P. 1
KJA

KJA

|Views: 253|Likes:
Published by Arch Angel

More info:

Published by: Arch Angel on Mar 22, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/02/2014

pdf

text

original

Karaktcristik Sebaran Vertikal Faktor Fisik Kimia perairan ... (8. Mainassy, N.Y. Hulisclan, S.F. Tuhumury, J. J.

Wattimury)

PENENTUAN LOKASI PENGEMBANGAN BUDIDA YA KERAMBA JARING APUNG (KJA) DI PERAIRAN TELUK AMBON DALAM (TAD) MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS

(Site Selection For Mariculture Development Of Net Floating Cages In Inner Ambon Bay Using Geographical Information System)

B. MAINASSY, N. V. HULISELAN,

S. F. TUHUMURY DAN J. J. WATTIMURY

Jutusan Manajemen SUlllberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan llmu Kelautan Universitas Pattimura Jalali dr. Latumeten, Ambon. Telp.0911·316085

Diterima 6 April2005/Disetujui 13 Mei 2005

ABSTRACT

Site selection for mariculture of groupers, barrarnundi and rabbit fish in net floating cage (NFC) has been done in Inner Ambon bay by using Geographical Information System. The evaluation of water quality in Inner Ambon bay was based on physical, chemical and biological aspects, so Inner Ambon Bay is suitable for mariculture of groupers, barramundi and rabbit fish in net floating cage. Distribution of ideal site selection for NFC was limited by substrate parameters and depth. On the other hand, the concentration of Pb was above the maximum level for mariculture as well as Cu and Cr especially in sites Lateri 3, Passo, Nania, and Waiheru, The accumulation of heavy metal was assumed from oil waste of power station, port and sea transportation, and domestic waste. The domestic wastes go to the sea through rivers such as Waitonahitu, Waiheru and streams around study site. Organic and inorganic wastes were thrown directly to the sea around mangrove forest and coast. These three heavy metal were not limited factors for mariculture development because their concentration could be minimized by professional environmental management of Inner Ambon bay. The area for rnariculture development of groupers, barramundi and rabbit fish in net floating cage (NFC) accounts for 395.55 Ha or 33.75% out of the Inner Ambon bay waters. The polluted area caused by metal Cu and Cr were 137.1 Ha (11.70%) and 119.9 Ha (10.20%) whereas all waters was critical condition due to the increasing of Pb concentration.

Key Words: MaricuIture, GIS, Floating Cages, Inner Ambon Bay

PENDAHULUAN

Perikanan budidaya menduduki posisi

penting dalarn menunjang ketahanan pangan, menciptakan lapangan kerja dan pendukung pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Pengembangan perikanan saat ini menjadi sangat urgent, karena ada kecendrungan terjadi peningkatan permintaan ikan konsumsi oleh masyarakat.

Ketersediaan informasi tentang lokasi ideal pengembangan budidaya secara komersial merupakan salah satu kendala terutama informasi mengenai kualitas air yang layak bagi pengembangan budidaya. Kurangnya informasi kualitas air sebagai dasar untuk menejemen kualitas air menjadi faktor utarna penyebab kegagalan usaha budidaya. Salah satu contoh kasus hancurnya usaha budidaya di Equador dan Thailand yang telah memiliki teknologi budidaya terkernuka di dunia karena manajernen kualitas air yang tidak diperhitungkan sebelumnya. Orientasi peningkatan produksi dengan tidak memperhatikan pentingnya kualitas perairan bagi biota yang

dibudidaya akan mernberikan akibat yang sangat fatal terhadap keberlangsungan usaha. Oleh karena itu, agar kegiatan budidaya laut dapat berkembang dengan baik, diperlukan informasi lokasi ideal pengembangan budidaya

SIG (Sistem Informasi Geografis)

merupakan salah satu pili han dalam penentuan lokasi ideal untuk pengembangan budidaya laut, Beberapa penelitian yang mengaplikasi SIG bagi perikanan budidaya diantaranya oleh Kapetsky et al., (1987), Ross et al., (1993) dan Tarunamulia et al., (2001). Dengan SIG dapat dianalisis data spasial dengan memadukan beberapa data dan informasi yang berkaitan dengan tujuan budidaya perikanan dalam bentuk tapis data yang dapat ditumpangsusunknn (overlay) dengan data yang lain, sehingga rnenghasilkan suatu output dalam bentuk peta tematik,

Integrasikan SIG dengan data penginderaan jauh dapat membantu perencana (1) memberikan informasi tentang peluang pengembangan berbagai jenis budidaya laut yang didasarkan pada jenis dan kuantitas lahan, air serta infrastruktur,

70 Ichthyos, Vol. 4, No.2, luli 2005: 69~80s

(2) memperoleh keuntungan tidak hanya dalam waktu

. dan biaya tetapi juga dalam hal perlakuan-perlakuan (treatment) yang dapat dilakukan secara komprehensif dan terintegrasi terhadap kriteria pengembangan budidaya laut, dibandingkan dengan metode lain yang

. menggunakan teknik analitik dan pembuatan peta secara manual.

Salah satu kelebihan dad perairan teluk adalah kaya akan berbagai biota Iaut, terutama ikanikan, udang-udangan dan kerang-kerangan karena pada TAD terdapat hutan mangrove, padang lamun dan terumbu karang yang saling berkaitan didalam menjaga kesuburan perairan dan kelimpahan sumberdaya ikannya. Salah satu kelemahan dari perairan teluk adalah banyaknya kegiatan lain di luar kegiatan perikanan yang memanfaatkan perairannya yang tenang, misalnya kegiatan-kegiatan pariwisata air, transportasi beserta pelabuhannya demikian juga pemukiman penduduk (Ismail dan Pratiwi, 2002).

Berkaitan dengan perencanaan

pengembangan perairan TAD, sebagai laban budidaya perikanan, sampai saat ini belum dilakukan suatu evaluasi untuk mengkaji kondisi kualitas perairan yang mendukung upaya pengembangannya secara spesifik. Bahkan tingkat pemanfaatan lahan perairan belakangan ini lebih kompleks yang dilakukan untuk kepentingan : (1) pelabuhan berbagai jenis kapal niaga dan kapal penangkapan (2) industri perikanan (3) peIabuhan (pangkalan) angkatan laut (4) Iokasi budidaya keramba apung (5) lokasi penangkapan ikan yang menggunakan berbagai alat tangkap tradisionil (6) intensitas permukiman penduduk di sepanjang pesisir teluk dengan beragam aktivitas dan berbagai jenis limbah domestik yang dihasilkan (7) Pembangkit Listrik Tenaga Diesel di Poka dan GalaIa, serta (8) sebagai muara bagi muatan sedimen dan air tawar dari beberapa sungai yang ada di TAD. Tingkat pemanfaatan laban perairan yang tidak terkontrol sesuai fungsi ekologisnya, akan mengurangi tingkat potensial lahannya dalam mendukung berbagai usaha budidaya perkanan.

Penelitian mr bertujuan mengevaluasi kualitas perairan TAD dan menentukan lokasi pengembangan budidaya ikan dengan KJA di Perairan TAD. Hasil penelitian im diharapkan dapat memberikan informasi tentang kondisi kualitas perairan serta faktor pembatas kesesuaian laban untuk budidaya KJA, lokasi (site) budidaya KJA dan luas areanya.

METODOLOGI

Waldu dan Lokasi PeneIitian

Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli 2004 hingga Januari 2005 di Teluk Ambon Dalam (TAD) (Gambar 1). Perairan TAD dan TAL dipisahkan oleh ambang sempitdengan kedalaman ± 12,8 meter. Perairan TAD memiliki luas 11,72 km-, keliling 18,90 ~ dan panjang garis pantainya 18,30 kIn.

Penentuan /Lokasi Sampling Parameter Kuahtas

Perairan. .

Penentuan titik sampling untuk parameter kualitas lingkungan perairan baik fisik, kimia dan biologi dilakukan menggunakan teknik sistematik random sampling (Clark & Hosking, 1986; Morain, 1999). Penetapan itu didasarkan pada dua halpenting yakni (1) sebaran ruang kedalaman perairan TAD bervariasi dad 0 m hingga 41 meter tetapi variasinya tidak merata, dan (2) variasi geografis, geomorfologi, penutupan dan penggunaan lahan di TAD:

Berdasarkan kriteria itu dan mengacu pada teon probabilitas binomial menurut Fitzpatrick-Lins (1981) ditetapkan 21 titik sampling yang sebarannya pada Gambar 1. Penentuan posisi stasiun menggunakan GPS;Garmin-S.

Gambar L Lokasi Penelitian

Pengumpulan Data

Pengumpulan data primer dilakukan melalui survey lapangan dan pengukuran .Iangsung, quesioner, serta analisis data penginderaan jauh. Sedangkan data sekunder diperoleh melalui proses entri data dan pendigitasian data dad berbagai sumber data yang relevan (Tabell).

Tabel L Tipe data, sumber data dan metode perolehannya.

Tine Data Sumber data
Data Primer:
• Kualitas Air Teluk Lapangan
• PenggunaanLahan Lapangan, Citra, Peta
• Substrat dasar Peta geologi
• Kedalaman perairan Peta batimetri
Data Sekunder :
• Kualitas Air Teluk Hasil-hasil penelitian
• laringan jalan, sungai Lapangan, Citra, Peta
• Infrastruktur pendukung Lapangan, Citra, Peta Data primer meliputi data kualitas

lingkungan perairan yang terdiri atas parameter fisikkimia air, kesuburan perairan dan sebaran vegetasi, sebaran penduduk, jenis kegiatan budidaya perikanan yang dilaksanakan saat ini; data jenis pemanfaatan umum seperti pelabuhan, perhubungan (transportasi) danPLTD.

Karakteristik Sebaran Vertikal Faktor Fisik Kimia perairan ... (B. Mainassy, N.V. Huliselan, S.F. Tuhumury, J. LWattimury) 71

Sedangkan data sekunder berupa garis pantai, jaringan sungai, jaringan transportasi (jalan), batas (desa, Kota). Informasi-informasi ini diperoleh dari peta Iingkungan pantai skala 1 : 250.000 tahun 2000, Pet a hidrografi Teluk Ambon skala 25.000 tahun 1996, peta batas administrasi Kota Ambon 2003, citra satelit Ikonos, citra Landsat TM 5 dan ETM7+.

Pemrosesan dan Analisis Data Hidro-Oseanografi

Nilai terukur dari setiap parameter kualitas air (suhu, kecerahan, materi tersuspensi, salinitas, pH, DO, kandungan logam berat, Nitrat, dan Posfat), arah dan kecepatan arus dan gelombang dihitung nilai statistiknya yakni minimum, maksimum, rata-rata dan koefisien variasi relatif.

Penentuan tinggi gelombang menggunakan formula densitas spektral energi gelombang menu rut Neumann & Pierson (1966); Bowden (1984), dengan formula konversi kecepatan angin menurut Tjasyono (1999). Hasil tersebut dibandingkan dengan metode estimasi gelombang menurut WMO (1977). Pengukuran arus menggunakan metode Eularian.

Produksi Peta Sebaran Spasial Parameter Kualitas Air

Produksi peta sebaran spasial bertujuan mengetahui pola sebaran spasial parameter fisik, kimia, biologi perairan, batimetri, dan sebaran sedimen dasar perairan TAD. Produksi data spasial mengikuti prosedur interpolasi linier dengan lebih dulu menyusun format database yang bereferensi geografis. Hasil interpolasi nilai sebaran menghasilkan peta kontur sebaran nilai parameter. Nilai kontur ditentukan 'sesuai dengan persyaratan batas nilai ideal untuk tujuan pengembangan budidaya yang direkomendasikan oleh KLH (1988, 1991) dan kondisi ideal perairan budidaya yang dikemukakan oleh Anonimous (1985), Ahmad et al., (1995), Imanto et al., (1995), Beveridge (1996), Haryono, et al., (1999), Ismail et al., (1998), dan Wattimury (1999). Persyaratan nilai ideal parameter kualitas perairan untuk pemilihan lokasi pengembangan budidaya kerapu dan kakap dengan KJA dicantumkan pada Tabel 2 - Tabel 3.

Tabel 2. Nilai Ideal parameter kualitas air untuk budidaya ikan

dalam keramba jaring apJJng. .

Parameter
Kualitas Nilai Ideal Satuan
Perairan
Suhu 26-32 °c
Kecerahan air >3 m
Arus 0.06-0.13 m/det
Kedalaman air 7 - 25 m
Substrat dasar berpasir -
Salinitas > 30 ppt
Oksigen Terlarut >7 ppm Sumber : Imanto et al (1995), Ahmad et al (1995), Beveridge (1996); Ismail et al (1998)

Tabel 3. Nilai Ideal parameter kualitas air untuk budidaya ikan beronang.

Parameter
Kualitas Nilai Ideal Satuan
Perairan
Suhu 25 - 32 °c
Kecerahan air >5 m
Arus 0.2-0.7 m/det
Kedalaman air > 10 m
Substrat dasar karang - pasir -
Salinitas 15-33 ppt
Oksigen Terlarut 3-4 ppm
Gelombang < 0.5 m
Logam berat < 0.10 ppm
Amonia <0.1 ppm
Kisaran pasut 2-4 m
Kedalaman saat smut 15- 25 m
pH 6.5 - 8.5 - Sumber : Wammwy (1999) (dikompilasi dar! berbagai)

Penentuan Lokasi Kesesuaian Pengembangan Budidaya Perikanan

Setiap peta kontur yang dihasilkan merupakan kriteria utama (prasyarat) untuk penentuan lokasi perairan, tetapi belum dapat dinyatakan tingkat kesesuaiannya untuk tujuan pengembangan budidaya dengan KJA. Oleh sebab itu setiap nilai kontur perIu diranking berdasarkan tingkat kesesuaiannya dan diberi bobot. Untuk setiap parameter pembatas ditetapkan 3 (tiga) tingkat kelas kesesuaian yakni sangat sesuai (S1) dan diberi ranking 5, kelas sesuai (S2), diberi ranking 3, dan kelas tidak sesuai (N), diberi ranking 1. Mekanisme ini dilakukan untuk seluruh parameter kualitas air yang dipersyaratkan sehingga akan menghasilkan peta kelas kesesuaian kontur terboboti untuk riap parameter kualitas air. Skor merupakan nilai perkalian ranking dan bobot kelas . dan nilai total skor digunakan sebagai dasar penentuan kelayakan Iahan untuk pengembangan budidaya. Seluruh parameter lainnya diranking dengan cara yang sarna sesuai nilai idealnya Hasil skoring dan pembobotan parameter dapat dilihat pada Mainassy (2005). Untuk menentukan Iokasi kesesuaian pengembangan budidaya dilakukan analisis spasial berbasis konektiviti (proximity dan kontiguity) melalui prosedur overlay peta kontur terboboti yang menyatakan level kelas kesesuaian tiap parameter dan analisis jaringan keterkaitan lokasi potensial pengembangan dengan kondisi pemanfaatan lahan perairan saat ini (sumber pencemar, pelabuhan / dermaga, pemukiman). Prosedurnya adalah dengan menggunakan pendekatan matematis melalui perkalian dan penjumlahan nilai skor parameter (operasi Boolean). Hasil overlay dengan metode Boolean menghasilkan peta karakteristik unit lahan budidaya yang dicirikan dengan nilai-nilai kelas kesesuaian parameter di berbagai lokasi perairan TAD yang secara kuantitatif dicirikan dengan nilai skor faktor pembobot dari masing-masing karakteristik unit lahan. Unit-unit lahan mencerminkan karakteristik biogeofisikimia perairan dan secara

12 Ichthyos, Vol. 4, No.2, luli 2005: 69-80s

langsung meneerminkan potensinya untuk pengembangan budidaya perikanan, Tingkat kelas kesesuaian pengembangan budidaya komoditi memiliki nilai skor total tertentu yang didasarkan pada jumlah input parameter pembatas dan atributnya (ranking dan bobot) dengan formulasi adalah Y = L: (ai * Xi), dimana Y adalah nilai akhir (skor) yang menyatakan nilai kelas kesesuaian lahan, ai adalah nilai ranking parameter ke-i (dinyatakan dalam tiga kelas yakni 1 = tidak sesuai, 3 = sesuai, dan 5 = sangat sesuai) dan Xi adalah bobot tingkat kesesuaian parameter ke-i (3-5) didasarkan pada tingkat pengaruh dan tingkat kemungkinan rekayasa nilai parameter untuk mencapai kondisi ideal (3 = berpengaruh, eukup sulit direkayasa; 4 =: berpengaruh, sulit direkayasa; 5= sangat berpengaruh, sangat sulit direkayasa). Prosedur analisis spasial seperti pada Gambar2.

Hasil analisis spasial berupa lokasi kesesuaian budidaya perikanan yang dilengkapi dengan nilai atributnya yakni luasan area, posisi geografis, serta faktor pembatas pengembangan budidaya di kawasan itu. Kelas kesesuaian lahan budidaya dinyatakan dalam tiga tingkat kesesuaian yakni : 'Sangat Sesuai (Sl.), Cukup Sesuai (S2) dan Tidak Sesuai (N). Berdasarkan pilihan parameter input analisis tingkat kesesuaian lahan budidaya

. tersebut, ditetapkan lokasi dengan level Sl memiliki nilai skor > 304, S2 dengan skor 152-304 dan N < 152.

(2002), Sahetapy (2004), Wattimury dan Tuhumury (2005), Mainassy (2005). Statistik hasil pengukuran parameter biofisikimia di perairan TAD adalah sebagai berikut :

Suhu

Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu perairan TAD memiliki vanasi seeara musiman. Selama pengukuran pada bulan Juli (Musim Timur) 2004, suhu berkisar dari 25 - 26,20°C (rata-rata 25,12°C) pada lapisan permukaan sedangkan pada kedalaman 20 m berkisar dari 24,0 - 25,6°C (rata-rata 24,9°C). Nilai ini lebih rendah dari suhu perairan TAD pada musim lain yang umumnya berkisar dari 24,5 - 31°C untuk kedalaman dekat dasar sampai permukaan laut (Anonimous, 2003; Wattimury dan Tuhumury 2005). Variasi suhu dekat dasar lebih besar dari variasi suhu permukaan laut, dengan puncak variasi tertinggi pada musim Timur - Peralihan 2 (September - Nopember).

Sebaran spasial temporal suhu di perairan TAD menunjukkan bahwa tingkat variasi suhu kedalaman 0-10m lebih keeil dari suhu dekat dasar (kedalaman > 25 m). Hal ini menunjukkan terdapat suatu mekanisme pertukaran massa air pada lapis an bawah permukaan Iaut yang dimungkinkan oleh dinamika gelombang internal, sirkulasi arus pasut dan proses transfer panas dari permukaan ke bawah permukaan akibat dari variasi tingkat serapan sinar dan dinamika angin permukaan Iaut seeara musiman. Menurut Wattimurv dan Tuhumorv (2005) bahwa

Pemrosesan data Klasifikasi
- Data Citra Ikonos r-- layer data peta f-+- Data Peta ._ Matching
TM5 dan ETM7 + Kriteria &
0 Data Lapangan Skaring
· Data Sekunder ParameTer KualiTas '"
· Peta Topografi Air dan pola arus parameter
· Peta Tematik Peta sebaran
BaTimeTri, GeJombang, spa sial parameter
PasuT, SubsTraT dasar terklasifikasi
· Biogeafisikimia
Rencana PenuTupan lahan & · Batimetri,
Pengembangan Penggunaan lahan • Arus,
Wilavah adm
,L. .Jaringan Sungai .-

Lekasi .Jaringan .Jalan H Overlay
Batas AdminisTrasi
Pengembangan .J,
Budidaya

Karakteristik
Unit Lahan Perairan
rt Sangat 8esuai (81) Budidaya
....
J Sesuai (82) I-r- Kalas Kesesuaian
Lekasi Budidaya
~ Tidak Sasuai (N) 1-
Gamber 2. Mckanisme analisis spasial

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kondisi Kualitas Perairan Teluk Ambon Dalam

Informasi kualitas perairan Teluk Ambon Dalam (TAD) secara spesifik telah dilaporkan oleh sejumlah peneliti misalnyaoleh Tarigan dan Sapulete (1987), Huliselan (1991, 2002), Haumahu (2002), Anonimous (2003), Wattimury (2001), SyaranamuaI

kondisi demikian yang menyebabkan terjadinya gradien suhu vertikal di perairan TAD lebih tinggi dari perairan Teluk Baguala. Bahkan pola stratifikasi suhu vertikal sekitar Negerilama - Passo dan Lateri 3 lebih unik dari lokasi lainnya di perairan TAD, dimana suhu dekat dasar selalu lebih tinggi dari lokasi lain (Wattimury, 2001; Syaranamual, 2002).

Berdasarkan kriteria suhu untuk budidaya perikanan yang dikemukakan oleh Ahmad et al

Karakteristik Sebaran VertikaI Faktor Fisik Kimia perairan ... (B. Mainassy, N.V. Huliselan, S.F. Tuhumury, J. J.Wattimury) 73

(1995), Anonimous (1985), Beveridge (1996); Imanto et al (1995), Haryono dkk., (1999), Ismail et, al., (1998), KLH (1988) dan Wattimury U999), dibandingkan dengan rentang nilai suhu musiman di perairan TAD maka suhu perairan TAD memenuhi persyaratan untuk budidaya komoditi perikanan yang diteliti yakni ikan kerapu, kakap dan beronang menggunakan KIA

Kecerahan

Kecerahan perairan TAD pada bulan J uli 2004 berkisar dari 6,10 - 10,5 m (rata-rata 6,89 m) dengan CV (9,04 %). Nilai ini sedikit lebih rendah dari kecerahan pada musim dengan curah hujan rendah, misalnya pada bulan Desember (musim Barat) dengan kecerahan 9,2 - 11,0 m (CV 6,02 %) (Anonimous 2003). Hal ini diduga, disebabkan kekuatan aliran sungai dan sumbangan material ke perairan TAD yang tidak merata sehingga ada perbedaan input dan volume material sungai yang masuk laut, dan ada perbedaan karakteristik serapan sinar matahari di bagian-bagian perairan Teluk yang disebabkan oleh padatan tersuspensi.

Tingkat kecerahan perairan TAD memenuhi syarat kesesuaian lokasi untuk budidaya kerapu, kakap dan beronang dalam KIA

Kekeruhan

Kekeruhan perairan di lapisan permukaan laut pada bulan Juli 2004 berkisar dari 0,05 - 0,1 FTU (rata-rata 0,7 FTU), dengan tingkat variasi kekeruhan selama penelitian 14,74 %. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kekeruhan di bagianbagian perairan TAD cukup bervariasi dengan kekeruhan tertinggi (» 0,1 FTU). pada stasiun 11 (170 m, Tenggara dermaga LIPI) dan stasiun 14 (1 krn Barat Laut dermaga Halong), Nilai itu jauh Iebih rendah dari kekeruhan yang dilaporkan Anonimous (2003) untuk lapisan permukaan yang berkisar dari 0.08 - 1.0 FTU. Kekeruhan pada kedalaman 10 meter berkisar dari 0.38 - 1.0 Fl'U, dan pada kedalaman 30 - 40 meter mencapai nilai 1.00 FTU (TabeI4.7).

Berdasarkan kriteria kesesuaian tingkat kekeruhan air untuk budidaya perikanan, nilai kekeruhan tersebut masih memenuhi syarat untuk budidaya kerapu, kakap dan beronang.

Gelombang

Gelombang di perairan TAD adalah tipe gelombang angin, yakni gelombang yang ditimbulkan oleh tekanan angin permukaan laut. Kondisi topografi teluk turut berpengaruh terhadap lintasan angin atas permukaan laut sehingga perairan ini akan bergolak jika bertiup angin Barat Daya dan Utara dalam durasi yang lama dengan kecepatan > 10 knot. Tetapi frekwensi kecepatan dan arah lintasan angin tersebut cukup rendah sehingga perairan TAD umumnya lebih tenang sepanjang tahun, dengan kondisi muka laut pada skala Beaufort 1 - 3 (variasi tinggi gelombang permukaan < ° - 0,55 m) dengan periode 2,4 - 3,0 detik. Kondisi gelombang di perairan TAD secara musiman masih memenuhi syarat untuk mendukung

f

kegiatan budidaya kerapu, kakap dan beronang dalam KIA

Arus

Arus di perairan TAD didominasi oleh arus pasang surut. Walaupun demikian berkembang juga arus yang ditimbulkan angin permukaan laut dan arus induksi gelombang. Menurut Hamzah dan Wenno (1989) arus non-pasut mempengaruhi pola arus pasut di perairan TAD, tetapi kecepatannya cukup kecil yakni 0.11 m!detik. Selama periode surut arah arus cenderung ke luar teluk (Barat Daya) dengan kecepatan berkisar dari 0.01 - 0.20 m/detik. Pada kedalaman 15 meter kecepatan arus melemah pada seluruh lokasi yakni 0.011 - 0.10 m/detik. Saat periode pasang kecepatan arus di lapisan permukaan berkisar antara 0.011 - 0.10 m/detik dengan variasi arah Barat Daya - Tenggara. Pada kedalaman 15 meter kecepatan arus pada beberapa lokasi terdeteksi antara 0.11 - 0.20 m/detik sekitar Waiheru dan Lateri 3 yang mengarah ke Timur - Tenggara,

Kecepatan arus permukaan selama penelitian pada bulan Juli 2004 berkisar dad 0,1- 0,51 m/detik. Kecepatan arus > 0,3 m/detik ditemukan pada empat lokasi yakni lokasi 9 dan 10 (Waiheru), 14 (1 krn Barat Laut dermaga Halong), 15 (Tanjung Tiram) dan 21 (antara Lateri 3 dan Nania) sedangkan pada lokasi lain < 0,25 m/detik, Arus dengan kecepatan > 0,25 m/detik tersebut berkembang akibat tiupan angin Timur - Selatan tetapi cepat berkurang ketika kekuatan angin rnelemah,

Berdasarkan kriteria kecepatan arus maka ada 4 lokasi yang secara insidentil (karena pengaruh angin permukaan) tidak memenuhi syarat sebagai lokasi ideal untuk budidaya, yaitu lokasi 2 (Lateri 3), 9 (Waiheru), 10 (Hunut), 14 (1 km Barat Laut dermaga Halong) dan 15 (Tanjung Tiram), Tetapi berdasarkan tingkat kecepatan arus pasut maka secara umum perairan TAD memenuhi syarat untuk kegiatan budidaya kerapu, kakap dan beronang.

Kedalaman Laut

Berdasarkan nilai persyaratan ideal untuk kegiatan budidaya kerapu, kakap dan beronang hanya sebagian perairan TAD yang memenuhi syarat tersebut. Hal ini disebabkan sebagian area kedalaman TAD tidak sesuai untuk kegiatan budidaya. Peta sebaran spasial kedalaman perairan TAD ditampilkan pada Gambar 3.

;:

.: ' ::::>:,~.j!

, ,": .• j

74 Ichthyos, Vol. 4, No.2, Juli 2005: 69-80s

Substrat Dasar

Material dasar perairan TAD bervariasi dari kerikil - lempung tetapi frekwensi relatif berat kerikil eukup kecil «8.5 %) dan area sebarannya sangat terbatas yakni di GaIala, Passo, Poka dan Tanjung Marta Alfons. Seeara umum partikel pasir haIus - pasir sangat halus mendominasi sedimen dasar perairan Galala - Waiheru dan Halong, sedangkan partikeI lempung dan pasir sangat halus mendominasi sedimen dasar perairan Passo.

Berdasarkan Hennanto (1987), golongan lumpur dan lempung dijumpai pada perairan sekitar Hunut - Waiheru, Passo, Halong Bam dan tengah TAD. Lumpur berpasir ditemukan pada perairan Halong, Haiong Baru, Hunut, Kate-Kate dan Waiheru dengan persentase 50,1 - 71,9 %. Pasir berlumpur ditemukan sekitar lokasi penyeberangan Ferry dan muara Wairekan. Kerikil dan pasir ditemukan sekitar perairan Lateri, sedangkan pasir ditemukan pada lokasi Hunut.

Partikel lumpur mendominasi sedimen dasar Teluk dengan luasan area 350,17 Ha (29,88 %), berikut lumpur berpasir 349,35 Ha (29,81 %), pasir berlumpur 244,14 Ha (20,83 %) dan pasir 227,97 Ha (19,45 %).

Pasang Surut

Tipe pasang surut (pasut) di perairan TAD adalah pasut eampuran dengan dominasi harian ganda dengan jangkauan pasut berkisar dari 2 - 2,2 m. (Anonimous, 2003). Berdasarkan persyaratan kondisi ideal untuk budidaya perikanan, kisaran pasut di perairan TAD memenuhi syarat untuk pelaksanaan kegiatan budidaya kerapu, kakap dan beronang dengan KJA.

Salinitas

Nilai salinitas bulan Juli berkisar dari 27 - 32 (rata-rata 29,19) dengan variasi di seluruh stasiun 4.15 %. Nilai yang sarna dieapai dalam bulan Mei dan Juni (Anonimous, 2003). Anonimous (2003), Wattimury & Tuhumury (2005) juga melaporkan bahwa salinitas perairan TAD dari permukaan hingga kedalaman dekat dasar pada musim Peralihan dan Musim Barat pada umumnya > 33. Berdasarkan kriteria salinitas untuk budidaya perikanan, ternyata kisaran salinitas pada musim Timur memenuhi syarat untuk budidaya kerapu, kakap dan beronang dengan KJA.

pH

pH di perairan TAD berkisar dari 7 - 8,0 dan bervariasi menurut lokasi serta kedalaman Iaut. Variasi pH yang besar urnwnnya terdapat pada lapisan kedalaman 0 m - 5 m dibandingkan dengan lapisan dekat dasar. pH pada musim Timur urnurnnya berkisar dari 7 - 7,5 dan pada musim Barat dapat mencapai 8,6 pada kedalaman 0 m hingga dekat dasar (Anonimous 2003; Wattimury dan Tuhumury, 2005).

pH > 8,0 menjadi kendala untuk budidaya ikan kerapu, kakap, dan beronang. Pola sebaran pH di perairan TAD menunjukkan bahwa ada beberapa bagian perairan yang tidak memenuhi persyaratan ideal untuk kegiatan budidaya dengari KJA.

DO

Hasil pengukuran pada bulan Juli 2004 menunjukkan bahwakandungan oksigen terlarut hingga kedalaman 5 m berkisar dari 4,2 - 6,5 mg/l) (rata-rata 5,3 mg/l) (variasi 12,6 %). Nilai terendah ditemukan pada stasiun I (Lateri 3), 7 (antara Nania Waiheru) dan 11 (170 m Tenggara Dermaga LIPI) dan tertinggi pada stasiun 20 (Lateri 3, sekitar 700 m ke Barat dari dermaga Polair). Berdasarkan hasil-hasil penelitian sebelumnya diketahui bahwa nilai oksigen terlarut di perairan TAD berfluktuasi menurut musim. Pada musim Barat berkisar dari 3,98 - 4,08 mg/I; musim Pancaroba 1 5,37 - 5,42 mg/l; musim Timur 2,45 - 2,46 mg/l dan musim pancaroba 2 3,60 - 4,47 mg/1, bahkan nilainya dapat mencapai 7,11 mg/I di sekitar Halong (Anonimous, 2003).

BOD dan BODs

Kandungan BOD di perairan perairan TAD berkisar dari 0,21 - 6,6 mg/I (rata-rata 1,77 rng/l). Nilai terendah di stasiun 6, 5 (Nania), 7 (antara Nania Waiheru), 2 (Lateri 3), 15 (Tanjung Tiram), 18 (Latta), 20 (Lateri 3) « 0,5 mg/I) dan tertinggi di stasiun I (Lateri 3), 17 (450 m Barat Laut dermaga Halong), dan 21 (antara Laten dan Waiheru) (> 4 mg/I). Kandungan BOD5 berkisar dari 1,54 - 9,26 mg/I (rata-rata 5,87 mg/l). Kisaran nilai BOD memenuhi syarat untuk budidaya perikanan berdasarkan rekomendasi KLH (1988) yakni < 25 mg/1. Kandungan BOD5 berkisar dari 1,54 - 9,26 mg/I (rata-rata 5,87 mg/l) dengan variasi 17,10 %. Kandungan BOD5 memenuhi syarat untuk budidaya perikanan berdasarkan rekomendasi KLH (1988) yakni < 20 mgfI.

Nitrat dan Nitrit

Kandungan N itrat perairan TAD berkisar dari 0,0 I - 0,17 mg/l (rata-rata 0,06 mg/I) dengan variasi 32,50 % (Tabel 4.12). Nilai tertinggi ditemukan pada stasiun 2 (Lateri 3), 5 dan 6 (Nania).

Berdasarkan kriteria Nitrat (Anonimous, 1985) seluruh lokasi periaran TAO:, pada bulan Juli memenuhi syarat untuk budidaya perikanan keeuali di . stasiun 2, -5 dan 6 (Lateri - Waiheru).

Kandungan Nitrit berkisar dari 0,001 - 0,10 mg/I (rata-rata 0,01 mg/I). Nilai tertinggi di perairan poka pada kedalaman 0 m, sedangkan pada lokasi lainnya < 0,007 mg/1. Nilai tersebutjauh lebih rendah dari baku mutu lingkungan untuk perikanan yakni < 2 mg/l (diperbolehkan) dan < 1 mg/I (diinginkan) (KLH, 1988). Menurut Effendy (2003) bahwa kadar Nitrit yang lebih dari 0,05 mg/l dapat bersifat toksik bagi organisme perairan yang sangat sensitif.

Posfat

Nilai kandungan posfat berkisar dari 0,01 - 0,16 mg/I (rata-rata 0,12 mg/I) dengan variasi > 20,74 %. Nilai tertinggi ditemukan pada stasiun 6 (Nania) dan 11 (170 m Tenggara dermaga LIPI). Anonimous ( 1985) mensyaratkan kadar posfat berkisar dari 0,0062 - 0,093 mg/I yang bervariasi untuk kerapu, kakap, dan beronang. Berdasarkan sebaran nilai itu temyata nilai Posfat di perairan TAD hanya

Karakteristik Sebaran Vertikal FaktorFisik Kimia perairan ... (B. Mainassy, N.V. Huliselan, S.F. Tuhumury, 1. J.Wattimury) 75

memenuhi syarat untuk budidaya kerapu, kakap dan beronang, kecuali stasiun 6 dan ] l ,

Amonia

Nilai kandungan Arnonia berkisar dari 1,0 I - 1,75 mg/I (rata-rata 1,09 mg/l) dengan variasi 16,83 %. Nilai tertinggi ditemukan pada perairan Poka pada kedalaman 20 m dan terendah di perairan Waiheru pada kedalaman 10 - 20 m. Berdasarkan kriteria baku mutu lingkungan (KLH, 1988) dipersyaratkan nilai kadar Amonia < 0,3 mg/I (diinginkan) dan < 1,0 mgll (diperbolehkan) untuk budidaya perikanan. Dengan demikian nilai Amonia terukur telah melebihi ambang batas di tiga lokasi yakni poka (kedalaman 20 m), Tanjung Martafons dan Halong pada kedalaman 40 m. Sedangkan pada Iokasi lain kadar Amonia berkisar 1,0 I - 1,05 mg/l dan berada pada tingkat kritis.

Sebaran Plankton

Hasil penelitian bulan Juli 2004 menemukan 40 jenis fitoplankton dengan enam jenis dominan pada Tabel 4. Kelimpahan tertinggi adalah Nitchia (18420 sel/liter), berikut Cosconodiscus (10840 sellliter), Trichodesmium (9500 selliiter), Triceratium (9100 selliiter), Cera/fum (5980 sel/liter) dan Thalassiosira (5140 selliiter).

perairan Lateri yakni 56242 individu/m", kemudian perairan Passo dan perairan antara Halong dan Latta 37690 individu/m" dan 37251 individu/rrr'. Kelimpahan terendah terdapat pada perairan Waiheru yakni 5080 individu/rrr'. Kelimpahan tersebut didominasi oleh jenis-jenis yang disenangi oleh ikan pemakan plankton yaitu . Paracalanus sp, Pseudocalanus sp, Acartia spp, Oithona spp. Kelimpahan organisme meroplankton dalam hal ini larva bivalvia yang didalamnya termasuk larva berbagai jenis moluska ekonornis penting seperti Crassostrea sp, Anadara spp adalah 1247 individu/rrr' dan larva gastropoda 684 individu/nr'. Sedangkan volume endapannya berkisar dari 10 - 66 ml,

Tembaga (Cu)

Kandungan Cu di perairan TAD,berkisar dari 0,03 - 0,32 mg/I dan telah melebihi batas nilai ideal untuk budidaya perikanan yang dikemukakan Palar (2004) yakni kadar Cu < 0,02 mg/l, Tetapi berdasarkan kriteria KLH (1988) (nilai syarat Cu < (0,001 - 0,06) mg/I) temyata seluruh Iokasi dapat memenuhi syarat sebagai lokasi budidaya perikanan kecuali di stasiun 21 (Lateri 3).

Tabel 4. Statistik kelimpahan sel enarn Jenis Fitoplankton yang dominan di 21 stasiun perairan Teluk Ambon Dalam pada bulan Juli 2004

Jumlah seilliter
Statistik
Nitzchia Cosci- Tricho- Triceratium Ceratium Thalassiosira
nodiscus desmium
Min 220 0 0 20 0 0
Max 1760 1220 2480 1740 780 740
Mean 877.14 516.19 452.38 433.33 284.76 244.76
Stdev 461.44 357.69 630.06 202.38 261.91 254.66
CV(%) 52.6 69.3 139.3 46.7 92.0 104.0
.
Total Sel .18420 10840 9500 9100 5980 5140
.. Sumber : Has" Gna/ISIs

Dati 10 jenis dominan hanya dua jenis yang ditemukan di seluruh lokasi yakni Nitchia dan Triceratium. Kelimpahan sel tertinggi (5000 - 7600 sel/liter) dijumpai pada stasiun 9 (Waiheru), 5 (Negeri Lama), 13 dan ] 1 (depan dermaga LIPI), 10 (Hunut), 19 (Latta-Halong Baru), 1 (Lateri 3; dekat muara Wairekan), 4 (Passo: dekat muara Waitonahitu), 16 (dekat dennaga Ferry) dan 2 (depan dennaga Polair), sedangkan lokasi lainnya 2000 - 5000 selliiter, dengan kelimpaban terkecil pada stasiun 3 (Lateri 3 - Pas so), stasiun 6 (Nania) dan stasiun 20 (Lateri 3) ( < 3000 sei/liter).

Komunitas zooplankton di perairan TAD sangat bervariasi, terdiri dari larva moluska, telur ikan dan telur copepoda serta zooplankton jenis penting lainnya (Anonimous, 2003). Kelimpahan zooplankton pada perairan TAD berkisar antara 1 03 - 104 individu/m" dengan kelimpahan tertinggi pada

Khromium (Cr)

Kandungan Khromium (Cr) di perairan TAD berkisar dari 0,02 - 0,32 mg/I (rata-rata 0,05 mg/l) dengan variasi di seluruh stasiun 19,9 %. Nilai tertinggi ditemukan pada stasiun 21 (Lateri 3) sedangkan lokasi Iainnya < 0,05 mg/l, Kadar Cr di seluruh stasiun telah melebihi batas ambang yang disyaratkan KLH (1988) dan Palar (2004) untuk budidaya perikanan yakni 0,00004 - 0,01 mg/1. Perairan antara Lateri 3 dan Hunut Waiheru memiliki area perairan yang telah tercemar logam Cr.

Ttmbal (Pb)

Kandungan Timbal (Ph) di perairan TAD berkisar dari 0,03 - 0.38 mg/I (rata-rata 0,26 mg/I) dan telah melampaui batas ambang yang disyaratkan untuk budidaya perikanan yakni < 0,01 mg/l, Perairan Poka (st 12), tanjung tiram (st 15), depan dermaga

76 Ichthyos, Vol. 4, No.2, Juli 2005: 69~80s

LIPl (st 14) dan Lateri 3 (st 21) merupakan area yang telah tercemar logam Pb pada tingkat kritis. Sumber-sumber Pb diduga berasal dari tumpahan minyak dari sumber-sumber penghasil Pb dalam badan perairan seperti PL TO, berbagai pelabuhan di dalam teluk, perbengkelan ataupun dari basil aktivitas kapal tambat labuh dan limbah rumah tangga sepanjang pesisir yang dibuang ke dalam perairan TAD.

Penggunaan Lahan Di Kawasan Pesisir Teluk Ambon Dalam

Berdasarkan hasil analisis citra Ikonos, ETM 7+ dan TM5 dapat dihasilkan informasi sebaran spasial penggunaan lahan di kawasan Teluk Ambon Dalam. Citra Ikonos yang digunakan merupakan citra Geo-Carterra yang telah dikoreksi kesalahan sistematik dan non-sistematik, Analisis citra ETM7+ dan TM 5 mengacu pada prosedur yang dikemukaan Jensen (1996) melalui prosedur koreksi radiometrik dan geometrik, dan transformasi koordinat citra agar bersesuaian dengan koordinat citra Ikonos. Data citra Ikonos yang digunakan untuk proses klasfikasi penggunaan lahan adalah tipe Pan-Shapened (Paduan citra saluran Merah, Hijau dan Biru) dengan resolusi spasial 1 m. Sedangkan citra TM 5 dan ETM 7+ yang digunakan adalah citra komposit saluran S (IR), saluran 4 (IR dekat) dan saluran 3 (merah).

Tipe penggunaan dan penutupan lahan di kawasan perairan Teluk Ambon Dalam sampai radius 1 km dari garis pantai terdiri dari: a) Penggunaan lahan perairan : Budidaya (ikan dalam keramba apung, tiram), penangkapan ikan (dengan jaring insang, beach seine dan pancing ulur); pelabuhan (Dermaga penyeberangan Ferry, Angkatan Laut, Pol Air, Perikanan Nusantara, dan armada penangkapan lepas pantai); hutan mangrove dan padang lamun. b) Penggunaan lahan daratan : pemukiman penduduk, perumahan (Lateri dan Passo-Negeri Lama) dan pasar, Hotel, PLN (Galala, Poka), kawasan Militer dan Kepolisian (Basis Angkatan Laut, Polisi Perairan, Kepolisian Passo dan Air besar, Angkatan Darat ), Pusat Pendidikan Tinggi Poka, Menengah dan Dasar, Pusat Perbelanjaan Passo, Lembaga Penelitian LIPt, Balai dan Perkantoran, Pelayanan Kesehatan (Rumah sakit AL, Negeri Lama), Telekomunikasi (Passe), industri (Cold Storage Perum Perikani dan Nusantara Fishery), jalan, sungai, kebun campuran, hutan sekunder, semak belukar (Gambar 4.19).

Lahan Budidaya Ikan Kerapu, kakap dan Beronang

. Berdasarkan nilai kriteria kualitas lahan perairan sebagai ciri lokasi ideal dapat dipetakan lokasi ideal budidaya kerapu, kakap, dan beronang dalam KlA di perairan TAD. Hasil analisis menemukan sejumlah faktor pembatas yang sifatnya permanen dan temporer untuk budidaya kerapu, kakap dan beronang dalam KJA. Faktor pembatas permanen yang terdeteksi adalah substrat dasar perairan dan kedalarnan laut sedangkan faktor pembatas temporer adalah kandungan logam berat (Tembaga, Khromium, dan Timbal).

Penentuan Lokasi pengembangan budidaya KJA

Mekanisme pemrosesan dan analisis data input SIG untuk penentuan Iokasi ideal budidaya perikanan mengacu pada pendekatan analisis spasial. Data input SIG untuk penentuan lokasi ideal pengembangan budidaya KJA terdiri dari 19 peta tunggal yang terkelompok dalam 6 (enam) tipe layer data peta yakni kualitas air, pola arus, batimetri, gelombang, substrat dasar, plankton, penggunaan lahan dan peta jaringan. Untuk kualitas air terdiri dari 15 peta tunggal yang terinci atas peta sebaran faktor fisik perairan (4 peta), peta sebaran faktor kimia (lO peta), sebaran plankton (1 peta).

Peta kualitas air memuat informasi tematik tentang sebaran nilai parameter geofisikimia perairan TAD, peta penggunaan laban memuat informasi tematik tentang tipe penggunan kahan kawasan TAD, dan peta jaringan memuat informasi tematik tentang jaringan sungai, jalan, dan infrastruktur pendukung budidaya perikanan.

Berdasarkan pendekatan analisis tersebut dihasilkan tipe dan format data input beridentitas spasial yakni titik, garis dan area (TabelS - Tabel 6).

Tabel 5. Data layer faktor biofisikimia perairan untuk penentuan lokasi ideal Budidaya KJA.

Data Input TipeData Format Data
Suhu spasial Po ligon
Kecerahan spasial Poligon
Kekeruhan spasial Poligon
Sedimen suspensi spasial Po ligon
Arus spasial Poligon
Gelombang spasial Poligon
Plankton spasial Poligon
Salinitas spasial Poligan
pH spasial Poligon
Oksigen Terlarut (DO) spasial Poligon
BOD spasial Poligon
BODS spasial Po ligon
Nitrat (N03) spasial Poligon
Nitrit (N02) spasial Po ligon
Posfat (NH4) spasial Poligon
Amonia (NH3) spasial Po ligon
Tembaga (Cu) spasial Poligon
Timah (Pb) spasial Poligon
Kromium (Cr) spasial Poligon Tabel 6. Data layer faktor geomorfologi dan penggunaan laban untuk penentuan lokasi ideal Budidaya KJA.

Data Input Tipe Data Format Data
Sedimen spasial Poligon
Batimetri spasial Poligon
Vegetasi spasial Po ligon
Pemukiman spasial Poligon
Pelabuhan spasial titik
Sungai spasial garis
[alan spasial garis
Surnber pencemar spasial garis
Rencana pengembangan spasial titik Karakteristik Sebaran Vertikal Faktor Fisik Kimia perairan ... (B. Mainassy, N.V. Huliselan, S.F. Tuhumury, J. I.Wattimury) 77

Ada tiga sumber utama perolehan data input yakni melalui data penginderaan jauh multispektral, peta hidrografi dan survey lapangan, Data penginderaan jauh yang digunakan adalah citra Landsat TM 1996, ETM 7+ tahun 2000 dan Ikonos tahun 2000-2002. Luaran hasil pemrosesan dan analisis data input adalah berupa peta tematik sebaran faktor geofisikkimia perairan, penggunaan lahan, jaringan dan infrastruktur di kawasan TAD.

Substrat dan Kedalaman Laut

Budidaya ikan dalam keramba jaring apung (KJA) mensyaratkan substrat dasar perairan berpasir dan menjadi faktor pembatas permanen. Berdasarkan peta sebaran substrat dasar (Mainase 2005), diketahui bahwa sebaran pasir di perairan TAD hanya terkonsentrasi pada kedalaman perairan < 7 m (tidak merata diseluruh perairan), padahal pada kedalaman > 7 m merupakan syarat kedalaman ideal sebagai lokasi budidaya ikan dalam KJA Walaupun dernikian pada kedalaman > 7m dapat dijumpai agihan pasir lumpuran (dominasi pasir) yang juga memenuhi syarat budidaya pada tingkat sesuai untuk KJA dengan syarat perlu pengaturan kedalaman jaring keramba. Lokasi ideal untuk budidaya kerapu, kakap dan beronang dalam KJA ditunjukkan pada Gambar 4. Pada Tabel 7 dicantumkan luasan area substrat dasar dan kedalaman ideal untuk budidaya KJA Luasan area substrat pasir pada kedalaman 7 - 25 m seluas 80,85 Ha. Area ini sangat ideal untuk budidaya ikan dalam KJA

tt:,..._t~ctCl>1lWmf~ "&.I>Wo.~UI;NUo l'IIJ.lI""'lO"""--

Gambar 4. Lokasi budidaya kerapu, kakap dan beronang dalam lUA

Area yang cukup ideal dengan karakteristik pasir berlumpur pada kedalaman 7 - 25 m memiliki luasan 145,2 Ha. Total area budidaya yang masuk katagori cukup ideal- sangat ideal seluas 395,55 Ha atau 33,75 % dari total perairan TAD.

Tembaga (Cu), Cromium (Cr), dan Timbal (Pb)

Tiga unsur kimia tersebut menjadi faktor pembatas temporer artinya pengaruhnya terhadap ikan yang dibudidayakan . masih dapat ditekan melalui pendekatan manajemen lingkungan perairan di sekitar lokasi budidaya sebelum pelaksanaan budidaya atau selama kegiatan berlangsung.

Kadar timah hitam (Pb) dalam badan air sedikit lebih besar (0.03 - 0.38 mgll) dari nilai ambang prasyarat yang direkomendasikan KLH (1988) dan sejumlah peneliti lainnya yakni 0.0002 - 0.01 mgll. Nilai ini jauh lebih kecil daripada nilai ambang kematian (Murphy, 1979 dalam Palar, 2004) bagi crustacea setelah 245 jam yakni 2,75 - 49 mgll dan bagi ikan jika kadar Ph dalam perairan mencapai 188 mg/l,

Nilai konsentrasi Cu dan Cr di perairan TAD berkisar dari 0,02 - 0,32 mg/l. Kadar Cu dan Cr di perairan Lateri 3 dan Passo sedikit melebihi nilai batas ambang prasyarat yang direkomendasikan KLH (1988) yakni 0,001 - 0,05 mgll. Hasil analisis menemukan Luas agihan Cu dan Cr sebagai pembatas kegiatan budidayaikan di lokasi itu masing-masing 137,1 Ha (11,70 %) dan 119,9 Ha (10,20 %). Tampak bahwa kedua unsur logam berat itu terkonsentrasi pada lokasi dekat dermaga Lateri 3 dan sekitar pemukiman di pesisir pantai lokasi itu. Palar (2004) menjelaskan bahwa masuknya Cu dalam perairan melalui erosi batuan mineral dan melalui senyawa Cu di atmosfer yang dibawa hujan, hasil aktivitas manusia berupa buangan industri, penambangan Cu, industri galangan kapal dan berbagai aktivitas pelabuhan. Untuk perairan TAD, sumber-sumber Cu diduga sarna dengan sumber Cr yakni kertas, karton, kertas bangunan, pupuk, min yak, pelelehan baja dan logam non baja, aktivitas kendaraan bermotor dan pemolesan badan pesawat tertentu.

Tabel 7. Luasan area kesesuaian budidaya ikan Kerapu, Kakap, Beronang dalam Keramba Jaring Apung di perairan TAD.

Pembatas Permanen Luasan Area % Keterangan
(Ha)
Pasir, kedalaman 7 - 25 m 80.85 6.90 Sangat sesuai
Pasir berlumpur, kedalaman 7 -25 m 145.2 12.39 Sesuai
Pasir berIumpur, kedalaman >25 m 169.5 14.46 cukup sesuai
Lumpur berpasir, kedalaman > 25 m 180.0 15.36 Kurang sesuai
Lumpur berpasir, kedalaman 7 - 25 m 169.5 14.46 Kurang sesuai
Lumpur, kedalaman» 25 m 191.25 16.32 Tidak sesuai
Lumpur, kedalaman 7 - 25 m 125.10 10.67 Tidak sesuai
Pasir, kedalaman < 7 m t 110.6 9.44 Tidak sesuai
.. Sumber : Hasil analisis 2004

78 Ichthyos, VoL 4, No.2, Juli 2005: 69-80s

Kadar Cu dalam air Iaut pada bulan Maret dan April di sekitar Mardika - Batumerah yang dilaporkan Edwarde dan Tarigan (1987) memiliki < kemiripan dengan kadar Cu di perairan TAD (Juli 2004) tetapi kadar Cu di sekitar Lateri 3 dan Passo jauh lebih tinggi (0,32 mg/I). Nilai maksimum tersebut ditemukan pada area yang berdekatan dengan muara sungai besar terutama sekitar Lateri 3 dan Passo.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian ini disimpulkan halhal sebagai berikut :

I. Kondisi kualitas air perairan Teluk Ambon Dalam ditinjau dari aspek fisik, kimia, dan biologi merniliki kelayakan untuk budidaya kerapu, kakap, dan beronang dalam KJA.

2. Sebaran lokasi budidaya yang ideal di perairan TAD dibatasi oleh parameter substrat dan kedalaman laut.

3. Rentang nilai kadar logam berat Pb telah melebihi ambang batas maksimum diperbolehkan untuk budidaya perikanan di seluruh perairan TAD dengan konsentrasi kritis pada perairan Poka, Tanjung Tiram, depan dermaga UPI dan antara Lateri 3 dengan Nania-Waiheru. Demikian juga kadar Cu dan Cr terdeteksi telah melebihi ambang batas maksimum diperbolehkan untuk budidaya perikanan, khususnya di perairan antara Lateri 3, Passo, Nania dan Waiheru. Terakumulasinya logam berat tersebut diduga berasal dari limbah minyak hasil aktivitas pelabuhan dan transportasi laut dan limbah penduduk sekitar pesisir TAD yang masuk laut lewat sungai Waitonahitu, Wairekan, dan beberapa sungi kecil sekitar lokasi itu, serta sampah organik dan inorganik yang langsung dibuang ke laut sekitar area mangrove dan tepi pantai. Tiga parameter logam berat itu tidak menjadi pembatas permanen karena konsentrasinya dapat ditekan sampai melewati batas minimal diperbolehkan untuk budidaya perikanan melalui suatu mekanisme pengelolaan lingkungan perairan TAD secara profesional, terutama lingkungan sumber pencemar.

4. Luas area lahan ideal untuk budidaya ikan Kerapu, kakap dan beronang dalam KJ A adalah 395,55 Ha atau 33,75 % dari luas perairan TAD. Luas perairan tercemar logam Cu dan Cr sebagai pembatas bagi kegiatan budidaya perikanan di perairan TAD adalah masing-masing 137,1 Ha (II, 70 %) dan 119,9 Ha (10,20 %) sementara seluruh perairan berada dalam kondisi kritis akibat logam Pb.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, T., A. Rukyani, dan A. Wijono. 1995. Teknik budidaya laut dengan keramba jaring apung da/am Sudradjat et al., 1995. Prosiding. Temu Usaha Pemasyarakatan Teknologi

Keramba Jaring Apung bagi Budidaya Laut. Puslitbang Perikanan, Badan Litbang Pertanian. p.69-87.

Anonimous, 2003. Data dan Infonnasi serta Profil Potensi Perikanan dan Kelautan Kota Ambon. Kerjasama fakultas Perikanan dan IImu Keluatan dengan Dinas Perikanan dan Kelautan Kota Ambon.

Beveridge, M.C.M. 1996. Cage Aquaculture (Second Edition). Fishing News Books LTD. Farnham, Surrey, Englangd. 352 pp.

Bowden, K.F. 1984. Physical Oceanography of Coastal Waters. Ellis Horwood Lim. 302 pp.

Clark, W.A.V. and P.L. Hosking. 1986. Statistical Methods for Geographers. John Wiley & Sons, Inc. 513 pp.

Edward dan Z. Tarigan, 1987. Pengamatan pendahuluan Kadar Pb, Cd, CU dan Zn dalam air dan biota di Teluk Ambon. Da/am: Teluk Ambon :

Biologi, Perikanan, Oseanogrofi, dan Geologi, P30 LIPI Ambon, pp. 106-111.

Effendi, H., 2003. Telaah kualitas air bagi pengelolaan sumberdaya dan lingkungan perairan. Penerbit Kanisius. Jogyakarta. 258 Hal.

Fitzpatrick-Lins, K. 1981. Comparison of sampling procedures and data analysis for a landuse and landcover . Map. In:

Photogrammteric Enggoneering & Remote Sensing, 47 (3): 343-351.

Hamzah, M.Z., dan L.F.Wenno., 1989. Sirkulasi Arus di Teluk Ambon. Da/am Teluk Ambon Biologi, Perikanan, Oseanografi, dan Geologi, P30 UPI Ambon, pp. 91-101.

Haryono, E, Suwondo E, Sukwardjono, Wattimury, J.J, dan Zuharnen.. 1999. Aplikasi S/G untuk Pengelolaan Wi/ayah Pesisir Terpadu. Materi Training. Kerjasama Puspics UGMBakosurtanal-Bangda dalam rangka proyek MREP.

Haumahu, S., 2004, Distribusi spasial fitoplankton di Teluk Ambon. Dalam.: Ichtyos :

Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Perikanan dan Kelautan, VoL3, No.2. pp. 91-98.

Huliselan, N.V., 1991. Distribusi organisme

zooplankton di Perairan Teluk Ambon Dalam. Laporan Penelitian. Fakultas Perikanan Unpatti, Ambon.

Huliselan, N.V, 2002. Struktur komunitas plankton pada tiga zone (perairan Teluk Ambon Dalam, Transisi dan Teluk Luar) pulau Ambon. Laporan Penelitian. Fakultas Perikanan Unpatti, Ambon.

Karakteristik Sebaran Vertikal Faktor Fisik Kimia perairan ... (8. Mainassy, N.V. Huliselan, S.F. Tuhumury, 1. J.Wattimury) 79

[manto, P.T., N. Listyanto, dan B. Priono, 1995.

Desain dan konstruksi keramba jaring apung untuk budidaya lkan laut dalam Sudradjat et al..1995.

Prosiding Temu Usaha

Pemasyarakatan Teknologi

Keramba Jaring Apung bagi Budidaya Laut. Puslitbang Perikanan, Badan Litbang Pertanian. p.216-230.

lmanto, P.T. 2000. Budidaya Ikan Laut. Workshop Pengelolaan Sumberdaya Perikanan Berbasis Komunitas 20- 22 November 2000. Lombok Timur, 19 pp.

Ismail, W dan A. Wijono., 1995. Lingkungan laut:

Pelestarian dan pengelolaannya bagi budidaya perairan. Prosiding Temu Usaha Pemasyarakatan Teknologi Keramba Jaring Apung Bagi Budidaya Laut, Jakarta 12- I 3 April 1995. Hal: 157 - 171.

Ismail, W dan E. Pratiwi., 2002. Budidaya laut menurut tipe perairan. Warta Penelitian Perikanan Indonesia , Volume 8 No.2. Hal: 8-12.

Jensen, J.K, J 996. Introductory Digital Image Processing. A Remote Sensing Perspective. Second Edition. Prentice Hall, New Jersey. 316 pp.

Jensen, I.R., S. Narumalani, O. Weatherbee, K.S.

Morris, and H.E. Mackey, 1993, Predictive Modelling of Cattail and Waterlily Distribution in South Carolina Reservoir Using GIS, [n Photogrammetric Engineering and Remote Sensing, 58(11): 1561-]568.

Kapetsky, J.M., McGregor, L, and Nanne E.H., 1987.

A Geographical Information system 10 plan for aquaculture. F AO Fisheries Technical Paper No. 287.

Keputusan Menteri Kependudukan dan Lingkungan

Hidup. No: Kep-

03IMENKLHlIII199I Tentang

Baku Mutu Limbah Cair Bag; Kegiatan Yang sudah beroperasi. Jakarta.

Kirkby, S.D., 1996. Integrating a GIS with an expert system ti identify and mange dryland salinization. In :

Applied Geography, Vol. 16, No.4. pp.289-303.

KLH, 1988. Surat Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup, Kep~02fMENKLH/I/I988 :

Baku Mutu Air Laut untuk Biota Laut (Budidaya Perikanan).

Kordi, M.G.H., 1997. Budidaya ikan beronang dengan keramba jaring apung. Penerbit Dahara Prize. Jakarta. 84 Hal.

Meaden, GJ, and Kapetsky, J.M, 1991. Geographical

Information Systems and

Remote Sensing in Inland

Fisheries and Aquaculture. FA 0 Fisheries Technical Paper, No. 318. Rome, FAO. 262 p.

Morain, S. 1999. GIS Solution in Natural

Resource Management: Balancing the Technical-Political Eguation. . On Word Press. USA. 361 pp.

Neumann, G. and WJ. Pierson Jr. 1966. Principle of Physical Oceanography. Prentice Hall Inc. Engewood Cliff.

Palar, H., 2004, Pencemaran dan Toksikologi Logam Berat. Penerbit Rineka Cipta, 152 hal.

Ross, L.G., Mendoza, E.A. and Beveridge,

M.e.M., 1993. The use of geographical information systems for site selection for Coastal Aquaculture. In: Aquaculture, Vo1.112, No. 2~3, pp. 165~178.

Rochdianto, A., 2000. Budidaya ikan di jaring terapung. PT. Penebar Swadaya. Depok. Jakarta. 97 Hal.

Sahetapy, S.H., 2004, Analisis kandungan Kadmium dan Timbal di perairan Teiuk Ambon. Skripsi. Fakultas Perikanan dan lImu Kelutan Universitas Pattimura.

Syaranamual E, 2002. Dinamika Harian Suhu.

Salinitas dan Kecerahan berdasarkan Tinggi Matahari di Perairan Pesisir Lateri dalam Musim Peralihan 2. Skripsi. Fakultas Perikanan Unpatti, Ambon. 83 Hal.

Tarigan, M.S., dan D. Sapulete, 1987. Peru bah an Musiman Suhu Air Laut di Teluk Ambon Dalam. Dalam: Teluk Ambon Biologi, Perikanan, Oseanografi, dan Oeolagi, P30 LlPI Ambon, pp. 81-90.

Tarunamulia, A. Mustafa, dan A. Hanafi., 200 I.

Penentuan lokasi budidaya keramba jaring apung dengan aplikasi pengindraan jauh dan sistem informasi geografis (studi kasus di Teluk Parepare, Sulawesi Selatan) dalam Sudradjat et al., 2001. Teknologi budidaya laut dan pengembangan sea farming di Indonesia. Departemen Kelautan dan Perikanan dan JICA. Hal: 43- 56.

Tjasyono, B. 1999. Klimatologi Umum, Penerbit ITS. 317pp.

Wattimury, JJ. 1999. Sistem Informasi

Geografis untuk Perencanaan

dan Pengelolaan Kawasan Pesisir dan Laut. Materi On the Job Training Aplikasi SIG untuk perencanaan dan pengelolaan

80 Ichthyos, Vol. 4, No.2, ]uJi 2005: 69~8()s

kawasan pesisir terpadu di Propinsi Sumsel.

Wattimury, J.J. 2000. Variabilitas suhu, salinitas dan kedalaman Visibility pada Perairan Semi Tertutup (gejala fisik pada interface udara laut di perairan pesisir Lateri pada Musim Peralihan 2). Fakultas Perikanan Unpatti, Ambon. 41 Hal.

Wattimury, J.J. dan S.F. Tuhumury., 2005.

Karakteristik Sebaran Vertikal Faktor Fisik Kimia Perairan Teluk Ambon Dalam dan Teluk Baguala Pada Bulan Desember 2002, dalam lchtyos : Jurna/ lImu Perikanan dan Kelautan Universitas Pattimura pp. 1 - 8.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->