Pendataan untuk Identifikasi Calon Penerima Bantuan Langsung Tunai

(Nona Iriana, M.Si) I. Pendahuluan

Kenaikan harga minyak dunia sangat mempengaruhi harga minyak di Indonesia, karena kebutuhan minyak di Indonesia lebih tinggi dari jumlah minyak yang diproduksi. Beberapa saat yang lalu harga minyak yang ada jauh lebih rendah dari harga minyak dunia, karena sebagian mendapat subsidi dari pemerintah. Pemerintah kemudian memutuskan menyesuaikan harga dengan harga minyak dunia karena subsidi yang dikeluarkan untuk itu sangat besar, sedangkan keadaan ekonomi belum stabil. Dengan kenaikan tersebut pemerintah dapat mengurangi subsidi yang harus ditanggung namun kenaikan harga minyak mengakibatkan kenaikan harga barangbarang baik makanan maupun bukan makanan. Akibatnya masyarakat yang daya belinya rendah semakin terpuruk, terutama masyarakat miskin, sehingga terjadi keresahan. Untuk mengurangi keresahan masyarakat miskin, maka pemerintah mengalihkan sebagian dana subsidi minyak kepada masyarakat miskin dengan cara memberi bantuan tunai langsung kepada masyarakat miskin. Untuk itu diperlukan data mengenai berapa, siapa, dan di mana masyarakat miskin. Badan Pusat Statistik (BPS) yang biasa menghitung jumlah penduduk miskin tidak memiliki data tentang siapa dan di mana tempat tinggalnya. Hasil penghitungan jumlah penduduk miskin dari BPS hanya menunjukkan gambaran umum yang digunakan untuk perencanaan dan evaluasi hasil pembangunan. BKKBN mempunyai data tentang keluarga yang dirinci menurut tingkat kesejahteraannya, lengkap dengan alamat tempat tinggalnya, namun konsep dan definisinya berbeda dengan yang diinginkan. Karena pentingnya masalah tersebut diatasi, suatu sistem pendataan yang dapat menunjukkan siapa dan di mana masyarakat miskin harus segera diadakan. Sistem seperti ini, pada dasarnya tidak bisa dilakukan oleh BPS, karena sesuai dengan undang-undang BPS tidak boleh mengungkapkan identitas responden. Lagi pula pendataan menyeluruh seperti ini tidak akan dapat dilakukan oleh instansi BPS sendiri tanpa bantuan instansi lain, khususnya Departemen Dalam Negeri (Depdagri). Dibutuhkan jumlah petugas pencacah yang cukup banyak. Petugas BPS di tingkat kecamatan tidak 213

dan hampir miskin. SLS terkecil yang dimaksud adalah rukun tetangga (RT) yang umumnya dikenal di sebagian besar wilayah Indonesia. termasuk menyiapkan dan mendistribusikan kartu tanda pengenal rumah tangga miskin supaya bantuan langsung tunai (BLT) dapat diberikan kepada rumah tangga miskin. Di Bali dan Sumatera Barat SLS terkecil masing-masing adalah banjar dan jurong. dan (2) memberikan akses data rumah tangga miskin kepada instansi pemerintah lain yang melakukan kegiatan kesejahteraan sosial. urutan (rangking) rumah tangga miskin berdasarkan tingkat keparahannya (nilai score tertinggi sampai terkecil untuk masing-masing kabupaten/kota). III. Jumlah SLS terkecil masing-masing propinsi dapat dilihat pada Lampiran 1. Tujuan pendataan adalah untuk memperoleh direktori berupa daftar nama dan alamat rumah tangga miskin. Selain itu. II.sanggup melakukan pencacahan sendiri dan mitra statistik yang bisa membantu pun jumlahnya terbatas. Semua ini tidak bisa dilakukan BPS sendiri tanpa bantuan kegiatan ini harus dibantu dari instansi lain. Depdagri bisa memberi bantuan dengan merekrut staf desa/pegawai kelurahan. yaitu: 214 . Dalam Inspres tersebut disebutkan instansi yang terlibat dalam pendataan serta tugastugasnya: tugas BPS adalah (1) mengkoordinasikan kegiatan penyiapan data. maka pendataan dilakukan secara bertahap. sosialisasi merupakan hal penting untuk mempermudah pendataan. 12 adalah dokumen penting yang merupakan pegangan utama BPS untuk melaksanakan pendataan yang dinamakan Pendataan Sosial Ekonomi Penduduk Tahun 2005 (PSE05). misalnya Departemen Komunikasi dan Informasi (Depkominfo). Dengan demikian diperoleh informasi tentang siapa dan di mana rumah tangga miskin sehingga dana yang disalurkan tepat ke yang bersangkutan. Cakupan Pendataan dilakukan di seluruh wilayah Indonesia dengan menggunakan satuan lingkungan setempat (SLS) terkecil sebagai satuan unit kerja. Instruksi Presiden No. Kampung/dusun juga merupakan SLS terkecil untuk daerah yang tidak menggunakan istilah RT. dan klasifikasi rumah tangga miskin: sangat miskin. Prosedur Pembuatan Daftar Rumah Tangga Miskin Untuk dapat memperoleh data rumah tangga miskin di seluruh wilayah Indonesia tanpa harus mendatangi seluruh rumah tangga. miskin.

Pertama dokumen PSE05. Mempelajari kantong-kantong kemiskinan sampai wilayah terkecil. Informasi ini digunakan juga untuk merekrut pencacah di wilayah yang dekat dengan tempat tinggalnya.LSK tidak didatangi petugas dan juga tidak dicatat dalam Daftar PSE05. misalnya ketua RT. Rumah tangga yang terdaftar dalam PSE05. seperti terlihat pada Tabel 1. Isian pertanyaan yang digunakan untuk penseleksian tersebut ada sebanyak 14 variabel. Mendatangi kantong-kantong kemiskinan tersebut. maka rumah tangga tersebut dicoret dari daftar. atau orang yang ada di rumah yang mengetahui keadaan rumah tangga. maka rumah tangga tersebut di catat dalam Daftar PSE05. Informasi tersebut dicatat dalam Daftar PSE05. untuk mendapatkan rumah tangga yang betul-betul miskin. namun keberadaannya tidak diakui kepala SLS-nya. kampung atau lainnya tergantung wilayah setempat.RT diseleksi berdasarkan isian pertanyaan dalam daftar tersebut. kemudian hasilnya dikirim ke pusat. Apabila rumah tangga yang didatangi dianggap tidak miskin oleh petugas. 3. Selanjutnya rumah tangga yang telah diwawancarai dengan Daftar PSE05. Hal ini dilakukan karena mereka dianggap termasuk salah satu sasaran Departemen Sosial dalam rangka program penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS). diwawancarai untuk mendapatkan informasi yang lebih rinci. Perwakilan BPS propinsi diminta untuk mengidentifikasi wilayah yang banyak dihuni penduduk miskin secara cepat. Mendatangi rumah tangga yang sudah tercatat dalam Daftar PSE05.LS (lihat Lampiran 2). 215 . untuk mendapat informasi jumlah kantong kemiskinan dan letak kantong-kantong tersebut. tetapi tidak terdaftar. Identifikasi secara cepat dapat dilakukan dengan scara melihat keadaan tempat tinggal penduduk.LSK (Lampiran 3). 2. 4.1. Sebaliknya apabila ditemukan rumah tangga yang dianggap miskin oleh petugas. Nama-nama kepala rumah tangga yang dianggap miskin dicatat pada Daftar PSE05. Informasi mengenai rumah tangga ini dapat diperoleh dari ketua satuan lingkungan setempat (SLS). maka petugas mencatat rumah tangga tersebut ke dalam daftar. Proses seleksi dilakukan dengan proses komputerisasi. kemudian kepala rumah tangga.RT. Apabila ditemui rumah tangga miskin yang tinggal di suatu SLS. dusun.RT (Lampiran 4).LS.RT dientry di masing-masing daerah.

Sebaliknya skor 0 menunjukkan variabel yang mengidentifikasikan rumah tangga miskin. 3. No. 7. 11. 5. TV berwarna d. Sumber Penerangan Bahan Bakar Membeli Daging/Ayam/Susu Frekuensi Makan Membeli Pakaian Baru Kemampuan berobat Lapangan Usaha 13. Pendidikan Asset a. 10. 2. sepeda motor 1 = sumur/mata air tak terlindung/sungan/air hujan 2 = air kemasan/leding/pompa/sumur/mata air Terlindung 1 = bukan listrik 2 = listrik (PLN/nonPLN 1 = kayu/arang 2 = minyak tanah 3 = gas/listrik 1 = tidak pernah membeli 2 = satu kali 3 = dua kali dan lebih 1 = satu kali 2 = dua kali 3 = tiga kali dan lebih 1 = tidak pernah membeli 2 = satu stel 3 = dua stel dan lebih 1 = ya 2 = tidak 1= pertanian padi/palawija 6 = perdagangan 2 = perkebunan 7 = angkutan 3 = peternakan 8 = jasa 4 = perikanan 9 = lainnya 5 = industri 0 = tidak bekerja 1 = SD/MI ke bawah 2 = SLTP 3 = SLTA ke atas 1 = ya 1 = ya 1 = ya 1 = ya 1 = ya 2 = tidak 2 = tidak 2 = tidak 2 = tidak 2 = tidak Selanjutnya 14 variabel diklasifikasikan menjadi skor 1 dan 0.Tabel 1. Skor 1 menunjukkan variabel yang mengidentifikasikan rumah tangga miskin. 1. Pengklasifikasian skor 14 variabel dapat dilihat pada Tabel 2. Tabungan b. Emas c. 216 . 8. 12.RT Klasifikasi Variabel 1 = tanah/bambu/kayu berkualitas rendah 2 = semen/keramik/kayu berkualitas tinggi 1 = bambu/rumbia/kayu berkualitas rendah 2 = tembok/kayu berkualitas tinggi 1 = bersama/umum/lainnya 2 = sendiri Variabel Luas Lantai Jenis Lantai Jenis Dinding Fasilitas Tempat Buang Air Besar Sumber Air Minum 6. 9. Ternak e. 4. 14. Daftar 14 Variabel dan Klasifikasi yang Dicakup Dalam PSE05.

7. 217 . 2. 8. LISTRIK BHBAKAR DAGSU MAKAN BAJUU SEHATT LAPUS EDUC ASET Sumber penerangan Bahan bakar Daging/ayam/susu Frekuensi makan Beli pakaian baru Kemampuan berobat Lapangan usaha KRT Pendidikan KRT Kepemilikan asset *) Penggunaan variabel luas lantai tergantung hasil uji Tukey di masing-masing propinsi. 14. Pengklasifikasian Skor Variabel Klasifikasi No. 1. 11. 10. Namun indikasi rumah tangga miskin berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lain. Tabel 2. 5. 13. 4. 6. 12. Variabel yang digunakan adalah apabila hasil uji coba menunjukkan rata-rata penjelasannya mendekati garis kemiskinan.Semakin banyak skor 1 yang dimiliki suatu rumah tangga maka semakin miskinlah ia. Oleh karena itu banyaknya rumah tangga miskin pada suatu variabel digunakan bobot sebagai penimbang dalam penghitungan rumah tangga miskin. 17. Variabel PERKAP LULANT1 LULANT2 LULANT3 LANTAI DINDING JJAMBAN SBRMIN *) Keterangan Pengeluaran per kapita Luas lantai per kapita Luas lantai per kapita Luas lantai per kapita Jenis lantai Jenis dinding Fasilitas Tempat BAB Sumber air minum Skor 1 Skor 0 Jika <= 8 m 2 Jika > 8 m 2 2 *) Jika <= 10 m Jika <= 15 m Jika tanah Jika > 10 m Jika > 15 m 2 *) 2 2 Jika bukan tanah Jika tembok/kayu Jika sendiri Jika air kemasan/ leding/ pompa/ sumur/mata air terlindung Jika PLN/nonPLN Jika gas/listrik Jika membeli 1 kali Jika makan 1x dan 2x sehari Jika membeli >= 1 stel Jika mampu berobat Jika bukan pertanian Jika SMP ke atas Jika ada asset Jika bambu/ lainnya Jika bersama/ umum Jika sumur/mata air tak terlindung/ sungai/air hujan dll Jika petromak dll Jika kayu/minyak Jika tidak pernah Jika makan 1xsehari Jika tdk pernah membeli Jika tidak mampu Jika pertanian Jika SD ke bawah Jika tidak ada aseset 9. 16. 3. 15.

