P. 1
ARDA

ARDA

|Views: 247|Likes:
Published by arjunakelana3653

More info:

Published by: arjunakelana3653 on Mar 27, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/24/2013

pdf

text

original

KOMUNIKASI LISAN UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA PADA ANAK TUNAGRAHITA KELAS VII SMPLB-C1 YAYASAN SOSIAL SETYA

DARMA SURAKARTA TAHUN PELAJARAN 2008-2009

SKRIPSI
TRI SISWATI NIM. X5107686

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN LUAR BIASA JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU KEGURUAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2009
i

KOMUNIKASI LISAN UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA PADA ANAK TUNAGRAHITA KELAS VII SMPLB-C1 YAYASAN SOSIAL SETYA DARMA SURAKARTA TAHUN PELAJARAN 2008-2009

Skripsi Ditulis dan Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Mendapatkan Gelar Sarjana Pendidikan Jurusan Ilmu Pendidikan Program Studi Pendidikan Luar Biasa

Oleh : TRI SISWATI NIM. X5107686

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2009
ii

HALAMAN PERSETUJUAN

Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Persetujuan Pembimbing

Pembimbing I

Pembimbing II

Dra. B. Sunarti, M.Pd NIP. 19450313 197403 2001

Dewi Sri Rejeki, S.Pd, M.Pd NIP. 197607302006042001

iii

HALAMAN PENGESAHAN

Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta dan diterima untuk memenuhi persyaratan mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan

Pada Hari : Tanggal :

Tim Penguji Skripsi :

(Nama Terang)

(Tanda Tangan) …….………… ……………… ………………. …..……………

Ketua Sekretaris Anggota I Anggota II

: Drs. R. Indianto, M.Pd : Drs. A. Salim Choiri, M.Kes : Dra. B. Sunarti, M.Pd : Dewi Sri Rejeki, S.Pd, M.Pd

Disahkan oleh Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Dekan,

Prof. Dr. M. Furqon Hidayatullah, M.Pd NIP. 19600727 198702 1 001

iv

MOTTO  Bersabar dan selalu berusaha untuk mencapai puncak prestasi (Penulis)  Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ketepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian (Peribahasa)

v

PERSEMBAHAN Skripsi ini dipersembahkan kepada :  Suamiku tercinta  Anak-anakku tercinta  Rekan-rekan senasib sepenanggungan  almamater vi .

selaku Pembimbing I terima kasih telah membimbing dan mengarahkan penulis dari awal hingga akhir penulisan skripsi ini. Drs. Murid-murid Kelas VII SMPLB-C1 Yayasan Sosial Setya Darma Surakarta yang telah membantu dalam menjadi sampel dalam penelitian ini. 6. R. bantuan dan dorongan dari berbagai pihak. S. terima kasih untuk setiap ilmu yang diberikan sehinga penulis mendapatkan bekal untuk penulisan skripsi ini. Teman-teman seperjuangan angkatan 2007. M. 10. vii . terima kasih kerjasamanya. M. Dr.Pd.Pd. M. Prof. 8. 5.Kes. Dra. Banyak sekali hambatan dan kesulitan yang penulis hadapi. H. M. Indianto.KATA PENGANTAR Puji Syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. 7. Furqon Hidayatullah. 4. selaku Ketua Program Studi Pendidikan Luar Biasa. Dosen-dosen pengajar program studi Pendidikan Luar Biasa.Pd. 2. selaku Pembimbing II terima kasih atas bimbingan dan arahan yang diberikan dari awal hingga akhir penulisan skripsi ini. B. M. Drs. Riyanto selaku Kepala sekolah SMPLB-C1 Yayasan Sosial Setya Darma Surakarta yang telah memberikan ijin untuk mengadakan penelitian.Pd. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1.Ag. Penulisan skripsi ini tidak akan berjalan lancar tanpa adanya doa. Drs.Pd. M. selaku Ketua Jurusan Ilmu Pendidikan. selaku Sekretaris Program Studi Pendidikan Luar Biasa. Dewi Sri Rejeki. 11. 9. Drs. 3. Salim Choiri. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta. Maryadi. karena dengan berkat dan penyertaanNya penulis dapat menyelesaikan skripsi untuk melengkapi tugas-tugas dan memenuhi syarat-syarat untuk mencapai gelar Sarjana Pendidikan Jurusan Ilmu Pendidikan Program Studi Pendidikan Luar Biasa Universitas Sebelas Maret Surakarta. M. Sunarti. Semua pihak yang tidak mungkin disebutkan satu per satu terima kasih untuk bantuan dan semangat yang telah diberikan.

Surakarta.Penulis sadar bahwa dalam penulisan skripsi ini masih banyak kekurangan. Oleh karena saran dan kritik yang bersifat membangun sangat diharapkan sehingga dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan penelitian selanjutnya. Agustus 2009 Penulis viii .

Teknik pengumpulan data menggunakan tes dan observasi. Dengan demikian secara teoritis terbukti hipotesis yang menyatakan bahwa dengan menggunakan komunikasi lisan dapat meningkatkan kemampuan membaca dalam pembelajaran Bahasa Indonesia bagi siswa kelas VII SMPLB-C1 Yayasan Sosial Setya Darma Surakarta Tahun Pelajaran 2008-2009dapat diterima/teruji kebenarannya. Komunikasi Lisan Untuk Meningkatkan Kemampuan Membaca Pada Anak Tunagrahita Kelas VII SMPLB-C1 Yayasan Sosial Setya Darma Surakarta Tahun Pelajaran 2008-2009. sedangkan pada siklus III nilai terendah 60 dan nilai tertinggi 75. Data penelitian berupa kemampuan berbicara diperoleh dengan tes setelah dalam proses pembelajaran menerapkan komunikasi lisan bagi anak tuna grahita. Model penelitian menggunakan model penelitian Kemmis dan MC Tonggort yang merupakan model spiral. pengamatan dan refleksi. dan 3) Penarikan kesimpulan/verivikasi selain itu dalam analisis data juga digunakan analisis secara deskriptif komparatif untuk membandingkan kondisi awal setelah dilaksanakannya tindakan 1 dan tindakan berikutnya. Agustus 2009. yaitu : 1) Reduksi data. Skripsi. ix . Universitas Sebelas Maret Surakarta. Dari penelitian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam meningkatkan kemampuan membaca siswa tunagrahita kelas VII SMPLB-C1 Yayasan Sosial Setya Darma Surakarta dilaksanakan pembelajaran membaca dengan menggunakan komunikasi lisan. tindakan. Analisis data dilakukan dengan analisis kualitatif meliputi tiga akhir kegiatan terjadi secara bersamaan dan terus menerus selama dan setelah pengumpulan data. X5107686. Sumber data penelitian tindakan kelas ini berasal dari siswa kelas VII SMPLB-C1 Yayasan Sosial Setya Darma Surakarta sebagai subjek penelitian. 2) Penyajian data. Surakarta : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan komunikasi lisan untuk meningkatkan kemampuan membaca pada anak tunagrahita kelas VII SMPLB-C1 Yayasan Sosial Setya Darma Surakarta. pada siklus II yaitu nilai rendah 57 dan nilai tertinggi 75. Dapat diketahui bahwa terdapat peningkatan kemampuan membaca lisan siswa dengan menggunakan metode komunikasi lisan dengan melihat pada nilai ulangan harian pada pada kondisi awal nilai terendah 50 dan nilai tertinggi 70. Model ini terdiri atas 4 komponen yaitu perencanaan.ABSTRAK Tri Siswati. pada siklus I yaitu nilai terendah 5 dan nilai 72 tertinggi 72.

.................................................... BAB I PENDAHULUAN........................................................................ Tinjauan Tentang Kemampuan Membaca ...................................................... HALAMAN PERSETUJUAN ............... b............................................ Perumusan Masalah ........... PERSEMBAHAN .............................................................................................. Klasifikasi Anak Tuna Grahita .. ABSTRAK .................. BAB II KAJIAN TEORI ....... C.................. 1.... KATA PENGANTAR ........... 12 2............................................................ Faktor Penyebab Tuna Grahita ........ 16 3............................... Pengertian Anak Tuna Grahita ............... 1 1 4 4 4 5 5 5 5 6 7 9 i iii iv v vi vii ix x e.................................................... Tinjauan Anak Tuna Grahita .. D............. Ciri-ciri Anak Tuna Grahita . A.... c............................................................... Tujuan Masalah ....................... Tinjauan Tentang Kemampuan Membaca ............................................ d............... Tinjauan Tentang Membaca Lanjut ......... KajianTeori ........................... A................... 19 x ............... Karakteristik Anak Tuna Grahita ........ Latar Belakang Masalah ............................................................................... 18 b.............................. 18 a.............................................................................. Tinjauam Kemampuan Berkomunikasi Lisan ...... DAFTAR ISI .......... Manfaat Penelitian ................................................................................... Pengertian Tentang Kemampuan Berkomunikasi Lisan 13 b....... a................................................. HALAMAN PENGESAHAN ................................................................... Macam-macam Komunikasi Lisan ........................... MOTTO ......................................DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL........................................................................................................................................... B................................................ 13 a..............................................................................

.............. Simpulan ........... 22 B............................................................................................... 43 DAFTAR PUSTAKA ... Perumusan Hipotesis ........... 22 E.......... 42 BAB V SIMPULAN DAN SARAN ............................B..................................................................................................................................... 23 G... Hasil Penelitian ........ 27 C........ 41 F.................................................................. 43 A...... 20 C........................................................................ Deskripsi Hasil Siklus II ...................... 22 D.. Deskripsi Hasil Siklus III ............... 22 F........... 37 E.................................................................................. 22 A.............................................................. 24 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ............ 45 LAMPIRAN ........... 46 xi ..................................................... Subyek Penelitian ......................................................................... Sumber Data ..................... Pengumpulan Data ................................... Indikator Kinerja .............................................................................. Prosedur Penelitian .......... Validasi Data ....... Setting Penelitian ................................................................. Kerangka Berpikir ......... Pembahasan Tiap Siklus dan Antar Siklus .. Saran ............................................................................................................................................................... 21 BAB III METODOLOGI PENELITIAN .................... Deskripsi Hasil Siklus I ...................... 22 C..................... 27 A...................................... 43 B....................................... 32 D.......................................................... 27 B................. Deskripsi Kondisi Awal ............................................

Distribusi Frekuensi Kemampuan Membaca Siswa ..... Indikator Penilaian ....... Daftar Identitas Siswa Tuna Grahita Mampu Latih Kelas VII SMPLB – C1 Yayasan Sosial Setya Darma Surakarta ...... 40 Tabel 14..................................................... 35 Tabel 9....................... Hasil Nilai Kemampuan Berkomunikasi Lisan pada Anak SLB-C1 Kelas VII SMPLB ................ Data Nilai Kemampuan Berkomunikasi Lisan bagi Anak Tunagrahita Kelas VII SMPLB – C1 ......... Hasil Pengamatan Guru Terhadap Anak dalam Proses Pembelajaran ............................ 30 Tabel 5............................ Hasil Penelitian ..........DAFTAR TABEL Halaman Tabel 1.................. Data Nilai Kemampuan Berkomunikasi Lisan bagi Anak Tunagrahita Kelas VII SMPLB – C1 ................. 29 Tabel 4......................................................... 33 Tabel 7................................... Hasil Nilai Kemampuan Berkomunikasi dalam Percakapan untuk Meningkatkan kemampuan Membaca ............................................... Hasil Pengamatan Guru Terhadap Anak dalam Proses Pembelajaran ... 39 Tabel 13............................................................................................... 36 Tabel 10........ 27 Tabel 2.................................... 31 Tabel 6........................................................................................... Proses Pembelajaran ........................................................................ 41 Tabel 15............................................................. 29 Tabel 3............................................................................. Hasil Nilai Kemampuan Membaca Siswa ......... Indikator Penilaian .................................. Indikator Penilaian ....................... 34 Tabel 8........ 42 xii ....................... 39 Tabel 12... Hasil Pengamatan Guru Terhadap Anak dalam Proses Pembelajaran .. 38 Tabel 11....

................ Gambar 5.............. Gambar 6....... Grafik Frekuensi Kemampuan Membaca Siswa . Gambar 2..................... Gambar 4........................ Grafik Frekuensi Kemampuan Membaca Siswa ........... Grafik Frekuensi Kemampuan Membaca Siswa ................................. Gambar 3......... Kegiatan Pembelajaran pada Siklus I .................................... 28 31 33 36 38 40 xiii ... Kegiatan Pembelajaran pada Siklus III di Luar Kelas ..........DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 1.............. Tanya Jawab Pada Siklus II ...

... Surat Ijin Penyusunan Skripsi ................ Lampiran 6..............................DAFTAR LAMPIRAN Halaman Lampiran 1.......... Laporan Hasil Pemeriksaan Psikologis Siswa . Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar ........ Lampiran 7......... Permohonan Ijin Research Kepada Sekolah ..... Lampiran 10....................... Lampiran 4.............................. Lampiran 5................ Permohonan Ijin Kepala Sekolah ...................... Laporan Hasil Belajar Siswa Kelas VII SMPLB-C1 Yayasan Sosial Setya Darma Surakarta... Instrumen Angket Siswa .............................................. Hasil Tes Siswa ....................... Lampiran 2........... Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ........................................................................................ Lampiran 9............................................. Daftar Nama Siswa Kelas VII SMPLB-C1 Yayasan Sosial Setya Darma Surakarta ... Permohonan Ijin Menyusun Skripsi ................................................ Lampiran 3........................ Lampiran 11................................ Lampiran 8................. xiv .........

Latar Belakang Masalah Dalam kehidupan sehari-hari manusia membutuhkan bahasa sebagai alat komunikasi. Anak tunagrahita mengalami kelambatan untuk berkomunikasi dan menerima informasi. manusia dapat berkomunikasi dengan lingkungan menggunakan bahasa sebagai penyalur ide atau gagasan. dan menulis. Melatih keterampilan berbahasa berarti pula melatih keterampilan berfikir". serta kemampuan dasar yang diberikan kepada siswa untuk berkomunikasi. Seperti diketahui Pengajaran Bahasa Indonesia selama ini kurang sekali melatih anak dalam keterampilan menggunakan bahasa untuk berkomunikasi. baik secara lisan maupun tertulis. Keterampilan hanya dapat diperoleh dan dikuasai dengan jalan praktek dan banyak latihan.BAB I PENDAHULUAN A. "Bahasa seseorang mencerminkan pikirannya. maka perlunya pemberian layanan khu sus 1 . sikap. Semakin terampil seseorang berbahasa. sedangkan bahasa tertulis adalah bahasa yang diungkapkan melalui simbol. berbicara. baik secara lisan maupun tertulis. Siswa banyak diberi pengetahuan dan aturan-aturan tata bahasa tanpa pernah tahu bagaimana mengkaitkannya dalam latihan-latihan menulis dan berbicara Indonesia untuk berkomunikasi. Bahasa lisan hanya merupakan makna verbal dari penyampaian bahasa. Bahasa Indonesia merupakan bahasa pengantar dan sebagai bahasa persatuan bagi bangsa Indonesia. Pengajaran Bahasa Indonesia mempunyai peranan penting dalam membentuk kebiasaan. semakin cerah dan jelas pula jalan pikiran. Peranan bahasa sangat penting. Dalam pengajaran Bahasa Indonesia bukan hanya pengetahuan bahasa saja yang diberikan melainkan juga mencakup ketranpilan bahasa berkomunikasi diantaranya kemampuan membaca. Menurut Dawson yang dikutip oleh Henry Guntur Tarigan (1994:2). Bahasa memiliki cakupan yang luas yaitu bahasa ujaran/lisan dan bahasa tertulis.

budaya dan alam sekitar serta dapat mengembangkan kemampuan dalam dunia kerja atau mengikuti pendidikan lanjutan. pengetahuan. Anak tunagrahita yang masih biasa diberikan pendidikan dan latihan secara khusus sesuai dengan kemampuannya adalah anak tunagrahita yang IQ-nya antara 20-50. sarana. sosial. keterbatasan intelektual atau kecerdasan yang mereka miliki berada di bawah rata-rata anak normal. Lingkungannya yang sangat berpengaruh bagi perkembangan berkomunikasi anak tunagrahita adalah sekolah. dan memiliki kecerdasan dan bakat istimewa ".2 yang diselenggarakan oleh pihak sekolah yaitu SLB-C1 yang menampung anak-anak tunagrahita. dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) No: 20 Pasal 23 tahun 2003 tentang pendidikan khusus menyatakan sebagai berikut: "Pendidikan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam melalui proses pembelajaran karena kelainan fisik. materi yang ada dalam kurikulum pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus. Tuntutan untuk dapat layanan khusus juga dinyatakan dalam Peraturan Pemerintah (PP) No: 27 tahun 1991 yang menyatakan sebagai berikut: Peserta didik yang menyandang kelainan fisik dan mental agar mampu mengembangkan sikap. dan keterampilan sebagai pribadi maupun anggota masyarakat dengan menggunakan hubungan timbal balik dan lingkungan. mental. Kemampuan tersebut terangkum dalam . sosial. Untuk memperoleh pendidikan yang sesuai dengan kemampuan dan potensi yang masih biasa dikembangkan. kemampuan dasar tersebut antara tain kemampuan komunikasi lisan dan kemampuan membaca. sehingga peranan guru sangat penting dalam mengoptimalkan komunikasi anak melalui ketepatan dalam kegiatan belajar mengajar dengan mengolah tehnik. emosional. Salah satu anak berkebutuhan khusus yang mutlak memerlukan pelayanan secara khusus adalah anak tunagrahita. Usaha pengembangan kemampuan anak tunagrahita tidak lepas dari kesiapan anak dalam bidang kemampuan dasarnya.

bersifat menerima (Tarigan.3 kemampuan bahasa yang juga kemampuan berkomunikasi. dan membaca memiliki persamaan kedua-duanya bersifat reseptif. Komunikasi yang dikembangkan adalah komunikasi lisan yang sering digunakan anak tunagrahita dalam berinteraksi dengan lingkungannya. peneliti membahas masalah dengan judul "Komunikasi Lisan untuk Meningkatkan Kemampuan Membaca pada Anak Tunagrahita Kelas VII SMPLB-C1 Yayasan Sosial Setya Darma Surakarta". anak tunagrahita memiliki kemampuan yang kurang dalam merangkai kalimat dengan benar dan sering kali dalam Bahasa Indonesia anak menyisipkan bahasa daerahnya. mendengar adalah menerima informasi lisan. sedangkan membaca menerima dari sumber informasi tertulis. Berdasarkan latar belakang di atas. bahkan tidak jelas apa maksudnya. Dari kedua aspek tersebut sangat mempengaruhi perkembangan berkomunikasi lisan pada anak. Mengajarkan komunikasi tidak lepas dari faktor-faktor lain yang mempunyai peranan penting yaitu pada kemampuan mendengar dan membaca. Kedua aspek tersebut saling mempengaruhi dan saling terikat. Kenyataan yang dihadapi oleh anak antara lain bahwa pengajaran Bahasa Indonesia yang mengarah pada kemampuan berkomunikasi masih kurang diberikan oleh guru. sehingga dapat digunakan sebagai bekal anak dalam kehidupan bermasyarakat. Anak tunagrahita sering menceloteh dengan bahasa yang tidak tepat. Guru hanya melihat perkembangan anak dari teoritik saja dan tidak mengarah ke dalam penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari. Seorang guru harus bisa memberikan penanganan serta metode yang terarah dan sesuai dengan kebutuhan anak tunagrahita. Melihat kenyataan tersebut guru sebagai seorang pendidik dan pembimbing dalam komunikasi lisan agar dapat mengarahkan pada komunikasi yang baik. maka manfaat yang diperoleh anak tunagrahita akan mempengaruhi perkembangan dalam berkomunikasi secara lisan anak tunagrahita mampu melatih dengan lingkungannya. 1994: 4). .

4 B. Manfaat praktis a. Untuk membantu siswa dalam hal penangkapan informasi dari luar serta kelancaran penyampaian informasi melalui berbicara. b. Manfaat teoritis a. D. Manfaat Penelitian Dengan diadakannya penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi siswa. 2. . maka dirumuskan masalah sebagai berikut : “Apakah dengan komunikasi lisan dapat meningkatkan kemampuan membaca pada anak tunagrahita kelas VI SMPLB-C1 Yayasan Sosial Setya Darma?” C. Sebagai pertimbangan bagi sekolah dan guru dalam memberikan perlakuan dan layanan pendidikan bagi anak tunagrahita. c. Sebagai masukan bagi orang tua dan guru untuk memperhatikan perkembangan komunikasi anaknya. Untuk membantu siswa agar mampu berkomunikasi dengan lingkungan sekitar. Sebagai bahan perkembangan dan masukan bagi studi kasus yang sejenis yang melibatkan kemampuan komunikasi lisan dan kemampuan membaca untuk pokok bahasan yang lain. b. Tujuan Penelitian “Untuk meningkatkan kemampuan membaca melalui komunikasi lisan pada anak tunagrahita kelas VII SMPLB-C1 Yayasan Sosial Setya Darma Surakarta”. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang dan alasan pemilihan judul tersebut di atas. guru dan lembaga pendidikan antara lain : 1.

Tinjauan Anak Tunagrahita a. baik perkembangan sosial maupun kecerdasannya disebut anak terbelakang mental. Dan istilah lainnya yang dikemukakan oleh beberapa ahli tentang sebutan anak tunagrahita diantaranya cacat mental. istilah resminya di Indonesia disebut anak tunagrahita. terbelakang mental. jika ia karena tidak cukup daya pikirnya. retardasi mental dan lain-lain. Menurut Tjutju Sutjiati Somantri (1995: 154) memberikan definisi anak tunagrahita yang dikembangkan oleh AAMD (American Association of Mental Deficiecy) sebagai berikut : "Keterbelakangan mental menunjukkan fungsi intelek di bawah rata-rata secara jelas dengan disertai ketidakmampuan dalam penyesuaian perilaku dan terjadi pada masa perkembangan". "Seorang disebut lemah otak. Pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa anak tunagrahita 5 . Kajian Teori 1. Amin : Anak-anak dalam kelompok di bawah ini normal dan/atau lamban dari pada anak normal. Boimin (1986: 31) memberikan pengertian anak debil atau anak tunagrahita ringan yaitu. maka tidak mampu mengikuti pendidikan normal pada umumnya dan harus masuk sekolah khusus yaitu SLB bagian C". "Anak yang terbelakang mental yang dapat mengikuti pendidikan yang tidak banyak melibatkan yang tinggi.5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. dan jika dapat juga hanyalah dalam keadaan yang sangat baik". Kemudian menurut D. Henderschee seperti yang dikutip oleh Munzayanah (1998: 11). 72 tahun 1991 yang dikutip oleh Moh. Pengertian Anak Tuna Graha Untuk mengetahui tentang pengertian anak tunagrahita di sini dikemukakan pendapat menurut PP No. lemah otak. tidak dapat hidup dengan kekuatan sendiri di tempat yang sederhana dalam masyarakat.

Kurang dapat menghubung-hubungkan antara kejadian satu dengan kejadian lainnya. 2. Tingkatan kecerdasan berkisar sekitar 50/55-70/75 dengan MA antara 7-10 tahun. 9. Menurut Sutratinah Tirtonegoro (1987: 10-11) karakteristik anak tunagrahita ringan adalah: 1. 10. sekitar menilai baik dan buruk. anak tunagrahita ringan banyak yang lancar berbicara tetapi kurang perkembangan kata-katanya. Kepribadian kurang harmonis. Karakteristik Anak Tunagrahita Ringan Menurut Moh. Amin (1995: 37).6 ringan adalah orang yang karena perkembangannya di bawah normal tidak sanggup untuk menerima pelajaran dengan cukup dari program sekolah dasar umum. tetapi itupun hanya sebagian. Sebagaimana tertulis juga dalam The New American Webster (1956: 301) bahwa : "Moron (debile) is a person whose mentality does not develop beyond the 12 years old level". Dapat mengingat-ingat beberapa istilah tetapi kurang dapat memahami istilah tersebut. Jadi mental walaupun anak sudah mencapai 12 tahun kemampuan mentalnya hanya setaraf anak normal berusia antara 7-10 tahun. Sukar berfikir abstrak dan terikat dengan lingkungannya. Anak kurang dapat membedakan antara hal yang penting dengan hal yang tidak penting. Ingatan anak mudah melerai. tetapi masih memiliki potensi untuk dikembangkan. Mereka mengalami kesukaran berfikir abstrak. Anak kurang dapat berfikir secara logis. 7. Cara berfikir konkrit. Kurang sanggup mengatur rangsangan-rangsangan dari luar. Kurang dapat mengendalikan perasaan. Pada umur 16 tahun baru mencapai umur kecerdasan yang sama dengan anak umur 12 tahun. 3. 12. 4. 11. b. Daya pengamatan anak sangat rendah. Daya konsentrasi anak dan sering terganggu . 8. Maksudnya kecerdasan berpikir seseorang tunagrahita ringan paling tinggi dengan kecerdasan anak-anak normal usia 12 tahun. Anak mudah dipengaruhi. 5. 6. 14. 13. tetapi mereka masih dapat mengikuti pelajaran akademik baik di sekolah biasa maupun di sekolah khusus. kurang dapat berfikir secara menganalisis.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Untuk kepentingan pendidikan anak tunagrahita dibagi menjadi tiga golongan yaitu tunagrahita ringan. Ciri-ciri Anak Tunagrahita Beberapa pendapat mengenai cirri-ciri dari anak tunagrahita adalah sebagai berikut: 1. d. Anak kurang adanya kesanggupan untuk mandiri Berdasarkan karakteristik tersebut maka dijelaskan bahwa anak tunagrahita ringan umum adalah sebagai berikut: a. b. c. Dari pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa karakteristik anak tunagrahita ringan adalah kemampuan anak yang tergolong rendah yaitu IQ 50/55-70/75. Anak kurang dapat menghubungkan kejadian-kejadian mengingat-ingat yang satu dengan yang lain. Daya konsentrasi rendah dan mudah terganggu.7 15. Daya pengamatan rendah. Kemampuan anak di bawah normal. dan daya pikir yang kurang. e. Pengajaran yang baik adalah dengan mengembangkan potensi yang masih ada seperti pada kemampuan dasar bahasa Indonesia. tunagrahita sedang dan tunagrahita berat. Sehingga anak tunagrahita sangat memerlukan bimbingan khusus guna memenuhi keterbatasanketerbatasan yang mereka miliki. Sukar berfikir abstrak. Keterbatasan dalam ketrampilan berbahasa akan mempengaruhi terhadap kemampuan berkomunikasi. Melihat ciri-ciri di atas maka keterlambatan dalam perkembangan dan kemampuan berbahasa anak tunagrahita ringan sangat terbatas. yaitu menyimak dan membaca. c. Di bawah ini akan dikemukakan ciri-ciri anak tunagrahita antara lain : . Guna mengembangkan kemampuan komunikasi secara lisan dalam bahasa Indonesia kemampuan ini diberikan dalam tahap sederhana.

1984: 56). emosinya yang meledak-ledak. hidupnya hanya tidur terlentang ditempat tidur. seluruh tergantung kepada pertolongan orang lain (Depdikbud. 4) Peka terhadap penyakit. Sam Isbani (1993: 18) berpendapat tentang cirri-ciri anak tunagrahita atau subnormal mental adalah sebagai berikut: Sukar melihat perbedaan pendapat antara benda-benda yang tempatnya mirip satu sama lain. b) Ciri-ciri anak tunagrahita sedang/ anak tunagrahita mampu latih Anak ini mempunyai IQ antara 25-50 paling tinggi mampu menyelesaikan sekolah sampai kelas I/II Sekolah Dasar. Lambat dalam menganggapi rangsangan. Jadi sukar untuk mengerti suatu perintah-perintah atau petunjuk. keras kepala dan mudah putus asa. 2. tidak mempunyai gairah hidup. tuna dengar. sulit berbicara. missal trebral Palsy. panas. ingatan maupun perasaan. Anak mampu rawat yang sangat parah tidak mampu berdiri. c) Ciri-ciri anak tunagrahita berat/ perlu rawat Anak ini mempunyai 1Q kurang dari 25 setara anak-anak normal diantara 1-3 tahun. Menurut Munzayanah (1998: 24) menyatakan bahwa. 1984: 57). sedangkan anak mampu rawat perasaan lapar. haus. dingin dan lain-lain. (Depdikbud. mudah dipengaruhi dan diperintah orang lain. Pada umumnya tidak mampu mengingat kembali. perkembangan jiwanya terlambat baik dalam berpikir. 3) Biasanya diikuti dengan kelainan fisik yang lain. tidak mampu memelihara badannya sendiri. sulit menyesuaikan diri. tidak mampu menjaga diri sendiri. Seringkali mengalami kesulitan dalam mendengar. perhatian dan konsentrasi sudah jarang serta sukar mengingatingat maka pelajaran-pelajaran yang sifatnya hafalan akan sulit . Perkembangan jaemani dan rohaniya sangat sedikit. 1984:55). 3.8 a) Ciri-ciri anak tunagrahita ringan/ anak tunagrahita mampu didik Anak ini mempunyai IQ antara 50-70. 2) Mengalami gangguan dalam sosialisasi. mengenal kembali dan melokasikan suara. (Depdikbud. serta sulit berpikir atau menangkap inti dari suatu persoalan. karakteristik yang nampak serta banyak terjadi pada anak tunagrahita adalah sebagai berikut: 1) Anak mengalami kelebihan bicara. Apabila minat. Gerakan tidak lincah. bicaranya terganggu. paling tinggi dapat menyelesaikan pendidikan sampai kelas IV/V sekolah dasar.

maka ada yang menyebut sebagai mongolisme. namun secara garis besar pada prinsipnya sama. Berikut ini klasifikasi etiologi dari berbagai pendapat: 1. Berdasarkan pendapat yang dikemukakan oleh beberapa ahli dapat penulis simpulkan bahwa ciri-ciri anak tunagrahita ringan antara lain IQ antara 50-70. Faktor Penyebah Tuna Gmhita Faktor penyebab tunagrahita diklasifikasikan oleh para ahli sesuai sudut pandangannya masing-masing. mengalami gangguan sosialisasi. Hal ini disebabkan oleh metabolisme asam amino abnormal yang diturunkan. ketidak mampuan perombakan senyawa phenylketonuria menjadi senyawa tyrosine akibat dari deflsiensi enzim hati khusus. emosi yang tidak stabil. Bentuk lain dari abnormalitas kromosom bagi anak dengan syndrome down berasal dari transJokasi. tetapi karena penderita memiliki mata sipit. (2) Abnormalitas kromosom Abnormalitas kromosom paling umura ditemukan syndrome down atau syndrome mongol. b) Penyebab Tunagrahita pada Masa Natal (1) Infeksi Rubella/ Cacar Pada awal tahun 1940-an telah ditemukan bahwa virus rubella yang mengenai ibu selama tiga bulan kehamilan pertama kemungkinan menyebabkan kerusakan kogninental dan kemungkinan terjadinya retardasi mental pada anak.9 dipelajari. mudah putus asa. Pada mulanya penyakit ini disebut penyakit down. d. (1994 : 30-38) menyatakan penyebab anak tungrabita sebagai berikut: a) Faktor Genetik (1) Kerusakan biokimia Para ahli biokimia telah mengidentifikasi sejumlah substansi kimia yang berpengaruh terhadap kondisi genetik sub normal misalnya materi kimia yang berupa karbohidrat. lemak dan asam amino. Kerusakankerusakan yang dapat ditimbulkan oleh penyakit tersebut misalnya . dan biasanya diikuti dengan penyakit bawaan/ kelainan bawaan. Menurut Mulyono Abdurrachman dan Sudjadi S. Phenylketonuria diketahui sebagai penyakit yang diturunkan yang dapat menyebabkan retardasi mental. yaitu anak memiliki 46 kromosom tetapi satu pasang dari kromosom tersebut mengalami kerusakan dan bagian yang lain tergantung dengan kromosom yang lain.

(5) Penyebab Sosio-kultural Menurut Patto dan Polloway (1986: 188) melaporkan bahwa anak tunagrahita banyak ditemukan di daerah yang tingkat sosialnya rendah. dan retardasi mental. Penelitian lain juga membuktikan bahwa kurangnya kontak pribadi dengan anak. penyakit hati. yang menyebabkan darah menggumpal dan mengbasilkan sel-sel darah yang tidak dewasa (immature blood cells) dan gagal menjadi sel yang dewasa di dalam sumsum tulang. Jika keduanya bertemu dalam satu aliran darah yang sama. menutup diri. tuli.10 gangguan pengelihatan. (4) Penyebab Post Natal Penyakit-penyakit akibat infeksi dan problema nutrisi yang diderita pada bayi dan pada awal kanak-kanak dapat menyebabkan retardasi mental adalah ancephalitis dan meningitis. hal ini disebabkan ketidak mampuan lingkungan memberikan rangsangan-rangsangan yang diperlukan anak pada masa perkembangan. (2) Faktor Rhesus (RH) Pada manusia 86% memiliki RH-positif dan 14% RH-negatif. bermain. . tersenyum. mikrosefali. mengakibatkan timbulnya sikap tegang. misalnya dengan mengajak berbicara. Hasil penelitian Yanet dan Lieberman seperti dikutip oleh Kirk Gallagher (1979: p. Keadaan seperti ini pada akhirnya mengakibatkan anak agak sulit menerima rangsangan-rangsangan dari luar yang akan berpengaruh buruk terhadap perkembangan anak baik perkembangan fisik maupun perkembangan mentalnya. dingin. maka akan terbentuk aglitinin. 119) menunjukkan adanya hubungan keberadaan RH darah yang tidak kompatibel (incompatible) pada penderita retardasi mental. Darah RH-positif dan RH-negatif merupakan pasangan yang saling menolak (incompatible). sesak nafas (asphyxia) dan prematurias. (3) Penyebab Prenatal Berbagai peristiwa pada saat kelahiran yang memungkinkan terjadinya retardasi mental yang terutama adalah luka-luka saat kelahiran.

(b) Gangguan metabolisme. sehingga apabila anak mengalami stress akan bereaksi dengan cara yang bermacam-macam untuk dapat menyesuaikan diri atau dengan kata lain "Security System" sangat lemah di dalam keluarga. (2) Natal. disebabkan karena kekurangan rangsangan atau kekurangan kesempatan dari keluarga. yang meliputi: (1) Prenatal dapat terjadi karena : (a) Infeksi pada ibu sewaktu mengandung. Kelompok etiologi ini dipengaruhi oleh proses psikososial dalam keluarga. dalam hal ini Davis mengemukakan tiga macam teori yaitu : (1) Teori Stimulasi Pada umumnya adalah retardasi mental yang tergolong ringan. dapat terjadi karena : (a) Malnutrisi (b) Infeksi. . (c) Iradiasi sewaktu umur kehamilan antara 2 sampai 6 minggu. (3) Teori Keturunan Hubungan ini mengemukakan bahwa hubungan antara orang tua dan anak sangat lemah akan mengalami disorganisasi. meningitis dan anchepalitis (c) Trauma b) Kelompok sosio kultural. (e) Malnutrisi. Menurut Yanet yang dikutip oleh Prasadio (1986: 14) penyebab tunagrahita digolongkan menjadi dua kelompok. yaitu : a) Kelompok biomedik.11 2. psikologik atau lingkungan. antara lain berupa : (a) Anaxia (b) Asphysia (c) Prematuritas dan postmaturitas (d) Kerusakan otak (3) Post natal. (d) Kelainan kromosom. (2) Teori Gangguan Kegagalan keluarga dalam memberikan proteksi yang cukup terhadap stress pada masa kanak-kanak sehingga mengakibatkan gangguan pada proses mental.

cebol) b) Mongol (mongolisme. Klasifikasi Anak Tunagrahita Terdapat bermacam-macam klasifikasi anak tunagrahita yang dikemukakan oleh para ahli. Klasifikasi Menurut Etiologi Klasifikasi ini sangat berarti bagi jumlah untuk usaha-usaha pencegahan. IQ 25-50 c) Debi atau bebilitas/ moron. c) Faktor keturunan. Klasifikasi Menurut Deraiat Kecacatannya Penetapan klasifikasi ini berdasarkan pengukuran intelegensi yaitu terbagi menjadi : a) Idiot atau idiocy. Klasifikasi Menurut Tipe-tipe Klinik Sistem klasifikasi ini berdasarkan pada anomaly (penyimpanganpenyimpangan) fisik yang terdapat pada anak-anak antara lain : a) Cretinisme (kretin. dimana masing-masing mempunyai perbedaan dalam pemberian sudut pandangnya. b) Gangguan fisiologis. d) Pengaruh kultur dan lingkungan. IQ 0-25 b) Imbesi atau imbesilitas.12 c) Menurut Munzayanah (1998: 5) klasifikasi etiologi yang lain dipandang dari empat hal yaitu: a) Luka otak. agar jumlah cacat garahita tidak semakin bertambah bayak. e. Berikut berbagai macam klasifikasi anak tunagrahita yang dikemukakan oleh Munzayanah (1998: 19) antara lain : 1. mogoloid) c) Microcephalic (microchepalus) . IQ 50-70 2. kerdil. Klasifikasi etiologi itu sebagai berikut : a) Sebab-sebab keturunan (heriditer) b) Sebab-sebab gangguan fisik c) Sebab-sebab kerusakan pada otak 3.

Tinjauan Kemampuan Berkomunikasi Lisan a. Pengertian Tentang Kemampuan Komunikasi Lisan Hambatan yang disandang anak-anak tunagrahita juga berakibat . Klasifikasi dari "The American Association Mental Deficency" a) Mild deficiency b) Moderate deficiency c) Severe deficiency 6. meliputi: a) Penyakit karena infeksi b) Penyakit karena antoksitas c) Penyakit akibat trauma/ sebab fisik d) Penyakit akibat gangguan metabolisme. klasifikasi ini dititik beratkan pada kemungkinan kemampuan anak dapat menerima pendidikan atau tidak. Klasifikasi ini meliputi 1) Feeble mindidi/mentally deficiet 2) Mentally handicapped 3) Slow leaner 5. pertumbuhan/ nutrisi e) Penyakit akibat pertumbuhan bam f) Penyakit akibat pengaruh prenatal yang tidak diketahui g) Penyakit dari sebab-sebab yang tidak jelas dengan reaksi fungsional yang nyata dan kemungkinan psikologik.13 d) Hidrochepalic (hydrocepalus) e) Cerebral palsy 4. American Association on Mental Deficency (AAMD) Klasifikasi menurut American Association on Mental Deficency (AAMD) atas dasar tinjauan medik. Dari tinjauan tentang anak tunagrahita di atas maka anak tunagrahita yang dimaksud dalam penelitian ini adalah anak tunagrahita mampu latih. Untuk Tinjauan Pendidikan Untuk tinjauan pendidikan. 2.

Kemampuan ini meliputi pemahaman akan hubungan kata. Anak-anak demikian memiliki pengetahuan tentang diri dan lingkungannya. harapan. agar mereka mampu berkomunikasi dengan baik. "kesanggupan. suara dan irama kelancaran". proses pembelajaran bahasa bagi anak tunagrahita diperlukan. W. dan penguasaan bahasa untuk berkomunikasi". Menurut Syaifuddin Azwar (2002: 22) disebutkan bahwa. Berbeda dengan pendapat William Albig yang dikutip oleh AW Widjaja (1988: 15) mengatakan bahwa. "komunikasi adalah proses . Dewa Ketut Sukardi (1997: 115) yang berpendapat bahwa. Seorang anak yang memiliki problem kebahasaan umumnya tidak dapat mengirimkan atau menerima pesan-pesan tentang dunianya. "Proses penyampaian gagasan. pesan yang disampaikan melalui lambing tertentu yang mengandung arti yang dilakukan oleh penyampaian pesan ditunjukkan kepada penerima pesan". tetapi tidak dapat membicarakannya dan memahami makna pembicaraan orang lain dengan baik. Komunikasi sendiri menurut Tarmansyah (1996: 89) "pada dasarnya merupakan kemampuan dalam aspek berbahasa. kecakapan.W.14 pada munculnya problem-problem dalam bahasanya. Schemerthorn (A. Kemampuan dalam kamus umum Bahasa Indonesia (1986: 628) berarti. Menurut Carl I Hovland yang dikutip oleh AW Widjaja (1988: 15) "komunikasi adalah proses dimana seseorang individu mengoperkan perangsangan untuk mengubah tingkah laku individu-individu yang lain". Pengertian komuniakasi menurut Edward Depari yang dikutip oleh A. bercerita. Oleh karena itu. Widjaja. kekuatan. 1988: 14) itu dapat diartikan. "sebagai proses antar pribadi dalam mengirim dan menerima simbol-simbol yang berarti bagi kepentingan mereka". Komunikasi menurut John R. kosakata. Widjaja (1988: 14) adalah. kekayaan". "kemampuan verbal merupakan salah satu kemampuan yang bisa menggambarkan tingkat inteligensi seseorang. "kemampuan verbal merupakan sesuatu yang penting dalam semua aktifitas akademis dan non akademis di sekolah menengah".

menghayati kenyataan dan kemampun mengekspresikan. komunikasi lisan adalah : "Proses penyampaian suatu pesan oleh orang lain kepda orang lain untuk memberi tahu atau merubah sikap. komunikasi dapat melalui lisan atau verbal dan dengan media komunikassi. Menurut FX. Menurut Unung C.15 pengoperan lambing-lamabang yang berarti individu-individu". memiliki keberanian dan ketenangan kesanggupan menyapaikan ide dengan lancar dan teratur". E. mempunyaj kemampuan lebih dalam berkomunikasi dibandingkan dengan anak yang mengenal bahasa Indonesia saat anak memasuki sekolah. "penggunaan bahasa. Berdasarkan pendapat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa kemampuan komunikasi lisan merupakan penyampaian yang melibatkan aspek berbahasa. suara dan irama dengan mengandalkan kemampuan berpikir. pikiran dan pesan dengan rangkaian kaidah bahasa melalui kalimat yang sesuai dengan aturan tata bahasa yang dituturkan alat bicara. Yang dimaksud komunikasi lisan disini adalah proses penyampaian suatu pesan oleh seorang kepada orang lain untuk memberi tahu atau untuk merubah sikap. pendapat. bicara. Sehingga dapat menyampaikan perasaan. Untuk mengajarkan komunikasi yang baik bukanlah hal yang mudah terlebih pengaruh lingkungan berperan dalam perkembangan berkomunikasi. atau perilaku baik langsung maupun tidak langsung melalui media". pendapat atau perilaku melalui oral atau alat ucap manusia yaitu mulut. Faktor-faktor tersebut selalu hadir apabila orang berkomunikasi lisan dan apabila salah satu faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan berkomunikasi tidak tfetpenuhi akan terjadi kelambatan dalam belajar dan penurunan kualitas pembicara. Bagi orang normal tentunya lebih mudah mengajarkan berkomunikasi secara baik namun bagaimana dengan anak tunagrahita yang mengalami kelaianan. Sudarsono (1981: 2) faktor yang mempengaruhi komunikasi lisan meliputi. Seorang anak yang terbiasa dari kecil menggunakan bahasa Indonesia sebagai pengantar. kehendak. . mengartikan pesan orang lain. Pengertian komunikasi lisan menurut Unung Cahyana Effendi (2986: 6).

"Untuk mencapai komunikasi lisan yang baik. Menurut De Vito (1978) yang dikutip oleh Alo Liliweri (1994: 4344). dan enam macam jenis komunikasi lisan atau verbal yaitu : Pertama. phatic speech.16 b. Ketiga. Kenenam. rethohcal speech mengacu pada komunikasi verbal (lisan) yang menekankan sifat kognitif. merupakan gaya bicara yang lebih mementingkan aspek psikologis. Persyaratan yang harus diperhatikan dalam berkomunikasi lisan adalah: 1) Faktor kebahasaan dalam komunikasi lisan. cognitive speech merupakan jenis komunikasi verbal (Jisan) yang mengacu pada kerangka berpikir atau rujukan yang secara tegas mengartikan suatu kata yang denotative dan bersifat infomatif. Gaya bicara ini mengarahkan pilihan ucap yang mendorong terbentuknya perilaku. Keempat. emotive speech. Tipe pembicaraan ini sulit dilakukan oleh anak tunagrahita karena bersifat sangat abstrak dan berorientasi pada code atau tanda-tanda komunikasi. bahasa Indonesia yang dipergunakan adalah bahasa baku". . Alasan pemilihan percakapan ini. ketetapan ungkapan biasanya menggambarkan rasa seni dan pandangan serta gaya-gaya lain yang khas. poetic speech adalah komunikasi lisan yang secara verbal berkutat pada struktur penggunaan kata yang tepat melalui perpindahan pilihan kata. Macam-macam Komunikasi Lisan Bentuk komunikasi lisan dalam penelitian ini tertuju pada komunikasi lisan dalam bentuk percakapan. adanya gaya komunikasi verbal (lisan) yang berusaha menciptakan hubungan sosial sebagaim. metalingual speech adalah komunikasi lisan secara verbal.ana yang dikatakan oleh Bronislaw yang dikutip oleh Alo Liliweri (1994) dengan phatic communication ini tidak dapat diterjemahkan secara tepat karena ia hams dilihat dalam kaitannya dengan konteks disaat "kata" diucapkan dalam satu tatanan sosial masyarakat. 2) Faktor non kebahasaan dalam komunikasi lisan. dalam berkomunikasi lisan secara formal. Menurut Sarwadi dan Soepomo (1993: 73). Kedua. tema pembicaraanya tidak mengacu pada obyek dan peristiwa dalam dunia nyata melainkan tentang pembicaraan itu sendiri. la lebih mengutamakan pilihan "kata" yang didukung oleh pesan non verbal. karena sebagaimana diketahui bahwa anak tunagrahita masih duduk di bangku Sekolah menengah lebih mengutamakan komunikasi lisan dalam bentuk percakapan yang tentunya dari percakapan ini akan berkembang dan mengarah kebentuk komunikasi lisan yang lebih luas. Kelima.

Tinjauan Tentang Kemampuan Membaca a. intonasi ini penting artinya bagi anak tuna grahita sendiri untuk lebih memperjelas apa yang diucapkannya. Pilihan kata ini mencakup pengertian kata-kata mana yang dipakai untuk menyampaikan suatu gagasan dan bagaimana mengungkapkan ungkapan yang tepat. Kalimat yang digunakan dalam komunikasi lisan secra formal adalah kalimat baku. Volume suara. Pandangan terarah kepada lawan bicara atau bagi anak tuna grahita adalah keterarahan wajah. e. pengucapan fokal ataupun konsonannya. Faktor non kebahasaan dalam komunikasi lisan meliputi : a. sehingga perlu mengoreksi kesalahan-kesalahan pengucapan fonem. tenang dan tidak kaku. Sikap wajar. d) Intonasi Suatu kalimat akan lebih jelas maksudnya apabila diucapkan dengan kalimat yang tepat. 3. Kelancaran atau ketepatan. b) Diksi atau pilihan kata. b. Gerak-gerik atau mimic yang tepat d. Tinjauan Tentang Kemampuan Membaca Henry Guntur Tarigan (1985: 7) yang mengutip pendapat Hangson mengemukakan : . 2) Faktor non kebahasaan dalam komunikasi lisan Faktor non kebahasaan perlu mendapatkan perhatian juga untuk mendapatkan keefektifan berbicara. c.17 Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut: 1) Faktor kebahasaan dalam komunikasi lisan. a) Pelafalan atau pengucapan yang baik dan jelas dengan lafal baku. c) Struktur kalimat.

dalam membaca permulaan dimaksudkan untuk mengenal huruf dalam kata-kata. "proses membaca dibagi menjadi dua tahap yaitu membaca permulaan dan membaca lanjut". Tinjauan Tentang Membaca Lanjut Membaca sangat penting artinya dalam pengembangan penguasaan bahasa. Membaca merupakan salah satu bidang pengajaran bahasa Indonesia menurut S. "Membaca tidak hanya sekedar menyuarakan lambang-lambang secara tertulis. melibatkan pikiran yang terkandung di dalam kata-kata yang tertulis. akan tetapi lebih dari pada itu membaca dalam arti sesungguhnya ialah perbuatan yang dilakukan berdasarkan kerjasama beberapa ketrampilan yaitu : mengamati. Dari pendapat tersebut. b. Membaca dapat pula dianggap sebagai suatu proses untuk memahami yang tersirat dan yang tersurat. Membaca merupakan kegiatan memusatkan perhatian terhadap bacaan. memahami dan memikirkan". adalah. Berdasarkan pendapat ini maka proses membaca ada unsur kejelian dari pembaca untuk mengetahui isi yang tersirat ataupun yang tersurat dalam membaca. Nasution (1972: 60). Berdasarkan uraian seperti tersebut di atas maka pengertian membaca merupakan proses menyebutkan kata-kata yang ditulis dengan simbol yang dapat dimengerti. Lebih lanjut beliau mengemukakan bahwa. yang hendak disampaikan penulis melalui media kata-kata. Hal ini mengandung pengertian bahwa kegiatan membaca tidak sekedar menyuarakan lambang-lambang tertulis melainkan merupakan suatu pemahaman isi bacaan. membaca merupakan suatu proses yang dilakukan dengan mengenal lambanglambang tertulis untuk memperoleh makna dari suatu bacaan. maka dapat diperoleh pengertian. sedangkan dalam . sehingga mendapatkan pemahaman yang dimaksud.18 Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan. Membaca merupakan proses penangkapan dan pemahaman ide atau curahan atau aktivis jiwa penulis yang tertuang dalam suatu bacaan. Menurut Pungkas Wingko W (2002: 5).

kerusakan pada otak. Membaca nyaring adalah kegiatan atau aktifitas membaca yang melibatkan pengelihatan dan ingatan untuk memahami isi bacaan dengan kenyaringan suara dan ketepatan pengucapan. Membaca lanjut disini dikhususkan membaca nyaring dengan vokal yang benar dan daya ingat terhadap bacaan. pendidikan khusus. "ada beberapa yang merupakan handicap dalam pendengaran.19 membaca lanjut dimaksud agar anak sanggup dan memahami sesuatu yang dituliskan". Kemampuan Membaca Anak Tunagrahita Membaca bagi anak tunagrahita ringan membutuhklan ketrampilan khusus dari seorang pendidik yang ditegaskan oleh Sutratinah Tirtonegoro (1987: 37-38). Dengan melihat kenyataan tersebut kemampuan membaca anak tunagrahita tidak lepas dari kesiapan anak dan kesiapan pengajar tetapi juga tidak lepas dari ketunaan yang disandang oleh anak tunagrahita. Kerangka Berpikir Anak tunagrahita adalah anak yang mengalami perkembangan mentalnya di bawah normal dan kecerdasannya di bawah rata-rata yaitu diantara 20-50. kesehatan yang krang baik. B. Anak . penyesuaian diri dan sikap. begitu pula Di SLB YSSD Surakarta. Tingkat membaca pada anak tunagrahita ringan kelas SMPLB-C1 YSSD. salah satunya yaitu SLB-C. untuk anak-anak mampu latih. serta bimbingan khusus. dan kesalahan guru dalam memperlakukan anak didiknya". mengingat. mengarah pada membaca lanjut misalnya membaca nyaring yang mengutamakan ketepatan anak dalam membaca wacana dan pengucapan kosakata yang benar dengan tema bacaan yang sederhana tentang hal-hal yang sering dijumpai anak dan tidak melibatkan pemikiran. kurang pengelihatan. c. Membaca lanjut diberikan untuk anak Sekolah Dasar kelas empat ke atas. untuk memperoleh pendidikan tidak dapat disatukan dengan anak normal sehingga membutuhkan program khusus. daya konsentrasi dan daya ingat yang kurang.

“Hipo” yang artinya “di bawah” dan “thesa” yang artinya “kebenaran”. atau dengan kata lain Hipotesa sebagai dasar karya suatu penelitian ini. konsentrasi. kreatif. Jadi hipotesa adalah suatu pernyataan atau jawaban terhadap permasalahan penelitian yang masih lemah dan perlu diuji terlebih dahulu berdasarkan uraian di atas. . inovatif. Kemudian secara difinitif Suharsimi Arikunto (1993: 62) menyebutkan bahwa Hipotesa "Suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian”. efisien dan menyenangkan bagi siswa SMPLB-C. maka dapat disimpulkan bahwa fungsi pokok hipotesa dalam suatu penelitian adalah sebagai dasar untuk menguji membuktikan hasil penelitian.20 tunagrahita yang intelegensinya di bawah rata-rata banyak mengalami gangguan komunikasinya. YSSD Surakarta maka kerangka berpikir dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Tindakan Guru Dalam Pembelajaran Lewat Komunikasi Lisan Anak Tunagrahita SLB-C Kondisi Awal Kemampuan Membaca Kemampuan Membaca Meningkat Gambar 1. Perumusan Hipotesis Hipotesa berasal dari dua penggal kata menurut Suharsimi Arikunto (1993: 62) adalah. Kerangka Berpikir C. Dengan adanya komunikasi lisan dapat meningkatkan kemampuan membaca yang berguna bagi siswa sesuai dan menumbuhkan pembelajaran yang aktif. yang kurang dan ingatan mudah lelah menyebabkan kelambatan dalam menerima informasi. sehingga penangan sangat penting dalam mengarahkan dan membimbing dalam kegiatan belajar dan mengajar yang efektif serta pengadaan suasana dan metode yang disesuaikan dengan kemampuan anak Tuna Grahita mampu latih. seperti intelegensi. Banyak faktor yang mempengaruhi berkomunikasi lisan pada anak tunagrahita.

.21 yaitu komunikasi lisan dapat meningkatkan kemampuan membaca pada siswa kelas VII SMPLB.C1 YSSD Surakarta Tahun 2009/2010.

D. peneliti mengembangkan penelitian lembar pengamatan selama proses pembelajaran dan pencatatan (dokumentasi). C. pelaksanaan. Setting Penelitian Tempat penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SLB-Cl Yayasan Sosial Setya Darma Jl.22 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. terdiri dari 2 siswa laki-laki dan 3 siswa perempuan. Subyek Penelitian Subyek dalam hal ini adalah siswa kelas VII SLB-C1 Yayasan Sosial Setya Darma yang berjumlah 5 siswa. Adapun observasi dilakukan untuk mengetahui proses atau pelaksanaan pembelajaran. 32 Cengklik Kelurahan Nusukan Kecamatan Banjasari Surakarta. Guru wali kelas dan komponen sekolah yang ada untuk perolehan data dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun pelajaran 2008/2009 yang dimulai pada bulan Pebruari 2009 sampai dengan Juni 2009. B. Mr. Sartono No. Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan dengan tes dan observasi yang dilakukan selama pembelajaran di dalam kelas maupun di luar kelas. pengamatan dalam proses pembelajaran dan hasil evaluasi yang dicapai siswa. Tes digunakan untuk mengukur pemahaman siswa terhadap komunikasi lesan untuk meningkatkan kemampuan membaca. E. 22 . Sumber Data Sumber data dalam penelitian ini adalah berupa data tentang perencanaan. Validitas Data Untuk menjamin validasi data.

menggolongkan. Indikator Kinerja Indiktor kinerja peneliti ini adalah mencangkup beberapa hal yang saling berkaitan dalam pembelajaran komunikasi lesan untuk meningkatkan kemampuan membaca yaitu: 1. pemerhatian dan penyederhanaan data kasar yang diperoleh dari catatancatatan tertulis di lapangan. 2. yaitu : 1) Reduksi data. Penarikan Kesimpulan Tahap akhir dalam analisis data kualitatif yaitu melakukan penarikan kesimpulan akhir yang diperoleh dari hasil reduksi dan penyajian data di atas. Siswa merasa senang dalam pembelajaran. 3. mengarah. F.23 hasil belajar siswa. pemersatuan. dan 3) Penarikan kesimpulan/verivikasi (Milles dan Huberman. Analisis data dilakukan dengan analisis kualitatif meliputi tiga akhir kegiatan terjadi secara bersamaan dan terus menrus selama dan setlah pengumpulan data. 2) Penyajian data. Penyajian Data Penyajian data dilakukan dengan menyusun sekumpulan informasi yang diperoleh dari hasil reduksi data secara naratif sehingga memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. 1. kreatif dalam pembelajaran. Reduksi data Reduksi data dilakukan sebagai proses pemilihan. Selain itu peneliti juga akan melakukan wawancara dengan teman sejawat dan Kepala Sekolah untuk memperoleh data tentang kesan terhadap pembelajaran yang dilakukan. Siswa terlibat aktif. 1992) selain itu dalam analisis data juga digunakan analisis secara deskriptif komparatif untuk membandingkan kondisi awal setelah dilaksakannya tindakan 1 dan tindakan berikutnya. . mebuang yang tidak perlu dan mengorganisasi data sehingga kesimpulan-kesimpulan akhir dapat ditarik dan divertifikasi. 2. Tahap reduksi data merupakan bentuk analisis yang menajamkan.

4. Siswa mempunyai kompetensi memahami. peneliti membuat 3 RPP untuk 3 siklus. 5. 2. Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Lengkap dengan instrument yang diperlukan agar tindakan yang dilakukan sesuai dengan tujuan. Ketuntasan belajar kemampuan membaca. Siswa dapat memilih strategi yang tepat untuk belajar komunikasi dalam pembelajaran. lembar penilaian. G. 7. Peningkatan kemampuan membaca melalui komunikasi lisan. 6. Instrument yang diperlukan adalah lembar observasi siswa. Penelitian ini meliputi 3 siklus dan masing-masing siklus terdiri atas tahap perencanaan. mengidentifikasi komunikasi lisan dalam pembelajaran. peneliti menampilkan beberapa contoh komunikasi lesan dalam pembelajaran. Adapun masing-masing tahap dapat dijelaskan sebagai berikut : Siklus I 1. mengamati. dalam pembelajaran komunikasi lisan. peneliti melakukan persepsi dalam pembelajaran komunikasi lisan. tahap pelaksanaan. Pengamatan/Observer Pada saat melakukan tindakan peneliti melakukan pengamatan . Pelaksanaan Tindakan/ Action Pada tindakan I pelaksanaan tindakan yang dilakukan adalah sebagai berikut: a) Pemberian materi pada kegiatan awal pembelajaran. Siswa dapat memecahkan masalah. tahap observasi dan evaluasi. Prosedur Penelitian Model penelitian adalah prosedur yang menggambarkan bagaimana penelitian akan dilaksanakan dalam penelitian ini. b) Pada kegiatan ini. 3.24 3. peneliti menggunakan tindakan yang dikembangkan Kemmis dan MC Taggart (1998: 63).

kreatif. reaksi siswa terhadap pembelajaran itu. peneliti menggunakan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) untuk siklus 2 (ke dua) dengan materi komunikasi lisan dalam percakapan. Pelaksanaan Tindakan/ Action Pada kegiatan awal. dalam pemahaman konsep tentang komunikasi lisan untuk meningkatkan kemampuan membaca. berdasarkan dari hasil observasi. berdasarkan dan hasil observasi. efektif dan menyenangkan. peneliti mengajak para siswa untuk aktif. peneliti melakukan apersepsi tentang komunikasi lisan. peneliti melakukan refleksi untuk menilai sejauh mana keberhasilan dalam pembelajaran komunikasi lisan untuk meningkatkan kemampuan membaca . Untuk menilai keberhasilan siswa. Siklus II 1. peneliti juga melakukan kolaborasi dengan teman sejawat mencari solusi juga hambatan-hambatan yang muncul untuk diperbaiki pada siklus kedua.25 terhadap semua kegiatan siswa. konsentrasi siswa selama pembelajaran. Refleksi/ Reflection Setelah kegiatan inti. 3. bagaimana kesiapan siswa pembelajaran konsentrasi siswa selama pembelajaran. peneliti melakukan refleksi untuk menilai sejauh keefektifan pembelajaran dalam rangka untuk meningkatkan prestasi belajar pada siswa. 2. 4. 4. Refleksi/ Reflection Setelah kegitan inti. Perencanaan/ Plan Pada tahap ini. Pengamatan/ Observer Saat terhadap melakukan semua pengamatan peneliti melakukan pengamatan dalam kegiatan siswa. tentang komunikasi lisan dalam meningkatkan kemampuan membaca.

26 dan mencari solusi dari hambatan-hambatan yang muncul untuk memperbaiki pada siklus ke 3. .

26 . Dengan mengambil sampel pada 5 anak Tahun Pelajaran 2008/2009. 2. Nama Siswa IS DR F J JS L/P L P P L P Nilai Awal 70 60 55 70 50 B. Deskripsi Kondisi Awal Penelitian ini dilakukan pada anak tunagrahita mampu latih pada Kelas VII SMPLB – C1 Yayasan Sosial Setya Darma. Deskripsi Siklus I 1. Pelaksanaan Tindakan Tindakan yang dilakukan di dalam kelas. Tabel 1. Data dari subyek penelitian sejumlah 5 siswa: 2 laki-laki dan 3 perempuan. 4. Peneliti mengadakan persepsi dalam pembelajaran komunikasi lisan tentan lingkungan sekolah. 3. Daftar Identitas Siswa Tuna Grahita Mampu Latih Kelas VII SMPLB – C1 Yayasan Sosial Setya Darma Surakarta No. peneliti memberikan materi pada Kegiatan Awal Pembelajaran. Perencanaan Tindakan Peneliti membuat rencana pembelajaran yang disampaikan pada siswa SMPLB-C1 di dalam kelas dengan instrumen yang diperlukan Lembar Observasi Siswa. 1.BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. lembar penilaian dalam pembelajaran komunikasi lisan untuk meningkatkan kemampuan membaca. 5. 2.

Gambar 1. Konsentrasi siswa di dalam kelas ada yang sudah aktif mengikuti. Kegiatan Pembelajaran pada Siklus I 3.27 Contoh : Lingkungan Kelas Apa saja yang di dalam kelas VII SMPLB –C1 Ada anak-anak dan alat-alat sekolah Ada guru Ada meja Ada kursi Ada papan tulis Ada penggaris Ada penghapus. Hasil Pengamatan Peneliti melakukan pengamatan bersama dengan rekan guru terhadap semua kegiatan siswa di dalam kelas. kapur dan sebagainya Ditunjukkan benda-benda nyata dan ucapan yang benar. . namun masih ada yang pasif.

Tabel 3. Nama Subyek IS DR F J JS Nilai Kemampuan Membaca 72 61 55 72 50 Keterangan Baik Cukup Kurang Baik Kurang . 1. Siswa menguasai lebih materi Tindakan Kondisi Akhir bimbingan individu dengan cara dialog yang diberikan oleh guru.28 Tabel 2. Hasil Nilai Kemampuan Membaca Siswa No. 5. 3. sebagian nama-nama benda yang ada di dalam kelas. Hasil Pengamatan Guru Terhadap Anak dalam Proses Pembelajaran Kondisi Awal Prestasi Belajar Pembelajaran lebih berperan guru Siswa enggan atau malas belajar Guru motivasi memberi belajar pada Guru menerapkan Siswa lebi senang dalam pembelajaran itu. 2. - Prestasi belajar - Guru siswa membimbing dalam Siswa mengucapkan dapat masih rendah mengucapkan namanama benda yang ada di dalam kelas. 4.

n 3. Kemampuan membedakan Bunyi huruf b dan d Bunyi huruf m dan n Bunyi huruf p dan k Kemampuan misal : me – ja bu – ku papan – tulis kursi kapur. 10. 7. Menirukan ucapan guru Membaca dengan bantuan Membaca tanpa bantuan membaca nama benda di dalam kelas Kriteria Penilaian Kriteria Penilaian untuk soal No. 4. 1 – 6 Skor 1 : Jika tidak dapat sama sekali mengenal huruf Skor 2 : Jika dapat menyebutkan 1 huruf dengan benar Skor 3 : Jika dapat menyebutkan 2 huruf dengan benar Skor 4 : Jika dapat menyebutkan 3 huruf dengan benar Skor 5 : Jika dapat mengucapkan semua huruf dengan baik dan benar . p. o 2. Kemampuan membaca vokal a. Indikator Penilaian Kemampuan No. Kemampuan membaca Tidak Mampu konsonan b. Indikator Mampu Mampu dg Bantuan Kemampuan membaca 1. 9. i.29 Tabel 4. dan sebagainya 8. k. m. u. 5. e. d. 6.

5 1 0. Frekuensi Kemampuan Membaca Siswa . Tabel 5.30 Kriteria Penilaian untuk soal 7 – 10 Skor 1 : Jika siswa tidak dapat membaca sama sekali Skor 2 : Jika siswa tidak dapat menirukan ucapan guru Skor 3 : Jika siswa dapat menirukan ucapan guru Skor 4 : Jika siswa dapat membaca dengan bantuan Skor 5 : Jika siswa dapat membaca lancar tanpa bantuan Data di atas setelah dihitung hasil sebagai berikut : Rata-rata kemampuan siswa sebesar dengan skor tertinggi 72 dan skor terendah 50.72 Grafik 2.5 2 2 2 50 – 55 1 55 – 61 61 . Relatif 40 20 40 100 Berdasarkan tabel di atas dapat disajikan dalam bentuk grafik histogram di bawah ini : 2.72 Kategori Rendah Sedang Tinggi Frekuensi 2 1 2 5 Frek. Distribusi Frekuensi Kemampuan Membaca Siswa Interval 50 – 55 55 – 61 61 .5 0 50 – 55 55 – 61 Interval 61 .72 Frekuensi 1. Berikut ini penulis sajikan tabel distribusi frekuensi dan grafik histogram.

Deskripsi Siklus II 1. C. efektif dan menyenangkan di dalam kelas. peneliti mengulang-ulang materi yang disampaikan itu sambil menunjukkan benda nyata dan mengucapkan bersamasama.kn 2. Adakah tempat perpustakaan di sekolahmu? Jawab : ……………………………………………………………………. Contoh : Di sekolah ada pohon apa saja ? Sebutkan ! Jawab : ……………………………………………………………………. peneliti mengajak para siswa untuk aktif.31 Untuk mengaktifkan siswa. Peneliti menyampaikan keadaan yang ada di lingkungan sekolah dan juga lingkungan rumah masing-masing siswa/tempat tinggalnya. untuk meningkatkan keaktifan siswa dan meningkatkan kemampuan membaca siswa. contoh : Meja Kursi Buku Papan tulis dan sebagainya 4. . Pelaksanaan Tindakan Pada kegiatan awal peneliti melakukan appersepsi tentang komunikasi lingkungan sekolah. Refleksi Untuk meningkatkan prestasi belajar pada siswa supaya aktif aktif mengikuti pembelajaran tentang komunikasi lisan untuk meningkatkan kemampuan membaca diperbaiki pada Siklus II. Perencanaan Tindakan Pada tahap ini peneliti memberikan materi komunikasi lisan dalam percakapan tanya jawab. kreatif.

- Apa kantin itu? Jawab : ……………………………………………………………………. Hasil Pengamatan Guru Terhadap Anak dalam Proses Pembelajaran Kondisi Awal Prestasi Belajar Kegiatan awal Tindakan Guru mengajak para siswa aktif dalam pembelajaran Kondisi Akhir Siswa memperhatikan keterangan guru peneliti melakukan appersepsi tentang komunikasi lisan. Gambar 3. Guru menyampaikan - Guru menanyakan - Ada 2 siswa yang menjawab dengan apa saja yang ada di . Kemudian ditanyakan apa saja yang ada di lingkungan rumah masing-masing siswa. - Apa kegunaan kamar tamu ? Dan sebagainya Jawab : …………………………………………………………………….32 - Di manakah bila ibu memasak di rumah ? Jawab : ……………………………………………………………………. Tanya Jawab Pada Siklus II Tabel 6.

2. Hasil Nilai Kemampuan Berkomunikasi Lisan pada Anak SLB-C1 Kelas VII SMPLB No. masingsiswa / tempat tinggalnya.Siswa akti dalam ulang materi yang disampaikan sambil menunjukkan gambar-gambar dan tulisan kegiatan mengajar meningkatkan komunikasi siswa. lisan dalam belajar untuk menjawab pertanyaan itu namun masih juga ada yang malas tidak menjawab. Nama Subyek IS DR F J JS Nilai Kemampuan Membaca 75 62 60 74 57 Keterangan Baik Cukup Cukup Baik Kurang .33 keadaan lingkungan di lingkungan sekolah dan di lingkungan rumah masing- lancar 2 siswa. sekolah dan juga tingkah rumah masing laku di masing siswa pasif dan tidak mau menjawab. Tabel 7. 3. Konsentrasi belajar rendah masih Guru mengulang. 4. 1. dengan 1 siswa menjawab bantuan. 5.

Adakah ruang perpustakaan ? Di manakah bila ibu memasak ? Untuk apa kantin itu ? Di rumahmu ada pohon apa saja ucapkan ? 10. 7. Kemampuan mengucapkan Tidak Mampu kosakata dengan benar Kemampuan pertanyaan : 2. Indikator Penilaian Kemampuan No. Ada berapa ruang kelas berapa anak-anak menjawab SMPLB? 5. 8. Indikator Mampu Mampu dg Bantuan Kemampuan komunikasi lisan 1.34 Tabel 8. Di mana anak-anak bersekolah? Kelas sekarang? 4. 9. Apa kegunaan kamar tamu itu ? Kriteria Penilaian Kriteria Penilaian untuk soal No. Sebutkan 3 macam tanaman di lingkungan sekolah itu ? 6. 3.10 Skor 1 : Jika tidak dapat menjawab pertanyaan Skor 2 : Jika mampu menjawab pertanyaan Skor 3 : Jika mampu menjawab dengan baik dan benar . 1 Skor 1 : Jika tidak mampu Skor 2 : Jika mampu dengan bantuan Skor 3 : Jika mampu sendiri Kriteria Penilaian untuk soal 2 .

ada 1 siswa yang mengantuk dan 2 siswa yang pasif hanya diam saja. Relatif 20 20 40 100 Berdasarkan tabel distribusi frekuensi di atas dapat disajikan dalam bentuk grafik histogram di bawah ini : 2.5 1 0. Data Nilai Kemampuan Berkomunikasi Lisan bagi Anak Tunagrahita Kelas VII SMPLB – C1 Interval 0 – 57 60 – 62 74 .5 0 1 60 – 62 74 .75 Grafik 3.35 Tabel 9.5 2 2 2 0 – 57 Frekuensi 1. Frekuensi Kemampuan Membaca Siswa 3. . kreativitas dalam pembelajaran nampak masih pasif. Hasil Pengamatan Deskripsi hasil pengamatan siswa sebagai berikut : Ada 2 siswa yang aktif mengikuti pembelajaran dan menjawab pertanyaanpertanyaan.75 0 – 57 60 – 62 Interval 74 .75 Kategori Rendah Sedang Tinggi Frekuensi 1 2 2 5 Frek.

Perencanaan Tindakan Pada siklus ini peneliti menggunakan Rencana Pembelajaran tentang komunikasi lisan dalam percakapan untuk meningkatkan kemampuan membaca pada siswa. dan sebagainya . Pelaksanaan penelitian bersama-sama dengan siswa dilaksanakan di luar kelas. Refleksi Untuk mencapai nilai yang tertinggi 80 (delapan puluh). Pelaksanaan Tindakan Peneliti menunjukkan macam-macam pohon yang ada di lingkungan sekolah. Contoh : Pohon pisang Pohon melinjo Pohon jambu Pohon pepaya Tanaman bumbu Dan tempat-tempat seperti . maka peneliti mengadakan penelitian tahap berikutnya pada tahap III. Tempat parkir kendaraan Gedung pertemuan Dapur untuk tata boga Tempat masak. Pada kegiatan awal peneliti mengadakan tanya jawab tentang percakapan sekitar lingkungan sekolah.36 4. D. Deskripsi Siklus III 1. 2.

macam-macam tanaman di kebun sekolah - Siswa aktif lagi kembali mengikuti pembelajaran di Guru teks membagikan bacaan tentang Siswa lebih senang dan aktif mengikuti pelajaran itu siswa sederhana . Kegiatan Pembelajaran pada Siklus III di Luar Kelas Tabel 10. Siswa mengikuti pembelajaran luar kelas di aktif Guru memberi nyata dan lingkungan sekola. Hasil Pengamatan Guru Terhadap Anak dalam Proses Pembelajaran Kondisi Awal Apersepsi Memberikan penjelasan tentang komunikasi lisan Tindakan Guru memberikan yang tentang : bendaKondisi Akhir Siswa mampu apersepsi menaruh macam mengucapkan namanama benda di lingkungan sekolah dan mampu dan percakapan benda dan tanaman di lingkungan menunjukkan namanama benda di sekolah dengan alat benda tulisan. Siswa menyebutkan mampu motivasi belajar di luar kelas dengan cara berdialog.37 Gambar 4.

5. dan guru bersamasama membaca teks bacaan itu berulangulang. 5. 1. Indikator Penilaian Kemampuan No. Tabel 11. Kemampuan pendek sekolah “Kebunku”. Kemampuan bacaan 3.38 dalam sampai selesai. Nama Subyek IS DR F J JS Nilai Kemampuan Membaca 80 75 75 80 60 Keterangan Baik Baik Baik Baik Cukup Tabel 12. 2. Adakah kebun di sekolahan ? Ditanami apa kebun itu ? Sebutkan 4 macam tanaman supaya subur diberi apa ? 6. 4. 2. Indikator Mampu Mampu dg Bantuan 1. Hasil Nilai Kemampuan Berkomunikasi dalam Percakapan untuk Meningkatkan kemampuan Membaca No. 3. kelas pelajaran kebunku. Kemampuan bermain pekan memahami isi membaca teks Tidak Mampu tentang dengan lingkungan judul untuk komunikasi lisan . 4.

9. 8. Relatif 0 20 80 100 Berdasarkan tabel distribusi frekuensi di atas dapat disajikan dalam bentuk grafik histogram di bawah ini : 5 4 4 0 1 0 0 0 – 60 Interval 75 – 80 0 – 60 75 – 80 Frekuensi 3 2 1 0 Grafik 3. tolong disirami tanamannya. Guru : Bu. Is : Bu tanaman itu layu Guru : Siapa yang piket hari ini. Data Nilai Kemampuan Berkomunikasi Lisan bagi Anak Tunagrahita Kelas VII SMPLB – C1 Interval 0 0 – 60 75 – 80 Kategori Rendah Sedang Tinggi Frekuensi 0 1 4 5 Frek. Guru : Baiklah supaya tanaman bunga itu tumbuh subur Keterangan kriteria penilaian Skor 1 : Jika tidak mampu Skor 2 : Jika mampu dengan bantuan Skor 3 : Jika mampu sendiri Tabel 13. saya juga ingin membantu 10.39 7. Frekuensi Kemampuan Membaca Siswa .

lebih menyenangkan. E. Proses Pembelajaran No. Kondisi Awal Siswa Siklus I Siklus II siswa Dari Siklus III kondisi masih Siswa masih ada 2 belum dengan ada yang tidak yang aktif dalam mengikuti siklus I. Refleksi Berdasarkan pengamatan penulis mengemukakan pendapat bahwa siapa semua aktif dalam mengikuti proses pembelajaran di luar kelas. Siswa satu per satu melaksanakan tugas itu. . III. Hasil Pengamatan Pada saat melakukan pengamatan peneliti melakukan pengamatan terhadap semua kegiatan siswa dalam kegiatan tanya jawab dan menunjukkan macammacam tanaman. bantuan siswa Dari kondisi awal yang ke kondisi akhir terdapat mengikuti pembelajaran di dalam kelas pembelajaran masih sendiri semuanya mengantuk dan 2 siswa peningkatan yang mengikuti aktif keaktifan siswa dalam mengikuti di dalma kelas maupun di luar kelas. Pembahasan Tiap Siklus dan Antarsiklus Tabel 14.40 3. II. 4. juga tempat-tempat yang ada di sekelilingnya.

Di sini digunakan pembelajaran orientasi mobilitas sebagai alat bantu karena anak tunagrahita akan lebih cepat dapat menerima suatu informasi dalam bentuk yang konkret. belajar Berdasarkan hasil penelitian dapat dikaji pembahasan sebagai berikut : Anak tunagrahita dalam perkembangannya mengalami hambatan dari berbagai hambatan yang dialami oleh anak tunagrahita mampu latih tersebut. . salah satu diantaranya hambatan dalam kemampuan membaca suku kata menjadi kalimat yang sederhana. Hasil Penelitian Kondisi Awal Nilai kondisi awal nilai Refleksi kondiis Siklus I Siklus II Siklus III awal ke kondisi akhir Nilai rendah 57 Nilai terendah 60 Dari kondisi No. pada Nilai terendah 5 awal ke kondisi akhir terdapat terendah 50 Nilai tertinggi 70 Nilai tertinggi 72 72 Nilai tertinggi 75 Nilai tertinggi 80 peningkatan hasil siswa. Dengan kondisi demikian. Hasil Penelitian Tabel 15. akan mempengaruhi kemampuan anak dalam membaca.41 F. maka anak perlu diberikan latihan-latihan yang teratur dan terarah dalam komunikasi lisan untuk meningkatkan kemampuan membaca siswa salah satu usaha untuk mengatasi hambatan kemampuan membaca adalah dengan memberikan suatu metode pembelajaran yang digunakan untuk memudahkan peserta didik dalam proses belajar mengajar.

dan minatnya. B. Saran Adapun saran-saran yang dapat peneliti sampaikan adalah sebagai berikut : Siswa dapat mengembangkan potensinya sesuai dengan kemampuan. Jadi komunikasi lisan untuk meningkatkan kemampuan membaca pada anak tunagrahita kelas VIII SMPLB-C1 Yayasan Sosial Setya Darma Surakarta Tahun Pelajaran 2008/2009. 1. Dalam komunikasi lisan sehari-hari membiasakan penggunaan bahasa yang baik dan benda sehingga dapat membantu para siswa untuk meningkatkan kemampuan membaca. siklus II dan siklus III mengalami peningkatan. Siklus ke II dan Siklus III dan mencapai standar ketuntasan yang ditetapkan nilai tertinggi 80 ini dapat dilihat bahwa pada kondisi awal penelitian terendah 50 dan tertinggi 70. Bagi Sekolah Luar Biasa SLB-CI Yayasan Sosial Setya Darma Menambah sarana dan prasarana membaca sehingga siswa akan lebih semangat dalam membaca. Siklus I. serta dapat menumbuhkan kemampuannya. Siklus ke III penilaian proses terendah 60 dan tertinggi 80. siklus I. kemudian pada siklus I nilai terendah 50 dan nilai tertinggi 72.42 BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. 42 . Simpulan Berdasarkan hasil-hasil penelitian dapat disimpulkan melalui penilaian dapat disimpulkan melalui penilaian proses dan penilaian hasil/evaluasi mengalami peningkatan pada kondisi awal. Dari kondisi awal ke kondisi akhir terdapat peningkatan hasil belajar siswa dari kondisi awal. Sekolah dapat menyusun program pendidikan sesuai dengan keadaan siswa dan sumber belajar yang tersedia. Kemudian siklus II penilaian proses terendah 57 dan nilai tertinggi 75. kebutuhan.

.43 2. Orangtua dan masyarakat dapat secara aktif terlibat dalam pelaksanaan program di sekolah dalam mencukupi kebutuhan anak dalam belajar salah satunya dengan melatih anak berkomunikasi lisan walaupun dengan kata/kalimat yang sederhana untuk dapat meningkatkan kemampuan membaca siswa. Guru lebih mandiri dan leluasa dalam menentukan bahan ajar sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah dan kemampuan siswanya. Bagi guru dan orang tua : Guru dapat memusatkan perhatian pada pengembangan kompetensi bahasa peserta didik dengan menyediakan berbagai kegiatan berbagai kegiatan berbahasa dan sumber belajar.

Badudu. Bhineka Cipta ________. Jakarta. Program Belajar Mengajar. Jakarta. Proses Belajar Mengajar di Perguruan Tinggi. Jakarta. Jogyakarta. Jakarta. Depdikbud Depdikbud. Jakarta. Pendidikan Luara Bisa Umum. Depdikbud Pasaribu dan Simanjuntak. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Balai Pustaka Mulyono Abdurrahman. Jakarta. 1980. Pintar Berbahasa Indonesia SLTP Kelas I. . 2007. Jakarta.44 DAFTAR PUSTAKA Abjad M. 1986. 1994. Boimin P. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar SMPLB Tunagrahita Sedang (SMPLB-C1). Depdiknas J. Bandung. Balai Pustaka. Suharsimi Arikunto. 1986. Andi Offset Sutjihati Somantri. 1996.S. Depdikbud.J.G. 1991. Pembinaan Kemampuan Berbicara Bahasa Indonesia. 1998. Penelitian Tindakan kelas. 2003. Balai Pustaka. W. Jakarta. 1984. Kurikulum Pendidikan Luar Biasa Mata Pelajaran Bahasa Indonesia. Jakarta ________. Bumi Aksara Sumardi Suryabrata. 1990. Purwodarminto. 2006. Pendidikan Anak Terbelakang Mental. Psikologi Anak Luar Biasa. Jakarta.S. Erlangga. Prosedur Penelitian Suatu Pendidikan praktis.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->