P. 1
HAMAH SAGRIM - PENELITI-ARSITEKTUR TRADISIONAL JAWA DALAM SOSIAL BUDAYA MODEREN-DIANALISIS DENGAN MENGGUNAKAN TEORI EVOLUSI DAN MENCIPTAKAN TEORI EMPIRISME ARSITKETUR

HAMAH SAGRIM - PENELITI-ARSITEKTUR TRADISIONAL JAWA DALAM SOSIAL BUDAYA MODEREN-DIANALISIS DENGAN MENGGUNAKAN TEORI EVOLUSI DAN MENCIPTAKAN TEORI EMPIRISME ARSITKETUR

|Views: 467|Likes:
Published by Hamah Sagrim

More info:

Published by: Hamah Sagrim on Mar 24, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/09/2013

pdf

text

original

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

ARSITEKTUR DAN KEBUDAY AAN
(JF. Hamah Sagrim)

A.

Pengertian Budaya Kebudayaan berasal dari bahasa sangsekerta "buddhayah" bentukjamak dari "budhi" dengan arti budhi atau akal, oleh karena itu kebudayaan dapat diartikan dengan segala hal yang bersangkutan dengan akal. Budaya dapat pula berarti sebagai hasil pengembangan dari kata majemuk budi dan daya, yang berarti daya dari budi yang berupa cipta, rasa dan karsa. Selanjutnya kebudayaan bila ditinjau dari ilmu Antropologi, adalah keseluruhan dari sistem gagasan, tindakan pola hidup manusia dan karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan sebagai pemilik dari manusia dengan belajar. Dapat kita lengkapi lagi, bahwa budya adalah gagasan dunia dan orientasi hidup. Hampir keseluruhan tindakan manusia adalah kebudayaan. Menurut ilmu Arsitektur, manusia yang memiliki budaya adalah manusia yang bisa membangun. Dan manusia yang membangun arsitektur adalah manusia yang berbudaya mencipta, orang yang berjiwa seni, orang yang berjiwa merancang, orang yang berjiwa perencana, memiliki orientasi. Hanya sedikit tindakan manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang tidak perlu dibiasakan dengan belajar, antara lain, yang berupa tindakan naluriah, beberapa refleksi, beberapa tindakan akibat proses psikologi, tindakan dalam kondisi tidak sadar, tindakan dalam membabi buta, bahkan berbagai tindakan manusia yang merupakan kemampuan naluri yang dibawa oleh manusia dalam genetik semenjak lahimyajuga telah dirombak olehnya menjadi tindakan kebudayaan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan yang dipunyai oleh manusia sebagai makhluk sosial, yang isinya adalah perangkat model - model pengetahuan yang secara efektif dapat digunakan untuk memahami dan menginterpretasikan lingkungan yang dihadapi dan untuk mendorong dan menciptakan tindakan - tindakannya. Dalam pengertian ini, kebudayaan adalah suatu kumpulan pedoman atau pegangan yang kegunaan operasionalnya bagi manusia untuk mengadaptasi diri dengan menghadapi lingkungan - lingkungan tertentu (fisik, alam, sosial dan kebudayaan) untuk mereka dapat tetap melangsungkan kehidupannya, yaitu memenuhi kebutuhan - kebutuhan dan untuk dapat hidup secara lebih baik lagi. Karena itu seringkali kebudayaan juga dinamakan sebagai "blueprint" atau desain menyeluruh dalam kehidupan. Kebudayaan itu sebenamya merupakan ilmu pengetahuan yang tersusun melalui pengalaman-pengalaman yang membudaya dalam kehidupan sehari-hari. 1. Wujud Arsitektur Tradisional Jawa/nDalem Pangeran dan Kebudayaan Pada hakekatnya, Arsitektur Tradisional Jawa/nDalem Pangeran, merupakan cermin kehidupan yang menggambarkan jati diri orang Jawa, yang mana ditampilkan dalam meramu rumah mereka, termasuk didalamnya adalah: kehidupannya, sosialnya, ekonomi - spiritual dan budayanya. Dengan demikian Arsitektur Tradisional Jawa/nDalem Pangeran, merupakan salah satu artefak dari jejak perjalanan hidup Suku Jawa. Arsitektur Tradisional Suku Jawa, merupakan suatu ciri (idea), konsep, kaidah, prinsip, alas an dan nilai, yang merupakan dasar pengolahan batin pikiran dan perasaan mereka dalam mencipta dan berkarya.

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

Pada dasamya arsitektur Tradisional Jawa, sudah mampu memenuhi tuntutan kebutuhan Arsitektur yang perlu diperhatikan, yaitu : a. Menjaga kelangsungan hidup dan kehidupan Manusia. b. Mengembangkan kehidupan Manusia untuk lebih bermakna c. Membuat kehidupan Penghuni lebih nyaman Dapat dikatakan bahwa Suku Jawa, juga memiliki lima jenjang kebutuhan terpenting dalam hidup mereka yaitu : a. Physiological needs atau survival needs, adalah kebutuhan yang menduduki peringkat atas yang merupaka kebutuhan dasar manusia. Jenjang kebutuhan ini berisi kebutuhan kebutuhan orang Jawa, yang berkaitan dengan alam dan keberadaannya sebagai manusia, yaitu kebutuhan akan makanan, kebutuhan akan tempat tinggal, dan teks. b. Safety needs atau security needs, adalah jenjang kebutuhan yang kedua berisi kebutuhan - kebutuhan yang berkaitan dengan keamanan, agar dirinya merasa aman dan terlindung dari setiap gangguan. c. Social needs, atau belonginess needs, adalah jenjang kebutuhan yang ketiga yang berisi kebutuhan - kebutuhan orang Jawa, berkaitan dengan kedudukannya sebagai anggota masyarakat, sebagai makhluk sosial yang akan berinteraksi - interrelasi dan berinapendensi dengan anggota masyarakat lainnya. d. Esteem needs atau ego needs, adalah jenjang kebutuhan yang keempat yang berisikan kebutuhan - kebutuhan orang Jawa akan penghargaan yang didasarkan pada keinginan untuk mendapat kekuasaan (power needs). Pada dasamya ingin dihargai dan keinginan inilah yang menghasilkan kebutuhan orang Jawa, akan penghargaan tersebut yang disebut dengan "Ningrat". e.

Self actualization needs atau self Fulfillment needs, jenjang kebutuhan ini berisikan
kebutuhan orang Jawa, sehingga kemampuannya dengan sepenuhnya. umumnya. mereka dapat mengembangkan bakat dan Kebutuhan ini merupakan ciri hakiki manusia

Arsitektur Tradisional Jawa, mempunyai peranan penting dalam pemenuhan kebutuhan kebutuhan orang Jawa, oleh karena itu, arsitektur Tradisional Jawa bukan hanya menyangkut masalah fungsionalitas saja, bukan hanya diperuntukan sebagai wadah kegiatan mereka belaka, dan tidak hanya sebagai sarana pemenuhan kebutuhan fisiologik. Perwujudan arsitektur Tradisional Jawa tidak hanya berlandaskan pada asas fungsionalitas atau kegunaan saj a, walaupun generalitas asas ini cukup dominan dalam perkembangan arsitektur umunya, akan tetapi tidak akan menjadi asas satu - satunya ataupun penentuan didalam perwujudan hasil- hasil karya arsitektur. Perwujudan Arsitektur Tradisional Jawa tidak hanya menyangkut aspek - aspek fungional saja, melainkan menyangkut seluruh aspek kebutuhan didalam kebutuhan Masyarakat Jawa. Perwujudan arsitektur yang mengandung nilai - nilai manusiawi dan memiliki predikat sendiri. Arsitektur Tradisional Jawa merupakan manifestasi dari nilai -nilai budaya, yang mana ditentukan oleh lima masalah didalam kehidupan mereka yaitu : hakekat hidup, hakekat karya,

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download the free trial online at nitrcpdf.ecmzprofeesiona I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

persepsi Jawa tentang waktu, pandangan Jawa tentang alam dan hakekat Jawa dengan sesamannya. Kelima masalah dasar ini banyak berkaitan dengan lingkungan, baik lingkungan alami maupun lingkungan fisik mereka yang mana terbangun dengan lingkungan sosial. Dua masalah yang berkaitan dengan masalah lingkungan Jawa yaitu pandangan mereka tentang alam, dan hakekat mereka dengan sesamanya. Kedua masalah ini akan menentukan orientasi nilai budaya Jawa terhadap alam dan sesama mereka, yang kemudian direfleksikan kedalam wujud arsitekturalnya. Berkaitan dengan sikap dan orientasi Suku bangsa Jawa, terhadap alamnya, mereka telah mengalami peradaban dalam kebudayaan mereka yaitu : Pancosmism, merupakan fase dimana Suku Jawa, tunduk kepada Alam dan Merasa mereka adalah bagian dari alam. Hal ini merupakan kecenderungan kehidupan mula mula nenek moyang mereka yang mana tidak mampu dalam mencipta segal a sesuatu bagi mereka, termasuk membangun suatu temp at tinggal (rumah-omah) bagi mereka. Hal ini cenderung mendorong nenek moyang mereka menjadi bersikap pasrah terhadap kondisi alam. Anthropocentries, merupakan fase dimana Orang Jawa, dengan kemampuannya menguasai alam dan merasa berkuasa atas alam sekitar mereka. Mereka mulai memanfaatkan hasil alam (alam dieksploitasi) untuk kehidupan mereka. Eksploitasi alam ini mendorong terj adinya kerusakan lingkungan alam disekitar mereka. Holism, merupakan tahapan atau fase dimana Orang Jawa, mampu menyelaraskan kehidupan dan aktifitasnya dengan alam sekitar. Dalam mendaya gunakan lingkungan alamnya, Orang Jawa juga mampu memperhatikan daya dukung alam sekitar mereka sehingga kelangsungan aktifitas mereka tetap berlangsung. Pandangan - pandangan Orang Jawa terhadap situasi dan alamnya, memiliki pengaruh yang sangat besar bagi wujud Arsitektural mereka. Ketergantungan Orang Jawa terhadap situasi dan alam termanifestasi kedalam wujud arsitekturnya yang sangat tergantung pada karakter karakter alam dan situasi lingkungan sekitar. Hasil karya Arsitektur Tradisional Jawa cenderung mengandung makna ketakutan dari mereka Terhadap alam dan kehidupan mereka yang berkaitan dengan masalah - masalah mistis ataupun kekuatan - kekuatan ghaib dan kekuatan musuh yang berada diluar diri mereka. Keinginan mereka untuk menguasai alam membuat mereka cenderung berupaya untuk mengeksploitasi alam sekitar. Hasil - hasil karya Arsitektur Tradisional Suku Jawa menjadi sangat jauh dari lingkungannya lepas dari lingkungan alamiahnya. Keselarasan dengan alam, Masyarakat Jawa, cenderung mencari pertautan dengan lingkungan mereka. Kekuatan - kekuatan lingkungan dan alam sekitar tidak lagi dikaitkan dengan kekuatan kepercayaan moderen atau yang dikenal pada wilayah mereka adalah Kejawen dan kemudian Muslim. Alam merupakan faktor - faktor yang dipertimbangkan bagi usaha - usaha mereka. 2. Aspek Sosial Budaya Jawa a. Mengenal Masyarakat Jawa Tengah Persebaran Suku Jawa adalah suku yang mendiami pulau Jawa daerah tengah dan timur, sebelum adanya pembagian wilayah seperti sekarang ini. Pusat kebudayaan suku Jawa

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

semula berpusat di Surakarta, tetapi dengan terjadinya perjanjian giyangti tahun 1755, pusat kebudayaan Jawa berpusat di dua temp at, yaitu Surakarta dan Y ogyakarta. b. Sistem Religi dan Kepercayaan orang Jawa Agama yang dianut oleh sebagian besar suku Jawa adalah Islam, Katolik, Hindu,Kristen, Buddha. Islam sendiri berkembang di Jawa menjadi beberapa golongan, yaitu Islam Santri Golongan yang menjalankan ibadah Islam sesuai dengan syariat-syariatnya, Islam Kejawen Golongan yang percaya pada ajaran Islam, tetapi tidak patuh menjalankan syariat Islam, dan masih percay pada kekuatan lain. Lekat dengan ajaran budaya Kejawen. Disamping percaya kepada agama, masyarakat jawa juga masih percaya kepada kekuatan lain, seperti : Percaya kepada makhluk halus Percaya kepada hari baiklnaas Percaya kepada hari kelahiranlweton Percaya pada benda-benda pusaka Perayaan hari istimewa/sakral(selamatan) Sistem Kekerabatan Masyarakat Jawa Masyarakat Jawa menganut sistem kekerabatan bilateral atau paralel. Dimana semua anggota keluarga terhubung sangat dekat. d. Sistem politik dan kemasyarakatan orang Jawa Pada zaman dahulu, sukujawa mengenal stratifikasi sosial, yaitu: Bendoro Priyayi Wong Cilik Ada juga stratifikasi berdasarkan kepemilikan tanah, yaitu : Wong Baku Kuli gondok Sinoman e. Sistem Ekonomi Tradisional Jawa Masyarakat Jawa sebagian besar berpofesi sebagai petani, tidak semua masyarakat Jawa mempunyai tanah untnk berladang, karena itu ada sebagian masyarakat Jawa yang mengembangkan profesi ke bidang lain. Kesenian Jawa Masyarakat Jawa sebagian besar mempunyai kesenian olah tubuh, yaitu seni tari. c.

f. 3.

Makna Bangunan Rumah Sebagai Budaya Hakekatnya, bangunan rumah tradisional Jawa merupakan pencerminan berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk didalamnya antara lain kehidupan sosial, ekonomi, spiritual dan budaya. Dengan demikian bangunan rumah Jawa merupakan hasil produk manusia Jawa itu sendiri. Disadari bahwa pada manusia (orang Jawa) hidup dengan keinginan akan segala sesuatu baik tempat tinggal, makanan, pakaian dan teks yang mana disadari merupakan kebutuhan pokok.

U,IOllliiu;militl!lllNtmnl

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

Pada dasamya bangunan rumah diadakan untuk memenuhi kebutuhan sebagai berikut : 1. 2. 3. Menjaga kelangsungan hidup dan kehidupan. Mengembangkan kehidupan untuk lebih bermakna. Membuat kehidupan untuk lebih nyaman.

1. Struktur Bangunan Rumah Bangunan rumah Jawa merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia, selain sandang, pangan dan teks, papan juga dibutuhkan. Manusia membutuhkan kenyamanan akan diri sehingga ia mampu menciptakan segal a sesuatu yang memenuhi kebutuhan akan kenyamanan itu. Berbicara mengenai suatu bangunan rumah, berarti berkaitan dengan struktur dan elemen elemen pembentukan bangunannya, oleh karena itu tidak lengkap dan tidak jelas jika berbicara suatu bangunan rumah tanpa berbicara struktumya. Struktur bangunan rumah, terdiri dari tiga elemen pokok yaitu; Koloum, Dinding dan Atap, yang mana teruarai sebagai berikut:

a.

Struktur Atap
Yang dimaksud dengan struktur atap adalah, bagian elemen atau struktur kelengkapan sebuah bangunan yang posisinya berada di bagian atas (kepala) yang mana terdiri dari; rangka, yaitu kuda-kuda, reng, noklusuk dan atap. Secara mayoritas Atap bangunan rumah Jawa berbentuk Joglo dan limasan. Atap sebagaimana layaknya filosofi kepala atau rambut seorang manusia yang bisa digunting dengan beragam bentuk, begitupun atap bangunan dengan berbagai bentuk dan gaya tergantung bentuk atau gaya mana yang ingin ditampilkan. Misalnya tampilan atap perisai, tampilan atap pelana, tampilan atap kubah, tampilan atap joglo, atau tampilan atap gabungan.

b.

Struktur Dinding
Dinding adalah suatu bagian elemen bangunan yang posisinya di tengah (badan). Dinding terdiri dari rangka, dan penutup dinding (walls). Pada umumnya bahan dinding yang di gunakan oleh suku Jawa, dalam membangun rumah tinggal mereka adalah; Bahan Kayu Bahan Bambu Bahan Tanah BahanBatu Jika filosofi kepala manusia sebagai atap, maka filosifi badan manusia diibaratkan sebagai dinding bangunan, yang didalamnya terdapat ruang aktifitas penghuni.

c.

Struktur Kolom
Kolom merupakan struktur dasar (kaki) sebuah bangunan yang mana berdiri sebagai ukuran dalam pembentukan suatu bangunan dengan ruang - ruangnya. Kolom pada rumah Jawa yang posisinya berhubungan langsung dengan pondasi, terdiri dari struktur kolom Induk (Saka guru) dan kolom Bantu.

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download the free trial online at nitrcpdf.ecmzprofeesiona I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

d.

Interior Tujuan dari membangun suatu bangunan adalah untuk menciptakan ruang beraktifitas dan ruang berlindung yang nyaman. Interior dalam pengertian bahasa inggris adalah ruang dalam bangunan, oleh karena itu interior merupakan salah satu elemen yang tercipta atas hasil bangunan yang terbentuk oleh elemen vertikal (dinding-dinding) dan elemen horizontal (lantai). Selain kepala, badan dan kaki, manusia juga memiliki hati. Hati adalah salah satu organ penting manusia yang mana mampu memberikan yang terbaik dan yang tidak baik dalam pertimbangan pemikiran seseorang, begitupun ruang dalam sebuah bangunan yang mana mampu menyimpan segala rahasia seseorang penghuni baik itu yang berkaitan dengan hal yang baik dan 'hal tidak baik'.

5. Fungsi Bangunan Rumah Bangunan rumah merupakan kebutuhan manusia, yang mana tidak hanya sekedar dibutuhkan semata - mata namun secara umum bangunan dibutuhkan sebagai temp at melindungi diri atau suatu hunian moderen dan gudang. Bangunan juga berfungsi sebagai tempat menampung segala sesuatu yang berkaitan dengan aktifitas dan kebutuhan penghuni yang berkelanjutan. Khusus fungsi bangunan akan di ulas secara detail sebagai berikut : a. Fungsi Atap Atap yang secara universal dikenal, merupakan suatu struktur atau elemen bangunan yang berfungsi sebagai penutup bangunan pada bagian atas bangunan dan pelindung yang memberi kenyamanan kepada penghuni dari matahari, hujan, angin serta pengaruh situasi iklim sekitamya. Atap dalam pengertian orang Jawa, dibutuhkan sebagai penerus aliran hujan dan penghambat terik matahari kedalam ruang bangunan (interior). Fungsi Dinding Dinding merupakan struktur atau elemen suatu bangunan yang dibutuhkan. Didinding bahwasanya berfungsi membentuk suatu ruang, melindungi penghuni dari angin, dan melindungi penghuni dengan segala aktifitas yang sedang berlangsung dalam ruang. Fungsi Kolom Kolom sebagai salah satu struktur atau elemen terpenting dalam membangun sebuah bangunan, Karena selain klom yang berfungsi sebagai pemikul bangunan beserta segala isinya dan sebagai penyalur beban suatu bangunan ke tanah, struktur kolom juga merupakan suatu elemen yang dijadikan sebagai patokan atau ukuran dalam membentuk suatu bidang dan ruangan tertentu. Bagi orang Jawa, struktur kolom (Saka) diperlukan untuk pembentukkan suatu bentuk bangunan Fungsi Ruang dalam IInterior Interior merupakan pusat keberlangsungan segala aktifitas, oleh karena itu, interior mempunyai peranan dan fungsi yang sangat luas dalam mendirikan suatu bangunan. Orang Jawa pada hakekatnya membutuhkan suatu ruang untuk kelangsungan akan aktifitas mereka, hunian dan kenyamanan keberlangsungan hidup dan kehidupan mereka.

b.

c.

d.

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

6. Makna Bangunan Bangunan atau rumah dimaknai sebagai jantung kehidupan yang mampu memberi kehidupan yang layak kepada penghuninya. Rumah juga di isyaratkan dengan filosofi manusia, yang terdiri dari kepala (atap), badan (dinding dan interior) dan kaki (kolom). Ada ungkapan dimasyarakat yang berbunyi "rumah mu, wajahmu, dan jiwamu". Dari ungkapan itu tampak bahwa perumahan dalam kehidupan orang Jawa, mempunyai arti dan makna yang dalam, yaitu : kesejahteraan, keprib adi an, dan keberadaban manusia penghuninya (suatu masyarakat atau suatu bangsa). Perumahan tidak sekedar dilihat sebagai suatu benda mati atau sarana kehidupan semata - mata, tetapi lebih dari itu, perumahan merupakan suatu proses bermukim. Kehadiran manusia dalam menciptakan ruang hidup di lingkungan masyarakat dan alam sekitamya. Bermukim pada hakekatnya adalah hidup bersama. Untuk itu, fungsi rumah nDalem Pangeran Ngadiwinatan adalah sebagai temp at tinggal Pangeran, dalam suatu lingkungan yang mempunyai prasarana dan sarana yang diperlukan oleh orang Jawa untuk memasyarakatkan dirinya. Rumah juga merupakan sarana pengaman bagi diri manusia, pemberi ketenteraman hidup, dan sebagai pusat kehidupan berbudaya. Di dalam rumah dan lingkungan Jawa tersebut itu, maka terbentuk dan berkembang menjadi orang Jawa yang berkepribadian. Dilihat dari fungsinya rumah Pangeran nDalem, juga memiliki fungsi lain yaitu; fungsi sosoial, fungsi ekonomi, fungsi politik. Sebagai fungsi so sial, masyarakat Jawa, memandang rumah (termasuk nDalem) sebagai pemenuhan kehidupan sosial budaya dalam masyarakat. Dalam fungsi ekonomi, rumah (termasuk nDalem) merupakan investasi jangka panjang yang akan memperkokoh jaminan penghidupan di massa depan. Dan sebagai fungsi politik, rumah (termasuk nDalem) berfungsi sebagai indikator kedudukanlbirokrat di masyarakat sekitamya. Perwujudan Arsitektur adalah BENTUK, yang lahir dari kebutuhan manusia akan wadah untuk melakukan kegiatan. Karya Arsitektur Jawa merupakan suatu ungkapan bentuk, yang mewadahi halhal sebagai berikut : 1. Guna dan Citra Guna yang dimaksud adalah pengertian bahwa rumah memiliki pemanfaatan, keuntungan. Rumah memiliki kemampuan/daya/manfaat agar hidup menjadi lebih mengikat. Sedangkan Citra, menunjukkan suatu gambaran, kesan penghayatan bagi seseorang mengenai rumah tersebut. Citra memiliki arti yang mendekat spiritual menyangkut derajat dan martabat manusia (orang Jawa) yang menghuni rumah tersebut. Misalnya istana megah, Dalem, rumah rakyat, dan sebagainya jadi Citra menunjukkan tingkatan kemampuan manusia itu. Simbol Kosmologis Arsitektur Jawa dimaksudkan sebagai simbol pandangan manusia (orang Jawa) terhadap dunianya. Pandangan ini berubah sesuai dengan kemajuan zaman. Pada tahap awal orang Jawa (manusia umunya) merasakan terkungkung oleh alam, sehingga bentukan arsitektur tampil sebagai suatu pelindung terhadap alam. Kemudian hal ini berkembang dengan pandangan bahwa manusia adalah bagian dari alam. Bentuk menjadi personifikasi dari alam. Dengan mulai dikenalnya agama pada tahap berikutnya, bentuk tanpa menjadi simbol pemujaan terhadap Yang Maha Kuasa (Bait Suci). Namun hal ini masih belum terlepas dari

2.

U,IOllliiu;militl!lllNtmnl

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

budaya. Suatu masyarakat yang mempunyai agama sarna tetapi budaya mereka pasti berbeda yang mana bisa menghasilkan bentuk yang berbeda. 3. Orientasi Diri Orient = umur, bisa diartikan sebagai permulaan matahari terbit hingga terbenam. Hal ini membawa pengertian adanya sumbu arah lainnya, yaitu utara selatan. Sehingga dengan dua persilangan menimbulkan rasa satu pusat. Pusat ini dapat dianggap sebagai pusat kehidupan, tempat berpegang. Sehingga kalau ada suatu pusat, tentunya akan menimbulkan nilai yang berbeda. Perbedaan nilai - nilai bisa berdasarkan suatu prioritas dan tidak hanya berupa suatu bidang yang berdua dimensi, tetapi juga kearah vertikal (tiga dimensi). Cermin Sikap Hidup Rumah sebagai cermin sikap hidup, berarti mampu menunjukkan cara pandang dalam kehidupan. Sikap hidup tersebut bisa berarti religius, praktis dan sebagainya. Sikap yang terbuka, mau bersahabat dan ramah terhadap sesama maupun alam akan tampil berbeda dengan rumah penghuninya yang bersikap menguasai alam (tertutup) Bangunan tradisional Suku bangsa Jawa, memuat kaedah - kaedah sebagai berikut : a. Wujud Arsitektur Tradisional Jawa, merupakan perwujudan suatu kebutuhan, yang mana mewadahi aktivitas - aktivitas penghuni yang akan terjadi didalam.

4.

b. Anatomi Arsitektur Tradisional Jawa, Sebagai salah satu kreativitas. Bentuk rumah tradisional Jawa, yang terpakai, dimana terdapat aturanlsusunan yang harus dipenuhi agar bisa berfungsi. c. Identitas Mewakili si pemilik, fungsi, lokasi. Bangunan memberi gambaran akan apa yang terwadahi.

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

PERKEMBANGAN

RUMAH JA WA

(Hamah Sagrim)

PERJALANAN RUMAH JA WA - Tinjauan Histors Asalmuasal Rumah Jawa Dari asal usulnya, para ahli sejarah belum mempunyai kesatuan pendapat tentang hal ini. Sebagian riwayat meneeriterakan bahwa betapa sukamya menentukan wujud bentuk rumah orang Jawa pada mulanya. Ada yang mengatakan bahwa perkembangan rumah orang Jawa hanya dieeriterakan dari mulut ke mulut (lisan), dari kakek ke eueu, eieit, dan sterusnya. Akan tetapi ada pula yang mengatakan bahwa rumah orang Jawa pada mulanya dibuat dari bahan batu. Dari pendapat yang bermaeam-maeam itu, dapat diambil kesimpulan bahwa hal itu masih gelap dan belum berhasil ditemukan bentuknya. Dalam riwayat lain dikatakan bahwa beberapa orang yang ahli telah membuktikan bahwa teknik penyusunan rumah Jawa seperti teknik menyususnan batu-batu eandi yang eukup banyak. Tetapi menurut para ahli, bukan rumah orang Jawa yang meniru bentuk eandi, melainkan eandi yang meniru rumah orang Jawa. Mengapa demikian? Karena eandi yang kita saksikan sekarang ini seperti eandi Dieng, Borobudur, Pawon, Mendut, Gedongsongo, dan lain-lain pada umumnya berdiri pada abad ke18, sedangkan sebelum agama Hindu dan Budha masuk ke Jawa, sebenamya nenekmoyang orang Jawa pasti sudah mempunyai tempat tinggal yang eukum permanen untuk melindungi diri dan keluarganya. Tidak ada orang yang mengetahui dengan pasti tentang hal-hal tersebut diatas dengan pasti, dan yang menjadi saksi bisu pastilah relief-relief yang terdapat pada batu eandi. Tapi dugaan yang paling kuat diperoleh dari sebuah naskah kuno yang ditulis dengan tang an, yang menyebutkan bahwa rumah orang Jawa terbuat dari bahan kayu, serta dimulai dari jaman Prabu Jayabaya berkuasa di Memenang ibukota Kediri. Sekitar abad ke-ll, baik adipati Harya Santang maupun Prabu Jayabaya, sendiri menyetujui untuk membuat rumah dari bahan kayu. Dan orang tidak usah khawatir lagi bahwa rumah batu mereka akan dikikis habis oleh air hujan, atau oleh sebab-sebab yang lain. Tetapi kalau dibuat dari bahan kayu, hal ini dikarenakan bahan kayu merupakan bahan yang ring an, mudah dikerjakan, mudah dieari dan kalau rusak mudah untuk menggantikannya. Di istana Raja, barisan pekerja yang berada di wilayah pimpingan Adipati Harya Santang juga mendapat order memperbaiki istana raja. Menurut tulisan yang sarna, pada jaman Prabu Wijayaka berkuasa di medangkemulan, ia telah melakukan berbagai perubahan terutama pada departemen perumahan yang sejak saat itu diurus oleh pejabat perumahan yang berpangkat Bupati. Mereka terdiri dari: 1. 2. Bupati Kalang Blandhong - ahli menebang pohon Bupati Kalang Obong - ahli pembersihan hutan

A. 1.

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

3. Bupati Kalang Adeg - ahli perencana bangunan 4. Bupati Kalang Abrek Semua pembangunan rumah Jawa, disesuaikan dengan budaya Jawa. Bagaimana Tempat Tinggal Nenek Moyang Orang Jawa Dahulu? Diatas telah disebutkan bahwa rumah leluhur orang Jawa terbuat dari bahan batu. Namun hal itu hanya perkiraan semata, dan sejak semula, orang beranggapan bahwa rumah batu tersebut baru ada sekitar abad ke-lO dan itupun terbatas pada tempat-tempat tertentu. Tapi, pada jaman sebelumnya, orang-orang juga membutuhkan temp at tinggal untuk menanggulangi diri dan keluarganya dari hujan dan panas. Mau tidak mau mereka berpikir praktis sehingga dengan berbagai usaha telah ditempuh untuk mempertahankan hidup. Oleh karena itu, maka pada jaman kuno, orang-orang memanfaatkan gua-gua "abris sous roche". Gua-gua itu sebenamya lebih mirib dengan ceruk-ceruk di dalam batu karang yang dapat dipakai untuk berteduh. Kini penelitian terhadap gua-gua semacam itu terus ditingkatkan. Limapuluh tahun yang lalu, tepatnya antara tahun 1928 -1931, seorang peneliti yang pertama melakukan penelitian di gua-gua tersebut adalah Van Stein Callenfels, di daerah Gua lawa dekat Sampung Ponorogo, Madiun. Lambat laun berkembang menjadi semacam ekspedisi, yaitu gabungan dari puluhan orang yang masing-masing memiliki keahlian khusus (spesialis) di samping didukung oleh dana yang besar. Banyak benda-benda unik yang ditemukan disana. Bagi para peneliti yang berasal dari negeri barat seperti Belanda, Inggris maupun orang Eropa lainnya, cukup mengencangkan alat-alat batu, ujung panah dan flakes (kepingan senjata tajam), batu, penggalian, kapak-kapak yang sudah diasah (neolithikum), alat-alat dari tulang dan tanduk rusa. Disamping itu juga ditemukan alat-alat perunggu dan besi. Selain temuan-temuan tersebut yang diiedntifikasikan, termasuk identifikasi benda tersebut menunjukkan bahwa manusia yang pertama hidup di Jawa dalah jenis manusia Papua-melanesoid. Sehingga dipastikan bahwa ceruk-ceruk tersebut telah lama ditempati oleh nenek moyang. Setelah membuktikan secara ilmiah kapan benda-benda tersebut mulai ada di sana, maka muncullah istilah "sampung bone-culture" yang berarti alat-alat tukang dari sampung. Populasi Jenis-Jenis Arsitektur Rumah Adat Jawa Arsitektur atau Seni Bangunan yang terdapat di daerah Provinsi Jawa Tengah dikelompokkan menjadi dua, yaitu : a. Arsitektur Tradisional, yaitu Seni Bangunan Jawa asli yang hingga kini masih tetap hidup dan berkembang pada masyarakat Jawa. Ilmu yang mempelajari seni bangunan oleh masyarakat Jawa biasa disebut Ilmu Kalang atau disebut juga Wong Kalang. Yang merupakan bangunan pokok dalam seni bangunan Jawa ada 5 (lima) macam, ialah: Panggang-pe, yaitu bangunan hanya dengan atap sebelah sisi. Kampung, yaitu bangunan dengan atap 2 belah sisi, sebuah bubungan di tengah saja. Limasan, yaitu bangunan dengan atap 4 belah sisi, sebuah bubungan de tengahnya. Joglo atau Tikelan, yaitu bangunan dengan Soko Guru dan atap 4 belah SISI, sebuah bubungan di tengahnya. 3. 2.

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

Tajug atau Masjid, yaitu bangunan dengan Soko Guru atap 4 belah sisi, tanpa bubungan, jadi meruncmg. Masing-masing bentuk berkembang menjadi beraneka jenis dan variasi yang bukan hanya berkaitan dengan perbedaan ukurannya saja, melainkan juga dengan situasi dan kondisi daerah setempat. Dari kelima mac am bangunan pokok rumah Jawa ini, apabila diadakan penggabungan antara 5 mac am bangunan maka terjadi berbagai macam bentuk rumah Jawa. Sebagai contoh : gedang selirang, gedang setangkep, cere gencet, sinom joglo lambang gantung, dan lain-lain. Menurut pandangan hidup masyarakat Jawa, bentuk-bentnk rumah itu mempunyai sifat dan penggunaan tersendiri. Misalnya bentuk Tajug, itu selalu hanya digunakan untuk bangunan yang bersifat suci, umpamanya untnk bangunan Masjid, makam, dan temp at raja bertahta, sehingga masyarakat Jawa tidak mungkin rumah tempat tinggalnya dibuat berbentuk Tajug. Rumah yang lengkap sering memiliki bentuk-bentnk serta penggunaan yang tertentu, antara lain: Pintu gerbang : bentuk kampong Pendopo : bentukjoglo Pringgitan : bentnk limasan Dalem: bentukjoglo Gandhok (kiri-kanan) : bentuk pacul gowang Dapur : bentuk kampong, dll. Tetapi bagi orang yang tidak mampu tidaklah mungkin akan demikian. Dengan sendirinya rumah yang berbentnk doro gepak (atap bangunan yang berbentnk mirip burung dara yang sedang terbang mengepakkan sayapnya) misalnya bagian-bagiannya dipergunakan untuk kegunaan yang tertentu, misalnya : - emper depan : untnk Pendopo - ruang tengah : untuk temp at pertemuan keluarga - emper kanan-kiri : untuk senthong tengah dan senthong kiri kanan- emper yang lain: untnk gudang dan dapur. Di beberapa daerah pantai terdapat pula rumah-rumah yang berkolong. Hal tersebut dimaksudkan untuk berjaga-jaga bila ada banjir.Dalam Seni Bangunan Jawa karena telah begitu maju, maka semua bagian kerangka rumah telah diberi nama-nama tertentu, seperti : ander, dudur, brunjung, usuk peniyung, usuk ri-gereh, reng, blandar, pengeret, saka guru, saka penanggap, umpak, dan sebagainya.Bahan bangunan rumah Jawa ialah terutama dari kayujati. Arsitektur tradisional Jawa terbukti sangat populer tidak hanya di Jawa sendiri tetapi sampai menjangkau manca negara. Kedutaan Besar Indonesia di Singapura dan Malaysia juga Bandar Udara Soekamo-Hatta mempunyai arsitektur tradisional Jawa. Arsitektur tradisional Jawa harus dilihat sebagai totalitas pemyataan hidup yang bertolak dari tata krama meletakkan diri, norma dan tata nilai manusia Jawa dengan segala kondisi alam lingkungannya. Arsitektur ini pada galibnya menampilkan karya "swadaya dalam kebersamaan" yang secara arif memanfaatkan setiap potensi dan sumber daya setempat serta menciptakan keselarasan yang harmonis antara "jagad cilik" (mikrokosmos) dan "jagad gedhe" (makrokosmos). Pada dasamya arsitektur tradisonal Jawa - sebagaimana halnya Bali dan daerah lain - adalah arsitektur halaman yang dikelilingi oleh pagar. Yang disebut rumah yang utuh seringkali bukanlah satu bangunan dengan dinding yang pejal melainkan halaman yang berisi sekelompok unit bangunan

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

dengan fungsi yang berbeda-beda. Ruang dalam dan luar saling mengimbas tanpa pembatas yang tegar. Struktur bangunannya merupakan struktur rangka dengan konstruksi kayu, bagaikan payung yang terpaneang terbuka. Dinding ruangan sekedar merupakan tirai pembatas, bukan dinding pemikul. Yang sangat menarik pula untuk diungkap adalah struktur tersebut diperlihatkan seeara jelas, wajar dan jujur tanpa ada usaha menutup-nutupinya. Demikian pula bahan-bahan bangunannya, semua dibiarkan menunjukan watak aslinya. Di samping itu arsitektur Jawa memiliki ketahanan yang eukup handal terhadap gempa. Atap bangunannya selalu menggunakan tritisan yang lebar, yang sangat melindungi ruang beranda atau emperan di bawahnya. Tata ruang dan struktur yang demikian sungguh coeok untuk daerah beriklim tropis yang sering mengalami gempa dan sesuai untuk peri kehidupan manusia yang memiliki kepribadian senang berada di udara terbuka. Halaman yang lega dengan perkerasan pasir atau kerikil sangat bermanfaat untuk penyerapan air hujan. Sedangkan pepohonan yang ditanam seringkali memiliki sasraguna (multi fungsi), yaitu sebagai peneduh, penyaring debu, peredam angin dan suara, juga sebagai sumber pangan bagi manusia dan binatang bahkan sering pula dimanfaatkan untuk obat tradisional. Sumber utama untuk mengenal seni bangunan Jawa untuk untuk daerah Jawa Tengah adalah Kraton Surakarta dan Kraton Mangkunegaran. Juga peninggalan-peninggalan bangunan makam kuno serta masjid-masjid kuno seperti Masjid Demak, Masjid Kudus dengan menaranya yang bergaya khusus, Makam Demak, Makam Kadilangu, Makam Mengadeg, dll. Di samping seni bangunan Jawa asli yang berupa bangunan rumah tempat tinggal, terdapat juga seni bangunan Jawa peninggalan dari jaman Sanjayawangca dan Syailendrawangca, semasa berkuasa di daerah Jawa Tengah. Bangunan semasa itu biasanya menggunakan bahan bangunan batu sungai, ada juga yang menggunakan batu merah, bahan kayu yang peninggalannya tidak kita jumpai lagi, tetapi kemungkinan dahulunya ada. Fungsi bangunan-bangunan itu bermaeam-maeam : sebagai temp at pemujaan, tugu peringatan, tempat pemakaman, temp at bersemedi, dan sebagainya. Corak bangunan-bangunan agama itu ada yang agama Budha Mahayana, misalnya : Borobudur. Yang bereorak Trimurti, misalnya : Dieng. Sedangkan yang bereorak eampuran dengan kepereayaan daerah setempat, misalnya : Candi Sukuh dan Ceta. Bentuk Rumah Panggang-pe : Banyak kita jumpai sebagai tempat jualan minuman, nasi dan lainlainnya yang terdapat di tepi jalan. Apabila diperkembangkan dapat berfungsi sebagai tempat ronda, tempat mobil / garasi, pabrik, dan sebagainya. Bentuk Rumah Kampung : Umumnya sebagai tempat tinggal, baik di kota maupun di desa dan di gunung-gunung. Perkembangan dari bentuk ini juga dipergunakan sebagai temp at tinggal. Bentuk Rumah Limasan : Terutama terlihat pada atapnya yang memiliki 4 (empat) buah bidang sisi, memakai dudur. Kebanyakan untuk temp at tinggal. Perkembangannya dengan penambahan emper atau serambi, serta beberapa ruangan akan tereipta bentuk-bentuk sinom, kutuk gambang, lambang gantung, trajumas, dan lain-lain. Hanya saja yang berbentuk trajumas tidak biasa digunakan sebagai tempat tinggal. Bentuk Rumah Tajug : Ciri utamanya pada atap berbentuk runeing, soko guru dengan blandarblandar tumpang sari, berdenah bujur sangkar, lantainya selalu di atas tanpa bertingkat. Dipergunakan

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

sebagai tempat suci, semi sal : Masjid, temp at raja bertahta, makam. Tidak ada yang untuk temp at tinggal. Bentuk Rumah Joglo : Memiliki ciri; atap terdiri dari 4 (empat) buah sisi soko guru dengan pemidangannya (alengnya) dan berblandar tumpang sari. Bangunan ini umumnya dipergunakan sebagai pendopo dan juga untuk temp at tinggal (nDalem). Rumah Dalam Kehidupan Orang Jawa Rumah merupakan sesuatu yang penting karena mencerminkan papan (temp at tinggal), disamping dua macam kebutuhan lainnya yaitu sandang (pakaian) dan pangan (makanan). Karena rumah berfungsi untuk melindungi dari tantangan alam dan lingkungannya. Selain itu rumah tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan utamanya saja. Tetapi dipergunakan untuk mewadahi semua kegiatan dan kebutuhan yang ada di dalam rumah tersebut. Rumah Jawa lebih dari sekedar temp at tinggal. Masyarakat Jawa lebih mengutamakan moral kemasyarakatan dan kebutuhan dalam mengatur warga semakin menyatu dalam satu kesatuan. Semakin lama tuntutan masyarakat dalam keluarga semakin berkembang sehingga timbullah tingkatan jenjang kedudukan antar manusia yang berpengaruh kepada penampilan fisik rumah suatu keluarga. Lalu timbulah jati diri arsitektur dalam masyarakat tersebut. Rumah Jawa merupakan lambang status bagi penghuninya dan juga menyimpan rahasia tentang kehidupan sang penghuni. Rumah Jawa merupakan sarana pemiliknya untuk menunjukkan siapa sebenamya dirinya sehingga dapat dimengerti dan dinikmati orang lain. Rumah Jawa juga menyangkut dunia batin yang tidak pemah lepas dari kehidupan masyarakat Jawa. Bentuk dari rumah Jawa dipengaruhi oleh 2 pendekatan yaitu : Pendekatan Geometrik yang dikuasai oleh kekuatan sendiri. Pendekatan Geofisik yang tergantung pada kekuatan alam lingkungan. Kedua pendekatan itu akhimya menjadi satu kesatuan. Kedua pendekatan mempunyai perannya masing-masing, situasi dan kondisi yang menjadikan salah satunya lebih kuat sehingga menimbulkan bentuk yang berbeda bila salah satu peranannya lebih kuat. Rumah Jawa merupakan kesatuan dari nilai seni dan nilai bangunan sehingga merupakan nilai tambah dari hasil karya budaya manusia yang dapat dijabarkan secara keilmuan. Bentuk rumah tradisional jawa dari waktu ke waktu selalu mengalami perubahan bentuk. Secara garis besar tempat tinggal orang jawa dapat dibedakan menjadi: 1. Rumah Bentuk Joglo 2. Rumah Bentuk Limasan 3. Rumah bentuk Kampung 4. 5. Rumah Bentuk Masjid dan Tajug atau Tarub Rumah bentuk panggang Pe 4.

- Rumah JOGLO Dibanding 4 bentuk lainnya, rumah bentuk joglo merupakan rumah joglo yang dikenal masyarakat pada umumnya.

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

Rumah Joglo kebanyakan hanya dimiliki oleh mereka yang mampu. Hal ini disebabkan rumah bentuk joglo membutuhkan bahan bangunan yang lebih banyak dan mahal daripada rumah bentuk yang lain. Masyarakat jawa pada mas a lampau menganggap bahwa rumah joglo tidak boleh dimiliki oleh orang kebanyakan, tetapi rumah joglo hanya diperkenankan Foto: 1. Joglo jompongan Foto : 2. Joglo kepuh lawakan untuk rumah kaum bangsawan, - Sumber Peneliti - 2010 istana raja, dan pangeran, serta orang yang terpandang atau dihormati oleh sesamanya saja. Dewasa ini rumah joglo digunakan oleh segenap lapisan masyarakat dan juga untuk berbagai fungsi lain, seperti gedung pertemuan dan kantor-kantor. Banyak kepercayaan yang menyebabkan masyarakat tidak mudah untuk membuat rumah bentuk joglo. Rumah bentuk joglo selain membutuhkan bahan yang lebih banyak, juga membutuhkan pembiayaan yang besar, terlebih jika rumah tersebut mengalami kerusakan dan perlu diperbaiki. Kehidupan ekonomi seseorang yang mengalami pasang surut pun turut berpengaruh, terutama setelah terjadi penggeseran keturunan dari orang tua kepada anaknya. Jika keturunan seseorang yang memiliki rumah bentuk joglo mengalami penurunan tingkat ekonomi dan harus memperbaiki serta harus mempertahankan bentuknya, berarti harus menyediakan biaya secukupnya. Ini akan menjadi masalah bagi orang tersebut. Hal ini disebabkan adanya suatu kepercayaan, bahwa pengubahan bentukjoglo pada bentuk yang lain merupakan pantangan sebab akan menyebabkan pengaruh yang tidak baik atas kehidupan selanjutnya, misalnya menjadi melarat, mendatangkan musibah, dan sebagainya. Pada dasamya, rumah bentuk joglo berdenah bujur sangkar. Pada mulanya bentuk ini mempunyai empat pokok tiang di tengah yang di sebut saka guru, dan digunakan blandar bersusun yang di sebut tumpangsari. Blandar tumpangsari ini bersusun ke atas, makin ke atas makin melebar. Jadi awalnya hanya berupa bagian tengah dari rumah bentuk joglo zaman sekarang. Perkembangan selanjutnya, diberikan tambahan-tambahan pada bagian-bagian samping, sehingga tiang di tambah menurut kebutuhan. Selain itu bentuk denah juga mengalami perubahan menurut penambahannya. Perubahan-perubahan tadi ada yang hanya bersifat sekedar tambahan biasa, tetapi ada juga yang bersifat perubahan konstruksi. Dari perubahan-perubahan tersebut timbulah bentuk-bentuk rumah joglo yang beraneka mac am dengan namanya masing-masing. Adapaun, jenis-jenis joglo yang ada, antara lain: joglo jompongan, joglo kepuhan lawakan, joglo ceblokan, joglo kepuhan limolasan, joglo sinom apitan, joglo pengrawit, joglo kepuhan apitan, joglo semar tinandu, joglo lambangsari, joglo wantah apitan, joglo hageng, danjoglo mangkurat.

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

A. 1.

ARSITEKTUR nDALEM PANGERAN - cross cutting Karaton story Sejarah Arsitektur nDalem Pangeran Ngadi Winatan Suryoputran Perjalanan Karaton Ngayogyakarta. Dibawah bayangan gunung setinggi 2.914 meter, yang disebut Gunung Merapi, berdiri Ngayogyakarto Hadiningrat, salah satu kerajaan Mataram di Jawa. Kini disebut sebagai Yogyakarta (Jogja) mulai tahun 1755, ketika wilayah Kerajaan Mataram dibagi menj adi Kesultanan Y ogyakarta dan Surakarta (Solo). Keraton Yogyakarta dibangun oleh Pangeran Mangkubumi pada saat itu, dan beliau menggunakan keraton sebagai pusat daerah paling berpengaruh di Jawa sejak abad ke-17. Keraton tetap menjadi pusat kehidupan tradisional dan meskipun ada modemisasi di abad ke-20, keraton tetap memancarkan semangat kemurnian, yang ditandai dengan kebudayaannya selama berabad-abad. Y ogyakarta merupakan salah satu pusat kebudayaan di Jawa. Musik gamelan merupakan pandangan dari masa lalu, klasik dan sejaman, pertunjukan tari-tarian Jawa yang sangat indah dan memabukkan, pertunjukkan wayang kulit dan ratusan kesenian tradisional yang membuat para pengunjung terpesona. Semangat kehidupan yang luar biasa dan kehangatan kota ini sendiri yang hampir tidak pemah pudar. Seni kontemporer juga tumbuh dalam suburnya kebudayaan dan masyarakat Y ogyakarta. ASRI, Akademi Seni Rupa, sebagai contoh, merupakan pusat kesenian di sini, dan Y ogyakarta telah mencatatkan namanya sebagai sebuah sekolah seni lukis modem penting di Indonesia, yang mungkin bisa dicontohkan dalam sosok pelukis impersionis, Affandi. Propinsi ini merupakan salah satu daerah padat penduduk di Indonesia dan merupakan pintu gerbang utama menuju pusat Jawa dimana secara geografis temp at ini berada. Membentang dari Gunung Merapi di sebelah utara menuju Samudera Hindia di sebelah selatan. Penerbangan harian menghubungkan Y ogyakarta dengan Jakarta, Surabaya, Papua dan Bali, juga kereta api dan angkutan bis menawarkan perjalanan darat dengan rute sarna.

Yogyakarta

Dalam

Logo keraton

Foto : 4. Tampak Depan Keraton Yogyakarta

Foto: 5. Budaya Garebeg

Foto: 6. Budaya Jathilan
Sumber Dinas Kebudayaan

DIY

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download the free trial online at nitrcpdf.ecmzprofeesiona I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

Propinsi Daerah Istimewa Y ogyakarta (disingkat dengan Jogja), merupakan salah satu dari 34 propinsi di Indonesia. Propinsi ini dibagi menjadi 5 daerah tingkat II, Kotamadia Y ogyakarta, Kabupaten Bantul, Kabupaten Sleman, Kabupaten Kulon Progo, dan Kabupaten Gunung Kidul. Luas Yogyakarta sekitar 3.186 km persegi, dengan total penduduk 3.226.443 (Statistik Desember 1997). Propinsi ini terkenal sebagai kota kebudayaan dan pendidikan dan merupakan daerah tujuan wisata. Berdasarkan sejarah, sebelum 1755 Surakarta merupakan ibukota Kerajaan Mataram. Setelah perjanjian Gianti (Palihan Nagar) pada 1755, mataram dibagi menjadi 2 kerajaan: Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Ngayogyakarto Hadiningrat. Mengikuti kebiasaan, Pangeran Mangkubumi, adik Susuhunan Pakubuwono II, dimahkotai sebagai Raja Ngayogyakarto Hadiningrat. Kemudian beliau disebut sebagai Sultan Hamengku Buwono I. Pada tahun 1813, dibawah penjajahan Inggris, pemisahan kerajaan Mataram terjadi untuk ketiga-kalinya. Pangeran Notokusumo, putra dari Hamengku Buwono I, dimahkotai sebagai Pangeran Paku Alam I. Kerajaannya terpisah dari Kasultanan Y ogyakarta. Ketika Republik Indonesia berdiri pada 17 Agustus 1945, yang dilambangkan dengan penandatanganan Proklamasi Kemerdekaan, Ngayogyakarto Hadiningrat dan Pakualaman menyatu sebagai salah salah satu propinsi di Indonesia dimana Sri Sultan Hamengku Buwono IX ditunjuk sebagai gubemur dan Sri Paku Alam VIII sebagai wakil gubemumya. Meskipun propinsi DIY mempunyai wilayah yang relatif kecil, namun kaya akan daya tarik wisata. Pengunjung dapat menemukan berbagai macam hasil seni dan pertunjukan kesenian yang sangat menarik dan menakjubkan. Sebagai pusat seni dan budaya di Jawa, terdapat beberapa macam daya tarik wisata di Y ogyakarta. Hal ini menj adi alasan mengapa orang mereferensikan Y ogyakarta sebagai tempat lahimya kebudayaan Jawa. Dan untuk pecinta gunung, pantai atau pemandangan indah, Y ogyakarta juga menyediakan beberapa tempat untuk itu. Propinsi ini juga diakui sebagai temp at menarik untuk para peri set, ahli geologi, ahli speleogi dan vulkanologi merujuk pada adanya gua-gua di daerah batuan kapur dan gunung berapi yang aktif. Di selatan kabupaten Gunung Kidul merupakan ujung laut, dimana terdapat beberapa fosil biota laut dalam batuan kapur

Foto : 9. Budaya Numplak Wajik

Foto: 13. Budaya Karawitan
Sumber Dinas Kebudayaan DIY & Peneliti 2010

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

sebagai buktinya. Untuk para arkeolog, Yogyakarta sangat menarik sebab setidaknya ada 36 eandi / situs-situs sejarah disini. Ada beberapa peninggalan peradaban dari abad ke-9. Salah satunya, eandi Prambanan adalah eandi Hindu terbesar dan paling terkenal di Indonesia. Borobudur, eandi Budha terbesar, tereatat sebagai salah satu "tujuh keajaiban di dunia". Borobudur dapat dieapai selama 1 jam dari kota, hanya 42 km sebelah barat laut Yogyakarta. Dalam perjalanan ke Borobudur, dapat mengunjungi Candi Mendut dan Candi Pawon. Candi Mendut merupakan tempat untuk pemujaan, dengan adanya area Budha Gautama didalamnya. Beberapa upaeara ritual juga masih berlangsung di Y ogyakarta, dan masih dilaksanakan sampai sekarang. Lingkungan yang indah, arsitektur tradisional, kehidupan so sial, dan upaeara-upaeara ritual membuat Yogyakarta menjadi tempat paling menarik untuk dikunjungi. Seni dan budaya tradisional seperti musik gamelan dan taritarian tradisional akan selalu mengingatkan penonton akan kehidupan Y ogyakarta beberapa abad yang lalu. Pembangunan teknologi modem berkembang di Indonesia dan di Yogyakarta, ini berkembang seeara harmoni dengan adat dan upaeara tradisional. Sesuai namanya, Propinsi Daerah Istimewa Y ogyakarta memang benar-benar istimewa. Orang-orangnya sangat ramah. Hal ini membentuk kehidupan dan kelakuan mereka. Mereka menyukai olahraga tradisional, panahan sebagai hobi dan juga sangat menyukai permainan burung perkutut. Mereka juga pereaya bahwa orang dapat menikmati hidup dengan mendengarkan kieauan burung. Kompetisi panahan tradisional selalu diselenggarakan untuk memperingati kelahiran raja, yang disebut dengan "Wiyosan Dalem". Dan pada saat Sri Sultan Hamengku Buwono X lahir, tradisi ini juga dilaksanakan. Dengan adanya berbagai mae am kesenian adat dan upaeara tradisional yang masih berlangsung, Y ogyakarta juga dikenal sebagai "museum hidup Jawa", yang dieerminkan dalam segala bentuk hal-hal tradisional berupa kendaraan, arsitektur, pasar, pusat eindera mata, museum, dan banyak pilihan atraksi wisata di Y ogyakarta. Dengan berdirinya Karaton ngayogyakarta, maka selanjutnya didirikanlah bangunan-bangunan Pangeran, termasuk nDalem Ngadiwinatan Suryoputran yang berada di alun -alun Selatan Y ogyakarta.

Foto : IS.a. Budaya Ramayana

Foto: IS.b. Budaya Ramayana

Foto : I6.a. Budaya Gerebeg

Foto : I6.b. Budaya Gerebeg
Sumber Dinas Kebudayaan

DIY

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

2.

Inovasi Birokrasi di Dalam Keraton Hadiningrat Keraton adalah tempat bersemayam ratu-ratu, berasal dari kata ka+ratu+an= keraton. Juga disebut kadaton, yaitu ka+datu+ an = kedaton, temp at datu-datu atau ratu-ratu. Bahasa Indonesianya adalah istana, keraton ialah sebuah istana, tetapi istana bukanlah keraton. Keraton ialah istana yang mengandung arti, baik arti keagamaan, arti filsafat dan arti kultural (kebudayaan). Keraton Yogyakarta memiliki arti -arti tersendiri. Arsitektur bangunannya, letak bangsal-bangsalnya, hiasannya, sampai wama gedungnya mempunyai arti, pohon yang ditanamnya pun bukan sembarang pohon. Semua yang terdapat di sana seakan-akan memberi nasehat kepada kita untuk cinta dan menyerahkan diri kita kepada Tuhan Yang Maha Esa, berlaku sederhana dan tekun, berhati-hati dalam tingkah laku kita sehari-hari dan lain-lain. Arsitek dari keraton tersebut adalah Sri Sultan Hamengku Buwono I, waktu masih muda, baginda bergelar Pangeran Mangkubumi. Kompleks keraton terletak di tengah-tengah, tetapi daerah keraton membentang antara sungai Code dan sungai Winanga, dari utara ke selatan, dari Tugu sampai Krapyak. Nama kampung-kampung jelas memberi bukti kepada kita, bahwa ada hubungannya antara penduduk kampung itu dengan tugasnya di keraton pada waktu dulu, misalnya Gandekan=tempat tinggal gandek-gandek (koerir) dari Sri Sultan, Wirobrajan tempat tinggal para prajurit keraton Wirabraja, Pasindenan temp at tinggal pesinden-pesinden keraton. Daerah keraton terletak di hutan Garjitawati, dekat Desa Beringin dan Desa Pacetokan. Karena daerah ini dianggap kurang memadai untuk membangun sebuah keraton dengan bentengnya, maka aliran sunagai Code dibelokkan sedikit ke timur dan aliran sungai Winanga sedikit ke barat. Kerton Yogyakarta dibangun pada tahun 1756 atau tahun Jawa 1682, diperingati dengan sebuah condrosengkolo memet di pintu Gerbang Pemagangan dan di pintu Gerbang Melati berupa dua ekor naga berlilitan satu sarna lainnya. Dalam bahasa Jawa:"dwi naga rasa tunggal." Artinya dwi=2, naga=8, rasa=6, tunggal=1 (dibaca dari belakang : 1682). Wama naga hijau, hijau adalah simbol dari pengharapan. Tahunnya sarna, tetapi dekorasinya tidak sarna. Ini tergantung dari arsitektur, tujuan dan sudut yang dihiasinya. Wama naga merah, dimana sebagai simbol dari keberanian. Di halaman Kemagangan ini dahulu dijadikan ujian-ujian bela diri memakai tombak antar calon

Fotoa: 19. Tugu Yogyakarta

Foto : 20.a. Karaton Yogyakarta

Foto : 20.h. Karaton Y

Foto : 21. Budaya Wayang Sumher Dinas Kehudayaan DIY

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download the free trial online at nitrcpdf.ecmzprofeesiona I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

prajurit-prajurit keraton. Mestinya mereka pada waktu itu mereka sedang marah dan berani. Luas keraton Yogyakarta adalah 14.000 meter2. di dalanmya terdapat banyak bangunanbangunan, halaman-halaman, dan lapangan-lapangan. Dimulai dari halaman keraton ke utara: 1. Kedaton atau prabayeks. 2. Bangsal Kencana 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. Regol Danapratapa (pintu gerbang) Sri manganti Regol Sri Manganti (pintu gerbang) Bangsal Ponconiti (dengan halaman Kemandungan) Regol Brajanala (pintu gerbang) Siti Inggil Tarub Agung Pagelaran (tiangnya berjumlah 64) Alun-alun utara (dihias dengan pohon beringin 62 batang) Pasar (Beringharja) Kepatihan Tugu, angka 64 manggambarkan usia Nabi Muhammad 64 tahun Jawa atau 62 tahun Masehi.

Sedangkan dari halaman keraton ke selatan maka dapat terlihat: 1. Regol Kemagangan (pintu gerbang) 2. Bangsal Kemagangan 3. Regol Gadung mlati (pintu gerbang) 4. Bangsal Kemandungan 5. 6. 7. 8. Regol Kemandungan (pintu gerbang) Siti Inggil Alun-alun Selatan Krapyak

Perhatian: 1. Regol = pintu gerbang 2. Bangsal = bangunan terbuka 3. Gedong = bangunan terturtup 4. 5. 6. Plengkung = pintu gerbang benteng Selogilang = lantai tinggi dalam sebuah bangsal semacam poium rendah tempat duduk Sri Sultan atau tempat singgasana Sultan Tratag = bangunan, biasanya temp at berteduh, beratap anyaman-anyaman bambu dengan tiang-tiang tinggi, tanpa dinding. Di pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII semua tratag kraton dimuliakannya dan diberi atap seng, tetapi arsitekturnya tetap tidak berubah.

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

Ditengah-tengah halaman Kemandungan Kidul berdiri sebuah bangsal, yang dinamakan Bangsal Kemandungan. Bangsal ini bekas pesanggrahan Sri Sultan Hamengku Buwono I di Desa Pandak Karangnangka waktu Perang Giyanti (1746-1755). Krapyak ialah sebuah podium tinggi dari batu bata untuk Sri Sultan, kalau baginda sedang memperhatikan tentara atau kerabatnya memperlihatkan ketangkasannya mengepung, memburu, dan menangkap rusa. Kompleks keraton dikelilingi oleh sebuah tembok lebar, benteng yang panjangnya 1 km, berbentuk empat persegi, tingginya 3,5 m, lebarnya 3 sampai 4 m. Di beberapa tempat di benteng itu ada gang atau jalan untuk menyimpan senjata dan amunisi, Di keempat sudutnya terdapat bastion dengan lubang-lubang kecil dindingnya untuk mengintai musuh. Tiga dari bastion itu saat ini masih dapat dilihat. Benteng Dui sebelah luar dikelilingi oleh parit lebar dan dalam. Kaitannya antara inovasi dalam keraton, kami mengangkat tema inovasi birokrasi dalam keraton. Dalam pengertian ini inovasi menunjuk pada suatu proses kreativitas yaitu kombinasi dari dua konsep atau lebih, sehingga melahirkan sesuatu yang baru yang sebelumnya tidak diketahui oleh individu yang bersangkutan. Dalam pengertian ini inovasi, diartikan sebagai proses pengambilan dan internalisasi atau proses memasarkan ide-ide baru. Inovasi menurut Barnet (1953) adalah semua pemikiran, perilaku, atau hal-hal yang baru karena hal itu secara kualitatif berbeda dengan bentuk -bentuk yang telah ada. Menurut Zaltman, dkk, inovasi adalah semua ide, praktek-praktek atau artefak yang oleh individu-individu dalam masyarakat yang bersangkutan dianggap bam Zaltman, dkk. (1973 : 32) mengelompokkan inovasi dalam tiga kategori besar yaitu (1) Berdasarkan keberadaanya dalam sistem; (2) Berdasarkan pada fokus sasaran; (3) Berdasarkan pada hasil atau pengaruh inovasi. Merujuk pada teori Zaltman, dkk. bentuk inovasi birokrasi pada keraton dalam kategori kesatu temasuk kategori inovasi yang tidak diprogramkan. Contohnya semenjak Negara Kesatuan Republik Indonesia berdiri dan Yogyakarta menyatakan diri menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, maka secara otomatis kedudukan Raja sebagai petinggi keraton Yogyakarta merangkap sebagai gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta. Hal ini menyebabkan dalam menjalankan pemerintahannya sebagai seorang gubernur dibantu oleh staf gubernur (di bawah naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia). Sedangkan dalam menjalankan pemerintahannya sebagai raja dalam lingkungan keraton, raja dibantu oleh abdi dalem. Inovasi dalam kategori kedua yaitu inovasi struktural contohnya adanya pembagian pangkat dan golongan pada abdi dalem. Kedudukan abdi dalem di dalam keraton disamakan dengan pegawai negeri, di mana mereka juga digaji sesuai dengan pangkat dan golongan mereka. Masing-masing bagian di kepalai oleh kepala bagian, yang bertanggung jawab penuh atas kinerja anggota di bawahnya. Kinerja anggota dititik beratkan pada nilai-nilai kejawen, diantaranya tata karma, sikap, tutur kata, perilaku, dan kepribadian yang mencerminkan orang Jawa yang sesungguhnya. Abdi dalem di dalam keraton dibagi menjadi dua belas kelompok, yang masingmasing kelompok bekerja dalam dua belas hari sekali. Gaji yang mereka terima disesuaikan dengan pangkat dan golongan yang jumlahnya sangat sedikit. Berdasarkan informan yang kami wawancarai, mengaku bahwa gaji beliau tidak seberapa, "seorang abdi dalem namung angsal gaji sekawan ewu rupiah". Menurut beliau gaji abdi dalem sekarang berbeda dengan gaji abdi dalem pada saat pemerintahan Hamengku Buwono VIII. Pada saat pemerintahan Hamengku Buwono 1-

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

VIII gaji abdi dalem masih bisa untuk menghidupi keluarganya. Mereka bekerja sebagai abdi dalem semarta-mata sebagai wujud pengabdian terhadap Sultan, dan untuk "nguri-uri" budaya Jawa (melestarikan budaya Jawa). Semenjak Hamengku Buwono VIII mangkat, terjadi perubahan yang besar dalam keraton yang mana bentuk perubahan tersebut dapat kita kategorikan dalam bentuk inovasi birokrasi dalam keraton. Contohnya adalah dihapuskannya sistem upeti karena sudah terbentuk karisedenan-karisedenan di Surakarta dan tidak digunakannya Patih dalam keraton karena pada mas a sekarang lebih mementingkan musyawarah mufakat dalam menyelesaikan setiap permasalahan (semua permasalahan ditangani lang sung oleh Raja) sedangkan pada jaman dahulu kekuasaan Raja adalah mutlak contoh yang lain adalah adanya perbedaan antara kegiatan raja yang dahulu dengan sekarang. Pada jaman dahulu, kegiatan raja semata-mata hanya di kerajaan sedangkan kegiatan Raja pada jaman sekarang merupakan perpaduan antara kegiatan di kantor Gubemuran dan kegiatan di keraton. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa perubahan radikal pada keraton mulai dari perubahan fungsi-fungsi pejabat-pejabatnya yang mengalami perubahan nama saja sampai pada adanya proses difusi dalam sistem pemerintahan yang mengalami percampuran dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Meskipun terjadi percampuran antara Negara Kesatuan republik Indonesia, diharapkan fungsi keraton sebagai pusat budaya Jawa tetap dijaga keasliannya sebagai pusat budaya Jawa. 3. Profile Berdirinya nDalem N gadiwinatan Suryoputran nDalem Ngadiwinatan Suryoputran Yogyakarta, berdiri Pada tahun 1927, di daerah Alunalun Selatan, didirikan oleh SriS Sultan, yang semulanya ditempati oleh Pangeran, kemudian ditempati oleh SMKI, sebelum tahun 1977, atau ± 1970-an. Kemudian ditempati Bidang Pemuda (BIMUD) Propinsi Daerah Iatimewa Yogyakarta, pada tahun 1990-an, setelah itu digantikan dan ditempati oleh Balai Pengembangan Pemuda Olahraga (BPPO) Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, pada tahun 2001-2009, setelah itu ditempati oleh Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Balai Pemuda dan Olahraga (BPO) Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta pada 2009 sekarang, sebagai Perkantoran kerja. Bentuk Bangunan nDalem N gadiwinatan Suryoputran a. Macam Bentuk Atap Bentuk atap nDalem adalah atap gabungan antara atap limasan dan joglo, dimana atap Joglo berada dibagian tengah (central) dan diapit oleh atap limasan di sekeliling kiri, kanan, dan muka belakang. Bentuk Joglo, sebagai penutup ruang bagian tengah. Dalam nilai rumah Jawa, bahwa ruang tengah atau ruang bagian dalam ini disebut dengan gedongan, dijadikan sebagai mihrab, temp at Imam memimpin salat yang dikaitkan dengan makna simbolis sebagai tempat yang disucikan, sakral, dan dikeramatkan.

4.

Foto : 22. Bentuk atap nDalem

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download the free trial online at nitrcpdf.ecmzprofeesiona I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

Gedongan juga merangkap sebagai temp at tidur utama yang dihormati dan pada waktuwaktu tertentu dijadikan sebagai ruang tidur pengantin bagi anakanaknya. Fungsi ruang tengah kini difungsikan sebagai ruang perkantoran staf Kepemudaan dan Olahraga Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta semenjak tahun 2009-sekarang. Rumah adat jawa tengah berbentuk rumah joglo, Sebuah bangunan joglo yang menimbulkan interpretasi arsitektur Jawa mencerminkan ketenangan, hadir di antara bangunan- bangunan yang beraneka ragam. Interpretasi ini memiliki ciri pemakaian konstruksi atap yang kokoh dan bentuk lengkung-lengkungan di ruang per ruang.

Gambar: 3. Proyeksi. Sumber Peneliti 2010

Rumah adatjoglo yang merupakan rumah peninggalan adat kuno dengan karya seninya yang bermutu memiliki nilai arsitektur tinggi sebagai wujud dan kebudayaan daerah yang sekaligus merupakan salah satu wujud seni bangunan atau gaya seni bangunan tradisional. Joglo merupakan kerangka bangunan utama dari rumah adat Kudus terdiri atas soko guru berupa empat tiang utama dengan pengeret tumpang songo (tumpang sembilan) atau tumpang telu (tumpang tiga) di atasnya. Struktur joglo yang seperti itu, selain sebagai penopang struktur utama rumah, juga sebagai tumpuan atap rumah agar atap rumah bisa berbentuk pencu. Pada arsitektur bangunan rumah joglo, seni arsitektur bukan sekadar pemahaman seni konstruksi rumah, juga merupakan refleksi nilai dan norma masyarakat pendukungnya. Kecintaan manusia pada cita rasa keindahan, bahkan sikap religiusitasnya terefleksikan dalam arsitektur rumah dengan gaya ini. Pada bagian pintu masuk memiliki tiga buah pintu, yakni pintu utama di tengah dan pintu kedua yang berada di samping kiri dan kanan pintu utama. Ketiga bagian pintu tersebut memiliki makna simbolis bahwa kupu tarung yang berada di tengah untuk keluarga besar, sementara dua pintu di samping t':l kanan dan kiri untnk besan. ~ b. Macam Bentuk Kolom Bentnk kolom pada nDalem menggunakan kolom ompak. Dengan bentuk hiasannya yang diambil dari urutan hurufarab: dhal ,,~ " mim -

"?", ha -

"l", mim, dan
distilisasikan Foto : 23. Bentuk kolom Dalem Sumber peneliti 2010

(mohamad)

yang

sedemikian rupa sehingga berbentuk hiasan bermotif padma, pada umpak, sebagai sitilisasi songkok pada umpak, menjadi motif sorotan pada tiang bangunan

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

Foto. 25. Ruang Penyeimbang.

Sumber peneliti 2010

Gambar. 4. Proyeksi ruang penyeimbang - sumber peneliti.2010

nDalem, yang mana kesemuanya itu untuk mengagungkan kuasa Nabi Mohamad. Rangkaian huruf Arab: mim, ha, mim, dhal, serta huruf: ra, sin, wau, lam, aiif, lam, lam dan ta simpul, dimaksudkan untuk menyebutkan : Mohammad Rasul Allah. Tulisan ini distilisasikan sedemikian rupa sehingga berbentuk hiasan dengan motif putri mirong pada tiang. Kolom pada rumah nDalem berjumlah genap. Hal ini merupakan tata aturan dalam mendirikan rumah adat Jawa. Bahwa setiap rumah adat Jawa, jumlah kolom bangunan harus genap, tidak boleh ganjil. Kolom rumah nDalem tersebut disusun sesuai dengan titik sudut, sebagai keseimbangan. Karena bangunan nDalem ini merupakan aliran arsitektur Jawa yang keseluruhannya merupakan hasil dari ilmu pengetahuan dan kebudayaan Jawa, sehingga sistem keseimbangannya dibentuk dengan kolom yang genap, dengan 4 kolom utama sebagai struktur di tengah sebagai soko guru. Soko guru atau juga bisa disebut saka guru, kedua sebutan ini juga mempunyai makna yang sarna. c. Macam Bentuk Bukaan

Foto : 25. Bentuk Pintu kant or

Foto : 26. Bentuk Pintu Kamar Mandi/WC

Sumber Peneliti 2010

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

Pintu, berbentuk memanjang vertikal dengan bahan pintu terbuat dari kayu. Setiap pintu, selain pintu kayu diluar, bagian dalamnya dilapisi dengan pintu kaca dengan bingkai dari kayu. Pola bentuk pintu, berbentuk kotak, pada bagian atas membentuk segi empat memanjang, sedangkan bagian bawa berbentuk segi empat pendek. Jumlah keseluruhan pintu pada bangunan nDalem Ngadiwinatan Suryo Putran; 16 buah, dengan bentukkan yang berbeda-beda, antara pintu pada ruang dalam bangunan berbeda dengan pintu di kamar mandi/wc, maupun sebuah pintu yang di bagian kiri bahannya terbuat dari kaca dengan bingkainya dari kayu, pintu tersebut hanya berbeda dari bahannya, namun bentuk tipenya menyerupai bentuk pintu dalam bangunan lainnya. Pada bagian atas pintu kamar mandi/wc, berbentuk pelangi dengan ujung-ujungnya menyerupai anak panah, ini melambangkan pelangi dengan bagian sebelah menyebelah menuju ke titik tertentu yang menghubungkan adanya

Foto : 27. Bentuk Jendela

Sumber Peneliti 2010

kunjungan antara penguasa laut yang satu dengan penguasa laut yang lain. Bentuk jendela yang asli pada bangunan nDalem ini adalah berbentuk segi empat memanjang, dengan bahan adalah bagian lapisan luar dengan bahan utama kayu, yang mana tidak tertutup semua, tetapi disusun dengan bercelah, dengan tujuan sebagai venti lase. Selain dibagian luar yang memakai kayu, pada lapisan dalammya menggunakan bahan kaca dengan bingkai dari kayu. Foto: 28. Gerbang Utama Total jendela pada bangunan pangeran nDalem Sumber Peneliti 2010 Ngadiwinatan Suryo Putran adalah; 8 buah, dengan bentuknya yang sarna, namun pada bagian sisi kanan, telah mengalami perubahan ketika terjadi gempa, sehingga telah digantikan bahannya dengan kaca. Pintu Gerbang utama ada satu buah. Letak pintu utama lang sung berhadapan dengan Jalan utama alun-alun selatan. Penutup pintu menggunakan kayu yang di rakit dengan baut sehingga kuat. Umur pintu ini seumur dengan umur bangunan, dan bahan-bahannya pun juga masih tetap Foto: 29. Gerbang sayap kiri dan Kanan awet hingga sekarang. Hanya saja perawatannya yang selalu di cat, namun Sumber peneliti 2010 wama cat yang dipakai tetap mengikuti

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

warna awal yang di pakai semenjak didirikan bangunan tersebut. Selain itu, dibagian sayap kiri dan kanan terdapat pintu gerbang. Pintu gerbang pada sayap kiri dan kanan di apit dengan tembok yang dihubungkan lang sung dari antara dinding bangunan dan tembok pagar. Bahan pintu terbuat dari kayu jati. Semu pintu nDalem terdiri atas dua daun pintu yang berbentuk kupu tarung (kupu yang sedang kelai) jika dibuka. Kedua gerbang tersebut salah satunya, yang terletak di sayap kanan telah mengalami perbaikan pasca gempa, sedangkan gerbang pada sayap kiri tetap seperti bentuk terdahulu lengkap dengan daun pintu dan bahanbahannya. Walaupun mengalami patahan pada bagian dindingnya, namun sudah di perbaiki/renovasi. d. Macam Bentuk Ventilasi

Foto: 30. Bentuk-Bentuk

Ventilasi.

Sumber Peneliti 2010

Bentuk-bentuk ventilasi pada bangunan nDalem pangeran Ngadiwinatan suryoputran, membentuk lengkung, persegi empat dengan dihiasi bentukkan ornament, dan bergaris. e. Macam Bentuk Motif 1. Motif Dinding

Foto: 31. Bentuk Motif Dinding.

Sumber Peneliti-2010

Pada umumnya dinding nDalem Ngadi Winatan berbentuk polos, dan mengalami relief pada bagian puncak atas yang berbatasan dengan plafond, dan batasan bawah dengan lantai dan pondasi, sedangkan bentuk yang lain dengan relief yang menonjol ke dalam dengan berbentuk garis horizontal dan vertikal pada bagian bukaan (Pintu, Jendela, Ventilasi).

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

Motif Kolom Motif-motifkolom ada yang polos dan ada yang bermotif. Kebanyakan kolom yang bermotif pada bagian kaki, dengan berwarna kehitaman, umpak. Sedangkan pada bagian yang lain, dapat kita jumpai dibagian tengah dan bagian atas/kepala dengan warna putih.

2.

Foto : 32. Bentuk Motif Kolom. - Sumber Peneliti-201 0 3. Motif Langit-langit

Foto : 33. Bentuk Motif plafond. - Sumber Peneliti 2010 Motif lagnit-Iangit didominasi oleh persegi empat untuk plafond ruang lainnya, yang dibatasi dengan gari -garis vertikal dan horizontal dan berbentangan dengan garis finis pada bagian ujung dinding. Sedangkan pada ruang penyeimbang, bentuk plafondnya persegi empat yang diapit oleh Brunjung, motifnya berbentuk Bintang di bagian tengah sebagai sentral, dan dibagi dengan tumpang sari serta dikelilingi oleh garis dan motif bunga pada ujung akhir 4 sisi. Bentuk ini terdiri atas dua plafond, yang mana pada bagian tengah dibagi oleh penangkur, yang diukir berbentuk gugungan atau Kayon. Bentuk bintang tersebut masing-masing yang berada dibagian kiri dilihat dari depan, tertuliskan tahun, sedangkan pada bagian kanan dituliskan huruf arab.

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download the free trial online at nitrcpdf.ecmzprofeesiona I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

4.

Motif Kuda-kuda

Foto: 34. Bentuk Motif Kuda-Kuda.

Sumber Peneliti-2010

f.

Macam Bentuk Ornament 1. Ornament Langit-langit

Foto: 35. Bentuk ornament plafond. Sumber Peneliti-2010

Tidak semua langit-langit diberi ornament. Kita hanya dapat menjumpai ornament pada langit-langit ruang ..,.,,_ penyeimbang, yang ditutupi dengan atap Joglo. Baik plafond maupun brunjung, diberi ornament.

2. Ornament

Tembok Pagar Ornament pagar diistilasi dari rag am hias semacam kaligrafi yang diambil dari huruf Arab yang dirangkum menjadi wujud hiasan Foto: 36. Bentuk ornament Pagar. ornament. Pada bagian tembok Sumber Peneliti-2010 nDalem, kita akan temukan ornament yang berwujudkan bunga padma sebagai symbol 4 penjuru angin dan buah labuh (labu) sebagai lambang kata Allah. Kata Allah diambil dari kata waluh atau

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download the free trial online at nitrcpdf.ecmzprofeesiona I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

waloh yang sebutannya mirib seperti sebutan Allah dalam bahasa Arab. Hiasan tersebut ditempatkan sebagai ujung pilar pada bangunan pagar (tembok) dilingkungan halaman nDalem. 3. Ornament Gerbang

Foto: 37. Bentuk ornament Pintu.

Sumber Peneliti-201 0

4.

Ornament

Kolom

Foto : 38. Bentuk ornament Koloum.

Sumber Peneliti-201 0

5.

Ornament

Listplank

Foto: 39. Bentuk ornament Iistplank. Sumber Peneliti-2010

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download the free trial online at nitrcpdf.ecmzprofeesiona I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

g.

Bahan - bahan Bangunan 1. Bahan Atap

Foto : 40. Bahan Atap.

Sumber Peneliti-20 10

Bahan utama penutup atap nDalem Ngadiwinatan Suryoputran adalah Genteng, dan ditambahkan dengan atap senk pada bagian sosoran pematah sinar matahari dibagian jendela dan ventilasi. 2. Bahan Dinding Bahan dinding nDalem, menggunakan pasir, dan cor-coran. Bahan Lantai

tembok yang tersusun dari bahan Bata, semen,

3.

Foto : 41. Bahan Lantai.

Sumber Peneliti-2010

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download the free trial online at nitrcpdf.ecmzprofeesiona I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

4.

Bahan Plafond

Foto : 42. Bahan Plafond.

Sumber Peneliti-201 0 Joglo,

Bahan plafond menggunakan kayu, pada ruang penyeimbang yang beratap sedangkan pada bagian ruang lainnya menggunakan bahan plafond dari Triplek.
5. Bahan bukaan

Foto : 43. Bahan bukaan.

Sumber Peneliti-201 0

Bahan bukaan pintu, Jendela dan Ventilasi, terdiri atas Kayu, Kaca dan beton. Untuk pintu dan Jendela, menggunakan kayu dan kaca, sedangkan untuk ventilasi ada yang menggunakan Beton dan ada yang menggunakan kaca. h. Bentuk Bangunan nDalem N gadiwinatan Suryoputran Bentuk denah nDalem Ngadiwinatan Suryoputran adalah persegi empat memanjang. Bentuk tata ruang terdiri atas dua belas (12) kamar yang kini digunakan oleh BPPO Provinsi Daerah Istimewa Y ogyakarta. Berikut lihat Pada Gambar Denah.

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

Foto: 44 Tampak Samping Kiri

Foto: 45 Tampak Belakang

Foto: 46 Tampak Samping Kanan

•..

:

.I

fl·''II. ~
~
Foto: 47

~

i,

Bentuk Ornament Pada Sosoran Bagian Kiri

Organisasi Ruang 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. B. 1. Teras depan Ruang tengah penyeimbang/ruang staf Ruan sidang Ruang stafkepala Ruang staf dan magang Ruang seksi pemuda dan olahraga Rung Kepala Pemuda dan Olahraga 8. Ruang Kepala 9. Ruang Kabag. TU. 10. Ruang Kasub. TU. 11. Ruang Kepala Umum 12. Teras Belakang 13. Teras Kanan 14. KM/WC

ARSITEKTUR RUMAH RAKYAT Rumah Rakyat Bentukkan Joglo Bangunan rumah tradisional J awa termasuk diklasifikasikan sesuai dengan stratifikasi kedudukan. Pada bagian awal, telah kita bahas tentang rumah nDalem Ngadiwinatan Suryoputran,

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

sebagai bangunan kelas menengah. Berikut ini kita akan uraikan bangunan rumah tradisional Jawa khusus hunian rakyat biasa. Perbedaan utama pada bangunan rumah rakyat biasa dan rumah hunian bagi strata menengah sebagai berikut: Tata ruang lebih banyak untuk rumah strata menengah, bentuk dan ukuran bangunan lebih besar untuk rumah menengah, untuk bangunan strata menengah lebih komplit dan elit dibanding dengan rumah rakyat, jenis dan mutu bahan bangunan untuk rumah strata menengah lebih mahal dibanding rumah rakyat biasa. Foto 49. Bangunan Rumah Rakyat Rumah ini berlokasi di j1. Laksda Adi Sucipto Biasa - Sumber Peneliti - 2011 Yogyakarta berfungsi sebagai temp at menyimpan koleksi barang-barang antik yang salah satunya terlihat didepan rumah terse but yaitu lesung. Rumah ini didirikan tahun 2007 dengan menyusun beberapa elemen dari berbagai rumah yang ditata sedemikian rupa sehingga menjadi utuh dan membentuk sebuah rumah dengan gaya klasikjawa. Hal ini dapat dilihat dari perbedaan secara visual antara tiang yang berada diteras dengan dinding bagian depan. Terlihat dengan jelas bahwa usia kayu tersebut Foto : 51. Tampak Kontradiksi antara terpaut j auh. bangunan Tradisional dengan Demikian juga jika dilihat dari bentuk lisplanknya moderen - Sumber data Peneliti - 2010 menunjukkan perbedaan waktu pembuatannya, karena lisplanknya terlihat lebih using dibandingkan dengan dinding bagian depan rumah.

Foto 52. Konstruksi Pengaku dan ukiran -

Foto 53. Kolum dan Ukiran

Foto 54. Pedestal-

- Sumber data Peneliti 2011

Sumber data Peneliti 2011

Sumber data Peneliti 2011

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download the free trial online at nitrcpdf.ecmzprofeesiona I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

Rumah berikut ini terletak di n. Ngeksigondo Y ogyakarta Dibangun sekitar tahun 1921. Seluruh kayu yang dipakai Adalah kayu jati dengan Kualitas yang sangat bagus. Terbukti meskipun usianya Sudah 90 tahun namun rumah tersebut tetap kokoh. Langgam arsitektur jawa Sangat kental terlihat pada bentuk atap joglo dan omamen-omamen yang ada pada tiang dan bubungan atap. Jika diperhatikan omamen pengaku pada tiang hampir sama dengan omamen pada tiang rumah yang berada di n. Laksda Adi Sucipto. Kemungkinan omamen seperti itu sedang populer pada jamannya.

Menurut pemiliknya, rumah ini sudah dihuni oleh tiga gnerasi dan belum pemah mengalami renovasi yang berarti termasuk saat terjadi gempa tahun 2006. Berdasarkan survey memang rumah kayu lebih tahan terhadap gempa dibanding dengan rumah yang Foto. 57. Dinding dari Kayu Jati. terbuat dari batu batao Sumber data penelti - 2011 Dinding dari kayujati dibiarkan tanpa finishing cat maupun politur. Lantai rumah dibiarkan terbuat dari tanah tanpa penyelesaian layaknya rumah-rumah pada mas a sekarang yang kebanyakan menggunakan perkerasan.

Foto : 56. Bentuk arsitektur Jawa yang kental. Lihat atap - sumber peneliti 2011

Foto. 58. Tumpang Sari pada Langit-Langit dengan ukiran, Sumber data peneliti, 2011

Tumpang sari yang bersusun tujuh trap dengan ukiran terbuat dari kayu jati dan sudah dipolitur. Biasanya jumlah susunan tumpang sari dapat menunjukkan status sosial dari pemiliknya. Semakin banyak susunannya maka semakin kaya pemiliknya.

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

Rumah Rakyat Berbentuk Limasan Rumah tinggal ini terletak di Dukuh Kledokan Desa Catur tunggal Kecamatan Depok Kabupaten Sleman, Y ogyakarta. Menurut pemiliknya, Bapak Sumarto, rumah ini didirikan pada tahun 1956 dan telah mengalami perbaikan dua kali. Yang pertama adalah pada tahun 1972 perbaikan terhadap dinding yang terbuat dari anyaman bambu. Mengingat anyaman bambu jika dipakai untuk dinding luar dan tidak diberi pengawet akan cepat rusak. Perbaikan yang kedua yaitu pada tahun 2006 saat gempa melanda Y ogyakarta. Perbaikan yang kedua kalinya meliputi dinding dan usuk serta reng yang semuanya terbuat dari bambu. Tidak terdapat omamen-omamen khusus pada rumah mi dikarenakan pemiliknya menjaga keaslian dari Foto. 59. Rumah Rakyat Bentuk bentuk semula yang mempunyai arti sejarah yang Limasan - Sumber data Peneliti 2011 sangat berkesan ketika rumah terse but masih dihuni bersama orang tua Bapak Sumarto. Disamping rumah terdapat tambahan ruangan dengan inding seng untuk dijadikan dapur dan kamar mandi. Bentuk atapnya limasan, kuda- kuda pelana. Konstruksi utama terbuat dari kayujati dan kayu glugu. Bentuk arsitektur tradisional Jawa semacam ini, kebanyakan ditemukan di desa-desa dan pemiliknya adalah masyarakat yang tergolong ekonomi lemah, atau kadang disebut sebagai masyarakat miskin dan masyarakat kampong. bentuk-bentuk bangunan khas Jawa yang kental, tidak dijumpai pada wajah tata ruang kota, akan tetapi kebanyakan tersembunyi dibalik cengkeraman dan kemegahan gedung-gedung bergaya asing yang berdiri megah mendominasi wajah perkotaan di Jawa. Mungkin sebaiknya konsep penataan ruang Jawa harus menampilkan sebanyak -banyaknya citra Jawa dengan arsitektur Jawa. Walaupun kelihatannya terlambat, namun setidaknya di daerah-daerah perkampungan yang baru beranjak menuju perkembangan, sudah harus diterapkan konsep ini sebagai fondasi awal menuju daerah pemerdekaan karakter sendiri yang diharapkan menambah citra kejawaan. Disadari bahwa, semakin manusia berkeinginan untuk maju, disaat itulah ia mulai melakukan halhal yang menunjukkan kemajuannya. Masyarakat Jawa kini sedang dan sudah dalam proses semacam ini. Oleh karena itu, maka terjadilah perubahan dalam perkembangan berarsitektur mereka. Orang Jawa sudah melakukan sedikit demi sedikit perubahan, dan kelihatanjelas pada arsitektur yang begitu terlupakan. Dengan kecenderungan ingin mengikuti gaya hidup bangsa lain terutama gaya hidup kebarat-baratan, maka kehidupan sosial budaya masyarakat Jawa kini dalam proses Penetrasian. Secara Sadar dan tidak sadar, hal ini sedang berjalan dan sedang menyusup masuk kedalam jantung sosial budaya Jawa, dan kelihatannya sudah merasuki pemikiran masyarakat Jawa sebagai Manusia Jawa yang berkarakter Jawa sedang mengalami penurunan hakekat Kejawaannya. lni akan berakibat pada kehilangan bentuk dan gaya, baik bagi masyarakat Jawa maupun masyarakat tradisionallainnya di Nusantara bahkan suku bangsa di benua lainnya. Untuk perkembangan arsitektur Jawa, lihat perkembangan dan perubahannya pada analisis berikut.

2.

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download the free trial online at nitrcpdf.ecmzprofeesiona I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

Perkembangan

Bentuk-bentuk

arsitektur tradisional Jawa dan perubahan

sumber analisis
Foto 60: Bentuk Asli Rumah Joglo menggunakan bahan Kayu

. 2011
Foto 62: Bentuk Moderen Rumah Joglo. Mengalami Perubahan pada bahan bangunan dari kayu dan warna tradisional menjadi bentuk yang inofatif.

Foto 61: Bentuk Transisi Rumah Joglo. Mengalami perubahan pada bahan, warna dan tata ruang.

ARSITEKTUR ~ 7"
:_ .........,..

..-:;::--_.

TRADISIONAL JAW A

...

:

....

~. ':' ';.: .~.

... .. - .. - .. _

Foto 63: Bentuk Asli Rumah Limasan menggunakan bahan Bambu (gedeg)

Foto 64: Bentuk Transisi Rumah Limasan. Mengalami perubahan pada bahan, warna dan tata ruang.

Foto 65: Bentuk Moderen Rumah Limasan. Mengalami Perubahan pada bahan Bangunan dari kayu dan warna tradisional menjadi bentuk yang inofatif

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

ARSITEKTUR INDONESIA
(JF. Hamah Sagrim)

Asitektur Indonesia terdiri dari klasik-tradisional, vernakular dan bangunan bam kontemporer. Arsitektur klasik-tradisional adalah bangunan yang dibangun oleh zaman kuno. Arsitektur vemakular juga bentuk lain dari arsitektur tradisional, terutama bangunan rumah hunian, dengan beberapa penyesuaian membangun dari generasi ke generasi. Arsitektur Bam atau kontemporer lebih banyak menggunakan materi dan teknik konstruksi bam dan menerima pengaruh dari masa kolonial Belanda ke era pasca kemerdekaan. Pengenalan semen dan bahan-bahan modern lainnya dan pembangunan dengan pertumbuhan yang cepat telah menghasilkan hasil yang beragam. Arsitektur Klasik Indonesia Ciri khas arsitektur klasik Indonesia dapat dilihat paada bangunan candi dengan struktur menaranya. Candi Buddha dan Hindu dibangun dari batu, yang dibangun di atas tanah dengan cirri khas piramida dan dihiasi dengan relief. Secara simbolis, bangunan candi adalah sebagai representasi dari Gunung Meru yang legendaris, yang dalam mitologi Hindu-Buddha diidentifikasi sebagai kediaman para dewa. Candi Buddha Borobudur yang terkenal dari abad ke-9 dan Candi Prambanan bagi umat Hindu di Jawa Tengah juga dipenuhi dengan gagasan makro kosmos yang direpresentasikan dengan sebuah gunung. Di Asia Timur, walau dipengaruhi oleh budaya India, namun arsitektur Indonesia (nusantara) lebih mengedepankan elemen-elemen masyarakat lokal, dan lebih tepatnya dengan budaya petani. Budaya Hindu paling tidak 10 abad telah mempengaruhi kebudayaan Indonesia sebelum pengaruh Islam datang. Peninggalan arsitektur klasik (Hindu-Buddha) di Indonesia sangat terbatas untuk beberapa puluhan candi kecuali Pulau Bali yang masih banyak karena faktor agama penduduk setempat. Arsitektur vernakular di Indonesia Arsitektur tradisional dan vernakular di Indonesia berasal dari dua sumber. Pertama adalah dari tradisi Hindu besar dibawa ke Indonesia dari India melalui Jawa. Yang kedua adalah arsitektur pribumi asli. Rumah-rumah vernakular yang kebanyakan ditemukan di daerah pedesaan dibangun dengan menggunakan bahanbahan alami seperti atap rumbino, daun sagu, ilalang, bambu, anyaman bambu, kayu kelapa, dan batu. Bangunan adalah penyesuain sepenuhnya selaras dengan lingkungan sekitar. Rumah-rumah di pedalaman Indonesia masih banyak yang menggunakan bambu, dan kayu, B. A.

Fot 66. Rumah Tradisional Nusantara -

Sumber Analisis Peneliti- 2011

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

namun seiring dengan proses modernisasi, bangunan-bangunan sedikit diganti dengan bangunan dinding batao C. Pengaruh Hindu dan Islam dalam Arsitektur Jawa Budaya Islam di Indonesia dimulai pada tahun 13 Masehi ketika di Sumatra bagian utara muncul kerajaan Islam Pasai pada 1292. Dua setengah abad kemudian bersama-sama juga dengan orang-orang Eropa, Islam datang ke Jawa. Islam tidak menyebar ke kawasan Indonesia oleh kekuatan politik seperti di India atau Turki namun lebih melalui penyebaran budaya. Budaya Islam pada arsitektur Indonesia dapat dijumpai di masjidmasjid, istana, dan bangunan makam.

bambu dan kayu mi sedikit demi

Kekuatan kerajaan Hindu Majapahit di Jawa menandai bergantinya periode sejarah di Fot 67. Bentuk Aliran Hindu dan Islam Jawa. Kebudayaan Majapahit tersebut meninggalkan kebesarannya dengan serangkaian candi-candi monumental sampai abad ke-14. Meskipun demikian, tidak berarti bahwa "Zaman Klasik" di Jawa ini kemudian diganti dengan zaman "beradab" dan juga bukanlah awal dari "Abad Kegelapan". Selanjutnya kerajaan-kerajaan Islam melanjutkan budaya lama Majapahit yang mereka adopsi secara jenius. "New Era" selanjutnya menghasilkan ikon penting seperti masjid-masjid di Demak, Kudus dan Banten pada abad ke-16 Juga dengan situs makam Imogiri dan istana-istana Yogyakarta dan Surakarta pada abad ke-18. Fakta sejarah menunjukkan bahwa Islam tidak memperkenalkan bentuk-bentuk fisik bam dan ajaranajarannyapun diajarkan lebih dalam cara-cara mistis oleh para sufi, atau dengan kata lain melalui sinkretisme, sayangnya hal inilah yang mempengaruhi 'gagal'nya Islam sebagai sebuah sistem bam yang benar-benar tidak menghapuskan warisan Hindu (lihat Prijotomo, 1988). Penyebaran Islam secara bertahap di kawasan Indonesia dari abad ke -12 dan seterusnya dengan memperkenalkan serangkaian penting pengaruh arsitektur. Namun, perubahan dari gaya lama ke bam yang lebih bersifat ideologis bam dengan teknologi. Kedatangan Islam tidak mengarah pada pengenalan bangunan yang sarna sekali bam, melainkan melihat dan menyesuaikan bentuk -bentuk arsitektur yang ada, yang diciptakan kembali atau ditafsirkan kembali sesuai persyaratan dalam Islam. Walaupun kebanyakan menggunakan konsep dasar kubah pada mesjid. Menara Kudus, di Jawa Tengah, adalah contoh dalam kasus ini. Bangunan ini sangat mirib dengan candi dari abad ke-14 di era kerajaan Majapahit, menara ini diadaptasi untuk kepentingan yang lebih bam dibangun masjid setelah runtuhnya kerajaan Majapahit. Demikian pula, masjid-masjid di awal perkembangan Islam di Indonesia murni terinspirasi dari tradisi bangunan lokal yang ada di Jawa, dan temp at lain di Nusantara, dengan empat kolom utama yang mendukung atap tengahnya. Dalam kedua budaya ini empat kolom utama atau Saka Guru mempunyai makna simbolis.

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download the free trial online at nitrcpdf.ecmzprofeesiona I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

EVOLUSI ARSITEKTUR
(JF. Hamah Sagrim)

Dalam analisis ini kami menggunakan metode evolusi sehingga dilakukan analisis dalam evolusi arsitektur Tradisional ke Moderen. Evolusi arsitektur lahir dari sebuah kesadaran berwacana sebagai bagian dari proses berarsitektur. Tujuan mengemukakan evolusi arsitektur ini untuk sebagai suatu konsep dalam menganalisis, pengamati, peneliti, mencari, menemukan dan mendata, perkembangan arsitektur. Selain itu, Evolusi arsitektur ini tidak lain merangkum tulisan-tulisan yang mengetengahkan beragam isu arsitektur dari berbagai sudut pandang perkembangannya. Semuanya bertujuan untuk memperkaya wacana dalam berarsitektur, baik terkait dengan mengalami arsitektur, membuat arsitektur dan mempertanyakan arsitektur. Eksplorasi teori dan metoda desain menjadi inti wac ana dalam usulan analisis kami ini, yang mendukung praktek desain arsitektur berbasis riset dan teori melalui eksplorasi tanpa batas untuk mengetahui perkembangan dari awal hingga bentuk yang lain. Evolusi arsitektur berupaya menjembatani perkembangan dan perubahan arsitektur dengan berlandaskan teori dan praktek dalam berarsitektur, serta mengungkap secara jelas proses perubahan arsitektur dari batas antara arsitektur dan bukan arsitektur. Selamat berwacana! Evolusi Arsitektur Jawa - dari vernakular ke Tradisional Setiap lokasi di muka bumi pasti memiliki spesifikasi tertentu, penyelesaian masalah desain arsitektur juga spesifik untuk setiap lokasi. Contoh di pulau madura adalah salah satu penyelesaian masalah desain arsitektur di daerah pesisir. Tentunya penyelesaian ini akan berbeda jika terjadi di daerah hutan datar, daerah pegunungan kering, daerah pegunungan subur, daerah di kaki gunung, daerah di lereng gunung, dan sebagainya. Sketsa berikut memperlihatkan evolusi serupa yang terjadi untuk arsitektur Gambar: 3. Evolusi Arsitektur Jawa. Jawa. Sumber Putu Mahendra. Dikomposisikan oleh Tentunya evolusi arsitektur yang terjadi Peneliti 2010 di pulau Sumatra akan memiliki perbedaan. Begitu pula dengan kota medan, wilayah minang, wilayah sunda, pulau Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara, Papua, dan lain-lain. Semuanya memiliki ciri tersendiri yang perlu digali oleh putra-putra terbaik dari daerahnya. Arsitek-arsitek nusantara yang adiluhung membawa jiwa leluhur kita. Sudah barang tentu pada saat ini ilmu teknik bangunan dan arsitektur demikian majunya. Berbagai filosofi, langgam, bahan, struktur dan konstruksi baru sudah demikian memusingkan arsitek A.

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download the free trial online at nitrcpdf.ecmzprofeesiona I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

nusantara masa kim. Tatanan dan aturan tradisional dengan berbagai keunikan cara dan penamaan elemen konstruksi merupakan tambahan permasalahan bam bagi arsitek masa kini yang ingin bereksplorasi dengan ke-nusantara-an. Justru kerumitan inilah yang membuat arsitektur nusantara semakin dijauhi karena memang sulit didekati. Perlu formula bam yang dapat membuang segala kesulitan ilmu arsitektur "import" yang memusingkan. Perlu pemahaman bam agar order nusantara tetap dapat diterapkan dengan lebih sederhana dalam berarsitektur. Perlu semangat bam agar arsitektur nusantara dapat menjadi produk "eksport" yang membanggakan. Akhimya memang perlu niat bersih dari arsitek nusantara untuk dapat bekerjasama dengan meminggirkan setiap keaslian. 1) Arsitektural dalam Perkembangan Evolusinya Evolusi arsitektur adalah proses perubahan pada seluruh bentuk aliran arsitektur dari bentuk semula menjadi bentuk yang bam, dan evolusi arsitektur mempelajari bagaimana evolusi ini terjadi pada perkembangan arsitektur. Dalam setiap bentuk perkembangan arsitektur, mewarisi aliran khas arsitektural yang dirrriliki oleh suku bangsa tertentu melalui proses membangun dan mendesain bentuk. Perubahan bentuk ini dapat kita katakana sebagai suatu proses mutasi atau proses perpindahan bentuk arsitektural. Proses mutasi atau perpindahan bentuk arsitektural ini dimaksud bahwa bentuk arsitektural itu tetap dipertahankan atau mengalarrri perubahan total. Pada bentukkan ini, jika tidak dipertahankan maka akan muncul bentuk -bentuk aliran arsitektur bam pada pengembangan suatu bentuk gaya arsitektural. Pada populasi suatu arsitektur tradisional, beberapa nilai dan filosofis serta alirannya akan menjadi lebih dikenal secara umum, bila tetap dipertahankan, akan tetapi yang lainnya akan hilang jika tidak dipertahankan. Unsurunsur arsitektur yang menjadi akibat daripada keberlangsungan perubahan bentuk arsitektur akan lebih berkemungkinan berakumulasi pada bentuk suatu aliran arsitektural yang tidak fasih dikembangkan (hilang). Proses ini disebut sebagai seleksi arsitektural, yang mana didorong oleh bentuk dan keindahan "estetika". Proses assimilasi bentuk arsitektural itu terjadi akibat keinginan manusia yang bersemangat untuk memiliki suatu bentuk bangunan rumah yang berbeda, indah dan estetis, mengikuti aliran bentuk lain yang baginya sesuai namun sebenamya tidak berrrilai bagi budayanya. Keinginan semacam inilah akhimya menghasilkan banyak jumlah populasi bentukkan gaya arsitektur asing semakin berkembang di suatu kawasan tanpa memperdulikan keterwarisan khasanah khas setempat. ini merupakan fakta tambahan mengenai perkembangan arsitektur yang mendukung dasar-dasar ilmiah seleksi arsitektural itu. Gaya dorong seleksi arsitetktur dapat terlihat dengan jelas pada populasi yang terisolasi, seperti Arsitektur Joglo di Jogja dan Solo, Arsitektur Halit-Mblo Chalit di Maybrat, Imian, Sawiat, Papua, Arsitektur Honai di Wamena Papua, Arsitektur Tongkonan, Arsitektur Meru, dan arsitektur nusantara lainnya di Indonesia yang kini terdesak oleh proses ilmiah seleksi arsitektur. Selain itu, terjadinya proses ilmiah seleksi arsitektural ini juga dipengaruhi oleh alam atau juga disebut sebagai seleksi alam. Bentuk perkembangan arsitektur yang dibentuk oleh seleksi alam dapat dilihat pada skematika perkembangan bentuk rumah mulai-mula. Para ahli antropologi bersepakat bahwa, perkembangan hidup manusia mula-mula mempunyai tempat hunian pertama pada Bandar pohon, selanjutnya menggunakan lubang batu atau Goa, kemudian mulai membentuk sebuah shelter, kemudian membentuk suatu rumah tanpa dinding, dan kemudian melengkapinya dengan dinding, selanjutnya hingga bentuk moderen. Moderen di sini tidak membicarakan bentuk lokalitas, akan tetapi berkaitan dengan industrialisasi, yang mana memaksa manusia untuk berkecimpung dalam

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

paham materialistik. Kaitan materialistik dengan arsitektural ini adalah pengembangan dan pembangunan arsitektural dari bentuk sederhana yang berubah menjadi bentuk moderen yang dipengaruhi oleh material bangunan. Yaitu bentuk sederhana yang tadinya menggunakan bahanbahan sederhana yang mudah diperoleh dari lingkungan sekitar menjadi terputuskan dengan pola pengembangan bangunan rumah dengan menggunakan bahan industrial, seperti senk, semen, paku, dan yang lain sebagainya. Inilah yang kami sebut sebagai tahapan evolusi bahan arsitektur. Untuk memperkuat ide tentang evolusi arsitektur, maka kita akan uraikan secara tahap demi setahap perubahan arsitektural ditinjau dari evolusi bentuk bangunannya: Gambar 4. Siklus Evolusi Hunian dan Evolusi Arsitektur.
Sumber Analisis Peneliti-2011

ALAM SEBAGAI SEBAB MANUSIA MENCIPTAKAN TEMP AT TINGGAL (ARSITEKTUR) DAN MANUSIA SEBAGAI SEBAB TERJADINYA EVOLUSI ARSITEKTUR

,

c-

"

;i.....

,'-t

~

Gambar.5 Skematika pemikiran Evolusi Peruhahan pada bangunan arsitektur

Manusia

pasrah dan takluk hun ian bagi - Sumber Analisis 2011

Manusia

mencipta.

Manusia

erhadap alam dan Alam menyediakan manusia. sebagai hunian Bandar pohon dan goa Peneliti-

mulai sadar dan menaklukkan alamo Manusia bangunan hunian. mengenal bahan Peneliti dan menciptakan 2011

Sumber Analisis

Manusia mulai berionvasi. Manusia mulai dewasa dalam berpikir. Manusia mulai mengembangkan bentuk arsitektur dari tradisional menjadi moderen- Sumber Analisis Peneliti-2011

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

Tahapan Awal- Manusia dan Alam Secara rinci urntan pada gambar diatas menjelaskan bahwa manusia pada mulanya bersifat pasrah dan tunduk kepada alam. Lihat gambar ke satu, bentuknya hampa dan berwama hitam, artinya tahapan ini manusia belum mampu berpikir tentang siapa dirinya (blind) buta. Tahapan ini dapat kita simpulkan sebagai tahapan dimana akal dan logika manusia belum berfungsi. Tahapan ini juga manusia belum mampu mengelola alam disekitamya sebagai sesuatu yang bermanfaat Gambar. 6. Manusia dan baginya. Manusia memanfaatkan segala sesuatu yang disediakan alam - dikomposisikan oleh alam. Pada tahapan ini, merupakan tahapan dimana manusia hidupnya berpindah-pindah. Mereka akan beristirahat oleh peneliti, 2010 pada siang hari jikalau mereka merasa lelah, dan juga pada malam hari mereka akan beristirahat, karena gelap. Inilah tahapan dimana perkembangan tanpa akal dan logika, bahkan pe-rasa-an juga belum matang. Manusia yang hidup pada zaman ini, selalu bepergian tanpa arah tetapi tujuan utamanya adalah berburn dan mencari perburnan. Manusia pada zaman ini belum mengetahui apa itu dingin dan panas secara nalar, melainkan mereka harus bersentuhan lang sung dengan objek, karena akal dan logika mereka belum berfungsi. Tahapan ini merupakan tahapan un-undagi, atau tahapan kehidupan manusia bukan pencipta. Tahapan Kedua Manusia Menaklukkan Alam Tahapan kedua, merupakan tahapan dimana manusia mulai menyadari dirinya. Tahapan ini merupakan tahapan dimana manusia mulai menaklukkan alamo Pada zaman ini, manusia mulai menyadari betapa penting dirinya, sehingga ia harus meyelamatkan diri serta mengamankan dirinya seperti binatan buas, matahari, hujan dan angin. Manusia mulai menciptakan sesuatu yang bisa melindungi dirinya, yaitu shelter dan seterusnya hingga menjadi suatu bangunan rumah. Selain rumah sebagai temp at tinggal, ia juga menciptakan alat-alat yang dipakai untuk pertahanan hidup serta alat-alat berburn, seperti; kapak batu, pisau dan tombak. Pada tahapan ini, dapat kita sebut sebagai tahapan dimana akal mulai berkembang tanpa logika. Manusia pada zaman ini tergolong manusia undagi, atau manusia pencipta. Zaman ini merupakan zaman dimana manusia mulai hidup menetap dengan mencari makanan dan menyimpan makanan (food and gatering). Tahapan ini, merupakan tahapan dimana manusia mulai meramu dan memanfaatkan alam di sekitarnya untuk kebutuhan sehari-hari. Zaman inilah zaman dimana arsitektur mulai dikenal. Bahan-bahannya merupakan bahan alami, seperti ranting pohon, dedaunan, dan tali, yang mana merupakan hasil kreasi daripada akal. Manusia berusaha melepaskan dirinya dari taklukkan alam, yaitu dari pemikiran untuk menjadikan sesuatu yang tiada menjadi ada (ex nihilo) dan ini sangat tradisional, atau sederhana. Dalam proses inilah kekentalan pola hidup manusia yang sebenarnya terlihat. Warna hitam pada gambar kedua menggambarkan manusia mula-mula atau primitif, sedangkan warna kuning dan bentnk simbol panah melengkung menggambarkan kesadaran akalnya yang belum sempurna, artinya masih kaku atau pemikirannya masih membelok dan belum terarah. Warna kuning dan simbol panah artinya manusia zaman itu sudah menyadari diri dan mulai mencipta, namun pemikirannya belum terarah sebagaimana sibol pana yang membelok b)

a)

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download the free trial online at nitrcpdf.ecmzprofeesiona I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

dan tidak terarah, atau dapat kita katakan bahwa pemikirannya menggunakan akal tanpa logika. c)

belum matang karena ia hanya

Tahapan Ketiga Manusia Mulai Berinovasi Tahapan ini merupakan tahapan dimana manusia sudah matang dalam pola pikirnya. Artinya, pada tahapan ini manusia sudah menggunakan akal dan logika, sehingga ia mulai berinovasi. Sebagaimana pada gambar ketiga, inovasi disimbolkan dengan warna. Berbagai warna disini menggambarkan bahwa akal dan logika semakin berkembang dan memberikan ide tentang suatu nuansa baru yang dapat diterima. Tahapan inilah merupakan tahapan dimana kreasi manusia semakin pesat dan terjadilah revolusi. Yang mana revolusi itu sendiri datang dari kreasi akal dan logika manusia. Tahapan ini merupakan tahapan dimana mengakibatkan perubahan signifikan dan pengaruh yang mengglobal, ketika terjadinya revolusi industri yang mengakibatkan perkembangan industri dan melahirkan teknologi mutakhir sehingga mempengaruhi unsur-unsur kebudayaan setiap suku bangsa di dunia menjadi terubahkan. Tahapan inovasi ini dapat kita sebutkan sebagai tahap pencerahan teknologi industrialisasi, karena segala sesuatu yang tadinya diolah dan diramu dengan teknologi sederhana, kini dikerjakan oleh industri dan teknologi. Disinilah terjadi evolusi bahan bangunan, yaitu dari bahan bangunan arsitektural yang diramu melalui dedaunan, tali, dan ranting, kini tergantikan dengan bahan industri seperti senk, paku dan semen, serta besi. Inilah proses evolusi perubahan bahan bangunan. Dengan terjadinya evolusi bahan bangunan, maka dengan sendirinya mempengaruhi bentukkan arsitektural dan menyurutkan nilai-nilai daripada arsitektural dan manusia itu sendiri. Evolusi arsitektur juga terjadi karena alam, dan suatu bentuk arsitektur dipengaruhi oleh alam karena bentuk arsitekturalnya terisolir atau tidak dikembangkan. Hal ini diakibatkan oleh karena geografi maupun mekanisme lain yang mengakibatkan perubahan arsitektural itu. Walaupun dalam waktu yang cukup lama, bentuk arsitektur yang terisolasi ini akan menjadi aliran baru. Maksud daripada terisolir disini diakibatkan karena perpindahan penduduk suatu etnis dengan budaya yang berbeda dan hidup dan berasimilasi dengan etnis yang lain dengan budayanya yang lain, dank arena ia sendiri dan dipengaruhi oleh budaya luar itu, sehingga pandangan dan wawasan kebudayaannya terisolir. Karena merasa bahwa ia berada pada geografis dan budaya yang berbeda, sehingga ia harus mengembangkan bentukkan arsitektur yang bukan khasnya. Proses semacam ini dapat kita pahami sebagai Arsitektural evolusioner. Evolusi Arsitektur Melalui Seleksi Alam Perkembangan mula-mula arsitektur dipengaruhi oleh alam. Pada mulanya, manusia mulai dengan segera setelah sadar tentang dirinya dan menciptakan sebuah temp at untuk melindungi dirinya karena dipengaruhi oleh alamo Hal ini dapat kita simpulkan bahwa, manusia zaman ini terinspirasi oleh alam. Segala sesuatu yang dilakukannya sebagai suatu bentuk daripada seleksi alam. Dasar pengamatan yang memperkuat seleksi alam ini adalah: 1. Manusia menggunakan Bandar pohon untuk berlindung dari hujan dan terik matahari. Artinya matahari dan hujan sebagai sesuatu yang fenomenal sehingga menusia mulai menggunakan akalnya untuk mengamankan diri. 2. Manusia menggunakan goa atau cernk-ceruk batu sebagai temp at melindungi diri dari matahari dan hujan serta angin. Matahari, hujan, dan angin sebgai fenomena alam. 2)

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

Manusia mulai meneiptakan shelter, atau rumah untuk melindungi diri dari matahari, hujan, angin, dan menjadikannya sebagai temp at yang tetap. Persoalannya bila dianalisis seeara aeak balik, Bandar pohon tidak memberikan kenyamanan yang baik, berikutnya goa boleh dikatakan sebagai temp at yang aman untuk melindungi diri, namun goa juga difungsikan oleh binatang untuk melindungi diri, karena manusia merasa terganggu akhimya ia mulai meneiptakan rumahlshelter untuk melindungi dirinya. Menurut kami, pada zaman inilah akal manusia itu mulai bertumbuh. Mungkin karena setiap kali terbentur oleh ketidak bersahabatnya alam, maka akal mulai bertumbuh. Sebagaimana dalam ilmu falae megatakan bahwa semakin kita berada pada konidisi kritis, akal dan logika kita akan bekerja untuk memberikan solusi yang baik untuk keselamatan kita. 3. Evolusi Arsitektur Melalui Seleksi Moderen Kita akan bersepakat Bahwa tiap-tiap aliran arsitektur dibentuk oleh pemikiran manusia dan nenek moyang yang suku bangsa yang tidak sarna, Gagasan evolusi arsitektur melalui seleksi moderen ini disusun melalui pengamatan-pengamatan berikut: Jika seluruh bentuk khas aliran arsitektur tradisional berhasil dikembangkan, maka aliran arsitektur tersebut akan meningkat seeara tidak terkendali. • • • • • Aliran arsitektur tersebut akan tetap dari tahun ke tahun. Sumber daya manusia dan kemampuan mengembangkannya terbatas. Tiada dua gaya arsitektural suatu aliran yang persis mirip satu sarna lainnya (proses penggabungan dua bentuk aliran arsitektural). Banyak variasi bentuk nuansa arsitektural dalam suatu bangunan diwariskan kepada keturunan selanjutnya sebagai konsep moderen. yang dieiptakan dan

3.

Terjadinya pergeseran bentuk arsitektur akibat inovasi dan kreasi yang dipengaruhi oleh teknologi seperti iklan TV, Koran, Majalah, dll. Kita akan simpulkan bahwa, oleh karena aliran arsitektur tertentu mampu dipertahankan dan dikembangkan, sehingga akan bertambah dan semakin bertambah lebih banyak daripada yang tidak dikembangkan. lni merupakan suatu faktor utama yang mengakibatkan terjadinya perubahan bentuk dan kematian suatu bentuk. Sebenamya sangat jelas terlihat bahwa terdapat persaingan untuk suatu bentuk arsitektur sebagai khasanah budaya yang ingin bertahan hidup, walaupun hanya beberapa bentuk aliran arsitektur tradisional di belahan dunia yang dapat bertahan hidup pada tiap generasi. Keeksistensian dan Keberlangsungan hidup suatu budaya (arsitektur) tidaklah didasarkan pada kebetulan belaka. Namun, keberlangsungan hidup bergantung pada sifat-sifat tiap individu manusia sebagai pemiliknya, dan sifat-sifat ini dapat membantu ataupun menghalangi keberlangsungan hidup dan perkembangan arsitektur tradisional. Arsitektur tradisional yang beradaptasi dengan baik memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk tetap eksist dan bisa dikembangkan menjadi lebih banyak. Namun dikhawatirkan bahwa kemampuan beradaptasi yang tidak setara dari suatu budaya dapat menyebabkan perubahan perlahan dalam suatu bentuk unsur budaya (arsitektur). Sifat-sifat yang membantu suatu unsur budaya terutama unsur arsitektur bertahan hidup dan berkembang akan beraknmulasi dari generasi yang satu ke generasi selanjutnya. Sebaliknya, sifat-sifat yang menghalangi keberlangsungan hidup suatu unsur budaya arsitektur dan berkembang, akan menghilang.

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

Pengamatan terhadap variasi pada arsitektur dan kebudayaan merupakan dasar-dasar teori seleksi moderen. Kita akan mencatat bahwa bentuk-bentuk arsitektur tradisional di seluruh dunia ini mempunyai variasi bentuk, baik strukturnya yang menarik, hingga pada filosofisnya. Akan tetapi akan terjadi suatu penyeleksian melalui teknologi, yang mana secara tidak sadar bahwa manusia berhadapan dengan suatu ide dan otak yang ditawarkan melalui teknologi berupa media elektronik dan media cetak, yang mana mempu merasuk dan mensubtitusikan pemikiran khasnya yang berkaitan dengan nuansa kebudayaannya, sehingga tergantikan oleh sesuatu yang kelihatannya baru namun tidak bermakna apa-apa pada dirinya. Kita akan melihat bahwa evolusi arsitektur bergantung sepenuhnya oleh manusia. Artinya, arsitektur tradisional itu menjadi berkembang, atau tidak bergantung pada manusianya. Arsitektur merupakan salah satu unsure kebudayaan, yang merangkunl symbol-simbol kebudayaan seperti seni, religi, filosofis, dll. Kita akan melihat bahwa, perjalanan social budaya suatu suku bangsa itu seperti sebuah pohon, yang mana manusia sebagai akarnya, dan semua unsure kebudayaan yang terjadi itu seperti batang pohon dan ranting-rantin ini menggambarkan suatu keutuhan bersama. sedangkan ujung cabang pohon mewakili kehidupan modern yang berevolusi dari tradisional itu sendiri. Dengan demikian, maka kita dapat bersepakat bahwa semua unsur kebudayaan pada suatu wilayah kehidupan tertentu adalah suatu sistem yang utuh dan membentuk serta memberikan nilai tersendiri bagi manusia yang ada dan ini berarti bahwa semua unsur kebudayaan haruslah berasal dari suatu kehidupan yang mengalami beberapa bentuk proses atau sebut saja proses "evolusi dengan modifikasi".

1) Sintesis Evolusi Arsitektur Moderen
Sintesis evolusi arsitektur moderen merupakan gabungan dari beberapa aliran arsitektur yang berkutat pada pemahaman arsitektural evolusioner. Dalam perkembangan moderen ini, terdapat usaha untuk menggabungkan aliran arsitektural, misalnya seperti arsitektur asia eropa, arsitektur fengshui dan colonial dll. menjadi satu kesatuan model aliran arsitektur moderen. Penerapan prinsip-prinsip estetika dan filosofis serta aliran arsitektur dari suatu unsur tertentu dengan unsur arsitektur yang lain ke dalam bentuk arsitektur yang baru ini, akan mengubah pemahaman dan nilai. Hal ini dipahami sebagai suatu proses-proses evolusi pada arsitektur. Jika hal ini dapat dilakukan, maka Dengan demikian, dapat kita katakan bahwa bentuk-bentuk arsitektur sebagai sekelompok aliran yang saling kawing ataupun yang berpotensi dapat dikawingkan atau dapat dimodifikasi, yang secara reproduktif terisolasi dari bentukkan lainnya. Sintesis evolusi arsitektur modern menekankan pentingnya bentuk arsitektur tradisional sebagai satuan evolusioner, peran pusat seleksi adalah manusia sebagai sang orator dalam mekanisme proses paling penting dalam evolusi ini. Kita akan bersepakat bahwa, perubahan dan kematian suatu aliran arsitektur yang dianggap sebagai identitas bangsa yang besar merupakan akumulasi perubahan kecil dalam periode waktu yang panjang.

2) Koevolusi Arsitektur
Koevolusi arsitektur adalah proses dari dua atau lebih bentuk aliran arsitektur yang mempengaruhi proses evolusi arsitektur yang satu sarna lainnya. Menurut hipotesis kami, bahwa Semua bentuk arsitektur dipengaruhi oleh manusia disekitarnya, sebagai pelaku budaya, yang mana terdapat bukti-bukti bahwa, unsur-unsur atau wujud arsitektur yang ditentukan oleh budaya pada tiap aliran arsitektur secara langsung disebabkan oleh interaksi lang sung antara individu tertentu yang berbudaya lain dengan dua atau lebih individu dengan budaya yang berbeda.

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download the free trial online at nitrcpdf.ecmzprofeesiona I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

Contoh kasus koevolusi arsitektur yang terdokumentasikan dengan baik adalah hubungan antara Peneybaran Hindu-Buddha, Islam, dan penjajahan kolonial di Indonesia terutama di Yogyakarta. Dimana para penjajah memanfaatkan kekuatannya untuk memperoleh tanah sehingga mampu mendirikan bangunan seperti candi, Masjid dan arsitektur colonial. Keberadaan bentukkan arsitektural Hidnu-Buddha, Islam dan colonial ini memberikan suatu nuansa asing pada tatanan budaya Kejawaan. Akhimya individual Jawa, kini berada pada dualism nuansa arsitektural. Artinya disisi awal, mereka berada pada nuansa monolit Kejawen, dengan nuansa arsitektural Joglo yang kelihatannya sederhana, hormat, dan sangat ramah ini menjadi seperti telah mendapat penantang bam, yaitu arsitektural Hindu-Buddha dengan gaya Piramid, colonial dengan gaya monumental serta dilengkapi dengan estetika dan lengkungan bentuk, Islam dengan Bentuk Kubah. Akibatnya, masyarakat Jawa mulai berasimilasi dan mulai berkeinginan yang tidak sejalan dengan nuansa kejawaannya, kini terjadi dualime pikiran dalam mendirikan rumah. Malahan saat sekarang ini mereka lebih bersemangat mendirikan rumah dengan gaya-gaya asing. Koevolusi arsitektur seperti ini tidak menandakan bahwa Penguasa Jawa, Hindu-Buddha, Islam dan Kolonial memilih untuk berperilaku secara altruistik, melainkan perilaku ini disebabkan oleh perubahan budaya yang kecil pada kebudayaan jawa, Hindu-Buddha, Islam dan Kolonial yang menguntungkan satu sarna lainnya. Keuntungan yang didapati ini memberikan kesempatan yang lebih besar agar peninggalan budaya ini diwariskan kepada generasi selanjutnya. Seiring dengan berjalannya waktu, mutasi arsitektural di Jawa yang berkelanjutan, mulai menciptakan hubungan seperti yang kita saksikan sekarang pada peninggalan budaya asing.

3) Seleksi Arsitektur Secara Buatan
Seleksi arsitektur secara buatan adalah koomodifikasi terkontrol yang diterapkan pada suatu bentuk aliran arsitektur. Manusia sebagai arsiteknya dan menentukan aliran arsitektur mana ataupun simbol filosofis mana yang akan diadopsi sebagai unsur dalam kreasi bentuk arsitektur buatannya, sehingga manusia atau sang arsitek mampu menentukan makna pada bangunan tersebut yang telah diramu menjadi bentuk yang estetis untuk diturunkan kepada generasi selanjutnya. Proses seleksi arsitektur secara buatan ini memiliki pengaruh yang besar terhadap evolusi arsitektur secara global. Contohnya, para arsitek moderen telah berhasil mempersatukan unsur arsitektur yang berbeda menjadi suatu nuansa aliran arsitektur bam yang terkontrol. Kita dapat menemukan bentuk-bentuk arsitektural semacam ini pada daerah-daerah jajahan, dan juga kebanyakan kaum arsitektur moderen mulai melakukan koomodifikasi arsitektur untuk mencari suatu bentuk yang bam. Walaupun pada suatu bangunan yang kita temukan temyata merupakan suatu bentuk aliran arsitektur yang digabungkan dari unsur arsitektur asia dan eropa, akan tetapi keduanya merupakan akibat evolusi arsitektur secara buatan dari beberapa unsur dan filosofis yang di modifikasikan oleh manusia.

4) Arsitektur Alopatrik
Arsitektur alopatrik terjadi karena adanya penghalang materi seperti kekuasaan, Materi {uang, tanah, alam dan sebagainya}. Penghalang ini memisahkan sebuah konsep dari konsep aslinya yang berarti memotong aliran-aliran arsitektur dari suatu unsur budaya. Setelah terisolasi, akhimya penguasa, atau orang yang berkuasa, mempunyai uang dan tanah akan membentuk suatu nuansa arsitektur bam, termasuk sebagai penjajah budaya yang mampu memberikan suatu nuansa yang membedakannya dari aliran arsitektur setempat. Contoh arsitektur kolonial, di

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download the free trial online at nitrcpdf.ecmzprofeesiona I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

Yogyakarta, berdiri megah dan monumental karena didukung oleh materi, uang, bahkan di zaman itu, merupakan zaman kekuasaan kolonial Hindia Belanda sebagai penjajah di Indonesia. Contoh lain secara lokal bahwa, di pulau J awa kebanyakan dibatasi sesuai strata, bahwa yang dapat dengan mampu mendirikan bentuk arsitektur nDalem adalah kasta menengah dll. Karena memiliki materi yang cukup dan kekuasaan. Dengan terjadinya hambatan semacam ini, maka terjadilah berbagaimacam bentuk aliran arsitektur yang berada di Pulau Jawa, bersama-sama dengan arsitektur tradisional jawa sebagaimana yang kita jumpai. Adanya keaneka ragaman arsitektur ini dipengaruhi oleh berbagai mac am hal, misalnya seperti; Kasta/kedudukan, Geografi/alam, materi dan kepemilikan tanah. 5) Arsitektur Simpatrik Arsitektur simpatrik adalah terbentuknya gaya arsitektur bam dalam suatu wilayah tanpa adanya penghalang (barrier). Perkembangan arsitektur ini dapat terjadi karena adanya isolasi pengembangan arsitektur moderen yang mencegah perkembangan aliran arsitektur tradisional (arsitektur Jawa) di wilayah kebudayaan Jawa, arsitektur Halit, di wilayah Maybrat, Imian, Sawi at, Papua, arsitektur Honai di Wamena Papua, arsitektur tongkonan, arsitektur meru dll. Arsitektur alopatrik adalah terbentuknya bentuk gaya arsitektur bam dalam satu wilayah karena adanya penghalang sehingga mencegah aliran khas arsitektural didalam wilayah sendiri. Arsitektur Parapatrik adalah terbentuknya gaya arsitektur bam dalam suatu wilayah karena adanya perkawinan antar dua budaya yang berdekatan.

Fenomena Arsitektur Indonesia di Era Globalisasi - kritik dan saran Ketika negara-negara menjadi satu dalam kesatuan yang kokoh, maka pada saat ini akan terjadi pertukaran kebudayaan yang sangat cepat dan luar biasa pengaruhnya kepada perkembangan Arsitektur. Misalnya pada saat pertama era globalisasi maka akan terjadi suatu fenomena yang tidak kita duga sebelumnya, dimana segala hal yang menyangkut kehidupan manusia akan begitu dominan didalam pemecahan bentuk dari suatu bentuk dan ruangan, Pada saat orang sudah mulai kehilangan identitas diri dalam berkarya, maka yang akan terjadi ialah semua orang akan mempunyai suatu selera yang hampir sarna yaitu suatu bentuk yang sederhana, tetapi mampu memenuhi segala kebutuhan hidup mereka dari mulai tidur, bekerja, bersantai bahkan bersosialisasi dengan lingkungannya. Ketika suatu negara merasa bahwa ciri kenegaraannya sudah tidak bisa dipertahankan lagi, maka yang akan terjadi adalah suatu bentuk arsitektur yang didominasi oleh pemenuhan kebutuhan utama dalam kehidupannya, dan yang pertama akan terlihat adalah bagaimana mereka mulai mengolah pemikiran yang sifatnya tidak individualis lagi tetapi lebih mengarah pada kebersamaan dengan lingkungannya karena disanalah mereka akan merasa bahwa temyata di dunia ini tidak hanya ada satu bentuk arsitektur yang selama ini dia yakini, tetapi begitu banyak ragam arsitektur yang pada akhimya akan menjadi suatu bentuk yaitu bentuk globa/isasi "Globalized style". Melihat fenomena diatas, lalu apa yang akan terjadi di Indonesia dimana kita hams mempunyai kebanggan pada bentuk arsitektur tradisional kita dan hams berusaha menjadikannya menjadi arsitektur dunia, karena kalau tidak, bagaimana cara kita memasuki globalisasi. Untuk mengetahui apa dan bagaimana arsitektur kita nanti, sebaiknya kita menelusuri dulu Arsitektur tradisional kita. Pertama, bahwa didalam kehidupan masyarakta Indonesi,a sudah terjadi beberapa perbedaan yang mencirikan bahwa di Indonesia terdapat banyak sekali beragam suku bangsa, dimana mereka

4.

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

mempunyai adatistiadat dan kebiasaan yang hampir sarna tetapi berbeda dalam pengungkapannya dan selalu menyatu didalam kebhinekaan itu. Kedua, apabila sebuah budaya lahir, itu berarti bangsa tersebut adalah suatu bangsa yang memiliki kebudayaan yang mencerminkan pola pikir ataupun kebiasaan hidup masyarakatnya. Ketiga, didalam perjalanan hidup, banyak bangsa Indonesia mengalami degradasi kebudayaan, karena begitu kuatnya pengaruh kehidupan barat, sehingga banyak sekali penduduk Indonesia yang merasa bahwa kehidupan jaman dulu atau yang kita sebut tradisional sudah banyak yang tidak sesuai lagi dengan tuntutan j aman (kuno), sehingga mereka lebih menyukai segala sesuatu yang berbau luar negeri. Keempat, didalam perenungan, seorang empu gandring Indonesia akan menjadi suatu negara yang sangat kuat dan hebat karena pada saat itu kerajaan Majapahit begitu kuat sehingga didalam perenungannya, negara itu akan menjadi negara besar sehingga banyak hal yang hams dipertahankan demi menjaga keutuhan kehidupan tradisional kita, dan hal ini membuat perkembangan arsitektur kita menjadi sangat terhambat bahkan cenderung berhenti tidak dapat berkembang lagi. Kelima, apabila kita menelusuri arah kemana kita akan pergi nanti, maka kita akan melihat suatu arah yang tidak pasti dan tidak jelas, karena kita dihadapkan pada berbagai macam pilihan perjalanan yang membuat kita tidak dapat memutuskan arah yang sesuai dengan keinginan kita sebagai orang Indoneisa, dan ketika suatu perubahan yang sangat drastis terjadi maka kita semua akan merasa kaget dan sedih, karena ternyata kita melangkah kearah mas a depan yang tidak mencerminkan tradisi kita lagi. akibatnya kehilangan identitas budaya termasuk didalamnya Arsitektur tradisional ikut hilang. Inilah fenomena yang akan kita hadapi nanti, lalu apa yang hams kita lakukan, apakah mulai sekarang kita menghapus saja ciri kearsitekturan kita, atau kita membiarkan sesuatu terjadi secara alami tanpa hams ada yang diperjuangkan ataupun dipertahankan? Memang bagaikan, buah simalakama yang hams kita telan begitu saja, namun apa yang terjadi nanti karena kita tidak mempunyai kekuatan untuk dapat mempertahankan tradisi kita pada era globalisasi nanti. Lalu bagaimana nasib kita sebagai bangsa Indonesia ini? Apakah akan menyerah pada keadaan atau berjuang mempertahankan sesuatu yang sudah mendekati dan pasti akan hilang. Disinilah letaknya renungan kita sekarang. Bagaimana kita hams bersikap dan bagaimana kita hams berbuat, karena hati nurani kita tidak dapat dibohongi bahwa kita hams tetap mempertahankan ciri budaya kita dalam dunia arsitektur. Kita tidak ingin penjajahan bentuk bam menjajah kita lagi . Kita tidak ingin arsitektur kita dijajah oleh arsitektur bangsa lain. Kita tidak ingin negara kita menjadi negara gado-gado karena tidak lagi terlihat budaya asli kita mendominasi kehidupan bangsa Indonesia. Jadi apa yang hams kita perbuat, karena sepertinya tidak ada pilihan yang dapat kita jadikan patokan kita melangkah? Analisanya begini, Apabila kita membuat suatu keputusan bulat untuk tetap mempertahankan Ciri arsitektur budaya kita, maka kita akan dihadapkan pada beberapa kendala besar yaitu : a. Arsitektur tradisional. Kita tidak dapat mengadopsi dengan baik segala hal yang berbau teknologi modern, karena arsitektur tradisional kita berangkat dari suatu pandangan kehidupan religius yang sarna sekali tidak memperhatikan adanya teknologi moderen. Apabila kita memaksakan kehendak terhadap bentuk arsitektur tradisional dengan memaksakan segala unsur yang berbau moderen kedalamnya, maka yang akan terlihat adalah bentnk yang sangat memprihatinkan karena sudah tidakjelas lagi dominasi budayanya.

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

Dalam pembentukan pola hidup. Bangsa Indonesia sangat dipengaruhi oleh pemikiran kuno, yaitu bahwa kehidupan kita sudah ada yang mengatur dan kita tidak usah terlalu meyakini bahwa kita sendiri dapat mengatur kehidupan kita, jadi janganlah membuat suatu hal yang akan merusak citra kehidupan tadi dan jangan pula mencoba merubah sesuatu yang sudah diciptakan menjadi kehidupan kita, karena hal itu akan membuat kita tidak bahagia dan hal ini juga merupakan suatu penolakan pada takdir kehidupan kita. Pola ini sangat tradisional dan Merupakan sesuatu yang tidak pernah sejalan dan akur dengan sosial budaya moderen. c. Jika didalam pemikiran bangsa Indonesia sekarang tidak lagi dipengaruhi oleh hal-hal yang berbau kepasrahan kepada yang mengatur "yang Diatas", maka kita akan dihadapkan pada hal-hal yang sifatnya lebih kepada sesuatu yang tidak jelas acuannya, karena begitu banyaknya hal yang tidak dapat kita cerna begitu saja, seperti halnya perkembangan teknologi yang kadang-kadang tidak dapat kita pakai apabila kita benturkan pada masalah pola hidup kita, dan hal ini akan membuat pola pikir kita menjadi tidak begitu terarah dengan jelas lagi. Kemana kita akan mengarah dan kemana kita akan pergi dan kemana kita akan menetapkan diri. Begitu banyak hal-hal diluar jangkauan pikiran kita yang sudah terjadi maupun yang akan terjadi dan juga begitu banyak masalah yang muncul pada beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan arsitektur Indonesia. Seperti kata pepatah kuno yang mengatakan bahwa hidup tidak akan pernah berhenti apabila kita sendiri tidak menghentikannya atau memang kita sudah saatnya berhenti karena sudah takdir. Apakah pepatah ini akan kita kaitkan dengan kehidupan Arsitektur Tradsional kita ataukah kita akan terus berjuang sampai titik darah penghabisan untuk mempertahankan keberadaannya? Tentu saja jawabannya tidak mudah, dan memang tidak akan pernah mudah, karena keputusan apapun yang diambil kita harus melihat berbagai kasus dan problem yang muncul yang berpengaruh didalam kehidupan bangsa Indonesia ini dan yang paling penting adalah bagaimana kita menyikapi pengaruh yang datang yang diakibatkan oleh perkembangan bilateral dan perkembangan politik yang sangat berpengaruh pada pola kehidupan dan pola pikir masyarakat Indonesia, dan ini sangat berakibat pada perkembangan arsitektumya. Jadi apa yang harus kita lakukan selanjutnya dan kira-kira kemana akan kita arahkan arsitektur Tradisional Nusantara dimas a depan nanti. Yang bisa kita lakukan mungkin Pertama, kita harus melakukan suatu penelitian yang mencangkup gambaran awal terjadinya arsitektur tradisional di masing-masing daerah Nusantara yang tentu saja sangat penting sebagai acuan awal darimana kita akan mulai berpijak Kedua, kajian berikut adalah bagaimana arsitektur pada jaman itu dijadikan sebagai arsitektur tradisional kenapa bukan arsitektur Indonesia saja atau arsitektur jaman Belanda atau jaman Majapahit. Ketiga, apabila kita telah mendapatkan bagaimana kita memulai dan bagaimana kita mengetahui arsitektur kita padajaman dulu maka kita dapat melihat bagaimana hal itu bisa menjadi suatu patokan untuk kita, apakah benar bahwa arsitektur yang kita kenai sebagai arsitektur tradisional itu adalah benar sesuai dengan tuntutan jaman waktu itu, atau apakah arsitektur tradisional hanya menggambarkan suatu pola kehidupan masyarakat pada jamannya. Keempat, kalau melihat lebih jauh kebelakang lagi, maka kita akan melihat suatu fenomena yang agak menyimpang dari apa yang kita lihat sekarang, dimana sekarang ini arsitektur tradisional se-olah-olah merupakan barang mati yang tidak bisa kita tawar lagi dan tidak bisa kita kembangkan lagi. Fenomena tersebut

b.

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

barangkali sebagai sesuatu yang membuat kita dapat melihat dari suatu perubahan yang sangat drastis, dari pola kerajaan yang serba gemerlap dan serba menjadi suatu pola kehidupan rakyat yang serba sederhana, dan sepertinya dikuasai oleh suatu peradaban yang sangat bertumpu pada kehidupan keagamaan. Kelima, jika kita mencoba menelusuri lebih jauh maka kita akan menemukan bahwa peradaban bangsa Indonesia sudah sangat maju pada zaman kerajaan Majapahit dulu, dan dilanjutkan dengan zaman kerajaan Sriwijaya sehingga kalau kita sekarang ini begitu terpukau oleh datangnya arsitektur luar yang kelihatannya sangat modem atau sangat teknologis, maka hal ini sebenamya akan membuat hati kita teriris pilu karena jaman dulu kita begitu hebat keluar, namun sekarang kita begitu terjepit oleh pengaruh luar. Keenam, jika dalam pandangan sempit kita seolah-olah tidak berdaya menghadapi pengaruh kemajuan jaman yang dicirikan oleh kemajuan teknologi, maka dalam pandangan yang lebih luas kita seharusnya bangga dengan pengaruh kita terhadap perkembangan peradaban pada j aman dulu. Dari keenam faktor diatas, yang masih selalu menjadi perhatian adalah bahwa kita harus tetap mempertahankan arsitektur tradisional kita walaupun sebenamya sudah sangat tidak mungkin lagi untuk bisa bertahan dalam era globalisasi nanti. Pertanyaannya adalah; kita akan apakan arsitektur tradisional kita ini, akan kita ganti dengan sesuatu yang baru atau akan kita bina dan kembangkan sehingga mampu bersaing dengan arsitektur luar dan mampu kita j ual keluar Indonesia sehingga arsitektur Indonesia mempunyai nama dan pengaruh didalam perkembangan arsitektur dunia. Arsitektur Indonesia, apakah ada di Negara kita ini? Kalau ada bagaimana bentuk dan filosofinya dan kalau tidak ada kenapa sampai tidak ada padahal kita sangat bangga dengan berbagai mac am bentuk bangunan yang menggambarkan ciri dari tiap daerah yang katanya sangat dikagumi oleh turis mancanegara. Dilihat dari letak dan posisi negara Indonesia, maka kita sangat strategis bagi aliran sirknlasi perdagangan maupun dari segi keamanan dunia karena negara kita terletak pada bagian yang mempunyai akses paling mudah untuk belahan dunia utara dan selatan yang artinya bagi perkembangan budaya Indonesia sangat rawan terhadap pengaruh yang dibawa oleh mereka yang akan memakai jalur ini yaitu bangsa-bangsa yang akan membina suatu hubungan bilateral dengan negara dibelahan bumi yang lain. Mereka yang akan melalui jalur ini tanpa disengaja maupun disengaja akan membawa dampak yang cukup kuat terhadap budaya Indonesia yang memang sudah rawan terhadap budaya luar. Tetapi kalau kita simak lebih jauh, temyata apa yang kita khawatirkan bahwa akan terjadi pengaruh yang akan berakibat merosotnya nila budaya kita, tidak pemah akan terjadi karena begitu kuatnya adat setempat sehingga budaya luar agak sulit berkembang dan hal ini adalah merupakan suatu potensi yang luar biasa bagi ketahanan negara kita terhadap pengaruh budaya asing. Masuknya budaya asing yang temyata sulit dibendung, justru karena akibat perkembangan teknologi yang sangat cepat sehingga informasi ataupun gambaran pola kehidupan yang sepertinya sangat menyenangkan tertangkap oleh masyarakat luas dari mulai kota besar sampai ke pedesaan terpencil dan ini tidak bisa dicegah lagi karena kita tidak bisa menghindar dari perkmbangan ini. Akibatnya kita sudah bisa terka bahwa sebagian masyarakat kita tidak bisa lagi bertahan dengan budaya nenek moyangnya yang dinilai sudah ketinggalan jaman atau sudah kuno, dan inilah cikal bakal dari luntumya budaya bangasa kita. Arsitektur adalah bagian dari ekspresi budaya masyarakat karena sangat berkaitan dengan pola pikir dan pola hidup penggunanya sehingga didalam perkembangannya sangat terlihat perubahan

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

dalam bentuk, tata letak ruang dan perabotan serta peralatan lain yang dibutuhkan. Jadi, apabila kita akan mempertahankan arsitektur tradisional kita yang diharapkan menjadi ciri khas budaya kita, budaya yang akan kita pertahankan, karena sangat jelas terlihat akibat dari perkembangan teknologi yang merambah begitu cepat pada setiap aspek kehidupan masyarakat Indonesia. Lalu bagaimana kita dapat mempertahankan Arsitektur Indonesia, kalau kenyataanya Arsitektur Indonesia itu tidak ada karena yang sekarang selalu didengungkan adalah arsitektur tropis dan kalau bicara arsitektur tropis temyata bukan kita saja yang memakai thema seperti itu, karena selain negara Indonesia masih banyak negara yang terletak didaerah tropis. Apakah Arsitektur Indonesia itu identik dengan Arsitektur Tradisional Papua, Maybrat, Imian, Sawiat, Sunda, Jawa, Bali, Sumba dan daerah-daerah lain, atau memang arsitektur Indonesia ini terdiri dari arsitektur arsitektur yang mempunyai ciri kedaerahan. Selama ini Arsitektur Indonesia hanya dikaji dan ditulis dengan bahsa ilmiah yang kedengarannya sangat filosofis dan sangat tidak dimengerti oleh orang awam karena belum pemah ada yang mencoba membuat bentuk yang jelas mengenai arsitektur Indonesia. Seorang arsitek luar pemah mencoba membuat disain banguna perkantoran yang katanya merupakan jelmaan dari filosofi arsitektur Indonesia dan yang terlihat adalah permainan bentuk atap tropis yang dipasang disetiap lantai, dan setelah kita lihat-lihat akihimya kita bertanya apakah benar ini arsitektur Indonesia. Dengan melalu keputusan para pejabat setempat, tiap daerah yang merasa mempunyai arsitektur trsadisional berusaha untuk mempertahankan bentuk arsitekur tradisional dengan membuat bentuk atap yang katanya itu merupakan ciri budaya setempat. Alhasul terlihatlah arsitektur daerah dengan bentuk atap yang aneka mac am sesuai dengan permintaan para pejabat yang sepertinya tidak mengerti apa arti dari arsitektur itu sendiri. Ketidak mengertian ini sangat membingungkan para pembuat disain, karena dengan posisi jabatannya membuat para perencana hams mengikuti apa yang diinginkan mereka, karena tidak ingin dianggap tidak berbudaya kedaerahan. Jadilah arsitektur tradisional adalah arsitektur atap, yang penting atapnya menggambarkan ciri kedaerahan yang kuat tidak peduli apapun fungsi yang dinaunginya. Tahun 2003 adalah langkah awal pada era globalisasi dimana kita sudah tidak mungkin lagi menghindar masuknya para ekspert asing ke Indonesia termasuk para arsiteknya, dan sudah bisa dipastikan arsitek kita hams bersaing keras dengan mereka untuk mendapatkan pekerjaan dan tendensi orang yang beruang memkai tenaga mereka sangat kuat karen Amereka masih sangat dipengaruhi oleh image bahwa segala sesuatu yang berbau asing pasti akan lebih baik. Selain hal itu, berbagai proyek besar yang melibatkan investor asing pun akan bermunculan, dimana mereka sudah barang tentu akan membawa tenaga expert mereka karena selain pesan dari negaranya sendiri juga masalah kepercayaan akan keahliannya. Maka sudah dapat kita bayangkan bahwa Indonesia akan kedatangan para arsitek yang mungkin keahlian dan kemampuannya masih jauh dibawah para arsitek dalam negeri. Tetapi mengapa merak begitu menakutkan dan mengancam kehidupan para arsitek dalam negeri? Pertama, andaikata masalahnya hanya karena investor asing yang membawa seluruh krunya dari negaranya, kita tidak bisa apa-apa kecuali pasrahn saja hanya mungkin ada sedikit pengharapan kepada petinggi negara yang akan membuat peraturan mengenai ketenaga kerjaan sehingga setiap proyek dengan investasi asing hams menyertakan tenaga ahli dari dalam negeri. Kedua apabila masalahnya terletak pada kwalitas arsitek luar, kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk inovasi tenaga arsitektur.

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

Membangun Ketahanan Budaya Lokal Melalui Arsitektur Tradisional - Local Wisdom Campaign Maju mundur atau pasang surut kebudayaan (culture) sepanjang sejarah kemanusiaan, secara mendasar ditentukan oleh bagaimana kebudayaan itu dijadikan sebagai kerangka acuan yang dijabarkan melalui suatu tatanan normatif. Sejarah membuktikan bagaimana Kebudayaan Mesir Kuno (Fharounic), Kebudayaan Lembah Sungai Kuning di Cina, Kebudayaan Indian Amerika (Astec dan Maya) runtuh karena kebudayaan itu ditinggalkan oleh manusia pendukung peradabannya. Kemudian kebudayaan akan kehilangan dayanya sebagai acuan untuk menjabarkan pola tindak dan pola laku bila didesak oleh adanya suatu sistem nilai baru, misalnya Revolusi kebudayaan di China, Modernisasi di Turki, Islamisasi di Arab dan Revolusi Bolsjewik di Rusia. Jadi dalam sejarah kemanusiaan banyak contoh menunjukkan bahwa pasang surut dan timbul tenggelamnya kebudayaan ditentukan oleh perubahan zaman dan kebudayaan lama didesak oleh suatu sistem nilai baru. Kebudayaan akan mengalami masa tumbuh dan berkembang, mas a kejayaan atau mas a keemasan dan masa kemunduran atau keruntuhannya bergantung sejauhmana pemilik mampu mempertahankannya sepanjang perubahan zaman. Di dalam Kebudayaan, sebenamya terkandung dua daya atau potensi yang menyebabkan kebudayaan itu tetap eksis dalam kehidupan, pertama yaitu daya untuk melestarikan kebudayaan (preservatif) dan kedua yaitu daya menarik kebudayaan itu untuk maju (progresif). Di dalam dua daya inilah masyarakat pendukung kebudayaan berada dan menentukan kearah mana kebudayaannya. Untuk dapat menentukan ke arah mana kebudayaannya, maka masyarakat pendukung kebudayaan harus memiliki Kesadaran Budaya dan Ketahanan Budaya (Cultural Resilience). Kesadaran Budaya adalah suatu bentuk perasaan yang tinggi soal rasa hati (gemoed), soal daya cipta dan tanggapan (verbeeldingskracht) dari budi dan daya (budhayah). Sedangkan ketahanan budaya adalah kondisi dinamis suatu bangsa untuk menghadapi segala mac am bentuk ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan yang ditujukan terhadap kebudayaannya. Permasalahan yang dihadapi masyarakat sekarang adalah karena rapuhnya kesadaran budaya dan ketahanan budaya yang dimiliki, dan ini disebabkan oleh pertama adanya anggapan bahwa kebudayaan luar terutama kebudayaan barat (west) adalah superior dan kebudayaan sendiri terutama kebudayaan timur (east) adalan inferior, padahal sesungguhnya barat adalah barat dan timur adalah timur dan keduanya tidak bisa bersatu, malah Profesor Jan Romein dalam bukunya Aera Eropa mengatakan bahwa kebudayaan timur adalah kebudayaan yang menyimpang dari pola umum yang artinya apa yang di timur diposititkan justru di barat dinegatitkan. Sebagai contoh, bagaimana orang timur memandang fenomena alam secara subjektif dan orang barat justru memandang fenomena alam secara objektif. Anggapan bahwa kebudayaan luar adalah superior dan kebudayaan sendiri adalan inferior akan menyebabkan situasi masyarakat yang terasing dari kebudayaannya sendiri (cultural alienation). Faktor kedua penyebab rapuhnya Kesadaran Budaya dan Ketahanan Budaya adalah pengaruh globalisasi dan teknologi informasi yang menyebabkan terjadinya pemadatan dimensi ruang dan waktu, jarak semakin diperdekat dan waktu semakin dipersingkat, situasi seperti ini menyebabkan terjadinya banjir deras informasi (information glut) yang menghujani masyarakat dan nyaris tidak terkendali. Pada setiap terjadinya banjir pasti membawa limbah, yang dimaksud di sini adalah limbah budaya. Limbah budaya inilah yang sekarang merasuki hampir disetiap sendi kehidupan masyarakat. Sedangkan penyebab ketiga adalah terjadinya perubahan orientasi pada nilainilai budaya yang dilanjutkan dengan perubahan norma - norma dan tolak ukur perilaku warga

5.

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

masyarakat. Perubahan orientasi nilai menjelma dalam wujud pergeseran budaya (shift), biasanya cenderung dalam bentuk asimilasi dan akulturasi budaya, contohnya bagaimana saat pasangan pengantin mengenakan beragam mac am baju pengantin disaat pesta, mulai dari mengenakan baju pengantin adat, baju pengantin Eropa dan baju baju pengantin lainnya, contoh lain, yaitu terjadinya pergeseran budaya dalam aturan menghidangkan makanan dari sistem yang menggunakan dulang ke sistem menghidangkan ala Francis, malah sekarang dalam acara ruwahan di kampung - kampung sudah menggunakan sistem Francis. Kemudian perubahan orientasi nilai juga menyebabkan persengketaan (conflict) yang melahirkan sikap ambhivalensi masyarakat. Sebagai contoh timbulnya pro dan kontra masyarakat ketika Artika Sari Devi yang diberi gelar oleh Lembaga Adat Serumpun Sebalai dengan gelar Yang Puan Jelita Nusantara harus mengenakan pakaian renang dalam pemilihan Miss Dunia. Sikap pro dan kontra terjadi karena masyarakat menilai Artika Sari Devi adalah Puteri Indonesia serta berasal dari Bangka Belitung yang sangat kental dengan budaya melayunya mau berpakaian mempertontonkan aurat yang bertentangan dengan nilai - nilai budaya yang dianutnya. Terakhir perubahan orientasi nilai pada masyarakat akan menimbulkan perbenturan (clash) yang melahirkan sikap penentangan (rejection), sebagai contoh ketika akan dibangun pendopo di belakang kediaman Gubemur yang direspon oleh masyarakat dengan ketidaksetujuan karena pendopo adalah bangunan dengan arsitektur vemakuler Jawa. Untuk membangun Kesadaran Budaya dan Ketahanan Budaya di masyarakat maka perlu dilakukan upaya - upaya yaitu, pertama dengan meningkatkan daya preservatif meliputi upaya perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan kebudayaan serta meningkatkan daya progresifberupa upaya -upaya peningkatan peran pemerintah, swasta, serta pemberdayaan masyarakat adat dan komunitas budaya. Perlindungan adalah upaya menjaga keaslian kebudayaan dari pengaruh unsur unsur budaya luar atau asing dan penyimpangan dalam pemanfaatannya. Sedangkan pengembangan adalah upaya meningkatkan kualitas dan kuantitas kebudayaan yang hidup di tengah - tengah masyarakat tanpa menghilangkan nilai - nilai yang terkandung di dalamnya dan kegiatan pemanfaatan adalah pemberdayaan kebudayaan untuk pemenuhan kebutuhan batin masyarakat baik dalam event yang bersifat sakral maupun pro fan. Upaya kedua untuk membangun Kesadaran Budaya dan Ketahanan Budaya di masyarakat adalah dengan memberdayakan nilai - nilai budaya baik nilai budaya yang terkandung di dalam kebiasaan budaya (cultural habits) maupun yang terkandung di dalam aturan budaya (cultural law). Baik nilai budaya yang tampak (tangible) maupun nilai budaya yang tak tampak (intangible). Diketahui bahwa kebudayaan dan peradaban dapat diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui tradisi lisan seperti ungkapan tradisional, puisi rakyat (pantun, syair, tarian, dan gurindam), cerita rakyat (mitos, legenda, dongeng), nyanyian rakyat. Kemudian dapat diwarisi melalui tradisi setengah lisan seperti permainan rakyat, kepercayaan rakyat, upacara tradisional (daur hidup/life cycle, kepercayaan dan peristiwa alam), arsitektur tradisional! vemakuler dan rumah adat, pengobatan tradisional, makanan tradisional, pakaian adat, pasar tradisional, pengetahuan dan tekhnologi tradisional serta dapat juga diwarisi melalui tradisi bukan lisan seperti bangunan bangunan kuno dan naskah-naskah kuno. Pemberdayaan nilai budaya pada prinsipnya adalah upaya untnk membuat sesuatu peristiwa budaya menjadi lebih bermanfaat, bermakna, lebih berfungsi dan berguna. kegiatan budaya yang menghasilkan nilai budaya adalah kegiatan - kegiatan yang dapat menuntun manusia berperilaku lebih beradab, dan sesuai dengan kaedah atau norma - norma yang berlaku di masyarakat. Perilaku beradab tersebut dapat terealisasi dalam kehidupan masyarakat bila nilai - nilai budaya tersebut sudah terintemalisasi dengan benar

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

dalam sanubari masyarakat. Untuk mengupayakan terintemalisasinya nilai - nilai budaya diperlukan kerja keras dan upaya yang sungguh - sungguh dari seluruh komponen masyarakat termasuk penggiat budaya, apresian budaya dalam level apapun, oleh para pemangku adat, tokoh adat, dan pemuka adat. Sekarang ini untuk mempermudah pemberdayaan nilai - nilai budaya sehingga terintemalisasi dengan baik, hal utama yang harus dilakukan adalah mempersiapkan event atau peristiwa budaya yang berhubungan dengan peristiwa kemasyarakatan yang biasanya diikuti oleh banyak orang dan mendatangkan anggota masyarakat lainnya, baik peristiwa yang berhubungan dengan agama, peristiwa yang berhubungan dengan adat, maupun peristiwa yang berhubungan dengan siklus kehidupan. Upaya terakhir untuk membangun kesadaran budaya dan ketahanan budaya adalah dengan memperkuat dan mengukuhkan identitas dan jatidiri, karena di dalam jatidiri terkandung kearifan kearifan lokal (local wisdom) dan local genius. Setiap masyarakat betapapun sederhananya, memiliki Kebudayaan yang dikembangkannya sebagai respon terhadap lingkungan fisik, lingkungan sosial dan lingkungan buatan di sekitamya. Perbedaan antara lingkungan fisik, sosial dan buatan itulah yang menyebabkan perbedaan kebudayaan di masyarakat. Oleh sebab itu salah satu kebijakan dalam pengembangan kebudayaan adalah upaya untuk menguatkan identitas dan kekayaan budaya nasional yang bertujuan untuk memperkenalkan, menguatkan dan mendorong kreatifitas budaya masyarakat agar mampu berkembang dan beradaptasi dengan perubahan zaman. Kehidupan manusia selalu dikelilingi oleh peristiwa budaya, proses pembentukan peristiwa budaya di atas berlangsung berabad - abad dan betul - betul teruji sehingga membentuk suatu komponen yang betul - betul handal, terbukti dan diyakini dapat membawa kesejahteraan lahir dan batin, komponen inilah yang disebut dengan jatidiri. Di dalam jatidiri terkandung kearifan lokal (local wisdom) yang merupakan hasil dari local genius dari berbagai suku bangsa yang ada. Kearifan lokal inilah seharusnya kita rajut dalam satu kesatuan kebudayaan untuk mewujudkan suatu nation (bangsa) yaitu Bangsa Indonesia dan sebagai alat untuk mere dam berbagai konflik horizontal yang terjadi di masyarakat yang marak terjadi di berbagai daerah saat ini. Peran Arsitektur Dalam Fenomena Lingkungan Arsitektur merupakan salah satu seni produk kebudayaan. Sementara Kebudayaan Nusantara berakar pada Kebudayaan Tradisionalnya, begitupun Arsitektur Tradisional juga merupakan akar dari Arsitektur Nusantara. Kita kenai bahwa arsitektur tradisional sangat beranekaragam di Indonesia, seiring dengan keanekaragaman suku bangsanya. Sulit rasanya memilih arsitektur tradisional mana yang bisa mewakili, karena riskan sekali rasanya bila memilih salah satu arsitektur tradisional sebagai wadahnya. Tidak dapat dipungkiri bahwa suatu wujud arsitektur tradisional dari suku bangsa tertentu pasti akan menimbulkan kebanggaan tersendiri bagi masyarakat suku bangsa tersebut. namun demikian, apakah suatu suku bangsa tertentu akan merasa bangga dengan arsitektur tradisional dari daerah lain? Kita ambil hematnya saja bahwa, biarlah suatu suku bangsa memakai arsitektur tradisionalnya, begitupun yang lainnya, asalkan ditempatkan dengan sesuai. Jadi, sebenamya yang kita perlukan adalah jiwa berarsitektur dari masyarakat tradisional tersebut. Sehingga tidak perlu lagi kita menciplak total pada arsitektur tradisional tertentu. Yang perlu kita ejawantahkan adalah pesanpesannya ataupun konsep dasamya. Kemudian diinterpretasikan dengan kreatifitas baru pada latar belakang kehidupan sosio-budaya masyarakat yang terus 'berkembang' saat ini. Pada intinya arsitektur tradisional mempunyai konsep dasar kesemestaan yang universal, sehingga mampu mengiringi perjalanan hidup manusianya sepanjang zaman. 6.

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

Pada hakekatnya arsitektur adalah keterpaduan antara ruang sebagai wadah, dengan manusia sebagai isi yang menjiwai wadah itu sendiri. Dengan kata lain dalam arsitektur terdapat perwujudan ruang (meliputi fungsi, tata-susunan, dimensi, bahan, dan tampilan bentuk) yang sangat ditentukan oleh keselarasan kehidupan daya dan potensi dari manusia di seluruh aspek hidup dan kehidupannya (meliputi norma/tata-nilai, kegiatan, populasi, jatidiri, dan kebudayaannya). Manusia sebagai makhluk yang diciptakan dengan sebaik-baik bentuk sekaligus sebagai makhluk sosial, dalam setiap kegiatannya senantiasa berinteraksi dengan lingkungan sekitamya. Adalah sesungguhnya bahwa manusia itu dalam bersosialisasi membutuhkan dan memiliki jangkauan interaksi pada tiga jalur arah. Pertama, berinteraksi dengan Sang Pencipta (sosio-spirituallreligius), meliputi kegiatan ibadah-spiritual maupun aplikasi amaliah dari norma dan tata-nilai yang telah ditetapkan-Nya pada dua jalur berikutnya. Kedua, berinteraksi dengan sesama manusia (sosiokultural), baik antar pribadi dengan pribadi, pribadi dengan kelompok maupun kelompok dengan kelompok, berdasarkan norma dan tata-nilai sosio-spirituallreligius di atas. Ketiga dan terakhir, berinteraksi dengan alam semesta sebagai sesama makhluk ciptaan (sosio-naturalluniversal), yakni manusia sebagai pembina sekaligus pengguna setiap unsur daya dan potensi alam agar berdayamanfaat secara tepat-guna dan berkesinambungan sehingga tercipta hidup dan kehidupan yang makmur bersahaja. Ketiga jalur arah interaksi ini merupakan inti dasar kegiatan manusia untuk bermasyarakat, yang seluruhnya harus diwadahi secara terpadu, setimbang, dan dinamis dalam ruang arsitektur. Dapat disimpulkan dari semua paparan diatas bahwa manusia dalam berarsitektur merupakan wujud terbaik dari aturan yang ditetapkan-Nya dalam menjaga alam sebagai temp at hidupnya, dan menjaga hubungan dengan sesamanya sebagai ternan hidupnya. Inilah wujud kesemestaan. Dalam keadaannya saat ini, kelestarian alam sudah sangat terabaikan. Pemanasan global dan bencana banjir adalah wujud akibat yang ditimbulkan, dan arsitekturlah yang berperanan besar dalam mewujudkannya. Sehingga tema Arsitektur Ramah Lingkungan dengan konsep kesemestaan patutlah untuk diangkat. Kepunahan Bentuk Dan Aliran Arsitektur Kepunahan arsitektur merupakan kejadian hilangnya keseluruhan bentuk aliran arsitektur tertentu. Kepunahan bukanlah peristiwa yang tidak umum, karena bentuk aliran suatu arsitektur secara reguler muncul melalui aliran arsitekturalnya dan menghilang melalui kepunahan. Sebenamya, hampir seluruh bentuk aliran arsitektur yang pemah ada di bumi telah dan akan punah, seiring perjalanan manusia itu sendiri, dan kepunahan tampaknya merupakan nasib akhir suatu bentuk aliran arsitektur. Sebenamya Kepunahan arsitektur telah terjadi secara terus menerus sepanjang sejarah perkembangan manusia. Kita akan berkesimpulan bahwa, laju kepunahan arsitektural akan semakin meningkat tajam pada peristiwa kepunahan missal spesies manusia pada suatu etnik atau suku bangsa tertentu. Peranan kepunahan pada evolusi arsitektur tergantung pada jenis kepunahan tersebut. Penyebab persitiwa kepunahan "tingkat rendah" secara terus menerus (yang merupakan mayoritas kasus kepunahan) tidaklah jelas dan kemungkinan merupakan akibat kompetisi antar aliran arsitektur tertentu terhadap bentuk aliran arsitektur yang terbatas (prinsip hindar-saing). Jika kompetisi dari etnik tertentu lain mengubah probabilitas suatu bentuk arsitektur menjadi punah, hal ini dapat menghasilkan seleksi aliran arsitektur sebagai salah satu tingkat seleksi manusia. Peristiwa kepunahan 7.

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

mas sal secara alami masih dapat diterima, daripada berperan sebagai gaya selektif, karena suatu kebudayaan termasuk arsitektural yang beraneka ragam akan secara drastis dan mendorong terjadinya evolusi arsitektur secara cepat dan secara tiba-tiba serta pensubtitusian pada kebudayaan suku bangsa yang lain semakin tajam. lni merupakan pangkal penjajahan kebudayaan melalui penjajahan dan peperangan. B. 1) Hubungan Iklim Dengan Teori Evolusi dan Ekologi Arsitektur Proses Terjadinya Bentuk - Form Determinants - Function - Context - Structure - Form Resolution - Material dan cara penggunaan - Metoda dan konstruksi - Pertimbangan ekonomi dan sumber daya - Estetika 2) Teori Bentuk Secara Ekologi Ekologi adalah ilmu yang mempelajari temp at tinggal makhluk hidup atau organisme. Antara Ekologi dan Arsitektur dan antara evolusi dan perancangan (desain) terdapat hubungan yang sangat erat. Berdasarkan hubungan yang konseptual ini maka timbullah prinsip perancangan secara pre skriptis dengan dasar-dasar teori bentuk secara deskriptif dalam alam ini. Arsitektur dapat digambarkan sebagai bentuk dari strategi adaptasi manusia dengan alam, termasuk didalamnya arsitektur tradisional Jawa. Gambaran tersebut bersifat suatu kesatuan yang menyeluruh, keseimbangan yang dinamis dan penyempurnaan hal-hal yang relatif dan tidakjelas. Dari prinsip-prinsip di atas maka terjadilah tiga prinsip utama dari penurunan bentuk, yaitu: Kesatuan yang utuh antara manusia (orang Jawa) dan temp at atau lingkungan Keseimbangan yang dinamis dari yang teratur dan tak teratur Penyempurnaan energi dan informasi Hubungan antara ekologi dan arsitektur jelas terlihat pada arti asli (secara linguistik) dari ekologi, yaitu 'oikos', kata asli dari ekologi dalam bahasa Greek yang berarti rumah dan rumah tangga (house dan household). Apabila ekologi diartikan sebagai sains dan organisme beserta tempat hidupnya (habitatnya), maka arsitektur dapat dipandang sebagai art dan sa ins dari organisme manusia dalam merealisir habitasinya pada lingkungan alam natural. Bentuk dari organisme adalah hasil dari atau proses Interaksi antara bentuk genetik dengan lingkungannya. Dalam teori arsitektur secara ekologi, bentuk arsitektur adalah produk dari interaksi antara perubahan kebutuhan manusia atau fungsi dengan kontek ekologi rnanusia, (termasuk arsitektur tradisional Jawa dan orang Jawa). Forms follow both function and environment Form, function and environment are interdependent Dalam hubungan dengan teori ini, arsitektur modem mempunyai kegagalan, yaitu:

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

3)

Arsitektur modem menolak tradisi sebagai kemungkinan sumber-sumber kontiunitas untuk variasi di kemudian hari yang lebih kreatif. Arsitektur modem mengenyampingkan batas-batas kontek cultural Arsitektur modem terlalu memberikan nilai lebih hanya pada strategi adaptasi arsitektural yang spesifik saja. Bentuk dan Lingkungannya Alam memberikan tekanan secara lang sung kepada proses terjadinya bentuk semua yang berada di alam ini. Misalnya: bentuk arsitektur di Wamena Papua berbentuk Honai, atau di Jawa tengah berbentuk Joglo. Di daerah lain, bentuk arsitekturnya monumental di Eropa terutama kepulauan krete Italia, ada yang diatas pohon seperti di Maybrat, Imian, Sawiat, Papua, atau suku Dayak, atau berbentuk shelter di daerah Indian, Amerika, dll. karena dengan bentuk ini dapat menyimpan panas lebih lama. lni semua terjadi karena factor lingkungan yang mempengaruhi bentuk -bentuk arsitekturalnya. Dengan demikian maka, dapat kita simpulkan bahwa perubahan yang konstan sesuai dengan teori evolusi, yaitu apabila "bentuk" atau spesies yang sarna dengan lingkungan yang berbeda akan memberikan pengaruh proporsi yang berbeda pula. Demikian pula proses terjadinya "shape" bangunan, shape yang optimum adalah bentuk yang dapat menerima panas sesedikit mungkin di waktu musim panas, dan mampu menahan panas sebanyak mungkin pada waktu musim dingin.

4)

Bentuk Tata Lingkungan Iklim mempengaruhi bentuk tata lingkungan, hal ini dapat dilihat dari karakteristik tata lingkungan pada beberapa daerah (termasuk didalamnya arsitektur Jawa) sesuai dengan iklim yang berlakn di tempat tersebut: - Untuk daerah beriklim tropis lembab atau panas lembab, jarak antara bangunan mempunyai pengaruh yang sangat besar. Luasan dinding bangunan dengan pembukaan untuk ventilasi sebanyak mungkin berhubungan dengan luar sangat menguntungkan. Hal ini disebabkan karena kenyamanan di daerah tropis lembab hanya dapat dicapai dengan bantuan aliran angin yang cukup pada tubuh manusia. Perancangan landscape harus memperhatikan prinsip kelancaran angin yang mengalir. - Sebaiknya untuk di daerah panas kering, luasan dinding bangunan dikurangi sebanyak mungkin untuk tidak berhubungan lang sung dengan ruang luar. Antara bangunan dihindari adanya ruang luar, satu sarna lain kompak, sehingga sinar matahari sangat sedikit yang menimpa langsung bangunan. Bila harus ada ruang di antara bangunan pun diusahakan agar antara dinding bangunan yang satu dengan yang lain saling membayangi terhadap sinar matahari. Oleh sebab itu kecenderungannya bangunan lebih efisien kalau rendah dan masif. Oleh sebab itu kepadatan bangunan di daerah tropis lembab kecenderungannya rendah. Kepadatan bangunan tinggi untuk daerah tropis kering. Untuk di daerah dingin, bentuk susunan bangunannya cenderung kompak, padat dan mempunyai luasan jendela yang luas agar dapat menerima panas matahari yang lebih banyak.

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

Definisi Evolusi Arsitektur Evolusi arsitektur secara sederhana didefinisikan sebagai perubahan pada bentuk atau aliran suatu arsitektur dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Walaupun demikian, definisi "evolusi arsitektur" juga sering kali ditambahkan dengan klaim-klaim berikut ini: 1. Perbedaan pada komposisi bentuk antara aliran arsitektur yang terisolasi oleh nuansa arsitektur lain mengakibatkan munculnya aliran arsitektur baru. 2. Semua aliran arsitektur yang sekarang dikembangkan merupakan suatu sistem nilai dan karya dari nenek moyang yang berbeda. Evolusi Arsitektur Dalam Perubahan Sosial Budaya Global Perubahan sosial budaya adalah sebuah gejala berubahnya struktur sosial dan pola budaya dalam suatu masyarakat. Perubahan sosial budaya merupakan gejala umum yang terjadi sepanjang masa dalam setiap masyarakat. Perubahan itu terjadi sesuai dengan hakikat dan sifat dasar manusia yang selalu ingin mengadakan perubahan. Hirschman mengatakan bahwa kebosanan manusia sebenamya merupakan penyebab dari perubahan. Ada tiga faktor yang dapat memengaruhi perubahan sosial budaya: 1. tekanan kerja dalam masyarakat 2. keefektifan komunikasi 3. perubahan lingkungan alam. Perubahan sosial budaya juga dapat timbul akibat timbulnya perubahan lingkungan masyarakat, penemuan baru, dan kontak dengan kebudayaan lain. Sebagai contoh, berakhimya zaman es berujung pada ditemukannya sistem pertanian, dan kemudian memancing inovasi-inovasi baru lainnya dalam kebudayaan. a. D.

C.

Gambar. 7. Perubahan dengan kebudayaan

sosial

budaya akibat kon tak budaya satu asing. Sumber Google Terjemahan Bebas, dikomposisikan oleh Peneliti 2011

Penetrasi Kebudayaan Yang dimaksud dengan penetrasi kebudayaan adalah masuknya pengaruh suatu kebudayaan ke kebudayaan lainnya, termasuk didalamnya arsitektural. Penetrasi kebudayaan dapat terjadi dengan dua cara: Penetrasi Damai (Penetration Pasifique) Masuknya sebuah kebudayaan dengan jalan damai. Misalnya, masuknya pengaruh kebudayaan Hindu dan Islam ke Indonesia' Penerimaan kedua mac am kebudayaan tersebut tidak mengakibatkan konflik, tetapi memperkaya khasanah budaya masyarakat setempat. Pengaruh kedua kebudayaan ini pun tidak mengakibatkan hilangnya unsur-unsur asli budaya masyarakat. Penyebaran kebudayaan secara damai akan menghasilkan Akulturasi, Asimilasi, atau Sintesis. Akulturasi adalah bersatunya dua kebudayaan sehingga membentuk kebudayaan baru tanpa menghilangkan unsur kebudayaan asli. Contohnya, bentuk bangunan Candi Borobudur yang merupakan perpaduan antara kebudayaan asli Indonesia dan kebudayaan India. Asimilasi adalah bercampumya dua kebudayaan sehingga membentuk kebudayaan baru. Sedangkan Sintesis 1)

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

adalah bercampurnya dua kebudayaan yang berakibat pada terbentuknya sebuah kebudayaan baru yang sangat berbeda dengan kebudayaan asli. Penetrasi Kekerasan (Penetration Violante) Masuknya sebuah kebudayaan dengan cara memaksa dan merusak. Contohnya, masuknya kebudayaan Barat ke Indonesia pada zaman penjajahan disertai dengan kekerasan sehingga menimbulkan goncangan-goncangan yang merusak keseimbangan dalam masyarakat: Wujud budaya dunia barat antara lain adalah budaya dari Belanda yang menjajah selama 350 tahun lamanya. Budaya warisan Belanda masih melekat di Indonesia antara lain pada sistem pemerintahan Indonesia. b. Cara Pandang Terhadap Sosial Budaya Global 1) Kebudayaan Sebagai Peradaban Moderen Saat ini, kebanyakan orang memahami gagasan sosial "budaya" yang dikembangkan di Eropa pada abad ke-18 dan awal abad ke-19. Gagasan tentang sosial "budaya" ini merefleksikan adanya ketidakseimbangan antara kekuatan Eropa dan keknatan daerah-daerah yang dijajahnya. Mereka menganggap 'kebudayaan' sebagai "peradaban" sebagai lawan kata dari "alam". Menurut cara pikir ini, kebudayaan satu dengan kebudayaan lain dapat diperbandingkan; salah satu kebudayaan pasti lebih tinggi dari kebudayaan lainnya. Artefak tentang "kebudayaan tingkat tinggi" (High Culture) oleh Edgar Degas. Pada prakteknya, kata kebudayaan merujuk Foto. 68. Bentuk sosial pada benda-benda dan aktivitas yang "elit" seperti misalnya memakai baju yang berkelas, fine art, atau mendengarkan musik budaya Eropa klasik, sementara kata berkebudayaan digunakan untuk Sumber- www. menggambarkan orang yang mengetahui, dan mengambil Moderenstyle. com bagian, dari aktivitas-aktivitas di atas. Sebagai contoh, jika seseorang berpendapat bahwa musik klasik adalah musik yang "berkelas", elit, dan bercita rasa seni, sementara musik tradisional dianggap sebagai musik yang kampungan dan ketinggalan zaman, maka timbul anggapan bahwa ia adalah orang yang sudah "berkebudayaan". Orang yang menggunakan kata "kebudayaan" dengan cara ini tidak percaya ada kebudayaan lain yang eksis; mereka percaya bahwa kebudayaan hanya ada satu dan menjadi tolak ukur norma dan nilai di seluruh dunia. Menurut cara pandang ini, seseorang yang memiliki kebiasaan yang berbeda dengan mereka yang "berkebudayaan" disebut sebagai orang yang "tidak berkebudayaan"; bukan sebagai orang "dari kebudayaan yang lain." Orang yang "tidak berkebudayaan" dikatakan lebih "alam," dan para pengamat seringkali mempertahankan elemen dari kebudayaan tingkat tinggi (high culture) untuk menekan pemikiran "manusia alami" (human nature). Sejak abad ke-18, beberapa kritik sosial telah menerima adanya perbedaan antara berkebudayaan dan tidak berkebudayaan, tetapi perbandingan itu -berkebudayaan dan tidak berkebudayaan- dapat menekan interpretasi perbaikan dan interpretasi pengalaman sebagai perkembangan yang merusak dan "tidak alami" yang mengaburkan dan menyimpangkan sifat 2)

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download the free trial online at nitrcpdf.ecmzprofeesiona I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

dasar manusia. Dalam hal ini, musik tradisional (yang diciptakan oleh masyarakat kelas pekerja) dianggap mengekspresikan "jalan hidup yang alami" (natural way of life), dan musik klasik sebagai suatu kemunduran dan kemerosotan. Saat ini kebanyak ilmuwan sosial menolak untuk memperbandingkan antara kebudayaan dengan alam dan konsep monadik yang pemah berlaku. Mereka menganggap bahwa kebudayaan yang sebelumnya dianggap "tidak elit" dan "kebudayaan elit" adalah sama - masing-masing masyarakat memiliki kebudayaan yang tidak dapat diperbandingkan. Pengamat sosial membedakan beberapa kebudayaan sebagai kultur populer (popular culture) atau pop kultur, yang berarti barang atau aktivitas yang diproduksi dan dikonsumsi oleh banyak orang. 2) Kebudayaan Sebagai "Sudut Pan dang Umum " Selama Era Romantis, para cendekiawan di Jerman, khususnya mereka yang peduli terhadap gerakan nasionalisme - seperti misalnya perjuangan nasionalis untuk menyatukan Jerman, dan perjuangan nasionalis dari etnis minoritas melawan Kekaisaran Austria-Hongaria mengembangkan sebuah gagasan kebudayaan dalam "sudut pandang umum". Pemikiran ini menganggap suatu budaya dengan budaya lainnya memiliki perbedaan dan kekhasan masingmasing. Karenanya, budaya tidak dapat diperbandingkan. Meskipun begitu, gagasan ini masih mengakui adanya pemisahan antara "berkebudayaan" dengan "tidak berkebudayaan" atau kebudayaan "primitif." Pada akhir abad ke-19, para ahli antropologi telah memakai kata kebudayaan dengan definisi yang lebih luas. Bertolak dari teori evolusi, mereka mengasumsikan bahwa setiap manusia tumbuh dan berevolusi bersama, dan dari evolusi itulah tercipta kebudayaan. Pada tahun 50-an, subkebudayaan - kelompok dengan perilaku yang sedikit berbeda dari kebudayaan induknya - mulai dijadikan subyek penelitian oleh para ahli sosiologi. Pada abad ini pula, terjadi popularisasi ide kebudayaan perusahaan - perbedaan dan bakat dalam konteks pekerja organisasi atau tempat bekerja. Kebudayaan Sebagai Mekanisme Stabilisasi Teori-teori yang ada saat ini menganggap bahwa (suatu) kebudayaan adalah sebuah produk dari stabilisasi yang melekat dalam tekanan evolusi menuju kebersamaan dan kesadaran bersama dalam suatu masyarakat, atau biasa disebut dengan tribalisme. Kebudayaan Diantara Masyarakat Sebuah kebudayaan besar biasanya memiliki sub-kebudayaan (atau biasa disebut sub-kultur), yaitu sebuah kebudayaan yang memiliki sedikit perbedaan dalam hal perilaku dan kepercayaan dari kebudayaan induknya. Munculnya sub-kultur disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya karena perbedaan umur, ras, etnisitas, kelas, aesthetik, agama, pekerjaan, pandangan politik dan gender, Ada beberapa cara yang dilakukan masyarakat ketika berhadapan dengan imigran dan kebudayaan yang berbeda dengan kebudayaan asli. Cara yang dipilih masyarakat tergantung pada seberapa besar perbedaan kebudayaan induk dengan kebudayaan minoritas, seberapa banyak imigran yang datang, watak dari penduduk asli, keefektifan dan keintensifan komunikasi antar budaya, dan tipe pemerintahan yang berkuasa. 4) 3)

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download the free trial online at nitrcpdf.ecmzprofeesiona I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

• •

Monokulturalisme: Pemerintah mengusahakan terjadinya asimilasi kebudayaan masyarakat yang berbeda kebudayaan menjadi satu dan saling bekerja sarna.

sehingga

Leitkultur (kebudayaan inti): Sebuah model yang dikembangkan oleh Bassam Tibi di Jerman. Dalam Leitkultur, kelompok minoritas dapat menjaga dan mengembangkan kebudayaannya sendiri, tanpa bertentangan dengan kebudayaan induk yang ada dalam masyarakat asli. Melting Pot: Kebudayaan imigranlasing tanpa campur tang an pemerintah. berbaur dan bergabung dengan kebudayaan asli

• •

Multikulturalisme: Sebuah kebijakan yang mengharuskan imigran dan kelompok minoritas untuk menjaga kebudayaan mereka masing-masing dan berinteraksi secara damai dengan kebudayaan induk.

Sosial Budaya Menurut Wilayah Geografis Tinjauan Global Seiring dengan kemajuan teknologi dan informasi, hubungan dan saling keterkaitan kebudayaankebudayaan di dunia saat ini sangat tinggi. Selain kemajuan teknologi dan informasi, hal tersebut juga dipengaruhi oleh faktor ekonomi, migrasi, dan agama. Inilah tiga unsur utama yang mempengaruhi dunia secara global. Sosial Budaya Afrika Beberapa kebudayaan di benua Afrika terbentuk melalui p enjajahan Eropa, seperti kebudayaan Sub-Sahara. Sementara itu, wilayah Afrika Utara lebih banyak terpengaruh oleh kebudayaan Arab dan Islam. Kebanyakan pengaruh eropa masuk ke Afrika melalui Misionarys gereja-gereja. Disamping itu, teknologi sebagai penunjang penyebaran injil. Dan pengaruh utama eropa terhadap afrika terlihat pada teknologi baru yang diperlihatkan oleh misionaris eropa kepada orang afrika. Sosial Budaya Amerika Kebudayaan di benua Amerika dipengaruhi oleh suku-suku Asli benua Amerika; orang-orang dari Afrika (terutama di Amerika Serikat), dan para imigran Eropa terutama Spanyol, Inggris, Perancis, Portugis, Jerman, dan Belanda. Kebudayaan tertua di benua Amerika adalah kebudayaa dari bangsa Indian, mereka sebagai penduduk asili yang mendiami benua itu, sebelum pada akhirnya colombus menemukan benua Amerika dan kemudian para penjelajah dari Spanyol, Inggris, Prancis, Portugis, Jerman dan Belanda berdatangan. Sosial Budaya Asia Asia memiliki berbagai kebudayaan yang berbeda satu sarna lain, meskipun begitu, beberapa dari kebudayaan terse but memiliki c. b. a.

c. 1.

Foto.69. Pengaruh Eropa di Afrika

Foto.70. Orang Hopi yang sedang menenun dengan alat tradisional di Amerika

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download the free trial online at nitrcpdf.ecmzprofeesiona I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

pengaruh yang menonjol terhadap kebudayaan lain, seperti misalnya pengaruh kebudayaan Tiongkok kepada kebudayaan Jepang, Korea, dan Vietnam. Dalam bidang agama, agama Budha dan Taoisme banyak memengaruhi kebudayaan di Asia Timur. Selain kedua Agama tersebut, norma dan nilai Agama Islam juga turut memengaruhi kebudayaan terutama di wilayah Asia Selatan dan tenggara. a. Perubahan Kebudayaan Jepang Kebudayaan Jepang Kebudayaan Jepang telah banyak berubah dari tahun ke tahun, dari kebudayaan asli negara rni, Jomon, sampai kebudayaan kini, yang mengkombinasikan pengaruh Asia, Eropa dan Amerika Utara. Setelah beberapa gelombang imigrasi dari benua lainnya dan sekitar kepulauan Pasifik, diikuti dengan masuknya kebudayaan Tiongkok, penduduk Jepang mengalami periode panjang isolasi dari dunia luar dibawah shogunat Tokugawa sampai datangnya "The Black Ships" dan era Meiji. Sebagai hasil, kebudayaan Jepang berbeda dari kebudayaan Asia lainnya.

Foto. 71. Lukisan J epang dipengaruhi oleh budaya Asia dan Eropa Sumber - peneli ti, 2003

Sosial Budaya Australia Kebanyakan budaya di Australia mas a kini berakar dari kebudayaan Eropa dan Amerika. Kebudayaan Eropa dan Am erika tersebut kemudian dikembangkan dan disesuaikan dengan lingkungan benua Australia, serta diintegrasikan dengan kebudayaan penduduk asli benua Australia, Aborigin. e.

d.

Foto. 72. Kebudayaan

Aborigin Australia

Sosial Budaya Eropa Kebudayaan Eropa banyak terpengaruh oleh kebudayaan negara-negara yang pemah dijajahnya. Kebudayaan ini dikenal jug a dengan sebutan "kebudayaan barat". Kebudayaan ini telah diserap oleh banyak kebudayaan, hal ini terbukti dengan banyaknya pengguna bahasa Inggris dan bahasa Eropa lainnya di seluruh dunia. Selain dipengaruhi oleh kebudayaan negara yang pemah dijajah, kebudayaan ini juga dipengaruhi oleh kebudayaan Yunani kuno, Romawi kuno, dan agama Kristen, meskipun kepercayaan akan agama banyak mengalami kemunduran beberapa tahun ini.

Foto. 73. Puing arsitektur klasik Eropa.

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download the free trial online at nitrcpdf.ecmzprofeesiona I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

Sosial Budaya Timur Tengah dan Afrika Utara Kebudayaan didaerah Timur Tengah dan Afrika Utara saat ini kebanyakan sangat dipengaruhi oleh nilai dan norma agama Islam, meskipun tidak hanya agama Islam yang berkembang di daerah ini. Mulai dari cara berpakaian hingga pada music tradisional dipengaruhi oleh kebudayaan timur tengah. Selain daripada itu, di daerah Afrika Utara merupakan daerah dengan populasi Islam terbanyak, yang mana dipengaruhi oleh kebudayaan dan religi dari Timur Tengah. 2.

f.

Foto.74. Kebudayaan Afrika U tara

di

Sosial Budaya Nusantara Sosial budaya Nusantara juga mengalami pengaruh luar sebagaimana budaya lain di dunia. a. Sosial Budaya Bali Kehidupan sosial budaya masyarakat Bali dilandasi filsafah Tri Hita karana, artinya Tiga Penyebab Kesejahteraan yang perlu diseimbangkan dan diharmosniskan yaitu hubungan manusia dengan Tuhan (Parhyangan ), hubungan manusia dengan manusia (Pawongan) dan manusia dengan lingkungan (Palemahan). Perilaku kehidupan masyarakatnya dilandasi oleh falsafah "Karmaphala", yaitu keyakinan akan adanya hukum sebab sebab-akibat antara perbuatan dengan hasil perbuatan. Sebagian besar kehidupan masyarakatnya diwamai dengan berbagai upacara agama/adat, sehingga kehidupan spiritual mereka tidak dapat dilepaskan dari Foto 75: Masyarakat Adat Bali berbagai upacara ritual. Karena itu setiap saat di beberapa tempat di Bali terlihat sajian-sajian upacara. Upacara tersebut ada yang berkala, insidentil dan setiap hari, dan dikelompokan menjadi lima jenis yang disebut Panca Yadnya, meliputi Dewa Yadnya yaitu upacara yang berhubungan dengan pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Esa/Ida Sang Hyang Widi Wasa, Rsi Yadnya yaitu upacara yang berkaitan dengan para pemuka agama (Pendeta, Pemangku dan lain-Iainnya), Pitra Yadnya yaitu upacara yang berkaitan dengan roh leluhur (Upacara Ngaben, Memukur), Manusa Yadnya yaitu upacara yang berkaitan dengan manusia (Upacara Penyambutan Kelahiran, Tiga Bulanan, Otonan, Potong Gigi dan Perkawinan) dan Buta Yadnya yaitu upacara yang berkaitan dengan upaya menjaga keseimbangan alam (Upacara Mecaru, Mulang Pekelem). Penghuni pertama pulau Bali diperkirakan datang pada 3000-2500 SM yang bermigrasi dari Asia. Peninggalan peralatan batu dari masa tersebut ditemukan di desa Cekik yang terletak di bagian barat pulau. Zaman prasejarah kemudian berakhir dengan datangnya orang-orang Hindu dari India pada 100 SM. Kebudayaan Bali kemudian mendapat pengaruh kuat kebudayaan India, yang prosesnya semakin cepat setelah abad ke-l Masehi. Nama Balidwipa (pulau Bali) mulai ditemukan di berbagai prasasti, diantaranya Prasasti Blanjong yang dikeluarkan oleh Sri Kesari Warmadewa pada 913 M dan menyebutkan kata Walidwipa. Diperkirakan sekitar mas a inilah sistem irigasi subak untuk penanaman padi mulai dikembangkan. Beberapa tradisi keagamaan dan budaya juga mulai berkembang pada mas a itu. Kerajaan Majapahit (1293-1500 AD) yang beragama Hindu dan berpusat di pulau Jawa,

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download the free trial online at nitrcpdf.ecmzprofeesiona I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

pemah mendirikan kerajaan bawahan di Bali sekitar tahun 1343 M. Saat itu hampir seluruh nusantara beragama Hindu, namun seiring datangnya Islam berdirilah kerajaan-kerajaan Islam di nusantara yang antara lain menyebabkan keruntuhan Majapahit. Banyak bangsawan, pendeta, artis, dan masyarakat Hindu lainnya yang ketika itu menyingkir dari Pulau Jawa ke Bali. Sosial Budaya Maluku Dengan kondisi daerah kepulauan yang menyebar, masyarakat Maluku Utara tumbuh dan berkembang dengan segala keragaman budayanya. Berdasarkan catatan di daerah Maluku Utara terdapat 28 sub etnis dengan 29 bahasa lokal. Corak kehidupan sosial budaya masyarakat di provinsi Maluku Utara secara umum sangat tipikal yaitu perkawinan Foto 76. Tari Cakaleleantara ciri budaya lokal Maluku Utara dan budaya Islam yang Ambon dianut empat kesultanan Islam di Maluku Utara pad masa lalu. Asimilasi dari dua kebudayaan ini melahirkan budaya Moloku Kie Raha. Sedangkan corak kehidupan masyarakatnya dipengaruhi oleh kondisi wilayah Maluku Utara yang terdiri dari laut dan kepulauan, perbukitan dan hutan-hutan tropis. Desadesa di Maluku Utara umumnya (kurang lebih 85 %) terletak di pesisir pantai dan sebagian besar lainnya berada di pulau-pulau kecil. Oleh sebab itu, pola kehidupan seperti menangkap ikan, berburu, bercocok tanaman dan berdagang masih sangat mewamai dinamika kehidupan sosial-ekonomi masyarakat Foto 77. Tari OrlapeiMaluku Utara (sekitar 79 %). Maluku Sementara itu, ikatan kekerabatan dan integrasi sosial masyarakat secara umum sangat kuat sebelum terjadi konflik horizontal bernuansa SARA. Ikatan pertalian darah dan keturunan sesama anggota keluarga didalam satu komunitas di daerah tertentu sangat erat dan familiar, walaupun keyakinan keagamaan berbeda seperti masyarakat di kawasan Halmahera bagian utara dan timur. Hubungan ini telah menumbuhkan harmonisasi dan integrasi so sial yang sangat kuat. Dalam konteks hubungan Islam dan Kristen, nuansa interaksi sosial terse but lebih didasarkan bukan pada pertimbangan kultural dan hubungan kekeluargaan. Sosial Budaya Jakarta - Betawi Provinsi DKI Jakarta memiliki penduduk lebih dari 300 suku bangsa dengan 200 bahasa. Sebagai Ibukota Negara Republik Indonesia, Jakarta merupakan titik pertemuan budaya nasional dan intemasional. Jakarta menjadi barometer perkembangan budaya bangsa Indonesia. Berbagai atraksi budaya, kuliner, dan seni ditampilkan secara rutin dalam berbagai event kebudayaan di Pusat Kota Jakarta. Provinsi DKI Jakarta secara rutin mengadakan pemilihan abang dan none Jakarta. Dalam berbagai kegiatan tersebut, selalu ditampilkan "Ondel-ondel Boneka Khas Betawi (Penduduk Asli Jakarta). c. b.

Foto 78. Budaya Perkawinan Betawi

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download the free trial online at nitrcpdf.ecmzprofeesiona I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

Sosial Budaya Banten Kondisi sosial budaya masyarakat Banten diwamai oleh potensi dan kekhasan budaya masyarakatnya yang sangat variatif, mulai dari seni bela diri pencak silat, debus, rudat, umbruk, tari saman, tari topeng, tari cokek, dog-dog, palingtung, dan lojor. Hampir semua seni tradisionalnya sangat kental diwamai dengan etika Islam. Ada juga seni tradisional yang datang dari luar kota Banten, tapi semua itu telah mengalami proses akulturasi budaya sehingga terkesan sebagai seni tradisional Banten, misalnya seni kuda lumping, tayuban, gambang kromong dan tari cokek. Bahasa Foto 79. Budaya Beladiri yang digunakan masyarakat Banten khususnya yang berada di Banten. Sumber Peneliti 2010 wilayah utara menggunakan bahasa Jawa Serang, sedangkan di wilayah selatan menggunakan Bahasa Sunda. Namun demikian, masyarakat setempat umunmya lebih sering menggunakan Bahasa Indonesia. Sosial Budaya Jawa Barat Budaya Jawa Barat didominasi Sunda. Adat tradisionalnya yang penuh khasanah Bumi Pasundan menjadi cermin kebudayaan di sana. Perda Kebudayaan Jawa Barat bahkan mencantumkan pemeliharaan bahasa, sastra, dan aksara daerah, ke seni an, kepurbakalaan dan sej arahnya, nilai -nilai tradisional dan juga museum sebagai bagian dari pengelolaan kebudayaan. Pariwisata berbasis kebudayaan yang menampilkan seni budaya Jawa Barat, siap ditampilkan dan bernilai ekonomi. Untuk melestarikan budaya Jawa Barat, pemerintah daerah menetapkan 12 desa budaya, yakni desa khas yang di tata untuk kepentingan melestarikan budaya dalam bentuk adat atau rumah adat. Desa budaya terse but adalah sebagai beikut: 1. Kampung Cikondang, Desa Lamajang, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung; 2. Kampung Mahmud, Desa Mekar Rahayu, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung; 3. Kampung Kuta, Desa Karangpaninggal, Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis; 4. 5. 6. 7. 8. Kampung Gede Kasepuhan Ciptagelar, Desa Simaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi;
Foto 80. Tari Tradosional Kampung Dukuh, Desa Cijambe, Kecamatan Cikelet, Sunda. Sumber peneliti 2010 Kabupaten Garut; Kampung Pulo, Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut; Kampung Adat Ciburuy, Desa Palamayan, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut; Kampung Naga, Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya;

d.

e.

9. Kampung Urug, Desa Kiarapandak, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor; 10. Rumah Adat Citalang, Desa Citalang, Kecamatan Purwakarta, Kabupaten Purwakarta; 11. Rumah Adat Lengkong, Desa Lengkong, Kecamatan Garangwangi, Kabupaten Kuningan; Rumah Adat Panjalin, Desa Panjalin, Kecamatan Sumberjaya, Kabupaten Majalengka

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

Sosial Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta Bahasa pengantar umumnya menggunakan bahasa Jawa yang sekaligus juga menunjukkan etnis yang ada di provinsi DIY adalah sakuletnis Jawa.) Kehidupan social budaya Yogyakarta dipengaruhi oleh budaya Kej awen, Hindu, dan Islam. Kebudayaan asli Yogyakarta dibentuk oleh budaya kejawen. Setelah itu budaya kejawen dipengaruhi oleh budaya Hindu, yang datang dari India. Setelah itu, pengaruh islam mulai masuk sehingga terbentukklah kesultanan Yogyakarta Hadiningrat dan Kesultanan Surakarta Solo. Dimana keduanya dipengaruhi oleh budaya Islam dari Arab. 7.

f.

Sosial Budaya Jawa Timur Kebudayaan dan adat istiadat Suku Jawa di Jawa Timur bagian barat menerima banyak pengaruh dari Jawa Tengahan, sehingga kawasan ini dikenal sebagai Mataraman; menunjukkan bahwa kawasan tersebut dulunya merupakan daerah kekuasaan Kesultanan Mataram. Daerah tersebut meliputi eks-Karesidenan Madiun (Madiun, Ngawi, Magetan, Ponorogo, Pacitan), eks- Karesidenan Kediri (Kediri, Tulungagung, Blitar, Trenggalek) dan sebagian Bojonegoro. Seperti halnya di Jawa Tengah, wayang kulit dan ketoprak cukup populer di kawasan
mi.

Foto 81. Tarian Rhama dan Shinta

Kawasan pesisir barat Jawa Timur banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Islam. Kawasan ini mencakup wilayah Tub an, Lamongan, dan Gresik. Dahulu pesisir utara Jawa Timur merupakan daerah masuknya dan pusat perkembangan agama Islam. Lima dari Foto 82. Tarian Reog sembilan anggota walisongo dimakamkan di kawasan ini. Di kawasan eks-Karesidenan Surabaya (termasuk Sidoarjo, Mojokerto, dan Jombang) dan Malang, memiliki sedikit pengaruh budaya Mataraman, mengingat kawasan ini cukup jauh dari pusat kebudayaan Jawa: Surakarta dan Yogyakarta. Adat istiadat di kawasan Tapal Kuda banyak dipengaruhi oleh budaya Madura, mengingat besamya populasi Suku Madura di kawasan ini. Adat istiadat masyarakat Osing merupakan perpaduan budaya Jawa, Madura, dan Bali. Sementara adat istiadat Suku Tengger banyak dipengaruhi oleh budaya Hindu. Masyarakat desa di Jawa Timur, seperti halnya di Jawa Tengah, memiliki ikatan yang berdasarkan persahabatan dan teritorial. Berbagai upacara adat yang diselenggarakan antara lain: tingkepan (upacara usia kehamilan tujuh bulan bagi anak pertama), babaran (upacara menjelang lahimya bayi), sepasaran (upacara setelah bayi berusia lima hari), pitonan (upacara setelah bayi berusia tujuh bulan), sunatan, pacangan. Penduduk Jawa Timur umumnya menganut perkawinan monogami. Sebelum dilakukan lamaran, pihak laki-laki melakukan acara nako'ake (menanyakan apakah si gadis sudah memiliki calon suami), setelah itu dilakukan peningsetan (lamaran). Upacara perkawinan didahului dengan acara temu atau kepanggih. Masyarakat di pesisir barat: Tub an, Lamongan, Gresik, bahkan Bojonegoro memiliki

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

kebiasaan lumrah keluarga wanita melamar pria, berbeda dengan lazimnya kebiasaan daerah lain di Indonesia, dimana pihak pria melamar wanita. Dan umumnya pria selanjutnya akan masuk ke dalam keluarga wanita. Sosial Budaya Nangroe Aceh Darusalam Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam terdiri atas sembilan suku, yaitu Aceh (mayoritas), Tamiang (Kabupaten Aceh Timur Bagian Timur), Alas (Kabupaten Aceh Tenggara), Aneuk Jamee (Aceh Selatan), Naeuk Laot, Semeulu dan Sinabang (Kabupaten Semeulue). Masing-masing suku mempunyai budaya, bahasa dan pola pikir Bahasa umum digunakan adalah Bahasa Aceh. Di dalamnya terdapat beberapa dialek ' lokal, seperti Aceh Rayeuk, dialek Pidie dan dialek Aceh Utara. Sedangkan untuk Bahasa Gayo dikenal dialek Gayo Lut, Gayo Deret dan Gayo Lues. Di sana hidup adat istiadat Melayu, yang mengatur segala kegiatan dan tingkah laku warga masyarakat bersendikan hukum syariat Islam. Penerapan syariat Islam di provinsi ini bukanlah hal yang baru. Jauh sebelum Republik Indonesia berdiri, tepatnya sejak masa Foto 83. Rumah Atap Ijuk Tamiang kesultanan, syariat Islam sudah mere sap ke dalam diri masyarakat Aceh. Keanekaragaman seni dan budaya menjadikan provinsi ini mempunyai daya tarik tersendiri. Dalam seni sastra, provinsi ini memiliki 80 cerita rakyat yang terdapat dalam Bahasa Aceh, Bahasa Gayo, Aneuk Jame, Tamiang dan Semelue. Bentuk sastra lainnya adalah puisi yang dikenal dengan hikayat, dengan salah satu hikayat yang terkenal adalah Perang Sabi (Perang Sabil). Sosial Budaya Sumatera Utara Sumatera Utara juga dikenal sebagai provinsi multikultural, di dalamnya terdapat etnis dan agama. Selain Batak dan Melayu yang menjadi penduduk asli provinsi ini, ada banyak kelompok etnis lainnya juga yang juga hidup berdampingan. Setidaknya ada 13 suku berkembang di provinsi ini 13 bahasa daerah. Dari semua suku yang ada, sembilan diantaranya adalah suku asli dan empat suku pendatang. Keragaman suku -suku ini belum termasuk Jawa, Cina, dan India yang juga hidup berdampingan bersama mereka. Keberagaman suku tentu diikuti pula oleh Foto 84. Rumah Adat Batak mosaik adat istiadat dan nilai-nilai budaya. Keragaman adat istiadat di Sumatera Utara diwamai oleh adat Batak, Mandailing, Melayu, Karo, Nias, Angkola, Pakpak, dan Simalungun. Perkembangan sosial budaya relatif baik mengingat kesadaran dan kedewasaan masyarakatnya dalam memahami pluralisme, keragaman budaya, adat istiadat serta kerukunan antar umat beragama cukup tinggi. 9. 8.

Karo Pesisir, tingkat mosaik

Sumatera Utara merupakan provinsi multietnis dengan Batak, Nias, dan Melayu sebagai penduduk asli wilayah ini. Daerah pesisir timur Sumatera Utara, pada umumnya dihuni oleh orangorang Melayu. Pantai barat dari Barus hingga Natal, banyak bermukim orang Minangkabau. Wilayah

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download the free trial online at nitrcpdf.ecmzprofeesiona I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

tengah sekitar Danau Toba, banyak dihuni oleh Suku Batak yang sebagian besamya beragama Kristen. Suku Nias berada di kepulauan sebelah barat. Sejak dibukanya perkebunan tembakau di Sumatera Timur, pemerintah kolonial Hindia Belanda banyak mendatangkan kuli kontrak yang dipekerjakan di perkebunan. Pendatang tersebut kebanyakan berasal dari etnis Jawa dan Tionghoa. Pusat penyebaran suku-suku di Sumatra Utara, sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Suku Melayu Deli: Pesisir Timur, terutama di kabupaten Deli Serdang, Serdang Bedagai, dan Langkat Suku Batak Karo : Kabupaten Karo Suku Batak Toba: Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Toba Samosir Suku Batak Pesisir : Tapanuli Tengah, Kota Sibolga Suku Batak MandailinglAngkola: Mandailing Natal Suku Suku Suku Suku Kabupaten Tapanuli Selatan, Padang Lawas, dan

Batak Simalungun : Kabupaten Simalungun Batak Pakpak : Kabupaten Dairi dan Pakpak Barat Nias : Pulau Nias Minangkabau : Kota Medan, Pesisir barat

10. Suku Aeeh: Kota Medan 11. Suku Jawa : Pesisir Timur & Barat 12. Suku Tionghoa : Perkotaan pesisir Timur & Barat. 10. Sosial Budaya Sumatera Barat Mayoritas penduduk Sumatera Barat merupakan suku Minangkabau. Suku mi awalnya berasal dari dua klan utama: Koto Piliang didirikan Datuak Katumanggungan dan Bodi Chaniago yang didirikan Datuak Parpatiah nan Sabatang, Suka Kato Piliang memakai sistem aristokrasi yang dikenal dengan istilah Titiak Dari Ateh (titik dari atas) ala istana Pagaruyung, sedangkan Bodi Chaniago lebih bersifat demokratis, yang dikenal dengan istilah Mambasuik Dari Bumi (muneul dari bumi). Sehari-hari, masyarakat berkomunikasi dengan Foto: 85. Suku Mentawai Bahasa Minangkabau yang memiliki beberapa dialek, seperti dialek Bukittinggi, dialek Pariaman, dialek Pasisir Selatan, dan dialek Payakumbuh. Sementara itu, di daerah kepulauan Mentawai yang terletak beberapa puluh kilometer di lepas pantai Sumatera Barat, masyarakatnya menggunakan Bahasa Mentawai. Di Daerah Pasaman bahkan Bahasa Batak berdialek Mandailing digunakan, biasanya oleh suku Batak Mandailing. Masyarakat Sumatera Barat, sangat manghargai nilai-nilai adat dan budaya tradisional serta terbuka terhadap nilai-nilai positif yang datang dari luar. Kondisi ini membawa kepada komunitas yang sangat kondusif bagi pembangunan nasional dan eita-eita reformasi. Meskipun suku

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

Minangkabau mendominasi masyarakat Sumatera Barat seeara keseluruhan, kehidupan mereka relatif rukun dan damai dengan warga pendatang lainnya yang terdiri atas berbagai etnis minoritas, seperti suku Mentawai di Kepulauan Mentawai, suku Mandailing di Pasaman, transmigran asal Jawa di Pasaman dan Sijunjung, kelompok etnis Cina, dan berbagai suku pendatang lainnya yang berdiam di kota-kota di Sumatera Barat. Di antara sesama mereka terdapat hubungan dan interaksi sosial yang positif dan jarang terdapat jurang dan keeemburuan sosial yang besar antara berbagai kelompok dan golongan. Hal ini merupakan landasan yang solid bagi persatuan bangsa yang perlu dipelihara dan dikembangkan serta ditingkatkan. 11. Sosial Budaya Bengkulu Terdapat empat bahasa daerah yang digunakan oleh masyarakat Bengkulu, yakni: Bahasa Melayu, Bahasa Rejang, Bahasa Pekal, Bahasa Lembak. Penduduk Provinsi Bengkulu berasal dari tiga rurnpun suku besar terdiri dari Suku Rejang, Suku Serawai, Suku Melayu. Sedangkan lagu daerah yaitu Lalan Balek. Di bidang kehidupan beragama, kesadaran melaksanakan ritual keagamaan mayoritas penduduk yang beragama Islam seeara kuantitatif eukup baik. Kesadaran dikalangan pemuka agama untuk membangun harmoni sosial dan hubungan intern Foto 86. Suku Enggano dan antar umat beragama yang am an, damai dan saling menghargai eukup baik. Disamping itu, terdapat adat dan istiadat yang eukup akrab dengan masyarakat Bengkulu, diantaranya: Kain Bersurek, merupakan kain bertuliskan huruf Arab gundul. Kepereayaan masyarakat di Provinsi Bengkulu umumnya atau sebesar 95% lebih menganut agama Islam. Upaeara adat juga banyak dilakukan masyarakat di Provinsi Bengkulu seperti, sunatan rasul, upaeara adat perkawinan, upaeara meneukur rambut anak yang bam lahir. Salah satu upaeara tradisional adalah upaeara "T ABOT" yaitu suatu perayaan tradisional yang dilaksanakan dari tanggal 1 sampai Foto 87. Upacara Adat Suku dengan tanggal 10 Muharram setiap tahunnya, untuk Rejang Lebong memperingati gugumya Hasan dan Husen eueu N abi Muhammad SAW oleh keluarga Yalid dari kaum Syiah, dalam peperangan di Karbala pada tahun 61 Hijriah. Pada perayaan TABOT tersebut dilaksanakan berbagai pameran serta lomba ikan - ikan, telong - telong, serta kesenian lainnya yang diikuti oleh kelompok kelompok kesenian yang ada di Provinsi Bengkulu, sehingga menjadikan ajang hiburan rakyat dan menjadi salah satu kalender wisatawan tahunan. Falsafah hidup masyarakat setempat, "Sekundang setungguan Seio Sekato". Bagi masyarakat Bengkulu pembuatan kebijakan yang menyangkut kepentingan bersama yang sering kita dengar dengan bahasa pantun yaitu: "Kebukit Sarno Mendaki, Kelurah Sarno Menurun, Yang Berat Sarno Dipikul, Yang Ringan Sarno Dij inj ing" , artinya dalam membangun, pekerjaan seberat apapun jika sarna-sarna dikerjakan bersama akan terasa ringan juga. Selain itu, ada pula "Bulek Air Kek

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

Pembukuh, Bulek Kata Rek Sepakat", artinya bersatu air dengan bambu, bersatunya pendapat dengan musyawarah. 12. Sosial Budaya Riau Riau berada di garda terdepan dalam menjaga tradisi dan kebudayaan Melayu di Indonesia. Bahasa pengantar di provinsi ini umumnya Melayu. Adat istiadat yang berkembang dan hidup di provinsi ini adalah adat istiadat Melayu, yang mengatur segala kegiatan dan tingkah laku warga masyarakatnya bersendikan Syariah Islam. Penduduknya pun terdiri dari Suku Melayu Riau dan berbagai suku lainnya, mulai dari Bugis, Banjar, Mandahiling, Batak, Jawa, Minangkabau, dan China. Uniknya, di provinsi ini masih terdapat kelompok masyarakat yang di kenal dengan masyarakat terasing, antara lain: 1. Suku Sakai: kelompok etnis yang berdiam di beberapa kabupaten antara lain Kampar, Bengkalis, Dumai: 2. Suku Talang Mamak: berdiam di daerah Kabupaten Indragiri Hulu dengan daerah persebaran meliputi tiga keeamatan: Pasir Penyu, Siberida, dan Rengat: 3. Suku Akit: kelompok sosial yang berdiam di daerah Rutan Panjang Keeamatan Rupat, Kabupaten Bengkalis: 4. Suku Rutan: suku asli yang mendiami daerah Selat Baru dan Jangkang di Bengkalis, dan juga membuat desa Sokap di Pulau Rangsang Keeamatan Tebing Tinggi serta mendiami Merbau, sungai Apit dan Kuala Kampar.

Foto 88. Kancet Punan Lettu, Kancet NyelamaSuku Sakai

13. Sosial Budaya Sumatera Barat Foto 89. Suku Sakai Mayoritas penduduk Sumatera Barat merupakan suku Minangkabau. Suku ini awalnya berasal dari dua klan utama: Koto Piliang didirikan Datuak Katumanggungan dan Bodi Chaniago yang didirikan Datuak Parpatiah nan Sabatang, Suka Kato Piliang memakai sistem aristokrasi yang dikenal dengan istilah Titiak Dari Ateh (titik dari atas) ala istana Pagaruyung, sedangkan Bodi Chaniago lebih bersifat demokratis, yang dikenal dengan istilah Mambasuik Dari Bumi (muneul dari bumi). Sehari-hari, masyarakat berkomunikasi dengan Bahasa Foto 90. Rumah Minangkabau yang memiliki beberapa dialek, seperti dialek Tradisional Minang Bukittinggi, dialek Pariaman, dialek Pasisir Selatan, dan dialek Payakumbuh. Sementara itu, di daerah kepulauan Mentawai yang terletak beberapa puluh kilometer di lepas pantai Sumatera Barat, masyarakatnya menggunakan Bahasa Mentawai. Di Daerah Pasaman bahkan Bahasa Batak berdialek Mandailing digunakan, biasanya oleh suku Batak Mandailing. Masyarakat Sumatera Barat, sangat manghargai nilai-nilai adat dan budaya tradisional serta terbuka terhadap nilai-nilai positifyang datang dari luar. Kondisi ini membawa kepada komunitas yang sangat

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

kondusif bagi pembangunan nasional dan cita-cita reformasi. Meskipun suku Minangkabau mendominasi masyarakat Sumatera Barat secara keseluruhan, kehidupan mereka relatif rukun dan damai dengan warga pendatang lainnya yang terdiri atas berbagai etnis minoritas, seperti snku Mentawai di Kepulauan Mentawai, snku Mandailing di Pasaman, transmigran asal Jawa di Pasaman dan Sijunjung, kelompok etnis Cina, dan berbagai suku pendatang lainnya yang berdiam di kota-kota di Sumatera Barat. Di antara sesama mereka terdapat hubungan dan interaksi sosial yang positif dan jarang terdapat jurang dan kecemburuan sosial yang besar antara berbagai kelompok dan golongan. Hal ini merupakan landasan yang solid bagi persatuan bangsa yang perlu dipelihara dan dikembangkan serta ditingkatkan. 14. Sosial Budaya Sumatera Selatan Sumatera Selatan di kenal juga dengan sebutan Bumi Sriwijaya karena wilayah ini di abad VII - XII Masehi merupakan pusat kerajaan maritim terbesar dan terkuat di Indonesia yakni Kerajaan Sriwijaya. Pengaruhnya bahkan sampai ke Formosoa dan Cina di Asia serta Madagaskar di Afrika. Di provinsi yang amat sangat terkenal dengan kain songket dan kain pelanginya ini terdapat 12 jenis bahasa daerah dan delapan suku, di antaranya dominan adalah Suku Palembang, Suku Komering, Suku Ranau, dan Suku Semendo. Foto 91. Budaya Perkawinan Untnk menjaga keragaman ini tetap berada dalam harmoni, Palembang pemerintah lokal membuat peraturan daerah yang bertujuan untuk mengelola kebudayaan yang ada. Peraturan ini mencakup pemeliharaan bahasa, sastra serta aksara daerah, pemeliharann kesenian, pengelolaan kepurbakalaan kesejarahan serta nilai tradisional dan museum. Pariwisata Sumatera Selatan bahkan dalam koridor peraturan daerah in, agar pariwisata di sana tetap berbasis kebudayaan Sumatera Selatan di satu sisi dan bernilai ekonomi tinggi di sisi yang lain. Masyarakat Sumatera Selatan umumnya hidup rukun dan agamis. Selama periode 2004 - 2006, misalnya, tidak terdapat catatan buruk tentang konflik antar kelompok atau antarsuku tertentu. Kendati demikian, sebagai langkah preventif pemerintah harus berupaya menggalang kerukunan diantara masyarakatnya dengan menghadirkan tokoh agama terkenal, dan lain sebagainya. Di berbagai forum semacam itulah pemerintah menekankan pentingnya harmoni dan stabilitas demi kelanjutan pembangunan. 15. Sosial Budaya Bangka Belitung Meski banyak suku yang menetap di Kepulauan Bangka Belitung. Melayu, Bugis, Jawa, Batak, Buton, Sunda, Madura, Flores, Bali, dan Keturunan Tionghoa (Cina) bahasa paling dominan yang mereka gunakan adalah Melayu yang juga merupakan bahasa daerah setempat, Bahasa Mandarin dan Bahasa Jawa menempati urutan berikutnya.

Foto 92. Tari tradisional Bamgka Belitung

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

Di bidang kebudayaan, adat - istiadat masyarakat setempat tentu saja menjadi dominan diselenggarakan, bahkan untuk ukuran tertentu bisa di eksploitasi menjadi daya tarik pariwisata tersendiri. Beberapa adat - istiadat yang kerap dilakukan masyarakat misalnya: 1. Sepintu Sedulang; ritual yang lebih dikenal dengan sebutan Nganggung, di mana masyarakat dulang berisi makanan untuk dimakan siapa saja yang hadir di masjid; 2. Rebo Kasan; upacara yang dilaksanakan sebagai rasa syukur kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa, agar mereka terhindar dari bencana sebelum ke laut mencari ikan; 3. Buang Joang; upacara tolak bala untuk keamanan desa, mirip upacara Rebo Kesan; 4. Ceriak Nerang; upacara yang dilakukan setelah panen padi sebagai puji syukur pada Allah, Tuhan Yang Maha Esa; 5. Perang Ketupat; upacara yang diadakan setiap bulan Sya'ban menyambut Ramadhan; 6. Mandi Belimau; dilaksanakan seminggu sebelum awal Ramadhan di pinggir Sungai Limbung; 7. Lesong Panjang; upacara yang dilaksanakan sebagai rasa syukur kepada Allah SWT atas hasil panen; Adat Sijuk; upacara khusus pada hari besar agama; Tari Sambut; tarian khas di Bangka Belitung, dilakukan saat masyarakat menyambut tamu - tamu istimewa, dan Nirak Nanggok; upacara adat untuk menunjukan rasa syukur atas kebaikan, dilakukan di Desa Membalong, Belitung. 16. Sosial Budaya Jambi Hanya ada satu bahasa daerah di Provinsi Jambi, yaitu Bahasa Melayu, dengan beberapa dialek lokal seperti dialek Kerinci, Bungo/Tebo, Sarolangun, Bangko, Melayu Timur (Tanjung Jabung Barat dan Tanjung Jabung Timur), Batanghari, Jambi Seberang, Anak Dalam dan Campuran. Khusus untuk masyarakat Kerinci, mereka mempunyai aksara tersendiri yang dikenal dengan Aksara Encong yang dapat ditemui dan digunakan oleh sekelompok masyarakat di sana. Provinsi ini dapat dikatakan multietnis. Sebagian besar adalah Melayu Jambi dan selebihnya adalah berbagai suku dan etnis dari seluruh Indonesia. Etnis dominan adalah Minang, Bugis, Jawa, Sunda, Batak, Cina, Arab, dan India. Di provinsi ini adat istiadat Melayu sangat dominan. Adat inilah yang mengatur segala Foto 93. Cara Berburu kegiatan dan tingkah laku warga masyarakat yang bersendikan Tradisional J ambi - Sumber kepada hukum islam. Adagium "Adat bersendikan sara', sara' Dinas Kebudayaan Jambi. bersendikan kitabullah" atau "Sara' mengato adat memakai" sangat memsyarakat di sana. Penegak syariat Islam banyak Dikomposisikan oleh mewamai masyarakat Jambi. Dalam keseharian mereka, banyak Peneliti 2011 ajaran dan pengaruh Islam diterapkan, diantaranya tradisi tahlilan kematian, Yasinan, serta berbagai upacara yang dilakukan mengikuti daur hidup manusia. Sebagai masyarakat agraris, warga Jambi juga kerap melaksanakan adat-istiadat yang berkaitan juga dalam bidang pertanian, misalnya adat "serentak turun ke umo". Dalam mengolah sawah sesuai dengan musimnya dengan berpedoman pada rotasi iklim, hal ini di sebut "piamo". Dalam hal keamanan

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

tanaman agar tidak dirusak temak, berlaku pepatah adat "umo bekandang siang, kerbo bekandang malam", yang berarti jika binatang temak mengganggu tanaman siang hari, maka tanggung jawab tetap pada si pemilik sawah atau kebun. Sebaliknya jika temak memasuki sawah atau kebun pada malam hari, tanggung jawab tetap ada di pundak pemilik temak. Untuk memperkuat dan memelihara adat istiadat tersebut, berbagai kegiatan kesenian dan sosial budaya kerap di lakukan, antara lain: 1. Tari Asik, dilakukan oleh sekelompok orang untuk mengusir bala penyakit; 2. Tradisi Berdah, dilaksanakan saat terjadi bencana dengan tujuan menolak bencana; 3. Kenduri Seko, bertujuan untuk membersihkan pusaka dalam bentuk keris, tombak, Al Kitab dalam bentuk Ranji-ranji Kuno; 4. Mandi Safar, dilaksanakan pada hari Rabu di akhir bulan Safar bertujuan untuk menolak bala; 5. Mandi Belimau Gedang, dilaksanakan menjelang Ramadhan dengan tujuan menyucikan dan mengharumkan diri; dan 6. Ziarah Kubur, dilaksanakan menjelang Ramadhan dengan tujuan mendoakan arwah leluhur. Provinsi Jambi sangat kaya akan kerajinan daerah, salah satu bentuk kerajinan daerah adalah anyaman yang berkembang dalam bentuk aneka ragam. Kerajinan anyaman di buat dari daun pandan, daun rasau, rumput laut, batang rumput resam, rotan, daun kelapa, daun nipah, dan daun rumbia. Hasil anyaman ini bermacam-macam pula, mulai dari bakul, sump it, ambung, katang-katang, tikar, kajang, atap, ketupat, tudung saji, tudung kepala dan alat penangkap ikan yang disebut Sempirai, Pangilo, lukah dan sebagainya. Kerajinan lainnya adalah hasil tenun yang sangat terkenal, yaitu tenunan dan batik motif flora. 17. Sosial Budaya Lampung Provinsi Lampung dikenal juga dengan julukan "Sang Bumi Ruwa Jurai" yang berarti satu bumi yang didiami oleh dua mac am masyarakat (sukuletnis), yaitu masyarakat Pepadun dan Saibatin. Masyarakat pertama mendiami daratan dan pedalaman Lampung, seperti daerah Tulang Bawang, Abung, Sungkai, Way Kanan, dan Pub ian, sedangkan masyarakat kedua mendiami daerah pesisir pantai, seperti Labuhan Maringgai, Pesisir Krui, Pesisir Semangka (Wonosobo dan Kota Agung), Balalau, dan Pesisir Rajabasa. Di samping penduduk asli Suku Lampung, Suku Banten, Suku Bugis, Jawa, dan Bali juga menetap di provinsi itu. Suku -suku ini masuk secara massif ke sana sejak Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1905 memindahkan orang-orang dari Foto 94. Upacara Naik Jawa dan ditempatkan di hampir semua daerah di Lampung. Pepaduan Lampung Kebijakan ini terus berlanjut hingga 1979, batas akhir Lampung secara resmi dinyatakan tidak lagi menjadi daerah tujuan transmigrasi. Namun, mengingat posisi Lampung yang strategis sebagai pintu gerbang pulau Sumatera dan dekat dengan Ibu Kota Negara, pertumbuhan penduduk yang berasal dari pendatang pun tetap saja tak bisa di bendung setiap tahunnya.

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

Masyarakat Lampung memiliki bahasa dan aksara sendiri, namun penggunaan bahasa Lampung pada daerah perkotaan masih sangat minim akibat heterogenitas masyarakat perkotaan dan karena itu penggunaan Bahasa Indonesia lebih menonjol. Untuk daerah pedesaan, terutama pada perkampungan masyarakat asli Lampung (riyuh ataupun pekon), penggunaan Bahasa Lampung sangat dominan. Bahasa Lamapung terdiri dari dua dialek, pertama dialek "0" yang biasanya di gunakan oleh masyarakat Pepaduan, meliputi Abung dan Menggala: serta dialek "A" dan umumnya digunakan masyarakat Saibatin, seperti Labuhan meringis, Pesisir Krui, Pesisie Semangka, Belalau, Ranau, Pesisir Rajabasa, Komering, dan Kayu Agung. Namun demikian ada pula masyarakat Pepaduan yang menggunakan dialek "A" ini, yaitu Way Kanan, Sungkai, dan Pubian. Di samping memiliki bahasa daerah yang khas, masyarakat Lampung juga memiliki aksara sendiri yang disebut dengan huruf kha gha nga. Aksara dan Bahasa Lampung itu menjadi kurikulum muatan lokal yang wajib dipelajari oleh murid-murid SD dan SMP di seluruh Provinsi Lampung. Nilai-nilai budaya masyarakat Lampung bersumber pada falsafah Piil Pasenggiri, yang terdiri atas: Piil Pasanggiri (harga diri, perilaku, sikap hidup): 1. Nengah nyappur (hidup bermasyarakat, membuka diri dalam pergaulan): 2. Nemui nyimah (terbuka tang an, murah hati dan ramah pada semua orang) 3. Berjuluk Beadek (bemama, bergelar, saling menghormati) 4. Sakai Sambayan (gotong royong, tolong menolong) Nilai-nilai masyarakat Lampung tercermin pula dalam bentuk kesenian tradisional, mulai dari tari tradisional, gitar klasik Lampung, sastra lisan, sastra tulis, serta dalam bentuk upacara kelahiran, kematian dan kematian. Pembinaan terhadap seni budaya daerah ini dilakukan oleh pemerintah daerah dan lembaga adat secara sinergis. Pada tahun 2006 terdapat sejumlah organisasi kesenian, baik yang bersifat seni tradisional maupun kreasi baru, yang tersebar di berbagai daerah di Lampung. Cabang organisasi tersebut meliputi 127 organisasi seni tari, 87 organisasi seni musik, 15 organisasi seni teater, dan 30 organisasi seni rupa. Pada kunjungan kerja ke Provinsi Lampung pada tanggal 14 Juli 2005, dalam acara Peresmian Pembukaan Utsawa Dharma Gita Tingkat Nasional IX tahun 2005, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berpesan bahwa: Bangsa kita memang bangsa yang majemuk, yang mempunyai latar belakang kesukuan, kebudayaan, dan keagamaan yang berbeda-beda. Namun hakekat kemanusiaan sesungguhnya adalah satu, yaitu semua manusia adalah ciptaan Tuhan. Sebab itu, perbedaanperbedaan tidaklah menjadi halangan bagi kita untuk hidup rukun, hidup damai, dan hidup bersatu menjadi sebuah bangsa di bawah naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia. 18. Sosial Budaya Papua Mengacu pada perbedaan tofografi dan adat istiadat, penduduk Papua dapat dibedakan menjadi tiga kelompok besar, masing-masing: 1. Penduduk daerah pantai dan kepulauan dengan ciri-ciri umum rumah di atas tiang (rumah panggung) dengan mata pencaharian menokok sagu dan menangkap ikan);

Foto 95. Ekspresi 2 Unsur Tari Huembelo. Sumber Data Peneliti - 2011

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

Penduduk daerah pedalaman yang hidup di daerah sungai, rawa danau dan lembah serta kaki gunung. Umumnya mereka bermata pencaharian menangkap ikan, berburu dan mengumpulkan hasil hutan; Penduduk daerah dataran tinggi dengan mata pencaharian berkebun dan bertemak secara sederhana. Kelompok asli di Papua terdiri atas 193 suku dengan 193 bahasa yang masing-masing berbeda. Tribal arts yang indah dan telah terkenal di dunia dibuat oleh suku Asmat, Ka moro, Dani, dan Sentani. Sumber berbagai kearifan lokal untuk kemanusiaan dan pengelolaan lingkungan yang lebih baik diantaranya dapat ditemukan di suku Aitinyo, Arfak, Asmat, Agast, Aya maru, Mandacan, Biak, Ami, Sentani, dan lain-lain. Umumnya masyarakat Papua hidup dalam sistem kekerabatan dengan menganut garis keturunan ayah (patrilinea). Budaya setempat berasal dari Melanesia. Masyarakat berpenduduk asli Papua cenderung menggunakan bahasa daerah yang sangat dipengaruhi oleh alam laut, hutan dan pegunungan. Dalam perilaku sosial terdapat suatu falsafah masyarakat yang sangat unik, misalnya seperti yang ditunjukan oleh budaya suku Komoro di Kabupaten Mimika, yang membuat genderang dengan menggunakan darah. Suku Dani di Kabupaten Jayawijaya yang gemar melakukan perang-perangan, yang dalam bahasa Dani disebut Win. Budaya ini merupakan warisan turun-temurun dan di jadikan festival budaya lembah Baliem. Ada juga rumah tradisional Honai, yang didalamnya terdapat mummy yang di awetkan dengan ramuan Foto 96. Gaya berperang, tradisional. Terdapat tiga mummy di Wamena; Mummy Aikima suku Kiwai & Komba berusia 350 tahun, mummy Jiwika 300 tahun, dan mummy Pumo daerah sungai fly. Sumber berusia 250 tahun. Di suku Marin, Kabupaten Merauke, terdapat Data Peneliti - 2007 upacara Tanam Sasi, sejenis kayu yang dilaksanakan sebagai bagian dari rangkaian upacara kematian. Sasi ditanam 40 hari setelah hari kematian seseorang dan akan dicabut kembali setelah 1.000 hari. Budaya suku Asmat dengan ukiran dan souvenir dari Asmat terkenal hingga ke mancanegara. Ukiran asmat mempunyai empat makna dan fungsi, masing-masing: 1. Melambangkan kehadiran roh nenek moyang; 2. Untuk menyatakan rasa sedih dan bahagia; 3. Sebagai suatu lambang kepercayaan dengan motif manusia, hewan, tetumbuhan dan bendabenda lain; 4. Sebagai lambang keindahan dan gambaran ingatan kepada nenek moyang. Budaya suku Imeko di kabupaten Sorong Selatan menampilkan tarian adat Imeko dengan budaya suku Maybrat dengan tarian adat memperingati hari tertentu seperti panen tebu, memasuki rumah baru dan lainnya. Keagamaan merupakan salah satu aspek yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat di Papua dan dalam hal kerukunan antar umat beragama di sana dapat dij adikan contoh bagi daerah lain, mayoritas penduduknya beragama Kristen, namun demikian sejalan dengan semakin lancamya transportasi dari dan ke Papua, jumlah orang dengan agama lain termasuk Islam juga semakin berkembang. Banyak misionaris yang melakukan misi keagamaan di pedalaman-pedalaman Papua. Mereka memainkan peran penting dalam membantu masyarakat, baik melalui sekolah misionaris,

2.

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

balai pengobatan maupun pendidikan lang sung dalam bidang pertanian, pengajaran bahasa Indonesia maupun pengetahuan praktis lainnya. Misionaris juga merupakan pelopor dalam membuka jalur penerbangan ke daerah-daerah pedalaman yang belum terjangkau oleh penerbangan reguler. 19. Sosial Budaya Papua Barat Papua Barat memiliki 24 suku dengan bahasa yang berbedabeda antara suku yang satu dengan yang lainnya. Bahkan satu suku memiliki beberapa bahasa. Wilayah Papua Barat tidak identik dengan wilayah budaya masing-masing karena suku tersebut menyebar pada beberapa kabupaten. Suku Arfak mendiami pegunungan Arfak di kabupaten Manokwari hingga ke Bintuni. Suku Doteri merupakan suku migran dari pulau Numfor di wilayah pesisir kabupaten Wondama, bersama suku Kuri, Simuri, lrarutu, Sebyar, Moscona, Mairasi, Kambouw, Onim, Sekar, Maibrat, Tehit, Imeko, Moi, Tipin, Maya, dan Biak yang sedak dahulu merupakan suku mayoritas dan telah mendiami wilayah kepulauan Raja Amp at. Penduduk asli Papua Barat bermata pencaharian sebagai nelayan dan petani tradisional. Makanan asli penduduk Papua Barat Foto 96. Tari Persembahan adalah sagu, ubu-ubian dan nasi. Selain masyarakat asli papua Suku Maybrat, Tmian, barat, hidup berbaur suku -suku lain dari seluruh nusantara seperti Sawiat- suber peneliti-201 0 Jawa, Bugis, Batak, Dayak, Manado, key, Tionghoa dan lainnya. Kehidupan tradisional masyarakat asli Papua Barat masih dapat dijumpai di kampung-kampung tiap daerah dengan adanya kepala suku sebagai pimpinan. Masyarakat asli Papua Barat menganut mayoritas beragama Kristen protestan, Khatolik dan Islam. Wilayah Papua Barat merupakan temp at pekabaran Injil dan juga syiar Islam. Kehidupan primitif di tanah Papua Barat sudah hampir tidak dijumpai lagi. Rumah-rumah tradisional yang terbuat dari kulit kayu, batang dan cabang-cabang pohon serta tali-tali rotan dan liana hutan sudah mulai diganti dengan konstruksi rumah semi permanen. Sisa-sisa peradaban purbakala dapat dijumpai di daerah Fakfak dan Kaimana yang berupa lukisan purbakala bermotif telapak tangan manusia, motif tumbuhan, dan motif hewan yang dilukis di dindingdinding pulau kerang dengan menggunakan pewarna alami yang hingga kini masih merupakan mistik. 20. Sosial Budaya Gorongtalo Sebelum masa penjajahan keadaan daerah Gorontalo berbentuk kerajaan-kerajaan yang diatur menurut hukum adat Foto 97. Budaya Perkawinan ketatanegaraan Gorontalo. Antara agama dengan adat di Gorongtalo. SumberPeneliti Gorontalo menyatu dengan istilah "Adat bersendikan Syara' 2011 dan Syara' bersendikan Kitabbullah". Pohalaa Gorontalo merupakan pohalaa yang paling menonjol diantara kelima pohalaa tersebut. ltulah sebabnya Gorontalo lebih banyak dikenal.

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

Menurut masyarakat Gorontalo, nenek moyang mereka bemama Hulontalangi, artinya 'seorang pengembara yang turun dari langit'. Tokoh ini berdiam di Gunung Tilongkabila, akhimya ia menikah dengan seorang wanita pendatang bemama Tilopudelo yang singgah dengan perahu ke tempat itu. Perahu tersebut berpenumpang 8 orang. Mereka inilah yang kemudian menurunkan komunitas etnis atau suku Gorontalo. Sebutan Hulontalangi kemudian berubah menjadi Hulontalo dan akhimya Gorontalo. Orang Gorontalo menggunakan bahasa Gorontalo, yang terbagi atas tiga dialek, dialek Gorontalo, dialek Bolango, dan dialek Suwawa. Saat ini yang paling dominan adalah dialek Gorontalo. Orang Gorontalo hampir dapat dikatakan semuanya beragama Islam. Islam masuk ke daerah ini sekitar abad ke-16. Karena adanya kerajaan-kerajaan di masa lalu sempat muneul kelaskelas dalam masyarakat Gorontalo: kelas raja dan keturunannya (wali-wali), lapisan rakyat kebanyakan (tuangolipu). 21. Sosial Budaya Kalimantan Barat Melihat sosial budaya Kalimantan Barat, kita bagaikan melihat mosaik yang berdenyut dinamis. Bayangkan saja, jika terdapat 164 bahasa daerah, 152 diantaranya bahasa adalah bahasa Subsuku Dayak dan 12 sisanya bahasa Subsuku Melayu. Aneka rag am bahasa ini dituturkan oleh sedikitnya 20 suku atau etnis, tiga di antaranya suku asli dan 17 sisanya suku pendatang. Sejumlah adat istiadat masih lestari di sana, terutama ketika berlangsung aeara melahirkan, peringatan tujuh bulan jabang bayi di kandungan, kematian, menanam padi, panen, pengobatan, anisiasi, mangkok merah. Dalam kaitan itu, nilai-nilai budaya seperti: Semangat Foto 98. Karnafal Budaya gotong royong, religiuslitas, kejujuran, toleransi, keadilan sosial, Suku Dayak perdamaian, kompetisi, kritis, dan ksatria masih tetap di pelihara di tengah -tengah masyarakat. Dalam mengembangkan sektor ekonominya, Kalimantan Barat eukup gigih berjuang. Beda halnya di sektor kepariwisataan. Salah satu kelemahan turisme di provinsi ini adalah kurangnya saran dan prasarana pariwisata. Tentu saja ini amat sangat disayangkan. Potensi ke arah lain, sesungguhnya sangat besar, mengingat Kalimantan Barat bersebelahan persis dengan luar negeri. Karena turisme kurang populer, maka penduduk setempat kurang aware dengan industri satu ini. Inilah kelemahan kedua industri turisme di Kalimantan Barat. Kondisi ini, jauh berbeda dengan keadaan Yogyakarta atau Bali, dimana penduduknya sadar betul bahwa mereka bisa mengais devisa yang sangat besar dari dunia pariwisata. Ke depan, menjadi tugas pemerintah lokal mengeksplorasi potensi-potensi wisata di provinsi ini, misalnya dengan mengembangkan sarana jalan dan temp at-temp at penginapan di sekitar Danau Sentarum hingga danau ini bisa menjadi sekaliber Danau Toba di Sumatera Utara. 3. Unsur-Unsur Kebudayaan Ada beberapa pendapat ahli yang mengemukakan mengenai komponen atau unsur kebudayaan, antara lain sebagai berikut: 1. Melville J. Herskovits menyebutkan kebudayaan memiliki 4 unsur pokok, yaitu: a) alat-alat teknologi b) sistem ekonomi e) keluarga d) kekuasaan politik

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

d.

Brorrislaw Malinowski mengatakan ada 4 unsur pokok yang meliputi: a) sistem norma sosial yang memungkinkan kerja sarna antara para anggota masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan alam sekelilingnya b) orgarrisasi ekonomi e) alat-alat dan lembaga-lembaga atau petugas-petugas untuk pendidikan (keluarga adalah lembaga pendidikan utama) d) orgarrisasi kekuatan (politik) Wujud Dan Komponen Budaya 1. Wujud Budaya Menurut J.J. Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga: gagasan, aktivitas, dan artefak. • Gagasan (Wujud Ideal) Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentnk kumpulan ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak; tidak dapat diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam kepala-kepala atau di alam pemikiran warga masyarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam karangan dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat tersebut. • Aktivitas (Tindakan) Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati dan didokumentasikan. • Artefak (Karya) Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret diantara ketiga wujud kebudayaan. Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang satu tidak bisa dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai eontoh: wujud kebudayaan ideal mengatur dan memberi arah kepada tindakan (aktivitas) dan karya (artefak) manusia. 2. Komponen Budaya Berdasarkan wujudnya terse but, kebudayaan dapat digolongkan atas dua komponen utama: • Kebudayaan Material Kebudayaan material mengaeu pada semua eiptaan masyarakat yang nyata, konkret. Termasuk dalam kebudayaan material ini adalah temuan-temuan yang dihasilkan dari suatu penggalian arkeologi: mangkuk tanah liat, perhisalan, senjata, dan seterusnya. Kebudayaan material juga meneakup barang-barang, seperti televisi, pesawat terbang, stadion olahraga, pakaian, gedung peneakar langit, dan me sin cuei. • Kebudayaan Nonmaterial

2.

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

3.

Kebudayaan nonmaterial adalah ciptaan -ciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi ke generasi, misalnya berupa dongeng, cerita rakyat, dan lagu atau tarian tradisional. Hubungan Antara Un sur-Un sur Kebudayaan Komponen-komponen atau unsur-unsur utama dari kebudayaan antara lain: a. Peralatan dan Perlengkapan Hidup (Teknologi) Teknologi menyangkut cara-cara atau teknik memproduksi, memakai, serta memelihara segala peralatan dan perlengkapan. Teknologi muncul dalam cara-cara manusia mengorganisasikan masyarakat, dalam cara-cara mengekspresikan rasa keindahan, atau dalam memproduksi hasil-hasil kesenian. Masyarakat kecil yang berpindah-pindah atau masyarakat pedesaan yang hidup dari pertanian paling sedikit mengenal delapan macam teknologi tradisional (disebut juga sistem peralatan dan unsur kebudayaan Foto 99. Bekerja menggunakan fisik), yaitu: bahan tradisional hasil 1. Alat-alat produktif 2. Senjata teknoloai sederhana 3. wadah 4. Alat-Alat menyalakan Api 4. makanan 5. Pakaian 6. pakaian 7. Tempat Berlindung 8. alat-alat transportasi b. Sistem Mata Pencaharian Perhatian para ilmuwan pada sistem mata pencaharian mi terfokus pada masalahmasalah mata pencaharian tradisional saja, di antaranya: A. Berburu dan meramu B. Betemak C. Bercocok tanam di ladang D. Menangkap ikan c. Perburuan atau Berburu adalah praktik mengejar, menangkap, atau membunuh hewan liar untuk dimakan, rekreasi, perdagangan, atau memanfaatkan hasil produknya (seperti kulit, susu, gading dan lain-lain). Dalam penggunaannya, kata mi merujuk pada pemburuan yang sah dan sesuai dengan hukum, sedangkan yang bertentangan dengan hukum disebut dengan perburuan liar. Hewan yang disebut sebagai hewan buruan biasanya berupa mamalia berukuran sedang atau besar, atau burung. Gambar 4. Sistem berburu.
Dikomposisikan oleh Peneliti-2011

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download the free trial online at nitrcpdf.ecmzprofeesiona I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

KONSEP RUANG TRADISIONAL JA WA DALAM KONTEK KEBUDAYAAN
(JF. Hamah Sagrim)

Kita akan meneoba mengulas misteri rumah tinggal orang Jawa, dengan penekanan pada konsep ruang yang terjadi melalui pengetahuan budaya yang dimiliki oleh orang Jawa. Pengetahuan budaya yang terdiri dari kepereayaan dan ritual terlihat mempunyai kaitan yang erat dengan konsep ruang yang terjadi mulai dari orientasi ruang maupun konfigurasi ruang. Banyak hal yang terjelaskan dan membuktikan bahwa ruang pada arsitektur rumah Jawa tidak bebas nilai. Dalam era globalisasi saat ini dunia kehilangan sekat batas antara negara dan kebudayaan menimbulkan banyak persoalan kebudayaan, Akibat pertemuan antar kebudayaan maka terjadilah banyak mutasi kebudayaan yang berakibat pada mutasi perwujudan arsitektur. Dibalik masalah globalisasi muneul global paradoks, nilai-nilai lokal menguat dan diyakini mampu rneniadi sesuatu yang mempunyai nilai jual eukup tinggi. Hal ini ditunjang pula dengan menguatnya pemikiranpost modernisme yang merambah segala aspek kehidupau Banyak wujud bentuk masa lalu diadopsi untuk dihadirkan pada masa kini dengan reinterpretasi baru Kehadiran arsitektur tradisional Jawa dapat dilihat dan dirasakan pada berbagai arsitektur dengan fungsi bermaeam-maeam dan berbagai improvisasi. Mulai muneul berbagai keluhan dan kerisauan di kalangan masyarakat, apakah kehadiran arsitektur tradisional Jawa saat ini sudah sesuai dengan filosofi bangunan Jawa dan pertanyaan tersebut masih dapat dilanjutkan; kalau sudah sesuai maka filosofi bangunan Jawa yang mana. Sebab kalau dilihat kedudukan Pulau Jawa, khususnya Jawa Tengah dan jawa Timur sangat spesifik dan sangat luar biasa dalam sejarah Indonesia dan sekaligus menempatkan pada posisi kunei dalam sejarah Asia Tenggara akibat "pengalaman ganda". Menurut Denys Lombard,1996 Jawa Tengah dan Jawa Timur mengalami tumpang tindih dan saling berpaut dua kebudayaan besar. Menurut Lombard 1996, mutasi yang pertama adalah "Indianisasi" dan mutasi yang kedua adalah "Kolonialisasi Belanda". Belum lagi antara kebudayaan Jawa pedalaman dan kebudayaan Jawa pesisir. Data dan kodifikasi arsitektur tradisional Jawa yang terekam dengan jelas adalah pada saat mulai "Indianisasi" sedangkan sebelunmya sangat sulit sekali ditelusuri kebenaran perwujudan arsitekturnya. Sangat miskin data yang ada, baik yang berupa inskripsi maupun artefak yang tertinggal. Banyak hipotesis yang mengaeu kepada gambar-gambar bangunan yang terpampang di dinding pereandian Hindu gaya Jawa Tengah. Hipotesa inipun patut dipertanyakan kebenarannya, sebab gambar-gambar tersebut apakah merupakan bentukan yang telah hadir sebelum Hindu masuk atau pada saat Hindu berkembang. Salah satu indikator dari akibat kuatnya "Indianisasi" mempengaruhi JawaTengah dan Jawa Timur adalah kehadiran bentuk bangunan yang tidak mempunyai kolong (rumah panggung). Bentuk ini berbeda dengan bentuk yang dimiliki daerah tetangganya seperti Jawa Barat, Sumatra, Sulawesi, Kalimantan dan kawasan Indonesia Timur yang memiliki kolong pada bangunannya. Menurut Parmono Atmadi 1984, hal ini bisa saja akibat terpengaruh kebudayaan India yang berbentuk bangunan pereandian yang ada di India.

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

Latar Belakang Kepercayaan Dan Ritual Jawa Kepercayaan Jawa elidasarkan atas pandangan durria Jawa yaitu keseluruhan keyakinan deskriptip orang Jawa tentang realitas sejauh mana merupakan suatu kesatuan dari padanya manusia memberi struktur yang bermakna kepada pengalamannya (Suseno,1984). Magnis Suseno membedakan 4 unsur pandangan durria Jawa yang berhubungan dengan yang Illahi atau Aclikodrati. Kesatuan dengan yang Illahi elisebut Numinus yang berasal dari kata Numen artinya cahaya Illahi atau Aelikodrati.Kesatuan Nurninus menunjuk pada suatu keadaan jiwa (state of mind) yang mampu menghubungkan realitas dengan gejala-gejala Aclikodrati yang elialami dengan perasaan penuh misteri, kekaguman, takut dan cinta. Unsur pertama adalah kesatuan numinus antara alarn, masyarakat dan alam aclikodrati.Orang Jawa, terutama petani eli pedesaan dalam melakukan pekerjaannya sebagai petani mengenal irama alam seperti pergantian siang dan malarn, musim hujan dan musim kering yang menentukan hasil pertaniannya, Mereka percaya ada suatu kekuatan gaib yang mengendalikan alarn, kekuatan ini muncul secara jelas pada saat-saat terjadinya bencana. Orang Jawa elilahirkan dan elibesarkan dalam lingkungan masyarakatnya. Masyarakat terwujud pertama-tama dalam lingkungan keluarga, kemuelian tetangga, keluarga yang lebih luas dan akhirnya masyarakat seluruh desanya. Dalam lingkungan keluarga inilah setiap inelividu menemukan identitasnya dan merasa aman Hal ini sejalan dengan yang eliungkapkan oleh Revianio Budi Santosa, 2000 bahwa orang Jawa begitu keluar dari rumah dan keluarganya maka dia akan merasakan ketidak pastian dan kemungkinan berhadapan dengan halangan Dengan ''berada elijalan" seseorang berarti berada pada posisi tak menentu karena meninggalkan numb, pijakan dirinya yang mapan baik secara sosial maupun spatial. Kesatuan numinus antara alarn, keluarga dengan yang Aelikodrati elicapai lewat upacaraupacara ritual. Penghormatan terhadap Dewi Sri yang elilakukan eli Sentong Tengah yang terdapat pada setiap rumah petani merupakan upaya untuk memelihara keserasian dengan kekuatan gaib yang menguasai alam agar panenan berhasil. Unsur yang kedua yaitu kesatuan numinus dengan keknasaan Dalam paham Jawa kekuasaan adalah ungkapan energi Illahi yang tanpa bentuk, suatu kekuatan yang berada elimana- mana. Pusat kekuatan itu ada pada raja. Konsep kerajaanjawa adalah suatu lingkaran lwnsentris mengelilingi Sultan sebagai pusat. Lingkungan yang terdekat dengan sultan adalah keraton _,.-'--~ __ Lingkaran yang kedua yang mengitari keraton adalah ibukota negara, lingkungan ketiga adalah Negaragung yang secara harafiah berarti ibukota yang besar, lingkaran terakhir adalah mancanegara atau negara asing (Selosoemarjan, 1962),

A.

I/~/"-'~.~'.' . .. _ __ .
,'/ ... »:=>;

--......~. ~..'\'' '

-'-r =::
s
3. 4.

(Thu KOhl)

( .\

( \ '"

Nagara Gung (Negara agung) Manca Negara (Secara Harafiah Negara Asing) Unsur ketiga adalah dasar numinus keaknan Pada dasarnya keaknan manusia manunggal dengan dasar Illahi dari mana ia berasal, karena itu orang Jawa sepanjang hidupnya akan berusaha untuk menemukan

-,...... . ".,.-~__L....."" __.-,// --~__"_~"'". / " ""_, ,/,/ -~--

(G) ) )
/"

\

\

Gamhar 5. Diagram Empat Lingkaran
Konsentris Kerajaan J awa (Seio Sumarian, 1962)

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

dasar Illahi, usaha untuk mencari realitas diri ini tersirat dalam istilah manunggaling kawuZo Zangusti atau mencari sangkan paraning dumadi. Pengalaman manusia Jawa dalam mencari dasar Illahi keakuannya terbentuk menjadi rasa yaitu suatu pengertian tentang asal dan tujuan segala mahluk hidup. Bagi petani pengertian rasa ini adalah suatu keadaan batin yang tenang, bebas dari ancaman atau kekacauan. Unsur keempat adalah kepercayaan atau kesadaran akan takdir yaitu kesadaran bahwa hidup manusia sudah ditetapkan dan tidak bisa dihindari. Hidup atau mati, nasib buruk dan penyakit merupakan nasib yang tidak dapat dilawan. Menentang nasib hanya akan mengacaukan keselarasan kosmos. Setiap orang mempunyai temp at yang spesifik yang sudah ditakdirkan, tempat ini ditentukan secara jelas melalui kelalriran, kedudukan sosial dan lingkungan geografis. Pemenuhan kewajiban kelridupan yang spesifik sesuai dengan tempatnya masing-masing akan mencegah konflik, selringga dicapai ketentraman batin dan keseimbangan dalam masyarakat serta kosmos. Konsep di atas merupakan konsep yang mencerminkan sikap orang jawa terhadap dunia, manusia wajib memperindah dunia dengan tidak mengganggu keselarasannya. B. Rumah Tinggal Orang Jawa Mengenai asal muasal wujud rumah tinggal orang Jawa sampai saat ini masih merupakan hal yang belum jelas karena kurangnya sumber-sumber tertulis pada jaman sebelum "Indianisasi". Menurut suatu naskah tentang rumah Jawa koleksi museum pusat Dep. P&K No.Inv.B.G.608 disebutkan bahwa rumah orang Jawa pada mulanya dibuat dari bahan batu, teknik penyusunannya seperti batu-batu candi. Tetapi bnkan berarti rumah orang Jawa meniru bentuk candi. Bahkan beberapa ahli menduga bahwa candi meniru bentuk rumah tertentu pada waktu itu (Hamzuri, tanpa tahun). Namun dugaan ini masih perlu dibuktikan lebih laniut mengingat bangunan candi di Jawa dibuat seiring dengan masuknya agama Hindu dan Buddha ke Jawa dari India dan seperti diketahui orang India sebagai pembawa ajaran agama Hindu dan Buddha telah mempunyai pengetahuan yang cuknp canggih dalam pembuatan bangunan candi di India (Mana sara dan Silpasastra). Pada relief candi Borobudur abad VIII yang diteliti oleh Parmono Atmadi ditemui gambaran tentang bangunan rumah konstruksi kayu yang mempunyai bentuk atap peZana, limasan dan tajug. Pada relief candi Borobudur tidak ditemui bentuk atap Joglo (Atmadi,1979).

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

:I~

or,

.r;.

~. g
")

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

~
I

~I i
I!

i , __ I.I .J:

I,

..... __ 1_-1

,, ,,~-I===-f--.. ,.,-_.,,
I_ ------'

I:·':t.:

......"'.,., ....... . -.L

r·~·;./ ,""1 Ii ,""" J!
~'.~

Panggang Pe

Kampung Pokok

Limasan Pokok

Tajug Pokok

T
-.'

.....

'....
"

.

n.


"<,

° , ....
-...
.....

l. .
'.

I

II

J. .--, .:
"""'I
n

'j

~

'I· .-" - - -", ~ ~
.» ; ••• / ;.....

..!
II

I I

I .r: I"":_ __:__

':

.

-c ,

I _ ..I

I

Tajuk Lawakan

Tajug Lambang Gantung

....

".

I

,"

I

To

~:,.,

J; 1:'-' I'

",r

Joglo Lawakan

J oglo Lambang Gantung

Gambar 6: Tipologi Bangunan Jawa (DIY) Sumber Selo Sumarja , 1962, dikomposisikan oleh Peneliti, 2011

Pengertian nunah bagi orang Jawa dapat ditelusuri dari kosa kata Jawa. Menurut Koentjaraningrat (1984) dan Santosa (2000) kata omah-omah berarti benunah tangga, ngomahake membuat kerasan atau menjinakkan, ngomah-ngomahake menikahkan, pomahan pekarangan rumah, pomah penghuni nunah betah menempati rumahnya. Sebuah nunah tinggal Jawa setidak-tidaknya terdiri dari satu unit dasar yaitu omah yang terdiri dari dna bagian, bagian dalam terdiri dari deretan sentong tengah, sentong kin, sentong kanan dan ruang terbuka memanjang di depan deretan sentong yang disebut dalem sedangkan bagian luar disebut emperan seperti dijelaskan dalam gambar 7.

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download the free trial online at nitrcpdf.ecmzprofeesiona I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

\

~
"" _.~? _ Ilftlll,~tfilh
I I I ..... " ",~.. .; .,..... ,_., _

.... = ....
~I..

I :-

/'

"

Gambar 7. Denah Rumah Tinggal Tradisional Jawa. Sumber Selo Sumarja , 1962. Dikomposisikan Oleh Peneliti, 2011

Rumah tinggal yang ideal terdiri dari 2 bangunan atau bila mungkin 3, yaitu pendopo dan peringgitan, bangunan pelengkap lainnya adalah gandok, dapur, pekiwan, lumbung dan kandang hewan, lihat gambar 7.

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

C. Ruang Pada Rumah Jawa a. Konsep Ruang Konsep wang dalam pandangan barat berasal dari dua konsep klasik yang berswnber pada filsafat Yunani. Konsep yang pertama dari Aristoteles, menyatakan bahwa wang adalah suatu medium climana objek materiil berada, keberadaan wang clikaitkan dengan posisi objek rnateriil tersebut (konsep positionrelation). Konsep yang kedua dari Plato kemuclian clikembangkan oleh Newton yaitu konsep displacementcontainer yang melihat wang sebagai wadah yang tetap, jadi walaupun objek materiil yang ada clidalamnya dapat clisingkirkan atau cliganti namun wadah itu tetap ada Munitz,1951). Kedua konsep tersebut mendasari pandangan Barat yang melihat wang dari climensi fisiknya yaitu suatu kesatuan yang mempunyai paniang, lebar dan tinggi atau kedalaman, dengan demikian wang mempunyai sifat yang terukur dan pasti. Gamhar3. Skema Denah Rumah Tinggal Tradisional .Iawa, Sumber Selo Sumarjan 1962. Dikomposisikan oleh Peneliti, 2011

b.~,i;!I'Y'~h IjJ:.S!Lijri1-cmg

...

''

tKailU!iFl

...''

o
~ ~
f!!i..l.t'i.l}l

~~

'1,IPI!t!!~

2. PT.l1\;nI1!or.o .a, DlilIlfrfi I!!I!.~~~~~
1~;·g;I!!Ii"i~T,Afli~hI'" 1I;:,~l""~~Ik:liiln:il!",!1
~\I

!Ii:".!:!!l1dhQk

~;,:.~!~

~:-'.Irii:i!lp.! S'lIi:Ilii:_ii1t! J~):!!

IO~miili".

-

liJIiHk

~~~~

IBBHI'I'~

~UI

~k~1fiijI

Ri,Jiliiflh

B~mi.Jk.rJ'Q,Si_:(;J

MilI""Or"m~

1i!''''!1~M

~.!'!.!!!;

;2'.F!t.'!!1tiii :l..&uml!l,r' ~3L~OO.:ii1"
~d~~~~~dAi

1"T'I.~

UJ.:j"!!~1AI'Ii 1'_~1B!\!!

'2. ,;5im1"!fn:n:'Jg !SJf1
1 i}. ~~fii~QRg lilQn!U_~ iloi;!.. S~~hQrilI KalriiUIi 1~ ~iMi"ii:lllf!~;2~ 1~ ~~_rd~ (IPoo~)1

7.P.;;;~ ~.i!..J~ii"i,Q'!rIJ!ii"i~ !;;I·,ell!!llil,'l!!!l!l~

I,Hml_!li.!F..:ml)~' II. H~I_~fR4inIIOdl!li~

IB~:'!I!~!IIII

~;;I"I"Ip-i~!Ii:

GE!J.r

Eiir,'i!:!~~m.-~"ii'~

iP!L:lii'i..:iJ'1I Bli:Fntu~,j.:.t]It1-

lni clipertegas oleh Descartes dengan konsep Cartesian space yang rnemilah-milah wang kedalam bentuk-bentuk geometris seperti, kubus, bola, prisma, kerucut atau gabungan dari bentuk-bentuk gseometris tersebut (Van de Ven, 1978). Konsep wang barat ini banyak sekali clipakai oleh para arsitek masa kini. Nama wang pada rumah tinggal "modern" rnencerminkan secara jelas fungsi-fungsi untuk pemenuhan kebutuhan fisik-biologis. Fungsi-fungsi yang rnencerminkan kebutuhan sosial dan ungkapan budaya kurang cliperhatikan karena penataan wang-wang tersebut lebih menekankan aspek ekonornis (efisiensi) dan teknis (Tjahjono, 1989). Dernikian pula dengan pembatas halaman pada nunah tinggal modern clipergunakan pagar-pagar besi yang tinggi sehingga membuat pemisahan teritorial yang tegas sehingga mempunyai kesan tertutup, tidak komunikatif dengan tetangga.

Craatod wlth

nit!roPDF"professi anal
download the free trial online at nitrcpdf.ecmzprofeesiona I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

Konsep ruang dalam nunah tinggal menurut tradisi arsitektur Jawa pada kenyataannya berbeda dengan konsep ruang rnenurut tradisi Barat. Tidak ada sinonim kata ruang dalam bahasa Jawa, yang mendekati adalah Nggon, kata kerjanya meniadi Manggon dan Panggonan berarti tempat atau Place. Jadi bagi orang Jawa lebih tepat pengertian tempat dari pada ruang (Tjahjono,1989, Setiawan, 1991). Rumah tinggal bagi orang Jawa dengan demikian adalah tempat atau tatanan tempat, konsep ruang geometris tidak relevan dalam pengertian nunah tinggal Jawa. Pengertian tempat lebih lanjut dapat elilihat pada bagian-bagian rumah tinggal orang Jawa. Pada nunah induk (omah) istilah dalem dapat eliartikan sebagai keakuan orang Jawa karena kata dalem adalah kata ganti orang pertama (aku) dalam bahasa Jawa halus. Dasar keakuan dalam pandangan dunia Jawa terletak pada kesatuan dengan Illahi yang eliupayakan sepanjang hidupnya dalam meneari sangkan paraning dumadi dengan selalu memperdalam rasa yaitu suatu pengertian tentang asal dan tujuan sebagai mahluk (Magnis Suseno,1984). Sentong tengah yang terletak elibagian Omah merupakan tempat bagi pemilik rumah untuk berhubungan dan menyatu dengan Illahi sedangkan Pendopo merupakan sarana untuk berkomunikasi dengan sesama manusianya (Priyotomo, 1984). Demikianlah pengertian ruang dalam rumah tinggal Jawa ini meneakup aspek tempat, waktu dan ritual. Rumah tinggal merupakan tempat menyatunya jagad-cilik (micro cosmos) yaitu manusia Jawa denganjagad-gede (macro-cosmos) yaitu alam semesta dan kekuatan gaib yang menguasainya. Bagi orang Jawa nunah tinggalnya merupakan poros dunia (axis-mundi) dan gambaran dunia atau imago-mundi (Eliade,1957) dan memenuhi aspek kosmos dan pusat (Tjahjono, 1981), lihat gambar 9.

~ I' I!I1Klirii"'."". ~~!["'
~~~...J...j__jl:L...JU

'1U!illi .

=-'I'

Skema Konsep Persatuan Ibu Bumi dan Bapa Langit

Pendopo

rringgitan

I

Umah

Gamhar 9. Urutan Tingkat Kesakralan dan Cahaya Dalam Ruang (Gunawan Tjahjono, 1931)
dikomposisikan oleh.Peneliti, 2011

b.

Orientasi Ruang Rumah tinggal eli daerah Yogyakarta dan Surakarta kebanyakan memiliki orientasi arah hadap ke Selatan. Orientasi ini menurut tradisi bersurnber pada kepereayaan terhadap Nyai Roro Kidul yang bersernayam eli Laut Selatan, Dernikian juga dengan arah tidur (Wondoamiseno dan Basuki, 1986). Namun rupanya makin jauh dari pusat keraton (kebudayaan Jawa) kebiasaan ini makin elitinggalkan, seperti yang terjadi eli daerah Somoroto, Ponorogo (Setiawan, 1991). Dalam primbon Betaljemur Adammakua bab 172 elipaparkan juga eara penentuan arah nunah yang eliperhitungkan berdasarkan hari pasaran kelahiran pemilik nunah berkaitan dengan arah ke empat peniuru angin.

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

c.

Konfigurasi Ruang

Konfigurasi wang atau bagian-bagian nunah orang Jawa di desa membentuk tatanan tiga bagian linier belakang. Bagian depan pendopo, di tengah peringgitan dan yang paling belakang dan terdalam adalah dalem. Konfigurasi linier ini memungkinkan membuat nunah secara bertahap dengan bagian dalem dibangun terlebih dahulu. Luas pendopo pada rumah tinggalorang Jawa kenyataannya cukup luas. Hal ini terjadi karena diprediksikan dapat menampung sanak-sedulur atau kindred pada hari raya Idul Fitri dimana semua anak cucu dan para kerabat akan datang. Selain itu pendopo mempunyai fungsi untuk pengeringan padi. Pada konfigurai wang rumah Jawa dikenal adanya dualisme (oposisi binair), antara luar dan dalam, antara kiri dan kanan, antara daerah istirahat dan daerah aktivitas, antara spirit laki-laki (tempat placenta yang biasanya diletakkan sebelah kanan) dan spirit wanita (tempat placenta yang biasanya diletakkan pada bagian kiri), sentong kanan dan sentong kiri. Pembagian dua ini juga terjadi pula pada saat pagelaran wayang, dimana layar diletakkan sepaniang Peringgitan, dalang dan perangkatnya di bagian pendapa dengan penonton laki-laki sedangkan perempuan menonton dari bagian belakang (bayangannya) dibagian Emperan nunah, lihat gambar 10.

I'"

/

I

J

~E

~bD

'IJJ"~.

1:.~1..

GamharlO. PosisiPagelaran Wayang. Sumber Selo Sumarjan 1962. Dikomposisikan oleh Peneliti, 2011

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

Demikian juga pada saat pernikahan elilakukan tatamn pengantin eli depan sentong tengah dan para tamu elibagi menjaeli 2 bagian antara tamu laki-laki dan tamu perempuan seperti pada gambar 7. Rupa bangumn nunah tinggal traelisional Jawa elidominasi oleh bentuk atapnya. Ada 3 bentuk dasar atap yaitu Kampung, limasan dan Jagla yang elisebut bucu eli daerah ponorogo (Se1iawan,1991). Panggang Pe tidak termasuk dalam kategori ini karena umurrmya bersifat sementara dan TaJug umwrmya untuk mesjid. Badan bangumn tercliri dari tiang-tiang kayu yang berukuran keeil antara 5 em sampai dengan 20 em, berdiri bebas tanpa clineling karena itu ruangnya terbuka (pendopo). Ukuran tinggi badan mulai dari bangumn muka lantai sampai garis atap terendah elibanelingkantinggi atap mulai dari garis atap terendah sampai puneak atap (molo) kira-kira 1:3 sampai 5 pada atap limasan dan bucu, karena badan bangumn pendek, terbuka dan berkesan ringan sedangkan atap meniulang tinggi, masif dan terkesan berat maka bentuk atap menjaeli dominan, Untuk oruamentatif dekoratif bangumn eli pusat kebudayaan Jawa yaitu eli keraton mempunyai banyak ragam bias flora yang diwarrai merah, bitam, bijau, putih dan kuning keemasan sedangkan pada daerah pinggiran kebudayaan Jawa pada umwrmya nunah tinggalnya sangat seclikit sekali eliberikan oruamentatif dan dekoratif dan warm yang eligunakan lebih natural. Lihat gambar. 11.
$ .... ·IIII"=..III'j,jITUlIi.!:'u1

T.u-n!'i'A'
!1~"\~r--11n

r::Il.At; P t'o ..... lr.lrl"

I.:.-.."Iln

T~p
1 ... _

fin ..! $

.....rF"..-:1~Ik. t
.AI'I......

Gamhar ll. Denah Rumah Pak Suratman Saat Pesta Perkawinan, Sumber Selo Sumarjan 1962. Dikompisisikan oleh Peneliti, 2011

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

Rumah tinggal orang Jawa selalu memperhatikan keselarasan dengan kosmosnya dalampengertian selalu memperhatikan dan menghormati potensi-potensi tapak yang ada disekitarnya. Konsep ruang tidak seperti yang dimiliki oleh konsep ruang barat tetapi lebih berwatak tempat (place) yang sangat dipengaruhi oleh dimensi waktu dan ritual. Rumah Jawa juga memiliki pusat dan daerah yang ditata secara oposisi binair. Ruang yang terjadi memiliki hirarkhi ruang yang ditata secara unik dengan menggunakan aspek pencahayaan.

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

TRANSISI MASYARAKAT

TRADISIONAL INDONESIA DALAM BUDAYA KONSUMTIF
(JF.Hamah Sagrim)

Masyarakat Indonesia sekarang ini sebagai masyarakat yang sedang berada dalam keadaan transisional. Mereka sekarang sedang bergerak dari masyarakat agraris tradisional yang penuh dengan nuansa 89ancing8989gy89c89 menuju masyarakat 89ancing89 moderen yang 89ancing8989gy89c. Ditengah masyarakat Indonesia, warna kehidupan masyarakat, sudah terasa dalam denyut jantung kehidupan masyarakat, walaupun corak kehidupan agraris tradisional tidak lenyap sarna sekali. Dalam 89ancing8989gy keadaan Indonesia ini, dikategorikan sebagai masyarakat yang sedang bergerak dari bentuk masyarakat yang penuh solidaritas 89ancing. Dalam kondisi seperti ini, kemungkinan akan muncul fenomena kegalauan budaya pada tingkat individu dan tingkat sosial. Akibatnya, kebanyakan masyarakat Indonesia menjual barang-barang unik, seperti Jasa, hingga bangunan rumah tradisional yang khas sebagai eagar budaya, misalnya beberapa nDalem yang dijual, mungkin untuk keperluan tertentu yang pasti ujung-ujungnya merupakan hasil konsumtif, sehingga uang dibutuhkan untuk memperoleh barang-barang tersebut. Fenomena kegalauan seperti ini akan tidak berada disini dan tidak pula berada disana, tidak dalam budaya tradisional yang sudah mulai ditinggalkannya dan tidak pula dalam budaya moderen yang sedang diciptakannya. Oleh karena masyarakat Indonesia yang sudah banyak mengadopsi budaya konsumtif, sehingga untuk tetap bertahan dan berpegang teguh pada kehidupan tradisional tidak mungkin lagi, karena dianggap tidak cocok dan ketinggalan zaman, tetapi untuk menginggalkannya secara keseluruhan juga tidak mungkin, karena model kehidupan dunia bam pun belum begitujelas dalam sistem gagasan masyarakat Indonesia secarajelas. Dalam keadaan seperti itu, membuat masyarakat Indonesia cenderung untuk menmungut 89ancin-simbol budaya dunia bam yang diambil secara sepotong-sepotong dan sementara itu juga memilih sebagai 89ancin tradisional yang ada untuk tetap dipertahankan. Kelihatannya kini masyarakat Indonesia mengadopsi kedua sistem budaya itu secara bersama, walaupun yang diambil umumnya hanya unsur-unsur budaya yang dipandang hanya bermanfaat guna kepentingan tertentu saja. Unsur-unsur budaya yang diambil dan dipertahankan itu cenderung lebih banyak memuat nuansa kebendaan (materi) dibandingkan dengan makna yang tersembunyi dibalik unsur-unsur budaya itu, akibatnya; beberapa unsur budaya asing yang ditempat asalnya sudah dipandang sebagai sesuatu yang sudah harus ditinggalkan, ternyata di Indonesia kemungkinan malahan menjadi bagian dari kehidupan baru yang dijalani masyarakat. Salah satu 89anci dari perilaku konsumtif adalah kecenderungan masyarakat tradisional Indonesia mengkonsumsi sesuatu bukan karena mereka memang betul-betul membutuhkannya, tetapi lebih banyak karena mereka merasa membutuhkannya. Barang yang dikonsumsi itu bukan lagi dimiliki dari fungsi substansialnya, tetapi lebih ditekankan hanya pada makna simbolis yang melekat pada benda itu. Disini fungsi benda itu telah berubah menjadi sesuatu yang mempunyai makna simbolis yang

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

rnungkin berkaitan dengan status social, perasaan lebih berharga, atau sekedar terperangkap pada budaya primer . karena itu, sering terlihat dimasyarakat Indonesia yang mana menganggap bahwa semakin langka dan terbatas produksi suatu benda, semakin tinggi pula makna simolis yang melekat padanya. Jadi masyarakat tradisional Indonesia kini terlihat kian sudah berpindah dari 90ancin barang untuk menjadikan 90ancin. Diluar sadar, masyarakat tradisional Indonesia kini menjadi semakin terjajah oleh produk Negara-negara maju itu dan semakin teriring pada perilaku konsumtif dan tampaknya perubahan sosial budaya masyarakat tradisional indonesi cenderung kearah 90ancing90. Tantangan Masa Depan Wacana kami tentang hal ini, sudah lama telah kami amati dengan cermat bahwa memang benar, gejala perubahan sosial budaya masyarakat Indonesia yang cenderung kearah 90ancing90 itu. lni dapat dilihat dari pelbagai pemyataan dan informasi serta arus pergerakan arah keinginan yang tampak kita saksikan. Kesadaran akan semakin beratnya tantangan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia dimas a depan betul-betul sangat dirasakan termanya saat ini. Persaingan akan semakin berat dengan semakin terbukanya masyarakat Indonesia terhadap pengaruh dunia luar (termasuk pengaruh arsitekturalnya juga). Untuk itu diperlukan manusia yang antara lain mempunyai rasa percaya diri yang tinggi, disiplin, berwawasan luas, kreatif, punya inisiatif dan prinsipil, untuk menghadapi tantangan yang tidak ringan itu. Bangsa Indonesia hams beranjak dari posisi sebagai konsumen menjadi produsen dengan memanfaatkan potensi 90anci (local wisdom) sebagai landasan pergerakannya. Local wisdom tersebut diantaranya seperti Arsitektur Tradisional, Demokrasi Kesukuan, Sistem Politik Tradisional, dll. Dari pemyataan yang didasarkan pada pengamatan kami ini, tampak beberapa kalangan menginginkan perubahan yang demikian itu. Kecenderungan arah perubahan kebudayaan masyarakat seperti yang dapat disaksikan sekarang ini, sudah pasti akan menjadi kendala serius dalam upaya melanjutkan pembangunan yang sesuai dengan cita-cita kemerdekaan bangsa. Karena itu, menjadi suatu tantangan yang tidak ringan untuk menemukan dan meracik resep agar masyarakat Indonesia jangan sampai kebablasan dengan kecenderungan yang sedang terjadi itu. Dalam wujud manusia tunggal yang dapat menjawab tantangan mas a depan itu, memang bukan pekerjaan yang mudah. Diperlukan strategi untuk menjgkaji kembali secara dinarnis nilai-nilai budaya bangsa yang dapat digunakan sebagai alat untuk menghadapi tantangan masa depan. Konsep pewarisan nilai luhur yang selama ini menjadi slogan politik kebudayaan kita, hams dikaji ulang. Pewarisan nilai budaya hams dipahami sebagai suatu proses yang rumit dan tidak sederhana, karena menyangkut semua dimensi dinarnika kehidupan masyarakat. Patut pula untuk disadari bahwa terdapat kendala-kendala yang membutuhkan kecermatan yang mendalam dalam proses pewarisan nilai itu. Kendala pertama adalah menyangkut penentuan nilai-nilai yang perlu diwariskan (trmasuk warisan arsitektural), yang sesuai dengan tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia di masa depan. Bangsa Indonesia yang mempunyai ratusan kelompok etnik dengan beragam kebudayaan mempunyai system nilai budayanya sendiri-sendiri. Akan menjadi pekerjaan ruah yang tidak mudah untuk menentukan nilai mana yang akan diwariskan. Kedua adalah menyangkut "Agen" yang bertugas untuk mewariskan nilai-nilai luhur itu. Apakah "agen" yang akan mewariskan nilai itu sendiri memahami benar keunggulan nilai budaya, dan meyakinkininya. Untuk meyakininya sebagai 'sesuatu' yang patut untuk diwariskan. Hal ini hanya A.

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

dapat dibuktikan dari sikap dan perilaku para "agen" itu sendiri. Jika pewarisan itu hanya bersifat petuah yang tidak pernah diwujudkan hasil yang memuaskan. Patut untuk dipahami bahwa pewarisan nilai tidak cukup dengan retorika dan semacamnya itu. Pewarisan nilai akan lebih mudah dilakukan jika diiringi dengan praktik kehidupan. Disinilah pentingnya pelaksanaan 91anci (low enforecement order) dalam praktik kehidupan masyarakat, namun kecenderungan pemerintah dalam emenetapkan 91anci-hukum bam banyak menentang nilai-nilai kearifan yang sebagai budaya, seperti UU Pornografi yang kelihatannya membuat resah masyarakat karena nyaris mencampakkan nilai -nilai budaya itu sehingga menjadi luntur. Ketiga, proses globalisasi yang telah kita rasakan denyutnya dalam arah kehidupan bangsa Indonesia itu, selain telah membentuk corak budaya masyarakat yang mengarah pada gagasan yang relative sarna (Borderless), tetapi juga telah menumbuhkan gelombang perlawanan pada sebagian masyarakat. Akan munculnya kelompok-kelompok sosial bam dengan system nilainya sendiri, menjadi kenyataan yang tidak bisa dihindari. Hal ini menyebabkan nilai budaya yang ingin diwariskan akan mendapat respons yang beragam pula, dan bahkan kemungkinan akan berbeda antara satu kelompok masyarakat kepada kelompok lainnya, dan mungkin saja hal ini dapat mengganggu keutuhan bangsa. Tentu terdapat kendala lain yang menyertai pewarisan nilai budaya itu. Misalnya seperti Penetapan Undang - Undang yang bertentangan atau mengarah untuk penghapusan budaya, penetapan peraturan daera (perda) yang juga terdapat butir-butir yang di tetapkan cenderung mengarah untuk penghapusan budaya. Hal ini bagi kami merupakan suatu diskriminasi dan pengabaian terhadap budaya bangsa. Indonesia akan terlihat tidak memiliki sesuatu yang dikenal "khas" yang merupakan kebanggaannya pada mas a depan nanti. Kendala ini perlu menjadi agenda untuk diperbincangkan dengan serius oleh semua pihak yang menyadari akan tantangan mas a depan yang semakin runtut dan rumit. Sebagai catatan akhir, perlu distir sebuah pepatah yang berisi nilai budaya bangsa yang menurut kami perlu dijadikan sebagai renungan dalam upaya pewarisan nilai. Pepatah itu mengatakan "sekali 91 ancing keujian, seumur hidup orang tidak percaya". Budaya paternalistic yang basih tebal pada masyarakat Indonesia memerlukan keteladanan dari para pemimpinnya, baik pemimpin di tingkat bawah maupun di tingkat puncak. Dengan keteladanan itu unsur-unsur negative dalam perkembangan kebudayaan Indonesia kiranya dapat ditanggulangi dan dapat diarahkan kepada budaya yang pasti untuk menyambut proses globalisasi yang telah mulai dirasakan denyutnya dalam urat nadi kehidupan bangsa. Dinamika perubahan nilai budaya yang sedang berlangsung secara cepat di Indonesia itu dapat dicermati dari cerminan kehidupan sosial masyarakat Indonesia saat ini, bahwa pelbagai sikap dan perilaku sosial yang sedang berlangsung dalam kehidupan seiring membawa kepada kecemasan. Praktik kehidupan yang tidak lagi merujuk kepada nilai-nilai tradisional yang selama ini dipandang sebagai pola dasar bagi perilaku sosial telah mengalami pergeseran. Solidaritas eskalasi mobilitas social yang semakin meningkat telah menyebabkan persentuhan antara pelbagai budaya etnik semakin intens. Kontak sosial yang semakin meningkat antar etnik selain dapat membawa kepada bertambahnya toleransi sosial, tetapi dapat pula menumbuhkan konflik yang dipicu oleh pertukaran sosial (social exchange) yang tidak berjalan dengan baik. Seiring dengan itu, pelbagi fenomena sosial juga ikut menyertai proses perubahan yang sedang berlangsung.

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

MODERENISASI

BUDAYA BANGSA DALAM PERSPEKTIF ARSITEKTURAL
(JF.Hamah Sagrim)

A.

KEBUDAYAAN Disadari bahwa kebudayaan merupakan entitas dari kehidupan manusia sebagai totalitas mencakup didalamnya ide-ide, gagasan, organisasi, adat istiadat, ilmu pengetahuan, teknologi, seni budaya, peraturan, hukum, religi, orientasi dan lain-lain. Kebudayaan juga mencakup seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bemegara. Arsitektur juga sebagai suatu aspek budaya dalam kehidupan berbangsa dan bemegara. Arsitektur memuat kaidah, gagasan, nilai, filosofi, hukum, dan religi, yang hakiki dan bertumbuh serta berkembang dalam perilaku sosial budaya masyarakat suatu negara. Olehkarena itu, dapat kita katakan bahwa, arsitektu mempunyai predikat luarbiasa dalam kebudayaan. Suatu bangsa atau Negara yang bemilai budaya tinggi dapat ditemukan dalam perspektif arsitekturalnya juga. Eropa dapat dikenal dengan arsitekturalnya, Yunani juga termasuk dikenal melalui perspektif arsitekturalnya yang khas dengan bentuk pilar-pilar besar dan monumental. Moderenisasi kebudayaan bangsa Eropa sudah dikenal dan sudah mengglobal dan ditemukan melalui arsitekturalnya. Sebagai contoh, bahwa arsitektur klasik Eropa, memaksa kita untuk hams mencari, menemukan dan mengerti tentang Eropa, baik sosial, budaya maupun religi dan politik. Demikian sebaliknya, bahwa arsitektur Yunani, memaksa kita untuk hams mencari, menemukan dan mengenal Yunani, yaitu mengerti sosial, budaya, politik dan religi Yunani. Arsitektur Nusantara juga menghendaki hal yang sarna. Tidak cuknp dan tidak lengkap bagi seorang peneliti atau seorang pengamat dan penulis yang mempelajari suatu bentuk arsitektur tanpa mempelajari dan mengerti karakteristik sosial, budaya, politik dan religi bangsa terse but. Arsitektur merupakan suatu perspektif budaya yang mana budaya itu dapat tercerimin didalamnya. Pencerminan budaya suatu bangsa tampak dari: 1. Karakteristik budaya tersebut (termasuk karakter arsitektur) 2. Kondisi kehidupan suku bangsa (termasuk kondisi kehidupan dalam berarsitektur) 3. Kinerja atau performance Kebudayaan (termasuk berarsitektur) 4. Tampilan budaya tersebut (termasuk menampilkan aarsitektur) a. Pemahaman U mum Perkembangan Budaya Semakin tua umur sejarah suatu bangsa, maka semakin tua pula budayanya. Semakin tua budaya suatu bangsa, maka dia/bangsa tersebut akan semakin arif, memiliki nilai, memiliki citra, memiliki karsa, memiliki karya, yang tua dan patut dihormati. Bangsa-bangsa di dunia sepertinya berebutan untuk menduduki posisi tertua. Hal ini membuat setiap suku bangsa berusaha melakukan spekulasi sejarah untuk mempertua umur mereka. Perkembangan sejarah kebudayaan sifatnya selalu berkembang dari waktu-kewaktu untuk memenuhi perkembangan tuntutan kehidupan manusia serta peradaban atau dimoderenisasi kalau digarap dengan baik. Perkembangan sejarah dan kebudayaan dipengaruhi oleh: 1. Tuntutan alamiah

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

2. Saling berpengaruh 3. Penetrasi budaya 4. Penggarapan sendiri dan pihak lain 5. Fenomena alam 6. Fenomena kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi 7. Persaingan dan komoodifikasi b. Perkembangan Budaya yang disengaja - Moderenisasi 1. Memiliki Sasaran 2. Memiliki landasan 3. Memiliki patron Dalam moderenisasi, mencakup didalamnya ada landasan atau fondasinya, dan ada arah dan tujuan yang merujuk pada kemoderengan. Dalam pencapaian moderenisasi, hal-hal yang ikut mendukung perkembangannya yaitu didalamnya mencakup; pertama, seluruh aspek kehidupan sosial, budaya, politik. Kedua, masing-masing bagiannya memiliki Road Map. Ketiga, sifat moderennya tetap mempertahankanjati diri, sifat, filosofi, makna, nilai, atau watak dasamya, keempat, semoderenmoderennya suatu suku bangsa ia tetap dan selamanya tetap adalah suku bangsa itu. Yaitu semoderenmoderennya Indonesia, tetaplah Indoensia. Dalam konsep berbangsa dan bemegara, menurut pandangan kami dari perspektif arsitektur, mengatakan bahwa suatu bangsa dalam bemegara tujuannya ingin mewujudkan cita-cita bersama dan bersepakat menggunakan cara dan metode yang sarna, yaitu dengan idiologi tertentu mereka yang diambil dari nilai-nilai budaya mereka (termasuk didalamnya arsitektur) yang khas dan betul-betul bermaknya. 1. Idiologi akan mewamai segala aspek kehidupan bangsa yang berkarakter, bernilai, dan memiliki jati diri, sehingga akan mewamai budaya bangsa. Arsitektur termasuk khasanah yang dijadikan sebagai idiologi bangsa. 2. Idiologi yang baik, adalah idiologi yang digali dari khasanah budaya bangsa, sehingga nilainilai yang terkandung didalamnya merupakan hasil pengalaman sejarah kehidupan bangsa tersebut yang sudah teruji. 3. Arsitektur tradisional Nusantara akan menjiwai, mewamai budaya bangsa Indonesia. Arsitektur tradisional Jawa akan menjiwai dan mewamai budaya suku bangsa Jawa, yang akan menyangkut seluruh aspek kehidupan suku bangsa dan bemegara. 4. Moderenisasi budaya bangsa praktis tidak lepas dan mestinya ditampilkan melalui nilai-nilai arsitektur. Bagi bangsa Indonesia, Arsitektur Nusantara Merupakan: 1. Filosofi Bangsa 2. Idiologi Negara 3. Citra, Karsa, Karya, nilai Negara Kesemuanya itu, akan mewamai jati diri, karakter dan seluruh kehidupan bangsa Indonesia sehingga bangsa ini memiliki predikat kebudayaan yang tinggi. 1) Arsitektur Nusantara dipandang sebagai Filosofi bangsa yang bernuansa Arsitektural merupakan pandangan hidup bangsa Indonesia, sebagai tuntutan hidup dan nilai hidup bangsa, dan juga menjadi arah dan mekanisme secara budaya selalu yang dijiwai nilai-

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

2)

3)

nilai arsitekturalnya yang bersemangat universal, humanis, internasional, persatuan, nasionalisme, dan lain sebagainya. Arsitektu Nusantara dipandang sebagai idiologi Bangsa dengan pendekatan filosofi, sosial budaya, dan religi. Diyakini bahwa arsitektur dapat mengantar tercapainya citacita moderen, cita-cita msayarakat yang bahagia lahir batin adil dan merata. Arsitektur secara budaya dikembangkan sesuai tuntutan perkembangan kebutuhan kehidupan dan Negara menuju trend lingkungannya. Arsitektur Nusantara dipandang sebagai citra, karya, karsa, yang mana termuat didalam nilai citra, nilai karya, nilai diri, nilai karsa bangsa. Eisa dijadikan sebagai suatu sumber objek pencitraan bangsa dan Negara. Tuntutan perkembangannya sebagai mekanisme moderenisasi budaya Nusantara yang dijiwai dan diwarnai nilai-nilai filosofi, religi, sosial budaya dan idiologi. Arsitektur merupakan landasan yang mendasar untuk menjiwai road map dalam aspek sosial budaya suku bangsa.

PATRON MODERENISASI BUDAYA Moderenisasi budaya bangsa adalah penyempurnaan nilai-nilai dan tradisi seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara sesuai tuntutan perkembangan kebutuhan kehidupan yang tidak lepas dari orientasi dan nilai-nilai kebudayaan baik dalam kedudukannya sebagai filosofi bangsa, sebagai idiologi Negara, sebagai dasar Negara, sebagai nilai Negara, melalui proses atau mekanisme kehdiupan, pendidikanlpengajaran, bimbingan, atau tuntutan, pertukaran akulturasi, sosialisasi, keteladanan, mendoktrinasi, dan lain sebagainya sebagai peraturan. Yang perlu dilakukan dalam perilaku moderenisasi budaya ini adalah, perlu penggarapan perkembangan sosial budaya melalui Arsitektur, atau moderenisasi budaya bangsa terse but dimulai dari perbaikan moral dan etika sebagai bangsa yang arif. Kemudian di re-identifikasi tentang karakter sebagai bangsa yang unggul, menanamjati diri sebagai suatu bangsa yang bernilai melalui komponen identitas, Jati diri, dan nilai. Sebenarnya telah ada klaim pemahaman bahwa suku bangsa di Nusantara (Negara Indonesia), memiliki umur sejarah yang sudah tua sehingga budayanyapun sudah sangat tua, dengan demikian berarti moral dan etikanya sudah sangat arif. Keunggulan nilai-nilai budaya yang dimiliki cenderung bisa menempatkan suku bangsa di Nusantara (Negara Indonesia) pada posisi terhormat diantara suku dan bangsa lain.

B.

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

ARSITEKTUR TRADISIONAL VS PERKEMBANGAN GLOBAL SEBAGAI DOMINASI DALAM BUDAYA KAPITALISME MODEREN
(JF. Hamah Sagrim)

Kajian terhadap globalisasi pasar bebas ini sebagai suatu gejala dominasi buday baru. lni menurut kami bahwa globalisasi pasar bebas merupakan suatu gejala dominasi budaya yang mana bukan sekedar fenomena perubahan style atau fashion belaka, melainkan ini akan menjadi suatu fenomena sejarah. Inti daripada kajian ini adalah mengungkapkan suatu transformasi sosial simbolik dalam ruang kebudayaan dengan transformasi historis dalam model kapitalisme global. Model kapitalime ini merupakan suatu penetrasian dan kolonisasi terhadap model-model sosial lokal sebagai budaya dari sebuah Negara atau bangsa, dengan ketidak sadaran (unconciousness), yakni berupa penghancuran sistem sosial budaya pra-kapitalis (termasuk penghancuran gaya aliran arsitektur tradisional) dan kelahiran globalisasi pasar bebas sebagai budaya kaptalisme yang mendominasi (termsuk gaya dan syle kapitalisme akan diterapkan di daerah non-kapitalisme). Mengikuti akar tahapan perubahan momen pasar global sebagai suatu pengarahan akan dominasi budaya kapitalisme, maka kami mencoba mengkaji dengan menganalisis sosial budaya suatu bangsa atau Negara dengan mencoba mensejajarkannya pada pasar global yang mana merujuk pada suatu dominasi budaya yang kapital, bahwa peralihan struktur daripada sosial budaya suatu Negara atau bangsa akan bergantung pada cepat atau lambatnya daya cerap bangsa atau Negara itu sendiri dan juga akan tercermin dalam perubahan kebudayaan mereka, karena terlihat bahwa hubungan ini begitu sangat kompleks. Menurut kami, dalam era globalisasi atau pasar bebas ini, akan terjadi ledakan kebudayaan yang sangat luarbiasa. Biasnya disegala aspek kehidupan masyarakat diseluruh duni yang mungkin pemah disebut oleh Jameson, sebagai (dominasi budaya). Dominasi budaya ini pada akhimya serta merta akan memaksa dan mensubtitusikan setiap nilai-nilai budaya suatu bangsa atau Negara tertentu untuk mengikutinya. Hal ini akan terjadi di Indonesia dan khususnya wilayah Jawa Tengah. Didalam globalisasi dan pasar bebas seperti begini, konsep bangsa atau Negara seperti konsep sosial budaya mereka mengenai pembagian dan otonomi kerja dalam ruang sosial budaya bangsa atau Negara yaitu (ruang ekonomi bangsa atau Negara, ruang budaya bangsa atau Negara, ruang politik bangsa atau Negara) akan dilebur menjadi ruang ekonomi global, ruang budaya global, dan ruang politik global. Inilah masa-masanya yang boleh dikatakan bahwa ruang-ruang bangsa atau Negara akan menjadi runtuh. Yaitu ruang ekonomi bangsa atau Negara, ruang sosial, ruang budaya, dan ruang politik bangsa atau Negara, akan diubahkan atau dilebur kedalam suatu sistem yaitu sistem globalisasi. Salah satu persoalan utama yang perlu diperhatikan lagi, bahwa semua ini akan beralih menjadi sesuatu yang global, termasuk didalamnya gaya arsitektur yang tradisional akan disubtitusikan dengan gaya kapitalisme dan bentuk arsitektur global. Sebenamya ini sudah terlihat dengan bentuk -bentuk arsitektur eropa yang telah dikembangkan begitu banyak di Indonesia, ini bukan sekedar arsitektural, melainkan sudah menunjukkan bahwa proses penjajahan arsitektur dan proses dominasi budaya Eropa yang notabene sebagai Negara kapitalisme sudah diterapkan, tinggal

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

menunggu waktunya untuk ditingkatkan. Perlu untuk disadari bahwa, Apabila sistem sosial budaya masyarakat Indonesia dan Negara non-kapitalisme lainnya tidak dapat mampu bersaing pada pasar global sebagaimana Negara-negara kapitalisme, maka sudah pasti bahwa potensi besar bagi sistem globalisasi ini sebagai suatu kekuatuan sistem yang terpuruk bagi Negara-negara non-kapitalisme itu sendiri. Dengan kata lain bahwa sosial, budaya, ekonomi, politik yang kuat akan tetap ada dan bersaing, tetapi yang lemah atau tidak mampu bersaing, akan hilang atau mengalami suatu diskriminasi sosial, budaya, ekonomi dan politik besar-besaran. Beberapa hal menurut kami yang mengakibatkan terjadinya pergeseran dan kematian sebuah budaya bangsa adalah; (1) manusia, cenderung sebagai peniru, membuka diri, tidak ingin mengembangkan identitasnya. (2) Politik, sebagai bentuk kekuasaan yang mendominasi. (3) Agama, sebagai bentuk sekular yang cenderung mengarahkan manusia dengan dogmatika. (4) Ekonomi, sebagai wakaf atau power yang mempengaruhi serta mengalahkan ideologi. Semua ini yang terutama adalah manusianya. Segala batasan-batasan sosial, budaya, ekonomi, dan politik lokal, sebagai produk suatu bangsa sebelumnya yang dikenal sebagai falsafah dan identitas mereka akan diterabas dan direduksi hingga pada tahap kepunahan. Tidak ada lagi kononisasi atau institusionalisasi akademisi terhadap produk ini. Menurut kami, pasar global sebagai budaya kapitalisme, karena "semua produk-produk sebuah bangsa atau Negara seperti sosial, budaya, ekonomi dan politik mereka, akan terintegrasi dalam produk-produk global". Pasar global sebagai dominasi budaya kapitalis ini akan memaksa segala sesuatu yang lokal (termasuk arsitektur) untuk dilebur agar menjadi sesuatu yang global dengan tujuan untuk disejajarkan dengan sesuatu yang global agar supaya mampu menduduki kesetaraan globalisasi sebagai tuntutan utama sehingga mendorong budaya kapitalisme untuk berinovasi yang baru. Era globalisasi ini akan ditandai oleh komodifikasi besar-besaran dihampir seluruh ruang kehidupan, baik terhadap alam fisik maupun terhadap tubuh manusia juga. Dengan kata lain, dominasi globalisasi adalah suatu dominasi budaya pasar global yang terjadi secara struktural dengan menampilkan suatu representasi kultural kapitalisme global dan ideology kapitalisme global. Hal ini akan semakin menarik bagi kaum kapitalisme sebagai pemain utama, sedangkan kaum non-kapitalisme akan sebagai orang yang merasa didiskriminasikan, dan tergolong kaum yang lemah bahkan disakiti dan inilah suatu tragedi yang memilukan. Kaum non-kapitalis ini secara sosial akan kita sebut sebagai kaum "konsumen". Ada beberapa elemen-elemen baru dalam globalisasi pasar bebas nanti, yaitu: Pertama : Akan munculnya formasi-formasi global yang baru, organisasi-organisasi yang bersifat global, dan transglobalisasi yang mendominasi dunia dan monopoli sebagai ruang-ruang lokal dan menjadi batas-batas tersendiri. Kedua : Globalisasi sosial, budaya, ekonomi dan politik dalam tatanan dunia kapitalisme global yang baru dan ini tidak akan terikat pada satu Negara, tetapi akan memberikan suatu nuansa keuntungan kepada Negara tertentu yang mana direpresentasikan dalam bentuk suatu kekuasaan dan pengaruh yang begitu besar ketimbang suatu Negara manapun (non-kapitalis). Globalisasi ini juga akan berlaku dalam kerja yang memungkinkan adanya eksploitasi besar-besaran yang terus berlanjut terhadap para tenaga ahli dan pekerja dinegara-negara miskin guna mendukung kinerja modal multiglobalisasi. Dalam hal ini akan merujuk bahwa semua akan mengarah kesana dan banyak yang tersedot oleh aliran dunia ketiga yang sudah maju, bersamaan dengan akibat-akibat sosial yang sudah lazim meliputi krisis buruh tradisional dan kelas elit pada skala global.

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

HETEROGENITAS

DALAM ARSITEKTUR DAN KESEHARIAN
(JF. Hamah Sagrim)

Diawali dengan hadimya kebutuhan manusia yang harus dipenuhi, arsitektur hadir mendampingi perkembangan manusia dulu hingga sekarang. Dimulai dari masa dimana arsitektur hadir hanya sebagai sebuah usaha pemenuhan kebutuhan fisik hingga ke masa dimana arsitektur dapat hadir dalam berbagai hal. Termasuk didalamnya adalah fungsi yang hanya sekadar untuk memperindah saja. Di tiap-tiap mas a tersebut, arsitektur hadir dengan karakteristik dan nilai yang berbeda. Nilai -nilai dan karakteristik tersebut selalu berkembang seiring dengan majunya pola pikir manusia. Arsitektur pada awalnya merupakan sebuah bentuk solusi yang bersifat lokal terhadap suatu masalah, terutama kebutuhan akan perlindungan dan naungan dari alam. Lokal disini berarti hanya terikat pada masalah tersebut saja. Arsitektur semacam ini (arsitektur tradisional Jawa) merupakan sebuah hasil usaha trial and error yang dilakukan oleh manusia primitif dalam menghadapi permasalahan pemenuhan kebutuhan dasamya. Usaha yang dilakukan manusia ini merupakan sebuah bentuk interaksi lang sung dan mendetail antara manusia dengan masalah yang dihadapainya.Penyelesaian yang lahir dari usaha trial and error membuat manusia menjadi mengenali permasalahan tersebut secara mendalam dan mendetail. Hal ini dikarenakan solusi semacam ini bersifat mendetail dari tiap aspek permasalahan tersebut, bukan secara makro, sehingga satu permasalahan dapat memiliki banyak solusi yang kesemuanya harus diterapkan bersama-sama. Ketika mencapai suatu mas a dimana permasalahan tersebut sudah tidak dapat lagi diselesaikan dengan rangkaian solusi tersebut, maka manusia akan kembali melakukan arsitektur trial and error untuk menyelesaikannya. Proses ini akan terus-menerus berulang. Arsitektur vemakular yang sifatnya sangat beragam dan unik di setiap kelompok komunitas juga merupakan sebuah bentuk arsitektur yang lahir dari interaksi manusia dengan lingkungan hidupnya dan permasalahan yang dihadapinya. Berbagai mac am prinsip yang terdapat dalam arsitektur vemakular suatu daerah terbentuk dari persepsi manusia akan kepercayaan, budaya, cara hidup, gejala alam yang mereka hadapi. Sekali lagi, arsitektur semacam ini menjadikan manusia memiliki pemahaman yang mendasar dan mendetail terhadap suatu permasalahan. Masa berikutnya, saat terjadi pergerakan seni dan segal a nilai-nilai keindahan dan kesempumaan, karakteristik arsitektur kembali berubah. Manusia pada masa ini selalu memimpikan akan datangnya kesempurnaan di masa yang akan datang. Pengharapan akan kondisi yang paling ideal untuk terjadi dalam segala aspek kehidupan sangat besar. Segal a mac am utopia mendominasi pemikiran pada masa ini. Segala imaji akan kesempumaan yang merupakan kondisi paling ideal dari realita yang ada. Arsitektur, sebagai salah satu komponen yang dapat mewujudkan hal itu, menjadi penuh dengan segala mac am utopia dari segi estetika. Nilai keindahan bentuk dikedepankan dan diutamakan dalam perwujudannya. Kondisi ini menjauhkan kesadaran akan pentingnya fungsi utama dari hasil karya arsitektur tersebut. Metode menyelesaikan suatu permasalahan dalam berarsitektur selalu dikaitkan terhadap menghasilkan suatu keindahan bentuk yang pada akhimya tidak melahirkan suatu keunikan akibat faktor utopia yang mendominasi.

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

Kemajuan penrikiran manusia dalam menghadapi sesuatu serta perkembangan teknologi turut merubah arsitektur baik secara prinsipil maupun superficial. Perang Dunia II, penemuan me sin uap, kemajuan industri, prinsip mass production, dan sebagainya turut menggeser perlakuan manusia terhadap arsitektur. Arsitektur pada masa itu menjadi sebuah alat pemenuhan kebutuhan masal demi pemulihan akibat dampak Perang Dunia II. Dengan prinsip mass production, karakteristik arsitektur menjadi homogen dan seragam dan mengabaikan nilai keheterogenitasan manusia. Permasalahan yang ditemui diselesaikan dengan solusi yang serupa sekalipun permasalahan tersebut adalah dua hal yang berbeda dan membutuhkan penanganan yang berbeda. Kini berbagai macam karakter dan keheterogenitasan kembali muncul. Tiap individu dihargai dan dinilai sebagai individu. Berbagai macam bentuk arsitektur yang dianggap terlalu arogan pada mas a sebelumnya, dengan karakter yang sangat homogen, dianalisa. Berbagai macam kebebasan dan superioritas sebuah individu dapat diekspresikan dengan maksimal. Keinginan untuk menjadi bintang, unik, dan monumental banyak dinriliki oleh individu. Pengulangan maupun pencampuran karakter arsitektur pada masa lalu untuk diterapkan pada hasil karya arsitektur seorang indvidu dapat diterima dengan baik. Tidak ada pengkategorian global yang benar-benar jelas dan nyata mengenai arsitektur yang berlaku sekarang. Satu hal yang benar-benar merupakan kesamaan karakteristik secara global atas arsitektur adalah adanya penghargaan atas kebebasan. Keseharian dan Arsitektur "It is for this reason we did not call the issue Architecture of the The Everyday -because that would subsume that architecture can represent the The Everyday in a reified manner" (Wigglesworth and Till, 1998: 9). Sarah Wigglesworth dan Jeremy Till menganggap bahwa arsitektur tidak dapat menginterpretasikan the everyday dengan mudah dalam cara tertentu. Mereka mengkhawatirkan sebuah tindakan pengejawantahan the everyday ke dalam hasil karya arsitektur menjadi sebuah objek yang terfokns pada estetika. Berbeda dengan Deborah Berke, yang menganggap bahwa the everyday dapat diejawantahkan ke dalam suatu hasil karya fisik, sekalipun architecture of the everyday tidak dapat didefinisikan secara mutlak. "We may call the result an Architecture of The Everyday, though an architecture of the everyday resist strict definition; any rigorous attempt at a concise delineation will inevitably lead to contradictous" (Berke, 1997:222) Beberapa po in yang cuknp terkait dengan architecture of the everyday antara lain; 1. "An architecture of the everyday may be banal or common "(Berke, 1997:223). Di sini Berke memberikan poin yang menyatakan karakter the everyday yang merupakan bentuk realitas yang ada dalam keseharian, maka arsitektur ini tidak mencari keunikan dengan mencoba menjadi luar biasa, yang mana seringkali berakhir menjadi tiruan daripada hasil yang luar biasa sesungguhnya. Kemudian hasil arsitektur tersebut yang mungkin menjadi biasa tidak mendikte orang untuk berpikir apa, melainkan memberikan kesempatan untuk orang menghasilkan pemahaman mereka sendiri. 2. "An architecture of the everyday may be crude" (Berke, 1997:223). Dalam sesuatu yang masih mentah atau tidak diperhalus terdapat keaslian dan kesegaran. Hasil karya arsitektur yang seperti inijauh lebih mencernrinkan keberagaman karakter yang ada. 3. "An architecture of the everyday acknowledges domestic life" (Berke, 1997:224). Sebagai bagian dari realita yang sangat akrab namun seringkali terabaikan, kehidupan domestic atau kehidupan dalam suatu rumah tangga merupakan aspek yang termasuk dalam perhatian the A.

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

everyday. Kehidupan domestik merupakan sebuah bentuk elemen yang paling akrab dengan keseharian. Sebahagian besar arsitek terkecoh dengan kondisi yang ada. Banyak arsitek yang tidak mau atau berhasil mengidentifikasikan the everyday life. Kebanyakan hanya mampu melihat lapisan teratas atau imaji utopia yang dibentuk oleh sekelompok orang. Selain itu, sekarang kita hidup pada budaya dimana pahlawan digantikan dengan selebritis, ketenaran selama lima belas menit dibayar dengan kerja keras seumur hidup. Di era seperti ini banyak arsitek yang menghasilkan karya arsitektur dengan memaksakan menghadirkan karakter sang arsitek ke dalamnya, sekalipun hal tersebut bertentangan dengan kondisi realita. Semua berlomba-lomba untuk menghasilkan karya arsitektur yang monumental dan unik sekaligus show off, meskipun sebenamya hasil arsitektur tersebut tidak memerlukan kondisi seperti itu. Arsitektur vemakular yang memiliki karakteristik hasil daripada usaha trial and error manusia dalam menyelesaikan suatu masalah merupakan satu bentuk architecture of the everyday. Tindakan trial and error manusia awam merupakan satu bentuk usaha menyelesaikan permasalahan dengan mendetail dan tanpa mencoba untuk menjadikannya sebagai objek aestetik. Arsitek kebanyakan melihat suatu permasalahan dari permukaan dan secara umum tanpa memperhatikan apa realita sesungguhnya yang terjadi. Gaya, pola pikir, dan imaji tentang utopia menghalangi pandangan arsitek kebanyakan sehingga hasil karya yang keluar hanyalah berupa objek estetika yang tidak berarti banyak. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, the everyday terkait dengan kehidupan domestik karena tingkat keakraban yang dimilikinya. Ruang domestik merupakan sebuah ruang dimana pengalaman hidup berlangsung. Segala realita di dalam kehidupan domestik merupakan sebahagian bentuk the everyday. Organisasi ruang domestik menentukan ritual yang terjadi di dalamnya. Sekarang ini, di Jakarta terdapat pembangunan ruang domestik dalamjumlah yang relatifbanyak. Baik ruang domestik yang terletak di daerah pusat kota maupun di daerah marginal. Tidak sedikit dari pembangunan ruang domestik tersebut yang menggunakanjasa seorang arsitek. Arsitek diminta untuk memanipulasi ruang-ruang domestik tersebut, agar segal a mac am bentuk rutinitas dan ritual dapat dijalankan sesuai dengan kebutuhan. Bagi arsitek yang memahami the everyday sebagai sebuah konsep dapat menggunakannya untuk menjadikan ruang domestik tersebut berhasil menjadi sebuah karya architecture of the everyday. Pemahaman tersebut merupakan sebuah bentuk hak bagi para arsitek untuk memanipulasi dan merubah pola hidup orang lain untuk menjadi lebih baik. Tetapi masih tidak sedikit pula para arsitek yang masih terkecoh oleh prinsip gaya berarsitektur yang ada. Kondisi seperti ini merupakan sebuah kemunduran yang dapat menjadikan arsitektur kembali mundur ke masa dimana kehomogenitasan dijunjung tinggi. Arsitek, Konsep 'Everyday' dan Desain yang Abadi Arsitek adalah sebuah profesi yang bergerak di bidang desain, yang merancang ruang untuk dihuni oleh manusia seperti sebuah rumah atau bahkan yang skalanya lebih besar dari itu. Di sini kaitan manusia dan ruang ataupun manusia dengan manusia dalam ruang menjadi sangat penting. Konsep everyday penting untuk dipahami dalam menghasilkan sebuah karya arsitektur yang lebih humanis. Manusia dilihat sebagai penghuni, dan banyak terdapat hal-hal yang berkaitan dengannya seperti aspek sosial, budaya, religi, dan norma-norma yang berlaku di tempat tinggalnya. Selain itu, terdapat pemahaman-pemahaman dan perkembangan pengetahuan yang dimiliki oleh manusia sebagai B.

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

penghuni. Mungkin timbul pertanyaan mengapa hal ini menjadi sangat penting. Untuk itu kita perlu mengingat kembali tentang peruntukan dari arsitektur, yaitu ditujukan kepada manusia. Manusia dengan akal dan pikiran serta pengaruh lingkungan dapat bertindak sebagai juri dalam keberhasilan seorang arsitek. Seorang arsitek dikatakan berhasil apabila karyanya dapat digunakan dengan baik oleh penghuninya, serta nyaman secara mental dan fisik bagi mereka. Dalam mencari sebuah kenyamanan seharusnya arsitek dapat membaca sebuah skenario yang berlaku pada suatu tempat atau konsep dari tempat terse but. Sehingga dalam berkarya arsitek tidak menghasilkan sesuatu yang bersifat alien di temp at tersebut yang pada akhimya berujung pada suatu kesia-siaan. Untuk itu perlu kita pahami everyday sebagai sebuah skenario atau konsep yang umumnya ada pada semua tempat dengan keunikan masing-masing didalanmya. Hemi Lefebvre menjelaskan pemahaman tentang everyday dalam literatur The Everyday and Everydayness sebagai berikut, " ... the everyday can therefore be defined as a set of functions which connect and join together systems that might appear to be distinct thus define" (Lefebvre, 1997). Ini berarti fungsi yang terhubung dan tergabung dalam menciptakan sebuah sistem menjadi penting untuk dapat dibedakan dan pada akhimya dapat didefinisikan untuk menjadi acuan dalam merancang. " ... the everyday is a product, the most general of product in an era where. Production engenders consumption and where consumption is manipulated by producers: not by "workers, " but by manager and owners of the means of production (intellectual, instrumental, scientific). The everyday is therefore the most universal and the most unique condition, the most social and the most individuated, the most obvious and the best hidden. A condition stipulated for legibility of form, ordained by means functions inscribed within structures, he everyday constitutes the platform upon which the bureaucratic society of controlled consumerism is erected." (Lefebvre, 1997) Dengan demikian maka everyday adalah sebuah produk yang menimbulkan bentuk konsumsi yang dimanipulasi. Everyday terkait pula dengan aspek intelektual yang berkaitan dengan perkembangan pengetahuan dan pemahaman manusia. Sehingga everyday dapat menjadi kondisi yang sangat universal maupun sebaliknya, yaitu kondisi yang sangat unik bagi kita yang bukan memproduksi everyday tersebut. "The everyday is therefore a concept. The everyday, established and consolidated, remain a sole surviving common sense referent and point of reference "intellectual," on the other hand, sees their systems reference elsewhere: in language and discourse, or sometimes in a political party. The proposition here is to decode the modern world, bloody riddle, according to the everyday" (Lefebvre, 1997) Jelaslah bahwa bahwa everyday adalah sebuah konsep yang sangat berkaitan dengan intelektual, bahasa dan percakapan. Masalah yang harus dihadapi adalah bagaimana mempelajari arti dari sebuah kode yang tidak dapat langsung dipahami secara kasat mata karena tidak dapat dijelaskan secara lang sung oleh logika. Karena terdapat kaitan yang erat antara perkembangan pengetahuan dan pemahaman maka terjadi kebingungan atau jarak antara pihak yang menjalankan konsep everyday dengan orang asing yang melihatnya. Bisa jadi kita sebagai arsitek adalah orang asing itu, sehingga perlu memahami pengetahuan yang berlaku. "The concept of everydayness does not therefore designate a system, but rather a denominator common to existing systems including judicial, contractual, pedagogical, fiscal, and police systems" (Lefebvre, 1997). Pemyataan tersebut menjelaskan bahwa konsep everydayness bertindak sebagai bentuk pembagi yang umum bagi suatu sistem seperti hukum, pengetahuan dan keuangan yang

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal
download
the free trial online

at nitrcpdf.ecmzprofeesiona

I

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->