P. 1
Diskusi_Kelompok_Terfokus

Diskusi_Kelompok_Terfokus

|Views: 432|Likes:

More info:

Published by: muhammad irfan islamy on Mar 22, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/27/2012

pdf

text

original

Sections

  • 1. Kelompok: OTONOMI DAN KEWENANGAN DESA
  • 2. Kelompok: DEMOKRASI DESA
  • 3. Kelompok: ADD (ALOKASI DANA DESA)
  • 4. Kelompok: MIKRO KREDIT DAN BUMDes
  • 5. Kelompok: TATA HUBUNGAN DESA DENGAN SUPRA DESA
  • 8.2. Presentasi Hasil Diskusi Kelompok

VIII.

DISKUSI KELOMPOK TERFOKUS

8.1. Diskusi Kelompok
Hari/Tanggal : Senin, 3 Juli 2006 Pukul : 13.30 – 15.30

1. Kelompok: OTONOMI DAN KEWENANGAN DESA
Fasilitator Peserta : 1. Arie Sujito 2. Bambang Hudayana : M. Barori-STPMD “APMD”, Alit-Majelis Madya Gianyar, MaryunaniFE Unibraw, Steny-HUMA, Sulikanti-Bappenas, Yusuf-SAINS, Lubis-YIPD, Suharman-PSPK UGM, Kamardi-Perekat Ombara, Franky-AMAN, Ibnu-FH Unibraw, Toto-BPMKS Sumedang, AzamPemdes Kebumen, Sofyan-Akatiga, Matt Stephan-World Bank, Vitristaf DPD, Kasmuin-CePAD, Adri Warsena-FPPD.

Fasilitator Sesi ini kita akan mengeksplorasi pemikiran menjadi lebih dalam, set up diskusi kelompok ini diharapkan akan muncul pemikiran-pemikiran, ide-ide tentang otonomi dan kewenangan desa itu seperti apa? Pilihan-pilihan yang visible. Tadi sudah banyak disampaikan Pak Toro dan Simatupang telah mengesplorasi banyak hal pilihan-pilihan berangkat dari peta normatif maupun empiris hubungan antara pusat, provinsi, kabupaten dan desa. Secara prinsip kita punya kebutuhan melalui otonomi dan desentralisasi, maka ini lebih memungkinkan terjadinya demokrasi. Pak Simatupang juga bicara banyak secara sangat normatif dan reduktif. Pak Toro tadi mengungkap beberapa pilihan seperti local self goverment, itu bagian terpenting dari otonomi dan demokrasi. Kita bisa belajar dari review, tapi yang lebih penting itu adalah penataan dan kelembagaannya ke depan seperti apa? Barori Ada pandangan tentang pemberdayaan masyarakat desa itu dibingkai dalam desentralisasi, kita pahami dulu konteks desentralisasi. Ada 3 domain dengan asumsi desa adalah sebagai wilayah pemerintahan yang di dalamnya ada pemerintahan dan pembangunan, domain ini yang perlu kita sepakati dengan bingkai itulah pemerintahan desa diberi kewenangan untuk melaksanakan pembangunan dan pemerintahannya, sehingga pemerintahan yang desentalistik dan pembangunan yang desentralistik menjadi prasyarat pemberdayaan masyarakat desa. Pemberdayaan masyarakat desa itu mencakup 3 hal yaitu: 1) pemerintahan yang desentralistik, 2) pembangunan yang desentralistik, dan 3) desentralistik fiscal. Secara normatif hal ini sudah kita temukan dalam UU 32/2004 maupun di PP 72/205, persoalannya kita memantapkan itu, apa yang menjadi kewenangan desa. Masyarakat desa akan berdaya kalau ada kewenangan yang melikupi dirinya, yang harus kita kedepankan adalah sebuah ketentuan bahwa level pemerintahan kita harus mempunyai otonomi pemerintahan sendiri-sendiri. Oleh karena itu kewenangan desa harus kita sepakati dan pahami bersama dan secara normatif UU dan PP sudah mendorong ke sana. Sejauh mana kewenangan itu bisa dijadikan posisi baru desa dalam melaksanakan pemerintahan dan pembangunan? Desentralisasi harus diikuti dengan otonomi desa yang nilainya sama dengan otonomi di tingkat kabupaten, provinsi
Menggagas Desa Masa Depan

46

maupun pusat. Otonomi dimaknai juga dengan kewenangan desa dalam mengelola pemerintahan dan pembangunan. Perangkat untuk disana sudah kita punyai, pembangunan yang desentralistik, perencanaan pembangunan yang berhenti di tingkat desa. Fasilitator Otonomi desa diletakkan dalam 3 hal: pemerintahan, kewenangan dan keuangan desa. Memahami otonomi dengan diletakkan hubungan antara desa, kabupaten, provinsi dan pusat. Tadi di diskusi ada hal penting, meskipun belum dilihat spesifik. Alit Anggap contoh bangunan, dasarnya kuat, perlu porsi yang jelas menyangkut kewenangan desa. Di UU 32/2004 pasal 200 itu sudah, menyangkut kewenangan desa pasal 206 perlu dirujuk ke tingkat kabupaten. Rujukan ini ditindaklanjuti di tingkat kabupaten sampai ke tingkat desa, sehingga posisinya jelas, mana hak-hak desa. Sebab kita tahu, desa kita karakternya berbeda-beda, apa yang sudah ada kita kembangkan, rujukannya berdasarkan UU yang sudah ada, bagaimana kejelasan porsinya. Tentang keuangan, pendapatan asli desa, perlu diperjelas, mana saja yang boleh sehingga desa itu bisa diberdayakan sesuai dengan semangat otonomi. Fasilitator Maksud Pak Alit, itu perlu dirinci lagi dalam Perda. Maryunani Otonomi dan kewenangan, saya ingin menambahkan satu muatan bahwa otonomi itu adalah sebuah sistem yang hirarki vertikal dan horizontal. Kalau bicara otonomi desa bisa kita tangkap hirarkhi horisontalnya, bahwa desentralisasi fiskal perlu diikuti dengan kewenangan, desentralisasi fiskal yang di PP 72/2005 ada 3 komponen besar, bagaimana desa mampu dalam pendanaan dalam pembangunannya, kemudian diikuti desa itu mampu mengelola sendiri dana dan pembangunannya, dan diarahkan ke kegiatan ekonomi produktif, maka kemandirian itu ada disitu. Persoalannya, apa betul desa desentralisasi itu ada? Pengalaman di kabupaten/kota di Jawa Timur, desentralisasi yang ada ini desentralisasi yang sentralistik, dimana posisi desa itu memiliki bargaining position dengan kabupaten atau sebaliknya sejauh mana kabupaten ini memberikan good will-nya, sehingga sinergitas keduanya ini belum ada. Persoalan bukan pada normatifnya tetapi pada good will kabupaten. Sejauh mana regulasi ini diikuti good will agar sampai ke desa? Stenly Soal tawaran dari Mas Toro, dari pilihan itu mesti dipilah lagi ke level yang lebih konkret, dengan memilih salah satu atau meramu ke tiga hal itu apa saja kewenangannya yang akan menjadi turunannya. Kita tidak bisa bicara kewenangan secara konkrit kalau tidak memilih dari 3 model itu, atau mengacu ke UU yang ada. Kalau mengacu ke UU, pertanyaannya adalah apakah sudah cukup, kalau tidak cukup dengan model itu apa yang akan kita pilih? Melihat perkembangan politik mungkin hanya model local self government yang konkrit, model seperti ini khan tergantung masing-masing daerah, kalau mau milih 3 hal itu dipecah dan turunan-turunan dari model itu. Usul saya, yang masyarakat adat maka akan self governing community. Sulikanti Regulasi ini masih baru, saya tidak yakin itu sudah dilaksanakan pemerintah daerah. Daripada kita mengganti yang ada, kita laksanakan itu dahulu, kadang kita bagus di konsep, pelaksanaannya amburadul. Bentuk apa saja ke depan, lebih baik kita identifikasi dari pelaksanaannya yang maju yang mana? Apakah self governing community, yang jadi
Menggagas Desa Masa Depan

47

pertanyaanya masuk tidak kita ke masyarakat adat. Kita tidak mudah menentukan 3 itu, kita perlu merenung posisi dimana, sehingga bisa melihat/ambil yang mana? Semakin banyak aturan semakin tidak benar, biarkan mereka mengatur sendiri. Fasilitator Yang perlu kita bahas adalah mana yang perlu diatur dan mana yang tidak. Pak Hans tadi mengatakan, kalau negara tidak beres bukan berarti negara tidak dibutuhkan. Kalau kita setir sedikit dari Pak Sutoro dari 3 model, kalau local state government itu pernah dijalankan masa orde baru. Persoalannya desa itu akan dispesifikasikan dengan UU sendiri atau tidak, tetapi memastikan ada pengakuan negara atas desa. Perlu diidentifikasi otonominya seperti apa? Kelembagaanya seperti apa, lalu solusinya seperti apa? Yusuf Bagaimana self goverment community itu bisa menghadapai tantangan pluralitas? Fasilitator Pertanyaan ini penting ketika Pak Syamsudin Haris mengatakan ada tuntutan untuk tidak menyeragamkan. Lubis Bicara otonomi dan kewenangan desa ada 2 hal: 1. Kewenangan yang diberikan kepada desa, belum benar-benar kepada desa, sehingga kita tidak optimal dalam pemberdayaan desa. Sudah saatnya memberikan kewenangan perijinan kepada masyarakat bukan hanya KTP saja tetapi juga seperti pemungut retribusi, penanganan retribusi sampah, warungwarung kecil, sehingga desa dapat diberdayakan, mendapat income untuk memberdayakan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan desa. 2. Jangan sampai kewenangan yang diberikan itu tidak ada kontrol, karena akan menghambat investasi di daerah, jangan sampai kebablasan memungut retribusi yang tidak mendukung investasi. Suharman Berhubungan dengan fiskal, otonomi dan kewenangan untuk mengelola sumbersumbernya perlu dipahami: 1. Otonomi dan kewenangan itu bukan di ruang hampa, tarik menarik dengan pasar. Banyak bondo desa berubah menjadi ruko, bondo desa yang telah menjadi uang mudah sekali menjadi elitis sifatnya, misalnya untuk membiayai pamong desa. Di Kampung Naga masyarakat menolak menjadi obyek wisata tetapi tidak memperoleh hasil serupiahpun dari kegiatan wisata itu. 2. Tidak sterilnya faktor politik di bawah. Contohnya, Bupati menganggarkan dana APBD dan disalurkan ke desa pendukungnya. Pasar dan politik menjadi eksternal environment yang harus diperhatikan dari otonomi dan kewenangan desa. Kita tidak perlu pesimis, dengan regulasi kita bisa menata/mengukur eksternal environment. 3. Persoalan kontrol dan elitis, otonomi dan kewenangan desa, kontrol itu bagaimana mekanismenya? Format itu perlu dikedepankan. Kamardi Kita sudah membahas konsep ideal tentang desa, paling tidak ada 3 hal untuk didesakkan yaitu : 1. Akses pengelolaan sumber daya masyarakat adat di desa, di UU 22/99 dan UU 32/2004 SDA yang dikelola kabupaten tidak boleh dikelola desa sebaliknya yang dikelola desa tidak boleh dikelola kabupaten, faktanya tidak demikian. Pergeseran seperti itu juga APBDes, perda perlu mengakui adat di desa. Hambatan lain itu di daerah, pusat dan daerah tidak sinkron, mereka saling lempar tanggung jawab.
Menggagas Desa Masa Depan

48

2. Hak konservasi, termasuk tata nilai, adat itu sepotong dipahami di desa. Normanorma itu kalau bisa diadopsi di desa untuk membuat sistem hukum adapt, dan perda perlu mengakui itu. Saya mendukung perlu adanya pendetailan UU ke dalam perda. 3. Kewenangan ini ketika di desa, harus dipertegas pemerintahan itu lebih ke administrasi, tetapi pengaturan tata nilai, sistem, roh kehidupan di desa jangan diintervensi, jangan dicampur aduk. 4. Untuk PP 72/2005 pasal 68, desa paling sedikit mendapat 10% dari retribusi, ayat C desa mendapat 10% dari DAU, ini yang disebut ADD. Ketika ADD turun maka yang bagian dari retribusi tidak diberikan. Franky Bicara kewenangan, akses SDA, saya merasa tidak bijaksana kalau tidak kita undang departemen lain, misalnya kehutanan, perkebunan, tambang dll, karena regulasi itu banyak benturan. Ibnu Kita tidak diskusi membagi kewenangan per sektoral, yang perlu kita rumuskan bagaimana memberi/membagi kewenangan. Kita tidak mungkin per sektoral, itu pun per daerah berbeda-beda. Konstitusi sudah memberikan kewenangan, pasal 18 ayat 5 amandmen UUD, sayangnya konstitusi tidak mengatur desa. Dari rumusan, pusat itu ada 5, namun ada urusan wajib daerah yang menyangkut kesejahteraan rakyat, misalnya ketenagakerjaan, pendidikan dll. Kalau di luar itu maka bisa dilakukan daerah maupun kabupaten. Dari UU 22/99 keluar PP 25 yang membagi per sektor, yang tidak diatur di PP 25 maka kewenangan kabupaten. Problemnya bagaimana mengatur kewenangan desa yang tidak ada di konstitusi. Kewenangan desa itu ada yang asli, dan ada yang dari kabupaten, yang dianut ini tidak konsisten dengan UUD. Kalau desa kewenangannya diatur kabupaten, sedangkan kewenangan kabupaten sepanjang tidak diatur pusat. Sekarang kita mau pakai, apakah kabupaten mengatur seperti pusat mengatur kabupaten atau kabupaten minta kepada desa, formula apa yang akan kita pakai? apakah model konstitusi atau desa melist dulu, ini tidak bisa diseragamkkan, ini hanya bisa buat kriteria. Problemnya ada sektor pendidikan, kesehatan, ini bisa dirinci. Yang dimaksud kewenangan itu adalah menjalankan sebagian kewenangan pemerintahan. Pembagian selama ini tidak pernah dilakukan dengan baik, semuanya remang-remang. Formula apa yang akan kita pakai untuk kita berikan desa? Kalau menurut konstitusi maka daerah membuat perda tentang kewenangan. Sebenarnya kewenangan itu tergantung model otonomi seperti apa yang kita anut. Toto Barangkali sudah kita kenal namanya desa itu tumbuh dari adat istiadat, asal usul, prinsip ini yang harus kita pegang, kemudian timbul dan tumbuh dari bawah, idealnya menggali dari bawah. Contohnya, kita mengenal tanah adat dan tanah sertifikat, yang punya kewenangan tanah adat adalah desa, jadi menggalinya dari bawah, kita tinggal membuat rambu untuk dilaksanakan kabupaten. Otonomi yang kita gali, kewenangannya sejauh mana desa itu mampu melaksanakan sendiri? Fasilitator Yang belum clear itu kewenangannya seperti apa? Itu tadi proses otonomi dan kewenangannya. Azam Pendapat itu sangat dipengaruhi lingkungan. Saya dari lingkungan birokrat, berkaitan masalah kewenangan, tanah bengkok desa yang berubah menjadi ruko. Itu menjadi kewenangan desa, desa boleh menjual dan mengalihkan. Kalau sampai bendo desa
Menggagas Desa Masa Depan

49

Kewenangan itu sangat sulit dilaksanakan. namun ada problem-problem empiris. tapi belum dilaksanakan. Mnurut saya. Ciri otonomi. kalau kita pilih self governing community.sebaiknya tetap masuk ke pemerintahan daerah. UU 32/2004 akan dibagi 3 yaitu pemerintahan daerah. Desa bisa menyelesaikan peradilan desa yang informal. legislatif. Kita sudah membuat perda kewenangan desa. ini perlu didorong dan didefinisikan. Dari struktur pemerintahnya juga sangat kurang. kemampuan perangkat. anggaran desa itu seperti darimana saja. bagaimana kalau desa? Lalu kita akan training untuk IMB. Apakah model konstitusi atau desa yang menentukan. walaupun itu bertentangan dengan hokum. lalu dia menjustifikasi bahwa di wilayahnya ada hutan Menggagas Desa Masa Depan 50 . Peradilan komunitas itu bisa di dalamnya peradilan adat. Kita pernah menantang IMB. saya setuju desa punya kewenangan. Pertanyaannya adalah mempertimbangkan konteks daerah. saya mengusulkan pertanggungjawaban kades. tidak perlu detail. Ibnu Yang perlu kita diskusikan itu mekanisme. Sudah ada perda tentang bondo desa. Maka perlu ada penilian terhadap kabupaten. desa dan pilkada. karena yang dihadapi adalah SDM. yudikatif tidak jelas. maka kita bisa melihat wewenang desa akan seperti apa. pihak yang memakai bondo desa harus mengganti minimal sesuai dengan harganya. hanya itu harus diberikan kriteria secara bertahap. Komentar Pak Ibnu. pertanggungjawaban. sehingga hanya berhenti di tingkat kabupaten. namun perlu dipisah peradilan desa dan komunitas. unsur pemerintahan eksekutif. peradilan desa itu sudah ada preseden. Franky Saya setuju. Matt Stephen Otoritas desa untuk menyelesaikan masalah. masyarakat tidak dihargai. Desa di Kebumen tidak punya tanah bengkok dan di Banyumas ada dan luas sehingga penghasilannya sangat banyak dan bisa mengatur pembangunan di desa. penyelesaian konflik itu menjadi kewenangan di desa. dukungan masyarakat. syaratnya dirubah. Sofyan Mekanisme kewenangan. Benturan terjadi antara kabupaten dengan desa. Oleh karena itu ada formula dan tahapan yang harus dilaksanakan. karena akan ada tarik menarik dengan kabupaten dan provinsi. Untuk bisa meletakkan wewenang desa. Fasilitator Normatif regulasi sudah ada.diambil oleh pemerintah tanpa ganti rugi maka itu sudah kebodohan desa. bagaimana interaksi dengan peradilan formal dan sebagai pengakuan kepada masyarakat untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Vitri Indonesia terlalu banyak aturan. masyarakat dikebiri oleh pejabat. wewenang dan anggaran. dia bisa membuat peraturan. kepala desa ini harusnya standar minimal SMA. kewenangan yang asli tidak perlu kita atur. kades dipilih masyarakat tetapi tanggung jawab kepada bupati melalui camat. kita berangkat dari mana? Konstitusi tidak jelas mengatur tentang desa. misalnya di Minangkabau sudah ada surat edaran untuk peradilan tinggi untuk peradilan negeri di Minangkabau agar mengacu ke peradilan desa. kalau mereka tidak mampu maka jangan diberikan kewenangan. yang perlu diatur adalah kewenangan dari pemerintah. pertama harus memilih dulu model pemerintahan. aturan dibuat untuk dilanggar. Untuk kasus yang kecil-kecil. kalau spirit tidak homogen maka kewenangan yang kita address kita ke sana seperti apa? Ide pak Ibnu menarik. infrastruktur. jadi penting bicara kewenangan adalah kemampuan desa membuat peraturan tetapi desa juga punya otoritas untuk membuat keputusan. di peraturan itu belum ada. administrasi. karena otonomi itu mengatur dan mengurus. Dari RUU harus jelas pemerintahannya.

kalau perlu ada departemen khusus agraria. Widyohari–STPMD ”APMD”. sisi yang lain normatifnya saja sangat sulit. Fasilitator Tadi muncul satu pendapat bahwa ini pengalaman praktis. Menggagas Desa Masa Depan 51 . Dahlia–TTS SoE. Agus R. • Implementasi Pancasila. apakah mungkin menjadi suatu pilihan yang cocok (bottom up)/ internalisasi nilai. • Bahwa kesenjangan demokrasi pada aras desa berpengaruh pada kebijakan desa. Fasilitator Bapak-bapak. hubungan antar sektor. dan itu menjadi pertarungan yang riel. akan terjadi pertarungan dengan negara. Susmanto–Letmindo/GTZ Aceh/ LGSP. mana yang baik dan tidak baik. Syamsul Hadi–Bina Swagiri. namun departemen kehutanan bilang itu haknya departemen. pembinaan dan pengawasan itu dalam konteks pelaksanaan otonomi daerah dan tanggung jawab pelaksanaan. Rahma–LIPI. itu tidak akan selesai kalau tidak duduk dalam satu meja. Kasus riel pertentangan RUU PA Aceh dengan Otsus Papua. Irwan–Letmindo/GTZ Aceh. Kelompok: DEMOKRASI DESA Fasilitator Peserta : 1. pengaturannya bukan sektoral lagi. Mengkaitkan apa yang disampaikan di depan. Marhaban-PMD Depdagri. UU dalam ranah desa. ada beberapa yang hal perlu dicermati dalam diskusi kelompok kita sebagai berikut: • Transformasi UU 32/2004 berpengaruh pada sisi demokrasi desa.Lakpesdam. • Demokrasi. Bapak kita mencoba mengelaborasi UU 16/69 tentang desa praja sampai dengan UU 32/2004. Haryo Habirono – FPPD : Ade–PPK. kalau itu sudah dikaji maka kita butuh sistematika perundang-undangannya seperti apa? Setelah itu kita sebarkan ke seluruh daerah untuk mensikapi mana yang baik mana yang tidak. Fasilitator Persoalan kewenangan tidak cukup tetapi juga kapasitas. Wafi–BPD. resolusinya apakah membentuk UU baru atau bagaimana? Kewenangan ini harus dipastikan. Kasmuin Saya sepakat seperti tidak perlu ada penyeragaman. Adnan–LP3ES. Aturan sering bertubrukan. Terkait kewenangan harus dikembalikan ke konstitusi. Abu–Persepsi. Wai. termasuk kultur. Hans Antlov-LGSP. Kalau bicara kewenangan yang sudah ada sejak awal itupun harus diikuti pengembangan kapasitas dan pembinaan paradigma. Yuni–Asppuk. akhirnya dicabut kewenangannya. tanahnya. IKPM bilang jelas bahwa itu kewenangannya Papua. SDA yang sudah diatur dalam UU sektoral. UU 32/2004. Widya-FPPM. 2. hubungan sektoral berbenturan. Datuk–Asosiasi Nagari. ibu-ibu. Riawan Tjandra – Atmajaya Yogyakarta 2.adatnya. walaupun intinya ada pengembangan kapasitas itu menjadi perhatian khusus. Ade Regulasi perlu ada keharusan pelaksanaan UU PA. sehingga terjadi benturan kelembagaan. Joana–World Bank.