132 1000/3800 = 0.Contoh penghitungan skor adalah sebagai berikut. misalnya di suatu kabupaten distribusi rumah tangga miskin masing-masing variabel adalah: Jumlah rumah tangga miskin dengan luas lantai < 8 m2 adalah 1000 rumah tangga Jumlah rumah tangga miskin dengan frekuensi makan 1 x sehari adalah 500 rumah tangga Jumlah rumah tangga miskin yang tidak pernah membeli baju adalah 800 rumah tangga Jumlah rumah tangga miskin yang tidak mampu berobat adalah 500 rumah tangga Jumlah rumah tangga miskin yang jenis lantainya tanah adalah 1000 rumah tangga Maka penghitungan bobot masing-masing variabel sbb: Jumlah rumah tangga masing-masing variabel dibagi dengan jumlah seluruh rumah tangga. seperti terlihat pada Tabel 3.132 800/3800 = 0.000 Dengan menggunakan nilai bobot.210 500/3800 = 0. Contoh Penentuan Bobot Variabel Variabel (1) Luas lantai Frekuensi makan Kemampuan membeli pakaian Kemampuan berobat Jenis lantai Jumlah Jumlah rumah tangga (2) 1000 500 800 500 1000 3800 Bobot (3) 1000/3800 = 0. 218 . Tabel 3. Nilai indeks paling rendah 0 dan paling besar 1. Semakin besar nilai indeks semakin miskin rumah tangga tersebut.263 500/3800 = 0. selanjutnya dihitung nilai indeks untuk mendapatkan kategori keparahan kemiskinan suatu rumah tangga.263 1.

Kategori berikut: keparahan kemiskinan suatu rumah tangga adalah sebagai 1) RT sangat miskin (very poor) bila nilai indeks: 0. Penentuan RT miskin pada tahap II berbeda dengan tahap I. Sebaliknya bila ditemukan rumah tangga yang layak menerima.736. satu diserahkan ke BPS untuk diberikan ke rumah tangga yang bersangkutan dan yang lainnya dipegang oleh PT Pos yang juga sebagai pembayar BLT di daerah. maka rumah tangga tersebut didaftar dengan menggunakan Daftar PSE05. Selanjutnya daftar rumah tangga yang dikategorikan miskin dan sangat miskin hasil penghitungan ini diserahkan ke PT Pos. Kalau masih ditemukan adanya rumah tangga yang tidak layak mendapat KKB. maka KKB tersebut tidak diberikan.20 – 0. Untuk itu pemerintah meminta BPS berkerja sama dengan pemerintah daerah untuk membuat tempat pendaftaran susulan atau Posko. KKB ini tidak bisa diperjualbelikan atau dipindahtangankan.263x1) + (0. dari rumah ke rumah.263*1)= 0. sehingga ketika penyerahkan KKB. untuk dibuatkan kartu KKB. maka dalam waktu yang bersamaan petugas melakukan verifikasi terhadap rumah tangga yang akan menerima KKB tersebut.132x0) + (0. Nilai indeks rumah tangga tersebut adalah sebagai berikut: (0. KKB dibuat 2 rangkap. Untuk memastikan bahwa rumah tangga yang menerima KKB adalah rumah tangga yang layak mendapatkannya.132*0) + (0.60 – 0. Pada tahap II hanya menggunakan metode scoring berdasarkan 14 variabel yang ada. Pendataan susulan melalui Posko disebut sebagai pendataan tahap II. 219 .79 3) RT mendekati miskin (near poor) bila nilai indeks: 0. Pada waktu pembagian KKB. Dengan menggunakan KKB tersebut penduduk dapat mengambil dana BLT di Kantor Pos yang ditunjuk. Penyerahkan KKB dilakukan BPS daerah secara langsung.20 Misalnya suatu rumah tangga lantainya tanah dengan luas lantai 8 meter persegi. Dalam KKB tercantum nama dan alamat pemegang kartu. namun KKB ini tidak bisa diuangkan. RT.59 4) RT tidak miskin (tereliminir oleh model) bila nilai indeks: < 0. sehari makan 2 kali. Dengan nilai indeks ini maka rumah tangga dikategorikan rumah tangga miskin.00 2) RT miskin (poor) bila nilai indeks: 0.210*1) + (0.80 – 1. Rumah tangga ini mampu berobat namun tidak pernah beli baju baru. banyak penduduk yang juga ingin mendapatkan dana tersebut. KKB yang ada di PT Pos merupakan salinan. masyarakat sudah mengetahui bahwa pemerintah akan memberikan dana bantuan berupa uang yang pendataannya dilakukan oleh BPS.

