VIII.

DISKUSI KELOMPOK TERFOKUS

8.1. Diskusi Kelompok
Hari/Tanggal : Senin, 3 Juli 2006 Pukul : 13.30 – 15.30

1. Kelompok: OTONOMI DAN KEWENANGAN DESA
Fasilitator Peserta : 1. Arie Sujito 2. Bambang Hudayana : M. Barori-STPMD “APMD”, Alit-Majelis Madya Gianyar, MaryunaniFE Unibraw, Steny-HUMA, Sulikanti-Bappenas, Yusuf-SAINS, Lubis-YIPD, Suharman-PSPK UGM, Kamardi-Perekat Ombara, Franky-AMAN, Ibnu-FH Unibraw, Toto-BPMKS Sumedang, AzamPemdes Kebumen, Sofyan-Akatiga, Matt Stephan-World Bank, Vitristaf DPD, Kasmuin-CePAD, Adri Warsena-FPPD.

Fasilitator Sesi ini kita akan mengeksplorasi pemikiran menjadi lebih dalam, set up diskusi kelompok ini diharapkan akan muncul pemikiran-pemikiran, ide-ide tentang otonomi dan kewenangan desa itu seperti apa? Pilihan-pilihan yang visible. Tadi sudah banyak disampaikan Pak Toro dan Simatupang telah mengesplorasi banyak hal pilihan-pilihan berangkat dari peta normatif maupun empiris hubungan antara pusat, provinsi, kabupaten dan desa. Secara prinsip kita punya kebutuhan melalui otonomi dan desentralisasi, maka ini lebih memungkinkan terjadinya demokrasi. Pak Simatupang juga bicara banyak secara sangat normatif dan reduktif. Pak Toro tadi mengungkap beberapa pilihan seperti local self goverment, itu bagian terpenting dari otonomi dan demokrasi. Kita bisa belajar dari review, tapi yang lebih penting itu adalah penataan dan kelembagaannya ke depan seperti apa? Barori Ada pandangan tentang pemberdayaan masyarakat desa itu dibingkai dalam desentralisasi, kita pahami dulu konteks desentralisasi. Ada 3 domain dengan asumsi desa adalah sebagai wilayah pemerintahan yang di dalamnya ada pemerintahan dan pembangunan, domain ini yang perlu kita sepakati dengan bingkai itulah pemerintahan desa diberi kewenangan untuk melaksanakan pembangunan dan pemerintahannya, sehingga pemerintahan yang desentalistik dan pembangunan yang desentralistik menjadi prasyarat pemberdayaan masyarakat desa. Pemberdayaan masyarakat desa itu mencakup 3 hal yaitu: 1) pemerintahan yang desentralistik, 2) pembangunan yang desentralistik, dan 3) desentralistik fiscal. Secara normatif hal ini sudah kita temukan dalam UU 32/2004 maupun di PP 72/205, persoalannya kita memantapkan itu, apa yang menjadi kewenangan desa. Masyarakat desa akan berdaya kalau ada kewenangan yang melikupi dirinya, yang harus kita kedepankan adalah sebuah ketentuan bahwa level pemerintahan kita harus mempunyai otonomi pemerintahan sendiri-sendiri. Oleh karena itu kewenangan desa harus kita sepakati dan pahami bersama dan secara normatif UU dan PP sudah mendorong ke sana. Sejauh mana kewenangan itu bisa dijadikan posisi baru desa dalam melaksanakan pemerintahan dan pembangunan? Desentralisasi harus diikuti dengan otonomi desa yang nilainya sama dengan otonomi di tingkat kabupaten, provinsi
Menggagas Desa Masa Depan

46

maupun pusat. Otonomi dimaknai juga dengan kewenangan desa dalam mengelola pemerintahan dan pembangunan. Perangkat untuk disana sudah kita punyai, pembangunan yang desentralistik, perencanaan pembangunan yang berhenti di tingkat desa. Fasilitator Otonomi desa diletakkan dalam 3 hal: pemerintahan, kewenangan dan keuangan desa. Memahami otonomi dengan diletakkan hubungan antara desa, kabupaten, provinsi dan pusat. Tadi di diskusi ada hal penting, meskipun belum dilihat spesifik. Alit Anggap contoh bangunan, dasarnya kuat, perlu porsi yang jelas menyangkut kewenangan desa. Di UU 32/2004 pasal 200 itu sudah, menyangkut kewenangan desa pasal 206 perlu dirujuk ke tingkat kabupaten. Rujukan ini ditindaklanjuti di tingkat kabupaten sampai ke tingkat desa, sehingga posisinya jelas, mana hak-hak desa. Sebab kita tahu, desa kita karakternya berbeda-beda, apa yang sudah ada kita kembangkan, rujukannya berdasarkan UU yang sudah ada, bagaimana kejelasan porsinya. Tentang keuangan, pendapatan asli desa, perlu diperjelas, mana saja yang boleh sehingga desa itu bisa diberdayakan sesuai dengan semangat otonomi. Fasilitator Maksud Pak Alit, itu perlu dirinci lagi dalam Perda. Maryunani Otonomi dan kewenangan, saya ingin menambahkan satu muatan bahwa otonomi itu adalah sebuah sistem yang hirarki vertikal dan horizontal. Kalau bicara otonomi desa bisa kita tangkap hirarkhi horisontalnya, bahwa desentralisasi fiskal perlu diikuti dengan kewenangan, desentralisasi fiskal yang di PP 72/2005 ada 3 komponen besar, bagaimana desa mampu dalam pendanaan dalam pembangunannya, kemudian diikuti desa itu mampu mengelola sendiri dana dan pembangunannya, dan diarahkan ke kegiatan ekonomi produktif, maka kemandirian itu ada disitu. Persoalannya, apa betul desa desentralisasi itu ada? Pengalaman di kabupaten/kota di Jawa Timur, desentralisasi yang ada ini desentralisasi yang sentralistik, dimana posisi desa itu memiliki bargaining position dengan kabupaten atau sebaliknya sejauh mana kabupaten ini memberikan good will-nya, sehingga sinergitas keduanya ini belum ada. Persoalan bukan pada normatifnya tetapi pada good will kabupaten. Sejauh mana regulasi ini diikuti good will agar sampai ke desa? Stenly Soal tawaran dari Mas Toro, dari pilihan itu mesti dipilah lagi ke level yang lebih konkret, dengan memilih salah satu atau meramu ke tiga hal itu apa saja kewenangannya yang akan menjadi turunannya. Kita tidak bisa bicara kewenangan secara konkrit kalau tidak memilih dari 3 model itu, atau mengacu ke UU yang ada. Kalau mengacu ke UU, pertanyaannya adalah apakah sudah cukup, kalau tidak cukup dengan model itu apa yang akan kita pilih? Melihat perkembangan politik mungkin hanya model local self government yang konkrit, model seperti ini khan tergantung masing-masing daerah, kalau mau milih 3 hal itu dipecah dan turunan-turunan dari model itu. Usul saya, yang masyarakat adat maka akan self governing community. Sulikanti Regulasi ini masih baru, saya tidak yakin itu sudah dilaksanakan pemerintah daerah. Daripada kita mengganti yang ada, kita laksanakan itu dahulu, kadang kita bagus di konsep, pelaksanaannya amburadul. Bentuk apa saja ke depan, lebih baik kita identifikasi dari pelaksanaannya yang maju yang mana? Apakah self governing community, yang jadi
Menggagas Desa Masa Depan

47

pertanyaanya masuk tidak kita ke masyarakat adat. Kita tidak mudah menentukan 3 itu, kita perlu merenung posisi dimana, sehingga bisa melihat/ambil yang mana? Semakin banyak aturan semakin tidak benar, biarkan mereka mengatur sendiri. Fasilitator Yang perlu kita bahas adalah mana yang perlu diatur dan mana yang tidak. Pak Hans tadi mengatakan, kalau negara tidak beres bukan berarti negara tidak dibutuhkan. Kalau kita setir sedikit dari Pak Sutoro dari 3 model, kalau local state government itu pernah dijalankan masa orde baru. Persoalannya desa itu akan dispesifikasikan dengan UU sendiri atau tidak, tetapi memastikan ada pengakuan negara atas desa. Perlu diidentifikasi otonominya seperti apa? Kelembagaanya seperti apa, lalu solusinya seperti apa? Yusuf Bagaimana self goverment community itu bisa menghadapai tantangan pluralitas? Fasilitator Pertanyaan ini penting ketika Pak Syamsudin Haris mengatakan ada tuntutan untuk tidak menyeragamkan. Lubis Bicara otonomi dan kewenangan desa ada 2 hal: 1. Kewenangan yang diberikan kepada desa, belum benar-benar kepada desa, sehingga kita tidak optimal dalam pemberdayaan desa. Sudah saatnya memberikan kewenangan perijinan kepada masyarakat bukan hanya KTP saja tetapi juga seperti pemungut retribusi, penanganan retribusi sampah, warungwarung kecil, sehingga desa dapat diberdayakan, mendapat income untuk memberdayakan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan desa. 2. Jangan sampai kewenangan yang diberikan itu tidak ada kontrol, karena akan menghambat investasi di daerah, jangan sampai kebablasan memungut retribusi yang tidak mendukung investasi. Suharman Berhubungan dengan fiskal, otonomi dan kewenangan untuk mengelola sumbersumbernya perlu dipahami: 1. Otonomi dan kewenangan itu bukan di ruang hampa, tarik menarik dengan pasar. Banyak bondo desa berubah menjadi ruko, bondo desa yang telah menjadi uang mudah sekali menjadi elitis sifatnya, misalnya untuk membiayai pamong desa. Di Kampung Naga masyarakat menolak menjadi obyek wisata tetapi tidak memperoleh hasil serupiahpun dari kegiatan wisata itu. 2. Tidak sterilnya faktor politik di bawah. Contohnya, Bupati menganggarkan dana APBD dan disalurkan ke desa pendukungnya. Pasar dan politik menjadi eksternal environment yang harus diperhatikan dari otonomi dan kewenangan desa. Kita tidak perlu pesimis, dengan regulasi kita bisa menata/mengukur eksternal environment. 3. Persoalan kontrol dan elitis, otonomi dan kewenangan desa, kontrol itu bagaimana mekanismenya? Format itu perlu dikedepankan. Kamardi Kita sudah membahas konsep ideal tentang desa, paling tidak ada 3 hal untuk didesakkan yaitu : 1. Akses pengelolaan sumber daya masyarakat adat di desa, di UU 22/99 dan UU 32/2004 SDA yang dikelola kabupaten tidak boleh dikelola desa sebaliknya yang dikelola desa tidak boleh dikelola kabupaten, faktanya tidak demikian. Pergeseran seperti itu juga APBDes, perda perlu mengakui adat di desa. Hambatan lain itu di daerah, pusat dan daerah tidak sinkron, mereka saling lempar tanggung jawab.
Menggagas Desa Masa Depan

48

2. Hak konservasi, termasuk tata nilai, adat itu sepotong dipahami di desa. Normanorma itu kalau bisa diadopsi di desa untuk membuat sistem hukum adapt, dan perda perlu mengakui itu. Saya mendukung perlu adanya pendetailan UU ke dalam perda. 3. Kewenangan ini ketika di desa, harus dipertegas pemerintahan itu lebih ke administrasi, tetapi pengaturan tata nilai, sistem, roh kehidupan di desa jangan diintervensi, jangan dicampur aduk. 4. Untuk PP 72/2005 pasal 68, desa paling sedikit mendapat 10% dari retribusi, ayat C desa mendapat 10% dari DAU, ini yang disebut ADD. Ketika ADD turun maka yang bagian dari retribusi tidak diberikan. Franky Bicara kewenangan, akses SDA, saya merasa tidak bijaksana kalau tidak kita undang departemen lain, misalnya kehutanan, perkebunan, tambang dll, karena regulasi itu banyak benturan. Ibnu Kita tidak diskusi membagi kewenangan per sektoral, yang perlu kita rumuskan bagaimana memberi/membagi kewenangan. Kita tidak mungkin per sektoral, itu pun per daerah berbeda-beda. Konstitusi sudah memberikan kewenangan, pasal 18 ayat 5 amandmen UUD, sayangnya konstitusi tidak mengatur desa. Dari rumusan, pusat itu ada 5, namun ada urusan wajib daerah yang menyangkut kesejahteraan rakyat, misalnya ketenagakerjaan, pendidikan dll. Kalau di luar itu maka bisa dilakukan daerah maupun kabupaten. Dari UU 22/99 keluar PP 25 yang membagi per sektor, yang tidak diatur di PP 25 maka kewenangan kabupaten. Problemnya bagaimana mengatur kewenangan desa yang tidak ada di konstitusi. Kewenangan desa itu ada yang asli, dan ada yang dari kabupaten, yang dianut ini tidak konsisten dengan UUD. Kalau desa kewenangannya diatur kabupaten, sedangkan kewenangan kabupaten sepanjang tidak diatur pusat. Sekarang kita mau pakai, apakah kabupaten mengatur seperti pusat mengatur kabupaten atau kabupaten minta kepada desa, formula apa yang akan kita pakai? apakah model konstitusi atau desa melist dulu, ini tidak bisa diseragamkkan, ini hanya bisa buat kriteria. Problemnya ada sektor pendidikan, kesehatan, ini bisa dirinci. Yang dimaksud kewenangan itu adalah menjalankan sebagian kewenangan pemerintahan. Pembagian selama ini tidak pernah dilakukan dengan baik, semuanya remang-remang. Formula apa yang akan kita pakai untuk kita berikan desa? Kalau menurut konstitusi maka daerah membuat perda tentang kewenangan. Sebenarnya kewenangan itu tergantung model otonomi seperti apa yang kita anut. Toto Barangkali sudah kita kenal namanya desa itu tumbuh dari adat istiadat, asal usul, prinsip ini yang harus kita pegang, kemudian timbul dan tumbuh dari bawah, idealnya menggali dari bawah. Contohnya, kita mengenal tanah adat dan tanah sertifikat, yang punya kewenangan tanah adat adalah desa, jadi menggalinya dari bawah, kita tinggal membuat rambu untuk dilaksanakan kabupaten. Otonomi yang kita gali, kewenangannya sejauh mana desa itu mampu melaksanakan sendiri? Fasilitator Yang belum clear itu kewenangannya seperti apa? Itu tadi proses otonomi dan kewenangannya. Azam Pendapat itu sangat dipengaruhi lingkungan. Saya dari lingkungan birokrat, berkaitan masalah kewenangan, tanah bengkok desa yang berubah menjadi ruko. Itu menjadi kewenangan desa, desa boleh menjual dan mengalihkan. Kalau sampai bendo desa
Menggagas Desa Masa Depan

49

kalau kita pilih self governing community. bagaimana kalau desa? Lalu kita akan training untuk IMB. peradilan desa itu sudah ada preseden. Fasilitator Normatif regulasi sudah ada. kalau spirit tidak homogen maka kewenangan yang kita address kita ke sana seperti apa? Ide pak Ibnu menarik. Dari RUU harus jelas pemerintahannya. infrastruktur. desa dan pilkada. Desa di Kebumen tidak punya tanah bengkok dan di Banyumas ada dan luas sehingga penghasilannya sangat banyak dan bisa mengatur pembangunan di desa. sehingga hanya berhenti di tingkat kabupaten. Oleh karena itu ada formula dan tahapan yang harus dilaksanakan. ini perlu didorong dan didefinisikan. tapi belum dilaksanakan. Mnurut saya. Vitri Indonesia terlalu banyak aturan. kita berangkat dari mana? Konstitusi tidak jelas mengatur tentang desa. Kita pernah menantang IMB. karena akan ada tarik menarik dengan kabupaten dan provinsi. Sofyan Mekanisme kewenangan. syaratnya dirubah. Ibnu Yang perlu kita diskusikan itu mekanisme. masyarakat dikebiri oleh pejabat. penyelesaian konflik itu menjadi kewenangan di desa. pertanggungjawaban. karena otonomi itu mengatur dan mengurus.diambil oleh pemerintah tanpa ganti rugi maka itu sudah kebodohan desa. saya mengusulkan pertanggungjawaban kades. legislatif. kades dipilih masyarakat tetapi tanggung jawab kepada bupati melalui camat. Matt Stephen Otoritas desa untuk menyelesaikan masalah. yudikatif tidak jelas. yang perlu diatur adalah kewenangan dari pemerintah. saya setuju desa punya kewenangan. aturan dibuat untuk dilanggar. walaupun itu bertentangan dengan hokum. Sudah ada perda tentang bondo desa. Dari struktur pemerintahnya juga sangat kurang. Pertanyaannya adalah mempertimbangkan konteks daerah.sebaiknya tetap masuk ke pemerintahan daerah. Kewenangan itu sangat sulit dilaksanakan. anggaran desa itu seperti darimana saja. namun perlu dipisah peradilan desa dan komunitas. pihak yang memakai bondo desa harus mengganti minimal sesuai dengan harganya. lalu dia menjustifikasi bahwa di wilayahnya ada hutan Menggagas Desa Masa Depan 50 . di peraturan itu belum ada. kemampuan perangkat. Peradilan komunitas itu bisa di dalamnya peradilan adat. karena yang dihadapi adalah SDM. Maka perlu ada penilian terhadap kabupaten. dukungan masyarakat. tidak perlu detail. masyarakat tidak dihargai. kepala desa ini harusnya standar minimal SMA. Ciri otonomi. Benturan terjadi antara kabupaten dengan desa. pertama harus memilih dulu model pemerintahan. hanya itu harus diberikan kriteria secara bertahap. Untuk kasus yang kecil-kecil. maka kita bisa melihat wewenang desa akan seperti apa. Desa bisa menyelesaikan peradilan desa yang informal. Kita sudah membuat perda kewenangan desa. bagaimana interaksi dengan peradilan formal dan sebagai pengakuan kepada masyarakat untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Apakah model konstitusi atau desa yang menentukan. Komentar Pak Ibnu. kewenangan yang asli tidak perlu kita atur. jadi penting bicara kewenangan adalah kemampuan desa membuat peraturan tetapi desa juga punya otoritas untuk membuat keputusan. Untuk bisa meletakkan wewenang desa. UU 32/2004 akan dibagi 3 yaitu pemerintahan daerah. misalnya di Minangkabau sudah ada surat edaran untuk peradilan tinggi untuk peradilan negeri di Minangkabau agar mengacu ke peradilan desa. namun ada problem-problem empiris. wewenang dan anggaran. Franky Saya setuju. dia bisa membuat peraturan. kalau mereka tidak mampu maka jangan diberikan kewenangan. administrasi. unsur pemerintahan eksekutif.

Hans Antlov-LGSP. Marhaban-PMD Depdagri. UU dalam ranah desa. hubungan sektoral berbenturan. Fasilitator Tadi muncul satu pendapat bahwa ini pengalaman praktis. Widyohari–STPMD ”APMD”. Terkait kewenangan harus dikembalikan ke konstitusi. ibu-ibu. pengaturannya bukan sektoral lagi. dan itu menjadi pertarungan yang riel. akhirnya dicabut kewenangannya. Wai. kalau perlu ada departemen khusus agraria. Susmanto–Letmindo/GTZ Aceh/ LGSP. namun departemen kehutanan bilang itu haknya departemen. Agus R. sehingga terjadi benturan kelembagaan. IKPM bilang jelas bahwa itu kewenangannya Papua. • Bahwa kesenjangan demokrasi pada aras desa berpengaruh pada kebijakan desa. Haryo Habirono – FPPD : Ade–PPK. mana yang baik dan tidak baik. Abu–Persepsi. Mengkaitkan apa yang disampaikan di depan. tanahnya. Joana–World Bank. 2. resolusinya apakah membentuk UU baru atau bagaimana? Kewenangan ini harus dipastikan. Widya-FPPM. ada beberapa yang hal perlu dicermati dalam diskusi kelompok kita sebagai berikut: • Transformasi UU 32/2004 berpengaruh pada sisi demokrasi desa. Bapak kita mencoba mengelaborasi UU 16/69 tentang desa praja sampai dengan UU 32/2004. Dahlia–TTS SoE. Ade Regulasi perlu ada keharusan pelaksanaan UU PA. Irwan–Letmindo/GTZ Aceh. walaupun intinya ada pengembangan kapasitas itu menjadi perhatian khusus. Kasmuin Saya sepakat seperti tidak perlu ada penyeragaman.Lakpesdam. Kelompok: DEMOKRASI DESA Fasilitator Peserta : 1. SDA yang sudah diatur dalam UU sektoral. • Demokrasi. termasuk kultur. Aturan sering bertubrukan. sisi yang lain normatifnya saja sangat sulit. Datuk–Asosiasi Nagari. kalau itu sudah dikaji maka kita butuh sistematika perundang-undangannya seperti apa? Setelah itu kita sebarkan ke seluruh daerah untuk mensikapi mana yang baik mana yang tidak. Rahma–LIPI. Yuni–Asppuk. Fasilitator Persoalan kewenangan tidak cukup tetapi juga kapasitas. apakah mungkin menjadi suatu pilihan yang cocok (bottom up)/ internalisasi nilai. UU 32/2004. Wafi–BPD. hubungan antar sektor. akan terjadi pertarungan dengan negara. Fasilitator Bapak-bapak. Kalau bicara kewenangan yang sudah ada sejak awal itupun harus diikuti pengembangan kapasitas dan pembinaan paradigma. Riawan Tjandra – Atmajaya Yogyakarta 2. itu tidak akan selesai kalau tidak duduk dalam satu meja. pembinaan dan pengawasan itu dalam konteks pelaksanaan otonomi daerah dan tanggung jawab pelaksanaan. Adnan–LP3ES. • Implementasi Pancasila. Menggagas Desa Masa Depan 51 . Kasus riel pertentangan RUU PA Aceh dengan Otsus Papua. Syamsul Hadi–Bina Swagiri.adatnya.

Sebagai pelaku perwakilan di desa saya sendiri sedang bersemangat dengan proses demokrasi di desa. Menggagas Desa Masa Depan 52 . permasalahan diantara mereka. Ade Sulit menjawab demokrasi dengan model yang mana. Bila masyarakat terlibat dalam proses perencanan. Tetapi dengan demokrasi perwakilan yang ada sebelumya. Tidak setuju BPD akan mempreteli kekuatan desa seperti kata Syamsudin Haris tadi. kaitannya dengan psikologi demokrasi. musrenbang tidak ada artinya. mengontrol pembangunan di desa. dipilih langsung. Dengan aturan saat ini belum berati demokrasi sudah berjalan di desa. implementasi maka masyarakat merasa bertanggung jawab terhadap hasil pembangunan. Masih ada kecenderungan elit desa yang menentukan. adanya fakta kasuskasus harus dibenarkan. Sehingga musrenbang desa mentok di Kabupaten. Fungsi lembaga-lembaga yang mampu mengusung demokrasi? 3. Saya lebih tertarik pada bagaimana demokrasi ada di desa. Menjadi penting adanya demokrasi di desa/kelurahan adalah dipilih langsung. Kendala-kendala yang perlu diperhatikan! Pada akhir pertemuan akan disepakati wakil yang akan menyampaikan presentasi. jadi tidak perlu ada batasan quorum. • Persoalan quorum menjadi masalah. tapi cenderung melihat apa yang dibutuhkan desa. Dari beberapa hal tersebut. Ada BPD yang belum berperan dalam fungsinya – check and balances. artinya harus dengan target sekian orang. Dengan keluarnya UU 32/2004 terbelalak. Eksperimentasi demokrasi desa dihindari karena tidak match dengan demokrasi. sehingga seorang kandidat kepala desa tidak perlu manggung di desa. Demokrasi apa yang paling cocok di Indonesia? 2. dengan adanya pemilihan Presiden/Bupati dibiayai oleh APBN/APBD. melainkan kontrol. maka pemilihan kades juga dibiayai. sehingga tidak ada raja-raja kecil di desa. Wafi • Kaitan dalam hal ini. tetapi juga dalam menyalurkan aspirasi masyarakat/cari input. polanya masih top down.• • • Kaitan demokrasi dengan skala kebutuhan masyarakat. • Keuangan. euforia politik. Pada dasarnya masalah desa/masyarakat desa adalah mereka tidak terlibat dalam proses perencanan. tidak hanya dalam pengambilan keputusan. dengan harapan yang lain akan melengkapi. Belum ada kepastian mewakili kepentingan masyarakat. fungsinya diberangus dengan dalih-dalih. saya lebih optimis. Basis kewenangan desa adalah desentraslisasi sedangkan otonomi desa dari masyarakat. Jadi perlu ada ketegasan masyarakat dalam proses pembangunan. Saya lebih cenderung kembali ke UU 22/99. dipilih dan menjadi badan penyeimbang. • Demokrasi yang cocok yang bagaimana? Demokrasi tidak perlu dicocok-cocokan. BPD menjadi Badan Perwakilan Desa. masyarakat belum. melihat nilai demokrasi yang ada di di desa dengan model perwakilan yang dipilih langsung. Tetapi selain itu ternyata lembaga itu sendiri tidak cukup untuk melahirkan nilai-nilai demokrasi di desa. implementasi dan pengawasan. Bagaimana bisa melibatkan masyarakat lebih luas. Berangkat dari program pengembangan seperti yang dilakukan dalam PPK. maka merujuk pada 3 aspek: 1. Melihat fakta kelemahankelemahan BPD ya. • Perlu juga dipikirkan pendidikan politik di desa. Joana Pada prinsipnya setuju BPD – perwakilan yang mewakili prinsip-prinsip demokrasi.

Pemdes di daerah belum betul-betul mau kewenangan diserahkan ke desa. Marhaban Demokrasi yang bagaimana? Bagi saya pribadi dilihat dari literatur ada dua macam demokrasi. Apa yang disampaikan Joana perlu. provinsi. tetapi terkadang ada pesanpesan dari daerah. tapi kita tawarkan kepada yang lain. saya yang termasuk mendambakan demokrasi terutama di desa. di nagari disebut BPN (Badan Perwakilan Nagari). silahkan. Representative demokrasi bukan ada di kita. pemuda. Australia. demokrasi yang diserahkan pada tingkat ‘state’. ninik mamak. politik (Pembuatan Perdes). itu ada pada Kabupaten/Kota ke atas. seperti freedman. ninik mamak. Sinyalir kolusi di BPD ada kemungkinan. Itu bagaimana? Teringat pertemuan forum warga di Surabaya. kalau masyarakatnya kumpul tetapi ada raja. Menurut saya. Bagaimana desa yang mempunyai dana untuk dapat membeli hasil-hasil panen? Kebutuhan basis desa jangan dikesampingkan. Tana Toraja. ada tiga area demokrasi: bidang pembangunan (perencanaan). di nagari pemilihannya dengan cara perwakilan kelompok. kemudian ada buku Freedman ”alternative development” dengan konsep political democracy-inclusive democracy adalah demokrasi yang kita bahas. Di desa yang diperlukan adalah self community governing + inclusive demokrasi. Keikutsertaaan masyarakat dalam pemeliharaan pembangunan di desa saat ini agak lemah. negara. Secara umum. Fasilitator Kita menawarkan beberapa pemikiran. Hebatnya demokrasi. bagi yang kalah masih diberikan kesempatan untuk memberi kritik.Datu Apa yang disinyalir saat ini sangat setuju. istrinya carik ya. yang ’mbok bakulan’ (not: ibu-ibu yang berjualan) tidak ada. menampung. yaitu demokrasi modern – representatif dengan 2 prinsip dasar: prinsip representative government. Kalau di desa Sumba Timur. Kanada. kelompok perempuan. alim ulama. is there any democracy? Dewan morokaki di Banten dipilih dari ketokohan. berbeda dengan desa-desa di Jawa dan di luar Jawa. Syamsul Hadi Keterwakilan BPD dalam UU 32/2004 belum baik juga. maka masyarakat akan diam. alim ulama. Saya pahami bahwa peran warga desa. tidak hanya di Jawa tetapi juga di luar Jawa. serta masyarakat tidak ada inisiatif mengontrol pembangunan di desa/nagari. Keberagaman dalam UU 32/2004 dan PP 72/2005 masih umum. yaitu penyelengaranggan negara diserahkan kepada elit dan limited government – terbatas. Kalau secara antropogis barangkali desa lebih tua dibanding dengan kabupaten/kota. masyarakat harus dilibatkan dalam pembangunan. BPD dan lembaga lain di desa. Nah. Masyarakat desa saat ini belum diberdayakan. sosial (kontrol jalannya pemerintahan di desa). yang punya uang yang menang. ada keberhasilan dalam keterlibatan masyarakat menentukan keputusan. Susmanto Menyinggung tentang BPD berkontradiksi dengan pemerintah desa. Pemikiran dan wacana tadi sangat menambah perspektif bagi kita. tapi perlu tupoksi yang jelas. bagaimanapun proses pemilihannya tidak terlalu persoalkan. sehingga semua bisa dicek dengan jelas. sehingga kades. Kalau dipilih langsung bagaimana keterwakilan unsurunsur masyarakat. Amerika. Menggagas Desa Masa Depan 53 . Demokrasi seperti apa yang disepakati? Misalnya pemilihan langsung. disini adalah self community governing + inclusive demokrasi. saat ini diserahkan kepada desa/swakelola. Proyek PPK di daerah. jadi tidak memaksakan keinginan kita. perencanaan pembangunan masih top down. akhirnya ada porsi presentase untuk perempuan. pemuda.

Dari prosedur itu tidak menjamin. Dalam proyek PPK. harus menjamin keberlangsungan lembaga-lembaga lokal di desa. tetapi sekarang tidak. Negara silahkan mengatur regulasai tentang desa. kalau tidak ada. Tidak ada sistem check and balances – itu sulit. Aspek persamaan itu perempuan dibelakangkan. Partisipasi menjadi titik demokrasi. Menyinggung yang disampaikan Pak Sus. empowerment yang ditumbuhkan dibunuh kembali. Karena teori apa saja di Indonesia tidak jalan. Fungsi negara menjamin bagaiman masyarakat teribat dalam proses pembangunan di desa. eksekutif. ada badan legislatif. jangan ada kabijakan jeruk makan jeruk. sehingga BPD tidak cukup mewakili sebagai institusi perwakilan di desa – kelompok-kelompok di desa. Masa yang lalu ada demokrasi di desa.Widyohari Saya sebetulnya sepakat dengan Pak Sus. perwakilan. dan lain-lain. Kalau kepala daerah memiliki wilayah. dulu ada forum di desa yang memenuhi ini. sesepuh. masing-masing desa berbeda. kemudian tidak lahir dari masyarakat. partisipasi di desa adalah milik elit desa. desa boleh memasukan unsur permusyawatan. sehingga tepat kita mencari demokrasi. Wa’i Ada kemunduran BPD menjadi bamus (badan musyawarah). Tetapi BPD pada banyak desa menjadi alat legitimasi aparat desa. Berapa persen orang yang menyampaikan ketidakpuasan mereka terhadap BPD? Menjadi pertentangan tersendiri di masyarakat bagaimana menyalurkan aspirasinya. wali nagari/kades memiliki masyarakat. juga pengalaman negara lain yang berhasil. Marhaban Saya beda dengan apa yang disampaikan Hans tadi. Eropa barat menyerahkan otonomi se-grass root mungkin. BPD sebagai institusi menjadi cek and balances bagi pemerintah desa. ada rapat/rembug desa. kalau cair sama sekali juga memiliki kelemahan. ada mekanisme kontrol internal di desa. Sangat mahal bagi negara untuk representatif demokrasi. Kerena itu. Saya mengkritik teman-teman di PMD. Apapun bentuknya tidak masalah. Yang penting 3 (tiga) itu. Barat tahu persis otonomi daerah itu. masih sebagian bergantung pada pemerintah. Kedepan perlu ditempatkan suatu forum di desa. ini parah. tetapi juga harus memberikan ruang bagi lokal. mayarakat dilibatkan dalam proses perencanaan hingga pengawasan. wali nagari tidak perlu untuk menjadi pengurus parpol. petani. meskipun bukan satusatunya problem di desa. semangat demokrasi di desa menurut saya sangat berbeda dengan masyarakat di tingkat atas. Juga dalam penguatan masyarakat di desa. tapi masih ada celah-celah. tidak memadainya apa yang ada di BPD. Kades. Demokrasi desa dibangun ala kelokalan setempat. Kendala yang perlu diperhatikan. tetapi juga tidak sepenuhnya mewakili masyarakat. Ini perlu dikembangan untuk melakukan check and balances di desa. Datu Kalau saya diminta untuk mewakili partai di desa tidak setuju. Sulitnya minta ampun untuk melibatkan masyarakat dalam partisipasi di desa. Abu Apapun demokrasi yang diusung adalah demokrasi yang menjamim kemandirian di desa. menjadi grup politik masyarakat. karena itu murni dari adat. Perlu dimasukan unsur-unsur/aspek penyetaraan dan lain-lain. siapa saja: buruh. itu harus dilembagakan. yaitu partisipasi merupakan kendala yang terbesar di desa. PPK bagus. maka elit-elit diluar Jawa akan tersisih. meskipun BPD mewakili masyrakat di desa. Oleh karena itu BPD ada tetapi harus ada mekanisme lain yang sifatnya Menggagas Desa Masa Depan 54 . Problemnya. romantisme bahwa demokrasi desa diserahkan saja kepada desa. saya setuju dengan Pak Sus.

pemikirannya terbatas. Banyak pendapat tentang partisipasi. Pancasila dan UUD 1945.. sehingga seharusnya ada kursi kosong di DPRD. Contoh. Setahu saya Eropa dan Amerika hanya ada di kabupaten/kota. Yuni Saya mau ikuti yang sudah ada. India. • Kades di TTS seperti alat politik. Menggagas Desa Masa Depan 55 . • Usul: perlu ada pelatihan bagi LPM untuk perencanaan pembangunan. • BPD dan Kades itu alat negara? Widyohari Lembaga independent silahkan masyarakat bentuk sendiri. jadi kendalanya struktural dan kultural. Kita terjebak dengan panyakit partisipasi. contohnya sesudah pemilihan dan terpilih. Filipina. lebih mementingkan proyek. Membandingkan dengan yang di atas. Perlu mengacu pada prinsip-prinsip pokok dalam membangun sistem demokrasi di desa seperti human right.. permusyawaratan – perwakilan. LPM sebagai lembaga induk yang membawahi lembaga-lembaga di masyarakat. bagi saya yang penting unsur keterwakilannya dari aspek kewilayahan. Apa masyarakat tahu bagaimana membaca APBDes? Ketika dalam perumusan perencanan mereka tidak semua terlibat. seolah bentuk lebih bagus daripada isinya. kelompok dan lainlain. Saya hanya mengkritisi itu. Amerika.insidential. bagi saya tidak masalah. lembaga dari luar yang ada di tempat kami. demokrasipun kalah. ini dan itu. itu diseimbangkan. dananya. pengangguran.. • Pemimpin formal di masyarakat pasti diikuti masyarakatnya. Jadi masyarakat perlu kita latih. Fasilitator Karena waktu tinggal 15 menit masih ada 7 orang yang belum bicara. Adnan Seringkali kita memperjuangkan bentuk daripada isi. Kalau di pemerintahan. silahkan. Negara tetangga lain. Bagaimana kearifan lokal bisa timbul kembali? Dahlia • Bagi saya perlu ada lembaga demokrasi di desa. mengapa Indonesia tidak bisa? Olahraga kalah. ada potensi. • Partisipasi dalam berbagai bentuk. pikirannya. Selama ini banyak dikatakan kita sudah. mereka bisa. Widya Bagi saya demokrasi seperti apa? Kembali pada kearifan lokal. diwadahi dalam forum. keterwakilan partisipasi. kehadirian fisik. dan lain-lain sebagaimana yang tercantum dalam covenantcovenant Internasional. Hans Saya tidak setuju demokrasi terlalu mahal. tidak masyarakat. modul disiapkan seperti dulu sebelum ada otonomi. kepentingan. parpolpun tidak mewakili masyarakat. ada kebutuhan. sehingga dia akan kuat. persoalan budaya. tenaga. tapi negara Asia. tapi tidak bisa dilantik karena kepentingan poltik di tingkat atas. Kalau BPD. adanya penokohan. orangnya terbatas. Itu bukan Eropa. Dana disiapkan. Kalau dalam parpol terwakili 60%-70% maka ada 30% yang tidak memilih. jangan-jangan partisipasinya terpimpin atau terbina. • Musrenbang sebenarnya ada masalah. pengkulturan masyarakat. Apapapun bentuk demokrasinya kalau tidak ada suara perempuan maka tidak demokratis. kita fasilitasi.

kita semua membicarakan hal yang sama. Bagaimana ditingkat kabupaten/kota. sabtu. BPD sebagai tool untuk check and balances 2. BPN tidak berfungsi.hhahaahhaaa... Bagaimana menanamkan demokrasi di masyarakat. kita sepakati siapa yang mewakili untuk menyampaikan diskusi kita? Marhaban Sedikit saja.Agus • Demokrasi kebutuhan di desa. kalau bukan kebutuhan. Musrenbang hanya dilaksanakan satu hari. Benang Merah Pemikiran: Demokrasi yang cocok bagi desa: Inclusive demokrasi perlu menjadi pertimbangan utama dalam rangka membentuk self community governance masyarakat terlibat secara luas dalam proses pengambilan keputusan 1.. hanya kata-katanya yang berbeda. diawali di rumah tangga? Apa itu sudah kita lakukan? • Kasus di Palembayan. jadi hanya hari sabtu saja. bagaimana kalau kita mengundang petani untuk mengikuti musrenbang. Keterwakilan lembaga kemasyarakatan lainnya Fungsi lembaga-lembaga: • Lembaga di desa terdiri dari lembaga formal dan non formal • Fungsi lembaga desa bervariasi: sebagai fungsi legislasi. Fasilitator Sulit menggabungkan semua wacana. mandul. siapa yang bisa disepakati untuk mewakili? Jadi Pak Datuk dan Ibu Ade untuk mewakili. sikap elitis. Fasilitator Biar saja semuanya pemikiran masuk. contohnya beberapa anggota BPN tinggal di Bukittinggi. • Peguatan kelembagaan banyak kendala. karena oranya tidak demokratis. ada yang mengusulkan ada kursi kosong-golput. Harus mengacu pada analisis kebutuhan desa 3.. sedangkan kalau mereka ke sawah mendapatkan sepuluhribu. senin-jum’at tidak demokratis. cuma hari sabtu saja yang demokratis. Demokrasi hanya satu hari. pandangan pragmatis) • Focus pada pembentukan lembaga bukan membangun esensi check and balances • Kemampuan ekonomi masyarakat • Trauma pengalaman berdemokrasi yang “mboten up” tidak memihak kepada kebutuhan masyarakat contoh masyarakat Menggagas Desa Masa Depan 56 . kalau tidak demokrasi maka akan menjadi otoriter. banyak kendala menciptakan masyarakat demokratis. kontrol dan pelaksana • Bentuk diserahkan pada kearifan dan keunikan local dengan acuan dari pusat • Lembaga itu harus mampu mewakili semua aspirasi masyarakat • BPD dan lembaga kemasyarakatan yang ada harus ditopang dengan capacity building yang memadai Kendala-kendala: • Keterbatasan partisipasi masyarakat antara lain karena sistem yang belum mendukung (structural) • Kendala cultural (misalnya budaya patrialistik. injecting participating in local.. elit-elit menyelewengkan demokrasi.

3. Ninuk Kita di DPRD Deli Serdang sedang membuat Raperda yang saat ini sudah menjadi perda tentang ADD. yaitu digunakan untuk pembangunan fisik. pendapatan desa rendah. Arie Sujito : Ninuk-BPD Deli Serdang. Perencanaan di tingkat desa perlu dikelola melalui SDM di tingkat desa. dengan skala prioritas. karena selama ini yang menjadi bendahara desa adalah kaur umum yang merangkap jabatan. Soekirman-Wakil Bupati Sergai. Fasilitator Itu fenomena di Deli Serdang. Tumpak-PMD. 2) orang desanya tidak tahu bahwa ada UU 32/2004. dalam kaitan ADD. sehingga ada kejelasan potensi. bagaimana menghubungkan ADD dengan pelayanan publik? ADD selalu memakan belanja rutin kabupaten. Datu-As Wali Nagari. dengan adanya ADD masyarakat punya kemampuan untuk mengelola ADD. merujuk PP 72/2005.Hari/Tanggal : Senin. terkait juga dengan aspirasi masyarakat ketika perda atau perdes itu disusun. seharusnya sesuai ADD 43 Milyar harus diserahkan kepada desa. 4. ada 4 permasalahan yang kita perhatikan. sehingga ini terkait dengan kewenangan desa. 3 Juli 2006 Pukul : 11. terkait dengan UU 32/2004 ada beberapa hal yang perlu kita sikapi bersama seperti ada beberapa UU yang baru itu menarik ke pusat dan posisi daripada BPD perlu memperoleh perhatian kita bersama. 5. Ini sebenarnya ada keberatan tersendiri dari Pemkab. yaitu: 1. sehingga dapat memberikan semacam apresiasi terhadap masyarakat dan karakter masyarakat itu sendiri. Fasilitator ADD menjadi harapan di desa. 2. Di Deli Serdang baru dianggarkan 11. Alit Asmara-Majelis Madya Gianyar. mereka minta supaya ADD dapat dilaksanakan sendiri oleh orang desa. maksudnya bendahara desa. Kasmuin-CePAD. Betapa ADD yang menjadi masa depan desa masih terbatas. Perda-perda dan perdes. Legitimasi pemerintahan desa ini perlu proses yang demokrasi. kalau ada uangnya ADD mereka menanganinya. karakter dan budaya setempat bisa masuk. Menggagas Desa Masa Depan 57 . Bambang Hudayana 2. kemudian ADD untuk apa?. Joana-World Bank.00 3. Kamardi-Perekat Ombara. Syamsul-Bina Swagiri. Kesiapan kelembagaan nanti menyangkut SDM yang ada. Sukoco-Kades Wiladeg.00 – 13. persoalannya mengapa ADD tidak bisa cepat dilaksankan? Saya pikir banyak kabupaten tidak rela menyerahkan uang sekian banyak. Adri Warsena-FPPD. Sumber pendapatan desa harus jelas apa-apa saja. sosialisasi dari kedua UU dan PP tidak sampai kepada kepala desa. Sebelumnya kita melakukan pertemuan dengan beberapa desa. Alit Asmara Terkait informasi dari teman Deli Serdang tadi saya konsentrasi di desa.5 Milyar. mungkin kita harus menentukan kriteria kepala desa itu seperti apa. Mengapa kabupaten tidak responsif?. alasannya 1) SDM tidak mampu. Masukkan dari 4 desa yang kami lakukan. Dahlia-PMD TTS. ada PP 72/2005. Abu-Persepsi. Ade-KDP World Bank. Kelompok: ADD (ALOKASI DANA DESA) Fasilitator Peserta : 1. Kewenangan desa harus jelas.

Saya sepakat dengan kawan dari Bali bahwa harus ada ketegasan hak dan wewenang yang harus dimilki oleh desa. partisipasi dan lain sebaginya tapi di ayat b. Kamardi Soal ADD itu selain perda mengawali kebijakan karena konsekwensi PP 72/2005 sudah dijelaskan ADD itu. lha bagaimana mengelola itu? Bagaimana menyiapkan kelembagaan di desa itu? 1. ada yang tidak tapi tiba-tiba ada bimbingan teknis. yang mengatur kabupaten tapi hanya pedoman umum saja dan teknisnya diserahkan ke desa. Alasan dari Bupati adalah untuk langkah awal dan nanti kedepannya tidak akan diatur. Sepertinya itu masih terjadi. 3. kalau itu tidak disiapkan di desa. Yang menjadi orientasi ke depan. 1. DAU yang dipotong anggaran rutin. kalau diukur dari PP masih jauh. Fasilitator Jadi ADD itu bukan identik dengan pengembalian dana 10% yang berasal dari retribusi itu ya? Kamardi Ya bukan. Menggagas Desa Masa Depan 58 . Dari teman Deli Serdang tadi ada ketidakrelaan pemerintah kota untuk memberikan porsi kepada desa. sudah jelas bagian desa itu paling kecil 10% dari retribusi daerah dan ADD itu merupakan dana perimbanagn yang diberikan pusat kepada daerah. pembangunan dan lain-lain. karena di PP itu 2 hal yang dimandatkan. dengan presentase sekian % untuk BPD. termasuk juga dalam perencanaan dan juga kegiatan-kegiatan yang menyangkut desa. penduduk desa paling tidak mendapatkan bagian 10% dari retribusi daerah. mestinya 23 Milyar. dia memandang bahwa kapasitas dan potensi desa belum siap. sehingga kalau ada ketentuan dari pusat maka mereka tidak dapat menolak. maka akan memindah budaya korupsi di desa. Dana yang pertama itu 10 Milyar.kemungkinannya adalah. 2. walaupun itu sudah dimentahi temen-teman lurah pada waktu itu. kalau kami loyal maka dananya dapat turun. Efek ADD luar biasa. faktor politik (karena tidak milih). kalau tidak ya tidak. Adanya regulasi yang tegas dan pro desa. setelah ADD jalan desa sudah hotmix. ada yang pakai peraturan Bupati. Syamsul Kenapa kabupaten tidak iklas memberikan ADD. Sukoco Ilustrasi di Gunung Kidul. Jadi ADD itu benar-benar mutlak untuk desa. Perlu disiapkan resolusi managemen konflik di desa 2. memang nilai asli desa ada gotong royong. Catatan lebih jauh. Disamping ada keuntungannya ADD juga ada sisi buruknya. misalnya perda yang mengatur sekian % dari APBD harus dilakukan untuk ADD. itu perda yang mengatur bukan hanya peraturan Bupati. ADD ini dimanfaatkan untuk pencalonan Bupati bahwa nanti desa akan dialokasikan dana. Mungkin juga faktor politik. Maka ADD keluar dengan peraturan Bupati saja tapi aturannya sangat ketat sekali. sehingga ada ketergantungan dari peraturan Bupati. maka dengan kesiapan ini kita dapat menuju kewenangan dan hak desa sehingga tidak ada alasan untuk tidak memberikan porsi itu kepada desa. jadi berbeda sumbernya. faktor APBD kabupaten belum siap. Ini yang selama itu belum jelas. yang harus diperjelas dalam perda itu bahwa itu harus dipisahkan dengan PAD atau APBD itu sendiri. Desa tidak ada otorita mengatur sendiri.Dukungan dan partisipasi dari masyarakat seperti apa. bagaimana ADD itu mutlak kewenangan desa.

lalu APBDes dan itu masih dilakukan oleh LSM. setiap tahapan harus dipertanggungjawabkan lebih dulu. datang kontraktor di atas kertas swakelola. Fasilitator Penguatan bukan hanya pada aparat. karena orientasinya untuk diri mereka sendiri. Apakah kita perlu merumuskan dan mencari strategi untuk mendorong hambatan-hambatan mengapa ADD itu macet dilakukan daerah? misalnya kita mendorong class action apabila ADD tidak dilakukan sebagaimana mestinya. Contoh di Ngada. di Ngada tidak terlalu percaya pengawas dari pemerintah. Soekirman Sergai baru berjalan 2 tahun 6 bulan. Sejak berpisah dari Deli Serdang. sehingga mereka bisa bikin pasar. boleh memberi pedoman tapi tidak usah detail. Pembangunan sendiri belum. karena akan menentukan besar kecilnya ADD kedepan. tidak ada mark up. Kasmuin Ada semacam tindak lanjut saja. Duit dari PKPS BBM itu seharusnya swakelola. Di pemahaman tingkat kabupaten beda persepsi. DPRD dan lain-lain. Sebaiknya tidak ada pembatasan yang rigid. itu sudah mendarah daging. karena tujuan ADD untuk mempercepat pembangunan dan kesejahteraan masyarakat desa justru akan tertunda lebih jauh lagi karena banyaknya permasalahan yang muncul karena realisasi ADD dengan penguatan kapasitas itu. kriterianya sangat banyak. 10 % DAU maka harusnya 15 M. dan kabag hukum. Yang ditanyai Bandes. Betapa pentingnya kewenangan desa. 2. kabupaten hanya memberi rambu-rambu saja. Honor kades. tapi juga pada masyarakat karena mereka punya kapasitas dan lebih mandiri. rata-rata mereka mendapatkan sekitar 75 juta per desa. dananya harus memadai. Kalau ADD jalan dan proses perayuan dari pihak luar itu terus maka yang ada adalah pembunuhan terhadap inisiasi desa. kemudian kami cetak dan dibagi ke semua kepala desa. PP 72/2005 harus dikuatkan dengan perda. ADD tidak merata ke seluruh desa. PMD. 1.Fasilitator ADD itu hak desa. karena kecamatan memfasilitasinya dan yang paling mencolok adalah infrastruktur baik jalan desa maupun irigasi. Sejak dahulu semua orang menghendaki supaya daerahnya mendapatkan sebesar-besar. ada soal dengan kabupaten induk. mereka lebih percaya ke konsultan lokal. yang seharusnya kabupaten induk memberikan kepada Serdai. Baru 10 bulan bupati dan wakil bupati hasil pemilihan langsung. ADD seharusnya didahului RPJMDes. Proses pembuatan keputusan awal harus partisipatif. Saya ingin menyampaikan bahwa ada 3 kebutuhan yang berbeda anatara di level desa dan kabupaten. dan setiap desa memperoleh dana yang berbeda sesuai dengan kebutuhannya. di desa itu tidak ada Bandes. kalau rata maka 75 juta per desa. tetapi hanya rambu. tidak sama persepsi dan empati antara ketua Bappeda. bertahap. PP 72/2005 di kabupaten. Menggagas Desa Masa Depan 59 . karena adanya fasilitator pendamping sehingga lebih tepat sasaran. Mekanisme pencairan dana cukup baik. kabupaten jangan terlalu mengatur penggunaan ADD. saya sangat sepakat sekali antara realisasi ADD dengan penguatan kapasitas kelembagaan desa harus digarap bersama dan segera. hanya beberapa desa. jalan dll. yang jadi kebutuhan desa lagi itu adalah keputusan musbangdes. Bupati mengakali 50 juta per desa. Yang baik itu PPK. porsinya tidak ditentukan. Disini juga ada tim pengawas. Ada kecenderungan berbeda. Pembangunan oleh desa lebih efektif. dan baru menerima PP 72/2005. 3. Partisipasi masyarakat desa sangat turun. Ade Saya sependapat bahwa ADD diperlukan pengalaman selama ini. sehingga menguntungkan pihak luar.

Ada satu masalah ditingkat nasional dengan adanya intervensi PP 72/2005. Fasilitator Saya ada info dari Pak Girsang bahwa ketika mensosialisasikan ADD. perlu prinsip keadilan di tingkat wilayah. masih perlu dukungan masyarakat. 2. Yang perlu kita minta pertama adalah komitmen kabupaten. ADD itu harus diintegrasikan kedalam APBDes. Bagaimana kita melakukan penguatan. Pembangunan kemasyarakatan. tujuan sebenarnya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. dana pemberdayaan. Ekonomi kerakyatan.Fasilitator Jadi skenarionya. Perlu ada intervensi dari pusat supaya daerah tidak gamang melaksanakan ini. Menggagas Desa Masa Depan 60 . Abu Dari pengalaman kami di Klaten untuk mengawal ADD di tingkat kabupaten tidak cukup pemdes dan kades. DAKN. tapi belum ada pengalaman yang itu diinisiasi oleh masyarakat sendiri. semua anggaran dari luar harus masuk APBDes sehingga ada pertanggungjawaban dilevel desa. 3. Perlunya needs assesment di desa. Peningkatan SDM. 5. Joana ADD adalah hak desa yang diterima untuk mengurus kepentingan diri sendiri. Sekarang ini kita juga mendapat mandat untuk memonitor PPK berbasis masyarakat tetapi skenario bagaimana setelah itu kita tidak tahu. 2. bagaimana mengaturnya? Karena itu kita juga harus mengetahui bahwa itu adalah uang hasil dari hutang. Instrumen apa yang kita gunakan untuk mengatur ADD itu. Di desa itu banyak uang. Datu ADD itu kalau di Jawa tapi kalau di Sumatra Barat namanya DAUN. kalau tidak ya ada batas minimum. Untuk daerah miskin perlu jumlah minimum yang perlu disediakan desa dan kalau itu masih kurang mungkin dapat di ambilkan dari APBN. yang itu berasal dari kabupaten. Instrumen kebijakan. urusan ini mesti ada fungsi dan juga anggarannya. selanjutnya pengalokasiannya bagaimana? Mungkin ada contoh dari beberapa kawan. kabupaten hanya memberi acuan saja. sasarannya kepada aparat dan masyarakat desa? Swakelola itu saya sepakat. 10% dari APBD. sekarang ada juga ADD dari Provinsi. misalnya best bracticenya diungkap disini. perlu komitmen di tingkat nasional. Pedoman level pusat belum ada regulasi. apakah sesuai dengan perda atau yang lainnya. tapi kalau di Nagari ada dana bagi hasil yang besarnya 35%. 4. Pembangunan infrastruktur. Inilah yang kita pilih dan kita prioritaskan. Arah pembangunan ke 5 sasaran. sehingga dapat dijadikan bahan untuk pembuatan kebijakan bagi Depdagri. Elemen di desa perlu mendapatkan penguatan untuk bersama-sama mendorong elemen di desa melek APBD dan APBDes. tentang ADD mengenai minimum yang harus disediakan desa. yaitu : 1. Perlu komitmen yang lebih di tingkat nasional. sudah jelas di PP konsekwensi logisnya kalau ada urusan di desa. Sumber Daya Alam. Kalau melihat dari 10% itu tidak cukup. Dan kalau itu tidak berhasil maka kami akan melakukan penguatan terhadap masyarakat diluar kecamatan untuk melaksanakan pengawasan apapun proyek didesa. Jadi mestinya uang itu mengikuti fungsi-fungsi yang ada. Tumpak Menurut kami dengan adanya ADD kita perlu cermati 2 hal yaitu: 1. Instrumen akan sangat berharga.

tetapi ini sudah menjadi kebijakan yang sifatnya daerah. akan tetapi daerah masih setengah hati. Bagaimana memperkuat ADD di level daerah supaya prosesnya lebih cepat. jadi bukan SE Bupati tapi sudah menjadi perda. maka dibutuhkan untuk mempersiapkan sistem pengelolaan ADD. karena komitmen 10% kami hanya mendapatkan 7%. Sumber pendapatan desa belum jelas. Fungsi dari pemerintah kabupaten atau pusat untuk memberikan dead line yang bersifat umum. Itu dikarenakan adanya PP. Jito (Fasilitator 2) Kita sudah petakan dari sejumlah pengalaman praktis bapak ibu semuanya. Dari 10 juta menjadi 98-100 juta. forum tidak menghendaki tidak terlalu rigid. mekanisme pengucurannya seperti apa ? 2. SE Mendagri dan peraturan yang ada.Dahlia Saya sangat sepakat dengan apa yang disampaikan dan hanya akan menambahkan bahwa yang terjadi di kabupaten TTS ADD belum pernah ada. sehingga jumlahnya masih kecil. walaupun itu difasilitasi oleh negara. 7. masalah politik 5. b. Pentingnya terintegrasinya ADD dengan program lain yang masuk ke desa. Fasilitator Ada beberapa catatan penting yang dapat kita tarik dari diskusi ini. Oleh karena itu perlu didorong langkah-langkah oleh semua komponen di desa. Catatan juga dari kami bahwa : 1. Problem manipulasi atau KKN atas pengelolaan ADD. 4. 6. sebaiknya ini adalah bagian penting yang segera untuk diintervensi. Ada trend kepedulian yang semakin meningkat di level daerah tentang pentingnya ADD sebagai haknya untuk menjalankan pemerintahannya. sehingga dapat independen. Jadi perlu ada petunjuk teknis dari pusat yang hanya berisi pokok-pokoknya saja dan untuk detailnya menyesuaikan di daerah. 6. keterbatasan PAD. Indikatornya: a. sehingga dapat dipertanggungjawabkan. Ada semacam keyakinan ADD itu membawa perubahan di desa. bagaimana ADD itu diserahkan ke desa. sekarang sudah ditetapkan tetapi sampai sekarang belum ada apa-apa. Menggagas Desa Masa Depan 61 . Kabupaten enggan untuk ADD 2. 5. supaya desa itu merasa memiliki atas policy. kurang serius menjalankan kebijakan ADD yang benar-benar dapat menjawab masalah yang dihadapi oleh desa yang menjadi kebutuhan desa. nanti akan kita buatkan petanya dan buat kesimpulannya. Ada 3 kapasitas potensial desa yang belum siap. dalam bentuk block grant. Perlu ada intervensi positif agar proses tidak berhenti di tengah jalan. atau perlu dibuat peraturan-peraturan yang dapat lebih manjamin ADD bisa membuat perubahan-perubahan. Perlu juga dibentuk lembaga penguatan masyarakat yang partisipatif dan itu bentukkan dari masyarakat sendiri bukan dari pemerintah. bukan kami tidak percaya tapi sampai sekarang ini belum diapa-apakan. 3. Satu hal yang penting dan relevan dengan apa yang kita bincangkan antara pusat dan daerah belum connect. Karena kami sadar keterbatasn SDM yang ada di desa. 3. Jadi harus ada mekanisme kelembagaan. Masalah. 1. 4. Pemda berhenti membuat perda. Kewenangan kabupaten itu sampai detail apa tidak. untuk catatan ADD bukan lagi kebijakan populis Bupati. Akses informasi masyarakat untuk mengetahui PP masih sangat terbatas. maka desalah yang perlu mendetailkannya. Pemda belum berani memberikan komitmen 10% yang menjadi semacam tolak ukurnya.

4. Sebelum mengerucut. (3) BUMDes menjadi milik desa dapat melakukan aktivitas pinjaman sesuai dengan peraturan perundangundangan. Widya PujiFPPM. usaha kecil. Fasilitator Kita mengingat kembali apa yang telah dibahas. Agus R Rahman-LIPI. dan apa cerita suksesnya (apa faktor masalah dan faktor pendukung). Erni-FPPD. dan bagi pemerintah itu sendiri. pikiran dan pengalaman bapak/ibu tentang BUMDes. Toto Suharyana-BPMKS Sumedang. yang didalamnya termasuk aktivitas mikro finance. Tidak perlu ADD itu rigid meskipun kontrol sangat perlu dilakukan agar penggunaan ADD benar-benar sesuai dengan yang diharapkan. problematikanya. Apakah mikro finance nanti akan cenderung atau pengelolaannya diarahkan ke BUMDes? Menggagas Desa Masa Depan 62 . 9. aktivitasnya. Empat prinsip ini paling tidak yang menjadi patokan kita bagaimana memberikan gagasan pada pengembangan keuangan desa. Suharman-PSPK UGM. Perkenalan Untuk lebih mengakrabkan suasana. Yuni Pristiwati . kejelasan wewenang dan peran (pengelola dan kepala desa). Silahkan. Firsty Husbany-DRSP. Tadi pak Maryunani mengantarkan pada kita. Transparansi. Sumarjono – STPMD “APMD” : Adnan-LP3ES. apa keuangan desa. Yusuf-Sajogyo Sains. Kita bisa mulai dengan mengeksplorasi pengalaman saat ini. Edward Lubis-YIPD Jakarta. Sofyan-Akatiga. Pengalaman-pengalaman praktis. (2) BUMDes sebagaimana dimaksud ayat (1) berpedoman pada peraturan perundang-undangan (Bagaimana peraturan perundangundangan PP 72/2005. M. peserta memperkenalkan jati dirinya. yaitu prinsip transparansi. Stefan Jansen-GTZ Pro FI. tadi sudah disampaikan oleh pak Dony). profesional (harus dikelola dengan betul-betul). Dalam UU 32/2004 yang khusus bicara tentang keuangan desa yaitu pasal 213 tentang BUMDes menyebutkan: ayat (1) Desa dapat mendirikan BUMDes sesuai kebutuhan dan potensi desa. Diskusi ini diharapkan bisa mempertajam pasal-pasal yang sudah ada disitu.ASPPUK 2. bagaimana posisi dan bagaimana pengelolaannya? Ada prinsipprinsip yang harus dipenuhi dalam pengelolaan keuangan desa diantaranya adalah prinsip pemanfaatan karena dari manapun dan seperti apapun pengelolaan keuangan desa harus diorientasikan pemanfaatannya bagi masyarakat. Dony-DPRD Sumedang.7. Susmanto-FPPD/LGSP. Edward Kenapa BUMDes dan mikro finance? karena kita ketahui bahwa BUMDes adalah salah satu jenis pendapatan di desa. Barori-STPMD “APMD”. Kenapa dibatasi BUMDes? karena topiknya keuangan dan ekonomi desa. pembagunan. Sunarti-Kementrian Pemberdayaan Perempuan. kita eksplorasi pandangan. 8. Kenapa tidak yang ruang lingkupnya lebih luas misalnya pendapatan desa? kalau BUMDes ruang lingkupnya terlalu kecil. Untoro-PMD. Ada 4 penerima manfaat yang harus diperhatikan. baik untuk mikro finance maupun BUMDes. keberlajutan. Kelompok: MIKRO KREDIT DAN BUMDes Fasilitator Peserta : 1.

ini dimaksudkan supaya lebih focus. masyarakat sekarang ini justru senang. Kita tidak dikungkung dengan dua topic ini. produk skala umum. tunggakan kecil kalau itu menjadi indikatornya. saya sudah buat seperti ini tetapi rentenir (pelepas uang) masih banyak berkeliaran. Artinya. sistem kelembagaanya sehat. Tambahan modal itu bisa merupakan kredit. micro finance yang saya buka ini dalam rangka untuk menangkal rentenir-rentenir di pasar sekitar. bargaining posititionnya kuat. Turunan dari topik yang dibahas disana tadi adalah bahasan tentang micro finance dan ada mandat dari UU 32/2004 atau PP 72/2005 yang kemungkinan dibentuk BUMDes di tingkat desa. maka dibutuhkan lembaga keuangan yang kuat. Apakah pada skala individu yang memanfaatkan jasa micro finance juga meningkat kesejahteraan dan pendapatannya? Penelitian intensif tentang indivisuindividu sebagai nasabah utama belum dilakukan. kita bicara tentang keuangan desa lebih luas dan kita bicara pengelolaan keuangan desa pada dua level yaitu yang berkaitan dengan desentralisasi fiscal (ADD) dan didalam bagaimana kita mengelola keuangan desa. Lembaga keuangan yang ada selama ini seperti apa? Micro finance yang kita lihat selama ini sudah banyak di desa.Fasilitator Topik mikro kredit dan BUMDes. tetapi tidak apaapa kalau kita sepakat. Teknologi itu mahal. tetapi pembicaraan kita adalah keuangan desa dan salah satu topiknya BUMDes. dimana salah satunya melalui BUMDes dan mikro kredit. Karena dibutuhkan tambahan modal. Ketika bicara keuangan desa. Bicara tentang ekonomi desa salah satu indikatornya adalah ketika desa itu mampu membiayai kegiatankegiatan pemerintahan. Bahkan ada yang berpendapat bahwa paradigma pembangunan dibalik. Tentu saja forum ini nanti akan memberikan gagasan. Tantangan kedepan adalah produk desa. Kenapa? Karena ternyata uang yang dipakai disini untuk membayar cicilan disana. Micro finance menurut pandangan saya. pembangunan dan kemasyarakatannya. Kita kembali pada topik yang akan dibahas. Dalam konteks desa yang kita lihat selama ini. Bicara mengenai keuangan desa tentu saja ruang lingkupnya cukup luas. Persoalannya. mestinya produk yang kompetitif yang sarat dengan teknologi. Ketika desa membiayai sendiri. tetapi yang lebih penting adalah tantangan ke depan. “kuasai teknologi pasca panennya kemudian kita bicara proses usaha taninya”. juga merespon apa yang telah disampaikan narasumber. Oleh karena itu lembaga keuangan yang akan dibentuk tidak bisa berdiri sendiri sebagai lembaga keuangan. Komentar saya. dia tidak bisa membeli teknologi itu maka dia butuh tambahan modal. belum dalam konteks yang lebih positif. semakin banyak akses kepada uang semakin senang. Dimana mikro kredit ini salah satu aktivitasnya usahanya adalah BUMDes. tetapi topic besarnya kita bicara tentang keuangan desa. dari segi system micro finance itu sehat. kita tidak boleh lupa bahwa keuangan itu basisnya produksi. itu otonom. Jadi uang itu muter. Teman saya di Minomartani membuka koperasi simpan pinjam diantara warga perumahan di sekitar Jogja. dst. Menggagas Desa Masa Depan 63 . wawasan pengalaman tentang dua hal seperti itu. Jika disepakati. sehingga ketika bicara micro finance tidak boleh lepas dari bicara konteks ekonomi secara lebih luas. omsetnya sudah sampai 2 milyar lebih (dalam satu kecamatan di Minomartani). Salah satu dalam pasal itu. tetapi biar pembahasan tidak terlalu melebar. alternatifnya bagaimana keuangan bisa dikelola. Barori Pak Lubis juga benar. Kegiatan produksi bagian dari kegiatan ekonomi pedesaan yang selama ini ada. Dalam konteks itu micro finance bicara disitu. sedangkan masyarakat mempunyai keterbatasan dalam mengakses teknologi. Oleh karena itu lembaga perkreditan dibutuhkan di desa dalam rangka mendukung produk yang berkualitas dan syarat dengan teknologi. adalah sebuah supporting system dalam sebuah perekonomian. merdeka. Paling tidak dari arahan SC/panitia tidak diarahkan kesana. bagaimana menggali sumber-sumber pendapatan asli desa? Saya mengusulkan forum ini juga seperti itu. Dia punya idealisasi.

Pada saat panen PPL sembunyi. BUMDes dengan usaha simpan pinjam dan omsetnya sudah Menggagas Desa Masa Depan 64 . dia harus bersaing disana. Sehingga yang namanya perlindungan terhadap petani/masyarakat kecil/pelaku ekonomi kita kelihatannya setengah hati. jangan sampai seperti sekarang. pembiayaan sampai pemasaran. mudah-mudahan dalam waktu tidak terlalu lama bisa dikeluarkan sehingga pada saat daerah menyusun perda dapat digunakan. apakah peran bank BPD menjadi penting didalam manajement BUMDes atau mungkin Bawasda atau ouditor publik ? atau mungkin tidak perlu karena bank BPD dimasa depan di desa menjadi lebih kuat akuntabilitasnya. dan kita punya banyak anggota yang consent tentang itu. produksi dilepaskan. Fungsi lembaga keuangan mikro terutama melakukan intermediasi keuangan di desa. karena cukup luas kalau kita lihat tantangan di sector riel. Ketika petani bicara masalah teknis budidaya pertanian datangnya ke PPL. Tetapi kita harus hati-hati kalau kita menerimakan kepada sustainability. Ini awal untuk memancing diskusi lebih lanjut. karena proses mengatur BUMDes sudah cukup maju. jangan sampai dia melunasi hutangnya bukan karena berdasarkan nilai tambah yang dia peroleh dari aktivitas ekonominya tetapi dari menjual aset-aset produksi sekedar untuk melunasi hutangnya.petani/pelaku ekonomi di desa ada didalam berbagai macam “pembinaan”. Sebenarnya dalam PP tetang desa sudah lebih focus lagi. dan apa yang kita bicarakan disini kerangkanya tidak lepas dari apa yang tadi dibicarakan. Untoro Tanpa membatasi pembicaraan. baik bagi orang yang mau menabung. apakah namanya sustainable rural banking (dari kacamata teritoritik)? Kenapa sustainable rural banking ? karena hidup matinya (sustainable) bank. Ini yang disebut dengan pemberdayaan yang total. sekarang di banyak daerah terutama di Jatim (Trenggalek. bagaimana sebetulnya institutional rised membentuk kelembagaan ekonomi yang betul-betul komperhensif. tidak setengah-setengah. kita focus ke sektor keuangan di desa. dll). Micro finance dan BUMDes. Diskusi seperti ini sudah cukup lama. karena pendekatannya efisiensi. berdasarkan peraturan perundang-undangan. Kita bisa belajar. memang dua hal ini sangat erat. Sidoarjo. keuangan dari sisi pemerintahan desa. Ini beberapa point yang bisa menciptakan resiko untuk BUMDes. sampai tingkat pasar dilepas. Dalam peraturan perundangundangan yang dimaksud disitu adalah Peraturan Daerah Kabupaten/Kota tentang pedoman tata cara. beli bibitnya ke lembaga kredit (BRI). dan BRI hanya bisa mengejar untuk melunasi hutangnya. Artinya ini sebuah boot yang mengakomodasi pelaku-pelaku ekonomi dalam melaksanakan produksi. sudah ada Permendagri. kalau kita bicara keuangan desa memang sangat luas. lebih luas daripada kredit. tetapi ketika sudah panen diserahkan kepada pasar bebas. tahun 80-an ada buku besar dari PSPK tentang Perkreditan Rakyat (almr Mubyarto dan Gunawan Sumodiningrat) mempertemuankan antara pendekatan efisiensi dan pendekatan efektivitas. secara teknis harus untung (saved uang). apakah mnicro finance tergantung juga pada roda perekonomian yang ada. Kita dasarnya adalah pasal 213 UU 32/2004. Nanti kita bisa mendengar pendapat dari bapak-bapak. pembentukan dan pengelolaan badan usaha di desa. Keterkaitan BUMDes dangan mikro kredit. Kita harus memperhatikan yang seperti ini. karana BUMDes mempunyai potensi untuk menutup kesenjangan supplaydemand di tingkat desa. pokoknya uangannya kembali. tidak dalam sektor keuangan di desa. Kita perlu pengawasan eksternal. saat ini Dirjen PMD sedang mempersiapkan peraturan mendagri. Kami mereka-reka. Artinya kelembagaan ekonomi mikro/keuangan desa menjadi untungnya sendiri. memang dari sisi keuangan menjadi sustainable. Tawaran untuk diskusi awal. pasal 7881…. meminjam untuk tujuan investasi atau working capital apa saja. Kita memang berfokus pada BUMDes. Jasa ini penting. Dan untuk Perda itu dapat disusun. secara garis besar lembaga kuangan desa harus integrated. Ke depan. Stefan Saya usul.

Jadi tidak serta merta keuangan itu masuk ke BUMDes. Ada aturan BUMDes. jarang yang simpan. Pelaksanaan di kabupaten Sumedang. Ini usaha-usaha BUMDes baik yang sedang kami rintis. NOleh karena itu nanti setelah terbentuk di Perdes. UEP PKK. bagaimana aturan dengan praktek yang sudah ada. dari yang telah kami praktekkan kami mencoba mengumpulkan lembaga-lembaga keuangan yang ada di desa cecara partial. dimana pembentukan BUMDes kami ambil dari partial-partial yang terbaik. Oleh karena itu. BUMDes itu harus dengan Perdes tetapi tidak bisa berhubungan dengan lembaga perbankan karena harus ada akte notaris. dari APBDes ke BUMDes. Permasalahan. sementara Perda turun belakangan. seperti usaha simpan pinjam. sehingga ekonomi yang tumbuh di desa itu sudah ada. dan ada yang masih dalam perjalanan. (aktivitas sudah jalan tetapi payung hukumnya belum ada). Tetapi manakala disodorkan ke bank tidak akui. UEP PPK. tinggal di akta notariskan. Yang dapat dimasukkan oleh kami ke BUMDes adalah unit simpan pinjam. bahkan kalau sudah jalan. Bahkan dana perimbangan desa (ADD) ujinya di Sumedang. seperti ADD (di Sumedang disebut DADU: Dana Alokasi Desa Umum). tetapi ini belum dipayungi oleh BUMDes. manakala go public pihak perbankan belum merespon. lumbung desa. mau beli lagi tetapi karena uang kurang maka harus pinjam ke bank.000. Padahal Perdes itu aturan hukum desa. sama yang kami buat. ATK). Setelah terbentuknya BUMDes. Depdagri sedang konsen pada BUMDes.besar. Keuangan desa dikelola melalui APBDes. banyak pinjamnya. apalagi di pedesaan. tetapi ADD itu masuk dulu ke APBDes di desa. Kami menyikapi bahwa untuk keuangan desa tidak sama dengan BUMDes. Kami mencoba mengangkat dari partial-partial yang ada karena di desa paling tidak ada >5 lembaga-lembaga ekonomi desa yang bisa dipayungi BUMDes. Jadi kita mengadopsi. diangkat menjadi pengurus BUMDes. dan khusus untuk lembaga keuangan mikro bulan Oktober 2006 akan dikeluarkan Peraturan Presiden tentang kebijakan nasional mengenai keuangan mokro untuk melindungi lembaga keuangan mikro yang nyata-nyata bisa menghadapi pelepas uang dan jumlahnya banyak untuk bisa beroperasional tanpa dianggap illegal. ada yang sudah berjalan. tapi satu sama lain saling mengkait. Kenapa harus BUMDes? Karena untuk menjawab permasalahan. Sesudah Perdes jadi dan BUMDes sudah jalan. satu desa ada 60 juta. Kemudian untuk pemuda (karang taruna) untuk penagihan rekening air dan listrik dipayungi oleh BUMDes. baru dari APBDes masuk ke BUMDes. Galian pasir (galian C) juga dikelola oleh BUMDes. Lumbung desa juga merupakan salah satu unit usaha BUMDes. Dengan regulasi kebijakan dari atas dapat diarahkan ke sana. rekening dari masyarakat dilebihkan 1. kalau lembagalembaga keuangan yang ada di pedesaan. Status badan hukumnya masih PERDES. kalau kita langsung mengenalkan BUMDesa. dan warung nasi. Tadi disampaikan bahwa justru BUMDes ini yang jumlahnya puluhan ribu yang non bank dan non koperasi. Dengan itu maka Menggagas Desa Masa Depan 65 . pertokoan (fotocopy. Dari ADD disisihkan harus ada untuk modal BUMDes. bahkan bantuan gubernur (tugas pembantuan) diakses. BUMDes bisa menjadi PAD desa. Itu merupakan salah satu unit usaha BUMDes di desa. harus ada akta notaris. sebab lebih dulu praktek dimasyarakat daripada peraturan. Toto Kami akan memberikan gambaran apa yang telah kami lakukan di Sumedang. Contoh ada yang beli trakor dan laku disewakan. karena BUMDes aturannya/payung hukumnya turun belakangan. dari aspek legal dianggap tidak ada karena payung hukumnya tidak ada. tapi setelah jalan menjadi pinjam simpan. yang boleh menghimpun dana masyarakat itu hanya bank atau harus berbentuk koperasi. sedangkan keputusan bupati turun th 2003. Disepakati. nanti partial-partial yang ada di masyarakat bisa bubar. kedudukannya sama dengan UU. Ini harus kita ingat supaya tidak campur aduk. dan usaha lain seperti persewaan hand traktor.

gagasan intermediary untuk menciptakan tabungan dan kredit di desa mustahil. saya mewanti-wanti bahwa kepemilikan BUMDes ini hanya elit desa (kepala desa dan aparat desa) saja. tetapi dengan pertimbangan. bukan hanya kebijakan. di satu desa yang kepala desanya punya inisiatif membangun suatu gudang untuk menampung hasil bumi warga desanya. maka saya penekanannya pada tabungan. sementara kepala desa berpikiran bahwa itu keuntungannya masuk desa. Apalagi adanya keharusan aturan dalam BUMDes bahwa yang melakukan usaha harus berbadan hukum. sekolah. Sofyan Persoalan. puskesmas. tetapi ini tidak dimengerti oleh warganya. Kita juga harus lihat ini. tidak semata-mata orientasi bisnis. Kalau petani tidak mau mengubahnya. Selama ini banyak tanah-tanah kas desa yang dipakai oleh pemerintah pusat seperti untuk kantor polisi. bagaimana usaha-usaha seperti ini yang tidak berbadan hukum bisa memperoleh akses kredit? Juga usaha yang dilakukan desa. Bagaimana tanah yang dipakai itu dapat memberikan kontribusi pada desa? Menggagas Desa Masa Depan 66 . Agus Dalam hal BUMDes. hampir tiap masa ada kelemahan nilai tukar terhadap industri.ada peningkatan pelayanan masyarakat. Kenapa control desa terhadap tanah/petani hanya sebatas persoalan bagaimana caranya agar tanah ini bisa menghasilkan pendapatan untuk desa. dll. Kalau kondisi petani yang terus mengalami nilai tukar produknya selalu melemah. Apakah betul di desa sudah mampu untuk menabung? Ini masalah. maka tanahnya diambil. kalau di desa petani (pertanian) terjadi pelemahan nilai tukar produk pertanian terhadap produk industri. Masalah micro finance secara riel ini bagus sekali. Usaha-usaha di desa dilakukan tanpa harus berbadan hukum. ini tentu akan sulit. walaupun usaha seperti ini sudah banyak. hal ini sebenarnya bisa untuk BUMDes. tetapi imbas (pemasukan) ke desa tidak pernah ada. saya pribadi mengharapkan juga politik keberpihakan yang jelas pada petani. dan saya pribadi setuju. Maksud saya. Ada 12. warga punya pandangan bahwa kepala desa bisa mengontrol itu untuk kepentingan pribadinya. Oleh karena itu kalau akan dikembangkan micro finance harus didasari/diimbangi dengan politik keberpihakan pemerintah terhadap perlindungan petani yang kehilangan nilai tukar. Fasilitator Kalau kita bicara BUMDes. Kalau di pertanian jelas. sehingga pemiskinan akan terus berlangsung. tidak haya aturan teknis saja. Jangan sampai nanti BUMDesnya berkembang dan yang menikmati hanya elit-elit desa saja. Tadi dikatakan lumbung desa juga bisa menjadi badan usaha BUMDes. Widya Ada tanah kas desa yang dipakai dengan tujuan kembali ke masyarakat. Ada keberpihakan politik yang melindungi nilai tukar. rencana pembangunan gudang ini kemudian diprotes oleh warga. ada mekanisme control dan orientasi kemanfaat pada masyarakat juga menjadi pertimbangan. Persoalannya. Ada pengalaman saya. kenapa orang di desa sulit mendapatkan usaha? Salah satunya kurang mendapatkan akses kredit. tidak ada lagi persoalan belas kasih sosial desa terhadap petani. karena gudang yang dibangun diatas tanah kas desa. Dalam diskusi ini. bahwa melihat tujuan micro finance sebagai intermediary tabungan dan kredit. maka dia tidak bisa menabung. misalnya di desa ada mekanisme lelang tanah kas desa.5 ha tanah kas desa yang didistribusikan kepada petani (hasilnya sekitar Rp. Tanpa itu. tanpa ada kontribusi kepada masyarakat/warga desa. 53 juta/tahun). Sebenarnya fokus (tujuan) dari awalnya adalah untuk penanggulangan/ pengentasan kemiskinan. Mungkin ini control.

karena sepertinya yang bicara desa itu hanya Depdagri sementara departemen yang lain tidak pernah melakukan affirmative terhadap desa. Sunarti Menyoroti dari sisi perempuan. tidak dari daerah. harus ada skema khusus untuk kebutuhan-kebutuhan perempuan agar bisa memberikan nilai tambah. Ini yang perlu dipertahankan (jenis usahanya). artinya harus ada perhatian khusus terhadap perempuan. Misalnya kasus UU Perbankan. Tidak usah bicara partisipasi. Usulan. Studi LP3ES sekitar 10 th yll (dipimpin pak Dawam). 60% desa-desa di Jawa (Indramayu hanya 10% yang mengambil keputusan di desa itu) termasuk soal ekonomi. misalnya soal pupuk. mungkin karena untuk mendapatkan kredit harus ada agunan. sudah harus menyangkut pada politik perUUan yang lebih konkrit terhadap desa. Hasil studi dari Bank Dunia membuktikan bahwa dengan memberikan pendidikan pada perempuan (meningkatkan pendidikannya dari SD—SMA) dapat meningkatkan 0. Semua ini pendekatan insidental. bagaimana menjembataninya? Menggagas Desa Masa Depan 67 . bagaimana kebijakan subsidi pupuk? Lebih parah lagi. kearifan desa disana. tetapi departemen lainnya pro liberalisasi pasar. (terjadinya dept capital). Apakah dengan BUMDes. kembalikan saja ke masyarakat karena mereka yang lebih tahu tentang kondisinya daripada kita. termasuk skema kreditnya. UU Koperasi tidak ada yang menyentuh sampai ke masyarakat desa. atau mereka (di desa) yang bahkan tidak punya KTP. Belajar dari pengalaman itu. paling tidak ada suatu realita yang kita harapkan. Pengalaman ini sudah ada dimana-mana. Otomatis mereka yang tidak punya KTP tidak bisa punya akses ke bank. saya kira Indonesia sudah makmur. untuk apa? Tetap saja petani mati. harus lebih jelas. jadi tidak hanya di formal saja tetapi juga non formal. jangan sampai ada penyeragaman. apakah mereka menjadi objek atau subjek? Bagaimana kita menyikapinya? Skema kredit. tetapi bagaimana menyikapi BUMDes sehingga bisa sesuai dengan realitanya. saya lihat petani juga semakin parah. termasuk dari BPR pun atau MF yang paling kecil sekalipun selalu ada persyaratanpersyaratan yang sangat sulit diakses terutama oleh kaum perempuan. apakah desa terutama masyarakat desa menjadi pemasaran produk-produk termasuk produk perbankan ? Dalam kegiatan ini. bahwa di lapangan 60% pelaku usaha mikro kecil itu perempuan tetapi mereka kesulitan dalam mengakases kredit. Firsty Kita ada di 2 kutub yang sangat berlawanan. karena ada problem seperti ini. saya lebih sepakat kalau kita kembalikan pada kearifan local contoh kasus di Sumedang. Sebenarnya perempuan itu terbukti bahwa pengembalian kredit itu rajin (kemacetan 99%). apapun bentuknya. Adnan Negara ini tidak sekedar memproteksi desa tetapi harus affirmative action sudah saatnya dilakukan. juga soal tanah-tanah mati sehingga jangan salahkan orang Indramayu menjadi PSK di Jakarta. semuanya harus affirmative. masing-masing mempunyai institusi sendiri. dimana agunan itu banyak dimiliki laki-laki. Contohnya di seminar 2 hari ini. Jangan-jangan yang kita diskusikan ini apa yang sebenarnya menguntungkan elit desa. Walaupun Depdagrinya jungkir balik. pada sisi lain ada harapan kita apa yang seharusnya.Mengenai BUMDes. menunjukkan bahwa akses masyarakat terhadap pengambilan keputusan di desa. ya tunggu 15 tahun lagi Negara kita ini sudah selesai. kalau pupuk di lepas dipasar bebas. 70% dikuasi elit desa. kalau itu dikaitkan dengan micro finance bagi salah satu usaha BUMDes. (bagaimana akses perempuan) Fasilitator Saya menegaskan bahwa. kita sepakat tidak ingin menjadikan desa sebagai objek. Kalau tidak. petani kita hancur.03% GNP. BUMDes itu sesuatu yang bagus.

dia punya cukup banyak beras dan dibagikan ke petani tetangganya. Menggagas Desa Masa Depan 68 . Saya sepakat dengan teman-teman bahwa jangan sampai kita nanti menjadi paket kebijakan. bukan dipaksakan muncul. siapa mau berobat. Jadi sistem ekonomi kerakyatan ini yang harus kita kawal. Kerangkanya harus ekonomi kerakyatan.000. Persoalan tentang micro finance. Kasus yang menarik. Bagaimana masyarakat bisa memanfaatkan potensi yang ada didesanya untuk menjadi usaha itu terhalang oleh aturan-aturan sektoral yang lain. bagaimana memperlakukan uang sebagai pelaku bukan object? Itu yang harus kita perhatikan. Bagaimana “bank” menurunkan kadar formalitasnya mendekati pola-pola rentenir? “kalau rentenirnya masuk angin. tetapi juga bisa mendatangkan poliklinik. harus kita lihat kemampuan desa menjalankan BUMDes. mana yang kira-kira pas? Seperti yang disampaikan mas Untoro. 2 tahun terakhir saya bergulat dengan petani hutan dan desa-desa yang mengepung hutan itu miskinnya luar biasa sehingga mereka menjarah hutan. ada seorang ibu yang membuka penggilingan gabah di kecamatan Pleret. Nanti hutan di Jawa juga habis karena kita tidak bisa mengelola ekonomi desa hutan. kami sudah meneliti tentang rentenir sampai saya mengkritisi kebijakan bupati Bantul. bahwa nanti akan ada Perda. Suharman Saya merespon tentang BUMDes dengan membandingkan kita dulu pernah punya KUD. silahkan gratis. yang nanti akan membawa kesejahteraan bagi masyarakat. Kalau nanti BUMDes masuk harus dibungkas dalam sebuah proses. sehingga dikembalikan. Kemudian si ibu mendatangkan poliklinik di rumahnya. dan ternyata kendalanya sama yaitu persoalan landasan hukum. ini tidak pas. 10. Mekanisme/trust seperti apa yang dibangun oleh rentenir sehingga mereka membangun jariangan cukup kuat? PSPK dengan Pemda Ngawai sedang membangun kerjasama untuk mencari pola-pola dasar (skim) dari micro finance. Saya menggarisbawahi bahwa: (1) jangan sampai BUMDes itu justru menjadi instrument bagi capital besar yang menghisap desa dan (2) BUMDes jangan sampai menjadi sebuah instruksi yang wajib dialkukan di tingkat desa tanpa ada kegiatan yang riel di masyarakat itu. dia jalan menggunakan mekanisme bank. perlu ada koordinasi dengan sector-sektor yang lain. jangan sampai itu hanya urusannya PMD. Justru kami akan menggunakan instrument itu sebagai sodoran. Itu nanti justru akan menjadi konflik. tetapi tetangganya itu ditanya “apakah beras itu sudah sampai?” Dan mereka tersinggung. belum terselesaikan. Kami berani menjamin bahwa itu pasti akan ada banyak ganjalan. Kenapa? karena bupati menggunakan bank pasar (beroperasi pada level pasar-pasar desa). Karena dulu surat Mentri Kehutanan berkali-kali ganti sampai sekarang tidak ada kepastian tentang itu. kenapa Pemda Ngawi tidak gunakan BUMDes untuk mengatur micro finance di desa? Ini menarik untuk coba diaplikasikan. bukan sebaliknya menjadi instrumen pengisap kekayaan. dan betul-betul menjadi bagian dari supra ekonomi desa.Jenis usaha. karena terbukti (dari LP3ES) bahwa yang menguasai perekonomian desa hanyalah segelintir orang. afirmatifnya seperti apa?. Kita coba memakai kelompok tani hutan. tetapi rentenir tidak membutuhkan itu. tiap desa harus muncul BUMDes. misalUU kehutanan. BUMDes jangan sampai menjadi instrument/kapitalisme di desa yang akan memporakporandakan tatanan di bawah. saya menulis “Bupati versus rentenir”. Saya berpikir. Unit usaha BUMDes harus yang realitas muncul. Karena selama ini dana yang dikucurkan dari atas sampai ke bawah variasinya sangat luar biasa. hanya sekedar untuk menunjukkan bahwa dia itu bukan hanya orang yang bisa membagian beras. nanti kembali sekian”. karena nanti yang terjadi hanya papan nama saja. bagaimana seorang penggilingan beras bisa mendatangkan poliklinik dari luar untuk buka prakatek di sini. cukup “kamu jualan disitu. bagaimana di daerah lain (Kalimantan)? Apakah mereka sudah mampu untuk mengalami proses monoterisasi. jalan tidak? Indonesia itu tidak hanya Jawa. Ini kan lintah darat yang sangat manusiawi. ini cukup Rp. dikerokin juga sama yang ngutangi!”. Tentang kehutanan. Masih ada PR-PR bahwa dari tingkat nasional sampai ke desa yang sampai sekarang masih menjadi problematic.

yang cirinya adalah ekonomi yang berpihak pada rakyat. UKM kurang bisa mengakses kredit bank. hutan itu milik Negara dan dikelola Negara. maka tidak akan ada masalah rentenir. ekonomi masyarakat itu juga boleh bisnis. Pengawasan dilakukan oleh BPD dan Bawasda sepanjang bantuan modal/aset2 daerah).Edward Untuk mengatasi monopoli kepemilikan. maka perlunya disini bagaimana bisa menjembatani ? Fungsi utama BUMDes adalah (1) fungsi social. Justru Depdagri bertujuan menembus kebuntuan untuk mengatasi itu. Permasalahn kredit sudah sejak lama. karena koperasi ada keterbatasannya hanya dari. oleh dan untuk anggota. Kemudian dimana mikro finance masuk? Tadi dikeluhkan bahwa permasalahnya tidak bisa akses ke bank. Karena ujung-ujungnya siapa yang berkuasa atas BUMDes? Apalagi ini rentan terhadap sumber daya bersama. bentuk yang tepat untuk dasar hukum BUMDes adalah koperasi. Celakanya dengan diserahkan ke daerah justru banyak dijumpai illegal logging. Alur tembusnya melalui pasal 213 UU 32/2004 dan PP 72/2005. Bisakah bupati/walikota memberikan jaminan kepada pengusaha-pengusaha kecil yang dinilai layak untuk meminjam ke bank. kalau itu kekayaan desa harus dikembalikan ke desa karena banyak pasar desa yang sudah berkembang justru diambil kabupaten. (3) tersedianya sumberdaya manusia yang mampu mengelola badan usaha sebagai asset penggerak perekonomian masyarakat dan (4) adanya unit-unit usaha masyarakat yang merupakan kegiatan ekonomi warga masyarakat yang dikelola secara paksa dan kurang terakomodasi. di Sidoarjo justru tanah kas desa ini yang digunakan sebagai modal BUMDes. tidak dipaksa. Tetapi jangan sampai BUMDes itu komersil. itu yang kita lindungi. Ini yang di back up oleh GTZ ProFI. tidak dijual. Yusuf Saya sepakat bahwa harus ada mekanisme control untuk mengatur posisi modal. tidak ada satupun yang mau menjadi BPR. Depdagri bertangungjawab terhadap LKM-LKM yang non bank dan non koperasi. Informasinya di Bantul BPRnya maju. Untuk bisa mengoptimalkan peran BUMDes. Pengelolaanya bagaimana? Itu diserahkan daerah. Menggagas Desa Masa Depan 69 . misalnya hutan. Ini juga diakui oleh Bank Indonesia. Kepemilikan. Yang dimaksud kebutuhan dan potensi desa ada 4 (empat) hal yaitu (1) Kebutuhan masyarakat terutama dalam pemenuhan kebutuhan pokok. jelas dikelola oleh pemerintah desa (sebagai penasihat) dan masyarakat. Kalau itu bisa. disitu menyebutkan tentang jasa keuangan. Saat ini dalam UU baru dimana koperasi sudah diakui sebagai badan hukum yang legal untuk bisa mengakses ke bank. sementara kalau bank kelemahannya pada persyaratan. jadi BUMDes saja. Prinsipnya. Nanti konsekuensinya. “Bupati vs rentenir” di Bantul. Prinsipnya. Jangan sampai kalau bisnis itu sudah kapitalis. Mengenai tanah kas desa. kabupaten (melalui bupati) harus mengalokasikan dananya (berapa % dari APBD) untuk pengembangan ekonomi yang dialokasikan untuk modal BUMDes. Kalau pasar desa itu jelas merupakan kekayaan desa. kurang terpayungi secara hukum. Di dalam PP 72/2005 disebutkan bahwa pembentukan BUMDes disesuakan kebutuhan dan potensi desa. (2) tersedianya sumber daya desa yang belum dimanfaatkan secara maksimal terutama kekayaan desa. Mengenai hutan. Dan pengawasan keuangan oleh auditor independent. Sampai sekarang dari > 4500 BUMDes. bahkan assetnya sudah 1 milyar. Untoro Kami menyusun PP itu berdasarkan kondisi di lapangan. usaha ekonomi desa simpan pinjam juga maju. dan pusat hanya kebijakan. seharusnya sudah jadi BPR tetapi tidak mau. (2) harus ada kedaulatan rakyat (kedaulatan pangan terhadap sumber daya bersama). tapi juga berfungsi social (visi dan misi jelas). Usaha-usaha ekonomi masyarakat yang kurang terakomodasi.

Karena ketika micro finance itu memudahkan kredit bagi perempuan justru nanti akan melemahkan perempuan. Apa yang terjadi? Mereka tidak mengembalikan karena mengaggap “itu uang rakyat”. apa bedanya? Ini merupakan hal kritis yang perlu menjadi perhatian kita. apakah di BUMDes ketika terjadi pailit ada yang bisa bertangung jawab? Ini problematik yang tidak bisa diputuskan dalam forum ini. (tanggung renteng) Fasilitator Kenapa PMD berani ? mungin karena ada support dari GTZ Pro FI. Dalam micro finance harus ada rambu-rambu yang jelas. masyarakat langsung control. Jadi perlu disisipkan. Fasilitator Prinsip yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa usaha itu harus berpihak pada rakyat dalam kerangka ekonomi kerakyatan. jangan disamaratakan perempuan itu lemah. Bagaimana keamanannya? Kalau nanti pintu masuknya hanya ke bank. Solusinya. kalau asetnya sudah sekian juta harus menjadi BPR? Maka tawaran koperasi itu mungkin menarik. kemudian di deposit (tabung) di bank (fungsi intermediasi). sehingga mereka rajin mengembalikan. dasar hukum LKM harus ada. sehingga mereka dapat berhubungan secara legal dengan bank. Pengawasan juga kuat seperti bank.Barori Masalah kelembagaan. Menggagas Desa Masa Depan 70 . bagaimana cara mengelola kredit mikro. Suharman Simpan pinjam itu justru controlnya social. lebih memberdayakan pada perempuan. asetnya sudah 1 milyar lebih. pemerintah bekerjasama dengan NGO. salah satu problemnya itu. tapi koperasi seperti apa? Toto Saya mendukung ibu dari pemberdayaan perempuan. Kalau sekarang ada pintu/jendela yang disediakan seperti LKM. Apakah ini perpanjangan tangan. Kalau ini membahayakan harus ditolak. koperasi itu bukan bank. Ketika masih pada skala kecil tidak apa2. Kalau kita lihat draft UU LKM. Mengenai BUMDes perlu ditambah dengan: 1) fasilitasi (dari Depdagri). kepastian hukum. LKM hanya berfungsi seperti handle agency. Sunarti Contoh pengalaman di Malaysia. Dan rakyat/masyarakat tidak lagi menganggap bahwa itu uang rakyat. sedikit susah untuk LKM karena asetnya terlalu kecil. Prinsipnya. Pemerintah Malaysia pernah memberikan dana untuk taskin tetapi dikelola sendiri. Sebagaimana bank yang lain. Strateginya. Ini menjadi ramburambu. kalau berfungsi seperti ini otomatis ada perlindungan. Stefan Mengenai perlindungan tabungan. 2) pelatihan dan 3) pendampingan (bisa dari Depdagri kontrak sarjana yang ada didesa sehingga bisa merekrut tenaga kerja di pedesaan). karena survey membuktikan bahwa kredit usaha simpan pinjam yang dilaksanakan oleh perempuan lebih baik daripada yang dilaksanakan oleh laki-laki. mereka menerima uang di masyarakat. Widya Bagi saya. Seperti ini ada linkage program. Adnan Kebijakan tata pembaharuan desa termasuk micro finance harus link and match dengan upaya pengentasan kemiskinan. Tiga ketua UPK di kecamatan adalah perempuan. uang dari pemerintah diberikan langsung kepada NGO untuk dikelola.

perpanjangan tangan usaha-usaha besar (bank) atau usaha lain. Kita mencoba membuat tawaran dengan dua institusi yaitu BUMDes yang salah satu didalamnya ada micro finance sebagai alternatif pengembangan ekonomi desa. • Problematika: selama ini masyarakat kecil khususnya perempuan tidak mendapat fasilitasi yang cukup. selain usaha bisnis harus ada: • pemberdayaan: bentuk bisa fasilitasi. • ada kejelasan tatalaksana manajemen. • memberikan perhatian pada masalah-masalah perempuan. • ada kejelasan hukum berbasis pada potensi ekonomi rakyat.Fasilitator Kesimpulan diskusi : • Identifiaski pengalaman terkait dengan bagaimana pengembangan ekonomi desa melalui BUMDes dan LKM. • ada pengawasan yang jelas. Dari sisi LKM atau BUMDes. termasuk affirmative action lintas sektoral. Dari pengalaman itu. menghindari kooptasi elit • harus memberi ruang dan bertumpu pada inisiatif dan kearifan local. sebagai pengembangan ekonomi desa untuk menghindari pertarungan modal besar • menjadi subjek dalam peksanaan pelayanan bukan menjadi objek. tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah khususnya pengembangan UKM (tidak ada “proteksi market”). • kepemilikan oleh rakyat. • Perlu adanya MONEV dalam pelaksanaan. • ada alokasi dari dana APBD. di masyarakat lokal tentu sudah banyak program-program yang terkait dengan dua hal itu. pelatihan. • sebagai affimative action. • harus ada badan hukum yang jelas dengan orientasi kerakyatan. • Tidak ada aspek payung legal : koperasi dan bank • Akses terhadap modal dan informasi rendah Ini semua merupakan problem kemiskinan yang ada di desa. Dan ada anggapan bahwa uang dari pemerintah tidak perlu dikembalikan. harus dibentuk berdasarkan aktivitas riel. • ada mekanisme control dalam pelaksanaan dan mengedepankan manfaat untuk rakyat (kesejahteraan rakyat). • ada regulasi (peraturan) yang mendukung sehingga usaha pengembangan ekonomi desa ini bisa berlanjut. Menggagas Desa Masa Depan 71 . dan pendampingan maupun pemberian modal • berfungsi sebagai intermediasi (LKM) • harus diikuti dengan keberpihakan politik yang jelas • khusus untuk LKM ada skim khusus kredit yang dekat dengan rakyat (belajar dari rentenir) • ada jaminan afalis (kalau dibutuhkan) dari pihak-pihak tertentu untuk menghindari akses modal yang rendah • ada mekanisme dan komposisi kepemilikan modal yang jelas Semua itu tidak boleh lepas sebagai sebuah upaya sistemik dalam pengentasan kemiskianan. Rambu-rambu BUMDes atau MF seperti apa? • dilihat dari basis pada kemampuan dan pengalaman desa agar tidak dibentuk berdasarkan penyeragaman.

Pak Sadu sudah panjang lebar. Ibnu–Unibraw.. Tadi ini masih ada beberapa perbedaan kedudukan desa di dalam UUD 1945 yang diamandemen dengan kedudukan desa di dalam UU 32/2004 ini beda. nanti eksplorasi lebih jauh bisa kita lakukan. Untuk itu. Kelompok: TATA HUBUNGAN DESA DENGAN SUPRA DESA Fasilitator Peserta : 1. pola kerjanya bagaimana. Haryo Habirono – FPPD 2. Salini-DSF. melengkapi apa yang sudah disampaikan tadi. Dalam pengertian desa itu sendiri kita harus tahu ada pemerintah desa. juga ditangan pemerintah desa. Steny-HUMA. Elke Rapp-DRSP. Riawan Tjandra – UAJ Jogjakarta : Prof. mungkin saya sampaikan. inkonsistensi. desentralisasi dari pemerintah pusat itu seakan menimbulkan sentralisasi kekuasaan di pemerintah daerah. topik kedua mengenai tata hubungan desa dengan supra desa. Jayus-UNEJ. Irwan-Letmindo/GTZ Aceh Fasilitator Ibu dan bapak sekalian. bahwa: • pengaturan desa itu menjadi sangat penting. Nurwafi-BPD. sesuai saja. Artinya kalau Pak Ibnu ingin mengatakan secara tata kenegaraan UU 32/2004 itu salah demi hukum. karena tadi waktunya pendek. kalau saya beri kesempatan lagi dia akan presentasi lagi. dibuat mengambang. dari dulu saya tidak tahu ini kemana dan kaya apa. sementara di dalam kepanitiaan disini ada beberapa kisi yang mungkin juga mudah dipandu-arah diskusi kita. Ini tadi diskusi yang berkembang yang kita bahas di sessi kedua. Franky-AMAN. . Dua pembicara Pak Prof. padahal kalau kita mau bicara desentralisasi ya daerah dan desa. • otonomi itu bentuknya bagaimana? • representasi desa itu bagaimana? • persoalan kedudukan desa. kan begitu. kami persilahkan kalau ada yang ingin berkontribusi. kita akan bersama-sama menindaklanjuti diskusi yang sessi kedua tadi. untuk tidak mengatakan salah. Jadi ini dilema. Widya-FPPM.. tapi yang penting kita bicarakan adalah desa sebagai kesatuan masyarakat hukum. Kalau Pak Sadu ingin menambahkan point-point yang lebih tegas. Bagaimana seharusnya pengaturan hukum mengenai desa? Dalam bingkai NKRI sebaiknya dihapus saja dulu. cuma desentralisasi dalam konteks desa ini arahnya kemana.. Azam-Pemdes Kebumen. Widyohari-STPMD “APMD”. Sadu dan Pak Ibnu Tricahyo hadir bersama kita. saya kira dengan yang kita bahas tadi.. Wa’i-Lakpesdam. hubungan kerja.5. Jadi kalau bicara tentang pembangunan ekonomi dan sebagainya lebih banyak berkait dengan komunitas-komunitas itu. Menggagas Desa Masa Depan 72 . nanti diskusi akan berkembang lagi.. kami persilahkan saja.. Silahkan kalau ada yang ingin berkontribusi menindaklanjuti hal itu. Sadu–STPDN. dalam konteks tata hubungan desa dengan supra desa. Saya kira itu. supaya out put yang kita hasilkan dari diskusi kelompok ini adalah bagaimana mempermudah kita dalam rangka membantu kita semua. terima kasih atas kehadirannya di ruangan ini. BPD. bukan hanya sekedar pemerintah desa. khususnya Depdagri dalam rangka menyusun naskah akademik tentang pengaturan mengenai desa. Sadu Terima kasih. Mas Ibnu sudah panjang lebar. dan ada komunitas-komunitas tertentu. sedikit semampu saya membuat catatan ini ada beberapa point yang tadi juga telah disampaikan oleh moderator. Terus hubungan desa dengan supra desanya itu sendiri. • konsep-konsep perwakilan daerah. Tetapi yang terjadi dalam praktek. yang penting yang harus dirubah. berpendapat. Toro-STPMD “APMD”.

kayaknya sebelumya membuat undang-undang tanpa naskah akademik. memberikan masukan sekaligus itu adalah ajang advokasi kita dalam penyusunan naskah akademik mengenai desa. Cuma nanti kembali kalau kepada kedudukan organisasi yang tidak jelas. Ini kayaknya konteks yang kita bahas berbeda. bisa mengatur pilkades yang baik. saya harus informasikan karena ini informasi juga saya dengar dari orang yang harus saya percaya yaitu dari Depdagri sendiri.. tapi orang yang bekerja di desa adalah orang-orang yang mohon maaf kalau saya katakan tidak berkualitas. tapi kedudukannya tidak jelas. otonomi desa yang sebenarnya juga akan semakin jelas. tapi memang ini hal khusus yang dibicarakan mestinya dalam ruang dan waktu Menggagas Desa Masa Depan 73 . Franky Menurut saya tidak hanya regulasi. Dan untuk desa diminta naskah akademik. yang dipungut adalah iuran. Jadi sebelumnya. karena orang-orang desa yang berkualitas sudah tidak mau jadi perangkat desa. Nah ini akan menjadi dilema. pegawai desa itu kedudukannya seperti apa? Ini sampai sekarang tidak jelas. apakah pemerintah desa adalah organisasi pemerintah sesungguhnya? Dia menjalankan fungsi-fungsi. munculnya undang-undang desa dan itu akan mendorong juga kedudukan desa yang lebih jelas. bahwa undang-undang tentang Desa kedepan harus diinikan.Desentralisasi kepada daerah jelas. Barangkali ini bisa menjadi semacam model. artinya sudah ada regulasi mengenai keberadaan dan peran masyarakat adat. Jadi desa mengatur tentang kedudukan desa itu sendiri. mungkin untuk memperkuat kedudukan tadi saya sepakat dengan Pak Ibnu. akhirnya gubernur setuju. dia menjadi mata rantai yang terlemah dan akan tersisihkan. sudah ada komitmen politik bersama Komisi II DPR bahwa kedepan akan ada Undang-Undang tentang Desa. Saya ngomong sama gubernur itu akan menjadi omong kosong kalau desanya tertinggal. tidak boleh memungut pajak dan retribusi atas dirinya sendiri. sehingga bisa mengatur tentang pengaturan dan kedudukan desa. Ini lebih memberi peluang. kalau dulu masih ada pengganti asusila. hanya hal itu tidak dilaksanakan. kewajiban-kewajiban pemerintah. Kalau saya ngomong begitu mungkin tersingggung. bukannya masyarakat adat tidak prnting. kemudian begitu selesai ya selesai tidak ada pensiun. Kalau tidak salah SK Menteri Kehutanan menjelaskan soal masyarakat hukum adat. Mohon maaf.. saya lihat visi dari kepala daerah dalam membangun kabupaten berbasis desa. sekarang tidak ada. larinya pengganti ekonomi. dia tidak digaji. Fasilitator Saya potong sedikit. kemudian siapa yang mau bekerja di desa? Padahal kita bayangkan ada pemberian kewenangan yang besar. Pertemuan ini dimaksudkan dalam rangka mengisi. desentralisasi kepada desa itu bentuknya seperti apa. Masyarakat hukum dengan masyarakat hukum adat berbeda. Merupakan suatu keharusan kalau kita membiarkan desa seperti bentuk-bentuk yang lama.. tapi kalau kita lihat data. saya tidak tahu. Ini barangkali masalah pokoknya disini Widyohari Saya nyambung Prof. Paling sedikit per-Oktober Mendagri mendapat PR dari Komisi II DPR untuk menyerahkan atau mempresentasikan draf awal naskah akademik. khususnya untuk pengaturan. waktu itu Gubernur Jawa Barat bicara tentang provinsi termaju di Indonesia. tetapi juga kebijakan yang lebih konkret. Saya bertanya. dan itu bisa nampak dari diberikannya ADD yang besar juga program-programnya. fungsi-fungsi yang sudah dijalankan oleh desa. anggaran banyak. buktinya sudah ada tapi pemerintah daerah tidak bisa apa-apa. Ada beberapa di kabupaten yang seperti Sumedang dan Bandung. nah ini menjadi babak baru. Fasilitator Jadi supaya kita lebih fokus. Saya menawarkan gagasan. mengenai Undang-Undang tentang Desa ini.

kami mengundang sembilan ratus dua puluh orang. tapi kita juga jelaskan juga usulan anda tidak bisa masuk kesini karena nanti akan berbenturan dengan peraturan. Fasilitator Ya. minimal kalau ada sekian provinsi. Azam Terima kasih. dan self government community. adatnya masih kuat. Ini saya antisipasi kalau terjadi suatu permasalahan hukum. dimana desa yang masih homogen. yang namanya kaur pembangunan selamanya kaur pembangunan. kami melontarkan bahwa ada garis dalam struktur pemerintahan desa. Elke Usulan tadi bagus sekali. Sadu Kalau dilihat dari jenisnya ada tiga: 1) Desa Geneologis. Nah sekarang kita ingin fokuskan supaya kita mencapai apa yang tadi dilontarkan Pak Sadu dan Pak Ibnu. Menggagas Desa Masa Depan 74 . dan ini membuat undang-undang yang akan dilaksanakan dan bersifat nasional. local self government. ini agak beda. tidak serta merta langsung kita berhentikan. ada local state governance. Kita diskusi mengenai local state government. Itu sudah ada usulan dari kawan-kawan. Artinya mekanisme ini tolong. local self governance. Jadi namanya desa nanti akan ada lima perangkat.yang khusus. step by step. Kalau kita mulai dari tingkat desa. katakanlah sekdes terkena masalah norma sosial. lima struktur itu bebas saja. apakah disitu adat istiadat masyarakat yang tradisional masih ada atau tidak ada lagi desa. Pak Prayitno mengenai kedudukan desa. Dari dulu desa deperti ini terus. apakah masih perlu atau mungkin dengan badan kerjasama antardesa atau langsung kabupaten. saya kebetulan dari orang pemerintah. jadi semua provinsi bisa mengetahui kalau ada proses. kaur umum dengan prestasi yang bagus bisa menjadi sekdes. sudah jenuh juga. Akhirnya hal itu menjadi kekhawatiran dari masyarakat itu sendiri oleh UU 32/2004. saya pikir apa konsekuensinya. untuk melihat struktur apa akan dipakai. tapi itu masih kurang. Usulan-usulan dari masyarakat banyak dan bagus dan itu saya masukan. masa jabatan tidak usah diatur. ini mungkin kita bahas asas-asasnya saja. Fasilitator Kalau tadi kita bicara tentang otonomi itu mungkin akan menjadi berbeda dengan yang kemarin. Karena kalau semua sudah diatur. local state governance. kemudian struktur organisasipun jangan diatur. ada self community governance. Kita sedang membicarakan masyarakat hukum. Franky Artinya itu mementahkan diskusi kita yang kemarin dengan Pak Eko. ada sanksi disitu. Sekarang saya melakukan perubahan perda. dan 3) Desa Teritorial yang adatnya sudah tidak jalan karena masyarakatnya heterogen. kita kembali ketiga tipe desa. Kita pernah mencoba pada penyusunan perda 2004. dari legislasi. yang namanya sekdes sampai mati tetap sekdes. Pak Eko cukup jelas membuat tipologi desa dari hasil-hasil studinya. bisa dengan penurunan pangkat. tipe 2) Desa Campuran yang adatnya sudah mulai pudar. apakah local self governance. Konsultasi publik saya tahu. apakah ini semua? Apa dan bagaimana struktur yang akan dilaksanakan. Kalau kita mengembalikan self community governance apa gunanya kita diskusi tentang itu lagi. Dalam undang-undang nanti. kecamatan. Ini lalu memang tipikal otonominya menjadi berbeda. Kalau ada desa langsung dari pemerintahan. Kalau ada self gonernance kita harus lihat peran kecamatan. mungkin struktur ini akan berbeda lagi. itu menjadikan aspirasi ini apa artinya. atau self community governance. jangan terlalu detail. dari bawah.

Nurwafi Prinsipnya. dan perdes itu sulit kita bayangkan dalam hal kewenangan. mungkin dalam pikiran normatif. bagi kami orang desa sebenarnya tidak tertalu prinsip. Itulah yang mungkin bagi kita selaku orang desa akan lebih mencerminkan hak-hak kita di semua aspek kehidupan berbangsa dan bernegara akan lebih terjamin? Sehingga kalau akan diturunkan sebuah undang-undang atau tidak. Kemudian kalau bicara soal desa berdasarkan pengakuan maka saya baru membayangkan kalau desa yang kita bicarakan kemarin. Atau sebaliknya. Soal aturannya tidak perlu terlalu ‘jlimet’. apakah yang disampaikan berdiri lepas dari sistem pemerintahan kabupaten atau masuk sebagai sub-sistem pemerintahan kabupaten? Kalau Pak Ibnu tadi tidak mengatakan. Jadi kalau nanti dibawah atau bagian langsung dari kabupaten. Kepada desa itu kira-kira berdasarkan pengakuan mungkin lebih mirip dengan Pak Ibnu bahwa kepada desa itu berdasarkan hak. asas-asas yang sangat prinsip bisa kita terima sebagai hak. Kaitannya dengan posisi desa dengan supra desa.Diharapkan dalam diskusi kelompok ini bagaimana nanti itu diatur dalam undangundang yang baru. tapi beberapa waktu sering mengatakan otonomi desa itu kan otonomi di dalam otonom.istilahnya desa itu sangat tergantung kepada kabupaten. Nah itulah yang saya kira butuh kerja lebih keras lagi. tapi saya justru melihat itu jangka panjang.. Nurwafi Terima kasih. Saya ambil contoh dibeberapa desa misalnya mereka buat perdes. sehingga tidak perlu menyangkut nanti apakah undang-undang atau hanya sekedar revisi bukan hal yang seperti dulu lagi. bicara kualitas sumberdaya manusia itu penting. Dalam UU di level nasional misalnya justru dikatakan sebagai kewenangan pusat atau daerah. Saya kira desa dan pemerintah kabupaten tidak menerjemahkan kedua UU itu lurus-lurus seperti apa yang kita bayangkan. Coba berusaha lagi melihat dinamika seperti apa yang sudah dibangun selama ini pasca UU 22/99 dan pasca UU 32/2004. apa mau kawan-kawan di level bawah. kami tidak terlalu pusing apakah sebuah bagian dari pemerintah daerah atau berdiri sendiri. kalau memang terpisah dan itu lebih memberikan keleluasaan terhadap hak-hak kita sebagai orang desa maka itu akan lebih bisa menjamin bagi desa. yang diharapkan adalah hak-hak prinsipnya yang diperoleh. yang prinsip bagaimana hak-hak. Kemudian sentralistik. self governing community memang seperti yang dikatakan Pak Sadu. Saya hanya mau menghubungkan saja konsensi yang sudah dibicarakan itu dengan rencana atau kemauan kita kedepan. sehingga berhasilnya desa itu kuncinya memang di tingkat kabupaten. mereka punya suara dan bicara soal dinamika lokal seperti apa yang sudah mereka buat. sangat bagus menyangkut perbedaan antara desentralisasi kepada desa dan desentralisasi kepada daerah. tapi oleh perdes kemudian bisa diambil alih oleh Menggagas Desa Masa Depan 75 . kami sebenarnya dari desa selalu memberikan masukan-masukan yang positif mengenai keberadaan lurah-desa. bagaimana otonomi desa yang disebutkan dalam konteks pemerintahan kabupaten. Steny Saya hanya melanjutkan apa yang sudah dikemukakan. selama ini hanya instruktur. selama bisa memberikan suatu jaminan-jaminan hak desa bagi kita tidak terlalu prinsip. kabupaten atau kecamatan bagaimana unsur-unsur itu sebagai fasilitator. Oleh karena itu memang selama ini punya pengalaman bahwa bagian dari kabupaten adalah kecenderungan-kecenderungan yang. penyeragaman. komando. dan saya kira kawan-kawan dari pemerintahan desa ada disini. Fasilitator Saya ingin klarifikasi dari Pak Wafi. tapi pasti ada asas-asas penting atau dinamika-dinamika lokal penting yang kira-kira akan keluar menjadi argumentasi kita di level nasional. yang penting prinsip-prinsip sebagai sebuah desa itu tercover..

adalah keinginan mereka misalnya kalau ada orang luar masuk. kalau tadi menjadi sebuah muatan yang akan menjadi bagian dari peraturan daerah saya justru sangat sependapat. karena di banyak desa program-program desa disusun atau dirumuskan hanya oleh institusi di atasnya. Seandainya ada gagasan untuk melapaskan. Jadi ini nanti secara aspek politis juga harus dipertimbangkan bahwa desa sebagai satu kesatuan hukum memiliki aspirasi (dalam musrenbang dan Menggagas Desa Masa Depan 76 . Saya kira begitu aja. Pemerintah provinsi dan kabupaten sudah harus bisa melihat itu. sepanjang konstitusi itu tidak menempatkan desa menjadi yang harus diatur dalam konstitusi maka selamanya tidak akan menjadi keharmonisan. dan banyak pegawai kecamatan menyusun program desa dan dirumuskan setelah ada ketentuan atau ketetapan mengenai APBD. artinya kita menyerahkan pengaturan desa kepada kabupaten atau provinsi. Contoh di diskusi kemarin soal inpres. Itu dinamika lokal dan yang begitu jelas kebutuhan dari bawah. begitu? Provinsi lebih umum. Anda itu tidak bisa merusmuskan sendiri. kalau sudah bicara persoalan dilepas pasti saya akan berpikir beda lagi. kabupaten lebih khusus lagi. dan lainnya untuk daerah mana. kami cocok menggunakan ini dan seterusnya. Oleh karena itu didalam UU nanti yang hendak diatur adalah hal yang dianggap penting secara umum dalam UU tentang desa. Saya kira bisa menjadi rekomendasi kita kedepan bagaimana mengatur hubungan antara komunitas-komunitas lokal yang disebut self governing community dengan pemerintah daerah. karena perda dalam satu kabupaten dengan kabupaten lainnya tidak sama. ini desa kita yang menggaruk gatal ditubuh sendiri tetapi muternya itu harus kemana-mana dulu. yang merupakan kewenangan pemerintah kabupaten memberikan ijin. Oh. Ini juga yang kemudian harus dimasukan dalam kebijakan bagaimana menumbuhkan desa dalam struktur ini. Pada sisi yang lain kemudian memang bersilangan dengan pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya sektoral di tingkat kabupaten. Jadi antara otonomi desa dengan segala kemampuannya meskipun tadi Prof mengatakan bahwa pada realitasnya SDM di desa sangat memprihatinkan. pendidikan dan sebagainya. Titik temu atau kompromi antara support dengan titik kemandirian desa itulah yang sebetulnya menurut saya belum ketemu. meskipun itu birokrasi di tingkat desa. Jadi self governing community itu berlaku untuk daerah mana. orang akan mengatakan ini semacam cek kosong. Ketiga. lalu mau kita apakan dalam konteks kewenangan dalam struktur yang mau kita implementasikan? Saya hanya mau mengatakan satu hal penting yang sering keluar dalam self governing community selama ini. Kedua.kewenangan desa. lebih spesifik lagi. Dengan satu pengertian bahwa ini mengadopsi tiga hal tadi. atau kalau ada investasi. bahwa struktur desa tidak akan bisa dilepas dari persoalan kabupaten. saya tidak punya suatu keyakinan apakah pembuat UU nanti berkenan. Wa’i Terima kasih. maka kira-kira awalnya harus melalui persetujuan dan ijin mereka. misalkan mana yang menjadi institusi desa sendiri dengan institusi sektoral di tingkat kabupaten. Jadi impian saya kalau kita bicara dari self governing community maka pembicaraan soal hak otoritas mereka itu menjadi salah satu muatan dalam UU kalau kita mau merekomendasikan. setelah tahu desa itu dapat berapa baru bisa. Jayus Sebenarnya persoalan desa itu kembali lagi pada persoalan konstitusi. Nah ini nanti juga akan menimbulkan persoalan baru. Fasilitator Kalau saya menangkap. Jadi mereka tidak bisa menyusun program dengan kolom-kolom yang kosong. tapi hal yang tidak ada dalam bagian dari UU itu perlu diatur dalam perda. Ini menyedihkan dari satu sisi aspek kemandirian. taruhlah ada kebijakan-kebijakan yang harus ditempatkan proporsinya secara tepat. perijinan dan sebagainya masuk. Memang desa memiliki perangkat organisasi yang seperti dimiliki oleh kabupaten. saya merasa bahwa pembicaraan ini sebenarnya mengenai tarik ulur antara support yang diberikan oleh supra desa dengan kemandirian desa.

kabupaten. otonomi pemberian itu sama dengan konsep bantuan. kemudian Mas Wafi. Sekarang mengenai desa otonom. Saya agak kurang setuju dengan Prof. dia sedang berbicara tentang desa adat. tapi ya begitu saja. tapi tidak pernah terlaksana. Tadi Mas Franky dari AMAN. ganti konsep alokasi. itu bisa kita petakan secara jelas. yang menurut saya sudah siap didorong untuk menjadi desa yang otonom. pada sisi lain masyarakat desa juga sebagai konstituen dari partai politik. Meskipun Direktorat Jenderal PMD yang mengenai desa ini sudah lebih dari tiga puluh tahun. membina. dan desa. Nanti masing-masing pilihan ini akan mempunyai konsekuensi terhadap administrasi. pembinaan kapasitas dan seterusnya. hubungan dengan supra desa dan seterusnya. Kedua. tidak pernah ada pemberdayaan yang konkret baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. jadi konsep bantuan itu sudah kita tolak. itu artinya yang namanya penyerahan. jadi kategorinya jelas. Fasilitator Pertama yang ingin disampaikan. alokasi atau pembagian itu berarti desa punya hak. jangan sampai kita membuat UU bertabrakan dengan konstitusi. Kedua. mempermudah saja supaya tidak campur aduk. Kembali pada SDM. Karena pengalamannya sudah lebih baik. Itu posisinya jelas. mereka bisa menyesuaikan dengan perkembangan zaman dan seterusnya. itu kan diawal pembicaraan tadi Prof Sadu menyampaikan bahwa desa itu sebagai obyek politik terus dan selalu dimarginalkan. Ketiga. bagaimana kepada desa? Kalau tadi Wafi sudah menyebutkan sebagai fasilitator. apakah dengan otonomi desa itu lalu SDM akan segera up-grade atau sebenarnya sekarang ini kondisinya didalam UU juga PP 72/2005 atau kemarin ada Kepmendagri 64/1999 yang diacu untuk pengaturan mengenai desa. BPD-nya sudah lebih siap. artinya desa harus lepas dari kabupaten meskipun ada hirarki tapi tidak seperti yang sekarang menjadi bagian atau sub-sistem pemerintah kabupaten. Sadu yang selalu membedakan antara otonomi pemberian dengan otonomi asli. bagaimana kedudukan desa itu dalam otonominya. Local State Government adalah desa administratif atau kelurahan. adalah Local Self Government itu yang namanya desa umum atau desa teritorial.sebagainya). Nah ini persoalannya sekarang. pemberdayaanpemberdayaan itu sudah ada. Mas Toro silahkan. Kalau nasional pakai umum satu-duaMenggagas Desa Masa Depan 77 . kalau kita mau mendorong desa yang otonom maka NKRI dibagi provinsi. tidak pernah serius dilaksanakan. Sadu Apapun yang kita lakukan kepada desa tentu terkait dengan sistem pemerintahan nasional. karena pengalamannya Jawa. Menurut saya istilah itu sekarang sudah tidak relevan. kemudian berkaitan dengan SDM di desa yang lemah. melakukan supervisi. Ini peran pemerintah. Oleh karena itu dalam konteks ini kalau kita lihat UU 32/2004 pasal 1 ada bunyi ”Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi menjadi wilayah provinsi dan kabupaten”. Nah sekarang yang namanya konsep pemberian harus diganti dengan konsep pembagian atau penyerahan. Pertanyaannya adalah apakah konstitusi ini yakin menjadi modelnya pemerintah? Ini harus jelas dulu. karena tujuan akhir dari RUU Desa adalah bagaimana desa itu dengan otonominya bisa bangkit dan mandiri. Ini ada dua jalur yang sebetulnya bisa dimainkan oleh masyarakat desa. Itu mungkin yang saya bisa katakan bahwa titik kompromi itu yang belum ketemu. Kemudian tugas pemerintah yang lebih tinggi memfasilitasi. Hanya berhenti disitu. kepegawaian. jadi dia sebagai desa yang otonom tapi tidak bisa semua desa di Indonesia kita perlakuan sama. Pertama. Ini yang kita hadapi sekarang dalam UUD 1945 pasal 18A dan 18B. disamakan sajalah. harus konsisten dengan sistem di tingkat nasional. Pak Azam bicara tentang desa otonom. Sutoro Mengulang yang kemarin. saya ingin bertanya. sebut saja yang namanya Self Governing Community itu sebagai desa adat atau desa geneologis.

makanya mereka menghargai betul pada adat. tadi saya terima kasih diberikan saran. perhutanan dan sebagainya dan itu ada di wilayah desa. apakah kita kemudian hanya bicara soal presentase. Steny Konkretnya. Urusan desa adat orang lebih patuh ketimbang desa dinas. Jadi kalau kita diundang dalam kegiatan adat tanpa alasan yang jelas tidak datang. Saya juga bingung. nanti saya pikirkan. peran pemerintah sebagai fasilitasi. hanya sekali lagi jangan membuat aturan yang berlaku untuk seluruh desa padahal ada kategorisasi yang cukup tajam. Setelah wajib pihak kepala desa dan BPD dan juga lembaga kemasyarakatan disitu harus stakeholders dulu yang memutuskan ya atau tidak. jadi larinya pada penghasilan. keuntungan untuk desa sekian. tidak perlu ada pemerintahan. itu difasilitasi di pasal berikutnya. kalau tidak ada upaya-upaya hukumnya. dia bisa ditolak di-aben disitu. itu yang mesti didudukan dulu karena berangkatnya dari situ. adat sudah tidak lagi punya kekuatan. Tapi pertanyaannya tadi 18A-18B itu dipisahkan. meninggal harus cari tempat lain. sebagian besar obyek perijinan adalah pertambangan. perijinan itu juga harus melibatkan mereka dalam persetujuan. intinya satu yaitu wajib. kabupaten sekian atau bicara pada level yang lebih mendasar. sekarang tidak kesitu yang dikejar. kalau semua bisa jadi satu. bunyi pasalnya wajib. supervisi. Nurwafi Di PP 72/2005 itu malah lebih jelas. dulu dia punya kekayaan besar kemudian dipecah-pecah. tapi kalau pakai size ada besar-sedang-kecil ya konsisten. Kecuali desa-desa yang memang masyarakatnya sudah sangat heterogen. Jadi sebelumya stakeholders harus dikumpulkan dulu. kalau organisasi ini jelas kita bisa membuat sistem seleksi. Kalau Bali saya lihat meskipun sudah modern tapi adatnya-agama masih kuat. Dari sekian ijin yang diberikan di Indonesia. ia kehilangan hak-hak sosial. Seperti dulu ada di Sumatera Barat rancu. sekarang mau disatukan lagi sudah tidak bisa. persoalan selama ini yang sering terjadi adalah kita kurang mencermati kewenangan administrasi pemerintah pusat dan pemerintah kabupaten begitu besar di level desa. jadi ya kita harus menyesuaikan diri dengan kondisi. Kalau kita menerima pasal 18B semua self governing communty saja. makanya dia membedakan ada desa dinas dan desa adat. Fasilitator Kalau dalam UU 22/99 pasal 110 ada pihak ketiga yang ingin membangun atau mengeksploitasi desa itu harus mendapat persetujuan dari masyarakat desa melalu kepala desa dan BPD. Desa-desa yang adatnya masih kuat berikan kesempatan. hak dan kewajibannya jelas. Menggagas Desa Masa Depan 78 . apakah diteruskan seperti itu saja atau perlu ada suatu klausul atau satu peran juga yang boleh kita katakan sebagai negosiasi perijinan yang juga dimiliki oleh pemerintah desa terhadap ijin-ijin yang masuk ke wilayah desa. Orang diundang adat tanpa alasan yang jelas. Kalau desa itu tidak jelas. Dulu lebih banyak pada penghargaan-penghargaan sosial. Kalau tiba-tiba ada orang datang bawa secarik kertas bahwa saya akan membuka tambang disini lalu masyarakat desa terima sampahnya. akarnya sudah tercabut. Kalau dulu orang itu rebutan jadi kepala desa karena gengsinya luar biasa-status sosial. karena konfliknya disitu. penyeragaman kemudian merusak akar-akar yang ada. tadi sudah disinggung dan bicara soal tata hubungan desa dengan supra desa. sekarang penghargaan sosial tidak ada. yang dikejar harga ekonomi. Soal istilah.tiga ya harus konsisten. Kemudian SDM lemah itu kembali dari organisasi yang tidak jelas. Bagaimana dengan yang begitu. itu bukan harus. Jangan sampai kita melakukan kesalahan yang kedua. Sutoro Saya kira pasal 18B itu sudah ketinggalan zaman. kuatnya begitu. Saya mau menambahkan saja. tidak perlu ada administrasi.

bukankah begitu? Sekarang saya hanya ingin mengingatkan waktunya. itu berkaitan dengan sanksi. kalau kiranya cukup. Fasilitator Kalau tidak diterapkan itu persoalannya juga banyak orang tidak baca. karena saya yakin didalam UU 32/2004 ada yang baik dan ada yang tidak baik. itu yang pertama. Nanti kita akan bantu merapikan hasil-hasil. kalau masih ada ide-ide. tetap saja bunyi pasal 18 juga tidak akan berubah. Untuk itu kita cukupkan sekian dulu diskusi kita. mekanisme keluhan. Jayus Alangkah bijak kalau kita mau mencoba membaca hal baik dan tidak baik dari peraturanperaturan UU yang pernah ada. Nurwafi Salah satu kelemahan adalah sanksi. kemarin kita sudah mengangkat seorang bapak kedudukan desa. apa bisa ditulis dalam flipchart topik-topik yang akan disampaikan? Fasilitator Apakah ini perlu saya tuliskan? Sutoro Saya kira perlu Pak dituliskan garis besarnya. kita lihat lagi th 48. Pak Toro selama belum ada amandemen. Fasilitator Ya. Menggagas Desa Masa Depan 79 . ditaruh didalam meja. hak-haknya belum maksimal bisa diupayakan. hal itu perlu menjadi sebuah pemikiran yang lebih jelas. soal hak-hak desa itu ada. hanya orang desanya sendiri. kita masih akan terus menambahkan. Elke Saya hanya ingin.. Jadi saya kira memang kawan-kawan dari desa yang lebih tahu persis. Ini tugas kita semua terutama pemerintah daerah bagaimana memfaslitasi orang baca. kalau kita tanya kenyataan di lapangan.Fasilitator Dalam konteks diskusi kita ini posisinya ada dimana. Itu akan menjadi sebuah muatan disamping adanya persoalan. Apa ada relawan.. biar nanti kalau terkait dengan desa. coba kita lihat th 65. Fasilitator Saya kira ini cukup. jadi tidak pernah tahu padahal ada.. UU 5/79 saya pikir itu bagus kontruksinnya cuma persoalannya pada sentralistis. UU 22/99 demikian pula. saya ingin mengundang salah seorang teman untuk mempresentasikan hasil diskusi kita. Soal ADD. Fasilitator Oleh karena itu. disitukan ada di UU tapi tidak diterapkan. Kedua. apakah hubungan desa dengan warga desanya? Steny Itu hubungan dari pemerintah daerah sama pemerintah pusat. Saya minta mas Wafi bersama kami melengkapi ini. padahal sosialisasi sudah sekali-dua kali. nanti dalam diskusi pleno presentasi.

5. 3 Juli 2006 Pukul : 16. Ada pendapat yang melihat pasal 18A konstitusi justru sebenarnya menjadi dasar untuk mendesain desa otonom dan 18B sebagai basis pengaturan bagi desa adat. fasilitasi. capacity building menyangkut desa Deskripsi singkat : 1. fasilitasi. capacity building menyangkut desa. Selama ini good will pemda masih dipertanyakan karena banyak ide tentang kewenangan muncul di pusat. Bentuk organisasi desa perlu disesuaikan dengan karakteristik dan tipologi desa. 2. 4. tetapi di daerah tidak direspon dengan baik dan cepat.2. ke depan perlu penguatan kapasitas desa untuk mampu menjalankan kewenangan (aparat dan masyarakat) dengan baik. Bentuk otonomi dan kewenangan desa mencakup hubungan desa dengan supra desa Bentuk organisasi ---) berkaitan dengan SDM. Otonomi dan kewenangan harus diberikan kepada desa. 8. Hal ini berkaitan dengan desa otonom dan desa adat.00 – 17. Presentasi Kelompok: OTONOMI DAN KEWENANGAN DESA Disampaikan oleh: Kamardi • • • Masalah Kewenangan desa: Pilihan tentang posisi desa sejauh ini belum jelas. Barori 1.Benang Merah Pemikiran : • • • • Kedudukan desa dalam konstitusi dan derivasinya. Presentasi Hasil Diskusi Kelompok Hari/Tanggal : Senin. Perlu ada ruang yang jelas bagi desa dalam kewenangan perijinan. agenda kedepan adalah mendorong kabupaten untuk menyusun perda dan program untuk mewujudkan desa yang memiliki kewenangan yang jelas dan mendorong kemampuan mereka untuk menjalankan kewenangan tersebut. Konsistensi implementasi dari policy. Selain jaminan kewenangan. Bahkan. pembangunan dan tatanan kehidupan masyarakat dan budaya lokal. • • • Menggagas Desa Masa Depan 80 . tetapi forum lebih banyak menaruh perhatian pada posisi desa sbg local self government. UU 32/2004 sejauh ini belum banyak ditindaklanjuti oleh kabupaten dalam menjamin desa memiliki otonomi. sangat penting pula desa diberikan legal standing dan kemampuan menjalankan class action dalam judicial process. karena desa merupakan wilayah yang menjalankan pemerintahan. Salah satu tolok ukur desa mampu menjalankan kewenangan adalah mampu menyusun dan menjalankan peraturan desa secara konkrit. Diperlukan adanya konsistensi implementasi dari policy. 3. Pengaturan relasi antara desa dengan supra desa tetap harus mengacu pada dasar konstitusi dan derivasinya.00 Moderator : M. Tipologi desa perlu dicermati dalam mendesain pengaturan mengenai kedudukan desa dalam state. Oleh karena itu.

pemilihannya tentu per jorong. seperti misalnya dalam kasus mengelola peradilan informal. Problemnya adalah masih ada masalah benturan legalitas karena peradilan formal belum mengakomodasinya. bagaimana keterwakilan. jadi kalau ada tanggapan dari kelompok demokrasi desa. kita kembalikan ke masyarakat.• • • • • • • Untuk merumuskan kewenangan desa. Berdasarkan pengalaman. lebih besar dari 3000 25 orang. Bagi saya regulasi atau kebijakan itu sudah ada yang mengakomodir. dalam kaitan itu khususnya desa adat punya akses mengelola di SDA dan urusan komunitas nilai-nilai (roh. Tanggapan Datu Kita mau menambahkan sedikit untuk BPD. dan dukungan administrasi keuangan dan kelembagaaan. terdiri 5 unsur dari cerdik pandai. ini bagaimana menurut pendapat Bapak? Dahlia Agenda ke depan. bagaimana jalan keluarnya? Menurut PP 72/2005 itu 5-11 orang. hanya perlu good will dari semua unsur. 5 unsur dari bundo kandung. ulamanya kita kumpulkan lalu kita pilih satu. bagaimana keterwakilan kelompok lain. atau dimensi kultural). masalah kewenangan desa mengatur peradilan informal harus diakui dan sekaligus disinkronkan dengan peradilan formal. menurut Perda Sumbar kalau penduduknya 1600 maka wakilnya ada 16 orang. 1 jorong ada penduduknya 700. kami ada 7 jorong. Sementara itu pihak kabupaten lebih berkaitan dengan urusan keadministrasian. Bapak Seandainya akan memekarkan diri itu bagaimana? Menggagas Desa Masa Depan 81 . perlu adanya kepastian melalui regulasi atau kebijakan yang membuat bahwa otonomi desa dengan kewenangannnya tersebut tidak dimanipulasi oleh kepentingan elit desa. Oleh karena itu pula. regulasi tidak terlalu banyak. perlu adanya kewenangan yang luas bagi desa. ada juga 1500 orang. 5 unsur dari pemuda. mekanisme. perlu disusun indikator dan acuan pengembangan otonomi desa melalui pentahapan. lebih dari 1600 s/d 3000 21 orang. Saya dari Limapuluh Kota. silahkan. Datuk kita kumpulkan lalu kita pilih wakil. 5 unsur dari pemuda. Moderator Kita tuntaskan dulu kelompok ini. perlu adanya kepastian melalui regulasi atau kebijakan yang membuat bahwa otonomi desa dengan kewenangannnya tersebut tidak dimanipulasi oleh kepentingan elit desa. beliau tadi ada keinginan BPD dipilih langsung oleh masyarakat. masalah kewenangan desa harus memperhatikan konteks daerah masing-masing Agenda ke depan. biasanya kalau ada pemilihan kita perhitungkan aspek kemasyarakatan. Oleh karena itu. desa masa depan ditandai oleh adanya otonomi desa yang berorientasi pada penjaminan kesejahteraaan dan keadilan dalam bingkai yang lebih demokratis dan partispatif. Terdapat bukti bahwa desa mampu mengurusi urusannya sendiri. 5 unsur dari nini mamak. pemilihan itu bagaimana bentuknya. jadi tidak perlu regulasi baru. Dan dengan demikian. Menurut PP 72/2005 dibatasi 5-11. Perlu pengkajian tentang masalah otonomi asli dengan belajar dari sejarah perkembangan desa. Perlu penataan ulang (khususnya di pemerintahan pusat) tentang pemberian kewenangan kepada desa yang tidak konsisten antar sektor (menghindari tubrukan antar sektor). Berkenaan dengan kewenangan desa dalam kelola dan penyelesaian masalah.

Barangkali pemerintah kabupaten tetap mengacu UU 32/2004 dan PP 72/2005. Presentasi Kelompok: DEMOKRASI DESA Disampaikan oleh : Ade Kisi-kisi: 1. pandangan pragmatis) • Fokus pada Pemda dan desa masih sebatas pada pembentukan lembaga. bagaimana kita menghindari dominasi elit desa. Soal jumlah. tetapi bagaimana partisipasi dan demokrasi di masyarakat. pemekaran itu semata-mata untuk pelayanan publik. sehingga nanti yang menjadi hak asal usul itu tidak diintervensi lagi. Soal pemekaran ini dijamin oleh UU. perlu ditambahkan. Toto Hak asal usul di pasal 206 UU 32/2004. kalau regulasi tersumbat maka UU tidak akan jalan. contoh di penjelasan. jadi seolah sama. BPD sebagai tool untuk check and balances 2. bagaimanapun akan memberikan cipratan langsung. Kendala-kendala yang penting diperhatikan Demokrasi yang cocok bagi desa: • Inclusive demokrasi perlu menjadi pertimbangan utama dalam rangka membentuk self community governance yaitu suatu kondisi dimana masyarakat dapat terlibat secara luas dalam proses pengambilan keputusan. Keterwakilan lembaga kemasyarakatan lainnya Fungsi lembaga-lembaga: • Lembaga di desa terdiri dari lembaga formal dan non formal • Fungsi lembaga desa bervariasi: sebagai fungsi legislasi. lalu pemerintah membuat perda yang baru. 1. yang dimaksud Badan Permusyawaratan Desa adalah BPD dalam UU no 10. Masalah regulasi. artinya perda yang baru mengacu ke UU khususnya pasal 206. Harus mengacu pada analisis kebutuhan desa 3. bahwa BPDnya tetap seperti semula. kontrol dan pelaksana • Bentuk diserahkan pada kearifan dan keunikan lokal dengan acuan dari pusat • Lembaga itu harus mampu mewakili semua aspirasi masyarakat • BPD dan lembaga kemasyarakatan yang ada harus ditopang dengan capacity building yang memadai Kendala-kendala: • Keterbatasan partisipasi masyarakat antara lain karena ssstem yang belum mendukung (structural) • Kendala cultural (misalnya budaya patrialistik. belum menyentuh bagaimana membangun essensi check and balances • Kemampuan ekonomi masyarakat yang bervariasi berkorelasi pada tingkat partisipasi Menggagas Desa Masa Depan 82 . 2. Fungsi lembaga-lembaga yang mampu mengusung/melaksanakan demokrasi desa 3. tetapi kembali jangan sampai pemekaran itu kemauan elit desa. substansi adalah menghindari elit desa. Kamardi Kalau belajar di UU 32/2004 ini frustasi juga. Demokrasi yang paling cocok untuk ditawarkan bagi pengaturan desa di Indonesia? 2.Alit Terkait dengan aturan/perda setempat. dulu ada kelipatan dari jumlah penduduk. saya sampaikan bahwa pasal 206 UU 32/2004. sikap elitis.

sinergi ini yang perlu dirumuskan dengan baik. Bahwa DPD itu tidak cukup mewakili masyarakat. Datu Pertanyaan masih ada yaitu desa masa depan itu seperti apa? Ibnu Demokrasi yang paling cocok tentang pengaturan desa di Indonesia. sehingga netralitas calon kades. tapi itu pembaruan tatanegara karena dibentuk BPD yang melaksanakan fungsi legislasi. Biaya pilkades itu kecil. tapi tidak serta merta mewakili desa. bagaimana kita membuat regulasi desa dengan memangkas itu? Bapak Format kelembagaan itu. Contoh di Jepara. yang jadi mahal itu money politic. selama ini yang mengatur pusat dan kabupaten. Marhaban Waktu kita merumuskan demokrasi kita kembali ke sejarah demokrasi itu. sedangkan masalah bentuk kelembagaan itu sudahlah. Itu perlu dinormakan. Ibnu Itu bukan wakil pemerintah desa. karena demokrasi itu menghendaki prosedural. Kalau akan ada dewan perwakilan desa justru konsolidasi kepala desa berhadapan dengan kepala desa di tingkat bawah. Menormakan ini tidak bisa seragam. BPD sinergis. problemnya adalah masyarakat desa yang selalu terus menerus menjadi marginal yang ditinggalkan kepala desanya yang menjadi kepanjangan tangan pemerintah di atasnya. saat pusat membuat UU maka disana sudah ada DPD yang mewakili daerah.• Trauma pengalaman berdemokrasi yang tidak memihak kepada kebutuhan masyarakat. ini sebetulnya ada gejala yang sudah muncul dengan paguyuban-paguyuban pamong desa. bagaimana lembaga di desa. tapi bukan dipreteli dalam pembaruan tatanegara. tetapi institusi yang mewakili desa. tapi ad hoc saja. karena kabupaten yang mengatur desa tidak ada representasi desa mewakili desa saat membuat perda. mekanismenya terserah. kades menuntut perpanjangan masa jabatan kepala desa. mekanisme demokrasi seperti apa untuk jalan keluar. menghendaki lembaga-lembaga yang kompetansi di situ. Kabupaten membuat perda ada yang merepresentasi desa. kades. untuk menghilangkan jago itu membiayai sendiri. bagaimana APBD itu membiayai juga. sehingga demokrasinya bisa berjalan. Tadi Pak Ibnu lebih menekankan soal perwakilan desa di DPR. Bapak Apa yang digambarkan Pak Ibnu seolah-olah desa itu menjadi satu kesatuan dengan kepala desanya. Tadi ada kerancuan dengan sistem yang berlaku di nasional dengan Menggagas Desa Masa Depan 83 . maka ditopang dengan mekanisme lain yang berangkat dari inisiatif masyarakat sendiri. bisa pemilu atau yang lainnya. yang penting mendesak pemerintah di atas desa untuk menjamin nilai-nilai lokal. government for the people. yang saya usulkan itu DPD. tetapi baru sebatas pada elit-elit desa Tanggapan Widyohari Anggaran Pilkades masuk APBN dan turun melalui APBD. apakah tidak kita pikirkan semacam Dewan Perwakilan Desa yang mewakili desa untuk membuat perda? Masalah dengan Syamsudin Haris yang dipreteli. oleh karena itu kita perlu menemukan kearifan-kearifan. Mekanisme di pusat sudah ada. Problem demokrasi selanjutnya adalah dalam melaksanakan tugasnya dengan tata cara yang demokratis.

Presentasi Kelompok: ADD (ALokasi Dana Desa) Disampaikan oleh: Dahlia • • • • Sebagian besar kabupaten enggan (keberatan) melaksanakan kebijakan ADD Akses masyarakat untuk mengetahui informasi PP dan ADD sangat terbatas Masyarakat desa belum jelas dengan sumber-sumber pendapatan desa Ada 3 faktor penghambat pelaksanaan ADD yaitu: − Kapasitas potensial desa yang belum siap − Keterbatasan APBD (PAD) − Masalah politis yaitu tarik ulur kepentingan politik di daerah Ada pengalaman desa yang sudah menyiapkan kelembagaan (sistem) dan bisa berjalan dengan baik Terlalu kakunya pengelolaan ADD oleh kabupaten Pengelolaan ADD semestinya mutlak oleh desa. Self Governing Community itu dikaitkan dengan demokrasi bagus sekali. Hari/Tanggal : Selasa. kalau masyarakat tidak demokratis itu akan menjadi fasisme. Di desa itu ada deliberatif demokrasi. melibatkan seluruh elemen masyarakat Informasi penggunaan dana harus transparan (diumumkan kepada publik) dan ada mekanisme pertanggungjawaban pada publik (Pengalaman Ngada): tidak semua desa diberikan ADD. sesuai dengan kebutuhan dan kriteria yang jelas terutama pemetaan bagi desa yang diprioritaskan mendapatkan ADD Perbedaan persepsi antar sektor di level kabupaten atas ADD ADD hendaknya diintegrasikan dengan APBDes (RPJMDes) Problem-problem dari PP perlu ditindaklanjuti dengan Perda Manipulasi atas ADD akan membunuh partisipasi desa Perlu memetakan best practice untuk menjadi referensi dan replikasi. soal check and balance itu tidak kita khawatirkan. tetapi aturan teknis dilakukan desa Mengkaitkan antara ADD dengan penguatan kapasitas kelembagaan desa Tidak perlu ada pembatasan yang rigit dalam kelola ADD. pelaksanaan dan pelestarian dari ADD harus partisipatif. kalau kulturnya sudah bagus dan mandiri maka itu bisa dikendalikan. karena dalam institusi demokrasi itu adalah membangun komunitas politik tetapi non praktis.00 – 15. Kalau Dewan Perwakilan Desa itu saya dukung. contoh kepala desa minta untuk ikut jadi pengurus partai politik dan negara menolak dengan tegas. itu budaya demokrasi kuno yang disebut open deliberation. masyarakat berkumpul untuk memutuskan berbagai hal. 4 Juli 2006 Pukul : 14. diatur oleh Perda Semestinya ADD tidak identik bagi hasil.15 Moderator : Sumarjono 3. Penguatan kelembagaan. karena ADD adalah dana perimbangan Perlu pedoman umum dari pemda. Kita harus tempatkan demokrasi good and clear governance di tingkat II karena di situ ada konstituen political.kabupaten/kota. tetapi harus ada ramburambu umum yang prinsip Proses perencanaan. tetapi perlu memperhatikan konteks daerah dan desa Perlu intervensi positif (kebijakan) oleh pemerintah pusat Perlu membangun kesadaran kritis atas kelola uang berbasis loan and project • • • • • • • • • • • • • • • • • Menggagas Desa Masa Depan 84 . keluarga. Harus ada kemudahan-kemudahan demokrasi di tingkat masyarakat. demokrasi harus dimulai dari yang terendah. masyarakat.

Presentasi Kelompok: TATA HUBUNGAN DESA DENGAN SUPRA DESA Disampaikan oleh: Nurwafi Diskusi kita adalah hubungan antara desa dengan supra desa dalam NKRI. Dahlia Kalau desa tidak inheren dalam kabupaten maka tidak bisa mendapatkan ADD. artinya desa tidak lagi inheren dalam kabupaten. Ini memang dalam perspektif yang mikro. Dengan demikian ADD menjadi problem. kalau kita ambil 10% itu hanya acuan tetapi APBN yang membiayai. • Bentuk otonomi dan kewenangan desa mencakup hubungan desa dengan supra desa • Bentuk organisasi pemerintahan desa berkaitan dengan SDM. Moderator Untuk selanjutnya saya persilahkan kelompok tata hubungan desa dengan supra desa. ini memang strategi pemberdayaan. kalau desa diatur sendiri maka tidak boleh diatur dalam perimbangan kabupaten. maka 80% langsung ke masyarakat. ini konsekuensi pilihan yang kita lakukan. Menggagas Desa Masa Depan 85 . wacana ini muncul dalam kerangka pemberdayaan. yang kami sampaikan ini hanya pokok-pokoknya saja. Benang Merah pemikiran yg perlu dipresentasikan dlm pleno: • Kedudukan desa dalam konstitusi dan derivasinya. 4. karena desa itu sudah di bawah negara. Marhaban Kita di PMD. Ketentuan 10% dari APBD tidak cukup. mulai kemarin rumusannya desa diatur dengan UU tersendiri. delegasi dan wewenang tanpa resources itu adalah omong kosong. Saya persilahkan tanggapannya. Tanggapan Ibnu Kita ini menggagas desa masa depan. karena ADD itu 10% dari dana kabupaten. Ini memang berbenturan dengan tata negara. bagi saya kalau sudah tidak inheren maka PP itu akan gugur. dalam kebijakan ADD Perlu ada penguatan kapasitas aparat dan kelembagaan serta elemen-elemen masyarakat desa dengan pendekatan partisipatif Perlu ada intervensi dari pusat tentang batasan alokasi yang akan diberikan ke desa supaya dana yang dikucurkan ke desa mencukupi untuk pembangunan di desa Perlu ada komitmen yang lebih besar lagi di tingkat nasional.• • • • • Perlu pendidikan bagi masyarakat untuk advokasi pada level kabupaten. Perlu ada audit independen (dipilih masyarakat) dari stakeholders Moderator Kelompok diskusi ADD telah membuat kesimpulan-kesimpulan terkait dengan pelaksanaan ADD yang belum seluruh kabupaten/kota melaksankan ADD. Pak Ibnu melihat makro dari hukum tata Negara. Menurut World Bank agar uang tidak nyangkut di elit. melakukan kritik dan usulan-usulan agar ADD dapat dilakanakan dengan baik.

Ada pendapat yang melihat pasal 18A UUD 45 (konstitusi) sebenarnya menjadi dasar untuk mendesain desa otonom dan 18B sebagai basis pengaturan bagi desa adat. Hal ini berkaitan dengan desa otonom dan desa adat. capacity building menyangkut desa. jelas ada 3 model yaitu: 1) inklusif otorelation. provinsi. Perlu ada ruang yang jelas bagi desa dalam kewenangan perijinan. Tanggapan Tumpak Kalau bicara hubungan desa dengan supra desa maka akan terkait dengan kewenangan. dan 3) overlap. Untuk kelompok lain silahkan tanggapannya. capacity building yang menyangkut desa. Untuk kelompok ini harus clear model mana yang akan diadopsi. delegatif dan kewenangan lain-lain. yang terjadi adalah dengan otonomi selama ini SDA sudah cepat habis. air dan udara dikuasai negara dan digunakan sebesarbesarnya untuk kemakmuran rakyat. setiap eksploitasi akan melibatkan masyarakat desa. Menggagas Desa Masa Depan 86 . Yang inklusif itu ada hubungan antar desa yang harus melaksanakan. tanah. Moderator Desa menjadi obyek supra desa. karena dulu tidak pernah melibatkan desa maka akan terjadi kehancuran-kehancuran itu. sangat penting pula desa diberikan legal standing dan kemampuan menjalankan class action dalam judicial process. 7. 9. 10. Moderator Silahkan untuk dijawab Wafi Logika berpikirnya di balik. Justru dengan otonomi desa. 8. saya tidak bisa membayangkan otonomi itu diberikan di desa tanpa ada pemberdayaan di desa. Di UU ada kewenangan atributif. Ketiga overlap. Saya kira pasal ini pasal yang tidak dirubah. pusat sampai dengan aturan main keuangannya. Tipologi desa perlu dicermati dalam mendesain pengaturan mengenai kedudukan desa dalam negara. 2) separated. Deskripsi singkat : 6. Bumi. walaupun secara yuridis formal belum nampak. namun sudah ada kebijakan pemerintah yang mengarah ke kepedulian terhadap desa. Separated itu maksudnya adalah ada pembedaan yang tegas antara kabupaten. fasilitasi. Kasmuin Pasal 33 UUD 45.• Konsistensi implementasi dari policy. Bentuk organisasi desa perlu disesuaikan dengan karakteristik dan tipologi desa. Saya justru berpikir optimis akan memberikan kemakmuran. fasilitasi. Diperlukan adanya konsistensi pemerintah pusat dan daerah dalam praktek pelaksanaan setiap kebijakan. kenapa justru ada eksploitasi. koncuren. di UU 32/2004 itu diatur urusan wajib. tetapi untuk hubungan desa dengan supra desa ini harus tegas. dimana desa tidak boleh mengklaim bahwa ini kewenangannya. pilihan. semua level harus bertanggung jawab untuk mengatasi itu. Ini harus diperjelas dulu landasan akademik kita apa? Di dalam inter government relation. Pengaturan relasi antara desa dengan supra desa tetap harus mengacu pada dasar konstitusi dan derivasinya. Bahkan. Yang harus kita pertegas adalah otonomi yang berpihak masyarakat desa dan ada jaminan untuk digunakan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

tetapi juga persoalan politik. sehingga terbit banyak SE yang mengatur daerah. Presentasi Kelompok: MIKRO KREDIT DAN BUMDES Disampaikan oleh: Adnan Sumber hukum PP 72/2005 Pasal 78 s/d 201 • Mikro kredit berkait dengan produksi. padahal kalau residual teori itu wewenang. Marhaban Otonomi bukan hanya persoalan hukum. otonomi ini yang diambil berdasarkan persoalan politik. Saya tidak mengerti Pak Ryaas belajar di Amerika tahu persis otonomi itu. UU 5/74 itu wewenang. • Untuk pengelolaan modal maka perlu Lembaga Mikro Kridit • Lembaga Mikro Kredit seperti apa yang ada desa ? Lembaga Keuangan Desa perlu ada kerangka kerja yang baik. kalau pengawasan maka ikut mengarahkan. 2. apakah dalam bentuk semacam Rural Banking sustainable Usulan diberi nama BUMDes • Perlu manajemen yang profesional • BUMDES perlu pengakuan dengan payung hukum • Kegiatan mikro finance selama ini yang berkembang di pedesaan adalah usaha simpan pinjam Menggagas Desa Masa Depan 87 . Australia. ada pemisahan yang tegas karena ada pendekatan akuntabilitas. Negara-negara baru (Amerika Serikat. oleh karena itu terbit UU sektoral. yang dipakai dalam pasal 18 ayat 5 itu hanya urusan. maka perlu modal. Negara-negara old model (Jerman. dan efisiensi. dan pemasaran. karena pengawasan ikut mengarahkan. karena di Australia ada banyak UU otonomi daerah. apalagi mau kita bawa ke desa. fasilitator. Oleh karena itu gagasan apa yang akan kita sampaikan. kalau sudah diberikan urusan maka berhak atas wewenang. pada tingkat lokal itu begitu mahal demokrasi kita. Saya kira disana ada politik. kalau saya melihat lebih ke politik. teknologi. Moderator Dari awal memang ada cara pandang yang berbeda antara ketentuan hukum dengan nilainilai filosofis hukum yang akan diberlakukan di Indonesia. Berkaitan dengan pasal 33 ayat 2 negara sebagai pelaku. supra desa itu seperti apa? Apakah dia supervisi. nampaknya yang diberikan itu urusan. itu yang berkaitan dengan yang strategis. Skandinavia. Perancis) urusan politik dibawa sedekat mungkin dengan rakyat. selanjutnya dari wakil kelompok BUMDes. Kita harus jelas apakah kontrol atau pengawasan. Kalau kontrol itu hanya melakukan uji. 5. Moderator Tampaknya sudah cukup waktu. Kalau kita baca otonomi daerah dan desentralisasi ada 2 cara : 1. eksternalitas. Hubungan wewenang yang diatur pasal 18 a itu. Dalam pasal 18 residual teori yang dipakai tetapi yang dipakai urusan. ini yang menjadi tali sentralistik.Ibnu Masalah urusan dan wewenang. kayaknya ini lebih dekat dengan delegatoris. Saya pilih ke istilah kontrol. kita harus kita pisahkan kontrol dan pengawasan. di UU 32/2004 itu urusan. ini pada akhirnya digunakan untuk kemakmuran rakyat. Pasal 1 negara memberi pengaturan. Newe Zealand) meletakkan otonomi level di urus di tingkat state (politik). UU 22/99 wewenang.

• BUMDes harus memberikan perhatian pada masalah perempuan • Pembentukan BUMDes bukan penyeragaman dan pemaksaan (pengalaman KUD). • Untuk mengatasi monopoli elit dalam BUMDes maka bentuk hukum yang diusulkan koperasi yang berorientasi pada ekonomi kerakyatan. dll) untuk menghindari pertarungan dengan pemodal dan elit desa. • Kebijakan antar sektor belum saling mendukung untuk pengembangan ekonomi desa • Lebih dari 60% ekonomi desa dikuasai oleh kelompok elit dan pemilik modal besar. juga bukan instrumen kapital besar yang mengancam ekonomi pedesaan. oleh karena itu disarankan untuk berbadan hukum/diaktekan. Tetapi dasar ini belum bisa akses ke lembaga perbankan. nelayan. tetapi dinas lain terkait harus melakukan hal tersebut. terbatas pada Bank dan Koperasi • Rendahnya akses modal bagi masyarakat miskin dan perempuan • Ada pandangan masyarakat kalau uang dari pemerintah tidak perlu dikembalikan – sehingga banyak kredit program macet. Perempuan terbukti sebagai pelaku ekonomi yang tanggung dan mayoritas di desa. Pengalaman Kabupaten Sumedang: Yang dimasukkan ke dalam BUMDes: • Alokasi anggaran simpan pinjam • Unit usaha simpan pinjam menjadi bagian BUMDes • Lumbung Desa • Kegiatan penarikan rekening listrik • Penyewaan hand traktor • Unit toko untuk pelayanan masyarakat (berbagai produk dan jasa) • Warung nasi dsb. • Bagaimana dengan kepemilikan BUMDes (Masyarakat dan harus dihindari kepentingan dan kooptasi elit desa • Jenis usaha dan model BUMDes harus memberi ruang dan bertumpu pada inisiatif dan kearifan lokal Problem • Tidak ada fasilitasi sistemik untuk pengembangan usaha kecil di desa • Tidak ada perlindungan pasar untuk pelaku usaha kecil • Belum ada payung hukum yang jelas untuk LKM. • Ada alokasi modal dari APBD untuk pengembangan BUMDes. Ditingkat desa BUMDes itu dibentuk berdasarkan Perdes. • BUMDes dibentuk berdasarkan aktivitas ekonomi yang telah ada di tingkat lokal dan untuk melindungi ekonomi lokal.Pengalaman Layanan Keuangan di Masyarakat Jenis layanan kredit di Desa • Program kredit dari PPK. Menggagas Desa Masa Depan 88 . untuk rakyat (petani. • Perlu ada afirmative action dalam pengembangan ekonomi di desa. (kebijakan ini tidak hanya dilakukan Depdagri/Ditjen PMD. P4K • Simpan pinjam desa • Lumbung desa • Koperasi desa Perempuan terbukti sebagai nasabah yang baik dalam kredit dan penerima program yang efektif. Tawaran tentang Pengembangan Ekonomi Desa (BUMDes dan LKM) • BUMDes dan LKM harus menjadi upaya pengembangan ekonomi lokal dan pengentasan kemiskinan.

ini ada UU yang mengatur LKM dan koperasi. Ini agak rumit membagi payung hukum untuk BUMDes. Tanggapan Maryunani Berbagi pengalaman. Ini ada yang menarik dari Pak Maryunani dan Stefan. • Ada jaminan/afalis untuk PUK yang mengalami kesulitan dalam akses modal (baik dari pemerintah-lembaga lain). fasilitasi pengembangan produksi dan pasar sebagai satu sistem pengelolaan. • Dalam LKM harus diikuti dengan pendampingan. BUMDes itu akan dibiayai APBD. • Ada mekanisme dan skema kredit yang sesuai dengan kondisi masyarakat (belajar dari pengelaman “bank plecit” ). sehingga kalau kita membuat BUMDes harus dihindari yang menyangkut LKM dan koperasi. panjang sekali prosesnya. dana itu bila didistribusikan setelah eksekutif bertemu dengan legislatif. dll). supaya tidak gamang dalam mengatur itu. agar perda itu baik dan benar. Di tingkat II. untuk tingkat desa apa? Di PP 72/2005 ditetapkan perdes. • LKM bukan menjadi perpanjangan tangan usaha kapital besar maupun intermediasi dari bank komersial yang ada. LKM (Lembaga Keuangan Mikro) • Keberadaan LKM tidak lepas dari upaya menyediakan layanan modal bagi pelaku ekonomi untuk pengembangan usaha. karena semua akan menjadi bemper ekonomi desa. • Ada kejelasan bentuk hukum untuk melindungi dana rakyat yang disimpan. tenaga dan pikiran. • Perlu dibangun pola dasar dan skema yang memungkinkan akses masyarakat miskin dan perempuan mendapatkan layanan secara mudah. Sebenarnya tidak ada perintah di PP untuk membuat pedum. Ada affirmative action dalam layanan usaha BUMDes kepada perempuan. • Ada mekanisme monitoring dan evaluasi dalam pengelolaan LKM. Dalam pengelolaan itu bagaimana rakyat desa itu komit. siapa yang akan mengontrol BUMDes. Pengawasan. perdes mengacu perda. perda mengacu UU. kalau kita bandingkan dengan BUMD itu bentuknya perusahaan daerah. agar tidak bertabarakan dengan UU lain maka harus di luar LKM dan koperasi. Tumpak PMD sudah mencoba payung hukum untuk BUMDes ini.• • • • • • Jenis usaha harus memberi ruang dan bertumpu pada inisiatif dan kearifan lokal. termasuk monitoring dan pengawasan. karena di PP 72/2005 itu akan dikelola pemerintah desa. Menggagas Desa Masa Depan 89 . Moderator Langsung saja dari kelompok lain yang akan menanggapi atau memberi masukkan. Perlu ada kejelasan tatalaksana dan manajemen profesional. Rakyat harus menjadi subyek dalam kegiatan BUMDes (mengedepankan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat dalam rangka kedaulatan ekonomi rakyat). sebagai komisaris. Perlu ada kejelasan dan dibangun sinergi kebijakan antar sektor dalam pengembangan ekonomi desa (BUMDes). mau memberikan waktu. sehingga perlu pembinaan. Kita harus tegas mengatur ini. pemerintah Jawa Timur sudah menunjukkan good will. rakyat miskin (petani. Pemda sudah membuat tim pembina BUMDes. Ada kejelasan tentang kewenangan desa dalam pengelolaan sumberdaya ekonomi. kita tidak yakin kalau di APBD nya tidak ada.nelayan.

Jadi tergantung pilihan masyarakat disitu maunya seperti apa. Payung hukum yang ada adalah yang umum. maka tidak bisa ke sana nanti. ini akan menjadi ladang baru bagi percepatan proses korupsi di desa. Moderator Diskusi ini kita akhiri. Menggagas Desa Masa Depan 90 . Lebih fundamental lagi. Desa senantiasa menjadi ajang tempur untuk mencari keadilan dalam kehidupan negara kita masih panjang. bukan soal ADDnya tetapi bagaimana kita mengelola ADD itu.Yuni Sengaja kita tidak mengusulkan satu jenis badan hukum. Kasmuin Membandingkan gagasan itu. Di daerah kami ada pasar desa yang besar tetapi tidak memberikan kontribusi kepada desa. saya cenderung untuk merumuskan badan hukum tersendiri dalam BUMDes. bukan khusus untuk BUMDes. PR menghadang kita sesuai dengan profesi kita masing-masing dalam upaya kita untuk membela desa. ke bank misalnya. Kalau kita menganut badan hukum koperasi. Yang awalnya untuk meningkatkan pendapatan desa. BUMDes yang lemah payung hukumnya. seperti ADD. keahliannya apa dan mengacu UU yang sudah ada. Pengalaman di Sumedang dengan perdes mereka tidak cukup melakukan akses bisnis. dan itu diputuskan dengan keputusan desa. lebih banyak ke perangkat desanya. Sehingga pedoman seperti Pak Tumpak itu benar. itu milik bersama dan hasilnya akan dibagi bersama dalam anggotanya. menggagas desa masa depan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful