P. 1
RESUME SEK 1 A KERENNN

RESUME SEK 1 A KERENNN

|Views: 603|Likes:
Published by roatfatchuri

More info:

Published by: roatfatchuri on Mar 26, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/06/2013

pdf

text

original

RESUME TUTORIAL BLOK 10 SKENARIO 1 Oleh: Kelompok A

1. Fiqnanda Ichfal Rizal 2. Fibiaka Algebri 4. M.Nursalim (082010101003) (082010101004) (082010101006) (082010101007) (082010101008) (082010101009) (082010101010) (082010101011) (082010101012) (082010101015) (082010101016) (082010101075) (082010101079)

3. Bella Mayfanni R. (082010101005) 5. Deliar Ismawadah 6. Anggun Anggraini 7. Bernadetta Christy 8. Dhea Anyssa 9. Icha P. 10. 11. 12. 13. 14. 15. Delina Putri A. Agung Prabowo Falah Gemilang Yudhistira K. Made Ng. Arya

Ayu Budhi trisna (082010101026)

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS JEMBER 2010 SEKENARIO 1 Arah Kencing Ke Bawah

Bu amalia memeriksa putranya yang berusia 1 tahun, Andi, ke seorang dokter. Menurut ibunya, ada yang aneh dengan alat kelamin putranya. Setiap kali Andi kencing, alirannya tidak mengarah ke depan seperti normalnya anak laki-laki lain, tetapi malah mengarah ke bawah. Setelah diamati ternyata lubang kencingnya memang ada di bagian bawah penisnya. Dokter tersebut menyarankan Andi untuk memeriksa lebih lanjut ke dokter bedah agar dapat diketahui apakah ada kelainan lain selain itu. Ternyata dari pemeriksaan radiografi ditemukan bentuk ginjal yang tidak normal. KEY WORD
• •

Andi, 1 tahun Ada yang aneh dengan alat kelamin Andi Kencing mengarah kebawah Lubang kencingnya ada di bawah penisnya Dirujuk ke dokter bedah. Pmx Radiologi : bentuk ginjal yang abnormal

• • • •

GINJAL URETER

ANATO MI

VESIKA URUNARIA URETRA PENIS

PEXTIC PYOROMI PRIAFISMUS TORSIO TESTIS VARIKOKEL HIDROKEL SPERMATOK EL MALDESENS US TESTIS RETRAKTIL TESTIS FIMOSIS PARAFIMOSIS

EKSTROFIA URAKUS PERSISTEN STENOSIS EPISPADIA HIPOSPADIA URETRA BERKATUP MIELODISPLASI A
URETRA &

FIMOSIS PARAFIMOSIS
URETER

NERFOUROL OGI

BASIC KNOWLEDGE

FISTULA

PEMBAHASAN
EKTOPIK DUPLIKASI PELVIS URETOROKEL MEGAURETER POLIKISTIK EKTOPIK AGENESIS DISGENESIS HORSE SHOE
GINJAL

&

GI PROSEDU

DIAGNOS

FISIOLO

FISIOLO

HISTOL

PATOLOGI

OGI

TIK

GI

R

ALDOSTERON KESEIMBANGAN ASAM

REGULASI NEURAL &

GINJAL

URETER

URETRA

HORMONAL FUNGSI GINJAL

BASA KESEIMBANGAN AIR DAN

VESIKA URUNARIA

PEMBENTUKAN URIN

RENIN ANGIOTENSIN

PENIS

URINARIA, VESIKA

ELEKTROLIT

facies anterior 2. XI – VL. retroperitoneal. Polus cranialis : Tertutup gld. XII – VL. Psoas mayor. margo medialis 5. Suprarenalis 2.V Renalis 2. Quadratus lumborum. III Sumbu kedua ren ke arah latero caudal sejajar dengan sumbu m. Stuktur dalam hilus renalis : 1.A. inferiornya berhubungan langsung dengan flexura coli dextra dan pars descendens duodeni. Hilus merupakan pintu masuk ke dalam suatu rongga (sinus renalis). facies posterior 3. Transversus abdominis 3. M. . I). polus caudalis Margo lateralis conveks ke lateral sednagkan margo medialis konkaf ke medial dan ditengah – tengahnya terdapat hilus renalis (setinggi VL.bagian ren dan permukaannya : 1. II Ren kanan terletak : VT. Ren kiri terletak : setinggi VT . ke arah inferior medial berhubungan dengan intestinum tenue. Facies anterior :  Ren dextra : dua pertiga bagian cranial berhubungan dengan facies posterior lobus hepar dextra. polus cranialis 6. ANATOMI 1. dan apeneurosis M.GINJAL Ginjal terletak di bagian possterior dari cavum adomen di lateral dari columna vertebralis. pembuluh saraf dan limfe Hubungan anatomi ren dengan organ sekitarnya : 1. Psoas mayor Bagian. Facies posterior : impresario dari m. Pelvis renalis 3. margo lateralis 4. Bentuknya sepeti kacang koro berwarna merah coklat. A.

Fascia Ren Fascia praerenalis dan fascia Retrorenalis 2. Tiap piramida mempunyai basis yang menjurus ke arah corteks dan apexnya bermuara ke dalam calyx minor. Saluran yang terletak dalam corteks :  Capsula bowmn  TC I . Sebagian besar facies anterior berhubungan dengan jejunum proximal. Adanya kesatuan fungsional dari ginjal yang terdiri dari :  Capsula Bowman dan glomerulus  Tubulus contortus I  Loop of Henle  Tubulus contortus II 2. sehingga menimbulakan tonjolan : Papilla renalis. terletak langsung di bawah capsula fibrosa warna merah coklat berbintik. Medulla Renalis  Letaknya dekat hilus terlihat garis putih-putih oleh karena adanya saluran-saluran yang terletak dalam piramida renalis. Capsula Adiposa Adalah jaringan lemak yang berada antara capsula fibrosa dan fascia renalis (termasuk jaringan lemak perirenal) Struktur Ginjal 1. Ren sinistra : Bagian tengah facies anterior ren sinitra berhubungan langsung dengan corpus dan cauda pancreatis. Disebelah cranialnya ren berhubungan dengan facies posterior gaster. Capsula Fibrosa  Adalah jaringan ikat/ membran yang melekat langsung pada jaringan ren dan menjadi dasar serta atap sinus renalis  Memberikan septa. Corteks renalis  Bagian luar. Nefron 1.septa ke arah fascia renlis sehingga memperkuat fiksasi ren 3. Tepi laterl daerah ini berhubungan dengan colon descendens / flexura coli sinistra Fiksasi Ren : 1.bintik ( Corpusculus renalis)  Capsula bowman adalah permukaan dari salurn ginjal yang meliputi glmerulus 2.

Interlobularis  V. Saluran dalam medulla:  Loop of henle  Duktus koligentes  Duktus bellini (duktus papilaris) Vascularisasi a. Renalis  a. Renalis Aliran Limfe : Menuju lnn. Interlobularis  a. Interlobaris  V. TC II 3. Arcuata  a. Arcuata  V. Recta vera  V. Interlobaris  a. Segmentalis  a. Paraaorta Persyarafan : dari plexus sympatikus renalis ( sifat : vasomotor ) .

URETER .2.

Merupakan organ retroperitoneal.• • • • • Ureter merupakan saluran urine yang mentranspor urin dari ginjal menuju vesica urinaria. Terdiri atas pars abdominalis & pelvina Panjang sekitar 20-30 cm memiliki 3 penyempitan: Perbatasan pelvis renalis . dimana: Pada pria berjalan ventral dari cranial vesicula seminalis & lateral dari ductus deferens.cardinale  1-2 cm lateral cervix uteri & ventral dari batas lateral vagina. • Berbeda antara pria & wanita pada perjalanannya. .ureter Peralihan ureter pars abdominalis ke pars pelvina Saat masuk ke dalam vesica urinaria Penyempitan ini barperan sebagai lokasi stasis atau tersangkutnya batu pada saluran kemih. - Pada wanita berjalan dorsal ovarium  dalam lig.

• Vascularisasi : .Vesicalis inferior • Innervasi: Lower 3 thorax.a. dan 2-4 sacral spinal corda dari renal dan aorta plexus.inferolateralis dan superior di ventrocranial . lumbar 1. 3.a.ovarica (pada wanita) dan a.VESICA URINARIA Terletak dlm cavum pelvis subperitoneal • • Dorsal symphisis ossis pubis Bentuk saat kosong seperti limas sisi tiga dgn bagian: .apex  pertemuan fac.a.collum .renalis .spermatica interna (pada pria) .basis .

U : Trigonum vesicae Mucosa tidak membentuk rugae karena erat dengan lap muskularisnya. Merupakan titik temu antara 2 muara ureter pars pelvina dengan ostium uretra interna - Uvula vesicae tonjolan orificium uretra interna Ruggae vesicaeterbentuk jika V. cervix uteri ● Facies dorsalis : ● 2 facies inferolateralis LAPISAN-LAPISANNYA : tunica serosa.Vesicalis superior A.u penuh  Vascularisasi : - A. externa. lipatan hilang bila V.iliaca interna - Aliran limfe ke illiaca interna. communis dan lnn sacralis .vesicula seminalis dan pd wanita berhub.detrusor tunica mucosa : membentuk rugae vesicae  Fiksasi oleh diaphragma pelvis BAGIAN DALAM V.u kosong.vesicalis inferior Vena ke plexus venosus vesicalis v.MEMILIKI 3 FACIES : ● facies superior  menghadap ventral bentuk segitiga pd pria berhub. tunica muscularis (3 lapisan) disbt mm. Vagina.

pada utriculus terdapat muara ductus ejaculatorius 2. terletak di diafragma urogenitale . yaitu URETRA MASCULINA.3 cm. yaitu: 1. merupakan tempat muara glandula prostat • Pada puncak Krista terdapat cekungan disebut utriculus prostaticus. yaitu : • • Panjang ± 20 cm Dari collum vesica urinaria sampai ostium uretra externum pada gland penis Uretra masculine di bagi menjadi 3 bagian. lalu berlanjut menjadi uretra pars membranacea • Merupakan bagian yang paling lebar dan berdiameter terbesar dari seluruh uretra • Terdapat crista uretralis. Uretra pars membranacea • Panjang ± 1. merupakan peninggian posterior dinding longitudinal • Setiap crista terdapat sinus prostaticus. Uretra pars prostatica • Panjang ± 3 cm berasal dari collum vesicae • Berjalan dari basis prostate sampai ke apex prostate.4.URETRA Perbedaaan uretra masculine dan uretra feminine.

• Dikelilingi musculus sphincter uretra. yaitu: o Pars Prostatica    Tempat bermuaranya ductus ejaculatorius Terdapat m.sphincter uretrae internum (bekerja involunter) Innervasi: plexus prostat o Pars Membranacea     Terdapat m.sphincter uretrae externum (bekerja volunter) Berjalan pada ruang kosong antara prostat dan bulbus penis Paling mudah rupture Innervasi: plexus pelvis o Pars Cavernosa   Terletak dalam corpus spongiosum penis Lumen uretrae melebar pada bulbus (fossa intrabulbaris) & fossa navicularis .PENIS Panjang sekitar 20 cm Terdiri atas 3 bagian.5 cm distal dari clitoris Terdapat ductus glandula parauretralis yang dapat dilebarkan dengan mudah 5. yaitu : • • Panjang ± 3. innervasi ramus perinelis nervus pudendus • Kebawah uretra pars membranacea melanjutkan diri sebagai uretra pars spongiosa • Bagian uretra yang paling pendek dan paling tidak dapat dilebarkan 3. Uretra pars spongiosa • Panjang ± 15. origo di arcus pubicus.8 cm terbentang dari collum vesica urinary sampai ostium uretra externum bermuara vestibulum 2.75 cm dibungkus bulbus dan corpus spongiosa penis URETRA FEMININA. insersio uretra.

masuk dan keluarnya pembuluh darah dan pembuluh limfe. HISTOLOGI 1.pudenda interna Aliran limfe ke lnn.illiaca interna. a. yaitu: .GINJAL Berbentuk seperti kacang dan mempunyai bagian cekung yang disebut hilus yang merupakan tempat masuknya saraf.hemoroidalis media. a. illiaca externa dan inguinalis Untuk innervasi juga terdapat nervus cavernosa yang bersifat simpatik  untuk kontraksi preprostatik sfingter selama ejakulasi dan mencegah refluks ejakulasi ke vesika urinaria. Ginjal dapat dibagi menjadi 2 bagian. B. serta tempat keluar nya ureter.urethralis Vena ke plexus vesicopudendalis & V.bulbus penis & a.vesicalis caudalis.- Vascularisasi : a.

glomerulus.1. Medula Terdiri dari bentukan seperti kerucut atau piramid. capsula bowman. Setiap nefron terdiri atas bagian yang melebar yakni. . segmen tebal dan tipis ansa henle. Cortex a. Interlobularis b. Mikros: 2. TC2. dan tubulus serta ductus coligentes. V. Setiap ginjal terdiri atas 1-4 juta nefron. yang disebut medullary pyramid. TC1. Makros: • • • • • • • • • • • Renal corpuscle Medullary rays Labyrinth Capsula Bowman Glomerulus TC1 TC2 Macula densa Urinary pole Vascular pole A.

Bentuk selnya seperti bintang (stellate) dan mirip pericyte. Lobulus Glomerolus: terdiri dari 1 kelompok jalianan kapiler yang berasal dari satu cabang utama vas afferens. Juksta – Glomerular Cell (J. Mesangial Cell Disebut juga Stalk cell atau intercapillary cell karena letaknya diantara kapiler glomerolus.A. Glomerulus Merupakan suatu massa jalinan (gelungan) kapiler yang terdiri dari Vas Afferenss (afferen arteriole) dan Vas Efferens (efferens arteriole). Fungsi sel ini adalah: • Penyangga kapiler Phagocytosit Membuang protein besar dari lamina basalis kapiler Menurunkan aliran darah glomerolus (dengan rangsangan angiotensin) Dapat mengadakan mitosis bila diperlukan • • • • C.G cell) Merupakan modifikasi dari otot polos afferens arteriole yang kemudian berubah sifat menyerupai epitel (epiteloid). B. .

Ciri-cirinya: • • • • H. E. Sel ini berfungsi membentuk Erythropoietin yang bisa merangsang pembentukan erytrosit dalam sumsum tulang. dan jumlahnya hanya sedikit Mempunyai mikro-villi yang disebut Brush-border G. macula densa dan Lacis (Polkissen). selanjutnya berakhir dekat medullary –rays. Ciri-cirinya: • • • • • Bentuk selnya berupa pyramid terpancung (kubis) Batas sel nya tidak jelas Sitoplasmanya banyak dan bersifat acidofilik Inti sel besar.C I Sitoplasmanya pucat Jumlah intinya banyak dan tidak punya brush-border Berupa sel yang tersusun rapat sehingga pada sediaan tampak sebagai deretan inti yang sangat berdekatan dan tampak gelap. II dan berfungsi membentuk Renin. menuju medulla. . D. Merupakan saluran pendek yang berlekuk-lekuk.Terletak di dekat macula densa yang merupakan awal dari T. pucat. Juksta-Glomerular Apparatus: (complex) Dibentuk oleh 3 macam struktur yaitu: Juxta-glomerular cell. diantara afferens dan efferens arteriole. Tubulus Contortus Distalis (TC2) Terdapat di dalam cortex ginjal dan berawal dari macula densa.C. Extra-Glomerular Mesangial Cell (Lacis/Polkissen) Terletak di dekat Juxta-glomerular cell. kemudian masuk ke dalam collecting tubule (ductus colligentes). kemudian berbalik masuk daerah medullary rays sebagai Henle tebal descending. F. Makula Densa Merupakan epitel selapis kubis Batas sel juga tidak jelas seperti T. Tubulus Contortus Proximal (TC1) Berawal dari Urinary-pole. Saluran ini merupakan bagian dari nephron yang terpanjang dna terlebar dan membentuk massa utama cortex. Merupakan saluran yang berkelok-kelok menuju permukaan ginjal.

1. Bagian cortex yang terdapat di antara medullary piramyd disebut Columna Renalis Bertini (Renal Column). Bagian Medula Medulla terdiri dari bentukan-bentukan berbentuk segitiga yang disebut Medullary Pyramid (pyramid ginjal). Bagian basis mempunyai batas yang tak jelas karena adanya tonjolan medullary-Rays (processus Ferreini). Loop of Henle (Ansa Henle) Terdiri dari 3 bagian: a. Bagian ini mempunyai lubang-lubang yang disebut Area Cribosa.C II) Letak struktur ini berdekatan dengan: • • • Afferens dan efferens arteriol Juxta-glomerular cell Lacis (Polkissen) cell atau extra glomerular mesangial cell Sedangkan fungsi dari macula densa ini belum jelas.Merupakan perbatasan antara Henle tebal ascending dengan Tubulus contortus (T. bedanya: a) Selnya lebih rendah b) Mitokondrianya lebih sedikit dan kecil-kecil . Bentukan-bentukan ini tampak pucat dan bergaris-garis sejajar karena gambaran tubulus dan pembuluh darah yang terpotong membujur. Bagian Apex disebut Papilla Renalis yang bermuara ke dalam Calyxminor. Henle tebal descending (bagian lurus TC 1) Sel nya mirip dengan sel pada TC 1.

2. Henle tebal ascending (Bagian lurus TC 2) Saluran ini berjalan menuju cortex mendekati renal corpuscle asalnya. lengkung dan ascending. Tidak mempunyai brush border. Lokasinya pada inner stripe medulla. kemudian berakhir pada daerah vascular pole (diantara vas afferens dan vas efferens) dengan membentuk Macula Densa (densa spot) selanjutnya menjadi TC 2 Terdiri dari epitel selapis kubis yang mirip dengan TC 2 dimana batas selnya tidak jelas. . Henle tipis Ada 2 macam henle tipis: a) Henle tipis dari short nephron Saluran ini sangat pendek dan terletak pada bagian yang descending. Collecting Tubule (ductus colligentes) Saluran ini tidak termasuk bagian dari nephron. Lokasinya sampai inner zone medulla. Terdapat dalam medullary rays dan menjulur sampai medulla dimana kemudian dia membentuk Papillary Duct Of Bellini yang bermuara ke dalam Calyx Minor sebagai Area Cribosa. Terdiri dari epitel selapis kubis rendah sampai silindris dengan batas sel yang sangat jelas dan sitoplasmanya pucat. Terdiri dari epitel selapis pipih sehingga mirip dengan kapiler. b)Henle tipis dari long-nephron Saluran ini panjang sehingga meliputi bagian dari descending. Bedanya dengan kapiler: . kemudian berbalik menuju outer zone.Epitel lebih tebal dengan inti yang lebih menonjol dan inti saling berdekatan . Hanya saja sel pada saluran ini lebih pendek dengan inti menojol ke lumen.c) Mikrovilinya lebih sedikitFungsinya sama dengan TC 1 yaitu reabsorbsi air dan NaCl b.Sitoplasmanya kurang acidofilik -Mempunyai mikrovili tapi hanya sedikit dan pendek-pendek c.

basal lamina dan lamina propria . Dindingnya terdiri dari 3 lapis : a) b) Lapisan mukosa Lapisan muskularis Terdiri dari epitel peralihan (4-6 lapis sel). Bentuk lumennya seperti bintang karena lipatan-lipatan longitudinal akibat dari lamina propria yang kendor dan adanya jaringan elastik serta otot polos.Ductus Coligentes 2.URETER Merupakan saluran penghubung ginjal dan Vesica Urinaria.

Lamina propria relatif tebal. otot sirkuler dan otot longitudinal luar c) Lapisan adventita 3.Terdiri dari otot polos yang tebal. lapisan eksternanya tebal dan submukosanya berlipat pada saat kosong b) Lapisan muskularis Terdiri dari 3 lapis otot polos. Dalam keadaan kosong ketebalan epitel mencapai 6-8 lapis. bila terisi terdiri dari 2-3 lapis Muskularis mukosa terdiri dari otot polos yang terputus-putus. muskularis mukosa dan lamina propria. Terbagi menjadi 3 lapisan yaitu otot longitudinal dalam. dimana pada bagian tengah yang arahnya sirkuler merupakan lapisan yang paling tebal terutama pada daerah spinchter c) Lapisan adventitia Terdiri dari jaringan ikat fibro-elastis dan pada bagian superior ditutup lapisan peritoneum .VESICA URINARIA Mempunyai 3 lapis dinding : a) Lapisan mukosa Terdiri dari epitel peralihan.

yang dilapisi oleh epitel gepeng berlapis dan memiliki area dengan pipih silindris bertingkat.4. . Kelanjutan mucosa uretra. Bagian tengah uretra dikelilingi sfingter lurik volunteer eksterna. terdri dari. Epitel = uretra dan terletak di lamina propria. Bentuk kelenjar tubular bercabang.URETRA Uretra merupakan suatu tabung yang di lalui urine dari vesika urinaria ke luar tubuh. Uretra wanita : Lebih pendek kira-kira 4-5 cm. Uretra pada pria berbeda sama uretra pada wanita. Di sepanjang uretra banyak dijumpai Kelenjar Littre. : – • • • Pars prostatika : 3 – 4 cm Mulai orificium uretra internum Menembus prostat Bermuara : 2 ductus ejakulatorius Ductus kelenjar prostat • • Epitel : transitionil Muscularis : 2 Lapis ( dalam longit – luar circ ) – • Pars membranosa : 1 cm Mulai apex prostat  menembus membrana perineal sampai bulbus cavernosus uretra • Epitel : stratified columnar/ pseudo stratified columnar Pars cavernosa( pars spongiosa ) – Kebanyakan berupa epitel bertingkat silindris dengan daerah epitel gepeng dan berlapis. Kelenjar Littre ini merupakan kelenjar mukosa yang kebanyakan di pars cavernosum. Pada pria : Panjang 15 – 20 cm.

Reabsorpsi 3. Korpus kavenosum uretra melebar di bagian ujung. yang mempengaruhi a.PENIS Komponen utama penis adalah tiga masa silindris dari jaringan erektil dan uretra. Kelenjar sebacea terdapat di lipatan dalam dan di kulit yang menutupi glans. Jaringan ini mengandung sejumlah besar lumen vena yang dilapisi sel-sel endotel utuh dan dipisahkan oleh trabekula yang terdiri atas serat jaringan ikat dan sel otot polos. Korpra karvenosa dibungku oleh lapisan jaringan ikat padat kuat. Neural (otonom). yang mengelilingi uretra. Yang lain terletak di ventral dan disebut korpus karvenosum uretra. Kelenjar Littre penyekresi lendir terdapat di sepanjang uretra penis. yang terbungkus kulit. atau korpus spongiosum. Prepusium merupakan lipatan kulit retraktil yang mengandung jaringan ikat dengan otot polos di bagian dalamnya. C. yang juga mempengaruhi a. yang membentuk glans penis.FISIOLOGI 1.REGULASI : NEURAL DAN HORMONAL Kontrol pada ginjal terdiri dari : 1. Filtrasi b. Reabsorbsi 2. Filtrasi  Epinephrine. Filtrasi b. Korpora karvenosa penis dan uretra terdiri atas jaringan erektil.5. Hormon dan Aukaroid a. yaitu tunika albugenia. Norepinephrine. Dua diantara silinder-silinder ini (korpus karvenosum penis) treletak di dorsal. namun epitel ini berubah menjadi epitel berlapis gepeng di glans penis. Sebagian besar uretra peni dilapisi oleh epitel bertingkat silindris.endotelin . Hormonal dan aukaroid. Autoregulasi PENJELASAN : 1.

• • untuk meminimalkan kehilangan darah Konstriksi asteriol aferen dan eferen => menurunkan GFR  Angiotensin II • Konstriksi erteriol aferen yang akan menurunkan aliran di kapiler peritubulus (reabsorpsi Na dan air meningkat) serta meningkatkan Phidros glomerulus • • • Terjai pada penurunan tekanan darah yang menurunkan GFR  Oksida nitrit Mencegah hipokonstriksi => ekskresi air dan Na normal  PGE2 dan bradikinin Mengurangi efek konstriktor ginjal dari angiotensin II b. Reabsorpsi  Aldosteron • • • Pada sel prinsipal ductus colingentes kortikalis Meningkatkan reabsorpsi Na dan air Meninhkatkan sekresi K  Angiotensin II • • •  ADH • •  PNA Pada tubulus distal atau ductus colingentes Meningkatkan reabsorpsi air Di tubulus proksimal Meningkatkan reabsorpsi Na dan H20 Meningkatkan sekresi H .

Reabsorpsi  Konstriksi arteriol aferen dan eferen => menurunkan GFR • • Menurunkan ekskresi Na dan air Meningkatkan absorpsi Na di tubulus proksimal dan segmen tebal ascendens  Aktivasi RAA 3. Filtrasi  Kuat • • • • Konstriksi arteriol renal Aliran darah ginjal menurun GFR menurun bukan peran utama  Sedang Hanya mempunyai efek yang sedikit b. Sistem saraf otonom (simpatis) a.•  PTH • • Tubulus distal atau ductus colingentes => menurunkan reabsorpsi NaCl Tubulus proksimal. . segmen tebal ascendens. tubulus distal Menurunkan reabsorpsi PO4 => meningkatkan reabsorpsi Ca+2 2. Autoregulasi Fungsi : Mencegah perubahan drastis pada GFR Tekanan arteri menurun => Phidrostatik menurun => GFR menurun => NaCl di makula densa menurun sementara reabsorpsi NaCl proksimal meningkat => activasi renin dan penurunan tahanan arteriolar aferen.

2. asam urat dan kreatinin) Bekerja sebagai jalur ekskretori untuk sebagian besar obat • • • • • Fungsi Nonekskresi Menyintesis dan mengaktifkan hormone : • Renin : penting dalam pengaturan tekanan darah • Eritropoetin : merangsang produksi sel darah merah oleh sumsum tulang •1.PEMBENTUKAN URIN o Filtrasi glomerolus . dan melindungi dari kerusakan iskemik ginjal •Degradasi hormone polipeptida 3. bekerja secara local.4 dengan mengeluarkan kelebihan H= dan membentuk kembali HCO3Mengeksresikan produk akhir nitrogen dari metabolisme protein (terutama urea.25-dihidroksi vitamin D3 : hidroksilasi akhir vitamin D3 menjadi bentuk yang paling kuat •Prostaglandin : sebagian besar adalah vasodilator.FUNGSI GINJAL Fungsi Ekskresi • Mempertahankan osmolalitas plasma sekitar 285 mOsmol dengan mengubah-ubah eksresi air Mempertahankan volume ECF dan tekanan darah dengan mengubah-ubah ekskresi Na+ Mempertahankan konsentrasi plasma masing-masing elektrolit individu dalam rentang normal Mempertahankan pH plasma sekitar 7.

bebas elemen seluler. bebas RBC. bebas molekul dengan muatan negative )  tubulus  reabsorpsi  sekresi  ekskresi .o o Reabsorpsi  dari tubulus ke darah Sekresi  dari darah ke tubulus  Kecepatan ekskresi urine = laju filtrasi – laju reabsorpsi + laju sekresi  Darah  glomerolus  kapsul bowman  filtrate ( bebas protein.

Difiltrasi dengan disekresi  Membrane kapiler glomerolus lebih tebal Komposisi Filtrat Glomerulus : air dan bahan-bahan lain seperti natrium. Cl. yaitu . Difiltrasi dengan direabsorpsi sebagian  Na.A. glukosa. inulin. 100 % di ekskresi ( hanya difiltrasi )  kreatinin. kecuali protein dan sel darah merah. glukosa D. albumin. Membran kapiler glomerulus : terdiri dari tiga lapisan (dari dalam ke luar).Membran basalis. terdiri dari kolagen dan fibril proteoglikan . urea. asam amino. HCO3 C. garam asam urat B. mioglobin. asam urat. 100% tidak di ekskresi ( difiltrasi dengan direabsorpsi total )  asam amino.Membrane endotel yang terdiri dari ribuan fenestrate .

Epitel dengan tonjolan seperti kaki panjang (podosit) dengan celah namanya slit pores Semua lapisan membran kapiler glomerulus sama-sama membentuk sawar filtrasi tapi membran dasar atau membran basalis yang merupakan sawar bagi protein plasma karena muatan listrik negatif kuat yang berkaitan dengan proteoglikan. maka kemampuan filtrasi menurun hingga mendekati nol. Berat Molekul.000).  Jika suatu molekul memiliki berat molekul mendekati berat molekul albumin ( 69. Muatan Molekul. Kemampuan filtrasi zat terlarut tergantung dari dua hal yaitu: 1.. Semakin negatif maka semakin sukar untuk lewat. 2.  GFR (180 liter / hari = 125 ml / menit) naik  Volume urine naik  Keuntungan GFR tinggi o Ginjal mampu menyingkirkan produk buangan dari tubuh dengan cepat o Semua cairan dapat difiltrasi dan diproses oleh ginjal sepanjang waktu tiap hari o Mengatur volume dan komponen cairan tubuh dengan cepat dan tepat  GFR ditentukan oleh : o Keseimbangan kekuatan osmotic koloid dan hidrostatik lintas membrane kapiler . Semakin berat dan besar molekul maka semakin sulit untuk lewat atau terfiltrasi. Sukar lewat karena muatan negatif dan tolakan elektrostatiknya didesak oleh muatan negatif proteoglikan membran dasar.

o Koefisien filtrasi ( Kf )  hasil permeabilitas dan daerah permukaan filtrasi kapiler  GFR = Kf x Tekanan filtrasi akhir Tekanan filtrasi akhir = tekanan hidrostatik glomerolus ( 60 mmHg ) – Tekanan kapsula bowman ( 18 mmHg ) – Tekanan osmotic / onkotik koloid glomerolus ( 32 mmHg ) = 10 mmHg  Yang mempengaruhi GFR : o Kf naik  GFR naik .

Rumus dari aliran darah ginjal adalah  Aliran darah dalam vasa rekta medulla renal < daripada aliran dalam korteks renal kapiler glomerolus. o Hormone . membuang produk buangan. perdarahan hebat. autokoid ( zat vasoaktif dalam ginjal yang bekerja local di ginjal ). konduktivitas hidrolik ginjal )  GFR turun ( merusak. tahanan arteriol eferen   Tekanan arteri naik. rekasi pertahanan. Hal ini dipengaruhi oleh simpatis. ketebalan membrane kapiler glomerolus. GFR naik Tahanan arteriol aferen naik. GFR naik • Kronis ( jika konstriksi arteriol eferen > 3X kenaikan tahanan arteriol eferen )  tekanan osmotic koloid naik  kekuatan akhir filtrasi turun  GFR turun  Aliran darah ginjal digunakan untuk nutrisi. dan kontrol umpan balik dalam ginjal (intrinsic).o Kf turun ( saat ada penyakit yang menurunkan fungsi. tahanan arteriol aferen. tekanan hidrostatik glomerolus naik. tekanan hidrostatik glomerolus turun. GFR turun o Tekanan hidrostatik glomerolus naik. iskemia otak. parah. GFR turun o Tekanan osmotic / onkotik koloid glomerolus naik. menghancurkan ginjal ) o Tekanan hidrostatik kapsula bowman naik. dan untuk filtrasi. GFR turun   Tahanan arteriol eferen naik : Akut  tekanan hidrostatik glomerolus naik. o  GFR ditentukan oleh tekanan hidrostatik glomerolus dan tekanan osmotic koloid Simpatis naik  konstriksi arteriol renal  aliran darah ginjal turun  GFR turun Hal di atas terjadi selama gangguan akut. GFR naik  Ditentukan oleh : Tekanan arteri. hormone.

 Norepinefrin / epinefrin ( dari medulla adrenal )  konstriksi arteriol  GFR turun  Endotelin ( peptide yang dilepas saat sel endotel vascular ginjal / jaringan lain rusak ) Pembuluh darah terluka  endotel rusak  endotelin keluar  vasokonstriksi  bantu homeostasis  kehilangan darah turun  GFR turun Angiotensin II ( dibentuk dalam ginjal dan sirkulasi sistemik ) Tekanan arteri turun / volume turun  angiotensin II naik  konstriksi arteriol eferen  cegah GFR turun  reabsorpsi Na + air naik Oksida nitrit dari endotel  cegah vasokonstriksi berlebihan  memudahkan ren untuk ekskresi Na + air Prostaglandin ( PGE2 / PGI2 ) + bradikinin ( efek utamanya pada arteriol aferen )  vasodilatasi GFR naik     Autoregulasi o  untuk petahankan GFR  kontrol ekskresi air + zat terlarut o Menyediakan aliran darah lebih tinggi daripada yang dibutuhkan o Mencegah perubahan yang besar pada GFR o Menaikkan reabsorpsi saat GFR naik ( keseimbangan glomerolus ) o Perubahan tekanan arteri ( naik ) menyebabkan efek ekskresi air ( diuresis tekanan ) dan efek ekskresi Na ( natriuresis tekanan ) yang berlangsung parallel .

brush border. saluran basal luas yang menyediakan energi dan luas permukaan yang tinggi . TC II. meliputi TC I. labirin intraseluler. sedangkan reabsorpsi tubulus sangat selektif  Tubulus proximal reabsorpsi tubulus hingga 65 % dari reabsorpsi total karena banyak mengandung mitokondria. tubulus collegentes. duktus collegentes  Filtrasi + reabsorpsi > sekresi ( banyak zatnya )  Filtrasi glomerolus tidak selektif kecuali pada protein plasma dan zat yang terikat pada protein. Filtrate glomerolus masuk ke tubulus ginjal. ansa henle.

hanya reabsorpsi zat terlarut  Tubulus distal  segmen pengencer Reabsorpsi Na. o Bagian tipis baik descenden maupun ascenden memiliki sedikit mitokondria dan tidak memiliki brush border o o Tipis descenden  20 %  air direabsorpsi Tebal ascenden  25 %  impermeable terhadap air. Ansa henle o Terdiri dari bagian tipis descenden. K. impermeable terhadap air + ureum  Tubulus distal bagian akhir dan tubulus collegentes kortikalis o Impermeable terhadap ureum o Terdiri dari sel prinsipalis dan sel intercalated  berperan dalam regulasi asam basa  Duktus collegentes medulla o ADH mulai bekerja di segmen ini o Reabsorpsi ureum o o 10 %  reabsorpsi Na + air Sekresi ion hydrogen  regulasi asam basa . Cl. tipis ascenden. dan tebal ascenden.

.

 Aliran masuk naik  muatan tubulus naik  kecuali reabsorpsi naik  keseimbangan glomerolus  Reabsorpsi tubulus dipengaruhi hormon dan saraf o Hormon o Saraf  simpatis  Simpatis  konstriksi arteriol  GFR turun  reabsorpsi Na di TC I. tebal ascenden ansa henle naik  pipis sedikit. pekat . pekat  Simpatis  renin + angiotensin II naik  reabsorpsi naik + sekresi turun  pipis sedikit.

ditentukan oleh :     Transport aktif Na. Cl keluar tebal ascenden ansa henle Transport aktif ion dari ductus collegentes Difusi pasif urea dari medulla ductus collegentes Difusi air dari tubulus medulla < reabsorpsi zat terlarut ke dalam interstisium medulla  Resirkulasi ureum  bantu membuat hiperosmotik medulla renalis  TC II. ductus collegentes  berperan dalam ekskresi urine pekat  karena ADH bekerja di sini Konsentrasi urine  . K. Urine pekat butuh  o ADH yang tinggi o Osmolaritas cairan interstisial medulla yang tinggi pula ( hiperosmotik medulla renalis ).

 Pengonsentrasian urine  Pengaturan sekresi ADH o Jika ADH tinggi  mekanisme haus teraktivasi ( selain itu juga diaktivasi oleh kekeringan mulut dan angiotensin II ) .

Sekresi kalium oleh sel prinsipalis dirangsang oleh alkalosis. tekanan arteri sistemik turun  Kalium direabsorpsi di TC I. ductus collegentes. [K+] extracell tinggi. aldosteron tinggi. angiotensin II tersekresi  reabsorpsi naik Regangan baroreseptor arterial turun di sinus karotikus dan arcus aorta  karena volume darah turun. dan laju aliran tubulus naik. ascenden ansa henle dan sekresinya di TC II.  Kalsium . aldosteron. Simpatis o Konstriksi arteriol  GFR turun  reabsorpsi naik o Reabsorpsi tubulus naik o o Rennin.

Mekanisme pengaktifan sistem renin-angiotensin-aldosteron terjadi apabila terdapat keadaan hipotensi atau hipovolemia. .4. Peningkatan tekanan darah akhirnya juga meningkatkan laju perfusi ginjal. Renin kemudian diubah menjadi Angiotensin 1 dan Angiotensin 1 diubah menjadi Angiotensin II oleh Angiotensin Converting Enzym (ACE). Sistem ini berhubungan dengn aparatus jukstaglomerulus (JGA) yang terdiri dari 3 macam sel. juga menyebabkan vasokonstriksi perifer. serta peningkatan volume ECF. Akibat efek Angiotensin II tersebut. menyebabkan peningkatan tekanan darah. peningkatan laju reabsorpsi Na dan air. yang mana keadaan tersebut mempengaruhi laju perfusi ginjal (hipoperfusi ginjal). Hipoperfusi ginjal menyebabkan penurunan tekanan perfusi ginjal dalam arteriol aferen dan menurunnya hantaran NaCl ke makula densa di tubulus distal.SISTEM RENIN ANGIOTENSIN ALDOSTERON (RAA) Sistem renin-angiotensin-aldosteron berperan dalam pengaturan keseimbangan kadar natrium tubuh. makula densa (tubulus distal). dan mesangial ekstraglomerular atau sel lacis. Terbentuknya Angiotensin II merangsang korteks adrenal untuk melepaskan aldosteron. yaitu jukstaglomerulus (JG) atau sel granular (yang memproduksi dan menyimpan renin). Kedua keadaan tersebut merangsang sel JG untuk melepaskan renin. Selain itu.

Hipotensi Hipovolemi Hipoperfusi ginjal Tekanan perfusi ↓ dalam arteriol aferen ↓ Hantaran NaCl ke makula densa Pelepasan renin ↑ Angiotensin I Tonus simpatis ↑ Angiotensin II Aldosteron ↑ Reabsorbsi Na ↑ + H 2O Volume ECF ↑ Vasokonstriksi perifer Tekanan darah ↑ .

Istilah alkalosis adalah kelebihan pengeluaran ion-ion hydrogen dari cairan tubuh . karena carboksil dan gugus amino dalam ikatan peptida tidak dapat berfungsi sebagai buffer.35–7. lithium. sebaliknya penambahan ion –ion hydrogen yang berlebihan disebut asidosis. Protein – protein dalam tubuh juga berfungsi sebagai basa karena beberapa asam amino yang membangun protein dengan muatan akhir negative siap menerima ion –ion hydrogen. Efek ini secara terbatas kepada asam amino bebas dan asam amino terakhir merupakan rantai polipeptida. Sedangakan basa adalah molekul yang dapat menerima ion hydrogen. bagian dasr dari molekul ini bereaksi sangat cepat dengan ion –ion hydrogen untuk menghilangkannya dari larutan dan oleh karena itu merupakan basa – basa yang khas.45 Setiap pergeseran pH akan berakibat sangat berbahaya karena H+ berpengaruh terhadap stabilitas membran sel. Protein buffer system. Mekanisme kontrol pH dipengaruhi oleh tiga buffer mayor dalam tubuh yaitu: 1. struktur protein dan kerja enzim. Demikian juga asam karbonat berionisasi dalam air membentuk ion hydrogen dan ion bikarbonat.KESEIMBANGAN ASAM-BASA Definisi Asam Dan Basa Ion hydrogen adalah proton tunggal bebas yang dilepaskan dari atom hydrogen. Istilah basa sering disebut dengan alkali. Alkali adalah suatu molekul yang terbentuk dari kombinasi satu atau lebih logam alkali – natrium .molekul yang mengandung atom – atom hydrogen yang dapat melepaskan ion – ion hydrogen dalam larutan yang disebut asam.BIOKIMIA 1. Protein Hemoglobin dalam sel darah merah dan protein dalam sel – sel tubuh yang lain merupakan basa – basa tubuh yang paling penting. . Misalnya HCL yang berionisasi dengan air membentuk ion –ion Hidrogen dan ion klorida. Keadaan keasaman dalam tubuh dijaga tetap stabil diantara nilai 7. Buffer ini berkontribusi terhadap keseimbangan pH intraseluler maupun ekstraseluler. Jika kondisi asam atau saat pH turun maka ion karboksilat dan grup amino dapat bertindak sebagai basa lemah dan menerima hidrogen membentuk gugus karboksil (-COOH) dan ion amino(-NH3+).dengan ion yang mendasar sepeti ion hidroksil . kalium .

Ketika semua ion bikarbonat habis maka sistem buffer ini tidakakan berjalan (walaupun hal ini sangat jarang). Penambahan CO2 akan membuat reaksi bergeser ke kanan yang akan nantinya akan membuat H2CO2 berdisosiasi menjadi H+ dan HCO3sehingga pH akan menjadi turun. Sistem buffer phospat Sistem ini hanya sebagai sistem pembantu pada ECF tetapi mempunyai peranan yang penting dalam ICF dan dalam menyetabilkan pH urin. Tetapi buffer ini mempunyai tiga keterbatasan 1. Setiap ion hidrogen yang dilepas dari darah membutuh ion bikarbonat. Sistem ini tidak dapat melindungi perubahan pH ECF akibat kenaikan atau penurunan kadar CO2. 3. Hal tersebut dikarenakan sistem respirasi dibutuhkan untuk membuang CO2 yang dihasilkan. Sistem Buffer asam karbonat dan bikarbonat. Sistem hemoglobin mencegah perubahan drastis pH akibat penurunan atau kenaikan pCO2. . 3.Buffer dalam darah merah mempunyai perkecualian yaitu dengan menggunakan buffer hemoglobin. Peran utama dari sistem ini adalah untuk mencegah perubahan pH akibat dari asam organic dan asam tetap dalam ECF. Kemampuan sistem buffer asam terbatas pada ketersidiaan ion bikarbonat. Sistem ini hanya dapat berfungsi jika sistem respirasi dan pusat kontrol sistem respirasi berjalan normal. 2. 2.

Gangguan Keseimbangan Asam Basa Acid-base imbalance Plasma pH Primary disturbance Compensation

Respiratory acidosis

- low

- increased pCO2

- increased renal net acid excretion with resulting increase in serum bicarbonate

Respiratory alkalosis

- high

- decreased pCO2

- decreased renal net acid excretion with resulting decrease in serum bicarbonate

Metabolic acidosis

- low

- decreased HCO3-

- hyperventilation with resulting low pCO2

Metabolic alkalosis

- high

- increased HCO3-

- hypoventilation with resulting increase in pCO2

Respon Ginjal Terhadap Asidosis dan Alkalosis Acidosis terjadi saat buffer plasma normal tertekan oleh kelebihan ion hidrogen. Saat pH turun akibat produksi asam organik dan volatile maka respon ginjal terbatas pada
1. Sekresi H+

2. Aktifitas buffer pada cairan tubular
3. Pelepasan CO2 4. Dan rearbsorpsi NaHCO3

Ketika terjadi alkalosis maka
1. Jumlah sekresi H+ turun

2. Sel tubulu tidak menggunakan ion bikarbonat dalam cairan tubuler
3. Transport HCO3- ke dalam cairan tubulus saat pelepasan HCl kedalam cairan

peritubular.

2.KESEIMBANGAN AIR DAN ELEKTROLIT
Keseimbangan Air

Keseimbangan cairan dalam tubuh mengarah kepada interaksi cairan ekstra selular dengan lingkungan di luar tubuh tanpa melihat adanya pengaruh elektrolit. Perpindahan cairan tersebut dapat dilihat dalam tabel dibawah ini Keseimbangan Air Sumber Air dalam bentuk makanan Air dalam bentuk liquid Air hasil dari metabolisme Total Metode Eliminasi Urination Evaporasi lewat kulit Evaporasi lewat paru Feses Total

Input Harian (ml) 1000 1200 300 2500 Output Harian (ml) 1200 750 400 150 2500

Kehilangan air secara rutin secara kasar sekitar 2500 ml setiap harinnya melalui urin, feses dan penguapan secara tidak sengaja. Penguapan secara sengaja melalui aktifitas dapat mengakibatkan defisit air secara signifikan karena dapat mencapai sekitar 4 liter air yang hilang. Kenaikan temperatur melalui demam. Demam dapat meningkatkan kehilangan air sekitar 200 ml di atas normal. Intake Air. Intake secara kasar sekitar 2500 ml per hari atau sekitar 40ml/kgBB. Salah satu sumber untuk memenuhi hal tersebut adalah pembentukan air lewat metabolisme. Dalam metabolisme air didapat melalui reaksi fosforilasasi oksidatif dalam mitokondria. Saat sel memecah 1 gram lipid sekitar 1,7 ml air dibuat (0.41ml/g untuk protein dan 0.55ml/g untuk karbohidrat). Melalui cara ini sekitar 12 % kebutuhan tubuh terpenuhi. Kelebihan air dan Kekurangan Air Air dalam tubuh tidak gampang dimonitor dari luar. Tetapi konsentrasi Na+ dalam plasma merupakan indikator yang sangat berguna. Ketika air meningkat dan cukupkuat untuk membuat konsentrasi Na+ dibawah 130 mEq/l maka muncul kondisi hiponatremia. Ketika konsentrasi melebihi 150 mEq/l maka muncul kondisi hipernatremia. Hyponatremia merupakan tanda dari overhidrasi atau kelebihan air. Penyebab dari overhidrasi adalah:

penurunan volume plasma dan tekanan darah yang dapat menyebabka shock pada sistem sirkulasi. kulit berkerut dan kering. Intoksikasi air merupakan hal yang jarang tetapi sangat berbahaya. Kehilangan natrium secara primer di ekskresi melalui urin dan melalui penguapan. Hal tersebut menjadi penting karena • • Konsentrasi elektrolit total berpengaruh kepada keseimbangan cairan Konsentrai elektrolit dapat mempengaruhi fungsi sel. Penatalaksanaan dapat dilakukan dengan diuretik dan pemberian natrium Hypernatremia merupakan tanda dari dehydrasi karena kekurangan air. koma kemudian kematian dapat terjadi. Ion natrium melewati epitel saluran pencernaan melalui difusi dan carrier mediated transport 2. Proses yang cepat halusinasi. . Ketidakmampuan membuang air karena gagal ginjal kronis. Berikut bagan homeostasis regulasi natrium. Uptake ion natrium lewat saluran pencernaan. Penyakit endokrin yang menyebabkan over produksi ADH Kadar natrium yang rendah menyebabkan air berpindah menuju ICF yang berefek utama ke sistem saraf pusat. Mereka mempunyai efek langsung dalam fungsi sel Keseimbangan Natrium di pengaruhi 2 faktor yaitu: 1. Kehilangan air menyebabkan rasa haus. Kontribusi mereka yang besar dalam cairan ekstraseluler dan intraseluler 2. gagal jantung. 3.1. dan cirrhosis. kejang. Keseimbangan Elektrolit Keadaan tubuh berada dalam keseimbangan asam dan basa. Dua kation yang patut diperhatikan adalah Na+ dan K+ karena 1. Ekskresi Ion Natrium pada ginjal dan tempat lain. Penatalaksanaan yang dilakukan adalah dengan pemberian carian hypotonic secara enteral maupun parentral. Ingesti volume yang besar lewat fresh water atau infusion 2.

.

Ion K+ yang terbuang lewat urin biasanya dibatasi oleh jumlah yang diarbsorpsi pada epitel pencernaan yaitu sekitar 50-150 mEq/hari.Keseimbangan Kalium Secara kasar 98% kalium pada tubuh manusia berada dalam ICF. karena pompa ion yang sensitif oleh hormon ini mengrearbsorpsi Na+ dan ditukar oleh K+ dari cairan peritubular. Jumlah ion kalium yang terbuang melalui urin sangat dipengaruhi oleh aldosteron. Sel mencurahkan energinya untuk melindungi ion kalium agar tetap berada di dalam karena mereka berdifusi keluar sitoplasma ke ECF. Perubahan PH. Ratio sekresi K+ merupakan respon dari tiga faktor berikut 1. Perubahan konsentrasi K+ pada ECF. kadar konsentrasi ion kalium di ECF berada dalam keseimbangan karena keseimbangan antara penyerapan pada epitel saluran cerna dan pembungan pada ginjal. Saat PH turun maka PH pada cairan tubular juga turun maka kation yang disekresikan cenderung ke H+ daripada K+ untuk mengganti ion natrium yang hilang. 2. Pembuangan kalium dalam urine diatur oleh pompa ion pada tubulus distal dan kolektivus. . Secara umum semakin besar konsentrasi kalium pada cairan ekstraseluler semakin besar rasio sekresinya. 3. Kadar aldosteron. Sama seperti natrium.

Saat penyerapan natrium berjalan lambat maka sekresi kalium juga berjalan lambat. sebagai kompensasinya ion kalium dalam ECF akan berpindah ke dalam sel untuk mempertahankan PH cairan intra seluler.Aldosteron dipengaruhi oleh angitensin II sebagai bagian dari pengontrol volume darah. Sekresi aldosteron akan meningkatkan retensi natrium yang berakibat pada peningkatan sekresi kalium 4. Peningkatan PH dalam ECF. Penurunan ion hidrogen dalam ECF akan menyebabkan pelepasan ion hidrogen dalam sel. Kombinasi dari masuknya ion kalium dan penurunan sekresi kalium akan menyebabkan hiperkalemi yang berlangsung sangat cepat dan berbahaya. 3. Hypokalemi Saat konsentrasi potasium turun dibawah 2mEq/l maka suatu kelemahan otot yang parah akan muncul yang kemudian diikuti oleh paralisis. Gagal ginjal. 2. Pemberian diuretik yang menghambat retensi Na+. tetapi kadar K+ yang tinggi juga berpenogaruh langsung terhadap sekresi aldosteron. Hal tersebut dikarenakan volume yang banyak dari urin juga menyebabkan kalium yang terbuang juga bertambah banyak 3. Intake inadekuat K+ yang tidak dapat mengimbangi output dari urin 2. . Saat terjadi penurunan pH maka ginjal cenderung mensekresi H+ dari pada ion kalium. Sekresi aldosteron yang berlebihan. Beberapa diuretik menyebabkan hipokalemi walaupun kadar kalium dalam urine tetap sedikit. Hal tersebut tentu saja membuat kadar kalium plasma akan turun. Gagal ginjal karena trauma maupun penyakit kronis akan menghambat sekrese ion kalium. Faktorfaktor yang mempengaruhinya adalah 1. Hiperkalemi Saat konsentrasi K+ melebihi 8mEq/l maka aritmia yang parah akan timbul. Pemberian diuretik. Penyebab dari hipokalemi meliputi: 1. Penurunan pH ECF.

Hasilnya kemudian dibaca dengan membendingkan dengan kartu daftar warna pada table. uji dipstick . Ujung kertas dicelupkan ke dalam urine. batu. tetapi tidak pada penyakit tubulointerstisial. PROSEDUR DIAGNOSTIK METODE MORFOLOGIK I.D. lalu segera diangkat dan ditiriskan dengan mengetuk-ngetukkan ujung kertas celup tersebut pada tepi tempat penampung urine. Hematuria merupakan gambaran yang mencolokpada glomerulonefritis. trauma dan neoplasma. METODE BIOKIMIA Pemeriksaan Kimia Urine • Proteinuria Normal: <150 mg/hr Uji yang sering digunakan adalah uji dipstick. Tingkatan dipstick 0 Samar 1+ 2+ 3+ 4+ 0-5 5-20 30 100 300 1000 Konsentrasi protein (mg/dl) • Hematuria Hematuria sering ditemukan pada sejumlah penyakit ginjal dan proses patologik traktus urinarius bagian bawah termasuk infeksi.

Cara yang paling teliti untuk mengukur GFR adalah dengan uji bersihan inulin. Kalau kekurangan cairan.040.• Konsentrasi ion hydrogen Pada orang dewasa sehat. Jika minum banyak air. . Dan jika urine mengandung banyak urea. kertas harus segera diangkat setelah dicelupkan ke dalam urine agar reagen dalam kertas tidak tercuci.001. Urine yang terus menerus bersifat asam dapat terjadi pada asidosis metabolic atau respiratorik dan pada pireksia. (3)bendingkan warna dengan warna standar segera di bawah cahaya yang mencukupi. Laju Filtrasi Glomerulus Laju filtrasi glomerulus (GFR) member informasi tentang jumlah jaringan ginjal yang berfungsi. pH 6. pH urine berkisar antara 4.020. Sedangkan urine yang terus menerus bersifat basa menyatakan adanya infeksi pada saluran kemih oleh organism yang menguraikan urea. Selama pengujian. maka berat jenis menjadi jauh lebih besar pada osmolalitas tertentu dibandingkan dengan urine yang normal. tetapi rata-rata specimen urine yang dikumpulkan cukup asam.0. Berat jenis sesungguhnya sesudah koreksi suhu adalah 1. Berat jenis diukur dengan kapasitas pengapungan hydrometer atau urinometer dalam suatu silinder terisi urine. (2) uji dengan kertas celup.0 dengan adanya metabolit-metabolit asam yang dihasilkan oleh proses kerusakan jaringan tubuh normal dan nutrient. orang yang sehat dapat mengekskresi urine dengan berat jenis minimal 1. maka berat jenis maksimal besarnya sekitar 1. Namun.5 sampai 8. maka berat jenis akan lebih rendah. perhatikan: (1) hanya urine segar yang dapat dipakai. Jika urine mengandung glukosa atau protein. uji ini jarang digunakan karena melibatkan proses infuse intravena dengan kecepatan yang konstan dan pengumpulan urine pada saat-saat tertentu dengan kateter. Kadar pH urine dapat diukur melalui kertas Squibb Nitrazine atau uji dipstick. • Berat Jenis Dilakukan untuk menentukan konsentrasi urine.

Kreatinin yang sedikit diekskresi cenderung memperbesar perkiraan nilai GFR. V = volume urine 24 jam. 20 mg/100 ml. GFR turun di bawah nilai normal sebesar 125 ml/menit. kedua zat ini merupakan hasil akhir nitrogen dari metabolism yang normalnya diekskresi dalam . Dengan dosis umum sebesar 6 mg. Pada penyakit ginjal kronik dan beberapa bentuk gagal ginjal akut.• Uji bersihan kreatinin Kreatinin merupakan hasil akhir metabolism otot yang dilepaskan dari otot dengan kecepatan yang hampir konstan dan diekskresi dalam urine dengan kecepatan yang sama. Bila GFR turun. Pcr = kadar kreatinin plasma Ccr merupakan indeks GFR yang cukup baik. kadar kretinin dan BUN plasma meningkat. •Kreatinin plasma dan nitrogen urea darah Konsentrasi kreatinin plasma dan nitrogen urea darah (BUN) juga dapat digunakan sebagai petunjuk GFR. Bersihan kreatinin kemudian dihitung menggunakan rumus: Ccr = Ucr x V Pcr Ucr = kadar kreatinin urine .5 mg/100 ml. maka kadar plasma dari zat warna ini hanya sekitar 1/5 dari kapasitas ekskresi PSP biasanya dibatasi oleh kecepatan pengiriman ke tubulus melalui aliran plasma ginjal dan oleh fungsi tubulus proksimal pada gangguan ginjal yang berat. yang terutama diekskresi ke tubukus proksimal. Daya ikat PSP pada protein plasma sangat tinggi sehingga hanya sekitar 4% saja yang diekskresi oleh filtrasi glomerulus. Uji bersihan kreatinin ini dilakukan dengan mengumpulkan specimen urine 24 jam dan satu specimen darah dalam waktu 24 jam yang sama.7-1. Konsentrasi BUN normal besarnya sekitar urine. Tes Fungsi Tubulus •Tes ekskresi PSP PSP merupakan zat warna tidak beracun. Oleh karena itu kadarnya dalam plasma hampir konstan dan berkisar antara 0. GFR juga menurun seiring bertambahnya usia: sesudah usia 30 tahun. nilai GFR menurun dengan kecepatan sekitar 1ml/menit.

025 atau lebih. Kemampuan pengenceran mungkin terganggu pada pasien insufisiensi adrenal.025 atau lebih.7 dan 8. Sedikitnya salah satu dari ketiga specimen harus punya berat jenis 1. •Tes pengasaman urine Tes ini digunakan untuk mengukur kapasitas maksimal ginjal dalam mengekskresi asam. Oleh karena itu tes ini merupakan cara yang sangat cermat untuk mengukur aliran plasma ginjal yang pada orang dewasa sekitar 600 ml/menit. pasien harus menjalani diet normal dan tidak boleh mendapat diuretic sebelum menjalani tes. Untuk menjamin hasil tes yang lebih tepat.Makna utama tes ini adalah untuk mendeteksi dini gangguan fungsi dalam perjalanan klinis penyakit ginjal. •Tes pemekatan dan pengenceran Fungsi ginjal dianggap normal bila berat jenis specimen urine pagi hari sebesar 1.003 atau kurang. sedangkan kemampuan pemekatan urine menghilang lebih awal. •Tes ekskresi PAH PAH adalah suatu zat yang difiltrasi oleh glomerulus dan disekresi oleh tubulus proksimal. Kemudian specimen urine dikumpulkan selama 3 jam. maka sekitar 92% akan dibersihkan dalam satu sirkulasi melalui ginjal. . penyakit hati dan gagal jantung. dan khusus ditujukan untuk mendiagnosis penyakit asidosis tubulus ginjal. Pasien diinstruksikan untuk makan malam normal jam 6 dan tidak makan atau minum lagi sebelum tes selesai keesokan harinya. Tes pengenceran urine dilakukan dengan menyuruh pasien minum satu liter air dalam jangka waktu 30 menit. Kemampuan mengencerkan urine biasanya menghilang pada penyakit ginjal yang sudah lanjut. Setidaknya salah satu diantara specimen urine tersebut punya berat jenis 1. Specimen urine dikumpulkan esok harinya jam 6. Bila diberi dalam konsentrasi rendah.

dan tidak lebih dari satu atau dua eritrosit dan tiga atau empat leukosit per lapang pandang besar. control urine dikumpulkan selama 2 hari. urine mengandung sedikit sel dan unsure lain yang berasal dari seluruh saluran kemih-kelamin.Pada tes yang berlangsung 5 hari ini. leukosit. II. dan oleh karenanya silinder memiliki nilai diagnostic yang tinggi. Pasien kemudian diberi ammonium klorida (sebanyak 12 g/ hari) selama 3 hari berikutnya.5 ml urine. sehingga mengakibatkan asidosis pada pasien tersebut. bakteri dan silinder. sehingga pH urine tidak dapat direndahkan. Ammonium klorida dimetabolisme menjadi urea dan hydrogen klorida. Dalam keadaan normal ginjal mengekskresi beban asam yang diterimanya dan pH urine berkisar pada 5. hemoglobinuria . •Tes konservasi natrium Tes ini kadang-kadang digunakan untuk menentukan berapa banyaknya natrium yang diperlukan dalam diet pasien nefritis yang kehilangan garam.3 atau kurang. Unsure abnormal yang tersering dalam urine adalah eritosit.pada asidosis tubulus ginjal. Pada orang sehat. METODE MORFOLOGIK Pemeriksaan Mikroskopik Urine Pemeriksaan mikroskopik urine dilakukan pada specimen urine yang baru saja dikumpulkan. gradient ion hydrogen dalam lumen tubulus dan plasma tidak dapat dipertahankan. Hasil Urinalisis Normal dan Abnormal yang Lazim Dijumpai Sifat Tampilan Normal Jernih Abnormal dan Kemungkinannya Keruh:banyak ditemukan eritrosit dan leukosit seperti dalam UTI atau endapan kristal urat atau kristal fosfat Merah atau coklat:hematuria. Semua silinder berasal dari ginjal dan diduga merupakan cetakan tubulus ginjal. kemudian disentrifugasi. endapannya disuspensikan dalam 0.

001-1. nekrosis papilaris.5 diduga terdapat UTI dengan organism yang menghasilkan urea Sebagian besar penyakit ginjal ditandai proteinuria. bau amonia jika specimen didiamkan Relative konstan mendekati 1. glomerulonefritis.5 ketoasidosis.5 g/hr .Warna Kekuning-kuningan Merah:makan buah bit. porfirin dalam porfiria. Ginjal UTI Sindrom nefrotik 5-6. sindrom nefrotik:>3.010 pd gagal ginjal >7. melanin dalam melanoma Oranye:piridium Sedikit berbau Bau Bau tidak enak pd UTI. koagulopati Meningkat pada UTI dan keadaan lain Jumlah berlebihan  peny. batu. bau aseton pd diabet 1. neoplasma. piridium Coklat:ikterus pada sal.035 Berat jenis pH 0 hingga samar Protein <150 mg/hari Negative DM Glukosa Keton Eritrosit 0-4/LPB Leukosit Sel epitel Bakteri Badan lemak 0-5/LPB 0 0 Negative DM 0-2/LPB UTI. Empedu.

serta perhatikan bayangan garis psoas.PEMERIKSAAN RADIOLOGI Foto Polos Abdomen Foto polos abdomen atau KUB (Kidney Ureter Bladder) adalah foto skrining untuk pemeriksaan kelainan-kelainan urologi. Sisi kiri ditandai dengan adanya bayangan gas pada lambung dan sisi kanan oleh bayangan hepar.001 ml urine.000) atau lebih organism/ml specimen urine yang diambil dari urine pancaran tengah menunjukkan bakteriuria bermakna. Ginjal Sistin:aminoasiduria abnormal Pemeriksaan Bakteriologik Urine Menghitung bakteri harus dilakukan melalui inokulasi permukaan lempeng agar nutrient. III. Lempeng agar kemudian diinkubasi selama 24 jam pada suhu 370C dan koloni yang terbentuk kemudian dihitung. ginjal. sacrum. Menurut Blandy. kosta serta sendi sakroiliaka. Soft tissue: perhatikan adanya pembesaran hepar. buli-buli akibat retensi urine atau tumor buli-buli. cara pembacaan foto yang sistematis harus memperhatikan 4S : Side: diperiksa apakah penempatan sisi kiri dan kanan sudah benar. Skeleton: perhatikan tulang-tulang vertebra. menggunakan sengkelit berkaliberasi yang memberikan 0.oval Silinder Kristal 0-1/LPB(hialin) Banyak jenis Peny. . Adakah kelainan bentuk atau perubahan densitas tulang akibat metastasis. Jumlah koloni 105 (100.

Ukuran ginjal dapat ditentukan dengan tepat dan adanya obstruksi dapat diketahui. Sesudah disuntikan. Foto terakhir pada menit ke-45 memperlihatkan kandung kemih. Bedakan dengan kalsifikasi pembuluh darah atau flebolit dan feses yang mengeras atau fekolit. Pada pielonefritis dan iskemia korteks seakanakan termakan oleh ngengat.. lesi dan obstruksi. misalnya bayangan jarum-jarum (susuk) yang terdapat di sekitar paravertebra yang sengaja dipasang atau bayangan klip yang dipasang pada saat operasi untuk menjepit pembuluh darah. . Pengisian yang adekuat dari kaliks akan terevaluasi pada pemeriksaan radiografi menit ke-3 dan ke-5. pelvis. Pada glomerulonefritis korteks tampak menipis. CT Scan berperan penting dalam penetapan stadium neoplasma ginjal dan telah menggantikan IVP dalam kasus trauma ginjal. ureter hingga buli-buli. CT Scan CT Scan menggambarkan secara teliti seluruh system urinarius. Penilaian ultrasonic tidak bergantung pada fungsi ginjal sehingga USG dapat dilakukan pada pasien gagal ginjal berat dengan ginjal yang tidak terlihat pada IVP. memperlihatkan batu pada traktus urinarius yang tidak terlihat dengan radiografi. penilaian cangkok ginjal dan letak ginjal untuk menentukan tempat jarum pada biopsy ginjal perkutan. Selain itu perhatikan adanya bayangan radio-opak yang lain. Kegunaan lain adalah penilaian ginjal unilateral yang tidak dapat dilihat hidronefrosis.Stone: perhatikan bayangan opak dalam system urinaria yaitu mulai dari ginjal. maka setiap menit selama 5 menit pertama dilakukan pengambilan foto untuk memperoleh gambaran korteks ginjal. Media kontras bersirkulasi melalui aliran darah dan jantung menuju ginjal untuk diekskresi. dan ureter  distorsi bila terdapat kista. Pielogram Intravena (IVP) Prosedur yang lazim: foto polos radiografi abdomen yang kemudian dilanjutkan dengan penyuntikan media kontras intravena. Foto lain yang diambil pada menit ke-15 dapat memperlihatkan kaliks. USG Ginjal USG khususnya bermanfaat untuk membedakan tumor padat dengan kista yang mengandung cairan.

Pemeriksaan Mikroskopik Urine Pemeriksaan mikroskopik urine dilakukan pada specimen urine yang baru saja dikumpulkan.MRI MRI menghasilkan gambaran yang lebih rinci bila dibandingkan dengan CT scan. Lempeng agar kemudian diinkubasi selama 24 jam pada suhu 370C dan koloni yang terbentuk kemudian dihitung. leukosit. Jumlah koloni 105 (100.5 ml urine. Pemeriksaan Bakteriologik Urine Menghitung bakteri harus dilakukan melalui inokulasi permukaan lempeng agar nutrient. Unsure abnormal yang tersering dalam urine adalah eritosit. Pada orang sehat. urine mengandung sedikit sel dan unsure lain yang berasal dari seluruh saluran kemih-kelamin. menggunakan sengkelit berkaliberasi yang memberikan 0.001 ml urine. Semua silinder berasal dari ginjal dan diduga merupakan cetakan tubulus ginjal.dan tidak lebih dari satu atau dua eritrosit dan tiga atau empat leukosit per lapang pandang besar. endapannya disuspensikan dalam 0. MRI dapat menggambarkan pembuluh darah ginjal dengan sangat jelas. kemudian disentrifugasi. . dan oleh karenanya silinder memiliki nilai diagnostic yang tinggi. bakteri dan silinder.000) atau lebih organism/ml specimen urine yang diambil dari urine pancaran tengah menunjukkan bakteriuria bermakna.

Manifestasi klinis: Penderita mempunyai masa pinggang bilateral pada saat lahir . Selain kista pada ginjal. Hipoplasia paru dapat menyebabkan kegawatan pernapasan neonatus.gangguan autosom resesif yang jarang ini mungkin tidak terdeteksi sampai sesudah masa bayi. Oligohidramnion dapat mengakibatkan sindrom potter (hidung pesek.hipertensi portal dan kematian karena pecahnya varises esophagus.lipatan epikantus.pada kasus yang berat kista didalam hati dapat dihubungkan dengan sirosis.interstisium dan sisa tubulus dengan perkembangan fibrosis interstisial dan atrofi tubulus dapat menyebabkan gagal ginjal Pada sebagian penderita juga terdapat kista didalam hati . Sedang pielogram akan menunjukan kekeruhan duktus kolektivus yang mengalami dilatasi. dengan pneumotoraks spontan.E.kista juga ditemukan didalam hati Patologi: Kedua ginjal sangat membesar dan secara makroskopis ditemukan banyak sekali kista di seluruh korteks dan medulla.karena janin tidak manghasilkan urin yang cukup. Karena duktus ini berjalan melalui korteks ke medulla dan akan tampak gais-garis radial yang serupa dengan jeruji roda.telinga terletak abnormal rendah. Pemeriksaan mikroskopis menunjukan bahwa kista merupakan dilatasi duktus kolektivus. sebagai akibat kompresi janin dan hipoplasia paru. dagu berceruk.kelainan tungkai).POLIKISTIK GINJAL 2.mencakup menejemen hipertensi yang cermat.ganguan ini dihubungkan dengan oligohidramnion. Pemeriksaan: Manifestasi klinis di dukung denagn ultrasonografi yang menunjkan pembesaran yang nyata dan hiperekogenik ginjal yang seragam . Pengobatan: Pengobatan bersifat suportif. .PATOLOGI GINJAL 1. Penyakit Ginjal Autosomal Resesif Penyakit ini juga dikenal sebagai penyakit polikistik infantile.

Kista ginjal juga dapat mengalami infeksi.biasanya pemeriksaan radiografi dan biopsy ginjal memperkuat diagnosis Pengobatan: Pengobatan bersifat suportif. Manifetasi klinis: Hematuria atau masa pinggang unilateral atau bilateral.Penyakit ini biasanya muncul pada usia dekade ke-4 atau ke-5 dengan hematuria makroskopis atau mikroskopis. Bisa terjadi perdarahan di dalam kista atau daerah perineal. Komplikasi lain: urolitiasis.dialisis dan transplantasi ginjal harus dipertimbangkan. nefrokalsinosis.karena prognosisnya jelek. 3.Prognosis: Anak dengan pembesaran ginjal yang berat dapat meninggal pada masa neonatus karena insufisiensi paru atau ginjal. Penyakit Ginjal Polikistik Autosom Dominan Dikenal juga dengan penyakit polikistik dewasa.mencakup menejemen hipertensi yang cermat Komplikasi Kista yang besar dapat menyumbat sistem pelviokalises atau saluran kemih. . Etilogi: Defek genetic pada suatu lokus pada lengan pendek kromosom 16 Patologi: Pada orang dewasa yang terkena kedua ginjal memebesar dan menampakan kistakista korteks dan medulla yang terutama merupakan pelebaran tubulus.gangguan autosom dominan ini merupakan penyebab gagal ginjal stadium akhir pada orang dewasa . yang engakibatkan rasa nyeri yang sangat pada pasien.dapat terjadi hipertensi Pemeriksaan: Kista seringkali dapat diperlihatkan dengan ultrasonografi pielografi intavena atau scan tomografi komputasi (CT). Sedang anak-anak yang mampu bertahan dapat hidup selama beberapa tahun sebelum terjadi insufisiensi ginjal. Bila terjadi gagal ginjal . Selama masa ini ukuran ginjal mengkerut dan hipertensi menjadi kurang berat. Kelainan yang menyertai dapat meliputi kista hati tanpa arti klinis dan aneurisma pembuluh darah otak yang dapat menyebabkan pendarahan intracranial. bila meluas sampai ke parenkim ginjal. Pada penderita fibrosis hati . sehingga dapat menyebabkan infeksi sistemik.sirosis dapat mengakibatkan hipertensi portal. keganasan.

ginjal ektopik dalam pelvis. Saluran kemih dan genitalia berasal dari kloaka embrional dan sistem eksresi yaitu ginjal dan gonad dari sumber yang sama. . tractus gastrointestinal bawah. inkontenensia kemih. terdapat 1 kasus dari 500 orang. infertilitas. predisposisi infeksi. 4. karena pasien akan jatuh pada kondisi terminal. 10 % dari kasus tersebut kelainannya bilateral. Penyebab terjadinya kelainan embrional tersebut sering tidak diketahui. keganasan. yaitu pro.dan mesonefrons. tractus genitalia atau medulla spinalis dan menings. Insidensnya sampai sekitar satu dari tiga orang di antara penyandang kelainan bawaan. dan yang unilateral biasanya terjadi pada sisi kiri. maupun kandung kemih. misalnya talidomid. letak. ukuran ataupun perputaran dari ginja.Prognosis Prognosis ginjal polikista ini sangat buruk. Perubahan letak ginjal biasanya berupa ginjal ektopik menyilang (cross ectopic kidney). kaliks. obstruksi jalan kemih. dan ginjal ektopik dalam torak. sudah lama juga di kenal sebagai faktor penyebab. Insiden: Insidens dari ginjal ektopik adalah 1: 900. Pada kelainan ginjal tapal kuda 1 kasus dari 400 orang. Tapi kelainan bawaan mungkin juga merupakan keadaan fatal seperti agenesia kedua ginjal. jumlah. Perbandingan untuk laki-laki dan perempuan untuk cross ectopic kidney adalah 6 : 1. Faktor herediter kadang memegang peranan kausal. bentuk.GINJAL EKTOPIK Kelainan bawaan pada saluran urogenital sering ditemukan. dan tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Efek patologi yang mungkin terjadi adalah ganguan faal. Pengaruh radiasi dan infeksi virus seperti rubela dan bahan kimia. ganguan faal seks. Biasanya kelainan ini berhubungan dengan kelainan pada kulumna vertebra. sedangkan untuk tapal kuda 2 : 1. dan ganguan kosmetik. Pada kelainan letak ginjal ektopik menyilang (cross ectopic kidney). ureter. Kadang kelainan bawaan tidak menyebabkan gejala atau tanda . hipertiensi. misalnya agenesia satu ginjal. Menurut Guitrres 40% dari keadaan patologis tersebut di sebabkan oleh berbagai hal seperti .

Tidak diketahui adanya hubungan dengan kelainan sistem non-genitourinaria. Kebanyakan kelainan bawaan disebabkan oleh gangguan penyatuan. rotasi yang berlebihan atau sebaliknya merupakan kelainan yang sering dijumpai. ginjal naik dari tempat asalnya dalam pelvis setinggi vertebra lumbal II. displasia multikistik dan ureterokel ektopik. . Pada rotasi sebaliknya. yaitu kegagalan pemisahan sel nefrogenik dan penyatuan dua blastema yang naik ke abdomen.Etiologi: Ginjal ektopik merupakan kelaina kongenital Patofisiologi Dalam kehidupan janin. Dapat terjadi unilateral atau bilateral. di sebabkan oleh dua hal. Kelainan ini biasa terjadi pada ginjal non-ektopik. Cross ectopic kidney. Ginjal kemudian mengadakan rotasi 90o kedalam sepanjang sumbu longitudinalnya. Kelainan rotasi relatif lebih sering dijumpai. Hilus ginjal mengarah ke medial dan sedikit ke depan. Hilus menghadap ke depan seperti terjadi pada kehidupan janin yang dengan kaliks-kaliks diproyeksikan ke luar dari kedua sisi pelvis pada foto frontal. Kekurangan atau tidak adanya rotasi. fusi atau konfluensi antara saluran embriologi sehingga terjadi ginjal ektopik. Menyatunya ginjal tersebut biasanya berhubungan dengan kelainan ginjal seperti wilms tumor. Secara anatomis ginjal torakal ditandai dengan: • • • • Kelainan rotasi Elongasi uretra Ginjal meninggi Deviasi ginjal bagian bawah ke medial. hidronefrosis. kedua ginjal berputar ke luar dari pelvis renal langsung ke lateral.

Seringkali ginjal yang terletak pelvikal mengalami hipoplasia. Pada pemeriksaan USG memberikan gambaran paremkim ginjal. intravenous pyelogram (IVP). untuk melihat masa ginjal atipik dan kedua ureter. Untuk itu guna mencari keberadaan ginjal pada pelvis diperlukan sintigrafi renal dengan memakai pencitraan CT-scan. untuk mencapai keberadaan ginjal pada pelvis diperlukan sintigrafi renal dengan memakai scan atau MRI. gambaran bayangan terjadi pada aspek longitudinal gambarannya dismorfik disertai bentuk “S” atau sigmoid bayangan di bagian bawah letaknya dibagian medial dan menuju kebagiananterio dari spina. pencitraan CT- . refluks. dan mengalami obstruksi. Pelvic kidney ini sulit dideteksi oleh USG.Petister – Goedek dan Runir mengelompokkan ginjal torakal ke dalam 4 kelompok : . Gambaran Radiologis Cross ectopic kidney tidak terlihat pada foto x-ray. atau voiding cystourethrogram (VCUG). atau MRI. Masa multikistik tampak sebagai gambaran displasia multikistik.Ginjal torakal dengan diafragma tertutup Ginjal torakal dengan relaksasi diafragma Ginjal torakal dengan herniasi diafragma Ginjal torakal dengan ruptur diafragma akibat trauma Diagnosis Pemeriksaannya bisanya ginjal ektopik insiden paling banyak dijumpai adalah pelvic kidney. Oleh kaeran itu. oleh karena itu digunakan foto IVP. Pemeriksaan darah untuk mengetahui fungsi ginjal. 99m Tc-DMSA. Pemeriksaan Penunjang USG. sehingga fungsinya menurun dan sulit dideteksi dengan USG.

untuk membantu (Gamabar .foto toraks posisi PA tampak bayangan masa raioopak berbentuk oval dibagian bawah hemitoraks kiri yang melekat dengan diafragma (7)) . (7) berbentuk oval dibagian dasar dari toraks yang melekat dengan dinding diafragma.(Gambar Cross ectopic kidney pada janin umur 2 bulan disertai kelainan ginjal) Ginjal torakal. pada fotox-ray tampak seperti masa radioopak diagonasa dianjurkan menggunakan CT-Scan.

(Gambar USG abdomen menunjukkan masa jaringan lunak hipoechoic (isthmus) dibagian anterior spina dan aorta yang merupakan bagian bawah dari ginjal(7)) . dan skar korteks. dan kadang tampak pula bayang lain seperti batu. dan pemajangan aksis renalis. malrotasi. hidronefrosis. Tampak pula elongasi bagian bawah . gelumbung udara pada kandung kemih.(Gambar gingal torakal pada CT-scan toraks(7)) Pada USG tampak gambaran isthmus.

hidronefrosis. Kasus ini sangat jarang terjadi Sekitar 1 diantara 1. - Oligohidramnion juga menyebabkan terhentinya perkembangan paru-paru (paru-paru hipoplastik). agenesis ginjal unilateral dijumpai kira-kira pada 1 antara 1000 individu dan agenesis bilateral terjadi pada 1 diantara 3000. Tekanan dari dinding rahim menyebabkan gambaran wajah yang khas (wajah Potter).Diagnosis Banding: Menyatunya ginjal tersebut bianya berhungan dengan kelainan ginjal seperti wilms tumor. maka anggota gerak tubuh menjadi abnormal atau mengalami kontraktur dan terpaku pada posisi abnormal. - Selain itu. karena ruang di dalam rahim sempit. Diagnosa agenesis ginjal ini biasanya ditegakkan secara kebetulan dengan USG. tapi sangat riskan terhadap resiko kerusakan ginjal itu Kelainan ini sering didapatkan pada oligohidramnion yang pada pemeriksaan USG dapat diketahui yang disertai dengan hipoplasia paru-paru dan kelainan Wajah (Sindroma Potter) - Oligohidramnion menyebabkan bayi tidak memiliki bantalan terhadap dinding rahim. 5. - Agenesis ginjal unilateral ataupun bilateral secara embriologis mungkin disebabkan karena kelainan dari tunas ureter yang menginduksi perkembangan jaringan metanefrik.AGENESIS DAN DISGENESIS GINJAL Agenesis ginjal merupakan suatu kelainan kongenital dimana salah satu (unilateral) atau kedua ginjal (Bilateral) tidak terbentuk. displasia multikistik dan ureterokel ektopik. Tidak adanya tunas ureter atau adanya kelainan perkembangan ureter menyebabkan terganggunya perkembangan blastema metanefrik menjadi ginjal dewasa. bisa bertahan hidup. Kasus ini sangat jarang. Kelainan ini biasa terjadi pada ginjal non-ektopik. .500 bayi terlahir hanya dengan satu ginjal dan ginjal ini biasanya lebih besar dari normal Pada agenesis 1 ginjal. IVP atau Scanning.

vas deferens. syndroma Potter (wajahnya aneh). Keadaan ini terjadi karena janin meminum cairan amnion. pneumomediastinum. serta vesikula seminalis. Kelainan duktus mesonefrik unilateral pada saat embrio menyebabkan kelainan tunas ureter dan kelainan saluran reproduksi pria yang sesisi (ipsilateral). kelainan organ reproduksi yang terjadi bersamaan dengan agenesis ginjal adalah uterus bikornua atau unikornua. Insiden kelainan bawaan pada sisten genetalia yang menyertai agenesis ginjal unilateral pada wanita 4 kali lebih sering daripada pria. tidak dijumpai adanya buli – buli atau ereter. • Bilateral Pada kasus agenesis ginjal bilateral. hipoplasia atau tidak adanya tuba atau ovarium.Agenesis Ginjal Unilateral . . Kelainan ini biasanya ditemukan secara kebetulan pada saat pemeriksaan kesehatan rutin/screening. Cacat berat lahir menyertai keadaan ini pada 85% kasus termasuk tidak adanya atau kelainan vagina dan rahim. Janin akan dapat bertahan hidup sampai lahir karena ginjalnya tidak diperlukan untuk pertukaran zat-zat buangan tetapi akan mati beberapa hari setelah lahir. Agenesis ginjal biasanya disertai dengan kelainan organ genetalia pada sisi yang sama. USG. tetapi tidak dapat mengeluarkannya. atresia trachea dan duodenum. hipoplasia paru – paru. Pada wanita. Karena itu jika dijumpai satu vas deferens atau hipoplasia tertis pada satu sisi. patut dicurigai kemungkinan adanya agenesis ginjal unilateral. atau scanning. IVP. pneumothoraks spontanea. dan aplasia atau tidak didaptkannya vagina. sering didapatkan oligohidramnion berat pada kehamilan 14 minggu. Cacat di system lain juga sering ditemui antara lain cacat jantung. labiopalatoskisis dan kelainan otak. kalau pada ginjal pada sisi yang lain (kontra lateral) berfungsi normal. Kelainan ini disebut dengan sindroma Rokitansky-kuster Hauser. hipoplasia uterus.• Unilateral Manifestasi klinis akibat agenesis ginjal unilateral tidak tampak.

Kelainan ini disebut dengan sindroma Rokitansky-kuster Hauser. kelainan organ reproduksi yang terjadi bersamaan dengan agenesis ginjal adalah uterus bikornua atau unikornua. . hipoplasia uterus.Prognosis • Baik bila ginjal pada sisi lain berfungsi dengan normal karena masih bisa menopang beban fisiologi ginjal dgn baek mskipun memang sdikit susah payah tidak seperti pada ginjal yg normalnya terbentuk dengan lengkap Komplikasi • Terjadi kelainan tunas ureter dan kelainan saluran reproduksi pria yang sesisi (ipsilateral). hipoplasia paru – paru. Maka akan dijumpai satu vas deferens atau hipoplasia tertis pada satu sisi • Pada wanita. vas deferens. tidak dijumpai adanya buli – buli atau ereter. dan aplasia atau tidak didaptkannya vagina. atresia trachea dan duodenum. pneumothoraks spontanea. serta vesikula seminalis. Cacat di system lain juga sering ditemui antara lain cacat jantung. labiopalatoskisis dan kelainan otak. syndroma Potter (wajahnya aneh). - Agenesis Ginjal Bilateral Prognosis • Buruk : Janin akan dapat bertahan hidup sampai lahir karena ginjalnya tidak diperlukan untuk pertukaran zat-zat buangan tetapi akan mati beberapa hari setelah lahir Komplikasi • Cacat berat lahir menyertai keadaan ini pada 85% kasus termasuk tidak adanya atau kelainan vagina dan rahim. hipoplasia atau tidak adanya tuba atau ovarium. pneumomediastinum.

dimana ginjal berjalan melewati sudut percabangan yang dibentuk aa. Selama perjalanan naik ginjal berjalan melewati sudut percabangan yang dibentuk arteri umbilikalis tetapi kadang kedua ginjal terdorong demikian dekatnya satu sama lain selama perjalanannya melalui percabangan itu sehingga mereka membentuk suatu istmus yang berupa parenkim ginjal atau jaringan fibrous. Patofisiologi Ginjal yang berasal dari metanerfos biasanya tampak pada minggu ke 5 dan ginjal yang semula terletak di daerah panggul bergeser ke kedudukan yang lebih cranial di rongga perut.HORSE SHOE GINJAL Pengertian Ginjal tapal kuda adalah salah satu kelainan kongenital dimana ginjal menyatu pada bagian bawahnya sehingga bentuknya menyerupai tapal kuda.6.kedua ginjal terdorong demikian dekatnya satu sama lain selama perjalanannya melalui percabangan itu sehingga mereka membentuk suatu istmus yang berupa parenkim ginjal atau jaringan fibrous. kedua sistem ini sangat berhubungan  berasal dari rigi mesoderm ( mesoderm intermedia ) disepanjang dinding belakang rongga perut. . EMBRIOLOGI SISTEM UROGENITAL Sistem urogenital dapat dibagi dalam dua unsur yang sangat berbeda dari sifatnya sistem urinarius dan sistem genitalia. Epidemiologi Ginjal Tapal kuda merupakan anomali fusi yang paling sering dijumpai. Lebih dari 90% kedua ginjal mengadakan fusinpada katup bawah ginjal Etiologi Dikarenakan Selama perjalanan naik untuk trbentuknya ginjal tetap. Akan tetapi jika dipandangan dari sudut anatomi dan embriologi. umbilikales. dan pada otopsi klinis dijumpai insiden anomali ini 1:400.

metanefros Pronefros • Terbentuk oleh 7-10 klompok sel padat di daerah leher.Sistem Ginjal Pada manusia terbentuk tiga sistem ginjal yang berbeda dengan urutan dari kranial ke kaudal selama kehidupan dalam kandungan. Kelompok pertama membentuk nefrotom vestigium yang menghilang sebelum nefroton yang disebelah kaudalnya terbentuk. mesonefros. semua tanda sistem pronefros menghilang . • Akhir minggu ke-4. yaitu pronefros.

Saluram ekskresi mesonefros tampak  (memanjang) membentuk glomerolus(bagian medial) dan simpai bowman (keduanya disebut Korpuskulus mesonefrikus ( renalis) Bagian Lateralnya. . bag kranial sebagian besar menghilang. saluran berkumpul pada duktus mesonefrikus ( duktus wolff) • Pertengahan bulan ke-2. Pada akhir minggu ke-4 ketika sistem pronefros mengalami regresi. Bag kaudal pada pria tetap ada dan ikutmembentuk sistem kelamin dan pada wanita menghilang. Metanefros atau ginjal tetap • • • tampak pada minggu ke-5 satuan ekskresinya berkembang dari mesoderm metanefros sistem pengumpul berkembang dari tunas ureter  (menembus metanefros) bagian distalnya tertutup oleh topi.Mesonefros • Berasal dari mesoderm intermedia dari segmen dada bagian atas hingga lumbal bagian atas. Saluran sebelah kaudal tetap berdiferensiasi. mesonefros bagian medial membentuk gonad dan rigi yang terbentuk oleh kedua organ tsb disebut rigi urogenital. • menjelang akhir bulan ke-2.

terbentuk kalises minor generasi ke-5 sampai setesurnya memanjang dan menyebar membentuk piramida ginjal. . masing-masing tunas berkembang menjadi saluran sampai 12 generasi)  generasi ke-2 membesar dan menyerap masuk saluran generasi ke-3 dan ke-4.Tunas ureter (melebar)  pelvis renalis kalises mayor (memnentuk 2 tunas.

anomali ini tidak menimbulkan gejala. keadaan umum. riwayat medis Parahnya kelainan Ekspentansi ortu penderita terhadap terapi URETER 1. Kurang lebih 5-17% ureter ektopik mengenai kedua sisi. Kejadia pria : wanita = 2. pada pria umumnya terjadai pada single-ureter.Gejala Jika tidak menimbulkan komplikasi. dan secara tak sengaja hanya terdeteksi pada saat dilakukan pemeriksaan pencintraan saluran kemih untuk mencari anomali ditempat lain. Obstruksi atau VUR ini dapat menimbulkan infeksi dan batu saluran kemih PEMERIKSAAN PENUNJANG • • • USG VCUG (voiding cystourethrogram) PVI (intravenous pyelogram) PENATALAKSANAAN Tidak perlu dilakukan penetalaksanaan bila asimtomatis • • Terapi yang dilakukan suportif untuk mengatasi komplikasi yang terjadi Pertimbangan terapi : Usia. 80% pada wanita. disertai dengan duplikasi sistem pelviureter. tapi autopsi pada anak didapatkan 1 dari 1900 autopsi. Keluhan muncul jika disertai obstruksi pada uretropelvic junction atau refluk vesiko ureter (VUR) yaitu berupa nyeri atau timbulnya masa pada pinggang.9 : 1 . Epidemiologi Insiden ureter ektopik belum diketahui dengan pasti.URETER EKTOPIK Definisi Kelainan kongenital jika ureter bermuara di leher vesica urinaria atau lebih distal dari itu.

. tetapi kalau masih bisa dipertahankan dilakukan implantasi ureter pada vesica urinaria. Diagnosis Ureter ektopik pada pria kebanyakan bermuara pada ureter posterior. Namun ureter ektopik tergantung kelainan yang tedapat pada ginjal. atau duktus ejakulatorius. ureter ektopik seringkaloi bermuara pada uretra dan vestibulum. Jika ditemukan muara ureter ektopik pada uretra. 2. Jika ureter ektopik terjadi pada duplikasi system pelviureter. Muara pada uretra posterior seringkali tidak memberikan gejala. Jika duplikasi ureter tidak lengkap terdapat dua pileum dan kedua ureter bergabung sehingga hanya ada satu muara dikandung kemih.Etiologi Kelainan dari perkembangan tunas ureter yang muncul dari duktus mesonefros. Selain itu muara ureter ektopik biasanya atretik dan mengalami obstruksi sehingga seringkali terjadi hidronefrosis pada segmen ginjal sebelah cranial. yaitu celana dalam selalu basah oleh urine (inkontinensia kontinua) tetapi dia masih bisa miksi seperti orang normal.DUPLIKASI PELVIS Duplikasi ureter bisa tidak lengkap bisa juga total. Keadaan ini memberikan keluhan yang khas pada anak kecil. Pemeriksaan sitoskopi mungkin dapat menemukan adanya muara ureter ektopik pada uretra atau ditemukan hemitrigonum (tidak ditemukan salah satu muara ureter pada buli). Pada pemeriksaan PIV. tetapi muara ureter pada vasa deferens seringkali tidak menyebabkan keluhan epididimis yang sulit disembuhkan karena vasa deferens dan epididimis selalu teraliri oleh urin Pada wanita. hidronefrosis mendorong segmen kaudal terdorong ke bawah dank e lateral sehingga terlihat sebagai gambaran bunga lili yang jatuh (dropping lily). dapat dicoba dimasuki kateter ureter dan dilanjutkan dengan pemeriksaan uretografi retograd Penatalaksanaan Jika ditemukan muara ureter ektopik pada uretra dapat di coba di masuki kateter ureter dan dilanjutkan dengan ureterografi retrograp. vas deferens. ureter ektopik menerima drainase dari ginjal system cranial. Jika duplikasi komplit kedua ureter bermuara terpisah. Jika ginjal sudah mengalami kerusakan nefroereterektomi. meskipun kadang bermuara pada vesikula seminalis.

atau penyulit. vesica seminalis. ureter dari bagian ginjal atas biasanya muaranya lebih kaudal daripada muara ureter yang dari bagian ginjal kaudal sehingga kedua ureter bersilang (Hukum Weiger-Mayer). didapat inkontenensia sehingga kemih menetes terus menerus. Jika terdapat refluk dari 1 maupun kedua . Jika muara terletak distal dari sfingter atau vagina. Muara ektopik ureter dari katub kranial pada laki-laki dileher kandung kemih. kebanyakan unilateral disertai infeksi. Patifisologi Pada duplikasi ureter total. Kadang terdapat arus kemih bolakbalik dari pilem dan ureter yang slian sebaliknya secara terus-menerus. uretra prostatika. uretra. duktus deferens atau epididimis.Sering tidak disertai gejala. Manifestasi Klinik Muara ektopik lebih banyak ditemukan pada anak perempuan. Fenomena yoyo ini mengandung timbulnya hidronefrosis dan infeksi. Sering terjadi hidronefrosis ginjal yang kranial karena muara ureter yang ektopik stenosis. septum utertovaginal. atau dinding depan vagina sehingga tidak dipengaruhi oleh sfingter uretra. tanda. Pada laki-laki tidak terjadi inkontenensia tetapi terjadi epididimitis sebelum masa akil balig. disertai miksi tetap seperti biasa. Pada perempuan dileher kandung kemih. Pengobatan Tergantung dari ada tidaknya refluk atau obstruksi dan derajat kerusakan fungsi ginjal baik di bagian kutub cranial maupun kaudal ginjal.

Jika pasien memiliki ureter ektopik berhubungan atau tidak berhubungan dengan ureterocele. Etiologi Ureterokel adalah sirkulasi atau dilatasi kistik terminal ureter. Jika berfungsi dengan baik. Epidemiologi. ureteropyelostomy dari kutub bagian atas sampai bawah dapat dilakukan. biasanya akan dilakukan heminephrectomy). terapi tergantung dari fungsi segmen kutub ektopik bagian atas. Ureterokel yang letaknya intravesikular biasanya merupakan ureter satu-satunya yang terletak pada sisi itu.Uterokel kecil: tidak ada gejala . Jika pasien dengan hidroureter dan disertai refluk dengan derajat yang sangat tinggi (derajat V). 3. Letaknya mungkin berada dalam buli-buli (intravesikel) atau mungkin ektopik diluar muara ureter yang normal. koreksi bedah sebaiknya dilakukan (jika refluk menyebabkan kerusakan parah pada kutub kaudal ginjal. sedangkan ureterokel ektopik pada umumnya berasal dari duplikasi ureter yang menyalurkan urine dari ginjal kutub atas. Patofisiologi Ureterokel kecil tidak bergejala . Kelainan ini ternyata 7 kali lebih banyak dijumpai pada wanita. Bila ureterokel besar atau terdapat penyulit. maka perlu tindak bedah berupa ekstirpasi uretrokel dan neoimplantasi ureter ke dalam kandung kemih. Jika fungsinya buruk atau tidak berfungsi.URETOROKEL Definisi. Bentuk ureter ektopik ternyata lebih sering dijumpai pada ureterokel intravesika. maka diindikasikan melakukan pole heminephrectomy dan ureterectomy. dan 10 % anomaly ini mengenai kedua sisi. Ureterokel yang cukup besar akan mendorong muara ureter yang sebelah kontralateral dan menyebabkan obstruksi leher buli diikuti dengan hidroureter dan hidronefrosis. Biasanya ditemukan ISK kambuhan atau kronik.ureter yang terduplikasi dan tidak terdapat hidroureter maka diberikan antibiotic profilaksis untuk mencegah pyelonephritis. Tanda serta gejala . antara lain terletak di leher buli-buli atau uretra.

Tak jarang timbul pada ureter distal karena obstruksi. Ureter secara seluruhnya menjadi hipotonik dan adinamik yang terkadang jua meliputi vesika urinaria.Uterokel Besar: mendorong muara ureter yang di sebelah kontaralateral sehingga bisa terjdai obstruksi leher buli.. Derajat obstruksi dan fungsi ginjal secara terpisah ditentukan dengan skintigrafi ginjal dan IVU. sehingga menyebabkan obstruksi. Pemeriksaan Pemeriksaan PIV menunjukkan adanya dilatasi kistik atau filling defect pada buli-buli dengan ujung ureter memberikan gamabaran seperti kepala cobra (cobra head) . dan berkelok – kelok. hematuria dan infeksi. megaureter dibagi menjadi primer dan sekunder. drainage tinggi secara Sober atau cincin ureterokutaneostomi saat ini tidak lagi dilakukan. memnajang. Komplikasi • • • • Kemandulan Inkontinensia Ruptur vesica urinaria spontan Infeksi . infeksi saluran kemih. Evaluasi diagnostik sama seperti pada hidronefrosis unilateral. Dengan perbaikan spontan sampai 85% pada pasien dengan megaureter obstruksi primer. non-obstruksi. Tak jarang juga ditemukan hidronefrosis atau adanya duplikasi system pieloureter pada pemeriksaan PIV. Pada beberapa survei ditunjukkan bahwa intervensi operasi berdasar hanya dari urogram ekskretori saat ini sangatlah jarang. Sering kali bentukan filling defect itu didiagnosis bandingkan dengan batu non opak atau bekuan darah pada buli-buli. Penatalaksanaan dari megaureter tipe refluks dijelaskan pada bagian vesikoureter refluks (VUR). obstruksi dan/atau refluks dan non-refluks. dengan USG dapat dibuktikan bahwa filling defect adalah bentukan kistik dari ureterokel. Selain itu timbul refluks vesiko ureter 4. Diagnosis Menurut klasifikasi internasional. dan inkontinensia urine.MEGA URETER Definisi Ureter mengalami dilatasi berat. Secara histologis karena kelebihan serabut-serabut otot sirkuler dan kolagen pada uretr distal.

atau radioterapi tumor. Adanya barium radiopak menunjukkan diagnosis fistula vesikokolon. tetap terjadinya refluks setelah 1 tahun dibawah profilaksis serta adanya obstruksi yang signifikan VESIKA URINARIA. 20-25%. feses dan gas keluar dari uretra. upper GI series. dan perubahan pada kebiasaan usus (konstipasi. atau sigmoidoskopi bisa menunjukkan hubungannya. >90% dilaporkan sukses. Indikasi untuk terapi bedah dari megaureter adalah infeksi rekuren selama menggunakan antibiotika profilaksis.l. 50-60%. Fistule bisa berhubungan dengan kulit.Prognosis Tergantung dari durasi dan komplikasi yang ditimbulkan oleh megaureter tersebut. Fistula vesicointestinal Gejala-gejala muncul dari fisula vesicointestinal termasuk peradangan buli-buli. selain itu pemasukan cairan radioopak juga bisa menegakkan diagnose. dan Etiologi Fistule vesica urinaria sering dijumpai di klinis. Setelah barium enema. Operasi ureterosistoneostomi menurut Cohen. dan Chron disease. prosedur paling bermanfaat. Keluhan utamanya biasanya bukan urologi. menunjukkan reaksi peradangan parah yang terlokalisir sebagai tanda adanya isi usus yang keluar. (3) perawatan penyakit ginekologi setelah histerektomi. Pemeriksaan sistoskopik. PENIS 1. penurunan fungsi ginjal secara terpisah. Politano-Leadbetter atau teknik Psoas-Hitch dapat dipertimbangkan sebagai cara operasi. 10%. atau organ reproduksi wanita. diare) yang disebabkan oleh penyakit usus. ca kolon. kaku otot bisa ditemukan pada peradangan. . operasi cesar rendah. Sistogram bisa menampakkan gas di buli-buli atau refluks materi opak ke dalam usus. Manifestasi Klinis A. Barium enema. Penyebabnya a. Kateterisasi jalur fistula bisa bermanfaat. intestinum. urin tersentrifugasi difoto Röntgen. Tanda-tanda obstruksi usus bisa dikurangi. URETRA. (2) penyakit ginekologi-nekrosis akibat kelahiran yang sukar. dan (4) trauma. ca servik stadium lanjut.FISTULA Epidemiologi. distensi abdomen.: (1) penyakit intestinum-divertikulitis.

mungkin pasien mengalami inkontinensia. Remebesan urin yang konstan merupakan hal yang paling menyebalkan pasien. 2. dan rektovaginal. Satu jam kemudian. Cairan radioopak dimasukkan dan kemudian dialkukan foto Röntgen. Laki-laki : perempuan = 2 : 1 Etiologi . Pemeriksaan pelvis biasanya menampilkan bukaan fistula.B. dan cairan methylene blue dimasukkan ke buli-buli. berarti fistulanya adalah ureterovaginal. Jika bagian dalam kapas berwarna biru. Biopsy pada ujung fistula mungkin menampilkan karsinoma. 3 batang kapas diselipkan ke dalam vagina. seteah itu batang diperiksa. Hanya jika bagian distal kapas berwarna biru. Jika bola kapas bagian proksimal basah atau berwarna orange. diagnosanya fistula vesicovaginal. Diagnosis Penting untuk membedakan fistula ureterovaginal dari vesicovaginal. Insidensinya 1 : 10. Pasien disuruh berjalan keliling. atau bisa juga dilakukan dengan sitoskop. Phenazopyridine (Pyridium) diberikan per oral untuk memberi warna orange pada urin.000-50. Fistula vesicovaginal Biasanya merupakan sekuel dari luka akibat obstetric. dengan permukaan internal dinding terlihat melalui celah pada dinding anterior. Vesica urinaria tampak membalik dari dalam keluar. Kateter Foley 30ml diselipkan ke dalam vagina dan balon dipompa. atau radiasi atau karena ca servik yang invasive. Vaginografi sering menampilkan fistula ureterovaginal. bedah.000 kelahiran hidup.EKSTROFIA Definisi Kelainan kongenital sebagian dinding abdomen dan dinding vesica urinaria. vesikovaginal. Epidemiologi Termasuk penyakit yang jarang ditemukan. Terkadang kateter bisa melewati fistula ke vagina.

dan komponen dorsal kulup tidak ada. • Genitalia o Pria Falus pendek dan luas dengan kurvatura naik (korda dorsalis). (1) o Wanita Klitoris secara seragam jadi bifida dengan labia berlainan di superior. Muara piringan uretra bersambung dengan piringan kandung-kemih. >10% pada wanita) akibat cincin inguinal lebar dan kurangnya kanalis inguinalis oblique. Anus di anterior digantikan dengan mekanisme sfingter normal . Piringan uretra memperluas panjang falus tanpa atap. Anus di anterior digantikan dengan mekanisme sfingter normal. Ketiadaan umbilikus Kandung-kemih terbuka pada abdomen bagian bawah. dengan verumontanum dan duktus ejakulatorius tampak dalam piringan uretra prostatika. Dinding abdomen tampak panjang karena umbilikus susunanrendah pada batas atas piringan kandung kemih. Hernia inguinal indirek sering terjadi (>80% pada pria.Perkembangan inkomplit bagian infraumbilikal dinding abdomen anterior. Diagnosa Gambaran klinisnya sebagai berikut : Tampilannya khas karena tekanan visera dibelakangnya. Jarak antara umbilikus dan anus dipersingkat. dengan mukosa sepenuhnya terpapar melalui defek fasia triangular. Mukulus rektus bercabang di bagian distal melekat pada tulang pubis yang terpisah luas. • • Batas dinding abdomen dapat dirasakan. Glans terletak terbuka dan datar seperti sekop. Piringan kandung-kemih dan piringan uretra berkesinambungan. Vagina anterior dipindahkan.

Pada kedua jenis kelamin. pubis bersatu dan genitalia eksternal hampir normal. Epispadia. Anus sempit atau keluar dari rongga tubuh Deferensial Diagnosa • • Patent urachus Persistent cloaca Penatalaksanaan . bibir vagina (labia) lebar dan muara saluran kemih (uretra) pendek 8. Pada pria. Lokasi pusat berada di atas kelainan. Diantara beberapa kelainan lain yang dapat menyertai exstrophia adalah: 1. dapat disertai hernia umbilikal (usus keluar dari rongga perut melalui bagian otot perut yang lemah) 5. 6. 3. testis belum turun ke kantung kemaluan 7. sedangkan testis normal dan biasanya turun. Defek tulang menyebabkan hilangnya disabilitas dan berikutnya melahirkan bisa normal. dan hernia inguinal bilateral mungkin muncul. Defek perut berbentuk segitiga yang memperlihatkan selaput kandung kemih. Pada kasus yang jarang. bentuk inkomplit epispadia penis atau epispadia wanita. Pada wanita klitoris bifida dan labia minora terpisah di anterior. memperlihatkan orifisium vagina.• Muskuloskeletal Simfisis pubis terpisah lebar. yang terhubung dengan ligamen yang kuat. meskipun pada wanita klitoris bifida. terdapat pemisahan tulang pubis. Muskulus rektus divergen tetap melekat ke pubis. prostat dan vesika seminalis mengalami rudimenter. Jumlah kolagen meningkat tetapi otot kandung kemih berkurang 4. yaitu letak abnormal muara saluran kemih di atas seharusnya. Muara vagina sempit. epispadia penis komplit lebih luas dan lebih pendek dari biasanya. Linea alba juga lebar. Jarak tulang pubis melebar 2. Ukuran penis lebih kecil dari normal. Rotasi eksternal tulang inominata menyebabkan gaya berjalan timpang pada pasien yang dapat berjalan namun tidak menyebabkan permasalahan ortopedi nantinya.

Uretra prostika. kemudian dilanjutkan dengan pembenahan epispadia pada penis. Fenomena yoyo atau pendulum ini mengundang timbulnya hidronefrosis dan infeksi. vesikula seminalis. duktus deferens atau epididimis. disertai miksi seperti biasa . 3. Pada perempuan di leher kandung kemih. Gambaran klinis: lebih banyak ditemukan pada anak perempuan. pada lelaki tidak terjadi inkontinensia itu. Sering terjadi hidroureter dan hidronefrosis ginjal yang cranial karena muara ureter yang ektopik stenotik.URAKUS PERSISTEN Duplikasi ureter bisa tidak lengkap. Pertama. Kebanyakan unilateral disertai infeksi. kedua ureter terpisah. didapat inkontinensia sehingga kemih menetes terus. atau dinding depan vagina sehingga tidak dipengaruhi sfingter uretra. Patofisiologi Adanya halangan aliran urin dari pelvis renalis kedalam ureter. uretra. bisa juga total. tanda. Kadang terdapat arus kemih bolak-balik dari pielum dan ureter yang satu ke pielum dan ureter yang lain dan sebaliknya secara terus-menerus. ureter dari bagian ginjal atas biasanya muaranya lebih kaudal daripada muara dari bagian ginjal kaudal sehingga kedua ureter bersilang(hokum weigert-meyer). dilakukan pengalihan saluran urinarius disertai reseksi vesica urinaria. septum uretrovaginal. tetapi terjadi epidemitis sebelum masa akli balig. Muara ektopik ureter darikutup cranial pada lelaki di leher kandung kemih. Sering tidak disertai ada gejala. terdapat dua pielum dan kedua ureter bergabung sehingga hanya ada satu muara di kandung kemih. Pada ureter dupleks total. Jika tidak lengkap. sehingga pengeluaran urin dari pelvis ke ureter menjadi tak efisien sehingga terjadi dilatasi yang progresif pada . Disarankan agar operasi dilakukan pada saat anak berusia 3-18 bulan. Jika muaranya terletak distal dari sfingter atau di vagina. atau penyulit. Penatalaksanaan ini memiliki tingkat keberhasilan yang memuaskan.Biasanya dilakukan dalam beberapa tahap. Fungsi ginjal dan pembentukan urin pada sebagian besar pasien berfungsi secara normal walaupun ada beberapa yang mengalami enuresis. Jika duplikasi komplit.

Normalnya. Letak yang yerlalu tinggi lebih sering berhubungan dengan urakus persisten daripada obstruksi jalan keluar vesica urinaria. maka bisa terbentuk sebuah sinus. alantois mengalami obliterasi dan digantikan oleh korda fibrosa (urakus) yang membentang dari fundus buli-buli sampai ke umbilicus. Derajat yang lebih ringan pada stenosis menyebabkan hilangnya aliran urin normal dengan spraying atau dribbling Secara embriologi. Adenokarsinoma bisa muncul pada kista urakus. Selain itu. maka akan terbentuk kista yang bisa menjadi cukup besar. tetapi biasanya bersifat asimptomatis. Jika adenokarsinoma muncul reseksi secara menyeluruh sangat dibutuhkan. yang terletak di bawah peritoneum. terutama pada ujung inferior. disertai dengna phimosis. Batu juga bisa muncul pada kista urakus yang akan terlihat jelas pada foto Röntgen. Jika obliterasi yang tidak sempurna terjadi pada ujung superior. . akan menimbulkan tanda-tanda sepsis local maupun general. Mula-mula otot pelvis renalis mengalami hipertrofi kemudian terjadi penurunan GFR. Yang pada saat infeksi bisa menimbulkan pus yang purulen. Prognosis buruk jika muncul adenokarsinoma. Pembentukan urakus berhubungan dengan saat penurunan vesica urinaria. dan akan menginvasi jaringan di bagian bawah dinding abdomen anterior. Ketika ostium meatus berkurang dapat terjadi retensi urin dengan efek tekanan kembali dan dapat menyebabkan gagal ginjal kronis. normalnya bagian paling sempit pada uretra pria. Setelah sirkumsisi. Obliterasi yang tidak sempurna kadang bisa terjadi.STENOSIS URETRA Merupakan stenosis kongenital pada meatus urin eksternal.prelum dan system kalises. pada akhirnya terjadi penurunan fungsi ginjal 4. yang mengakibatkan urin merembes keluar. alantois menghubungkan sinus urogenital dengan umbilicus. ulserasi meatal dapat menyebabkan striktura meatus. Pada obliterasi tak sempurna di bagian inferior. Hal ini bisa dilihat dalam beberapa hari setelah kelahiran. Prognosis baik selama tidak ada kelainan kongenital serius lainnya. jika urakus tersisa di bagian tengah. Penatalaksanaan terdiri atas eksisi urakus. Pada saat kista ini terinfeksi. akan terbentuk hubungan dengan vesica urinaria. Bentukan ini akan nampak pada saat sitoskopi. Sangat jarang urakus persisten terjadi mulai dari umbilicus sampai vesica urinaria.

dan klasifikasi berdasarkan posisinya pada laki-laki. Pada tipe penile. ulserasi meatal dapat menyebabkan striktura meatus. lebih sering terjadi pada lelaki daripada perempuan. Insiden pada laki-laki 1 : 120. Ketika ostium meatus berkurang dapat terjadi retensi urin dengan efek tekanan kembali dan dapat menyebabkan gagal ginjal kronis.000. Epispadia merupakan keadaan terbukanya . Meatus yang sempit dibuka dengan memotong pada fine probeyang diletakkan di uretra anterior.terletak diantara simphisis pubis dan sulkus corona.000 laki-laki dan 1 dari 450.000 perempuan.Patofisiologi Merupakan stenosis kongenital pada meatus urin eksternal. Pada tipe penopubic memilki ostium pada penopubic juntion. Insidensnya 1 per 100. Penatalaksanaan Dengan meatotomy atau dilatasi meatal diindikasikan untuk stenosis simtomatik. jika striktura cukup untuk untuk mencegah drainase bebas pada luka pada pasien dengan uretritis atau terdapat kebutuhan dimasukkan endoskopi instrumen transuretrally. yang pipih dan rata. Tepi sayatan pada urotelium dan kulit dijahit bersama dengan sutura yang absorbable. disertai dengna phimosis.000 dan pada wanita 1 : 450. meatus uretra. Pada epispadia glandular. Definisi dan Klasifikasi Uretra mengalami kesalahan letak pada dorsal. skin flap meatosplasti untuk meluaskan meatus dapan digunakan sebagai 5. yang seringkali pipih dan ber-gap. ostium uretra terletak pada aspek dorsal glans. Jika stenosis kambuh. Derajat yang lebih ringan pada stenosis menyebabkan hilangnya aliran urin normal dengan spraying atau dribbling. Sebuah sekungan dorsal biasanya meluas dari meatus melalui sampai ke glans.000. dan seluruh penis memilki cekungan dorsal distal meluas melalui glans.EPISPADIA Epidemiologi Insidensi pada epispadia penuh sekitar 1 dari 120. normalnya bagian paling sempit pada uretra pria. Setelah sirkumsisi. Meatotomi.

Muara urethra berada dibagian dorsal. terlihat mons veneris yang lebar karena simfisis turut terbuka. Pada kelainan ini sering disertai dengan inkontinensia.uretra di sebelah ventral. disertai inkontinensia. Pada lelaki. gambaran klinisnya seperti pada ekstrofia vesika. Pada laki-laki sering terdapat dorsal chorde. penil atau penopubic. Biasanya pada lelaki ada penis pendek dan bengkak karena korda yang menjadikan gangguan pada miksi dan koitus. . dan merupakan bagian dari exstrophy buli-buli. Kelainan ini mungkin meliputi leher kandung kemih (epispadia total) atau hanya uretra (epispadia parsial) Wanita dengan Epispadia mempunyai clitoris bifida dan labia tidak bersatu. Pada epispadia parsial. Rekontruksi sering tidak membawa hasil baik. bisa di glanduler. Pada perempuan yang menderita epispadia total. uretra terbuka dan klitoris terbelah. Kelainan ini merupakan keadaan terbukanya uretra di sebelah ventral. Kelainan ini tidak berarti pada perempuan karena tidak ada keluhan atau gangguan. hanya uretra atau sebagiannya terbelah. sehingga sering inkonensia. tidak terdapat inkontinensia.

.

Sebuah sekungan dorsal biasanya meluas dari meatus melalui sampai ke glans. dan sering terjadi kriptorkidisme. yang seringkali pipih dan ber-gap.1. komplikasi psikososial Disfungsi seksual 6. Pada tipe penopubic memilki ostium pada penopubic juntion. Patofisiologi Uretra mengalami kesalahan letak pada dorsal. dan klasifikasi berdasarkan posisinya pada laki-laki. meatus uretra. Pada tipe penile. Patofisiologi Tidak terdapat preputium ventral sehingga preputium dorsal menjadi berlebihan (dorsal hood) dan sering disertai dengan korde (penis angulasi ke ventral).terletak diantara simphisis pubis dan sulkus corona. ostium uretra terletak pada aspek dorsal glans. yang pipih dan rata. Pada epispadia glandular. dan seluruh penis memilki cekungan dorsal distal meluas melalui glans. Biasanya disertai stenosis meatus uretra dan anomaly bawaan berupa testis maldesensus atau hernia inguinalis . dapat timbul stenosis meatus yang menyebabkan kesulitan dalam mengatur aliran urin.HIPOSPADIA Definisi Suatu kelainan yang terjadi bila penyatuan di garis tengah lipatan uretra tidak lengkap sehingga meatus uretra terbuka pada sisi ventral penis Epidemiologi Terjadi pada satu dalam 300 kelahiran anak laki-laki dan merupakan anomaly paling sering yang sering terjadi Manifestasi klinis Anak-anak: tidak ada masalah fisik yang bererti Remaja: tidak ada masalah fisik yang berarti Dewasa: chordee akan menghalangi hubungan seksual Infertilitas dapat terjadi pada hipospadia penoskrotal atau perineal. Prognosis & Komplikasi Meskipun operasinya sukses. pasien akan mengalami masalah dengan: • • • Inkontinensia urine Depresi.

terutama untuk hipospadia tipe distal. hanya pengelolaanya harus dilakukan oleh mereka yang betul-betul ahli supaya mendapatkan hasil yang memuaskan. Selain itu jika hipospadia ini tidak dioperasi. maka one stage urethroplasty nyaris tidak dapat dilakukan. Selain penis tidak dapat tegak dan lurus (pada hipospadia penis bengkok akibat adanya chordae). Penyempurnaan tehnik operasi dan perawatan paska operasi menjadi prioritas utama. middle dan posterior) Tindakan operasi harus dilakukan sebelum anak memasuki usia sekolah. Meskipun sering hasilnya kurang begitu bagus untuk kelainan yang berat. sepanjang ventral batang penis sampai perineum. Sambil dilihat di gambar. Operasi hipospadia satu tahap (ONE STAGE URETHROPLASTY) adalah tehnik operasi sederhana yang sering dapat digunakan. maka setelah dewasa dia akan sulit untuk melakukan penetrasi / coitus. Seperti tampak dalam gambar.. globuler glans yang bengkok kearah ventral (bawah) dengan . Jadi lubang tempat keluar kencing letaknya bukan pada tempat yang semestinya dan terletak di sebelah bawah penis bahkan ada yang terletak di kantong kemaluan. tipe distal ini yang meatusnya letak anterior atau yang middle. Tampak variasi dari letak orifisium uretra eksterna (dapat bervariasi mulai dari anterior. Sehingga banyak dokter lebih memilih untuk melakukan 2 tahap. Tujuan utama penanganan operasi hipospadia adalah merekonstruksi penis menjadi lurus dengan meatus uretra ditempat yang normal atau dekat normal sehingga aliran kencing arahnya kedepan dan dapat melakukan koitus dengan normal.Hipospodia adalah salah satu kelainan bawaan pada anak-anak yang sering ditemukan dan mudah untuk mendiagnosanya. lubang keluar sperma terletak dibagian bawah. prosedur operasi satu tahap pada usia yang dini dengan komplikasi yang minimal. Pada hipospadia muara orifisium uretra eksterna (lubang tempat air seni keluar) berada diproksimal dari normalnya yaitu pada ujung distal glans penis. Tipe hipospadia proksimal seringkali di ikuti dengan kelainan-kelainan yang berat seperti korda yang berat. Diharapkan anak tidak malu dengan keadaannya setelah tahu bahwa anak laki lain kalau BAK berdiri sedangkan anak pengidap hipospadia harus jongkok seperti anak perempuan (karena lubang keluar kencingnya berada di sebelahi bagi bawah penis). Untuk tipe hipospadia proksimal yang disertai dengan kelainan yang jauh lebih berat.

Secara umum tekniknya terbagi menjadi operasi satu tahap dan multi tahap. yang biasanya dicegah dengan balut tekan selama 2 sampai 3 hari paska operasi. Kelainan yang seperti ini biasanya harus dilakukan 2 tahap. Setelah menjalani operasi. misalnya pada skrotum dapat berupa undescensus testis. Hipospadia sering disertai kelainan bawaan yang lain. malrotasi renal. Fitula uretrokutan. Operasi Hipospadia dua tahap. merupakan komplikasi yang tersering dan ini digunakan . perawatan paska operasi adalah tindakan yang amat sangat penting. Pada penis berupa propenil skrotum. Di bagian supra pubik (bawah perut) dipasang juga kateter yang langsung menuju kandung kemih untuk mengalirkan air kencing. mikrophallus dan torsi penile. Operasi perbaikan komplikasi fistula dilakukan 6 bulan paska operasi yang pertama. Biasanya pada lubang kencing baru (post uretroplasty) masih dilindungi dengan kateter sampai luka betul-betul menyembuh dan dapat dialiri oleh air kencing.dorsal skin hood dan propenil bifid scrotum (saya agak kesulitan mencari istilah awam untuk istilah medis diatas). Orang tua harus dengan seksama memperhatikan instruksi dari dokter bedah yang mengoperasi. memobilisasi kulit dan preputium untuk menutup bagian ventral / bawah penis. Satu tahap maupun dua tahap dapat dilakukan sesuai dengan kelainan yang dialami oleh pasien. Baru setelah itu kateter dilepas. 2. Tahapan penyembuhan biasanya kateter diatas di non fungsikan terlebih dulu sampai seorang dokter yakin betul bahwa hasil uretroplasty nya dapat berfungsi dengan baik. Intinya tipe hipospadia yang letak lubang air seninya lebih kearah proksimal (jauh dari tempat semestinya) biasanya diikuti dengan penis yang bengkok dan kelainan lain di skrotum atau sisa kulit yang sulit di”tarik” pada saat dilakukan operasi pembuatan uretra (saluran kencing). disgenesis testis dan hidrokele. sedang kelainan ginjal dan ureter berupa fused kidney. Komplikasi paska operasi yang terjadi : 1. monorchidism. Dokter akan menentukan tehnik operasi yang terbaik. juga terbentuknya hematom/ kumpulan darah dibawah kulit. tahap pertama dilakukan untuk meluruskan penis supaya posisi meatus (lubang tempat keluar kencing) nantinya letaknya lebih proksimal (lebih mendekati letak yang normal). Edema/pembengkakan yang terjadi akibat reaksi jaringan besarnya dapat bervariasi. Tahap selanjutnya (tahap kedua) dilakukan uretroplasti (pembuatan saluran kencing / uretra) sesudah 6 bulan. duplex dan refluk ureter.

terjadi pada pembentukan neouretra yang terlalu lebar. selain komplikasi fistula uretrokutaneus perlu diteliti kosmetik dan ‘stream’ (pancaran kencing) untuk melihat adanya stenosis.sebagai parameter untuk menilai keberhasilan operasi. 5. 6. atau adanya stenosis meatal yang mengakibatkan dilatasi yang lanjut. 3. dimana tidak melakukan ereksi artifisial saat operasi atau pembentukan skar yang berlebihan di ventral penis walaupun sangat jarang.URETRA BERKATUP Definisi Terdapat plica yang simetri pada orutelium yang dapat menyebabakan obtruksi pada uretra laki-laki. 4. Dalam beberapa kasus. Divertikulum. Biasanya ditemukan pada disata verumontanum namun dapat berada dalam uretra prostatik. Pembedahan harus dilakukan sebelum usia sekolah untuk menahan berkemih (sekitar usia 2 tahun). walaupun urine tidak mengalir dengan lancar. akibat dari rilis korde yang tidak sempurna. striktur dan divertikel. . Residual chordee/rekuren chordee. kateter ureteral dapat masuk tanpa kesulitan. katup terbentuk tidak sempurna dana pasien tetap tanpa gejala sampai remaja atau dewasa. 7. Rambut dalam uretra. Untuk menilai hasil operasi hipospadia yang baik. Dalam kasus ini uretraprostatika terdilatasi dan terdapat saccula dan divertikula. Striktur. pada proksimal anastomosis yang kemungkinan disebabkan oleh angulasi dari anastomosis. Prepusium dipakai untuk proses rekonstruksi. oleh karena itu bayi dengan hipospadia tidak boleh di sirkumsisi. Prognosis Baik bila dengan terapi yang adekuat yaitu dengan chordee adalah dengan pelepasan chordee dan restrukturisasi lubang meatus melalui pembedahan. Pada prosedur operasi satu tahap saat ini angka kejadian yang dapat diterima adalah 5-10% . Bersifat seperti katup sehingga. Chordee dapat juga terjadi tanpa hipospadia dan diatasi dengan melepaskan jaringan fibrosa untuk memperbaiki fungsi dan penampilan penis. yang dapat mengakibatkan infeksi saluran kencing berulang atau pembentukan batu saat pubertas.

000 dari US population. katup terbentuk tidak sempurna dana pasien tetap tanpa gejala sampai remaja atau dewasa. Dalam kasus ini uretraprostatika terdilatasi dan terdapat saccula dan divertikula. Jika vesica terisi dengan media kontras. Biasanya ditemukan pada disata verumontanum namun dapat berada dalam uretra prostatik. 8. . Katup sulit untuk dilihat pada uretroskopi karena aliran akan membuat katup pada posisi terbuka. dilatasi uretra diatas katup dapat digambarkan pad cystogram. Dalam beberapa kasus. walaupun urine tidak mengalir dengan lancar. < 200. Karena bisanya terdapat sejumlah residu urine. Patofisiologi Merupakan malformasi atau abnormalitas corda sakralis atau radix yang dapat menyebabkan kontrol urin inkomplete pada siang dan malam.Patofisiologi Terdapat plica yang simetri pada orutelium yang dapat menyebabakan obtruksi pada uretra laki-laki. Pasase kateter atau postvoiding film diabil pada konjungsi dengan urogram ekskretori menunjukkan adanya residu urine. Cystometrogram biasanya menunjukkan vesica flaccid neurogenik. Epidemiologi Menurut National Institute of Health. Cystocopy menunjukkan vesica yang atonik dengan trabekulasi sedang dan bukti infeksi. Terapi Kateter suprapubis di masukkan unutk melepaskan terkan balik dan mencegah efek gagal ginjalsebelum terapi definitif dengan transuretral resesi pada katup menggunakan pediatrik resektoskop. Bersifat seperti katup sehingga.MIELODISPLASIA Definisi Merupakan malformasi/abnormalitas corda sakralis/ radix yang dapat menyebabkan kontrol urine inkomplete pada siang dan malam. kateter ureteral dapat masuk tanpa kesulitan. mielodisplasia merupakan penyakit yang jarang terjadi. Plain film pada abdomen dapat menunjukkan spina bifida. infeksi biasanya terdapat pada urinalisis.

Sudah tentu retensi smegma akan berperan dalam proses patologi ini. . ETIOLOGI Fimosis dapat terjadi akibat radang seperti balanopostitis (radang glans dan prepusium) atau setelah sirkumsisi yang tidak sempurna. dan hamper selalu diikuti infeksi. Kandung kemih tidak bisa dikosongkan dengan tekanan pada perut Deferensial Diagnosa Lesi melintang sumsum tulang belakang 9. kandung kemih kosong atau hamper kosong sehingga refluks dan infeksi jarang ditemukan. tekanan intravesikel menongkat. Balanopostitis sukar sembuh karena tindak hygiene biasa untuk membersihkan glans dan permukaan dalam prepusium tidak dapat dilakukan. kencing keluar secara menetes atau memancar kecil.FIMOSIS DEFINISI Fimosis adalah penyempitan ujung prepusium yang biasanya disebabkan oleh fibrosis tepi prepusium. tetapi pasien mengalami inkontinensia urin Pada kandung kemih aktif yang tahanan perifernya tinggi. Risiko perkembangan malignitas kulit glans penis atau dalam prepusium sangat meningkat pada fimosis. PATOFISIOLOGI Pada fimosis dapat terjadi 2 penyulit yaitu balanopostitis kronik dan residif serta kesulitan miksi. disertai residu dalam jumlah besa. kapasitas kandung kemih tidak terganggu dan dapat mudah dikosongkan dengan menekan perut.Diagnosis Kandung kemih aktif dengan tahanan perifer rendah. Kandung kemih sukar dikosongkan dengan menekan perut Pada kandung kemih inaktif yang tahanan perifernya rendah. Refluks tidak berarti dan infeksi tidak naik ke ginjal Pada kandung kemih yang tahanan perifernya tinggi didapatkan kapasitas kandung kemih besar dengan jumlah residu besar.

Jika disertai balanitis dapat diberi salep dexametasone 0. diharapkan setelah 6 minggu dapat diretraksi sevara spontan. Upaya untuk menarik kulit preputium ke belakang batang penis. Oleh karena itu. selanjutnya diperlukan tindakan sirkumsisi secara berencana oleh karena kondisi parafimosis tersebut dapat berulang atau kambuh kembali.Penatalaksanaan Tidak dianjurkan untuk melakukan retraksi secara paksaan. Kulit preptium yang tidak bisa kembali ke depan batang penis akan menjepit penis sehingga menimbulkan bendungan aliran darah dan pembengkakan (edema) glans penis dan preputium. 10. Patofisiologi Parafimosis merupakan kasus gawat darurat. dokter akan berupaya mengembalikan kulit preputium ke posisinya secara manual dengan tangan atau melalui prosedur invasif dengan bantuan obat bius (anestesi) dan penenang (sedasi). bahkan kematian jaringan penis dapat terjadi akibat hambatan aliran darah pembuluh nadi yang menuju glans penis. . dapat menyebabkan parafimosis.1 % 3-4 kali selama 6 minggu. terutama yang berlebihan namun gagal untuk mengembalikannya lagi ke depan manakala sedang membersihkan glans penis atau saat memasang selang untuk berkemih (kateter). PARAFIMOSIS Definisi : Prepusium penis yang di retraksi sampai di sulkus koronarium tidak dapat dikembalikan pada keadaan semula dan timbul jeratan pada penis dibelakang sulkus koronarius Etiologi : Menarik Prepusium ke proksimal yang biasanya di lakukan pada saat bersenggama/masturbasi atau sehabis pemasangan kateter tetapi tidak dikembalikan ketempat semula secepatnya. Jika terjadi penggelembungan ujung prepusium atau positis dan adanya infeksi lainnya dapat dilakukan indikasi sirkumsisi. Walaupun demikian. setelah memastikan bahwa tidak ada benda asing seperti karet atau benang yang menyebabkan penis terjepit. Jarang diperlukan tindakan sirkumsisi darurat untuk mengatasi parafimosis. setelah parafimosis diatasi secara darurat.

Penatalaksanaan Preputium diusahakan di kembalikan secara manual dengan teknik memijat gland selama 3-5 menit diharapkan edema berkurang dan secra perlahan preputium dikembalikan pada tempatnya. Jika usaha gagal, lakukan dorsum insisi pada tempatnya setelah edema dan proses inflamasi menghilang pasien dianjurkan menjalani sirkumsisi

11. PEXTIC PYOROMI
Definisi Didapatkannya plak atau indurasi pada tunika albuginea korpus kavernosa penis sehingga menyebabkan terjadinya angulasi (bengkok) batang penis saat ereksi. Epidemiologi Prevalensi = 1 : 100 pada pria. Termasuk rare disease. Etiologi • • • Penyebab pasti belum diketahui Tetapi secara histopatologi plak mirip dengan vaskulitis pada kontraktur Dupuytren yang disebabkan reaksi imunologik Dapat juga disebabkan oleh trauma pada penis dan juga perdarahan

Pentalaksanaan  Konservatif Tanpa terapi 50% penyakit ini dapat mengalami remisis spontan setelah observasi selama 1 tahun. Dapat dicoba dengan pemberian tamoxifen 20 mg dua kali sehari selama 6 minggu. Jika menunjukkan respon yang baik pengobatan diteruskan 6 bulan. Untuk mencegah aktivitas fibroblast dapat dicegah dengna pemberiancolchicine atau verapamil. Nyeri yang berkepanjangan dapat diberikan vitamin E 200 mg tiga kali sehari. Pemberian potassium aminobenzoat tidak menyenangkan karena menimbulkan banyak efek samping.  Operasi Indikasi operasi adalah pada penyakit peyronie adalah deformitas penis yang mengganggu senggama atau disfungsi erekasi akibat peyronie. Saat operasi ditentukan jikapenyaakit telah stabil atau matang, anatara lain : sudah tidak ada nyeri saat ereksi dan

kurvatura atau deformitas penis saat ereksi saat menetap atau stabil. Biasanya keadaan dicapai setelah 12-18 bulan sejak awal timbulnya penyakit. Banayk tekink operasi yang dikerjakan hingga kini, mulai dari eksisi plak kemudian tandur kulit atau cara Nesbitt. Nesbitt melakukan eksisi oval pada konveksitas tunika albuginea, dan selanjutnya defek yang terjadi di jahi dengan benang tidak diserap. Pasca operasi sering terjadi pemendekan dari penis.

12. PRIAFISMUS
ISKEMIK Ditandai dengan adanya iskemia atau anoksiapda otot polos kavernosa. Semakin lama ereksi, iskemi makin berat dan 3-4 jam ereksi dirasakan semakin sakit. Setelah 12jam terjadi edema interstisial dan kerusakan endotelium sinusoid. Nekrosis otot polos kavernosa terjadi setelah 24-48 jam. Setelah >48jam terjadi pembekuan darah dalam kavernosa dan terjadi destruksi endotel sehingga jaringan-jaringan trabekel kehilangan daya elastisitasnya. Jika tidak diterapi, detumesensi terjadi setelah 2-4minggu dan otot polos nekrosis diganti oleh jaringan fibrosa sehingga kehilangan kemampuan untuk mempertahankan ereksi max. NON ISKEMIK Banyak terjadi setelah mengalami suatu trauma pada daerah perineum/setelah operasi rekonstruksi arteri pada disfungsi ereksi. Prognosis lebih baik daripada iskemik dan ereksi dapat kembali kesedia kala.

13. TORSIO TESTIS
Gambaran klinis Nyeri hebat timbul tiba-tiba, nyeri perut dalam-dalam, mual, muntah. Tetis teraba bengkak, nyeri tekan...kulit scrotum oodema, merah, sehingga sulit dipalpasi

Pemeriksaan penunjang

Untuk membedakan torsio testis dengan keadaan akut skrotum lainnya : dengan memakai stetoskop Doppler, USG Doppler, sinitigrafi testis yang bertujuan menilai adanya aliran darah pada testis. Pada torsio testis tidak didapatkan adanya aliran darah pada testis. Sedangkan pada keradangan akut testis terjadi peningkatan aliran darah ke testis. Terapi Detorsi Manual Detorsi manual adalah mengembalikan posisi testis ke asalnya, yaitu dengan cara memutar testis ke arah berlawanan dengan arah torsio. Operasi Dimaksudkan untuk mengembalikan posisi testis ke arah yang benar. Setelah itu dilakukan penilaian apakah testis yang mengalamitorsio masih viable (hidup) atau mengalami nekrosis. Jika testis masih hidup, dilakukan orkipodeksi (fiksasi testis) pada tunika dartos kemudian disusul orkipodeksi pada testis kontralateral. Orki[podeksi dilakukan dengan mempergunakan benang yang tidak diserap pada 3 tempat untuk mencegah agar testis tidak terpeluntir kembali, sedangkan pada testis yang sudah mengalami nekrosis dilakukan pengangkatan testis (orkidektomi) dan kemudian disusul orkipodeksi pada testis kontalateral. Testis yang mengalami nekrosis jika tetap dibiarkan berada dalam skrotum akan merangsang terbentuknya antibodi antisperma sehingga mengurangi kemampuan fertilitas di kemudian hari.

14. VARIKOKEL
Definisi, Epidemiologi, dan Etiologi

prostaglandin) melalui vena spermatika interna ke testis. dan didapatkan 2141% pria yang mandul menderita varikokel. 2. Di samping itu. karena kekurangan oksigen. vena spermatika interna kiri lebih panjang daripada yang kanan dan katupnya lebih sedikit dan inkompeten. tetapi dari pengamatan membuktikan bahwa varikokel sebelah kiri lebih sering dijumpai daripada sebelah kanan (varikokel sebelah kiri 70-93%). Derajat kecil : varikokel yang dapat dipalpasi setelah pasien melakukan maneuver valsava . pada inspeksi dan palpasi terdapat bentukan seperti kumpulan cacing-cacing di dalam kantung yang berada di sebelah cranial testis. 3. sedangkan yang kanan bermuara pada vena cava dengan arah miring. Kelainan ini terdapat pada 15% pria. Hingga sekarang masih belum diketahui secara pasti penyebab varikokel. 4. Secara klinis varikokel dibedakan dalam 3 tingkatan : 1.Varikokel adalah dilatasi abnormal dari vena pada pleksus pampiniformis akibat gangguan aliran darah balik vena spermatika interna. pasien diminta untuk melakukan maneuver valsava atau mengedan. memungkinkan zat hasil metabolit tadi dapat dialirkan dari testis kiri ke testis kanan sehingga menyebabkan gangguan spermatogenesis testies kanan dan pada akhirnya terjadi infertilitas. dengan memperhatikan keadaan skrotum kemudian dilakukan palpasi. Diagnosis Pemeriksaan dilakukan dalam posisi berdiri. Patogenesis Varikokel dapat menimbulkan gangguan proses spermatogenesis melalui beberapa cara. Terjadi stagnasi darah balik sirkulasi testis sehingga testis mengalmi hipoksia Refluks hasil metabolit ginjal dan adrenal (antara lain katekolamin dan Peningkatan suhu testis Adanya anastomosis antara pleksus pampiniformis kiri dan kanan. Jika diperlukan. Verikokel ternyata merupakan salah satu penyebab infertilitas pada pria. Jika terdapat varikokel di sebelah kanan atau varikokel bilateral patut dicurigai adanya : spermatika kanan pada vena renalis kanan atau adanya situs inversus. Hal ini disebabkan karena vena spermatika interna kiri bermuara pada vena renalis kiri dengan arah tegak lurus. Jika terdapat varikokel. anatara lain : 1.

evaluasi pasca bedah vasoligasi tinggi dari palomo didapatkan 80% terjadi perbaikan volume testis. Untuk itu pemeriksaan auskultasi dengan memakai stetoskop Doppler sangat membantu. Derajat sedang: varikokel yang dapat dipalpasi tanpa melakukan maneuver valsava 3. 60-80% terjadi perbaikan analisis semen. dengan melihat beberapa indikator: 1. 50% pasangan menjadi hamil.2. Derajat besar : varikokel yang dapat dilihat bentuknya tanpa melakukan maneuver valsava Kadangkala sulit menemukan adanya bentukan varikokel secara klinis meskipun terdapat tanda-tanda lain yang menunjukkan adanya varikokel. dengan melihat beberapa indicator antara lain : 1. karena alat ini dapat mendeteksi adanya peningkatan aliran darah pada pleksus pampiniformis. Pengukuran dengan alat orkidometer dilakukan untuk menentukan besar atau volume testis dengan membandingkan testis kanan dan kiri Untuk menilai seberapa jauh varikokel telah menyebabkan kerusakan pada tubuli semineferi dilakukan pemeriksaan analisis semen. Varikokel yang sulit diraba secara klinis seperti disebut varikokel subklinik. 3. 50% pasangan hamil Komplikasi • • • Prognosis Pasca tindakan dilakukan evaluasi keberhasilan terapi. 2. 60-80% terjadi perbaikan analisis semen. . Bertambahnya volume testis 2. Pasangan itu menjadi hamil Pada kerusakan testis yang belum parah. Perbaikan analisis semen (yang dilakukan setiap 3 bulan) 3. evaluasi pasca bedah vasoligasi tinggi dari Palomo didapatkan 80% terjadi perbaikan volume testis. Bertambahnya volume testis Perbaikan hasil anamnesis semen Pasangannya hamil Suhu testis meningkat Jumlah sperma sedikit Male infertility Pada kerusakan testis yang belum parah. EVALUASI PENATALAKSANAAN 3pasca tindakan dilakukan evaluasi keberhasilan terapi.

(2) hidrokel funikulus. hidrokel dapat terjadi secara idiopatik (primer) dan sekunder. Etiologi Hidrokel yang terjadi pada bayi baru lahir dapat disebabkan karena: (1) belum sempurnanya penutupan prosesus vaginalis sehingga terjadi aliran cairan peritoneum ke prosesus vaginalis (hidrokel komunikans) atau (2) belum sempurnanya sistem limfatik di daerah skrotum dalam melakukan reabsorbsi cairan hidrokel. dan (3) hidrokel komunikan. Pada hidrokel yang terinfeksi atau kulit skrotum yang sangat tebal kadang-kadang sulit melakukan pemeriksaan ini. hydroceles adalah penumpukan cairan yang berlebihan di antara lapisan parietalis dan viseralis tunika vaginalis. Pada pemeriksaan fisis didapatkan adanya benjolan di kantong skrotum dengan konsistensi kistus dan pada pemeriksaan penerawangan menunjukkan adanya transiluminasi. cairan yang berada di dalam rongga itu memang ada dan berada dalam keseimbangan antara produksi dan reabsorbsi oleh sistem limfatik di sekitarnya. Gambaran klinis Pasien mengeluh adanya benjolan di kantong skrotum yang tidak nyeri. Pada orang dewasa. sehingga harus dibantu dengan pemeriksaan ultrasonografi. • Pada hidrokel testis. HIDROKEL Hidrokel. infeksi. Menurut letak kantong hidrokel terhadap testis. Pada anamnesis. yaitu (1) hidrokel testis.15. . kantong hidrokel seolah-olah mengelilingi testis sehingga testis tak dapat diraba. Dalam keadaan normal. besarnya kantong hidrokel tidak berubah sepanjang hari. Pembagian ini penting karena berhubungan dengan metode operasi yang akan dilakukan pada saat melakukan koreksi hidrokel. secara klinis dibedakan beberapa macam hidrokel. Penyebab sekunder terjadi karena didapatkan kelainan pada testis atau epididimis yang menyebabkan terganggunya sistem sekresi atau reabsorbsi cairan di kantong hidrokel. atau trauma pada testis/epididimis. Kelainan pada testis itu mungkin suatu tumor.

hidrokel akan sembuh sendiri. Pada hidrokel kongenital dilakukan pendekatan inguinal karena seringkali hidrokel ini disertai dengan hernia inguinalis sehingga pada saat operasi hidrokel. Aspirasi cairan hidrokel tidak dianjurkan karena selain angka kekambuhannya tinggi. kantong hidrokel besarnya dapat berubah-ubah yaitu bertambah besar pada saat anak menangis. Pada hidrokel funikulus dilakukan ekstirpasi hidrokel secara in toto Penyulit Jika dibiarkan. Pada hidrokel testis dewasa dilakukan pendekatan skrotal dengan melakukan eksisi dan marsupialisasi kantong hidrokel sesuai cara Winkelman atau plikasi kantong hidrokel sesuai cara Lord.• Pada hidrokel funikulus. Pada anamnesis. Terapi Hidrokel pada bayi biasanya ditunggu hingga anak mencapai usia 1 tahun dengan harapan setelah prosesus vaginalis menutup. testis dapat diraba dan berada di luar kantong hidrokel. hidrokel yang cukup besar mudah mengalami trauma dan hidrokel permagna bisa menekan pembuluh darah yang menuju ke testis sehingga menimbulkan atrofi testis. kantong hidrokel berada di funikulus yaitu terletak di sebelah kranial dari testis. kantong hidrokel terpisah dari testis dan dapat dimasukkan ke dalam rongga abdomen. tetapi jika hidrokel masih tetap ada atau bertambah besar perlu difikirkan untuk dilakukan koreksi. Beberapa indikasi untuk melakukan operasi pada hidrokel adalah: (1) hidrokel yang besar sehingga dapat menekan pembuluh darah. Tindakan untuk mengatasi cairan hidrokel adalah dengan aspirasi dan operasi. Pada anamnesis kantong hidrokel besarnya tetap sepanjang hari. kadang kala dapat menimbulkan penyulit berupa infeksi. (2) indikasi kosmetik. sehingga pada palpasi. Pada palpasi. • Pada hidrokel komunikan terdapat hubungan antara prosesus vaginalis dengan rongga peritoneum sehingga prosesus vaginalis dapat terisi cairan peritoneum. dan (3) hidrokel permagna yang dirasakan terlalu berat dan mengganggu pasien dalam melakukan aktivitasnya seharihari. . sekaligus melakukan herniorafi.

Diagnosa Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Sperma yang menumpuk disitu lama kelamaan akan menumpuk dan membuat suatu divertikulum pada caput epididimis. berkelok-kelok atau bentuknya tidak beraturan .Lunak .16. SPERMATOKEL  Spermatokel adalah suatu massa di dalam skrotum yang menyerupai kista.Unilateral (hanya ditemukan pada salah satu testis) . akan menyebabkan obstruksi dan mungkin mengakibatkan timbulnya spermatokel. Jika ukurannya besar dan mengganggu. Timbulnya scar pada bagian manapun di epididmis. 2.Licin. yang mengandung cairan dan sel sperma yang mati. Pemeriksaan lainnya yang mungkin perlu dilakukan adalah: . Epidemiologi 1. Spermatokel dapat berasal dari divertikulum rongga yang ditemukan pada caput epididimid. berbatas tegas atau padat. Spermatokel ini diduga pula berasal dari epididimitis atau trauma fisik. bisa dilakukan pembedahan untuk mengangkatnya.Berfluktuasi. Pemeriksan fisik menunjukkan adanya massa di dalam skrotum yang: .

Mungkin paska operasi akan dirasakan sensasi nyeri. MALDESENSUS TESTIS Gambaran klinis Pasien biasanya dibawa berobat ke dokter karena orang tuanya tidak menjumpai testis di kantong skrotum.Mungkin paska operasi akan dirasakan sensasi nyeri. Hanya kista yang menimbulkan ketidaknyamanan pada pasien dan pembesaran kista yang merupakan indikasi spermatocelectomy. 17. Penatalaksanaan Kista kecil pada spermatokel dapat dihilangkan ataupun dibiarkan bila dia tidak menimbulkan gejala atau asimtomatik. Penatalaksanaan Kista kecil pada spermatokel dapat dihilangkan ataupun dibiarkan bila dia tidak menimbulkan gejala atau asimtomatik. Kadang-kadang merasa ada benjolan di perut .Operasi ini biasanya menggunakan general ataupun local anastesi. USG skrotum  Biopsi. sedangkan pasien dewasa mengeluh karena infertilitas yaitu belum mempunyai anak setelah kawin beberapa tahun.Operasi ini biasanya menggunakan general ataupun local anastesi. Hanya kista yang menimbulkan ketidaknyamanan pada pasien dan pembesaran kista yang merupakan indikasi spermatocelectomy. Prognosis Bagi pasien yang menjalani operasi spermatocelectomy akan mengakibatkan kemandulan atau infertilitas.

yaitu dengan mencari keberadaan pleksus Pampiniformis. Jika tidak didapatkan pleksus pampiniformis kemungkinan testis memang tidak pernah ada. Untuk itu diperlukan bantuan beberapa sarana penunjang. Pada saat melakukan palpasi untuk mencari keberadaan testis. Inspeksi pada regio skrotum terlihat hipoplasia kulit skrotum karena tidak pernah ditempati oleh testis. testis tidak teraba di kantung skrotum melainkan berada di inguinal atau di tempat lain. mengalami torsio. atau berubah menjadi tumor testis. dan tentunya laparoskopi ini lebih dianjurkan daripada melakukan eksplorasi melalui pembedahan terbuka. Pemeriksaan flebografi selektif adalah usaha untuk mencari keberadaan testis secara tidak langsung. Pemakaian ultrasonografi untuk mencari letak testis sering kali tidak banyak manfaatnya sehingga jarang dikerjakan. Pada palpasi. di antaranya adalah flebografi selektif atau diagnostik laparoskopi. Melalui laparoskopi dicari keberadaan testis mulai dari dari fossa renalis hingga anulus inguinalis internus. Untuk itu perlu dilakukan pemeriksaan hormonal antara lain hormon testosteron. apalagi testis yang letaknya intraabdominal dan pada pasien yang gemuk.. harus dibedakan dengan anorkismus bilateral (tidak mempunyai testis). Diagnosis Banding . kemudian dilakukan uji dengan pemberian hormon hCG (human chorionic gonadotropin). Uji hCG untuk mengetahui keberadaan testis : • • Periksa kadar testosteron awal  Injeksi hCG 2000U/hari selama 4 hari Apabila pada hari ke V: Kadar meningkat 10 kali lebih tinggi daripada kadar semula Testis memang ada Keberadaan testis sering kali sulit untuk ditentukan. jari tangan pemeriksa harus dalam keadaan hangat.bagian bawah yang disebabkan testis maldesensus mengalami trauma. Jika kedua buah testis tidak diketahui tempatnya.

Obat yang digunakan adalah hormone hCG yang disemprotkan intranasal Tujuan operasi pada kriptokismus : I. maka saat yang tepat untuk melakukan terapi adalah pada usia 1 tahun. sedangkan pada kelainan unilateral hasilnya masih belum memuaskan. Tindakan Pada prinsipnya testis yang tidak berada di skrotum harus diturunkan ke tempatnya. mencegah terjadinya rasa rendah diri karena tidak punya testis Operasinya orkidopeksi yaitu meletakkan testis kedalam skrotum dengan melakukan fiksasi pada kantung subdartos . baik dengan cara medikamentosa maupun pembedahan.Seringkali dijumpai testis yang biasanya berada di kantung skrotum tiba-tiba berada di daerah inguinal dan pada keadaan lain kembali ke tempat semula. Dengan asumsi bahwa jika dibiarkan. Medikamentosa : Pemberian hormonal pada kriptorkismus banyak memberikan hasil terutama pada kelainan bilateral. atau setelah melakukan aktifitas fisik. V. testis tidak dapat turun sendiri setelah usia 1 tahun sedangkan setelah usia 2 tahun terjadi kerusakan testis yang cukup bermakna. Mempertahankan fertilitas Mencegah timbulnya degenerasi maligna Mencegah timbulnya kemungkinan terjadinya torsio testis Melakukan koreksi hernia Psikologis. Selain itu maldesensus testis perlu dibedakan dengan anorkismus yaitu testis memang tidak ada. III. II. Keadaan ini terjadi karena reflek otot kremaster yang terlalu kuat akibat cuaca dingin. Hal ini disebut sebagai testis retraktil atau kriptorkismus fisiologis dan kelainan ini tidak perlu diobati. IV. Hal ini bisa terjadi secara kongenital memang tidak terbentuk testis atau testis yang mengalami atrofi akibat torsio in utero atau torsio pada saat neonatus.

18. Operasi yang dikerjakan adalah orkidopeksi yaitu meletakkan testis ke dalam skrotum dengan melakukan fiksasi pada kantong sub dartos. sedangkan pada kelainan unilateral hasilnya masih belum memuaskan. Operasi Tujuan operasi pada kriptorkismus adalah: (1) mempertahankan fertilitas. (4) melakukan koreksi hernia. (2) mencegah timbulnya degenerasi maligna. RETRAKTIL TESTIS Definisi . Obat yang sering dipergunakan adalah hormon hCG yang disemprotkan intranasal. dan (5) secara psikologis mencegah terjadinya rasa rendah diri karena tidak mempunyai testis.Medikamentosa Pemberian hormonal pada kriptorkismus banyak memberikan hasil terutama pada kelainan bilateral. (3) mencegah kemungkinan terjadinya torsio testis.

Pada pemeriksaan fisik. akurasi MRI adalah 90% untuk testis intraabdomen. Sonografi dan magnetic resonance imaging (MRI) dapat membantu untuk menemukan lokasi testis yang tidak teraba. sebagai bukti adanya jaringan testis yang menghasilkan testosteron. testis lebih mudah diraba bila penderita pada posisi duduk bersila (crossed-leg). posisi testis di abdomen dapat ditemukan dan diletakkan ke skrotum dengan menggunakan teknik sesuai dengan kondisi anatomis. Perlu juga diperhatikan perkembangan kulit skrotum dan hipertrofi testis kontralateral. Retractile testis tidak mengarah ke kanker atau komplikasi lain. Biasanya menghilang atau normal kembali saat pubertas sehingga tidak memerluka tindakan operasi. Tes stimulasi human chorionic gonadotrophin (HCG). Pada prosedur ini. Diagnosis Pemeriksaan fisik dan sonografi. Laparoskopi sudah ditetapkan sebagai prosedur diagnostik dan terapeutik jika diduga terdapat retensi abdomen.adalah descended testis yang mudah berpindah (bolak-balik) dari scrotum ke abdomen. sebaiknya dilakukan sebelum operasi eksplorasi pada testis yang tidak teraba bilateral. Deferensial Diagnosa Maldesensus testis .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->