mulai bulan Juli sampai dengan Oktober 2005. pengancaman kepada pegawai.tanpa menghitung nilai indeks. dalam bentuk demonstrasi. Namun kegiatan pendataan dapat selesai hingga 31 Juli 2006. Pelaksanaan PSE05 diintegrasikan dengan pelaksanaan SPAN. Seluruh rumah tangga dicacah dengan Daftar PSE05. barak atau tenda pengungsi. BPS propinsi juga membentuk sekretariat BPS propinsi dengan nomor telepon/fax yang dapat dihubungi setiap waktu.RT) kecuali rumah tangga yang tinggal di kamp. di Propinsi NAD dan Pulau Nias sedang dilakukan kegiatan sensus penduduk NAD pasca tsunami yang dikenal dengan sensus penduduk Aceh dan Nias (SPAN). Pada saat yang bersamaan dengan dilaksanakannya kegiatan PSE05. Kegiatan pendataan PSE05 mulai dari persiapan sampai dengan selesai dirancang selama 4 bulan. minimal setiap 3 hari sekali ke sekretariat PSE05 pusat tentang penyelesaian lapangan dan kemajuan proses pengolahan data. Semakin tinggi nilai skor semakin miskin. yaitu pada awal tahun 2006. Nilai skor tertinggi adalah 14 dan terendah adalah 0. bahkan pengrusakan kantor. Dalam komunikasi dengan BPS pusat dan BPS kabupaten/kota.RTAN (setara dengan Daftar PSE05. Pemantauan kegiatan dan kemajuan proses pencacahan dilakukan secara harian. Nilai skor masing-masing variabel terdapat pada Tabel 2. Hal ini terjadi karena adanya ketidakpuasan dari masyarakat yang tidak mendapat BLT. Hal ini dilakukan karena kebutuhan rumah tangga yang 220 . Penanggungjawab kegiatan adalah BPS propinsi masing-masing daerah. Ketidakpuasan masyarakat umumnya disampaikan langsung ke BPS. Kategori tingkat keparahan sebagai berikut: 1) RT sangat miskin (very poor) bila jumlah skor: 14 2) RT miskin (poor) bila jumlah skor: 12-13 3) RT mendekati miskin (near poor) bila jumlah skor: 9-11 4) RT tidak miskin (tereliminir oleh model) bila jumlah skor: < 9. IV. BPS propinsi diwajibkan memberikan laporan. padahal mereka merasa juga berhak mendapatkan BLT. Pelaksanaan Pendataan PSE05 Khusus untuk Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Pulau Nias (Kabupaten Nias dan Kabupaten Nias Selatan) Pendataan rumah tangga miskin di Propinsi NAD dan Pulau Nias dilakukan dengan cara yang berbeda dengan propinsi lainnya.

265 rumah tangga). Di Propinsi Sulawesi Selatan.196 rumah tangga) dan paling sedikit terdapat di Kabupaten Kota Pare-pare (846 rumah tangga).201 rumah tangga) dan Jawa Barat (2. yaitu Kabupaten Bantaeng (60.977 rumah tangga). Data yang Dihasilkan Ada dua jenis data yang secara resmi dikeluarkan oleh BPS dan dapat digunakan oleh masyarakat umum yaitu daftar rumah tangga penerima BLT lengkap dengan identitasnya dan rumah tangga menurut kategori keparahan kemiskinannya. seperti terlihat pada Tabel 6.905.LBS.RTAN. Dilihat dari tingkat keparahannya. maka jumlah rumah tangga sangat miskin paling banyak terdapat di Kabupaten Tana Toraja (19.217 rumah tangga).36 persen) dan persentase terendah di Kabupaten Luwu Utara (19. terdapat 2 kabupaten yang persentasenya cukup tinggi. Namun demikian sistem pengkategorian rumah tangga miskin atau tidaknya sama dengan rumah tangga di propinsi lainnya. Rinciannya dapat dilihat pada Tabel 5.17 persen). Jumlah terbanyak terdapat di Propinsi Jawa Timur (3. Jumlah rumah tangga miskin penerima BLT di Propinsi Sulawesi Barat paling banyak terdapat di Kabupaten Poliwalimandar (33.LB. sedangkan yang paling sedikit di Propinsi Bangka Belitung (33. kabupaten yang paling banyak menerima BLT terdapat di Kabupaten Gowa (64.tinggal di kamp.100.731 rumah tangga) dan yang paling sedikit adalah Kota Pare-pare (6. 221 .25 persen dari jumlah seluruh rumah tangga yang ada di Indonesia. seperti terlihat pada Tabel 4. Kabupaten Mamasa yang paling tinggi persentasenya (81.652 rumah tangga).66 persen). 1 Kepala BPS menentukan bahwa tanggal 31 Mei 2006 merupakan hari kegiatan akhir PSE05. daftar yang setara dengan Daftar PSE05. Namun secara relatif. Selain Daftar PSE05.02 persen) dan Kabupaten Jeneponto (61. Namun demikian secara persentase.171. V.236. Jawa Tengah (3. daftar yang digunakan adalah Daftar PSE05.880 rumah tangga). barak dan tenda pengungsi sudah dipenuhi pemerintah dengan program Jatah Hidup (Jadup). Jumlah rumah tangga miskin yang layak menerima BLT seluruh Indonesia pada tanggal 31 Mei 2006 1 ada sebanyak 19.905 rumah tangga atau 32.

Bagi BPS model pendataan PSE05 ini merupakan pengalaman yang sangat berharga. Namun pengorbanan untuk mendapat kepercayaan masyarakat cukup berat. Penutup Hasil pendataan PSE05 dianggap cukup berhasil dalam meredam masyarakat ketika adanya kebijakan pemerintah menaikkan tarif BBM. misalnya dengan adanya pengrusakan kantor dan peneroran terhadap pegawai. Masyarakat bisa menerima secara langsung manfaat dari hasil pendataan. BPS menjadi dikenal oleh masyarakat. 222 .VI.

395.692 27.846 67.979 26.124 160.763.907 160.221.321 6. (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Propinsi (2) Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali NTB NTT Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Irjabar Papua Jumlah Miskin (4) 208.498 275.921 16.18 29.383 23.69 35.236.647 98.373 596.24 25.316 1.917 33.340 561.872 2.049 2.777 18.312 360.903 1.385 29.436 199.755 101.745 420.446 53.90 25.55 27.989 Sangat Miskin (5) 92.620 186.837 238.391 14.35 21.039 374.138 8.592 126.480 2.569 31.63 54.753 269.972 3.518 486.90 59.137 861.591 33.25 944.439 518.69 44.872 127. Jumlah Rumah Tangga Miskin Penerima BLT menurut Tingkat Keparahan Kemiskinan per Propinsi (Keadaan tanggal 31 Mei 2006) Hampir Miskin (3) 195.832 125.314 Jumlah (6) 497.295 622.640 1.873 62.584 594.920 312.536 127.942.948 964.894.49 29.309 148.473 535.100.602 No.65 50.902 182.083.720 197.687 71.488 102.172.518 342.095 779.384 73.301.880 10.497 70.395 60.591 41.936 552.15 32.676 265.709 124.875 348.968 106.02 20.080 163.065.592 955.038 Jumlah (6)/(7)*10 Rumah 0 Tangga* (7) (8) 29.905.605 1.774 342.366 37.945 281.513 130.354 301.969 187.916 170.729 137.439 1.731 314.609 92.05 29.217 11.832 6.568 46.468 108.626 138.041 1.88 29.859 95.171.11 32.68 50.181 1.43 33.543 84.943 8.26 20.863 211.Tabel 4.184 245.738 672.652 258.414 65.220.936 156.907 297.072 40.236.96 36.841 336.952 228.893 39.715 88.215 39.655 123.773 83.847 19.55 30.979 42.303 59.34 24.446 31.633 76.44 35.966 2.042 117.482.31 15.075 77.749.475 21.857 972.729 293.687 33.877 5 *) Berdasarkan Hasil Susenas 2005 223 .65 63.463 22.651 615.914 211.233 23.507 181.893 82.795 105.502 70.119 47.289.871 60.707 1.687 37.223.905 1.705 259.562 87.044 937.373 219.189 71.887 3.100.675.679 362.544.97 26.555 230.114.969.079 1.110 998.775 683.796 111.233 101.106 44.872 62.216 48.393 147.87 13.956 191.513 1.109 32.757 3.997 98.896 567.201 8.277.457 26.444 702.410 623.35 6.206 785.345 62.702 3.35 33.944 66.21 36.519 181.062.93 72.

891 27.TABEL 5.24 24.872 4. Luwu Utara Kab. Jumlah Rumah Tangga Miskin di Propinsi Sulawesi Selatan menurut Tingkat Keparahan Kemiskinan per Kabupaten/Kota (Keadaan tanggal 31 Mei 2006) Jumlah Rumah Tangga* (7) 29.830 6.33 33.040 55.529 3.971 9.32 51.102 6.569 6.531 12.268 21.984 57.472 3.032 58.847 5.196 5.075 7.323 21.050 9. Selayar Kab.002 3.394 70.265 9.807 12.756 6. Gowa Kab.113 7.390 15.531 5.991 37.080 9.38 33.936 2.847 2.918 16.456 90.338 9.91 *) Berdasarkan Hasil Susenas 2005 224 .062 4.966 (6)/(7)*100 (8) 34.766 108.18 44.787 4.313 36. Enrekang Kab.418 4.040 25.080 291.421 594.520 77.518 47.019 4.709 Miskin (4) 4.187 21. Sidenreng Rappang Kab.11 24. Luwu Timur Kota Makassar Kota Pare-Pare Kota Palopo Jumlah Hampir Miskin (3) 1.36 47.66 19.255 4.161 7.060 6.41 18.65 49.394 186.273 23.02 61.30 30.754 2. Bone Kab.098 38.047 22.367 37.538 8.782 4.468 64.675 5. (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 Propinsi (2) Kab.71 32. Takalar Kab.078 22.640 26.549 8.56 23.306 35.984 62.435 39. Bantaeng Kab.296 69.08 25.59 31. Bulukumba Kab.929 10.310 11. Maros Kab. Soppeng Kab.778 42.215 Jumlah (6) 10.648 130.042 Sangat Miskin (5) 4.393 18.927 3.605 2.580 46. Jeneponto Kab. Barru Kab.20 32.43 35.88 25.546 9.398 16.950 19.988 167.33 60. Sinjai Kab.348 7.929 170.192 14.603 9.289 10.427 10. Tana Toraja Kab.347 14.474 19.29 40.768 1.586 12.632 3.240 65.413 8.196 8.414 15.208 50.872 6.931 9.160 6.708 846 1. Pinrang Kab.731 16. Pangkajene Kepulauan Kab.594 7. Wajo Kab.144 40.997 9.66 31.500 22.050 25.760 103.850 27.261 8.733 No.430 6. Luwu Kab.17 22.354 20.724 6.274 20.632 92.265 2.807.266 2.501 80.

047 1.320 29.676 915 21. Jumlah Rumah Tangga Miskin di Propinsi Sulawesi Barat menurut Tingkat Keparahan Kemiskinan per Kabupaten/Kota (Keadaan tanggal 31 Mei 2006) Jumlah Rumah Tangga* (7) 28.TABEL 6.13 38.687 Jumlah (6) 18.560 251.205 978 29. (1) 1 2 3 4 5 Propinsi (2) Kab.25 38. Majene Kab.58 *) Berdasarkan Hasil Susenas 2005 225 .116 111. Mamuju Kab.583 5.347 9.34 44.568 Miskin (4) 10.099 9. Mamuju Utara Jumlah Hampir Miskin (3) 4.631 7.977 23.47 81.17 33.112 18.647 Sangat Miskin (5) 4.690 28.184 86.042 15.529 16.103 13. Polewali Madar Kab.578 6.902 (6)/(7)*100 (8) 64.827 8.750 5.223 60.004 No. Mamasa Kab.488 33.828 88.

_________. Pedoman: ”Pelaksanaan Lapangan PSE05 khusus Anggroe Badan Pusat Statistik. Jakarta. _________. 226 . Pelaksanaan Pendataan Rumah Tangga Miskin. Badan Pusat Statistik. Badan Pusat Statistik. _________.Daftar Pustaka BPS. 2005. Jakarta. Jakarta. _________. Distribusi Kartu Kompensasi BBM _________. Pedoman I: ”Pedoman Pengelolaan Kepala BPS Propinsi dan Kabupaten/Kota PSE05”. Badan Pusat Statistik. Jakarta. Badan Pusat Statistik. Aceh Darussalam dan Pulau Nias”. Jakarta. ”Metodologi Penentuan Rumah Tangga Miskin PSE05” (Draft Publikasi). Pedoman 2: ”Pedoman Pelaksanaan Lapangan KSK/PKSK dan PCL”.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful