partisipatif dan itu bentukkan dari masyarakat sendiri bukan dari pemerintah. mekanisme pengucurannya seperti apa ? 2. Itu dikarenakan adanya PP. Ada trend kepedulian yang semakin meningkat di level daerah tentang pentingnya ADD sebagai haknya untuk menjalankan pemerintahannya. Ada 3 kapasitas potensial desa yang belum siap. maka dibutuhkan untuk mempersiapkan sistem pengelolaan ADD. karena komitmen 10% kami hanya mendapatkan 7%. 6. bagaimana ADD itu diserahkan ke desa. Catatan juga dari kami bahwa : 1. Menggagas Desa Masa Depan 61 . 4. Oleh karena itu perlu didorong langkah-langkah oleh semua komponen di desa. Satu hal yang penting dan relevan dengan apa yang kita bincangkan antara pusat dan daerah belum connect. Kabupaten enggan untuk ADD 2. Fasilitator Ada beberapa catatan penting yang dapat kita tarik dari diskusi ini. nanti akan kita buatkan petanya dan buat kesimpulannya. supaya desa itu merasa memiliki atas policy. dalam bentuk block grant. Pemda berhenti membuat perda. sehingga jumlahnya masih kecil. Karena kami sadar keterbatasn SDM yang ada di desa. Fungsi dari pemerintah kabupaten atau pusat untuk memberikan dead line yang bersifat umum.Dahlia Saya sangat sepakat dengan apa yang disampaikan dan hanya akan menambahkan bahwa yang terjadi di kabupaten TTS ADD belum pernah ada.

Kenapa tidak yang ruang lingkupnya lebih luas misalnya pendapatan desa? kalau BUMDes ruang lingkupnya terlalu kecil. Firsty Husbany-DRSP.ASPPUK 2. profesional (harus dikelola dengan betul-betul). Dalam UU 32/2004 yang khusus bicara tentang keuangan desa yaitu pasal 213 tentang BUMDes menyebutkan: ayat (1) Desa dapat mendirikan BUMDes sesuai kebutuhan dan potensi desa. (3) BUMDes menjadi milik desa dapat melakukan aktivitas pinjaman sesuai dengan peraturan perundangundangan. M. Perkenalan Untuk lebih mengakrabkan suasana. Kenapa dibatasi BUMDes? karena topiknya keuangan dan ekonomi desa. bagaimana posisi dan bagaimana pengelolaannya? Ada prinsipprinsip yang harus dipenuhi dalam pengelolaan keuangan desa diantaranya adalah prinsip pemanfaatan karena dari manapun dan seperti apapun pengelolaan keuangan desa harus diorientasikan pemanfaatannya bagi masyarakat. keberlajutan. Diskusi ini diharapkan bisa mempertajam pasal-pasal yang sudah ada disitu. 9. pembagunan. Widya PujiFPPM. Sofyan-Akatiga. tadi sudah disampaikan oleh pak Dony).7. kejelasan wewenang dan peran (pengelola dan kepala desa). Barori-STPMD “APMD”. Suharman-PSPK UGM. Susmanto-FPPD/LGSP. Edward Lubis-YIPD Jakarta. Fasilitator Kita mengingat kembali apa yang telah dibahas. yaitu prinsip transparansi. Sunarti-Kementrian Pemberdayaan Perempuan. dan apa cerita suksesnya (apa faktor masalah dan faktor pendukung). peserta memperkenalkan jati dirinya. Transparansi. aktivitasnya. apa keuangan desa. Kelompok: MIKRO KREDIT DAN BUMDes Fasilitator Peserta : 1. Kita bisa mulai dengan mengeksplorasi pengalaman saat ini. kita eksplorasi pandangan. Yuni Pristiwati . Untoro-PMD. Erni-FPPD. Tadi pak Maryunani mengantarkan pada kita. Toto Suharyana-BPMKS Sumedang. Edward Kenapa BUMDes dan mikro finance? karena kita ketahui bahwa BUMDes adalah salah satu jenis pendapatan di desa. Ada 4 penerima manfaat yang harus diperhatikan. Silahkan. Sebelum mengerucut. dan bagi pemerintah itu sendiri. Tidak perlu ADD itu rigid meskipun kontrol sangat perlu dilakukan agar penggunaan ADD benar-benar sesuai dengan yang diharapkan. Empat prinsip ini paling tidak yang menjadi patokan kita bagaimana memberikan gagasan pada pengembangan keuangan desa. problematikanya. yang didalamnya termasuk aktivitas mikro finance. Apakah mikro finance nanti akan cenderung atau pengelolaannya diarahkan ke BUMDes? Menggagas Desa Masa Depan 62 . Dony-DPRD Sumedang. 4. (2) BUMDes sebagaimana dimaksud ayat (1) berpedoman pada peraturan perundang-undangan (Bagaimana peraturan perundangundangan PP 72/2005. Stefan Jansen-GTZ Pro FI. 8. Pengalaman-pengalaman praktis. Yusuf-Sajogyo Sains. usaha kecil. baik untuk mikro finance maupun BUMDes. pikiran dan pengalaman bapak/ibu tentang BUMDes. Agus R Rahman-LIPI. Sumarjono – STPMD “APMD” : Adnan-LP3ES.

Karena dibutuhkan tambahan modal. mestinya produk yang kompetitif yang sarat dengan teknologi. semakin banyak akses kepada uang semakin senang. omsetnya sudah sampai 2 milyar lebih (dalam satu kecamatan di Minomartani). Dalam konteks itu micro finance bicara disitu. merdeka. Lembaga keuangan yang ada selama ini seperti apa? Micro finance yang kita lihat selama ini sudah banyak di desa. alternatifnya bagaimana keuangan bisa dikelola. Jika disepakati. saya sudah buat seperti ini tetapi rentenir (pelepas uang) masih banyak berkeliaran. itu otonom. wawasan pengalaman tentang dua hal seperti itu. dia tidak bisa membeli teknologi itu maka dia butuh tambahan modal.Fasilitator Topik mikro kredit dan BUMDes. Artinya. Turunan dari topik yang dibahas disana tadi adalah bahasan tentang micro finance dan ada mandat dari UU 32/2004 atau PP 72/2005 yang kemungkinan dibentuk BUMDes di tingkat desa. Tentu saja forum ini nanti akan memberikan gagasan. Tambahan modal itu bisa merupakan kredit. tetapi tidak apaapa kalau kita sepakat. Dalam konteks desa yang kita lihat selama ini. Dimana mikro kredit ini salah satu aktivitasnya usahanya adalah BUMDes. Bicara tentang ekonomi desa salah satu indikatornya adalah ketika desa itu mampu membiayai kegiatankegiatan pemerintahan. Tantangan kedepan adalah produk desa. dst. dimana salah satunya melalui BUMDes dan mikro kredit. sistem kelembagaanya sehat. tetapi topic besarnya kita bicara tentang keuangan desa. Kenapa? Karena ternyata uang yang dipakai disini untuk membayar cicilan disana. Dia punya idealisasi. Salah satu dalam pasal itu. sehingga ketika bicara micro finance tidak boleh lepas dari bicara konteks ekonomi secara lebih luas. Kita kembali pada topik yang akan dibahas. Apakah pada skala individu yang memanfaatkan jasa micro finance juga meningkat kesejahteraan dan pendapatannya? Penelitian intensif tentang indivisuindividu sebagai nasabah utama belum dilakukan. Komentar saya. Bicara mengenai keuangan desa tentu saja ruang lingkupnya cukup luas. produk skala umum. ini dimaksudkan supaya lebih focus. tetapi pembicaraan kita adalah keuangan desa dan salah satu topiknya BUMDes. Ketika bicara keuangan desa. Teknologi itu mahal. “kuasai teknologi pasca panennya kemudian kita bicara proses usaha taninya”. bargaining posititionnya kuat. tetapi yang lebih penting adalah tantangan ke depan. Teman saya di Minomartani membuka koperasi simpan pinjam diantara warga perumahan di sekitar Jogja. Persoalannya. Kita tidak dikungkung dengan dua topic ini. bagaimana menggali sumber-sumber pendapatan asli desa? Saya mengusulkan forum ini juga seperti itu. Oleh karena itu lembaga keuangan yang akan dibentuk tidak bisa berdiri sendiri sebagai lembaga keuangan. Bahkan ada yang berpendapat bahwa paradigma pembangunan dibalik. dari segi system micro finance itu sehat. Oleh karena itu lembaga perkreditan dibutuhkan di desa dalam rangka mendukung produk yang berkualitas dan syarat dengan teknologi. Jadi uang itu muter. juga merespon apa yang telah disampaikan narasumber. belum dalam konteks yang lebih positif. pembangunan dan kemasyarakatannya. Barori Pak Lubis juga benar. Menggagas Desa Masa Depan 63 . maka dibutuhkan lembaga keuangan yang kuat. kita tidak boleh lupa bahwa keuangan itu basisnya produksi. kita bicara tentang keuangan desa lebih luas dan kita bicara pengelolaan keuangan desa pada dua level yaitu yang berkaitan dengan desentralisasi fiscal (ADD) dan didalam bagaimana kita mengelola keuangan desa. Ketika desa membiayai sendiri. sedangkan masyarakat mempunyai keterbatasan dalam mengakses teknologi. micro finance yang saya buka ini dalam rangka untuk menangkal rentenir-rentenir di pasar sekitar. Paling tidak dari arahan SC/panitia tidak diarahkan kesana. tetapi biar pembahasan tidak terlalu melebar. Kegiatan produksi bagian dari kegiatan ekonomi pedesaan yang selama ini ada. masyarakat sekarang ini justru senang. Micro finance menurut pandangan saya. adalah sebuah supporting system dalam sebuah perekonomian. tunggakan kecil kalau itu menjadi indikatornya.

Pada saat panen PPL sembunyi. sekarang di banyak daerah terutama di Jatim (Trenggalek. pembentukan dan pengelolaan badan usaha di desa. dia harus bersaing disana. Nanti kita bisa mendengar pendapat dari bapak-bapak. Dalam peraturan perundangundangan yang dimaksud disitu adalah Peraturan Daerah Kabupaten/Kota tentang pedoman tata cara. dan apa yang kita bicarakan disini kerangkanya tidak lepas dari apa yang tadi dibicarakan. Kami mereka-reka. Tawaran untuk diskusi awal. Sebenarnya dalam PP tetang desa sudah lebih focus lagi. memang dari sisi keuangan menjadi sustainable. Ke depan. beli bibitnya ke lembaga kredit (BRI). pokoknya uangannya kembali. Stefan Saya usul. karena cukup luas kalau kita lihat tantangan di sector riel. sudah ada Permendagri. Diskusi seperti ini sudah cukup lama. Untoro Tanpa membatasi pembicaraan. BUMDes dengan usaha simpan pinjam dan omsetnya sudah Menggagas Desa Masa Depan 64 . mudah-mudahan dalam waktu tidak terlalu lama bisa dikeluarkan sehingga pada saat daerah menyusun perda dapat digunakan. Jasa ini penting. Sehingga yang namanya perlindungan terhadap petani/masyarakat kecil/pelaku ekonomi kita kelihatannya setengah hati. dan kita punya banyak anggota yang consent tentang itu. sampai tingkat pasar dilepas. pasal 7881…. Kita dasarnya adalah pasal 213 UU 32/2004. jangan sampai dia melunasi hutangnya bukan karena berdasarkan nilai tambah yang dia peroleh dari aktivitas ekonominya tetapi dari menjual aset-aset produksi sekedar untuk melunasi hutangnya. Micro finance dan BUMDes. Kita perlu pengawasan eksternal. meminjam untuk tujuan investasi atau working capital apa saja. Kita harus memperhatikan yang seperti ini. Ketika petani bicara masalah teknis budidaya pertanian datangnya ke PPL. dan BRI hanya bisa mengejar untuk melunasi hutangnya. Ini awal untuk memancing diskusi lebih lanjut. Sidoarjo. karena proses mengatur BUMDes sudah cukup maju. Ini beberapa point yang bisa menciptakan resiko untuk BUMDes.petani/pelaku ekonomi di desa ada didalam berbagai macam “pembinaan”. baik bagi orang yang mau menabung. apakah mnicro finance tergantung juga pada roda perekonomian yang ada. Tetapi kita harus hati-hati kalau kita menerimakan kepada sustainability. Artinya ini sebuah boot yang mengakomodasi pelaku-pelaku ekonomi dalam melaksanakan produksi. karana BUMDes mempunyai potensi untuk menutup kesenjangan supplaydemand di tingkat desa. memang dua hal ini sangat erat. Kita bisa belajar. tetapi ketika sudah panen diserahkan kepada pasar bebas. apakah peran bank BPD menjadi penting didalam manajement BUMDes atau mungkin Bawasda atau ouditor publik ? atau mungkin tidak perlu karena bank BPD dimasa depan di desa menjadi lebih kuat akuntabilitasnya. tidak setengah-setengah. Kita memang berfokus pada BUMDes. Keterkaitan BUMDes dangan mikro kredit. karena pendekatannya efisiensi. Fungsi lembaga keuangan mikro terutama melakukan intermediasi keuangan di desa. tahun 80-an ada buku besar dari PSPK tentang Perkreditan Rakyat (almr Mubyarto dan Gunawan Sumodiningrat) mempertemuankan antara pendekatan efisiensi dan pendekatan efektivitas. Dan untuk Perda itu dapat disusun. kita focus ke sektor keuangan di desa. secara teknis harus untung (saved uang). tidak dalam sektor keuangan di desa. Artinya kelembagaan ekonomi mikro/keuangan desa menjadi untungnya sendiri. bagaimana sebetulnya institutional rised membentuk kelembagaan ekonomi yang betul-betul komperhensif. Ini yang disebut dengan pemberdayaan yang total. produksi dilepaskan. kalau kita bicara keuangan desa memang sangat luas. berdasarkan peraturan perundang-undangan. apakah namanya sustainable rural banking (dari kacamata teritoritik)? Kenapa sustainable rural banking ? karena hidup matinya (sustainable) bank. keuangan dari sisi pemerintahan desa. saat ini Dirjen PMD sedang mempersiapkan peraturan mendagri. pembiayaan sampai pemasaran. lebih luas daripada kredit. secara garis besar lembaga kuangan desa harus integrated. jangan sampai seperti sekarang. dll).

banyak pinjamnya. Kami mencoba mengangkat dari partial-partial yang ada karena di desa paling tidak ada >5 lembaga-lembaga ekonomi desa yang bisa dipayungi BUMDes.000. Padahal Perdes itu aturan hukum desa. Bahkan dana perimbangan desa (ADD) ujinya di Sumedang. Kami menyikapi bahwa untuk keuangan desa tidak sama dengan BUMDes. lumbung desa. Galian pasir (galian C) juga dikelola oleh BUMDes. Dari ADD disisihkan harus ada untuk modal BUMDes. tinggal di akta notariskan. Itu merupakan salah satu unit usaha BUMDes di desa. BUMDes itu harus dengan Perdes tetapi tidak bisa berhubungan dengan lembaga perbankan karena harus ada akte notaris. tetapi ini belum dipayungi oleh BUMDes. manakala go public pihak perbankan belum merespon. baru dari APBDes masuk ke BUMDes. sementara Perda turun belakangan. dan ada yang masih dalam perjalanan. Keuangan desa dikelola melalui APBDes. BUMDes bisa menjadi PAD desa. Contoh ada yang beli trakor dan laku disewakan. Ini harus kita ingat supaya tidak campur aduk. diangkat menjadi pengurus BUMDes. tetapi ADD itu masuk dulu ke APBDes di desa. dan khusus untuk lembaga keuangan mikro bulan Oktober 2006 akan dikeluarkan Peraturan Presiden tentang kebijakan nasional mengenai keuangan mokro untuk melindungi lembaga keuangan mikro yang nyata-nyata bisa menghadapi pelepas uang dan jumlahnya banyak untuk bisa beroperasional tanpa dianggap illegal. tapi setelah jalan menjadi pinjam simpan. (aktivitas sudah jalan tetapi payung hukumnya belum ada). Tadi disampaikan bahwa justru BUMDes ini yang jumlahnya puluhan ribu yang non bank dan non koperasi. Toto Kami akan memberikan gambaran apa yang telah kami lakukan di Sumedang. dari aspek legal dianggap tidak ada karena payung hukumnya tidak ada. Status badan hukumnya masih PERDES. Oleh karena itu. sebab lebih dulu praktek dimasyarakat daripada peraturan. sehingga ekonomi yang tumbuh di desa itu sudah ada. UEP PKK. Permasalahan. tapi satu sama lain saling mengkait. Yang dapat dimasukkan oleh kami ke BUMDes adalah unit simpan pinjam. dimana pembentukan BUMDes kami ambil dari partial-partial yang terbaik. mau beli lagi tetapi karena uang kurang maka harus pinjam ke bank. sama yang kami buat. dan warung nasi. dan usaha lain seperti persewaan hand traktor. Tetapi manakala disodorkan ke bank tidak akui. dari yang telah kami praktekkan kami mencoba mengumpulkan lembaga-lembaga keuangan yang ada di desa cecara partial. UEP PPK. ada yang sudah berjalan. sedangkan keputusan bupati turun th 2003. kalau lembagalembaga keuangan yang ada di pedesaan. ATK). NOleh karena itu nanti setelah terbentuk di Perdes. Pelaksanaan di kabupaten Sumedang. Depdagri sedang konsen pada BUMDes. Disepakati. jarang yang simpan. Ada aturan BUMDes. karena BUMDes aturannya/payung hukumnya turun belakangan. dari APBDes ke BUMDes. bagaimana aturan dengan praktek yang sudah ada. Sesudah Perdes jadi dan BUMDes sudah jalan.besar. nanti partial-partial yang ada di masyarakat bisa bubar. yang boleh menghimpun dana masyarakat itu hanya bank atau harus berbentuk koperasi. Jadi kita mengadopsi. bahkan bantuan gubernur (tugas pembantuan) diakses. Dengan itu maka Menggagas Desa Masa Depan 65 . Jadi tidak serta merta keuangan itu masuk ke BUMDes. Ini usaha-usaha BUMDes baik yang sedang kami rintis. apalagi di pedesaan. rekening dari masyarakat dilebihkan 1. Lumbung desa juga merupakan salah satu unit usaha BUMDes. Kenapa harus BUMDes? Karena untuk menjawab permasalahan. seperti ADD (di Sumedang disebut DADU: Dana Alokasi Desa Umum). pertokoan (fotocopy. Setelah terbentuknya BUMDes. Dengan regulasi kebijakan dari atas dapat diarahkan ke sana. bahkan kalau sudah jalan. kedudukannya sama dengan UU. harus ada akta notaris. kalau kita langsung mengenalkan BUMDesa. Kemudian untuk pemuda (karang taruna) untuk penagihan rekening air dan listrik dipayungi oleh BUMDes. seperti usaha simpan pinjam. satu desa ada 60 juta.

tidak semata-mata orientasi bisnis. sehingga pemiskinan akan terus berlangsung. saya mewanti-wanti bahwa kepemilikan BUMDes ini hanya elit desa (kepala desa dan aparat desa) saja. sekolah.ada peningkatan pelayanan masyarakat. Agus Dalam hal BUMDes. karena gudang yang dibangun diatas tanah kas desa. Masalah micro finance secara riel ini bagus sekali. Sofyan Persoalan. tidak haya aturan teknis saja. hampir tiap masa ada kelemahan nilai tukar terhadap industri. Persoalannya. Kalau petani tidak mau mengubahnya. tetapi imbas (pemasukan) ke desa tidak pernah ada. ini tentu akan sulit. Kenapa control desa terhadap tanah/petani hanya sebatas persoalan bagaimana caranya agar tanah ini bisa menghasilkan pendapatan untuk desa. bagaimana usaha-usaha seperti ini yang tidak berbadan hukum bisa memperoleh akses kredit? Juga usaha yang dilakukan desa. hal ini sebenarnya bisa untuk BUMDes. tetapi dengan pertimbangan. Apakah betul di desa sudah mampu untuk menabung? Ini masalah. Ada 12. tanpa ada kontribusi kepada masyarakat/warga desa. 53 juta/tahun). maka tanahnya diambil. kalau di desa petani (pertanian) terjadi pelemahan nilai tukar produk pertanian terhadap produk industri. Ada pengalaman saya. Kalau di pertanian jelas. maka saya penekanannya pada tabungan. Mungkin ini control. Ada keberpihakan politik yang melindungi nilai tukar. bahwa melihat tujuan micro finance sebagai intermediary tabungan dan kredit. sementara kepala desa berpikiran bahwa itu keuntungannya masuk desa. Selama ini banyak tanah-tanah kas desa yang dipakai oleh pemerintah pusat seperti untuk kantor polisi. dan saya pribadi setuju. dll. misalnya di desa ada mekanisme lelang tanah kas desa. tidak ada lagi persoalan belas kasih sosial desa terhadap petani. Oleh karena itu kalau akan dikembangkan micro finance harus didasari/diimbangi dengan politik keberpihakan pemerintah terhadap perlindungan petani yang kehilangan nilai tukar. Tanpa itu. Tadi dikatakan lumbung desa juga bisa menjadi badan usaha BUMDes. Kita juga harus lihat ini. gagasan intermediary untuk menciptakan tabungan dan kredit di desa mustahil. kenapa orang di desa sulit mendapatkan usaha? Salah satunya kurang mendapatkan akses kredit. Usaha-usaha di desa dilakukan tanpa harus berbadan hukum. ada mekanisme control dan orientasi kemanfaat pada masyarakat juga menjadi pertimbangan. maka dia tidak bisa menabung.5 ha tanah kas desa yang didistribusikan kepada petani (hasilnya sekitar Rp. Jangan sampai nanti BUMDesnya berkembang dan yang menikmati hanya elit-elit desa saja. Dalam diskusi ini. Widya Ada tanah kas desa yang dipakai dengan tujuan kembali ke masyarakat. Sebenarnya fokus (tujuan) dari awalnya adalah untuk penanggulangan/ pengentasan kemiskinan. di satu desa yang kepala desanya punya inisiatif membangun suatu gudang untuk menampung hasil bumi warga desanya. walaupun usaha seperti ini sudah banyak. Fasilitator Kalau kita bicara BUMDes. Bagaimana tanah yang dipakai itu dapat memberikan kontribusi pada desa? Menggagas Desa Masa Depan 66 . bukan hanya kebijakan. rencana pembangunan gudang ini kemudian diprotes oleh warga. Kalau kondisi petani yang terus mengalami nilai tukar produknya selalu melemah. Maksud saya. warga punya pandangan bahwa kepala desa bisa mengontrol itu untuk kepentingan pribadinya. saya pribadi mengharapkan juga politik keberpihakan yang jelas pada petani. Apalagi adanya keharusan aturan dalam BUMDes bahwa yang melakukan usaha harus berbadan hukum. puskesmas. tetapi ini tidak dimengerti oleh warganya.

ya tunggu 15 tahun lagi Negara kita ini sudah selesai. Otomatis mereka yang tidak punya KTP tidak bisa punya akses ke bank. Contohnya di seminar 2 hari ini. Semua ini pendekatan insidental. BUMDes itu sesuatu yang bagus. apakah mereka menjadi objek atau subjek? Bagaimana kita menyikapinya? Skema kredit. petani kita hancur. Usulan. kembalikan saja ke masyarakat karena mereka yang lebih tahu tentang kondisinya daripada kita.Mengenai BUMDes. masing-masing mempunyai institusi sendiri. Misalnya kasus UU Perbankan. bagaimana menjembataninya? Menggagas Desa Masa Depan 67 . misalnya soal pupuk. Sebenarnya perempuan itu terbukti bahwa pengembalian kredit itu rajin (kemacetan 99%). dimana agunan itu banyak dimiliki laki-laki. kearifan desa disana. karena sepertinya yang bicara desa itu hanya Depdagri sementara departemen yang lain tidak pernah melakukan affirmative terhadap desa. jadi tidak hanya di formal saja tetapi juga non formal. apapun bentuknya. Studi LP3ES sekitar 10 th yll (dipimpin pak Dawam). termasuk dari BPR pun atau MF yang paling kecil sekalipun selalu ada persyaratanpersyaratan yang sangat sulit diakses terutama oleh kaum perempuan. Jangan-jangan yang kita diskusikan ini apa yang sebenarnya menguntungkan elit desa. kalau pupuk di lepas dipasar bebas. (terjadinya dept capital). UU Koperasi tidak ada yang menyentuh sampai ke masyarakat desa. paling tidak ada suatu realita yang kita harapkan. 70% dikuasi elit desa. menunjukkan bahwa akses masyarakat terhadap pengambilan keputusan di desa. Hasil studi dari Bank Dunia membuktikan bahwa dengan memberikan pendidikan pada perempuan (meningkatkan pendidikannya dari SD—SMA) dapat meningkatkan 0. saya kira Indonesia sudah makmur. artinya harus ada perhatian khusus terhadap perempuan. kalau itu dikaitkan dengan micro finance bagi salah satu usaha BUMDes. 60% desa-desa di Jawa (Indramayu hanya 10% yang mengambil keputusan di desa itu) termasuk soal ekonomi. Adnan Negara ini tidak sekedar memproteksi desa tetapi harus affirmative action sudah saatnya dilakukan. tetapi bagaimana menyikapi BUMDes sehingga bisa sesuai dengan realitanya. saya lihat petani juga semakin parah. atau mereka (di desa) yang bahkan tidak punya KTP. Kalau tidak. tidak dari daerah. apakah desa terutama masyarakat desa menjadi pemasaran produk-produk termasuk produk perbankan ? Dalam kegiatan ini. pada sisi lain ada harapan kita apa yang seharusnya. saya lebih sepakat kalau kita kembalikan pada kearifan local contoh kasus di Sumedang. Tidak usah bicara partisipasi. kita sepakat tidak ingin menjadikan desa sebagai objek. tetapi departemen lainnya pro liberalisasi pasar. sudah harus menyangkut pada politik perUUan yang lebih konkrit terhadap desa. Firsty Kita ada di 2 kutub yang sangat berlawanan. Walaupun Depdagrinya jungkir balik.03% GNP. Ini yang perlu dipertahankan (jenis usahanya). Pengalaman ini sudah ada dimana-mana. termasuk skema kreditnya. harus ada skema khusus untuk kebutuhan-kebutuhan perempuan agar bisa memberikan nilai tambah. bagaimana kebijakan subsidi pupuk? Lebih parah lagi. (bagaimana akses perempuan) Fasilitator Saya menegaskan bahwa. juga soal tanah-tanah mati sehingga jangan salahkan orang Indramayu menjadi PSK di Jakarta. mungkin karena untuk mendapatkan kredit harus ada agunan. Belajar dari pengalaman itu. Apakah dengan BUMDes. untuk apa? Tetap saja petani mati. Sunarti Menyoroti dari sisi perempuan. semuanya harus affirmative. harus lebih jelas. bahwa di lapangan 60% pelaku usaha mikro kecil itu perempuan tetapi mereka kesulitan dalam mengakases kredit. karena ada problem seperti ini. jangan sampai ada penyeragaman.

Bagaimana “bank” menurunkan kadar formalitasnya mendekati pola-pola rentenir? “kalau rentenirnya masuk angin.000. cukup “kamu jualan disitu. dia jalan menggunakan mekanisme bank. Persoalan tentang micro finance. Mekanisme/trust seperti apa yang dibangun oleh rentenir sehingga mereka membangun jariangan cukup kuat? PSPK dengan Pemda Ngawai sedang membangun kerjasama untuk mencari pola-pola dasar (skim) dari micro finance. tetapi rentenir tidak membutuhkan itu. afirmatifnya seperti apa?. kami sudah meneliti tentang rentenir sampai saya mengkritisi kebijakan bupati Bantul. jangan sampai itu hanya urusannya PMD. Kalau nanti BUMDes masuk harus dibungkas dalam sebuah proses. bukan sebaliknya menjadi instrumen pengisap kekayaan. kenapa Pemda Ngawi tidak gunakan BUMDes untuk mengatur micro finance di desa? Ini menarik untuk coba diaplikasikan. Unit usaha BUMDes harus yang realitas muncul. silahkan gratis. jalan tidak? Indonesia itu tidak hanya Jawa. karena nanti yang terjadi hanya papan nama saja. bagaimana memperlakukan uang sebagai pelaku bukan object? Itu yang harus kita perhatikan. Itu nanti justru akan menjadi konflik. ini tidak pas. sehingga dikembalikan. Kemudian si ibu mendatangkan poliklinik di rumahnya. bahwa nanti akan ada Perda. tiap desa harus muncul BUMDes. Kasus yang menarik. yang nanti akan membawa kesejahteraan bagi masyarakat. bagaimana di daerah lain (Kalimantan)? Apakah mereka sudah mampu untuk mengalami proses monoterisasi. tetapi juga bisa mendatangkan poliklinik. dan ternyata kendalanya sama yaitu persoalan landasan hukum. Karena selama ini dana yang dikucurkan dari atas sampai ke bawah variasinya sangat luar biasa. Tentang kehutanan. Justru kami akan menggunakan instrument itu sebagai sodoran. bukan dipaksakan muncul. Suharman Saya merespon tentang BUMDes dengan membandingkan kita dulu pernah punya KUD. Kita coba memakai kelompok tani hutan. perlu ada koordinasi dengan sector-sektor yang lain. misalUU kehutanan. Saya menggarisbawahi bahwa: (1) jangan sampai BUMDes itu justru menjadi instrument bagi capital besar yang menghisap desa dan (2) BUMDes jangan sampai menjadi sebuah instruksi yang wajib dialkukan di tingkat desa tanpa ada kegiatan yang riel di masyarakat itu. Masih ada PR-PR bahwa dari tingkat nasional sampai ke desa yang sampai sekarang masih menjadi problematic. Ini kan lintah darat yang sangat manusiawi. Karena dulu surat Mentri Kehutanan berkali-kali ganti sampai sekarang tidak ada kepastian tentang itu. karena terbukti (dari LP3ES) bahwa yang menguasai perekonomian desa hanyalah segelintir orang. Kerangkanya harus ekonomi kerakyatan. harus kita lihat kemampuan desa menjalankan BUMDes. Jadi sistem ekonomi kerakyatan ini yang harus kita kawal. ada seorang ibu yang membuka penggilingan gabah di kecamatan Pleret. Saya sepakat dengan teman-teman bahwa jangan sampai kita nanti menjadi paket kebijakan. 2 tahun terakhir saya bergulat dengan petani hutan dan desa-desa yang mengepung hutan itu miskinnya luar biasa sehingga mereka menjarah hutan. dia punya cukup banyak beras dan dibagikan ke petani tetangganya. bagaimana seorang penggilingan beras bisa mendatangkan poliklinik dari luar untuk buka prakatek di sini. Menggagas Desa Masa Depan 68 . Kami berani menjamin bahwa itu pasti akan ada banyak ganjalan. 10. ini cukup Rp.Jenis usaha. Bagaimana masyarakat bisa memanfaatkan potensi yang ada didesanya untuk menjadi usaha itu terhalang oleh aturan-aturan sektoral yang lain. mana yang kira-kira pas? Seperti yang disampaikan mas Untoro. tetapi tetangganya itu ditanya “apakah beras itu sudah sampai?” Dan mereka tersinggung. saya menulis “Bupati versus rentenir”. belum terselesaikan. dan betul-betul menjadi bagian dari supra ekonomi desa. dikerokin juga sama yang ngutangi!”. siapa mau berobat. nanti kembali sekian”. BUMDes jangan sampai menjadi instrument/kapitalisme di desa yang akan memporakporandakan tatanan di bawah. hanya sekedar untuk menunjukkan bahwa dia itu bukan hanya orang yang bisa membagian beras. Nanti hutan di Jawa juga habis karena kita tidak bisa mengelola ekonomi desa hutan. Kenapa? karena bupati menggunakan bank pasar (beroperasi pada level pasar-pasar desa). Saya berpikir.

kabupaten (melalui bupati) harus mengalokasikan dananya (berapa % dari APBD) untuk pengembangan ekonomi yang dialokasikan untuk modal BUMDes. yang cirinya adalah ekonomi yang berpihak pada rakyat. Sampai sekarang dari > 4500 BUMDes. misalnya hutan. Justru Depdagri bertujuan menembus kebuntuan untuk mengatasi itu. (3) tersedianya sumberdaya manusia yang mampu mengelola badan usaha sebagai asset penggerak perekonomian masyarakat dan (4) adanya unit-unit usaha masyarakat yang merupakan kegiatan ekonomi warga masyarakat yang dikelola secara paksa dan kurang terakomodasi. tapi juga berfungsi social (visi dan misi jelas). Usaha-usaha ekonomi masyarakat yang kurang terakomodasi. maka perlunya disini bagaimana bisa menjembatani ? Fungsi utama BUMDes adalah (1) fungsi social. Yusuf Saya sepakat bahwa harus ada mekanisme control untuk mengatur posisi modal. Untuk bisa mengoptimalkan peran BUMDes. Karena ujung-ujungnya siapa yang berkuasa atas BUMDes? Apalagi ini rentan terhadap sumber daya bersama. usaha ekonomi desa simpan pinjam juga maju. Pengelolaanya bagaimana? Itu diserahkan daerah. bahkan assetnya sudah 1 milyar. Pengawasan dilakukan oleh BPD dan Bawasda sepanjang bantuan modal/aset2 daerah). karena koperasi ada keterbatasannya hanya dari. sementara kalau bank kelemahannya pada persyaratan. seharusnya sudah jadi BPR tetapi tidak mau. Ini yang di back up oleh GTZ ProFI. Dan pengawasan keuangan oleh auditor independent. bentuk yang tepat untuk dasar hukum BUMDes adalah koperasi. di Sidoarjo justru tanah kas desa ini yang digunakan sebagai modal BUMDes. kurang terpayungi secara hukum. Mengenai hutan. Prinsipnya. Saat ini dalam UU baru dimana koperasi sudah diakui sebagai badan hukum yang legal untuk bisa mengakses ke bank. Untoro Kami menyusun PP itu berdasarkan kondisi di lapangan. Menggagas Desa Masa Depan 69 . Depdagri bertangungjawab terhadap LKM-LKM yang non bank dan non koperasi. Kemudian dimana mikro finance masuk? Tadi dikeluhkan bahwa permasalahnya tidak bisa akses ke bank. UKM kurang bisa mengakses kredit bank. Kalau itu bisa. Tetapi jangan sampai BUMDes itu komersil. Bisakah bupati/walikota memberikan jaminan kepada pengusaha-pengusaha kecil yang dinilai layak untuk meminjam ke bank. Celakanya dengan diserahkan ke daerah justru banyak dijumpai illegal logging. Alur tembusnya melalui pasal 213 UU 32/2004 dan PP 72/2005. Informasinya di Bantul BPRnya maju. kalau itu kekayaan desa harus dikembalikan ke desa karena banyak pasar desa yang sudah berkembang justru diambil kabupaten. Prinsipnya. (2) harus ada kedaulatan rakyat (kedaulatan pangan terhadap sumber daya bersama). disitu menyebutkan tentang jasa keuangan. maka tidak akan ada masalah rentenir. tidak ada satupun yang mau menjadi BPR. Yang dimaksud kebutuhan dan potensi desa ada 4 (empat) hal yaitu (1) Kebutuhan masyarakat terutama dalam pemenuhan kebutuhan pokok. itu yang kita lindungi. Permasalahn kredit sudah sejak lama. jadi BUMDes saja. hutan itu milik Negara dan dikelola Negara. Ini juga diakui oleh Bank Indonesia. tidak dijual. Kepemilikan. Nanti konsekuensinya.Edward Untuk mengatasi monopoli kepemilikan. Mengenai tanah kas desa. (2) tersedianya sumber daya desa yang belum dimanfaatkan secara maksimal terutama kekayaan desa. jelas dikelola oleh pemerintah desa (sebagai penasihat) dan masyarakat. dan pusat hanya kebijakan. “Bupati vs rentenir” di Bantul. tidak dipaksa. oleh dan untuk anggota. Di dalam PP 72/2005 disebutkan bahwa pembentukan BUMDes disesuakan kebutuhan dan potensi desa. Jangan sampai kalau bisnis itu sudah kapitalis. ekonomi masyarakat itu juga boleh bisnis. Kalau pasar desa itu jelas merupakan kekayaan desa.

lebih memberdayakan pada perempuan. jangan disamaratakan perempuan itu lemah. uang dari pemerintah diberikan langsung kepada NGO untuk dikelola. Mengenai BUMDes perlu ditambah dengan: 1) fasilitasi (dari Depdagri). sehingga mereka dapat berhubungan secara legal dengan bank. kemudian di deposit (tabung) di bank (fungsi intermediasi). Apa yang terjadi? Mereka tidak mengembalikan karena mengaggap “itu uang rakyat”. Tiga ketua UPK di kecamatan adalah perempuan. pemerintah bekerjasama dengan NGO. Karena ketika micro finance itu memudahkan kredit bagi perempuan justru nanti akan melemahkan perempuan. 2) pelatihan dan 3) pendampingan (bisa dari Depdagri kontrak sarjana yang ada didesa sehingga bisa merekrut tenaga kerja di pedesaan). Sunarti Contoh pengalaman di Malaysia. Pemerintah Malaysia pernah memberikan dana untuk taskin tetapi dikelola sendiri. koperasi itu bukan bank. kalau berfungsi seperti ini otomatis ada perlindungan. sedikit susah untuk LKM karena asetnya terlalu kecil. Ini menjadi ramburambu. Fasilitator Prinsip yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa usaha itu harus berpihak pada rakyat dalam kerangka ekonomi kerakyatan.Barori Masalah kelembagaan. karena survey membuktikan bahwa kredit usaha simpan pinjam yang dilaksanakan oleh perempuan lebih baik daripada yang dilaksanakan oleh laki-laki. apakah di BUMDes ketika terjadi pailit ada yang bisa bertangung jawab? Ini problematik yang tidak bisa diputuskan dalam forum ini. Kalau ini membahayakan harus ditolak. LKM hanya berfungsi seperti handle agency. Seperti ini ada linkage program. Prinsipnya. Apakah ini perpanjangan tangan. salah satu problemnya itu. masyarakat langsung control. sehingga mereka rajin mengembalikan. Ketika masih pada skala kecil tidak apa2. kepastian hukum. apa bedanya? Ini merupakan hal kritis yang perlu menjadi perhatian kita. Dan rakyat/masyarakat tidak lagi menganggap bahwa itu uang rakyat. Kalau sekarang ada pintu/jendela yang disediakan seperti LKM. dasar hukum LKM harus ada. kalau asetnya sudah sekian juta harus menjadi BPR? Maka tawaran koperasi itu mungkin menarik. Widya Bagi saya. Sebagaimana bank yang lain. mereka menerima uang di masyarakat. Solusinya. Adnan Kebijakan tata pembaharuan desa termasuk micro finance harus link and match dengan upaya pengentasan kemiskinan. Menggagas Desa Masa Depan 70 . Pengawasan juga kuat seperti bank. (tanggung renteng) Fasilitator Kenapa PMD berani ? mungin karena ada support dari GTZ Pro FI. Dalam micro finance harus ada rambu-rambu yang jelas. Bagaimana keamanannya? Kalau nanti pintu masuknya hanya ke bank. Strateginya. tapi koperasi seperti apa? Toto Saya mendukung ibu dari pemberdayaan perempuan. Suharman Simpan pinjam itu justru controlnya social. asetnya sudah 1 milyar lebih. Stefan Mengenai perlindungan tabungan. Jadi perlu disisipkan. bagaimana cara mengelola kredit mikro. Kalau kita lihat draft UU LKM.

sebagai pengembangan ekonomi desa untuk menghindari pertarungan modal besar • menjadi subjek dalam peksanaan pelayanan bukan menjadi objek. • sebagai affimative action. • kepemilikan oleh rakyat. dan pendampingan maupun pemberian modal • berfungsi sebagai intermediasi (LKM) • harus diikuti dengan keberpihakan politik yang jelas • khusus untuk LKM ada skim khusus kredit yang dekat dengan rakyat (belajar dari rentenir) • ada jaminan afalis (kalau dibutuhkan) dari pihak-pihak tertentu untuk menghindari akses modal yang rendah • ada mekanisme dan komposisi kepemilikan modal yang jelas Semua itu tidak boleh lepas sebagai sebuah upaya sistemik dalam pengentasan kemiskianan. • ada alokasi dari dana APBD. • harus ada badan hukum yang jelas dengan orientasi kerakyatan. menghindari kooptasi elit • harus memberi ruang dan bertumpu pada inisiatif dan kearifan local. pelatihan. Rambu-rambu BUMDes atau MF seperti apa? • dilihat dari basis pada kemampuan dan pengalaman desa agar tidak dibentuk berdasarkan penyeragaman.Fasilitator Kesimpulan diskusi : • Identifiaski pengalaman terkait dengan bagaimana pengembangan ekonomi desa melalui BUMDes dan LKM. di masyarakat lokal tentu sudah banyak program-program yang terkait dengan dua hal itu. Dan ada anggapan bahwa uang dari pemerintah tidak perlu dikembalikan. harus dibentuk berdasarkan aktivitas riel. • Perlu adanya MONEV dalam pelaksanaan. • ada kejelasan tatalaksana manajemen. perpanjangan tangan usaha-usaha besar (bank) atau usaha lain. Dari pengalaman itu. tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah khususnya pengembangan UKM (tidak ada “proteksi market”). • ada regulasi (peraturan) yang mendukung sehingga usaha pengembangan ekonomi desa ini bisa berlanjut. • memberikan perhatian pada masalah-masalah perempuan. selain usaha bisnis harus ada: • pemberdayaan: bentuk bisa fasilitasi. • ada pengawasan yang jelas. termasuk affirmative action lintas sektoral. • ada mekanisme control dalam pelaksanaan dan mengedepankan manfaat untuk rakyat (kesejahteraan rakyat). • Problematika: selama ini masyarakat kecil khususnya perempuan tidak mendapat fasilitasi yang cukup. Kita mencoba membuat tawaran dengan dua institusi yaitu BUMDes yang salah satu didalamnya ada micro finance sebagai alternatif pengembangan ekonomi desa. • ada kejelasan hukum berbasis pada potensi ekonomi rakyat. Menggagas Desa Masa Depan 71 . • Tidak ada aspek payung legal : koperasi dan bank • Akses terhadap modal dan informasi rendah Ini semua merupakan problem kemiskinan yang ada di desa. Dari sisi LKM atau BUMDes.

. Silahkan kalau ada yang ingin berkontribusi menindaklanjuti hal itu. Irwan-Letmindo/GTZ Aceh Fasilitator Ibu dan bapak sekalian.. Salini-DSF. kalau saya beri kesempatan lagi dia akan presentasi lagi. Pak Sadu sudah panjang lebar. Widyohari-STPMD “APMD”. inkonsistensi. dari dulu saya tidak tahu ini kemana dan kaya apa. Wa’i-Lakpesdam. Ini tadi diskusi yang berkembang yang kita bahas di sessi kedua. Untuk itu. Sadu Terima kasih. topik kedua mengenai tata hubungan desa dengan supra desa. Franky-AMAN. Azam-Pemdes Kebumen. yang penting yang harus dirubah. Kalau Pak Sadu ingin menambahkan point-point yang lebih tegas. Nurwafi-BPD. • otonomi itu bentuknya bagaimana? • representasi desa itu bagaimana? • persoalan kedudukan desa. Tetapi yang terjadi dalam praktek. Steny-HUMA. sesuai saja. tapi yang penting kita bicarakan adalah desa sebagai kesatuan masyarakat hukum. dibuat mengambang. cuma desentralisasi dalam konteks desa ini arahnya kemana. supaya out put yang kita hasilkan dari diskusi kelompok ini adalah bagaimana mempermudah kita dalam rangka membantu kita semua. khususnya Depdagri dalam rangka menyusun naskah akademik tentang pengaturan mengenai desa. Bagaimana seharusnya pengaturan hukum mengenai desa? Dalam bingkai NKRI sebaiknya dihapus saja dulu. Sadu dan Pak Ibnu Tricahyo hadir bersama kita.. Haryo Habirono – FPPD 2.5. Mas Ibnu sudah panjang lebar. Jayus-UNEJ. untuk tidak mengatakan salah. dan ada komunitas-komunitas tertentu. saya kira dengan yang kita bahas tadi. sementara di dalam kepanitiaan disini ada beberapa kisi yang mungkin juga mudah dipandu-arah diskusi kita. terima kasih atas kehadirannya di ruangan ini.. hubungan kerja. desentralisasi dari pemerintah pusat itu seakan menimbulkan sentralisasi kekuasaan di pemerintah daerah. Dalam pengertian desa itu sendiri kita harus tahu ada pemerintah desa. bukan hanya sekedar pemerintah desa. nanti eksplorasi lebih jauh bisa kita lakukan. Artinya kalau Pak Ibnu ingin mengatakan secara tata kenegaraan UU 32/2004 itu salah demi hukum. Toro-STPMD “APMD”. Riawan Tjandra – UAJ Jogjakarta : Prof. Sadu–STPDN. bahwa: • pengaturan desa itu menjadi sangat penting. Jadi ini dilema. Dua pembicara Pak Prof. . Widya-FPPM. Kelompok: TATA HUBUNGAN DESA DENGAN SUPRA DESA Fasilitator Peserta : 1. juga ditangan pemerintah desa. kita akan bersama-sama menindaklanjuti diskusi yang sessi kedua tadi. Elke Rapp-DRSP. kami persilahkan kalau ada yang ingin berkontribusi. sedikit semampu saya membuat catatan ini ada beberapa point yang tadi juga telah disampaikan oleh moderator. padahal kalau kita mau bicara desentralisasi ya daerah dan desa. BPD. melengkapi apa yang sudah disampaikan tadi. Tadi ini masih ada beberapa perbedaan kedudukan desa di dalam UUD 1945 yang diamandemen dengan kedudukan desa di dalam UU 32/2004 ini beda. kami persilahkan saja. Ibnu–Unibraw. Menggagas Desa Masa Depan 72 ... • konsep-konsep perwakilan daerah. karena tadi waktunya pendek. pola kerjanya bagaimana. berpendapat. Jadi kalau bicara tentang pembangunan ekonomi dan sebagainya lebih banyak berkait dengan komunitas-komunitas itu. dalam konteks tata hubungan desa dengan supra desa. kan begitu. nanti diskusi akan berkembang lagi. Saya kira itu. Terus hubungan desa dengan supra desanya itu sendiri. mungkin saya sampaikan.

munculnya undang-undang desa dan itu akan mendorong juga kedudukan desa yang lebih jelas. sekarang tidak ada. dia tidak digaji. tetapi juga kebijakan yang lebih konkret. Jadi desa mengatur tentang kedudukan desa itu sendiri. mengenai Undang-Undang tentang Desa ini. desentralisasi kepada desa itu bentuknya seperti apa.. artinya sudah ada regulasi mengenai keberadaan dan peran masyarakat adat. Dan untuk desa diminta naskah akademik. kemudian siapa yang mau bekerja di desa? Padahal kita bayangkan ada pemberian kewenangan yang besar. Barangkali ini bisa menjadi semacam model. saya harus informasikan karena ini informasi juga saya dengar dari orang yang harus saya percaya yaitu dari Depdagri sendiri. tapi kedudukannya tidak jelas. saya tidak tahu. Merupakan suatu keharusan kalau kita membiarkan desa seperti bentuk-bentuk yang lama. larinya pengganti ekonomi. khususnya untuk pengaturan. Franky Menurut saya tidak hanya regulasi. bahwa undang-undang tentang Desa kedepan harus diinikan. Pertemuan ini dimaksudkan dalam rangka mengisi. kemudian begitu selesai ya selesai tidak ada pensiun. pegawai desa itu kedudukannya seperti apa? Ini sampai sekarang tidak jelas. dia menjadi mata rantai yang terlemah dan akan tersisihkan. sudah ada komitmen politik bersama Komisi II DPR bahwa kedepan akan ada Undang-Undang tentang Desa. apakah pemerintah desa adalah organisasi pemerintah sesungguhnya? Dia menjalankan fungsi-fungsi. Masyarakat hukum dengan masyarakat hukum adat berbeda.. Fasilitator Jadi supaya kita lebih fokus. tapi memang ini hal khusus yang dibicarakan mestinya dalam ruang dan waktu Menggagas Desa Masa Depan 73 . Ini barangkali masalah pokoknya disini Widyohari Saya nyambung Prof. tapi kalau kita lihat data. karena orang-orang desa yang berkualitas sudah tidak mau jadi perangkat desa. Paling sedikit per-Oktober Mendagri mendapat PR dari Komisi II DPR untuk menyerahkan atau mempresentasikan draf awal naskah akademik. bukannya masyarakat adat tidak prnting. buktinya sudah ada tapi pemerintah daerah tidak bisa apa-apa. Saya bertanya. dan itu bisa nampak dari diberikannya ADD yang besar juga program-programnya. memberikan masukan sekaligus itu adalah ajang advokasi kita dalam penyusunan naskah akademik mengenai desa. yang dipungut adalah iuran. Kalau saya ngomong begitu mungkin tersingggung. tapi orang yang bekerja di desa adalah orang-orang yang mohon maaf kalau saya katakan tidak berkualitas. akhirnya gubernur setuju. Ini lebih memberi peluang. Mohon maaf. Saya ngomong sama gubernur itu akan menjadi omong kosong kalau desanya tertinggal. anggaran banyak. hanya hal itu tidak dilaksanakan. Kalau tidak salah SK Menteri Kehutanan menjelaskan soal masyarakat hukum adat. sehingga bisa mengatur tentang pengaturan dan kedudukan desa. fungsi-fungsi yang sudah dijalankan oleh desa. nah ini menjadi babak baru. otonomi desa yang sebenarnya juga akan semakin jelas.. Jadi sebelumnya. waktu itu Gubernur Jawa Barat bicara tentang provinsi termaju di Indonesia. Fasilitator Saya potong sedikit. Cuma nanti kembali kalau kepada kedudukan organisasi yang tidak jelas. kewajiban-kewajiban pemerintah. mungkin untuk memperkuat kedudukan tadi saya sepakat dengan Pak Ibnu. kayaknya sebelumya membuat undang-undang tanpa naskah akademik. bisa mengatur pilkades yang baik. Ini kayaknya konteks yang kita bahas berbeda. Saya menawarkan gagasan. Ada beberapa di kabupaten yang seperti Sumedang dan Bandung.Desentralisasi kepada daerah jelas. Nah ini akan menjadi dilema. kalau dulu masih ada pengganti asusila. saya lihat visi dari kepala daerah dalam membangun kabupaten berbasis desa. tidak boleh memungut pajak dan retribusi atas dirinya sendiri.

Ini saya antisipasi kalau terjadi suatu permasalahan hukum. dari bawah. Kalau kita mengembalikan self community governance apa gunanya kita diskusi tentang itu lagi. apakah ini semua? Apa dan bagaimana struktur yang akan dilaksanakan. ini mungkin kita bahas asas-asasnya saja. itu menjadikan aspirasi ini apa artinya. Kalau ada desa langsung dari pemerintahan. saya kebetulan dari orang pemerintah. Nah sekarang kita ingin fokuskan supaya kita mencapai apa yang tadi dilontarkan Pak Sadu dan Pak Ibnu. yang namanya kaur pembangunan selamanya kaur pembangunan. apakah masih perlu atau mungkin dengan badan kerjasama antardesa atau langsung kabupaten. saya pikir apa konsekuensinya. Karena kalau semua sudah diatur. Kita diskusi mengenai local state government. dan self government community. apakah local self governance. step by step. Kita pernah mencoba pada penyusunan perda 2004. kaur umum dengan prestasi yang bagus bisa menjadi sekdes. local state governance. Usulan-usulan dari masyarakat banyak dan bagus dan itu saya masukan. Azam Terima kasih. Itu sudah ada usulan dari kawan-kawan. Akhirnya hal itu menjadi kekhawatiran dari masyarakat itu sendiri oleh UU 32/2004. kami mengundang sembilan ratus dua puluh orang. adatnya masih kuat. tidak serta merta langsung kita berhentikan. Artinya mekanisme ini tolong. minimal kalau ada sekian provinsi. Franky Artinya itu mementahkan diskusi kita yang kemarin dengan Pak Eko. dari legislasi. kita kembali ketiga tipe desa. tapi itu masih kurang. kecamatan. jangan terlalu detail. kemudian struktur organisasipun jangan diatur. dan ini membuat undang-undang yang akan dilaksanakan dan bersifat nasional. Kalau ada self gonernance kita harus lihat peran kecamatan. lima struktur itu bebas saja. kami melontarkan bahwa ada garis dalam struktur pemerintahan desa. Konsultasi publik saya tahu. Pak Eko cukup jelas membuat tipologi desa dari hasil-hasil studinya. Sekarang saya melakukan perubahan perda. tipe 2) Desa Campuran yang adatnya sudah mulai pudar. atau self community governance. dan 3) Desa Teritorial yang adatnya sudah tidak jalan karena masyarakatnya heterogen. ada self community governance. untuk melihat struktur apa akan dipakai. masa jabatan tidak usah diatur. bisa dengan penurunan pangkat. local self government. Kalau kita mulai dari tingkat desa. jadi semua provinsi bisa mengetahui kalau ada proses. ada local state governance. Fasilitator Kalau tadi kita bicara tentang otonomi itu mungkin akan menjadi berbeda dengan yang kemarin.yang khusus. Pak Prayitno mengenai kedudukan desa. Ini lalu memang tipikal otonominya menjadi berbeda. Jadi namanya desa nanti akan ada lima perangkat. apakah disitu adat istiadat masyarakat yang tradisional masih ada atau tidak ada lagi desa. ada sanksi disitu. sudah jenuh juga. mungkin struktur ini akan berbeda lagi. Elke Usulan tadi bagus sekali. ini agak beda. tapi kita juga jelaskan juga usulan anda tidak bisa masuk kesini karena nanti akan berbenturan dengan peraturan. Fasilitator Ya. yang namanya sekdes sampai mati tetap sekdes. Dari dulu desa deperti ini terus. Sadu Kalau dilihat dari jenisnya ada tiga: 1) Desa Geneologis. Dalam undang-undang nanti. katakanlah sekdes terkena masalah norma sosial. dimana desa yang masih homogen. Menggagas Desa Masa Depan 74 . Kita sedang membicarakan masyarakat hukum. local self governance.

selama ini hanya instruktur. apakah yang disampaikan berdiri lepas dari sistem pemerintahan kabupaten atau masuk sebagai sub-sistem pemerintahan kabupaten? Kalau Pak Ibnu tadi tidak mengatakan. Dalam UU di level nasional misalnya justru dikatakan sebagai kewenangan pusat atau daerah.. Atau sebaliknya. Jadi kalau nanti dibawah atau bagian langsung dari kabupaten.. apa mau kawan-kawan di level bawah. Kaitannya dengan posisi desa dengan supra desa. bagi kami orang desa sebenarnya tidak tertalu prinsip. Itulah yang mungkin bagi kita selaku orang desa akan lebih mencerminkan hak-hak kita di semua aspek kehidupan berbangsa dan bernegara akan lebih terjamin? Sehingga kalau akan diturunkan sebuah undang-undang atau tidak. kami sebenarnya dari desa selalu memberikan masukan-masukan yang positif mengenai keberadaan lurah-desa. Soal aturannya tidak perlu terlalu ‘jlimet’. Nah itulah yang saya kira butuh kerja lebih keras lagi. kalau memang terpisah dan itu lebih memberikan keleluasaan terhadap hak-hak kita sebagai orang desa maka itu akan lebih bisa menjamin bagi desa. sangat bagus menyangkut perbedaan antara desentralisasi kepada desa dan desentralisasi kepada daerah. self governing community memang seperti yang dikatakan Pak Sadu. kabupaten atau kecamatan bagaimana unsur-unsur itu sebagai fasilitator. Saya hanya mau menghubungkan saja konsensi yang sudah dibicarakan itu dengan rencana atau kemauan kita kedepan. tapi beberapa waktu sering mengatakan otonomi desa itu kan otonomi di dalam otonom. Kemudian sentralistik.istilahnya desa itu sangat tergantung kepada kabupaten. Saya ambil contoh dibeberapa desa misalnya mereka buat perdes. Fasilitator Saya ingin klarifikasi dari Pak Wafi. penyeragaman. Coba berusaha lagi melihat dinamika seperti apa yang sudah dibangun selama ini pasca UU 22/99 dan pasca UU 32/2004. Kemudian kalau bicara soal desa berdasarkan pengakuan maka saya baru membayangkan kalau desa yang kita bicarakan kemarin. Saya kira desa dan pemerintah kabupaten tidak menerjemahkan kedua UU itu lurus-lurus seperti apa yang kita bayangkan. asas-asas yang sangat prinsip bisa kita terima sebagai hak. Kepada desa itu kira-kira berdasarkan pengakuan mungkin lebih mirip dengan Pak Ibnu bahwa kepada desa itu berdasarkan hak. bicara kualitas sumberdaya manusia itu penting. mereka punya suara dan bicara soal dinamika lokal seperti apa yang sudah mereka buat. kami tidak terlalu pusing apakah sebuah bagian dari pemerintah daerah atau berdiri sendiri. Steny Saya hanya melanjutkan apa yang sudah dikemukakan. yang prinsip bagaimana hak-hak. dan perdes itu sulit kita bayangkan dalam hal kewenangan. dan saya kira kawan-kawan dari pemerintahan desa ada disini. mungkin dalam pikiran normatif.Diharapkan dalam diskusi kelompok ini bagaimana nanti itu diatur dalam undangundang yang baru. sehingga tidak perlu menyangkut nanti apakah undang-undang atau hanya sekedar revisi bukan hal yang seperti dulu lagi. yang penting prinsip-prinsip sebagai sebuah desa itu tercover. Oleh karena itu memang selama ini punya pengalaman bahwa bagian dari kabupaten adalah kecenderungan-kecenderungan yang. bagaimana otonomi desa yang disebutkan dalam konteks pemerintahan kabupaten. komando. tapi oleh perdes kemudian bisa diambil alih oleh Menggagas Desa Masa Depan 75 . tapi pasti ada asas-asas penting atau dinamika-dinamika lokal penting yang kira-kira akan keluar menjadi argumentasi kita di level nasional. yang diharapkan adalah hak-hak prinsipnya yang diperoleh. selama bisa memberikan suatu jaminan-jaminan hak desa bagi kita tidak terlalu prinsip. Nurwafi Prinsipnya. sehingga berhasilnya desa itu kuncinya memang di tingkat kabupaten. tapi saya justru melihat itu jangka panjang. Nurwafi Terima kasih.

yang merupakan kewenangan pemerintah kabupaten memberikan ijin. Pada sisi yang lain kemudian memang bersilangan dengan pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya sektoral di tingkat kabupaten. karena perda dalam satu kabupaten dengan kabupaten lainnya tidak sama. pendidikan dan sebagainya. Memang desa memiliki perangkat organisasi yang seperti dimiliki oleh kabupaten. Jayus Sebenarnya persoalan desa itu kembali lagi pada persoalan konstitusi. saya merasa bahwa pembicaraan ini sebenarnya mengenai tarik ulur antara support yang diberikan oleh supra desa dengan kemandirian desa. dan banyak pegawai kecamatan menyusun program desa dan dirumuskan setelah ada ketentuan atau ketetapan mengenai APBD. atau kalau ada investasi. Wa’i Terima kasih. ini desa kita yang menggaruk gatal ditubuh sendiri tetapi muternya itu harus kemana-mana dulu. misalkan mana yang menjadi institusi desa sendiri dengan institusi sektoral di tingkat kabupaten. Nah ini nanti juga akan menimbulkan persoalan baru. karena di banyak desa program-program desa disusun atau dirumuskan hanya oleh institusi di atasnya. Pemerintah provinsi dan kabupaten sudah harus bisa melihat itu. saya tidak punya suatu keyakinan apakah pembuat UU nanti berkenan. perijinan dan sebagainya masuk. Jadi ini nanti secara aspek politis juga harus dipertimbangkan bahwa desa sebagai satu kesatuan hukum memiliki aspirasi (dalam musrenbang dan Menggagas Desa Masa Depan 76 . Jadi self governing community itu berlaku untuk daerah mana. Ini menyedihkan dari satu sisi aspek kemandirian. adalah keinginan mereka misalnya kalau ada orang luar masuk. Seandainya ada gagasan untuk melapaskan. lebih spesifik lagi.kewenangan desa. Oleh karena itu didalam UU nanti yang hendak diatur adalah hal yang dianggap penting secara umum dalam UU tentang desa. Anda itu tidak bisa merusmuskan sendiri. Jadi impian saya kalau kita bicara dari self governing community maka pembicaraan soal hak otoritas mereka itu menjadi salah satu muatan dalam UU kalau kita mau merekomendasikan. Fasilitator Kalau saya menangkap. orang akan mengatakan ini semacam cek kosong. sepanjang konstitusi itu tidak menempatkan desa menjadi yang harus diatur dalam konstitusi maka selamanya tidak akan menjadi keharmonisan. Ini juga yang kemudian harus dimasukan dalam kebijakan bagaimana menumbuhkan desa dalam struktur ini. tapi hal yang tidak ada dalam bagian dari UU itu perlu diatur dalam perda. taruhlah ada kebijakan-kebijakan yang harus ditempatkan proporsinya secara tepat. Contoh di diskusi kemarin soal inpres. Jadi antara otonomi desa dengan segala kemampuannya meskipun tadi Prof mengatakan bahwa pada realitasnya SDM di desa sangat memprihatinkan. Saya kira bisa menjadi rekomendasi kita kedepan bagaimana mengatur hubungan antara komunitas-komunitas lokal yang disebut self governing community dengan pemerintah daerah. lalu mau kita apakan dalam konteks kewenangan dalam struktur yang mau kita implementasikan? Saya hanya mau mengatakan satu hal penting yang sering keluar dalam self governing community selama ini. Oh. setelah tahu desa itu dapat berapa baru bisa. Jadi mereka tidak bisa menyusun program dengan kolom-kolom yang kosong. Dengan satu pengertian bahwa ini mengadopsi tiga hal tadi. kabupaten lebih khusus lagi. begitu? Provinsi lebih umum. bahwa struktur desa tidak akan bisa dilepas dari persoalan kabupaten. Titik temu atau kompromi antara support dengan titik kemandirian desa itulah yang sebetulnya menurut saya belum ketemu. meskipun itu birokrasi di tingkat desa. Kedua. artinya kita menyerahkan pengaturan desa kepada kabupaten atau provinsi. Ketiga. maka kira-kira awalnya harus melalui persetujuan dan ijin mereka. Itu dinamika lokal dan yang begitu jelas kebutuhan dari bawah. kami cocok menggunakan ini dan seterusnya. kalau sudah bicara persoalan dilepas pasti saya akan berpikir beda lagi. Saya kira begitu aja. kalau tadi menjadi sebuah muatan yang akan menjadi bagian dari peraturan daerah saya justru sangat sependapat. dan lainnya untuk daerah mana.

Mas Toro silahkan. Sutoro Mengulang yang kemarin. harus konsisten dengan sistem di tingkat nasional. jadi dia sebagai desa yang otonom tapi tidak bisa semua desa di Indonesia kita perlakuan sama. apakah dengan otonomi desa itu lalu SDM akan segera up-grade atau sebenarnya sekarang ini kondisinya didalam UU juga PP 72/2005 atau kemarin ada Kepmendagri 64/1999 yang diacu untuk pengaturan mengenai desa. Kedua. yang menurut saya sudah siap didorong untuk menjadi desa yang otonom. jadi kategorinya jelas. alokasi atau pembagian itu berarti desa punya hak. jangan sampai kita membuat UU bertabrakan dengan konstitusi. Menurut saya istilah itu sekarang sudah tidak relevan. sebut saja yang namanya Self Governing Community itu sebagai desa adat atau desa geneologis. adalah Local Self Government itu yang namanya desa umum atau desa teritorial.sebagainya). bagaimana kedudukan desa itu dalam otonominya. Pertanyaannya adalah apakah konstitusi ini yakin menjadi modelnya pemerintah? Ini harus jelas dulu. itu kan diawal pembicaraan tadi Prof Sadu menyampaikan bahwa desa itu sebagai obyek politik terus dan selalu dimarginalkan. tidak pernah ada pemberdayaan yang konkret baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Oleh karena itu dalam konteks ini kalau kita lihat UU 32/2004 pasal 1 ada bunyi ”Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi menjadi wilayah provinsi dan kabupaten”. jadi konsep bantuan itu sudah kita tolak. melakukan supervisi. Ini yang kita hadapi sekarang dalam UUD 1945 pasal 18A dan 18B. Nah sekarang yang namanya konsep pemberian harus diganti dengan konsep pembagian atau penyerahan. Kembali pada SDM. ganti konsep alokasi. Karena pengalamannya sudah lebih baik. pada sisi lain masyarakat desa juga sebagai konstituen dari partai politik. mempermudah saja supaya tidak campur aduk. dan desa. Tadi Mas Franky dari AMAN. BPD-nya sudah lebih siap. otonomi pemberian itu sama dengan konsep bantuan. kemudian Mas Wafi. Itu posisinya jelas. Local State Government adalah desa administratif atau kelurahan. Kalau nasional pakai umum satu-duaMenggagas Desa Masa Depan 77 . Kedua. karena tujuan akhir dari RUU Desa adalah bagaimana desa itu dengan otonominya bisa bangkit dan mandiri. Itu mungkin yang saya bisa katakan bahwa titik kompromi itu yang belum ketemu. hubungan dengan supra desa dan seterusnya. bagaimana kepada desa? Kalau tadi Wafi sudah menyebutkan sebagai fasilitator. Ini peran pemerintah. tidak pernah serius dilaksanakan. Ketiga. Kemudian tugas pemerintah yang lebih tinggi memfasilitasi. Pak Azam bicara tentang desa otonom. Fasilitator Pertama yang ingin disampaikan. Sekarang mengenai desa otonom. pemberdayaanpemberdayaan itu sudah ada. itu bisa kita petakan secara jelas. kepegawaian. Hanya berhenti disitu. Nah ini persoalannya sekarang. kabupaten. artinya desa harus lepas dari kabupaten meskipun ada hirarki tapi tidak seperti yang sekarang menjadi bagian atau sub-sistem pemerintah kabupaten. kemudian berkaitan dengan SDM di desa yang lemah. Sadu Apapun yang kita lakukan kepada desa tentu terkait dengan sistem pemerintahan nasional. tapi ya begitu saja. pembinaan kapasitas dan seterusnya. kalau kita mau mendorong desa yang otonom maka NKRI dibagi provinsi. itu artinya yang namanya penyerahan. karena pengalamannya Jawa. disamakan sajalah. tapi tidak pernah terlaksana. membina. Saya agak kurang setuju dengan Prof. Ini ada dua jalur yang sebetulnya bisa dimainkan oleh masyarakat desa. saya ingin bertanya. Meskipun Direktorat Jenderal PMD yang mengenai desa ini sudah lebih dari tiga puluh tahun. mereka bisa menyesuaikan dengan perkembangan zaman dan seterusnya. Pertama. Sadu yang selalu membedakan antara otonomi pemberian dengan otonomi asli. Nanti masing-masing pilihan ini akan mempunyai konsekuensi terhadap administrasi. dia sedang berbicara tentang desa adat.

intinya satu yaitu wajib. kuatnya begitu. makanya dia membedakan ada desa dinas dan desa adat. Kalau tiba-tiba ada orang datang bawa secarik kertas bahwa saya akan membuka tambang disini lalu masyarakat desa terima sampahnya. apakah kita kemudian hanya bicara soal presentase. Setelah wajib pihak kepala desa dan BPD dan juga lembaga kemasyarakatan disitu harus stakeholders dulu yang memutuskan ya atau tidak. Kalau dulu orang itu rebutan jadi kepala desa karena gengsinya luar biasa-status sosial. Jadi sebelumya stakeholders harus dikumpulkan dulu. tapi kalau pakai size ada besar-sedang-kecil ya konsisten. tadi sudah disinggung dan bicara soal tata hubungan desa dengan supra desa. Bagaimana dengan yang begitu. keuntungan untuk desa sekian. sekarang penghargaan sosial tidak ada. Jangan sampai kita melakukan kesalahan yang kedua. bunyi pasalnya wajib. Dulu lebih banyak pada penghargaan-penghargaan sosial. dulu dia punya kekayaan besar kemudian dipecah-pecah. peran pemerintah sebagai fasilitasi. jadi larinya pada penghasilan. Nurwafi Di PP 72/2005 itu malah lebih jelas. tadi saya terima kasih diberikan saran. Kalau Bali saya lihat meskipun sudah modern tapi adatnya-agama masih kuat. Dari sekian ijin yang diberikan di Indonesia. Kalau desa itu tidak jelas. sebagian besar obyek perijinan adalah pertambangan. ia kehilangan hak-hak sosial. kalau organisasi ini jelas kita bisa membuat sistem seleksi. dia bisa ditolak di-aben disitu. apakah diteruskan seperti itu saja atau perlu ada suatu klausul atau satu peran juga yang boleh kita katakan sebagai negosiasi perijinan yang juga dimiliki oleh pemerintah desa terhadap ijin-ijin yang masuk ke wilayah desa. Fasilitator Kalau dalam UU 22/99 pasal 110 ada pihak ketiga yang ingin membangun atau mengeksploitasi desa itu harus mendapat persetujuan dari masyarakat desa melalu kepala desa dan BPD. karena konfliknya disitu. sekarang tidak kesitu yang dikejar. kabupaten sekian atau bicara pada level yang lebih mendasar. kalau semua bisa jadi satu. perhutanan dan sebagainya dan itu ada di wilayah desa. Menggagas Desa Masa Depan 78 . persoalan selama ini yang sering terjadi adalah kita kurang mencermati kewenangan administrasi pemerintah pusat dan pemerintah kabupaten begitu besar di level desa. Tapi pertanyaannya tadi 18A-18B itu dipisahkan. yang dikejar harga ekonomi. Kecuali desa-desa yang memang masyarakatnya sudah sangat heterogen. Urusan desa adat orang lebih patuh ketimbang desa dinas. hak dan kewajibannya jelas. meninggal harus cari tempat lain. Kemudian SDM lemah itu kembali dari organisasi yang tidak jelas. Kalau kita menerima pasal 18B semua self governing communty saja. itu yang mesti didudukan dulu karena berangkatnya dari situ. Orang diundang adat tanpa alasan yang jelas. sekarang mau disatukan lagi sudah tidak bisa. penyeragaman kemudian merusak akar-akar yang ada. Jadi kalau kita diundang dalam kegiatan adat tanpa alasan yang jelas tidak datang. jadi ya kita harus menyesuaikan diri dengan kondisi. kalau tidak ada upaya-upaya hukumnya. tidak perlu ada administrasi. adat sudah tidak lagi punya kekuatan. makanya mereka menghargai betul pada adat. itu bukan harus. Seperti dulu ada di Sumatera Barat rancu. supervisi. Soal istilah. akarnya sudah tercabut. Sutoro Saya kira pasal 18B itu sudah ketinggalan zaman. nanti saya pikirkan. Desa-desa yang adatnya masih kuat berikan kesempatan. itu difasilitasi di pasal berikutnya. perijinan itu juga harus melibatkan mereka dalam persetujuan. hanya sekali lagi jangan membuat aturan yang berlaku untuk seluruh desa padahal ada kategorisasi yang cukup tajam. Saya juga bingung. Steny Konkretnya. tidak perlu ada pemerintahan. Saya mau menambahkan saja.tiga ya harus konsisten.

Menggagas Desa Masa Depan 79 . Fasilitator Oleh karena itu. Apa ada relawan. nanti dalam diskusi pleno presentasi. hanya orang desanya sendiri. tetap saja bunyi pasal 18 juga tidak akan berubah. hak-haknya belum maksimal bisa diupayakan. Kedua. UU 5/79 saya pikir itu bagus kontruksinnya cuma persoalannya pada sentralistis. kalau kita tanya kenyataan di lapangan. hal itu perlu menjadi sebuah pemikiran yang lebih jelas. Nanti kita akan bantu merapikan hasil-hasil. UU 22/99 demikian pula.. coba kita lihat th 65. bukankah begitu? Sekarang saya hanya ingin mengingatkan waktunya.. kita masih akan terus menambahkan. Fasilitator Kalau tidak diterapkan itu persoalannya juga banyak orang tidak baca. jadi tidak pernah tahu padahal ada. kita lihat lagi th 48. disitukan ada di UU tapi tidak diterapkan. Nurwafi Salah satu kelemahan adalah sanksi. Fasilitator Ya. Jayus Alangkah bijak kalau kita mau mencoba membaca hal baik dan tidak baik dari peraturanperaturan UU yang pernah ada. Saya minta mas Wafi bersama kami melengkapi ini. apa bisa ditulis dalam flipchart topik-topik yang akan disampaikan? Fasilitator Apakah ini perlu saya tuliskan? Sutoro Saya kira perlu Pak dituliskan garis besarnya. Untuk itu kita cukupkan sekian dulu diskusi kita. itu berkaitan dengan sanksi. kemarin kita sudah mengangkat seorang bapak kedudukan desa. biar nanti kalau terkait dengan desa. Itu akan menjadi sebuah muatan disamping adanya persoalan. Elke Saya hanya ingin. Fasilitator Saya kira ini cukup. kalau masih ada ide-ide. padahal sosialisasi sudah sekali-dua kali. kalau kiranya cukup. Soal ADD..Fasilitator Dalam konteks diskusi kita ini posisinya ada dimana. Pak Toro selama belum ada amandemen. apakah hubungan desa dengan warga desanya? Steny Itu hubungan dari pemerintah daerah sama pemerintah pusat. itu yang pertama. ditaruh didalam meja. Ini tugas kita semua terutama pemerintah daerah bagaimana memfaslitasi orang baca. Jadi saya kira memang kawan-kawan dari desa yang lebih tahu persis. saya ingin mengundang salah seorang teman untuk mempresentasikan hasil diskusi kita. soal hak-hak desa itu ada. mekanisme keluhan. karena saya yakin didalam UU 32/2004 ada yang baik dan ada yang tidak baik.

Presentasi Hasil Diskusi Kelompok Hari/Tanggal : Senin. Bentuk otonomi dan kewenangan desa mencakup hubungan desa dengan supra desa Bentuk organisasi ---) berkaitan dengan SDM. Ada pendapat yang melihat pasal 18A konstitusi justru sebenarnya menjadi dasar untuk mendesain desa otonom dan 18B sebagai basis pengaturan bagi desa adat. tetapi forum lebih banyak menaruh perhatian pada posisi desa sbg local self government. Salah satu tolok ukur desa mampu menjalankan kewenangan adalah mampu menyusun dan menjalankan peraturan desa secara konkrit. Bahkan. capacity building menyangkut desa. Perlu ada ruang yang jelas bagi desa dalam kewenangan perijinan.2. capacity building menyangkut desa Deskripsi singkat : 1. Pengaturan relasi antara desa dengan supra desa tetap harus mengacu pada dasar konstitusi dan derivasinya. fasilitasi. 5. Diperlukan adanya konsistensi implementasi dari policy. 4. Otonomi dan kewenangan harus diberikan kepada desa. 3 Juli 2006 Pukul : 16. Selain jaminan kewenangan.00 Moderator : M. fasilitasi. • • • Menggagas Desa Masa Depan 80 . sangat penting pula desa diberikan legal standing dan kemampuan menjalankan class action dalam judicial process. 3. Bentuk organisasi desa perlu disesuaikan dengan karakteristik dan tipologi desa. Barori 1. Hal ini berkaitan dengan desa otonom dan desa adat. ke depan perlu penguatan kapasitas desa untuk mampu menjalankan kewenangan (aparat dan masyarakat) dengan baik. Selama ini good will pemda masih dipertanyakan karena banyak ide tentang kewenangan muncul di pusat. 8. agenda kedepan adalah mendorong kabupaten untuk menyusun perda dan program untuk mewujudkan desa yang memiliki kewenangan yang jelas dan mendorong kemampuan mereka untuk menjalankan kewenangan tersebut. karena desa merupakan wilayah yang menjalankan pemerintahan. Tipologi desa perlu dicermati dalam mendesain pengaturan mengenai kedudukan desa dalam state. UU 32/2004 sejauh ini belum banyak ditindaklanjuti oleh kabupaten dalam menjamin desa memiliki otonomi. tetapi di daerah tidak direspon dengan baik dan cepat.Benang Merah Pemikiran : • • • • Kedudukan desa dalam konstitusi dan derivasinya. pembangunan dan tatanan kehidupan masyarakat dan budaya lokal. Presentasi Kelompok: OTONOMI DAN KEWENANGAN DESA Disampaikan oleh: Kamardi • • • Masalah Kewenangan desa: Pilihan tentang posisi desa sejauh ini belum jelas.00 – 17. Oleh karena itu. 2. Konsistensi implementasi dari policy.

jadi kalau ada tanggapan dari kelompok demokrasi desa. Menurut PP 72/2005 dibatasi 5-11. perlu adanya kepastian melalui regulasi atau kebijakan yang membuat bahwa otonomi desa dengan kewenangannnya tersebut tidak dimanipulasi oleh kepentingan elit desa. Perlu penataan ulang (khususnya di pemerintahan pusat) tentang pemberian kewenangan kepada desa yang tidak konsisten antar sektor (menghindari tubrukan antar sektor). Bapak Seandainya akan memekarkan diri itu bagaimana? Menggagas Desa Masa Depan 81 . lebih besar dari 3000 25 orang. perlu disusun indikator dan acuan pengembangan otonomi desa melalui pentahapan. regulasi tidak terlalu banyak.• • • • • • • Untuk merumuskan kewenangan desa. ulamanya kita kumpulkan lalu kita pilih satu. 5 unsur dari pemuda. atau dimensi kultural). bagaimana jalan keluarnya? Menurut PP 72/2005 itu 5-11 orang. seperti misalnya dalam kasus mengelola peradilan informal. jadi tidak perlu regulasi baru. ada juga 1500 orang. Dan dengan demikian. kami ada 7 jorong. 5 unsur dari pemuda. Bagi saya regulasi atau kebijakan itu sudah ada yang mengakomodir. hanya perlu good will dari semua unsur. biasanya kalau ada pemilihan kita perhitungkan aspek kemasyarakatan. Terdapat bukti bahwa desa mampu mengurusi urusannya sendiri. Moderator Kita tuntaskan dulu kelompok ini. dalam kaitan itu khususnya desa adat punya akses mengelola di SDA dan urusan komunitas nilai-nilai (roh. silahkan. Berkenaan dengan kewenangan desa dalam kelola dan penyelesaian masalah. pemilihannya tentu per jorong. 5 unsur dari nini mamak. lebih dari 1600 s/d 3000 21 orang. bagaimana keterwakilan kelompok lain. Oleh karena itu. pemilihan itu bagaimana bentuknya. Berdasarkan pengalaman. menurut Perda Sumbar kalau penduduknya 1600 maka wakilnya ada 16 orang. Tanggapan Datu Kita mau menambahkan sedikit untuk BPD. beliau tadi ada keinginan BPD dipilih langsung oleh masyarakat. dan dukungan administrasi keuangan dan kelembagaaan. perlu adanya kepastian melalui regulasi atau kebijakan yang membuat bahwa otonomi desa dengan kewenangannnya tersebut tidak dimanipulasi oleh kepentingan elit desa. Perlu pengkajian tentang masalah otonomi asli dengan belajar dari sejarah perkembangan desa. ini bagaimana menurut pendapat Bapak? Dahlia Agenda ke depan. Saya dari Limapuluh Kota. desa masa depan ditandai oleh adanya otonomi desa yang berorientasi pada penjaminan kesejahteraaan dan keadilan dalam bingkai yang lebih demokratis dan partispatif. mekanisme. bagaimana keterwakilan. Oleh karena itu pula. Sementara itu pihak kabupaten lebih berkaitan dengan urusan keadministrasian. Datuk kita kumpulkan lalu kita pilih wakil. kita kembalikan ke masyarakat. perlu adanya kewenangan yang luas bagi desa. masalah kewenangan desa harus memperhatikan konteks daerah masing-masing Agenda ke depan. 5 unsur dari bundo kandung. Problemnya adalah masih ada masalah benturan legalitas karena peradilan formal belum mengakomodasinya. 1 jorong ada penduduknya 700. masalah kewenangan desa mengatur peradilan informal harus diakui dan sekaligus disinkronkan dengan peradilan formal. terdiri 5 unsur dari cerdik pandai.

Kendala-kendala yang penting diperhatikan Demokrasi yang cocok bagi desa: • Inclusive demokrasi perlu menjadi pertimbangan utama dalam rangka membentuk self community governance yaitu suatu kondisi dimana masyarakat dapat terlibat secara luas dalam proses pengambilan keputusan. sehingga nanti yang menjadi hak asal usul itu tidak diintervensi lagi. Demokrasi yang paling cocok untuk ditawarkan bagi pengaturan desa di Indonesia? 2. Fungsi lembaga-lembaga yang mampu mengusung/melaksanakan demokrasi desa 3. saya sampaikan bahwa pasal 206 UU 32/2004. substansi adalah menghindari elit desa. Toto Hak asal usul di pasal 206 UU 32/2004. Soal jumlah. Kamardi Kalau belajar di UU 32/2004 ini frustasi juga. Soal pemekaran ini dijamin oleh UU. lalu pemerintah membuat perda yang baru. Masalah regulasi. Harus mengacu pada analisis kebutuhan desa 3.Alit Terkait dengan aturan/perda setempat. pemekaran itu semata-mata untuk pelayanan publik. BPD sebagai tool untuk check and balances 2. bagaimanapun akan memberikan cipratan langsung. dulu ada kelipatan dari jumlah penduduk. 2. bagaimana kita menghindari dominasi elit desa. belum menyentuh bagaimana membangun essensi check and balances • Kemampuan ekonomi masyarakat yang bervariasi berkorelasi pada tingkat partisipasi Menggagas Desa Masa Depan 82 . tetapi kembali jangan sampai pemekaran itu kemauan elit desa. Presentasi Kelompok: DEMOKRASI DESA Disampaikan oleh : Ade Kisi-kisi: 1. yang dimaksud Badan Permusyawaratan Desa adalah BPD dalam UU no 10. sikap elitis. artinya perda yang baru mengacu ke UU khususnya pasal 206. pandangan pragmatis) • Fokus pada Pemda dan desa masih sebatas pada pembentukan lembaga. Keterwakilan lembaga kemasyarakatan lainnya Fungsi lembaga-lembaga: • Lembaga di desa terdiri dari lembaga formal dan non formal • Fungsi lembaga desa bervariasi: sebagai fungsi legislasi. 1. Barangkali pemerintah kabupaten tetap mengacu UU 32/2004 dan PP 72/2005. bahwa BPDnya tetap seperti semula. kontrol dan pelaksana • Bentuk diserahkan pada kearifan dan keunikan lokal dengan acuan dari pusat • Lembaga itu harus mampu mewakili semua aspirasi masyarakat • BPD dan lembaga kemasyarakatan yang ada harus ditopang dengan capacity building yang memadai Kendala-kendala: • Keterbatasan partisipasi masyarakat antara lain karena ssstem yang belum mendukung (structural) • Kendala cultural (misalnya budaya patrialistik. perlu ditambahkan. contoh di penjelasan. tetapi bagaimana partisipasi dan demokrasi di masyarakat. jadi seolah sama. kalau regulasi tersumbat maka UU tidak akan jalan.

Bahwa DPD itu tidak cukup mewakili masyarakat. sinergi ini yang perlu dirumuskan dengan baik. ini sebetulnya ada gejala yang sudah muncul dengan paguyuban-paguyuban pamong desa.• Trauma pengalaman berdemokrasi yang tidak memihak kepada kebutuhan masyarakat. Itu perlu dinormakan. Tadi ada kerancuan dengan sistem yang berlaku di nasional dengan Menggagas Desa Masa Depan 83 . tapi ad hoc saja. bisa pemilu atau yang lainnya. Bapak Apa yang digambarkan Pak Ibnu seolah-olah desa itu menjadi satu kesatuan dengan kepala desanya. Kalau akan ada dewan perwakilan desa justru konsolidasi kepala desa berhadapan dengan kepala desa di tingkat bawah. Marhaban Waktu kita merumuskan demokrasi kita kembali ke sejarah demokrasi itu. bagaimana kita membuat regulasi desa dengan memangkas itu? Bapak Format kelembagaan itu. government for the people. untuk menghilangkan jago itu membiayai sendiri. Mekanisme di pusat sudah ada. selama ini yang mengatur pusat dan kabupaten. Contoh di Jepara. apakah tidak kita pikirkan semacam Dewan Perwakilan Desa yang mewakili desa untuk membuat perda? Masalah dengan Syamsudin Haris yang dipreteli. kades menuntut perpanjangan masa jabatan kepala desa. Biaya pilkades itu kecil. Tadi Pak Ibnu lebih menekankan soal perwakilan desa di DPR. Kabupaten membuat perda ada yang merepresentasi desa. Problem demokrasi selanjutnya adalah dalam melaksanakan tugasnya dengan tata cara yang demokratis. mekanismenya terserah. Ibnu Itu bukan wakil pemerintah desa. sedangkan masalah bentuk kelembagaan itu sudahlah. yang penting mendesak pemerintah di atas desa untuk menjamin nilai-nilai lokal. tetapi baru sebatas pada elit-elit desa Tanggapan Widyohari Anggaran Pilkades masuk APBN dan turun melalui APBD. tapi bukan dipreteli dalam pembaruan tatanegara. oleh karena itu kita perlu menemukan kearifan-kearifan. sehingga netralitas calon kades. maka ditopang dengan mekanisme lain yang berangkat dari inisiatif masyarakat sendiri. yang saya usulkan itu DPD. bagaimana APBD itu membiayai juga. mekanisme demokrasi seperti apa untuk jalan keluar. bagaimana lembaga di desa. karena demokrasi itu menghendaki prosedural. yang jadi mahal itu money politic. Datu Pertanyaan masih ada yaitu desa masa depan itu seperti apa? Ibnu Demokrasi yang paling cocok tentang pengaturan desa di Indonesia. tapi itu pembaruan tatanegara karena dibentuk BPD yang melaksanakan fungsi legislasi. menghendaki lembaga-lembaga yang kompetansi di situ. BPD sinergis. tapi tidak serta merta mewakili desa. tetapi institusi yang mewakili desa. karena kabupaten yang mengatur desa tidak ada representasi desa mewakili desa saat membuat perda. kades. saat pusat membuat UU maka disana sudah ada DPD yang mewakili daerah. problemnya adalah masyarakat desa yang selalu terus menerus menjadi marginal yang ditinggalkan kepala desanya yang menjadi kepanjangan tangan pemerintah di atasnya. Menormakan ini tidak bisa seragam. sehingga demokrasinya bisa berjalan.

masyarakat berkumpul untuk memutuskan berbagai hal. contoh kepala desa minta untuk ikut jadi pengurus partai politik dan negara menolak dengan tegas. soal check and balance itu tidak kita khawatirkan. keluarga.kabupaten/kota. sesuai dengan kebutuhan dan kriteria yang jelas terutama pemetaan bagi desa yang diprioritaskan mendapatkan ADD Perbedaan persepsi antar sektor di level kabupaten atas ADD ADD hendaknya diintegrasikan dengan APBDes (RPJMDes) Problem-problem dari PP perlu ditindaklanjuti dengan Perda Manipulasi atas ADD akan membunuh partisipasi desa Perlu memetakan best practice untuk menjadi referensi dan replikasi. tetapi harus ada ramburambu umum yang prinsip Proses perencanaan. Penguatan kelembagaan. Kalau Dewan Perwakilan Desa itu saya dukung. 4 Juli 2006 Pukul : 14.00 – 15. Self Governing Community itu dikaitkan dengan demokrasi bagus sekali. kalau masyarakat tidak demokratis itu akan menjadi fasisme. diatur oleh Perda Semestinya ADD tidak identik bagi hasil. masyarakat. Kita harus tempatkan demokrasi good and clear governance di tingkat II karena di situ ada konstituen political. kalau kulturnya sudah bagus dan mandiri maka itu bisa dikendalikan. demokrasi harus dimulai dari yang terendah. karena dalam institusi demokrasi itu adalah membangun komunitas politik tetapi non praktis. Hari/Tanggal : Selasa. tetapi perlu memperhatikan konteks daerah dan desa Perlu intervensi positif (kebijakan) oleh pemerintah pusat Perlu membangun kesadaran kritis atas kelola uang berbasis loan and project • • • • • • • • • • • • • • • • • Menggagas Desa Masa Depan 84 . itu budaya demokrasi kuno yang disebut open deliberation. Di desa itu ada deliberatif demokrasi.15 Moderator : Sumarjono 3. Harus ada kemudahan-kemudahan demokrasi di tingkat masyarakat. Presentasi Kelompok: ADD (ALokasi Dana Desa) Disampaikan oleh: Dahlia • • • • Sebagian besar kabupaten enggan (keberatan) melaksanakan kebijakan ADD Akses masyarakat untuk mengetahui informasi PP dan ADD sangat terbatas Masyarakat desa belum jelas dengan sumber-sumber pendapatan desa Ada 3 faktor penghambat pelaksanaan ADD yaitu: − Kapasitas potensial desa yang belum siap − Keterbatasan APBD (PAD) − Masalah politis yaitu tarik ulur kepentingan politik di daerah Ada pengalaman desa yang sudah menyiapkan kelembagaan (sistem) dan bisa berjalan dengan baik Terlalu kakunya pengelolaan ADD oleh kabupaten Pengelolaan ADD semestinya mutlak oleh desa. melibatkan seluruh elemen masyarakat Informasi penggunaan dana harus transparan (diumumkan kepada publik) dan ada mekanisme pertanggungjawaban pada publik (Pengalaman Ngada): tidak semua desa diberikan ADD. tetapi aturan teknis dilakukan desa Mengkaitkan antara ADD dengan penguatan kapasitas kelembagaan desa Tidak perlu ada pembatasan yang rigit dalam kelola ADD. pelaksanaan dan pelestarian dari ADD harus partisipatif. karena ADD adalah dana perimbangan Perlu pedoman umum dari pemda.

• Bentuk otonomi dan kewenangan desa mencakup hubungan desa dengan supra desa • Bentuk organisasi pemerintahan desa berkaitan dengan SDM. maka 80% langsung ke masyarakat. Marhaban Kita di PMD. 4. karena desa itu sudah di bawah negara. melakukan kritik dan usulan-usulan agar ADD dapat dilakanakan dengan baik. artinya desa tidak lagi inheren dalam kabupaten. Perlu ada audit independen (dipilih masyarakat) dari stakeholders Moderator Kelompok diskusi ADD telah membuat kesimpulan-kesimpulan terkait dengan pelaksanaan ADD yang belum seluruh kabupaten/kota melaksankan ADD. kalau kita ambil 10% itu hanya acuan tetapi APBN yang membiayai. Benang Merah pemikiran yg perlu dipresentasikan dlm pleno: • Kedudukan desa dalam konstitusi dan derivasinya. Menurut World Bank agar uang tidak nyangkut di elit. Pak Ibnu melihat makro dari hukum tata Negara. Ini memang berbenturan dengan tata negara. mulai kemarin rumusannya desa diatur dengan UU tersendiri. Tanggapan Ibnu Kita ini menggagas desa masa depan. Ini memang dalam perspektif yang mikro. dalam kebijakan ADD Perlu ada penguatan kapasitas aparat dan kelembagaan serta elemen-elemen masyarakat desa dengan pendekatan partisipatif Perlu ada intervensi dari pusat tentang batasan alokasi yang akan diberikan ke desa supaya dana yang dikucurkan ke desa mencukupi untuk pembangunan di desa Perlu ada komitmen yang lebih besar lagi di tingkat nasional. Moderator Untuk selanjutnya saya persilahkan kelompok tata hubungan desa dengan supra desa. wacana ini muncul dalam kerangka pemberdayaan. ini memang strategi pemberdayaan. bagi saya kalau sudah tidak inheren maka PP itu akan gugur. Dengan demikian ADD menjadi problem. Presentasi Kelompok: TATA HUBUNGAN DESA DENGAN SUPRA DESA Disampaikan oleh: Nurwafi Diskusi kita adalah hubungan antara desa dengan supra desa dalam NKRI. ini konsekuensi pilihan yang kita lakukan. Ketentuan 10% dari APBD tidak cukup. kalau desa diatur sendiri maka tidak boleh diatur dalam perimbangan kabupaten. Dahlia Kalau desa tidak inheren dalam kabupaten maka tidak bisa mendapatkan ADD. Menggagas Desa Masa Depan 85 . Saya persilahkan tanggapannya. delegasi dan wewenang tanpa resources itu adalah omong kosong.• • • • • Perlu pendidikan bagi masyarakat untuk advokasi pada level kabupaten. yang kami sampaikan ini hanya pokok-pokoknya saja. karena ADD itu 10% dari dana kabupaten.

9. Untuk kelompok ini harus clear model mana yang akan diadopsi. Bentuk organisasi desa perlu disesuaikan dengan karakteristik dan tipologi desa. Bumi. Kasmuin Pasal 33 UUD 45. Tipologi desa perlu dicermati dalam mendesain pengaturan mengenai kedudukan desa dalam negara. Ada pendapat yang melihat pasal 18A UUD 45 (konstitusi) sebenarnya menjadi dasar untuk mendesain desa otonom dan 18B sebagai basis pengaturan bagi desa adat. 2) separated. 7. sangat penting pula desa diberikan legal standing dan kemampuan menjalankan class action dalam judicial process. pilihan. di UU 32/2004 itu diatur urusan wajib. karena dulu tidak pernah melibatkan desa maka akan terjadi kehancuran-kehancuran itu. capacity building menyangkut desa. yang terjadi adalah dengan otonomi selama ini SDA sudah cepat habis. koncuren. 10. Justru dengan otonomi desa. Diperlukan adanya konsistensi pemerintah pusat dan daerah dalam praktek pelaksanaan setiap kebijakan. fasilitasi. provinsi. saya tidak bisa membayangkan otonomi itu diberikan di desa tanpa ada pemberdayaan di desa. fasilitasi.• Konsistensi implementasi dari policy. Yang harus kita pertegas adalah otonomi yang berpihak masyarakat desa dan ada jaminan untuk digunakan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. pusat sampai dengan aturan main keuangannya. Hal ini berkaitan dengan desa otonom dan desa adat. walaupun secara yuridis formal belum nampak. Tanggapan Tumpak Kalau bicara hubungan desa dengan supra desa maka akan terkait dengan kewenangan. tetapi untuk hubungan desa dengan supra desa ini harus tegas. Menggagas Desa Masa Depan 86 . Moderator Desa menjadi obyek supra desa. Saya kira pasal ini pasal yang tidak dirubah. Untuk kelompok lain silahkan tanggapannya. setiap eksploitasi akan melibatkan masyarakat desa. Separated itu maksudnya adalah ada pembedaan yang tegas antara kabupaten. capacity building yang menyangkut desa. jelas ada 3 model yaitu: 1) inklusif otorelation. Deskripsi singkat : 6. dan 3) overlap. Bahkan. Di UU ada kewenangan atributif. kenapa justru ada eksploitasi. air dan udara dikuasai negara dan digunakan sebesarbesarnya untuk kemakmuran rakyat. Perlu ada ruang yang jelas bagi desa dalam kewenangan perijinan. 8. Moderator Silahkan untuk dijawab Wafi Logika berpikirnya di balik. Ini harus diperjelas dulu landasan akademik kita apa? Di dalam inter government relation. dimana desa tidak boleh mengklaim bahwa ini kewenangannya. semua level harus bertanggung jawab untuk mengatasi itu. Ketiga overlap. Saya justru berpikir optimis akan memberikan kemakmuran. tanah. delegatif dan kewenangan lain-lain. namun sudah ada kebijakan pemerintah yang mengarah ke kepedulian terhadap desa. Pengaturan relasi antara desa dengan supra desa tetap harus mengacu pada dasar konstitusi dan derivasinya. Yang inklusif itu ada hubungan antar desa yang harus melaksanakan.

Skandinavia. selanjutnya dari wakil kelompok BUMDes.Ibnu Masalah urusan dan wewenang. Kita harus jelas apakah kontrol atau pengawasan. Newe Zealand) meletakkan otonomi level di urus di tingkat state (politik). maka perlu modal. pada tingkat lokal itu begitu mahal demokrasi kita. Saya kira disana ada politik. kita harus kita pisahkan kontrol dan pengawasan. Moderator Dari awal memang ada cara pandang yang berbeda antara ketentuan hukum dengan nilainilai filosofis hukum yang akan diberlakukan di Indonesia. Negara-negara baru (Amerika Serikat. fasilitator. ini yang menjadi tali sentralistik. 5. ini pada akhirnya digunakan untuk kemakmuran rakyat. kayaknya ini lebih dekat dengan delegatoris. Saya tidak mengerti Pak Ryaas belajar di Amerika tahu persis otonomi itu. kalau saya melihat lebih ke politik. apalagi mau kita bawa ke desa. padahal kalau residual teori itu wewenang. Oleh karena itu gagasan apa yang akan kita sampaikan. Moderator Tampaknya sudah cukup waktu. Presentasi Kelompok: MIKRO KREDIT DAN BUMDES Disampaikan oleh: Adnan Sumber hukum PP 72/2005 Pasal 78 s/d 201 • Mikro kredit berkait dengan produksi. 2. Negara-negara old model (Jerman. kalau pengawasan maka ikut mengarahkan. • Untuk pengelolaan modal maka perlu Lembaga Mikro Kridit • Lembaga Mikro Kredit seperti apa yang ada desa ? Lembaga Keuangan Desa perlu ada kerangka kerja yang baik. ada pemisahan yang tegas karena ada pendekatan akuntabilitas. Kalau kontrol itu hanya melakukan uji. Perancis) urusan politik dibawa sedekat mungkin dengan rakyat. eksternalitas. Kalau kita baca otonomi daerah dan desentralisasi ada 2 cara : 1. yang dipakai dalam pasal 18 ayat 5 itu hanya urusan. karena pengawasan ikut mengarahkan. Dalam pasal 18 residual teori yang dipakai tetapi yang dipakai urusan. karena di Australia ada banyak UU otonomi daerah. Hubungan wewenang yang diatur pasal 18 a itu. nampaknya yang diberikan itu urusan. supra desa itu seperti apa? Apakah dia supervisi. Saya pilih ke istilah kontrol. otonomi ini yang diambil berdasarkan persoalan politik. itu yang berkaitan dengan yang strategis. Marhaban Otonomi bukan hanya persoalan hukum. Berkaitan dengan pasal 33 ayat 2 negara sebagai pelaku. tetapi juga persoalan politik. Pasal 1 negara memberi pengaturan. teknologi. UU 5/74 itu wewenang. di UU 32/2004 itu urusan. sehingga terbit banyak SE yang mengatur daerah. kalau sudah diberikan urusan maka berhak atas wewenang. oleh karena itu terbit UU sektoral. dan pemasaran. UU 22/99 wewenang. Australia. dan efisiensi. apakah dalam bentuk semacam Rural Banking sustainable Usulan diberi nama BUMDes • Perlu manajemen yang profesional • BUMDES perlu pengakuan dengan payung hukum • Kegiatan mikro finance selama ini yang berkembang di pedesaan adalah usaha simpan pinjam Menggagas Desa Masa Depan 87 .

• Kebijakan antar sektor belum saling mendukung untuk pengembangan ekonomi desa • Lebih dari 60% ekonomi desa dikuasai oleh kelompok elit dan pemilik modal besar. Tetapi dasar ini belum bisa akses ke lembaga perbankan. oleh karena itu disarankan untuk berbadan hukum/diaktekan. untuk rakyat (petani. Menggagas Desa Masa Depan 88 . Tawaran tentang Pengembangan Ekonomi Desa (BUMDes dan LKM) • BUMDes dan LKM harus menjadi upaya pengembangan ekonomi lokal dan pengentasan kemiskinan. nelayan. P4K • Simpan pinjam desa • Lumbung desa • Koperasi desa Perempuan terbukti sebagai nasabah yang baik dalam kredit dan penerima program yang efektif. tetapi dinas lain terkait harus melakukan hal tersebut. • BUMDes dibentuk berdasarkan aktivitas ekonomi yang telah ada di tingkat lokal dan untuk melindungi ekonomi lokal. • Perlu ada afirmative action dalam pengembangan ekonomi di desa. • Bagaimana dengan kepemilikan BUMDes (Masyarakat dan harus dihindari kepentingan dan kooptasi elit desa • Jenis usaha dan model BUMDes harus memberi ruang dan bertumpu pada inisiatif dan kearifan lokal Problem • Tidak ada fasilitasi sistemik untuk pengembangan usaha kecil di desa • Tidak ada perlindungan pasar untuk pelaku usaha kecil • Belum ada payung hukum yang jelas untuk LKM. Pengalaman Kabupaten Sumedang: Yang dimasukkan ke dalam BUMDes: • Alokasi anggaran simpan pinjam • Unit usaha simpan pinjam menjadi bagian BUMDes • Lumbung Desa • Kegiatan penarikan rekening listrik • Penyewaan hand traktor • Unit toko untuk pelayanan masyarakat (berbagai produk dan jasa) • Warung nasi dsb. • Untuk mengatasi monopoli elit dalam BUMDes maka bentuk hukum yang diusulkan koperasi yang berorientasi pada ekonomi kerakyatan. (kebijakan ini tidak hanya dilakukan Depdagri/Ditjen PMD. juga bukan instrumen kapital besar yang mengancam ekonomi pedesaan. dll) untuk menghindari pertarungan dengan pemodal dan elit desa. • Ada alokasi modal dari APBD untuk pengembangan BUMDes. Perempuan terbukti sebagai pelaku ekonomi yang tanggung dan mayoritas di desa. Ditingkat desa BUMDes itu dibentuk berdasarkan Perdes. • BUMDes harus memberikan perhatian pada masalah perempuan • Pembentukan BUMDes bukan penyeragaman dan pemaksaan (pengalaman KUD).Pengalaman Layanan Keuangan di Masyarakat Jenis layanan kredit di Desa • Program kredit dari PPK. terbatas pada Bank dan Koperasi • Rendahnya akses modal bagi masyarakat miskin dan perempuan • Ada pandangan masyarakat kalau uang dari pemerintah tidak perlu dikembalikan – sehingga banyak kredit program macet.

ini ada UU yang mengatur LKM dan koperasi. dll). • LKM bukan menjadi perpanjangan tangan usaha kapital besar maupun intermediasi dari bank komersial yang ada. karena di PP 72/2005 itu akan dikelola pemerintah desa.• • • • • • Jenis usaha harus memberi ruang dan bertumpu pada inisiatif dan kearifan lokal. • Dalam LKM harus diikuti dengan pendampingan. • Ada mekanisme monitoring dan evaluasi dalam pengelolaan LKM. • Ada kejelasan bentuk hukum untuk melindungi dana rakyat yang disimpan. Tumpak PMD sudah mencoba payung hukum untuk BUMDes ini. • Ada mekanisme dan skema kredit yang sesuai dengan kondisi masyarakat (belajar dari pengelaman “bank plecit” ). sehingga kalau kita membuat BUMDes harus dihindari yang menyangkut LKM dan koperasi. sehingga perlu pembinaan. perdes mengacu perda. pemerintah Jawa Timur sudah menunjukkan good will. Perlu ada kejelasan dan dibangun sinergi kebijakan antar sektor dalam pengembangan ekonomi desa (BUMDes). BUMDes itu akan dibiayai APBD. rakyat miskin (petani. Moderator Langsung saja dari kelompok lain yang akan menanggapi atau memberi masukkan. Menggagas Desa Masa Depan 89 . dana itu bila didistribusikan setelah eksekutif bertemu dengan legislatif. fasilitasi pengembangan produksi dan pasar sebagai satu sistem pengelolaan. siapa yang akan mengontrol BUMDes. • Ada jaminan/afalis untuk PUK yang mengalami kesulitan dalam akses modal (baik dari pemerintah-lembaga lain). Kita harus tegas mengatur ini. karena semua akan menjadi bemper ekonomi desa.nelayan. Perlu ada kejelasan tatalaksana dan manajemen profesional. Pemda sudah membuat tim pembina BUMDes. Ini ada yang menarik dari Pak Maryunani dan Stefan. Pengawasan. Ini agak rumit membagi payung hukum untuk BUMDes. Ada affirmative action dalam layanan usaha BUMDes kepada perempuan. Rakyat harus menjadi subyek dalam kegiatan BUMDes (mengedepankan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat dalam rangka kedaulatan ekonomi rakyat). termasuk monitoring dan pengawasan. perda mengacu UU. Tanggapan Maryunani Berbagi pengalaman. Sebenarnya tidak ada perintah di PP untuk membuat pedum. kita tidak yakin kalau di APBD nya tidak ada. sebagai komisaris. panjang sekali prosesnya. tenaga dan pikiran. Dalam pengelolaan itu bagaimana rakyat desa itu komit. Ada kejelasan tentang kewenangan desa dalam pengelolaan sumberdaya ekonomi. mau memberikan waktu. supaya tidak gamang dalam mengatur itu. Di tingkat II. kalau kita bandingkan dengan BUMD itu bentuknya perusahaan daerah. • Perlu dibangun pola dasar dan skema yang memungkinkan akses masyarakat miskin dan perempuan mendapatkan layanan secara mudah. agar perda itu baik dan benar. LKM (Lembaga Keuangan Mikro) • Keberadaan LKM tidak lepas dari upaya menyediakan layanan modal bagi pelaku ekonomi untuk pengembangan usaha. untuk tingkat desa apa? Di PP 72/2005 ditetapkan perdes. agar tidak bertabarakan dengan UU lain maka harus di luar LKM dan koperasi.

itu milik bersama dan hasilnya akan dibagi bersama dalam anggotanya. Lebih fundamental lagi. bukan khusus untuk BUMDes. lebih banyak ke perangkat desanya. Yang awalnya untuk meningkatkan pendapatan desa. Di daerah kami ada pasar desa yang besar tetapi tidak memberikan kontribusi kepada desa. bukan soal ADDnya tetapi bagaimana kita mengelola ADD itu. Pengalaman di Sumedang dengan perdes mereka tidak cukup melakukan akses bisnis. Moderator Diskusi ini kita akhiri. Sehingga pedoman seperti Pak Tumpak itu benar. maka tidak bisa ke sana nanti. menggagas desa masa depan. Payung hukum yang ada adalah yang umum. Desa senantiasa menjadi ajang tempur untuk mencari keadilan dalam kehidupan negara kita masih panjang. Jadi tergantung pilihan masyarakat disitu maunya seperti apa. Kasmuin Membandingkan gagasan itu. ini akan menjadi ladang baru bagi percepatan proses korupsi di desa. saya cenderung untuk merumuskan badan hukum tersendiri dalam BUMDes. dan itu diputuskan dengan keputusan desa. PR menghadang kita sesuai dengan profesi kita masing-masing dalam upaya kita untuk membela desa. keahliannya apa dan mengacu UU yang sudah ada. ke bank misalnya. seperti ADD. BUMDes yang lemah payung hukumnya. Kalau kita menganut badan hukum koperasi. Menggagas Desa Masa Depan 90 .Yuni Sengaja kita tidak mengusulkan satu jenis badan hukum.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful