VIII.

DISKUSI KELOMPOK TERFOKUS

8.1. Diskusi Kelompok
Hari/Tanggal : Senin, 3 Juli 2006 Pukul : 13.30 – 15.30

1. Kelompok: OTONOMI DAN KEWENANGAN DESA
Fasilitator Peserta : 1. Arie Sujito 2. Bambang Hudayana : M. Barori-STPMD “APMD”, Alit-Majelis Madya Gianyar, MaryunaniFE Unibraw, Steny-HUMA, Sulikanti-Bappenas, Yusuf-SAINS, Lubis-YIPD, Suharman-PSPK UGM, Kamardi-Perekat Ombara, Franky-AMAN, Ibnu-FH Unibraw, Toto-BPMKS Sumedang, AzamPemdes Kebumen, Sofyan-Akatiga, Matt Stephan-World Bank, Vitristaf DPD, Kasmuin-CePAD, Adri Warsena-FPPD.

Fasilitator Sesi ini kita akan mengeksplorasi pemikiran menjadi lebih dalam, set up diskusi kelompok ini diharapkan akan muncul pemikiran-pemikiran, ide-ide tentang otonomi dan kewenangan desa itu seperti apa? Pilihan-pilihan yang visible. Tadi sudah banyak disampaikan Pak Toro dan Simatupang telah mengesplorasi banyak hal pilihan-pilihan berangkat dari peta normatif maupun empiris hubungan antara pusat, provinsi, kabupaten dan desa. Secara prinsip kita punya kebutuhan melalui otonomi dan desentralisasi, maka ini lebih memungkinkan terjadinya demokrasi. Pak Simatupang juga bicara banyak secara sangat normatif dan reduktif. Pak Toro tadi mengungkap beberapa pilihan seperti local self goverment, itu bagian terpenting dari otonomi dan demokrasi. Kita bisa belajar dari review, tapi yang lebih penting itu adalah penataan dan kelembagaannya ke depan seperti apa? Barori Ada pandangan tentang pemberdayaan masyarakat desa itu dibingkai dalam desentralisasi, kita pahami dulu konteks desentralisasi. Ada 3 domain dengan asumsi desa adalah sebagai wilayah pemerintahan yang di dalamnya ada pemerintahan dan pembangunan, domain ini yang perlu kita sepakati dengan bingkai itulah pemerintahan desa diberi kewenangan untuk melaksanakan pembangunan dan pemerintahannya, sehingga pemerintahan yang desentalistik dan pembangunan yang desentralistik menjadi prasyarat pemberdayaan masyarakat desa. Pemberdayaan masyarakat desa itu mencakup 3 hal yaitu: 1) pemerintahan yang desentralistik, 2) pembangunan yang desentralistik, dan 3) desentralistik fiscal. Secara normatif hal ini sudah kita temukan dalam UU 32/2004 maupun di PP 72/205, persoalannya kita memantapkan itu, apa yang menjadi kewenangan desa. Masyarakat desa akan berdaya kalau ada kewenangan yang melikupi dirinya, yang harus kita kedepankan adalah sebuah ketentuan bahwa level pemerintahan kita harus mempunyai otonomi pemerintahan sendiri-sendiri. Oleh karena itu kewenangan desa harus kita sepakati dan pahami bersama dan secara normatif UU dan PP sudah mendorong ke sana. Sejauh mana kewenangan itu bisa dijadikan posisi baru desa dalam melaksanakan pemerintahan dan pembangunan? Desentralisasi harus diikuti dengan otonomi desa yang nilainya sama dengan otonomi di tingkat kabupaten, provinsi
Menggagas Desa Masa Depan

46

maupun pusat. Otonomi dimaknai juga dengan kewenangan desa dalam mengelola pemerintahan dan pembangunan. Perangkat untuk disana sudah kita punyai, pembangunan yang desentralistik, perencanaan pembangunan yang berhenti di tingkat desa. Fasilitator Otonomi desa diletakkan dalam 3 hal: pemerintahan, kewenangan dan keuangan desa. Memahami otonomi dengan diletakkan hubungan antara desa, kabupaten, provinsi dan pusat. Tadi di diskusi ada hal penting, meskipun belum dilihat spesifik. Alit Anggap contoh bangunan, dasarnya kuat, perlu porsi yang jelas menyangkut kewenangan desa. Di UU 32/2004 pasal 200 itu sudah, menyangkut kewenangan desa pasal 206 perlu dirujuk ke tingkat kabupaten. Rujukan ini ditindaklanjuti di tingkat kabupaten sampai ke tingkat desa, sehingga posisinya jelas, mana hak-hak desa. Sebab kita tahu, desa kita karakternya berbeda-beda, apa yang sudah ada kita kembangkan, rujukannya berdasarkan UU yang sudah ada, bagaimana kejelasan porsinya. Tentang keuangan, pendapatan asli desa, perlu diperjelas, mana saja yang boleh sehingga desa itu bisa diberdayakan sesuai dengan semangat otonomi. Fasilitator Maksud Pak Alit, itu perlu dirinci lagi dalam Perda. Maryunani Otonomi dan kewenangan, saya ingin menambahkan satu muatan bahwa otonomi itu adalah sebuah sistem yang hirarki vertikal dan horizontal. Kalau bicara otonomi desa bisa kita tangkap hirarkhi horisontalnya, bahwa desentralisasi fiskal perlu diikuti dengan kewenangan, desentralisasi fiskal yang di PP 72/2005 ada 3 komponen besar, bagaimana desa mampu dalam pendanaan dalam pembangunannya, kemudian diikuti desa itu mampu mengelola sendiri dana dan pembangunannya, dan diarahkan ke kegiatan ekonomi produktif, maka kemandirian itu ada disitu. Persoalannya, apa betul desa desentralisasi itu ada? Pengalaman di kabupaten/kota di Jawa Timur, desentralisasi yang ada ini desentralisasi yang sentralistik, dimana posisi desa itu memiliki bargaining position dengan kabupaten atau sebaliknya sejauh mana kabupaten ini memberikan good will-nya, sehingga sinergitas keduanya ini belum ada. Persoalan bukan pada normatifnya tetapi pada good will kabupaten. Sejauh mana regulasi ini diikuti good will agar sampai ke desa? Stenly Soal tawaran dari Mas Toro, dari pilihan itu mesti dipilah lagi ke level yang lebih konkret, dengan memilih salah satu atau meramu ke tiga hal itu apa saja kewenangannya yang akan menjadi turunannya. Kita tidak bisa bicara kewenangan secara konkrit kalau tidak memilih dari 3 model itu, atau mengacu ke UU yang ada. Kalau mengacu ke UU, pertanyaannya adalah apakah sudah cukup, kalau tidak cukup dengan model itu apa yang akan kita pilih? Melihat perkembangan politik mungkin hanya model local self government yang konkrit, model seperti ini khan tergantung masing-masing daerah, kalau mau milih 3 hal itu dipecah dan turunan-turunan dari model itu. Usul saya, yang masyarakat adat maka akan self governing community. Sulikanti Regulasi ini masih baru, saya tidak yakin itu sudah dilaksanakan pemerintah daerah. Daripada kita mengganti yang ada, kita laksanakan itu dahulu, kadang kita bagus di konsep, pelaksanaannya amburadul. Bentuk apa saja ke depan, lebih baik kita identifikasi dari pelaksanaannya yang maju yang mana? Apakah self governing community, yang jadi
Menggagas Desa Masa Depan

47

pertanyaanya masuk tidak kita ke masyarakat adat. Kita tidak mudah menentukan 3 itu, kita perlu merenung posisi dimana, sehingga bisa melihat/ambil yang mana? Semakin banyak aturan semakin tidak benar, biarkan mereka mengatur sendiri. Fasilitator Yang perlu kita bahas adalah mana yang perlu diatur dan mana yang tidak. Pak Hans tadi mengatakan, kalau negara tidak beres bukan berarti negara tidak dibutuhkan. Kalau kita setir sedikit dari Pak Sutoro dari 3 model, kalau local state government itu pernah dijalankan masa orde baru. Persoalannya desa itu akan dispesifikasikan dengan UU sendiri atau tidak, tetapi memastikan ada pengakuan negara atas desa. Perlu diidentifikasi otonominya seperti apa? Kelembagaanya seperti apa, lalu solusinya seperti apa? Yusuf Bagaimana self goverment community itu bisa menghadapai tantangan pluralitas? Fasilitator Pertanyaan ini penting ketika Pak Syamsudin Haris mengatakan ada tuntutan untuk tidak menyeragamkan. Lubis Bicara otonomi dan kewenangan desa ada 2 hal: 1. Kewenangan yang diberikan kepada desa, belum benar-benar kepada desa, sehingga kita tidak optimal dalam pemberdayaan desa. Sudah saatnya memberikan kewenangan perijinan kepada masyarakat bukan hanya KTP saja tetapi juga seperti pemungut retribusi, penanganan retribusi sampah, warungwarung kecil, sehingga desa dapat diberdayakan, mendapat income untuk memberdayakan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan desa. 2. Jangan sampai kewenangan yang diberikan itu tidak ada kontrol, karena akan menghambat investasi di daerah, jangan sampai kebablasan memungut retribusi yang tidak mendukung investasi. Suharman Berhubungan dengan fiskal, otonomi dan kewenangan untuk mengelola sumbersumbernya perlu dipahami: 1. Otonomi dan kewenangan itu bukan di ruang hampa, tarik menarik dengan pasar. Banyak bondo desa berubah menjadi ruko, bondo desa yang telah menjadi uang mudah sekali menjadi elitis sifatnya, misalnya untuk membiayai pamong desa. Di Kampung Naga masyarakat menolak menjadi obyek wisata tetapi tidak memperoleh hasil serupiahpun dari kegiatan wisata itu. 2. Tidak sterilnya faktor politik di bawah. Contohnya, Bupati menganggarkan dana APBD dan disalurkan ke desa pendukungnya. Pasar dan politik menjadi eksternal environment yang harus diperhatikan dari otonomi dan kewenangan desa. Kita tidak perlu pesimis, dengan regulasi kita bisa menata/mengukur eksternal environment. 3. Persoalan kontrol dan elitis, otonomi dan kewenangan desa, kontrol itu bagaimana mekanismenya? Format itu perlu dikedepankan. Kamardi Kita sudah membahas konsep ideal tentang desa, paling tidak ada 3 hal untuk didesakkan yaitu : 1. Akses pengelolaan sumber daya masyarakat adat di desa, di UU 22/99 dan UU 32/2004 SDA yang dikelola kabupaten tidak boleh dikelola desa sebaliknya yang dikelola desa tidak boleh dikelola kabupaten, faktanya tidak demikian. Pergeseran seperti itu juga APBDes, perda perlu mengakui adat di desa. Hambatan lain itu di daerah, pusat dan daerah tidak sinkron, mereka saling lempar tanggung jawab.
Menggagas Desa Masa Depan

48

2. Hak konservasi, termasuk tata nilai, adat itu sepotong dipahami di desa. Normanorma itu kalau bisa diadopsi di desa untuk membuat sistem hukum adapt, dan perda perlu mengakui itu. Saya mendukung perlu adanya pendetailan UU ke dalam perda. 3. Kewenangan ini ketika di desa, harus dipertegas pemerintahan itu lebih ke administrasi, tetapi pengaturan tata nilai, sistem, roh kehidupan di desa jangan diintervensi, jangan dicampur aduk. 4. Untuk PP 72/2005 pasal 68, desa paling sedikit mendapat 10% dari retribusi, ayat C desa mendapat 10% dari DAU, ini yang disebut ADD. Ketika ADD turun maka yang bagian dari retribusi tidak diberikan. Franky Bicara kewenangan, akses SDA, saya merasa tidak bijaksana kalau tidak kita undang departemen lain, misalnya kehutanan, perkebunan, tambang dll, karena regulasi itu banyak benturan. Ibnu Kita tidak diskusi membagi kewenangan per sektoral, yang perlu kita rumuskan bagaimana memberi/membagi kewenangan. Kita tidak mungkin per sektoral, itu pun per daerah berbeda-beda. Konstitusi sudah memberikan kewenangan, pasal 18 ayat 5 amandmen UUD, sayangnya konstitusi tidak mengatur desa. Dari rumusan, pusat itu ada 5, namun ada urusan wajib daerah yang menyangkut kesejahteraan rakyat, misalnya ketenagakerjaan, pendidikan dll. Kalau di luar itu maka bisa dilakukan daerah maupun kabupaten. Dari UU 22/99 keluar PP 25 yang membagi per sektor, yang tidak diatur di PP 25 maka kewenangan kabupaten. Problemnya bagaimana mengatur kewenangan desa yang tidak ada di konstitusi. Kewenangan desa itu ada yang asli, dan ada yang dari kabupaten, yang dianut ini tidak konsisten dengan UUD. Kalau desa kewenangannya diatur kabupaten, sedangkan kewenangan kabupaten sepanjang tidak diatur pusat. Sekarang kita mau pakai, apakah kabupaten mengatur seperti pusat mengatur kabupaten atau kabupaten minta kepada desa, formula apa yang akan kita pakai? apakah model konstitusi atau desa melist dulu, ini tidak bisa diseragamkkan, ini hanya bisa buat kriteria. Problemnya ada sektor pendidikan, kesehatan, ini bisa dirinci. Yang dimaksud kewenangan itu adalah menjalankan sebagian kewenangan pemerintahan. Pembagian selama ini tidak pernah dilakukan dengan baik, semuanya remang-remang. Formula apa yang akan kita pakai untuk kita berikan desa? Kalau menurut konstitusi maka daerah membuat perda tentang kewenangan. Sebenarnya kewenangan itu tergantung model otonomi seperti apa yang kita anut. Toto Barangkali sudah kita kenal namanya desa itu tumbuh dari adat istiadat, asal usul, prinsip ini yang harus kita pegang, kemudian timbul dan tumbuh dari bawah, idealnya menggali dari bawah. Contohnya, kita mengenal tanah adat dan tanah sertifikat, yang punya kewenangan tanah adat adalah desa, jadi menggalinya dari bawah, kita tinggal membuat rambu untuk dilaksanakan kabupaten. Otonomi yang kita gali, kewenangannya sejauh mana desa itu mampu melaksanakan sendiri? Fasilitator Yang belum clear itu kewenangannya seperti apa? Itu tadi proses otonomi dan kewenangannya. Azam Pendapat itu sangat dipengaruhi lingkungan. Saya dari lingkungan birokrat, berkaitan masalah kewenangan, tanah bengkok desa yang berubah menjadi ruko. Itu menjadi kewenangan desa, desa boleh menjual dan mengalihkan. Kalau sampai bendo desa
Menggagas Desa Masa Depan

49

masyarakat tidak dihargai. namun perlu dipisah peradilan desa dan komunitas. administrasi. Franky Saya setuju. Desa di Kebumen tidak punya tanah bengkok dan di Banyumas ada dan luas sehingga penghasilannya sangat banyak dan bisa mengatur pembangunan di desa. legislatif. Untuk kasus yang kecil-kecil. kewenangan yang asli tidak perlu kita atur. bagaimana interaksi dengan peradilan formal dan sebagai pengakuan kepada masyarakat untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. maka kita bisa melihat wewenang desa akan seperti apa. Vitri Indonesia terlalu banyak aturan. Ciri otonomi. Kita pernah menantang IMB. pertanggungjawaban. Matt Stephen Otoritas desa untuk menyelesaikan masalah. Mnurut saya. kades dipilih masyarakat tetapi tanggung jawab kepada bupati melalui camat. Maka perlu ada penilian terhadap kabupaten. kita berangkat dari mana? Konstitusi tidak jelas mengatur tentang desa. yudikatif tidak jelas. kepala desa ini harusnya standar minimal SMA. di peraturan itu belum ada. namun ada problem-problem empiris.sebaiknya tetap masuk ke pemerintahan daerah. saya mengusulkan pertanggungjawaban kades. dia bisa membuat peraturan. tapi belum dilaksanakan. Komentar Pak Ibnu. pertama harus memilih dulu model pemerintahan. misalnya di Minangkabau sudah ada surat edaran untuk peradilan tinggi untuk peradilan negeri di Minangkabau agar mengacu ke peradilan desa. karena otonomi itu mengatur dan mengurus. aturan dibuat untuk dilanggar. lalu dia menjustifikasi bahwa di wilayahnya ada hutan Menggagas Desa Masa Depan 50 . Apakah model konstitusi atau desa yang menentukan. ini perlu didorong dan didefinisikan. karena yang dihadapi adalah SDM. syaratnya dirubah. kalau kita pilih self governing community. Desa bisa menyelesaikan peradilan desa yang informal. karena akan ada tarik menarik dengan kabupaten dan provinsi. hanya itu harus diberikan kriteria secara bertahap. yang perlu diatur adalah kewenangan dari pemerintah.diambil oleh pemerintah tanpa ganti rugi maka itu sudah kebodohan desa. Benturan terjadi antara kabupaten dengan desa. pihak yang memakai bondo desa harus mengganti minimal sesuai dengan harganya. Fasilitator Normatif regulasi sudah ada. Dari struktur pemerintahnya juga sangat kurang. Kewenangan itu sangat sulit dilaksanakan. Pertanyaannya adalah mempertimbangkan konteks daerah. masyarakat dikebiri oleh pejabat. saya setuju desa punya kewenangan. UU 32/2004 akan dibagi 3 yaitu pemerintahan daerah. Peradilan komunitas itu bisa di dalamnya peradilan adat. kalau spirit tidak homogen maka kewenangan yang kita address kita ke sana seperti apa? Ide pak Ibnu menarik. peradilan desa itu sudah ada preseden. jadi penting bicara kewenangan adalah kemampuan desa membuat peraturan tetapi desa juga punya otoritas untuk membuat keputusan. desa dan pilkada. infrastruktur. kalau mereka tidak mampu maka jangan diberikan kewenangan. Oleh karena itu ada formula dan tahapan yang harus dilaksanakan. wewenang dan anggaran. Sudah ada perda tentang bondo desa. penyelesaian konflik itu menjadi kewenangan di desa. anggaran desa itu seperti darimana saja. Dari RUU harus jelas pemerintahannya. Untuk bisa meletakkan wewenang desa. bagaimana kalau desa? Lalu kita akan training untuk IMB. Kita sudah membuat perda kewenangan desa. Sofyan Mekanisme kewenangan. Ibnu Yang perlu kita diskusikan itu mekanisme. sehingga hanya berhenti di tingkat kabupaten. tidak perlu detail. unsur pemerintahan eksekutif. kemampuan perangkat. dukungan masyarakat. walaupun itu bertentangan dengan hokum.

kalau perlu ada departemen khusus agraria. Kelompok: DEMOKRASI DESA Fasilitator Peserta : 1. UU 32/2004. ada beberapa yang hal perlu dicermati dalam diskusi kelompok kita sebagai berikut: • Transformasi UU 32/2004 berpengaruh pada sisi demokrasi desa. Joana–World Bank.adatnya. Menggagas Desa Masa Depan 51 . walaupun intinya ada pengembangan kapasitas itu menjadi perhatian khusus. Marhaban-PMD Depdagri. akhirnya dicabut kewenangannya. UU dalam ranah desa. tanahnya. ibu-ibu. Irwan–Letmindo/GTZ Aceh. IKPM bilang jelas bahwa itu kewenangannya Papua. Kasus riel pertentangan RUU PA Aceh dengan Otsus Papua. Susmanto–Letmindo/GTZ Aceh/ LGSP. resolusinya apakah membentuk UU baru atau bagaimana? Kewenangan ini harus dipastikan. Syamsul Hadi–Bina Swagiri. pembinaan dan pengawasan itu dalam konteks pelaksanaan otonomi daerah dan tanggung jawab pelaksanaan. Fasilitator Bapak-bapak. Abu–Persepsi. • Demokrasi. SDA yang sudah diatur dalam UU sektoral. Aturan sering bertubrukan. Kasmuin Saya sepakat seperti tidak perlu ada penyeragaman. 2. Hans Antlov-LGSP. dan itu menjadi pertarungan yang riel.Lakpesdam. sisi yang lain normatifnya saja sangat sulit. • Implementasi Pancasila. Mengkaitkan apa yang disampaikan di depan. kalau itu sudah dikaji maka kita butuh sistematika perundang-undangannya seperti apa? Setelah itu kita sebarkan ke seluruh daerah untuk mensikapi mana yang baik mana yang tidak. Fasilitator Tadi muncul satu pendapat bahwa ini pengalaman praktis. Agus R. Ade Regulasi perlu ada keharusan pelaksanaan UU PA. pengaturannya bukan sektoral lagi. Adnan–LP3ES. apakah mungkin menjadi suatu pilihan yang cocok (bottom up)/ internalisasi nilai. Wai. Fasilitator Persoalan kewenangan tidak cukup tetapi juga kapasitas. Datuk–Asosiasi Nagari. Rahma–LIPI. Yuni–Asppuk. hubungan sektoral berbenturan. itu tidak akan selesai kalau tidak duduk dalam satu meja. Terkait kewenangan harus dikembalikan ke konstitusi. mana yang baik dan tidak baik. akan terjadi pertarungan dengan negara. Kalau bicara kewenangan yang sudah ada sejak awal itupun harus diikuti pengembangan kapasitas dan pembinaan paradigma. termasuk kultur. Widyohari–STPMD ”APMD”. namun departemen kehutanan bilang itu haknya departemen. Bapak kita mencoba mengelaborasi UU 16/69 tentang desa praja sampai dengan UU 32/2004. • Bahwa kesenjangan demokrasi pada aras desa berpengaruh pada kebijakan desa. Haryo Habirono – FPPD : Ade–PPK. Wafi–BPD. sehingga terjadi benturan kelembagaan. Dahlia–TTS SoE. hubungan antar sektor. Riawan Tjandra – Atmajaya Yogyakarta 2. Widya-FPPM.

Saya lebih tertarik pada bagaimana demokrasi ada di desa. artinya harus dengan target sekian orang. saya lebih optimis. adanya fakta kasuskasus harus dibenarkan. dipilih langsung. Fungsi lembaga-lembaga yang mampu mengusung demokrasi? 3. Dengan keluarnya UU 32/2004 terbelalak. mengontrol pembangunan di desa. masyarakat belum. dengan harapan yang lain akan melengkapi. Dengan aturan saat ini belum berati demokrasi sudah berjalan di desa.• • • Kaitan demokrasi dengan skala kebutuhan masyarakat. Kendala-kendala yang perlu diperhatikan! Pada akhir pertemuan akan disepakati wakil yang akan menyampaikan presentasi. Basis kewenangan desa adalah desentraslisasi sedangkan otonomi desa dari masyarakat. Menjadi penting adanya demokrasi di desa/kelurahan adalah dipilih langsung. implementasi maka masyarakat merasa bertanggung jawab terhadap hasil pembangunan. polanya masih top down. Eksperimentasi demokrasi desa dihindari karena tidak match dengan demokrasi. Berangkat dari program pengembangan seperti yang dilakukan dalam PPK. Joana Pada prinsipnya setuju BPD – perwakilan yang mewakili prinsip-prinsip demokrasi. • Keuangan. melainkan kontrol. Ade Sulit menjawab demokrasi dengan model yang mana. Dari beberapa hal tersebut. dipilih dan menjadi badan penyeimbang. Tetapi selain itu ternyata lembaga itu sendiri tidak cukup untuk melahirkan nilai-nilai demokrasi di desa. Pada dasarnya masalah desa/masyarakat desa adalah mereka tidak terlibat dalam proses perencanan. Jadi perlu ada ketegasan masyarakat dalam proses pembangunan. • Persoalan quorum menjadi masalah. Sehingga musrenbang desa mentok di Kabupaten. dengan adanya pemilihan Presiden/Bupati dibiayai oleh APBN/APBD. melihat nilai demokrasi yang ada di di desa dengan model perwakilan yang dipilih langsung. maka pemilihan kades juga dibiayai. Wafi • Kaitan dalam hal ini. musrenbang tidak ada artinya. Sebagai pelaku perwakilan di desa saya sendiri sedang bersemangat dengan proses demokrasi di desa. tapi cenderung melihat apa yang dibutuhkan desa. Bila masyarakat terlibat dalam proses perencanan. • Demokrasi yang cocok yang bagaimana? Demokrasi tidak perlu dicocok-cocokan. tetapi juga dalam menyalurkan aspirasi masyarakat/cari input. Masih ada kecenderungan elit desa yang menentukan. kaitannya dengan psikologi demokrasi. Saya lebih cenderung kembali ke UU 22/99. sehingga seorang kandidat kepala desa tidak perlu manggung di desa. Tetapi dengan demokrasi perwakilan yang ada sebelumya. Melihat fakta kelemahankelemahan BPD ya. sehingga tidak ada raja-raja kecil di desa. Bagaimana bisa melibatkan masyarakat lebih luas. jadi tidak perlu ada batasan quorum. euforia politik. fungsinya diberangus dengan dalih-dalih. Menggagas Desa Masa Depan 52 . maka merujuk pada 3 aspek: 1. permasalahan diantara mereka. Demokrasi apa yang paling cocok di Indonesia? 2. Belum ada kepastian mewakili kepentingan masyarakat. BPD menjadi Badan Perwakilan Desa. • Perlu juga dipikirkan pendidikan politik di desa. implementasi dan pengawasan. tidak hanya dalam pengambilan keputusan. Ada BPD yang belum berperan dalam fungsinya – check and balances. Tidak setuju BPD akan mempreteli kekuatan desa seperti kata Syamsudin Haris tadi.

Keberagaman dalam UU 32/2004 dan PP 72/2005 masih umum. Masyarakat desa saat ini belum diberdayakan. tetapi terkadang ada pesanpesan dari daerah. Bagaimana desa yang mempunyai dana untuk dapat membeli hasil-hasil panen? Kebutuhan basis desa jangan dikesampingkan.Datu Apa yang disinyalir saat ini sangat setuju. perencanaan pembangunan masih top down. Amerika. ninik mamak. is there any democracy? Dewan morokaki di Banten dipilih dari ketokohan. Nah. kelompok perempuan. Menurut saya. BPD dan lembaga lain di desa. serta masyarakat tidak ada inisiatif mengontrol pembangunan di desa/nagari. ada keberhasilan dalam keterlibatan masyarakat menentukan keputusan. istrinya carik ya. di nagari disebut BPN (Badan Perwakilan Nagari). maka masyarakat akan diam. pemuda. itu ada pada Kabupaten/Kota ke atas. seperti freedman. yaitu demokrasi modern – representatif dengan 2 prinsip dasar: prinsip representative government. yang punya uang yang menang. jadi tidak memaksakan keinginan kita. yang ’mbok bakulan’ (not: ibu-ibu yang berjualan) tidak ada. tidak hanya di Jawa tetapi juga di luar Jawa. disini adalah self community governing + inclusive demokrasi. menampung. pemuda. saya yang termasuk mendambakan demokrasi terutama di desa. di nagari pemilihannya dengan cara perwakilan kelompok. Tana Toraja. politik (Pembuatan Perdes). kalau masyarakatnya kumpul tetapi ada raja. kemudian ada buku Freedman ”alternative development” dengan konsep political democracy-inclusive democracy adalah demokrasi yang kita bahas. berbeda dengan desa-desa di Jawa dan di luar Jawa. alim ulama. Sinyalir kolusi di BPD ada kemungkinan. masyarakat harus dilibatkan dalam pembangunan. Proyek PPK di daerah. alim ulama. Representative demokrasi bukan ada di kita. Demokrasi seperti apa yang disepakati? Misalnya pemilihan langsung. yaitu penyelengaranggan negara diserahkan kepada elit dan limited government – terbatas. Apa yang disampaikan Joana perlu. Hebatnya demokrasi. silahkan. ada tiga area demokrasi: bidang pembangunan (perencanaan). bagi yang kalah masih diberikan kesempatan untuk memberi kritik. ninik mamak. tapi kita tawarkan kepada yang lain. Kalau secara antropogis barangkali desa lebih tua dibanding dengan kabupaten/kota. Susmanto Menyinggung tentang BPD berkontradiksi dengan pemerintah desa. Australia. Syamsul Hadi Keterwakilan BPD dalam UU 32/2004 belum baik juga. Kanada. sehingga kades. Saya pahami bahwa peran warga desa. saat ini diserahkan kepada desa/swakelola. akhirnya ada porsi presentase untuk perempuan. Marhaban Demokrasi yang bagaimana? Bagi saya pribadi dilihat dari literatur ada dua macam demokrasi. demokrasi yang diserahkan pada tingkat ‘state’. Pemikiran dan wacana tadi sangat menambah perspektif bagi kita. tapi perlu tupoksi yang jelas. Pemdes di daerah belum betul-betul mau kewenangan diserahkan ke desa. bagaimanapun proses pemilihannya tidak terlalu persoalkan. negara. Menggagas Desa Masa Depan 53 . Keikutsertaaan masyarakat dalam pemeliharaan pembangunan di desa saat ini agak lemah. sehingga semua bisa dicek dengan jelas. Itu bagaimana? Teringat pertemuan forum warga di Surabaya. Fasilitator Kita menawarkan beberapa pemikiran. Kalau dipilih langsung bagaimana keterwakilan unsurunsur masyarakat. Kalau di desa Sumba Timur. Di desa yang diperlukan adalah self community governing + inclusive demokrasi. Secara umum. sosial (kontrol jalannya pemerintahan di desa). provinsi.

Sangat mahal bagi negara untuk representatif demokrasi. itu harus dilembagakan. dulu ada forum di desa yang memenuhi ini. Partisipasi menjadi titik demokrasi. Kedepan perlu ditempatkan suatu forum di desa. petani. kemudian tidak lahir dari masyarakat. harus menjamin keberlangsungan lembaga-lembaga lokal di desa. juga pengalaman negara lain yang berhasil. Negara silahkan mengatur regulasai tentang desa. Eropa barat menyerahkan otonomi se-grass root mungkin. Juga dalam penguatan masyarakat di desa. meskipun bukan satusatunya problem di desa. meskipun BPD mewakili masyrakat di desa. desa boleh memasukan unsur permusyawatan. masih sebagian bergantung pada pemerintah. tetapi juga harus memberikan ruang bagi lokal. Berapa persen orang yang menyampaikan ketidakpuasan mereka terhadap BPD? Menjadi pertentangan tersendiri di masyarakat bagaimana menyalurkan aspirasinya. mayarakat dilibatkan dalam proses perencanaan hingga pengawasan. Kerena itu. kalau cair sama sekali juga memiliki kelemahan. Ini perlu dikembangan untuk melakukan check and balances di desa. siapa saja: buruh. Menyinggung yang disampaikan Pak Sus. empowerment yang ditumbuhkan dibunuh kembali. Fungsi negara menjamin bagaiman masyarakat teribat dalam proses pembangunan di desa. Aspek persamaan itu perempuan dibelakangkan. sehingga tepat kita mencari demokrasi. Oleh karena itu BPD ada tetapi harus ada mekanisme lain yang sifatnya Menggagas Desa Masa Depan 54 . masing-masing desa berbeda. ini parah. romantisme bahwa demokrasi desa diserahkan saja kepada desa. Perlu dimasukan unsur-unsur/aspek penyetaraan dan lain-lain. Tetapi BPD pada banyak desa menjadi alat legitimasi aparat desa. yaitu partisipasi merupakan kendala yang terbesar di desa.Widyohari Saya sebetulnya sepakat dengan Pak Sus. karena itu murni dari adat. Wa’i Ada kemunduran BPD menjadi bamus (badan musyawarah). Dari prosedur itu tidak menjamin. Masa yang lalu ada demokrasi di desa. Marhaban Saya beda dengan apa yang disampaikan Hans tadi. partisipasi di desa adalah milik elit desa. tetapi sekarang tidak. Yang penting 3 (tiga) itu. Datu Kalau saya diminta untuk mewakili partai di desa tidak setuju. tetapi juga tidak sepenuhnya mewakili masyarakat. dan lain-lain. BPD sebagai institusi menjadi cek and balances bagi pemerintah desa. perwakilan. jangan ada kabijakan jeruk makan jeruk. Dalam proyek PPK. Barat tahu persis otonomi daerah itu. Karena teori apa saja di Indonesia tidak jalan. Apapun bentuknya tidak masalah. tidak memadainya apa yang ada di BPD. Kalau kepala daerah memiliki wilayah. wali nagari tidak perlu untuk menjadi pengurus parpol. ada badan legislatif. maka elit-elit diluar Jawa akan tersisih. Kendala yang perlu diperhatikan. sesepuh. menjadi grup politik masyarakat. kalau tidak ada. Sulitnya minta ampun untuk melibatkan masyarakat dalam partisipasi di desa. ada rapat/rembug desa. saya setuju dengan Pak Sus. Saya mengkritik teman-teman di PMD. eksekutif. PPK bagus. sehingga BPD tidak cukup mewakili sebagai institusi perwakilan di desa – kelompok-kelompok di desa. Problemnya. Abu Apapun demokrasi yang diusung adalah demokrasi yang menjamim kemandirian di desa. tapi masih ada celah-celah. Tidak ada sistem check and balances – itu sulit. semangat demokrasi di desa menurut saya sangat berbeda dengan masyarakat di tingkat atas. ada mekanisme kontrol internal di desa. Demokrasi desa dibangun ala kelokalan setempat. wali nagari/kades memiliki masyarakat. Kades.

Filipina. tenaga. Negara tetangga lain. ada kebutuhan. parpolpun tidak mewakili masyarakat. dan lain-lain sebagaimana yang tercantum dalam covenantcovenant Internasional. • Musrenbang sebenarnya ada masalah. orangnya terbatas. jadi kendalanya struktural dan kultural. Yuni Saya mau ikuti yang sudah ada. kita fasilitasi. pengangguran. Bagaimana kearifan lokal bisa timbul kembali? Dahlia • Bagi saya perlu ada lembaga demokrasi di desa. Widya Bagi saya demokrasi seperti apa? Kembali pada kearifan lokal. sehingga dia akan kuat. dananya. ada potensi. Apapapun bentuk demokrasinya kalau tidak ada suara perempuan maka tidak demokratis. India. tidak masyarakat. Perlu mengacu pada prinsip-prinsip pokok dalam membangun sistem demokrasi di desa seperti human right. Setahu saya Eropa dan Amerika hanya ada di kabupaten/kota. mereka bisa. kepentingan. jangan-jangan partisipasinya terpimpin atau terbina. contohnya sesudah pemilihan dan terpilih. Contoh. lembaga dari luar yang ada di tempat kami. Kalau di pemerintahan. sehingga seharusnya ada kursi kosong di DPRD. Kita terjebak dengan panyakit partisipasi.insidential.. Menggagas Desa Masa Depan 55 . bagi saya yang penting unsur keterwakilannya dari aspek kewilayahan. bagi saya tidak masalah. Saya hanya mengkritisi itu. Jadi masyarakat perlu kita latih. tapi negara Asia. Adnan Seringkali kita memperjuangkan bentuk daripada isi. Hans Saya tidak setuju demokrasi terlalu mahal. Pancasila dan UUD 1945. Selama ini banyak dikatakan kita sudah.. Fasilitator Karena waktu tinggal 15 menit masih ada 7 orang yang belum bicara. demokrasipun kalah. tapi tidak bisa dilantik karena kepentingan poltik di tingkat atas. Dana disiapkan.. kelompok dan lainlain. persoalan budaya. keterwakilan partisipasi. modul disiapkan seperti dulu sebelum ada otonomi. Membandingkan dengan yang di atas. Apa masyarakat tahu bagaimana membaca APBDes? Ketika dalam perumusan perencanan mereka tidak semua terlibat. lebih mementingkan proyek. Kalau BPD. mengapa Indonesia tidak bisa? Olahraga kalah. kehadirian fisik. • Kades di TTS seperti alat politik. permusyawaratan – perwakilan. Itu bukan Eropa. pikirannya. pemikirannya terbatas. • Partisipasi dalam berbagai bentuk. silahkan. • Usul: perlu ada pelatihan bagi LPM untuk perencanaan pembangunan. adanya penokohan. itu diseimbangkan. • Pemimpin formal di masyarakat pasti diikuti masyarakatnya. • BPD dan Kades itu alat negara? Widyohari Lembaga independent silahkan masyarakat bentuk sendiri. Banyak pendapat tentang partisipasi. pengkulturan masyarakat. diwadahi dalam forum. LPM sebagai lembaga induk yang membawahi lembaga-lembaga di masyarakat. Kalau dalam parpol terwakili 60%-70% maka ada 30% yang tidak memilih. ini dan itu. Amerika. seolah bentuk lebih bagus daripada isinya.

Bagaimana menanamkan demokrasi di masyarakat.hhahaahhaaa. BPD sebagai tool untuk check and balances 2. diawali di rumah tangga? Apa itu sudah kita lakukan? • Kasus di Palembayan. banyak kendala menciptakan masyarakat demokratis.Agus • Demokrasi kebutuhan di desa. Musrenbang hanya dilaksanakan satu hari. sikap elitis.. Bagaimana ditingkat kabupaten/kota. hanya kata-katanya yang berbeda. bagaimana kalau kita mengundang petani untuk mengikuti musrenbang. ada yang mengusulkan ada kursi kosong-golput. kalau bukan kebutuhan. karena oranya tidak demokratis. Harus mengacu pada analisis kebutuhan desa 3. Fasilitator Biar saja semuanya pemikiran masuk. senin-jum’at tidak demokratis. sedangkan kalau mereka ke sawah mendapatkan sepuluhribu. Benang Merah Pemikiran: Demokrasi yang cocok bagi desa: Inclusive demokrasi perlu menjadi pertimbangan utama dalam rangka membentuk self community governance masyarakat terlibat secara luas dalam proses pengambilan keputusan 1. kita semua membicarakan hal yang sama.. mandul. cuma hari sabtu saja yang demokratis. injecting participating in local. Fasilitator Sulit menggabungkan semua wacana. • Peguatan kelembagaan banyak kendala. sabtu. contohnya beberapa anggota BPN tinggal di Bukittinggi. siapa yang bisa disepakati untuk mewakili? Jadi Pak Datuk dan Ibu Ade untuk mewakili. pandangan pragmatis) • Focus pada pembentukan lembaga bukan membangun esensi check and balances • Kemampuan ekonomi masyarakat • Trauma pengalaman berdemokrasi yang “mboten up” tidak memihak kepada kebutuhan masyarakat contoh masyarakat Menggagas Desa Masa Depan 56 . jadi hanya hari sabtu saja. elit-elit menyelewengkan demokrasi. kita sepakati siapa yang mewakili untuk menyampaikan diskusi kita? Marhaban Sedikit saja. kontrol dan pelaksana • Bentuk diserahkan pada kearifan dan keunikan local dengan acuan dari pusat • Lembaga itu harus mampu mewakili semua aspirasi masyarakat • BPD dan lembaga kemasyarakatan yang ada harus ditopang dengan capacity building yang memadai Kendala-kendala: • Keterbatasan partisipasi masyarakat antara lain karena sistem yang belum mendukung (structural) • Kendala cultural (misalnya budaya patrialistik. Demokrasi hanya satu hari... kalau tidak demokrasi maka akan menjadi otoriter. BPN tidak berfungsi.. Keterwakilan lembaga kemasyarakatan lainnya Fungsi lembaga-lembaga: • Lembaga di desa terdiri dari lembaga formal dan non formal • Fungsi lembaga desa bervariasi: sebagai fungsi legislasi.

Abu-Persepsi. sosialisasi dari kedua UU dan PP tidak sampai kepada kepala desa. Perencanaan di tingkat desa perlu dikelola melalui SDM di tingkat desa.00 – 13. Sukoco-Kades Wiladeg. pendapatan desa rendah. Adri Warsena-FPPD. terkait dengan UU 32/2004 ada beberapa hal yang perlu kita sikapi bersama seperti ada beberapa UU yang baru itu menarik ke pusat dan posisi daripada BPD perlu memperoleh perhatian kita bersama. Dahlia-PMD TTS.5 Milyar. sehingga ada kejelasan potensi. Joana-World Bank. Arie Sujito : Ninuk-BPD Deli Serdang. kalau ada uangnya ADD mereka menanganinya. mereka minta supaya ADD dapat dilaksanakan sendiri oleh orang desa. Menggagas Desa Masa Depan 57 . Kelompok: ADD (ALOKASI DANA DESA) Fasilitator Peserta : 1. Perda-perda dan perdes. 5. yaitu digunakan untuk pembangunan fisik. Fasilitator ADD menjadi harapan di desa. mungkin kita harus menentukan kriteria kepala desa itu seperti apa. merujuk PP 72/2005. Betapa ADD yang menjadi masa depan desa masih terbatas.00 3. dengan skala prioritas. Mengapa kabupaten tidak responsif?.Hari/Tanggal : Senin. Ade-KDP World Bank. dengan adanya ADD masyarakat punya kemampuan untuk mengelola ADD. 3 Juli 2006 Pukul : 11. Tumpak-PMD. seharusnya sesuai ADD 43 Milyar harus diserahkan kepada desa. Kasmuin-CePAD. Syamsul-Bina Swagiri. ada 4 permasalahan yang kita perhatikan. Ini sebenarnya ada keberatan tersendiri dari Pemkab. karena selama ini yang menjadi bendahara desa adalah kaur umum yang merangkap jabatan. Fasilitator Itu fenomena di Deli Serdang. Sumber pendapatan desa harus jelas apa-apa saja. yaitu: 1. Kewenangan desa harus jelas. 2. Ninuk Kita di DPRD Deli Serdang sedang membuat Raperda yang saat ini sudah menjadi perda tentang ADD. Sebelumnya kita melakukan pertemuan dengan beberapa desa. 2) orang desanya tidak tahu bahwa ada UU 32/2004. sehingga dapat memberikan semacam apresiasi terhadap masyarakat dan karakter masyarakat itu sendiri. Masukkan dari 4 desa yang kami lakukan. terkait juga dengan aspirasi masyarakat ketika perda atau perdes itu disusun. ada PP 72/2005. 4. maksudnya bendahara desa. bagaimana menghubungkan ADD dengan pelayanan publik? ADD selalu memakan belanja rutin kabupaten. persoalannya mengapa ADD tidak bisa cepat dilaksankan? Saya pikir banyak kabupaten tidak rela menyerahkan uang sekian banyak. Kesiapan kelembagaan nanti menyangkut SDM yang ada. sehingga ini terkait dengan kewenangan desa. Alit Asmara Terkait informasi dari teman Deli Serdang tadi saya konsentrasi di desa. Alit Asmara-Majelis Madya Gianyar. dalam kaitan ADD. karakter dan budaya setempat bisa masuk. Di Deli Serdang baru dianggarkan 11. Datu-As Wali Nagari. 3. Legitimasi pemerintahan desa ini perlu proses yang demokrasi. kemudian ADD untuk apa?. Bambang Hudayana 2. Soekirman-Wakil Bupati Sergai. alasannya 1) SDM tidak mampu. Kamardi-Perekat Ombara.

setelah ADD jalan desa sudah hotmix. Catatan lebih jauh. sudah jelas bagian desa itu paling kecil 10% dari retribusi daerah dan ADD itu merupakan dana perimbanagn yang diberikan pusat kepada daerah. partisipasi dan lain sebaginya tapi di ayat b. memang nilai asli desa ada gotong royong. Jadi ADD itu benar-benar mutlak untuk desa. Alasan dari Bupati adalah untuk langkah awal dan nanti kedepannya tidak akan diatur. Adanya regulasi yang tegas dan pro desa. Fasilitator Jadi ADD itu bukan identik dengan pengembalian dana 10% yang berasal dari retribusi itu ya? Kamardi Ya bukan. yang harus diperjelas dalam perda itu bahwa itu harus dipisahkan dengan PAD atau APBD itu sendiri. ADD ini dimanfaatkan untuk pencalonan Bupati bahwa nanti desa akan dialokasikan dana. Efek ADD luar biasa.Dukungan dan partisipasi dari masyarakat seperti apa. mestinya 23 Milyar. Disamping ada keuntungannya ADD juga ada sisi buruknya. termasuk juga dalam perencanaan dan juga kegiatan-kegiatan yang menyangkut desa. Maka ADD keluar dengan peraturan Bupati saja tapi aturannya sangat ketat sekali. Kamardi Soal ADD itu selain perda mengawali kebijakan karena konsekwensi PP 72/2005 sudah dijelaskan ADD itu. Mungkin juga faktor politik. penduduk desa paling tidak mendapatkan bagian 10% dari retribusi daerah. karena di PP itu 2 hal yang dimandatkan. ada yang pakai peraturan Bupati. Dari teman Deli Serdang tadi ada ketidakrelaan pemerintah kota untuk memberikan porsi kepada desa. 3. yang mengatur kabupaten tapi hanya pedoman umum saja dan teknisnya diserahkan ke desa. Menggagas Desa Masa Depan 58 . 1. DAU yang dipotong anggaran rutin. walaupun itu sudah dimentahi temen-teman lurah pada waktu itu. jadi berbeda sumbernya. bagaimana ADD itu mutlak kewenangan desa. kalau itu tidak disiapkan di desa. misalnya perda yang mengatur sekian % dari APBD harus dilakukan untuk ADD. lha bagaimana mengelola itu? Bagaimana menyiapkan kelembagaan di desa itu? 1. Yang menjadi orientasi ke depan. Dana yang pertama itu 10 Milyar. dengan presentase sekian % untuk BPD. Perlu disiapkan resolusi managemen konflik di desa 2. Sukoco Ilustrasi di Gunung Kidul. maka akan memindah budaya korupsi di desa. kalau tidak ya tidak. Desa tidak ada otorita mengatur sendiri. kalau diukur dari PP masih jauh. dia memandang bahwa kapasitas dan potensi desa belum siap. kalau kami loyal maka dananya dapat turun. Ini yang selama itu belum jelas.kemungkinannya adalah. sehingga ada ketergantungan dari peraturan Bupati. pembangunan dan lain-lain. 2. Saya sepakat dengan kawan dari Bali bahwa harus ada ketegasan hak dan wewenang yang harus dimilki oleh desa. Sepertinya itu masih terjadi. itu perda yang mengatur bukan hanya peraturan Bupati. sehingga kalau ada ketentuan dari pusat maka mereka tidak dapat menolak. faktor APBD kabupaten belum siap. maka dengan kesiapan ini kita dapat menuju kewenangan dan hak desa sehingga tidak ada alasan untuk tidak memberikan porsi itu kepada desa. faktor politik (karena tidak milih). ada yang tidak tapi tiba-tiba ada bimbingan teknis. Syamsul Kenapa kabupaten tidak iklas memberikan ADD.

Soekirman Sergai baru berjalan 2 tahun 6 bulan. Kasmuin Ada semacam tindak lanjut saja. PP 72/2005 di kabupaten. Proses pembuatan keputusan awal harus partisipatif. sehingga mereka bisa bikin pasar. Partisipasi masyarakat desa sangat turun. karena tujuan ADD untuk mempercepat pembangunan dan kesejahteraan masyarakat desa justru akan tertunda lebih jauh lagi karena banyaknya permasalahan yang muncul karena realisasi ADD dengan penguatan kapasitas itu. tidak ada mark up. datang kontraktor di atas kertas swakelola. hanya beberapa desa. 2. karena adanya fasilitator pendamping sehingga lebih tepat sasaran. Saya ingin menyampaikan bahwa ada 3 kebutuhan yang berbeda anatara di level desa dan kabupaten. Kalau ADD jalan dan proses perayuan dari pihak luar itu terus maka yang ada adalah pembunuhan terhadap inisiasi desa. PMD. Betapa pentingnya kewenangan desa. kemudian kami cetak dan dibagi ke semua kepala desa. Pembangunan oleh desa lebih efektif. Mekanisme pencairan dana cukup baik. Honor kades. boleh memberi pedoman tapi tidak usah detail. kabupaten hanya memberi rambu-rambu saja. Sebaiknya tidak ada pembatasan yang rigid. 3. yang seharusnya kabupaten induk memberikan kepada Serdai. Contoh di Ngada.Fasilitator ADD itu hak desa. PP 72/2005 harus dikuatkan dengan perda. Duit dari PKPS BBM itu seharusnya swakelola. setiap tahapan harus dipertanggungjawabkan lebih dulu. dananya harus memadai. lalu APBDes dan itu masih dilakukan oleh LSM. di desa itu tidak ada Bandes. saya sangat sepakat sekali antara realisasi ADD dengan penguatan kapasitas kelembagaan desa harus digarap bersama dan segera. tidak sama persepsi dan empati antara ketua Bappeda. tapi juga pada masyarakat karena mereka punya kapasitas dan lebih mandiri. Ada kecenderungan berbeda. DPRD dan lain-lain. tetapi hanya rambu. karena akan menentukan besar kecilnya ADD kedepan. 1. Ade Saya sependapat bahwa ADD diperlukan pengalaman selama ini. di Ngada tidak terlalu percaya pengawas dari pemerintah. Pembangunan sendiri belum. dan kabag hukum. Di pemahaman tingkat kabupaten beda persepsi. Apakah kita perlu merumuskan dan mencari strategi untuk mendorong hambatan-hambatan mengapa ADD itu macet dilakukan daerah? misalnya kita mendorong class action apabila ADD tidak dilakukan sebagaimana mestinya. dan baru menerima PP 72/2005. jalan dll. kabupaten jangan terlalu mengatur penggunaan ADD. bertahap. ada soal dengan kabupaten induk. mereka lebih percaya ke konsultan lokal. 10 % DAU maka harusnya 15 M. yang jadi kebutuhan desa lagi itu adalah keputusan musbangdes. Sejak berpisah dari Deli Serdang. ADD tidak merata ke seluruh desa. karena kecamatan memfasilitasinya dan yang paling mencolok adalah infrastruktur baik jalan desa maupun irigasi. kalau rata maka 75 juta per desa. ADD seharusnya didahului RPJMDes. karena orientasinya untuk diri mereka sendiri. Sejak dahulu semua orang menghendaki supaya daerahnya mendapatkan sebesar-besar. dan setiap desa memperoleh dana yang berbeda sesuai dengan kebutuhannya. sehingga menguntungkan pihak luar. Bupati mengakali 50 juta per desa. Yang ditanyai Bandes. itu sudah mendarah daging. Baru 10 bulan bupati dan wakil bupati hasil pemilihan langsung. rata-rata mereka mendapatkan sekitar 75 juta per desa. Menggagas Desa Masa Depan 59 . Disini juga ada tim pengawas. porsinya tidak ditentukan. Yang baik itu PPK. kriterianya sangat banyak. Fasilitator Penguatan bukan hanya pada aparat.

Untuk daerah miskin perlu jumlah minimum yang perlu disediakan desa dan kalau itu masih kurang mungkin dapat di ambilkan dari APBN. Jadi mestinya uang itu mengikuti fungsi-fungsi yang ada. selanjutnya pengalokasiannya bagaimana? Mungkin ada contoh dari beberapa kawan. Yang perlu kita minta pertama adalah komitmen kabupaten. Ekonomi kerakyatan. Perlu ada intervensi dari pusat supaya daerah tidak gamang melaksanakan ini. semua anggaran dari luar harus masuk APBDes sehingga ada pertanggungjawaban dilevel desa. Instrumen akan sangat berharga. sudah jelas di PP konsekwensi logisnya kalau ada urusan di desa. Perlu komitmen yang lebih di tingkat nasional. sasarannya kepada aparat dan masyarakat desa? Swakelola itu saya sepakat. tujuan sebenarnya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. yaitu : 1. Elemen di desa perlu mendapatkan penguatan untuk bersama-sama mendorong elemen di desa melek APBD dan APBDes. tapi kalau di Nagari ada dana bagi hasil yang besarnya 35%. sekarang ada juga ADD dari Provinsi. Di desa itu banyak uang. Instrumen kebijakan. Tumpak Menurut kami dengan adanya ADD kita perlu cermati 2 hal yaitu: 1. Ada satu masalah ditingkat nasional dengan adanya intervensi PP 72/2005. ADD itu harus diintegrasikan kedalam APBDes. dana pemberdayaan. 10% dari APBD. apakah sesuai dengan perda atau yang lainnya. urusan ini mesti ada fungsi dan juga anggarannya. 5. Pedoman level pusat belum ada regulasi. Instrumen apa yang kita gunakan untuk mengatur ADD itu. Joana ADD adalah hak desa yang diterima untuk mengurus kepentingan diri sendiri. 4. Fasilitator Saya ada info dari Pak Girsang bahwa ketika mensosialisasikan ADD. Sumber Daya Alam. Arah pembangunan ke 5 sasaran. masih perlu dukungan masyarakat. Pembangunan kemasyarakatan. Kalau melihat dari 10% itu tidak cukup. perlu prinsip keadilan di tingkat wilayah. Pembangunan infrastruktur. bagaimana mengaturnya? Karena itu kita juga harus mengetahui bahwa itu adalah uang hasil dari hutang. Dan kalau itu tidak berhasil maka kami akan melakukan penguatan terhadap masyarakat diluar kecamatan untuk melaksanakan pengawasan apapun proyek didesa. Peningkatan SDM. Datu ADD itu kalau di Jawa tapi kalau di Sumatra Barat namanya DAUN. Perlunya needs assesment di desa.Fasilitator Jadi skenarionya. Sekarang ini kita juga mendapat mandat untuk memonitor PPK berbasis masyarakat tetapi skenario bagaimana setelah itu kita tidak tahu. Inilah yang kita pilih dan kita prioritaskan. kabupaten hanya memberi acuan saja. Bagaimana kita melakukan penguatan. 2. perlu komitmen di tingkat nasional. Abu Dari pengalaman kami di Klaten untuk mengawal ADD di tingkat kabupaten tidak cukup pemdes dan kades. yang itu berasal dari kabupaten. tentang ADD mengenai minimum yang harus disediakan desa. Menggagas Desa Masa Depan 60 . 3. kalau tidak ya ada batas minimum. misalnya best bracticenya diungkap disini. tapi belum ada pengalaman yang itu diinisiasi oleh masyarakat sendiri. 2. DAKN. sehingga dapat dijadikan bahan untuk pembuatan kebijakan bagi Depdagri.

Perlu ada intervensi positif agar proses tidak berhenti di tengah jalan. Pemda belum berani memberikan komitmen 10% yang menjadi semacam tolak ukurnya. Satu hal yang penting dan relevan dengan apa yang kita bincangkan antara pusat dan daerah belum connect. nanti akan kita buatkan petanya dan buat kesimpulannya. supaya desa itu merasa memiliki atas policy. Kewenangan kabupaten itu sampai detail apa tidak. Bagaimana memperkuat ADD di level daerah supaya prosesnya lebih cepat. sehingga dapat dipertanggungjawabkan. Sumber pendapatan desa belum jelas. 5. 4. Problem manipulasi atau KKN atas pengelolaan ADD. 6. Itu dikarenakan adanya PP. bukan kami tidak percaya tapi sampai sekarang ini belum diapa-apakan. Kabupaten enggan untuk ADD 2. walaupun itu difasilitasi oleh negara. Akses informasi masyarakat untuk mengetahui PP masih sangat terbatas. Jito (Fasilitator 2) Kita sudah petakan dari sejumlah pengalaman praktis bapak ibu semuanya. Menggagas Desa Masa Depan 61 . kurang serius menjalankan kebijakan ADD yang benar-benar dapat menjawab masalah yang dihadapi oleh desa yang menjadi kebutuhan desa. Ada 3 kapasitas potensial desa yang belum siap. Jadi harus ada mekanisme kelembagaan. keterbatasan PAD. SE Mendagri dan peraturan yang ada. Fungsi dari pemerintah kabupaten atau pusat untuk memberikan dead line yang bersifat umum. Ada trend kepedulian yang semakin meningkat di level daerah tentang pentingnya ADD sebagai haknya untuk menjalankan pemerintahannya. karena komitmen 10% kami hanya mendapatkan 7%. forum tidak menghendaki tidak terlalu rigid. Perlu juga dibentuk lembaga penguatan masyarakat yang partisipatif dan itu bentukkan dari masyarakat sendiri bukan dari pemerintah. sebaiknya ini adalah bagian penting yang segera untuk diintervensi. tetapi ini sudah menjadi kebijakan yang sifatnya daerah. maka dibutuhkan untuk mempersiapkan sistem pengelolaan ADD. Catatan juga dari kami bahwa : 1. maka desalah yang perlu mendetailkannya. Indikatornya: a. untuk catatan ADD bukan lagi kebijakan populis Bupati. akan tetapi daerah masih setengah hati. 6. 3. Masalah. atau perlu dibuat peraturan-peraturan yang dapat lebih manjamin ADD bisa membuat perubahan-perubahan. Karena kami sadar keterbatasn SDM yang ada di desa. b. 7. sekarang sudah ditetapkan tetapi sampai sekarang belum ada apa-apa. 1. mekanisme pengucurannya seperti apa ? 2. Dari 10 juta menjadi 98-100 juta. Fasilitator Ada beberapa catatan penting yang dapat kita tarik dari diskusi ini. sehingga jumlahnya masih kecil. dalam bentuk block grant. Ada semacam keyakinan ADD itu membawa perubahan di desa. masalah politik 5. Jadi perlu ada petunjuk teknis dari pusat yang hanya berisi pokok-pokoknya saja dan untuk detailnya menyesuaikan di daerah. bagaimana ADD itu diserahkan ke desa. 3. jadi bukan SE Bupati tapi sudah menjadi perda.Dahlia Saya sangat sepakat dengan apa yang disampaikan dan hanya akan menambahkan bahwa yang terjadi di kabupaten TTS ADD belum pernah ada. Pentingnya terintegrasinya ADD dengan program lain yang masuk ke desa. 4. sehingga dapat independen. Pemda berhenti membuat perda. Oleh karena itu perlu didorong langkah-langkah oleh semua komponen di desa.

pembagunan. yaitu prinsip transparansi. Sumarjono – STPMD “APMD” : Adnan-LP3ES. M. Apakah mikro finance nanti akan cenderung atau pengelolaannya diarahkan ke BUMDes? Menggagas Desa Masa Depan 62 . Firsty Husbany-DRSP. 9. Tidak perlu ADD itu rigid meskipun kontrol sangat perlu dilakukan agar penggunaan ADD benar-benar sesuai dengan yang diharapkan. (3) BUMDes menjadi milik desa dapat melakukan aktivitas pinjaman sesuai dengan peraturan perundangundangan. Edward Kenapa BUMDes dan mikro finance? karena kita ketahui bahwa BUMDes adalah salah satu jenis pendapatan di desa. tadi sudah disampaikan oleh pak Dony). kejelasan wewenang dan peran (pengelola dan kepala desa). Toto Suharyana-BPMKS Sumedang. 4. Ada 4 penerima manfaat yang harus diperhatikan. Fasilitator Kita mengingat kembali apa yang telah dibahas. Kelompok: MIKRO KREDIT DAN BUMDes Fasilitator Peserta : 1. aktivitasnya. Kenapa tidak yang ruang lingkupnya lebih luas misalnya pendapatan desa? kalau BUMDes ruang lingkupnya terlalu kecil. Dony-DPRD Sumedang. yang didalamnya termasuk aktivitas mikro finance. peserta memperkenalkan jati dirinya. Untoro-PMD. Stefan Jansen-GTZ Pro FI. Sunarti-Kementrian Pemberdayaan Perempuan. Agus R Rahman-LIPI. Barori-STPMD “APMD”. Susmanto-FPPD/LGSP. Empat prinsip ini paling tidak yang menjadi patokan kita bagaimana memberikan gagasan pada pengembangan keuangan desa. Pengalaman-pengalaman praktis. Yuni Pristiwati . Yusuf-Sajogyo Sains. 8.ASPPUK 2. Silahkan. kita eksplorasi pandangan. Sebelum mengerucut. profesional (harus dikelola dengan betul-betul). Erni-FPPD. Suharman-PSPK UGM. baik untuk mikro finance maupun BUMDes. bagaimana posisi dan bagaimana pengelolaannya? Ada prinsipprinsip yang harus dipenuhi dalam pengelolaan keuangan desa diantaranya adalah prinsip pemanfaatan karena dari manapun dan seperti apapun pengelolaan keuangan desa harus diorientasikan pemanfaatannya bagi masyarakat. usaha kecil. Perkenalan Untuk lebih mengakrabkan suasana. dan apa cerita suksesnya (apa faktor masalah dan faktor pendukung).7. apa keuangan desa. problematikanya. (2) BUMDes sebagaimana dimaksud ayat (1) berpedoman pada peraturan perundang-undangan (Bagaimana peraturan perundangundangan PP 72/2005. keberlajutan. Dalam UU 32/2004 yang khusus bicara tentang keuangan desa yaitu pasal 213 tentang BUMDes menyebutkan: ayat (1) Desa dapat mendirikan BUMDes sesuai kebutuhan dan potensi desa. dan bagi pemerintah itu sendiri. Transparansi. Kita bisa mulai dengan mengeksplorasi pengalaman saat ini. Edward Lubis-YIPD Jakarta. Kenapa dibatasi BUMDes? karena topiknya keuangan dan ekonomi desa. Diskusi ini diharapkan bisa mempertajam pasal-pasal yang sudah ada disitu. Sofyan-Akatiga. pikiran dan pengalaman bapak/ibu tentang BUMDes. Widya PujiFPPM. Tadi pak Maryunani mengantarkan pada kita.

Dia punya idealisasi. Dalam konteks itu micro finance bicara disitu. adalah sebuah supporting system dalam sebuah perekonomian. dari segi system micro finance itu sehat. wawasan pengalaman tentang dua hal seperti itu. Salah satu dalam pasal itu. Komentar saya. Oleh karena itu lembaga keuangan yang akan dibentuk tidak bisa berdiri sendiri sebagai lembaga keuangan. sistem kelembagaanya sehat. Menggagas Desa Masa Depan 63 . tetapi biar pembahasan tidak terlalu melebar. itu otonom. sehingga ketika bicara micro finance tidak boleh lepas dari bicara konteks ekonomi secara lebih luas. produk skala umum. kita tidak boleh lupa bahwa keuangan itu basisnya produksi. micro finance yang saya buka ini dalam rangka untuk menangkal rentenir-rentenir di pasar sekitar. bagaimana menggali sumber-sumber pendapatan asli desa? Saya mengusulkan forum ini juga seperti itu. Ketika desa membiayai sendiri. Bicara tentang ekonomi desa salah satu indikatornya adalah ketika desa itu mampu membiayai kegiatankegiatan pemerintahan. saya sudah buat seperti ini tetapi rentenir (pelepas uang) masih banyak berkeliaran. dst. Kenapa? Karena ternyata uang yang dipakai disini untuk membayar cicilan disana. tetapi tidak apaapa kalau kita sepakat. semakin banyak akses kepada uang semakin senang. dimana salah satunya melalui BUMDes dan mikro kredit. ini dimaksudkan supaya lebih focus. Dalam konteks desa yang kita lihat selama ini. alternatifnya bagaimana keuangan bisa dikelola. Tentu saja forum ini nanti akan memberikan gagasan. masyarakat sekarang ini justru senang.Fasilitator Topik mikro kredit dan BUMDes. dia tidak bisa membeli teknologi itu maka dia butuh tambahan modal. Tantangan kedepan adalah produk desa. Tambahan modal itu bisa merupakan kredit. tetapi yang lebih penting adalah tantangan ke depan. Artinya. Teknologi itu mahal. Persoalannya. bargaining posititionnya kuat. Bicara mengenai keuangan desa tentu saja ruang lingkupnya cukup luas. Kita tidak dikungkung dengan dua topic ini. Bahkan ada yang berpendapat bahwa paradigma pembangunan dibalik. belum dalam konteks yang lebih positif. Oleh karena itu lembaga perkreditan dibutuhkan di desa dalam rangka mendukung produk yang berkualitas dan syarat dengan teknologi. kita bicara tentang keuangan desa lebih luas dan kita bicara pengelolaan keuangan desa pada dua level yaitu yang berkaitan dengan desentralisasi fiscal (ADD) dan didalam bagaimana kita mengelola keuangan desa. maka dibutuhkan lembaga keuangan yang kuat. Karena dibutuhkan tambahan modal. Apakah pada skala individu yang memanfaatkan jasa micro finance juga meningkat kesejahteraan dan pendapatannya? Penelitian intensif tentang indivisuindividu sebagai nasabah utama belum dilakukan. Barori Pak Lubis juga benar. Paling tidak dari arahan SC/panitia tidak diarahkan kesana. Lembaga keuangan yang ada selama ini seperti apa? Micro finance yang kita lihat selama ini sudah banyak di desa. Dimana mikro kredit ini salah satu aktivitasnya usahanya adalah BUMDes. Jadi uang itu muter. Kita kembali pada topik yang akan dibahas. tunggakan kecil kalau itu menjadi indikatornya. pembangunan dan kemasyarakatannya. tetapi topic besarnya kita bicara tentang keuangan desa. merdeka. Jika disepakati. juga merespon apa yang telah disampaikan narasumber. sedangkan masyarakat mempunyai keterbatasan dalam mengakses teknologi. Turunan dari topik yang dibahas disana tadi adalah bahasan tentang micro finance dan ada mandat dari UU 32/2004 atau PP 72/2005 yang kemungkinan dibentuk BUMDes di tingkat desa. tetapi pembicaraan kita adalah keuangan desa dan salah satu topiknya BUMDes. Kegiatan produksi bagian dari kegiatan ekonomi pedesaan yang selama ini ada. Teman saya di Minomartani membuka koperasi simpan pinjam diantara warga perumahan di sekitar Jogja. Ketika bicara keuangan desa. mestinya produk yang kompetitif yang sarat dengan teknologi. “kuasai teknologi pasca panennya kemudian kita bicara proses usaha taninya”. Micro finance menurut pandangan saya. omsetnya sudah sampai 2 milyar lebih (dalam satu kecamatan di Minomartani).

meminjam untuk tujuan investasi atau working capital apa saja. Diskusi seperti ini sudah cukup lama. pokoknya uangannya kembali. saat ini Dirjen PMD sedang mempersiapkan peraturan mendagri. beli bibitnya ke lembaga kredit (BRI). Untoro Tanpa membatasi pembicaraan. apakah namanya sustainable rural banking (dari kacamata teritoritik)? Kenapa sustainable rural banking ? karena hidup matinya (sustainable) bank. Pada saat panen PPL sembunyi. Ini yang disebut dengan pemberdayaan yang total. BUMDes dengan usaha simpan pinjam dan omsetnya sudah Menggagas Desa Masa Depan 64 . tidak dalam sektor keuangan di desa. kalau kita bicara keuangan desa memang sangat luas. dan kita punya banyak anggota yang consent tentang itu. Tetapi kita harus hati-hati kalau kita menerimakan kepada sustainability. baik bagi orang yang mau menabung. Jasa ini penting. secara teknis harus untung (saved uang). memang dua hal ini sangat erat. Ini awal untuk memancing diskusi lebih lanjut. dia harus bersaing disana. Nanti kita bisa mendengar pendapat dari bapak-bapak. Kita dasarnya adalah pasal 213 UU 32/2004. secara garis besar lembaga kuangan desa harus integrated. karana BUMDes mempunyai potensi untuk menutup kesenjangan supplaydemand di tingkat desa. tahun 80-an ada buku besar dari PSPK tentang Perkreditan Rakyat (almr Mubyarto dan Gunawan Sumodiningrat) mempertemuankan antara pendekatan efisiensi dan pendekatan efektivitas. Kita bisa belajar. tidak setengah-setengah. Dalam peraturan perundangundangan yang dimaksud disitu adalah Peraturan Daerah Kabupaten/Kota tentang pedoman tata cara. memang dari sisi keuangan menjadi sustainable. jangan sampai dia melunasi hutangnya bukan karena berdasarkan nilai tambah yang dia peroleh dari aktivitas ekonominya tetapi dari menjual aset-aset produksi sekedar untuk melunasi hutangnya. Ini beberapa point yang bisa menciptakan resiko untuk BUMDes. apakah peran bank BPD menjadi penting didalam manajement BUMDes atau mungkin Bawasda atau ouditor publik ? atau mungkin tidak perlu karena bank BPD dimasa depan di desa menjadi lebih kuat akuntabilitasnya. Ketika petani bicara masalah teknis budidaya pertanian datangnya ke PPL. mudah-mudahan dalam waktu tidak terlalu lama bisa dikeluarkan sehingga pada saat daerah menyusun perda dapat digunakan. kita focus ke sektor keuangan di desa. dan apa yang kita bicarakan disini kerangkanya tidak lepas dari apa yang tadi dibicarakan. Kita harus memperhatikan yang seperti ini. Sidoarjo. Stefan Saya usul. karena proses mengatur BUMDes sudah cukup maju.petani/pelaku ekonomi di desa ada didalam berbagai macam “pembinaan”. Dan untuk Perda itu dapat disusun. tetapi ketika sudah panen diserahkan kepada pasar bebas. Micro finance dan BUMDes. Keterkaitan BUMDes dangan mikro kredit. Kami mereka-reka. berdasarkan peraturan perundang-undangan. Artinya ini sebuah boot yang mengakomodasi pelaku-pelaku ekonomi dalam melaksanakan produksi. karena cukup luas kalau kita lihat tantangan di sector riel. Sebenarnya dalam PP tetang desa sudah lebih focus lagi. lebih luas daripada kredit. bagaimana sebetulnya institutional rised membentuk kelembagaan ekonomi yang betul-betul komperhensif. Sehingga yang namanya perlindungan terhadap petani/masyarakat kecil/pelaku ekonomi kita kelihatannya setengah hati. Kita memang berfokus pada BUMDes. pasal 7881…. jangan sampai seperti sekarang. pembiayaan sampai pemasaran. Artinya kelembagaan ekonomi mikro/keuangan desa menjadi untungnya sendiri. sekarang di banyak daerah terutama di Jatim (Trenggalek. apakah mnicro finance tergantung juga pada roda perekonomian yang ada. sampai tingkat pasar dilepas. Tawaran untuk diskusi awal. keuangan dari sisi pemerintahan desa. Ke depan. dll). dan BRI hanya bisa mengejar untuk melunasi hutangnya. Kita perlu pengawasan eksternal. produksi dilepaskan. Fungsi lembaga keuangan mikro terutama melakukan intermediasi keuangan di desa. sudah ada Permendagri. karena pendekatannya efisiensi. pembentukan dan pengelolaan badan usaha di desa.

baru dari APBDes masuk ke BUMDes. dimana pembentukan BUMDes kami ambil dari partial-partial yang terbaik. UEP PPK. Kenapa harus BUMDes? Karena untuk menjawab permasalahan. tetapi ini belum dipayungi oleh BUMDes. Ini usaha-usaha BUMDes baik yang sedang kami rintis. seperti ADD (di Sumedang disebut DADU: Dana Alokasi Desa Umum). Lumbung desa juga merupakan salah satu unit usaha BUMDes. dari aspek legal dianggap tidak ada karena payung hukumnya tidak ada. Status badan hukumnya masih PERDES. yang boleh menghimpun dana masyarakat itu hanya bank atau harus berbentuk koperasi. dan khusus untuk lembaga keuangan mikro bulan Oktober 2006 akan dikeluarkan Peraturan Presiden tentang kebijakan nasional mengenai keuangan mokro untuk melindungi lembaga keuangan mikro yang nyata-nyata bisa menghadapi pelepas uang dan jumlahnya banyak untuk bisa beroperasional tanpa dianggap illegal. ada yang sudah berjalan. jarang yang simpan. Padahal Perdes itu aturan hukum desa. Tetapi manakala disodorkan ke bank tidak akui. Ini harus kita ingat supaya tidak campur aduk. diangkat menjadi pengurus BUMDes. sama yang kami buat. Dari ADD disisihkan harus ada untuk modal BUMDes. apalagi di pedesaan. rekening dari masyarakat dilebihkan 1. mau beli lagi tetapi karena uang kurang maka harus pinjam ke bank. Tadi disampaikan bahwa justru BUMDes ini yang jumlahnya puluhan ribu yang non bank dan non koperasi. Sesudah Perdes jadi dan BUMDes sudah jalan. Keuangan desa dikelola melalui APBDes. BUMDes itu harus dengan Perdes tetapi tidak bisa berhubungan dengan lembaga perbankan karena harus ada akte notaris. bahkan kalau sudah jalan. Yang dapat dimasukkan oleh kami ke BUMDes adalah unit simpan pinjam. Jadi tidak serta merta keuangan itu masuk ke BUMDes. Kemudian untuk pemuda (karang taruna) untuk penagihan rekening air dan listrik dipayungi oleh BUMDes. BUMDes bisa menjadi PAD desa. Permasalahan. ATK). Setelah terbentuknya BUMDes. dari yang telah kami praktekkan kami mencoba mengumpulkan lembaga-lembaga keuangan yang ada di desa cecara partial. Kami menyikapi bahwa untuk keuangan desa tidak sama dengan BUMDes. sementara Perda turun belakangan. tinggal di akta notariskan. nanti partial-partial yang ada di masyarakat bisa bubar. sehingga ekonomi yang tumbuh di desa itu sudah ada. dan warung nasi. banyak pinjamnya. Bahkan dana perimbangan desa (ADD) ujinya di Sumedang. manakala go public pihak perbankan belum merespon. (aktivitas sudah jalan tetapi payung hukumnya belum ada). bagaimana aturan dengan praktek yang sudah ada. tapi satu sama lain saling mengkait. seperti usaha simpan pinjam. pertokoan (fotocopy. harus ada akta notaris. tapi setelah jalan menjadi pinjam simpan. sedangkan keputusan bupati turun th 2003. Toto Kami akan memberikan gambaran apa yang telah kami lakukan di Sumedang. Pelaksanaan di kabupaten Sumedang. Jadi kita mengadopsi. Dengan itu maka Menggagas Desa Masa Depan 65 . Contoh ada yang beli trakor dan laku disewakan. sebab lebih dulu praktek dimasyarakat daripada peraturan.besar. NOleh karena itu nanti setelah terbentuk di Perdes. lumbung desa. Disepakati. dan usaha lain seperti persewaan hand traktor. UEP PKK. Kami mencoba mengangkat dari partial-partial yang ada karena di desa paling tidak ada >5 lembaga-lembaga ekonomi desa yang bisa dipayungi BUMDes. kalau kita langsung mengenalkan BUMDesa. karena BUMDes aturannya/payung hukumnya turun belakangan. dari APBDes ke BUMDes. satu desa ada 60 juta. kalau lembagalembaga keuangan yang ada di pedesaan.000. Depdagri sedang konsen pada BUMDes. Oleh karena itu. dan ada yang masih dalam perjalanan. bahkan bantuan gubernur (tugas pembantuan) diakses. Ada aturan BUMDes. Itu merupakan salah satu unit usaha BUMDes di desa. Galian pasir (galian C) juga dikelola oleh BUMDes. kedudukannya sama dengan UU. Dengan regulasi kebijakan dari atas dapat diarahkan ke sana. tetapi ADD itu masuk dulu ke APBDes di desa.

puskesmas. Maksud saya. Persoalannya. hampir tiap masa ada kelemahan nilai tukar terhadap industri. saya mewanti-wanti bahwa kepemilikan BUMDes ini hanya elit desa (kepala desa dan aparat desa) saja. Agus Dalam hal BUMDes. Fasilitator Kalau kita bicara BUMDes. kalau di desa petani (pertanian) terjadi pelemahan nilai tukar produk pertanian terhadap produk industri. sehingga pemiskinan akan terus berlangsung. Sofyan Persoalan. tetapi imbas (pemasukan) ke desa tidak pernah ada. Kenapa control desa terhadap tanah/petani hanya sebatas persoalan bagaimana caranya agar tanah ini bisa menghasilkan pendapatan untuk desa. tidak ada lagi persoalan belas kasih sosial desa terhadap petani. tanpa ada kontribusi kepada masyarakat/warga desa. Kalau kondisi petani yang terus mengalami nilai tukar produknya selalu melemah. Usaha-usaha di desa dilakukan tanpa harus berbadan hukum.5 ha tanah kas desa yang didistribusikan kepada petani (hasilnya sekitar Rp. Bagaimana tanah yang dipakai itu dapat memberikan kontribusi pada desa? Menggagas Desa Masa Depan 66 . maka dia tidak bisa menabung. dan saya pribadi setuju. rencana pembangunan gudang ini kemudian diprotes oleh warga. 53 juta/tahun). Dalam diskusi ini. maka saya penekanannya pada tabungan. walaupun usaha seperti ini sudah banyak. bukan hanya kebijakan. sekolah. bahwa melihat tujuan micro finance sebagai intermediary tabungan dan kredit. Mungkin ini control. tetapi dengan pertimbangan. Jangan sampai nanti BUMDesnya berkembang dan yang menikmati hanya elit-elit desa saja. saya pribadi mengharapkan juga politik keberpihakan yang jelas pada petani. kenapa orang di desa sulit mendapatkan usaha? Salah satunya kurang mendapatkan akses kredit. Tanpa itu. tidak semata-mata orientasi bisnis. Masalah micro finance secara riel ini bagus sekali. Oleh karena itu kalau akan dikembangkan micro finance harus didasari/diimbangi dengan politik keberpihakan pemerintah terhadap perlindungan petani yang kehilangan nilai tukar. karena gudang yang dibangun diatas tanah kas desa. Ada 12. misalnya di desa ada mekanisme lelang tanah kas desa. bagaimana usaha-usaha seperti ini yang tidak berbadan hukum bisa memperoleh akses kredit? Juga usaha yang dilakukan desa. Sebenarnya fokus (tujuan) dari awalnya adalah untuk penanggulangan/ pengentasan kemiskinan. maka tanahnya diambil.ada peningkatan pelayanan masyarakat. Ada keberpihakan politik yang melindungi nilai tukar. sementara kepala desa berpikiran bahwa itu keuntungannya masuk desa. ini tentu akan sulit. Kita juga harus lihat ini. tetapi ini tidak dimengerti oleh warganya. Tadi dikatakan lumbung desa juga bisa menjadi badan usaha BUMDes. Widya Ada tanah kas desa yang dipakai dengan tujuan kembali ke masyarakat. hal ini sebenarnya bisa untuk BUMDes. Ada pengalaman saya. Apalagi adanya keharusan aturan dalam BUMDes bahwa yang melakukan usaha harus berbadan hukum. Selama ini banyak tanah-tanah kas desa yang dipakai oleh pemerintah pusat seperti untuk kantor polisi. dll. Kalau petani tidak mau mengubahnya. di satu desa yang kepala desanya punya inisiatif membangun suatu gudang untuk menampung hasil bumi warga desanya. Kalau di pertanian jelas. ada mekanisme control dan orientasi kemanfaat pada masyarakat juga menjadi pertimbangan. gagasan intermediary untuk menciptakan tabungan dan kredit di desa mustahil. warga punya pandangan bahwa kepala desa bisa mengontrol itu untuk kepentingan pribadinya. tidak haya aturan teknis saja. Apakah betul di desa sudah mampu untuk menabung? Ini masalah.

karena sepertinya yang bicara desa itu hanya Depdagri sementara departemen yang lain tidak pernah melakukan affirmative terhadap desa. saya lihat petani juga semakin parah. kalau pupuk di lepas dipasar bebas. kalau itu dikaitkan dengan micro finance bagi salah satu usaha BUMDes. BUMDes itu sesuatu yang bagus. sudah harus menyangkut pada politik perUUan yang lebih konkrit terhadap desa. saya kira Indonesia sudah makmur. apapun bentuknya. petani kita hancur. karena ada problem seperti ini. Sebenarnya perempuan itu terbukti bahwa pengembalian kredit itu rajin (kemacetan 99%). Misalnya kasus UU Perbankan. tetapi departemen lainnya pro liberalisasi pasar. Pengalaman ini sudah ada dimana-mana. kembalikan saja ke masyarakat karena mereka yang lebih tahu tentang kondisinya daripada kita. Usulan.Mengenai BUMDes. 70% dikuasi elit desa. (terjadinya dept capital). Otomatis mereka yang tidak punya KTP tidak bisa punya akses ke bank. UU Koperasi tidak ada yang menyentuh sampai ke masyarakat desa. menunjukkan bahwa akses masyarakat terhadap pengambilan keputusan di desa. harus lebih jelas. apakah mereka menjadi objek atau subjek? Bagaimana kita menyikapinya? Skema kredit. atau mereka (di desa) yang bahkan tidak punya KTP. jadi tidak hanya di formal saja tetapi juga non formal. kearifan desa disana. Sunarti Menyoroti dari sisi perempuan. kita sepakat tidak ingin menjadikan desa sebagai objek.03% GNP. Apakah dengan BUMDes. Walaupun Depdagrinya jungkir balik. termasuk skema kreditnya. 60% desa-desa di Jawa (Indramayu hanya 10% yang mengambil keputusan di desa itu) termasuk soal ekonomi. Belajar dari pengalaman itu. masing-masing mempunyai institusi sendiri. paling tidak ada suatu realita yang kita harapkan. misalnya soal pupuk. pada sisi lain ada harapan kita apa yang seharusnya. tetapi bagaimana menyikapi BUMDes sehingga bisa sesuai dengan realitanya. bagaimana kebijakan subsidi pupuk? Lebih parah lagi. harus ada skema khusus untuk kebutuhan-kebutuhan perempuan agar bisa memberikan nilai tambah. Studi LP3ES sekitar 10 th yll (dipimpin pak Dawam). apakah desa terutama masyarakat desa menjadi pemasaran produk-produk termasuk produk perbankan ? Dalam kegiatan ini. bagaimana menjembataninya? Menggagas Desa Masa Depan 67 . dimana agunan itu banyak dimiliki laki-laki. Contohnya di seminar 2 hari ini. Jangan-jangan yang kita diskusikan ini apa yang sebenarnya menguntungkan elit desa. mungkin karena untuk mendapatkan kredit harus ada agunan. Hasil studi dari Bank Dunia membuktikan bahwa dengan memberikan pendidikan pada perempuan (meningkatkan pendidikannya dari SD—SMA) dapat meningkatkan 0. (bagaimana akses perempuan) Fasilitator Saya menegaskan bahwa. tidak dari daerah. saya lebih sepakat kalau kita kembalikan pada kearifan local contoh kasus di Sumedang. Semua ini pendekatan insidental. Firsty Kita ada di 2 kutub yang sangat berlawanan. juga soal tanah-tanah mati sehingga jangan salahkan orang Indramayu menjadi PSK di Jakarta. ya tunggu 15 tahun lagi Negara kita ini sudah selesai. Tidak usah bicara partisipasi. artinya harus ada perhatian khusus terhadap perempuan. Adnan Negara ini tidak sekedar memproteksi desa tetapi harus affirmative action sudah saatnya dilakukan. untuk apa? Tetap saja petani mati. bahwa di lapangan 60% pelaku usaha mikro kecil itu perempuan tetapi mereka kesulitan dalam mengakases kredit. semuanya harus affirmative. jangan sampai ada penyeragaman. Kalau tidak. termasuk dari BPR pun atau MF yang paling kecil sekalipun selalu ada persyaratanpersyaratan yang sangat sulit diakses terutama oleh kaum perempuan. Ini yang perlu dipertahankan (jenis usahanya).

bagaimana di daerah lain (Kalimantan)? Apakah mereka sudah mampu untuk mengalami proses monoterisasi. cukup “kamu jualan disitu. kenapa Pemda Ngawi tidak gunakan BUMDes untuk mengatur micro finance di desa? Ini menarik untuk coba diaplikasikan. Jadi sistem ekonomi kerakyatan ini yang harus kita kawal. Nanti hutan di Jawa juga habis karena kita tidak bisa mengelola ekonomi desa hutan. jangan sampai itu hanya urusannya PMD. Saya sepakat dengan teman-teman bahwa jangan sampai kita nanti menjadi paket kebijakan. tetapi juga bisa mendatangkan poliklinik. dia jalan menggunakan mekanisme bank. afirmatifnya seperti apa?. bagaimana memperlakukan uang sebagai pelaku bukan object? Itu yang harus kita perhatikan. Justru kami akan menggunakan instrument itu sebagai sodoran. Karena dulu surat Mentri Kehutanan berkali-kali ganti sampai sekarang tidak ada kepastian tentang itu. 10. misalUU kehutanan. Suharman Saya merespon tentang BUMDes dengan membandingkan kita dulu pernah punya KUD. tetapi rentenir tidak membutuhkan itu. karena terbukti (dari LP3ES) bahwa yang menguasai perekonomian desa hanyalah segelintir orang. dikerokin juga sama yang ngutangi!”. silahkan gratis. Kita coba memakai kelompok tani hutan. Saya menggarisbawahi bahwa: (1) jangan sampai BUMDes itu justru menjadi instrument bagi capital besar yang menghisap desa dan (2) BUMDes jangan sampai menjadi sebuah instruksi yang wajib dialkukan di tingkat desa tanpa ada kegiatan yang riel di masyarakat itu. ada seorang ibu yang membuka penggilingan gabah di kecamatan Pleret. belum terselesaikan. Kemudian si ibu mendatangkan poliklinik di rumahnya.000. bahwa nanti akan ada Perda.Jenis usaha. jalan tidak? Indonesia itu tidak hanya Jawa. kami sudah meneliti tentang rentenir sampai saya mengkritisi kebijakan bupati Bantul. ini tidak pas. Karena selama ini dana yang dikucurkan dari atas sampai ke bawah variasinya sangat luar biasa. Kalau nanti BUMDes masuk harus dibungkas dalam sebuah proses. nanti kembali sekian”. saya menulis “Bupati versus rentenir”. hanya sekedar untuk menunjukkan bahwa dia itu bukan hanya orang yang bisa membagian beras. Ini kan lintah darat yang sangat manusiawi. dia punya cukup banyak beras dan dibagikan ke petani tetangganya. Kenapa? karena bupati menggunakan bank pasar (beroperasi pada level pasar-pasar desa). bukan sebaliknya menjadi instrumen pengisap kekayaan. Persoalan tentang micro finance. Unit usaha BUMDes harus yang realitas muncul. Kerangkanya harus ekonomi kerakyatan. ini cukup Rp. bukan dipaksakan muncul. dan ternyata kendalanya sama yaitu persoalan landasan hukum. Menggagas Desa Masa Depan 68 . Bagaimana “bank” menurunkan kadar formalitasnya mendekati pola-pola rentenir? “kalau rentenirnya masuk angin. sehingga dikembalikan. Mekanisme/trust seperti apa yang dibangun oleh rentenir sehingga mereka membangun jariangan cukup kuat? PSPK dengan Pemda Ngawai sedang membangun kerjasama untuk mencari pola-pola dasar (skim) dari micro finance. mana yang kira-kira pas? Seperti yang disampaikan mas Untoro. tetapi tetangganya itu ditanya “apakah beras itu sudah sampai?” Dan mereka tersinggung. harus kita lihat kemampuan desa menjalankan BUMDes. Itu nanti justru akan menjadi konflik. Kami berani menjamin bahwa itu pasti akan ada banyak ganjalan. Bagaimana masyarakat bisa memanfaatkan potensi yang ada didesanya untuk menjadi usaha itu terhalang oleh aturan-aturan sektoral yang lain. siapa mau berobat. Kasus yang menarik. dan betul-betul menjadi bagian dari supra ekonomi desa. Masih ada PR-PR bahwa dari tingkat nasional sampai ke desa yang sampai sekarang masih menjadi problematic. Tentang kehutanan. BUMDes jangan sampai menjadi instrument/kapitalisme di desa yang akan memporakporandakan tatanan di bawah. karena nanti yang terjadi hanya papan nama saja. bagaimana seorang penggilingan beras bisa mendatangkan poliklinik dari luar untuk buka prakatek di sini. tiap desa harus muncul BUMDes. yang nanti akan membawa kesejahteraan bagi masyarakat. 2 tahun terakhir saya bergulat dengan petani hutan dan desa-desa yang mengepung hutan itu miskinnya luar biasa sehingga mereka menjarah hutan. perlu ada koordinasi dengan sector-sektor yang lain. Saya berpikir.

Ini juga diakui oleh Bank Indonesia. maka perlunya disini bagaimana bisa menjembatani ? Fungsi utama BUMDes adalah (1) fungsi social. “Bupati vs rentenir” di Bantul. bahkan assetnya sudah 1 milyar. Kemudian dimana mikro finance masuk? Tadi dikeluhkan bahwa permasalahnya tidak bisa akses ke bank. usaha ekonomi desa simpan pinjam juga maju. disitu menyebutkan tentang jasa keuangan. ekonomi masyarakat itu juga boleh bisnis. Alur tembusnya melalui pasal 213 UU 32/2004 dan PP 72/2005. Pengelolaanya bagaimana? Itu diserahkan daerah. tidak ada satupun yang mau menjadi BPR. UKM kurang bisa mengakses kredit bank. misalnya hutan. Di dalam PP 72/2005 disebutkan bahwa pembentukan BUMDes disesuakan kebutuhan dan potensi desa. yang cirinya adalah ekonomi yang berpihak pada rakyat. seharusnya sudah jadi BPR tetapi tidak mau. Permasalahn kredit sudah sejak lama. Mengenai tanah kas desa. itu yang kita lindungi. Prinsipnya.Edward Untuk mengatasi monopoli kepemilikan. Saat ini dalam UU baru dimana koperasi sudah diakui sebagai badan hukum yang legal untuk bisa mengakses ke bank. Usaha-usaha ekonomi masyarakat yang kurang terakomodasi. Ini yang di back up oleh GTZ ProFI. kalau itu kekayaan desa harus dikembalikan ke desa karena banyak pasar desa yang sudah berkembang justru diambil kabupaten. dan pusat hanya kebijakan. bentuk yang tepat untuk dasar hukum BUMDes adalah koperasi. kabupaten (melalui bupati) harus mengalokasikan dananya (berapa % dari APBD) untuk pengembangan ekonomi yang dialokasikan untuk modal BUMDes. Nanti konsekuensinya. oleh dan untuk anggota. tidak dijual. Untoro Kami menyusun PP itu berdasarkan kondisi di lapangan. Pengawasan dilakukan oleh BPD dan Bawasda sepanjang bantuan modal/aset2 daerah). tidak dipaksa. Jangan sampai kalau bisnis itu sudah kapitalis. jelas dikelola oleh pemerintah desa (sebagai penasihat) dan masyarakat. Untuk bisa mengoptimalkan peran BUMDes. Informasinya di Bantul BPRnya maju. kurang terpayungi secara hukum. Depdagri bertangungjawab terhadap LKM-LKM yang non bank dan non koperasi. Kalau itu bisa. Justru Depdagri bertujuan menembus kebuntuan untuk mengatasi itu. hutan itu milik Negara dan dikelola Negara. maka tidak akan ada masalah rentenir. (2) harus ada kedaulatan rakyat (kedaulatan pangan terhadap sumber daya bersama). Menggagas Desa Masa Depan 69 . di Sidoarjo justru tanah kas desa ini yang digunakan sebagai modal BUMDes. Dan pengawasan keuangan oleh auditor independent. jadi BUMDes saja. Karena ujung-ujungnya siapa yang berkuasa atas BUMDes? Apalagi ini rentan terhadap sumber daya bersama. Kalau pasar desa itu jelas merupakan kekayaan desa. sementara kalau bank kelemahannya pada persyaratan. Tetapi jangan sampai BUMDes itu komersil. tapi juga berfungsi social (visi dan misi jelas). Prinsipnya. karena koperasi ada keterbatasannya hanya dari. (3) tersedianya sumberdaya manusia yang mampu mengelola badan usaha sebagai asset penggerak perekonomian masyarakat dan (4) adanya unit-unit usaha masyarakat yang merupakan kegiatan ekonomi warga masyarakat yang dikelola secara paksa dan kurang terakomodasi. Celakanya dengan diserahkan ke daerah justru banyak dijumpai illegal logging. Yusuf Saya sepakat bahwa harus ada mekanisme control untuk mengatur posisi modal. Kepemilikan. Yang dimaksud kebutuhan dan potensi desa ada 4 (empat) hal yaitu (1) Kebutuhan masyarakat terutama dalam pemenuhan kebutuhan pokok. (2) tersedianya sumber daya desa yang belum dimanfaatkan secara maksimal terutama kekayaan desa. Mengenai hutan. Sampai sekarang dari > 4500 BUMDes. Bisakah bupati/walikota memberikan jaminan kepada pengusaha-pengusaha kecil yang dinilai layak untuk meminjam ke bank.

Ini menjadi ramburambu. Mengenai BUMDes perlu ditambah dengan: 1) fasilitasi (dari Depdagri). Pemerintah Malaysia pernah memberikan dana untuk taskin tetapi dikelola sendiri. Sunarti Contoh pengalaman di Malaysia. bagaimana cara mengelola kredit mikro. Jadi perlu disisipkan. Karena ketika micro finance itu memudahkan kredit bagi perempuan justru nanti akan melemahkan perempuan. sehingga mereka dapat berhubungan secara legal dengan bank. jangan disamaratakan perempuan itu lemah. Kalau kita lihat draft UU LKM. Fasilitator Prinsip yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa usaha itu harus berpihak pada rakyat dalam kerangka ekonomi kerakyatan. lebih memberdayakan pada perempuan. (tanggung renteng) Fasilitator Kenapa PMD berani ? mungin karena ada support dari GTZ Pro FI. Strateginya. 2) pelatihan dan 3) pendampingan (bisa dari Depdagri kontrak sarjana yang ada didesa sehingga bisa merekrut tenaga kerja di pedesaan). asetnya sudah 1 milyar lebih. sehingga mereka rajin mengembalikan. Tiga ketua UPK di kecamatan adalah perempuan. Sebagaimana bank yang lain. kalau asetnya sudah sekian juta harus menjadi BPR? Maka tawaran koperasi itu mungkin menarik. Apakah ini perpanjangan tangan. Dan rakyat/masyarakat tidak lagi menganggap bahwa itu uang rakyat. kemudian di deposit (tabung) di bank (fungsi intermediasi). masyarakat langsung control. Widya Bagi saya. Seperti ini ada linkage program. uang dari pemerintah diberikan langsung kepada NGO untuk dikelola. Dalam micro finance harus ada rambu-rambu yang jelas. Bagaimana keamanannya? Kalau nanti pintu masuknya hanya ke bank. dasar hukum LKM harus ada. LKM hanya berfungsi seperti handle agency. Suharman Simpan pinjam itu justru controlnya social. Apa yang terjadi? Mereka tidak mengembalikan karena mengaggap “itu uang rakyat”. Pengawasan juga kuat seperti bank. Stefan Mengenai perlindungan tabungan. koperasi itu bukan bank. apa bedanya? Ini merupakan hal kritis yang perlu menjadi perhatian kita. Ketika masih pada skala kecil tidak apa2.Barori Masalah kelembagaan. Prinsipnya. Menggagas Desa Masa Depan 70 . pemerintah bekerjasama dengan NGO. mereka menerima uang di masyarakat. sedikit susah untuk LKM karena asetnya terlalu kecil. Kalau sekarang ada pintu/jendela yang disediakan seperti LKM. Solusinya. kepastian hukum. kalau berfungsi seperti ini otomatis ada perlindungan. apakah di BUMDes ketika terjadi pailit ada yang bisa bertangung jawab? Ini problematik yang tidak bisa diputuskan dalam forum ini. tapi koperasi seperti apa? Toto Saya mendukung ibu dari pemberdayaan perempuan. salah satu problemnya itu. Adnan Kebijakan tata pembaharuan desa termasuk micro finance harus link and match dengan upaya pengentasan kemiskinan. Kalau ini membahayakan harus ditolak. karena survey membuktikan bahwa kredit usaha simpan pinjam yang dilaksanakan oleh perempuan lebih baik daripada yang dilaksanakan oleh laki-laki.

• ada kejelasan hukum berbasis pada potensi ekonomi rakyat. • Tidak ada aspek payung legal : koperasi dan bank • Akses terhadap modal dan informasi rendah Ini semua merupakan problem kemiskinan yang ada di desa. harus dibentuk berdasarkan aktivitas riel. sebagai pengembangan ekonomi desa untuk menghindari pertarungan modal besar • menjadi subjek dalam peksanaan pelayanan bukan menjadi objek. • ada regulasi (peraturan) yang mendukung sehingga usaha pengembangan ekonomi desa ini bisa berlanjut. • ada kejelasan tatalaksana manajemen. • ada pengawasan yang jelas. dan pendampingan maupun pemberian modal • berfungsi sebagai intermediasi (LKM) • harus diikuti dengan keberpihakan politik yang jelas • khusus untuk LKM ada skim khusus kredit yang dekat dengan rakyat (belajar dari rentenir) • ada jaminan afalis (kalau dibutuhkan) dari pihak-pihak tertentu untuk menghindari akses modal yang rendah • ada mekanisme dan komposisi kepemilikan modal yang jelas Semua itu tidak boleh lepas sebagai sebuah upaya sistemik dalam pengentasan kemiskianan. • kepemilikan oleh rakyat. Dari sisi LKM atau BUMDes. di masyarakat lokal tentu sudah banyak program-program yang terkait dengan dua hal itu. menghindari kooptasi elit • harus memberi ruang dan bertumpu pada inisiatif dan kearifan local. perpanjangan tangan usaha-usaha besar (bank) atau usaha lain. Rambu-rambu BUMDes atau MF seperti apa? • dilihat dari basis pada kemampuan dan pengalaman desa agar tidak dibentuk berdasarkan penyeragaman. tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah khususnya pengembangan UKM (tidak ada “proteksi market”). termasuk affirmative action lintas sektoral. Dan ada anggapan bahwa uang dari pemerintah tidak perlu dikembalikan. Dari pengalaman itu. • ada alokasi dari dana APBD. Menggagas Desa Masa Depan 71 . • sebagai affimative action. selain usaha bisnis harus ada: • pemberdayaan: bentuk bisa fasilitasi. Kita mencoba membuat tawaran dengan dua institusi yaitu BUMDes yang salah satu didalamnya ada micro finance sebagai alternatif pengembangan ekonomi desa. • Perlu adanya MONEV dalam pelaksanaan. • memberikan perhatian pada masalah-masalah perempuan. • ada mekanisme control dalam pelaksanaan dan mengedepankan manfaat untuk rakyat (kesejahteraan rakyat). • harus ada badan hukum yang jelas dengan orientasi kerakyatan. pelatihan.Fasilitator Kesimpulan diskusi : • Identifiaski pengalaman terkait dengan bagaimana pengembangan ekonomi desa melalui BUMDes dan LKM. • Problematika: selama ini masyarakat kecil khususnya perempuan tidak mendapat fasilitasi yang cukup.

Kalau Pak Sadu ingin menambahkan point-point yang lebih tegas. saya kira dengan yang kita bahas tadi. Jadi ini dilema. cuma desentralisasi dalam konteks desa ini arahnya kemana. . kami persilahkan saja. Dua pembicara Pak Prof. Kelompok: TATA HUBUNGAN DESA DENGAN SUPRA DESA Fasilitator Peserta : 1. karena tadi waktunya pendek. Nurwafi-BPD. Haryo Habirono – FPPD 2. Franky-AMAN.. Terus hubungan desa dengan supra desanya itu sendiri. kami persilahkan kalau ada yang ingin berkontribusi. Elke Rapp-DRSP. Saya kira itu. Tadi ini masih ada beberapa perbedaan kedudukan desa di dalam UUD 1945 yang diamandemen dengan kedudukan desa di dalam UU 32/2004 ini beda. Jadi kalau bicara tentang pembangunan ekonomi dan sebagainya lebih banyak berkait dengan komunitas-komunitas itu. tapi yang penting kita bicarakan adalah desa sebagai kesatuan masyarakat hukum. Ibnu–Unibraw. Dalam pengertian desa itu sendiri kita harus tahu ada pemerintah desa. • konsep-konsep perwakilan daerah. Bagaimana seharusnya pengaturan hukum mengenai desa? Dalam bingkai NKRI sebaiknya dihapus saja dulu.. inkonsistensi. supaya out put yang kita hasilkan dari diskusi kelompok ini adalah bagaimana mempermudah kita dalam rangka membantu kita semua. dalam konteks tata hubungan desa dengan supra desa. Salini-DSF. bahwa: • pengaturan desa itu menjadi sangat penting. Widyohari-STPMD “APMD”. nanti diskusi akan berkembang lagi. Steny-HUMA. sementara di dalam kepanitiaan disini ada beberapa kisi yang mungkin juga mudah dipandu-arah diskusi kita. dibuat mengambang. Irwan-Letmindo/GTZ Aceh Fasilitator Ibu dan bapak sekalian. Sadu–STPDN. Tetapi yang terjadi dalam praktek. terima kasih atas kehadirannya di ruangan ini.. Riawan Tjandra – UAJ Jogjakarta : Prof. Jayus-UNEJ. Silahkan kalau ada yang ingin berkontribusi menindaklanjuti hal itu. Azam-Pemdes Kebumen. BPD. untuk tidak mengatakan salah. Ini tadi diskusi yang berkembang yang kita bahas di sessi kedua.. • otonomi itu bentuknya bagaimana? • representasi desa itu bagaimana? • persoalan kedudukan desa. topik kedua mengenai tata hubungan desa dengan supra desa. bukan hanya sekedar pemerintah desa. juga ditangan pemerintah desa. sesuai saja. Widya-FPPM. khususnya Depdagri dalam rangka menyusun naskah akademik tentang pengaturan mengenai desa. Menggagas Desa Masa Depan 72 . dan ada komunitas-komunitas tertentu. Wa’i-Lakpesdam.. pola kerjanya bagaimana.5. desentralisasi dari pemerintah pusat itu seakan menimbulkan sentralisasi kekuasaan di pemerintah daerah. mungkin saya sampaikan. Artinya kalau Pak Ibnu ingin mengatakan secara tata kenegaraan UU 32/2004 itu salah demi hukum. berpendapat. sedikit semampu saya membuat catatan ini ada beberapa point yang tadi juga telah disampaikan oleh moderator.. Sadu Terima kasih. Pak Sadu sudah panjang lebar. kalau saya beri kesempatan lagi dia akan presentasi lagi. melengkapi apa yang sudah disampaikan tadi. nanti eksplorasi lebih jauh bisa kita lakukan. yang penting yang harus dirubah. kita akan bersama-sama menindaklanjuti diskusi yang sessi kedua tadi. kan begitu. Mas Ibnu sudah panjang lebar. hubungan kerja. dari dulu saya tidak tahu ini kemana dan kaya apa. padahal kalau kita mau bicara desentralisasi ya daerah dan desa. Untuk itu. Toro-STPMD “APMD”. Sadu dan Pak Ibnu Tricahyo hadir bersama kita.

sudah ada komitmen politik bersama Komisi II DPR bahwa kedepan akan ada Undang-Undang tentang Desa. tapi memang ini hal khusus yang dibicarakan mestinya dalam ruang dan waktu Menggagas Desa Masa Depan 73 . Jadi sebelumnya. sehingga bisa mengatur tentang pengaturan dan kedudukan desa. tapi kedudukannya tidak jelas. tetapi juga kebijakan yang lebih konkret. Barangkali ini bisa menjadi semacam model. larinya pengganti ekonomi. bahwa undang-undang tentang Desa kedepan harus diinikan. tidak boleh memungut pajak dan retribusi atas dirinya sendiri. munculnya undang-undang desa dan itu akan mendorong juga kedudukan desa yang lebih jelas. otonomi desa yang sebenarnya juga akan semakin jelas. Kalau saya ngomong begitu mungkin tersingggung. Ini barangkali masalah pokoknya disini Widyohari Saya nyambung Prof. mungkin untuk memperkuat kedudukan tadi saya sepakat dengan Pak Ibnu. yang dipungut adalah iuran. artinya sudah ada regulasi mengenai keberadaan dan peran masyarakat adat. dia tidak digaji. Ini kayaknya konteks yang kita bahas berbeda. Saya menawarkan gagasan. Fasilitator Saya potong sedikit.. Kalau tidak salah SK Menteri Kehutanan menjelaskan soal masyarakat hukum adat. sekarang tidak ada. dia menjadi mata rantai yang terlemah dan akan tersisihkan. bukannya masyarakat adat tidak prnting. Masyarakat hukum dengan masyarakat hukum adat berbeda. Nah ini akan menjadi dilema. Paling sedikit per-Oktober Mendagri mendapat PR dari Komisi II DPR untuk menyerahkan atau mempresentasikan draf awal naskah akademik.Desentralisasi kepada daerah jelas. Dan untuk desa diminta naskah akademik. Pertemuan ini dimaksudkan dalam rangka mengisi. desentralisasi kepada desa itu bentuknya seperti apa. memberikan masukan sekaligus itu adalah ajang advokasi kita dalam penyusunan naskah akademik mengenai desa. kewajiban-kewajiban pemerintah. fungsi-fungsi yang sudah dijalankan oleh desa. Mohon maaf. dan itu bisa nampak dari diberikannya ADD yang besar juga program-programnya. saya tidak tahu. bisa mengatur pilkades yang baik. Saya bertanya. kemudian siapa yang mau bekerja di desa? Padahal kita bayangkan ada pemberian kewenangan yang besar. Merupakan suatu keharusan kalau kita membiarkan desa seperti bentuk-bentuk yang lama. Cuma nanti kembali kalau kepada kedudukan organisasi yang tidak jelas. apakah pemerintah desa adalah organisasi pemerintah sesungguhnya? Dia menjalankan fungsi-fungsi. anggaran banyak. kayaknya sebelumya membuat undang-undang tanpa naskah akademik. karena orang-orang desa yang berkualitas sudah tidak mau jadi perangkat desa. buktinya sudah ada tapi pemerintah daerah tidak bisa apa-apa. kemudian begitu selesai ya selesai tidak ada pensiun. akhirnya gubernur setuju. khususnya untuk pengaturan. hanya hal itu tidak dilaksanakan. waktu itu Gubernur Jawa Barat bicara tentang provinsi termaju di Indonesia. tapi orang yang bekerja di desa adalah orang-orang yang mohon maaf kalau saya katakan tidak berkualitas. saya harus informasikan karena ini informasi juga saya dengar dari orang yang harus saya percaya yaitu dari Depdagri sendiri.. Fasilitator Jadi supaya kita lebih fokus. saya lihat visi dari kepala daerah dalam membangun kabupaten berbasis desa. Ini lebih memberi peluang. kalau dulu masih ada pengganti asusila. Franky Menurut saya tidak hanya regulasi.. mengenai Undang-Undang tentang Desa ini. tapi kalau kita lihat data. Ada beberapa di kabupaten yang seperti Sumedang dan Bandung. Jadi desa mengatur tentang kedudukan desa itu sendiri. pegawai desa itu kedudukannya seperti apa? Ini sampai sekarang tidak jelas. Saya ngomong sama gubernur itu akan menjadi omong kosong kalau desanya tertinggal. nah ini menjadi babak baru.

minimal kalau ada sekian provinsi. Pak Prayitno mengenai kedudukan desa. mungkin struktur ini akan berbeda lagi. jadi semua provinsi bisa mengetahui kalau ada proses. Karena kalau semua sudah diatur. atau self community governance. sudah jenuh juga. tapi kita juga jelaskan juga usulan anda tidak bisa masuk kesini karena nanti akan berbenturan dengan peraturan. apakah ini semua? Apa dan bagaimana struktur yang akan dilaksanakan. saya kebetulan dari orang pemerintah. Kita pernah mencoba pada penyusunan perda 2004. Kalau kita mengembalikan self community governance apa gunanya kita diskusi tentang itu lagi. Pak Eko cukup jelas membuat tipologi desa dari hasil-hasil studinya. dari legislasi. Fasilitator Kalau tadi kita bicara tentang otonomi itu mungkin akan menjadi berbeda dengan yang kemarin. Dalam undang-undang nanti. kami mengundang sembilan ratus dua puluh orang. kemudian struktur organisasipun jangan diatur. Akhirnya hal itu menjadi kekhawatiran dari masyarakat itu sendiri oleh UU 32/2004. adatnya masih kuat. jangan terlalu detail. local self government. ada local state governance. ini agak beda. Dari dulu desa deperti ini terus. ada sanksi disitu. Sadu Kalau dilihat dari jenisnya ada tiga: 1) Desa Geneologis. saya pikir apa konsekuensinya. Menggagas Desa Masa Depan 74 . masa jabatan tidak usah diatur. Nah sekarang kita ingin fokuskan supaya kita mencapai apa yang tadi dilontarkan Pak Sadu dan Pak Ibnu. Konsultasi publik saya tahu. Kalau ada self gonernance kita harus lihat peran kecamatan. Kita sedang membicarakan masyarakat hukum. Artinya mekanisme ini tolong. Elke Usulan tadi bagus sekali. Franky Artinya itu mementahkan diskusi kita yang kemarin dengan Pak Eko. Ini lalu memang tipikal otonominya menjadi berbeda. Ini saya antisipasi kalau terjadi suatu permasalahan hukum. dan ini membuat undang-undang yang akan dilaksanakan dan bersifat nasional. itu menjadikan aspirasi ini apa artinya. apakah local self governance. Itu sudah ada usulan dari kawan-kawan. Kalau kita mulai dari tingkat desa.yang khusus. kecamatan. bisa dengan penurunan pangkat. Fasilitator Ya. apakah disitu adat istiadat masyarakat yang tradisional masih ada atau tidak ada lagi desa. kami melontarkan bahwa ada garis dalam struktur pemerintahan desa. yang namanya sekdes sampai mati tetap sekdes. katakanlah sekdes terkena masalah norma sosial. kita kembali ketiga tipe desa. Azam Terima kasih. dari bawah. local state governance. dimana desa yang masih homogen. ada self community governance. step by step. Kalau ada desa langsung dari pemerintahan. kaur umum dengan prestasi yang bagus bisa menjadi sekdes. Jadi namanya desa nanti akan ada lima perangkat. tidak serta merta langsung kita berhentikan. Sekarang saya melakukan perubahan perda. apakah masih perlu atau mungkin dengan badan kerjasama antardesa atau langsung kabupaten. tipe 2) Desa Campuran yang adatnya sudah mulai pudar. tapi itu masih kurang. lima struktur itu bebas saja. local self governance. Kita diskusi mengenai local state government. dan 3) Desa Teritorial yang adatnya sudah tidak jalan karena masyarakatnya heterogen. ini mungkin kita bahas asas-asasnya saja. yang namanya kaur pembangunan selamanya kaur pembangunan. Usulan-usulan dari masyarakat banyak dan bagus dan itu saya masukan. untuk melihat struktur apa akan dipakai. dan self government community.

self governing community memang seperti yang dikatakan Pak Sadu. apa mau kawan-kawan di level bawah.. komando. mereka punya suara dan bicara soal dinamika lokal seperti apa yang sudah mereka buat. Itulah yang mungkin bagi kita selaku orang desa akan lebih mencerminkan hak-hak kita di semua aspek kehidupan berbangsa dan bernegara akan lebih terjamin? Sehingga kalau akan diturunkan sebuah undang-undang atau tidak. Atau sebaliknya. Nah itulah yang saya kira butuh kerja lebih keras lagi. Kemudian sentralistik. sehingga berhasilnya desa itu kuncinya memang di tingkat kabupaten. kalau memang terpisah dan itu lebih memberikan keleluasaan terhadap hak-hak kita sebagai orang desa maka itu akan lebih bisa menjamin bagi desa. Kaitannya dengan posisi desa dengan supra desa. tapi saya justru melihat itu jangka panjang. mungkin dalam pikiran normatif. penyeragaman. Saya kira desa dan pemerintah kabupaten tidak menerjemahkan kedua UU itu lurus-lurus seperti apa yang kita bayangkan. Soal aturannya tidak perlu terlalu ‘jlimet’. Kemudian kalau bicara soal desa berdasarkan pengakuan maka saya baru membayangkan kalau desa yang kita bicarakan kemarin. bagi kami orang desa sebenarnya tidak tertalu prinsip. Nurwafi Terima kasih. apakah yang disampaikan berdiri lepas dari sistem pemerintahan kabupaten atau masuk sebagai sub-sistem pemerintahan kabupaten? Kalau Pak Ibnu tadi tidak mengatakan. Fasilitator Saya ingin klarifikasi dari Pak Wafi. kami tidak terlalu pusing apakah sebuah bagian dari pemerintah daerah atau berdiri sendiri.. Steny Saya hanya melanjutkan apa yang sudah dikemukakan. Kepada desa itu kira-kira berdasarkan pengakuan mungkin lebih mirip dengan Pak Ibnu bahwa kepada desa itu berdasarkan hak.Diharapkan dalam diskusi kelompok ini bagaimana nanti itu diatur dalam undangundang yang baru. yang diharapkan adalah hak-hak prinsipnya yang diperoleh. sangat bagus menyangkut perbedaan antara desentralisasi kepada desa dan desentralisasi kepada daerah. Saya ambil contoh dibeberapa desa misalnya mereka buat perdes. sehingga tidak perlu menyangkut nanti apakah undang-undang atau hanya sekedar revisi bukan hal yang seperti dulu lagi. Saya hanya mau menghubungkan saja konsensi yang sudah dibicarakan itu dengan rencana atau kemauan kita kedepan. tapi pasti ada asas-asas penting atau dinamika-dinamika lokal penting yang kira-kira akan keluar menjadi argumentasi kita di level nasional. Dalam UU di level nasional misalnya justru dikatakan sebagai kewenangan pusat atau daerah. kabupaten atau kecamatan bagaimana unsur-unsur itu sebagai fasilitator. Nurwafi Prinsipnya. bicara kualitas sumberdaya manusia itu penting. tapi beberapa waktu sering mengatakan otonomi desa itu kan otonomi di dalam otonom. kami sebenarnya dari desa selalu memberikan masukan-masukan yang positif mengenai keberadaan lurah-desa. Jadi kalau nanti dibawah atau bagian langsung dari kabupaten. yang prinsip bagaimana hak-hak. selama ini hanya instruktur. Oleh karena itu memang selama ini punya pengalaman bahwa bagian dari kabupaten adalah kecenderungan-kecenderungan yang. dan saya kira kawan-kawan dari pemerintahan desa ada disini. asas-asas yang sangat prinsip bisa kita terima sebagai hak. yang penting prinsip-prinsip sebagai sebuah desa itu tercover. tapi oleh perdes kemudian bisa diambil alih oleh Menggagas Desa Masa Depan 75 . bagaimana otonomi desa yang disebutkan dalam konteks pemerintahan kabupaten. selama bisa memberikan suatu jaminan-jaminan hak desa bagi kita tidak terlalu prinsip.istilahnya desa itu sangat tergantung kepada kabupaten. Coba berusaha lagi melihat dinamika seperti apa yang sudah dibangun selama ini pasca UU 22/99 dan pasca UU 32/2004. dan perdes itu sulit kita bayangkan dalam hal kewenangan.

kalau tadi menjadi sebuah muatan yang akan menjadi bagian dari peraturan daerah saya justru sangat sependapat. kami cocok menggunakan ini dan seterusnya. Anda itu tidak bisa merusmuskan sendiri. meskipun itu birokrasi di tingkat desa. Wa’i Terima kasih. kalau sudah bicara persoalan dilepas pasti saya akan berpikir beda lagi. dan banyak pegawai kecamatan menyusun program desa dan dirumuskan setelah ada ketentuan atau ketetapan mengenai APBD. Nah ini nanti juga akan menimbulkan persoalan baru. misalkan mana yang menjadi institusi desa sendiri dengan institusi sektoral di tingkat kabupaten. Jadi self governing community itu berlaku untuk daerah mana. karena di banyak desa program-program desa disusun atau dirumuskan hanya oleh institusi di atasnya. ini desa kita yang menggaruk gatal ditubuh sendiri tetapi muternya itu harus kemana-mana dulu. maka kira-kira awalnya harus melalui persetujuan dan ijin mereka. Oleh karena itu didalam UU nanti yang hendak diatur adalah hal yang dianggap penting secara umum dalam UU tentang desa. atau kalau ada investasi. taruhlah ada kebijakan-kebijakan yang harus ditempatkan proporsinya secara tepat. Itu dinamika lokal dan yang begitu jelas kebutuhan dari bawah. lebih spesifik lagi. Jadi impian saya kalau kita bicara dari self governing community maka pembicaraan soal hak otoritas mereka itu menjadi salah satu muatan dalam UU kalau kita mau merekomendasikan. sepanjang konstitusi itu tidak menempatkan desa menjadi yang harus diatur dalam konstitusi maka selamanya tidak akan menjadi keharmonisan. dan lainnya untuk daerah mana. Oh. Jadi ini nanti secara aspek politis juga harus dipertimbangkan bahwa desa sebagai satu kesatuan hukum memiliki aspirasi (dalam musrenbang dan Menggagas Desa Masa Depan 76 . bahwa struktur desa tidak akan bisa dilepas dari persoalan kabupaten.kewenangan desa. Seandainya ada gagasan untuk melapaskan. Jadi mereka tidak bisa menyusun program dengan kolom-kolom yang kosong. Ini menyedihkan dari satu sisi aspek kemandirian. Contoh di diskusi kemarin soal inpres. karena perda dalam satu kabupaten dengan kabupaten lainnya tidak sama. kabupaten lebih khusus lagi. Ketiga. Kedua. artinya kita menyerahkan pengaturan desa kepada kabupaten atau provinsi. pendidikan dan sebagainya. Ini juga yang kemudian harus dimasukan dalam kebijakan bagaimana menumbuhkan desa dalam struktur ini. Pada sisi yang lain kemudian memang bersilangan dengan pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya sektoral di tingkat kabupaten. tapi hal yang tidak ada dalam bagian dari UU itu perlu diatur dalam perda. saya merasa bahwa pembicaraan ini sebenarnya mengenai tarik ulur antara support yang diberikan oleh supra desa dengan kemandirian desa. Memang desa memiliki perangkat organisasi yang seperti dimiliki oleh kabupaten. Saya kira begitu aja. yang merupakan kewenangan pemerintah kabupaten memberikan ijin. Jadi antara otonomi desa dengan segala kemampuannya meskipun tadi Prof mengatakan bahwa pada realitasnya SDM di desa sangat memprihatinkan. perijinan dan sebagainya masuk. Saya kira bisa menjadi rekomendasi kita kedepan bagaimana mengatur hubungan antara komunitas-komunitas lokal yang disebut self governing community dengan pemerintah daerah. Jayus Sebenarnya persoalan desa itu kembali lagi pada persoalan konstitusi. lalu mau kita apakan dalam konteks kewenangan dalam struktur yang mau kita implementasikan? Saya hanya mau mengatakan satu hal penting yang sering keluar dalam self governing community selama ini. Fasilitator Kalau saya menangkap. saya tidak punya suatu keyakinan apakah pembuat UU nanti berkenan. Titik temu atau kompromi antara support dengan titik kemandirian desa itulah yang sebetulnya menurut saya belum ketemu. Dengan satu pengertian bahwa ini mengadopsi tiga hal tadi. setelah tahu desa itu dapat berapa baru bisa. orang akan mengatakan ini semacam cek kosong. Pemerintah provinsi dan kabupaten sudah harus bisa melihat itu. begitu? Provinsi lebih umum. adalah keinginan mereka misalnya kalau ada orang luar masuk.

sebagainya). hubungan dengan supra desa dan seterusnya. Kalau nasional pakai umum satu-duaMenggagas Desa Masa Depan 77 . Itu mungkin yang saya bisa katakan bahwa titik kompromi itu yang belum ketemu. adalah Local Self Government itu yang namanya desa umum atau desa teritorial. Meskipun Direktorat Jenderal PMD yang mengenai desa ini sudah lebih dari tiga puluh tahun. Menurut saya istilah itu sekarang sudah tidak relevan. Ini yang kita hadapi sekarang dalam UUD 1945 pasal 18A dan 18B. yang menurut saya sudah siap didorong untuk menjadi desa yang otonom. melakukan supervisi. Mas Toro silahkan. pemberdayaanpemberdayaan itu sudah ada. Tadi Mas Franky dari AMAN. apakah dengan otonomi desa itu lalu SDM akan segera up-grade atau sebenarnya sekarang ini kondisinya didalam UU juga PP 72/2005 atau kemarin ada Kepmendagri 64/1999 yang diacu untuk pengaturan mengenai desa. itu kan diawal pembicaraan tadi Prof Sadu menyampaikan bahwa desa itu sebagai obyek politik terus dan selalu dimarginalkan. itu bisa kita petakan secara jelas. kepegawaian. Oleh karena itu dalam konteks ini kalau kita lihat UU 32/2004 pasal 1 ada bunyi ”Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi menjadi wilayah provinsi dan kabupaten”. mereka bisa menyesuaikan dengan perkembangan zaman dan seterusnya. Pertanyaannya adalah apakah konstitusi ini yakin menjadi modelnya pemerintah? Ini harus jelas dulu. dia sedang berbicara tentang desa adat. Hanya berhenti disitu. BPD-nya sudah lebih siap. Itu posisinya jelas. jadi dia sebagai desa yang otonom tapi tidak bisa semua desa di Indonesia kita perlakuan sama. Pertama. tapi ya begitu saja. membina. Sekarang mengenai desa otonom. bagaimana kepada desa? Kalau tadi Wafi sudah menyebutkan sebagai fasilitator. itu artinya yang namanya penyerahan. artinya desa harus lepas dari kabupaten meskipun ada hirarki tapi tidak seperti yang sekarang menjadi bagian atau sub-sistem pemerintah kabupaten. Ketiga. Saya agak kurang setuju dengan Prof. mempermudah saja supaya tidak campur aduk. Pak Azam bicara tentang desa otonom. ganti konsep alokasi. Sutoro Mengulang yang kemarin. Kemudian tugas pemerintah yang lebih tinggi memfasilitasi. Sadu Apapun yang kita lakukan kepada desa tentu terkait dengan sistem pemerintahan nasional. jadi kategorinya jelas. Fasilitator Pertama yang ingin disampaikan. karena pengalamannya Jawa. alokasi atau pembagian itu berarti desa punya hak. sebut saja yang namanya Self Governing Community itu sebagai desa adat atau desa geneologis. Nah sekarang yang namanya konsep pemberian harus diganti dengan konsep pembagian atau penyerahan. Kedua. Ini peran pemerintah. Ini ada dua jalur yang sebetulnya bisa dimainkan oleh masyarakat desa. kabupaten. jadi konsep bantuan itu sudah kita tolak. Karena pengalamannya sudah lebih baik. karena tujuan akhir dari RUU Desa adalah bagaimana desa itu dengan otonominya bisa bangkit dan mandiri. saya ingin bertanya. dan desa. otonomi pemberian itu sama dengan konsep bantuan. kemudian Mas Wafi. kemudian berkaitan dengan SDM di desa yang lemah. tidak pernah ada pemberdayaan yang konkret baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. disamakan sajalah. Nah ini persoalannya sekarang. kalau kita mau mendorong desa yang otonom maka NKRI dibagi provinsi. pada sisi lain masyarakat desa juga sebagai konstituen dari partai politik. jangan sampai kita membuat UU bertabrakan dengan konstitusi. tidak pernah serius dilaksanakan. harus konsisten dengan sistem di tingkat nasional. pembinaan kapasitas dan seterusnya. tapi tidak pernah terlaksana. Kembali pada SDM. Nanti masing-masing pilihan ini akan mempunyai konsekuensi terhadap administrasi. bagaimana kedudukan desa itu dalam otonominya. Sadu yang selalu membedakan antara otonomi pemberian dengan otonomi asli. Local State Government adalah desa administratif atau kelurahan. Kedua.

supervisi. meninggal harus cari tempat lain. tadi saya terima kasih diberikan saran. kabupaten sekian atau bicara pada level yang lebih mendasar. Kalau kita menerima pasal 18B semua self governing communty saja. ia kehilangan hak-hak sosial. Kalau desa itu tidak jelas. Setelah wajib pihak kepala desa dan BPD dan juga lembaga kemasyarakatan disitu harus stakeholders dulu yang memutuskan ya atau tidak. makanya mereka menghargai betul pada adat. kalau semua bisa jadi satu. Steny Konkretnya. tapi kalau pakai size ada besar-sedang-kecil ya konsisten. Jangan sampai kita melakukan kesalahan yang kedua. jadi ya kita harus menyesuaikan diri dengan kondisi. tidak perlu ada pemerintahan. Saya mau menambahkan saja. sekarang tidak kesitu yang dikejar.tiga ya harus konsisten. Jadi sebelumya stakeholders harus dikumpulkan dulu. kalau organisasi ini jelas kita bisa membuat sistem seleksi. Kalau Bali saya lihat meskipun sudah modern tapi adatnya-agama masih kuat. hak dan kewajibannya jelas. Urusan desa adat orang lebih patuh ketimbang desa dinas. itu difasilitasi di pasal berikutnya. akarnya sudah tercabut. adat sudah tidak lagi punya kekuatan. tidak perlu ada administrasi. Jadi kalau kita diundang dalam kegiatan adat tanpa alasan yang jelas tidak datang. kuatnya begitu. Kalau dulu orang itu rebutan jadi kepala desa karena gengsinya luar biasa-status sosial. nanti saya pikirkan. Saya juga bingung. Nurwafi Di PP 72/2005 itu malah lebih jelas. tadi sudah disinggung dan bicara soal tata hubungan desa dengan supra desa. Kecuali desa-desa yang memang masyarakatnya sudah sangat heterogen. sekarang mau disatukan lagi sudah tidak bisa. hanya sekali lagi jangan membuat aturan yang berlaku untuk seluruh desa padahal ada kategorisasi yang cukup tajam. Desa-desa yang adatnya masih kuat berikan kesempatan. jadi larinya pada penghasilan. Dari sekian ijin yang diberikan di Indonesia. Fasilitator Kalau dalam UU 22/99 pasal 110 ada pihak ketiga yang ingin membangun atau mengeksploitasi desa itu harus mendapat persetujuan dari masyarakat desa melalu kepala desa dan BPD. persoalan selama ini yang sering terjadi adalah kita kurang mencermati kewenangan administrasi pemerintah pusat dan pemerintah kabupaten begitu besar di level desa. bunyi pasalnya wajib. sebagian besar obyek perijinan adalah pertambangan. yang dikejar harga ekonomi. karena konfliknya disitu. itu bukan harus. kalau tidak ada upaya-upaya hukumnya. Kemudian SDM lemah itu kembali dari organisasi yang tidak jelas. Sutoro Saya kira pasal 18B itu sudah ketinggalan zaman. keuntungan untuk desa sekian. apakah kita kemudian hanya bicara soal presentase. makanya dia membedakan ada desa dinas dan desa adat. Kalau tiba-tiba ada orang datang bawa secarik kertas bahwa saya akan membuka tambang disini lalu masyarakat desa terima sampahnya. intinya satu yaitu wajib. Soal istilah. sekarang penghargaan sosial tidak ada. Dulu lebih banyak pada penghargaan-penghargaan sosial. Menggagas Desa Masa Depan 78 . Bagaimana dengan yang begitu. peran pemerintah sebagai fasilitasi. Tapi pertanyaannya tadi 18A-18B itu dipisahkan. penyeragaman kemudian merusak akar-akar yang ada. dia bisa ditolak di-aben disitu. apakah diteruskan seperti itu saja atau perlu ada suatu klausul atau satu peran juga yang boleh kita katakan sebagai negosiasi perijinan yang juga dimiliki oleh pemerintah desa terhadap ijin-ijin yang masuk ke wilayah desa. Seperti dulu ada di Sumatera Barat rancu. perhutanan dan sebagainya dan itu ada di wilayah desa. dulu dia punya kekayaan besar kemudian dipecah-pecah. itu yang mesti didudukan dulu karena berangkatnya dari situ. perijinan itu juga harus melibatkan mereka dalam persetujuan. Orang diundang adat tanpa alasan yang jelas.

. hanya orang desanya sendiri. Elke Saya hanya ingin.. Kedua. Nanti kita akan bantu merapikan hasil-hasil. Pak Toro selama belum ada amandemen. Fasilitator Oleh karena itu. UU 5/79 saya pikir itu bagus kontruksinnya cuma persoalannya pada sentralistis. bukankah begitu? Sekarang saya hanya ingin mengingatkan waktunya. Jadi saya kira memang kawan-kawan dari desa yang lebih tahu persis. itu yang pertama. tetap saja bunyi pasal 18 juga tidak akan berubah. kemarin kita sudah mengangkat seorang bapak kedudukan desa. apakah hubungan desa dengan warga desanya? Steny Itu hubungan dari pemerintah daerah sama pemerintah pusat. Fasilitator Kalau tidak diterapkan itu persoalannya juga banyak orang tidak baca.Fasilitator Dalam konteks diskusi kita ini posisinya ada dimana. Fasilitator Ya. kita lihat lagi th 48. coba kita lihat th 65. apa bisa ditulis dalam flipchart topik-topik yang akan disampaikan? Fasilitator Apakah ini perlu saya tuliskan? Sutoro Saya kira perlu Pak dituliskan garis besarnya. disitukan ada di UU tapi tidak diterapkan. mekanisme keluhan. saya ingin mengundang salah seorang teman untuk mempresentasikan hasil diskusi kita. hal itu perlu menjadi sebuah pemikiran yang lebih jelas. Soal ADD. padahal sosialisasi sudah sekali-dua kali. nanti dalam diskusi pleno presentasi. Untuk itu kita cukupkan sekian dulu diskusi kita. jadi tidak pernah tahu padahal ada. Menggagas Desa Masa Depan 79 . Fasilitator Saya kira ini cukup. biar nanti kalau terkait dengan desa. soal hak-hak desa itu ada. Apa ada relawan.. Itu akan menjadi sebuah muatan disamping adanya persoalan. kalau masih ada ide-ide. UU 22/99 demikian pula. ditaruh didalam meja. kalau kiranya cukup. Saya minta mas Wafi bersama kami melengkapi ini. Ini tugas kita semua terutama pemerintah daerah bagaimana memfaslitasi orang baca. kita masih akan terus menambahkan. Nurwafi Salah satu kelemahan adalah sanksi. itu berkaitan dengan sanksi. karena saya yakin didalam UU 32/2004 ada yang baik dan ada yang tidak baik. Jayus Alangkah bijak kalau kita mau mencoba membaca hal baik dan tidak baik dari peraturanperaturan UU yang pernah ada. kalau kita tanya kenyataan di lapangan. hak-haknya belum maksimal bisa diupayakan.

Konsistensi implementasi dari policy. tetapi di daerah tidak direspon dengan baik dan cepat. Barori 1.Benang Merah Pemikiran : • • • • Kedudukan desa dalam konstitusi dan derivasinya. Bentuk otonomi dan kewenangan desa mencakup hubungan desa dengan supra desa Bentuk organisasi ---) berkaitan dengan SDM. fasilitasi. Selama ini good will pemda masih dipertanyakan karena banyak ide tentang kewenangan muncul di pusat. • • • Menggagas Desa Masa Depan 80 . Presentasi Kelompok: OTONOMI DAN KEWENANGAN DESA Disampaikan oleh: Kamardi • • • Masalah Kewenangan desa: Pilihan tentang posisi desa sejauh ini belum jelas. 4. sangat penting pula desa diberikan legal standing dan kemampuan menjalankan class action dalam judicial process. Otonomi dan kewenangan harus diberikan kepada desa. Presentasi Hasil Diskusi Kelompok Hari/Tanggal : Senin. Diperlukan adanya konsistensi implementasi dari policy. pembangunan dan tatanan kehidupan masyarakat dan budaya lokal. capacity building menyangkut desa Deskripsi singkat : 1. Selain jaminan kewenangan. 5. Perlu ada ruang yang jelas bagi desa dalam kewenangan perijinan. UU 32/2004 sejauh ini belum banyak ditindaklanjuti oleh kabupaten dalam menjamin desa memiliki otonomi.2. tetapi forum lebih banyak menaruh perhatian pada posisi desa sbg local self government. agenda kedepan adalah mendorong kabupaten untuk menyusun perda dan program untuk mewujudkan desa yang memiliki kewenangan yang jelas dan mendorong kemampuan mereka untuk menjalankan kewenangan tersebut. Oleh karena itu. fasilitasi. 3.00 – 17. ke depan perlu penguatan kapasitas desa untuk mampu menjalankan kewenangan (aparat dan masyarakat) dengan baik. Hal ini berkaitan dengan desa otonom dan desa adat. Bahkan. Bentuk organisasi desa perlu disesuaikan dengan karakteristik dan tipologi desa. Ada pendapat yang melihat pasal 18A konstitusi justru sebenarnya menjadi dasar untuk mendesain desa otonom dan 18B sebagai basis pengaturan bagi desa adat.00 Moderator : M. Pengaturan relasi antara desa dengan supra desa tetap harus mengacu pada dasar konstitusi dan derivasinya. 2. karena desa merupakan wilayah yang menjalankan pemerintahan. 3 Juli 2006 Pukul : 16. Salah satu tolok ukur desa mampu menjalankan kewenangan adalah mampu menyusun dan menjalankan peraturan desa secara konkrit. capacity building menyangkut desa. Tipologi desa perlu dicermati dalam mendesain pengaturan mengenai kedudukan desa dalam state. 8.

lebih dari 1600 s/d 3000 21 orang. Bagi saya regulasi atau kebijakan itu sudah ada yang mengakomodir. ini bagaimana menurut pendapat Bapak? Dahlia Agenda ke depan. beliau tadi ada keinginan BPD dipilih langsung oleh masyarakat. hanya perlu good will dari semua unsur. Saya dari Limapuluh Kota. dalam kaitan itu khususnya desa adat punya akses mengelola di SDA dan urusan komunitas nilai-nilai (roh. bagaimana jalan keluarnya? Menurut PP 72/2005 itu 5-11 orang. ulamanya kita kumpulkan lalu kita pilih satu. Berdasarkan pengalaman. masalah kewenangan desa mengatur peradilan informal harus diakui dan sekaligus disinkronkan dengan peradilan formal. Dan dengan demikian. perlu adanya kepastian melalui regulasi atau kebijakan yang membuat bahwa otonomi desa dengan kewenangannnya tersebut tidak dimanipulasi oleh kepentingan elit desa. 1 jorong ada penduduknya 700. ada juga 1500 orang. Sementara itu pihak kabupaten lebih berkaitan dengan urusan keadministrasian. biasanya kalau ada pemilihan kita perhitungkan aspek kemasyarakatan.• • • • • • • Untuk merumuskan kewenangan desa. atau dimensi kultural). Oleh karena itu pula. 5 unsur dari bundo kandung. silahkan. terdiri 5 unsur dari cerdik pandai. mekanisme. Berkenaan dengan kewenangan desa dalam kelola dan penyelesaian masalah. jadi kalau ada tanggapan dari kelompok demokrasi desa. Terdapat bukti bahwa desa mampu mengurusi urusannya sendiri. Menurut PP 72/2005 dibatasi 5-11. bagaimana keterwakilan. Bapak Seandainya akan memekarkan diri itu bagaimana? Menggagas Desa Masa Depan 81 . 5 unsur dari pemuda. perlu disusun indikator dan acuan pengembangan otonomi desa melalui pentahapan. 5 unsur dari nini mamak. 5 unsur dari pemuda. regulasi tidak terlalu banyak. kita kembalikan ke masyarakat. desa masa depan ditandai oleh adanya otonomi desa yang berorientasi pada penjaminan kesejahteraaan dan keadilan dalam bingkai yang lebih demokratis dan partispatif. Perlu pengkajian tentang masalah otonomi asli dengan belajar dari sejarah perkembangan desa. lebih besar dari 3000 25 orang. pemilihan itu bagaimana bentuknya. Problemnya adalah masih ada masalah benturan legalitas karena peradilan formal belum mengakomodasinya. dan dukungan administrasi keuangan dan kelembagaaan. perlu adanya kepastian melalui regulasi atau kebijakan yang membuat bahwa otonomi desa dengan kewenangannnya tersebut tidak dimanipulasi oleh kepentingan elit desa. Moderator Kita tuntaskan dulu kelompok ini. menurut Perda Sumbar kalau penduduknya 1600 maka wakilnya ada 16 orang. jadi tidak perlu regulasi baru. Datuk kita kumpulkan lalu kita pilih wakil. Perlu penataan ulang (khususnya di pemerintahan pusat) tentang pemberian kewenangan kepada desa yang tidak konsisten antar sektor (menghindari tubrukan antar sektor). Oleh karena itu. kami ada 7 jorong. seperti misalnya dalam kasus mengelola peradilan informal. pemilihannya tentu per jorong. Tanggapan Datu Kita mau menambahkan sedikit untuk BPD. masalah kewenangan desa harus memperhatikan konteks daerah masing-masing Agenda ke depan. bagaimana keterwakilan kelompok lain. perlu adanya kewenangan yang luas bagi desa.

kalau regulasi tersumbat maka UU tidak akan jalan. tetapi kembali jangan sampai pemekaran itu kemauan elit desa. 1. Kendala-kendala yang penting diperhatikan Demokrasi yang cocok bagi desa: • Inclusive demokrasi perlu menjadi pertimbangan utama dalam rangka membentuk self community governance yaitu suatu kondisi dimana masyarakat dapat terlibat secara luas dalam proses pengambilan keputusan. saya sampaikan bahwa pasal 206 UU 32/2004. substansi adalah menghindari elit desa. lalu pemerintah membuat perda yang baru. pandangan pragmatis) • Fokus pada Pemda dan desa masih sebatas pada pembentukan lembaga. tetapi bagaimana partisipasi dan demokrasi di masyarakat. Fungsi lembaga-lembaga yang mampu mengusung/melaksanakan demokrasi desa 3. pemekaran itu semata-mata untuk pelayanan publik. Presentasi Kelompok: DEMOKRASI DESA Disampaikan oleh : Ade Kisi-kisi: 1. Harus mengacu pada analisis kebutuhan desa 3. contoh di penjelasan. bahwa BPDnya tetap seperti semula. Soal pemekaran ini dijamin oleh UU. kontrol dan pelaksana • Bentuk diserahkan pada kearifan dan keunikan lokal dengan acuan dari pusat • Lembaga itu harus mampu mewakili semua aspirasi masyarakat • BPD dan lembaga kemasyarakatan yang ada harus ditopang dengan capacity building yang memadai Kendala-kendala: • Keterbatasan partisipasi masyarakat antara lain karena ssstem yang belum mendukung (structural) • Kendala cultural (misalnya budaya patrialistik. Kamardi Kalau belajar di UU 32/2004 ini frustasi juga. Masalah regulasi. Demokrasi yang paling cocok untuk ditawarkan bagi pengaturan desa di Indonesia? 2. 2. sehingga nanti yang menjadi hak asal usul itu tidak diintervensi lagi. Barangkali pemerintah kabupaten tetap mengacu UU 32/2004 dan PP 72/2005. bagaimana kita menghindari dominasi elit desa. sikap elitis.Alit Terkait dengan aturan/perda setempat. jadi seolah sama. bagaimanapun akan memberikan cipratan langsung. Soal jumlah. dulu ada kelipatan dari jumlah penduduk. BPD sebagai tool untuk check and balances 2. artinya perda yang baru mengacu ke UU khususnya pasal 206. Keterwakilan lembaga kemasyarakatan lainnya Fungsi lembaga-lembaga: • Lembaga di desa terdiri dari lembaga formal dan non formal • Fungsi lembaga desa bervariasi: sebagai fungsi legislasi. belum menyentuh bagaimana membangun essensi check and balances • Kemampuan ekonomi masyarakat yang bervariasi berkorelasi pada tingkat partisipasi Menggagas Desa Masa Depan 82 . Toto Hak asal usul di pasal 206 UU 32/2004. yang dimaksud Badan Permusyawaratan Desa adalah BPD dalam UU no 10. perlu ditambahkan.

tetapi institusi yang mewakili desa. kades. Itu perlu dinormakan. bisa pemilu atau yang lainnya. Tadi ada kerancuan dengan sistem yang berlaku di nasional dengan Menggagas Desa Masa Depan 83 . kades menuntut perpanjangan masa jabatan kepala desa. sedangkan masalah bentuk kelembagaan itu sudahlah. maka ditopang dengan mekanisme lain yang berangkat dari inisiatif masyarakat sendiri. tapi bukan dipreteli dalam pembaruan tatanegara. oleh karena itu kita perlu menemukan kearifan-kearifan. tapi tidak serta merta mewakili desa. tetapi baru sebatas pada elit-elit desa Tanggapan Widyohari Anggaran Pilkades masuk APBN dan turun melalui APBD. Ibnu Itu bukan wakil pemerintah desa.• Trauma pengalaman berdemokrasi yang tidak memihak kepada kebutuhan masyarakat. sehingga netralitas calon kades. ini sebetulnya ada gejala yang sudah muncul dengan paguyuban-paguyuban pamong desa. Kabupaten membuat perda ada yang merepresentasi desa. karena demokrasi itu menghendaki prosedural. government for the people. saat pusat membuat UU maka disana sudah ada DPD yang mewakili daerah. Bahwa DPD itu tidak cukup mewakili masyarakat. Mekanisme di pusat sudah ada. selama ini yang mengatur pusat dan kabupaten. sinergi ini yang perlu dirumuskan dengan baik. Contoh di Jepara. untuk menghilangkan jago itu membiayai sendiri. yang penting mendesak pemerintah di atas desa untuk menjamin nilai-nilai lokal. Problem demokrasi selanjutnya adalah dalam melaksanakan tugasnya dengan tata cara yang demokratis. bagaimana kita membuat regulasi desa dengan memangkas itu? Bapak Format kelembagaan itu. Biaya pilkades itu kecil. sehingga demokrasinya bisa berjalan. mekanisme demokrasi seperti apa untuk jalan keluar. Datu Pertanyaan masih ada yaitu desa masa depan itu seperti apa? Ibnu Demokrasi yang paling cocok tentang pengaturan desa di Indonesia. Tadi Pak Ibnu lebih menekankan soal perwakilan desa di DPR. karena kabupaten yang mengatur desa tidak ada representasi desa mewakili desa saat membuat perda. yang jadi mahal itu money politic. apakah tidak kita pikirkan semacam Dewan Perwakilan Desa yang mewakili desa untuk membuat perda? Masalah dengan Syamsudin Haris yang dipreteli. problemnya adalah masyarakat desa yang selalu terus menerus menjadi marginal yang ditinggalkan kepala desanya yang menjadi kepanjangan tangan pemerintah di atasnya. Kalau akan ada dewan perwakilan desa justru konsolidasi kepala desa berhadapan dengan kepala desa di tingkat bawah. mekanismenya terserah. yang saya usulkan itu DPD. Bapak Apa yang digambarkan Pak Ibnu seolah-olah desa itu menjadi satu kesatuan dengan kepala desanya. Marhaban Waktu kita merumuskan demokrasi kita kembali ke sejarah demokrasi itu. tapi itu pembaruan tatanegara karena dibentuk BPD yang melaksanakan fungsi legislasi. menghendaki lembaga-lembaga yang kompetansi di situ. Menormakan ini tidak bisa seragam. bagaimana APBD itu membiayai juga. tapi ad hoc saja. BPD sinergis. bagaimana lembaga di desa.

keluarga. Harus ada kemudahan-kemudahan demokrasi di tingkat masyarakat. soal check and balance itu tidak kita khawatirkan. demokrasi harus dimulai dari yang terendah. pelaksanaan dan pelestarian dari ADD harus partisipatif.00 – 15.kabupaten/kota. 4 Juli 2006 Pukul : 14. Presentasi Kelompok: ADD (ALokasi Dana Desa) Disampaikan oleh: Dahlia • • • • Sebagian besar kabupaten enggan (keberatan) melaksanakan kebijakan ADD Akses masyarakat untuk mengetahui informasi PP dan ADD sangat terbatas Masyarakat desa belum jelas dengan sumber-sumber pendapatan desa Ada 3 faktor penghambat pelaksanaan ADD yaitu: − Kapasitas potensial desa yang belum siap − Keterbatasan APBD (PAD) − Masalah politis yaitu tarik ulur kepentingan politik di daerah Ada pengalaman desa yang sudah menyiapkan kelembagaan (sistem) dan bisa berjalan dengan baik Terlalu kakunya pengelolaan ADD oleh kabupaten Pengelolaan ADD semestinya mutlak oleh desa.15 Moderator : Sumarjono 3. Hari/Tanggal : Selasa. Self Governing Community itu dikaitkan dengan demokrasi bagus sekali. Di desa itu ada deliberatif demokrasi. kalau kulturnya sudah bagus dan mandiri maka itu bisa dikendalikan. melibatkan seluruh elemen masyarakat Informasi penggunaan dana harus transparan (diumumkan kepada publik) dan ada mekanisme pertanggungjawaban pada publik (Pengalaman Ngada): tidak semua desa diberikan ADD. karena ADD adalah dana perimbangan Perlu pedoman umum dari pemda. contoh kepala desa minta untuk ikut jadi pengurus partai politik dan negara menolak dengan tegas. diatur oleh Perda Semestinya ADD tidak identik bagi hasil. tetapi aturan teknis dilakukan desa Mengkaitkan antara ADD dengan penguatan kapasitas kelembagaan desa Tidak perlu ada pembatasan yang rigit dalam kelola ADD. tetapi harus ada ramburambu umum yang prinsip Proses perencanaan. Kalau Dewan Perwakilan Desa itu saya dukung. tetapi perlu memperhatikan konteks daerah dan desa Perlu intervensi positif (kebijakan) oleh pemerintah pusat Perlu membangun kesadaran kritis atas kelola uang berbasis loan and project • • • • • • • • • • • • • • • • • Menggagas Desa Masa Depan 84 . Penguatan kelembagaan. sesuai dengan kebutuhan dan kriteria yang jelas terutama pemetaan bagi desa yang diprioritaskan mendapatkan ADD Perbedaan persepsi antar sektor di level kabupaten atas ADD ADD hendaknya diintegrasikan dengan APBDes (RPJMDes) Problem-problem dari PP perlu ditindaklanjuti dengan Perda Manipulasi atas ADD akan membunuh partisipasi desa Perlu memetakan best practice untuk menjadi referensi dan replikasi. itu budaya demokrasi kuno yang disebut open deliberation. masyarakat berkumpul untuk memutuskan berbagai hal. masyarakat. Kita harus tempatkan demokrasi good and clear governance di tingkat II karena di situ ada konstituen political. karena dalam institusi demokrasi itu adalah membangun komunitas politik tetapi non praktis. kalau masyarakat tidak demokratis itu akan menjadi fasisme.

Moderator Untuk selanjutnya saya persilahkan kelompok tata hubungan desa dengan supra desa. dalam kebijakan ADD Perlu ada penguatan kapasitas aparat dan kelembagaan serta elemen-elemen masyarakat desa dengan pendekatan partisipatif Perlu ada intervensi dari pusat tentang batasan alokasi yang akan diberikan ke desa supaya dana yang dikucurkan ke desa mencukupi untuk pembangunan di desa Perlu ada komitmen yang lebih besar lagi di tingkat nasional. Presentasi Kelompok: TATA HUBUNGAN DESA DENGAN SUPRA DESA Disampaikan oleh: Nurwafi Diskusi kita adalah hubungan antara desa dengan supra desa dalam NKRI. Benang Merah pemikiran yg perlu dipresentasikan dlm pleno: • Kedudukan desa dalam konstitusi dan derivasinya. melakukan kritik dan usulan-usulan agar ADD dapat dilakanakan dengan baik. yang kami sampaikan ini hanya pokok-pokoknya saja. Dahlia Kalau desa tidak inheren dalam kabupaten maka tidak bisa mendapatkan ADD. artinya desa tidak lagi inheren dalam kabupaten. kalau desa diatur sendiri maka tidak boleh diatur dalam perimbangan kabupaten. delegasi dan wewenang tanpa resources itu adalah omong kosong. karena ADD itu 10% dari dana kabupaten. maka 80% langsung ke masyarakat. Menggagas Desa Masa Depan 85 . ini konsekuensi pilihan yang kita lakukan. Saya persilahkan tanggapannya. Marhaban Kita di PMD. Pak Ibnu melihat makro dari hukum tata Negara. wacana ini muncul dalam kerangka pemberdayaan. Perlu ada audit independen (dipilih masyarakat) dari stakeholders Moderator Kelompok diskusi ADD telah membuat kesimpulan-kesimpulan terkait dengan pelaksanaan ADD yang belum seluruh kabupaten/kota melaksankan ADD. Dengan demikian ADD menjadi problem. • Bentuk otonomi dan kewenangan desa mencakup hubungan desa dengan supra desa • Bentuk organisasi pemerintahan desa berkaitan dengan SDM. Ini memang berbenturan dengan tata negara. Ketentuan 10% dari APBD tidak cukup. ini memang strategi pemberdayaan. bagi saya kalau sudah tidak inheren maka PP itu akan gugur. 4. Menurut World Bank agar uang tidak nyangkut di elit. karena desa itu sudah di bawah negara. mulai kemarin rumusannya desa diatur dengan UU tersendiri.• • • • • Perlu pendidikan bagi masyarakat untuk advokasi pada level kabupaten. Ini memang dalam perspektif yang mikro. Tanggapan Ibnu Kita ini menggagas desa masa depan. kalau kita ambil 10% itu hanya acuan tetapi APBN yang membiayai.

Bahkan. Hal ini berkaitan dengan desa otonom dan desa adat. pilihan. Ini harus diperjelas dulu landasan akademik kita apa? Di dalam inter government relation. Saya kira pasal ini pasal yang tidak dirubah. Moderator Desa menjadi obyek supra desa. Deskripsi singkat : 6. delegatif dan kewenangan lain-lain. jelas ada 3 model yaitu: 1) inklusif otorelation. fasilitasi. Separated itu maksudnya adalah ada pembedaan yang tegas antara kabupaten.• Konsistensi implementasi dari policy. Untuk kelompok ini harus clear model mana yang akan diadopsi. Tanggapan Tumpak Kalau bicara hubungan desa dengan supra desa maka akan terkait dengan kewenangan. walaupun secara yuridis formal belum nampak. air dan udara dikuasai negara dan digunakan sebesarbesarnya untuk kemakmuran rakyat. sangat penting pula desa diberikan legal standing dan kemampuan menjalankan class action dalam judicial process. Yang inklusif itu ada hubungan antar desa yang harus melaksanakan. capacity building yang menyangkut desa. yang terjadi adalah dengan otonomi selama ini SDA sudah cepat habis. Perlu ada ruang yang jelas bagi desa dalam kewenangan perijinan. 7. tanah. tetapi untuk hubungan desa dengan supra desa ini harus tegas. Kasmuin Pasal 33 UUD 45. namun sudah ada kebijakan pemerintah yang mengarah ke kepedulian terhadap desa. Yang harus kita pertegas adalah otonomi yang berpihak masyarakat desa dan ada jaminan untuk digunakan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. 10. Diperlukan adanya konsistensi pemerintah pusat dan daerah dalam praktek pelaksanaan setiap kebijakan. Saya justru berpikir optimis akan memberikan kemakmuran. saya tidak bisa membayangkan otonomi itu diberikan di desa tanpa ada pemberdayaan di desa. di UU 32/2004 itu diatur urusan wajib. Bentuk organisasi desa perlu disesuaikan dengan karakteristik dan tipologi desa. fasilitasi. 9. Bumi. karena dulu tidak pernah melibatkan desa maka akan terjadi kehancuran-kehancuran itu. provinsi. Menggagas Desa Masa Depan 86 . 2) separated. Moderator Silahkan untuk dijawab Wafi Logika berpikirnya di balik. dimana desa tidak boleh mengklaim bahwa ini kewenangannya. Di UU ada kewenangan atributif. capacity building menyangkut desa. Justru dengan otonomi desa. pusat sampai dengan aturan main keuangannya. Pengaturan relasi antara desa dengan supra desa tetap harus mengacu pada dasar konstitusi dan derivasinya. kenapa justru ada eksploitasi. semua level harus bertanggung jawab untuk mengatasi itu. Untuk kelompok lain silahkan tanggapannya. 8. setiap eksploitasi akan melibatkan masyarakat desa. Tipologi desa perlu dicermati dalam mendesain pengaturan mengenai kedudukan desa dalam negara. koncuren. dan 3) overlap. Ketiga overlap. Ada pendapat yang melihat pasal 18A UUD 45 (konstitusi) sebenarnya menjadi dasar untuk mendesain desa otonom dan 18B sebagai basis pengaturan bagi desa adat.

2. karena pengawasan ikut mengarahkan. Negara-negara old model (Jerman. di UU 32/2004 itu urusan. Negara-negara baru (Amerika Serikat. Newe Zealand) meletakkan otonomi level di urus di tingkat state (politik). Hubungan wewenang yang diatur pasal 18 a itu. sehingga terbit banyak SE yang mengatur daerah.Ibnu Masalah urusan dan wewenang. kita harus kita pisahkan kontrol dan pengawasan. Dalam pasal 18 residual teori yang dipakai tetapi yang dipakai urusan. apakah dalam bentuk semacam Rural Banking sustainable Usulan diberi nama BUMDes • Perlu manajemen yang profesional • BUMDES perlu pengakuan dengan payung hukum • Kegiatan mikro finance selama ini yang berkembang di pedesaan adalah usaha simpan pinjam Menggagas Desa Masa Depan 87 . kalau sudah diberikan urusan maka berhak atas wewenang. Perancis) urusan politik dibawa sedekat mungkin dengan rakyat. kalau pengawasan maka ikut mengarahkan. Saya tidak mengerti Pak Ryaas belajar di Amerika tahu persis otonomi itu. Australia. Presentasi Kelompok: MIKRO KREDIT DAN BUMDES Disampaikan oleh: Adnan Sumber hukum PP 72/2005 Pasal 78 s/d 201 • Mikro kredit berkait dengan produksi. teknologi. ada pemisahan yang tegas karena ada pendekatan akuntabilitas. kayaknya ini lebih dekat dengan delegatoris. tetapi juga persoalan politik. Berkaitan dengan pasal 33 ayat 2 negara sebagai pelaku. ini yang menjadi tali sentralistik. itu yang berkaitan dengan yang strategis. yang dipakai dalam pasal 18 ayat 5 itu hanya urusan. UU 22/99 wewenang. selanjutnya dari wakil kelompok BUMDes. otonomi ini yang diambil berdasarkan persoalan politik. kalau saya melihat lebih ke politik. Moderator Dari awal memang ada cara pandang yang berbeda antara ketentuan hukum dengan nilainilai filosofis hukum yang akan diberlakukan di Indonesia. Kalau kita baca otonomi daerah dan desentralisasi ada 2 cara : 1. UU 5/74 itu wewenang. maka perlu modal. dan efisiensi. Kita harus jelas apakah kontrol atau pengawasan. karena di Australia ada banyak UU otonomi daerah. 5. Kalau kontrol itu hanya melakukan uji. Skandinavia. Marhaban Otonomi bukan hanya persoalan hukum. padahal kalau residual teori itu wewenang. supra desa itu seperti apa? Apakah dia supervisi. Pasal 1 negara memberi pengaturan. Saya kira disana ada politik. apalagi mau kita bawa ke desa. ini pada akhirnya digunakan untuk kemakmuran rakyat. oleh karena itu terbit UU sektoral. fasilitator. Saya pilih ke istilah kontrol. nampaknya yang diberikan itu urusan. • Untuk pengelolaan modal maka perlu Lembaga Mikro Kridit • Lembaga Mikro Kredit seperti apa yang ada desa ? Lembaga Keuangan Desa perlu ada kerangka kerja yang baik. dan pemasaran. Oleh karena itu gagasan apa yang akan kita sampaikan. pada tingkat lokal itu begitu mahal demokrasi kita. Moderator Tampaknya sudah cukup waktu. eksternalitas.

Tetapi dasar ini belum bisa akses ke lembaga perbankan. • Bagaimana dengan kepemilikan BUMDes (Masyarakat dan harus dihindari kepentingan dan kooptasi elit desa • Jenis usaha dan model BUMDes harus memberi ruang dan bertumpu pada inisiatif dan kearifan lokal Problem • Tidak ada fasilitasi sistemik untuk pengembangan usaha kecil di desa • Tidak ada perlindungan pasar untuk pelaku usaha kecil • Belum ada payung hukum yang jelas untuk LKM. oleh karena itu disarankan untuk berbadan hukum/diaktekan.Pengalaman Layanan Keuangan di Masyarakat Jenis layanan kredit di Desa • Program kredit dari PPK. • Kebijakan antar sektor belum saling mendukung untuk pengembangan ekonomi desa • Lebih dari 60% ekonomi desa dikuasai oleh kelompok elit dan pemilik modal besar. • Perlu ada afirmative action dalam pengembangan ekonomi di desa. • Untuk mengatasi monopoli elit dalam BUMDes maka bentuk hukum yang diusulkan koperasi yang berorientasi pada ekonomi kerakyatan. • Ada alokasi modal dari APBD untuk pengembangan BUMDes. dll) untuk menghindari pertarungan dengan pemodal dan elit desa. Pengalaman Kabupaten Sumedang: Yang dimasukkan ke dalam BUMDes: • Alokasi anggaran simpan pinjam • Unit usaha simpan pinjam menjadi bagian BUMDes • Lumbung Desa • Kegiatan penarikan rekening listrik • Penyewaan hand traktor • Unit toko untuk pelayanan masyarakat (berbagai produk dan jasa) • Warung nasi dsb. tetapi dinas lain terkait harus melakukan hal tersebut. Menggagas Desa Masa Depan 88 . Tawaran tentang Pengembangan Ekonomi Desa (BUMDes dan LKM) • BUMDes dan LKM harus menjadi upaya pengembangan ekonomi lokal dan pengentasan kemiskinan. Perempuan terbukti sebagai pelaku ekonomi yang tanggung dan mayoritas di desa. (kebijakan ini tidak hanya dilakukan Depdagri/Ditjen PMD. Ditingkat desa BUMDes itu dibentuk berdasarkan Perdes. terbatas pada Bank dan Koperasi • Rendahnya akses modal bagi masyarakat miskin dan perempuan • Ada pandangan masyarakat kalau uang dari pemerintah tidak perlu dikembalikan – sehingga banyak kredit program macet. • BUMDes dibentuk berdasarkan aktivitas ekonomi yang telah ada di tingkat lokal dan untuk melindungi ekonomi lokal. nelayan. juga bukan instrumen kapital besar yang mengancam ekonomi pedesaan. • BUMDes harus memberikan perhatian pada masalah perempuan • Pembentukan BUMDes bukan penyeragaman dan pemaksaan (pengalaman KUD). P4K • Simpan pinjam desa • Lumbung desa • Koperasi desa Perempuan terbukti sebagai nasabah yang baik dalam kredit dan penerima program yang efektif. untuk rakyat (petani.

• LKM bukan menjadi perpanjangan tangan usaha kapital besar maupun intermediasi dari bank komersial yang ada. sehingga kalau kita membuat BUMDes harus dihindari yang menyangkut LKM dan koperasi. • Dalam LKM harus diikuti dengan pendampingan. kalau kita bandingkan dengan BUMD itu bentuknya perusahaan daerah. tenaga dan pikiran. panjang sekali prosesnya. Pemda sudah membuat tim pembina BUMDes. Ada kejelasan tentang kewenangan desa dalam pengelolaan sumberdaya ekonomi. Tanggapan Maryunani Berbagi pengalaman. dana itu bila didistribusikan setelah eksekutif bertemu dengan legislatif. Dalam pengelolaan itu bagaimana rakyat desa itu komit. untuk tingkat desa apa? Di PP 72/2005 ditetapkan perdes. Rakyat harus menjadi subyek dalam kegiatan BUMDes (mengedepankan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat dalam rangka kedaulatan ekonomi rakyat). perda mengacu UU. karena di PP 72/2005 itu akan dikelola pemerintah desa. sehingga perlu pembinaan. karena semua akan menjadi bemper ekonomi desa. • Ada mekanisme dan skema kredit yang sesuai dengan kondisi masyarakat (belajar dari pengelaman “bank plecit” ). Menggagas Desa Masa Depan 89 . Kita harus tegas mengatur ini. sebagai komisaris. BUMDes itu akan dibiayai APBD. Perlu ada kejelasan dan dibangun sinergi kebijakan antar sektor dalam pengembangan ekonomi desa (BUMDes). Ini ada yang menarik dari Pak Maryunani dan Stefan.• • • • • • Jenis usaha harus memberi ruang dan bertumpu pada inisiatif dan kearifan lokal. perdes mengacu perda. Perlu ada kejelasan tatalaksana dan manajemen profesional. Ada affirmative action dalam layanan usaha BUMDes kepada perempuan. pemerintah Jawa Timur sudah menunjukkan good will. Sebenarnya tidak ada perintah di PP untuk membuat pedum. • Ada jaminan/afalis untuk PUK yang mengalami kesulitan dalam akses modal (baik dari pemerintah-lembaga lain). supaya tidak gamang dalam mengatur itu. mau memberikan waktu. • Ada mekanisme monitoring dan evaluasi dalam pengelolaan LKM. • Perlu dibangun pola dasar dan skema yang memungkinkan akses masyarakat miskin dan perempuan mendapatkan layanan secara mudah. Moderator Langsung saja dari kelompok lain yang akan menanggapi atau memberi masukkan.nelayan. Di tingkat II. termasuk monitoring dan pengawasan. siapa yang akan mengontrol BUMDes. Pengawasan. rakyat miskin (petani. • Ada kejelasan bentuk hukum untuk melindungi dana rakyat yang disimpan. agar tidak bertabarakan dengan UU lain maka harus di luar LKM dan koperasi. dll). kita tidak yakin kalau di APBD nya tidak ada. Ini agak rumit membagi payung hukum untuk BUMDes. agar perda itu baik dan benar. fasilitasi pengembangan produksi dan pasar sebagai satu sistem pengelolaan. Tumpak PMD sudah mencoba payung hukum untuk BUMDes ini. LKM (Lembaga Keuangan Mikro) • Keberadaan LKM tidak lepas dari upaya menyediakan layanan modal bagi pelaku ekonomi untuk pengembangan usaha. ini ada UU yang mengatur LKM dan koperasi.

Kalau kita menganut badan hukum koperasi. dan itu diputuskan dengan keputusan desa. itu milik bersama dan hasilnya akan dibagi bersama dalam anggotanya. Lebih fundamental lagi. Di daerah kami ada pasar desa yang besar tetapi tidak memberikan kontribusi kepada desa. bukan soal ADDnya tetapi bagaimana kita mengelola ADD itu. seperti ADD. Desa senantiasa menjadi ajang tempur untuk mencari keadilan dalam kehidupan negara kita masih panjang. lebih banyak ke perangkat desanya. Pengalaman di Sumedang dengan perdes mereka tidak cukup melakukan akses bisnis. Menggagas Desa Masa Depan 90 . bukan khusus untuk BUMDes.Yuni Sengaja kita tidak mengusulkan satu jenis badan hukum. Yang awalnya untuk meningkatkan pendapatan desa. Payung hukum yang ada adalah yang umum. Jadi tergantung pilihan masyarakat disitu maunya seperti apa. ke bank misalnya. BUMDes yang lemah payung hukumnya. maka tidak bisa ke sana nanti. keahliannya apa dan mengacu UU yang sudah ada. Moderator Diskusi ini kita akhiri. ini akan menjadi ladang baru bagi percepatan proses korupsi di desa. menggagas desa masa depan. Kasmuin Membandingkan gagasan itu. Sehingga pedoman seperti Pak Tumpak itu benar. saya cenderung untuk merumuskan badan hukum tersendiri dalam BUMDes. PR menghadang kita sesuai dengan profesi kita masing-masing dalam upaya kita untuk membela desa.