Magister Studi Islam UII

Legislasi Hukum Islam di Indonesia dalam Prespektif Politik Hukum
Monday, 16 March 2009

Jum'at, 6 Maret 2009, PPs FIAI UII menyelenggarakan Kajian Hukum Islam di Indonesia. Hadir sebagai narasumber dalam acara tersebut: (1) Prof. Dr. H. Amir Mu'allim, MIS.; (2) Dr. Drs. H. Dadan Muttaqien, SH., M.Hum; (3) Drs. Yusdani, M.Ag.; (4) Dra. Rahmani Timorita Yulianti, M.Ag. Berikut makalah yang disampaikan Dr. Drs. H. Dadan Muttaqien, SH., M.Hum., yang berjudul Legislasi Hukum Islam di Indonesia dalam Prespektif Politik Hukum: LEGISLASI HUKUM ISLAM DI INDONESIA DALAM PRESPEKTIF POLITIK HUKUM Oleh: Dr. Drs. H. Dadan Muttaqien, SH. M Hum[1] Pendahuluan Hukum adalah produk politik, sehingga ketika membahas politik hukum cenderung mendiskripsikan pengaruh politik terhadap hukum atau pengaruh sistem politik terhadap pembangunan hukum. Bellfroid mendefinisikan rechtpolitiek yaitu proses pembentukan ius contitutum (hukum positif) dari ius contituendum (hukum yang akan dan harus ditetapkan) untuk memenuhi kebutuhan perubahan dalam kehidupan masyarakat. Politik hukum terkadang juga dikaitkan dengan kebijakan publik (public policy) yang menurut Thomas Dye yaitu: “whatever the government choose to do or not to do”. Politik hukum juga didefinisikan sebagai pembangunan hukum.[2] Berlakunya hukum Islam di Indonesia telah mengalami pasang surut seiring dengan politik hukum yang diterapkan oleh kekuasaan negara. Bahkan di balik semua itu, berakar pada kekuatan sosial budaya yang berinteraksi dalam proses pengambilan keputusan politik. Namun demikian, hukum Islam telah menga1ami perkembangan secara berkesinambungan. baik melalui jalur infrastruktur politik maupun suprastruktur politik dengan dukungan kekuatan sosial budaya itu. [3] Cara pandang dan interpretasi yang berbeda dalam keanekaragaman pemahaman orang Islam terhadap hakikat hukum Islam telah berimplikasi dalam sudut aplikasinya.[4] M. Atho Mudzhar[5] misalnya, menjelaskan cara pandang yang berbeda dalam bidang pemikiran hukum Islam menurutnya dibagi menjadi empat jenis, yakni kitab-kitab fiqh, keputusan-keputusan Pengadilan agama, peraturan Perundang-undangan di negeri-negeri muslim dan fatwa-fatwa ulama. Keempat faktor tersebut diyakini memberi pengaruh cukup besar dalam proses transformasi hukum Islam di Indonesia. Terlebih lagi hukum Islam sesungguhnya telah berlaku sejak kedatangan pertama Islam di Indonesia, di mana stigma hukum yang beriaku dikategorikan menjadi hukum adat, hukum Islam dan hukum Barat. Sedangkan hukum Islam dilihat dari dua segi. Pertama, hukum Islam yang berlaku secara yuridis formal, artinya telah dikodifikasikan dalam struktur hukum nasionaI. Kedua, hukum Islam yang berlaku secara normatif yakni hukum Islam yang diyakini memiliki sanksi atau padanan hukum bagi masyarakat muslim untuk melaksanakannya. Untuk mengembangkan proses transformasi hukum Islam ke dalam supremasi hukum nasional, diperlukan partisipasi semua pihak dan lembaga terkait, seperti halnya hubungan hukum Islam dengan badan kekuasaan negara yang mengacu kepada kebijakan politik hukum yang ditetapkan (adatrechts politiek). Politik hukum tersebut merupakan produk interaksi kalangan elite politik yang berbasis kepada berbagai kelompok sosial budaya. Ketika elite politik Islam memiliki daya tawar yang kuat dalam interaksi politik itu, maka peluang bagi pengembangan hukum Islam untuk ditransformasikan semakin besar. Politik hukum masa Orde Baru seperti termaktub dalam Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat (Tap MPR) yaitu Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) sejak 1973, 1978, 1983, 1988 dan 1993. Kurun waktu 1973-1988 pengembangan hukum nasional diarahkan bagi kodifikasi dan unifikasi hukum sesuai kepentingan masyarakat. Bentuk hukum tertulis tertentu dikodifikasikan dan diunifikasikan, terutama hukum yang bersifat ‚netral? yang berfungsi bagi rekayasa sosial. Demikian halnya bagi orang Islam, unifikasi hukum Islam memperoleh pengakuan dalam sistem hukum nasional.[6] Transformasi hukum Islam dalam bentuk perundangundangan (Takhrij al-Ahkâm fî al-Nash al-Qânun) merupakan produk interaksi antar elite politik Islam (para ulama, tokoh ormas, pejabat agama dan cendekiawan muslim) dengan elite kekuasaan (the rulling elite) yakni kalangan politisi dan pejabat negara. Sebagai contoh, diundangkannya UU No.1/1974 tentang Perkawinan, peranan elite Islam cukup dominan dalam melakukan pendekatan dengan kalangan elite di tingkat legislatif, sehingga RUU Perkawinan No.1/1974 dapat dikodifikasikan.[7] Adapun prosedur pengambilan keputusan politik di tingkat legislatif dan eksekutif dalam hal legislasi hukum Islam (legal drafting) hendaknva mengacu kepada politik hukum yang dianut oleh badan kekuasaan negara secara kolektif. Suatu undang-undang dapat ditetapkan sebagai peraturan tertulis yang dikodifikasikan apabila telah melalui proses politik pada badan kekuasaan negara yaitu legislatif dan eksekutif, serta memenuhi persyaratan dan rancangan perundang-undangan yang layak. Pendekatan konsepsional prosedur legislasi hukum Islam sebagaimana dikemukakan oleh A. Hamid S. Attamimi adalah bahwa pemerintah dan DPR memegang kekuasaan di dalam pembentukan undang-undang. Disebutkan dalam Pasal 5 ayat (1) UUD 1945 bahwa‚ Presiden memegang kekuasaan membentuk undang-undang dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat.? Sedangkan dalam penjelasan mengenai pasal 5 ayat (1) UUD 1945 dinyatakan bahwa ‚kecuali executive power, Presiden bersama-sama dengan Dewan Perwakilan Rakyat menjalankan legislatif power dalam negara.[8] Berdasarkan pandangan tersebut, maka DPR hendaknya memberi persetujuan kepada tiap-tiap Rancangan Undang-undang yang diajukan oleh Pemerintah. Hal ini senada dengan penjelasan Pasal 20 ayat (1) UUD 1945, kendati DPR tidak harus selalu meyatakan setuju terhadap semua rancangan Undang-undang dari pemerintah. Keberadaan DPR sesungguhnya harus memberikan suatu consent atau kesepakatan dalam arti menerima atau menolak rancangan undang-undang. Dinamika Politik Hukum Islam di Indonesia Peralihan kekuasaan dan pemerintahan Orde Lama kepada Orde Baru ditandai dengan turunnya Soekarno dan kursi kepresidenan pasca kudeta G30/S/PKI pada tahun 1965.[9] Peristiwa politik tersebut telah berimplikasi kepada munculnya krisis politik yang cukup menegangkan berupa gerakan massa yang menuntut pembubaran PKI serta tuntutan pembenahan sistem politik dan pemulihan keamanan negara.[10] Puncaknya terjadi pada tahun 1966, di mana pada saat itu situasi dan stabilitas dalam negeri Indonesia semakin carut marut. Pada
http://master.islamic.uii.ac.id Powered by Joomla! Generated: 20 March, 2011, 16:23

[13] Adapun format politik yang tercipta antara lain[14]: Pertama. penjinakan radikalisme dalam politik melalui proses depolitisasi massa. Ia mengambil langkah-langkah yang diperlukan bagi percepatan dan pemulihan kondisi sosial. pola apologi.islamic. pola adaptif. yakni suatu bentuk sikap penolakan kalangan Islam terhadap segala nilai-nilai yang berakar pada wacana modernisasi. Kekuatan militer dan birokrasi merupakan mesin politik untuk menata kehidupan sosial dan politik masyarakat.[12] Lahirnya Orde Baru yang didukung oleh kalangan pelajar dan mahasiswa yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) dan Kesatuan Aksi Pemuda dan Pelajar Indonesia (KAPPI) yang para anggotanya mayoritas beragama Islam. mengingat penduduk Indonesia tidak seluruhnya umat Islam yang dapat disatukan dalam bingkai sistem politik keormasan. Hal ini terjadi sebagai antitesa dari kalangan Islam konservatif yang lebih mengarah kepada upaya ideologisasi dan depolitisasi Islam secara formal yang mengakibatkan lahirnnya ketegangan dengan rezim Orde Baru.9/1975. Ketiga. ekonomi dan budaya yang berakar pada nilai-nilai luhur agama (Islam) serta budaya bangsa yang dibingkai dalam falsafah integralistik Pancasila dan UUD 1945. mereka menjadi ujung tombak runtuhnya pemerintahan Orde Lama. politik dan ekonomi saat itu. umat Islam di tingkat http://master. Pola pertautan politik yang serba provokatif dianggap bukan jalan terbaik bagi islamisasi di Indonesia. sehingga Orde Baru melalui dua komponen tersebut menjadi kekuatan politik tunggal di Indonesia.[16] Kebijakan-kebijakan politik Orde Baru yang menempatkan Islam dalam posisi marjinal di pentas politik nasional pada gilirannya telah melahirkan berbagai ketegangan antara Islam dan negara. yakni apabila mendukung modernisasi ala Orde Baru berarti sama saja mendukung Barat. Dan ketiga pola tersebut. Sedangkan hubungan akomodatif (1985-2000) hubungan Islam dan negara terasa lebih harmonis di mana umat Islam telah masuk sebagai bagian dan sistem politik elit dan birokrasi. Persentuhan Islam dan politik pada masa Orde Baru sesungguhnya telah diawali sejak Orde Baru menerapkan kebijakan modernisasi. yakni suatu bentuk sikap menerima sebagian nilai-nilai modernisasi yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Kedua. menggalang dukungan masyarakat melalui organisasi-organisasi sosial dan kemasyarakatan yang berbasis korporatis.Juli 1966. resiprokal kritis sampai akomodatif. Pada tahap ini pilihan-pilihan rasional-pragmatis telah melahirkan saling pengertian akan kepentingan Islam dan pemerintahan Orde Baru. tampaknya pola ketiga menjadi lebih dominan karena pendekatan intelektual yang dikembangkan oleh kalangan modernis dipandang lebih representatif untuk membangun tatanan Islam modern di Indonesia. bagi kalangan Islam modernisasi ibarat dilema karena dihadapkan kepada dua pilihan. Dalam kurun waktu 1982-1985 sebagian kalangan Islam mulai menerima asas tunggal dalam landasan ideologi negara serta ormas dan orpol. Tidak berhenti sampai di situ.[11] Proses politik dalam negeri saat itu berjalan sangat cepat. Pada gilirannya. TX/MPRS/1966 menjadi landasan konstitusinal bagi Supersemar dan sekaligus digelarnya Sidang Umum MPRS tahun 1967 berhasil melengserkan Soekarno dan kursi kepresidenan berupa pencabutan mandat presiden oleh MPRS dalam Tap MPRS No. kebenaran akan pendekatan ini mulai membuahkan hasil berupa terbukanya jalan bagi umat Islam menuju islamisasi politik Orde Baru di penghujung tahun 1970-an. Pada awal Orde Baru banyak dilakukan perubahan terhadap kecenderungan birokrasi yang tidak bertanggungjawab yang warisan Orde Lama. XXXIII/MPRS/1967.[15] Sikap pro-kontra di kalangan mayoritas umat Islam dalam menanggapi modernisasi melahirkan tiga pola berikut: Pertama. 16:23 . di mana stigma perkembangan pola pikir dan cara pandang bangsa Indonesia serta proses transformasi kultural dan perubahan sosial lebih banyak mengadopsi apa yang pernah terjadi di negara-negara Barat. lahirlah gagasan Islam kultural sebagai jalan tengah bagi umat Islam untuk tetap memainkan perannya daam pentas politik nasional Paling tidak.[18] Tersendatsendatnya aspirasi umat Islam di dalam mendapatkan hak-hak perundang-undangan dan hukum tampak ketika dilegislasikannya UU No.1985) kaum santri berupaya merefleksikan kembali cara pandang mereka dan merubah dirinya untuk menampilkan sisi intelektualitas dalam percaturan politik Indonesia. pola kreatif. peranan birokrasi sangat kuat karena dijalankan oleh militer setelah ambruknya demokrasi terpimpin. Ketetapan MPRS No. Ketiga.28/1977. hingga digelarnya Sidang Umum MPRS pada bulan Juni .XLITI/MPRS/1968. konsolidasi semua aparat militer dan sipil. Dapat dikatakan.ac. Jenderal Soeharto secara langsung maupun tidak langsung menjadi pemegang kendali atas setiap proses politik.[17] Kemudian pada tahap hubungan resiprokal kritis (1982. Kelima.uii. apabila menolak berarti umat Islam akan kehilangan kesempatan untuk berperan aktif dalam program pembangunan nasional. yakni suatu bentuk sikap dialogis yang lebih mengutamakan pendekatan intelektual dalam menanggapi modernisasi. Sejarah telah mencatat hahwa dinamika hubungan Islam dan negara pada masa Orde Baru mengalami pergeseran yang bersifat antagonistik. upaya membangun sebuah kekuatan organisasi sosial politik sebagai perpanjangan tangan ABRI dan pemerintah dalam wujud lahirnya Golkar sebagai mayoritas tunggal organisasi politik di masa Orde Baru. Selanjutnya ditetapkan pula ketentuan tentang Wakaf dalam PP No. Keadaan negara yang kuat memainkan pengaruh ideologi politik sampai ke tingkat masyarakat bawah telah berlawanan dengan sikap reaktif kalangan Islam sehingga melahirkan konflik ideologi dan sekaligus menempatkan Islam sebagai oposisi. politik. Banyak didapatkan kalangan cendekiawan dan kalangan intelektual mulai akrab dengan pemikiran-pemikiran Barat. Dengan memakai format politik yang berporos pada eratnya hubungan militer dan teknokrat untuk tujuan melaksanakan pembangunan dan mewujudkan pemerintah yang stabil dan kuat. Bahkan pola pertama ini berasumsi bahwa modernisasi identik dengan westernisasi dan sekularisasi.id Powered by Joomla! Generated: 20 March. seperti menerapkan konsep floating mass dan NKK/BKK di lingkungan pendidikan tinggi. Kedua. Hal ini telah memuluskan jalan bagi Soeharto untuk naik ke puncak kekuasaan yakni diangkat menjadi presiden kedua yang ditetapkan dalam ketetapan MPRS No. Keempat. Sementara itu.Magister Studi Islam UII gilirannya Soekarno mengeluarkan Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) kepada Jenderal Soeharto yang pada intinya berisi perintah untuk pemulihan kamanan dan ketertihan nasional. Pola hubungan akomodatif ini sangat terasa berupa tersalurkannya aspirasi umat Islam untuk membangun tatanan sosial.1/1974 tentang Perkawinan yang kemudian disusul dengan PP No. lebih menekankan pendekatan keamanan (Security Approach) dan pendekatan kesejahteraan (Welfare Approuch) dalam pembagunan sosial politik. Hubungan antagonistik (1966-1981) mencerminkan pola hubungan yang hegemonik antara Islam dengan pemerintah Orde Baru. 2011. serta pelaporan atas segala tugas dan tanggung jawab surat perintah tersebut. sedangkan pada sisi lain. sehingga ia menjadi satu-satunya pemain utama di pentas politik nasional. Kiblat pembangunan di Indonesia yang sebelumnya mengarah ke Eropa Timur berbalik arah ke Eropa Barat dan Amenka.

serta Dewan Perwakilan Daerah (DPD). dan (3) Faham Integralistik. Tercatat realitas sosial politik umat Islam demikian penting memainkan peranannya di pentas nasional.[19] Pada pola hubungan resiprokal kritis.at Islam melalui UU No. Atas dasar itu.[26] Di samping itu. Ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945. Provinde dan Garneente yang masingmasing membentuk Algemene Maatre gel van Bestuur. dan seterusnya.38/ 1999. maupun oleh lembaga-lembaga lain yang lebih rendah seperti Regering Kroon. Sedangkan undang-undang di sini yang berhak membuatnya adalah rakyat itu sendiri. Paling tidak ini merupakan sebuah gambaran terhadap model paradigma hubungan antara Islam dan negara di Indonesia.[23] Dalam konteks kenegaraan di Indonesia kehendak rakyat secara umum diimplementasikan menjadi sebuah lembaga tinggi negara yaitu Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Ministeriele Verordening. pendekatan resiprokal kritis sampai pendekatan akomodatif.[20] Melalui pendekatan strukturai-fungsional. umat Islam relatif mengalami kemajuan pesat berupa masuknya kalangan Islam dalam segala sistem pemerintahan sipil mulai dari pusat hingga daerah. yaitu. Kedua. sekaligus menempatkan Peradilan Agama sebagai lembaga peradilan negara yang diatur dalam UU No. Dan yang paling krusial adalah kehendak umat Islam untuk dilegislasikannya Rancangan Undang-Undang Peradilan Agama (RUUPA) bagi penyelenggaraan peradilan Islam di Indonesia. berbagai jenis peraturan perundang-undanan di negara Indonesia dalam suatu tata susunan hierarki mengakibatkan pula adanya perbedaan fungsi maupun materi muatan berbagai jenis peraturan perundang-undangan tersebut. di dalamnya telah dapat dicantumkan adanya sanksi dan sekaligus dapat langsung berlaku dan mengikat masyarakat secara umum. sebelumnya telah terjadi silang pendapat perihal ideologi yang hendak dianut oleh Negara Indonesia. Kehadiran ICMI. baik secara formil maupun materil kurang tepat. UU. pengaturan lebih lanjut secara umum mengenai penjelasan dalam batang tubuh UUD 1945.1/1991.[25] Jika pengertian wet diidentikan dengan Presiden dan DPR. kalangan cendekiawan dan politisi Islam harus berani bersentuhan langsung dengan pemerintahan Orde Baru. diyakini sebagai tonggak baru menguatnya islamisasi politik di Indonesia.7/1992). Secara umum fungsi dan undang-undang adalah: Pertama. sebagai antitesa dan pola hubungan sebelumnya Islam hampir menguasai seluruh sendi-sendi pemerintahan dan negara. 16:23 . Gagasan Transformasi Hukum Islam di Indonesia Gagasan transformasi hukum Islam dapat dilihat dan segi ilmu negara. dan sekaligus memperkokoh kekuasaan Orde Baru dalam bingkai akumulasi sipil Islam dan militer. Inpres No. dan http://master. Minister. II. Gemeeteljkewetten. maka dapat dipahami bahwa Undang-undang Dasar (UUD) jelas berbeda dengan undang-undang. Istilah undang-undang dalam anti formil dan materil merupakan terjemahan dan wet in formelezin dan wet in materielezin yang dikenal Belanda. Pendapat Rousseau tersebut mempunyai pengertian bahwa kebebasan dalam batas-batas perundangundangan.islamic. munculnya pemahaman tertulis bahwa eksekutif membuat sebuah rancangan undang-undang sebelum ditetapkan bagi pemberlakuannya. Implikasiya secara hukum setiap bentuk perundang-undangan diharuskan lebih inklusif dan harus mengakomodasikan kepentingan umum masyarakat Indonesia. Dr. Perda Tk. di mana seluruh rakyat secara langsung megambil bagian dalam proses pembentukan undang-undang itu. Di Indonesia hanya dikenal istilah undang-undang saja yang diidentikan dengan wet. PP. Gagasan Prof. Ketiga. Pada pola akomodatif. Demikian pula negara yang berdasar atas kedaulatan Tuhan.Magister Studi Islam UII legislatif kembali mempersoalkan faham/aliran kepercayaan dalam UUD 1945 sebagai agama resmi yang diakui negara. (1) Faham Individualisme: 2) Faham Kolektifisme. Inilah yang pada gilirannya akan melahirkan konflik ideologis antara Islam dan negara Undang-undang dinyatakan sebagai peraturan perundang-undangan yang tertinggi. Hubungannya dengan undang-undang pokok tidak dikenal dalam sistem hukum Indonesia. Kepmen. disusul dengan UU No. terlebih dahulu harus disetujui DPR. sangat tergantung kepada gaya politik hukum kekuasaan negara itu sendiri. pengaturan lebih lanjut mengenai Tap MPR.14/1970 tentang Pokok Pokok Kekuasaan Kehakiman. maka kedaulatan negara/kekuasaan (rechtstaat) dan negara yang berdasar atas hukum (machtstaat).[22] Rousseau misa1nya dalam teori kedaulatan rakyatnya mengatakan bahwa tujuan negara adalah untuk menegakkan hukum dan menjamin kebebasan dan para warga negaranya.tentang Penyebarluasan KHI [21] Artikulasi dan partisipasi politik kalangan umat Islam demikian tampak mulai dari pendekatan konflik.ac. 8 Desember 1990.XX/MPRS/ 1966 sebagai berikut: UUD 1945. tentang Zakat. Sedangkan undangundang dalam arti materil (wet in materielezin) adalah setiap keputusan yang mengikat umum (algemeen verbidende voorschnften).10/1998 tentang Perbankan (pengganti UU No.7/1989 tentang Peradilan Agama. Tap MPR. Pasal 5 ayat (1) telah menggariskan bahwa semua undang-undang di Indonesia adalah undang-undang pokok yang kedudukannya setara. Dengan kata lain. undang-undang di Indonesia yang ditetapkan oleh presiden dan atas persetujuan DPR disebut setara muatan hukumnva baik secara formil maupun materil dan berlaku umum.uii. Kepres.[24] Dalam sejarah Indonesia. dan semakin tampak ketika diakomodirnya kepentingan syari&rsquo. para politisi menghendaki faham integralistik sebagai ideologi negara dan Pancasila dan UUD 1945 kemudian disepakati sebagai landasan idiil dan landasan struktural Negara Kesatuan Republik Indonesia. Atas dasar itu. Ini dilihat dari segi pembentukannya atau siapa yang membentuknya. Pada tahapan ini. Maka dapat diasumsikan untuk menjadikan Islam sebagai kekuatan politik hanya dapat ditempuh dengan dua cara yakni secara represif (konflik) dan akomodatif (struktural-fungsional). 2011. Rousseau berpendapat bahwa suatu undang-undang itu harus dibentuk oleh kehendak umum (volunte generale). Hal ini dapat dilihat dalam sistem hukum Indonesia yang diatur dalam ketetapan MPR No. Perpu. Di Belanda undang-undang dalam anti formil (wet in formelezin) merupakan keputusan yang dibuat oleh Regering dan Staten Generaal bersama-sama (gejamenlijk) terlepas apakah isinya peraturan (regeling) atau penetapan (beschikking). maka rakyatlah yang menjadi kebijakan politik tertinggi. serta peraturan-peraturan lainnya yang mengikat umum (Aloemeeri Verbiridende Voorschnfteri). Soepomo tentang falsafah negara integralistik dalam sidang BPUPKI tanggal 13 Mei 1945 telah membuka wacana pluralisme masyarakat Indonesia untuk memilih salah satu di antara tiga faham yang ia ajukan. menyelenggarakan pengaturan lebih lanjut tentang ketentuan dalam UUD 1945 secara tegas. umat Islam menyadari perlunya strategi untuk menempuh jalur struktural-birokrat pada sistem kenegaraan. Pro vinciale Wetten. I. dan berada di bawah hierarki norma hukum dan konstitusi UUD 1945. Jadi. Berdasarkan kepada UUD 1945 sebagai konstitusi negara Indonesia. Perda Tk.id Powered by Joomla! Generated: 20 March. baik yang dibuat oleh lembaga tinggi Regering dan Staten Generaal bersama-sama. Dijelaskan bahwa bagi negara yang menganut teori kedaulatan rakyat. UU No.

Perpu Nol/SD 1946 dan No. No. kedudukan hukum Islam dalam sistem hukum di Indonesia semakin memperoleh pengakuan yuridis.5/1960.19/1947. Kedua.ac. Ketiga.2/1946 Jo.1/1951. Kedua. yang dimaksud adalah Pancasila dan UUD 1945. alasan filosofis. Jadi. PP. Kemudian diubah arahnya yakni secar kualifatif diakomodasikan dalam berbagai perangkat aturan dan perundang-undangan yang dilegislasikan oleh lembaga pemerintah dan negara. 2011. UU RI No. PP. Kendati demikian. Pemenntah berdasar undang-undang. Di antara produk undang-undang dan peraturan yang bernuansa hukum Islam. Abdul Ghani Abdullah mengemukakan bahwa berlakunya hukum Islam di Indonesia telah mendapat tempat konstitusional yang berdasar pada tiga alasan. Kodifikasi dan unifikasi hukum Islam serta penyusunan rancangan perundang-undangan yang baru diarahkan untuk terjaminnya kepastian hukum (law enforcement) di masyarakat. 25 dan 29 UUD 1945 memberi tempat bagi keberlakuan hukum Islam secara yuridis formal. politik dan hukum. yaitu: Pertama. Prinsip pemisahan/pembagian kekuasaan. Atas dasar itu. Perkembangan sejarah masyarakat Islam Indonesia menunjukan bahwa cita hukum dan kesadaran hukum bersendikan ajaran Islam memiliki tingkat aktualitas yang berkesiambungan.32/1954. Penataan Peradilan Agama terkait pula dengan UU No. No. Konsepsi negara berdasarkan atas hukum (rechtstaat) memiliki muatan ciri-ciri berikut. 16:23 .14/1985.14/1970. fase resiprokal kritis yang bernuansa strukturalisasi Islam. dan UU No.27 Sedangkan materi muatan undang-undang telah diperkenalkan oleh A.7/1989 yang secara yuridis terkait dengan peraturan dan perundang-undangan lainnya. No. Grondwet membiarkan pertanyaan terbuka mengenai apa yang di negara kita harus ditetapkan dengan wet dan apa yang boleh ditetapkan dengan cara lain. dan penetapan organisasi dan alat kelengkapan negara. pandangan ini ada benarnya. Konkretisasi dari pandangan ini selanjutnya disebut sebagai usaha transformasi (taqnin) hukum Islam ke dalam bentuk perundang-undangan. Hamid Attamimi dengan istilah het eigenaarding orderwerp der wet yang juga digunakan oleh Thorbecke dalam Aantekening op de Grondwet yang terjemaahannya sebagai berikut: Grondwet meminjam pemahaman tentang wet hanyalah dan orang/badan hukum yang membentuknya. 2). umumnya memiliki tiga bentuk: Pertama. pintu lebar bagi islamisasi pranata sosial. 1/1974 tentang Hukum Perkawinan b. Sampai saat ini. politik dan hukum dalam masyarakat. sesungguhnya semua materi muatan dapat menjadi undang-undang. di mana asas-asas dan pninsipnya menjiwai setiap produk peraturan dan perundang-undangan. UU RI No. dan Ketiga. Tiga fase hubungan antara Islam dan negara pada masa Orde Baru yakni fase antagonistik yang bernuansa konflik. terdapat beberapa produk peraturan perundang-undangan yang secara formil maupun material tegas memiliki muatan yuridis hukum Islam. UU Pokok Agraria No. Untuk menemukan ini dapat dilihat dalam naskah Pembukaan UUD 1945 alinea ke-4. dan Ketiga.5/1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara.uii. 1). pembagian kekuasaan negara. dan negara berdasar atas hukum material/sosial yang modern (rechtstaat material sosial). Adapun pedoman untuk mengetahui materi muatan undang-undang dapat ditentukan melalui tiga pedoman.islamic. Dengan kata lain. politik dan hukum Islam di Indonesia Berkenaan dengan itu.id Powered by Joomla! Generated: 20 March. di mana penyelenggaraan kekuasaan negara dan hukum serta yang lainnya harus mengacu pada norma dasar (ground norm) dan Undang-undang Dasar. dapat diambil gambaran konseptual bahwa kodifikasi hukum Islam menjadi sebuah undang-undang (takhrij al-ahkam fi al-nash al-taqnin) diharuskan mengikuti prosedur konstitusional dan sejalan dengan norma hukum serta cita hukum di Indonesia. dari ketentuan dalam Batang Tuhuh UUD 1945 terdapat sekitar 18 masalah (18 pasal) tentang hak-hak asasi manusia. Sebagaimana halnya dengan grondwet-grondwet lainnya. Prinsip kesejahteraan rakyat. Berdasar wawasan negara berdasar atas hukum/rechtstaat) yang dimulai dan kekuasaan absolut negara (polizeistacit). 33/1994.2/1986 tentang Peradilan Umum. No. UU No. berdasar atas hukum formal (rechtstaat formal). No. antara lain: a. hukum Islam yang secara formil dan material ditransformasikan secara persuasive source dan authority source. PP. karena UUD 1945 ditentukan mengenai siapa yang berhak membentuk undang-undang.[27] Bila diteliti lebih seksama kekhasan undang-undang dan peraturan lainnya adalah undang-undang dibentuk dan ditetapkan oleh presiden dengan persetujuan DPR. alasan Sosiologis.28/1977. budaya. 3). Apabila pendapat Thorbecke ini dipersamakan dengan UUD 1945.1/1974. Kedua. para ahli hukum menyebutkan bahwa materi muatan undang-undang tidak dapat ditentukan ruang lingkup materinya mengingat semua undang-undang adalah perwujudan aspirasi rakyat (kedaulatan rakyat). Salah satunya adalah diundangkannya Undang Undang No. UU RI No. ajaran Islam rnerupakan pandangan hidup. 3. terus pembentukan negara berdasar atas hukum yang sempit/liberal (rechtstaat sempit/liberal).45/1990 dan PP.10/1947 Jo. maka konsep pengembangan hukum Islam yang secara kuantitatif begitu mempengaruhi tatanan sosial-budaya.5/SD 1946. 7/1992 tentang Perbankan yang membolehkan menggunakan prinsip bagi hasil d. hukum Islam dalam proses taqnin diwujudkan sebagai sumber-sumber materi muatan hukum. PP. No. pengaturan di bidang materi konstitusi. dan materi muatan undang-undang sama sekali tidak disebutkan.[28] Dari rumusanrumusan tersebut. Prinsip Keadilan. cita moral dan cita hukum mayoritas muslim di Indonesia. 7/ 1989 tentang Peradilan Agama (Kini UU No. UU No. No. dan fase akomodatif yang bernuansa harmonisasi Islam dan negara. Dalam pasal 5 ayat (1). Implementasi dan tiga alasan di atas. PP. 5). Grondwet (inipun) berdiam diri (untuk) merumuskan materi muatan yang khas bagi wet (het eigenaarding orderwerp der wet).7/1989 tantang Dradi1an Agama. UU Darurat No. kecuali jika undang-undang tidak berkenan mangatur atau menetapkannva.[29] Dalam kenyataan lebih konkret. seperti UU No. UU No. UU No. yang menentukan adalah presiden memegang kekuasaan membentuk undang-undang dengan persetujuan DPR. dan mi mempunyai peran penting bagi terciptanya norma fundamental negara Pancasila). telah membuka kemungkinan pembentukan peraturan perundangan yang bernuansa hukum Islam.Magister Studi Islam UII Keempat. alasan Yuridis yang tertuang dalam Pasal 24. yaitu: Pertama.72006 c. Pengakuan berlakunya hukum Islam dalam bentuk peraturan dan perundang-undangan yang berimplikasi kepada adanya pranata-pranata sosial. PP. sebagai contoh adalah ditetapkannya UUPA No. 4). UU RI No. berdasar pada wawasan pemerintahan sistem konsitusional. hukum Islam yang secara formil maupun material menggunakan corak dan pendekatan keislaman.9/1975.10/1983 Jo. Produk Hukum Islam di Indonesia Terhitung sejak tahun 1970-an sampai sekarang arah dinamika hukum Islam dan proses transformasi hukum Islam telah berjalan sinergis searah dengan dinamika politik di Indonesia.10/1998 tentang PERUBAHAN ATAS http://master. 1/1974 tentang Perkawinan. budaya. Prinsip perlindungan Hak Asasi Manusia. UU No. muatan materi hukum undang-undang akan menjadi pedoman bagi peraturan-peraturan lain di bawahnya.

Proses Undang-Undang Perkawinan. -------------. tuntutan dan dukungan. 6 tahun II Jakarta: LP3ES. Huijbers. 38 TAHUN 1999 TENTANG PENGELOLAAN ZAKAT g. 1978. 1995. Dawam Intelektual. UU RI No 3 TAHUN 2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1989 TENTANG PERADILAN AGAMA l. Bandung: Ulul Albab Press.id Powered by Joomla! Generated: 20 March.il. M. 1989. politik. Informasi Materi Kompilasi Hukum Islam: Memposisikan Abetraksi Hukum Islam? dalam Mimbar Hukum No. Abdul Ghani. seperti membalikkan kedua telapak tangan. Atho. Anwar. Materi Muatan Peraturan Pemerintah Perundang-undangan. dalam Majalah Hukum dan Pembangunan Jakarta. UU RI No. Citra Lamtorogung Persada. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. semakin membuka pintu lebar-lebar bagi upaya transformasi hukum Islam dalam sistem hukum nasional. M. dipandang sangat penting terutama dalam merespon kehendak umat Islam secara kolektif. 1997.4/2000 tentang Penanganan Masalah Otonomi Khusus di NAD Dari sekian banyak produk perundang-undangan yang memuat materi hukum Islam. Pemikiran dan Aksi Islam Indonesia: Sebuah Kajian Politik tentang Cendekiawan Muslim Orde Baru. PP No. Prodjodikoro. 16 TAHUN 2001 TENTANG Y A Y A S A N j. UU Politik Tahun 1999 yang mengatur ketentuan partai Islam i. agar ia :etap eksis dan memainkan peran lebih besar dalam membesarkan dan kemajukan Indonesia baru yang adil dan sejahtera. Betapa tidak. dalam Jurnal Mimbar Hukum No. Padahal UU No. 1989. Hasanudin. Ithaca: Cornell University Press. Jakarta: Al-Hikmah & Ditbinpera Islam Depag Tahun. Atamimi. Pengaruh Faktor Sosial Budaya terhadap Produk Pemikiran Hukum Islam.i. Peradilan Agama dan Peradilan Islam. juga terdapat peraturan-peraturan lain yang berada di bawah Undang-undang.. dalam Bunga Rampai Peradilan Islam I. Masoed.arif. Syafi&rsquo. Basri. 1997. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Fadhie. Politik Akomodasi Negara dan Cendekiawan Muslim Orde Baru: Sebuah Retrospeksi dan Refleksi. 1982. Penutup Hukum Islam di Indonesia telah mengalami perkembangan yang dinamis dan berkesinambungan.7/1980 dapat disahkan sehagai undang-undang. 1995. Filsafat Hukum dalam Lintasan Sejarah.iyyah) hingga masa kemerdekaan. Hassan. Theo. Birokrasi dan Masyarakat Indonesia. Keberadaan UU No. Affan. Muzhor. peristiwa paling fenomenal adalah disahkannya UU No. Inpres No. Sunny. Ekonomi dan Struktur Politik Orde Baru 1966-1971. The Army and Politics in Indonesia. mulai Orde Lama hingga Orde Baru. bukan perkara yang mudah. Bunga Rampai Peradilan Islam I. Bandung: Mizan. Bandung: Ulul albab Press. M. Rahardjo. Maria Farida Indrati. 17 Tahun V. DAFTAR PUSTAKA Abdullah. Dinamika Tata Negara Indonesia: Kompilasi Aktual Masalah Konstitusi Dewan Perwakilan dan Sistem Kepartaian Jakarta: Gema Insani Press.Peradilan Agama Pasca UU No. Cruch. Amak F.14/1970 dalam Pasal 10-12 dengan tegas mengakui kedudukan Peradilan Agama berikut eksistensi dan kewenangannya. Keberlakuan Hukum Islam dalam Tata Hukum Indonesia. dalam Cik Hasan Basri [ed]. 1992. serta kehendak bagi upaya transformasi hukum Islam ke dalam sistem hukum Nasional. Soeprapto. Jakarta: PT. Jakarta: Paramadina. &sbquo. Hamid S.ac.7/1989 dan Perkembangan Studi Hukum Islam di Indonesia? dalam Mimbar Hukum No. Sejalan dengan perubahan iklim politik dan demokratisasi di awal :ahun 1980-an sampai sekarang. (Jakarta: Bumi Aksara. Kehadiran ICMI pada awal tahun 1990-an sesungguhnya merupakan rea1itas sosial dan politik yang tidak dapat dihindari. 4 tahun II (Jakarta: A1-Hikmah dan Ditbinbapera Islam. Isma&rsquo. A. tampak isyarat positif bagi kemajuan pengernbangan hukum Islam dalam seluruh dimensi kehidupan masyarakat. Ahmad.1/ 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam e. 1994. Mahendra. -------------. Jakarta: Dian Rakyat. 1997. 17/1999 tentang Penyelenggaraan Ibadah Ají f. Harold. 16:23 . baik melalui saluran infrastruktur politik maupun suprastruktur seiring dengan realitas. serta peran tokoh-tokoh Islam yang aktif dalani berbagai organisasi kemasyarakatan Islam. Yahya. Intelegensia dan Perilaku Politik Bangsa. 1999. Ilmu Perundang-undangan: Dasar-dasar dan http://master. dalam Prisma No. UU RI No. Asas-asas Hukum Tata Negara Indonesia. ekonomi dan hukum. Disertasi Doktor Universitas Indonesia Jakarta: UI. PP No. baru kurun waktu akhir 1980-an UUPA No. Gaffar. Lance. Politik dan Pembaharuan Hukum. Yogyakarta: Kanisius. 2011. Peradilan Agama sesungguhnya telah lama dikenal sejak masa penjajahan (Mahkamah Syar&rsquo. Teuku Mohammad. Wiryono. Di mana peran besar yang ditampilkan oleh elite politik Islam di lingkungan birokrasi.7/1989 tentang Peradilan Agama. Padahal perjuangan umat Islam dalam waktu 45 tahun sejak masa Orde lama dan 15 tahun sejak masa Orde Baru. Surakarta: Hapsara. UU RI No 41 TAHUN 2004 TENTANG WAKAF k. e.Magister Studi Islam UII UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1992 TENTANG PERBANKAN yang membolehkan menggunakan Prinsip Syariah. Dengan kata lain.28/1977 tentang Perwakafan Tanah Milik c. (Jakarta: LP3ES. Joeniarto. 1976. Semoga hukum Islam tetap eksis beriringan dengan tegaknya Islam itu sendiri. 1996.7/1989 pada tanggal 29 Desember 1989.1/1991 tentang Kompilasi Hukum Islam sekaligus merupakan landasan yuridis bagi umat Islam untuk menyelesaikan masalah-masalah perdata. Bandung: Mizan. UU RI No. Castle. 1990. UU RI No 21 TAHUN 2008 TENTANG PERBANKAN SYARIAH Di samping tingkatannya yang berupa Undang-undang. dikutip dalam Bunga Rampai Peradilan Islam di Indonesa. Pendekatan struktural dan harmoni dalam proses islamisasi pranata sosial. Yusril Ihza. Sejarah Ketatanegaraan Republik Indonesia. M. 1979. Mochtar. 1990). adanya berbagai produk perundang-undangan dan peraturan berdasarkan hukum Islam.uii. Meramu Intelegensi dengan Intuisi: Di antara Para Sahabat Pak Harto.islamic. Saleh. antara lain: a. Harahap.7/1989 tentang Peradilan Agama dan Inpres No. HMI dan Rekayasa Asas Tunggal Pancasila. Bandung: aI-Ma&rsquo.5 Tahun II Jakarta: Al-Hikmah dan Ditbinhapera Islam. Fuad.9/1975 tentang Petunjuk Pelaksanaan UU Hukum Perkawinan b. 1996.72/1992 tentang Penyelenggaraan Bank Berdasarkan Prinsip Bagi Hasil d. 1993. Sukarja.Z. 1991. budaya. Tinggal bagaimana posisi politik umat Islam tidak redup dan kehilangan arah. 1983. 1991. PP No. Bukti sejarah produk hukum Islam sejak masa penjajahan hingga masa kemerdekaan dan masa reformasi merupakan fakta yang tidak pernah dapat digugat kebenarannya. tetapi semua itu telah dilakukan melalui proses politik dalam rentang sejarah yang cukup lama.. UU RI No. 44/1999 tentang Penyelenggaraan Otonomi Khusus Nangroe Aceh Darussalam h. Peranan Keputusan Presiden Republik Indonesia dalam Pen yelenggaraan Pemerintah Negara: Suatu Analisis Mengenai Keputusan Presiden yang Berfiingsi Pengaturan dalam Kurun Watu Pelita 1-Pelita IV. Jilid I Bandung: Ulul Albab Press. adalah perjuangan panjang yang menuntut kesabaran dan kerja keras hingga disahkannya UU No. 1973. Inpres No. Tradisi dan Inovasi Keislaman di Indonesia dalam Bidang Hukum Islam. Politik Indonesia: Tradisi Menuju Demokrasi. Cik Hasan. UU RI No 19 TAHUN 2008 TENTANG SURAT BERHARGA SYARIAH NEGARA m.

hlm. Sehino. [27] Ibid. 108-110. (Ithaca: Cornell University Press. Politik Akomodasi Negara dan Cendekiawan Muslim Orde Baru: Sebuah Retrospeksi dan Refleksi. 238-239 [19] Ahmad Sukarja. hlm. Jurnal Mimbar Hukum No. 5-7. t. hal. hlm. hIm. (Bandung: Mizan. 1976). cet ke-2. cet ke2 (Jakarta: Prapanca. Proses Undang-undang Perkawinan. him. hlm. 1991). hlm. (Jakarta: LP3ES. Lihat juga Fachry Ali dan Bachtiar Effendi. Politik Indonesia: Tradisi Menuju Demokrasi. Meramu Intelegensi dengan Intuisi: Di antara Para Sahabat Pak Harto. Sri. Hamid S. 1971). hlm. hlm... http://master. 59 Th. &sbquo. him. 205 dan tulisannya tentang Materi Muatan Peraturan Pemerintah Perundangundangan dalam Majalah Hukum dan Pembangunan Jakarta. cit. 38 1-382. yakni hukum Islam identik dengan syari&rsquo.i Anwar. hlm. VII. him. &ldquo. op. Attamimi. 2 1-30 [6] Teuku Mohammad Radhie. Asas-asas Hukum Tata Negara Indonesia (Jakarta: Dian Rakyat. [12] Fuad Hasan.Peradilan Agama Pasca UU No. 26 1-262 [13] Lance Castle. 27. 4. 35-48 [8] A. 24-25 [20] M. Naskah Persiapan UUD 1945 (Jakarta: Reproduksi Setneg. hlm. 2003 Yami. hlm. 1-2. Politik Hukum Islam di Indonesia (Studi terhadap Legislasi Kompilasi Hukum Islam). 1997). Jilid I. hlm. [10] Joeniarto.id Powered by Joomla! Generated: 20 March. 1990). (Bandung: Al-Ma&rsquo.. &sbquo. tetapi juga di kalangan akademisi dan praktisi hukum Islam [5] 3 M. 2003. him. al-Hikmah. 1996). hlm.7/1989 dan Perkembangan Studi Hukum Islam di Indonesia? dalam Mimbar Hukum No. 47-53. 15-18. Syafi&rsquo. (Bandung: Mizan. 1990). &sbquo. op. hlm. 26 Ibid. Perihal perbedaan cara pandang tentang teori kekuasaa. 28 Hamid S. 4 tahun II (Jakarta: AI-Hikmah dan Ditbinbapera Islam. him. (Yogyakarta: Liberty. XIV. 1982). Ke-3. Birokrasi dan Masyarakat Indonesia. him. op... 1980). (Jakarta: Bumi Aksara. Sejarah Ketatanegaraan Republik Indonesia. Mohammad. Attamimi. 1985). Yamin. Ini banyak terjadi bukan hanya di kalangan ulama Fiqh. 1980. Panitera/Sekretaris Pengadilan Agama Kuningan [4] 2 Keanekaragaman yang dimaksud adalah perbedaan pemahaman orang Islam di dalam memahami hukum Islam yang memiliki dua kecenderungan. 1 tahun V (Jakarta: al-Hikmah & Ditbinpera Islam Depag RI. hlm [24] 24 Moh. [17] 16 M. 2011. 92-103. Pemikiran dan Aksi Islam Indonesia: Sebuah Kajian Politik tentang Cendekiawan Muslim Orde Baru. hlm.Peranan Keputusan Presiden Republik Indonesia dalam Penyelenggaraan Pemenntah Negara: Suatu Anaiisis Mengenai Keputusan Presiden yang Berfungsi Pengaturan dalam Kurun Waku Pelita 1-Pelita IV&rdquo. Intelektual. Dawam Rahardjo.t. Atho Mudzhar. alHikmah. cit. cit. (Surakarta: Hapsara. Ilmu Perundang Undangan: Dasar-dasar dan Pembentukannya. 113 dan A. tt.. 113-115. 1979). op.ac. 26-28. hlm. Wahyuni. (Yogyakarta: Kanisius. 1995). 1995). him.islamic. op. op.Magister Studi Islam UII Pembentukannya. 74. (Yogyakarta: Kanisius. Attamimi. him. 16:23 . Bandingkan dengan Wiryono Prodjodikoro. 9 [18] 17 Ibid. Syafi&rsquo. Ilmu Negara. [25] Maria Farida Indrati Soeprapto. Attamimi. [16] M. Naskah Persiapan UUD 1945 (Jakarta: Reproduksi Setneg. cit. 156-160. Intelegensia dan Perilaku Politik Bangsa.. ct. 211. Yusril Iliza Mahendra telah menjelaskan dalam bukunya Dinamika Tata Negara Indonesia: Kompilasi Aktual Masalah Konstitusi Dewan Perwakilan dan Sistem Kepartaian (Jakarta: Gema Insani Pess.. Politik Hukum Islam di Indonesia (Studi terhadap Legislasi Kompilasi Hukum Islam). 1991). Yogyakarta: Kanisius. [1] Dosen tetap FIAI UII [2] Sri Wahyuni. 64-65 [23] 23 Soehino. Jakarta: Prapanca. hIm. (Bandung: Mizan. Filsafat Hukum dalam Lintasan Sejarah. hlm. Jilid I. XIV. 116-117 [22] 22 Maria Farida Indrati Soeprapto. 82-83. Hamid S. l998. 241 [21] Cik Hasan Bisri. Jurnal Mimbar Hukum No. -------------. him. 4 . Disertasi Doktor Universitas donesia (Jakarta: UI. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 37 [15] M. Pemikiran dan Aksi. (Jakarta: Paramadina..i Anwar. [28] Maria Fanda Indrati Suprapto. hIm. hlm. 1989). 94 106. Lihat pula dalam tulisan sejenis tentang Naskah Persiapan UUD 1945 jilid I. Naskah Persiapan UUD 1945.) Bunga Rampai Peradilan Islam I. 93-95. 1973). dalam Prisma No. op. Bandingkan dengan Theo Huijbers. llmu Negara. 140 [11] Harold Crouch. Hamid S. Yogyakarta: Liberty. cit. The Army and Politics in Indonesia. hlm.uii. [7] Amak F. [14] Affan Gaffar.Z. 124-130 [29] Abdul Ghani Abdullah. 1978 Bab. [26] Ibid.Politik dan Pembaharuan Hukum?. [3]Andi Silalahi. 120-135 [9] Mochtar Masoed. dalam Jurnal Mimbar Hukum No. Pengaruh Faktor Sosial Budaya terhadap Produk Pemikiran Hukum Islam.).ah dan identik dengan fiqh. Merambah Jalan Baru Islam: Rekonstruksi Pemikiran Islam Indonesia Masa Orde Baru. 1999).. A. 1983). Syafi&rsquo. Ekonomi dan Struktur Politik Orde Baru 1966-1971. ?Peradilan Agama dan Peradilan Islam? dalam Cik Hasan Bisri. 1993). Citra Lamtorogung Persada. (Jakarta: PT. 1971.arif.i Anwar. 32-235. 6 tahun II (Jakarta: LP3ES. 1998). 59 Th. (Bandung: Ulul Albab Press. tt. hlm.Keberiakuan Hukum Islam dalam Tata Hukum Indonesia? dalam Cik Hasan Bisri (ed.. hIm.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful