P. 1
KONSEP RUANG TRADISIONAL JAWA DALAM KONTEKS BUDAYA- HAMAH SAGRIM-PERKEMBANGAN ARSITEKTUR TRADISIONAL JAWA DALAM SOSIAL BUDAYA MODEREN

KONSEP RUANG TRADISIONAL JAWA DALAM KONTEKS BUDAYA- HAMAH SAGRIM-PERKEMBANGAN ARSITEKTUR TRADISIONAL JAWA DALAM SOSIAL BUDAYA MODEREN

|Views: 1,109|Likes:
Published by Hamah Sagrim

More info:

Published by: Hamah Sagrim on Mar 24, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/18/2013

pdf

text

original

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

KONSEP RUANG TRADISIONAL JA WA DALAM KONTEK KEBUDAYAAN (JF. Hamah Sagrim)

Kita akan meneoba mengulas misteri rumah tinggal orang Jawa, dengan penekanan pada konsep ruang yang terjadi melalui pengetahuan budaya yang dimiliki oleh orang Jawa. Pengetahuan budaya yang terdiri dari kepereayaan dan ritual terlihat mempunyai kaitan yang erat dengan konsep ruang yang terjadi mulai dari orientasi ruang maupun konfigurasi ruang. Banyak hal yang terjelaskan dan membuktikan bahwa ruang pada arsitektur rumah Jawa tidak bebas nilai.

Dalam era globalisasi saat ini dunia kehilangan sekat batas antara negara dan kebudayaan menimbulkan banyak persoalan kebudayaan, Akibat pertemuan antar kebudayaan maka terjadilah banyak mutasi kebudayaan yang berakibat pada mutasi perwujudan arsitektur.

Dibalik masalah globalisasi muneul global paradoks, nilai-nilai lokal menguat dan diyakini mampu rneniadi sesuatu yang mempunyai nilai jual eukup tinggi. Hal ini ditunjang pula dengan menguatnya pemikiranpost modernisme yang merambah segala aspek kehidupau

Banyak wujud bentuk masa lalu diadopsi untuk dihadirkan pada masa kini dengan reinterpretasi baru Kehadiran arsitektur tradisional Jawa dapat dilihat dan dirasakan pada berbagai arsitektur dengan fungsi bermaeam-maeam dan berbagai improvisasi. Mulai muneul berbagai keluhan dan kerisauan di kalangan masyarakat, apakah kehadiran arsitektur tradisional

Jawa saat ini sudah sesuai dengan filosofi bangunan Jawa dan pertanyaan tersebut masih dapat dilanjutkan; kalau sudah sesuai maka filosofi bangunan Jawa yang mana. Sebab kalau dilihat kedudukan Pulau Jawa, khususnya Jawa Tengah dan jawa Timur sangat spesifik dan sangat luar biasa dalam sejarah Indonesia dan sekaligus menempatkan pada posisi kunei dalam sejarah Asia Tenggara akibat "pengalaman ganda". Menurut Denys Lombard,1996 Jawa Tengah dan Jawa Timur mengalami tumpang tindih dan saling berpaut dua kebudayaan besar. Menurut Lombard 1996, mutasi yang pertama adalah "Indianisasi" dan mutasi yang kedua adalah "Kolonialisasi Belanda". Belum lagi antara kebudayaan Jawa pedalaman dan kebudayaan Jawa pesisir. Data dan kodifikasi arsitektur tradisional Jawa yang terekam dengan jelas adalah pada saat mulai "Indianisasi" sedangkan sebelunmya sangat sulit sekali ditelusuri kebenaran perwujudan arsitekturnya. Sangat miskin data yang ada, baik yang berupa inskripsi maupun artefak yang tertinggal. Banyak hipotesis yang mengaeu kepada gambar-gambar bangunan yang terpampang di dinding pereandian Hindu gaya Jawa Tengah. Hipotesa inipun patut dipertanyakan kebenarannya, sebab gambar-gambar tersebut apakah merupakan bentukan yang telah hadir sebelum Hindu masuk atau pada saat Hindu berkembang. Salah satu indikator dari akibat kuatnya "Indianisasi" mempengaruhi JawaTengah dan Jawa Timur adalah kehadiran bentuk bangunan yang tidak mempunyai kolong (rumah panggung). Bentuk ini berbeda dengan bentuk yang dimiliki daerah tetangganya seperti Jawa Barat, Sumatra, Sulawesi, Kalimantan dan kawasan Indonesia Timur yang memiliki kolong pada bangunannya. Menurut Parmono Atmadi 1984, hal ini bisa saja akibat terpengaruh kebudayaan India yang berbentuk bangunan pereandian yang ada di India.

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal

download the free trial online at nitrcpdf.ecmzprofeesiona I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

A. Latar Belakang Kepercayaan Dan Ritual Jawa

Kepercayaan Jawa elidasarkan atas pandangan durria Jawa yaitu keseluruhan keyakinan deskriptip orang Jawa tentang realitas sejauh mana merupakan suatu kesatuan dari padanya manusia memberi struktur yang bermakna kepada pengalamannya (Suseno,1984).

Magnis Suseno membedakan 4 unsur pandangan durria Jawa yang berhubungan dengan yang Illahi atau Aclikodrati. Kesatuan dengan yang Illahi elisebut Numinus yang berasal dari kata Numen artinya cahaya Illahi atau Aelikodrati.Kesatuan Nurninus menunjuk pada suatu keadaan jiwa (state of mind) yang mampu menghubungkan realitas dengan gejala-gejala Aclikodrati yang elialami dengan perasaan penuh misteri, kekaguman, takut dan cinta.

Unsur pertama adalah kesatuan numinus antara alarn, masyarakat dan alam aclikodrati. Orang Jawa, terutama petani eli pedesaan dalam melakukan pekerjaannya sebagai petani mengenal irama alam seperti pergantian siang dan malarn, musim hujan dan musim kering yang menentukan hasil pertaniannya, Mereka percaya ada suatu kekuatan gaib yang mengendalikan alarn, kekuatan ini muncul secara jelas pada saat-saat terjadinya bencana. Orang Jawa elilahirkan dan elibesarkan dalam lingkungan masyarakatnya. Masyarakat terwujud pertama-tama dalam lingkungan keluarga, kemuelian tetangga, keluarga yang lebih luas dan akhirnya masyarakat seluruh desanya. Dalam lingkungan keluarga inilah setiap inelividu menemukan identitasnya dan merasa aman Hal ini sejalan dengan yang eliungkapkan oleh Revianio Budi Santosa, 2000 bahwa orang Jawa begitu keluar dari rumah dan keluarganya maka dia akan merasakan ketidak pastian dan kemungkinan berhadapan dengan halangan Dengan ''berada elijalan" seseorang berarti berada pada posisi tak menentu karena meninggalkan numb, pijakan dirinya yang mapan baik secara sosial maupun spatial. Kesatuan numinus antara alarn, keluarga dengan yang Aelikodrati elicapai lewat upacaraupacara ritual. Penghormatan terhadap Dewi Sri yang elilakukan eli Sentong T engah yang terdapat pada setiap rumah petani merupakan upaya untuk memelihara keserasian dengan kekuatan gaib yang menguasai alam agar panenan berhasil.

Unsur yang kedua yaitu kesatuan numinus dengan keknasaan Dalam paham Jawa kekuasaan adalah ungkapan energi Illahi yang tanpa bentuk, suatu kekuatan yang berada elimana- mana. Pusat kekuatan itu ada pada raja. Konsep kerajaanjawa adalah suatu lingkaran lwnsentris mengelilingi Sultan sebagai pusat.

Lingkungan yang terdekat dengan sultan adalah keraton _,.-'--~ __

Lingkaran yang kedua yang mengitari keraton adalah ibukota I/~/"-' .. __ '.' _ .. --......~. ~.. ''\''

negara, lingkungan ketiga adalah Negaragung yang secara ~.~

harafiah berarti ibukota yang besar, lingkaran terakhir

adalah mancanegara atau negara asing (Selosoemarjan, 1962), ,'/ ... »:=>; \ \

-'-rs =:: (Thu KOhl) ( ( (G) ) )

3. Nagara Gung (Negara agung) .\ \ -, ....... ".,.-~__L....."" __.-,// /"

4. Manca Negara (Secara Harafiah Negara '" --~ __ "_~"'". /

Asing) " ""_, ,/,/

Unsur ketiga adalah dasar numinus keaknan Pada -~--

dasarnya keaknan manusia manunggal dengan dasar Illahi dari mana ia berasal, karena itu orang Jawa sepanjang hidupnya akan berusaha untuk menemukan

Gamhar 5. Diagram Empat Lingkaran Konsentris Kerajaan J awa

(Seio Sumarian, 1962)

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal

download the free trial online at nitrcpdf.ecmzprofeesiona I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

dasar Illahi, usaha untuk mencari realitas diri ini tersirat dalam istilah manunggaling kawuZo Zan gusti atau mencari sangkan paraning dumadi. Pengalaman manusia Jawa dalam mencari dasar Illahi keakuannya terbentuk menjadi rasa yaitu suatu pengertian ten tang asal dan tujuan segala mahluk hidup. Bagi petani pengertian rasa ini adalah suatu keadaan batin yang tenang, bebas dari ancaman atau kekacauan.

Unsur keempat adalah kepercayaan atau kesadaran akan takdir yaitu kesadaran bahwa hidup manusia sudah ditetapkan dan tidak bisa dihindari. Hidup atau mati, nasib buruk dan penyakit merupakan nasib yang tidak dapat dilawan. Menentang nasib hanya akan mengacaukan keselarasan kosmos. Setiap orang mempunyai temp at yang spesifik yang sudah ditakdirkan, tempat ini ditentukan secara jelas melalui kelalriran, kedudukan so sial dan lingkungan geografis. Pemenuhan kewajiban kelridupan yang spesifik sesuai dengan tempatnya masing- masing akan mencegah konflik, selringga dicapai ketentraman batin dan keseimbangan dalam masyarakat serta kosmos. Konsep di atas merupakan konsep yang mencerminkan sikap orang jawa terhadap dunia, manusia wajib memperindah dunia dengan tidak mengganggu keselarasannya.

B. Rumah Tinggal Orang Jawa

Mengenai asal muasal wujud rumah tinggal orang Jawa sampai saat ini masih merupakan hal yang belum jelas karena kurangnya sumber-sumber tertulis pada jaman sebelum "Indianisasi". Menurut suatu naskah tentang rumah Jawa koleksi museum pusat Dep. P&K No.Inv.B.G.608 disebutkan bahwa rumah orang Jawa pada mulanya dibuat dari bahan batu, teknik penyusunannya seperti batu-batu candi. Tetapi bnkan berarti rumah orang Jawa meniru bentuk candi. Bahkan beberapa ahli menduga bahwa candi meniru bentuk rumah tertentu pada waktu itu (Hamzuri, tanpa tahun). Namun dugaan ini masih perlu dibuktikan lebih laniut mengingat bangunan candi di Jawa dibuat seiring dengan masuknya agama Hindu dan Buddha ke Jawa dari India dan seperti diketahui orang India sebagai pembawa ajaran agama Hindu dan Buddha telah mempunyai pengetahuan yang cuknp canggih dalam pembuatan bangunan candi di India (Mana sara dan Silpasastra). Pada relief candi Borobudur abad VIII yang diteliti oleh Parmono Atmadi ditemui gambaran tentang bangunan rumah konstruksi kayu yang mempunyai bentuk atap peZana, limasan dan tajug. Pada relief candi Borobudur tidak ditemui bentuk atap Joglo (Atmadi,1979).

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal

download the free trial online at nitrcpdf.ecmzprofeesiona I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

g~.

:I~

or-

,

.r;. ")

~ ~I i

I I!

I, i I

, __ I . .J: ..... __ 1_-1

~ -I===-f--..

, ,

,

, , ,.,-_., I_ ------'

I:·':t.: ...... "'.,., ........ -.L

r·~·;./ ,""1 Ii ,""" J! ~'.~

Panggang Pe Kampung Pokok Limasan Pokok

Tajug Pokok

Tajuk Lawakan

.... ". I ," I To ~:,., J; 1:'-' I' ",r

Joglo Lawakan

T . --,

-.' n. """'I

..... '.... • ° , .... J .. .: n 'j

'. II " • "<, ..... ~ II I

I -... I

l. . .» ; ••• / ;..... ..!

'I· .-" ~ - - - ", ~ I

I .r: -c , I

I"": _ __: __ ': . _ .. I

Tajug Lambang Gantung

J oglo Lambang Gantung

Gambar 6: Tipologi Bangunan Jawa (DIY)

Sumber Selo Sumarja , 1962, dikomposisikan oleh Peneliti, 2011

Pengertian nunah bagi orang Jawa dapat ditelusuri dari kosa kata Jawa. Menurut Koentjaraningrat (1984) dan Santosa (2000) kata omah-omah berarti benunah tangga, ngomahake membuat kerasan atau menjinakkan, ngomah-ngomahake menikahkan, pomahan pekarangan rumah, pomah penghuni nunah betah menempati rumahnya.

Sebuah nunah tinggal Jawa setidak-tidaknya terdiri dari satu unit dasar yaitu omah yang terdiri dari dna bagian, bagian dalam terdiri dari deretan sen tong tengah, sentong kin, sen tong kanan dan ruang terbuka memanjang di depan deretan sentong yang disebut dalem sedangkan bagian luar disebut emperan seperti dijelaskan dalam gambar 7.

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal

download the free trial online at nitrcpdf.ecmzprofeesiona I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

\ ~

"" _ Ilftlll,~tfilh ....

_.~? I I I ..... " ",~ .. .; ., ..... ,_., _ = .... ~I ..

I /' "

:-

Gambar 7. Denah Rumah Tinggal Tradisional Jawa.

Sumber Selo Sumarja , 1962.

Dikomposisikan Oleh Peneliti, 2011

Rumah tinggal yang ideal terdiri dari 2 bangunan atau bila mungkin 3, yaitu pendopo dan peringgitan, bangunan pelengkap lainnya adalah gandok, dapur, pekiwan, lumbung dan kandang hewan, lihat gambar 7.

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal

download the free trial online at nitrcpdf.ecmzprofeesiona I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

C. Ruang Pada Rumah Jawa

a. Konsep Ruang

Konsep wang dalam pandangan barat berasal dari dua konsep klasik yang berswnber pada filsafat Yunani. Konsep yang pertama dari Aristoteles, menyatakan bahwa wang adalah suatu medium climana objek materiil berada, keberadaan wang clikaitkan dengan posisi objek rnateriil tersebut (konsep positionrelation). Konsep yang kedua dari Plato kemuclian clikembangkan oleh Newton yaitu konsep displacementcontainer yang melihat wang sebagai wadah yang tetap, jadi walaupun objek materiil yang ada clidalamnya dapat clisingkirkan atau cliganti namun wadah itu tetap ada Munitz,1951). Kedua konsep tersebut mendasari pandangan Barat yang melihat wang dari climensi fisiknya yaitu suatu kesatuan yang mempunyai paniang, lebar dan tinggi atau kedalaman, dengan demikian wang mempunyai sifat yang terukur dan pasti.

Gamhar3. Skema Denah Rumah Tinggal Tradisional .Iawa, Sumber Selo Sumarjan 1962.

Dikomposisikan oleh Peneliti, 2011

... '''' ... ''

b.~,i;!I'Y'~h

IjJ:.S!Lijri1-cmg tKailU!iFl

~;,:.~!~ ~:-'.Irii:i!lp.! S'lIi:Ilii:_ii1t! J~):!! liJIiHk IO~miili". -

IB~:'!I!~!IIII ~;;I"I"Ip-i~!Ii: iP!L:lii'i..:iJ'1I Bli:Fntu~ ,j.:.t]It1- GE!J.r Eiir,'i!:!~~m.-~"ii'~

o

~ ~

~~ '1,IPI!t!!~ 2. PT.l1\;nI1!or.o .a, DlilIlfrfi

I!!I!.~~~~~ 1~;·g;I!!Ii"i~T,Afli~hI'" 1I;:,~l""~~Ik:liiln:il!",!1

~\I !Ii:".!:!!l1dhQk

~~~~ f!!i..l.t'i.l}l IBBHI'I'~ ~UI ~k~1fiijI Ri,Jiliiflh B~mi.Jk.rJ'Q,Si_:(;J MilI""Or"m~ 1i!''''!1~M

~.!'!.!!!; 1"T'I.~ ;2'.F!t.'!!1tiii :l..&uml!l,r' ~3L~OO.:ii1"

~d~~~~~dAi

7.P.;;;~ ~.i!..J~ii"i,Q'!rIJ!ii"i~ !;;I·,ell!!llil,'l!!!l!l~

UJ.:j"!!~1AI'Ii 1'_~1B!\!!

'2. ,;5im1"!fn:n:'Jg !SJf1

1 i}. ~~fii~QRg lilQn!U_~ (IPoo~)1 iloi;! .. S~~hQrilI KalriiUIi

1~ ~iMi"ii:lllf!~;2~

1~ ~~_rd~

I,Hml_!li.!F..:ml)~' II. H~I_~fR4inIIOdl!li~

lni clipertegas oleh Descartes dengan konsep Cartesian space yang rnemilah-milah wang kedalam bentuk-bentuk geometris seperti, kubus, bola, prisma, kerucut atau gabungan dari bentuk-bentuk gseometris tersebut (Van de Ven, 1978). Konsep wang barat ini banyak sekali clipakai oleh para arsitek masa kini. Nama wang pada rumah tinggal "modern" rnencerminkan secara jelas fungsi-fungsi untuk pemenuhan kebutuhan fisik-biologis. Fungsi-fungsi yang rnencerminkan kebutuhan sosial dan ungkapan budaya kurang cliperhatikan karena penataan wang-wang tersebut lebih menekankan aspek ekonornis (efisiensi) dan teknis (Tjahjono, 1989). Dernikian pula dengan pembatas halaman pada nunah tinggal modern clipergunakan pagar-pagar besi yang tinggi sehingga membuat pemisahan teritorial yang tegas sehingga mempunyai kesan tertutup, tidak komunikatif dengan tetangga.

Craatod wlth

nit!roPDF" professi anal

download the free trial online at nitrcpdf.ecmzprofeesiona I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

Konsep ruang dalam nunah tinggal menurut tradisi arsitektur Jawa pada kenyataannya berbeda dengan konsep ruang rnenurut tradisi Barat. Tidak ada sinonim kata ruang dalam bahasa Jawa, yang mendekati adalah Nggon, kata kerjanya meniadi Manggon dan Panggonan berarti tempat atau Place. Jadi bagi orang Jawa lebih tepat pengertian tempat dari pada ruang (Tjahjono,1989, Setiawan, 1991). Rumah tinggal bagi orang Jawa dengan demikian adalah tempat atau tatanan tempat, konsep ruang geometris tidak relevan dalam pengertian nunah tinggal Jawa. Pengertian tempat lebih lanjut dapat elilihat pada bagian-bagian rumah tinggal orang Jawa. Pada nunah induk (omah) istilah dalem dapat eliartikan sebagai keakuan orang Jawa karena kata dalem adalah kata ganti orang pertama (aku) dalam bahasa Jawa halus. Dasar keakuan dalam pandangan dunia Jawa terletak pada kesatuan dengan Illahi yang eliupayakan sepanjang hidupnya dalam meneari sangkan paraning dumadi dengan selalu memperdalam rasa yaitu suatu pengertian tentang asal dan tujuan sebagai mahluk (Magnis Suseno, 1984). Sentong tengah yang terletak elibagian Omah merupakan tempat bagi pemilik rumah untuk berhubungan dan menyatu dengan Illahi sedangkan Pendopo merupakan sarana untuk berkomunikasi dengan sesama manusianya (Priyotomo, 1984). Demikianlah pengertian ruang dalam rumah tinggal Jawa ini meneakup aspek tempat, waktu dan ritual. Rumah tinggal merupakan tempat menyatunya jagad-cilik (micro cosmos) yaitu manusia Jawa denganjagad-gede (macro-cosmos) yaitu alam semesta dan kekuatan gaib yang menguasainya. Bagi orang Jawa nunah tinggalnya merupakan poros dunia (axis-mundi) dan gambaran dunia atau imago-mundi (Eliade,1957) dan memenuhi aspek kosmos dan pusat (Tjahjono, 1981), lihat gambar 9.

~ I'

~~!["'I!I1Klirii"'."". =-'I' ~~~...J...j__jl:L...JU '1U!illi .

Skema Konsep Persatuan Ibu Bumi dan Bapa Langit

Pendopo

rringgitan I

Umah

Gamhar 9. Urutan Tingkat Kesakralan dan Cahaya Dalam Ruang (Gunawan Tjahjono, 1931) dikomposisikan oleh. Peneliti, 2011

b. Orientasi Ruang

Rumah tinggal eli daerah Y ogyakarta dan Surakarta kebanyakan memiliki orientasi arah hadap ke Selatan. Orientasi ini menurut tradisi bersurnber pada kepereayaan terhadap Nyai Roro Kidul yang bersernayam eli Laut Selatan, Dernikian juga dengan arah tidur (Wondoamiseno dan Basuki, 1986). Namun rupanya makin jauh dari pusat keraton (kebudayaan Jawa) kebiasaan ini makin elitinggalkan, seperti yang terjadi eli daerah Somoroto, Ponorogo (Setiawan, 1991). Dalam primbon Betaljemur Adammakua bab 172 elipaparkan juga eara penentuan arah nunah yang eliperhitungkan berdasarkan hari pasaran kelahiran pemilik nunah berkaitan dengan arah ke empat peniuru angin.

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal

download the free trial online at nitrcpdf.ecmzprofeesiona I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

c. Konfigurasi Ruang

Konfigurasi wang atau bagian-bagian nunah orang Jawa di desa membentuk tatanan tiga bagian linier belakang. Bagian depan pendopo, di tengah peringgitan dan yang paling belakang dan terdalam adalah dalem. Konfigurasi linier ini memungkinkan membuat nunah secara bertahap dengan bagian dalem dibangun terlebih dahulu. Luas pendopo pada rumah tinggalorang Jawa kenyataannya cukup luas. Hal ini terjadi karena diprediksikan dapat menampung sanak-sedulur atau kindred pada hari raya Idul Fitri dimana semua anak cucu dan para kerabat akan datang. Selain itu pendopo mempunyai fungsi untuk pengeringan padi. Pada konfigurai wang rumah Jawa dikenal adanya dualisme (oposisi binair), antara luar dan dalam, antara kiri dan kanan, antara daerah istirahat dan daerah aktivitas, antara spirit laki-laki (tempat placenta yang biasanya diletakkan sebelah kanan) dan spirit wanita (tempat placenta yang biasanya diletakkan pada bagian kiri), sentong kanan dan sentong kiri. Pembagian dua ini juga terjadi pula pada saat pagelaran wayang, dimana layar diletakkan sepaniang Peringgitan, dalang dan perangkatnya di bagian pendapa dengan penonton laki-laki sedangkan perempuan menonton dari bagian belakang (bayangannya) dibagian Emperan nunah, lihat gambar 10.

J

I

/

I'"

~E ~bD 'IJJ"~. 1:.~1..

GamharlO. Posisi Pagelaran Wayang. Sumber Selo Sumarjan 1962.

Dikomposisikan oleh Peneliti, 2011

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal

download the free trial online at nitrcpdf.ecmzprofeesiona I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

Demikian juga pada saat pernikahan elilakukan tatamn pengantin eli depan sentong tengah dan para tamu elibagi menjaeli 2 bagian antara tamu laki-laki dan tamu perempuan seperti pada gambar 7.

Rupa bangumn nunah tinggal traelisional Jawa elidominasi oleh bentuk atapnya. Ada 3 bentuk dasar atap yaitu Kampung, limasan dan Jagla yang elisebut bucu eli daerah ponorogo (Se1iawan,1991). Pang gang Pe tidak termasuk dalam kategori ini karena umurrmya bersifat sementara dan TaJug umwrmya untuk mesjid. Badan bangumn tercliri dari tiang-tiang kayu yang berukuran keeil antara 5 em sampai dengan 20 em, berdiri bebas tanpa clineling karena itu ruangnya terbuka (pendopo). Ukuran tinggi badan mulai dari bangumn muka lantai sampai garis atap terendah elibanelingkan tinggi atap mulai dari garis atap terendah sampai puneak atap (molo) kira-kira 1:3 sampai 5 pada atap limasan dan bucu, karena badan bangumn pendek, terbuka dan berkesan ringan sedangkan atap meniulang tinggi, masif dan terkesan berat maka bentuk atap menjaeli dominan,

Untuk oruamentatif dekoratif bangumn eli pusat kebudayaan Jawa yaitu eli keraton mempunyai banyak ragam bias flora yang diwarrai merah, bitam, bijau, putih dan kuning keemasan sedangkan pada daerah pinggiran kebudayaan Jawa pada umwrmya nunah tinggalnya sangat seclikit sekali eliberikan oruamentatif dan dekoratif dan warm yang eligunakan lebih natural. Lihat gambar. 11.

$ .... ·IIII"=..III'j,jI TUlIi.!:'u1

T.u-n!'i'A' r::Il.At; P

!1~"\~r--11n t'o ..... lr.lrl"

I.:.-.."Iln

1 ... _

T~p ..... trF"..-:1~Ik. fin .. $! .AI'I ......

Gamhar ll. Denah Rumah Pak Suratman Saat Pesta Perkawinan, Sumber Selo Sumarjan 1962. Dikompisisikan oleh Peneliti, 2011

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal

download the free trial online at nitrcpdf.ecmzprofeesiona I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

Rumah tinggal orang Jawa selalu memperhatikan keselarasan dengan kosmosnya dalampengertian selalu memperhatikan dan menghormati potensi-potensi tapak yang ada disekitarnya. Konsep ruang tidak seperti yang dimiliki oleh konsep ruang barat tetapi lebih berwatak tempat (place) yang sangat dipengaruhi oleh dimensi waktu dan ritual. Rumah Jawa juga memiliki pusat dan daerah yang ditata secara oposisi binair. Ruang yang terjadi memiliki hirarkhi ruang yang ditata secara unik dengan menggunakan aspek pencahayaan.

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal

download the free trial online at nitrcpdf.ecmzprofeesiona I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

DAFTAR PUSTAKA

Atmacli, P. 1979. Beberapa patokan perencanaan bangunan candi: Yogyakarta: Urriversitas gajah Mada, Disertasi, Fakultas Teknik, 1984. Apa yang Terjadi Pada Arsitektur Jawa. Yogyakarta: Lembaga Javanologi. Dakung, S. 1981. Arsitektur tradisional daerah Istimewa Yogyakarta. Proyek Inventarisasi

dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah Jakarta: Departemen Pencliclikan danKebudayaan Eliade, M. 1959. The Sacred and the Profane. The nature of the religion. Diterjemahkan oleh Willard RTraskA New York Harvest Book, Harcourt, Brace& World,Inc.

Hamzuri, , Rumah tradisional Jawa. Proyek Pengembangan Permusiuman DKI. Jakarta: Departemen

Pencliclikan dan kebudayaan

Ismunandar, K.R 1986. Joglo,Arsitektur rumah tradisional Jawa. Semarang: Dahara Prize. Lombard, D. 1999. Nusa Jawa: Silang budaya, warisan kerajaan-kerajaan konseniris.

Jakarta: PT Grameclia Pustaka Utama.

Munitz, M.K. 1981. Space, Time and Creation: Philosophical aspects of scientific cosmology.

New York Dover.

Priyotomo, 1. 1984. Ideas and forms of Javanese Architecture. Yogyakarta: Gajah Mada

Urriversity Press.

Santosa, RB. 2000. Omah, membaca makna rumah Jawa. Yogyakarta: Yayasan BentangBudaya. Selosumarjan. 1962. Social changes in Yogyakarta. Ithaca: Cornell Urriversity Press.

Suseno, M.F. 1984. Etika Jawa Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup Orang Jawa. Jakarta: PT Grameclia Pustaka Utama.

Setiawan, A1. 1991. Rumah tinggal orang Jawa;Suatu kajian tentang dampak perubahan wujud arsitektur terhadap tata nilai sosial budaya dalam rumah tinggal orang Jawa di Ponorogo. Jakarta:

Urriversitas Indonesia, T esis.

Berke, D. (1997). Thoughts on The Everyday. Dalam Steven Harris dan Deborah Berke (Ed.), Architecture of The Everyday. New York: Princeton Architectural Press.

Harris, S. (1997). Everyday Architecture. Dalam Steven Harris dan Deborah Berke (Ed.), Architecture of The Everyday. New York: Princeton Architectural Press.

Wigglesworth, S. & Till, J. (1998). The Everyday and Architecture. Architectural Design.

Fausch, D. (1997). Ugly and Ordinary: The Representation of the Everyday. Dalam Harris, S. dan Berke, D. (Ed.), Architecture of the Everyday. New York: Princeton Architectural Press.

Harris, S. (1997). Everyday Architecture. Dalam Harris, S. dan Berke, D. (Ed.), Architecture of the Everyday. New York: Princeton Architectural Press.

Lefebvre, H. (1997). The Everyday and Everydayness. Dalam Harris, S. dan Berke, D. (Ed.), Architecture of the Everyday. New York: Princeton Architectural Press.

Catanese, A. 1. & Snyder, 1. C. (1991). Pengantar Arsitektur. Jakarta: Penerbit Erlangga

o 'Gorman, 1. F. (1997). ABC of Architecture. Philadelphia: Urriversity ofPennsylvarria Press.

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal

download the free trial online at nitrcpdf.ecmzprofeesiona I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

Rasmussen, S. E. (1964). Experiencing Architecture. Cambridge: The MIT Press. Shepheard, P. (1999). What is Architecture? Cambridge: The MIT Press.

Wigglesworth, S. & Till, J. (1998). The Everyday and Architecture. Architectural Design.

Berke, D. (1997). Thoughts on The Everyday. Dalam Steven Harris dan Deborah Berke (Ed.), Architecture of The Everyday. New York: Princeton Architectural Press.

Harris, S. (1997). Everyday Architecture. Dalam Steven Harris dan Deborah Berke (Ed.), Architecture of The Everyday. New York: Princeton Architectural Press.

Wigglesworth, S. & Till, J. (1998). The Everyday and Architecture. Architectural Design. http://juanfranklinsagrim. blogspot. com

http://www.Hamah.socialgo.com

Google terjemahan bebas, tentang kebudayaa, arsitektur, kota.

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal

download the free trial online at nitrcpdf.ecmzprofeesiona I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

TENTANG PENULIS

Juan Frank Hamah Sagrim, Lahir di lembah perbnkitan Hamah Yasib, Kampung Sauf, Distrik Ayamaru, Kabupaten Maybrat, Papua Barat, pada 06 April 1982. Ayah Nixon Sagrim (alm) dan Ibu Marlina SagrimlSesa. Orang tua bekerja sebagai Penginjil di lingkungan Klasis GKI Maybrat, dan tenaga Medic Klasis GKI Maybrat. Hamah adalah anak Kedua dari empat Bersaudara, (Jeremias, Daud Has, dan Desi Sah Bolara). Pendidikan: SD Bethel Sauf, SLTP Nl Ayamaru, SMA YPK 1 Ebenhaezer Sorong. Melanjutkan Kuliah di Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya "ITATS" Jurusan Teknik Arsitektur, pindah dan Melanjutkannya di Universitas Widya Mataram Yogyakarta, 2006, pada Jurusan yang sarna. Aktivitas Ekstra: Menjadi Tutor Pelatihan Mengetik 10 jari bersama Missionaris Jerman Tn. Hesse dkk. Di wilayah Maybrat, Imian, Sawiat, Tehit, thn.2000. Sekretaris Ikatan Mahasiswa Papua seJawa timur Surabaya, 2004, Menjabat Ketua Ikatan Mahasiswa Papua seJawa Timur 2005. Anggota Ikatan Arsitektur Asia Pacific 2003. Anggota Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) 2004. Team Perumusan Metode Belajar Mengajar Nusantara bersama Dirjen Pendidikan Tinggi RI 2006. Menjabat Koordinator Mahasiwa Arsitektur Asia Pacific Rayon II Indonesia Bagian Tengah DIY 2006-2008. Anggota Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) 2008. Menjabat Ketua Asrama Mahasiswa Papua 2008. Menjabat Direktur Program Lembaga Study Papua (LSP) 2007-2008. Anggota Luar Biasa University Harytake program UNESCO 2007-2008. Menjabat Sekretaris Umum Lembaga Intelektual Tanah Papua 2009-sekarang. Peneliti Tamu bidang lintas Budaya (researcher of cross culture) pada Yayasan Pondok Rakyat (YPR) DIY 2008-2009. Civitas Yayasan STUBE-hemat Yogyakarta 2007 -sekarang. Tenaga Pengarah kerja pada perkumpulan seniman rantau di Yogyakarta 2009-sekarang. Agen Informan GRIC dan Pax Roman 2008-2010. Anggota International Working Group (IWG) for Asia Africa to Globalization 2009- sekarang. Staf Ahli pada Team Peneliti dan Pemerhati Arsitektur Tradisional Nusantara UWMY, 2010. Peneliti Lepas dan Penulis. Ketika Menulis Buku ini, masih aktif Sebagai Mahasiswa Universitas Widya Mataram Yogyakarta. Berkeinginan besar sebagai Peneliti dan Ilmuwan Muda.

Beberapa Karya Tulis adalah:

Makalah Ilmiah "Kajian Tentang Keterkaitan Seni Budaya Etnic Negro Melanesoid Papua Dan Negroid Afrika", 2009.

"Karya ini merupaka karya yang luarbiasa baginya daripada karya yang lain"

Karya yang sudah diterbitkan adalah:

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal

download the free trial online at nitrcpdf.ecmzprofeesiona I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

HISTORY OF GOD IN TRIBALS RELIGION KISAH TUHAN DALAM AGAMA SUKU

RAHASIA THEOLOGIA TRADISIONAL SUKU MAYBRAT IMIAN SAWIAT PAPUA WIYON-WOFLE

DIPARALELKAN DENGAN ALKITAB

Beberapa karya Tulis yang belum diterbitkan adalah:

1. Arsitektur Tradisional suku Maybrat Imian Sawiat Papua "Halii-Mbo! Chalit" dalam Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat Dengan Usulan Konsep Desain dari Bentuk Tradisional ke Bentuk Moderen. "sebagai suatu kajian ethno arsitektur",

2. Sistem Kepemimpinan dan sistem Politik tradisional suku Maybrat, Imian, Sawiat "Ra Bobot-Na Bobot-Big Man" dan Pengaruh Wanita Maybrat, Imian, Sawiat, Terhadap Lingkungannya .

3. Menyelamatkan Hutan Adat Papua Sebagai Suplai Oksigen Terbesar Dunia, dengan usulan konsep dan rekomendasi agar dalam pernyataan Protokol Kyoto mencanangkan pola penanganan tata laksana lingkungan hidup untuk mengatasi Global warming dengan sistem communal.

4. Mengapa Orang Papua Diprediksikan akan Punah Pada tahun 2030?

5. Tata Bahasa Maybrat. Disusun Dalam Bahasa Indonesia - Inggris -Maybrat.

6. Penuntun Untuk Berpikir Bijaksana "The Bigest Thingking".

7. Bamboo in the socio cultural living society of Java - Kegunaan Bambu dalam kehidupan so sial

budaya masyarakat Jawa

8. Teori Arsitektur Maybrat, Imian, Sawiat

9. Pengaruh Arsitektur Terhadap Fenomena Lingkungan Alam

10. Pendidikan Tradisional Wanita Maybrat, Imian, Sawiat - "Finya mgiar".

Kini sedang mempersiapkan penyusunan buku barunya, yaitu:

1. ENCYCLOPEDIA ADAT ISTIADAT BUDA YA MA YBRAT 2. KAMUSBAHASAMAYBRAT

Makalah-makalah kaiian lain adalah:

1. Menguak Imunity Rasial Diskriminasi Terhadap Orang Papua (Makalah Konferensi AsiaAfrika) disampaikan pada "International Conference of ss". Asia - Africa Sustainabelity", Thaksin University-Mindanao, Moro, Philipines; March, 2009; UI Depok Jakarta, Oktober, 2009.

2. Benturan budaya lokal negara non kapitalisme dengan budaya global negara kapitalisme (Makalah Simposium) - disampaikan pada "Simposium nasional". Kebudayaan dan keeksistensian local wosdom sebagai tatanan bangsa, UGM, Yogyakarta, Juni, 2008.

3. Pandangan Kontemporer Papua tentang keindonesiaan (Makalah Dialog) - disampaikan pada "Dialog Nasional, Ketahanan Negara ", UC UGM, Yogyakarta, July, 2010.

4. Usaha Melepaskan Papua Dari Cengkeraman Asing (Makalah Seminar Nasional)- disampaikan pada " National Seminary ", UPI Bandung, September, 2009.

5. Penyusunan Metode Belajar Mengajar Nusantara Bersama DIKTI, (Makalah Pembelajaran, Student Equity), Quality Hotel Yogyakarta April, 2006.

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal

download the free trial online at nitrcpdf.ecmzprofeesiona I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

6. Peran Pemuda Dalam Memajukan Bangsa (Makalah Dialog), disampaikan dalam "Dialog Pemuda Nasional Regional II Indonesia Bagian Tengah ", Gedung Negara Gubemur Yogyakarta, Oktober, 2006.

7. Apa Peran Gereja di Tengah Pergolakan Umat Manusia di Tanah Papua (Makalah Diskusi), disampaikan dalam "Saresehan LITP", Pogung Rejo Yogyakart, September, 2010.

8. SAVING EARTH'S HAS INTEGRAL LIFE SYSTEM: Can Asian-African Visions Rescue Biodiversity from the West-born Globalization? (Makalah Konferensi) disampaikan dalam "Comemoration ss". Asia-Afrika Conference", Yogyakarta Indonesia, October, 25-27, 2010 - Rabat Moroco 23-25 Nopember, 2010.

9. Indegenous People In Papua and Asia Religion: DIVERSITY IN GLOBALIZED SOCIETY. (Makalah Konferensi) disampaikan dalam "The Role of Asia and Africa for a Sustainable World 55 Years after Bandung Asian-African Conference 1955. Asia - Africa Summit, Yogyakarta-Molucas Nopember, 2010.

10. Kajian Kritis Tentang Pasar Bebas dan Pengaruhnya terhaap Ketahanan Negara non

Kapitalisme. Kliping Pribadi, 2009

11. Pendidikan Zaman Pendudukan Bangsa Asing di Papua. Kliping Pribadi, 2010.

12. Pranata Kehidupan Negara Berkembang. Kliping Pribadi, 2009.

13. Struktur Fungsional Dominasi Budaya Kapitalisme. Kliping Pribadi, 2008.

14. Memaknai Arsitektur Nusantara Sebagai Kearifan Lokal Di Era Globalisasi. Kliping Pribadi, 2010.

15. Difusi Ajaran dan Pemikiran Kristen Dalam Konstelasi Kristen di Tehit, Maybrat, Im ian, Sawiat, Papua. Kajian sejarah. Kliping Pribadi, 2007.

16. Evolusi Pemikiran Pembangunan. Kliping Pribadi, 2007.

17. Kajian Kritis Tafsiran Yesus Kristus - Isa Almaseh dari Alkitab dan Al-Quran. Kliping Pribadi, 2009.

18. Refleksi Kehidupan Masyarakat Plural Moderen dan Majemuk Papua. Kliping Pribadi, 2010.

19. Sejarah-Sejarah Alkitab dan yang berkaitan dengan Kejadian dalam Alkitab. Kliping Pribadi,

2008.

20. Transisi Masyarakat Tradisional Indonesia. Kliping Pribadi, 2009.

21. Teori konvergensi dan Pertumbuhan Ekonomi. Kliping pribadi, 2007.

22. Arsitektur Tradisional dalam RENSTRA Pengembangan tata ruang kota berbasis kebudayaan lokal. Kliping pribadi, 2008.

23. Usulan teori dalam berarsitektur; Rasionansi Arsitektur, dan Empirisme arsitektur.

Kliping Pribadi, 2011.

Craatod wlth

nit!roPDF' professi anal

download the free trial online at nitrcpdf.ecmzprofeesiona I

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->