VIII.

DISKUSI KELOMPOK TERFOKUS

8.1. Diskusi Kelompok
Hari/Tanggal : Senin, 3 Juli 2006 Pukul : 13.30 – 15.30

1. Kelompok: OTONOMI DAN KEWENANGAN DESA
Fasilitator Peserta : 1. Arie Sujito 2. Bambang Hudayana : M. Barori-STPMD “APMD”, Alit-Majelis Madya Gianyar, MaryunaniFE Unibraw, Steny-HUMA, Sulikanti-Bappenas, Yusuf-SAINS, Lubis-YIPD, Suharman-PSPK UGM, Kamardi-Perekat Ombara, Franky-AMAN, Ibnu-FH Unibraw, Toto-BPMKS Sumedang, AzamPemdes Kebumen, Sofyan-Akatiga, Matt Stephan-World Bank, Vitristaf DPD, Kasmuin-CePAD, Adri Warsena-FPPD.

Fasilitator Sesi ini kita akan mengeksplorasi pemikiran menjadi lebih dalam, set up diskusi kelompok ini diharapkan akan muncul pemikiran-pemikiran, ide-ide tentang otonomi dan kewenangan desa itu seperti apa? Pilihan-pilihan yang visible. Tadi sudah banyak disampaikan Pak Toro dan Simatupang telah mengesplorasi banyak hal pilihan-pilihan berangkat dari peta normatif maupun empiris hubungan antara pusat, provinsi, kabupaten dan desa. Secara prinsip kita punya kebutuhan melalui otonomi dan desentralisasi, maka ini lebih memungkinkan terjadinya demokrasi. Pak Simatupang juga bicara banyak secara sangat normatif dan reduktif. Pak Toro tadi mengungkap beberapa pilihan seperti local self goverment, itu bagian terpenting dari otonomi dan demokrasi. Kita bisa belajar dari review, tapi yang lebih penting itu adalah penataan dan kelembagaannya ke depan seperti apa? Barori Ada pandangan tentang pemberdayaan masyarakat desa itu dibingkai dalam desentralisasi, kita pahami dulu konteks desentralisasi. Ada 3 domain dengan asumsi desa adalah sebagai wilayah pemerintahan yang di dalamnya ada pemerintahan dan pembangunan, domain ini yang perlu kita sepakati dengan bingkai itulah pemerintahan desa diberi kewenangan untuk melaksanakan pembangunan dan pemerintahannya, sehingga pemerintahan yang desentalistik dan pembangunan yang desentralistik menjadi prasyarat pemberdayaan masyarakat desa. Pemberdayaan masyarakat desa itu mencakup 3 hal yaitu: 1) pemerintahan yang desentralistik, 2) pembangunan yang desentralistik, dan 3) desentralistik fiscal. Secara normatif hal ini sudah kita temukan dalam UU 32/2004 maupun di PP 72/205, persoalannya kita memantapkan itu, apa yang menjadi kewenangan desa. Masyarakat desa akan berdaya kalau ada kewenangan yang melikupi dirinya, yang harus kita kedepankan adalah sebuah ketentuan bahwa level pemerintahan kita harus mempunyai otonomi pemerintahan sendiri-sendiri. Oleh karena itu kewenangan desa harus kita sepakati dan pahami bersama dan secara normatif UU dan PP sudah mendorong ke sana. Sejauh mana kewenangan itu bisa dijadikan posisi baru desa dalam melaksanakan pemerintahan dan pembangunan? Desentralisasi harus diikuti dengan otonomi desa yang nilainya sama dengan otonomi di tingkat kabupaten, provinsi
Menggagas Desa Masa Depan

46

maupun pusat. Otonomi dimaknai juga dengan kewenangan desa dalam mengelola pemerintahan dan pembangunan. Perangkat untuk disana sudah kita punyai, pembangunan yang desentralistik, perencanaan pembangunan yang berhenti di tingkat desa. Fasilitator Otonomi desa diletakkan dalam 3 hal: pemerintahan, kewenangan dan keuangan desa. Memahami otonomi dengan diletakkan hubungan antara desa, kabupaten, provinsi dan pusat. Tadi di diskusi ada hal penting, meskipun belum dilihat spesifik. Alit Anggap contoh bangunan, dasarnya kuat, perlu porsi yang jelas menyangkut kewenangan desa. Di UU 32/2004 pasal 200 itu sudah, menyangkut kewenangan desa pasal 206 perlu dirujuk ke tingkat kabupaten. Rujukan ini ditindaklanjuti di tingkat kabupaten sampai ke tingkat desa, sehingga posisinya jelas, mana hak-hak desa. Sebab kita tahu, desa kita karakternya berbeda-beda, apa yang sudah ada kita kembangkan, rujukannya berdasarkan UU yang sudah ada, bagaimana kejelasan porsinya. Tentang keuangan, pendapatan asli desa, perlu diperjelas, mana saja yang boleh sehingga desa itu bisa diberdayakan sesuai dengan semangat otonomi. Fasilitator Maksud Pak Alit, itu perlu dirinci lagi dalam Perda. Maryunani Otonomi dan kewenangan, saya ingin menambahkan satu muatan bahwa otonomi itu adalah sebuah sistem yang hirarki vertikal dan horizontal. Kalau bicara otonomi desa bisa kita tangkap hirarkhi horisontalnya, bahwa desentralisasi fiskal perlu diikuti dengan kewenangan, desentralisasi fiskal yang di PP 72/2005 ada 3 komponen besar, bagaimana desa mampu dalam pendanaan dalam pembangunannya, kemudian diikuti desa itu mampu mengelola sendiri dana dan pembangunannya, dan diarahkan ke kegiatan ekonomi produktif, maka kemandirian itu ada disitu. Persoalannya, apa betul desa desentralisasi itu ada? Pengalaman di kabupaten/kota di Jawa Timur, desentralisasi yang ada ini desentralisasi yang sentralistik, dimana posisi desa itu memiliki bargaining position dengan kabupaten atau sebaliknya sejauh mana kabupaten ini memberikan good will-nya, sehingga sinergitas keduanya ini belum ada. Persoalan bukan pada normatifnya tetapi pada good will kabupaten. Sejauh mana regulasi ini diikuti good will agar sampai ke desa? Stenly Soal tawaran dari Mas Toro, dari pilihan itu mesti dipilah lagi ke level yang lebih konkret, dengan memilih salah satu atau meramu ke tiga hal itu apa saja kewenangannya yang akan menjadi turunannya. Kita tidak bisa bicara kewenangan secara konkrit kalau tidak memilih dari 3 model itu, atau mengacu ke UU yang ada. Kalau mengacu ke UU, pertanyaannya adalah apakah sudah cukup, kalau tidak cukup dengan model itu apa yang akan kita pilih? Melihat perkembangan politik mungkin hanya model local self government yang konkrit, model seperti ini khan tergantung masing-masing daerah, kalau mau milih 3 hal itu dipecah dan turunan-turunan dari model itu. Usul saya, yang masyarakat adat maka akan self governing community. Sulikanti Regulasi ini masih baru, saya tidak yakin itu sudah dilaksanakan pemerintah daerah. Daripada kita mengganti yang ada, kita laksanakan itu dahulu, kadang kita bagus di konsep, pelaksanaannya amburadul. Bentuk apa saja ke depan, lebih baik kita identifikasi dari pelaksanaannya yang maju yang mana? Apakah self governing community, yang jadi
Menggagas Desa Masa Depan

47

pertanyaanya masuk tidak kita ke masyarakat adat. Kita tidak mudah menentukan 3 itu, kita perlu merenung posisi dimana, sehingga bisa melihat/ambil yang mana? Semakin banyak aturan semakin tidak benar, biarkan mereka mengatur sendiri. Fasilitator Yang perlu kita bahas adalah mana yang perlu diatur dan mana yang tidak. Pak Hans tadi mengatakan, kalau negara tidak beres bukan berarti negara tidak dibutuhkan. Kalau kita setir sedikit dari Pak Sutoro dari 3 model, kalau local state government itu pernah dijalankan masa orde baru. Persoalannya desa itu akan dispesifikasikan dengan UU sendiri atau tidak, tetapi memastikan ada pengakuan negara atas desa. Perlu diidentifikasi otonominya seperti apa? Kelembagaanya seperti apa, lalu solusinya seperti apa? Yusuf Bagaimana self goverment community itu bisa menghadapai tantangan pluralitas? Fasilitator Pertanyaan ini penting ketika Pak Syamsudin Haris mengatakan ada tuntutan untuk tidak menyeragamkan. Lubis Bicara otonomi dan kewenangan desa ada 2 hal: 1. Kewenangan yang diberikan kepada desa, belum benar-benar kepada desa, sehingga kita tidak optimal dalam pemberdayaan desa. Sudah saatnya memberikan kewenangan perijinan kepada masyarakat bukan hanya KTP saja tetapi juga seperti pemungut retribusi, penanganan retribusi sampah, warungwarung kecil, sehingga desa dapat diberdayakan, mendapat income untuk memberdayakan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan desa. 2. Jangan sampai kewenangan yang diberikan itu tidak ada kontrol, karena akan menghambat investasi di daerah, jangan sampai kebablasan memungut retribusi yang tidak mendukung investasi. Suharman Berhubungan dengan fiskal, otonomi dan kewenangan untuk mengelola sumbersumbernya perlu dipahami: 1. Otonomi dan kewenangan itu bukan di ruang hampa, tarik menarik dengan pasar. Banyak bondo desa berubah menjadi ruko, bondo desa yang telah menjadi uang mudah sekali menjadi elitis sifatnya, misalnya untuk membiayai pamong desa. Di Kampung Naga masyarakat menolak menjadi obyek wisata tetapi tidak memperoleh hasil serupiahpun dari kegiatan wisata itu. 2. Tidak sterilnya faktor politik di bawah. Contohnya, Bupati menganggarkan dana APBD dan disalurkan ke desa pendukungnya. Pasar dan politik menjadi eksternal environment yang harus diperhatikan dari otonomi dan kewenangan desa. Kita tidak perlu pesimis, dengan regulasi kita bisa menata/mengukur eksternal environment. 3. Persoalan kontrol dan elitis, otonomi dan kewenangan desa, kontrol itu bagaimana mekanismenya? Format itu perlu dikedepankan. Kamardi Kita sudah membahas konsep ideal tentang desa, paling tidak ada 3 hal untuk didesakkan yaitu : 1. Akses pengelolaan sumber daya masyarakat adat di desa, di UU 22/99 dan UU 32/2004 SDA yang dikelola kabupaten tidak boleh dikelola desa sebaliknya yang dikelola desa tidak boleh dikelola kabupaten, faktanya tidak demikian. Pergeseran seperti itu juga APBDes, perda perlu mengakui adat di desa. Hambatan lain itu di daerah, pusat dan daerah tidak sinkron, mereka saling lempar tanggung jawab.
Menggagas Desa Masa Depan

48

2. Hak konservasi, termasuk tata nilai, adat itu sepotong dipahami di desa. Normanorma itu kalau bisa diadopsi di desa untuk membuat sistem hukum adapt, dan perda perlu mengakui itu. Saya mendukung perlu adanya pendetailan UU ke dalam perda. 3. Kewenangan ini ketika di desa, harus dipertegas pemerintahan itu lebih ke administrasi, tetapi pengaturan tata nilai, sistem, roh kehidupan di desa jangan diintervensi, jangan dicampur aduk. 4. Untuk PP 72/2005 pasal 68, desa paling sedikit mendapat 10% dari retribusi, ayat C desa mendapat 10% dari DAU, ini yang disebut ADD. Ketika ADD turun maka yang bagian dari retribusi tidak diberikan. Franky Bicara kewenangan, akses SDA, saya merasa tidak bijaksana kalau tidak kita undang departemen lain, misalnya kehutanan, perkebunan, tambang dll, karena regulasi itu banyak benturan. Ibnu Kita tidak diskusi membagi kewenangan per sektoral, yang perlu kita rumuskan bagaimana memberi/membagi kewenangan. Kita tidak mungkin per sektoral, itu pun per daerah berbeda-beda. Konstitusi sudah memberikan kewenangan, pasal 18 ayat 5 amandmen UUD, sayangnya konstitusi tidak mengatur desa. Dari rumusan, pusat itu ada 5, namun ada urusan wajib daerah yang menyangkut kesejahteraan rakyat, misalnya ketenagakerjaan, pendidikan dll. Kalau di luar itu maka bisa dilakukan daerah maupun kabupaten. Dari UU 22/99 keluar PP 25 yang membagi per sektor, yang tidak diatur di PP 25 maka kewenangan kabupaten. Problemnya bagaimana mengatur kewenangan desa yang tidak ada di konstitusi. Kewenangan desa itu ada yang asli, dan ada yang dari kabupaten, yang dianut ini tidak konsisten dengan UUD. Kalau desa kewenangannya diatur kabupaten, sedangkan kewenangan kabupaten sepanjang tidak diatur pusat. Sekarang kita mau pakai, apakah kabupaten mengatur seperti pusat mengatur kabupaten atau kabupaten minta kepada desa, formula apa yang akan kita pakai? apakah model konstitusi atau desa melist dulu, ini tidak bisa diseragamkkan, ini hanya bisa buat kriteria. Problemnya ada sektor pendidikan, kesehatan, ini bisa dirinci. Yang dimaksud kewenangan itu adalah menjalankan sebagian kewenangan pemerintahan. Pembagian selama ini tidak pernah dilakukan dengan baik, semuanya remang-remang. Formula apa yang akan kita pakai untuk kita berikan desa? Kalau menurut konstitusi maka daerah membuat perda tentang kewenangan. Sebenarnya kewenangan itu tergantung model otonomi seperti apa yang kita anut. Toto Barangkali sudah kita kenal namanya desa itu tumbuh dari adat istiadat, asal usul, prinsip ini yang harus kita pegang, kemudian timbul dan tumbuh dari bawah, idealnya menggali dari bawah. Contohnya, kita mengenal tanah adat dan tanah sertifikat, yang punya kewenangan tanah adat adalah desa, jadi menggalinya dari bawah, kita tinggal membuat rambu untuk dilaksanakan kabupaten. Otonomi yang kita gali, kewenangannya sejauh mana desa itu mampu melaksanakan sendiri? Fasilitator Yang belum clear itu kewenangannya seperti apa? Itu tadi proses otonomi dan kewenangannya. Azam Pendapat itu sangat dipengaruhi lingkungan. Saya dari lingkungan birokrat, berkaitan masalah kewenangan, tanah bengkok desa yang berubah menjadi ruko. Itu menjadi kewenangan desa, desa boleh menjual dan mengalihkan. Kalau sampai bendo desa
Menggagas Desa Masa Depan

49

kalau spirit tidak homogen maka kewenangan yang kita address kita ke sana seperti apa? Ide pak Ibnu menarik. Kita sudah membuat perda kewenangan desa. yang perlu diatur adalah kewenangan dari pemerintah. sehingga hanya berhenti di tingkat kabupaten. Desa di Kebumen tidak punya tanah bengkok dan di Banyumas ada dan luas sehingga penghasilannya sangat banyak dan bisa mengatur pembangunan di desa. jadi penting bicara kewenangan adalah kemampuan desa membuat peraturan tetapi desa juga punya otoritas untuk membuat keputusan. pertama harus memilih dulu model pemerintahan. kades dipilih masyarakat tetapi tanggung jawab kepada bupati melalui camat.sebaiknya tetap masuk ke pemerintahan daerah. Desa bisa menyelesaikan peradilan desa yang informal. Sofyan Mekanisme kewenangan. Ibnu Yang perlu kita diskusikan itu mekanisme. Pertanyaannya adalah mempertimbangkan konteks daerah. Komentar Pak Ibnu. pertanggungjawaban. lalu dia menjustifikasi bahwa di wilayahnya ada hutan Menggagas Desa Masa Depan 50 . anggaran desa itu seperti darimana saja. aturan dibuat untuk dilanggar. tidak perlu detail. saya setuju desa punya kewenangan. Mnurut saya. infrastruktur. pihak yang memakai bondo desa harus mengganti minimal sesuai dengan harganya. kepala desa ini harusnya standar minimal SMA. namun ada problem-problem empiris. Matt Stephen Otoritas desa untuk menyelesaikan masalah. Benturan terjadi antara kabupaten dengan desa. Sudah ada perda tentang bondo desa. tapi belum dilaksanakan. Fasilitator Normatif regulasi sudah ada. Kewenangan itu sangat sulit dilaksanakan. karena akan ada tarik menarik dengan kabupaten dan provinsi. Dari struktur pemerintahnya juga sangat kurang. masyarakat dikebiri oleh pejabat. bagaimana kalau desa? Lalu kita akan training untuk IMB. walaupun itu bertentangan dengan hokum. Dari RUU harus jelas pemerintahannya. Apakah model konstitusi atau desa yang menentukan. desa dan pilkada. Maka perlu ada penilian terhadap kabupaten. saya mengusulkan pertanggungjawaban kades. Ciri otonomi. kalau kita pilih self governing community. maka kita bisa melihat wewenang desa akan seperti apa. hanya itu harus diberikan kriteria secara bertahap. di peraturan itu belum ada. penyelesaian konflik itu menjadi kewenangan di desa. dukungan masyarakat. legislatif. kewenangan yang asli tidak perlu kita atur.diambil oleh pemerintah tanpa ganti rugi maka itu sudah kebodohan desa. Peradilan komunitas itu bisa di dalamnya peradilan adat. Vitri Indonesia terlalu banyak aturan. karena yang dihadapi adalah SDM. Untuk bisa meletakkan wewenang desa. Oleh karena itu ada formula dan tahapan yang harus dilaksanakan. Franky Saya setuju. ini perlu didorong dan didefinisikan. masyarakat tidak dihargai. namun perlu dipisah peradilan desa dan komunitas. kemampuan perangkat. wewenang dan anggaran. karena otonomi itu mengatur dan mengurus. kita berangkat dari mana? Konstitusi tidak jelas mengatur tentang desa. misalnya di Minangkabau sudah ada surat edaran untuk peradilan tinggi untuk peradilan negeri di Minangkabau agar mengacu ke peradilan desa. Kita pernah menantang IMB. dia bisa membuat peraturan. peradilan desa itu sudah ada preseden. Untuk kasus yang kecil-kecil. unsur pemerintahan eksekutif. UU 32/2004 akan dibagi 3 yaitu pemerintahan daerah. yudikatif tidak jelas. syaratnya dirubah. bagaimana interaksi dengan peradilan formal dan sebagai pengakuan kepada masyarakat untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. kalau mereka tidak mampu maka jangan diberikan kewenangan. administrasi.

Bapak kita mencoba mengelaborasi UU 16/69 tentang desa praja sampai dengan UU 32/2004. itu tidak akan selesai kalau tidak duduk dalam satu meja.adatnya. SDA yang sudah diatur dalam UU sektoral. Ade Regulasi perlu ada keharusan pelaksanaan UU PA. kalau itu sudah dikaji maka kita butuh sistematika perundang-undangannya seperti apa? Setelah itu kita sebarkan ke seluruh daerah untuk mensikapi mana yang baik mana yang tidak. • Bahwa kesenjangan demokrasi pada aras desa berpengaruh pada kebijakan desa. tanahnya. pengaturannya bukan sektoral lagi. 2. sehingga terjadi benturan kelembagaan. Fasilitator Bapak-bapak. Hans Antlov-LGSP. UU 32/2004. Abu–Persepsi. Widyohari–STPMD ”APMD”. akan terjadi pertarungan dengan negara. mana yang baik dan tidak baik. • Demokrasi. Haryo Habirono – FPPD : Ade–PPK. Fasilitator Tadi muncul satu pendapat bahwa ini pengalaman praktis. resolusinya apakah membentuk UU baru atau bagaimana? Kewenangan ini harus dipastikan. Datuk–Asosiasi Nagari. pembinaan dan pengawasan itu dalam konteks pelaksanaan otonomi daerah dan tanggung jawab pelaksanaan. Kasmuin Saya sepakat seperti tidak perlu ada penyeragaman. walaupun intinya ada pengembangan kapasitas itu menjadi perhatian khusus. ada beberapa yang hal perlu dicermati dalam diskusi kelompok kita sebagai berikut: • Transformasi UU 32/2004 berpengaruh pada sisi demokrasi desa. Wafi–BPD. Susmanto–Letmindo/GTZ Aceh/ LGSP. Rahma–LIPI. dan itu menjadi pertarungan yang riel. IKPM bilang jelas bahwa itu kewenangannya Papua. sisi yang lain normatifnya saja sangat sulit. Irwan–Letmindo/GTZ Aceh. Syamsul Hadi–Bina Swagiri. Dahlia–TTS SoE. Kalau bicara kewenangan yang sudah ada sejak awal itupun harus diikuti pengembangan kapasitas dan pembinaan paradigma. • Implementasi Pancasila. Adnan–LP3ES. Menggagas Desa Masa Depan 51 . Mengkaitkan apa yang disampaikan di depan. Kasus riel pertentangan RUU PA Aceh dengan Otsus Papua. termasuk kultur. apakah mungkin menjadi suatu pilihan yang cocok (bottom up)/ internalisasi nilai. namun departemen kehutanan bilang itu haknya departemen. Yuni–Asppuk. UU dalam ranah desa. ibu-ibu. Riawan Tjandra – Atmajaya Yogyakarta 2. Aturan sering bertubrukan. Widya-FPPM. Joana–World Bank. hubungan antar sektor. Marhaban-PMD Depdagri. Terkait kewenangan harus dikembalikan ke konstitusi.Lakpesdam. Fasilitator Persoalan kewenangan tidak cukup tetapi juga kapasitas. akhirnya dicabut kewenangannya. Kelompok: DEMOKRASI DESA Fasilitator Peserta : 1. Wai. Agus R. kalau perlu ada departemen khusus agraria. hubungan sektoral berbenturan.

Fungsi lembaga-lembaga yang mampu mengusung demokrasi? 3. Wafi • Kaitan dalam hal ini. Pada dasarnya masalah desa/masyarakat desa adalah mereka tidak terlibat dalam proses perencanan. melihat nilai demokrasi yang ada di di desa dengan model perwakilan yang dipilih langsung. saya lebih optimis. tapi cenderung melihat apa yang dibutuhkan desa. sehingga seorang kandidat kepala desa tidak perlu manggung di desa. Belum ada kepastian mewakili kepentingan masyarakat. • Persoalan quorum menjadi masalah. fungsinya diberangus dengan dalih-dalih. Kendala-kendala yang perlu diperhatikan! Pada akhir pertemuan akan disepakati wakil yang akan menyampaikan presentasi. Sehingga musrenbang desa mentok di Kabupaten. Bila masyarakat terlibat dalam proses perencanan. Bagaimana bisa melibatkan masyarakat lebih luas. artinya harus dengan target sekian orang. • Demokrasi yang cocok yang bagaimana? Demokrasi tidak perlu dicocok-cocokan. tetapi juga dalam menyalurkan aspirasi masyarakat/cari input. tidak hanya dalam pengambilan keputusan. • Perlu juga dipikirkan pendidikan politik di desa. dengan harapan yang lain akan melengkapi. Masih ada kecenderungan elit desa yang menentukan. maka pemilihan kades juga dibiayai. dipilih langsung. Ada BPD yang belum berperan dalam fungsinya – check and balances. Dengan aturan saat ini belum berati demokrasi sudah berjalan di desa.• • • Kaitan demokrasi dengan skala kebutuhan masyarakat. Dari beberapa hal tersebut. masyarakat belum. mengontrol pembangunan di desa. Melihat fakta kelemahankelemahan BPD ya. Jadi perlu ada ketegasan masyarakat dalam proses pembangunan. Demokrasi apa yang paling cocok di Indonesia? 2. Dengan keluarnya UU 32/2004 terbelalak. Berangkat dari program pengembangan seperti yang dilakukan dalam PPK. • Keuangan. musrenbang tidak ada artinya. Sebagai pelaku perwakilan di desa saya sendiri sedang bersemangat dengan proses demokrasi di desa. BPD menjadi Badan Perwakilan Desa. Tetapi selain itu ternyata lembaga itu sendiri tidak cukup untuk melahirkan nilai-nilai demokrasi di desa. implementasi maka masyarakat merasa bertanggung jawab terhadap hasil pembangunan. maka merujuk pada 3 aspek: 1. permasalahan diantara mereka. Joana Pada prinsipnya setuju BPD – perwakilan yang mewakili prinsip-prinsip demokrasi. sehingga tidak ada raja-raja kecil di desa. melainkan kontrol. Saya lebih tertarik pada bagaimana demokrasi ada di desa. Saya lebih cenderung kembali ke UU 22/99. adanya fakta kasuskasus harus dibenarkan. implementasi dan pengawasan. polanya masih top down. dengan adanya pemilihan Presiden/Bupati dibiayai oleh APBN/APBD. dipilih dan menjadi badan penyeimbang. Basis kewenangan desa adalah desentraslisasi sedangkan otonomi desa dari masyarakat. Menggagas Desa Masa Depan 52 . jadi tidak perlu ada batasan quorum. Tetapi dengan demokrasi perwakilan yang ada sebelumya. Eksperimentasi demokrasi desa dihindari karena tidak match dengan demokrasi. euforia politik. Menjadi penting adanya demokrasi di desa/kelurahan adalah dipilih langsung. kaitannya dengan psikologi demokrasi. Tidak setuju BPD akan mempreteli kekuatan desa seperti kata Syamsudin Haris tadi. Ade Sulit menjawab demokrasi dengan model yang mana.

itu ada pada Kabupaten/Kota ke atas. ada tiga area demokrasi: bidang pembangunan (perencanaan). tapi kita tawarkan kepada yang lain. yang ’mbok bakulan’ (not: ibu-ibu yang berjualan) tidak ada. Itu bagaimana? Teringat pertemuan forum warga di Surabaya. Menggagas Desa Masa Depan 53 . Kalau di desa Sumba Timur. Apa yang disampaikan Joana perlu. akhirnya ada porsi presentase untuk perempuan. Tana Toraja. Kanada. di nagari disebut BPN (Badan Perwakilan Nagari). sosial (kontrol jalannya pemerintahan di desa). Bagaimana desa yang mempunyai dana untuk dapat membeli hasil-hasil panen? Kebutuhan basis desa jangan dikesampingkan. Masyarakat desa saat ini belum diberdayakan. Amerika. Fasilitator Kita menawarkan beberapa pemikiran. Representative demokrasi bukan ada di kita. Sinyalir kolusi di BPD ada kemungkinan. ada keberhasilan dalam keterlibatan masyarakat menentukan keputusan. Susmanto Menyinggung tentang BPD berkontradiksi dengan pemerintah desa. saat ini diserahkan kepada desa/swakelola. alim ulama. Hebatnya demokrasi. ninik mamak. serta masyarakat tidak ada inisiatif mengontrol pembangunan di desa/nagari. Keikutsertaaan masyarakat dalam pemeliharaan pembangunan di desa saat ini agak lemah. maka masyarakat akan diam. Di desa yang diperlukan adalah self community governing + inclusive demokrasi. Australia. menampung. demokrasi yang diserahkan pada tingkat ‘state’. berbeda dengan desa-desa di Jawa dan di luar Jawa. Saya pahami bahwa peran warga desa. BPD dan lembaga lain di desa. Marhaban Demokrasi yang bagaimana? Bagi saya pribadi dilihat dari literatur ada dua macam demokrasi. yaitu demokrasi modern – representatif dengan 2 prinsip dasar: prinsip representative government. provinsi. Pemdes di daerah belum betul-betul mau kewenangan diserahkan ke desa. jadi tidak memaksakan keinginan kita. kelompok perempuan. masyarakat harus dilibatkan dalam pembangunan. Kalau dipilih langsung bagaimana keterwakilan unsurunsur masyarakat. perencanaan pembangunan masih top down. yaitu penyelengaranggan negara diserahkan kepada elit dan limited government – terbatas. istrinya carik ya. kemudian ada buku Freedman ”alternative development” dengan konsep political democracy-inclusive democracy adalah demokrasi yang kita bahas. saya yang termasuk mendambakan demokrasi terutama di desa. bagaimanapun proses pemilihannya tidak terlalu persoalkan. silahkan. alim ulama. bagi yang kalah masih diberikan kesempatan untuk memberi kritik. di nagari pemilihannya dengan cara perwakilan kelompok.Datu Apa yang disinyalir saat ini sangat setuju. yang punya uang yang menang. ninik mamak. pemuda. sehingga semua bisa dicek dengan jelas. negara. Menurut saya. Syamsul Hadi Keterwakilan BPD dalam UU 32/2004 belum baik juga. tetapi terkadang ada pesanpesan dari daerah. Nah. disini adalah self community governing + inclusive demokrasi. seperti freedman. Keberagaman dalam UU 32/2004 dan PP 72/2005 masih umum. Secara umum. politik (Pembuatan Perdes). Pemikiran dan wacana tadi sangat menambah perspektif bagi kita. sehingga kades. Demokrasi seperti apa yang disepakati? Misalnya pemilihan langsung. kalau masyarakatnya kumpul tetapi ada raja. tidak hanya di Jawa tetapi juga di luar Jawa. Kalau secara antropogis barangkali desa lebih tua dibanding dengan kabupaten/kota. is there any democracy? Dewan morokaki di Banten dipilih dari ketokohan. Proyek PPK di daerah. tapi perlu tupoksi yang jelas. pemuda.

Oleh karena itu BPD ada tetapi harus ada mekanisme lain yang sifatnya Menggagas Desa Masa Depan 54 . menjadi grup politik masyarakat. ini parah. petani. semangat demokrasi di desa menurut saya sangat berbeda dengan masyarakat di tingkat atas. juga pengalaman negara lain yang berhasil. Demokrasi desa dibangun ala kelokalan setempat. siapa saja: buruh. PPK bagus. kalau cair sama sekali juga memiliki kelemahan. tetapi juga harus memberikan ruang bagi lokal. harus menjamin keberlangsungan lembaga-lembaga lokal di desa. meskipun bukan satusatunya problem di desa. itu harus dilembagakan. Kendala yang perlu diperhatikan. Tetapi BPD pada banyak desa menjadi alat legitimasi aparat desa. Aspek persamaan itu perempuan dibelakangkan. BPD sebagai institusi menjadi cek and balances bagi pemerintah desa. masih sebagian bergantung pada pemerintah. dan lain-lain. saya setuju dengan Pak Sus. kalau tidak ada. Dari prosedur itu tidak menjamin. tetapi sekarang tidak. perwakilan. karena itu murni dari adat. Kedepan perlu ditempatkan suatu forum di desa. Kerena itu. Abu Apapun demokrasi yang diusung adalah demokrasi yang menjamim kemandirian di desa. dulu ada forum di desa yang memenuhi ini. Marhaban Saya beda dengan apa yang disampaikan Hans tadi. Kalau kepala daerah memiliki wilayah. ada mekanisme kontrol internal di desa. Tidak ada sistem check and balances – itu sulit. Dalam proyek PPK. desa boleh memasukan unsur permusyawatan. Juga dalam penguatan masyarakat di desa. Karena teori apa saja di Indonesia tidak jalan. Saya mengkritik teman-teman di PMD. eksekutif. Menyinggung yang disampaikan Pak Sus. Sangat mahal bagi negara untuk representatif demokrasi. sesepuh. sehingga BPD tidak cukup mewakili sebagai institusi perwakilan di desa – kelompok-kelompok di desa. Problemnya. sehingga tepat kita mencari demokrasi. ada rapat/rembug desa. Wa’i Ada kemunduran BPD menjadi bamus (badan musyawarah). Fungsi negara menjamin bagaiman masyarakat teribat dalam proses pembangunan di desa. ada badan legislatif. Perlu dimasukan unsur-unsur/aspek penyetaraan dan lain-lain. kemudian tidak lahir dari masyarakat. Sulitnya minta ampun untuk melibatkan masyarakat dalam partisipasi di desa. tidak memadainya apa yang ada di BPD. empowerment yang ditumbuhkan dibunuh kembali. Berapa persen orang yang menyampaikan ketidakpuasan mereka terhadap BPD? Menjadi pertentangan tersendiri di masyarakat bagaimana menyalurkan aspirasinya. Kades. jangan ada kabijakan jeruk makan jeruk. yaitu partisipasi merupakan kendala yang terbesar di desa. wali nagari/kades memiliki masyarakat. Negara silahkan mengatur regulasai tentang desa. partisipasi di desa adalah milik elit desa. tapi masih ada celah-celah. Yang penting 3 (tiga) itu. Masa yang lalu ada demokrasi di desa.Widyohari Saya sebetulnya sepakat dengan Pak Sus. mayarakat dilibatkan dalam proses perencanaan hingga pengawasan. tetapi juga tidak sepenuhnya mewakili masyarakat. wali nagari tidak perlu untuk menjadi pengurus parpol. romantisme bahwa demokrasi desa diserahkan saja kepada desa. Eropa barat menyerahkan otonomi se-grass root mungkin. maka elit-elit diluar Jawa akan tersisih. Partisipasi menjadi titik demokrasi. Apapun bentuknya tidak masalah. Ini perlu dikembangan untuk melakukan check and balances di desa. masing-masing desa berbeda. Barat tahu persis otonomi daerah itu. meskipun BPD mewakili masyrakat di desa. Datu Kalau saya diminta untuk mewakili partai di desa tidak setuju.

sehingga seharusnya ada kursi kosong di DPRD. mengapa Indonesia tidak bisa? Olahraga kalah. Kita terjebak dengan panyakit partisipasi. Membandingkan dengan yang di atas. Selama ini banyak dikatakan kita sudah. dananya. Negara tetangga lain. demokrasipun kalah. tidak masyarakat. Amerika.insidential. Setahu saya Eropa dan Amerika hanya ada di kabupaten/kota. Dana disiapkan. tapi tidak bisa dilantik karena kepentingan poltik di tingkat atas. lembaga dari luar yang ada di tempat kami. bagi saya yang penting unsur keterwakilannya dari aspek kewilayahan. mereka bisa. • BPD dan Kades itu alat negara? Widyohari Lembaga independent silahkan masyarakat bentuk sendiri. LPM sebagai lembaga induk yang membawahi lembaga-lembaga di masyarakat. Kalau BPD. Fasilitator Karena waktu tinggal 15 menit masih ada 7 orang yang belum bicara. kelompok dan lainlain. Widya Bagi saya demokrasi seperti apa? Kembali pada kearifan lokal. lebih mementingkan proyek. adanya penokohan. • Usul: perlu ada pelatihan bagi LPM untuk perencanaan pembangunan. Perlu mengacu pada prinsip-prinsip pokok dalam membangun sistem demokrasi di desa seperti human right. kepentingan. pengangguran. bagi saya tidak masalah. Apa masyarakat tahu bagaimana membaca APBDes? Ketika dalam perumusan perencanan mereka tidak semua terlibat. Hans Saya tidak setuju demokrasi terlalu mahal. Yuni Saya mau ikuti yang sudah ada. Adnan Seringkali kita memperjuangkan bentuk daripada isi. Saya hanya mengkritisi itu.. contohnya sesudah pemilihan dan terpilih. pemikirannya terbatas. pikirannya. itu diseimbangkan. Kalau di pemerintahan. • Partisipasi dalam berbagai bentuk. Kalau dalam parpol terwakili 60%-70% maka ada 30% yang tidak memilih. Apapapun bentuk demokrasinya kalau tidak ada suara perempuan maka tidak demokratis. Menggagas Desa Masa Depan 55 . silahkan. Pancasila dan UUD 1945. keterwakilan partisipasi. seolah bentuk lebih bagus daripada isinya. • Musrenbang sebenarnya ada masalah. Banyak pendapat tentang partisipasi. • Kades di TTS seperti alat politik. pengkulturan masyarakat. tenaga. sehingga dia akan kuat. India. kehadirian fisik. ada potensi. Bagaimana kearifan lokal bisa timbul kembali? Dahlia • Bagi saya perlu ada lembaga demokrasi di desa. tapi negara Asia. Filipina. orangnya terbatas. jadi kendalanya struktural dan kultural. persoalan budaya. Jadi masyarakat perlu kita latih. modul disiapkan seperti dulu sebelum ada otonomi. ada kebutuhan.. parpolpun tidak mewakili masyarakat. jangan-jangan partisipasinya terpimpin atau terbina. Contoh. ini dan itu. diwadahi dalam forum. kita fasilitasi. Itu bukan Eropa. • Pemimpin formal di masyarakat pasti diikuti masyarakatnya. dan lain-lain sebagaimana yang tercantum dalam covenantcovenant Internasional.. permusyawaratan – perwakilan.

sikap elitis. BPN tidak berfungsi. diawali di rumah tangga? Apa itu sudah kita lakukan? • Kasus di Palembayan. kita semua membicarakan hal yang sama. jadi hanya hari sabtu saja.. Demokrasi hanya satu hari. BPD sebagai tool untuk check and balances 2.. Fasilitator Sulit menggabungkan semua wacana.hhahaahhaaa. Fasilitator Biar saja semuanya pemikiran masuk. senin-jum’at tidak demokratis. Musrenbang hanya dilaksanakan satu hari. sabtu. ada yang mengusulkan ada kursi kosong-golput. mandul. hanya kata-katanya yang berbeda. Bagaimana menanamkan demokrasi di masyarakat. contohnya beberapa anggota BPN tinggal di Bukittinggi. Keterwakilan lembaga kemasyarakatan lainnya Fungsi lembaga-lembaga: • Lembaga di desa terdiri dari lembaga formal dan non formal • Fungsi lembaga desa bervariasi: sebagai fungsi legislasi. kalau bukan kebutuhan. bagaimana kalau kita mengundang petani untuk mengikuti musrenbang. pandangan pragmatis) • Focus pada pembentukan lembaga bukan membangun esensi check and balances • Kemampuan ekonomi masyarakat • Trauma pengalaman berdemokrasi yang “mboten up” tidak memihak kepada kebutuhan masyarakat contoh masyarakat Menggagas Desa Masa Depan 56 . • Peguatan kelembagaan banyak kendala. Bagaimana ditingkat kabupaten/kota. elit-elit menyelewengkan demokrasi. Harus mengacu pada analisis kebutuhan desa 3. cuma hari sabtu saja yang demokratis. Benang Merah Pemikiran: Demokrasi yang cocok bagi desa: Inclusive demokrasi perlu menjadi pertimbangan utama dalam rangka membentuk self community governance masyarakat terlibat secara luas dalam proses pengambilan keputusan 1. siapa yang bisa disepakati untuk mewakili? Jadi Pak Datuk dan Ibu Ade untuk mewakili.. sedangkan kalau mereka ke sawah mendapatkan sepuluhribu. kalau tidak demokrasi maka akan menjadi otoriter.. banyak kendala menciptakan masyarakat demokratis.. injecting participating in local.Agus • Demokrasi kebutuhan di desa. kita sepakati siapa yang mewakili untuk menyampaikan diskusi kita? Marhaban Sedikit saja. karena oranya tidak demokratis. kontrol dan pelaksana • Bentuk diserahkan pada kearifan dan keunikan local dengan acuan dari pusat • Lembaga itu harus mampu mewakili semua aspirasi masyarakat • BPD dan lembaga kemasyarakatan yang ada harus ditopang dengan capacity building yang memadai Kendala-kendala: • Keterbatasan partisipasi masyarakat antara lain karena sistem yang belum mendukung (structural) • Kendala cultural (misalnya budaya patrialistik.

4. Kamardi-Perekat Ombara. Kelompok: ADD (ALOKASI DANA DESA) Fasilitator Peserta : 1. dengan adanya ADD masyarakat punya kemampuan untuk mengelola ADD. pendapatan desa rendah. Datu-As Wali Nagari. 2) orang desanya tidak tahu bahwa ada UU 32/2004. 5.00 3. sosialisasi dari kedua UU dan PP tidak sampai kepada kepala desa. Betapa ADD yang menjadi masa depan desa masih terbatas. mereka minta supaya ADD dapat dilaksanakan sendiri oleh orang desa. Fasilitator Itu fenomena di Deli Serdang. terkait juga dengan aspirasi masyarakat ketika perda atau perdes itu disusun. Soekirman-Wakil Bupati Sergai. merujuk PP 72/2005. Di Deli Serdang baru dianggarkan 11. Sebelumnya kita melakukan pertemuan dengan beberapa desa. Sukoco-Kades Wiladeg. Kewenangan desa harus jelas. Kesiapan kelembagaan nanti menyangkut SDM yang ada. Joana-World Bank. seharusnya sesuai ADD 43 Milyar harus diserahkan kepada desa. 3 Juli 2006 Pukul : 11.00 – 13. sehingga dapat memberikan semacam apresiasi terhadap masyarakat dan karakter masyarakat itu sendiri. ada PP 72/2005. Sumber pendapatan desa harus jelas apa-apa saja. ada 4 permasalahan yang kita perhatikan. Tumpak-PMD. mungkin kita harus menentukan kriteria kepala desa itu seperti apa. Kasmuin-CePAD. Ade-KDP World Bank. Ini sebenarnya ada keberatan tersendiri dari Pemkab. Masukkan dari 4 desa yang kami lakukan. 2. Syamsul-Bina Swagiri. bagaimana menghubungkan ADD dengan pelayanan publik? ADD selalu memakan belanja rutin kabupaten. 3. Alit Asmara Terkait informasi dari teman Deli Serdang tadi saya konsentrasi di desa. yaitu digunakan untuk pembangunan fisik. kemudian ADD untuk apa?. Fasilitator ADD menjadi harapan di desa. yaitu: 1. Bambang Hudayana 2. dalam kaitan ADD. sehingga ini terkait dengan kewenangan desa. kalau ada uangnya ADD mereka menanganinya. Ninuk Kita di DPRD Deli Serdang sedang membuat Raperda yang saat ini sudah menjadi perda tentang ADD. Legitimasi pemerintahan desa ini perlu proses yang demokrasi. Arie Sujito : Ninuk-BPD Deli Serdang. karena selama ini yang menjadi bendahara desa adalah kaur umum yang merangkap jabatan.Hari/Tanggal : Senin. karakter dan budaya setempat bisa masuk. Mengapa kabupaten tidak responsif?. Alit Asmara-Majelis Madya Gianyar. Abu-Persepsi. Adri Warsena-FPPD. maksudnya bendahara desa.5 Milyar. Perencanaan di tingkat desa perlu dikelola melalui SDM di tingkat desa. Dahlia-PMD TTS. dengan skala prioritas. Menggagas Desa Masa Depan 57 . Perda-perda dan perdes. terkait dengan UU 32/2004 ada beberapa hal yang perlu kita sikapi bersama seperti ada beberapa UU yang baru itu menarik ke pusat dan posisi daripada BPD perlu memperoleh perhatian kita bersama. persoalannya mengapa ADD tidak bisa cepat dilaksankan? Saya pikir banyak kabupaten tidak rela menyerahkan uang sekian banyak. alasannya 1) SDM tidak mampu. sehingga ada kejelasan potensi.

maka akan memindah budaya korupsi di desa.kemungkinannya adalah. Dana yang pertama itu 10 Milyar. sudah jelas bagian desa itu paling kecil 10% dari retribusi daerah dan ADD itu merupakan dana perimbanagn yang diberikan pusat kepada daerah. Perlu disiapkan resolusi managemen konflik di desa 2. setelah ADD jalan desa sudah hotmix. kalau tidak ya tidak. Mungkin juga faktor politik.Dukungan dan partisipasi dari masyarakat seperti apa. itu perda yang mengatur bukan hanya peraturan Bupati. Efek ADD luar biasa. jadi berbeda sumbernya. misalnya perda yang mengatur sekian % dari APBD harus dilakukan untuk ADD. termasuk juga dalam perencanaan dan juga kegiatan-kegiatan yang menyangkut desa. bagaimana ADD itu mutlak kewenangan desa. 1. faktor APBD kabupaten belum siap. Alasan dari Bupati adalah untuk langkah awal dan nanti kedepannya tidak akan diatur. kalau kami loyal maka dananya dapat turun. Jadi ADD itu benar-benar mutlak untuk desa. Ini yang selama itu belum jelas. Catatan lebih jauh. lha bagaimana mengelola itu? Bagaimana menyiapkan kelembagaan di desa itu? 1. Adanya regulasi yang tegas dan pro desa. faktor politik (karena tidak milih). Sukoco Ilustrasi di Gunung Kidul. Desa tidak ada otorita mengatur sendiri. yang mengatur kabupaten tapi hanya pedoman umum saja dan teknisnya diserahkan ke desa. sehingga kalau ada ketentuan dari pusat maka mereka tidak dapat menolak. sehingga ada ketergantungan dari peraturan Bupati. mestinya 23 Milyar. ada yang pakai peraturan Bupati. memang nilai asli desa ada gotong royong. Disamping ada keuntungannya ADD juga ada sisi buruknya. Saya sepakat dengan kawan dari Bali bahwa harus ada ketegasan hak dan wewenang yang harus dimilki oleh desa. DAU yang dipotong anggaran rutin. ada yang tidak tapi tiba-tiba ada bimbingan teknis. Dari teman Deli Serdang tadi ada ketidakrelaan pemerintah kota untuk memberikan porsi kepada desa. pembangunan dan lain-lain. yang harus diperjelas dalam perda itu bahwa itu harus dipisahkan dengan PAD atau APBD itu sendiri. dengan presentase sekian % untuk BPD. maka dengan kesiapan ini kita dapat menuju kewenangan dan hak desa sehingga tidak ada alasan untuk tidak memberikan porsi itu kepada desa. walaupun itu sudah dimentahi temen-teman lurah pada waktu itu. Maka ADD keluar dengan peraturan Bupati saja tapi aturannya sangat ketat sekali. Syamsul Kenapa kabupaten tidak iklas memberikan ADD. Sepertinya itu masih terjadi. penduduk desa paling tidak mendapatkan bagian 10% dari retribusi daerah. ADD ini dimanfaatkan untuk pencalonan Bupati bahwa nanti desa akan dialokasikan dana. karena di PP itu 2 hal yang dimandatkan. Kamardi Soal ADD itu selain perda mengawali kebijakan karena konsekwensi PP 72/2005 sudah dijelaskan ADD itu. Fasilitator Jadi ADD itu bukan identik dengan pengembalian dana 10% yang berasal dari retribusi itu ya? Kamardi Ya bukan. 2. 3. kalau diukur dari PP masih jauh. dia memandang bahwa kapasitas dan potensi desa belum siap. kalau itu tidak disiapkan di desa. partisipasi dan lain sebaginya tapi di ayat b. Menggagas Desa Masa Depan 58 . Yang menjadi orientasi ke depan.

itu sudah mendarah daging. Mekanisme pencairan dana cukup baik. datang kontraktor di atas kertas swakelola. kabupaten hanya memberi rambu-rambu saja. 10 % DAU maka harusnya 15 M. Proses pembuatan keputusan awal harus partisipatif. Fasilitator Penguatan bukan hanya pada aparat. boleh memberi pedoman tapi tidak usah detail. ADD tidak merata ke seluruh desa. Sejak dahulu semua orang menghendaki supaya daerahnya mendapatkan sebesar-besar. di Ngada tidak terlalu percaya pengawas dari pemerintah. Saya ingin menyampaikan bahwa ada 3 kebutuhan yang berbeda anatara di level desa dan kabupaten. kemudian kami cetak dan dibagi ke semua kepala desa. Apakah kita perlu merumuskan dan mencari strategi untuk mendorong hambatan-hambatan mengapa ADD itu macet dilakukan daerah? misalnya kita mendorong class action apabila ADD tidak dilakukan sebagaimana mestinya. karena orientasinya untuk diri mereka sendiri. Sejak berpisah dari Deli Serdang. Honor kades. bertahap. ADD seharusnya didahului RPJMDes. kabupaten jangan terlalu mengatur penggunaan ADD. porsinya tidak ditentukan. 2. setiap tahapan harus dipertanggungjawabkan lebih dulu. PP 72/2005 harus dikuatkan dengan perda. kriterianya sangat banyak. 3. karena tujuan ADD untuk mempercepat pembangunan dan kesejahteraan masyarakat desa justru akan tertunda lebih jauh lagi karena banyaknya permasalahan yang muncul karena realisasi ADD dengan penguatan kapasitas itu. rata-rata mereka mendapatkan sekitar 75 juta per desa. hanya beberapa desa. dan setiap desa memperoleh dana yang berbeda sesuai dengan kebutuhannya. karena akan menentukan besar kecilnya ADD kedepan.Fasilitator ADD itu hak desa. yang jadi kebutuhan desa lagi itu adalah keputusan musbangdes. tetapi hanya rambu. karena adanya fasilitator pendamping sehingga lebih tepat sasaran. tapi juga pada masyarakat karena mereka punya kapasitas dan lebih mandiri. DPRD dan lain-lain. Di pemahaman tingkat kabupaten beda persepsi. Soekirman Sergai baru berjalan 2 tahun 6 bulan. Bupati mengakali 50 juta per desa. Yang baik itu PPK. ada soal dengan kabupaten induk. 1. Sebaiknya tidak ada pembatasan yang rigid. Duit dari PKPS BBM itu seharusnya swakelola. dan kabag hukum. tidak sama persepsi dan empati antara ketua Bappeda. PP 72/2005 di kabupaten. Kalau ADD jalan dan proses perayuan dari pihak luar itu terus maka yang ada adalah pembunuhan terhadap inisiasi desa. dan baru menerima PP 72/2005. Ada kecenderungan berbeda. di desa itu tidak ada Bandes. tidak ada mark up. yang seharusnya kabupaten induk memberikan kepada Serdai. Baru 10 bulan bupati dan wakil bupati hasil pemilihan langsung. Pembangunan oleh desa lebih efektif. lalu APBDes dan itu masih dilakukan oleh LSM. Yang ditanyai Bandes. karena kecamatan memfasilitasinya dan yang paling mencolok adalah infrastruktur baik jalan desa maupun irigasi. kalau rata maka 75 juta per desa. Pembangunan sendiri belum. jalan dll. mereka lebih percaya ke konsultan lokal. Contoh di Ngada. Menggagas Desa Masa Depan 59 . sehingga menguntungkan pihak luar. sehingga mereka bisa bikin pasar. Ade Saya sependapat bahwa ADD diperlukan pengalaman selama ini. PMD. Kasmuin Ada semacam tindak lanjut saja. dananya harus memadai. Partisipasi masyarakat desa sangat turun. saya sangat sepakat sekali antara realisasi ADD dengan penguatan kapasitas kelembagaan desa harus digarap bersama dan segera. Disini juga ada tim pengawas. Betapa pentingnya kewenangan desa.

sudah jelas di PP konsekwensi logisnya kalau ada urusan di desa. Di desa itu banyak uang. Joana ADD adalah hak desa yang diterima untuk mengurus kepentingan diri sendiri. Abu Dari pengalaman kami di Klaten untuk mengawal ADD di tingkat kabupaten tidak cukup pemdes dan kades.Fasilitator Jadi skenarionya. Datu ADD itu kalau di Jawa tapi kalau di Sumatra Barat namanya DAUN. Peningkatan SDM. Fasilitator Saya ada info dari Pak Girsang bahwa ketika mensosialisasikan ADD. selanjutnya pengalokasiannya bagaimana? Mungkin ada contoh dari beberapa kawan. Instrumen akan sangat berharga. Instrumen kebijakan. Bagaimana kita melakukan penguatan. 2. Inilah yang kita pilih dan kita prioritaskan. DAKN. Arah pembangunan ke 5 sasaran. Perlu ada intervensi dari pusat supaya daerah tidak gamang melaksanakan ini. perlu prinsip keadilan di tingkat wilayah. 10% dari APBD. Instrumen apa yang kita gunakan untuk mengatur ADD itu. masih perlu dukungan masyarakat. perlu komitmen di tingkat nasional. Yang perlu kita minta pertama adalah komitmen kabupaten. Perlunya needs assesment di desa. 3. Untuk daerah miskin perlu jumlah minimum yang perlu disediakan desa dan kalau itu masih kurang mungkin dapat di ambilkan dari APBN. sasarannya kepada aparat dan masyarakat desa? Swakelola itu saya sepakat. Elemen di desa perlu mendapatkan penguatan untuk bersama-sama mendorong elemen di desa melek APBD dan APBDes. urusan ini mesti ada fungsi dan juga anggarannya. tentang ADD mengenai minimum yang harus disediakan desa. Pedoman level pusat belum ada regulasi. yaitu : 1. Tumpak Menurut kami dengan adanya ADD kita perlu cermati 2 hal yaitu: 1. Pembangunan kemasyarakatan. 5. Sumber Daya Alam. kalau tidak ya ada batas minimum. misalnya best bracticenya diungkap disini. apakah sesuai dengan perda atau yang lainnya. tujuan sebenarnya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. ADD itu harus diintegrasikan kedalam APBDes. Kalau melihat dari 10% itu tidak cukup. semua anggaran dari luar harus masuk APBDes sehingga ada pertanggungjawaban dilevel desa. Dan kalau itu tidak berhasil maka kami akan melakukan penguatan terhadap masyarakat diluar kecamatan untuk melaksanakan pengawasan apapun proyek didesa. dana pemberdayaan. yang itu berasal dari kabupaten. sehingga dapat dijadikan bahan untuk pembuatan kebijakan bagi Depdagri. tapi belum ada pengalaman yang itu diinisiasi oleh masyarakat sendiri. Sekarang ini kita juga mendapat mandat untuk memonitor PPK berbasis masyarakat tetapi skenario bagaimana setelah itu kita tidak tahu. Ada satu masalah ditingkat nasional dengan adanya intervensi PP 72/2005. Jadi mestinya uang itu mengikuti fungsi-fungsi yang ada. kabupaten hanya memberi acuan saja. Ekonomi kerakyatan. bagaimana mengaturnya? Karena itu kita juga harus mengetahui bahwa itu adalah uang hasil dari hutang. Pembangunan infrastruktur. tapi kalau di Nagari ada dana bagi hasil yang besarnya 35%. Menggagas Desa Masa Depan 60 . 2. sekarang ada juga ADD dari Provinsi. Perlu komitmen yang lebih di tingkat nasional. 4.

Pentingnya terintegrasinya ADD dengan program lain yang masuk ke desa. akan tetapi daerah masih setengah hati. Oleh karena itu perlu didorong langkah-langkah oleh semua komponen di desa. sekarang sudah ditetapkan tetapi sampai sekarang belum ada apa-apa. supaya desa itu merasa memiliki atas policy. sebaiknya ini adalah bagian penting yang segera untuk diintervensi. dalam bentuk block grant. Jadi perlu ada petunjuk teknis dari pusat yang hanya berisi pokok-pokoknya saja dan untuk detailnya menyesuaikan di daerah. Dari 10 juta menjadi 98-100 juta. Catatan juga dari kami bahwa : 1. 6. Kabupaten enggan untuk ADD 2. 4. kurang serius menjalankan kebijakan ADD yang benar-benar dapat menjawab masalah yang dihadapi oleh desa yang menjadi kebutuhan desa. tetapi ini sudah menjadi kebijakan yang sifatnya daerah. SE Mendagri dan peraturan yang ada. Fasilitator Ada beberapa catatan penting yang dapat kita tarik dari diskusi ini. sehingga dapat dipertanggungjawabkan. bukan kami tidak percaya tapi sampai sekarang ini belum diapa-apakan. Fungsi dari pemerintah kabupaten atau pusat untuk memberikan dead line yang bersifat umum. maka desalah yang perlu mendetailkannya. 3. b. Ada 3 kapasitas potensial desa yang belum siap. Itu dikarenakan adanya PP. Bagaimana memperkuat ADD di level daerah supaya prosesnya lebih cepat. Karena kami sadar keterbatasn SDM yang ada di desa. Jadi harus ada mekanisme kelembagaan. 4. walaupun itu difasilitasi oleh negara. 6. nanti akan kita buatkan petanya dan buat kesimpulannya. maka dibutuhkan untuk mempersiapkan sistem pengelolaan ADD. Ada trend kepedulian yang semakin meningkat di level daerah tentang pentingnya ADD sebagai haknya untuk menjalankan pemerintahannya. Menggagas Desa Masa Depan 61 . forum tidak menghendaki tidak terlalu rigid. bagaimana ADD itu diserahkan ke desa. Perlu juga dibentuk lembaga penguatan masyarakat yang partisipatif dan itu bentukkan dari masyarakat sendiri bukan dari pemerintah. Perlu ada intervensi positif agar proses tidak berhenti di tengah jalan. Ada semacam keyakinan ADD itu membawa perubahan di desa. keterbatasan PAD. karena komitmen 10% kami hanya mendapatkan 7%. Jito (Fasilitator 2) Kita sudah petakan dari sejumlah pengalaman praktis bapak ibu semuanya. Akses informasi masyarakat untuk mengetahui PP masih sangat terbatas. Satu hal yang penting dan relevan dengan apa yang kita bincangkan antara pusat dan daerah belum connect. Indikatornya: a. untuk catatan ADD bukan lagi kebijakan populis Bupati. sehingga jumlahnya masih kecil. jadi bukan SE Bupati tapi sudah menjadi perda. 1. Sumber pendapatan desa belum jelas. 7. mekanisme pengucurannya seperti apa ? 2. Masalah. sehingga dapat independen. masalah politik 5. atau perlu dibuat peraturan-peraturan yang dapat lebih manjamin ADD bisa membuat perubahan-perubahan. Pemda belum berani memberikan komitmen 10% yang menjadi semacam tolak ukurnya. Kewenangan kabupaten itu sampai detail apa tidak. 3. 5.Dahlia Saya sangat sepakat dengan apa yang disampaikan dan hanya akan menambahkan bahwa yang terjadi di kabupaten TTS ADD belum pernah ada. Pemda berhenti membuat perda. Problem manipulasi atau KKN atas pengelolaan ADD.

baik untuk mikro finance maupun BUMDes. Dalam UU 32/2004 yang khusus bicara tentang keuangan desa yaitu pasal 213 tentang BUMDes menyebutkan: ayat (1) Desa dapat mendirikan BUMDes sesuai kebutuhan dan potensi desa. Apakah mikro finance nanti akan cenderung atau pengelolaannya diarahkan ke BUMDes? Menggagas Desa Masa Depan 62 . Sebelum mengerucut. Yuni Pristiwati . Ada 4 penerima manfaat yang harus diperhatikan. Empat prinsip ini paling tidak yang menjadi patokan kita bagaimana memberikan gagasan pada pengembangan keuangan desa. Erni-FPPD. Widya PujiFPPM. M.ASPPUK 2. Toto Suharyana-BPMKS Sumedang. Kita bisa mulai dengan mengeksplorasi pengalaman saat ini. Susmanto-FPPD/LGSP. (2) BUMDes sebagaimana dimaksud ayat (1) berpedoman pada peraturan perundang-undangan (Bagaimana peraturan perundangundangan PP 72/2005. Silahkan. apa keuangan desa. problematikanya. Kelompok: MIKRO KREDIT DAN BUMDes Fasilitator Peserta : 1. 9. Kenapa dibatasi BUMDes? karena topiknya keuangan dan ekonomi desa. profesional (harus dikelola dengan betul-betul). Transparansi. Firsty Husbany-DRSP. Perkenalan Untuk lebih mengakrabkan suasana. Diskusi ini diharapkan bisa mempertajam pasal-pasal yang sudah ada disitu. Sunarti-Kementrian Pemberdayaan Perempuan. aktivitasnya. Fasilitator Kita mengingat kembali apa yang telah dibahas.7. Barori-STPMD “APMD”. Untoro-PMD. kita eksplorasi pandangan. Yusuf-Sajogyo Sains. keberlajutan. yaitu prinsip transparansi. Agus R Rahman-LIPI. pikiran dan pengalaman bapak/ibu tentang BUMDes. Tidak perlu ADD itu rigid meskipun kontrol sangat perlu dilakukan agar penggunaan ADD benar-benar sesuai dengan yang diharapkan. dan apa cerita suksesnya (apa faktor masalah dan faktor pendukung). Stefan Jansen-GTZ Pro FI. Suharman-PSPK UGM. Kenapa tidak yang ruang lingkupnya lebih luas misalnya pendapatan desa? kalau BUMDes ruang lingkupnya terlalu kecil. (3) BUMDes menjadi milik desa dapat melakukan aktivitas pinjaman sesuai dengan peraturan perundangundangan. Edward Kenapa BUMDes dan mikro finance? karena kita ketahui bahwa BUMDes adalah salah satu jenis pendapatan di desa. pembagunan. dan bagi pemerintah itu sendiri. Sumarjono – STPMD “APMD” : Adnan-LP3ES. Dony-DPRD Sumedang. Sofyan-Akatiga. tadi sudah disampaikan oleh pak Dony). Edward Lubis-YIPD Jakarta. peserta memperkenalkan jati dirinya. Pengalaman-pengalaman praktis. kejelasan wewenang dan peran (pengelola dan kepala desa). 4. Tadi pak Maryunani mengantarkan pada kita. bagaimana posisi dan bagaimana pengelolaannya? Ada prinsipprinsip yang harus dipenuhi dalam pengelolaan keuangan desa diantaranya adalah prinsip pemanfaatan karena dari manapun dan seperti apapun pengelolaan keuangan desa harus diorientasikan pemanfaatannya bagi masyarakat. usaha kecil. 8. yang didalamnya termasuk aktivitas mikro finance.

Persoalannya. Kita tidak dikungkung dengan dua topic ini. Tantangan kedepan adalah produk desa. Ketika desa membiayai sendiri. dia tidak bisa membeli teknologi itu maka dia butuh tambahan modal. dari segi system micro finance itu sehat. Teknologi itu mahal. Tambahan modal itu bisa merupakan kredit. Jadi uang itu muter. Oleh karena itu lembaga perkreditan dibutuhkan di desa dalam rangka mendukung produk yang berkualitas dan syarat dengan teknologi. Lembaga keuangan yang ada selama ini seperti apa? Micro finance yang kita lihat selama ini sudah banyak di desa. sehingga ketika bicara micro finance tidak boleh lepas dari bicara konteks ekonomi secara lebih luas. merdeka. dst. tetapi topic besarnya kita bicara tentang keuangan desa. sistem kelembagaanya sehat. Kenapa? Karena ternyata uang yang dipakai disini untuk membayar cicilan disana. Paling tidak dari arahan SC/panitia tidak diarahkan kesana. Menggagas Desa Masa Depan 63 . alternatifnya bagaimana keuangan bisa dikelola. Komentar saya. produk skala umum. Barori Pak Lubis juga benar. bargaining posititionnya kuat. Dalam konteks itu micro finance bicara disitu. Bahkan ada yang berpendapat bahwa paradigma pembangunan dibalik. dimana salah satunya melalui BUMDes dan mikro kredit. adalah sebuah supporting system dalam sebuah perekonomian. micro finance yang saya buka ini dalam rangka untuk menangkal rentenir-rentenir di pasar sekitar. juga merespon apa yang telah disampaikan narasumber. Karena dibutuhkan tambahan modal. Apakah pada skala individu yang memanfaatkan jasa micro finance juga meningkat kesejahteraan dan pendapatannya? Penelitian intensif tentang indivisuindividu sebagai nasabah utama belum dilakukan. Micro finance menurut pandangan saya. Teman saya di Minomartani membuka koperasi simpan pinjam diantara warga perumahan di sekitar Jogja. kita tidak boleh lupa bahwa keuangan itu basisnya produksi. Artinya. Kita kembali pada topik yang akan dibahas. Dalam konteks desa yang kita lihat selama ini.Fasilitator Topik mikro kredit dan BUMDes. maka dibutuhkan lembaga keuangan yang kuat. bagaimana menggali sumber-sumber pendapatan asli desa? Saya mengusulkan forum ini juga seperti itu. wawasan pengalaman tentang dua hal seperti itu. Ketika bicara keuangan desa. sedangkan masyarakat mempunyai keterbatasan dalam mengakses teknologi. tetapi pembicaraan kita adalah keuangan desa dan salah satu topiknya BUMDes. Kegiatan produksi bagian dari kegiatan ekonomi pedesaan yang selama ini ada. Bicara mengenai keuangan desa tentu saja ruang lingkupnya cukup luas. Bicara tentang ekonomi desa salah satu indikatornya adalah ketika desa itu mampu membiayai kegiatankegiatan pemerintahan. saya sudah buat seperti ini tetapi rentenir (pelepas uang) masih banyak berkeliaran. Turunan dari topik yang dibahas disana tadi adalah bahasan tentang micro finance dan ada mandat dari UU 32/2004 atau PP 72/2005 yang kemungkinan dibentuk BUMDes di tingkat desa. belum dalam konteks yang lebih positif. itu otonom. Tentu saja forum ini nanti akan memberikan gagasan. Dia punya idealisasi. tetapi tidak apaapa kalau kita sepakat. semakin banyak akses kepada uang semakin senang. pembangunan dan kemasyarakatannya. Salah satu dalam pasal itu. Dimana mikro kredit ini salah satu aktivitasnya usahanya adalah BUMDes. tunggakan kecil kalau itu menjadi indikatornya. tetapi biar pembahasan tidak terlalu melebar. Jika disepakati. “kuasai teknologi pasca panennya kemudian kita bicara proses usaha taninya”. ini dimaksudkan supaya lebih focus. Oleh karena itu lembaga keuangan yang akan dibentuk tidak bisa berdiri sendiri sebagai lembaga keuangan. kita bicara tentang keuangan desa lebih luas dan kita bicara pengelolaan keuangan desa pada dua level yaitu yang berkaitan dengan desentralisasi fiscal (ADD) dan didalam bagaimana kita mengelola keuangan desa. tetapi yang lebih penting adalah tantangan ke depan. mestinya produk yang kompetitif yang sarat dengan teknologi. masyarakat sekarang ini justru senang. omsetnya sudah sampai 2 milyar lebih (dalam satu kecamatan di Minomartani).

secara garis besar lembaga kuangan desa harus integrated. apakah namanya sustainable rural banking (dari kacamata teritoritik)? Kenapa sustainable rural banking ? karena hidup matinya (sustainable) bank. Dan untuk Perda itu dapat disusun. berdasarkan peraturan perundang-undangan. Ketika petani bicara masalah teknis budidaya pertanian datangnya ke PPL. Kita bisa belajar. Kami mereka-reka. bagaimana sebetulnya institutional rised membentuk kelembagaan ekonomi yang betul-betul komperhensif. tetapi ketika sudah panen diserahkan kepada pasar bebas. Pada saat panen PPL sembunyi. memang dua hal ini sangat erat. Artinya kelembagaan ekonomi mikro/keuangan desa menjadi untungnya sendiri. mudah-mudahan dalam waktu tidak terlalu lama bisa dikeluarkan sehingga pada saat daerah menyusun perda dapat digunakan. sampai tingkat pasar dilepas. dll). memang dari sisi keuangan menjadi sustainable. produksi dilepaskan. kita focus ke sektor keuangan di desa. pokoknya uangannya kembali. sudah ada Permendagri. dia harus bersaing disana. dan apa yang kita bicarakan disini kerangkanya tidak lepas dari apa yang tadi dibicarakan. Keterkaitan BUMDes dangan mikro kredit. Kita harus memperhatikan yang seperti ini. meminjam untuk tujuan investasi atau working capital apa saja. lebih luas daripada kredit.petani/pelaku ekonomi di desa ada didalam berbagai macam “pembinaan”. pembentukan dan pengelolaan badan usaha di desa. BUMDes dengan usaha simpan pinjam dan omsetnya sudah Menggagas Desa Masa Depan 64 . Stefan Saya usul. Ini yang disebut dengan pemberdayaan yang total. karena cukup luas kalau kita lihat tantangan di sector riel. Untoro Tanpa membatasi pembicaraan. keuangan dari sisi pemerintahan desa. Jasa ini penting. kalau kita bicara keuangan desa memang sangat luas. Kita memang berfokus pada BUMDes. Ke depan. saat ini Dirjen PMD sedang mempersiapkan peraturan mendagri. karena pendekatannya efisiensi. Ini awal untuk memancing diskusi lebih lanjut. jangan sampai dia melunasi hutangnya bukan karena berdasarkan nilai tambah yang dia peroleh dari aktivitas ekonominya tetapi dari menjual aset-aset produksi sekedar untuk melunasi hutangnya. Sehingga yang namanya perlindungan terhadap petani/masyarakat kecil/pelaku ekonomi kita kelihatannya setengah hati. beli bibitnya ke lembaga kredit (BRI). dan BRI hanya bisa mengejar untuk melunasi hutangnya. Ini beberapa point yang bisa menciptakan resiko untuk BUMDes. Artinya ini sebuah boot yang mengakomodasi pelaku-pelaku ekonomi dalam melaksanakan produksi. Sebenarnya dalam PP tetang desa sudah lebih focus lagi. apakah peran bank BPD menjadi penting didalam manajement BUMDes atau mungkin Bawasda atau ouditor publik ? atau mungkin tidak perlu karena bank BPD dimasa depan di desa menjadi lebih kuat akuntabilitasnya. Kita dasarnya adalah pasal 213 UU 32/2004. Tawaran untuk diskusi awal. karena proses mengatur BUMDes sudah cukup maju. Kita perlu pengawasan eksternal. Sidoarjo. Fungsi lembaga keuangan mikro terutama melakukan intermediasi keuangan di desa. pasal 7881…. dan kita punya banyak anggota yang consent tentang itu. sekarang di banyak daerah terutama di Jatim (Trenggalek. apakah mnicro finance tergantung juga pada roda perekonomian yang ada. Tetapi kita harus hati-hati kalau kita menerimakan kepada sustainability. pembiayaan sampai pemasaran. tidak setengah-setengah. Micro finance dan BUMDes. tidak dalam sektor keuangan di desa. jangan sampai seperti sekarang. secara teknis harus untung (saved uang). Nanti kita bisa mendengar pendapat dari bapak-bapak. tahun 80-an ada buku besar dari PSPK tentang Perkreditan Rakyat (almr Mubyarto dan Gunawan Sumodiningrat) mempertemuankan antara pendekatan efisiensi dan pendekatan efektivitas. baik bagi orang yang mau menabung. karana BUMDes mempunyai potensi untuk menutup kesenjangan supplaydemand di tingkat desa. Dalam peraturan perundangundangan yang dimaksud disitu adalah Peraturan Daerah Kabupaten/Kota tentang pedoman tata cara. Diskusi seperti ini sudah cukup lama.

sementara Perda turun belakangan. Lumbung desa juga merupakan salah satu unit usaha BUMDes. BUMDes itu harus dengan Perdes tetapi tidak bisa berhubungan dengan lembaga perbankan karena harus ada akte notaris. kalau lembagalembaga keuangan yang ada di pedesaan.000. bagaimana aturan dengan praktek yang sudah ada. Bahkan dana perimbangan desa (ADD) ujinya di Sumedang. sedangkan keputusan bupati turun th 2003. Ini usaha-usaha BUMDes baik yang sedang kami rintis. Kami menyikapi bahwa untuk keuangan desa tidak sama dengan BUMDes. Yang dapat dimasukkan oleh kami ke BUMDes adalah unit simpan pinjam. dan ada yang masih dalam perjalanan. jarang yang simpan. yang boleh menghimpun dana masyarakat itu hanya bank atau harus berbentuk koperasi. tapi satu sama lain saling mengkait. Jadi tidak serta merta keuangan itu masuk ke BUMDes. mau beli lagi tetapi karena uang kurang maka harus pinjam ke bank. Tetapi manakala disodorkan ke bank tidak akui. Galian pasir (galian C) juga dikelola oleh BUMDes. satu desa ada 60 juta. Keuangan desa dikelola melalui APBDes. harus ada akta notaris. tinggal di akta notariskan. lumbung desa. BUMDes bisa menjadi PAD desa. Kemudian untuk pemuda (karang taruna) untuk penagihan rekening air dan listrik dipayungi oleh BUMDes. Permasalahan. Itu merupakan salah satu unit usaha BUMDes di desa. tetapi ADD itu masuk dulu ke APBDes di desa.besar. dan khusus untuk lembaga keuangan mikro bulan Oktober 2006 akan dikeluarkan Peraturan Presiden tentang kebijakan nasional mengenai keuangan mokro untuk melindungi lembaga keuangan mikro yang nyata-nyata bisa menghadapi pelepas uang dan jumlahnya banyak untuk bisa beroperasional tanpa dianggap illegal. Dengan regulasi kebijakan dari atas dapat diarahkan ke sana. Oleh karena itu. bahkan kalau sudah jalan. sehingga ekonomi yang tumbuh di desa itu sudah ada. dari yang telah kami praktekkan kami mencoba mengumpulkan lembaga-lembaga keuangan yang ada di desa cecara partial. Ini harus kita ingat supaya tidak campur aduk. NOleh karena itu nanti setelah terbentuk di Perdes. manakala go public pihak perbankan belum merespon. bahkan bantuan gubernur (tugas pembantuan) diakses. Depdagri sedang konsen pada BUMDes. Pelaksanaan di kabupaten Sumedang. Ada aturan BUMDes. seperti ADD (di Sumedang disebut DADU: Dana Alokasi Desa Umum). Padahal Perdes itu aturan hukum desa. banyak pinjamnya. UEP PPK. sama yang kami buat. dan usaha lain seperti persewaan hand traktor. Tadi disampaikan bahwa justru BUMDes ini yang jumlahnya puluhan ribu yang non bank dan non koperasi. ATK). dimana pembentukan BUMDes kami ambil dari partial-partial yang terbaik. Contoh ada yang beli trakor dan laku disewakan. pertokoan (fotocopy. dan warung nasi. karena BUMDes aturannya/payung hukumnya turun belakangan. Status badan hukumnya masih PERDES. Dari ADD disisihkan harus ada untuk modal BUMDes. seperti usaha simpan pinjam. kedudukannya sama dengan UU. Sesudah Perdes jadi dan BUMDes sudah jalan. Toto Kami akan memberikan gambaran apa yang telah kami lakukan di Sumedang. tetapi ini belum dipayungi oleh BUMDes. (aktivitas sudah jalan tetapi payung hukumnya belum ada). UEP PKK. apalagi di pedesaan. tapi setelah jalan menjadi pinjam simpan. nanti partial-partial yang ada di masyarakat bisa bubar. rekening dari masyarakat dilebihkan 1. diangkat menjadi pengurus BUMDes. Kami mencoba mengangkat dari partial-partial yang ada karena di desa paling tidak ada >5 lembaga-lembaga ekonomi desa yang bisa dipayungi BUMDes. Jadi kita mengadopsi. baru dari APBDes masuk ke BUMDes. Dengan itu maka Menggagas Desa Masa Depan 65 . Setelah terbentuknya BUMDes. ada yang sudah berjalan. Kenapa harus BUMDes? Karena untuk menjawab permasalahan. Disepakati. kalau kita langsung mengenalkan BUMDesa. dari APBDes ke BUMDes. sebab lebih dulu praktek dimasyarakat daripada peraturan. dari aspek legal dianggap tidak ada karena payung hukumnya tidak ada.

ada peningkatan pelayanan masyarakat. Ada keberpihakan politik yang melindungi nilai tukar. ada mekanisme control dan orientasi kemanfaat pada masyarakat juga menjadi pertimbangan. sehingga pemiskinan akan terus berlangsung. tidak haya aturan teknis saja. bagaimana usaha-usaha seperti ini yang tidak berbadan hukum bisa memperoleh akses kredit? Juga usaha yang dilakukan desa. rencana pembangunan gudang ini kemudian diprotes oleh warga. Kalau di pertanian jelas. di satu desa yang kepala desanya punya inisiatif membangun suatu gudang untuk menampung hasil bumi warga desanya. Kalau petani tidak mau mengubahnya. dan saya pribadi setuju. ini tentu akan sulit. hampir tiap masa ada kelemahan nilai tukar terhadap industri. Sebenarnya fokus (tujuan) dari awalnya adalah untuk penanggulangan/ pengentasan kemiskinan. maka tanahnya diambil. bahwa melihat tujuan micro finance sebagai intermediary tabungan dan kredit. Persoalannya. Apalagi adanya keharusan aturan dalam BUMDes bahwa yang melakukan usaha harus berbadan hukum. Tadi dikatakan lumbung desa juga bisa menjadi badan usaha BUMDes. puskesmas. Mungkin ini control. Oleh karena itu kalau akan dikembangkan micro finance harus didasari/diimbangi dengan politik keberpihakan pemerintah terhadap perlindungan petani yang kehilangan nilai tukar. Selama ini banyak tanah-tanah kas desa yang dipakai oleh pemerintah pusat seperti untuk kantor polisi. sekolah. Bagaimana tanah yang dipakai itu dapat memberikan kontribusi pada desa? Menggagas Desa Masa Depan 66 . Agus Dalam hal BUMDes. bukan hanya kebijakan. Dalam diskusi ini. 53 juta/tahun). kalau di desa petani (pertanian) terjadi pelemahan nilai tukar produk pertanian terhadap produk industri. tetapi imbas (pemasukan) ke desa tidak pernah ada. sementara kepala desa berpikiran bahwa itu keuntungannya masuk desa. Sofyan Persoalan. maka saya penekanannya pada tabungan. tidak semata-mata orientasi bisnis.5 ha tanah kas desa yang didistribusikan kepada petani (hasilnya sekitar Rp. karena gudang yang dibangun diatas tanah kas desa. kenapa orang di desa sulit mendapatkan usaha? Salah satunya kurang mendapatkan akses kredit. Maksud saya. tetapi dengan pertimbangan. Jangan sampai nanti BUMDesnya berkembang dan yang menikmati hanya elit-elit desa saja. Kita juga harus lihat ini. Kenapa control desa terhadap tanah/petani hanya sebatas persoalan bagaimana caranya agar tanah ini bisa menghasilkan pendapatan untuk desa. Tanpa itu. misalnya di desa ada mekanisme lelang tanah kas desa. Usaha-usaha di desa dilakukan tanpa harus berbadan hukum. Widya Ada tanah kas desa yang dipakai dengan tujuan kembali ke masyarakat. dll. Kalau kondisi petani yang terus mengalami nilai tukar produknya selalu melemah. warga punya pandangan bahwa kepala desa bisa mengontrol itu untuk kepentingan pribadinya. Ada pengalaman saya. Masalah micro finance secara riel ini bagus sekali. Ada 12. walaupun usaha seperti ini sudah banyak. Apakah betul di desa sudah mampu untuk menabung? Ini masalah. maka dia tidak bisa menabung. gagasan intermediary untuk menciptakan tabungan dan kredit di desa mustahil. tetapi ini tidak dimengerti oleh warganya. tidak ada lagi persoalan belas kasih sosial desa terhadap petani. saya pribadi mengharapkan juga politik keberpihakan yang jelas pada petani. tanpa ada kontribusi kepada masyarakat/warga desa. Fasilitator Kalau kita bicara BUMDes. saya mewanti-wanti bahwa kepemilikan BUMDes ini hanya elit desa (kepala desa dan aparat desa) saja. hal ini sebenarnya bisa untuk BUMDes.

bagaimana kebijakan subsidi pupuk? Lebih parah lagi. kalau itu dikaitkan dengan micro finance bagi salah satu usaha BUMDes. UU Koperasi tidak ada yang menyentuh sampai ke masyarakat desa. Semua ini pendekatan insidental. apapun bentuknya. mungkin karena untuk mendapatkan kredit harus ada agunan. (bagaimana akses perempuan) Fasilitator Saya menegaskan bahwa. untuk apa? Tetap saja petani mati. harus ada skema khusus untuk kebutuhan-kebutuhan perempuan agar bisa memberikan nilai tambah. Studi LP3ES sekitar 10 th yll (dipimpin pak Dawam). atau mereka (di desa) yang bahkan tidak punya KTP. masing-masing mempunyai institusi sendiri. kita sepakat tidak ingin menjadikan desa sebagai objek. pada sisi lain ada harapan kita apa yang seharusnya. artinya harus ada perhatian khusus terhadap perempuan. bahwa di lapangan 60% pelaku usaha mikro kecil itu perempuan tetapi mereka kesulitan dalam mengakases kredit. Adnan Negara ini tidak sekedar memproteksi desa tetapi harus affirmative action sudah saatnya dilakukan. kembalikan saja ke masyarakat karena mereka yang lebih tahu tentang kondisinya daripada kita. Hasil studi dari Bank Dunia membuktikan bahwa dengan memberikan pendidikan pada perempuan (meningkatkan pendidikannya dari SD—SMA) dapat meningkatkan 0. Ini yang perlu dipertahankan (jenis usahanya). juga soal tanah-tanah mati sehingga jangan salahkan orang Indramayu menjadi PSK di Jakarta. dimana agunan itu banyak dimiliki laki-laki. Sebenarnya perempuan itu terbukti bahwa pengembalian kredit itu rajin (kemacetan 99%). bagaimana menjembataninya? Menggagas Desa Masa Depan 67 . Tidak usah bicara partisipasi.Mengenai BUMDes. saya kira Indonesia sudah makmur. karena sepertinya yang bicara desa itu hanya Depdagri sementara departemen yang lain tidak pernah melakukan affirmative terhadap desa. jangan sampai ada penyeragaman. Apakah dengan BUMDes. misalnya soal pupuk. 60% desa-desa di Jawa (Indramayu hanya 10% yang mengambil keputusan di desa itu) termasuk soal ekonomi. 70% dikuasi elit desa. Firsty Kita ada di 2 kutub yang sangat berlawanan. paling tidak ada suatu realita yang kita harapkan. (terjadinya dept capital). tetapi bagaimana menyikapi BUMDes sehingga bisa sesuai dengan realitanya. saya lihat petani juga semakin parah. petani kita hancur. apakah mereka menjadi objek atau subjek? Bagaimana kita menyikapinya? Skema kredit. Jangan-jangan yang kita diskusikan ini apa yang sebenarnya menguntungkan elit desa. Kalau tidak. Misalnya kasus UU Perbankan. kalau pupuk di lepas dipasar bebas. sudah harus menyangkut pada politik perUUan yang lebih konkrit terhadap desa. kearifan desa disana. apakah desa terutama masyarakat desa menjadi pemasaran produk-produk termasuk produk perbankan ? Dalam kegiatan ini. ya tunggu 15 tahun lagi Negara kita ini sudah selesai. menunjukkan bahwa akses masyarakat terhadap pengambilan keputusan di desa. BUMDes itu sesuatu yang bagus. semuanya harus affirmative. Walaupun Depdagrinya jungkir balik. Pengalaman ini sudah ada dimana-mana. termasuk dari BPR pun atau MF yang paling kecil sekalipun selalu ada persyaratanpersyaratan yang sangat sulit diakses terutama oleh kaum perempuan. Contohnya di seminar 2 hari ini. Usulan. karena ada problem seperti ini. tidak dari daerah. termasuk skema kreditnya. Sunarti Menyoroti dari sisi perempuan. Otomatis mereka yang tidak punya KTP tidak bisa punya akses ke bank. Belajar dari pengalaman itu.03% GNP. jadi tidak hanya di formal saja tetapi juga non formal. tetapi departemen lainnya pro liberalisasi pasar. saya lebih sepakat kalau kita kembalikan pada kearifan local contoh kasus di Sumedang. harus lebih jelas.

bagaimana memperlakukan uang sebagai pelaku bukan object? Itu yang harus kita perhatikan. yang nanti akan membawa kesejahteraan bagi masyarakat. 10. bukan sebaliknya menjadi instrumen pengisap kekayaan. Jadi sistem ekonomi kerakyatan ini yang harus kita kawal. kenapa Pemda Ngawi tidak gunakan BUMDes untuk mengatur micro finance di desa? Ini menarik untuk coba diaplikasikan. Justru kami akan menggunakan instrument itu sebagai sodoran. misalUU kehutanan. mana yang kira-kira pas? Seperti yang disampaikan mas Untoro. Suharman Saya merespon tentang BUMDes dengan membandingkan kita dulu pernah punya KUD. silahkan gratis. dan betul-betul menjadi bagian dari supra ekonomi desa. 2 tahun terakhir saya bergulat dengan petani hutan dan desa-desa yang mengepung hutan itu miskinnya luar biasa sehingga mereka menjarah hutan. ada seorang ibu yang membuka penggilingan gabah di kecamatan Pleret. jalan tidak? Indonesia itu tidak hanya Jawa. kami sudah meneliti tentang rentenir sampai saya mengkritisi kebijakan bupati Bantul. karena nanti yang terjadi hanya papan nama saja. bahwa nanti akan ada Perda. hanya sekedar untuk menunjukkan bahwa dia itu bukan hanya orang yang bisa membagian beras. dikerokin juga sama yang ngutangi!”. belum terselesaikan. tetapi rentenir tidak membutuhkan itu. Mekanisme/trust seperti apa yang dibangun oleh rentenir sehingga mereka membangun jariangan cukup kuat? PSPK dengan Pemda Ngawai sedang membangun kerjasama untuk mencari pola-pola dasar (skim) dari micro finance. afirmatifnya seperti apa?. Bagaimana masyarakat bisa memanfaatkan potensi yang ada didesanya untuk menjadi usaha itu terhalang oleh aturan-aturan sektoral yang lain. BUMDes jangan sampai menjadi instrument/kapitalisme di desa yang akan memporakporandakan tatanan di bawah. bagaimana seorang penggilingan beras bisa mendatangkan poliklinik dari luar untuk buka prakatek di sini. bagaimana di daerah lain (Kalimantan)? Apakah mereka sudah mampu untuk mengalami proses monoterisasi. karena terbukti (dari LP3ES) bahwa yang menguasai perekonomian desa hanyalah segelintir orang. siapa mau berobat. Bagaimana “bank” menurunkan kadar formalitasnya mendekati pola-pola rentenir? “kalau rentenirnya masuk angin. perlu ada koordinasi dengan sector-sektor yang lain. cukup “kamu jualan disitu. Kalau nanti BUMDes masuk harus dibungkas dalam sebuah proses. Karena dulu surat Mentri Kehutanan berkali-kali ganti sampai sekarang tidak ada kepastian tentang itu. Kerangkanya harus ekonomi kerakyatan. ini cukup Rp.Jenis usaha. tetapi tetangganya itu ditanya “apakah beras itu sudah sampai?” Dan mereka tersinggung. Kita coba memakai kelompok tani hutan. dia jalan menggunakan mekanisme bank. dan ternyata kendalanya sama yaitu persoalan landasan hukum. Saya berpikir. nanti kembali sekian”. Saya sepakat dengan teman-teman bahwa jangan sampai kita nanti menjadi paket kebijakan. Menggagas Desa Masa Depan 68 . Unit usaha BUMDes harus yang realitas muncul. Itu nanti justru akan menjadi konflik. Nanti hutan di Jawa juga habis karena kita tidak bisa mengelola ekonomi desa hutan. saya menulis “Bupati versus rentenir”. Persoalan tentang micro finance. Kasus yang menarik. dia punya cukup banyak beras dan dibagikan ke petani tetangganya. Kami berani menjamin bahwa itu pasti akan ada banyak ganjalan. tetapi juga bisa mendatangkan poliklinik. Masih ada PR-PR bahwa dari tingkat nasional sampai ke desa yang sampai sekarang masih menjadi problematic. tiap desa harus muncul BUMDes. Karena selama ini dana yang dikucurkan dari atas sampai ke bawah variasinya sangat luar biasa. jangan sampai itu hanya urusannya PMD. ini tidak pas. bukan dipaksakan muncul. Tentang kehutanan. sehingga dikembalikan. harus kita lihat kemampuan desa menjalankan BUMDes. Ini kan lintah darat yang sangat manusiawi.000. Saya menggarisbawahi bahwa: (1) jangan sampai BUMDes itu justru menjadi instrument bagi capital besar yang menghisap desa dan (2) BUMDes jangan sampai menjadi sebuah instruksi yang wajib dialkukan di tingkat desa tanpa ada kegiatan yang riel di masyarakat itu. Kenapa? karena bupati menggunakan bank pasar (beroperasi pada level pasar-pasar desa). Kemudian si ibu mendatangkan poliklinik di rumahnya.

oleh dan untuk anggota. Yusuf Saya sepakat bahwa harus ada mekanisme control untuk mengatur posisi modal. Prinsipnya. (2) harus ada kedaulatan rakyat (kedaulatan pangan terhadap sumber daya bersama). tidak dipaksa. Nanti konsekuensinya. jelas dikelola oleh pemerintah desa (sebagai penasihat) dan masyarakat. kabupaten (melalui bupati) harus mengalokasikan dananya (berapa % dari APBD) untuk pengembangan ekonomi yang dialokasikan untuk modal BUMDes. Karena ujung-ujungnya siapa yang berkuasa atas BUMDes? Apalagi ini rentan terhadap sumber daya bersama. seharusnya sudah jadi BPR tetapi tidak mau. Permasalahn kredit sudah sejak lama. Jangan sampai kalau bisnis itu sudah kapitalis. usaha ekonomi desa simpan pinjam juga maju. Ini juga diakui oleh Bank Indonesia. Informasinya di Bantul BPRnya maju. Kalau pasar desa itu jelas merupakan kekayaan desa. kalau itu kekayaan desa harus dikembalikan ke desa karena banyak pasar desa yang sudah berkembang justru diambil kabupaten. (3) tersedianya sumberdaya manusia yang mampu mengelola badan usaha sebagai asset penggerak perekonomian masyarakat dan (4) adanya unit-unit usaha masyarakat yang merupakan kegiatan ekonomi warga masyarakat yang dikelola secara paksa dan kurang terakomodasi. jadi BUMDes saja. tapi juga berfungsi social (visi dan misi jelas). tidak ada satupun yang mau menjadi BPR. Di dalam PP 72/2005 disebutkan bahwa pembentukan BUMDes disesuakan kebutuhan dan potensi desa. Tetapi jangan sampai BUMDes itu komersil. Celakanya dengan diserahkan ke daerah justru banyak dijumpai illegal logging. UKM kurang bisa mengakses kredit bank. disitu menyebutkan tentang jasa keuangan. Depdagri bertangungjawab terhadap LKM-LKM yang non bank dan non koperasi. Usaha-usaha ekonomi masyarakat yang kurang terakomodasi. Kalau itu bisa. Saat ini dalam UU baru dimana koperasi sudah diakui sebagai badan hukum yang legal untuk bisa mengakses ke bank. maka tidak akan ada masalah rentenir. maka perlunya disini bagaimana bisa menjembatani ? Fungsi utama BUMDes adalah (1) fungsi social. dan pusat hanya kebijakan. Yang dimaksud kebutuhan dan potensi desa ada 4 (empat) hal yaitu (1) Kebutuhan masyarakat terutama dalam pemenuhan kebutuhan pokok. Sampai sekarang dari > 4500 BUMDes. bahkan assetnya sudah 1 milyar. di Sidoarjo justru tanah kas desa ini yang digunakan sebagai modal BUMDes. Prinsipnya. Ini yang di back up oleh GTZ ProFI. Pengawasan dilakukan oleh BPD dan Bawasda sepanjang bantuan modal/aset2 daerah). “Bupati vs rentenir” di Bantul. kurang terpayungi secara hukum. Alur tembusnya melalui pasal 213 UU 32/2004 dan PP 72/2005. ekonomi masyarakat itu juga boleh bisnis. hutan itu milik Negara dan dikelola Negara. Untoro Kami menyusun PP itu berdasarkan kondisi di lapangan. Kemudian dimana mikro finance masuk? Tadi dikeluhkan bahwa permasalahnya tidak bisa akses ke bank. Untuk bisa mengoptimalkan peran BUMDes. Pengelolaanya bagaimana? Itu diserahkan daerah. itu yang kita lindungi. yang cirinya adalah ekonomi yang berpihak pada rakyat. Menggagas Desa Masa Depan 69 . Kepemilikan. bentuk yang tepat untuk dasar hukum BUMDes adalah koperasi. Mengenai tanah kas desa. misalnya hutan. karena koperasi ada keterbatasannya hanya dari. sementara kalau bank kelemahannya pada persyaratan.Edward Untuk mengatasi monopoli kepemilikan. Justru Depdagri bertujuan menembus kebuntuan untuk mengatasi itu. Dan pengawasan keuangan oleh auditor independent. Mengenai hutan. Bisakah bupati/walikota memberikan jaminan kepada pengusaha-pengusaha kecil yang dinilai layak untuk meminjam ke bank. tidak dijual. (2) tersedianya sumber daya desa yang belum dimanfaatkan secara maksimal terutama kekayaan desa.

bagaimana cara mengelola kredit mikro. pemerintah bekerjasama dengan NGO. Karena ketika micro finance itu memudahkan kredit bagi perempuan justru nanti akan melemahkan perempuan. dasar hukum LKM harus ada. Tiga ketua UPK di kecamatan adalah perempuan. Stefan Mengenai perlindungan tabungan. Seperti ini ada linkage program. Kalau sekarang ada pintu/jendela yang disediakan seperti LKM. apa bedanya? Ini merupakan hal kritis yang perlu menjadi perhatian kita. (tanggung renteng) Fasilitator Kenapa PMD berani ? mungin karena ada support dari GTZ Pro FI.Barori Masalah kelembagaan. Menggagas Desa Masa Depan 70 . sehingga mereka rajin mengembalikan. Ketika masih pada skala kecil tidak apa2. Suharman Simpan pinjam itu justru controlnya social. apakah di BUMDes ketika terjadi pailit ada yang bisa bertangung jawab? Ini problematik yang tidak bisa diputuskan dalam forum ini. kalau asetnya sudah sekian juta harus menjadi BPR? Maka tawaran koperasi itu mungkin menarik. Kalau ini membahayakan harus ditolak. Ini menjadi ramburambu. uang dari pemerintah diberikan langsung kepada NGO untuk dikelola. jangan disamaratakan perempuan itu lemah. Dan rakyat/masyarakat tidak lagi menganggap bahwa itu uang rakyat. Kalau kita lihat draft UU LKM. kalau berfungsi seperti ini otomatis ada perlindungan. LKM hanya berfungsi seperti handle agency. Solusinya. sedikit susah untuk LKM karena asetnya terlalu kecil. asetnya sudah 1 milyar lebih. salah satu problemnya itu. Bagaimana keamanannya? Kalau nanti pintu masuknya hanya ke bank. Dalam micro finance harus ada rambu-rambu yang jelas. Adnan Kebijakan tata pembaharuan desa termasuk micro finance harus link and match dengan upaya pengentasan kemiskinan. sehingga mereka dapat berhubungan secara legal dengan bank. kepastian hukum. koperasi itu bukan bank. Sebagaimana bank yang lain. Widya Bagi saya. masyarakat langsung control. Pengawasan juga kuat seperti bank. Fasilitator Prinsip yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa usaha itu harus berpihak pada rakyat dalam kerangka ekonomi kerakyatan. Prinsipnya. Mengenai BUMDes perlu ditambah dengan: 1) fasilitasi (dari Depdagri). Apakah ini perpanjangan tangan. kemudian di deposit (tabung) di bank (fungsi intermediasi). Sunarti Contoh pengalaman di Malaysia. Apa yang terjadi? Mereka tidak mengembalikan karena mengaggap “itu uang rakyat”. Jadi perlu disisipkan. karena survey membuktikan bahwa kredit usaha simpan pinjam yang dilaksanakan oleh perempuan lebih baik daripada yang dilaksanakan oleh laki-laki. Pemerintah Malaysia pernah memberikan dana untuk taskin tetapi dikelola sendiri. Strateginya. mereka menerima uang di masyarakat. tapi koperasi seperti apa? Toto Saya mendukung ibu dari pemberdayaan perempuan. lebih memberdayakan pada perempuan. 2) pelatihan dan 3) pendampingan (bisa dari Depdagri kontrak sarjana yang ada didesa sehingga bisa merekrut tenaga kerja di pedesaan).

• Perlu adanya MONEV dalam pelaksanaan. Kita mencoba membuat tawaran dengan dua institusi yaitu BUMDes yang salah satu didalamnya ada micro finance sebagai alternatif pengembangan ekonomi desa. • sebagai affimative action. • harus ada badan hukum yang jelas dengan orientasi kerakyatan. di masyarakat lokal tentu sudah banyak program-program yang terkait dengan dua hal itu. • Problematika: selama ini masyarakat kecil khususnya perempuan tidak mendapat fasilitasi yang cukup. Dari pengalaman itu. • memberikan perhatian pada masalah-masalah perempuan. sebagai pengembangan ekonomi desa untuk menghindari pertarungan modal besar • menjadi subjek dalam peksanaan pelayanan bukan menjadi objek. • Tidak ada aspek payung legal : koperasi dan bank • Akses terhadap modal dan informasi rendah Ini semua merupakan problem kemiskinan yang ada di desa. Dari sisi LKM atau BUMDes. • ada kejelasan tatalaksana manajemen. • ada regulasi (peraturan) yang mendukung sehingga usaha pengembangan ekonomi desa ini bisa berlanjut. Rambu-rambu BUMDes atau MF seperti apa? • dilihat dari basis pada kemampuan dan pengalaman desa agar tidak dibentuk berdasarkan penyeragaman. selain usaha bisnis harus ada: • pemberdayaan: bentuk bisa fasilitasi. • ada alokasi dari dana APBD. perpanjangan tangan usaha-usaha besar (bank) atau usaha lain. • ada mekanisme control dalam pelaksanaan dan mengedepankan manfaat untuk rakyat (kesejahteraan rakyat). menghindari kooptasi elit • harus memberi ruang dan bertumpu pada inisiatif dan kearifan local. Menggagas Desa Masa Depan 71 . tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah khususnya pengembangan UKM (tidak ada “proteksi market”).Fasilitator Kesimpulan diskusi : • Identifiaski pengalaman terkait dengan bagaimana pengembangan ekonomi desa melalui BUMDes dan LKM. dan pendampingan maupun pemberian modal • berfungsi sebagai intermediasi (LKM) • harus diikuti dengan keberpihakan politik yang jelas • khusus untuk LKM ada skim khusus kredit yang dekat dengan rakyat (belajar dari rentenir) • ada jaminan afalis (kalau dibutuhkan) dari pihak-pihak tertentu untuk menghindari akses modal yang rendah • ada mekanisme dan komposisi kepemilikan modal yang jelas Semua itu tidak boleh lepas sebagai sebuah upaya sistemik dalam pengentasan kemiskianan. pelatihan. • ada kejelasan hukum berbasis pada potensi ekonomi rakyat. termasuk affirmative action lintas sektoral. harus dibentuk berdasarkan aktivitas riel. • ada pengawasan yang jelas. • kepemilikan oleh rakyat. Dan ada anggapan bahwa uang dari pemerintah tidak perlu dikembalikan.

Dalam pengertian desa itu sendiri kita harus tahu ada pemerintah desa. Menggagas Desa Masa Depan 72 . sementara di dalam kepanitiaan disini ada beberapa kisi yang mungkin juga mudah dipandu-arah diskusi kita. terima kasih atas kehadirannya di ruangan ini. Kalau Pak Sadu ingin menambahkan point-point yang lebih tegas. hubungan kerja. Sadu–STPDN. yang penting yang harus dirubah. Haryo Habirono – FPPD 2. . padahal kalau kita mau bicara desentralisasi ya daerah dan desa. dibuat mengambang. kita akan bersama-sama menindaklanjuti diskusi yang sessi kedua tadi. cuma desentralisasi dalam konteks desa ini arahnya kemana.. supaya out put yang kita hasilkan dari diskusi kelompok ini adalah bagaimana mempermudah kita dalam rangka membantu kita semua. kami persilahkan saja. kalau saya beri kesempatan lagi dia akan presentasi lagi. Untuk itu. bukan hanya sekedar pemerintah desa.. Sadu Terima kasih. juga ditangan pemerintah desa. Elke Rapp-DRSP. Dua pembicara Pak Prof. Silahkan kalau ada yang ingin berkontribusi menindaklanjuti hal itu. inkonsistensi. BPD.. bahwa: • pengaturan desa itu menjadi sangat penting. • konsep-konsep perwakilan daerah. sesuai saja. melengkapi apa yang sudah disampaikan tadi. kan begitu. kami persilahkan kalau ada yang ingin berkontribusi. Steny-HUMA.5. Irwan-Letmindo/GTZ Aceh Fasilitator Ibu dan bapak sekalian. Jadi kalau bicara tentang pembangunan ekonomi dan sebagainya lebih banyak berkait dengan komunitas-komunitas itu. Azam-Pemdes Kebumen. Mas Ibnu sudah panjang lebar. Terus hubungan desa dengan supra desanya itu sendiri. khususnya Depdagri dalam rangka menyusun naskah akademik tentang pengaturan mengenai desa. Ibnu–Unibraw. mungkin saya sampaikan. desentralisasi dari pemerintah pusat itu seakan menimbulkan sentralisasi kekuasaan di pemerintah daerah. Tadi ini masih ada beberapa perbedaan kedudukan desa di dalam UUD 1945 yang diamandemen dengan kedudukan desa di dalam UU 32/2004 ini beda. Ini tadi diskusi yang berkembang yang kita bahas di sessi kedua. untuk tidak mengatakan salah. nanti diskusi akan berkembang lagi. Sadu dan Pak Ibnu Tricahyo hadir bersama kita. Riawan Tjandra – UAJ Jogjakarta : Prof. Artinya kalau Pak Ibnu ingin mengatakan secara tata kenegaraan UU 32/2004 itu salah demi hukum. pola kerjanya bagaimana. Jayus-UNEJ. Salini-DSF. Bagaimana seharusnya pengaturan hukum mengenai desa? Dalam bingkai NKRI sebaiknya dihapus saja dulu. • otonomi itu bentuknya bagaimana? • representasi desa itu bagaimana? • persoalan kedudukan desa. Wa’i-Lakpesdam. berpendapat. tapi yang penting kita bicarakan adalah desa sebagai kesatuan masyarakat hukum.. Kelompok: TATA HUBUNGAN DESA DENGAN SUPRA DESA Fasilitator Peserta : 1. karena tadi waktunya pendek. Nurwafi-BPD. Toro-STPMD “APMD”. Pak Sadu sudah panjang lebar. topik kedua mengenai tata hubungan desa dengan supra desa... dari dulu saya tidak tahu ini kemana dan kaya apa. Widyohari-STPMD “APMD”. Jadi ini dilema. Saya kira itu. sedikit semampu saya membuat catatan ini ada beberapa point yang tadi juga telah disampaikan oleh moderator. dan ada komunitas-komunitas tertentu. nanti eksplorasi lebih jauh bisa kita lakukan. dalam konteks tata hubungan desa dengan supra desa. Franky-AMAN. Widya-FPPM. saya kira dengan yang kita bahas tadi. Tetapi yang terjadi dalam praktek.

Pertemuan ini dimaksudkan dalam rangka mengisi. Jadi desa mengatur tentang kedudukan desa itu sendiri. kemudian begitu selesai ya selesai tidak ada pensiun. sehingga bisa mengatur tentang pengaturan dan kedudukan desa. tapi orang yang bekerja di desa adalah orang-orang yang mohon maaf kalau saya katakan tidak berkualitas. desentralisasi kepada desa itu bentuknya seperti apa. Fasilitator Saya potong sedikit. artinya sudah ada regulasi mengenai keberadaan dan peran masyarakat adat. kayaknya sebelumya membuat undang-undang tanpa naskah akademik. Ini barangkali masalah pokoknya disini Widyohari Saya nyambung Prof. bahwa undang-undang tentang Desa kedepan harus diinikan. Ada beberapa di kabupaten yang seperti Sumedang dan Bandung. tapi kalau kita lihat data. memberikan masukan sekaligus itu adalah ajang advokasi kita dalam penyusunan naskah akademik mengenai desa. hanya hal itu tidak dilaksanakan. Kalau saya ngomong begitu mungkin tersingggung. otonomi desa yang sebenarnya juga akan semakin jelas. bukannya masyarakat adat tidak prnting. tapi memang ini hal khusus yang dibicarakan mestinya dalam ruang dan waktu Menggagas Desa Masa Depan 73 . anggaran banyak. Paling sedikit per-Oktober Mendagri mendapat PR dari Komisi II DPR untuk menyerahkan atau mempresentasikan draf awal naskah akademik.. Mohon maaf. Franky Menurut saya tidak hanya regulasi.Desentralisasi kepada daerah jelas. dia menjadi mata rantai yang terlemah dan akan tersisihkan. tapi kedudukannya tidak jelas. Merupakan suatu keharusan kalau kita membiarkan desa seperti bentuk-bentuk yang lama. kalau dulu masih ada pengganti asusila. Jadi sebelumnya. buktinya sudah ada tapi pemerintah daerah tidak bisa apa-apa. kewajiban-kewajiban pemerintah. yang dipungut adalah iuran. Masyarakat hukum dengan masyarakat hukum adat berbeda. Saya ngomong sama gubernur itu akan menjadi omong kosong kalau desanya tertinggal. saya tidak tahu. akhirnya gubernur setuju. mengenai Undang-Undang tentang Desa ini. nah ini menjadi babak baru. Saya bertanya. tetapi juga kebijakan yang lebih konkret. Ini kayaknya konteks yang kita bahas berbeda. saya harus informasikan karena ini informasi juga saya dengar dari orang yang harus saya percaya yaitu dari Depdagri sendiri. mungkin untuk memperkuat kedudukan tadi saya sepakat dengan Pak Ibnu. saya lihat visi dari kepala daerah dalam membangun kabupaten berbasis desa. Ini lebih memberi peluang. pegawai desa itu kedudukannya seperti apa? Ini sampai sekarang tidak jelas. sudah ada komitmen politik bersama Komisi II DPR bahwa kedepan akan ada Undang-Undang tentang Desa. larinya pengganti ekonomi. fungsi-fungsi yang sudah dijalankan oleh desa. Saya menawarkan gagasan. kemudian siapa yang mau bekerja di desa? Padahal kita bayangkan ada pemberian kewenangan yang besar. Dan untuk desa diminta naskah akademik... Barangkali ini bisa menjadi semacam model. Fasilitator Jadi supaya kita lebih fokus. tidak boleh memungut pajak dan retribusi atas dirinya sendiri. dan itu bisa nampak dari diberikannya ADD yang besar juga program-programnya. dia tidak digaji. bisa mengatur pilkades yang baik. munculnya undang-undang desa dan itu akan mendorong juga kedudukan desa yang lebih jelas. apakah pemerintah desa adalah organisasi pemerintah sesungguhnya? Dia menjalankan fungsi-fungsi. khususnya untuk pengaturan. sekarang tidak ada. Cuma nanti kembali kalau kepada kedudukan organisasi yang tidak jelas. Kalau tidak salah SK Menteri Kehutanan menjelaskan soal masyarakat hukum adat. waktu itu Gubernur Jawa Barat bicara tentang provinsi termaju di Indonesia. karena orang-orang desa yang berkualitas sudah tidak mau jadi perangkat desa. Nah ini akan menjadi dilema.

Elke Usulan tadi bagus sekali. kita kembali ketiga tipe desa. sudah jenuh juga. Dalam undang-undang nanti. kami mengundang sembilan ratus dua puluh orang. Fasilitator Kalau tadi kita bicara tentang otonomi itu mungkin akan menjadi berbeda dengan yang kemarin. minimal kalau ada sekian provinsi. Kalau kita mengembalikan self community governance apa gunanya kita diskusi tentang itu lagi. dari bawah. katakanlah sekdes terkena masalah norma sosial. Sekarang saya melakukan perubahan perda. tapi kita juga jelaskan juga usulan anda tidak bisa masuk kesini karena nanti akan berbenturan dengan peraturan. Pak Prayitno mengenai kedudukan desa. Kita pernah mencoba pada penyusunan perda 2004. atau self community governance. Azam Terima kasih. Franky Artinya itu mementahkan diskusi kita yang kemarin dengan Pak Eko. jangan terlalu detail. adatnya masih kuat. kaur umum dengan prestasi yang bagus bisa menjadi sekdes. kecamatan. Sadu Kalau dilihat dari jenisnya ada tiga: 1) Desa Geneologis. Itu sudah ada usulan dari kawan-kawan. step by step. bisa dengan penurunan pangkat. untuk melihat struktur apa akan dipakai.yang khusus. lima struktur itu bebas saja. ada self community governance. kami melontarkan bahwa ada garis dalam struktur pemerintahan desa. Kalau ada self gonernance kita harus lihat peran kecamatan. Ini saya antisipasi kalau terjadi suatu permasalahan hukum. mungkin struktur ini akan berbeda lagi. Kalau kita mulai dari tingkat desa. saya pikir apa konsekuensinya. local state governance. Kita diskusi mengenai local state government. apakah masih perlu atau mungkin dengan badan kerjasama antardesa atau langsung kabupaten. yang namanya kaur pembangunan selamanya kaur pembangunan. local self government. kemudian struktur organisasipun jangan diatur. ini mungkin kita bahas asas-asasnya saja. Dari dulu desa deperti ini terus. tipe 2) Desa Campuran yang adatnya sudah mulai pudar. Kalau ada desa langsung dari pemerintahan. masa jabatan tidak usah diatur. apakah ini semua? Apa dan bagaimana struktur yang akan dilaksanakan. Jadi namanya desa nanti akan ada lima perangkat. itu menjadikan aspirasi ini apa artinya. dimana desa yang masih homogen. Pak Eko cukup jelas membuat tipologi desa dari hasil-hasil studinya. Akhirnya hal itu menjadi kekhawatiran dari masyarakat itu sendiri oleh UU 32/2004. jadi semua provinsi bisa mengetahui kalau ada proses. apakah disitu adat istiadat masyarakat yang tradisional masih ada atau tidak ada lagi desa. tidak serta merta langsung kita berhentikan. Usulan-usulan dari masyarakat banyak dan bagus dan itu saya masukan. dan self government community. yang namanya sekdes sampai mati tetap sekdes. Karena kalau semua sudah diatur. Ini lalu memang tipikal otonominya menjadi berbeda. Nah sekarang kita ingin fokuskan supaya kita mencapai apa yang tadi dilontarkan Pak Sadu dan Pak Ibnu. Fasilitator Ya. Konsultasi publik saya tahu. Kita sedang membicarakan masyarakat hukum. ada sanksi disitu. local self governance. ini agak beda. dan ini membuat undang-undang yang akan dilaksanakan dan bersifat nasional. Menggagas Desa Masa Depan 74 . dan 3) Desa Teritorial yang adatnya sudah tidak jalan karena masyarakatnya heterogen. tapi itu masih kurang. apakah local self governance. dari legislasi. saya kebetulan dari orang pemerintah. Artinya mekanisme ini tolong. ada local state governance.

Kemudian kalau bicara soal desa berdasarkan pengakuan maka saya baru membayangkan kalau desa yang kita bicarakan kemarin. mereka punya suara dan bicara soal dinamika lokal seperti apa yang sudah mereka buat. bagaimana otonomi desa yang disebutkan dalam konteks pemerintahan kabupaten. Nurwafi Prinsipnya. Coba berusaha lagi melihat dinamika seperti apa yang sudah dibangun selama ini pasca UU 22/99 dan pasca UU 32/2004. apa mau kawan-kawan di level bawah. Fasilitator Saya ingin klarifikasi dari Pak Wafi. Soal aturannya tidak perlu terlalu ‘jlimet’. bagi kami orang desa sebenarnya tidak tertalu prinsip.. Atau sebaliknya. Saya kira desa dan pemerintah kabupaten tidak menerjemahkan kedua UU itu lurus-lurus seperti apa yang kita bayangkan.istilahnya desa itu sangat tergantung kepada kabupaten. kalau memang terpisah dan itu lebih memberikan keleluasaan terhadap hak-hak kita sebagai orang desa maka itu akan lebih bisa menjamin bagi desa. komando. sehingga tidak perlu menyangkut nanti apakah undang-undang atau hanya sekedar revisi bukan hal yang seperti dulu lagi. self governing community memang seperti yang dikatakan Pak Sadu. Itulah yang mungkin bagi kita selaku orang desa akan lebih mencerminkan hak-hak kita di semua aspek kehidupan berbangsa dan bernegara akan lebih terjamin? Sehingga kalau akan diturunkan sebuah undang-undang atau tidak. Dalam UU di level nasional misalnya justru dikatakan sebagai kewenangan pusat atau daerah. asas-asas yang sangat prinsip bisa kita terima sebagai hak. dan perdes itu sulit kita bayangkan dalam hal kewenangan. bicara kualitas sumberdaya manusia itu penting. yang prinsip bagaimana hak-hak. Jadi kalau nanti dibawah atau bagian langsung dari kabupaten. yang diharapkan adalah hak-hak prinsipnya yang diperoleh. Nurwafi Terima kasih. tapi saya justru melihat itu jangka panjang. Saya ambil contoh dibeberapa desa misalnya mereka buat perdes. penyeragaman. dan saya kira kawan-kawan dari pemerintahan desa ada disini. kami tidak terlalu pusing apakah sebuah bagian dari pemerintah daerah atau berdiri sendiri. apakah yang disampaikan berdiri lepas dari sistem pemerintahan kabupaten atau masuk sebagai sub-sistem pemerintahan kabupaten? Kalau Pak Ibnu tadi tidak mengatakan. Kepada desa itu kira-kira berdasarkan pengakuan mungkin lebih mirip dengan Pak Ibnu bahwa kepada desa itu berdasarkan hak. Oleh karena itu memang selama ini punya pengalaman bahwa bagian dari kabupaten adalah kecenderungan-kecenderungan yang. Kemudian sentralistik. sangat bagus menyangkut perbedaan antara desentralisasi kepada desa dan desentralisasi kepada daerah. Saya hanya mau menghubungkan saja konsensi yang sudah dibicarakan itu dengan rencana atau kemauan kita kedepan. kabupaten atau kecamatan bagaimana unsur-unsur itu sebagai fasilitator.. Nah itulah yang saya kira butuh kerja lebih keras lagi. sehingga berhasilnya desa itu kuncinya memang di tingkat kabupaten. kami sebenarnya dari desa selalu memberikan masukan-masukan yang positif mengenai keberadaan lurah-desa. selama ini hanya instruktur.Diharapkan dalam diskusi kelompok ini bagaimana nanti itu diatur dalam undangundang yang baru. selama bisa memberikan suatu jaminan-jaminan hak desa bagi kita tidak terlalu prinsip. tapi beberapa waktu sering mengatakan otonomi desa itu kan otonomi di dalam otonom. tapi pasti ada asas-asas penting atau dinamika-dinamika lokal penting yang kira-kira akan keluar menjadi argumentasi kita di level nasional. Steny Saya hanya melanjutkan apa yang sudah dikemukakan. mungkin dalam pikiran normatif. yang penting prinsip-prinsip sebagai sebuah desa itu tercover. tapi oleh perdes kemudian bisa diambil alih oleh Menggagas Desa Masa Depan 75 . Kaitannya dengan posisi desa dengan supra desa.

kalau tadi menjadi sebuah muatan yang akan menjadi bagian dari peraturan daerah saya justru sangat sependapat. Jayus Sebenarnya persoalan desa itu kembali lagi pada persoalan konstitusi. Itu dinamika lokal dan yang begitu jelas kebutuhan dari bawah. kalau sudah bicara persoalan dilepas pasti saya akan berpikir beda lagi.kewenangan desa. begitu? Provinsi lebih umum. karena perda dalam satu kabupaten dengan kabupaten lainnya tidak sama. tapi hal yang tidak ada dalam bagian dari UU itu perlu diatur dalam perda. Jadi antara otonomi desa dengan segala kemampuannya meskipun tadi Prof mengatakan bahwa pada realitasnya SDM di desa sangat memprihatinkan. lalu mau kita apakan dalam konteks kewenangan dalam struktur yang mau kita implementasikan? Saya hanya mau mengatakan satu hal penting yang sering keluar dalam self governing community selama ini. dan banyak pegawai kecamatan menyusun program desa dan dirumuskan setelah ada ketentuan atau ketetapan mengenai APBD. maka kira-kira awalnya harus melalui persetujuan dan ijin mereka. Jadi self governing community itu berlaku untuk daerah mana. meskipun itu birokrasi di tingkat desa. setelah tahu desa itu dapat berapa baru bisa. Nah ini nanti juga akan menimbulkan persoalan baru. bahwa struktur desa tidak akan bisa dilepas dari persoalan kabupaten. Anda itu tidak bisa merusmuskan sendiri. Contoh di diskusi kemarin soal inpres. Saya kira begitu aja. Dengan satu pengertian bahwa ini mengadopsi tiga hal tadi. Jadi mereka tidak bisa menyusun program dengan kolom-kolom yang kosong. Memang desa memiliki perangkat organisasi yang seperti dimiliki oleh kabupaten. Pada sisi yang lain kemudian memang bersilangan dengan pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya sektoral di tingkat kabupaten. dan lainnya untuk daerah mana. misalkan mana yang menjadi institusi desa sendiri dengan institusi sektoral di tingkat kabupaten. Pemerintah provinsi dan kabupaten sudah harus bisa melihat itu. orang akan mengatakan ini semacam cek kosong. Kedua. perijinan dan sebagainya masuk. kabupaten lebih khusus lagi. karena di banyak desa program-program desa disusun atau dirumuskan hanya oleh institusi di atasnya. kami cocok menggunakan ini dan seterusnya. artinya kita menyerahkan pengaturan desa kepada kabupaten atau provinsi. adalah keinginan mereka misalnya kalau ada orang luar masuk. Oleh karena itu didalam UU nanti yang hendak diatur adalah hal yang dianggap penting secara umum dalam UU tentang desa. Saya kira bisa menjadi rekomendasi kita kedepan bagaimana mengatur hubungan antara komunitas-komunitas lokal yang disebut self governing community dengan pemerintah daerah. Seandainya ada gagasan untuk melapaskan. saya merasa bahwa pembicaraan ini sebenarnya mengenai tarik ulur antara support yang diberikan oleh supra desa dengan kemandirian desa. Ketiga. yang merupakan kewenangan pemerintah kabupaten memberikan ijin. sepanjang konstitusi itu tidak menempatkan desa menjadi yang harus diatur dalam konstitusi maka selamanya tidak akan menjadi keharmonisan. Oh. atau kalau ada investasi. lebih spesifik lagi. ini desa kita yang menggaruk gatal ditubuh sendiri tetapi muternya itu harus kemana-mana dulu. Jadi impian saya kalau kita bicara dari self governing community maka pembicaraan soal hak otoritas mereka itu menjadi salah satu muatan dalam UU kalau kita mau merekomendasikan. Titik temu atau kompromi antara support dengan titik kemandirian desa itulah yang sebetulnya menurut saya belum ketemu. taruhlah ada kebijakan-kebijakan yang harus ditempatkan proporsinya secara tepat. pendidikan dan sebagainya. Wa’i Terima kasih. Fasilitator Kalau saya menangkap. Ini juga yang kemudian harus dimasukan dalam kebijakan bagaimana menumbuhkan desa dalam struktur ini. Jadi ini nanti secara aspek politis juga harus dipertimbangkan bahwa desa sebagai satu kesatuan hukum memiliki aspirasi (dalam musrenbang dan Menggagas Desa Masa Depan 76 . saya tidak punya suatu keyakinan apakah pembuat UU nanti berkenan. Ini menyedihkan dari satu sisi aspek kemandirian.

Karena pengalamannya sudah lebih baik. bagaimana kedudukan desa itu dalam otonominya. Oleh karena itu dalam konteks ini kalau kita lihat UU 32/2004 pasal 1 ada bunyi ”Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi menjadi wilayah provinsi dan kabupaten”. kemudian Mas Wafi. Ketiga. artinya desa harus lepas dari kabupaten meskipun ada hirarki tapi tidak seperti yang sekarang menjadi bagian atau sub-sistem pemerintah kabupaten. mempermudah saja supaya tidak campur aduk. Saya agak kurang setuju dengan Prof. Itu posisinya jelas. Kembali pada SDM. karena tujuan akhir dari RUU Desa adalah bagaimana desa itu dengan otonominya bisa bangkit dan mandiri. bagaimana kepada desa? Kalau tadi Wafi sudah menyebutkan sebagai fasilitator. kabupaten. tidak pernah serius dilaksanakan. harus konsisten dengan sistem di tingkat nasional. Sutoro Mengulang yang kemarin. saya ingin bertanya. alokasi atau pembagian itu berarti desa punya hak. Sadu Apapun yang kita lakukan kepada desa tentu terkait dengan sistem pemerintahan nasional. Hanya berhenti disitu. disamakan sajalah. pemberdayaanpemberdayaan itu sudah ada. Pertama. dan desa. ganti konsep alokasi. Tadi Mas Franky dari AMAN. Local State Government adalah desa administratif atau kelurahan. Sadu yang selalu membedakan antara otonomi pemberian dengan otonomi asli. tapi tidak pernah terlaksana. mereka bisa menyesuaikan dengan perkembangan zaman dan seterusnya. Ini peran pemerintah. yang menurut saya sudah siap didorong untuk menjadi desa yang otonom. jadi konsep bantuan itu sudah kita tolak. Kedua. hubungan dengan supra desa dan seterusnya. tidak pernah ada pemberdayaan yang konkret baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. karena pengalamannya Jawa. Itu mungkin yang saya bisa katakan bahwa titik kompromi itu yang belum ketemu. Nah ini persoalannya sekarang. membina. Mas Toro silahkan. dia sedang berbicara tentang desa adat. apakah dengan otonomi desa itu lalu SDM akan segera up-grade atau sebenarnya sekarang ini kondisinya didalam UU juga PP 72/2005 atau kemarin ada Kepmendagri 64/1999 yang diacu untuk pengaturan mengenai desa. jangan sampai kita membuat UU bertabrakan dengan konstitusi. jadi kategorinya jelas. pembinaan kapasitas dan seterusnya. pada sisi lain masyarakat desa juga sebagai konstituen dari partai politik. itu bisa kita petakan secara jelas. kalau kita mau mendorong desa yang otonom maka NKRI dibagi provinsi. otonomi pemberian itu sama dengan konsep bantuan. sebut saja yang namanya Self Governing Community itu sebagai desa adat atau desa geneologis. kemudian berkaitan dengan SDM di desa yang lemah. Pertanyaannya adalah apakah konstitusi ini yakin menjadi modelnya pemerintah? Ini harus jelas dulu. adalah Local Self Government itu yang namanya desa umum atau desa teritorial. Nah sekarang yang namanya konsep pemberian harus diganti dengan konsep pembagian atau penyerahan. melakukan supervisi. BPD-nya sudah lebih siap. Sekarang mengenai desa otonom. Kalau nasional pakai umum satu-duaMenggagas Desa Masa Depan 77 . Nanti masing-masing pilihan ini akan mempunyai konsekuensi terhadap administrasi. kepegawaian. Kedua. itu kan diawal pembicaraan tadi Prof Sadu menyampaikan bahwa desa itu sebagai obyek politik terus dan selalu dimarginalkan.sebagainya). Meskipun Direktorat Jenderal PMD yang mengenai desa ini sudah lebih dari tiga puluh tahun. Ini yang kita hadapi sekarang dalam UUD 1945 pasal 18A dan 18B. Ini ada dua jalur yang sebetulnya bisa dimainkan oleh masyarakat desa. jadi dia sebagai desa yang otonom tapi tidak bisa semua desa di Indonesia kita perlakuan sama. Kemudian tugas pemerintah yang lebih tinggi memfasilitasi. Pak Azam bicara tentang desa otonom. Fasilitator Pertama yang ingin disampaikan. Menurut saya istilah itu sekarang sudah tidak relevan. itu artinya yang namanya penyerahan. tapi ya begitu saja.

sekarang penghargaan sosial tidak ada. Saya mau menambahkan saja. persoalan selama ini yang sering terjadi adalah kita kurang mencermati kewenangan administrasi pemerintah pusat dan pemerintah kabupaten begitu besar di level desa. Jadi kalau kita diundang dalam kegiatan adat tanpa alasan yang jelas tidak datang. makanya dia membedakan ada desa dinas dan desa adat. kabupaten sekian atau bicara pada level yang lebih mendasar. Kalau Bali saya lihat meskipun sudah modern tapi adatnya-agama masih kuat. kalau semua bisa jadi satu. Seperti dulu ada di Sumatera Barat rancu. Kalau tiba-tiba ada orang datang bawa secarik kertas bahwa saya akan membuka tambang disini lalu masyarakat desa terima sampahnya. penyeragaman kemudian merusak akar-akar yang ada. Desa-desa yang adatnya masih kuat berikan kesempatan. hak dan kewajibannya jelas. tidak perlu ada pemerintahan. dia bisa ditolak di-aben disitu. sekarang tidak kesitu yang dikejar. Sutoro Saya kira pasal 18B itu sudah ketinggalan zaman. itu yang mesti didudukan dulu karena berangkatnya dari situ. Jadi sebelumya stakeholders harus dikumpulkan dulu. supervisi. apakah diteruskan seperti itu saja atau perlu ada suatu klausul atau satu peran juga yang boleh kita katakan sebagai negosiasi perijinan yang juga dimiliki oleh pemerintah desa terhadap ijin-ijin yang masuk ke wilayah desa. Menggagas Desa Masa Depan 78 . itu bukan harus. hanya sekali lagi jangan membuat aturan yang berlaku untuk seluruh desa padahal ada kategorisasi yang cukup tajam. Soal istilah. Tapi pertanyaannya tadi 18A-18B itu dipisahkan. peran pemerintah sebagai fasilitasi. Dulu lebih banyak pada penghargaan-penghargaan sosial. Kalau desa itu tidak jelas. itu difasilitasi di pasal berikutnya. perhutanan dan sebagainya dan itu ada di wilayah desa. tidak perlu ada administrasi. Steny Konkretnya. Urusan desa adat orang lebih patuh ketimbang desa dinas. karena konfliknya disitu.tiga ya harus konsisten. kalau organisasi ini jelas kita bisa membuat sistem seleksi. Kalau kita menerima pasal 18B semua self governing communty saja. jadi ya kita harus menyesuaikan diri dengan kondisi. tadi sudah disinggung dan bicara soal tata hubungan desa dengan supra desa. ia kehilangan hak-hak sosial. adat sudah tidak lagi punya kekuatan. kuatnya begitu. Kemudian SDM lemah itu kembali dari organisasi yang tidak jelas. nanti saya pikirkan. bunyi pasalnya wajib. dulu dia punya kekayaan besar kemudian dipecah-pecah. Jangan sampai kita melakukan kesalahan yang kedua. Kecuali desa-desa yang memang masyarakatnya sudah sangat heterogen. keuntungan untuk desa sekian. Bagaimana dengan yang begitu. intinya satu yaitu wajib. Saya juga bingung. apakah kita kemudian hanya bicara soal presentase. yang dikejar harga ekonomi. perijinan itu juga harus melibatkan mereka dalam persetujuan. sebagian besar obyek perijinan adalah pertambangan. jadi larinya pada penghasilan. kalau tidak ada upaya-upaya hukumnya. makanya mereka menghargai betul pada adat. tadi saya terima kasih diberikan saran. Setelah wajib pihak kepala desa dan BPD dan juga lembaga kemasyarakatan disitu harus stakeholders dulu yang memutuskan ya atau tidak. sekarang mau disatukan lagi sudah tidak bisa. Nurwafi Di PP 72/2005 itu malah lebih jelas. akarnya sudah tercabut. meninggal harus cari tempat lain. Fasilitator Kalau dalam UU 22/99 pasal 110 ada pihak ketiga yang ingin membangun atau mengeksploitasi desa itu harus mendapat persetujuan dari masyarakat desa melalu kepala desa dan BPD. Orang diundang adat tanpa alasan yang jelas. Kalau dulu orang itu rebutan jadi kepala desa karena gengsinya luar biasa-status sosial. tapi kalau pakai size ada besar-sedang-kecil ya konsisten. Dari sekian ijin yang diberikan di Indonesia.

Nanti kita akan bantu merapikan hasil-hasil. apa bisa ditulis dalam flipchart topik-topik yang akan disampaikan? Fasilitator Apakah ini perlu saya tuliskan? Sutoro Saya kira perlu Pak dituliskan garis besarnya. apakah hubungan desa dengan warga desanya? Steny Itu hubungan dari pemerintah daerah sama pemerintah pusat. Fasilitator Ya. kita masih akan terus menambahkan. biar nanti kalau terkait dengan desa. hak-haknya belum maksimal bisa diupayakan. kalau masih ada ide-ide. soal hak-hak desa itu ada. mekanisme keluhan. nanti dalam diskusi pleno presentasi. Fasilitator Saya kira ini cukup. Untuk itu kita cukupkan sekian dulu diskusi kita. Jayus Alangkah bijak kalau kita mau mencoba membaca hal baik dan tidak baik dari peraturanperaturan UU yang pernah ada. jadi tidak pernah tahu padahal ada. kalau kita tanya kenyataan di lapangan. bukankah begitu? Sekarang saya hanya ingin mengingatkan waktunya. kemarin kita sudah mengangkat seorang bapak kedudukan desa. Menggagas Desa Masa Depan 79 . Jadi saya kira memang kawan-kawan dari desa yang lebih tahu persis. hal itu perlu menjadi sebuah pemikiran yang lebih jelas. Nurwafi Salah satu kelemahan adalah sanksi. Fasilitator Oleh karena itu. saya ingin mengundang salah seorang teman untuk mempresentasikan hasil diskusi kita. Ini tugas kita semua terutama pemerintah daerah bagaimana memfaslitasi orang baca. Itu akan menjadi sebuah muatan disamping adanya persoalan. itu yang pertama.. UU 5/79 saya pikir itu bagus kontruksinnya cuma persoalannya pada sentralistis. kalau kiranya cukup. Fasilitator Kalau tidak diterapkan itu persoalannya juga banyak orang tidak baca. kita lihat lagi th 48. itu berkaitan dengan sanksi. Elke Saya hanya ingin. UU 22/99 demikian pula.Fasilitator Dalam konteks diskusi kita ini posisinya ada dimana. ditaruh didalam meja. tetap saja bunyi pasal 18 juga tidak akan berubah. Pak Toro selama belum ada amandemen. Apa ada relawan. hanya orang desanya sendiri. Saya minta mas Wafi bersama kami melengkapi ini.. karena saya yakin didalam UU 32/2004 ada yang baik dan ada yang tidak baik. disitukan ada di UU tapi tidak diterapkan. padahal sosialisasi sudah sekali-dua kali.. coba kita lihat th 65. Kedua. Soal ADD.

2. Presentasi Kelompok: OTONOMI DAN KEWENANGAN DESA Disampaikan oleh: Kamardi • • • Masalah Kewenangan desa: Pilihan tentang posisi desa sejauh ini belum jelas. agenda kedepan adalah mendorong kabupaten untuk menyusun perda dan program untuk mewujudkan desa yang memiliki kewenangan yang jelas dan mendorong kemampuan mereka untuk menjalankan kewenangan tersebut. Hal ini berkaitan dengan desa otonom dan desa adat. Barori 1. capacity building menyangkut desa Deskripsi singkat : 1. Konsistensi implementasi dari policy. Ada pendapat yang melihat pasal 18A konstitusi justru sebenarnya menjadi dasar untuk mendesain desa otonom dan 18B sebagai basis pengaturan bagi desa adat. UU 32/2004 sejauh ini belum banyak ditindaklanjuti oleh kabupaten dalam menjamin desa memiliki otonomi. fasilitasi. ke depan perlu penguatan kapasitas desa untuk mampu menjalankan kewenangan (aparat dan masyarakat) dengan baik. 8. Otonomi dan kewenangan harus diberikan kepada desa. karena desa merupakan wilayah yang menjalankan pemerintahan. Presentasi Hasil Diskusi Kelompok Hari/Tanggal : Senin. Tipologi desa perlu dicermati dalam mendesain pengaturan mengenai kedudukan desa dalam state.Benang Merah Pemikiran : • • • • Kedudukan desa dalam konstitusi dan derivasinya. Pengaturan relasi antara desa dengan supra desa tetap harus mengacu pada dasar konstitusi dan derivasinya. Bentuk organisasi desa perlu disesuaikan dengan karakteristik dan tipologi desa. Selama ini good will pemda masih dipertanyakan karena banyak ide tentang kewenangan muncul di pusat. • • • Menggagas Desa Masa Depan 80 . 3. Bahkan.00 Moderator : M. capacity building menyangkut desa. fasilitasi. 3 Juli 2006 Pukul : 16. 5.00 – 17. tetapi forum lebih banyak menaruh perhatian pada posisi desa sbg local self government. tetapi di daerah tidak direspon dengan baik dan cepat. 2. sangat penting pula desa diberikan legal standing dan kemampuan menjalankan class action dalam judicial process. Oleh karena itu. Salah satu tolok ukur desa mampu menjalankan kewenangan adalah mampu menyusun dan menjalankan peraturan desa secara konkrit. pembangunan dan tatanan kehidupan masyarakat dan budaya lokal. Diperlukan adanya konsistensi implementasi dari policy. Bentuk otonomi dan kewenangan desa mencakup hubungan desa dengan supra desa Bentuk organisasi ---) berkaitan dengan SDM. Selain jaminan kewenangan. Perlu ada ruang yang jelas bagi desa dalam kewenangan perijinan. 4.

5 unsur dari bundo kandung. terdiri 5 unsur dari cerdik pandai. perlu disusun indikator dan acuan pengembangan otonomi desa melalui pentahapan. Berkenaan dengan kewenangan desa dalam kelola dan penyelesaian masalah. pemilihan itu bagaimana bentuknya. perlu adanya kepastian melalui regulasi atau kebijakan yang membuat bahwa otonomi desa dengan kewenangannnya tersebut tidak dimanipulasi oleh kepentingan elit desa.• • • • • • • Untuk merumuskan kewenangan desa. Moderator Kita tuntaskan dulu kelompok ini. bagaimana keterwakilan kelompok lain. pemilihannya tentu per jorong. Terdapat bukti bahwa desa mampu mengurusi urusannya sendiri. perlu adanya kepastian melalui regulasi atau kebijakan yang membuat bahwa otonomi desa dengan kewenangannnya tersebut tidak dimanipulasi oleh kepentingan elit desa. Datuk kita kumpulkan lalu kita pilih wakil. seperti misalnya dalam kasus mengelola peradilan informal. jadi tidak perlu regulasi baru. mekanisme. Oleh karena itu. Menurut PP 72/2005 dibatasi 5-11. Tanggapan Datu Kita mau menambahkan sedikit untuk BPD. ada juga 1500 orang. biasanya kalau ada pemilihan kita perhitungkan aspek kemasyarakatan. 5 unsur dari nini mamak. masalah kewenangan desa harus memperhatikan konteks daerah masing-masing Agenda ke depan. Sementara itu pihak kabupaten lebih berkaitan dengan urusan keadministrasian. jadi kalau ada tanggapan dari kelompok demokrasi desa. dalam kaitan itu khususnya desa adat punya akses mengelola di SDA dan urusan komunitas nilai-nilai (roh. 5 unsur dari pemuda. Berdasarkan pengalaman. 1 jorong ada penduduknya 700. menurut Perda Sumbar kalau penduduknya 1600 maka wakilnya ada 16 orang. ini bagaimana menurut pendapat Bapak? Dahlia Agenda ke depan. kita kembalikan ke masyarakat. bagaimana jalan keluarnya? Menurut PP 72/2005 itu 5-11 orang. Dan dengan demikian. Problemnya adalah masih ada masalah benturan legalitas karena peradilan formal belum mengakomodasinya. lebih dari 1600 s/d 3000 21 orang. Bapak Seandainya akan memekarkan diri itu bagaimana? Menggagas Desa Masa Depan 81 . Perlu penataan ulang (khususnya di pemerintahan pusat) tentang pemberian kewenangan kepada desa yang tidak konsisten antar sektor (menghindari tubrukan antar sektor). Bagi saya regulasi atau kebijakan itu sudah ada yang mengakomodir. perlu adanya kewenangan yang luas bagi desa. dan dukungan administrasi keuangan dan kelembagaaan. ulamanya kita kumpulkan lalu kita pilih satu. Perlu pengkajian tentang masalah otonomi asli dengan belajar dari sejarah perkembangan desa. silahkan. Oleh karena itu pula. bagaimana keterwakilan. 5 unsur dari pemuda. beliau tadi ada keinginan BPD dipilih langsung oleh masyarakat. hanya perlu good will dari semua unsur. regulasi tidak terlalu banyak. kami ada 7 jorong. Saya dari Limapuluh Kota. desa masa depan ditandai oleh adanya otonomi desa yang berorientasi pada penjaminan kesejahteraaan dan keadilan dalam bingkai yang lebih demokratis dan partispatif. lebih besar dari 3000 25 orang. masalah kewenangan desa mengatur peradilan informal harus diakui dan sekaligus disinkronkan dengan peradilan formal. atau dimensi kultural).

lalu pemerintah membuat perda yang baru. Fungsi lembaga-lembaga yang mampu mengusung/melaksanakan demokrasi desa 3. kalau regulasi tersumbat maka UU tidak akan jalan. Soal pemekaran ini dijamin oleh UU. bagaimana kita menghindari dominasi elit desa. substansi adalah menghindari elit desa. tetapi kembali jangan sampai pemekaran itu kemauan elit desa. perlu ditambahkan. Demokrasi yang paling cocok untuk ditawarkan bagi pengaturan desa di Indonesia? 2. sehingga nanti yang menjadi hak asal usul itu tidak diintervensi lagi.Alit Terkait dengan aturan/perda setempat. yang dimaksud Badan Permusyawaratan Desa adalah BPD dalam UU no 10. Soal jumlah. contoh di penjelasan. Presentasi Kelompok: DEMOKRASI DESA Disampaikan oleh : Ade Kisi-kisi: 1. bagaimanapun akan memberikan cipratan langsung. BPD sebagai tool untuk check and balances 2. Harus mengacu pada analisis kebutuhan desa 3. tetapi bagaimana partisipasi dan demokrasi di masyarakat. belum menyentuh bagaimana membangun essensi check and balances • Kemampuan ekonomi masyarakat yang bervariasi berkorelasi pada tingkat partisipasi Menggagas Desa Masa Depan 82 . Toto Hak asal usul di pasal 206 UU 32/2004. jadi seolah sama. dulu ada kelipatan dari jumlah penduduk. pemekaran itu semata-mata untuk pelayanan publik. Barangkali pemerintah kabupaten tetap mengacu UU 32/2004 dan PP 72/2005. Kendala-kendala yang penting diperhatikan Demokrasi yang cocok bagi desa: • Inclusive demokrasi perlu menjadi pertimbangan utama dalam rangka membentuk self community governance yaitu suatu kondisi dimana masyarakat dapat terlibat secara luas dalam proses pengambilan keputusan. saya sampaikan bahwa pasal 206 UU 32/2004. Kamardi Kalau belajar di UU 32/2004 ini frustasi juga. Masalah regulasi. 2. artinya perda yang baru mengacu ke UU khususnya pasal 206. Keterwakilan lembaga kemasyarakatan lainnya Fungsi lembaga-lembaga: • Lembaga di desa terdiri dari lembaga formal dan non formal • Fungsi lembaga desa bervariasi: sebagai fungsi legislasi. kontrol dan pelaksana • Bentuk diserahkan pada kearifan dan keunikan lokal dengan acuan dari pusat • Lembaga itu harus mampu mewakili semua aspirasi masyarakat • BPD dan lembaga kemasyarakatan yang ada harus ditopang dengan capacity building yang memadai Kendala-kendala: • Keterbatasan partisipasi masyarakat antara lain karena ssstem yang belum mendukung (structural) • Kendala cultural (misalnya budaya patrialistik. pandangan pragmatis) • Fokus pada Pemda dan desa masih sebatas pada pembentukan lembaga. sikap elitis. bahwa BPDnya tetap seperti semula. 1.

sehingga netralitas calon kades. menghendaki lembaga-lembaga yang kompetansi di situ. karena demokrasi itu menghendaki prosedural. yang saya usulkan itu DPD. mekanisme demokrasi seperti apa untuk jalan keluar. bagaimana lembaga di desa. sinergi ini yang perlu dirumuskan dengan baik. selama ini yang mengatur pusat dan kabupaten. tapi tidak serta merta mewakili desa. Contoh di Jepara. Kalau akan ada dewan perwakilan desa justru konsolidasi kepala desa berhadapan dengan kepala desa di tingkat bawah. government for the people. Ibnu Itu bukan wakil pemerintah desa. bagaimana APBD itu membiayai juga. Problem demokrasi selanjutnya adalah dalam melaksanakan tugasnya dengan tata cara yang demokratis. untuk menghilangkan jago itu membiayai sendiri. yang penting mendesak pemerintah di atas desa untuk menjamin nilai-nilai lokal. problemnya adalah masyarakat desa yang selalu terus menerus menjadi marginal yang ditinggalkan kepala desanya yang menjadi kepanjangan tangan pemerintah di atasnya. Itu perlu dinormakan. kades.• Trauma pengalaman berdemokrasi yang tidak memihak kepada kebutuhan masyarakat. tapi itu pembaruan tatanegara karena dibentuk BPD yang melaksanakan fungsi legislasi. Datu Pertanyaan masih ada yaitu desa masa depan itu seperti apa? Ibnu Demokrasi yang paling cocok tentang pengaturan desa di Indonesia. Tadi Pak Ibnu lebih menekankan soal perwakilan desa di DPR. ini sebetulnya ada gejala yang sudah muncul dengan paguyuban-paguyuban pamong desa. tetapi institusi yang mewakili desa. Bahwa DPD itu tidak cukup mewakili masyarakat. mekanismenya terserah. tetapi baru sebatas pada elit-elit desa Tanggapan Widyohari Anggaran Pilkades masuk APBN dan turun melalui APBD. bisa pemilu atau yang lainnya. maka ditopang dengan mekanisme lain yang berangkat dari inisiatif masyarakat sendiri. Tadi ada kerancuan dengan sistem yang berlaku di nasional dengan Menggagas Desa Masa Depan 83 . bagaimana kita membuat regulasi desa dengan memangkas itu? Bapak Format kelembagaan itu. sehingga demokrasinya bisa berjalan. Menormakan ini tidak bisa seragam. karena kabupaten yang mengatur desa tidak ada representasi desa mewakili desa saat membuat perda. Marhaban Waktu kita merumuskan demokrasi kita kembali ke sejarah demokrasi itu. saat pusat membuat UU maka disana sudah ada DPD yang mewakili daerah. Bapak Apa yang digambarkan Pak Ibnu seolah-olah desa itu menjadi satu kesatuan dengan kepala desanya. tapi bukan dipreteli dalam pembaruan tatanegara. Biaya pilkades itu kecil. apakah tidak kita pikirkan semacam Dewan Perwakilan Desa yang mewakili desa untuk membuat perda? Masalah dengan Syamsudin Haris yang dipreteli. BPD sinergis. yang jadi mahal itu money politic. Kabupaten membuat perda ada yang merepresentasi desa. tapi ad hoc saja. sedangkan masalah bentuk kelembagaan itu sudahlah. oleh karena itu kita perlu menemukan kearifan-kearifan. Mekanisme di pusat sudah ada. kades menuntut perpanjangan masa jabatan kepala desa.

Kita harus tempatkan demokrasi good and clear governance di tingkat II karena di situ ada konstituen political. kalau masyarakat tidak demokratis itu akan menjadi fasisme. Harus ada kemudahan-kemudahan demokrasi di tingkat masyarakat. masyarakat.kabupaten/kota. Presentasi Kelompok: ADD (ALokasi Dana Desa) Disampaikan oleh: Dahlia • • • • Sebagian besar kabupaten enggan (keberatan) melaksanakan kebijakan ADD Akses masyarakat untuk mengetahui informasi PP dan ADD sangat terbatas Masyarakat desa belum jelas dengan sumber-sumber pendapatan desa Ada 3 faktor penghambat pelaksanaan ADD yaitu: − Kapasitas potensial desa yang belum siap − Keterbatasan APBD (PAD) − Masalah politis yaitu tarik ulur kepentingan politik di daerah Ada pengalaman desa yang sudah menyiapkan kelembagaan (sistem) dan bisa berjalan dengan baik Terlalu kakunya pengelolaan ADD oleh kabupaten Pengelolaan ADD semestinya mutlak oleh desa. Di desa itu ada deliberatif demokrasi. keluarga. Hari/Tanggal : Selasa. demokrasi harus dimulai dari yang terendah. tetapi aturan teknis dilakukan desa Mengkaitkan antara ADD dengan penguatan kapasitas kelembagaan desa Tidak perlu ada pembatasan yang rigit dalam kelola ADD. masyarakat berkumpul untuk memutuskan berbagai hal. 4 Juli 2006 Pukul : 14. Self Governing Community itu dikaitkan dengan demokrasi bagus sekali. tetapi perlu memperhatikan konteks daerah dan desa Perlu intervensi positif (kebijakan) oleh pemerintah pusat Perlu membangun kesadaran kritis atas kelola uang berbasis loan and project • • • • • • • • • • • • • • • • • Menggagas Desa Masa Depan 84 .15 Moderator : Sumarjono 3. Penguatan kelembagaan. pelaksanaan dan pelestarian dari ADD harus partisipatif. karena ADD adalah dana perimbangan Perlu pedoman umum dari pemda. tetapi harus ada ramburambu umum yang prinsip Proses perencanaan. melibatkan seluruh elemen masyarakat Informasi penggunaan dana harus transparan (diumumkan kepada publik) dan ada mekanisme pertanggungjawaban pada publik (Pengalaman Ngada): tidak semua desa diberikan ADD. karena dalam institusi demokrasi itu adalah membangun komunitas politik tetapi non praktis. Kalau Dewan Perwakilan Desa itu saya dukung. soal check and balance itu tidak kita khawatirkan. kalau kulturnya sudah bagus dan mandiri maka itu bisa dikendalikan. contoh kepala desa minta untuk ikut jadi pengurus partai politik dan negara menolak dengan tegas. diatur oleh Perda Semestinya ADD tidak identik bagi hasil. itu budaya demokrasi kuno yang disebut open deliberation. sesuai dengan kebutuhan dan kriteria yang jelas terutama pemetaan bagi desa yang diprioritaskan mendapatkan ADD Perbedaan persepsi antar sektor di level kabupaten atas ADD ADD hendaknya diintegrasikan dengan APBDes (RPJMDes) Problem-problem dari PP perlu ditindaklanjuti dengan Perda Manipulasi atas ADD akan membunuh partisipasi desa Perlu memetakan best practice untuk menjadi referensi dan replikasi.00 – 15.

karena ADD itu 10% dari dana kabupaten. Saya persilahkan tanggapannya. Presentasi Kelompok: TATA HUBUNGAN DESA DENGAN SUPRA DESA Disampaikan oleh: Nurwafi Diskusi kita adalah hubungan antara desa dengan supra desa dalam NKRI. ini memang strategi pemberdayaan. mulai kemarin rumusannya desa diatur dengan UU tersendiri. Ketentuan 10% dari APBD tidak cukup. Ini memang berbenturan dengan tata negara. Perlu ada audit independen (dipilih masyarakat) dari stakeholders Moderator Kelompok diskusi ADD telah membuat kesimpulan-kesimpulan terkait dengan pelaksanaan ADD yang belum seluruh kabupaten/kota melaksankan ADD. kalau kita ambil 10% itu hanya acuan tetapi APBN yang membiayai. karena desa itu sudah di bawah negara. Tanggapan Ibnu Kita ini menggagas desa masa depan. delegasi dan wewenang tanpa resources itu adalah omong kosong. Menggagas Desa Masa Depan 85 . Moderator Untuk selanjutnya saya persilahkan kelompok tata hubungan desa dengan supra desa. Benang Merah pemikiran yg perlu dipresentasikan dlm pleno: • Kedudukan desa dalam konstitusi dan derivasinya. dalam kebijakan ADD Perlu ada penguatan kapasitas aparat dan kelembagaan serta elemen-elemen masyarakat desa dengan pendekatan partisipatif Perlu ada intervensi dari pusat tentang batasan alokasi yang akan diberikan ke desa supaya dana yang dikucurkan ke desa mencukupi untuk pembangunan di desa Perlu ada komitmen yang lebih besar lagi di tingkat nasional. wacana ini muncul dalam kerangka pemberdayaan. yang kami sampaikan ini hanya pokok-pokoknya saja. Marhaban Kita di PMD. artinya desa tidak lagi inheren dalam kabupaten. kalau desa diatur sendiri maka tidak boleh diatur dalam perimbangan kabupaten. Dahlia Kalau desa tidak inheren dalam kabupaten maka tidak bisa mendapatkan ADD. bagi saya kalau sudah tidak inheren maka PP itu akan gugur. Ini memang dalam perspektif yang mikro.• • • • • Perlu pendidikan bagi masyarakat untuk advokasi pada level kabupaten. Menurut World Bank agar uang tidak nyangkut di elit. melakukan kritik dan usulan-usulan agar ADD dapat dilakanakan dengan baik. ini konsekuensi pilihan yang kita lakukan. maka 80% langsung ke masyarakat. Dengan demikian ADD menjadi problem. Pak Ibnu melihat makro dari hukum tata Negara. • Bentuk otonomi dan kewenangan desa mencakup hubungan desa dengan supra desa • Bentuk organisasi pemerintahan desa berkaitan dengan SDM. 4.

Separated itu maksudnya adalah ada pembedaan yang tegas antara kabupaten. Menggagas Desa Masa Depan 86 . koncuren. Di UU ada kewenangan atributif. Moderator Silahkan untuk dijawab Wafi Logika berpikirnya di balik. saya tidak bisa membayangkan otonomi itu diberikan di desa tanpa ada pemberdayaan di desa. fasilitasi. dimana desa tidak boleh mengklaim bahwa ini kewenangannya. Pengaturan relasi antara desa dengan supra desa tetap harus mengacu pada dasar konstitusi dan derivasinya. setiap eksploitasi akan melibatkan masyarakat desa. namun sudah ada kebijakan pemerintah yang mengarah ke kepedulian terhadap desa. walaupun secara yuridis formal belum nampak. Justru dengan otonomi desa. Saya kira pasal ini pasal yang tidak dirubah. Tipologi desa perlu dicermati dalam mendesain pengaturan mengenai kedudukan desa dalam negara.• Konsistensi implementasi dari policy. capacity building yang menyangkut desa. kenapa justru ada eksploitasi. pusat sampai dengan aturan main keuangannya. tetapi untuk hubungan desa dengan supra desa ini harus tegas. Yang inklusif itu ada hubungan antar desa yang harus melaksanakan. Bentuk organisasi desa perlu disesuaikan dengan karakteristik dan tipologi desa. 7. 9. air dan udara dikuasai negara dan digunakan sebesarbesarnya untuk kemakmuran rakyat. Ini harus diperjelas dulu landasan akademik kita apa? Di dalam inter government relation. Diperlukan adanya konsistensi pemerintah pusat dan daerah dalam praktek pelaksanaan setiap kebijakan. Saya justru berpikir optimis akan memberikan kemakmuran. Tanggapan Tumpak Kalau bicara hubungan desa dengan supra desa maka akan terkait dengan kewenangan. capacity building menyangkut desa. sangat penting pula desa diberikan legal standing dan kemampuan menjalankan class action dalam judicial process. Kasmuin Pasal 33 UUD 45. Yang harus kita pertegas adalah otonomi yang berpihak masyarakat desa dan ada jaminan untuk digunakan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. fasilitasi. Moderator Desa menjadi obyek supra desa. karena dulu tidak pernah melibatkan desa maka akan terjadi kehancuran-kehancuran itu. Untuk kelompok lain silahkan tanggapannya. semua level harus bertanggung jawab untuk mengatasi itu. 8. Deskripsi singkat : 6. Bahkan. 2) separated. dan 3) overlap. Perlu ada ruang yang jelas bagi desa dalam kewenangan perijinan. Untuk kelompok ini harus clear model mana yang akan diadopsi. provinsi. delegatif dan kewenangan lain-lain. 10. Ketiga overlap. Ada pendapat yang melihat pasal 18A UUD 45 (konstitusi) sebenarnya menjadi dasar untuk mendesain desa otonom dan 18B sebagai basis pengaturan bagi desa adat. jelas ada 3 model yaitu: 1) inklusif otorelation. pilihan. di UU 32/2004 itu diatur urusan wajib. yang terjadi adalah dengan otonomi selama ini SDA sudah cepat habis. Bumi. tanah. Hal ini berkaitan dengan desa otonom dan desa adat.

Moderator Tampaknya sudah cukup waktu. Kita harus jelas apakah kontrol atau pengawasan. dan efisiensi. kalau pengawasan maka ikut mengarahkan. tetapi juga persoalan politik. Moderator Dari awal memang ada cara pandang yang berbeda antara ketentuan hukum dengan nilainilai filosofis hukum yang akan diberlakukan di Indonesia. eksternalitas. Kalau kita baca otonomi daerah dan desentralisasi ada 2 cara : 1. dan pemasaran. Australia. kayaknya ini lebih dekat dengan delegatoris. Saya kira disana ada politik. Kalau kontrol itu hanya melakukan uji. Marhaban Otonomi bukan hanya persoalan hukum. ini pada akhirnya digunakan untuk kemakmuran rakyat. kalau sudah diberikan urusan maka berhak atas wewenang. padahal kalau residual teori itu wewenang. oleh karena itu terbit UU sektoral. apalagi mau kita bawa ke desa. kita harus kita pisahkan kontrol dan pengawasan. kalau saya melihat lebih ke politik. Negara-negara baru (Amerika Serikat. supra desa itu seperti apa? Apakah dia supervisi. otonomi ini yang diambil berdasarkan persoalan politik. ini yang menjadi tali sentralistik. Saya tidak mengerti Pak Ryaas belajar di Amerika tahu persis otonomi itu. maka perlu modal. Newe Zealand) meletakkan otonomi level di urus di tingkat state (politik). Pasal 1 negara memberi pengaturan. Saya pilih ke istilah kontrol. nampaknya yang diberikan itu urusan. selanjutnya dari wakil kelompok BUMDes. Dalam pasal 18 residual teori yang dipakai tetapi yang dipakai urusan. Hubungan wewenang yang diatur pasal 18 a itu.Ibnu Masalah urusan dan wewenang. karena pengawasan ikut mengarahkan. sehingga terbit banyak SE yang mengatur daerah. itu yang berkaitan dengan yang strategis. Skandinavia. Berkaitan dengan pasal 33 ayat 2 negara sebagai pelaku. • Untuk pengelolaan modal maka perlu Lembaga Mikro Kridit • Lembaga Mikro Kredit seperti apa yang ada desa ? Lembaga Keuangan Desa perlu ada kerangka kerja yang baik. apakah dalam bentuk semacam Rural Banking sustainable Usulan diberi nama BUMDes • Perlu manajemen yang profesional • BUMDES perlu pengakuan dengan payung hukum • Kegiatan mikro finance selama ini yang berkembang di pedesaan adalah usaha simpan pinjam Menggagas Desa Masa Depan 87 . di UU 32/2004 itu urusan. Oleh karena itu gagasan apa yang akan kita sampaikan. pada tingkat lokal itu begitu mahal demokrasi kita. yang dipakai dalam pasal 18 ayat 5 itu hanya urusan. ada pemisahan yang tegas karena ada pendekatan akuntabilitas. 2. Presentasi Kelompok: MIKRO KREDIT DAN BUMDES Disampaikan oleh: Adnan Sumber hukum PP 72/2005 Pasal 78 s/d 201 • Mikro kredit berkait dengan produksi. fasilitator. teknologi. 5. UU 5/74 itu wewenang. UU 22/99 wewenang. Negara-negara old model (Jerman. Perancis) urusan politik dibawa sedekat mungkin dengan rakyat. karena di Australia ada banyak UU otonomi daerah.

• Ada alokasi modal dari APBD untuk pengembangan BUMDes. Perempuan terbukti sebagai pelaku ekonomi yang tanggung dan mayoritas di desa. • BUMDes dibentuk berdasarkan aktivitas ekonomi yang telah ada di tingkat lokal dan untuk melindungi ekonomi lokal. Tetapi dasar ini belum bisa akses ke lembaga perbankan. Ditingkat desa BUMDes itu dibentuk berdasarkan Perdes. oleh karena itu disarankan untuk berbadan hukum/diaktekan. (kebijakan ini tidak hanya dilakukan Depdagri/Ditjen PMD. nelayan. • Perlu ada afirmative action dalam pengembangan ekonomi di desa. untuk rakyat (petani. Menggagas Desa Masa Depan 88 . tetapi dinas lain terkait harus melakukan hal tersebut. dll) untuk menghindari pertarungan dengan pemodal dan elit desa. terbatas pada Bank dan Koperasi • Rendahnya akses modal bagi masyarakat miskin dan perempuan • Ada pandangan masyarakat kalau uang dari pemerintah tidak perlu dikembalikan – sehingga banyak kredit program macet. • BUMDes harus memberikan perhatian pada masalah perempuan • Pembentukan BUMDes bukan penyeragaman dan pemaksaan (pengalaman KUD). • Kebijakan antar sektor belum saling mendukung untuk pengembangan ekonomi desa • Lebih dari 60% ekonomi desa dikuasai oleh kelompok elit dan pemilik modal besar. Pengalaman Kabupaten Sumedang: Yang dimasukkan ke dalam BUMDes: • Alokasi anggaran simpan pinjam • Unit usaha simpan pinjam menjadi bagian BUMDes • Lumbung Desa • Kegiatan penarikan rekening listrik • Penyewaan hand traktor • Unit toko untuk pelayanan masyarakat (berbagai produk dan jasa) • Warung nasi dsb. • Bagaimana dengan kepemilikan BUMDes (Masyarakat dan harus dihindari kepentingan dan kooptasi elit desa • Jenis usaha dan model BUMDes harus memberi ruang dan bertumpu pada inisiatif dan kearifan lokal Problem • Tidak ada fasilitasi sistemik untuk pengembangan usaha kecil di desa • Tidak ada perlindungan pasar untuk pelaku usaha kecil • Belum ada payung hukum yang jelas untuk LKM. juga bukan instrumen kapital besar yang mengancam ekonomi pedesaan. Tawaran tentang Pengembangan Ekonomi Desa (BUMDes dan LKM) • BUMDes dan LKM harus menjadi upaya pengembangan ekonomi lokal dan pengentasan kemiskinan.Pengalaman Layanan Keuangan di Masyarakat Jenis layanan kredit di Desa • Program kredit dari PPK. P4K • Simpan pinjam desa • Lumbung desa • Koperasi desa Perempuan terbukti sebagai nasabah yang baik dalam kredit dan penerima program yang efektif. • Untuk mengatasi monopoli elit dalam BUMDes maka bentuk hukum yang diusulkan koperasi yang berorientasi pada ekonomi kerakyatan.

Pengawasan. Ada kejelasan tentang kewenangan desa dalam pengelolaan sumberdaya ekonomi. mau memberikan waktu. • Ada mekanisme dan skema kredit yang sesuai dengan kondisi masyarakat (belajar dari pengelaman “bank plecit” ). Kita harus tegas mengatur ini. fasilitasi pengembangan produksi dan pasar sebagai satu sistem pengelolaan. kita tidak yakin kalau di APBD nya tidak ada. Pemda sudah membuat tim pembina BUMDes. Ini ada yang menarik dari Pak Maryunani dan Stefan. siapa yang akan mengontrol BUMDes.• • • • • • Jenis usaha harus memberi ruang dan bertumpu pada inisiatif dan kearifan lokal. Tumpak PMD sudah mencoba payung hukum untuk BUMDes ini. BUMDes itu akan dibiayai APBD. karena di PP 72/2005 itu akan dikelola pemerintah desa. untuk tingkat desa apa? Di PP 72/2005 ditetapkan perdes. sehingga kalau kita membuat BUMDes harus dihindari yang menyangkut LKM dan koperasi. termasuk monitoring dan pengawasan. Di tingkat II. • Dalam LKM harus diikuti dengan pendampingan. agar perda itu baik dan benar. pemerintah Jawa Timur sudah menunjukkan good will. sebagai komisaris. LKM (Lembaga Keuangan Mikro) • Keberadaan LKM tidak lepas dari upaya menyediakan layanan modal bagi pelaku ekonomi untuk pengembangan usaha. • Ada mekanisme monitoring dan evaluasi dalam pengelolaan LKM. dll). perdes mengacu perda. perda mengacu UU. Perlu ada kejelasan dan dibangun sinergi kebijakan antar sektor dalam pengembangan ekonomi desa (BUMDes). • LKM bukan menjadi perpanjangan tangan usaha kapital besar maupun intermediasi dari bank komersial yang ada. Ada affirmative action dalam layanan usaha BUMDes kepada perempuan. ini ada UU yang mengatur LKM dan koperasi. Moderator Langsung saja dari kelompok lain yang akan menanggapi atau memberi masukkan. kalau kita bandingkan dengan BUMD itu bentuknya perusahaan daerah. Tanggapan Maryunani Berbagi pengalaman. • Perlu dibangun pola dasar dan skema yang memungkinkan akses masyarakat miskin dan perempuan mendapatkan layanan secara mudah. Dalam pengelolaan itu bagaimana rakyat desa itu komit. agar tidak bertabarakan dengan UU lain maka harus di luar LKM dan koperasi. rakyat miskin (petani. panjang sekali prosesnya. dana itu bila didistribusikan setelah eksekutif bertemu dengan legislatif. supaya tidak gamang dalam mengatur itu. Sebenarnya tidak ada perintah di PP untuk membuat pedum. Menggagas Desa Masa Depan 89 . • Ada kejelasan bentuk hukum untuk melindungi dana rakyat yang disimpan. Rakyat harus menjadi subyek dalam kegiatan BUMDes (mengedepankan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat dalam rangka kedaulatan ekonomi rakyat). Ini agak rumit membagi payung hukum untuk BUMDes. karena semua akan menjadi bemper ekonomi desa.nelayan. tenaga dan pikiran. sehingga perlu pembinaan. Perlu ada kejelasan tatalaksana dan manajemen profesional. • Ada jaminan/afalis untuk PUK yang mengalami kesulitan dalam akses modal (baik dari pemerintah-lembaga lain).

keahliannya apa dan mengacu UU yang sudah ada. lebih banyak ke perangkat desanya. ini akan menjadi ladang baru bagi percepatan proses korupsi di desa. dan itu diputuskan dengan keputusan desa. bukan khusus untuk BUMDes. menggagas desa masa depan. Kalau kita menganut badan hukum koperasi. Sehingga pedoman seperti Pak Tumpak itu benar. Payung hukum yang ada adalah yang umum. Yang awalnya untuk meningkatkan pendapatan desa. seperti ADD. Pengalaman di Sumedang dengan perdes mereka tidak cukup melakukan akses bisnis. ke bank misalnya. Menggagas Desa Masa Depan 90 .Yuni Sengaja kita tidak mengusulkan satu jenis badan hukum. PR menghadang kita sesuai dengan profesi kita masing-masing dalam upaya kita untuk membela desa. saya cenderung untuk merumuskan badan hukum tersendiri dalam BUMDes. maka tidak bisa ke sana nanti. itu milik bersama dan hasilnya akan dibagi bersama dalam anggotanya. Desa senantiasa menjadi ajang tempur untuk mencari keadilan dalam kehidupan negara kita masih panjang. Moderator Diskusi ini kita akhiri. Di daerah kami ada pasar desa yang besar tetapi tidak memberikan kontribusi kepada desa. Jadi tergantung pilihan masyarakat disitu maunya seperti apa. BUMDes yang lemah payung hukumnya. Kasmuin Membandingkan gagasan itu. bukan soal ADDnya tetapi bagaimana kita mengelola ADD itu. Lebih fundamental lagi.