Kelembagaan Pengelolaan Bencana Merapi

Tata Kelola Wilayah

Dosen: Ir. Jawoto Sih Setyono, MDP Dr. Lilin Budiati, SH, MM Ir. Artiningsih, MSI Santy Paulla Dewi, ST, MT

KELEMBAGAAN PENGELOLAAN BENCANA MERAPI
(Kerjasama Antar Daerah Dalam Pengelolaan Bencana Merapi)

Iva Prima Septanita - 21040110400009 Kimiawan Hari - 21040110400010 Satriyo Catur Widodo - 21040110400018 Tri Sulastri Mahfidah - 21040110400021 Wahyu Winoto L4D008137

MAGISTER PEMBANGUNAN WILAYAH DAN KOTA UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2011

Tata Kelola Wilayah

Bagian 1 Bencana Merapi 2010 Dan Upaya Penanggulangannya
Dampak Bencana Merapi (Erupsi dan Lahar Dingin)
Dalam beberapa tahun terakhir Indonesia dilanda banyak bencana alam, baik itu gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor dan lain-lain. Kondisi ini terutama disebabkan karena Indonesia berada dalam pertemuan sejumlah lempeng tektonik besar yang aktif bergerak, yaitu lempeng Eurasia, lempeng Indo-Australia, dan lempeng Pasifik. Sewaktu-waktu lempeng ini akan bergeser patah menimbulkan gempa bumi. Selanjutnya jika terjadi tumbukan antarlempeng tektonik dapat menghasilkan tsunami, seperti yang terjadi di Aceh dan Sumatera Utara. Selain dikepung tiga lempeng tektonik dunia, Indonesia juga merupakan jalur The Pasicif Ring of Fire (Cincin Api Pasifik), yang merupakan jalur rangkaian gunung api aktif di dunia. Cincin api Pasifik membentang diantara subduksi maupun pemisahan lempeng Pasifik dengan lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, lempeng Amerika Utara dan lempeng Nazca yang bertabrakan dengan lempeng Amerika Selatan. Ia membentang dari mulai pantai barat Amerika Selatan, berlanjut ke pantai barat Amerika Utara, melingkar ke Kanada, semenanjung Kamsatschka, Jepang, Indonesia, Selandia baru dan kepulauan di Pasifik Selatan. Indonesia memiliki gunung berapi dengan jumlah kurang lebih 240 buah, di mana hampir 70 di antaranya masih aktif (www.pdat.co.id, tanpa tahun). Salah satu gunung berapi aktif di Indonesia itu adalah Gunung Merapi. Gunung berapi ini berada di Jawa Tengah dan DIY dan berketinggian 2.968 m diatas permukaan laut. Gunung Merapi ini merupakan salah satu gunung berapi aktif yang secara periodik mengalami erupsi antara 4-5 tahunan. Erupsi terakhir sebelum tahun 2010 adalah erupsi yang terjadi pada tahun 2006. Erupsi yang baru saja terjadi yaitu pada tanggal 26 Oktober 2010 dan berlanjut dengan erupsi besar pada tanggal 5 November 2010 dini hari disebut sebagai letusan terbesar sejak 1930. Salah satu ciri letusan Merapi adalah sifat bahayanya yang selain memuntahkan material vulkanik juga menyemburkan awan panas. Selain bahaya primer berupa aliran lahar dan awan panas, bahaya sekunder yang ditimbulkan berupa banjir lahar dingin dalam perkembangan terakhir juga menjadi ancaman yang serius. Peristiwa bencana letusan Merapi pada Oktober-November 2010 dan banjir

Page | 1

Kelembagaan Pengelolaan Bencana Merapi

matinya hewan ternak. 2010 Dampak dari erupsi Merapi bulan Oktober-November 2010 adalah berbagai kerugian yang dialami meliputi korban jiwa (meninggal dan luka-luka). rusaknya rumah penduduk. Kabupaten Sleman merupakan wilayah yang terkena dampak paling besar. seiring dengan perkembangan aktifitas vulkanologi Merapi meningkat menjadi 10 km. lalu meningkat lagi menjadi 15 km dan terakhir menjelang letusan besar pada 5 November zona bahaya tersebut diperluas menjadi 20 km dari puncak Merapi. Kelembagaan Pengelolaan Bencana Merapi . Zona Bahaya Merapi Sumber : BNPB. rusaknya lahan pertanian. yaitu Sleman (Provinsi DIY). karena kondisi kawah atau kubah lava Merapi yang lebih terbuka ke arah selatan. sementara dampak Page | 2 banjir lahar dingin terutama terjadi di wilayah Kabupaten Magelang dan Kota Jogjakarta. Klaten. Wilayah-wilayah dalam radius 20 km tersebut dapat dilihat dalam Gambar 1. rusaknya berbagai infrastruktur penting (listrik. Magelang. Karena letak Gunung Merapi yang berada di perbatasan Jawa Tengah dan DIY maka wilayah yang terkena dampak akibat erupsi Merapi meliputi empat Kabupaten yang ada di dua provinsi itu. air bersih.Tata Kelola Wilayah lahan dingin pada Januari-Februari 2011 sebagai bahaya lanjutannya merupakan salah satu bencana yang berskala besar karena besarnya dampak yang ditimbulkannya. Gambar 1. Zona bahaya erupsi Merapi pada awal bencana ditetapkan 5 km dari arah puncak. Boyolali (Provinsi Jawa Tengah).

com. wilayah lain ada data 8 Lahan pertanian di Magelang. Sleman. 23 Jan 2011 www. Cangkringan. data 14 Nov 2010 (terbanyak di Kab.271 rumah BNPB. Lahan pertanian rusak Areal rusak hutan Ribuan hektar 6. Klaten dan Boyolali & Kota Magelang) Jumlah pengungsi terbanyak. jembatan. Sementara ancaman bahaya sekunder Merapi berupa banjir lahan dingin yang terjadi sejak bulan Janauari 2011 dampaknya juga sangat luas. dam penahan lahar) dan rusaknya berbagai fasilitas umum lainnya. Perkebunan dan Kehutanan Kab.mediaindonesia. 9 Des 2010 Keterangan Data s/d 9 Des 2010 (dari Sleman. 2010 dan berbagai media massa.kompas. 24 Jan 2011 Sumber : BNPB.mediaindonesia. Data Kerugian Akibat Erupsi Merapi Tahun 2010 No.Mgl) 3. Klaten dan Boyolali) 17 Keterangan dari Menteri Pertanian Di 5 Desa di Kec. 8.420 ha Sekitar 4. Nov 2010 7. 9. Kepuharjo. Argomulyo. Boyolali. www. Klaten dan Sleman (padi. 1. dan Page | 3 2. Sleman. Sleman (Glagaharjo.403 ribu 2. Wukirsari dan Umbulharjo). sayur-sayuran) Keterangan dari Menteri Kehutanan Wilayah Kab.com. kemudian meningkat pada tanggal 5 November 2010 ketika terjadi letusan terbesar.go. (Din Pertanian.000 orang 14 buah 52 buah www.com Nov 2010 www. 5. merusak rumah penduduk.detiknews.suaramerdeka. Nov 2010 www. Berdasarkan data BNPB diatas.detiknews. palawija.com. Tabel 1. 15 Nov 2010 Data pada tanggal 14 Nov 2010 ( di Kab. 2010 dan 2011 Sementara fluktuasi jumlah pengungsi akibat erupsi Merapi sejak letusan pertama pada 26 Oktober 2010 sampai dengan 9 Desember 2010 (BNPB. Kab.co m 12 Jan 2011 www. yaitu merusak beberapa jembatan dan sabo dam terutama di wilayah Magelang. 10. penduduk sekitar Merapi mulai mengungsi sejak tanggal 26 Oktober ketika letusan pertama Merapi. 511 orang BNPB. kemudian mulai menurun jumlahnya pada tanggal 22 November Kelembagaan Pengelolaan Bencana Merapi . Keterangan Wakil Menteri Pekerjaan Umum Wil Kab. 2010) dapat dilihat pada Gambar 2. Magelang Di wilayah Kab. Berikut ini adalah data dari berbagai sumber mengenai berbagai kerugian tersebut.slemankab. Magelang. jalur Magelang-Jogjakarta terganggu (berkali-kali macet akibat luberan material banjir lahar dingin). Pengungsi (erupsi Merapi) Hewan mati ternak 399.id tanggal 12 Nov 2010 Rumah rusak 6. Magelang.Tata Kelola Wilayah jalan. Magelang. Jenis Kerugian Korban meningggal Korban luka lukaJumlah 386 orang Sumber Data BNPB. Magelang. Magelang.011 ekor 2.co m. dan ribuan penduduk mengungsi. Klaten Boyolali) Kab. 8 Pengungsi (lahar dingin) Jembatan rusak (lahar dingin) Bendung irigasi rusak www. 3 Des 2010 4.

Tata Kelola Wilayah ketika Merapi mulai berangsur aman. Pengungsi adalah penduduk dari empat kabupaten yang terkena dampak langsung erupsi Merapi. yaitu Kabupaten Sleman. 2010 Gambar 3. Gambar 2. Zona Ancaman Banjir Lahar Dingin Merapi Sumber : BNPB. Klaten. Magelang dan Boyolali. Fluktuasi Pengungsi Merapi 26 Oktober-9 Desember 2010 Page | 4 Sumber : BNPB. 2010 Kelembagaan Pengelolaan Bencana Merapi .

Page | 5 Penanganan Bencana Merapi dan Permasalahan Kelembagaan Sebelum merapi meletus. Kondisi ini sempat dikritik oleh Ketua Komisi VIII DPR RI Abdul Kadir Karding ketika mengunjungi Pos Pengamatan Merapi di Babadan. termasuk respon pemerintah setempat dalam menghadapi bencana. yaitu Sungai Putih. Kuning. Pada tahap ini pihak yang melakukan penanganan bencana terutama adalah tim SAR dan PMI yang melakukan evakuasi korban meninggal dan luka-luka akibat awan panas dan juga membuat tenda-tenda bagi para pengungsi dibantu oleh Tagana (Taruna Tanggap Bencana) dan beberapa LSM. Bebeng. macetnya jalur Magelang-Jogjakarta dan ribuan penduduk mengungsi. Dalam fase ini belum terlihat ada upaya-upaya persiapan dalam menghadapi bencana. beberapa jembatan. barak pengungsian di Desa Ngadipuro. Gendol. Untuk persiapan penanganan bencana di wilayah DIY tidak ditemukan data. juru kunci Merapi. Dukun Kab. berbagai pihak pun berdatangan. Ormas dan lembaga non pemerintah lainnya. Di beberapa wilayah juga terjadi kondisi dimana hanya ada Ormas dan LSM saja yang bekerja menangani bencana. Woro. atap bangunan banyak berlubang. 23 Oktober 2010). Bedog. namun berdasarkan berita dari berbagai media massa terungkap bahwa lembaga-lemabaga non-pemerintah beserta para relawannya adalah pihak yang paling cepat berada di lokasi bencana untuk melakukan penanganan bencana dibanding dengan respon pemerintah setempat. Lamat. sehingga tidak layak untuk barak pengungsi (Suara Merdeka. Kringsing dan Apu. Klaten dan Boyolali). Senowo.Tata Kelola Wilayah Dampak banjir lahar dingin terutama mengancam wilayah di sekitar 14 sungai yang berhulu ke Merapi. yaitu sejak Merapi dinyatakan berstatus siaga pada tanggal 25 Oktober 2010. Krasak. Kec. Korban meninggal pada letusan pertama ini terutama dari Desa Kinahrejo tempat tinggal Mbah Maridjan. Sementara banjir lahar dingin terparah yang terjadi pada Januari 2011 adalah di Sungai Putih dan Pabelan yang menyebabkan rusaknya rumah penduduk. Pengelolaan bencana berbeda antar wilayah (antar Sleman. Opak. Pada tanggal 25 Oktober Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi menetapkan perubahan status aktifitas Gunung Merapi dari siaga menjadi awas. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi telah mengumumkan peningkatan aktifitas Gunung Merapi dan menetapkan status siaga. Sat. Magelang nyaris roboh. Kelembagaan Pengelolaan Bencana Merapi . baru setalah skala bencana Merapi menjadi lebih besar. lalu terjadi letusan pertama pada 26 Oktober 2010 dan ditetapkan zona bahaya sejauh 5 km. Magelang. Jalur evakuasi dan jalan menuju pos pengamatan rusak parah. Boyong. Sebagian penduduk di beberapa desa terdekat dengan Merapi pun segera melakukan pengungsian ke beberapa titik lokasi pengungsian. bahkan ada lembaga non-pemerintah berada di lokasi sebelum terjadi letusan.

Parpol. baik dalam proses evakuasi korban meninggal dan luka-luka akibat awan panas maupun penanganan para pengungsi. Presiden Yudhoyono memutuskan agar penanganan bencana Merapi berada di bawah satu komando yaitu Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Syamsul Maarif. serta penanganan pengungsi beserta logistiknya (TNI).com.antaranews. Unsur pemerintah yang tampak lebih cepat dan tanggap di lokasi bencana adalah PMI. TNI juga diminta menyiapkan kendaraan untuk memudahkan pergerakan masayarakat di daerah bencana. Selain itu Presiden juga memutuskan untuk mengajukan unsur pemerintah pusat yang dipimpin oleh Menko Kesejahteraan Rakyat guna membantu daerah dan juga memastikan bantuan pusat ke daerah dapat disalurkan secara cepat. dan TNI. Presiden juga menginstruksikan TNI untuk mengerahkan satu brigade plus penanggulangan bencana dipimpin oleh seorang brogadir jendral terdiri atas batalyon kesehatan. dan berbagai lembaga non-pemerintah (LSM. tepat dan terkoordinasi dengan baik. Brigadir TNI dan Satgas Polri juga berada di bawah komando Kepala BNPB (www. ada yang ikut melakukan evakuasi. berbagai pihak baik unsur pemerintah maupun unsur masyarakat non-pemerintah semakin banyak yang terlibat dalam penanganan bencana. ada pula yang menangani trauma pasca bencana para pengungsi. dan masing-masing memiliki keahlian yang spesifik.Tata Kelola Wilayah Seiring dengan peningkatan aktifitas Merapi pada saat itu menyebabkan zona bahaya ditambah sejauh 10 km. termasuk para mahasiswa dan relawan asing. yaitu penanganan mencari dan mengevakuasi korban (SAR) dan menangani korban luka-luka (PMI). TNI. SAR. BNPB ini akan dibantu oleh Gubernur Jawa Tengah. Sejak letusan kedua pada 5 November. PMI. 2010). Selain itu relawan dari berbagai lembaga non-pemerintah semakin banyak berdatangan. Ormas. Sejak penanganan bencana oleh pemerintah diambil alih oleh BNPB maka penanganan bencana di lapangan dikordinasikan oleh BNPB. kemudian bertambah lagi menjadi 15 km dan menjelang letusan terbesar pada 5 November zona bahaya diperluas menjadi 20 km. terdiri dari SAR. Setelah letusan besar itu. Keberadaan relawan banyak disebut-sebut sebagai ujung tombak dalam Page | 6 Kelembagaan Pengelolaan Bencana Merapi . Akibat letusan kedua ini korban jiwa meningkat jumlahnya dan pengungsi semakin banyak jumlahnya yang tersebar di berbagai titik di empat kabupaten. menyalurkan bantuan. Polda Jawa Tengah dan Polda DIY. pemerintah setempat. batalyon zeni tempur untuk pekerjaan konstruksi dan lebih dari satu batalyon marinir dan infantri yang bertugas segera membangun berbagai fasilitas seperti rumah sakit lapangan dan dapur umum. NGO. Polri. Mereka membawa personil dan sumber daya yang dimiliki serta bantuan hasil donasi dari masyarakat dan masing-masing mengambil peran sesuai dengan kemampuannya. ada yang mengurusi logistik pengungsi. Presiden juga memerintahkan Polri untuk menyiapkan satuan tugas khusus untuk penanggulangan bencana terutama mengatur lalu lintas yang kacau karena mobilitas masyarakat yang mengungsi. Mahasiswa). Pangdam IV Diponegoro. Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

NGO. dan lain-lain). dan hal ini juga diakui oleh Wapres Budiono yang memberikan apresiasi terhadap mereka. Komnas HAM menilai penanganan bencana Merapi belum maksimal dan belum terkoordinasi dengan baik. terutama dalam koordinasi penanganan pengungsi dan penyaluran bantuan. lebih cepat berada di lokasi bencana dan lebih tanggap dalam menangani bencana.Tata Kelola Wilayah penanganan bencana Merapi ini. Parpol. Pemerintah yang bertanggung jawab dalam penanggulangan bencana kurang cepat dan tanggap dalam menghadapi dan menangani bencana (tidak ada kesiapan menghadapi bencana dan baru bergerak setelah bencana menjadi besar). dana. 3. 6. 28 Des 2010).id.republika. Hasil kajian diharapkan menghasilkan suatu solusi kelembagaan atas permasalahan tersebut. 4. dengan keragaman sumber daya yang dimiliki (personil. 2. Berbagai pihak non-pemerintah lebih siap menghadapi bencana. 5. terutama berkaitan dengan hak-hak pengungsi (www.co. Setelah beberapa bulan sejak terjadinya bencana tersebut. Ormas. juga best practice pengelolaan bencana yang dilakukan Jepang. peralatan. Berbagai masalah kelembagaan dalam pengelolaan bencana Merapi tersebut selanjutnya akan lebih dikaji dengan melihat berbagai regulasi dan kebijakan yang mengatur mengenai pengelolaan bencana. serta berbagai teori tentang kerjasama antar wilayah dalam pengelolaan bencana. Pemerintah kabupaten bekerja hanya di wilayahnya masing-masing dan berdasarkan dampak yang dialami oleh wilayah kabupatennya saja. Kelembagaan Pengelolaan Bencana Merapi . Masih lemahnya koordinasi antara pemerintah dengan lembaga-lembaga non-pemerintah yang terlibat dalam pengelolaan bencana tersebut. Tidak ada kerjasama dan koordinasi antar wilayah atau antar pemerintah kabupaten yang terkena dampak dalam menangani bencana. mahasiswa dan lembaga-lembaga lain. yaitu LSM. Minimnya langkah antisipatif dan persiapan dalam menghadapi bencana (ketika Merapi berstatus siaga maupun telah naik menjadi awas). Dengan mencermati berbagai pemberitaan Page | 7 di media dan pengalaman para relawan Merapi berbagai permasalahan kelembagaan dalam pengelolaan bencana Merapi adalah sebagai berikut : 1.

harta benda (properti). Bencana alam dimana faktor geologi sangat dominan disebut sebagai bencana alam geologi. Klasifikasi bencana biasanya didasarkan atas penyebab kejadian (secara alami atau karena ulah manusia) dan cepat lambatnya kejadian bencana (perlahan atau tiba-tiba). Dalam UU No. 2004). sebagai akibat dari posisi Indonesia yang berada pada pertemuan tiga lempeng tektonik dan merupakan jalur cincin api Pasifik. 24 Tahun 2007 pasal 1 dijelaskan bahwa penyelenggaraan penanggulangan bencana adalah serangkaian upaya yang meliputi penetapan kebijakan pembangunan yang berisiko timbulnya bencana. dan lingkungannya. 2004). Pengertian bencana menurut UU No. Kelembagaan Pengelolaan Bencana Merapi . baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia. 24 Tahun 2007 pasal 1 adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang Page | 8 disebabkan. dan rehabilitasi. pada saat atau sesaat setelah kejadian bencana. tanah longsor. Sementara pengelolaan atau manajemen bencana merupakan suatu bentuk rangkaian kegiatan yang dinamis. dan penurunan tanah (Sadisun.Tata Kelola Wilayah Bagian 2 Perspektif Teori dan Kebijakan Penanggulangan Bencana Pengelolaan Bencana (Disaster Management) Definisini bencana adalah gangguan yang serius dari berfungsinya satu masyarakat. kerugian harta benda. 2004). dan dampak psikologis. tanggap darurat. hingga pasca kejadian bencana (Sadisun. diantaranya gempa bumi tsunami. Bencana yang paling sering menimpa Indonesia adalah bencana geologi tersebut. terpadu dan berkelanjutan yang dilaksanakan semenjak sebelum kejadian bencana. kegiatan pencegahan bencana. yang menyebabkan kerugian-kerugian besar terhadap jiwa (manusia). kerusakan lingkungan. yang melebihi kemampuan dari masyarakat yang tertimpa bencana untuk menanggulanginya dengan hanya menggunakan sumber-sumber daya masyarakat itu sendiri (UNDMTP (United Nations Disaster Management Training Program) dalam Sadisun. letusan gunung api.

2004). menanggapi dan menghadapi kejadian dan dampak bencana. 2010). meliputi kegiatan pengumpulan dan analisa data bencana. terutama bencana gempa bumi. Siklus Manajemen Bencana Page | 9 Sumber : Sadisun. Kejadian gempa bumi di Kobe ini menjadi titik tolak manajemen bencana dimana pemerintah Jepang membentuk Kementrian Negara Urusan Bencana yang menjadi pelaksana teknis Dewan Pusat Penanganan Bencana yang didukung oleh 37 badan publik. Sementara kesiap siagaan merupakan kemampuan untuk memperkirakan. mulai dari badan meteorologi. perusahaan telepon. Jepang membangun sistem manajemen bencana yang memadai setalah terjadinya gempa Hanshin Awaji di Kota Kobe Provinsi Hyogo pada awal 1995. badan penyiaran. Pengelolaan bencana dapat digambarkan sebagai suatu siklus manajemen sebagai berikut : Gambar 4. 2004 Pembelajaran Pengelolaan Bencana di Jepang Jepang merupakan salah satu negara rawan bencana di dunia.000 orang. perusahaan gas.2 skala ritcher dan menelan korban jiwa sekitar 6. Kelembagaan Pengelolaan Bencana Merapi . dan telah memiliki manajemen bencana yang baik dan bisa dijadikan sebagai contoh. berkekuatan 7.Tata Kelola Wilayah Mitigasi bencana merupakan kumpulan kegiatan dalam rangka mengurangi resiko (memperkecil tingkat kerentanan dan bahaya) dari bencana. meliputi prediksi kejadian bencana (pemantauan bencana) dan kesiapsiagaan emergensi (persiapan tanda-tanda bahaya dan sistem peringatan dini) (Sadisun. dan lain-lain (Minamiyama.

Contohnya bisa dilihat pada saat terjadinya gempa di Provinsi Niigata pada bulan Oktober tahun 2009 lalu. penduduk.8 pada skala Richter itu.000 kesepakatan kerja sama kota kembar antar pemerintah daerah semacam ini. badan-badan sosial yang ditunjuk. salah satu kota yang paling rusak parah oleh gempa berskala 6. kota Komae. Langkah antisipatif pertama adalah pembentukan sistem kerja sama kota kembar (sister city) untuk mengatasi bencana. pemerintah provinsi. langkah tanggap darurat dalam skala besar tidak lagi harus semata-mata bergantung pada instruksi pemerintah pusat atau koordinasi antarinstansi. tetapi tahu ke mana harus Page | 10 Kelembagaan Pengelolaan Bencana Merapi . Seluruh bahan bantuan darurat ini telah dipersiapkan dalam jumlah besar yang disimpan di dalam gudang setiap kota kembar sehingga bila terjadi bencana. Pola pikir dan reaksi masyarakat yang memiliki disaster awareness yang tinggi adalah tidak sekadar menyelamatkan diri. ibu kota. Dengan menguatkan sistem kerja sama antardaerah seperti ini. informasi tempat pengungsian dan pertolongan pertama saat terjadi bencana alam sangat penting sebab penduduk yang menyelamatkan diri di tengah terjadinya bencana seharusnya tahu ke mana mereka harus menyelamatkan diri. dapat langsung disalurkan. dan lain-lain menjadi jelas. tenda darurat. yang terbukti sangat efektif melakukan tanggap darurat (Minamiyama. kota dan desa. dan pemerintah kota Ojiya bisa berkonsentrasi mengevakuasi penduduk sambil menunggu datangnya bantuan dari kota kembarnya. kabupaten. yang terletak di luar Tokyo. yang dititikberatkan pada koordinasi antar pemerintah daerah. Maka terbentuklah sistem yang membuat bencana alam sebagai bahan pembahasan penting bagi negara yang harus dibahas di parlemen sekalipun jumlah bencana alam yang terjadi tidak banyak pada tahun tesebut. Untuk konteks negara rawan bencana. langsung mendapat suplai bahan bantuan berupa air bersih. 2010). Pihak-pihak yang berkepentingan ini diwajibkan untuk menyusun rencana penanggulangan bencana (Sugiana. Seluruh bantuan ini tiba dalam waktu 24 jam. Dari sekian banyak tindakan antisipatif yang dilakukan di daerah-daerah rawan bencana di Jepang. tisu toilet. dan selimut dari kota kembarnya. makanan kering. 2010) Salah satu kelebihan utama dalam manajemen bencana di Jepang adalah berbagai tindakan antisipatif yang dilakukan dalam menghadapi bencana.Tata Kelola Wilayah Ditegaskan dalam undang-undang tersebut bahwa pemerintah berkewajiban untuk melaporkan rencana dan langkah yang telah diambil didalam penanggulangan bencana pada setiap tahun fiskal kepada parlemen. Langkah antisipatif kedua yang dapat ditiru adalah penyebaran informasi tempat pengungsian yang wajib dimiliki oleh setiap rumah tangga. setidaknya ada dua langkah yang bisa langsung dicontoh Indonesia. di mana dua atau lebih kota atau kabupaten melakukan perjanjian kerja sama penyediaan langkah tanggap darurat. Tanggung jawab negara. Di Jepang tercatat lebih dari 1. Kota Ojiya.

24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana Substansi Penting . Sementara berbagai regulasi yang terkait dengan kelembagaan pengelolaan bencana diantaranya adalah PP No. khususnya di kota Kobe. Tabel 2.Tata Kelola Wilayah menyelamatkan diri serta kebutuhan apa yang diperlukan untuk menyelamatkan diri. Peraturan Kepala BNPB No.Penanggungjawab penyelenggaraan penanggulangan bencana adalah pemerintah BNPB) dan pemerintah daerah (BPBD) . 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. Di Provinsi Hyogo. Regulasi UU No. perlindungan masyarakat dari dampak bencana.Tanggungjawab pemerintah meliputi pengurangan resiko bencana. 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana. pengalokasian anggaran dalam bentuk siap pakai. 3 Tahun 2008 tentang Pedoman Pembentukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah.Negara bertanggungjawab dalam penanggulangan bencana.Pembagian kewenangan pusat dan daerah belum jelas. 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah. yang luluh lantak dalam gempa dahsyat 10 tahun lalu. UU No. Pentingnya pemerintah daerah mendesain tempat yang ditunjuk sebagai pusat-pusat pengungsian juga membawa implikasi lebih lanjut. 46 Tahun 2008 tentang Pedoman Organisasi dan Tata Kerja Badan Penanggulangan Bencana Daerah. tetapi fakta masih sebatas bantuan. 2010). 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. . PP No. 22 Tahun 2008 tentang Pendanaan dan Pengelolaan Bantuan Bencana. yaitu bahwa penunjukan itu mutlak diiringi dengan penyediaan kebutuhan darurat. Page | 11 Regulasi dan Kebijakan Pengelolaan Bencana dan Kelembagaannya Pengelolaan bencana di Indonesia secara khusus telah diatur dalam UU No. yaitu PP No. lalu pada tahun 2008 keluar tiga peraturan pemerintah yang melengkapinya. Di setiap wilayah terdapat fasilitas publik yang ditunjuk dan disiapkan sebagai tempat penampungan korban (Minamiyama. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan PP No. dan pemeliharaan arsip/dokumen dari ancaman dan dampak bencana Critical Review . termasuk kategori skala bencana Kelembagaan Pengelolaan Bencana Merapi . Regulasi dan Kebijakan Pengelolaan Bencana dan Kelembagaannya No 1. Selain itu juga beberapa regulasi yang terkait dengan kelembagaan pengelolaan bencana. penjaminan pemenuhan kebutuhan masyarakat dan pengungsi yang terkena bencana. taman dan gedung sekolah yang ditetapkan sebagai tempat perlindungan darurat dilengkapi dengan tangki air minum dan cadangan toilet portabel yang langsung dapat bisa dimanfaatkan saat terjadinya bencana. dan PP No. pemulihan kondisi dan dampak. 23 Tahun 2008 tentang Peran Serta Lembaga Internasional dan Lembaga Asing Nonpemerintah Dalam penanggulangan Bencana. yaitu Permendagri No.

Tidak semua daerah telah membentuk BPBD .Resources dan tools penanggulangan bencana sebagian besar dikuasai oleh pusat.Tidak ada alokasi dalam APBN/APBD .Penanggulangan bencana terdiri atas tiga tahap : pra bencana. nota kesepahaman dan rencana kerja. saat tanggap darurat dan pasca bencana. . kesiapsiagaan dan pencegahan bencana. pemulihan prasarana sarana vital.Dana penanggulangan bencana berasal dari APBN.Hanya mengatur peran serta lembaga internasional dan lembaga asing nonpemerintah saja.Kab/Kota tidak wajib membentuk BPBD.Dana penanggulangan bencana menjadi tanggungjawab pemerintah dan pemerintah daerah . . . misal dilihat dari sisi potensi kebencanaan di wilayah tersebut. . kerusakan. APBD.Apakah lembaga baru tersebut memiliki kapasitas yang memadai dalam pengelolaan bencana? Page | 12 3.Penanggulangan dalam situasi terdapat potensi bencana meliputi : kesiapsiagaan.Tidak ada alokasi dana untuk mitigasi. .BPBD terdiri dari Kepala. penyelamatan dan evakuasi. meliputi kegiatan tahap pra bencana. tetapi tidak ada kriteria daerah dengan kondisi apa yang seharusnya wajib dan daerah dengan kondisi apa yang tidak wajib membentuk BPBD.Di setiap provinsi dibentuk BPBD Provinsi dan di setiap Kabupaten/Kota dapat dibentuk Kabupaten/Kota . 46 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Penanggulangan Bencana Daerah . . . 5. PP No. .Respon masyarakat dan lembaga non-pemerintah sangat besar (SDM. dan/atau masyarakat . 23 Tahun 2008 tentang Peran Serta Lembaga Internasional dan Lembaga Asing Nonpemerintah Dalam penanggulangan Bencana Permendagri No. 3 Tahun 2008 tentang Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kelembagaan Pengelolaan Bencana Merapi .Tata Kelola Wilayah 2. .Hubungan antara BPBD Prov dengan BPBD Kab/Kota adalah koordinasi dan saat bencanaBPBD Prov dapat melaksanakan fungsi komando. kerugian.Mitigasi dan kesiapsiagaan lemah. Perka BNPB No. 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana . penentuan status keadaan darurat bencana.Kabupaten/Kota yang tidak membentuk BPBD Kab/Kota maka penanggulangan bencana diwadahi dengan fungsi yang bersesuaian dengan fungsi penanggulangan bencana .Tidak diatur prosedur pencairan agar bisa cepat digunakan dalam tanggap darurat. PMI. 22 Tahun 2008 tentang Pendanaan dan Pengelolaan Bantuan Bencana 4.Penanggulangan pascabencana meliputi rehabilitasi dan rekonstruksi. unsur pengarah penanggulangan bencana dan unsur pelaksana penanggulangan bencana. . peringatan dini. dana) . hubungan antara BPBD Prov dengan BNPB koordinasi dan teknis kebencanaan.Unsur pengarah memberikan masukan dan saran kepada kepala BPBD dalam penanngulangan bencana. padahal fakta banyak lembaga non pemerintah lokal dan nasional yang punya peran besar dalam penanggulangan bencana selama ini. dan Kepala BNPB berwenang menentukan peran serta mereka.Recovery pasca bencana sering terabaikan . PP No. tanggap darurat dan pra bencana. TNI. . PP No. . .Respon pemerintah terbatas hanya dari SAR. pemenuhan kebutuhan dasar. . . 6.Pengaturan mengenai bantuan dan santuanan kepada korban bencana. perlindungan kelompok rentan. mitigasi bencana.Penanggulangan saat tanggap darurat meliputi : pengkajian lokasi.Lembaga internasional atau lembaga asing nonpemerintah yang akan berperan serta dalam penanggulangan bencana harus menyusun proposal. .Peran serta lembaga internasional dan lembaga asing adalah untuk mendukung penanggulangan bencana. program. sumber daya.

Unsur pelaksana bertugas melaksanakan tugas penanggulangan bencana. PMI. UU No. rehabilitasi dan rekonstruksi. Perda Prov. 195) . kedaruratan dan logistik. . dengan cara: y Mengelola resiko bencana sehingga dampak bencana dapat dikurangi atau dihilangkan sama sekali. y b. Pergub DI Yogyakarta No. . hanya dijelaskan sifatnya koordinasi. y Rendahnya daya guna tata ruang wilayah dalam mengurangi resiko bencana.Memungkinkan kerjasama antar daerah dalam pengelolaan bencana Sumber : Hasil Analisa. 2004 tentang Pemerintahan Daerah . sekretariat unsur pelaksana. sinergi dan saling menguntungkan (ps.Tata Kelola Wilayah 7. 32 Th. Regulasi a. Polri. dengan pertimbangan efisiensi dan efektifitas pelayanan publik. saat dan sesudah terjadinya bencana. . dan bidang/seksi : pencegahan dan kesiapsiagaan. komando dan Page | 13 pengendalian. komando. hubungan kerja BPBD dengan instansi atau lembaga lain yang terkait bisa dilakukan secara koordinasi. dll). Kurangnya penggunaan peralatan berteknologi modern. SAR. 11 /2009 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Tahun 2009-2013 Penanggulangan bencana memegang yang sangat penting pada saat sebelum. DI Yogyakarta No.Kepala Pelaksana wajib membentuk Satuan Tugas Pusat Pengendalian Operasi termasuk tugas reaksi cepat (Tim Reaksi Cepat meliputi kaji cepat dan penyelamatan/pertolongan) dan dapat membentuk Satuan Tugas lain sesuai kebutuhan.Daerah dapat mengadakan kerjasama dengan daerah lain. 2011 Regulasi dan Kebijakan Pengelolaan Kawasan Rentan Bencana Merapi 1. Belum ada alat untuk mendeteksi gejala alam secara akurat untuk memberikan peringatan dini kepada masyarakat.Dalam penanggulangan bencana.Tidak dijelaskan pembagian tugas dengan lembaga yang memiliki kemampuan masing-masing dalam penanganan bencana (TNI. dan pengendalian. terdiri dari kepala pelaksana. sebagai berikut : Kelembagaan Pengelolaan Bencana Merapi . 2/ 2010 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi DI Yogyakarta Tahun 2009-2029 1) Pasal 51: Arahan penetapan kawasan rawan bencana alam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49. .Koordinasi dengan lembaga lain mungkin. tapi komando apakah mungkin? .

kawasan lindung dan budidaya). misalnya mitigasi dan kesiapsiagaan bencana dengan alokasi penganggarannya. Mitigasi dan kesiapsiagaan bencana belum menjadi prioritas dalam pengelolaan bencana.Tata Kelola Wilayah y Penetapan kawasan rawan letusan gunung berapi di lereng Gunung Merapi Kabupaten Sleman. Menurut Taylor dalam Wahyudi (2010) ada beberapa model bentuk kerja sama antar daerah. Page | 14 2) Pasal 101: Kawasan strategis lindung dan budidaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 97 huruf d terdiri atas Kawasan strategis nasional meliputi Taman Nasional Gunung Merapi seluas 1. 2. Isu/Masalah dalam Kebijakan Pengelolaan Kawasan Rawan Bencana a. rencana lokasi pengungsian untuk penduduk dan hewan ternak. d. Kebijakan penataan ruang belum sepenuhnya mengakomodasi pengelolaan bencana (jalur evakuasi. y Penetapan kawasan rawan bencana tanah longsor di Kabupaten Sleman. Kebijakan penataan ruang sudah cukup jelas (zonasi. dan lain-lain). penanganan pasca bencana berupa rehabilitasi dan rekonstruksi. Kerjasama Antar Daerah Alasan utama diperlukannya kerjasama antar pemerintah daerah adalah agar berbagai masalah lintas wilayah administratif dapat diselesaikan bersama dan sebaliknya agar banyak potensi yang mereka miliki dapat dimanfaatkan untuk kepentingan bersama. b.Cangkringan dan Pakem Kabupaten Sleman. Dalam kenyataan berbagai masalah dan kepentingan sering muncul sebagai akibat dari hubungan fungsional di bidang sosial ekonomi yang melewati batas-batas wilayah administratif (Keban. Belum ada keterkaitan antar kebijakan.250 ha di Kecamatan Turi. padahal DIY memiliki banyak wilayah yang rentan terhadap bencana. sempadan sungai. Bantul. Kulon Progo. yaitu diantaranya: Kelembagaan Pengelolaan Bencana Merapi . e. Kebijakan yang ada belum mengakomodasi pengelolaan bencana lintas regional (antar kabupaten ataupun antar provinsi). tetapi pengendalian masih lemah.743. dan Kulon Progo. y Penetapan kawasan rawan bencana banjir di Kabupaten Bantul. c. 2009). dan Gunungkidul.

Regional Bodies. Sistem ini. Sistem ini biasanya tidak memerlukan perubahan struktur kepemerintahan daerah (menggunakan struktur yang sudah ada). Badan ini memiliki kewenangan yang cukup untuk mengeksekusi kebijakankebijakan yang terkait dengan bidang pelayanan publik yang diurusnya. pada dasarnya adalah daerah menjual suatu bentuk pelayanan publik kepada daerah lain. Kerja sama model ini didasarkan pada komitmen dan kepercayaan secara politis antar daerah yang terkait. Pemda-pemda yang bersangkutan setuju untuk mendelegasikan kendali. bentuk kerja sama seperti ini dapat berjalan pada daerahdaerah yang secara historis memang sudah sering bekerja sama dalam berbagai bidang. terutama pada masalah-masalah teknis. Di Indonesia. pengelolaan. 3. Joint Agreements (pengusahaan bersama). Akan tetapi. Keunggulan sistem ini adalah bisa diwujudkan dalam waktu yang relatif biaya awal (start-up cost) dalam penyediaan pelayanan. Misalnya air bersih. pada dasarnya mensyaratkan adanya partisipasi atau keterlibatan dari daerah-daerah yang terlibat dalam penyediaan atau pengelolaan pelayanan publik. Badan ini bisa juga diisi oleh kaum profesional yang dikontrak bersama oleh pemda-pemda yang bersangkutan. Fee for service contracts (service agreements). dengan sistem kompensasi (harga) dan jangka waktu yang disepakati bersama. Handshake Agreement. Jointly-formed authorities (Pembentukan otoritas bersama). Meski begitu. listrik.Tata Kelola Wilayah 1. Pemerintah-pemerintah daerah berbagi kepemilikan kontrol. Kelemahannya. Kelembagaan Pengelolaan Bencana Merapi . pemda-pemda memiliki kontrol yang lemah terhadap bidang yang diurus oleh badan tersebut. dan sebagainya. dan tanggung jawab terhadap satu badan yang dibentuk bersama dan biasanya terdiri dari perwakilan dari pemda-pemda yang terkait. Biasanya. dan tanggung jawab terhadap program. bentuk kerja sama ini sangat jarang ditemukan pada isu-isu strategis. Model ini. Page | 15 2. 5. terutama apabila terjadi pergantian kepemimpinan daerah. Seringkali. sistem ini lebih populer dengan sebutan Sekretariat Bersama. Sistem ini bermaksud membentuk satu badan bersama yang menangani isuisu umum yang lebih besar dari isu lokal satu daerah atau isu-isu kewilayahan. biasanya cukup sulit untuk menentukan harga yang disepakati kedua daerah. 4. dan sustainibility kerja sama yang rendah. Kelemahannya. termasuk biasanya otonom secara politis. Bentuk kerja sama ini cukup efisien dan lebih fleksibel dalam pelaksanaannya karena tidak ada kewajiban yang mengikat bagi masing-masing pemerintah daerah. kelemahan model ini adalah potensi munculnya kesalah-pahaman. yang dicirikan oleh tidak adanya dokumen perjanjian kerja sama yang formal. dokumen perjanjian (agreement) yang dihasilkan biasanya sangat rumit dan kompleks karena harus mengakomodasi sistem birokrasi dari pemda-pemda yang bersangkutan. Oleh karena itu.

Tata Kelola Wilayah badan ini bersifat netral dan secara umum tidak memiliki otoritas yang cukup untuk mampu bergerak pada tataran implementasi langsung di tingkat lokal. Sleman. peranan badan ini sebenarnya bisa dijalankan oleh Pemerintah Provinsi. Purbalingga. apabila isu yang dibahas ternyata merugikan satu daerah. Pemerintah Daerah yang telah bersepakat untuk melakukan kerja sama harus bersedia untuk mempertanggungjawabkan. Sragen dan Klaten) dan bentuk Sekretariat bersama diaplikasikan oleh Sekber Kartamantul (Yogyakarta. dialog. bentuk Badan Kerjasama Daerah digunakan oleh BKAD Subosukowonosraten (Surakarta. Efisiensi. 2010). tanpa ditutup-tutup. cara mencapainya dan kompensasi dan risiko. Partisipatif. Boyolali. 2010) : 1. Beberapa prinsip good governance yang ada dapat dijadikan pedoman dalam melakukan kerja sama antar pemerintah daerah yaitu (Wahyudi. Pemerintahan Daerah yang telah bersepakat untuk melakukan kerja sama harus transparan dalam memberikan berbagai data dan informasi yang dibutuhkan dalam rangka kerja sama tersebut. dalam Wahyudi. atau bagaimana menggunakan biaya yang sama tetapi dapat mencapai hasil yang lebih tinggi. Agar berhasil melaksanakan kerja sama antar daerah dibutuhkan prinsip-prinsip sebagaimana prinsip-prinsip yang diterapkan dalam mewujudkan good governance (Edralin. Sukoharjo. Wonogiri. 4. Badan Kerjasama Antar Daerah (BKAD) dan Sekber (Sekretariat Bersama). 3. termasuk kepada DPRD sebagai wakil rakyat. Lebih jauh. Di Indonesia sendiri kerjasama antar daerah memiliki beberapa bentuk kelembagaan diantaranya : Regional Manajemen. Cilapacap. Bantul). dan negosiasi dalam menentukan tujuan yang harus dicapai. atau kepada para pengguna pelayanan publik. Akuntabilitas. termasuk cara membagi Page | 16 dipertimbangkan nilai efisiensi yaitu bagaimana menekan biaya untuk memperoleh suatu hasil tertentu. melaporkan. Kelembagaan Pengelolaan Bencana Merapi . Banyumas. prinsip partisipasi harus digunakan dalam bentuk konsultasi. dan mengungkapkan segala aktivitas dan kegiatan yang terkait dengan kegiatan kerja sama. Dalam lingkup kerja sama antar Pemerintah Daerah. Dalam melaksanakan kerja sama antar Pemerintah Daerah ini harus mengukur kinerjanya. 2. Di Indonesia. menyajikan. badan ini bisa dianggap kontradiktif dengan pemerintahan lokal. Kebumen). Transparansi. Bentuk regional manajemen diterapkan dalam kerjasama antar daerah Barlingmascakeb (Banjarnegara.

diperoleh kesimpulan bahwa permasalahan kelembagaan dalam pengelolaan bencana Merapi adalah sebagaimana ditampilkan dalam Tabel 3. termasuk penentuan kategori skala bencana  Mitigasi dan kesiapsiagaan lemah. Prinsip ini harus menjadi pegangan dalam setiap keputusan dan mekanisme kerja sama Perumusan Masalah Kelembagaan dalam Pengelolaan Bencana Merapi Berdasarkan Kajian Teori dan Regulasi Berdasarkan uraian mengenai penanganan bencana Merapi terutama pada kejadian bencana erupsi Merapi tahun 2010 dan banjir lahar dingin tahun 2011 serta kajian terhadap regulasi dan kebijakan pengelolaan bencana dan pengelolaan kawasan rawan bahaya Merapi. kerjasama antar daerah/sister city)  Regulasi Pengelolaan Bencana UU No. Boyolali.  Tidak ada langkah antisipatif dan persiapan menghadapi bencana  Pemerintah lambat dalam merespon bencana. kesiapsiagaan pemerintah dan masyarakat. 22 Tahun 2008 tentang Pendanaan dan Pengelolaan Bantuan Masalah  Negara masih sebatas memberi bantuan. PMI. 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana.Tata Kelola Wilayah 5. pencegahan. Atau dengan kata lain. PP No. Konsensus. Efektivitas. Dalam melaksanakan kerja sama tersebut harus dicari titik temu agar masingmasing pihak yang terlibat dalam kerja sama tersebut dapat menyetujui suatu keputusan. termasuk panduan untuk masyarakat yang Potensi  Respon masyarakat dan lembaga nonpemerintah sangat besar (SDM. perlu kerjasama dan koordinasi  SAR. Magelang. Saling menguntungkan dan memajukan. Klaten). 6. dana). program. Tabel 3.  Belum ada standar operasional prosedur mengenai penanggulangan bencana. Dalam melaksanakan kerja sama antar Pemerintah Daerah ini harus dipertimbangkan nilai efektivitas yaitu selalu mengukur keberhasilan dengan membandingkan target atau tujuan yang telah ditetapkan dalam kerja sama dengan hasil yang nyata diperoleh. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. keputusan yang sepihak tidak dapat diterima dalam kerja sama tersebut. Page | 17 7.  Pengelolaan Bencana oleh Jepang (mitigasi bencana. belum tanggung jawab penuh  Pembagian kewenangan pusat dan daerah belum jelas.  Ada peluang kerjasama antar daerah dalam pengelolaan bencana (mengacu pada sister city Jepang) Kelembagaan Pengelolaan Bencana Merapi . TNI relatif lebih cepat dan memiliki kapasitas dalam penanggulangan bencana. PP No. kesiapsiagaan) tanggap bencana dan pasca bencana.  Resources dan tools penanggulangan bencana sebagian besar dikuasai oleh pusat. ketika letusan besar 5 Nov 2010) ditangani oleh BNPB  Unsur pemerintah yang lebih cepat merespon Teori dan Regulasi  Pengelolaan bencana meliputi pra bencana (mitigasi. Masalah dan Potensi dalam Pengelolaan Bencana Fakta  Wilayah yang terkena dampak bencana Merapi merupakan lintas wilayah adminsitratif (4 kabupeten di dua provinsi : Sleman. bergerak ketika bencana menjadi besar (kasus Merapi. Dalam kerja sama antar Pemerintah Daerah harus dipegang teguh prinsip saling menguntungkan dan saling menghargai.

regional bodies. joint agreement. 46 Tahun 2008 tentang Pedoman Organisasi dan Tata Kerja Badan Penanggulangan Bencana Daerah. kesiapsiagaan dan pencegahan bencana.  Pemerintah kabupaten bekerja di wilayah masing-masing. Kapasitas dari lembaga BPBD yang baru dibentuk masih diragukan. 2011 Kelembagaan Pengelolaan Bencana Merapi . program).Tata Kelola Wilayah adalah SAR. 23 Tahun 2008 tentang Peran Serta Lembaga Internasional dan Lembaga Asing Nonpemerintah Dalam penanggulangan Bencana. Kab/Kota tidak wajib membentuk BPBD.  Koordinasi antara pemerintah dan lembaga nonpemerintah masih lemah. peralatan. Permendagri No. Tidak ada alokasi dana untuk mitigasi. PMI.           potensial terkena bencana dan dampaknya Recovery pasca bencana sering terabaikan Tidak diatur prosedur pencairan dana agar bisa cepat digunakan dalam tanggap darurat. tidak ada kerjasama dan koordinasi antar pemerintah kabupaten. dana. Kebijakan penataan ruang belum sepenuhnya mengakomodasi pengelolaan bencana Page | 18 Sumber : Hasil Analisis. dll). Perda Prov. dan PP No. Pergub DI Yogyakarta No. 3 Tahun 2008 tentang Pedoman Pembentukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah. Tidak semua daerah telah membentuk BPBD. DI Yogyakarta No. fee for service contract. tetapi tidak ada kriteria daerah dengan kondisi apa yang seharusnya wajib dan wajib membentuk BPBD. Bencana. misal dilihat dari sisi potensi kebencanaan di wilayah tersebut. 2/ 2010 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi DI Yogyakarta Tahun 20092029  Kerjasama antar daerah bisa dalam bentuk : handshake agreement. Polri. TNI  Unsur non-pemerintah dengan para relawannya merespon lebih cepat (dengan sumber daya : personil. jointly formed authorities. PMI. SAR. 11 /2009 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Tahun 2009-2013. Peraturan Kepala BNPB No. Tidak ada alokasi anggaran dalam APBN/APBD Tidak diatur kerjasama antara pemerintah dan lembaga nonpemerintah. Tidak ada pembagian tugas dengan lembaga yang memiliki kemampuan dalam penanganan bencana (TNI.

dan lain-lain. SAR) seharusnya bisa lebih terkoordinir agar hasil lebih optimal. yaitu dalam bentuk kerjasama antar daerah dan kerjasama antara pemerintah dan lembaga nonpemerintah. peluang dan potensi pengembangan kelembagaan dalam pengelolaan bencana Merapi adalah sebagai berikut : 1. baik individu maupun berbagai lembaga nonpemerintah. 3. sehingga bentuk kerjasama dengan lembaga-lembaga tersebut lebih dalam bentuk koordinasi terutama dalam fase tanggap darurat dan pasca bencana. Dengan demikian. karena ancaman bahaya aktifitas Merapi terjadi secara periodik dan tidak dapat diprediksi secara pasti. sementara kerjasama dalam pengelolaan bencana belum pernah ada dan siafnya non-profit. memilili sumber daya (resource) baik berupa dana. Kerjasama dengan lembaga nonpemerintah yang selama ini telah ada dalam bentuk public private parthnership lebih kepada kerjasama yang bersifat profit. Sementara kelembagaan kerjasama antar daerah dalam pengelolaan bencana Merapi merupakan kerjasama yang lebih permanen. hanya dapat diamati tanda-tandanya berdasarkan Kelembagaan Pengelolaan Bencana Merapi . Respon masyarakat yang sangat besar. penanganan pengungsi. TNI. masing-masing memiliki sumberdaya dan program. Beberapa unsur pemerintah yang memiliki keahlian dalam penanggulangan bencana dan terbukti relatif lebih cepat dalam merespon bencana (PMI. berbagai perlengkapan dan peralatan maupun personil dan program penanggulangan bencana. kerjasama antar daerah dan kerjasama antara pemerintah dengan lembagalembaga non-pemerintah dalam pengelolaan bencana merupakan salah satu solusi penting permasalahan kelembagaan dalam pengelolaan bencana Merapi. sehingga perlu ada pengkajian tersendiri mengenai hal ini. Kondisi ini perlu dikoordinasikan agar terbangun sinergi dan tidak terjadi tumpah tindih. 2. Terdapat peluang dalam pengembangan kelembagaan pengelolaan bencana Merapi. Lembaga nonpemerintah yang terlibat dalam penanggulangan bencana biasanya merupakan lembaga sosial yang sebagian menghimpun dana dari masyarakat.Tata Kelola Wilayah Bagian 3 Kerjasama Antar Daerah dalam Pengelolaan Bencana Merapi Page | 19 Berdasarkan kajian yang telah dilakukan dan telah dijelaskan pada bagian sebelumnya. misalnya dalam penyaluran bantuan kepada masyarakat.

ataupun mengadopsi bentuk kerjasama antar kota di Jepang (sister city) Pembahasan Penting Dalam Kerja Sama Pembagian kewenangan dan tanggung jawab antar pemerintah kabupaten Pelibatan lembaga pemerintah lain yang terkait di tiap kabupaten Pelibatan lembaga nonpemerintah dalam kerjasama Pembagian tugas masing-masing elemen yang terlibat dalam kerjasama Sumber pendanaan penanggulangan bencana Prosedur pencairan dana Peningkatan kapasitas semua lembaga dalam penanggulangan bencana.Pemetaan kawasan rawan bencana. Selain itu dampaknya dari aktifitas Merapi selama meliputi berbagai wilayah lintas administratif.Peningkatan kapasitas lembaga dalam penangulangan bencana. Analisa Kelembagaan Kerjasama Antar Daerah dalam Pengelolaan Bencana Merapi Bentuk Kelembagaan Bentuk kelembagaan bisa mengadopsi bentuk-bentuk kelembagaan yang telah ada di Indonesia (Regional Manajamen.Tata Kelola Wilayah peningkatan aktifitas vulkanologinya.Koordinasi antar lembaga Implikasi . Tabel 4.Penyiapan zona pengungsi beserta kelengkapannya .Pemenuhan kebutuhan logistik pengungsi . Standar operasional prosedur terutama pada saat tanggap darurat.Koordinasi dan jalur komando pada saat tidak terjadi bencana maupun saat terjadi bencana .Alokasi dana penanggulangan bencana di tiap daerah masuk dalam penganggaran APBD . melalui berbagai upaya . Boyolali dan Klaten.Pengembangan teknologi untuk mitigasi bencana .Pengelolaan dan pendistribusian bantuan . bidang yang menjadi pembahasan. Sekretariat Bersama. mitigasi.Peningkatan upayaupaya pencegahan. meliputi kegiatan pra bencana.Pembagian tugas yang jelas antar elemen yang terlibat baik lembaga pemerintah maupun lembaga nonpemerintah .Kewenangan dan tanggungjawab masingmasing pemerintah kabupaten yang jelas dalam penanggulangan bencana Merapi .Peningkatan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana Page | 20 - - - - - - - - - Kelembagaan Pengelolaan Bencana Merapi .Pendataan jumlah korban dan pengungsi .Peningkatan kemampuan unit reaksi cepat Tanggap darurat meliputi : . dan kesiapsiagaan .Partisipasi masyarakat (peningkatan kesiapsiagaan. Magelang.Membangun sistem peringatan dini (early warning system) pada kawasan rawan bencana (prasarana/sarana. tanggap darurat dan pasca bencana. sehingga kerjasama antar daerah akan lebih dibutuhkan terutama untuk mengurangi resiko dan korban akibat bencana. atau Badan Kerjasama Antar Daerah). termasuk zona pengungsi dan jalur evakuasi . teknologi. Perhatian yang lebih kepada mitigasi.. pembentukan community based dalam pengelolaan bencana) . Berikut adalah kajian mengenai bentuk kerjasama. bentuk kegiatan atau program dan output yang diharapkan. Peningkatan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana Bentuk Kegiatan/Program Pra bencana meliputi : mitigasi bencana . kesiapsiagaan dan pencegahan bencana.Pelatihan menghadapi bencana (kesiapsiagaan) terutama bagi masyarakat .Pemangkasan prosedur pencairan dana sehingga bisa cepat digunakan dalam tanggap bencana .Kesepakatan mengenai prosedur pencairan dana yang cepat . sosialisasi) .Pelatihan evakuasi dan penyelamatan korban . terutama empat kabupaten yang berinteraksi secara langsung dengan Merapi yaitu Kabupaten Sleman.

dll Kab. Gambar 5.Tata Kelola Wilayah dan dengan lembaga nonpemerintah Pasca bencana meliputi : . Deptan. BPPT. Parpol. Polri. 2011 Kelembagaan Pengelolaan Bencana Merapi . Klaten (BPBD. TNI. psikologis) . Sleman (BPBD. PMI). Polri. DinasDinas. Depkes. PMI). DinasDinas. sosial. Bakosurtanal.Perbaikan sarana prasarana umum . Ormas. ESDM (PVMBG). perekonomian) Sumber : Hasil Analisis.Rekonstruksi fisik dan non-fisik (infrastruktur. Kemenkesra Kab. Keminfo. 2011 . LIPI. permukiman. Mahasiswa. TNI. Magelang (BPBD.Tersusun standar operasional prosedur berisi langkah-langkah yang cepat. yang terlibat dalam penanganan dan pengelolaan bencana tersebut. Boyolali (BPBD. didukung dengan komitmen yang kuat oleh masing-masing unsur dalam kelembagaan. dll Kab. DPU. efektif dan efisien terutama untuk tanggap bencana Page | 21 Bentuk Kerjasama Antar Daerah dalam Pengelolaan Bencana Merapi Pengelolaan bencana merupakan salah satu hal yang memerlukan koordinasi kelembagaan. Bentuk Kerjasama Antar Daerah dalam Pengelolaan Bencana Merapi BNPB. dll LSM. NGO.Pemulihan kondisi korban (fisik. TNI. Polri. BMG. dan lembagalembaga lain Sumber : Hasil Analisis. DinasDinas. TNI. PMI). Polri. PMI). DinasDinas. dll Kab. Dephut.

diperlukan suatu bentuk pengelolaan kelembagaan lintas wilayah di tingkat kabupaten dan provinsi agar penanganan dan pengelolaan bencana yang terjadi dapat dilakukan secara efektif dan efisien. Kerjasama antar daerah ini kemudian didukung dengan koordinasi antar stakeholder. Untuk selanjutanya perlu dibentuk institusi BPBD di tingkat kabupaten sehingga penanganan bencana dapat lebih cepat dilaksanakan. Bakosurtanal. Koordinasi kelembagaan juga diperlukan dengan masyarakat. karena adanya keterbatasan dalam koordinasi antar wilayah serta dampak bencana yang meluas. LIPI. Kementrian Kehutanan. Selama ini. penanganan Bencana Merapi ditarik pengelolaannya oleh Pemerintah Pusat. Keminfo dan Kemenkesra. Kerjasama antar daerah tersebut juga didukung oleh koordinasi antar institusi pengelolaan bencana. penanganan bencana dan pasca bencana (Gambar 6). Kegiatan Pengelolaan Bencana Merapi Bentuk solusi kerjasama antar daerah. dalam pengelolaan bencana merapi terbagi dalam tiga tahapan bencana. pengelolaan penanganan bencana merapi dilakukan dengan mengoptimalkan koordinasi kelembagaan dalam bentuk kerjasama antar daerah. TNI Polri. penanganan bencana ini memerlukan koordinasi yang cukup kuat dari masing-masing wilayah tersebut. Bencana Merapi merupakan bencana nasional dan memberikan dampak lintas wilayah. Kementrian Pekerjaan Umum. Kegiatan tersebut Kelembagaan Pengelolaan Bencana Merapi . Kerjasama antar daerah dilakukan mengingat bencana tidak melihat pada batas administratif wilayah dan merupakan keadaaan yang tanggap darurat. Oleh karena itu. diperlukan koordinasi antara masyarakat dan pemerintah sehingga pelaksanaan pengelolaan bencana tidak tumpang tindih. BMG. seperti BPBD. Karena dampaknya yang lintas wilayah. ESDM. Kementrian Kesehatan.Tata Kelola Wilayah Pada dasarnya. Namun demikian manjaemen pengelolaan bencana belum mengacu pada kebijakan dari pemerintah. BPPT. Masyarakat selama ini terbiasa dalam menghadapi bencana yang terjadi di Merapi. termasuk di dalamnya antara pemerintah dan masyarakat). Institusi dari pusat yang terlibat antara lain adalah BNPB. Pemerintah Daerah dan lain sebagainya. dalam hal ini diwakili oleh organisasi masyarakat/ LSM. agar penanganan dapat dilakukan secara cepat dan tanggap. Saat ini Badan Pengelolaan Bencana Daerah (BPBD) baru dibentuk di tingkat Provinsi. Kabupaten Sleman. Kabupaten Magelang dan Kabupaten Boyolali merupakan wilayah yang terkena dampak paling besar dari bencana merapi. Kedepannya. yaitu pra bencana. yaitu pemerintah dan masyarakat. Kabupaten Klaten. yaitu di Page | 22 Provinsi Jawa Tengah dan Provinsi DIY.

sosial ekonomi) Sumber : Hasil Analisis.Tata Kelola Wilayah Gambar 6. jalur evakuasi) Page | 23 Pengembangan teknologi mitigasi bencana Pencegahan. Mitigasi dan Kesiapsiagaan (Pra Bencana) Membangun sistem dan teknologi peringatan dini Partisipasi masyarakat (community based) Pelatihan kesiapsiasiagaan untuk masyarakat Pelatihan evakuasi dan penyelamatan korban Penyiapan zona pengungsi dan logistiknya Pencairan dana yang cepat untuk tanggap darurat Pengelolaan dan distribusi bantuan Pendataan korban pengungsi dan pemenuhan kebutuhan/logistik pengungsi Koordinasi antar lembaga dan dengan lembaga non-pemerintah Penanganan Bencana (Tanggap Darurat) Pemulihan kondisi korban (fisik dan psikologis) Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Pasca Bencana) Perbaikan sarana prasarana umum vital Rekonstruksi fisik dan non-fisik (infrastruktur. 2011 Kelembagaan Pengelolaan Bencana Merapi . Bentuk Kerjasama Antar Daerah dalam Pengelolaan Bencana Merapi Pemetaan kaw. rawan bencana (zona pengungsi manusia & hewan ternak. permukiman.

seperti perbaikan kondisi jalan dan sarana prasarana publik lainnya. Kelembagaan Pengelolaan Bencana Merapi . Kerjasama dalam Tahapan Pasca Bencana Tahap pasca bencana lebih difokuskan pada langkah rehabilitasi dan rekonstruksi dalam pemulihan kawasan Merapi. Kerjasama dalam Tahapan Pra Bencana Tahapan ini merupakan tahap pencegahan.Tata Kelola Wilayah 1. c. Kerjasama antar daerah dan antar sektor dapat dilakukan dalam penanganan korban dan pengungsi Merapi. Partisipasi masyarakat Partisipasi masyarakat diperlukan dalam kerjasama pengelolaan bencana merapi. Hal ini dikarenakan masyarakat lebih sigap dalam menghadapi Bencana Merapi namun belum terkoordinasi baik dengan pemerintah sehingga sering terjadi tumpang tindih penanganan bencana di dalamnya. Kerjasama dalam Tahapan Tanggap Darurat Tahapan ini merupakan tahap penanganan bencana utama. Kerjasama antar daerah diperlukan dalam perbaikan sarana dan prasarana terutama di daerah perbatasan. 2. mitigasi dan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana Merapi. Selain itu zona pengungsi juga perlu dikoordinasikan antar wilayah sehingga pada saat bencana tidak ada lagi persoalan dalam menangani tempat pengungsian bagi korban Merapi. Untuk kedepannya diperlukan sharing informasi dengan institusi atau lembaga penanganan bencana di tingkat daerah dan masyarakat sehingga daerah lebih sigap dalam menghadapi bencana. Pengembangan teknologi mitigasi bencana dan sistem peringatan dini Selama ini teknologi mitigasi bencana masih dilakukan oleh institusi pusat. Pemetaan kawasan rawan bencana Pemetaan kawasan rawan bencana terkait dengan perbedaan proporsi rawan bencana Page | 24 antara keempat wilayah Gunung Merapi. Selain itu perlu kesepakatan antara keempat wilayah mengenai zona konservasi dan zona budiday (permukiman) di sekitar Merapi sehingga kerugian atau dampak negatif dari Bencana Merapi dapat diminimalisir. Kerjasama antar daerah dan antar sektor dilakukan dalam bentuk: a. b. 3. Kabupaten Sleman dan Kabupaten Magelang memiliki potensi rawan bencana dibandingkan dengan Kabupaten Klaten dan Kabupaten Boyolali. Selama ini tidak ada koordinasi yang jelas sehingga penanganan korban lintas wilayah masih sulit dilakukan.

mitigasi. Berbagai permasalahan yang terjadi dalam pengelolaan bencana Merapi sebagian besar merupakan bentuk permasalahan kelembagaan pengelolaannya. Sebagai negara yang rentan terhadap berbagai bencana. Dibalik semua permasalahan tersebut. pembelajaran kepada masyarakat tentang cara menghadapi bencana. Kerjasama antar daerah dan antara pemerintah dengan lembaga non-pemerintah diharapkan dapat mengatasi permasalahan yang selama ini terjadi dalam pengelolaan bencana. evakuasi korban dan pengungsi secara cepat pada tanggap bencana. komitmen pemerintah dalam meningkatkan kapasitas kelembagaan dan dalam membangun sistem pengelolaan bencana (disaster management) menjadi kunci dalam keberhasilan pengelolaan bencana. Selain itu. sehingga korban bencana dapat ditekan dari tahun ke tahun. Page | 25 Kelembagaan Pengelolaan Bencana Merapi . Belajar dari kondisi itu. Kelemahan pengelolaan bencana Merapi selama ini terutama pada mitigasi bencana dan kesiapsiagaan diharapkan dapat diperbaiki sehingga dapat meminimalisir jumlah korban.Tata Kelola Wilayah Bagian 4 Penutup Bencana Merapi yang terjadi secara periodik membawa dampak kerugian dan kerusakan pada empat wilayah kabupaten di sekitarnya yaitu Kabupaten Sleman. Magelang. peningkatan kapasitas. Pengembangan teknologi mitigasi dan peringatan dini. Rencana jalur evakuasi dan rencana zona pengungsi menjadi hal yang sangat penting. dan proses recovery pada tahap pasca bencana. Boyolali dan Klaten. terdapat peluang yaitu kerjasama antar daerah dan kerjasama antara pemerintah dengan lembaga-lembaga non-pemerintah. besarnya respon masyarakat dalam bentuk berbagai bantuan dan banyaknya relawan serta lembaga-lembaga non-pemerintah dapat dikoordinasikan sehingga dapat bekerja secara sinergis dan tidak terjadi tumpang tindih. Penanggulangan bencana yang selama ini dilakukan oleh pemerintah belum maksimal dan masih memiliki banyak kelemahan. Berbagai kegiatan yang menjadi target penting meliputi berbagai kegiatan pencegahan. dan kesiapsiagaan (pra bencana). kerjasama antar wilayah dan kerjasama antar lembaga pemerintah menjadi hal yang sangat diperhatikan oleh pemerintah Jepang dalam mengelola bencana. sudah saatnya Indonesia belajar kepada Jepang yang telah mampu membangun sistem pengelolaan bencana yang sangat baik.

2011. Tesis tidak diterbitkan. diunduh pada 13 Februari 2011. Laporan harian tanggap darurat Merapi tanggal 8 November 2010. 24 Januari 2011. dalam www. 2010 ----------.antaranews. 28 Deseember 2010.id.com.detiknews. 2010. Badan Nasional Penanggulangan Benacana. 8 November 2010.go. Komnas HAM : Penanganan Bencana Merapi Tidak Terkoordinasi Baik. dalam www. Yeremias T. Dalam www. diunduh pada tanggal 13 Februari 2011.suaramerdeka. 2010. BNPB.slemankab. ------------. Baru 10 Persen Hewan Ternak Dievakuasi.com. diunduh pada 13 Februari 2011. 2010 ----------. Keban. diunduh pada tanggal 13 Februari 2011. Kerjasama Antar Pemerintah Daerah Dalam Era Otonomi : Isu Strategis Bentuk dan Prinsip. 2. 2010. Wahyudi.bappenas. Jumat 5 Nov. Laportan harian tanggap darurat Merapi tanggal 15 November 2010. ------------. 2010. Semarang. Amuk Merapi Kapan Berhenti ? dalam www.mediaindonesia. Badan Nasional Penanggulangan Bencana. 2010. Laportan harian tanggap darurat Merapi tanggal 9 November 2010. Badan Nasional Penanggulangan Bencana.co id. 2010. Laportan harian tanggap darurat Merapi tanggal 3 Desember 2010. 2010. diunduh pada tanggal 23 Januai 2010. diunduh pada 13 Februari 2011 ------------. dalam www. Page | 26 Kelembagaan Pengelolaan Bencana Merapi . 2010. 52 Bendungan Rusak Akibat Banjir Lahar Merapi dalam www. Magister Pembangunan Wilayah dan Kota. diunduh pada 13 Februari 2011. 2010. 2010. ------------. 17 November 2010. tanpa tanggal.271 Rumah Warga Rusak Akibat Erupsi Merapi dalam www. ------------.regional. 2009. 2010 ----------.kompas. 2010. Presiden Pusatkan Komando Penanganan Bencana Merapi Pada BNPB.republikaonline. dalam www.Tata Kelola Wilayah Daftar Pustaka Anonim. Universitas Diponegoro. 2010. 23 Januari 2011.com.go.com. 14 Jembatan Rusak Akibat Banjir Lahar Dingin.com. Kajian Kerjasama dalam Pengelolaan dan Pengembangan Kawasan Wisata Dataran Tinggi Dieng. Badan Nasional Penanggulangan Bencana. ------------.id. diunduh pada 13 Februari 2011.

Peraturan Pemerintah RI No. Peraturan Pemerintah RI No. 24 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah. Undang-Undang No. 46 Tahun 2009 Tentang Pedoman Organisasi dan Tata Kerja Badan Penanggulangan Bencana Daerah.Tata Kelola Wilayah Peraturan Menteri Dalam Negeri No. Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana. Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 3 Tahun 2008 Tentang Pedoman Pembentukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah. Undang-Undang No. Page | 27 Kelembagaan Pengelolaan Bencana Merapi . 23 Tahun 2008 Tentang Peran Serta Lembaga Internasional dan Lembaga Asing Nonpemerintah dalam Penanggulangan Bencana. 22 Tahun 2008 Tentang Pendanaan dan Pengelolaan Bantuan Bencana. 21 Tahun 2008 Tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful