LAPORAN ALTERNATIF PELAKSANAAN KONVENSI PENGHAPUSAN SEGALA BENTUK DISKRIMINASI RASIAL (ICERD) DI INDONESIA “Menguak Tabir Diskriminasi Rasial

dan Impunity di Indonesia” BAB I : PENGANTAR ; REALITAS POLITIK DISKRIMINASI RASIAL Di INDONESIA 1. Dalam menyikapi laporan pemerintah Indonesia, NGO di Indonesia juga membuat laporan alternatif. Laporan ini final setelah diadakan konsultasi nasional Ngo pada tanggal 21-23 Juni 2007 di Bgoro, Jawa Barat, Indonesia. Konsultasi nasional Ngo ini diikuti oleh 25 anggota koalisi/lembaga dari beberapa daerah, antara lain, papua, Nusa Tenggara Timur, Kalimanta, Sulawesi, Aceh-Sumatera. 2. Outline alternatif report ini memuat beberapa pokok bahasan, yaitu ; a. Back ground yang berisi pengantar realitas diskriminasi rasial di Indonesia terutama kebijakan yang ada dan diterapkan di Indonesia. Dalam bagian ini juga dijelaskan kelemahan umum penulisan laporan pemerintah. b. Tentang beberapa Tematik Issu. Dalam bab ini ada beberapa tematik issu yang dipilih berdasarkan General Recomendaton Komite CERD. Dari beberapa tematik issu tersebut, mengenai Impunity menjadi masalah yang dianggap paling krusial. Tematik issu tersebut adalah; 1) Kerangka Hukum 2) Impunity, yaitu kasus Peristiwa Mei 1998 yang juga dijadikan contoh kasus oleh pemerintah yang di klaim sudah di tangani. dan konflik etnis di Sampit Kalimanta Tengah, dan Sambas Kalimantan Barat. 3) Diskriminasi terhadap etnis Tionghoa, dalam hal ini tentang Surat Bukti Kewarganegaraan Indonesia (SBKRI) dan masyarakat etnis Tionghoa sebagai stateles 4) Diskriminasi terhadap Masyarakat Adat. 5) Tindakan Pembatasan terhadap etnis; Religius Etnik. 6) Pengabaian hak-hak Idps korban konflik etnis 7) Diskriminasi rasial di Papua 3. Diskriminasi secara kultural merupakan fenomena sosial yang terjadi di belahan bumi manapun di dunia, namun kemudian suatu negara melakukan diskriminasi terhadap warga negaranya/individu di wilayahanya berdasarkan kebijakan-kebijakan merupakan pengingkaran atas harkat-harkat kemanusiaan yang sulit untuk ditolerir. Apalagi dalam konteks Indonesia yang konstitusinya mendasarkan diri kepada negara hukum (rechtstaat). 4. Diskriminasi rasial merupakan politik diskriminasi yang sudah berlangsung sejak lama di Indonesia, bahkan jauh lebih tua dari umur Republik Indonesia. Politik diskriminasi rasial berakar dan mulai diterapkan sejak jaman penjajahan Belanda dengan kebijakan segregasi rasialnya, melalui pembedaan hukum keperdataan ‘Indische Staatsregeling’nya sejak tahun 1849, kemudian sangat mempengaruhi praktek-praktek dan politik diskriminasi rasial hingga saat ini. Kemudian antara 1953 sampai dengan 1970 banyak kebijakan negara yang menghasilkan berbagai praktek diskriminatif terhadap berbagai kelompok-kelompok di Indonesia, yang dalam cakupan ICERD 1965, salah satunya
1

adalah terhadap kelompok etnis Tionghoa. Berbagai peraturan tersebut meliputi kewajiban memiliki Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia (SBKRI), pembatasan terhadap kelompok untuk mendapat pendidikan, pembatasan untuk menjadi pegawai negeri/tentara/polisi, pelarangan penggunaan bahasa (Mandarin), pembatasan kepemilikan tanah bahkan sampai dengan pelarangan berdagang pada wilayah daerah kabupaten/swatantra pada tahun 1959. 5. Diskriminasi rasial di Indonesia juga dilegitimasi oleh adanya konflik hukum (conflict of laws), yaitu berbagai pertentangan di dalam konstitusi (pertentangan antar pasal), pertentangan antar Undang-undang, dan pertentangan di dalam hirarki pertauran hukum dan perundang-undangan yang lain. Konflik hukum justru menjadi celah bagi terobosan berbagai kepentingan untuk melakukan tindakan diskriminatif secara lebih luas. 6. Kebijakan politik rasial tersebut yang kemudian dieskalasi dengan kegagalan negara untuk membangun kesejahteraan sosial, yang pada akhirnya banyak mengakibatkan berbagai tindak-tindak rasialisme yang bermuara kepada kekerasan terhadap kelompok etnis Tionghoa yang dilakukan secara sistematis, seperti pembunuhan massal etnis Tionghoa pada tahun 1840 oleh Belanda, kerusuhan di Bandung dan terakhir kerusuhan Mei 1998 yang terjadi di berbagai kota di Indonesia. Negara tidak mampu memberikan perlindungan bahkan keadilan/pemulihan kepada korban-korban. 7. Tidak saja dalam konteks etnis Tionghoa, kebijakan diskriminasi juga dialami oleh masyarakat adat yang selama ini terampas hak-hak adatnya, antara lain hak atas tanah ulayatnya, hak atas pengelolaan sumberdaya alam, dan hak mereka untuk mendapatkan hak-hak sipil dan politik. 8. Pembatasan terhadap kebebasan berkeyakinan mengakibatkan pengingkaran atas hakhak sipil mereka sebagai warga negara, misalnya hak untuk membentuk keluarga dan mempunyai keturunan, seperti yang dialami oleh masyarakat atau komunitas etnik yang menganut Kepercayaan Lokal. 9. Selama periode sebelum 1998, tidak ada upaya negara untuk melakukan penghapusan diskriminasi rasial, bahkan tidak jarang fakta-fakta diskriminasi tersebut tidak diakui sebagai diskriminasi. Kemudian baru pada tahun 1999, setelah terjadi reformasi dengan mundurnya Soeharto sebagai Presiden Republik Indonesia, negara Republik Indonesia meratifikasi International Convention on Elimination of All Forms Racial Discrimination pada tahun 1999, karena desakan komunitas Internasional setelah terjadi kerusuhan rasial Mei 1998. 10. Sejak diratifikasi pada tahun 1999, upaya penghapusan diskriminasi rasial di Indonesia khususnya menyangkut kebijakan-kebijakan yang diskrimatif berjalan lambat, walaupun janji politik sering diucapkan oleh politisi maupun pejabat pemerintahan. Beberapa langkah dan upaya pembaharuan hukum memang sudah dilakukan oleh pemerintah Republik Indonesia karena desakan dan inisiatif masyarakat yang juga telah melakukan beberapa upaya hukum. Langkah tersebut misalkan saja, perubahan politik untuk penghapusan diskriminasi rasial di Indonesia seperti diperbolehkannya penerbitan media berbahasa Mandarin, dijadikannya Hari Raya Tahun Baru Imlek sebagai hari Libur Nasional atau upaya penghapusan kewajiban SBKRI dengan Keppres No. 56 Tahun 1996 dan UU No. 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan. Akan tetapi sampai saat ini kebijakan tersebut belum sepenuhnya dilaksanakan. Misalnya berbagai kasus diskriminasi rasial masih terjadi dan negara belum melakukan perlindungan yang efektif atau pemidanaan atas diskriminasi rasial tersebut sekalipun itu dilakukan oleh aparat negara. Bahkan upaya hukum tersebut belum tercermin dengan masih berlakunya berbagai peraturan perundangan lainnya yang diskriminatif misalnya UU No. 23 tahun
2

2006 tentang Administrasi Kependudukan yang masih diskriminatif maupun Peraturanperaturan Daerah (Ada UU yang lahir untuk menghapuskan praktek diskriminasi yaitu UU 12 tahun 2006 tentang Kewarganegaraan namun disaat yang sama juga lahir UU yang diskriminatif yaitu UU 23 tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan) 11. Pemerintah Indonesia saat ini akan memenuhi kewajibannya sebagai negara pihak memberikan laporan implementasi dari ICERD. Dalam laporannya dituliskan banyak kemajuan yang telah dilakukan oleh pemerintah baik dalam bidang legislasi maupun penyelesaian kasus. Namun pada kenyataannya laporan tersebut tidak semuanya berdasarkan fakta yang ada, baik dari perubahan legislasi mapun dari penangananan kasus. 12. Dalam proses pembuatan laporan yang dilakukan oleh pemerintah secara umum terdapat beberapa cacatan yang krusial terutama tentang materi subsansi dan fakta yang disajikan, yaitu ; a. Substansi yang disajikan banyak yang tidak sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam CERD, terutama batasan tentang basis diskriminasi yang digunakan. Secara umum laporan tersebut banyak yang menyimpang dari Pasal 1 CERD maupun General Recommendation No 14 : Definition of Discrimination ; 22/03/93. Contoh dalam konteks ini mengenai subtansi yang dilaporkan berbasis pada diskriminasi agama dan diskriminasi bagi orang cacat (Para. 132). Sehingga secara jelas laporan pemerintah tersebut secara umum tidak sesuai dengan ketentuan ICERD. b. Fakta-fakta atau kasus yang terjadi dan disajikan dalam laporan ini juga jauh dari realitas diskriminsi rasial, karena memang sejak awal substansi diskriminasi yang disajkan bukan berbasis pada ICERD. Contoh fakta / kasus yang tidak sesuai dengan CERD misalkan saja dapat ditemukan dalam beberapa contoh kasus diskriminasi yang berbasiskan agama seperti yang terjadi di Probolinggo maupun Malang (Para. 112), diskriminasi berdasarkan politik yang terjadi dalam aturan partai politik, mengenai Polisi cacat yang masih bekerja berbasiskan diskriminasi pada orang cacat (Para. 148), diskriminasi yang terjadi berdasarkan kemiskinan dan kerentanan masyarakat (Para. 151). c. Laporan pemerintah tidak fokus dan saling kontradiksi satu dengan yang lain. Kenyataan ini dapat dilihat dari pemakaian beberapa argumentasi hukum yang disajikan. Misalkkan saja UU No.8 Tahun 1985 tentang Organisasi Masyarakat yang diklaim pemerintah sebagai UU yang mendorong pemberantasan diskriminasi, namun disisi lain dalam laporan tersebut UU itu juga melegitimasi praktek kekerasan yang berbasis agama. d. Klaim yang salah terhadap pekerjaan NGO. Hal ini terjadi misalkan terhadap riset yang dilakukan oleh lembaga UPC (Urban Poor Concorcium) terhadap diskriminasi orang miskin dan rentan yang juga dianggap masuk dalam CERD. Dalam masalah ini pemerintah tidak terlibat dalam riset tersebut, dan riset itu bukan berbasis CERD. 13. Pada akhirnya harapan besar kami, NGO di Indonesia, masyarakat umum dan seluruh korban agar summary eksekutif laporan alternatif ini dapat digunakan oleh Komite untuk melihat realitas kebijakan dan kasus diskrimininsi Ras di Indoneia. Sehingga Komite dapat membuat rekomendasi yang tepat dan sesuai dengan problem diskiminasi rasial di Indonsia.

3

4 . yang hal ini jelas bertentangan dengan UUD 1945 dan UU No. contohnya peraturan yang dibuat oleh Gubernur Yogyakarta No. belum ada implementasi hukum atau sanksi hukum bagi tindakan-tindakan diskriminasi. Pemerintah Indonesia tidak mendeskripsikan secara rinci defenisi diskriminasi dari konstitusi sampai seluruh peraturan perundang-undangan. 398/I/A/1975 sebagaimana yang telah disebutkan di atas dan bahkan dalam UU 23/2006 tentang Aminduk yang baru dibuat tahun 2006 juga masih melahirkan diskriminasi. Sehingga terdapat pertentangan antara peraturan yang lebih rendah dengan peraturan yang lebih tinggi. 26 tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia adalah mengadili kasus-kasus pelanggaran HAM berat yaitu Kejahatan Terhadap Kemanusiaan dan Genosida. Laporan Pemerintah Indonesia tentang Pelaksanaan Konvensi Penghapusan Diskriminasi Rasial tidak menggambarkan / menjawab empat hal mendasar ini. Pasal 2 17. Intruksi Gubernur Yogyakarta No. 398/I/A/1975 tentang Penyeragaman Policy Pemberian Hak atas Tanah Kepada Seorang WNI Non-Pribumi. sementara praktek diskriminasi juga mencakup pidana biasa. 101. Praktek-praktek diskriminasi masih berlangsung. (4) apakah ada sinkronisasi perundangundangan/kebijakan hukum dari nasional sampai daerah yang sesuai dengan prinsip UUD 45 dan Konvensi. Disamping itu. Sebagai contoh. 86-88). 90 yang menyebutkan bahwa di Indonesia ada sanksi hukum bagi tindakan diskriminatif adalah sangat tidak benar. UU N0. Informasi dalam Para. 95. Pasal 1 14. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. antara lain tercantum dalam Amandemen UUD 1945. Artinya. Informasi dalam Para. Dalam konteks ini.BAB II TINJAUAN KRITIS TERHADAP LAPORAN PEMERINTAH : INFORMASI DAN ARGUMENTASI LAIN YANG RELEVAN TERKAIT DENGAN PASAL 1 SAMPAI PASAL 7 ICERD. harmonisasi hukum belum terlaksana secara efektif bagi seluruh peraturan perundang-undangan mulai dari jaman kolonial sampai saat ini. Secara formal defenisi diskriminasi telah tercantum dalam berbagai peraturan perundangundangan. Akan tetapi yang menjadi pertanyaan mendasar adalah (1) Apakah ada sanksi hukum bagi tindakan-tindakan diskriminasi (2) Apakah peraturan-peraturan tersebut telah menghapuskan praktek-praktek diskriminasi yang terjadi selama ini. Karena yuridiksi UU No. mengenai Pasal 27 ayat (1) UUD 1945 dan jaminan tidak ada undang-undang yang bertentangan dengan UUD 1945 sebagai sumber hukum tertinggi sangat kontradiktif dengan kenyataan yang ada. Yuridiksi UU Pengadilan HAM tersebut hanya mencakup satu element kejahaan dalam konteks diskriminasi yaitu kejahatan yang termasuk dalam kategori pelanggaran berat HAM. 16. (3) Apakah peraturan-peraturan tersebut menimbulkan atau tidak menimbulkan praktek-praktek diskriminasi baru. 15. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (Para. 100. yang melarang WNI Tionghoa memiliki tanah di daerah Yogyakarta. Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) yang mencakup jenis tindak pidana biasa tidak mengatur mekanisme pidana bagi tindakan-tindakan diskriminasi.

Infomasi pada Paragraf 112 tidak konsisten / saling bertentangan dengan Paragraf 114 dalam penggunaan UU No. (Rincian Peraturan-peraturan yang bersifat diskriminatif secara lengkap akan dilampirkan dalam Alternatif Report ICERD) 19. Hampir seluruh daerah di Indonesia masih menempatkan kolom Agama di dalam Kartu Identitas Penduduk (KTP).18. Disamping itu pula. 111 tidak masuk dalam yuridiksi CERD. Para. Misalnya memang ada perencanaan pencatatan perkawinan bagi Penganut Kepercayaan dan agama diluar agama resmi di dalam Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia (RANHAM) 2004-2009. Kota Bogor (Para. 106. 23. Antara lain seperti Instruksi Kepala Daerah DIY No. Kebijakan pembangun untuk daeah tertinggal indonesia bagain timur yang dipaparkan dalam laporan pemerintah sebenarnya bukan dalam rangka kebiajkan yang berbasis pada usaha untuk menghapuskan diskriminasi rasial. dan pihak Ayah tidak diakui oleh negara. Jadi anak yang lahir dari pernikahan di luar 5 (lima) agama yang diakui Negara hanya diakui sebagai anak dari pihak Ibu. 23 tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan yang disahkan pada bulan Desember 2006 menyebutkan dalam Pasal 61 ayat 2 bahwa di dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP) harus mencantumkan agama. 110-112 missleading dengan fakta yang sebenarnya. masih banyak peraturan-peraturan bersifat diskriminatif yang masih berlaku. Tetapi rencana ini tidak terlaksana dengan baik. Informasi tentang pencatatan perkawinan bagi pemeluk agama dan keyakinan diluar 5 (lima) agama yang diakui Pemerintah (Para. 5 . Dalam Para. Intruksi Kepala Daerah Yogyakarta ini melarang warga etnis Tionghoa memeliki tanah. 111) juga masih menempatkan kolom Agama. yaitu anak yang lahir dari perkawinannya hanya diakui negara sebagai anak dari Sdri. 105. perlu dipertegas apakah ada upaya-upaya atau mekanisme hukum yang dijalankan dan upaya pemulihan efektif bagi korban. Dalam hal ini. 22. Dewi Kanti saja. 102 adalah benar. Poin 110 – 112 tidak masuk dalam yuridiksi ICERD karena poin kasus tersebut berdasarkan agama bukan ras. Dewi Kanti (Penganut Aliran Kepercayaan). fakta dalam Para. Akan tetapi klaim pemerintah tersebut belum dilakukan secara menyeluruh. 107. sebab dalam rencana pembangunan tersebut juga sinergi dengan perencanaan investasi di Indonesa bagian timur tersebut. Secara legal.108) memang seharusnya dilakukan dan semestinya bisa terlaksana dengan efektif. namun lebih pada kemiskinan stuktural dan yang paling mendapatkan manfaat adalah para investor. Dan bagi agama yang tidak diakui dikosongkan dalam KTP tersebut. Seperti contoh kasus yang dialami oleh Sdri. 21.8 tahun 1985 tentang Organisasi Masyarakat. tidak relevan dengan Pasal 2 konvensi. 24. 110). Pencatatan perkawinan baru terlaksana bagi penganut Konghucu. belum bisa terlaksana dengan baik bagi seluruh agama dan keyakinan yang ada di Indonesia. Informasi dalam Para. Bahkan dalam UU No. Paragraf 104. sementara perkawinan bagi penganut Aliran Kepercayaan dan seluruh keyakinan yang melekat pada etnisitas belum dicatatkan. Akan tetapi sebagaimana yang telah disebutkan di atas bahwa tindakan diskriminasi masih dilakukan oleh pihak Bank (Para. Kantor Catatan Sipil tetap menolak pendaftaran perkawinan bagi Penganut Kepercayaan sekalipun Pengadilan telah memerintahkan kepada pejabat terkait untuk mencatatkan perkawinannya. 398/I/A/1975 tentang Penyeragaman Policy Pemberian Hak atas Tanah kepada Seorang WNI non-Pribumi. 20. 109). Upaya yang dilakukan pemerintah untuk menghapuskan Surat Bukti Kewarganegaraan Indonesia bagi warga Tionghoa (Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia) (Para.

Medan. Contoh kasus tentang SBKRI dalam Para. namun penghapusan tersebut tidak menjamin efektifitas pencegahan dan penyelesaian segregasi yang ada. Pada saat ini. 117. Kekerasan. Tuduhan tersebut sama sekali tidak berdasar bahkan Ahmadiyah dalam kontek Indonesia menjadi korban dalam kebebasan berkeyakinan dan beragama. 8 Tahun 1985 dengan aktifitas dan keyakinan para kelompok Ahmadiyah. Sedangkan dalam Para.I/VI/2003. 8 Tahun 1985. Pasal 3 28. UU No. halaman 79 – 109. UU No. Pemerintah/aparat penegak hukum cenderung diam dan membiarkannya. 119. ancaman. dan diakui sebagai Organisasi Masyarakat melalui surat Direktorat Hubungan Kelembagaan Pol No. kasus Ahmadiyah dan kasus penutupan gereja. dalam buku “ SBKRI : Analisis dan Hasil Pemantauan”. 26. 6 1 . disebutkan bahwa penahanan terhadap Ketua Kelompok yang disebut sebagai “Kelompok pengkhianat” adalah bertentangan dengan UU No. eksistensi kelompok Ahmadiyah sudah diakui sebagai badan hukum legal berdasarkan SK Menteri Kehakiman No. Adalah benar bahwa ada kemajuan terhadap penghapusan aturan hukum yang mengatur segregasi. Informasi dalam Para. undang-undang tersebut sudah tidak relevan dengan perkembangan dan penghormatan terhadap hak asasi manusia. 27. serta fasilitas pendidikan yang dimiliki oleh kelompok Ahmadiyah tidak pernah diproses secara hukum. Dalam kasus Ahmadiyah. walaupun sudah ada Kepres No. Fakta dilapangan adalah banyak kekerasan terjadi atas nama agama. dan pemerintah tidak melakukan apa-apa dan bahkan ikut terlibat contoh. Dalam pengurusan Kartu Tanda Penduduk (KTP). karena tidak mungkin kelompok Ahmadiyah sebagai kelompok minoritas mengumumkan/mengklaim secara terbuka versi mereka mengenai Islam. Statement/informasi tentang Ahmadiyah (Para. 75/D. UU tersebut justru menjadi pembatasan terhadap hak-hak berkumpul dan berasosiasi. pemerintah menuduh bahwa Ahmadiyah adalah organisasi yang mendukung rasial. 118. namun dalam prakteknya SKBRI masih berlaku dibeberapa daerah.112. Manado dan Pontianak menemukan bahwa SBKRI masih berlaku dengan polapola antara lain 1 : a. SBKRI untuk pengurusan akta kelahiran anak dari perkawinan campuran. Dalam kasus-kasus seperti ini Pemerintah tidak melindungi kelompok-kelompok minoritas dalam aliran-aliran keagamaan. Disamping itu. bagi anak warga keturunan diminta melampirkan SBKRI bersama Kartu Keluarga (Kasus di Tanjung Pinang). dalam konteks ini ahmadiyah adalah Korban dari kekerasan yang berbasis agama. tidak ada hubungan antara UU No. pengrusakan rumah dan tempat ibadah.Indonesia (Komnas HAM) dan GANDI (Gerakan Perjuangan Anti Diskriminasi) di 4 (empat) kota yaitu Tanjung Pinang dan Batam. Selengkapnya dapat dilihat hasil riset Komnas HAM dan GANDI. JA 5/23/23 Tanggal 1 Maret 1953. 8 tahun 1985 dijadikan sebagai pembenar untuk menyalahkan keyakinan yang dianut oleh Kelompok Ahmadiyah. 114. 114. November 2006. Riset yang dilakukan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia . 56 tahun 1996 yang mencabut tentang SKBRI. 114) sangat subjektif dan dapat menjadi sumber legitimasi kekerasaan terhadap Ahmadiyah. 25. 8 tahun 1985 tentang Organisasi Masyarakat adalah produk perundang-undangan yang dibuat pada zaman Orde Baru untuk mengontrol aktivitas masyarakat dalam berorganisasi.

dapat mengakibatkan hilangnya identitas etnis. Salah satu klasifikasi Kejahatan Terhadap Kemanusiaan dalam UU ini adalah Penyiksaan terhadap suatu kelompok tertentu yang didasari persamaan paham politik. 113) tidak ada sanksi hukumnya. Informasi mengenai proses hukum bagi diskriminasi dalam UU No. dalam konteks Aceh. akan tetapi tidak memuat sanksi pidana bagi praktek diskriminasi. Disamping itu dalam RUU KUHP yang sudah dibahas selama 20 tahun terakhir memuat pemidanaan praktek diskriminasi dalam pasal 286 dan 287. Sejak tahun 2003. yaitu Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tidak mengatur tentang pelarangan praktek diskriminasi rasial dalam kategori pelanggaran biasa. Implikasinya sampai saat ini segregasi sosial itu masih ada dan dipelihara. Contoh lain. 109 yaitu tindakan Bank yang meminta SBKRI (Surat Bukti Kewarganegaraan Indonesia). sebagain besar infomasinya telah disampaikan pada bagian Pasal 2 Konvensi. 32. saat ini pemerintah juga membuat draf UU Anti Pornografi dan Pornoaksi yang berpotensi besar membatasi keanekaragaman ekspresi kultural dari banyak etnis di Indonesia dalam bentuk pengutamaan nilai-nilai cara berpakaian dan nilai-nilai perilaku tertentu. Bisa disimpulkan bahwa 7 . 30. budaya. 122). SBKRI masih diharuskan dalam Pengurusan Ijin Usaha. sehingga masih dianggap WNA (Kasus di Medan) 29. Warga Negara Indonesia (WNI) yang keturunan India lebih banyak tidak memiliki dokumen resmi. tidak mensyaratkan lagi SBKRI dalam pendaftaraan mahasiswa baru. (Kasus di Medan).b. Sementara untuk tindakan-tindakan diskriminasi seperti dalam Para. UU No. c. kebangsaan. UU 26/2000 ini hanya bisa menjangkau/mempidanakan tindakan penyiksaan yang berdasarkan diskriminasi rasial yang terjadi secara sistematis (systematic) atau meluas (widespread). Selain itu. (Kasus di Medan). Selain itu. karena yuridiksi undang-undang ini adalah mengadili pelanggaran HAM Berat berupa Genosida dan Kejahatan Terhadap Kemanusiaan. 26 tahun 2000 hanya menangani jenis kejahatan yang masuk dalam kategori pelanggaran berat HAM. 26 Tahun 2000 tentang pengadilan Hak Asasi Manusia adalah tidak benar. adalah tidak relevan dengan Pasal 4 Konvensi. dan pegawai pemerintah yang menolak permintaan Candra Setiawan (Para. dan. 39 Tahun 1999 tentang HAM meski memuat pengakuan tentang sikap anti diskriminasi. Artinya sistem hukum (pidana) di Indonesia. bahwa UU No.mencakup pula jenis pelanggaran HAM biasa. Universitas Sumatera Utara. Langkah pembauran yang dilakukan Pemerintah dalam hal penghapusan segregasi (Para. agama dan jenis kelamin. Dasi segi legislasi. Berbagai macam kelompok etnis di Indonesia sudah melakukan penolakan atas RUU ini. Padahal bentuk-bentuk praktek diskriminasi –menurut CERD. segregasi sosial malah dibuat oleh negara yaitu negara merekrut milisi berdasarkan etnis rasial yaitu etnis Jawa dan Sumatera untuk melawan GAM (Gerakan Aceh Merdeka) dan mendesak pemecahan Aceh menjadi dua profinsi. seperti akte lahir. 33. 34. akan tetapi hanya dibatasi apabila praktek diskriminasi itu mengakibatkan kekerasan. ras. Informasi yang disampaikan dalam Paragraf 125 sampai 138. d. tidak ada undang-undang yang mengatur sanksi hukum bagi tindakan diskriminasi. etnis. Seharusnya pemerintah mendorong integrasi bukan asimilasi (pembauran) Pasal 4 31. Perlu ditegaskan. pasport.

Informasi pada Para.sistem legislasi dan hukum positif Indonesia tidak memadai untuk memerangi praktekpraktek diskriminasi rasial. dan negara tidak melakukan pemulihan efektif bagi korban.baik untuk umum maupun untuk aparatus negara. 41. 158 tidak relevan dengan Pasal 6 konvensi. 151 tidak relevan dengan Konvensi CERD. multi ras dan bahasa maka seharusnya hal ini telah disadari dari awal dengan membuat kebijakankebijakan yang sensitif terhadap konflik dan tidak mengandung potensi diskriminasi rasial. dan Penembakan Mahasiswa Universitas Tri Sakti. Dan masyarakat etnis Dayak belum bisa menerima kehadiran mereka. Kenyataan bahwa Indonesia adalah negara yang multi budaya. 27 tahun 2004 tentang Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi sudah dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi. Pasal 6 37. 152 sampai Para. Karena konsepsi dan kasus-kasus penghapusan diskriminasi yang disebutkan oleh Pemerintah bukan kasus-kasus diskriminasi berdasarkan diskriminasi rasial. Namun Laporan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) tidak ditindaklanjuti oleh Kepolisian atau Kejaksaaan Agung. Secara umum Pemerintah tidak melakukan upaya-upaya penanganan konflik khususnya yang terjadi di Kalimantan Barat antara etnis Madura dan Dayak. masyarakat etnis Madura belum berani pulang ketempat tinggalnya. 38. Pasal 7 39. pembunuhan. 36. Negara belum memfasilitasi rekonsiliasi permanen diantara kedua belah pihak. 150. Sehingga sampai saat ini secara psikologis. Hal ini bisa dilihat dari keadaan pengungsi kelompok etnis Madura yang sampai saat ini belum bisa pulang ke tempat tinggalnya. Hal ini bisa dilihat bahwa aparat negara masih banyak melakukan diskriminasi rasial.139 sampai Para. Khusus Para. Secara umum Para. Fakta yang terjadi di Indonesia adalah kasus-kasus diskriminasi rasial tidak ada yang diproses secara hukum melalui pengadilan. multi agama. Sebagaimana yang telah disebutkan dalam contohcontoh di atas. Sampai saat ini belum ada gantinya. Selanjutnya hal ini akan dijelaskan dalam tematik Tentang Impunity. Tidak ada satu kebijakan pendidikan untuk menghilangkan diskriminasi rasial. Komentar atas Kesulitan-Kesulitan yang dihadapi Pemerintah dalam Penerapan Konvensi 40. UU No. Pasal 5 35. BAB III ISU TEMATIK 8 . Kasus-kasus kekerasan yang terjadi pada bulan Mei 1998 adalah kasus-kasus perkosaan terhadap etnis tertentu. pembakaran gedung-gedung perbelanjaan.

Konflik hukum di dalam konstitusi muncul karena terjadi pertentangan antara pasal yang satu dengan pasal yang lain. dan pertentangan di dalam hierarki peraturan hukum dan perundang-undangan. antara UU Administrasi Kependudukan (UU No 23/2006) dimana di dalamnya masih mengatur tentang pembatasan kepemelukan agama dan berkeyakinan. Perda No. terutama tanah.A. 44. 23/2006 ini juga bertentangan dengan UUD 1945. Di tingkat daerah juga muncul Peraturan Daerah (Perda) yang bertentangan dengan UU dan UUD 1945. 45. UU No. UU tentang Pertambangan. 48. 32/2004 tentang Pemerintah Daerah. dan sumberdaya alam. Misalnya. pertentangan antar Undang-undang (UU). khususnya pasal 28E yang menjamin kebebasan setiap warga Negara untuk memeluk agama dan kepercayaannya. Konflik hukum terjadi disebabkan oleh adanya kepentingan para pembuat kebijakan. UU tentang Perikanan. Kalimat sepanjang………dan seterusnya dalam pasal 18b Ayat 2 tersebut justru mengancam eksistensi masyarakat adat yang dianggap tidak sesuai dengan perkembangan jaman. Misalnya UU No 18/2004 tentang Perkebunan. Pertentangan antar UU misalnya. KERANGKA HUKUM 42. Di Indonesia. Dalam kondisi konflik hukum ini. lahir juga sejumlah UU yang membatasi keberlanjutan hak-hak ekonomi dan sosial masyarakat adat (hal ini bertentangan dengan rekomendasi umum No 23 : masyarakat adat : 18/08/97 angka (4) huruf (c) menyediakan kepada masyarakat adat kondisi yang memungkinkan suatu pembangunan ekonomi dan sosial yang berkelanjutan sesuai dengan karakteristik budaya mereka). dan kepentingan dari kelompok modal. masih terdapat hukum yang diskriminatif dan bertentangan dengan konvensi ICERD. 43. Bahkan sebelum amandemen UUD 1945. 49. dan UU No 7/2004 Sumber Daya Air. air. 46. Pasal 28i Ayat 2 UUD 1945 mengatakan: setiap orang berhak bebas atas perlakuan yang diskriminatif atas dasar apapun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu. Begitu juga dengan keberadaan UU No. Pasal ini bertentangan dengan pasal 18b ayat 2 yang berbunyi negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara kesatuan republik Indonesia. yang diatur dalam undang-undang. Hal ini disebabkan oleh adanya konflik hukum (conflict of laws). dalam praktek yang pernah terjadi dengan klausul yang sama tentang pengakuan bersyarat yang diatur dalam UU No 41/1999 tentang Kehutanan telah menyebabkan marginalisasi sistematik masyarakat adat yang hidup dan bergantung dari hutan. Ketiga UU tersebut menjadi legitimasi para pemilik modal untuk merampas hak-hak masyarakat adat. yaitu pertentangan di dalam konstitusi (UUD 1945). Termasuk menafsirkan kalimat “sepanjang masih hidup dan sesuai dengan 9 . seperti antara Peraturan Daerah (Perda) dengan UU di atasnya atau UU dengan konstitusi. 6/2003 di Bulukumba (Sulawesi Selatan) tentang baca tulis alquran bertentangan dengan konstitusi pasal 28I ayat 3 tentang pengakuan identitas budaya dan hak masyarakat tradisional. telah menjadi instrument bagi Pemerintah Daerah (Pemda) menafsirkan eksistensi masyarakat adat. perspektif yang bias rasial (pengutamaan dan pembatasan). Perda ini akan membuat masyarakat adat Kajang Bulukumba kehilangan identits budayanya karena diwajibkan untuk mengikuti Perda tersebut. hal ini bertentangan dengan UU Hak Asasi Manusia (UU No 39/1999) yang menjamin kekebasan setiap orang untuk memeluk agama dan kepercayaannya. 47.

Berbagai temuan. Contoh adalah kasus kerusuhan MEI 98 dan kasus Sampit tahun 2001 yang merupakan kekerasan antara etnis Dayak dengan etnis Madura. 5 Tahun 1960 (UU Pokok Agraria) pengakuan bersyarat tersebut dipakai untuk hak ulayat dan hukum adat. Dalam sejarahnya. Di tengah-tengah kerusuhan massal tersebut terjadi tindak kekerasan terhadap etnis Tionghoa di Indonesia. Jakarta. 55. 50. 1315 Mei 1998 terjadi sebuah pogrom. Dalam konteks Indonesia kewajiban Negara dalam pasal 6 tersebut belum terimplikasi. IMPUNITY DALAM KASUS DISKRIMINASI RASIAL 52. pengakuan bersyarat merupakan warisan dari aturan kolonial Belanda yang membatasi hukum adat dan pemerintahan desa. through the competent national tribunal and other State institutions. kemudian sejak UU No. adat istiadat. Pasal tersebut secara jelas mewajibakan negara untuk memberikan jaminan keadilan bagi korban dan menghukum pelaku melalu keputusan pengadilan. hukum adat dan lembaga adat (Rikardo Simarmata 2007: Pengakuan Hukum terhadap Masyarakat Adat di Indonesia. baik itu berasal dari investigasi NGO. bahkan negara melakukan impunity terhadap kasus-kasus yang terjadi. prilaku aparat negara yang masih menunjukkan prilaku diskriminasi rasial. kerusuhan massal di berbagai kota besar di Indonesia. as well as the right to seek from such tribunal just and adequate reparation or satisfaction for any damage suffered as a result of such discrimination”. tanpa mengurangi arti pentingnya kasus lain. Surabaya. Medan. hingga temuan investigasi independen yang dibentuk negara menggambarkan bagaimana diujung periode Orde Baru (sesaat sebelum Soeharto mengundurkan diri). Di dalam laporan alternatif ini kami memilih kasus Mei 98 dan kasus konflik antar etnis di provinsi Kalimantan sebagai contoh bagaimana impunity terhadap kasus diskriminasi rasial yang terjadi. Impunity yang terjadi dapat dilihat dari bagaimana negara menyelesaikan berbagai kasus yang ada. hak-hak tradisional. Solo. against any acts of racial discrimination which violate his human rights and fundamental contrary to this Convention. 54. Palembang. 1. seperti tidak ada penyelesaian hukum atas kasus diskriminasi yang telah terjadi. Pada momentum yang sama di kota-kota besar tersebut sentimen 10 . Namun sejak reformasi. Hal ini bisa dilihat dari beberapa hal. kekerasan fisik. pengakuan bersyarat justru sangat meluas ke hak ulayat. 51. (bukan saja potensi tapi menjadi kenyataan di berbagai peraturan perundang-undangan) B. hingga perkosaan terhadap perempuan Tionghoa. Kerusuhan Mei 1998 56. dan produk hukum yang dibuat berpotensi tinggi terjadinya tindakan-tindakan diskriminnasi. Jakarta: UNDP: 312-313). Meluasnya jangkauan pengakuan bersyarat dalam sejumlah kerangka normatif inilah yang melahirkan potensi diskriminasi secara sistematik dan legal terhadap hak-hak masyarakat adat. dan Lampung. Pasal 6 ICERD menyebutkan ”States Parties shall assure to everyone within their jurisdiction effective protection and remedies. 53.perkembangan masyarakat dan prinsip Negara kesatuan republik Indonesia” yang tertera dalam pasal 18B ayat 2 UUD 1945. jurnalisme atau reportase media massa. mulai dari penjarahan harta benda. serta melakukan tindakan efektif untuk pemulihan korban.

TGPF dibentuk dalam rangka mengungkap dan menemukan pelaku. bahwa peristiwa 13-15 Mei 1998 merupakan sebuah tindak kejahatan yang masuk dalam kategori pelanggaran berat HAM. serta latar belakang peristiwa tanggal 13-15 Mei 1998. TGPF juga merekomendasikan beberapa hal: 1) Meminta kepada pemerintah untuk menindaklanjuti kasus-kasus yang dapat diungkap secara yuridis baik terhadap warga sipil maupun militer yang terlibat seadil-adilnya. Komnas HAM juga menegaskan terjadinya kekerasan berbasis rasial. sebagian besar merupakan perempuan etnis Tionghoa. Pada laporan akhirnya. SK Menteri Negara Peranan Wanita. terencana. Sayangnya rekomendasi TGPF ini tidak juga ditindaklanjuti oleh negara. yaitu SK Menteri Pertahanan/Panglima ABRI.rasial tampil secara terbuka. 58. 2) Meminta kepada pemerintah untuk memberikan jaminan keamanan bagi saksi dan korban. 52 orang di antaranya merupakan korban perkosaan dan sebagian besar juga berasal dari etnis Tionghoa dan dilakukan secara gang rape. Estimasi akurat jumlah korban sebenarnya tentu saja bisa melebihi angka-angka di atas mengingat sulitnya mengungkap jenis kejahatan paling keji ini lewat barang bukti atau kesaksian. Tidak berbeda jauh dengan temuan TGPF. 57. Mengingat respon negara yang sangat rendah atas laporan TGPF. terdapat pola. dan SK Jaksa Agung. SK Menteri Luar Negeri. 11 . Di antara yang tersulit untuk diverifikasi rincian kebenarannya adalah jumlah korban perkosaan. dan merealisasikan pelaksanaannya dalam produk hukum yang permanen. Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) yang dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) enam menteri. yaitu temuan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) menunjukan ada 85 orang menjadi korban kekerasan seksual. termasuk implementasi konvensi internasional anti penyiksaan. dan meminta dengan segera kepada pemerintah untuk membentuk suatu komisi permanen yang melaksanakan program perlindungan terhadap saksi (victims and witness protection program). Komnas HAM juga menemukan hasil yang sama. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM. 3) Mendesak pemerintah untuk segera meratifikasi konvensi internasional mengenai antidiskriminasi rasial. bisa menjalankan fungsi penyelidikan independen. Temuan dari sebuah NGO (Tim Relawan untuk Kemanusiaan) menyatakan 168 orang menjadi korban perkosaan. Kata-kata “milik pribumi” tertulis di berbagai rumah atau pertokoan untuk menghindari penjarahan oleh massa. SK Menteri Kehakiman. sistematis. yang terjadi secara sistematis (systematic) atau meluas (widespread). 39 Tahun 1999 tentang HAM dan UU No. dan diduga merupakan hasil pertarungan politik dari elit untuk memperebutkan kekuasaan. TGPF menyimpulkan bahwa peristiwa 13-15 Mei 1998 terjadi secara sengaja. Komnas HAM sesuai dengan kewenangan yang dimilikinya berdasarkan UU No. 60. 5) Meminta kepada pemerintah untuk menyatakan kepada masyarakat bahwa hal semacam itu tidak akan terjadi lagi di masa mendatang. 59. penyelidikan atas tragedi Mei 1998 ini kembali dilakukan pada tahun 2003. Sementara itu temuan resmi pemerintah. Kali ini penyelidikan dijalankan oleh Komnas HAM karena adanya reformasi sistem hukum yang baru. 4) Mendesak kepada Pemerintah untuk secara tegas segera melakukan proses yustisi bagi pihak-pihak yang secara terang-terangan menyebarkan kebencian rasial atau SARA.

Agar tidak mengulangi kegagalan dalam kasus Trisakti. Kasus Trisakti. Dewan Perwakilan Rakyat/DPR. Ketiadaan itikad baik itu membuat tim ad hoc mengupayakan pemanggilan paksa dengan mengirimkan surat kepada Kepala Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat. Komnas HAM mendesak DPR untuk tidak mengeluarkan rekomendasi apapun mengenai kasus Mei 1998 sebelum proses penyelidikan yang dilakukan tim penyelidikan ad hoc dan proses penyidikan selesai dilakukan. Secara umum dapat dikatakan bahwa macetnya penanganan hukum atas tragedi Mei 1998 disebabkan oleh alasan-alasan yang tidak jauh berbeda dengan alasan macetnya penanganan Tragedi Trisakti. Komnas HAM membatasi ruang lingkup penyelidikan pada kerusuhan 13 – 15 Mei 1998 di Jakarta. 63. Bekasi dan Depok.1. Setelah bekerja sekitar 12 bulan. Tim ad hoc menilai telah terjadi pelanggaran berat HAM yang ditandai dengan banyaknya korban dari warga sipil pada kerusuhan Mei 1998. Jaksa Agung menolak melakukan penyidikan dengan alasan tidak ada rekomendasi politik dari DPR. dan Presiden RI. dan Semanggi II atau yang dikenal sebagai Kasus TSS ini adalah kasus penembakan para mahasiswa di saat gelombang protes gerakan mahasiswa terjadi. 12 2 . 64. Namun tetap gagal. pejabat sipil dan militer serta saksi ahli. 2 Komnas HAM merespon tuntutan masyarakat korban Mei 1998 dengan tidak membentuk Komisi Penyelidik ad hoc. Semanggi I. Tetapi membentuk Tim Pengkajian Peristiwa Kerusuhan Mei 1998 berdasarkan UU No. Namun. Tim ad hoc penyelidik memanggil saksi korban.39/1999 tentang HAM dengan mandat kerja melakukan pengkajian atas berkas hasil penyelidikan oleh Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) 1998. Tangerang. Tim Advokasi TNI secara resmi menyampaikan penolakan atas pemanggilan Komnas HAM terhadap sejumlah perwira TNI/Polri. Tak kurang dua kali pemanggilan resmi yang disampaikan kepada para perwira TNI/Polri.10a/KOMNAS HAM/III/2003 tentang Pembentukan Tim Adhoc Penyelidikan Peristiwa Mei 1998. Penanganan Hukum Tragedi Mei 1998 61. Komnas HAM memanggil sejumlah perwira tinggi TNI dan POLRI dengan melayangkan surat kepada Panglima TNI dan Kapolri. 3 62. Semanggi I dan Semanggi II. Belajar dari pengalaman KPP HAM TSS. Semanggi I dan II. sementara Komnas HAM berpendapat bahwa penyelidikan itu justru dilakukan guna mendorong untuk menentukan ada tidaknya pelanggaran berat HAM. Namun PN Jakarta Pusat menolak upaya pemanggilan paksa. Kepala PN diminta untuk menerbitkan surat pemanggilan paksa dengan memerintahkan Panglima TNI dan Kapolri agar menghadirkan secara paksa para mantan pejabat TNI/Polri sebagai penanggungjawab keamanan kerusuhan Mei 1998. Juli 2003. pada Maret 2003. paripurna Komnas HAM memutuskan untuk meningkatkan status tim sebagai penyelidik pro justicia guna penyelidikan dan pengumpulan data yang lebih lengkap. dengan alasan tidak ada landasan hukum sah yang dapat dijadikan dasar pemanggilan. Dalam surat tersebut. kembali TNI/Polri mangkir untuk hadir dalam penyelidikan ini. 26 Tahun 2000) dan menyerahkan laporannya ke Jaksa Agung untuk segera melakukan penyidikan dan penuntutan dalam mekanisme Pengadilan HAM ad hoc. Dalam melakukan penyelidikan. Komnas HAM kemudian membentuk tim penyelidik independen (KPP HAM) Kasus TSS dan menyatakan telah terjadi pelanggaran berat HAM (sesuai ketentuan UU No. Dalam perkembangannya. yaitu problem politik prosedural dan ketiadaan kemauan politik dari Jaksa Agung.1. Kasus Trisakti (12 Mei 1998) merupakan pemicu gelombang kerusuhan massal di Jakarta dan temuan investigasi TGPF menunjukan adanya keterkaitan kasus ini dengan kerusuhan 13-15 Mei 1998. 3 Keputusan Ketua Komnas HAM No. Tim Advokasi TNI berpendapat bahwa kehadiran petinggi TNI/Polri harus berdasarkan rekomendasi DPR atas pembentukan pengadilan HAM ad hoc.

65. Pada Oktober 2003. tercatat 2 kali berkas tersebut bolak-balik dikembalikan dengan berbagai alasan yang bersifat yuridis formal. Atas hal ini. Dalam perkembangan selanjutnya. Secara resmi. Abdul Hakim Garuda Nusantara. Tepat pada 31 Juni 2004. pihaknya telah membentuk tim untuk meneliti. pada 17 Mei 2004. pihak Jaksa Agung menyatakan akan mengembalikan berkas hasil penyelidikan kepada Komnas HAM karena BAP belum dibuat Projusticia dan juga bukti awal tidak jelas. Penanganan ketiga kasus ini sudah diserahkan kembali kepada Jaksa Agung pada Mei 2004. berdasarkan hasil penelitian tim berkas perkara tersebut belum lengkap Komnas HAM tetap melanjutkan menangani Kerusuhan Mei 98. Dalam salah satu kesimpulannya disebutkan bahwa sedikitnya 20 orang aparat keamanan (TNI/Polri) serta sipil akan diminta pertanggungjawaban pidana baik primer maupun subsidair atas peran mereka dalam kerusuhan Mei 98. Hingga kini. dan Kejaksaan juga menilai pelaku dan pembuat kebijakan tidak tergambarkan secara jelas. Ketua Komnas HAM secara resmi menyerahkan surat kepada Jaksa Agung. Ketua Komnas HAM meminta Kejagung tidak melempar tanggung jawab dalam meyelesaikan kasus Pelanggaran HAM berat kerusuhan Mei. berkas penyelidikan tragedi Mei 98 dikembalikan lagi oleh Jaksa Agung kepada Komnas HAM. 1. Seperti berkas Trisakti. baik dari Komnas HAM maupun Kejaksaan Agung untuk menyelesaikan kebuntuan proses yang berlangsung sejak tahun 2003 lalu. Rahman.2. Mandegnya Penyidikan oleh Jaksa Agung 67. Semanggi I dan II. 69. Hal itu dikemukakan Abdul Hakim Garuda Nusantara dalam Rapat dengar pendapat dengan Komisi II DPR Komnas HAM mendesak DPR segera memberikan rekomendasi kepada Presiden untuk membentuk pengadilan HAM ad hoc berkaitan dengan kasus kerusuhan Mei 98. 68. Menurut M.3. Sejak diserahkannya berkas kasus ini oleh Komnas HAM ke Kejaksaan Agung. Tidak ada inisiatif. sebagai tindak lanjut hasil penyelidikan Komnas HAM yang menyatakan adanya pelanggaran HAM berat dalam kasus ini. untuk menindaklanjuti hasil penyelidikan Komnas HAM yang diserahkan ke Kejaksaan Agung sejak 19 September 2003. 66.A. 1. kasus Kerusuhan Mei 1998 berhenti di tempat. Jaksa Agung membentuk tim untuk mempelajari 18 berkas kasus kerusuhan Mei 1998. 13 . Langkah itu dinilai sebagai kekeliruan besar karena merekalah yang seharusnya menindaklanjuti penyelidikan itu dengan penyidikan. DPR sendiri juga tidak mengambil inisiatif untuk merekomendasikan adanya pengadilan HAM adhoc. Pada September 2003. Laporan Komnas HAM tentang Mei 1998 masih sumir dan tidak menyebutkan tersangka. Kasus Mei 1998 : Kebekuan yang terus berlanjut 70. pada 4 Maret 2004 Jaksa Agung mengembalikan berkas penyelidikan kasus kerusuhan Mei ke Komnas HAM. pihak Jaksa Agung yang diwakili Satgas HAM BR Pangaribuan dan Kapuspenkum Kemas Yahya Harahap saat menemui korbankorban Mei 1998 menjelaskan. Banyak kalangan menilai pengembalian berkas kasus Kerusuhan Mei 98 ke Komnas HAM lebih bersifat politis daripada pertimbangan hukum. sehingga hasil penelitian sementara Kejaksaan Agung menyimpulkan bahwa laporan itu akan dikembalikan. Komnas HAM menyimpulkan telah terjadi Pelanggaran HAM berat dalam kasus itu.

Dalam rangka peringatan tragedi Mei 1998.71. 2. Abdul Hakim G Nusantara menyatakan telah melakukan hearing sebanyak 4 kali dengan Komisi III DPR. seperti kasus Sambas dan Sampit di Kalimantan yang pada intinya tidak terdapat penghukuman bagi pelaku maupun aparatus negara (pembiaran) dan reparasi bagi korban. Trimedya Panjaitan.4. Jaksa Agung menyatakan bahwa salah satu kendala penanganan kasus pelanggaran HAM berat yang selama ini telah terjadi adalah perbedaan persepsi yang substansi antara Kejaksaan Agung dengan Komnas HAM yaitu menyangkut pemahaman tentang ketentuan formil prosedural antara lain tentang pembuatan berita acara. 14 4 . Sementara mantan tim penyelidik kasus Mei 1998 di Komnas HAM. Hingga kini DPR belum juga membahas kasus Mei 1998 ini. sehingga kalaupun dipaksakan dilimpahkan ke pengadilan. Ditegaskan bahwa berkas kasus yang diserahkan komnas HAM itu tidak lengkap. Rendahnya Inisiatif DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) 72. Sementara dalam Rapat Kerja Jaksa Agung dengan Komisi II dan III DPR RI. Solahudin Wahid mengusulkan agar DPR segera merekomendasikan kepada presiden agar membentuk Pengadilan ad hoc untuk mengungkap tragedi Mei 1998. proses penyelidikan dan batasbatas tugas dari kewajiban Komnas HAM selaku penyelidik dengan Kejaksaan Agung selaku penyidik. Ketua Komnas HAM. Diterima oleh Kapuspenkum Suhandoyo SH serta Direktur Penanganan HAM Berat. sehingga terjadi saling lempar tanggung jawab atas tindakan-tindakan hukum yang wajib dilaksanakan oleh masing-masing institusi hukum tersebut. 75. perkara ini nanti akan bebas. 73. Budi Hartono menilai Kejaksaan Agung enggan menuntaskan penyidikan kasus tragedi Mei 1998 dan hanya melempar tanggung jawab ke instansi lain dengan tidak menindaklanjuti berkas dari Komnas HAM. 74. Kejaksaan Agung menyatakan kesulitan untuk meminta penjelasan dari saksi untuk mengidentifikasi pelaku serta kurangnya bukti-bukti. Salah seorang keluarga korban. Komisi III DPR RI berpendapat untuk dilakukan pembahasan secara mendalam yang dilakukan oleh alat kelengkapan DPR (Komisi atau Pansus). Akhirnya. Komnas HAM meminta DPR melakukan audit kinerja Komnas HAM dan Kejaksaan Agung atas tersendatnya kasus Mei dan Trisakti Semanggi. Wakil Ketua Komisi III menyatakan akan membahas hal ini dalam Rapat Paripurna dan akan mempertanyakan dalam Rapat Kerja dengan Jaksa Agung. dan akan mengirimkan surat kepada Pimpinan Dewan tentang Sikap dan Pendapat Komisi III DPR. Rapat Intern Komisi III DPR RI tanggal 30 Juni 2005. Kerusuhan/Konflik Etnis di Kalimantan Bahan Jaksa Agung RI pada Rapat Kerja Gabungan Komisi II dan Komisi III DPR RI dengan Jaksa Agung RI. 4 1. berupa : “Untuk kasus Kerusuhan Mei 1998. Dalam pertemuan dengan keluarga korban. 7 Februari 2005. Pola impunitas seperti kasus Mei 1998 juga terjadi pada beberapa kasus yang lain. Dalam pertemuan terakhir keluarga korban dengan Komisi III DPR RI. untuk kesekian kalinya keluarga korban didampingi Kontras mempertanyakan perkembangan penyidikan kasus Mei 1998 di Kejaksaan Agung. menghasilkan kajian yang mendasarkan diri pada pendapat dan pandangan fraksi-fraksi terhadap peristiwa Kerusuhan Mei 1998.

berbagai indikasi awal akan terjadinya konflik komunal sudah bisa dirasakan. 77. Peristiwa kekerasan akibat konflik etnik ini berlangsung selama sekitar 10 hari. dan tidak ada mekanisme reparasi yang memadai bagi para korban. dari pemerintah pusat hingga pemerintah daerah yang dianggap gagal memberikan rasa aman bagi 15 . Dua konflik besar dan sampai saat ini tidak tertangani adalah kasus Sambas (1998-1999) san kasus Sampit (2001).telah melaporkan adanya ancaman dan meminta pengangan dari pemerintah pusat dan daerah. Peristiwa kekerasan akibat konflik etnik ini berlangsung selama hampir 1 tahun. ELSAM. Konflik etnis –antara kelompok Dayak dengan Madura pendatang. Konflik etnis di Sambas. 81. Paling tidak sudah terjadi 3 kasus kriminal yang potensial akan menyulut konflik sosial yang lebih besar. kerusuhan Kumai (5 Juli 2000). sebuah Yayasan Pendidikan Islam Al-Miftah yang bertempat di Pamekasan. dan APHI. dampak dari konflik ini menyebabkan terjadinya pengungsian dalam jumlah mencapai 68. Begitu pula tidak ada mekanisme dari pemerintah untuk memfasilitasi pembangunan perdamaian (rekonsiliasi). di tengah-tengah masyarakat sudah beredar selebaran. 78. Madura –yang memiliki cabang di Kereng Pangi . Sebagian besar dari pengungsi itu hingga saat ini belum juga berani kembali ke tempat tinggal semulanya karena masih merasa tidak terjamin keamanannya. Selain itu ratusan rumah dibakar atau dirusak. Pada bulan Mei 2001. YLBHI. Data itu didapat dari Polres Kotawaringin Timur. Kasus yang terjadi di Sambas ditengarai sebagai salah satu pemicu timbulnya kasus kerusuhan antar etnis (Dayak dan Madura) yang terjadi di Sampit.mengajukan gugatan terhadap penyelenggara pemerintahan RI. Selama periode konflik tersebut jatuh korban jiwa dari kedua belah pihak. Tanggung jawab negara juga kembali dipertanyakan karena sebelum konflik Sampit meletus di bulan Februari 2001. Selain itu. Bahkan sampai saat ini. Kalimantan Barat – antara kelompok Dayak dengan Madura pendatang . Padahal sebelum pecah konflik. PBHI. teror. Hal yang patut dipertanyakan adalah tanggung jawab negara untuk mencegah konflik dan memberikan rasa aman kepada warganya di Sambas.meledak pada 1998. 80. isu-isu. Kalimantan Tengah (2001) 2. Hal yang patut dipertanyakan adalah tanggung jawab negara untuk mencegah konflik dan memberikan rasa aman kepada warganya di Sampit. Selama periode konflik tersebut jatuh korban jiwa dari kedua belah pihak: sekitar 341 dari pihak Madura dan sekitar 16 orang dari pihak Dayak. Kalimantan Tengah.2 Konflik Etnis di Sampit. tidak ada mekanisme yudisial yang bisa menghasilkan truth seeking atas kasus Sambas. Konflik Etnis di Sambas. Kalimantan Tengah Tahun 2001 79. Pasca ketiga kasus tersebut.dari Kalimantan Tengah ke Pulau Jawa.000 orang. 2. kerusuhan Tumbang Samba (17 September 1999). sejumlah organisasi HAM –KontraS. Pasca konflik juga ditandai oleh eksodus para pengungsi (IDPs) berjumlah hampir 30 ribu – dari pihak Madura . akibatnya prasangka dan ketegangan antara kedua etnis masih terus berlangsung. dan ancaman yang berisi kebencian etnis terhadap kelompok tertentu.meledak pada 18 Februari 2001 di kota Sampit. tidak ada pejabat negara yang dihukum karena melakukan pembiaran (ommission).Konflik yang terjadi di Kalimantan banyak yang melibatkan antara etnis Dayak dan Madura. Kalimantan Barat Tahun 1998-1999 76. dan kerusuhan Kereng Pangi (17 Desember 2000).1.

Kewajiban Kepemilikan Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia (SBKRI) 85. b) tidakadanya mekanisme truth seeking dan pembangunan rekonsiliasi dalam konflik etnis. C. 86. Akibatnya prasangka dan ketegangan antara kedua etnis masih terus berlangsung. Sementara untuk warga negara Indonesia bukan etnis Tionghoa cukup membuktikan dengan KTP atau Akta Kelahiran saja. 62 tahun 1958 menegaskan bahwa: “Barangsiapa perlu membuktikan bahwa ia warganegara Republik Indonesia dan tidak mempunyai surat bukti yang menunjukkan bahwa ia mempunyai atau memperoleh atau turut mempunyai atau turut memperoleh kewarganegaraan itu. Permasalahan SBKRI muncul pertama kali ketika dilegalisir UU No. Pasca konflik sosial.masyarakat dan membiarkan konflik berjalan. menurut acara perdata biasa. 82. d) bahkan kejahatan yang berbasis rasial hanya dianggap sebagai kejahatan umum/biasa. 3. namun keberadaan mereka sebagai bagian dari bangsa Indonesia masih menyisakan banyak permasalahan diskriminasi rasial antara lain dalam hal pengakuan status kewarganegaraan Republik Indonesia mereka dan permasalahan sebagian etnis Tionghoa yang diperlakukan sebagai stateless (tanpa kewarganegaraan). sebagaimana termasuk dalam cakupan bentuk diskriminasi rasial dalam definisi diskriminasi rasial pasal 1 ICERD. permohonan kredit ke bank. tidak ada pejabat negara yang dihukum karena melakukan pembiaran (ommission). dapat minta kepada Pengadilan Negeri dari tempat tinggalnya untuk menerapkan apakah ia warganegara Republik Indonesia atau tidak. seperti dalam pengurusan paspor. Penutup 83. Impunitas terjadi diakibatkan oleh beberapa hal. c) tidakadanya mekanisme reparasi bagi korban. 17 Agustus 1945. Ketentuan ini tidak mengurangi ketentuan-ketentuan khusus dalam atau 16 . Kebijakan tersebut merupakan salah satu bentuk pembedaan perlakuan atas dasar ras/etnis yang bertujuan mengurangi pengakuan atas status mereka. Sayangnya hingga saat ini tidak ada mekanisme yudisial yang bisa menghasilkan truth seeking atas kasus Sampit. dan sebagainya. Walaupun keberadaan etnis Tionghoa di Indonesia sudah lama sejak sebelum Kemerdekaan Republik Indonesia. KTP. catatan sipil. Dalam kebijakan tersebut setiap warga negara Indonesia etnis Tionghoa diwajibkan memiliki SBKRI untuk membuktikan kewarganegaraan Republik Indonesianya dalam berbagai pelayanan publik. Komnas HAM (2001) juga melakukan penyelidikan atas kasus Sampit tersebut dan hasilnya menunjukkan telah terjadi pelanggaran HAM. di antaranya: a) tidakadanya mekanisme yudisial maupun ekstra yudisial yang memadai untuk menghukum pelaku dan menghadirkan keadilan bagi korban. Dalam Pasal IV Peraturan Penutup UU No. dan tidak ada mekanisme reparasi yang memadai bagi para korban. 62 Tahun 1958 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia. Gugatan lewat mekanisme legal standing ini akhirnya ditolak oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. DISKRIMINASI NEGARA TERHADAP ETNIS TIONGHOA 84. 1. Permasalahan kebijakan Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia atau yang disingkat SBKRI merupakan salah satu bentuk diskriminasi rasial oleh negara terhadap warga negara Indonesia etnis Tionghoa.

JHB 3/31/3 tahun 1978 kepada Semua Pengadilan Negeri dan Semua Kepala Perwakilan RI di luar negeri. bahkan jajaran Departemen Kehakiman & HAM sendiripun (dalam hal ini jajaran Imigrasi) menganggap SBKRI adalah ‘wajib’. J. Penerapan kebijakan SBKRI dan beberapa kebijakan yang diskriminatif masih berlaku hingga saat ini seperti tertulis dalam tabel peraturan perundangan yang diskriminatif yang terlampir dalam laporan ini. Dalam praktek hanya terhadap peranakan Tionghoa. dan terakhir berdasarkan UU No. yang dalam Pasal 1 dinyatakan bahwa “Setiap warganegara RI yang perlu membuktikan kewarganegaraannya dapat mengajukan permohonan kepada Menteri Kehakiman untuk memperoleh SBKRI”. yang kemudian justru membebankan SBKRI itu kepada masyarakat. 90. Memang bahwa telah ada beberapa upaya pemerintah Republik Indonesia untuk menyelesaikan permasalahan SBKRI tersebut misalnya dengan diterbitkannya Keputusan Presiden No. J. dan lain sebagainya pada periode tahun 1978 – 1999. Bahkan di beberapa daerah muncul Peraturan Daerah seperti di Kabupaten Banyumas yang masih membedakan tempat dan persyaratan pelayanan pencatatan sipil untuk etnis Tionghoa dengan mereka yang disebut golongan pribumi ataupun golongan peranaan lainnya seperti Arab. jajaran Departemen Pendidikan Nasional masih mensyaratkan untuk keperluan sekolah. Namun kemudian dalam kenyataannya kebijakan tersebut ditindak-lanjuti dengan Surat Edaran Menteri Kehakiman No. Ketentuan ini sebenarnya berlaku secara fakultatif dan diberlakukan untuk semua warga negara Indonesia. SBKRI masih saja dipersyaratkan oleh Kantor Imigrasi dan Kantor Catatan Sipil hingga saat ini. perkawinan.berdasarkan Undang-Undang lain”. jajaran Departemen Perindustrian dan Perdagangan mensyaratkan untuk keperluan usaha. 87. Dalam perkembangannya penerapan SBKRI tersebut mengakibatkan terjadinya pembatasan atas akses warga negara Indonesia etnis Tionghoa kepada perguruan tinggi negeri. 89.B. Masuknya beberapa imigran yang terkait dengan tindak terorisme ke Indonesia dengan dokumen palsu justru menunjukkan 17 . namun dikarenakan belum dicabutnya secara tegas Peraturan Menteri Kehakiman No. Persoalan SBKRI ini selalu muncul karena menjadi salah satu syarat yang selalu diminta oleh instansi-instansi terkait. 88. India.3/4/12 tahun 1978. sedangkan peranakan lain seperti Arab. menjadi pegawai negeri atau TNI/Polisi.B. atau seorang WNI Tionghoa tidak boleh memiliki tanah di daerah Yogyakarta berdasarkan Instruksi Kepala Daerah DIY No. namun secara prinsip kewarganegaraan. yang sebenarnya merupakan permasalahan ketidakmampuan koordinasi antar-instansi pemerintahan. Walaupun berupa pembedaan perlakuan secara administratif. Berbagai alasan seperti untuk mencegah masuknya imigran tanpa documen RRT ke Indonesia ataupun pemalsuan dokumen catatan sipil. dan bahkan kematian sekalipun. dll tidak diberlakukan. Kemudian UU ini ditindaklanjuti dengan adanya Peraturan Menteri Kehakiman No. mensyaratkan untuk mengurus akta kelahiran. India. dan ketidaktegasan pemerintah RI terhadap birokrasi dalam hal penerapan SBKRI.3/4/12 tahun 1978 yang menjadi sumber hukum SBKRI. 398/I/A/1975 tentang Penyeragaman Policy Pemberian Hak atas Tanah kepada seorang WNI non-Pribumi. kebijakan SBKRI menempatkan status kewarganegaraan kelompok etnis Tionghoa pada status “yang diragukan (status quo)” berbeda dengan kelompok warga negara Indonesia lainnya. 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan yang diharapkan dapat menganulir praktek SBKRI. seperti : jajaran Departemen Dalam Negeri. 56 Tahun 1996 yang menegaskan bahwa dalam hal pembuktian kewarganegaraan RI tidak dibutuhkan SBKRI dan cukup dengan Akta Kelahiran atau KTP bagi warga negara Indonesia. dimana SBKRI hanya ditujukan kepada kaum peranakan.

Dengan masih adanya kebijakan SBKRI yang masih belum dicabut dan masih diterapkannya SBKRI oleh pejabat-pejabat atau aparatur yang berwenang atau lembaga pemerintahan seperti Kantor Imigrasi. Sdr. KTP ataupun SBKRI disebabkan karena hilangnya dokumen yang dimiliki karena bencana banjir atau kebakaran ataupun karena benang kusut kebijakan kewarganegaraan RI yang diakibatkan perjanjian Dwi-Kewarganegaraan RI-RRT Tahun 1955. menjadi petani atau pernah mengikuti pemilihan umum 1955. Jakarta) yang dimintakan SBKRI orang tuanya ketika mengurus pernikahannya oleh pihak Gereja dikarenakan disyaratkan oleh Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil DKI Jakarta (29 Januari 2007). Pegawai Negeri. 94. Jakarta) atau Sdr. seperti yang dialami oleh Sdr. Ketiadaan dokumen seperti Akta Kelahiran. termasuk juga Liem Koen Hian. berjasa bagi negara RI. praktek diskriminasi rasial terhadap kelompok etnis Tionghoa di Indonesia adalah permasalahan masih adanya kelompok etnis Tionghoa yang diperlakukan sebagai stateless (tanpa kewarganegaraan) karena tidak mempunyai dokumen yang dapat membuktikan kewarganegaraan Republik Indonesianya. menunjukkan political will setengah hati pemerintah RI untuk menyelesaikan permasalahan SBKRI dan diskriminasi rasial terhadap etnis Tionghoa di Indonesia. Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil. 92. 2. Pengalaman yang dialami oleh beberapa warga negara Indonesia etnis Tionghoa. Selain permasalahan SBKRI. Papang Hidayat yang masih dimintai SBKRI-nya ketika mengurus perpanjangan KTP-nya (Januari 2007. bahkan beberapa pemain bulutangkis yang berjasa seperti Tan Joe Hoek tetap diwajibkan untuk memilih kewarganegaraan antara RI dan RRT. Dalam hal disebabkan karena benang-kusut kebijakan kewarganegaraan RI muncul pertama ketika Perdana Menteri RRT (Republik Rakyat Tiongkok) pada tahun 1955. yang mewajibkan semua etnis Tionghoa di Indonesia untuk menyatakan memilih kewarganegaraan RI atau RRT. mengubah. Rico Permana (Kelapa Gading. 91. Permasalahan Etnis Tionghoa Yang Diperlakukan Sebagai Stateless (Tanpa Kewarganegaraan) 93. Akibatnya kemudian antara pemerintah RI dan RRT dilakukan perjanjian dwi-kewarganegaraan berdasarkan UU No. salah satu pendiri negara RI pada tahun 1945. 2 Tahun 1955. semua etnis Tionghoa yang ada di luar RRT termasuk di Indonesia adalah WN (Warga Negara) RRT. melarang dan menghapuskan segala bentuk praktek-praktek diskriminasi rasial sebagaimana diatur dalam ICERD pasal 2 huruf c. petani ataupun yang sudah mengikuti pemilihan umum. Andrianto di daerah Kraton Lor.irasionalnya penerapan SBKRI tersebut untuk WNI (Warga Negara Indonesia) etnis Tionghoa. menunjukkan bahwa pemerintah RI belum secara konsekeuen memenuhi kewajiban negara pihak untuk mengkaji ulang. Pasal 3 dan Pasal 5 ICERD. Indonesia (23 Februari 2007). Pekalongan. Bahkan dalam laporan investigasi Komisi Nasional Hak Asasi Manusia di beberapa kota pada tahun 2005 di beberapa kota Indonesia masih diterapkan kebijakan SBKRI tersebut. Namun dalam kenyataannya beberapa mereka yang menjadi pengawai negeri. terkecuali mereka yang menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI). Jawa Tengah. mencabut atau membatalkan kebijakan yang masih berlaku atas diterapkannya kebijakan diskriminasi rasial SBKRI dan untuk mencegah. yang masih dipertanyakan SBKRI-nya ketika mengurus perpanjangan paspor di Kantor Imigrasi Pemalang. Chou Enlai melakukan politik klaim bahwa berdasarkan asas kewarganegaraan ius sanguinis (keturunan) yang baru diadopsi oleh RRT saat itu. 18 .

Keadaan stateless ini berjalan demikian lama dan bergenerasi-generasi tanpa penyelesaian yang pasti dari pemerintah. namun begitu diperkirakan masih menyisakan puluhan ribu orang di berbagai wilayah. Tegal Alur. (Data Departemen Kehakiman RI pada tahun 2001 diperkirakan berjumlah 30. meraka mengalami perlakukan diskriminasi yang bertingkattingkat. 96.95. segala hak-hak yang seharusnya diperoleh sebagai warganegara. mendapatkan dokumen-dokumen yang diperlukan sebagai bentuk pengakuan kewarganegaraan Indonesia. Beberapa upaya personal etnis Tionghoa untuk mendapatkan akta kelahiran selalu mendapatkan penolakan dari Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil dengan alasan ketiadaan kepemilikan SBKRI. sebagian yang masih menetap itu. Pemerintah RI mengeluarkan beleid Peraturan Presiden No. Dalam setiap program kesejahteraan pemerintah seperti pembagian beras untuk orang miskin atau bantuan langsung tunai. masih terdapat banyak etnis tionghoa yang tidak mendapatkan dokumen dimaksud. dalam hal ini. ketiadaan dokumen kewarganegaraan RI ini mengakibatkan etnis Tionghoa itu diperlakukan sebagai stateless. menyebabkan sebagian etnis tionghoa yang ada di tanah air pergi meninggalkan Indonesia. khususnya hak untuk mendapatkan akte kelahiran. 97. Tangerang. Dan kasus-kasus serupa juga dialami oleh etnis Tionghoa di berbagai wilayah di Indonesia seperti di Jawa Timur. Kalimantan Barat. Beleid ini kemudian mengakibatkan pengusiran dan eksodus besar-besaran terhadap etnis Tionghoa dari daerah tingkat kabupaten/swatantra walaupun sebenarnya mereka masih berstatus WNI. Kondisi ini pula mengakibatkan seluruh anak-anak yang lahir di Indonesia dari orangtua yang diperlakukan stateless ini tidak mendapatkan hak-hak sebagaimana dilindungi oleh Konvensi Perlindungan Anak. dan hak-hak untuk mendapatkan pelayanan publik lainnya. Dalam himpitan ekonomi tersebut dan ketidakjelasan staus hukum 19 . seringkali ketika berhadapan dengan pejabat dan kebijakan. Sumatra Utara. Permasalahan diskriminasi rasial tersebut berlangsung dalam waktu lama hingga saat ini. 10 tahun 1959 tentang pelarangan WN Asing untuk berdagang di daerah kabupaten/Swatantra. akhirnya menjalani proses penyelesaian dwi-kewarganegaraan. Akibatnya. dan wilayah lainnya. Permasalahan ini dialami. Dikarenakan status mereka sebagai etnis Tionghoa (yang selalu diprejudice sebagai orang kaya karena ketionghoaan mereka). 98. atas inisiatif organisasi kemasyarakatan Indonesia bersama dengan pemerintah RI pernah memproses cepat mereka yang stateless tersebut sejumlah etnis Tionghoa dengan memberikan dokumen SBKRI. akan tetapi oleh karena proses tersebut tidak berjalan dengan baik. jumlah etnis Tionghoa yang diperlakukan sebagai stateless karena tidak memiliki dokumen tersebut diperkirakan berjumlah 135 orang (Sumber data: Lembaga Anti Diskriminasi Indonesia (LADI). tidak mereka dapatkan. tidak semua etnis tionghoa yang menetap. sebagai contoh: hak atas identitas (KTP). Setelah 1980 pun ada beberapa upaya kebijakan pemutihan akta kelahiran terhadap warga negara Indonesia bukan Tionghoa yang tidak mempunyai akta kelahiran. 99.000 orang). Tangerang. kebijakan yang menyulut diskriminasi etnis tionghoa dan berujung pada pengusiran secara besar-besaran tersebut. dan sebagian lainnya menetap. Indonesia). misalnya. Dalam contoh kasus serupa di daerah Tegal Alur dan Tangerang. Apalagi kemudian pada saat berlangsungnya proses dwi-kewarganegaraan. dan kemiskinan. Namun pemutihan tersebut tidak pernah diberikan kepada etnis Tionghoa yang diperlakukan sebagai stateless. oleh Tan Elim alias Momoy atau Tan Tian Lie dan Pui Nyin Wah yang dikarenakan orang tuanya tidak memiliki dokumen seperti SBKRI atau Akta Kelahiran tidak dapat mengurus KTPnya di Kelurahan Kedaung. mereka menjadi kelompok yang termarjinalkan. Memang pada tahun 1980.

seringkali anak-anak perempuan mereka menjadi sasaran empuk traficking ke Taiwan. Dalam general recommnendation point 1 tersebut jelas menyatakan bahwa ‘. ideologi.. the situation of indigenous peoples has always been a matter of close attention and concern. Pendahuluan 101. mempunyai prinsip pencegahan stateless (tanpa kewarganegaraan). Politik Pencitraan dan Diskriminasi akibat Regulasi Negara 20 . permasalahan stateless etnis Tionghoa tersebut merupakan permasalahan diskriminasi rasial. In this respect. kelompok-kelompok masyarakat adat dapat dikenali dari ciri-ciri seperti: adanya pertalian budaya yang dekat dengan suatu areal pertanahan atau teritori tertentu. 2. perbedaan-perbedaan sosio ekonomi dan sosio kultural dengan penduduk di sekitarnya.the situation of indigenous peoples has always been a matter of close attention and concern. 102. 100. mendefenisikan masyarakat adat sebagai kelompok masyarakat yang memiliki asal-usul (secara turun temurun) di wilayah geografis tertentu. kebudayaan materiil dan spiritual dan sebagainya yang berbeda. in particular in the examination of reports of States parties under article 9 of the International Convention on the Elimination of All Forms of Racial Discrimination. 103.. keberlanjutan sejarah dengan penghuni-penghuni tanah sebelumnya. ras. D. 104. 23: Indigenous Peoples : 18/08/97. Berdasarkan General Recommendation CERD No. Point 1 menyatakan bahwa “ In the practice of the Committee on the Elimination of Racial Discrimination. Kingsbury (1995:33) memberikan ciri kelompok-kelompok yang disebut sebagai kelompok masyarakat adat. Kebijakan Pembangunan. Dalam kelompok ini etnis tionghoa yang stateless mengalami diskriminasi rasial yang mengakibatkan beban ganda atas berbagai perlakukan diskrimnasi. terdapat kewajiban negara RI sebagai negara pihak ratifikasi ICERD untuk mengurangi dan menangani keadaan statelessness (tanpa kewarganegaraan) khususnya pada anakanak. 12 Tahun 2006. bentuk diskriminasi rasial yang terjadi di Indonesia terjadi dalam 4 (empat) hal yaitu dalam kasus Perampasan Tanah/sumber daya alam.mereka. sosial dan budaya sendiri. Bentuk Diskriminasi Terhadap Masyarakat Adat di Indonesia. 62 Tahun 1958 ataupun UU Kewarganegaraan RI yang berlaku saat ini yaitu UU No. Point ini mendasari bahwa persolan diskriminasi terhadap Masyarakat Adat juga dapat masuk dalam ruang lingkup ICERD. Selain ciri tersebut. karakteristik bahasa. serta memiliki sistem nilai. politik. the Committee has consistently affirmed that discrimination against indigenous peoples falls under the scope of the Convention and that all appropriate means must be taken to combat and eliminate such discrimination”. In this respect. Salah satu ciri yang disebut adalah adanya keterkaitan yang panjang (lama) dengan wilayahnya. dan dianggap sebagai “indigenous” oleh penduduk sekitarnya. DISKRIMINASI TERHADAP MASYARAKAT ADAT 1. 30: Diskriminasi terhadap Bukan Warga Negara:01/10/2004 Point 16. Dalam hal ini. Apalagi dalam konteks hukum nasional Republik Indonesia pun. Peraturan Kewarganegaraan RI baik itu UU No. Dalam konteks ICERD. budaya. General Recommendation No. the Committee has consistently affirmed that discrimination against indigenous peoples falls under the scope of the Convention and that all appropriate means must be taken to combat and eliminate such discrimination”. Sebuah pertemuan di Tanah Toraja pada tahun 1993.

106.1. Kondisi ini masuk dalam ruang lingkup ICERD pasal 1 point 1. Mereka secara sistematis terus menerus mengalami diskriminasi. Secara umum. “ The Committee especially calls upon States parties to recognize and protect the rights of indigenous peoples to own. dan sumber daya alam lainnya sebagaimana terdapat dalam Pasal 33 UUD 1945 ditafsirkan oleh pemerintah secara keliru. develop. Hal ini juga bagian dari diskriminasi. 107. Fakta yang dialami oleh masyarakat adat di Indonesia sangat memprihatinkan. fair and prompt compensation. Dalam konteks ini laporan alternatif memuat bagaimana kondisi masyarakat adat yang mengalami tindakan diskriminasi yang pada akhirnya menimbulkan dampak terancamnya identitas mereka. yang berarti pembatasan dan pengrusakan terhadap ekspresi identitas masyarakat adat.2. terutama berbasiskan masalah perampasan tanah baik oleh negara mapun oleh perusahaan. praktek yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia tidak sesuai dengan General Recommendation point 5. sejarah. dimana pengelolaannya diserahkan pada sektor privat yang tentu saja mengutamakan keuntungan ekonomi pribadinya daripada kesejahteraan masyarakat. Dari ciri-ciri masyarakat adat di Indonesia. Hak Menguasai Negara (HMN) terhadap bumi. where they have been deprived of their lands and territories traditionally owned or otherwise inhabited or used without their free and informed consent. air. Only when this is for factual reasons not possible. Selanjutnya dalam general recomendation (point 3) tersebut juga disebutkan problematika yang dihadapi oleh masyarakat adat khususnya perampasan tanah dan sumber daya alam yang menimbulkan efek terancamnya identitas mereka. Sumbernya adalah penafiaan keberadaan mereka yang menimbulkan pembatasan. dan pengecualian sehingga menimbulkan dampak pada rusaknya hak–hak mereka terutama berbasiskan pada identitas. Tanah bagi masyarakat adat selain merupakan ruang ekspresi yang menghubungkan mereka dengan keyakinan. 109. terutama hilangnya akses mereka terhadap tanah dan sumber daya alam. Hal itu dikarenakan tanah merupakan satu-satunya ruang yang merupakan tempat bagi masyarakat adat untuk mengekspresikan dirinya. Ini terjadi karena paradigma pengelolaan tanah dan sumber daya alam yang dikembangkan didasarkan pada konsep developmentalisme. territories and resources and. Developmentalisme mensayaratkan adanya ketersediaan sumber daya alam. Such compensation should as far as possible take the form of lands and territories. Dengan tafsir yang keliru tersebut. hak-hak masyarakat adat yang mendapat perlakuan diskriminastif adalah hak-hak yang berhubungan dengan tanah dan sumber daya alam yang merupakan wilayah adat. to take steps to return those lands and territories. the right to restitution should be substituted by the right to just. Bahkan tanah ulayat masyarakat adat. Untuk keperluan itu. Negara menjadikan tanah-tanah ulayat masyarakat adat sebagai perkebunan skala besar yang kepemilikannya diserahkan pada kolaborasi pengusaha dan penguasa (pemerintah). hubungan mereka dengan tanah dan wilayah adat merupakan kunci dari keutuhan mereka sebagai masyarakat adat. Secara umum juga. yang 21 . kepemilikan masyarakat adat didasarkan pada klaim historis). control and use their communal lands. Perampasan Tanah dan Sumber Daya Alam: Awal Bencana bagi Masyarakat Adat di Indonesia 105. budaya dan bahasa. negara mencaplok kepemilikan masyarakat adat atas Tanah Ulayat (pada umumnya. 108. tanah juga merupakan satu-satunnya ruang yang dapat mereka pergunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Sampai saat ini. Kedua kasus tersebut sampai saat ini belum ada penyelesaian dan tidak ada upaya pemulihan bagi korban. Pengelolaan tanah dan sumber daya alam yang didasarkan pada paradigma developmentalisme di Indonesia. Pelanggaran terhadap hak ini secara gamblang tercermin dalam kasus ditolaknya laporan masyarakat adat Denai tentang tindakan kriminal berupa penggusuran dan pentraktoran terhadap lahan pertanian mereka oleh pihak PTPN II yang didukung oleh anggota Kesatuan Brimob (Polisi). Bahkan Kepolisian setempat menghindari kasus tersebut dengan melimpahkan kasusnya kepada kepolisian yang lebih tinggi. dipukuli dan beberapa rumah dibakar oleh aparat Kepolisian dan preman yang dibayar. 1) Hak atas Pesamaan di depan Hukum. 112. sehingga masyarakat adat Denai kesulitan mengaksesnya. karena sekolah yang ada di sekitar mereka dikuasai oleh perusahaan dan hanya diperuntukkan bagi keluarga karyawan perusahaan. Kasus yang serupa juga menimpa komunitas adat Karonsi’e Dongi (Luwu Timur. b) Anak-anak komunitas adat ini tidak bisa mengakses pendidikan. Masyarakat Adat Denai tersebut tidak mendapatkan tanahnya kembali dan pemulihan atas perampasan tanah yang telah berlangsung lama. 111. Sulawesi Selatan yang tanahnya juga dirampas oleh PT Perusahaan Perkebunan (PP) London Sumatera (Lonsum) Indonesia Tbk. komunitas ini berusaha kembali ke tanah adatnya tetapi mengalami kesulitan karena tanah adat tersebut sudah dikuasai oleh perusahaan Inko. Masyarakat adat Denai melaporkan kasus kekerasan yang dialaminya kepada aparat kepolisian. 19 Tahun 2004. terselenggaranya perlindungan. Misalnya hal ini terjadi terhadap masyarakat adat Denai pada tahun 2005 yang meminta tanahnya dikembalikan setelah dikuasai negara melalui PTPN II Sumatera Utara. dan pelayanan kepada masyarakat. tetapi selalu mengalami intimidasi dan upaya pengusiran. dan tegaknya hukum. Diskriminasi yang dialami oleh komunitas ini adalah: a) tidak bisa membangun pondok di sekitar tanah yang dikuasai oleh perusahaan. terdapat sekitar 40 Kepala Keluarga yang terus berusaha untuk menempati tanah di sekitar perusahaan. Beberapa hak yang terlanggar adalah. seperti yang diatur dalam pasal 5 ICERD. 110. tujuan Kepolisian Negara Republik Indonesia adalah untuk mewujudkan keamanan dalam negeri yang meliputi terpeliharanya keamanan dan ketertiban masyarakat. Selain itu masih banyak lagi kasus lain yang sampai saat ini masih berlangsung. Sulawesi Selatan). Ketika mereka melakukan reclaiming mendapatkan represif oleh aparat kepolisian dan 39 orang masyarakat adat Kajang ditahan. ternyata laporan tersebut tidak ditindak lanjuti. pengayoman. Dalam posisi sebagai institusi yang melayani masyarakat. serta 22 . Dari kasus tanah berimplikasi pada perampasan hak lain.beberapa diantaranya merupakan Hutan Lindung kemudian diberikan kepada sektor pertambangan swasta dengan UU No. tak dapat dipungkiri telah mendiskriminasi masyarakat adat dari hak-hak mereka atas tanah dan sumber daya alam. Begitu pula yang dialami oleh masyarakat adat Kajang di Bulukumba. pada tahun 1970-an. Lalu. akan tetapi mereka justru ditembaki. Masyarakat Adat ini pernah terusir dari wilayah adatnya akibat diserang oleh DI/TII pada tahun 1950-an.

Semula kawasan ini merupakan kawasan hutan produksi tetap. meliputi areal 58300 Ha. (b) Kabupaten Sarolangun ± 15% (9000 Ha. Pasal 15 Ayat 1 UU No. dengan rincian luas sebagai berikut : (a) Kabupaten Batanghari ± 65% (37000 Ha. Kebijakan Pembangunan Terhadap Masyarakat Adat: Contoh kasus Suku Anak Dalam (SAD) di Provinsi Jambi 113.). tanggal 23 Agustus 2000. Hal ini misalkan saja terjadi pada masyarakat adat Kajang yang mengalami kekerasan dan penahanan terhadap 39 orang.2. hutan produksi terbatas dan areal penggunaan lain yang digabung menjadi taman nasional. Kawasan TNBD mencakup tiga kabupaten dengan luas areal keseluruhan berdasarkan data sementara (DIPHUT. dan perampasan terhadap tanah ini merupakan suatu tindakan yang sekaligus menghilangkan kesempatan bagi anak-anak dan cucu mereka untuk mendapatkan bagian/warisan dari tanah ulayat ini.000 orang yang tersebar di tiga wilayah 23 . dan juga peristiwa yang terjadi di Bulukumba. 2 tahun 2002 menyebutkan kewenangan institusi kepolisian secara umum dalam melaksanakan tugas-tugasnya antara lain adalah. 2. Taman Nasional Bukit Duabelas merupakan salah satu kawasan hutan hujan tropis dataran rendah di Provinsi Jambi yang secara astronomis terletak pada 1º44’35’’ LS 2º03’15’’LS.terbinanya ketenteraman masyarakat dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia (Pasal 4 UU No. 2004). Dalam kasus Denai dan Bulukumba. dan (b) membantu menyelesaikan perselisihan warga masyarakat yang dapat mengganggu ketertiban umum.102º48’27’’ BT. Peristiwa pentraktoran tanah-tanah pertanian di kampung Denai Sumatera Utara. 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia). seperti yang dicantumkan dalam Pasal 5 Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial. masih ada teror yang dilakukan oleh aparat berupa penggeledahan dan pengejaran masyarakat sampai ke desa-desa. bahkan tindakan yang dilakukan adalah ikut terlibat dalam penggusuran lahan pertanian masyarakat adat (Denai). Taman Nasional Bukit Duabelas dikukuhkan dengan Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor 258/Kpts-II/2000. (c) Kabupaten Tebo ± 20% (11500 Ha. 102º31’37’’ BT . melakukan penembakan terhadap masyarakat adat (Bulukumba). 114. 3) Hak untuk Mendapatkan Warisan. Sulawesi Selatan. Dalam kawasan tersebut hidup sebagian besar Suku Anak Dalam ( SAD) yang secara keseluruhan berjumlah lebih kurang 200.). (a) menerima laporan dan/atau pengaduan. 2) Hak untuk Bebas dari Rasa Takut dan Kekerasan. adalah pelanggaran terhadap hak ini. fungsi ini tidak dilaksanakan oleh institusi kepolisian di daerah-daerah tersebut. 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara) juga telah melanggar Hak setiap orang atas kesamaan dalam perolehan kesempatan dan pelayanan di tempat-tempat publik. Ternyata tidak berhenti begitu saja. Hal ini menggambarkan bahwa institusi ini selain melanggar produk hukum nasional (UUD 1945 dan UU No. Tanah yang diklaim oleh masyarakat adat sebagaimana disebutkan di atas sebagai tanah mereka adalah tanah ulayat.).

f. diantaranya oleh kebijakan hak pengusahaan hutan dan ekspansi perkebunan sawit . Telah terjadi pelanggaran hak atas kesehatan. itu lebih disebabkan karena keterikatan adat istiadat yang begitu kuat. dan transparan dalam kebijakan taman nasional dan kebijakan pemerintah secara umum . dan penembakan 24 . dimana pemerintah tidak menyediakan sarana dan prasarana kesehatan yang layak. terdapat perlakuan-perlakuan diskriminatif yang didasari atas alasan bahwa mereka adalah orang rimba oleh pemerintah yang menyebabkan terjadinya berbagai pelanggaran terhadap hak-hak mereka. bahkan keyakinannya. Pola kehidupan yang mereka jalani. dan dapat diterima oleh Orang Rimba . i. pengurangan. e. Hal ini menyebabkan pengembangan diri Orang Rimba terhambat . maka yang terjadi adalah seperti apa yang ditemukan Komnas HAM beberapa bulan lalu. perusakan hak milik. dan sepanjang Jalan Lintas Sumatera. dimana program pemerintah untuk memukimkan Orang Rimba di desa telah menyebabkan kehidupan Orang Rimba tidak berkembang. Penetapan Kawasan Bukit Duabelas sebagai Taman Nasional yang pada awalnya ditujukan untuk melindungi komunitas SAD. yang telah dan akan mengurangi dan atau tidak mengakui hak ulayat Orang Rimba . Perubahan status kawasan bukannya bertujuan mempertahankan eksistensi SAD. dimana pemerintah tidak memberikan dan menyediakan informasi yang cukup. c. mampu diakses. tidak mungkin dipaksa keluar dari hutan dimana mereka hidup dan menggantungkan diri. ternyata berujung dengan terjadinya berbagai pelanggaran terhadap hak asasi SAD. tetapi berubah ujud menjadi alat untuk memaksa SAD keluar dari “kehidupan” mereka. Bukit Tigapuluh. Jika apa yang diinginkan pemerintah tetap dipaksakan. Diantara pelanggaran-pelanggaran tersebut adalah sesuai dengan temuan Komnas HAM yang dicantumkan dalam surat Komnas HAM Nomor : 088/SR-KHU/III/07 yang menyatakan bahwa: a. 115.bahwa terdapat 12 jenis Pelanggaran HAM terhadap Suku Anak Dalam di dalam kawasan Taman Nasional Bukit 12 Jambi. dimana pemerintah tidak menyediakan sarana dan prasarana pendidikan yang layak. Mereka yang hidup secara nomaden dan mendasarkan hidupnya pada berburu dan meramu. Telah terjadi pelanggaran hak untuk hidup secara bermartabat. Telah terjadi pelanggaran hak atas rasa aman. bahkan sebaliknya. dimana ada upaya berupa kebijakan taman nasional dan kebijakan pemerintah dalam pengembangan perkebunan sawit. 116. Telah terjadi pelanggaran hak atas informasi. b. dimana lingkungan alam sebagai habitat hidup dan sumber penghidupan Orang Rimba telah rusak. dimana pemerintah secara umum belum memberikan perlakuan dan perlindungan lebih terhadap Orang Rimba sebagai kelompok khusus dalam kebijakan pembangunan . Hidup berkelompok dengan pakaian hanya sebagian menutupi badan. dan dapat diterima Orang Rimba . Sesuai dengan rentetan peristiwa dan fakta yang dialami orang rimba atau SAD. mampu diakses. dimana telah terjadi ancaman dan pelarangan aktivitas hidup Orang Rimba. dimana telah terjadi pembatasan. Telah terjadi pelanggaran hak atas pengembangan diri. Telah terjadi pelanggaran hak atas lingkungan hidup. adil. g. Telah terjadi pelanggaran hak atas pendidikan. Hal ini juga diperkuat dengan keyakinan animisme yang mereka anut.. Telah terjadi pelanggaran hak kelompok khusus.(Bukit Duabelas. Telah terjadi pelanggaran atas tanah ulayat. h. d. dan pelarangan terhadap aktivitas kehidupan Orang Rimba sebagai akibat kebijakan taman nasional bukit duabelas .

dan implementasi kebijakan taman nasional. tetapi juga belum menyediakan fasilitas administrasi kependudukan yang dapat mengakomodir SAD di dalamnya. bayar pajak. tetapi dianggap sebagai tata cara yang tidak benar. 118. k. Telah terjadi pelanggaran hak atas kepemilikan. j. pihak pemerintah seperti petugas Kantor Urusan Agama (KUA) selalu berusaha mengajak komunitas Sedulur Sikep untuk melakukan nikah massal yang difasilitasi oleh pemerintah (Kepala Desa dan Pejabat KUA). BKSDA Jambi sebagai salah satu instansi pemerintah tidak mengakui adanya pelanggaran hak asasi manusia terhadap Suku Anak Dalam (SAD). Yang dimaksud dengan stereotip di sini adalah sudut pandang yang di(re)produksi secara terus menerus untuk melihat dan mengkategori komunitas lain sebagai komunitas yang serba negatif. stereotip seperti ini semakin menguat. Masih banyak kelompok lain yang menyebut komunitas ini dengan sebutan komunitas Samin. l. khususnya melalui berbagai sosialisasi pengetahuan tentang komunitas-komunitas yang dianggap membahayakan eksistensi kelompok mayoritas dan stabilitas nasional.oleh oknum aparat keamanan perkebunan sawit yang menyebabkan ketenangan hidup Orang Rimba terusik dan terganggu . Bahkan. pemerintah bukan saja tidak memberikan hak atas akta kelahiran. Samin seringkali diucapkan dengan nada keras (misalnya. perumusan. dimana pemerintah tidak memberikan hak berupa akta kelahiran bagi setiap anak Orang Rimba yang lahir sebagai bagian dari perlindungan dan pengakuan atas keberadan Orang Rimba. Komunitas Sedulur Sikep misalnya.3 Stereotype 119. dan sebagainya. Komunitas Sedulur Sikep memiliki tata cara tersendiri dalam hal perkawinan. seperti tidak beradab. Ketidakjelasan tempat tinggal masing-masing individu orang rimba menjadi alasan untuk itu. Telah terjadi pelanggaran hak atas status kewarganegaran. dan mengurangi hak milik Orang Rimba . Padahal dengan membuat sistem administrasi kependudukan yang sesuai dengan pola hidup berpindah-pindah SAD. 117. masalah ini dapat diselesaikan. Hal ini menunjukkan belum adanya iktikad baik pemerintah untuk menghentikan praktik-praktik diskriminasi terhadap Suku Anak Dalam di Taman Nasional Bukit Duabelas. dimana telah terjadi perusakan dan pemusnahan atas hak milik Orang Rimba. malas. Sampai saat ini belum ada tindak lanjut yang konkrit untuk menghentikan pelanggaranpelanggaran hak asasi manusia terhadap Suku Anak Dalam. membatasi. selama puluhan tahun telah menjadi sasaran stigma. Paska 1965. seperti pembuatan KTP. Telah terjadi pelanggaran hak untuk berpartisipasi. dimana pemerintah tidak membuka dan mengajak partisipasi Orang Rimba dalam perencanaan. khususnya atas penyusunan buku rencana pengelolaan taman nasional . 2. tidak modern. terbelakang. sekedar untuk menunjukkan bahwa komunitas ini identik dengan pembangkangan terhadap aturan negara. bandel. khusus untuk pelanggaran terhadap hak atas status kewarganegaraan. Stigma yang sama juga terjadi dalam hal proses menjalankan ritual perkawinan. 120. Sementara itu. dan sebagainya. Bahkan setelah dikeluarkannya temuan Komnas HAM. tapi dalam arti pejoratif. baik dari Negara maupun dari kelompok agama lain. maupun upaya dari kebijakan taman nasional yang akan berpotensi menghambat. pembangkang. dasar Samin!!). 25 .

yaitu di Kantor Urusan Agama (KUA) dan menurut tata acara adat. Bahkan. akhir-akhir ini. dalam hal berkeyakinan pun. Komunitas ini juga diidentikkan sebagai komunitas pembangkang yang tidak patuh kepada aturan hukum Negara. seperti akte kelahiran. 122. karena jika tidak. komunitas penghayat kepercayaan seperti Karuhun Urang dan Kapribaden didiskriminasi sebagai komunitas yang tidak berhak mendapatkan hak administrasi kependudukan. Film yang sedang dalam proses pembuatan ini mengisahkan tentang kehidupan komunitas Sedulur Sikep. seperti perkawinan. tidak memakai helm ketika berkendaraan. Bahkan. 123. stigma dan stereotip terhadap komunitas Sedulur Sikep sebagai komunitas “terbelakang” muncul dalam bentuk film yang sedang digarap oleh salah satu sutradara di Jakarta. Stereotip. dan sebagainya. pada September 2003 yang lalu. hubungan seksual. masuk ke sekolah formal. dan pendidikan yang digambarkan sebagai kultur komunitas yang tidak modern. ketidaksejajaran keyakinan komunitas adat dengan keyakinan kelompok mayoritas agama juga berdampak pada perlakuan kekerasan. Stereotip terhadap beberapa komunitas local ini seringkali berbanding lurus dengan kategori mereka sebagai komunitas yang tidak memeluk salah satu agama resmi negara sehingga berdampak pada sulitnya mendapatkan hak sipil. Departemen Agama (Depag). komunitas wetu telu harus mengalami dua kali acara pernikahan.121. ritual Mappasialla Manu (secara harfiah dimaknai sabung ayam) dibubarkan oleh aparat dan beberapa orang di antaranya 26 . 125. Pernikahan melalui KUA ini adalah bentuk diskriminasi yang mereka alami karena terdapat unsur pemaksaan dari pemerintah.” Sehingga beberapa pesantren di sekitar Lombok selalu berusaha untuk membawa komunitas wetu telu dan Gantarang Keke ke jalan yang benar. serta Komunitas Cikoang (Sulawesi Selatan) yang diserang oleh kelompok lain (salah satu pesantren) karena menganggap tradisi maudhu lompoa sebagai sesuatu yang bid’ah (heresy/tidak sesuai dengan ajaran asalnya) dan telah keluar dari tradisi dan ajaran Islam. Pada tanggal 26 April 2007 yang lalu. 124. Bahkan. tidak mau melakukan pemberitahuan pelaksanaan ritual atau hajat tertentu. mereka dituding sebagai kelompok yang suka mencampurbaurkan antara beberapa ajaran agamaagama resmi. Hal ini sempat menimpa komunitas Papuangan Mandar (Sulawesi Selatan). dan Jaksa untuk dimintai keterangan mengenai seluruh aktivitas keseharian mereka. Polisi. Intinya. komunitas ini disidang oleh beberapa pejabat pemerintah seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI). Militer. Komunitas Parmalim (Sumatera Utara) yang sulit mendapatkan Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan akte kelahiran. Komunitas Wetu Telu di Nusa Tenggara Barat dan Komunitas Gantarang Keke (Bantaeng. Sulawesi Selatan) mengalami stigma sebagai komunitas “muslim yang tidak sempurna. pemerintah memaksa komunitas dayak Indramayu ini untuk patuh dan mengikuti seluruh aturan hukum yang ada di Indonesia. Komunitas Dayak Hindu Budha Bumi Segandu Indramayu juga mengalami stigmatisasi yang tidak kalah memprihatinkan. Dalam hal pernikahan pun. khususnya dalam bentuk pemburukan terhadap praktik ritual keyakinan juga menimpa komunitas tau taa wana di Sulawesi Tengah terutama melalui misi-misi keagamaan yang dilakukan oleh kelompok misionaris Kristen dan Islam. Hal ini ditengarai oleh anggapan dari beberapa tokoh agama dan pesantren bahwa keislaman komunitas wetu telu dan Gantarang Keke bukanlah Islam yang sebenarnya karena mereka tidak pernah menjalankan ritual dan ajaran Islam sebagaimana yang dipelajari. maka komunitas wetu telu dan keturunannya akan sulit mendapatkan hak administrasi kependudukan yang lain. dipahami. dan dilaksanakan oleh mayoritas muslim di dunia. seperti tidak memiliki KTP.

Kenyataan ini merupakan pelanggaran terhadap ICERD sesuai dengan General Recommendation (GR ) No. dll). Pada waktu pengesahan perda tersebut.4. Perda di Bulukumba yang berkaitan dengan baca tulis al-Qur’an. Peraturan Daerah No. stereotip. Diskriminasi terhadap masyarakat adat timbul akibat kebijakan Negara maupun oleh perusahaan. terdapat Peraturan Daerah (Perda) No. di antaranya: a. Apalagi secara khusus disebutkan problem tanah dan sumber daya alam dalam point 3 General Recommendation tersebut menjadi perhatian khusus oleh Komite. 3/2002. Peraturan Daerah ini sangat berdampak pada komunitas Kajang karena mereka juga diharuskan tunduk pada aturan ini. Di Bulukumba (Sulawesi selatan). karena saat ini mereka juga diwajibkan untuk tahu baca al-quran. E. Diskriminasi terhadap masyarakat adat juga bisa terjadi melalui Peraturan Daerah. 129. Di satu sisi. Dipertegas lagi pemerintah Indonesia gagal menjalankan point 5 GR tersebut. tentang penertiban minuman keras. sehingga segala bentuk aktifitas ritual keyakinan mereka diikat dalam terminologi ini. Diskriminasi terhadap Masyarakat Adat melalui Peraturan Daerah (Perda) 126. tetapi juga dalam bentuk pembiaran aparat yang tidak melakukan tindakan hukum terhadap tindakan diskriminatif yang terjadi. terutama terkait pengusaan tanah dan sumber daya alam yang juga berimplikasi terhadap terlanggarnya hak – hak lain. tentang baca tulis al-quran. 3. Beberapa bentuk Peraturan Daerah yang diskriminatif dan berimplikasi langsung kepada komunitas lokal. tetapi Perda tersebut tetap disahkan.ditangkap. jelas memarginalisasi dan mendiskriminasi keyakinan komunitas adat Kajang yang meyakini Pasanga ri Kajang (kitab suci). Perda Sumbar No 2/2007 tentang Nagari merupakan ancaman bagi eksistensi komunitas adat Mentawai. b. diskriminasi terhadap masyarakat adat ini muncul dan diakibatkan bukan hanya oleh stigma yang dilekatkan kepada komunitas adat dan Perda. Sedang Perda yang berkaitan dengan minuman keras juga menghabisi keyakinan masyarakat kajang. 23: Indigenous Peoples : 18/08/97 point 1. Keyakinan komunitas local tersebut digeneralisir sebagai penganut kepercayaan. Aparat menganggap bahwa ritual itu merupakan bentuk perjudian dan harus dilarang. 4/2003 tentang berpakaian muslimmuslimah. 6/2003. DISKRIMINASI RASIAL TERHADAP ETNIK Dan PENGABAIAN RELIGI ETNIK 27 . diskriminasi yang dialami oleh komunitas local (adat dan etnik) adalah akibat adanya Peraturan Daerah (Perda). Selain diakibatkan oleh stereotip (stigma. Salah satu ancaman diskriminasi terhadap komunitas adat mentawai adalah hancurnya seluruh kultur dan tatanan masyarakat adat mentawai. Munculnya perda ini disebabkan oleh politik pengutamaan atas salah satu adat di atas adat yang lain. Peraturan Daerah No. 128. seperti yang disebutkan dalam kasus Bulukumba dan Mentawai. anehnya minuman keras untuk daerah pariwisata seperti di Bira dibolehkan. PENUTUP 127. 2. yang pada saat acara adat menjadikan tuak sebagai bagian dari ritual. terjadi penolakan dari komunitas adat mentawai.

bidang kehidupan yang lain” yang dilakukan dengan “pembedaan. Padahal jumlah mereka sangat besar. Masih sangat banyak kelompok kepercayaan lokal yang berbasiskan etnis atau sub-etnis lainnya di Nusantara yang. Ada tiga pola kebijakan diskriminatif yang selama ini diderita oleh kelompok-kelompok etnis tersebut. economic. 5 Diharapkan dengan paparan ringkas dari beberapa kelompok di bawah ini dapat ditengarai pola-pola kebijakan diskriminatif yang telah menafikan hakhak sipil dan politik mereka. menyeluruh dan konsisten diterapkan sejak zaman Orde Lama sampai sekarang. social. Oleh karenanya dalam laporan ini disajikan fakta bagaimana kelompok etnik mengalami perlakuan diskrininasi dalm konteks diskriminasi rasial / masuk dalam yuridiksi pengertian ICERD. pengecualian. pencapaian. Sesuai dengan yuridiksi CERD. cultural or any other field of public life. Pasal 1 Point 1 ICERD menyebutkan bahwa yang dimaksud diskriminasi rasial dalam konvensi adalah shall mean any distinction. sayangnya. Selama ini kepercayaan-kepercayaan lokal yang biasanya dianut oleh kelompok etnis atau sub-etnis tertentu tidak pernah diakui keberadaannya oleh negara. Masuk dalam cakupan pengertian pasal 1 point 1 CERD yang dijelaskan di atas. 133. Pola Kebijakan Diskriminatif 136. Dalam pengertian diskriminasi berdasarkan pasal 1 point 1 tersebut juga ditujukan untuk aktifitas yang “memilki maksud atau dampak meniadakan atau merusak pengakuan. 2. maka fokus perhatian di sini hanya diarahkan pada kepercayaan lokal yang bertautan erat dengan identitas etnis atau sub-etnis tertentu. or national or ethnic origin which has the purpose of effect of nullifying or impairing the recognition. belum memperoleh perhatian. yaitu . on an equal footing. khususnya menyangkut penafian kepercayaan lokal mereka oleh negara. Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa kebijakan diskriminatif yang dilakukan negara bersifat sistemik. Apa yang disajikan dalam ringkasan laporan ini barulah sketsa beberapa kelompok yang cukup menonjol dalam memperjuangkan hak-hak mereka terhadap tindakan diskriminatif negara. 132. restriction or preferance based on race. 1. tersebar hampir di seluruh pelosok Nusantara. enjoyment or exercise. pembatasan dan pengutamaan”. atau pelaksanaan atas dasar persamaan hak asasi manusia dan kebebasan dasar dalam bidang politik. exlusion. 1. dapat dibuktikan bahwa peristiwa / kasus yang dialami oleh etnik baik secara individu maupun kelompok tergolong dalam pengertian pelanggaran pasal 1point 1 CERD. Pola pemilahan antara agama yang diakui dengan yang tidak diakui. 131. Definisi dari Pasal 1 point 1 tersebut menyebut suku bangsa/etnik. 135. Latar Belakang 134. dengan aneka ragam kepercayaan dan praktik-praktik ritual yang mereka anut dan lakukan. colour. Acap kali kebijakan yang diambil bersifat diskriminatif terhadap mereka dan bahkan kebijakan yang tidak langsung berhubungan dengan etnik tersebutpun membawa dampak diskriminasi. Dalam konteks Indonesia yang memilki jumlah suku bangsa/etnik yang sangat besar dengan berbagai ragam identitas yang melekat pada etnik tersebut.130. 28 5 . of human rights and fundamental freedoms in the political. descent.

Pada tahun yang sama BKKI (Badan Kongres Kebatinan seluruh Indonesia) didirikan di bawah kepemimpinan Mr. Munculnya UU No. penyebutan enam agama (Islam. Dua catatan penting. kelompok-kelompok yang meyakini kepercayaan lokal digolongkan sebagai "belum beragama". Maka. Wongsonegoro. 1/PNPS/1965 perlu ditelisik sungguh-sungguh karena berakibat sangat fatal terhadap kelompok-kelompok kepercayaan yang berbasiskan etnis atau subetnis. Kitab Suci. akan tetapi pada praktiknya apa yang disebut sebagai “agama” hanyalah enam agama yang disebut Penetapan Presiden No 1/PNPS/1965 (kini UU No 1/PNPS/1965). 14/1967 yang melarang praktik-praktik Agama. Untuk mengawasi kelompokkelompok ini. secara resmi merumuskan apa yang disebut “agama” dengan lima unsurnya. I. dengan langkah itu. 167/PROMOSI/1954 dibentuklah Panitia Interdepartemental Kepercayaan-kepercayaan di dalam Masyarakat yang. BKKI mendesak Soekarno agar mengakui secara formal bahwa “kebatinan” setara dengan “agama”. Umat. Singapore: Singapore University Press. Sekalipun selama ini tidak ada perundang-undangan atau peraturan tentang pemilahan antara agama yang "diakui" dengan yang "tidak diakui" negara. bukan dalam teks PNPS sendiri. dan hanya mendapat 42 persen suara. dan Khonghucu) hanya ada dalam bagian penjelasan pasal 1. Seperti dapat dibaca dalam penjelasan resmi PNPS 1965. tahun 1961. 1978. Niels Mulder 6 menyebut salah satu alasan yang melatarinya adalah bertumbuh suburnya kelompokkelompok kebatinan pada masa itu. Pola Pemilahan Antara Agama yang Diakui Dengan yang tidak Diakui Negara. memecah persatuan Nasional dan menodai agama” (Penjelasan atas Penetapan Presiden No. pada tahun 1960 menjadi Biro Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat (PAKEM) di Mysticism and Everyday Life in Contemporary Java: Cultural Persistence and Change. PNPS 1965 lahir untuk melindungi agama-agama (yang diakui negara) dari aliranaliran kebatinan/kepercayaan. yakni ketika menjelaskan tentang “agama-agama yang dipeluk oleh penduduk Indonesia”. lewat SK No. Depag melaporkan bahwa pada tahun 1953 ada lebih dari 360 kelompok kebatinan di seluruh Jawa. Atau. yakni Tuhan.1. "belum memeluk agama yang diakui oleh Negara". Kelompok-kelompok ini memainkan peran menentukan sehingga pada Pemilu 1955 partai-partai Islam gagal memperoleh suara mayoritas. Pola dimasukannya kepercayaan lokal sebagai bagian dari agama yang diakui negara.” Situasi ini dinilai “telah menimbulkan hal-hal yang melanggar hukum. Nabi. Mengapa langkah ini diambil? Dalam studinya yang sudah klasik. Kedua. Katolik. 2. Pola penafian hak-hak sipil. 6/2000 yang mencabut Instruksi Presiden sebelumnya umat Khonghucu dapat menarik nafas lega. 29 6 . 1/1965. 140.2. Baru setelah keluarnya Keputusan Presiden No. Khonghucu sempat “dikeluarkan” dari daftar tersebut sebagai akibat Instruksi Presiden No. 137. 3. Latar belakang inilah yang mendorong Depag. Buddha. Pertama. penetapan Presiden Soekarno itu lahir dari situasi saat itu di mana “hampir di seluruh Indonesia tidak sedikit timbul aliran-aliran atau organisasi-organisasi kebathinan/kepercayaan masyarakat yang bertentangan dengan ajaran-ajaran dan hukum agama. dan pengakuan internasional. 139. Hindu. Kristen. nantinya.2). Tahun 1957. Kepercayaan dan Tradisi Cina dalam ranah publik. lebih lugas lagi. 138. Dengan kata lain.

Itu berarti. tatacara perkawinan dan sebagainya menurut aliran kepercayaan./61 tanggal 7 April 1961.E. semua aliran kepercayaan / kebatinan.bawah Kejaksaan Agung. untuk pertamakalinya. maka kepada mereka tidak ada tatacara sumpah. Bahkan sebagian tugas utamanya dicantumkan dalam UU No. Jelas kebijakan pemilahan di atas berakibat sangat fatal bagi kelompok-kelompok kepercayaan lokal yang dianut oleh berbagai etnis atau sub-etnis di Indonesia. Seperti dilaporkan Kompas (5 Agustus 1993).) pengawasan aliran kepercayaan yang dapat membahayakan masyarakat dan negara.) pencegahan penyalahgunaan dan/atau penodaan agama”. menurut pasal 30:3 kejaksaan juga bertugas dalam bidang ketertiban dan ketenteraman umum dengan. 144. 16/2004 tentang Kejaksaan. Di antara tugas PAKEM adalah mengikuti. melakukan “(c. (d. UU ini menarik karena. Pengendalian oleh negara yang efektif ini membuat banyak sekali aliran kepercayaan lokal yang dianut oleh berbagai kelompok etnis atau sub-etnis di Indonesia harus menemui ajalnya. “Kahumas Kejaksaan Agung Soeparman. Dalam TAP tersebut ditegaskan bahwa “Kepercayan terhadap Tuhan Yang Maha Esa tidak merupakan Agama”.. 241. Menteri Agama mengeluarkan Instruksi No 4 dan 14 tahun 1978 yang menggariskan kebijakan inti mengenai aliran kepercayaan. Apalagi kolom “agama” merupakan kewajiban yang harus diisi mulai sejak Kartu Keluarga. brosurbrosur keagamaan/aliran kepercayaan. Kebijakan pemilahan ini secara konsisten dilakukan oleh rezim Orde Baru dengan landasan hukum yang sangat kuat. karena aliran kepercayaan bukanlah agama (tetapi digolongkan oleh Menteri Agama sebagai “kebudayaan”). Berangkat dari ketetapan ini. 30 7 . diakui sebagai “agama”. Islam Pascakolonial: Perselingkuhan Agama. mengawasi gerak-gerik serta perkembangan dari semua gerakan agama. 23/2006 mengenai Administrasi Kependudukan yang baru disahkan tanggal 8 Desember 2006 (pada rezim “reformasi”) pun masih mewajibkannya. Pada tataran praktik biasanya kolom agama di KTP kelompok kepercayaan harus Ahmad Baso. 7 141. Mereka mencakup bukan hanya kepercayaan lokal. S. IV/MPR/1978 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara. baik yang berasal dari dalam maupun luar negeri. lembaga PAKEM didirikan di setiap provinsi dan kabupaten. Kedua hal ini disusul oleh Surat Menteri Agama No.) pengawasan peredaran barang cetakan. KTP. antara lain.2. dalam dunia internasional. telah terdapat 517 aliran kepercayaan yang ‘mati’ di seluruh Indonesia. dalam dokumen resmi negara dipakai istilah “agama yang belum diakui negara” untuk merujuk pada kelompok-kelompok kepercayaan di luar enam agama yang diakui. 2. Pada tahun 1978 MPR menetapkan TAP MPR No. 2005. dan Liberalisme. memeriksa / mempelajari buku-buku. Penafian Hak-hak Sipil 143. dalam soal perkawinan “hanya ada menurut agama sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku”.H. 34/Pakem/S. Kolonialisme. (e. Surat ini menegaskan bahwa. memerhatikan. Bandung: Mizan. Kemudian. h. lewat Surat Edaran Departemen Kejaksaan Biro PAKEM Pusat No. tetapi juga kelompok “agama berbasiskan etnis” seperti Sikh yang.” 142. PAKEM sampai sekarang masih berdiri dan melakukan fungsinya. mengatakan sejak tahun 1949 hingga tahun 1992. Padahal kelompok-kelompok ini sangat banyak dan tersebar di seluruh pelosok Nusantara. Termasuk dalam UU No. B/5943/1978 tertanggal 3 Juli 1978 yang ditujukan kepada Gurbernur Jawa Timur. Dalam UU itu. sampai akta-akta sipil lain yang penting.

dan tidak menyebut nama suami atau status pernikahannya. Dewi Kanti dari kelompok penghayat Sunda Wiwitan. 148. seperti dituturkan oleh Sdri. Karena Legalitas. dan 30 pasangan lagi di Kebumen. Dengan tidak diakuinya perkawinan kelompok kepercayaan lokal. dalam formulir tersebut hanya disebutkan bahwa sang anak dilahirkan oleh seorang perempuan pada tanggal tertentu. maka status anak yang lahir dari perkawinan itu menjadi runyam. c) pelarangan pemakaman jenazah di pemakaman umum. atau menikah berdasarkan agama tertentu. banyak orang dari kelompok kepercayaan mengambil jalan pintas. tercermin pada kebijakan Depag (Departemen Agama) terhadap masyarakat Tolotang di Sulawesi Selatan (Sulsel). pihak Catatan Sipil tidak mau mencatatkan perkawinan mereka. 16 April 2006. Sering kali. Langkahlangkah ini diambil hanya untuk menghindari berbagai kesulitan yang harus mereka hadapi saat berhadapan dengan birokrasi negara. Sudah tentu. April 2006. misalnya. 18 – 19. Sementara itu. Akibat kerumitan-kerumitan di atas. yang pernah melakukan upaya itu. menimbulkan kerawanan tersendiri karena. Dipaksa Mengganti Kepercaannya dengan Agama Resmi 147. di antaranya: a) dalam KTP mereka tidak dicantumkan identitas keyakinan.dikosongkan atau ditandai dengan “--“. Ini. jangan-jangan. negara juga mengambil jalan pintas dengan menggolongkan banyak kepercayaan lokal ke dalam salah satu agama yang sudah diakui. 2. h. B/5943/1978 tertanggal 3 Juli 1978 kepada Gurbernur Jawa Timur yang sudah dirujuk di atas. karena kekhawatiran ini terpaksa mengisi kolom agama dengan salah satu agama yang diakui negara. Akibatnya. Kudus. ada formulir yang harus diisi agar anak hasil perkawinan kelompok kepercayaan mendapat “pengakuan”. apabila dilakukan menurut hukum masing–masing agamanya dan kepercayaannya itu”. berbunyi “Perkawinan adalah sah. 8 Yang lebih menyakitkan bagi kelompokkelompok ini. 72 – 79. Padahal dalam pasal 2:1 UU No. 50. Banyak dari mereka yang. diletakkan oleh Depag di bawah pengawasan Dirjen Bimas Hindu Buddha berdasarkan SK No 2 dan 6 tahun 1966 yang “menunjuk Sdr. mereka dituduh “ateis” yang tidak punya tempat di negara ini. h. dalam soal ini. Mereka mengisi kolom agama dalam akta sipil dengan salah satu agama yang diakui negara. Jawa Tengah. dalam soal perkawinan hanya ada tatacara agama. Keyakinan mereka yang tidak ternasuk 6 agama resmi Negara berimplikasi pada beberapa perlakuan diskriminatif.3. 28 – 31) menyebut 110 pasangan suami-istri di Cilacap. jumlah tersebut hanyalah sebagian kecil saja dari berbagai kelompok kepercayaan lokal yang tersebar di seluruh Nusantara. Blora. dari pihak negara juga mengalami kesulitan di dalam menangani masalah kepercayaan lokal yang beraneka ragam bentuk keimanan maupun praktik ritualnya. 145. dan Majalah Playboy Edisi Indonesia. Akan tetapi. perkawinan mereka yang berdasarkan adat kepercayaan juga tidak diakui negara. Cigugur. dengan semena-mena. Makkatungeng untuk atas nama Direktur Djendral Bimbingan Masyarakat Beragama Hindu dan Lebih jauh lihat laporan Forum Keadilan No. Umumnya. dan Bojonegoro. seperti dijelaskan Surat Meteri Agama No. Yang menarik. Hal ini. Perlakuan diskriminatif ini mendorong banyak kelompok kepercayaan untuk mengadu pada Komnas HAM. b) dibujuk untuk melakukan nikah massal menurut agama Islam. 31 8 . Komunitas ini. Komunitas Sedulur Sikep merupakan bagian dari etnik Jawa yang tersebar di Pati. h. sudah tentu. Laporan Gatra (4 Maret 2006. 1/1974 tentang Perkawinan. sekalipun mereka tidak mengimani atau mempraktikkan agama tersebut. 146.

Di tempat relokasi yang tersebar di Kab. Sekitar 68. Idps Etnis Madura : Konflik di Kabupaten Sambas.Buddha melakukan pembinaan serta penyuluhan terhadap umat Hindu Tolotang. Ini juga dialami oleh komunitas Sikh di Medan yang mayoritas penganutnya dari etnis keturunan India. maupun komunitas-komunitas lokal lainnya. 155. Sampai hari ini Pemerintah Propinsi Kalimantan Barat tidak mempunyai kebijakan yang memuat skenario truth seeking dan rekonsiliasi yang kondusif dalam membangun sebuah perdamaian di Kalimantan Barat. IDPs yang berada direlokasi sebagian besar adalah kaum perempuan.000 IDPs sudah menempati relokasi yang berada di beberapa wilayah di Kab. 154. b) lokasinya merupakan lahan sengketa hukum sehingga menimbulkan sengketa pertanahan dengan masyarakat sekitar lokasi tersebut. salah satu persoalan IDPs yang berkaitan dengan ICERD terjadi dalam kasus kerusuhan antara etnis Dayak dengan Madura di Kalimantan Barat (Kasus Sambas/1998-1999) dan Kalimantan Tengah (kasus Sampit/2001). komunitas Dayak yang menganut “kepercayaan lokal Kaharingan” juga dengan semena-mena dimasukkan ke dalam agama Hindu sejak tahun 1980. F. Hal ini melanggar pasal 7 konvensi. 152. Tetapi.” Maka.cit. op. 9 Ahmad Baso. masyarakat adat Tolotang diwajibkan beribadah di Pura dengan ritual seturut agama Hindu Bali yang sama sekali asing bagi mereka. 9 149. akibatnya. 151. 153. Nasib masyarakat Madura yang menjadi IDPs akibat peristiwa Sambas sampai saat ini belum terselesaikan dengan baik. 32 . Ini dapat dilihat dari seringnya terjadi pergesekan sosial di dalam masyarakat yang berakhir dengan kekerasan etnis antar masyarakat. Dalam konteks Indonesia. Kalimantan Tengah 150. Pontianak. Pengalaman pahit komunitas Tolotang di Sulawesi Selatan hanya contoh dari perlakuan yang hampir sama pada banyak komunitas penghayat kepercayaan lokal di berbagai tempat lain. Sambas kurang dan bahkan tidak mendapat jaminan perlindungan Hukum dari pemerintah. IDPs juga menghadapi banyak permasalahan. Ditengarai persoalan kesehatan dasar tidak diperhatikan dengan baik. di antaranya: a) lokasinya tidak memadai atau tidak cocok untuk lahan pertanian sehingga para IDPs kesulitan untuk membangun kehidupan baru sebagai petani. Hal ini melanggar rekomendasi umum no 25. Hal ini melanggar rekomendasi umum no 22 poin 2 huruf c yang berkaitan dengan pasal 5 konvensi. ICERD memberikan perhatian khusus terhadap IDPs seperti yang tercermin dalam Rekomendasi Umum No 22: art 5 and Refugees and Displaced Persons. Misalnya. Kalimantan Barat dan Kabupaten Sampit.. IDPs dalam Peristiwa Kekerasan Etnis di Kalimantan 1. Persoalan lain yang dialami IDPs adalah persoalan harta benda mereka yang tersebar diseluruh Kab. h. masih terdapat upaya penolakan dari pejabat publik terhadap kembalinya masyarakat Madura ke tempat tinggalnya di Sambas. Bahkan beberapa pihak NGO yang mencoba memfasilitasi terdorongnya usaha-usaha untuk membangun rekonsiliasi di tingkat basis malah dituduh oleh pejabat publik dan tokoh masyarakat dengan tuduhan ‘ingin mengembalikan orang Madura ke Sambas’. Pontianak seperti di Pulau Nyamuk dan Parit Haji Ali. 246 – 247.

Penduduk Papua tergolong ras Negroit Melanesia berkulit hitam dan berambut keriting.. Data itu didapat dari Polres Kotawaringin Timur. diskriminasi rasial masih di praktekan hingga saat ini. 160. yang kemudian diserahkan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui transfer administrasi dari kerajaan Belanda kepada Indonesia pada 1 Mei 1963. uranium dan ikan. Etnik Papua terbagi lagi dalam sub-sub budaya. Pelapor (Rapporteur) Khusus PBB untuk Indigenous People. Gambaran Umum 158. 157. Pada kenyataannya relokasi paska konflik yang dilakukan pemerintah justru menjadi pemisahan antar etnis yang permanen. Diduga. Menanggapi situasi yang terjadi di Papua. 159. Dahulu pulau Papua adalah sebuah daerah koloni dari kerajaan Belanda. Sebagai contohnya adalah Belanda membatasi orang Papua untuk mengenyam pendidikan. Penutup 157. Rodolfo Stevenhagen. gas. 162. Kasus yang sama terjadi pada IDPs akibat konflik etnis di Sampit Kalimantan Tengah pada tanggal 18 Februari 2001. Sebagian besar dari pengungsi itu hingga saat ini belum juga berani kembali ke tempat tinggal semulanya karena masih merasa tidak terjamin keamanannya. Tidak terpenuhinya hak-hak Idps korban konflik yang terjadi di Kalimantan dikarenakan pembiaran / tidak adanya kemauan dari aparat pemerintah daerah dan pusat dalam menyelesaikan persoalan ini. dan dipertegas lagi dalam sebuah jajak pendapat yang diprakarsai oleh PBB 1969 yang oleh rakyat Papua dianggap tidak adil dan tidak demokratis. Pasca konflik juga ditandai oleh eksodus para pengungsi (IDPs) berjumlah hampir 30 ribu –dari pihak Madura. Tanah Papua luasnya mencapai 422. masing-masing yang bahasanya mencakup 253 bahasa suku. pembiaran ini menjadi salah satu pemicu timbulnya kerusuhan antara etnis Dayak dan Madura di Sampit.9 Km2) dan kaya sumber daya alam.156. Setelah masuknya Papua kedalam NKRI. Belanda hanya memberikan kesempatan kepada rakyat Papua yang orang tuanya memegang peranan penting atau yang membantu pemerintah kolonial Belanda. seperti minyak. “Masyarakat adat Papua menderita karena diskriminasi yang meluas yang 33 .000 Km hampir mencapai seperempat luas wilayah daratan Indonesia (sekitar 1. tembaga. dalam laporannya di sidang ke-61 tahun 2005 mengatakan. Selama periode konflik tersebut jatuh korban jiwa dari kedua belah pihak: sekitar 341 dari pihak Madura dan sekitar 16 orang dari pihak Dayak. Terjadi pembiaran oleh negara terhadap tindakan kekerasan etnis tanpa ada solusi hukum yang jelas sehingga mengakibatkan berlarut-larutnya tindakan diskriminasi rasial.dari Kalimantan Tengah ke Pulau Jawa. Diskriminasi Rasial di Papua 1. 2. G. Peristiwa kekerasan akibat konflik etnis ini berlangsung selama sekitar 10 hari. kayu. Pemerintah Belanda dan Jepang telah mempraktekan diskriminasi kepada masyarakat Papua. Selain itu ratusan rumah dibakar atau dirusak. Hal ini melanggar Pasal 5 ayat b. Catatan sejarah diskriminasi rasial di Papua sudah berlangsung lama bahkan sebelum Papua masuk kedalam Negara Kesatuan Republik Indonesia pada tanggal 1 Mei 1963. emas. 161. Sampai saat ini Idps tidak bisa kembali ke tempat tinggalnya secara aman. Kalimantan Tengah pada tahun 2001.

. Contoh lain adalah di perusahaan swasta seperti Freeport dan British Petroleum. 2. dalam hal tertentu.2. Dalam konteks inilah kebijakan pembanguann menjadi sumber pelanggaran terhadap ICERD. untuk memperoleh akses ke dalam institusi-intitusi di masyarakat. kesamaan pendapatan/penghasilan. Akibat dari tindakan diskriminasi ini.1. merupakan kebijakan pembangunan yang bersifat umum tanpa ada program khusus yang berbasis penghargaan terhadap nilai – nilai lokal. seperti dalam hal pendidikan. Tidak ada affirmatif action di bidang Ekonomi. Perbankan juga sangat sedikit memberikan Kredit bagi orang Papua untuk meningkatkan ekonominya. yang memiliki pengalaman dan naluri bisnis yang kuat. 2. Masyarakat Papua sering distereotipekan kurang terpelajar. 2. 34 . Theodor Rathgeber. perawatan. Kebijakan Pembangunan 163. Di pasar-pasar orang asli Papua berjualan di trotoar jalan. masyarakat setempat dipekerjakan sebagai tenaga security perusahaan. Sosial dan Budaya di Papua Barat”. Diskriminasi yang terjadi di Papua bisa dilihat dalam 2 (dua) hal. mereka tidak menikmati faslitas perumahan pasar yang dikuasai oleh non Papua. Sedangkan di perusahaan British Petroleum. berpenampilan kurang menarik. Tidak ada afirmatif action dalam kebijakan ekonomi sehingga mayarakat asli Papua sangat sulit bersaing dengan orang dari luar Papua. yang memungkinkan mereka untuk membuat keputusan sendiri. dan harga diri. dan malas. 165. Stereotip dan Diskriminasi Pekerjaan 166.1. Faktor lain adalah Orang Papua sendiri masih dalam budaya transisi dari budaya meramu harus diperhadapkan pada sistem ekonomi modern. “Hak-hak Ekonomi. Sehingga sangat menyulitkan mereka untuk mendapatkan perkerjaan di bidangbidang tertentu. Kebijakan pembangunan Pemerintah Pusat yang memprogramkan pembangunan untuk Indonesia di wilayah Timur ternasuk Papua. Bahkan dalam konteks Papua pembangunan masih diliputi bias rasial dan stereotipe terhadap masyarakat Papua. Di Freeport misalnya karyawan asli Papua tidak pernah dipromosikan untuk menduduki tempat-tempat strategis walaupun mereka juga memiliki kemampuan dan kualifikasi yang tidak jauh berbeda dengan yang lain.1.” Mereka kemudian melakukan demo besar-besaran bulan April lalu menuntut pemberdayaan karyawan Papua dan peningkatan upah kerja. Halaman 148) @2007. Selain itu pemerintah juga memberi peluang yang sangat kecil bagi orang asli Papua untuk mengembangkan ekonominya.mencegah mereka. kesehatan. karyawan Papua membentuk wadah penampung aspirasi dengan nama “Tongoi Papua. 2. Banyak supermarket di Papua yang tidak mempekerjakan orang Papua. 10 (Hermien Rumrar dan DR.1. 10 walaupun sudah ada Dewan Adat Papua dan Majelis Rakyat Papua. Belum adanya tindakan Affirmatif action ini menjadikan masyarakat Papua termarjinalkan dan kondisi inilah yang membuat masyarakat papua sangat rentan mendapat perlakukan yang diskriminatif. pandangan masyarakat umum tentang perempuan. 164.

167. Dengan adanya program transmigrasi.1. 2.2. yang merusak tanah dan lingkungan serta pencemaran sungai. makanya otaknya sama seperti babi”. Seperti. Masyarakat Adat 2. Agandi. 2 2.2. ingin mempertahankan hak dan nilai tradisi mereka. Masyarakat Papua selalu menganggap tanah sebagai “IBU’ yang mana tanah itu memberikan perlindungan / memberikan makan dan menganggap “Sungai” sebagai “air susu” yang mengalirkan air kehidupan. maka dituduh menghambat pembangunan dan menjadi bagian dari separatis. Bentuk diskriminasi rasial lain adalah sebutan rasialis kepada masyarakat Papua paska penyerangan Markas Polisi Sektor Abepura tahun 2000 oleh kelompok tidak dikenal yang menyebabkan aparat polisi melakukan penyisiran. Alasan tersebut dipakai sebagai pembenaran untuk menindak keras atau menciptkan mata rantai kekerasan baru. Implikasi lainnya adalah terjadi pengelembungan dalam perbedaan populasi masyarakt asli dan pendatang. Dalam laporan KPP Komnas HAM untuk kasus Abepura Berdarah ditemukan ungkapan rasialis terhadap para tahanan pada saat dilakukan interogasi. Contoh kasus adalah tahun 1970 di Arso salah satu distrik pusat transmigrasi memiliki jumlah penduduk kurang lebih 1000 orang. hitam dan lawo-lawo ( tidak tahu apa-apa / goblok). sedangkan di desa-desa orang asli Papua pemerintah tidak membangun pelayananan tersebut tetapi Gereja yang bertanggungjawab. Banyak orang terbunuh karena mencoba mempertahankan hak-hak SDA mereka seperti kasus di daerah-daerah pertambangan seperti Hoya. Sebagai akibatnya masyarakat adat / penduduk asli terpaksa tergeser. Perampasan tanah-tanah adat ini tidak saja merusak ekonomi masyarakat yang mana mereka mengantungkan hidup dari tanah tersebut tapi juga merusak nila-nilai tradisi yang di lama dipegang. Selain itu.3. “kamu orang Papua hanya tau makan Babi. “Kamu orang Papua rambut keriting.2. lahan-lahan subur dan tanah hak ulayat adat di ambil. Contoh kasus adalah perlawan suku Amungme terhadap kehadiran PT Freeport. Perampasan Tanah 168. Tanah-tanah adat dirampas untuk pembangunan transmigrasi. pelayanan kesehatan. Stigmatisasi OPM 2 Kristina Neubauer 2002: Die soziokulturellen Folgen des Indonesischen Transmigrations programmes fuer die lokale Bevoelkerung Papuas am Beispiel der Region Arso. 35 . Perampasan hak-hak masyarakat adat sering tejadi di Papua. Jawa dan Jakarta. Masalah Transmigrasi 169. Namun setelah tahun 2000 jumlah penduduk di Arso menjadi 20. Misalnya di daerah Arso kita bisa melihat bahwa di desa-desa transmigran ada SMA dan SMP serta Puskesamas dari pemerintah. Ketika masyarakat melawan. “Kamu harus makan daging biri-biri biar pintar sama dengan orang Makasar.2.000 orang menjadikan penduduk asli sebagai minoritas. Papua merupakan daerah tujuan utama transmigrasi. pendidikan dan perumahan di daerah-daerah transmigran lebih lengkap daripada di kampung-kampung orang asli Papua. Kasus ini telah dilaporkan oleh Gereja dan diselidiki oleh Komnas HAM tahun 1995. Banyak masyarakat terpaksa memilih tinggal di pegunungan. basis militer dan untuk kepentingan investor tanpa memberikan ganti rugi yang layak.2. 2. dll.

Kasus hangat lain adalah pengungsian sekitar 10. Diskriminasi rasial di Indonesia terjadi dalam berbagai bentuk. Tidak hanya pembiaran atas fakta tersebut namun juga dapat dirasakan keterlibatan aktif para aparatur negara itu. 175. BAB IV KESIMPULAN 172. 173. yang ada adalah sistem sapu rata. Hal ini disebabkan karena perubahan kebijakan hukum yang ada tidak komperhensif dan bahkan lahirnya kebijakan hukum yang baik tersebut juga disertai lahirnya hukum baru yang masih tetap memberlakukan diskriminasi. walupun ada kebijakan hukum yang menunjukkan perubahan yang baik. Sehingga ada justifikasi membasmi mereka. Masyarakat menuntut ganti rugi yang layak atas kayu-kayu yang di ambil oleh PT. pasal satu dengan pasal yang lainnya saling kontradiksi. Di Indonesia diskriminasi rasial masih terjadi. Aparat kemudian melakukan penyisiran dan menangkap dan melakukan pembunuhan. Kasus ini dipakai sebagai justifikasi dibukanya satu batalyon baru di Wamena.170.000 masyarakat sipil di distrik Yamo Kabupaten Puncak Jaya pasca pembunuhan dua aparat TNI AD yang di lakukan kelompok milisi. bahkan konflik hukum ini terjadi di dalam konstitusi. khususnya masyarakat adat yang terdapat di pinggiran kota dan di dalam hutan diidentikkan dengan OPM dan pemberontak. Contoh kasus adalah rekayasa pembobolan gudang senjata di Wamena tahun 2003 yang di lakukan kelompok tidak dikenal. Contoh lain adalah operasi ketupat dimana 11 masyarakat sipil dituduh sebagai anggota TPN/OPM di tangkap tanggal 22 November 2003. diskriminasi yang terjadi juga diakibatkan oleh kelakuan aparat negara yang dalam menjalankan kewajibannya untuk melayani setiap individu maupun warga negara tetap menerapkan kebijakan/perlakuan diskrinimasi. Selain terjadi kontradiksi di dalam kebijakan hukum yang mengatur diskriminasi rasial. Fakta kasus seperti yang terjadi di Wasior kabupaten Manokwari dimana aparat tidak membedakan orang yang bersalah atau tidak. Perilaku aparatur negara ini mencerminkan bagaimana fenomena diskriminasi telah terjadi secara sistematis dan meluas. 171. Korban yang paling banyak adalah etnis Tionghoa dan Masyarakat Suku Bangsa/Etnik terutama berkaitan dengan identitas kepercayaan dan keyakinan mereka. Banyak masyarakat yang tidak tahu menahu dan sebagain besar adalah warga sipil / petani menjadi korban dan dituduh kaki tangan OPM. namun hanya bertindak dengan melihat dari warna kulit dan rambut. Operasi ini hampir mencakup seluruh wilayah tanah Papua. Yang menjadi target dari operasi Militer adalah rakyat Papua yang dituduh membangkang terhadap pemerintah Indonesia. Dalam konteks ini terjadilah konflik hukum. Dalam konteks ini tidak ada tindakan konkrit yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia. Salah satu bentuk diskiriminasi yang dihadapi masyarakat Papua adalah stigmatisasi OPM. 36 . Selain itu Papua dijadikan Daerah Operasi Militer (DOM). Aparat menuduh bahwa yang melalukan pembobolan itu adalah OPM. 174. DJayanti Group tetapi kemudian Brimob sebagai penjaga perusahaan menembak mati 5 warga karena dituduh terlibat gerakan OPM. Contoh kasus lain adalah kasus Mariedi kabupaten Bintuni. Pemerintah dan aparatus Negara membangun stigma bahwa orang Papua. Banyak rakyat Papua yang terbunuh selama diberlakukanya DOM karena dalam operasi militer tidak memakai sistim tebang pilih.

maupun melalui pengadilan. Dalam konteks Papua pelanggaran terhadap ICERD juga terjadi. 23/2006 tentang Administrasi Kependudukan. Dan pada kenyataan implementasinya.176. seperti kasus Mei 98. Pemerintah tidak menunjukkan usaha yang efektif untuk menyelesaikan berbagai kasus tersebut dan usaha efektif dalam memerangi impunity. hak – hak pengungsi banyak dilanggar dan bahkan ditengarai persoalan IDPs yang berlarut – larut sampai saat ini karena masih adanya sudut pandang dan kebijakan yang bias rasial. Sehingga secara umum dapat disimpulkan bahwa diskriminasi rasial di Indonesia masih terjadi dan tidak ada penyelesaian efektif baik melalui kebijakan pembangunan. 178. Soal lain yang serius terjadi di Indonesia dalam implementasi ICERD ini adalah kebijakan Impunity terhadap penyelesaian berbagai kasus diskriminasi rasial. Fakla lain pelanggaran ICERD adalah banyaknya pelanggaran terhadap Indigenous People dalam berbangai bentuknya. Begitu juga hal nya belum ada kebijakan hukum yang ditujukan untuk pemulihan korban diskriminasi secara efektif. Jika disebutkan bahwa telah ada Peraturan Pemerintah No. Persoalan IDPs yang berbasis kerusuhan etnik juga tidak diselesaikan. 180. mulai dari perampasan tanah dan sumberdaya alam sampai penghancuran nilai – nilai lokalitasnya. itu tidak akan menjangkau korban diskriminasi rasial. 183. Sumber dari berbagai problematika pelanggran ICERD seperti dipaparkan diatas adalah kebijakan pemerintah yang diambil dan pembiaran terhadap pelanggran tersebut. Pemaparan di atas membuktikan bagaimana kebijakan yang diambil oleh pemerintah dan dijalankan sampai sekarang mengakibatkan pelanggran terhadap ICERD dan terampasnya berbagai hak asasi manusia yang lain. bahkan problem mendasar pelanggaran tersebut sampai saat ini tidak diselesaikan. BAB V PENUTUP 182. Segera melakukan perubahan terhadap UU No. 181. Kalimantan . 179. 3 tahun 2002 tentang Penggantian dan Pemulihan bagi Korban Pelanggaran Berat HAM. 1. BAB VI REKOMENDASI 184. Bagi Pemerintah Indonesia. Apalagi UUD 45 ( kontitusi ) masih memiliki pasal yang melegetimasi pelanggaran terhadap ICERD. Peraturan Pemerintah No. baik sebagai individu maupun kelompok. maupun kasus lain. kasus Konflik antara masyarakat Dayak dengan masyarakat Madura di sambas dan Sampit. 37 . 177. kebijakan hukum. 3 tahun 2002 tersebut tidak dapat di implementasikan walaupun untuk korban pelanggaran berat HAM.

Membentuk Desk khusus penanggung jawab pemberantasan praktek diskriminasi. 2. Mendesak pemerintah Indonesia untuk konsekuen mengimplementasikan ICERD. dan Sambas Kalimantan Barat melalui pengadilan yang kredibel dan kompeten. 9. dan Sambas. 6. Untuk Presiden segera memerintahkan Jaksa Agung untuk menggelar pengadilan peristiwa Mei 1998 dan konflik etnis di Sampit. Mengimplementasikan ICERD secara efektif dan konsekuen. 4. Tabel Kebijakan yang Diskriminatif yang harus di cabut 2. Surat Komnas HAM tentang Temuan Pelanggaran HAM pada Suku Anak Dalam (Jambi) 38 . 4. Bagi Komite. Merekomendasikan menggelar penyelesaian kasus Mei 1998 dan konflik etnis di Sampit Kalimantan Tengah. 5. Kalimantan Tengah. Kalimantan Barat. 185.2. Memberikan technical assistent. 3. Membuat kebijakan yang menjamin pemulihan korban. terutama yang dilakukan oleh aparatur negara dan segera membuat aturan hukum yang memberikan sanksi terhadap tindakan diskriminatif tersebut. 7. 1. Segera menghapuskan kebijakan pengutamaan agama tertentu / agama resmi. Melakukan perubahan kebijakan dan hukum yang diskriminatif. 8. LAMPIRAN : 1. yaitu Pengadilan HAM. Membuat kebijakan yang menjamin perlindungan hak-hak indigeneous people dan menyelesaikan kasus-kasus yang merugikan masyarakat adat di Indonesia. Melakukan semua tindakan efektif untuk menjamin adanya pemberantasan diskriminasi rasial. Mengambil langkah efektif dalam memerangi impunitas. 3. Membubarkan Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat (PAKEM). 5.