P. 1
kultur-in-vitro-tumbuhan-obat-langka-pule-pandak

kultur-in-vitro-tumbuhan-obat-langka-pule-pandak

|Views: 87|Likes:

More info:

Published by: Amridio Zulhilmi Saifinnuha on Mar 22, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/22/2011

pdf

text

original

KULTUR IN VITRO TUMBUHAN OBAT LANGKA PULE PANDAK

(Rauwolfia serpentina Benth)
Edhi Sandra, Ervizal AM Zuhud, Yulia Fitriani, Fadli Yahya dan Toni Anwar

RINGKASAN
Tujuan penelitian adalah untuk dapat mengkulturkan dan meningkatkan kandungan metabolit sekunder dalam rangka mengurangi tekanan eksploitasi pule pandak di alam serta memenuhi kebutuhan indutri obat tradisional dan farmasi terhadap bahan baku pule pandak. Media yang digunakan adalah media MS perlakuan pemberian zat pengatur tumbuh BAP dengan konsentrasi 0, 1.0 dan 2.0 mg/1 serta NAA dengan konsentrasi 0, 0.5 dan 1 mg/1. Hasil uji metabolit sekunder yang menggunakan 12 gram kultur pada akhir percobaan, diperoleh nilai kandungan alkaloid sebanyak 0.29% bobot kering.

PENDAHULUAN
Latar Belakang Pule Pandak (Rauwolfia serpentina Benth) langka. Akar Pule Pandak ini mengandung alkoloid reserpine yang berfungsi sebagai obat anti Hipertensi (tekanan darah tinggi) dan obat penenang. Akarnya mengandung tidak kurang dari 20 macam alkoloid dan total ekstrak dari akarnya berkhasiat sebagai obat hipertensi, aprodisiaka dan gangguan neuropsikiatrik. Akarnya hingga kini sering digunakan dalam pengobatan tradisional dan modern (Rosita, dkk, 1991). Kandungan alkoloid yang utama adalah reserpine (Bisset dan Soerohaldoko, 1958). Kebutuhan bahan baku obat Pule Pandak untuk industri jamu dan farmasi semakin meningkat sementara laju pemanenan terjadi lebih cepat dari laju kemampuan alam untuk memulihkan populasinya. Nilai manfaat dan ekonomi yang tinggi akan tetapi tingkat kelangkaan yang semakin tinggi pula. Oleh sebab itulah perlu dilakukan suatu usaha untuk dapat mengurangi tekanan terhadap populasi Pule pandak di alam serta sekaligus memenuhi permintaan bahan baku obat yang berasal dari pule pandak. Dalam rangka pelestarian pemanfaatan Pule Pandak maka kami peneliti dari Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan Fakultas Kehutanan telah melakukan penelitian pule pandak yang cukup panjang. Penelitian ini merupakan satu rangkaian penelitian yang telah dilakukan sebelumnya selama 4 tahun untuk mengetahui teknik budidaya Pule Pandak dimulai dari studi ekologi, penyebaran dan teknik persemaiannya sampai ke pemanenan, kultur jaringan dan peningkatan kandungan metabolit sekunder.. Saat ini telah berhasil dilakukan multiplikasi kultur pule pandak dan kultur akar pule pandak (bagian tumbuhan yang paling banyak mengandung metabolit sekunder). Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk mengkulturkan pule pandak untuk keperluan perbanyakan dan peningkatan kualitas bahan baku obat (memproduksi kultur akar pule pandak dalam biomasa yang besar dan kandungan metabolit sekunder yang tinggi).

BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.

Bahan Media Media yang dipakai dalam penelitian adalah Media Murashige dan Skoog (MS) yang telah dimodifikasi dengan penambahan vitamin. asam amino. Bahan tanaman . sukrosa dan zat pengatur tumbuh. 2. Media MS ini dibuat dalam bentuk padat.Orientasi Penelitian (Kerangka Pemikiran) Bahan dan Alat 1.

Dengan demikian desain dan metode penelitian ini adalah: a. Alat-alat Percobaan Alat-alat yang digunakan dalam penelitian meliputi botol kultur. gelas piala. 6 bulan dan 9 bulan). hot plate. petridish.6 .8 dengan penambahan KOH 1 N atau HCL 1 N. erlenmeyer.2 minggu dan telah dihasilkan protokorm yang cukup bervariasi. c. Bahan Sterilisasi Sterilisasi dilakukan terhadap alat-alat serta bahan yang akan digunakan. Pembuatan sediaan serbuk dan ekstrak Pule pandak. Metode Penelitian Penelitian ini merupakan kelanjutan dari penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. PROSEDUR PENELITIAN 1. Pada penelitian kultur jaringan telah berhasil dikecambahkan biji Pule Pandak dalam waktu 1 . Pembuatan Media Untuk membuat 1 liter media. 12 bulan dan 18 bulan yang dipanen dari Arboretum TN Meru Betiri dan Pule Pandak di hutan jati TN Meru Betiri. b. pH meter. alkohol 70%. neraca analitik. kultur propagul dan kultur akar Pule Pandak. sebelum digunakan disimpan di dalam oven 2. campuran Tween-20 dan larutan baycline (natrium hipoklorit) 5%.) yang telah ada di Laboratorium Kultur Jaringan Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan. Dalam penelitian ini akan dilakukan pemberian perlakuan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap sekresi bioaktif kemudian diamati pertumbuhannya serta dalam waktu tertentu dianalisa kandungan bioaktifnya.Bahan tanaman yang digunakan adalah kultur kalus. 3.5. 4. Penanaman Eksplan hasil kultur Pule Pandak yang ada ditanam langsung pada media. Sterilisasi Alat Alat-alat disterilisasi dalam autoklaf dengan suhu 121°C. kultur propagul dan kultur akar pule pandak sebagai bahan penelitian. Larutan kemudian diatur pH-nya antara 5. ditambahkan sukrosa sebanyak 30 gram.5 psi selama 1 jam. garam-garam dari media MS yang telah dibuat dalam larutan-larutan stok dipipet sesuai dengan konsentrasinya dan dimasukan dalam labu takar yang kemudian ditambah zat pengatur tumbuh sesuai dengan perlakuan. 9 bulan. e. autoklaf. pH (pH basa dan asam). Kultur tersebut terlebih dahulu diperbanyak untuk dapat memenuhi kebutuhan eksplan yang diperlukan dalam penelitian. laminar air flow cabinet. pembakaran spirtus. d. kultur propagul dan kultur akar Pule pandak (Rauwolfia serpentina BENTH. Uji kandungan bioaktif setelah perlakuan percobaan dilakukan. tekanan 17. Percobaan perlakuan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap sekresi yaitu hormon (pemberian auksin dan sitokinin). gelas ukur. pisau. 3. sinar (gelap dan terang). pinset. Memperbanyak kultur kalus. Dengan demikian dalam 1 liter media dapat dimasukan ke dalam 50 botol kultur. Media kemudian ditambah agar 6 gram dan dididihkan. pipet. dan unsur hara (perlakuan unsur mikro dan makro). pengaduk magnetik. alumunium foil. . skalpel. spatel. Subkultur Pule Pandak Sebagai Bahan Penelitian Sebagai bahan tanaman digunakan kultur kalus. Pemberian bahan kimia Cholcisin dan pemberian hormon sebagai percobaan untuk menghasilkan biomasa akar yang besar. Botol ditutup dengan alumunium foil dan disterilkan dalam autoklaf bertekanan 17. Botol-botol yang telah diautoklaf.5 psi selama 30 menit. yang telah mendapatkan simplisia akar Pule Pandak umur 6 bulan. Bahan-bahan tersebut diantaranya aquades. oven serta rak-rak kultur. Setelah mendidih dituang ke dalam botol kultur dengan volume masing-masing 20 ml. Sebelum ditambah air hingga 1 liter. Proses penanaman dilakukan dalam laminar air flow cabinet. umur (3 bulan. 4.

sedangkan dengan menggunakan stek akar mempunyai persentase pertumbuhan yang cukup baik akan tetapi tidak efisien karena akan membutuhkan akar dalam jumlah besar untuk pembibitan dalam jumlah besar. Desain dan Metode Penelitian . Sehingga diharapkan dapat dihasilkan bahan bioaktif reserpin dalam jumlah besar dan dalam waktu yang singkat tanpa harus memanen tanamannya di lapangan. kultur akar. Hal ini sudah dapat diatasi dengan memberikan perlakuan tertentu dan dapat berkecambah lebih cepat sekitar 1 .5. 3. Pengamatan Pengamatan meliputi penghitungan persentase kontaminasi. Akan tetapi masih belum diketahui apakah mampu dihasilkan simplisia hasil kultur jaringan (teknik metabolit sekunder) yang mempunyai kandungan bioaktif tertinggi. Masalah waktu yang lama.2 minggu. daun dan akar. jumlah tunas. Salah satu masalah budidaya Pule Pandak adalah faktor dormansi biji Pule Pandak yang cukup lama (paling cepat 6 bulan) tanpa perlakuan. Di ketahui bahwa jumlah akar Pule Pandak terbanyak adalah hasil pemanenan pada umur 9 bulan dibanding dengan pemanenan umur 6 bulan. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Sebelumnya Beberapa hasil penelitian sebelumnya yang dapat dijadikan acuan sekaligus merupakan masalah yang akan dipecahkan dalam penelitian ini: 1. serta pembentukan kalus. Diketahui bahwa Pule Pandak hasil budidaya (di Arboretum Taman Nasional Meru Betiri) dapat menghasilkan produktivitas akar Pule Pandak lebih besar dibanding di lokasi habitat aslinya. Dengan dilakukannya perkecambahan secara kultur jaringan maka biji Pule Pandak dapat berkecambah dalam waktu relatif singkat yaitu 1 . Saat ini sudah berhasil mencapai tahapan pembuatan kalus. 6. Pengamatan dilakukan setiap minggu setelah eksplan ditanam. Masalah kandungan bioaktif 2. Uji Alkaloid Kultur hasil percobaan baik berupa kultur akar diuji kandungan alkaloidnya. 12 bulan dan 15 bulan. 4.2 bulan. tetapi ternyata akar Pule Pandak yang lebih besar tersebut juga mengandung bioaktif yang lebih besar daripada yang terdapat dihabitat aslinya yaitu Hutan Jati. Masalah waktu dan jumlah pembibitan.

Hasil Penelitian Saat Ini .

2%) dan bakteri (37. Indole alkoloids in Clonal Propaguls of Rauwolfia serpentina Benth ex Kurz (abstract). E. S.Lembaga Alam Tropika Indonesia (LATIN). J. Bogor. Teknik Persemaian Bji Pule Pandak. E. dan biomasa lebih besar. Roja. Untuk keperluan perbanyakan / multiplikasi dapat dilakukan pada setiap interval 3 minggu dengan hasil perbanyakan berupa stek pucuk mikro dengan jumlah sekitar 8 kultur 5. Pada hasil pemanenan akar umur 3 bulan ternyata terdapat kandungan bioaktif sebesar 0. 1987. 2. Plant Propagation by Tissue Culture. Bogor. dan Kemala. dalam E. Demikian pula dengan perlakuan waktu pemanenan kultur akar masih dalam taraf percobaan. A. Endress.. P. In vitro Propagation of Rauwolfia serpentina through Lateral Bud Culture (abstract). 7. . F. 1993. kandungan alkoloid dalam kultur sebesar 0.0154 ppm iohimbin. Departement of Botany.29% dengan pertumbuhan kultur kearah pembentukan tunas dan kalus. Takayama. Dari hasil uji metabolit sekunder menunjukan bahwa dengan pembiakan pule pandak secara in vitro diperoleh sebesar 0. Perlakuan hormon IBA 2 mg/l memberikan hasil berupa kultur akar yang lebih baik dengan sedikit tunas dan kalus. Mains.5 mg/l. Studi Ekologi Tumbuhan Obat Pule Pandak (Rauwolfia serpentina) di BKPH Selogender KPH Randublatung. diantaranya akibat cendawan (12. Ilahi. N. E. The Netherlads. Kunakh. Suda. Bogor.8%). M Zuhud (Penyunting). Siswoyo. Kontaminasi kultur biji in vitro tanaman pule pandak (Rauwolfia serpentina Benth. 8. M. bila dibandingkan dengan eksplan yang berasal dari tunas pucuk atau akar. 1984. Stokig. Tim Peneliti Tumbuhan Obat Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan. G.9 ppm Reserpin dan pemanenan akar umur 6 bulan diperoleh 0. Exegetics Ltd. Fakultas Kehutanan IPB. Aimi. England. Skripsi.% dan tidak tumbuh 20% 3. Sandra. G. Media kultur Pule pandak yang digunakan adalah media MS dengan BAP 2 mg/l dan NAA 0. Sukendro. warna daun lebih gelap (hijau tua).5 mg/l. kontaminasi cendawan 12. 1994. 14.) dalam percobaan menunjukan persentase yang tinggi. R. Sakai. Hable. DAFTAR PUSTAKA Arkam. Pemberian Cholcisin pada media kultur sebanyak 2 mg/l dapat menyebabkan morfologi lebih tebal dan tegar. S.016 ppm Ajmalin. 6. S. 1995. M and I. Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan Fakultas Kehutanan IPB. George.9 ppm reserpin dan pemanenan akar umur 6 bulan diperoleh 0. Kitayama. International Society for Horticulture Science. Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan Fakultas Kehutanan IPB. 14. 1995. 3. Pada perlakuan pH terlihat bahwa pH 5 – 6 memberikan hasil yang terbaik dari segi biomasa akan tetapi belum diketahui dari segi kandungan bioaktifnya. Rauwolfia Cultured Cells : Indole Alkoloids Production and Their Determination (abstract). Dordrecht. R. F and P. Konstantinova and V. E. and M. Bahwa eskplan yang terbaik pada saat pertama kali mengkulturkan pule pandak dari alam adalah dengan menggunakan biji. A. 1993.0154 ppm Iohimbin.2. S. Bogor.I. kandungan metabolit sekunder 0. KESIMPULAN 1. 2. University of Peshawar. Tinjauan Permintaan Tumbuhan Obat Hutan Tropika Indonesia.. Kluwer Academic Publisher. 1966.016 ppm ajmalin. Universitat Mains. Pakistan. Fakultas Kehutanan IPB. Pada perlakuan sterilisasi yang diberikan keberhasilannya hanya mencapai 30% dengan rincian sebagai berikut : kontaminasi bakteri 37. 4. Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah. Kultur jaringan Pule pandak telah berhasil dikulturkan dengan eksplan pertama kali dengan menggunakan biji dengan menggunakan media MS BAP 2 mg/l dan NAA 0. I.29% bobot kering. Gubar. D. Sherrington. 1993. Alkoloids from Rauwolfia serpentina Cell Culture Threated with Ajmaline (abstract). Wageningen. Pelestarian Pemanfaatan Keanekaragaman Tumbuhan Obat Hutan Tropika Indonesia.1. Sandra. H. Teknik Pemanenan Pule Pandak.8%. A Basori.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->