Kendala-kendala yang perlu diperhatikan! Pada akhir pertemuan akan disepakati wakil yang akan menyampaikan presentasi. permasalahan diantara mereka. musrenbang tidak ada artinya. melihat nilai demokrasi yang ada di di desa dengan model perwakilan yang dipilih langsung. BPD menjadi Badan Perwakilan Desa. Ada BPD yang belum berperan dalam fungsinya – check and balances. • Demokrasi yang cocok yang bagaimana? Demokrasi tidak perlu dicocok-cocokan. Pada dasarnya masalah desa/masyarakat desa adalah mereka tidak terlibat dalam proses perencanan. Bila masyarakat terlibat dalam proses perencanan. fungsinya diberangus dengan dalih-dalih. melainkan kontrol. Belum ada kepastian mewakili kepentingan masyarakat. Joana Pada prinsipnya setuju BPD – perwakilan yang mewakili prinsip-prinsip demokrasi. maka pemilihan kades juga dibiayai. Masih ada kecenderungan elit desa yang menentukan. Ade Sulit menjawab demokrasi dengan model yang mana. adanya fakta kasuskasus harus dibenarkan. Dengan aturan saat ini belum berati demokrasi sudah berjalan di desa. Basis kewenangan desa adalah desentraslisasi sedangkan otonomi desa dari masyarakat. Menjadi penting adanya demokrasi di desa/kelurahan adalah dipilih langsung. Wafi • Kaitan dalam hal ini. kaitannya dengan psikologi demokrasi. tidak hanya dalam pengambilan keputusan. Melihat fakta kelemahankelemahan BPD ya. • Persoalan quorum menjadi masalah. Tetapi dengan demokrasi perwakilan yang ada sebelumya. maka merujuk pada 3 aspek: 1. Saya lebih tertarik pada bagaimana demokrasi ada di desa. implementasi dan pengawasan. sehingga seorang kandidat kepala desa tidak perlu manggung di desa. Sebagai pelaku perwakilan di desa saya sendiri sedang bersemangat dengan proses demokrasi di desa. sehingga tidak ada raja-raja kecil di desa. jadi tidak perlu ada batasan quorum. dengan harapan yang lain akan melengkapi. tapi cenderung melihat apa yang dibutuhkan desa. dipilih dan menjadi badan penyeimbang. Tetapi selain itu ternyata lembaga itu sendiri tidak cukup untuk melahirkan nilai-nilai demokrasi di desa. • Perlu juga dipikirkan pendidikan politik di desa. masyarakat belum. • Keuangan. Menggagas Desa Masa Depan 52 . Fungsi lembaga-lembaga yang mampu mengusung demokrasi? 3. dipilih langsung. Tidak setuju BPD akan mempreteli kekuatan desa seperti kata Syamsudin Haris tadi. Dengan keluarnya UU 32/2004 terbelalak. mengontrol pembangunan di desa. Sehingga musrenbang desa mentok di Kabupaten. saya lebih optimis. Eksperimentasi demokrasi desa dihindari karena tidak match dengan demokrasi. implementasi maka masyarakat merasa bertanggung jawab terhadap hasil pembangunan. tetapi juga dalam menyalurkan aspirasi masyarakat/cari input. euforia politik. Berangkat dari program pengembangan seperti yang dilakukan dalam PPK. Jadi perlu ada ketegasan masyarakat dalam proses pembangunan. polanya masih top down. Bagaimana bisa melibatkan masyarakat lebih luas.• • • Kaitan demokrasi dengan skala kebutuhan masyarakat. Dari beberapa hal tersebut. dengan adanya pemilihan Presiden/Bupati dibiayai oleh APBN/APBD. Saya lebih cenderung kembali ke UU 22/99. artinya harus dengan target sekian orang. Demokrasi apa yang paling cocok di Indonesia? 2.

pemuda. Menggagas Desa Masa Depan 53 . kemudian ada buku Freedman ”alternative development” dengan konsep political democracy-inclusive democracy adalah demokrasi yang kita bahas. Itu bagaimana? Teringat pertemuan forum warga di Surabaya. Menurut saya. Pemdes di daerah belum betul-betul mau kewenangan diserahkan ke desa. politik (Pembuatan Perdes). istrinya carik ya. kalau masyarakatnya kumpul tetapi ada raja. negara. yaitu penyelengaranggan negara diserahkan kepada elit dan limited government – terbatas. berbeda dengan desa-desa di Jawa dan di luar Jawa. Kalau dipilih langsung bagaimana keterwakilan unsurunsur masyarakat. Representative demokrasi bukan ada di kita. silahkan. jadi tidak memaksakan keinginan kita. menampung. Hebatnya demokrasi. Fasilitator Kita menawarkan beberapa pemikiran. provinsi. yang punya uang yang menang. alim ulama. Bagaimana desa yang mempunyai dana untuk dapat membeli hasil-hasil panen? Kebutuhan basis desa jangan dikesampingkan. saat ini diserahkan kepada desa/swakelola. demokrasi yang diserahkan pada tingkat ‘state’. tapi kita tawarkan kepada yang lain. itu ada pada Kabupaten/Kota ke atas. serta masyarakat tidak ada inisiatif mengontrol pembangunan di desa/nagari. Masyarakat desa saat ini belum diberdayakan. Kanada. Tana Toraja. Australia. perencanaan pembangunan masih top down. Susmanto Menyinggung tentang BPD berkontradiksi dengan pemerintah desa. sosial (kontrol jalannya pemerintahan di desa). Keikutsertaaan masyarakat dalam pemeliharaan pembangunan di desa saat ini agak lemah. Proyek PPK di daerah. Keberagaman dalam UU 32/2004 dan PP 72/2005 masih umum. Secara umum. sehingga semua bisa dicek dengan jelas. Marhaban Demokrasi yang bagaimana? Bagi saya pribadi dilihat dari literatur ada dua macam demokrasi.Datu Apa yang disinyalir saat ini sangat setuju. Demokrasi seperti apa yang disepakati? Misalnya pemilihan langsung. sehingga kades. Di desa yang diperlukan adalah self community governing + inclusive demokrasi. disini adalah self community governing + inclusive demokrasi. masyarakat harus dilibatkan dalam pembangunan. akhirnya ada porsi presentase untuk perempuan. bagi yang kalah masih diberikan kesempatan untuk memberi kritik. Saya pahami bahwa peran warga desa. seperti freedman. BPD dan lembaga lain di desa. Apa yang disampaikan Joana perlu. yang ’mbok bakulan’ (not: ibu-ibu yang berjualan) tidak ada. ada keberhasilan dalam keterlibatan masyarakat menentukan keputusan. ninik mamak. Sinyalir kolusi di BPD ada kemungkinan. tetapi terkadang ada pesanpesan dari daerah. ada tiga area demokrasi: bidang pembangunan (perencanaan). Nah. Amerika. di nagari disebut BPN (Badan Perwakilan Nagari). alim ulama. tapi perlu tupoksi yang jelas. bagaimanapun proses pemilihannya tidak terlalu persoalkan. Syamsul Hadi Keterwakilan BPD dalam UU 32/2004 belum baik juga. saya yang termasuk mendambakan demokrasi terutama di desa. di nagari pemilihannya dengan cara perwakilan kelompok. Kalau di desa Sumba Timur. ninik mamak. kelompok perempuan. Kalau secara antropogis barangkali desa lebih tua dibanding dengan kabupaten/kota. maka masyarakat akan diam. yaitu demokrasi modern – representatif dengan 2 prinsip dasar: prinsip representative government. is there any democracy? Dewan morokaki di Banten dipilih dari ketokohan. tidak hanya di Jawa tetapi juga di luar Jawa. Pemikiran dan wacana tadi sangat menambah perspektif bagi kita. pemuda.

Fungsi negara menjamin bagaiman masyarakat teribat dalam proses pembangunan di desa. Sulitnya minta ampun untuk melibatkan masyarakat dalam partisipasi di desa. romantisme bahwa demokrasi desa diserahkan saja kepada desa. meskipun bukan satusatunya problem di desa. Kedepan perlu ditempatkan suatu forum di desa. Perlu dimasukan unsur-unsur/aspek penyetaraan dan lain-lain. dan lain-lain. Apapun bentuknya tidak masalah. maka elit-elit diluar Jawa akan tersisih. sesepuh. Kalau kepala daerah memiliki wilayah. Menyinggung yang disampaikan Pak Sus. sehingga BPD tidak cukup mewakili sebagai institusi perwakilan di desa – kelompok-kelompok di desa.Widyohari Saya sebetulnya sepakat dengan Pak Sus. Demokrasi desa dibangun ala kelokalan setempat. karena itu murni dari adat. Masa yang lalu ada demokrasi di desa. perwakilan. wali nagari tidak perlu untuk menjadi pengurus parpol. itu harus dilembagakan. BPD sebagai institusi menjadi cek and balances bagi pemerintah desa. kalau tidak ada. jangan ada kabijakan jeruk makan jeruk. petani. tetapi juga harus memberikan ruang bagi lokal. tidak memadainya apa yang ada di BPD. kemudian tidak lahir dari masyarakat. meskipun BPD mewakili masyrakat di desa. ada badan legislatif. Tetapi BPD pada banyak desa menjadi alat legitimasi aparat desa. eksekutif. Kerena itu. harus menjamin keberlangsungan lembaga-lembaga lokal di desa. dulu ada forum di desa yang memenuhi ini. desa boleh memasukan unsur permusyawatan. Negara silahkan mengatur regulasai tentang desa. menjadi grup politik masyarakat. Wa’i Ada kemunduran BPD menjadi bamus (badan musyawarah). yaitu partisipasi merupakan kendala yang terbesar di desa. tetapi sekarang tidak. Kendala yang perlu diperhatikan. empowerment yang ditumbuhkan dibunuh kembali. PPK bagus. Datu Kalau saya diminta untuk mewakili partai di desa tidak setuju. Tidak ada sistem check and balances – itu sulit. siapa saja: buruh. ini parah. Marhaban Saya beda dengan apa yang disampaikan Hans tadi. juga pengalaman negara lain yang berhasil. Dalam proyek PPK. Sangat mahal bagi negara untuk representatif demokrasi. wali nagari/kades memiliki masyarakat. semangat demokrasi di desa menurut saya sangat berbeda dengan masyarakat di tingkat atas. masih sebagian bergantung pada pemerintah. Juga dalam penguatan masyarakat di desa. Ini perlu dikembangan untuk melakukan check and balances di desa. tetapi juga tidak sepenuhnya mewakili masyarakat. masing-masing desa berbeda. partisipasi di desa adalah milik elit desa. Abu Apapun demokrasi yang diusung adalah demokrasi yang menjamim kemandirian di desa. ada mekanisme kontrol internal di desa. tapi masih ada celah-celah. Partisipasi menjadi titik demokrasi. Eropa barat menyerahkan otonomi se-grass root mungkin. sehingga tepat kita mencari demokrasi. Aspek persamaan itu perempuan dibelakangkan. Problemnya. kalau cair sama sekali juga memiliki kelemahan. Kades. Yang penting 3 (tiga) itu. ada rapat/rembug desa. Barat tahu persis otonomi daerah itu. mayarakat dilibatkan dalam proses perencanaan hingga pengawasan. Oleh karena itu BPD ada tetapi harus ada mekanisme lain yang sifatnya Menggagas Desa Masa Depan 54 . Karena teori apa saja di Indonesia tidak jalan. Dari prosedur itu tidak menjamin. Saya mengkritik teman-teman di PMD. saya setuju dengan Pak Sus. Berapa persen orang yang menyampaikan ketidakpuasan mereka terhadap BPD? Menjadi pertentangan tersendiri di masyarakat bagaimana menyalurkan aspirasinya.

Perlu mengacu pada prinsip-prinsip pokok dalam membangun sistem demokrasi di desa seperti human right. adanya penokohan. kita fasilitasi. mereka bisa. Saya hanya mengkritisi itu. pikirannya. • Pemimpin formal di masyarakat pasti diikuti masyarakatnya. modul disiapkan seperti dulu sebelum ada otonomi. Dana disiapkan. ada potensi. Bagaimana kearifan lokal bisa timbul kembali? Dahlia • Bagi saya perlu ada lembaga demokrasi di desa. bagi saya yang penting unsur keterwakilannya dari aspek kewilayahan. seolah bentuk lebih bagus daripada isinya. Apapapun bentuk demokrasinya kalau tidak ada suara perempuan maka tidak demokratis. bagi saya tidak masalah. Filipina. Widya Bagi saya demokrasi seperti apa? Kembali pada kearifan lokal. dan lain-lain sebagaimana yang tercantum dalam covenantcovenant Internasional. demokrasipun kalah. orangnya terbatas. silahkan. itu diseimbangkan. kepentingan. Menggagas Desa Masa Depan 55 . • Kades di TTS seperti alat politik. Hans Saya tidak setuju demokrasi terlalu mahal. ada kebutuhan. parpolpun tidak mewakili masyarakat. Amerika. permusyawaratan – perwakilan. • Musrenbang sebenarnya ada masalah. • Usul: perlu ada pelatihan bagi LPM untuk perencanaan pembangunan. lembaga dari luar yang ada di tempat kami. Adnan Seringkali kita memperjuangkan bentuk daripada isi. dananya. kehadirian fisik. mengapa Indonesia tidak bisa? Olahraga kalah. Negara tetangga lain. Membandingkan dengan yang di atas. Contoh. Kita terjebak dengan panyakit partisipasi. Kalau BPD. kelompok dan lainlain. Yuni Saya mau ikuti yang sudah ada. pemikirannya terbatas.. • BPD dan Kades itu alat negara? Widyohari Lembaga independent silahkan masyarakat bentuk sendiri. tapi tidak bisa dilantik karena kepentingan poltik di tingkat atas.. Selama ini banyak dikatakan kita sudah. • Partisipasi dalam berbagai bentuk. pengkulturan masyarakat. Itu bukan Eropa. tapi negara Asia. India. pengangguran. ini dan itu. Fasilitator Karena waktu tinggal 15 menit masih ada 7 orang yang belum bicara. contohnya sesudah pemilihan dan terpilih. Apa masyarakat tahu bagaimana membaca APBDes? Ketika dalam perumusan perencanan mereka tidak semua terlibat. Pancasila dan UUD 1945. diwadahi dalam forum. Kalau dalam parpol terwakili 60%-70% maka ada 30% yang tidak memilih. tenaga. lebih mementingkan proyek. LPM sebagai lembaga induk yang membawahi lembaga-lembaga di masyarakat. persoalan budaya. Kalau di pemerintahan.insidential. sehingga dia akan kuat. keterwakilan partisipasi. Jadi masyarakat perlu kita latih. tidak masyarakat. Setahu saya Eropa dan Amerika hanya ada di kabupaten/kota. Banyak pendapat tentang partisipasi. sehingga seharusnya ada kursi kosong di DPRD. jadi kendalanya struktural dan kultural. jangan-jangan partisipasinya terpimpin atau terbina..

kalau tidak demokrasi maka akan menjadi otoriter. kita semua membicarakan hal yang sama. Fasilitator Biar saja semuanya pemikiran masuk.. Harus mengacu pada analisis kebutuhan desa 3. ada yang mengusulkan ada kursi kosong-golput. pandangan pragmatis) • Focus pada pembentukan lembaga bukan membangun esensi check and balances • Kemampuan ekonomi masyarakat • Trauma pengalaman berdemokrasi yang “mboten up” tidak memihak kepada kebutuhan masyarakat contoh masyarakat Menggagas Desa Masa Depan 56 . • Peguatan kelembagaan banyak kendala. contohnya beberapa anggota BPN tinggal di Bukittinggi. kalau bukan kebutuhan. Bagaimana menanamkan demokrasi di masyarakat.Agus • Demokrasi kebutuhan di desa. sedangkan kalau mereka ke sawah mendapatkan sepuluhribu. Benang Merah Pemikiran: Demokrasi yang cocok bagi desa: Inclusive demokrasi perlu menjadi pertimbangan utama dalam rangka membentuk self community governance masyarakat terlibat secara luas dalam proses pengambilan keputusan 1. sabtu. elit-elit menyelewengkan demokrasi. kita sepakati siapa yang mewakili untuk menyampaikan diskusi kita? Marhaban Sedikit saja. Musrenbang hanya dilaksanakan satu hari. karena oranya tidak demokratis. banyak kendala menciptakan masyarakat demokratis. bagaimana kalau kita mengundang petani untuk mengikuti musrenbang. Demokrasi hanya satu hari. kontrol dan pelaksana • Bentuk diserahkan pada kearifan dan keunikan local dengan acuan dari pusat • Lembaga itu harus mampu mewakili semua aspirasi masyarakat • BPD dan lembaga kemasyarakatan yang ada harus ditopang dengan capacity building yang memadai Kendala-kendala: • Keterbatasan partisipasi masyarakat antara lain karena sistem yang belum mendukung (structural) • Kendala cultural (misalnya budaya patrialistik.hhahaahhaaa. BPD sebagai tool untuk check and balances 2. mandul. sikap elitis.... Fasilitator Sulit menggabungkan semua wacana. injecting participating in local.. Keterwakilan lembaga kemasyarakatan lainnya Fungsi lembaga-lembaga: • Lembaga di desa terdiri dari lembaga formal dan non formal • Fungsi lembaga desa bervariasi: sebagai fungsi legislasi. diawali di rumah tangga? Apa itu sudah kita lakukan? • Kasus di Palembayan. jadi hanya hari sabtu saja. Bagaimana ditingkat kabupaten/kota. senin-jum’at tidak demokratis. BPN tidak berfungsi. siapa yang bisa disepakati untuk mewakili? Jadi Pak Datuk dan Ibu Ade untuk mewakili. cuma hari sabtu saja yang demokratis. hanya kata-katanya yang berbeda.

maksudnya bendahara desa. terkait dengan UU 32/2004 ada beberapa hal yang perlu kita sikapi bersama seperti ada beberapa UU yang baru itu menarik ke pusat dan posisi daripada BPD perlu memperoleh perhatian kita bersama. ada PP 72/2005. Di Deli Serdang baru dianggarkan 11. terkait juga dengan aspirasi masyarakat ketika perda atau perdes itu disusun. Kelompok: ADD (ALOKASI DANA DESA) Fasilitator Peserta : 1. sehingga ada kejelasan potensi.Hari/Tanggal : Senin. Ini sebenarnya ada keberatan tersendiri dari Pemkab. Dahlia-PMD TTS. Alit Asmara Terkait informasi dari teman Deli Serdang tadi saya konsentrasi di desa.5 Milyar. sehingga dapat memberikan semacam apresiasi terhadap masyarakat dan karakter masyarakat itu sendiri. 5. Mengapa kabupaten tidak responsif?. Sumber pendapatan desa harus jelas apa-apa saja. Betapa ADD yang menjadi masa depan desa masih terbatas. 3. dengan adanya ADD masyarakat punya kemampuan untuk mengelola ADD. Legitimasi pemerintahan desa ini perlu proses yang demokrasi. karakter dan budaya setempat bisa masuk. Kesiapan kelembagaan nanti menyangkut SDM yang ada. karena selama ini yang menjadi bendahara desa adalah kaur umum yang merangkap jabatan. Kasmuin-CePAD. 4. dalam kaitan ADD. Kamardi-Perekat Ombara. mungkin kita harus menentukan kriteria kepala desa itu seperti apa. merujuk PP 72/2005. mereka minta supaya ADD dapat dilaksanakan sendiri oleh orang desa. Alit Asmara-Majelis Madya Gianyar. Perda-perda dan perdes. yaitu: 1. pendapatan desa rendah. Masukkan dari 4 desa yang kami lakukan. Soekirman-Wakil Bupati Sergai. 3 Juli 2006 Pukul : 11. Bambang Hudayana 2. persoalannya mengapa ADD tidak bisa cepat dilaksankan? Saya pikir banyak kabupaten tidak rela menyerahkan uang sekian banyak. Joana-World Bank. Abu-Persepsi.00 – 13. kalau ada uangnya ADD mereka menanganinya. Adri Warsena-FPPD. Arie Sujito : Ninuk-BPD Deli Serdang. Syamsul-Bina Swagiri. dengan skala prioritas. sosialisasi dari kedua UU dan PP tidak sampai kepada kepala desa. Ninuk Kita di DPRD Deli Serdang sedang membuat Raperda yang saat ini sudah menjadi perda tentang ADD. 2) orang desanya tidak tahu bahwa ada UU 32/2004.00 3. sehingga ini terkait dengan kewenangan desa. 2. seharusnya sesuai ADD 43 Milyar harus diserahkan kepada desa. Sukoco-Kades Wiladeg. yaitu digunakan untuk pembangunan fisik. Fasilitator Itu fenomena di Deli Serdang. Kewenangan desa harus jelas. Ade-KDP World Bank. Datu-As Wali Nagari. Menggagas Desa Masa Depan 57 . ada 4 permasalahan yang kita perhatikan. Fasilitator ADD menjadi harapan di desa. kemudian ADD untuk apa?. Sebelumnya kita melakukan pertemuan dengan beberapa desa. bagaimana menghubungkan ADD dengan pelayanan publik? ADD selalu memakan belanja rutin kabupaten. Perencanaan di tingkat desa perlu dikelola melalui SDM di tingkat desa. alasannya 1) SDM tidak mampu. Tumpak-PMD.

Disamping ada keuntungannya ADD juga ada sisi buruknya. dengan presentase sekian % untuk BPD. Kamardi Soal ADD itu selain perda mengawali kebijakan karena konsekwensi PP 72/2005 sudah dijelaskan ADD itu. ada yang pakai peraturan Bupati. jadi berbeda sumbernya. lha bagaimana mengelola itu? Bagaimana menyiapkan kelembagaan di desa itu? 1. maka akan memindah budaya korupsi di desa. Ini yang selama itu belum jelas.Dukungan dan partisipasi dari masyarakat seperti apa. Desa tidak ada otorita mengatur sendiri. kalau tidak ya tidak. ada yang tidak tapi tiba-tiba ada bimbingan teknis. sehingga ada ketergantungan dari peraturan Bupati. sudah jelas bagian desa itu paling kecil 10% dari retribusi daerah dan ADD itu merupakan dana perimbanagn yang diberikan pusat kepada daerah. Adanya regulasi yang tegas dan pro desa. pembangunan dan lain-lain. walaupun itu sudah dimentahi temen-teman lurah pada waktu itu. 1. memang nilai asli desa ada gotong royong. partisipasi dan lain sebaginya tapi di ayat b. DAU yang dipotong anggaran rutin. mestinya 23 Milyar. Sepertinya itu masih terjadi. termasuk juga dalam perencanaan dan juga kegiatan-kegiatan yang menyangkut desa. Dari teman Deli Serdang tadi ada ketidakrelaan pemerintah kota untuk memberikan porsi kepada desa. Menggagas Desa Masa Depan 58 . Sukoco Ilustrasi di Gunung Kidul. Mungkin juga faktor politik. Maka ADD keluar dengan peraturan Bupati saja tapi aturannya sangat ketat sekali. faktor politik (karena tidak milih). Alasan dari Bupati adalah untuk langkah awal dan nanti kedepannya tidak akan diatur. Perlu disiapkan resolusi managemen konflik di desa 2. karena di PP itu 2 hal yang dimandatkan. Dana yang pertama itu 10 Milyar. penduduk desa paling tidak mendapatkan bagian 10% dari retribusi daerah. maka dengan kesiapan ini kita dapat menuju kewenangan dan hak desa sehingga tidak ada alasan untuk tidak memberikan porsi itu kepada desa. Saya sepakat dengan kawan dari Bali bahwa harus ada ketegasan hak dan wewenang yang harus dimilki oleh desa. kalau diukur dari PP masih jauh. yang mengatur kabupaten tapi hanya pedoman umum saja dan teknisnya diserahkan ke desa. kalau itu tidak disiapkan di desa. Efek ADD luar biasa. 2. Jadi ADD itu benar-benar mutlak untuk desa. kalau kami loyal maka dananya dapat turun. itu perda yang mengatur bukan hanya peraturan Bupati. faktor APBD kabupaten belum siap. setelah ADD jalan desa sudah hotmix.kemungkinannya adalah. sehingga kalau ada ketentuan dari pusat maka mereka tidak dapat menolak. Yang menjadi orientasi ke depan. ADD ini dimanfaatkan untuk pencalonan Bupati bahwa nanti desa akan dialokasikan dana. yang harus diperjelas dalam perda itu bahwa itu harus dipisahkan dengan PAD atau APBD itu sendiri. Catatan lebih jauh. misalnya perda yang mengatur sekian % dari APBD harus dilakukan untuk ADD. Fasilitator Jadi ADD itu bukan identik dengan pengembalian dana 10% yang berasal dari retribusi itu ya? Kamardi Ya bukan. bagaimana ADD itu mutlak kewenangan desa. Syamsul Kenapa kabupaten tidak iklas memberikan ADD. 3. dia memandang bahwa kapasitas dan potensi desa belum siap.

karena tujuan ADD untuk mempercepat pembangunan dan kesejahteraan masyarakat desa justru akan tertunda lebih jauh lagi karena banyaknya permasalahan yang muncul karena realisasi ADD dengan penguatan kapasitas itu. Sebaiknya tidak ada pembatasan yang rigid. yang jadi kebutuhan desa lagi itu adalah keputusan musbangdes. karena akan menentukan besar kecilnya ADD kedepan. jalan dll. PP 72/2005 di kabupaten. di Ngada tidak terlalu percaya pengawas dari pemerintah. kemudian kami cetak dan dibagi ke semua kepala desa. 10 % DAU maka harusnya 15 M. itu sudah mendarah daging. Disini juga ada tim pengawas. karena kecamatan memfasilitasinya dan yang paling mencolok adalah infrastruktur baik jalan desa maupun irigasi. 3. Fasilitator Penguatan bukan hanya pada aparat. Betapa pentingnya kewenangan desa. bertahap. Kalau ADD jalan dan proses perayuan dari pihak luar itu terus maka yang ada adalah pembunuhan terhadap inisiasi desa. di desa itu tidak ada Bandes. datang kontraktor di atas kertas swakelola. Sejak berpisah dari Deli Serdang. Ada kecenderungan berbeda. Mekanisme pencairan dana cukup baik. 1. Bupati mengakali 50 juta per desa. mereka lebih percaya ke konsultan lokal. Partisipasi masyarakat desa sangat turun. saya sangat sepakat sekali antara realisasi ADD dengan penguatan kapasitas kelembagaan desa harus digarap bersama dan segera. tidak sama persepsi dan empati antara ketua Bappeda. Contoh di Ngada. hanya beberapa desa. Yang ditanyai Bandes. sehingga menguntungkan pihak luar. tidak ada mark up. Baru 10 bulan bupati dan wakil bupati hasil pemilihan langsung. setiap tahapan harus dipertanggungjawabkan lebih dulu. ada soal dengan kabupaten induk. Sejak dahulu semua orang menghendaki supaya daerahnya mendapatkan sebesar-besar. dan setiap desa memperoleh dana yang berbeda sesuai dengan kebutuhannya. kalau rata maka 75 juta per desa. boleh memberi pedoman tapi tidak usah detail. Saya ingin menyampaikan bahwa ada 3 kebutuhan yang berbeda anatara di level desa dan kabupaten. PMD. DPRD dan lain-lain. dan kabag hukum. Kasmuin Ada semacam tindak lanjut saja. PP 72/2005 harus dikuatkan dengan perda.Fasilitator ADD itu hak desa. porsinya tidak ditentukan. kriterianya sangat banyak. sehingga mereka bisa bikin pasar. ADD tidak merata ke seluruh desa. yang seharusnya kabupaten induk memberikan kepada Serdai. dan baru menerima PP 72/2005. Apakah kita perlu merumuskan dan mencari strategi untuk mendorong hambatan-hambatan mengapa ADD itu macet dilakukan daerah? misalnya kita mendorong class action apabila ADD tidak dilakukan sebagaimana mestinya. Duit dari PKPS BBM itu seharusnya swakelola. ADD seharusnya didahului RPJMDes. rata-rata mereka mendapatkan sekitar 75 juta per desa. Proses pembuatan keputusan awal harus partisipatif. Ade Saya sependapat bahwa ADD diperlukan pengalaman selama ini. 2. Pembangunan sendiri belum. Honor kades. tetapi hanya rambu. dananya harus memadai. karena orientasinya untuk diri mereka sendiri. Menggagas Desa Masa Depan 59 . Di pemahaman tingkat kabupaten beda persepsi. kabupaten hanya memberi rambu-rambu saja. lalu APBDes dan itu masih dilakukan oleh LSM. Soekirman Sergai baru berjalan 2 tahun 6 bulan. Pembangunan oleh desa lebih efektif. Yang baik itu PPK. tapi juga pada masyarakat karena mereka punya kapasitas dan lebih mandiri. karena adanya fasilitator pendamping sehingga lebih tepat sasaran. kabupaten jangan terlalu mengatur penggunaan ADD.

Arah pembangunan ke 5 sasaran. sudah jelas di PP konsekwensi logisnya kalau ada urusan di desa. masih perlu dukungan masyarakat. Instrumen akan sangat berharga. Pembangunan kemasyarakatan. Sumber Daya Alam. Jadi mestinya uang itu mengikuti fungsi-fungsi yang ada. Ada satu masalah ditingkat nasional dengan adanya intervensi PP 72/2005. tentang ADD mengenai minimum yang harus disediakan desa. sekarang ada juga ADD dari Provinsi. yaitu : 1. Instrumen kebijakan. apakah sesuai dengan perda atau yang lainnya. sehingga dapat dijadikan bahan untuk pembuatan kebijakan bagi Depdagri. Untuk daerah miskin perlu jumlah minimum yang perlu disediakan desa dan kalau itu masih kurang mungkin dapat di ambilkan dari APBN. Bagaimana kita melakukan penguatan. 10% dari APBD. Pembangunan infrastruktur. Dan kalau itu tidak berhasil maka kami akan melakukan penguatan terhadap masyarakat diluar kecamatan untuk melaksanakan pengawasan apapun proyek didesa. selanjutnya pengalokasiannya bagaimana? Mungkin ada contoh dari beberapa kawan.Fasilitator Jadi skenarionya. dana pemberdayaan. kalau tidak ya ada batas minimum. yang itu berasal dari kabupaten. Perlu ada intervensi dari pusat supaya daerah tidak gamang melaksanakan ini. Elemen di desa perlu mendapatkan penguatan untuk bersama-sama mendorong elemen di desa melek APBD dan APBDes. kabupaten hanya memberi acuan saja. tujuan sebenarnya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Joana ADD adalah hak desa yang diterima untuk mengurus kepentingan diri sendiri. 5. Fasilitator Saya ada info dari Pak Girsang bahwa ketika mensosialisasikan ADD. Instrumen apa yang kita gunakan untuk mengatur ADD itu. Pedoman level pusat belum ada regulasi. tapi belum ada pengalaman yang itu diinisiasi oleh masyarakat sendiri. Ekonomi kerakyatan. 3. misalnya best bracticenya diungkap disini. Perlunya needs assesment di desa. perlu komitmen di tingkat nasional. DAKN. sasarannya kepada aparat dan masyarakat desa? Swakelola itu saya sepakat. Peningkatan SDM. ADD itu harus diintegrasikan kedalam APBDes. Menggagas Desa Masa Depan 60 . urusan ini mesti ada fungsi dan juga anggarannya. 2. 2. Kalau melihat dari 10% itu tidak cukup. Perlu komitmen yang lebih di tingkat nasional. Di desa itu banyak uang. Sekarang ini kita juga mendapat mandat untuk memonitor PPK berbasis masyarakat tetapi skenario bagaimana setelah itu kita tidak tahu. Abu Dari pengalaman kami di Klaten untuk mengawal ADD di tingkat kabupaten tidak cukup pemdes dan kades. Datu ADD itu kalau di Jawa tapi kalau di Sumatra Barat namanya DAUN. 4. bagaimana mengaturnya? Karena itu kita juga harus mengetahui bahwa itu adalah uang hasil dari hutang. Inilah yang kita pilih dan kita prioritaskan. Yang perlu kita minta pertama adalah komitmen kabupaten. tapi kalau di Nagari ada dana bagi hasil yang besarnya 35%. perlu prinsip keadilan di tingkat wilayah. semua anggaran dari luar harus masuk APBDes sehingga ada pertanggungjawaban dilevel desa. Tumpak Menurut kami dengan adanya ADD kita perlu cermati 2 hal yaitu: 1.

Itu dikarenakan adanya PP. jadi bukan SE Bupati tapi sudah menjadi perda. Jadi harus ada mekanisme kelembagaan. Fasilitator Ada beberapa catatan penting yang dapat kita tarik dari diskusi ini. Catatan juga dari kami bahwa : 1. Jito (Fasilitator 2) Kita sudah petakan dari sejumlah pengalaman praktis bapak ibu semuanya. Menggagas Desa Masa Depan 61 .Dahlia Saya sangat sepakat dengan apa yang disampaikan dan hanya akan menambahkan bahwa yang terjadi di kabupaten TTS ADD belum pernah ada. Pemda berhenti membuat perda. 4. forum tidak menghendaki tidak terlalu rigid. sekarang sudah ditetapkan tetapi sampai sekarang belum ada apa-apa. 7. Sumber pendapatan desa belum jelas. untuk catatan ADD bukan lagi kebijakan populis Bupati. Satu hal yang penting dan relevan dengan apa yang kita bincangkan antara pusat dan daerah belum connect. Akses informasi masyarakat untuk mengetahui PP masih sangat terbatas. maka dibutuhkan untuk mempersiapkan sistem pengelolaan ADD. Fungsi dari pemerintah kabupaten atau pusat untuk memberikan dead line yang bersifat umum. Ada semacam keyakinan ADD itu membawa perubahan di desa. Pentingnya terintegrasinya ADD dengan program lain yang masuk ke desa. 3. walaupun itu difasilitasi oleh negara. atau perlu dibuat peraturan-peraturan yang dapat lebih manjamin ADD bisa membuat perubahan-perubahan. Jadi perlu ada petunjuk teknis dari pusat yang hanya berisi pokok-pokoknya saja dan untuk detailnya menyesuaikan di daerah. 3. karena komitmen 10% kami hanya mendapatkan 7%. Pemda belum berani memberikan komitmen 10% yang menjadi semacam tolak ukurnya. 5. masalah politik 5. Masalah. 4. sebaiknya ini adalah bagian penting yang segera untuk diintervensi. Karena kami sadar keterbatasn SDM yang ada di desa. 6. Bagaimana memperkuat ADD di level daerah supaya prosesnya lebih cepat. 1. keterbatasan PAD. sehingga dapat independen. Dari 10 juta menjadi 98-100 juta. sehingga dapat dipertanggungjawabkan. Ada trend kepedulian yang semakin meningkat di level daerah tentang pentingnya ADD sebagai haknya untuk menjalankan pemerintahannya. akan tetapi daerah masih setengah hati. Problem manipulasi atau KKN atas pengelolaan ADD. Indikatornya: a. SE Mendagri dan peraturan yang ada. mekanisme pengucurannya seperti apa ? 2. supaya desa itu merasa memiliki atas policy. Perlu juga dibentuk lembaga penguatan masyarakat yang partisipatif dan itu bentukkan dari masyarakat sendiri bukan dari pemerintah. Kabupaten enggan untuk ADD 2. sehingga jumlahnya masih kecil. Perlu ada intervensi positif agar proses tidak berhenti di tengah jalan. kurang serius menjalankan kebijakan ADD yang benar-benar dapat menjawab masalah yang dihadapi oleh desa yang menjadi kebutuhan desa. bagaimana ADD itu diserahkan ke desa. nanti akan kita buatkan petanya dan buat kesimpulannya. dalam bentuk block grant. tetapi ini sudah menjadi kebijakan yang sifatnya daerah. 6. b. Kewenangan kabupaten itu sampai detail apa tidak. Oleh karena itu perlu didorong langkah-langkah oleh semua komponen di desa. bukan kami tidak percaya tapi sampai sekarang ini belum diapa-apakan. Ada 3 kapasitas potensial desa yang belum siap. maka desalah yang perlu mendetailkannya.

Toto Suharyana-BPMKS Sumedang. Perkenalan Untuk lebih mengakrabkan suasana. Apakah mikro finance nanti akan cenderung atau pengelolaannya diarahkan ke BUMDes? Menggagas Desa Masa Depan 62 . Erni-FPPD. Kenapa dibatasi BUMDes? karena topiknya keuangan dan ekonomi desa. Barori-STPMD “APMD”. Edward Kenapa BUMDes dan mikro finance? karena kita ketahui bahwa BUMDes adalah salah satu jenis pendapatan di desa. 4. Edward Lubis-YIPD Jakarta. M. Pengalaman-pengalaman praktis. pikiran dan pengalaman bapak/ibu tentang BUMDes. Tidak perlu ADD itu rigid meskipun kontrol sangat perlu dilakukan agar penggunaan ADD benar-benar sesuai dengan yang diharapkan. Sebelum mengerucut. keberlajutan. Silahkan. dan bagi pemerintah itu sendiri. (3) BUMDes menjadi milik desa dapat melakukan aktivitas pinjaman sesuai dengan peraturan perundangundangan. Yusuf-Sajogyo Sains. Transparansi. problematikanya. baik untuk mikro finance maupun BUMDes. Ada 4 penerima manfaat yang harus diperhatikan. kita eksplorasi pandangan. 8. Fasilitator Kita mengingat kembali apa yang telah dibahas. Kenapa tidak yang ruang lingkupnya lebih luas misalnya pendapatan desa? kalau BUMDes ruang lingkupnya terlalu kecil. Untoro-PMD. peserta memperkenalkan jati dirinya. Widya PujiFPPM. yang didalamnya termasuk aktivitas mikro finance. Sumarjono – STPMD “APMD” : Adnan-LP3ES. aktivitasnya. Suharman-PSPK UGM. profesional (harus dikelola dengan betul-betul). bagaimana posisi dan bagaimana pengelolaannya? Ada prinsipprinsip yang harus dipenuhi dalam pengelolaan keuangan desa diantaranya adalah prinsip pemanfaatan karena dari manapun dan seperti apapun pengelolaan keuangan desa harus diorientasikan pemanfaatannya bagi masyarakat. usaha kecil. (2) BUMDes sebagaimana dimaksud ayat (1) berpedoman pada peraturan perundang-undangan (Bagaimana peraturan perundangundangan PP 72/2005. Sofyan-Akatiga. Kita bisa mulai dengan mengeksplorasi pengalaman saat ini.ASPPUK 2. Yuni Pristiwati . apa keuangan desa. Stefan Jansen-GTZ Pro FI. tadi sudah disampaikan oleh pak Dony). kejelasan wewenang dan peran (pengelola dan kepala desa). Dalam UU 32/2004 yang khusus bicara tentang keuangan desa yaitu pasal 213 tentang BUMDes menyebutkan: ayat (1) Desa dapat mendirikan BUMDes sesuai kebutuhan dan potensi desa. Dony-DPRD Sumedang. Empat prinsip ini paling tidak yang menjadi patokan kita bagaimana memberikan gagasan pada pengembangan keuangan desa. Diskusi ini diharapkan bisa mempertajam pasal-pasal yang sudah ada disitu. yaitu prinsip transparansi.7. Firsty Husbany-DRSP. 9. Susmanto-FPPD/LGSP. pembagunan. Agus R Rahman-LIPI. Tadi pak Maryunani mengantarkan pada kita. Sunarti-Kementrian Pemberdayaan Perempuan. dan apa cerita suksesnya (apa faktor masalah dan faktor pendukung). Kelompok: MIKRO KREDIT DAN BUMDes Fasilitator Peserta : 1.

saya sudah buat seperti ini tetapi rentenir (pelepas uang) masih banyak berkeliaran. dia tidak bisa membeli teknologi itu maka dia butuh tambahan modal. Dalam konteks desa yang kita lihat selama ini. Dalam konteks itu micro finance bicara disitu. pembangunan dan kemasyarakatannya. Micro finance menurut pandangan saya. ini dimaksudkan supaya lebih focus. tetapi yang lebih penting adalah tantangan ke depan. itu otonom. Jika disepakati. bargaining posititionnya kuat. juga merespon apa yang telah disampaikan narasumber. Ketika desa membiayai sendiri. Bicara mengenai keuangan desa tentu saja ruang lingkupnya cukup luas. tetapi topic besarnya kita bicara tentang keuangan desa. Oleh karena itu lembaga perkreditan dibutuhkan di desa dalam rangka mendukung produk yang berkualitas dan syarat dengan teknologi. Komentar saya. Oleh karena itu lembaga keuangan yang akan dibentuk tidak bisa berdiri sendiri sebagai lembaga keuangan. bagaimana menggali sumber-sumber pendapatan asli desa? Saya mengusulkan forum ini juga seperti itu. tetapi tidak apaapa kalau kita sepakat. Paling tidak dari arahan SC/panitia tidak diarahkan kesana. Dimana mikro kredit ini salah satu aktivitasnya usahanya adalah BUMDes.Fasilitator Topik mikro kredit dan BUMDes. “kuasai teknologi pasca panennya kemudian kita bicara proses usaha taninya”. Kita tidak dikungkung dengan dua topic ini. Karena dibutuhkan tambahan modal. Kita kembali pada topik yang akan dibahas. semakin banyak akses kepada uang semakin senang. dst. micro finance yang saya buka ini dalam rangka untuk menangkal rentenir-rentenir di pasar sekitar. sehingga ketika bicara micro finance tidak boleh lepas dari bicara konteks ekonomi secara lebih luas. Tambahan modal itu bisa merupakan kredit. Menggagas Desa Masa Depan 63 . Lembaga keuangan yang ada selama ini seperti apa? Micro finance yang kita lihat selama ini sudah banyak di desa. belum dalam konteks yang lebih positif. tunggakan kecil kalau itu menjadi indikatornya. Teknologi itu mahal. dimana salah satunya melalui BUMDes dan mikro kredit. Kenapa? Karena ternyata uang yang dipakai disini untuk membayar cicilan disana. Teman saya di Minomartani membuka koperasi simpan pinjam diantara warga perumahan di sekitar Jogja. Barori Pak Lubis juga benar. Turunan dari topik yang dibahas disana tadi adalah bahasan tentang micro finance dan ada mandat dari UU 32/2004 atau PP 72/2005 yang kemungkinan dibentuk BUMDes di tingkat desa. Bicara tentang ekonomi desa salah satu indikatornya adalah ketika desa itu mampu membiayai kegiatankegiatan pemerintahan. Persoalannya. wawasan pengalaman tentang dua hal seperti itu. dari segi system micro finance itu sehat. produk skala umum. Artinya. Salah satu dalam pasal itu. sedangkan masyarakat mempunyai keterbatasan dalam mengakses teknologi. mestinya produk yang kompetitif yang sarat dengan teknologi. Ketika bicara keuangan desa. adalah sebuah supporting system dalam sebuah perekonomian. Bahkan ada yang berpendapat bahwa paradigma pembangunan dibalik. Apakah pada skala individu yang memanfaatkan jasa micro finance juga meningkat kesejahteraan dan pendapatannya? Penelitian intensif tentang indivisuindividu sebagai nasabah utama belum dilakukan. masyarakat sekarang ini justru senang. Dia punya idealisasi. sistem kelembagaanya sehat. tetapi biar pembahasan tidak terlalu melebar. omsetnya sudah sampai 2 milyar lebih (dalam satu kecamatan di Minomartani). kita tidak boleh lupa bahwa keuangan itu basisnya produksi. Kegiatan produksi bagian dari kegiatan ekonomi pedesaan yang selama ini ada. alternatifnya bagaimana keuangan bisa dikelola. Jadi uang itu muter. maka dibutuhkan lembaga keuangan yang kuat. merdeka. kita bicara tentang keuangan desa lebih luas dan kita bicara pengelolaan keuangan desa pada dua level yaitu yang berkaitan dengan desentralisasi fiscal (ADD) dan didalam bagaimana kita mengelola keuangan desa. Tentu saja forum ini nanti akan memberikan gagasan. Tantangan kedepan adalah produk desa. tetapi pembicaraan kita adalah keuangan desa dan salah satu topiknya BUMDes.

petani/pelaku ekonomi di desa ada didalam berbagai macam “pembinaan”. Tawaran untuk diskusi awal. dia harus bersaing disana. Diskusi seperti ini sudah cukup lama. Ketika petani bicara masalah teknis budidaya pertanian datangnya ke PPL. kalau kita bicara keuangan desa memang sangat luas. keuangan dari sisi pemerintahan desa. Ini awal untuk memancing diskusi lebih lanjut. tahun 80-an ada buku besar dari PSPK tentang Perkreditan Rakyat (almr Mubyarto dan Gunawan Sumodiningrat) mempertemuankan antara pendekatan efisiensi dan pendekatan efektivitas. Sebenarnya dalam PP tetang desa sudah lebih focus lagi. apakah mnicro finance tergantung juga pada roda perekonomian yang ada. baik bagi orang yang mau menabung. Artinya kelembagaan ekonomi mikro/keuangan desa menjadi untungnya sendiri. Untoro Tanpa membatasi pembicaraan. berdasarkan peraturan perundang-undangan. Artinya ini sebuah boot yang mengakomodasi pelaku-pelaku ekonomi dalam melaksanakan produksi. dll). apakah peran bank BPD menjadi penting didalam manajement BUMDes atau mungkin Bawasda atau ouditor publik ? atau mungkin tidak perlu karena bank BPD dimasa depan di desa menjadi lebih kuat akuntabilitasnya. dan BRI hanya bisa mengejar untuk melunasi hutangnya. karena pendekatannya efisiensi. Kita dasarnya adalah pasal 213 UU 32/2004. apakah namanya sustainable rural banking (dari kacamata teritoritik)? Kenapa sustainable rural banking ? karena hidup matinya (sustainable) bank. Sidoarjo. Ke depan. Kita bisa belajar. Kita memang berfokus pada BUMDes. bagaimana sebetulnya institutional rised membentuk kelembagaan ekonomi yang betul-betul komperhensif. pokoknya uangannya kembali. Dan untuk Perda itu dapat disusun. Kita perlu pengawasan eksternal. memang dua hal ini sangat erat. beli bibitnya ke lembaga kredit (BRI). pembiayaan sampai pemasaran. dan apa yang kita bicarakan disini kerangkanya tidak lepas dari apa yang tadi dibicarakan. Dalam peraturan perundangundangan yang dimaksud disitu adalah Peraturan Daerah Kabupaten/Kota tentang pedoman tata cara. kita focus ke sektor keuangan di desa. memang dari sisi keuangan menjadi sustainable. tidak dalam sektor keuangan di desa. saat ini Dirjen PMD sedang mempersiapkan peraturan mendagri. karana BUMDes mempunyai potensi untuk menutup kesenjangan supplaydemand di tingkat desa. pasal 7881…. Micro finance dan BUMDes. BUMDes dengan usaha simpan pinjam dan omsetnya sudah Menggagas Desa Masa Depan 64 . Stefan Saya usul. sampai tingkat pasar dilepas. tidak setengah-setengah. Kita harus memperhatikan yang seperti ini. sekarang di banyak daerah terutama di Jatim (Trenggalek. Pada saat panen PPL sembunyi. Kami mereka-reka. Nanti kita bisa mendengar pendapat dari bapak-bapak. jangan sampai seperti sekarang. Keterkaitan BUMDes dangan mikro kredit. mudah-mudahan dalam waktu tidak terlalu lama bisa dikeluarkan sehingga pada saat daerah menyusun perda dapat digunakan. secara teknis harus untung (saved uang). karena proses mengatur BUMDes sudah cukup maju. meminjam untuk tujuan investasi atau working capital apa saja. Jasa ini penting. karena cukup luas kalau kita lihat tantangan di sector riel. Tetapi kita harus hati-hati kalau kita menerimakan kepada sustainability. jangan sampai dia melunasi hutangnya bukan karena berdasarkan nilai tambah yang dia peroleh dari aktivitas ekonominya tetapi dari menjual aset-aset produksi sekedar untuk melunasi hutangnya. pembentukan dan pengelolaan badan usaha di desa. Fungsi lembaga keuangan mikro terutama melakukan intermediasi keuangan di desa. lebih luas daripada kredit. produksi dilepaskan. sudah ada Permendagri. dan kita punya banyak anggota yang consent tentang itu. Ini beberapa point yang bisa menciptakan resiko untuk BUMDes. Ini yang disebut dengan pemberdayaan yang total. Sehingga yang namanya perlindungan terhadap petani/masyarakat kecil/pelaku ekonomi kita kelihatannya setengah hati. tetapi ketika sudah panen diserahkan kepada pasar bebas. secara garis besar lembaga kuangan desa harus integrated.

Galian pasir (galian C) juga dikelola oleh BUMDes. Toto Kami akan memberikan gambaran apa yang telah kami lakukan di Sumedang. Bahkan dana perimbangan desa (ADD) ujinya di Sumedang. dari yang telah kami praktekkan kami mencoba mengumpulkan lembaga-lembaga keuangan yang ada di desa cecara partial. bahkan bantuan gubernur (tugas pembantuan) diakses. (aktivitas sudah jalan tetapi payung hukumnya belum ada). Ada aturan BUMDes. ada yang sudah berjalan. Permasalahan. sehingga ekonomi yang tumbuh di desa itu sudah ada. apalagi di pedesaan. sedangkan keputusan bupati turun th 2003. banyak pinjamnya. kedudukannya sama dengan UU. yang boleh menghimpun dana masyarakat itu hanya bank atau harus berbentuk koperasi. bahkan kalau sudah jalan. bagaimana aturan dengan praktek yang sudah ada. sama yang kami buat. Ini harus kita ingat supaya tidak campur aduk. Pelaksanaan di kabupaten Sumedang. satu desa ada 60 juta. karena BUMDes aturannya/payung hukumnya turun belakangan. Tadi disampaikan bahwa justru BUMDes ini yang jumlahnya puluhan ribu yang non bank dan non koperasi. harus ada akta notaris. Lumbung desa juga merupakan salah satu unit usaha BUMDes. Sesudah Perdes jadi dan BUMDes sudah jalan. nanti partial-partial yang ada di masyarakat bisa bubar. BUMDes itu harus dengan Perdes tetapi tidak bisa berhubungan dengan lembaga perbankan karena harus ada akte notaris. pertokoan (fotocopy. dan khusus untuk lembaga keuangan mikro bulan Oktober 2006 akan dikeluarkan Peraturan Presiden tentang kebijakan nasional mengenai keuangan mokro untuk melindungi lembaga keuangan mikro yang nyata-nyata bisa menghadapi pelepas uang dan jumlahnya banyak untuk bisa beroperasional tanpa dianggap illegal. Kami menyikapi bahwa untuk keuangan desa tidak sama dengan BUMDes. Jadi kita mengadopsi. Tetapi manakala disodorkan ke bank tidak akui. BUMDes bisa menjadi PAD desa. Dari ADD disisihkan harus ada untuk modal BUMDes. NOleh karena itu nanti setelah terbentuk di Perdes. Kenapa harus BUMDes? Karena untuk menjawab permasalahan.besar. tinggal di akta notariskan. Jadi tidak serta merta keuangan itu masuk ke BUMDes. manakala go public pihak perbankan belum merespon. Dengan itu maka Menggagas Desa Masa Depan 65 . kalau lembagalembaga keuangan yang ada di pedesaan. seperti usaha simpan pinjam. ATK).000. Kami mencoba mengangkat dari partial-partial yang ada karena di desa paling tidak ada >5 lembaga-lembaga ekonomi desa yang bisa dipayungi BUMDes. sebab lebih dulu praktek dimasyarakat daripada peraturan. lumbung desa. tapi satu sama lain saling mengkait. Yang dapat dimasukkan oleh kami ke BUMDes adalah unit simpan pinjam. Padahal Perdes itu aturan hukum desa. Kemudian untuk pemuda (karang taruna) untuk penagihan rekening air dan listrik dipayungi oleh BUMDes. kalau kita langsung mengenalkan BUMDesa. rekening dari masyarakat dilebihkan 1. tapi setelah jalan menjadi pinjam simpan. Status badan hukumnya masih PERDES. tetapi ini belum dipayungi oleh BUMDes. Disepakati. dari aspek legal dianggap tidak ada karena payung hukumnya tidak ada. diangkat menjadi pengurus BUMDes. Dengan regulasi kebijakan dari atas dapat diarahkan ke sana. Ini usaha-usaha BUMDes baik yang sedang kami rintis. sementara Perda turun belakangan. Setelah terbentuknya BUMDes. dan ada yang masih dalam perjalanan. Itu merupakan salah satu unit usaha BUMDes di desa. baru dari APBDes masuk ke BUMDes. dan warung nasi. Oleh karena itu. mau beli lagi tetapi karena uang kurang maka harus pinjam ke bank. tetapi ADD itu masuk dulu ke APBDes di desa. Depdagri sedang konsen pada BUMDes. seperti ADD (di Sumedang disebut DADU: Dana Alokasi Desa Umum). UEP PKK. Contoh ada yang beli trakor dan laku disewakan. UEP PPK. Keuangan desa dikelola melalui APBDes. dan usaha lain seperti persewaan hand traktor. dari APBDes ke BUMDes. jarang yang simpan. dimana pembentukan BUMDes kami ambil dari partial-partial yang terbaik.

Kalau di pertanian jelas. Sebenarnya fokus (tujuan) dari awalnya adalah untuk penanggulangan/ pengentasan kemiskinan. Ada pengalaman saya. dll. Kalau kondisi petani yang terus mengalami nilai tukar produknya selalu melemah. tidak haya aturan teknis saja. Oleh karena itu kalau akan dikembangkan micro finance harus didasari/diimbangi dengan politik keberpihakan pemerintah terhadap perlindungan petani yang kehilangan nilai tukar. Ada 12. bagaimana usaha-usaha seperti ini yang tidak berbadan hukum bisa memperoleh akses kredit? Juga usaha yang dilakukan desa. Persoalannya. sementara kepala desa berpikiran bahwa itu keuntungannya masuk desa. Selama ini banyak tanah-tanah kas desa yang dipakai oleh pemerintah pusat seperti untuk kantor polisi. Ada keberpihakan politik yang melindungi nilai tukar. maka tanahnya diambil. tetapi ini tidak dimengerti oleh warganya. maka saya penekanannya pada tabungan. Fasilitator Kalau kita bicara BUMDes. saya pribadi mengharapkan juga politik keberpihakan yang jelas pada petani. misalnya di desa ada mekanisme lelang tanah kas desa. di satu desa yang kepala desanya punya inisiatif membangun suatu gudang untuk menampung hasil bumi warga desanya. bahwa melihat tujuan micro finance sebagai intermediary tabungan dan kredit. kalau di desa petani (pertanian) terjadi pelemahan nilai tukar produk pertanian terhadap produk industri. Kenapa control desa terhadap tanah/petani hanya sebatas persoalan bagaimana caranya agar tanah ini bisa menghasilkan pendapatan untuk desa. tetapi dengan pertimbangan. bukan hanya kebijakan. hampir tiap masa ada kelemahan nilai tukar terhadap industri. Kita juga harus lihat ini. Mungkin ini control. kenapa orang di desa sulit mendapatkan usaha? Salah satunya kurang mendapatkan akses kredit. Widya Ada tanah kas desa yang dipakai dengan tujuan kembali ke masyarakat. gagasan intermediary untuk menciptakan tabungan dan kredit di desa mustahil. saya mewanti-wanti bahwa kepemilikan BUMDes ini hanya elit desa (kepala desa dan aparat desa) saja. sehingga pemiskinan akan terus berlangsung. maka dia tidak bisa menabung.5 ha tanah kas desa yang didistribusikan kepada petani (hasilnya sekitar Rp.ada peningkatan pelayanan masyarakat. Tanpa itu. karena gudang yang dibangun diatas tanah kas desa. tanpa ada kontribusi kepada masyarakat/warga desa. ini tentu akan sulit. walaupun usaha seperti ini sudah banyak. ada mekanisme control dan orientasi kemanfaat pada masyarakat juga menjadi pertimbangan. Usaha-usaha di desa dilakukan tanpa harus berbadan hukum. dan saya pribadi setuju. Dalam diskusi ini. tidak ada lagi persoalan belas kasih sosial desa terhadap petani. Kalau petani tidak mau mengubahnya. sekolah. Sofyan Persoalan. Apakah betul di desa sudah mampu untuk menabung? Ini masalah. 53 juta/tahun). hal ini sebenarnya bisa untuk BUMDes. Apalagi adanya keharusan aturan dalam BUMDes bahwa yang melakukan usaha harus berbadan hukum. tidak semata-mata orientasi bisnis. Agus Dalam hal BUMDes. puskesmas. tetapi imbas (pemasukan) ke desa tidak pernah ada. Bagaimana tanah yang dipakai itu dapat memberikan kontribusi pada desa? Menggagas Desa Masa Depan 66 . warga punya pandangan bahwa kepala desa bisa mengontrol itu untuk kepentingan pribadinya. Jangan sampai nanti BUMDesnya berkembang dan yang menikmati hanya elit-elit desa saja. rencana pembangunan gudang ini kemudian diprotes oleh warga. Masalah micro finance secara riel ini bagus sekali. Maksud saya. Tadi dikatakan lumbung desa juga bisa menjadi badan usaha BUMDes.

Pengalaman ini sudah ada dimana-mana. Adnan Negara ini tidak sekedar memproteksi desa tetapi harus affirmative action sudah saatnya dilakukan. Firsty Kita ada di 2 kutub yang sangat berlawanan. tidak dari daerah. untuk apa? Tetap saja petani mati. atau mereka (di desa) yang bahkan tidak punya KTP. mungkin karena untuk mendapatkan kredit harus ada agunan. BUMDes itu sesuatu yang bagus. bahwa di lapangan 60% pelaku usaha mikro kecil itu perempuan tetapi mereka kesulitan dalam mengakases kredit. (terjadinya dept capital). Sebenarnya perempuan itu terbukti bahwa pengembalian kredit itu rajin (kemacetan 99%). bagaimana kebijakan subsidi pupuk? Lebih parah lagi. jangan sampai ada penyeragaman. Belajar dari pengalaman itu. Ini yang perlu dipertahankan (jenis usahanya). saya lihat petani juga semakin parah. Tidak usah bicara partisipasi. Studi LP3ES sekitar 10 th yll (dipimpin pak Dawam). Kalau tidak. kearifan desa disana. Usulan. sudah harus menyangkut pada politik perUUan yang lebih konkrit terhadap desa. karena ada problem seperti ini. semuanya harus affirmative.Mengenai BUMDes. masing-masing mempunyai institusi sendiri. (bagaimana akses perempuan) Fasilitator Saya menegaskan bahwa. jadi tidak hanya di formal saja tetapi juga non formal. Walaupun Depdagrinya jungkir balik. kalau itu dikaitkan dengan micro finance bagi salah satu usaha BUMDes. dimana agunan itu banyak dimiliki laki-laki. harus ada skema khusus untuk kebutuhan-kebutuhan perempuan agar bisa memberikan nilai tambah. juga soal tanah-tanah mati sehingga jangan salahkan orang Indramayu menjadi PSK di Jakarta. apakah desa terutama masyarakat desa menjadi pemasaran produk-produk termasuk produk perbankan ? Dalam kegiatan ini. apapun bentuknya. Jangan-jangan yang kita diskusikan ini apa yang sebenarnya menguntungkan elit desa. 60% desa-desa di Jawa (Indramayu hanya 10% yang mengambil keputusan di desa itu) termasuk soal ekonomi. menunjukkan bahwa akses masyarakat terhadap pengambilan keputusan di desa. apakah mereka menjadi objek atau subjek? Bagaimana kita menyikapinya? Skema kredit. misalnya soal pupuk. saya lebih sepakat kalau kita kembalikan pada kearifan local contoh kasus di Sumedang.03% GNP. 70% dikuasi elit desa. termasuk skema kreditnya. Sunarti Menyoroti dari sisi perempuan. harus lebih jelas. Misalnya kasus UU Perbankan. artinya harus ada perhatian khusus terhadap perempuan. paling tidak ada suatu realita yang kita harapkan. petani kita hancur. tetapi bagaimana menyikapi BUMDes sehingga bisa sesuai dengan realitanya. UU Koperasi tidak ada yang menyentuh sampai ke masyarakat desa. Hasil studi dari Bank Dunia membuktikan bahwa dengan memberikan pendidikan pada perempuan (meningkatkan pendidikannya dari SD—SMA) dapat meningkatkan 0. kembalikan saja ke masyarakat karena mereka yang lebih tahu tentang kondisinya daripada kita. pada sisi lain ada harapan kita apa yang seharusnya. Contohnya di seminar 2 hari ini. kalau pupuk di lepas dipasar bebas. Apakah dengan BUMDes. saya kira Indonesia sudah makmur. Otomatis mereka yang tidak punya KTP tidak bisa punya akses ke bank. Semua ini pendekatan insidental. ya tunggu 15 tahun lagi Negara kita ini sudah selesai. termasuk dari BPR pun atau MF yang paling kecil sekalipun selalu ada persyaratanpersyaratan yang sangat sulit diakses terutama oleh kaum perempuan. tetapi departemen lainnya pro liberalisasi pasar. kita sepakat tidak ingin menjadikan desa sebagai objek. karena sepertinya yang bicara desa itu hanya Depdagri sementara departemen yang lain tidak pernah melakukan affirmative terhadap desa. bagaimana menjembataninya? Menggagas Desa Masa Depan 67 .

bahwa nanti akan ada Perda. Saya menggarisbawahi bahwa: (1) jangan sampai BUMDes itu justru menjadi instrument bagi capital besar yang menghisap desa dan (2) BUMDes jangan sampai menjadi sebuah instruksi yang wajib dialkukan di tingkat desa tanpa ada kegiatan yang riel di masyarakat itu. dia jalan menggunakan mekanisme bank. Saya sepakat dengan teman-teman bahwa jangan sampai kita nanti menjadi paket kebijakan. dikerokin juga sama yang ngutangi!”.000. Masih ada PR-PR bahwa dari tingkat nasional sampai ke desa yang sampai sekarang masih menjadi problematic. Kemudian si ibu mendatangkan poliklinik di rumahnya. dan betul-betul menjadi bagian dari supra ekonomi desa. saya menulis “Bupati versus rentenir”. tetapi juga bisa mendatangkan poliklinik. hanya sekedar untuk menunjukkan bahwa dia itu bukan hanya orang yang bisa membagian beras. Kalau nanti BUMDes masuk harus dibungkas dalam sebuah proses. Saya berpikir. ada seorang ibu yang membuka penggilingan gabah di kecamatan Pleret. misalUU kehutanan. cukup “kamu jualan disitu. Karena selama ini dana yang dikucurkan dari atas sampai ke bawah variasinya sangat luar biasa. belum terselesaikan. Kenapa? karena bupati menggunakan bank pasar (beroperasi pada level pasar-pasar desa). nanti kembali sekian”. Persoalan tentang micro finance. tetapi rentenir tidak membutuhkan itu. bagaimana di daerah lain (Kalimantan)? Apakah mereka sudah mampu untuk mengalami proses monoterisasi. ini cukup Rp. perlu ada koordinasi dengan sector-sektor yang lain. mana yang kira-kira pas? Seperti yang disampaikan mas Untoro. 2 tahun terakhir saya bergulat dengan petani hutan dan desa-desa yang mengepung hutan itu miskinnya luar biasa sehingga mereka menjarah hutan. yang nanti akan membawa kesejahteraan bagi masyarakat. sehingga dikembalikan. dan ternyata kendalanya sama yaitu persoalan landasan hukum. Karena dulu surat Mentri Kehutanan berkali-kali ganti sampai sekarang tidak ada kepastian tentang itu. Nanti hutan di Jawa juga habis karena kita tidak bisa mengelola ekonomi desa hutan. kami sudah meneliti tentang rentenir sampai saya mengkritisi kebijakan bupati Bantul. Menggagas Desa Masa Depan 68 . BUMDes jangan sampai menjadi instrument/kapitalisme di desa yang akan memporakporandakan tatanan di bawah. Kita coba memakai kelompok tani hutan. harus kita lihat kemampuan desa menjalankan BUMDes. afirmatifnya seperti apa?. dia punya cukup banyak beras dan dibagikan ke petani tetangganya. 10. bukan dipaksakan muncul. Ini kan lintah darat yang sangat manusiawi. tetapi tetangganya itu ditanya “apakah beras itu sudah sampai?” Dan mereka tersinggung. Bagaimana “bank” menurunkan kadar formalitasnya mendekati pola-pola rentenir? “kalau rentenirnya masuk angin. Jadi sistem ekonomi kerakyatan ini yang harus kita kawal. Bagaimana masyarakat bisa memanfaatkan potensi yang ada didesanya untuk menjadi usaha itu terhalang oleh aturan-aturan sektoral yang lain. Suharman Saya merespon tentang BUMDes dengan membandingkan kita dulu pernah punya KUD. bukan sebaliknya menjadi instrumen pengisap kekayaan. Unit usaha BUMDes harus yang realitas muncul. Justru kami akan menggunakan instrument itu sebagai sodoran. Kasus yang menarik. bagaimana seorang penggilingan beras bisa mendatangkan poliklinik dari luar untuk buka prakatek di sini. siapa mau berobat. Tentang kehutanan.Jenis usaha. Kami berani menjamin bahwa itu pasti akan ada banyak ganjalan. ini tidak pas. tiap desa harus muncul BUMDes. Kerangkanya harus ekonomi kerakyatan. jalan tidak? Indonesia itu tidak hanya Jawa. jangan sampai itu hanya urusannya PMD. Mekanisme/trust seperti apa yang dibangun oleh rentenir sehingga mereka membangun jariangan cukup kuat? PSPK dengan Pemda Ngawai sedang membangun kerjasama untuk mencari pola-pola dasar (skim) dari micro finance. kenapa Pemda Ngawi tidak gunakan BUMDes untuk mengatur micro finance di desa? Ini menarik untuk coba diaplikasikan. Itu nanti justru akan menjadi konflik. karena nanti yang terjadi hanya papan nama saja. karena terbukti (dari LP3ES) bahwa yang menguasai perekonomian desa hanyalah segelintir orang. silahkan gratis. bagaimana memperlakukan uang sebagai pelaku bukan object? Itu yang harus kita perhatikan.

Depdagri bertangungjawab terhadap LKM-LKM yang non bank dan non koperasi. Celakanya dengan diserahkan ke daerah justru banyak dijumpai illegal logging. kabupaten (melalui bupati) harus mengalokasikan dananya (berapa % dari APBD) untuk pengembangan ekonomi yang dialokasikan untuk modal BUMDes. Yang dimaksud kebutuhan dan potensi desa ada 4 (empat) hal yaitu (1) Kebutuhan masyarakat terutama dalam pemenuhan kebutuhan pokok. Kalau itu bisa. bentuk yang tepat untuk dasar hukum BUMDes adalah koperasi. usaha ekonomi desa simpan pinjam juga maju. maka tidak akan ada masalah rentenir. karena koperasi ada keterbatasannya hanya dari. Usaha-usaha ekonomi masyarakat yang kurang terakomodasi. (2) harus ada kedaulatan rakyat (kedaulatan pangan terhadap sumber daya bersama). Di dalam PP 72/2005 disebutkan bahwa pembentukan BUMDes disesuakan kebutuhan dan potensi desa. jadi BUMDes saja. Untoro Kami menyusun PP itu berdasarkan kondisi di lapangan. oleh dan untuk anggota. Nanti konsekuensinya. Prinsipnya. Kepemilikan. maka perlunya disini bagaimana bisa menjembatani ? Fungsi utama BUMDes adalah (1) fungsi social. Prinsipnya. tidak ada satupun yang mau menjadi BPR.Edward Untuk mengatasi monopoli kepemilikan. tapi juga berfungsi social (visi dan misi jelas). Mengenai tanah kas desa. Informasinya di Bantul BPRnya maju. seharusnya sudah jadi BPR tetapi tidak mau. “Bupati vs rentenir” di Bantul. kurang terpayungi secara hukum. bahkan assetnya sudah 1 milyar. Ini yang di back up oleh GTZ ProFI. Karena ujung-ujungnya siapa yang berkuasa atas BUMDes? Apalagi ini rentan terhadap sumber daya bersama. Untuk bisa mengoptimalkan peran BUMDes. Pengawasan dilakukan oleh BPD dan Bawasda sepanjang bantuan modal/aset2 daerah). Kemudian dimana mikro finance masuk? Tadi dikeluhkan bahwa permasalahnya tidak bisa akses ke bank. Bisakah bupati/walikota memberikan jaminan kepada pengusaha-pengusaha kecil yang dinilai layak untuk meminjam ke bank. Yusuf Saya sepakat bahwa harus ada mekanisme control untuk mengatur posisi modal. hutan itu milik Negara dan dikelola Negara. Mengenai hutan. Jangan sampai kalau bisnis itu sudah kapitalis. disitu menyebutkan tentang jasa keuangan. Saat ini dalam UU baru dimana koperasi sudah diakui sebagai badan hukum yang legal untuk bisa mengakses ke bank. itu yang kita lindungi. kalau itu kekayaan desa harus dikembalikan ke desa karena banyak pasar desa yang sudah berkembang justru diambil kabupaten. Ini juga diakui oleh Bank Indonesia. (2) tersedianya sumber daya desa yang belum dimanfaatkan secara maksimal terutama kekayaan desa. (3) tersedianya sumberdaya manusia yang mampu mengelola badan usaha sebagai asset penggerak perekonomian masyarakat dan (4) adanya unit-unit usaha masyarakat yang merupakan kegiatan ekonomi warga masyarakat yang dikelola secara paksa dan kurang terakomodasi. UKM kurang bisa mengakses kredit bank. Alur tembusnya melalui pasal 213 UU 32/2004 dan PP 72/2005. misalnya hutan. Menggagas Desa Masa Depan 69 . dan pusat hanya kebijakan. yang cirinya adalah ekonomi yang berpihak pada rakyat. tidak dijual. di Sidoarjo justru tanah kas desa ini yang digunakan sebagai modal BUMDes. jelas dikelola oleh pemerintah desa (sebagai penasihat) dan masyarakat. ekonomi masyarakat itu juga boleh bisnis. Permasalahn kredit sudah sejak lama. Pengelolaanya bagaimana? Itu diserahkan daerah. tidak dipaksa. sementara kalau bank kelemahannya pada persyaratan. Dan pengawasan keuangan oleh auditor independent. Kalau pasar desa itu jelas merupakan kekayaan desa. Justru Depdagri bertujuan menembus kebuntuan untuk mengatasi itu. Tetapi jangan sampai BUMDes itu komersil. Sampai sekarang dari > 4500 BUMDes.

pemerintah bekerjasama dengan NGO. kemudian di deposit (tabung) di bank (fungsi intermediasi). Kalau ini membahayakan harus ditolak. Dalam micro finance harus ada rambu-rambu yang jelas. 2) pelatihan dan 3) pendampingan (bisa dari Depdagri kontrak sarjana yang ada didesa sehingga bisa merekrut tenaga kerja di pedesaan). Adnan Kebijakan tata pembaharuan desa termasuk micro finance harus link and match dengan upaya pengentasan kemiskinan. kalau berfungsi seperti ini otomatis ada perlindungan. Ketika masih pada skala kecil tidak apa2. sehingga mereka rajin mengembalikan. (tanggung renteng) Fasilitator Kenapa PMD berani ? mungin karena ada support dari GTZ Pro FI. apa bedanya? Ini merupakan hal kritis yang perlu menjadi perhatian kita. Ini menjadi ramburambu. masyarakat langsung control. LKM hanya berfungsi seperti handle agency. Widya Bagi saya. kalau asetnya sudah sekian juta harus menjadi BPR? Maka tawaran koperasi itu mungkin menarik. lebih memberdayakan pada perempuan. Sunarti Contoh pengalaman di Malaysia. Pemerintah Malaysia pernah memberikan dana untuk taskin tetapi dikelola sendiri. Seperti ini ada linkage program. Kalau kita lihat draft UU LKM. tapi koperasi seperti apa? Toto Saya mendukung ibu dari pemberdayaan perempuan. Stefan Mengenai perlindungan tabungan. sehingga mereka dapat berhubungan secara legal dengan bank. Suharman Simpan pinjam itu justru controlnya social. Prinsipnya. Dan rakyat/masyarakat tidak lagi menganggap bahwa itu uang rakyat. mereka menerima uang di masyarakat. salah satu problemnya itu. Mengenai BUMDes perlu ditambah dengan: 1) fasilitasi (dari Depdagri). karena survey membuktikan bahwa kredit usaha simpan pinjam yang dilaksanakan oleh perempuan lebih baik daripada yang dilaksanakan oleh laki-laki. Fasilitator Prinsip yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa usaha itu harus berpihak pada rakyat dalam kerangka ekonomi kerakyatan. asetnya sudah 1 milyar lebih. apakah di BUMDes ketika terjadi pailit ada yang bisa bertangung jawab? Ini problematik yang tidak bisa diputuskan dalam forum ini. sedikit susah untuk LKM karena asetnya terlalu kecil. Apa yang terjadi? Mereka tidak mengembalikan karena mengaggap “itu uang rakyat”. Solusinya. jangan disamaratakan perempuan itu lemah. Pengawasan juga kuat seperti bank. koperasi itu bukan bank. dasar hukum LKM harus ada. Bagaimana keamanannya? Kalau nanti pintu masuknya hanya ke bank.Barori Masalah kelembagaan. Apakah ini perpanjangan tangan. Strateginya. kepastian hukum. Karena ketika micro finance itu memudahkan kredit bagi perempuan justru nanti akan melemahkan perempuan. Tiga ketua UPK di kecamatan adalah perempuan. Kalau sekarang ada pintu/jendela yang disediakan seperti LKM. Sebagaimana bank yang lain. Jadi perlu disisipkan. bagaimana cara mengelola kredit mikro. uang dari pemerintah diberikan langsung kepada NGO untuk dikelola. Menggagas Desa Masa Depan 70 .

perpanjangan tangan usaha-usaha besar (bank) atau usaha lain. • ada regulasi (peraturan) yang mendukung sehingga usaha pengembangan ekonomi desa ini bisa berlanjut. Rambu-rambu BUMDes atau MF seperti apa? • dilihat dari basis pada kemampuan dan pengalaman desa agar tidak dibentuk berdasarkan penyeragaman. • ada pengawasan yang jelas. Dari pengalaman itu. Kita mencoba membuat tawaran dengan dua institusi yaitu BUMDes yang salah satu didalamnya ada micro finance sebagai alternatif pengembangan ekonomi desa. • harus ada badan hukum yang jelas dengan orientasi kerakyatan. • Problematika: selama ini masyarakat kecil khususnya perempuan tidak mendapat fasilitasi yang cukup. Dari sisi LKM atau BUMDes. harus dibentuk berdasarkan aktivitas riel. • memberikan perhatian pada masalah-masalah perempuan.Fasilitator Kesimpulan diskusi : • Identifiaski pengalaman terkait dengan bagaimana pengembangan ekonomi desa melalui BUMDes dan LKM. • ada kejelasan hukum berbasis pada potensi ekonomi rakyat. selain usaha bisnis harus ada: • pemberdayaan: bentuk bisa fasilitasi. • kepemilikan oleh rakyat. • ada alokasi dari dana APBD. termasuk affirmative action lintas sektoral. • Tidak ada aspek payung legal : koperasi dan bank • Akses terhadap modal dan informasi rendah Ini semua merupakan problem kemiskinan yang ada di desa. • ada kejelasan tatalaksana manajemen. • sebagai affimative action. sebagai pengembangan ekonomi desa untuk menghindari pertarungan modal besar • menjadi subjek dalam peksanaan pelayanan bukan menjadi objek. menghindari kooptasi elit • harus memberi ruang dan bertumpu pada inisiatif dan kearifan local. tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah khususnya pengembangan UKM (tidak ada “proteksi market”). dan pendampingan maupun pemberian modal • berfungsi sebagai intermediasi (LKM) • harus diikuti dengan keberpihakan politik yang jelas • khusus untuk LKM ada skim khusus kredit yang dekat dengan rakyat (belajar dari rentenir) • ada jaminan afalis (kalau dibutuhkan) dari pihak-pihak tertentu untuk menghindari akses modal yang rendah • ada mekanisme dan komposisi kepemilikan modal yang jelas Semua itu tidak boleh lepas sebagai sebuah upaya sistemik dalam pengentasan kemiskianan. • Perlu adanya MONEV dalam pelaksanaan. • ada mekanisme control dalam pelaksanaan dan mengedepankan manfaat untuk rakyat (kesejahteraan rakyat). di masyarakat lokal tentu sudah banyak program-program yang terkait dengan dua hal itu. Dan ada anggapan bahwa uang dari pemerintah tidak perlu dikembalikan. Menggagas Desa Masa Depan 71 . pelatihan.

kami persilahkan saja.. Irwan-Letmindo/GTZ Aceh Fasilitator Ibu dan bapak sekalian.. mungkin saya sampaikan. saya kira dengan yang kita bahas tadi. Mas Ibnu sudah panjang lebar. Terus hubungan desa dengan supra desanya itu sendiri. yang penting yang harus dirubah. kalau saya beri kesempatan lagi dia akan presentasi lagi. nanti eksplorasi lebih jauh bisa kita lakukan. Steny-HUMA. Ini tadi diskusi yang berkembang yang kita bahas di sessi kedua. tapi yang penting kita bicarakan adalah desa sebagai kesatuan masyarakat hukum. sedikit semampu saya membuat catatan ini ada beberapa point yang tadi juga telah disampaikan oleh moderator. Wa’i-Lakpesdam. Azam-Pemdes Kebumen. kita akan bersama-sama menindaklanjuti diskusi yang sessi kedua tadi. bukan hanya sekedar pemerintah desa.5. juga ditangan pemerintah desa. topik kedua mengenai tata hubungan desa dengan supra desa. kami persilahkan kalau ada yang ingin berkontribusi. BPD. Haryo Habirono – FPPD 2. karena tadi waktunya pendek. Jayus-UNEJ. • otonomi itu bentuknya bagaimana? • representasi desa itu bagaimana? • persoalan kedudukan desa. Jadi kalau bicara tentang pembangunan ekonomi dan sebagainya lebih banyak berkait dengan komunitas-komunitas itu. Saya kira itu. pola kerjanya bagaimana. melengkapi apa yang sudah disampaikan tadi. Kalau Pak Sadu ingin menambahkan point-point yang lebih tegas. Tetapi yang terjadi dalam praktek.. Nurwafi-BPD. kan begitu. Artinya kalau Pak Ibnu ingin mengatakan secara tata kenegaraan UU 32/2004 itu salah demi hukum. Ibnu–Unibraw. • konsep-konsep perwakilan daerah. inkonsistensi. sementara di dalam kepanitiaan disini ada beberapa kisi yang mungkin juga mudah dipandu-arah diskusi kita. Tadi ini masih ada beberapa perbedaan kedudukan desa di dalam UUD 1945 yang diamandemen dengan kedudukan desa di dalam UU 32/2004 ini beda. untuk tidak mengatakan salah. Sadu Terima kasih. . Riawan Tjandra – UAJ Jogjakarta : Prof. Pak Sadu sudah panjang lebar. Widya-FPPM. dalam konteks tata hubungan desa dengan supra desa. dibuat mengambang. Salini-DSF. padahal kalau kita mau bicara desentralisasi ya daerah dan desa. Dua pembicara Pak Prof. Silahkan kalau ada yang ingin berkontribusi menindaklanjuti hal itu. nanti diskusi akan berkembang lagi. Widyohari-STPMD “APMD”. hubungan kerja. terima kasih atas kehadirannya di ruangan ini. dan ada komunitas-komunitas tertentu. Kelompok: TATA HUBUNGAN DESA DENGAN SUPRA DESA Fasilitator Peserta : 1. sesuai saja. Bagaimana seharusnya pengaturan hukum mengenai desa? Dalam bingkai NKRI sebaiknya dihapus saja dulu.. Dalam pengertian desa itu sendiri kita harus tahu ada pemerintah desa. Jadi ini dilema. bahwa: • pengaturan desa itu menjadi sangat penting. Untuk itu.. desentralisasi dari pemerintah pusat itu seakan menimbulkan sentralisasi kekuasaan di pemerintah daerah. supaya out put yang kita hasilkan dari diskusi kelompok ini adalah bagaimana mempermudah kita dalam rangka membantu kita semua. khususnya Depdagri dalam rangka menyusun naskah akademik tentang pengaturan mengenai desa. berpendapat. Sadu–STPDN.. Menggagas Desa Masa Depan 72 . Toro-STPMD “APMD”. cuma desentralisasi dalam konteks desa ini arahnya kemana. Sadu dan Pak Ibnu Tricahyo hadir bersama kita. Franky-AMAN. Elke Rapp-DRSP. dari dulu saya tidak tahu ini kemana dan kaya apa.

Nah ini akan menjadi dilema. Barangkali ini bisa menjadi semacam model. tapi orang yang bekerja di desa adalah orang-orang yang mohon maaf kalau saya katakan tidak berkualitas. mungkin untuk memperkuat kedudukan tadi saya sepakat dengan Pak Ibnu. Mohon maaf. bisa mengatur pilkades yang baik. tapi kalau kita lihat data. munculnya undang-undang desa dan itu akan mendorong juga kedudukan desa yang lebih jelas. apakah pemerintah desa adalah organisasi pemerintah sesungguhnya? Dia menjalankan fungsi-fungsi. Paling sedikit per-Oktober Mendagri mendapat PR dari Komisi II DPR untuk menyerahkan atau mempresentasikan draf awal naskah akademik. mengenai Undang-Undang tentang Desa ini. desentralisasi kepada desa itu bentuknya seperti apa. Ini kayaknya konteks yang kita bahas berbeda. saya harus informasikan karena ini informasi juga saya dengar dari orang yang harus saya percaya yaitu dari Depdagri sendiri. Pertemuan ini dimaksudkan dalam rangka mengisi.. Saya ngomong sama gubernur itu akan menjadi omong kosong kalau desanya tertinggal.Desentralisasi kepada daerah jelas. Dan untuk desa diminta naskah akademik. kemudian siapa yang mau bekerja di desa? Padahal kita bayangkan ada pemberian kewenangan yang besar. Ada beberapa di kabupaten yang seperti Sumedang dan Bandung. Ini barangkali masalah pokoknya disini Widyohari Saya nyambung Prof. hanya hal itu tidak dilaksanakan.. Saya menawarkan gagasan. kalau dulu masih ada pengganti asusila. tidak boleh memungut pajak dan retribusi atas dirinya sendiri. tapi kedudukannya tidak jelas. Jadi desa mengatur tentang kedudukan desa itu sendiri. saya tidak tahu. bukannya masyarakat adat tidak prnting. Kalau saya ngomong begitu mungkin tersingggung. artinya sudah ada regulasi mengenai keberadaan dan peran masyarakat adat. saya lihat visi dari kepala daerah dalam membangun kabupaten berbasis desa. pegawai desa itu kedudukannya seperti apa? Ini sampai sekarang tidak jelas. yang dipungut adalah iuran. dia menjadi mata rantai yang terlemah dan akan tersisihkan. bahwa undang-undang tentang Desa kedepan harus diinikan. Jadi sebelumnya. Franky Menurut saya tidak hanya regulasi. Cuma nanti kembali kalau kepada kedudukan organisasi yang tidak jelas. Saya bertanya. tetapi juga kebijakan yang lebih konkret. anggaran banyak. sehingga bisa mengatur tentang pengaturan dan kedudukan desa. Fasilitator Saya potong sedikit. waktu itu Gubernur Jawa Barat bicara tentang provinsi termaju di Indonesia. kayaknya sebelumya membuat undang-undang tanpa naskah akademik. khususnya untuk pengaturan. buktinya sudah ada tapi pemerintah daerah tidak bisa apa-apa. Merupakan suatu keharusan kalau kita membiarkan desa seperti bentuk-bentuk yang lama. Masyarakat hukum dengan masyarakat hukum adat berbeda. fungsi-fungsi yang sudah dijalankan oleh desa.. Ini lebih memberi peluang. Fasilitator Jadi supaya kita lebih fokus. dan itu bisa nampak dari diberikannya ADD yang besar juga program-programnya. nah ini menjadi babak baru. sekarang tidak ada. Kalau tidak salah SK Menteri Kehutanan menjelaskan soal masyarakat hukum adat. larinya pengganti ekonomi. dia tidak digaji. otonomi desa yang sebenarnya juga akan semakin jelas. kemudian begitu selesai ya selesai tidak ada pensiun. sudah ada komitmen politik bersama Komisi II DPR bahwa kedepan akan ada Undang-Undang tentang Desa. karena orang-orang desa yang berkualitas sudah tidak mau jadi perangkat desa. tapi memang ini hal khusus yang dibicarakan mestinya dalam ruang dan waktu Menggagas Desa Masa Depan 73 . memberikan masukan sekaligus itu adalah ajang advokasi kita dalam penyusunan naskah akademik mengenai desa. kewajiban-kewajiban pemerintah. akhirnya gubernur setuju.

apakah local self governance. apakah ini semua? Apa dan bagaimana struktur yang akan dilaksanakan. dari bawah. sudah jenuh juga. kecamatan. jangan terlalu detail. dan ini membuat undang-undang yang akan dilaksanakan dan bersifat nasional. Ini lalu memang tipikal otonominya menjadi berbeda. mungkin struktur ini akan berbeda lagi. Kita pernah mencoba pada penyusunan perda 2004. local self governance. ada sanksi disitu. Azam Terima kasih. yang namanya sekdes sampai mati tetap sekdes. tapi kita juga jelaskan juga usulan anda tidak bisa masuk kesini karena nanti akan berbenturan dengan peraturan. lima struktur itu bebas saja. Dari dulu desa deperti ini terus. step by step. ada local state governance. dari legislasi. ini agak beda. minimal kalau ada sekian provinsi. Kalau kita mengembalikan self community governance apa gunanya kita diskusi tentang itu lagi. apakah masih perlu atau mungkin dengan badan kerjasama antardesa atau langsung kabupaten. ada self community governance. dan self government community. Itu sudah ada usulan dari kawan-kawan. Karena kalau semua sudah diatur. yang namanya kaur pembangunan selamanya kaur pembangunan. kami melontarkan bahwa ada garis dalam struktur pemerintahan desa. tapi itu masih kurang. local self government. Akhirnya hal itu menjadi kekhawatiran dari masyarakat itu sendiri oleh UU 32/2004.yang khusus. saya pikir apa konsekuensinya. Usulan-usulan dari masyarakat banyak dan bagus dan itu saya masukan. apakah disitu adat istiadat masyarakat yang tradisional masih ada atau tidak ada lagi desa. untuk melihat struktur apa akan dipakai. dan 3) Desa Teritorial yang adatnya sudah tidak jalan karena masyarakatnya heterogen. Jadi namanya desa nanti akan ada lima perangkat. Sadu Kalau dilihat dari jenisnya ada tiga: 1) Desa Geneologis. Fasilitator Ya. Fasilitator Kalau tadi kita bicara tentang otonomi itu mungkin akan menjadi berbeda dengan yang kemarin. itu menjadikan aspirasi ini apa artinya. Dalam undang-undang nanti. Kita diskusi mengenai local state government. Ini saya antisipasi kalau terjadi suatu permasalahan hukum. Kalau ada desa langsung dari pemerintahan. atau self community governance. Kalau kita mulai dari tingkat desa. kaur umum dengan prestasi yang bagus bisa menjadi sekdes. ini mungkin kita bahas asas-asasnya saja. tidak serta merta langsung kita berhentikan. Menggagas Desa Masa Depan 74 . dimana desa yang masih homogen. katakanlah sekdes terkena masalah norma sosial. kita kembali ketiga tipe desa. Konsultasi publik saya tahu. jadi semua provinsi bisa mengetahui kalau ada proses. Artinya mekanisme ini tolong. Kalau ada self gonernance kita harus lihat peran kecamatan. saya kebetulan dari orang pemerintah. Nah sekarang kita ingin fokuskan supaya kita mencapai apa yang tadi dilontarkan Pak Sadu dan Pak Ibnu. masa jabatan tidak usah diatur. Pak Eko cukup jelas membuat tipologi desa dari hasil-hasil studinya. kemudian struktur organisasipun jangan diatur. Pak Prayitno mengenai kedudukan desa. kami mengundang sembilan ratus dua puluh orang. local state governance. adatnya masih kuat. Sekarang saya melakukan perubahan perda. Kita sedang membicarakan masyarakat hukum. Elke Usulan tadi bagus sekali. Franky Artinya itu mementahkan diskusi kita yang kemarin dengan Pak Eko. tipe 2) Desa Campuran yang adatnya sudah mulai pudar. bisa dengan penurunan pangkat.

dan perdes itu sulit kita bayangkan dalam hal kewenangan. sangat bagus menyangkut perbedaan antara desentralisasi kepada desa dan desentralisasi kepada daerah. Itulah yang mungkin bagi kita selaku orang desa akan lebih mencerminkan hak-hak kita di semua aspek kehidupan berbangsa dan bernegara akan lebih terjamin? Sehingga kalau akan diturunkan sebuah undang-undang atau tidak. Fasilitator Saya ingin klarifikasi dari Pak Wafi. bicara kualitas sumberdaya manusia itu penting. komando. mungkin dalam pikiran normatif. Dalam UU di level nasional misalnya justru dikatakan sebagai kewenangan pusat atau daerah. apakah yang disampaikan berdiri lepas dari sistem pemerintahan kabupaten atau masuk sebagai sub-sistem pemerintahan kabupaten? Kalau Pak Ibnu tadi tidak mengatakan. kalau memang terpisah dan itu lebih memberikan keleluasaan terhadap hak-hak kita sebagai orang desa maka itu akan lebih bisa menjamin bagi desa. kami tidak terlalu pusing apakah sebuah bagian dari pemerintah daerah atau berdiri sendiri. dan saya kira kawan-kawan dari pemerintahan desa ada disini. Kemudian kalau bicara soal desa berdasarkan pengakuan maka saya baru membayangkan kalau desa yang kita bicarakan kemarin. tapi oleh perdes kemudian bisa diambil alih oleh Menggagas Desa Masa Depan 75 .. bagi kami orang desa sebenarnya tidak tertalu prinsip. Kaitannya dengan posisi desa dengan supra desa. yang prinsip bagaimana hak-hak. tapi beberapa waktu sering mengatakan otonomi desa itu kan otonomi di dalam otonom. tapi pasti ada asas-asas penting atau dinamika-dinamika lokal penting yang kira-kira akan keluar menjadi argumentasi kita di level nasional. Nah itulah yang saya kira butuh kerja lebih keras lagi. sehingga tidak perlu menyangkut nanti apakah undang-undang atau hanya sekedar revisi bukan hal yang seperti dulu lagi. selama bisa memberikan suatu jaminan-jaminan hak desa bagi kita tidak terlalu prinsip. bagaimana otonomi desa yang disebutkan dalam konteks pemerintahan kabupaten. Steny Saya hanya melanjutkan apa yang sudah dikemukakan. Jadi kalau nanti dibawah atau bagian langsung dari kabupaten. Nurwafi Prinsipnya. Kemudian sentralistik. Oleh karena itu memang selama ini punya pengalaman bahwa bagian dari kabupaten adalah kecenderungan-kecenderungan yang. sehingga berhasilnya desa itu kuncinya memang di tingkat kabupaten. apa mau kawan-kawan di level bawah. Atau sebaliknya. yang diharapkan adalah hak-hak prinsipnya yang diperoleh. penyeragaman. selama ini hanya instruktur. yang penting prinsip-prinsip sebagai sebuah desa itu tercover. Soal aturannya tidak perlu terlalu ‘jlimet’. Nurwafi Terima kasih. Kepada desa itu kira-kira berdasarkan pengakuan mungkin lebih mirip dengan Pak Ibnu bahwa kepada desa itu berdasarkan hak. self governing community memang seperti yang dikatakan Pak Sadu. kami sebenarnya dari desa selalu memberikan masukan-masukan yang positif mengenai keberadaan lurah-desa. Saya ambil contoh dibeberapa desa misalnya mereka buat perdes. mereka punya suara dan bicara soal dinamika lokal seperti apa yang sudah mereka buat. Coba berusaha lagi melihat dinamika seperti apa yang sudah dibangun selama ini pasca UU 22/99 dan pasca UU 32/2004. kabupaten atau kecamatan bagaimana unsur-unsur itu sebagai fasilitator. tapi saya justru melihat itu jangka panjang. Saya hanya mau menghubungkan saja konsensi yang sudah dibicarakan itu dengan rencana atau kemauan kita kedepan.. asas-asas yang sangat prinsip bisa kita terima sebagai hak.Diharapkan dalam diskusi kelompok ini bagaimana nanti itu diatur dalam undangundang yang baru. Saya kira desa dan pemerintah kabupaten tidak menerjemahkan kedua UU itu lurus-lurus seperti apa yang kita bayangkan.istilahnya desa itu sangat tergantung kepada kabupaten.

lalu mau kita apakan dalam konteks kewenangan dalam struktur yang mau kita implementasikan? Saya hanya mau mengatakan satu hal penting yang sering keluar dalam self governing community selama ini. yang merupakan kewenangan pemerintah kabupaten memberikan ijin. Itu dinamika lokal dan yang begitu jelas kebutuhan dari bawah. bahwa struktur desa tidak akan bisa dilepas dari persoalan kabupaten.kewenangan desa. pendidikan dan sebagainya. Fasilitator Kalau saya menangkap. Pada sisi yang lain kemudian memang bersilangan dengan pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya sektoral di tingkat kabupaten. dan lainnya untuk daerah mana. perijinan dan sebagainya masuk. Pemerintah provinsi dan kabupaten sudah harus bisa melihat itu. Titik temu atau kompromi antara support dengan titik kemandirian desa itulah yang sebetulnya menurut saya belum ketemu. Ini menyedihkan dari satu sisi aspek kemandirian. Dengan satu pengertian bahwa ini mengadopsi tiga hal tadi. misalkan mana yang menjadi institusi desa sendiri dengan institusi sektoral di tingkat kabupaten. dan banyak pegawai kecamatan menyusun program desa dan dirumuskan setelah ada ketentuan atau ketetapan mengenai APBD. adalah keinginan mereka misalnya kalau ada orang luar masuk. lebih spesifik lagi. kami cocok menggunakan ini dan seterusnya. Kedua. artinya kita menyerahkan pengaturan desa kepada kabupaten atau provinsi. sepanjang konstitusi itu tidak menempatkan desa menjadi yang harus diatur dalam konstitusi maka selamanya tidak akan menjadi keharmonisan. Jadi ini nanti secara aspek politis juga harus dipertimbangkan bahwa desa sebagai satu kesatuan hukum memiliki aspirasi (dalam musrenbang dan Menggagas Desa Masa Depan 76 . Oleh karena itu didalam UU nanti yang hendak diatur adalah hal yang dianggap penting secara umum dalam UU tentang desa. Contoh di diskusi kemarin soal inpres. saya merasa bahwa pembicaraan ini sebenarnya mengenai tarik ulur antara support yang diberikan oleh supra desa dengan kemandirian desa. Saya kira bisa menjadi rekomendasi kita kedepan bagaimana mengatur hubungan antara komunitas-komunitas lokal yang disebut self governing community dengan pemerintah daerah. Jadi self governing community itu berlaku untuk daerah mana. kalau tadi menjadi sebuah muatan yang akan menjadi bagian dari peraturan daerah saya justru sangat sependapat. Oh. orang akan mengatakan ini semacam cek kosong. Nah ini nanti juga akan menimbulkan persoalan baru. Seandainya ada gagasan untuk melapaskan. tapi hal yang tidak ada dalam bagian dari UU itu perlu diatur dalam perda. taruhlah ada kebijakan-kebijakan yang harus ditempatkan proporsinya secara tepat. Jadi mereka tidak bisa menyusun program dengan kolom-kolom yang kosong. Ini juga yang kemudian harus dimasukan dalam kebijakan bagaimana menumbuhkan desa dalam struktur ini. Anda itu tidak bisa merusmuskan sendiri. saya tidak punya suatu keyakinan apakah pembuat UU nanti berkenan. Ketiga. Jadi antara otonomi desa dengan segala kemampuannya meskipun tadi Prof mengatakan bahwa pada realitasnya SDM di desa sangat memprihatinkan. Wa’i Terima kasih. ini desa kita yang menggaruk gatal ditubuh sendiri tetapi muternya itu harus kemana-mana dulu. Jayus Sebenarnya persoalan desa itu kembali lagi pada persoalan konstitusi. kalau sudah bicara persoalan dilepas pasti saya akan berpikir beda lagi. karena perda dalam satu kabupaten dengan kabupaten lainnya tidak sama. Memang desa memiliki perangkat organisasi yang seperti dimiliki oleh kabupaten. kabupaten lebih khusus lagi. setelah tahu desa itu dapat berapa baru bisa. karena di banyak desa program-program desa disusun atau dirumuskan hanya oleh institusi di atasnya. Jadi impian saya kalau kita bicara dari self governing community maka pembicaraan soal hak otoritas mereka itu menjadi salah satu muatan dalam UU kalau kita mau merekomendasikan. atau kalau ada investasi. begitu? Provinsi lebih umum. maka kira-kira awalnya harus melalui persetujuan dan ijin mereka. Saya kira begitu aja. meskipun itu birokrasi di tingkat desa.

Karena pengalamannya sudah lebih baik. membina. karena pengalamannya Jawa. adalah Local Self Government itu yang namanya desa umum atau desa teritorial. Nah ini persoalannya sekarang. Hanya berhenti disitu. jadi dia sebagai desa yang otonom tapi tidak bisa semua desa di Indonesia kita perlakuan sama. karena tujuan akhir dari RUU Desa adalah bagaimana desa itu dengan otonominya bisa bangkit dan mandiri. melakukan supervisi. Ini ada dua jalur yang sebetulnya bisa dimainkan oleh masyarakat desa. saya ingin bertanya. Kalau nasional pakai umum satu-duaMenggagas Desa Masa Depan 77 . Local State Government adalah desa administratif atau kelurahan. itu kan diawal pembicaraan tadi Prof Sadu menyampaikan bahwa desa itu sebagai obyek politik terus dan selalu dimarginalkan. Pertanyaannya adalah apakah konstitusi ini yakin menjadi modelnya pemerintah? Ini harus jelas dulu. BPD-nya sudah lebih siap. tapi ya begitu saja. yang menurut saya sudah siap didorong untuk menjadi desa yang otonom. Meskipun Direktorat Jenderal PMD yang mengenai desa ini sudah lebih dari tiga puluh tahun. Nanti masing-masing pilihan ini akan mempunyai konsekuensi terhadap administrasi. Kedua. tidak pernah serius dilaksanakan. Sekarang mengenai desa otonom. Menurut saya istilah itu sekarang sudah tidak relevan. Kemudian tugas pemerintah yang lebih tinggi memfasilitasi. Pak Azam bicara tentang desa otonom. pada sisi lain masyarakat desa juga sebagai konstituen dari partai politik. kalau kita mau mendorong desa yang otonom maka NKRI dibagi provinsi. itu bisa kita petakan secara jelas. pemberdayaanpemberdayaan itu sudah ada. jangan sampai kita membuat UU bertabrakan dengan konstitusi. itu artinya yang namanya penyerahan. apakah dengan otonomi desa itu lalu SDM akan segera up-grade atau sebenarnya sekarang ini kondisinya didalam UU juga PP 72/2005 atau kemarin ada Kepmendagri 64/1999 yang diacu untuk pengaturan mengenai desa. Ketiga. Mas Toro silahkan. tidak pernah ada pemberdayaan yang konkret baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. mereka bisa menyesuaikan dengan perkembangan zaman dan seterusnya.sebagainya). kemudian Mas Wafi. hubungan dengan supra desa dan seterusnya. Ini yang kita hadapi sekarang dalam UUD 1945 pasal 18A dan 18B. Kedua. Sutoro Mengulang yang kemarin. tapi tidak pernah terlaksana. dia sedang berbicara tentang desa adat. kabupaten. Tadi Mas Franky dari AMAN. bagaimana kepada desa? Kalau tadi Wafi sudah menyebutkan sebagai fasilitator. kepegawaian. sebut saja yang namanya Self Governing Community itu sebagai desa adat atau desa geneologis. disamakan sajalah. Sadu Apapun yang kita lakukan kepada desa tentu terkait dengan sistem pemerintahan nasional. Itu mungkin yang saya bisa katakan bahwa titik kompromi itu yang belum ketemu. Saya agak kurang setuju dengan Prof. Ini peran pemerintah. Nah sekarang yang namanya konsep pemberian harus diganti dengan konsep pembagian atau penyerahan. jadi konsep bantuan itu sudah kita tolak. otonomi pemberian itu sama dengan konsep bantuan. artinya desa harus lepas dari kabupaten meskipun ada hirarki tapi tidak seperti yang sekarang menjadi bagian atau sub-sistem pemerintah kabupaten. Fasilitator Pertama yang ingin disampaikan. Sadu yang selalu membedakan antara otonomi pemberian dengan otonomi asli. Itu posisinya jelas. jadi kategorinya jelas. kemudian berkaitan dengan SDM di desa yang lemah. alokasi atau pembagian itu berarti desa punya hak. dan desa. mempermudah saja supaya tidak campur aduk. pembinaan kapasitas dan seterusnya. Oleh karena itu dalam konteks ini kalau kita lihat UU 32/2004 pasal 1 ada bunyi ”Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi menjadi wilayah provinsi dan kabupaten”. Kembali pada SDM. Pertama. ganti konsep alokasi. harus konsisten dengan sistem di tingkat nasional. bagaimana kedudukan desa itu dalam otonominya.

sebagian besar obyek perijinan adalah pertambangan. bunyi pasalnya wajib. Saya juga bingung. sekarang mau disatukan lagi sudah tidak bisa. Kalau desa itu tidak jelas. Setelah wajib pihak kepala desa dan BPD dan juga lembaga kemasyarakatan disitu harus stakeholders dulu yang memutuskan ya atau tidak. Kemudian SDM lemah itu kembali dari organisasi yang tidak jelas. kalau tidak ada upaya-upaya hukumnya. makanya dia membedakan ada desa dinas dan desa adat. supervisi. Kalau tiba-tiba ada orang datang bawa secarik kertas bahwa saya akan membuka tambang disini lalu masyarakat desa terima sampahnya. Seperti dulu ada di Sumatera Barat rancu. penyeragaman kemudian merusak akar-akar yang ada. Nurwafi Di PP 72/2005 itu malah lebih jelas. tidak perlu ada administrasi. yang dikejar harga ekonomi. kabupaten sekian atau bicara pada level yang lebih mendasar. karena konfliknya disitu. itu bukan harus. Soal istilah. Kecuali desa-desa yang memang masyarakatnya sudah sangat heterogen. persoalan selama ini yang sering terjadi adalah kita kurang mencermati kewenangan administrasi pemerintah pusat dan pemerintah kabupaten begitu besar di level desa. tidak perlu ada pemerintahan. Bagaimana dengan yang begitu. Fasilitator Kalau dalam UU 22/99 pasal 110 ada pihak ketiga yang ingin membangun atau mengeksploitasi desa itu harus mendapat persetujuan dari masyarakat desa melalu kepala desa dan BPD. intinya satu yaitu wajib. meninggal harus cari tempat lain. sekarang penghargaan sosial tidak ada. adat sudah tidak lagi punya kekuatan. Saya mau menambahkan saja. apakah kita kemudian hanya bicara soal presentase. Tapi pertanyaannya tadi 18A-18B itu dipisahkan. Jadi kalau kita diundang dalam kegiatan adat tanpa alasan yang jelas tidak datang. peran pemerintah sebagai fasilitasi. Jadi sebelumya stakeholders harus dikumpulkan dulu. keuntungan untuk desa sekian. makanya mereka menghargai betul pada adat. Dari sekian ijin yang diberikan di Indonesia. perhutanan dan sebagainya dan itu ada di wilayah desa. kuatnya begitu. Kalau dulu orang itu rebutan jadi kepala desa karena gengsinya luar biasa-status sosial. ia kehilangan hak-hak sosial. Kalau kita menerima pasal 18B semua self governing communty saja. itu difasilitasi di pasal berikutnya. tadi sudah disinggung dan bicara soal tata hubungan desa dengan supra desa. tapi kalau pakai size ada besar-sedang-kecil ya konsisten. Desa-desa yang adatnya masih kuat berikan kesempatan. Dulu lebih banyak pada penghargaan-penghargaan sosial. Urusan desa adat orang lebih patuh ketimbang desa dinas. Kalau Bali saya lihat meskipun sudah modern tapi adatnya-agama masih kuat. nanti saya pikirkan. apakah diteruskan seperti itu saja atau perlu ada suatu klausul atau satu peran juga yang boleh kita katakan sebagai negosiasi perijinan yang juga dimiliki oleh pemerintah desa terhadap ijin-ijin yang masuk ke wilayah desa. Orang diundang adat tanpa alasan yang jelas. hanya sekali lagi jangan membuat aturan yang berlaku untuk seluruh desa padahal ada kategorisasi yang cukup tajam. Sutoro Saya kira pasal 18B itu sudah ketinggalan zaman. jadi ya kita harus menyesuaikan diri dengan kondisi. dulu dia punya kekayaan besar kemudian dipecah-pecah. Steny Konkretnya. itu yang mesti didudukan dulu karena berangkatnya dari situ. Jangan sampai kita melakukan kesalahan yang kedua. hak dan kewajibannya jelas. kalau organisasi ini jelas kita bisa membuat sistem seleksi.tiga ya harus konsisten. sekarang tidak kesitu yang dikejar. perijinan itu juga harus melibatkan mereka dalam persetujuan. akarnya sudah tercabut. Menggagas Desa Masa Depan 78 . tadi saya terima kasih diberikan saran. kalau semua bisa jadi satu. jadi larinya pada penghasilan. dia bisa ditolak di-aben disitu.

. Jayus Alangkah bijak kalau kita mau mencoba membaca hal baik dan tidak baik dari peraturanperaturan UU yang pernah ada. UU 5/79 saya pikir itu bagus kontruksinnya cuma persoalannya pada sentralistis. Fasilitator Kalau tidak diterapkan itu persoalannya juga banyak orang tidak baca. kalau kiranya cukup. Ini tugas kita semua terutama pemerintah daerah bagaimana memfaslitasi orang baca. itu berkaitan dengan sanksi. Elke Saya hanya ingin. hak-haknya belum maksimal bisa diupayakan. Menggagas Desa Masa Depan 79 . Jadi saya kira memang kawan-kawan dari desa yang lebih tahu persis. kita lihat lagi th 48. UU 22/99 demikian pula. Fasilitator Oleh karena itu.Fasilitator Dalam konteks diskusi kita ini posisinya ada dimana. ditaruh didalam meja. padahal sosialisasi sudah sekali-dua kali. Pak Toro selama belum ada amandemen. disitukan ada di UU tapi tidak diterapkan. Saya minta mas Wafi bersama kami melengkapi ini. kalau kita tanya kenyataan di lapangan. Untuk itu kita cukupkan sekian dulu diskusi kita. Soal ADD.. itu yang pertama. Nurwafi Salah satu kelemahan adalah sanksi. Apa ada relawan. Fasilitator Ya. kita masih akan terus menambahkan. tetap saja bunyi pasal 18 juga tidak akan berubah. kemarin kita sudah mengangkat seorang bapak kedudukan desa. kalau masih ada ide-ide. hal itu perlu menjadi sebuah pemikiran yang lebih jelas. biar nanti kalau terkait dengan desa. Nanti kita akan bantu merapikan hasil-hasil. nanti dalam diskusi pleno presentasi. apa bisa ditulis dalam flipchart topik-topik yang akan disampaikan? Fasilitator Apakah ini perlu saya tuliskan? Sutoro Saya kira perlu Pak dituliskan garis besarnya. hanya orang desanya sendiri. coba kita lihat th 65. Kedua. soal hak-hak desa itu ada. karena saya yakin didalam UU 32/2004 ada yang baik dan ada yang tidak baik. mekanisme keluhan. bukankah begitu? Sekarang saya hanya ingin mengingatkan waktunya. Fasilitator Saya kira ini cukup. saya ingin mengundang salah seorang teman untuk mempresentasikan hasil diskusi kita. jadi tidak pernah tahu padahal ada. apakah hubungan desa dengan warga desanya? Steny Itu hubungan dari pemerintah daerah sama pemerintah pusat. Itu akan menjadi sebuah muatan disamping adanya persoalan..

• • • Menggagas Desa Masa Depan 80 . Bentuk otonomi dan kewenangan desa mencakup hubungan desa dengan supra desa Bentuk organisasi ---) berkaitan dengan SDM.2. karena desa merupakan wilayah yang menjalankan pemerintahan. Perlu ada ruang yang jelas bagi desa dalam kewenangan perijinan. Oleh karena itu. Ada pendapat yang melihat pasal 18A konstitusi justru sebenarnya menjadi dasar untuk mendesain desa otonom dan 18B sebagai basis pengaturan bagi desa adat. Konsistensi implementasi dari policy. 8. Diperlukan adanya konsistensi implementasi dari policy. fasilitasi. pembangunan dan tatanan kehidupan masyarakat dan budaya lokal. tetapi di daerah tidak direspon dengan baik dan cepat. Barori 1. 4. 3. sangat penting pula desa diberikan legal standing dan kemampuan menjalankan class action dalam judicial process. UU 32/2004 sejauh ini belum banyak ditindaklanjuti oleh kabupaten dalam menjamin desa memiliki otonomi. Selama ini good will pemda masih dipertanyakan karena banyak ide tentang kewenangan muncul di pusat. Salah satu tolok ukur desa mampu menjalankan kewenangan adalah mampu menyusun dan menjalankan peraturan desa secara konkrit. tetapi forum lebih banyak menaruh perhatian pada posisi desa sbg local self government. Pengaturan relasi antara desa dengan supra desa tetap harus mengacu pada dasar konstitusi dan derivasinya. Tipologi desa perlu dicermati dalam mendesain pengaturan mengenai kedudukan desa dalam state. 3 Juli 2006 Pukul : 16. Selain jaminan kewenangan. capacity building menyangkut desa Deskripsi singkat : 1. Otonomi dan kewenangan harus diberikan kepada desa.Benang Merah Pemikiran : • • • • Kedudukan desa dalam konstitusi dan derivasinya. Presentasi Hasil Diskusi Kelompok Hari/Tanggal : Senin. Hal ini berkaitan dengan desa otonom dan desa adat. agenda kedepan adalah mendorong kabupaten untuk menyusun perda dan program untuk mewujudkan desa yang memiliki kewenangan yang jelas dan mendorong kemampuan mereka untuk menjalankan kewenangan tersebut.00 – 17. 5. Presentasi Kelompok: OTONOMI DAN KEWENANGAN DESA Disampaikan oleh: Kamardi • • • Masalah Kewenangan desa: Pilihan tentang posisi desa sejauh ini belum jelas. Bahkan. capacity building menyangkut desa.00 Moderator : M. ke depan perlu penguatan kapasitas desa untuk mampu menjalankan kewenangan (aparat dan masyarakat) dengan baik. 2. fasilitasi. Bentuk organisasi desa perlu disesuaikan dengan karakteristik dan tipologi desa.

pemilihan itu bagaimana bentuknya. masalah kewenangan desa mengatur peradilan informal harus diakui dan sekaligus disinkronkan dengan peradilan formal. silahkan. Sementara itu pihak kabupaten lebih berkaitan dengan urusan keadministrasian. Moderator Kita tuntaskan dulu kelompok ini. hanya perlu good will dari semua unsur. bagaimana jalan keluarnya? Menurut PP 72/2005 itu 5-11 orang. perlu adanya kepastian melalui regulasi atau kebijakan yang membuat bahwa otonomi desa dengan kewenangannnya tersebut tidak dimanipulasi oleh kepentingan elit desa.• • • • • • • Untuk merumuskan kewenangan desa. Perlu pengkajian tentang masalah otonomi asli dengan belajar dari sejarah perkembangan desa. Perlu penataan ulang (khususnya di pemerintahan pusat) tentang pemberian kewenangan kepada desa yang tidak konsisten antar sektor (menghindari tubrukan antar sektor). regulasi tidak terlalu banyak. perlu adanya kewenangan yang luas bagi desa. Datuk kita kumpulkan lalu kita pilih wakil. Oleh karena itu. 5 unsur dari pemuda. jadi kalau ada tanggapan dari kelompok demokrasi desa. Berdasarkan pengalaman. terdiri 5 unsur dari cerdik pandai. dan dukungan administrasi keuangan dan kelembagaaan. Dan dengan demikian. Problemnya adalah masih ada masalah benturan legalitas karena peradilan formal belum mengakomodasinya. atau dimensi kultural). 1 jorong ada penduduknya 700. 5 unsur dari bundo kandung. Terdapat bukti bahwa desa mampu mengurusi urusannya sendiri. lebih besar dari 3000 25 orang. bagaimana keterwakilan. dalam kaitan itu khususnya desa adat punya akses mengelola di SDA dan urusan komunitas nilai-nilai (roh. menurut Perda Sumbar kalau penduduknya 1600 maka wakilnya ada 16 orang. Oleh karena itu pula. mekanisme. Bagi saya regulasi atau kebijakan itu sudah ada yang mengakomodir. kita kembalikan ke masyarakat. ada juga 1500 orang. perlu adanya kepastian melalui regulasi atau kebijakan yang membuat bahwa otonomi desa dengan kewenangannnya tersebut tidak dimanipulasi oleh kepentingan elit desa. desa masa depan ditandai oleh adanya otonomi desa yang berorientasi pada penjaminan kesejahteraaan dan keadilan dalam bingkai yang lebih demokratis dan partispatif. ini bagaimana menurut pendapat Bapak? Dahlia Agenda ke depan. masalah kewenangan desa harus memperhatikan konteks daerah masing-masing Agenda ke depan. Bapak Seandainya akan memekarkan diri itu bagaimana? Menggagas Desa Masa Depan 81 . jadi tidak perlu regulasi baru. bagaimana keterwakilan kelompok lain. 5 unsur dari pemuda. 5 unsur dari nini mamak. ulamanya kita kumpulkan lalu kita pilih satu. Menurut PP 72/2005 dibatasi 5-11. Tanggapan Datu Kita mau menambahkan sedikit untuk BPD. lebih dari 1600 s/d 3000 21 orang. Saya dari Limapuluh Kota. Berkenaan dengan kewenangan desa dalam kelola dan penyelesaian masalah. kami ada 7 jorong. perlu disusun indikator dan acuan pengembangan otonomi desa melalui pentahapan. pemilihannya tentu per jorong. biasanya kalau ada pemilihan kita perhitungkan aspek kemasyarakatan. beliau tadi ada keinginan BPD dipilih langsung oleh masyarakat. seperti misalnya dalam kasus mengelola peradilan informal.

Soal jumlah. pemekaran itu semata-mata untuk pelayanan publik. Barangkali pemerintah kabupaten tetap mengacu UU 32/2004 dan PP 72/2005. Keterwakilan lembaga kemasyarakatan lainnya Fungsi lembaga-lembaga: • Lembaga di desa terdiri dari lembaga formal dan non formal • Fungsi lembaga desa bervariasi: sebagai fungsi legislasi. belum menyentuh bagaimana membangun essensi check and balances • Kemampuan ekonomi masyarakat yang bervariasi berkorelasi pada tingkat partisipasi Menggagas Desa Masa Depan 82 . dulu ada kelipatan dari jumlah penduduk. sikap elitis. lalu pemerintah membuat perda yang baru. 1. Demokrasi yang paling cocok untuk ditawarkan bagi pengaturan desa di Indonesia? 2. bagaimana kita menghindari dominasi elit desa. Harus mengacu pada analisis kebutuhan desa 3. Kamardi Kalau belajar di UU 32/2004 ini frustasi juga. saya sampaikan bahwa pasal 206 UU 32/2004. kalau regulasi tersumbat maka UU tidak akan jalan. Presentasi Kelompok: DEMOKRASI DESA Disampaikan oleh : Ade Kisi-kisi: 1. 2. sehingga nanti yang menjadi hak asal usul itu tidak diintervensi lagi. yang dimaksud Badan Permusyawaratan Desa adalah BPD dalam UU no 10. bahwa BPDnya tetap seperti semula. jadi seolah sama. artinya perda yang baru mengacu ke UU khususnya pasal 206. Masalah regulasi. pandangan pragmatis) • Fokus pada Pemda dan desa masih sebatas pada pembentukan lembaga. Kendala-kendala yang penting diperhatikan Demokrasi yang cocok bagi desa: • Inclusive demokrasi perlu menjadi pertimbangan utama dalam rangka membentuk self community governance yaitu suatu kondisi dimana masyarakat dapat terlibat secara luas dalam proses pengambilan keputusan. substansi adalah menghindari elit desa. contoh di penjelasan. Fungsi lembaga-lembaga yang mampu mengusung/melaksanakan demokrasi desa 3. BPD sebagai tool untuk check and balances 2. tetapi kembali jangan sampai pemekaran itu kemauan elit desa. tetapi bagaimana partisipasi dan demokrasi di masyarakat. Soal pemekaran ini dijamin oleh UU. Toto Hak asal usul di pasal 206 UU 32/2004. perlu ditambahkan. kontrol dan pelaksana • Bentuk diserahkan pada kearifan dan keunikan lokal dengan acuan dari pusat • Lembaga itu harus mampu mewakili semua aspirasi masyarakat • BPD dan lembaga kemasyarakatan yang ada harus ditopang dengan capacity building yang memadai Kendala-kendala: • Keterbatasan partisipasi masyarakat antara lain karena ssstem yang belum mendukung (structural) • Kendala cultural (misalnya budaya patrialistik. bagaimanapun akan memberikan cipratan langsung.Alit Terkait dengan aturan/perda setempat.

Menormakan ini tidak bisa seragam. Kalau akan ada dewan perwakilan desa justru konsolidasi kepala desa berhadapan dengan kepala desa di tingkat bawah.• Trauma pengalaman berdemokrasi yang tidak memihak kepada kebutuhan masyarakat. Bapak Apa yang digambarkan Pak Ibnu seolah-olah desa itu menjadi satu kesatuan dengan kepala desanya. mekanismenya terserah. problemnya adalah masyarakat desa yang selalu terus menerus menjadi marginal yang ditinggalkan kepala desanya yang menjadi kepanjangan tangan pemerintah di atasnya. oleh karena itu kita perlu menemukan kearifan-kearifan. Biaya pilkades itu kecil. Tadi Pak Ibnu lebih menekankan soal perwakilan desa di DPR. yang saya usulkan itu DPD. Marhaban Waktu kita merumuskan demokrasi kita kembali ke sejarah demokrasi itu. menghendaki lembaga-lembaga yang kompetansi di situ. bagaimana lembaga di desa. Contoh di Jepara. bagaimana kita membuat regulasi desa dengan memangkas itu? Bapak Format kelembagaan itu. Itu perlu dinormakan. bisa pemilu atau yang lainnya. tetapi baru sebatas pada elit-elit desa Tanggapan Widyohari Anggaran Pilkades masuk APBN dan turun melalui APBD. yang jadi mahal itu money politic. ini sebetulnya ada gejala yang sudah muncul dengan paguyuban-paguyuban pamong desa. karena demokrasi itu menghendaki prosedural. apakah tidak kita pikirkan semacam Dewan Perwakilan Desa yang mewakili desa untuk membuat perda? Masalah dengan Syamsudin Haris yang dipreteli. sinergi ini yang perlu dirumuskan dengan baik. sehingga demokrasinya bisa berjalan. selama ini yang mengatur pusat dan kabupaten. government for the people. karena kabupaten yang mengatur desa tidak ada representasi desa mewakili desa saat membuat perda. yang penting mendesak pemerintah di atas desa untuk menjamin nilai-nilai lokal. tapi tidak serta merta mewakili desa. tapi bukan dipreteli dalam pembaruan tatanegara. maka ditopang dengan mekanisme lain yang berangkat dari inisiatif masyarakat sendiri. untuk menghilangkan jago itu membiayai sendiri. Ibnu Itu bukan wakil pemerintah desa. tapi itu pembaruan tatanegara karena dibentuk BPD yang melaksanakan fungsi legislasi. saat pusat membuat UU maka disana sudah ada DPD yang mewakili daerah. bagaimana APBD itu membiayai juga. BPD sinergis. mekanisme demokrasi seperti apa untuk jalan keluar. sehingga netralitas calon kades. tetapi institusi yang mewakili desa. Tadi ada kerancuan dengan sistem yang berlaku di nasional dengan Menggagas Desa Masa Depan 83 . Kabupaten membuat perda ada yang merepresentasi desa. kades. tapi ad hoc saja. Datu Pertanyaan masih ada yaitu desa masa depan itu seperti apa? Ibnu Demokrasi yang paling cocok tentang pengaturan desa di Indonesia. Mekanisme di pusat sudah ada. kades menuntut perpanjangan masa jabatan kepala desa. Problem demokrasi selanjutnya adalah dalam melaksanakan tugasnya dengan tata cara yang demokratis. Bahwa DPD itu tidak cukup mewakili masyarakat. sedangkan masalah bentuk kelembagaan itu sudahlah.

Presentasi Kelompok: ADD (ALokasi Dana Desa) Disampaikan oleh: Dahlia • • • • Sebagian besar kabupaten enggan (keberatan) melaksanakan kebijakan ADD Akses masyarakat untuk mengetahui informasi PP dan ADD sangat terbatas Masyarakat desa belum jelas dengan sumber-sumber pendapatan desa Ada 3 faktor penghambat pelaksanaan ADD yaitu: − Kapasitas potensial desa yang belum siap − Keterbatasan APBD (PAD) − Masalah politis yaitu tarik ulur kepentingan politik di daerah Ada pengalaman desa yang sudah menyiapkan kelembagaan (sistem) dan bisa berjalan dengan baik Terlalu kakunya pengelolaan ADD oleh kabupaten Pengelolaan ADD semestinya mutlak oleh desa. sesuai dengan kebutuhan dan kriteria yang jelas terutama pemetaan bagi desa yang diprioritaskan mendapatkan ADD Perbedaan persepsi antar sektor di level kabupaten atas ADD ADD hendaknya diintegrasikan dengan APBDes (RPJMDes) Problem-problem dari PP perlu ditindaklanjuti dengan Perda Manipulasi atas ADD akan membunuh partisipasi desa Perlu memetakan best practice untuk menjadi referensi dan replikasi. karena dalam institusi demokrasi itu adalah membangun komunitas politik tetapi non praktis. masyarakat.kabupaten/kota. tetapi perlu memperhatikan konteks daerah dan desa Perlu intervensi positif (kebijakan) oleh pemerintah pusat Perlu membangun kesadaran kritis atas kelola uang berbasis loan and project • • • • • • • • • • • • • • • • • Menggagas Desa Masa Depan 84 . keluarga. Self Governing Community itu dikaitkan dengan demokrasi bagus sekali. karena ADD adalah dana perimbangan Perlu pedoman umum dari pemda. 4 Juli 2006 Pukul : 14. Penguatan kelembagaan. soal check and balance itu tidak kita khawatirkan. Hari/Tanggal : Selasa.15 Moderator : Sumarjono 3. contoh kepala desa minta untuk ikut jadi pengurus partai politik dan negara menolak dengan tegas.00 – 15. diatur oleh Perda Semestinya ADD tidak identik bagi hasil. Kita harus tempatkan demokrasi good and clear governance di tingkat II karena di situ ada konstituen political. kalau kulturnya sudah bagus dan mandiri maka itu bisa dikendalikan. tetapi harus ada ramburambu umum yang prinsip Proses perencanaan. masyarakat berkumpul untuk memutuskan berbagai hal. Di desa itu ada deliberatif demokrasi. Kalau Dewan Perwakilan Desa itu saya dukung. demokrasi harus dimulai dari yang terendah. tetapi aturan teknis dilakukan desa Mengkaitkan antara ADD dengan penguatan kapasitas kelembagaan desa Tidak perlu ada pembatasan yang rigit dalam kelola ADD. kalau masyarakat tidak demokratis itu akan menjadi fasisme. itu budaya demokrasi kuno yang disebut open deliberation. Harus ada kemudahan-kemudahan demokrasi di tingkat masyarakat. melibatkan seluruh elemen masyarakat Informasi penggunaan dana harus transparan (diumumkan kepada publik) dan ada mekanisme pertanggungjawaban pada publik (Pengalaman Ngada): tidak semua desa diberikan ADD. pelaksanaan dan pelestarian dari ADD harus partisipatif.

artinya desa tidak lagi inheren dalam kabupaten. Perlu ada audit independen (dipilih masyarakat) dari stakeholders Moderator Kelompok diskusi ADD telah membuat kesimpulan-kesimpulan terkait dengan pelaksanaan ADD yang belum seluruh kabupaten/kota melaksankan ADD. karena desa itu sudah di bawah negara. dalam kebijakan ADD Perlu ada penguatan kapasitas aparat dan kelembagaan serta elemen-elemen masyarakat desa dengan pendekatan partisipatif Perlu ada intervensi dari pusat tentang batasan alokasi yang akan diberikan ke desa supaya dana yang dikucurkan ke desa mencukupi untuk pembangunan di desa Perlu ada komitmen yang lebih besar lagi di tingkat nasional. Menggagas Desa Masa Depan 85 . Ini memang berbenturan dengan tata negara. Ini memang dalam perspektif yang mikro. Ketentuan 10% dari APBD tidak cukup. melakukan kritik dan usulan-usulan agar ADD dapat dilakanakan dengan baik. • Bentuk otonomi dan kewenangan desa mencakup hubungan desa dengan supra desa • Bentuk organisasi pemerintahan desa berkaitan dengan SDM. yang kami sampaikan ini hanya pokok-pokoknya saja. kalau desa diatur sendiri maka tidak boleh diatur dalam perimbangan kabupaten. Menurut World Bank agar uang tidak nyangkut di elit. wacana ini muncul dalam kerangka pemberdayaan. Dahlia Kalau desa tidak inheren dalam kabupaten maka tidak bisa mendapatkan ADD. mulai kemarin rumusannya desa diatur dengan UU tersendiri. ini konsekuensi pilihan yang kita lakukan. Benang Merah pemikiran yg perlu dipresentasikan dlm pleno: • Kedudukan desa dalam konstitusi dan derivasinya. ini memang strategi pemberdayaan. Tanggapan Ibnu Kita ini menggagas desa masa depan. 4. Presentasi Kelompok: TATA HUBUNGAN DESA DENGAN SUPRA DESA Disampaikan oleh: Nurwafi Diskusi kita adalah hubungan antara desa dengan supra desa dalam NKRI. Moderator Untuk selanjutnya saya persilahkan kelompok tata hubungan desa dengan supra desa. Dengan demikian ADD menjadi problem. Saya persilahkan tanggapannya. karena ADD itu 10% dari dana kabupaten. delegasi dan wewenang tanpa resources itu adalah omong kosong. bagi saya kalau sudah tidak inheren maka PP itu akan gugur. kalau kita ambil 10% itu hanya acuan tetapi APBN yang membiayai. Marhaban Kita di PMD. maka 80% langsung ke masyarakat.• • • • • Perlu pendidikan bagi masyarakat untuk advokasi pada level kabupaten. Pak Ibnu melihat makro dari hukum tata Negara.

Justru dengan otonomi desa. Moderator Desa menjadi obyek supra desa. air dan udara dikuasai negara dan digunakan sebesarbesarnya untuk kemakmuran rakyat. tetapi untuk hubungan desa dengan supra desa ini harus tegas. Hal ini berkaitan dengan desa otonom dan desa adat. provinsi. Di UU ada kewenangan atributif. Yang harus kita pertegas adalah otonomi yang berpihak masyarakat desa dan ada jaminan untuk digunakan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. setiap eksploitasi akan melibatkan masyarakat desa. Moderator Silahkan untuk dijawab Wafi Logika berpikirnya di balik. tanah. 8. semua level harus bertanggung jawab untuk mengatasi itu. 10. Diperlukan adanya konsistensi pemerintah pusat dan daerah dalam praktek pelaksanaan setiap kebijakan. Untuk kelompok ini harus clear model mana yang akan diadopsi. Bahkan. Menggagas Desa Masa Depan 86 . Pengaturan relasi antara desa dengan supra desa tetap harus mengacu pada dasar konstitusi dan derivasinya. capacity building yang menyangkut desa. koncuren. dimana desa tidak boleh mengklaim bahwa ini kewenangannya. Ini harus diperjelas dulu landasan akademik kita apa? Di dalam inter government relation. walaupun secara yuridis formal belum nampak. Tanggapan Tumpak Kalau bicara hubungan desa dengan supra desa maka akan terkait dengan kewenangan.• Konsistensi implementasi dari policy. capacity building menyangkut desa. 7. Perlu ada ruang yang jelas bagi desa dalam kewenangan perijinan. pusat sampai dengan aturan main keuangannya. jelas ada 3 model yaitu: 1) inklusif otorelation. Bumi. pilihan. Saya justru berpikir optimis akan memberikan kemakmuran. di UU 32/2004 itu diatur urusan wajib. yang terjadi adalah dengan otonomi selama ini SDA sudah cepat habis. Saya kira pasal ini pasal yang tidak dirubah. Deskripsi singkat : 6. Separated itu maksudnya adalah ada pembedaan yang tegas antara kabupaten. Tipologi desa perlu dicermati dalam mendesain pengaturan mengenai kedudukan desa dalam negara. Ada pendapat yang melihat pasal 18A UUD 45 (konstitusi) sebenarnya menjadi dasar untuk mendesain desa otonom dan 18B sebagai basis pengaturan bagi desa adat. delegatif dan kewenangan lain-lain. Ketiga overlap. Yang inklusif itu ada hubungan antar desa yang harus melaksanakan. fasilitasi. 2) separated. sangat penting pula desa diberikan legal standing dan kemampuan menjalankan class action dalam judicial process. fasilitasi. dan 3) overlap. karena dulu tidak pernah melibatkan desa maka akan terjadi kehancuran-kehancuran itu. kenapa justru ada eksploitasi. 9. Kasmuin Pasal 33 UUD 45. Untuk kelompok lain silahkan tanggapannya. saya tidak bisa membayangkan otonomi itu diberikan di desa tanpa ada pemberdayaan di desa. namun sudah ada kebijakan pemerintah yang mengarah ke kepedulian terhadap desa. Bentuk organisasi desa perlu disesuaikan dengan karakteristik dan tipologi desa.

UU 22/99 wewenang. Kita harus jelas apakah kontrol atau pengawasan. dan pemasaran. Perancis) urusan politik dibawa sedekat mungkin dengan rakyat. fasilitator. kalau saya melihat lebih ke politik. sehingga terbit banyak SE yang mengatur daerah. karena pengawasan ikut mengarahkan. Marhaban Otonomi bukan hanya persoalan hukum. eksternalitas. oleh karena itu terbit UU sektoral. supra desa itu seperti apa? Apakah dia supervisi. ini pada akhirnya digunakan untuk kemakmuran rakyat. Moderator Tampaknya sudah cukup waktu. dan efisiensi. Saya pilih ke istilah kontrol. ini yang menjadi tali sentralistik. ada pemisahan yang tegas karena ada pendekatan akuntabilitas. Newe Zealand) meletakkan otonomi level di urus di tingkat state (politik). 5. apalagi mau kita bawa ke desa. Kalau kita baca otonomi daerah dan desentralisasi ada 2 cara : 1. tetapi juga persoalan politik. maka perlu modal. karena di Australia ada banyak UU otonomi daerah. kayaknya ini lebih dekat dengan delegatoris. Kalau kontrol itu hanya melakukan uji. Saya tidak mengerti Pak Ryaas belajar di Amerika tahu persis otonomi itu. Dalam pasal 18 residual teori yang dipakai tetapi yang dipakai urusan. Berkaitan dengan pasal 33 ayat 2 negara sebagai pelaku. padahal kalau residual teori itu wewenang. Hubungan wewenang yang diatur pasal 18 a itu. otonomi ini yang diambil berdasarkan persoalan politik. Presentasi Kelompok: MIKRO KREDIT DAN BUMDES Disampaikan oleh: Adnan Sumber hukum PP 72/2005 Pasal 78 s/d 201 • Mikro kredit berkait dengan produksi. teknologi. Negara-negara baru (Amerika Serikat. 2. pada tingkat lokal itu begitu mahal demokrasi kita. yang dipakai dalam pasal 18 ayat 5 itu hanya urusan. itu yang berkaitan dengan yang strategis. Skandinavia. Moderator Dari awal memang ada cara pandang yang berbeda antara ketentuan hukum dengan nilainilai filosofis hukum yang akan diberlakukan di Indonesia. di UU 32/2004 itu urusan. apakah dalam bentuk semacam Rural Banking sustainable Usulan diberi nama BUMDes • Perlu manajemen yang profesional • BUMDES perlu pengakuan dengan payung hukum • Kegiatan mikro finance selama ini yang berkembang di pedesaan adalah usaha simpan pinjam Menggagas Desa Masa Depan 87 . selanjutnya dari wakil kelompok BUMDes.Ibnu Masalah urusan dan wewenang. kalau sudah diberikan urusan maka berhak atas wewenang. Oleh karena itu gagasan apa yang akan kita sampaikan. nampaknya yang diberikan itu urusan. kita harus kita pisahkan kontrol dan pengawasan. Saya kira disana ada politik. UU 5/74 itu wewenang. Negara-negara old model (Jerman. • Untuk pengelolaan modal maka perlu Lembaga Mikro Kridit • Lembaga Mikro Kredit seperti apa yang ada desa ? Lembaga Keuangan Desa perlu ada kerangka kerja yang baik. Pasal 1 negara memberi pengaturan. kalau pengawasan maka ikut mengarahkan. Australia.

Pengalaman Layanan Keuangan di Masyarakat Jenis layanan kredit di Desa • Program kredit dari PPK. • Perlu ada afirmative action dalam pengembangan ekonomi di desa. (kebijakan ini tidak hanya dilakukan Depdagri/Ditjen PMD. Ditingkat desa BUMDes itu dibentuk berdasarkan Perdes. • Untuk mengatasi monopoli elit dalam BUMDes maka bentuk hukum yang diusulkan koperasi yang berorientasi pada ekonomi kerakyatan. P4K • Simpan pinjam desa • Lumbung desa • Koperasi desa Perempuan terbukti sebagai nasabah yang baik dalam kredit dan penerima program yang efektif. tetapi dinas lain terkait harus melakukan hal tersebut. nelayan. terbatas pada Bank dan Koperasi • Rendahnya akses modal bagi masyarakat miskin dan perempuan • Ada pandangan masyarakat kalau uang dari pemerintah tidak perlu dikembalikan – sehingga banyak kredit program macet. oleh karena itu disarankan untuk berbadan hukum/diaktekan. Pengalaman Kabupaten Sumedang: Yang dimasukkan ke dalam BUMDes: • Alokasi anggaran simpan pinjam • Unit usaha simpan pinjam menjadi bagian BUMDes • Lumbung Desa • Kegiatan penarikan rekening listrik • Penyewaan hand traktor • Unit toko untuk pelayanan masyarakat (berbagai produk dan jasa) • Warung nasi dsb. Perempuan terbukti sebagai pelaku ekonomi yang tanggung dan mayoritas di desa. Tetapi dasar ini belum bisa akses ke lembaga perbankan. Tawaran tentang Pengembangan Ekonomi Desa (BUMDes dan LKM) • BUMDes dan LKM harus menjadi upaya pengembangan ekonomi lokal dan pengentasan kemiskinan. untuk rakyat (petani. Menggagas Desa Masa Depan 88 . • Bagaimana dengan kepemilikan BUMDes (Masyarakat dan harus dihindari kepentingan dan kooptasi elit desa • Jenis usaha dan model BUMDes harus memberi ruang dan bertumpu pada inisiatif dan kearifan lokal Problem • Tidak ada fasilitasi sistemik untuk pengembangan usaha kecil di desa • Tidak ada perlindungan pasar untuk pelaku usaha kecil • Belum ada payung hukum yang jelas untuk LKM. • Ada alokasi modal dari APBD untuk pengembangan BUMDes. dll) untuk menghindari pertarungan dengan pemodal dan elit desa. • BUMDes dibentuk berdasarkan aktivitas ekonomi yang telah ada di tingkat lokal dan untuk melindungi ekonomi lokal. • BUMDes harus memberikan perhatian pada masalah perempuan • Pembentukan BUMDes bukan penyeragaman dan pemaksaan (pengalaman KUD). • Kebijakan antar sektor belum saling mendukung untuk pengembangan ekonomi desa • Lebih dari 60% ekonomi desa dikuasai oleh kelompok elit dan pemilik modal besar. juga bukan instrumen kapital besar yang mengancam ekonomi pedesaan.

termasuk monitoring dan pengawasan. Ada kejelasan tentang kewenangan desa dalam pengelolaan sumberdaya ekonomi. • Ada kejelasan bentuk hukum untuk melindungi dana rakyat yang disimpan. Perlu ada kejelasan dan dibangun sinergi kebijakan antar sektor dalam pengembangan ekonomi desa (BUMDes). • Ada mekanisme dan skema kredit yang sesuai dengan kondisi masyarakat (belajar dari pengelaman “bank plecit” ). karena semua akan menjadi bemper ekonomi desa. • Ada jaminan/afalis untuk PUK yang mengalami kesulitan dalam akses modal (baik dari pemerintah-lembaga lain). • Perlu dibangun pola dasar dan skema yang memungkinkan akses masyarakat miskin dan perempuan mendapatkan layanan secara mudah. perdes mengacu perda. Pemda sudah membuat tim pembina BUMDes. tenaga dan pikiran. • LKM bukan menjadi perpanjangan tangan usaha kapital besar maupun intermediasi dari bank komersial yang ada. Perlu ada kejelasan tatalaksana dan manajemen profesional. sehingga perlu pembinaan. Dalam pengelolaan itu bagaimana rakyat desa itu komit. Di tingkat II. Ini agak rumit membagi payung hukum untuk BUMDes. panjang sekali prosesnya. fasilitasi pengembangan produksi dan pasar sebagai satu sistem pengelolaan. Tanggapan Maryunani Berbagi pengalaman. Menggagas Desa Masa Depan 89 . dana itu bila didistribusikan setelah eksekutif bertemu dengan legislatif.nelayan. kalau kita bandingkan dengan BUMD itu bentuknya perusahaan daerah. rakyat miskin (petani. agar tidak bertabarakan dengan UU lain maka harus di luar LKM dan koperasi. Pengawasan. sehingga kalau kita membuat BUMDes harus dihindari yang menyangkut LKM dan koperasi. • Dalam LKM harus diikuti dengan pendampingan. Ini ada yang menarik dari Pak Maryunani dan Stefan. BUMDes itu akan dibiayai APBD. LKM (Lembaga Keuangan Mikro) • Keberadaan LKM tidak lepas dari upaya menyediakan layanan modal bagi pelaku ekonomi untuk pengembangan usaha. Rakyat harus menjadi subyek dalam kegiatan BUMDes (mengedepankan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat dalam rangka kedaulatan ekonomi rakyat). Moderator Langsung saja dari kelompok lain yang akan menanggapi atau memberi masukkan. Tumpak PMD sudah mencoba payung hukum untuk BUMDes ini. siapa yang akan mengontrol BUMDes.• • • • • • Jenis usaha harus memberi ruang dan bertumpu pada inisiatif dan kearifan lokal. Ada affirmative action dalam layanan usaha BUMDes kepada perempuan. Sebenarnya tidak ada perintah di PP untuk membuat pedum. pemerintah Jawa Timur sudah menunjukkan good will. karena di PP 72/2005 itu akan dikelola pemerintah desa. ini ada UU yang mengatur LKM dan koperasi. untuk tingkat desa apa? Di PP 72/2005 ditetapkan perdes. mau memberikan waktu. dll). agar perda itu baik dan benar. supaya tidak gamang dalam mengatur itu. perda mengacu UU. kita tidak yakin kalau di APBD nya tidak ada. sebagai komisaris. Kita harus tegas mengatur ini. • Ada mekanisme monitoring dan evaluasi dalam pengelolaan LKM.

ke bank misalnya. menggagas desa masa depan. Desa senantiasa menjadi ajang tempur untuk mencari keadilan dalam kehidupan negara kita masih panjang. Kalau kita menganut badan hukum koperasi. Payung hukum yang ada adalah yang umum. lebih banyak ke perangkat desanya.Yuni Sengaja kita tidak mengusulkan satu jenis badan hukum. saya cenderung untuk merumuskan badan hukum tersendiri dalam BUMDes. Di daerah kami ada pasar desa yang besar tetapi tidak memberikan kontribusi kepada desa. Sehingga pedoman seperti Pak Tumpak itu benar. itu milik bersama dan hasilnya akan dibagi bersama dalam anggotanya. dan itu diputuskan dengan keputusan desa. Lebih fundamental lagi. Yang awalnya untuk meningkatkan pendapatan desa. PR menghadang kita sesuai dengan profesi kita masing-masing dalam upaya kita untuk membela desa. keahliannya apa dan mengacu UU yang sudah ada. Jadi tergantung pilihan masyarakat disitu maunya seperti apa. BUMDes yang lemah payung hukumnya. Moderator Diskusi ini kita akhiri. bukan soal ADDnya tetapi bagaimana kita mengelola ADD itu. Pengalaman di Sumedang dengan perdes mereka tidak cukup melakukan akses bisnis. maka tidak bisa ke sana nanti. ini akan menjadi ladang baru bagi percepatan proses korupsi di desa. Kasmuin Membandingkan gagasan itu. bukan khusus untuk BUMDes. seperti ADD. Menggagas Desa Masa Depan 90 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->