P. 1
Tugas Mata Kuliah an Teori Sosial

Tugas Mata Kuliah an Teori Sosial

|Views: 4,438|Likes:
Published by Khairul Iksan
Tugas Mata Kuliah an Teori Sosial
Tugas Mata Kuliah an Teori Sosial

More info:

Published by: Khairul Iksan on Mar 22, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/11/2013

pdf

text

original

UNIVERSITAS KANJURUHAN MALANG PROGRAM PASCASARJANA (S-2) PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL TAKE HOME Kode / Mata

Kuliah : IPS 202 / Pengembangan Teori Sosial Semester :I Dosen Pembina : Drs. I Wayan Legawa, M.Si. SOAL : 1. PARADIGMA DALAM TEORI SOSIAL
a. Apakah yang dimaksud dengan paradigma itu ? b. Faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya

perbedaan dalam paradigma ? c. Ada 4 varian teori yang berkaitan dengan paradigma fakta sosial, yang salah satunya adalah struktural fungsional ( Talcott parson, Robert K. Merton dan Niel Smelser ). Dalam teori itu dijelaskan bahwa prubahanperubahan yang terjadi dalam masyarakat didasarkan atas asumsi-asumsi. Sebut dan jelaskan asumsi-asumsi yang dimaksud dengan contoh perubahan yang terjadi dalam masyarakat Indonesia.
2. Auguste

Comte dianggap sebagai bapak Positivisme. Positivisme adalah faham filsafat yang cenderung membatasi pengetahuan manusia dengan memakai metode ilmu pengetahuan. a. Jelaskan peran Auguste Komte dalam merekonstruksi teori Positivisme ? b. Comte membedakan akal budi manusia dalam 3 tahap. Sebut dan Jelaskan ! c. Masyarakat dalam Positivisme adalah masyarakat Industri. Bagaimana pendapat saudara tentang hal tersebut ? Jelaskan ! sosial. Siapa tokoh yang melahirkan teori tersebut ?, dalam konteks sosial yang bagaimana istilah tersebut muncul?.

3. Berikut adalah beberapa istilah yang berkaitan dengan teori

a. b. c. d.
Suicide

The Struggle For Live Gemeinschaft Mode of Production and Suprastruktur Verstehen

e. AGIL f. Protestan Etic and Spirit of Capitalism g. Pattern Variabel ooooooooooooooOOOOOOOOOOLGWOOOOOOOOOOooooooooo

Catatan : Dimohon tidak mengutip / mengopy jawaban teman yang lain. Jika terdapat kasus demikian tidak mendapat nilai

Paradigma Fakta Sosial
Posted on April 24, 2009 by devirahman Tokoh utama dari paradigma fakta social adalah Emile Durkheim Pokok persoalan dalam paradigma ini adalah fakta social. Paradigma ini muncul sebagai wujud rasa keprihatinan Durkheim terhadap pemikiran Comte dan Spencer karena telah membelokan sosiologi ke dalam cabang filsafat dengan mengedepankan ide-ide pemikiran tanpa didukung oleh datadata empiris. Durkheim menghendaki sosiologi menjadi disiplin ilmu otonom yang mempelajari kenyataan-kenyataan yang ada dalam masyarakat (fakta social). Ritzer (2003:18) mengemukakan bahwa secara garis besar fakta social dibedakan menjadi dua tipe, yaitu: 1.
o

1. Stuktur sosial, yaitu jaringan hubungan social di mana interaksi social berproses dan menjadi terorganisir serta melalui mana posisi-posisi

social dari individu dan sub kelompok dapat dibedakan. 2. Pranata sosial, yaitu norma-norma dan pola nilai yang terdapat dalam fakta social, misalnya: kelompok, kesatuan masyarakat tertentu, posisi, keluarga dll. Ritzer (2003:21) juga mengemukakan empat teori dalam paradigma fakta social yaitu: teori fungsionalisme structural, teori konflik, teori system dan teori sosiologi makro. Sebagaimana Ritzer (2003) dalam hal ini akan dibahas mengenai teori dominant atau yang disebut mula-mula yaitu:
• o

1. Teori Fungsionalisme Structural, Tokoh utama teori ini adalah Robert K. Merton. Menurut teori ini masyarakat merupakan suatu system social yang terdiri atas bagian-bagian atau elemen yang saling berkaitan dan saling menyatu dalam keseimbangan. Perubahan yang terjadi pada suatu bagian akan mempengaruhi bagian yang lain. 2. Teori konflik, Tokoh utama teori ini adalah Ralp Dahrendorf. Menurut teori ini masyarakat senantiasa berada dalam proses perubahanyang ditandai oleh pertentangan yang terus menerus diantara unsure-unsurnya

Adapun metode yang biasa digunakan para penganut Paradigma Fakta Sosial adalah metode kuesioner dan interview.

Paradigma Definisi Sosial
Posted on April 24, 2009 by devirahman Tokoh utama dari paradigma definisi social adalah Max Weber. Ritzer (2003:38) mengungkapkan bahwa pokok persoalan dalam paradigma ini adalah tindakan social. Tindakan social adalah tindakan individu sepanjang tindakannya itu mempunyai makna atau arti subjektif bagi dirinya dan diarahkan kepada tindakan orang lain. Lebih lanjut dijelaskan bahwa Weber mengemukakan lima pokok yang menjadi sasaran penelitian sosiologi, yaitu:

1. Tindakan manusia, yang menurut si actor mengandung makna yang subjektif. 2. Tindakan nyata dan yang bersifat membatin sepenuhnya dan bersifat subjektif. 3. Tindakan yang meliputi pengaruh positif dari suatu situasi, tindakan yang sengaja diulang serta tindakan dalam bentuk persetujuan secara diam-diam. 4. Tindakan itu diarahkan kepada seseorang atau kepada beberapa individu. 5. Tindakan itu memperhatikan tindakan orang lain dan terarah kepada orang lain itu. Adapun tiga teori yang yang termasuk ke dalam paradigma definisi social adalah sebagai berikut: 1. Teori Aksi (Action theory), dalam teori ini diterangkan mengenai kesukarelaan. 2. Interaksionisme Simbolik (Simbolic Interaksionism), dalam teori ini diterangkan bahwa organisasi masyarakat manusia merupakan kerangka dimana terdapat tindakan social yang ditentukan oleh kelakuan individunya. 3. Fenomenology (Phenomenology), dalam teori ini diterangkan bahwa ada beberapa kerangka social yang nyata yang dapat dibedakan dari tindakan-tindakan manusia individual, namun demikian teori ini juga melihat bahwa manusia individual sebagai orang yang kreatif terhadap kenyataan dirinya sendiri. Dari perbedaan teori paradigma definisi social di atas, terdapat persamaan sebagai berikut: 1. Manusia adalah merupakan actor yang kreatif dari realitas sosialnya. 2. Realitas social bukan merupakan alat yang statis daripada paksaan fakta social. 3. Manusia mempunyai cukup banyak kebebasan untuk bertindak di luar batas control dari fakta social. Adapun metode yang biasa digunakan para penganut Paradigma Definisi Sosial adalah metode observasi.

Teori Sosial Dalam Tiga Paradigma
Posted on 05 02, 2010 by divafz

(Upaya Memahami Pernik-pernik Sosial)

Realitas

social

merupakan dan

realitas

yang

konpleks, beragam

oleh dalam

karenanya

kemudian

manusia

menjadi

menggambarkan

menginterpretasikannya.

Konpleksitas

realitas social ini paling tidak dapat kita buktikan dengan banyaknya institusi, system, organisasi maupun norma social yang dapat kita saksikan ditengah kehidupan kita. Dalam perspektif fenomenologis misalnya mengatakan bahwa konpleksitas itu berlaku karena secara individual manusia selalu berusaha memaknai realitas yang dihadapi. Setiap manusia memaknai realitas sekitarnya menurut kualitas individual yang dimilikinya. Perbedaan individual (individual deferences) merupakan sebuah kenyataan histories yang melekat dalam diri manusia. Bahwa realitas social merupakan kumpulan individuindividu yang syarat perbedaan. Dengan demikian, konpliksitas realitas social sesungguhnya konsekwensi logis dari konpleksitas individual. Konpleksitas individual yang berimplikasi pada konpleksitas social tersebut ternyata berpengaruh besar terhadap liku-liku tradisi ilmiah yang telah dibangun oleh tokoh-tokoh masa lalu, mulai dari tradisi filsafat sampai dengan tradisi ilmiah-positiv (modern) sekarang ini, bahkan post modernisme sekalipun. Perbedaan bahkan pertentangan yang terjadi antara Aristoteles dan gurunya Plato, polemic rasionalisme, dan bahwa antitesis dibangun empirisme, diatas saja idealisme, betapa dialektika. itu disusul adanya realisme, tradisi Hegel dengan sintesis, pragmatisme pengetahuan mengatakan munculnya lain-lain selalu yang menegaskan tradisi tesis

mengharuskan

demikianlah kira-kira gambaran dialektika yang dimaksud. Dari tradisi dealektika filosofis diataslah macam-macam paradigma dan perspektif dalam ilmu sosial dibangun.

Dalam wacana sosiologi, Zainuddin Maliki dalam buku “Narasi Agung: Tiga Teori Sosial Hegemonik” mengemukakan bahwa paradigma teori social dapat dikelompokkan menjadi tiga yakni paradigma Fakta Sosial, Definisi Sosial dan Perilaku Sosial. Pada masing-masing paradigma terdapat beberapa persepktif (teori) diantaranya: A. Paradigma Herbert Fakta Sosial pondasi (August Comte, Herbert dengan

Spencer) Perspektif Strukturalisme (Herbert Spencer) Spencer strukturalnya memandang bahwa sebuah struktur masyarakat harus melihat individu-individu yang ada di dalamnya sebagai sebuah organisme. Hal ini berbeda dengan pandangan pendahulunya Auguste Comte yang sangat anti-individual. Memang ia bukanlah seorang yang ingin menjelaskan masyarakat—tentang apa yang dibutuhkan mereka dan apa yang harus mereka lakukan untuk memenuhinya— namun ia memberikan pandangan-pandangannya dan memfokuskannya kepada masalah objektif yang dihadapi oleh masyarakat. Seperti masalah agama masyarakat (yang juga menjadi masalah pelik bagi individu dalam cosmos social); yang semula masyarakat pada masanya menggunakan pandangan Teologis untuk melihat gejalagejala social yang ada disekitar mereka, ia ganti dengan pandangan alami, ilmiyah dan positifistik untuk melihat gejala-gejala social itu, itulah salah satu dari sekian banyak usaha intelektual yang ia lakukan, untuk merubah struktur sosial. Pada dasarnya ia banyak dipengaruhi oleh pandangan Naturalisme Darwin, terutama masalah seleksi alam yang menjadi salah satu saduran dalam karya Darwin The Origin Of Species, On The Natural Selection. Oleh karena itulah ia menganggap bahwa kehiduapan

bermasyarakat merupakan hubungan organisme biologis— atas landansan pandangan seperti itulah kemudian Spencer kemudian tidak memperhatikan ranah mental masyarakat. Sebagai organisme masyarakat tumbuh layaknya organisme secara umum yang melewati empat tahap; Tahap Pertambahan, Tahap Komplesifikasi, Tahap Deferensiasi dan Tahap Integrasi. Pertama Tahap Pertambahan, masyarakat oleh tidak sebagai seperti organisme hidup yang pasti mati, akan organsime dalam

mengalami pertambahan atau penggandaan yang dimiliki organisme-organisme kelompok-kelompok social. Organisme kecil akan berevolusi menjadi organisme besar, suku bangsa akan menjadi bangsa, desa akan menjadi kota dan kelompok kecil akan menjadi kelompok besar. Kedua Tahap Kompleksifikasi, setelah terjadinya proses penggandaan atau pertambahan dalam organisme hal selanjutnya yang akan terjadi adalah berubahnya organisme tersebut menjadi lebih kompleks secara simultan. Dari tahap inilah kemudian evolusi memasuki tahap ketiga yaitu Tahap Deferensiasi, dimana secara alami masing-masing organiseme akan menonjolkan perbedaan struktur maupun fungsinya, seiring dengan perkemabangan organisme tersebut. Dalam masyarakat akan terlihat gejala (stratifikasi)—atau terbaginya masyarakat kedalam kelas-kelas social. Tahap terakhir Tahap Integrasi, yang merupakan titik tertinggi dari evolusi masyarakat sebagai organsime, dimana masing-masing organisme berdiri sendiri, yang disebabkan oleh perbedaan fungsi dan perbedaan status social yang terjadinya hal itu tidak bisa terelakkan dalam masyarakat. Perspektif James) Fungsionalisme (Talcott Parsons, William

Struktural Fungsional adalah sebuah paradigma yang bisa

dikatakan seumur dengan renaissance, atau bisa juga dikatakan sebagai salah satu warna penghias ruang dan utilitas renaissance. Paradigma ini muncul sebagai “adik kecil” renaissance yang nantinya akan membesarkan nama harum renaissance sebagai “kakak” yang baik dalam mendidik adiknya. Dari analogi tadi kita mampu melihat dengan jelas betapa dekat dan kuatnya hubungan yang terjalin antara renaissance dengan teori fungsional itu. Tidak hanya hubungan yang kita lihat namun juga sumbangan teori itu kepada renaissance yang demikian terasa sampai abad ini di seluruh belahan dunia terutama barat yang merupakan Ibu kandung mereka. Teori ini memandang bahwa masyarakat harus bertindak sesuai dengan menjauhi fakta dan social ingin yang dialaminya kemasa bukan awal malah sejarah kembali

dibangun. Namun mereka tidak akan mampu menghadapi fakta itu dengan sehat dan menguntungkan tanpa adanya media yang bisa dipergunakan untuk mensikapinya. Salah satu tawaran Fungsionalisme untuk melihat atau menghadapi fakta social adalah Positivistik. Dimana setiap organ social memiliki peran-peran tertentu dalam tataran positif tentunya. Tegasnya struktural fungsional adalah penghargaan organisme peranannya kehidupan kepada setiap keberadaan social demi ini untuk dan fungsi dalam social. sturktur melakukan pada

masing-masing Pandangan

keberlangsungan menekankan

keteraturan masing organisme atau kelompok social dalam setiap interaksi yang terjadi diantara mereka. Perspektif Struktural-konflik (Karl Marx) Hampir semua pandangan dalam alat manalisis social (matter of social analysis) terilhami konteks dari teori Evolusi Darwin. Terutama—dalam diri maupun social—perubahan, pertahanan

kelompok, yang banyak mendapat wahyu dari seleksi alam yang menjadi pemacu evolusi dalam pandangan Darwin. Inilah pandangan yang terakhir dalam paradigma fakta Sosial. Kalau ternyata kemudian dalam pandangan Fungsional lebih menekankan pada keteraturan fungsi dalam kaitannya dengan fungsi yang lain maka dalam pandangan Struktural konflik ini lebih memperhatikan ketegangan, komplik dan ketidak teraturan dalam fakta social sebagai ini bahan lebih kajiannya. Kami pikir dari adanya perspektif sebagai antitesis structural

fungsional, pandangan ini mengatakan bahwa pandangan pendahulunya terlalu berbaik sangka (Positive Thinking) terhadap Fakta social, yang menurutnya merupakan keteraturan-ketaraturan dalam social, namun mereka tidak melihat bahwa dibalik keteraturan itu terdapat berbagai chaos yang melatari, itulah kemungkinan yang sekaligus diyakini sebagai elemen yang paling penting dalam fakta social untuk diperhatikan, itulah statemen yang terdapat dalam pandangan sturktur komplik ini. Pandangan ini mengatakan bahwa keberadaan komplik dalam masyarakat atau social merupakan sebuah anak tangga menuju kemajuan dan keperkembangan. Itulah sebabnya komplik adalah bagian terpenting bahkan arti lain social yang tidak bisa sangkal akan betapa perlu keberadaanya dalam yang masyarakat sosial. Akhir dari paradigma ini Ia atau menemukan muaranya dalam pemikiran seorang Karl Marx mencetuskan social teori sebagai ekonomi-sosialis. sebuah sekolah menganalogikan

bangunan yang didalamnya terdapat kelas-kelas dan persaingan yang ketat antara kelas yang satu dengan yang lain, bahkan terdapat kwalisi-kwalisi di dalamnya untuk saling menguasai demi kepentingan ekonomi. Konflik-

konflik itu dalam istilah yang lebih halus adalah Dealektika, namun ia tidak selembut yang kita lihat ketika ia berada atau diaplikasikan dalam konteks social (Social Current), yang terjadi bukan persaingan manusia yang hanya dengan tujuan perut, malah lebih dari itu; mirip seperti binatang yang memiliki kecerdasan dan keteraturan dalam persaingan yang mereka lakukan B. Paradigma Definisi Sosial (Keikigard, Husserl, Jean Paul Sartre) Perspektif Fenomenologis Sosial dalam segala bentuknya adalah hal yang penuh makna yang masingmasing bentuk social memilikinya. Dari banyak tokoh kita telah mengetahui di atas dengan definisi social mereka yang berbeda-beda. Yang kesemua parsial pandangan yang itu merupakan kualitas-kualitas kalau

dibenturkan antara satu dengan yang lainnya pasti akan terjadi ketimpang tindihan yang tidak menentu. Oleh karena itulah Fenomenologi terlahir sebagai penyempurna semua perspektif dalam fakta social kemudian bisa kami katakan sebagai definisi-definisi social yang dilihat masingmasing dari fakta yang terdapat dipermukaan social (social current) yang masih bersifat sangat parsial. Fenomenologi memandang social telah terpisah dari actor-aktornya atau pelaku social di dalamnya. Oleh karena keterpisahan itulah maka social harus dilihat bukan dari Struktur, fungsi dan Konflik yang ada dipermukaan social itu, namun ia juga harus dilihat dari spirit yang melatari terjadinya hal itu atau melihat fenomena social bukan dari sisi empirisnya, namun emosi-emosi yang melatarinya. Lagi sekali perlu kami tegaskan bahwa dalam perspektif ini yang ditekankan adalah ontology dari social itu sendiri dan bukan empirisnya. Fenomenologi melihat kontruksi social itu sebagai bangunan ontology yang berarti fakta dan esensi

fakta tersebut belum tentu sama, sama halnya dengan permainan politik atau catur sekalipun. Di dalam kedua permainan itu—dalam konteks social—actor bisa saja berada dalam posisi social yang tidak sesuai dengan perannya, tidak seperti sinetron. Perspektif Interaksionisme Simbolik Kami menemukan makna

interaksi simbolik ini di dalam sebuah buku yang berjudul Manusia Satu Dimensi. Di dalam buku tersebut, kelompokkelompok social dalam melakukan interksi dengan kelompok-kelompok social lainnya mengunakan Simbol dalam berinteraksi. Symbol-simbol itulah kemudian yang menyatukan manusia dalam satu paradigma social yang sama. Dengan demikian semua manusia yang masuk kedalam symbol itu kemudian seolah menjelma menjadi satu dimensi yang sama, hubungan, kepentingan, dan dasar pikiran yang sama serta dengan tujuan yang sama pula. Dalam buku itu dipaparkan contoh symbol-simbol yang sekarang menyatukan manusia dalam satu dimensi. Yang paling jelas kami lihat dalam penjelasan itu adalah symbol-simbol ekonomi. Setelah kami membaca sebagian pembahasan dalam buku itu; ternyata metodologi yang digunakan penulis Tapi sebagai kami alat analisa adalah pefenomenologi. namun terjadi menyimpulkan aktifitas bahwa kita

symbolan tersebut tidak hanya terjadi secara universal didalam Agensi setiap dan sebagai (Antonio individu-individu. Strukturasi

Giddens) Karena penulis tidak memiliki pengetahuan yang jelas tentang Agensi dan Strukturasi dan Agensi, maka untuk menemukan makna tersebut penulis menggunakan analisa semiotika pada dua istilah tersebut. Pertama Agensi adalah kata yang menunjukkan penyipatan kata benda yaitu agen. Agen adalah person yang berperan

sebagai penjelas, penyampai, pengarah dan mungkin juga penghukum. Selanjutnya; strukturasi juga merupakan peralihan kata benda menjadi kata sifat. Yang mewakili sebuah tatanan atau tingkatan-tingkatan tertentu. Jadi dapat penulis katakan dari analisa pendek di atas bahwa Agensi adalah penempatan person-person dalam tugas atau wewenang tertentu dalam ranah social. Karena agen tersebut tidak mungkin duduk dalam struktur yang tidak pasti maka dalam setiap struktur social pasti tedapat agen (Messenger) struktur untuk ia mengendalikan, berada di mengontrol setiap yang dalamnya. Perspektif

Konstruksionisme (Max Weber) Weber melihat bahwa di dalam masyarakat itu terdapat sebuah peraturan yang menjadikan masyarakat tersebut menjadi lebih sadar akan apa yang terjadi padanya dan apa yang inilah akan yang dilakukannya. Pandangan “keteraturan”

kemudian oleh Weber ditelorkan menjadi sebuah kontruksi yang memiliki satu titik pusat control yang seharusnya kuat. Dari pandangan seperti itulah kemudian muncul teori Kapitalisme dalam social yang orientasi dasarnya adalah pemenuhan kebutuhan secara ekonomi. Teori kapital ini adalah kelanjutan dari Kapital yang diserukan oleh Marx, namun ada sedikit pembeda di antara keduanya, dimana Marx memandang capital sebagai sesuatu yang hanya terjadi di atas atau permukaan social namun Waber memilihat bahwa Ia tidak sesederhana itu—kapitalisme dalam pandangannya lebih kepada sikap atau moral yang darinya muncul kepermukaan menjadi sebuah aktifitas social yang dilatari oleh kepentingan ekonomi. C. Paradigma Perilaku Sosial (Ivan Pavlov, B.F Skinner, Watson) a. Perspektif social Pertukaran senada Sosial dengan Istilah Istilah pertukaran sepertinya

pertukaran pelajar dalam konteks pendidikan. Dimana terjadi proses saling melengkapi “nilai” oleh kelompok social kepada kelompok social lainnya. Nilai—adalah hal yang sangat luas, kalau dibagi menurut pandangan akademis Nilai bisa dilihat dalam dua bentuk yang pertama Nilai dalam bentuk Kuantitas dan Nilai yang berbentuk Kualitas. Adapun nilai yang berbentuk kuantitas dapat dikenali dengan segala sesuatu yang dapat dikalkulasikan secara nomerik dan matematis dan nilai yang berbentuk kualitas merupakan kebalikan darinya.

SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Sistem Sosial Indonesia
Bahwa setiap sistem sosial selalu ada hubungan timbal balik yang konstan. Konstan artinya apa yang terjadi kemarin merupakan perulangan dari yang sebelumnya, dan besok akan diulang kembali dengan cara yang sama. Dan karena sifatnya yang konstan itulah .maka pola hubungan interaksi itu memeliki sistem tertentu. Organisasi sosial merupakan salah satu sistem sosial, karena adanya serangkaian tindakan yang berulang tetap secara teratur. Ada organisasi sosial seperti misalnya perguruan tinggi yang rangkaian kegiatanya dapat diamati dalam kantor – kantor,dengan jadwal kerja yang teratur . Masyarakat merupakan sistem sosial. Perbedaan yang sangat menyolok antara keduanya adalah bahwa adalah system social ,dimensi yang ditekankan adalah dimensi objektif sedangkan dimensi yang ditetaknkan dalam sisten interaksi dalah dimensi subjektif. Bahwa masyarakat itu

tidak lain dari pada system interaksi.Masyarakat itu tidak lain dari pada pertukaran social semata- mata(social exchange).

Saling Ketergantungan dalam paradigma Fakta Sosial
Dalam konsep saling ketergantungan ( Interdependency),paling kurang ada dua bagian atau lebih,yang saling (inter) menjadi gantungan bagi yang lainya.Kalau bagian gantungan adalah dua,maka gantungan yang satunya adalah pasangan. Hubungan interaksional adalah hubungan saling ketergantungan .Hal ini mudah dimengerti ,karena A tidak mungkin berinteraksi dengan B,kalau kiranya salah satu tidak ada. Hipotesis yang dapat ditarik dari konsep saling ketergantungan adalah bahwa semakin besar suatu system,atau semakin rumit suatu system,semakin besar pula kemungkinan adanya satu atau beberapa elemen yang walaupun penting tetapi terabaikan.Hipotesis ini hanya berlaku untuk system yang elemen – elemen dasarnya adalah manusia.Oleh karena itu ada kecenderungan muncul koalisi yang mencakup elemen-elemen yang sama latar belekang dan kepentinganya,sehingga yang tidak termasuk dalam proses pembentukan koalisi menjadi tidak diperhatikan. Nama lain yang diberikan oleh para ahli sosiologi untuk paradigma fakta social adalah stuktural fungsional atau fungsional structural. DURKHEIM MENGENAL SALING KETERGANTUNGAN DALAM MASYARAKAT

Masyarakat harus dilihat sebagai satu keseluruhan (whole). Masyarakat bukan hanya sekedar kumpulan bagian – bagian belaka,atau masyarakat itu bukan kumpulan individu belaka.Atau dengan kata lain,masyaraka hanya sekedar kumpulan atau tumpukan dan lain-lain. Dhurkeim merumuskan hipotesisnya yang dalam paling hal mendasar ini dapat tentang masyarakat,yakni dengan bahwa kehidupan masyarakat adalah keteraturan moral,ketaturan moral diartikan keteraturan social.Masyarakat tidak dapat ada hanya dengan persetujuan rasional saja,karena persetujuan apapun yang dibau tidak mungkin dapat dipertahankan dan dilaksanakan,kalau sekiranya masing – masing pihak tidak saling mempercayai bahwa merekan akan melaksanakan atau menjalankan apa yang sudah dijanjikan itu. Kepercayaan menurut Durkheim dengan istilah solidaritas karena social,suatu saling keadaan dimana individu keduanya dalam saling masayarakat hidup dalam saing kepercayaan satu sama lain.Dan mereka percaya,maka bergantung.saling membutuhkan dan berharap bahwa janji yang sudah dibuat pasti ditaati. Masyarakat lebih banyak didasarkan pada suatu keteraturan moral/social bersama,dari pada kepentingan pribadi yang bersifat rasional. Setiap peraturan atau kebiasaan dalam masyarakat merupakan fakat social. Jadi dalam suatu masyarakat pasti banyak fakta social.Ada fakta social yang berhubungan dengan fakat ini keluarga,agama,perdangan dan sebagainya.Semua

saling berhubaungan satu sama lain,saling bergantung pula satu sama lain.Yang tidak mungkin dalam fakta ini tidak dapat berdiri sendiri. Adanya perbedaan yang jelas antara Durkheim dan Spancer. Durkheim menekankan keseluruhan sedangkan Spaacer hanya

berlaku untuk individu.Dalam pandangan Spancer individu itu mempengaruhi Dhurkeim adalah keseluruhan ,sedangkan dalam pandangan masyarakat saling justruh keterstuan sebaliknya.Dasar social.Ratio kehidupan penting

,tetapi

percaya(saling tergantung ) jauh lebih penting lagi. Tidak sulit untuk membuktikan bahwa keteraturan social bersama lebih membawa keuntungan social dari pada kepentingan pribadi yang menjadi dasar.

KESADARAN KOLEKTIF
Kata kesadaran diatas merupakan terjemehan dari istilah Inggris Consciousness. Namun demikian ,arti yang dimaksud disini bukan hanya menunjuk pada consciousness,melainkan juga pada conscience. Istilah yang terakhir ini sesungguhnya menunjuk pada pengertian yang agak berlainan dengan yang pertama. Conseince itu berarti hatinurani,atau sering kali juga disebut dengan istilah suara hati.

Elemen – elemen dasar yang terdapat dalam konsep kesadaran kolektif
1. Adanya perasaan termasuk dalam satu komuitas bersama dengan orang – orang lain, karena adanya perasaan seperti itu,maka 2. Orang yang bersangkutan merasa adanya suatu kewajiban moral untuk melaksanakan tuntutan yang diberikan oleh komunitas itu.

Homo dumplek artinya bebasnya manusia yang berarti manusai yang terdiri dari dua unsur : individu dan fakta social.S DURKHEIM TENTANG SOLIDARITAS SOSIAL

Solidaritas merupakan keadaan menjadi satu atau menjadi bersahabat bersama antara yang terdapat yang dengan muncul karena adanya bersama tanggung diantara jawab para kepentingan lain dalam

anggotanya.Istilah – istilah yang mirip dengan solidaritas adalah Stabilitas,kepercayaan integrasi adalah pada kekuatan,persatuan,kesatuan,imigrasi dan sebagainya.Tekanan keseluruhan.Sedangkan tekanan pada konsep soidaritas dalah persatuan dan kesatuan,tanpa harus memikirkan lebih lanjut apakah persatuan dan kesatuan itu merupakan keseluruhan atau tidak,walaupun dalam konsep solidaritas secara tessirat keseluruhan itu sudah ada. Dhurkeim mendifisiskan solidaritas social adalah keadaan saling percaya antara para anggota dalam kelompokatau komunitas.Kalau orang saling percaya mereka akan menjadi satu,menjdai bersahabat,menjadi saling menghormati,menjadi mendorong untuk bertanggung jawab dan memperhatikan kepentingan bersama. Hubungan social sebagai konsep berarti pertaliam antar manusia yang ditandai oleh suatu pola tertentu. Hubungan antara solidaritas social dan kesaran kolektif Tipe Solidaritas 1.Solidaritas Mekanik 2. Solidaritas organik MASYARAKAT MAJEMUK Majemuk berarti banyak,atau lebih dari satu,dalam bahasa Inggrisnya berarti plural.Ide pluralisme sesungguhnya

menunjukkan pada tekanan yang diberikan yang banyak,yang beragam. Butir – butir dalam hal ini antara lain
1. Terpenuhnya kebutuhan – kebutuhan individu dijamin oleh unit – unit kecil pemerintahan,karena hanya unit – unit itulah yang bersifat representative. 2. Kekuasaan pemerintah akan diri yang digunakan untuk – tidak badan asosiasi representative 3. Masyarakat terhalang.apabila dari bermacam – badan

pemerintahan tersebar secara geografis. terd macam ( perkumpulan ) yang bersifat independen.berdiri sendiri, bebas dari pengaruh asosiasi lainya. 4. Asosiasi –asosiasi swasta ini bersifat bebas ( voluntary ) sepanjang tidak ada yang beralifiasi secara penuh dengan hanya salah satu bidang saja. 5. Kebijakan public yang dianggap mengikat semua asosiasi – asosiasi itu,merupakan hasil dari interaksi yang bebas antara mereka sendiri. 6. Pemerintah sipil( bukan militer ) diwjibkan untuk mengamati,melihat dengan teliti akan kepentingan dan bertidak sesuai dengan apa yang diminta oleh orng yang ditunjuk bersama berdasarkan persetujuan kelompok atau asosiasi.

Salah satu difinisi institusi social yang diberikan Peter L Berger adalah predefined pattern of conduct.

Fakta sosial
Fakta sosial inilah yang menjadi pokok persoalan penyelidikan sosiologi. Fakta social dinyatakan oleh Emile Durkheim sebagai barang sesuatu (Thing) yang berbeda dengan ide. Barang sesuatu murni menjadi (spekulatif). objek Tetapi penyelidikan untuk dari seluruh ilmu pengetahuan. Ia tidak dapat dipahami melalui kegiatan mental memahaminya diperlukan

penyusunan data riil diluar pemikiran manusia. Fakta sosial ini menurut Durkheim terdiri atas dua macam :

1. Dalam bentuk material : Yaitu barang sesuatu yang dapat disimak, ditangkap, dan diobservasi. Fakta sosial inilah yang merupakan bagian dari dunia nyata contohnya arsitektur dan norma hukum. 2. Dalam bentuk non-material : Yaitu sesuatu yang ditangkap nyata ( eksternal ). Fakta ini bersifat inter subjective yang hanya muncul dari dalam kesadaran manusia, sebagai contao egoisme, altruisme, Pokok persoalan yang dan harus menjadi pusat opini. perhatian

penyelidikan sosiologi menurut paradigma ini adalah fakta-fakta sosial. Secara garis besar fakta sosial terdiri atas dua tipe, masing-masing adalah struktur sosial dan pranata sosial. Secara lebih terperinci fakta sosial itu terdiri atas : kelompok, kesatuan masyarakat tertentu, system sosial, peranan, nilai-nilai, keluarga, pemerintahan dan sebagainya. Menurut Peter Blau ada dua tipe dasar dari fakta sosial : 1. Nilai-nilai umum ( common values ) 2. Norma yang terwujud dalam kebudayaan atau dalam subkultur. Ada empat varian teori yang tergabung yaitu dalam ke teori dalam yang

paradigma fakta sosial ini. Masing-masing adalah :
1. Teori

Fungsionalisme-Struktural, dan perubahan-perubahan

menekankan kepada keteraturan (order) dan mengabaikan konflik masyarakat. Konsep-konsep utamanya adalah : fungsi, disfungsi, fungsi laten, fungsi manifestasi, dan keseimbangan.

2. Teori Konflik, yaitu teori yang menentang teori sebelumnya

(fungsionalisme-struktural) dimana masyarakat senantiasa berada dalam proses yang perubahan yang ditandai menerus diantar oleh pertentangan terus unsure-

unsurnya. Tokoh utama dari paradigma fakta social adalah Emile Durkheim Pokok persoalan dalam paradigma ini adalah fakta social. Paradigma ini muncul sebagai wujud rasa keprihatinan Durkheim terhadap pemikiran Comte dan Spencer karena telah membelokan sosiologi ke dalam cabang filsafat dengan mengedepankan ide-ide pemikiran tanpa didukung oleh data-data empiris. yang Durkheim dalam menghendaki sosiologi menjadi disiplin ilmu otonom yang mempelajari kenyataan-kenyataan ada masyarakat (fakta social). Ritzer (2003:18) mengemukakan bahwa secara garis besar fakta social dibedakan menjadi dua tipe, yaitu:
a. Stuktur sosial, yaitu jaringan hubungan social di

mana

interaksi

social

berproses

dan

menjadi

terorganisir serta melalui mana posisi-posisi social dari individu dan sub kelompok dapat dibedakan.
b. Pranata sosial, yaitu norma-norma dan pola nilai

yang

terdapat

dalam

fakta

social,

misalnya:

kelompok, kesatuan masyarakat tertentu, posisi, keluarga dll. Ritzer (2003:21) juga mengemukakan empat teori dalam paradigma fakta social yaitu: teori fungsionalisme structural, teori konflik, teori system dan teori sosiologi makro. Sebagaimana Ritzer (2003) dalam hal ini akan dibahas mengenai teori dominant atau yang disebut mula-mula yaitu: Teori Fungsionalisme Structural, Tokoh utama teori ini adalah Robert K. Merton. Menurut teori ini masyarakat merupakan

suatu system social yang terdiri atas bagian-bagian atau terjadi bagian elemen pada yang suatu saling bagian yang berkaitan akan dan saling menyatu dalam keseimbangan. Perubahan yang mempengaruhi lain.

Teori konflik, Tokoh utama teori ini adalah Ralp Dahrendorf. Menurut teori ini masyarakat senantiasa berada dalam proses perubahan yang ditandai oleh pertentangan yang terus menerus diantara unsureunsurnya
Diposkan oleh http.awiek. blogspot,com di 20:49

Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda Pendahuluan Buku yang menjadi resensi saya dibawah ini merupakan buku pokok dalam mata kuliah dasar-dasar Sosiologi berjudul “ Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda “ yang ditulis oleh George Ritzer, seorang pakar sosiolog sekaligus filosof ini memiliki nilai bobot ilmiyah yang sangat baik untuk dijadikan sebagai buku pokok dan acuan mahasiswa yang mempelajari konsep sosiologi ataupun berupa pengantar. Buku asli yang berjudul Bab I Status Paradigma Sosiologi Dalam paparan awalnya ini penulis buku menggambarkan dan menjelaskan tentang asal-usul lahirnya sebuah ilmu sosiologi. Dimana penulis menerangkan sejarah lahir dan terbentuknya “ Sosiology A Multiple Paradsigm Science “ ini diterjemahkan oleh Drs. Alimandan.

cabang ilmu ini mulai pemisahan diri dari filsafat positif hingga memiliki nilai empiris bahkan terbentuknya paradigma sosiologi. Thomas Kuhn sebagai penggagas menempati konsep posisi tentang sentral istilah pertamakali cukup lama. Paradigma adalah pandangan yang mendasar dari ilmuwan tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang semestinya dipelajari oleh suatu cabang ilmu pengetahuan. Gagasan Kuhn mengenai paradigma inilah yang mendorong generasi setelahnya yaitu Robert Friederich, Lodahl dan Cordon, Philips, Efrat ikut mempopulerkan istilah paradigma yang digagas oleh Kuhn. Kuhn melihat bahwa ilmu pengetahuan pada waktu tertentu didominasi oleh satu paradigma tertentu. Yakni suatu pandangan yang mendasar tentang apa yang menjadi pokok persoalan (subject matter) dari suatu cabang ilmu. Kemudian istilah Kuhn ini menjadi suatu yang sangat tidak memiliki kejelasan hingga timbul istilah paradigma dipergunakan tak kurang dari dua puluh satu konsep paradigma yang kemudian direduksir oleh Masterman menjadi 3 bagian besar yaitu :
1. Paradigma

paradigma

ditengah

perkembangan sosiologi hingga menempati kurun dekade yang

Metafisik

:

Paradigma

ini

berfungsi tertentu

menunjukkan sesuatu yang ada, serta menunjukkan suatu komunitas dari ilmuwan nyata, serta 2. Paradigma Sosiologi : Pardigma sosiologi terbentuk kebiasaan-kebiasaan yang di terima, yang keputusan-keputusan hasil-hasil secara nyata ilmu hukum

pengetahuan yang di terima secara umum. (hasil dari ilmu pengetahuan diterima umum.) 3. Paradigma Konstrak : Pemahaman paradigma yang paling sempit karena hanya memperhatikan satu aspek saja.

Sebab terjadinya perbedaan antar komunitas dalam suatu cabang ilmu: 1. Karena dari semula pandangan filsafat yang mendasari pemikiran ilmuwan itu berbeda-beda. (perbedaan pandangan yang berbeda-beda. 3. Metode yang digunakan untuk memahami substansi ilmu juga berbeda-beda. Sehingga oleh Ritzer dapat ditarik kesimpulan bahwa sosiologi itu terdiri atas kelipatan beberapa paradigma. Dimana diantaranya terdapat pergulatan pemikiran yang terjelma dalam eksemplar, teori-teori, metode, serta perangkat yang digunakan masing-masing komunitas ilmuwan yang termasuk kedalam paradigma tertentu. BAB II Paradigma Fakta Sosial Fakta sosial inilah yang menjadi pokok persoalan penyelidikan sosiologi. Fakta social dinyatakan oleh Emile Durkheim sebagai barang sesuatu (Thing) yang berbeda dengan ide. Barang sesuatu murni menjadi (spekulatif). objek Tetapi penyelidikan untuk dari seluruh ilmu pengetahuan. Ia tidak dapat dipahami melalui kegiatan mental memahaminya diperlukan penyusunan data riil diluar pemikiran manusia. Fakta sosial ini menurut Durkheim terdiri atas dua macam : 1. Dalam bentuk material : Yaitu barang sesuatu yang dapat disimak, ditangkap, dan diobservasi. Fakta sosial inilah yang merupakan bagian dari dunia nyata contohnya arsitektur dan norma hukum. 2. Dalam bentuk non-material : Yaitu sesuatu yang ditangkap mendasar). 2. Teori-teori yang dikembangkan oleh komunitas ilmuwan

nyata ( eksternal ). Fakta ini bersifat inter subjective yang hanya muncul dari dalam kesadaran manusia, sebagai contao egoisme, altruisme, Pokok persoalan yang dan harus menjadi pusat opini. perhatian

penyelidikan sosiologi menurut paradigma ini adalah fakta-fakta sosial. Secara garis besar fakta sosial terdiri atas dua tipe, masing-masing adalah struktur sosial dan pranata sosial. Secara lebih terperinci fakta sosial itu terdiri atas : kelompok, kesatuan masyarakat tertentu, system sosial, peranan, nilai-nilai, keluarga, pemerintahan dan sebagainya. Menurut Peter Blau ada dua tipe dasar dari fakta sosial : 1. Nilai-nilai umum ( common values ) 2. Norma yang terwujud dalam kebudayaan atau dalam subkultur. Norma-norma dan pola nilai ini biasa disebut institution atau di sini diartikan dengan pranata. Sedangkan jaringan hubungan sosial di mana interaksi sosial berproses dan menjadi terorganisir serta sosial. Ada 1. empat Teori varian teori yang tergabung yaitu ke teori dalam yang melalui mana posisi-posisi sosial dari individu dan kelompok dapat dibedakan, sering diartikan sebagai struktur

paradigma fakta sosial ini. Masing-masing adalah : Fungsionalisme-Struktural, menekankan kepada keteraturan (order) dan mengabaikan konflik dan perubahan-perubahan dalam masyarakat. Konsepkonsep utamanya adalah : fungsi, disfungsi, fungsi laten, fungsi manifestasi, dan keseimbangan. masyarakat merupakan suatu sistem sosial yang terdiri atas bagian-bagian atau elemen yang saling berkaitan dan saling menyatu dalam keseimbangan. Kalau terjadi konflik, penganut

teori

fungsionalisme

struktural

memusatkan dalam

perhatiannya keseimbangan

kepada masalah bagaimana cara menyelesaikannya sehingga masyarakat tetap Golongan ini bersifat konservatif. Masyarakat menurut teori ini, senantiasa berada dalam keadaan berubah secara berangsurangsur dengan tetap memelihara keseimbangan. 2. Teori Konflik, yaitu teori yang menentang teori sebelumnya (fungsionalisme-struktural) berada dalam proses dimana perubahan masyarakat yang senantiasa oleh ditandai

pertentangan yang terus menerus diantar unsure-unsurnya. Setiap elemen memberikan sumbangan terhadap disentegrasi sosial. Menilai keteraturan yang terdapat dalam masyarakat itu hanyalah disebabkan karena adanya tekanan atau pemaksaan kekuasaan dari atas oleh golongan yang berkuasa 3. Teori Sistem, dan 4. Teori Sosiologi Makro Dalam melakukan pendekatan terhadap pengamatan fakta sosial ini dapat dilakukan dengan berbagai metode yang banyak untuk ditempuh, baik interviu maupun kuisioner yang terbagi lagi menjadi berbagai cabang dan metode-metode yang semakin berkembang. Kedua metode itulah yang hingga kini masih tetap dipertahankan oleh penganut paradigma fakta sosial sekalipun masih adanya terdapat kelemahan didalam kedua metode tersebut. BAB III Paradigma Definisi Sosial Paradigma pada definisi ini mengacu pada apa yang ditegskan oleh Weber sebagai tindakan sosial antar hubungan social. Inti

tesisnya adalah “ tindakan yang penuh arti “ dari individu. Yang dimaksudkannya adalah sepanjang tindakannya itu mempunyai makna atau arti subyektif bagi dirinya dan diarahkan kepada tindakan orang lain. Ada tiga teori yang termasuk kedalam paradigma definisi sosial ini. Masing-masing : Teori Aksi (action theory), Interaksionisme Simbolik (Simbolik Interactionism), dan Fenomenologi (Phenomenology). 1) Tindakan yang nyata-nyata diarahkan kepada orang lain. Juga dapat berupa tindakan yang bersifat “membatin” atau bersifat subyektif yang mungkin terjadi karena pengaruh posistif dari situasi tertentu. Atas dasar rasionalitas tindakan sosial, Weber membedakannya ke dalam 4 tipe. Semakin rasional tindakan sosial itu semakin mudah dipahami. 1. Zwerk Rational yakni tindakan sosial murni. Aktor menentukan nilai tujuan itu sendiri. 2. Werktrational action yakni aktor tidak dapat menilai apakah cara-cara yang dipilihnya itu merupakan yang paling tepat ataukah lebih tepat untuk mencapai tujuan orang lain. 3. Affectual action, yakni tindakan yang dibuat-buat. Dipengaruhi oleh perasaan emosi dan kepura-puraan si aktor. 4. Traditional action, yakni tindakan yang didasarkan atas kebiasaan dalam mengerjakan sesuatu di masa lalu saja. 2) Social relationship, yakni Tindakan yang beberapa aktor yang berbeda-beda, sejauh tindakan itu mengandung makna dan dihubungkan serta diarahkan kepada tindakan orang lain. Teoriteori social relationship : a) Teori Aksi (action theory) Tindakan sosial merupakan suatu proses dimana aktor terlibat dalam dipilih, pengambilan yang keputusan-keputusan itu dibatasi subyektif oleh tentang sarana dan cara untuk mencapai tujuan tertentu yang telah kesemuanya kemungkinankemungkinannya oleh sistem kebudayaan dalam bentuk norma-

norma, Fakta sosial

ide-ide, bukanlah

dan merupakan

nilai-nilai barang sesuatu

sosial. yang

b) Teori Interaksionisme Simbolik mengendalikan dan memaksakan tindakan manusia. Fakta sosial yang sebagai aspek yang memang penting dalam kehidupan masyarakat, ditempatkannya di dalam kerangka simbol-simbol interaksi manusia. 3) Teori Fenomenologi yakni Tindakan manusia menjadi suatu hubungan sosial bila manusia memberikan arti atau makna tertentu dalam tindakannya itu, dan manusia lain memahami pula tindakannya itu sebagai sesuatu yang penuh arti. Pemahaman secara subyektif terhadap suatu tindakan sangat menentukan terhadap kelangsungan proses interaksi sosial. Ada 4 unsur pokok dalam teori ini: 1. Perhatian terhadap actor 2. Memusatkan perhatian kepada kenyatan yang penting atau yang pokok dan kepada sikap yang wajar atau alamiyah (natural attitude) 3. Memusatkan perhatian kepada masalah mikro 4. Memperhatikan pertumbuhan, perubahan, dan proses tindakan. Ketiga teori diatas mempunyai kesamaan ide dasarnya bahwa menurut pandangannya : manusia adalah merupakan aktor yang kreatif dari realitas sosialnya. Selain itu dalam ketiga pembahasan ini pula mempunyai cukup banyak kebebasan untuk bertindak diluar batas kontrol dari fakta sosial itu. Sesuatu yang terjadi didalam pemikiran manusia antara setiap stimulus dan respon yang dipancarkan, menurut ketiga teori ini adalah merupakan hasil tindakan kreatif manusia. Dan hal inilah yang menjadi sasaran perhatian paradigma definisi sosial. Sehingga

secara umum dapat dikatakan bahwa penganut ketiga teori yang termasuk kedalam paradigma definisi sosial ini membolehkan sosiolog untuk memandang manusia sebagai pencipta yang relatif Disini pula bebas terletak didalam perbedaan dunia yang sosialnya. antara sebenarnya

paradigma definisi sosial ini dengan paradigma fakta sosial. Paradigma fakta sosial memandang bahwa perilaku manusia dikontrol oleh berbagai norma, nilai-nilai serta sekian alat pengendalian sosial lainnya. Sedangkan perbedaannya dengan paradigma perilaku sosial adalah bahwa yang terakhir ini melihat tingkahlaku kemungkinan BAB IV Paradigma Perilaku Sosial Seperti yang dipaparkan sosial ini pembahasan yang sebelumnya, perilaku bahwa manusia yang faktor antara paradigma ini memiliki perbedaan yang cukup prinsipil dengan paradigma menurut fakta cenderung dikontrol oleh norma. Secara singkat pokok persoalan sosiologi paradigma adalah atau tingkahlaku perubahan individu dalam brelangsung dalam hubungannya dengan faktor lingkungan yang menghasilkan tingkahlaku. aktor. Penganut paradigma ini mengaku memusatkan perhatian kepada proses interaksi. Bagi paradigma ini individu kurang sekali memiliki kebebasan. Tanggapan yang diberikannya ditentukan oleh sifat dasar stimulus yang dating dari luar dirinya. Jadi tingkahlaku manusia lebih bersifat mekanik dibandingkan akibat-akibat Jadi terdapat lingkungan menimbulkan yang berpengaruh terhadap perubahan hubungan fungsional tingkahlaku dengan perubahan yang terjadi dalam lingkungan mansuia sebagai senantiasa kekuatan dikendalikan oleh penggunaan (re-enforcement).

dengan 1.

menurut

pandangan

paradigma teori

definisi ini

sosial.

Ada dua teori yang termasuk kedalam paradigma perilaku sosial. Behavioral Sociology Theory, memusatkan perhatiannya pada hubungan antara akibat dari tingkahlaku yang terjadi di dalam lingkungan aktor dengan tingkahlaku aktor, khususnya yang dialami sekarang oleh si aktor. Teori ini berusaha menerangkan tingkah laku yang terjadi itu melalui akibat-akibat yang mengikutinya kemudian. Konsep dasar Behavioral Sosiology yang menjadi pemahamannya adalah: “reinforcement” yang dapat diartikan sebagai ganjaran (reward). Tak ada sesuatu yang melekat dalam obyek yang dapat menimbulkan ganjaran. 2. Exchange Theory, teori ini dibangun dengan maksud sebagai rekasi terhadap paradigma fakta sosial, Keseluruhan materi Teori Exchange secara garis besarnya dapat dikembalikan kepada lima preposisi George Homan berikut: 1. Jika tingkah laku atau kejadian yang sudah lewat dalam konteks stimulus dan situasi tertentu memperoleh ganjaran, maka besar kemungkinan tingkah laku atau kejadian yang mempunyai hubungan stimulus dan situasi yang sama akan terjadi atau dilakukan. 2. Menyangkut frekuensi ganjaran yang diterima atas tanggapan atau tingkah laku tertentu dan kemungkinan terjadinya peristiwa yang sama pada waktu sekarang. 3. Memberikan arti atau nilai kepada tingkah laku yang diarahkan oleh orang lain terhadap aktor. 4. Makin sering orang menerima ganjaran atas tindakannya dari orang lain, makin berkurang nilai dari setiap tindakan yang dilakukan lain, makin besar kemungkinan orang selanjutnya. tersebut akan emosi. 5. Makin dirugikan seseorang dalam hubungannya dengan orang mengembangkan

Terutama menyerang ide Durkheim secara langsung dari tiga jurusan • Pandangannya tentang psikologi • Metode penjelasan dari Durkheim Paradigma perilaku sosial ini dalam penerapan metodenya dapat pula menggunakan dengan dua metode sebelumnya yaitu kuisioner, interview, dan observasi. Namun demikian, paradigma ini lebih banyak menggunakan metode eksperimen dalam penelitiannya. BAB V Perbedaan Antar Paradigma (Suatu Penilaian) Melalui penjelasan-penjelasan singkat diketiga bab diatas, maka tugas bab ini adalah mencari perbedaan-perbedaan yang terjadi diketiga paradigma diatas. Satu hal yang penting untuk diangkat adalah sisi point dari bab yang cukup panjang ini adalah dengan membaginya diantaranya menjadi adalah beberapa pointer-pointer berikut penting, : sebagai : • Pandangannya tentang emergence

1. Behaviorisme selain disukai banyak sosiolog juga merupakan perspektif utama sosiologi kontemporer. Sebagian besar analisa sosiologi mengabaikan arti penting behaviorisme. 2. Konsepsi umum yang memisahkan antara teori fungsionalisme struktural dan teori konflik adalah menyesatkan. Kedua teori itu lebih banyak unsur persamaannya ketimbang perbedaannya, karena keduanya tercakup dalam satu paradigma. Perbedaan fundamental dalam sosiologi terdapat diantara ketiga paradigma yang telah dibicarakan. 3. Implikasi lain ialah adanya hubungan antara teori dan metode

yang selalu dikira dipraktekkan secara terpisah satu sama lain. Umumnya terdapat keselarasan antara teori dan metode. 4. Ada irrasionalitas dalam sosiologi. Kebanyakan sosiolog yang terlibat dalam pekerjaan teoritis dan metodologis tidak memahami kaitan erat antara keduanya. Teoritisi yang mengira bahwa mereka beroposisi sama sekali antara yang satu dengan yang lain (antara teori konflik dan fungsionalisme struktural), nyatanya berkaitan satu sama lain. Terlihat bahwa peneliti sering memakai metode yang tak cocok untuk mencapai yujuan penelitian mereka. 5. Terakhir dan terpenting, pertentangan antar paradigma sosiologi sangat bersifat politis. Tiap paradigma bersaing disetiap bidang sosiologi. Kebanyakan upaya dicurahkan semata-mata untuk menyerang lawan dari paradigma lain dengan berondongan kata-kata yang berlebih-lebihan. Seharusnya kita mencurahkan waktu sesedikit mungkin untuk menyerang lawan dan sebanyak-banyaknya untuk memahami pendapat mereka. Kita sudah semestinya mulai memahami bagaimana caranya memanfaatkan pemikiran paradigma lain guna mengembangkan perspektif yang lebih menyatu.

BAB VI Menuju Paradigma Sosiologi Yang Terpadu Paradigma Sosiologi yang terpadu itu harus menjelaskan : - kesatuan makro-obyektif seperti birokrasi, - struktur makro-subyektif seperti kultur,

- fenomena mikro-obyektif seperti pola-pola imteraksi sosial, dan fakta-fakta mikro-subyektif seperti proses pembentukan realitas. Lalu hubungan antara keempat ini dapat diuraikan menjadi satu bentuk tabel seperti dibawah ini : Tingkatan realitas social Paradigma Sosiologi Paradigma fakta sosial memusatkan perhatian terutama kepada realitas sosial pada tingkatan makro-obyektif dan makrosubyektif. Paradigma definisi sosial memusatkan perhatian

kepada realitas sosial pada tingkatan mikro-subyektif dan sebagai mikro-obyektif yang tergantung kepada proses-proses mental (tindakan). Paradigma perilaku sosial menjelaskan sebagian realitas sosial pada tingkatan mikro-obyektif yang tak tercakup kepada proses mental atau proses berfikir, yakni yang menyangkut tingkahlaku yang semata-mata dihasilkan stimuli yang dating dari luar diri actor, yang disini disebut sebagai ‘behavior’ itu. Kesimpulan Sosiologi adalah ilmu pengetahuan berparadigma banyak, mengapa dikatakan demikian ? hal ini dikarenakan, antara paradigma yang satu dengan paradigma yang lain terdapat perbedaan bahkan pertentangan pandangan tentang disiplin sosiologi sebagai suatu kebulatan dan tentang batas-batas bidang paradigma itu masing-masing. Dalam bidang ilmu ini terdapat bebrapa paradigma yang memaparkan dan dan menjelaskan yang cabang-cabang ilmu paradigmanya sosiologi ini spsesifikasi :

bidangnya masing-masing. Setidaknya terdapat 3 paradigma mendasari diantaranya 1. Paradigma Fakta Sosial, yang dibagi lagi menjadi dua objek

kajian a. struktur sosial, dan b. pranata social

:

2. Paradigma Definisi Sosial, yang terbagi menjadi tiga teori diantaranya : a. Teori Aksi (action theory), b. Interaksionisme Simbolik (Simbolik Interactionism), dan c. Fenomenologi (Phenomenology). 3. Paradigma Perilaku Sosial, terbagi menjadi dua teori : diantaranya a. Behavioral Sociology Theory b. Exchange Theory Ketiga paradigma teori tersebut telah dipaparkan penjelasannya diatas beserta dengan cabang-cabang teori yang mendukung kostrruk paradigmanya. Selain itu juga banyak spesifikasi yang diberikan oleh para ahli dalam memberikaj suatu asumsi-asumsi terhadap paradigma tersebut dengan penjelasannya masingmasing. Tanggapan Substansi buku ini telah dapat dikatakan sempurna dikarenakan Ritzer mengangkat tema-per temanya sesuai dengan penjelasan yang tepat diberikan oleh para ahli dibidangnya masing-masing. Dalam buku ini Ritzer pun tak jarang memberikan bantahanbantahannya, atau bahkan terkadang memberikan komparatif terhadap satu paradigma dengan paradigma lainnya. Namun mungkin yang ada adalah kelemahan dari penyadurnya, dimana buku yang diterjemahkannya ini masih terdapat seringkali keruwetan dalam penggunaan tanda baca. Dan juga seperti apa yang dituliskan oleh penyadurnya yaitu kelemahan dari buku yang disadurnya adalah berpangkal dari keterbatasan dan

kemampuan dalam mencernakan ‘grand theories’ dari Ritzer ini. Tapi secara totalitas di buku yang tipis ini penjelasan tentang mengapa sosiologi menjadi terdiri dari berbagai paradigma telah tercakup dengan lengkap dibuku ini dengan baik.

http://adjhee.wordpress.com/2007/12/12/resume-sosiologi-ilmupengetahuan-berparadigma-ganda/

Pengantar Sosiologi

Sosiologi adalah suatu ilmu sosial yang mempelajari tentang hubungan yang terjadi dalam masyarakat (interaksi sosial) dan proses yang terjadi akibat hubungan tersebut masyarakat, serta mempelajari fakta-fakta yang ada dimasyarakat yang mungkin dapat dipakai untuk menyelesaikan masalah yang muncul dalam masyarakat tersebut. Sehingga dalam pengantar sosiologi ini kita akan mempelajari mulai dari masyarakat itu sendiri, proses interaksi dalam masyarakat, proses sosialisasi, kebudayaan, stratifikasi, perubahan sosial, kekuasaan, wewenang dan kepemimpinan sampai pada masalah-masalah sosial.

Auguste Comte dan Positivisme In Barat, Filsafat, Makalah, Positivisme on Februari 7, 2009 at 6:24 am Bagi kalangan awam kata ’positif’ lebih mudah dimaknai sebagai ’baik’ dan ’berguna’ sebagai antonim dari kata negatif. Pemahaman awam ini bukannya tanpa dasar, karena jika kita membaca, misalnya, kamus saku Oxford kita akan menemukan ’baik’ dan ’berguna’ dalam daftar makna untuk kata positive.[1] Dalam terma hukum, kita terbiasa mendengar hukum positif yang sering diperlawankan dengan hukum agama, hukum adat dan hukum-hukum yang lain. Hukum positif berarti hukum, dan juga hukuman, yang dibuat dan dilaksanakan oleh manusia dan berdasar rasionalitas. Disini, kata positif dimaknai secara berbeda. Tapi, arti ini, sekali lagi, tidak bertentangan dengan makna leksikal dari kata ini. Dalam kamus saku Oxford, makna jelas adalah arti kelima bagi kata positive. Dalam konteks epistemologi, kata positive, yang pertama kali digunakan Auguste Comte, berperan vital dalam ”mengafirkan” filsafat dan sains di Barat, dengan memisahkan keduanya dari unsur agama dan metafisis, yang dalam kasus Comte berarti mengingkari hal-hal non-inderawi.[2] Hal ini, yang kemudian berkembangan menjadi paradigma positivistik ini, merasuk ke perkembangan saintifik, dalam ilmu-ilmu alam maupun ilmu-ilmu humaniora. Tulisan pendek ini akan mencoba memaparkan Auguste Comte dan positivisme yang diperkenalkannya. AUGUSTE COMTE Auguste Comte, yang bernama lengkap Isidore Marie Auguste Francois Xavier Comte, di lahirkan di Montpellier Prancis selatan pada 17 Januari 1798. Setelah menyelesaikan pendidikan di Lycee Joffre dan Universitas Montpellier, Comte melanjutkan

pendidikannya

di

Ecole

Polytechnique

di

Paris.[3]

Masa

pendidikannya di École Polytechnique dijalani selama dua tahun, antara 1814-16. Masa dua tahun ini berpengaruh banyak pada pemikiran Comte selanjutnya. Di lembaga pendidikan ini, Comte mulai meyakini kemampuan dan kegunaan ilmu-ilmu alam.[4] Pada Agustus 1817 Comte menjadi sekertaris, dan kemudian menjadi anak angkat, Henri de Saint-Simon, setelah comte di usir dan hidup dari mengajarkan matematika. Persahabatan ini bertahan hingga setahun sebelum kematian Saint-Simon pada 1825. Saint-Simon adalah orang yang tidak mau diakui pengaruh intelektualnya oleh Comte, sekalipun pada kenyataannya pengaruh ini bahkan terlihat dalam kemiripan karir antara mereka berdua. Selama kebersamaannya dengan Saint-Simon, dia membaca dan dipengaruhi oleh, sebagaimana yang diakuinya, Plato, Montesquieu, Hume, Turgot, Condorcet, Kant, Bonald, dan De Maistre, yang karya-karya mereka kemudian di kompilasi oleh menjadi dua karya besarnya, the Cours de Philosophie Positive dan Systeme de Politique Positive. Selama lima belas tahun masa akhir hidupnya, Comte semakin terpisah dari habitat ilmiahnya dan perdebatan filosofis, karena dia meyakini dirinya sebagai pembawa agama baru, yakni agama kemanusiaan.[5] Pada saat Comte tinggal bersama Saint-Simon, dia telah merencanakan publikasi karyanya tentang filsafat positivisme yang diberi judul Plan de Travaux Scientifiques Necessaires pour Reorganiser la Societe (Rencana Studi Ilmiah untuk Pengaturan kembali Masyarakat). Tapi kehidupan akademisnya yang gagal menghalangi penelitiannya. Dari rencana judul bukunya kita bisa melihat kecenderungan utama Comte adalah ilmu sosial.[6] Secara intelektual, kehidupan Comte dapat diklasifikasikan menjadi tiga tahapan. Pertama, ketika dia bekerja dan bersahabat dengan Saint-Simon. Pada tahap ini pemikirannya

tentang

sistem

politik

baru

dimana

fungsi

pendeta

abad

pertengahan diganti ilmuwan dan fungsi tentara dialihkan kepada industri. Tahap kedua ialah ketika dia telah menjalani proses pemulihan mental yang disebabkan kehidupan pribadinya yang tidak stabil. Pada tahap inilah, Comte melahirkan karya besarnya tentang filsafat positivisme yang ditulis pada 1830-42. Kehidupan Comte yang berpengaruh luas justru terletak pada separuh awal kehidupannya.[7] Tahap ketiga kehidupan intelektual Comte berlangsung ketika dia menulis A Sytem of Positive Polity antara 1851-54.[8] Dalam perjalanan sejarah, alihalih dikenal sebagai filosof, Comte lebih dikenal sebagai praktisi ilmu sejarah dan pembela penerapan metode saintifik pada penjelasan dan prediksi tentang institusi dan perilaku sosial. Pada 5 September 1857 tokoh yang sering disebut sebagai bapak sosiologi modern ini meninggal dunia.[10] KELAHIRAN FILSAFAT POSITIVISTIK[11] Pada dasarnya positivisme adalah sebuah filsafat yang meyakini bahwa satu-satunya pengetahuan yang benar adalah yang didasarkan pada pengalaman aktual-fisikal. Pengetahuan demikian hanya bisa dihasilkan melalui penetapan teori-teori melalui metode saintifik yang ketat, yang karenanya spekulasi metafisis dihindari. Positivisme, dalam pengertian diatas dan sebagai pendekatan telah dikenal sejak Yunani Kuno dan juga digunakan oleh Ibn al-Haytham dalam karyanya Kitab alManazhir. kesembilan Sekalipun demikian, konseptualisasi positivisme belas.[12] sebagai sebuah filsafat pertama kali dilakukan Comte di abad Dalam karya besarnya, Comte mengklaim bahwa dari hasil studi tentang perkembangan intelektual manusia sepanjang sejarah kita bisa menemukan hukum yang mendasarinya. Hukum ini,

yang kemudian dikenal sebagai Law of Three Stages, yang setiap konsepsi dan pengetahuan manusiawi pasti melewatinya, secara berurutan adalah kondisi teologi yang bercorak fiktif, kondisi metafisis yang bercorak abstrak, dan saintifik atau positive. Bagi Comte, pikiran manusia berkembang dengan melewati tiga tahap filsafati, yang berbeda dan berlawanan.[13] Dari tiga tahap pemikiran manusia ini, yang pertama mestilah menjadi titik awal pemahaman manusia dalam memahami dunia. Sedangkan tahap ketiga adalah tahap akhir dan definitif dari intelektualitas manusia. Tahap kedua hanyalah menjadi tahap transisi saja.[14] Pengaruh terhadap pemikiran Comte tentang Hukum Tiga Tahap bisa dilacak pada iklim intelektual abad delapan belas dimana banyak ilmuan sampai pada simpulan tentang tahapan-tahapan sejarah. Beberapa diantara pemikir yang berpengaruh adalah Turgot, Quesnay, Condorcet, dan Robertson yang berpandangan tentang multi-tahap perkembangan ekonomi dalam sejarah manusia. Menjelang penemuan Hukum Tiga Tahap, Comte telah akrab dengan skema yang mirip yang diadopsi oleh Condorcet dari karya Turgot Second Discourse on Universal History, dan oleh Saint-Simon dari Condorcet. Tentang tiga tahap perkembangan intelektualitas manusia Turgot menulis: ”Before men were conversant with the mutual interconnection of physical effects, nothing was more natural than to suppose that these were produced byintelligent beings, invisible and resembling ourselves. Everything that happened…had its god… When the philosophers had recognised the absurdity of these fables…the idea struck them to explain the causes of phenomena by way of abstract expressions like essences and faculties: expressions which in fact explained nothing, and about which men reasoned as if they were beings, new gods substituted for the old ones. Following these analogies, faculties were

proliferated in order to provide a cause for each effect. It was only much later, through observation of the mechanical action which bodies have upon one another, that men derived from this mechanics other hypotheses which mathematics was able to develop and experiment to verify.” Oleh Comte, skema Turgot disebut sebagai hukum mendasar (great bidang fundamental law) yang secara pasti memengaruhi keseluruhan perkembangan intelektual manusia dalam seluruh pengetahuan.[15] Sebenarnya kata positive tidak hanya digunakan oleh Comte. Kata ini telah umum digunakan pada abad delapan belas, khususnya pada paruh kedua. Namun Comte adalah orang yang bertanggung jawab atas penerapan positivisme pada filsafat.[16] Filsafat positivistik ini dibangun berdasarkan dua hal, yaitu filsafat kuno dan sains modern (baca: capaian sains hingga zaman Comte). Dari filsafat kuno, Comte meminjam pengertian Aristoteles tentang filsafat, yaitu konsep-konsep teoritis yang saling berkaitan satu sama lain dan teratur. Dari sains modern, Comte menggunakan ide positivistik a la Newton, yakni metode filsafati yang terbentuk dari serangkaian teori yang memiliki tujuan mengorganisasikan realitas yang tampak. Sebagaimana diakui Comte sendiri, ada kemiripan antara antara filsafat positivistik (philosophie positive) dan filsafat alam (natural philosophy) di Inggris. Pemilihan terhadap filsafat positivistik sebagai nama bagi sistem pemikiran yang dibangunnya karena filsafat positivistik hanya mencoba untuk menganalisis efek dari sebab-sebab sebuah fenomena dan menghubungkannya satu sama lain.[17] PENGARUH POSITIVISME COMTE

Positivisme Comte,

yang

diperkenalkan Mill,

Comte

berpengaruh

pada

kehidupan intelektual abad sembilan belas. Di Inggris, sahabat Jhon Stuart dengan antusias memerkenalkan pemikiran Comte sehingga banyak tokoh di Inggris yang mengapresiasi karya besar Comte, diantaranya G.H. Lewes, penulis The Biographical History of Philosophy dan Comte’s Philosophy of Sciences; Henry Sidgwick, filosof Cambridge yang kemudian mengkritisi pandangan-pandangan Comte; John Austin, salah satu ahli paling berpengaruh pada abad sembilan belas; dan John Morley, seorang politisi sukses. Namun dari orang-orang itu hanya Mill dan Lewes yang secara intelektual terpengaruh oleh Comte.[18] Di Prancis, pengaruh Comte tampak dalam pengakuan sejarawan ilmu, Paul Tannery, yang meyakini bahwa pengaruh Comte terhadapnya lebih dari siapapun. Ilmuwan lain yang dipengaruhi Comte adalah Emile Meyerson, seorang filosof ilmu, yang mengkritisi dengan hormat ide-ide Comte tentang sebab, hukumhukum saintifik, psikologi dan fisika. Dua orang ini adalah salah satu dari pembaca pemikiran Comte yang serius selama setengah abad pasca kematiannya. Karya besar Comte bagi banya filososf, ilmuwan dan sejarawan masa itu adalah bacaan wajib.[19] Namun Comte baru benar-benar berpengaruh melalui Emile Durkheim yang pada 1887 merupakan orang pertama yang ditunjuk untuk mengajar sosiologi, ilmu yang diwariskan Comte, di universitas Prancis. Dia merekomendasikan karya Comte untuk dibaca oleh mahasiswa sosiologi dan mendeskripsikannya sebagai ”the best possible intiation into the study of sociology”. Dari sinilah kemudian Comte dikenal sebagai bapak sosiologi dan pemikirannya berpengaruh pada perkembangan filsafat secara umum.[20]

KRITIK ATAS POSITIVISME Dalam sejarahnya, positivisme dikritik karena generalisasi yang dilakukannya terhadap segala sesuatu dengan menyatakan bahwa semua ”proses dapat direduksi menjadi peristiwaperistiwa fisiologis, fisika, atau kimia” dan bahwa ”proses-proses sosial dapat direduksi ke dalam hubungan antar tindakantindakan direduksi lain. Kritik ini individu” dan bahwa ”organisme sistem atas dua hal, biologis dapat kedalam didasarkan fisika”.[21] ketidaktepatan

Kritik juga dilancarkan oleh Max Horkheimer dan teoritisi kritis positivisme memahami aksi sosial dan realitas sosial yang digambarkan positivisme terlalu konservatif dan mendukung status quo. Kritik pertama berargumen bahwa positivisme secara sistematis gagal memahami bahwa apa yang mereka sebut sebagai ”fakta-fakta sosial” tidak benar-benar ada dalam realitas objektif, tapi lebih merupakan produk dari kesadaran manusia yang dimediasi secara sosial. Positivisme mengabaikan pengaruh peneliti dalam memahami realitas sosial dan secara salah menggambarkan objek studinya dengan menjadikan realitas sosial sebagai objek yang eksis secara objektif dan tidak dipengaruhi oleh orang-orang yang tindakannya berpengaruh pada kondisi yang diteliti. Kritik kedua menunjuk positivisme tidak memiliki elemen refleksif yang mendorongnya berkarakter konservatif. Karakter konservatif ini membuatnya populer di lingkaran politik tertentu.[22] endnotes: [1] Oxford Learner’s Pocket Dictionary, h. 333. [2] Muhammad Ali Abu Rayyan, Aslamah al-Ma’rifah, al-Ulum alInsaniyah wa Manahijiha min Wijhah Nazhr Islamiyah, h. 225 dan 227-8.

[3] http://en.wikipedia.org/wiki/Auguste_Comte di akses pada 6 Februari 2009 [4] Robert Brown, Comte and Positivism, dalam C. L. Ten, Routledge History of Philosophy, vol. VII, The Nineteeth Century, h. 123. [5] Ibid. [6] http://fajar13.co.cc/index.php?p=1_10 [7] Philip Stoke, Philosophy 100 Essential Thinkers, h. 117. [8] http://fajar13.co.cc/web_documents/auguste_comte.pdf [9] Robert Brown, op.cit., h. 122. [10] http://fajar13.co.cc/1_10_Ideology.html [11] Penggunaan kata positivistik sebagai ajektifa bagi filsafat sebenarnya kurang tepat, yang tepat seharusnya filsafat positiv (dengan ’v’ alih-alih ’f’). Penggunaan ini semata untuk menghindari kesalahpahaman yang ditimbulkan dari kata positif dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa Inggris kata positif (dengan ’f’) memiliki arti berbeda dengan positive (positive). [12] http://en.wikipedia.org/wiki/Positivism [13] Auguste Comte, The Positive Philosophy, terj. Harriet Martineau, v. I, h. 27. [14] Ibid., v. I, h. 28. [15] Robert Brown, op.cit., h. 124-5. [16] Pierre Macherey, Comte al-Falsafah wa al-Ulum, terj. Sami Adham, h. 14-5 [17] Ibid., h. 12-3 dan Robert Brown, op. cit., h. 126. [18] Robert Brown, op.cit., h. 141. [19] Ibid. [20] Ibid., h. 141-3. [21] Mary Pickering, Auguste Comte: An Intellectual Biography, v. I, h. 566 dalam http://en.wikipedia.org/wiki/Positivism [22] http://en.wikipedia.org/wiki/Positivism

DAFTAR BACAAN Abu Rayyan, Muhammad Ali. Aslamah al-Ma’rifah, al-Ulum alInsaniyah wa Manahijiha min Wijhah Nazhr Islamiyah. -. (Dar alMa’rifah al-Jami’iyah). Comte, Auguste. The Positive Philosophy. terj. Harriet Martineau. 1896. (George Bell & Sons: London). Oxford Learner’s Pocket Dictionary. 2005. (Oxford University Press: Oxford). Stoke, Philip. Philosophy, 100 Essential Thinkers. 2006. (Enchanted Lion Books: New York). Ten, C. L. Routledge History of Philosophy, The Nineteeth Century. 1994. (Routledge: London dan New York). Macherey, Pierre. Comte, al-Falsafah wa al-Ulum. terj. Sami Adham. 1994. (al- Muassasah al-Jami’iyah li al-Dirasat wa alNasyr wa al-Tawzi’: Beirut). Sumber Internet: http://en.wikipedia.org/wiki/Auguste_Comte http://fajar13.co.cc/index.php?p=1_10 http://fajar13.co.cc/web_documents/auguste_comte.pdf http://en.wikipedia.org/wiki/Positivism

allcot Parsons Fungsionalisme struktural
Rabu,07April Pendahuluan

Teori Fungsional-struktural adalah sesuatu yang urgen dan sangat bermanfaat dalam suatu kajian tentang analisa masalah social. Hal ini disebabkan karena studi struktur dan fungsi masyarakat merupakan sebuah masalah sosiologis yang telah menembus karya-karya para pelopor ilmu sosiologi dan para ahli teori kontemporer. Biografi singkat Tallcot Parsons Teori fungsional Struktural merupakan karya dari Talcott Parsons, parsons lahir tahun 1902 di Colorado Spring, Colorado. Selama hidupnya membuat sejulah besar karya teoritisi. Bahasan tentang fungsionalisme struktural parson ini akan dimulai

dengan empat fungsi penting untuk semua sistem ”tindakan” terkenal dengan skema AGIL (Adaptation goal attainment integration latensi), secara bersama-sama, keempat imperatif fungsional ini dikenal dengan skema AGIL Ritzer. Tinjauan singkat tentang Teori Fungsional Struktural

Pokok-pokok para ahli yang telah banyak merumuskan dan mendiskusikan hal ini telah menuangkan berbagai ide dan gagasan dalam mencari paradigma tentang teori ini, sebut saja George Ritzer ( 1980 ), Margaret M.Poloma ( 1987 ), dan Turner ( 1986 ). Drs. Soetomo ( 1995 ) mengatakan apabila ditelusuri dari paradigma yang digunakan, maka teori ini dikembangkan dari paradigma fakta social. Tampilnya paradigma ini merupakan usaha sosiologi sebagai cabang ilmu pengetahuan yang baru lahir agar mempunyai kedudukkan sebagai cabang ilmu yang berdiri sendiri.

Secara garis besar fakta social yang menjadi pusat perhatian sosiologi terdiri atas dua tipe yaitu struktur social dan pranata social. Menurut teori fungsional structural, struktur sosial dan

pranata sosial tersebut berada dalam suatu system social yang berdiri atas bagian-bagian atau elemen-elemen yang saling berkaitan dan menyatu dalam keseimbangan.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa teori ini ( fungsional – structural ) menekankan kepada keteraturan dan mengabaikan konflik dan perubahan-perubahan dalam masyarakat. Asumsi dasarnya adalah bahwa setiap struktur dalam system sosial, fungsional terhadap yang lain, sebaliknya kalau tidak fungsional maka struktur itu tidak akan ada atau hilang dengan sendirinya. Dalam proses lebih lanjut, teori inipun kemudian berkembang sesuai perkembangan pemikiran dari para penganutnya. Robert K. Merton, sebagai seorang yang mungkin dianggap lebih dari ahli teori lainnya telah mengembangkan pernyataan mendasar dan jelas tentang teori-teori fungsionalisme, ( ia ) adalah seorang pendukung yang mengajukan tuntutan lebih terbatas bagi perspektif ini. Mengakui bahwa pendekatan ini ( fungsionalstruktural ) telah membawa kemajuan bagi pengetahuan sosiologis. Merton telah mengutip tiga postulat yang ia kutip dari analisa fungsional dan disempurnakannya, diantaranya ialah : 1.postulat pertama adalah kesatuan fungsional masyarakat yang dapat dibatasi sebagai suatu keadaan dimana seluruh bagian dari system sosial bekerjasama dalam suatu tingkatan keselarasan atau konsistensi internal yang memadai, tanpa menghasilkan konflik berkepanjangan yang tidak dapat diatasi atau diatur. Atas postulat ini Merton memberikan koreksi bahwa kesatuan fungsional yang sempurna dari satu masyarakat adalah bertentangan dengan fakta. Hal ini disebabkan karena dalam kenyataannya dapat terjadi sesuatu yang fungsional bagi satu kelompok, tetapi dapat pula bersifat disfungsional bagi kelompok yang lain

2.postulat

kedua

yaitu

fungionalisme

universal

yang

menganggap bahwa seluruh bentuk sosial dan kebudayaan yang sudah baku memiliki fungsi-fungsi positif. Terhadap postulat ini dikatakan bahwa sebetulnya disamping fungsi positif dari sistem sosial terdapat juga dwifungsi. Beberapa perilaku sosial dapat dikategorikan kedalam bentuk atau sifat disfungsi ini. Dengan demikian dalam analisis keduanya harus dipertimbangkan. Teori Funsionalisme structural Parson adalah tokoh fungsionalisme struktural modern terbesar hingga saat ini.Pendekatan fungsionalisme-struktural sebagaimana yang telah dikembangkan oleh Parsons dan para pengikutnya, dapat dikaji melalu anggapan-anggapan dasar berikut:a. Masyarakat haruslah dilihat sebagai suatu sistem dari bagian-bagian yang saling berhubungan satu sama lainb. Dengan demikian hubungan pengaruh mempengaruhi di antara bagian-bagian tersebut bersifat timbal balikc. Sekalipun integrasi sosial tidak pernah dapat dicapi dengan sempurna, namun secara fundamental sistem sosial selalu cenderung bergerak kearah ekuilibrium yang bersifat dinamis.

d. Sistem sosial senantiasa berproses ke arah integrasi sekalipun terjadi ketegangan, disfungsi dan penyimpangan. e. Perubahan-perubahan dalam sistem sosial, terjadi secara gradual, melalui penyesuaian-penyesuaian dan tidak secara revolusioner.f. Faktor paling penting yang memiliki daya integrasi suatu sistem sosial adalah konsensus atau mufakat di antara para anggota masyarakat mengenai nilai-nilai kemasyarakatan tertentu.

Dengan kata lain, suatu sistem sosial, pada dasarnya, tidak lain adalah suatu sistem dari tindakan-tindakan. Ia terbentuk dari interaksi sosial yang terjadi di antara berbagai individu, yang tumbuh berkembang tidak secara kebetulan, namun tumbuh dan berkembang di atas consensus, di atas standar penilaian umum masyarakat. Yang paling penting di antara berbagai standar penilaian umum tersebut adalah norma-norma sosial. Normanorma sosial itulah yang membentuk struktur sosial. Sistem nilai ini, selain menjadi sumber yang menyebabkan berkembangnya integrasi sosial, juga merupakan unsur yang menstabilir sistem sosial budaya itu sendiri. Oleh karena setiap orang menganut dan mengikuti pengertian-pengertian yang sama mengenai situasi-situasi tertentu dalam bentuk norma-norma sosial, maka tingkah laku mereka kemudian terjalin sedemikian rupa ke dalam bentuk suatu struktur sosial tertentu. Kemudian pengaturan interaksi sosial di antara mereka dapat terjadi Karena komitmen mereka terhadap norma-norma yang mampu mengatasi perbedaan pendapat dan kepentingan individu. Dua macam mekanisme sosial yang paling penting di mana hasrat-hasrat para anggota masyarakat dapat dikendalikan pada tingkat dan arah menuju terpeliharanya sistem sosial adalah mekanisme sosialisasi B. dan pengawasan AGIL sosial (social control)

Paradigma

(Adaptation,

Goal-Attainment,

Integration,

Latent-Pattern-Maintenance)

Kehidupan sosial sebagai suatu sistem sosial memerlukan terjadinya ketergantungan yang berimbas pada kestabilan sosial. Sistem yang timpang, sebut saja karena tidak adanya kesadaran bahwa mereka merupakan sebuah kesatuan, menjadikan sistem tersebut tidak teratur. Suatu sistem sosial akan selalu terjadi keseimbangan apabila ia menjaga Safety Valve atau katup pengaman yang terkandung dalam paradigma AGIL . Paradigma

AGIL adalah salah satu teori Sosiologi yang dikemukakan oleh ahli sosiologi Amerika, Talcott Parsons pada sekitar tahun 1950. mana Teori setiap ini adalah lukisan abstraksi yang sistematis untuk mengenai keperluan sosial (kebutuhan fungsional) tertentu, yang masyarakat harus memeliharanya memungkinkan pemeliharaan kehidupan sosial yang stabil. Teori AGIL adalah sebagian teori sosial yang dipaparkan oleh Parson mengenai struktur fungsional, diuraikan dalam bukunya The Social System, yang bertujuan untuk membuat persatuan pada keseluruhan system sosial. Teori Parsons dan Paradigma AGIL sebagai elemen utamanya mendominasi teori sosiologi dari tahun 1950 hingga 1970. AGIL merupakan akronim dari Adaptation, Goal Attainment, Integration, meskipun untuk dan Latency tidak dengan atau latent pattern-maintenance, prioritas alam. dalam Hal ini demikian terdapat skala dan

pengurutannya.a. Adaptation yaitu kemampuan masyarakat berinteraksi lingkungan mencakup segala hal; mengumpulkan sumber-sumber kehidupan dan menghasilkan komuditas untuk redistribusi sosial. Misalnya bagaimana seseorang bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.b. Goal-Attainment adalah kecakapan untuk mengatur dan menyusun tujuan-tujuan masa depan dan membuat keputusan yang sesuai dengan itu. Pemecahan permasalahan politik dan sasaran-sasaran sosial adalah bagian dari kebutuhan ini.c. Integration atau harmonisasi keseluruhan anggota sistem sosial setelah sebuah general agreement mengenai nilai-nilai atau norma pada masyarakat ditetapkan. Di sinilah peran nilai tersebut sebagai pengintegrasi sebuah sistem sosial, misalnya pemenangan hasil pemilu.d. Latency (Latent-PatternMaintenance) adalah memelihara sebuah pola, dalam hal ini nilai-nilai kemasyrakatan tertentu seperti budaya, norma, aturan dan sebagainya.

Di samping itu, Parsons menilai, keberlanjutan sebuah sistem bergantung pada persyaratan:a. Sistem harus terstruktur agar bisa menjaga keberlangsungan hidupnya dan juga harus mampu harmonis dengan sistem lainb. Sistem harus mendapat dukungan yang diperlukan dari sistem lain c. Sistem harus mampu mengakomodasi para aktornya secara proporsionald. Sistem harus mampu melahirkan partisipasi yang memadai dari para aktornyae. Sistem harus mampu untuk mengendalikan perilaku yang berpotensi menggangguf. Bila terjadi konflik menimbulkan persyaratan kekacauan kunci bagi harus dapat dikendalikang. Sistem harus memiliki bahasa Aktor dan Sistem Sosial.Menurutnya terpeliharanya integrasi pola nilai dan norma ke dalam sistem ialah dengan sosialisasi dan internalisasi. Pada proses Sosialisasi yang sukses, nilai dan norma sistem sosial itu akan diinternalisasikan. Artinya ialah nilai dan norma sistem sosial ini menjadi bagian kesadaran dari aktor tersebut. Akibatnya ketika sistem sang aktor sedang mengejar kepentingan mereka maka secara langsung dia juga sedang mengejar kepentingan sosialnya.Sementara proses sosialisasi ini berhubungan dengan pengalaman hidup (dan spesifik) dan harus berlangsung secara terus menerus, karena nilai dan norma yang diproleh sewaktu kecil tidaklah cukup untuk menjawab tantangan ketika dewasa.

Pengaruh Teori ini dalam Kehidupan Sosial Talcott Parsons dalam menguraikan teori ini menjadi sub-sistem yang berkaitan dan menjelaskan bahwa diantara : 1. hubungan pencarian fungsional-struktural cenderung memiliki empat tekanan yang berbeda terorganisir secara simbolis pemuasan psikis2. kepentingan dalam menguraikan pengrtian-

pengertian simbolis3. kebutuhan untuk beradaptasi dengan lingkungan organis-fisis, dan4. usaha untuk berhubungan dengan anggota-anggota makhluk manusia lainnya. Sebaliknya masingmasing sub-sistem yang itu, harus harus memiliki adakan system empat prasyarat bias dia fungsional mereka sehingga itu ketika

diklasifikasikan sebagai suatu istem. Parsons menekankan saling ketergantungan masing-masing menyatakan : “ secara konkrit, setiap system empiris mencakup keseluruhan, dengan demikian tidak ada individu kongkrit yang tidak merupakan sebuah organisme, kepribadian, anggota dan sistem sosial, dan peserta dalam system cultural “ .Walaupun fungsionalisme struktural memiliki banyak pemuka yang tidak selalu harus merupakan ahli-ahli pemikir teori, akan tetapi paham ini benar-benar berpendapat bahwa sosiologi adalah merupakan suatu studi tentang struktur-struktur social sebagai unit-unit yang terbentuk atas bagian-bagian yang saling tergantung. Fungsionalisme struktural sering menggunakan konsep sistem ketika membahas struktur atau lembaga sosial. System ialah organisasi dari keseluruhan bagian-bagian yang saling tergantung. Ilustrasinya bisa dilihat dari system listrik, system pernapasan, atau system sosial. Yang mengartikan bahwa fungionalisme struktural terdiri dari bagian yang sesuai, rapi, teratur, dan saling bergantung. Seperti layaknya sebuah sistem, maka struktur yang terdapat di masyarakat akan memiliki kemungkinan untuk selalu dapat berubah. Karena system cenderung ke arah keseimbangan maka perubahan tersebut selalu merupakan proses yang terjadi secara perlahan hingga mencapai posisi yang seimbang dan hal itu akan terus berjalan seiring dengan perkembangan kehidupan manusia. Penutup Teori fungsional struktural bukan hal yang baru lagi didalam

dunia sosiologi modern, teori ini pun telah berkembang secara meluas dan merata. Sehingga tak ayal banyak Negara yang menggunakan teori ini di dalam menjalankan pemerintahannya baik itu mengatur suatu pola interaksi maupun relasi diantara masyarakat. Dalam kesempatan ini setidaknya pemakalah dapat mengambil keseimpulan bahwa secara singkat dan sederhana teori sosial ini merupakan seperti rantai sosiologi manusia, dimana didalam hubungannya terdapat suatu keterkaitan dan saling berhubungan. Juga adanya saling ketergantungan, layaknya suatu jasad maka apabila salah satu bagian tubuh jasad tersebut ada yang sakit ataupun melemah sangat berimplikasi Sekiranya pula hanya ini pada yang bagian dapat kami yang selesaikan lain. dalam

penyusunan makalah ini, terasa bagi kami kesulitan dalam mencari refrensi tentang pengertian yang mendalam dari teori ini. Sehingga nantinya dapat dijadikan bahan pembelajaran yang lebih mendalam bagi kawan-kawan yang haus akan suatu ilmu. Kami memohon maaf bila banyak kekurangan dan mungkin ada yang bingung terhadap bahsa yang dipergunakan dalam penulisan. Oleh karena itu input kalian sangat berarti bagi kami penyusun makalah.

Referensi

Poloma, M. Margaret, Sosiologi Kontemporer ( terj ), Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2003 Soetomo, Drs, Masalah Sosial dan Pembangunan, Jakarta: Pustaka Jaya, 1995

Blog ini Di-link Dari Sini Web Blog ini

Di-link Dari Sini

Web

Rabu, 04 Agustus 2010
Merajut Persekutuan (Gemeinschaft) dengan Konsep Per-Teman-an
“GMKI bukanlah merupakan gesellschaft, melainkan ia adalah suatu gemeinschaft, persekutuan dalam Kristus Tuhannya…” bukanlah sesuatu yang asing di telinga kita yang tergabung dalam persekutuan yang sering diistilahkan dengan “benang biru” yaitu Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia. Kutipan diatas disampaikan salah satu founding father GMKI, Johannes Leimena pada saat memproklamirkan bahwa sudah saatnya mahasiswa ikut ambil bagian dalam perjuangan pergerakan untuk kebaikan dan kepentingan negara dan bangsa Indonesia, serta memperjuangkan oikumenisme (eucumenical’s mission) dalam injil kehidupan, kematian dan kebaktian Yesus Kristus sebagai Sang Kepala Gerakan. Berangkat dari terminologi diatas, gemeinschaft dan gesellschaft merupakan pada dasarnya pengertian dari teori sosial yang terjadi dalam masyarakat. Tonnies, tokoh sosiolog kenamaan yang satu ini membedakan dua tipologi persekutuan (asosiasi) yang ada di masyarakat, yaitu asosiasi Gemeinschaft dan Gesellschaft berdasarkan pada upaya untuk mengungkap motif dan sentimen yang ada di balik hubungan antar manusia atau masyarakat yang membuatnya tetap bersama dan melakukan kerja sama.

Gemeinschaft adalah masyarakat yang menjadi ciri desa kecil di pedalaman, memiliki tujuan kesatuan yang esensial, orang bekerja sama untuk kepentingan bersama, kehidupan sosial bercirikan: "hidup bersama yang karib, pribadi dan eksklusif”, mereka mengakui "kebaikan bersama, kejahatan bersama, sahabat bersama, musuh bersama", dalam diri mereka terkandung "we-ness" dan "our-ness", dan dipandang sebagai organisme hidup. Sedangkan, Gesellschaft adalah kumpulan (association) yang menjadi ciri kota besar, yang bercirikan perpecahan (individualisme dan mementingkan diri sendiri), tidak ada kebaikan bersama dan ikatan keluarga, lingkungan cenderung tidak banyak mempunyai arti mekanikal dan artifact (buatan manusia), lebih rasional, lebih memperhitungkan, dan eksistensi bergeser dari kelompok ke individual. Berbeda halnya kalau kita merujuk dari teori yang dikemukakan oleh Durkheim. Tokoh sosiolog yang satu ini agak berbeda pemahaman dalam melihat sisi solidaritas sosialnya. Untuk itu, ia kemudian mengembangkan konsep tentang solidaritas mekanik dan solidaritas organik yang pada tataran tertentu dapat disamakan atau dibandingkan dengan Gemeinschaft dan Gesellschaft dari Tonnies. Adapun ciri-ciri dari solidaritas mekanik dan organik adalah sebagai berikut: Solidaritas mekanik merujuk kepada ikatan sosial yang dibangun atas kesamaan, kepercayaan dan adat bersama. Disebut mekanik, karena orang yang hidup dalam unit keluarga suku atau kota relatif dapat berdiri sendiri dan juga memenuhi semua kebutuhan hidup tanpa tergantung pada kelompok lain. Sedangkan, Solidaritas organik menguraikan tatanan sosial berdasarkan perbedaan individual diantara rakyat yang merupakan ciri dari masyarakat modern, khususnya kota. bersandar pada pembagian kerja (division of labor) yang rumit dan didalamnya orang terspesialisasi dalam pekerjaan yang berbeda-beda, seperti dalam organ tubuh, orang lebih banyak saling bergantung untuk memenuhi kebutuhan mereka. Dalam Division of Labor yang rumit ini, Durkheim melihat adanya kebebasan yang lebih besar untuk semua masyarakat: kemampuan untuk melakukan lebih banyak pilihan dalam kehidupan mereka. Meskipun Durkheim mengakui bahwa kota-kota dapat menciptakan impersonality (sifat tidak mengenal orang lain), alienasi, disagreement dan konflik, ia mengatakan bahwa solidaritas organik lebih baik dari pada solidaritas mekanik. Beban yang kami berikan dalam masyarakat modern lebih ringan daripada masyarakat pedesaan dan memberikan lebih banyak ruang kepada kita untuk bergerak bebas. Kita harus jujur mengakui. Banyak dari kalangan kita tidak mampu lagi memaknai persekutuan yang dimaksud dalam terminologi diatas. Sudah sangat jelas bahwa GMKI adalah Gemeinschaft yang mengandung prinsip yang berbeda dengan Gesellschaft. Hal ini jelas keliatan dalam aktivitas tugas pelayanan kita dalam menjalankan tugas-tugas organisasi. Kecurigaan subjektif dapat membiaskan semangat persekutuan dalam membina kasih persaudaraan sehingga berdampak pada susahnya mengoptimalkan kerja-kerja (program) guna pencapaian tantangan medan pelayanan GMKI (Perguruan Tinggi, Gereja dan Masyarakat). Ini merupakan salah satu dari banyak sebab yang dianggap penulis sebagai ketidakmampuan kita dalam mengaplikasikan semangat persekutuan yang sering kita singgung baik dalam forum resmi maupun dalam forum dan diskusi yang sifatnya tidak resmi. Masih banyak soal-soal yang bisa menjadi koreksi pemahaman kita dalam memaknai persekutuan. Dalam berdebat misalnya, pernahkah kita menempatkan lawan bicara kita sebagai saudara sebagaimana prinsip sebuah persekutuan? Mungkin bagi kita merupakan kebanggaan tersendiri bila membuat lawan bicara kita yang notabenenya saudara sebenang biru merasa tersudut, keliatan bodoh, bereaksi marah karena argumentasi yang bersifat meyinggung hak pribadi (privillage). Atau pernahkah kita menganggap persoalan yang dihadapi kelompok lain di dalam kita merupakan persoalan kita bersama? Pernahkah kita berusaha untuk mendiskreditkan orang atau badan/lembaga yang nyata-nyatanya berada dalam persekutuan kita bersama?

Pertanyaan-pertanyaan diatas bukan merupakan suatu bentuk justifikasi tetapi lebih kepada bagaimana kita sebagai entitas-entitas hidup mengenal persoalan-persoalan yang terjadi di lingkungan kita yang mungkin bermuara pada kontradiksi atau semacam distorsi ide dengan kenyataan. Bagi orang percaya hubungan dengan Tuhan adalah hal yang terpenting dan terutama. Kita rindu untuk mempunyai hubungan dan persekutuan yang indah dengan Tuhan. Tetapi hal yang tidak boleh diabaikan adalah hubungan di antara sesama kita. Karena suatu hubungan/persekutuan dengan Allah yang baik dan benar, secara otomatis orang tersebut seharusnya mempunyai hubungan yang baik dengan sesamanya, khususnya saudarasaudari seiman. Adalah bahaya besar kalau dikatakan orang ini rohani, punya persekutuan yang indah dengan Tuhan, tetapi persekutuan dengan saudara seiman bermasalah. Jadi persekutuan antara sesama adalah cermin dari ibadah kita yang benar dan baik dengan saleh. Kalau hubungan vertikal baik, otomatis hubungan horisontal juga baik. Bisa jadi seorang yang mempunyai hubungan horisontal bagus, belum tentu memiliki hubungan vertikal yang bagus pula. Tetapi seorang yang mempunyai hubungan vertikal yang bagus, seharusnya hubungan horisontalnya juga bagus. Dalam memahami persekutuan yang dimaksud diatas, penulis ingin mengajak kita menyederhanakan persoalan tetapi bukan dalam rangka mengurangi apa yang menjadi esensi yang kita bicarakan. Persekutuan erat kaitannya dengan pertemanan. Mungkin banyak dari antara kita yang meragukan kesimpulan ini. Tapi itu sah-sah saja. Semua merupakan proses dialektika argumen dalam mencapai pengertian yang lebih mendalam untuk mencapai persamaan pemaknaan. Tapi setidaknya itulah yang dirasakan penulis hingga harus mengangkat tulisan ini untuk bahan evaluasi atau rekomendasi dalam menata hubungan interpersonal kita (persekutuan ala GMKI). Kejujuran merupakan cikal bakal perubahan, merupakan kalimat sakti yang harus kita renungkan bersama-sama. Mungkin tidaklah sesuatu yang berlebihan bahwa pengingkaran terhadapa prinsip kejujuran merupakan tindakan yang kontra revolusioner (hegemoni pasca kemerdekaan Soekarno). Ketidakjujuran dalam melihat persoalan akan menghasilkan penyelesaian yang tidak menyentuh akar persoalan. Misalnya, ketidakjujuran mengakui kemampuan pengurus organisasi akan tugas-tugasnya berdampak susahnya organisasi mencari solusi persoalan dalam tubuh organisasi. Banyak dari antara kita masih bergabung dalam organisasi ini dikarenakan hubungan pertemanan. Anggota-anggota dalam sebuah organisasi GMKI merupakan entitas-entitas yang diberi tugas untuk mewujudkan apa yang menjadi visi dan misi organisasi dalam balutan persekutuan. Apa jadinya kalau seorang entitas dalam organisasi merasa sudah tidak punya teman dalam organisasi tersebut? Akankah dia masih tetap memilih untuk aktif berkegiatan? Jawabannya ada dalam diri kita masing-masing. Sejauh mana motivasi kita dalam bergabung dalam persekutuan ini akan menentukan keputusan yang akan kita ambil bila terlibat dalam pengandaian tersebut. Tetapi harus kita akui, hampir kebanyakan dari kita yang masih bertahan dalam perserkutuan ini lebih didasari oleh latar belakang pertemanan, baik itu dalam mencari teman biasa maupun teman yang luar biasa (maksudnya pacar atau yang lebih lagi teman hidup). Sulitnya rasanya menepis anggapan ini, apalagi sering kali kita sebagai entitas dalam organisasi ini memplesetkan istilah GMKI dengan Gerakan Mencari Kawan Intim yang mungkin bagi sebagian orang merupakan bahan gurauan sesaat yang bisa menghidupkan suasana pembicaraan atau barangkali ada pesan-pesan yang mau disampaikan dalam rangka menggugat realitas yang terjadi terhadap penyelewangan dari cita-cita luhur pendiri organisasi ini. Tidak ada yang salah menggunakan pendekatan pertemanan dalam membangun

persekutuan dalam tubuh organisasi ini. Terbukti, kehadiran GMKI sampai saat ini masih tetap eksis dikarenakan pendekatan pertemanan diatas. Barangkali kalau kita mau lebih serius menggali pemahaman tentang organisasi ini. Kita akan menemukan kesadaran yang lebih tinggi sifatnya mengarahkan kita pada apa yang dinamakan militansi berorganisasi. Bahwasanya kita masih tetap berdiri di GMKI dikarenakan panggilan-Nya untuk berbuat setelah anugerah (Sola Gratia) yang diberikan-Nya kepada kita sebagai warga Kerajaan Sorga bagi yang percaya pada-Nya (Roma 10: 9, Yohanes 5: 24, 1 Yohanes 5; 13, dan Yohanes 20: 31). Penulis jadi teringat akan suatu kalimat bijak yang digunakan “saudara kita yang diseberang” dalam menarik perhatian mahasiswa-mahasiswa untuk bergabung dengan organisasi mereka ditengah pesatnya pemikiran pragmatisme mahasiswa dalam berburu organisasi yang mapan. Disebutkan “Jangan mencari hidup di Muhammadiyah, tetapi hiduphidupilah Muhammadiyah” barangkali seperti itulah pesan yang dimanisfestasikan dalam susunan kalimat yang menggugah kesadaran pembacanya. Tidak ada salahnya kalau kita belajar dari kata-kata bijak diatas.

Diposkan oleh Tampubolon's Triad di 22:46 Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook Berbagi ke Google Buzz

GEMEINSCHAFT DAN GESSELSCHAFT
April 10th, 2010 • Related • Filed Under Nama : ANGGRIAWAN ADI KUSUMO NPM : 24209921 KELAS : 1EB11 Sosiologi Perkotaan Pengertian Umum Kota Sosiologi perkotaan (urban sociology), sering juga disebut kajian sosiologis mengenai kota-kota (the sociology of cities). Sosiologi perkotaan terfokus pada kajian proses sosial ekonomi yang terjadi di pemukiman manusia yang bernama “kota” dan melihat proses tersebut sebagai produk dari kapitalisme (Saunders 1996; bandingkan Schwab 1992; Spates dan Macionis 1982). Kota (city) diartikan sebagai “an inhabited place of greater size or importance than a town” (suatu tempat hunian yang lebih besar dan penting dari sebuah kota kecil). Kota kecil (town) adalah “a heavily populated area as distinguished from surrounding rural territory” (kawasan padat penduduk yang dapat dibedakan dengan pedesaan sekitarnya). Pedesaan biasanya dikaitkan dengan perkampungan dan pekerjaan bertani (dalam bahasa Latin ruralis). Sedangkan istilah perkampungan biasanya dipahami sebagai hamparan tanah yang cukup luas dengan tingkat hunian jarang. David dan Julia Jary (1991: 71) mendefinisikan kota sebagai “an inhabited place which is differentiated from a town or village by its greater size and by the range of activities practiced within its boundaries, usually religious, military political,

economic, educational and cultural”. Secara bebas definisi ini dapat diterjemahkan, bahwa kota tidak lain adalah kawasan hunian yang relatif besar, sehingga dapat dibedakan dengan kampung atau kota kecil, serta terdapat aktivitas yang relatif beragam di bidang ekonomi, kebudayaan, keagamaan, pendidikan, dan politik. Kegiatan Belajar 2 Adakah Kota pada Masyarakat Kita Kini? Uraian di atas memperlihatkan bahwa pemahaman kota sebagai bentuk hunian yang dinamis dan lintas waktu – sebagaimana dipahami kalangan liberal-lebih mungkin kita terima. Sementara wujud kota yang dipahami oleh kalangan “konservatif” sebagai satu hunian yang dikelilingi oleh benteng pertahanan sehingga penghuninya dengan leluasa dan aman dapat melakukan berbagai aktivitasnya, lebih logis kita tempatkan sebagai sejarah pemikiran tentang kota yang tumbuh dalam konteks sosio-historis masyarakat Barat. Sekalipun demikian, gagasan tentang kota dari kalangan “konservatif” bisa kita jadikan sebagai titik tumpu untuk melihat sejarah perkembangan kota, baik dilihat dari aspek yang berlanjut (kontinu) maupun aspek yang berubah (diskontinu). Dengan memadukan dua gagasan itu, kita dapat memahami secara lebih baik tentang pola perkembangan dan posisi sosial ekonomi dan politik kota tersebut dalam konteks yang lebih luas. Uraian tentang kota-kota di Jerman khususnya Heidelberg diatas, memperlihatkan pola kontinuitas dan diskontinuitas. Kota ini masih memiliki struktur atau ciri kota abad pertengahan, disamping ciri baru yang tumbuh di era modern. Cara pemahaman di atas juga dapat diterapkan untuk menelaah “kota-kota” di Indonesia. Uraian tentang sejarah perkembangan Kota Jakarta dan Bogor di atas, memperlihatkan pola kontinu dan diskontinuitas. Warisan masa lalu Kota Jakarta dapat kita jumpai di sekitar Kota-Gambir, disela-sela ciri baru yang tumbuh pada paska kemerdekaan. Sementara warisan masa lalu di Bogor, dapat dijumpai di pusat kotanya, berdampingan dengan ciri baru yang tumbuh di era modern. Kegiatan Belajar 3 Bagaimana Kita Melihat Kota Bagian terakhir dari Modul 1 ini memperlihatkan bahwa kapitalisme – dan bukannya kota – merupakan penyebab utama proses-proses sosial, ekonomi, budaya, dan politik di perkotaan. Sekalipun bukan penyebab utama, kota, dalam hal ini, harus dilihat sebagai kawasan atau area yang memungkinkan kapitalisme tumbuh dalam bentuk yang sangat nyata, secara cepat dan mendalam. Dan karenanya, proses-proses sosial, ekonomi, dan politik yang disinyalir oleh Marx, Weber, dan Durkheim berkembang di perkotaan. Gagasan tentang kapitalisme sebagai penggerak kunci berbagai dinamika di perkotaan di atas, dapat kita lacak bahkan pada para pendiri sosiologi: Karl Marx, Emile Durkheim, dan Max Weber. Mereka yang hidup pada era pertumbuhan dramatis kapitalisme, sadar betul bahwa kapitalisme yang menjadi agen penggerak berbagai dinamika kehidupan masyarakat. Dalam kaitan dengan gagasan di atas, kapitalisme mewujudkan dirinya secara bulat di kawasan perkotaan, atau dengan kata lain, kota merupakan kawasan yang membuat kapitalisme tumbuh subur, dan akhirnya mendorong proses pertumbuhan kota dengan lebih cepat. Proses pertumbuhan dan implikasi sosial ekonomi kapitalisme, yang keduanya

terkait dengan kawasan perkotaan merupakan fokus utama ketiga sosiolog klasik di atas. Dalam pandangan Marx, kota adalah tempat tumbuhnya cara produksi kapitalisme yang bersifat eksploitatif terhadap kaum buruh. Pola eksploitasi demikian, tidak hanya terbatas hanya dalam bidang ekonomi, melainkan juga sangat menentukan berbagai dimensi kehidupan kota yang lain, seperti kebudayaan dan politik lokal. Pendek kata, infrasruktur ekonomi kota yang bersifat kapitalis dan bersifat eksploitatif itu juga sangat menentukan terbentuknya berbagai suprastruktur yang juga bersifat eksploitatif terhadap lapis terbawah penduduk perkotaan. Namun pada saat yang sama, Marx juga menaruh harapan pada kawasan perkotaan, sebagai hunian masyarakat yang sangat memungkinkan lahirnya perjuangan kelas, yang justru terdorong oleh watak kota yang bersifat eksploitatif itu. Pola eksploitasi yang merambah di segenap kehidupan kota akan melahirkan kesadaran kelas kaum proletar kota, dan akhirnya akan menggerakkan revolusi. Sementara dalam pandangan Durkheim, implikasi sosial ekonomi kapitalisme terlihat nyata pada division of labour. Pertama, kapitalisme dapat dilihat sebagai faktor penggerak lahirnya division of labour. Pertumbuhan urbanisasi yang didorong oleh kapitalisme telah membuat material density (dan kemudian moral density) meningkat. Urbanisasi, yang sesungguhnya merupakan fenomena semakin banyaknya jumlah penduduk di suatu kawasan bersama-sama dengan perkembangan transportasi dan komunikasi menjadi salah satu pendorong divison of labour. Hal itu karena bertalian dengan fakta bahwa jumlah penduduk yang semakin banyak di satu kawasan hanya dapat bertahan hidup melalui diferensiasi pekerjaan. Selain gagasannya tentang diferensiasi perkerjaan yang terjadi di kota sebagai respon terhadap peningkatan jumlah penduduk, gagasan lainnya yang terkandung dalam division of labour adalah solidaritas organik. Solidaritas ini merupakan sisi lain bahwa dalam division of labour terkandung realitas saling ketergantungan dan saling melengkapi. Semakin tinggi diferensiasi (semakin terspesialisasinya berbagai jenis pekerjaan itu), maka semakin tinggi pula realitas saling ketergantungan antara satu sektor pekerjaan dengan yang lain. Fakta semakin terspesialisasinya perkerjaan itu merupakan ciri suatu masyarakat yang sudah mengalami era kapitalisme yang lebih lanjut. Atau dengan kata lain (kedua), divison of labour tersebut pada akhirnya dapat mempercepat perkembangan kapitalisme. Sedangkan dalam pandangan Weber, kota merupakan hunian masyarakat manusia yang telah terlebih dahulu memapankan institusi yang memungkinkan sistem ekonomi kapitalisme berkembang. Segenap institusi ekonomi, politik, dan hukum pada masyarakat kota telah mengalami proses tranformasi pada dirinya sendiri, sehingga menjadi institusi yang digerakkan oleh asas rasionalitas.

Budaya kebersamaan
http://id.shvoong.com/social-sciences/education/1913039-budaya-kebersamaan/

oleh: elrazie
• • • •

Summary rating: 3 stars (10 Tinjauan) Kunjungan : 1458 kata:600

More About : maksud gemeinschaft dalam konteks sosial Budaya makan enggak makan asal kumpul, gemeinschaft (paguyuban) atau mezzo-structures suatu bentuk interaksi sosial kekeluargaan, solidaritas sosial, perasaan menjadi satu kesatuan dalam rasa sepenanggungan, tenggang rasa atau tepa selira dengan nilai-nilai moral berupa penghormatan sesama manusia, tanggung jawab, kejujuran, kerukunan, dan kesetiakawanan. Disadari ataupun tidak disadari akhir-akhir ini telah menjauh dari kehidupan berbangsa dan bernegara masyarakat Indonesia. Kebersamaan yang indah yang mulai terkikis oleh budaya-budaya individualis. Pandangan hidup yang mengagung-agungkan kebebasan personal yang mendorong manusia untuk mendahulukan kepentingan dan kebebasan pribadi tanpa memikirkan hak-hak orang lain. Sikap ini acapkali menjerumuskan manusia ke dalam perbenturan dengan pihak lain dalam hidup sosial. Penyanjung kebebasan seakan-akan tinggal di luar entitas sosial dan seolah-olah mereka tidak berdampingan dengan sesama. Keberadaan budaya kebersamaan sekarang lebih menjadi nilai-nilai yang semu dan artifisial, Menjauh dari titik nyatanya dan hanya sekedar simbol dipermukaan. Pudarnya nilai-nilai luhur telah menjadikan masyarakat Indonesia menjadi ‘kasar’ dan tanpa perasaan, dan semakin menguat manakala hukum tidak lagi mempunyai kewibawaan untuk mengatur Kita. Jika terus sperti ini, apakah kita masih layak disebut sebagai suatu bangsa? Bangsa pada dasarnya merupakan suatu bentuk solidaritas kolektif; yang mana lebih menonjolkan elemen kebersamaan dan tidak menyoroti masalah ketidaksamaan ataupun eksploitasi. dalam konteks definisi kelompok social, Ferdinand Tonnies mengemukakan bahwa kelompok sosial adalah suatu bentuk kehidupan bersama, dimana anggota-anggotanya diikat oleh hubungan batin yang murni dan bersifat alamiah serta kekal. Batasan ini disebut Tonnies sebagai paguyuban atau gemeinschaft. Tonnies menyebutkan beberapa ciri peguyuban, yaitu; (1)intimate, hubungan menyeluruh yang mesra antar individu dalam kelompok masyarakat. (2)Private, hubungan yang bersifat pribadi antar sesama anggota masyarakat, karena faktor pertalian darah. Dan yang ketiga adalah exclusive, yakni hubungan yang tertutup antara segenap anggota masyarakat sebagai suatu paguyuban. Oleh karena itu di dalam gemeinschaft atau paguyuban terdapat suatu common will (kemauan bersama), dan juga ada suatu understanding (pengertian bersama), serta kaidah yang timbul dengan sendiri dari kelompok tersebut. Tujuannya adalah menciptakan keseimbangan (yang harmonis) antar anggota kelompok. Asas persaudaraan ini dijaga oleh institusi negara yang memiliki kemampuan menjangkau segenap anggota dari suatu bangsa. Fungsi lain dari suatu bangsa

adalah merusmuskan dan menegakkan aturan permainan, entah dalam kehidupan ekonomi, dan politik, maupun kemasyarakatan yang disepakati oleh anggotanya. Bangsa dibentuk oleh unsur kebudayaan, sejarah dan warisan tradisi lain yang pernah ada sebelumnya. Dikatakan sebagai suatu solidaritas kolektif karena memiliki lambang-lambang budaya sendiri seperti bahasa yang digunakan dalam wilayah teritorial tertentu, yang sebenarnya mencerminkan suatu kesatuaan. Oleh karena itu, konsep bangsa menonjolkan persaudaraan dan atau kebersamaan. Yang mana kebersamaan ini akan membentuk suatu komunitas politik, bangsa dan negara yang senantiasa mengalami proses rekonstruksi terus menerus sepanjang sejarah perkembangannya. Diterbitkan di: Juli 13, 2009 Diperbarui: Oktober 05, 2010 Mohon Ringkasan ini dinilai : 1 Nilai : 1 2 3 4 5 2 3 4 5

• o o

Link yang relevan :

http://perjuanganku-elrazie.blogspot.com/

More About : maksud gemeinschaft dalam konteks sosial Lebih lanjut tentang: Budaya kebersamaan

Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas http://id.wikipedia.org/wiki/Etika_Protestan_dan_Semangat_Kapitalisme Belum Diperiksa Langsung ke: navigasi, cari

Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme (bahasa Inggris: The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism) adalah sebuah buku yang ditulis oleh Max Weber, seorang ekonom dan sosiolog Jerman pada 1904 dan 1905 yang mulai sebagai sebuah seri esai. Edisi awal dalam bahasa Jerman dan berjudul: Die protestantische Ethik und der 'Geist' des Kapitalismus. Terjemahan ke bahasa Inggris dibuat pada 1930 dan beberapa edisi telah diedarkan. Weber menulis bahwa kapitalisme berevolusi ketika etika Protestan (terutama Calvinis) memengaruhi sejumlah orang untuk bekerja dalam dunia sekuler,

mengembangkan perusahaan mereka sendiri dan turut beserta dalam perdagangan dan pengumpulan kekayaan untuk investasi. Dalam kata lain, etika Protestan adalah sebuah kekuatan belakang dalam sebuah aksi masal tak terencana dan tak terkoordinasi yang menuju ke pengembangan kapitalisme. Pemikiran ini juga dikenal sebagai "Thesis Weber".

Sampul dari salah satu edisi karya Weber.

Daftar isi
[sembunyikan]
• • • • •

1 2 3 4

Isi buku Daftar isi Lihat pula Buku serupa

5 Pranala luar

[sunting] Isi buku
Ada pendapat yang menyatakan bahwa buku ini tidak boleh dilihat sebagai studi yang terinci tentang Protestanisme melainkan lebih sebagai pengantar ke dalam karya-karya Weber yang belakangan, khususnya studinya tentang interaksi antara berbagai gagasan keagamaan dan ekonomi. Dalam Etika Protestan dan Semganta Kapitalisme, Weber mengajukan tesis bahwa etika dan gagasan-gagasan Puritan telah memengaruhi perkembangan

kapitalisme. Namun demikian, devosi keagamaan biasanya disertai dengan penolakan terhadap urusan-urusan duniawi, termasuk pengejaran akan harta kekayaan. Mengapa hal ini tidak terjadi dengan Protestanisme? Weber membahas apa yang kelihatan sebagai paradoks ini dalam bukunya. Ia mendefinisikan semangat kapitalisme sebagai gagasan dan kebiasaan yang menunjang pengejaran keuntungan ekonomi secara rasional. Weber menunjukkan bahwa semangat seperti itu tidaklah terbatas pada budaya Barat bila hal itu dipandang sebagai sikap individual, namun bahwa upaya individual yang heroik — demikian ia menyebutnya — tidak dapat dengan sendirinya membentuk suatu tatanan ekonomi yang baru (kapitalisme). Kecenderungan-kecenderungan yang paling umum adalah keserakahan akan keuntungan dengan upaya yang minimal dan gagasan bahwa kerja adalah suatu kutukan dan beban yang harus dihindari khususnya ketika hasilnya melebihi dari kebutuhan untuk kehidupan yang sederhana. Seperti yang ditulisnya dalam esainya:
Agar suatu gaya hidup yang teradaptasi dengan sifat-sifat khusus dari kapitalisme… dapat mendominasi gaya hidup yang lainnya, ia harus muncul dari suatu tempat tertentu, dan bukan dalam pribadi-pribadi yang terpisah saja, melainkan sebagai suatu gaya hidup yang umum dari keseluruhan kelompok manusianya.

Setelah mendefinisikan 'semangat kapitalisme', Weber berpendapat bahwa ada banyak alasan untuk menemukan asal-usulnya di dalam gagasan-gagasan keagamaan dari Reformasi. Banyak pengamat seperti William Petty, Montesquieu, Henry Thomas Buckle, John Keats, dan lain-lainnya telah mengomentari kedekatan antara Protestanisme dengan perkembangan komersialisme. Weber memperlihatkan bahwa tipe-tipe Protestanisme tertentu mendukung pengejaran keuntungan ekonomi yang rasional dan bahwa kegiatan-kegiatan duniawi telah memperoleh makna spiritual dan moral yang positif. Ini bukanlah tujuan dari gagasan-gagasan keagamaan tersebut, melainkan lebih sebagai produk sampingan — logika yang inheren dari doktrin-doktrin tersebut dan advis yang didasarkan pada mereka baik yang baik secara langsung maupun tak langsung mendorong perencanaan dan penyangkalan diri demi pengejaran keuntungan ekonomi. Weber menelusiri asal-usul etika Protestan pada Reformasi. Dalam pandangannya, di bawah Gereja Katolik Roma seorang idnvidu dapat dijamin keselamatannya melalui kepercayaan akan sakramen-sakramen gereja dan otoritas hierarkhinya. namun, Reformasi secara efektif telah menyingkirkan jaminanjaminan tersebut bagi orang biasa, meskipun Weber mengakui bahwa seorang "genius keagamaan" seperti Martin Luther mungkin dapat memiliki jaminanjaminan tersebut.

Dalam keadaan tanpa jaminan seperti itu dari otoritas keagamaan, Weber berpendapat bahwa kaum Protestan mulai mencari "tanda-tanda" lain yang menunjukkan bahwa mereka selamat. Sukses dunia menjadi sebuah ukuran keselamatan. Mendahului Adam Smith (tapi dengan menggunakan argumen yang sangat berbeda), Luther memberikan dukungan awal terhadap pembagian kerja yang mulai berkembang di Eropa. Karenanya, menurut penafsiran Weber atas Luther, suatu "panggilan" dari Tuhan tidak lagi terbatas kepada kaum rohaniwan atau gereja, melainkan berlaku bagi pekerjaan atau usaha apapun. Namun demikian, Weber melihat pemenuhan etika Protestan bukan dalam Lutheranisme, yang ditolaknya lebih sebagai sebuah agama hamba, melainkan dalam bentuk Kekristenan yang Calvinis. Dalam pengertian yang sederhana "paradoks" yang ditemukan Weber adalah:

Menurut agama-agama Protestan yang baru, seorang individu secara keagamaan didorong untuk mengikuti suatu panggilan sekular dengan semangat sebesar mungkin. Seseorang yang hidup menurut pandangan dunia ini lebih besar kemungkinannya untuk mengakumulasikan uang. Namun, menurut agama-agama baru ini (khususnya, Calvinisme), menggunakan uang ini untuk kemeweahan pribadi atau untuk membeli ikon-ikon keagamaan dianggap dosa. Selain itu, amal umumnya dipandanga negatif karena orang yang tidak berhasil dalam ukuran dunia dipandang sebagai gabungan dari kemalasan atau tanda bahwa Tuhan tidak memberkatinya.

Cara memecahkan paradoks ini, demikian Weber, adalah menginvetasikan uang ini, yang memberikan dukungan besar bagi lahirnya kapitalisme. Pada saat ia menulis esai ini, Weber percaya bahwa dukungan dari etika Protestan pada umumnya telah lenyap dari masyarakat. Khususnya, ia mengutip tulisan Benjamin Franklin, yang menekankan kesederhanaan, kerja keras dan penghematan, namun pada umumnya tidak mengandung isi rohani. Weber juga mengatakan bahwa sukses dari produksi massal sebagian disebabkan oleh etika Protestan. Hanya setelah barang-barang mewah yang mahal ditolak, maka individu-individu dapat menerima produk-produk yang seragam, seperti pakaian dan mebel, yang ditawarkan oleh industrialisasi. Perlu dicatat bahwa Weber menegaskan bahwa sementara gagasan-gagasan agama Puritan mempunyai pengaruh yang besar terhadap perkembangan tatanan ekonomi di Eropa dan Amerika Serikat, mereka bukanlah faktor satu-satunya (yang lainnya termasuk rasionalisme dalam upaya-upaya ilmiah, penggabungan antara observasi dengan matematika, aturan-aturan ilmiah dan yurisprudensi, sistematisasi rasional terhadap administrasi pemerintahan, dan usaha ekonomi. Pada akhirnya, studi tentang etika Protestan, menurut Weber, semata-mata hanyalah menyelidiki suatu tahap dari emansipasi dari magi, pembebasan dari

ilusi dunia, yang dianggapnya sebagai ciri khas yang membedakan dari budaya Barat. Weber menyatakan dalam catatan kaki terakhirnya bahwa ia meninggalkan penelitian terhadap Protestanisme karena rekannya Ernst Troeltsch, a seorang teolog profesional, telah mulai menulis buku Ajaran Sosial Gereja-gereja Kristen dan Sekte. Alasan lain untuk keputusan Weber ini ialah bahwa esainya telah memberikan perspektif untuk perbandingan yang luas antara agama dan masyarakat, yang dilanjutkannya dalam karya-karyanya berikutnya (studi tentang agama di Tiongkok, India, dan agama Yudaisme.) Buku ini juga merupakan upaya pertama Weber dalam menggunakan konsep rasionalisasi. Gagasannya bahwa kapitalisme modern berkembang dari pengejaran kekayaan yang bersifat keagamaan berarti suatu perubahan terhadap cara keberadaan yang rasional, kekayaan. Pada suatu titik tertentu, rasional ini berhenti, mengalahkan, dan meninggalkan gerakan keagamaan yang mendasarinya, sehingga yang tertinggal hanyalah kapitalisme rasional. Jadi intinya, "Semangat Kapitalisme" Weber pada dasarnya adalah Semangat Rasionalisme, dalam pengertian yang lebih luas. Esai ini juga dapat ditafsirkan sebagai salah satu kritik Weber terhadap Karl Marx dan teori-teorinya. Sementara Marx berpendapat, pada umumnya, bahwa semua lembaga manusia - termasuk agama - didasarkan pada dasar-dasar ekonomi, Etika Protestan memalingkan kepalanya dari teori ini dengan menyiratkan bahwa gerakan keagamaan memperkuat kapitalisme, dan bukan sebaliknya.

[sunting] Daftar isi
Bagian 1. Masalah
I. Afiliasi Agama dan Stratifikasi Sosial Pekerjaan; Aturan Keagamaan; Etika Kerja; Rasionalisme Ekonomi; Protestantisme vs. Katolisisme; Semangat Bisnis; Wilayah-wilayah Kapitalis; Fokus Kota. II. Semangat Kapitalisme Individualitas Historis; Benjamin Franklin; Etos Kapitalis; Modern vs. Pra-modern Kapitalisme; Rasionalisme vs. Traditionalisme; Etos dan Gagasan Keagamaan; Gagasan tentang Panggilan. III. Konsep Luther tentang Panggilan, Tugas Penyelidikan. Asal-usul Panggilan; Pandangan Abad Pertengahan; Traditionalisme dan Mistisisme Luther; Calvinisme dan Puritanisme; Kekuatan Sejarah.

Bagian 2. Etika Praktis dari Cabang-cabang Asketik Protestantisme
IV. Dasar-dasar Keagamaan dari Asketisisme Dunia Sejarah Asketisisme Protestan A. Calvinisme Predestinasi; Eliminasi Magi; Rasionalisasi Dunia; Kepastian Keselamatan; Lutheranisme vs. Calvinime; Katolisisme vs. Calvinisme; Monastisisme vs. Puritanisme; Etika Methodis; Gagasan tentang Bukti. B. Pietisme Emosionalisme; Spener; Francke; Zinzendorf; Pietisme Jerman. C. Methodisme D. Sekte-sekte Puritan Baptis dan Quaker; Prinsip Sekte; Asketisisme Duniawi; Transformasi Dunia. V. Asketisisme dan Semangat Kapitalisme Richard Baxter; Makna Kerja; Pembenaran atas Keuntungan; Kapitalisme Yahudi vs. Puritan; Puritanisme dan Kebudayaan; Tabungan dan Modal; Paradoks Asketisisme dan Kekayaan; Melayani Kedua Dunia; Etika Kapitalistik Warga Negara; Kandang Besi Kapitalisme.

Etika
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Belum Diperiksa Langsung ke: navigasi, cari
Filosofi

Cabang[tampilkan]
Epistemologi Estetika Etika Filosofi politik Logika Metafisika Zaman[tampilkan]

Kuno Pertengahan Modern Kontemporer
Tradisi[tampilkan]

Analitik Kontinental Timur Islam Marxisme Platonisme Skolastisisme
Filsuf[tampilkan]

Estetikawan Epistemologian Etikawan Metafisikawan Logikawan Filsuf politik dan sosial
Sastra[tampilkan]

Estetika Epistemologi Etika Logika Metafisika Politik filsafat
Daftar[tampilkan]

Garis besar Topik Teori Glosari Filsuf Daftar filsuf Indonesia

Portal

l

b

s

Etika (Yunani Kuno: "ethikos", berarti "timbul dari kebiasaan") adalah cabang utama filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas yang menjadi studi mengenai standar dan penilaian moral.[rujukan?] Etika mencakup analisis dan penerapan konsep seperti benar, salah, baik, buruk, dan tanggung jawab.[rujukan?] Etika dimulai bila manusia merefleksikan unsur-unsur etis dalam pendapatpendapat spontan kita.[rujukan?] Kebutuhan akan refleksi itu akan kita rasakan, antara lain karena pendapat etis kita tidak jarang berbeda dengan pendapat orang lain.[1] Untuk itulah diperlukan etika, yaitu untuk mencari tahu apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia.[rujukan?] Secara metodologis, tidak setiap hal menilai perbuatan dapat dikatakan sebagai etika.[rujukan?] Etika memerlukan sikap kritis, metodis, dan sistematis dalam melakukan refleksi.[rujukan?] Karena itulah etika merupakan suatu ilmu. Sebagai suatu ilmu, objek dari etika adalah tingkah laku manusia.[rujukan?] Akan tetapi berbeda dengan ilmu-ilmu lain yang meneliti juga tingkah laku manusia, etika memiliki sudut pandang normatif. Maksudnya etika melihat dari sudut baik dan buruk terhadap perbuatan manusia.[2] Etika terbagi menjadi tiga bagian utama: meta-etika (studi konsep etika), etika normatif (studi penentuan nilai etika), dan etika terapan (studi penggunaan nilainilai etika).[rujukan?]

Daftar isi
[sembunyikan]

• •

1 Jenis Etika o 1.1 Etika Filosofis o 1.2 Etika Teologis o 1.3 Relasi Etika Filosofis dan Etika Teologis 2 Reference 3 Pranala luar

[sunting] Jenis Etika
[sunting] Etika Filosofis
Etika filosofis secara harfiah dapat dikatakan sebagai etika yang berasal dari kegiatan berfilsafat atau berpikir, yang dilakukan oleh manusia. Karena itu, etika sebenarnya adalah bagian dari filsafat; etika lahir dari filsafat.[rujukan?]

Etika termasuk dalam filsafat, karena itu berbicara etika tidak dapat dilepaskan dari filsafat.[rujukan?] Karena itu, bila ingin mengetahui unsur-unsur etika maka kita harus bertanya juga mengenai unsur-unsur filsafat. Berikut akan dijelaskan dua sifat etika:[3] 1. Non-empiris[rujukan?] Filsafat digolongkan sebagai ilmu non-empiris. Ilmu empiris adalah ilmu yang didasarkan pada fakta atau yang kongkret. Namun filsafat tidaklah demikian, filsafat berusaha melampaui yang kongkret dengan seolah-olah menanyakan apa di balik gejala-gejala kongkret. Demikian pula dengan etika. Etika tidak hanya berhenti pada apa yang kongkret yang secara faktual dilakukan, tetapi bertanya tentang apa yang seharusnya dilakukan atau tidak boleh dilakukan. 2. Praktis[rujukan?] Cabang-cabang filsafat berbicara mengenai sesuatu “yang ada”. Misalnya filsafat hukum mempelajari apa itu hukum. Akan tetapi etika tidak terbatas pada itu, melainkan bertanya tentang “apa yang harus dilakukan”. Dengan demikian etika sebagai cabang filsafat bersifat praktis karena langsung berhubungan dengan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan manusia. Tetapi ingat bahwa etika bukan praktis dalam arti menyajikan resep-resep siap pakai. Etika tidak bersifat teknis melainkan reflektif. Maksudnya etika hanya menganalisis tema-tema pokok seperti hati nurani, kebebasan, hak dan kewajiban, dsb, sambil melihat teori-teori etika masa lalu untuk menyelidiki kekuatan dan kelemahannya. Diharapakan kita mampu menyusun sendiri argumentasi yang tahan uji.

[sunting] Etika Teologis
Ada dua hal yang perlu diingat berkaitan dengan etika teologis. Pertama, etika teologis bukan hanya milik agama tertentu, melainkan setiap agama dapat memiliki etika teologisnya masing-masing.[rujukan?] Kedua, etika teologis merupakan bagian dari etika secara umum, karena itu banyak unsur-unsur di dalamnya yang terdapat dalam etika secara umum, dan dapat dimengerti setelah memahami etika secara umum.[4] Secara umum, etika teologis dapat didefinisikan sebagai etika yang bertitik tolak dari presuposisi-presuposisi teologis.[5] Definisi tersebut menjadi kriteria pembeda antara etika filosofis dan etika teologis.[rujukan?] Di dalam etika Kristen, misalnya, etika teologis adalah etika yang bertitik tolak dari presuposisi-presuposisi tentang Allah atau Yang Ilahi, serta memandang kesusilaan bersumber dari dalam kepercayaan terhadap Allah atau Yang Ilahi.[rujukan?] Karena itu, etika teologis disebut juga oleh Jongeneel sebagai etika transenden dan etika teosentris.[6] Etika teologis Kristen memiliki objek yang sama dengan etika secara umum, yaitu tingkah laku manusia.[rujukan?] Akan tetapi, tujuan yang hendak dicapainya sedikit berbeda, yaitu mencari apa yang seharusnya dilakukan manusia, dalam hal baik atau buruk, sesuai dengan kehendak Allah.[7] Setiap agama dapat memiliki etika teologisnya yang unik berdasarkan apa yang diyakini dan menjadi sistem nilai-nilai yang dianutnya. Dalam hal ini, antara

agama yang satu dengan yang lain dapat memiliki perbedaan di dalam merumuskan etika teologisnya.[rujukan?]

[sunting] Relasi Etika Filosofis dan Etika Teologis
Terdapat perdebatan mengenai posisi etika filosofis dan etika teologis di dalam ranah etika.[rujukan?] Sepanjang sejarah pertemuan antara kedua etika ini, ada tiga jawaban menonjol yang dikemukakan mengenai pertanyaan di atas, yaitu:[8]

Revisionisme[rujukan?]

Tanggapan ini berasal dari Augustinus (354-430) yang menyatakan bahwa etika teologis bertugas untuk merevisi, yaitu mengoreksi dan memperbaiki etika filosofis.

Sintesis[rujukan?]

Jawaban ini dikemukakan oleh Thomas Aquinas (1225-1274) yang menyintesiskan etika filosofis dan etika teologis sedemikian rupa, hingga kedua jenis etika ini, dengan mempertahankan identitas masing-masing, menjadi suatu entitas baru. Hasilnya adalah etika filosofis menjadi lapisan bawah yang bersifat umum, sedangkan etika teologis menjadi lapisan atas yang bersifat khusus.

Diaparalelisme[rujukan?]

Jawaban ini diberikan oleh F.E.D. Schleiermacher (1768-1834) yang menganggap etika teologis dan etika filosofis sebagai gejala-gejala yang sejajar. Hal tersebut dapat diumpamakan seperti sepasang rel kereta api yang sejajar. Mengenai pandangan-pandangan di atas, ada beberapa keberatan. Mengenai pandangan Augustinus, dapat dilihat dengan jelas bahwa etika filosofis tidak dihormati setingkat dengan etika teologis.[rujukan?] Terhadap pandangan Thomas Aquinas, kritik yang dilancarkan juga sama yaitu belum dihormatinya etika filosofis yang setara dengan etika teologis, walaupun kedudukan etika filosofis telah diperkuat.[rujukan?] Terakhir, terhadap pandangan Schleiermacher, diberikan kritik bahwa meskipun keduanya telah dianggap setingkat namun belum ada pertemuan di antara mereka.[9] Ada pendapat lain yang menyatakan perlunya suatu hubungan yang dialogis antara keduanya.[10] Dengan hubungan dialogis ini maka relasi keduanya dapat terjalin dan bukan hanya saling menatap dari dua horizon yang paralel saja.[rujukan?] Selanjutnya diharapkan dari hubungan yang dialogis ini dapat dicapai suatu tujuan bersama yang mulia, yaitu membantu manusia dalam bagaimana ia seharusnya hidup.

[sunting] Reference
1. ^ [K. Bertens. 2000. Etika. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 25.] 2. ^ Etika, 24-25 3. ^ Etika, 27-29 4. ^ [Eka Darmaputera. 1987. Etika Sederhana Untuk Semua: Perkenalan Pertama. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 94.] 5. ^ [Paul L. Lehmann. 1963. Ethics in a Christian Context. New York: Harper & Row Publishers, 25.] 6. ^ [J.A.B. Jongeneel. 1980. Hukum Kemerdekaan Jilid 1. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 15-16.] 7. ^ [J. Verkuyl. 1982. Etika Kristen Bagian Umum, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 17.] 8. ^ Ethics in a Christian Context, 254 9. ^ Ethics in a Christian Context, 254 10. ^ Hukum Kemerdekaan Jilid 1, 38.

Pemikiran Max Weber
Oleh Sarip hasan

Memahami Pemikiran Max Weber
Oleh: Saripuddin * Diawali oleh esai etika protestan dan semangat kapitalisme, Weber menyebutkan agama adalah salah satu alasan utama perbedaan antara budaya barat dan timur. Ia mengaitkan efek pemikiran agama dalam kegiatan ekonomi, hubungan antara stratifikasi sosial dan pemikiran agama serta pembedaan karakteristik budaya barat. Tujuannya untuk menemukan alasan mengapa budaya barat dan timur berkembang dengan jalur yang berbeda. Weber kemudian menjelaskan temuanya terhadap dampak pemikiran agama puritan (protestan) memiliki pengaruh besar dalam perkembangan sistem ekonomi di Eropa dan Amerika Serikat, namun tentu saja ini ditopang dengan faktor lain diantaranya adalah rasionalitas terhadap upaya ilmiah, menggabungkan pengamatan dengan matematika, ilmu tentang pembelajaran dan yurisprudensi, sistematisasi terhadap administrasi pemerintahan dan usaha ekonomi. Studi agama menurut Weber semata hanyalah meneliti satu emansipasi dari pengaruh magi, yaitu pembebasan dari pesona. Hal ini menjadi sebuah kesimpulan yang dianggapnya sebagai aspek pembeda yang sangat penting dari budaya yang ada di barat. Max Weber dengan baik mengaitkan antara Etika Protestan dan Semangat Kapitalis (Die Protestan Ethik Under Giest Des Kapitalis). Tesisnya tentang etika protestan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi kapitalis. Ini sangat kontras

dengan anggapan bahwa agama tidak dapat menggerakkan semangat kapitalisme. Studi Weber tentang bagaimana kaitan antara doktrin-doktrin agama yang bersifat puritan dengan fakta-fakta sosial terutama dalam perkembangan industri modern telah melahirkan corak dan ragam nilai, dimana nilai itu menjadi tolak ukur bagi perilaku individu. Karya Weber tentang The Protestan Ethic and Spirit of Capitalism menunjukkan dengan baik keterkaitan doktrin agama dengan semangat kapitalisme. Etika protestan tumbuh subur di Eropa yang dikembangkan seorang yang bernama Calvin, saat itu muncul ajaran yang menyatakan seorang pada intinya sudah ditakdirkan untuk masuk surga atau neraka, untuk mengetahui apakah ia masuk surga atau neraka dapat diukur melalui keberhasilan kerjanya di dunia. Jika seseorang berhasil dalam kerjanya (sukses) maka hampir dapat dipastikan bahwa ia ditakdirkan menjadi penghuni surga, namun jika sebaliknya kalau di dunia ini selalu mengalami kegagalan maka dapat diperkirakan seorang itu ditakdirkan untuk masuk neraka. Doktrin Protestan yang kemudian melahirkan karya Weber tersebut telah membawa implikasi serius bagi tumbuhnya suatu etos baru dalam komunitas Protestan, etos itu berkaitan langsung dengan semangat untuk bekerja keras guna merebut kehidupan dunia dengan sukses. Ukuran sukses dunia – juga merupakan ukuran bagi sukses di akhirat. Sehingga hal ini mendorong suatu semangat kerja yang tinggi di kalangan pengikut Calvinis. Ukuran sukses dan ukuran gagal bagi individu akan dilihat dengan ukuran yang tampak nyata dalam aktivitas sosial ekonominya. Kegagalan dalam memperoleh kehidupan dunia – akan menjadi ancaman bagi kehidupan akhirat, artinya sukses hidup didunia akan membawa pada masa depan yang baik di akhirat dengan “jaminan” masuk surga, sebaliknya kegagalan yang tentu berhimpitan dengan kemiskinan dan keterbelakangan akan menjadi “jaminan” pula bagi individu itu masuk neraka. Upaya untuk merebut kehidupan yang indah di dunia dengan “mengumpulkan” harta benda yang banyak (kekayaan) material, tidak hanya menjamin kebahagiaan dunia, tetapi juga sebagai media dalam mengatasi

kecemasan. Etika Protestan dimaknai oleh Weber dengan kerja yang luwes, bersemangat, sungguh-sungguh, dan rela melepas imbalan materialnya. Dalam perkembangannya etika Protestan menjadi faktor utama bagi munculnya kapitalisme di Eropa dan ajaran Calvinisme ini menebar ke Amerika Serikat dan berpengaruh sangat kuat disana. Weber mendefinisikan semangat kapitalisme sebagai bentuk kebiasaan yang sangat mendukung pengejaran rasionalitas terhadap keuntungan ekonomi. Semangat seperti itu telah menjadi kodrat manusia-manusia rasional, artinya pengejaran bagi kepentingan-kepentingan pribadi diutamakan daripada memikirkan kepentingan dan kebutuhan kolektif seperti yang dikehendaki oleh Kar Marx. Islam pun sebenarnya berbicara tentang kaitan antara makna-makna doktrin dengan orientasi hidup yang bersifat rasional. Dalam salah satu ayat disebutkan bahwa setelah menyelesaikan ibadah shalat, diperintahkan untuk bertebaran di muka bumi ini dalam rangka mencari karunia Allah SWT. Namun dalam Islam ada mekanisme penyeimbangan yang digunakan untuk membatasi kepemilikan pribadi dengan kewajiban membayar zakat, infaq dan shadaqah. Menurut Max Weber bahwa suatu cara hidup yang teradaptasi dengan baik memiliki ciri-ciri khusus kapitalisme yang dapat mendominasi yang lainnya merupakan kenyataan yang real ketika masa-masa awal revolusi industri, ketika Weber hidup, kenyataan-kenyataan itu mejadi sesuatu yang benar-benar nyata dipraktekkan oleh manusia. Hidup harus dimulai di suatu tempat dan bukan dari individu yang terisolasi semata melainkan sebagai suatu cara hidup lazim bagi keseluruhan kelompok manusia. Kita perlu mengkritik mengenai teorinya Weber tentang etika protestan dan semangat kapitalis ini. Dalam penelusuran sejarah, ternyata setelah Weber mempublikasikan tulisannya mengenai etika protestan justru keadaan ekonomi masyarakat protestan semakin menurun dan disisi lain mayoritas katolik justru sedang bangkit. Ini adalah bola api yang bisa berbalik membakar teorinya Weber sendiri, karna etika protestan dan semangat kapitalis yang menjadi teorinya tidak .dapat dijadikan ramalan masa depan

Selain membicarakan tentang kaitan antara Protestan dan Kapitalisme, Weber juga membicarakan tentang agama Tiongkok yakni Konfusionisme dan Taoisme, perhatian Weber pada agama ini tampaknya menunjukkan besarnya perhatian Weber atas kenyataan-kenyataan sosial dalam kehidupan manusia. Dalam tulisan-tulisannya yang lain, Weber juga sempat membicarakan masalahmasalah Islam. Hadirnya tulisan tentang Konfusionisme dan Taoisme dalam karya Weber ini dapat dipandang sebagai perbandingan antara makna agama di Barat dan di Timur. Ia banyak menganalisa tentang masyarakat agama, tentu saja dengan analisa yang rasional dan handal serta sama sekali tidak ada maksud untuk mendiskriminasikan agama tertentu. Agama Tiongkok; Konfusianisme dan Taonisme merupakan karya terbesar kedua dari Weber dalam sosiologi tentang agama. Weber memusatkan perhatiannya pada unsur-unsur dari masyarakat Tiongkok yang mempunyai perbedaan jauh dengan budaya yang ada di bagian barat bumi (Eropa) yang dikontraskan dengan Puritanisme. Weber berusaha mencari jawaban “mengapa kapitalisme tidak berkembang di Tiongkok?” dalam rangka memperoleh jawaban atas pertanyaan sederhana diatas, Webar melakukan studi pustaka atas eksistensi masyarakat tiongkok. Bagaiman eksistensi itu dipahami Weber dalam rangka menuntaskan apa yang menjadi kegelisahan empiriknya, maka yang dilakukana adalah memahami sejarah kehidupannya, Dalam berbagai dokumen yang diteliti oleh Weber, bahwa masyarakat Tiongkok memiliki akar yang kuat dengan kehidupan nenek-moyang mereka sejak tahun 200 SM, Tiongkok pada saat itu merupakan tempat tinggal para pemimpin kekaisaran yang membentuk benteng-benteng di kota-kota Tiongkok, disitu juga merupakan pusat perdagangan, namun sayangnya mereka tidak mendapatkan otonomi politik, ditambah warganya yang tidak mempunyai hak-hak khusus, hal ini disebabkan oleh kekuatan jalinan-jalinan kekerabatan yang muncul akibat keyakinan keagamaan terhadap roh-roh leluhur. Hal lainnya adalah gilda-gilda yang bersaing merebutkan perkenan kaisar. Sebagai imbasnya warga kota-kota Tiongkok tidak

pernah menjadi suatu kelas setatus terpisah. Namun jika kita cermati dinegara beragamakan Taoisme dan Konfucuisme kini mampu berkembang dan banyak kapitalis dimana-mana mungkin hal itu sudah tidak relevan lagi dengan fakta sosial saat ini. Pada bagian awal buku ini weber menuliskan tentang politik dan kekuasaan, ada berbagai hal yang menarik untuk diulas bagi banyak teoritik sosial. Tentang Negara Weber mendifinisikan negara sebagai sebuah lembaga yang memiliki monopoli dalam penggunaan kekuatan fisik secara sah, definisi ini menjadi sangat berharga karna sumbangsihnya dalam studi tentang ilmu politik barat modern. Pada bagian satu buku ini diterangkan tentang adanya tiga justifikasi batiniah yang menjadi legitimasi dasar bagi dominasi. Legitimasi dasar bagi dominasi ini yang pertama ialah otoritas atas masa lalu abadi atau sering disebut sebagai dominasi tradisional, karma disini ada otoritas atas adat istiadat yang dikeramatkan. Otoritas seperti ini dipakai patriach dan penguasa patrimonial dimasa lalu, salah satunya adalah adat yang mengangkat seorang pemimpin atas dasar darah keturunan atau dari suku tertentu. Yang kedua merupakan otoritas kharismatik diantaranya; ketaatan personal absolut dan keyakinan personal pada wahyu, heroisme, atau bisa juga kualitas lain yang istimewa dari kepemimpinan individual. Sebagai contohnya seperti yang diperaktikan seorang Nabi, pangliama perang terpilih, atau pemimpin-pemimpin politik yang memang mempunyai sebuah kharisma. Yang ketiga merupakan dominasi karma legalitas, dominasi ini didasari oleh sebuah hukum yang memang sudah terbentuk. Legalitas ini timbul karena keyakinan pada keabsahan statula legal dan komnpetensi fungsional yang beralas pranata yang dibuat secara rasional. Contohnya pemimpin yang dipilih secara demokratis melalui pemilu yang berdasarkan undang-undang yang berlaku seperti halnya Negara kita dan Negara-negara lain yang demokratis. Ada yang perlu dikritik dalam karya Weber mengenai perkembangan rasionalisasi hukum, menurutnya perkembangan hukum diawali pewahyuan ala kharismatik, tahapan ini merupakan penciptaan hukum dari ketiadaan hukum sama sekali. Tahapan ini ditandai dengan mode bersifat kharimatik. Tahapan yang kedua menurut Weber adalah penciptaan hukum secara empiris, pengadaan

hukum empiris ini tercipta melalui proses teknis yang merupakann kreatifitas manusia itu sendiri, tahapan kedua ini ditandai dengan metodenya yang bersifat empirical. Selanjutnya adalah tahapan imposition atau pembebanan hukum oleh kekuatan-kekuatan sekuler, dan yang terakhir merupakan tahapan profesional, artinya hukum yang dibuat oleh orang-orang yang benar-benar mempunyai kemampuan didalamnya karna mereka mendapatkan pendidikian formal dengan metode ilmiah dan logis formal. Kesimpulanya Weber melihat masyarakat selalu akan berkembang dari kharismatik tradisional menuju tahapan-tahapan yang sudah ditentukan diatas. Tapi jika kita melihat berbagai perkembangan hukum, proses itu tak berjalan linier menaiki tangga secara berurutan, justru perubahannya bisa saja terjadi secara gradual atau acak. Hal ini bisa ditemukan pada kondisi masyarakat yang mengalami revolusi. Ditengah-tengah dunia modern kita masih menemukan fakta banyaknya masyarakat tradisional yang begitu kesulitan dalam menyesuaikan hukum yang mengikatnya oleh hukum formal yang diciptakan negara, ini mengakibatkan kementalan antara kualitas hukum dan kualitas masyarakat, alasannya adanya masyarakat yang tak bisa mencerna hukum sehingga terjadi pemboikotan secara tidak langsung. Ada kasus yang lebih menarik dikaitkan dengan perkembangan hukum manusia saat ini, contoh beberapa negara yang menggunakan syariat Islam, tentu saja bisa merupakan penolakan mentah-mentah atas teorinya Weber. Apa yang disebut sebagai hukum tuhan yang berpedoman pada wahyu dari teks-teks suatu kitab suci masih berlaku sepanjang zaman yang dijadikan hukum manusia saat ini. Tentu tidak serta merta dapat dikatakan ketinggalan, karna berada pada tahap satu dari perkembangan manusia yang diungkapkan Weber sebelunya, justru kharismatik tradisional mapu melampaui hukum manusia profesiaonal sekalipun. Buku ini bisa di ibaratkan pohon yang memiliki beberapa tandan buah, beberapa tandan dari buku yang berkafer biru ini diantaranya mengulas tentang agama, kekuasaan, ilmu pengetahuan dan politik. Pada bagian yang kedua dalam buku ini merupakan esai tentang kekuasaan, didalamnya ada banyak sekali pembahasan diantaranya mengenai struktur kekuasaan, mengenai kelas social, status dan partai, juga birokrasi.

Weber selain dari salah satu pendiri ilmu sosiologi juga merupakan pendiri administrasi Negara modern, dalam karyanya weber banyak menulis tentang ekonomi dan pemerintahan. Kaitannya dengan birokrasi weber mengutarakan banyak hal termasuk didalamnya tentang karakteristik sebuah birokrasi. Ada beberapa karakteristik sebuah birokrasi yang merupakan kepiawaian modern yang berfungsi secara spesifik diantaranya : adanya prinsip area yurisdiksional yang sudah ditetapkan dan resmi, adanya prinsip-prinsip hirarki jabatan dan tingkattingkat kewenangan, manajemen yang yang didasarkan pada dokumen-dokumen tertulis juga adanya menejemen yang benar-benar terspesialisai. Pada bagian yang tak kalah pentingnya, Weber mengulas bagaimana pemangkuan jabatan itu merupakan sebuah panggilan. Hingga pada sebuah kesimpulan Weber melihat birokrasi sebagai contoh klasik rasionalisasi. Cukup banyak yang bisa ditemukan dari ide-ide cemerlang Max Weber mengenai birokrasi, sehingga saya pikir ini adalah PR bagi pembaca untuk dapat menghatamkan tulisan dalam buku yang penuh makna ini. Bagian ini memang merupakan acuan mengapa Weber dikatakan sebagai salah satu pendiri adanya administrasi modern. Buku ini merupakan jendela melihat masa lalu untuk memahami kerangka teoritik Weber. Ia tak kalahnya dengan hantu tua Karl Marx bahkan ia menjadi salah seorang yang membalikan perspektif teoritik Marx. Diantaranya ketika Weber mengatakan pada suatu kesimpulan bahwa faktor material bukanlah satusatunya faktor yang dapat mempengaruhi gagasan, namun sebaliknya gagasan itu sendiri mempengaruhi struktur material. Weber juga mencoba melengkapi kekurangan dari marx terbukti didalam karyanya mengenai stratifikasi dimana stratifikasi sosial diperluas hingga mencakup stratifikasi berdasarkan prestis, status atau kekuasaan. Pada dasarnya karya Weber lebih menekankan tentang proses rasionalisasi yang selalu mendasari semua teoritiknya. Isi buku yang diterbitkan oleh pustaka pelajar ini mempunayai bobot nutrisi kaya teori, namun tingkat kesulitan dalam memahami bagaimana inti permasalahannya menjadi kendala utama dalam menguasai teori dalam buku ini.

Masalah seperti ini memang sering kita temui ketika membaca karya-kaya terjemahan asing. Banyak para tokoh yang menjelaskan teori weber ini dalam bahasa yang sangat sderhana sehingga mudah untuk dipahami, Weber merupakan penulis yang paling buruk dibandingkan dengan tokoh sosiologi lain dalam menjelaskan ide gagasannya, makanya banyak kalangan begitu kesulitan menangkap pemikiran Weber sehingga lebih memilih buku yang sudah dianalisa oleh tokoh lain sesudah Weber. Namun dibalik itu semua Weber mempunyai ide yang cemerlang, ia mempunyai pemikiran yang hebat yang bisa ditemukan dalam buku ini. Kerumitan dalam memahami buku sosiologi Max Weber ini dapat diatasi dengan kesungguhan mempelajarinya. Buku ini seperti sebuah sumur yang dalam, dengan air sebagai gambaran dari teorinya yang tak pernah kering sepanjang masa. Gagasan Max Weber seakan tak pernah surut menghadapi musim silih berganti, ditengah-tengah bayak teoritis baru bermunculan justru ia dapat berjasa dalam perkembangan sosiologi sepanjang zaman. Menurut hemat penulis, buku ini sangat penting dibaca oleh Dosen, Mahasiswa, pemerhati masalah-masalah agama, politik, birokrasi dan siapa saja yang memiliki perhatian pada dunia ilmu. Buku ini tidak hanya menjadi “wajib’ dibaca oleh ilmuan-ilmuan sosial, melainkan mereka yang concern pada masalahmasalah agama dan politik. Saripuddin adalah Mahasiswa Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial Humaniora, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunanan Kalijaga, Yogyakarta

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->