VIII.

DISKUSI KELOMPOK TERFOKUS

8.1. Diskusi Kelompok
Hari/Tanggal : Senin, 3 Juli 2006 Pukul : 13.30 – 15.30

1. Kelompok: OTONOMI DAN KEWENANGAN DESA
Fasilitator Peserta : 1. Arie Sujito 2. Bambang Hudayana : M. Barori-STPMD “APMD”, Alit-Majelis Madya Gianyar, MaryunaniFE Unibraw, Steny-HUMA, Sulikanti-Bappenas, Yusuf-SAINS, Lubis-YIPD, Suharman-PSPK UGM, Kamardi-Perekat Ombara, Franky-AMAN, Ibnu-FH Unibraw, Toto-BPMKS Sumedang, AzamPemdes Kebumen, Sofyan-Akatiga, Matt Stephan-World Bank, Vitristaf DPD, Kasmuin-CePAD, Adri Warsena-FPPD.

Fasilitator Sesi ini kita akan mengeksplorasi pemikiran menjadi lebih dalam, set up diskusi kelompok ini diharapkan akan muncul pemikiran-pemikiran, ide-ide tentang otonomi dan kewenangan desa itu seperti apa? Pilihan-pilihan yang visible. Tadi sudah banyak disampaikan Pak Toro dan Simatupang telah mengesplorasi banyak hal pilihan-pilihan berangkat dari peta normatif maupun empiris hubungan antara pusat, provinsi, kabupaten dan desa. Secara prinsip kita punya kebutuhan melalui otonomi dan desentralisasi, maka ini lebih memungkinkan terjadinya demokrasi. Pak Simatupang juga bicara banyak secara sangat normatif dan reduktif. Pak Toro tadi mengungkap beberapa pilihan seperti local self goverment, itu bagian terpenting dari otonomi dan demokrasi. Kita bisa belajar dari review, tapi yang lebih penting itu adalah penataan dan kelembagaannya ke depan seperti apa? Barori Ada pandangan tentang pemberdayaan masyarakat desa itu dibingkai dalam desentralisasi, kita pahami dulu konteks desentralisasi. Ada 3 domain dengan asumsi desa adalah sebagai wilayah pemerintahan yang di dalamnya ada pemerintahan dan pembangunan, domain ini yang perlu kita sepakati dengan bingkai itulah pemerintahan desa diberi kewenangan untuk melaksanakan pembangunan dan pemerintahannya, sehingga pemerintahan yang desentalistik dan pembangunan yang desentralistik menjadi prasyarat pemberdayaan masyarakat desa. Pemberdayaan masyarakat desa itu mencakup 3 hal yaitu: 1) pemerintahan yang desentralistik, 2) pembangunan yang desentralistik, dan 3) desentralistik fiscal. Secara normatif hal ini sudah kita temukan dalam UU 32/2004 maupun di PP 72/205, persoalannya kita memantapkan itu, apa yang menjadi kewenangan desa. Masyarakat desa akan berdaya kalau ada kewenangan yang melikupi dirinya, yang harus kita kedepankan adalah sebuah ketentuan bahwa level pemerintahan kita harus mempunyai otonomi pemerintahan sendiri-sendiri. Oleh karena itu kewenangan desa harus kita sepakati dan pahami bersama dan secara normatif UU dan PP sudah mendorong ke sana. Sejauh mana kewenangan itu bisa dijadikan posisi baru desa dalam melaksanakan pemerintahan dan pembangunan? Desentralisasi harus diikuti dengan otonomi desa yang nilainya sama dengan otonomi di tingkat kabupaten, provinsi
Menggagas Desa Masa Depan

46

maupun pusat. Otonomi dimaknai juga dengan kewenangan desa dalam mengelola pemerintahan dan pembangunan. Perangkat untuk disana sudah kita punyai, pembangunan yang desentralistik, perencanaan pembangunan yang berhenti di tingkat desa. Fasilitator Otonomi desa diletakkan dalam 3 hal: pemerintahan, kewenangan dan keuangan desa. Memahami otonomi dengan diletakkan hubungan antara desa, kabupaten, provinsi dan pusat. Tadi di diskusi ada hal penting, meskipun belum dilihat spesifik. Alit Anggap contoh bangunan, dasarnya kuat, perlu porsi yang jelas menyangkut kewenangan desa. Di UU 32/2004 pasal 200 itu sudah, menyangkut kewenangan desa pasal 206 perlu dirujuk ke tingkat kabupaten. Rujukan ini ditindaklanjuti di tingkat kabupaten sampai ke tingkat desa, sehingga posisinya jelas, mana hak-hak desa. Sebab kita tahu, desa kita karakternya berbeda-beda, apa yang sudah ada kita kembangkan, rujukannya berdasarkan UU yang sudah ada, bagaimana kejelasan porsinya. Tentang keuangan, pendapatan asli desa, perlu diperjelas, mana saja yang boleh sehingga desa itu bisa diberdayakan sesuai dengan semangat otonomi. Fasilitator Maksud Pak Alit, itu perlu dirinci lagi dalam Perda. Maryunani Otonomi dan kewenangan, saya ingin menambahkan satu muatan bahwa otonomi itu adalah sebuah sistem yang hirarki vertikal dan horizontal. Kalau bicara otonomi desa bisa kita tangkap hirarkhi horisontalnya, bahwa desentralisasi fiskal perlu diikuti dengan kewenangan, desentralisasi fiskal yang di PP 72/2005 ada 3 komponen besar, bagaimana desa mampu dalam pendanaan dalam pembangunannya, kemudian diikuti desa itu mampu mengelola sendiri dana dan pembangunannya, dan diarahkan ke kegiatan ekonomi produktif, maka kemandirian itu ada disitu. Persoalannya, apa betul desa desentralisasi itu ada? Pengalaman di kabupaten/kota di Jawa Timur, desentralisasi yang ada ini desentralisasi yang sentralistik, dimana posisi desa itu memiliki bargaining position dengan kabupaten atau sebaliknya sejauh mana kabupaten ini memberikan good will-nya, sehingga sinergitas keduanya ini belum ada. Persoalan bukan pada normatifnya tetapi pada good will kabupaten. Sejauh mana regulasi ini diikuti good will agar sampai ke desa? Stenly Soal tawaran dari Mas Toro, dari pilihan itu mesti dipilah lagi ke level yang lebih konkret, dengan memilih salah satu atau meramu ke tiga hal itu apa saja kewenangannya yang akan menjadi turunannya. Kita tidak bisa bicara kewenangan secara konkrit kalau tidak memilih dari 3 model itu, atau mengacu ke UU yang ada. Kalau mengacu ke UU, pertanyaannya adalah apakah sudah cukup, kalau tidak cukup dengan model itu apa yang akan kita pilih? Melihat perkembangan politik mungkin hanya model local self government yang konkrit, model seperti ini khan tergantung masing-masing daerah, kalau mau milih 3 hal itu dipecah dan turunan-turunan dari model itu. Usul saya, yang masyarakat adat maka akan self governing community. Sulikanti Regulasi ini masih baru, saya tidak yakin itu sudah dilaksanakan pemerintah daerah. Daripada kita mengganti yang ada, kita laksanakan itu dahulu, kadang kita bagus di konsep, pelaksanaannya amburadul. Bentuk apa saja ke depan, lebih baik kita identifikasi dari pelaksanaannya yang maju yang mana? Apakah self governing community, yang jadi
Menggagas Desa Masa Depan

47

pertanyaanya masuk tidak kita ke masyarakat adat. Kita tidak mudah menentukan 3 itu, kita perlu merenung posisi dimana, sehingga bisa melihat/ambil yang mana? Semakin banyak aturan semakin tidak benar, biarkan mereka mengatur sendiri. Fasilitator Yang perlu kita bahas adalah mana yang perlu diatur dan mana yang tidak. Pak Hans tadi mengatakan, kalau negara tidak beres bukan berarti negara tidak dibutuhkan. Kalau kita setir sedikit dari Pak Sutoro dari 3 model, kalau local state government itu pernah dijalankan masa orde baru. Persoalannya desa itu akan dispesifikasikan dengan UU sendiri atau tidak, tetapi memastikan ada pengakuan negara atas desa. Perlu diidentifikasi otonominya seperti apa? Kelembagaanya seperti apa, lalu solusinya seperti apa? Yusuf Bagaimana self goverment community itu bisa menghadapai tantangan pluralitas? Fasilitator Pertanyaan ini penting ketika Pak Syamsudin Haris mengatakan ada tuntutan untuk tidak menyeragamkan. Lubis Bicara otonomi dan kewenangan desa ada 2 hal: 1. Kewenangan yang diberikan kepada desa, belum benar-benar kepada desa, sehingga kita tidak optimal dalam pemberdayaan desa. Sudah saatnya memberikan kewenangan perijinan kepada masyarakat bukan hanya KTP saja tetapi juga seperti pemungut retribusi, penanganan retribusi sampah, warungwarung kecil, sehingga desa dapat diberdayakan, mendapat income untuk memberdayakan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan desa. 2. Jangan sampai kewenangan yang diberikan itu tidak ada kontrol, karena akan menghambat investasi di daerah, jangan sampai kebablasan memungut retribusi yang tidak mendukung investasi. Suharman Berhubungan dengan fiskal, otonomi dan kewenangan untuk mengelola sumbersumbernya perlu dipahami: 1. Otonomi dan kewenangan itu bukan di ruang hampa, tarik menarik dengan pasar. Banyak bondo desa berubah menjadi ruko, bondo desa yang telah menjadi uang mudah sekali menjadi elitis sifatnya, misalnya untuk membiayai pamong desa. Di Kampung Naga masyarakat menolak menjadi obyek wisata tetapi tidak memperoleh hasil serupiahpun dari kegiatan wisata itu. 2. Tidak sterilnya faktor politik di bawah. Contohnya, Bupati menganggarkan dana APBD dan disalurkan ke desa pendukungnya. Pasar dan politik menjadi eksternal environment yang harus diperhatikan dari otonomi dan kewenangan desa. Kita tidak perlu pesimis, dengan regulasi kita bisa menata/mengukur eksternal environment. 3. Persoalan kontrol dan elitis, otonomi dan kewenangan desa, kontrol itu bagaimana mekanismenya? Format itu perlu dikedepankan. Kamardi Kita sudah membahas konsep ideal tentang desa, paling tidak ada 3 hal untuk didesakkan yaitu : 1. Akses pengelolaan sumber daya masyarakat adat di desa, di UU 22/99 dan UU 32/2004 SDA yang dikelola kabupaten tidak boleh dikelola desa sebaliknya yang dikelola desa tidak boleh dikelola kabupaten, faktanya tidak demikian. Pergeseran seperti itu juga APBDes, perda perlu mengakui adat di desa. Hambatan lain itu di daerah, pusat dan daerah tidak sinkron, mereka saling lempar tanggung jawab.
Menggagas Desa Masa Depan

48

2. Hak konservasi, termasuk tata nilai, adat itu sepotong dipahami di desa. Normanorma itu kalau bisa diadopsi di desa untuk membuat sistem hukum adapt, dan perda perlu mengakui itu. Saya mendukung perlu adanya pendetailan UU ke dalam perda. 3. Kewenangan ini ketika di desa, harus dipertegas pemerintahan itu lebih ke administrasi, tetapi pengaturan tata nilai, sistem, roh kehidupan di desa jangan diintervensi, jangan dicampur aduk. 4. Untuk PP 72/2005 pasal 68, desa paling sedikit mendapat 10% dari retribusi, ayat C desa mendapat 10% dari DAU, ini yang disebut ADD. Ketika ADD turun maka yang bagian dari retribusi tidak diberikan. Franky Bicara kewenangan, akses SDA, saya merasa tidak bijaksana kalau tidak kita undang departemen lain, misalnya kehutanan, perkebunan, tambang dll, karena regulasi itu banyak benturan. Ibnu Kita tidak diskusi membagi kewenangan per sektoral, yang perlu kita rumuskan bagaimana memberi/membagi kewenangan. Kita tidak mungkin per sektoral, itu pun per daerah berbeda-beda. Konstitusi sudah memberikan kewenangan, pasal 18 ayat 5 amandmen UUD, sayangnya konstitusi tidak mengatur desa. Dari rumusan, pusat itu ada 5, namun ada urusan wajib daerah yang menyangkut kesejahteraan rakyat, misalnya ketenagakerjaan, pendidikan dll. Kalau di luar itu maka bisa dilakukan daerah maupun kabupaten. Dari UU 22/99 keluar PP 25 yang membagi per sektor, yang tidak diatur di PP 25 maka kewenangan kabupaten. Problemnya bagaimana mengatur kewenangan desa yang tidak ada di konstitusi. Kewenangan desa itu ada yang asli, dan ada yang dari kabupaten, yang dianut ini tidak konsisten dengan UUD. Kalau desa kewenangannya diatur kabupaten, sedangkan kewenangan kabupaten sepanjang tidak diatur pusat. Sekarang kita mau pakai, apakah kabupaten mengatur seperti pusat mengatur kabupaten atau kabupaten minta kepada desa, formula apa yang akan kita pakai? apakah model konstitusi atau desa melist dulu, ini tidak bisa diseragamkkan, ini hanya bisa buat kriteria. Problemnya ada sektor pendidikan, kesehatan, ini bisa dirinci. Yang dimaksud kewenangan itu adalah menjalankan sebagian kewenangan pemerintahan. Pembagian selama ini tidak pernah dilakukan dengan baik, semuanya remang-remang. Formula apa yang akan kita pakai untuk kita berikan desa? Kalau menurut konstitusi maka daerah membuat perda tentang kewenangan. Sebenarnya kewenangan itu tergantung model otonomi seperti apa yang kita anut. Toto Barangkali sudah kita kenal namanya desa itu tumbuh dari adat istiadat, asal usul, prinsip ini yang harus kita pegang, kemudian timbul dan tumbuh dari bawah, idealnya menggali dari bawah. Contohnya, kita mengenal tanah adat dan tanah sertifikat, yang punya kewenangan tanah adat adalah desa, jadi menggalinya dari bawah, kita tinggal membuat rambu untuk dilaksanakan kabupaten. Otonomi yang kita gali, kewenangannya sejauh mana desa itu mampu melaksanakan sendiri? Fasilitator Yang belum clear itu kewenangannya seperti apa? Itu tadi proses otonomi dan kewenangannya. Azam Pendapat itu sangat dipengaruhi lingkungan. Saya dari lingkungan birokrat, berkaitan masalah kewenangan, tanah bengkok desa yang berubah menjadi ruko. Itu menjadi kewenangan desa, desa boleh menjual dan mengalihkan. Kalau sampai bendo desa
Menggagas Desa Masa Depan

49

Matt Stephen Otoritas desa untuk menyelesaikan masalah. kewenangan yang asli tidak perlu kita atur. tidak perlu detail. Kita pernah menantang IMB. pertama harus memilih dulu model pemerintahan. Untuk kasus yang kecil-kecil. Sofyan Mekanisme kewenangan. saya mengusulkan pertanggungjawaban kades. karena yang dihadapi adalah SDM. Benturan terjadi antara kabupaten dengan desa. pertanggungjawaban. Sudah ada perda tentang bondo desa. syaratnya dirubah. Fasilitator Normatif regulasi sudah ada. masyarakat dikebiri oleh pejabat. namun perlu dipisah peradilan desa dan komunitas. Mnurut saya. karena akan ada tarik menarik dengan kabupaten dan provinsi. kemampuan perangkat. Vitri Indonesia terlalu banyak aturan. tapi belum dilaksanakan. pihak yang memakai bondo desa harus mengganti minimal sesuai dengan harganya. Ciri otonomi. unsur pemerintahan eksekutif. masyarakat tidak dihargai. kepala desa ini harusnya standar minimal SMA. kalau kita pilih self governing community. karena otonomi itu mengatur dan mengurus. Kewenangan itu sangat sulit dilaksanakan. Maka perlu ada penilian terhadap kabupaten. Desa di Kebumen tidak punya tanah bengkok dan di Banyumas ada dan luas sehingga penghasilannya sangat banyak dan bisa mengatur pembangunan di desa. Oleh karena itu ada formula dan tahapan yang harus dilaksanakan. jadi penting bicara kewenangan adalah kemampuan desa membuat peraturan tetapi desa juga punya otoritas untuk membuat keputusan. bagaimana kalau desa? Lalu kita akan training untuk IMB. UU 32/2004 akan dibagi 3 yaitu pemerintahan daerah. wewenang dan anggaran. kalau spirit tidak homogen maka kewenangan yang kita address kita ke sana seperti apa? Ide pak Ibnu menarik. Untuk bisa meletakkan wewenang desa. ini perlu didorong dan didefinisikan.sebaiknya tetap masuk ke pemerintahan daerah. namun ada problem-problem empiris. walaupun itu bertentangan dengan hokum. Peradilan komunitas itu bisa di dalamnya peradilan adat. yang perlu diatur adalah kewenangan dari pemerintah. kalau mereka tidak mampu maka jangan diberikan kewenangan. saya setuju desa punya kewenangan. di peraturan itu belum ada. maka kita bisa melihat wewenang desa akan seperti apa. hanya itu harus diberikan kriteria secara bertahap. anggaran desa itu seperti darimana saja. dukungan masyarakat. dia bisa membuat peraturan. Dari struktur pemerintahnya juga sangat kurang. aturan dibuat untuk dilanggar. lalu dia menjustifikasi bahwa di wilayahnya ada hutan Menggagas Desa Masa Depan 50 . Desa bisa menyelesaikan peradilan desa yang informal. desa dan pilkada. Dari RUU harus jelas pemerintahannya. penyelesaian konflik itu menjadi kewenangan di desa. peradilan desa itu sudah ada preseden. Pertanyaannya adalah mempertimbangkan konteks daerah. Komentar Pak Ibnu. bagaimana interaksi dengan peradilan formal dan sebagai pengakuan kepada masyarakat untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Kita sudah membuat perda kewenangan desa. legislatif. kita berangkat dari mana? Konstitusi tidak jelas mengatur tentang desa. yudikatif tidak jelas. administrasi. misalnya di Minangkabau sudah ada surat edaran untuk peradilan tinggi untuk peradilan negeri di Minangkabau agar mengacu ke peradilan desa. Apakah model konstitusi atau desa yang menentukan. infrastruktur. Ibnu Yang perlu kita diskusikan itu mekanisme. Franky Saya setuju. kades dipilih masyarakat tetapi tanggung jawab kepada bupati melalui camat.diambil oleh pemerintah tanpa ganti rugi maka itu sudah kebodohan desa. sehingga hanya berhenti di tingkat kabupaten.

akhirnya dicabut kewenangannya. walaupun intinya ada pengembangan kapasitas itu menjadi perhatian khusus. itu tidak akan selesai kalau tidak duduk dalam satu meja. namun departemen kehutanan bilang itu haknya departemen. Wafi–BPD. Fasilitator Bapak-bapak. Agus R. Yuni–Asppuk. Datuk–Asosiasi Nagari. • Bahwa kesenjangan demokrasi pada aras desa berpengaruh pada kebijakan desa. pembinaan dan pengawasan itu dalam konteks pelaksanaan otonomi daerah dan tanggung jawab pelaksanaan. Irwan–Letmindo/GTZ Aceh. IKPM bilang jelas bahwa itu kewenangannya Papua. hubungan sektoral berbenturan. Susmanto–Letmindo/GTZ Aceh/ LGSP. apakah mungkin menjadi suatu pilihan yang cocok (bottom up)/ internalisasi nilai. Menggagas Desa Masa Depan 51 . • Demokrasi. UU dalam ranah desa. Bapak kita mencoba mengelaborasi UU 16/69 tentang desa praja sampai dengan UU 32/2004. Fasilitator Persoalan kewenangan tidak cukup tetapi juga kapasitas. akan terjadi pertarungan dengan negara. Widyohari–STPMD ”APMD”. Widya-FPPM. Wai. Dahlia–TTS SoE. Kasus riel pertentangan RUU PA Aceh dengan Otsus Papua. Aturan sering bertubrukan. mana yang baik dan tidak baik. resolusinya apakah membentuk UU baru atau bagaimana? Kewenangan ini harus dipastikan. termasuk kultur. tanahnya. Riawan Tjandra – Atmajaya Yogyakarta 2. Adnan–LP3ES. Mengkaitkan apa yang disampaikan di depan. Abu–Persepsi. hubungan antar sektor. Haryo Habirono – FPPD : Ade–PPK. sehingga terjadi benturan kelembagaan. Terkait kewenangan harus dikembalikan ke konstitusi. Hans Antlov-LGSP. kalau itu sudah dikaji maka kita butuh sistematika perundang-undangannya seperti apa? Setelah itu kita sebarkan ke seluruh daerah untuk mensikapi mana yang baik mana yang tidak. Kasmuin Saya sepakat seperti tidak perlu ada penyeragaman. 2. Kelompok: DEMOKRASI DESA Fasilitator Peserta : 1. Syamsul Hadi–Bina Swagiri. Ade Regulasi perlu ada keharusan pelaksanaan UU PA. ibu-ibu. ada beberapa yang hal perlu dicermati dalam diskusi kelompok kita sebagai berikut: • Transformasi UU 32/2004 berpengaruh pada sisi demokrasi desa. kalau perlu ada departemen khusus agraria.adatnya. SDA yang sudah diatur dalam UU sektoral. Rahma–LIPI. pengaturannya bukan sektoral lagi. sisi yang lain normatifnya saja sangat sulit. Joana–World Bank. • Implementasi Pancasila. Kalau bicara kewenangan yang sudah ada sejak awal itupun harus diikuti pengembangan kapasitas dan pembinaan paradigma. Fasilitator Tadi muncul satu pendapat bahwa ini pengalaman praktis. Marhaban-PMD Depdagri. dan itu menjadi pertarungan yang riel. UU 32/2004.Lakpesdam.

