P. 1
RUSIA

RUSIA

1.0

|Views: 603|Likes:
Published by Andri Zainal Kari

More info:

Published by: Andri Zainal Kari on Mar 22, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/31/2015

pdf

text

original

GLASNOST VOL. 4 NO.

2 OKTOBER 2008 - MARET 2009

PRAGMATISME POLITIK LUAR NEGERI VLADIMIR PUTIN' R. de Archellie

A6cmpa«lI,UJI

Pacnao C06emCK020 C0103a KaK .JlfH020HaZ/UOHaJlbHaJl UMnepUH ocmaeun POCCUUCKOU C/JeiJepalJuu KaK eouncmeenuuii HaCReOHUK, 6 mo 6PeMJl KaK etqe uemupuaauamu pecnyiinux 06bH6UJlU UX c6060oy. IIoCRe pacnaoa C06emCK020 C0103a, POCCUUCKaJl 6HeUl1lRJl nOJlUmUKa nooeepenacs uetcomopuos U3MeHemI5lM. HiJeoJlOZU'leCKaJl 60Pb6a KOMMYHU3Ma saoa U taiacca - He uueem HUKaK020 60Jlee CYUfecm6eHH020 pa1cmopa 6 poccuiicxoii eneuoteii nOJlUmUKe; 63aMeH, uexomopuii npazuamuuectcuii nymb uoxcem 6blmb 3O.Me'leH 6 nOHHmU5IX enetuueii nonumutcu U iJeUcm6U51X. 3mom npaeuamusu n05!6U6UlUUC5! 6 enetuneii nOJlUmUKU eU{e c epeueu npaenenust Eneuuna U tionee cmpoeuii 8 iJeyx CpOKOX npaenenust Ilymuua. Ilymuu nOO'lepKHYJl ceoii npaeuamusu 80 eueuaieii nOJlUmUKe He mOJlbKO 8 60JlbUlUHCmfJe C60eu peuu 110 U e (Jeiicm8U5IX eneuoteu nonumuxu.

Kmoueeste Cl108a: npaeuamusu; Ilymuu; 8HeUlHRJl nOJlUmUKa.

Abstract

The demise of the Soviet Union as multinational empire left Republic of Russian Federation as a single heir, while another fourteen republics has declared their freedom. After the Soviet demised, Russian foreign policy underwent some changes. Ideological fundament-communism and class struggle-no longer exist as a significant factor in Russian foreign policy; instead, some pragmatist ways. can be seen in foreign policy concepts and actions. This pragmatism appeared in Russian foreign policy realm since Yeltsin's era and became more firmly in two Putin 's consecutive terms. Putin emphasized his pragmatism in foreign policy in most of his speeches and realized it in foreign policy actions. This article will examine to what extent has pragmatism as a concept coincide with pragmatism as an action in two of Putin 's consecutive terms geographically and thematically.

Keywords: pragmatism; Putin; foreign policy.

Pendahuluan

Reformasi yang dilakukan Gorbachev lewat konsep NPT (New Political Thinking) (novoe politicheskoe myshlenie) dan bubamya rejim Uni Soviet telah mengubah corak politik luar negeri Uni Soviet. Semua kebijakan Uni Soviet, termasuk kebijakan luar negeri, sepenuhnya

• Artikel ini merupakan pengembangan penelitian skripsi saya yang berjudul Nasionalisme Pragmatis Pemerintahan Pertama Vladimir Vladimirovich Putin Tahun 2000-2004, FIB ill, Depok, 2007.

48 (48-62)

R. DE ARCHELLIE

didasarkan pada ideologi negara: perjuangan kelas (class strugle) dan komunisme dunia (world communism). Pada masa awal pengangkatan Gorbachev, cara-cara pragmatis rnulai mewamai kebijakan negara dimulai dengan liberalisasi ekonomi dan disusul politik. Orientasi politik luar negeri pun mulai condong ke Barat dalam upaya menjadikan Rusia pasca-Soviet menjadi negara bangsa yang memiliki kesamaan nilai dengan bangsa-bangsa lain. Kesamaan nilai terse but terangkum dalam pengutamaan HAM, kebebasan, penegakan hukum, dan moralitas yang tinggi (Selezneva 2003: 13). Munculnya Yeltsin sebagai presiden pertama Republik Federasi Rusia dan kemudian digantikan oleh Vladimir Putin, semakin menegaskan pragmatisme dalam politik luar negeri dengan menjadikan kepentingan nasional sebagai landasan, bukan kepentingan ideologi.

Vladimir Putin secara tegas menyatakan orientasi politik luar negeri Federasi Rusia berdasarkan pragmatisme, efektivitas ekonomi, dan kepentingan nasional sebagai prioritas.' Pragmatisme yang dimaksud dalarn artikel ini dan bersesuaian dengan kebijakan dan praktik politik luar negeri Putin adalah kebijakan dan praktik politik luar negeri yang berdasarkan konteks (ruang dan waktu), dinamis, berorientasi manfaat, dan berdasarkan kepentingan nasional. Sementara itu, Ludmilla Selezneva memiliki pengertian sendiri tentang pragmatisme sebagai cara membuat keputusan jangka pendek, menciptakan sejumlah peluang untuk mencapai tujuan-tujuan politik tanpa memperhitungkan konsekuensi jangka panjang dan bahkan dalam beberapa kasus, mengabaikan nilai-nilai moral dalam keputusan tersebut (Selezeva 2003: 10). Namun, pengujian lebih lanjut perIu dilakukan dalam mencari kesesuaian antara konsep (harapan) dengan realisasi (kenyataan) dalam proses kebijakan politik luar negeri Federasi Rusia di bawah kepemimpinan Putin.

Realisasi kebijakan politik luar negeri Putin lebih banyak berlandas pada nilai-nilai kebesaran (great power) yang pemah disandang Rusia masa lalu (kekaisaran dan Uni Soviet). Status kekuatan besar tidak saja menjadi visi tetapi juga menjadi ambisi yang telah muncul melalui klaim sejak Boris Yeltsin memerintah di tahun 1990-an meskipun Rusia menderita krisis multidimensi (Oldberg 2007: 13). Pada masa pemerintahan Putin, klaim ini semakin nyata lewat pemyataan Putin dalam berbagai pidato kenegaraannya. Kondisi perekonomian negara

1 Annual Address to the federal Assembly of the Russian Federation, Moscow, Kremlin, July 8, 2000. http://www.kremlin.ru Diakses tangga124 September 2006.

49

GLASNOST VOL. 4 NO.2 OKTOBER 2008 - MARET 2009

yang mulai membaik sejak tahun 2000 membuat langkah Putin merealisasikan status kekuatan besar menjadi lebih lancar. Perlahanlahan ia menaikkan anggaran untuk sektor militer bersamaan dengan refonnasi militer yang mencakup perampingan jumlah persone1, modemisasi peralatan tempur, dan peningkatan kesejahteraan personel militer.

Artikel ini akan menganalisis pnnslp pragmatisme dalam proses kebijakan po1itik luar negeri Rusia di bawah kepemimpinan Vladimir Putin berdasarkan dokumentasi kebijakan tertulis. Kebijakan tertulis yang dimaksud di sini juga termasuk pidato-pidato kenegaraan Putin sebagai presiden, konferensi pers yang berkaitan dengan kebijakan luar negeri, dan pemyataan-pemyataan yang mewakili sikap resmi pemerintahan Federasi Rusia. Sumber-sumber tersebut mungkin saja berupa dokumen atau pemyataan tertulis, atau mungkin juga telah direalisasikan oleh Putin selama ia menjabat presiden. Pada akhirnya, akan dihasilkan sebuah analisis dekriptif mengenai proses kebijakan luar negeri Putin, baik secara kronologis maupun geografis yang disajikan secara bersamaan.

Politik Luar Negeri Federasi Rusia Fase Awal

Perjalanan politik luar negeri Rusia-dimulai dari periode Kekaisaran (Imperium) Rusia, Uni Soviet sampai dengan Federasi Rusia-selalu dilandasi oleh semangat mesianistis, terutama ditunjukkan oleh elite po1itik pemerintahan yang berhasrat besar menjadikan Rusia sebagai pemimpin (Kristen Ortodoks pada masa Kekaisaran dan Proletariat pada Uni Soviet) dunia. Masa Kekaisaran Rusia dan Uni Soviet ditandai dengan dominasi paradigma realisme. Pada periode Kekaisaran, model kebijakan luar negeri Rusia adalah imperialisme, terutama di wilayah Eurasia (Kaukasus, Asia Tengah, dan Timur Jauh) sebagai bentuk counter-imperialisme terhadap aneksasi dan kooptasi wilayah Rusia oleh bangsa Mongol selama kurang lebih tiga abad. Pola ini dilanjutkan oleh rejim Uni Soviet yang mampu menguasai Eurasia selama kurang lebih tujuh puluh tahun.

Politik luar negeri Uni Soviet sepenuhya diformulasikan dan direalisasikan berdasarkan ideologi (Miller 1991; Selezeva 2003; Fawn 2004). Seperti disebutkan sebelumnya, Uni Soviet tampil sebagai pemimpin revolusi perjuangan kelas dengan Marxsime-Leninisme sebagai ideologi negara. Ideologi menciptakan aturan-aturan dan prosedur untuk totalitas eksistensi umat manusia (sosialis). Tetapi, menurut Rick Fawn (2004: 2), sebagian besar analis Barat menyangsikan

50

R. DE ARCHELLIE

totalitas ideologi itu sendiri dan menganggap bahwa ideologi negara Uni Soviet bukanlah ideologi sebenamya. Ideologi tersebut adalah sekumpulan frasa kosong tanpa nilai yang diulang tanpa bosan tetapi tidak seorang pun mempercayainya kecuali para pimpinan partai. Pada saat Gorbachev memperkenalkan NPT dengan slogan glasnost dan perestroika, peran dan fungsi ideologi dalam politik luar negeri Uni Soviet mulai dipertanyakan. Apakah Uni Soviet masih berjalan dalam garis perjuangan kelas? Atau Uni Soviet mulai mengedepankan kepentingan nasional sebagai konsekuensi logis memburuknya kondisi dalam negeri.

Perestroika yang diperkenalkan Gorbaehev sejak tahun 1985 menandai proses modemisasi yang dialami Rusia. Bagian terbesar dalam proses ini adalah upaya membangun hubungan dengan negara-negara Barat maju (Sakwa 2004: 268). Tetapi, komposisiseimbang yang memuaskan antara integrasi dan otonomi belum mencapai bentuknya. Kondisi internal Uni Soviet justru semakin parah dan puncaknya adalah bubarnya Uni Soviet yang digantikan oleh lima belas negara bam berdaulat yang secara beriringan menyatakan kemerdekaan diri sejak tahun 1990. Republik Federasi Rusia tampil sebagai ahli waris Uni Soviet secara administratif dan geografis. Federasi Rusia hams merumuskan ulang kebijakan luar negerinya, baik seeara bilateral maupun regional. Boris Yeltsin dibantu dengan orang-orang terdekat kepercayaannya membuat formulasi yang mulai meneerminkan prinsip pragmatisme: berdasarkan konteks.

Orientasi politik luar negeri Rusia pada masa pemerintahan Yeltsin mengalami beberapa kali perubahan, terkait dengan pengaruh yang dibawa oleh perumus kebijakan masa itu dan pengaruh yang ditimbulkan oleh lingkungan regional Eurasia yang cenderung tidak stabil. Pada masa awal pemerintahan Yeltsin, antara tahun 1992-1995, orientasi politik luar negeri Rusia lebih condong ke Barat (Arbatov 1993; Malcolm and Pravda 1996; Kubicek 2000). Tokoh-tokoh yang banyak mempengaruhi orientasi politik luar negeri pada masa ini antara lain Boris Yeltsin sendiri, Perdana Menteri Andrei Kozyrev, Gennady Burbulis, Yegor Gaidar, dan Mikhail Poltoranin. Kelompok ini memiliki eiri khusus: merumuskan kebijakan-kebijakan pro-Barat dengan kecenderungan pada determinisme ekonomi dan nilai-nilai demokrasi universal namun mengabaikan unsur-unsur strategis dan geopolitis dalam membangun hubungan internasional (Arbatov 1993).

Menjelang pemilu parlemen 1995 dan pemilu presiden 1996, isu perang Serbia-Bosnia menjadi komoditas strategis partai politik dan ealon

51

GLASNOST VOL 4 NO.2 OKTOBER 2008 • MARET 2009

presiden dalam meraih simpati konstituen. Kelompok nasionalis dan komunis seperti Partai Liberal Demokratik pimpinan Vladimir Zhirinovsky dan Partai Komunis Federasi Rusia pimpinan Gennady Zyuganov mulai mendapat simpati masyarakat berkat kelihaian mereka dalam mengkritisi kebijakan Iuar negeri pemerintahan Yeltsin yang terialu "Barat". Akibatnya, Yeltsin pun mulai memutar arah politik luar negerinya dari yang sebelumnya pro-Barat manjadi lebih nasionalis dengan mengedepankan determinasi dan independensi Federasi Rusia sebagai negara besar yang berdaulat. Kondisi ini terusberlanjut sampai dengan krisis ekonomi melanda Rusia-tahun 1998--dan setelahnya, ketika Yeltsin mengundurkan diri sebagai presiden dan menyerahkan mandatnya kepada perdana menteri, Vladimir Putin.

Vladimir Putin memperkenalkan fitur barn kepada publik Rusia dalam hal politik luar negeri: restorasi patriotisme dan nilai-nilai tradisi dalam visi dan pragmatisme tindakan dalam aksi (Oldberg 2007: 16). Perang Chechnya merupakan komoditas utama yang digunakan Putin untuk meningkatkan popularitasnya di mata publik, Putin menyebut kelompok separatis Chechnya sebagai teroris yang mengancam keamanan warga negara dan stabilitas pemerintahan. Sebagai seorang patriot, Putin harus membela kepentingan dan kedaulatan negara Federasi Rusia dari ancaman kelompok-kelompok separatis, seperti pejuang-pejuang separatis Chechnya. Pembenaran terhadap kampanye militer Rusia atas Chechnya perlu menggunakan cara-cara elegan (pragmatis) agar para pembuat keputusan tidak menciptakan blunder. Untuk itu, Putin menyebut perang terhadap kelompok separatis Chechnya sebagai perang terhadap terorisme. Langkah ini pun mendapat simpati dari masyarakat luas. Popularitas Putin semakin meningkat.

Pragmatisme dalam Realisme Barn

Putin merevisi konsep kebijakan Iuar negeri Yeltsin yang pemah disahkan pada tahun 1993. Dalam konsep yang baru=-disahkan pada tanggal 28 Juni 2000-Putin semakin menegaskan visi, misi, dan strategi kebijakan dan politik luar negeri Federasi Rusia. Konsep ini juga menjadi pedoman bagi fonnulasi dan tindakan politik Iuar negeri Rusia dalam sebuah sistem dunia yang telah mengalami perubahan. Perang Dingin telah menciptakan pola-pola barn hubungan antar-negara. Dalam sistem barn tersebut, berbagai tantangan tetap berada di depan Rusia karena adanya usaha kekuatan dunia lain (AS dan NATO) untuk meminggirkan Rusia dari sistem. Konsep ini jelas menyebut AS sebagai seteru utama Rusia. Tetapi, Putin dalam berbagai tindakan politik luar

52

R. DE ARCHELLIE

negerinya berusaha meminimalisasi terjadinya konflik terbuka Rusia dengan Barat. Langkah-Iangkah inilah yang dikategorikan sebagai prinsip pragrnatis dalam konsep dan tindakan politik Iuar negeri Putin. Sedangkan cara pandang Rusia terhadap sistem duma barn dengan usaha Barat meminggirkan Rusia dan usaha Putin untuk masuk dalam "peradaban barat" disebut sebagai realisme barn (Sakwa 2008).

Dalam pidatonya di hadapan dewan parlemen, kebijakan luar negeri Rusia menurut Putin: The foundation of this policy is pragmatism, economic effectiveness, and priority of national task.,,2 Sementara itu, dalam pidato lainnya Putin mengingatkan seluruh warga negara Rusia agar tidak melupakan eksistensi Rusia sebagai sebuah kekuatan besar di masa lalu." Retorika kejayaan masa lalu dan harapan untuk dapat mengembalikan kejayaan tersebut pada masa sekarang dijadikan Putin sebagai salah satu tujuan kebijakan strategis Rusia, yaitu menciptakan sistem dunia multipolar. 4 Multipolaritas ini mengandung aspek ekonomi sebagai yang dominan dan dicapai dengan cara-cara pragmatis dengan tujuan akhirnya adalah memecah perimbangan kekuatan yang selama ini dikuasai AS.

Langkah Putin menjadikan Rusia sebagai salah satu "kekuatan barn" dalam sistem dunia multipolar dimulai dengan reformasi internal, terutama bidang ekonomi, rule of law, dan sistem birokrasi. Putin sepertinya menyadari kelemahan yang sedang diderita Rusia setelah melewati krisis di dekade 1990-an. Sistem intemasional pasca-Perang Dingin pun tidak lagi didominasi pamer kekuatan militer yang terbuka dan penguasaan wilayah tetapi lebih banyak berputar di bidang ekonomi, teknologi, budaya, so sial, dan terutama sistem informasi (Tuathail dan Dalby 1998: 2-3). Putin menarnh perhatian besar pada reformasi

2 Annual Address to the Federal Assembly of the Russian Federation, Moscow, Kremlin, July 8, 2000. http://www.kremlin.ru Diakses tanggal24 September 2006.

3 Lihat pidato pengangkatan Vladimir Putin sebagai Presiden Federasi Rusia terpilih, pidato di hadapan parlemen tahun 2000, pidato sambutan pada perayaan Hari Kemenangan Patriotik atas Nazi tabun 2005. Lebih ianjut lihat http;//www.kremlin.ru

4 Yang dimaksud dengan sistem dunia atau sistem intemasional di sini bukanlah berkaitan dan menelaah sistem politik internasional semata. Di dalam sistem ini juga terdapat fitur-fitur lain, seperti ekonomi, perdagangan, sistem informasi, pendidikan, kesehatan, dan lain-lain. Jadi, politik internasional dengan negara sebagai aktornya hanyalah salah satu bagian dalam sistem internasional, Lebih lanjut lihat K.J. Hoisti, Politik Internasional Kerangka untuk Analisis, Penerbit Erlangga: 1983. Dalam buku ini Holsti menjelaskan lima jenis model sistem internasional yang herbeda: hierarkis, tersebar, tersebar hlok, dua kutub, dan multikutub (multipolar).

53

GLASNOST VOL. 4 NO.2 OKTOBER 2008 - MARET 2009

bidang ekonomi dengan tujuan menjadikan Rusia sebagai magnet ekonomi bagi negara-negara bekas Uni Soviet.

Konsep Kebijakan Luar Negeri yang baru menyatakan bahwa CIS (Commonwealth Independent States) merupakan prioritas utama kebijakan luar negeri Rusia. Kerjasama bilateral dan multilateral dengan negara-negara anggota CIS dibangun atas dasar saling keterbukaan dan kesalingpahaman kedua belah pihak dalam berbagai bidang, Dalam kamus kebijakan luar negeri Rusia, wilayah yang dihuni negara-negara CIS ini disebut near abroad (blizhnee zarubezh' e). Alasan utama para pemimpin Rusia, khususnya Putin untuk tetap menjaga wilayah ini sebagai prioritas utama adalah karena negara-negara yang berada di wilayah ini merupakan tetangga dengan kedekatan sejarah, budaya, dan ekonomi selama berabad-abad (Oldberg 2005: 39).5 Selain itu, puluhan juta warga Rusia tinggal di negara-negara ini. Beberapa kerjasama dalam bidang keamanan yang pemah dibentuk Rusia dengan negara-negara CIS adalah Collective Security Treaty (CST) tahun 1992 antara Rusia, Be1arusia, Kazakhstan, Kirgistan, Tajikistan, dan Armenia; CST kemudian bertransfonnasi menjadi Collective Security Treaty Organization (CSTO) pada tahun 2002. Secara umum, pembentukan berbagai organisasi di wilayah CIS adalah sebagai bentuk antisipasi terhadap kehadiran pengaruh AS dan perluasan NATO di wilayah.

Rusia di bawah Putin berusaha mempertegas pengaruhnya eli wilayah near abroad terutama dengan menjadikan ketergantungan bidang ekonomi negara-negara di kawasan terhadap Rusia sebagai sumber kekuatan baru. Paradigma realis dalam Konsep Kebijakan Luar Negeri Federasi Rusia menyebutkan bahwa meskipun Perang Dingin telah lama berakhir, tetapi proses mencapai sistem dunia multipolar menciptakan tantangan-tantangan baru bagi kepentingan nasional Rusia seiring dengan berubahnya pola hubungan internasional. Penguasaan wilayah bekas Soviet di bawah bendera CIS dan organisasi-organisasi lain, seperti CSTO, merupakan usaha Rusia untuk tetap mempertahankan wilayah strategis yang dulunya, dan sekarang masih dianggap sebagai buffer zone bagi Rusia. Alexei Arbatov (1993) menyebutkan bahwa meningkatnya instabilitas, konflik, dan kekerasan di wilayah (CIS) akan menimbulkan ancaman bagi integritas nasional dan proses demokratisasi dan reformasi ekonomi yang sedang berjalan, babkan pada masa Putin

5 Lihat juga Annual Address to the Federal Assembly of the Russian Federation 2003. http://www.kremlin.ru

54

R. DE ARCHELLIE

sekalipun. Kerjasama bidang ekonomi jelas menjadi opsi pragmatis bagi Putin dalam usahanya mengamankan wilayah bekas Uni Soviet dulu.

Tindakan berikutnya yang dapat dikategorikan sebagai pragmatisme politik luar negeri Putin adalah upaya untuk menjadikan Rusia kembali sebagai bagian dari masyarakat Eropa. Rusia pernah menjadi kekuatan yang disegani di Eropa, tepatnya setelah tentara Imperium Rusia berhasil memukul pasukan Napoleon sampai ke Paris pada bulan Maret 1814. Rusia tampil gagah pada Kongres Vienna, tahun 1814-1815, sebagai media pembagian kekuasaan Eropa pasca- Napoleon. Status kekuatan besar Eropa ini mulai memudar ketika Rusia menderita kekalahan dalam Perdang Krim 1853-1856, meskipun Rusia memasuki medan peperangan dengan kepercayaan diri tinggi (Splidsboel-Hansen 2002). Setelah perang ini usai, Rusia harus menerima kenyataan bahwa statusnya sebagai kekuatan besar di Eropa mulail tergerus oleh kekuatankekuatan bam yang lebih agresif. Akibatnya, Rusia di bawah menteri luar negeri Aleksandr Gorchakov lebih memusatkan perhatian pada reformasi internal untuk memulihkan stabilitas dan integrasi nasional, terntarna di bidang ekonomi. Kebijakan Iuar negeri ditentukan oleh kondisi internal dan ditujukan untuk rnencapai kepentingan nasional.

Putin menghadapi kondisi yang kurang lebih sarna dengan yang dihadapi Gorchakov pasca-Perang Krim. Putin harus rnenampilkan beberapa wajah sekaligus untuk mernbangun kembali Rusia setelah dilanda krisis multidimensi dekade 1990-an. Menurut Oksana Antonenko dan Kathryn Pinnick (2005: 1), integrasi Rusia dengan Eropa merupakan salah satu tujuan utama Putin. Ia memandang Eropa sebagai mitra tradisional Rusia dan Putin terns mencoba membangun hubungan bilateral dan regional dengan negara-negara Eropa dalam berbagai kerjasama strategis. Kerjasama strategis ini banyak diciptakan dalam bidang perdagangan, terutama gas dan minyak bumi. Pada tahun 2005, ekspor gas dan minyak bumi Rusia ke Eropa memenuhi 15-20% (Antonenko and Pinnick 2005: 89) kebutuhan energi dan jumlah ini terus mengalami peningkatan sampai akhir pemerintahan Putin.6 Sementara itu, bagi Rusia sendiri,

6 Arab Saudi merupakan negara dengan cadangan minyak mentah terbesar di dunia.

Sementara itu Rusia merupakan negara dengan cadangan gas bumi terbesar di dunia. Sejurnlah ahli sepakat bahwa Rusia menyimpan 27-28 persen total cadangan gas bumi seluruh dunia. Gazprom adalah perusahan gas negara yang mengurusi produksi gas alam di Rusia. NaiJmya barga minyak dan gas dunia sejak tahun 2000 membuat Rusia menuai Windfall profit yang sangat besar dalam waktu singkat dan membuat negara ini mendapat julukan bam, yaitu petros tate. Lebih lanjtu lihat Marshall L Goldman, Putin, Power, and the New Russia Petrostate, Oxford University Press: 2008.

55

GLASNOST VOL. 4 NO.2 OKTOBER 2008 - MARET 2009

Eropa tidak disangsikan lagi mutlak harus dipertahankan dalam bidang perdagangan energi karena dua per tiga total tujuan ekspor energi Rusia adalah Eropa.

Penciptaan hubungan yang hannonis sebagai mitra strategis antara Rusia dan UE juga diimbangi dengan harmonisasi hubungan bilateral yang dibangun oleh Putin dengan setiap negara UE. Jerman tidak disangsikan lagi merupakan mitra khusus (privilegde partner) (Sakwa 2008: 278) Rusia sejak Uni Soviet bubar. Beberapa negara UE lain yang termasuk dalam privileged partners bagi Putin adalah Inggris, Prancis, dan Spanyol. Model kerjasama bilateral berdasarkan kedekatan personal juga dibangun Putin di Iuar UE, seperti Cina, India, Brasil, Venezuela, Iran, dan lain-lain.

Eropa dengan tradisi liberal dan demokratisnya sebenarnya khawatir dengan tendensi otoritarian diperlihatkan Putin, misalnya lewat pengawasan media, penumpasan teroris Beslan, Perang Chechnya, dan lain-lain. Tetapi Putin dengan retorika-Rusia merupakan bagian integral Eropa-integratifnya dan ketergantungan Eropa terhadap energi Rusia akibat ketidakstabilan Timur Tengah, menjadikan kedua belah pihak tetap saling memandang sebagai mitra strategis. Payung bagi kemitraan antara UE (Uni Eropa) dan Rusia telah ada sejak Partnership and Cooperation Agreement (PCA) disahkan tahun 1994 dan direalisasikan tahun 1997 (Sakwa 2008: 286; Antonenko and Pinnick 2005: 88). Pertemuan tingkat tinggi DE dan Russia tahun 2003 di St. Petersburg menghasilkan kesepakatan barn, yaitu pembentukan empat wilayah bersama (common spaces): ekonomi, keamanan dan keadilan, keamanan ekstemal, dan penelitian, pendidikan, dan kebudayaan (Oldberg 2005: 37; Sakwa 2008: 287). Artinya, antara DE dan Rusia terdapat kesepaharnan bahwa untuk kemitraan strategis di bidang energi dan investasi, nilai-nilai liberal, HAM, demokrasi dapat dipahami menurut pengertian masing-masing pihak. Kerjasama energi dan investasi dapat terns berjalan tetapi integrasi Rusia secara penuh sebagai bag ian dari Uni Eropa akan menunggu waktu yang sangat lama.

Hubungan Rusia-AS memperlihatkan prinsip pragmatisme yang terangterangan, terutama sejak serangan teroris 9/11 tahun 2001. Sebelum serangan 9/11, hubungan Rusia-AS mengalami pasang surut yang cukup signifikan, Sentimen anti-AS mencapai puncaknya setelah langkah sepihak NATO yang dipimpin AS melakukan pemboman 78 hari terhadap Serbia (Perang Kosovo) (Kanet 2007: 38; Oldberg 2005: 38). Tendensi ini, di tingkat elite, mengalami perubahan setelah AS diserang

56

R. DE ARCHELLIE

teroris 9/11. Putin adalah pemimpin negara pertama yang menghubungi George W. Bush untuk menyatakan ralas belasungkawa atas serangan, mengutuk serangan, dan mendukung apapun langkah AS dalam melakukan perang terhadap terorisme.

Pada tanggal 24 September 2001, Putin mengumumkan lima rencana kebijakan "perang melawan terorisme" menanggapi terjadinya serangan teroris terhadap AS, yaitu:

share intelligence with its American counterparts, open Russian airspace for flights providing humanitarian assistance, cooperate with Russia's Central Asian allies to offer similar airspace access to American flights, participate in international search-and-rescue efforts, and increase direct assistance-humanitarian as well military-to the Northern Alliance, the guerilla army opposed to the ruling Taliban in Afghanistan.7

Langkah ini dinilai Alex Pravda (dalam Gorodetsky 2003: 37) sebagai simbol berakhirnya Perang Dingin. Kebijakan ini membuktikan sikap pragmatis Putin dalam memosisikan Rusia di tengah tatanan politik intemasional. Meskipun Putin menyadari bahwa AS masih menjadi rival utama Rusia dalam perimbangan kekuatan politik intemasional, tetapi Putin tidak mau lamt terlalu jauh dalam rivalitas dengan cara ikut serta dalam opini dunia memberantas terorisme intemasional. Bahkan, Putin mengizinkan penggunaan wilayah udara Rusia bagi misi kemanusiaan dan misi militer me1awan terorisme.

Hubungan Rusia-AS pasca-9/11 masih mengalami sandungan terkait rencana AS menempatkan sistem antirudal di wilayah bekas Uni Soviet, seperti Polandia dan Ceko. Campur tangan AS menciptakan pemimpinpemimpin bam di Eropa Timur, Tengah, dan wilayah Kaukasus yang Iebih pro-Barat juga membuat Putin gusar. Revolusi di Ukraina dan Georgia merupakan dua contoh keberhasilan AS dan kegagalan Rusia menjaga pengaruh di kawasan. Hal ini, fluktuasi hubungan Rusia-AS, tidak dapat dipungkiri akan terns berlangsung karena Rusia sendiri masih memandang AS sebagai rival utama dalam perimbangan kekuatan dalam sistem intemasional bam.

Hubungan Rusia dengan negara-negara lain di luar CIS, DE, dan AS juga dibangun Putin berdasarkan prinsip pragmatis: memberikan manfaat terhadap kepentingan nasional Rusia. Seperti disebut sebelumnya, Putin menciptakan pola kemitraan bam dengan model

7 James Goldgeier ~d Michael Mcfaul, George W. Bush and Russia, Current History, edisi Oktober 2002.

57

GLASNOST VOL. 4 NO.2 OKTOBER 2008 - MARET 2009

kedekatan personal dengan setiap kepala negara di dunia. Cina dan India, misalnya, merupakan dua negara pengimpor persenjataan Rusia terbesar sampai Putin digantikan Medvedev tahun 2008. Pada tahun 2000, Putin melakukan lawatan diplomatis ke Korea Utara dan Kuba, dua sekutu utama Soviet semasa Perang Dingin. Pada bulan Maret 2001, Putin mengundang presiden Iran Mohammed Khatami berkunjung ke Rusia. Satu bulan kemudian, Putin menandatangani perjanjian persahabatan bilateral dengan Cina. Rusia juga bergabung dalam OKI (Organisasi Konferensi Islam Internasional), ASEAN, 0-88, dan APEC. Putin juga pemah mengundang presiden Pakistan Pevrez Musharaf untuk berkunjung ke Rusia membicarakan upaya penyelesaian konflik Kashmir. Rusia pun pemah menawarkan diri sebagai mediator konflik Pakistan- Israel, namun AS lebih mengambil peran dalam penyelesaian konflik ini lewat Konperensi Annapolis.

Analisis politik luar negeri Rusia di bawah Putin tidak cukup hanya berdasarkan unsur geografis, tetapi juga harus dari isu-isu yang berkembang di tingkat global. Beberapa isu global yang dapat dijadikan alat analisis adalah terorisme dan nuklir. Isu terorisme intemasional paling tidak sudah dijelaskan pada sebelumnya terkait serangan 9/11 di AS. Beberapa tambahan yang perIu disertakan adalah penggunaan terminologi terorisme sebagai komoditas baru bagi tindakan politik luar negeri Putin di wilayah Kaukasus. Penempatan pasukan militer Rusia di kawasan mendapat legitimasi barn: perang terhadap terorisme. Bahkan kampanye militer Rusia terhadap Chechnya pun mendapat pembenaran perang melawan terorisme, bukan konflik pusat dengan subordinatnya (core and periphery conflict).

Untuk isu nuklir, Rusia banyak mengambil langkah yang bertentangan dengan AS, khususnya dalam menanggapi isu nuklir Korut dan Iran. Kedua negara ini merupakan ancaman potensial bagi keamanan dunia menururt AS. Untuk itu, status kepemilikan (persenjataan) nuklir oleh kedua negara ini harus dicegah. Pembangunan kompleks nuklir Iran di

8 Hubungan Rusia pertama kali dengan kelompok G- 7 dimulai pada tanggal 17 Juli 1991. Ketika itu, para pemimpin negara maju G-7 sedang mengadakan pertemuan tahunan di London, Mikhail Gorbachev bertemu di luar agenda acara G-7 dengan dengan para pemimpin G- 7. Pertemuan serupa berlanjut di Munich tahun 1992 dan Tokyo tahun 1993. Pada dua pertemuan terakhir, dibahas isu menyangkut politik dan ekonomi. Pada tahun 1994, di Naples, format pertemuan G-7 mengambil bentuk baru dengan mengikutsertakan Rusia sebagai mitra sejajar. Setahun kemudian, di Halifax, Rusia terlibat dalam kerjasama praktis dalam membahas isu-isu global dengan tujuh negara maju lainnya. htt]://en.g8russia.ru/g8/ussia in g8/index-print.html Diakses tanggaI 16 Mei 2007.

58

R. DE ARCHELLIE

Bushehr banyak mendapat dukungan, moril dan materil, dari Rusia. Pada bulan Juli 2002, pemerintah Rusia mengumumkan akan membangun lima reaktor tambahan di Bushehr meskipun AS menuntut situs nuklir ini untuk segera ditutup (Freedman dalam kanet 2007: 2004). Penyelesaian kasus dugaan penyalahgunaan fungsi rekator dari tujuan damai menjadi pembangunan persenjataan menuntut ikut campur IAEA. Rusia mendukung langkah independen IAEA dalam proses investigasi Bushehr dan meminta AS untuk tidak me1akukan aksi unilateral untuk isu ini.

Penutup

Berakhirnya Perang Dingin dan bubarnya Uni Soviet telah mengubah orientasi, tujuan, dan pola formulasi kebijakan dan tindakan politik luar negeri negara Federasi Rusia. Pada masa Uni Soviet kebijakan dan tindakan politik luar negeri ditentukan berdasarkan ideologi (class strugle and world communism), yang menghasilkan kebijakan-kebijakan ideologis. Corak ideologis ini mulai memudar dan beralih ke arab yang lebih pragmatis pada saat Gorbachev memperkenalkan NPT (New Political Thinking) yang menghasilkan kebijakan-kebijakan dengan orientasi kesamaan nilai dengan Barat: pengutamaan HAM, kebebasan, penegakan hukum, dan moralitas yang tinggi. Pada masa Yeltsin dan khususnya Putin, prinsip pragmatisme semakin tegas mewamai proses politik luar negeri Rusia.

Ketegasan pnnsip pragmatisme dalam politik luar negeri didokumentasikan Putin dalam Konsep Kebijakan Politik Luar Negeri Federasi Rusia dan direalisasikan dalam tindakan. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat keselarasan antara konsep (harapan) dengan realitas (kenyataan). Pragmatisme yang menjadi cara bertindak Putin bukan menyiratkan kekacauan bahkan kekosongan ideologis resmi negara. Restorasi status great power (derzhavnost) merupakan faktor utama dalam payung ideologis Putin. Pencapaian status ini dilakukan dengan menjadikan perbaikan ekonomi negara sebagai prioritas dan penciptaan hubungan dengan negara-negara lain, baik bilateral maupun regional didasarkan pada efisiensi ekonomi dan kepentingan nasional Rusia.

Ekonomi sebagai faktor utama dalam hubungan luar negeri Rusia dapat dilihat dari kedekatan baru Rusia dengan negara-negara CIS. Rusia tetap berupaya mempertahankan negara-negara bekas Soviet sebagai wilayah aman dan berada di bahwa pengaruh Rusia. Membaiknya perekonomian Rusia sejak tahun 2000 membuat negara-negara ini menjadi tergantung kepada Rusia secara ekonomis, terutama dalam bidang perdagangan

59

GLASNOST VOL. 4 NO.2 OKTOBER 2008 - MARET 2009

energi dan transportasi. Pengaruh yang ingin tetap dipertahankan Rusia di kawasan adalah sebuah penciptaan status quo perimbangan kekuatan ketika AS mulai masuk ke berbagai negara bekas Soviet dengan slogan rnisi kemanusiaan dan kerjasama strategis. Alasannya, wilayah yang dulunya pemah menjadi kekuasaan Uni Soviet ini mengandung cadangan hidrokarbon barn dalam jumlah besar dan belum sernpat dieksplorasi. Perebutan pengaruh antara AS, Rusia, dan kekuatan lain di kawasan merupakan konsekuensi memburuknya situasi di Timur Tengah sejak invasi AS ke Irak. Sampai dengan berakhirnya masa tugas Putin sebagai presiden, sebagian besar negara di Asia Tengah tetap rnemiliki hubungan yang baik dengan Rusia. Sementara itu, negara-negara di sekitar Baltik dan Eropa Timur dan Tengah mulai goyang akibat besamya pengaruh AS, seperti misalnya Ukraina dan Georgia.

CIS tidak diragukan lagi merupakan prioritas utama kebijakan luar negeri Rusia. Tetapi, yang sebenamya menjadi perhatian utama Rusia dalam politik luar negeri adalah Eropa. Rusia menjadikan Eropa sebagai mitra tradisional dengan alasan kedekatan historis, kultural, dan ekonomis yang telah dibangun sejak berabad-abad. Hubungan Rusia-UE terjalin dalam kemitraan strategis, khususnya di bidang ekspor energi dan investasi. Berbagai pertemuan tingkat tinggi Rusia-UE dijadikan wadah bagi Rusia untuk mempertegas keinginannya menjadi bagian dari Eropa. Masyarakat Eropa tentu memiliki kriteria penilaian tersendiri terhadap Rusia jika memang ingin menerima Rusia sebagai bagian integral mereka. Di luar UE Rusia membangun hubungan yang lebih dekat dengan beberapa negara anggota, seperti misalnya pemberian status privileged partners kepada Jerman, Inggris, Prancis, dan Spanyol.

Dalam sistem intemasional yang telah berubah pasca-Perang Dingin, Rusia masih mengangap AS sebagai rival utama dalam perimbangan kekuatan. Untuk mere dam pengaruh AS ke kawasan strategis Eropa Timur, Kaukasus, Baltik, dan wilayah geografis lain, Rusia berusaha menciptakan sistem dunia barn dalam kerangka multipolaritas. Rusia tentunya sadar bahwa dunia tidak mungkin dikembalikan ke dalam dua kutub layaknya masa Perang Dingin. Di samping itu, Rusia tidak lagi memiliki kekuatan seperti Uni Soviet dulu. Apa yang dilakukan Putin adalah sebuah keputusan realistis dengan membangun kedekatankedekatan personal anti-AS. Namun, berbagai upaya pendekatan tetap dilakukan Putin terhadap AS, yaitu menyatakan Rusia sebagai mitra strategis AS dalam perang terhadap terorisme. Bahkan, setelah serangan 9/11 Rusia membuka wilayah udaranya untuk keperluan perang dan bantuan kemanusiaan. Di sisi lain, perseteruan Rusia-AS tetap terlihat

60

R. DE ARCHELLIE

dari permasalahan sistern anti-rudal AS yang dipasang di Polandia dan Ceko yang rnembuat Rusia gusar; perluasan NATO ke Baltik dan Asia Tengah juga menjadi surnber ketegangan bam antara Rusia-AS.

Secara umum, dapat dikatakan bahwa pragrnatisrne yang menjadi prinsip bertindak Putin dalarn politik luar negerinya dibangun atas dasar efisiensi ekonomi dan kepentingan nasional. Model ini dengan sendirinya mengubah karakter hubungan bilateral dan regional Rusia dengan negara-negara lain: geopolitik menjadi geoekonomi. Kedekatan personal dijadikan cara bam oleh Putin dalarn menjalin kerjasama dengan negara manapun, selama memberikan keuntungan bagi Rusia. Berbagai tindakan politik luar negeri Rusia pun dilakukan Putin berdasarkan konteks. Konsekuensinya, intensitas hubungan dapat mengalami perubahan berdasarkan isu dan kepentingan Rusia.

Daftar Acuan Buku

Antonenko, Oks ana and Kathryn Pinnick, 2005, Russia and the European Union, New York: Routledge.

Fawn, Rick (ed), 2004, Ideology and National Identity in Post-Communist Foreign Policies, London: Frank Cass Publishers.

Fawn, Rick (ed), 2003, Realignment in Russian Foreign Policy, London: Frank Cass Publishers.

Goldman, Marshall 1., 2008, Putin, Power, and the New Russia Petrostate, Oxford:

Oxford University Press.

Gorodetsky, Gabriel, 2003, Russia Between East and West. Russian Foreign Policy on the Threshold Twentieth Century, London: Frank Cass Publishers.

Holsti, K. J. 1988, Politik Internasional, (terj.) M Tazir Azhary. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Kanet, Roger E. (ed), 2007, Russia Re-emerging Great Power, New York: Palgrave

MacMillan.

Olberg, Ingmar et.al (eds), 2005, Russia as a Great Power, New York: Routledge. Sakwa, Richard, 2008, Putin Russia's Choice, 2nd ed, New York: Routledge. _____ ,. 2008, Russian Politics and Society. 4th ed. New York: Routledge.

Jurnal

James Goldgeier and Michael McFaul, George W Bush and Russia, Current History,

edisi Oktober 2002. '

Sumber Internet

Arbatov, Alexei G. 1993. Russia's Foreign Policy Alternatives. International Security VoLl8 No.2 http://www.jstor.org diunduh tanggal5 September 2006.

Kubicek, Paul. 2000. Russian Foreign Policy and the West. Political Science Quarterly Vol.144 No.4 1999-2000. http://www.jstor.org diunduh tanggal5 September 2006.

61

GLASNOST VOL. 4 NO.2 OKTOBER 2008 - MARET 2009

Splidsboel-Hansen, Flemming. 2002. Past and Future Meet: Aleksandr Gorchakov and Russian Foreign Policy. Europe-Asia Studies Vol.54 No.3 2002. htt_p:llwww.jstoLorg diunduh tangga15 April 2008. htt_p:llwww.legislationline.orgJlegislations. diunduh tanga124 April 2006. http/lwww.kremlin.ru diunduh tanggal24 September 2006 sampai Mei 2008.

62

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->