WAKIL WALIKOTA SUKABUMI BUKA DIKLAT PROTOKOLER DAN MC Reporter : ENDANG SUMARDI

Wakil Walikota Sukabumi, Drs. H. Mulyono, M.M., hari Minggu, 22 Maret 2009, di Gedung Pusat Kajian Islam, secara resmi membuka pelaksanaan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Protokoler dan Master of Ceremony (MC).

Diklat Protokoler dan MC yang diikuti 125 peserta dan dihadiri Anggota DPRD Kota Sukabumi ini, diprakarsai Forum Komunikasi Taman Asuh Anak Muslim Sakinah (FK TAAMS) Lembaga Pengembangan dan Pembinaan Keluarga Sakinah Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (LPKS BKPRMI) Kota Sukabumi.

Dalam sambutannya, Wakil Walikota Sukabumi menandaskan, protokol selain merupakan kunci dasar pelaksanaan berbagai kegiatan seremonial, juga merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari setiap aktifitas pelaksanaan fungsi-fungsi pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan.

Mengingat sangat luasnya cakupan aktifitas yang diemban, maka protokol dituntut memiliki kemampuan untuk membangun komunikasi dan kerja sama yang baik, demi suksesnya suatu kegiatan. Untuk itu, Wakil Walikota Sukabumi menyambut baik atas dilaksanakannya Diklat Protokoler dan MC tersebut.

Diharapkannya, dengan dilaksanakan Diklat tersebut, dapat meningkatkan kemampuan para peserta Diklat khususnya para guru, sebagai bekal dalam melaksanakan tugas di sekolahnya masing-masing.

Berkaitan dengan hal tersebut, Wakil Walikota Sukabumi meminta kepada seluruh peserta, agar mengikuti Diklat tersebut dengan sungguh-sungguh dan disiplin yang tinggi, supaya hasilnya dapat memuaskan dan membanggakan semua pihak. Sebab kemampuan dalam bidang keprotokolan dan MC ini, bukan hanya berguna bagi diri sendiri, akan tetapi juga berguna bagi aktivitas kehidupan masyarakat, diantaranya dengan mengembangkan life skill

dan kemampuan berbicara secara baik dan benar.

Sementara Kasubbag Protokol Bagian Umum dan Protokol Setda Kota Sukabumi sekaligus sebagai pemateri pada Diklat tersebut, Nanan Setiani, S.IP. mengatakan, dalam kegiatan keprotokolan, seseorang dituntut memiliki jiwa disiplin dan loyalitas yang tinggi, sesuai dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1997 dan Peraturan Pemerintah Nomor 62 Tahun 1990, yakni protokol merupakan serangkaian aturan dalam acara kenegaraan atau acara resmi yang meliputi aturan tata tempat, tata upacara dan tata penghormatan bagi seseorang karena jabatan atau kedudukan dalam negara, pemerintah atau masyarakat.

Adapun syarat utama untuk seorang petugas protokol, yakni harus memiliki wawasan, penampilan, etika, serta memiliki kemampuan berbicara dan bahasa yang baik dan benar. Sabtu, 22-12-2007 Humas Gelar Diklat Keprotokoleran BAGIAN Humas dan Protokol Luwu Utara menggelar Pendidikan dan Latihan (Diklat) keprotokoleran diikuti utusan badan, dinas, kantor dan kecamatan dalam lingkup Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Luwu Utara, di Hotel Yuniar Masamba (HYM), beberapa hari lalu.

Diklat keprotokoleran itu merupakan tindaklanjut Diklat keprotokoleran yang digelar beberapa waktu sebagai evaluasi sejauhmana tingkat kemahiran peserta dalam mengatur acara. Demikian diungkapkan Kabag Humas dan Protokol Luwu Utara, Syahruddin dalam rilisnya diterima Upeks, Jum'at (21/12). Dikatakan, peserta Diklat keprotokoleran diharapkan mampu menguasai teknik menjadi Master of Ceremony (MC). "Setelah Diklat berlangsung diharapkan MC lebih tanggap situasi kritis saat acara berlangsung seperti perubahan jadwal atau susunan acara atau gangguan saat acara sedang berlangsung," katanya seraya menambahkan peran MC sangat menentukan dalam suatu acara. Menurut Syahruddin, saat ini sub bagian protokol kekurangan personil MC yang mengcover berbagai acara Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Oleh karena itu lanjutnya, dengan adanya Diklat protokoler ini akan mengantisipasi

kekurangan MC di sub bagian protokol. "Terus terang kami kewalahan jika dalam waktu yang bersamaan ada kegiatan SKPD yang berlangsung, sementara tenaga MC hanya seorang," papar mantan Camat Mappedeceng itu. Hal ini pula diakui Bupati Luwu Utara, HM Luthfi A Mutty dalam suatu kesempatan dan meminta agar dilakukan penambahan tenaga MC di bagian protokol. Pelaksanaan Diklat keprotokoleran menggunakan metode interaktif antara peserta dan pembimbing dengan menghadirkan pembimbing profesional dari Biro Humas dan Protokol Sulsel. ()

Protokol Bagian Terdepan Dalam Pelayanan Birokrasi Kamis, 02 Desember 2010 17:56 Starberita - Sergai, Terselenggaranya tatalaksana pemerintahan yang baik, maka aparat protokoler harus dapat menjadi bagian terdepan (front liner) dalam memberikan pelayanan birokrasi dari pimpinan kepada masyarakat yang membutuhkan pelayanan atas administrasi pemerintahan.

Hal itu dikatakan Wabup H Soekirman ketika menerima 30 peserta pendidikan dan pelatihan (diklat) keprotokolan Pemprovsu yang mengadakan observasi lapangan di Kantor Bupati Sergai di Sei Rampah, Kamis (2/12).

Ditegaskannya,

dalam

memberikan

pelayanan

publik

tugas-tugas

keprotokolan

merupakan bagian yang penting dan tidak dapat bekerja sendiri tetapi harus dapat saling bekerjasama, berkoordinasi menjadi satu kesatuan dengan berbagai unit kerja yang ada dalam unsur pemerintahan, ucap Ir H Soekirman

Memberikan pelayanan publik dengan berbagai karakter, menurut Ir H Soekirman, petugas protokol harus memiliki kepekaan yang tinggi (sensitivity), jaringan yang luas (net working), memiliki data dan informasi yang akurat, memiliki inisiatif tinggi, sederhana dan ikhlas dalam melakukan tugas.

Diklat tersebut digelar bekerja sama dengan Bagian Humas dan Protokol Pemprov Kaltim. Tapanuli Tengah. keprotokolan merupakan bagian integral dari pemerintahan yang memiliki tugas dan tanggung jawab khusus dalam mengatur dan memastikan pemberian penghormatan pada lembaga atau seseorang berdasarkan jabatan atau kedudukannya."Menghadapi tantangan tugas yang semakin kompleks." tegas Wabup Ketigapuluh peserta diklat protokol yang dipimpin Yusni Harahap dari Badan Diklat Pemprovsu itu berasal dari 10 kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara yaitu. para peserta diklat keprotokolan Badan Diklat Pemprovsu itu mengadakan observasi tugas-tugas yang dilaksanakan pemerintahan dan protokol Pemkab Sergai. Selama berada di Kabupaten Sergai. Tapanuli Utara. kantor. Bupati Malinau Marthin Billa mengungkapkan. Pemko Binjai. 30 Juli 2009 . menggelar pendidikan dan latihan (diklat) keprotokolan. Karo. Pakpak Barat.(Andalas/RIS) y Kamis. dinas dan bagian yang berada di lingkungan Pemkab Malinau. Pemkab Malinau selama 2 hari hingga Selasa lalu. Tebing Tinggi dan Pematang Siantar. 62 Tahun 1990 tentang ketentuan . Semua itu telah diatur dalam Undang-undang No. 8 Tahun 1987 yang kemudian ditindaklanjuti oleh PP No. Padang Lawas. Labuhan Batu Selatan. maka para petugas protokol agar terus belajar dan saling sharing informasi dengan sesama aparat protokol dari daerah lainnya maupun dengan berbagai instansi sehingga termotivasi untuk memberikan kontribusi terbaik bagi daerah. Pemkab Sergai. Peserta diklat itu terdiri dari staf keprotokolan Humas serta pegawai lain dari badan. 10:26:00 Staf Ikuti Diklat Keprotokolan Bagi berita/artikel ini kepada rekan atau kerabat lewat Facebook UNTUK meningkatkan kinerja Bagian Humas dan Protokol.

kelak peserta diklat dapat menularkan pengetahuan dan keterampilan itu pada pegawai-pegawai lain. pegawai yang menangani bidang tersebut ke depannya dapat bekerja lebih profesional. (ida) WORKSHOP Menuju Ajudan dan Protokoler Profesional Apakah anda seorang ajudan atau divisi protokoler di tempat anda bekerja ? Apakah anda berminat tinggi untuk berkarir sebagai ajudan atau protokoler yang profesional ? Apakah anda merasa kemampuan anda masih kurang dikedua profesi unik tersebut ? Anda merasa mempunyai potensi hebat namun belum menemukan jalan keluar dari ³rutinitas pekerjaaan´ sebagai ajudan ? Temukan solusinya dengan mengikuti Workshop terbatas ³ Menuju Ajudan dan Protokoler Profesional´ Anda akan dibimbing untuk menguasai basic skill seorang ajudan dan protokoler yang benar. Pegawai yang bertanggung jawab atas bidang tersebut. Serta yang lebih penting. . dan tata penghormatan. jelas Bupati. pemerintah berharap. Wawasan anda akan bertambah luas dan mampu menjadi ajudan dan protokoler yang handal. Dengan kata lain SDM keprotokolan dapat menjadi SDM yang menguasai dengan baik apa yang menjadi tupoksinya dan dapat mengakomodir kepentingan pimpinan dalam urusan dinas. Dengan kata lain. Dengan adanya diklat itu pula. harus tertata dengan baik. Sebab hal itu akan menyangkut harga diri sebuah pemerintahan atau dinas/lembaga tertentu.keprotokolan mengenai tata tempat. Seluruh mekanisme atau aturan keprotokolan tersebut. harus betul-betul paham dan mengerti akan job-nya masing-masing. tata upacara. temukan juga jaringan /networking ajudan dan protokoler se Indonesia yang bagaikan harta berharga yang dapat anda temukan di workshop 3 hari ini. cakap. dan lebih terampil. imbuhnya. protokol atau kinerja protokol akan mencerminkan citra diri seseorang atau lembaga negara/bangsa.

Tata Upacara dan Tata Penghormatan 6. etika berbicara 3.Sekretariat Negara * . Bandung : 25 ± 27 Maret 2011 jumlah peserta : minimal 10 orang.Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung (NHI) Materi yang diberikan * 1. Sharing with the expert 10. . manajemen keprotokoleran dalam penerimaan tamu dinas dan kehormatan 5. peraturan pemerintah tentang Tata Tempat. Net Working / Pembentukan jejaring ajudan dan protokoler Nasional 9. etika umum 2.konsultan Public Relation . penyelenggaraan protokol berskala internasional 7.mantan Ajudan Presiden RI * . table manner 8. maksimal 25 orang Pembicara : . Wisata Workshop pertama yang mengupas tuntas mengenai profesi ajudan dan divisi protokoler ini akan diarahkan untuk standarisasi dari profesi mulia ini.Temukan semuanya dalam workshop: ³ Menuju Ajudan dan Protokoler Profesional´ Lokasi Waktu : Lembang. personal grooming/service excelence 4.Departemen Luar Negeri RI* .

Segera daftarkan diri anda. lt 2 Jl. (* dalam konfirmasi) Untuk Detil program silahkan hubungi : The Chapter The Chapter Learning Center. Pasar Minggu Raya no.com Presiden Yudhoyono: Tata Cara Protokoler Perlu Dibenahi . Untuk pengiriman softcopy proposal / surat undangan tercetak bagi dinas/ instansi. 11D Jakarta CP. : Irwan Phone : 021 982 93956 | email : irwan.com@gmail. tempat sangat terbatas. silahkan isi formulir di link ini Untuk peserta luar kota akan dibantu kedatangannya dan kepulangannya dengan menggunakan biro travel resmi.

maka marilah kita pastikan perubahan itu harus punya alasan. Presiden menambahkan manakala harus ada perubahan dan penyesuaian maka perubahan yang dilakukan itu harus dilakukan dengan seksama. bukan sekedar mengubah-ubah. "Karena memang kehidupan itu dinamis. perubahan itu diniscayakan.PRESIDEN Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan pentingnya melakukan penyesuaian tata cara protokoler melalui pembuatan Rancangan Undang-Undang Protokoler sehingga mampu beradaptasi terhadap perkembangan saat ini." katanya." kata Kepala Negara. Ada tiga hal yang diingatkan presiden agar diperhatikan dalam penyusunan RUU Protokoler yaitu . "Pengaturan-pengaturan yang bersifat protokoler itu bisa menunjukan kepada siapapun bahwa tata cara di dalam kita melakukan berbagai kegiatan itu baik. Kamis (6/5) yang membahas materi-materi RUU Protokoler yang akan diajukan pemerintah. Oleh karena itu kita tidak boleh meremehkan tentang aturan keprotokolan ini. setelah itu harus punya konsep perubahan seperti apa dan kemudian ditata dengan baik sehingga outputnya lebih baik dibandingkan sebelum dilakukan perubahan. Hal tersebut disampaikan Presiden dalam pengantar rapat terbatas di Kantor Presiden Jakarta.

(jurnalnasional. "Mestilah kita menjaga apa yang telah berlaku di negeri kita ini sejak presiden Soekarno sampai sekarang.go. Menimbang: a. bahwa sesuai dengan ketentuan dalam Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Nomor III/MPR/1978 tentang Kedudukan dan Hubungan Tata-kerja Lembaga Tertinggi .php/berita/2010/05/06/presiden-yudhoyonotata-cara-protokoler-perlu-dibenahi UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1987 TENTANG PROTOKOL salinan UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1987 TENTANG PROTOKOL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.com) pasted from: http://www.id/index." kata presiden. yang kedua tetap memperhatikan kelaziman protokoler internasional dan tetap memperhatikan kelaziman yang berlaku sejak awal kemerdekaan Indonesia.setkab. Presiden mengingatkan bahwa aturan yang jelas mengenai protokoler dapat menghindarkan kesimpangsiuran pengaturan berbagai acara hal hanya karena pendapat satu atau dua orang semata-mata.tetap mempertahnkan jati diri bangsa. Karena itu nyaris menjadi tradisi yang berlaku di negeri kita ini.

dipandang perlu untuk mengatur protokol secara menyeluruh. bahwa sehubungan dengan itu dipandang perlu untuk mengatur protokol sebagaimana tersebut di atas dengan Undang-undang.Negara dengan/atau antar Lembaga-lembaga Tinggi Negara. Pejabat Pemerintah. b. Mengingat: 1. 2. d. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Nomor III/MPR/1978 tentang Kedudukan dan Hubungan Tata-kerja Lembaga Tertinggi Negara dengan/atau antar Lembaga-lembaga Tinggi Negara. bahwa dalam usaha mencapai pengaturan protokol yang tumbuh dan berkembang berdasarkan nilai sosial dan budaya bangsa. c. BAB I KETENTUAN UMUM . Dengan Persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG PROTOKOL. Pasal 5 ayat (1) dan Pasal 20 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945. bahwa sesuai dengan kebiasaan yang berlaku. dan Tokoh Masyarakat. Kedudukan Protokol dari Pimpinan/Anggota Lembaga Tertinggi dan/atau Lembaga Tinggi Negara perlu diatur dengan Undang-undang. pengaturan protokol juga diperlukan bagi Pejabat Negara.

Pejabat Pemerintah. dan tata penghormatan sehubungan dengan penghormatan kepada seseorang sesuai dengan jabatan dan/atau kedudukannya dalam negara.Pasal 1 Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan: 1. dan Tokoh Masyarakat tertentu. tata upacara. 4. Pasal 2 Undang-undang ini mengatur tata tempat. pemerintahan. 3. Acara kenegaraan adalah acara yang bersifat kenegaraan yang diatur dan dilaksanakan secara terpusat. Acara resmi adalah acara yang bersifat resmi yang diatur dan dilaksanakan oleh Pemerintah atau Lembaga Tinggi Negara dalam melaksanakan tugas dan fungsi tertentu. 2. tata upacara. Protokol adalah serangkaian aturan dalam acara kenegaraan atau acara resmi yang meliputi aturan mengenai tata tempat. dan dihadiri oleh Pejabat Negara dan/atau Pejabat Pemerintah serta undangan lainnya. dihadiri oleh Presiden dan/atau Wakil Presiden serta Pejabat Negara dan undangan lainnya dalam melaksanakan acara tertentu. 6. Pejabat Pemerintah adalah pejabat yang menduduki jabatan tertentu dalam organisasi pemerintahan. Pejabat Negara adalah pejabat sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian dan peraturan perundangundangan lainnya. dan tata penghormatan yang diberlakukan hanya dalam acara kenegaraan atau acara resmi bagi Pejabat Negara. . 5. Tokoh Masyarakat adalah seseorang yang karena kedudukan sosialnya menerima kehormatan dari masyarakat dan/atau Pemerintah. atau masyarakat.

2) Wakil Presiden. dan Tokoh Masyarakat tertentu dalam acara kenegaraan atau acara resmi mendapat tempat sesuai dengan ketentuan tata tempat. Pejabat Pemerintah. (3) Tata tempat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) yang diadakan di luar Ibukota Negara Republik Indonesia diatur dengan berpedoman kepada urutan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2). Anggota Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara. DAN TATA PENGHORMATAN Pasal 4 (1) Pejabat Negara.BAB II PENGHORMATAN Pasal 3 Pejabat Negara. Pejabat yang diberi kedudukan setingkat dengan Menteri Negara. 3) Ketua Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara. Pejabat Pemerintah. (4) Tata tempat dalam acara resmi. TATA UPACARA. 6) Pimpinan Lembaga Pemerintah Non Departemen dan Pejabat Pemerintah tertentu. dan Tokoh Masyarakat tertentu mendapat penghormatan dan perlakuan sesuai dengan kedudukannya. 5) Ketua Muda Mahkamah Agung. BAB III TATA TEMPAT. (2) Tata tempat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) yang diadakan di Ibukota Negara Republik Indonesia ditentukan dengan urutan sebagai berikut: 1) Presiden. Kepala Staf Angkatan dan Kepala Kepolisian Republik Indonesia. Wakil Ketua Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara. 4) Menteri Negara. berpedoman . Panglima Angkatan Bersenjata. termasuk Hakim Agung pada Mahkamah Agung. baik yang diselenggarakan di Ibukota Negara Republik Indonesia maupun di luar Ibukota Negara Republik Indonesia.

pejabat yang menjadi tuan rumah mendampingi Pejabat Negara dan/atau Pejabat Pemerintah yang tertinggi kedudukannya. pejabat yang menjadi tuan rumah mendampingi Presiden dan/atau Wakil Presiden. (2) Tata upacara sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. (2) Tata penghormatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. apabila tidak dihadiri Presiden dan/atau Wakil Presiden. Pasal 6 (1) Pemberian hormat bagi Pejabat Negara. b. Pejabat Pemerintah. apabila dihadiri Presiden dan/atau Wakil Presiden. (5) Tata tempat bagi Tokoh Masyarakat tertentu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ketentuan lebih lanjut mengenai urutan sebagaimana dalam ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah. dan Tokoh Masyarakat tertentu dalam acara kenegaraan atau acara resmi dilaksanakan dengan berpedoman kepada tata penghormatan.kepada urutan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dengan ketentuan: a. Pasal 5 (1) Acara kenegaraan dan acara resmi diselenggarakan dengan berpedoman kepada tata upacara. BAB IV KETENTUAN LAIN Pasal 7 Protokol dalam acara kenegaraan atau acara resmi yang diselenggarakan oleh Lembaga Tertinggi Negara dan/atau Lembaga Tinggi Negara diatur oleh lembaga .

Agar setiap orang mengetahuinya. dan Tokoh Masyarakat tertentu di daerah diatur dengan Peraturan Pemerintah. memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. tata upacara. Pejabat Pemerintah.H. dan tata penghormatan bagi Pejabat Negara. LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1987 NOMOR 43 .masing-masing dengan berpedoman kepada Undang-undang ini. Disahkan di Jakarta pada tanggal 28 September 1987 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA SOEHARTO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 28 September 1987 MENTERI/SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA SUDHARMONO. S. Pasal 8 Pengaturan mengenai tata tempat. BAB V KETENTUAN PENUTUP Pasal 9 Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

khususnya yang menyangkut protokol bagi Pimpinan dan Anggota Lembaga Tertinggi Negara dan/atau Lembaga Tinggi Negara yang selanjutnya disebut Lembaga . pengaturannya sejauh ini baru terbatas pada Undangundang Nomor 7 Tahun 1978 tentang Hak Keuangan/Administratif Presiden dan Wakil Presiden serta Bekas Presiden dan Bekas Wakil Presiden Republik Indonesia dan Undang-undang Nomor 12 Tahun 1980 tentang Hak Keuangan/Administratif Pimpinan dan Anggota Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara serta Bekas Pimpinan Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara dan Bekas Anggota Lembaga Tinggi Negara. sedangkan halhal yang menyangkut kedudukan dan segi-segi protokol belum diatur dengan Undangundang. Oleh karenanya Undang-undang ini dimaksudkan untuk memenuhi ketentuan Pasal 13 Ketetapan Majelis Permusyarawatan Rakyat Nomor III/MPR/1978 tersebut.PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1987 TENTANG PROTOKOL I. Dari Ketetapan Majelis tersebut. UMUM Pasal 13 Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Nomor III/MPR/1978 tentang Kedudukan dan Hubungan Tata-kerja Lembaga Tertinggi Negara dengan/atau antar Lembaga-lembaga Tinggi Negara berbunyi "Hak Keuangan/Administratif dan Kedudukan Protokol dari Pimpinan/anggota Lembaga Tertinggi Negara dan/atau Lembaga Tinggi Negara diatur dengan Undang-undang".

Selain hal tersebut. Dengan demikian Undang-undang ini sekaligus memenuhi pengaturan protokol bagi Pimpinan/Anggota Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 16 Tahun 1969 tentang Susunan dan Kedudukan Majelis Permusyawaratan Rakyat. dan Tokoh Masyarakat tertentu dalam kenyataannya juga terkait dengan keprotokolan. Dari segi inilah Undang-undang ini disebut Undang-undang tentang Protokol. begitu pula Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah sejauh yang berhubungan dengan protokol bagi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Dengan demikian jangkauan daripada Undang-undang ini juga bersifat pengakuan tentang status dan kedudukan protokol seseorang sesuai dengan jabatannya dalam negara. Tata penghormatan ini meliputi juga tata penghormatan terhadap bendera kebangsaan. Pejabat Pemerintah. tata upacara. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1973 tentang Badan Pemeriksa Keuangan.Tertinggi/Tinggi Negara. Pejabat Pemerintah. protokol juga tidak hanya diperlukan bagi Pimpinan dan Anggota Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara saja. pemerintahan. Oleh karena itu pengaturan protokol dalam Undang-undang ini bersifat menyeluruh karena tidak hanya berlaku bagi Pimpinan dan Anggota Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara tetapi juga meliputi protokol bagi Pejabat Negara lainnya. Dewan Perwakilan Rakyat. mengingat lingkup jangkauan isinya tidak . Dalam praktek selama ini Pejabat-pejabat Negara lain yang bukan Pimpinan atau Anggota Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara. Undangundang Nomor 3 Tahun 1967 tentang Dewan Pertimbangan Agung sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 4 Tahun 1978. ketertiban. lagu kebangsaan. pataka. dan jenazah. dan keamanan dalam menjalankan tugas. dan kedudukannya dalam masyarakat. dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah sebagaimana telah diubah dengan Undangundang Nomor 5 Tahun 1975 dan dengan Undang-undang Nomor 2 Tahun 1985. Undang-undang ini mengatur tentang baik penghormatan dan perlakuan terhadap seseorang dalam suatu acara yang meliputi tata tempat. Penghormatan dan perlakuan terhadap seseorang dalam keadaan tertentu meliputi juga pemberian perlindungan. dan Tokoh Masyarakat tertentu. dan tata penghormatan maupun pemberian penghormatan dan perlakuan sesuai dengan kedudukan dan martabat jabatannya. dan Undang-undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung.

dan Pejabat lain yang ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan. yaitu Presiden dan Wakil Presiden. Perlu dijelaskan bahwa ketentuan protokol bagi Kepala Perwakilan Negara Asing di Negara Republik Indonesia akan diperlakukan berdasarkan asas resiprositas sesuai dengan kebiasaan internasional. melainkan pengaturan yang sifatnya lebih mendalam dan lebih luas. Keprotokolan dalam acara kenegaraan atau acara resmi tersebut harus tetap . Bupati Kepala Daerah/Walikotamadya Kepala Daerah. Ketua Muda. Menteri. serta sebagaimana tersebut dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah. yaitu acara kenegaraan ataupun acara resmi. antara lain. Anggota Badan Pemeriksa Keuangan.terbatas pada pengaturan tentang kedudukan protokol. dapat kita sebut di antara tokoh-tokoh masyarakat itu ialah Ketua Umum Partai Politik dan Golongan Karya sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 3 Tahun 1975 tentang Partai Politik dan Golongan Karya sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 3 Tahun 1985. Dalam kerangka pengertian ini yang dimaksud dengan Pejabat Negara adalah sebagaimana tersebut dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokokpokok Kepegawaian. Anggota Badan Permusyawaratan/Perwakilan Rakyat. antara lain Undang-undang Nomor 13 Tahun 1970 tentang Tata Cara Tindakan Kepolisian terhadap Anggota-anggota/Pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara dan Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong dan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah. Kepala Perwakilan Republik Indonesia di luar negeri yang berkedudukan sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh. Wakil Kepala Daerah. Sedangkan mengenai tindakan kepolisian terhadap Pejabat Negara diatur dalam Undang-undang tersendiri. Tanpa mengurangi penghargaan terhadap tokoh-tokoh masyarakat pada umumnya. Wakil Ketua. Anggota Dewan Pertimbangan Agung. Hal lain yang perlu diperhatikan ialah adanya kenyataan tentang eratnya keterkaitan antara protokol dan acara-acara yang bersangkutan. Ketua. dan Hakim Mahkamah Agung. Gubernur Kepala Daerah.

Pengertian Tokoh Masyarakat tertentu dalam pasal ini meliputi Pemilik Tanda Kehormatan berupa Bintang tertentu. maka diharapkan Pejabat Negara atau Pejabat Pemerintah dapat melaksanakan tugasnya secara lebih berhasilguna dan berdayaguna. Pasal 3 Dalam pasal ini yang dimaksud dengan penghormatan dan perlakuan sesuai dengan kedudukannya adalah sikap dan perlakuan yang bersifat protokol yang harus diberikan kepada seseorang dalam acara kenegaraan atau acara resmi sesuai dengan jabatan dan/atau kedudukannya dalam negara. Undang-undang ini juga tidak mengatur seluruh Tokoh Masyarakat melainkan hanya Tokoh Masyarakat tertentu. II. Ketua Umum Partai Politik dan Golongan Karya. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Cukup jelas Pasal 2 Dalam Undang-undang ini acara kenegaraan antara lain berupa Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan Negara Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1945. Pasal 4 Ayat (1) Yang dimaksud dengan tata tempat dalam ayat ini adalah aturan mengenai urutan . dan acara resmi antara lain berupa peresmian proyek-proyek pembangunan. atau masyarakat. Ketentuan tersebut tidak boleh menimbulkan sikap mewah dan berkelebihan yang memberatkan beban Pemerintah. tanpa mengabaikan kebiasaan-kebiasaan yang berlaku dikalangan internasional.memperhatikan nilai sosial dan budaya bangsa Indonesia sendiri yang berkembang. Pemuka Agama dan lain-lain yang ditentukan lebih lanjut oleh Pemerintah. pemerintahan. Dengan adanya sikap dan perlakuan yang bersifat protokol.

Bagi Bekas Presiden dan Bekas Wakil Presiden pengaturan tata tempatnya didasarkan pada rasa kepatutan mengingat jabatan yang semula dipangkunya. penyesuaian tempat diperlukan bagi pejabat yang mewakilinya. Apabila dalam acara kenegaraan atau acara resmi pejabat didampingi isteri/suami. Namun begitu hal ini tetap perlu dilakukan dengan memperhatikan segi-segi yang berkaitan dengan pedoman umum ataupun kebiasaan yang berlaku di bidang pengaturan acara. lagu kebangsaan. Ayat (5) Pengaturan tata tempat bagi Tokoh Masyarakat tertentu meliputi juga pengaturan tata tempat bagi isteri/suami atau yang mewakili Tokoh Masyarakat tersebut dalam acara kenegaraan atau acara resmi. ketertiban. maka tempat isteri/suami disesuaikan dengan tempat pejabat yang bersangkutan. Dalam hal pejabat berhalangan hadir dalam acara-acara tersebut. kelancaran. pakaian upacara. Tata upacara meliputi antara lain tata bendera kebangsaan. dan kekhidmatan upacara. Pasal 5 Ayat (1) Yang dimaksud dengan tata upacara adalah aturan untuk melaksanakan upacara dalam acara kenegaraan atau acara resmi. Pejabat Pemerintah. . Ayat (2) Tata tempat bagi pejabat lainnya yang tidak termasuk dalam ayat ini ditentukan berdasarkan senioritas jabatan atau pangkat. Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Yang dimaksud dengan tuan rumah dalam ayat ini adalah Gubernur Kepala Daerah Tingkat I atau Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II.tempat bagi Pejabat Negara. dan Tokoh Masyarakat tertentu dalam acara kenegaraan atau acara resmi. untuk tercapainya keseragaman.

dan dalam pelaksanaannya berkonsultasi dengan Pemerintah.Ayat (2) Cukup jelas Pasal 6 Ayat (1) Yang dimaksud dengan tata penghormatan adalah aturan untuk melaksanakan pemberian hormat bagi Pejabat Negara. Pasal 8 Tokoh Masyarakat tertentu dalam pasal ini selain yang dimaksud dalam penjelasan Pasal 2 termasuk juga Pemuka Adat. Pejabat Pemerintah. Pasal 9 Cukup jelas TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3363 . dan Tokoh Masyarakat tertentu dalam acara kenegaraan atau acara resmi. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 7 Ketentuan pasal ini memberikan kewenangan kepada Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara untuk mengatur protokol acara kenegaraan atau acara resmi yang diselenggarakan oleh lembaga masing-masing. Tata penghormatan meliputi antara lain tata cara memberi hormat dan penyediaan kelengkapan sarana yang diperlukan untuk tercapainya kelancaran upacara.

dipandang perlu mengatur tata tempat. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945. dan Tokoh Masyarakat tertentu dalam acara kenegaraan atau acara resmi dengan Peraturan Pemerintah. 2. tata upacara dan tata penghormatan bagi Pejabat Negara. Pejabat Pemerintah. Pasal 5. Pasal 6 dan Pasal 8 Undang-undang Nomor 8 Tahun 1987 tentang Protokol. TATA UPACARA DAN TATA PENGHORMATAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 62 TAHUN 1990 TENTANG KETENTUAN KEPROTOKOLAN MENGENAI TATA TEMPAT. MEMUTUSKAN: . Mengingat: 1.PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 62 TAHUN 1990 TENTANG KETENTUAN KEPROTOKOLAN MENGENAI TATA TEMPAT. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3363). Undang-undang Nomor 8 Tahun 1987 tentang Protokol (Lembaran Negara Tahun 1987 Nomor 43. TATA UPACARA DAN TATA PENGHORMATAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang: bahwa dalam rangka pelaksanaan ketentuan Pasal 4.

Menetapkan: PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA TENTANG KETENTUAN KEPROTOKOLAN MENGENAI TATA TEMPAT. dan dihadiri oleh Pejabat Negara dan/atau Pejabat Pemerintah serta undangan lainnya. 4. Pejabat Pemerintah adalah pejabat yang menduduki jabatan tertentu dalam organic pemerintahan. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: 1. 2. 3. TATA UPACARA DAN TATA PENGHORMATAN. 1 / 19 . Acara kenegaraan adalah acara yang bersifat kenegaraan yang diatur dan dilaksanakan secara terpusat. Pejabat Negara adalah pejabat sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian dan peraturan perundang-undangan lainnya. Acara resmi adalah acara yang bersifat resmi yang diatur dan dilaksanakan oleh Pemerintah atau Lembaga Tinggi Negara dalam melaksanakan tugas dan fungsi tertentu. dihadiri oleh Presiden dan/atau Wakil Presiden serta Pejabat Negara dan undangan lainnya dalam melaksanakan acara tertentu.

5. 6. Acara kenegaraan dilaksanakan secara penuh berdasarkan peraturan tata tempat. (2). Tokoh Masyarakat tertentu adalah seseorang yang karena kedudukan sosialnya menerima kehormatan dari masyarakat dan/atau pemerintah. dapat diselenggarakan di Ibukota Negara Republik Indonesia atau di luar Ibukota Negara Republik Indonesia. Pasal 3 (1). Tata upacara adalah aturan untuk melaksanakan upacara dalam acara kenegaraan atau acara resmi. Pasal 2 (1). Acara kenegaraan dapat berupa upacara bendera dan bukan upacara bendera. Pejabat Pemerintah. dan Tokoh Masyarakat tertentu dalam acara kenegaraan atau acara resmi. Tata Penghormatan adalah aturan untuk melaksanakan pemberian hormat bagi Pejabat Negara Pejabat Pemerintah. Acara kenegaraan merupakan acara yang diselenggarakan oleh Negara. Tata tempat adalah aturan mengenai urutan tempat bagi Pejabat Negara. (2). Acara kenegaraan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 dilaksanakan oleh Panitia Negara yang diketuai oleh Menteri/ Sekretaris Negara. Pasal 4 . tata upacara dan tata penghormatan. 7. dan Tokoh Masyarakat tertentu dalam acara kenegaraan atau acara resmi. 8.

(1). b. Perintis Pergerakan Kebangsaan/Kemerdekaan. Pemilik Tanda Kehormatan Republik Indonesia berbentuk Bintang sebagaimana dimaksud dalam Pasal XII urut Nomor 1 sampai dengan 5 Undang-undang Nomor 4 Tahun 1972 tentang Perubahan dan Tambahan ketentuan mengenai beberapa Tanda Kehormatan Republik Indonesia yang . (2). Mantan Presiden dan mantan Wakil Presiden Republik Indonesia. Penyelenggaraan acara resmi dapat diadakan di Pusat atau di Daerah. Tokoh Masyarakat tertentu terdiri dari: a. dan tata penghormatan. (3). Tokoh Masyarakat tertentu tingkat Nasional meliputi: a. Tokoh Masyarakat tertentu tingkat Daerah. d. Ketua Umum Partai Politik dan Ketua Umum Golongan Karya. Instansi Pemerintah Pusat dan Instansi Pemerintah Daerah. sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 3 Tahun 1975 tentang Partai Politik dan Golongan Karya sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 3 Tahun 1985. Acara resmi dapat diselenggarakan oleh Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara. BAB II TOKOH MASYARAKAT TERTENTU Pasal 5 (1). tata upacara. (2). c. Acara resmi dilaksanakan sesuai dengan ketentuan tata tempat. b. Tokoh Masyarakat tertentu tingkat Nasional.

Tokoh lain yang ditentukan oleh Pemerintah. Pemuka Agama dan Pemuka Adat setempat. b. e. 3) Bintang Republik Indonesia Utama (III). . Pejabat Pemerintah dan Tokoh Masyarakat tertentu dalam acara kenegaraan dan acara resmi mendapat urutan tata tempat. Ketua Presidium Konferensi Wali-wali Gereja Indonesia.berbentuk Bintang dan tentang urutan derajat/tingkat jenis Tanda Kehormatan Republik Indonesia yang berbentuk Bintang yaitu: 1) Bintang Republik Indonesia Adipura (1). Ketua Perwalian Umat Budha Indonesia. c. meliputi: a. Ketua Dewan Pimpinan Daerah Partai Politik dan Ketua Dewan Pimpinan Daerah Golongan Karya. 5) Bintang Republik Indonesia Nararya (V). Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia. 4) Bintang Republik Indonesia Pratama (IV). BAB III TATA TEMPAT Pasal 6 Pejabat Negara. Tokoh lain yang ditentukan oleh Pemerintah Daerah. 2) Bintang Republik Indonesia Adipradana (II). Tokoh-tokoh Masyarakat tertentu tingkat Daerah. f. Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia. (3). Ketua Persekutuan Gereja-gereja Indonesia.

Pejabat yang diberi kedudukan setingkat dengan Menteri Negara. pada urutan tata tempat setelah kelompok Ketua Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 huruf c. Menteri Negara. Wakil Ketua Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara. Wakil Presiden. urutannya ditentukan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2) Undang-undang Nomor 8 Tahun 1987 tentang Protokol. Pimpinan Lembaga Pemerintah Non Departemen dan Pejabat Pemerintah tertentu. 2. d. Pasal 8 Tata tempat bagi Tokoh Masyarakat tertentu tingkat Nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2). . b. f. yaitu: a. Ketua Muda Mahkamah Agung. pada urutan tata tempat setelah Wakil Presiden sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 huruf b. Presiden.Pasal 7 Tata tempat bagi Pejabat Negara dan Pejabat Pemerintah dalam acara kenegaraan baik yang diadakan di Ibukota Negara atau di luar Ibukota Negara. Kepala Staf Angkatan dan Kepala Kepolisian Republik Indonesia. termasuk Hakim Agung pada Mahkamah Agung. e. Ketua Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara. c. Perintis Kebangsaan/Kemerdekaan. dalam acara kenegaraan atau acara resmi ditentukan sebagai berikut: 1. Mantan Presiden dan mantan Wakil Presiden Republik Indonesia. Panglima Angkatan Bersenjata. Anggota Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara.

Ketua Presidium Konferensi Wali-wali Gereja Indonesia. pada urutan tata tempat setelah kelompok Menteri Negara. Ketua Persekutuan Gereja-gereja Indonesia. Pejabat tersebut mendampingi Presiden dan/atau Wakil Presiden. Pasal 9 Tata tempat bagi Pejabat yang menjadi tuan rumah dalam pelaksanaan acara resmi baik yang diadakan di Pusat atau di Daerah ditentukan sebagai berikut: a. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 huruf d. Apabila tidak dihadiri Presiden dan/atau Wakil Presiden. Apabila acara resmi tersebut dihadiri Presiden dan/atau Wakil Presiden. Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia. b. 4. Pemilik Tanda Kehormatan Republik Indonesia berbentuk Bintang. Pasal 10 (1).3. Isteri yang mendampingi suami sebagai Pejabat Negara atau Pejabat Pemerintah atau Tokoh Masyarakat . Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia. pejabat tersebut mendampingi Pejabat Negara dan/atau Pejabat Pemerintah yang tertinggi kedudukannya. 5. Ketua Perwalian Umat Budha Indonesia pada urutan tata tempat setelah kelompok Pimpinan Lembaga Pemerintah Non Departemen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 huruf f. Ketua Umum Partai Politik dan Golongan Karya. pada urutan tata tempat setelah kelompok Ketua Muda Mahkamah Agung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 huruf e.

maka baginya berlaku tata tempat yang urutannya lebih dahulu. Pasal 8 dan Pasal 9. . Pejabat yang mewakili sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) mendapat tempat sesuai dengan kedudukan sosial dan kehormatan yang diterimanya atau jabatan yang dipangkunya. Tata tempat dalam acara kenegaraan atau acara resmi yang diselenggarakan oleh Lembaga Tertinggi dan Tinggi Negara. Pasal 11 (1). Pasal 13 (1). diatur oleh Lembaga masing-masing dengan berpedoman kepada ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7. (2). suami mendapat tempat sesuai dengan urutan tata tempat isteri. Apabila isteri yang menjabat sebagai Pejabat Negara atau Pejabat Pemerintah. Pejabat Pemerintah atau Tokoh Masyarakat tertentu berhalangan hadir pada acara kenegaraan atau acara resmi. Pasal 12 Dalam hal Pejabat Negara dan Pejabat Pemerintah memangku jabatan lebih dari satu yang tidak sama tingkatnya. maka tempatnya tidak diisi oleh Pejabat yang mewakili. (2). dalam acara kenegaraan atau acara resmi. Dalam hal Pejabat Negara.tertentu dalam acara kenegaraan atau acara resmi mendapat tempat sesuai dengan urutan tata tempat suami.

Kepala Kantor Wilayah Departemen/Lembaga Pemerintah Non Departemen. Wakil Gubernur. Gubernur Kepala Daerah Tingkat I. Komandan Tertinggi Kesatuan Angkatan dan POLRI. Sekretaris Wilayah Daerah Tingkat I. (3). Kepala Kejaksaan Negeri. Ketua Pengadilan Negeri. Ketua Pengadilan Tinggi. Tata tempat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditentukan dengan urutan sebagai berikut: 1. Kepala Kejaksaan Tinggi. Pejabat Pemerintah Daerah lainnya setingkat Asisten. mendapat tempat sesuai dengan ketentuan tata tempat. 5. Dalam hal acara resmi yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah dan dihadiri oleh Pejabat Negara . Pejabat Negara. Pasal 14 (1). 2. 4. Pejabat Pemerintah dan Tokoh Masyarakat tertentu tingkat Daerah dalam acara resmi yang diselenggarakan di daerah. Tata tempat dalam acara resmi yang diselenggarakan oleh Instansi Pemerintah di Pusat diatur oleh Instansi masing-masing dengan berpedoman kepada ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7. 3. Tokoh Masyarakat tertentu Tingkat Daerah. Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Tingkat I. Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Tingkat I. Pasal 8 dan Pasal 9. Panglima Daerah Militer/Komandan Komando Resort Militer. (2). Komandan Resort Militer/setingkat. Walikotamadya.(2).

Perlengkapan upacara.di Pusat. kelancaran. ketertiban dan kekhidmatan jalannya upacara dalam acara kenegaraan dan acara resmi. Khusus untuk upacara bendera dalam acara kenegaraan dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. b. Pasal 8 dan Pasal 9. urutan acara ditentukan sebagai berikut: . Urutan acara dalam upacara. Untuk melaksanakan upacara bendera dalam acara kenegaraan atau acara resmi diperlukan: a. c. Upacara dalam acara kenegaraan dan acara resmi dapat berupa upacara bendera atau bukan upacara bendera. Pasal 16 (1). (2). Kelengkapan upacara. BAB IV TATA UPACARA Pasal 15 (1). Pejabat Pemerintah Pusat dan Tokoh Masyarakat tertentu Tingkat Nasional tata tempatnya disesuaikan dengan memperhatikan urutan tata tempat sebagaimana dimaksud dalam ketentuan Pasal 7. diselenggarakan berdasarkan tata upacara yang antara lain meliputi pedoman umum tata upacara dan pelaksanaan upacara. Untuk keseragaman. (2).

Acara penyambutan kedatangan tamu negara. b. Pelaksanaan upacara dalam acara kenegaraan atau acara resmi yang diselenggarakan tidak dengan upacara bendera disesuaikan dengan ketentuan Pasal 16. d. Pasal 18 (1). (3). c. Pembacaan doa. b. Acara pokok kunjungan.a. Mengheningkan cipta. bedug. dilakukan pada waktu terbenamnya matahari dengan diiringi Lagu Kebangsaan Indonesia Raya. (3). Pengibaran Bendera Pusaka Merah Putih diiringi dengan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya. lonceng gereja dan lain-lain satu menit. e. Pelepasan tamu negara. Detik-detik Proklamasi diiringi dengan tembakan meriam. c. dikelompokkan dalam: a. Upacara penurunan Bendera Pusaka Merah Putih dalam acara sebagaimana dimaksud dalam ayat (2). Urutan acara dalam acara resmi lainnya terdiri dari: . (2). Urutan acara dalam acara kenegaraan berupa kunjungan kenegaraan Kepala Negara atau Kepala Pemerintahan asing. Pembacaan Teks Proklamasi. Pasal 17 Upacara penurunan bendera dalam acara resmi lainnya dilaksanakan berpedoman ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (3). sirine.

b. Pasal 21 Tata Lagu Kebangsaan Indonesia Raya dalam upacara kenegaraan atau upacara resmi: a. maka Lagu Kebangsaan Indonesia Raya dibunyikan lengkap satu kali. Padi saat Lagu Kebangsaan Indonesia Raya diperdengarkan. Pasal 20 (1). Penutup. Apabila dinyanyikan. Apabila diperdengarkan dengan musik. maka dinyanyikan lengkap satu bait. Pembukaan/Sambutan. seluruh peserta upacara mengambil sikap . b. Dalam acara kenegaraan atau acara resmi bukan upacara bendera. yaitu bait pertama dengan dua kali ulangan.a. Acara pokok. c. c. Pasal 19 Pelaksanaan upacara bendera dalam acara kenegaraan atau resmi meliputi pula tata bendera kebangsaan. b. Bendera dikibarkan sampai saat matahari terbenam. Tiang bendera didirikan di atas tanah di halaman depan gedung. c. Bendera Kebangsaan Merah Putih dipasang pada sebuah tiang bendera dan diletakkan di sebelah kanan mimbar. Tata bendera dalam upacara bendera: a. (2). Penghormatan pada saat pengibaran atau penurunan bendera. lagu kebangsaan dan pakaian upacara.

Pakaian Dinas Upacara Kebesaran atau pakaian nasional yang berlaku sesuai dengan jabatannya atau kedudukannya dalam masyarakat. maka pengibaran/penurunan Bendera diiringi dengan nyanyian bersama Lagu Kebangsaan Indonesia Raya. Pasal 23 (1). Pemakaian pakaian upacara dalam acara kenegaraan atau acara resmi disesuaikan menurut jenis acara tersebut. d. Tata upacara di lingkungan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia diatur tersendiri oleh Panglima . Tata upacara dalam acara resmi lainnya yang diselenggarakan oleh Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara atau Lembaga Pemerintah baik di tingkat Pusat maupun Daerah dilaksanakan dengan berpedoman kepada ketentuan Bab IV Peraturan Pemerintah ini. (3). Jika tidak ada korp musik/genderang dan atau sangkala. Dalam acara kenegaraan digunakan Pakaian Sipil Lengkap. Dalam acara resmi digunakan Pakaian Sipil Harian atau seragam KORPRI atau seragam resmi lainnya yang telah ditentukan. (2). Pada waktu mengiringi pengibaran/penurunan bendera tidak dibenarkan dengan menggunakan musik dari tape recorder atau piringan.sempurna dan memberikan penghormatan menurut keadaan setempat. (2). Pasal 22 (1). e.

pemerintahan atau dalam 7 / 19 www.Angkatan Bersenjata Republik Indonesia dengan berpedoman kepada ketentuan Bab IV Peraturan Pemerintah ini. (2). lagu kebangsaan dan penghormatan jenazah apabila meninggal dunia serta pemberian bantuan sarana yang diperlukan untuk melaksanakan acara. juga berupa penghormatan bendera kebangsaan. Pasal 25 (1).hukumonline. Pejabat Pemerintah dan Tokoh Masyarakat tertentu mendapat penghormatan sesuai dengan kedudukannya dalam negara. Pejabat Negara.com masyarakat. Dalam acara kenegaraan atau acara resmi. BAB V TATA PENGHORMATAN Pasal 24 (1). Pemberian penghormatan menggunakan Bendera Kebangsaan Merah Putih dan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya dalam acara kenegaraan atau dalam acara resmi dilaksanakan sesuai dengan kedudukan pejabat yang bersangkutan dan sesuai dengan ketentuan penggunaan Bendera Kebangsaan . Penghormatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) selain berupa pemberian tata tempat.

(5). Selama tujuh hari bagi Presiden dan Wakil Presiden. Selain penghormatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) apabila Pejabat Negara. Pengibaran setengah tiang Bendera Kebangsaan Merah Putih ditetapkan sebagai berikut: a. Dalam hal mantan Presiden dan mantan Wakil Presiden meninggal dunia berlaku ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) huruf a. Pejabat yang diberi kedudukan setingkat dengan Menteri Negara. Hari-hari selama pengibaran setengah tiang Bendera Kebangsaan Merah Putih tersebut dinyatakan sebagai hari berkabung nasional dan dikibarkan di seluruh pelosok tanah air. Pejabat Pemerintah dan Tokoh Masyarakat tertentu meninggal dunia. (2). Selama tiga hari bagi Menteri Negara. Pasal 26 Dalam hal Pejabat Negara lainnya. Bendera Kebangsaan Merah Putih dikibarkan . penghormatan diberikan dalam bentuk pengibaran setengah tiang Bendera Kebangsaan Merah Putih sebagai tanda berkabung selama waktu tertentu. Kepala Staf Angkatan dan Kepala Kepolisian RI. c. (4). Ketua/Kepala/Direktur Jenderal dari Lembaga Pemerintah Non Departemen. b. atau Tokoh Masyarakat tertentu lainnya meninggal dunia. Wakil Ketua Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara. Selama lima hari bagi Ketua Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara. (3).Merah Putih dan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya yang berlaku. Panglima ABRI.

setengah tiang sebagai tanda berkabung di lingkungan instansi masing-masing selama dua hari. Pasal 27 Dalam hal jenazah Pejabat Negara. Pejabat Pemerintah dan Tokoh Masyarakat tertentu sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah ini meninggal dunia di luar negeri. persemayaman dan pemakaman jenazah bagi Pejabat Negara. Pasal 29 Apabila pengibaran setengah tiang Bendera Kebangsaan Merah Putih tersebut berlangsung bersamaan dengan penyelenggaraan peringatan hari nasional. Pasal 28 Pelaksanaan pengibaran setengah tiang Bendera Kebangsaan Merah Putih dilakukan sesuai dengan ketentuan dan tata cara yang berlaku. maka Bendera Kebangsaan Merah Putih dikibarkan secara penuh. pengibaran setengah tiang Bendera Kebangsaan Merah Putih dilaksanakan sejak tanggal kedatangan jenazah tersebut di Indonesia. Pasal 30 Penghormatan berupa pengantaran atau penyambutan jenazah. Pejabat Pemerintah dan Tokoh Masyarakat tertentu dilakukan sesuai dengan ketentuan yang .

Pasal 32 (1). (2). pemberian perlindungan ketertiban dan keamanan yang diperlukan dalam melaksanakan acara/tugas diberikan sesuai dengan ketentuan yang berlaku baginya dengan tidak menimbulkan sifat berlebihan. Pelaksanaan tata penghormatan dalam acara resmi yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah berpedoman ketentuan Bab V Peraturan Pemerintah ini. tata upacara dan tata penghormatan dalam acara resmi yang diselenggarakan oleh Perwakilan Republik Indonesia berpedoman pada ketentuan yang diatur dalam Peraturan Pemerintah ini. BAB VI KETENTUAN LAIN Pasal 33 Tata tempat.berlaku baginya. . Tata penghormatan di lingkungan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia diatur lebih lanjut oleh Panglima Angkatan Bersenjata dengan berpedoman kepada ketentuan Bab V Peraturan Pemerintah ini. Pasal 31 Penghormatan berupa bantuan sarana.

dan tata penghormatan dalam acara kenegaraan atau acara resmi yang diselenggarakan oleh Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara diatur oleh masing-masing Lembaga tersebut dengan berpedoman kepada Peraturan Pemerintah ini. Pelaksanaan tata tempat. Agar setiap orang mengetahuinya. BAB VII KETENTUAN PENUTUP Pasal 35 Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. (3). tata upacara dan tata penghormatan di lingkungan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia diatur lebih lanjut oleh Panglima Angkatan Bersenjata dengan berpedoman kepada Peraturan Pemerintah ini.Pasal 34 (1). dan pelaksanaan ketentuan acara resmi yang diselenggarakan oleh Departemen/Instansi/Lembaga diatur oleh Menteri atau Pimpinan Lembaga/Pemerintah Daerah yang bersangkutan. Pelaksanaan pengaturan tata tempat. memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Ketentuan pelaksanaan acara kenegaraan sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah ini diatur lebih lanjut oleh Menteri/Sekretaris Negara selaku Ketua Panitia Negara dengan memperhatikan serta kebiasaan yang berlaku di kalangan internasional. . (2). tata upacara.

Ditetapkan Di Jakarta Pada Tanggal 26 Desember 1990 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Ttd. SOEHARTO Diundangkan Di Jakarta Pada Tanggal 26 Desember 1990 MENTERI/SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA Ttd. MOERDIONO PENJELASAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA .

maka pengaturannya dirangkum dalam satu Peraturan Pemerintah. UMUM Ketentuan Pasal 4. TATA UPACARA DAN TATA PENGHORMATAN I. Meskipun terdapat empat pasal dari Undang-undang tersebut di atas yang memerlukan pengaturannya lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.NOMOR 62 TAHUN 1990 TENTANG KETENTUAN KEPROTOKOLAN MENGENAI TATA TEMPAT. Berdasarkan Undangundang tentang . Tokoh Masyarakat tertentu dalam Peraturan Pemerintah dirinci dalam Tokoh Masyarakat tertentu Tingkat Nasional dan Tokoh Masyarakat tertentu Tingkat Daerah sejalan dengan adanya Pejabat Negara. perlu diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pejabat Pemerintah di Tingkat Pusat dan Daerah serta adanya acara kenegaraan atau acara resmi yang diselenggarakan di Ibukota Negara atau di luar Ibukota Negara. Pejabat Pemerintah. Tokoh Masyarakat tertentu di Pusat dan di Daerah dalam acara kenegaraan atau acara resmi. tata upacara dan tata penghormatan bagi Pejabat Negara. Pasal 5. Pasal 6 dan Pasal 8 Undang-undang Nomor 8 Tahun 1987 tentang Protokol menentukan tata tempat dan urutan bagi Tokoh Masyarakat tertentu. namun karena adanya keterkaitan yang erat antara materi yang satu dengan lainnya.

ketertiban dan kekhidmatan jalannya upacara. Pejabat Pemerintah dan Tokoh Masyarakat tertentu dalam acara kenegaraan atau acara resmi. juga diatur lebih lanjut mengenai tata upacara dalam acara kenegaraan atau acara resmi untuk keseragaman. antara lain meliputi susunan dan urutan upacara. dalam Peraturan Pemerintah ini diatur lebih lanjut mengenai tata penghormatan.Protokol tersebut di atas diatur lebih lanjut mengenai tata tempat dan urutan bagi Tokoh Masyarakat tertentu terutama Tokoh Masyarakat tertentu Tingkat Nasional dalam acara kenegaraan atau acara resmi dengan memperhatikan tata tempat bagi. kelancaran. penyelenggaraan upacara. Pejabat Negara dan Pejabat Pemerintah. Pengaturan tata tempat. Dalam Peraturan Pemerintah ini. kelengkapan dan perlengkapan upacara. dengan memperhatikan peraturan perundangundangan yang telah ada. yang meliputi antara lain tata penyediaan kelengkapan sarana yang diperlukan untuk tercapainya kelancaran upacara. tata upacara dan tata . pakaian upacara. Mengenai tata tempat bagi Tokoh Masyarakat tertentu tingkat Daerah disesuaikan dengan berpedoman kepada pengaturan di atas. Untuk melaksanakan pemberian hormat bagi Pejabat Negara. sehingga terdapat keserasian dalam pengaturannya. Lagu Kebangsaan. selain tata tempat. perlakuan terhadap Bendera Kebangsaan. dengan memperhatikan peraturan perundangundangan atau peraturan lain yang telah ditetapkan.

Orang yang mendapatkan tempat untuk didahulukan adalah seseorang karena jabatan. 2. siapa yang mendapat hak menerima prioritas dalam urutan tempat. maka yang berada di sebelah kanan dari orang yang mendapat urutan tata tempat paling utama dan yang paling tinggi/mendahului orang yang duduk disebelah kirinya. tempat paling tengah. Jika menghadap meja. pangkat dan derajatnya di dalam pemerintahan atau masyarakat. diselenggarakan sesuai dengan keadaan di daerah masingmasing dengan berpedoman kepada Peraturan Pemerintah ini.penghormatan di Daerah. Orang yang berhak mendapat tata urutan yang pertama adalah mereka yang mempunyai urutan paling depan atau paling mendahului. Jika berjajar pada garis yang sama. maka tempat utama adalah yang menghadap kepintu keluar dan tempat terakhir adalah tempat yang paling dekat dengan pintu keluar. Pengaturan tata tempat dalam Peraturan Pemerintah ini diatur urutan tata tempat berdasarkan kelompok. maka tempat yang paling utama adalah tempat sebelah kanan luar. . Aturan dasar tata tempat pada umumnya adalah sebagai berikut: 1. 2. Jika mereka belajar. Sebagai contoh dapat dikemukakan misalnya: 1. Tata tempat pada hakekatnya mengandung unsur-unsur siapa yang berhak lebih didahulukan.

dan masih akan berkembang sesuai kebutuhan dan kondisi yang dihadapi. Contoh-contoh tersebut di atas merupakan kebiasaan-kebiasaan yang sampai sekarang berlaku dalam praktek. Apabila naik kendaraan. II. di mobil atau kereta api. letak kendaraan/mobil. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 . Jajar kehormatan orang yang paling dihormati harus datang dari arah sebelah kanan dari pejabat yang menyambut. namun harus disesuaikan terus dengan kebiasaan-kebiasaan yang berkembang dan memperhatikan pula norma-norma dan kebiasaan-kebiasaan yang berlaku dalam memperhatikan hubungan internasional. pintu kanan mobil berada di arah pintu keluar gedung. 5. naik dan turun paling dahulu duduk paling kanan. maka tamu akan datang dari arah sebelah kirinya. bagi seseorang yang mendapat tata urutan paling utama maka di kapal terbang naik paling akhir.3. Pada kedatangan dan pulang orang yang paling dihormati selalu datang paling akhir dan pulang paling dahulu. Bila orang yang paling dihormati yang menyambut tamu. 4. dan orang ketiga duduk di tengah. di kapal laut naik dan turun paling dahulu. Karena itulah maka peraturan mengenai protokol tidak mungkin diatur keseluruhannya secara terperinci dan secara tertulis. turun paling dahulu.

Pasal 3 Ayat (1) Untuk kelancaran pelaksanaan tugas Menteri/Sekretaris Negara selaku Ketua Panitia Negara dibantu oleh Kepala Protokol Negara. Ayat (2) Acara kenegaraan tidak harus selalu berupa upacara bendera. Tetapi karena sifatnya kenegaraan. acara ini hanya diselenggarakan oleh Negara. . tata upacara dan tata penghormatan harus dilaksanakan dengan mengikuti aturan-aturan yang telah ditetapkan dalam acara. melainkan ada kalanya diselenggarakan tidak berupa upacara bendera. demikian pula urutan tempat duta besar. Pasal 2 Ayat (1) cara kenegaraan pada dasarnya juga merupakan acara resmi. misalnya urutan tempat Menteri sesuai dengan urutannya. Ayat (2) Yang dimaksud dengan diselenggarakan secara penuh dalam ayat ini bahwa dalam acara kenegaraan.Cukup jelas. misalnya jamuan kenegaraan menghormati Kunjungan Kepala Negara atau Kepala Pemerintahan Asing. Hal ini yang membedakan dengan acara resmi lainnya yang diselenggarakan oleh Departemen/instansi baik di pusat ataupun di daerah. tata tempat. kehadiran pejabat yang diundang tidak boleh diwakili dan sebagainya.

Pasal 6 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. tetapi juga dapat diselenggarakan di daerah. Pasal 5 Ayat (1) Cukup jelas. Instansi Pemerintah Pusat pada prinsipnya tidak hanya dapat dilaksanakan di pusat. dan teknis pelaksanaan urutan tata tempat dalam acara kenegaraan atau acara resmi disesuaikan menurut tempat upacara. Dalam hubungan yang berkenaan dengan Perwakilan Asing. Ayat (2) Acara resmi yang diselenggarakan oleh Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara. Pasal 7 Urutan tata tempat dalam ayat ini disusun berdasarkan pengelompokan. Urutan tempat Menteri diatur menurut urutan Menteri yang ditetapkan dalam Keputusan Presiden tentang Pembentukan Kabinet. Menteri Luar Negeri RI .Pasal 4 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas.

I. Urutan tata tempat antar Pegawai Negeri diatur menurut senioritas dengan memberikan tata urutan sesuai jabatan.I. tetapi diatur setelah Menteri-menteri Negara dan Wakil-wakil Ketua Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara. ditetapkan berdasarkan tanggal penyerahan surat-surat kepercayaannya kepada Presiden.I.I. Tata urutan para Duta Besar. baik Indonesia maupun asing. diberi tempat satu tingkat lebih rendah daripada Pejabat Perwakilan Negara Asing dan tamu asing lainnya . tetapi mendapat tempat pertama dalam golongan yang setingkat lebih rendah itu.diberi tata urutan mendahului Kabinet lainnya. Isteri Pejabat Negara dan Pejabat Asing mendapat tempat setingkat suaminya. Para Duta Besar R. í Apabila yang menjadi tuan rumah pihak Pemerintah R. maka Pejabat Negara/Pejabat Pemerintah R. Kepala Perwakilan Negara Asing. diberi tata urutan setingkat Menteri.I. bersama-sama dengan para Pejabat perwakilan Negara Asing adalah sebagai berikut: í Apabila yang menjadi tuan rumah pihak Pemerintah asing maka Pejabat Negara/Pejabat Pemerintah R. mendapat tempat satu tingkat lebih tinggi daripada Pejabat-pejabat Perwakilan Negara Asing dan tamu asing lainnya yang setingkat atau dianggap sederajat. Para Duta Besar/Kepala Perwakilan Negara Asing mendapat tempat kehormatan yang utama diantara Pejabat Negara. Mantan Pejabat Negara/Pejabat Pemerintah mendapat tempat setingkat lebih rendah dari pada yang masih berdinas aktif.I. Menteri Luar Negeri R. Pengaturan tempat antara Pejabat-pejabat R. mengalahkan urutan tempat para Duta Besar.

yaitu dalam hal tuan rumah Pemerintah R. Pasal 9 Acara resmi yang diselenggarakan oleh Pemerintah Pusat misalnya Departemen/Lembaga Pemerintah Non Departemen dan diadakan di Daerah dan dihadiri oleh Presiden dan/atau Wakil Presiden maka yang mendampingi sebagai tuan rumah adalah Menteri/Pimpinan Lembaga Pemerintah Non Departemen. maka dimulai dengan penempatan pejabat Indonesia. í Pengaturan tempat dalam hal acara kenegaraan/acara resmi di atas dilaksanakan secara berselang. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 8 Cukup jelas. maka penempatan dimulai dengan pejabat asing dan dalam hal Pemerintah Asing yang menjadi tuan rumah.I. Tetapi kalau acara resmi tersebut diselenggarakan oleh Daerah itu sendiri dan dihadiri oleh Presiden dan/atau Wakil Presiden maka yang mendampingi sebagai tuan rumah adalah Gubernur atau Bupati yang bersangkutan.yang setingkat atau dianggap sederajat. Pasal 11 Ayat (1) . Pasal 10 Ayat (1) Cukup jelas.

Oleh karena itu yang bersangkutan tidak dapat menduduki tata tempat yang telah disediakan untuk pejabat yang diundang resmi. Apabila undangan diwakilkan maka yang mewakili mendapat tata tempat sesuai dengan jabatan yang mewakili. Pasal 12 Dalam hal Pejabat Negara/Pejabat Pemerintah memangku jabatan lebih dari satu yang tidak sama tingginya. maka baginya berlaku tata tempat yang urutannya lebih dahulu.Cukup jelas. Ayat (2) Pada dasarnya kehadiran pada acara kenegaraan tidak dapat diwakilkan. baginya mendapat tata tempat yang urutannya lebih dahulu. Dalam hal demikian maka Lembaga Tertinggi dan Tinggi Negara tersebut dapat mengatur pengaturan tata tempatnya sendiri tetapi tetap dengan berpedoman pada ketentuan Pasal 7. Pasal 8. dan . Pasal 13 Ayat (1) Lembaga Tertinggi dan Tinggi Negara pada waktu-waktu tertentu lainnya seperti Sidang Umum MPR. Rapat Paripurna Terbuka DPR-RI dengan Amanat Presiden sebagai Pengantar Nota Keuangan dan RAPBN. Pemangkuan jabatan seperti di atas misalnya Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat merangkap sebagai Ketua Partai Politik/Golongan Karya yang dalam Peraturan Pemerintah ini ditentukan sebagai Tokoh Masyarakat tertentu. Hal ini juga berlaku bagi Pejabat Negara/Pejabat Pemerintah yang sekaligus menjabat Tokoh Masyarakat tertentu.

Namun demikian sebagai pedoman umum perlu diperhatikan bahwa yang mendapat tempat langsung lebih tinggi dari tuan rumah adalah: a. Pasal 14 Ayat (1) Cukup jelas.Pasal 9 Peraturan Pemerintah ini. Ayat (2) Cukup jelas. tata tempatnya disesuaikan dengan memperhatikan ketentuan dalam Pasal 7. Pasal 8. Ayat (2) Demikian pula Instansi Pemerintah Tingkat Pusat mungkin mengadakan suatu acara resmi. Dalam hal demikian maka Instansi yang bersangkutan mengatur tata tempatnya dengan berpedoman kepada Pasal 7. dan Pasal 9 Peraturan Pemerintah ini. Mereka yang dalam aturan tata tempat mempunyai kedudukan lebih tinggi daripada tuan rumah. Ayat (3) Sebagai pedoman umum pada acara resmi dimana Kepala Daerah bertindak sebagai tuan rumah perlu diperhatikan bahwa tempat utama ditempati oleh Ketua Muspida/Kepala Daerah. b. Mereka yang menjadi kepala tertinggi (atasan) dari tuan rumah. Pasal 15 . Pasal 8 dan Pasal 9 Peraturan Pemerintah ini. Bila pada acara tersebut dihadiri oleh Presiden/Wakil Presiden atau Pejabat Negara/Pejabat Pemerintah tingkat pusat atau pejabat daerah lainnya yang lebih tinggi kedudukannya.

Dalam petunjuk pelaksanaan acara harus tercermin siapa harus berbuat apa dan kapan ia harus berbuat. Pedoman umum upacara meliputi kelengkapan upacara dan perlengkapan upacara. pengeras suara dan sebagainya. bilamana (waktu). naskah yang akan dibacakan. . penanggung jawab upacara. pembawa naskah.Ayat (1) Cukup jelas. langkah-langkah persiapan. untuk dapat menjawab apa. siapa yang harus berbuat apa. dan bagaimana tata caranya karena itu perlu disusun pedoman umum upacara dan pelaksanaan upacara. Langkah-langkah persiapan antara lain: menyusun acara. tata ruang. Perlengkapan upacara antara lain: tiang bendera dengan tali. pembawa acara. baik upacara kenegaraan atau acara resmi diperhatikan adanya pedoman tata upacara yang memuat perencanaan dan pelaksanaan upacara. Ayat (2) Cukup jelas. petunjuk pelaksanaan upacara dan susunan acara. Kelengkapan upacara antara lain: inspektur upacara. pengaturan tempat. mimbar upacara. khidmat dan lancar. Bendera. komandan upacara. membuat petunjuk pelaksanaan upacara dan menetapkan jenis atau macam pakaian yang harus dipakai. pembaca naskah. dimana (tempat). peserta upacara. Pasal 16 Ayat (1) Untuk pelaksanaan suatu upacara dengan tertib.

penyampaian komunike/konferensi pers. Ayat (2) Cukup jelas. yang pelaksanaannya disesuaikan dengan waktu. sifat atau jenis kunjungannya. Ayat (2) Acara penyambutan meliputi persiapan sampai dengan pelaksanaan kedatangan tamu termasuk memperkenalkan para pejabat tinggi. Pasal 17 Cukup jelas. uraian pembawa acara. Ayat (3) Cukup jelas. jamuan makan. Pasal 18 Ayat (1) Pada acara kenegaraan dan acara resmi bukan acara bendera diperlukan pula persiapan mengenai kelengkapan dan perlengkapan upacara serta urutan acara. ziarah ke makam pahlawan. keterangan pelaksanaan.Kolom-kolom yang perlu terdapat dalam petunjuk pelaksanaan upacara adalah: nomor. kegiatan. misal kunjungan kehormatan. Sedangkan perlengkapan upacara meliputi tempat upacara dan perlengkapan fisik lainnya. Acara pokok kunjungan dapat berupa. acara. juga untuk memberikan kesan yang mendalam akan martabat dan kebesaran negara dan bangsa Indonesia. Kelengkapan upacara meliputi: pembawa acara. pembicaraan resmi. Acara penyambutan tersebut selain dimaksudkan untuk menyatakan rasa hormat. peserta upacara dan penanggung jawabnya. jam. .

Pasal 23 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 22 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 21 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 24 Ayat (1) . Pasal 20 Ayat ( 1) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas.Ayat (3) Acara pokok misalnya dapat berupa peresmian dan penandatanganan prasasti. Pasal 19 Cukup jelas.

Pasal 30 Cukup jelas. Pasal 26 Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 25 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 27 Cukup jelas. Pasal 29 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 28 Cukup jelas.Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. .

Pasal 31 Cukup jelas.

Pasal 32 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 33 Cukup jelas.

Pasal 34 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas.

Pasal 35 Cukup jelas.

Email This BlogThis! Share to Twitter Share to Facebook Share to Google Buzz MC dan Protokoler ± YOGYAKARTA Hotel Grage Ramayana Malioboro Yogyakarta | Yogyakarta, 10 ± 12 Mei 2011 | IDR 3.600.000,Hotel Grage Ramayana Malioboro Yogyakarta | Yogyakarta, 22 ± 24 Juni 2011| IDR 3.600.000,-

TUJUAN
y y y

Mengetahui dan memahami etiket dan protokol sebagai Master of Ceremony (MC) Mampu meningkatkan kemampuan berbicara dan berkomu-nikasi secara efektif Mampu berperan sebagai MC pada berbagai jenis acara

MATERI 1. Pengantar
y y y

a. MC & Protokoler b. Tugas & Tanggung Jawab MC c. Tampil Percaya Diri

2. Etiket sebagai MC
y y y

a. Persiapan & Hari H b. Penampilan VS Acara c. Penguasaan Materi

3. Teknik Berbicara di Muka Umum a. Latihan Pembentukan Vokal 4. Latihan Membawakan Acara Dalam Berbagai Jenis Acara Kantor 5. Diskusi & Tanya Jawab

PESERTA
y y y y

Para Sekretaris, PR/Humas, Corporate Affair, Receptionist, SDM & Diklat, etc. MC & Calon MC Perusahaan Staf lain yang terkait dan tertarik dengan Pokok Bahasan Lokakarya.

METODE Lecturing, workshop, konsultasi interaktif, dan praktek MC

INSTRUKTUR Endi Syaputra, S.Sos., Msi. ± Dosen dan Praktisi Komunikasi

WAKTU
y y

Yogyakarta, 10 ± 12 Mei 2011 Yogyakarta,, 22 ± 24 Juni 2011

TEMPAT Hotel Grage Ramayana Malioboro Yogyakarta

INVESTASI
y y

IDR 3.600.000 ± (non residential ) (termasuk picking-up service dari Bandara/Stasiun KA ke hotel, training modul, training kit, 2x coffee break, 1x lunch, souvenir, dan sertifikat)

TEHNIK PROTOKOL YANG EFEKTIF SEBAGAI FUNGSI PUBLIC RELATIONS TEHNIK PROTOKOL YANG EFEKTIF SEBAGAI FUNGSI PUBLIC RELATIONS Jadual & Lokasi : Senin, 25-04-2011 ± Selasa, 26-04-2011 Harris Hotel Tebet / Aryaduta Hotel Semanggi Jakarta BONUS ! ! ORGANIZER Who should attend ? Staf Hubungan Masyarakat ± Humas, Sekretaris, Administrative Assistant, atau siapapun yang ingin meningkatkan kinerja dibidang ke-Humas-an lebih baik lagi

yang sama pentingnya dengan pelengkap-pelengkap keHumas-an lainnya. Thailand dan Malaysia. Huffco/VICO Indonesia. Pengalaman Karir dalam bidang Human Resources Management dan Marketing antara lain PT Raja Garuda Mas. Documentation dan lain sebagainya. Public Relations. yang kemudian dilengkapi dengan Tata Tertib Acara. Deputy GM Human Resources di Bank dan kemudian menjabat Human Resources Director dari Hero Group of Companies dan Head of Human Resources Division Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI). Menjadi instruktur pelatihan di bidang Psikologi. umumnya diterapkan dalam suatu upacara untuk menjaga citra organisasi yang mapan. Leadership. Amerika. seperti Media Relations. agar benar-benar efektif mencapai citra perusahaan yang diharapkan. MSDM. yang berarti gagalnya PR perusahaan. Tujuan Pelatihan : Memberi bekal pengetahuan dan ketrampilan dalam melaksanakan suatu aktifitas protokol yang efektif dan efisien dalam menjalankan berbagai upacara perusahaan. Gagalnya suatu kegiatan protokoler akan berdampak negatif pada citra perusahaan. Singapore. Psi Lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan beberapa pelatihan/courses di Inggris. workshop. dll. Komunikasi.Course Leader : Ahmad Sablie. juga sebagai Senior Konsultan Gede Prama¶s Dynamics Consulting Training Description : Kegiatan protokol diartikan sebagai Tata Tertib Upacara. Customers Behaviour. Karenanya diperlukan suatu pelatihan bagi petugas pelaksana protokol. Metode Pelatihan : Metode yang digunakan dalam pelatihan ini adalah lektur. maka Tata Tertib Upacara ini adalah pelengkap ke-Humas-an. Saat ini menjabat sebagai PR Director Parliament Watch Indonesia (ParWI).Karenanya. dalam menjalankan upacara. PT Semen Cibinong. . simulasi dan praktek.

sponsorship dan lain-lainnya Sessi 4 : Lanjutan Persiapan Fisik Petugas pembantu dan Tata busana HARI KEDUA Sessi 5 : Thema acara untuk keperluan seorang petugas Master of Ceremony Thema.(Full Fare) : : Early Bird Rp 2.. Kekhususan upacara.000 untuk pembayaran sebelum tanggal13 April 2011 : : . susunan acara. Semi Resmi. tempat duduk hadirin.950. Acara Hiburan Susunan pola acara Sessi 8 : Bahasa Protokoler Bahasa Resmi dan Bahasa Komunikatif Fee/Investasi : Rp 2. Tempat dan Sifat Acara Sessi 6 : Master of Ceremony dalam upacara Persyaratan seorang MC Faktor penunjang yang dimiliki MC Sessi 7 : Acara Resmi. Perbedaan dalam pelaksanaannya Sessi 2 : Tata krama Pergaulan Bisnis sebagai dasar pelaksanaan protokol Etika dasar dan penerapannya Hal-hal yang tidak boleh dilakukan Sessi 3 : Persiapan-persiapan fisik Rencana pengaturan tempat upacara. Suasana. Berbagai jenis Acara dan Upacara yang ada di perusahaan.750.Outline : Hari Pertama Sessi 1 : Ruang lingkup tugas kegiatan protokol.000.

Diperlukan pribadi yang tangguh. Didalam situasi mendesak dan perlu ketenangan. maka Tata Tertib Upacara ini adalah pelengkap ke-Humas-an. berbagai masalah dapat timbul. Itulah yang terjadi ketika berhadapan dengan orang banyak. Documentation dan lain sebagainya. Diperlukan kemampuan berbicara. dalam menjalankan upacara. Gagalnya suatu kegiatan protokoler akan berdampak negatif pada citra perusahaan. Berbicara didepan orang banyak (publik).200. yang kemudian dilengkapi dengan Tata Tertib Acara. bermanfaat dan diakui kebenarannya oleh pendengar.000 untuk pendaftaran 2 orang peserta : : Pelaksanaan Protokoler yang Efektif Sebagai Fungsi Humas Time until Events: in 1 month. Karenanya. COURES LEARNING OUTCOMES y y y Ruang Lingkup Tugas Kegiatan Protokol Setiap Acara Tata Krama Pergaulan Bisnis Sebagai Dasar Pelaksanaan Protokol Persiapan-Persiapan Fisik Merancang Acara . Banyak pikiran digunakan untuk memecahkan masalah-masalah dan membuat keputusan-keoputusan penting dan tepat. yang sama pentingnya dengan pelengkap-pelengkap keHumas-an lainnya. Karenanya diperlukan suatu pelatihan bagi petugas pelaksana protokol. umumnya diterapkan dalam suatu upacara untuk menjaga citra organisasi yang mapan. seperti Media Relations. 4 weeks. agar apa yang disampaikannya dapat berkesan. 2 days Outline : Kegiatan protokol diartikan sebagai Tata Tertib Upacara. agar benar-benar efektif mencapai citra perusahaan yang diharapkan.: : Untuk pendaftaran Group sebesar Rp 5. merupakan komunikasi dua arah antarapembicara dengan pendengarnya. yang berarti gagalnya PR perusahaan.

25 ± 27 May 2011 Investasi : y y IDR 6. Kami dari Ketua Pengurus Pusat Kajian Dalam Negri Meralat Isi Surat Secara Keseluruhan.y y y y y Mempersiapkan Diri Sebagai Public Speaker dan Master of Ceremony Tema Acara Untuk Keperluan Seorang Petugas Master of Ceremony Master Of Ceremony Dalam Upacara Acara Resmi. Documentation.000 /Participant (Excluding Hotel Accommodation) The course fee is included. Achmad Sablie. . Mengacu Surat Pusat Kajian Dalam Negri dan Ilmu Pemerintahan . Training Materials (Hardcopy + Softcopy). Training Kits.dan meminta maaf yang sebesar ± besarnya dan kami terbitkan surat baru beserta Ralatannya. Psi Date : y Bandung. Meals (2x coffee break and lunch). dengan Nomor SU : 201/PUSKDAGRI & IP/2011 Pertanggal 14 Januari 2011. Semi Resmi. Acara Hiburan Bahasa ProtokolerC OF LEARNING Trainer : y Drs. Souvenir and Certificate of completion y PENGEMBANGAN PENCAPAIAN PROFESIONALITAS APARATUR PEMERINTAH DAERAH DAN PEJABAT DAERAH y y y Dengan Hormat.050.

III3/II/2010.sudah saatnya Pemerintah Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota melakukan inovasi-inovasi pembaharuan terhadap standarisasi aturan kehumasan dan protokoler sesuai Undang-Undang Keprotokolan yang berlaku.00 WIB. dengan tema : ³PENGEMBANGAN PENCAPAIAN PROFESIONALITAS APARATUR PEMERINTAH DAERAH DAN PEJABAT DAERAH ( DPRD PROV/KAB/KOTA ) TENTANG PENGATURAN KEHUMASAN DAN KEPROTOKOLERAN TERHADAP KUNJUNGAN PRESIDEN / PEJABAT NEGARA / PEJABAT PEMERINTAH KE DAERAH´ y y Pusat Kajian Dalam Negeri dan Ilmu Pemerintahan ( PUSKDAGRI & IP ) merupakan lembaga dibawah pembinaan Ditjend Kesbangpol Kemdagri No : SKT 053/D. Tata Upacara dan Tata Penghormatan.62 Tahun 1990 tentang Ketentuan Keprotokolan Mengenai Tata Tempat. Kegiatan ini akan dilaksanakan pada : Menjadi Protokoler yang Andal dan Profesional 02/12/2009 Untuk meningkatkan peran dan kualitas pelayanan protokol di lingkungan instansi pemerintah sesuai dengan Undang-Undang No. Sebagai salah satu solusi untuk mengurangi berbagai permasalahan yang menyangkut kualitas sumber Daya Manusia yang sangat terbatas maka kami dariPusat Kajian Dalam Negeri dan Ilmu Pemerintahan ( PUSKDAGRI & IP ). . dan Peraturan Pemerintah No.30-13. . dalam era Otonomi Daerah serta peningkatan tugas pokok dan fungsi dalam bidang Humas dan Protokoler terhadap Pengaturan Kunjungan Kerja Presiden/Menteri dan Pejabat Negara/Pejabat Pemerintah . Dalam rangka meningkatkan kinerja Aparatur Pemerintah Daerah. Biro Humas dan Tata Usaha Pimpinan Bappenas.y y Untuk membangun citra yang positif (positif image building) suatu organisasi publik atau birokasi pemerintahan bukanlah masalah yang sederhana. akan mengadakan Bimtek Nasional 4 hari dan Plus Tour Ke istana Presiden RI***. Kamis (3/12) menyelenggarakan Seminar dengan tema ³Protokoler yang Andal dan Profesional´ di ruang SG 1-3 Bappenas dari pukul 09.8 Tahun 1987 tentang Protokol. yang berusaha menghadirkan Narasumber/Widyaiswara Protokol yang berpengalaman dan sangat berkompeten dibidangnya.

dan dilanjutkan dengan penyampaian kata sambutan sekaligus membuka seminar oleh Sesmenneg PPN/Sestama Bappenas Ir. Usai laporan panitia. ternyata peserta yang datang melebihi target. ketika pelaksanaan berlangsung dengan tidak bagus. disambut tepuk tangan peserta. Hingga kita mempunyai feeling apakah dapat diterapkan seperti yang tertulis atau perlu dilakukan modifikasi atau penyesuaian.´ kata Pak Syahrial Loetan. Tata Upacara dan Tata Penghormatan. Kepala Biro Humas dan TU Pimpinan Bappenas dalam laporannya mengatakan. Undang-undang dan peraturan terkadang di buat dalam kondisi ideal.´kata Maruhum Batubara. Mengingat tugas dan tanggung jawab yang diemban petugas protokol sangat berat. namun dalam melaksanakan tugas hendaknya tidak dilaksanakan dengan kaku. Lebih lanjut menurut Maruhum Batubara. Tapi. MCP. agar dapat lebih meningkatkan pemahaman terhadap perundang-undangan yang ada. ³Banyak tantangan yang harus dihadapi para petugas protokol dalam melaksanakan tugas. Syahrial Loetan. ketika saya mampir atau berkunjung ke tempat saudara-saudara nanti akan ada etika baru yang diterapkan. MPA. kemudian Peraturan Pemerintah No: 62 Tahun 1990 tentang Ketentuan Tata Tempat. Pak Syahrial menyampaikan harapannya agar hasil dari seminar yang diselenggarakan oleh Humas dan TU Pimpinan dapat langsung di terapkan di tempat tugas masing-masing. ³Saya berharap. Pak Syahrial mengingatkan kepada para peserta untuk lebih memahami dan mengerti isi dari undang-undang atau peraturan yang mengatur tentang tata cara protokol. Berdasarkan registrasi peserta. Ir Maruhum Batubara. seminar ini ternyata menarik minat para petugas protokol untuk datang mengikuti seminar. 8 Tahun 1987 tentang Protokol. hingga pertengahan acara yang hadir lebih dari 120 orang.Seminar diawali dengan laporan panitia yang disampaikan oleh Kepala Biro Humas dan Tata Usaha Pimpinan Bappenas Dr. ³Tidak disangka. Misalnya. pasti protokol pihak yang paling dimarahi. UU No. .. MCP. ³Dalam prakteknya kadang harus dikombinasi dengan sense. acara dilanjutkan dengan sambutan sekaligus membuka seminar oleh Sekretaris Menneg PPN/Sestama Bappenas Ir. Mengawali sambutannya.´ ucap Maruhum Batubara. tidak pernah dipuji. Syahrial Loetan. seminar ditujukan kepada para petugas protokol yang ada di Kementerian/Lembaga (K/L). Ketika tugas yang dilaksanakan berjalan dengan bagus dan sempurna. Diakhir sambutan.

Kepala Bagian Upacara dan Logistik Biro Protokol Rumah Tangga Kepresidenan Radityo Adi Nugroho. sebagai ahli bahasa yang pernah bertugas di Dewan Perwakilan Rakyat dan Sekretariat Negara. Peni Kusumastuti Lukito. Dan sebagai pembicara terakhir. membawakan materi berjudul ³Manajemen Keprotokolan Dalam Aspek Tata Tempat. MCP. Seminar menghadirkan tiga orang pembicara yaitu. Mugnisjah Lumintang. Dosen Universitas Nasional yang juga pakar Sosiolinguistik Dr. yang mendapat kesempatan pertama membawakan materi berjudul ³Penyelenggaraan Protokol Berskala Internasional´. ´ Universitas Padjadjaran. Dalam kesempatan tersebut dipaparkan Standard Operating Procedure (SOP) yang kerap digunakan protokol Departemen Luar Negeri terhadap tamu negara. Tata Upacara dan Tata Penghormatan´.´ ujar Pak Syahrial. membawakan materi berjudul ³Pengembangan Diri Petugas Protokol´ dan menyoroti penggunaan tata bahasa dalam protokol tamu negara atau acara kenegaraan. KORPS PROTOKOLER MAHASISWA UNIVERSITAS PADJADJARAN Oleh : REZARIL FRISSANDY ´ Korps Protokoler mahasiswa universitas padjadjaran Kpm unpad Korps Protokoler Mahasiswa Universitas Padjadjaran merupakan organisasi dalam lingkup Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang terdapat di Universitas Padjadjaran. Mugnisjah Lumintang. SE. Kepala Sub Direktorat Protokol Upacara Diplomatik Departemen Luar Negeri Prasetyo Budhi.Mudah-mudahan seminar ini memberikan banyak manfaat. Pada kesempatan tersebut banyak di paparkan pengalaman dan SOP yang biasa dilakukan dalam kegiatan VIP maupun VVIP. Yayah B. ´ Sejarah KPM UNPAD ´ Resmi berdiri pada hari SENIN 10 APRIL 2000 di kampus Unpad Dipati Ukur. 1957 . Selanjutnya pembicara kedua. Radityo Adi Nugroho. Rr. Prasetyo Budhi.. Menurutnya. Ir. melalui penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar dapat meningkatkan citra dan profesionalisme petugas protokol. tidak hanya di Bappenas tapi juga dari K/L lainnya. Yayah B. Dr. dan bertindak sebagai moderator Direktur Sistem dan Pelaporan Evaluasi Kinerja Pembangunan Bappenas Dr.

´ Syifa S. Neng Alia (FH 96). Lianty Septiany (FIKOM 98). Tim Pemrakarsa Korps Protokoler Mahasiswa Universitas Padjadjaran. Nicky Yuniffer Sumolang (FH 98). Ira Sugianti Alfiana (FE-PAAP 98). ´ Tim pemrakarsa KPM UNPAD yang terdiri dari. dan seorang anggota ex-officio Robby Junia Prihana (FISIP 97). ´ Rio Putra Ariestya (FH 04). Chandra Tusdiana (Faperta D3 98). ´ Rezaril Frissandy (FISIP 04). Bapak H. Ketua : Ade Kadarisman (FIKOM Ext 99). Soehaemy A. Marlia (FIKOM 98). Nuri Agus Ramdhani ´ Yayu Rahayu (MIPA 01). Dadi Priadi (Fisip 00). Sekretaris : Nuri Agus Ramdhani (FE-PAAP 97). . ´ PENDIRI kpm unpad ´ Kepala Sekretariat Rektor-Protokol Unpad pada waktu itu. ´ Yuyu Diana (FPIK 06) ´ Untuk apa kpm unpad ???? mewadahi minat dan bakat mahasiswa-mahasiswi UNPAD dalam bidang keprotokolan. Anggota : Hendro Tri Santoso (Faperta D3 96) R. (FIKOM 02). ´ Ketua Umum pertama KPM UNPAD Periode 2000-2002 Sdr. ´ M.R. Wendi Rachman (FKU 98).´ September 1999.

´ Common/General Protocol : protokol umum. ´ PROTOKOL { PROTOKOLER ´ PROTOKOL : Seperangkat aturan yang berdasar atas tata tempat. ´ Dokumen kewajiban dan kekebalan diplomatik. karakteristiknya disesuaikan dengan keadaan dan situasi etika yang berlaku pada konteks yang bersangkutan. mengikat. tidak mengikat. karakteristiknya tegas. pengertian protokol jauh lebih luas lagi. ´ Corporate Protocol : protokol perusahaan. kaku. 62/1990 Tanggal 26 Desember 1990 : ´ Protokol adalah serangkaian aturan dalam acara kenegaraan atau acara resmi yang meliputi aturan tata tempat. 8/1987 Tanggal 20 September 1987 dan PP No. pergaulan antar kepala negara serta pejabat lainnya. kaku. ´ Pada skala yang lebih global. KPM UNPAD memiliki misi untuk memperkenalkan ilmu keprotokolan dalam dunia kampus dan kemahasiswaan ´ PROTOKOL menurut UU No. dan tata upacara. tata penghormatan. pengaturan upacara. ´ Catatan resmi yang dibuat pada akhir sidang dan ditandatangani oleh seluruh peserta yang hadir. ´ PROTOKOLER ´ : Orang-orang yang melaksanakannya Secara normatif. protokol dibedakan menjadi tiga jenis : ´ Government Protocol : protokol pemerintahan/kenegaraan. karakteristiknya fleksibel. yaitu : ´ Perjanjian yang bersifat internasional. tata upacara dan tata penghormatan bagi seseorang karena jabatan/kedudukan dalam negara. ´ Keseluruhan isi dokumen yang ditandatangani. ´ Lembar pertama yang dilekatkan pada dokumen persetujuan. .Tri Dharma Perguruan Tinggi di lingkungan Universitas Padjadjaran. pemerintahan atau masyarakat. ´ Kumpulan tata cara.

MC/Pembawa acara. ´ Pengarah acara. Liaison Officer (LO). ´ Timer ´ Perencana konsep dan pelaksana teknis operasional acara. Confirmation Officer (CO). dan berwibawa. ´ Standard Operating Procedure (SOP) ´ Standard Operating Procedure (SOP) adalah urutan klerikal deskripsi tugas setiap elemen protokoler yang wajib dilakukan guna memenuhi standar kualitas pekerjaan lapangannya ´ PROTOKOLER ´ Disiplin dan loyalitas tinggi. Security Officer (SO). Pengorganisasian. ´ Penanggung jawab situasi ´ Penyelenggara skenario ´ Elemen protokoler ´ ´ ´ ´ ´ ´ Project Officer. koordinatif. ´ Perencanaan.´ Tata tertib dan sopan santun pergaulan internasional. ´ Efektif. Front Officer (FO). ´ Menghayati bidang tugasnya. ´ Menguasai segala permasalahan dalam standar operasional. Pelaksanaan. dan Pengendalian. . ´ Fungsi protokoler Secara UMUM ´ PROTOKOLER ADALAH SEBUAH TIM ´ Pembawa acara.

Formal ´ Protokol Fair ´ Tabel Manner ´ Pelatihan EO ´ Makrab ´ Social ´ Protocol Visit . ´ Memiliki penampilan. etika. ´ Mendengarkan ´ Belajar ´ Berlatih ´ KPM UNPAD ´ Protokol ´ Event Organizer ´ MC. ´ Memiliki wawasan.´ Memiliki kemampuan kerjasama dalam suatu tim. dan kemampuan berbahasa yang yang baik.Presenter.&News Presenter ´ Formal ´ Konferensi Asia Afrika 50 Tahun ´ Orasi Ilmiah Muhammad Yunus ´ Honoris Causa Burhanidin Abdullah ´ Honoris Causa Raja Malaysia ´ Duta UNESCO ´ Pelatian Keprotokoloan Malaysia ´ Non.