• Demokrasi yang cocok yang bagaimana? Demokrasi tidak perlu dicocok-cocokan. Basis kewenangan desa adalah desentraslisasi sedangkan otonomi desa dari masyarakat. Saya lebih tertarik pada bagaimana demokrasi ada di desa. Melihat fakta kelemahankelemahan BPD ya. Bila masyarakat terlibat dalam proses perencanan. Tetapi dengan demokrasi perwakilan yang ada sebelumya. tetapi juga dalam menyalurkan aspirasi masyarakat/cari input. saya lebih optimis. Tetapi selain itu ternyata lembaga itu sendiri tidak cukup untuk melahirkan nilai-nilai demokrasi di desa. tapi cenderung melihat apa yang dibutuhkan desa. masyarakat belum. implementasi maka masyarakat merasa bertanggung jawab terhadap hasil pembangunan. Demokrasi apa yang paling cocok di Indonesia? 2. • Persoalan quorum menjadi masalah. • Perlu juga dipikirkan pendidikan politik di desa. Dari beberapa hal tersebut. Wafi • Kaitan dalam hal ini. BPD menjadi Badan Perwakilan Desa. Sehingga musrenbang desa mentok di Kabupaten. Eksperimentasi demokrasi desa dihindari karena tidak match dengan demokrasi. • Keuangan. jadi tidak perlu ada batasan quorum. maka merujuk pada 3 aspek: 1. Dengan keluarnya UU 32/2004 terbelalak. tidak hanya dalam pengambilan keputusan. Menjadi penting adanya demokrasi di desa/kelurahan adalah dipilih langsung. artinya harus dengan target sekian orang. Saya lebih cenderung kembali ke UU 22/99. implementasi dan pengawasan. Belum ada kepastian mewakili kepentingan masyarakat. Masih ada kecenderungan elit desa yang menentukan. sehingga tidak ada raja-raja kecil di desa. sehingga seorang kandidat kepala desa tidak perlu manggung di desa. dipilih dan menjadi badan penyeimbang. mengontrol pembangunan di desa. Bagaimana bisa melibatkan masyarakat lebih luas. Pada dasarnya masalah desa/masyarakat desa adalah mereka tidak terlibat dalam proses perencanan. euforia politik. Ade Sulit menjawab demokrasi dengan model yang mana. melainkan kontrol.• • • Kaitan demokrasi dengan skala kebutuhan masyarakat. dipilih langsung. Joana Pada prinsipnya setuju BPD – perwakilan yang mewakili prinsip-prinsip demokrasi. Dengan aturan saat ini belum berati demokrasi sudah berjalan di desa. Berangkat dari program pengembangan seperti yang dilakukan dalam PPK. Menggagas Desa Masa Depan 52 . polanya masih top down. Fungsi lembaga-lembaga yang mampu mengusung demokrasi? 3. adanya fakta kasuskasus harus dibenarkan. melihat nilai demokrasi yang ada di di desa dengan model perwakilan yang dipilih langsung. dengan harapan yang lain akan melengkapi. maka pemilihan kades juga dibiayai. Kendala-kendala yang perlu diperhatikan! Pada akhir pertemuan akan disepakati wakil yang akan menyampaikan presentasi. musrenbang tidak ada artinya. dengan adanya pemilihan Presiden/Bupati dibiayai oleh APBN/APBD. Ada BPD yang belum berperan dalam fungsinya – check and balances. permasalahan diantara mereka. Tidak setuju BPD akan mempreteli kekuatan desa seperti kata Syamsudin Haris tadi. Jadi perlu ada ketegasan masyarakat dalam proses pembangunan. fungsinya diberangus dengan dalih-dalih. kaitannya dengan psikologi demokrasi. Sebagai pelaku perwakilan di desa saya sendiri sedang bersemangat dengan proses demokrasi di desa.

pemuda. tetapi terkadang ada pesanpesan dari daerah. Nah. Amerika. alim ulama. ada keberhasilan dalam keterlibatan masyarakat menentukan keputusan. provinsi. Kalau secara antropogis barangkali desa lebih tua dibanding dengan kabupaten/kota. Proyek PPK di daerah. sehingga kades. bagaimanapun proses pemilihannya tidak terlalu persoalkan. saat ini diserahkan kepada desa/swakelola. maka masyarakat akan diam. serta masyarakat tidak ada inisiatif mengontrol pembangunan di desa/nagari. kelompok perempuan. Apa yang disampaikan Joana perlu. Masyarakat desa saat ini belum diberdayakan. yang ’mbok bakulan’ (not: ibu-ibu yang berjualan) tidak ada. yang punya uang yang menang. jadi tidak memaksakan keinginan kita. negara. tapi kita tawarkan kepada yang lain. disini adalah self community governing + inclusive demokrasi. Kanada. yaitu demokrasi modern – representatif dengan 2 prinsip dasar: prinsip representative government. di nagari disebut BPN (Badan Perwakilan Nagari). Keberagaman dalam UU 32/2004 dan PP 72/2005 masih umum. seperti freedman. Representative demokrasi bukan ada di kita.Datu Apa yang disinyalir saat ini sangat setuju. demokrasi yang diserahkan pada tingkat ‘state’. di nagari pemilihannya dengan cara perwakilan kelompok. ada tiga area demokrasi: bidang pembangunan (perencanaan). Keikutsertaaan masyarakat dalam pemeliharaan pembangunan di desa saat ini agak lemah. Hebatnya demokrasi. is there any democracy? Dewan morokaki di Banten dipilih dari ketokohan. perencanaan pembangunan masih top down. kalau masyarakatnya kumpul tetapi ada raja. Pemikiran dan wacana tadi sangat menambah perspektif bagi kita. BPD dan lembaga lain di desa. Saya pahami bahwa peran warga desa. Menurut saya. tidak hanya di Jawa tetapi juga di luar Jawa. Susmanto Menyinggung tentang BPD berkontradiksi dengan pemerintah desa. tapi perlu tupoksi yang jelas. Kalau dipilih langsung bagaimana keterwakilan unsurunsur masyarakat. Sinyalir kolusi di BPD ada kemungkinan. politik (Pembuatan Perdes). Bagaimana desa yang mempunyai dana untuk dapat membeli hasil-hasil panen? Kebutuhan basis desa jangan dikesampingkan. alim ulama. saya yang termasuk mendambakan demokrasi terutama di desa. Demokrasi seperti apa yang disepakati? Misalnya pemilihan langsung. ninik mamak. kemudian ada buku Freedman ”alternative development” dengan konsep political democracy-inclusive democracy adalah demokrasi yang kita bahas. akhirnya ada porsi presentase untuk perempuan. Tana Toraja. Itu bagaimana? Teringat pertemuan forum warga di Surabaya. yaitu penyelengaranggan negara diserahkan kepada elit dan limited government – terbatas. Di desa yang diperlukan adalah self community governing + inclusive demokrasi. pemuda. Fasilitator Kita menawarkan beberapa pemikiran. bagi yang kalah masih diberikan kesempatan untuk memberi kritik. Syamsul Hadi Keterwakilan BPD dalam UU 32/2004 belum baik juga. Pemdes di daerah belum betul-betul mau kewenangan diserahkan ke desa. ninik mamak. Menggagas Desa Masa Depan 53 . menampung. istrinya carik ya. sosial (kontrol jalannya pemerintahan di desa). Australia. Marhaban Demokrasi yang bagaimana? Bagi saya pribadi dilihat dari literatur ada dua macam demokrasi. silahkan. Kalau di desa Sumba Timur. berbeda dengan desa-desa di Jawa dan di luar Jawa. sehingga semua bisa dicek dengan jelas. Secara umum. itu ada pada Kabupaten/Kota ke atas. masyarakat harus dilibatkan dalam pembangunan.

Negara silahkan mengatur regulasai tentang desa. Kendala yang perlu diperhatikan. ada mekanisme kontrol internal di desa. semangat demokrasi di desa menurut saya sangat berbeda dengan masyarakat di tingkat atas. Dalam proyek PPK. Sulitnya minta ampun untuk melibatkan masyarakat dalam partisipasi di desa. Yang penting 3 (tiga) itu. meskipun bukan satusatunya problem di desa. Dari prosedur itu tidak menjamin. tetapi sekarang tidak. mayarakat dilibatkan dalam proses perencanaan hingga pengawasan. Ini perlu dikembangan untuk melakukan check and balances di desa. juga pengalaman negara lain yang berhasil. Kedepan perlu ditempatkan suatu forum di desa. Partisipasi menjadi titik demokrasi. sesepuh. eksekutif. yaitu partisipasi merupakan kendala yang terbesar di desa. Sangat mahal bagi negara untuk representatif demokrasi. dulu ada forum di desa yang memenuhi ini. Tetapi BPD pada banyak desa menjadi alat legitimasi aparat desa. Barat tahu persis otonomi daerah itu. ini parah. Kalau kepala daerah memiliki wilayah. Marhaban Saya beda dengan apa yang disampaikan Hans tadi. harus menjamin keberlangsungan lembaga-lembaga lokal di desa. Juga dalam penguatan masyarakat di desa. dan lain-lain. kalau cair sama sekali juga memiliki kelemahan. Kerena itu. tetapi juga tidak sepenuhnya mewakili masyarakat. Perlu dimasukan unsur-unsur/aspek penyetaraan dan lain-lain. maka elit-elit diluar Jawa akan tersisih. tidak memadainya apa yang ada di BPD. Berapa persen orang yang menyampaikan ketidakpuasan mereka terhadap BPD? Menjadi pertentangan tersendiri di masyarakat bagaimana menyalurkan aspirasinya. itu harus dilembagakan. Masa yang lalu ada demokrasi di desa. Demokrasi desa dibangun ala kelokalan setempat. masing-masing desa berbeda. romantisme bahwa demokrasi desa diserahkan saja kepada desa. Menyinggung yang disampaikan Pak Sus. Karena teori apa saja di Indonesia tidak jalan. tapi masih ada celah-celah. menjadi grup politik masyarakat. wali nagari tidak perlu untuk menjadi pengurus parpol. sehingga tepat kita mencari demokrasi. Tidak ada sistem check and balances – itu sulit. Aspek persamaan itu perempuan dibelakangkan. Apapun bentuknya tidak masalah. ada badan legislatif. Problemnya. masih sebagian bergantung pada pemerintah. Fungsi negara menjamin bagaiman masyarakat teribat dalam proses pembangunan di desa. empowerment yang ditumbuhkan dibunuh kembali. BPD sebagai institusi menjadi cek and balances bagi pemerintah desa. kemudian tidak lahir dari masyarakat. siapa saja: buruh. PPK bagus. saya setuju dengan Pak Sus. Datu Kalau saya diminta untuk mewakili partai di desa tidak setuju. ada rapat/rembug desa. partisipasi di desa adalah milik elit desa. desa boleh memasukan unsur permusyawatan. sehingga BPD tidak cukup mewakili sebagai institusi perwakilan di desa – kelompok-kelompok di desa. perwakilan. petani. Oleh karena itu BPD ada tetapi harus ada mekanisme lain yang sifatnya Menggagas Desa Masa Depan 54 . karena itu murni dari adat. tetapi juga harus memberikan ruang bagi lokal. jangan ada kabijakan jeruk makan jeruk. kalau tidak ada. Kades. Saya mengkritik teman-teman di PMD. meskipun BPD mewakili masyrakat di desa. Eropa barat menyerahkan otonomi se-grass root mungkin. Abu Apapun demokrasi yang diusung adalah demokrasi yang menjamim kemandirian di desa.Widyohari Saya sebetulnya sepakat dengan Pak Sus. Wa’i Ada kemunduran BPD menjadi bamus (badan musyawarah). wali nagari/kades memiliki masyarakat.

Apapapun bentuk demokrasinya kalau tidak ada suara perempuan maka tidak demokratis. lebih mementingkan proyek. orangnya terbatas. • Musrenbang sebenarnya ada masalah. demokrasipun kalah. bagi saya yang penting unsur keterwakilannya dari aspek kewilayahan. pemikirannya terbatas. Adnan Seringkali kita memperjuangkan bentuk daripada isi. Kalau di pemerintahan. tapi tidak bisa dilantik karena kepentingan poltik di tingkat atas. Amerika. ada potensi. bagi saya tidak masalah. jangan-jangan partisipasinya terpimpin atau terbina. parpolpun tidak mewakili masyarakat. seolah bentuk lebih bagus daripada isinya. pikirannya. tapi negara Asia. Saya hanya mengkritisi itu. diwadahi dalam forum. Widya Bagi saya demokrasi seperti apa? Kembali pada kearifan lokal. Setahu saya Eropa dan Amerika hanya ada di kabupaten/kota. Yuni Saya mau ikuti yang sudah ada. contohnya sesudah pemilihan dan terpilih. dananya. • Usul: perlu ada pelatihan bagi LPM untuk perencanaan pembangunan. mereka bisa. silahkan. Kalau BPD. tidak masyarakat. pengkulturan masyarakat. Pancasila dan UUD 1945. Banyak pendapat tentang partisipasi. Negara tetangga lain. persoalan budaya. pengangguran. Filipina. jadi kendalanya struktural dan kultural. Bagaimana kearifan lokal bisa timbul kembali? Dahlia • Bagi saya perlu ada lembaga demokrasi di desa. itu diseimbangkan. ini dan itu. Kita terjebak dengan panyakit partisipasi. Kalau dalam parpol terwakili 60%-70% maka ada 30% yang tidak memilih. • Kades di TTS seperti alat politik. ada kebutuhan. kita fasilitasi. • Partisipasi dalam berbagai bentuk. Hans Saya tidak setuju demokrasi terlalu mahal. tenaga. lembaga dari luar yang ada di tempat kami. Dana disiapkan. Jadi masyarakat perlu kita latih.. kelompok dan lainlain. Contoh. Selama ini banyak dikatakan kita sudah. India. sehingga seharusnya ada kursi kosong di DPRD.insidential. • BPD dan Kades itu alat negara? Widyohari Lembaga independent silahkan masyarakat bentuk sendiri. • Pemimpin formal di masyarakat pasti diikuti masyarakatnya. LPM sebagai lembaga induk yang membawahi lembaga-lembaga di masyarakat. Menggagas Desa Masa Depan 55 . modul disiapkan seperti dulu sebelum ada otonomi. Fasilitator Karena waktu tinggal 15 menit masih ada 7 orang yang belum bicara. mengapa Indonesia tidak bisa? Olahraga kalah. kehadirian fisik. Membandingkan dengan yang di atas. keterwakilan partisipasi. Itu bukan Eropa. kepentingan... Apa masyarakat tahu bagaimana membaca APBDes? Ketika dalam perumusan perencanan mereka tidak semua terlibat. dan lain-lain sebagaimana yang tercantum dalam covenantcovenant Internasional. adanya penokohan. sehingga dia akan kuat. Perlu mengacu pada prinsip-prinsip pokok dalam membangun sistem demokrasi di desa seperti human right. permusyawaratan – perwakilan.

cuma hari sabtu saja yang demokratis. jadi hanya hari sabtu saja. BPD sebagai tool untuk check and balances 2. kalau bukan kebutuhan. Demokrasi hanya satu hari. • Peguatan kelembagaan banyak kendala. Musrenbang hanya dilaksanakan satu hari. diawali di rumah tangga? Apa itu sudah kita lakukan? • Kasus di Palembayan. injecting participating in local. BPN tidak berfungsi. banyak kendala menciptakan masyarakat demokratis. pandangan pragmatis) • Focus pada pembentukan lembaga bukan membangun esensi check and balances • Kemampuan ekonomi masyarakat • Trauma pengalaman berdemokrasi yang “mboten up” tidak memihak kepada kebutuhan masyarakat contoh masyarakat Menggagas Desa Masa Depan 56 . hanya kata-katanya yang berbeda.. Benang Merah Pemikiran: Demokrasi yang cocok bagi desa: Inclusive demokrasi perlu menjadi pertimbangan utama dalam rangka membentuk self community governance masyarakat terlibat secara luas dalam proses pengambilan keputusan 1. kalau tidak demokrasi maka akan menjadi otoriter. kita sepakati siapa yang mewakili untuk menyampaikan diskusi kita? Marhaban Sedikit saja. Keterwakilan lembaga kemasyarakatan lainnya Fungsi lembaga-lembaga: • Lembaga di desa terdiri dari lembaga formal dan non formal • Fungsi lembaga desa bervariasi: sebagai fungsi legislasi. sabtu. senin-jum’at tidak demokratis.hhahaahhaaa. kontrol dan pelaksana • Bentuk diserahkan pada kearifan dan keunikan local dengan acuan dari pusat • Lembaga itu harus mampu mewakili semua aspirasi masyarakat • BPD dan lembaga kemasyarakatan yang ada harus ditopang dengan capacity building yang memadai Kendala-kendala: • Keterbatasan partisipasi masyarakat antara lain karena sistem yang belum mendukung (structural) • Kendala cultural (misalnya budaya patrialistik. mandul. kita semua membicarakan hal yang sama. siapa yang bisa disepakati untuk mewakili? Jadi Pak Datuk dan Ibu Ade untuk mewakili.. contohnya beberapa anggota BPN tinggal di Bukittinggi. ada yang mengusulkan ada kursi kosong-golput. sikap elitis. elit-elit menyelewengkan demokrasi. karena oranya tidak demokratis. Bagaimana menanamkan demokrasi di masyarakat. Harus mengacu pada analisis kebutuhan desa 3. bagaimana kalau kita mengundang petani untuk mengikuti musrenbang. sedangkan kalau mereka ke sawah mendapatkan sepuluhribu. Fasilitator Biar saja semuanya pemikiran masuk..Agus • Demokrasi kebutuhan di desa... Fasilitator Sulit menggabungkan semua wacana. Bagaimana ditingkat kabupaten/kota.

sosialisasi dari kedua UU dan PP tidak sampai kepada kepala desa. Kamardi-Perekat Ombara. terkait dengan UU 32/2004 ada beberapa hal yang perlu kita sikapi bersama seperti ada beberapa UU yang baru itu menarik ke pusat dan posisi daripada BPD perlu memperoleh perhatian kita bersama. alasannya 1) SDM tidak mampu. kalau ada uangnya ADD mereka menanganinya. dengan skala prioritas. Perencanaan di tingkat desa perlu dikelola melalui SDM di tingkat desa. Kasmuin-CePAD. persoalannya mengapa ADD tidak bisa cepat dilaksankan? Saya pikir banyak kabupaten tidak rela menyerahkan uang sekian banyak. bagaimana menghubungkan ADD dengan pelayanan publik? ADD selalu memakan belanja rutin kabupaten. sehingga dapat memberikan semacam apresiasi terhadap masyarakat dan karakter masyarakat itu sendiri.Hari/Tanggal : Senin. Di Deli Serdang baru dianggarkan 11. Alit Asmara Terkait informasi dari teman Deli Serdang tadi saya konsentrasi di desa. karena selama ini yang menjadi bendahara desa adalah kaur umum yang merangkap jabatan. Betapa ADD yang menjadi masa depan desa masih terbatas. seharusnya sesuai ADD 43 Milyar harus diserahkan kepada desa. Alit Asmara-Majelis Madya Gianyar. Soekirman-Wakil Bupati Sergai. Dahlia-PMD TTS. Ini sebenarnya ada keberatan tersendiri dari Pemkab. Kewenangan desa harus jelas. mungkin kita harus menentukan kriteria kepala desa itu seperti apa. kemudian ADD untuk apa?. sehingga ada kejelasan potensi. Fasilitator ADD menjadi harapan di desa. Abu-Persepsi.00 3. sehingga ini terkait dengan kewenangan desa. 2) orang desanya tidak tahu bahwa ada UU 32/2004. Mengapa kabupaten tidak responsif?. 3. mereka minta supaya ADD dapat dilaksanakan sendiri oleh orang desa. maksudnya bendahara desa. Bambang Hudayana 2. 2. karakter dan budaya setempat bisa masuk.00 – 13. merujuk PP 72/2005. pendapatan desa rendah. 5. Ade-KDP World Bank. yaitu: 1. yaitu digunakan untuk pembangunan fisik. Masukkan dari 4 desa yang kami lakukan. Fasilitator Itu fenomena di Deli Serdang. Joana-World Bank. ada PP 72/2005. dengan adanya ADD masyarakat punya kemampuan untuk mengelola ADD. Kesiapan kelembagaan nanti menyangkut SDM yang ada. Adri Warsena-FPPD. Menggagas Desa Masa Depan 57 . 4.5 Milyar. Legitimasi pemerintahan desa ini perlu proses yang demokrasi. Syamsul-Bina Swagiri. Ninuk Kita di DPRD Deli Serdang sedang membuat Raperda yang saat ini sudah menjadi perda tentang ADD. Arie Sujito : Ninuk-BPD Deli Serdang. Sumber pendapatan desa harus jelas apa-apa saja. Kelompok: ADD (ALOKASI DANA DESA) Fasilitator Peserta : 1. Perda-perda dan perdes. Tumpak-PMD. Sukoco-Kades Wiladeg. ada 4 permasalahan yang kita perhatikan. 3 Juli 2006 Pukul : 11. dalam kaitan ADD. Datu-As Wali Nagari. terkait juga dengan aspirasi masyarakat ketika perda atau perdes itu disusun. Sebelumnya kita melakukan pertemuan dengan beberapa desa.

Yang menjadi orientasi ke depan. sehingga ada ketergantungan dari peraturan Bupati. kalau kami loyal maka dananya dapat turun. kalau diukur dari PP masih jauh. setelah ADD jalan desa sudah hotmix. partisipasi dan lain sebaginya tapi di ayat b. walaupun itu sudah dimentahi temen-teman lurah pada waktu itu. Sepertinya itu masih terjadi. kalau itu tidak disiapkan di desa. 3. Saya sepakat dengan kawan dari Bali bahwa harus ada ketegasan hak dan wewenang yang harus dimilki oleh desa. maka dengan kesiapan ini kita dapat menuju kewenangan dan hak desa sehingga tidak ada alasan untuk tidak memberikan porsi itu kepada desa. DAU yang dipotong anggaran rutin. penduduk desa paling tidak mendapatkan bagian 10% dari retribusi daerah. sehingga kalau ada ketentuan dari pusat maka mereka tidak dapat menolak. ada yang tidak tapi tiba-tiba ada bimbingan teknis. 1. Fasilitator Jadi ADD itu bukan identik dengan pengembalian dana 10% yang berasal dari retribusi itu ya? Kamardi Ya bukan. yang harus diperjelas dalam perda itu bahwa itu harus dipisahkan dengan PAD atau APBD itu sendiri. ADD ini dimanfaatkan untuk pencalonan Bupati bahwa nanti desa akan dialokasikan dana. kalau tidak ya tidak. faktor APBD kabupaten belum siap. memang nilai asli desa ada gotong royong. Adanya regulasi yang tegas dan pro desa. Sukoco Ilustrasi di Gunung Kidul. lha bagaimana mengelola itu? Bagaimana menyiapkan kelembagaan di desa itu? 1. dia memandang bahwa kapasitas dan potensi desa belum siap. Jadi ADD itu benar-benar mutlak untuk desa. misalnya perda yang mengatur sekian % dari APBD harus dilakukan untuk ADD. mestinya 23 Milyar. Mungkin juga faktor politik. dengan presentase sekian % untuk BPD. pembangunan dan lain-lain. termasuk juga dalam perencanaan dan juga kegiatan-kegiatan yang menyangkut desa. itu perda yang mengatur bukan hanya peraturan Bupati. karena di PP itu 2 hal yang dimandatkan. bagaimana ADD itu mutlak kewenangan desa. ada yang pakai peraturan Bupati. faktor politik (karena tidak milih). Maka ADD keluar dengan peraturan Bupati saja tapi aturannya sangat ketat sekali. Disamping ada keuntungannya ADD juga ada sisi buruknya. Kamardi Soal ADD itu selain perda mengawali kebijakan karena konsekwensi PP 72/2005 sudah dijelaskan ADD itu. Desa tidak ada otorita mengatur sendiri. Efek ADD luar biasa. Syamsul Kenapa kabupaten tidak iklas memberikan ADD. Dari teman Deli Serdang tadi ada ketidakrelaan pemerintah kota untuk memberikan porsi kepada desa. Perlu disiapkan resolusi managemen konflik di desa 2. maka akan memindah budaya korupsi di desa.Dukungan dan partisipasi dari masyarakat seperti apa. sudah jelas bagian desa itu paling kecil 10% dari retribusi daerah dan ADD itu merupakan dana perimbanagn yang diberikan pusat kepada daerah. yang mengatur kabupaten tapi hanya pedoman umum saja dan teknisnya diserahkan ke desa. Alasan dari Bupati adalah untuk langkah awal dan nanti kedepannya tidak akan diatur. Menggagas Desa Masa Depan 58 . 2. Catatan lebih jauh. Ini yang selama itu belum jelas. jadi berbeda sumbernya.kemungkinannya adalah. Dana yang pertama itu 10 Milyar.

kabupaten hanya memberi rambu-rambu saja. 3. saya sangat sepakat sekali antara realisasi ADD dengan penguatan kapasitas kelembagaan desa harus digarap bersama dan segera. Saya ingin menyampaikan bahwa ada 3 kebutuhan yang berbeda anatara di level desa dan kabupaten. Sejak dahulu semua orang menghendaki supaya daerahnya mendapatkan sebesar-besar. dananya harus memadai. Partisipasi masyarakat desa sangat turun. kriterianya sangat banyak. 10 % DAU maka harusnya 15 M. sehingga menguntungkan pihak luar. Menggagas Desa Masa Depan 59 . dan setiap desa memperoleh dana yang berbeda sesuai dengan kebutuhannya. rata-rata mereka mendapatkan sekitar 75 juta per desa. jalan dll. karena tujuan ADD untuk mempercepat pembangunan dan kesejahteraan masyarakat desa justru akan tertunda lebih jauh lagi karena banyaknya permasalahan yang muncul karena realisasi ADD dengan penguatan kapasitas itu. PP 72/2005 di kabupaten. karena kecamatan memfasilitasinya dan yang paling mencolok adalah infrastruktur baik jalan desa maupun irigasi. 2. Ade Saya sependapat bahwa ADD diperlukan pengalaman selama ini. tetapi hanya rambu. bertahap. di desa itu tidak ada Bandes. setiap tahapan harus dipertanggungjawabkan lebih dulu. Honor kades. karena akan menentukan besar kecilnya ADD kedepan. kalau rata maka 75 juta per desa. ADD seharusnya didahului RPJMDes.Fasilitator ADD itu hak desa. Proses pembuatan keputusan awal harus partisipatif. Disini juga ada tim pengawas. tidak sama persepsi dan empati antara ketua Bappeda. Ada kecenderungan berbeda. 1. yang jadi kebutuhan desa lagi itu adalah keputusan musbangdes. Di pemahaman tingkat kabupaten beda persepsi. Sebaiknya tidak ada pembatasan yang rigid. Bupati mengakali 50 juta per desa. Kasmuin Ada semacam tindak lanjut saja. PP 72/2005 harus dikuatkan dengan perda. Apakah kita perlu merumuskan dan mencari strategi untuk mendorong hambatan-hambatan mengapa ADD itu macet dilakukan daerah? misalnya kita mendorong class action apabila ADD tidak dilakukan sebagaimana mestinya. karena orientasinya untuk diri mereka sendiri. Fasilitator Penguatan bukan hanya pada aparat. Contoh di Ngada. mereka lebih percaya ke konsultan lokal. lalu APBDes dan itu masih dilakukan oleh LSM. Kalau ADD jalan dan proses perayuan dari pihak luar itu terus maka yang ada adalah pembunuhan terhadap inisiasi desa. dan baru menerima PP 72/2005. karena adanya fasilitator pendamping sehingga lebih tepat sasaran. Pembangunan oleh desa lebih efektif. porsinya tidak ditentukan. DPRD dan lain-lain. ada soal dengan kabupaten induk. ADD tidak merata ke seluruh desa. sehingga mereka bisa bikin pasar. PMD. tapi juga pada masyarakat karena mereka punya kapasitas dan lebih mandiri. hanya beberapa desa. di Ngada tidak terlalu percaya pengawas dari pemerintah. Sejak berpisah dari Deli Serdang. boleh memberi pedoman tapi tidak usah detail. dan kabag hukum. Yang baik itu PPK. kabupaten jangan terlalu mengatur penggunaan ADD. datang kontraktor di atas kertas swakelola. Pembangunan sendiri belum. Yang ditanyai Bandes. kemudian kami cetak dan dibagi ke semua kepala desa. Duit dari PKPS BBM itu seharusnya swakelola. Betapa pentingnya kewenangan desa. itu sudah mendarah daging. Baru 10 bulan bupati dan wakil bupati hasil pemilihan langsung. Mekanisme pencairan dana cukup baik. Soekirman Sergai baru berjalan 2 tahun 6 bulan. tidak ada mark up. yang seharusnya kabupaten induk memberikan kepada Serdai.

Pembangunan infrastruktur. DAKN. Perlu ada intervensi dari pusat supaya daerah tidak gamang melaksanakan ini. tapi kalau di Nagari ada dana bagi hasil yang besarnya 35%. apakah sesuai dengan perda atau yang lainnya. 2. Instrumen apa yang kita gunakan untuk mengatur ADD itu. sekarang ada juga ADD dari Provinsi. bagaimana mengaturnya? Karena itu kita juga harus mengetahui bahwa itu adalah uang hasil dari hutang. Untuk daerah miskin perlu jumlah minimum yang perlu disediakan desa dan kalau itu masih kurang mungkin dapat di ambilkan dari APBN. kalau tidak ya ada batas minimum. 4. tentang ADD mengenai minimum yang harus disediakan desa. sehingga dapat dijadikan bahan untuk pembuatan kebijakan bagi Depdagri. 10% dari APBD. dana pemberdayaan. Elemen di desa perlu mendapatkan penguatan untuk bersama-sama mendorong elemen di desa melek APBD dan APBDes. Sekarang ini kita juga mendapat mandat untuk memonitor PPK berbasis masyarakat tetapi skenario bagaimana setelah itu kita tidak tahu. Joana ADD adalah hak desa yang diterima untuk mengurus kepentingan diri sendiri. yaitu : 1. Peningkatan SDM. Datu ADD itu kalau di Jawa tapi kalau di Sumatra Barat namanya DAUN. Perlu komitmen yang lebih di tingkat nasional. Bagaimana kita melakukan penguatan. semua anggaran dari luar harus masuk APBDes sehingga ada pertanggungjawaban dilevel desa. Jadi mestinya uang itu mengikuti fungsi-fungsi yang ada. Fasilitator Saya ada info dari Pak Girsang bahwa ketika mensosialisasikan ADD. 3. Instrumen kebijakan. ADD itu harus diintegrasikan kedalam APBDes. Kalau melihat dari 10% itu tidak cukup. sudah jelas di PP konsekwensi logisnya kalau ada urusan di desa. urusan ini mesti ada fungsi dan juga anggarannya. selanjutnya pengalokasiannya bagaimana? Mungkin ada contoh dari beberapa kawan. Pedoman level pusat belum ada regulasi. Inilah yang kita pilih dan kita prioritaskan. 5. masih perlu dukungan masyarakat. Tumpak Menurut kami dengan adanya ADD kita perlu cermati 2 hal yaitu: 1. Menggagas Desa Masa Depan 60 . misalnya best bracticenya diungkap disini. Arah pembangunan ke 5 sasaran.Fasilitator Jadi skenarionya. Pembangunan kemasyarakatan. 2. yang itu berasal dari kabupaten. Di desa itu banyak uang. tapi belum ada pengalaman yang itu diinisiasi oleh masyarakat sendiri. Instrumen akan sangat berharga. Sumber Daya Alam. Ekonomi kerakyatan. Abu Dari pengalaman kami di Klaten untuk mengawal ADD di tingkat kabupaten tidak cukup pemdes dan kades. tujuan sebenarnya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. perlu prinsip keadilan di tingkat wilayah. kabupaten hanya memberi acuan saja. sasarannya kepada aparat dan masyarakat desa? Swakelola itu saya sepakat. perlu komitmen di tingkat nasional. Perlunya needs assesment di desa. Ada satu masalah ditingkat nasional dengan adanya intervensi PP 72/2005. Yang perlu kita minta pertama adalah komitmen kabupaten. Dan kalau itu tidak berhasil maka kami akan melakukan penguatan terhadap masyarakat diluar kecamatan untuk melaksanakan pengawasan apapun proyek didesa.

nanti akan kita buatkan petanya dan buat kesimpulannya. 3. dalam bentuk block grant. 4. kurang serius menjalankan kebijakan ADD yang benar-benar dapat menjawab masalah yang dihadapi oleh desa yang menjadi kebutuhan desa. Jadi perlu ada petunjuk teknis dari pusat yang hanya berisi pokok-pokoknya saja dan untuk detailnya menyesuaikan di daerah. mekanisme pengucurannya seperti apa ? 2. Kewenangan kabupaten itu sampai detail apa tidak. Indikatornya: a. bukan kami tidak percaya tapi sampai sekarang ini belum diapa-apakan. Akses informasi masyarakat untuk mengetahui PP masih sangat terbatas. masalah politik 5. Jadi harus ada mekanisme kelembagaan. untuk catatan ADD bukan lagi kebijakan populis Bupati. 3. 6. Jito (Fasilitator 2) Kita sudah petakan dari sejumlah pengalaman praktis bapak ibu semuanya. forum tidak menghendaki tidak terlalu rigid. Oleh karena itu perlu didorong langkah-langkah oleh semua komponen di desa. b. Pentingnya terintegrasinya ADD dengan program lain yang masuk ke desa. maka desalah yang perlu mendetailkannya. Sumber pendapatan desa belum jelas. walaupun itu difasilitasi oleh negara. keterbatasan PAD. sehingga jumlahnya masih kecil. jadi bukan SE Bupati tapi sudah menjadi perda.Dahlia Saya sangat sepakat dengan apa yang disampaikan dan hanya akan menambahkan bahwa yang terjadi di kabupaten TTS ADD belum pernah ada. Karena kami sadar keterbatasn SDM yang ada di desa. Ada semacam keyakinan ADD itu membawa perubahan di desa. atau perlu dibuat peraturan-peraturan yang dapat lebih manjamin ADD bisa membuat perubahan-perubahan. Dari 10 juta menjadi 98-100 juta. SE Mendagri dan peraturan yang ada. Itu dikarenakan adanya PP. Problem manipulasi atau KKN atas pengelolaan ADD. Perlu juga dibentuk lembaga penguatan masyarakat yang partisipatif dan itu bentukkan dari masyarakat sendiri bukan dari pemerintah. akan tetapi daerah masih setengah hati. sebaiknya ini adalah bagian penting yang segera untuk diintervensi. supaya desa itu merasa memiliki atas policy. tetapi ini sudah menjadi kebijakan yang sifatnya daerah. 5. Fasilitator Ada beberapa catatan penting yang dapat kita tarik dari diskusi ini. Fungsi dari pemerintah kabupaten atau pusat untuk memberikan dead line yang bersifat umum. Catatan juga dari kami bahwa : 1. bagaimana ADD itu diserahkan ke desa. Kabupaten enggan untuk ADD 2. 1. sehingga dapat independen. Ada 3 kapasitas potensial desa yang belum siap. sehingga dapat dipertanggungjawabkan. 4. 7. Bagaimana memperkuat ADD di level daerah supaya prosesnya lebih cepat. karena komitmen 10% kami hanya mendapatkan 7%. Pemda berhenti membuat perda. Satu hal yang penting dan relevan dengan apa yang kita bincangkan antara pusat dan daerah belum connect. Menggagas Desa Masa Depan 61 . Masalah. Pemda belum berani memberikan komitmen 10% yang menjadi semacam tolak ukurnya. Ada trend kepedulian yang semakin meningkat di level daerah tentang pentingnya ADD sebagai haknya untuk menjalankan pemerintahannya. Perlu ada intervensi positif agar proses tidak berhenti di tengah jalan. sekarang sudah ditetapkan tetapi sampai sekarang belum ada apa-apa. maka dibutuhkan untuk mempersiapkan sistem pengelolaan ADD. 6.

problematikanya. Susmanto-FPPD/LGSP. Dalam UU 32/2004 yang khusus bicara tentang keuangan desa yaitu pasal 213 tentang BUMDes menyebutkan: ayat (1) Desa dapat mendirikan BUMDes sesuai kebutuhan dan potensi desa. Apakah mikro finance nanti akan cenderung atau pengelolaannya diarahkan ke BUMDes? Menggagas Desa Masa Depan 62 . kita eksplorasi pandangan. Barori-STPMD “APMD”. Yuni Pristiwati . Sofyan-Akatiga. Pengalaman-pengalaman praktis. Empat prinsip ini paling tidak yang menjadi patokan kita bagaimana memberikan gagasan pada pengembangan keuangan desa. Untoro-PMD. Silahkan. aktivitasnya. Agus R Rahman-LIPI. Diskusi ini diharapkan bisa mempertajam pasal-pasal yang sudah ada disitu. Kenapa dibatasi BUMDes? karena topiknya keuangan dan ekonomi desa. tadi sudah disampaikan oleh pak Dony). Tadi pak Maryunani mengantarkan pada kita. 8. dan bagi pemerintah itu sendiri. Fasilitator Kita mengingat kembali apa yang telah dibahas. Transparansi. Widya PujiFPPM. Yusuf-Sajogyo Sains. Ada 4 penerima manfaat yang harus diperhatikan. profesional (harus dikelola dengan betul-betul). Dony-DPRD Sumedang. Suharman-PSPK UGM. Perkenalan Untuk lebih mengakrabkan suasana. Edward Kenapa BUMDes dan mikro finance? karena kita ketahui bahwa BUMDes adalah salah satu jenis pendapatan di desa. (3) BUMDes menjadi milik desa dapat melakukan aktivitas pinjaman sesuai dengan peraturan perundangundangan. usaha kecil. Edward Lubis-YIPD Jakarta. apa keuangan desa.ASPPUK 2. pikiran dan pengalaman bapak/ibu tentang BUMDes. yang didalamnya termasuk aktivitas mikro finance. Sumarjono – STPMD “APMD” : Adnan-LP3ES. Stefan Jansen-GTZ Pro FI. bagaimana posisi dan bagaimana pengelolaannya? Ada prinsipprinsip yang harus dipenuhi dalam pengelolaan keuangan desa diantaranya adalah prinsip pemanfaatan karena dari manapun dan seperti apapun pengelolaan keuangan desa harus diorientasikan pemanfaatannya bagi masyarakat. baik untuk mikro finance maupun BUMDes. yaitu prinsip transparansi. 9. Kita bisa mulai dengan mengeksplorasi pengalaman saat ini. Tidak perlu ADD itu rigid meskipun kontrol sangat perlu dilakukan agar penggunaan ADD benar-benar sesuai dengan yang diharapkan. Kelompok: MIKRO KREDIT DAN BUMDes Fasilitator Peserta : 1. peserta memperkenalkan jati dirinya. Kenapa tidak yang ruang lingkupnya lebih luas misalnya pendapatan desa? kalau BUMDes ruang lingkupnya terlalu kecil. 4. dan apa cerita suksesnya (apa faktor masalah dan faktor pendukung). Toto Suharyana-BPMKS Sumedang. Firsty Husbany-DRSP. Sunarti-Kementrian Pemberdayaan Perempuan. Erni-FPPD. (2) BUMDes sebagaimana dimaksud ayat (1) berpedoman pada peraturan perundang-undangan (Bagaimana peraturan perundangundangan PP 72/2005. kejelasan wewenang dan peran (pengelola dan kepala desa). M.7. keberlajutan. Sebelum mengerucut. pembagunan.

tetapi pembicaraan kita adalah keuangan desa dan salah satu topiknya BUMDes. ini dimaksudkan supaya lebih focus. Apakah pada skala individu yang memanfaatkan jasa micro finance juga meningkat kesejahteraan dan pendapatannya? Penelitian intensif tentang indivisuindividu sebagai nasabah utama belum dilakukan. Bicara mengenai keuangan desa tentu saja ruang lingkupnya cukup luas. alternatifnya bagaimana keuangan bisa dikelola. Kita kembali pada topik yang akan dibahas. belum dalam konteks yang lebih positif. Salah satu dalam pasal itu. saya sudah buat seperti ini tetapi rentenir (pelepas uang) masih banyak berkeliaran. Ketika desa membiayai sendiri. wawasan pengalaman tentang dua hal seperti itu. Kenapa? Karena ternyata uang yang dipakai disini untuk membayar cicilan disana. semakin banyak akses kepada uang semakin senang. Oleh karena itu lembaga perkreditan dibutuhkan di desa dalam rangka mendukung produk yang berkualitas dan syarat dengan teknologi. Persoalannya. omsetnya sudah sampai 2 milyar lebih (dalam satu kecamatan di Minomartani). Paling tidak dari arahan SC/panitia tidak diarahkan kesana. Dimana mikro kredit ini salah satu aktivitasnya usahanya adalah BUMDes. merdeka. Komentar saya. bagaimana menggali sumber-sumber pendapatan asli desa? Saya mengusulkan forum ini juga seperti itu. Dalam konteks itu micro finance bicara disitu. Bicara tentang ekonomi desa salah satu indikatornya adalah ketika desa itu mampu membiayai kegiatankegiatan pemerintahan. maka dibutuhkan lembaga keuangan yang kuat.Fasilitator Topik mikro kredit dan BUMDes. tunggakan kecil kalau itu menjadi indikatornya. Jadi uang itu muter. kita bicara tentang keuangan desa lebih luas dan kita bicara pengelolaan keuangan desa pada dua level yaitu yang berkaitan dengan desentralisasi fiscal (ADD) dan didalam bagaimana kita mengelola keuangan desa. “kuasai teknologi pasca panennya kemudian kita bicara proses usaha taninya”. Ketika bicara keuangan desa. Jika disepakati. Kita tidak dikungkung dengan dua topic ini. tetapi tidak apaapa kalau kita sepakat. Artinya. dst. sehingga ketika bicara micro finance tidak boleh lepas dari bicara konteks ekonomi secara lebih luas. sedangkan masyarakat mempunyai keterbatasan dalam mengakses teknologi. Turunan dari topik yang dibahas disana tadi adalah bahasan tentang micro finance dan ada mandat dari UU 32/2004 atau PP 72/2005 yang kemungkinan dibentuk BUMDes di tingkat desa. pembangunan dan kemasyarakatannya. Bahkan ada yang berpendapat bahwa paradigma pembangunan dibalik. sistem kelembagaanya sehat. tetapi yang lebih penting adalah tantangan ke depan. Barori Pak Lubis juga benar. Oleh karena itu lembaga keuangan yang akan dibentuk tidak bisa berdiri sendiri sebagai lembaga keuangan. Menggagas Desa Masa Depan 63 . masyarakat sekarang ini justru senang. micro finance yang saya buka ini dalam rangka untuk menangkal rentenir-rentenir di pasar sekitar. juga merespon apa yang telah disampaikan narasumber. dari segi system micro finance itu sehat. Karena dibutuhkan tambahan modal. Teknologi itu mahal. dimana salah satunya melalui BUMDes dan mikro kredit. dia tidak bisa membeli teknologi itu maka dia butuh tambahan modal. Kegiatan produksi bagian dari kegiatan ekonomi pedesaan yang selama ini ada. tetapi topic besarnya kita bicara tentang keuangan desa. itu otonom. adalah sebuah supporting system dalam sebuah perekonomian. Dia punya idealisasi. Tentu saja forum ini nanti akan memberikan gagasan. tetapi biar pembahasan tidak terlalu melebar. Tantangan kedepan adalah produk desa. kita tidak boleh lupa bahwa keuangan itu basisnya produksi. produk skala umum. bargaining posititionnya kuat. Dalam konteks desa yang kita lihat selama ini. Micro finance menurut pandangan saya. Tambahan modal itu bisa merupakan kredit. Lembaga keuangan yang ada selama ini seperti apa? Micro finance yang kita lihat selama ini sudah banyak di desa. Teman saya di Minomartani membuka koperasi simpan pinjam diantara warga perumahan di sekitar Jogja. mestinya produk yang kompetitif yang sarat dengan teknologi.

Ketika petani bicara masalah teknis budidaya pertanian datangnya ke PPL. Keterkaitan BUMDes dangan mikro kredit. Ke depan. baik bagi orang yang mau menabung. apakah peran bank BPD menjadi penting didalam manajement BUMDes atau mungkin Bawasda atau ouditor publik ? atau mungkin tidak perlu karena bank BPD dimasa depan di desa menjadi lebih kuat akuntabilitasnya. apakah mnicro finance tergantung juga pada roda perekonomian yang ada. beli bibitnya ke lembaga kredit (BRI). kita focus ke sektor keuangan di desa. dan BRI hanya bisa mengejar untuk melunasi hutangnya. karena cukup luas kalau kita lihat tantangan di sector riel. Tawaran untuk diskusi awal. Untoro Tanpa membatasi pembicaraan. pokoknya uangannya kembali. kalau kita bicara keuangan desa memang sangat luas. Stefan Saya usul. Artinya ini sebuah boot yang mengakomodasi pelaku-pelaku ekonomi dalam melaksanakan produksi. keuangan dari sisi pemerintahan desa. Dalam peraturan perundangundangan yang dimaksud disitu adalah Peraturan Daerah Kabupaten/Kota tentang pedoman tata cara. dia harus bersaing disana. pembentukan dan pengelolaan badan usaha di desa. Kita harus memperhatikan yang seperti ini. sudah ada Permendagri. Ini yang disebut dengan pemberdayaan yang total. Fungsi lembaga keuangan mikro terutama melakukan intermediasi keuangan di desa. pembiayaan sampai pemasaran. Ini awal untuk memancing diskusi lebih lanjut. Jasa ini penting. bagaimana sebetulnya institutional rised membentuk kelembagaan ekonomi yang betul-betul komperhensif. Nanti kita bisa mendengar pendapat dari bapak-bapak. Dan untuk Perda itu dapat disusun. Kita dasarnya adalah pasal 213 UU 32/2004. Tetapi kita harus hati-hati kalau kita menerimakan kepada sustainability. Ini beberapa point yang bisa menciptakan resiko untuk BUMDes. dan kita punya banyak anggota yang consent tentang itu. Micro finance dan BUMDes. karena proses mengatur BUMDes sudah cukup maju. Artinya kelembagaan ekonomi mikro/keuangan desa menjadi untungnya sendiri. tetapi ketika sudah panen diserahkan kepada pasar bebas. Kami mereka-reka. jangan sampai seperti sekarang. pasal 7881…. Sebenarnya dalam PP tetang desa sudah lebih focus lagi. mudah-mudahan dalam waktu tidak terlalu lama bisa dikeluarkan sehingga pada saat daerah menyusun perda dapat digunakan. tahun 80-an ada buku besar dari PSPK tentang Perkreditan Rakyat (almr Mubyarto dan Gunawan Sumodiningrat) mempertemuankan antara pendekatan efisiensi dan pendekatan efektivitas. Kita perlu pengawasan eksternal. tidak dalam sektor keuangan di desa. dll). berdasarkan peraturan perundang-undangan. apakah namanya sustainable rural banking (dari kacamata teritoritik)? Kenapa sustainable rural banking ? karena hidup matinya (sustainable) bank. Diskusi seperti ini sudah cukup lama. Pada saat panen PPL sembunyi. tidak setengah-setengah. Kita memang berfokus pada BUMDes. memang dari sisi keuangan menjadi sustainable. secara garis besar lembaga kuangan desa harus integrated. karena pendekatannya efisiensi. saat ini Dirjen PMD sedang mempersiapkan peraturan mendagri. jangan sampai dia melunasi hutangnya bukan karena berdasarkan nilai tambah yang dia peroleh dari aktivitas ekonominya tetapi dari menjual aset-aset produksi sekedar untuk melunasi hutangnya. Sidoarjo. meminjam untuk tujuan investasi atau working capital apa saja. lebih luas daripada kredit. secara teknis harus untung (saved uang). karana BUMDes mempunyai potensi untuk menutup kesenjangan supplaydemand di tingkat desa. BUMDes dengan usaha simpan pinjam dan omsetnya sudah Menggagas Desa Masa Depan 64 . sampai tingkat pasar dilepas.petani/pelaku ekonomi di desa ada didalam berbagai macam “pembinaan”. Kita bisa belajar. produksi dilepaskan. dan apa yang kita bicarakan disini kerangkanya tidak lepas dari apa yang tadi dibicarakan. Sehingga yang namanya perlindungan terhadap petani/masyarakat kecil/pelaku ekonomi kita kelihatannya setengah hati. sekarang di banyak daerah terutama di Jatim (Trenggalek. memang dua hal ini sangat erat.

yang boleh menghimpun dana masyarakat itu hanya bank atau harus berbentuk koperasi. tetapi ADD itu masuk dulu ke APBDes di desa. apalagi di pedesaan. Disepakati. dan khusus untuk lembaga keuangan mikro bulan Oktober 2006 akan dikeluarkan Peraturan Presiden tentang kebijakan nasional mengenai keuangan mokro untuk melindungi lembaga keuangan mikro yang nyata-nyata bisa menghadapi pelepas uang dan jumlahnya banyak untuk bisa beroperasional tanpa dianggap illegal. kalau lembagalembaga keuangan yang ada di pedesaan. dan usaha lain seperti persewaan hand traktor. Ini usaha-usaha BUMDes baik yang sedang kami rintis. Jadi tidak serta merta keuangan itu masuk ke BUMDes. dan warung nasi. Lumbung desa juga merupakan salah satu unit usaha BUMDes. NOleh karena itu nanti setelah terbentuk di Perdes. karena BUMDes aturannya/payung hukumnya turun belakangan. ATK). baru dari APBDes masuk ke BUMDes. dan ada yang masih dalam perjalanan. sedangkan keputusan bupati turun th 2003. sehingga ekonomi yang tumbuh di desa itu sudah ada. Tetapi manakala disodorkan ke bank tidak akui. Status badan hukumnya masih PERDES. Sesudah Perdes jadi dan BUMDes sudah jalan. tapi satu sama lain saling mengkait. Pelaksanaan di kabupaten Sumedang. kedudukannya sama dengan UU. dari APBDes ke BUMDes. kalau kita langsung mengenalkan BUMDesa. Jadi kita mengadopsi. UEP PPK. dari aspek legal dianggap tidak ada karena payung hukumnya tidak ada. Yang dapat dimasukkan oleh kami ke BUMDes adalah unit simpan pinjam. Kami mencoba mengangkat dari partial-partial yang ada karena di desa paling tidak ada >5 lembaga-lembaga ekonomi desa yang bisa dipayungi BUMDes. dari yang telah kami praktekkan kami mencoba mengumpulkan lembaga-lembaga keuangan yang ada di desa cecara partial. UEP PKK. Dengan regulasi kebijakan dari atas dapat diarahkan ke sana. Contoh ada yang beli trakor dan laku disewakan. rekening dari masyarakat dilebihkan 1. seperti usaha simpan pinjam. BUMDes bisa menjadi PAD desa. Tadi disampaikan bahwa justru BUMDes ini yang jumlahnya puluhan ribu yang non bank dan non koperasi. Kami menyikapi bahwa untuk keuangan desa tidak sama dengan BUMDes. tinggal di akta notariskan. pertokoan (fotocopy. (aktivitas sudah jalan tetapi payung hukumnya belum ada). harus ada akta notaris. sama yang kami buat.000. Setelah terbentuknya BUMDes.besar. tetapi ini belum dipayungi oleh BUMDes. Ini harus kita ingat supaya tidak campur aduk. Kemudian untuk pemuda (karang taruna) untuk penagihan rekening air dan listrik dipayungi oleh BUMDes. Toto Kami akan memberikan gambaran apa yang telah kami lakukan di Sumedang. Ada aturan BUMDes. sebab lebih dulu praktek dimasyarakat daripada peraturan. Depdagri sedang konsen pada BUMDes. banyak pinjamnya. Padahal Perdes itu aturan hukum desa. sementara Perda turun belakangan. satu desa ada 60 juta. tapi setelah jalan menjadi pinjam simpan. bagaimana aturan dengan praktek yang sudah ada. bahkan bantuan gubernur (tugas pembantuan) diakses. Keuangan desa dikelola melalui APBDes. Permasalahan. mau beli lagi tetapi karena uang kurang maka harus pinjam ke bank. lumbung desa. manakala go public pihak perbankan belum merespon. Dari ADD disisihkan harus ada untuk modal BUMDes. seperti ADD (di Sumedang disebut DADU: Dana Alokasi Desa Umum). Dengan itu maka Menggagas Desa Masa Depan 65 . Itu merupakan salah satu unit usaha BUMDes di desa. Bahkan dana perimbangan desa (ADD) ujinya di Sumedang. Kenapa harus BUMDes? Karena untuk menjawab permasalahan. diangkat menjadi pengurus BUMDes. Galian pasir (galian C) juga dikelola oleh BUMDes. bahkan kalau sudah jalan. dimana pembentukan BUMDes kami ambil dari partial-partial yang terbaik. nanti partial-partial yang ada di masyarakat bisa bubar. BUMDes itu harus dengan Perdes tetapi tidak bisa berhubungan dengan lembaga perbankan karena harus ada akte notaris. ada yang sudah berjalan. jarang yang simpan. Oleh karena itu.

5 ha tanah kas desa yang didistribusikan kepada petani (hasilnya sekitar Rp. Ada 12. tidak semata-mata orientasi bisnis. Kalau di pertanian jelas. hal ini sebenarnya bisa untuk BUMDes. warga punya pandangan bahwa kepala desa bisa mengontrol itu untuk kepentingan pribadinya. sementara kepala desa berpikiran bahwa itu keuntungannya masuk desa. Bagaimana tanah yang dipakai itu dapat memberikan kontribusi pada desa? Menggagas Desa Masa Depan 66 . maka dia tidak bisa menabung. Sebenarnya fokus (tujuan) dari awalnya adalah untuk penanggulangan/ pengentasan kemiskinan. Kenapa control desa terhadap tanah/petani hanya sebatas persoalan bagaimana caranya agar tanah ini bisa menghasilkan pendapatan untuk desa. kenapa orang di desa sulit mendapatkan usaha? Salah satunya kurang mendapatkan akses kredit. bahwa melihat tujuan micro finance sebagai intermediary tabungan dan kredit. dan saya pribadi setuju. Ada keberpihakan politik yang melindungi nilai tukar. Tanpa itu. gagasan intermediary untuk menciptakan tabungan dan kredit di desa mustahil. Widya Ada tanah kas desa yang dipakai dengan tujuan kembali ke masyarakat. sehingga pemiskinan akan terus berlangsung.ada peningkatan pelayanan masyarakat. Masalah micro finance secara riel ini bagus sekali. walaupun usaha seperti ini sudah banyak. Kalau petani tidak mau mengubahnya. Jangan sampai nanti BUMDesnya berkembang dan yang menikmati hanya elit-elit desa saja. sekolah. Agus Dalam hal BUMDes. Kita juga harus lihat ini. Usaha-usaha di desa dilakukan tanpa harus berbadan hukum. Fasilitator Kalau kita bicara BUMDes. tidak haya aturan teknis saja. Apalagi adanya keharusan aturan dalam BUMDes bahwa yang melakukan usaha harus berbadan hukum. bagaimana usaha-usaha seperti ini yang tidak berbadan hukum bisa memperoleh akses kredit? Juga usaha yang dilakukan desa. misalnya di desa ada mekanisme lelang tanah kas desa. hampir tiap masa ada kelemahan nilai tukar terhadap industri. Maksud saya. tetapi ini tidak dimengerti oleh warganya. puskesmas. kalau di desa petani (pertanian) terjadi pelemahan nilai tukar produk pertanian terhadap produk industri. maka tanahnya diambil. Tadi dikatakan lumbung desa juga bisa menjadi badan usaha BUMDes. rencana pembangunan gudang ini kemudian diprotes oleh warga. saya mewanti-wanti bahwa kepemilikan BUMDes ini hanya elit desa (kepala desa dan aparat desa) saja. Sofyan Persoalan. Apakah betul di desa sudah mampu untuk menabung? Ini masalah. saya pribadi mengharapkan juga politik keberpihakan yang jelas pada petani. tanpa ada kontribusi kepada masyarakat/warga desa. Ada pengalaman saya. ada mekanisme control dan orientasi kemanfaat pada masyarakat juga menjadi pertimbangan. karena gudang yang dibangun diatas tanah kas desa. maka saya penekanannya pada tabungan. Persoalannya. Mungkin ini control. Kalau kondisi petani yang terus mengalami nilai tukar produknya selalu melemah. tetapi dengan pertimbangan. 53 juta/tahun). Dalam diskusi ini. tidak ada lagi persoalan belas kasih sosial desa terhadap petani. di satu desa yang kepala desanya punya inisiatif membangun suatu gudang untuk menampung hasil bumi warga desanya. bukan hanya kebijakan. Oleh karena itu kalau akan dikembangkan micro finance harus didasari/diimbangi dengan politik keberpihakan pemerintah terhadap perlindungan petani yang kehilangan nilai tukar. dll. tetapi imbas (pemasukan) ke desa tidak pernah ada. ini tentu akan sulit. Selama ini banyak tanah-tanah kas desa yang dipakai oleh pemerintah pusat seperti untuk kantor polisi.

Tidak usah bicara partisipasi. Usulan. tetapi bagaimana menyikapi BUMDes sehingga bisa sesuai dengan realitanya. tetapi departemen lainnya pro liberalisasi pasar. semuanya harus affirmative. Firsty Kita ada di 2 kutub yang sangat berlawanan. jangan sampai ada penyeragaman. Apakah dengan BUMDes. kembalikan saja ke masyarakat karena mereka yang lebih tahu tentang kondisinya daripada kita. 70% dikuasi elit desa. kalau itu dikaitkan dengan micro finance bagi salah satu usaha BUMDes. Otomatis mereka yang tidak punya KTP tidak bisa punya akses ke bank. Adnan Negara ini tidak sekedar memproteksi desa tetapi harus affirmative action sudah saatnya dilakukan. paling tidak ada suatu realita yang kita harapkan. harus ada skema khusus untuk kebutuhan-kebutuhan perempuan agar bisa memberikan nilai tambah. Belajar dari pengalaman itu. UU Koperasi tidak ada yang menyentuh sampai ke masyarakat desa. Kalau tidak. Sunarti Menyoroti dari sisi perempuan. bahwa di lapangan 60% pelaku usaha mikro kecil itu perempuan tetapi mereka kesulitan dalam mengakases kredit. kearifan desa disana. menunjukkan bahwa akses masyarakat terhadap pengambilan keputusan di desa. sudah harus menyangkut pada politik perUUan yang lebih konkrit terhadap desa. 60% desa-desa di Jawa (Indramayu hanya 10% yang mengambil keputusan di desa itu) termasuk soal ekonomi. bagaimana kebijakan subsidi pupuk? Lebih parah lagi. Semua ini pendekatan insidental. karena ada problem seperti ini. atau mereka (di desa) yang bahkan tidak punya KTP. bagaimana menjembataninya? Menggagas Desa Masa Depan 67 .Mengenai BUMDes. saya lihat petani juga semakin parah. dimana agunan itu banyak dimiliki laki-laki. artinya harus ada perhatian khusus terhadap perempuan. Jangan-jangan yang kita diskusikan ini apa yang sebenarnya menguntungkan elit desa. mungkin karena untuk mendapatkan kredit harus ada agunan. apapun bentuknya. (terjadinya dept capital). untuk apa? Tetap saja petani mati. juga soal tanah-tanah mati sehingga jangan salahkan orang Indramayu menjadi PSK di Jakarta. Contohnya di seminar 2 hari ini. petani kita hancur. Walaupun Depdagrinya jungkir balik. ya tunggu 15 tahun lagi Negara kita ini sudah selesai. Hasil studi dari Bank Dunia membuktikan bahwa dengan memberikan pendidikan pada perempuan (meningkatkan pendidikannya dari SD—SMA) dapat meningkatkan 0. termasuk dari BPR pun atau MF yang paling kecil sekalipun selalu ada persyaratanpersyaratan yang sangat sulit diakses terutama oleh kaum perempuan. harus lebih jelas. Studi LP3ES sekitar 10 th yll (dipimpin pak Dawam). (bagaimana akses perempuan) Fasilitator Saya menegaskan bahwa. apakah mereka menjadi objek atau subjek? Bagaimana kita menyikapinya? Skema kredit. kita sepakat tidak ingin menjadikan desa sebagai objek. tidak dari daerah. termasuk skema kreditnya. masing-masing mempunyai institusi sendiri. saya lebih sepakat kalau kita kembalikan pada kearifan local contoh kasus di Sumedang. BUMDes itu sesuatu yang bagus. apakah desa terutama masyarakat desa menjadi pemasaran produk-produk termasuk produk perbankan ? Dalam kegiatan ini. jadi tidak hanya di formal saja tetapi juga non formal. Ini yang perlu dipertahankan (jenis usahanya). misalnya soal pupuk. Sebenarnya perempuan itu terbukti bahwa pengembalian kredit itu rajin (kemacetan 99%).03% GNP. pada sisi lain ada harapan kita apa yang seharusnya. Misalnya kasus UU Perbankan. Pengalaman ini sudah ada dimana-mana. saya kira Indonesia sudah makmur. kalau pupuk di lepas dipasar bebas. karena sepertinya yang bicara desa itu hanya Depdagri sementara departemen yang lain tidak pernah melakukan affirmative terhadap desa.

kami sudah meneliti tentang rentenir sampai saya mengkritisi kebijakan bupati Bantul. kenapa Pemda Ngawi tidak gunakan BUMDes untuk mengatur micro finance di desa? Ini menarik untuk coba diaplikasikan. Itu nanti justru akan menjadi konflik. cukup “kamu jualan disitu. 10. Kita coba memakai kelompok tani hutan. ini tidak pas. Saya berpikir. dikerokin juga sama yang ngutangi!”. Jadi sistem ekonomi kerakyatan ini yang harus kita kawal. dan ternyata kendalanya sama yaitu persoalan landasan hukum. sehingga dikembalikan. misalUU kehutanan. bahwa nanti akan ada Perda. Saya sepakat dengan teman-teman bahwa jangan sampai kita nanti menjadi paket kebijakan. dia punya cukup banyak beras dan dibagikan ke petani tetangganya. Persoalan tentang micro finance. tiap desa harus muncul BUMDes. Nanti hutan di Jawa juga habis karena kita tidak bisa mengelola ekonomi desa hutan. tetapi tetangganya itu ditanya “apakah beras itu sudah sampai?” Dan mereka tersinggung. bukan sebaliknya menjadi instrumen pengisap kekayaan. afirmatifnya seperti apa?. Kami berani menjamin bahwa itu pasti akan ada banyak ganjalan. bagaimana seorang penggilingan beras bisa mendatangkan poliklinik dari luar untuk buka prakatek di sini. Mekanisme/trust seperti apa yang dibangun oleh rentenir sehingga mereka membangun jariangan cukup kuat? PSPK dengan Pemda Ngawai sedang membangun kerjasama untuk mencari pola-pola dasar (skim) dari micro finance. jalan tidak? Indonesia itu tidak hanya Jawa.Jenis usaha. Karena selama ini dana yang dikucurkan dari atas sampai ke bawah variasinya sangat luar biasa. BUMDes jangan sampai menjadi instrument/kapitalisme di desa yang akan memporakporandakan tatanan di bawah. Tentang kehutanan. bagaimana memperlakukan uang sebagai pelaku bukan object? Itu yang harus kita perhatikan. bagaimana di daerah lain (Kalimantan)? Apakah mereka sudah mampu untuk mengalami proses monoterisasi. saya menulis “Bupati versus rentenir”. Saya menggarisbawahi bahwa: (1) jangan sampai BUMDes itu justru menjadi instrument bagi capital besar yang menghisap desa dan (2) BUMDes jangan sampai menjadi sebuah instruksi yang wajib dialkukan di tingkat desa tanpa ada kegiatan yang riel di masyarakat itu. Suharman Saya merespon tentang BUMDes dengan membandingkan kita dulu pernah punya KUD. Kerangkanya harus ekonomi kerakyatan. 2 tahun terakhir saya bergulat dengan petani hutan dan desa-desa yang mengepung hutan itu miskinnya luar biasa sehingga mereka menjarah hutan. hanya sekedar untuk menunjukkan bahwa dia itu bukan hanya orang yang bisa membagian beras. harus kita lihat kemampuan desa menjalankan BUMDes. silahkan gratis. perlu ada koordinasi dengan sector-sektor yang lain.000. yang nanti akan membawa kesejahteraan bagi masyarakat. Menggagas Desa Masa Depan 68 . Ini kan lintah darat yang sangat manusiawi. tetapi rentenir tidak membutuhkan itu. mana yang kira-kira pas? Seperti yang disampaikan mas Untoro. Kalau nanti BUMDes masuk harus dibungkas dalam sebuah proses. Bagaimana “bank” menurunkan kadar formalitasnya mendekati pola-pola rentenir? “kalau rentenirnya masuk angin. dia jalan menggunakan mekanisme bank. ada seorang ibu yang membuka penggilingan gabah di kecamatan Pleret. Unit usaha BUMDes harus yang realitas muncul. Bagaimana masyarakat bisa memanfaatkan potensi yang ada didesanya untuk menjadi usaha itu terhalang oleh aturan-aturan sektoral yang lain. Masih ada PR-PR bahwa dari tingkat nasional sampai ke desa yang sampai sekarang masih menjadi problematic. dan betul-betul menjadi bagian dari supra ekonomi desa. bukan dipaksakan muncul. karena nanti yang terjadi hanya papan nama saja. nanti kembali sekian”. belum terselesaikan. Justru kami akan menggunakan instrument itu sebagai sodoran. Kemudian si ibu mendatangkan poliklinik di rumahnya. siapa mau berobat. ini cukup Rp. Kasus yang menarik. Kenapa? karena bupati menggunakan bank pasar (beroperasi pada level pasar-pasar desa). karena terbukti (dari LP3ES) bahwa yang menguasai perekonomian desa hanyalah segelintir orang. tetapi juga bisa mendatangkan poliklinik. jangan sampai itu hanya urusannya PMD. Karena dulu surat Mentri Kehutanan berkali-kali ganti sampai sekarang tidak ada kepastian tentang itu.

UKM kurang bisa mengakses kredit bank. seharusnya sudah jadi BPR tetapi tidak mau. Saat ini dalam UU baru dimana koperasi sudah diakui sebagai badan hukum yang legal untuk bisa mengakses ke bank. Untuk bisa mengoptimalkan peran BUMDes. misalnya hutan. ekonomi masyarakat itu juga boleh bisnis. Ini yang di back up oleh GTZ ProFI. Depdagri bertangungjawab terhadap LKM-LKM yang non bank dan non koperasi. Pengawasan dilakukan oleh BPD dan Bawasda sepanjang bantuan modal/aset2 daerah). Permasalahn kredit sudah sejak lama. tidak dijual. karena koperasi ada keterbatasannya hanya dari. hutan itu milik Negara dan dikelola Negara. Dan pengawasan keuangan oleh auditor independent. Ini juga diakui oleh Bank Indonesia. yang cirinya adalah ekonomi yang berpihak pada rakyat. “Bupati vs rentenir” di Bantul. sementara kalau bank kelemahannya pada persyaratan. Jangan sampai kalau bisnis itu sudah kapitalis. Mengenai hutan. jelas dikelola oleh pemerintah desa (sebagai penasihat) dan masyarakat. kabupaten (melalui bupati) harus mengalokasikan dananya (berapa % dari APBD) untuk pengembangan ekonomi yang dialokasikan untuk modal BUMDes. Yang dimaksud kebutuhan dan potensi desa ada 4 (empat) hal yaitu (1) Kebutuhan masyarakat terutama dalam pemenuhan kebutuhan pokok. Nanti konsekuensinya. (2) tersedianya sumber daya desa yang belum dimanfaatkan secara maksimal terutama kekayaan desa. (3) tersedianya sumberdaya manusia yang mampu mengelola badan usaha sebagai asset penggerak perekonomian masyarakat dan (4) adanya unit-unit usaha masyarakat yang merupakan kegiatan ekonomi warga masyarakat yang dikelola secara paksa dan kurang terakomodasi. Informasinya di Bantul BPRnya maju.Edward Untuk mengatasi monopoli kepemilikan. (2) harus ada kedaulatan rakyat (kedaulatan pangan terhadap sumber daya bersama). Prinsipnya. bentuk yang tepat untuk dasar hukum BUMDes adalah koperasi. Karena ujung-ujungnya siapa yang berkuasa atas BUMDes? Apalagi ini rentan terhadap sumber daya bersama. Pengelolaanya bagaimana? Itu diserahkan daerah. maka tidak akan ada masalah rentenir. tidak dipaksa. Mengenai tanah kas desa. kalau itu kekayaan desa harus dikembalikan ke desa karena banyak pasar desa yang sudah berkembang justru diambil kabupaten. di Sidoarjo justru tanah kas desa ini yang digunakan sebagai modal BUMDes. Usaha-usaha ekonomi masyarakat yang kurang terakomodasi. Prinsipnya. Yusuf Saya sepakat bahwa harus ada mekanisme control untuk mengatur posisi modal. Justru Depdagri bertujuan menembus kebuntuan untuk mengatasi itu. itu yang kita lindungi. Sampai sekarang dari > 4500 BUMDes. Kepemilikan. Bisakah bupati/walikota memberikan jaminan kepada pengusaha-pengusaha kecil yang dinilai layak untuk meminjam ke bank. disitu menyebutkan tentang jasa keuangan. tidak ada satupun yang mau menjadi BPR. bahkan assetnya sudah 1 milyar. Alur tembusnya melalui pasal 213 UU 32/2004 dan PP 72/2005. jadi BUMDes saja. Menggagas Desa Masa Depan 69 . Kemudian dimana mikro finance masuk? Tadi dikeluhkan bahwa permasalahnya tidak bisa akses ke bank. Tetapi jangan sampai BUMDes itu komersil. Untoro Kami menyusun PP itu berdasarkan kondisi di lapangan. Di dalam PP 72/2005 disebutkan bahwa pembentukan BUMDes disesuakan kebutuhan dan potensi desa. tapi juga berfungsi social (visi dan misi jelas). kurang terpayungi secara hukum. oleh dan untuk anggota. dan pusat hanya kebijakan. Kalau pasar desa itu jelas merupakan kekayaan desa. usaha ekonomi desa simpan pinjam juga maju. Celakanya dengan diserahkan ke daerah justru banyak dijumpai illegal logging. Kalau itu bisa. maka perlunya disini bagaimana bisa menjembatani ? Fungsi utama BUMDes adalah (1) fungsi social.

Mengenai BUMDes perlu ditambah dengan: 1) fasilitasi (dari Depdagri). kemudian di deposit (tabung) di bank (fungsi intermediasi). Bagaimana keamanannya? Kalau nanti pintu masuknya hanya ke bank. Stefan Mengenai perlindungan tabungan. Pemerintah Malaysia pernah memberikan dana untuk taskin tetapi dikelola sendiri. sehingga mereka rajin mengembalikan. uang dari pemerintah diberikan langsung kepada NGO untuk dikelola. tapi koperasi seperti apa? Toto Saya mendukung ibu dari pemberdayaan perempuan. Strateginya. salah satu problemnya itu. Apakah ini perpanjangan tangan. apa bedanya? Ini merupakan hal kritis yang perlu menjadi perhatian kita. Seperti ini ada linkage program. Apa yang terjadi? Mereka tidak mengembalikan karena mengaggap “itu uang rakyat”. LKM hanya berfungsi seperti handle agency. Ketika masih pada skala kecil tidak apa2. masyarakat langsung control. Adnan Kebijakan tata pembaharuan desa termasuk micro finance harus link and match dengan upaya pengentasan kemiskinan. Ini menjadi ramburambu. Tiga ketua UPK di kecamatan adalah perempuan. kalau asetnya sudah sekian juta harus menjadi BPR? Maka tawaran koperasi itu mungkin menarik. Dan rakyat/masyarakat tidak lagi menganggap bahwa itu uang rakyat. Jadi perlu disisipkan. Sebagaimana bank yang lain. koperasi itu bukan bank. Kalau kita lihat draft UU LKM. bagaimana cara mengelola kredit mikro. pemerintah bekerjasama dengan NGO. Pengawasan juga kuat seperti bank. Menggagas Desa Masa Depan 70 . Karena ketika micro finance itu memudahkan kredit bagi perempuan justru nanti akan melemahkan perempuan. Kalau sekarang ada pintu/jendela yang disediakan seperti LKM. sedikit susah untuk LKM karena asetnya terlalu kecil. Widya Bagi saya. Sunarti Contoh pengalaman di Malaysia. mereka menerima uang di masyarakat. sehingga mereka dapat berhubungan secara legal dengan bank. karena survey membuktikan bahwa kredit usaha simpan pinjam yang dilaksanakan oleh perempuan lebih baik daripada yang dilaksanakan oleh laki-laki. apakah di BUMDes ketika terjadi pailit ada yang bisa bertangung jawab? Ini problematik yang tidak bisa diputuskan dalam forum ini. (tanggung renteng) Fasilitator Kenapa PMD berani ? mungin karena ada support dari GTZ Pro FI. kalau berfungsi seperti ini otomatis ada perlindungan. lebih memberdayakan pada perempuan. Fasilitator Prinsip yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa usaha itu harus berpihak pada rakyat dalam kerangka ekonomi kerakyatan. Suharman Simpan pinjam itu justru controlnya social. jangan disamaratakan perempuan itu lemah. asetnya sudah 1 milyar lebih.Barori Masalah kelembagaan. Solusinya. kepastian hukum. Prinsipnya. Kalau ini membahayakan harus ditolak. dasar hukum LKM harus ada. 2) pelatihan dan 3) pendampingan (bisa dari Depdagri kontrak sarjana yang ada didesa sehingga bisa merekrut tenaga kerja di pedesaan). Dalam micro finance harus ada rambu-rambu yang jelas.

Dari sisi LKM atau BUMDes. • ada regulasi (peraturan) yang mendukung sehingga usaha pengembangan ekonomi desa ini bisa berlanjut. • sebagai affimative action. selain usaha bisnis harus ada: • pemberdayaan: bentuk bisa fasilitasi. • memberikan perhatian pada masalah-masalah perempuan. menghindari kooptasi elit • harus memberi ruang dan bertumpu pada inisiatif dan kearifan local. • Tidak ada aspek payung legal : koperasi dan bank • Akses terhadap modal dan informasi rendah Ini semua merupakan problem kemiskinan yang ada di desa. pelatihan. tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah khususnya pengembangan UKM (tidak ada “proteksi market”). termasuk affirmative action lintas sektoral. sebagai pengembangan ekonomi desa untuk menghindari pertarungan modal besar • menjadi subjek dalam peksanaan pelayanan bukan menjadi objek. harus dibentuk berdasarkan aktivitas riel. • kepemilikan oleh rakyat. • ada kejelasan tatalaksana manajemen. Dan ada anggapan bahwa uang dari pemerintah tidak perlu dikembalikan. Dari pengalaman itu.Fasilitator Kesimpulan diskusi : • Identifiaski pengalaman terkait dengan bagaimana pengembangan ekonomi desa melalui BUMDes dan LKM. dan pendampingan maupun pemberian modal • berfungsi sebagai intermediasi (LKM) • harus diikuti dengan keberpihakan politik yang jelas • khusus untuk LKM ada skim khusus kredit yang dekat dengan rakyat (belajar dari rentenir) • ada jaminan afalis (kalau dibutuhkan) dari pihak-pihak tertentu untuk menghindari akses modal yang rendah • ada mekanisme dan komposisi kepemilikan modal yang jelas Semua itu tidak boleh lepas sebagai sebuah upaya sistemik dalam pengentasan kemiskianan. • ada mekanisme control dalam pelaksanaan dan mengedepankan manfaat untuk rakyat (kesejahteraan rakyat). • harus ada badan hukum yang jelas dengan orientasi kerakyatan. • ada pengawasan yang jelas. • ada alokasi dari dana APBD. Rambu-rambu BUMDes atau MF seperti apa? • dilihat dari basis pada kemampuan dan pengalaman desa agar tidak dibentuk berdasarkan penyeragaman. • ada kejelasan hukum berbasis pada potensi ekonomi rakyat. • Problematika: selama ini masyarakat kecil khususnya perempuan tidak mendapat fasilitasi yang cukup. perpanjangan tangan usaha-usaha besar (bank) atau usaha lain. • Perlu adanya MONEV dalam pelaksanaan. Kita mencoba membuat tawaran dengan dua institusi yaitu BUMDes yang salah satu didalamnya ada micro finance sebagai alternatif pengembangan ekonomi desa. Menggagas Desa Masa Depan 71 . di masyarakat lokal tentu sudah banyak program-program yang terkait dengan dua hal itu.

Mas Ibnu sudah panjang lebar. Azam-Pemdes Kebumen. sementara di dalam kepanitiaan disini ada beberapa kisi yang mungkin juga mudah dipandu-arah diskusi kita. Franky-AMAN. pola kerjanya bagaimana. Terus hubungan desa dengan supra desanya itu sendiri. topik kedua mengenai tata hubungan desa dengan supra desa. desentralisasi dari pemerintah pusat itu seakan menimbulkan sentralisasi kekuasaan di pemerintah daerah. Irwan-Letmindo/GTZ Aceh Fasilitator Ibu dan bapak sekalian. Jadi kalau bicara tentang pembangunan ekonomi dan sebagainya lebih banyak berkait dengan komunitas-komunitas itu. Tetapi yang terjadi dalam praktek. bukan hanya sekedar pemerintah desa.. padahal kalau kita mau bicara desentralisasi ya daerah dan desa. . bahwa: • pengaturan desa itu menjadi sangat penting. Wa’i-Lakpesdam. Sadu Terima kasih. sesuai saja. cuma desentralisasi dalam konteks desa ini arahnya kemana. hubungan kerja. Pak Sadu sudah panjang lebar. • otonomi itu bentuknya bagaimana? • representasi desa itu bagaimana? • persoalan kedudukan desa. melengkapi apa yang sudah disampaikan tadi. Jayus-UNEJ. juga ditangan pemerintah desa. untuk tidak mengatakan salah. BPD. Artinya kalau Pak Ibnu ingin mengatakan secara tata kenegaraan UU 32/2004 itu salah demi hukum.. supaya out put yang kita hasilkan dari diskusi kelompok ini adalah bagaimana mempermudah kita dalam rangka membantu kita semua. Saya kira itu. berpendapat. Widyohari-STPMD “APMD”. karena tadi waktunya pendek. Menggagas Desa Masa Depan 72 . khususnya Depdagri dalam rangka menyusun naskah akademik tentang pengaturan mengenai desa.. Riawan Tjandra – UAJ Jogjakarta : Prof. • konsep-konsep perwakilan daerah. yang penting yang harus dirubah. Haryo Habirono – FPPD 2. Sadu dan Pak Ibnu Tricahyo hadir bersama kita. Widya-FPPM.. saya kira dengan yang kita bahas tadi. kami persilahkan kalau ada yang ingin berkontribusi. Ini tadi diskusi yang berkembang yang kita bahas di sessi kedua. tapi yang penting kita bicarakan adalah desa sebagai kesatuan masyarakat hukum. Elke Rapp-DRSP. Salini-DSF. Ibnu–Unibraw. kita akan bersama-sama menindaklanjuti diskusi yang sessi kedua tadi. Steny-HUMA. Untuk itu. Silahkan kalau ada yang ingin berkontribusi menindaklanjuti hal itu. Nurwafi-BPD. dan ada komunitas-komunitas tertentu. dari dulu saya tidak tahu ini kemana dan kaya apa.5. sedikit semampu saya membuat catatan ini ada beberapa point yang tadi juga telah disampaikan oleh moderator. mungkin saya sampaikan. kalau saya beri kesempatan lagi dia akan presentasi lagi. nanti eksplorasi lebih jauh bisa kita lakukan. Kelompok: TATA HUBUNGAN DESA DENGAN SUPRA DESA Fasilitator Peserta : 1. dibuat mengambang. Kalau Pak Sadu ingin menambahkan point-point yang lebih tegas. Toro-STPMD “APMD”. terima kasih atas kehadirannya di ruangan ini. nanti diskusi akan berkembang lagi. Dua pembicara Pak Prof.. inkonsistensi. kan begitu. Jadi ini dilema. Tadi ini masih ada beberapa perbedaan kedudukan desa di dalam UUD 1945 yang diamandemen dengan kedudukan desa di dalam UU 32/2004 ini beda. Dalam pengertian desa itu sendiri kita harus tahu ada pemerintah desa. kami persilahkan saja.. Sadu–STPDN. dalam konteks tata hubungan desa dengan supra desa. Bagaimana seharusnya pengaturan hukum mengenai desa? Dalam bingkai NKRI sebaiknya dihapus saja dulu.

dan itu bisa nampak dari diberikannya ADD yang besar juga program-programnya. fungsi-fungsi yang sudah dijalankan oleh desa. saya harus informasikan karena ini informasi juga saya dengar dari orang yang harus saya percaya yaitu dari Depdagri sendiri. buktinya sudah ada tapi pemerintah daerah tidak bisa apa-apa. yang dipungut adalah iuran.. tapi memang ini hal khusus yang dibicarakan mestinya dalam ruang dan waktu Menggagas Desa Masa Depan 73 . Jadi sebelumnya. hanya hal itu tidak dilaksanakan. tapi kalau kita lihat data. larinya pengganti ekonomi. mungkin untuk memperkuat kedudukan tadi saya sepakat dengan Pak Ibnu. Paling sedikit per-Oktober Mendagri mendapat PR dari Komisi II DPR untuk menyerahkan atau mempresentasikan draf awal naskah akademik. kewajiban-kewajiban pemerintah. tetapi juga kebijakan yang lebih konkret. kayaknya sebelumya membuat undang-undang tanpa naskah akademik. waktu itu Gubernur Jawa Barat bicara tentang provinsi termaju di Indonesia. Jadi desa mengatur tentang kedudukan desa itu sendiri. Ini barangkali masalah pokoknya disini Widyohari Saya nyambung Prof. sudah ada komitmen politik bersama Komisi II DPR bahwa kedepan akan ada Undang-Undang tentang Desa. saya lihat visi dari kepala daerah dalam membangun kabupaten berbasis desa. Mohon maaf. Saya bertanya. Ini kayaknya konteks yang kita bahas berbeda. desentralisasi kepada desa itu bentuknya seperti apa. Merupakan suatu keharusan kalau kita membiarkan desa seperti bentuk-bentuk yang lama. kemudian siapa yang mau bekerja di desa? Padahal kita bayangkan ada pemberian kewenangan yang besar. munculnya undang-undang desa dan itu akan mendorong juga kedudukan desa yang lebih jelas. khususnya untuk pengaturan. bisa mengatur pilkades yang baik..Desentralisasi kepada daerah jelas. tidak boleh memungut pajak dan retribusi atas dirinya sendiri. tapi orang yang bekerja di desa adalah orang-orang yang mohon maaf kalau saya katakan tidak berkualitas. Dan untuk desa diminta naskah akademik. Fasilitator Jadi supaya kita lebih fokus. Nah ini akan menjadi dilema. karena orang-orang desa yang berkualitas sudah tidak mau jadi perangkat desa. Ada beberapa di kabupaten yang seperti Sumedang dan Bandung. dia menjadi mata rantai yang terlemah dan akan tersisihkan. saya tidak tahu. dia tidak digaji. Saya ngomong sama gubernur itu akan menjadi omong kosong kalau desanya tertinggal. Pertemuan ini dimaksudkan dalam rangka mengisi. bahwa undang-undang tentang Desa kedepan harus diinikan. Ini lebih memberi peluang. Franky Menurut saya tidak hanya regulasi. kemudian begitu selesai ya selesai tidak ada pensiun. apakah pemerintah desa adalah organisasi pemerintah sesungguhnya? Dia menjalankan fungsi-fungsi. artinya sudah ada regulasi mengenai keberadaan dan peran masyarakat adat.. pegawai desa itu kedudukannya seperti apa? Ini sampai sekarang tidak jelas. memberikan masukan sekaligus itu adalah ajang advokasi kita dalam penyusunan naskah akademik mengenai desa. kalau dulu masih ada pengganti asusila. sehingga bisa mengatur tentang pengaturan dan kedudukan desa. akhirnya gubernur setuju. Fasilitator Saya potong sedikit. Saya menawarkan gagasan. otonomi desa yang sebenarnya juga akan semakin jelas. Cuma nanti kembali kalau kepada kedudukan organisasi yang tidak jelas. Kalau tidak salah SK Menteri Kehutanan menjelaskan soal masyarakat hukum adat. tapi kedudukannya tidak jelas. nah ini menjadi babak baru. Masyarakat hukum dengan masyarakat hukum adat berbeda. bukannya masyarakat adat tidak prnting. Kalau saya ngomong begitu mungkin tersingggung. Barangkali ini bisa menjadi semacam model. mengenai Undang-Undang tentang Desa ini. sekarang tidak ada. anggaran banyak.

atau self community governance. masa jabatan tidak usah diatur. jangan terlalu detail. kemudian struktur organisasipun jangan diatur. bisa dengan penurunan pangkat. Itu sudah ada usulan dari kawan-kawan. Ini saya antisipasi kalau terjadi suatu permasalahan hukum. Pak Eko cukup jelas membuat tipologi desa dari hasil-hasil studinya. Ini lalu memang tipikal otonominya menjadi berbeda. Usulan-usulan dari masyarakat banyak dan bagus dan itu saya masukan. kami melontarkan bahwa ada garis dalam struktur pemerintahan desa. jadi semua provinsi bisa mengetahui kalau ada proses. Franky Artinya itu mementahkan diskusi kita yang kemarin dengan Pak Eko. Fasilitator Ya. itu menjadikan aspirasi ini apa artinya. Menggagas Desa Masa Depan 74 . Kita sedang membicarakan masyarakat hukum. untuk melihat struktur apa akan dipakai. apakah disitu adat istiadat masyarakat yang tradisional masih ada atau tidak ada lagi desa. Dari dulu desa deperti ini terus. apakah ini semua? Apa dan bagaimana struktur yang akan dilaksanakan. dari legislasi. kami mengundang sembilan ratus dua puluh orang. dan self government community. Kita pernah mencoba pada penyusunan perda 2004. apakah masih perlu atau mungkin dengan badan kerjasama antardesa atau langsung kabupaten. tipe 2) Desa Campuran yang adatnya sudah mulai pudar. dari bawah. lima struktur itu bebas saja. dimana desa yang masih homogen. minimal kalau ada sekian provinsi. step by step. sudah jenuh juga. Dalam undang-undang nanti. saya kebetulan dari orang pemerintah. Akhirnya hal itu menjadi kekhawatiran dari masyarakat itu sendiri oleh UU 32/2004. Jadi namanya desa nanti akan ada lima perangkat. Sekarang saya melakukan perubahan perda. kaur umum dengan prestasi yang bagus bisa menjadi sekdes. local self government. Azam Terima kasih. Kalau ada self gonernance kita harus lihat peran kecamatan. Fasilitator Kalau tadi kita bicara tentang otonomi itu mungkin akan menjadi berbeda dengan yang kemarin. yang namanya kaur pembangunan selamanya kaur pembangunan. Sadu Kalau dilihat dari jenisnya ada tiga: 1) Desa Geneologis. katakanlah sekdes terkena masalah norma sosial. ada self community governance. saya pikir apa konsekuensinya. ini mungkin kita bahas asas-asasnya saja. Karena kalau semua sudah diatur. mungkin struktur ini akan berbeda lagi. local self governance. tapi kita juga jelaskan juga usulan anda tidak bisa masuk kesini karena nanti akan berbenturan dengan peraturan. ini agak beda. Kalau kita mengembalikan self community governance apa gunanya kita diskusi tentang itu lagi. local state governance. adatnya masih kuat. Nah sekarang kita ingin fokuskan supaya kita mencapai apa yang tadi dilontarkan Pak Sadu dan Pak Ibnu. Elke Usulan tadi bagus sekali. tapi itu masih kurang. tidak serta merta langsung kita berhentikan. Kalau ada desa langsung dari pemerintahan.yang khusus. yang namanya sekdes sampai mati tetap sekdes. ada local state governance. Pak Prayitno mengenai kedudukan desa. apakah local self governance. dan ini membuat undang-undang yang akan dilaksanakan dan bersifat nasional. Konsultasi publik saya tahu. Kita diskusi mengenai local state government. kita kembali ketiga tipe desa. dan 3) Desa Teritorial yang adatnya sudah tidak jalan karena masyarakatnya heterogen. kecamatan. Artinya mekanisme ini tolong. Kalau kita mulai dari tingkat desa. ada sanksi disitu.

kalau memang terpisah dan itu lebih memberikan keleluasaan terhadap hak-hak kita sebagai orang desa maka itu akan lebih bisa menjamin bagi desa. kami tidak terlalu pusing apakah sebuah bagian dari pemerintah daerah atau berdiri sendiri. Nurwafi Terima kasih. bicara kualitas sumberdaya manusia itu penting. mungkin dalam pikiran normatif. Oleh karena itu memang selama ini punya pengalaman bahwa bagian dari kabupaten adalah kecenderungan-kecenderungan yang. tapi saya justru melihat itu jangka panjang. Atau sebaliknya. self governing community memang seperti yang dikatakan Pak Sadu.Diharapkan dalam diskusi kelompok ini bagaimana nanti itu diatur dalam undangundang yang baru. yang prinsip bagaimana hak-hak. Saya hanya mau menghubungkan saja konsensi yang sudah dibicarakan itu dengan rencana atau kemauan kita kedepan. komando. Steny Saya hanya melanjutkan apa yang sudah dikemukakan. Nurwafi Prinsipnya. Kaitannya dengan posisi desa dengan supra desa. yang penting prinsip-prinsip sebagai sebuah desa itu tercover. sehingga berhasilnya desa itu kuncinya memang di tingkat kabupaten. kami sebenarnya dari desa selalu memberikan masukan-masukan yang positif mengenai keberadaan lurah-desa. apa mau kawan-kawan di level bawah. tapi pasti ada asas-asas penting atau dinamika-dinamika lokal penting yang kira-kira akan keluar menjadi argumentasi kita di level nasional. dan perdes itu sulit kita bayangkan dalam hal kewenangan.. dan saya kira kawan-kawan dari pemerintahan desa ada disini. Saya kira desa dan pemerintah kabupaten tidak menerjemahkan kedua UU itu lurus-lurus seperti apa yang kita bayangkan. Jadi kalau nanti dibawah atau bagian langsung dari kabupaten. tapi beberapa waktu sering mengatakan otonomi desa itu kan otonomi di dalam otonom. selama bisa memberikan suatu jaminan-jaminan hak desa bagi kita tidak terlalu prinsip. Kemudian kalau bicara soal desa berdasarkan pengakuan maka saya baru membayangkan kalau desa yang kita bicarakan kemarin. Coba berusaha lagi melihat dinamika seperti apa yang sudah dibangun selama ini pasca UU 22/99 dan pasca UU 32/2004.istilahnya desa itu sangat tergantung kepada kabupaten. Nah itulah yang saya kira butuh kerja lebih keras lagi. bagaimana otonomi desa yang disebutkan dalam konteks pemerintahan kabupaten. Kemudian sentralistik. Fasilitator Saya ingin klarifikasi dari Pak Wafi. bagi kami orang desa sebenarnya tidak tertalu prinsip. kabupaten atau kecamatan bagaimana unsur-unsur itu sebagai fasilitator. selama ini hanya instruktur. Dalam UU di level nasional misalnya justru dikatakan sebagai kewenangan pusat atau daerah. yang diharapkan adalah hak-hak prinsipnya yang diperoleh. mereka punya suara dan bicara soal dinamika lokal seperti apa yang sudah mereka buat. Kepada desa itu kira-kira berdasarkan pengakuan mungkin lebih mirip dengan Pak Ibnu bahwa kepada desa itu berdasarkan hak. tapi oleh perdes kemudian bisa diambil alih oleh Menggagas Desa Masa Depan 75 . sehingga tidak perlu menyangkut nanti apakah undang-undang atau hanya sekedar revisi bukan hal yang seperti dulu lagi. Soal aturannya tidak perlu terlalu ‘jlimet’. Saya ambil contoh dibeberapa desa misalnya mereka buat perdes. apakah yang disampaikan berdiri lepas dari sistem pemerintahan kabupaten atau masuk sebagai sub-sistem pemerintahan kabupaten? Kalau Pak Ibnu tadi tidak mengatakan.. sangat bagus menyangkut perbedaan antara desentralisasi kepada desa dan desentralisasi kepada daerah. Itulah yang mungkin bagi kita selaku orang desa akan lebih mencerminkan hak-hak kita di semua aspek kehidupan berbangsa dan bernegara akan lebih terjamin? Sehingga kalau akan diturunkan sebuah undang-undang atau tidak. asas-asas yang sangat prinsip bisa kita terima sebagai hak. penyeragaman.

Jadi mereka tidak bisa menyusun program dengan kolom-kolom yang kosong. meskipun itu birokrasi di tingkat desa. Saya kira bisa menjadi rekomendasi kita kedepan bagaimana mengatur hubungan antara komunitas-komunitas lokal yang disebut self governing community dengan pemerintah daerah. perijinan dan sebagainya masuk. dan banyak pegawai kecamatan menyusun program desa dan dirumuskan setelah ada ketentuan atau ketetapan mengenai APBD. yang merupakan kewenangan pemerintah kabupaten memberikan ijin. orang akan mengatakan ini semacam cek kosong. setelah tahu desa itu dapat berapa baru bisa. Nah ini nanti juga akan menimbulkan persoalan baru. begitu? Provinsi lebih umum. Dengan satu pengertian bahwa ini mengadopsi tiga hal tadi. Itu dinamika lokal dan yang begitu jelas kebutuhan dari bawah. Jadi ini nanti secara aspek politis juga harus dipertimbangkan bahwa desa sebagai satu kesatuan hukum memiliki aspirasi (dalam musrenbang dan Menggagas Desa Masa Depan 76 . dan lainnya untuk daerah mana. Jadi antara otonomi desa dengan segala kemampuannya meskipun tadi Prof mengatakan bahwa pada realitasnya SDM di desa sangat memprihatinkan. Memang desa memiliki perangkat organisasi yang seperti dimiliki oleh kabupaten. maka kira-kira awalnya harus melalui persetujuan dan ijin mereka. taruhlah ada kebijakan-kebijakan yang harus ditempatkan proporsinya secara tepat. misalkan mana yang menjadi institusi desa sendiri dengan institusi sektoral di tingkat kabupaten. Contoh di diskusi kemarin soal inpres. artinya kita menyerahkan pengaturan desa kepada kabupaten atau provinsi. Ini juga yang kemudian harus dimasukan dalam kebijakan bagaimana menumbuhkan desa dalam struktur ini. atau kalau ada investasi. Anda itu tidak bisa merusmuskan sendiri. ini desa kita yang menggaruk gatal ditubuh sendiri tetapi muternya itu harus kemana-mana dulu. Fasilitator Kalau saya menangkap. Jadi self governing community itu berlaku untuk daerah mana. Kedua. karena perda dalam satu kabupaten dengan kabupaten lainnya tidak sama. kalau tadi menjadi sebuah muatan yang akan menjadi bagian dari peraturan daerah saya justru sangat sependapat. Jayus Sebenarnya persoalan desa itu kembali lagi pada persoalan konstitusi. sepanjang konstitusi itu tidak menempatkan desa menjadi yang harus diatur dalam konstitusi maka selamanya tidak akan menjadi keharmonisan. saya tidak punya suatu keyakinan apakah pembuat UU nanti berkenan. saya merasa bahwa pembicaraan ini sebenarnya mengenai tarik ulur antara support yang diberikan oleh supra desa dengan kemandirian desa. Pemerintah provinsi dan kabupaten sudah harus bisa melihat itu. Ketiga. lebih spesifik lagi. adalah keinginan mereka misalnya kalau ada orang luar masuk. kalau sudah bicara persoalan dilepas pasti saya akan berpikir beda lagi. Pada sisi yang lain kemudian memang bersilangan dengan pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya sektoral di tingkat kabupaten. karena di banyak desa program-program desa disusun atau dirumuskan hanya oleh institusi di atasnya. bahwa struktur desa tidak akan bisa dilepas dari persoalan kabupaten. kabupaten lebih khusus lagi. lalu mau kita apakan dalam konteks kewenangan dalam struktur yang mau kita implementasikan? Saya hanya mau mengatakan satu hal penting yang sering keluar dalam self governing community selama ini. Oleh karena itu didalam UU nanti yang hendak diatur adalah hal yang dianggap penting secara umum dalam UU tentang desa. kami cocok menggunakan ini dan seterusnya. Titik temu atau kompromi antara support dengan titik kemandirian desa itulah yang sebetulnya menurut saya belum ketemu. pendidikan dan sebagainya. Ini menyedihkan dari satu sisi aspek kemandirian. Wa’i Terima kasih. Jadi impian saya kalau kita bicara dari self governing community maka pembicaraan soal hak otoritas mereka itu menjadi salah satu muatan dalam UU kalau kita mau merekomendasikan. Saya kira begitu aja. Seandainya ada gagasan untuk melapaskan.kewenangan desa. Oh. tapi hal yang tidak ada dalam bagian dari UU itu perlu diatur dalam perda.

dia sedang berbicara tentang desa adat. tidak pernah serius dilaksanakan. pada sisi lain masyarakat desa juga sebagai konstituen dari partai politik. karena pengalamannya Jawa. Local State Government adalah desa administratif atau kelurahan. tapi tidak pernah terlaksana. adalah Local Self Government itu yang namanya desa umum atau desa teritorial. Sadu yang selalu membedakan antara otonomi pemberian dengan otonomi asli. itu kan diawal pembicaraan tadi Prof Sadu menyampaikan bahwa desa itu sebagai obyek politik terus dan selalu dimarginalkan.sebagainya). Kemudian tugas pemerintah yang lebih tinggi memfasilitasi. Nanti masing-masing pilihan ini akan mempunyai konsekuensi terhadap administrasi. disamakan sajalah. BPD-nya sudah lebih siap. Oleh karena itu dalam konteks ini kalau kita lihat UU 32/2004 pasal 1 ada bunyi ”Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi menjadi wilayah provinsi dan kabupaten”. Pertanyaannya adalah apakah konstitusi ini yakin menjadi modelnya pemerintah? Ini harus jelas dulu. Hanya berhenti disitu. ganti konsep alokasi. Pertama. mereka bisa menyesuaikan dengan perkembangan zaman dan seterusnya. alokasi atau pembagian itu berarti desa punya hak. sebut saja yang namanya Self Governing Community itu sebagai desa adat atau desa geneologis. itu artinya yang namanya penyerahan. tidak pernah ada pemberdayaan yang konkret baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Karena pengalamannya sudah lebih baik. Sadu Apapun yang kita lakukan kepada desa tentu terkait dengan sistem pemerintahan nasional. Mas Toro silahkan. Tadi Mas Franky dari AMAN. pemberdayaanpemberdayaan itu sudah ada. Saya agak kurang setuju dengan Prof. bagaimana kepada desa? Kalau tadi Wafi sudah menyebutkan sebagai fasilitator. kemudian berkaitan dengan SDM di desa yang lemah. mempermudah saja supaya tidak campur aduk. melakukan supervisi. Kedua. Nah sekarang yang namanya konsep pemberian harus diganti dengan konsep pembagian atau penyerahan. membina. kabupaten. Sutoro Mengulang yang kemarin. saya ingin bertanya. Kalau nasional pakai umum satu-duaMenggagas Desa Masa Depan 77 . Meskipun Direktorat Jenderal PMD yang mengenai desa ini sudah lebih dari tiga puluh tahun. Pak Azam bicara tentang desa otonom. Nah ini persoalannya sekarang. hubungan dengan supra desa dan seterusnya. Ini ada dua jalur yang sebetulnya bisa dimainkan oleh masyarakat desa. Itu posisinya jelas. jangan sampai kita membuat UU bertabrakan dengan konstitusi. apakah dengan otonomi desa itu lalu SDM akan segera up-grade atau sebenarnya sekarang ini kondisinya didalam UU juga PP 72/2005 atau kemarin ada Kepmendagri 64/1999 yang diacu untuk pengaturan mengenai desa. itu bisa kita petakan secara jelas. Ketiga. Sekarang mengenai desa otonom. otonomi pemberian itu sama dengan konsep bantuan. tapi ya begitu saja. kemudian Mas Wafi. yang menurut saya sudah siap didorong untuk menjadi desa yang otonom. Menurut saya istilah itu sekarang sudah tidak relevan. karena tujuan akhir dari RUU Desa adalah bagaimana desa itu dengan otonominya bisa bangkit dan mandiri. jadi dia sebagai desa yang otonom tapi tidak bisa semua desa di Indonesia kita perlakuan sama. Ini peran pemerintah. jadi konsep bantuan itu sudah kita tolak. dan desa. Kembali pada SDM. Itu mungkin yang saya bisa katakan bahwa titik kompromi itu yang belum ketemu. Kedua. harus konsisten dengan sistem di tingkat nasional. Fasilitator Pertama yang ingin disampaikan. Ini yang kita hadapi sekarang dalam UUD 1945 pasal 18A dan 18B. jadi kategorinya jelas. pembinaan kapasitas dan seterusnya. kalau kita mau mendorong desa yang otonom maka NKRI dibagi provinsi. artinya desa harus lepas dari kabupaten meskipun ada hirarki tapi tidak seperti yang sekarang menjadi bagian atau sub-sistem pemerintah kabupaten. bagaimana kedudukan desa itu dalam otonominya. kepegawaian.

Kecuali desa-desa yang memang masyarakatnya sudah sangat heterogen. kalau semua bisa jadi satu. Kalau desa itu tidak jelas. intinya satu yaitu wajib. Menggagas Desa Masa Depan 78 . Kalau kita menerima pasal 18B semua self governing communty saja. tadi saya terima kasih diberikan saran. Soal istilah. jadi ya kita harus menyesuaikan diri dengan kondisi. Saya mau menambahkan saja. tidak perlu ada administrasi. Sutoro Saya kira pasal 18B itu sudah ketinggalan zaman. perijinan itu juga harus melibatkan mereka dalam persetujuan. karena konfliknya disitu. akarnya sudah tercabut. makanya mereka menghargai betul pada adat. perhutanan dan sebagainya dan itu ada di wilayah desa. dia bisa ditolak di-aben disitu. nanti saya pikirkan. supervisi. Kalau tiba-tiba ada orang datang bawa secarik kertas bahwa saya akan membuka tambang disini lalu masyarakat desa terima sampahnya. Jadi sebelumya stakeholders harus dikumpulkan dulu. tidak perlu ada pemerintahan. Urusan desa adat orang lebih patuh ketimbang desa dinas. tadi sudah disinggung dan bicara soal tata hubungan desa dengan supra desa. apakah diteruskan seperti itu saja atau perlu ada suatu klausul atau satu peran juga yang boleh kita katakan sebagai negosiasi perijinan yang juga dimiliki oleh pemerintah desa terhadap ijin-ijin yang masuk ke wilayah desa. bunyi pasalnya wajib. Steny Konkretnya. Kemudian SDM lemah itu kembali dari organisasi yang tidak jelas. Dari sekian ijin yang diberikan di Indonesia. Kalau dulu orang itu rebutan jadi kepala desa karena gengsinya luar biasa-status sosial. hak dan kewajibannya jelas.tiga ya harus konsisten. yang dikejar harga ekonomi. ia kehilangan hak-hak sosial. Seperti dulu ada di Sumatera Barat rancu. jadi larinya pada penghasilan. adat sudah tidak lagi punya kekuatan. sekarang tidak kesitu yang dikejar. Saya juga bingung. Tapi pertanyaannya tadi 18A-18B itu dipisahkan. itu bukan harus. kalau tidak ada upaya-upaya hukumnya. hanya sekali lagi jangan membuat aturan yang berlaku untuk seluruh desa padahal ada kategorisasi yang cukup tajam. sekarang penghargaan sosial tidak ada. makanya dia membedakan ada desa dinas dan desa adat. kuatnya begitu. apakah kita kemudian hanya bicara soal presentase. Jangan sampai kita melakukan kesalahan yang kedua. penyeragaman kemudian merusak akar-akar yang ada. meninggal harus cari tempat lain. kalau organisasi ini jelas kita bisa membuat sistem seleksi. itu difasilitasi di pasal berikutnya. sebagian besar obyek perijinan adalah pertambangan. peran pemerintah sebagai fasilitasi. Kalau Bali saya lihat meskipun sudah modern tapi adatnya-agama masih kuat. Jadi kalau kita diundang dalam kegiatan adat tanpa alasan yang jelas tidak datang. kabupaten sekian atau bicara pada level yang lebih mendasar. persoalan selama ini yang sering terjadi adalah kita kurang mencermati kewenangan administrasi pemerintah pusat dan pemerintah kabupaten begitu besar di level desa. sekarang mau disatukan lagi sudah tidak bisa. tapi kalau pakai size ada besar-sedang-kecil ya konsisten. keuntungan untuk desa sekian. Dulu lebih banyak pada penghargaan-penghargaan sosial. Desa-desa yang adatnya masih kuat berikan kesempatan. Setelah wajib pihak kepala desa dan BPD dan juga lembaga kemasyarakatan disitu harus stakeholders dulu yang memutuskan ya atau tidak. Bagaimana dengan yang begitu. dulu dia punya kekayaan besar kemudian dipecah-pecah. itu yang mesti didudukan dulu karena berangkatnya dari situ. Nurwafi Di PP 72/2005 itu malah lebih jelas. Orang diundang adat tanpa alasan yang jelas. Fasilitator Kalau dalam UU 22/99 pasal 110 ada pihak ketiga yang ingin membangun atau mengeksploitasi desa itu harus mendapat persetujuan dari masyarakat desa melalu kepala desa dan BPD.

padahal sosialisasi sudah sekali-dua kali. kemarin kita sudah mengangkat seorang bapak kedudukan desa. Itu akan menjadi sebuah muatan disamping adanya persoalan. hak-haknya belum maksimal bisa diupayakan.. Pak Toro selama belum ada amandemen. kita masih akan terus menambahkan. Kedua.. Nanti kita akan bantu merapikan hasil-hasil. apa bisa ditulis dalam flipchart topik-topik yang akan disampaikan? Fasilitator Apakah ini perlu saya tuliskan? Sutoro Saya kira perlu Pak dituliskan garis besarnya. Fasilitator Oleh karena itu. Saya minta mas Wafi bersama kami melengkapi ini. Fasilitator Kalau tidak diterapkan itu persoalannya juga banyak orang tidak baca. Nurwafi Salah satu kelemahan adalah sanksi. tetap saja bunyi pasal 18 juga tidak akan berubah. itu berkaitan dengan sanksi. hanya orang desanya sendiri.. kalau masih ada ide-ide. itu yang pertama. Fasilitator Saya kira ini cukup. kalau kita tanya kenyataan di lapangan. coba kita lihat th 65. jadi tidak pernah tahu padahal ada. Jadi saya kira memang kawan-kawan dari desa yang lebih tahu persis. soal hak-hak desa itu ada. ditaruh didalam meja. Untuk itu kita cukupkan sekian dulu diskusi kita. Apa ada relawan. disitukan ada di UU tapi tidak diterapkan. Fasilitator Ya. Menggagas Desa Masa Depan 79 . Ini tugas kita semua terutama pemerintah daerah bagaimana memfaslitasi orang baca. apakah hubungan desa dengan warga desanya? Steny Itu hubungan dari pemerintah daerah sama pemerintah pusat. UU 22/99 demikian pula. kalau kiranya cukup. Soal ADD. Jayus Alangkah bijak kalau kita mau mencoba membaca hal baik dan tidak baik dari peraturanperaturan UU yang pernah ada.Fasilitator Dalam konteks diskusi kita ini posisinya ada dimana. hal itu perlu menjadi sebuah pemikiran yang lebih jelas. nanti dalam diskusi pleno presentasi. karena saya yakin didalam UU 32/2004 ada yang baik dan ada yang tidak baik. saya ingin mengundang salah seorang teman untuk mempresentasikan hasil diskusi kita. Elke Saya hanya ingin. bukankah begitu? Sekarang saya hanya ingin mengingatkan waktunya. mekanisme keluhan. kita lihat lagi th 48. biar nanti kalau terkait dengan desa. UU 5/79 saya pikir itu bagus kontruksinnya cuma persoalannya pada sentralistis.

capacity building menyangkut desa Deskripsi singkat : 1. Hal ini berkaitan dengan desa otonom dan desa adat. 5. 8. • • • Menggagas Desa Masa Depan 80 . 2. fasilitasi. Konsistensi implementasi dari policy. Perlu ada ruang yang jelas bagi desa dalam kewenangan perijinan. 4. ke depan perlu penguatan kapasitas desa untuk mampu menjalankan kewenangan (aparat dan masyarakat) dengan baik. pembangunan dan tatanan kehidupan masyarakat dan budaya lokal. Pengaturan relasi antara desa dengan supra desa tetap harus mengacu pada dasar konstitusi dan derivasinya. Tipologi desa perlu dicermati dalam mendesain pengaturan mengenai kedudukan desa dalam state.00 – 17.00 Moderator : M. capacity building menyangkut desa. Selama ini good will pemda masih dipertanyakan karena banyak ide tentang kewenangan muncul di pusat. Otonomi dan kewenangan harus diberikan kepada desa. Selain jaminan kewenangan. 3. Bentuk otonomi dan kewenangan desa mencakup hubungan desa dengan supra desa Bentuk organisasi ---) berkaitan dengan SDM. Bahkan. Ada pendapat yang melihat pasal 18A konstitusi justru sebenarnya menjadi dasar untuk mendesain desa otonom dan 18B sebagai basis pengaturan bagi desa adat. Oleh karena itu. Barori 1. agenda kedepan adalah mendorong kabupaten untuk menyusun perda dan program untuk mewujudkan desa yang memiliki kewenangan yang jelas dan mendorong kemampuan mereka untuk menjalankan kewenangan tersebut. fasilitasi.Benang Merah Pemikiran : • • • • Kedudukan desa dalam konstitusi dan derivasinya. tetapi di daerah tidak direspon dengan baik dan cepat. Bentuk organisasi desa perlu disesuaikan dengan karakteristik dan tipologi desa. UU 32/2004 sejauh ini belum banyak ditindaklanjuti oleh kabupaten dalam menjamin desa memiliki otonomi. tetapi forum lebih banyak menaruh perhatian pada posisi desa sbg local self government. Diperlukan adanya konsistensi implementasi dari policy. Presentasi Kelompok: OTONOMI DAN KEWENANGAN DESA Disampaikan oleh: Kamardi • • • Masalah Kewenangan desa: Pilihan tentang posisi desa sejauh ini belum jelas. 3 Juli 2006 Pukul : 16. Presentasi Hasil Diskusi Kelompok Hari/Tanggal : Senin. sangat penting pula desa diberikan legal standing dan kemampuan menjalankan class action dalam judicial process. karena desa merupakan wilayah yang menjalankan pemerintahan.2. Salah satu tolok ukur desa mampu menjalankan kewenangan adalah mampu menyusun dan menjalankan peraturan desa secara konkrit.

bagaimana keterwakilan. hanya perlu good will dari semua unsur. perlu disusun indikator dan acuan pengembangan otonomi desa melalui pentahapan. 5 unsur dari pemuda. perlu adanya kepastian melalui regulasi atau kebijakan yang membuat bahwa otonomi desa dengan kewenangannnya tersebut tidak dimanipulasi oleh kepentingan elit desa. bagaimana keterwakilan kelompok lain. Moderator Kita tuntaskan dulu kelompok ini. Oleh karena itu pula. desa masa depan ditandai oleh adanya otonomi desa yang berorientasi pada penjaminan kesejahteraaan dan keadilan dalam bingkai yang lebih demokratis dan partispatif. lebih besar dari 3000 25 orang. 5 unsur dari bundo kandung. Oleh karena itu. silahkan. Problemnya adalah masih ada masalah benturan legalitas karena peradilan formal belum mengakomodasinya. lebih dari 1600 s/d 3000 21 orang. bagaimana jalan keluarnya? Menurut PP 72/2005 itu 5-11 orang. ulamanya kita kumpulkan lalu kita pilih satu. Datuk kita kumpulkan lalu kita pilih wakil. 1 jorong ada penduduknya 700. Berkenaan dengan kewenangan desa dalam kelola dan penyelesaian masalah. mekanisme. masalah kewenangan desa harus memperhatikan konteks daerah masing-masing Agenda ke depan.• • • • • • • Untuk merumuskan kewenangan desa. ini bagaimana menurut pendapat Bapak? Dahlia Agenda ke depan. 5 unsur dari pemuda. Tanggapan Datu Kita mau menambahkan sedikit untuk BPD. regulasi tidak terlalu banyak. Bapak Seandainya akan memekarkan diri itu bagaimana? Menggagas Desa Masa Depan 81 . terdiri 5 unsur dari cerdik pandai. atau dimensi kultural). jadi tidak perlu regulasi baru. jadi kalau ada tanggapan dari kelompok demokrasi desa. Bagi saya regulasi atau kebijakan itu sudah ada yang mengakomodir. seperti misalnya dalam kasus mengelola peradilan informal. masalah kewenangan desa mengatur peradilan informal harus diakui dan sekaligus disinkronkan dengan peradilan formal. Berdasarkan pengalaman. perlu adanya kepastian melalui regulasi atau kebijakan yang membuat bahwa otonomi desa dengan kewenangannnya tersebut tidak dimanipulasi oleh kepentingan elit desa. Sementara itu pihak kabupaten lebih berkaitan dengan urusan keadministrasian. Saya dari Limapuluh Kota. biasanya kalau ada pemilihan kita perhitungkan aspek kemasyarakatan. 5 unsur dari nini mamak. dan dukungan administrasi keuangan dan kelembagaaan. pemilihan itu bagaimana bentuknya. kita kembalikan ke masyarakat. perlu adanya kewenangan yang luas bagi desa. dalam kaitan itu khususnya desa adat punya akses mengelola di SDA dan urusan komunitas nilai-nilai (roh. pemilihannya tentu per jorong. Dan dengan demikian. Perlu pengkajian tentang masalah otonomi asli dengan belajar dari sejarah perkembangan desa. menurut Perda Sumbar kalau penduduknya 1600 maka wakilnya ada 16 orang. Perlu penataan ulang (khususnya di pemerintahan pusat) tentang pemberian kewenangan kepada desa yang tidak konsisten antar sektor (menghindari tubrukan antar sektor). ada juga 1500 orang. Terdapat bukti bahwa desa mampu mengurusi urusannya sendiri. beliau tadi ada keinginan BPD dipilih langsung oleh masyarakat. kami ada 7 jorong. Menurut PP 72/2005 dibatasi 5-11.

pandangan pragmatis) • Fokus pada Pemda dan desa masih sebatas pada pembentukan lembaga. Presentasi Kelompok: DEMOKRASI DESA Disampaikan oleh : Ade Kisi-kisi: 1. 2. substansi adalah menghindari elit desa. Kendala-kendala yang penting diperhatikan Demokrasi yang cocok bagi desa: • Inclusive demokrasi perlu menjadi pertimbangan utama dalam rangka membentuk self community governance yaitu suatu kondisi dimana masyarakat dapat terlibat secara luas dalam proses pengambilan keputusan. sikap elitis. bagaimanapun akan memberikan cipratan langsung. kalau regulasi tersumbat maka UU tidak akan jalan. artinya perda yang baru mengacu ke UU khususnya pasal 206. Barangkali pemerintah kabupaten tetap mengacu UU 32/2004 dan PP 72/2005. Fungsi lembaga-lembaga yang mampu mengusung/melaksanakan demokrasi desa 3.Alit Terkait dengan aturan/perda setempat. Harus mengacu pada analisis kebutuhan desa 3. tetapi kembali jangan sampai pemekaran itu kemauan elit desa. jadi seolah sama. Demokrasi yang paling cocok untuk ditawarkan bagi pengaturan desa di Indonesia? 2. perlu ditambahkan. Soal jumlah. belum menyentuh bagaimana membangun essensi check and balances • Kemampuan ekonomi masyarakat yang bervariasi berkorelasi pada tingkat partisipasi Menggagas Desa Masa Depan 82 . Keterwakilan lembaga kemasyarakatan lainnya Fungsi lembaga-lembaga: • Lembaga di desa terdiri dari lembaga formal dan non formal • Fungsi lembaga desa bervariasi: sebagai fungsi legislasi. Soal pemekaran ini dijamin oleh UU. lalu pemerintah membuat perda yang baru. Kamardi Kalau belajar di UU 32/2004 ini frustasi juga. 1. tetapi bagaimana partisipasi dan demokrasi di masyarakat. Masalah regulasi. pemekaran itu semata-mata untuk pelayanan publik. dulu ada kelipatan dari jumlah penduduk. Toto Hak asal usul di pasal 206 UU 32/2004. contoh di penjelasan. bagaimana kita menghindari dominasi elit desa. yang dimaksud Badan Permusyawaratan Desa adalah BPD dalam UU no 10. BPD sebagai tool untuk check and balances 2. kontrol dan pelaksana • Bentuk diserahkan pada kearifan dan keunikan lokal dengan acuan dari pusat • Lembaga itu harus mampu mewakili semua aspirasi masyarakat • BPD dan lembaga kemasyarakatan yang ada harus ditopang dengan capacity building yang memadai Kendala-kendala: • Keterbatasan partisipasi masyarakat antara lain karena ssstem yang belum mendukung (structural) • Kendala cultural (misalnya budaya patrialistik. bahwa BPDnya tetap seperti semula. sehingga nanti yang menjadi hak asal usul itu tidak diintervensi lagi. saya sampaikan bahwa pasal 206 UU 32/2004.

Kabupaten membuat perda ada yang merepresentasi desa. BPD sinergis. Contoh di Jepara.• Trauma pengalaman berdemokrasi yang tidak memihak kepada kebutuhan masyarakat. sehingga demokrasinya bisa berjalan. Marhaban Waktu kita merumuskan demokrasi kita kembali ke sejarah demokrasi itu. tapi tidak serta merta mewakili desa. tetapi institusi yang mewakili desa. menghendaki lembaga-lembaga yang kompetansi di situ. selama ini yang mengatur pusat dan kabupaten. sedangkan masalah bentuk kelembagaan itu sudahlah. government for the people. Mekanisme di pusat sudah ada. tapi ad hoc saja. Ibnu Itu bukan wakil pemerintah desa. Biaya pilkades itu kecil. Problem demokrasi selanjutnya adalah dalam melaksanakan tugasnya dengan tata cara yang demokratis. Kalau akan ada dewan perwakilan desa justru konsolidasi kepala desa berhadapan dengan kepala desa di tingkat bawah. maka ditopang dengan mekanisme lain yang berangkat dari inisiatif masyarakat sendiri. bagaimana lembaga di desa. tapi bukan dipreteli dalam pembaruan tatanegara. Itu perlu dinormakan. ini sebetulnya ada gejala yang sudah muncul dengan paguyuban-paguyuban pamong desa. tapi itu pembaruan tatanegara karena dibentuk BPD yang melaksanakan fungsi legislasi. yang penting mendesak pemerintah di atas desa untuk menjamin nilai-nilai lokal. mekanisme demokrasi seperti apa untuk jalan keluar. tetapi baru sebatas pada elit-elit desa Tanggapan Widyohari Anggaran Pilkades masuk APBN dan turun melalui APBD. Tadi ada kerancuan dengan sistem yang berlaku di nasional dengan Menggagas Desa Masa Depan 83 . apakah tidak kita pikirkan semacam Dewan Perwakilan Desa yang mewakili desa untuk membuat perda? Masalah dengan Syamsudin Haris yang dipreteli. Bapak Apa yang digambarkan Pak Ibnu seolah-olah desa itu menjadi satu kesatuan dengan kepala desanya. untuk menghilangkan jago itu membiayai sendiri. mekanismenya terserah. bagaimana APBD itu membiayai juga. problemnya adalah masyarakat desa yang selalu terus menerus menjadi marginal yang ditinggalkan kepala desanya yang menjadi kepanjangan tangan pemerintah di atasnya. yang jadi mahal itu money politic. kades menuntut perpanjangan masa jabatan kepala desa. Datu Pertanyaan masih ada yaitu desa masa depan itu seperti apa? Ibnu Demokrasi yang paling cocok tentang pengaturan desa di Indonesia. yang saya usulkan itu DPD. kades. karena kabupaten yang mengatur desa tidak ada representasi desa mewakili desa saat membuat perda. oleh karena itu kita perlu menemukan kearifan-kearifan. bisa pemilu atau yang lainnya. sehingga netralitas calon kades. Tadi Pak Ibnu lebih menekankan soal perwakilan desa di DPR. Menormakan ini tidak bisa seragam. sinergi ini yang perlu dirumuskan dengan baik. Bahwa DPD itu tidak cukup mewakili masyarakat. karena demokrasi itu menghendaki prosedural. bagaimana kita membuat regulasi desa dengan memangkas itu? Bapak Format kelembagaan itu. saat pusat membuat UU maka disana sudah ada DPD yang mewakili daerah.

Penguatan kelembagaan.15 Moderator : Sumarjono 3. masyarakat. tetapi perlu memperhatikan konteks daerah dan desa Perlu intervensi positif (kebijakan) oleh pemerintah pusat Perlu membangun kesadaran kritis atas kelola uang berbasis loan and project • • • • • • • • • • • • • • • • • Menggagas Desa Masa Depan 84 .kabupaten/kota. contoh kepala desa minta untuk ikut jadi pengurus partai politik dan negara menolak dengan tegas. Self Governing Community itu dikaitkan dengan demokrasi bagus sekali. Kita harus tempatkan demokrasi good and clear governance di tingkat II karena di situ ada konstituen political. keluarga. Hari/Tanggal : Selasa. kalau kulturnya sudah bagus dan mandiri maka itu bisa dikendalikan. Harus ada kemudahan-kemudahan demokrasi di tingkat masyarakat. 4 Juli 2006 Pukul : 14. sesuai dengan kebutuhan dan kriteria yang jelas terutama pemetaan bagi desa yang diprioritaskan mendapatkan ADD Perbedaan persepsi antar sektor di level kabupaten atas ADD ADD hendaknya diintegrasikan dengan APBDes (RPJMDes) Problem-problem dari PP perlu ditindaklanjuti dengan Perda Manipulasi atas ADD akan membunuh partisipasi desa Perlu memetakan best practice untuk menjadi referensi dan replikasi. kalau masyarakat tidak demokratis itu akan menjadi fasisme. itu budaya demokrasi kuno yang disebut open deliberation. Kalau Dewan Perwakilan Desa itu saya dukung.00 – 15. demokrasi harus dimulai dari yang terendah. karena dalam institusi demokrasi itu adalah membangun komunitas politik tetapi non praktis. tetapi harus ada ramburambu umum yang prinsip Proses perencanaan. Presentasi Kelompok: ADD (ALokasi Dana Desa) Disampaikan oleh: Dahlia • • • • Sebagian besar kabupaten enggan (keberatan) melaksanakan kebijakan ADD Akses masyarakat untuk mengetahui informasi PP dan ADD sangat terbatas Masyarakat desa belum jelas dengan sumber-sumber pendapatan desa Ada 3 faktor penghambat pelaksanaan ADD yaitu: − Kapasitas potensial desa yang belum siap − Keterbatasan APBD (PAD) − Masalah politis yaitu tarik ulur kepentingan politik di daerah Ada pengalaman desa yang sudah menyiapkan kelembagaan (sistem) dan bisa berjalan dengan baik Terlalu kakunya pengelolaan ADD oleh kabupaten Pengelolaan ADD semestinya mutlak oleh desa. diatur oleh Perda Semestinya ADD tidak identik bagi hasil. masyarakat berkumpul untuk memutuskan berbagai hal. melibatkan seluruh elemen masyarakat Informasi penggunaan dana harus transparan (diumumkan kepada publik) dan ada mekanisme pertanggungjawaban pada publik (Pengalaman Ngada): tidak semua desa diberikan ADD. tetapi aturan teknis dilakukan desa Mengkaitkan antara ADD dengan penguatan kapasitas kelembagaan desa Tidak perlu ada pembatasan yang rigit dalam kelola ADD. soal check and balance itu tidak kita khawatirkan. Di desa itu ada deliberatif demokrasi. pelaksanaan dan pelestarian dari ADD harus partisipatif. karena ADD adalah dana perimbangan Perlu pedoman umum dari pemda.

4.• • • • • Perlu pendidikan bagi masyarakat untuk advokasi pada level kabupaten. yang kami sampaikan ini hanya pokok-pokoknya saja. bagi saya kalau sudah tidak inheren maka PP itu akan gugur. Benang Merah pemikiran yg perlu dipresentasikan dlm pleno: • Kedudukan desa dalam konstitusi dan derivasinya. Saya persilahkan tanggapannya. mulai kemarin rumusannya desa diatur dengan UU tersendiri. Moderator Untuk selanjutnya saya persilahkan kelompok tata hubungan desa dengan supra desa. • Bentuk otonomi dan kewenangan desa mencakup hubungan desa dengan supra desa • Bentuk organisasi pemerintahan desa berkaitan dengan SDM. melakukan kritik dan usulan-usulan agar ADD dapat dilakanakan dengan baik. Dahlia Kalau desa tidak inheren dalam kabupaten maka tidak bisa mendapatkan ADD. kalau desa diatur sendiri maka tidak boleh diatur dalam perimbangan kabupaten. Menurut World Bank agar uang tidak nyangkut di elit. delegasi dan wewenang tanpa resources itu adalah omong kosong. Ini memang berbenturan dengan tata negara. Ketentuan 10% dari APBD tidak cukup. Presentasi Kelompok: TATA HUBUNGAN DESA DENGAN SUPRA DESA Disampaikan oleh: Nurwafi Diskusi kita adalah hubungan antara desa dengan supra desa dalam NKRI. wacana ini muncul dalam kerangka pemberdayaan. ini konsekuensi pilihan yang kita lakukan. dalam kebijakan ADD Perlu ada penguatan kapasitas aparat dan kelembagaan serta elemen-elemen masyarakat desa dengan pendekatan partisipatif Perlu ada intervensi dari pusat tentang batasan alokasi yang akan diberikan ke desa supaya dana yang dikucurkan ke desa mencukupi untuk pembangunan di desa Perlu ada komitmen yang lebih besar lagi di tingkat nasional. Menggagas Desa Masa Depan 85 . Perlu ada audit independen (dipilih masyarakat) dari stakeholders Moderator Kelompok diskusi ADD telah membuat kesimpulan-kesimpulan terkait dengan pelaksanaan ADD yang belum seluruh kabupaten/kota melaksankan ADD. Dengan demikian ADD menjadi problem. Pak Ibnu melihat makro dari hukum tata Negara. Ini memang dalam perspektif yang mikro. maka 80% langsung ke masyarakat. karena desa itu sudah di bawah negara. kalau kita ambil 10% itu hanya acuan tetapi APBN yang membiayai. ini memang strategi pemberdayaan. Marhaban Kita di PMD. artinya desa tidak lagi inheren dalam kabupaten. Tanggapan Ibnu Kita ini menggagas desa masa depan. karena ADD itu 10% dari dana kabupaten.

Di UU ada kewenangan atributif. Untuk kelompok ini harus clear model mana yang akan diadopsi. Saya justru berpikir optimis akan memberikan kemakmuran. Bumi. semua level harus bertanggung jawab untuk mengatasi itu. kenapa justru ada eksploitasi. air dan udara dikuasai negara dan digunakan sebesarbesarnya untuk kemakmuran rakyat. Yang inklusif itu ada hubungan antar desa yang harus melaksanakan. setiap eksploitasi akan melibatkan masyarakat desa.• Konsistensi implementasi dari policy. Ada pendapat yang melihat pasal 18A UUD 45 (konstitusi) sebenarnya menjadi dasar untuk mendesain desa otonom dan 18B sebagai basis pengaturan bagi desa adat. koncuren. dan 3) overlap. pusat sampai dengan aturan main keuangannya. Menggagas Desa Masa Depan 86 . 10. 2) separated. saya tidak bisa membayangkan otonomi itu diberikan di desa tanpa ada pemberdayaan di desa. Ketiga overlap. Untuk kelompok lain silahkan tanggapannya. Deskripsi singkat : 6. karena dulu tidak pernah melibatkan desa maka akan terjadi kehancuran-kehancuran itu. Separated itu maksudnya adalah ada pembedaan yang tegas antara kabupaten. dimana desa tidak boleh mengklaim bahwa ini kewenangannya. 9. Moderator Desa menjadi obyek supra desa. delegatif dan kewenangan lain-lain. 7. Tipologi desa perlu dicermati dalam mendesain pengaturan mengenai kedudukan desa dalam negara. capacity building yang menyangkut desa. tanah. Bahkan. Yang harus kita pertegas adalah otonomi yang berpihak masyarakat desa dan ada jaminan untuk digunakan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. fasilitasi. 8. Ini harus diperjelas dulu landasan akademik kita apa? Di dalam inter government relation. Kasmuin Pasal 33 UUD 45. provinsi. Diperlukan adanya konsistensi pemerintah pusat dan daerah dalam praktek pelaksanaan setiap kebijakan. yang terjadi adalah dengan otonomi selama ini SDA sudah cepat habis. namun sudah ada kebijakan pemerintah yang mengarah ke kepedulian terhadap desa. walaupun secara yuridis formal belum nampak. sangat penting pula desa diberikan legal standing dan kemampuan menjalankan class action dalam judicial process. Justru dengan otonomi desa. Perlu ada ruang yang jelas bagi desa dalam kewenangan perijinan. di UU 32/2004 itu diatur urusan wajib. Bentuk organisasi desa perlu disesuaikan dengan karakteristik dan tipologi desa. Hal ini berkaitan dengan desa otonom dan desa adat. capacity building menyangkut desa. Saya kira pasal ini pasal yang tidak dirubah. tetapi untuk hubungan desa dengan supra desa ini harus tegas. Moderator Silahkan untuk dijawab Wafi Logika berpikirnya di balik. Pengaturan relasi antara desa dengan supra desa tetap harus mengacu pada dasar konstitusi dan derivasinya. fasilitasi. pilihan. Tanggapan Tumpak Kalau bicara hubungan desa dengan supra desa maka akan terkait dengan kewenangan. jelas ada 3 model yaitu: 1) inklusif otorelation.

Marhaban Otonomi bukan hanya persoalan hukum. Berkaitan dengan pasal 33 ayat 2 negara sebagai pelaku. maka perlu modal.Ibnu Masalah urusan dan wewenang. Australia. Saya tidak mengerti Pak Ryaas belajar di Amerika tahu persis otonomi itu. kalau saya melihat lebih ke politik. 5. Kalau kontrol itu hanya melakukan uji. • Untuk pengelolaan modal maka perlu Lembaga Mikro Kridit • Lembaga Mikro Kredit seperti apa yang ada desa ? Lembaga Keuangan Desa perlu ada kerangka kerja yang baik. dan pemasaran. di UU 32/2004 itu urusan. padahal kalau residual teori itu wewenang. Moderator Tampaknya sudah cukup waktu. Negara-negara baru (Amerika Serikat. 2. kalau sudah diberikan urusan maka berhak atas wewenang. Presentasi Kelompok: MIKRO KREDIT DAN BUMDES Disampaikan oleh: Adnan Sumber hukum PP 72/2005 Pasal 78 s/d 201 • Mikro kredit berkait dengan produksi. itu yang berkaitan dengan yang strategis. Perancis) urusan politik dibawa sedekat mungkin dengan rakyat. otonomi ini yang diambil berdasarkan persoalan politik. supra desa itu seperti apa? Apakah dia supervisi. ini yang menjadi tali sentralistik. fasilitator. yang dipakai dalam pasal 18 ayat 5 itu hanya urusan. Saya pilih ke istilah kontrol. eksternalitas. sehingga terbit banyak SE yang mengatur daerah. pada tingkat lokal itu begitu mahal demokrasi kita. Hubungan wewenang yang diatur pasal 18 a itu. oleh karena itu terbit UU sektoral. kalau pengawasan maka ikut mengarahkan. Saya kira disana ada politik. UU 5/74 itu wewenang. Negara-negara old model (Jerman. ada pemisahan yang tegas karena ada pendekatan akuntabilitas. Oleh karena itu gagasan apa yang akan kita sampaikan. UU 22/99 wewenang. Pasal 1 negara memberi pengaturan. ini pada akhirnya digunakan untuk kemakmuran rakyat. Skandinavia. tetapi juga persoalan politik. apalagi mau kita bawa ke desa. kayaknya ini lebih dekat dengan delegatoris. nampaknya yang diberikan itu urusan. Dalam pasal 18 residual teori yang dipakai tetapi yang dipakai urusan. Kita harus jelas apakah kontrol atau pengawasan. apakah dalam bentuk semacam Rural Banking sustainable Usulan diberi nama BUMDes • Perlu manajemen yang profesional • BUMDES perlu pengakuan dengan payung hukum • Kegiatan mikro finance selama ini yang berkembang di pedesaan adalah usaha simpan pinjam Menggagas Desa Masa Depan 87 . teknologi. kita harus kita pisahkan kontrol dan pengawasan. selanjutnya dari wakil kelompok BUMDes. karena pengawasan ikut mengarahkan. Newe Zealand) meletakkan otonomi level di urus di tingkat state (politik). karena di Australia ada banyak UU otonomi daerah. Kalau kita baca otonomi daerah dan desentralisasi ada 2 cara : 1. dan efisiensi. Moderator Dari awal memang ada cara pandang yang berbeda antara ketentuan hukum dengan nilainilai filosofis hukum yang akan diberlakukan di Indonesia.

Perempuan terbukti sebagai pelaku ekonomi yang tanggung dan mayoritas di desa. dll) untuk menghindari pertarungan dengan pemodal dan elit desa. oleh karena itu disarankan untuk berbadan hukum/diaktekan. (kebijakan ini tidak hanya dilakukan Depdagri/Ditjen PMD. Tawaran tentang Pengembangan Ekonomi Desa (BUMDes dan LKM) • BUMDes dan LKM harus menjadi upaya pengembangan ekonomi lokal dan pengentasan kemiskinan. juga bukan instrumen kapital besar yang mengancam ekonomi pedesaan. • BUMDes dibentuk berdasarkan aktivitas ekonomi yang telah ada di tingkat lokal dan untuk melindungi ekonomi lokal. P4K • Simpan pinjam desa • Lumbung desa • Koperasi desa Perempuan terbukti sebagai nasabah yang baik dalam kredit dan penerima program yang efektif. • Untuk mengatasi monopoli elit dalam BUMDes maka bentuk hukum yang diusulkan koperasi yang berorientasi pada ekonomi kerakyatan. • Kebijakan antar sektor belum saling mendukung untuk pengembangan ekonomi desa • Lebih dari 60% ekonomi desa dikuasai oleh kelompok elit dan pemilik modal besar. Tetapi dasar ini belum bisa akses ke lembaga perbankan. • BUMDes harus memberikan perhatian pada masalah perempuan • Pembentukan BUMDes bukan penyeragaman dan pemaksaan (pengalaman KUD). Pengalaman Kabupaten Sumedang: Yang dimasukkan ke dalam BUMDes: • Alokasi anggaran simpan pinjam • Unit usaha simpan pinjam menjadi bagian BUMDes • Lumbung Desa • Kegiatan penarikan rekening listrik • Penyewaan hand traktor • Unit toko untuk pelayanan masyarakat (berbagai produk dan jasa) • Warung nasi dsb. • Ada alokasi modal dari APBD untuk pengembangan BUMDes. tetapi dinas lain terkait harus melakukan hal tersebut. • Perlu ada afirmative action dalam pengembangan ekonomi di desa. terbatas pada Bank dan Koperasi • Rendahnya akses modal bagi masyarakat miskin dan perempuan • Ada pandangan masyarakat kalau uang dari pemerintah tidak perlu dikembalikan – sehingga banyak kredit program macet. Ditingkat desa BUMDes itu dibentuk berdasarkan Perdes. • Bagaimana dengan kepemilikan BUMDes (Masyarakat dan harus dihindari kepentingan dan kooptasi elit desa • Jenis usaha dan model BUMDes harus memberi ruang dan bertumpu pada inisiatif dan kearifan lokal Problem • Tidak ada fasilitasi sistemik untuk pengembangan usaha kecil di desa • Tidak ada perlindungan pasar untuk pelaku usaha kecil • Belum ada payung hukum yang jelas untuk LKM. nelayan. untuk rakyat (petani.Pengalaman Layanan Keuangan di Masyarakat Jenis layanan kredit di Desa • Program kredit dari PPK. Menggagas Desa Masa Depan 88 .

Sebenarnya tidak ada perintah di PP untuk membuat pedum. Ada affirmative action dalam layanan usaha BUMDes kepada perempuan. sehingga perlu pembinaan. Pemda sudah membuat tim pembina BUMDes. Tumpak PMD sudah mencoba payung hukum untuk BUMDes ini. agar perda itu baik dan benar. Perlu ada kejelasan dan dibangun sinergi kebijakan antar sektor dalam pengembangan ekonomi desa (BUMDes). LKM (Lembaga Keuangan Mikro) • Keberadaan LKM tidak lepas dari upaya menyediakan layanan modal bagi pelaku ekonomi untuk pengembangan usaha. termasuk monitoring dan pengawasan. siapa yang akan mengontrol BUMDes. • Ada kejelasan bentuk hukum untuk melindungi dana rakyat yang disimpan. • LKM bukan menjadi perpanjangan tangan usaha kapital besar maupun intermediasi dari bank komersial yang ada. untuk tingkat desa apa? Di PP 72/2005 ditetapkan perdes. panjang sekali prosesnya. Kita harus tegas mengatur ini. Ini agak rumit membagi payung hukum untuk BUMDes.• • • • • • Jenis usaha harus memberi ruang dan bertumpu pada inisiatif dan kearifan lokal. Tanggapan Maryunani Berbagi pengalaman. tenaga dan pikiran. kalau kita bandingkan dengan BUMD itu bentuknya perusahaan daerah.nelayan. Di tingkat II. karena semua akan menjadi bemper ekonomi desa. Menggagas Desa Masa Depan 89 . dll). Rakyat harus menjadi subyek dalam kegiatan BUMDes (mengedepankan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat dalam rangka kedaulatan ekonomi rakyat). sehingga kalau kita membuat BUMDes harus dihindari yang menyangkut LKM dan koperasi. rakyat miskin (petani. Ada kejelasan tentang kewenangan desa dalam pengelolaan sumberdaya ekonomi. sebagai komisaris. Dalam pengelolaan itu bagaimana rakyat desa itu komit. kita tidak yakin kalau di APBD nya tidak ada. Perlu ada kejelasan tatalaksana dan manajemen profesional. • Ada jaminan/afalis untuk PUK yang mengalami kesulitan dalam akses modal (baik dari pemerintah-lembaga lain). supaya tidak gamang dalam mengatur itu. mau memberikan waktu. • Ada mekanisme dan skema kredit yang sesuai dengan kondisi masyarakat (belajar dari pengelaman “bank plecit” ). pemerintah Jawa Timur sudah menunjukkan good will. fasilitasi pengembangan produksi dan pasar sebagai satu sistem pengelolaan. • Ada mekanisme monitoring dan evaluasi dalam pengelolaan LKM. agar tidak bertabarakan dengan UU lain maka harus di luar LKM dan koperasi. Ini ada yang menarik dari Pak Maryunani dan Stefan. dana itu bila didistribusikan setelah eksekutif bertemu dengan legislatif. Moderator Langsung saja dari kelompok lain yang akan menanggapi atau memberi masukkan. • Dalam LKM harus diikuti dengan pendampingan. perda mengacu UU. Pengawasan. • Perlu dibangun pola dasar dan skema yang memungkinkan akses masyarakat miskin dan perempuan mendapatkan layanan secara mudah. BUMDes itu akan dibiayai APBD. ini ada UU yang mengatur LKM dan koperasi. perdes mengacu perda. karena di PP 72/2005 itu akan dikelola pemerintah desa.

bukan khusus untuk BUMDes. saya cenderung untuk merumuskan badan hukum tersendiri dalam BUMDes. Payung hukum yang ada adalah yang umum. keahliannya apa dan mengacu UU yang sudah ada. itu milik bersama dan hasilnya akan dibagi bersama dalam anggotanya. Kasmuin Membandingkan gagasan itu. Moderator Diskusi ini kita akhiri. Pengalaman di Sumedang dengan perdes mereka tidak cukup melakukan akses bisnis. PR menghadang kita sesuai dengan profesi kita masing-masing dalam upaya kita untuk membela desa. Jadi tergantung pilihan masyarakat disitu maunya seperti apa. maka tidak bisa ke sana nanti. lebih banyak ke perangkat desanya. menggagas desa masa depan. Desa senantiasa menjadi ajang tempur untuk mencari keadilan dalam kehidupan negara kita masih panjang. Menggagas Desa Masa Depan 90 . ke bank misalnya. Lebih fundamental lagi.Yuni Sengaja kita tidak mengusulkan satu jenis badan hukum. Sehingga pedoman seperti Pak Tumpak itu benar. dan itu diputuskan dengan keputusan desa. Kalau kita menganut badan hukum koperasi. ini akan menjadi ladang baru bagi percepatan proses korupsi di desa. BUMDes yang lemah payung hukumnya. bukan soal ADDnya tetapi bagaimana kita mengelola ADD itu. Di daerah kami ada pasar desa yang besar tetapi tidak memberikan kontribusi kepada desa. seperti ADD. Yang awalnya untuk meningkatkan pendapatan desa.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful