P. 1
jurnal

jurnal

|Views: 223|Likes:
Published by HaryonoYusman

More info:

Published by: HaryonoYusman on Mar 24, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/26/2014

pdf

text

original

Jurnal PSYCHE

Burnout Pada Perawat Puteri RS St. Elizabeth Semarang Ditinjau Dari Dukungan Sosial
(Burnout Among Semarang St. Elisabeth Hospital Female Nurses in Relation to Social Support)
Rita Andarika Fakultas Psikologi Universitas Bina Darma Palembang

Abstract
This research aimed to examine the correlation between social support and burnout on female nurses. The subject consistsed of 60 female nurses at Semarang St. Elizabeth Hospital. The subjects were selected by means of simple random sampling technique. The data were collected using two questionnaires, that are social support questionnaire and burnout questionnaire. The data were analized using Pearson’s Product Moment correlation technique. The result showed that there was a negative and significant correlation between social support and burnout on female nurse (rxy = -0,323; p < 0,05). Keywords: burnout, social support, female nurse

Pendahuluan Dalam kehidupan yang semakin kompleks dewasa ini, orang selalu dituntut untuk senantiasa menciptakan dan mencapai keserasian serta kebahagiaan hidup bersama. Dalam hubungan dengan pencapaian keserasian dan kebahagiaan hidup bersama, sumber daya manusia yang berkualitas baik akan senantiasa berusaha untuk mencapai keberhasilan seoptimal mungkin dan meningkatkan produktivitasnya. Perawat merupakan satu jenis profesi yang dewasa ini banyak dibutuhkan. Oleh karena itu, organisasi tempat para perawat bekerja senantiasa mengusahakan peningkatan kualitas profesionalisme mereka. Tugas pokok seorang perawat adalah merawat pasien untuk mempercepat proses penyembuhan. Seorang perawat, karena pekerjaannya yang dinamis,
Rita Andarika 1

Santosa (dalam Hadi. Akibatnya kinerja mereka menjadi buruk dan secara tidak langsung berpengaruh terhadap organisasi di mana mereka bekerja. pengetahuan. dan konsentrasi yang tinggi. Itu semua menimbulkan rasa tertekan padaperawat. guru. 1996) apabila keadaan stres terjadi dalam jangka waktu yang lama dengan intensitas yang cukup tinggi. dan mempunyai energi yang cukup. Selain itu pula seorang perawat selalu dihadapkan pada tuntutan idealisme profesi dan sering menghadapi berbagai macam persoalan baik dari pasien maupun teman sekerja. kelelahan emosional. dan kelelahan mental. pekerja sosial. kelelahan emosional. 1996) menggambarkan burnout sebagai suatu keadaan yang mencerminkan reaksi emosional pada orang yang berkerja pada bidang pelayanan kemanusiaan (human services) dan bekerja erat dengan masyarakat. harus dapat bertindak cepat namun tepat dalam menangani penderita yang masuk Unit Gawat Darurat. Seorang perawat sering dihadapkan pada suatu usaha penyelamat kelangsungan hidup atau nyawa seseorang. sehat. Kondisi seperti inilah yang dapat menimbulkan rasa tertekan pada perawat. Dari satu sisi. dan para anggota polisi. sehingga ia mudah sekali mengalami stres. 1 No. 1996). dan kondisi fisik seseorang (Davis. ditandai dengan kelelahan fisik. Menurut Leatz dan Stolar (dalam Rosyid dan Farhati. proses berpikir. Menurut Leatz dan Stolar (Rosyid dan Fathati. Lebih lanjut. dan kelelahan mental. sehingga mudah mengalami stres. maka akan mengakibatkan perawat mengalami gejala burnout. Di sisi lain. Schaufeli dan Jauczur (1994) mengatakan bahwa dalam menjalankan peran dan fungsinya seorang perawat dituntut memiliki keahlian. 1. Penderita burnout banyak dijumpai pada perawat di rumah sakit. adanya tuntutan-tuntutan baik yang berasal dari orang-orang di sekitarnya maupun dari kode etik profesi.Vol. 1996) stres yang dialami individu dalam jangka waktu yang lama dengan intensitas yang cukup tinggi Burnout Pada Perawat Puteri Ditinjau Dari Dukungan Sosial 2 . Kondisi tubuh yang kurang menguntungkan akan berakibat seorang perawat mudah patah semangat bilamana saat bekerja ia mengalami kelelahan fisik. ruang kerja yang sesak dan sumpek bagi yang bertugas di bangsal. Bernardin (dalam Rosyid. seorang perawat harus menjalankan tugas yang menyangkut kelangsungan hidup pasien yang dirawatnya. 1987) mengatakan bahwa dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari. perawat selalu berhadapan dengan hal-hal yang monoton dan rutin. keadaan psikologis perawat sendiri juga harus tetap terjaga. Juli 2004 perlu memiliki kondisi tubuh yang baik. Pekerjaan seorang perawat sangatlah berat. Stes merupakan ketegangan mental yang mengganggu kondisi emosional. harus berhati-hati menangani peralatan di ruang operasi. Stres yang berlebihan akan berakibat buruk terhadap individu untuk berhubungan dengan lingkungannya secara normal.

seorang perawat diharapkan mendapat dukungan sosial baik dari atas. Penderita burnout banyak dijumpai pada perawat di rumah sakit. 1996) menyebutkan ada 11 karakteristik pada penderita burnout. Selanjutnya. dan anggota polisi. emosional. Tinjauan Pustaka Istilah burnout pertama kali diperkenalkan oleh Freudenberg pada tahun 1974 (Jackson. Elisabeth Semarang. dkk (1983) mengatakan bahwa akibat dari burnout dapat muncul dalam bentuk berkurangnya kepuasan kerja. dan atasan. maka ia akan mengalami kebingungan. Menurut Ganster. dan produktivitas rendah. Keadaaan yang demikian tentu akan berdampak negatif pada para perawat dan akan tercermin pada kinerja yang tidak memuaskan. maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara empiris hubungan dukungan sosial terhadap burnout bagi perawat RS St. Rita Andarika 3 . memburuknya kinerja. dkk. bilamana perawat tidak memperoleh dukungan sosial. maupun mental. yang sering dialami individu yang bekerja pada situasi di mana ia harus melayani kebutuhan orang banyak. (2) lari dari kenyataan. pekerja sosial. yaitu: (1) kelelahan yang merupakan proses kehilangan energi disertai keletihan. dan bekerja erat dengan masyarakat. Freudenberger dan Richelson (Rosyid dan Farhati. Apapun penyebabnya. Di rumah sakit. munculnya burnout berakibat kerugian di pihak karyawan maupun organisasi. merasa tidak mempunyai sandaran untuk mengadukan permasalahannya. Bernardin (Rosyid. rekan sekerja. guru. guru. dkk (1986) sumber-sumber dukungan sosial dapat berasal dari keluarga. Burnout merupakan gejala kelelahan emosional yang disebabkan oleh tingginya tuntutan pekerjaan. pekerja sosial. Akan tetapi.. 1986). dan para pekerja di rumah sakit. maupun keluarga. Salah satu penyebab burnout terpenting yang dikemukakan oleh Baron dan Greenberg (1995) adalah gaya kepemimpinan yang diterapkan oleh para atasan. teman sekerja. Keadaan seperti ini disebut burnout. Bertitik tolak dari pentingnya dukungan sosial terhadap burnout bagi perawat. 1996) menggambarkan burnout sebagai suatu keadaan yang mencerminkan reaksi emosional pada orang yang bekerja pada bidang pelayanan kemanusiaan.Jurnal PSYCHE akan mengakibatkan individu yang bersangkutan menderita kelelahan fisik. Rosyid dan Farhati (1996) mengatakan bahwa ketiadaan dukungan sosial atasan terhadap karyawan akan mengakibatkan timbulnya burnout pada karyawan. Bilamana seorang perawat mendapat dukungan sosial maka perawat dapat menjalankan tugasnya dengan lebih baik dan dengan demikian kinerjanya meningkat. Golembiewsky.

(6) merasa tidak dihargai. 1996). dkk (1994) mengatakan bahwa dukungan sosial merupakan salah satu variabel penting yang berpengaruh terhadap burnout. Manusia sebagai makhluk sosial membutuhkan kehadiran manusia lain untuk berinteraksi.. yang diterima seseorang melalui hubungan formal dan informal dengan yang lai atau kelompok (Gibson. 2) Faktor internal. dkk. yaitu: 1) Faktor eksternal. dan peran sosial yang terdiri atas umpan balik. 1984) mengatakan bahwa dukungan sosial secara langsung berhubungan dengan burnout. yaitu: 1) Dukungan emosional. 4) Dukungan instrumental. Baron dan Greenberg (1995) mengemukakan ada dua faktor yang mempengaruhi burnout. Individu membutuhkan empati dari orang lain. Individu membutuhkan nasehat. bantuan. saransaran untuk mengatasi masalah pribadi maupun masalah pekerjaan. pengarahan. Hal ini terjadi karena seseorang tidak mungkin memenuhi kebutuhan fisik maupun psikologisnya secara sendirian. penilaian atas usaha-usaha yang dilakukan. Kehadiran orang lain di dalam kehidupan pribadi seseorang begitu diiperlukan. teman sekerja maupun keluarga (Ganster. (dalam Etzion. Juli 2004 (3) kebosanan dan sinisme. teman sekerja. Dukungan sosial diartikan sebagai kesenangan. Individu membutuhkan penghargaan yang positif. Hal ini sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Parasuraman. Lebih jauh dikatakan bahwa dukungan sosial yang diterima dari teman sekerja akan mengurangi resiko burnout. (5) merasa hanya dirinya yang dapat menyelesaikan semua permasalahan. meliputi: jenis kelamin. 1. dan keluarga mempunyai andil yang besar untuk meringankan beban seseorang yang mengalami burnout. (4) tidak sabaran dan mudah tersinggung. maka semakin rendah burnout. usia. tuntutan pekerjaan. (7) mengalami disorientasi. gaya kepemimpinan yang kurang konsiderasi. (9) curiga tanpa alasan. (8) keluhan psikosomatis. harga diri. Semakin tinggi dukungan sosial. peralatan atau sarana guna menunjang kelancaran kerja. 1986). dkk (1989) yang mengatakan bahwa dukungan sosial dari teman sekerja Burnout Pada Perawat Puteri Ditinjau Dari Dukungan Sosial 4 . Individu membutuhkan dukungan sosial baik yang berasal dari atasan. adanya prosedur dan aturan-aturan yang kaku. 1994) membedakan empat macam dukungan sosial. 3) Dukungan informatif. kurangnya kesempatan untuk promosi. Kanner. Dukungan sosial yang diterima dari atasan. 2) Dukungan penghargaan. (10) depresi. House (dalam Smet. Pendapat yang senada dikemukakan oleh Gibson. dkk (1992) bahwa dukungan sosial berhubungan dengan burnout. Corrigan. Individu membutuhkan bantuan berupa benda. (11) penyangkalan. dkk.Vol. 1 No. yang meliputi kondisi kerja yang buruk.

yang digunakan sebagai aspek untuk mengukur angket dukungan sosial. nilai 2 untuk jawaban Setuju. Ada dua angket yang digunakan. Elisabeth Semarang. Angket dukungan sosial disusun berdasarkan empat pilihan jawaban. Penyusunan angket dukungan sosial didasarkan pada indikator yang memuat keempat aspek dukungan sosial yaitu: dukungan emosional. Subjek Populasi penelitian ini adalah perawat puteri yang bekerja pada Rumah Sakit St. dan angket burnout. dukungan informatif. maka hipotesis penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: “Ada hubungan yang negatif antara dukungan sosial dengan burnout pada perawat puteri RS St. dan nilai 1 untuk jawaban Sangat Tidak Setuju. Penelitian yang dilakukan oleh Britton (1989) melaporkan bahwa dukungan sosial dari para atasan berpengaruh positif terhadap kesehatan fisik dan kesehatan mental para perawat. dan nilai 4 untuk jawaban Sangat Tidak Setuju. Rita Andarika 5 . maka semakin sedikit keluhan tentang kesehatan yang dilaporkan. nilai 3 untuk jawaban Tidak Setuju.“ Metode Penelitian Variabel-Variabel Penelitian Variabel bsebas penelitian ini adalah dukungan sosial. Sampel penelitian yang berjumlah 60 orang dipilih dengan menggunakan teknik simple random sampling. yang terdiri dari butir favourable dan butir unfavourable.993. Keempat macam dukungan sosial ini. dukungan penghargaan. Uji reliabilitas terhadap angket dukungan sosial menggunakan teknik Hoyt dengan hasil 0. Berdasarkan uraian di atas. nilai 3 untuk jawaban Setuju. Alat Ukur Data yang dibutuhkan dalam penelitian ini dikumpulkan dengan menggunakan metode angket. di mana 52 butir valid dan 20 butir gugur. nilai 2 untuk jawaban Tidak Setuju. Elisabeth Semarang.Jurnal PSYCHE menengahi hubungan antara burnout dengan keluhan kesehatan. Sebaliknya. dan variabel tergantungnya adalah burnout pada perawat puteri. butir yang bersifat unfavourable diberi nilai 1 untuk jawaban Sangat Setuju. Semakin tinggi dukungan sosial. dan dukungan instrumental. dijabarkan ke dalam 72 butir. Butir yang bersifat favourable diberi nilai 4 untuk jawaban Sangat Setuju. yaitu: angket dukungan sosial.

Butir yang bersifat favourable diberi nilai 4 untuk jawaban Sering. Sebaliknya. rendahnya penghargaan terhadap diri. kelelahan emosional. “Ada hubungan yang negatif antara dukungan sosial dengan burnout pada perawat puteri”. maka semakin rendah burnout. Dukungan sosial Burnout Pada Perawat Puteri Ditinjau Dari Dukungan Sosial 6 . dkk (dalam Etzion. Perhitungan dilakukan dengan menggunakan komputer program SPS/IBM. kelelahan sikap dan mental. maka akan semakin rendah burnout pada perawat puteri. penyusunan angket burnout didasarkan pada indikator burnout yang meliputi: kelelahan fisik. dan nilai 4 untuk jawaban Tidak Pernah.05. 1. di mana 59 butir valid dan 21 butir gugur. Dengan demikian. nilai 2 untuk jawaban Jarang. Dengan demikian. Juli 2004 Selanjutnya. nilai 2 untuk jawaban Kadang-Kadang. Hasil penelitian ini mendukung pendapat Kanner. maka hipotesis yang diajukan pada penelitian ini teruji kebenarannya. Hasil Dengan menggunakan teknik analisis Korelasi Product-Moment. Sebaliknya. (1992) bahwa dukungan sosial berhubungan dengan burnout.972.323 pada p < 0. Hasil penelitian ini sejalan juga dengan pendapat Parasuraman. yang terdiri dari butir favourable dan butir unfavourable. 1984) yang mengatakan bahwa dukungan sosial secara langsung berhubungan dengan burnout. hipotesis penelitian yang mangatakan. semakin rendah dukungan sosial.Vol. butir yang bersifat unfavourable diberi nilai 1 untuk jawaban Sering. maka akan semakin tinggi burnout pada perawat puteri. Angket tersebut disusun berdasarkan empat pilihan jawaban. Uji reliabilitas menggunakan teknik Hoyt dengan hasil 0. Kelima indikator burnout ini digunakan sebagai aspek untuk mengukur angket burnout yang dijabarkan ke dalam 80 butir. nilai 3 untuk jawaban Jarang. Hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan negatif yang signifikan antara dukungan sosial dengan burnout pada perawat puteri. dkk. nilai 3 untuk jawaban Kadang-Kadang. diperoleh rxy sebesar -0. dan depersonalisasi. dan nilai 1 untuk jawaban Tidak Pernah. Metode Analisis Data Teknik analisis yang digunakan untuk menganalisis data guna menguji hipotesis penelitian adalah teknik Korelasi Product-Moment. semakin tinggi dukungan sosial. Pembahasan Berdasarkan hasil uji hipotesis yang dilakukan. Semakin tinggi dukungan sosial. dapat diterima. 1 No.

Elisabet Semarang. 13: 399-356. Basin.. teman sekerja. Moderating Effect of Social Support on The Stress-Burnout Relationship. B. J. J.. sebagaimana dialami oleh para perawat RS St. Staff Burnout in Psychiatrics Hospital. S. Manajemen Organisasi: Perilaku-Struktur-Proses (alih bahasa: Agus). Journal of Applied Psychology. 62: 615-621.D. S.. Journal of Applied Psycholog. 2) Bagi keluarga perawat. and Donnely. Dari hasil penelitian ini. F.. usia. Elisabeth. 1984. J. peneliti menyarankan beberapa hal: 1) Bagi Rumah Sakit St..J. and Park.H. Ivancevich. and Well-being Among Two-Career Couples. Etzion. dan jenis kelamin.R. Holmes. A Cross-Laged Panel Design.. agar dapat dipertahankan. 1996. Journal of Organizational Behaviour. B.. Fusilier. Role of Social Social Support in The Experience of Stress at Work. dan keluarga mempunyai andil besar untuk meringankan beban seseorang yang mengalami burnout. Jr.Jurnal PSYCHE yang diperoleh dari atasan. J. nasehat. P. Jakarta: Erlangga. and Granrose. Gunarsa. Luchien. C. Dukungan sosial yang sudah tinggi dari keluarga agar dipertahankan. dan dukungan sosial antarrekan sekerja. yakni dukungan sosial antara atasan dengan bawahan. Daftar Pustaka Corrigan.C. Greenhause. Apabila hendak meneliti burnout. M. tipe kepribadian.S. Buican. 1986. 1992.H. Parasuraman. sebaiknya juga memperhatikan faktor-faktor lain yang mempengaruhi burnout. Social Support. Rita Andarika 7 ..M. memberi pertimbangan. Jakarta: BPK Gunung Mulia. D.P. D. 15. J.. and Meyes. Ganster. 3) Bagi peneliti lain. atau bahkan mendengarkan keluhan bilamana sang perawat sedang mengalami persoalan pribadi atau pekerjaan. 1995. dan bahkan ditingkatkan.W. Journal of Organizational Behavior. Gibson.. Bentuk dukungan sosial dapat berupa kesempatan untuk bercerita. D. A. bantuan.. Dukungan sosial yang sudah tinggi.L. Psikologi Perawatan. 65-74. 1994.T. Role Stressor. seperti harga diri. 71: 102-110.

B. 25 (7): 95-113. Burnout: Penghambat Produktivitas yang Perlu Dicermati. Juli 2004 Rosyid. B. W. Journal of Cross Cultural Psychology. 1994.F. Burnout Among Nurses: A Polish Dutch Comparison. B. Buletin Psikologi. Smet. and Janczur. 1. 1 No. H. Psikologi Kesehatan. Schaufeli. Jakarta: PT Gramedia Widia Sarana Indonesia. 1994.Vol. Burnout Pada Perawat Puteri Ditinjau Dari Dukungan Sosial 8 .. IV (1): 19-24. 1996.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->