P. 1
TIGA KERANGKA DASAR AGAMA HINDU

TIGA KERANGKA DASAR AGAMA HINDU

|Views: 2,388|Likes:
Published by jempiring

More info:

Published by: jempiring on Mar 23, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/09/2013

pdf

text

original

TIGA KERANGKA DASAR AGAMA HINDU Posted by Ketut Adi on 2004-01-26 [ print artikel ini | dilihat 3233 kali

] Ajaran Agama Hindu dapat dibagi menjadi tiga bagian yang dikenal dengan "Tiga Kerangka Dasar", di mana bagian yang satu dengan lainnya saling isi mengisi dan merupakan satu kesatuan yang bulat untuk dihayati dan diamalkan guna mencapai tujuan agama yang disebut Jagadhita dan Moksa. Tiga Kerangka Dasar tersebut adalah: 1. Tattwa (Filsafat) Sebenarnya agama Hindu mempunyai kerangka dasar kebenaran yang sangat kokoh karena masuk akal dan konseptual. Konsep pencarian kebenaran yang hakiki di dalam Hindu diuraikan dalam ajaran filsafat yang disebut Tattwa. Tattwa dalam agama Hindu dapat diserap sepenuhnya oleh pikiran manusia melalui beberapa cara dan pendekatan yang disebut Pramana. Ada 3 (tiga) cara penyerapan pokok yang disebut Tri Pramana. Tri Pramana ini, menyebabkan akal budi dan pengertian manusia dapat menerima kebenaran hakiki dalam tattwa, sehingga berkembang menjadi keyakinan dan kepercayaan. Kepercayaan dan keyakinan dalam Hindu disebut dengan sradha. Dalam Hindu, sradha disarikan menjadi 5 (lima) esensi, disebut Panca Sradha. Berbekal Panca Sradha yang diserap menggunakan Tri Pramana ini, perjalanan hidup seorang Hindu menuju ke satu tujuan yang pasti. Ke arah kesempurnaan lahir dan batin yaitu Jagadhita dan Moksa. Ada 4 (empat) jalan yang bisa ditempuh, jalan itu disebut Catur Marga. Demikianlah tattwa Hindu Dharma. Tidak terlalu rumit, namun penuh kepastian. Istilah- istilah yang disebutkan di atas janganlah dianggap sebagai dogma, karena dalam Hindu tidak ada dogma. Yang ada adalah kata- bantu yang telah disarikan dari sastra dan veda, oleh para pendahulu kita, agar lebih banyak lagi umat yang mendapatkan pencerahan, dalam pencarian kebenaran yang hakiki. 2. Susila (Etika) Susila merupakan kerangka dasar Agama Hindu yang kedua setelah filsafat (Tattwa). Susila memegang peranan penting bagi tata kehidupan manusia sehari- hari. Realitas hidup bagi seseorang dalam berkomunikasi dengan lingkungannya akan menentukan sampai di mana kadar budi pekerti yang bersangkutan. la akan memperoleh simpati dari orang lain manakala dalam pola hidupnya selalu mencerminkan ketegasan sikap yang diwarnai oleh ulah sikap simpatik yang memegang teguh sendi- sendi kesusilaan. Di dalam filsafat (Tattwa) diuraikan bahwa agama Hindu membimbing manusia untuk mencapai kesempurnaan hidup seutuhnya, oleh sebab itu ajaran sucinya cenderung kepada pendidikan sila dan budi pekerti yang luhur, membina umatnya menjadi manusia susila demi tercapainya kebahagiaan lahir dan batin.

menolong orang lain berarti menolong diri sendiri. disesuaikan dengan tahapantahapan jenjang kehidupan yang mempengaruhi prioritas kewajiban menunaikan dharmanya. 2 Tri Kaya Parisudha Tri Kaya Parisudha adalah tiga jenis perbuatan yang merupakan landasan ajaran Etika Agama Hindu yang dipedomani oleh setiap individu guna mencapai kesempurnaan dan kesucian hidupnya 3 Panca Yama dan Niyama Brata 5 Kebaikan yang harus dilakukan dan 5 keburukan yang harus dipantang. Jiwa sosial demikian diresapi oleh sinar tuntunan kesucian Tuhan dan sama sekali bukan atas dasar pamrih kebendaan. Dalam hubungan ajaran susila beberapa aspek ajaran sebagai upaya penerapannya sehari. harmonis. Pengertian Susila menurut pandangan Agama Hindu adalah tingkah laku hubungan timbal balik yang selaras dan harmonis antara sesama manusia dengan alam semesta (lingkungan) yang berlandaskan atas korban suci (Yadnya). yang mengakibatkan ketidakstabilan emosi. 7 Catur Purusa Artha 4 dasar tujuan hidup manusia 8 Catur Warna . Jadi Susila adalah tingkah laku manusia yang baik terpancar sebagai cermin obyektif kalbunya dalam mengadakan hubungan dengan lingkungannya.kecilnya.hari diuraikan lagi secara lebih terperinci. "Su" berarti baik. 6 Catur Asrama 4 tingkat kehidupan manusia dalam agama Hindu. tata laku. indah. "Sila" berarti perilaku. keikhlasan dan kasih sayang. 5 Sad Ripu Sad Ripu adalah enam musuh di dalam diri manusia yang selalu menggoda. Pola hubungan tersebut adalah berprinsip pada ajaran Tat Twam Asi (Ia adalah engkau) mengandung makna bahwa hidup segala makhluk sama. 4 Tri Mala 3 sifat buruk yang dapat meracuni budi manusia yang harus diwaspadai dan diredam sampai sekecil.Kata Susila terdiri dari dua suku kata: "Su" dan "Sila". dan sebaliknya menyakiti orang lain berarti pula menyakiti diri sendiri.

dan penyerahan dengan penuh kerelaan (tulus ikhlas) berupa apa yang dimiliki demi kesejahteraan serta kesempurnaan hidup bersama dan kemahamuliaan Sang Hyang Widhi Wasa. berkorban. berbuat baik (kebajikan). Dewa. waktu (kala). PEMBAGIAN YADNYA Untuk memudahkan pembahasan. Di dalam pelaksanaannya disesuaikan dengan kemampuan masing.nilai: Rasa tulus ikhlas dan kesucian.bagi sebagai berikut Menurut tingkat pelaksanaannya Menurut jenisnya (panca yadnya) Menurut waktu pelaksanaannya Menurut cara menjalankannya (panca marga yadnya) sumber: babadbali.masing menurut tempat (desa). Leluhur. dan keadaan (patra).com .Yadnya Yadnya adalah suatu karya suci yang dilaksanakan dengan ikhlas karena getaran jiwa/ rohani dalam kehidupan ini berdasarkan dharma. dan kemanusiaan. sesuai ajaran sastra suci Hindu yang ada (Weda). pemberian. menghormati. Di dalamnya terkandung nilai. 9 Catur Guru 4 kepribadian yang harus dihormati oleh setiap orang Hindu. 3. Upacara. Rasa bakti dan memuja (menghormati) Sang Hyang Widhi Wasa. mengabdi. Bhatara.Catur Warna berarti empat pilihan hidup atau empat pembagian dalam kehidupan berdasarkan atas bakat (guna) dan ketrampilan (karma) seseorang. yadnya dibagi. Negara dan Bangsa. Yadnya dapat pula diartikan memuja. Suatu ajaran dan Catur Weda yang merupakan sumber ilmu pengetahuan suci dan kebenaran yang abadi.

seperti canang. dua ajaran terakhir termasuk ajaran sembahyang (Bajrayasa. Bersembahyang juga dapat menentramkan jiwa karena adanya keyakinan bahwa Tuhan selalu akan melindungi umatNya.1. yaitu membersihkan badan dengan mandi. seperti bunga. tempat dan keadaan). sehingga meningkatkan cinta kasih kepada sesama. (5) Brahma dan (6) Yajna. yaitu Tuhan Yang Maha Esa (Bajrayasa. sukhasana. yaitu: (1) Sembah yang berarti sujud atau sungkem yang dilakukan dengan cara-cara tertentu dengan tujuan untuk menyampaikan penghormatan. Perbudakan materi juga dapat diatasi dengan bersembahyang karena orang akan dapat melihat dengan terang bahwa harta benda harus dicari dengan Dharma untuk melaksanakan Dharma. sumber mata air. Membenci orang lain sama saja dengan membenci diri sendiri karena Jiwatman yang ada pada semua makhluk adalah satu. Dari keenam unsur iman di dalam Agama Hindu menurut kitab Atharwa Weda itu. Setelah sembahyang baru kita “ngelungsur (prasadam)” apa yang telah kita haturkan. sehingga kita wajib mempersembahkan/menghaturkan pemberian beliau terlebih dahulu. misalnya hanya sikap pikiran. Demikian pula kata “maturan” yang artinya mempersembahkan apa saja yang merupakan hasil karya sesuai dengan kemampuan dengn perasaan yang tulus ikhlas. Arisufhana & Goda 1981:13). minuman dan lain-lain (Bajrayasa. seperti bunga.MAKNA DAN TATA CARA PERSEMBAHYANGAN UMAT HINDU Oleh: Pande Putu Suryadinata Definisi Sembahyang Salah satu hakekat inti ajaran agama adalah sembahyang. Disebut “mebhakti” karena inti dari persembahan itu adalah penyerahan diri setulus hati tanpa pamrih kepada Hyang Widhi. menambahkan makna maturan sebagai wujud syukur atas rejeki yang diberikan Hyang Widhi. 2002:27-28) adalah sebagai berikut: 1. Asuci laksana. (3) Tapa. siddhasana. cepat lambat akan kita tinggalkan atau berpisah dengan diri kita. Sembahyang dengan tekun akan dapat menghilangkan rasa benci. Manfaat Bersembahyang Menurut Ketut Wiana (2005:49) salah satu manfaat sembahyang adalah untuk memelihara kesehatan. Selain pikiran menjadi jernih. buah. iri hati dan mementingkan diri sendiri. Mangku Linggih. pemangku di Pura Parahyangan Jagat Kartta Gunung Salak Bogor. (2) Hyang berarti yang dihormati atau dimuliakan sebagai obyek dalam pemujaan. dendam. (2) Rta. dan sebagainya. Pakaian. Sedangkan persiapan bathin adalah ketenangan dan kesucian pikiran. Langkah-langkah persiapan dan sarana-sarana sembahyang (Sujana & Susila. buahbuahan. bunga. Persiapan lahir seperti pakaian. daun. bersumber dari Tuhan. seperti yang diajarkan dalam ajaran Tat Twam Asi. Arisufhana & Goda 1981:13). . Di dalam bahasa sehari-hari kata sembahyang kadang-kadang disebut “muspa” atau “mebhakti” atau “maturan”. Selain untuk kesehatan. dan sebagainya. Arisufhana & Goda 1981:12). hendaknya memakai pakaian sembahyang yang bersih serta tidak mengganggu ketenangan pikiran dan sesuai dengan Desa Kala Patra (waktu. dan bajrasana) membuat otot dan pernafasan menjadi bagus. Persiapan Sembahyang Persiapan sembahyang meliputi persiapan lahir dan persiapan batin. Keikhlasan inilah yang dapat meringankan rasa penderitaan yang kita alami karena kita telah paham benar akan kehendak Hyang Widhi. 2. sikap-sikap sembahyang seperti asana (padmasana. 1. sikap duduk. marah. Kemudian dengan sembahyang kita dimotivasi untuk melestarikan alam karena bersembahyang membutuhkan sarana yang berasal dari alam. perasaan hati atau pikiran baik dengan ucapan kata-kata maupun tanpa ucapan. buah-buahan. jajanan. Sembahyang terdiri atas dua kata. (4) Diksa. Menurut kitab Atharwa Weda XI. Disebut “muspa” karena dalam persembahyangan itu lazim juga dilakukan dengan persembahan kembang (puspa). dupa. pengaturan nafas dan sikap tangan. unsur iman atau Sraddha dalam Agama Hindu meliputi: (1) Satya. bersembahyang dan berdoa juga mendidik kita untuk memiliki sifat ikhlas karena apa yang ada di dalam diri dan di luar diri kita tidak ada yang kekal.

kedamaian dan kebahagiaan lahir dan bathin itu sendiri (Sujana & Susila. Jadi. Sembah kedua. maka dapat diganti dengan bunga. Sebelum melaksanakan Panca Kramaning Sembah hendaknya melaksanakan Puja Trisandya. siddhasana. sukhasana. mengikuti desah nafas kita dengan halus dan pelan. maka mantram tersebut seperti terkejar-kejar atau belomba-lomba dan tidak berakhir dengan bersamaan”. Arah duduk adalah menghadap pelinggih. Sikap tangan yang baik pada waktu sembahyang adalah “cakupang kara kalih”. 6. 3. Sopir akan mengantarkan penumpangnya sampai tempat tujuan atau terminal. Dupa. Sembah pertama dengan tangan kosong (puyung) yang intinya bertujuan untuk memohon kesucian dan memusatkan pikiran. 4. yaitu lambang kesucian sehingga diusahakan memakai bungan yang segar. ketiga dan keempat dengan memakai bungan dan kawangen dengan tujuan penyampaian rasa hormat kepada Tuhan. penyampaian hormat kepada sifat wujudNya dalam segala manifestasiNya dan kepada para Dewa. Setelah melakukan Puja Trisandya. serta penyampaian permohonan maaf dan permohonan anugrah. 2002:31-32). Sembah kelima. Bentuknya yang segitiga menunjukkan apa yang kita mohon menuju pada diri kita. sebagai simbol menyucikan diri dan mohon ijin secara niskala. Bunga dan Kawangen. Hal ini dianalogikan bahwa Pinandita itu seperti supir bus. Setelah melaksanakan persembahyangan. Bunga atau kawangen dijepit pada ujung jari. Ada empat yaitu padmasana. 2. Wija atau bija adalah biji beras yang dicuci dengan air atau air cendana. umat dipercikkan tirtha wangsuh Ida Bhatara. Mangku Gede Darsa memberi saran dalam melaksanakan Panca Kramaning Sembah yang dipimpin oleh Pinandita. yaitu beras yang utuh tidak patah (aksata). yaitu sembah tangan kosong yang merupakan sembah penutup sebagai rasa terima kasih atas rahmatNya dan mengantarkan kembali ke alam gaib. sedangkan umat adalah penumpang. pemangku Pura Parahyangan Jagat Kartta Gunung Salak Bogor. 2002:31) Kemudian mawija atau mabija dilakukan setelah selesai metirtha yang merupakan rangkaian terakhir dari suatu persembahyangan. Kalau kita melantunkan sloka dengan pikiran. 7. bersih dan harum. Jika dalam persembahyangan tidak ada kawangen. Namun. Kebersihan dan kesucian hati adalah pangkal ketenangan. yaitu kedua telapak tangan dikatupkan diletakkan di depan ubun-ubun. saksi dan pengantar sembah kita kepada Hyang Widhi. Sikap duduk dapat dipilih sesuai Desa Kala Patra dan tidak mengganggu ketenangan hati. persembahyangan tidak menjadi tenang dan menggangu umat lain yang ingin mengadu masalah hidup kepada Hyang Widhi dan memohon sinar suci-Nya dan tuntunan-Nya menghadapi masalah. ikut me-mantram tidak dilarang karena menurut Mangku Gede Darsa bahwa mungkin umat itu tidak sedang dalam masalah atau ingin belajar menghapalkan mantram tersebut. Beliau juga menambahkan bahwa kawangen juga menyimbolkan alam bhuana agung. 3 kali diminum dan 3 kali mencuci muka (meraup). Sehingga. Tirta ini dipercikkan 37 kali di kepala. hendaknya umat tidak ikut me-mantram. yaitu simbol Hyang Agni. Mangku Gede Darsa menambahkan bahwa umat hendaknya masuk ke Pura melalui pintu sebelah kiri dan keluar menuju pintu sebelah kanan karena harus sesuai dengan arah perputaran waktu yang selalu maju. seperti bulan.3. Urutan Sembahyang Menurut Mangku Linggih. 5. asal tidak mengganggu konsentrasi umat lain yang sedang sembahyang. . kawangen berasal dari kata kewangi (keharuman) yang menunjukkan cinta harum kita kepada Hyang Widhi. yaitu putra atau wija Bhatara Siwa. dan bajrasana. Hal ini dimaksudkan agar pikiran dan hati umat menjadi bersih dan suci. Mangku Darsana memberi saran. sebelum kita masuk ke areal Pura hendaknya “melukat” terlebih dahulu dengan memercikkan tirtha kepada diri kita. Wija atau bija adalah lambang Kumara. Sepanjang mampu kita bernafas lantunkanlah sloka-sloka tersebut dengan lemah lembut. matahari dan bintang. Tempat duduk hendaknya tidak menggangu ketenangan untuk sembahyang dan diusahakan beralaskan tikar dan sebagainya. kita lanjutkan dengan melaksanakan Panca Kramaning Sembah yang bermakna (Bajrayasa. Bila dapat diusahakan beras galih. Jika penumpang juga ikut menyetir akan timbul kegaduhan. Menurut Mangku Gede Darsa. “Dalam melakukan Puja Trisandya baik sendirian maupun berkelompok hendaknya kita berkonsentrasi dengan baik. mewija mengadung makna menumbuh kembangkan benih ke-Siwa-an itu di dalam diri umat (Sujana & Susila. Arisufhana & Goda 1981:29) sebagai berikut: 1.

Hal. Sumber: Mangku Gede Darsa dan Mangku Linggih. tidak hanya sekedar “nyakupang tangan” dan “ngelungsur”. Bajrasana. IB Arisufhana & I Gusti Gede Goda. Hal. 26-32 Wiana. (2002). I Gede.Sesungguhnya begitu banyak makna yang terkandung dalam persembahyangan. 26 – 48. Denpasar: PT Pustaka Manikgeni. Jakarta: Departemen Agama RI. (1981). Hal. Doa Sehari-Hari: Menurut Hindu. 6 Mei 2006. Ketut. 12-30 Sujana. Pemangku di Pura Parahyangan Jagat Kartta Gunung Salak Bogor. I Made & I Nyoman Susila. Acara (Sadacara). Semoga ulasan sederhana mengenai makna dan tata cara persembahyangan umat Hindu dapat bermanfaat bagi umat seDharma. Jakarta: Departemen Agama RI. Manggala Upacara. . (2005).

la akan memperoleh simpati dari orang lain manakala dalam pola hidupnya selalu mencerminkan ketegasan sikap yang diwarnai oleh ulah sikap simpatik yang memegang teguh sendi.. Pengertian Susila menurut pandangan Agama Hindu adalah tingkah laku hubungan timbal balik yang selaras dan harmonis antara sesama manusia dengan alam semesta (lingkungan) yang berlandaskan atas korban suci (Yadnya).SUSILA > 3 Kerangka . Dalam hubungan ajaran susila beberapa aspek ajaran sebagai upaya penerapannya seharihari diuraikan lagi secara lebih terperinci. oleh sebab itu ajaran sucinya cenderung kepada pendidikan sila dan budi pekerti yang luhur. Jadi Susila adalah tingkah laku manusia yang baik terpancar sebagai cermin obyektif kalbunya dalam mengadakan hubungan dengan lingkungannya. 3 4 . Kata Susila terdiri dari dua suku kata: "Su" dan "Sila". Susila memegang peranan penting bagi tata kehidupan manusia seharihari. Pola hubungan tersebut adalah berprinsip pada ajaran Tat Twam Asi (Ia adalah engkau) mengandung makna bahwa hidup segala makhluk sama.> Hindu Dharma 1 Pengertian Susila Hindu Susila merupakan kerangka dasar Agama Hindu yang kedua setelah filsafat (Tattwa). "Sila" berarti perilaku.. tata laku. membina umatnya menjadi manusia susila demi tercapainya kebahagiaan lahir dan batin.sendi kesusilaan..> Pokok-pokok. Realitas hidup bagi seseorang dalam berkomunikasi dengan lingkungannya akan menentukan sampai di mana kadar budi pekerti yang bersangkutan. Tri Mala 3 sifat buruk yang dapat meracuni budi manusia yang harus diwaspadai dan diredam sampai sekecil. Di dalam filsafat (Tattwa) diuraikan bahwa agama Hindu membimbing manusia untuk mencapai kesempurnaan hidup seutuhnya. menolong orang lain berarti menolong diri sendiri. Jiwa sosial demikian diresapi oleh sinar tuntunan kesucian Tuhan dan sama sekali bukan atas dasar pamrih kebendaan. dan sebaliknya menyakiti orang lain berarti pula menyakiti diri sendiri.. indah. "Su" berarti baik. harmonis. 2 Tri Kaya Parisudha Tri Kaya Parisudha adalah tiga jenis perbuatan yang merupakan landasan ajaran Etika Agama Hindu yang dipedomani oleh setiap individu guna mencapai kesempurnaan dan kesucian hidupnya Panca Yama dan Niyama Brata 5 Kebaikan yang harus dilakukan dan 5 keburukan yang harus dipantang. keikhlasan dan kasih sayang.kecilnya.

6 7 8 9 sumber © Yayasan Bali Galang. Catur Guru 4 kepribadian yang harus dihormati oleh setiap orang Hindu. Catur Asrama 4 tingkat kehidupan manusia dalam agama Hindu. disesuaikan dengan tahapantahapan jenjang kehidupan yang mempengaruhi prioritas kewajiban menunaikan dharmanya.5 Sad Ripu Sad Ripu adalah enam musuh di dalam diri manusia yang selalu menggoda. yang mengakibatkan ketidakstabilan emosi. . All rights reserved. Catur Purusa Artha 4 dasar tujuan hidup manusia Catur Warna Catur Warna berarti empat pilihan hidup atau empat pembagian dalam kehidupan berdasarkan atas bakat (guna) dan ketrampilan (karma) seseorang.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->