VIII.

DISKUSI KELOMPOK TERFOKUS

8.1. Diskusi Kelompok
Hari/Tanggal : Senin, 3 Juli 2006 Pukul : 13.30 – 15.30

1. Kelompok: OTONOMI DAN KEWENANGAN DESA
Fasilitator Peserta : 1. Arie Sujito 2. Bambang Hudayana : M. Barori-STPMD “APMD”, Alit-Majelis Madya Gianyar, MaryunaniFE Unibraw, Steny-HUMA, Sulikanti-Bappenas, Yusuf-SAINS, Lubis-YIPD, Suharman-PSPK UGM, Kamardi-Perekat Ombara, Franky-AMAN, Ibnu-FH Unibraw, Toto-BPMKS Sumedang, AzamPemdes Kebumen, Sofyan-Akatiga, Matt Stephan-World Bank, Vitristaf DPD, Kasmuin-CePAD, Adri Warsena-FPPD.

Fasilitator Sesi ini kita akan mengeksplorasi pemikiran menjadi lebih dalam, set up diskusi kelompok ini diharapkan akan muncul pemikiran-pemikiran, ide-ide tentang otonomi dan kewenangan desa itu seperti apa? Pilihan-pilihan yang visible. Tadi sudah banyak disampaikan Pak Toro dan Simatupang telah mengesplorasi banyak hal pilihan-pilihan berangkat dari peta normatif maupun empiris hubungan antara pusat, provinsi, kabupaten dan desa. Secara prinsip kita punya kebutuhan melalui otonomi dan desentralisasi, maka ini lebih memungkinkan terjadinya demokrasi. Pak Simatupang juga bicara banyak secara sangat normatif dan reduktif. Pak Toro tadi mengungkap beberapa pilihan seperti local self goverment, itu bagian terpenting dari otonomi dan demokrasi. Kita bisa belajar dari review, tapi yang lebih penting itu adalah penataan dan kelembagaannya ke depan seperti apa? Barori Ada pandangan tentang pemberdayaan masyarakat desa itu dibingkai dalam desentralisasi, kita pahami dulu konteks desentralisasi. Ada 3 domain dengan asumsi desa adalah sebagai wilayah pemerintahan yang di dalamnya ada pemerintahan dan pembangunan, domain ini yang perlu kita sepakati dengan bingkai itulah pemerintahan desa diberi kewenangan untuk melaksanakan pembangunan dan pemerintahannya, sehingga pemerintahan yang desentalistik dan pembangunan yang desentralistik menjadi prasyarat pemberdayaan masyarakat desa. Pemberdayaan masyarakat desa itu mencakup 3 hal yaitu: 1) pemerintahan yang desentralistik, 2) pembangunan yang desentralistik, dan 3) desentralistik fiscal. Secara normatif hal ini sudah kita temukan dalam UU 32/2004 maupun di PP 72/205, persoalannya kita memantapkan itu, apa yang menjadi kewenangan desa. Masyarakat desa akan berdaya kalau ada kewenangan yang melikupi dirinya, yang harus kita kedepankan adalah sebuah ketentuan bahwa level pemerintahan kita harus mempunyai otonomi pemerintahan sendiri-sendiri. Oleh karena itu kewenangan desa harus kita sepakati dan pahami bersama dan secara normatif UU dan PP sudah mendorong ke sana. Sejauh mana kewenangan itu bisa dijadikan posisi baru desa dalam melaksanakan pemerintahan dan pembangunan? Desentralisasi harus diikuti dengan otonomi desa yang nilainya sama dengan otonomi di tingkat kabupaten, provinsi
Menggagas Desa Masa Depan

46

maupun pusat. Otonomi dimaknai juga dengan kewenangan desa dalam mengelola pemerintahan dan pembangunan. Perangkat untuk disana sudah kita punyai, pembangunan yang desentralistik, perencanaan pembangunan yang berhenti di tingkat desa. Fasilitator Otonomi desa diletakkan dalam 3 hal: pemerintahan, kewenangan dan keuangan desa. Memahami otonomi dengan diletakkan hubungan antara desa, kabupaten, provinsi dan pusat. Tadi di diskusi ada hal penting, meskipun belum dilihat spesifik. Alit Anggap contoh bangunan, dasarnya kuat, perlu porsi yang jelas menyangkut kewenangan desa. Di UU 32/2004 pasal 200 itu sudah, menyangkut kewenangan desa pasal 206 perlu dirujuk ke tingkat kabupaten. Rujukan ini ditindaklanjuti di tingkat kabupaten sampai ke tingkat desa, sehingga posisinya jelas, mana hak-hak desa. Sebab kita tahu, desa kita karakternya berbeda-beda, apa yang sudah ada kita kembangkan, rujukannya berdasarkan UU yang sudah ada, bagaimana kejelasan porsinya. Tentang keuangan, pendapatan asli desa, perlu diperjelas, mana saja yang boleh sehingga desa itu bisa diberdayakan sesuai dengan semangat otonomi. Fasilitator Maksud Pak Alit, itu perlu dirinci lagi dalam Perda. Maryunani Otonomi dan kewenangan, saya ingin menambahkan satu muatan bahwa otonomi itu adalah sebuah sistem yang hirarki vertikal dan horizontal. Kalau bicara otonomi desa bisa kita tangkap hirarkhi horisontalnya, bahwa desentralisasi fiskal perlu diikuti dengan kewenangan, desentralisasi fiskal yang di PP 72/2005 ada 3 komponen besar, bagaimana desa mampu dalam pendanaan dalam pembangunannya, kemudian diikuti desa itu mampu mengelola sendiri dana dan pembangunannya, dan diarahkan ke kegiatan ekonomi produktif, maka kemandirian itu ada disitu. Persoalannya, apa betul desa desentralisasi itu ada? Pengalaman di kabupaten/kota di Jawa Timur, desentralisasi yang ada ini desentralisasi yang sentralistik, dimana posisi desa itu memiliki bargaining position dengan kabupaten atau sebaliknya sejauh mana kabupaten ini memberikan good will-nya, sehingga sinergitas keduanya ini belum ada. Persoalan bukan pada normatifnya tetapi pada good will kabupaten. Sejauh mana regulasi ini diikuti good will agar sampai ke desa? Stenly Soal tawaran dari Mas Toro, dari pilihan itu mesti dipilah lagi ke level yang lebih konkret, dengan memilih salah satu atau meramu ke tiga hal itu apa saja kewenangannya yang akan menjadi turunannya. Kita tidak bisa bicara kewenangan secara konkrit kalau tidak memilih dari 3 model itu, atau mengacu ke UU yang ada. Kalau mengacu ke UU, pertanyaannya adalah apakah sudah cukup, kalau tidak cukup dengan model itu apa yang akan kita pilih? Melihat perkembangan politik mungkin hanya model local self government yang konkrit, model seperti ini khan tergantung masing-masing daerah, kalau mau milih 3 hal itu dipecah dan turunan-turunan dari model itu. Usul saya, yang masyarakat adat maka akan self governing community. Sulikanti Regulasi ini masih baru, saya tidak yakin itu sudah dilaksanakan pemerintah daerah. Daripada kita mengganti yang ada, kita laksanakan itu dahulu, kadang kita bagus di konsep, pelaksanaannya amburadul. Bentuk apa saja ke depan, lebih baik kita identifikasi dari pelaksanaannya yang maju yang mana? Apakah self governing community, yang jadi
Menggagas Desa Masa Depan

47

pertanyaanya masuk tidak kita ke masyarakat adat. Kita tidak mudah menentukan 3 itu, kita perlu merenung posisi dimana, sehingga bisa melihat/ambil yang mana? Semakin banyak aturan semakin tidak benar, biarkan mereka mengatur sendiri. Fasilitator Yang perlu kita bahas adalah mana yang perlu diatur dan mana yang tidak. Pak Hans tadi mengatakan, kalau negara tidak beres bukan berarti negara tidak dibutuhkan. Kalau kita setir sedikit dari Pak Sutoro dari 3 model, kalau local state government itu pernah dijalankan masa orde baru. Persoalannya desa itu akan dispesifikasikan dengan UU sendiri atau tidak, tetapi memastikan ada pengakuan negara atas desa. Perlu diidentifikasi otonominya seperti apa? Kelembagaanya seperti apa, lalu solusinya seperti apa? Yusuf Bagaimana self goverment community itu bisa menghadapai tantangan pluralitas? Fasilitator Pertanyaan ini penting ketika Pak Syamsudin Haris mengatakan ada tuntutan untuk tidak menyeragamkan. Lubis Bicara otonomi dan kewenangan desa ada 2 hal: 1. Kewenangan yang diberikan kepada desa, belum benar-benar kepada desa, sehingga kita tidak optimal dalam pemberdayaan desa. Sudah saatnya memberikan kewenangan perijinan kepada masyarakat bukan hanya KTP saja tetapi juga seperti pemungut retribusi, penanganan retribusi sampah, warungwarung kecil, sehingga desa dapat diberdayakan, mendapat income untuk memberdayakan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan desa. 2. Jangan sampai kewenangan yang diberikan itu tidak ada kontrol, karena akan menghambat investasi di daerah, jangan sampai kebablasan memungut retribusi yang tidak mendukung investasi. Suharman Berhubungan dengan fiskal, otonomi dan kewenangan untuk mengelola sumbersumbernya perlu dipahami: 1. Otonomi dan kewenangan itu bukan di ruang hampa, tarik menarik dengan pasar. Banyak bondo desa berubah menjadi ruko, bondo desa yang telah menjadi uang mudah sekali menjadi elitis sifatnya, misalnya untuk membiayai pamong desa. Di Kampung Naga masyarakat menolak menjadi obyek wisata tetapi tidak memperoleh hasil serupiahpun dari kegiatan wisata itu. 2. Tidak sterilnya faktor politik di bawah. Contohnya, Bupati menganggarkan dana APBD dan disalurkan ke desa pendukungnya. Pasar dan politik menjadi eksternal environment yang harus diperhatikan dari otonomi dan kewenangan desa. Kita tidak perlu pesimis, dengan regulasi kita bisa menata/mengukur eksternal environment. 3. Persoalan kontrol dan elitis, otonomi dan kewenangan desa, kontrol itu bagaimana mekanismenya? Format itu perlu dikedepankan. Kamardi Kita sudah membahas konsep ideal tentang desa, paling tidak ada 3 hal untuk didesakkan yaitu : 1. Akses pengelolaan sumber daya masyarakat adat di desa, di UU 22/99 dan UU 32/2004 SDA yang dikelola kabupaten tidak boleh dikelola desa sebaliknya yang dikelola desa tidak boleh dikelola kabupaten, faktanya tidak demikian. Pergeseran seperti itu juga APBDes, perda perlu mengakui adat di desa. Hambatan lain itu di daerah, pusat dan daerah tidak sinkron, mereka saling lempar tanggung jawab.
Menggagas Desa Masa Depan

48

2. Hak konservasi, termasuk tata nilai, adat itu sepotong dipahami di desa. Normanorma itu kalau bisa diadopsi di desa untuk membuat sistem hukum adapt, dan perda perlu mengakui itu. Saya mendukung perlu adanya pendetailan UU ke dalam perda. 3. Kewenangan ini ketika di desa, harus dipertegas pemerintahan itu lebih ke administrasi, tetapi pengaturan tata nilai, sistem, roh kehidupan di desa jangan diintervensi, jangan dicampur aduk. 4. Untuk PP 72/2005 pasal 68, desa paling sedikit mendapat 10% dari retribusi, ayat C desa mendapat 10% dari DAU, ini yang disebut ADD. Ketika ADD turun maka yang bagian dari retribusi tidak diberikan. Franky Bicara kewenangan, akses SDA, saya merasa tidak bijaksana kalau tidak kita undang departemen lain, misalnya kehutanan, perkebunan, tambang dll, karena regulasi itu banyak benturan. Ibnu Kita tidak diskusi membagi kewenangan per sektoral, yang perlu kita rumuskan bagaimana memberi/membagi kewenangan. Kita tidak mungkin per sektoral, itu pun per daerah berbeda-beda. Konstitusi sudah memberikan kewenangan, pasal 18 ayat 5 amandmen UUD, sayangnya konstitusi tidak mengatur desa. Dari rumusan, pusat itu ada 5, namun ada urusan wajib daerah yang menyangkut kesejahteraan rakyat, misalnya ketenagakerjaan, pendidikan dll. Kalau di luar itu maka bisa dilakukan daerah maupun kabupaten. Dari UU 22/99 keluar PP 25 yang membagi per sektor, yang tidak diatur di PP 25 maka kewenangan kabupaten. Problemnya bagaimana mengatur kewenangan desa yang tidak ada di konstitusi. Kewenangan desa itu ada yang asli, dan ada yang dari kabupaten, yang dianut ini tidak konsisten dengan UUD. Kalau desa kewenangannya diatur kabupaten, sedangkan kewenangan kabupaten sepanjang tidak diatur pusat. Sekarang kita mau pakai, apakah kabupaten mengatur seperti pusat mengatur kabupaten atau kabupaten minta kepada desa, formula apa yang akan kita pakai? apakah model konstitusi atau desa melist dulu, ini tidak bisa diseragamkkan, ini hanya bisa buat kriteria. Problemnya ada sektor pendidikan, kesehatan, ini bisa dirinci. Yang dimaksud kewenangan itu adalah menjalankan sebagian kewenangan pemerintahan. Pembagian selama ini tidak pernah dilakukan dengan baik, semuanya remang-remang. Formula apa yang akan kita pakai untuk kita berikan desa? Kalau menurut konstitusi maka daerah membuat perda tentang kewenangan. Sebenarnya kewenangan itu tergantung model otonomi seperti apa yang kita anut. Toto Barangkali sudah kita kenal namanya desa itu tumbuh dari adat istiadat, asal usul, prinsip ini yang harus kita pegang, kemudian timbul dan tumbuh dari bawah, idealnya menggali dari bawah. Contohnya, kita mengenal tanah adat dan tanah sertifikat, yang punya kewenangan tanah adat adalah desa, jadi menggalinya dari bawah, kita tinggal membuat rambu untuk dilaksanakan kabupaten. Otonomi yang kita gali, kewenangannya sejauh mana desa itu mampu melaksanakan sendiri? Fasilitator Yang belum clear itu kewenangannya seperti apa? Itu tadi proses otonomi dan kewenangannya. Azam Pendapat itu sangat dipengaruhi lingkungan. Saya dari lingkungan birokrat, berkaitan masalah kewenangan, tanah bengkok desa yang berubah menjadi ruko. Itu menjadi kewenangan desa, desa boleh menjual dan mengalihkan. Kalau sampai bendo desa
Menggagas Desa Masa Depan

49

tidak perlu detail. ini perlu didorong dan didefinisikan. administrasi. desa dan pilkada. legislatif. kalau mereka tidak mampu maka jangan diberikan kewenangan. Franky Saya setuju. Ciri otonomi. hanya itu harus diberikan kriteria secara bertahap. kewenangan yang asli tidak perlu kita atur. Fasilitator Normatif regulasi sudah ada. namun ada problem-problem empiris. yang perlu diatur adalah kewenangan dari pemerintah. infrastruktur. Maka perlu ada penilian terhadap kabupaten. kemampuan perangkat. Apakah model konstitusi atau desa yang menentukan. saya setuju desa punya kewenangan. pertama harus memilih dulu model pemerintahan. di peraturan itu belum ada. aturan dibuat untuk dilanggar. Komentar Pak Ibnu. saya mengusulkan pertanggungjawaban kades. Desa bisa menyelesaikan peradilan desa yang informal. wewenang dan anggaran. masyarakat dikebiri oleh pejabat. karena yang dihadapi adalah SDM. kalau spirit tidak homogen maka kewenangan yang kita address kita ke sana seperti apa? Ide pak Ibnu menarik. Kewenangan itu sangat sulit dilaksanakan. pihak yang memakai bondo desa harus mengganti minimal sesuai dengan harganya.diambil oleh pemerintah tanpa ganti rugi maka itu sudah kebodohan desa. Oleh karena itu ada formula dan tahapan yang harus dilaksanakan. Dari RUU harus jelas pemerintahannya. Kita pernah menantang IMB. misalnya di Minangkabau sudah ada surat edaran untuk peradilan tinggi untuk peradilan negeri di Minangkabau agar mengacu ke peradilan desa. Peradilan komunitas itu bisa di dalamnya peradilan adat. peradilan desa itu sudah ada preseden. Dari struktur pemerintahnya juga sangat kurang. karena otonomi itu mengatur dan mengurus. kita berangkat dari mana? Konstitusi tidak jelas mengatur tentang desa. penyelesaian konflik itu menjadi kewenangan di desa. lalu dia menjustifikasi bahwa di wilayahnya ada hutan Menggagas Desa Masa Depan 50 . Pertanyaannya adalah mempertimbangkan konteks daerah. Untuk bisa meletakkan wewenang desa. Benturan terjadi antara kabupaten dengan desa. walaupun itu bertentangan dengan hokum. kalau kita pilih self governing community. maka kita bisa melihat wewenang desa akan seperti apa. syaratnya dirubah. UU 32/2004 akan dibagi 3 yaitu pemerintahan daerah. Desa di Kebumen tidak punya tanah bengkok dan di Banyumas ada dan luas sehingga penghasilannya sangat banyak dan bisa mengatur pembangunan di desa. bagaimana kalau desa? Lalu kita akan training untuk IMB. sehingga hanya berhenti di tingkat kabupaten. jadi penting bicara kewenangan adalah kemampuan desa membuat peraturan tetapi desa juga punya otoritas untuk membuat keputusan. Mnurut saya. Matt Stephen Otoritas desa untuk menyelesaikan masalah. Vitri Indonesia terlalu banyak aturan. karena akan ada tarik menarik dengan kabupaten dan provinsi. unsur pemerintahan eksekutif. Sofyan Mekanisme kewenangan. namun perlu dipisah peradilan desa dan komunitas.sebaiknya tetap masuk ke pemerintahan daerah. Kita sudah membuat perda kewenangan desa. bagaimana interaksi dengan peradilan formal dan sebagai pengakuan kepada masyarakat untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. tapi belum dilaksanakan. kepala desa ini harusnya standar minimal SMA. kades dipilih masyarakat tetapi tanggung jawab kepada bupati melalui camat. Untuk kasus yang kecil-kecil. yudikatif tidak jelas. anggaran desa itu seperti darimana saja. masyarakat tidak dihargai. dia bisa membuat peraturan. Ibnu Yang perlu kita diskusikan itu mekanisme. pertanggungjawaban. Sudah ada perda tentang bondo desa. dukungan masyarakat.

Wafi–BPD. UU 32/2004. • Demokrasi. Widyohari–STPMD ”APMD”. namun departemen kehutanan bilang itu haknya departemen. hubungan sektoral berbenturan. ibu-ibu. 2. • Bahwa kesenjangan demokrasi pada aras desa berpengaruh pada kebijakan desa. tanahnya. Fasilitator Tadi muncul satu pendapat bahwa ini pengalaman praktis. akan terjadi pertarungan dengan negara. Kasus riel pertentangan RUU PA Aceh dengan Otsus Papua. SDA yang sudah diatur dalam UU sektoral. Kelompok: DEMOKRASI DESA Fasilitator Peserta : 1. Fasilitator Persoalan kewenangan tidak cukup tetapi juga kapasitas. Marhaban-PMD Depdagri. Wai. hubungan antar sektor. Susmanto–Letmindo/GTZ Aceh/ LGSP. Rahma–LIPI. Joana–World Bank. Kalau bicara kewenangan yang sudah ada sejak awal itupun harus diikuti pengembangan kapasitas dan pembinaan paradigma. sehingga terjadi benturan kelembagaan. IKPM bilang jelas bahwa itu kewenangannya Papua. Adnan–LP3ES. Syamsul Hadi–Bina Swagiri. Mengkaitkan apa yang disampaikan di depan. Haryo Habirono – FPPD : Ade–PPK. Irwan–Letmindo/GTZ Aceh. Menggagas Desa Masa Depan 51 . itu tidak akan selesai kalau tidak duduk dalam satu meja.adatnya. Agus R. Hans Antlov-LGSP. sisi yang lain normatifnya saja sangat sulit. Kasmuin Saya sepakat seperti tidak perlu ada penyeragaman. UU dalam ranah desa. apakah mungkin menjadi suatu pilihan yang cocok (bottom up)/ internalisasi nilai. Fasilitator Bapak-bapak. resolusinya apakah membentuk UU baru atau bagaimana? Kewenangan ini harus dipastikan. Terkait kewenangan harus dikembalikan ke konstitusi. dan itu menjadi pertarungan yang riel. • Implementasi Pancasila. Ade Regulasi perlu ada keharusan pelaksanaan UU PA. Widya-FPPM. Datuk–Asosiasi Nagari. kalau itu sudah dikaji maka kita butuh sistematika perundang-undangannya seperti apa? Setelah itu kita sebarkan ke seluruh daerah untuk mensikapi mana yang baik mana yang tidak. Dahlia–TTS SoE. ada beberapa yang hal perlu dicermati dalam diskusi kelompok kita sebagai berikut: • Transformasi UU 32/2004 berpengaruh pada sisi demokrasi desa. akhirnya dicabut kewenangannya. kalau perlu ada departemen khusus agraria. Yuni–Asppuk. Aturan sering bertubrukan. mana yang baik dan tidak baik. pembinaan dan pengawasan itu dalam konteks pelaksanaan otonomi daerah dan tanggung jawab pelaksanaan. Bapak kita mencoba mengelaborasi UU 16/69 tentang desa praja sampai dengan UU 32/2004.Lakpesdam. Riawan Tjandra – Atmajaya Yogyakarta 2. walaupun intinya ada pengembangan kapasitas itu menjadi perhatian khusus. termasuk kultur. Abu–Persepsi. pengaturannya bukan sektoral lagi.

Tetapi dengan demokrasi perwakilan yang ada sebelumya. Tidak setuju BPD akan mempreteli kekuatan desa seperti kata Syamsudin Haris tadi. kaitannya dengan psikologi demokrasi. sehingga tidak ada raja-raja kecil di desa. Jadi perlu ada ketegasan masyarakat dalam proses pembangunan. Basis kewenangan desa adalah desentraslisasi sedangkan otonomi desa dari masyarakat. Belum ada kepastian mewakili kepentingan masyarakat. • Persoalan quorum menjadi masalah. Pada dasarnya masalah desa/masyarakat desa adalah mereka tidak terlibat dalam proses perencanan. musrenbang tidak ada artinya. polanya masih top down.• • • Kaitan demokrasi dengan skala kebutuhan masyarakat. maka pemilihan kades juga dibiayai. BPD menjadi Badan Perwakilan Desa. Joana Pada prinsipnya setuju BPD – perwakilan yang mewakili prinsip-prinsip demokrasi. permasalahan diantara mereka. Fungsi lembaga-lembaga yang mampu mengusung demokrasi? 3. Kendala-kendala yang perlu diperhatikan! Pada akhir pertemuan akan disepakati wakil yang akan menyampaikan presentasi. Melihat fakta kelemahankelemahan BPD ya. jadi tidak perlu ada batasan quorum. Masih ada kecenderungan elit desa yang menentukan. Bila masyarakat terlibat dalam proses perencanan. mengontrol pembangunan di desa. sehingga seorang kandidat kepala desa tidak perlu manggung di desa. Wafi • Kaitan dalam hal ini. Dari beberapa hal tersebut. fungsinya diberangus dengan dalih-dalih. Tetapi selain itu ternyata lembaga itu sendiri tidak cukup untuk melahirkan nilai-nilai demokrasi di desa. implementasi dan pengawasan. Bagaimana bisa melibatkan masyarakat lebih luas. Menggagas Desa Masa Depan 52 . Menjadi penting adanya demokrasi di desa/kelurahan adalah dipilih langsung. tidak hanya dalam pengambilan keputusan. Saya lebih cenderung kembali ke UU 22/99. masyarakat belum. • Perlu juga dipikirkan pendidikan politik di desa. dengan harapan yang lain akan melengkapi. • Demokrasi yang cocok yang bagaimana? Demokrasi tidak perlu dicocok-cocokan. saya lebih optimis. implementasi maka masyarakat merasa bertanggung jawab terhadap hasil pembangunan. melihat nilai demokrasi yang ada di di desa dengan model perwakilan yang dipilih langsung. tetapi juga dalam menyalurkan aspirasi masyarakat/cari input. dipilih langsung. Ada BPD yang belum berperan dalam fungsinya – check and balances. adanya fakta kasuskasus harus dibenarkan. Sehingga musrenbang desa mentok di Kabupaten. Berangkat dari program pengembangan seperti yang dilakukan dalam PPK. Dengan aturan saat ini belum berati demokrasi sudah berjalan di desa. euforia politik. artinya harus dengan target sekian orang. maka merujuk pada 3 aspek: 1. Dengan keluarnya UU 32/2004 terbelalak. Saya lebih tertarik pada bagaimana demokrasi ada di desa. dengan adanya pemilihan Presiden/Bupati dibiayai oleh APBN/APBD. • Keuangan. Ade Sulit menjawab demokrasi dengan model yang mana. melainkan kontrol. Demokrasi apa yang paling cocok di Indonesia? 2. Sebagai pelaku perwakilan di desa saya sendiri sedang bersemangat dengan proses demokrasi di desa. tapi cenderung melihat apa yang dibutuhkan desa. Eksperimentasi demokrasi desa dihindari karena tidak match dengan demokrasi. dipilih dan menjadi badan penyeimbang.

Apa yang disampaikan Joana perlu. Keikutsertaaan masyarakat dalam pemeliharaan pembangunan di desa saat ini agak lemah. Syamsul Hadi Keterwakilan BPD dalam UU 32/2004 belum baik juga. Amerika. demokrasi yang diserahkan pada tingkat ‘state’. jadi tidak memaksakan keinginan kita. alim ulama. bagaimanapun proses pemilihannya tidak terlalu persoalkan. yaitu demokrasi modern – representatif dengan 2 prinsip dasar: prinsip representative government. Kalau di desa Sumba Timur. Kalau dipilih langsung bagaimana keterwakilan unsurunsur masyarakat. Menggagas Desa Masa Depan 53 . Representative demokrasi bukan ada di kita. Bagaimana desa yang mempunyai dana untuk dapat membeli hasil-hasil panen? Kebutuhan basis desa jangan dikesampingkan. Nah. perencanaan pembangunan masih top down. Di desa yang diperlukan adalah self community governing + inclusive demokrasi. kemudian ada buku Freedman ”alternative development” dengan konsep political democracy-inclusive democracy adalah demokrasi yang kita bahas. menampung. saat ini diserahkan kepada desa/swakelola. Itu bagaimana? Teringat pertemuan forum warga di Surabaya. Tana Toraja. tapi kita tawarkan kepada yang lain. is there any democracy? Dewan morokaki di Banten dipilih dari ketokohan. BPD dan lembaga lain di desa. tetapi terkadang ada pesanpesan dari daerah. provinsi. Marhaban Demokrasi yang bagaimana? Bagi saya pribadi dilihat dari literatur ada dua macam demokrasi. Menurut saya. kelompok perempuan.Datu Apa yang disinyalir saat ini sangat setuju. bagi yang kalah masih diberikan kesempatan untuk memberi kritik. politik (Pembuatan Perdes). Sinyalir kolusi di BPD ada kemungkinan. tapi perlu tupoksi yang jelas. yang punya uang yang menang. sehingga semua bisa dicek dengan jelas. Keberagaman dalam UU 32/2004 dan PP 72/2005 masih umum. serta masyarakat tidak ada inisiatif mengontrol pembangunan di desa/nagari. yang ’mbok bakulan’ (not: ibu-ibu yang berjualan) tidak ada. saya yang termasuk mendambakan demokrasi terutama di desa. negara. ada tiga area demokrasi: bidang pembangunan (perencanaan). alim ulama. akhirnya ada porsi presentase untuk perempuan. di nagari pemilihannya dengan cara perwakilan kelompok. Pemdes di daerah belum betul-betul mau kewenangan diserahkan ke desa. istrinya carik ya. ninik mamak. Secara umum. pemuda. Saya pahami bahwa peran warga desa. yaitu penyelengaranggan negara diserahkan kepada elit dan limited government – terbatas. seperti freedman. berbeda dengan desa-desa di Jawa dan di luar Jawa. Fasilitator Kita menawarkan beberapa pemikiran. di nagari disebut BPN (Badan Perwakilan Nagari). sehingga kades. tidak hanya di Jawa tetapi juga di luar Jawa. Masyarakat desa saat ini belum diberdayakan. itu ada pada Kabupaten/Kota ke atas. Kalau secara antropogis barangkali desa lebih tua dibanding dengan kabupaten/kota. Proyek PPK di daerah. Pemikiran dan wacana tadi sangat menambah perspektif bagi kita. Australia. Hebatnya demokrasi. disini adalah self community governing + inclusive demokrasi. Susmanto Menyinggung tentang BPD berkontradiksi dengan pemerintah desa. ada keberhasilan dalam keterlibatan masyarakat menentukan keputusan. masyarakat harus dilibatkan dalam pembangunan. ninik mamak. Kanada. pemuda. silahkan. Demokrasi seperti apa yang disepakati? Misalnya pemilihan langsung. kalau masyarakatnya kumpul tetapi ada raja. maka masyarakat akan diam. sosial (kontrol jalannya pemerintahan di desa).

itu harus dilembagakan. ada mekanisme kontrol internal di desa. Kendala yang perlu diperhatikan. sesepuh. jangan ada kabijakan jeruk makan jeruk. Datu Kalau saya diminta untuk mewakili partai di desa tidak setuju. wali nagari tidak perlu untuk menjadi pengurus parpol. Kerena itu. Oleh karena itu BPD ada tetapi harus ada mekanisme lain yang sifatnya Menggagas Desa Masa Depan 54 . Kades. Menyinggung yang disampaikan Pak Sus. karena itu murni dari adat. Kalau kepala daerah memiliki wilayah. tidak memadainya apa yang ada di BPD. tetapi juga tidak sepenuhnya mewakili masyarakat. BPD sebagai institusi menjadi cek and balances bagi pemerintah desa. semangat demokrasi di desa menurut saya sangat berbeda dengan masyarakat di tingkat atas. masing-masing desa berbeda. dan lain-lain. meskipun BPD mewakili masyrakat di desa. Partisipasi menjadi titik demokrasi. Dari prosedur itu tidak menjamin. Perlu dimasukan unsur-unsur/aspek penyetaraan dan lain-lain. Marhaban Saya beda dengan apa yang disampaikan Hans tadi. Masa yang lalu ada demokrasi di desa. yaitu partisipasi merupakan kendala yang terbesar di desa. meskipun bukan satusatunya problem di desa. perwakilan. Aspek persamaan itu perempuan dibelakangkan. juga pengalaman negara lain yang berhasil. petani. Ini perlu dikembangan untuk melakukan check and balances di desa. Wa’i Ada kemunduran BPD menjadi bamus (badan musyawarah). romantisme bahwa demokrasi desa diserahkan saja kepada desa. Kedepan perlu ditempatkan suatu forum di desa. Tidak ada sistem check and balances – itu sulit. Problemnya. harus menjamin keberlangsungan lembaga-lembaga lokal di desa. Negara silahkan mengatur regulasai tentang desa. Sangat mahal bagi negara untuk representatif demokrasi. menjadi grup politik masyarakat. ini parah. Yang penting 3 (tiga) itu. wali nagari/kades memiliki masyarakat. sehingga tepat kita mencari demokrasi. maka elit-elit diluar Jawa akan tersisih. saya setuju dengan Pak Sus. Karena teori apa saja di Indonesia tidak jalan. ada rapat/rembug desa.Widyohari Saya sebetulnya sepakat dengan Pak Sus. PPK bagus. Saya mengkritik teman-teman di PMD. partisipasi di desa adalah milik elit desa. tapi masih ada celah-celah. Berapa persen orang yang menyampaikan ketidakpuasan mereka terhadap BPD? Menjadi pertentangan tersendiri di masyarakat bagaimana menyalurkan aspirasinya. ada badan legislatif. Dalam proyek PPK. kalau tidak ada. Demokrasi desa dibangun ala kelokalan setempat. Fungsi negara menjamin bagaiman masyarakat teribat dalam proses pembangunan di desa. Sulitnya minta ampun untuk melibatkan masyarakat dalam partisipasi di desa. desa boleh memasukan unsur permusyawatan. sehingga BPD tidak cukup mewakili sebagai institusi perwakilan di desa – kelompok-kelompok di desa. kemudian tidak lahir dari masyarakat. masih sebagian bergantung pada pemerintah. kalau cair sama sekali juga memiliki kelemahan. Barat tahu persis otonomi daerah itu. Juga dalam penguatan masyarakat di desa. empowerment yang ditumbuhkan dibunuh kembali. Apapun bentuknya tidak masalah. Tetapi BPD pada banyak desa menjadi alat legitimasi aparat desa. Abu Apapun demokrasi yang diusung adalah demokrasi yang menjamim kemandirian di desa. dulu ada forum di desa yang memenuhi ini. mayarakat dilibatkan dalam proses perencanaan hingga pengawasan. eksekutif. tetapi juga harus memberikan ruang bagi lokal. siapa saja: buruh. Eropa barat menyerahkan otonomi se-grass root mungkin. tetapi sekarang tidak.

jadi kendalanya struktural dan kultural. Filipina. pikirannya. ada potensi. Apapapun bentuk demokrasinya kalau tidak ada suara perempuan maka tidak demokratis. tidak masyarakat..insidential. adanya penokohan. Hans Saya tidak setuju demokrasi terlalu mahal. kepentingan. Setahu saya Eropa dan Amerika hanya ada di kabupaten/kota. keterwakilan partisipasi. mereka bisa. Adnan Seringkali kita memperjuangkan bentuk daripada isi. kehadirian fisik. ada kebutuhan. jangan-jangan partisipasinya terpimpin atau terbina. diwadahi dalam forum. Dana disiapkan. Kalau dalam parpol terwakili 60%-70% maka ada 30% yang tidak memilih. Contoh. Pancasila dan UUD 1945. demokrasipun kalah. Yuni Saya mau ikuti yang sudah ada. permusyawaratan – perwakilan. Perlu mengacu pada prinsip-prinsip pokok dalam membangun sistem demokrasi di desa seperti human right. Selama ini banyak dikatakan kita sudah. sehingga dia akan kuat. tapi negara Asia. kelompok dan lainlain. • Pemimpin formal di masyarakat pasti diikuti masyarakatnya. Bagaimana kearifan lokal bisa timbul kembali? Dahlia • Bagi saya perlu ada lembaga demokrasi di desa. Jadi masyarakat perlu kita latih. lebih mementingkan proyek. Negara tetangga lain. contohnya sesudah pemilihan dan terpilih. Fasilitator Karena waktu tinggal 15 menit masih ada 7 orang yang belum bicara. Kalau BPD. orangnya terbatas. dan lain-lain sebagaimana yang tercantum dalam covenantcovenant Internasional. Amerika. • Kades di TTS seperti alat politik. Kita terjebak dengan panyakit partisipasi. pemikirannya terbatas.. Apa masyarakat tahu bagaimana membaca APBDes? Ketika dalam perumusan perencanan mereka tidak semua terlibat. • Partisipasi dalam berbagai bentuk. • Musrenbang sebenarnya ada masalah. Menggagas Desa Masa Depan 55 . silahkan. LPM sebagai lembaga induk yang membawahi lembaga-lembaga di masyarakat. Widya Bagi saya demokrasi seperti apa? Kembali pada kearifan lokal. Itu bukan Eropa. persoalan budaya. Banyak pendapat tentang partisipasi. bagi saya yang penting unsur keterwakilannya dari aspek kewilayahan. tenaga. seolah bentuk lebih bagus daripada isinya.. ini dan itu. tapi tidak bisa dilantik karena kepentingan poltik di tingkat atas. • BPD dan Kades itu alat negara? Widyohari Lembaga independent silahkan masyarakat bentuk sendiri. kita fasilitasi. lembaga dari luar yang ada di tempat kami. India. itu diseimbangkan. mengapa Indonesia tidak bisa? Olahraga kalah. • Usul: perlu ada pelatihan bagi LPM untuk perencanaan pembangunan. Kalau di pemerintahan. parpolpun tidak mewakili masyarakat. Saya hanya mengkritisi itu. bagi saya tidak masalah. modul disiapkan seperti dulu sebelum ada otonomi. pengangguran. Membandingkan dengan yang di atas. sehingga seharusnya ada kursi kosong di DPRD. dananya. pengkulturan masyarakat.

hanya kata-katanya yang berbeda. Demokrasi hanya satu hari. Bagaimana ditingkat kabupaten/kota. jadi hanya hari sabtu saja. mandul. senin-jum’at tidak demokratis.. sedangkan kalau mereka ke sawah mendapatkan sepuluhribu. pandangan pragmatis) • Focus pada pembentukan lembaga bukan membangun esensi check and balances • Kemampuan ekonomi masyarakat • Trauma pengalaman berdemokrasi yang “mboten up” tidak memihak kepada kebutuhan masyarakat contoh masyarakat Menggagas Desa Masa Depan 56 . BPN tidak berfungsi. kalau bukan kebutuhan.. Keterwakilan lembaga kemasyarakatan lainnya Fungsi lembaga-lembaga: • Lembaga di desa terdiri dari lembaga formal dan non formal • Fungsi lembaga desa bervariasi: sebagai fungsi legislasi. siapa yang bisa disepakati untuk mewakili? Jadi Pak Datuk dan Ibu Ade untuk mewakili. Fasilitator Biar saja semuanya pemikiran masuk.. kalau tidak demokrasi maka akan menjadi otoriter. bagaimana kalau kita mengundang petani untuk mengikuti musrenbang. kita sepakati siapa yang mewakili untuk menyampaikan diskusi kita? Marhaban Sedikit saja.Agus • Demokrasi kebutuhan di desa.. karena oranya tidak demokratis. injecting participating in local. kita semua membicarakan hal yang sama. kontrol dan pelaksana • Bentuk diserahkan pada kearifan dan keunikan local dengan acuan dari pusat • Lembaga itu harus mampu mewakili semua aspirasi masyarakat • BPD dan lembaga kemasyarakatan yang ada harus ditopang dengan capacity building yang memadai Kendala-kendala: • Keterbatasan partisipasi masyarakat antara lain karena sistem yang belum mendukung (structural) • Kendala cultural (misalnya budaya patrialistik. Benang Merah Pemikiran: Demokrasi yang cocok bagi desa: Inclusive demokrasi perlu menjadi pertimbangan utama dalam rangka membentuk self community governance masyarakat terlibat secara luas dalam proses pengambilan keputusan 1. contohnya beberapa anggota BPN tinggal di Bukittinggi. ada yang mengusulkan ada kursi kosong-golput. banyak kendala menciptakan masyarakat demokratis. Harus mengacu pada analisis kebutuhan desa 3. elit-elit menyelewengkan demokrasi. sabtu. Musrenbang hanya dilaksanakan satu hari.. BPD sebagai tool untuk check and balances 2. cuma hari sabtu saja yang demokratis. Bagaimana menanamkan demokrasi di masyarakat. Fasilitator Sulit menggabungkan semua wacana. • Peguatan kelembagaan banyak kendala. sikap elitis. diawali di rumah tangga? Apa itu sudah kita lakukan? • Kasus di Palembayan.hhahaahhaaa.

mereka minta supaya ADD dapat dilaksanakan sendiri oleh orang desa. Adri Warsena-FPPD. Mengapa kabupaten tidak responsif?. terkait dengan UU 32/2004 ada beberapa hal yang perlu kita sikapi bersama seperti ada beberapa UU yang baru itu menarik ke pusat dan posisi daripada BPD perlu memperoleh perhatian kita bersama. 3 Juli 2006 Pukul : 11. yaitu: 1. persoalannya mengapa ADD tidak bisa cepat dilaksankan? Saya pikir banyak kabupaten tidak rela menyerahkan uang sekian banyak. 2. Ninuk Kita di DPRD Deli Serdang sedang membuat Raperda yang saat ini sudah menjadi perda tentang ADD. 2) orang desanya tidak tahu bahwa ada UU 32/2004. Sebelumnya kita melakukan pertemuan dengan beberapa desa. Kewenangan desa harus jelas. Masukkan dari 4 desa yang kami lakukan. alasannya 1) SDM tidak mampu. Kelompok: ADD (ALOKASI DANA DESA) Fasilitator Peserta : 1. sehingga dapat memberikan semacam apresiasi terhadap masyarakat dan karakter masyarakat itu sendiri. pendapatan desa rendah. Fasilitator Itu fenomena di Deli Serdang. Alit Asmara Terkait informasi dari teman Deli Serdang tadi saya konsentrasi di desa. dengan skala prioritas. dalam kaitan ADD. ada PP 72/2005. karena selama ini yang menjadi bendahara desa adalah kaur umum yang merangkap jabatan. Kesiapan kelembagaan nanti menyangkut SDM yang ada. Datu-As Wali Nagari. Fasilitator ADD menjadi harapan di desa. Bambang Hudayana 2. merujuk PP 72/2005. karakter dan budaya setempat bisa masuk. mungkin kita harus menentukan kriteria kepala desa itu seperti apa. Sumber pendapatan desa harus jelas apa-apa saja. bagaimana menghubungkan ADD dengan pelayanan publik? ADD selalu memakan belanja rutin kabupaten.00 – 13. ada 4 permasalahan yang kita perhatikan. Sukoco-Kades Wiladeg. Joana-World Bank. seharusnya sesuai ADD 43 Milyar harus diserahkan kepada desa. 5. 3.00 3. sehingga ada kejelasan potensi. kalau ada uangnya ADD mereka menanganinya. Perda-perda dan perdes. maksudnya bendahara desa. Ade-KDP World Bank. Menggagas Desa Masa Depan 57 . Abu-Persepsi. sehingga ini terkait dengan kewenangan desa. Soekirman-Wakil Bupati Sergai. Di Deli Serdang baru dianggarkan 11. Dahlia-PMD TTS. Kasmuin-CePAD.Hari/Tanggal : Senin. Alit Asmara-Majelis Madya Gianyar. kemudian ADD untuk apa?. Legitimasi pemerintahan desa ini perlu proses yang demokrasi. terkait juga dengan aspirasi masyarakat ketika perda atau perdes itu disusun. Betapa ADD yang menjadi masa depan desa masih terbatas. Syamsul-Bina Swagiri. Kamardi-Perekat Ombara. 4. Arie Sujito : Ninuk-BPD Deli Serdang. sosialisasi dari kedua UU dan PP tidak sampai kepada kepala desa.5 Milyar. yaitu digunakan untuk pembangunan fisik. Tumpak-PMD. Ini sebenarnya ada keberatan tersendiri dari Pemkab. Perencanaan di tingkat desa perlu dikelola melalui SDM di tingkat desa. dengan adanya ADD masyarakat punya kemampuan untuk mengelola ADD.

Yang menjadi orientasi ke depan. 3. DAU yang dipotong anggaran rutin. sehingga ada ketergantungan dari peraturan Bupati. Jadi ADD itu benar-benar mutlak untuk desa. mestinya 23 Milyar. kalau kami loyal maka dananya dapat turun. kalau itu tidak disiapkan di desa. jadi berbeda sumbernya. Sepertinya itu masih terjadi. Dari teman Deli Serdang tadi ada ketidakrelaan pemerintah kota untuk memberikan porsi kepada desa. Desa tidak ada otorita mengatur sendiri. dia memandang bahwa kapasitas dan potensi desa belum siap. Sukoco Ilustrasi di Gunung Kidul. sudah jelas bagian desa itu paling kecil 10% dari retribusi daerah dan ADD itu merupakan dana perimbanagn yang diberikan pusat kepada daerah. karena di PP itu 2 hal yang dimandatkan. setelah ADD jalan desa sudah hotmix. Kamardi Soal ADD itu selain perda mengawali kebijakan karena konsekwensi PP 72/2005 sudah dijelaskan ADD itu. ada yang pakai peraturan Bupati. lha bagaimana mengelola itu? Bagaimana menyiapkan kelembagaan di desa itu? 1. Maka ADD keluar dengan peraturan Bupati saja tapi aturannya sangat ketat sekali. Menggagas Desa Masa Depan 58 . misalnya perda yang mengatur sekian % dari APBD harus dilakukan untuk ADD. Fasilitator Jadi ADD itu bukan identik dengan pengembalian dana 10% yang berasal dari retribusi itu ya? Kamardi Ya bukan. 1.kemungkinannya adalah. 2. Efek ADD luar biasa. maka akan memindah budaya korupsi di desa. Adanya regulasi yang tegas dan pro desa. memang nilai asli desa ada gotong royong. kalau tidak ya tidak.Dukungan dan partisipasi dari masyarakat seperti apa. termasuk juga dalam perencanaan dan juga kegiatan-kegiatan yang menyangkut desa. kalau diukur dari PP masih jauh. yang mengatur kabupaten tapi hanya pedoman umum saja dan teknisnya diserahkan ke desa. Disamping ada keuntungannya ADD juga ada sisi buruknya. sehingga kalau ada ketentuan dari pusat maka mereka tidak dapat menolak. ADD ini dimanfaatkan untuk pencalonan Bupati bahwa nanti desa akan dialokasikan dana. penduduk desa paling tidak mendapatkan bagian 10% dari retribusi daerah. Ini yang selama itu belum jelas. maka dengan kesiapan ini kita dapat menuju kewenangan dan hak desa sehingga tidak ada alasan untuk tidak memberikan porsi itu kepada desa. bagaimana ADD itu mutlak kewenangan desa. faktor politik (karena tidak milih). Syamsul Kenapa kabupaten tidak iklas memberikan ADD. faktor APBD kabupaten belum siap. pembangunan dan lain-lain. Alasan dari Bupati adalah untuk langkah awal dan nanti kedepannya tidak akan diatur. ada yang tidak tapi tiba-tiba ada bimbingan teknis. yang harus diperjelas dalam perda itu bahwa itu harus dipisahkan dengan PAD atau APBD itu sendiri. Saya sepakat dengan kawan dari Bali bahwa harus ada ketegasan hak dan wewenang yang harus dimilki oleh desa. Dana yang pertama itu 10 Milyar. dengan presentase sekian % untuk BPD. partisipasi dan lain sebaginya tapi di ayat b. walaupun itu sudah dimentahi temen-teman lurah pada waktu itu. Catatan lebih jauh. itu perda yang mengatur bukan hanya peraturan Bupati. Perlu disiapkan resolusi managemen konflik di desa 2. Mungkin juga faktor politik.

Contoh di Ngada. ada soal dengan kabupaten induk. kabupaten jangan terlalu mengatur penggunaan ADD. Ada kecenderungan berbeda. rata-rata mereka mendapatkan sekitar 75 juta per desa. setiap tahapan harus dipertanggungjawabkan lebih dulu. Proses pembuatan keputusan awal harus partisipatif. tidak ada mark up. PP 72/2005 di kabupaten. 10 % DAU maka harusnya 15 M. tapi juga pada masyarakat karena mereka punya kapasitas dan lebih mandiri. Sejak berpisah dari Deli Serdang. Disini juga ada tim pengawas. itu sudah mendarah daging. Sebaiknya tidak ada pembatasan yang rigid. Pembangunan sendiri belum. 1. karena tujuan ADD untuk mempercepat pembangunan dan kesejahteraan masyarakat desa justru akan tertunda lebih jauh lagi karena banyaknya permasalahan yang muncul karena realisasi ADD dengan penguatan kapasitas itu. Fasilitator Penguatan bukan hanya pada aparat. sehingga menguntungkan pihak luar. di Ngada tidak terlalu percaya pengawas dari pemerintah. jalan dll. 2. Menggagas Desa Masa Depan 59 . Soekirman Sergai baru berjalan 2 tahun 6 bulan. Yang baik itu PPK. yang jadi kebutuhan desa lagi itu adalah keputusan musbangdes. ADD seharusnya didahului RPJMDes. Mekanisme pencairan dana cukup baik. Kalau ADD jalan dan proses perayuan dari pihak luar itu terus maka yang ada adalah pembunuhan terhadap inisiasi desa. karena adanya fasilitator pendamping sehingga lebih tepat sasaran. Baru 10 bulan bupati dan wakil bupati hasil pemilihan langsung. Yang ditanyai Bandes. Duit dari PKPS BBM itu seharusnya swakelola. karena orientasinya untuk diri mereka sendiri. karena akan menentukan besar kecilnya ADD kedepan. mereka lebih percaya ke konsultan lokal. di desa itu tidak ada Bandes. Bupati mengakali 50 juta per desa. yang seharusnya kabupaten induk memberikan kepada Serdai. Kasmuin Ada semacam tindak lanjut saja.Fasilitator ADD itu hak desa. tidak sama persepsi dan empati antara ketua Bappeda. hanya beberapa desa. Ade Saya sependapat bahwa ADD diperlukan pengalaman selama ini. dan kabag hukum. Saya ingin menyampaikan bahwa ada 3 kebutuhan yang berbeda anatara di level desa dan kabupaten. sehingga mereka bisa bikin pasar. datang kontraktor di atas kertas swakelola. Apakah kita perlu merumuskan dan mencari strategi untuk mendorong hambatan-hambatan mengapa ADD itu macet dilakukan daerah? misalnya kita mendorong class action apabila ADD tidak dilakukan sebagaimana mestinya. porsinya tidak ditentukan. ADD tidak merata ke seluruh desa. Pembangunan oleh desa lebih efektif. DPRD dan lain-lain. PP 72/2005 harus dikuatkan dengan perda. Di pemahaman tingkat kabupaten beda persepsi. saya sangat sepakat sekali antara realisasi ADD dengan penguatan kapasitas kelembagaan desa harus digarap bersama dan segera. lalu APBDes dan itu masih dilakukan oleh LSM. kriterianya sangat banyak. kalau rata maka 75 juta per desa. Partisipasi masyarakat desa sangat turun. kemudian kami cetak dan dibagi ke semua kepala desa. PMD. bertahap. 3. kabupaten hanya memberi rambu-rambu saja. Honor kades. Betapa pentingnya kewenangan desa. dan baru menerima PP 72/2005. boleh memberi pedoman tapi tidak usah detail. tetapi hanya rambu. karena kecamatan memfasilitasinya dan yang paling mencolok adalah infrastruktur baik jalan desa maupun irigasi. Sejak dahulu semua orang menghendaki supaya daerahnya mendapatkan sebesar-besar. dan setiap desa memperoleh dana yang berbeda sesuai dengan kebutuhannya. dananya harus memadai.

Jadi mestinya uang itu mengikuti fungsi-fungsi yang ada. Abu Dari pengalaman kami di Klaten untuk mengawal ADD di tingkat kabupaten tidak cukup pemdes dan kades. ADD itu harus diintegrasikan kedalam APBDes. Sekarang ini kita juga mendapat mandat untuk memonitor PPK berbasis masyarakat tetapi skenario bagaimana setelah itu kita tidak tahu. tujuan sebenarnya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. sehingga dapat dijadikan bahan untuk pembuatan kebijakan bagi Depdagri. kalau tidak ya ada batas minimum. masih perlu dukungan masyarakat. Peningkatan SDM. 2. Kalau melihat dari 10% itu tidak cukup. Perlu komitmen yang lebih di tingkat nasional. sekarang ada juga ADD dari Provinsi. 5. Arah pembangunan ke 5 sasaran. Perlu ada intervensi dari pusat supaya daerah tidak gamang melaksanakan ini. Ekonomi kerakyatan. Pembangunan kemasyarakatan. tentang ADD mengenai minimum yang harus disediakan desa. Fasilitator Saya ada info dari Pak Girsang bahwa ketika mensosialisasikan ADD. DAKN. misalnya best bracticenya diungkap disini. Di desa itu banyak uang. dana pemberdayaan. 4. tapi kalau di Nagari ada dana bagi hasil yang besarnya 35%. sasarannya kepada aparat dan masyarakat desa? Swakelola itu saya sepakat. Pedoman level pusat belum ada regulasi. Perlunya needs assesment di desa. Pembangunan infrastruktur. Datu ADD itu kalau di Jawa tapi kalau di Sumatra Barat namanya DAUN. Bagaimana kita melakukan penguatan. tapi belum ada pengalaman yang itu diinisiasi oleh masyarakat sendiri. 2. Elemen di desa perlu mendapatkan penguatan untuk bersama-sama mendorong elemen di desa melek APBD dan APBDes. Menggagas Desa Masa Depan 60 . kabupaten hanya memberi acuan saja. yaitu : 1. Sumber Daya Alam. bagaimana mengaturnya? Karena itu kita juga harus mengetahui bahwa itu adalah uang hasil dari hutang. yang itu berasal dari kabupaten.Fasilitator Jadi skenarionya. Instrumen apa yang kita gunakan untuk mengatur ADD itu. Instrumen akan sangat berharga. Tumpak Menurut kami dengan adanya ADD kita perlu cermati 2 hal yaitu: 1. perlu prinsip keadilan di tingkat wilayah. selanjutnya pengalokasiannya bagaimana? Mungkin ada contoh dari beberapa kawan. 10% dari APBD. Dan kalau itu tidak berhasil maka kami akan melakukan penguatan terhadap masyarakat diluar kecamatan untuk melaksanakan pengawasan apapun proyek didesa. Inilah yang kita pilih dan kita prioritaskan. sudah jelas di PP konsekwensi logisnya kalau ada urusan di desa. Instrumen kebijakan. Ada satu masalah ditingkat nasional dengan adanya intervensi PP 72/2005. Yang perlu kita minta pertama adalah komitmen kabupaten. Untuk daerah miskin perlu jumlah minimum yang perlu disediakan desa dan kalau itu masih kurang mungkin dapat di ambilkan dari APBN. apakah sesuai dengan perda atau yang lainnya. Joana ADD adalah hak desa yang diterima untuk mengurus kepentingan diri sendiri. semua anggaran dari luar harus masuk APBDes sehingga ada pertanggungjawaban dilevel desa. urusan ini mesti ada fungsi dan juga anggarannya. perlu komitmen di tingkat nasional. 3.

sehingga dapat independen. Pentingnya terintegrasinya ADD dengan program lain yang masuk ke desa. Sumber pendapatan desa belum jelas. 7. sekarang sudah ditetapkan tetapi sampai sekarang belum ada apa-apa. sehingga dapat dipertanggungjawabkan. 4. mekanisme pengucurannya seperti apa ? 2. tetapi ini sudah menjadi kebijakan yang sifatnya daerah. Dari 10 juta menjadi 98-100 juta. supaya desa itu merasa memiliki atas policy. Catatan juga dari kami bahwa : 1. forum tidak menghendaki tidak terlalu rigid. Jadi harus ada mekanisme kelembagaan. keterbatasan PAD. b. akan tetapi daerah masih setengah hati. Menggagas Desa Masa Depan 61 . 4. Fasilitator Ada beberapa catatan penting yang dapat kita tarik dari diskusi ini. Perlu ada intervensi positif agar proses tidak berhenti di tengah jalan. sebaiknya ini adalah bagian penting yang segera untuk diintervensi. Fungsi dari pemerintah kabupaten atau pusat untuk memberikan dead line yang bersifat umum. Ada trend kepedulian yang semakin meningkat di level daerah tentang pentingnya ADD sebagai haknya untuk menjalankan pemerintahannya. karena komitmen 10% kami hanya mendapatkan 7%. Akses informasi masyarakat untuk mengetahui PP masih sangat terbatas. Jito (Fasilitator 2) Kita sudah petakan dari sejumlah pengalaman praktis bapak ibu semuanya. SE Mendagri dan peraturan yang ada. Kewenangan kabupaten itu sampai detail apa tidak. masalah politik 5. Karena kami sadar keterbatasn SDM yang ada di desa. atau perlu dibuat peraturan-peraturan yang dapat lebih manjamin ADD bisa membuat perubahan-perubahan. Perlu juga dibentuk lembaga penguatan masyarakat yang partisipatif dan itu bentukkan dari masyarakat sendiri bukan dari pemerintah. dalam bentuk block grant. Ada 3 kapasitas potensial desa yang belum siap. Kabupaten enggan untuk ADD 2. Problem manipulasi atau KKN atas pengelolaan ADD. maka dibutuhkan untuk mempersiapkan sistem pengelolaan ADD. Jadi perlu ada petunjuk teknis dari pusat yang hanya berisi pokok-pokoknya saja dan untuk detailnya menyesuaikan di daerah. 5. Pemda belum berani memberikan komitmen 10% yang menjadi semacam tolak ukurnya. 3. Indikatornya: a. Bagaimana memperkuat ADD di level daerah supaya prosesnya lebih cepat.Dahlia Saya sangat sepakat dengan apa yang disampaikan dan hanya akan menambahkan bahwa yang terjadi di kabupaten TTS ADD belum pernah ada. Satu hal yang penting dan relevan dengan apa yang kita bincangkan antara pusat dan daerah belum connect. Masalah. jadi bukan SE Bupati tapi sudah menjadi perda. kurang serius menjalankan kebijakan ADD yang benar-benar dapat menjawab masalah yang dihadapi oleh desa yang menjadi kebutuhan desa. untuk catatan ADD bukan lagi kebijakan populis Bupati. 1. bagaimana ADD itu diserahkan ke desa. 6. Ada semacam keyakinan ADD itu membawa perubahan di desa. bukan kami tidak percaya tapi sampai sekarang ini belum diapa-apakan. 6. Itu dikarenakan adanya PP. sehingga jumlahnya masih kecil. maka desalah yang perlu mendetailkannya. walaupun itu difasilitasi oleh negara. nanti akan kita buatkan petanya dan buat kesimpulannya. Pemda berhenti membuat perda. Oleh karena itu perlu didorong langkah-langkah oleh semua komponen di desa. 3.

Dony-DPRD Sumedang. Edward Lubis-YIPD Jakarta. dan apa cerita suksesnya (apa faktor masalah dan faktor pendukung). yaitu prinsip transparansi. Silahkan. M. Edward Kenapa BUMDes dan mikro finance? karena kita ketahui bahwa BUMDes adalah salah satu jenis pendapatan di desa. Sebelum mengerucut.ASPPUK 2. Perkenalan Untuk lebih mengakrabkan suasana. Empat prinsip ini paling tidak yang menjadi patokan kita bagaimana memberikan gagasan pada pengembangan keuangan desa. keberlajutan. Tadi pak Maryunani mengantarkan pada kita. 4. usaha kecil. Diskusi ini diharapkan bisa mempertajam pasal-pasal yang sudah ada disitu. Erni-FPPD. peserta memperkenalkan jati dirinya. profesional (harus dikelola dengan betul-betul). Yusuf-Sajogyo Sains. yang didalamnya termasuk aktivitas mikro finance.7. pikiran dan pengalaman bapak/ibu tentang BUMDes. Tidak perlu ADD itu rigid meskipun kontrol sangat perlu dilakukan agar penggunaan ADD benar-benar sesuai dengan yang diharapkan. 9. pembagunan. Kenapa dibatasi BUMDes? karena topiknya keuangan dan ekonomi desa. Yuni Pristiwati . (3) BUMDes menjadi milik desa dapat melakukan aktivitas pinjaman sesuai dengan peraturan perundangundangan. baik untuk mikro finance maupun BUMDes. Agus R Rahman-LIPI. kejelasan wewenang dan peran (pengelola dan kepala desa). Susmanto-FPPD/LGSP. Widya PujiFPPM. Kenapa tidak yang ruang lingkupnya lebih luas misalnya pendapatan desa? kalau BUMDes ruang lingkupnya terlalu kecil. problematikanya. Fasilitator Kita mengingat kembali apa yang telah dibahas. Kelompok: MIKRO KREDIT DAN BUMDes Fasilitator Peserta : 1. Sofyan-Akatiga. aktivitasnya. Apakah mikro finance nanti akan cenderung atau pengelolaannya diarahkan ke BUMDes? Menggagas Desa Masa Depan 62 . Sunarti-Kementrian Pemberdayaan Perempuan. (2) BUMDes sebagaimana dimaksud ayat (1) berpedoman pada peraturan perundang-undangan (Bagaimana peraturan perundangundangan PP 72/2005. Kita bisa mulai dengan mengeksplorasi pengalaman saat ini. Sumarjono – STPMD “APMD” : Adnan-LP3ES. Stefan Jansen-GTZ Pro FI. bagaimana posisi dan bagaimana pengelolaannya? Ada prinsipprinsip yang harus dipenuhi dalam pengelolaan keuangan desa diantaranya adalah prinsip pemanfaatan karena dari manapun dan seperti apapun pengelolaan keuangan desa harus diorientasikan pemanfaatannya bagi masyarakat. Dalam UU 32/2004 yang khusus bicara tentang keuangan desa yaitu pasal 213 tentang BUMDes menyebutkan: ayat (1) Desa dapat mendirikan BUMDes sesuai kebutuhan dan potensi desa. Untoro-PMD. dan bagi pemerintah itu sendiri. Pengalaman-pengalaman praktis. Barori-STPMD “APMD”. Toto Suharyana-BPMKS Sumedang. Transparansi. kita eksplorasi pandangan. Firsty Husbany-DRSP. tadi sudah disampaikan oleh pak Dony). 8. apa keuangan desa. Ada 4 penerima manfaat yang harus diperhatikan. Suharman-PSPK UGM.

dst. sistem kelembagaanya sehat. tetapi yang lebih penting adalah tantangan ke depan. dia tidak bisa membeli teknologi itu maka dia butuh tambahan modal. tetapi topic besarnya kita bicara tentang keuangan desa. belum dalam konteks yang lebih positif. tetapi tidak apaapa kalau kita sepakat. dimana salah satunya melalui BUMDes dan mikro kredit. tunggakan kecil kalau itu menjadi indikatornya. Oleh karena itu lembaga keuangan yang akan dibentuk tidak bisa berdiri sendiri sebagai lembaga keuangan. “kuasai teknologi pasca panennya kemudian kita bicara proses usaha taninya”. Lembaga keuangan yang ada selama ini seperti apa? Micro finance yang kita lihat selama ini sudah banyak di desa. Dalam konteks desa yang kita lihat selama ini. omsetnya sudah sampai 2 milyar lebih (dalam satu kecamatan di Minomartani). juga merespon apa yang telah disampaikan narasumber. Jadi uang itu muter. kita bicara tentang keuangan desa lebih luas dan kita bicara pengelolaan keuangan desa pada dua level yaitu yang berkaitan dengan desentralisasi fiscal (ADD) dan didalam bagaimana kita mengelola keuangan desa. bargaining posititionnya kuat. bagaimana menggali sumber-sumber pendapatan asli desa? Saya mengusulkan forum ini juga seperti itu. Ketika bicara keuangan desa. ini dimaksudkan supaya lebih focus. Kenapa? Karena ternyata uang yang dipakai disini untuk membayar cicilan disana. alternatifnya bagaimana keuangan bisa dikelola. tetapi biar pembahasan tidak terlalu melebar. Jika disepakati. Persoalannya. Bicara mengenai keuangan desa tentu saja ruang lingkupnya cukup luas. sedangkan masyarakat mempunyai keterbatasan dalam mengakses teknologi. Menggagas Desa Masa Depan 63 . micro finance yang saya buka ini dalam rangka untuk menangkal rentenir-rentenir di pasar sekitar. Bahkan ada yang berpendapat bahwa paradigma pembangunan dibalik. maka dibutuhkan lembaga keuangan yang kuat. Artinya. Apakah pada skala individu yang memanfaatkan jasa micro finance juga meningkat kesejahteraan dan pendapatannya? Penelitian intensif tentang indivisuindividu sebagai nasabah utama belum dilakukan. Barori Pak Lubis juga benar. Ketika desa membiayai sendiri. adalah sebuah supporting system dalam sebuah perekonomian. produk skala umum. Tambahan modal itu bisa merupakan kredit. Dimana mikro kredit ini salah satu aktivitasnya usahanya adalah BUMDes. tetapi pembicaraan kita adalah keuangan desa dan salah satu topiknya BUMDes. sehingga ketika bicara micro finance tidak boleh lepas dari bicara konteks ekonomi secara lebih luas. dari segi system micro finance itu sehat. Oleh karena itu lembaga perkreditan dibutuhkan di desa dalam rangka mendukung produk yang berkualitas dan syarat dengan teknologi. Karena dibutuhkan tambahan modal. Teknologi itu mahal. Tentu saja forum ini nanti akan memberikan gagasan. Komentar saya. semakin banyak akses kepada uang semakin senang. Bicara tentang ekonomi desa salah satu indikatornya adalah ketika desa itu mampu membiayai kegiatankegiatan pemerintahan. mestinya produk yang kompetitif yang sarat dengan teknologi. Tantangan kedepan adalah produk desa. pembangunan dan kemasyarakatannya. merdeka. saya sudah buat seperti ini tetapi rentenir (pelepas uang) masih banyak berkeliaran. Turunan dari topik yang dibahas disana tadi adalah bahasan tentang micro finance dan ada mandat dari UU 32/2004 atau PP 72/2005 yang kemungkinan dibentuk BUMDes di tingkat desa. Dia punya idealisasi. masyarakat sekarang ini justru senang. wawasan pengalaman tentang dua hal seperti itu. Paling tidak dari arahan SC/panitia tidak diarahkan kesana. kita tidak boleh lupa bahwa keuangan itu basisnya produksi. Kegiatan produksi bagian dari kegiatan ekonomi pedesaan yang selama ini ada. itu otonom.Fasilitator Topik mikro kredit dan BUMDes. Salah satu dalam pasal itu. Teman saya di Minomartani membuka koperasi simpan pinjam diantara warga perumahan di sekitar Jogja. Micro finance menurut pandangan saya. Kita kembali pada topik yang akan dibahas. Dalam konteks itu micro finance bicara disitu. Kita tidak dikungkung dengan dua topic ini.

Sidoarjo. dan BRI hanya bisa mengejar untuk melunasi hutangnya. memang dari sisi keuangan menjadi sustainable. Ini beberapa point yang bisa menciptakan resiko untuk BUMDes. Pada saat panen PPL sembunyi. apakah namanya sustainable rural banking (dari kacamata teritoritik)? Kenapa sustainable rural banking ? karena hidup matinya (sustainable) bank. sekarang di banyak daerah terutama di Jatim (Trenggalek. Sebenarnya dalam PP tetang desa sudah lebih focus lagi. pokoknya uangannya kembali. Kita harus memperhatikan yang seperti ini. Keterkaitan BUMDes dangan mikro kredit. dan apa yang kita bicarakan disini kerangkanya tidak lepas dari apa yang tadi dibicarakan. saat ini Dirjen PMD sedang mempersiapkan peraturan mendagri. apakah peran bank BPD menjadi penting didalam manajement BUMDes atau mungkin Bawasda atau ouditor publik ? atau mungkin tidak perlu karena bank BPD dimasa depan di desa menjadi lebih kuat akuntabilitasnya. pasal 7881…. Ke depan. Kita memang berfokus pada BUMDes. Kita dasarnya adalah pasal 213 UU 32/2004. dll). Sehingga yang namanya perlindungan terhadap petani/masyarakat kecil/pelaku ekonomi kita kelihatannya setengah hati. berdasarkan peraturan perundang-undangan. produksi dilepaskan. kalau kita bicara keuangan desa memang sangat luas. Kami mereka-reka. pembentukan dan pengelolaan badan usaha di desa.petani/pelaku ekonomi di desa ada didalam berbagai macam “pembinaan”. Micro finance dan BUMDes. baik bagi orang yang mau menabung. tidak setengah-setengah. dan kita punya banyak anggota yang consent tentang itu. mudah-mudahan dalam waktu tidak terlalu lama bisa dikeluarkan sehingga pada saat daerah menyusun perda dapat digunakan. Tawaran untuk diskusi awal. Fungsi lembaga keuangan mikro terutama melakukan intermediasi keuangan di desa. Kita perlu pengawasan eksternal. meminjam untuk tujuan investasi atau working capital apa saja. Artinya kelembagaan ekonomi mikro/keuangan desa menjadi untungnya sendiri. tahun 80-an ada buku besar dari PSPK tentang Perkreditan Rakyat (almr Mubyarto dan Gunawan Sumodiningrat) mempertemuankan antara pendekatan efisiensi dan pendekatan efektivitas. karena pendekatannya efisiensi. Artinya ini sebuah boot yang mengakomodasi pelaku-pelaku ekonomi dalam melaksanakan produksi. karena proses mengatur BUMDes sudah cukup maju. Dalam peraturan perundangundangan yang dimaksud disitu adalah Peraturan Daerah Kabupaten/Kota tentang pedoman tata cara. jangan sampai dia melunasi hutangnya bukan karena berdasarkan nilai tambah yang dia peroleh dari aktivitas ekonominya tetapi dari menjual aset-aset produksi sekedar untuk melunasi hutangnya. karena cukup luas kalau kita lihat tantangan di sector riel. secara teknis harus untung (saved uang). tetapi ketika sudah panen diserahkan kepada pasar bebas. lebih luas daripada kredit. apakah mnicro finance tergantung juga pada roda perekonomian yang ada. Ini awal untuk memancing diskusi lebih lanjut. dia harus bersaing disana. Ketika petani bicara masalah teknis budidaya pertanian datangnya ke PPL. Nanti kita bisa mendengar pendapat dari bapak-bapak. pembiayaan sampai pemasaran. Ini yang disebut dengan pemberdayaan yang total. jangan sampai seperti sekarang. Diskusi seperti ini sudah cukup lama. kita focus ke sektor keuangan di desa. memang dua hal ini sangat erat. bagaimana sebetulnya institutional rised membentuk kelembagaan ekonomi yang betul-betul komperhensif. Jasa ini penting. keuangan dari sisi pemerintahan desa. Untoro Tanpa membatasi pembicaraan. secara garis besar lembaga kuangan desa harus integrated. beli bibitnya ke lembaga kredit (BRI). tidak dalam sektor keuangan di desa. Kita bisa belajar. sudah ada Permendagri. sampai tingkat pasar dilepas. Dan untuk Perda itu dapat disusun. karana BUMDes mempunyai potensi untuk menutup kesenjangan supplaydemand di tingkat desa. Tetapi kita harus hati-hati kalau kita menerimakan kepada sustainability. Stefan Saya usul. BUMDes dengan usaha simpan pinjam dan omsetnya sudah Menggagas Desa Masa Depan 64 .

Jadi tidak serta merta keuangan itu masuk ke BUMDes. seperti usaha simpan pinjam. Contoh ada yang beli trakor dan laku disewakan. Kami menyikapi bahwa untuk keuangan desa tidak sama dengan BUMDes. Galian pasir (galian C) juga dikelola oleh BUMDes. Padahal Perdes itu aturan hukum desa. Ini harus kita ingat supaya tidak campur aduk. harus ada akta notaris. tetapi ini belum dipayungi oleh BUMDes. sedangkan keputusan bupati turun th 2003. Pelaksanaan di kabupaten Sumedang. Itu merupakan salah satu unit usaha BUMDes di desa. bahkan bantuan gubernur (tugas pembantuan) diakses. BUMDes itu harus dengan Perdes tetapi tidak bisa berhubungan dengan lembaga perbankan karena harus ada akte notaris. Oleh karena itu. tapi satu sama lain saling mengkait. Jadi kita mengadopsi. manakala go public pihak perbankan belum merespon. Ini usaha-usaha BUMDes baik yang sedang kami rintis. Depdagri sedang konsen pada BUMDes. baru dari APBDes masuk ke BUMDes. dari APBDes ke BUMDes. kalau kita langsung mengenalkan BUMDesa. Setelah terbentuknya BUMDes. Sesudah Perdes jadi dan BUMDes sudah jalan. dan ada yang masih dalam perjalanan. mau beli lagi tetapi karena uang kurang maka harus pinjam ke bank. Kami mencoba mengangkat dari partial-partial yang ada karena di desa paling tidak ada >5 lembaga-lembaga ekonomi desa yang bisa dipayungi BUMDes. NOleh karena itu nanti setelah terbentuk di Perdes. Dengan itu maka Menggagas Desa Masa Depan 65 . (aktivitas sudah jalan tetapi payung hukumnya belum ada). kedudukannya sama dengan UU. Tetapi manakala disodorkan ke bank tidak akui. ada yang sudah berjalan. bahkan kalau sudah jalan. sama yang kami buat. dan usaha lain seperti persewaan hand traktor. Kemudian untuk pemuda (karang taruna) untuk penagihan rekening air dan listrik dipayungi oleh BUMDes. tinggal di akta notariskan. Lumbung desa juga merupakan salah satu unit usaha BUMDes. tapi setelah jalan menjadi pinjam simpan. dari yang telah kami praktekkan kami mencoba mengumpulkan lembaga-lembaga keuangan yang ada di desa cecara partial. Toto Kami akan memberikan gambaran apa yang telah kami lakukan di Sumedang. BUMDes bisa menjadi PAD desa. jarang yang simpan. tetapi ADD itu masuk dulu ke APBDes di desa. Kenapa harus BUMDes? Karena untuk menjawab permasalahan. sebab lebih dulu praktek dimasyarakat daripada peraturan. UEP PKK. diangkat menjadi pengurus BUMDes. satu desa ada 60 juta. Status badan hukumnya masih PERDES. pertokoan (fotocopy. Yang dapat dimasukkan oleh kami ke BUMDes adalah unit simpan pinjam. kalau lembagalembaga keuangan yang ada di pedesaan. Tadi disampaikan bahwa justru BUMDes ini yang jumlahnya puluhan ribu yang non bank dan non koperasi. Disepakati. UEP PPK. Keuangan desa dikelola melalui APBDes. dimana pembentukan BUMDes kami ambil dari partial-partial yang terbaik. bagaimana aturan dengan praktek yang sudah ada. banyak pinjamnya. dan warung nasi. Ada aturan BUMDes. ATK). sementara Perda turun belakangan. Dengan regulasi kebijakan dari atas dapat diarahkan ke sana. apalagi di pedesaan. Bahkan dana perimbangan desa (ADD) ujinya di Sumedang. dan khusus untuk lembaga keuangan mikro bulan Oktober 2006 akan dikeluarkan Peraturan Presiden tentang kebijakan nasional mengenai keuangan mokro untuk melindungi lembaga keuangan mikro yang nyata-nyata bisa menghadapi pelepas uang dan jumlahnya banyak untuk bisa beroperasional tanpa dianggap illegal. nanti partial-partial yang ada di masyarakat bisa bubar.000. yang boleh menghimpun dana masyarakat itu hanya bank atau harus berbentuk koperasi. Permasalahan.besar. seperti ADD (di Sumedang disebut DADU: Dana Alokasi Desa Umum). dari aspek legal dianggap tidak ada karena payung hukumnya tidak ada. karena BUMDes aturannya/payung hukumnya turun belakangan. lumbung desa. Dari ADD disisihkan harus ada untuk modal BUMDes. sehingga ekonomi yang tumbuh di desa itu sudah ada. rekening dari masyarakat dilebihkan 1.

saya pribadi mengharapkan juga politik keberpihakan yang jelas pada petani.5 ha tanah kas desa yang didistribusikan kepada petani (hasilnya sekitar Rp. bukan hanya kebijakan. tetapi dengan pertimbangan. walaupun usaha seperti ini sudah banyak. tetapi ini tidak dimengerti oleh warganya. tidak semata-mata orientasi bisnis. warga punya pandangan bahwa kepala desa bisa mengontrol itu untuk kepentingan pribadinya. Tadi dikatakan lumbung desa juga bisa menjadi badan usaha BUMDes. bagaimana usaha-usaha seperti ini yang tidak berbadan hukum bisa memperoleh akses kredit? Juga usaha yang dilakukan desa. 53 juta/tahun). Widya Ada tanah kas desa yang dipakai dengan tujuan kembali ke masyarakat. maka saya penekanannya pada tabungan. Selama ini banyak tanah-tanah kas desa yang dipakai oleh pemerintah pusat seperti untuk kantor polisi. Ada 12. ini tentu akan sulit. Kita juga harus lihat ini. tetapi imbas (pemasukan) ke desa tidak pernah ada. Kalau kondisi petani yang terus mengalami nilai tukar produknya selalu melemah. dan saya pribadi setuju. karena gudang yang dibangun diatas tanah kas desa. Ada keberpihakan politik yang melindungi nilai tukar.ada peningkatan pelayanan masyarakat. Oleh karena itu kalau akan dikembangkan micro finance harus didasari/diimbangi dengan politik keberpihakan pemerintah terhadap perlindungan petani yang kehilangan nilai tukar. Bagaimana tanah yang dipakai itu dapat memberikan kontribusi pada desa? Menggagas Desa Masa Depan 66 . Persoalannya. Maksud saya. bahwa melihat tujuan micro finance sebagai intermediary tabungan dan kredit. maka tanahnya diambil. Jangan sampai nanti BUMDesnya berkembang dan yang menikmati hanya elit-elit desa saja. Ada pengalaman saya. sementara kepala desa berpikiran bahwa itu keuntungannya masuk desa. Kalau di pertanian jelas. di satu desa yang kepala desanya punya inisiatif membangun suatu gudang untuk menampung hasil bumi warga desanya. Fasilitator Kalau kita bicara BUMDes. Mungkin ini control. Usaha-usaha di desa dilakukan tanpa harus berbadan hukum. Dalam diskusi ini. hampir tiap masa ada kelemahan nilai tukar terhadap industri. tidak haya aturan teknis saja. Kenapa control desa terhadap tanah/petani hanya sebatas persoalan bagaimana caranya agar tanah ini bisa menghasilkan pendapatan untuk desa. ada mekanisme control dan orientasi kemanfaat pada masyarakat juga menjadi pertimbangan. Sofyan Persoalan. maka dia tidak bisa menabung. sekolah. Apalagi adanya keharusan aturan dalam BUMDes bahwa yang melakukan usaha harus berbadan hukum. tanpa ada kontribusi kepada masyarakat/warga desa. saya mewanti-wanti bahwa kepemilikan BUMDes ini hanya elit desa (kepala desa dan aparat desa) saja. tidak ada lagi persoalan belas kasih sosial desa terhadap petani. Agus Dalam hal BUMDes. kalau di desa petani (pertanian) terjadi pelemahan nilai tukar produk pertanian terhadap produk industri. misalnya di desa ada mekanisme lelang tanah kas desa. Kalau petani tidak mau mengubahnya. puskesmas. sehingga pemiskinan akan terus berlangsung. gagasan intermediary untuk menciptakan tabungan dan kredit di desa mustahil. dll. Masalah micro finance secara riel ini bagus sekali. Tanpa itu. kenapa orang di desa sulit mendapatkan usaha? Salah satunya kurang mendapatkan akses kredit. Sebenarnya fokus (tujuan) dari awalnya adalah untuk penanggulangan/ pengentasan kemiskinan. hal ini sebenarnya bisa untuk BUMDes. Apakah betul di desa sudah mampu untuk menabung? Ini masalah. rencana pembangunan gudang ini kemudian diprotes oleh warga.

apapun bentuknya. apakah mereka menjadi objek atau subjek? Bagaimana kita menyikapinya? Skema kredit. jangan sampai ada penyeragaman.03% GNP. paling tidak ada suatu realita yang kita harapkan. untuk apa? Tetap saja petani mati. semuanya harus affirmative. tetapi bagaimana menyikapi BUMDes sehingga bisa sesuai dengan realitanya. Pengalaman ini sudah ada dimana-mana. saya kira Indonesia sudah makmur. karena ada problem seperti ini. kalau pupuk di lepas dipasar bebas. apakah desa terutama masyarakat desa menjadi pemasaran produk-produk termasuk produk perbankan ? Dalam kegiatan ini. harus ada skema khusus untuk kebutuhan-kebutuhan perempuan agar bisa memberikan nilai tambah. saya lihat petani juga semakin parah. pada sisi lain ada harapan kita apa yang seharusnya. Contohnya di seminar 2 hari ini. termasuk dari BPR pun atau MF yang paling kecil sekalipun selalu ada persyaratanpersyaratan yang sangat sulit diakses terutama oleh kaum perempuan. tidak dari daerah. Kalau tidak. menunjukkan bahwa akses masyarakat terhadap pengambilan keputusan di desa. Tidak usah bicara partisipasi. mungkin karena untuk mendapatkan kredit harus ada agunan.Mengenai BUMDes. Semua ini pendekatan insidental. (terjadinya dept capital). (bagaimana akses perempuan) Fasilitator Saya menegaskan bahwa. Misalnya kasus UU Perbankan. UU Koperasi tidak ada yang menyentuh sampai ke masyarakat desa. 60% desa-desa di Jawa (Indramayu hanya 10% yang mengambil keputusan di desa itu) termasuk soal ekonomi. bagaimana menjembataninya? Menggagas Desa Masa Depan 67 . Sebenarnya perempuan itu terbukti bahwa pengembalian kredit itu rajin (kemacetan 99%). kembalikan saja ke masyarakat karena mereka yang lebih tahu tentang kondisinya daripada kita. karena sepertinya yang bicara desa itu hanya Depdagri sementara departemen yang lain tidak pernah melakukan affirmative terhadap desa. Belajar dari pengalaman itu. petani kita hancur. tetapi departemen lainnya pro liberalisasi pasar. Firsty Kita ada di 2 kutub yang sangat berlawanan. harus lebih jelas. artinya harus ada perhatian khusus terhadap perempuan. juga soal tanah-tanah mati sehingga jangan salahkan orang Indramayu menjadi PSK di Jakarta. kalau itu dikaitkan dengan micro finance bagi salah satu usaha BUMDes. Sunarti Menyoroti dari sisi perempuan. saya lebih sepakat kalau kita kembalikan pada kearifan local contoh kasus di Sumedang. masing-masing mempunyai institusi sendiri. misalnya soal pupuk. Studi LP3ES sekitar 10 th yll (dipimpin pak Dawam). kearifan desa disana. dimana agunan itu banyak dimiliki laki-laki. Jangan-jangan yang kita diskusikan ini apa yang sebenarnya menguntungkan elit desa. Usulan. Hasil studi dari Bank Dunia membuktikan bahwa dengan memberikan pendidikan pada perempuan (meningkatkan pendidikannya dari SD—SMA) dapat meningkatkan 0. Apakah dengan BUMDes. bahwa di lapangan 60% pelaku usaha mikro kecil itu perempuan tetapi mereka kesulitan dalam mengakases kredit. 70% dikuasi elit desa. termasuk skema kreditnya. sudah harus menyangkut pada politik perUUan yang lebih konkrit terhadap desa. BUMDes itu sesuatu yang bagus. Walaupun Depdagrinya jungkir balik. kita sepakat tidak ingin menjadikan desa sebagai objek. bagaimana kebijakan subsidi pupuk? Lebih parah lagi. Ini yang perlu dipertahankan (jenis usahanya). Otomatis mereka yang tidak punya KTP tidak bisa punya akses ke bank. ya tunggu 15 tahun lagi Negara kita ini sudah selesai. atau mereka (di desa) yang bahkan tidak punya KTP. Adnan Negara ini tidak sekedar memproteksi desa tetapi harus affirmative action sudah saatnya dilakukan. jadi tidak hanya di formal saja tetapi juga non formal.

ini cukup Rp. 2 tahun terakhir saya bergulat dengan petani hutan dan desa-desa yang mengepung hutan itu miskinnya luar biasa sehingga mereka menjarah hutan. tetapi rentenir tidak membutuhkan itu. Saya berpikir. karena terbukti (dari LP3ES) bahwa yang menguasai perekonomian desa hanyalah segelintir orang. yang nanti akan membawa kesejahteraan bagi masyarakat. Justru kami akan menggunakan instrument itu sebagai sodoran. bagaimana di daerah lain (Kalimantan)? Apakah mereka sudah mampu untuk mengalami proses monoterisasi. Kerangkanya harus ekonomi kerakyatan.000. BUMDes jangan sampai menjadi instrument/kapitalisme di desa yang akan memporakporandakan tatanan di bawah.Jenis usaha. dan betul-betul menjadi bagian dari supra ekonomi desa. afirmatifnya seperti apa?. mana yang kira-kira pas? Seperti yang disampaikan mas Untoro. dan ternyata kendalanya sama yaitu persoalan landasan hukum. Karena dulu surat Mentri Kehutanan berkali-kali ganti sampai sekarang tidak ada kepastian tentang itu. Suharman Saya merespon tentang BUMDes dengan membandingkan kita dulu pernah punya KUD. dikerokin juga sama yang ngutangi!”. cukup “kamu jualan disitu. tiap desa harus muncul BUMDes. kenapa Pemda Ngawi tidak gunakan BUMDes untuk mengatur micro finance di desa? Ini menarik untuk coba diaplikasikan. bukan dipaksakan muncul. jangan sampai itu hanya urusannya PMD. Kalau nanti BUMDes masuk harus dibungkas dalam sebuah proses. Kasus yang menarik. Unit usaha BUMDes harus yang realitas muncul. jalan tidak? Indonesia itu tidak hanya Jawa. bagaimana memperlakukan uang sebagai pelaku bukan object? Itu yang harus kita perhatikan. nanti kembali sekian”. kami sudah meneliti tentang rentenir sampai saya mengkritisi kebijakan bupati Bantul. Saya menggarisbawahi bahwa: (1) jangan sampai BUMDes itu justru menjadi instrument bagi capital besar yang menghisap desa dan (2) BUMDes jangan sampai menjadi sebuah instruksi yang wajib dialkukan di tingkat desa tanpa ada kegiatan yang riel di masyarakat itu. silahkan gratis. perlu ada koordinasi dengan sector-sektor yang lain. hanya sekedar untuk menunjukkan bahwa dia itu bukan hanya orang yang bisa membagian beras. Kemudian si ibu mendatangkan poliklinik di rumahnya. dia jalan menggunakan mekanisme bank. bahwa nanti akan ada Perda. misalUU kehutanan. saya menulis “Bupati versus rentenir”. Bagaimana masyarakat bisa memanfaatkan potensi yang ada didesanya untuk menjadi usaha itu terhalang oleh aturan-aturan sektoral yang lain. Itu nanti justru akan menjadi konflik. Ini kan lintah darat yang sangat manusiawi. Menggagas Desa Masa Depan 68 . ini tidak pas. Kami berani menjamin bahwa itu pasti akan ada banyak ganjalan. Masih ada PR-PR bahwa dari tingkat nasional sampai ke desa yang sampai sekarang masih menjadi problematic. Bagaimana “bank” menurunkan kadar formalitasnya mendekati pola-pola rentenir? “kalau rentenirnya masuk angin. siapa mau berobat. tetapi juga bisa mendatangkan poliklinik. belum terselesaikan. Jadi sistem ekonomi kerakyatan ini yang harus kita kawal. bukan sebaliknya menjadi instrumen pengisap kekayaan. Karena selama ini dana yang dikucurkan dari atas sampai ke bawah variasinya sangat luar biasa. ada seorang ibu yang membuka penggilingan gabah di kecamatan Pleret. 10. tetapi tetangganya itu ditanya “apakah beras itu sudah sampai?” Dan mereka tersinggung. Kita coba memakai kelompok tani hutan. Nanti hutan di Jawa juga habis karena kita tidak bisa mengelola ekonomi desa hutan. dia punya cukup banyak beras dan dibagikan ke petani tetangganya. Persoalan tentang micro finance. bagaimana seorang penggilingan beras bisa mendatangkan poliklinik dari luar untuk buka prakatek di sini. harus kita lihat kemampuan desa menjalankan BUMDes. Kenapa? karena bupati menggunakan bank pasar (beroperasi pada level pasar-pasar desa). Mekanisme/trust seperti apa yang dibangun oleh rentenir sehingga mereka membangun jariangan cukup kuat? PSPK dengan Pemda Ngawai sedang membangun kerjasama untuk mencari pola-pola dasar (skim) dari micro finance. Saya sepakat dengan teman-teman bahwa jangan sampai kita nanti menjadi paket kebijakan. karena nanti yang terjadi hanya papan nama saja. Tentang kehutanan. sehingga dikembalikan.

Yusuf Saya sepakat bahwa harus ada mekanisme control untuk mengatur posisi modal. Kemudian dimana mikro finance masuk? Tadi dikeluhkan bahwa permasalahnya tidak bisa akses ke bank. Saat ini dalam UU baru dimana koperasi sudah diakui sebagai badan hukum yang legal untuk bisa mengakses ke bank. seharusnya sudah jadi BPR tetapi tidak mau. Tetapi jangan sampai BUMDes itu komersil. tidak ada satupun yang mau menjadi BPR. (2) harus ada kedaulatan rakyat (kedaulatan pangan terhadap sumber daya bersama). “Bupati vs rentenir” di Bantul. Dan pengawasan keuangan oleh auditor independent. di Sidoarjo justru tanah kas desa ini yang digunakan sebagai modal BUMDes. sementara kalau bank kelemahannya pada persyaratan. jelas dikelola oleh pemerintah desa (sebagai penasihat) dan masyarakat. kalau itu kekayaan desa harus dikembalikan ke desa karena banyak pasar desa yang sudah berkembang justru diambil kabupaten. Ini yang di back up oleh GTZ ProFI. Prinsipnya. Sampai sekarang dari > 4500 BUMDes.Edward Untuk mengatasi monopoli kepemilikan. Menggagas Desa Masa Depan 69 . Depdagri bertangungjawab terhadap LKM-LKM yang non bank dan non koperasi. kurang terpayungi secara hukum. dan pusat hanya kebijakan. Jangan sampai kalau bisnis itu sudah kapitalis. yang cirinya adalah ekonomi yang berpihak pada rakyat. jadi BUMDes saja. Kalau pasar desa itu jelas merupakan kekayaan desa. hutan itu milik Negara dan dikelola Negara. Pengelolaanya bagaimana? Itu diserahkan daerah. maka perlunya disini bagaimana bisa menjembatani ? Fungsi utama BUMDes adalah (1) fungsi social. Yang dimaksud kebutuhan dan potensi desa ada 4 (empat) hal yaitu (1) Kebutuhan masyarakat terutama dalam pemenuhan kebutuhan pokok. kabupaten (melalui bupati) harus mengalokasikan dananya (berapa % dari APBD) untuk pengembangan ekonomi yang dialokasikan untuk modal BUMDes. misalnya hutan. Untuk bisa mengoptimalkan peran BUMDes. Celakanya dengan diserahkan ke daerah justru banyak dijumpai illegal logging. tidak dipaksa. UKM kurang bisa mengakses kredit bank. Untoro Kami menyusun PP itu berdasarkan kondisi di lapangan. Di dalam PP 72/2005 disebutkan bahwa pembentukan BUMDes disesuakan kebutuhan dan potensi desa. Justru Depdagri bertujuan menembus kebuntuan untuk mengatasi itu. Mengenai hutan. usaha ekonomi desa simpan pinjam juga maju. Usaha-usaha ekonomi masyarakat yang kurang terakomodasi. Karena ujung-ujungnya siapa yang berkuasa atas BUMDes? Apalagi ini rentan terhadap sumber daya bersama. karena koperasi ada keterbatasannya hanya dari. tidak dijual. Kepemilikan. (2) tersedianya sumber daya desa yang belum dimanfaatkan secara maksimal terutama kekayaan desa. ekonomi masyarakat itu juga boleh bisnis. Nanti konsekuensinya. Informasinya di Bantul BPRnya maju. Pengawasan dilakukan oleh BPD dan Bawasda sepanjang bantuan modal/aset2 daerah). maka tidak akan ada masalah rentenir. Mengenai tanah kas desa. Permasalahn kredit sudah sejak lama. bahkan assetnya sudah 1 milyar. Alur tembusnya melalui pasal 213 UU 32/2004 dan PP 72/2005. Prinsipnya. (3) tersedianya sumberdaya manusia yang mampu mengelola badan usaha sebagai asset penggerak perekonomian masyarakat dan (4) adanya unit-unit usaha masyarakat yang merupakan kegiatan ekonomi warga masyarakat yang dikelola secara paksa dan kurang terakomodasi. Kalau itu bisa. disitu menyebutkan tentang jasa keuangan. bentuk yang tepat untuk dasar hukum BUMDes adalah koperasi. tapi juga berfungsi social (visi dan misi jelas). itu yang kita lindungi. Bisakah bupati/walikota memberikan jaminan kepada pengusaha-pengusaha kecil yang dinilai layak untuk meminjam ke bank. oleh dan untuk anggota. Ini juga diakui oleh Bank Indonesia.

bagaimana cara mengelola kredit mikro. Tiga ketua UPK di kecamatan adalah perempuan. Kalau kita lihat draft UU LKM. sehingga mereka rajin mengembalikan. Adnan Kebijakan tata pembaharuan desa termasuk micro finance harus link and match dengan upaya pengentasan kemiskinan. Ketika masih pada skala kecil tidak apa2. kemudian di deposit (tabung) di bank (fungsi intermediasi). Fasilitator Prinsip yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa usaha itu harus berpihak pada rakyat dalam kerangka ekonomi kerakyatan. Pemerintah Malaysia pernah memberikan dana untuk taskin tetapi dikelola sendiri. apakah di BUMDes ketika terjadi pailit ada yang bisa bertangung jawab? Ini problematik yang tidak bisa diputuskan dalam forum ini. Dan rakyat/masyarakat tidak lagi menganggap bahwa itu uang rakyat. Mengenai BUMDes perlu ditambah dengan: 1) fasilitasi (dari Depdagri). apa bedanya? Ini merupakan hal kritis yang perlu menjadi perhatian kita. masyarakat langsung control. Suharman Simpan pinjam itu justru controlnya social.Barori Masalah kelembagaan. Pengawasan juga kuat seperti bank. Strateginya. lebih memberdayakan pada perempuan. Stefan Mengenai perlindungan tabungan. Kalau ini membahayakan harus ditolak. Ini menjadi ramburambu. tapi koperasi seperti apa? Toto Saya mendukung ibu dari pemberdayaan perempuan. pemerintah bekerjasama dengan NGO. jangan disamaratakan perempuan itu lemah. dasar hukum LKM harus ada. Sebagaimana bank yang lain. Dalam micro finance harus ada rambu-rambu yang jelas. salah satu problemnya itu. mereka menerima uang di masyarakat. Sunarti Contoh pengalaman di Malaysia. Seperti ini ada linkage program. kepastian hukum. sehingga mereka dapat berhubungan secara legal dengan bank. Solusinya. Menggagas Desa Masa Depan 70 . LKM hanya berfungsi seperti handle agency. Jadi perlu disisipkan. Widya Bagi saya. asetnya sudah 1 milyar lebih. uang dari pemerintah diberikan langsung kepada NGO untuk dikelola. 2) pelatihan dan 3) pendampingan (bisa dari Depdagri kontrak sarjana yang ada didesa sehingga bisa merekrut tenaga kerja di pedesaan). sedikit susah untuk LKM karena asetnya terlalu kecil. Apakah ini perpanjangan tangan. Prinsipnya. karena survey membuktikan bahwa kredit usaha simpan pinjam yang dilaksanakan oleh perempuan lebih baik daripada yang dilaksanakan oleh laki-laki. Apa yang terjadi? Mereka tidak mengembalikan karena mengaggap “itu uang rakyat”. kalau asetnya sudah sekian juta harus menjadi BPR? Maka tawaran koperasi itu mungkin menarik. (tanggung renteng) Fasilitator Kenapa PMD berani ? mungin karena ada support dari GTZ Pro FI. kalau berfungsi seperti ini otomatis ada perlindungan. Bagaimana keamanannya? Kalau nanti pintu masuknya hanya ke bank. Karena ketika micro finance itu memudahkan kredit bagi perempuan justru nanti akan melemahkan perempuan. koperasi itu bukan bank. Kalau sekarang ada pintu/jendela yang disediakan seperti LKM.

• ada pengawasan yang jelas. • kepemilikan oleh rakyat. di masyarakat lokal tentu sudah banyak program-program yang terkait dengan dua hal itu. • Problematika: selama ini masyarakat kecil khususnya perempuan tidak mendapat fasilitasi yang cukup. harus dibentuk berdasarkan aktivitas riel. Dari sisi LKM atau BUMDes. • ada alokasi dari dana APBD. • ada regulasi (peraturan) yang mendukung sehingga usaha pengembangan ekonomi desa ini bisa berlanjut. • harus ada badan hukum yang jelas dengan orientasi kerakyatan. Menggagas Desa Masa Depan 71 . sebagai pengembangan ekonomi desa untuk menghindari pertarungan modal besar • menjadi subjek dalam peksanaan pelayanan bukan menjadi objek.Fasilitator Kesimpulan diskusi : • Identifiaski pengalaman terkait dengan bagaimana pengembangan ekonomi desa melalui BUMDes dan LKM. tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah khususnya pengembangan UKM (tidak ada “proteksi market”). • ada mekanisme control dalam pelaksanaan dan mengedepankan manfaat untuk rakyat (kesejahteraan rakyat). Kita mencoba membuat tawaran dengan dua institusi yaitu BUMDes yang salah satu didalamnya ada micro finance sebagai alternatif pengembangan ekonomi desa. dan pendampingan maupun pemberian modal • berfungsi sebagai intermediasi (LKM) • harus diikuti dengan keberpihakan politik yang jelas • khusus untuk LKM ada skim khusus kredit yang dekat dengan rakyat (belajar dari rentenir) • ada jaminan afalis (kalau dibutuhkan) dari pihak-pihak tertentu untuk menghindari akses modal yang rendah • ada mekanisme dan komposisi kepemilikan modal yang jelas Semua itu tidak boleh lepas sebagai sebuah upaya sistemik dalam pengentasan kemiskianan. Rambu-rambu BUMDes atau MF seperti apa? • dilihat dari basis pada kemampuan dan pengalaman desa agar tidak dibentuk berdasarkan penyeragaman. • Tidak ada aspek payung legal : koperasi dan bank • Akses terhadap modal dan informasi rendah Ini semua merupakan problem kemiskinan yang ada di desa. • ada kejelasan tatalaksana manajemen. Dan ada anggapan bahwa uang dari pemerintah tidak perlu dikembalikan. perpanjangan tangan usaha-usaha besar (bank) atau usaha lain. • sebagai affimative action. selain usaha bisnis harus ada: • pemberdayaan: bentuk bisa fasilitasi. termasuk affirmative action lintas sektoral. menghindari kooptasi elit • harus memberi ruang dan bertumpu pada inisiatif dan kearifan local. • ada kejelasan hukum berbasis pada potensi ekonomi rakyat. Dari pengalaman itu. • Perlu adanya MONEV dalam pelaksanaan. • memberikan perhatian pada masalah-masalah perempuan. pelatihan.

sementara di dalam kepanitiaan disini ada beberapa kisi yang mungkin juga mudah dipandu-arah diskusi kita. Widya-FPPM. Salini-DSF. karena tadi waktunya pendek.5. Tadi ini masih ada beberapa perbedaan kedudukan desa di dalam UUD 1945 yang diamandemen dengan kedudukan desa di dalam UU 32/2004 ini beda. padahal kalau kita mau bicara desentralisasi ya daerah dan desa. Jadi kalau bicara tentang pembangunan ekonomi dan sebagainya lebih banyak berkait dengan komunitas-komunitas itu.. inkonsistensi. Dalam pengertian desa itu sendiri kita harus tahu ada pemerintah desa. Ini tadi diskusi yang berkembang yang kita bahas di sessi kedua. Sadu Terima kasih. yang penting yang harus dirubah. dari dulu saya tidak tahu ini kemana dan kaya apa. sesuai saja. Untuk itu. Riawan Tjandra – UAJ Jogjakarta : Prof. Franky-AMAN.. topik kedua mengenai tata hubungan desa dengan supra desa. melengkapi apa yang sudah disampaikan tadi. Jadi ini dilema. kalau saya beri kesempatan lagi dia akan presentasi lagi. pola kerjanya bagaimana. Kalau Pak Sadu ingin menambahkan point-point yang lebih tegas.. saya kira dengan yang kita bahas tadi. Wa’i-Lakpesdam. Dua pembicara Pak Prof. juga ditangan pemerintah desa. Toro-STPMD “APMD”. nanti diskusi akan berkembang lagi. Elke Rapp-DRSP.. cuma desentralisasi dalam konteks desa ini arahnya kemana. . mungkin saya sampaikan. Azam-Pemdes Kebumen. untuk tidak mengatakan salah. kan begitu. BPD. terima kasih atas kehadirannya di ruangan ini. nanti eksplorasi lebih jauh bisa kita lakukan. Saya kira itu. Tetapi yang terjadi dalam praktek. dan ada komunitas-komunitas tertentu. hubungan kerja. Ibnu–Unibraw. Jayus-UNEJ. Sadu dan Pak Ibnu Tricahyo hadir bersama kita. Haryo Habirono – FPPD 2. supaya out put yang kita hasilkan dari diskusi kelompok ini adalah bagaimana mempermudah kita dalam rangka membantu kita semua. dibuat mengambang. Menggagas Desa Masa Depan 72 . Nurwafi-BPD.. bukan hanya sekedar pemerintah desa. Artinya kalau Pak Ibnu ingin mengatakan secara tata kenegaraan UU 32/2004 itu salah demi hukum. kami persilahkan saja. • otonomi itu bentuknya bagaimana? • representasi desa itu bagaimana? • persoalan kedudukan desa. khususnya Depdagri dalam rangka menyusun naskah akademik tentang pengaturan mengenai desa. tapi yang penting kita bicarakan adalah desa sebagai kesatuan masyarakat hukum. dalam konteks tata hubungan desa dengan supra desa. Widyohari-STPMD “APMD”. Kelompok: TATA HUBUNGAN DESA DENGAN SUPRA DESA Fasilitator Peserta : 1. kita akan bersama-sama menindaklanjuti diskusi yang sessi kedua tadi. sedikit semampu saya membuat catatan ini ada beberapa point yang tadi juga telah disampaikan oleh moderator.. Sadu–STPDN. Terus hubungan desa dengan supra desanya itu sendiri. Bagaimana seharusnya pengaturan hukum mengenai desa? Dalam bingkai NKRI sebaiknya dihapus saja dulu. Steny-HUMA. Irwan-Letmindo/GTZ Aceh Fasilitator Ibu dan bapak sekalian. bahwa: • pengaturan desa itu menjadi sangat penting. Pak Sadu sudah panjang lebar. • konsep-konsep perwakilan daerah. desentralisasi dari pemerintah pusat itu seakan menimbulkan sentralisasi kekuasaan di pemerintah daerah. kami persilahkan kalau ada yang ingin berkontribusi. Mas Ibnu sudah panjang lebar. Silahkan kalau ada yang ingin berkontribusi menindaklanjuti hal itu. berpendapat.

hanya hal itu tidak dilaksanakan. tidak boleh memungut pajak dan retribusi atas dirinya sendiri. sudah ada komitmen politik bersama Komisi II DPR bahwa kedepan akan ada Undang-Undang tentang Desa. mungkin untuk memperkuat kedudukan tadi saya sepakat dengan Pak Ibnu. Ada beberapa di kabupaten yang seperti Sumedang dan Bandung. waktu itu Gubernur Jawa Barat bicara tentang provinsi termaju di Indonesia. tetapi juga kebijakan yang lebih konkret. Dan untuk desa diminta naskah akademik. Paling sedikit per-Oktober Mendagri mendapat PR dari Komisi II DPR untuk menyerahkan atau mempresentasikan draf awal naskah akademik. desentralisasi kepada desa itu bentuknya seperti apa. dia tidak digaji. tapi kalau kita lihat data. bahwa undang-undang tentang Desa kedepan harus diinikan. anggaran banyak. fungsi-fungsi yang sudah dijalankan oleh desa. kayaknya sebelumya membuat undang-undang tanpa naskah akademik. artinya sudah ada regulasi mengenai keberadaan dan peran masyarakat adat. sekarang tidak ada. Nah ini akan menjadi dilema. Kalau saya ngomong begitu mungkin tersingggung. khususnya untuk pengaturan. dan itu bisa nampak dari diberikannya ADD yang besar juga program-programnya. Jadi sebelumnya. karena orang-orang desa yang berkualitas sudah tidak mau jadi perangkat desa. munculnya undang-undang desa dan itu akan mendorong juga kedudukan desa yang lebih jelas. kemudian siapa yang mau bekerja di desa? Padahal kita bayangkan ada pemberian kewenangan yang besar. pegawai desa itu kedudukannya seperti apa? Ini sampai sekarang tidak jelas. Cuma nanti kembali kalau kepada kedudukan organisasi yang tidak jelas. bisa mengatur pilkades yang baik. Saya menawarkan gagasan. akhirnya gubernur setuju. Mohon maaf. memberikan masukan sekaligus itu adalah ajang advokasi kita dalam penyusunan naskah akademik mengenai desa. Franky Menurut saya tidak hanya regulasi. Barangkali ini bisa menjadi semacam model. Saya bertanya. Ini kayaknya konteks yang kita bahas berbeda.. kemudian begitu selesai ya selesai tidak ada pensiun. yang dipungut adalah iuran. Pertemuan ini dimaksudkan dalam rangka mengisi. Merupakan suatu keharusan kalau kita membiarkan desa seperti bentuk-bentuk yang lama. saya tidak tahu.. apakah pemerintah desa adalah organisasi pemerintah sesungguhnya? Dia menjalankan fungsi-fungsi. tapi orang yang bekerja di desa adalah orang-orang yang mohon maaf kalau saya katakan tidak berkualitas. Ini barangkali masalah pokoknya disini Widyohari Saya nyambung Prof.. kewajiban-kewajiban pemerintah. kalau dulu masih ada pengganti asusila. otonomi desa yang sebenarnya juga akan semakin jelas. nah ini menjadi babak baru. mengenai Undang-Undang tentang Desa ini. Fasilitator Jadi supaya kita lebih fokus. dia menjadi mata rantai yang terlemah dan akan tersisihkan. sehingga bisa mengatur tentang pengaturan dan kedudukan desa. Masyarakat hukum dengan masyarakat hukum adat berbeda. Saya ngomong sama gubernur itu akan menjadi omong kosong kalau desanya tertinggal. bukannya masyarakat adat tidak prnting. buktinya sudah ada tapi pemerintah daerah tidak bisa apa-apa. larinya pengganti ekonomi.Desentralisasi kepada daerah jelas. Ini lebih memberi peluang. tapi kedudukannya tidak jelas. tapi memang ini hal khusus yang dibicarakan mestinya dalam ruang dan waktu Menggagas Desa Masa Depan 73 . Fasilitator Saya potong sedikit. Jadi desa mengatur tentang kedudukan desa itu sendiri. saya harus informasikan karena ini informasi juga saya dengar dari orang yang harus saya percaya yaitu dari Depdagri sendiri. saya lihat visi dari kepala daerah dalam membangun kabupaten berbasis desa. Kalau tidak salah SK Menteri Kehutanan menjelaskan soal masyarakat hukum adat.

apakah masih perlu atau mungkin dengan badan kerjasama antardesa atau langsung kabupaten. Kita diskusi mengenai local state government. Karena kalau semua sudah diatur. yang namanya sekdes sampai mati tetap sekdes. Sekarang saya melakukan perubahan perda. Nah sekarang kita ingin fokuskan supaya kita mencapai apa yang tadi dilontarkan Pak Sadu dan Pak Ibnu. Kalau kita mulai dari tingkat desa. step by step. tidak serta merta langsung kita berhentikan. Sadu Kalau dilihat dari jenisnya ada tiga: 1) Desa Geneologis. Franky Artinya itu mementahkan diskusi kita yang kemarin dengan Pak Eko. dari bawah. Menggagas Desa Masa Depan 74 . Jadi namanya desa nanti akan ada lima perangkat. dan ini membuat undang-undang yang akan dilaksanakan dan bersifat nasional. kami mengundang sembilan ratus dua puluh orang. Dari dulu desa deperti ini terus. dari legislasi. jangan terlalu detail. Ini saya antisipasi kalau terjadi suatu permasalahan hukum. adatnya masih kuat. Konsultasi publik saya tahu. Itu sudah ada usulan dari kawan-kawan. ini agak beda. lima struktur itu bebas saja. tipe 2) Desa Campuran yang adatnya sudah mulai pudar. kaur umum dengan prestasi yang bagus bisa menjadi sekdes. untuk melihat struktur apa akan dipakai. Kalau kita mengembalikan self community governance apa gunanya kita diskusi tentang itu lagi. apakah ini semua? Apa dan bagaimana struktur yang akan dilaksanakan. Fasilitator Kalau tadi kita bicara tentang otonomi itu mungkin akan menjadi berbeda dengan yang kemarin. dan 3) Desa Teritorial yang adatnya sudah tidak jalan karena masyarakatnya heterogen. Azam Terima kasih. Pak Prayitno mengenai kedudukan desa. katakanlah sekdes terkena masalah norma sosial. Kalau ada self gonernance kita harus lihat peran kecamatan. atau self community governance. local self governance. minimal kalau ada sekian provinsi. yang namanya kaur pembangunan selamanya kaur pembangunan. ada local state governance. Usulan-usulan dari masyarakat banyak dan bagus dan itu saya masukan. mungkin struktur ini akan berbeda lagi. local state governance. kami melontarkan bahwa ada garis dalam struktur pemerintahan desa. apakah disitu adat istiadat masyarakat yang tradisional masih ada atau tidak ada lagi desa. kecamatan. tapi kita juga jelaskan juga usulan anda tidak bisa masuk kesini karena nanti akan berbenturan dengan peraturan. Akhirnya hal itu menjadi kekhawatiran dari masyarakat itu sendiri oleh UU 32/2004. Ini lalu memang tipikal otonominya menjadi berbeda. Pak Eko cukup jelas membuat tipologi desa dari hasil-hasil studinya. kita kembali ketiga tipe desa. Fasilitator Ya. sudah jenuh juga. local self government. Elke Usulan tadi bagus sekali. ada self community governance. saya pikir apa konsekuensinya. tapi itu masih kurang. Kita pernah mencoba pada penyusunan perda 2004. dan self government community. ada sanksi disitu. kemudian struktur organisasipun jangan diatur. apakah local self governance. Artinya mekanisme ini tolong. Dalam undang-undang nanti.yang khusus. jadi semua provinsi bisa mengetahui kalau ada proses. ini mungkin kita bahas asas-asasnya saja. dimana desa yang masih homogen. saya kebetulan dari orang pemerintah. itu menjadikan aspirasi ini apa artinya. masa jabatan tidak usah diatur. bisa dengan penurunan pangkat. Kita sedang membicarakan masyarakat hukum. Kalau ada desa langsung dari pemerintahan.

Nurwafi Terima kasih.. Jadi kalau nanti dibawah atau bagian langsung dari kabupaten. tapi oleh perdes kemudian bisa diambil alih oleh Menggagas Desa Masa Depan 75 . mereka punya suara dan bicara soal dinamika lokal seperti apa yang sudah mereka buat. yang penting prinsip-prinsip sebagai sebuah desa itu tercover. yang prinsip bagaimana hak-hak. yang diharapkan adalah hak-hak prinsipnya yang diperoleh. Dalam UU di level nasional misalnya justru dikatakan sebagai kewenangan pusat atau daerah. sangat bagus menyangkut perbedaan antara desentralisasi kepada desa dan desentralisasi kepada daerah. kami tidak terlalu pusing apakah sebuah bagian dari pemerintah daerah atau berdiri sendiri. kalau memang terpisah dan itu lebih memberikan keleluasaan terhadap hak-hak kita sebagai orang desa maka itu akan lebih bisa menjamin bagi desa. Coba berusaha lagi melihat dinamika seperti apa yang sudah dibangun selama ini pasca UU 22/99 dan pasca UU 32/2004. Kemudian kalau bicara soal desa berdasarkan pengakuan maka saya baru membayangkan kalau desa yang kita bicarakan kemarin. bagi kami orang desa sebenarnya tidak tertalu prinsip. Saya hanya mau menghubungkan saja konsensi yang sudah dibicarakan itu dengan rencana atau kemauan kita kedepan. apakah yang disampaikan berdiri lepas dari sistem pemerintahan kabupaten atau masuk sebagai sub-sistem pemerintahan kabupaten? Kalau Pak Ibnu tadi tidak mengatakan. Fasilitator Saya ingin klarifikasi dari Pak Wafi. Atau sebaliknya.Diharapkan dalam diskusi kelompok ini bagaimana nanti itu diatur dalam undangundang yang baru. apa mau kawan-kawan di level bawah. tapi saya justru melihat itu jangka panjang. komando. tapi beberapa waktu sering mengatakan otonomi desa itu kan otonomi di dalam otonom. bagaimana otonomi desa yang disebutkan dalam konteks pemerintahan kabupaten. Kemudian sentralistik. self governing community memang seperti yang dikatakan Pak Sadu. Oleh karena itu memang selama ini punya pengalaman bahwa bagian dari kabupaten adalah kecenderungan-kecenderungan yang. sehingga tidak perlu menyangkut nanti apakah undang-undang atau hanya sekedar revisi bukan hal yang seperti dulu lagi. tapi pasti ada asas-asas penting atau dinamika-dinamika lokal penting yang kira-kira akan keluar menjadi argumentasi kita di level nasional. dan perdes itu sulit kita bayangkan dalam hal kewenangan. kami sebenarnya dari desa selalu memberikan masukan-masukan yang positif mengenai keberadaan lurah-desa. asas-asas yang sangat prinsip bisa kita terima sebagai hak. Steny Saya hanya melanjutkan apa yang sudah dikemukakan. Saya ambil contoh dibeberapa desa misalnya mereka buat perdes. selama bisa memberikan suatu jaminan-jaminan hak desa bagi kita tidak terlalu prinsip. penyeragaman. sehingga berhasilnya desa itu kuncinya memang di tingkat kabupaten. bicara kualitas sumberdaya manusia itu penting. Soal aturannya tidak perlu terlalu ‘jlimet’. selama ini hanya instruktur. Nah itulah yang saya kira butuh kerja lebih keras lagi. kabupaten atau kecamatan bagaimana unsur-unsur itu sebagai fasilitator. dan saya kira kawan-kawan dari pemerintahan desa ada disini. mungkin dalam pikiran normatif.. Nurwafi Prinsipnya. Saya kira desa dan pemerintah kabupaten tidak menerjemahkan kedua UU itu lurus-lurus seperti apa yang kita bayangkan. Itulah yang mungkin bagi kita selaku orang desa akan lebih mencerminkan hak-hak kita di semua aspek kehidupan berbangsa dan bernegara akan lebih terjamin? Sehingga kalau akan diturunkan sebuah undang-undang atau tidak. Kepada desa itu kira-kira berdasarkan pengakuan mungkin lebih mirip dengan Pak Ibnu bahwa kepada desa itu berdasarkan hak.istilahnya desa itu sangat tergantung kepada kabupaten. Kaitannya dengan posisi desa dengan supra desa.

Ini menyedihkan dari satu sisi aspek kemandirian. taruhlah ada kebijakan-kebijakan yang harus ditempatkan proporsinya secara tepat. karena perda dalam satu kabupaten dengan kabupaten lainnya tidak sama. kalau tadi menjadi sebuah muatan yang akan menjadi bagian dari peraturan daerah saya justru sangat sependapat. dan banyak pegawai kecamatan menyusun program desa dan dirumuskan setelah ada ketentuan atau ketetapan mengenai APBD. Memang desa memiliki perangkat organisasi yang seperti dimiliki oleh kabupaten. karena di banyak desa program-program desa disusun atau dirumuskan hanya oleh institusi di atasnya. Jayus Sebenarnya persoalan desa itu kembali lagi pada persoalan konstitusi. tapi hal yang tidak ada dalam bagian dari UU itu perlu diatur dalam perda. Dengan satu pengertian bahwa ini mengadopsi tiga hal tadi. bahwa struktur desa tidak akan bisa dilepas dari persoalan kabupaten. artinya kita menyerahkan pengaturan desa kepada kabupaten atau provinsi. maka kira-kira awalnya harus melalui persetujuan dan ijin mereka. saya tidak punya suatu keyakinan apakah pembuat UU nanti berkenan. meskipun itu birokrasi di tingkat desa. Anda itu tidak bisa merusmuskan sendiri. perijinan dan sebagainya masuk. Itu dinamika lokal dan yang begitu jelas kebutuhan dari bawah. Saya kira bisa menjadi rekomendasi kita kedepan bagaimana mengatur hubungan antara komunitas-komunitas lokal yang disebut self governing community dengan pemerintah daerah. Fasilitator Kalau saya menangkap. pendidikan dan sebagainya. Contoh di diskusi kemarin soal inpres. Seandainya ada gagasan untuk melapaskan. Titik temu atau kompromi antara support dengan titik kemandirian desa itulah yang sebetulnya menurut saya belum ketemu. Jadi mereka tidak bisa menyusun program dengan kolom-kolom yang kosong. Pemerintah provinsi dan kabupaten sudah harus bisa melihat itu. Saya kira begitu aja. Ketiga. misalkan mana yang menjadi institusi desa sendiri dengan institusi sektoral di tingkat kabupaten. saya merasa bahwa pembicaraan ini sebenarnya mengenai tarik ulur antara support yang diberikan oleh supra desa dengan kemandirian desa. begitu? Provinsi lebih umum. Jadi antara otonomi desa dengan segala kemampuannya meskipun tadi Prof mengatakan bahwa pada realitasnya SDM di desa sangat memprihatinkan. yang merupakan kewenangan pemerintah kabupaten memberikan ijin. Jadi self governing community itu berlaku untuk daerah mana. adalah keinginan mereka misalnya kalau ada orang luar masuk. Jadi ini nanti secara aspek politis juga harus dipertimbangkan bahwa desa sebagai satu kesatuan hukum memiliki aspirasi (dalam musrenbang dan Menggagas Desa Masa Depan 76 . ini desa kita yang menggaruk gatal ditubuh sendiri tetapi muternya itu harus kemana-mana dulu. Wa’i Terima kasih. Oh. Oleh karena itu didalam UU nanti yang hendak diatur adalah hal yang dianggap penting secara umum dalam UU tentang desa. dan lainnya untuk daerah mana. Jadi impian saya kalau kita bicara dari self governing community maka pembicaraan soal hak otoritas mereka itu menjadi salah satu muatan dalam UU kalau kita mau merekomendasikan. setelah tahu desa itu dapat berapa baru bisa. lebih spesifik lagi. orang akan mengatakan ini semacam cek kosong. atau kalau ada investasi. kalau sudah bicara persoalan dilepas pasti saya akan berpikir beda lagi. kami cocok menggunakan ini dan seterusnya. Pada sisi yang lain kemudian memang bersilangan dengan pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya sektoral di tingkat kabupaten.kewenangan desa. lalu mau kita apakan dalam konteks kewenangan dalam struktur yang mau kita implementasikan? Saya hanya mau mengatakan satu hal penting yang sering keluar dalam self governing community selama ini. Kedua. sepanjang konstitusi itu tidak menempatkan desa menjadi yang harus diatur dalam konstitusi maka selamanya tidak akan menjadi keharmonisan. Nah ini nanti juga akan menimbulkan persoalan baru. Ini juga yang kemudian harus dimasukan dalam kebijakan bagaimana menumbuhkan desa dalam struktur ini. kabupaten lebih khusus lagi.

dan desa. Sadu yang selalu membedakan antara otonomi pemberian dengan otonomi asli. Sutoro Mengulang yang kemarin. Pertanyaannya adalah apakah konstitusi ini yakin menjadi modelnya pemerintah? Ini harus jelas dulu. Mas Toro silahkan. karena tujuan akhir dari RUU Desa adalah bagaimana desa itu dengan otonominya bisa bangkit dan mandiri. tidak pernah serius dilaksanakan. Nah ini persoalannya sekarang. Oleh karena itu dalam konteks ini kalau kita lihat UU 32/2004 pasal 1 ada bunyi ”Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi menjadi wilayah provinsi dan kabupaten”. membina. kemudian berkaitan dengan SDM di desa yang lemah. jadi dia sebagai desa yang otonom tapi tidak bisa semua desa di Indonesia kita perlakuan sama. dia sedang berbicara tentang desa adat. itu artinya yang namanya penyerahan. disamakan sajalah. Local State Government adalah desa administratif atau kelurahan. tapi tidak pernah terlaksana. alokasi atau pembagian itu berarti desa punya hak. Sadu Apapun yang kita lakukan kepada desa tentu terkait dengan sistem pemerintahan nasional. BPD-nya sudah lebih siap. jangan sampai kita membuat UU bertabrakan dengan konstitusi. kalau kita mau mendorong desa yang otonom maka NKRI dibagi provinsi. Itu posisinya jelas. tapi ya begitu saja. melakukan supervisi. otonomi pemberian itu sama dengan konsep bantuan. Kemudian tugas pemerintah yang lebih tinggi memfasilitasi. pada sisi lain masyarakat desa juga sebagai konstituen dari partai politik. harus konsisten dengan sistem di tingkat nasional. Fasilitator Pertama yang ingin disampaikan. Pertama. pemberdayaanpemberdayaan itu sudah ada. karena pengalamannya Jawa.sebagainya). Ketiga. Nah sekarang yang namanya konsep pemberian harus diganti dengan konsep pembagian atau penyerahan. Menurut saya istilah itu sekarang sudah tidak relevan. Ini yang kita hadapi sekarang dalam UUD 1945 pasal 18A dan 18B. adalah Local Self Government itu yang namanya desa umum atau desa teritorial. bagaimana kepada desa? Kalau tadi Wafi sudah menyebutkan sebagai fasilitator. Pak Azam bicara tentang desa otonom. pembinaan kapasitas dan seterusnya. Saya agak kurang setuju dengan Prof. jadi kategorinya jelas. kepegawaian. Kalau nasional pakai umum satu-duaMenggagas Desa Masa Depan 77 . mempermudah saja supaya tidak campur aduk. ganti konsep alokasi. Kembali pada SDM. Kedua. itu kan diawal pembicaraan tadi Prof Sadu menyampaikan bahwa desa itu sebagai obyek politik terus dan selalu dimarginalkan. Nanti masing-masing pilihan ini akan mempunyai konsekuensi terhadap administrasi. apakah dengan otonomi desa itu lalu SDM akan segera up-grade atau sebenarnya sekarang ini kondisinya didalam UU juga PP 72/2005 atau kemarin ada Kepmendagri 64/1999 yang diacu untuk pengaturan mengenai desa. kabupaten. yang menurut saya sudah siap didorong untuk menjadi desa yang otonom. Ini peran pemerintah. itu bisa kita petakan secara jelas. Meskipun Direktorat Jenderal PMD yang mengenai desa ini sudah lebih dari tiga puluh tahun. Tadi Mas Franky dari AMAN. Sekarang mengenai desa otonom. Ini ada dua jalur yang sebetulnya bisa dimainkan oleh masyarakat desa. Kedua. Karena pengalamannya sudah lebih baik. kemudian Mas Wafi. tidak pernah ada pemberdayaan yang konkret baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. hubungan dengan supra desa dan seterusnya. jadi konsep bantuan itu sudah kita tolak. sebut saja yang namanya Self Governing Community itu sebagai desa adat atau desa geneologis. mereka bisa menyesuaikan dengan perkembangan zaman dan seterusnya. Itu mungkin yang saya bisa katakan bahwa titik kompromi itu yang belum ketemu. Hanya berhenti disitu. bagaimana kedudukan desa itu dalam otonominya. artinya desa harus lepas dari kabupaten meskipun ada hirarki tapi tidak seperti yang sekarang menjadi bagian atau sub-sistem pemerintah kabupaten. saya ingin bertanya.

tapi kalau pakai size ada besar-sedang-kecil ya konsisten. apakah kita kemudian hanya bicara soal presentase. Orang diundang adat tanpa alasan yang jelas. supervisi. Kalau Bali saya lihat meskipun sudah modern tapi adatnya-agama masih kuat. perhutanan dan sebagainya dan itu ada di wilayah desa. dulu dia punya kekayaan besar kemudian dipecah-pecah. Soal istilah. peran pemerintah sebagai fasilitasi. Kalau desa itu tidak jelas. Menggagas Desa Masa Depan 78 . itu yang mesti didudukan dulu karena berangkatnya dari situ. makanya dia membedakan ada desa dinas dan desa adat. Bagaimana dengan yang begitu. Urusan desa adat orang lebih patuh ketimbang desa dinas. sebagian besar obyek perijinan adalah pertambangan. Dari sekian ijin yang diberikan di Indonesia. jadi larinya pada penghasilan. kabupaten sekian atau bicara pada level yang lebih mendasar. Saya mau menambahkan saja. tidak perlu ada administrasi. tadi sudah disinggung dan bicara soal tata hubungan desa dengan supra desa. kalau organisasi ini jelas kita bisa membuat sistem seleksi. Sutoro Saya kira pasal 18B itu sudah ketinggalan zaman. hanya sekali lagi jangan membuat aturan yang berlaku untuk seluruh desa padahal ada kategorisasi yang cukup tajam. meninggal harus cari tempat lain. Kalau kita menerima pasal 18B semua self governing communty saja. Steny Konkretnya. yang dikejar harga ekonomi. apakah diteruskan seperti itu saja atau perlu ada suatu klausul atau satu peran juga yang boleh kita katakan sebagai negosiasi perijinan yang juga dimiliki oleh pemerintah desa terhadap ijin-ijin yang masuk ke wilayah desa. adat sudah tidak lagi punya kekuatan. kuatnya begitu. Desa-desa yang adatnya masih kuat berikan kesempatan. intinya satu yaitu wajib. Nurwafi Di PP 72/2005 itu malah lebih jelas. itu bukan harus. sekarang penghargaan sosial tidak ada. Jangan sampai kita melakukan kesalahan yang kedua. nanti saya pikirkan. keuntungan untuk desa sekian. sekarang tidak kesitu yang dikejar. Jadi kalau kita diundang dalam kegiatan adat tanpa alasan yang jelas tidak datang. karena konfliknya disitu. makanya mereka menghargai betul pada adat. tadi saya terima kasih diberikan saran. hak dan kewajibannya jelas. sekarang mau disatukan lagi sudah tidak bisa. Kecuali desa-desa yang memang masyarakatnya sudah sangat heterogen. Kalau dulu orang itu rebutan jadi kepala desa karena gengsinya luar biasa-status sosial. Kalau tiba-tiba ada orang datang bawa secarik kertas bahwa saya akan membuka tambang disini lalu masyarakat desa terima sampahnya. penyeragaman kemudian merusak akar-akar yang ada. Kemudian SDM lemah itu kembali dari organisasi yang tidak jelas. Tapi pertanyaannya tadi 18A-18B itu dipisahkan. Setelah wajib pihak kepala desa dan BPD dan juga lembaga kemasyarakatan disitu harus stakeholders dulu yang memutuskan ya atau tidak. kalau semua bisa jadi satu.tiga ya harus konsisten. kalau tidak ada upaya-upaya hukumnya. tidak perlu ada pemerintahan. Seperti dulu ada di Sumatera Barat rancu. Jadi sebelumya stakeholders harus dikumpulkan dulu. Saya juga bingung. bunyi pasalnya wajib. ia kehilangan hak-hak sosial. persoalan selama ini yang sering terjadi adalah kita kurang mencermati kewenangan administrasi pemerintah pusat dan pemerintah kabupaten begitu besar di level desa. perijinan itu juga harus melibatkan mereka dalam persetujuan. Dulu lebih banyak pada penghargaan-penghargaan sosial. Fasilitator Kalau dalam UU 22/99 pasal 110 ada pihak ketiga yang ingin membangun atau mengeksploitasi desa itu harus mendapat persetujuan dari masyarakat desa melalu kepala desa dan BPD. itu difasilitasi di pasal berikutnya. akarnya sudah tercabut. dia bisa ditolak di-aben disitu. jadi ya kita harus menyesuaikan diri dengan kondisi.

kalau kita tanya kenyataan di lapangan. Fasilitator Saya kira ini cukup. nanti dalam diskusi pleno presentasi.. Nanti kita akan bantu merapikan hasil-hasil. hak-haknya belum maksimal bisa diupayakan. Jayus Alangkah bijak kalau kita mau mencoba membaca hal baik dan tidak baik dari peraturanperaturan UU yang pernah ada. kita lihat lagi th 48. apakah hubungan desa dengan warga desanya? Steny Itu hubungan dari pemerintah daerah sama pemerintah pusat. jadi tidak pernah tahu padahal ada. UU 22/99 demikian pula. Menggagas Desa Masa Depan 79 . karena saya yakin didalam UU 32/2004 ada yang baik dan ada yang tidak baik. bukankah begitu? Sekarang saya hanya ingin mengingatkan waktunya. Fasilitator Oleh karena itu. apa bisa ditulis dalam flipchart topik-topik yang akan disampaikan? Fasilitator Apakah ini perlu saya tuliskan? Sutoro Saya kira perlu Pak dituliskan garis besarnya. Itu akan menjadi sebuah muatan disamping adanya persoalan. tetap saja bunyi pasal 18 juga tidak akan berubah. ditaruh didalam meja. saya ingin mengundang salah seorang teman untuk mempresentasikan hasil diskusi kita. hanya orang desanya sendiri. biar nanti kalau terkait dengan desa. itu berkaitan dengan sanksi. coba kita lihat th 65. Fasilitator Kalau tidak diterapkan itu persoalannya juga banyak orang tidak baca. Jadi saya kira memang kawan-kawan dari desa yang lebih tahu persis. mekanisme keluhan. hal itu perlu menjadi sebuah pemikiran yang lebih jelas. disitukan ada di UU tapi tidak diterapkan. kemarin kita sudah mengangkat seorang bapak kedudukan desa. Soal ADD. kita masih akan terus menambahkan. soal hak-hak desa itu ada.. Saya minta mas Wafi bersama kami melengkapi ini. Pak Toro selama belum ada amandemen. Nurwafi Salah satu kelemahan adalah sanksi.. Kedua. Apa ada relawan. Untuk itu kita cukupkan sekian dulu diskusi kita. kalau masih ada ide-ide. itu yang pertama. Fasilitator Ya. padahal sosialisasi sudah sekali-dua kali.Fasilitator Dalam konteks diskusi kita ini posisinya ada dimana. UU 5/79 saya pikir itu bagus kontruksinnya cuma persoalannya pada sentralistis. kalau kiranya cukup. Elke Saya hanya ingin. Ini tugas kita semua terutama pemerintah daerah bagaimana memfaslitasi orang baca.

capacity building menyangkut desa. Bahkan. Tipologi desa perlu dicermati dalam mendesain pengaturan mengenai kedudukan desa dalam state. Hal ini berkaitan dengan desa otonom dan desa adat. 2. 5.00 – 17. Perlu ada ruang yang jelas bagi desa dalam kewenangan perijinan. 8. sangat penting pula desa diberikan legal standing dan kemampuan menjalankan class action dalam judicial process. 3. Barori 1. fasilitasi. karena desa merupakan wilayah yang menjalankan pemerintahan. fasilitasi. UU 32/2004 sejauh ini belum banyak ditindaklanjuti oleh kabupaten dalam menjamin desa memiliki otonomi. Ada pendapat yang melihat pasal 18A konstitusi justru sebenarnya menjadi dasar untuk mendesain desa otonom dan 18B sebagai basis pengaturan bagi desa adat. pembangunan dan tatanan kehidupan masyarakat dan budaya lokal. Konsistensi implementasi dari policy. 3 Juli 2006 Pukul : 16. Presentasi Hasil Diskusi Kelompok Hari/Tanggal : Senin. tetapi forum lebih banyak menaruh perhatian pada posisi desa sbg local self government. Salah satu tolok ukur desa mampu menjalankan kewenangan adalah mampu menyusun dan menjalankan peraturan desa secara konkrit. agenda kedepan adalah mendorong kabupaten untuk menyusun perda dan program untuk mewujudkan desa yang memiliki kewenangan yang jelas dan mendorong kemampuan mereka untuk menjalankan kewenangan tersebut. Bentuk organisasi desa perlu disesuaikan dengan karakteristik dan tipologi desa. 4. Presentasi Kelompok: OTONOMI DAN KEWENANGAN DESA Disampaikan oleh: Kamardi • • • Masalah Kewenangan desa: Pilihan tentang posisi desa sejauh ini belum jelas. ke depan perlu penguatan kapasitas desa untuk mampu menjalankan kewenangan (aparat dan masyarakat) dengan baik. Bentuk otonomi dan kewenangan desa mencakup hubungan desa dengan supra desa Bentuk organisasi ---) berkaitan dengan SDM.Benang Merah Pemikiran : • • • • Kedudukan desa dalam konstitusi dan derivasinya. Oleh karena itu. • • • Menggagas Desa Masa Depan 80 . Pengaturan relasi antara desa dengan supra desa tetap harus mengacu pada dasar konstitusi dan derivasinya. tetapi di daerah tidak direspon dengan baik dan cepat.00 Moderator : M. Diperlukan adanya konsistensi implementasi dari policy. Selain jaminan kewenangan. Otonomi dan kewenangan harus diberikan kepada desa.2. capacity building menyangkut desa Deskripsi singkat : 1. Selama ini good will pemda masih dipertanyakan karena banyak ide tentang kewenangan muncul di pusat.

5 unsur dari bundo kandung. perlu adanya kepastian melalui regulasi atau kebijakan yang membuat bahwa otonomi desa dengan kewenangannnya tersebut tidak dimanipulasi oleh kepentingan elit desa.• • • • • • • Untuk merumuskan kewenangan desa. kami ada 7 jorong. perlu disusun indikator dan acuan pengembangan otonomi desa melalui pentahapan. masalah kewenangan desa mengatur peradilan informal harus diakui dan sekaligus disinkronkan dengan peradilan formal. lebih besar dari 3000 25 orang. 5 unsur dari pemuda. lebih dari 1600 s/d 3000 21 orang. atau dimensi kultural). Saya dari Limapuluh Kota. Datuk kita kumpulkan lalu kita pilih wakil. regulasi tidak terlalu banyak. masalah kewenangan desa harus memperhatikan konteks daerah masing-masing Agenda ke depan. seperti misalnya dalam kasus mengelola peradilan informal. ada juga 1500 orang. beliau tadi ada keinginan BPD dipilih langsung oleh masyarakat. dan dukungan administrasi keuangan dan kelembagaaan. mekanisme. Tanggapan Datu Kita mau menambahkan sedikit untuk BPD. Perlu pengkajian tentang masalah otonomi asli dengan belajar dari sejarah perkembangan desa. Problemnya adalah masih ada masalah benturan legalitas karena peradilan formal belum mengakomodasinya. bagaimana jalan keluarnya? Menurut PP 72/2005 itu 5-11 orang. pemilihan itu bagaimana bentuknya. Perlu penataan ulang (khususnya di pemerintahan pusat) tentang pemberian kewenangan kepada desa yang tidak konsisten antar sektor (menghindari tubrukan antar sektor). ulamanya kita kumpulkan lalu kita pilih satu. kita kembalikan ke masyarakat. ini bagaimana menurut pendapat Bapak? Dahlia Agenda ke depan. terdiri 5 unsur dari cerdik pandai. jadi kalau ada tanggapan dari kelompok demokrasi desa. perlu adanya kepastian melalui regulasi atau kebijakan yang membuat bahwa otonomi desa dengan kewenangannnya tersebut tidak dimanipulasi oleh kepentingan elit desa. Oleh karena itu pula. hanya perlu good will dari semua unsur. bagaimana keterwakilan kelompok lain. biasanya kalau ada pemilihan kita perhitungkan aspek kemasyarakatan. Menurut PP 72/2005 dibatasi 5-11. Dan dengan demikian. bagaimana keterwakilan. Bapak Seandainya akan memekarkan diri itu bagaimana? Menggagas Desa Masa Depan 81 . desa masa depan ditandai oleh adanya otonomi desa yang berorientasi pada penjaminan kesejahteraaan dan keadilan dalam bingkai yang lebih demokratis dan partispatif. pemilihannya tentu per jorong. Sementara itu pihak kabupaten lebih berkaitan dengan urusan keadministrasian. Moderator Kita tuntaskan dulu kelompok ini. 1 jorong ada penduduknya 700. perlu adanya kewenangan yang luas bagi desa. Berkenaan dengan kewenangan desa dalam kelola dan penyelesaian masalah. dalam kaitan itu khususnya desa adat punya akses mengelola di SDA dan urusan komunitas nilai-nilai (roh. Terdapat bukti bahwa desa mampu mengurusi urusannya sendiri. Bagi saya regulasi atau kebijakan itu sudah ada yang mengakomodir. silahkan. jadi tidak perlu regulasi baru. menurut Perda Sumbar kalau penduduknya 1600 maka wakilnya ada 16 orang. 5 unsur dari pemuda. 5 unsur dari nini mamak. Berdasarkan pengalaman. Oleh karena itu.

Toto Hak asal usul di pasal 206 UU 32/2004. Keterwakilan lembaga kemasyarakatan lainnya Fungsi lembaga-lembaga: • Lembaga di desa terdiri dari lembaga formal dan non formal • Fungsi lembaga desa bervariasi: sebagai fungsi legislasi. bagaimanapun akan memberikan cipratan langsung. kontrol dan pelaksana • Bentuk diserahkan pada kearifan dan keunikan lokal dengan acuan dari pusat • Lembaga itu harus mampu mewakili semua aspirasi masyarakat • BPD dan lembaga kemasyarakatan yang ada harus ditopang dengan capacity building yang memadai Kendala-kendala: • Keterbatasan partisipasi masyarakat antara lain karena ssstem yang belum mendukung (structural) • Kendala cultural (misalnya budaya patrialistik. contoh di penjelasan. Barangkali pemerintah kabupaten tetap mengacu UU 32/2004 dan PP 72/2005. Soal jumlah. Masalah regulasi. belum menyentuh bagaimana membangun essensi check and balances • Kemampuan ekonomi masyarakat yang bervariasi berkorelasi pada tingkat partisipasi Menggagas Desa Masa Depan 82 . Kendala-kendala yang penting diperhatikan Demokrasi yang cocok bagi desa: • Inclusive demokrasi perlu menjadi pertimbangan utama dalam rangka membentuk self community governance yaitu suatu kondisi dimana masyarakat dapat terlibat secara luas dalam proses pengambilan keputusan. yang dimaksud Badan Permusyawaratan Desa adalah BPD dalam UU no 10. 2. 1. dulu ada kelipatan dari jumlah penduduk. artinya perda yang baru mengacu ke UU khususnya pasal 206. sehingga nanti yang menjadi hak asal usul itu tidak diintervensi lagi. BPD sebagai tool untuk check and balances 2. tetapi kembali jangan sampai pemekaran itu kemauan elit desa. tetapi bagaimana partisipasi dan demokrasi di masyarakat. Soal pemekaran ini dijamin oleh UU. Demokrasi yang paling cocok untuk ditawarkan bagi pengaturan desa di Indonesia? 2. perlu ditambahkan. Presentasi Kelompok: DEMOKRASI DESA Disampaikan oleh : Ade Kisi-kisi: 1. Harus mengacu pada analisis kebutuhan desa 3. pemekaran itu semata-mata untuk pelayanan publik. Kamardi Kalau belajar di UU 32/2004 ini frustasi juga. pandangan pragmatis) • Fokus pada Pemda dan desa masih sebatas pada pembentukan lembaga. substansi adalah menghindari elit desa. jadi seolah sama.Alit Terkait dengan aturan/perda setempat. saya sampaikan bahwa pasal 206 UU 32/2004. Fungsi lembaga-lembaga yang mampu mengusung/melaksanakan demokrasi desa 3. bagaimana kita menghindari dominasi elit desa. lalu pemerintah membuat perda yang baru. kalau regulasi tersumbat maka UU tidak akan jalan. sikap elitis. bahwa BPDnya tetap seperti semula.

bagaimana kita membuat regulasi desa dengan memangkas itu? Bapak Format kelembagaan itu. problemnya adalah masyarakat desa yang selalu terus menerus menjadi marginal yang ditinggalkan kepala desanya yang menjadi kepanjangan tangan pemerintah di atasnya. Marhaban Waktu kita merumuskan demokrasi kita kembali ke sejarah demokrasi itu. Kabupaten membuat perda ada yang merepresentasi desa. karena kabupaten yang mengatur desa tidak ada representasi desa mewakili desa saat membuat perda. Bahwa DPD itu tidak cukup mewakili masyarakat. yang jadi mahal itu money politic. Problem demokrasi selanjutnya adalah dalam melaksanakan tugasnya dengan tata cara yang demokratis. Tadi ada kerancuan dengan sistem yang berlaku di nasional dengan Menggagas Desa Masa Depan 83 . bisa pemilu atau yang lainnya. Biaya pilkades itu kecil. yang saya usulkan itu DPD. Itu perlu dinormakan. sehingga netralitas calon kades. tetapi institusi yang mewakili desa. sehingga demokrasinya bisa berjalan. yang penting mendesak pemerintah di atas desa untuk menjamin nilai-nilai lokal. oleh karena itu kita perlu menemukan kearifan-kearifan. bagaimana APBD itu membiayai juga. menghendaki lembaga-lembaga yang kompetansi di situ. Mekanisme di pusat sudah ada. Tadi Pak Ibnu lebih menekankan soal perwakilan desa di DPR. saat pusat membuat UU maka disana sudah ada DPD yang mewakili daerah. kades menuntut perpanjangan masa jabatan kepala desa. tetapi baru sebatas pada elit-elit desa Tanggapan Widyohari Anggaran Pilkades masuk APBN dan turun melalui APBD. mekanismenya terserah. Kalau akan ada dewan perwakilan desa justru konsolidasi kepala desa berhadapan dengan kepala desa di tingkat bawah. tapi tidak serta merta mewakili desa. Ibnu Itu bukan wakil pemerintah desa. Datu Pertanyaan masih ada yaitu desa masa depan itu seperti apa? Ibnu Demokrasi yang paling cocok tentang pengaturan desa di Indonesia. Bapak Apa yang digambarkan Pak Ibnu seolah-olah desa itu menjadi satu kesatuan dengan kepala desanya. sedangkan masalah bentuk kelembagaan itu sudahlah. Contoh di Jepara. selama ini yang mengatur pusat dan kabupaten. government for the people. Menormakan ini tidak bisa seragam. karena demokrasi itu menghendaki prosedural. BPD sinergis.• Trauma pengalaman berdemokrasi yang tidak memihak kepada kebutuhan masyarakat. bagaimana lembaga di desa. kades. tapi bukan dipreteli dalam pembaruan tatanegara. tapi ad hoc saja. mekanisme demokrasi seperti apa untuk jalan keluar. tapi itu pembaruan tatanegara karena dibentuk BPD yang melaksanakan fungsi legislasi. sinergi ini yang perlu dirumuskan dengan baik. ini sebetulnya ada gejala yang sudah muncul dengan paguyuban-paguyuban pamong desa. untuk menghilangkan jago itu membiayai sendiri. maka ditopang dengan mekanisme lain yang berangkat dari inisiatif masyarakat sendiri. apakah tidak kita pikirkan semacam Dewan Perwakilan Desa yang mewakili desa untuk membuat perda? Masalah dengan Syamsudin Haris yang dipreteli.

karena dalam institusi demokrasi itu adalah membangun komunitas politik tetapi non praktis. masyarakat berkumpul untuk memutuskan berbagai hal. masyarakat. sesuai dengan kebutuhan dan kriteria yang jelas terutama pemetaan bagi desa yang diprioritaskan mendapatkan ADD Perbedaan persepsi antar sektor di level kabupaten atas ADD ADD hendaknya diintegrasikan dengan APBDes (RPJMDes) Problem-problem dari PP perlu ditindaklanjuti dengan Perda Manipulasi atas ADD akan membunuh partisipasi desa Perlu memetakan best practice untuk menjadi referensi dan replikasi. Di desa itu ada deliberatif demokrasi. kalau kulturnya sudah bagus dan mandiri maka itu bisa dikendalikan.kabupaten/kota. demokrasi harus dimulai dari yang terendah.00 – 15. Kalau Dewan Perwakilan Desa itu saya dukung. Presentasi Kelompok: ADD (ALokasi Dana Desa) Disampaikan oleh: Dahlia • • • • Sebagian besar kabupaten enggan (keberatan) melaksanakan kebijakan ADD Akses masyarakat untuk mengetahui informasi PP dan ADD sangat terbatas Masyarakat desa belum jelas dengan sumber-sumber pendapatan desa Ada 3 faktor penghambat pelaksanaan ADD yaitu: − Kapasitas potensial desa yang belum siap − Keterbatasan APBD (PAD) − Masalah politis yaitu tarik ulur kepentingan politik di daerah Ada pengalaman desa yang sudah menyiapkan kelembagaan (sistem) dan bisa berjalan dengan baik Terlalu kakunya pengelolaan ADD oleh kabupaten Pengelolaan ADD semestinya mutlak oleh desa. Self Governing Community itu dikaitkan dengan demokrasi bagus sekali. diatur oleh Perda Semestinya ADD tidak identik bagi hasil. 4 Juli 2006 Pukul : 14. tetapi harus ada ramburambu umum yang prinsip Proses perencanaan. keluarga. itu budaya demokrasi kuno yang disebut open deliberation. kalau masyarakat tidak demokratis itu akan menjadi fasisme. tetapi aturan teknis dilakukan desa Mengkaitkan antara ADD dengan penguatan kapasitas kelembagaan desa Tidak perlu ada pembatasan yang rigit dalam kelola ADD. Harus ada kemudahan-kemudahan demokrasi di tingkat masyarakat. Kita harus tempatkan demokrasi good and clear governance di tingkat II karena di situ ada konstituen political. melibatkan seluruh elemen masyarakat Informasi penggunaan dana harus transparan (diumumkan kepada publik) dan ada mekanisme pertanggungjawaban pada publik (Pengalaman Ngada): tidak semua desa diberikan ADD. contoh kepala desa minta untuk ikut jadi pengurus partai politik dan negara menolak dengan tegas. Hari/Tanggal : Selasa. karena ADD adalah dana perimbangan Perlu pedoman umum dari pemda. pelaksanaan dan pelestarian dari ADD harus partisipatif. soal check and balance itu tidak kita khawatirkan. tetapi perlu memperhatikan konteks daerah dan desa Perlu intervensi positif (kebijakan) oleh pemerintah pusat Perlu membangun kesadaran kritis atas kelola uang berbasis loan and project • • • • • • • • • • • • • • • • • Menggagas Desa Masa Depan 84 . Penguatan kelembagaan.15 Moderator : Sumarjono 3.

delegasi dan wewenang tanpa resources itu adalah omong kosong. Tanggapan Ibnu Kita ini menggagas desa masa depan. • Bentuk otonomi dan kewenangan desa mencakup hubungan desa dengan supra desa • Bentuk organisasi pemerintahan desa berkaitan dengan SDM. Perlu ada audit independen (dipilih masyarakat) dari stakeholders Moderator Kelompok diskusi ADD telah membuat kesimpulan-kesimpulan terkait dengan pelaksanaan ADD yang belum seluruh kabupaten/kota melaksankan ADD. Moderator Untuk selanjutnya saya persilahkan kelompok tata hubungan desa dengan supra desa. ini memang strategi pemberdayaan. Ini memang dalam perspektif yang mikro. artinya desa tidak lagi inheren dalam kabupaten. yang kami sampaikan ini hanya pokok-pokoknya saja. Dengan demikian ADD menjadi problem. wacana ini muncul dalam kerangka pemberdayaan. dalam kebijakan ADD Perlu ada penguatan kapasitas aparat dan kelembagaan serta elemen-elemen masyarakat desa dengan pendekatan partisipatif Perlu ada intervensi dari pusat tentang batasan alokasi yang akan diberikan ke desa supaya dana yang dikucurkan ke desa mencukupi untuk pembangunan di desa Perlu ada komitmen yang lebih besar lagi di tingkat nasional. ini konsekuensi pilihan yang kita lakukan. Menurut World Bank agar uang tidak nyangkut di elit.• • • • • Perlu pendidikan bagi masyarakat untuk advokasi pada level kabupaten. 4. karena desa itu sudah di bawah negara. Marhaban Kita di PMD. bagi saya kalau sudah tidak inheren maka PP itu akan gugur. kalau desa diatur sendiri maka tidak boleh diatur dalam perimbangan kabupaten. Menggagas Desa Masa Depan 85 . Presentasi Kelompok: TATA HUBUNGAN DESA DENGAN SUPRA DESA Disampaikan oleh: Nurwafi Diskusi kita adalah hubungan antara desa dengan supra desa dalam NKRI. Ini memang berbenturan dengan tata negara. Dahlia Kalau desa tidak inheren dalam kabupaten maka tidak bisa mendapatkan ADD. Pak Ibnu melihat makro dari hukum tata Negara. Saya persilahkan tanggapannya. mulai kemarin rumusannya desa diatur dengan UU tersendiri. Benang Merah pemikiran yg perlu dipresentasikan dlm pleno: • Kedudukan desa dalam konstitusi dan derivasinya. melakukan kritik dan usulan-usulan agar ADD dapat dilakanakan dengan baik. karena ADD itu 10% dari dana kabupaten. kalau kita ambil 10% itu hanya acuan tetapi APBN yang membiayai. maka 80% langsung ke masyarakat. Ketentuan 10% dari APBD tidak cukup.

tanah. Untuk kelompok ini harus clear model mana yang akan diadopsi. Bumi. Perlu ada ruang yang jelas bagi desa dalam kewenangan perijinan. Pengaturan relasi antara desa dengan supra desa tetap harus mengacu pada dasar konstitusi dan derivasinya. Diperlukan adanya konsistensi pemerintah pusat dan daerah dalam praktek pelaksanaan setiap kebijakan. Separated itu maksudnya adalah ada pembedaan yang tegas antara kabupaten. provinsi. Bahkan. Moderator Desa menjadi obyek supra desa. Tanggapan Tumpak Kalau bicara hubungan desa dengan supra desa maka akan terkait dengan kewenangan. fasilitasi. dan 3) overlap. Tipologi desa perlu dicermati dalam mendesain pengaturan mengenai kedudukan desa dalam negara.• Konsistensi implementasi dari policy. capacity building yang menyangkut desa. Yang harus kita pertegas adalah otonomi yang berpihak masyarakat desa dan ada jaminan untuk digunakan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. pusat sampai dengan aturan main keuangannya. 7. Menggagas Desa Masa Depan 86 . karena dulu tidak pernah melibatkan desa maka akan terjadi kehancuran-kehancuran itu. Ketiga overlap. tetapi untuk hubungan desa dengan supra desa ini harus tegas. Justru dengan otonomi desa. 2) separated. koncuren. Hal ini berkaitan dengan desa otonom dan desa adat. dimana desa tidak boleh mengklaim bahwa ini kewenangannya. air dan udara dikuasai negara dan digunakan sebesarbesarnya untuk kemakmuran rakyat. yang terjadi adalah dengan otonomi selama ini SDA sudah cepat habis. delegatif dan kewenangan lain-lain. Ini harus diperjelas dulu landasan akademik kita apa? Di dalam inter government relation. walaupun secara yuridis formal belum nampak. capacity building menyangkut desa. saya tidak bisa membayangkan otonomi itu diberikan di desa tanpa ada pemberdayaan di desa. di UU 32/2004 itu diatur urusan wajib. namun sudah ada kebijakan pemerintah yang mengarah ke kepedulian terhadap desa. setiap eksploitasi akan melibatkan masyarakat desa. Deskripsi singkat : 6. kenapa justru ada eksploitasi. Untuk kelompok lain silahkan tanggapannya. Saya justru berpikir optimis akan memberikan kemakmuran. Moderator Silahkan untuk dijawab Wafi Logika berpikirnya di balik. pilihan. jelas ada 3 model yaitu: 1) inklusif otorelation. Saya kira pasal ini pasal yang tidak dirubah. 10. 8. Di UU ada kewenangan atributif. Bentuk organisasi desa perlu disesuaikan dengan karakteristik dan tipologi desa. fasilitasi. semua level harus bertanggung jawab untuk mengatasi itu. Kasmuin Pasal 33 UUD 45. 9. sangat penting pula desa diberikan legal standing dan kemampuan menjalankan class action dalam judicial process. Ada pendapat yang melihat pasal 18A UUD 45 (konstitusi) sebenarnya menjadi dasar untuk mendesain desa otonom dan 18B sebagai basis pengaturan bagi desa adat. Yang inklusif itu ada hubungan antar desa yang harus melaksanakan.

karena di Australia ada banyak UU otonomi daerah. Marhaban Otonomi bukan hanya persoalan hukum. ini yang menjadi tali sentralistik. di UU 32/2004 itu urusan. ada pemisahan yang tegas karena ada pendekatan akuntabilitas. Kalau kita baca otonomi daerah dan desentralisasi ada 2 cara : 1. pada tingkat lokal itu begitu mahal demokrasi kita. Negara-negara baru (Amerika Serikat.Ibnu Masalah urusan dan wewenang. dan pemasaran. ini pada akhirnya digunakan untuk kemakmuran rakyat. itu yang berkaitan dengan yang strategis. kalau saya melihat lebih ke politik. Moderator Dari awal memang ada cara pandang yang berbeda antara ketentuan hukum dengan nilainilai filosofis hukum yang akan diberlakukan di Indonesia. UU 22/99 wewenang. kita harus kita pisahkan kontrol dan pengawasan. UU 5/74 itu wewenang. Hubungan wewenang yang diatur pasal 18 a itu. Newe Zealand) meletakkan otonomi level di urus di tingkat state (politik). 5. tetapi juga persoalan politik. otonomi ini yang diambil berdasarkan persoalan politik. Oleh karena itu gagasan apa yang akan kita sampaikan. Presentasi Kelompok: MIKRO KREDIT DAN BUMDES Disampaikan oleh: Adnan Sumber hukum PP 72/2005 Pasal 78 s/d 201 • Mikro kredit berkait dengan produksi. maka perlu modal. karena pengawasan ikut mengarahkan. teknologi. Berkaitan dengan pasal 33 ayat 2 negara sebagai pelaku. • Untuk pengelolaan modal maka perlu Lembaga Mikro Kridit • Lembaga Mikro Kredit seperti apa yang ada desa ? Lembaga Keuangan Desa perlu ada kerangka kerja yang baik. selanjutnya dari wakil kelompok BUMDes. supra desa itu seperti apa? Apakah dia supervisi. Skandinavia. Negara-negara old model (Jerman. fasilitator. Kita harus jelas apakah kontrol atau pengawasan. apalagi mau kita bawa ke desa. kalau sudah diberikan urusan maka berhak atas wewenang. Kalau kontrol itu hanya melakukan uji. Australia. Saya tidak mengerti Pak Ryaas belajar di Amerika tahu persis otonomi itu. Perancis) urusan politik dibawa sedekat mungkin dengan rakyat. padahal kalau residual teori itu wewenang. Moderator Tampaknya sudah cukup waktu. apakah dalam bentuk semacam Rural Banking sustainable Usulan diberi nama BUMDes • Perlu manajemen yang profesional • BUMDES perlu pengakuan dengan payung hukum • Kegiatan mikro finance selama ini yang berkembang di pedesaan adalah usaha simpan pinjam Menggagas Desa Masa Depan 87 . Saya kira disana ada politik. yang dipakai dalam pasal 18 ayat 5 itu hanya urusan. Dalam pasal 18 residual teori yang dipakai tetapi yang dipakai urusan. nampaknya yang diberikan itu urusan. 2. Saya pilih ke istilah kontrol. kayaknya ini lebih dekat dengan delegatoris. oleh karena itu terbit UU sektoral. dan efisiensi. Pasal 1 negara memberi pengaturan. eksternalitas. sehingga terbit banyak SE yang mengatur daerah. kalau pengawasan maka ikut mengarahkan.

oleh karena itu disarankan untuk berbadan hukum/diaktekan. Pengalaman Kabupaten Sumedang: Yang dimasukkan ke dalam BUMDes: • Alokasi anggaran simpan pinjam • Unit usaha simpan pinjam menjadi bagian BUMDes • Lumbung Desa • Kegiatan penarikan rekening listrik • Penyewaan hand traktor • Unit toko untuk pelayanan masyarakat (berbagai produk dan jasa) • Warung nasi dsb. tetapi dinas lain terkait harus melakukan hal tersebut. Ditingkat desa BUMDes itu dibentuk berdasarkan Perdes. terbatas pada Bank dan Koperasi • Rendahnya akses modal bagi masyarakat miskin dan perempuan • Ada pandangan masyarakat kalau uang dari pemerintah tidak perlu dikembalikan – sehingga banyak kredit program macet. (kebijakan ini tidak hanya dilakukan Depdagri/Ditjen PMD. • Untuk mengatasi monopoli elit dalam BUMDes maka bentuk hukum yang diusulkan koperasi yang berorientasi pada ekonomi kerakyatan. untuk rakyat (petani. dll) untuk menghindari pertarungan dengan pemodal dan elit desa. • Ada alokasi modal dari APBD untuk pengembangan BUMDes.Pengalaman Layanan Keuangan di Masyarakat Jenis layanan kredit di Desa • Program kredit dari PPK. • BUMDes harus memberikan perhatian pada masalah perempuan • Pembentukan BUMDes bukan penyeragaman dan pemaksaan (pengalaman KUD). • BUMDes dibentuk berdasarkan aktivitas ekonomi yang telah ada di tingkat lokal dan untuk melindungi ekonomi lokal. • Perlu ada afirmative action dalam pengembangan ekonomi di desa. nelayan. • Bagaimana dengan kepemilikan BUMDes (Masyarakat dan harus dihindari kepentingan dan kooptasi elit desa • Jenis usaha dan model BUMDes harus memberi ruang dan bertumpu pada inisiatif dan kearifan lokal Problem • Tidak ada fasilitasi sistemik untuk pengembangan usaha kecil di desa • Tidak ada perlindungan pasar untuk pelaku usaha kecil • Belum ada payung hukum yang jelas untuk LKM. Menggagas Desa Masa Depan 88 . Tetapi dasar ini belum bisa akses ke lembaga perbankan. Tawaran tentang Pengembangan Ekonomi Desa (BUMDes dan LKM) • BUMDes dan LKM harus menjadi upaya pengembangan ekonomi lokal dan pengentasan kemiskinan. P4K • Simpan pinjam desa • Lumbung desa • Koperasi desa Perempuan terbukti sebagai nasabah yang baik dalam kredit dan penerima program yang efektif. Perempuan terbukti sebagai pelaku ekonomi yang tanggung dan mayoritas di desa. juga bukan instrumen kapital besar yang mengancam ekonomi pedesaan. • Kebijakan antar sektor belum saling mendukung untuk pengembangan ekonomi desa • Lebih dari 60% ekonomi desa dikuasai oleh kelompok elit dan pemilik modal besar.

dana itu bila didistribusikan setelah eksekutif bertemu dengan legislatif. sebagai komisaris. rakyat miskin (petani. Moderator Langsung saja dari kelompok lain yang akan menanggapi atau memberi masukkan. Perlu ada kejelasan dan dibangun sinergi kebijakan antar sektor dalam pengembangan ekonomi desa (BUMDes). sehingga perlu pembinaan. agar perda itu baik dan benar. untuk tingkat desa apa? Di PP 72/2005 ditetapkan perdes. Tumpak PMD sudah mencoba payung hukum untuk BUMDes ini. Tanggapan Maryunani Berbagi pengalaman. Di tingkat II.• • • • • • Jenis usaha harus memberi ruang dan bertumpu pada inisiatif dan kearifan lokal. agar tidak bertabarakan dengan UU lain maka harus di luar LKM dan koperasi. LKM (Lembaga Keuangan Mikro) • Keberadaan LKM tidak lepas dari upaya menyediakan layanan modal bagi pelaku ekonomi untuk pengembangan usaha. supaya tidak gamang dalam mengatur itu. • LKM bukan menjadi perpanjangan tangan usaha kapital besar maupun intermediasi dari bank komersial yang ada. pemerintah Jawa Timur sudah menunjukkan good will. sehingga kalau kita membuat BUMDes harus dihindari yang menyangkut LKM dan koperasi. Pengawasan. Ini agak rumit membagi payung hukum untuk BUMDes. panjang sekali prosesnya. perdes mengacu perda. siapa yang akan mengontrol BUMDes. Kita harus tegas mengatur ini. kalau kita bandingkan dengan BUMD itu bentuknya perusahaan daerah. mau memberikan waktu. fasilitasi pengembangan produksi dan pasar sebagai satu sistem pengelolaan. dll). BUMDes itu akan dibiayai APBD. tenaga dan pikiran. Ada kejelasan tentang kewenangan desa dalam pengelolaan sumberdaya ekonomi. • Perlu dibangun pola dasar dan skema yang memungkinkan akses masyarakat miskin dan perempuan mendapatkan layanan secara mudah. Rakyat harus menjadi subyek dalam kegiatan BUMDes (mengedepankan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat dalam rangka kedaulatan ekonomi rakyat). Pemda sudah membuat tim pembina BUMDes. • Ada mekanisme dan skema kredit yang sesuai dengan kondisi masyarakat (belajar dari pengelaman “bank plecit” ). • Ada kejelasan bentuk hukum untuk melindungi dana rakyat yang disimpan. • Ada jaminan/afalis untuk PUK yang mengalami kesulitan dalam akses modal (baik dari pemerintah-lembaga lain). Sebenarnya tidak ada perintah di PP untuk membuat pedum.nelayan. Menggagas Desa Masa Depan 89 . termasuk monitoring dan pengawasan. • Dalam LKM harus diikuti dengan pendampingan. karena semua akan menjadi bemper ekonomi desa. kita tidak yakin kalau di APBD nya tidak ada. Perlu ada kejelasan tatalaksana dan manajemen profesional. Dalam pengelolaan itu bagaimana rakyat desa itu komit. Ini ada yang menarik dari Pak Maryunani dan Stefan. karena di PP 72/2005 itu akan dikelola pemerintah desa. ini ada UU yang mengatur LKM dan koperasi. Ada affirmative action dalam layanan usaha BUMDes kepada perempuan. • Ada mekanisme monitoring dan evaluasi dalam pengelolaan LKM. perda mengacu UU.

Yuni Sengaja kita tidak mengusulkan satu jenis badan hukum. PR menghadang kita sesuai dengan profesi kita masing-masing dalam upaya kita untuk membela desa. bukan khusus untuk BUMDes. Sehingga pedoman seperti Pak Tumpak itu benar. bukan soal ADDnya tetapi bagaimana kita mengelola ADD itu. ini akan menjadi ladang baru bagi percepatan proses korupsi di desa. itu milik bersama dan hasilnya akan dibagi bersama dalam anggotanya. maka tidak bisa ke sana nanti. Yang awalnya untuk meningkatkan pendapatan desa. Pengalaman di Sumedang dengan perdes mereka tidak cukup melakukan akses bisnis. Payung hukum yang ada adalah yang umum. Jadi tergantung pilihan masyarakat disitu maunya seperti apa. seperti ADD. Kasmuin Membandingkan gagasan itu. dan itu diputuskan dengan keputusan desa. Desa senantiasa menjadi ajang tempur untuk mencari keadilan dalam kehidupan negara kita masih panjang. Lebih fundamental lagi. ke bank misalnya. lebih banyak ke perangkat desanya. menggagas desa masa depan. keahliannya apa dan mengacu UU yang sudah ada. Di daerah kami ada pasar desa yang besar tetapi tidak memberikan kontribusi kepada desa. Menggagas Desa Masa Depan 90 . Moderator Diskusi ini kita akhiri. saya cenderung untuk merumuskan badan hukum tersendiri dalam BUMDes. BUMDes yang lemah payung hukumnya. Kalau kita menganut badan hukum koperasi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful